Giring-Giring Perak

Giring-Giring Perak

(Karya : Makmur Hendrik)

Episode1- Bukit Tambun Tulang

PEDATI yang berjalan paling depan tiba-tiba dihentikan. Dua-puluh pedati lainnya yang berjalan di belakang berhenti pula “Kenapa berhenti?” Seorang lelaki yang ber jalan di sisi pedati yang kesepuluh bertanya pada teman di depannya.

“Entahlah. ” jawab yang ditanya. Kemudian dia menoleh ke depan, lalu berseru.

“Ahooi, kenapa berhenti di sini?”

Tak ada jawaban. Perempuan-perempuan menyembulkan kepalanya dari dalam pedati tersebut.

Seorang lelaki kelihatan berjalan dari depan. Dan yang di depan ke belakang. Nampaknya ada pesan beranting yang disampaikan. Dalam waktu singkat, lelaki-lelaki pengiring pedati itu sudah berkumpul di depan sekali. Di dekat pedati Datuk Sipasan yang bertindak sebagai pimpinan rombongan. Datuk itu yang bertubuh besar dan kelihalan “berisi”, duduk di sebuah batu besar. Dia melemparkan pandangannya pada seluruh lelaki yang kini tegak mengelilinginya. Menatapwajah mereka. Melirik tombak di tangan atau pedang dan keris di pinggang mereka. Mulutnya mengunyah sugi tembakau. Kemudian meludahkannya ke tanah.

“Kalian lihat bukit itu?” katanya tanpa menoleh tapi ibu jarinya dia acungkan ke belakang.

Semua lelaki yang jumlahnya 23 orang itu meng-ibu jari Datuk, ini. Mereka memang melihat sebuah bukit. Dipenuhi hutan belantara. Dan nampaknya kini mereka tengah menuju ke arah bukit tersebut. Beberapa orang mengangguk. Tapi lebih banyak yangdiam.

“Itulah Bukit Tambun Tulang.” Datuk itu bicara lagi, seperti tak acuh.

Kali ini semua lelaki di depannya pada menoleh kembali ke bukit tersebut. Kalau tadi dengan sikap tak mengerti, atau tak acuh, kini dengan sedikit berdebar. Bahkan ada yang melihat bukit itu dengan sedikit rasa takut.

“Bukit Tambun Tulang?” tanya seseorang dengan nada lemah. Datuk Sipasan tak menyahut.

Mengeruk kantong bajunya, mengambil segumpal tembakau. Meremasnya kuat-kuat. Membuat tem-bakau itu mirip kelereng, atau godok kecil. Kemudian menyelipkannya ke mulut, jadi sugi. Lalu dengan sikap hampir-hampir tak acuh dia bicara.

“Tak ada jalan lain. Ini satu-satunya jalan yang terdekat, dan mudah untuk mencapai Luhak Tanah Datar…”

“Terdekat, mudah, tapi belum tentu aman…” seseorang lelaki gemuk memakai Golok di pinggang menyambung ucapan Datuk itu. Semua yang nadir pada menoleh padanya.

“Kenapa pakai kalimat belum tentu aman?” Jalari ini memang paling tidak aman!” Datuk

Sipasan menegaskan. Mulutnya berpiuh-piuh memainkan suginya.

“Lalu bagaimana?”

“Kita akan terus!” jawab Datuk Sipasan.

“Apakah di bukit itu masih ada penyamun?” tanya yang bertanya barusan. :

“Ada…!” Datuk itu menjawab pasti. Meski wajahnya tetap saja tak acuh.

“Dari mana Datuk tahu?”

Datuk itu tak menjawab. Tapi menatap orang yang bertanya itu. Kemudian menalap yang lain-lain.Lalu kembali menatap yang bertanya tadi. Kemudian dia tegak dari batu besar di mana dia duduk. Lalu meloncat ke bawah.

“Naiklah ke batu itu…” katanya pada lelaki yang bertanya tadi. Lelaki tadi tak mengerti. Tapi dia naik juga kebatu besar di mana Datuk itu tadi duduk.

“Lihatlah ke belakangmu, di bawah…”

Datuk Sipasan bicara ketika lelaki itu sampai di atas., Lelaki itu menurut. Tiba-tiba terdengar seruannya. Dan saat berikutnya dia terlompat turun dengan wajah pucat.

Yang lain pada berpandangan. Dua orang naik ke atas. Melihat ke bawah. Dan mereka juga pada berseru kaget, kemudian cepat-cepat turun dengan muka pucat.

Beberapa orang naik, melihat ke bawah. Dan hampir semuanya terkejut dan turun dengan muka tak sedap, Di belakang batu besar itu, sesosok jadi mayat terhantar dengan baru saja mati dengan leher hampir putus. Nampaknya baru saja mati sehari dua ini.

Mayat itu tertelentang. Menghadap ke atas, kearah arah orang yang melihat ke bawah dari batu itu. Menatap dengan mata yang mendelik dan mulut menganga mengerikan.

Kini semua pada tertegak kaku di tempat mereka masing-masing.

“Siapa yang ingin kembali, silahkan. Yang ingin terus tapi ingin mencari jalan lain, juga disilahkan. Saya akan terus mengambil jalan yang melintasi Bukit Tambun Tulang ini. Siapa yang ingin ikut, juga disilahkan”.

Datuk Sipasan berkata setelah meludahkan tembakau suginya. Ketika dia berhenti bicara, tak seorangpun yang menyahut. Dan dia yakin, semua akan mengikutinya.

“Peringatkan pada semua perempuan, bini atau anak kemenakan kalian, agar tak memperlihatkan diri sejak saat ini. Dan kalaupun terjadi pertempur-an, mereka harus tetap saja dalam pedati. Begitu lebih selamat untuk.mereka”.

“Bagaimana kalau kita kalah Datuk?”

“Kekalahan berarti kematian”

“Ya, bagaimana kalau kita kalah kemudian mati?”

“Mereka bisa memilih melawan sampai tetes darah terakhir, atau merelakan diri diperkosa,

atau jadi isteri penyamun-penyamun itu”.

“Tak ada jalan lain?”

“Ada, yaitu memenangkan perkelahian!” Setelah itu tak ada yang bicara. Sampai saat mereka

kembali ke pedati masing-masing mereka tetap diam. Lalu bicara perlahan pada perempuan-perempuan yang ada di pedati.

Kemudian diam-diam mereka mulai medecahkan mulut, menghalau kerbau yang menarik pedati tersebut. Dan kafilah pedati itu mulai mendaki kaki Bukit Tambun Tulang yang terkenal angker dan angkuh. Bau bangkai tercium di mana-mana. Tak ada suara. Bahkan binatang rimbapun seakan ngeri berada di rimba lebat yang menyelimuti Bukit Angker tersebut.

Tiba-tiba ketika mereka mendekati hampir di pinggang bukit kecil itu ada suara murai.

Sekali. Dua kali. Kemudian ada suara gagak.

Datuk Sipasan yang berjalan paling depan segera arif. Bunyi itu bukan bunyi burung. Tapi suara manusia yang meniru suara burung dengan sempurna. Dan dia juga arif, bunyi itu adalah semacam isyarat dalam rimba tersebut. Datuk ini tetap menggusurkan sugi di mulutnya dengan tenang. Lelaki-lelaki lainnya, yang mengiringkan pedati mereka menuruti jalan menanjak itu semua pada diam. Mereka memegang hulu golok atau tombak dengan waspada.

Perempuan-perempuan pada merapatkan diri di sudut yang paling jauh dalam pedati mereka.

Kini rombongan itu sudah sampai di pinggang Tambun Tulang tersebut. Pedati yang paling depan, yaitu Pedati milik Datuk Sipasan sudah .berbelok di sebuah tikungan.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergumam. Barisan yang ada dibelakang menyangka itu tawa Sipasan. Tapi yang ada di depan segera tahu, itu berasal dari dalam pepohonan di Bukit yang mereka lalui tersebut. Tawa itu mula-mula lunak saja, Tapi makin lama makin keras. Yang tertawa hanya seorang.

Datuk Sipasan tetap mendecahkan kerbaunya untuk maju terus tapak demi tapak. Lelaki. Ini punya firasat, sebentar lagi, orang yang tertawa itu pasti akan menampakkan dirinya. Dan dugaan-nya tak jauh meleset.

Begitu tikungan itu hampir habis dia jalani, di depannya, di atas sebuah batu besar, tegak seorang lelaki berbaju hijau-hijau. Begitu lelaki itu kelihatan, tawa tadi lenyap. Dan hutan itu kembali dicekik suasana sepi.

Datuk Sipasan mengangkat tangan kanannya ke atas. Dan rombongan di belakangnya berhenti. Dia menatap lelaki besar di atas batu itu. Rambutnya tergerai hingga bahu. Sebilah  keris tersisip di pinggangnya. Di tangan kirinya dia memakai gelang akar bahar besar.

Janggut dan kumisnya bersumburan lebat. Matanya berwarna merah.

Dia menyapu kafilah pedati itu dengan tatapan matanya yang tajam seperti elang kelaparan.

Tiba-tiba suaranya terdengar berbegu dalam rimba di pinggang Bukit Tambun Tulang itu:

“Selamat datang di Kerajaan Bukit Tambun Tulang sanak. Silahkan melanjutkan perjalanan setelah meninggalkan semua harta dan ….wanita”.

Datuk Sipasan tak menyahut. Matanya menyi-pit. Lelaki itu berdiri sendiri. Tapi dia tahu, pasti ada puluhan orang lainnya di sekitar mereka. Tapi di mana? Di pohon? Di dalam rimbunnya belukar? Tak satupun yang nampak. Dia meludahkan sugi tembakaunya.

“Kami numpang lalu sanak. Kami tahu, daerah ini di bawah kuasa sanak. Kami bersedia membayar upeti sekedarnya. Mohon kami jangan diganggu”. Ucapan Datuk Sipasan ini disambut dengan tawa bergumam oleh lelaki besar di atas batu itu.

“Pandai waang membaca puisi sanak? Waang hanya ingin membayar upeti “Sekedarnya?”

Aha, di mana puisi itu waang pelajari hingga punya nyali (keberanian) untuk mengucapkannya di Bukit ini? Tidakkah waang tahu siapa. yang tegak di depan waang ini?”

Datuk Sipasan merah padam mukanya disebut “Waang” oleh lelaki itu. Dan semua anggota rombongannya yang tegak dengan waspada di belakangnya mendengar jelas semua pembicaraan ini, Datuk itu masih menahan marahnya. Dia harus berusaha agar tak terjadi perkelahian. Betapapun kalau bisa membayar upeti sekedarnya jauh lebih baik daripada harus bertempur. Karenanya dengan menahan rasa marah karena dipanggil Waang yang je las-jelas menghina itu, dia bicara :

“Maafkah kami, kami tak mengetahui siapa tuan. Kami hanya mengetahui bahwa Bukit ‘ini dihuni oleh penyamun-penyamun…”

Kembali suara tawa menyambut ucapan Datuk

“Nah kalau sudah tahu, bahwa di sini bersarang penyamun, kenapa tak segera berlutut dan

menyerahkan yang saya minta?”

“Tak ada yang harus kami berikan. Kami hanyalah rombongan penduduk yang berniat pindah ke Luhak Tanah Datar. Kami datang dari Daerah Pariaman, daerah itu kini sedang diancam oleh Belanda. Apa yang bisa tuan dapati dari penduduk yang pindah karena takut?”

“Hmm, kalian orang yang pindah?” , “Ya…”

“Bagus. Pasti banyak harta dan banyak wanita…” Sehabis berkata begitu lelaki ini berseru sambil bertepuk keras:

“Periksa isi pedati itu?!”

Perintahnya yang mengguntur ini tiba-tiba disahuti pekik yang menyeramkan dari dalam belukar di sepanjang jalan di mana pedati-pedati yang 21 buah itu kini berhenti.

Penyamun-penyamun itu muncul amat tiba-tiba. Ini benar-benar mengagetkan semua lelaki yang menjaga pedati tersebut. Rupanya sejak mereka berhenti dan berunding di bawah tadi, mereka sudah diamat-amati oleh penyamun tersebut. Dan kini mereka berada dalam sebuah jebakan.

Namun Datuk Sipasan berseru:

“Tunggu Saya harap jangan menumpahkan darah. Tuan boleh ambil semua harta kami! Tapi jangan ganggu perempuan-perempuan!!”

Namun lelaki bertubuh besar di atas batu itu berseru:

“Hei beruk! Sekali lagi waang bicara, saya kuyakkan mulut waang yang berbau jering itu!!!”

Dan seusai ucapannya ini, panyamun-penya-mun Bukit Tambun Tulang yang kesohor pemakan masak mentah itu mulai mendekati pedati-pedati tersebut Tetapi, rombongan ini bukan sembarang rombongan! Mereka adalah kaum pesilat yang menyingkir dari Pariaman seperti yang dikatakan Datuk Sipasan tadi.

Mereka menyingkir menyusun kekuatan ingin bergabung dengan pesilat-pesilat di Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam untuk balik menyerang Belanda di Pariaman. Kini begitu penyamun-penyamun itu mendekat, mereka kontan memberikan perlawanan.

Datuk Sipasan sebenarnya ingin menyerang lelaki yang tegak di batu itu. Dia yakin lelaki itiilah pimpinan penyamun ini. Namun maksud itu terpaksa dia urungkan, karena dia di datangi oleh dua orang penyamun lainnya.

Suara senjata beradu terdengar gemerincing. Pekik-pekik kesakitan atau suara orang meregang nyawa terdengar berbaur dengan bentakan-bentak-an.

 

Episode2 – Datuk Sipasan

Dewasa itu, hanya orang-orang. yang cari penyakit saja yang mau melewati bukit Tambun Tulang yang terletak di kaki gunung Tandikat itu.

Selama puluhan tahun. Bukit kecil itu menjadi “kerajaan” tak resmi dari suatu kelompok penyamun. Jumlah mereka tak ada yang mengetahui dengan pasti. Ada yang mengatakan hanya enam atau tujuh orang. Tapi kali ini, di saat penghadang-an rombongan, ternyata jumlah mereka lebih dari empat puluh orang. Suatu kekuatan penyamun yang luar biasa.

Apalagi semua mereka ahli dalam persilatan. Dua lelaki yang datang menghadang Datuk Sipasan menerjang sekaligus. Datuk ini nampaknya tak mau buang-buang waktu. Serangan yang datang dari kiri dia elakkan, kakinya bergerak, dan orang itu terjengkang ke belakang. Yang menikam dengan keris dari kanan tiba-tiba dia sambut tangannya. Orang itu kaget, sebab serangannya yang cepat itu bisa disambut oleh Datuk ini. Dia berniat menyentakkan tangannya yang terpegang itu, namun tiba-tiba terdengar pekiknya meraung. Saat berikutnya tubuh penyamun ini melosoh.

Mukanya hitam. Dan warna merah ini menjalar ke lengannya. Dia mati sebelum tubuhnya mencecah tanah.

Inilah ilmu “Biso Sipasan ” yang menyebabkan Datuk ini dikenal dengan gelar Datuk Sipasan. Ilmu silatnya tinggi dan senjata ampuhnya terletak pada dua kuku tunjuk dan empu jarinya. Dua kukunya ini tidak berwarna hitam seperti jamaknya kuku pesilat-pesilat yang mengandung racun.

Tapi kukunya tetap berwarna biasa. Kalau pesilat-pesilat biasa menggelek atau menangkis serangan dengan menepiskan tangan lawan, maka keistimewaan Datuk ini adalah menangkap pergelangan tangan orang yang menyerangnya. Tangkapannya tak pernah bisa dilepaskan. Dan begitu tangan lawan tertangkap dia mencekal pergelangan orang tersebut. Kuku ibu jari dan tunjuknya mene-kan. Dan bisa yang amat ampuh, yang memang di isi dengan bisa seribu sipasan (lipan) segera menyudahi nyawa lawannya.

Dan ilmu ilulah sebentar tadi yang telah menyudahi nyawa seorang penyamun yang menyerangnya. Penyamun yang seorang lagi, yang terjengkang kena tendangan, segera bangkit. Dia mengambil kelewang di pinggang. Kemudian menebaskan ke leher Datuk itu. Datuk ini tidak membuang langkah, dia hanti kelewang itu Jiingga dekat sekali. Kemudian tiba-tiba dia menunduk. Kelewang lewat serambut di atas kepalanya. Saat berikutnya telunjuk kanannya yang ditegangkan meluncur ke dada penyamun tersebut.

Penyamun itu tertegak kaku. Matanya mendelik. Mulutnya ternganga. Dari mulut yang ternganga itu, keluar suara seperti kerbau disembelih. Dan tiba-tiba dari dadanya, persis di arah jantung merembes darah keluar. Dadanya berlobang sebesar jari Datuk Sipasan. Dan sebelum tubuhnya tumbang, penyamun itu sudah mati!

Sementara itu pertarungan di barisan belakang berlangsung dengan cepat. Dari pihak Datuk Sipasan sudah jatuh korban empat orang meninggal. Para penyamun lalu mendobrak pintu Pedati dengan kaki. Dan suara pekik perempauan segera terdengar. Pekik perempuan itu menyadarkan Datuk Sipasan, bahwa bahaya tengah mengancam rombongannya. Dia bergerak ke belakang. Tapi gerakannya terhenti ketika tiba-tiba lelaki yang tadi tegak di batu dan menghadang jalannya melompat. Kini kedua lelaki itu berhadapan.

“Hmmm, jari berbisamu lumayan juga sanak. Dua kawanku kau kirim ke akhirat. Tapi jangan harap kau bisa lolos dari tanganku.”

Datuk Sipasan menatap lelaki ini. Dia tegak dengan tenang. Betapapun kini pertarungan harus dia lanjutkan. Menang atau mati.

Datuk Sipasan, siapa yang tak mengenalnya di Pariaman?. Guru Silat yang disegani oleh lawan dan kawan. Orangnya pendiam, berwibawa dan baik hati tapi punya ilmu yang tinggi.

Puluhan tahun dia hidup di kawasan Pariaman, belum ada bertemu lawan yang tangguh. Itulah sebabnya kenapa lebih dari dua puluh keluarga mau ikut bersamanya melintasi Bukit Tambun Tulang untuk pindah ke Luhak Tanah Datar.

Bukit Tambun Tulang! Siapa yang tak kenal akan nama itu?.

Mendengar namanya saja, sudah membikin tegak bulu tengkuk, Dan membikin orang awam terpancar kejambannya. Nama Bukit Tambun Tulang bukan hanya sekedar diseram-seramkan. Tapi memang suatu tempat pembantaian yang tak ada duanya di tanah Minangkabau.

Demikian banyaknya manusia terbunuh di Hutan yang menumbuhi Bukit itu. Hingga kalau orang menggali lobang, di setiap tempat di seluruh Bukit itu, pasti akan bertemu tulang belulang manusia. Begitu dari dulu, bahkan sampai kini. Maka bernamalah dia Bukit Tambun Tulang.

Yaitu suatu nama berasal dari Bukit yang ditimbun tulang belulang!.

Dan kini. Datuk Sipasan yang belum pernah bertemu dengan lawan tangguh itu berhadapan muka dengan pimpinan penyamun yang membuat bukit itu ditimbuni tulang belulang manusia Bukan hanya manusia biasa, tapi juga tulang belu-lang kaum pesilat!

Dua hal akan diuji dalam peraturangan ini. Pertama, apakah Datuk itu memang seorang pesilat tangguh yang jarang tandingannya, atau kedua: Apakah Penyamun di Bukit itu memang penyamun yang tak terkalangkah! Jika hal pertama benar, maka itu berarti hari ini tamatlah riwayat penyamun di Bukit tersebut. Tapi jika hal kedua yang benar, maka itu berarti nyawa Datuk Sipasan dan rombongannyalah yang berakhir!.

Datuk Sipasan yang selama ini belum pernah membuka serangan, kini tak mau anggap enteng. Dia tahu, lawannya sudah tersohor. Siapa tak pernah mendengar nama Harimau Tambun’Tulang? Nama itu adalah nama pimpinan Penyamun di Bukit ini. Dan dia yakin orang yang bernama Harimau Tambun tulang itu pastilah orang yang dihadapinya.

Karenanya, dia segera memulai serangan. Tangannya bergerak mencakar muka penyamun tersebut. Selling dengan itu kakinya bergerak menghantam dada.

Lelaki yang diserangnya tak bergerak sedikitpun. Cakaran tangannya dielakkan lelaki itu dengan memiringkan kepala. Tendangannya tidak dielakkan. Melainkan disambut oleh lelaki itu dengan tahgan kanan.

Datuk Sipasan membiarkan kakinya tertangkap. Namun begitu -kakinya terpegang dengan kecepatan kilat dia menyusulkan kaki kirinya naik! Bukan main berbahayanya serangan ini. Beberapa orang musuhnya pernah terjebak oleh serangan serupa ini. Dan akibatnya lawannya senantiasa muntah darah.

Tapi Datuk itu memang tengah menghadapi lawan yang tak main-main. Begitu kakinya terangkat, lelaki itu justru menyentakkannya kuat-kuat. Serangan begini benar-benar di luar dugaan Datuk Sipasan. Kaki kirinya yang sudah terangkat membuat tubuhnya tak menjejak tanah sedikitpun. Dan begitu kakinya disentakkan, kontan tubuhnya melayang kebelakang.

Namun begitu tubuhnya melewati tubuh lelaki itu, dalam rasa terkejutnya Datuk tersebut masih mengirimkan sebuah serangan berupa tusukan dengan telunjuknya yang berbisa ke arah lambung lawan!

Namun kembali dia dibuat tak berkutik, ketika lelaki itu mengangkat lututnya. Dan tubuhnya yang sedang melayang itu didongkrak ke atas dengan kuat oleh lutut lelaki itu. Tak ampun lagi, terdengan keluhan kesakitan. Dan tubuh Datuk Sipasan tercampak ke samping empat depa!

Datuk itu mencoba bangkit segera. Namun dia merasa rusuknya ngilu. Dia yakin, ada rusuknya yang patah. Nafasnya jadi sesak. Dan dia muntah darah! Namun Datuk ini tak mau menyerah. Dia tahu, keselamatan rombongannya berada di tangannya. Dia lebih rela mati duluan, daripada harus melihat rombongannya dihancurkan satu demi satu.

Dia bangkit dengan susah payah. Menghunus keris, kemudian dengan simpanan terakhir, yaitu sebuah jurus silat Siterlak dia lancarkan. Namun lelaki lawannya memang bukan orang sembarangan. Nama penyamun Bukit Tambun Tulang memang bukan nama kosong.

Begitu dia menyerang dengan langkan tiga, menyamping ke kiri, lalu tiba-tiba rnenghantam dengan kaki kanan. Dan tiba-tiba pula menusukkan keris, lawannya hanya menatap dengan diam. Begitu tendangan dan keris tiba, dia mengkat kaki. Sekali kakinya bergerak, tendangan dan Keris Datuk itu bisa dia elakkan malah kerisnya jadi terpental jauh. Dan tangan Datuk itu berderak patah! Saat itu empat orang lagi rombongannya mati disembelih penyamun tersebut!

Seorang penyamun tinggi kurus, setelah menyudahkan nyawa seorang lelaki, berjalan ke pedati yang tak berpenjaga itu. Tangannya rnenghantam pintu pedati. Di dalam ruangan yang sempit itu gelap. Dia mengintip ke dalam, Tiba-tiba dia terpekik dan menghambur ke luar. Tangan kanannya mendekap pipi. Dan dari pipinya meng-alir darah segar. Kiranya ketika dia menjulurkan kepala ke dalam pedati itu, seorang perempuan yang dibekali sebuah keris menyerangnya.

“Perempuan jahannam!. Kuberi kau ganjaran yang setimpal atas perbuatanmu ini….” lelaki itu mendesis.

Dia lalu mengambil sepotong kayu sebesar lengan dan panjangnya sedepa. Kayu itu dia kibaskan ke dalam. Dia hayun ke kiri dan ke kanan dalam ruangan peHati yang kecil dan gelap itu. Terdengar pekik perempuan. Dan saat berikutnya lelaki itu melompat masuk.

Begitu dia masuk, seorang gadis yang baru berusia sekitar enam belas tahun melompat keluar.

Bagitu keluar, gadis tanggung ini melihat bangkai ayahnya terkapar berlumur darah dekat roda pedati. Dengan pekik dan lolong panjang dia memeluk ayahnya. Lelaki yang telah melompat masuk itu menghambur lagi keluar.

Dan dia melihat seorang gadis tengah me-nangisi ayahnya yang baru saja dia bunuh. Gadis itu jolong mekar. Rambutnya ik’al, tubuhnya kuning dan berisi. Pinggulnya besar. Itu kelihatan jelas karena gadis itu bersimpuh dekat mayat ayahnya.

Dan ketika gadis itu menoleh padanya penya-mun itu segera melihat wajah si gadis yang cantik. Dadanya baru mekar.

Namun kini dada gadis itu mengombak deras menahan tangis dan berang.

Penyamun jahannam! Busuk! Kubunuh kau” katanya sambil menghambur tegak dengan

tangan memegang keris ayahnya yang telah mati.

 

 

Dibahagian lain, seorang penyamun yang telah membunuh dua lelaki di dekat pedatinya

merang-kak pula masuk pedati. Di dalam terdengar pekik perempuan. Seorang perempuan

berusaha .lari keluar. Namun kainnya dipegang lelaki Tersebut. Kainnya lepas. Perempuan

itu kini hanya dibalut baju kurung saja. Tubuhnya yang sintal dan hitam manis kelihatan

jelas. Lelaki itu tak mau berhenti hingga di sana. Dia menyambar rambut si perempuan. Dan

sekali renggut, perempuan itu terlempar lagi ke belakang. Jatuh tertelentang di dalam pedati.

Begitu dia jatuh, begitu tangan penyamun itu tiba di bajunya. Sekali renggut baju kurung itu

robek. Perempuan muda itu coba melawan. Namun apalah artinya tenaga perempuannya

dibanding penyamun Bukit Tambun Tulang itu. Tubuh lelaki itu segera berada di atas

tubuhnya yang tak bertutup. Tangan lelaki itu menjalar. Meremas dan menjalar. Menjalar dan

meremas. Ke atas dan ke bawah. Ke bawah meremas. Ke atas meremas.

Perempuan itu meronta. Menggeliat. Meronta menggeliat. Menggeliat dan meronta. Namun

lelaki itu tak mengacuhkannya. Mulutnya menjalar ke mana-mana. Kemana-mana. Dan

peremuan itu makin menggeliat

Bersambung

 

 

Episode3 – Gampo bumi

Datuk Sipasan arif, nyawanya sudah tak tertolong lagi. Begitu kerisnya tercampak dan lengan

nya patah kena tendang lelakitangguh itu dia berkata :

“Sungguh luar biasa. Patutlah tak seorangpun yang selamat melalui Bukit ini. Apakah saya

sedang berhadapan dengan Harimau Tambun Tulang yang tersohor itu?”

Lelaki tangguh di depannya itu tak menyahut. Hanya tawanya terdengar bergema. Suara

tawanya keluar dari hidung. Tawa yang mencemeeh.

“Jangan kau bawa-bawa nama guruku. Untuk menghadapi beruk seperti kalian, guru tak perlu

turun tangan. Cukup dengan kami saja!”

Alangkah terkejutnya Datuk Sipasan. Dia yang demikian ilmu silatnya, sudah jarang

tandingannya di Pariaman. Sudah masuk hitungan Guru Silat yang disegani lawan dan

kawan. Kini, berhadapan dengan lelaki ini saja dia tak dapat berkutik sedikitpun. Dia seperti

kanak-kanak saja. Dan ternyata lelaki tangguh itu bukan orang yang bernama Harimau

Tambun Tulang. Bukan lelaki yang dita-kuti dan tersohor kepandaiannya sebagai pemimpin

Penyamun di Bukit ini. Yang dia hadapi hanyalah murid lelaki itu. Murid Harimau Tambun

Tulang.

Kalau muridnya saja sudah demikian tangguhnya bayangkan betapa tingginya kepandaian,

Harimau Tambun Tulang itu! Dan hari ini, ternyata dugaan pertamalah yang benar. Yaitu:

Datuk Sipasan menemui masa akhirnya.

“Sudahi nyawanya!” Lelaki itu berkata pada seorang lelaki besar di sisinya. Lelaki itu

mengambil tombak. Si pimpinan penyamun itu berseru.

“Hentikan perkelahian!. Kalian beruk-beruk yang datang dari Pariaman, menyerahlah.Lihat

pimpinan kalian ini saya sudahi nyawanya!”

Suaranya yang menggelegar itu memang me-nyebabkan perkelahian yang sedang

berlangsung jadi terhenti. Rombongan Datuk Sipasan yang masih berkelahi sebanyak delapan

orang menghentikan perkelahiannya. Mereka melihat kedepan.

Dan di depan sana, Datuk Sipasan dengan tangan terkulai nampak tegak dengan kaki terbuka.

Di depannya, dalam jarak lima depa, berdiri lelaki yang tadi mengalahkannya. Dan di

samping lelaki itu berdiri lelaki lain yang memegang tombak.

Datuk Sipasan tahu, nyawanya tak tertolong. Namun dia tak mau mati sebagai pengecut. Dia

tegak dengan dada busung dan pandangan menatap lurus pada pimpinan penyamun itu.

Kalaupun tombak itu datang menghunjam dadanya, dia ingjn menerimanya tanpa mengeluh.

Tanpa berkedip!

Pimpinan penyamun Bukit Tambun Tulang itu memberi tanda. Lelaki di sampingnya

mengangkat tombak.

Namun gerakannya terhenti tatkala terdengar suara perlahan.

“Hmm…. alangkah aniayanya. Merampok harta, menyamun nyawa, menistai wanita….”.

Suara ini perlahan saja. Tapi bergema di kaki bukit itu. Semua orang menoleh. Dan semua

orang yang tertegak tegang itu melihat bahwa di depan sana, di mana pimpinan penyamun itu

mula-mula tegak tadi: di atas sebuah batu yang ketinggian, duduk seorang lelaki.

Pimpinan penyamun itu sendiri hampir tak mempercayai matanya. Dia perhatikan lelaki yang

duduk di batu itu. Lelaki itu menunduk dan menyamping pada pereka.

 

 

“Hei beruk, waang yang bicara sebentar ini?” Pimpinan penyamun itu membentak.

Kembali terdengar suara tawa perlahan, Lelaki itu menoleh. Dan semua orang melihat, yang

duduk itu adalah seorang anak muda. Barangkali baru berumur 24 tahun. Bertubuh agak

kurus. Berbaju putih bercelana putih. Ikat kepalanya juga putih. Hanya sebentar anak muda

itu menoleh, kemudian dia menunduk lagi.

Dan kembali terdengar suaranya perlahan:

“Beruk memang tinggal di hutan. Saya dengar, di bukit ini memang banyak beruk tinggal.

Hanya yang saya tak tahu selama ini adalah beruk yang berjenggot, berkumis dan pandai

bicara….”

Bukan main berangnya pimpinan penyamun itu. Dan dia tahu, dialah yang dikatakan anak

muda itu beruk!.

Mulut lelaki besar ini bergerak seperti akan memaki, menyumpah. Namun tak satupun

ucapan-nya yang keluar. Hanya bibirnya saja yang komat kamit tak menentu.

Dan saat itu, di antara tawanya yang bergumam lemah, terdengar lagi suara anak muda yang

berpakaian serba putih itu.

“Hehh, lihatlah lawaknya monyet itu. Mulut nya bergerak seperti manusia. Tapi dia tak bisa

bicara… heh…he…” ,

Mata lelaki besar itu jadi mendelik.

“Cincang dia!” desisnya pada lelaki yang tadi siap menghantam Datuk Sipasan dengan

tombak-nya. Lelaki itu mengerti, dan dia segera membidik anak muda di atas batu itu dengan

tombaknya. Jarak antara mereka sekitar sepuluh tombak. Dalam jarak begitu, bagi pelempar

tombak yang lihai sasaran menjadi empuk sekali. Apalagi anakmu da tersebut duduk di

sebuah batu yang ketinggian.

Anak muda itu bukannya tak tahu bahwa dia bakal jadi sasaran tombak. Namun dengan bibir

yang masih tetap tersenyum lemah, dia menunduk. Duduknya tetap menyamping pada semua

orang yang baru saja berhenti bertempur itu. Lambat-lambat tangannya meraba pinggang.

Dan saat itu tombak di tangan penyamun di bawah sana lepas dan melesat dalam kecepatan

kilat ke arahnya.

Anak muda itu tak menoleh sedikitpun. Di tangannya yang tadi bergerak kepinggang kini

terpegang sebuah Bansi. Yaitu semacam suling , dari bambu. Ketika tombak itu mendesis ke

tempatnya, dia melekatkan bansi tersebut ke bibir. Letika lengkingan bansi itu bergema, saat

itu pula tombak tadi berkelebat tak samai sejari di bela-kangnya.

Meleset!

Penyamun yang melemparkan tombak itu terheran-heran. Lemparannya tak pernah luput.

Tapi kali ini kenapa anak muda itu tak kena? Suara bansi yang ditiup anak muda itu terdengar

bergema perlahan. Bukan main! Dia seperti tak acuh akan nyawanya!

Penyamun tadi merampas tombak sebuah lagi dari temannya. Kemudian kembali

melemparkan-nya dengan bidikan yang cermat. Namun semua penyamun yang belasan orang

jumlahnya itu kembali ternganga. Tombak itu lewat dalam kecepatan kilat dua jari dari

 

 

tengkuk anak muda itu. Dia sendiri tak bergerak sedikitpun. Kepalanya masih tunduk dan

suara bansinya mendayu lembut dan lemah.

“Sikat dia!” Suara pimpinan penyamun itu mengguntur. Enam orang pemegang tombak

segera berlarian ke depan. Dan dalam jarak lima depa dari anak muda itu mereka tegak

berbaris. Datuk Sipasan yang sejak tadi tertegak heran menyaksikan kejadian itu, kali ini tak

sampai hati melihat anak muda itu jadi tusukan tombak.

“Larilah anak muda!!” Serunya. Namun anak muda itu tak bergerak. Dia tetap meniup

bansinya perlahan. Tak menoleh sedikitpun ke samping, di mana penyamun-penyamun itu

siap melempar kan tombaknya. Dan suara tombak itu bersuitan.

Namun kali ini semua mereka yang ada di bukit Tambun Tulang itu pada ternganga.

Tombak-tombak itu tak satupun yang menyentuh kulit anak muda tersebut. Tak satupun!

Keenam tombak itu melenceng ke kiri, ke kanan atau ke atas kepalanya. Kemudian perlahan

menoleh pada mereka.

Tatapan matanya lembut. – Dia lebih mirip seorang seniman. Tubuhnya semampai dengan

kulit halus. Rambutnya yang berombak tergerai sedikit di atas bahu meskipun kepalanya

diikat selembar kain putih seperti selendang.

Saat itu pimpinan penyamun yang tadi tegak di atas batu di mana dia kini tegak, maju meraih

dua batang tombak dari anak buahnya. Dia melangkah empat depa ke depan. Kemudian

dengan suara parau bicara :

“Kau boleh berlagak di rumahmu buyung. Tapi di depanku, di depan Gampo Bumi, kau

jangan banyak lagak….”

Begitu ucapannya habis, begitu orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Gampo Bumi

ini melemparkan kedua tombak di tangannya sekaligus pada anak muda itu.

Lemparannya menimbulkan suara mendengung saking kuat dan cepatnya. Siapapun yang

hadir di sana maklum, bahwa dengung suara tombak yang melaju itu disebabkan tenaga

dalam Gampo Bumi yang luar biasa. Tombak itu tak kelihatan saking cepatnya.

Namun kembali terjadi keajaiban. Anak muda itu menggerakkan tangan kanannya yang

memegang bansi yang panjangnya lebih sejengkal itu.

Pletak…!! Trak…! Kedua tombak yang melesat laju itu dia hantam dengan bansinya. Dan dua

tombak itu patah empat! Kemudian hal yang luar biasa ialah keempat potong patahan tombak

itu melesat lagi ke arah tuannya dengan kecepatan dua kali lipat!

Terdengar seruan kaget penyamun-penyamun itu, termasuk Gampo Bumi meloncat empat

depa ke belakang. Hampir saja dia kalah cepat. Peluh dingin membersit di keningnya.

Dengan ragu dia menatap pada anak muda yang masih duduk dengan tenang di batu sana.

Anak muda tersebut tegak perlahan. Tubuhnya yang semampai kelihatan kurang meyakinkan

atas hal yang baru saja terjadi. Apakah itu memang karena ilmunya yang tinggi atau hanya

suatu kebetulan? Anak muda itersebut melangkah di atas batu besar itu. Dia melangkah

empat langkah ke depan. Dan semua orang jadi tambah heran, pada saat dia melangkah,

terdengar suara giring-giring berbunyi. Semua mata kini menoleh ke kakinya. Namun tak

seorangpun yang bicara, anak muda itu angkat suara:

“Adakah di antara kalian yang pernah mengenal atau merasa memiliki giring-giring yang

saya pakai ini?” Suaranya bergema perlahan dihutan dalam bukit itu. Tak ada yang menyahut.

Dia menanti beberapa saat. Wajahnya kelihatan kecewa ketika tak seorangpun yang

menyahut.

 

 

“Adakah di antara kalian yang pernah mendengar bahwa ada anak lelaki yang lenyap dengan

giring-giring di kaki kanannya?” Datuk Sipasan dapat menangkap nada haru dalam ucapan

anak muda ini. Tapi kembali tak seorang pun yang menjawab.

“Tak seorangpun yarg tahu….” desah anak muda itu. Kepalanya tunduk. Tangannya bergerak

kembali ke pinggang, menyimpan bansinya. Dan dia melangkah turun ke sebalik sana. Ketika

dia hampir lenyap dari pandangan, Datuk Sipasan berseru.

“Anak muda tunggu dulu….!” Anak muda itu berhenti.

“Apakah bapak mengenal giring-giring ini?” tanyanya penuh harap.

Datuk Sipasan menggeleng, dia memanggil anak muda itu hanya dengan harapan agar bisa

menolong melepaskan rombongannya dari kekejaman penyamun bukit Tambun Tulang ini.

“Tidak….” katanya perlahan.

Anak muda itu melanjutkan langkahnya lagi. Kepalanya lenyap di balik batu sana.

Datuk Sipasan tahu, bantuan dari orang lain tak mungkin dia harapkan. Kini dia punya

kesempatan lagi untuk melawan. Meskipun tangan kanannya patah, tapi dengan cepat dia

merampas sebuah kelewang dari tangan penyamun di dekatnya. Kemudian dengan kelewang

itu juga dia menyabet leher penyamun itu. Terdengar pekik kesakitan, dan penyamun yang

tak menyangka diserang itu melosoh turun tanpa nyawa.

Bukan main berangnya Gampo Bumi melihat hal itu.

“Beruk haram jadah! Kucincang tubuh waang!” bentaknya. Dan dengan sengit ia menerjang

maju Rombongan Datuk Sipasan melihat perlawanannya itu kembali timbul semangat.

Meskipun sudah hampir separoh dari rombongan mereka yang mati, tapi kini mereka

membalas lagi menyerang. Perkelahian kembali berkobar.

Gampo Bumi menerjang Datuk Sipasan, dengan tangan kosong. Terjangan pertama dikibas

dengan kelewang oleh Datuk itu. Tapi Gampo Bumi memang bukan lawannya. Begitu

pedangnya bergerak untuk menghantam kaki Gampo Bumi, kaki itu ditarik amat cepat. Saat

berikutnya kaki kirinya melayang amat tepat. Dan tak ampun, perut Datuk Sipasan kena

hantam. Datuk itu tercampak empat depa. Dia muntah darah. Dari barisan belakang terdengar

pekik orang meregang nyawa. Salah seorang anggota rombongan Datuk itu mati dihunjam

tombak didadanya.

Gampo Bumi mengambil tombak dari anak buahnya.

“Waang harus berkubur di sini beruk!” serunya sambil melemparkan tombak itu pada Datuk

Sipasan yang jatuh berlutut sambil muntah darah. Namun saat itu dari batu tadi kembali

tedengar bentakkan:

“Berhenti!” Suara itu demikian berwibawanya. Menyebabkan semua orang yang tengah

berkelahi itu pada terhenti dan tertegak di tempatnya. Tidak hanya itu, orang itu mengibaskan

tangannya. Dan sebuah ranting melayang cepat menyusul tombak yang tengah meluncur ke

arah dada Datuk Sipasan. Sejengkal lagi tombak itu menembus dadanya, tiba-tiba ranting

tersebut memapahnya di perjalanan.

Tombak itu patah dua, dan mental ke dalam semak!

Bersambung

 

 

Episode 4 – Pemuda Misterius bergiring giring

Semula orang menoleh lagi ke batu itu. Dan semua mereka jadi terkesima. Di batu itu, berdiri

kembali anak muda berpa-kaian putih dan bergiring giring perak tadi!

“Mengapa kalian menyebar bencana di sini?” tanyanya dengan suara berbegu pelan.

Gampo Bumi tak dapat menahan berangnya. Meskipun tadi dia melihat kehebatan anak muda

ini, tapi sudah puluhan tahuri mereka berkuasa di bukit ini tanpa ada yang berani

mengganggu kedaulatan mereka. Kini ada saja anak bau bawang yang berani menyuruh

berhenti dan memerintah yang tidak-tidak. Bukankah ini suatu yang memalukan dan tak bisa

dipediarkan terus?

“Hei beruk! Jangan waang terlalu banyak bicara. Waang sangka waang jagoan dengan

menge-lakkan tombak-tombak tadi?” Sehabis berkata begini dia menoleh pada anak buahnya.

“Tangkap monyet itu. Bawa dia ke mari. Saya akan menyunatnya habis-habisan!”

Belum perintahnya habis, empat orang anak buahnya yang bertubuh besar bersenjatakan keris

dan golok dengan sorak sorai berlompatan memburu ke atas batu tersebut.

Tapi begitu mereka sampai di atas, terdengar anak muda itu membentak:

“Mundur!” Aneh, keempat penyamun itu seperti didorong tenaga raksasa. Mereka terpental

ke belakang bergulingan.

“Kenapa kalian harus saling bunuh di sini?” kembali pertanyaan itu dia ucapkan. Dan kali ini

Gampo Bumi menjawab dengan sengit;

“Ini kerajaan kami buyung. Bukit ini dinamai orang Tambun Tulang. Karena kami

menyembelih mereka di sini. Nah, kalau waang masih ingin selamat, cepatlah tinggalkan

tempat ini!”

Gampo Bumi sebenarnya tidak menggertak. Dia ingin anak muda itu pergi cepat. Sebab

melihat makan tangan anak muda ini barusan, hatinya jadi ciut juga. Kalau anak muda ini

turun tangan membantu Datuk Sipasan, maka ada harapan mangsa mereka ini bisa lolos.

Tapi anak muda itu tetap tegak di sana. Muka-nya yang tenang menatap semua orang. Dan

dia melihat beberapa lelaki terkapar mandi darah tak bergerak.Mati!

‘Teman bapak kah orang-orang yang mati itu?” tanyanya pada Datuk Sipasan yang masih

terduduk dengan mulut berdarah.

Datuk Sipasan cepat mengangguk “Kenapa kalian berbunuhan di sini?”

“Mereka merampok kami…”

Sinar tajam membersit dari tatapan anak muda berbaju putih yang terbuat dari satin itu.

Kembali matanya menatapi seluruh rombongan. Melihat beberapa perempuan. Semua mereka

juga menatap padanya.

“Perempuan-perempuan itu, apakah juga rombongan bapak?”

Kembali Datuk Sipasan mengangguk.

Dan kini, tatapan mata anak muda itu menyapu Gampo Bumi. Kemudian kembali menatap

Datuk Sipasan.

“Akan ke mana bapak bersama seluruh rombongan ini pergi?”

“Kami akan ke luhak Tanah Datar. Mungkin juga ke Luhak Agam…”

“Nah, sekarang berangkatlah selagi hari masih siang…”

 

 

Datuk Sipasan menatapnya. Dia ingin tegak, tapi tulang rusuk dan tangannya patah. Kini dia

muntah darah, bagaimana dia akan berangkat? Datuk ini menguatkan hati, dia bangkit, lalu

meng-hadap pada teman-temannya.

“Kuburkan mayat teman-teman. Dan bersiaplah untuk berangkat…”

“Tunggu!”

Yang berseru ini adalah Gampo Bumi. Semua menatapnya. Termasuk juga anak muda itu.

“Hei buyung berbaju putih dan bergiring-giring perak, dengarlah! Ini daerah kekuasaan kami,

siapapun yang lewat di sini, harus membayar upeti pada kami. Jika upeti tidak dibayar,

nyawa dan hartanya kami ambil. Begitu dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu, turun

temurun sampai kini”

“Dan itu hanya boleh sampai hari ini”. Anak muda itu memotong cepat.

“Siapa yang membuat aturan itu?”

“Saya!”

Gampo Bumi meludah. Kemudian tertawa terbahak. Belasan anak buahnya juga ikut tertawa.

“Kalau saya tak sayang pada tubuh waang yang kerempeng itu buyung, maka waang sudah

saya buat jadi sup. Bagaimana waang berhayal bisa memerintah orang-orang di Bukit

Tambun Tulang? He, bagaimana? Apakah waang tersapa atau mimpi?”

Anak muda itu tak mengacuhkannya. Dia menghadap dan bicara pada rombongan Datuk

Sipasan.

“Kuburkanlah teman-teman bapak. Kemudian berangkatlah!”

“Hei monyet, waang dengar ucapanku atau tidak? Waang harus enyah segera dari sini!”

Bentakan Gampo Bumi yang mengguntur itu membuat rombongan Datuk Sipasan jadi kecut.

Namun anak muda itu kini melangkah menuruni batu besar itu. Setiap langkahnya

menimbulkan bunyi pada giring-giring perak di kaki kanannya.

“Sekali lagi kau bicara seperti itu kutanggalkan gigimu…” Anak muda itu bicara perlahan

Namun suaranya yang berbegu itu didengar dengan jelas oleh semua orang.

Bukan main berangnya Gampo Bumi. Seumur hidup, belum pernah ada orang atau setan

sekalipun yang berani menghinanya seperti ini. Di depan anak buahnya pula. O, muka

pimpinan penyamun ini jadi merah padam dan membengkak seperti orang mau berak.

Giginya berbunyi. Jahannam ini tak boleh dibiarkan hidup. Jelas dia telah mencorengkan taik

dikeningku, bisik hatinya.

Dia membaca ajian yang pernah dia pelajari, kemudian didahului oleh sumpah serapahnya,

dia maju membuka serangan sambil menyumpah.

“Beruk besar…ku…”

Ucapannya belum habis ketika sebuah bayangan putih berkelebat. Dan saat berikutnya,

Gampo Bumi terpekik. Anak muda itu sudah pindah tempat. Tak seorangpun yang melihat

bagaimana dia bergerak. Gampo Bumi menunduk sambil menutup mulutnya dengan tangan

kanan. Ketika tangannya dia renggangkan, di telapak tangannya berkumpul empat buah gigi

depannya !

 

 

“Kepung dan mampuskan beruk itu!” suara dan perintah Gampo Bumi mengguntur. Anak

buah nya mengepung anak muda berbaju putih dan I bergiring-giring perak itu.

Dengan tombak teracung dan pedang siap di tangan, mereka mengurung anak muda itu di

tengah. Lingkaran yang mereka buat makin dikecil-kan setiap kali mereka melangkah maju.

Anak muda itu masih tetap tegak di tempatnya. Tak bergerak sedikitpun!

“Hei beruk, beri tahu siapa nama waang, siapa guru waang, agar kami bisa mengirim telinga

waang pulang atau mengirimkannya ke guru waang yang celaka….”

Ucapan ini terhenti lagi ketika tiba-tiba bayangan putih melesat ke arahnya dengan kecepatan

kilat. Saat berikutnya tubuhnya melayang, dan kini dia berada di tengah lingkaran yang

dibuat anak buahnya bersama anak muda itu.

Benar-benar merinding bulu tengkuk Gampo Bumi. Dia sedang bicara tadi, jaraknya dengan

anak muda itu ada enam depa. Anak muda itu berada di tengah kepungan anak buahnya.

Tahu-tahu dia merasakan tubuhnya diteteng tanpa dapat melawan sedikitpun.

Ketika sama-sama tertegak dalam lingkaran itu. Gampo Bumi mencabut keris di

pinggangnya. Selama ini amat jarang dia mencabut keris. Hanya melawan orang-orang

tangguh saja dia mempergu-nakannya. Tapi kali ini, dengan bulu tengkuk berjingkrat karena

ngeri, dia mencabut senjatanya itu. Keris itu berlekuk lima berwarna merah. Dan tanpa

banyak pikir dia menikamkan keris tersebut pada anak muda yang tegak di kirinya.

Anak muda itu mengelak sedikit, saat berikutnya tangannya bergerak, dan terdengar suara

ber-derak dan lolongan Gampo Bumi ketika tangannya di sentuh oleh jari tangan anak muda

itu. Lengan-nyalah yang berderak itu. Patah! Melihat ini, anak buahnya bukannya jadi takut.

Malah dengan sebuah bentakan mereka mulai berlari mengitari anak muda itu.

Mereka berlari membuat lingkaran. Pada saat-saat tertentu, dua orang dan arah yang

berlawanan menyerang ke tengah. Yang satu menusuk dengan tombak, yang satu membabat

dengan golok. Inilah apik rotan. Suatu kepungan yang ditakuti kaum pesilat di Minang saat

itu. Lawan akan terkurung dan jadi pening dikitari sambil berlari itu.

Jika lawan berniat menangkis serangan orang yang berdua itu, maka dua orang lainnya segera

muncul menyerang pula, dan yang menyerang pertama tadi masuk lagi kelingkaran sambil

berlari mengikuti lingkaran tersebut. Biasanya pesilat-pesilat yang berkurung di tengah tak

sampai ber-tahan empat jurus. Tapi kali ini anak muda itu tak perduli. Dia memegang lengan

Gampo Bumi, kemudian tanpa bicara melemparkannya ke arah lingkaran yang

mengepungnya! Gampo Bumi ter-pekik. Barisan yang melingkar itu sendiri jadi kacau balau.

Mereka tak mau menlanjutkan serangan, Sebab bisa mencelakakan pimpinan mereka. Gampo

Bumi tercampak di tanah yang berkerikil.

Semua jadi terhenti. Dan memandang anak muda itu dengan wajah pucat. Melihat kejadian

ini, rombongan Datuk Sipasan yang tadi kecut karena kekurangan jumlah orang dan

kekurangan kepandaian, kini terbit lagi semangatnya.

Kini mereka mengambil lagi pedang dan keris, dengan bersorak mereka mengejar penyamun-

pe-nyamun itu. Mereka berteriak membalaskan dendam teman-teman mereka yang telah mati

barusan.

Beberapa orang di antara penyamun itu kembali mengadakan perlawanan. Tapi perhatian

mereka terpecah pada anak muda bergiring-giring perak itu. Mereka merasa anak muda itu

akan ikut nyerang. Ini membuat perhatian mereka tidak tertuju pada serangan. Dalam waktu

singkat, beberapa orang terpekik mandi darah.

 

 

Rombongan Datuk Sipasan makin bersemangat. Akhirnya dua orang penyamun menghambur

ke dalam semak belukar. Dan lenyap melarikan diri. Tindakan ini diikuti oleh beberapa orang

lainnya. Akhirnya Gampo Bumi sendiri ikut ambil langkah seribu. Meninggalkan sebelas

anak buahnya yang telah jadi mayat.

“Awas waang buyung. Kali ini kami kalah, tapi akan datang saatnya nanti, guru kami

Harimau Tambun Tulang akan mengupakkan seluruh tulang belulang waang. Dan itu pasti

takkan lama. Waang akan kami buru, meski ke ujung dunia se-kalipun!”

Ucapan ini dilontarkan oleh Gampo Bumi begitu dia akan meloncat melarikan diri ke dalam

palunan belukar di kaki Bukit Tambun Tulang itu

 

 

Episode5 – Kisah Duka Giring Giring Perak

Rombongan Datuk Sipasan ber-sorak gembira. Mereka ramai-ramai mendekati anak muda

itu. Dan ketika mereka tegak mengelilinginya, baru jelas bagi mereka, betapa masih mudanya

dia.

Paling-paling baru berumur 24 tahun. Bertubuh agak kurus. Semampai dan tampan serta

berkulit kuning bersih. Tak ada tanda-tanda bahwa dia se orang pesilat, apalagi memiliki ilmu

tinggi yang sanggup mengalahkan murid Harimau Tambun Tulang.

Datuk Sipasan maju ke depan.

“Terima kasih anak muda. Engkau telah menyelematkan nyawa kami semua. Tak tahu

bagaimana cara membalas budi yang telah kami terimaini. Hanya Tuhan yang akan

membalasnya….”

“Tak usah dipikirkan hal itu. Apakah tak lebih baik menguburkan teman-teman yang

meninggal?”

Semuanya jadi sadar. Dan mereka lalu ramai-ramai menggali lubang besar. Ada sembilan

orang yang meninggal. Dan semua mereka dikuburkan dalam sebuah lobang bersamaan.

Ketika mereka selesai menguburkan mayat-mayat itu, hari telah senja.

“Tak jauh dari sini, ada air terjun di batang Anai. Barangkali lebih baik kita bermalam dekat

air terjun itu sambil bertanak. Anak muda, kami mengundang anda untuk makan bersama

malam ini. Jangan menolak, kami punya bekal cukup banyak. Dendeng daging rusa, dan palai

rinuak. Marilah kita kesana…”

Ucapan Datuk Sipasan ini disambut dengan gembira oleh semua anggota rombongan. Mereka

mengagumi anak muda itu. Mereka ingin mengenal-nya. Dan mereka juga berfikir, alangkah

baiknya kalau anak muda ini bisa melanjutkan perjalanan bersama mereka ke Luhak Tanah

Datar. Lagi pula mereka belum mengenal siapa namanya, dari mana dia dan di mana

perguruannya.

Anak muda itu tak menolak. Rombongan itu dengan bernyanyi gembira lalu melanjutkan

perjalanan. Tak sampai satu jam, rombongan itu tiba di bawah air terjun di danau kecil yang

amat indah di mana air terjun itu menghamburkan diri.

Tempat itu tak berapa jauh dari Bukit Tambun Tulang. Bahaya serangan mendadak dari

penyamun penyamun tadi bukannya tak mungkin. Tapi dengan adanya anak muda tangguh

ini, mereka yakin penyamun itu takkan berani menampakkan batang hidung.

Anak muda itu ternyata juga mahir dalam obat obatan. Tangan dan rusuk Datuk Sipasan yang

patah dia obat dengan ramuan daun-daunan yang dia ambil di sekitar air terjun tersebut.

Obat itu mendatangkan rasa nyaman dan me-legakan pernafasan Datuk tersebut. Ngilu dan

nyerinya lenyap sama sekali.

Pengobatan itu dia lakukan setela-h selesai makan. Mereka semua berkumpul mengitari api

unggun besar yang dibuat tak jauh dari air terjun. Lelaki perempuan, tua muda berkumpul

ingin melihat dan mendengar cerita anak muda yang telah menyelamatkan nyawa mereka itu.

Beberapa orang yang luka juga diobati. Dan sama keadaannya dengan Datuk Sipasan, luka

mereka terasa banyak sekali angsurannya.

“Obat apa namanya ini?” tanya Datuk Sipasan.

“Inilah pengobatan asli sejak nenek moyang kita. Segala obat yang dibuat berasal dari daun-

daun dan akar-akar serta getah tumbuh-tumbuhan”

 

 

Dan malam itu rombongan penduduk yang pindah dari Pariaman ke Luhak Tanah Datar itu

mendapat pelajaran yang amat bermanfaat. Yaitu belajar meramu obat-obatan.

Mereka sibuk mencari akar kayu daun tumbuh-tumbuhan yang ditunjukkan contohnya oleh

anak muda itu. Dan diterangi api unggun mereka mem-buat obat-obatan.

Menjelang tengah malam, tak seorangpun yang berniat untuk tidur. Dan Datuk Sipasan

mengerti apa yang diingjni oleh rombongannya.

Ketika mereka duduk sambil menghirup kopi yang dijerangkan oleh Siti Nilam, gadis berusia

17 tahun yang ayahnya mati di Bukit Tambun Tulang tadi, yang dirinya hampir pula dinistai

penyamun itu. Datuk itu membuka pembicaraan dengan hati-hati.

“Maaf, sampai saat ini kami belum tahu harus memanggil apa pada engkau anak muda.

Maksud saya, kami belum tahu siapa namamu, di mana kampungmu dan akan ke mana

engkau sebenar-nya. Sementara tentang diri kami semua, rasa-nya sudah tak ada lagi yang

harus diceritakan…”

Anak muda itu tak segera menjawab. Dia memandang ke arah air terjun di lembah anai itu.

Lambat-lambat menanggalkan giring-giring perak di kaki kanannya.

“Masih ingat pertanyaan saya tadi… ketika masih di bukit Tambun Tulang?” dia bertanya

perlahan.

“Ya, saya masih ingat. Engkau menanyakan kalau-kalau ada diantara kami yang mengenal

giring-giring ini…” jawab Datuk Sipasan. Anggota rombongan yang lain pada menggeser

duduknya mendekat.

Anak muda itu menarik nafas panjang. Matanya menghadap lurus ke depan. Dan di

depannya, justru duduk Siti Nilam di samping seorang perem-puan lain. Tanpa disadari,

mereka bertatapan cukup lama. Akhirnya Nilam menundukkan muka-nya yang bersemu

merah dalam cahaya api unggun.

“Siapa nama saya, darimana saya da tang, itu yang selalu ditanyakan orang….” anak muda itu

berkata perlahan sambil menatap api unggun. Seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Namun, itu pula yang tak saya ketahui…” katanya lagi. Semua yang hadir jadi tertegun tak

mengerti.

“Ya.” dia melanjutkan lagi, “saya tak mengetahui siapa nama saya. Dan tak tahu di mana

kampung halaman saya. Saya juga tak tahu siapa ayah dan ibu saya. Ketika saya mulai bisa

berfikir, saya mendapati diri saya di puncak Gunung Talang bersama seorang lelaki tua yang

saya sangka ayah saya. Namun setahun yang lalu, dia menceri-takan semuanya. Bahwa saya

bukan anaknya. Bahwa dia menemukan saya di sebuah ladang yang dia sudah tak ingat di

mana tempatnya. Saya dia temukan ketika masih berumur 5 bulan. Tak jauh dari tempat saya

berdiri, ada negeri hangus terbakar, penduduknya melarikan diri. Kabarnya baru kena

rampok. Saya dia bawa ke Gunung Talang di mana dia tinggal. Satu-satunya tanda yang ada

pada saya adalah giring-giring perak ini.

Orang tua yang merawat saya itulah guru saya bersilat dan belajar ilmu bathin serta ilmu

obat-obatan. Tiga bulan yang lalu saya disuruhnya turun gunung mencari orang tua saya.

Mencari kampung saya. Dia tak mengetahui sia nama saya. Dan kalau dia memanggil, dia

memanggil saya dengan sebutan si Giring-Giring Perak.

Sejak sebulan yang lalu, saya sudah mendatangi Padang dan Pesisir Selatan, mendatangi

kampung demi kampung, memasuki belukar dan ladang, mencari kalau kalau ada orang yang

kehilangan anak 20 tahun yang lalu. Dengan giring-giring perak di kaki kanannya.

 

 

Itulah sebabnya, giring-giring ini tak pernah saya lepaskan, meskipun sudah begim besar.

Saya yakin suatu hari, entah kapan, barangkali ibu atau ayah, atau barangkali kakak saya,

kalau mereka masih hidup, mereka akan mendengar giring-giring ini, dan teringat pada

saya… Saya akan mencari mereka, kemanapun jua….”

Ketika dia menghentikan ceritanya, perempuan perempuan pada mengusap air mata. Lelaki

pada menunduk.

“Maafkan saya telah membangkitkan cerita yang membuat anda sedih…” kata Datuk Sipasan.

Anak muda itu menggeleng. Dia tersenyum lemah. Dan tiba-tiba matanya bertatapan lagi

dengan Siti Nilam yang kebetulan lagi mencuri pandang padanya. Gadis itu basah pipinya

karena air mata. Dia teringat ayahnya yang mati di bukit Tambun Tulang tadi. Kini dia juga

sebatang kara, ibunya sudah meninggal dua tahun yang lalu karena sakit perut di Pariaman.

Mereka bertatapan lama sekali.

 

 

Episode6 – Malam Mencekam di Batang Anai

Lewat tengah malam, ketika semua rombongan bergelung di keliling api untuk tidur,

sementara yang perempuan masuk ke pedati, anak muda itu berjalan lambat-lambat menjauhi

lingkaran api unggun itu.

Beberapa orang terbangun mendengar suara giring-giring perak di kakinya ketika dia

melangkah. Suara giring-giring itu melantun lemah. Seperti se-buah dendang rindu dan putus

asa seorang anak yang mencari kedua orang tuanya.

“Si giring-giring perak itu pergi” bisik seorang lelaki pada Datuk Sipasan. Datuk itu

membuka matanya.

“Saya juga mendengar suara giring-giringnya. Tapi saya rasa dia takkan pergi…” jawab si

Datuk perlahan.

“Kenapa begitu?”

“Entahlah, pokoknya saya rasa dia akan tetap bersama kita sampai besok. Dia takkan mau

meninggalkan rombongan yang telah ditolongnya di kaki bukit ini. Tempat ini masih sangat

berba-haya. Barangkali penyamun-penyamun itu tengah mengintai kita. . .”

“Aneh, siang tadi sama sekali saya tak melihat dia bersilat…”

“Maksudmu…?” seorang lain di dekat api unggun yang mendengar pembicaraan perlahan itu

bertanya sambil mengangkat kepala dari batu yang dia jadikan sebagai bantal. Nada tanyanya

agak berang.

“Maaf, bukan saya menyangsikan kepandaian-nya. Tapi…saya tak punya kesempatan melihat

dia bergerak. Terlalu cepat…”

“Ya. saya sendiri tak tahu bagaimana cara dia bergerak. Hanya melesatnya bayangan putih

yang nampak ketika dia menyerang Gampo Bumi dua kali. Dan tombak yang hampir

menyudahi nyawa saya, dia hantam dengan ranting kayu.. Gerakannya benar-benar cepat.

Hei, dia memang belum mengatakan siapa gurunya tadi bukan?…” Ucapan Datuk Sipasan ini

membuat beberapa lelaki bangkit dari pembaringan mereka. Pembicaraan itu memang

menarik perhatian .mereka semua.

“Ya. Dia tak pernah bicara tentang siapa nama gurunya. Yang dia katakan hanyalah bahwa

gurunya berdiam di Gunung Talang….”

“Gunung Talang… Seingat saya tak pernah ada seorangpun guru silat tinggal di sana. Ataukah

pengetahuan saya demikian sempitnya hingga yang saya ketahui hanyalah perguruan-

perguruan kecil saja?” Datuk Sipasan seperti bicara pada dirinya sendiri.

Suara giring-giring itu sudah senyap. Yang terdengar kini hanyalah suara desah air terjun

Anai dan bisikan malam bersahutan dengan suara peng-huni hutan.

“Hei Datuk, bagaimana kalau dia kita jodohkan dengan Siti Nilam?” Seorang lelaki separoh

baya bicara. Ucapannya tak begitu keras. Tapi hampir semua lelaki yang tidur di keliling api

unggun itu pada menyumburkan kepala mereka dari bawah selimut. Beberapa orang di

antaranya malah du-duk. Datuk Sipasan masih diam.

“Apa maksudmu?” tanyanya perlahan.

“Ehm…maksud saya… maksud saya mereka nampaknya saling jatuh hati.”

“Darimana kau tahu?” Seorang lelaki dekat pohon tumbang yang telah duduk dari berbaring-

nya bertanya.

“Saya melihat mereka saling menatap lama sekali tadi….”

“Ya, saya juga melihat…” kata lelaki lain.

“Ya, saya juga!”

 

 

“Saya juga…”

“Ketika berkelahi di Bukit Tambun Tulang tadi, dia bertatapan cukup lama dengan Kepala

Penyamun itu. Juga dengan saya. Apakah itu pertanda cinta pula?” Suara Datuk Sipasan

masih terdengar perlahan tanpa merobah posisinya ber-baring.

Ucapannya ini disambut oleh tawa bergumam beberapa orang. Tapi lelaki yang bicara

pertama tadi menyela lagi:

“Pandangannya pada Datuk dan kepada Kepala Penyamun itu sudah tentu berlainan dengan

pan-dangannya pada Nilam. Jangan disamakan. Dia pastilah anak muda normal Datuk….”

Kembali beberapa orang tertawa mendengar kilah ini. Datuk Sipasan sendiri ikut tersenyum.

“Ya. saya juga melihat dia menatap lama sekali pada Nilam”

“Tidak hanya dia Datuk. Nilam juga membalas tatapannya lama sekali. Dan itu bukan hanya

seke-dar tatap-tatapan. Tatapannya punya arti”

“Arti yang dalam….” sambung yang lain.

“Dalam dan bermakna…” sahut yang lain pula.

“Bermakna dan indah….” yang lain lagi bicara.

Dan mereka jadinya bicara bergalau. Kemudian galau itu terhenti tatkala sayup-sayup

terdengar suara bansi. Suara bansi di tengah malam!

Bunyi bansi itu lembut mendayu. Mereka saling pandang. Kemudian beberapa orang

merebahkan badannya kembali. Beberapa orang lagi mengikuti berbaring perlahan. Menarik

selimut, berkelumun. Namun suara bansi itu tetap mereka dengar. Ada relung hati mereka

yang serasa teriris pilu bersama suara bansi yang alangkah menghibanya itu.

“Dia merindukan orang tuanya. Saudaranya. Kakaknya, atau siapa saja yang bisa mengenal

nya..” seorang berkata dari balik kain sarung yang menutupi wajahnya.

“Suara bansi itu adalah suara hatinya…”

“Alangkah sepinya malam ini. Malam yang gelap di tengah rimba. Namun dirinya ratusan

kali lebih sepi dari kesepian rimba ini. Hidup tanpa mengenal apa-apa. Bahkan nama dan •

dirinya sendiri tak dia kenal…” Datuk Sipasan berkata perlahan. Yang lain mendengarkan

sementara hati mereka jatuh hiba mendengar suara bansi itu.

“Kalau dia memang punya hati pada Nilam, saya amat bersyukur. Nilam baru kehilangan

ayah. Kehilangan ibu. Kini dia sebatang kara. Kalau mereka dijodohkan Tuhan, saya yakin

mereka akan bahagia. Nilam akan mendapat pelindungan dari lelaki yang gagah perkasa.

Sementara anak muda itu akan menemukan ibu, adik dan saudaranya dalam diri Nilam…”

Datuk itu berkata perlahan.

Malampun berangkat larut. Tak ada lagi di antara mereka yang bicara. Barangkali semua ter-

tidur karena lelah. Tapi barangkali juga tak seorang pun yang bisa memejamkan mata.

Salah seorang di antara yang tak bisa memejamkan mata itu adalah Siti Nilam. Dia terbaring

dengan gelisah dalam ruang pedatinya. Suara bansi itu amat menggelisahkan hatinya. Dia tak

tahu kenapa dia menangis. Dia tak ingin menangis. Tapi air mata menggabak terus di pipinya.

Dia teringat pada almarhum ibunya. Pada ayah-nya yang baru saja meninggal siang tadi. Dia

kini sebatang kara. Tak ada famili. Kemana dia harus pergi? Ikut terus dengan rombongan

ini? Kemudian mengapa? Sebagai gadis yang baru saja mekar, dia tahu cukup banyak lelaki

yangjatuh hati padanya. Namun dia tak pernah memikirkan lelaki sekali-pun. Tak pernah!

Tapi tatapan anak muda berbaju putih dan bergiring-giring perak itu membuat hatinya

berdebar.

 

 

Dia berbalik ke kiri. Ke kanan. Menghapus air mata. Suara bansi tadi sudah lama lenyap.

Yang terdengar hanya suara burung hantu dan desahan air terjun. Desah air itu seperti desah

hatinya yang sepi. Desah hatinya yang sendiri tanpa ayah dan ibu. Dia menghapus air mata.

Dia duduk Dia berdi-ri. Dia turun ketanah. Menghirup udara malam yang alangkah sejuk dan

segarnya.

Dia melangkah. Di kanannya kelihatan api unggun. di mana para lelaki pada berbaring, di

sekelilingnya. Dia melangkah ke kiri. Dia ingin ‘ menceritakan penderitaan hatinya pada

orang lain. Pada perempuan lain. Dia menol’eh ke pedati Rahimah yang ada di belakang

pedatinya. Sunyi. Sudah tidurkah dia? Pasti sudah. Ke sanakah aku? Ah, dia sudah tidur.

Kenapa harus kuikut serta . dia ke dalam rusuh hatikku?

Dengan fikiran demikian dia melangkah terus. Dia ingin ke dekat air mancur. Ingin

mendengar resahnya air terjun itu. Barangkali keresahan air terjun itu bisa mengalahkan resah

hatinya. Bukankah dengan mendengar keresahan lain keresahan kita terasa lebih ringan?

Tapi kenapa bansi itu tak lagi berbunyi? Ah, lebih baik memang dia tak berbunyi. Tapi aku

ingin mendengar bunyinya lagi. pikirnya sambil tetap melangkah ke air terjun.

Namun gadis ini tak mengetahui bahwa ke-inginannya untuk lepas dari kegundahan hatinya

itu justru menyeretnya ke dalam bahaya yang mengerikan.

Dugaan Datuk Sipasan memang benar. pimpinan Penyamun Bukit Tambun Tulang itu

memang tak mau menyerah begitu saja.

Belum pernah dalam sejarah liidup mereka melepaskan mangsa pergi tanpa upeti. Apalagi

rombongan Datuk ini telah mendatangkan celaka pada mereka.

Untuk itu Gampo Bumi mengirimkan empat orang anak buahnya yang tangguh-tangguh

untuk mengikuti rombongan itu. Dan mereka jadi gcmbira bahwa rombongan itu justru

bermalam dekat air terjun. Hariya mereka jadi kecut melihat anak muda itu tak pernah lepas

dari rombongan ter-sebut.

Mereka menanti di seberang air terjun sana. Menanti saat yang baik untuk membalaskan sakit

hati dan dendam. Nyamuk dan kegelapan malam bukanlah hal yang menakutkan bagi

mereka. Bahkan harimau dan ular tak bisa menggetarkan mereka. Mereka sudah terlalu biasa

dengan hutan ini. Ini adalah rumah mereka. Mereka mengenal setiap jengkal hutan ini.

Karenanya ketika rombongan Datuk itu terlena tidur di serang kantuk nyamuk dan rasa

dingin yang menusuk, mereka enak-enak saja di dahan kayu mengintai.

Suatu saat salah seorang di antara mereka berbisik: ‘

“Sst, lihat itu….”

Tiga orang lainnya menoleh. Dan mereka melihat sesosok tubuh berjalan ke air terjun.

“Hei, itu perempuan…”

“Sst, jangan ribut. Biarkan dia. Ini umpan yang empuk….”

“Hei, bukankah gadis itu yang gagal dilahap Lelo Cindai siang tadi?”

Lelaki yang bernama Lelo Cindai, yang memimpin rombongan kecil itu mempertajam

pandangan. Dan jakunnya turun naik.

“Ya..Ya! Dialah gadis itu. Amboi, gadis yang jolong mekar. Susunya sekepalan tangan.

Mengkal dan harum. Aku sempat meremasnya tadi siang. Pinggulnya…. amboiii. Ini

bahagianku. Daripada batang pisang, lebih baik merapalam dan kuini. Tak dapat tadi siang

lebih nikmat malam ini…ke-marilah upik.. kemarilah sayang. Ini udamu.. ku-beri kau yang

nikmat di dunia ini…” Lelo Cindai berbisik dan perpantun.

 

 

“Jangan terlalu panjang pantunnya Lelo. Yang perlu Lelo ingat adateh pantun ini: Di mana

tumbuhnya padi, kalau tidak di sungai Batang Had. Kalau Lelo mendapat empat kali, jangan

lupa kami seorang sekali”.

Pantun ini disambut dengan tawa yang ditahan oleh tiga orang lainnya.

“Berees! Bukankah selama ini saya selalu mem-beri kalian giliran? Kalau saya selesai empat

kali, kalian kuberi dua kali seorang Okey?”

“Oke sih Oke Lelo. Tapi apakah gadis itu akan tahan?”

“Jangan khawatir dia tidak hanya “tahan” tapi akan melayani kita semua dengan

keahliannya”.

“Dengan keahliannya?”

“Ya!”

“Saya rasa dia belum pernah disentuh lelaki Lelo…”

“Jahannam. Siang tadi saya meremasnya. Apakah saya kau anggap bukan lelaki?”

“Bukan! Bukan itu maksud saya Lelo. Selain Lelo saya rasa dia masih perawan. Barangkali

umurnya paling tinggi delapan belas….”

“Enam belas! Dia pasti enam belas” kata Lelo Cindai membetulkan.

“Ya, saya percaya itu. Tapi ini dia datang. Lihat dia membasuh mukanya dengan air sedingin

ini. Gila. Apakah dia seorang yang berdarah panas makanya malam sedingin ini mencuci

muka?

“Ya, dia gadis berdarah panas. Itu bagus bukan? Nah siap-siaplah”

 

 

Episode7 – Penculikan Siti Nilam

Anak muda bergiring-giring perak itu bersandar ke batang kayu.Tiga bulan mengitari

gunungTandikat. Datang dari kampung kekampung. Bertanya dari rumah ke rumah. Tapi tak

seorangpun yang pernah kehilangan anak.

Tak seorangpun yang mengetahui, bahwa ada suatu keluarga yang kehilangan anak dua puluh

tahun yang lain. Kalaupun ada, siapa yang masih ingat?

Dan mereka semua mengenal dan memanggil-nya dengan sebutan SI GIRING-GIRING

PERAK.

Dia tak bernama, bukankah tanda pengenalnya lianya giring-giring perak itu?

Saya pasti punya nama. Saya pasti punya ayah dan ibu. Suatu saat kelak, kalau mereka masih

liidup saya pasti bertemu dengan mereka. Pasti Tapi apakah mereka masih hidup? Dan

acapkali, jika diu sampai pada fikiran seperti ini dia menun-duk. Menyeinbunyikan kepalanya

diantara kedua lututnya.

Tangannya bergerak ke bawah perlahan. Meme-gang pergeiangan kaki kanannya. Menyentuh

giring-giring perak itu. Talinya sudah dia perpan-jang. Karena sudah tak muat lagi. Jari-

jarinya mempermainkan buah giring-giring itu.

Tapi tiba-tiba kepalanya tertegak. Dia seperti mendengar jerit tertahan. Salah dengarkah dia?

Suara burung malamkah itu? Atau suara anak harimau?

Tidak, itu pasti suara perempuan. Dia melang-kah sepat arah ke api unggun. Di sana Datuk

Sipasan sudah tegak. Ketika dia melihat Anak muda itu datang, dia segera bicara:

“Saya mendengar suara pekik tertahan…”

“Entahlah. Hei bangun semua!!” Suara Datuk ini membangunkan semua lelaki.

“Ada suara pekik tertahan. Coba periksa semua pedati. Kumpulkan perempuan-perempuan.”

Semua lelaki memasang suluh yang telah ter-sedia sejak dari Pariaman. Dan dengan suara

keras memanggil perempuan-perempuan untuk berkumpul.

“Siti Nilam…” Datuk itu berkata cepat begitu perempuan-perempuan yang berjumlah enam

belas orang itu berkumpul.

, “Ya dia yang tak ada. Saya lihat pedatinya kosong!”

“Harimau atau penculikan?” Datuk itu berkata perlahan.

“Saya rasa diculik” kata si Giring-giring Perak. Suaranya datar tanpa emosi.

“Bersebar tiga-tiga. Cari dia sampai da pat!” Datuk itu memerintahkan semua lelaki. Namun

si Giring-Giring Perak mencegahnya.

“Tak ada gunanya Datuk. Malam terlalu gelap. Hutan ini terlalu lebat. Datuk pasti tak

mengenal rimba ini. Sementara penyamun itu sudah kenal setiap jengkal hutan ini dengan

baik” “Tapi kami bertanggung jawab padanya. Dia sebatang kara. Ayahnya meninggal siang

tadi. Sementara ibunya sudah beberapa tahun yang lalu mati karena sakit perut…”

Si Giring-Giring Perak menatap Datuk Sipasan. Kemudian dia berkata perlahan:

“Saya akan mencarinya….”

“Kami akan ikut dengan anda…”

“Terimakasih. Tapi saya juga mengenal hutan ini dengan baik. Saya rasa sendiri akan lebih

mudah Tunggulah di sini, Insya Allah, sebelum fajar datang, saya akan membawa gadis itu,

siapa nama-nya tadi? Nilam?”

“Ya, Nilam. Siti Nilam…”

 

 

Dan sebelum mereka sadar apa yang terjadi, anak muda itu tiba-tiba lenyap dari hadapan

mereka.

“Ya Tuhan, sebentar ini dia di sini. Di hadapan kita. Kenapa tiba-tiba lenyap?” Seorang lelaki

tua bicara dengan mulut ternganga.

Datuk Sipasan menggeleng.

“Alangkah sempitnya dunia kita. Seumur hidup, saya tak pernah melihat orang mampu

bergerak demikian cepat…”

“Apakah.. apakah dia memang manusia?” seorang perempuan bicara perlahan. Semua mata

memandang padanya. Kemudian mereka saling tukar pandangan.

“Ya, apakah dia bukan jin? Kenapa dia mema-kai kain serba putih? Bukankah yang memakai

pakaian serba putih itu hanyalah mayat? Apakah dia bukannya sebuah tamsil pada kita yang

hidup, bahwa dia melintas membawa pesan kematian?” Datuk Sipasan tersenyum mendengar

ucapan

anak muda ini.

“Sebaiknya engkau menjadi seorang seniman buyung. Ucapanmu terlalu puitis. Tapi ada

benar- nya. Dia memang membawa pesan kematian. Pesan kematian bagi Penyamun-

penyamun itu”.

 

 

Episode 8 – Nafsu Birahi Lelo Cindai

Si Giring-giring Perak segera menyeruak belukar ke arah di mana dia tadi mendengar suara

itu. Rasanya tak jauh dari air terjun. Ketika ka kinya menginjak sebuah batu layah, dia merasa

kan batu itu basah. Dan inderanya yang tajamse gera dapat menangkap, bahwa gadis itu di

sekap dari atas batu itu.

Dan dari situ dia memandang keliling. Di sebe-lah kiri ada dinding batu setinggi puluhan

meter dari mana air terjun itu berasal. Di sebelah bela-kangnya adalah rombongan itu

bermalam. Dia memandang ke depan.

Delapan depa di depannya, setelah air terjun itu melintasi sebuah sungai kecil ada belukar. Di

belukar itu ada pohon besar dan rimbun, Dia me-lompat. Dalam sekali lompatan yang ringan

dia berada di salah satu cabang pohon tersebut.

Ada ranting kecil yang patah. Dan dia segera tahu, dari pohon inilah penyamun-penyamun itu

mengintai. Dari tempat ini amat jelas rnelihat ke arah api unggun. Dan amat mudah untuk

men-capai setiap orang yang datang ke air terjun.

“Hmm, ada empat atau tiga orang yang mengintai dari pohon ini….” bisiknya setelah

memperhatikan dahan besar di kayu itu. Dengan memperhitungkan situasi tempat itu, dia

segera tahu ke arah mana Siti Nilam dibawa lari.

Siti Nilam yang mencecahkan tangannya ke air yang sejuk, tiba-tiba merasa ada orang di

belakangnya. Sebagai gadis Minang yang belajar silat meskitak begitu sempurna, dia berbalik

dan langsung menendang. Tapi orang yang tegak di belakangnya melompat ke samping.

Tangannya langsung menangkap mulut gadis itu. Kemudian tangan yang lain memukul

tengkuknya. Terdengar pekik tertahan Siti Nilam. Tapi mulutnya telah ditutup. Ketika dirinya

jatuh pingsan karena pukulan ditengkuk itu, Lelo Cindai memangku tubuhnya. Kemudian

membawa lari.

“Lekas lari…” katanya pada tiga temannya yang menanti di bawah pohon. Mereka berlari

dalam gelap seperti berlari di siang hari. Demikian , hapalnya mereka akan tempat itu.

Sehingga belukar yang demikian lebatnya tak menghalangi mereka. Mereka menyelusup

mendaki tebing yang curam. Naik ke atas. Jika orang biasa takkan menduga bahwa di tebing

yang curam tak berapa jauh fcdi kiri air terjun Lembah Anai itu ada jalan setapak berupa

tangga dari batu-batu alam ke atas sana.

“Ke gua di tepi sungai…!” Lelo Cindai berseru sementara tangannya yang memangku tubuh

Siti Nilam meremas-remas. Mereka kini berada di Batang Anai bahagian atas air terjun

tersebut.

Batang Anai di hulu Air Terjun itu tak begitu besar. Batu-batu besar bersumburan. Dengan

melompati beberapa batu besar, mereka tiba diSeberang. Dan empat lompatan mereka tiba di

mulut sebuah goa di tepi sungai itu.

“Kalian tunggu giliran di luar….” perintah Lelo Cindai. Dia sendiri melangkah masuk ke goa

tersebut. Goa itu cukup lapang, diatasnya tum-buh pohon-pohon besar.

Lantainya terbuat dari batu yang rata dan licin. Berbeda dari udara di luar, dalam goa ini

udaranya hanga’t dan bersih.

Lelo menaruh tubuh .Nilam perlahan di lantai. Gadis itu masih belum sadar. Malam yang

gelap membuat dia tak melihat apa-apa. Tapi begitu tubuh Nilam terletak. tubuh Lelo ikut

bergolek di sisi tubuh gadis it«.

 

 

Tangannya mulai mejiggerayang. Menyentak-kan kain gadis tersebut. Meremas pinggulnya.

Mulutnya menjalari wajah Nilam, bibirnya leher-nya. Dadanya. Dan tangannya bergerak lagi.

Me-renggutkan baju kurung Nilam. Suara kain robek terdengar sampai ke luar goa.

Tiba-tiba tangannya terhenti Tiba-tiba gerak-annya terhenti. Tiba-tiba nafasnya juga rasa

terhenti. Dia mendengar sesuatu. Dekat sekali. Seperti suara giring-giring.

Dia menanti. Senyap. Dia mendengarkan. Senyap. Tangannya bergerak lagi. Tapi suara

giring-giring itu berbunyi lagi. Kali ini dia tak sempat mendengar banyak. Karena begitu dia

coba bergerak, rambutnya rasa ada yang menarik. Dia ingin bercarut. Ingin menyumpah. Tapi

tubuhnya dia rasa melambung. Sebelum carutnya keluar, tubuhnya menerpa dinding goa!

Dia merasakan tubuhnya remuk. Tubuhnya melosoh di dinding. Menggeletak di lantai goa

yang keras. Tapi dia belum mati. Dia ingin membalas. Dia tahu, yang mencelakainya ini

pastilah anakmuda bergiring-giring perak yang mengobrak-abrik mereka di Bukit Tambun

Tulang siang tadi.

Dia meraba pinggang untuk mencabut keris dan melemparkannya diam-diam ke tubuh anak

muda Namun usahkan keris, celana sajapun dia tak punya kini. Sudah dia tanggalkan tadi

sebelum dia

menyentakkan pakaian gadis itu. Celakanya dia juga belum sempat menikmati tubuh gadis itu

tatkala .anak muda itu tiba. Dan malangnya lagi, anak muda itu mendengar gerakkan

tangannya yang perlahan mencari keris itu. Anak muda itu menggerakkan tangan. Sebuah

kerikil sebesar jam tangan melesat dalam gelap itu. Menghantam jidatnya. Dan tanpa sempat

melolong atau memekik, jidatnya berlobang, nyawanyapun berangkat ke neraka. Dia mati

dengan menyumpahi temannya yang berdua yang dia tugaskan menanti di luar. Kenapa

mereka tak memberitahu atau memberi kode ke dalam bahwa ada orang datang? Dan

kalaupun ada orang datang, kenapa tak mereka halangi?

Dia tak tahu, bahwa kedua temannya juga sudah mati. Kedua lelaki itu tengah duduk di luar

pintu goa ketika tiba-tiba saja anak muda itu telah tegak sedepa di depan mereka. Mereka

seperti melihat hantu. Sebab pakaian anak muda itu serba putih. Dan dalam kegelapan yang

remang-mang di pinggir batang Anai itu dia memang telihatan menakutkan.

Mereka meloncat tegak. Namun itu adalah gerakkan mereka yang terakhir. Sebab begitu

mereka tegak, begitu kaki anak muda itu melayang menghantam mereka. Yang satu kena

sepak kerampangnya. Anunya pecah ketika itu juga. Tubuhnya terangkat dan tercampak serta

tersangkut di dahan kayu. Mati tergantung penyamun ini. Yang satu lagi kena terjang hulu

jantungnya. Tubuhnya yang kena terjang itu terjerangkang dan tercebur ke dalam sungai.

Kemudian dihanyutkan oleh air deras. Dan jatuh bersama air terjun itu kebawah sana. Tak

jauh dari. tempat Datuk Sipasan berke-rnah, di mana tadi Siti Nilam membasuh muka

sebelum dia diculik.

Siti Nilam masih belum sadar dari pengaruh totokan. Dia terbaring diam. Si Giring-Giring

Perak menyentuh belakang telinga gadis itu. Kemudian sebelum si gadis sadar, dia

mengumpulkan pakaian-nya dan meletakkan di atas tubuhnya. Lalu dia melangkah keluar

dari goa itu.

Siti Nilam segera sadar sesaat dia berada di luar. Gadis itu memekik-mekik. Tapi dia segera

terdiam ketika suara si Giring-Giring Perak terdengar dari luar goa :

 

 

“Tenanglah – Nilam. Engkau telah selamat. Berpakaianlah….” Siti Nilam masih menggigil.

Tapi dia kenal betul suara anak muda yang telah menolong mereka siang tadi. Dia benar-

benar merasa aman. Dia yakin dia belum ternoda. De-ngan masih menahan isak tangis, dia

melekatkan pakaiannya sebisanya. Kemudian meraba-raba menuju titik yang agak terang.

Dan di luar di atas sebuah batu layah, Si Giring-Giring Perak itu tegak menantinya.

Siti Nilam yang merasa diselamatkan dari cemar seumur hidup, tak dapat menahan tangisnya.

Dia menangis dan tanpa disadari menjatuhkan diri kepelukan anak muda yang telah

menyelamatkan dirinya itu.

“Terimakasih uda. Terimakasih. Engkau telah menyelamatkan diriku dari noda…” ujarnya di

antara isak tangis.

Anak muda itu kaget ketika Nilam memeluk-nya. Dia membiarkan saja gadis itu memeluk

dan menangis di bahunya tanpa berbuat suatu apapun. Dan ketika Nilam puas menangis, dia

tegak sambil menunduk di depan anak muda itu.

“Mari kita ke bawah. Menemui rombongan Datuk Sipasan…” ujar si Giring-Giring Perak

perla-han. Siti Nilam mengangguk. Tapi dia menjadi ngeri melihat batu bersumburan di

sungai di dalam hutan Singgalang yang angker itu. Dia tak bergerak ketika Si Giring-Giring

Perak mulai melangkah. Dan pemuda itupun segera sadar, bahwa gadis itu takkan mungkin

melangkahi batu-batuan besar itu. Dia berbalik lagi ke tempat Nilam.

“Mari kubantu…” katanya. Dan sebelum Siti Nilam sadar bantuan bagaimana yang akan

diberi-kan anak muda itu, dia merasakan tubuhnya di pangku. Kemudian si Giring-Giring

Perak mengerahkan tenaga dan ilmu meringankan tubuh. Siti Nilam merasakan tubuhnya di

bawa melompat dari batu ke batu, dalam kecepatan yang laju. Dia melingkarkan tangannya

ke leher anak muda itu. Kemudian memejamkan mata sambil menyurukkan wajahnya ke

dada si Giring-Giring Perak.

Anak muda itu mencium bau harum yang me-mancar dari tubuh Siti Nilam. Dadanya

berdegup kencang. Dan dia memperkencang larinya untuk segera sampai ke tempat

berkumpulnya rombongan

Datuk Sipasan.

Dia harus hati-hati tatkala menuruni tebing curam menuju ke bawah. Kalau waktu naik tadi

dia bisa berlari kencang, itu disebabkan karena ilmu-nya yang tinggi dan dia tak membawa

beban. Tapi kini dia memondong tubuh seorang gadis. Dia harus hati-hati.

Sesuai dengan janjinya pada Datuk Sipasan, sebelum Subuh tiba, dia telah sampai kembali ke

tempat mereka bermalam. Siti Nilam dia turun-kan tak jauh dari tempat orang-orang yang

mengungsi dari Pariaman itu berkumpul. Dia tak ingin orang-orang itu melihat dia

memangku tubuh gadis tersebut.

 

 

Episode9 – Nista Rukayah

Kedatangan mereka disambut dengan tempik sorak oleh rombongan yang menantinya dengan

cemas. Siti Nilam segera dikerumuni oleh perempuan pempuan yang ikut dalam rombongan

itu. Sementara Datuk Sipasan memberikan secangkir kopi panas kepada si Giring- Giring

Perak. Kemudian seorang wanita menyendukkan rebus ubi yang dijerangkan di atas unggun

api.

Anak muda itu memang sedang lapar. Dia memakan ubi rebus dan meminum kopinya dengan

lahap. Tapi tiba-tiba mereka semua tersentak lagi ketika dari arah air terjun terdengar dua

perempuan saling berpekikkan.

Semua lelaki menghunus keris dan golok. lalu menghambur ke arah pekik para perempuan

tersebut. Air mancur itu terletak sekitar empat puluh depa dari tempat mereka membuat api

unggun. Pada subuh yang mulai muncul itu, para perempuan pergi mengambil udhuk ke air

terjun. Sesuatu yang menakutkan pasti telah terjadi pula atas diri perempuan-perempuan itu.

Ketika para lelaki itu sampai di sana mereka melihat Si Giring-Giring Perak yang tadi tengah

minum kopi, telah berdiri di batu di tepi kolam kecil di bawah air terjun itu. Di tangannya dia

masih memegang cangkir kopi. Sementara mulut-nya dia masih mengunyah potongan rebus

ubi.

Perempuan yang tadi memekik, tegak dengan kaku di atas sebuah batu. Kaum lelaki yang

ber-lompatan ke sana, pada mendekat. Si Giring-giring Perak ternyata telah mempergunakan

ilmu meringankan tubuhnya. Hingga dia sampai di sana lebih duluan dari yang lain.

“Ada apa…!?” Datuk Sipasan bertanya.

Kedua perempuan yang kini sedang berangkulan saking takutnya itu masih tak bisa bersuara.

Tapi salah seorang menunjuk pada sebuah batu yang berada dalam air.

Beberapa orang melompat untuk melihat. Mereka turun ke air. Lalu mengangkat sebuah

benda yang menyebabkan kedua perempuan itu ketakutan.

Seruan-seruan tertahan terdengar dari mulut yang lain ketika benda diangkat itu ternyata

seso-sok mayat lelaki. Tak ada bekas luka. Dan nampak-nya lelaki itu baru mati. Mayat itu

mereka letakkan di atas batu dekat Datuk Sipasan. Sebelum mereka mengenali mayat itu,

seorang perempuan yang datang kemudian berseru:

“Hei, dia salah seorang dari penyamun di Bukit Tambun Tulang itu. Dia yang merangkak ke

pedati Rukayah…..” Perempuan yang bernama Rukayah yang dia sebut itu ternyata salah

seorang di antara yang terkejut tadi. Dia bergegas datang. Dan melihat mayat itu. Dan

berangnya timbul tiba-tiba. Dia mengambil sebuah batu sebesar kelapa kecil. Kemudian

dengan menyumpah-nyumpah, dia memukul kepala mayat itu.

“Kurejam kau… jahanam… jahannam! Ini atas nista yang kau perbuat pada diriku…

jahannam!!” Perempuan itu menyumpah-nyumpah sambil memukuli mayat tersebut. Datuk

Sipasanlah yang akhirnya menenangkannya.

“Tak baik menganiaya mayat. Betapapun juga, dia kini adalah jenazah yang tak berdosa.

“ Ruhnya yang berbuat jahat itu telah pergi…”

“Tapi dia telah menistai diriku…” pekik perernpuan itu sambil menangis. Dia teringat lagi

betapa lelaki itu sore kemaren menggerayangi tubuhnya yang padat itu. Meremasi dadanya.

Meremasi pinggulnya setelah merenggutkan kainnya. Dia menghimpitnya. Mengingat ini,

 

 

perempuan itu tiba-tiba melemparkan batu besar itu ke kepala mayat tersebut. Kemudian dia

berlari ke pedatinya.

Di sana dia memeluk suaminya yang dalam pertarungan tadi terluka parah. Dia menangis di

dada suaminya. Sisuami mengerti nista yang telah menimpa diri isterinya. Dia pegang kepala

isterinya itu dan mengelusnya dengan lembut:

“Tenanglah Rukayah… tenanglah. Jangan me-nangis juga. Tak ada yang perlu kau sesali…”

“Tak perlu kau pikirkan. Engkau tetap isteri yang kucintai. Dalam pertempuran banyak hal

yang bisa terjadi Rukayah….”

“Tapi uda akan membenciku… Uda akan meninggalkan aku…” .

“Siapa yang mengatakan itu? Aku bangga, engkau melakukan perlawanan. Engkau telah ber-

juang melawan mereka. Dan aku bersyukur, engkau masih hidup. Engkau tetap ibu dari anak-

anakku. Aku takkan meninggalkan dirimu. Percayalah Rukayah…”

Perempuan itu menangis lagi di dada suaminya.

Sementara itu, di tepi telaga kecil di bawah air terjun Batang Anai tadi kaum lelaki masih

mempertanyakan tentang sebab kematian penya-mun tersebut.

“Dia mati di atas sana. Dan jatuh ke mari bersama air terjun…” Si Giring-Giring Perak ber-

kata perlahan. Semua orang menoleh padanya.

“Di atas sana masih ada dua bangkai lagi. Yang satu di dalam goa. Yang satu tersangkut di

dahan kayu…”

“Merekakah yang menculik Siti Nilam?” Datuk Sipasan bertanya. Si Giring-Giring Perak

meng-angguk. Kemudian berjalan perlahan ke dekat api unggun. Yang lain bubar satu-satu.

 

 

Episode 10 – Menguak tirai masa lalu

Pagi itu setelah mereka sholat su-buh berjamaah, anak muda ber-baju serba putih itu

kembalime-ngobati yang luka-luka.Mengganti obat-obat dari daun dan akar kayu yang dia

pasang malam tadi.Perempuan-perempuan bertanak mengeluarkan dendeng dan palai yang

mereka bawa dari Pariaman.

‘Kenapa Datuk meninggalkan Pariaman?” Anak muda itu bertanya pada Datuk Sipasan

tatkala dia mengganti balut luka di rusuk Datuk itu

“Belanda menyerang negeri itu sejak enam bulan yang lalu. Mereka berhasil menduduki utara

pantai. Setiap hari mereka menyerang perkampungan…”

‘Lalu Datuk meninggalkan kampung itu?

“Ya Saya harus menyelamatkan sebahagian penduduk untuk tak jatuh menjadi tawanan dan

budak. Banyak lelaki yang telah tertangkap, lalu dibawa dengan kapal dalam keadaan

dirantai. Kabarnya mereka dijadikan budak belian di darat-an Eropah. Yang perempuan

dijadikan penghuni harem…”

“Kenapa tak menyusun kekuatan untuk melawan?”

“Sudah kami coba. Tapi kekuatan kami amat terbatas. Apalagi diantara penghulu suku ada

yang berkhianat. Lebih memerlukan uang dan pangkat daripada harga din.”

“Kini apa rencana Datuk?” “Mengungsikan kaum wanita ke tempat arnan. Lalu coba

menghubungi kaum Paderi di Luhak Agam. Kami akan coba minta bantuan mereka melawan

Belanda,”

“Ya, saya pernah mendengar nama Kaum Paderi disebut-sebut…”

“Mereka adalah golongan Islam yang baru muncul. Dewasa ini pimpinannya adalah Tuanku

Nan Renceh. Bermarkas di Kamang. Kami ingin menggabung dengan mereka…” Anak muda

itu terdiam.

“Hei Giring-Giring Perak, maafkan, saya ingin bertanya lagi tentang dirimu. Boleh?” Anak

muda itu mengangguk. “Saya sudah cukup lama mengenal daerah ini. Tapi seingat saya, tak

seorangpun guru silat yang berdiam di Gunung Talang. Gunung itu terlalu angker dan

angkuh. Malam tadi engkau bercerita bahwa engkau dan gurumu berdiam di sana. Begitu?”

Anak muda itu mengangguk lagi.

“Kalau saya boleh tahu, siapakah nama gurumu yg mulia itu?”

Anak muda itu tak menjawab

Matanya menatap ke air terjun. Lalu menghela nafas panjang.

Lalu berkata perlahan:

“Sulit untuk dipercaya, selama saya berguru padanya, hampir 20 tahun, saya tak pernah

mengetahui nama ataupun gelarnya. Dia hanya datang ondok di mana saya belajar sekali

seminggu.

Stiap hari Jum’at. Selain hari itu, saya tak pernah mengetahui ke mana dia…”

Datuk Sipasan ternganga heran. Ini benar-benar yang luar biasa. Seorang murid tak mengenal

frma gurunya. Dan seorang guru mendidik muridnya sekali sepekan. Tapi betapapun juga, si

guru tentulah pendekar yang amat sakti. Sebab muridnya saja sudah begini tangguh. Apalagi

gurunya..

“Apakah engkau tak pernah menanyakan amanya?”

“Hal itu saya lakukan ketika saya dia suruh pencari ayah dan ibu. Namun orang tua itu hanya

menarik nafas panjang. Dan berkata: Tak ada artinya nama nak. Seperti engkau juga tak

punya nama. Carilah ayah dan ibumu. Kalau kelak engkau akan menemuiku, aku selalu

 

 

berada di sini… Itu-ucapannya.” Datuk Sipasan dan beberapa orang pengungsi dari Pariaman

yang mendengar cerita itu pada terdiam.

“Giring-Giring Perak itu berada di kakimu sejak engkau kecil?”

“Ya. Begitu menurut penuturan guru…”

“Boleh saya melihat?”

Anak muda itu membuka giring-giring perak di kakinya. Tali giring-giring itu jelas sudah

ditambah agar tetap sesuai dengan kakinya. Yaitu kaki seorang lelaki yang makin hari makin

beranjak dewasa.

Dia memberikannya pada Datuk Sipasan. Datuk ini membalik-balik giring-giring perak itu.

Coba mencari kalau-kalau ada tanda-tanda yang bisa dijadikan pegangan. Namun giring-

giring itu ‘ tak memberi petunjuk apa-apa. Tapi Datuk itu in gat sesuatu.

“Giring-Giring perak…” Dia terhenti. Lalu menatap anak muda itu.

“Anak muda, tak semua kanak-kanak di negeri ini bisa memakai giring-giring perak. Giring-

giring ini memang banyak orang menganggapnya sebagai obat buat anak-anak. Tapi

fungsinya yang lebih utama adalah sebagai mainan. Dan biasanya ada dua golongan orang

yang sering memberi kaki anak-nya bergiring-giring.”

Datuk itu berhenti. Anak muda itu kini jadi tegang. Dia terduduk kaku. Dia ingin mendengar

penjelasan Datuk itu. Dia ingin mengungkapkan rahasia tentang dirinya yang sampai saat ini

tetap merupakan tabir gelap.

“Kedua golongan itu adalah: Kaum Bangsawan, itau orang-orang kaya” Datuk itu berhenti

lagi. lenanti reaksi anak muda yang duduk di depan-lya. Tapi anak muda itu masih menatap

dan me-santi ucapannya selanjutnya. icapannya selanjutnya.

“Apakah engkau telah mendatangi Luhak tanah Datar dan Luhak Agam?”

Anak muda itu menggeleng. “Barangkali dapat kau coba di sana. Di kedua Luhak ini berdiam

dan berasal kaum Bangsawan Minangkabau. Dan di kedua Luhak ini pula kaum hartawan dan

orang-orang kaya bertempat tinggal. Mana tahu, di kedua luhak ini engkau dapat mengetahui

siapa orang tuamu…”

Datuk itu berhenti. Si Giring-Giring Perak tetap diam. Lelaki-lelaki yang mengungsi dari

Pariaman menatap padanya dengan perasaan iba.

Dia menatap ke air terjun. Air terjun itu keliha-indah dalam udara subuh. Berkubut tipis.

Suara indah dalam udara subuh. Berkabut tipis. Suara murai dan kicau burung pagi

bersahutan dengan au air yang terjun melewati batu-batu gunung. lelingkar dan berbuih di

kolan alam yang terjadi tbawahnya.

Lalu dia berkata perlahan: “Terimasih Datuk. Yang datuk katakan tadi terlintas dalam fikiran

saya selama ini. Kini bisa memusatkan pencarian saya di kalangan Bangsawan atau orang-

orang kaya. Meski tak begitu penting bagi saya. Yang ingin saya temui adalah ayah dan ibu

saya. Atau barangkali kakak dan adik-adik. Saya tak porduli bagaimana-pun keadaan

mereka.Saya tak perduli apakah mereka kaya, miskin, buta, pincng atau tak bertangan. Yang

saya inginkan adalah adanya mereka”.

“Saya dan teman-teman yang datang dari Pariaman ini barangkali juga ti\iak akan menetap di

suatu tempat. Mungkin kami akan berpencar guna mencari kekuatan untuk kembali

menyerang Belanda di Pariaman. Kami akan mendatangi banyak tempat dan kampung. Kami

berjanji akan menolong menayakan dan menyiasati tentang keluargamu. Kami janjikan itu

demi persahabatan dan persaudaran kita. Demi budimu yang telah menolong kami dari

maut…”

Si Giring-Giring Perak menatap pada Datuk ini tenang-tenang.

 

 

“Terimakasih Datuk. Terimakasih…”

 

 

Episode11 – Menetap di Silaiang

Rombongan itu bergerak mendaki pendakian Singgalang Kering. Merayap perlahan.

Kemudian berhenti di sebuah kampung kecil bernama Silaing.Di sini rombongan berdiam

sepekan. Sipasan membagi-bagi rombongannya menjadi tiga bahagian besar.

Sepertiga yang dia pimpin sendiri tetap tinggal di Silaing sebagai Pos Komando. Sepertiga

lagi dipimpin oleh seorang Penghulu, dia tugaskan untuk melanjutkan perjalanan ke

Pagaruyung.

Sepertiga lagi yang dipimpin oleh adik Datuk ini,situgaskan ke Luhak Again untuk menemui

Tuanku Nan Renceh.

Ketiga bahagian rombongan ini, akan menetap di kampung-kampung yang telah ditetapkan

itu sebagai penduduk setempat. Mereka harus mengerjakan pekerjaan apa saja. Bertani,

berdagang atau bertukang.

Di samping itu tugas utama mereka tetap mencari bantuan untuk membebaskan Pariaman dari

Belanda. Dan tugas lain, yang juga amat penting adalah menanyakan pada setiap keluarga,

kalau-kalau ada yang kehilangan seorang anak lelaki yang memakai giring-giring perak di

kakinya sekitar 20 tahun yang lalu.

Mereka menetapkan, enam purnama setelah saat itu, semua sudah berkumpul di Silaing.

Mem-bawa segenap bala bantuan yang bisa dikumpulkan untuk menyerang Belanda. Tapi

buat setiap berita tentang ditemukannya keluarga atau orang yang mengetahui tentang diri Si

Giring-Giring Perak, harus melaporkan setiap saat ke tempat Datuk Sipasan di Silaing. Siti

Nilam tinggal bersama keluarga Datuk Sipasan.

Si Giring-Giring Perak amat terharu atas bantuan rombongan Datuk itu untuk menolong men-

carikan keluarganya. Dia sendiri berjanji untuk selalu datang kerumah Datuk itu untuk

menanyakan kalau-kalau ada berita

***

Suatu hari Datuk Sipasan sedang kepasar. Menjual kayu api yang dia tebang dari belakang

rumahnya. Empat orang lelaki mendatangi rumahnya yang baru saja dibangun secara darurat

di pinggir kampung Silaing itu.

Keernpat lelaki itu berpakaian silat. Tampang mereka kelihatan kurang bersahabat.

Yang di rumah waktu itu hanyalah isteri Datuk Sipasan bersama dua orang anaknya yang

masih kecil. Siti Nilam saat itu tengah mengambil air pincuran.

Keempat lelaki itu nampaknya mengetahui kalau di rumah itu tak ada seorangpun lelaki.

Tanpa mengucapkan ba atau bu, mereka masuk rumah itu. Isteri Datuk Sipasan, yang

bertubuh semampai dan cukup cantik, yang tengah menyuusukan anak di bilik jadi

terperanjat tatkala dua orang lelaki tak dia kenal masuk ke biliknya. Dengan menjerit kecil

dia menutup buah dadanya dengan tangan. Sementara anaknya tetap tak mau melepaskan

ujung teteknya karena haus.

Kedua lelaki itu menjilati dada isteri Datuk Sipasan dengan tatapan mata yang nyalang.

Menatapi pinggulnya yang besar yang terbungkus dengan kain yang tak menentu letaknya.

Kemudian kedua lelaki itu mulai memeriksa rumah tersefeat.

Memeriksa di bawah kolong tempat tidur. Membalik bantal. Memeriksa dapur. Kemudian

mereka saling berbisik.

Kedua lelaki tadi muncul lagi ke dalam bilik itu. Kembali matanya menjilat dada isteri Datuk

itu yang tersimbah.

 

 

Dan isteri Datuk ini, yang sudah terbiasa meng-hadang mara bahaya, dan mengerti pula serba

sedikit ilmu silat, tak bisa menahan berang hatinya. Dia meletakkan anaknya. .Kemudian

membetulkan kain di pinggangnya. Semua tindakannya ini diperhatikan dengan tatapan

bernafsu oleh kedua -lelaki yang masih saja tegak di pintu biliknya.

“Maaf sanak, siapa sanak sebenarnya. Datang mencari apa. Dan mengapa keluar masuk bilik

orang tanpa minta izin…” Istri Datuk ini berkata tegas. Tapi dia masih berusaha untuk tetap

pada batas-batasnya. Karena betapapun juga dia mengerti, bahwa mereka orang baru di

kampung ini. Sebagai orang rantau, dia harus banyak bersabar.

Kedua lelaki itu tak menjawab. Hanya tertawa berguman “Keluarlah sanak. Ini bilik orang.

Saya lihat sanak seorang pesilat. Sebagai seorang pesilat saya rasa sanak tentu mengetahui

sopan santun” !?

Bicara isteri datuk ini terhenti tatkala yang seorang justru duduk di pembaringan. Isteri Datuk

? ini tahu gelagat. Bahaya tengah mengaacamnya. sb Dia ingin suaminya segera pulang dari

menjual kayu .api. Kenapa suaminya lambat benar pulang? Atau dia ingin agar Siti Nilam

juga hadir di sini.

Kalau dengan Siti Nilam, dia rasa dia sanggup melawan kedua lelaki ini. Atau dia juga

berdoa ,dalam keadaan seperti itu agar Si Giring-Giring Perak muncul. Ya, ke mana anak

muda itu dalam litiga hari ini? Kenapa ia tak muncul-muncul? Sebelum isteri Datuk Sipasan

sempat berbuat apa-apa, tamunya yang kurang ajar yang tegak tersandar di pintu terdengar

bersuara.

“Kalian dari mana, akan ke mana dan apa maksud serta tujuan..” Suaranya terdengar serak.

Dan osteri Datuk itu segera menangkap bau tuak keluar dari mulut lelaki itu ketika bicara.

Dia jadi tambah jeri. kedua lelaki ini nampaknya baru saja minum. Akan tetapi dia berusaha

untuk tetap tenang.

“Kami datang dari Pariaman…”

“Oo… kiranya kalian datang dari tanah jajahan nangkabau…” Isteri Datuk itu mengerenyitkan

lening.

Kata-kata “Pariaman jajahan Minangkabau” sudah cukup lama dia dengar. Di Pariaman hal

itu pernah dia dengar dari mulut kemulut. Ucapan itu menggambarkan, bahwa Pariaman dan

Padang serta Pesisir Selatan, sebenarnya bukanlah tanah Minangkabau, tapi dianggap sebagai

semacam tanah “jajahan”.

Ucapan ini amat menyinggung perasaan orang Pariaman. Padahal mereka nyata-nyata berasal

dari Luhak Agam dan Luhak Tanah Datar. Yang datang ke Pariaman lewat masa peralihan

ratusan tahun. Berpindah dari Banuhampu ke Koto Gedang, terus ke Balingka ke Malalak,

kemudian turun ke sebelah gunung Singgalang. Ke Tiku, ke Sungai Limau dan Pariaman.

Atau yang datang dari Luhak Tanah Datar, menyeberang Danau Singkarak, ke Kayu Tanam,

terus ke Pasar Usang, Duku dan Padang.

Sedikit sekali yang mengetahui, bahwa kata-kata ini sebenarnya “diciptakan” buat pertama

kalinya oleh Kolonel de Craft Seorang Belanda yang bermarkas di Padang. Yang ingin

mengadu domba anak suku Minangkabau. Sebab tanpa mengadu domba begitu, mereka

susah, memecah persatuan Minang yang amat kuat. Dan siasat adu dombanya ini ternyata

amat berhasil ketika itu.

 

 

Memang terjadi pertentangan yang tajam antara orang “Darat” dengan orang “Pesisir”. Orang

darat merasa. dirinya adalah orang Minang Asli. Dan menganggap orang Pesisir sebagai

orang “lain”.

Untunglah isteri Datuk Sipasan sudah arif tentang hal ini. Dia mendengar penjelasan bahwa

ucapan itu adalah adu domba penjajah. Kini, ketika lelaki di biliknya itu mengucapkan kata-

kata itu. ia hanya memandang dengan diam. Kemudian dia berkata dengan nada ketus :

“Keluarlah dari bilik ini….”

“Kami tak bisa diperintah orang upik. Ini negeri kami. Engkau dan lakimulah yang datang

kemari. Mendirikan rumah di sini tanpa meminta izin kepada kami…”

Kembali isteri Datuk ini mengerutkan kening.

Lelaki-lelaki ini nampaknya memang ingin mencari seteru. Dia memangku anaknya yang

tidur. Kemudian berjalan ke pintu. Tapi di pintu lelaki yang tegak bersandar tetap

menghadang. Tak beranjak setapakpun. Isteri datuk ini hilang sabarnya. Dia menerjang lelaki

itu.

Silelaki dengan tersenyum menangkap kakinya yang menendang itu dan berniat mengelus

betisnya. Namun dia salah duga. Isteri Datuk ini sudah punya “bekal” yang lumayan. Begitu

tangan silela-berusaha mencakau kakinya, begitu kakinya dia tarik segera, dan kini kakinya

itu justru menyapu kaki lelaki tersebut.

Perobahan gerak yang begitu cepat, memang luar perhitungan silelaki di pintu. Kaki kirinya

kena disapu. Dan meski tubuhnya tak langsung jatuh, tapi keseimbangan tubuhnya jadi

lenyap. Saat itu tendangan berikutnya menyusul. Dan tubuh lelaki itu terguling ke ruang

tengah!!

Sebelum yang duduk di pembaringan sadar apa ang terjadi, isteri Datuk itu melompat sambil

Map memangku anaknya ke ruang tengah. Kemudian dalam sekali loncatan panjang dia

sudah ber ada di halaman.

Saat itu pula Siti Nilam datang menyandang perian di bahunya. Dia terkejut melihat isteri

Datuk Sipasan itu melompat sambil memangku anak. Rasa kejutnya bertambah ketika dari

dalam rumah muncul empat lelaki.

Rumah mereka terletak di pinggir kampung Silaing. Di belakang rumah hanya ada hutan.

Rumah penduduk yang terdekat terletak jauh dari situ.

Jadi kalaupun mereka berteriak,

maka hal itu takkan banyak menolong. Teriakan

mereka takkan ada yang mendengar.

Keempat lelaki yang baru turun itu tertegun melihat kehadiran Siti Nilam. Mereka berbisik

sesamanya. Siti Nilam masih menyandang perian berisi air di bahunya.

“Hemm. Tak kusangka perempuan Pariaman cantik-cantik seperti kalian…”

Lelaki yang tadi duduk di pembaringan ber-gumam. Matanya menyambar ke tubuh kedua

perempuan itu.

“Sanak, kami datang kemari untuk mencari dunsanak. Kami tinggal dan mendirikan rumah di

sini telah seizin wali dan kepala suku di Silaing ini. Kami tak mengerti apa yang sanak cari di

rumah kami…”

Isteri Datuk Sipasan berkata tegas. Sementara dia masih memangku anaknya yang berusia 6

bulan.Anaknya yang seorang lagi yang berumur 2 tahun tegak dekat Siti Nilam diam-diam.

Keempat lelaki itu saling bisik lagi. Kini lelaki yang tadi kena tendang isteri Datuk yang maju

selangkah.

 

 

“Kalian orang baru di sini, dan sebagai orang baru, kalian harus tahu peraturan. Yang

berkuasa di nagari ini bukan Walinegari. Yang berkuasa sini adalah Pendeka Sangek. Dia

yang berkuasa dinagari Silaing, Gunung Malintang, Kabun Sikolos, Tanah Hitam, Bukik Tui

sampai ke Bukik Surungan. Adapun Walinagari Silaing, adalah kcepala kampung yang

diangkat Pandeka Sangek. Kami bersedia untuk tidak menyampaikan kedatangan kalian ini

pada Pandeka, asal kalian bersedia mememenuhi satu sarat…”

Isteri Datuk Sipasan sebenarnya tak mengerti kemana ujung cakap orang ini. Dia tak tahu

siapa Pandeka Sangek dan di mana tumpaknya. Tapi yang jelas, kalau benar dia berkuasa dari

kampung ampung yang baru disebutkan tadi, maka itu berarti Pandeka itu adalah penguasa

dari sebuah nagari yang luas yang kelak disebut orang sebagai Padangpanjang.

Meski tak tahu dan tak mengerti, isteri Datuk itu ingin juga mengetahui apa “syarat” yangd

ikehendaki keempat lelaki itu agar mereka bisa ian tinggal di sana.

Apa syaratnya….??”

Ah, masak uniang tak tahu…” Kami orang baru di sini. Kami tak tahu a syarat yang kalian

maksudkan…”

“Ah, masak tak tahu. Biasanya kami meminta tiga malam berturut-turut. Tapi bagi uniang

ber-dua cukup sekali ini saja…”

Isteri Datuk itu mengerutkan kening. Sementara Siti Nilam diam saja sejak tadi. Tapi dia

menangkap bahaya kurang ajar pada cara lelaki itu menatap diri mereka.

“Berterus teranglah. Kalau duit, kami akan berikan sekedarnya. -Kalau ternak, kami hanya

ada empat ekor kerbau pedati…”

,

‘”Kami tak perlu duit. Kami juga tak perlu kerbau. Kalau uniang setuju sekarang saja. Ayo ke

bilik. Kami ada berempat, uning tak usah melayani kami keempatnya. Cukup satu orang

melayani dua di antara kami… . Saya lebih senang dengan uniang, uniang sudah

berpengalaman… he… he…”

Tubuh isteri Datuk itu menggigil saking berang nya. Sementara Siti Nilam ingin muntah

mendengar ucapan kotor itu. Hampir serempak mereka meludah. Dan keempat lelaki itu

tertawa bergumam. Selera mereka benar-benar menjejeh melihat kedua perempuan cantik

dari Pariaman itu.

Mereka mulai beraksi. Pertama mereka mengepung kedua perempuan itu dengan tegak di

empat

sudut, di mana kedua perempuan tersebut berada di titik tengah.

Isteri Datuk Sipasan tetap saja tegak dengan tenang. Sementara Nilam tegak

membelakanginya engan demikian, masing-masing mereka kini lehghadapi dua lelaki. Isteri

Datuk Sipasan masih tetap menggendong anaknya yang berusia enam lulan itu. Sementara

Siti Nilam masih menyandang perian penuh berisi air. Di belakang mereka, tegak anak

perempuan Datuk Sipasan yang berumur 2 tahun. Mereka semua, termasuk anak perempuan

yang berusia dua tahun itu, tegak dengan perasaan be rang menatap keempat lelaki tersebut.

Tak terbayang sedikitpun rasa kecut di wajah mereka. Bagi

kedua perempuan itu menghadapi bahaya bukan hal yang aneh lagi. Selama di Pariaman

mereka sudah terbiasa melawan kekerasan.

Semula kekerasan datang dari Inggris Kemudian dari sesama orang Minang yang tidak

menganut agama Islam. Lalu terakhir mereka terpaksa berperang melawan bangsa Belanda

yang datang ke Pariaman atas permintaan orang Minang yang benci melihat Islam masuk ke

Pariaman tewat pedagang pedagang Aceh. Pertempuran bagi lereka hal yang lumrah. Itulah

sebabnya kini lereka tak merasa gentar menghadapi keempat lelaki ini.

Sebaliknya sikap menantang tak kenal takut begitu, menambah selera keempat lelaki tersebut.

 

 

‘Hm… memang benar kata orang. Perempuan-srempuan Pariaman bukan hanya cantik, tapi

iga berdarah panas dan ganas. Ganasnya akan lebih nyata bila di tempat tidur…he…he…”

Salah seorang berkata sambil memilin sungut.

“Kami mengira semua penduduk negeri ini lelaki terhormat. Karena Luhak Tanah Datar ini

adalah Luhak di mana Raja-raja Monang dila-hirkan. Tapi hari ini ternyata dugaan kami

meleset. Hari ini kami menemui empat orang jahannam..” Isteri Datuk Sipasan mendesis.

Keempat lelaki itu tak tersinggung sedikitpun. Mereka mulai berjalan berputar. Putarannya

makin lama makin merapat. Dan suatu saat yang seorang maju menyergap isteri Datuk itu.

Kedua tangan isteri Datuk itu masih tetap memegangi anaknya. Tapi kakinya dia tendangkan

menyambut terkaman silelaki.

 

 

Episode 12 – Ketidakberdayaan Dua Perempuan

Lelaki bersungut lebat itu sudah melihat makan kaki perempuan ini. Karena itu dia tak berani

main-main, apalagi untuk menyambut terkaman kaki perempuan itu. Dia berjalan memutar.

Lelaki bersungut lebat itu sudah melihat makan kaki perempuan ini, Karena itu dia tak berani

main-main, apalagi untuk menyambut terkaman kaki perempuan itu. Dia berjalan lagi

memutar.

Yang berada di depan Siti Nilam tiba-tiba menyerahg sambil bergulingan ke bawah, Siti

Nilam masih tetap tegak, Tiba-tiba lelaki itu mencengkam kain Nilam dan tanpa diduga dia

merenggutkannya. Serangan jahat dan kotor begini tak pernah diperhitungkan Siti Nilam. Dia

semula menyangka lelaki itu setelah bergulingan akan menyerang dengan tendangan dari

bawah ke atas seperti jamaknya serangan berguling begitu. Dan dia sengaja menanti serangan

itu hingga dekat, dan di saat lelaki itu menendang nantinya, dia akan menghantamnya dengan

perian yang masih dia pangku.

Tapi ternyata lelaki itu merenggutkan kainnya. Dia berusaha menghantam lelaki itu dengan

perian. Tapi silelaki telah bergerak bergulingan menjauh. Dan tak ampun, kainnya terenggut

hingga lepas!!

Siti Nilam terpekik. Periannya dia campakkan dalam keadaan panik begitu. Tangannya

memegang ujung baju kurungnya. Dan untung saja dia memakai baju kurung. Hingga

tubuhnya hingga pertengahan paha tertutup oleh baju kurungnya. Namun kaki di atas lutut

Siti yang putih itu, sudah cukup untuk menambah panasnya darah keempat lelaki itu. Mereka

tertawa bergumam sambil menjilat bibir.

Lelaki tadi kini menerpa lagi ke arah Siti Nilam. Kawannya ikut membantu. Siti Nilam yang

mengelakkan serangan dari depan, tahu-tahu kena dibekuk lehernya dari belakang. Siti Nilam

terkunci dan tubuhnya terteteng ke belakang. Karena tubuhnya terteteng itu, baju kurung

yang dia pakai bahagian depannya ikut terteteng naik. Dan lelaki yang di depannya terbelalak

melihat pangkal paha gadis itu. Dia menerpa dan memagut paha gadis tersebut dan berusaha

menciumnya. Namun dia salah duga karena terlalu menurutkan nafsu badaknya. Begitu dia

menerpa, begitu tumit Nilam terangkat. Jidat lelaki itu diterpa oleh tumitnya yang dia

hantamkan sekuat tenaga. Lelaki itu terhenti sejenak, kemudian terjengkang ke belakang.

Dia tak bergerak.

“Hei, Suman, tegak cepat. Gadis ini seperti belut. Ayo jangan lelap saja waang setelah

mencium pahanya…!!”

Temannya yang masih mengatuk leher Nilam dari belakang berseru, Namun suaranya

tertahan ketika isteri Datuk Sipasan yang berada di belakangnya tiba-tiba mengirimkan

sebuah pukulan dengan sisi tangan ke tengkuk lelaki ini. .Lelaki itu kontan melosoh turun

setelah terdengar suara berderak di lehernya!

Kedua mereka, yang kena tendang jidatnya oleh tumit Nilam, dan yang kena tetak lehernya

oleh isteri Datuk Sipasan mati saat itu juga. Namun karena serangan ini, kedua perempuan itu

menjadi lengah. Masih ada dua lelaki lain masih bergerak berputar di sekeliling mereka. Dan

begitu kedua perempuan ini lengah, keduanya serentak menerpa dengan gerakan cepat.

Nampaknya kelengahan kedua perempuan ini sudah diperhitungkan benar oleh kedua lelaki

yang kepandaiannya tak bisa dianggap rendah itu. Mereka bergerak tidak dengan

melancarkan serangan. Tetapi mengirimkan totokan. Yaitu sejenis pukulan dengan jari ke

arah urat saraf yang membuat lawan melosoh, melorot Siti Nilam kena totok di bahagian

punggung-nya. Dan gadis ini jadi tertegak kaku. Sementara isteri Datuk Sipasan kena totok di

belakang telinganya. Ini membuat perempuan itu lemah. Anak dalam pangkuannya jatuh ke

tanah dan menangis.

 

 

Kedua lelaki itu tak membuang kesempatan. Kepergian Datuk Sipasan nampaknya telah

mereka perhitungkan. Mereka intai benar, ketika Datuk itu pergi, mereka datang. Kini

dengan gerakan cepat, kedua mereka memangku tubuh kedua

perempuan itu naik ke rumah Datuk Sipasan. Meninggalkan anak kecil berumur enam bulan

itu menangis kuat dan ditunggui oleh kakaknya yang berusia dua tahun.

Kedua lelaki itu tidak membawa isteri Datuk Sipasan dan Siti Nilam ke bilik. Tidak. Itu tak

sempat mereka lakukan. Terlalu banyak buang waktu. Mengapa harus kebilik, kalau di ruang

tengah saja hal itu bisa dilakukan. Malah bukankah akan lebih nikmat lagi dilakukan

bersama?

Dengan pikiran begini, kedua perempuan yang sudah tertotok uratnya itu yang tak sempat

dan tak dapat melawan sedikitpun karena lumpuh, mereka baringkan di lantai yang terbuat

dari tadir.

Dan mereka juga tak mau menunggu lama-lama. Segera saja kain dan baju kedua perempuan

itu mereka renggutkan dengan kasar. Lalu tangan mereka mulai bertugas.

 

 

Episode 13 – Firasat Datuk Sipasan

Datuk Sipasan memasukkan pisang yang dia beli untuk anaknya ke dalam kambut. Kemudian

menawar paniaram. Dia ingat isterinya. Isterinya sangat menyukai paniaram. Dan di pasar

Tanah Sikolos ini, paniaram banyak sekali dijual orang. Namun tiba-tiba jantungnya rasa

berdebar kencang. Telinganya jadi panas.

“Jadi membeli paniaram ini engku?”

Datuk itu terkejut mendengar pertanyaan perempuan yang menjual paniaram itu.

“Ya… eh maaf. Tidak jadi…”

Berkata begini, dia lalu bergegas. Aneh, hatinya jadi tak sedap. Dia teringat pada isterinya

yang tinggal sendiri di rumah. Ada apa? Sebagai seorang guru silat, dan sebagai seorang

pemeluk agama Islam yang mempercayai Tarikat, dia percaya pada isyarat-isyarat batin, Dia

yakin, firasatnya tentang isterinya me-nunjukkan ada hal-hal yang menyeramkan yang tengah

menimpa isterinya.

Dengan fikiran begini. Datuk itu berjalan cepat-cepat menuju ke Silaing di mana rumahnya

berada. Makin lama hatinya makin tak sedap. Dan makin lama jalannya makin cepat. Makin

cepat.Dan akhirnya dia berlari melompati petak petak sawah, Menempuh jalan memintas agar

lebih cepat sampai kerumahnya.

Orang-orang yang tengah bekerja di sawah jadi terheran-heran melihat lelaki itu berlarian

seperti dikejar setan. Tak ada yang menduga, bahwa lelaki itu sebenarnya bukan sedang

dikejar setan. Melainkan tengah mengejar setan yang sedang melaknati tubuh isterinya!!

Dia seperti mendengar jerit anaknya. Jerit isterinya. Kambut yang dia bawa, yang berisi

pisang, cabe dan minyak yang dia beli di pasar Sikolos tadi, tercampak entah di mana dalam

lari-nya menuju rumah. Ketika atap rumah sudah kelihatan, dia terhenti.

Sayup-sayup, dia mendengar suara tangis anak-nya! Lelaki ini menyerahkan semua

kepandaian yang pernah dia pelajari. Yaitu kepandaian meringankan tubuh ketika berlari.

Makin dekat, makin kuat debar hatinya. Makin kencang aliran darah-nya.

Dalam loncatan yang terakhir dia melihat anaknya tergolek di halaman, melihat gadis kecil-

nya yang berusia dua tahun duduk bersila di tanah. Berusaha mendiamkan adiknya yang

tertelungkup dan menangis pilu. Gadis kecilnya itu juga me-nangis.

Dalam tangisnya, terdengar suara kanak-kanak-nya yang belum sempurna menyebut huruf,

berusaha mendiamkan adiknya:

“Diamlah dik. Diamlah… sebentar lagi ayah pulang. Ayah akan memukul orang yang

menyakiti ibu… diamlah diiik…!”

Dan saat itu Datuk Sipasan mengakhiri loncatannya di halaman tersebut. Selain anaknya, dia

juga melihat ada kain panjang dihalaman itu.

Kain panjang!

Seingatnya, kain itu milik Siti Nilam. Dan selain kain panjang, juga ada perian yang di

sekitarnya terserak air. Pastilah gadis itu baru dari tepian mengambil air seperti biasa. Dan air

yang masih mengalir dari dalam perian itu, Datuk ini mengetahui, peristiwa itu baru saja

terjadi. Pasti baru saja!

Perian itu mungkirr belum sampai dua puluh bi-langan jari tergeletak di sana. Kalau isterinya

dan Siti Nilam dibawa lari orang, maka jarak-nya pasti belum sampai lima puluh langkah dari

rumahnya, Dia memandang keliling, tak ada yang mencurigakan, Hanya ada dua tubuh lelaki

yang telah jadi mayat.

 

 

Dan tiba-tiba telinganya yang tajam menang-kap bunyi nafas memburu. Menangkap bunyi

desah dan dengus nafas dari atas rumahnya!! Sekali loncat dia menerjang pintu rumah yang

terletak di anak tangga keempat. Dengan menimbulkan suara bergedubrak keras, pintu

terpelanting ke dalam. Menghantam kepala lelaki yang tengah menciumi dada Siti Nilam!

Kedua lelaki itu, yang tengah meremasi dan menciumi seganap tubuh kedua perempuan itu

jadi terkejut separoh mati. Sepintas, Datuk Sipasan melihat betapa tubuh isterinya dan tubuh

Siti Nilam sudah tak berkain secabikpun. Sementara kedua lelaki itu hanya tinggal celana

kotoknya saja!

“Setan!” Datuk Sipasan berteriak di tengah gigilan tubuhnya karena berang. Lelaki yang tadi

kepalanya kena hantam daun pintu yang berada di tubuh Nilam, tengah berusaha untuk tegak

ketika tangan Datuk itu bergerak menghantam kepalanya.

Dia menangkis. Tapi tangannya ditangkap Datuk itu. Begitu tertangkap, begitu kukunya yang

beracun dia tekankan sekuat tenaga. Kemu-dian dalam suatu sentakan tubuh lelaki itu dia

putar dan dia hempaskan ke lantai. Tubuh lelaki itu berkelojotan sebentar, lalu dari mulutnya

keluar buih hitam. Tubuhnya berobah pula jadi hitam. Dan dia mati diserang bisa sipasan

yang amat tangguh yang merupakan senjata simpanan Datuk itu.

Tetapi saat itu lelaki yang satu lagi, menghan-tam Datuk Sipasan. Tubuh Datuk ini tersinjaja

ke dinding kena hantaman itu. Punggungnya terasa linu. Dia berbalik segera, dan kini dia

berhadapan dengan lelaki yang tadi menggeluti tubuh isterinya!

Lelaki itu kini memegang keris. Datuk Sipasan memajukan kaki kanan selangkah. Kemudian

dia tegak dengan kuda-kuda yang kukuh menghadapi lelaki itu.

“Kau yang bernama Datuk Sipasan yang dari Piaman?” Lelaki berkeris itu bertanya. Datuk

Sipasan tak menjawab. Amarahnya membuat dia menjadi muak dan benci separoh mati

kepada lelaki yang hampir saja menodai isterinya itu.

Hampir saja. Kalau dia terlambat datang barang semenit lagi, mungkin isterinya dan Siti

Nilam telah dinodai kedua lelaki ini. O, alangkah ter-kutuknya. Dan mengingat ini Datuk

tersebut membuka serangan.

Dia mengirimkan tendangan dengan kaki kanan yang di depan. Tendangan ini tendangan

pancingan dalam jurus Rantai Nan Empat. Yaitu jurus yahg mengandalkan kombinasi empat

tendangan. Satu tendangan sapuan sambil menunduk rendah dengan kaki kiri berputar ke

bawah menyapu kaki lawan, kemudian serangan kedua menghantam pangkal telinga lawan

dengan punggung kaki sambil melompat, begitu kaki mencecah tanah, lalu berputar dan

menghantamkan tumit ke pusat lawan. Dan serangan terakhir adalah serangan meloncat

menghunjamkan kedua tumit ke tubuh lawan. Serangan terakhir ini tak memilih posisi lawan.

Jika lawan tengah terbaring karena serangan terdahulu, maka hentakkan kedua kaki ini bisa

ber-bentuk hantaman sambil melompat tinggi, dan menghunjam ke bawah. Kalau lawan

masih tegak, maka hantaman kaki itu menuju dadanya sambil melayang cepat.

Serangan beruntun dalam bentuk jurus Rantai Nan Empat ini amat ditakuti di daerah Padang

dan Pariaman. Suatu ilmu silat yang menjadi andalan pesilat pesilat di daerah Sungai Limau,

Sungai Rotan, Sungai Geringging dan Toboh. Suatu daerah yang terpisah di Pariaman, tetapi

mempunyai induk silat yang satu. Yaitu Silat Rotan Tuo di Sungai Rotan.

Lawan Datuk ini nampaknya cukup berisi. Dia tahu tendangan dengan kaki kanan itu adalah

tendangan tipuan. Datuk Sipasan meneruskan serangannya dengan jurus pertama.

 

 

Dia berputar sambil mencecahkan tangan ke tanah. Lalu kaki kirinya menyapu ke belakang,

ke arah kaki lawan. Lawannya cukup kaget melihat serangan yang ligat seperti gasing itu.

Namun lelaki itu sempat mundur dua langkah. Dia terlu-put dari serangan. Tapi Datuk

Sipasan memburu dengan serangan jurus dua. Begitu kaki kirinya tak mengenai sasaran,

sebelum lawan sempat membuka serangan, Datuk ini melompat setinggi kepala, kemudian

,kaki kanannya menendang setengah putaran ke arah pangkal telinga lelaki itu.

Lelaki tersebut terkesiap kaget. Dia menun-duk. Tendangan itu berdesing lewat tak sampai

dua jari di atas kepalanya. Jurus kedua berakhir. Lelaki itu berniat membuka serangan, tapi

Datuk Sipasan yang telah memijak lantai, tiba-tiba me-nunduk dan berbalik. Lalu kaki

kanannya dengan kecepatan kuat dan ligat, meluncur seperti peluru ke belakang. Daerah

sasarannya adalah kerampang. Ketiga serangan ini benar-benar berbahaya. Jurus ketiga ini

adalah cuek beleng yang umum terdapat dalam dunia persilatan di Minangkabau. Tapi

karena, dilakukan oleh seorang guru silat yang tangguh, maka tendangan itu bukan main

berbahaya nya.

Silelaki yang berniat membuka serangan terpaksa surut lagi dua langkah. Hampir saja dia ter-

lambat. Kalau serangan itu mengenai kerampang-nya, maka dia pasti berada di Yaumil Akhir

dengan gelandut yang pecah. Kembali lelaki itu luput dari serangan. Dan kini jurus keempat!

Jurus terakhir! Begitu cuek belakangnya luput dari sasaran, Datuk

Sipasan berputar cepat dan melambung tinggi serta menghunjamkan kedua kakinya ke arah

dada lelaki berkeris dan bercelana kotok itu. Inilah jurus terakhir dari jurus Rantai Nan Empat

itu! Orang yang dia lawan itu ternyata luar biasa.

Buktinya dia sanggup lepas dari tiga serangan terdahulu. Sementara di Pariaman. orang

jarang yang luput dari serangan jurus pertama. Bukan karena jurus itu sulit, tapi karena

dilakukan dengan cepat sekali setelah tendangan pancingan. Yang

utama dalam serangan ini adalah kecepatan, kedua baru kekuatan. Kenapa kecepatan yang

diutamakan? Karena keempat tendangan itu mengarah ke tempat yang amat berbahaya.

Meski tanpa kekuatan sekalipun, artinya dengan tenaga biasan saja, maka serangan itu sudah

cukup mema-tikan.

Kini serangan jurus keempat dilakukan oleh Datuk ini dengan segenap kecepatan yang bisa

dia lakukan. Dan serangan ini memang luar biasa ber-bahayanya. Sehingga lelaki lawannya

itu meski sudah mundur tiga langkah, namun hunjaman kedua kaki Datuk itu masih

memburunya. Dia sudah terkepere ke dinding, terjangan Datuk itu kini hanya sehasta dari

dadanya. Tak ada jalan lain selain bergulingan ke lantai, dan melemparkan keris ke tubuh

yang tengah memburunya itu.

Itulah gerakan yang masih bisa dia lakukan. Keris dia lemparkan dengan kuat dan serentak

dengan itu dia menjatuhkan diri ke lantai. Datuk Sipasan berusaha mengelakkan keris yang

meng-hunjam ke arahnya itu. Namun karena dia berada dalam posisi melayang, keris itu

menancap di perutnya. Tapi saat yang sama, kedua kakinya mendarat di dada si lelaki yang

tengah berusaha menggulingkan diri di lantai dalam usaha mengelak-kan dirinya.

Lelaki itu memang sempat berguling tapi tak sempat menggelinding menghindari injakan

Datuk Sipasan. Terdengar suara tulang dada remuk dan lelaki itu terlolong. Darah

menyembur dari mulutnya tatkala kedua tumit Datuk itu menghujam ke dalam dadanya yang

remuk. -Lelaki itu mati. Tetapi sebaliknya Datuk itu jatuh terguling.

Tubuhnya tiba-tiba jadi lemah. Keris yang menancap di perutnya ternyata telah disepuh

dengan sejenis racun yang berbisa. Tubuhnya terasa panas.

 

 

Matanya berkunang-kunang. Dari halaman dia dengar suara tangis anaknya. Sedepa dari

dirinya, isterinya kelihatan masih menelentang dengan kaki terbuka tanpa pakaian

selembarpun

Di dekat pintu, dalarn keadaan yang sama, tergolek tubuh Siti Nilam.

“Sampai ajalku di sini…” desis Datuk itu per-lahan. Dia berusaha memusatkan kosentrasi

untuk menyalurkan tenaga dalam guna mengusir bisa yang menjalari darahnya. Namun dia

tak berhasil.

Perkelahian yang melelahkan ini padahal terjadi tak sampai dalam waktu satu menit.

Memang tak sampai semenit. Dia hanya melakukan empat tendangan berantai yang cepat

dalam jurus Rantai Nan Empat! Tapi, alangkah lamanya terasa.

Datuk Sipasan yakin, dia takkan mampu.menolong dirinya sendiri. Karenanya kini dia

merangkak kearah tubuh isterinya. Jarak sedepa antara dia dan isterinya dia tempuh lebih dari

dua menit. Dengan sisa tenaga, dia mengurut belakang telinga isterinya. Ketika isterinya

mulai pulih jalan darahnya, Datuk itu tersungkur dengan tubuh berpeluh dan muka mulai

menghijau.

 

 

Episode 14 – Pandeka Sangek

Isteri Datuk itu segera arif akan bahaya yang mengancam diri suaminya

Sejak awal tubuhnya dipangku naik oleh baji-ngan itu tadi, dia sadar sepenuhnya. Dia dapat

merasa sakit atau geli, tapi tak dapat melawan karena totokan itu. Dia dapat melihat

perkelahian antara suaminya dengan kedua lelaki itu. Kini dengan air mata membasahi pipi,

dia menyambar kain panjangnya. Dengan melekatkan kain seadanya dia melompat turun.

Menggendong kedua anaknya, lalu membawa naik ke rumah.

Setelah meletakkan anak, dia mengurut tengkuk Siti Nilam. Dan sebelum gadis ini sadar

sepenuh’nya, dia telah melompat turun. Kemudian bergegas ke tepi rimba di belakang rumah.

Dari sana dia mengambil dua macam akar kayu, lalu empat macam dedaunan yang dia kenal

sebagai ramuan obat.

Akar dan daun ini dia remas. Dia masih ingat cara pengobatan yang diajarkan oleh Si Giring-

:Giring Perak sebulan yang lalu di Air Terjun Anai tatkala mereka baru saja selamat dari

serangan pe-nyamun Bukit Tambun Tulang. Siti Nilam yang segera dapat bergerak, setelah

melekatkan kain sekedarnya, langsung menendang kedua tubuh lelaki yang hampir saja

menodai diri mereka itu. Begitu kakinya bergerak, tubuh lelaki itu

bergantian terlambung kebawah. Dia kemudian memangku anak Datuk Sipasan yang kecil.

Yang sejak tadi tak henti-hentinya menangis.

Isteri Datuk Sipasan segera menggiling dedaunan dan akar-akar yang baru dia ambil.

Kemudian mengambil persediaan madu lebah yang selalu dibawa. Dia tak

sempat menangisi nasib. Tak sempat bersedih. Perempuan-perempuan dari Pariaman ini,

telah terbiasa hidup dalam kekerasan. Peperangan antara kaum mereka dengan Belanda, atau

peperangan sesama kaum karena judi, perempuan harta dan sebagainya, membuat perempuan

perempuan di Pariaman menjadi wanita-wanita yang punya rasa tanggung jawab yang besar.

Tidak hanya sekedar melahirkan anak bagi suami-suami-nya, Tidak pula hanya sekedar

menanakkan nasi, membuatkan kopi atau teman di tempat tidur saja. Tetapi mereka adalah

perempuan yang ikut berjuang bersama suaminya. Keadaan membuat mereka menjadi

perempuan-perempuan yang mampu menekan rasa takut dan lemah seperti umumnya dimiliki

oleh kaum perempuan yang lain.

Ketika dia selesai meramu obat dari dedaunan itu, anaknya telah tidur dan diletakkan oleh

Siti Nilam di pembaringan. Beberapa orang lelaki yang tadi melihat Datuk itu berlari

melintasi sawah mereka,pada mendatangi rumah Datuk tersebut. Dan mereka, kaum lelaki

penduduk Silaing itu jadi terkejut melihat keempat tubuh yang tergolek di halaman yang telah

jadi mayat itu.

Mereka amat kenal pada keempat lelaki itu. Yaitu anak buah Pandeka Sangek. Dan mereka

juga tahu sangat, Pandeka Sangek ini adalah salah seorang murid Harimau Tambun Tulang

yang kesohor itu.

Karenanya, mereka segera surut kembali ke sawah atau cepat-cepat pulang ke rumah. Mereka

tak mau kena getah dari peristiwa mengerikan itu. Sudah cukup sering merka melihat

pembalasan dari anak buah Pandeka Sangek. Pandeka itu sendiri jarang sekali turun dari

pusat “Pemerin-tahannya”. Dia “memerintah” dari puncak Gunung Rajo di balik Bukit Tui.

Yang sering turun adalah anak buahnya. Penduduk di negeri Sikolos, I Silaing, Kampung

Manggis, Gunung, Tanah Hitam, Bukit Surungan dan Gunung Malintang, setiap 1

purnama harus membayar upeti pada Pandeka Sangek. Upeti itu berupa uang. Atau perhiasan

emas untuk beberapa purnama. Gunanya sebagai uang keamanan. Bagi yang membayar,

 

 

keamanan-nya dijamin. Bagi yang tidak membayar, ada-ada saja musibah yang datang.

Sekurang-kurangnya kerbaunya mati kena racun. Atau anak gadisnya diperkosa. Bahkan tak

jarang yang kedapatan mati di sembelih di Bancah Laweh. Bancah Laweh ini suatu tempat

yang menakut-kan penduduk di kampung-kampung sekitarnya. Asal mereka tertangkap dan

dibawa ke sana oleh Kompeni, maka itu berarti yang pulang hanya nama.

Seorang Kapiten Berkedudukan di pasar Kebun Sikolos. Di bawah si Kapiten, ada satu

peleton tentara Kompeni. Nah, ada dua tulang punggung Pandeka Sangek dan anak buahnya.

Yang pertama adalah murid Harimau Tambun Tulang. Yang kedua sahabat dekat yang rajin

membayar upeti berjumlah banyak pada Kompeni.

Untuk itu, dia dipercaya memungut pajak dari rakyat. Dan cerita tentang matinya empat

orang anak buah Pandeka Sangek di tangan datuk Sipasan, pengungsi yang baru datang dari

Pariaman itu, segera menjalar seperti api melahap padang lalang yang kering. Di mana-mana,

di lepau, di pancuran mandi, di sawah, di ladang, di sasaran silat, di pos penjagaan Kompeni,

di tempat judi, di tempat orang berandal, bersalung, cerita itu merambat seperti ular belang

yang menjalar amat mengerikan. Setiap orang kini menanti pembalasan yang akan dilakukan

pihak Pandeka Sangek.

Pengikut Datuk Sipasan, yang bersama-sama dengannya datang dari Pariaman dalam kafilah

Pedati yang dicegat di Bukit Tambun Tulang itu, juga mendengar cerita tersebut.

Hanya ada enam orang lelaki di daerah tersebut. Enam keluarga, Yang lain sudah sepekan

me-neruskan perjalanan ke Luhak Agam dan ke Pa-garuyung. Keenam lelaki ini, segera

datang ke rumah Datuk Sipasan. Ketika mereka. datang senja di hariitu,mayat keempat lelaki

tersebut su-dah dibawa pergi oleh teman-temannya.

Belum ada kejadian apa-apa. Tapi mereka yakin, tak lama lagi, pasti akan ada pembalasan.

Kini, semua rombongan dari Pariaman yang ber-jumlah enam orang itu, mengumpulkan anak

isteri-nya di rumah Datuk tersebut. Mereka sudah ber-tekad. Kalau penduduk nagari ini akan

berpihak pada Pandeka Sangek, atau Pandeka Sangek meng-adakan pembalasan, mereka

akan melawan sampai tetes darah terakhir.

Keenam lelaki itu tegak di keliling rumah Datuk tersebut. Sementara semua perempuan

berada dalam rumah. Mereka tegak sepuluh depa dari rumah itu. Menjaga kemungkinan

terhadap serangan mendadak.

Di atas rumah, Datuk Sipasan belum bisa bangkit. Bahkan belum sadar. Keris berbisa itu

sudah dicabut isterinya dari perutnya. Dia sebe-narnya seorang ahli bisa. Bahkan dalam

tubuhnya berkumpul bisa Lipan (sipesan) yang mematikan musuh. Namun menghadapi racun

yang terdapat diujung keris lawannya siang tadi, nampaknya dia tak berdaya.

Ketika dia sadar dan membukakan mata, Datuk itu melihat isterinya tegak dengan wajah

pucat di sisinya. Lampu damar telah terpasang. Dan dia segera mengetahui, di dalam

rumahnya ini penuh oleh manusia. Dia ingin bangkit. Tapi tubuh-nya terasa amat lemah.

“Air…” desahnya. Siti Nilam memberikan labu yang telah dikeringkan dan diisi air mentah

dari pincuran. Datuk itu minum dengan lahap.

“Saya mendengar rumah ini seakan-akan penuh…” Isterinya mengangguk.

“Siapa..,.?”

“Isteri Lebak Tuah dan anak-anaknya. Isteri Sidi Tuah. Isteri Sidi Kasim. Dan semua teman-

teman dari Pariaman yang berdiam di Nagari ini…”

“Mengapa mereka berkumpul di sini?” “Yang empat orang mati tadi adalah anak buah

Pandeka Sangek. Dan mereka penguasa di Nagari ini. Kabarnya mereka akan membalas

dendam. Dan teman-teman semua berada di keliling rumah…” Datuk Sipasan menggeleng.

Dia tak ingin teman-temannya itu ikut dalam peristiwa ini.

 

 

Namun dia tak kuasa bangkit.

 

 

Episode 15 – Rencana Mengungsi

Tengah malam keenam lelaki yang berjaga di keliling rumah itu jadi terkejut melihat

rombongan lelaki datang dengan suluh daun kelapa. Tapi ketika sudah dekat, mereka segera

tahu, bahwa itu adalah rombongan Kepala Nagari. Dia tak naik ke rumah.

Tapi pada keenam lalaki yang mengelilingi, dia berkata:

“Kami harap Datuk itu dibawa ke Pos Kapitan Vender di Kabun Sikolos. Begitu juga isteri

dan gadis yang bernama Siti Nilam itu…..”

Dan tanpa menunggu jawaban ba atau bu, kepala nagari itu bersama tiga orang lainnya balik

kanan. Berjalan meninggalkan rumah ter-sebut. Keenam lelaki dari Pariaman itu tertegak

diam. Mereka saling pandang. Kemudian tanpa bicara sepatah katapun, mereka kembali

ketem-pat di mana mereka tadi tegak menjaga, Tak ada niat sedikitpun bagi mereka untuk

menyerahkan datuk itu. Dari Pariaman mereka datang kemari untuk mencari bantuan guna

menyerang Belanda yang datang menjajah. Mereka sudah berniat untuk sesakit sesenang.

Kini salah seorang dari mereka mendapat kesulitan, maka mereka ber-tekad untuk

memikulnya bersama.

Tapi 3 hari pula berlalu sejak itu tak seorang-pun yang datang ke rumah tersebut. Hal itu

sebenarnya menguritungkan bagi Datuk Sipasan. Keadaan tubuhnya makin lama makin

membaik. Menjelang hari keempat dia sudah bisa duduk di tempat tidur. Obat yang diramu

dari daun dan akar kayu seperti yang diajarkan si Giring-Giring Perak itu ternyata arnat

mujarab.

“Nilam… panggil Sidi dan teman-teman ke atas…”

Nilam melaksanakan permintaan itu. Lima orang dari yang berenam yang berada di keliling

rumah itu segera naik. Sementara yang seorang tetap berjaga-jaga di bawah.

Mereka tegak dalam bilik kecil itu di depan pembaringan Datuk Sipasan. Tegak dengan diam.

Dengan tatapan yang teguh Datuk Sipasan me-natap mereka satu demi satu bergantian.

“Kalian harus menghindarkan pertikaian dengan penduduk di sini.

Kita datang untuk mencari bantuan. Ingat, di Pariaman, puluhan teman-teman menggantung-

kan nasibnya dari tugas yang kita pikul untuk menyusun kekuatan. Di sini Islam juga sudah

mulai bangkit.

Kalau terpaksa, tinggalkan negeri ini. Menyingkir ke Luhak Agam atau ke Sungai Jambu dan

Lima Kaum…”

“Tapi yang menyerang Datuk bukan orang Islam. Mereka anak buah Pandeka Sangek….”

“Darimana kalian tahu…”

“Begitu cerita yang kami dengar di lepau dan di balai sebelum kami datang kemari……”

“Pandeka Sangek? Saya seperti pernah mendengar nama itu di Pariaman. Kalau tak salah dia

adalah utusan Kompeni ke perundingan dengan Belanda di pulau Cingkuk setahun yang

lalu…”

“Kabarnya dia memang punya hubungan yang erat dengan kapitan Vender di kampung

Sikolos…”

“Bagaimana kalau malam ini kita menyingkir semua dan sini?” tiba-tiba salah

seoran,mengajukan saran.

“Ya. Saya rasa itu jalan yang baik. Sebab, penduduk di sini nampaknya takut semua pada

Pandeka Sangek. Mereka lebih suka diam dan membiarkan diri dan keluarga mereka di

bawah cengkeraman penyamun-penyamun itu daripada bangkit melawan. Karenanya, kalau

akan melawan juga, kita tak bisa niengharapkan bantuan dari penduduk di sini. Kita hanya

 

 

tujuh orang, semen-tara mereka puluhan. Apalagi di tambah dengan dua puluh orang

Kompeni yang bermarkas di kebun Sikolos….”

Semuanya kini terdiam. Mereka menanti putusan Datuk Sipasan. Perempuan-perempuan

yang mendengarkah pembicaraan itu dari kamar sebelah, menanti dengan perasan tegang.

“Apakah ada jalan lain yang aman untuk melarikan diri malam ini?”

“Sudan kami selidiki. Nampaknya jalan yang aman adalah kembali ke arah air terjun di mana

Siti Nilam diculik. Dari sana kita naik ke atas, dan memutus ke Balingka.”

“Suatu perjalanan yang amat berat. Apakah sudah ada jalan pedati?”

“Pedati harus kita tinggalkan. Kita menyela-matkan badan saja….”

Datuk Sipasan terdiam lagi. Dia menatap teman-temannya itu kembali.

“Putusannya kami serahkan pada Datuk. Tak usah terburu-buru. Malam nanti bisa Datuk

sampai-kan putusan Datuk pada kami. Kalau satu orang pergi menyelamatkan diri, yang lain

harus ikut. Kalau Datuk tinggal di sini, semua kami juga akan tetap tinggal. Dari Pariaman

kita telah sesakit sesenang. Begitu dulu, begitu sekarang, dan begitu seterusnya….”

Yang bicara ini adalah Sidi Kasim. Orang yang menjadi tangan kanan Datuk Sipasan selama

ini. Yang lain mengangguk. Datuk Sipasan tak dapat berbuat lain, kecuali menarik nafas

dalam. Tiba tiba dia teringat sesuatu. Matanya menatap keliling, lalu bertanya:

“Apakah kalian melihat si Giring-GiringPerak?” Pertanyaan ini menyadarkan semua orang,

termasuk semua perempuan yang ada di kamar sebelah tentang diri anak muda itu. Mereka

saling pandang.

Siti Nilam yang ada di sebelah, menunduk. Isteri Datuk Sipasan menatapnya. Kedua

perempuan ini yang mula-mula sekali ditimpa bencana hampir diperkosa itu, adalah orang

yang pertama mengingat dan mengharapkan kedatangan anak muda itu untuk menolong

mereka.

“Tidak ada yang melihat dia di pasar atau di kedai kopi?” Datuk Sipasan kembali bertanya.

Dan yang lain pada menggeleng. Mereka ini tiba-tiba saja mengharapkan kehadiran anak

muda itu. Kalau dia ada, mereka yakin akan terhindar dari pembalasan dendam Pandeka

Sangek. Tapi anak muda itu sudah enam hari pergi. Dia memang tidak meninggalkan mereka

untuk seterusnya. Dia mengatakan pergi hanya dua hari. Tapi kini sudah hari ke enam, dia

tetap tak muncul

 

 

Episode 16 – Terperangkap

Dan sampai malam merangkak larut, dia memang tak pernah mun-cul, Ketika bunyi jangkrik

melantunkan suaranya di malam pe-kat itu, di antara suara guruh yang menderam seka-li-

sekali, keenam lelaki itu kembali naik dan ber-kumpul di ruang tengah bersama Datuk

Sipasan. Datuk ini sudah baik keadaannya.

Rumah itu gelap. Yang hidup hanya sebuah jampu lilin yang dibuat dari sarang lebah.

Terletak di tengah ruangan. Di keliling lilin kecil yang ter-letak dalam piring itu, duduk

dengan diam keenam lelaki tersebut bersama anak dan isteri mereka. Datuk Sipasan menatap

kelima temannya. Sementara yang seorang tetap berada di luar, melihat kalau-kalau ada

orang yang datang.

“Apakah aman untuk memulai perjalanan?” Datuk itu bertanya. Sidi Kasim mengangguk.

Datuk Sipasan menoleh pada isterinya.

“Sudah dibungkus semua yang perlu dibawa?” Perempuan itu mengangguk. Anak-anak

mereka pada diam. Ada yang tidur dalam pangkuan kain. Ada yang bangun, namun kanak-

kanak itu seperti punya firasat akan bahaya yang mengancam orang tuanya. Tak ada di antara

mereka yang menangis. Tak ada yang gelisah. Bahaya dan perjalanan malam di antara

gemuruh guruh atau hujan badai ataupun di antara terik panas yang membakar. nampaknya

sudah tak menjadi halangan lagi bagi para perantau dari Pariaman ini.

“Baiklah, kita berangkat.,..” itulah ucapan Datuk Sipasan. Kelima lelaki itu pada tegak. Isteri

dan anak-anak mereka juga. Dalam cahaya yang samar, Datuk Sipasan menghitung, ada 17

orang mereka semua. Lelaki dewasa, para wanita dan anak-anak. Jadi delapan belas orang

dengan yang menjaga di luar.

Sidi Kasim memberi isyarat kepada teman yang di luar. Yang di luar memberi isyarat dengan

ber-siul kecil.

“Kita lewat pintu belakang, Saya yang akan berada di depan sekali. Tak ada suluh atau damar

yang boleh dinyalakan. Semua barang-barang, dipikul oleh lelaki. Setiap orang harus

berpegangan tangan untuk memudahkan perjalanan. Setelah jauh ke dalam rimba kita baru

bisa menghidupkan suluh….”

Sidi Kasimlah yang bicara ini. Sudah dua hari ini dia menyiasati jalan untuk melarikan diri

bila terpaksa. Sendirian dia telah menyelusupi hutan di belakang rumah Datuk Sipasan. Dia

menemui jalan setapak yang mudah dilalui. Barangkali menjelang subuh mereka bisa

mencapai bahagian huiu air terjun batang Anai.

Lilin dalam rumah itu dihidupkan dua buah lagi. Ditaruh di ruang tengah dan bi bilik serta di

dapur. Dengan demikian, kepada orang yang mengintai, diberi kesan, bahwa penghuni rumah

itu masih ada.

Kemudian Sidi Kasim mulai turun dari pintu1 belakang. Yang menjaga di depan yaitu Lebak

Tuah meniup salung.

Suara salung yang mengalun lemah, mengiringkan ke 17 orang di rumah itu turun perlahan

dari pintu belakang. Angin malam yang dingin dan basah menerpa mereka ketika berada di

luar. Kanak-kanak merapatkan pelukannya ke dada ayah atau ibu mereka. Menyurukkan

wajah mereka sedalam mungkin ke pelukkan orang tuanya.

Beberapa saat mereka lalui dengan tegang. Melangkah tapak demi tapak dalam kegelapan

dengan saling berpegangan tangan. Suara Salung Lebak Tuah terdengar sayup di kejauhan.

Dan ketika jarak mereka sudah sampai di tempat yang dirasa cukup aman, Sidi Kasim

memberi isyarat pada Lebak Tuah dengan membunyikan suitan tajam seperti bunyi

burunghantu.

 

 

Tanda itu dia bunyikan tiga kali. Suara salung Lebak Tuah berhenti sebentar. Kemudian

terde-ngar lagi perlahan. “Kita teruskan perjalanan. Dia akan menyusul.” Mereka menapak

lagi dalam kegelapan itu. Kini mereka telah berada dalam rimba di belakang rumah Datuk

Sipasan. Dan betul juga, tak lama kemudian Lebak Tuah telah bergabung di bagian belakang.

Namun Datuk Sipasan merasa tak sedap di hatinya. Ada sesuatu yang ganjil dalam kegelapan

malam itu terasa. Ada yang menakutkan terasa melihat bayangan pohon dalam hutan itu. Dia

ingin berbisik memanggil Sidi Kasim yang berada di depannya, tatkala tiba-tiba mereka

seperti dipakukan ke tempatnya karena suara tawa yang terbahak-bahak.

“He….hee….hee….”

Mereka terhenti. Para perempuan seperti kehilang-an semangat.

“He…hee…..ha….hee….

Suara tawa itu menggema lagi. Dan tiba-tiba Datuk Sipasan serta teman-temannya ingat, tawa

itu seperti tawa yang pernah mereka dengar di Bukit Tambun Tulang!

“Gampo Bumi!!” Datuk Sipasan berkata lambat. Dan suaranya di dengar oleh semua orang.

Hal itu benar-benar membuat mereka merasa kecut. Tawa itu memang seperti tawa di Bukit

Tambun Tulang. Di -saat mana mereka hampir saja mati, kalau si Giring-Giring Perak tak

segera me-nolong.

“Perangkap. Kita masuk perangkap….” Suara Sidi Kasim terdengar dari depan. Ya, tak dapat

mereka pungkiri, mereka kini berada dalam perangkap.

Lebak Tuah menarik tangan teman-temannya untuk kembali ke rumah. Namun Datuk

Sipasan menahannya. Dan tiba-tiba puluhan damar dan suluh dihidupkan dalam rimba itu. Ke

18 orang itu kini berada di tengah lingkaran yang dikelilingi oleh suluh. Mereka terdiam.

Anak-anak itu mulai menangis.

“He….he….he… Akan ke mana kalian he…??” Sebuah suara terdengar dari balik suluh yang

me-nyala itu. Tak ada yang menyahut.

“Kalian akan pergi begitu saja setelah membunuh empat orang anak buahku yang tak

berdosa? Begitu hm…..? Kalian sengaja datang dari Pariaman untuk mengacau di sini

hem…..?”

Datuk Sipasan maju selengkah.

“Kami tak bersalah dalam hal ini. Siapa yang bicara tadi, haraplah perlihatkan diri…” Sebagai

jawabannya kembali terdengar tawa berguman. Datuk Sipasan .sekilas lihat saja menghitung,

ada tiga puluh buah suluh dan damar yang mengelilingi mereka.

Kalau satu suluh satu orang, maka berarti ada 30 orang yang mengelihngi mereka. Tapi dia

yakin, jumlah itu jauh lebih banyak. Suatu pertarungan dalam hutan dalam situasi begini,

adalah bunuh diri bagi rombongannya, Karena itu dia berusaha untuk mengulur waktu. Kalau

mungkin berembuk.

“Kau katakan tak bersalah setelah membunuh keempat anak buahku? Hmm… enaknya. Tapi

kenapa kalian harus melarikan diri begini kalau mengaku tak bersalah?”

 

 

Datuk Sipasan segera menangkap sesuatu dalam ucapan lelaki yang tertawa itu. Lelaki itu

,sudah dua kali berkata tentang “anak buahku”. Itu berarti lelaki ini pastilah si Pandeka

Sangek. Jadi bukan si Gampo Bumi.

Tapi tak ada bedanya. Gampo Bumi atau Pandeka Sangek, mereka pastilah menghendaki satu

hal: kematiannya dan kehormatan perempuan-perempuan mereka.

“Tangkap mereka semua!” Tiba-tiba terdengar suara perintah bergema. Lebih dari dua puluh

lelaki yang memakai keris dan golok di tangan muncul dari balik suluh. Ketujuh laki-laki dari

Pariaman itu. serentak membuat lingkaran. Menempatkan perempuan dan anak-anak di

bahagian tengah. Dan mereka semua mencabut keris. Nampaknya mereka tak berniat

sedikitpun untuk menyerah begitu saja.

 

 

Episode 17 – Di Kedai Kopi

Udara malam yang dingin amat me-nusuk tulang, terasa makin meli-nukan tubuh ketika

gelegar guruh menurunkan renyai hujan seperti embun. Anak muda itu melangkah ke dalam

kedai kopi yang masih terbuka. Dari dalamnya dia dengar suara percakapan orang dan suara

sendok beradu dengan gelas. Di luar di lihat beberapa pedati di istirahatkan.

Semua orang yang ada di dalam kedai kecil itu pada menoleh kepintu tatkala dia masuk.

Bukan pakaiannya yang serba putih dan ikat kepalanya yang juga putih yang menyebabkan

orang-orang menoleh ke pintu. Bukan pula karena dia datang di tengah malam buta. Tidak,

saat itu orang bisa saja berpakaian serba aneh dan menyisipkan golok atau keris di pinggang.

Dan orang bisa saja masuk ke kedai kopi di tengah malam atau subuh buta. Yang

menyebabkan enam orang lelaki yang ada dalam kedai kecil itu menoleh ke pintu justru

bunyi yang ditimbullcan oleh kedatangannya. Ada suara aneh. Seperti suara giring-giring

berdering pada tiap langkah orang yang baru datang itu.

Dan anak muda yang baru masuk ke kedai itu bukannya tak tahu, bahwa suara giring-giring

di kakinya menyebabkan orang pada menoleh. Dia tegak di pintu. Menatap orang-orang yang

masih memandangnya.

“Maafkah saya. Adakah di antara bapak-bapak pernah mendengar seseorang di daerah ini,

atau di manapun, yang kehilangan seorang anak lelaki, yang memakai giring-giring perak di

kaki kanannya?”

Dia menanti. Orang yang ada dalam kedai itu tak menyahut seorangpun. Kebanyakan di

antara mereka justru heran akan pertanyaan itu. Lebih banyak yang tak mengerti daripada tak

tahu.

Karena tak ada yang menyahut, anak muda itu bicara lagi, suaranya perlahan:

“Belasan tahun yang lalu, saya dipungut oleh seseorang dari reruntuhan sebuah rumah. Dia

tak tahu apakah orang tua saya masih hidup atau tidak. Dia tak ingat lagi di mana saya dia

temukan. Kini saya tengah mencari kampung halaman dan orang tua saya. Pernahkah

mendengar ada orang yang kehilangan anak dengan giring-giring di kakinya?”

Kali ini beberapa orang menggeleng perlahan.

“Tak seorangpun yang tahu. Tak seorangpun.,” Anak muda itu bicara seperti pada dirinya

sendiri. Ucapannya mirip keluhan. Dan dia berjalan ke sudut ruangan. Duduk di sebuah kursi

yang masih kosong. Lelaki yang ada dalam kedai kecil itu pada berbisik sesamanya.

“Engkau akan minum atau makan apa anak muda?’.’ Orang lepau bertanya.

“Kopi,…”

“Di sini ada ketan dan durian. juga ada nasi dengan ikan panggang. Kalau engkau lapar

engkau bisa minta nasi…” “Baik, ketan dengan durian….”

Orang lepau itu mengambilkan pesanan anak muda itu. Sementara lelaki yang lain

melanjutkan obrolan mereka. Ada yang meneruskan makan atau minum.

‘Tapi mereka yang ada dalam ruangan kedai kecil itu terhenti lagi makan dan minum ketika

pintu kedai dibuka dengan keras.’Barangkali pintu itu ditendang dari luar. Semua pada

menolch ke pintu.

 

 

Dari luar masuk bergantian tiga lelaki dengan janggut berseliweran dan dengan pedang di

ping-gang. Ketiganya membawa pedang. Mereka tegak sejajar di depan pintu. Menatap setiap

yang ada di dalam lepau itu dengan tajam. Pandangan mereka pertama jatuh pada anak muda

yang ber-baju putih itu. Tapi anak muda bertubuh semampai dan tak berdegap itu tak menarik

perhatiah mere-ka. Mereka lalu memandang keenam lelaki yang lain.

“Ada di antara kalian anggota rombongan yang baru datang dari Pariaman sepekan yang

lalu?” Lelaki yang tegak di tengah bertanya dengan suara berat. Tak ada yang menyahut.

Bagi keenam lelaki itu nampaknya raalam ini banyak hal aneh yang terjadi. Dalam waktu tak

sampai lima menit yang lalu anak muda berbaju putih itu masuk. Bertanya kalau-kalau ada

yang mengetahui orang tua yang kehilangan anak dengan giring-giring perak. Kemudian kini

ketiga lelaki itu pula yang masuk dan bertanya pula “Kami bertanya, apakah ada di antara

kalian anggota rombongan yang baru datang dari Paria-man?” si tinggi besar yang di tengah

itu bertanya

‘Tidak, kami yang berenam ini dari Lima Kaum. Akan terus ke Kota Baru. Diperjalanan dua

hari yang lalu kami memang berternu dengan serombongan orang yang mengaku dari

Pariaman. Mereka katanya akan ke Pagaruyung”.

Yang bertanya tadi menggerutu tak menentu. Kemudian mereka melangkah masuk terus

mencari tempat duduk.

Satu-satunya tempat yang masih kosong adalah tempat di mana anak muda berbaju putih dan

bergiring-giring perak itu duduk. Kesanalah ketiga orang yang menyandang pedang di

pinggangnya itu menuju.

“Geser ke sana buyung….” yang tinggi besar itu mendorong bahu anak muda tersebut dengan

tangan kirinya. Dan anak rnuda itu memang meng-geser duduk hingga keujung bangku.

Ketiga lelaki itu duduk. Pakaian mereka yang basah karena hujan rinai di luar mereka kirai.

Tak perduli apakah mengenai orang lain atau tidak.

“Jahannam. Hujan jahannam. Orang Pariaman Jahannam….!” yang pendek buncit menggerutu

sambil duduk.

“Kabarnya mereka berjumlah dua puluh orang….” yang tinggi bicara sambil mencabut pedang

dan meletakkan di atas meja.

“Hei, kopi tiga. Bikin yang pahit. Ada ketan atau ikan panggang?”

“Ada ketan, ada ikan panggang”

“Bawa semua kemari….”

Kemudian ketiga lelaki itu menatap keenam lelaki yang duduk dalam kedai itu.

“Apakah orang Pariaman yang kalian temui di Lima Kaum itu adalah pesilat-pesilat?” Si

tinggi besar bertanya dari tempat duduknya.

Yang tadi mengatakan bertemu dengan orang Pariaman itu menggeleng.

“Tak tahu kami. Kami tak sempat melihat mereka bersilat. Dan tak pula mengajak mereka

berkelahi…” jawab lelaki yang mengaku datang dari Lima Kaum itu, teman temannya yang

lain tertawa karena merasa lucu akan jawaban teman-nya itu.

Namun tawa mereka j ustru m endatangkan penyakit pada mereka sendiri. Mereka tak tahu

dengan siapa mereka berhadap-an. Ketika mereka masih tertawa berguman lelaki tinggi besar

 

 

yang bertanya itu bangkit. Berjalan mendekati keenam lelaki itu. Dan tiba-tiba plak..

puk…pak..,!

Dia menampar lelaki dari Lima Kaum itu. Lelaki itu terjengkang. Namun dia bangkit segera,

dan tangannya terkatuyang-katuyang seperti orang silat. Lelaki tinggi itu jadi mengkal.

Kakinya me-layang dan orang dari Lima Kaum itu ternyata tak bisa menangkis tendangan

tersebut meskipun dia telah berlagak seperti orang pandai silat. Tendangan itu mendarat.

Menimbulkan suara berdehek. Dan malangnya, tanpa dapat dia tahan, kentutnya ikut terbosai

dua tiga kali karena tendangan itu. Kelima temannya yang lain yang tadi juga sudah siap

bersilat, tiba-tiba jadi patah semangat melihat makan tangan dan kaki sitinggi besar itu.

Mereka tetap duduk diam. Tanpa menengok pada sitinggi besar.

Bahkan pada temannya yang terkepepe ke bawah meja itupun mereka tak

berani melihat. Takut kalau dianggap sebagai suatu tantangan pula oleh sitinggi besar ini.

“Lihat-lihat orang yang akan dipegarahkan sanak.” Sitinggi besar itu menyumpah.

“Ya…ya…ya!” kata salah seorang yang du-duk.

“Apanya yang iya?”

“Ya. apa ya?! Eha.,.maap… maap,

“Apa yang maap!!”

“Ami pak..eh anu, kami mintak maap….!”

“Maap apa!”

“Maap lahir bathin….!”

Dan sampai di sini, sitinggi besar tak dapat menahan tawanya melihat lelaki dari Lima Kaum

yang gagap itu. Dia tertawa. Begitu juga kedua. temannya yang duduk semeja dengan si

Giring-Giring Perak. Kelima lelaki di meja si gagap itu juga ikut tertawa. Mula-mula

perlahan, karena takut. Tapi melihat sitinggi besar itu tertawa terbahak-bahak, mereka ikut

tertawa terbahak bahak.

“Apa yang kalian ketawakan, beruk!”

Lelaki tinggi itu berhenti dan bertanya dengan bentakan. Tawa kelima lelaki dari Lima Kaum

itu terhenti pula tiba-tiba. Mereka jadi pucat. Dan, malang yang akan tumbuh, mungkin

karena terlalu takut, si gagap tadi terpancar kentutnya. Mula-mula sekali. Perlahan tapi agak

panjang. Namun karena ketakutan yang sangat, kentut besarnya tak mampu dia tahan.

“Pouuuut. prep!”

Tak tanggung berangnya sitinggi besar itu. Dia jambak rambut si gagap. Namun kentut si

gagap keluar lagi. Teman teman sitinggi yang duduk di sudut tak mampu menahan tawa dan

geli. Mereka sampai-sampai menekan perut karena sakit saking gelinya. Si gagap terpekik-

pekik minta ampun. Tapi sitinggi makin berang.

“Ampounnn pak… ampounn. Bapak ken-tut…eh…maaf…”

“Beruk. Waang beruk. Waang katakan saya kentut he!?”

“Ya pak… eh bukan pak,.. bukan! Bapak bukan kentut, tapi kentutlah bapak!” Malang lelaki

gagap ini. Makin ditanya, makin tak menentu jawabnya. Dan akhirnya teman-temannya yang

lain tak pula dapat menahan gelak. Meraka ada yang menangkup di meja karena takut

kelihatan gelak. Ada yang merukuk dalam-dalam.

Dan akhirnya, lelaki besar itu mencampakkan tubuh sigagap ke meja. Dan keadaan lepau itu

jadi kacau. Si Gagap bercarut-carut tak menentu. Suasana heboh tak terhindarkan. Heboh

 

 

kerena gelak. Sitinggi besar akhirnya ikut gelak ketika dia duduk di dekat teman-temannya.

Dia terhenti, ketika melihat anak muda di sisinya. Anak muda itu menunduk. Menghirup kopi

perlahan, mema-kan ketan dan duriannya perlahan. Anak muda itu agak kurus. Si lelaki besar

menepuk punggungnya.

“Hei buyung, waang tak ikut gelak he?” tanyanya.

Anak muda itu lambat-lambat menoleh pada-nya. Kemudian tersenyum tipis. Lalu kembali

menunduk dan memakan ketannya perlahan. lelaki tinggi itu merasa dianggap enteng.

Padahal sebentar ini dia telah membikin gacar enam lelaki yang tak boleh disebut kecil.

dalam lepau itu. Karenanya dia menepuk lagi bahu anak muda itu, dan berkata;

“Hei buyung! Saya bertanya, apakah waang tak ikut tertawa??”

Tepukan di punggungnya itu menimbulkan bunyi. Karena memang sengaja dikuatkan sitinggi

besar.

Kembali anak muda itu memutar kepala. Kali ini tak tersenyum. Dia menatap lelaki itu

dengan tatapan matanya yang lembut. Lalu ber-kata perlahan:

“Apakah pernah mendengar suara giring-giring perak??”

Pertanyaan ini membuat ketiga lelaki itu tertegun. Suatu pertanyaan yang mereka anggap tak

berkelincitan. Yang tak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan sitinggi barusan.

“Saya bertanya pada waang buyung, apakah waang tak ikut gelak mendengar kentut si gagap

itu meletup-letup seperti bunyi keraben Ulando?”

Anak muda itu seperti tak mengacuhkan pertanyaan lelaki tersebut. Justru dia kembali

melontarkan tanya :

“Apakah kalian pernah mendengar ada orang yang kehilangan anak lelaki, yang memakai

giring-giring perak di kaki kanannya?”

Ketiga lelaki itu kembali saling pandang. Gila-kah anak muda ini? Atau dia adalah seorang

pekak? Hingga lain yang ditanya lain yang dijawab?”

Namun, lelaki ini merasa tersinggung. Karena anak muda itu jelas tadi menyebut mereka

dengan kalimat “Kalian”, Tidak menyebut; “bapak”.

Dia ingin menampar anak muda ini. Tapi anak muda itu terlalu lemah lembut kelihatan. Dia

yakin sekali tampar, anak muda itu tidak hanya kentut-nya yang akan terpancar seperti lelaki

dari Lima Kaum, tapi ciritnya juga akan ikut terbudur.

Mengingat ini, lelaki besar itu tertawa sendiri.

“Pernah mendengar ada yang kehilangan anak?” anak muda itu bertanya kembali.

“Tidak buyung. Belum ada yang kehilangan anak di sini. Tapi yang akan kehilangan ayah,

sebentar lagi mungkin akan banyak. Di Silaing ada beberapa lelaki yang baru datang dari

Pariaman. Beberapa liari yang lalu mereka telaji membunuh empat orang teman kami. Tapi

sebentar lagi, me-raka juga akan mengalami nasib yang sama. Dan isteri mereka, kabarnya

perempuan-perempuan itu cantik-cantik, ada pula seorang gadis jolong mekar, akan kami

bawa ke Gunung Rajo. Menjadi teman tidur …,he….he…,he.,..”

Si Giring-Giring perak tertegun mendengar cerita lelaki besar di sisinya ini. Kalau begitu,

Datuk Sipasan dalam keadaan bahaya besar.

Tapi dia ingin mendengar sedikit lagi tentang keadaan datuk itu.

 

 

“Tapi saya dengar, Datuk itu tinggi ilmu silat-nya. Begitu pula teman-temannya dari

Pariaman. Tak mungkin mereka bisa dikalahkan…”

Sitinggi besar melotot pada anak muda ini. Tapi kemudian dia menggerendeng.

“Tak ada yang bisa melawan Pandeka Sangek buyung. Sudan lama dia tak pernah turun

gunung. Kali ini dia benar yang memimpin. Waang tau siapa dia? Tak sia-sia dia berguru

pada Harimau Tambun Tulang. Kami adalah pengikutnya. Dan Pandeka Sangek tak

sendirian, dia datang bersama tiga puluh temannya.

 

 

Episode 18 – Maling Budiman

Si Giring-Giring Perak merasa cukup mendapat informasi: Dia membasuh tangan. Tegak,

kemudian melangkah menemui orang yang punya lepau.

“Hei, ketan waang belum liabis. Kemana waang buyung?” Si pendek teman sitinggi bertanya,

“Saya mau tidur…”

“Ya. Lebih baik waang cepat tidur. Hari sudah larut. Nanti waang masuk angin, Besok waang

seko-lah bukan?. He…he..Jie” Sitinggi berkata sambil menyumpalkan sekepal ketan dan

empat buah isi durian ke mulutnya. Dan terdengar bunyi gemertak gemertak tatkala giginya

mengunyah biji durian bersama ketan itu. Lelaki ini memakan durian ber-sama biji-bijinya

sekaligus.

Si Giring-Giring Perak memberikan sebuah mata uang terbuat dari perak. Kemudian dia

ber-jalan.

“Hei, ini terlalu banyak anak muda..?.” orang lepau berseru.

“Ambil saja. Dan semua yang makan dan minum di lepau ini malam saya bayarkan…. kata-

nya sambil menoleh pada ketiga orang di mejanya tadi. Ketiga orang itu berhenti menyuap.

Mereka memandang pada anak muda itu.

“Hei buhung, waang membayarkan kami?” Anak muda itu mengangguk.

“Kaya waang ya? Apakah waang ulang tahun, makanya teragak membayarkan kami malam

ini?”

“Tidak, duit itu kalian yang punya….” sehabis berkata begini, anak muda itu melangkah

keluar. Menutupkan pintu dan berjalan ke dalam gelapnya malam.

Ketiga lelaki itu termangu. Saling pandang. Tiba-tiba sitinggi besar yang tadi duduk dekat

anak muda itu merogoh puro di pinggangnya. Dia menyimpan uang rampokan di puro itu.

Puronya masih ada. Dan -masih penuh. Dia ambil puro itu, kelihatan masih gembung.

“He….he….masih penuh. Anak muda itu bergarah. Dia pandai melawak….” kata Sitinggi. Tapi

teman-temannya tak tertawa. Mereka melihat ada yang ganjil di puro itu. Sitinggi sadar akan

tatapan teman-temannya.

Dia memperhatikan puronya baik-baik. Tiba-tiba dia membuka puro itu. Menunggangkannya

kemeja. Dan dari dalam puro itu, berjatuhan biji-biji durian.

“Beruk! Anjing! Anjing beruk!! Anak itu anak anjing dan anak beruk sekaligus!! Dia cilok

duit saya. Pancilok dia!!”

Berkata begini, lelaki tinggi besar itu melompat berdiri memburu anak muda itu ke pintu.

Namun teman-temannya jadi tertawa tatkala lelaki itu ter-henti. Dan celananya melorot jatuh

ke bawah. Di balik celana galembongnya itu lelaki tersebut tak memakai apa-apa. Tangannya

segera bergerak menutup anu-nya. Muka lelaki ini jadi pucat karena berang.

Rupanya anak muda tadi benar-benar menger-jakan lelaki ini dengan sempurna. Puro tempat

inenyimpan uang itu dia simpan di balik ikat pinggangnya, Dan ternyata ikat pinggang dari

kulit itu diputus oleh si Giring-Giring perak tanpa dia ketahui.

Lelaki itu menunduk memungut celananya. Karena dia menungging pantatnya menghadap

pada keenam lelaki yang datang dari Lima Kaum. Kelima lelaki itu, yang tadi ikut tertawa

tergelak, kecuali si ga’gap yang masih merasakan Jinu tulang belulangnya, tiba-tiba jadi

terdiam melihat pantat yang tersonggeng tak bertutup itu. Mereka terdiam karena pantat

lelaki itu bopeng dan berkudis. Dan kudis yang banyak itu jelas terlihat dalam cahaya lampu

di kedai tersebut.

 

 

Dua orang yang sedang makan ketan durian merasa perut mereka mual. Dan mereka lalu

muntah. Si tinggi besar memakai celananya. Dia menyumpah panjang pendek. Berjalan

kepintu, menerjang pintu kedai itu hingga somprak. Lalu

menghambur keluar. Dia berharap masih bisa melihat anak muda itu. Dia akan menyambak

rambutnya. Akan dia hempaskan sampai patah patah ke dalarn kedai. Namun di luar dia

hanya di sambut oleh terpaan angin dan gerimis.

“Kaleraaa……!! Awas waang kalera!! Kalau waang kutemui suatu saat kelak, saya lulur

waang dengan seluruh bulu-bulu waang!!”

Lelaki itu berteriak dalam gelapnya malam.

Teriakannya yang mengguntur membuat kerbau pedati-pedati yang tertambat di luar kedai

jadi menggado-gah terkejut. Lelaki itu melompat kaget mendengar suara kerbau pada

melenguh itu. Tapi dia jadi malu sendiri ketika dia sadar bahwa suara lenguh itu adalah suara

kerbau. Dia masuk lagi ke kedai, menyumpah panjang pendek. Lalu duduk di dekat teman-

temannya yang masih tertawa.

“Tumbuang! Apa yang kalian gelakkan..,!!” Lelaki itu menyumpah dan membentak.

Temannya pada terdiam. Lelaki itu meraup ketan dan durian di piring kemudian sambil tetap

-menyumpah-nyumpah, ketan dan durian itu dia sumbatkan ke mulutnya. Matanya

terbualang-bulalang mene-lan makanan itu.

Dan ketika dia selesai makan, lelaki tinggi besar ini berjalan, ke tempat pemilik kedai.

“Mana duit yang diberikan anak muda itu tadi…” bentaknya,

Pemilik kedai ini tak mau can penyakit. Dia memberikan duit itu. Lelaki besar tersebut

berjalan mengitari meja, dan Klni dia berada di dekat pemi-lik kedai. Tangannya meraih lad,

membukanya dan dari dalam dia mengeruk uang yang ada, kemudian memasukkan semua ke

dalam uncangnya.

“Anak beruk itu mencilok duitku di dalam kedaimu ini. Karena itu kau wajib menggantinya..”

Dia berkata sambil mendorong kepala pemilik kedai tersebut. Si pemilik kedai sebenarnya

juga seorang pesilat. Tapi dia yakin ketiga lelaki anak buah Pandeka Sangek ini bukan

tandingannya. Karena itu dia hanya menunduk diam. Meski pun hasil pencahariannya dalam

sepekan ini ludes sudah. Kemudian ketiga lelaki itu berjalan mening-gaJkan lepau tersebut. Si

pemilik kedai membetul-kan pintu kedainya yang sudah copot kena terjang. Kemudian

membetulkan meja.

“Orang bagak nampaknya ketiga orang tadi engku…” salah seorang lelaki bertanya, Lelaki tua

pemilik kedai itu menatapnya. Si gagap yang tadi kena hajar dan seorang temannya Jagi,

sudah duduk dan menelungkup kemeja menahan sakit.

“Dia tidak hanya bagak. Tapi juga berkuasa. Mereka anak buah Pandeka Sangek. Dan mereka

tengah mengadakan pembalasan dan pengejaran terhadap beberapa pengungsi yang datang

dari Pariaman. . . . .!!

“Kenapa permusuhan itu timbul?” “Orang-orang Pariarnan itu membunuh empat orang anak

buah Pandeka Sangek beberapa hari yang lalu….”

“Hmm… nampaknya orang Pariaman itu juga orang bagak…”

 

 

“Mereka membunuh ada alasan, Isteri Pimpin-an pengungsi itu hampir diperkosa oleh anak

buah Pandeka Sangek. Itu sebabnya dia dibunuh…”

Lelaki pemilik kedai itu berhenti bicara, tatkala di balik gelas-gelas dia melihat bungkusan

kecil. Dia mengambilnya, dan membuka bungkusan itu.

Matanya terbelalak, di dalam bungkusan itu terdapat banyak sekali uang perak dan benggol.

Tak pelak lagi duit itu pastilah dit sitinggi besar tadi. Anak muda berbaju putih dan bergiring-

giring perak itu rupanya telah menyikat seluruh duit milik lelaki itu. Dan meletakkannya di

dekat gelas ketika akan keluar.

Anak muda itu rupanya sudah menduga, bahwa silelaki besar itu pasti akan menyikat duit

pemilik kedai. Dan kini, pemilik kedai itu mendapat ganti puluhan kali lebih banyak dari

duitnya yang disikat anak buah Pandeka Sangek tadi. Mukanya berobah jadi berseri-seri.

“Anak muda luar biasa. Berhati budiman….”

Katanya sambil menyimpan duit itu. Keenam lelaki dari Lima Kaum itu pada terheran-heran.

“Siapa yang luar biasa dan budiman?”

“Anak muda – bergiring-giring perak itu…..”

“Anak muda kerempeng tadi?”

“Ya….”

“Puih, saya lihat dia diam saja ketika sitinggi besar itu menolakkan kepalanya ketika mereka

akan duduk di sisinya tadi. Tak ada orang yang mau kepalanya dipegang begitu saja. Kalau

kepala saya tadi yang didorong begitu, nyawa ketiga lelaki itu pasti sudah saya habisi….”

Lelaki tua pemilik kedai itu hanya tersenyum. Dia tahu, lelaki dari Lima Kaum ini hanya

besar bual. Padahal tadi dia diam saja ketika dua teman-nya hampir disunat oleh lelaki tinggi

itu.

 

 

Episode 19 – Pengepungan Tengah Malam

Akan halnya si Giring Giring Perak, begitu mendengar cerita lelaki besar dalam kedai itu

bahwa .Datuk Sipasan dalam bahaya, segera berjalan cepat menuju ke rumah Datuk itu di

Silaing. Sudan lebih dari sepekan dia pergi me-ninggalkan rumah Datuk itu. Dia telah

mengitari negeri-negeri di sekitar Silaing ini untuk mencari ayah dan ibunya. Namun

usahanya tetap tak ber-hasil. Tak seorangpun yang pernah mendengarkan tentang ada

keluarga yang kehilangan anak,

Dalam terpaan angin dingin serta gerimis yang menusuk tulang, dia berlari cepat menuju

rumah Datuk Sipasan itu. Firasatnya mengatakan bahwa Datuk itu pasti tengah dalam bahaya

besar.

Saat itu, di dalam rimba Silaing, Datuk Sipasan dan teman-temannya tengah dikepung oleh

anak buah Pandeka Sangek. Anak-anak dan perempuan mereka letakkan di tengan lingkaran

yang mereka belakangi.

Datuk Sipasan tahu bahwa nyawa mereka da-lam bahaya besar. Dia berfikir cepat sementara

lebih dari dua puluh lelaki kini dengan pedang di tangan maju langkah demi langkah

niemperkecil kepungan mereka,

Anak buah Pandeka Sangek bukannya tak tahu, bahwa ketujuh lelaki yang kini mereka

kepung adalah pengungsi dari Pariaman yang secara “ajaib” lolos dari penyembelihan di

Bukit Tambun Tulang.

Tak ada orang yang bisa selamat melewati bukit itu. Apalagi bila dalam rombongan ada pe-

rempuan-perempuan cantik seperti yang ikut dalam rombongan Datuk ini.

Dan lolosnya rombongan Datuk Sipasan bukannya tak menjadi buah bibir di kalangan

penduduk. Namun tak seorangpun yang berani bertanya bagaimana caranya mereka lolos dari

maut yang bertahta di Bukit Tambun tulang itu. Sebab satu hal telah pasti, yaitu: Yang

berhasil lolos dari sana pastilah pesilat-pesilat tangguh. Dan hal itu telah terbukti tatkala

beberapa hari yang lalu empat orang anak buah Pandeka Sangek mati pula di rumah Datuk ini

di Silaing.

Akan halnya Pandeka Sangek, yang memang hadir dalam pengepungan Datuk Sipasan di

hutan Silaing itu, belum menampakkan diri. Dia masih tegak di balik pohon, berlindung

dalam gelap. Dia adalah kakak seperguruan Gampo Bumi yang terlibat perkelahian dengan

Datuk Sipasan dan Si Giring-Giring Perak itu di Bukit Tambun Tulang. Begitu rombongan

Datuk Sipasan lolos bersama anak muda itu, Gampo Bumi mengirim pesan melalui kurirnya

pada kakak seperguruannya ini di Gunung Rajo.

Isi pesan sederhana saja. Bunuh semua lelaki yang datang dari Pariaman itu. Tapi ketika

pesan itu disampaikan ke Gunung Rajo, Pandeka Sangek tengah tak di tempat. Dia berada di

Pagaruyung. Di rumah bininya yang ke 14. Itulah sebabnya rombongan Datuk Sipasan tetap

aman sampai dua pekan di Silaing.

Datuk Sipasan bersiap menanti kepungan yang makin merapat itu. Dia berbisik pada Lebak

Tuah di sampingnya. Lebak ini berbisik pula pada temannya. Dan bisik itu diteruskan

beranting dalam keadaan waspada penuh. Dan ketika bisik itu sudah mencapai ke-7 lelaki

teman Datuk itu terdengar pekik menyerang dari Pandeka Sangek. Kibasan pedang berkilat

ditimpa cahaya obor. Ke tujuh lelaki dari Pariaman itu tak bergerak sedikitpun. Musuh

mereka sudah menyerang beberapa jurus. Namun suatu saat, dalam suatu gerakan yang

sempurna, ketujuh lelaki itu tiba-tiba maju beberapa langkah. Dan dalam waktu enam

hitungan, secara mengagumkan sekali ketujuh mereka telah menangkap masing-masing

seorang anak buah Pandeka Sangek.

 

 

Ke tujuh lelaki yang mereka tangkap itu kini mereka jadikan tameng. Mereka kunci lehernya

dari belakang, dan mereka buat pagar din.

“Pandeka Sangek, anak buahmu ini kami jadikan sandera. Kalau kau tak memberi kami jalan,

mereka akan kami bunuh.”

Datuk Sipasan mengancam. Semua anak buah Pandeka Sangek jadi terdiam.

Mereka tak menyangka siasat Datuk ini seperti itu. Itulah tadi rupanya yang dibisikkan

mereka, Gerakan mereka menangkap itu benar-benar luar biasa.

Dan kini mereKa memang tak bisa maju menyerang. Sebab salah-salah bisa mengenai dan

melukai teman mereka sendiri yang kini tengah disekap oleh ketujuh lelaki dari Pariaman itu.

Namun sebagai jawaban, terdengar tawa berguman. Dan suatu suara yang mencemeeh:

“He…he… kau takkan lolos Datuk. Perempuan-perempuan harus menjadi bini kami. Dan

kalian akan menjadi cacing atau dilahap binatang buas di,rimba ini. Kalian takkan lolos….”

“Tapi kalian juga takkan berhasil melawan kami. Kami akan bunuh teman-teman kalian

ini….”

“He,..he… nyawa mereka sama tak berharganya seperti nyawa kalian,..”.

Dan sehabis berkata begini terdengar desiran perlahan. Datuk Sipasan terkejut.

Suara itu pasti-ih suara senjata rahasia. Dan sebelum dia sempat 4nemberi ingat dan teman-

temannya, terdengar jeritan-jeritan. Dan Datuk itu tiba-tiba merasa lelaki yang dia katuk

sebagai tameng itu terlon-jak. Dan kemudian terkulai. Layu. Mati

Datuk Sipasan keget, Dia inenatap ke kiri, ke kanan dan memutar kepala ke belakang. Dan

ke-enam lelaki lainnya, yang dikatuk pula oleh teman-temannya, semua pada terkulai mati!

Dada mereka semua ditembus oleh senjata rahasia. Datuk Sipas-an tertegun. Kali ini

wajahnya benar-benar pucat. Dia sudah hanyak mendengar kekejaman orang. Sudah sering

mendengar tingkah penyamun yang kejam-kejam, Tapi melihat pimpinan yang membunuh

anak buahnya sendiri, baru kali ini dia temui.

Hampir serentak mereka melepaskan tubuh ketujuh lelaki yang telah jadi mayat itu. Dan kini,

ketujuh lelaki dari Paiaman itu kembali tegak dengan keris di tangan. Dengan membuat

lingkaran. Dengan anak-anak dan perempuan berada dalam iingkaran di belakang mereka.

“Kejam… benar-benar kejam…” Datuk Sipasan bergumam. Sementara matanya coba

menembus kegelapan malam dirimba itu untuk mencari di mana beradanya orang yang

bernama Pandeka Sangek itu.

“Tak ada yang kejam Datuk. Kami memang tak memerlukan orang-orang bodoh. Dan demi

mendapatkan perempuan-perempuan kalian, mereka harus mati. Tangkap mereka!!”

 

 

Episode 20 – Terpotong

Red.

Kami mohon maaf, karena kerusakan yg terdapat pada buku yg kami miliki Episode ke 20 ini

hanya dapat kami tampilkan sebagian

cukup banyak anak buah kami di sana….”

“Kematian dibalas kematian?”

“Ya”

“Bagaimana dengan rombongan Datuk ini, yang juga banyak yang mati hari itu?”

“Itu urusan mereka untuk membalaskannya. Apakah mereka mampu atau tidak untuk mem-

balas”

“Kalau mereka tak mampu?”

“Hukum rimba berlaku. Siapa yang kuat dia yang berkuasa”

“Lalu bagaimana dengan puluhan atau ratusan orang yang telah kalian rampok dan kalian

sembelih di bukit itu selama puluhan tahun ini?”

“Kalau mereka ingin membalas, silahkan datang ke sana!”

Si Giring-Giring Perak tersenyum tipis. Mereka bertatapan. Dan Pandeka Sangek ingin

memulai perkelahian ini. Dia tahu bahwa dia berada di pihak yang menang.

Anak muda itu terpaksa melindungi pengungsi-pengungsi tersebut. Terlebih lagi dia harus

melindungi perempuannya. Dia melihat tadi betapa salah seorang dari perempuan-perempuan

itu, yang paling muda, dan yang paling cantik pula, mende-kap anak muda itu ketika mula-

mula muncul.

nan, kelemahan itu akan dia pergunakan. Betapapun jua, serangan harus diarahkan pada dua

sasaran. Pertama pada anak muda itu sendiri, dan yang kedua pada para pengungsi itu untuk

memecah konsentrasi anak muda tangguh ini.

Dengan perhitungan demikian, Pandeka Sangek mengibaskan tangan memberi isyarat.Bagi Si

Gi-ring-Giring Perak maupun Datuk sipasan belum bisa menduga apa arti kibasan tangan

penguasa dari Gunung Rajo itu, ketika tiba-tiba seluruh suluh dan damar yang nyala mengeli-

lingi mereka pada padam serentak!

 

 

Episode 21 – Pertarungan di tengah Malam

Dan ketika mata mereka masih berkilat-kilat karena perobahan dari terang ke gelap itu, ketika

konsentrasi mereka belum bekerja penuh, saat itu pula belasan batang tombak meluncur ke

arah mereka dari segala penjuru.

Bukan main berbahayanya serangan ini. Baik Si Giring-Giring Perak maupun Datuk sipasan

dan

teman-temannya tak mengetahui darimana datang nya serangan itu. Mata mereka tak melihat

apa-apa.

Dalam keadaan seperti itu, Si Giring-Giring Perak terpaksa mengeluarkan seluruh

kepandaian-nya untuk menolong nyawa mereka. Dengan mempergunakan pendengarannya

yang amat tajam, kemudian menggabungkan dengan ilmu meringankan tubuh yang tangguh,

anak muda dari Gunung Talang ini melompat ke udara. Tangannya masih memegang

selendang Siti Nilam. Di udara dia berjumpalitan dalam gelap. Dan tangannya bekerja cepat.

Dia tak menangkap selu-ruh tombak itu dengan belitan selendangnya. Tapi dengan tenaga

bathinnya yang tinggi dia mengibaskan selendang itu berputar di udara.

Sungguh hebat! Seluruh tombak itu mencong arahnya terkena sambaran angin yang

dikibaskan dari selendang di tangannya. Dan hanya dalam enam hitungan sejak dia melompat

tadi, anak muda ini turun lagi di tanah. Persis di tempatnya semula. Dan itu pula semula suluh

dihidupkan lagi secara serentak.

Sekilas saja, Pandeka Sangek mengerti bahwa serangan dengan tombak yang pertama tadi tak

satupun yang mengenai lawan. Dia sempat mendengar suara desakan angin ketika anak muda

itu melambung ke udara dalam gelap tadi, dan dia juga mendengar suara tombak yang

terpukul arah-nya oleh kibasan tenaga dalamnya itu. Kini dia mempergunakan taktik kedua.

Begitu suluh hidup, dan si Giring-Giring Perak serta teman-temannya tiba-tiba kembali

merasa silau di sebabkan nyala suluh yang tiba-tiba itu, kembali beberapa tombak melayang.

Tombak-tombang itu diarahkan pada rombongan Datuk Sipasan.

Sementara Pandeka Sangek sendiri menyerang anak muda itu dengan serangan pisau beracun.

Lemparan pisau beracun-nya yang kecil-kecil, tak lebih dari sebesar keling-king, amat

berbahaya.

Pisau itu selain amat tajam dan runcing, juga telah disepuh dengan bisa yang amat tangguh.

Tak usah tertancap, goresan kecil saja yang dia timbul-kan pada salah satu bahagian kulit di

tubuh manu-sia, sanggup merenggut nyawa. Dan anak muda itu amat arif akan hal ini.

Karenanya dia tak mau berlaku gegabah. Saat itu matanya masih dalam keadaan silau karena

puluhan suluh yang dihidupkan tiba-tiba. Kini dia hanya mengandalkan pen-dengarannya

yang amat tajam itu. Dia memejam-kan mata. Mendengar pisau-pisau kecil itu menggebu ke

arahnya.

Lebih dari lima buah. Dan enam batang tombak melesat pula ke atari teman-teman di

belakangnya. Kalau keadaan begini terus, yaitu jika mereka diserang terus-terusan dalam

keadaan silau, di mana suluh tiba-tiba dihidupkan, kemudian dimatikan, dihidupkan lagi, dan

seterusnya, dan mereka diserang dalam keadaan begitu, lama-lama pasti banyak korban yang

jatuh. Karena itu, dia harus mencari akal untuk mengatasi taktik Pandeka Sangek ini. Dia

yakin, di tiap suluh yang dihidup matikan itu, pasti ada seorang lelaki yang menjaga. Mereka

siap meniup suluh itu hingga padam jika diisyaratkan oleh pimpinan mereka. Dan siap pula

menghidupkannya dengan catuih api begitu isyarat berupa suitan berbunyi.

 

 

Dia tak ingin suluh itu dimatikan. Karena kegelapan bisa membuat rombongan Datuk Sipasan

jadi celaka. Karenanya untuk menolong dan meng-awasi mereka, suluh itu harus hidup terus.

Dengan pikiran begini, Si Giring-Giring Perak lalu memu-satkan perhatiannya pada suluh-

suluh itu. Jumlah suluh itu yang hidup kini hanya lima belas buah. Tegak mengelilingi

mereka dalam jarak delapan depa.

Dia yakin, taman-temannya yang berada di belakang pasti mampu menghindarkan hunjaman

tombak itu. Mereka bukan pesilat-pesilat awam. Meski belum mempunyai ilmu tinggi, namun

tidak terlalu rendah. Dengan berfikiran demikian, anak muda ini menanti datangnya pisau-

pisau beracun yang dilemparkan oleh Pandeka Sangek.

Dia tidak mau mengambil resiko untuk me-nyambutnya, lalu melemparkan ke arah orang-

orang yang menjaga suluh itu.

Tidak, itu terlalu berbahaya.

Karena itu, begitu pisau itu dia taksir berjarak dua depa dari dirinya, anak muda ini kembali

mempergunakan selendang Siti Nilam yang masih berada di tangannya. Dengan menyalurkan

tenaga bathinnya yang tinggi, selendang itu tiba-tiba menggeliat dan bergulung ujungnya.

Kemudian dengan sebuah sentakan keras, gulungan itu lepas dan terdengar suara letusan

kecil.

Kibasan ujung selendang itu membuat pisau-pisau kecil tersebut seperti membentur dinding

karet yang liat dan kenyal. Senjata itu berbalik arah dengan kecepatan yang lebih tinggi dari

saat dia datang tadi. Pandeka Sangek sudah menduga bahwa anak muda ini pasti sanggup

menangkis serangannya. Beberapa pisau-pisaunya akan dipu-kul berbalik menyerang dirinya.

Dan hal itu ter-nyata benar. Pisau-pisaunya itu berbalik arah. Malahan dengan kekuatan dan

kecepatan yang lebih hebat dari yang dia lemparkan tadi.

Dia melambung tinggi sambil berkata :

Bagus!

Dalam melompat itu, dia menghantamkan sebuah pukulan tenaga dalam kepada Si Giring-

Giring Perak. Namun dia segera jadi terkejut dan merasa dikicuh tegak-tegak tatkala dia

dengar anak buahnya pada memekik! Dia tak jadi menghantamkan pukulannya. Tetapi turun

kembali cepat-cepat.

Dan dia segera sadar, senjata rahasia yang dia lemparkan tadi, dan dipukul berbalik, ternyata

bukan diarahkan pada dirinya. Melainkan pada anak buahnya.

Dan empat orang anak buahnya yang tegak men-jaga suluh melosoh jatuh dengan dada dan

jidat ditembus pisau beracun milik pimpinannya sendiri!

Saat dia turun itu, suluh yang lain pada padam. Tapi yang empat buah itu masih hidup. Dan

Pandeka ini segera tahu, keempat anak buah-nya itu telah pugat oleh pisau beracunnya.

“Luar biasa!!!” dia bergumam setelah tegak dengan sempurna di tanah. Dan pada saat itu

keenam batang tombak yang dilemparkan ke arah Datuk Sipasan dan teman-temannya juga

telah dipukul jatuh ke tanah.

Pandeka Sangek jadi maklum, bahwa dengan perkelahian jarak jauh, dia’akan banyak

mengalami kerugian. Karenanya dia lalu mengatur siasat baru.

 

 

“Anak muda, ilmu bathinmu ternyata amat tinggi. Saya ingin belajar sedikit ilmu silat dari

Gunung Talang”

Sehabis berkata begitu dia memberi isyarat lagi. Dan kembali suluh-suluh yang tadi

dipadamkan, hidup kembali.

Kemudian, setelah membungkuk sedikit tanda memberi hormat, Pandeka Sangek mulai

membuka langkah silat.

Dan pada langkah kedua, anak muda itu segera tahu, Pandeka ini membuka dengan jurus silat

Starlak. Dia tetap tegak menanti. Pada langkah ketiga, dengan sebuah langkah panjang

menyam-ping, Pandeka itu telah berada di sisi kirinya.

Anak muda itu masih tegak diam. Dan Pandeka itupun membuka serangan pertamanya.

Dengan masih tetap menyamping, dia mengirimkan tendangan dengan sisi kaki ke rusuk Si

Giring-Giring Perak. Tendangan itu luar biasa cepatnya. Anak muda ini membuang langkah

ke samping. Tapi tendangan itu beruntun sebanyak tiga kali. Mengarah ke rusuk, ke lutut ke

kepala. Dilakukan dengan cepat dan tanpa kaki kanannya yang menendang itu mencecah

tanah. Dia tegak hanya dengan kaki kiri. Dan kaki kirinya membuat loncatan kecil mendekati

anak muda itu setiap menendang. Si Giring-Giring Perak bukannya tak sering melihat

serangan Starlak yang tangguh. Tapi cara bersilat Pandeka ini cukup aneh dan serangannya

berbahaya. Ketika dia terpaksa membuang langkah ke kiri menghindarkan ten-dangan ke

kepala. Pandeka itu tiba-tiba menarik kakinya dan kini ujung-ujung jari tangannya meng-

hunjam ke dada. Ujung jari-jari yang dirapatkan itu seperti ujung pisau. Melaju ke arah

jantung. Kembali Si Giring-Giring Perak dibuat kagum dengan kecepatan lelaki ini bergerak.

Jurus serang-an ke.empat ini dia hindarkan dengan merendah-kan diri.

Tapi serangan berikutnya benar-benar membuat anak muda ini tidak hanya sekedar kagum

tetapi juga kaget. Begitu dia menunduk, dan tikaman dengan ujung-ujung jari-jari itu lewat di

atas kepalanya dengan cepat sekali serangan itu berobah menjadi hantaman dengan siku!

Siku-nya i menghujam ke bawah, ke arah tengkuk Si Giring-Giring Perak. Semua orang yang

tegak menonton pertarungan itu dengan diam dan tegang, tak melihat apa yang tengah terjadi.

Gerakan kedua lelaki itu amat cepat untuk mereka tangkap dengan pandangan. Hanya Datuk

Sipasan yang masih mampu mengikuti pertarungan itu dengan baik dengan tatapan matanya

yang cukup a was.

Dia jadi berdebar melihat siku tangan Pandeka yang memburu tengkuk anak muda itu. Dia

tak mau berteriak meskipun dia ingin sekali berseru memperingati bahaya itu. Tapi anak

muda itu su-dah mencium bahaya. Dengan cepat dia menjatuh-kan diri ke tanah. Dengan

demikian dirinya terhin-dar dari terkaman siku lawan, Namun sebelum dirinya sempurna

jatuh ke tanah kaki kiri Pandeka itu bergerak. Dia berusaha menangkap namun, sebuah

kibasan kaki yang ligat tetap saja meng-hantam rusuknya.

Terdengar suara berdebuk dan tubuh anak muda itu tercampak dua depa! Anak muda itu

bukannya tak merasakan datang-nya tendangan itu, ia telah berusaha menyambut-nya dengan

tangan. Namun posisinya dalam keada-an tidak menguntungkan. Dia tengah menjatuhkan

diri. Betapapun jua, saat itu dia tak bisa bergerak banyak. Makanya dia lalu menyalurkan

tenaga bathinnya ke rusuk. Ke tempat yang dia duga akan diterpa tendangan itu. Dan hal

itupun terjadi-lah!

Si Giring-Giring Perak segera merasakan sakit yang menyengat di rusuknya. Dia

mengerahkan lagi tenaga bathinnya ke sana. Namun rasa sakit yang menyengat itu masih

 

 

membakar. Dia meraba rusuknya dan dengan terkejut dia merasakan beta-pa rusuknya basah.

Dan ketika dia melihat tangan-nya, dia jadi keget. Telapak tangannya merah oleh darah! Dan

rasa sakit makin menyengat. Pukulan dengan siku dan tendangan tadi jelas serangan yang

berasal dari Silat Pangian. Silat tangguh yang berasal dari Pangian Tanah Datar,

Ternyata Pandeka ini menggabungkan silat Starlak dengan Pangian dalam jurus-jurus yang

berbahaya. Dia menarik nafas. Kemudian tegak. Tangannya masih menutup luka di rusuknya.

“Serangan Pangian yang luar biasa…” katanya perlahan dengan jujur.

Pandeka itu tak menjawab. Tapi kembali membuka langkah. Dan seperti tadi, dalam tiga

langkah yang panjang dan menyamping kembali dia berada di sisi kiri anak muda itu.

Kali ini si Giring-Giring Perak berlaku waspada. Rasa pedih bekas tendangan tadi masih

terasa menyengat. Menyengat! Ya, pedihnya menyengat. Anak muda ini segera sadar, nama

lelaki yang dia hadapi itu adalah Pandeka Sangek. Gelar yang di-berikan bagi pesilat

biasanya ada sangkut pautnya dengan kepandaian yang dia andalkan.

Datuk Sipasan misalnya bergelar demikian karena tangannya dicelup dengan bisa ribuan

Lipan. Dan cara dia menyudahi lawannya persis seperti sipasan (Lipan). Yaitu dengan

mempergu-nakan dua jarinya sebagai taring untuk memasuk-kan bisa. Dan kini Pandeka

Sangek tentulah punya keistimewaan menurut namanya itu

 

 

Episode 22 – Silek Tuo

Dia masih merasakan sakit yang menyengat di rusuknya. Dan ariflah anak muda itu bahwa

Pandeka itu punya ilmu simpanan yang bila pukulan dan tendangannya mengenai orang maka

sakit yang ditimbulkannya seperti sengatan binatang berbisa. Barangkali hampir sama dengan

Datuk sipasan tapi anak muda ini yakin ilmu Pandeka ini mungkin sepuluh kali lebih tinggi

dari Datuk Sipasan.

Kalau Datuk Sipasan serangannya yang berba-haya hanya dua jari tangannya maka Pandeka

Sangek seluruh kaki dan tangannya mengandung bisa yangmemautkan.

Karena itu dia harus hati-hati benar mengha-dapi lelaki ini. Pandeka Sangek tiba-tiba

menyerang dengan sebuah pukulan ke hulu hati. Pukulan itu amat cepat, Si Giring-Giring

Perak menangldsnya dengan telapak tangan. Kemudian membalas dengan tendangan kaki

kiri. Pandeka itu mundur selangkah, tiba-tiba berputar dan mengirimkan tendangan belakang.

Si Giring- Giring Perak menangkis serangan itu dengan menyilangkan kedua tangannya di

bawah pusat.

Kemudian dengan cepat mengirimkan sebuah tendangan ke tubuh Pandeka Sangek yang

tengah berputar untuk menghadapinya. Tendangan itu dielakkan oleh Pandeka dengan

membuang langkah ke kanan. Dan serentak dia juga

mengirimkan sebuah pukulan ke hulu hati. Pukulan ini kembali ditangkis dengan telapak

tangan oleh Si Giring-Giring Perak. Kemudian dia menyerang pula dengan menghantam

kepalan tangannya pada wajah Pandeka Sangek. Pukulan ini demikian kerasnya. Dan

Pandeka itu tak menangkis dia malah melompat dua langkah ke belakang.

“Hmm… Silek Tuo…” Pandeka Sangek itu bergumam. Dan Datuk Sipasan Sendiri juga dapat

mengenai silat yang dipergunakan oleh Si Giring-Giring Perak itu. Silek Tuo merupakan silat

induk di Minangkabau. Tidak banyak membuat gerak langkah dan bunga silat, Dan tidak pula

pernah membuka serangan.

Dalam Silat Tua Minangkabau dikenal prinsip: Tangkis Jurus satu, Serang jurus dua.

Jadi pada awalnya ilmu persilatan di Minangkabau ini mengajarkan pada anak Sasiannya

(murid) untuk tidak memulai perkelahian.

Tangkis jurus satu mempunyai makna, bahwa tugas utama setiap anak sasian atau pesilat

adalah meng-hindarkan perkelahian. Sedangkan Serang jurus dua mempunyai makna: Bila

musuh datang setelah mengelakkan serangan baru boleh menyerang.

Dan ilmu ini memang diajarkan secara harfiah dalam Silek Tuo. Tidak pernah diberi

pelajaran bagaimana caranya membuka serangan. Tetapi pelajaran selalu dimulai dari cara

“menggelek”. Yaitu menghindarkan perkelahian. Setelah serangan musuh ditangkis, barulah

terbuka jurus untuk menyerang.

Itulah tadi yang dipergunakan oleh Si Giring-Giring Perak. Setiap serangan dia tangkis,

kemudian balas menyerang. Dan serangannya adalah “satu balas satu”.

Ini adalah Silek Tuo asli. Yang membalas serangan musuh tak lebih dari jumlah serangan

yang dilakukan la wan.

 

 

Dan ilmu silat ini oleh anak Sasian yang turun dari Pagaruyung di mana ilmu itu berasal

disebar luaskan. Umumnya Silat Tuo dianggap sebagai “lemah”. Karena kurang berfariasi.

Makanya di seluruh Minangkabau silat Tuo itu dikembangkan menurut langgam masing-

masing daerah.

Adapun Silat Toboh di Pariaman, Pangian di Tanah Datar dan Starlak di Sawahluntp, adalah

juga berasal dari selek Tuo. Tetapi telah dikem-bangkan dan dirobah di sana sini. Ilmu itulah

yang kini dipakai oleh Pandeka Sangek. Silek Tuo dianggap lemah karena tidak boleh

memulai serangan, dalam perkalahian orang diwajibkan menanti orang lain menyerang.

Dan kini- kedua mereka kembali saling pan-dang. Rasa sakit masih tetap menyengat rusuk Si

Giring-Giring Perak. Anak muda ini sadar, kalau saja dia tidak mempunyai tenaga bathin

yang tinggi, dia yakin dirinya sudah sejak mula pertama kena tendangan tadi sudah mati.

Atau paling kurang semua tulang rusuknya kupak.

Pandeka Sangek mengangkat kedua tangan setinggi dada. Sementara matanya menatap mata

Si Giring-Giring Perak. Dia mulai membuka bunga silat dalam jurus Silat Pangian. Dalam

tiga langkah dia kini kembali berada di dekat anak muda itu. Tanpa membuang waktu dia

kembali menyerang dengan dua pukulan beruntun ke kepala dan ke dada. Dan seperti tanpa

jarak waktu dua tendang-annya menggebu ke selangkang. Keempat serangan ini dengan

roudah sambil mundur selangkah ber-hasil dielakkan oleh si Giring-Giring Perak. Nanum kali

ini dia tak diberi kesempatan untuk membalas oleh Pandeka Sangek. “

Empat tendangan berputar dan beruntun lagi, Dan anak muda itu dibuat sibuk tanpa dapat

membalas serangan. Ketika enam belas jurus berla-Iu dengan cepat, tiba-tiba Pandeka Sangek

mem-bentak dia menepuk dada, dia menyerang dengan menggelinding di tanah. Inilah

serangan dan aliran Buayo Lalok dari Pesisir Selatan. Sambil menggelinding, kakinya

menyerang dengan ten-dangan-tendangan dan kibasan-kibasan yang me-matikan.

Ada dua jalan yang bisa ditempuh Si Giring-Giring Perak untuk menghindar dari serangan

berbahaya ini. Pertama melambung tinggi, kedua meloncat menjauhi serangan itu. Bila

melambung ke atas, bahaya masih tetap mengancam. Yaitu bila turunnya dekat dari si

penyerang, maka si penyerang bisa merobah serangan tiba-tiba dengan berdiri dan

mengirimkan tendangan pukiilan kepada lawan yang belum siap itu. Sementara cara kedua

lebih aman.

Maka cara kedua inilah yang ditempuh oleh si Giring-Giring Perak.

Dia berjumpalitan di udara, melambung ke belakang sekitar empat depa. Namun di sinilah

kesalahannya. Dia melakukan kesalahan karena usia yang masih muda dan peng-alaman yang

kurang di dunia persilatan. Dan lawan-nya” seorang yang tangguh. Datuk Sipasan sendiri

yang menatap perkelahian itu dengan mata tak berkedip, merasa lega tatkala anak muda itu

melambung ke belakang. Memang itu cara yang aman, pikirnya.

Tapi dia dan juga si Giring-Giring Perak dibuat terkejut, dan harus mengakui nama besar

“Harimau Tambun Tulang” tatkala muridnya ini dalam ke-adaan masih menggelinding

tubuhnya tiba-tiba melanting seperti bola yang ditendang memburu tubuh si Gorong-Gorong

Perak yang tengah ber-jumpalitan di udara itu.

Begitu kaki si Giring-Giring Perak mencecah tanah, dia mendengar angin berkuak amat kuat

di belakangnya. Dia yakin tak sempat lagi meng-elak, makanya dia hanya rnenghantam

tangan ke belakang menyambut serangan yang datang itu.

Tapi yang datang bukannya sembarang serangan.

 

 

Yang datang justru tubuh Pandeka Sangek yang ikut melambung. Dan kini, kaki kanannya

dengan sisi telapak kaki menghujam ke bawah melaju menerpa tengkuk anak muda itu.

“Celaka….!!” Datuk Sipasan terlompat dan berseru kaget melihat peristiwa itu. Memang tak

lain dari pada celaka, yang diterima anak muda itu. Hanya saja dia masih untung. Pukiilan

tangannya ke belakang tadi, menyebabkan arah kaki Pandeka Sangek agak berobah. Tidak

lagi menghantam tengkuk, tetapi agak ke bawah. Tiba pada bahu kanannya. Meski demikian,

terdengar suara ber-derak. Tubuh anak muda itu terlambung sampai enam depa. Dan tangan

kanannya yang tiba-tiba terkulai lumpuh. Dari mulutnya menyembur darah segar!

Siti Nilam memekik dan menghambur. Namun Datuk Sipasan menahan gadis itu.

Tendangan itu amat membahayakan nyawa anak muda itu. Isi dadanya terguncang. Dan dia

mengalami luka dalam yang cukup berbahaya.

“Silat-Harimau…!!” Hampir bersamaan si Giring-Giring Perak dan Datuk Sipasan bergumam

perlahan. Pandeka Sangek sendiri merasa kaget tatkala serangannya yang mematikan itu

ternyata hanya mampu mengenai bahu anak muda ter-sebut. Sementara kaki kanannya yang

dihantam oleh pukulan membelakang oleh anak muda itu tadi terasa kesemutan dan linu.

Itulah kenapa kini dia tetap saja tertegak. Tak mampu melan-jutkan serangan. Dia coba

melangkah. Tapi kaki-nya terasa lumpuh. Pukulan itu ternyata berisi tenaga dalam yang

lumayan. Kalau saja anak muda itu tadi memukulnya dalam posisi yang betul dan konsentrasi

penuh, maka dia yakin dirinya akan celaka.

Dia menatap anak muda itu. Si Giring-Giring untuk kedua kalinya memuntahkan darah segar

dari mulutnya. Dia tak berniat untuk menggerak-kan tangan kanannya. Karena dia tahu betul

tulang belikatnya pecah dan terlepas kena ten-dangan yang telak itu. Satu-satunya jalan, yang

bisa dia tempuh ialah menghimpun tenaga bathinnya. Menyalurkan ke tempat yang terluka.

Dia tak bisa mengobati tulang belikatnya yang pecah dan lepas. Karena dia harus

mendahulukan mengobati isi dadanya yang terluka.

 

 

Episode 23 – Silek Harimau Tambun Tulang

Siti Nilam sudah menangis meli-hat penderitaan anak muda itu. Pandeka Sangek

pemgumpulkan pula tenaga batinnya. Menya-lurkan ke kakinya yang linu dan lumpuh.

Mereka tetap saling pandang. Kemudian terdengar suara anak muda itu perlahan:

“Silat Harimau sanak sangat sempurna… Saya benar-benar mendapat pelajaran yang

berharga….” Pandeka Sangek tersenyum. Dia mengagumi anak muda itu. Dia yakin pujian itu

bukan sekedar basa-basi. Tapi suatu kejujuran.

“Tenaga dalammu juga sangat ampuh Giring-Giring Perak. Saya sampai tak bisa beranjak

setelah engkau pukul…” Dia juga berkata jujur.

“Ah, tendanganmu justru meremukkan belikat saya. Dan membuat luka dalam yang bisa

merenggut nyawa…”

Pandeka Sangek tertawa bergumam.

“Kalau saja orang lain, yang kepandaiannya cukup tinggi yang kena seranganku tadi, saya

jamin mati hanya karena tendangan itu. Saya yakin akan hal itu….”

Teman-teman Datuk sipasan dan anak buah Pandeka Sangek mendengar dialog kedua orang

ini dengan terheran-heran. Aneh, orang berkelahi, tapi mereka saling mengatakan celaka yang

mereka alami akibat pukulan lawan. Bukankah hal itu berarti memberi tahu kepada lawan

kelemahan kita sendiri ?

Namun Datuk Sipasan arif, demikianlah cara pesilat-pesilat tangguh berkelahi.

Dan saat itu, Pandeka itu sudah merasa kaki-nya kembali bisa digerakkan. Dia kembali

meng-angkat kedua tangannya setinggi dada. Dari mulutnya terdengar geraman. Mukanya

jadi keras. Kedua tangannya tiba-tiba terangkat tinggi dengan jari-jari membentuk cakar

Harimau!. “Silat Harimau dari Tumbun Tulang!!”

Datuk Sipasan berseru. Dia sengaja berkata keras, agar didengar oleh Si Giring-Giring Perak.

Dia ingin memberi ingat anak muda itu, bahwa berbeda dari serangan yang mematahkan

bulang belikatnya tadi, silat Harimau yang dilancarkan Pandeka Sangek sekarang ini adalah

asli Silat Harimau dari Tambun Tulang. Yaitu yang diajarkan oleh gurunya Harimau Tambun

Tulang. Ilmu ini berbeda dengan Silat Harimau yang berkembang di Koto Anau Solok. Yang

dari Koto Anau, adalah jurus yang dipergunakan ketika melambung dan menghantam

belikatnya tadi.

Si Giring-Giring Perak sendiri merasa bulu tengkuknya berdiri melihat mimik muka Pandeka

Sangek yang menyeringai. Tangannya yang terentang seperti cakar harimau.

Anak-anak buah Pandeka itu sendiri pada melangkah surut melihat Pandeka Sangek. Mereka

merasa ‘ngeri. Seingat mereka, belum pernah Pandeka ini berkelahi mempergunakan ilmu

silat ini, Ilmu ini merupakan semacam ilmu simpanannya.

Kini dia mengeluarkan ilmunya itu, itu suatu pertanda bahwa lawan yang dia hadapi bukan

sembarang lawan, Dan Pandeka ini berniat berkelahi hidup atau mati.

Gerakannya tiba-tiba jadi gesit dan mantap. Dari mulutnya tiap sebentar terdengar geraman

dengan dengus. Mirip suara harimau yang sedang berang. Pembuka langkah silat itu saja

amat ber- , bahaya bila digunakan untuk menyerang. Hanya dalam beberapa gerak, Pandeka

Sangek yang mirip harimau jadi-jadian itu sudah dua kali mengelilingi tubuh Si Giring-

Giring Perak.

 

 

Datuk Sipasan, yang masih memegang tangan Siti Nilam ikut merasa ngeri melihat kejadian

itu. Dia melepaskan tangan Siti Nilam. Gadis itu tertegak dengan diam melihat cara silat

Pandeka yang aneh itu. Datuk Sipasan memegang hulu kerisnya. Dia memutuskan, bila

dalam serangan pertama anak muda itu tak bergerak, berarti anak muda itu hams dibantu.

Dan dia menyiapkan diri untuk berjuang sampai mati membela anak muda itu.

Karena bukankah anak muda itu sekarang sebenarnya berkelahi untuk menyelamatkan nyawa

dia dan teman-temannya?

Pandeka Sangek tiba-tiba merunduk rendah. Kedua tangannya mencekam tanah. Mulutnya

mendengus. Matanya yang merah menatap lurus dan tajam pada tengkuk Si Giring-Giring

Perak yang membelakanginya.

Anak muda itu masih tetap diam tak bergerak. Matanya terpejam. Tangan kanannya tetap

terkulai layu dan lumpuh. Mulutnya masih merah karena darah yang tadi dia muntahkan.

Dia yakin, lawannya menghendaki nyawanya. Dan itu rasanya sudah pantas dari pihak

Tambun Tulang. Kalaupun dia yang menjadi Pandeka Sangek, kalau ada lebih dari selusin

anak buahnya mati di tangan orang, maka orang itu harus mati pula di tangannya. Hukum

karma di rimba persilatan. Dan kini, murid kedua Harimau Tambun Tulang itu menghendaki

nyawanya. Terus terang harus dia akui, bahwa dengan mengandalkan jlmu silatnya saja, dia

takkan berhasil menundukkan Pandeka Sangek, Ilmu Silek Tuo yang dia pelajari memang

tinggi. Tetapi dia kalah dibanding Pandeka Sangek yang telah merancah dunia persilatan ini

selama puluhan tahun.

Dan ilmu tanpa pengalaman bisa-bisa menyebabkan pemakainya celaka. Si Giring-Giring

Perak maklum akan hal ini. Dia mengakui dan meng-agumi ketinggian ilmu si Sangek dari

Gunung Rajo ini. Kalau dengan tubuh yang sehat walaffiat saja dia sudah kewalahan dan

malah hampir celaka menghadapi Sangek, apalagi kini dalam keadaan luka dalamnya belum

begitu sembuh, dan belikat kanannya retak dan tangan kanannya lumpuh. Kalau dia bertahan

juga menggunakan ilmu silat tua itu, alamat dia segera akan menamatkan riwayat-nya di

hutan Silaing ini.

Dengan kesimpulan demikian, anak muda itu lalu memutuskan untuk mengimbangi Silat

Hari-mau Tambun Tulang itu dengan mengandalkan ilmu ringan tubuh dan tenaga dalamnya.

Dan saat itu, Pandeka Sangek yang sudah mendekam beberapa saat dj tanah, persis seperti

harimau akan menerkam mangsa, tiba-tiba meng-geram dahsyat. Saat berikutnya, kelihatan

garis merah melayang ke arah Si Giring-Giring Perak. Itulah jurus ‘tumpu Terkam”, yang

merupakan jurus pertama serangan silat Harimau itu.

Datuk Sipasan menahan nafas. Keterlambatan sedetik bisa menyebabkan nyawa melayang.

Di saat garis merah yang ditimbulkan oleh warna baju Pandeka Sangek itu melayang, di saat

itu pula garis putih melesat ke atas. Si Giring-Giring Perak melon cat tinggi tepat pada

waktunya. Pandeka Sangek menerpa tempat kosong. Si Giring-Giring Perak tidak turun di

tanah. Dia berpijak ke sebuah dahan dua depa dari tanah. Hanya ada dua detik saat berhenti

bagi Pandeka Sangek, seketika dia kembali melambung dengan suara menggeram ke tempat

anak muda itu.

Kembali sedetik sebelum terpaan itu tiba, anak muda itu menggenjot tubuhnya, kemudian

melambung kembali ke tanah.

Terdengar suara berderak tatkala cakar Pandeka itu menghantam kayu sepagutan orang

dewasa di mana si Giring-Giring Perak tadi tegak

 

 

Kayu itu rengkah, kemudian dengan menim-bulkan suara hiruk, rubuh ke tanah!

“Bukan main… bukan main…!!” Datuk Sipasan menggeleng. Belum pernah dia melihat ilmu

silat seperti itu. Dirinya terasa makin kecil. Padahal dia guru silat yang disegani di Pariaman.

Pandeka Sangek menggeram dan tegak persis di cabang di mana si Giring-Giring Perak itu

berdiri tadi. Dia mencari anak muda itu, Dan anak muda itu tegak enam depa di samping

kirinya di dekat sebuah suluh.

Dengan lengkingan yang menegakkan bulu roma, dia kembali melambung. Tubuhnya persis

seperti harimau yang meluncur turun dari pohon kayu. Memanjang dengan dua tangan

mencakar kedepan serta mulut ternganga memperlihatkan gigi. Suatu pemandangan yang

membuat bulu tengkuk pada berdiri. Pengungsi pengungsi dari Piaman itu, termasuk anak

buah Pandeka Sangek, pada tegak diam dengan ngeri.

Namun Si Giring-Giring Perak mempergunakan akal yang tak terpikirkan sama sekali. Begitu

tubuh Pandeka Sangek melejit ke dekatnya, tangan kirinya bergerak menghantam sulu di

dekat-nya. Dan seiring dengan itu dia sendiri kembali melambung ke udara.

Serangan dengan suluh menyala ini di luar dugaan Pandeka Sangek. Dia memukul suluh itu

dengan tangannya. Namun api suluh itu pecan. dan sebahagian menerpa mukanya. Sebagian

lagi menghantam pakaiannya. Yang menerpa muka sempat dia elakkan dengan meniupkan

angin yang berasal dari tenaga dalamnya. Api itu terpental kembali. Mali di tanah. Namun

pecahan damar yang lainnya, yang menerpa bajunya, hinggap di sana dan baju merahnya

yang terbuat dari kain beludu itu dimamah api tiba-tiba.

Dia memekik. Api nyala di punggung dan di dadanya. Dia menggeram. Api itu jelas tak

menya-kiti tubuhnya. Karena dia memasang ilmu kebal. Namun matanya tak bisa dia

lindungi. Rambut dan alis matanya dijilat api. Inilah yang menyebabkan dirinya berang.

Dan dalam saat dia menguasai api itu, serangan Si Giring-Giring Perak datang. Serangannya

berbentuk sebuah hantaman pada lutut dengan sisi kaki. Hantaman ini menyebabkan suara

berderak di tempurung lutut lelaki itu. Hantaman kedua mengarah ke leher. Namun dia

rupanya sudah waspada. Dia menangkap tumit si Giring-Giring Perak. Tapi anak muda itu

mengikuti tangkapan itu, Dia naik dan kaki kirinya menghantam kepala Pandeka Sangek.

Tendangan itu mendarat di keningnya. Untung-lah yang kena adalah Pandeka Sangek, kalau

tidak, kepalanya pasti sudah rengkah.

Pandeka Sangek terguling. Dan muntah darah! Namun dia memang kuat. Segera bangkit lagi.

Dan menyerang lagi. Serangannya mulai merendah -dengan jurus-jurus mencakar dan

menangkap yang tangguh. Si Giring-Giring Perak dibuat sibuk lagi mengelak. Dia tak

melompat jauh. Tapi berkelit dan melambung dengan mengandalkan ilmu si ringan-

ringannya yang tangguh.

Dua puluh lima jurus berlalu, dalam serangan mempergunakan silat harimau itu. Tapi

Pandeka Sangek belum berhasil menundukkan si Giring-Giring Perak. Malah kepalanya yang

kena tendang. Datuk Sipasan dan teman-temannya serta anak buah si Sangek hanya melihat

berkelebatnya caha-ya putih dan merah. Mereka tak sempat melihat tubuh kedua orang itu

saking cepatnya mereka bergerak. Pada jurus ketiga puluh, Si Giring-Giring gerak kembali

kena hantam perutnya oleh tendangan Pandeka Sangek.

 

 

Anak muda itu terlambung dan jatuh dua depa jauhnya. Sebelum dia bangkit, Pandeka

Sangek menyerangnya dengan terkaman buas. Namun anak muda itu bergerak cepat, kaki

kanannya menanti terkaman itu. Han-taman kaki kanan yang kukuh itu menyambut Pandeka

Sangek pada kepalanya. Dua kali kepala-nya kena hantam, membuat kepala lanun itu jadi

berpusing. Si Giring-Giring Perak segera memper-gunakan kesempatan itu. Dia meloncat

tegak ke-mudian sebuah tendangan yang telak lagi meng-hantam perut Pandeka itu.

Tubuhnya tercampak. Dan lagi lagi dia rnuntah darah.

Dia tegak menggerendeng. Bersuit panjang. Kemudian tubuhnya melenting. Si Giring-Giring

Perak bersiap. Namun Pandeka Sangek melenting ke samping. Melewati suluh. Dan lenyap

dalam kegelapan rimba Silaing itu. Dan ketika dia melihat ke arah anak buah si Pandeka yang

tadi mengelilingi mereka, ternyata semua telah lenyap. Yang tinggal kini hanya suluh yang

tertegak dan bergoyang ditiup angin

 

 

Episode 24 – Kampung Darurat Hutan Silaing

Hutan itu sepi!

Namun tak seorangpun yang berani meninggalkan tempat mereka tegak. Semua makin

waspa-da. Sudah beberapa kali nyawa mereka hampir melayang karena hujaman tombak dari

tempat gelap. Si Giring-Giring Perak mendengarkan dengan teliti setiap bunyi dan gerak

dalam rimba itu dengan telinganya yang amat tajam.

Namun tak ada yang bersuara mencurigakan. Aneh, ke mana orang-orang itu? Tiba-tiba

terdengar suara:

“Ilmu sanak memang tangguh. Tapi pertarung-an kita belum selesai. Ingatlah, suatu hari

kelak, sanak akan mati di tangan salah satu dari 3 orang seperguruan Tambun Tulang…..”

Suara itu jelas suara Pandeka Sangek. Dan dari suaranya saja dapat diketahui bahwa dia telah

berada jauh dari hutan itu. Suaranya dia kirimkan dengan mempergunakan tenaga bathin.

Datuk sipasan menarik napas lega. Siti Nilam menghambur ke arah Si Giring-Giring Perak.

Dia menghapus bekas darah di mulut anak muda itu dengan ujung selendangnya. Sebagai

pesilat dia tahu, tangan kanan anak muda itu lumpuh dan harus dirawat.

“Tangan uda cedera….” katanya perlahan. Anak muda itu mengangguk tapi mulutnya ter-

senyum.

Rombongan Datuk Sipasan mengelilingi anak muda itu.

“Terima kasih. Sekali lagi anda menolong nyawa kami. Sementara belum satupun yang bisa

kami perbuat untuk menolong anda….” Datuk Sipasan berkata perlahan.

“Tak usah dipikirkan hal itu Datuk. Hari mungkin sudah hampir pagi. Ada baiknya kita kubur

jenazah teman-teman yang meninggal…”

“Ya. Ya… saya rasa itulah yang harus kita la-kukan…”

Tiga orang di antara mereka kembali ke rumah Datuk itu di Silaing. Mengambil cangkul dan

linggis. Lalu mereka menggali kuburan. Pekerjaan itu dihentikan tatkala subuh datang.

Mereka sembah-yang subuh bersama.

Dan setelah pagi, barulah pekerjaan menguburkan keempat korban itu selesai.

Sementara korban di pihak Pandeka Sangek mereka kuburkan dalam sebuah lobang panjang.

Yang penting jenazah mereka harus dikubur. Mereka bermusuhan ketika masih hidup. Tapi

setelah tubuhnya jadi mayat. maka kewajiban yang hidup menyelenggarakannya. Demikian

ajaran yang dibawa oleh Islam yang baru masuk ke Minangkabau saat itu. Jumlah pemeluk-

nya masih terbatas sekali.

“Nah, bagaimana kini Datuk? Apakah akan meneruskan perjalanan memintas hutan ini

meninggalkan Silaing atau kembali ke silaing.”

Tan Teno yang luka oleh lemparan senjata rahasia Pandeka Sangek tadi bertanya setelah

mereka terduduk kelelahan bekerja sekerat malam itu.

Hujan telah berhenti. Perempuan-perempuan mengumpulkan ranting yang kering. Kemudian

membuat api. Tak begitu sulit membuat api. Karena ada sepuluh suluh dari damar yang masih

menyala di tinggalkan anak buah Pandeka Sangek.

 

 

Bungkusaii-bungkusan yang sedianya akan di bawa mengungsi segera dibuka.

Sedikit perbekalan yang ada di dalamnya, sebagai bekal untuk melarikan diri selama

memin-tas hutan menjelang sampai ke Balingka mereka keluarkan.

Ada goreng pisang yang telah dingin. Dan itu dibagikan. Ada nasi bungkus yang dimasak

sore. Itu juga dibagikan. Nasi bungkus dengan sambal lado pakai belacan dan dendeng

panggang. Sementara mereka menyuap nasi, kopi yang dijerang oleh Siti Nilam dan isteri

Datuk Sipasan masak pula

Hutan Silaing di mana mereka berada itu menjadi semacam perkampungan darurat. Anak-

anak pada main panjat-panjatan di batang kayu yang malam tadi rubuh oleh pukulan Pandeka

Sangek.

Datuk Sipasan tak segera menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya oleh Tan Teno itu.

Dia mengedarkan pandangan matanya pada rombongannya.

Isteri Lebak Tuah yang kematian suami malam tadi, kelihatan memeluk anaknya yang

berumur dua tahun. Anak-anak Rukayah yang kematian ibu kelihatan berada dalam pelukan

ayahnya yang masih belum sembuh benar dari luka-luka ketika bertempur di Bukit Tambun

Tulang.

Pemandangan di hutan itu amat memilukan hati. Si Giring-Giririg Perak sudah sejak tadi

memperhatikan anak-anak yatim itu. Dia merasa hati-nya amat hiba. Bagi yang kematian ibu,

alangkah sepinya hidup mereka. Hidup tanpa ibu seperti anak-anak lain. Yang sepanjang hari

menyanyikan dengan lagi kasih. Yang sepanjang hari menyuap-kan nasi dan membuaikan

dengan dendang sayang.

Bagi yang kematian ayah, siapa lagi yang akan mencarikan mereka nafkah? Apalagi hidup

dalam zaman Minangkabau yang keras dan hampir-hampir tak beradab seperti saat ini? Dia

merasa hiba meli-hat nasib anak-anak itu. Dan karenanya dia menye-sali dirinya, kenapa dia

harus terlambat datang malam tadi.

Kenapa dia harus berhenti dulu di kedai di Kebun Sikolos untuk makan ketan dan durian.

Bukankah kalau dia terus saja ke Silaing barangkali dia akan dapat menolong mereka dari

kematian.

Namun kematian di tangan Tuhan. Begitu di-ajarkan dalam Islam. Barangkali memang sudah

suratan mereka untuk mati hari ini. Pikiran anak muda itu berperang dan saling jawab. Tapi,

meski-pun kematian memang telah ditakdirkan, yang jelas, nasib anak-anak tanpa ayah dan

ibu itu amat mengharukan. Dan tiba-tiba dia teringat nasib dirinya. Mereka masih akan

mengenal salah seorang dari orang tuanya. Dan kalaupun kedua orang tuanya hari ini

meninggal, masih akan ada orang yang akan menceritakan siapa orang tuanya. Di mana

kuburnya, apa sebab kematiannya. Dan di mana tumpak kampung halaman mereka. Mereka

lebih mujur dari diriku. bisik hatinya.

Di mana orang tuaku kini? masih hidup atau sudah mati?. Kalau mereka mati, di mana kubur-

annya. Apa penyebabnya. Di mana kampung halarhanku. Tanpa sengaja dia menjangkau

giring-giring di kakinya. Memegangnya. Dan menjentikannya dengan jari perlahan.

Terdengar suara berdering perlahan. Siti Nilam sejak tadi memperhatikan tingkah anak muda

ini” Dan dia seperti dapat membaca apa yang tengah dipikirkannya.

 

 

Gadis itu teringat pula pada nasibnya yang tak berayah dan tak beribu. Tapi aku lebih mujur

dari dia, bisiknya pula. Aku masih mengenyam kasih sayang seorang ibu dan ayah. Masih

mengenal mereka. Sedang dia sampai hari ini tak menge-tahui asal usulnya.

Berfikir begini, gadis itu membawa canting kopi ke dekat anak muda itu duduk. Kedatangan-

nya seperti tak terlihat oleh Si Giring-Giring Perak.

Datuk Sipasan memperhatikan kedua anak muda itu dengan sudut matanya. Si Giring-Giring

Perak duduk agak jauh dari rombongan itu.

“Tambah kopi uda,…?”

Anak muda itu terkejut.

Dia menoleh.dan melihat Nilam tegak di sisinya dengan canting kopi di tangan.

“Hm…. kopi? Ya..ya. Engkau yang memasak kopi ini Nilam….? Siti Nilam mengangguk.

Kemu-dian menuangkan kopi ke cangkir yang berada di tangan anak muda itu.

“Kau yang menumbuk kopi ini juga?”

Kembali Siti Nilam mengangguk.

“Tapi bukan aku sendiri. Kami menumbuknya bersama dua hari yang lalu di rumah Datuk

Sipasan…”

“Hamm, kalian pandai membuat kopi….”

“Terimakasih uda…”

“Hei, apakah kalian akan kembali ke Silaing?”

“Itu yang belum diputuskan oleh Datuk…”

Mereka terdiam. Anak muda itu menghirup kopinya. Memandangi damar yang masih hidup

dan pucat oleh sinar matahari, Alangkah berbedanya dengan malam tadi. Malam tadi damar

itu menjadi pusat cahaya. Menerangi rimba ini.

Tapi kini mereka jadi tak berarti.

Datuk Sipasan batuk-batuk kecil, kemudian : berjalan menghampiri anak muda itu.

“Ada yang ingin saya tanyakan..,.” katanya perlahan.

Siti Nilam arif, bahwa dia harus kembali ke tempatnya. Dia menghormati Datuk itu seperti

ayah-nya sendiri. Dia melangkah ke tempat perempuan-perempuan duduk bersama anak-anak

mereka.

“Teman-teman bertanya, apakah akan rneneruskan perjalanan di rimba ini menuju Balingka,

atau kembali ke Silaing. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini Giring-Giring Perak?

Anak muda itu tak segera menjawab. Dia me-temparkan pandangan pada perempuan-

perempuan dan anak-anak yang sedang makan. Kemudian pada lelaki yang tengah mengisap

rokok nipah. Datuk Sipasan menoleh pula pada yang dipandang anak muda itu.

“Bagaimana pendapat Datuk sendiri?” .

“Terlalu sulit meneruskan perjalanan. Anak-anak dan lelaki yang luka. Akan kembali ke

Silaing, bukannya hal yang mustahil kalau Pandeka Sangek menuntut balas setiap waktu…,”

“Apakah ada jalan lain?”

“Kemungkinan lain adalah tetap pindah dari Silaing. Mungkin ke Agam, Kamang atau Paga-

juyung. Bergabung dengan teman-teman yang telah duluan ke sana. Tapi kita tidak mengikuti

jalan hutan ini. Kita kembali ke Silaing dan menempuh n pedati biasa.

 

 

“Kalau memang akan pindah, ke mana tujuan Datuk?”

“Barangkali lebih baik ke Balingka….”

“Kenapa ke sana….”

“Dari situ dekat menghubungi teman-teman. Dekat menghubungi pemuka Islam di Kamang

seperti Tuanku nan Renceh, Haji Piobang dan teman-temannya yang lain. Kemudian jika

kekuat-an sudah terkumpul, jalan memintas dari sana cukup dekat untuk menggempur

Belanda di Pariaman.

Dari Balingka naik menyelusuri pinggang Sing-galang akan sampai ke Malalak, turun terus

ke sebelahnya, akan sampai ke sungai Limau, dan Pariaman….”

“Apakah niat untuk kembali menyerang Belanda itu tetap hams dilaksanakan?”

Datuk Sipasan memandang Si Giring-Giring Perak atas pertanyaan itu.

“Maaf. Maksud saya, apakah tidak boleh lebih baik menghindar dari Pariaman yang selalu

keruh itu. Hidup dengan tenang bersama keluarga di daerah darat ini yang lebih tenang?”

Datuk Sipasan menghirup nafas. Panjang. Menatap pada perempuan dan anak-anak yang

duduk di tengah rimba Silaing itu. Kemudian ber-kata perlahan:

“Maafkan kalau penjelasan saya berikut ini melukai hatimu. Tapi ini hanya sebagai

perbanding-an. Suatu saat kelak, bila engkau bertemu dengan ayah dan ibumu, atau kalau

mereka telah mening-gal. Kemudian kau ketahui di mana kuburan mereka, pastilah engkau

akan selalu ingin berziarah taip tahun ke kuburannya itu. Dan bila kelak kau ketahui di mana

kampung halaman mu, sejauh-jauh engkau merantau, pastilah engkau teragak -untuk pulang.

Meski tidak lagi ada sanak familimu di kampung itu. Meski tidak lagi ada yang mengenalmu

di sana.

Namun kerinduan pada kampung halaman, adalah kerinduan setiap manusia akan negeri asal-

nya. Kini, negeri kami itu diserang bangsa lain. Diserang oleh Belanda, mereka ingin

menguasai negeri, merubah agama kami, mencemarkan gadis dan perempuan kami, kenapa

kami tidak berniat untuk membelanya?

Di negeri itu sudah cukup banyak darah ter-tumpah. Semula kami tidak beragama. Ada

agama Hindu tapi sudah ditinggalkan orang.

Sebagian besar penduduk di sana lebih senang berjudi, minum tuak, main perempuan dan

saling membunuh karena harta pusaka. Keadaan begitu berlangsung terus sampai sepuluh

tahun yang lalu. Saat itu datang ke negeri kami pedagang-pedagang dari Aceh. Dan dari

mereka, kami menge-nal Islam. Dan dari Islam kami mengetahui mana yang buruk mana

yang baik.

Tak ada yang memaksa kami masuk agama itu. Siapa yang suka boleh masuk. Yang tidak

boleh melanjutkan kepercayaan masing-masing. Namun enam tahun yang lalu, keadaan mulai

berubah. Banyak kaum bangsawan atau orang biasa yang tak senang pada Islam. Karena

terlalu banyak membatasi dan terlalu banyak mencampuri urusan dunia. Terjadi pertentangan.

Perkelahian terjadi antara orang Islam dari Aceh dengan penduduk Pariaman yang tidak

Islam. Dan kaum bangsawan Pariaman meminta bantuan ke pulau Cingkuk pada bangsa

Belanda yang ada di sana.

Jika perkelahian itu hanya antara sesama bangsa melayu, kami takkan sampai menyingkir.

Tapi karena sudah diikut sertakan bangsa asing, kami tak bisa berpangku tangan. Kami harus

ber-pihak. Dan kami berpihak pada Islam, agama kami. Tapi kekuatan kami tak berimbang

dengan Belanda dan orang kampung yang berpihak padanya. Kami sepakat dengan orang

 

 

Aceh untuk sama-sama menyingkir dari Pariaman. Mereka kembali ke Aceh, meminta

bantuan pada Sultan Iskandar Syah dan kami mencari bantuan ke Luhak yang Tiga di darat

ini. Kami tidak berniat menguasai negeri itu. Kami hanya ingin menyelamatkan

kampung halaman kami. Di sana banyak anak kemenakan kami yang harus kami selamatkan.

Nan, itulah semuanya, Kerinduan kami pada kam-pung halaman, bukan hanya sekedar rindu

untuk pulang. Tetapi berbaur dengan kerinduan untuk

menegakkan keadilan dan menyiarkan agama Allah di negeri yang telah ratusan tahun

diperbudak jahilliah itu.

Sekali lagi saya harap engkau tidak merasa tersinggung karena saya menyebut-nyebut tentang

asal usul, Tentang kerinduan pada kampung.

Saya tidak bermaksud melukai hatimu, Hanya ingin memberikan penjelasan kenapa kami

harus pergi dari sana. Kenapa kami harus mencari ban-tuan. Dan kenapa kami harus kembali

lagi ke kampung itu.

Memang benar seperti yang engkau katakan, sebenarnya lebih baik kami hidup dengan

tenang bersama keluarga di Luhak nan Tiga ini. Jauh dari kerusuhan. Jauh dari huru hara.

Tapi bukankah hidup berkampung menjaga kampung, bernagari menjaga nagari? Lagi pula

kedamaian itu di mana-mana bisa ada. Sebaliknya kerusuhan juga di mana-mana bisa ada.

Luhak Nan Tiga ini misalnya, nampaknya juga tak aman. Cobalah lihat, di Bukit Tambun

Tulang saja kita dihadang oleh penyamun. Di sini juga dihadang oleh Pandeka Sangek. Dan

siapa pula yang menga-takan bahwa Belanda yang sudah ratusan tahun di sini tidak

mendatangkan kerusuhan bagi penduduk pribumi?

Kerusuhan bisa datang di mana-mana. Daripada hidup dalam kerusan di negeri orang, lebih

baik inati di kampung halaman. Begitu adat kita orang .Minang……”

Datuk Sipasan berhenti. Dia khawatir. kalau dia meneruskan juga ucapannya, anak muda itu

benar-benar akan merasa tersinggung. Para lelaki yang lain, dan kaum perempuan dari

Piaman yang duduk tak jauh dari mereka pada terdiam mendengar pembicaraan itu. Menatap

pada mereka dengan tegang.

Si Giring-Giring Perak menunduk diam.

“Maaf. Saya benar-benar tak bermaksud melukai hatimu….”

“Tidak. Tidak. Saya tak tersinggung. Saya tengah memikirkan, bahwa apa yang Datuk kata-

kan itu adalah kebenaran belaka adanya. Dan saya juga berflkir bahwa tugas menghalau

Belanda dari Pariaman sebenarnya bukan hanya tugas Datuk dan teman-teman Datuk saja. Itu

adalah tugas seluruh orang Minangkabau. Dan kalau semua orang Minangkabau merasa

bahwa itu sebagai ancaman, maka semua orang yang beragama Islam hendaknya membantu

Datuk. Saya sendiri, kalau tiba masanya Datuk menyerang ke Pariaman nanti, kalau umur

panjang Insya Allah akan membantu, mudah-mudahan ada gunanya….”

Datuk itu tertegak mendengar ucapan ini.

“Apakah saya tak salah dengar… Engkau mau membantu kami untuk mengusir Belanda dari

Pariaman?”

“Kenapa Datuk harus sangsi. Minangkabau adalah negeri saya. Meski kelak saya tak tahu di

mana kampung halaman tempat darah saya ter-tumpah, namun Negeri ini adalah negeri

nenek moyang saya. Saya akan berusaha membantu penduduk yang mendapat kesusahan.

Jika itu diizinkan Tuhan. Bukankah saya juga seorang Muslim?”

 

 

“Ya Allah ya Tuhan, kabulkan permintaan anak muda ini. Kabulkan pula doa kami, agar dia

selamat sejahtera, agar dia bertemu dengan kedua orang tuanya. Agar dia membantu kami

memerangi musuh-musuhMu. Agar dia dan kami sama-sama dapat berperang demi

menegakkan AgamaMu..,…!” Datuk Sipasan berseru dan berdoa dalam rimba Silaing itu.

Semua lelaki dan perempuan yang hadir di sana pada tegak dan menampungkan tangan. Dan

meng Amin kan doa Datuk itu.

Datuk itu kemudian memeluk anak muda ter-sebut. Kemudian berpaling pada teman-

temannya. Terdengar suaranya serak:

“Kawan-kawan, Tuhan telah menemukan kita dengan anak muda ini. Dan Tuhan telah

menunjuk-nya untuk berperang bersama kita kelak di Pari-aman. Mari kita syukuri hal ini

dengan membacakan Al Fatihah…..”

Semua mereka membaca ayat itu dalam hati. Siti Nilam meneteskan air mata. Beberapa

perem-paun juga meneteskan air mata. Bahkan Datuk Sipasan dan lelaki-lelaki dari Piaman

itu juga pada menitikkan air mata syukur dari terharu.

Si Giring-Giring Perak akan bersama mereka dalam menyerang di Pariaman. Bayangkan!

Seorang anak muda berilmu tinggi. Yang mengalah-kan Gampo Bumi dan Pandeka Sangek.

Yang berkuasa di Bukit Tambun Tulang dan Gunung Rajo Tuhan benar-benar Maha Kuasa.

 

 

Episode 25 – Pengintaian Di Bukit Tambun Tulang (I)

Datuk sipasan sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu di tugaskan oleh teman-temanya

untuk membujuk anak muda itu agar mau membantu mereka.

Bahkan ada yang mengusulkan agar diikat jodoh Siti Nilam denganya. Agar dengan

demikian, anak muda itu mau tak mau ikut berperang di pihak mereka mengusir Belanda.

Namun Datuk itu tak mau gegabah. Dia tak mau menyampaikan hal itu karena dia anggap

kurang terhormat cara demikian.

Dan kiranya, tanpa dia harus memintanya dengan bujukan, anak muda itu telah mengatakan

kesediaannya. Bukankah itu suatu Rahmat ? Dan Datuk ini serta pengikut-pengikutnya,

merasa yakin bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan Sekalian Alam yang Maha

Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Setelah mereka membaca Alfathihah, para lelaki berdatangan menjabat tangan si Giring-

giring Perak. Menurut perjanjian dengan Ulama-ulama Aceh yang balik ke Aceh mencari

bala bantuan, mereka akan datang lima purnama lagi. Berarti sisa lima purnama itu akan

mereka pergunakan untuk mencari dan mengumpulkan tenaga sebanyak mungkin. Berusaha

menarik kaum pesilat dan pengikut Islam yang ada di Tiga Luhak ini agar mau membantu

mereka.

Dan hari itu mereka putuskan, bahwa mereka akan kembali ke rumah Datuk Sipasan di

Silaing. Tiga hari disana, setelah melihat angin baik, mereka lalu pindah menuju Balingka

seperti rencana Datuk Sipasan. Mereka menempuh jalan biasa lewat Koto Baru, Sungai

Buluh dan Padang Luar lalu berbelok ke Balingka.

Dengan menempuh jalan biasa itu, mereka dapat membawa semua perkakas yang di bawa

pindah dari Pariaman berikut pedati. Si Giring-giring Perak ikut dalam rombongan itu.

Dalam perjalanan, beberapa kali mereka coba disergap oleh anak buah Pandeka Sangek. Tapi

melihat betapa di pedati paling depan duduk anak muda berbaju serba putih dan ber-giring-

giring perak itu, stelan perut mereka jadi memilin.

Mereka mundur sebelum dihajar. Dan rombongan itu aman sampai di Balingka.

Akan halnya Pandeka Sangek, sejak peristiwa itu seperti lenyap dari Negeri Silaing dan

Kebun Sikolos. Banyak yang menduga , bahwa dia bersemedi dan menghimpun tenaga di

Gunung Rajo. Malah secara seloroh ada yang mengatakan bahwa dia kembali mengulang

menuntut ilmu pada gurunya..

Tapi satu hal yang pasti adalah, mereka sedang menanti kesempatan untuk menuntut balas.

Sementara cerita tentang perkelahian Dahsyat di Rimba Silaing itu pecah dari mulut ke

mulut.

Tersebar mulai dari Luhak Tanah Datar sampai ke Luhak Agam dan Lima Puluh. Nama si

Giring-giring Perak disebut penuh kekaguman dari mulut ke mulut. Meski orangnya belum

pernah mereka lihat.

Namun Bukit Tambun Tulang tetap saja menjadi momok bagi orang yang lalu disana. Dua

rombongan orang-orang yang akan ke Padang dan lewat disana, habis kena babat. Jumlah

mereka enam belas orang. Lelaki semua. Dan pesilat semua.

Terakhir dua regu tentara Belanda, yang menuju Padang juga, yang lewat disana dengan

pasukan berkuda dan bersenjata lengkap. Dua puluh orang mati disembelih oleh anak buah

Gampo Bumi. Tiga orang lainnya sempat lolos dan melarikan diri kembali ke Tanah Datar.

Dan nama Bukit Tambun Tulang kembali menjadi momok. Suatu kerajaan hukum rimba

yang membuat orang merasa linu tulang belulangnya bila harus lewat disana.

 

 

Peristiwa pembunuhan dan penyamunan terhadap dua regu tentara Belanda itu menyebabkan

murkanya Kolone De Cappelen di Batu Sangkar. Dia memerintahkan pada Kapten Verde di

Kebun Sikolos dekat Silaing untuk menyapupenyamun disana.

Kapten itu justru memanggil Pandeka Sangek. Karena dia mendengar bahwa antara Pandeka

Sangek itu dengan Gampo Bumi punya sangkut paut .

Dia meminta pada Pandeka Sangek untuk membujuk Gampo Bumi agar mau menyerah

padanya. Tapi Pandeka Sangek dengan tegas menolak.

“Saya bukan hanya sekedar kenal dengan Gampo Bumi. Tapi lebih dari pada itu dia adalah

adik seperguruan saya..” katanya pada Kapten Belanda itu tatkala dia datang ke Pos markas

Kapiten tersebut di Kebun Sikolos.

“Good! Baguss! Kalau begitu, kamu orang harus panggil adik kamu yang ajarnya kurang itu.

Suruh dia datang pada saya di sini.”

“Itu tak mungkin!” kata Pandeka itu tegas.

“Apa sebab?”

“Dia penguasa di Bukit Tambun Tulang itu. Setiap tindakan yang dia lakukan sepenuhnya

tanggung jawab dia. Meski kami seperguruan tapi kami tak boleh mencampuri urusan kami

masing-masing. Seperti halnya dia juga tak bisa mencampuri urusan saya di negeri ini…”

“Hmmm…semacam otonomi suatu pemerintahan he….?

“Begitulah…”

“Bagaimana kalau dia kita undang ke mari untuk minum-minum…”

“Itu urusan Kapitenlah”.

“Tapi kita ingin Pandeka Sangek sampaikan kita punya undangan…”

“Maaf, banyak kerja saya yang lain…”

“Pandeka tak menghargai persahabatan kita…”

“Apakah persahabatan yang tuan maksudkan adalah agar saya membujuk adik seperguruan

saya kemari, lalu tuan tangkap dan tuan bunuh. Begitu persahabatan yang tuan inginkan?”

Muka Kapiten itu jadi merah Padan mendengar pertanyaan yang nyata-nyata berupa

tantangan ini.

Mereka saling tatap. Pandeka Sangek, yang sudah sebulan tak muncul sejak perkelahiannya

dengan Si Giring-giring Perak di Rimba Silaing itu, kini membalas tatapan Kapten Belanda

itu

tanpa berkedip. Dia sudah lama juga merasa muak akan Belanda-Belanda di negerinya ini.

Soalnya bukan karena mereka merasa di jajah. Tapi mereka merasa kekuasaan mereka untuk

ber-mahasirajalela jadi berkurang. Inilah yang membuat mereka tak sedap hati.

Kapiten ini mau saja melampang dan menangkap inlander busuk itu. Tapi dia tahu, inlander

yang seorang ini punya ikutan yang banyak. Terdiri dari pesilat-pesilat tangguh. Sementara

mereka hanya dua belas orang di Kebun Sikolos ini. Salah-salah perhitungan, bisa habis

serdadunya di sembelih Pandeka ini.

Dengan perhitungan begitu, Kapiten tersebut terpaksa menahan berangnya. Tapi tak urung

dia menyumpah-nyumpah dalam bahasa nenek moyangnya yang tak diketahui oleh Pandeka

Sangek. Dan Kapiten ini lalu menukar siasat, dia menanyakan berapa kekuatan anak buah

Gampo Bumi di Bukit Tambun Tulang itu.

 

 

“Saya tak tahu…”jawab Pandeka.

“Tapi bukankah di Bukit Keparat itu kamu orang belajar silat dulu?”

“Bukan Bukit keparat. Tapi Bukit Tambun Tulang…”

“Persetan dengan Tambun Tulang atau Tambun Taik, saya ingin tahu berapa anak buah si Gampo Taik itu…”bentak Kapiten itu mulai berang.

Pandeka Sangek timbul harga dirinya. Dia tak senang bangsa asing ini membentak bentak dirinya di negerinya sendiri pula. Dia tegak, dan dengan sikap menantang lalu bicara :

“Tuan ingin tahu jumlah mereka disana?”

“Ya. Berapa jumlah mereka, dan dimana mereka berdiam di rimba itu…”

“Datang sendiri kesana, dan tanyakan pada Gampo Bumi!” Sehabis berkata begini Pandeka Sangek dan si Pitok melangkah keluar.

“Godverdomm…!! Anjing, kendik, beruk, kentut. Kentut kowe!”

Kapten itu memaki dan bercarut bungkang. Tapi dia mempergunakan bahasa Belanda. Dan karena dia berbahasa Belanda. Pandeka tidak tahu bahwa dia dikatakan anjing, kendik, beruk dan kentut. Pandeka itu tetap saja meluncur pergi. Masuk ke pasar Kebun Sikolos. Di Depan orang menjual lemang dia berhenti. Mengambil sebatang Lemang. Memotong nya dengan

keris. Kemudian memakan sekerat, dan yang sekerat lagi diberikannya pada si Pitok. Si Pitok anak buahnya ini memakan lemang yang setengah batang itu sambil berjalan.

Pemilik Lemang tak berani meminta duit. Karena setiap orang di Kebun Sikolos itu tahu siapa yang berjalan itu. Pandeka Sangek, yang siap menyangek apa-apa yang menghalanginya.

Tak Jauh dari tempat orang menjual lemang ia menendang tempayan orang yang berjualan

cendol. Tempayan besar itu menghalangi jalannya.

Tempayan itu pecah. Cendolnya terbosai kemana-mana. Orang yang kena siram cendol,

maupun pemiliknya tertekur diam tak bergerak.

“Kalau jualan jangan di tengah jalan. Mengerti waang he..?!” hardiknya pada tukang jual

cendol.

“Ya om…!”

“Apa! Siapa yang waang panggil Om he ?!”

Dan seiring pertanyaan itu tangannya bekerja.

Dia membuat pekerjaan tangan di pipi si tukang jual cendol yang terlanjur memanggil dengan

sebutan Om itu.

“Ampun pak…ampun pak. Awak silap…”

“Siapa bapak waang. Pebila saya kawin dengan emak waang makanya saya waang sebut

bapak he?!” Dan kembali dia membuat pekerjaan tangan. Pandeka ini memang orang yang

rajin membuat pekerjaan tangan bila dia sesekali ke balai.

 

 

Penjual cendol itu tak bicara lagi. Dia lebih baik diam daripada mendapat pekerjaan tangan

terus menerus. Dan diam memang jalan yang aman baginya.

Pandeka itu berjalan lagi meninggalkan tempayan cendol yang pecah dan muka penjualnya

yang ada sidik jarinya.

***********

terbosai = terserak

tertekur = tertunduk

kendik = babi hutan, celeng

 

 

About these ads

Satu gagasan untuk “Giring-Giring Perak

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s