Lencana Pembunuh Naga

New Picture (1)

Lencana Pembunuh Naga

Karya : Khu Lung

Diceritakan oleh Tjan ID

Ebook by Dewi KZ

 Jilid I

DITENGAH-TENGAH remangnya cuaca senja, sebuah perahu sampan melaju dengan cepatnya dari mulut telaga Tong-ting-ou menuju ke arah bukit Kun-san. Diujung geladak duduk seorang bocah laki-laki berusia empat lima belas tahunan, ia mempunyai potongan badan yang bagus dengan bibir yang merah, sebaris gigi yang putih dan pakaian serba putih.

Ia duduk diujung geladak dengan wajah riang, matanya melihat kesana kemari,

menyaksikan perahu-perahu sampan yang hilir mudik bagaikan kunang-kunang, sekulum

senyuman segera menghiasi bibirnya.

Dibelakang bocah laki-laki berbaju putih itu, berdiri seorang pemuda baju hijau yang

berusia dua puluh tahunan, alis matanya melentik ke atas dengan mata yang jeli,

tubuhnya tegap kekar, mukanya tampan menawan hati.

Cuma sayangnya, pemuda berbaju hijau itu tidak berniat untuk menikmati keindahan

malam di telaga tersebut mukanya dingin serius tak tampak senyuman, malah dahinya

berkerut, rupanya banyak persoalan yang merisaukan hatinya sehingga mengurangi

minatnya untuk memperhatikan alam semesta di sekelilingnya.

Memandang air yang koyak terbelah oleh dayung ia berdiri termenung dengan mulut

membungkam.

Di tengah keheningan malam yang menyelimuti sekitarnya tiba-tiba bocah laki-laki

berbaju putih itu berbisik, “Toako, ada perahu mendekati kita!”

Yaa, dari depan sana muncul dua titik sinar lentera yang makin lama makin dekat ke

arah mereka.

Pemuda baju hijau itu mendesis lalu mengalihkan sorot matanya yang jeli ke arah

depan, memandang sampan-sampan di kejauhan sana.

Murungkah dia? Atau sedihkah dia? Apa yang menyebabkan dia bersikap demikian?

Tiba-tiba dua buah sampan kecil itu memisahkan diri, kemudian satu dari sebelah kiri

yang lain dari sebelah kanan, dengan kecepatan yang luar biasa langsung menerjang

perahu yang mereka tumpangi.

Agaknya kejadian tersebut diluar dugaan sibocah baju putih itu, dengan kaget dia

lantas membentak, “Hei, kenapa kalian tumbuk perahu kami……”

Sepasang telapak tangannya segera diayun ke depan menyongsong datangnya

terjangan sampan-sampan tersebut.

Hembusan angin pukulan menderu-deru, termakan oleh pukulan yang begitu dahsyat

kedua buah sampan tadi terseret hingga meluncur lewat dari kedua belah samping

sampan mereka.

Suara tertawa dingin segera berkumandang dari atas sampan-sampan tersebut.

Begitu mendengar suara tertawa dingin, paras muka si anak muda berbaju hijau yang

semula hambar tanpa emosi berubah hebat, hawa pembunuhan yang tebal mencorong

keluar dari balik matanya, ia mendengus lalu bagaikan burung elang yang mencari mangsa

tubuhnya melambung ke udara dan langsung menerkam sebuah sampan yang sudah

berlalu dari sampingnya itu…….

Saat tubuhnya melambung di udara, tangannya diayun ke muka berulangkali, dan tiga

rentetan cahaya putih yang menyilaukan mata langsung mengenai ke atas sampan itu.

Jerit kesakitan yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok

bayangan manusia tiba-tiba melambung ke udara dan kabur ke arah telaga.

Pemuda berbaju hijau itu tertawa dingin, begitu badannya melayang turun diatas

geladak, telapak tangan kirinya langsung diayun ke muka.

“Aduuh…….!” kembali suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang

memecahkan keheningan, bayangan manusia yang mencoba kabur itu terhajar telak oleh

pukulan musuh hingga tubuhnya tercebur ke dalam air telaga.

Tiba-tiba bentakan nyaring menggelegar di angkasa, “Kalian mau kabur kemana……..”

Ternyata pembunuhan yang terjadi di sampan itu menimbulkan kepanikan pada

sampan lainnya, orang-orang yang berada dalam sampan itu segera mengambil keputusan

untuk melarikan diri.

Tapi si bocah berbaju putih yang bermata jeli tidak berpeluk tangan belaka, mengikuti

di belakang pemuda berbaju hijau, tubuhnya langsung menerjang ke arah sampan

tersebut.

Tiga orang laki-laki berbaju ringkas berwarna hitam segera berlompat keluar dari

ruangan sampan masing-masing bersenjatakan sebilah pedang tajam, begitu musuhnya

tiba, serentak menyerang dari tiga jurusan yang berbeda.

Selincah kijang gerak-gerik bocah berbaju putih itu, tubuhnya berputar bagaikan

gasingan, tiba-tiba lengan kirinya diayun ke muka dan langsung melepaskan sebuah

pukulan gencar.

Salah seorang laki-laki berbaju hitam yang ada di tengah menjerit kesakitan,

pedangnya terlepas dan jatuh diatas geladak.

Bocah berbaju putih itu bergerak cepat, sambil memutar badan, ujung jarinya kembali

menotok jalan darah Cian-keng-hiat di tubuh laki-laki yang lain.

Baik memukul jatuh senjata musuh, maupun menotok jalan darah lawan kedua gerakan

itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan yang hampir bersamaan waktunya.

Terkesiap laki-laki yang pedangnya terpukul jatuh itu setelah menyaksikan kelihayan

kungfu musuhnya, mereka tak sempat memperdulikan nasib rekannya yang tertotok lagi,

tanpa komando serentak orang-orang itu melompat ke dalam telaga untuk melarikan diri.

Bocah berbaju putih itu membentak keras, pedangnya berkelebat menusuk ke muka,

sekilas cahaya putih membelah angkasa.

Ditengah jerit kesakitan yang memilukan hati, darah berhamburan membasahi seluruh

permukaan tanah, tahu-tahu laki-laki itu sudah mati terpapas senjata.

Tapi pada saat yang bersamaan pula, laki-laki di depan sana sudah melompat masuk ke

dalam air telaga.

Detik terakhir sebelum laki-laki itu lenyap di bawah permukaan air, suara tertawa dingin

kembali berkumandang, pemuda baju hijau yang berada di sampan sebelah kiri telah

menyergap tiba secepat meteor, telapak tangannya langsung diayun menghantam

permukaan air telaga.

“Plaaak……! Byuuar…! Percikan butir-butir air bermuncratan keempat penjuru, tubuh

laki-laki itu mencelat beberapa kaki ke udara, lalu dengan lemas badannya tercebur

kembali ke dalam air dan tenggelam ke dasar telaga.

Setelah berhasil membinasakan orang itu, menggunakan tenaga pantulan yang masih

tersisa pemuda berbaju hijau tadi melayang kembali ke atas sampan, kemudian

memandang bocah baju putih itu, diapun tertawa.

“Adik Liong, ilmu silatmu telah mendapat kemajuan yang amat pesat…….!”

Tampan sekali senyuman itu, lagipula begitu polos dan halus, siapapun tidak akan

percaya kalau pemuda sehalus itu sebetulnya memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan baru

saja secara beruntun membinasakan empat orang musuh tangguh.

Bocah berbaju putih itu tertawa merdu, “Aah…..toako yang lebih cerdik dan cekatan,

hampir saja aku terkecoh oleh mereka!”

Tiba-tiba kekesalan dan kemurungan kembali menyelimuti wajah pemuda berbaju hijau

itu, begitu suram wajahnya hingga mendatangkan perasaan yang sayu bagi siapapun

yang melihat, ia menghela napas ringan.

“Aaai…..! Tampaknya jago-jago lihay dari dunia persilatan sudah mendapat pula berita

tentang soal itu!”

Kembali suatu kemurungan menyelimuti raut wajah anak muda itu.

Mendadak bocah berbaju putih itu seperti teringat akan sesuatu, ia berpaling lalu

serunya, “Toako, apa salahnya kalau kita tanyai orang ini?”

Sambil berkerut kening pemuda berbaju hijau itu mengangguk, tindakan semacam itu

tanpa terasa membuat suasana di sekelilingnya bertambah guram.

Setelah mendapat persetujuan, bocah berbaju putih itu lantas membebaskan jalan

darah laki-laki yang tertotok tadi, kemudian tegurnya, “Hei! Engkau berasal dari perguruan

mana?”

Laki-laki itu berwajah keren gagah dan jelas merupakan orang gagah yang tak takut

menghadapi kematian, dengan pandangan gusar ditatapnya sekejap kedua orang itu,

kemudian menengadah dan tertawa terbahak bahak.

“Haahh…..haahh…..haahh….. bagi seorang ksatria lebih baik mati terbunuh daripada

hidup terhina, bocah bocah kunyuk, tak usah banyak bicara lagi, kalau mau bunuh hayo

cepat laksanakan keinginanmu itu.

“Hmm… memangnya kau anggap siauya tak berani membunuh engkau?” teriak bocah

baju putih itu dengan wajah melotot penuh kemarahan.

“Hidup sebagai enghiong, matipun sebagai hohan mau bunuh mau cincang cepat

lakukan tak nanti toaya mu bakal kerutkan dahi”

Sepasang mata pemuda baju hijau itu kontan mendelik, mukanya juga berubah

sedingin es, dengan sinar mata yang menggidikkan hati ditatapnya laki-laki berbaju hitam

itu tanpa berkedip.

“Apakah engkau ingin merasakan bagaimana nikmatnya kalau otot-ototmu dipisahkan

dan tulang-tulangmu dialihkan posisinya?” dia mengancam.

Bertemu dengan sinar mata si pemuda baju hijau yang begitu tajam, bergidik seluruh

perasaan laki-laki berbaju hitam itu, dia merasa betapa buas keji dan kejamnya sorot mata

itu hingga melebihi sinar mata majikannya.

Setelah merenung sebentar, laki-laki berbaju hitam itu tertawa dingin.

“Heeehhh…..heeehhh…..heeehhh……aku tahu otot-ototku dipisahkan dan tulangtulangku

dialihkan posisinya, aku akan merasakan kesakitan yang bukan kepalang tapi

percuma kalau hendak diterapkan diatas diriku, sebab penyiksaan semacam itu masih

terhitung enteng dalam pandangan kami!”

Dengan kening berkerut, pemuda berbaju hijau itu lantas menengadah memandang

bintang-bintang di langit, lama sekali dia membungkam.

Mungkin ia sedang merasa heran, apa sebabnya laki-laki itu tak takut mati? Bukankah

kematian adalah suatu kejadian yang paling ditakuti oleh setiap manusia?

Tiba-tiba pemuda berbaju hijau itu berkata, “Adik Liong, totok jalan darahnya,

kemudian mari kita pergi!”

“Jangan! Jangan!” mendadak laki-laki itu menjadi ketakutan, mukanya berubah hebat,

“lebih baik bunuhlah diriku…..”

Suaranya begitu tegang, membuat orang jadi keheranan atas sikapnya itu. Ketika

jiwanya diancam dengan kematian, dia sama sekali tak takut, tapi ketika pemuda baju

hijau itu tak jadi membinasakannya, kenapa laki-laki berbaju hitam itu malah ketakutan

setengah mati…..?

Rupanya pemuda berbaju hijau itu bukan seorang laki-laki yang bodoh, dengan

kecerdasan otaknya, cukup dipikir sebentar saja dia lantas mengerti kenapa laki-laki

berbaju hitam itu rela dirinya dibunuh.

Maka sambil tertawa ujarnya lagi, “Adik Liong, waktu sudah tidak pagi, cepat kerjakan!”

Bocah berbaju putih itu segera menggerakkan jari tangan kanannya siap menotok jalan

darah musuhnya.

“Tunggu sebentar!” laki-laki itu berseru cemas, kumohon kepada kalian bunuhlah diriku

ini, dan apa yang kalian tanyakan pasti akan kujawab sejujurnya!”

“Bagus sekali!”pelan-pelan pemuda berbaju hijau itu putar badannya, “sekarang akan

kuajukan satu pertanyaan, kuminta kaupun segera menjawab pertanyaanku itu,

mengerti?”

Laki-laki berbaju hitam itu menghela napas sedih.

“Aaai…. tanyalah!”

“Mengapa kau tak mau hidup?”

“Sebab lolos dari cengkeraman kalian justru lebih mengerikan daripada mati secara

konyol!”

Pelan-pelan pemuda berbaju hitam itu mengangguk.

“Lantas apa maksud dan tujuan kalian mencari gara-gara dengan kami….?” tanyanya

pula.

Laki-laki berbaju hitam itu tertegun.

“Masa kalian tidak tahu kalau Tok liong-cuncu (datuk naga beracun) mau datang ke

bukit Kun-san untuk menerima To-liong-leng-pay (lencana pembunuh naga)? Padahal

berita besar itukan sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan?!”

“Hei, apa yang kami tanyakan jawab saja secara langsung! Mengapa kau singgungsinggung

urusan yang tak ada gunanya?” bentak si bocah cilik itu.

“Kami mendapat tugas untuk menghadang serta membinasakan kawanan jago

persilatan yang berdatangan ke bukit Kun-san!” jawab laki-laki berbaju hitam itu

kemudian.

Tiba-tiba diatas wajah pemuda berbaju hijau itu melintas kembali rasa kesal yang

dalam.

“Adik Kiu-liong, binasakan orang itu!”ujarnya kemudian.

Si bocah berbaju putih yang bernama Ji Kiu liong itu segera mengayunkan telapak

tangannya ke depan, ujung jarinya yang tajam menyambar hanya setengah depa di depan

dada laki-laki berbaju hitam itu.

Meski begitu, laki-laki berbaju hitam itu segera mendengus dan tubuhnya langsung

tergeletak ke atas geladak dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Pemuda berbaju hijau itu menghela napas, pelan-pelan ia melangkah kembali ke

sampannya, sementara paras mukanya makin lama berubah makin layu seakan-akan

dalam waktu yang amat singkat ia sudah mengidap penyakit yang amat parah hingga tak

sanggup berdiri tegak lagi, ia terduduk diujung geladak.

Sementara itu Ji Kiu-liong sudah melompat kembali ke perahunya setelah

menenggelamkan kedua buah sampan itu, tapi ia jadi tertegun setelah menyaksikan raut

wajahnya itu. Sebab sekalipun ia tahu betapa menyedihkan asal usul toakonya, namun tak

diketahui olehnya apa yang menyebabkan toakonya jadi begini putus asa.

“Toako!” Ji Kiu-liong lantas menegur “Jangan sampai merusak kesehatanmu sendiri!”

Pemuda berbaju hijau itu seperti tidak mendengar teguran tersebut, air matanya

meleleh keluar membasahi pipinya, memandang air ditengah telaga tiba-tiba ia berteriak

keras, “Aku Gak Lam-kun juga manusia yang dilahirkan ayah dan ibu, aku juga manusia

yang berhati bersih, tapi mengapa semua orang di dunia ini memandang hina kepadaku?”

Mengikuti teriaknya itu, air matanya semakin deras membasahi pipinya…….

Saat itulah, kenangan lama bagaikan sambaran kilat melintas dalam benaknya.. ..dia

teringat kembali pengalamannya yang getir sewaktu masih bocah dulu.

Ibunya sudah lama meninggal, sedang ayahnya adalah seorang guru ilmu sastra yang

rudin dan mengajar disebuah sekolahan yang letaknya dalam dusun lain.

Ketika ia berusia tujuh tahun, ayahnya dipecat dari jabatannya karena usianya yang

sudah lanjut dan sakit-sakitan.

Karena kehilangan mata pencaharian, sedang keahlian lain tidak dimiliki terpaksa sambil

mengemis ayahnya pulang kembali ke rumah, tapi sakitnya disepanjang jalan makin

bartambah parah, tiga tahun kemudian sampai juga ayahnya didesa kelahirannya, tapi

sakitnya yang parah akhirnya merenggut juga selembar jiwanya.

Sejak itulah ia menjadi seorang pengemis cilik yang bergabung dengan pengemis

lainnya untuk meminta-minta disepanjang rumah, bajunya dekil dan tubuhnya penuh

dengan kutu, keadaannya waktu itu tak ubahnya dengan pengemis lainnya, tak ada orang

yang memperhatikan keadaannya…..

Hidup sebagai pengemis kembali dilewatkan selama tiga tahun, entah lantaran

hidupnya terlalu kotor atau terkena penyakit aneh, tiba-tiba sekujur tubuhnya timbul

bintik-bintik bisul kecil yang menjalar sampai Wajahnya, mula-mula bisul itu berwarna

merah akhirnya pecah dan bopeng-bopeng menjijikkan.

Waktu itu dia masih kecil, tentu saja tak tahu apa yang telah menimpa dirinya, tapi

sejak itu pengemis-pengemis yang lain selalu menghindari dirinya, waktu meminta-minta

semua orang juga menjauhi dirinya, ini menyebabkan bocah itu seringkali menderita

kelaparan.

Seorang pengemis tua yang baik hati memberitahu kepadanya, ia bilang begini,

“Agaknya kau sudah mengidap penyakit kusta, lebih baik janganlah meminta-minta di

tempat yang banyak orangnya, sebab orang bisa menghajar dirimu sampai mampus!”

Mendengar peringatan tersebut, dia jadi sangat ketakutan, sekarang dia baru mengerti

apa sebabnya rekan-rekan pengemis yang lainpun menjauhi dirinya.

Sejak itu dia tak berani meminta-minta lagi, bila malam sudah tiba, diam-diam dia baru

keluar dari tempat persembunyiannya dan mencuri buah-buahan serta sayur-mayur di

kebun orang untuk mengisi perutnya yang lapar.

Suatu hari ia tertangkap dan dihajar sampai setengah mampus, beberapa bulan dia

harus beristirahat sebelum tubuhnya menjadi kuat kembali.

Setiap kali dia munculkan diri di pagi hari, maka orang memakinya sebagai ’si kusta’

yang bernyali kecil pada kabur sedang yang bernyali agak besar mengejarnya sambil

berteriak-teriak hendak menguburnya hidup-hidup, untung larinya cukup cepat hingga

setiap kali berhasil lolos dari kematian.

Begitulah, setelah beberapa bulan ia hidup bagaikan orang liar, siksaan batin yang

dialaminya ketika itu sungguh amat sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Makin dipikir ia merasa semakin tak berarti hidupnya di dunia ini, suatu hari dia

mendaki ke atas puncak gunung yang tinggi, perutnya dan badannya kedinginan, setelah

berteriak memanggil nama ayahnya dan memanggil nama ibunya, tiba-tiba ia jadi nekad

dan melompat masuk kedalam jurang yang dalam.

Dibawah tebing itu adalah sebuah air terjun yang dalamnya ratusan kaki lebih, dengan

jiwa yang tertekan dan perasaan yang hancur lebur, terjunlah bocah itu ke bawah untuk

menghabisi nyawanya.

Ketika tubuhnya meluncur kebawah, kesadarannya hampir hilang tiba-tiba ia merasakan

ada sebuah tangan yang amat besar menyambar tubuhnya dari tengah udara dan

menariknya keluar dari lembah Kematian.

Ia merasa seperti mendapat suatu impian buruk yang menakutkan, badannya seakanakan

dilempar ke atas awan, tapi seakan-akan pula diceburkan ke dalam samudra yang

dalam, secara lapat-lapat telinganya mendengar suara gulungan ombak yang memekikkan

telinga.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia mendengar seperti ada orang berbisik,

“Aaaah…..bocah yang patut dikasihani!”

Sejak itu nasibnya telah dirubah oleh seorang kakek yang luar biasa, dan kakek itu

bukan lain adalah orang yang paling dihormati sepanjang hidupnya.

Tapi delapan tahun kemudian, kakek itu telah tewas secara mengenaskan, sesaat

sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, ia telah menyerahkan tugas yang maha

besar kepadanya.

Itulah dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra……. maka dengan membawa

sikap yang pongah, ia mulai menantang terhadap dunia yang pernah menganiaya dirinya,

ia mulai melakukan pembalasan dendam!

Dalam tiga tahun belakangan ini, sudah banyak jago lihay yang dirobohkan, nama

besar Tok liong Cuncu (Datuk naga beracun) juga sudah termashur diseluruh dunia

persilatan, baik jago-jago dari golongan putih maupun jago-jago dari golongan hitam pada

menyingkir jauh-jauh bila mendengar nama besarnya.

Setiap kali ia berhasil mengalahkan musuhnya, suatu perasaan bangga selalu muncul

dalam hatinya, tapi kemudian dia merasa kesepian dan bersedih hati, karena semakin

menang dia, semakin sedih pula hatinya.

Sebab keganasan dan keangkuhannya, mengikuti setiap kali kemenangan yang berhasil

diraih bertambah makin dalam, setiap kemenangan dan rasa bangga yang diperolehnya

ibarat bianglala diujung langit.

Kesepian, kesedihan dan kedukaan yang dalam selalu dan selamanya menyelimuti

perasaan pemuda itu.

Suatu senja, ia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita, dia tak lain adalah

kakak perempuan Ji-Kiu-liong yang bernama Ji-Cing-peng.

Sejak bertemu dengan gadis itu, ibaratnya sebuah lembah gersang yang ketimpa

cahaya matahari, mendatangkan suasana yang hangat dan nyaman bagi hatinya yang

beku, sebab di dunia ini kecuali gurunya yang sudah tiada, hanya dia seoranglah yang

dapat merubah wataknya yang aneh dan kaku itu……

Tapi, gadis cantik yang amat jelita itu hanya mendatangkan luka yang semakin tak

tertahan dalam hati kecilnya, sebab jiwa gadis itu telah direnggut oleh sekawanan

penyamun……

Yaa, pengalaman getir yang dialaminya sejak kecil ditambah lagi kematian

kekasihnya…. membuat pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan itu selalu murung,

selalu kesal dan selalu bersedih hati.

Justru karena itu, dia semakin membenci dunia ini, ia semakin ganas, semakin keji dan

tak kenal apa artinya perikemanusiaan…….

Ia membenci langit, membenci bumi, membenci semua orang jahat di dunia ini, bahkan

hampir saja membenci dirinya sendiri, kesemuanya itu membuat pikirannya bertambah

cupat, membuat pemuda itu merasa bahwa setiap orang yang berani mencari gara-gara

dengannya, tak boleh dilepaskan dengan begitu saja.

Sampan bergerak maju membelah air telaga, kenangan Gak Lam-kun semasa kecilpun

lewat bagaikan air telaga yang mengombak.

Ditengah kegelapan malam, dari kejauhan muncul kembali sebuah perahu besar yang

pelan-pelan berlayar mendekat, tak lama kemudian perahu itu sudah tiba didekat mereka,

berbareng itu juga dari sebelah kanan meluncur kembali empat buah sampan.

“Lam-kau toako!” bisik Ji Kiu liong kemudian mari kita kasih pelajaran yang setimpal

kepada mereka”

Sementara Ji Kiu-liong masih berbisik, keempat buah sampan itu dengan formasi satu

garis telah menghadang di depan perahu kecil itu, pada ujung geladak masing-masing

perahu berdirilah seorang laki-laki berbaju pendek.

Sambil tertawa dingin Ji Kiu-liong segera membentak, “Hei! Kalian tidak kenal dengan

kami, dan kamipun bukan perompak-perompak yang membegal harta kekayaan milik

orang lain, apa maksud kalian semua menghadang di depan perahu kami ini?”

Diatas sampan cepat sebelah kiri berdiri seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan,

sambil balas tertawa dingin sahutnya, “Andaikata kalian berdua adalah kaum pedagang

kaya, kamipun tak usah bersusah-payah menggerakkan anggota kami sebanyak ini.

Tolong tanya sobat, siapakah diantara kalian yang bernama Gak Lam-kun sauhiap?”

Paras muka Gak Lam-kun agak berubah, tapi sebentar kemudian sudah pulih kembali

seperti sedia kala, sambil menjura dia tertawa.

“Tolong tanya ada persoalan apa kalian mencari aku orang she-Gak?”

tegurnya kemudian.

Laki-laki kekar itu tertawa ringan.

“Tidak berani!” Tidak berani! Nama besar Gak sauhiap sudah menggetarkan seluruh

kolong langit kami tak ada urusan lain, hanya nona kami berhubung sudah lama

mengagumi nama besar sauhiap maka sengaja mengundang kedatangan sauhiap untuk

berkenalan”

Gak Lam-kun berkerut kening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya,

ia berpikir, “Walaupun sudah banyak jago persilatan yang pernah kujumpai, tapi aku rasa

belum pernah berhubungan dengan orang-orang dari suatu perkumpulan, apalagi namaku

memang tak banyak yang tahu, darimana bisa muncul seorang perempuan yang kenal

dengan diriku? Biasanya yang datang itu selalu membawa maksud tak baik, kali ini aku

harus lebih waspada”

Kalau sikap Gak Lam-kun tadi murung, kesal dan sedih, maka sekarang wajahnya

tampak tampan dan gagah, perubahan sikapnya itu sungguh diluar dugaan orang.

Ji Kiu-liong sendiri juga berkerut kening, tiba-tiba ia menegur, “Siapakah nama siocia

kalian?”

“Cerdik betul bocah cilik ini!”pikir Gak Lam-kun.

Ternyata Ji Kiu-liong sendiri juga merasa tercengang, sebab sejak encinya tewas,

toakonya selalu membawa dia bergelandangan kesana kemari, sangat jarang orang

mengetahui namanya, sekalipun julukan Tok-liong Cuncu juga merupakan julukan suhu

toakonya yang dicatut, padahal kemunculan kembali Tok-liong Cuncu dalam dunia

persilatan teramat rahasia, tentu saja orang lebih-lebih tak akan menyangka kalau Datuk

naga beracun yang muncul saat ini tak lain adalah penyaruan Gak Lam-kun.

Laki-laki kekar itu tersenyum.

“Saudara cilik, kau memang hebat! Pada hakekatnya siocia kami memang belum pernah

kenal dengan Gak sauhiap, beliau cuma mengagumi saja nama besar sauhiap…..”

“Empat penjuru adalah saudara, ujung langit adalah tetangga, kalau toh siocia kalian

mengagumi diriku, sudah sepantasnya, kalau aku Gak Lam-kun juga datang

menyambanginya” kata anak muda itu sambil tertawa.

“Bagus sekali” laki-laki itu mengangguk, Nio-nio yang mendampingi siocia telah

berangkat sendiri kemari untuk menyambut kedatangan sauhiap….!”

Seraya berkata, laki-laki itu lantas menuding ke arah belakang.

Mengikuti arah yang ditunjuk Gak Lam-kun melihat perahu besar itu sudah membuang

sauh dihadapannya, pintu ruang perahu terbentang lebar cahaya lampu memancar terang

benderang dari dalam. Empat orang laki-laki berpakaian ringkas warna hijau dengan

memegang golok besar berdiri tegak ditepi pintu.

Saat itulah dari balik ruangan perahu pelan-pelan muncul empat orang dayang berbaju

hijau, mereka berdua membawa dua buah lentera yang indah.

Dibelakang dua orang dayang itu, mengikutlah seorang kakek berjenggot panjang yang

rambutnya telah beruban semua, menyusul kemunculan kakek itu, perahu besar pelanpelan

bergerak kembali mendekati sampan.

Kepada Gak Lam-kun, kakek tersebut segera menjura sambil tertawa.

“Tanpa sebab kami telah menghalangi perjalanan saudara, untuk menebus kesalahan

itu bagaimana kalau kupersilahkan naik ke perahu untuk meneguk secawan arak lebih

dahulu?”

Sebenarnya Gak Lam-kun mengira nona itu berada diatas perahu besar, maka

terdorong oleh perasaan ingin tahunya, ia menerima tawaran tersebut…….

Tapi kemudian, setelah mendengar bahwa nona itu tidak hadir di perahu, rasa ingin

tahunya segera tersapu lenyap, namun kakek itu keburu munculkan diri dalam keadaan

demikian ia merasa kurang leluasa untuk menolak tawaran orang.

Kepada Ji Kiu liong yang berada disisinya, dia lantas berkata, “Adik Liong, tunggulah

disini, aku sebentar akan balik lagi kemari!”

Begitu selesai berkata, dia lantas melompat naik ke atas perahu besar.

Dikala tamunya sedang melompat naik ke atas perahu, kakek berjenggot panjang itu

lantas berpaling ke arah dua orang dayang baju hijau di belakangnya seraya berkata,

“Berilah laporan kedalam! Katakan kalau tamu sudah tiba di atas perahu…..”

Dua orang dayang cilik yang membawa lentera itu segera mengiakan dan masuk ke

ruangan dalam.

Sepeninggal dua orang dayang tersebut, kakek berjenggot panjang itu baru berkata

kepada Gak Lam-kun sambil tertawa, “Silahkan Gak sauhiap, dalam ruang perahu sudah

disiapkan arak, bagaimana kalau meneguk beberapa cawan dulu?”

“Terima kasih banyak atas jamuan yang disiapkan, tapi sebelum itu, bolehkah aku tahu

siapa nama saudara?”

Sambil mengelus jenggotnya yang panjang, tergelaklah kakek itu.

“Haaahhh……..haaahhh……..haaahhh………. aku she Siangkoan bernama It. Mari masuk

ke dalam ruangan untuk minum arak, majikan kami masih ada beberapa urusan yang

hendak dirundingkan”

Diam-diam terkesiap juga Gak Lam-kun setelah mengetahui bahwa kakek itu bukan lain

adalah Siangkoan It, dia tak mengira kalau kakek itu adalah Tam-ciang-teng-kan-kun

(telapak tangan tunggal penenang jagad)

Siangkoan It yang namanya termashur di utara maupun selatan sungai besar, lebihlebih

lagi karena orang itu sudah sejak dua puluh tahun berselang mengundurkan diri dari

keramaian dunia, sungguh tak disangka malam ini bisa muncul di telaga Tang-ting-ou,

bahkan sudi menjadi budaknya orang lain, dari kesemuanya itu terbuktilah sudah bahwa

majikannya sudah pasti adalah seorang jago silat yang amat lihay.

Sebenarnya Gak Lam-kun mempunyai rencana akan mengundurkan diri setelah

mengucapkan beberapa patah kata, tapi untuk mengetahui asal usul majikannya, maka

diapun tersenyum.

“Selamat bertemu, selamat bertemu, sudah lama kudengar nama besar Sam-ciang-lamkok

(sukar lewati tiga buah pukulan) yang telah menggetarkan seluruh dunia persilatan itu

Siangkoan lo sianseng, perjumpaan ini sungguh menggembirakan hatiku”

Telapak tangan tunggal penenang jagad Siangkoan It tertawa ringan.

“Tidak berani tidak berani itulah julukan yang dihadiahkan sahabat-sahabat persilatan

kepadaku, padahal lohu malu untuk menggunakannya!”

Sambil melangkah masuk kedalam ruangan, diam-diam Gak Lam-kun menyumpah

dalam hati, “Huuuh….jangan keburu bersenang hati dulu, suatu waktu aku pasti akan

menjajal sampai dimanakah kepandaian silat yang kau miliki!”

Ruang perahu dihiasi dengan aneka barang antik yang indah dan mahal-mahal,

permadani merah menutupi lantai, hiasan mahal tergantung didinding, dibawah pantulan

cahaya yang terpancar dari dua buah lilin besar, tampaklah horden hijau menjadi latar

belakang hiasan ruang perahu itu, disisi jendela tertera pula sebuah meja perjamuan

dimana dua orang bocah laki-laki berbaju hijau berdiri dengan tangan terjulur ke bawah.

Setelah Tam-ciang-teng-kan-kun Siangkoan It mempersilahkan tamunya duduk, Gak-

Lam kun segera menjura sambil bertanya, “Tolong tanya Siangkoan lo sianseng, siapakah

nama besar dari majikanmu……?”

Mendengar pertanyaan itu, dengan wajah serius telapak tangan tunggal penenang

jagad Siangkoan It segera menjawab, “Majikan ada perintah, maafkanlah lohu bila tak bisa

mengatakannya secara berterus-terang”

Diam-diam Gak Lam-kun mengerutkan dahinya.

“Lalu, apakah aku dapat berjumpa dengan Nio-nio dan siocia kalian yang berada di

perahu ini?” ujarnya pula.

Sekali lagi air muka Siangkoan It menunjukkan perasaan keberatan.

Kebetulan dari belakang ruangan muncul dua orang dayang cilik berbaju hijau yang

segera berkata, “Nio-nio ada perintah, harap Siangkoan loya saja yang melayani tamu

kita!”

Gak Lam-kun adalah seorang jagoan berwatak tinggi hati, menyaksikan sikap

memandang rendah musuhnya, dia jadi mendongkol, kontan saja ia bangkit berdiri.

“Kalau toh majikan kalian tidak berada diatas perahu” demikian ujarnya sambil menjura

ke arah Siangkoan It, “harap maafkan diriku lebih tak bisa menemani lebih lama lagi,

sebab aku sendiripun masih ada urusan”

Tiba-tiba dari luar ruang perahu terdengar jeritan dari Ji Kiu-liong, “Toako……kau

hendak pergi kemana?”

Suara itu penuh kekuatiran dan gelisah, jelas perahu besar itu sudah mulai bergerak.

Gak Lam-kun mengerutkan dahinya! kemudian melangkah keluar dari ruang perahu itu.

Empat orang laki-laki berpakaian ringkas yang menjaga di depan pintu itu mendadak

melintangkan golok besarnya dan menghadang jalan pergi si anak muda itu.

Gak Lam-kun tertawa dingin, ia bersikap seolah-olah tidak melihat gerakan tersebut,

bahkan langkahnya sedikitpun tidak nampak gugup atau panik.

Suara seruan dari Siangkoan It kembali berkumandang dari belakang, “Perahu sudah

bergerak jauh meninggalkan tempat semula, Gak sauhiap, apa salahnya kalau duduk saja

dalam ruangan dengan tenang sambil minum beberapa cawan arak?”

Mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah

Gak Lam-kun pelan-pelan ia putar badan lalu berkata dengan hambar, “Kuperintahkan

kepadamu untuk menjalankan kembali perahu ini ketempat semula, kalau tidak jangan

salahkan kalau aku akan bermain kasar”

Siangkoan It tertawa tergelak-gelak.

“Haaahhh. …..haaahhh…….haaahhh…… di dunia ini belum pernah ada orang yang

bernyali begitu besar untuk memandang hina diriku, bila Gak sauhiap enggan untuk

bercakap-cakap diperahu ini kenapa tidak segera angkat kaki…….?”

Gak Lam-kun menggerakkan bahunya, sekali lompat tahu-tahu ia sudah menerobos

keluar dari ruangan perahu itu.

Empat orang laki-laki berbaju ringkas itu serentak menggerakkan pula senjata mereka

untuk melancarkan serangan, diantara kilauan cahaya berwarna keperak-perakan, senjata

mereka langsung membacok tiga bagian tubuh yang berbeda dari Gak Lam-kun.

Sepintas lalu, gaya Gak Lam-kun seperti seseorang yang sama sekali tak siap, tapi

kenyataannya serangan yang kemudian dilancarkan lebih cepat dari sambaran kilat.

Dua dengusan tertahan berkumandang susul menyusul, dua orang laki-laki berbaju

ringkas yang ada dipaling depan serentak tergeletak tak berkutik dilantai.

Demikian cepatnya serangan itu dilancarkan, sampai-sampai Siangkoan It yang nama

besarnya menggetarkan di utara maupun di selatan sungai besarpun tak sempat melihat

jelas dengan cara apakah Gak Lam-kun menyarangkan serangan-serangannya itu.

Menyaksikan rekannya roboh, dua orang laki-laki yang lain segera membentak keras,

golok besarnya diputar sedemikian rupa menciptakan dua jalur cahaya perak yang segera

menutup pintu keluar ruang perahu itu.

Gak Lam-kun tertawa dingin, tangan kirinya berkelebat kemuka dan tahu-tahu ia sudah

mencekal pergelangan tangan kanan salah seorang laki-laki berpakaian ringkas itu, lalu

menggunakan kesempatan itu tangannya diayun kedepan dan. bentrokan nyaringpun

berkumandang memecahkan kesunyian, golok besar lainnya kena ditangkis sampai

mencelat ke belakang.

Gak Lam-kun tidak berdiam sampai disitu saja, lutut kirinya segera diangkat dan sikut

kanannya menyodok ke belakang, kembali dua kali dengusan tertahan menggema diudara,

dan robohlah dua orang laki-laki tersebut.

Begitu beres menghabisi keempat orang musuhnya, Gak Lam-kun melompat keluar dari

ruang perahu, tapi sepanjang pandangannya ke depan yang tampak hanya air telaga yang

menggulung, dari kejauhan sana tampak setitik cahaya lentera, tapi letaknya sangat jauh,

dari arah titik cahaya itulah lapat-lapat terdengar suara teriakan Ji Kiu-liong yang

memilukan hati……..

Hawa napsu memburuh tiba-tiba membakar di rongga dada Gak Lam-kun, pelan-pelan

ia putar badannya lalu memandang sekejap ke sekeliling tempat itu dengan pandangan

tajam.

Dua belas orang Laki-laki berbaju hitam sudah mengelilingi geladak, ditangan mereka

masing-masing tersoren sebilah pedang yang memancarkan cahaya perak, terutama posisi

dari belasan orang itu jelas merupakan sebuah barisan pertahanan yang cukup tangguh.

Gak Lam-kun sama sekali tak menggubris kedua belas orang laki-laki bersenjata pedang

itu, orang-orang berbaju hitam yang berdiri dengan napsu membunuh membara itu

seakan-akan dianggapnya sebagai patung yang tak berguna malah sinar matanya yang

tajam langsung mencorong kedalam ruangan perahu, sementara kakinya pelan-pelan

melangkah maju mendekati Siangkoan It.

Angin malam menderu-deru, deburan ombak memekikkan telinga, suasana syahdu

yang semula menyelimuti perahu itu, kini sudah berubah jadi tegang dan penuh dengan

hawa pembunuhan.

Siangkoan It tertawa dingin tiada hentinya, dengan suara yang menyeramkan ia

berseru, “Setelah berada di perahu kami, berarti hanya ada dua jalan yang bisa kau

tempuh, yakni tunduk dibawah perintah majikan kami, atau mampus dalam keadaan

mengerikan. Gak sauhiap, aku percaya engkau adalah seorang yang cerdik, aku rasa

pilihan yang kau caripun seharusnya pilihan yang cerdik dan tepat”

“Heeehhh……..heeehhh…….heeehh…….bagus sekali, bagus sekali”

Gak Lam-kun tertawa dingin tiada hentinya, “kalau begitu biarlah kupilih jalan kematian

saja, ingin kulihat jalan kematian macam apakah yang akan kulalui?”

Telapak tangan tunggal penenang jagad Sang kwan It memang seorang jagoan yang

termashur namanya dalam dunia persilatan, entah berapa banyak sudah jago lihay yang

telah ditundukkan olehnya selama ini, dia merasa sedikit kewalahan dibuatnya.

Terutama kemampuan Gak Lam-kun yang berhasil menaklukkan empat orang anak

buahnya dalam sekali gebrakan, ilmu selihay itu sungguh membuat hati jago kawakan

tersebut jadi bergidik.

Siangkoan It tertawa kering, kemudian berkata, “Gak-sauhiap, kalau toh engkau tetap

membandel, jangan salahkan kalau akupun tak akan sungkan-sungkan lagi”

Begitu selesai berkata, tiba-tiba ia menerobos maju sambil melancarkan serangan,

telapak tangan kirinya menyerang dengan jurus tui-poh-cu-lan (mendengar riak

membantu ombak), sedang telapak tangan kanannya menyodok dengan gerakan Liu-imcha-

san (awan hitam menutupi bukit), sekali menyerang menggunakan dua jurus yang

berbeda, bahkan kekuatan yang digunakanpun tak sama, hal ini semakin menunjukkan

betapa lihaynya si kakek tersebut.

Gak Lam-kun tak berani gegabah menghadapi serangan yang begitu dahsyatnya

dengan telapak tangan kiri dia pancing serangan musuh miring ke arah lain, sementara

tubuhnya segera melompat tiga depa ke samping, darimana sebuah pukulan segera balas

dilancarkan pula.

Tapi dua orang laki-laki baju hitam yang ada disampingnya tidak berpeluk tangan

belaka, diantara kilatan cahaya tajam, dengan menciptakan berkuntum-kuntum bunga

pedang, mereka tusuk tubuh si anak muda itu dari dua arah.

Gak Lam-kun tertawa dingin, sepasang kakinya melayang ke atas melancarkan

beberapa buah tendangan berantai.

Dua buah tendangan dilepaskan dengan suatu gerakan yang sangat aneh, tak sempat

dua orang laki-laki berbaju hitam itu menghindarkan diri masing-masing terkena sebuah

tendangan yang bersarang telak di dadanya.

Diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati, dua orang itu mencelat ke belakang dan

roboh tak bernyawa lagi.

Betapa gusarnya Siangkoan It melihat anak buahnya tewas, sambil membentak penuh

kemarahan sepasang telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan dahsyat menghajar

punggung Gak Lam-kun, serangan itu belum tiba, angin pukulannya sudah terasa

menyayat badan.

Gak Lam-kun agak kaget menyadari akan hal itu, segera pikirnya, “Sungguh sempurna

tenaga dalam yang dimiliki kakek ini!”

Tiba-tiba ia tarik ke belakang sepasang kakinya kemudian berjumpalitan di udara,

setelah itu badannya menerobos kesamping dan menumbuk seorang laki-laki berbaju

hitam yang kebetulan berada di sampingnya.

Setelah menyaksikan kelihayan Gak Lam-kun yang dalam sekali gebrakan berhasil

membinasakan dua orang rekannya, kedua belas orang laki-laki berbaju hitam itu merasa

terkesiap, maka ketika Gak Lam-kun menyambar tiba, pedang mereka serentak diayun

kedepan menciptakan selapis bayangan pedang menyongsong tibanya tubuh Gak Lamkun.

“Mundur ke belakang dan pertahankan sudut barisan!” tiba-tiba Siangkoan It

membentak.

Terhadang oleh belasan pedang sekaligus, terpaksa Gak Lam-kun harus tarik kembali

terjangannya, sepasang telapak tangannya melancarkan serangan berantai, dua gulung

angin puyuh yang menusuk telinga berhembus keluar memaksa belasan orang laki-laki

berbaju hitam itu harus menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang.

Siangkoan It mendengus dingin, dia menerobos maju kemuka, sepasang telapak

tangannya melancarkan serangan berulangkali untuk merangsek lawannya…….

Gak Lam-kun tertawa panjang, nyaring sekali suaranya, dengan sinar mata mencorong

keluar dia himpun tenaga murninya ke dalam lengan kiri untuk membendung tibanya

ancaman tersebut.

Selincah ular sakti telapak tangan kirinya melambung ke atas menerobos kebawah,

dengan jurus yang lihai dan tersakti, dan secara beruntun dia hujani sekujur badan

Siangkoan It dengan delapan buah pukulan.

Memang hebat tenaga pukulan yang dimiliki Siangkoan It, setiap pukulan yang dia

lepaskan tentu membawa desingan angin tajam yang memekikkan telinga, belasan

gerakan kemudian, daya pantulan yang terpancar keluar dari serangannya telah mencapai

beberapa depa.

Gak Lam-kun memang berhasrat menyaksikan kehebatan lwekang Siangkoan It,

dengan sedikitpun tak jeri disambutnya semua pukulan itu dengan keras lawan keras.

Sebagaimana diketahui, Siangkoan It terkenal sebagai Telapak tangan tunggal

penenang jagad, itu berarti hawa pukulannya lebih mengandalkan pada tenaga Yang-kang

yang maha dahsyat.

Justru karena kehebatan itu, setiap orang yang bertarung melawan dirinya, tentu

berusaha untuk menghindari suatu bentrokan secara kekerasan.

Tapi kini, Gak Lam-kun malahan berani menerima pukulannya itu dengan keras lawan

keras, kejadian ini segera menimbulkan hawa napsu membunuh didalam hati Siangkoan It.

Tiba-tiba hawa murninya dihimpun menjadi satu kemudian melepaskan serangan

dengan sepenuh tenaga. Otomatis dua gulung tenaga murni yang terpancar keluar dari

balik telapak tangannya juga semakin dahsyat ibaratnya bacokan kampak yang membelah

bukit.

Melihat kakek itu makin bertarung makin gagah, angin pukulannya makin lama semakin

gencar, tanpa terasa Gak Lam-kun memuji dalam hatinya, “Memang hebat orang tua itu,

nama besarnya ternyata bukan nama kosong belaka!”

Siangkoan It sendiri diam-diam juga terkesiap, sepanjang masa berkelananya dalam

dunia persilatan, belum pernah angin pukulannya itu mendapat tandingan yang setimpal,

tapi malam ini, setelah berjumpa dengan jago muda tersebut, ternyata tenaga pukulannya

beberapa bagian lebih dahsyat dari apa yang dimilikinya, bahkan jurus serangan yang

digunakannya juga jauh lebih sempurna.

Dalam kaget dan ngerinya, tanpa terasa ia berpikir, “Menurut majikan, ilmu silat yang

dimiliki orang ini sudah menggetarkan sungai telaga, diapun merupakan jagoan paling

lihay diantara kelompok kaum muda, setelah kubuktikan sendiri malam ini, ternyata

ucapan tersebut memang bukan nama kosong belaka, tapi apa julukannya dalam dunia

persilatan?”

Meskipun Siangkoan It mengetahui nama Gak Lam-kun, tapi mereka tak tahu kalau dia

adalah Tok-liong Cuncu yang telah muncul kembali dalam dunia persilatan.

Karena ada yang dipikirkan dalam benaknya, tanpa sadar perhatian Siangkoan It juga

ikut bercabang, tiba-tiba ia merasa ada segulung angin pukulan yang maha dahsyat

menerjang dadanya, dalam kagetnya cepat-cepat ia menyingkir kesamping.

Gak Lam-kun tidak mengejar karena keberhasilan itu, dia malah menarik kembali

serangannya sambil berdiri dengan wajah gagah, ujarnya sambil tertawa nyaring, “Kuakui

bahwa tenaga pukulan yang kau miliki terhitung nomor satu dalam dunia persilatan, aku

orang she-Gak menyesal tak mampu menandinginya, untuk menghindari pertikaian lebih

lanjut yang tak berguna, harap Siangkoan lo-sianseng segera menjalankan perahu ini

kembali ke tempat semula, tapi jika engkau menolak permintaan ini terpaksa aku orang

she-Gak pun tak akan sungkan-sungkan lagi”

Ucapannya itu setengah bernada lembut setengah bernada keras, seperti juga suatu

sindiran, seperti juga suatu cemoohan.

Siangkoan It yang mendengar sindiran itu jadi naik pitam, kontan saja ia tertawa

seram.

“Heeehhh……. heeehhh…….. heeehbh……… meskipun ilmu silatmu terhitung lihai dalam

dunia persilatan, tapi kalau ingin paksa lohu menyerahkan diri…..oohoo….. kau musti

melatih diri beberapa tahun lagi”

Gak Lam-kun tertawa dingin.

“Di dunia ini memang terlampau banyak terdapat manusia-manusia bandel, Siangkoan

sianseng, kalau begitu jangan kau salahkan lagi jika aku bertindak kejam”

Begitu selesai berkata, Gak Lam-kun segera melangkah maju ke posisi tiong kiong dan

menerobos kedepan, telapak tangan kirinya langsung dikebaskan ke tubuh lawan.

Siangkoan It tidak menyangka kalau pemuda itu segera menyerang begitu mengatakan

akan menyerang, sedikit kurang cermat, ia sudah terjatuh dibawah angin.

Untung pengalamannya dalam menghadapi serangan lawan cukup sempurna, meski

menghadapi mara bahaya, ia tak sampai gugup.

Dengan cepat pinggangnya ditekuk kebawah, lalu memakai jurus Gi-san-tiam-hay

(memindahkan bukit menimbun samudra) sepasang telapak tangannya didorong kemuka

sejajar dengan dada, disambutnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaaaaang….!” desingan angin berpusing memancar keempat penjuru menyusul

terjadinya bentrokan itu.

Seketika itu juga Siangkoan It merasakan darah dalam dadanya bergolak keras, hampir

saja ia tak sanggup berdiri tegak.

Dengan mata mencorongkan sinar tajam, Gak-Lam kun tertawa dingin tiada hentinya,

kemudian ia berseru, “Suatu kekuatan yang luar biasa, hayo sambutlah pukulan lagi……!”

Tanpa mengubah posisi telapak tangan kirinya, ia membalik tangan itu ke belakang lalu

dikebaskan ke tubuh lawannya dengan gerakan aneh.

Siangkoan It terkesiap, buru-buru dia tarik napas sambil menghimpun tenaga murninya

guna menyambut datangnya ancaman tersebut.

00000O00000

TAPI, sebelum niat tersebut dilaksanakan, mendadak terdengar suara bentakan yang

amat merdu bagaikan suara keleningan menggelegar memecahkan kesunyian, “Siangkoan

sianseng, cepat hentikan pertarungan…!”

Begitu ucapan tersebut timbul, tiba-tiba muncullah segulung tenaga pukulan yang

lembut menerjang ke tengah-tengah mereka berdua, dimana angin pukulan Gak Lam-kun

yang amat tangguh tersebut segera tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Menggunakan kesempatan itu Siangkoan It menarik kembali serangannya dan

melompat mundur ke belakang, sambil memberi hormat buru-buru serunya lirih, “Menanti

perintah dari Nio-nio!”

Gak Lam-kun mendengar, meski suara itu merdu bagaikan kicauan burung nuri tapi

dibalik kemerduan tersebut terkandung kewibawaan yang luar biasa, ini membuat anak

muda itu tanpa terasa berpaling ke arah mana berasalnya suara.

Seorang perempuan berbaju hijau diiringi empat orang dayang berbaju hijau pula

pelan-pelan memunculkan diri dari balik ruangan perahu.

Dibawah cahaya lentera yang dibawa keempat orang dayang itu, tampaklah perempuan

itu mempunyai sepasang alis mata yang lentik dengan bibir yang mungil, dibalik sepasang

matanya yang bulat mencorong keluar sinar mata yang memikat hati, hidungnya mancung

dan sekulum senyuman manis menghiasi bibirnya.

Kepada Gak Lam-kun ia berkata lembut, “Aaaah……! Kamu ini sungguh tak tahu

suasana, dimalam yang romantis seperti ini, bukannya menikmati arak wangi sambil

memandang alam yang indah, apakah tidak kau rasakan bahwa berkelahi hanya akan

merusak suasana yang bagus ini?”

Diantara suara pembicaraannya itu terselip kerlingan mata yang mendatangkan gairah

orang, memang daya pikat dari seorang perempuan yang sudah matang.

Gak Lam-kun berusaha menenangkan hatinya, lalu berkata dengan nada yang dingin.

“Aku masih mempunyai seorang saudara cilik yang tertinggal di sampan, karena itu

maafkan daku bila tak dapat menikmati keromantisan ditempat ini. Kalau toh Nio-nio

majikan dari perahu ini harap segera turunkan perintah untuk menjalankan perahu ini balik

ke tempat semula daripada pertarungan ini harus dilanjutkan”

Perempuan berbaju hijau itu tertawa, dengan mata yang memikat ia mengerling

pemuda itu sekejap kemudian berkata, “Jika kau hanya menguatirkan saudara cilikmu

menunggu sendirian di sampannya, kalau begitu biarlah kuutus tiga orang untuk

menemaninya”

Gak Lam-kun semakin mengerutkan dahinya.

“Tolong tanya nio-nio, dengan maksud apakah kau menahan diriku dengan paksa?

Kalau tidak kau terangkan…….”

Agaknya perempuan berbaju hijau tak menyangka kalau ia bakal mendapat pertanyaan

semacam itu, tanpa terasa pipinya jadi merah, setelah termenung sebentar dia baru

tertawa ewa.

“Kalau tidak, bagaimana? Jika engkau merasa kurang leluasa diatas perahuku ini,

silahkan pergi!”

Gak Lam-kun tahu bahwa perahu besar yang sedang melaju ini tak bisa dihentikan lagi,

dengan sinar mata yang menggidikkan dia lantas menatap ke arah musuhnya, mendadak

pemuda itu menerobos maju kemuka dan telapak tangan kanannya diayun kedepan

melepaskan sebuah pukulan yang amat gencar.

Sedikit saja perempuan berbaju hijau itu menggerakkan bahunya, tahu-tahu dia sudah

bergeser tiga depa dari posisinya semula, kemudian sambil tertawa cekikikan katanya,

“Hiiihh….. hiiihh….. hiiihh…. dalam sepuluh gebrakan mendatang, jika engkau sanggup

menjawil ujung bajuku, maka segera kuhantar engkau untuk kembali ke tempat semula”

Gak Lam-kun ikut tertawa dingin.

“Dalam tiga jurus, bila aku tak berhasil melukai dirimu aku orang she-Gak juga akan

menyerahkan diri untuk kau jatuhi hukuman.”

Begitu selesai berbicara, tiba-tiba ia tarik kembali pukulannya lalu sambil memutar

badan, sebuah totokan dilancarkan.

Perempuan berbaju hijau itu mengegos kesamping, dengan suatu langkah yang enteng

dan lincah tahu-tahu ia sudah melepaskan diri dari ancaman totokan tersebut.

Indah dan menawan hati gerakan tubuhnya itu, meskipun menghadapi suatu

pertarungan yang mempertaruhkan jiwa raganya, gerak-geriknya sama sekali tidak

kehilangan kebagusan serta daya tariknya.

Begitu berhasil melepaskan diri dari serangan yang pertama, perempuan berbaju hijau

itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Heehhh…. heeehhh…. heeehhh…. masih ada delapan gerakan lagi, gunakanlah

dengan lebih berhati-hati!”

Begitu gagal dengan serangan yang pertama, tiba-tiba Gak Lam-kun menarik tangan

kanannya ke belakang, kemudian ia menyerang sejajar dengan dada, secepat kilat ia

menerobos kemuka melakukan pengejaran.

Sekulum senyuman masih tersungging diujung bibir perempuan berbaju hijau itu ketika

tangan kiri anak muda itu diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan dengan jurus Huijian-

cing tham (Menyapu debu berbicara santai).

Rupanya perempuan berbaju hijau itu mengetahui bahwa dibalik jurus serangan

tersebut terkandung dua perubahan yang berbeda, ditengah lengkingan gelak tertawanya

kembali ia melejit kesamping untuk melepaskan diri dari ancaman.

Padahal ketika itu, jurus serangan yang digunakan Gak Lam-kun belum mencapai pada

puncaknya, ia lantas mendengus, mumpung perempuan musuhnya belum melayang turun

ketanah, telapak tangan kirinya dengan mengandung hawa pukulan yang maha dahsyat

tiba-tiba dilontarkan kedepan.

Sungguh tepat penggunaan waktu yang dilakukan dalam serangan tersebut, pada saat

sepasang kaki perempuan berbaju hijau itu hampir menempel diatas permukaan tanah,

serangan dari Gak Lam-kun yang ibaratnya gulungan ombak dahsyat itu sudah melanda

tiba.

Jangan dilihat perempuan baju hijau itu genit dan meliuk-liuk manja, pada hakekatnya

dia memiliki ilmu silat yang maha dahsyat.

Ketika serangan tersebut menyergap datang, cepat lengannya dikebaskan, lalu

badannya melambung keudara secara tiba-tiba, setelah berjumpalitan beberapa kali, ia

melayang turun kembali ditempat lain yang jauh lebih aman.

Tapi, Gak Lam-kun juga bukan orang bodoh, tampaknya ia sudah memperhitungkan

sampai disitu, buktinya dalam serangan itu terkandung lima jalur desingan angin tajam

yang memekikkan telinga…….

“Sreeeeet ……! akhirnya gaun panjang yang dikenakan perempuan berbaju hijau itu

kena tersambar juga hingga robek sebagian, maka terlihatlah paha kakinya yang putih

mulus seperti salju.

Tiba-tiba Gak Lam-kun menghela napas sedih.

“Aaaai… aku sudah menggunakan setengah jurus lebih banyak dari seharusnya,

terserah hukuman apa yang hendak kau jatuhkan atas diriku!” katanya.

Ketika gaun panjangnya tersambar robek, perempuan berbaju hijau itu merasa amat

jengah hingga seluruh wajahnya berubah jadi merah padam, lama sekali dia termangumangu

tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.

Setelah mendengar helaan napas dari Gak Lam-kun, ia baru terkejut dan merasa

seperti baru sadar dari impian, setelah berhasil menenangkan hatinya perempuan itupun

menghela napas panjang.

“Aaaai…..Sungguh tak nyana kalau ilmu silatmu amat lihay pergilah dari sini!”

“Hmm…..! Perkataan seorang laki-laki sejati lebih berat dari batu karang, aku Gak Lamkun

mengaku kalah!”

“Huuuh….. Memangnya ucapan pun-kiong (aku) tidak masuk hitungan…..?” perempuan

berbaju hijau itu mengernyitkan sepasang alis matanya.

Sekalipun perempuan berbaju hijau itu telah berjanji, bahwa anak muda itu akan

dihantar pulang andaikata dalam sepuluh gebrakan ujung bajunya berhasil dijawil, tapi

Gak Lam-kun sendiripun baru berhasil merobek gaun lawannya dalam tiga jurus setengah,

padahal pemuda itu mengatakan dia akan berhasil dalam tiga gebrakan belaka.

Mereka berdua sama-sama merupakan tokoh persilatan yang punya nama besar,

mereka berduapun sama-sama berwatak angkuh dan tinggi hati, setelah apa yang

disumbarkan tak terwujud, kedua belah pihak sama-sama tak mau mengingkari janjinya.

Dengan wajah murung baik Gak Lam-kun maupun perempuan berbaju hijau itu samasama

termenung dan berdiri melamun.

Untuk sesaat lamanya, suasana di sekeliling tempat itu diliputi keheningan, seandainya

tiada suara air telaga yang menyampok perahu, mungkin jatuhnya sebatang jarumpun

akan kedengaran dengan jelas.

“Toako, aku datang membantumu!” tiba-tiba terdengar suara jeritan memecahkan

kesunyian.

Menyusul kemudian sesosok bayangan manusia melompat naik ke atas perahu, siapa

lagi orang itu kalau bukan Ji Kiu-liong?

Kemunculan Ji Kiu-liong secara tiba-tiba membuat Gak Lam-kun terkejut bercampur

gembira, dia tidak habis mengerti kenapa adiknya bisa muncul disitu secara tiba-tiba.

Sementara dia masih termenung, mendadak dari balik perahu besar menggema lagi

gelak tertawa yang amat nyaring.

“Haaaahhh……haaahhh……haaahhh…….Si Tiong pek dari barisan Tiat-eng tui

perkumpulan Tiat-eng-pang (elang baja) sengaja berkunjung datang, harap Han Nio-nio

sudi memaafkan kedatanganku yang tidak terduga ini!”

Seorang pemuda tampan berbadan kurus dan berbaju warna biru melompat naik ke

perahu, lalu pelan-pelan maju kedepan.

Ji Kiu liong segera menuding ke arah pemuda baju biru itu seraya berseru, “Toako, Si

toako itulah yang menghantar aku sampai kesini!”

Gak Lam-kun berpaling dan memandang sekejap wajah Si Tiong-pek, lalu dia menjura.

“Terima kasih banyak atas bantuan saudara yang telah menghantar adikku sampai

disini, aku orang she Gak mengucapkan banyak-banyak terima kasih…….”

“Aaaaaaah ……mana, mana” Si Tiong pek tertawa, “sudah selayaknya kalau orang

persilatan itu saling membantu, urusan sekecil itu kenapa harus dipikirkan terus? Boleh

aku tahu siapa nama saudara?”

“Aku she-Gak bernama Lam-kun!” sahut si pemuda sambil tertawa ewa.

Betapa kecewanya Si Tiong pek setelah mendengar kalau nama itu masih terlampau

asing dalam dunia persilatan, namun ia tersenyum juga.

“Selamat berjumpa, selamat berjumpa!”

Han Nio-nio atau perempuan berbaju hijau itu rupanya sudah tidak sabaran, mendadak

dengan paras muka serius ia berkata, “Si Tiong pek, berani betul engkau mencari garagara

dengan kami!”

Kalau tertawa, perempuan cantik ini tampak genit dan mempesonakan hati, tapi setelah

serius, kelihatanlah betapa agung dan berwibawanya dia.

Gak Lam-kun merasa seakan-akan dalam waktu sekejap perempuan itu sudah berubah

menjadi seorang manusia yang lain, dibalik keagungannya secara lapat-lapat terpancar

pula kewibawaan yang sangat tebal.

Si Tiong pek mengangguk lirih sebagai tanda hormatnya kemudian berkata, “Han Nionio,

kau jangan salah paham, aku orang she Si tidak lebih hanya manusia diluar garis yang

cuma ingin menonton keramaian belaka lihatlah sendiri, perahuku sudah berada sepuluh

kaki jauhnya dari sini, bila Han Nio-nio tak senang menyambut kedatanganku, lebih baik

aku orang she Si mohon diri saja”

Selesai berkata, dia lantas putar badan dan siap berlalu dari tempat itu.

“Berhenti!” bentakan nyaring menggelegar memecahkan kesunyian.

Tiba-tiba Han Nio-nio melompat kedepan secepat sambaran kilat, jari-jari tangannya

yang lentik langsung mencengkeram ke arah bahu Si Tiong-pek.

Sekalipun ketika itu Si Tiong-pek berdiri membelakanginya, namun seakan-akan

dipunggungnya juga tumbuh mata baru saja Han Nio-nio beraksi tiba-tiba dia putar

badannya dan melejit enam depa kesamping untuk menghindarkan diri.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhh…Han Nio-nio” serunya sambil tertawa tergelak, lebih

baik kita jangan bergerak dulu, kalau ingin beradu kekuatan tunggu sesampainya di bukit

Kun-san, perkumpulan elang baja kami pasti akan melangsungkan suatu pertarungan yang

seru melawan perguruan Ciang-ciam-bun kalian!”

Kembali Gak Lam-kun merasa terkesiap, konon ia dengar orang berkata bahwa dalam

dunia persilatan telah muncul sebuah perguruan rahasia yang disebut Ciang-ciam-bun

(perguruan panah bercinta) siapakah ciangbunjinnya? Ternyata tak seorang manusia

persilatanpun yang tahu.

Dia tak pernah mengira kalau perempuan berbaju hijau serta Siangkoan It yang

dijumpainya sekarang ternyata adalah anggota perguruan panah bercinta, dari sini dapat

diketahui bahwa Ciang-ciam-bun memang terhitung sebuah perguruan besar yang

mempunyai kekuatan amat tangguh.

Dengan kening berkerut Han-Nio-nio sudah tertawa dingin.

“Heeehhh…heeehhh…heeehhh…memang pada tiga puluh tahun berselang perkumpulan

Tiat eng pang kalian menjagoi seluruh daratan Tiong-goan, tapi sekarang…Hmm!

Perkumpulan Tiat eng-pang kalian tak akan bisa menandingi kehebatan Ciang ciam-bunkami…”

Perlu diterangkan disini, semenjak dua puluh tahun berselang, perkumpulan Tiat-engpang

memang merupakan suatu perkumpulan yang amat besar dalam kalangan hek-to di

dunia persilatan, banyak jago tangguh dan pandai yang bergabung dalam perkumpulan

itu, ini menyebabkan kekuatan mereka pada hakekatnya jauh melampaui kekuatan

sembilan partai besar.

Ketua mereka Tiat eng sin siu (kakek sakti elang baja) Oh Bu hong adalah seorang

tokoh persilatan yang berilmu tinggi, dia merupakan seorang manusia berbakat yang

muncul belum lama berselang, namun kemampuannya memimpin para anak buahnya

sangat hebat, orang ini merupakan seorang tokoh persilatan yang paling susah dihadapi

dalam golongan hitam maupun putih.

Si Tiong-pek adalah murid kesayangan Oh Bun-hong, dengan kedudukannya sebagai

komandan pasukan Elang Baja, bukan saja namanya termashur sampai dimana-mana,

pengaruhnya juga menyebar luas baik diutara maupun diselatan sungai besar.

Dalam pada itu Si Tiong-pek sudah tersenyum seraya berkata, “Kalau memang begitu,

mari kita saksikan saja!” katanya sambil berjalan.

“Hmm…!” Han Nio-nio mendengus, “barangsiapa sudah naik keperahu ini, maka dia

harus menyambut sepuluh buah seranganku lebih dulu sebelum bisa tinggalkan tempat ini

dengan selamat, Si Tiong-pek! Bersiap sedialah menerima seranganku ini!”

Tiba-tiba ia menerobos maju kedepan sambil menyerang, jari tangannya menotok jalan

darah juga sikutnya menyodok ulu hati, dua serangan yang berbeda namun memiliki

kekuatan yang hampir sama.

Si Tiong-pek tertawa dingin lalu berseru, “Han Nio-nio, kalau engkau mendesak terus

menerus diriku, janganlah dianggap aku Si Tiong-pek jeri kepadamu!”

Berbicara sampai disitu, tubuhnya lantas miring kesamping menghindarkan diri dari

terjangan sikut Han Nio-nio, lalu bukannya mundur dia malah mendesak maju kedepan,

tangan kanannya dengan jurus Kim-cian toam-bwe (memotong sakura dengan gunting

emas) langsung menyodok ketubuh Han Nio-nio pula.

Tapi pada saat itulah tendangan kaki kanan dari perempuan itu sudah mengancam lutut

kanan Si Tiong-pek…

Agaknya Si Tiong-pek tidak menyangka kalau ilmu silatnya itu begitu lihay, dengan

terkesiap dia mundur dua langkah untuk menghindarkan diri dari serangan dua buah

pukulan dan sebuah tendangan kilat itu.

Mendadak hembusan angin tajam menyambar lewat, tahu-tahu kelima jari tangan Han

Nio-nio bagaikan kuku garuda sudah menyambar tiga inci diatas wajah Si Tiong-pek.

Kali ini Si Tiong-pek benar-benar merasa terkesiap, bahunya langsung dibuang

kesamping seraya melompat mundur, tapi gerakan itu toh masih terlambat satu langkah…

“Sreeeet…!” baju putih dibahu kiri Si Tiong-pek segera tersambar oleh jari-jari tangan

Han Nio-nio yang lentik hingga robek besar sekali…

Kejut dan gusar Si Tiong-pek menghadapi kenyataan tersebut, sepanjang masa

berkelananya dalam dunia persilatan belum pernah ia dipecundangi orang seperti kali ini,

sambil membentak keras, sepasang telapak tangannya segera diayun kedepan melepaskan

pukulan-pukulannya yang amat dahsyat…

Sedikit miring kesamping, tubuh Han Nio-nio sudah berada empat depa disisi

gelanggang, mendadak ia menerobos maju lagi ke depan.

Bayangan manusia melintas lewat, tiba-tiba Gak Lam-kun menerobos masuk kedalam

arena dan menghadang dihadapan Han Nio-nio seraya berseru, “Saudara Si, sisanya enam

jurus biar aku orang she Gak saja yang menyambutnya!”

Ketika menyaksikan Gak Lam-kun terjun kearena, tiba-tiba Han Nio-nio menghentikan

gerakan tubuhnya lalu tertawa merdu.

“Bagus sekali, bagus sekali, boleh saja kalau engkau hendak mewakilinya untuk

menerima sisa enam jurus itu”

Sebenarnya Si-Tiong-pek tidak pandang sebelah matapun atas diri Gak Lam-kun, tapi

setelah menyaksikan gerakan tubuhnya sekarang, dia baru terperanjat.

“Masa seorang pemuda yang tak ternama semacam dia, sebetulnya adalah seorang

jago lihay?” demikian dia berpikir.

Sementara itu Gak Lam-kun sudah berkata dengan dingin, “Tadi aku sudah kebagian

menyerang tiga setengah jurus, maka sekarang adalah giliranku untuk menerima keenam

jurus seranganmu tanpa menggeserkan sepasang kakiku”

Ketika Han-Nio-nio berangkat ketelaga Tong-ting ou, majikannya telah berpesan: Gak

Lam-kun merupakan seorang tokoh persilatan yang amat lihay!

Waktu itu dia masih tidak percaya, tapi setelah terjadi bentrokan fisik barusan, dia baru

mengakui bahwa si pemuda pada hakekatnya adalah seorang musuh tangguh yang belum

pernah dijumpainya.

Misalnya, ucapan semacam itu diucapkan orang lain kepadanya, Han-Nio-nio pasti tidak

akan membiarkan dirinya dihina begitu saja, tapi keadaannya sekarang justru berbeda, dia

sudah menderita kalah ditangan Gak Lam-kun, meskipun dalam pertarungannya itu dia

cuma bertahan tanpa menyerang, namun pada hakekatnya tiga setengah jurus serangan

yang dilancarkan Gak Lam-kun itu betul-betul luar biasa bebatnya.

Kendati begitu, ia tersenyum juga melihat kepongahan orang. Hendak menerima enam

jurus serangannya tanpa menggeserkan sepasang kakinya?

Kecuali orang goblok, rasanya tak mungkin dia berani mengucapkan kata-kata

sesumbar seperti itu.

Sekulum senyuman lantas menghiasi wajah Han Nio-nio, ia berkata dengan hambar,

“Cukuplah sudah asal kau mampu menerima enam jurus seranganku itu, mau

menggeserkan kaki atau tidak, aku tak ambil perduli. Nah, sambutlah seranganku ini!”

Dengan kelima jari tangan yang direntangkan, secepat kilat tangan kirinya menyambar

kedepan Gak Lam-kun sama sekali tidak bergeser dengan jari tengah dan jari telunjuknya

dia balas menotok urat nadi dari Han Nio-nio.

Cepat-cepat perempuan berbaju hijau itu merentangkan pukulannya jadi totokan, dan

dia ganti menotok urat nadi penting diatas pergelangan tangan kanan Gak Lam-kun.

Serangan itu bukan saja dilancarkan dengan kecepatan luar biasa perubahan yang

dilakukan juga sangat mendadak…

Gak Lam-kun terperanjat, dalam keadaan demikian terpaksa telapak tangan kanannya

membalik kebawah kemudian memapas pergelangan tangan Han Nio-nio.

Serangan ini berhasil juga memaksa Han Nio-nio harus menarik pergelangan tangan

kirinya untuk menghindari bacokan anak muda itu, tiba-tiba ia melompat kesamping,

telapak tangan kanannya secepat kilat menerjang jalan darah penting dibahu lawan.

Demikianlah, suatu pertarungan sengit segera berkobar, kedua belah pihak sama-sama

menggunakan serangan yang tercepat dan terlihay untuk berusaha menundukkan pihak

lawan, dalam waktu singkat lima gerakan sudah lewat.

Meskipun hanya lima jurus tapi kecepatan berubah jurus yang berlangsung sukar diikuti

dengan pandangan mata, semua jurus serangan yang dipakai, otomatis merupakan pula

serangan yang paling tangguh.

Tiba-tiba Han Nio-nio melepaskan sebuah tendangan kilat, gaun yang robekpun lantas

menyingkap hingga tampak pahanya yang putih dan mendatangkan gairah birahi.

Tendangan tersebut boleh dibilang dilancarkan dengan suatu gerakan yang sangat

aneh, sekalipun ilmu silat Gak Lam-kun lebih lihaypun jangan harap dia bisa hindari

serangan itu tanpa menggeserkan kakinya.

Gak Lam-kun yang lihay memang tak malu disebut jagoan kosen, ketika ujung kakinya

Han Nio-nio hampir menyentuh tubuhnya, tiba-tiba Gak Lam-kun menjatuhkan tubuh

bagian atas ke belakang sementara telapak tangannya disilangkan di depan dada untuk

menjaga segala sesuatu yang tidak diinginkan.

Jilid 2

MEMANG aneh dan lihay gerakan tersebut malahan sama sekali diluar dugaan

siapapun. Si Tiong-pek yang menonton jalannya pertarungan itu dari tepi gelanggang

segera berseru tertahan, jelas dia sudah dibikin terkesiap oleh gerakan Gak Lam-kun yang

aneh dan diluar dugaan itu.

Setelah Gak Lam-kun mengeluarkan gerakan aneh untuk menghindari tendangan

lawan, Han Nio-nio tak sanggup melancarkan tendangan yang kedua kalinya, dalam posisi

begini terpaksa ia tarik kembali kakinya sambil mundur ke belakang.

Enam jurus pertarungan jarak dekat yang baru saja berlangsung ini memang

keliarannya tidak seberapa hebat, tapi dalam pandangan mata seorang ahli pertarungan

tersebut justru merupakan sengit yang menentukan mati hidup seseorang……..

Tiba-tiba Han Nio hio menghela napas panjang katanya, “Gak siauhiap, ilmu silatmu

memang sangat lihay Pun Kiong merasa benar-benar takluk dengan hati yang rela, Nah,

kalian boleh segera berlalu.”

Pada waktu itulah, Si Tiong-pek ikut tertawa tergelak. “Haaah…… haaah…….. haaah……

sudah lama Han Nio-nio malang melintang dalam dunia persilatan nama besar juga sudah

tersohor sampai di mana-mana, Sungguh beruntung pada malam ini aku orang she Si

berkesempatan menyaksikan kelihayanmu”

Han Nio-nio melotot sekejap ke arah Si Tiong-pek dengan mata lebar, kemudian

mendengus.

“Hmmm…..! Seandainya aku tidak memandang diatas wajahnya pada malam ini, jangan

harap kau Si Tiong-pek bisa tinggalkan perahu ini dalam ke adaan selamat!”

Berkerut sepasang alis mata Si Tiong-pek sesudah mendengar perkataan itu, hawa

amarah tertera ternyata diwajahnya, tapi secara tiba-tiba kemarahan itu ditahan kembali

kemudian tertawa tergelak. “Haaahhh……. aaahhh……….. aaahhh…….. bagus, bagus, bila

lain waktu ada kesempatan aku orang she-Si pasti akan berkunjung lagi kesini untuk

merasakan kelihayanmu”

Selesai berkata dia lantas menjura kepada Gak Lam-kun seraya berkata. “Saudara Gak

jika engkau tak ada urusan, apa salahnya kalau duduk sebentar diperahu kami?”

“Atas kebaikan saudara Si rasanya tidak pantas kalau kutolak tawaranmu itu, baiklah

lebih baik aku turut perintah saja”

Selesai berkata pelan-pelan dia berjalan menuju ke tepi perahu.

“Gak singkong, harap tunggu sebentar!” Tiba-tiba teguran lembut berkumandang lagi

dari belakang.

Gak Lam-kun segera berpaling, dilihatnya Han Nio-nio dengan rambutnya yang panjang

terurai sebahu sedang berdiri dibelakangnya dengan agung wajahnya tampak begitu

cantik dan sikapnya begitu agung membuat orang merasa kagum dibuatnya.

“Ada urusan apa Nio-nio memangil aku?” tegur Gak Lam-kun kemudian dengan suara

hambar.

“Pun-kiong benar-benar ada urusan penting yang hendak dibicarakan denganmu,

bagaimana kalau kita masuk keruang belakang dulu untuk membicarakan persoalan ini?”

“Aku rasa kalau ada persoalan katakan saja di sini, toh disini atau disana juga sama

saja”

Dari belakang terdengar suara Si Tiong-pek berseru sambil tertawa ringan, “Saudara

Gak, siaute berjalan setindak dulu kutunggu kedatanganmu dalam perahu!”

“Si toako tunggu sebentar” suara teriakan Ji Kiu-liong berkumandang pula, “siaute ikut

engkau lebih dulu!”

Habis berkata Ji Kiu liong melompat turun pu la keperahu kecil, dan kedua orang itupun

mendayung sampannya menuju ke sebuah perahu besar yang membuang sauh beberapa

puluh kaki jauhnya.

Sepeninggal kedua orang itu, Han Nio-nio baru berkata lagi sambil tertawa, “Kalau toh

engkau tak mau masuk ke dalam ruangan, baiklah kita bercakap cakap di luar sana,

silahkan Gak siangkong”

Dengan tubuhnya yang tinggi semampai perempu an itu menuju ke belakang perahu

lebih dulu kepada seorang pelaut dia ulapkan tangannya memerintahkan orang itu

mengundurkan diri.

Setelah suasana disekitar sana jadi hening, Han Nio-nio baru membereskan rambutnya

yang awut-awutan lalu sambil tersenyum ia berbatuk. “Kehebatan ilmu silatmu, keketusan

watakmu di tambah pula kebesaran nyalimu, sungguh merupakan suatu perpaduan yang

baru pertama kali ini, aku Han Hu-hoa jumpai!”

“Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Han Nio-nio juga baru kali ini kujumpai dalam dunia

persilatan” sahut anak muda itu ketus.

Segulung angin berhembus lewat menyingkapkan gaun bajunya yang robek, hingga

pahanya yang putih mulus kembali terlihat jelas.

Cepat tangannya menyambar gaun yang berobek itu dan menutupi pahanya yang

kelihatan, pelan-pelan ia pejamkan matanya lalu berkata dengan sedih, “Selama malang

melintang dalam dunia persilatan hampir tiga puluh tahunan, aku cuma pernah takluk

kepada dua orang”

“Dua orang tokoh silat macam apakah yang bisa peroleh kehormatan dari Nio-nio?”

tanya Gak Lam-kun dengan perasaan ingin tahu.

Ha Hu-Hoa tertawa. “Yang satu adalah engkau dan yang lain adalah majikanku!”

Mula-mula Gak lam-kun agak tertegun, tiba-tiba selapis kemurungan melintas diatas

wajahnya.

Ha-Hu-hoa tertawa kembali ujarnya. “Kalau kulihat dari kemurungan keputusan yang

menyelimuti wajahmu tampaknya engkau punya kenangan masa lalu yang cukup

menyedihkan hati, tapi kau musti tahu bahwa diantara sepuluh bagian di dunia ini ada

delapan sampai sembilan bagian yang tak bisa diselesaikan dengan lancar. Sebagai anak

muda kenapa pikiranmu tak bisa terbuka. Terus terang kukatakan kepadamu belasan

tahun berselang kedaan kupun semua seperti dirimu sekarang, aaii..!”

Tiba-tiba ia menghela napas sedih, titik air mata mendadak mengembang dibalik

kelopak matanya.

“Terima kasih atas petunjukmu” kata Gak Lam-kun cepat, “ Bila Nio-nio masih ada

urusan cepatlah utarakan keluar”

Titik air mata mengembang dalam kelopak ma ta Hau Hu-hoa, dan akhirnya meleleh

keluar membasahi pipinya.

“Sebenarnya aku ingin mengundang dirimu masuk ke perguruan panah bercinta kami,

agar bisa menanggulangi masalah besar bersama sama majikan kami, tapi sekarang aku

rasa kau pasti menolak tawaranku itu” ujarnya dengan sedih.

Gak Lam-kun tertawa ewa. “Terima kasih atas kebaikanmu, jika sudah habis

perkataanmu, aku orang she-Gak segera akan mohon diri”

Setelah merangkap tangannya memberi hormat, dia putar badan dan berlalu dari

sana.

“Gak siangkong, tunggu sebentar!” teriak Han Hu-hoa lagi.

Gak Lam-kun berhenti seraya berpaling, kemudian tegurnya, “Masih ada perkataan apa

lagi yang hendak kau Ucapkan?”

Pelan pelan Han Hu-hoa maju ke depan lalu menyahut, “Apakah engkau sedikit

memandang hina diriku karena aku menjadi budak orang lain?”

“Aku tidak tahu!”

Kembali Han Nio-nio menghela napas sedih “Setelah berpisah pada malam ini, entah

dikemudian hari masih ada kesempatan untuk berjumpa lagi atau tidak, sekalipun kita

hanya bertemu tanpa sengaja, aku Han Hu hoa mengucapkan semoga kau menjaga diri

baik baik……. Oya, masih ada satu urusan hendak kuperingatkan kepadamu, Si Tiong-pek

dari perkumpulan Tiat-eng-pang adalah seorang manusia licik dengan akal busuk yang

berbahaya. kau musti berjaga-jaga atas manusia sema-cam itu”

Gak Lam-kun bukan manusia sembarangan sudah tentu diapun merasakan betapa

liciknya manusia yang bernama Si Tiong-pek itu, terutama melihat bagaimana caranya

menghindari kobaran hawa amarah akibat sindiran dari Han Hu-hoa tadi.

Perlu diterangkan disini, Si Tiong-pek bisa memimpin pasukan elang baja, tentu saja

ilmu silat yang dimilikinya bukan termasuk golongan yang lemah, tindakannya tak mau

bertarung melawan Han Nio-nio tadi memang merupakan suatu tindakan yang cerdik,

sebab ia telah mengesampingkan kekuatan yang sebenarnya untuk digunakan merebut

lencana pembunuh naga dibukit Kun-san. Ia tak mau lantaran dua harimau yang berkelahi

mengakibatkan dua belah pihak terluka hingga memberikan peluang yang baik bagi orang

lain untuk mendapatkan keuntungan.

Gak Lam-kun sebagai orang yang berhak menerima Lencana Pembunuh Naga, sudah

tentu mempunyai ilmu silat yang tinggi serta kecerdasan yang seimbang dengan

kecerdikan gurunya Tok liong Cuncu dimasa lalu dengan kecerdasannya itu, masa ia tak

dapat menebak jalan pikiran orang lain?

“Aku sudah tahu!” seru Gak Lam-kun kemudian sambil tersenyum.

Dia menjura lantas berlalu pergi, tapi baru beberapa langkah, Han Hu-hoa sudah

berseru lagi dengan manja, “Gak sianngkong, bagaimana kalau kuperintahkan anak

buahku untuk menyiapkan perahu bagimu?”

“Tak usah repot repot!”

Tiba-tiba dari belasan kaki sebelah depan sana berkumandang suara dari Si Tiong-pek,

“Gak heng, siaute telah siapkan perahu untuk menyambut kedatanganmu…..!”

Menyusul teriakan itu, perahu besar tersebut pelan-pelan bergerak maju kedepan dan

sekejap kemudian sudah berada empat kaki dari perahu Han Nio-nio.

“Gak siang kong, baik baiklah jaga diri!” kata Han Hu-hoa kemudian sambil tertawa

sedih.

Gak Lam-kun segera merangkap tangannya memberi hormat, kemudian sekali loncat

dia sudah be rada diatas perahu elang raksasa yang berada dua kaki jauhnya itu.

Begitu anak muda tersebut sudah melayanag pergi, Han Hu hoa segera memerintahkan

anak buah nya untuk menaikkan layar, kemudian dalam sepeminuman teh perahu itu

sudah lenyap dari pandangan mata…….

Perahu tiang raksasa dari Si Tiong-pek terang ben derang bagaikan ditengah hari,

sambil tersenyum simpul pemuda itu menyambut kedatangan Gak Lam-kun ditengah

geladak.

Ji Kiu-liong juga mengikuti dibelakangnya, sedang dibelakang sipemuda berbaris

delapan belas orang laki-laki bertubuh kekar, beralis mata tebal dan berbaju biru dengan

sebilah pedang bergagang burung rajawali yang sedang merentangkan sayapnya tersoren

di punggung.

Menyaksikan kedelapan belas orang manusia ber baju biru itu, Gak Lam-kun segera

berpikir. “Aku pikir kedelapan belas orang itu pastilah delapan belas elang baja yang

dipimpin Si Tiong-pek dalam pasukan elang bajanya, aku lihat mereka rata-rata gagah

perkasa dengan sorot mata yang tajam, jelas ilmu silat yang dimilikinya amat tinggi, tak

heran kalau pasukan elang baja bisa populer dan disegani orang dalam dunia persilatan”

Ketika dia masih termenung, Si Tiong-pek sudah berseru sambil tertawa nyaring,

“Haaahh…….haaah………haaahh…….. Saudara Gak sedia menumpang diperahu kami

kejadian tersebut merupakan suatu kebanggaan bagi kami semua, sambutlah

penghormatan diri delapan belas elang baja anak buah kami……!”

Cepat-cepat Gak Lam-kun menjura, “Kemampuan dan keehebatan apakah yang dimiliki

aku orang she Gak, tak berani aku menerima sambutan dari delapan belas elang baja yang

ramanya tersohor di dunia”

Sementara itu dari dalam ruang perahu berjalan seorang kakek cebol yang berbaju

hitam dengan jenggot putih, badannya kurus seperti lidi dan senjatanya adalah sebuah

tongkat berkepala ular hitam.

Dengan senyum tak senyum ia lantas berseru, “Si lote, jago muda dari manakah yang

telah datang sehingga memerlukan sambutan semeriah ini.

Suara teriaknya itu menyeramkan, ditambah pula badannya yang kurus kecil

melambung seperti setan gentayangan, membuat siapapun yang melihatnya merasa

kurang begitu senang.

Sedingin salju panas muka Gak Lam-kun bahkan melirik sekejappun ke arahnya tidak,

dia malahan menengadah sambil memandang bintang bintang yang bertaburan di

angkasa.

Menyaksikan kecongkakan orang, kakek cebol itu semakin naik pitam, ia tertawa dingin

tiada hentinya dengan suara yang menggidikkan hati….

Si Tiong-pek yang menyaksikan kejadian itu alis matanya kontan berkenyit, tapi cepat

ia tertawa nyaring. “Ou thamcu, saudara ini adalah Gak Lam-kun sauhiap, dialah yang

barusan mengalahkan Han Nio-nio dari perguruan panah bercinta!”

Kakek cebol yang kurus kering itu tertawa dingin tiada hentinya dengan suara yang

mengerikan, “Heehh.…. heeeeh…. Heeeh….. ombak di belakang sungai Tiangkang

mendorong ombak yang di depannya, kembali dalam dunia persilatan telah muncul

seorang toa-enghiong yang gagah perkasa”

Sengaja perkataan yang terakhir itu diucapkan dengan nada memanjang, sudah tentu

nadanya adalah nada mencemooh.

Diatas wajah Gak Lam-kun yang dingin tiba-tiba tersungging sekulum senyuman ia

bertanya, “Saudara Si konon anggota elang bajamu itu terdiri dari manusia-manusia gagah

yang kosen dan berilmu tinggi, tolong tanya apakah dia juga seorang anak buahmu?”

Kakek cebol berambut putih itu merupakan seorang jagoan yang angkuh dan tinggi

hati, sudah tentu dia tak tahan mendengar sindiran dari Gak Lam-kun, maka sebelum Si

Tiong-pek menjawab dia sudah membentak lebih dulu dengan nyaring, “Bagus sekali! Kau

si bocah kunyuk memang pingin mampus!”

Begitu selesai berkata, tongkat kepala ularnya langsung menyokot kemuka dengan

jurus hui-pau-bong-cwen (air terjun merupakan sumber mata air)

Ji Kiu-liong yang berdiri disamping Gak Lam-kun bertindak cepat, sebelum saudaranya

bertindak tiba-tiba dia cabut keluar pedangnya, kemudian pergelangan tangannya

digetarkan menciptakan dua kuntum bunga pedang yang langsung manabas tubuh lawan.

“Kakek cebol, rupanya kau gemar bertarung? Hayo hadapilah seranganku ini!”

hardiknya.

Kakek cebol berambut putih itu tertawa dingin tubuhnya mengigos kesamping

kemudian menerobos maju kemuka secara tiba-tiba, jari tengah dan jari telunjuknya di

kakukan bagaikan tombak, kemudian disodoknya jalan darah Hian-ki-hiat di tubuh Ji Kiuliong

dengan keras.

Ji Kiu-long tak berani gegabah, cepat dia mundur setengah langkah, kemudian

pedangnya dengan menciptakan selapis cahaya yang menyilaukan mata balas menusuk ke

depan.

0000000000

KAKEK berambut putih itu kembali menyelinap ke samping melepaskan diri dari

ancaman tersebut, tiba-tiba ia membentak, “Lepas tangan!”

Toya kepala ularnya menyodok pergelangan tangan kanan Ji Kiu- liong yang memegang

pedang, dan ….

“Criiing!” Diiringi dengusan tertahan bocah laki-laki itu, pedangnya benar-benar terjatuh

dari genggaman.

“Kau juga lepas tangan!” tiba-tiba bentakan lain berkumandang memecahkan

kesunyian.

Bagaikan sambaran sukma gentayangan, tahu tahu Gak Lam-kun sudah menyusup

datang, tangan kirinya membabat pergelangan tangan kanan si kakek cebol, sedang

tangan kanannya melancarkan sebuah totokan aneh.

Sambil berkerut kening cepat-cepat kakek cebol itu mundur dua langkah, begitu

terhindar dari kebasan tangan kiri dan sodokan jari lawan, dengan membawa deruan

angin pukulan yang tak kalah cepatnya dia lepaskan pula sebuah serangan balasan.

Sungguh dahsyat tenaga serangannya itu. Ibaratnya bendungan yang jebol dilanda air

bah, bisa dilayangkan berapa besar tenaga dorongan yang dihasilkan oleh pukulan itu?

Ketika dua gulung angin pukulan saling bertemu jadi satu, tidak terjadi benturan

apapun, bahu si kakek cebol itu cepat bergoyang untuk membuang daya tekanan yang

menekan dirinya, namun toh badannya terdorong mundur juga dua langkah.

Sebaliknya Gak Lam-kun juga tidak berhasil meraih keuntungan apa apa, sambil

mendengus, tubuhnya terdorong mundur setengah langkah.

Setelah terjadi bentrokan kekerasan, kedua belah pihak sama sama mengagumi

kehebatan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, merekapun tahu bahwa musuh yang

sedang dihadapi adalah musuh yang paling tangguh, untuk sesaat kedua belah pihak tak

ada yang berani melancarkan bentrokan untuk kedua kalinya.

Saat itulah Si Tiong-pek menyela sambil tertawa tergelak, “Haaahhh….. haaahhh…..

haaahhh….. kagum, kagum! Ternyata tenaga dalam yang dimiliki kalian berdua memang

seimbang! Itulah yang dinamakan kalau tidak saling bertarung tidak akan saling mengenal,

kebanyakan orang persilatan baru akan kenal jika sudah terjadi pertarungan. Saudara Gak,

untuk kejadian tersebut harap engkau jangan marah. Saudara ini juga merupakan seorang

jagoan yang ternama dalam dunia persilatan, orang menyebutnya sebagai Tang-hay coasiu

(kakek ular dari lautan timur) Ou Yong-hu, kini jabatannya adalah Thamcu ruang elang

sakti dari perkumpulan kami. mari…… mari….. mari ….. kita semua bersama sama minum

seteguk arak dalam ruangan”

Ketika mendengar disinggungnya nama “Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu” paras muka

Gak Lam-kun agak berubah, dendam sakit hati karena kematian gurunya Tok-liong Cuncu

segera berkobar kembali dalam rongga dadanya, tanpa sadar ia bergumam, “Diantara

tujuh belas orang musuh besarku, ada sepuluh orang yang sudah tewas ditanganku,

sisanya yang tujuh orang sukar dilacaki jejaknya, sungguh tak disangka sekarang aku

berhasil temukan seorang Ou Yong-hu lagi jadi, selama ini dia bersembunyi dalam

perkumpulan elang baja… pantas jejaknya sukar ditemukan…… Ou Yong-hu wahai Ou

Yong-hu….. saat kematianmu sudah tiba”

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba dalam benaknya terlintas kembali pesan Tok-liong

Cuncu sebelum tiba ajalnya, “…….diantara tujuh belas orang musuh besarku rata-rata

mereka merupakan gembong iblis yang berilmu silat amat tinggi terutama sekali Si kakek

ular dari lautan timur Ou Yong-hu mereka merupakan jago-jago yang berilmu paling

tinggi, bahkan kungfu mereka yang satu lebih hebat dari yang lain Dalam catatan musuh

besarku sudah kucatat masing-masing keistimewaan ilmu silat yang mereka miliki, bila kau

jumpai salah seorang diantara ke tujuh orang itu, maka sebelum membalas dendam lebih

baik periksalah dulu catatan musuh besarku!”

Teringat sampai disitu, hawa amarah dan rasa dendam yang semula berkobar di rongga

dada Gak Lam-kun, tiba-tiba berhasil dikendalikan kembali, lagi pula dia tahu bahwa dialah

yang mencatut nama gurunya untuk menuntut balas bila rahasianya terbongkar, niscaya

orang persilatanpun akan mengetahui pula rahasia dibalik kemunculan Tok liong Cuncu

dalam dunia persilatan.

Begitu selesai mempertimbangkan untung ruginya, dengan cepat paras muka Gak Lamkun

pulih kembali seperti sedia kala.

Baik Si Tiong-pek maupun Ou Yong-hu sama-sama merasakan pula perubahan wajah

Gak Lam-kun, cuma mereka mengira anak muda itu sedang terperanjat setelah

mengetahui nama besar dari Tang-hay-coa-siu, maka sekulum senyuman tanpa terasa

tersungging diujung bibir Ou Yong-hu.

“Sungguh hebat ilmu silatmu” demikian ujarnya kemudian, “aku Ou Yong-hu merasa

amat kagum!”

Gak Lam-kun tersenyum. “Aaah….. cuma ilmu silat kucing kaki tiga, malu untuk

dibicarakan!” cepat Gak Lam-kun menyanggah.

“Heeeehhh….. heeeehhh….. heeeehh…….. mana, mana…..” Tang hay-coa-siu Ou Yonghu

tertawa seram, “Aku Ou Yong-hu sudah memastikan diri untuk bersahabat lote!”

“Hmmm…….! Ou Yong-hu, engkau telah perkenalan dengan setan pencabut nyawa dari

mereka!” menyumpah Gak Lam-kun dalam hati kecilnya.

Betul senangnya Si Tiong-pek setelah menyaksikan suasana yang semula serba kaku

kini berubah jadi tenang kembali, ia lantas berseru dengan lantang, “Saudara Gak betulbetul

seorang jagoan lihay yang sukar ditemui di dunia ini, sungguh beruntung aku bisa

berkenalan dengan dirimu. Mari-mari kita masuk ke dalam ruangan dan minuman arak

sambil bercakap-cakap!”

Berbicara sampai disitu, Si Tiong-pek melangkah masuk ke dalam ruangan lebih dahulu

diiring salam hormat dari ke delapan belas elang baja yang berjajar di sekeliling sana.

Perlu diterangkan disini bahwasanya ke delapan belas elang baja itu adalah jago jago

berilmu tinggi, hal ini rasanya tak perlu diterangkan lagi selain itu mereka juga berwatak

tinggi hati. Dihari-hari biasa mereka tak pernah pandang sebelah matapun terhadap

kawanan jago silat yang ditemuinya.

Tapi keampuhan angin pukulan yang didemontrasikan Gak Lam-kun tadi telah

menimbulkan rasa hormat dihati kecil mereka, maka tanpa sadar timbul pula rasa

kagumnya dihati mereka semua untuk menghormati jagoan muda itu.

Gak Lam-kun segera merangkap tangannya balas memberi hormat. “Terima kasih

banyak atas perhatian saudara sekalian!” ujarnya.

Ruang dalam perahu itu luas sekali, kemewahan dan kemegahannya tidak kalah

dengan perahu milik Han Nio-nio. Si Tiong-pek, Ou Yong-hu, Gak Lam-kun dan Ji Kiu-hong

serentak masuk ke dalam ruangan.

Mereka duduk disebuah ruangan mungil yang dia tur dengan arsitek tinggi, empat

dilapisi kain hor den berwarna biru langit, sebuah meja yang indah teratur ditepi jendela

dan aneka masakan yang lezat telah dihidangkan di depan meja.

“Silahkan saudara Gak!” ujar Si Tiong-pek.

Maka diiringi pembicaraan yang amat santai, keempat orang itu duduk berbicara sambil

menikmati hidangan.

Ji Kiu-liong tak pandai minum arak, setelah mereguk beberapa cawan, ia lantas

berhenti, sebaliknya Gak Lam-kun, Si Tiong-pek maupun Ou Yong-hu mempunyai takaran

minum yang luar biasa. Dalam waktu singkat puluhan cawan sudah di teguk ke dalam

perut.

Si Tiong-pek adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman, ia berkenalan

dengan Gak Lam-kun memang disertai dengan suatu rencana besar yakni menariknya

masuk kedalam perkampungannya, tapi sampai perjamuan di langsungkan, niat tersebut

sama sekali tak disinggung, bahkan pembicaraan yang berlangsungpun hanya

pembicaraan yang santai-santai.

Akhirnya Gak Lam-kun tak kuasa menahan diri, mendadak dia alihkan pembicaraan ke

pokok persoalan yang sebenarnya tanyanya, “Saudara Si, konon aku dengar Tok-liong

Cuncu yang namanya pernah menggetarkan dunia persilatan dimasa lalu telah

memunculkan diri kembali, malah katanya pertengahan bulan delapan ini akan datang ke

bukit Kun-san untuk menerima lencana pembunuh naga, benarkah ada kejadian seperti

itu……..?”

Berbicara sampai disitu, dengan ujung matanya Gak Lam-kun melirik sekejap ke arah

Tang-hay-coa-siu. Betul juga paras muka kakek cebol itu segera diliputi oleh kemurungan

dan kekesalan yang sangat tebal.

Si Tiong-pek segera menghela napas panjang seraya menjawab, “Kemunculan Tokliong

Cuncu dalam dunia persilatan sudah mulai tersiar sejak tiga tahun berselang,

mengenai kehadiran Tok-liong Cuncu di bukit Kun-san untuk menerima lencana pembunuh

naga pada pertengahan bulan delapan nanti, hal ini merupakan suatu janji Tok-liong cuma

dengar Soat san thian li yang telah berlangsung dua puluh tahun berselang, tapi sejak

Tok-liong Cuncu tewas dibelakang tebing Yan-po-gan dibukit Hoa-san peristiwa itu juga

sudah dilupakan oleh orang-orang persilatan, tapi anehnya dua puluh tahun kemudian

tiba-tiba si Datuk naga beracun itu muncul kembali dalam dunia persilatan, ini

mengakibatkan kawanan jago dari pelbagai perguruan telah berkumpul semua di wilayah

Siang-pek. Aku dengar tidak sedikit jumlah manusia yang berkumpul disini. Yaa beberapa

hari kemudian suatu perebutan mustika tak bisa dihindari lagi, entah berapa banyak

manusia lagi yang bakal tewas peristiwa akibat Lencana Pembunuh naga? bagaimanakah

keadaan yang sebenarnya, aku sendiripun kurang begitu jelas, tapi terus terang saja

kukatakan kedatangan siaute kesini juga lantaran Lencana Pembunuhan naga itu, Apakah

kehadiran saudara Gak dan saudara Ji juga disebabkan benda mustika tersebut…….?”

“Aaaah……. aku orang she-Gak dengan adik Liong ku ini cuma mengembara didalam

dunia persilatan tanpa tujuan tertentu, adapun kehadiran kami kesini pun tak lebih cuma

ikut menonton keramaian belaka. Mengenai soal Lencana pembunuh naga….. Haaahh…..

haaahhh….. Aku orang she-Gak tak lebih hanya mempunyai perasaan ingin tahu.”

Mendengar jawaban tersebut Si Tiong-pek segera menengadah dan tertawa terbahakbahak.

“Haaahhh….. haaahhh…… haaahhh….. bagus sekali, bagus sekali sebagai anak

muda memang harus mempunyai perasaan ingin tahu, cuma kalau toh kedatangan

saudara Gak bukan lantaran lencana pembunuh naga, maka ada baiknya kalau jejak lain

mulai kini lebih dirahasiakan, daripada mengundang datangnya segala kerepotan yang tak

inginkan haahh….. haaahh……… haaahh……”

Si Tiong-pek kembali tertawa bergelak, dengan sepasang matanya yang jeli dia melirik

sekejap wajah Gak Lam-kun, kemudian lanjutnya lebih jauh, “Haaahh…. haaahh….

haaahh….. ilmu silat yang dimiliki saudara Gak sangat tinggi, tentu saja kau tak takut

urusan, cuma saudara Gak harus waspada terhadap segala kelicikan serta kebusukan hati

orang-orang persilatan, seringkali mereka lebih mengutamakan tercapainya tujuan

daripada mengindahkan keselamatan serta kebajikan, sebab banyak urusan yang tak bisa

dihadapi hanya mengandalkan dengan kekuatan ilmu silat belaka”

Perkataan tersebut betul-betul berpengalaman dan bermaksud luas, selain memberi

peringatan ke pada Gak Lam-kun, diapun seakan-akan sedang berusaha menyelidiki suara

hati lawannya, dari sini dapat diketahui bahwa Si Tiong-pek memang seorang manusia

yang amat licik.

“Terima kasih banyak atas petunjukmu!” jawab Gak Lam-kun hambar.

Sementara itu, Ji Kiu-liong yang berada disisinya ikut menimbrung pula dengan mata

melotot besar , “Sebetulnya watak toako lembut dan baik hati, tapi bila ada orang berani

mencari urusan dengannya, maka dia akan menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya,

tapi bila orang tidak memusuhinya, diapun segan untuk mencampuri urusan orang lain.

Maka Si toako, bila kau masih ada persoalan katakan saja cepat-cepat, sebab kami masih

ada urusan lain yang perlu diselesaikan!”

Si Tiong-pek tertawa nyaring. “Saudara cilik. Kau memang orang pintar pandai

berbicara, tindakanmu itu tak malu disebut sebagai tindakan seorang jagoan muda,

kemanakah kalian berdua akan pergi selanjutnya? Mari sekalian kuhantar, dengan

demikian bukan saja tak usah membuang waktu dengan percuma, kitapun bisa

memanfaatkan waktu dalam perjalanan sambil bercakap cakap”

“Kami akan berhenti di kota Gak-ciu dekat bukit Kun-san” jawab Gak Lam-kun cepat,

“tolong saudara Si hantar kami kesana saja”

“Aaah…… kita memang sejalan dan setujuan,

apa salahnya kalau kita menempuhnya bersama?” ujar Si Tiong-pek seraya tertawa dan

gelengkan ke palanya berulang kali.

Sejak Gak Lam-kun menyinggung tentang diri Datuk naga beracun, Si kakek ular dari

lautan timur Ou Yong-hu cuma membungkam diri tanpa berbicara, dengan sendirinya Gak

Lam-kun juga tak dapat menebak begaimana jalan pikirannya itu.

Ditengah keheningan, tiba-tiba Ji Kiu-liong bertanya. “Si Toako. Barusan kau

mengatakan bahwa kawanan jago persilatan berbondong-bondong telah mendatangi

sekitar bukit Kun-san untuk ikut memperebutkan Lencana pembunuh naga, tolong tanya

benda macam apakah Lencana pembunuh naga itu sehingga demikian berharganya

sampai semua orang tak segannya menempuh perjalanan jauh demi benda itu?”

Si Tiong-pek tertawa ringan. “Saudara Ji, kamu sudah tahu pura-pura bertanya ataukah

sungguh sungguh tidak tahu?”

“Tentu saja tidak tahu, tolong Si toako bersedia memberi penjelasan…..”

Si Tiong-pek seperti takut rahasianya yang berharga itu sampai diketahui orang. Dia

termenung sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Berita tentang betapa berharganya

Lencana Pembunuh naga terdiri dari aneka macam raganya. Tiap orang persilatan

mempunyai versi cerita yang berbeda. Aku tak bisa memberi jawaban yang sesungguhnya

kepadamu……”

Ji Kiu-liong memang seorang setan cerdik yang cilik, dia tahu Si Tiong-pek enggan

membicarakan rahasia itu, maka dia sengaja mendesaknya lebih lanjut, kembali ujarnya

sambil tertawa, “Kalau begitu bicarakanlah secara singkat, Si-toako tentunya engkau tidak

keberatan bukan?”

Si Tiong-pek benar-benar dibuat serba salah hingga mau menangis tak bisa mau

tertawapun enggan, tapi diapun tahu jika dirinya menolak untuk memberi keterangan,

orang pasti akan menuduh jiwanya terlalu sempit.

Akhirnya sesudah merenung sebentar, dia lantas menengadah ke arah Gak Lam-kun

dan balik bertanya sambil tertawa, “Saudara Gak, apakah engkau mengetahui raha sia

tentang Lencana Pembunuh Naga itu?”

“Tidak!”

Si Tiong-pek segera terbahak bahak. “Haaahhh….. haaahhh….. haaahhh….. konon

dimana tersimpan harta karun didalam petunjuk lencana pembunuh naga terdapat juga

sejilid kitab pusaka yang tak ternilai harganya serta sebilah pedang emas yang tajam

sehingga rambut yang ditiupkan ke atasnya akan putus, juga terdapat seorang gadis

cantik jelita bak bidadari dari kahyangan serta emas permata yang tak terhitung

jumlahnya”

“Kalau dikatakan lencana pembunuh naga menyimpan kitab pusaka, dengan mustika

dan emas permata siapa saja akan percaya, bagaimana mungkin menyangkut pula

seorang gadis yang cantik jelita?” sela Ji Kiu-liong keheranan.

Si Tiong-pek kembali tertawa misterius. “Apa yang kudengar hanya terbatas pada

berita yang tersiar dalam dunia persilatan tentu saja keadaan yang sebenarnya tidak

kuketahui”.

“Tapi…. tentu saja tanpa angin pohon tak akan bergoyung, masa orang akan

menyiarkan berita bohong tanpa wujudnya?” gumam Ji Kiu-liong seorang diri, kalau bilang

ada pedang dan kitab si orang percaya saja, tapi kalau dibilang bisa mendapatkan gadis

cantik… aaah, aku tak akan percaya!”

Si Tiong-pek tidak memperdulikan gumaman orang, ujarnya lebih jauh, “Saudara Gak

kita sudah berbicara lama sekali, tapi belum kuketahui siapakah nama gurumu?”

Ketika mendengar pertanyaan itu, sepasang mata Tan-hay coa-siu Ou Yong-hu yang jeli

segera menatap tajam wajah Gak Lam-kun, dia ingin sekali mengetahui asal perguruan

dari Gak Lam-kun setelah ia gagal untuk menebaknya sendiri terutama setelah pemuda itu

berhasil memunahkan pula sebuah pukulan dahsyat yang lancarkan tadi.

Gak Lam-kun menghela napas sedih sahutnya, “Guruku sudah lama tutup usia, maaf

bila aku tak akan sebutkan namanya daripada menambah kepedihan hatiku”

Jawaban itu sungguh bikin hati orang kecewa tapi Ou Yong-hu yang licik dan banyak

tipu muslihatnya mendadak teringat akan sesuatu. kecurigaannya segera timbul.

Kepada Si Tiong-pek tiba-tiba tanyanya dengan nada menyeramkan, “Si lote, kau

selamanya adalah orang yang pintar, tahukah engkau bahwa berita tentang kemunculan

kembali Tok-liong Cuncu dalam dunia persilatan adalah sebuah berita yang patut

dicurigai?”

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, dengan ujarnya matanya Ou Yong-hu melirik

sekejap ke wajah Gak Lam-kun.

Diam diam Gak Lam-kun tertawa dingin didalam hati, pikirnya, “Ou Yong-hu kau jangan

harap bisa mendapatkan keterangan apapun dari perubahan wajahku!”

Yaa, memang! Paras muka Gak Lam-kun ketika itu amat dingin dan kaku, sedingin salju

ditengah bukit yang tinggi membuat orang sukar untuk merasakan perubahan wajahnya.

Si Tiong-pek manggut-manggut lirih. “Ketika berada di puncak Hong-po-gan bukit Hoasan

tempo dulu, Tok-liong Cuncu sudah terkena delapan buah tusukan pedang yang

mematikan, tiga buah pukulan beracun yang amat jahat, dua belas batang senjata rahasia

yang amat beracun selain obat pemutus usus yang diminumnya lebih dulu sebelum

pertempuran, kemudian sesudah terluka parah tubuhnya terjatuh pula ke dalam jurang

dengan air terjun yang amat dahsyat, aku pikir sekalipun dia dewa juga jangan harap bisa

lolos dari lubang kematian……”

Mendengar kembali kisah pembunuhan terhadap gurunya yang mengerikan, hawa

amarah serasa mendidih dalam dada Gak Lam-kun, hampir saja ia menjerit dan menghajar

musuh besar yang berada dihadapannya, meski demikian, paras mukanya sedikitpun tidak

berubah.

Setelah selesai berkata Si Tiong-pek lantas berpaling ke arah Gak Lam-kun sambil

bertanya, “Saudara Gak, apakah engkau tahu juga tentang peristiwa berdarah di bukit

Hoa-san tebing Yan-po-gan tersebut?”

Gak Lam-kun tertawa. “Kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya memalukan sekali,

sebab walaupun aku orang she-Gak termasuk salah seorang anggota dunia persilatan, tapi

oleh karena kurang suka bergaul, maka pengetahuanku mengenai peristiwa dalam dunia

persilatan juga picik sekali. Tentang Tok-liong Cuncu, aku cuma tahu kalau dia telah

dikerubuti oleh orang-orang persilatan yang mendendam kepadanya, mengenai

lainnya….. aku kurang begitu tahu”

Perkataan itu diucapkan dengan kata-kata yang sejujurnya, ditambah pula mukanya

yang polos dan tidak berpura-pura, membuat orang jadi percaya bahwa perkataannya

bukan kata-kata bohong.

Tang-hay-coa-siu Ou Yong hu tertawa dingin, “Ilmu silat yang dimiliki Tok-liong Cuncu

waktu itu memang sangat luar biasa, bila orang lain yang terkena pukulan dan tusukan

sebanyak itu mungkin jiwanya akan segera melayang tapi dia memang jauh berbeda

dengan orang lain”

“Waaah……..jadi kalau begitu, dia benar-benar masih hidup di dunia ini…….?” seru Si

Tiong-pek dengan kaget.

Ou Yong-hu kembali tertawa dingin. “Jika dia masih hidup, buat apa kukatakan kejadian

ini sedikit mencurigakan?”

“Aduuh mak, kalau begitu aku malah dibikin tak mengerti dengan teka teki dibalik

ucapan Ou thamcu!”

“Si lote tahukah kau racun pemutus usus yang diminum Tok liong Cuncu tempo hari

adalah buatan siapa?”

Si Tiong-pek menggeleng.

Sambil tertawa seram Ou Yong-hu berkata lebih jauh, “Dalam dunia dewasa ini masih

ada siapa lagi yang mampu membuat obat racun lebih dahsyat daripada Jit-poh-toan-hun

(tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To sianseng?”

“Bagus sekali!” pikir Gak Lam-kun dalam hati kecilnya dengan gemas, “Jadi Jit-pohtoan-

hun Kwik To lah pembunuh utama yang menyebabkan kematian guruku!”

Ketika Ou Yong-hu menyebutkan nama orang itu, sepasang matanya dengan cepat

melirik sekejap ke atas wajah Gak Lam-kun, tapi ia kembali ia merasa kecewa.

Kembali Tang-hay-coa-siu berkata lagi, “Arak beracun pemutus usus itu dibuat oleh

Kwik To sianseng sebagai sejenis arak beracun yang bersifat amat keras, besar sekali daya

pengaruhnya bila terteguk kedalam perut seseorang. Pada mulanya kami kuatir Tok-liong

Cuncu tahu rencana busuk kami dan tak sudi meneguk habis arak beracun yang telah

dipersiapkan, maka ketika menciptakan racun itu kami membubuhkan racun yang berdaya

kerja sangat hebat, dimana asal Tok-liong Cuncu hanya meneguk setetes saja, sekalipun ia

mencoba untuk mendesak keluar racun itu dari tubuhnya namun tak akan bisa

menghindari suatu kematian yang mengerikan setelah racun tersebut mengeram selama

belasan tahun dalam tubuhnya. Yaa, waktu itu Tok-liong Cuncu memang tidak

menghabiskan arak racun yang kami siapkan, sekalipun demikian bukan berarti Tok-liong

Cuncu tak akan mati apalagi tubuhnya yang terkena tiga buah pukulan rata-rata pukulan

beracun yang amat dahsyat”

“Kalau memang begitu, lantas menurut anggapan Ou Thamcu, siapakah yang telah

muncul diri didalam dunia persilatan sebagai Tok-liong Cuncu itu?”

“Kalau ditinjau dari tanda-tanda kematian yang dialami Kang lam Tiat-san-cu sekalian

bersepuluh….. mereka memang terkena oleh Ton-liong jin (cakar naga perenggut nyawa)

itu senjata rahasia andalan Tok-liong Cuncu dimasa lalu, konon menurut orang melihat

kemunculannya, baik potongan badan maupun dandannya persis dengan Tok-liong Cuncu.

Wajahnya juga mengenakan topeng kulit berkepala naga yang sama. Meski begitu aku

berani yakin bila Tok-liong Cuncu sudah lebih banyak mampusnya daripada hidupnya

kalau belakangan ini dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan bahwa Tokliong

Cuncu telah muncul kembali, sudah pasti hal itu merupakan perbuatan dari

muridnya”

Si Tiong-pek melirik sekejap ke arah Gak Lam-kun, kemudian gelengkan kepalanya

berulang kali. “Seandainya Tok-liong Cuncu mempunyai anak murid kenapa dalam dunia

persilatan tidak tersiar berita tentang hal ini?”

Dalam pembicaraan yang berlangsung selama ini rupanya Tang-hay-coa-siu Ou Yonghu

tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang mencurigakan diwajah Gak Lam-kun, dan

agaknya kejadian ini membuat hatinya jadi mendongkol, dia lantas menghela napas. “Lohu

yakin kalau kejadian ini besar kemungkinannya adalah demikian. Cuma tentu saja masih

terbatas pada perkiraan belaka”

Diam-diam Gak Lam-kun tertawa dingin. pikirnya, “Heeehhh….. heeeehh…..

heeeehh…… sekalipun Cuma anak muridnya, jangan harap kalian bisa lolos dari

cengkeraman mautnya”

Sementara dia masih termenung, Si Tiong-pek sudah berkata sambil tertawa ringan,

“Ou thamcu. sekarang kau adalah seorang thamcu dari perkumpulan elang baja, ilmu

silatmu juga luar biasa lihaynya, sekalipun Tok-liong Cuncu itu berilmu tinggi, tak nanti dia

berani mengganggu seujungpun rambut dari anggota anggota Tiat-eng-pang”

Dengan perkataannya jelas dia mengartikan bahwa seandainya Tang hay coa siu Ou

Yong-hu sampai dicari oleh Tok-liong Cuncu untuk dibunuh. maka seluruh jago lihay dari

Tiat-eng-pang akan serentak membantu dipihaknya……..

Tiba-tiba Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu menengadah sambil tertawa seram.

“Haaahhh…. haaaahh…. haaahhh…. masih mendingan kalau Tok-liong Cuncu tidak datang

kebukit Kun-san, asal ia berani berkunjung kebukit Kun-san, akan kami buat orang itu tak

mampu lolos dari jebakan langit dan bumi yang kami atur”

Mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun merasa hatinya agak tergerak, segera pikirnya,

“Masa mereka sudah mengadakan persiapan? Suhu sendiri juga tewas oleh siasat busuk

yang mereka susun, aku tak boleh terlalu gegabah menghadapi mereka……”

Ji Kiu-liong mengetahui jelas asal usul dari Gak Lam-kun, diapun dengan jelas

menyaksikan adu otak yang sedang berlangsung antara ketiga orang itu, maka cepatcepat

dia unjukkan pula sikap seakan akan tidak tahu urusan.

Tiba-tiba Gak Lam-kun buka suara, ujarnya ke pada Si Tiong-pek, “Pengetahuan yang

dimiliki saudara Si sungguh amat luas, apa yang kudengar malam ini ibaratnya bersekolah

selama sepuluh tahun, semua kebodohanku selama ini dapat diungkapkan sedikit demi

sedikit. Oya, ada satu urusan ingin kutanyakan kepada saudara Si, apakah kau bersedia

memberi petunjuk?”

“Aaah….. mana tahu” Si Tiong pek tertawa lirih, “saudara Gak terlalu sungkan, tentu

saja kalau aku mengetahui tentang persoalannya, akan kuterangkan sejelas-jelasnya”

Gak Lam-kun merenung sebentar dengan wajah membesi, kemudian ujarnya, “Atas

kebaikan dan kepercayaan nona Han yang kujumpai malam tadi, sebenarnya dia hendak

mengajak siaute untuk masuk menjadi anggota perguruan panah bercinta, padahal siaute

boleh dibilang merasa asing terhadap segala sesuatu yang menyangkut perguruan Cingcian-

bun tersebut, maka bila saudara Si tidak keberatan, bersediakah kau terangkan

segala sesuatu yang menyangkut perguruan itu?”

Agak terperanjat Si Tiong-pek ketika mendengar perkataan itu, segera pikirnya:

Meskipun asal-usul orang ini tidak begitu jelas, tapi kelihayan ilmu silat yang dimilikinya

mungkin tidak lebih lemah daripada Ou Yong hu pada hal sejak Cing-cian-bun muncul

dalam dunia persilatan, pengaruhnya meluas sampai dimana-mana, terutama sebagai

saingan utama dari perkumpulan kami, bila manusia berbakat semacam Gak Lam-kun

sampai kena ditarik oleh pihak Cing-cian-bun, maka peristiwa ini tanpa serasa justru akan

menambah daya pengaruh mereka, yaa, bagaimanapun, juga aku harus berusaha untuk

menariknya ke pihakku”

Ingatan tersebut secepat kilat melintas dalam benak Si Tiong-pek. dia lantas

tersenyum. “Saudara Gak” ujarnya kemudian, “jadi engkau sudah menyanggupi tawaran

dari Han Nio- nio untuk bergabung dengan pihak Cing-cian-bun?”

Gak Lam-kun segera menggeleng tanda belum.

Jangan dilihat usia Si Tiong-pek masih muda. Pada hakekatnya dia adalah seorang

manusia yang berotak cerdas, begitu menyaksikan gerak gerik Gak Lak-kun, dia lantas

tahu bahwa manusia semacan ini bukanlah manusia yang gampang dipergunakan

tenaganya, sudah tentu tanpa ditanyapun dia sudah tahu kalau Gak Lam-kun tidak secepat

itu menggabungkan diri dengan pihak Cing-cian-bun.

Paras muka Si Tiong-pek berubah jadi serius, ujarnya dengan suara rendah, “Saudara

Gak! bukannya aku sengaja menjelek-jelekkan orang, tapi jika saudara Gak sudah

menyanggupi untuk menjadi anggota Cing-cian-bun, maka runyamlah keadaannya. Orang

persilatan dewasa ini jarang sekali ada yang tahu tentang perguruan panah bercinta

tersebut, tapi siaute bukan sombong nih! Sedikit banyak soal rencana busuk organisasi

perguruan itu masih mengetahuinya juga. Mereka adalah suatu organisasi perkumpulan

yang khusus menggunakan perempuan-perempuan cantik sebagai umpannya untuk

membohongi kawanan jago di dunia ini agar bersedia menjual tenaganya bagi mereka

serta bantuan mereka untuk mencapai suatu ambisi yang jahat terhadap umat persilatan!”

“Oya, lalu rencana ambisi apakah mereka tuju?”

Si Tiong-pek merenung sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Ambisi itu adalah suatu

rencana yang busuk begitu kejam begitu, buas dan begitu jahatnya untuk menumpas

seluruh umat persilatan di dunia ini. Kalau dibicarakan pada hakekatnya betul-betul

membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri”

Diam-diam Gak Lam-kun tertawa dingin dalam hal kecilnya, ia membatin, “Huuh……

aku rasa engkau sendiri tak tahu keadaan mereka yang sebenarnya, maka sengaja

menjual kecap dan mengaco belo tak karaun…. sialan!”

Tapi diluaran dia pura-pura bertanya lagi, “Apakah saudara Si tahu, siapakah ketua

pergurua panah bercinta itu…….?”

Dengan cepat Si Tiong-pek menggeleng. “Tentang soal ini aku rasa kecuali beberapa

orang pentolan dalam perguruan Cing-cian-bun, tak seorangpun yarg akan tahu. Sebab

orang luaran tak seorangpun yang tahu siapa gerangan ciangbunjin mereka, maaf,

tentang soal ini siaute sendiripun kurang begitu jelas,”

Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benak Gak Lam-kun, dia kembali berpikir, “Yaa

benar, ketika kuajukan pertanyaan kepada Telapak tangan tunggal penenang jagat

Siangkoan It, jago tersebut segera menunjukkan perasaan keberatan dan mengemukakan

alasannya waktu itu bahwa dia mendapat perintah untuk merahasiakan hal itu. Atau

mungkin Siangkoan It sendiripun tak tahu siapa nama majikannya? Wah, kalau begitu

perguruan panah bercinta memang terhitung sebuah perguruan yang amat misterius”

Perahu melaju dengan lancarnya, waktu itu kentongan kelima sudah menjelang tiba, itu

berarti fajar hampir menyingsing dari ufuk sebelah timur

Tiba-tiba seorang laki-laki berbaju ringkas warna biru masuk kedalam seraya lapor,

“Komandan Si kota Gak-ciu sudah tiba!”

Si Tiong-pek mengangguk seraya mengulapkan tangannya mengundurkan orang itu.

Gak Lam-kun segera berkata sambil tertawa, “Waktu berlalu dengan cepat, berbicara

setengah malaman tanpa terasa kota Gak-ciu sudah di depan mata, sayang siaute masih

ada urusan yang harus diselesaikan, terpaksa aku harus minta diri dulu ke pada saudara

Ou thamcu”

“Haaahhh….. haaahhh…. haaahhh….” Si Tiong-pek tertawa tergalak, Mumpung perahu

belum merapat, siaute ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan sesuatu

kepada saudara Gak cuma sukur rasanya untuk membuka suara”.

Gak Lam-kun sudah dapat menebak persoalan apakah yang hendak disampaikan, maka

berkata, “Tak apa saudara Si, katakanlah!”

Dengan raut wajah yang bersungguh-sungguh Si Tiong pek berkata, “Aku lihat saudara

Gak gagah perkasa dan jiwa besar, sekalipun baru bertemu untuk pertama kalinya dengan

saudara Gak, namun aku merasa engkaulah sahabatku yang paling berkenan dihati…….”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Dan engkaulah yang paling mencocoki watak ku

maka setelah kuketahui bahwa saudara Gak mengembara tak menentu tanpa tempat

tinggal yang tetap, dengan memberanikan diri siaute ingin menawarkan diri untuk

mengajak saudara bergabung dengan perkumpulan kami. Ilmu silat yang dimiliki saudara

Gak amat lihay. Ditambah pula masih muda usia, asal kau setuju untuk menggabungkan

diri dengan Tiat-eng-pang, Oh pangcu kami pasti akan menyelenggarakan suatu upacara

besar dengan memimpin keempat thamcu kami untuk menyambut kedatanganmu….

Apalagi Saudara Gak juga tahu, dewasa ini dunia persilatan sedang mengalami goncangan

besar dengan ancaman badai berdarah yang setiap saat bisa melanda seluruh jagad,

padahal mereka yang menganggap dirinya sebagai sembilan partai besar dalam dunia

persilatan tak pernah memandang sebelah matapun kepada kita, bila kita manusiamanusia

persilatan tidak bersatu padu dalam wadah yang sama, niscaya kita-kita juga

yang bakal menjadi sasaran pembunuhan bagi mereka yang kuat. Karena itu, bersediakah

saudara Gak untuk bergabung dengan kami serta bersama sama angkat senjata melawan

penindasan dari perguruan perguruan besar lainnya?”

Meskipun hanya suatu ajakan, namun tanpa di sadari pemuda itu sudah menerangkan

pula tujuan dari perkumpulan Tiat-eng-pang ini membuat Gak Lam-kun diam-diam merasa

terkejut.

Sekarang dia baru tahu kalau beginilah keadaan yang sebenarnya dari dunia persilatan

tapi dari situ pula dia menjadi tahu bahwa ketua Tiat-eng-pang, Tiat eng-sin-siu (kakek

sakti elang baja) Oh Bu-bong sebenarnya adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang

tak boleh dianggap remeh.

Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu ikut pula berkata “Saudara Gak, apa yang dia ucapkan

memang benar, sekarang pertikaian dalam dunia persilatan telah dimulai, sekalipun kau

memiliki ilmu silat yang tinggi, jangan harap kau bisa melawan anggota persilatan yang

begitu banyak jumlahnya. Memang perkumpulan Tiat-eng-pang yang sekarang bukan

suatu perkumpulan orang-orang pandai belaka, tapi pada hakekatnya hampir semua

orang pandai dari sembilan partai besar telah bergabung dalam perkumpulan Tia-tengpang

kami bukan saja ilmu silat pangcu kami sangat lihay, lagi pula dia berjiwa besar

dan penuh kebijaksanaan…….”

Gak Lam-kun cuma tertawa ewa belaka, sementara dalam hati dia berpikir iapun

berkata pula. “Tiat-eng-sin-siu Oh Bu-hong ternyata memang seorang manusia luar biasa,

buktinya orang yang bisa mengalahkan Teng-hay-coa-siu Oh Yong-hu tunduk seratus

persen hanya dia seorang saja. “Saudara Si, Ou-thamcu, maksud baik kalian biarlah

kusimpan saja didalam hati. Sementara ini masih banyak urusan yang harus kuselesaikan,

maka maaf kanlah daku jika tak bisa cepat-cepat mengambil keputusan”

“Haaahhh…. Haaahhh…. haaahhh…. apakah saudara Gak bersedia menggabungkan diri

dengan Tian-eng-pang kami atau tidak, tentu saja kami tidak akan memaksa” kata Si

Tiong-pek sambil tergelak, “kalau toh begitu, harap saudara Gak bersedia

mempertimbangkan kembali persoalan ini sebaik-baiknya. Yang pasti pintu Tiat-eng-pang

selalu terbuka lebar lebar untuk menyambut kedatangan para jago dari seluruh kolong

langit yang ingin menggabungkan diri. Nah, mari kita keringkan cawan yang terakhir demi

kesejahteraan kita semua”

“Terima kasih atas kebaikan saudara Si!” sambil tersenyum Gak Lam-kun menjura,

kemudian ia sambar cawan arak dimeja dan sekali teguk menghabiskan isinya.

Perahu elang raksasa sudah menepi ke pantai, di antar sendiri oleh Si Tiong-pek dan

Ou Yong-hu, Gak Lam-kun. serta Ji Kiu-liong segera berpamitan sambil melompat ke

daratan.

“Semoga menjaga diri baik-baik!” masing-masing saling memberi hormat sebagai tanda

perpisahan.

Maka perahu besar itupun meneruskan kembali pelayarannya menuju ketengah telaga,

sekejap kemudian bayangan mereka sudah lenyap dibalik kegelapan.

Waktu itu fajar belum menyingsing, orang yang berlalu lalang ditengah jalan masih

amat sedikit, Gak Lam kuu serta Ji Kiu liong segera mencari sebuah penginapan didekat

dermaga untuk beristirahat, setengah harian lewat tanpa kejadian apa apa.

Kota Gak-ciu betul-betul merupakan sebuah kota yang amat besar diselatan sungai

Tiang-kang dan diutara telaga Tong-ting-ou, bukan saja letak kota itu ditepi telagapun

berdempetan dengan bukit yang permai, ini menyebabkan pemandangan disekitarnya

tampak sangat indah menawan hati.

Tengah harinya, Gak Lam-kun serta Ji Kiu-liong kembali menyewa sebuah sampan

untuk berpesiar di telaga.

Sampai itu hilir mudik kurang lebih tujuh li di luar dermaga, Gak Lam-kun duduk ditepi

jendela sambil menikmati keindahan alam di sekeliling telaga, dalam keadaan seperti ini

mukanya tetap dingin dan penuh diliputi kemurungan, sebaliknya Ji Kiu-liong masih

kekanak-kanakan berdiri di ujung geladak sambil celingukan kesana kemari.

Tiba-tiba…. dari arah sebelah barat sana muncul sebuah sampan berwarna merah yang

meluncur datang deagan kecepatan tinggi.

Ketika Ji Kiu-liong menyaksikan sampan berwarna merah itu indah menawan hati, dia

lantas memerintahkan tukang perahu untuk menjalankan sampannya menyongsong

kedatangan sampan merah itu.

Yang satu meluncur datang yang lain menyongsong pergi, ibaratnya dua buah anak

panah yang terlepas dari busurnya, sekejap kemudian selisih jarak kedua buah perahu itu

tinggal dua kaki saja.

Betapa terperanjatnya kedua orang tukang perahu itu setelah melihat sampan merah

tersebut langsung menerjang keperahu mereka, cepat-cepat mereka mendayung dengan

sekuat tenaga untuk memutar haluan perahu dengan menyingkir ke sebelah kiri.

Tapi rupanya sampan merah itu memang bermaksud mencari gara-gara, mendadak

mereka putar haluan kembali dan meluncur pula ke muka untuk meneruskan terjangannya

ke atas perahu yang ditumpangi Gak Lam-kun.

Merasakan gelagat tidak baik, terutama setelah dilihatnya orang hendak merusak

mangkuk nasi mereka, serentak dua orang tukang perahu itu melompat bangun lalu

dengan menggunakan dayung ditangan, mereka siap membela diri.

Ji Kiu liong tidak berpeluk tangan belaka, dia melompat keluar lalu merampas sebuah

dayung dari tangan tukang perahu itu dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Ketika selisih jarak antara kedua buah perahu itu tinggal dua tiga depa belaka, serentak

Ji Kiu-liong menggerakkan lengan kanannya dan menutul ujung perahu merah itu dengan

dayung.

Pada saat itulah, tiba-tiba cahaya putih berkelebat keluar menyilaukan mata, tahutahu

muncul sebilah pedang yang langsung menebas ke arah dayung Ji Kiu-liong diiringi

gelak tertawa yang merdu. “Hei, hati-hati dengan dayungmu, awas kalau kena di papas

kutung…..”

“Aaaah…..belum tentu!”

Cepat si anak muda itu putar pergelangan tangannya memutar dayung itu ke samping,

kaki kirinya menginjak dipinggir perahu sementara kaki kananya menyongsong datangnya

terjangan perahu itu sambil putar dayung dengan jurus Hong-im-pit-gwat (menyegel awan

menutup rembulan).

Serangan itu ditujukan untuk memaksa lawan menarik kembali senjatanya. Setelah itu

sepasang kakinya direntangkan dan diapun melompat ke atas perahu lawan.

Bentakan nyaring segera menggelegar memecahkan keheningan jendela segera

terpental lebar dan sesosok bayangan manusia berikut pedangnya menerobos keluar

dengan kecepatan yang luar biasa.

Dengan lompatnya itu, orang tak justru sudah mendahului pemuda kita untuk berdiri

lebih dulu diatas perahu yang ditumpangi Gak Lam-kun.

Ketika itu Ji Kiu-liong baru saja berdiri tegak ketika pedang lawan sudah menerobos

tiba dengan membawa kilatan cahaya yang menyilaukan mata.

Buru buru Ji Kiu-liong menarik tubuhnya sambil melompat mundur ke belakang,

dayungnya menyapu kedepan untuk menghalau serangan tersebut, tapi pergelangan

tangan lawan sudah keburu berputar, ujung pedangnya dengan membawa getaran cahaya

keperak perakan yang menyilaukan mata tahu-tahu mengancam urat nadi penting diatas

pergelangan tangan kanan Ji Kiu-liong.

Sungguh cepat serangan pedang itu. Rasanya jarang ditemui dikolong langit dewasa

ini.

Ji Kiu-liong sangat terperanjat, ia merasa dua buah serangan pedang yang dilancarkan

orang itu sedemikian cepatnya, sampai-sampai dia tak empat menyaksikan raut wajah

lawannya yang sebenarnya.

Ketika pikirannya bercabang, sekali lagi dia kena didesak sehingga mundur selangkah

ke belakang. Lebar sampan kecil itu cuma beberapa kaki saja setelah didesak berulang kali

oleh si baju merah, ia sudah mundur sampai ditepi perahu, tapi saat itu juga pemuda

tersebut dapat melihat juga kalau musuhnya tak lebih hanya seorang nona cilik berusia

empat lima belas tahunan yang mengenakan baju warna merah dengan muka seperti

bunga Tho, rambut tergulung menjadi satu, mata yang jeli bibir yang mungil serta

senyuman yang polos.

Setelah berhasil dengan serangan-serangannya nona kecil berbaju merah itu semakin

tak mau mengalah, sambil tertawa cekikikan, pedangnya sekali lagi menggulung kedepan

membacok tubuh bagian tengah dari anak muda itu.

Padahal Ji Kiu-liong sudah berdiri ditepi perahunya, bila ia sampai terdesak mundur

selangkah saja, niscaya tubuhnya akan tercebur ke dalam te laga padahal pemuda itu

masih bingung dan tak tahu bagaimana caranya untuk memecahkan jurus serangan

lawan.

Gak Lam-kun yang berada dalam ruangan dengan wajah murung, kali ini tampil dengan

sikap keheranan dia tahu ilmu silat yang dimiliki Ji-Kiu-liong cukup tangguh sebab

sendirilah yang mendidik anak muda itu sejak kecil, tapi nyatanya untuk menghadapi

seorang bocah perempuan dengan usia sebaya saja ia tak sanggup mempertahankan diri,

malahan secara berulang-ulang kena didesak sampai tak bertenaga untuk melancarkan

serangan balasan, siapa tak jadi kaget karenanya?

Dengan dahi berkerut Gak Lam-kun segera memberi petunjuk, “Lam-hay-poh-liang

(menangkap naga dilaut selatan)!”.

Waktu itu Ji Kiu-liong sedang gugup dan gelagapan setengah mati, maka demikian

mendapat petunjuk dari Gak Lam-kun, seperti baru sadar dari impian, secepat sambaran

petir tubuhnya melejit ke udara, lalu berputar keselatan mengikuti gerakan pedang, begitu

berhasil merebut posisi ti-ong kiong, tangan kirinya segera menyambar kemuka balas

mencengkeram pergelangan tangan kanan si nona baju merah yang memegang pedang.

Jurus serangan tersebut memang tangguh dan luar biasa, si nona berbaju merah itu

benar-benar tak mampu menghindarkan diri.

Hampir saja telapak tangan kanan Ji Kiu-liong mencengkeram diatas pergelangan

tangan nona itu ketika satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, cepat dia tarik

kembali tangannya, lalu menggunakan kesempatan tersebut badannya berputar satu

lingkaran dan menyelinap ke belakang punggung si nona.

Merah padam selembar wajah si nona berbaju merah itu lantaran jengah, ia segera

membentak gusar, “Kau tak usah berlagak sok gagah, huuh! Tak tahu malu!”

Ditengah bentakan nyaring, pedangnya melancarkan serangan semakin gencar, maka

tampaklah cahaya bayangan setinggi bukit dan menekan tiba tiada hentinya, semua

serangan tertuju pada jalan darah penting di sekujur badan Ji Kiu-liong.

Ji Kiu-liong mendengus dingin. “Hmm….. budak sialan, siapa yang kau maki?”

tegurnya.

Serangannya dipergencar, dalam waktu singkat tiga buah pukulan berantai sudah

dilepaskan secara beruntun, ini membuat gadis tersebut terdesak hebat sehingga harus

mundur dua langkah untuk menyelamatkan diri…….

Saking marahnya sepasang alis mata sinona kecil berbaju merah itu sampai melentik,

dengan mata melotot karena gusar bentaknya, “Kunyuk kecil, siapa yang kau maki?

Memangnya kalian sudah bosan hidup semua?”

Permainan pedangnya segera berubah, kali ini dia menyerang dengan jurus serangan

yang jauh lebih dahsyat, sekejap kemudian ilmu jurus sudah lewat tanpa terasa.

Dasar masih muda dia berjiwa panas, sementara pembicaraan baru saja berlangsung,

kedua orang itu sudah saling bertempur belasan gebrakan banyaknya, yang dipakaipun

rata-rata merupakan jurus serangan terkeji dan arah yang dituju juga jalan darah

kematian di tubuh manusia.

Gak Lam-kun yang menyaksikan jalannya pertarungan itu, mengerutkan dahinya

semakin rapat, namun sepasang matanya masih tetap mengawasi jalannya pertarungan

tanpa berkedip.

Ji Kiu liong diam-diam mengakui juga akan kelihayan ilmu pedang lawannya, waktu dia

rada lega karena mendapat petunjuk dari Gak Lam-kun hingga bisa lolos dari jebakan

lawan, tahu-tahu si nona berbaju merah itu sudah menyerang lagi dengan jurus Pek-imjut-

siu (awan putih muncul dari lembah).

Dengan cepat Ji Kiu-liong berkelit ke samping sambil melancarkan serangan balasan,

telapak tangan kirinya menggunakan jurus Tui-bung-kian-san (mendorong pintu melihat

bukit), sedang tangan kanannya menggunakan jurus Sam-seng-cut-gwat (tiga bintang

mengejar rembulan), yang atas menyerang jalan darah Thian-leng-hiat, yang bawah

mengikut Ci-jit-hiat di lengan.

Si nona berbaju merah itu segera membuyarkan pedang sambil berkelit kesamping Ji

Kiu-liong menerobos maju makin kedepan, begitu tiba di samping si nona, telapak tangan

kanannya secepat kilat membacok kebawah dengan jurus Pang-hoa hud-liu(disini bunga

pohon liu melambai)……..

Jurus serangan itu adalah salah satu diantara tiga jurus yang ampuh diajarkan Gak

Lam-kun kepada anak muda tersebut, jurus itu paling tetap di gunakan untuk suatu

pertarungan jarak dekat.

Serentak si nona berbaju merah itu merasakan pergelangan tangan kanannya yang

memegang pedang jadi kaku, dan tahu-tahu dia sudah termakan sebuah sapuan ujung jari

pemuda itu.

Gak Lam-kun kuatir kalau Ji Kiu-liong melancarkan serangan mematikan tiba-tiba ia

berseru, “Adik liong, cepat tahan!”

Mendengar seruan itu, Ji Kiu-liong benar-benar tak berani turun tangan keji, ia tarik

kembali serangan sambil melompat mundur ke belakang sementara cekalan si nona baju

merah atas senjatanya mengendor, pedangnya itu lantas terjatuh ke atas geladak.

Tapi menggunakan kesempatan itulah mendadak nona itu melompat kedepan, secepat

kilat telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan ke depan.

Mimpipun Ji Kiu-liong tidak menyangka kalau nona itu tak mau menghentikan

pertarungan sampai disini saja. untuk sesaat sulitlah baginya untuk menghindarkan

diri…….

Tak ampun sebuah pukulan keras dengan telak bersarang diatas dadanya……..

Ji Kiu-liong menjerit tertahan lalu muntah darah segar, seluruh tubuhnya mencelat ke

belakang dan tercebur kedalam telaga.

Betapa terkejutnya Gak Lam-kun ketika dilihatnya Ji Kiu-liong tercebur kedalam telaga

dengan tubuh menderita luka parah, lalu tangannya berkelebat dan menyambar tubuh Ji

Kiu-liong yang baru tercebur kedalam telaga itu.

Begitu korbannya berhasil disambar, telapak tangan kirinya kembali menepuk

permukaan air telaga, menggunakan tenaga pantulan tersebut sambil memandang tubuh

Ji Kiu-liong, tubuhnya melambung lima depa ke udara, kemudian berjumpalitan dan

melayang turun dengan tenangnya diatas geladak.

Ketika itu si nona kecil berbaju merah berdiri termangu-mangu disana dengan wajah

tercekat rupanya dia tak mengira kalau serangannya berhasil melukai lawannya, maka

waktu Gak Lam-kun menyalamatkan dirinya saudaranya dari air telaga dia malah berdiri

mematung.

Setelah diatas geladak, Ji Kiu-liong yang berada dalam bopongan Gak Lam-kun tiba-tiba

melejit bangun, lalu sambil membentak marah dia menerjang ke arah si nona berbaju

merah itu…….

“Duuub…….!” sebuah pukulan dahsyat bersarang pula diatas dada si nona cilik berbaju

merah sambil mendengus tertahan, nona itu mundur tiga langkah dengan sempoyongan,

kemudian roboh kejengkang ke atas geladak dengar wajah pucat pias bagaikan mayat.

Ji Kiu-liong sendiri, begitu berhasil menyerangkan pukulan di tubuh lawan dia mundur

dengan sempoyongan, setelah muntah darah segera pelan-pelan tubuhnya roboh

terjengkang pula ke atas geladak

Yaa, pada hakekatnya kedua orang muda-muda itu sama-sama tak ada yang mau

mengalah, akibatnya kedua belah pihak sama-sama berluka parah.

Sambil gelengkan kepalanya Gak Lam-kun menghela napas panjang, dia maju dan

membopong tubuh Ji Kiu-liong.

Belum habis helaan napas panjangnya, tiba-tiba terdengar suara helaan napas lain

berkumandang pula dari belakang.

Dengan cepat Gak Lam-kun berpaling, ia lihat seorang pemuda berbaju putih berada

diatas sebuah sampan kecil kurang lebih lima kaki disisi sara pan merah tersebut, waktu

itu dengan melangkah diatas ombak orang itu sedang bergerak mendekat

Sepintas lalu, orang itu tampak berjalan sangat lambat, padahal cepatnya bukan

kepalang, dalam waktu singkat dia membopong tubuh si nona berbaju putih itu dan

melayang kembali ke atas sampan merah tersebut

Lalu beberapa dayungan saja, sampan itu berlalu pula dari sana dan lenyap ditengah

gulungan ombak.

Gak Lam-kun yang menyaksikan kejadian itu merasa amat terkejut padahal ilmu

meringankan tubuh yang dimilikinya memang, sempurna dan tak sulit baginya untuk

berjalan pula diatas ombak seperti apa yang dilakukan orang itu.

Tapi cara pemuda berbaju putih itu berjalan diantara gulungan ombak mempunyai

kelainan dibandingkan dengan cara pada umumnya, yang lebih sulit lagi ternyata

langkahnya begitu santai dan lembut hingga sepintas lalu orang akan menganggap dia

berjalan dengan sangat lambat, padahal kecepatannya tak terkirakan.

Sejak orang itu menghela napas sampai dia pergi sambil memandang nona berbaju

merah itu, boleh dibilang waktu yang dipakai teramat singkat, jelek-jelek begini Gak Lamkun

termasuk juga seorang jago persilatan yang amat lihay, tapi kenyataannya dia tidak

berhasil menyaksikan raut wajahnya.

Rasa kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Gak Lam-kun, pikirnya, “Ilmu

meringankan tubuh yang dimiliki orang ini sungguh amat lihay dan jelas setingkat diatas

kepandaianku, siapakah dia? Kenapa belum pernah kudengar kalau dalam dunia persilatan

terdapat seorang jagoan muda selihay itu?”

Tanpa sadar Gak Lam-kun mengawasi berlalunya orang itu dengan terpesona, hampir

saja dia lupa untuk memeriksa luka yang diderita Ji Kiu-liong.

Dua orang tukang perahunya waktu itu sedang berlutut sambil menyembah ke arah

dimana orang tadi lenyap, mulut mereka berkemak-kemik seperti sedang berdoa rupanya

mereka sudah menganggap pemuda berbaju putih tadi sebagai malaikat yang baru turun

dari kahyangan. Tiba-tiba Ji Kiu-liong merintih, “Toako… aku…. aku kedinginan…..?

Seperti baru sadar impian, Gak Lam-kun segera memeriksa keadaan tubuh saudaranya

itu, ia merasa jidatnya dingin bagaikan salju kenyataan ini membuat jago muda kita

merasa amat terperanjat, ia tak tahu ilmu pukulan apakah yang telah dipergunakan lawan

untuk melukai Ji Kiu-liong itu?

Jilid 3

KETIKA dia masih melamun, Ji Kiu-liong sudah merintih lagi dengan penuh penderitaan,

‘Toako…Oh toako… sekujur urat nadiku terasa sakit, darah yang mengalir seperti mendidih

tapi badanku kedinginan sekali, seperti terjatuh kedalam liang bawah tanah yang dingin

dan membeku.

Mendengar ucapan tersebut Gak Lam-kun menjerit kaget, secepat kilat tangan kirinya

menotok delapan buah urat penting disekujur badan Ji Kiu-liong kemudian terakhir

sepasang tangannya menempel diatas pusar anak muda itu…

Bagaimana hasilnya? Rasa kedinginan yang dialami Ji Kiu-liong sama sekali tidak

berkurang, dia malah merintih kesakitan, sekujur badannya makin lama makin membeku

membuat Gak Lam-kun makin gelisah dibuatnya.

Secara beruntun dia telah mencoba dengan berbagai cara pengobatan untuk

mengurangi penderitaan dari saudaranya, namun hasilnya tetap nihil, pengobatannya tidak

berhasil juga untuk mengurangi penderitaan yang dialami Ji Kiu-liong. bocah muda itu

tetap kesakitan dan kedinginan bahkan selang sesaat kemudian ia malah jatuh tak

sadarkan diri.

Gak Lam-kun yang memondong tubuhnya seakan-akan memondong sebuah batu

pualam yang amat dingin.

Percuma Gak Lam-kun memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, nyatanya ia tak

berhasil mengetahui luka apakah yang diderita Ji Kiu-liong mendadak satu ingatan

melintas dalam benaknya sambil memondong tubuh Ji Kiu-liong yang dingin kaku dia

melompat ke arah sampan kecil yang masih terombang-ambing dipermainkan ombak itu.

Rupanya dia bermaksud membawa Ji Kiu-liong yang tak sadarkan diri untuk menyusul

si anak muda berbaju putih itu..

Tapi belum jauh ia berjalan tiba-tiba diantara gulungan ombak nan hijau, dari puluhan

ombak sebelah depan situ meluncur datang sebuah sampan berwarna merah, sampan itu

meluncur datang ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya dan sastrawan

berbaju putih itu berdiri diujung geladak.

Tak selang sesaat kemudian, sampan itu sudah mendekati perahu yang ditumpangi Gak

Lam-kun.

Ketika mencapai jarak empat kaki dari sampan itu, mendadak sampan merah itu putar

haluan dan berhenti, sementara sastrawan berbaju putih yang berdiri diujurg perahu

dengan setengah melirik Gak Lam-kun tiba-tiba tersenyum.

“Aliran hawa murni mengalir terbalik dalam delapan nadi penting, bila ditembuskan

sampai Hian kwan, hawa itu akan balik kembali ke pusar!” ujarnya dari kejauhan dengan

suara lembut.

Dibalik senyuman manisnya tersimpan beberapa bagian keanehan yang misterius, ia

tampak demikian tampannya dibawah sorot cahaya matahari, membuat Gak Lam-kun

sedikit tergetar juga hatinya setelah menyaksikan hal itu.

“Oooh…belum pernah kujumpai pemuda setampan dia didunia dewasa ini!”

Dalam pada itu, sastrawan berbaju putih itu sudah memutar kembali sampan merahnya

sambil menjauh dari sana, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap ditempat

kejauhan sana.

Menunggu bayangan orang sudah tak kelihatan lagi, Gak Lam-kun baru menghela

napas ringan, dengan mengikuti cara pengobatan yang diterangkan pemuda berbaju putih

tadi dia menyalurkan tenaga dalamnya kedalam kedelapan buah nadi penting ditubuh Ji

Kiu-liong, kemudian sesudah berputar satu lingkaran hawa murni itu ditembuskan

langsung ke Hian kwan kemudian digiring lagi masuk kedalam tiam-tam yang terletak

dipusar.

Betul juga, setelah hawa panas mulai mengalir didalam pusar Ji Kiu-liong, hawa hangat

itu segera membumbung ke atas dan menyusup kedalam keempat anggota badannya,

dimana hawa dingin yang membekukan badan lambat laun terdesak keluar, paras muka

yang pucat piaspun berubah jadi merah kembali, hanya saja ia belum sadarkan diri.

Untunglah tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun cukup sempurna, kendatipun cara

pengobatan semacam itu paling banyak membutuhkan tenaga, tapi dengan tenaga

murninya yang amat sempurna pemuda itu tidak nampak kecapaian kecuali diatas paras

mukanya yang tampan semakin diliputi oleh kemurungan yang makin menebal.

Sebagaimana diketahui, kedatangan Gak Lam-kun kebukit Kun-san kali ini adalah demi

mengemban tugas penting dari gurunya untuk menerima Lencana Pembunuh Naga yang

dibawa oleh Soat-san Thian-li (perempuan langit dari bukit salju).

Pada mulanya, dia merasa tugas itu tidak akan terlalu banyak menemui kesulitan, tapi

belakangan ini, orang-orang persilatan pada hakekatnya sudah dibuat mata gelap oleh

kemustikaan Lencana Pembunuh Naga itu, malah jagoan yang berkumpul disekitar bukit

Kun-san tak terhitung jumlahnya, hal ini mengakibatkan perasaannya menjadi bertambah

berat.

Kendati demikian, dasar sebagai pemuda yang angkuh, ditambah lagi ia merasa bahwa

ilmu silatnya tiada tandingan dikolong langit, sekalipun harus berhadapan dengan sekian

banyak jago silat yang mengincar mustika itu, ia tak pandang sebelah matapun kepada

mereka.

Tapi sekarang, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa lihaynya sastrawan

berbaju putih itu, meskipun ia belum menyaksikan kepandaian silatnya, tapi demontrasi

berjalan diatas ombak yang dilakukan orang itu sudah cukup membuktikan bahwa ilmu

meringankan tubuhnya sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Dan sekarang, sastrawan tersebut memberitahukan pula bagaimana caranya mengobati

luka kedinginan yang diderita saudaranya, dari kesemuanya itu semakin terbuktilah sudah

bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu benar-benar luar biasa.

Demikianlah, kurang lebih seperminuman teh kemudian, Ji Kiu-liong telah sadar kembali

dari pingsannya.

Dengan kepala tertunduk Gak Lam-kun memeriksa sebentar keadaan lukanya, lalu

bertanya, “Adik Liong, apakah kau merasa ada sesuatu bagian tubuhmu yang kurang

enak?”

Sambil menggigit bibir menahan gemasnya, Ji Kiu-liong segera berseru, “Toako, bila

aku sampai berjumpa lagi dengan dayang itu, pasti akan kusuruh dia rasakan penderitaan

yang jauh lebih hebat!”

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari arah belakang berkumandang

suara bisikan lembut, “Saudara cilik, pukulan yang kau lancarkan tadi sudah cukup

membuat dia menderita!”

Dengan terperanjat Gak Lam-kun berpaling ia lihat sampan merah yang, sudah berlalu

itu entah sejak kapan sudah balik lagi, bahkan berlalu kurang lebih sepuluh kaki

dibelakang sampannya.

Sekalipun selisih jarak antara kedua buah perahu itu masih jauh akan tetapi suara

pembicaraan dari sastrawan si baju putih itu seakan-akan berkumandang disisi telinganya,

dari sini semakin terbukti bahwa tenaga dalam yang dimiliki lawan memang benar-benar

amat sempurna.

Agak tertegun Gak Lam-kun menyaksikan kesemuanya itu, sepasang matanya

berkerenyit.

Sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu Ji Kiu-liong sudah membentak lebih dulu,

“Siapa kau? Darimana bisa tahu kalau pukulan yang kulancarkan itu sudah cukup

membuat dayang tersebut menderita?”

Mendengar pertanyaan itu, si sastrawan berbaju putih itu tertawa berderai-derai.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…ilmu Sau-yang-tong-im sin-kang (ilmu jejaka hawa

panas)yang saudara cilik miliki memang luar biasa lihaynya, andaikata dia tidak melatih

ilmu Soh-li ciat-im sin-kang (hawa dingin gadis perawan), niscaya jiwanya sudah kabur ke

alam baka sejak tadi”

Sekali lagi Gak Lam-kun merasa terkejut sesudah mendengar nama Soh-li-ciat-imsinkang

tersebut, sebab dia tahu bahwa ilmu sakti itu merupakan kepandaian ampuh

aliran Lam-hay, bukankah itu berarti pula bahwa kedua orang itu masih mempunyai

hubungan dengan Lam-hay sinni?

Tertebak jitu ilmu kepandaian andalannya, untuk sesaat Ji Kiu-liong berdiri terbelalak

dengan mulut melongo, dia tak mampu berkata-kata yang bisa dilakukan tak lebih hanya

memandang ke arah Gak Lam-kun dengan sinar mata bodoh.

Gak Lam-kun sendiri setelah tertegun sesaat dia seperti hendak mengucapkan sesuatu,

tapi sebelum kata-katanya meluncur keluar dengan suara yang nyaring sastrawan berbaju

putih itu sudah berkata lebih jauh, “Duduk diatas sampan yang sempit hanya akan

membiarkan tubuh basah oleh percikan ombak yang berhamburan, sungguh merusak

suasana. Jika tidak keberatan, bagaimana kalau naik ke atas perahu kami?”

Terhadap kemunculannya yang secara tiba-tiba itu, Gak Lam-kun memang berhasrat

untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, maka mendengar tawaran tersebut tanpa

berpikir panjang lagi dia berpaling ke arah tukang perahu itu sambil ulapkan tangannya.

“Hei tukang perahu!” serunya, “lebih baik kalian kembali dulu…”

Habis berkata, tiba-tiba Gak Lam-kun melompat kedepan dan melayang diatas

permukaan telaga dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna,

dalam beberapa tindakan saja tahu-tahu ia sudah mencapai diatas sampan merah.

Ji Kiu-liong terpaksa harus cepat-cepat mendayung sampan kecilnya untuk menyusul

kedepan.

Tampaknya demontrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukan Gak Lam-kun itu

mendatangkan rasa terkejut pula dihati sastrawan berbaju putih itu, sebab pada

hakekatnya gerakan yang dilakukan pemuda itu jauh berbeda dengan ilmu meringankan

tubuh pada umumnya, dan kepandaian tersebut sedikitpun tidak berada dibawah

kepandaian berjalan diair dari sastrawan berbaju putih tadi.

Padahal untuk menyeberangi permukaan telaga seluas beberapa kaki itu, orang harus

memiliki hawa murni yang betul-betul sempurna, dan berarti pula bahwa tenaga dalam

yang dimiliki Gak Lam-kun betul-betul sudah amat sempurna.

Ji Kiu-liong melompat naik ke atas sampan disusul kemudian oleh Gak Lam-kun, begitu

sepasang kakinya menginjak diatas geladak, bagaikan anak panah yang terlepas dari

busurnya, sampan itu bergerak kedepan membelah ombak.

“Hebat benar ilmu silat yang kau miliki” kata sastrawan berbaju putih itu sambil

tertawa, “hari ini aku merasa beruntung sekali dapat naik sampan bersama-samamu”

Gak Lam-kun tersenyum.

“Tidak berani, tidak berani, justru akulah yang merasa beruntung dapat berkenalan

dengan jago tangguh selincah harimau segesit naga macam dirimu!”

Menggunakan kesempatan dikala pembicaraan masih berlangsung, Gak Lam-kun

mengamati sastrawan berbaju putih yang berada dihadapannya itu.

Pemuda itu memang menarik hati, alis matanya ibarat semut beriring, mukanya seperti

buah Tho yang masak, kulitnya halus dan putih seperti sakura ditengah salju, demikian

menawannya hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Ada sesuatu yang istimewa diantara keagungannya itu, yakni dia mempunyai sepasang

mata setajam sembilu, membuat siapapun tak berani menengoknya lebih jauh.

Sastrawan berbaju putih itu supel sekali, dia tertawa tergelak dan berkata, “Saudara,

pertemuan ditelaga Gak-ciu terhitung juga suatu jodoh yang tak bisa dibantah, untuk

mempererat hubungan, bolehkah tahu siapa namamu?”

“Aku bernama Gak Lam-kun, dan saudara?”

Sastrawan berbaju putih itu tersenyum, biji matanya berputar sebentar kemudian baru

menjawab, “Aku bernama Bwe Li-pek!”

Gak Lam-kun mengerutkan dahinya, tapi dengan cepat dia tertawa lagi.

“Saudara Bwe, namamu memang bagus sebagus orangnya, suatu perpaduan yang

serasi”

Sastrawan berbaju putih itu tertawa ewa, dia tidak menjawab malah mengalihkan sorot

matanya ketempat kejauhan, memandang ombak telaga yang saling berkejaran, lambatlaun

timbul suatu kemasgulan diantara kerutan alis matanya.

Gak Lam-kun tertegun, sekalipun dia cerdik toh dibuat kebingungan juga oleh sikap

rekan barunya jtu.

Akhirnya setelah berpikir sebentar, dengan nada menyelidik dia bertanya kembali,

“Bwe-heng, bolehkah kutahu, jauh-jauh dari Lam hay kau datang kedaratan Tionggoan,

sebenarnya ada urusan apa?”

Bwe Li-pek berpaling, ditatapnya wajah Gak Lam-kun dengan sepasang biji matanya

yang bening seperti kaca lalu lambat-lambat jawabnya lirih, “Darimana kau bisa tahu kalau

aku datang dari Lam-hay? Aaai… aku datang kemari untuk mencari seseorang!

Berdebar jantung Gak Lam-kun ketika sorot matanya saling membentur dengan sinar

mata orang, dia merasa betapa menawannya sorot mata orang itu, demikian keren dan

berwibawanya sehingga mirip sekali dengan sepasang biji mata Ji Cin-peng, kekasihnya

yang telah tiada.

Terbayang kembali akan kekasihnya yang telah tiada, kesedihan, kemurungan dan

kepedihan tiba-tiba saja menyelimuti seluruh perasaannya, ia menjadi murung dan

masgul, ditatapnya permukaan telaga dengan termangu dan terpesona…

“Yaa, betapa sedih dan murungnya pemuda itu!

Helaan napas panjang dari Bwe Li-pek menyayat keheningan disekeliling tempat itu,

ketika Gak Lam-kun berpaling kembali sastrawan itu sudah beranjak, pelan-pelan

dia berjalan menuju keujung perahu, berdiri membelakanginya dan memandang nun

jauh disana dengan termangu. Tiada suara yang terdengar, kecuali kibaran ujung bajunya

yang terhembus angin.

Tiba-tiba satu ingatan kembali melintas dalam benak Gak Lam-kun, dia merasa

potongan badan sastrawan berbaju putih itu terlalu mirip dengan punggung Ji Cin peng.

Sang surya sudah condong diujung langit sebelah barat, tak lama kemudian senja pun

menjelang tiba.

Sampan itu bergerak makin lama semakin lambat, ternyata setelah melaju satu

putaran, kini mereka sudah berada didermaga sebelah timur kota Gak-ciu.

Bwe-Li-pek berpaling, kemudian katanya sambil tertawa, “Sisa sinar senja yang terbias

dari sang surya sungguh tampak indah menawan, sayang malam yang gelap sebentar lagi

akan menjelang tiba. Saudara Gak terpaksa siaute harus berpisah denganmu”

Waktu itu Gak Lam-kun sudah tahu kalau sastrawan yang tampaknya lemah gemulai itu

pada hakekatnya adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi.

Padahal Gak Lam-kun juga orangnya angkuh, buktinya terhadap Han Nio nio yang

cantik jelita dan mempesona hati, serta Si-Tiong-pek dari Tiat eng-pang yang hangat

dalam pergaulan, dia tidak menaruh kesan apa-apa.

Entah mengapa, sikapnya terhadap Bwe Li pek ternyata lain daripada yang lain, ia

merasa kagum dan berkesan sekali, karena itu ketika sastrawan tersebut hendak mohon

diri, dia jadi tertegun.

“Saudara Bwe, apakah kita harus berpisah dengan begini saja?” serunya setengah

berbisik.

Bwe-Li-pek tertawa.

“Orang yang terlampau berkesan akhirnya cuma mendapatkan kekecewaan, apakah

tidak seharusnya aku berpisah dengan dirimu?”

Gak Lam-kun tertegun, ia tak dapat menangkap arti lain dari perkataan itu.

“Meskipun kita baru berjumpa muka” demikian katanya kemudian “tapi aku sudah

merasa cocok dengan dirimu, saudara Bwe, apa salahnya kalau kita mengangkat cawan

untuk menggalang persahabatan yang jauh lebih akrab lagi?”

Bwe Li-pek tidak menjawab, sebaliknya malah bergumam seorang diri, “Arak yang

mengalir dalam usus kemurungan, paling gampang menimbulkan air mata kenangan

daripada bertemu lebih baik tak bertemu, hubungan yang akrab hanya menimbulkan

kesan mendalam, aai..! Kalau sudah tahu bakal berpisah kenapa harus diadakan suatu

pertemuan?”

Ucapan itu amat lirih, lembut bahkan hampir tak kedengaran, bukan ditujukan untuk

diri sendiri, seakan-akan dia memang sengaja mengucapkan kata-kata tersebut khusus

ditujukan buat permukaan telaga…

Gak Lam-kun segera menghela napas panjang.

“Aaa! Saudara Bwe siaute tahu bahwa aku ini orang yang tak becus, aku memang tidak

pantas menggalang persahabatan dengan orang pandai seperti saudara Bwe ini. Yaa kalau

memang begitu terpaksa siaute harus…”

Tiba-tiba Bwe Li-pek berpaling helaan napasnya yang pedih memotong perkataan Gak

Lam-kun lebih jauh. Dari balik matanya memancar keluar sinar kelembutan yang penuh

kemesraan, bukan sinar mata setajam sembilu yang menggidikkan hati melainkan sorot

mata yang murung, sorot mata yang sedih, kehangatan yang tak terkirakan bagaikan

dalamnya samudra bagaikan bersihnya sinar rembulan.

Tertegun Gak Lam-kun ketika sinar matanya bertemu dengan sorot mata Bwe Li-pek

dia berdiri termangu lupa untuk kata-kata selanjutnya yang akan diutarakan…

Bwe Li-pek tersenyum kembali dia berkata, “Bila engkau bersedia menerima

kemurungan lebih mendalam pada perpisahan nanti, baiklah malam ini mari kita minum

arak ditengah telaga sambil menikmati indahnya bulan purnama”

Baru selesai dia berkata, tiba-tiba dari balik ruang perahu berkumandang suara sapaan

yang merdu “Bwe siocia…”

Seorang nona kecil berbaju merah melompat keluar dari dalam ruangan ketika melihat

kehadiran Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong dalam perahu tersebut, tiba-tiba ia tahan kembali

kata-katanya.

Dengan sepasang matanya yang jeli dia melotot sekejap ke arah Ji Kiu-liong, kemudian

mendengus dingin.

“Hmm…! Bocah keparat, setelah puas mempermainkan aku, berani betul kau datangi

perahu kami ini?”

Ji Kiu-liong tertawa dingin.

“Budak ingusan, kau belum puas, bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan lagi?”

“Adik Liong, jangan kurangajar!” hardik Gak Lam-kun.

Sementara itu dipihak lain Bwe Li pek juga menegur nona kecil berbaju merah itu.

Karena ditegur, si nona baju merah itu menjulurkan lidahnya sambil membuat muka

setan.

“Waduh rupanya Bwe…Bwe toako sudah saling berkenalan?” godanya.

Tiba-tiba Ji Kiu-liong berkata sambil tertawa ringan, “Nona, itu namanya kalau tidak

berkelahi kita tak akan berkenalan, bila kau bersedia melupakan sakit hati, aku Ji Kiu-liong

juga bersedia untuk mengikat tali persahabatan denganmu”

Nona kecil berbaju merah itu mendesis lirih.

“Huuuh…! Masa kau tidak tahu kalau antara lelaki dan perempuan itu ada batasbatasnya?

Tak sudi aku Pek Siau-soh berkenalan dengan monyet kecil seperti kau”

Kena diserobot dengan kata-kata yang pedas dari nona tersebut, kontan saja air muka

Ji Kiu-liong berubah menjadi merah padam, dengan tersipu-sipu dia tundukkan kepalanya

rendah-rendah.

Untung Bwe Li-pek menengahi, sambil tertawa ringan dia berkata, “Saudara cilik,

saudara Gak! Harap kalian jangan marah, adikku ini memang nakal, sifat kekanakkanakannya

belum hilang, jadi kalau kurang sopan yaa tolong dimaafkan!”

Gak Lam-kun gelengkan kepalanya sambil menghela napas.

“Dua orang bocah itu sama-sama lincahnya, sama-sama polosnya, aaai…..!Jarang

dijumpai manusia-manusia seperti mereka”

Suara air telaga yang membelah kesamping mendadak terdengar dari belakang,

ternyata sampan tersebut pelan-pelan kembali bergerak menuju ketengah telaga.

Sekarang Gak Lam-kun baru menaruh perhatian, rupanya kecuali Bwe Li-pek dan Pek

Siau-soh, diatas sampan tersebut masih ada seorang lagi yakni si tukang perahu, rasa

kejutnya bukan alang kepalang.

Apa yang dia kejutkan? Ternyata sampan itu dapat bergerak cepat menerjang ombak

dan meluncur bagaikan sambaran kilat tak lain tak bukan kesemuanya adalah berkat

dayungan dari si tukang perahu atau perkataan lain, tenaga dalam yang dimiliki orang itu

betul-betul mengerikan.

Dengan perasaan terkejut Gak Lam-kun memperhatikan tukang perahu itu sayang dia

duduk membelakanginya kecuali bajunya yang berwarna abu-abu, ia tak dapat

menyaksikan bagaimanakah raut wajahnya.

Orang itu duduk dengan wajah menghadap kebelakang sekalipun sedang mendayung

dengan tangan sebelah, tampaknya tidak terlampau kepayahan, sudah jelas kalau orang

itu tidak mempunyai ilmu silat yang lihay, tak mungkin hal itu bisa dilakukan.

“Saudara Gak! kata Bwe Li pek kemudian sambil tersenyum, maaf kalau kami tidak

mempunyai persiapan yang cukup untuk menyambut kedatanganmu silahkan, silahkan,

mari duduk lebih dulu diatas geladak…!”

Dia masuk kedalam ruang perahu dan mengambil sebuah permadani putih yang tebal,

permadani itu diletakkan diatas geladak lalu Pek Siau-soh muncul dengan membawa

sebuah keranjang bambu, dari dalam keranjang dia mengeluarkan delapan macam sayur,

satu poci arak dan satu baskom penuh bakpao dingin.

“Saudara Gak” ujar Bwe Li-pek kemudian sambil tertawa, “diatas perahu tidak tersedia

api, karena itu harap kau jangan mentertawakan jika kami hanya bisa menghidangkan

sayur dingin dan arak dingin saja…”

Diangkatnya poci arak itu dan memenuhi cawan Gak Lam-kun serta Ji Kiu-liong, setelah

itu dia penuhi pula cawan arak sendiri.

Perasaan Gak Lam-kun agak tergerak terutama ketika menyaksikan jari-jari tangan Bwe

Li pek yang runcing, kulit badannya yang halus serta bau harum yang tersiar keluar dari

tubuh sastrawan tersebut.

Tapi perasaan itu hanya melintas sebentar saja, karena waktu itu tiada kesempatan

baginya untuk berpikir lebih jauh.

Bwe Li-pek mengangkat cawannya dan memberi hormat kepada rekannya, kemudian

bersama Gak Lam-kun mereka teguk habis beberapa cawan arak.

Sambil memenuhi kembali cawan masing-masing, Bwe Li-pek berkata lagi sambil

tertawa, “Selama hidup jarang kita bisa mabok beberapa kali saudara Gak! Apa salahnya

kalau kita manfaatkan kesempatan ini untuk minum arak sampai sepuasnya?”

Demikianlah, dengan diliputi perasaan yang gembira dan penuh gelak tawa dalam

waktu singkat mereka sudah menghabiskan puluhan cawan arak.

Bulan yang bulat dan memancarkan sinarnya yang bening benar-benar muncul dari

permukaan telaga sebelah timur, sinar yang lembut memancar keempat penjuru dan

mendatangkan suasana yang romantis.

Bwe Li-pek berhenti minum arak, ujarnya sambil tertawa, “Ditengah malam yang kelam,

ditengah telaga yang sunyi suasana begitu paling romantis dalam kehidupan seorang

manusia. Saudara Gak! Bagaimana kalau kau nikmati sebuah permainan serulingku

sebagai pelipur hati yang lara?”

Sambil tertawa Gak Lam-kun manggut-manggut.

Maka Bwe Li-pek masuk kedalam ruang perahu dan mengambil sebuah seruling kemala

yang halus tapi panjang.

Seruling kemala itu putih bersih dan tiada cacad, ukiran naga dan burung hong yang

menghiasi disekelilingnya tampak hidup dan indah, dalam sekilas pandangan saja Gak

Lam-kun sudah tahu kalau seruling itu adalah sebuah seruling kemala yang tak ternilai

harganya, kenyataan tersebut diam-diam mengejutkan hatinya.

Bwe-Li-pek dapat menyaksikan ketertegunan orang, dia tertawa ewa.

“Saudara Gak!” demikian ujarnya, “kendatipun seruling kemala ini mahal harganya,

sayang selama ini sukar kujumpai orang yang benar-benar memahami irama seruling,

sehingga tersia-sialah nilai tinggi seruling itu”

“Seruling mustika dapat bertemu dengan Bwe-heng, pada hakekatnya hal ini

merupakan suatu perpaduan yang amat serasi,” kata Gak Lam-kun sambil tertawa “jadi

aku rasa, seandainya seruling itu bisa merasakan dia pasti akan bersyukur atas pertemuan

ini”

Bwe-Li-pek tertawa, dia tempelkan seruling itu disisi bibir dan berkata, “Bila kau dapat

memahami irama serulingku itu baru benar-benar tidak menyia-nyiakan seruling ini”

Begitulah dia lantas meniup seruling kemala itu dan muncullah serentetan irama yang

merdu merayu.

Pada mulanya irama seruling itu lembut dan datar, tapi lama-kelamaan irama tersebut

kian bertambah tinggi, akhirnya irama lagunya begitu menyedihkan hati, membuat orang

jadi sedih dan sangat menderita.

Sejak pertama kali mendengar permainan seruling itu, Gak Lam-kun sudah merasa

hatinya pedih, apalagi setelah permainan seruling tersebut mencapai puncak kepedihan,

pemuda itu merasa tenggorokannya menjadi tersumbat, hidungnya keluar ingusnya dan

hampir saja airmatanya meleleh keluar.

Akhirnya kesadaran Gak Lam-kun hampir boleh dibilang sudah hilang sama sekali,

seluruh pikiran maupun perasaannya telah terpengaruh oleh permainan seruling itu.

Mendadak…irama seruling berhenti dan permainan yang memedihkan hatipun ikut

membuyar ditengah keheningan malam.

Gak Lam-kun menghela napas panjang katanya, “Irama lagu ini hebat sekali, aaai…!

Rasanya hanya dilangit saja dapat menjumpai permainan semacam ini, beruntunglah hari

ini aku sempat menikmatinya”

Bwe Li-pek tertawa.

“Saudara Gak toh mengerti soal irama seruling bukan? Bagaimana kalau memberi

sedikit komentar atas permainanku tadi?” pintanya.

“Iramanya sangat membetot sukma, bagaikan hujan rintik ditengah malam yang sunyi,

aaai…! Membuat orang beriba saja. Bagusnya memang bagus, cuma sayang lagunya

bernadakan kesedihan, membuat orang menjadi terkenang kembali masa sedih dimasa

lalu”

Bwe-Li-pek tertawa lagi.

“Permainan serulingku bisa mendapatkan sahabat sehati, tidak sia-sia jerih payah siaute

pada malam ini”

Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari balik ketenangan yang

mencekam telaga itu, berkumandang suara dentingan musik yang merdu dan nyaring,

dentingan tersebut entah berasal dari alat musik apa, tapi setelah mendengar suara

tersebut, tiba-tiba saja paras muka Bwe-Li pek berubah hebat.

Gak Lam-kun merasakan juga sesuatu yang aneh dia segera alihkan perhatiannya ke

arah mana berasalnya suara itu.

Sebuah perahu naga yang berbentuk sangat aneh muncul dari permukaan telaga

sebelah barat laut perahu itu, muncul tanpa menimbulkan sedikit suarapun, lalu dengan

kecepatan yang sangat tinggi melesat lewat dalam jarak belasan tombak dari sampan

cepat berwarna merah itu.

Ternyata suara dentingan musik yang nyaring itu berasal dari balik perahu aneh

tersebut.

Dengan alis mata berkenyit Bwe Li-pek berbisik kepada Gak Lam-kun, “Saudara Gak,

sebenarnya siaute merasa gembira sekali karena dapat menemani engkau bergadang

sampai pagi, sayang aku telah menjumpai suatu peristiwa yang sama sekali diluar

dugaanku, terpaksa aku harus mohon maaf dan minta diri lebih dulu. Nah, saudara Gak!

Kuhadiahkan sebuah sampan kecil untukmu, silahkan engkau kembali sendiri kedermaga!”

Gak Lam-kun sendiri juga merasa keheranan atas terjadinya peristiwa itu, setelah

tertegun sejenak, sambil merangkap tangannya memberi hormat dia berkata, “Kalau

begitu, terima kasih banyak atas layanan saudara Bwe selama setengah malam ini,

bolehkah aku tahu Bwe-heng berdiam dirumah penginapan yang mana dalam kota Gakciu?

Bila ada waktu, aku pasti akan datang untuk menyambangi dirimu”

“Aku ibaratnya burung manyar yang terbang sendirian, tempat tinggalku tak tetap,

ujung langit empat samudra adalah tempat kediamanku, apabila saudara Gak memang

berniat sungguh-sungguh untuk menganggap siaute sebagai sahabatmu, maka tidak

sepantasnya kalau engkau berterimakasih kepadaku”

“Semoga Thian yang maha adil bersedia memberi kesempatan, agar siaute dapat

bersua kembali dengan dirimu” kata Gak Lam-kun seraya menjura.

Selesai memberi hormat. Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong bersama-sama melompat naik

ke atas sampan kecil itu.

Baru saja mereka berdiri tegak diatas sampan itu, dengan kecepatan luar biasa sampan

merah yang ditumpangi Bwe-Li-pek itu sudah membelah ombak dan meluncur kedepan

mengejar ke arah mana perginya perahu aneh berbentuk naga itu.

Dengan termangu-mangu Gak Lam-kun mengawasi sampan merah itu hingga lenyap

dari pandangan, lama…lama sekali dia baru menghela napas panjang.

Tiba-tiba Ji Kiu-liong berbisik lirih, “Hei toako cepat lihat! Begitu banyak perahu yang

bergerak menuju ke arah barat laut!”

Gak Lam-kun segera menengadah betul juga dari antara dua puluh tombak disamping

mereka, berkumandang suara ombak yang memecah kesamping, disusul kemudian

muncul sebuah perahu berbentuk elang raksasa bergerak menuju kebarat laut. Perahu itu

tak lain adalah perahu yang ditumpangi Si Tiong pek bersama pasukan elang raksasanya,

mengikuti pula enam-tujuh buah titik cahaya lampu, jelas ada tujuh buah perahu layar

yang mengikuti jejak perahu pertama tadi, bergerak menuju kebarat-laut.

Kesemuanya itu segera menimbulkan kesan dalam benak Gak Lam-kun, dia merasa

tentu ada hal-hal yang luar biasa sedang terjadi dibarat laut, satu ingatan dengan cepat

melintas dalam benaknya.

“Adik Liong duduk yang baik” bisiknya kemudian, “kita akan menyusul dibelakang

mereka mari kita tengok apa gerangan yang telah tejadi disana”

Setelah Ji Kiu-liong duduk, Gak Lam-kun mengambil dan mendayung sendiri sampan

itu. Dengan cepat dan mantap sampan itu bergerak mengikuti dibelakang perahu yang

didepannya itu.

“Toako” kata Ji Kiu-liong ditehgah jalan, “aku rasa Bwe Li-pek pasti adalah seorang

tokoh persilatan yang berilmu tinggi, terutama laki-laki berbaju abu-abu yang mendayung

perahu dengan tangan tunggal itu, kekuatan tangannya sungguh mengerikan sekali. Aku

rasa seandainya dia tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak mungkin ia

dapat mendayung perahu tersebut dengan cara yang istimewa begitu”

Gak Lam-kun mengangguk.

“Apa yang adik Liong terangkan memang tepat sekali, jika kita tinjau dari kemampuan

si orang berbaju abu-abu itu mendayung perahunya, aku rasa tenaga dalam yang dimiliki

orang itu tidak berada dibawah Bwe-Li-pek maupun aku. Cuma anehnya, kalau toh dia

seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, kenapa dia rela dirinya diperintah Oleh Bwe-

Li-pek? Tidakkah kau rasakan bahwa kejadian ini aneh sekali?”

“Toako, padahal tujuanmu kebukit Kun-san adalah untuk menerima Lencana pembunuh

naga, jikalau Bwe-Li-pek sendiri juga berniat dengan benda itu, waaah! Kita benar-benar

mendapat seorang musuh yang amat tangguh sekali.”

Gak Lam-kun mendengus dingin.

“Sebetulnya ilmu silat yang kumiliki sekarang sudah tiada tandingannya lagi dalam

dunia persilatan tapi setelah kejadian demi kejadian menimpa diriku aku baru tahu kalau

diluar langit masih ada langit didalam dunia persilatan yang begitu luas, banyak jago-jago

silat yang tak terhitung banyaknya. Yaa walaupun aku merasa bukan tandingan dari jago

tangguh yang ada dalam dunia persilatan, akan tetapi akupun tidak akan membiarkan

orang lain menghalang-halangi atau merusak perintah yang dibebankan suhu kepadaku.

Aku tahu asal usul diri Bwe Li-pek memang mencurigakan, tetapi sebelum aku yakin kalau

kedatangannya adalah untuk memusuhi kita, aku tak ingin menimbulkan pelbagai

bentrokan atau perselisihan dengannya”

“Toako!” tiba tiba Ji Kiu-liong bertanya, menurut pendapatmu, mungkinkah Soat-santhian-

li(perempuan langit dari bukit salju) mengingkari janjinya dan tidak menghantarkan

Lencana pembunuh naga itu ke bukit Ku-san?”

Gak Lam-kun menghela napas sedih.

“Aaa…! sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan, suhu pernah

membicarakan soal janjinya dengan Soat-san-thiat li, meskipun penjelasannya ketika itu

tidak terperinci, tapi menurut pendapatku antara suhu dengan Soat-san-thian-li tentu

mempunyai suatu hubungan yang luar biasa, karena itu aku yakin kalau dia pasti datang

memenuhi janji. Hari ini baru tanggal sembilan, berarti tinggal enam hari menjelang bulan

Tiong-ciu tanggal lima belas. Menggunakan sedikit sisa waktu yang masih ada ini, kita

harus selidiki baik-baik jago persilatan dari mana saja yang telah berdatangan dibukit Kunsan

ini, dengan demikian kita bisa hindari segala hal yang tidak diinginkan”

“Hingga kini Soat-san-thian-li masih belum tahu kalau toakolah yang akan datang untuk

menerima Lencana Pembunuh Naga itu, bagaimana caranya untuk menemukan toako?”

kembali Ji Kiu-liong bertanya.

Gak Lam-kun tersenyum.

“Kau tak perlu kuatir adikku, irama Mi-tin-loan-hun-ci (Irama Sakti Pembingung Sukma)

dari Thian-san-soat-li tiada keduanya didunia ini, dan didunia ini kecuali mendiang guruku,

hanya aku seorang yang memahami inti sari dari irama sakti itu. Maka apabila dia mainkan

irama tadi, maka dengan mudahnya aku akan menemukan sumber dari suara

permainannya itu”

Sementara mereka masih bercakap-cakap! beberapa buah perahu besar yang bergerak

dimuka sudah lenyap dibalik kegelapan.

Dengan sorot mata yang tajam, Gak Lam-kun mencoba untuk memeriksa keadaan

disekeliling tempat itu, namun kecuali ombak yang berwarna keperak-perakan, tiada

suatupun yang kelihatan, termasuk jejak dari rombongan perahu besar tadi.

Gak Lam-kun keheranan dengan perasaan tercengang dia mengernyitkan sepasang alis

matanya.

“Aneh betul!” demikian dia berpikir “kemana larinya perahu-perahu itu? Masa mereka

dapat melenyapkan diri dengan begitu saja? Kecuali lampu-lampu mereka dipadamkan

semua, tak mungkin jejak perahu yang berada sekitar satu li disekeliling tempat ini tak

dapat diketemukan dengan jelas”

Dengan tertinggalnya anak muda itu ditengah telaga tanpa petunjuk sesuatu apapun,

terpaksa Gak Lam-kun melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke arah barat laut.

Kurang lebih setengah jam kemudian, dibawah cahaya rembulan yang berwarna

keperak-perakan, tampaklah munculnya setitik cahaya lampu ditengah permukaan telaga

yang tak bertepian, Gak Lam-kun segera memutar kemudinya dan menjalankan perahunya

menuju ke arah mana sumber dari cahaya tersebut.

Kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun tak perlu disangsikan lagi,

meskipun harus mendayung sekian lama, dia tidak nampak lelah atau kehabisan tenaga.

Sampan itu masih meluncur kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, jaraknya dengan sumber cahaya itu tinggal

tiga empat puluh tombak saja.

Sekarang, Gak Lam-kun sudah dapat melihat jelas sumber dari cahaya itu, ternyata

tempat itu tak lebih adalah sebuah perahu yang sedang membuang sauh ditepi pantai.

Perahu itu besar sekali, dan yang paling penting perahu itu bukan lain adalah perahu

aneh berbentuk naga yang bergerak tanpa menimbulkan suara itu.

Gak Lam-kun terkesiap. Segera pikirnya?

“Tak heran kalau aku kehilangan jejak, rupanya perahu-perahu itu sudah kehilangan

jejak dari perahu aneh ini. Yaa, siapa yang menduga kalau perahu naga ini sudah berlabuh

ditempat ini?”

00000O00000

Dengan perhatian yang seksama Gak Lam-kun memeriksa keadaan disekeliling tempat

itu, rupanya didepan itu merupakan sebuah pulau kecil yang luasnya mencapai puluhan

hektar lebih, kedua belah sisinya merupakan tebing karang yang saling berhadapan,

sekitar pulau juga merupakan tebing-tebing karang yang terjal dan licin hanya ditengah

pulau terdapat sebuah tanah datar yang sempit dan menjorok jauh kedalam pulau.

Semak belukar yang rindang dengan bukit yang sambung menyambung dan

menciptakan suatu pemandangan alam yang sangat indah, tempat itu tepat sekali kalau

digunakan sebagai tempat mengasingkan diri.

Gak Lam-kun mendayung perahunya dengan sangat berhati-hati, dia berputar menuju

ke arah kanan, dari sisi tebing tersebut pelan-pelan ia menepi kepantai.

Tiba-tiba…dari balik ruang perahu naga yang berlabuh nun jauh disana berkumandang

suara bentakan yang rendah tapi bernada berat, “Tangkap dua orang penyusup itu gusur

kemari!”

Berbareng dengan bentakan itu, empat orang bocah laki-laki berbaju hitam berkelebat

keluar dari balik perahu naga, lalu dengan kecepatan tinggi menerjang ke arah Gak Lamkun

serta Ji Kiu-liong.

Gak Lam-kun tidak panik menghadapi serbuan itu pelan-pelan dia mengalihkan sinar

matanya dan memandang sekejap ke arah empat orang bocah baju hitam itu.

Mereka semua baru berusia empat sampai lima belas tahunan, mukanya bersih dan

termasuk kategori tampan.

Begitu mencapai perahu musuh serentak mereka berempat meloloskan pedangnya.

Sreeet…! Senjata-senjata itu disilangkan didepan dada dengan sikap yang keren, tangan

kiri ditekuk sejajar dada dan pedang mereka ditumpangkan diatas lengan kiri yang

menyilang, begitu gagah dan berwibawanya mereka sehingga menimbulkan hawa napsu

membunuh yang mengerikan.

“Hayo ikut kami!” bentak bocah berbaju hitam yang berada diujung kanan dengan

suara keras.

Gak Lam-kun hanya tertawa dingin tiada hentinya, ia sama sekali tidak menghiraukan

teguran orang.

Lain halnya dengan Ji Kiu-liong, dia tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan,

kemudian dengan gerakan cepat dia meloloskan pedang dan membabat ketubuh lawan.

“Kurangajar, kau berani melawan? Hmm, rupanya sudah bosan hidup…?” bentak bocah

berbaju hitam diujung kanan itu semakin naik darah.

Ditengah bentakan nyaring pedang yang dipalangkan diatas lengan kirinya itu meluncur

kedepan, dengan gaya Tay-tiauw-tian-gi (rajawali raksasa mementangkan sayap) dia kunci

ancaman tersebut dengan cara keras lawan keras.

Dalam pikiran bocah berbaju hitam itu, serangan tersebut kendatipun tidak memukul

rontok senjata yang dipegang Ji Kiu-liong, paling sedikit senjata yang berada dalam

genggamannya itu akan berhasil dipukul sampai miring dari posisi semula.

Padahal Ji Kiu-liong bukan anak kemarin sore yang tak punya kepandaian apa-apa,

melihat cara orang menahan serangannya dia tertawa dingin, gerak pedang yang semula

main membabat tiba-tiba dimiringkan sedikit kesamping, lalu menggeliat sambil menusuk

kedalam.

Mengikuti gerakan pedangnya dia ikut menerobos kedepan, pedang digunakan untuk

melindungi badan dan… “Traaang!” dalam suatu benturan nyaring yang memekakkan

telinga, pedang si bocah berbaju hitam kena dikunci tergetar kesamping.

Bocah berbaju hitam kaget dia tak menyangka kalau musuhnya tangguh sekali dan

diluar dugaannya, tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, pedangnya kena dikunci

diluar lingkaran serangan.

Dalam keadaan begini buru-buru dia melompat mundur sejauh tiga langkah untuk

menyelamatkan diri.

Ji Kiu-liong merendahkan tubuhnya lalu menerobos maju lebih kedepan, dengan jurus

Po-kong-liu-im (cahaya ombak bayangan mengalir) pedangnya digetarkan keras-keras

menciptakan selapis cahaya pedang yang menyilaukan mata.

Tak sampai si bocah berganti gerakan tubuhnya ia sudah meryerang lebih jauh, kali ini

pedangnya disertai kilatan cahaya tajam menusuk kedepan dengan jurus Giok-li-to-sou

(gadis perawan memegang jarum).

“Aduuh…!” jerit kesakitan yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan

kesunyian, si bocah berbaju hitam yang berada dihadapannya tak sempat menyelamatkan

diri dadanya kena ditusuk hingga tembus kepunggungnya, darah kental seperti pancuran

menyembur keluar dan berceceran disepanjang sampan. Tewaslah orang itu dalam

keadaan yang mengerikan.

Peristiwa berdarah ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa bagi rekan-rekannya,

dua bentakan nyaring memecahkan kesunyian, dua orang bocah berbaju hitam lainnya

serentak menerjang maju dua bilah senjata dengan membawa desingan angin yang

memekakkan telinga serentak menyerang tubuh Ji Kiu-liong.

Menghadapi serangan dahyat Ji Kiu-liong tertawa terbahak-bahak, pedangnya

membalik seraya menebas, tubuhnya ikut maju bersamaan dengan menyambarnya

senjata tersebut, begitu terhindar dari bacokan senjata lawan, pedangnya kembali

berputar, sambil membiaskan selapis bunga bunga pedang yang menyilaukan mata secara

beruntun dia balas melancarkan serangan dengan jurus Im-liong san-sian (Naga berwarna

muncul tiga kali).

Bocah berbaju hitam yang ketiga ikut bertindak sambil memutar senjatanya tiba-tiba ia

menusuk kebahu kiri Ji Kiu-liong.

“Heeehhh…heeehhh…heeehhh…bagus sekali!” ejek Ji Kiu-liong sambil tertawa dingin

“kau akan menjadi setan kedua yang mampus diujung pedangku!”

Kaki kirinya maju selangkah kemuka, pedangnya yang berada ditangan kanan balik

menebas dengan jurus Liu-im-si gwat (aliran mega menutupi rembulan), pedangnya

menciptakan selapis hawa pedang yang menggidikkan tubuh.

Selapis cahaya putih dengan cepatnya menyergap kemuka, sementara telapak tangan

kirinya yang bersembunyi dibalik cahaya pedang diam-diam disentil kemuka melancarkan

sebuah sentilan maut yang mengejar jalan darah sim-kan-hiat ditubuh musuh.

Bocah berbaju hitam itu mendengus tertahan, lalu roboh terjungkal ketanah dan tewas

seketika itu juga.

Berhasil dengan serangannya, Ji Kiu-liong semakin bersemangat, pedangnya berputar

bagaikan naga sakti yang bermain diawan, pergelangan tangannya berputar kencang, lalu

dengan jurus It-huan-bu-tok (menyeberang dengan perahu layar) dia tangkis tibanya dua

ancaman yang membacok dari sebelah kiri.

Tidak sampai disitu saja, berbareng itu juga badannya menerobos maju kedepan, ujung

pedangnya menyusup masuk dari celah-celah kelemahan lawan kemudian melepaskan

sebuah bacokan.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian,

bocah berbaju hitam yang ada disebelah kanan kembali terbacok bahunya sehingga putus

menjadi dua bagian.

Sekarang tinggal seorang bocah barbaju hitam yang masih hidup, saking terkejutnya

karena menyaksikan ketiga orang rekannya mampus secara mengerikan diujung pedang Ji

Kiu-liong, dia hanya berdiri melongo seperti orang kehilangan ingatan, untuk sesaat dia

lupa untuk melancarkan serangan, dia lupa untuk bertindak lebih jauh, bahkan untuk

kaburpun lupa…

Setelah membinasakan korbannya yang ketiga Ji Kiu-liong memutar senjatanya siap

melancarkan bacokan lagi, tapi setelah menyaksikan ketertegunan lawan apalagi

musuhnya masih muda belia, dia menjadi tak tega serangannya lantas ditarik kembali

menyusul kemudian tubuhnya ikut melompat mundur.

“Pergilah!” dia berkata dengan dingin “aku tak akan mencabut selembar jiwamu!”

Saat itulah dari atas perahu naga tiba-tiba berkumandang suara tertawa dingin yang

menggidikkan bati.

“Heeehhh…heeehhh…heeehhh… bocah kunyuk kau cukup keji! Hmm, rupanya kau

harus diberi tandingan yang setimpal. Ciu Hong! Beng Gwat! Kalian maju bersama dan

bunuh bajingan yang takut mati itu, kemudian tangkap bangsat sombong tersebut dan

gusur ke atas perahu akan kuberi siksaan yang berpuluh-puluh kali lipat lebih keji

untuknya.”‘

Baru selesai seruan itu, dua sosok bayangan manusia muncul dari balik perahu naga,

satu warna merah yang lain berwarna putih, dengan kecepatan luar biasa menerjang

kehadapan Ji Kiu-liong.

Dua orang itu adalah bocah-bocah lelaki berusia dua tiga belas tahunan, mereka berdiri

berjejer, mukanya bersih, putih dan masih kebocah-bocahan, wajah mereka cukup tampan

terutama matanya yang jeli. Seorang memakai baju berwarna merah dan seorang lagi

memakai baju berwarna putih.

Berkrenyit sepasang alis mata Ji Kiu-liong menghadapi dua orang musuh yang usianya

jauh lebih muda daripada dirinya itu, dia tak menyangka kalau bocah-bocah itu berwajah

tampan dan menarik hati, timbul perasaan sayang dihati kecilnya.

Gak Lam-kun juga kaget sesudah menyaksikan kegesitan dua orang bocah itu, segera

pikirnya.

“Hebat betul ilmu silat mereka, kalau ditinjau dari gerak-geriknya jelas kedua orang

bocah cilik ini memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna!”

Dalam pada itu dengan sepasang matanya yang jeli tapi mtmancarkan sinar

menggidikkan, bocah berbaju putih itu sedang melototi rekannya yang berbaju hitam

dengan wajah mengerikan, kemudian selangkah demi selangkah dia maju

menghampirinya.

Air muka si bocah berbaju hitam yang pada dasarnya sudah memucat, kian bertambah

pucat lagi setelah menyaksikan rekannya makin mendekati tubuhnya mungkin saking

takutnya, sekujur tubuhnya yang kecil tampak gemetar keras, bibirnya membiru dan

matanya menjadi sayu, menggenaskan sekali keadaannya.

Sekilas pandangan menghina menghiasi raut wajah si bocah berbaju putih yang dingin,

tiba-tiba ujarnya dengan nada mengerikan, “Hmm…kenapa belum juga bunuh diri? Apalagi

yang kau nantikan…?”

“Oooh…Beng Gwat! Aku…aku…toh aku bukannya tidak berani, kau bisa melihat sendiri

bahwa kepandaian silatku memang bukan tandingan lawan, masakah hanya kesalahan ini

kau… kau…”

“Aaah! Kau tak usah banyak bacot lagi” tukas Beng Gwat atau bocah berbaju putih itu

sambil membentak, “kau berani membangkang perintahku…?”

Diiringi bentakan nyaring, tubuhnya yang kecil meluncur kedepan dan langsung

menerjang kehadapan bocah berbaju putih itu.

“Tahan!” bentak Ji Kiu-liong sangat marah, “kalau merasa punya kepandaian, hayo!

sambut dulu beberapa buah bacokan pedangku ini!”

“Sreeet..!” sambil maju dia melepaskan sebuah tusukan kilat kedada lawan dengan

jurus Thian-li-hui-ko (perempuan langit menangkis tombak), satu serangan yang cukup

ampuh.

Beng Gwat si bocah berbaju putih itu tidak berkutik dari posisinya semula, meskipun

ujung pedang sudah hampir mengancam dadanya, ia tidak melawan ataupun menghindar,

sinar pedang tersebut malah diamatinya tanpa berkedip.

Terkejut Ji-Kiu-!iong menjumpai ketenangan musuhnya, tanpa sadar pergelangan

tangannya disentak dan menarik kembali serangannya.

“Hei bocah keji, mengapa tidak kau cabut keluar senjatamu?” bentaknya dengan

marah.

Beng-Gwat si bocah berbaju putih tidak menjawab mendadak telapak tangan kirinya

diayunkan ketubuh bocah berbaju hitam, sementara telapak tangan kanannya menyerang

Ji Kiu-liong.

Cara penyerangan ini memang tepat sekali, bukan saja diluar dugaan bahkan sekaligus

mematahkan juga pertahanan orang terhadap niat jahatnya.

Sebetulnya Ji Kiu-liong hendak melepaskan serangan untuk melindungi keselamatan

bocah berbaju hitam, tapi lantaran desingan angin tajam yang dilancarkan Beng Gwat

sudah menyambar datang, mau tak mau dia harus mengutamakan keselamatan sendiri

lebih dahulu.

Dalam terkejutnya, dia tekuk pinggangnya sambil bergeser empat depa kebelakang

baru saja serangan tersebut dapat dihindari dari pihak lain jerit kesakitan sudah

berkumandang memecahkan kesunyian.

Ternyata bocah berbaju hitam itu terhajar telak oleh serangan rekannya, darah kental

bercucuran dari ketujuh lubang indranya, tanpa banyak berkutik nyawanya sudah

melayang pergi meninggalkan badannya.

Sesudah membinasakan rekannya sendiri Beng Gwat si bocah berbaju putih itu baru

berpaling katanya dengan ketus, “Dengan mengandalkan beberapa jurus ilmu pedangmu

itu, masih belum pantas untuk memaksa kami menggunakan senjata!”

Sejak terjun kedalam dunia persilatan belum pernah Ji Kiu-liong dibina orang secara

begini, sekalipun dia merasakan juga keanehan serta kesaktian ilmu silat yang dimiliki

musuhnya namun cemoohan semacam itu menggelitik hatinya sebelum dilampiaskan

keluar, maka diapun tertawa dingin.

“Bocah ingusan yang masih berbau tetek teriaknya jangan takabur dulu! Sebelum

sesumbar, buktikan dulu sampai taraf yang bagaimanakah ilmu silatyang kau miliki itu”

Pedangnya dimasukkan kembali kedalam sarungnya, lalu dengan tangan kosong

telapak tangan kanannya didorong kemuka melepaskan sebuah pukulan, berbareng itu

juga dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya dia menyodok jalan darah Miabun-

hiat ditubuh lawan dengan jurus Hua liong-tiam-cing (melukis naga menulis mata).

Selincah ular kecil Beng Gwat si bocah berbaju putih berkelit kesamping. sepasang

telapak tangannya bergantian melancarkan serangan, dalam sekejap mata dia sudah

melancarkan empat buah serangan berantai, bahkan jurus serangan yang satu lebih hebat

dari yang lain.

Seketika itu juga Ji Kiu-liong terdesak mundur tiga langkah.

Gak Lam-kun yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi gelanggang merasa

terkesiap, mimpipun dia tak menyangka kalau seorang bocah semuda itu ternyata memiliki

jurus serangan yang begitu ganas dan hebatnya sehingga adiknyapun kena didesak.

Sementara itu Ji Kiu-liong menggunakan kesempatan itu untuk mengatur pernapasan,

lalu sekali lagi menerjang kedepan, kali ini diapun melancarkan serangan berantai, deruan

angin pukulan yang dahsyat menyapu seluruh angkasa.

Beng-Gwat si bocah berbaju putih tidak jeri, dia membentak nyaring, sebuah pukulan

telapak tangan kirinya yang membawa deruan angin tajam segera membendung ancaman

dari Ji Kiu-liong, sementara telapak tangan kanannya dengan jurus Cuan-im-teh gwat

(menembusi awan memetik rembulan) melepaskan sergapan kilat.

Ji Kiu-liong meraung keras, hawa sakti Sau-yang-tongcu-kang andalannya disalurkan

kedalam telapak tangan kanan, kemudian dengan gerakan Lek sau ngo gak (menyapu

rontok lima bukit) dia membacok kemuka menyambut datangnya ancaman itu.

“Braaak…!” benturan keras tak dapat dihindari lagi, tiba-tiba dua sosok bayangan

manusia saling berpisah.

Dengan telapak tangan disilangkan didepan dada Ji Kiu-liong berdiri dengan wajah

serius, sebaliknya sepasang bahu Beng Gwat si bocah berbaju putih bergetar keras, tak

tertahan lagi badannya mundur sejauh lima langkah dengan sempoyongan telapak tangan

kirinya memegang dada kanannya.

Wajah yang memerah kini berubah jadi pucat pias meski demikian dari balik sorot

matanya yang pudar terpancar sinar kegusaran yang menyala-nyala, dia sedang

mengawasi musuhnya tanpa berkedip.

Ciu Hong si bocah berbaju merah selama ini cuma berdiam diri mendadak tanpa

menimbulkan sedikit suarapun maju sambil menyerang.

Setelah terjadi bentrokan kekerasan dengan Beng Gwat si bocah berbaju putih, Ji Kiuliong

merasakan darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, dalam keadaan

demikian ia tak berani gegabah.

Maka ketika menghadapi serangan yang muncul secara tiba-tiba, serentak dia

mencabut keluar pedangnya, lalu dengan jurus Long kian-liu-san (gulungan ombak

membawa pasir mengalir) dia lancarkan sebuah bacokan kilat.

Siapa tahu sebelum tusukan pedangnya sempat dilancarkan, tiba-tiba serentetan

cahaya emas berkelebat lewat didepan matanya, menyusul kemudian bau amis menerpa

hidungnya.

Dalam gugupnya dia tak sempat memperhatikan benda apakah itu, kepalanya segera

dimiringkan kesamping, lalu dengan pedangnya dia mencoba melindungi diri.

Mendadak pergelangan tangan kanannya terasa sakit, ketika diperiksa, pemuda itu

menjerit keras karena kaget tanpa disadari pedangnya ikut terlepas dari genggaman.

Terlihatlah seekor ular kecil berwarna emas yang panjangnya empat lima inci, dengan

empat buah taring berbisanya menggigit pergelangan tangannya kencang-kencang. Tubuh

ular tersebut masih melingkar diatas lengannya dan sama sekali tak berkutik.

Ji Kiu-liong merasa mulut luka bekas gigitan ular gatalnya bukan kepalang, selain itu

terlihat juga beberapa jalur hitam pelan-pelan sedang merambat naik ke atas lengannya,

ia semakin terkesiap, seluruh tenaganya tiba-tiba menjadi buyar, secara beruntun dia

mundur beberapa langkah kebelakang hampir saja tubuhnya roboh terjengkang.

Gak Lam-kun juga tak kalah terkejutnya setelah menyaksikan ular emas kecil yang

melilit pergelangan tangan Ji Kiu-liong saking sedihnya hampir saja dia melelehkan

airmata.

Secepat sambaran kilat tubuhnya melompat kedepan, lalu dengan jari tengah dan jari

telunjuknya dia totok beberapa jalan darah penting ditubuh saudaranya itu.

“Saudara Gak! harap tahan!” mendadak dari tempat kejauhan berkumandang suara

bentakan keras. “jangan kau sentuh binatang itu, awas ular beracun benang emas!”

Dari belakang tebing karang yang gelap gulita melayang turun dua sosok bayangan

manusia, yang satu berperawakan tinggi sedang yang lain berperawakan pendek.

Kedua orang itu ternyata bukan lain adalah Tang-hay-coa-siu (kakek ular dari lautan

timur) Ou Yong-hu serta Si Tiong-pek, komandan pasukan elang baja dari perkumpulan

Thiat-eng-pang.

Terdengar kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu berkata lebih lanjut, “Bila engkau

membinasakan ular yang menggigit diatas pergelangan tangannya, dalam keadaan terluka

ular beracun itu pasti akan menyemprotkan seluruh cairan beracun yang berada dalam

tubuhnya ke atas mulut luka itu, tak sampai satu jam maka saudaramu tentu akan mati

secara mengerikan”

Ciu Hong, si bocah berbaju merah yang mendengar perkataan itu segera mendengus

dingin.

“Hmmm! Sungguh tak kusangka kalau disini masih terdapat seorang ahli ular,

heeehhh…. heehh…. heehhh…. menggelikan sekali, jadi kalian masih mengira bendaku ini

adalah seekor ular beracun benang emas sungguhan?”

Dengan sepasang matanya yang tajam Tang-hay coa-siu Ou Yong hu kembali

memperhatikan sang ular yang membelenggu diatas pergelangan tangan Ji Kiu-liong itu,

sekarang dia baru kaget, ternyata benda itu memang bukan ular sungguhan tetapi sebuah

senjata rahasia yang bentuknya persis seperti ular.

Dalam pada itu Ciu-Hong si bocah berbaju merah telah berkata kembali, “Dia sudah

terkena senjata rahasia ular berbisa benang emasku, racun yang terkandung dalam benda

ini sepuluh kali lipat lebih ganas dari bisa ular hidup, barangsiapa yang terkena maka tujuh

hari kemudian akan mampus dengan seluruh tubuhnya membusuk. Bukan begitu saja,

selama saat-saat menjelang kematiannya dia harus merasakan siksaan dan penderitaan

yang paling hebat, heehh…heeehhh…heeehh…nah, selamat menikmati hadiahku ini”

Tersirap darah panas Gak Lam-kun setelah mendengar keterangan itu hawa napsu

membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, mendadak dia himpun segenap kekuatan yang

dimilikinya, lalu telapak tangan kirinya diayun kedepan…

Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak besar ditengah

samudra dengan mengerikan sekali menyapu ketubuh Ciu Hong si bocah berbaju merah.

Ciu Hong cukup mengetahui akan kelihayan musuhnya. cepat-cepat dia berjumpalitan

diudara dan berusaha menghindarkan diri.

Tentu saja Gak Lam-kun tidak sudi memberi kesempatan hidup bagi lawannya, begitu

bocah itu mencoba untuk berkelit, pukulan yang sudah disiapkan ditangan kanannya sejak

tadi segera dilontarkan kedepan.

Disaat yang kritis inilah pekikan nyaring mendadak berkumandang mencabik-cabik

kesunyian, sesosok bayangan putih melayang datang dari udara, menyusul kemudian

munculnya segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat menyongsong datangnya

ancaman dari Gak Lam-kun.

Padahal Ciu Hong si bocah berbaju merah sudah berjumpalitan untuk mengundurkan

diri, sayang nasibnya memang lagi busuk, bukannya mundur untuk menyelamatkan diri,

secara kebetulan tubuhnya justru terjatuh diantara gencetan tenaga pukulan dari Gak

Lam-kun maupun pendatang itu…bayangkan saja apa yang bakal terjadi?

Jerit lengking menggelegar diudara, termakan oleh dua gulung angin pukulan yang

maha dahsyat, tubuh Ciu-hong mencelat keudara dan terlempar sejauh puluhan kaki dari

tempat semula.

Jangankan pukulan dari Gak Lam-kun memang sanggup menghancurkan batu karang

merjadi bubuk, cukup termakan hembusan angin dingin yang dilancarkan si pendatang

saja sudah cukup untuk menghantar nyawanya keneraka, apalagi pukulan itu beracun dan

sekaligus terkena dua pukulan lagi.

Setinggi-tingginya tenaga dalam yang dimiliki Ciu-Hong si bocah berbaju merah,

bagaimana mungkin dia bisa menahan gencetan dari dua buah kekuatan besar? Isi

perutnya kontan terhajar sampai hancur, ketika tubuhnya melayang kembali ketanah,

jiwanya sejak tadi sudah kabur kealam baka.

Peristiwa ini semakin menggusarkan pendatang itu, sambil membentak keras dia

lancarkan sebuah pukulan yang memaksa Gak Lam-kun tergetar mundur sejauh tiga depa

lagi kemuka, tangan kanannya diputar lalu menjojoh jalan darah Yu-bun-hiat ditubuh

orang itu, tapi kemudian ia menyadari kalau musuhnya terlampau tangguh, maka

menyusul serangan tadi, dia lancarkan kembali sebuah bacokan dengan telapak tangan

kirinya.

Semua perubahan terjadi diluar dugaan, siapapun tidak mengira kalau kejadian

tersebut bakal berkembang menjadi begini.

Ilmu silat yang dimiliki orang itu terlampau tinggi, ketika merasa terancam oleh

serangan musuh dia menangkis ancaman dari Gak Lam-kun dengan tangan kanannya

yang memainkan jurus Hui-tim-ciang-tham (membersihkan debu berbicara santai)

sementara telapak tangan kirinya dengan jurus Sin-liong-sian-jiau (naga sakti unjukkan

cakar) dengan membawa sapuan angin yang tajam berusaha mencengkeram tubuh lawan.

Gak Lam-kun menggerakkan sepasang bahunya miring kesamping dan terhindar dari

cengkeraman lawan sementara kaki kanannya melepaskan sebuah tendangan kilat.

Berada dalam gencetan tendangan-tendangan maut membetot sukma ini mau tak mau

orang itu harus melompat kebelakang untuk menyelamatkan diri…

Waktu itu Gak Lam-kun terlampau menguatirkan keselamatan Ji Kiu-liong, maka setelah

musuhnya terdesak mundur, dia tidak mengejar lebih lanjut sebaliknya melayang kembali

kesamping saudaranya.

Keadaan Ji Kiu-liong cukup parah, warna hitam lamat-lamat menghiasi kerutan alisnya,

sekalipun senjata rahasia ular benang emas yang melilit pada pergelangan tangannya

sudah dilepaskan oleh Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu, tapi mulut luka pada pergelangan

tangan kanannya itu telah berubah menjadi semu biru.

Betapa sedihnya Gak Lam-kun, sambil menghela napas bisiknya, “Adik Liong cepat

duduk bersila sambil mengatur pernapasan, tutup dahulu jalan darah Ci-ti-hiat pada sikut

kananmu jangan membiarkan racun itu menjalar sampai kejantung!”

Ji Kiu-liong tertawa ewa, pelan-pelan dia duduk bersila pejamkan mata dan mengatur

napas.

Kakek ular dari lautan timur Ou Yonghu yang ada disampingnya sedang mengawasi

senjata rahasia ular benang emas dengan seksama, setelah termenung lama sekali, dia

baru menghela napas.

“Aaai…! Tampaknya racun yang terkandung diujung senjata rahasia ini merupakan

campuran antara racun ular benang emas ditambah beberapa macam rumput beracun

lainnya, yaa, racun semacam ini memang mengerikan sekali”

“Ou-Thamcu, dapatkah kau punahkan pengaruh racun itu?” tanya Si Tiong pek.

“Masih merupakan sebuah tanda tanya besar” jawab Kakek ular dari lautan timur Ou-

Yong-hu sambil gelengkan kepalanya berulangkali. “cuma, kalau sudah kita ketahui racun

apa yang bersarang ditubuhnya, mungkin bisa kita coba-coba”

Sebagaimana diketahui. Kakek ular dari lautan timur adalah seorang ahli dalam soal

racun, terutama dalam masalah bisa racun, dia mempunyai kepandaian yang luar biasa.

Tapi seorang ahli racun ularpun sudah berkata demikian, dari sini dapatlah diketahui

bahwa racun yang terkandung dalam tubuh Ji Kiu-liong bukan racun sembarangan.

Diam-diam Gak Lam-kun berpikir dihati, “Ou-Yong-hu wahai Ou-Yong-hu. jika kau

sanggup menolong nyawa adik liong, aku Gak Lam-kun juga akan mengampuni selembar

nyawamu!”

Dalam pada itu kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu telah mengeluarkan sebuah

botol kemala putih dari sakunya, dari dalam botol itu dia mengeluarkan dua butir pil

penawar racun lalu katanya, “Pil Keng-giok-ciat-tok-wan milikku ini khusus untuk

menawarkan bisa dari berbagai racun ular, bila terpagut ular beracun macam apapun, asal

minum sebutir pil ini niscaya racunnya akan tawar. Sekarang akan kugunakan daya kerja

dari sebotol obat Keng-giok-ciat-tok-wan ini untuk melindungi jalan darah penting dalam

isi perutnya, daya kerja obat ini cuma untuk mencegah agar racun ular tak sampai

menyerang kejantung, dalam keadaan demikian mungkin nyawanya masih bisa

dipertahankan selama beberapa hari lagi”

Sambil berkata dia mengeluarkan dua butir pil Keng-giok ciat tok wan dan dijejalkan

kemulut Ji Kiu-liong.

Tiba-tiba manusia berbaju putih itu tertawa dingin.

“Heeehhh…heeehhh…heeehhh… Kalau kau ingin mencegah sari racun ular berbisa itu

menyerang isi perut orang itu, sampai habis sepuluh botol pil Keng giok ciat tok wan juga

percuma, menggelikan betul! Jangan kau anggap kepandaianmu itu sudah cukup untuk

memunahkan pengaruh racun dari perguruanku”

Karena gelak tertawa dinginnya kedengaran mengerikan dan tak sedap, dengan

sepasang matanya yang sipit Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu mengawasi

lawannya.

Orang itu sudah tua usianya antara enam puluh tahunan badannya jangkung tapi kurus

hingga tinggal kulit pembungkus tulang, jubah yang dikenakan panjang dan berwarna

putih keabu-abuan.

Si Tiong-pek segera tertawa ringan.

“Luas amat pengetahan saudara katanya, kalau dugaanku tak keliru, rupanya kau

adalah seorang tokoh persilatan yang punya nama?”

Dengan sepasang mata yang melotot, tiba-tiba kakek berjubah putih melotot sekejap

ke arah Si-Tiong-pek, kemudian tertawa dingin tiada hentinya.

“Se-ih-Sam-seng (Tiga malaikat dari wilayah Se-ih), masa kau tak pernah

mendengarnya?” dia berseru.

Baik Si Tiong-pek maupun Ou Yong hu yang mendengar nama itu segera berseru

tertahan.

Se-ih-Sam-seng atau tiga malaikat dari wilayah Se-ih adalah jago-jago lihay diluar

perbatasan, mereka bertiga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, perguruan yang mereka

bentuk kemudian dinamakan Se-thian-san.

Ketiga malaikat itu terdiri dari: Tok-seng (malaikat racun). Ciang-seng (malaikat

pukulan) dan Kian-seng (malaikat pedang).

Setelah termenung sebentar, sambil tersenyum Si Tiong-pek lantas berkata, “Oooh…!

Rupanya kau toh yang bernama Tok seng (malaikat racun) Lo Kay-seng?”

Kakek berbaju putih itu tertawa dingin.

“Jika aku adalah malaikat racun, masa kalian masih bisa hidup hingga sekarang?”

Ternyata kakek berbaju putih ini adalah malaikat pukulan Nian Eng-hau, salah seorang

anggota Se-ih-sam-seng.

Diantara tiga bersaudara, konon ilmu silat malaikat pedang Siang Ban-im paling tinggi,

dan malaikat racun Lo Kay-seng menduduki urutan kedua, jadi dengan begitu kakek

berjubah putih tersebut pada hakekatnya adalah anggota yang terbuncit.

“Haaahhh…haaahhh…haaahh… belum tentu begitu” kedengaran Si Tiong-pek tertawa

ringan, “segarang-garangnya Malaikat racun Lo Kay-seng, masa dia bisa menandingi

keganasan dari Jit-poh tui-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To yang namanya

sudah amat termashur didaratan Tionggoan?”

Malaikat pukulan Kian Eng-hau tertawa dingin.

“Tak usah ngebacot yang bukan-bukan lagi” tukasnya “kalian tahu, barangsiapa yang

berani mengikuti jejakku sampai disini, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam

keadaan selamat”

Tiba-tiba ujung bajunya dikebut kemuka, tidak tampak bagaimana caranya dia

menggerakkan badan, tahu-tahu tubuhnya sudah berada dihadapan Si Tiong-pek.

Kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu tidak banyak bicara lagi, begitu dilihatnya Nian

Eng bau mengejar kedepan, telapak tangannya segera diayun pula kedepan melepaskan

sebuah pukulan.

Malaikat pukulan Nian Eng-hau bukan bocah dungu, sudah tentu sergapan Ou Yong-hu

tak ada gunanya, baru saja si kakek ular dari lautan timur menggerakkan telapak tangan

kirinya, berbareng juga dia melancarkan serangan balasan, telapak tangan kanannya

menghadang ancaman lawan, sementara tangan kirinya bersiap-siap menghadapi sapuan

dari tongkat kepala ular yang ada ditangan kanan lawan.

Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu terperanjat, buru-buru dia menekuk pinggang

sambil menarik Kembali serangannya, lalu melompat mundur sejauh tiga depa. Mimpipun

dia tak menyangka kalau serangan balasan musuh bisa datang secepat itu, hampir saja

tubuhnya termakan oleh sapuan tersebut.

Tiba-tiba Se-ih Ciang seng (malaikat pukulan dari Se-ih) merentangkan sepasang

tangannya kekiri dan kekanan, yang satu menyerang Si Tiong-pek sedang yang lain

menghantam Ou Yong hu, bukan saja cepat dalam serangan, tepat pula pada ancaman.

Buru-buru kakek ular dari lautan timur Ou-Yong hu memutar tongkat kepala ularnya,

senjata itu sebentar disapu kekiri sebentar lagi disodok kekanan, secara beruntun dia

lancarkan beberapa buah serangan.

Berbeda dengan Si Tiong pek, menghadapi ancaman itu dia tertawa tergelak, tubuhnya

menyurut mundur sejauh tujuh depa, begitu lolos dari ancaman dengan gerakan cepat dia

meraih kebelakang bahunya dan meloloskan pedang elang bajanya.

Setelah bersenjata dia menerjang maju pula kedepan, secara beruntun ia lancarkan

beberapa buah serangan mematikan untuk mengimbangi permainan tongkat dari Ou

Yong-hu.

Sebagaimana diketahui dari julukannya yakni malaikat pukulan, permainan sepasang

tangan Nian Eng-hau betul-betul sudah mencapai taraf yang luar biasa, mengikuti gerakan

pedang dan sambaran tongkat musuh, sepasang tangannya melepaskan serangkaian

pukulan yang gencar, ditambah lagi posisinya memang lebih menguntungkan, praktis

seluruh gelanggang berhasil dia kuasai.

Sia-sia saja Si Tiong pek dan Ou Yong hu menggunakan senjata masing-masing, sebab

bagaimanapun mereka berusaha untuk memecahkan pertahanan musuh, toh akhirnya

kena didesak mundur juga ketempat semula.

Jilid 4

Begitulah dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan

yang amat seru.

Untuk menghadapi kerubutan dua orang musuhnya ini, Malaikat pukulan Nian Eng-hau

khusus menggunakan ilmu Liu si ciang (pukulan serat mengalir) suatu kepandaian sakti

aliran See thian san tapi puluhan jurus kemudian ternyata tidak juga mendatangkan hasil,

hal ini menimbulkan rasa heran dihati kecilnya.

Liu si ciang atau yang lebih dikenal sebagai pukulan serat mengalir adalah sejenis ilmu

silat yang sangat aneh, kepandaian itu berintikan tenaga im atau dingin yang lembut,

kepandaian khusus yang paling diandalkan adalah “menempel” serta “menghisap” senjata

musuh.

Biasanya dia menggunakan kekuatan yang terpancar dari tubuh musuh untuk

memunahkan serangan musuh, bila salah satu unsur kekuatannya sudah berhasil

menguasai serangan lawan, maka jangan harap musuh bisa mendahuluinya, karena

serangannya selalu mendahului, jadi setiap kali pihak musuh belum bertindak ia sudah

dapat merasakan lebih dahulu kemudian mendahuluinya.

Berbicara sesungguhnya, ilmu silat yang dimiliki Si Tiong-pek maupun Ou Yong-hu tidak

kalah jika dibandingkan dengan kepandaian musuh, tapi lantaran kepandaian mereka

sudah didahului terlebih dulu oleh pukulan serat mengalir dari Nian Eng-hau, serta merta

setiap serangan yang mereka lancarkan selalu berhasil dipatahkan oleh Nian-Eng-hau.

Percuma saja mereka mempunyai ilmu silat yang tinggi, karena kepandaian itu tak bisa

dikembangkan sebaik-baiknya, sebagai gantinya mereka malah tak punya kekuatan untuk

melancarkan serangan balasan, mereka cuma terdesak mundur terus.

Andaikata didalam keadaan begini Si Tiong-pek atau Ou Yong-hu mengundurkan

diridan membiarkan rekannya bertarung seorang diri, mungkin situasinya tak akan

serunyam ini, karena ilmu Liu si ciang akan semakin tampak daya kehebatannya bila

menghadapi musuh dalam jumlah yang lebih besar…

Si Tiong-pek tertawa dingin, pedang ditangan kanan telapak tangan ditangan kiri tibatiba

melancarkan belasan jurus serangan berantai.

Ou Yong hu juga tak mau kalah, dia ikut membentak keras, tongkat berkepala ularnya

menyerang secara gencar, dalam waktu singkat bayangan pedang bersimpang siur kesana

kemari, deruan angin tongkat memekikkan telinga, keadaan mengerikan sekali.

Berada dibawah desakan kedua orang musuhnya itu, Nian eng hau jadi kewalahan

sendiri, dia tak mampu mendesak mundur musuhnya lagi, walau hanya satu langkah.

Pertarungan berlangsung lagi tapi keadaan tetap seimbang, lama kelamaan habislah

kesabaran Malaikat pukulan Nian eng hau setelah melancarkan dua buah pukulan untuk

mendesak mundur musuhnya mendadak dia mundur lima depa kemudian berdiri tegak

disitu sambil menghimpun segenap kekuatan yang dimiliki.

Dari cara orang bersikap, Si Tiong-pek dan Ou Yong-hu tahu kalau musuhnya sedang

menyiapkan suatu serangan yang maha dahsyat, mereka tak berani gegabah, segenap

hawa murni yang dimilikipun dihimpun menjadi satu, lalu bersiap siaga menghadapi segala

kemungkinan yang tidak diinginkan.

Pada saat itulah, pelan-pelan Gak Lam-kun maju kedepan, lalu dengan wajah sedingin

es dia berkata, “Saudara, tolong tanya apakah See-ih Tok-seng (malaikat racun dari Seeih)

Lo Kay seng berada diatas perahu?”

Malaikat pukulan Nian Eng-hau amat mendendam terhadap Gak Lam-kun karena dia

telah membinasakan Ciu Hong murid kesayangannya, maka ketika dia maju kedepan,

hawa napsu membunuhnya segera berkobar, tiba-tiba sambil meraung keras, telapak

tangan kanannya langsung dibacokkan ke tubuh si pemuda.

Kiranya pada waktu itu Gak Lam-kun sedang berpikir, “Racun jahat yang terdapat pada

senjata rahasia ular benang emas pasti hasil bikinan dari malaikat racun Lo Kay seng, itu

berarti diapun membawa obat penawarnya, kenapa aku tidak berusaha minta darinya?”

Karena berpikir demikian, timbullah niatnya untuk naik keperahu dan menjumpai sendiri

orang yang bernama malaikat racun itu, asal bisa bertemu, menurut anggapannya tak sulit

untuk mendapatkan obat penawar racun itu.

Maka ketika dia diserang secara tiba-tiba dengan cekatan Gak Lam-kun berkelit

kesamping lalu membentak, “Hei, jawab dulu pertanyaanku, sebenarnya Lo Kay seng

berada diatas perahu naga atau tidak?”

“Ada atau tidak bukan urusanmu” jawab malaikat pukulan Nian eng hau setengah

membentak, “yang pasti, jangan harap kalian bisa tinggalkan pulau ini dalam keadaan

selamat!”

Begitu selesai bicara, secepat sambaran kilat kembali dia menerjang kedepan. Telapak

tangan kanannya tiba-tiba membengkak satu kali lipat lebih besar dari keadaan

normalnya, kemudian dengan suatu gerakan yang aneh sekali dia menyambar tubuh Gak

Lam-kun.

Cahaya setajam sembilu memancar keluar dari balik mata Gak Lam-kun, ketika

serangan aneh itu hampir kena ditubuhnya, dengan tak kalah cepatnya dia menggerakkan

pula tangan kirinya untuk menyongsong datangnya ancaman dari Nian eng hau tersebut.

Sejak mendendam terhadap Gak Lam-kun, sudah timbul niat jahat dihati malaikat

pukulan Nian eng hau untuk membinasakan Gak Lam-kun dalam sekali gebrakan, karena

itu dalam serangan yang dilancarkan kali ini secara diam-diam ia telah menghimpun

segenap kekuatan beracun yang dimilikinya.

Untunglah Gak Lam-kun bukan orang bodoh sedikit banyak dia adalah seorang jago

persilatan yang mempunyai tenaga dalam amat sempurna.

Ketika tangannya menyentuh angin serangan dari Nian eng hau, dia segera merasakan

sesuatu yang aneh, sadarlah pemuda kita bahwa disamping tenaga dalam yang sempurna,

rupanya pihak musuh telah menyertakan pula ilmu pukulan beracunnya yang ganas.

Dengan cepat pemuda itu membentak nyaring, dia himpun hawa sakti Tok liong ci jiau

(cakar jari naga beracun) yang paling diandalkan dalam kelima jari tangan kanannya,

kemudian disambutnya ancaman pukulan beracun dari Nian eng hau itu.

Pukulan Cian tok ciang (pukulan racun seribu) dari aliran See thian san merupakan

sejenis ilmu pukulan yang amat berbisa, bila seseorang melancarkan serangan dengan

menggunakan ilmu tadi, maka dibalik angin serangan biasa akan terkandung hawa

beracun yang amat jahat.

Sekalipun seseorang bertenaga dalam sempurna, bila pukulan itu disambut dengan

tangan telanjang maka akibatnya kendatipun serangan itu sendiri bisa dibendung, tapi

justru dengan menggunakan kesempatan itu menyusuplah racun seribu yang amat jahat

itu ketubuh korbannya.

Betapa girangnya malaikat pukulan Nian Eng hau ketika menyaksikan Gak Lam-kun

sama sekali tidak menghindari ancamannya malahan menyambut pukulan itu dengan

keras lawan keras.

“Bajingan keparat” demikian dia membatin “tampaknya kau memang sudah bosan

hidup…

Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba terdengar suara

bentakan keras menggelegar diangkasa, himpunan hawa sakti Tok Liong ci jiau yang

disiapkan Gak Lam-kun telah dilancarkan kedepan…

“Haaaaaah? Tok liong ngo ci…” pekik Nian Eng-hau dengan takutnya, tapi sebelum dia

sempat berbuat sesuatu telapak tangannya sudah tertempel dengan telak.

Seketika itu juga Nian Eng-hau merasakan munculnya lima jalur aliran panas yang

menyusup kedalam lengannya, hawa panas itu menembusi urat nadinya langsung

menerjang kedada, bukan saja seluruh kekuatannya menjadi buyar, bahkan jalan darah

Pit-ji-hiat yang sengaja dibuntu untuk mencegah berbaliknya hawa racun menyerang ke

jantungpun ikut tergetar lepas.

Dengan keadaan seperti ini maka terjadilah peristiwa “senjata makan tuan” hawa

beracun yang telah terhimpun itu bukannya memancar keluar, sebaliknya malah mengalir

balik dan menerjang isi perutnya sendiri.

Sekarang Nian Eng-hau baru merasa ketakutan setengah mati, nyalinya seperti menjadi

pecah, secara beruntun tangan kirinya menotok jalan darah Ki-siau dan Thian-cu-hiat

ditubuh sendiri, setelah itu dia mundur lima enam langkah kebelakang.

“Kau…kau adalah Tok-liong…”

“Kenapa tidak cepat-cepat kau serahkan obat penawar ular benang emas itu

kepadaku?” tukas Gak Lam-kun sambil membentak marah.

Perlu diterangkan disini, Cian tok ciang dari aliran See thian san adalah sejenis pukulan

yang sangat ampuh dalam dunia persilatan, kecuali ilmu Tok liong ci jiau dari Tok liong

Cuncu, boleh dibilang dalam dunia persilatan dewasa ini tiada ilmu silat kedua yang dapat

mematahkannya.

Kalau Nian Eng hau dengan Cian tok ciangnya mengandung unsur dingin atau Im,

maka pukulan dari Gak Lam-kun berunsur panas atau yang, tentu saja sebagai seorang

jago yang berpengalaman, Nian Eng hau segera mengenali ilmu yang dipakai anak muda

itu, begitu dia mengeluarkan ilmu Tok liong ci jiau tersebut.

Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu termasuk salah seorang pembunuh yang ikut

mengambil bagian dalam pengerubutan atas Tok liong Cuncu ditebing Yan po gan bukit

Hoa san. Tentu saja nama Tok liong Cuncu sudah terukir dalam benaknya

Dulu ia pernah menyaksikan sendiri kehebatan dari Tok liong ci jiau tersebut, karena

itu setelah dilihatnya Gak Lam-kun dapat menggunakan pula kepandaian tersebut,

paras mukanya berubah hebat.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan cepat dia melompat

kesamping Ji-Kiu liong.

Gak-Lam-kun yang menyaksikan peristiwa itu hatinya menjadi berdebar, ilmu Tok liong

ci jiau dihimpun hingga mencapai pada puncaknya, setiap saat suatu serangan yang

mengerikan siap dilancarkan.

Akan tetapi ketika pelan-pelan dia memutar badannya, paras muka pemuda itu tampak

begitu tenang, begitu kalem, sedikitpun tidak terlihat tanda-tanda panik atau gelisah.

“Ou cianpwe” katanya kemudian, “apakah racun jahat yang mengeram dalam tubuhnya

telah mengalami perubahan?”

Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu tertegun, dengan cepat dia berpikir,

“Mungkinkah dia bukan ahli waris dari Tok liong Cuncu? Atau mungkin dia memang

sengaja sedang berlagak pilon?”

Berpikir demikian dalam hatinya, dia lantas berkata, “Yaa, keadaannya memang

terdapat sedikit perubahan, kemungkinan besar hawa racunnya sudah menyusup kedalam

aliran darah”

Menggunakan kesempatan baik dikala Gak Lam-kun sedang bercakap-cakap dengan Ou

Yong hu, secara diam-diam Malaikat pukulan Nian Eng hau dengan membawa serta Beng

Gwat si bocah berbaju putih itu ngeloyor pergi dari situ, kemudian kabur kedalam pulau.

“Berhenti!” bentak Gak Lam-kun.

Tapi malaikat pukulan Nian Eng hau sama sekali tidak menggubris bentakan itu, dalam

waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan.

Gak Lam-kun segera menutulkan kakinya ketanah, segesit burung elang dia melayang

naik keatas perahu naga itu dan memeriksa sekejap sekeliling tempat itu.

Tiada seorang manusiapun ditemukan diatas perahu naga termasuk juga tukang-tukang

perahunya, yang tertinggal sekarang hanya sebuah perahu yang kosong tanpa penghuni.

Ou Yong hu sambil membopong Ji Kiu liong, beserta Si Tiong-pek ikut melompat naik

pula keatas perahu.

Melihat saudaranya berada dalam gendongan kakek ular dari lautan timur, tiba-tiba dari

sepasang mata Gak Lam-kun memancar keluar sinar mata yang amat lembut.

“Ou cianpwe” demikian dia berkata, “dapatkah kau sembuhkan luka beracun yang

dideritanya itu”

Diam-diam kakek ular dari lautan timur menempelkan telapak tangan kirinya diatas

jalan darah Mia-bun-biat dari Ji Kiu-liong, diluarnya dia berusaha bersikap sewajar

mungkin.

“Bisa atau tidak tak berani kupastikan, tapi aku Ou Yong-hu bersedia untuk berusaha

dengan segala kemampuan!”

Gak Lam-kun kembali mengalihkah pandangan matanya keudara, memandang bintang

yang bertebaran nun jauh disana, lalu ujarnya perlahan, “Dia adalah satu-satunya sanak

keluargaku yang masih hidup, bila dia sampai mati aku Gak Lam-kun bersumpah tak akan

melepaskan seorang bajingan yang manapun jua, sebab aku orang she Gak cukup jelas

membedakan manakah budi dan manakah dendam, jika ada orang yang pernah

melepaskan budi kepadaku, tak nanti aku bayar air susu dengan air tuba!”

Tentu saja perkataannya itu sengaja diucapkan khusus ditujukan untuk Ou Yong-hu.

Kakek ular dari lautan timur bukan orang bodoh, arti yang sebenarnya dari perkataan

itu sudah tentu dipahaminya juga.

Padahal Si Tiong-pek itu sebenarnya juga termasuk manusia cerdik, tapi dia tak

menyangka kalau waktu itu sedang berlangsung pertandingan adu kecerdikan antara dua

orang dihadapannya. Sudah barang tentu sebagian besar alasannya adalah karena dia tak

pernah menyangka kalau Gak Lam-kun adalah ahli waris dari Tok-liong Cuncu.

Tiba tiba Gak Lam-kun berpaling kearah Si Tiong-pek, lalu bertanya, “Saudara Si,

apakah perahumu sudah membuang sauh dipantai pulau ini? Siaute ingin meminjam

sebentar perahumu itu untuk beristirahat, boleh bukan?”

“Silahkan!” kata Si Tiong-pek sambil tersenyum, “perahu siaute berlabuh dipantai

sebelah tenggara!”

Tiba-tiba Tang-hay-coa-siu si kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu menimbrung,

“Gak lote, jika kau bersedia mempercayai lohu, biar akulah yang menghantar adikmu ini

naik keperahu”

“Bagus sekali?” perkataan Gak Lam-kun agak hambar, “aku orang she Gak merasa lega

hati setelah Ou cianpwe menyatakan kesediaannya untuk merawat adikku. Sekarang aku

musti cepat-cepat mengejar See-ih Ciang seng (malaikat pukulan dari See-ih) Nian Eng

hau, karena itu terpaksa musti mohon diri lebih dulu”

“Tunggu sebentar saudara Gak!” teriak Si Tiong-pek, “biar siaute jalan bersamamu

siapa tahu kalau aku dapat membantu dirimu dalam hal-hal yang mendesak?”

Dengan kecepatan bagaikan kilat, dua orang itu bergerak meninggalkan pantai, setelah

menembusi beberapa tempat hutan lebat, akhirnya ditengah kegelapan yang mencekam

seluruh jagad, tampaklah berderet-deret bangunan rumah yang kokoh dan megah muncul

didepannya.

Gak Lam-kun tertegun, cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya.

Si Tiong-pek ikut berhenti, lalu menghela napas ringan.

“Aaaai…ternyata dugaanku memang tepat”

gumamnya, “diatas pulau terpencil ini memang terdapat sebuah perkampungan yang

kokoh dan megah…”

“Si-heng, masa didalam perkampungan itu ada penghuninya?” bisik Gak Lam-kun.

“Sebenarnya pulau kecil ini adalah sebuah pulau yang tak berpenghuni, sudah barang

tentu bangunan itu hanya sebuah bangunan rumah kosong yang tak ada manusianya”

jawab Si Tiong-pek dengan suara lirih pula, “tapi aku lihat hari ini keadaannya luar biasa,

jika dugaanku tidak keliru, sekarang tempat tersebut sudah menjadi sarang naga gua

harimau yang berbahaya buat kita semua!”

Gak Lam-kun mengerutkan dahinya.

“Saudara Si, perkataanmu cuma membuat orang menjadi bingung saja, tolong tanya

apakah diatas pulau ini sudah terjadi suatu peristiwa yang maha besar?”

Dengan sepasang mata yang tajam bagaikan sembilu Si Tiong-pek mengawasi wajah

lawannya tanpa berkedip, kemudian ia tersenyum.

“Gak heng, ilmu silatmu tinggi dan keberanianmu luar biasa, lagipula kau tiba disini

selangkah lebih awal dariku, masa kedatanganmu disinipun lantaran tak terduga?”

Gak Lam-kun tahu, lawannya sudah menaruh curiga, dianggapnya dia sudah tahu tapi

pura-pura bertanya lagi, maka sambil tertawa ia menerangkan, “Aaaai…kalau dibicarakan

kembali, sesungguhnya memalukan sekali, sebetulnya siaute sedang bersampan sambil

menikmati keindahan rembulan, tiba-tiba kutemui bergeraknya perahu aneh berbentuk

naga dengan kecepatan tinggi, kemudian kujumpai pula perahu Si heng beserta beberapa

buah perahu lain mengikuti dibelakangnya aku menjadi keheranan dan ingin tahu, maka

cepat-cepat akupun menyusul kemari. Terus terang saja, sungguh mati siaute tak tahu

rahasia dibalik kesemuanya ini, itulah sebabnya kumohon kepada saudara Si agar sudi

memberi penjelasan kepada siaute…”

Kembali Si Tiong-pek tersenyum.

“Kagum! Kagum! Sungguh mengagumkan! Dengan sebuah sampan kecil saudara Gak

bisa demikian cepatnya tiba ditempat ini, kecepatan gerakmu memang luar biasa”

“Ooooh, rupanya saudara Si curiga kepadaku?”

000000O00000

“Ooooh…tidak, tidak, masa aku berani mencurigai saudara Gak?” kata Si Tiong-pek

sambil tertawa ringan, “aku hanya kagum, yaa hanya kagum saja atas kehebatan ilmu silat

yang saudara miliki”

“Hmmm…! Toh ilmu silat dari saudara Si juga tak ketinggalan jaman…?”

Si Tiong-pek kembali tertawa.

“Saudara Gak memang gemar berseloroh, masa cahaya kunang-kunang kau

bandingkan dengan cahaya rembulan? Wah, tentu saja aku ketinggalan jauh. Pada

hakekatnya memang banyak jago persilatan yang berdatangan kesini pada malam ini, tapi

kalau mau membandingkan mereka dengan kepandaian saudara Gak? Oh, mungkin cuma

satu dua yang bisa memadahinya…”

“Saudara Si terlampau sungkan!”

“Saudara Gak, memangnya kau anggap aku lagi berseloroh?” tiba-tiba Si Tiong-pek

menghela napas panjang, “aaai…Terus terang saja kuberitahukan kepadamu, konon

menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, Soat-san Thian-li sudah sampai dikota

Gak-ciu!”

“Aaah, betulkah kabar itu?” tanya Gak Lam-kun dengan perasaan bergetar keras.

“Betul atau tidak, aku yakin berita itu bukan berita isapan jempol belaka, sebab cepat

atau lambat Soat san Thian-li pasti akan tiba dibukit Kun-san, cuma kita tak bisa melacaki

jejaknya saja”

“Jadi kalau begitu, kawanan jago persilatan termasuk juga saudara Si, mempunyai

anggapan bahwa Soat san Thian-li bercokol, diatas pulau ini?”

Si Tiong-pek manggut manggut.

“Konon tiga malaikat dari See-ih telah menyanggupi permintaan Soat san Thian-li untuk

menjadi pembantunya, dan bertugas melindungi keamanan selama berlangsungnya

penyerahan Lencana Pembunuh Naga dibukit Kun-san…”

Mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun semakin terperanjat, cepat dia berpikir, Masa

Soat-san Thian-li mempunyai rencana lain? Kalau tidak, dengan kepandaian silat serta

pamornya aku rasa cukup untuk melindungi keamanan sendiri selama berlangsungnya

penyerahan lencana pembunuh naga, kenapa dia musti minta bantuan Tiga malaikat Seeih…?”

Tiba-tiba Si Tiong-pek berkata lagi, “Saudara Gak aku sangat ingin meminjam

tenagamu untuk bersama-sama menanggulangi suatu rencana besar, entah bersediakah

kau untuk memenuhinya?”

“Masalah apa saudara Si? Katakan saja secara terperinci, agar Siaute bisa

mempertimbangkannya, andaikata Siaute memang mampu, sudah tentu akan kubantu

sedapat mungkin”

Si Tiong-pek tersenyum katanya, “Sebetulnya masalahnya bukan masalah besar, sebab

hanya sekitar penyerahan lencana pembunuh naga dari Soat san Thian-li ke tangan Tok

liong Cuncu dibukit Kun san. Aku sama sekali tak menyangka kalau urusannya seberat ini,

aku lebih-lebih tak menduga kalau para jago kenamaan baik dari golongan putih maupun

dari golongan hitam ikut pula dalam perebutan ini, terutama orang-orang dari perguruan

panah bercinta!

Lantaran Waktu berangkat semuanya serba cepat-cepat dan mendadak, siaute tak bisa

membawa pembantu yang terlampau banyak, dewasa ini kecuali delapan belas elang baja

bawahanku serta Ou Thamcu dibawah panji elang baja, boleh dibilang segenap kekuatan

perkumpulan kami belum tiba disini, jadi kalau dinilai dari situasinya sekarang ini pada

hakekatnya kekuatan kami terlampau minim. Sebab itulah dengan memberanikan diri,

siaute memohon bantuan dari saudara Gak untuk bersama-sama menanggulangi situasi

ini, bila berhasil tentu saja kita nikmati bersama!”

“Bagus sekali!” pikir Gak Lam-kun, rupanya kalian memang lagi putar otak untuk

menghadapi diriku, hmm! Tak nanti aku Gak Lam-kun menderita kekalahan total dalam

permainan catur ini”

Sementara sipemuda termenung Si Tiong-pek telah tertawa ringan.

“Haahhh…haahhh…haaahhh…tentu saja jika saudara Gak merasa keberatan, siaute pun

tak berani terlalu memaksa, marilah kita selidiki bersama keadaan perkampungan itu”

Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, tanpa menantikan jawaban dari Gak Lam-kun

lagi dia sudah melompat setinggi tiga kaki ketengah udara, lalu meluncur kedalam

bangunan rumah yang berdiri angker ditengah kegelapan itu.

Dalam sekali lompatan, ia sudah mencapai sejauh lima kaki lebih, bukan saja tidak

menimbulkan suara, bajunyapun tidak menimbulkan suara kibaran. Enteng lincah dan luar

biasa!

Menyaksikan itu, Gak-Lam-kun menghela napas, pikirnya, “Sudah lama kudengar orang

berkata bahwa Si Tiong-pek adalah seorang jago lihay diantara kalangan muda, setelah

perjumpaan hari ini terbukti sudah kalau berita tersebut bukan berita kosong belaka.

Cukup dinilai dari ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna ini, bisa diketahui kalau dia

memang terhitung seorang jagoan kelas satu dalam dunia persilatan…”

Dihati dia berpikir begitu, badannya ikut melompat keudara, lalu dengan beberapa kali

jumpalitan badannya ikut melayang turun sejauh empat lima kaki dari tempat semula.

Kegelapan serasa menyelimuti seluruh angkasa, bintang bertaburan diudara dan

memancarkan kerlipan sinarnya yang redup.

Kecuali bangunan rumah yang berderet-deret serta bangunan loteng yang menjulang

keangkasa, dalam perkampungan yang luas dan megah itu hanya dipenuhi oleh pohon

Pek-yang yang tinggi besar dengan dedaunannya yang lebat, suasana menyeramkan

gelap, sepi dan tak nampak setitik cahayapun.

Si Tiong-pek bersama Gak Lam-kun melompat masuk kedalam pekarangan rumah,

mereka mencoba untuk menengok sekelilingnya, tapi cuma kegelapan yang ditemui. Angin

musim gugur yang berhembus lewat, yang menggugurkan dedaunan kering, menambah

seramnya suasana dalam perkampungan tersebut…

Si Tiong-pek berpaling, dan ujarnya kepada Gak Lam-kun sambil tertawa lirih, “Saudara

Gak, coba kau lihat! Semua jendela dan pintu dalam perkampungan ini tertutup rapat,

seolah olah tiada penghuninya, tapi aku rasa justru keadaan semacam ini harus

mengundang kewaspadaan yang lebih tinggi buat kita” Gak Lam-kun mendengus dingin.

“Hmm…! Toh kita sudah sampai disini, perduli apa yang hendak mereka lakukan atas

diri kita?”

Si Tiong-pek ikut tertawa.

“Untuk suksesnya pencarian ini, bagaimana kalau saudara Gak melakukan tugas

pemeriksaan dari timur menuju keselatan, sedang aku dari barat menuju keselatan? Bila

tidak menemukan sesuatu, kita berkumpul lagi disini?”

Gak Lam-kun tidak menjawab, lalu dia kerahkan hawa murninya melambung keudara

dan melayang turun diatas atap rumah dengan entengnya.

“Siaute akan berangkat duluan!” kata Gak-Lam-kun sambil berpaling.

Lalu dia kerahkan hawa murninya dan melejit keudara, sekali melompat tubuhnya

sudah mencapai sejauh tiga empat kaki dari tempat semula. Dia hinggap diatas sebatang

pohon Pek-yang, dari situ dengan meminjam tenaga pantulan dari dahan pohon, ibaratnya

kuda langit yang terbang diangkasa, secara beruntun dia lewati tiga lapis bangunan rumah

dan melayang turun nun jauh disana.

Lompatan ini hampir mencapai jarak sejauh belasan kaki, bukan saja cepat bagaikan

kilat, langkah lompatannya pun luar biasa.

Si Tiong-pek yang ada dibelakangnya cuma bisa berdiri melongo menyaksikan

kesemuanya mimpipun tak pernah ia sangka jika ilmu meringankan tubuh dari Gak-Lamkun

sudah mencapai taraf sedemikian tingginya, sehingga kalau dibandingkan maka

hampir sejajar dengan kemampuan gurunya sendiri…

Sebagai pemuda yang panjang pikiran dan banyak tipu muslihat, dia lantas mengambil

satu keputusan dalam hatinya, bagaimanapun juga dia harus berusaha untuk merangkul

pemuda itu agar mau berpihak kepadanya…

Begitu keputusan diambil, secepat sambaran petir Si Tiong-pek berangkat menuju

kebarat.

Dalam waktu singkat Gak Lam-kun telah melewati beberapa buah halaman luas, tapi

yang aneh sepanjang jalan hanya keheningan yang ditemui, tiada jejak manusia yang

tampak, tiada cahaya lampu yang terlihat, segala sesuatunya sepi, gelap dan

menyeramkan.

“Aneh benar, masa perkampungan ini tiada penghuninya? Kalau tidak, kenapa sunyi

senyap suasana disini?”

Keheningan yang luar biasa, yang berada diluar dugaan ini, mendatangkan perasaan

ngeri, perasaan seram bagi siapapun yang kebetulan berada disana.

Terdiam beberapa saat, tiba-tiba Gak Lam-kun menyaksikan sesosok bayangan manusia

berkelebat lewat dari puluhan kaki dihadapannya, cepat nian gerakan tubuh orang itu,

hanya sekilas pandangan saja tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.

Serta merta ia melakukan pengejaran kesana tapi apa yang ditemukan hanya

keheningan ditengah malam buta, tak sesosok bayangan manusiapun yang ditemui.

Kenyataan tersebut makin mengejutkan Gak Lam-kun, dia lantas berpikir, “Bila ditinjau

dari gerakan tubuhnya, sudah pasti ilmu silatnya amat tangguh, aaai…jago lihay dalam

dunia persilatan memang tak terhitung jumlahnya”

Malam semakin kelam, suasana semakin hening hanya bintang bertaburan diangkasa,

dan rembulan memancarkan sinarnya yang keperak-perakan.

Tiba-tiba dari balik sebuah ruangan, dalam bangunan perkampungan itu muncul

seberkas sinar lilin, tanpa berpikir panjang Gak Lam-kun melompat kedepan dan melayang

kearah mana berasalnya cahaya tersebut.

Tiba-tiba ia mendengar sesuatu dari balik ruangan. Kedengaran seseorang sedang

berkata, “Dapatkah kau sembuhkan luka racun yang dideritanya itu?”

Suara lain yang nyaring segera menjawab, “Ou Yong-hu, jika kau dapat

menyembuhkannya, kenapa harus datang untuk mohon bantuan Kwik To sianseng?”

Mendengar perkataan itu, kembali Gak Lam-kun berpikir, “Aneh benar, kenapa Ou

Yong-hu bisa berada dalam bangunan ini? Kalau didengar dari suara yang nyaring,

tampaknya seperti suara dari Bwe Li-pek tapi kalau didengar dari pembicaraan selanjutnya

seperti Ou Yong hu membawa adik Ji Kiu liong kesitu untuk mohon bantuan Kwik To

sianseng guna meyembuhkan racun Jit-poh-toan-hun(tujuh langkah pemutus nyawa)…”

Semua kejadian yang berada diluar dugaan ini membuat Gak Lam-kun kebingungan,

membuat si pemuda tertegun dan tak tahu apa yang sebetulnya telah terjadi.

Dari dalam ruangan kembali terdengar suara dari Tang-hai coa-siu Ou Yong-hu,

“Benarkah kau dapat menemukan Kwik To sianseng bagiku?”

“Ou Yong-hu! Jika kau tidak percaya kepadaku, bawa dia pergi dari sini…!”

“Aku bukannya tidak percaya kepadamu, cuma soal ini menyangkut soal nyawa

manusia…”

“Yaa, sekali orang ini mampus, berarti kau Ou Yong hu juga tak ada harapan untuk

hidup lebih lanjut!” sambung suara nyaring itu dengan cepat.

Gak Lam-kun yang mendengar perkataan itu sekali lagi tertegun dibuatnya.

“Aneh benar darimana Bwe Li-pek bisa meraba suara hatiku…?” pikirnya kemudian.

Dalam pada itu, Kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu sedang tertawa seram.

“Heeehhh…heeehh…heeehh…aku Ou Yong hu tak dapat hidup, memangnya Kwik To

sianseng masih bisa bernyawa?”

“Hmmm…! Seorang jago persilatan yang gagah perkasa, berani berbuat berani pula

bertanggung jawab, Kwik To sianseng tak akan sepengecut kau Ong Yong-hu!”

Rupanya kakek ular dari lautan timur ini sangat jeri terhadap orang itu, meskipun

berulangkali dia dicemooh dan dihina, namun sedikitpun tak marah, dia malah berkata lagi

sambil tertawa seram, “Baik! Baik! Rupanya kalian orang-orang perguruan panah bercinta

memang lebih berani menghadapi muridnya Tok-liong Cuncu, bagus! Orang ini kuserahkan

kepadamu, bila ia sampai mengalami sesuatu yang tak beres, murid Tok-liong Cuncu, Gak

Lam-kun pasti akan membuat perhitungan sendiri dengan kalian”

Selesai mengucapkan kata-kata tersebut tampak Ou Yong hu keluar dari ruangan

dengan langkah lebar, kemudian sekali melompat dia sudah berada diatas rumah dan

kabur dari situ.

Gak Lam-kun merasa terperanjat, sekarang dia baru tahu kalau Bwe Li-pek adalah

anggota perguruan panah bercinta, itu berarti Kwik To sianseng juga merupakan anggota

dari perguruan panah bercinta.

Gak Lam-kun memandang sekejap sekeliling tempat itu, setelah merasa bahwa

disekitarnya tak ada orang, diam-diam menyelinap kebawah lalu menyusup kedalam

ruangan, bau harum semerbak tersiar keluar masuk penciuman, tampaknya ruangan ini

adalah kamar tidur seorang perempuan.

Cahaya lilin bergetar pelan lalu pulih kembali menjadi terang, dalam ruangan terdapat

meja dari kayu cendana, mainan dari batu pualam, tirai dari kain sutra warna biru dan alas

lantai dari permadani putih suatu dekorasi yang mewah dan megah.

Pada sudut dekat dinding membujur sebuah pembaringan berukiran indah, kelambunya

tergulung rapi, seprei dan sarung bantalnya bersulamkan bunga mawar yang indah, sudah

pasti kamar pribadi seorang nona.

Gak Lam-kun mengerutkan dahinya, dia melirik sekejap kearah pembaringan disudut

ruangan.

Seorang bocah lelaki berbaju putih berbaring diatas pembaringan, dia tak lain adalah Ji

Kiu liong seorang pemuda berbaju putih sedang menguruti jalan darah penting

ditubuhnya.

Cukup memandang baju putihnya, tak usah melihat wajahpun Gak Lam-kun sudah tahu

bahwa dia bukan lain adalah Bwe-Li-pek yang misterius itu…

Dia sedang pusatkan segenap perhatiannya untuk menguruti jalan darah penting

disekujur tubuh Ji Kiu liong, sekalipun Gak Lam-kun sudah berada dibelakangnya, ternyata

ia sama sekali tidak merasakan.

Tiba-tiba Bwe Li pek menghentikan perbuatannya, kemudian berpaling seraya tertawa.

“Kenapa kau juga sampai disini?” tegurnya.

Sekarang Gak Lam-kun sudah tahu kalau Bwe Li pek sedang mengobati luka racun dari

Ji Kiu liong, meski begitu tanpa sadar dia bertanya kembali, “Bwe-heng, apa yang sedang

kau lakukan?”

Bwe Li pek mengerlingkan matanya lalu tertawa kembali.

“Kau telah menipu Ou Yong-hu untuk mengantarnya kemari, dan sekarang aku telah

menotok delapan nadi urat aneh ditubuh adik Liongmu, ketiga ratus enam puluh empat

buah persendiannya sudah kukendorkan, dalam keadaan begini, bila kau sentuh sedikit

saja tubuhnya, niscaya semua tulangnya akan copot dan rontok”

Gak Lam-kun tertegun, dia berdiri melongo. Sepatah katapun belum sempat diucapkan,

kembali Bwe Li pek berkata, “Keadaan Ji Kiu liong sekarang, kecuali isi perutnya masih

berjalan normal seperti biasa, pada hakekatnya bagian organ tubuh lainnya sudah tak

berguna lagi, racun jahat itu sudah meresap kedalam tulang belulangnya, kini secara

perlahan tapi pasti merembes keluar dari sendi-sendi tulangnya dan mengikuti aliran darah

mengalir keseluruh badan. Dengan demikian racun tersebut akan mengikuti darah masuk

kejantung, tanpa harus mengalami siksaan dan penderitaan yang keji selama tujuh hari,

racun itu secara langsung akan menyerang jantung!”

Gak Lam-kun sangat terkejut, teriaknya, “Kalau begitu, kau memang sengaja membuat

racun itu menyerang jantungnya?.”

“Yaa… apa boleh buat?” jawab Bwe Li pek sambil tersenyum, “kecuali berbuat begitu,

apalagi yang bisa kita lakukan?”

Sambil berkata, pelan-pelan dia menuju kedepan pintu, memandang bintang yang

bertaburan diangkasa dan menghembuskan napas panjang.

Gak Lam-kun tampaknya telah salah mengartikan perkataan itu, dia mengira Bwe Li pek

memang bermaksud hendak mencelakai jiwa Ji Kiu liong dengan mempercepat kerjanya

racun itu menyerang kejantung, kontan saja hawa amarahnya berkobar.

“Heeehhh…heeehhh…heeehhh…saudara

Bwe” tegurnya sambil tertawa dingin, “mati hidup seorang manusia adalah masalah

besar, memangnya kau anggap kejadian tersebut cuma bahan suatu gurauan?”

“Kau tidak mengerti maksud hatiku!” kata Bwe Li pek sambil berpaling, sepasang alis

matanya berkrenyit.

“Hmm! Sekalipun dia harus merasakan siksaan dan penderitaan selama tujuh hari, aku

tak rela kalau kau matikan kesempatan hidupnya selama tujuh hari itu, sekarang kau telah

mencelakai jiwanya, maka kaupun harus mengganti dengan nyawamu!” teriak Gak Lamkun

ketus.

Perasaan anak muda tersebut ketika itu dipengaruhi oleh emosi yang meluap, ia tidak

memperhatikan bagaimanakah murung dan sedihnya Bwe Li pek, ia tak sudi memberi

kesempatan kepadanya untuk memberi keterangan apapun juga.

Begitu selesai berkata tiba-tiba ia turun tangan dicengkeramnya urat nadi pada

pergelangan tangan Bwe Li pek dengan jurus Lam-hay-po-liong(menangkap naga dilaut

selatan).

Serangan cepat dan lagi tepat, dalam perkiraan Gak Lam-kun ancaman itu pasti

mendatangkan hasil yang diinginkan.

Siapa tahu, baru saja tangan kanannya digerakkan, tiba-tiba bayangan manusia

berkelebat lewat dihadapan matanya, tahu-tahu Bwe Li pek sudah melompat keluar dari

ruangan.

Gak Lam-kun tertawa dingin, dia menyusul keluar, tapi dalam waktu yang amat singkat

Bwe Li pek sudah lenyap tak berbekas.

Tak terkirakan rasa kaget Gak Lam-kun, cepat-cepat dia melompat keatap rumah dan

memeriksa keadaan sekeliling tempat itu.

Dibawah sorotan cahaya rembulan, tampaklah sesosok bayangan manusia sedang

berlarian diatas atap kurang lebih belasan kaki jauhnya.

Kejut dan marah Gak Lam-kun, dia merasa diejek, tanpa berpikir panjang dengan suatu

gerakan cepat dia mengejar kearah bayangan tersebut…

Rupanya orang didepan merasa kalau dikejar makin cepat Gak Lam-kun mengejarnya,

semakin cepat pula orang itu melarikan diri.

Dalam waktu singkat mereka sudah berada diluar kompleks perumahan tersebut, tapi

orang itu masih lari terus dengan kencangnya.

“Bwe Li pek!” Gak Lam-kun segera berteriak keras, “sebagai seorang lelaki sejati, berani

berbuat harus berani tanggung jawab, kalau melarikan diri, terhitung jago apaan kamu

ini?”

Sambil membentak, Gak Lam-kun berkelebat kemuka, lalu dengan gerakan Pat-pohteng-

gong(delapan langkah mencapai langit), bagai burung elang mencari mangsa secepat

kilat dia menyusul keatas, lalu telapak tangan kanannya dengan jurus im-gwat-tian-kong

(awan rembulan cahaya kilat) dia hantam punggung orang.

Setelah pukulan dilancarkan, Gak Lam-kun baru mengetahui kalau orang itu bukan Bwe

Li pek dengan perasaan terkejut buru-buru ia menarik kembali serangannya.

Siapa tahu, mendadak orang itu tertawa panjang, sambil putar badan kaki kirinya

diangkat dan menendang lambung si anak muda.

Memutar badan, melancarkan serangan, gerakan tersebut dilakukan hampir bersamaan

waktunya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Gak Lam-kun terperanjat, buru-buru dia melompat mundur dan mengawasi lawannya

lebih seksama. Ternyata dia adalah seorang laki-laki berbaju abu-abu dengan sebuah kain

cadar menutupi wajahnya, orang itu tak lain adalah si lelaki berbaju abu-abu yang

mendayung perahu Bwe Li pek.

Terdengar orang berbaju abu-abu itu berkata sambil tertawa tergelak, “Gak siangkong,

besar amat luapan amarahmu! Jangan kau anggap dengan andalkan beberapa macam

kepandaian silat yang kau peroleh dari Tok liong Cuncu, maka kau bisa seenaknya merajai

dunia persilatan. Hmm…! Jika pada malam ini aku si orang tua tidak mengeluarkan sedikit

kepandaian agar kau tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, entah sampai dimana

kesombonganmu dikemudian hari?”

Ketika melihat orang adalah sekomplotan Bwe Li pek, dan mendengar perkataannya

seketika hawa napsu membunuh dihati Gak Lam-kun berkobar, sambil tertawa dingin

katanya, “Bwe Li pek telah mencelakai adikku, dan sekarang kujumpai kau sebagai

komplotannya, maka lebih baik kuringkus lebih dulu dirimu”

Selesai berkata, Gak Lam-kun segera menggerakkan sepasang telapak tangannya untuk

melancarkan dua buah serangan berantai, angin pukulan menderu-deru, terasalah betapa

dahsyatnya tenaga pukulan itu.

Rupanya si orang berbaju abu-abu tahu serangan itu lihay, dia tak berani menyambut

serangan tersebut dengan kekerasan badannya melompat kesamping lalu melambung

keudara bagaikan segulung angin dia menyambar lewat dari bawah kakinya, dengan

demikian terhindarlah dia dari ancaman.

“Hmm, jangan kau anggap bisa lolos dari cengkeramanku!” bentak Gak Lam-kun.

Tiba-tiba dia melambung keudara, tangan kirinya mencengkeram tubuh lawan dengan

jurus Sin-liong-tham-jiau(naga sakti unjukkan cakar), sedang tangan kanannya secepat

kilat mencengkeram pergelangan tangan kanan lawan dengan jurus Boan koan-huan

poh(hakim pengadilan meringkas catatan).

Berkilat sepasang mata laki-laki berbaju abu-abu itu, pergelangan tangannya segera

ditekan kebawah, lalu dengan gerakan yang aneh sepasang telapak tangannya menotok

seperti juga membacok menghantam jalan darah Hian ki, Tong-bun dan Ciang-tay tiga

buah jalan darah penting.

Jurus serangan ini anehnya luar biasa, sekalipun Gak Lam-kun berilmu tinggi toh sulit

juga baginya untuk memunahkan ancaman tersebut, terpaksa ia menarik kembali

serangannya dan mundur tiga langkah kebelakang…

Tiba-tiba menyelinap dalam pikirannya, Gak Lam-kun segera membentak nyaring,

“Apakah kau adalah Jit-poh toan-hun(tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To?”

Orang berbaju abu-abu itu tertawa tergelak, tiba-tiba dia menjura, “Maafkanlah daku

Gak lote!”

Tanpa menantikan jawaban dari Gak Lam-kun, dia putar badan dan segera berlalu dari

situ.

Gak Lam-kun tertawa seram, kembali dia membentak, “Kwik To, sebelum kabur

tinggalkan dulu nyawamu!”

Tubuhnya berkelebat kemuka dengan cepatnya, dengan menghimpun hawa sakti Tongliong-

ci-jiau dalam telapak tangan kanannya, secepat kilat dia melancarkan serangan

maut.

Agaknya orang berbaju abu-abu itu dibuat keder oleh kedahsyatan serta keganasan

ilmu maha sakti itu, dengan hati tercekat dia terbelalak, untuk sesaat orang itu tak tahu

apa yang harus dilakukan?

Ketika dia masih tertegun, lima gulung angin serangan sedahsyat amukan taupan

menggulung tiba dan menerjang dadanya.

Untunglah disaat yang amat kritis, orang berbaju abu-abu tersebut masih sempat

mengempos tenaga dalamnya, cepat dia melindungi dadanya dan melepaskan sebuah

serangan kedepan.

Kebetulan pada waktu itu muncul pula segulung angin pukulan yang lembut dari arah

kanan yang langsung menyerang kearah gulungan hawa sakti Tok-liong-ci-jiau…

“Blaaang…!” benturan nyaring tak dapat dihindari lagi.

Dengan sempoyongan orang berbaju abu-abu itu mundur tiga empat langkah

kebelakang.

Terdengar seorang perempuan membentak dengan marah, “Kau tua bangka yang tak

tahu malu, urusan yang serius tidak dilakukan malah berkelahi dengan orang disini.

Memangnya matamu sudah buta hingga maksud hati majikan pun tidak kau pahami?”

Setelah berhasil menenteramkan hatinya, orang berbaju abu-abu itu tertawa tergelak.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhh…lihay benar-benar sangat lihay, ilmu penghancuran dari

Tok-liong-ci-jiau tidak berkurang dari kedahsyatannya seperti tempo hari”

Dia putar badan kabur dari situ, dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya

sudah lenyap dari pandangan.

Untuk melancarkan serangannya tadi, Gak Lam-kun telah menggunakan hawa sakti

Tok-liong-ci-jiaunya sebesar tujuh bagian, setelah serangan dilepaskan dalam

perkiraannya kalau tidak mampus orang berbaju abu-abu itu tentu luka parah.

Siapa tahu ketika terjadi bentrokan, ia merasakan munculnya segulung tenaga pantulan

yang maha dahsyat menekan kedadanya membuat darah ditubuhnya bergolak keras.

Memang pukulan itu tidak diterima semua oleh orang berbaju abu-abu tapi ada seorang

yang membantunya dari samping, tapi sejak terjun kedalam dunia persilatan baru kali ini

Gak Lam-kun menjumpai orang yang memiliki tenaga dalam sesempurna itu…

Dalam kejut dan geramnya Gak Lam-kun berpaling, beberapa tombak jauh didepannya

berdiri seorang nyonya tua yang rambutnya telah beruban, mukanya masih tampak cantik,

sepintas lalu usianya seperti baru mencapai empat puluh tahunan, tapi rambutnya sudah

beruban.

Dia memakai jubah panjang berwarna putih dengan celana hitam, sebuah handuk

bersulamkan bunga melilit pada pinggangnya, sepasang pedang tersoren dipunggung dan

tampak gagah perkasa.

“Gak siangkong! kata nyonya berambut uban itu sambil tertawa, “kau tak usah

berurusan dengan setan tua itu, dia memang selamanya berangasan macam anak-anak

saja. Biar kumohonkan maaf baginya!”

Selesai berkata dia lantas menjura, kemudian putar badan siap berlalu dari situ, Gak

Lam-kun tertegun, dia seperti orang bodoh yang tak tahu urusan, meski otaknya cerdik

toh dibuat kebingungan juga oleh keadaan tersebut, waktu dia masih tertegun nyonya

berambut uban sudah berada tujuh delapan kaki jauhnya. Buru-buru dia menyusul

kedepan sambil berteriak, “Eeeh…nyonya, harap tunggu sebentar, aku masih ada urusan

lain yang hendak dibicarakan denganmu!”

Nyonya berambut putih itu berhenti dan tertawa.

“Ada urusan apa Gak siangkong? Silahkan bicara”

“Tolong tanya apakah nyonya anggota perguruan panah bercinta..?” tanya Gak Lamkun

dengan dahi berkerut.

Sambil tersenyum nyonya berambut putih itu mengangguk.

“Yang kalian sebut sebagai majikan! apakah Bwe Li pek?” desak anak muda itu lebih

jauh.

Nyonya berambut putih itu hanya tersenyum, tidak menjawab.

Kontan saja Gak Lam-kun tertawa dingin.

“Heeehhh…heehh…heeehh… bagus! Jadi kau maupun Jit-poh-toan-hun hendak

membekukmu dulu”

Paras muka nyonya berambut putih itu agak berubah, tapi dia berusaha sedapat

mungkin untuk menahan diri.

“Gak siangkong” tegurnya, “usiamu masih muda, kenapa mulutmu tajam dan suka

melukai perasaan orang?”

“Bwe Li pek telah mencelakai adikku, aku bersumpah tak akan hidup berdampingan

dengannya!” bentak anak muda itu marah.

Setelah medengar perkataan itu, tiba-tiba saja nyonya berambut putih itu tertawa

terkekeh-kekeh.

“Gak siangkong, kali ini kau telah membalas air susu dengan air tuba adikmu telah

ditolong majikanku kalau tidak percaya silahkan memeriksa sendiri!”

Begitu selesai berbicara, dia lantas mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya yang

sempurna dalam dua tiga kali lompatan bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Dibawah cahaya rembulan, nyonya berambut putih itu lenyap bagaikan segumpal asap.

Agak termangu Gak Lam-kun memandang bayangan punggungnya yang lenyap

dikejauhan itu, lama sekali dia termenung, kemudian baru pikirnya, “Ilmu meringankan

tubuh yang dimiliki perempuan ini sungguh mengerikan, pergi datangnya ibarat kilat yang

berkelebat diudara…aaai, rupanya Bwe Li pek adalah seorang manusia yang luar biasa!”

Ditinjau dari jurus serangan yang barusan dipergunakan orang berbaju abu-abu itu

sudah jelas ilmu tersebut adalah ilmu Kiam-goan-ciang dari Jit-poh-toan-hun(tujuh langkah

pemutus nyawa) Kwik To. Dan seandainya Kwik-To adalah dalang dari sebab kematian

gurunya, itu berarti pula antara dia dengan Bwe Li pek akan berhadapan sebagai musuh

bebuyutan.

Terbayang kembali tentang keadaan tersebut Gak Lam-kun menghela napas panjang,

setelah menentukan arah dia lari kembali kekomplek perkampungan tadi.

Ruangan itu terang benderang bermandikan cahaya, semua benda yang ada didalam

ruang masih tetap seperti sedia kala, tapi Bwe Li pek maupun Ji Kiu liong yang berbaring

diatas pembaringan telah lenyap tak berbekas.

Diatas meja tiba-tiba Gak Lam-kun menemukan secarik sapu tangan berwarna putih,

saputangan itu penuh tulisan, segera diambilnya kain itu dan diperiksa isinya, “Ji Kiu liong

adik kecilmu sudah terkena racun jahat yang bersumber dari bukit Leng san diwilayah Seeih,

dengan ilmu sinkang tingkat atasku, semua racun yang mengeram dalam tubuhnya

berhasil kudesak keluar bila diberi perawatan yang lebih rutin maka semua pengaruh

racun jahat itu akan lenyap dan menjadi sehat kembali. Komplek perkampungan dipulau

ini telah diliputi hawa pembunuhan yang hebat, setiap langkah berarti bahaya mengintai

dari mana-mana, semoga kau baik-baik menjaga diri…

Diujung bawah surat tersebut tidak nampak tanda tangan, tapi jelas tulisan seorang

perempuan.

Selesai membaca tulisan itu, Gak Lam-kun berdiri termangu-mangu, lalu menghela

napas panjang, pelan-pelan ia keluar dari ruangan dan memandang bintang yang

bertaburan diangkasa, kemudian tubuhnya melompat keatas atap rumah dan berkelebat

menuju ke utara.

Dalam waktu singkat beberapa buah bangunan besar telah dilewati, tiba-tiba ia

menyaksikan sebuah bangunan mungil di depannya, bangunan itu sangat indah dan

dikelilingi kebun bunga yang menawan hati.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Gak Lam-kun, pikirnya, “Aneh, mengapa

ditengah kompleks perkampungan yang kosong terdapat sebuah bangunan taman bunga

yang demikian indahnya, masa disini ada penghuninya? Oya… Bwe Li-pek bukankah

muncul juga dalam kompleks perkampungan ini? Jangan-jangan dialah pemilik

perkampungan ini.Tapi menurut Si Tiong-pek, Soat san Thian-li telah tiba pula dipulau ini,

atau mungkin dia yang berada dalam perkampungan ini?”

Mendadak terdengar suara gemersak muncul di balik semak, lalu berkumandanglah

suara teguran, ”Saudara Gak kah yang berada disitu? Sudah lama siau-te mencari

jejakmu!”

Gak Lam-kun kenali suara itu sebagai suara Si Tiong-pek, cepat dia melompat turun.

Waktu itu Si Tiong-pek duduk bersandar dibalik semak, Gak Lam-kun menghampirinya

seraya bertanya, “Saudara Si, berhasil kau temukan jejak musuh?”

Si Tiong-pek menghela napas panjang.

“Aaaai… meski musuh tangguh tidak kujumpai, tapi dari dalam perkampungan ini siaute

telah menjumpai seorang nona muda yang sangat cantik bak bidadari dari kahyangan”

“Lantas bagaimana?” tanya Gak Lam-kun dengan dahi berkerut.

Agaknya Si Tiong-pek tidak mendengar pertanyaannya, setelah berhenti sejenak, ia

berkata kembali, “…selama hidup, tak terhitung jumlah gadis cantik yang pernah

kujumpai, lapi belum pernah kutemui gadis rupawan seperti apa yang kutemui barusan…”

Berdebar juga jantung Gak Lam-kun setelah mendengar pujian Si Tiong-pek atas gadis

yang dimaksudkan, segera pikirnya, “Benarkah didalam semua ini terdapat gadis cantik

seperti apa yang ia lukiskan?

Kalau tidak, mengapa Si Tiong-pek bisa kesemsem macam orang kehilangan sukma?”

Berpikir sampai disitu, Gak Lam-kun kembali bertanya, “Kini berada dimana gadis itu?”

Agak merah wajah Si Tiong-pek lantaran jengah tapi ia toh tersenyum juga.

“Gadis cantik itu berada dalam komplek perumahan didepan sana. Apakah saudara Gak

juga ingin melihat wajahnya? Mari, kuantar engkau kesana!”

Setelah berkata, tanpa memperdulikan apakah Gak Lam-kun setuju atau tidak, ia

bangkit dan beranjak lebih dulu.

Dengan sekali lompat dia naik keatas atap rumah, lalu bergerak menuju kedepan, Gak

Lam-kun bimbang sebentar, akhirnya dia menyusul dari belakang.

Waktu itu Si Tiong-pek sudah melayang turun kedalam sebuah halaman, dengan cepat

Gak Lam-kun menyusul dibelakangnya.

Tempat itu adalah sebuah halaman rumah yang indah, sepi dan bersih, sebatang pohon

berbunga putih tumbuh dekat dinding pekarangan, lalu disepanjang dinding penuh dengan

pot-pot bunga yang terdiri dari aneka macam bunga.

Ketika angin malam berhembus lewat, bau harum bunga serasa memabokkan, harum,

segar dan mempesonakan.

Si Tiong-pek bersembunyi dibelakang beberapa buah pot bunga dideretan sebelah kiri,

dia sedang mengintip ruangan diujung selatan.

Menyaksikan perbuatannya itu, dengan dahi berkerut Gak Lam-kun segera berpikir,

“Sudah jelas dia tahu kalau ruangan itu dihuni seorang gadis, masa ditengah malam buta

begini dia datang mengintip kamar tidur orang, aah…perbuatan semacam ini terlampau

memalukan!”

Belum habis dia melamun suara tertawa cekikikan berkumandang memecahkan

kesunyian, diantara bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu ditengah halaman

telah bertambah dengan empat orang gadis cantik bak bidadari dari kayangan, mereka

berempat mengenakan gaun tipis berwarna hijau, biru, kuning dan merah.

Makin terkejut Gak Lam-kun setelah menyaksikan gerakan tubuhnya, dia tahu keempat

orang nona itu berilmu silat tinggi, ini dapat dilihat dari gerakan tubuh mereka yang

enteng, lincah dan cepat.

Si nona bergaun biru tampil kemuka dengan wajah garang, lalu membentak dengan

lantang, “Hei, mau apa kamu berdua disitu? Kenapa begitu lancang memasuki halaman

rumah kami?”

Sambil cengar cengir Si Tiong-pek memberi hormat.

“Oh, maaf! Maaf! Harap kalian bersedia memberi maaf bila malam buta begini kami

mengganggu ketenangan kalian.”

“Yaa… maklumlah, dipulau kosong ini tiada tempat berteduh lain kecuali tempat ini,

maka kami datang kemari untuk ikut numpang berteduh”

“Oooh… rupanya begitu!” nona berbaju hijau yang ada disudut timur menyahut, “kalau

begitu cepatlah kalian berdua tinggalkan tempat ini! Jika menunggu sampai nona kami

bangun, untuk meninggalkan tempat ini mungkin tak segampang saat ini”

Si Tiong-pek tersenyum.

“Bolehkah aku tahu siapa nama nona kalian? Masa sejelek itu adatnya…?”

Air muka keempat orang itu tiba-tiba berubah hebat, senyuman yang semula menghiasi

ujung bibir mereka seketika lenyap tak berbekas, sebagai gantinya muka mereka menjadi

sedingin es, alis matanya berkrenyit dan kelihatan kalau mereka sedang naik pitam.

Pada saat itulah terdengar suara merdu bagaikan burung nuri berkumandang dari balik

ruangan, “Masuk rumah orang ditengah malam buta, sudah mengganggu nyenyaknya

orang tidur, menjelekkan orang lagi. Hmm! Jika mereka keberatan untuk meninggalkan

tempat ini, bunuh saja dan kubur disitu! Biar selamanya bisa berada disana”

Suaranya merdu merayu, cukup didengar dari suaranya yang indah menawan dapat

dibayangkan betapa cantiknya perempuan itu.

Si Tiong-pek segera tertawa tergelak.

“Haaahhh…haaahhh…haaahah…maaf, maaf! Aku tak tahu kalau nona berada ditempat

ini, bila kedatangan kami telah mengganggu ketenangan nona, harap kau bersedia

memaafkan!”

Suara yang merdu merayu itu kembali berkumandang, “Orang yang barusan berbicara

itu licik, banyak tipu muslihat dan pandai berbohong, tak ada gunanya manusia seperti dia

dibiarkan hidup didunia ini. Nah, sekarang kuhadiahkan kematian dengan bunuh diri

kepadamu, sedang orang yang satu lagi boleh tinggalkan tempat ini dengan segera…”

Sejak masuk keruangan tersebut, Gak Lam-kun hanya berdiam diri tanpa berbicara, dia

hanya berdiri dengan wajah kebingungan.

Disaat itulah si nona baju merah yang berada disebelah utara membentak kepada Gak

Lam-kun dengan suara lantang, “Hei, nona kami telah menghadiahkan pengampunan

bagimu, kenapa tidak cepat-cepat kau ucapkan terima kasih kepadanya?”

Paras muka Gak Lam-kun sedikitpun tidak berubah, malah ia tidak ambil perduli

terhadap bentakan tersebut.

Sikap seperti ini membuat si nona berbaju merah itu menjadi tertegun, sekali lagi dia

membentak, “Hei, Memangnya kau tuli?”

Gak Lam-kun masih juga tidak menggubris, Si Tiongpek yang berada disampingnya

segera terbahak-bahak, “Haaahhh…haaahhh…haaahhh…kami berdua tidak bisu ataupun

tuli, mulut dan telinga kami normal senormal manusia biasa, cuma…ya kami merasa

sangat terharu oleh pemberian nona kalian maka untuk sesaat menjadi kaget dan tak tahu

bagaimana harus mengucapkan rasa terimakasih?”

“Bagaimana?” nona berbaju merah itu mengerdipkan matanya, “jadi kalian berani

membangkang perintah nona?”

Berbareng dengan ucapan tersebut tiba-tiba ia lancarkan sergapan kilat.

Secepat anak panah yang terlepas dari busurnya tahu-tahu sudah bergerak maju, dia

langsung menerjang kehadapan Si Tiong-pek dan mencengkeram pergelangan tangan

lawan dengan tangan kirinya.

Jurus serangan yang dipakai adalah jurus serangan yang aneh, tapi cepat, dahsyat, dan

mengerikan.

Dengan rasa kaget yang meluap Si Tiong-pek menghindar kesamping, nyaris dia

termakan oleh serangan yang maha dahsyat itu.

Walaupun Si Tiong-pek dapat meloloskan diri dari cengkeraman itu dengan egosan

badan, nona baju merah itu tidak kaget ataupun tercengang malah serangan kedua segera

dilancarkan.

Si Tiong-pek dibikin kaget oleh ancaman itu, yaa, pada hakekatnya nona berbaju merah

itu menyerang dengan kecepatan yang luar biasa, kecepatan seperti itu belum pernah

ditemuinya sepanjang hidupnya. Bayangkan saja, seorang gadis muda belia ternyata

mempunyai gerakan tubuh yang luar biasa cepatnya mana mungkin dia tidak menjadi

kaget? Untung dia sudah bersiap sedia menghadapi ancaman tersebut, coba kalau tidak?

Niscaya sudah tertangkap lawan.

Gak-Lam-kun yang menyaksikan dari samping pun merasa terperanjat, cuma yang

membuat dia terperanjat adalah nona yang berada dalam ruangan itu…

Secara beruntun si nona berbaju merah itu melancarkan tiga buah serangan berantai,

dari serangan mencengkeram tiba-tiba saja ia merubahnya menjadi serangan pukulan,

diantara berkelebatnya telapak tangan kiri, secara beruntun ia melepaskan lima buah

serangan dahsyat.

Dengan perubahan tersebut, maka semakin menyerang serangannya makin gencar,

tangannya yang putih, kecil dan halus ibaratnya kupu-kupu yang berterbangan diantara

bunga, semua pukulan tertuju pada bagian-bagian yang mematikan ditubuh Si Tiong-pek.

Makin terperanjat Si Tiong-pek menghadapi serangan yang kian lama kian bertambah

hebat, terutama gerakannya yang aneh serta arah tujuan yang sukar diraba, dalam waktu

singkat kembali ia terdesak mundur sejauh empat lima langkah.

Si nona baju biru yang berada disudut barat daya tiba-tiba bertindak cepat, sambil

menekuk pinggang ia lepaskan sebuah sapuan kearah Si Tiong-pek.

Mengikuti sapuan tersebut, gaun birunya tersingkap lebar sehingga paha dan betisnya

yang putih mulus kelihatan semua. Kulit yang halus merangsang itu cukup membikin hati

orang berdebar.

Ooo)*(ooO

Si Tiong-Pek sama sekali tak menduga akan kejadian ini, ia kena tersapu sehingga

mundur tiga langkah dengan sempoyongan.

Si nona baju kuning yang berada disebelah selatan tak tinggal diam, dia tertawa

terkekeh-kekeh lalu melancarkan pula sebuah tendangan kilat.

Semua peristiwa ini seketika menimbulkan kobaran amarah didada Si Tiong-pek,

dengan telapak tangan kanannya dia lepaskan sebuah bacokan kearah musuhnya.

Gagal dengan tendangannya, Si nona baju kuning segera manfaatkan kesempatan itu

untuk melompat mundur, dengan demikian ketika Si Tiong-pek melancarkan bacokannya,

si nona sudah berada empat depa jauhnya dari gelanggang.

Gelak tertawa cekikikan berkumandang dari belakang, si nona baju hijau yang berada

disudut timur tiba-tiba bertindak cepat.

Gak Lam-kun dapat menyaksikan semua peristiwa itu dengan jelas, lebih-lebih setelah

Si Tiong-pek dipermainkan empat orang nona itu.

Dia tak tega, maka sambil melompat kedepan serunya, “Saudara Si, keempat nona ini

terlampau binal dan nakal, biar aku yang hadapi mereka!”

Dengan cekatan dia menerjang kegelanggang pertempuran lalu tangan kirinya

berkelebat secepat kilat menyodok jalan darah Oi-ji-hiat dilengan kanan nona berbaju

hijau.

Nona berbaju hijau itu menjerit kaget, buru-buru dia buyarkan serangannya sambil

melompat mundur.

Pada saat itu Si Tiong-pek sedang kelabakan dipermainkan keempat orang nona itu.

untunglah disaat yang kritis Gak Lam-kun bertindak cepat dengan menahan seranganserangan

musuh.

Dengan demikian maka, ia memperoleh kesempatan untuk mengatur kembali

napasnya.

Baru saja Gak Lam-kun mendesak mundur si nona baju hijau, tiba-tiba terdengar

bentakan nyaring, disusul kemudian si nona baju biru dan si nona baju merah

melancarkan serangan bersama dari kiri dan kanan.

Diantara berkelebatnya bayangan tangan, jari-jari tangan mereka mengurung keempat

bagian jalan darah penting ditubuh Gak Lam-kun.

Memang cepat dan tepat ancaman kedua orang nona itu, serangan mereka dahsyat

lagi, ini semua membuat Gak Lam-kun harus berkerut kening, terpaksa dia harus

menghindar kesamping dengan gerakan yang aneh tapi lihay.

Gerakan dari Gak Lam-kun itu, sangat aneh dan mencengangkan, untuk sesaat kedua

orang nona itu menghentikan serangannya.

Sesaat kemudian, si nona berbaju merah baru tertawa terkekeh-kekeh, seraya maju

kedepan katanya, “Hei, rupanya kau tidak bisu, kau memang jahat, kau lebih jahat dari

dia”

Waktu mengucapkan kata-kata itu wajahnya penuh senyuman dan sifat kekanakkanakannya

masih belum hilang.

“Bagaimana jahatku?” tegur Gak Lam-kun dingin.

Tiba-tiba air muka si nona berbaju merah berubah, sambil tertawa dingin katanya,

“Orang jahat pantas dibunuh! Untung siocia kami menghadiahkan kehidupan kepadamu,

Nah cepatlah tinggalkan tempat ini sebelum terlambat!”

Gak Lam-kun menyipitkan sepasang matanya lalu tertawa, “Tak ada artinya memang

seseorang hidup terlampau lama didunia ini, seandainya kalian punya kepandaian untuk

membunuhku, aku rela mati satu kali dihadapan kalian, ingin kuketahui bagaimana

rasanya kalau orang itu mati!”

“Hiiihhh…hiiihhh…hiiihhh…bodoh amat kau ini” geli rasanya si nona baju merah, setelah

mendengar perkataan tersebut, “sebagai manusia didunia ini, siapa yang bisa mati lebih

dari sekali? Kalau seseorang sudah mati maka tak ada persoalan atau melihat benda

didunia ini bayangkan sendiri enakkah kalau mati?”

Mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun menjadi tertegun, segera pikirnya dihati, “Gadis

ini masih polos dan kebocah-bocahan kalau tidak tak mungkin dia akan mengucapkan

kata-kata seperti itu”

“Crriing…! Criing…! Crriing…!” tiba-tiba terdengar suara dentingan harpa. Paras muka

keempat orang nona itu kontan berubah hebat.

Gak Lam-kun juga terperanjat, sebab dia masih mengenali suara harpa tersebut

sebagai suara harpa yang didengar ditengah telaga tadi, yakni suara yang muncul dari

perahu aneh berbentuk naga.

Tiba-tiba Si nona berbaju merah menunjukkan perasaan kasihan dan iba kepada Gak

Lam-kun pintanya, “Hei, aku mohon kepadamu sudikah kiranya kau tinggalkan tempat ini?

Sebab kalau tidak kau tinggalkan tempat ini nona kami pasti akan membinasakan dirimu”

Dilihat dari sikap maupun wajahnya memang amat menggenaskan, air mata sempat

mengembang dikelopak matanya.

Gak Lam-kun malah menunjukkan sekulum senyuman diujung bibirnya, ia bertanya

dengan lembut, “Apakah suara harpa itu dimainkan oleh nonamu.”

“Tak usah banyak cerewet dengan orang itu,” tukas si nona baju biru yang lebih tua

dengan dingin, “hayo kita bunuh dulu orang itu, lalu menangkap orang ini dan diserahkan

kepada nona”

Dengan diucapkannya perkataan tersebut, serempak keempat orang nona itu bergerak

kemuka untuk menyerang Si Tiong-pek.

Dengan marah Si Tiong-pek membentak keras, tangan kirinya mainkan jurus Lo-hansiu-

pit (lo-han luruskan lengan) sementara tangan kanannya mainkan jurus Hui-poh-ciongcong

(sekop terbang menumbuk lonceng), serentak dia menyerang keempat orang gadis

itu secara berbareng.

Dalam gelisah dan gusarnya ia telah menggunakan segenap tenaga dalam yang

dimilikinya, angin pukulan menderu-deru, keadaannya mengerikan sekali.

Keempat orang nona itu cepat memisahkan diri, begitu lolos dari ancaman Si Tiongpek,

telapak tangan dan tendangan kilat beterbangan memenuhi angkasa.

Kekalahan demi kekalahan yang dialami Si Tiong-pek telah menggusarkan hatinya,

segenap tenaga murni yang dimilikinya dihimpun menjadi satu, bukannya mundur dia

malah mendesak kedepan, dengan jurus Im-liong-bengwu (naga awan menyemburkan

kabut) telapak tangan kanannya disodok kemuka.

Angin pukulan menderu-deru dan menyapu semua benda dihadapannya, hebatnya

bukan kepalang.

Secepat kilat empat orang nona itu mengundurkan diri kesamping, si nona berbaju biru

menjerit tertahan, “Oooh…aneh, rupanya secara mendadak ilmu silatnya menjadi

beberapa kali lipat lebih tinggi?”

Sebagaimana diketahui, Si Tiong-pek adalah seorang manusia licik yang mempunyai

perhitungan mengenai segala persoalan, dihari-hari biasa ia tak suka terlampau

menonjolkan ilmu silatnya, padahal yang benar kepandaian silatnya sudah pantas

disejajarkan dengan jago persilatan kelas satu.

Jangankan orang lain, sekalipun gurunya sendiri yakni Tiat-eng sin-siu (kakek sakti

elang baja) Oh Bu-hong belum tentu mengetahui dengan jelas berapa tinggi kepandaian

silat yang dimiliki Si Tiong-pek sekarang.

Si Tiong-pek memang cerdas orangnya dan lagi sangat gemar belajar silat, sepanjang

hidupnya boleh dibilang semua waktu yang disisihkan ia gunakan sebaik-baiknya untuk

mendalami ilmu silatnya.

Selama banyak tahun mengembara dalam dunia persilatan, tak terhitung jumlahnya

jagoan lihay yang ditemuinya, dan setiap kali ia menyaksikan serangkaian ilmu tangguh

yang dimiliki orang lain dengan segala tipu muslihatnya yang lihay dia selalu berusaha

untuk mempelajarinya, oleh sebab itulah meskipun usianya masih sangat muda, namun

taraf kepandaian silat yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang amat tinggi.

Sejak pertama kali bertemu dengan Si Tiong-pek Gak Lam-kun sudah tahu kalau

rekannya ini memiliki ilmu silat yang lihay sekali meskipun tidak dia perlihatkan secara

terang-terangan, ternyata dugaannya memang benar!

Begitulah, setelah berhasil memukul mundur keempat orang nona tadi, Si Tiong-pek

melompat mundur kesisi Gak Lam-kun, kemudian katanya, “Saudara Gak, keempat orang

nona ini terlampau lihay, siaute yakin kepandaianku masih belum mampu untuk

menghadapi serangan gabungan mereka berempat”

Kalau diartikan maksud perkataannya, maka orang akan mengartikan sebagai

permohonan kepada Gak Lam-kun agar mewakilinya untuk menghadapi kerubutan

tersebut.

Padahal, secara diam-diam dia mempunyai suatu tujuan tertentu. Rupanya dia sangat

tertarik oleh gerakan tubuh Gak Lam-kun ketika menghindarkan diri dari kerubutan dua

orang gadis tadi. Ia merasa gerakan tubuhnya amat lihay dan cekatan, jelas merupakan

kepandaian tingkat tinggi.

Hatinya jadi tergerak, dia ingin menggunakan kecerdasan otaknya untuk menyadap

kelihayan gerakan dari kepandaian tersebut.

Sudah barang tentu Gak Lam-kun tak akan menyangka kalau ilmu saktinya hendak

disadap lawan.

“Saudara si, kau terlalu sungkan!” demikian katanya sambil tersenyum, pelan-pelan dia

masuk kembali ke gelanggang.

Si nona baju biru, si nona baju hijau, si nona baju kuning dan si nona baju merah

segera membentak keras, tiba-tiba mereka memisahkan diri keempat penjuru lalu serentak

menyerang Gak Lam-kun, dalam waktu singkat bayangan telapak tangan dan tendangan

kilat memenuhi seluruh angkasa, mengerikan sekali keadaannya.

Jilid 5

GAK LAM-KUN tidak gugup ataupun cemas dengan sangat entengnya dia berkelit

kesamping dan tahu-tahu semua ancaman tersebut berhasil dihindari.

Betapa penasarannya keempat orang nona itu sewaktu Gak Lam-kun berhasil

menghindari serangan gabungan mereka dengan begitu gampang karena panas hatinya

maka serangan yang mereka lancarkan pun makin lama makin bertambah cepat.

Bayangan telapak tangan memenuhi seluruh angkasa bagaikan beribu-ribu ekor kupukupu

yang berterbangan diatas bunga, dalam waktu singkat sekujur badan Gak Lam-kun

sudah terkurung dibawah ancaman musuh…

Gak Lam-kun sedikitpun tidak membalas, dia kembali menggunakan gerakan tubuhnya

yang aneh dan sakti itu untuk menerobos kesana kemari diantara lapisan bayangan

telapak tangan lawan.

Caranya menghindarkan diri dari serangan memang sangat lihay, kendatipun keempat

orang nona itu sudah mengerahkan segenap kemampuan yang mereka miliki, jangankan

melukai pemuda tersebut, untuk menjawil ujung bajunya pun susah.

Dengan sepasang mata yang terbelalak lebar Si Tiong pek mengawasi terus gerakan

tubuh rekannya, ia merasa langkah sakti dari Gak Lam kun tersebut mengandung

perubahan yang berdasarkan langkah Ngo-heng(lima unsur) setiap langkahnya membawa

gerakan yang dalam artinya jauh berbeda bila dibandingkan ilmu meringankan badan pada

umumnya karena tempat yang digunakan hanya beberapa meter persegi saja.

Memang, sepintas lalu gerakan Gak Lam-kun tampaknya santai, lambat dan tak ada

artinya padahal kecepatannya bagaikan sambaran kilat. Sekalipun Si Tiong pek telah

memperhatikan langkah kakinya dengan seksama, toh belum juga berhasil untuk

menyadap kepandaian tersebut.

Angin puyuh mederu-deru serasa memekikkan telinga, dari keempat orang penyerang

tersebut masing-masing telah melancarkan tiga sampai empat puluh jurus serangan,

ketika mereka saksikan Gak Lam-kun sama sekali tidak membalas walau hanya satu

gebrakanpun, si nona baju merah yang paling muda pertama-tama melompat mundur

paling dulu, teriaknya, “Cici bertiga, kita tak usah bertempur lagi!” Ketiga orang nona itu

menurut dan segera menghentikan serangan.

Si nona baju merah yang paling muda diantara rekan-rekannya itu kembali berkata

lebih jauh, “Kita toh tak mampu menangkap dia!”

“Siapa bilang tak bisa?” tanya nona baju biru agak penasaran.

“Dia tak pernah membalas serangan kita, malah cuma menghindar terus, coba kalau

dia sampai membalas, habis sudah kita berempat”

“Yaa, kepandaian yang dimiliki orang ini memang keliwat hebatnya!” tiga orang nona

lainnya mengangguk setuju.

Maka dengan suatu lompatan mereka mengundurkan diri kebelakang.

Suara merdu merayu yang lembut dan enak didengar tadi kembali berkumandang dari

dalam ruangan, “Suatu ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin

hoat(gerakan naga dua urusan ilmu wujud tujuh bintang) yang sangat hebat! Tak nyana

kalau dalam dunia persilatan didaratan Tionggoan ini masih terdapat seorang jago

persilatan yang mempunyai kepandaian sedahsyat itu. Baiklah, sekarang akan kumainkan

sebuah lagu dengan harpa untuk kamu berdua, asal kalian sanggup mendengarkan

permainan harpaku ini, maka nyawa kalian berdua akan kuampuni”

Gak Lam-kun yang mendengar perkataan itu merasa amat terperanjat, ia kaget sebab

sejak terjun kedalam dunia persilatan hingga kini, belum pernah ada orang yang

mengenali gerakan tubuh Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat yang dia pergunakan,

tapi sekarang, nona tak dikenal dapat mengenalinya, sedikit banyak kaget juga

perasaannya…tanpa sadar dia mengangkat kepalanya.

Cahaya lampu memercik keluar dari ruangan sebelah selatan, daun jendela dibuka

orang dan muncullah seorang nona berbaju perak yang cantik jelita bak bidadari dari

kahyangan, duduk ditepi jendela sambil membawa sebuah harpa.

Sekalipun nona berbaju perak duduk dalam posisi miring sehingga Gak Lam kun berdua

tak dapat melihat jelas seluruh raut wajahnya, tapi ditinjau dari tangannya yang putih

mulus, separuh wajahnya yang mungil menawan hati serta potongan badannya yang

ramping jelita, siapapun akan tahu bahwa dia adalah seorang nona cantik jelita.

Berdebar keras jantung Gak Lam-kun setelah menyaksikan kejadian itu, pujinya dalam

hati, “Betapa cantiknya gadis itu, wajahnya ayu badannya ramping, suatu perpaduan yang

amat serasi.

Jika Gak Lam-kun hanya mengutarakan kekagumannya dalam hati, maka berbeda

dengan Si Tiong-pek, dia berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar, rupanya seperti

orang kehilangan sukma. Maklumlah gadis itu memang terlampau cantik sedemikian

cantiknya sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Gak Lam-kun kembali berpikir, “Kalau dilihat dari kelembutan, keayuan serta kemanjaan

nona berbaju perak ini, tampaknya dia seperti seorang gadis yang tak pernah belajar ilmu

silat, tapi bila kita lihat dari kepandaian silat yang dimiliki keempat orang dayangnya, jelas

dia bukan manusia sembarangan, mungkinkah ilmu silatnya telah mencapai ketingkatan

yang paling luar biasa sehingga kelihayannya itu sama sekali tak nampak dari luar?”

Setelah berhenti sejenak, dia berpikir lebih jauh, “Waaah…kalau memang begitu,

jelaslah sudah bahwa permainan harpanya bukan permainan biasa, dia pasti akan

membawakan irama yang tak sedap didengar…”

Baru saja berpikir sampai disitu tiba tiba harpa itu disentil lagi dua kali…

“Criiiiiing…! Criiiiiing…!”

Gak-Lam-kun merasakan jantungnya bergetar keras mengikuti suara dentingan

tersebut, dan Si Tiong pek malah terpukul sampai badannya bergoncang keras

Sekarang si pemuda baru sadar kalau permainan harpa si nona tak boleh dianggap

enteng, buru-buru dia menjura kearah jendela seraya serunya, “Nona, jangan kau

lanjutkan permainan harpamu!”

“Kau takut untuk mendengarkan?” tegur si nona baju perak dengan suara yang lembut,

tubuhnya masih tetap duduk miring ditepi jendela.

Si Tiong-pek segera tertawa ringan.

“Haaahhh…haaahha…haaahhh…nona demikian menaruh perhatian kepada kami,

sepantasnya kalau kami nikmati permainan indahmu itu, cuma sayang aku adalah seorang

pemuda bodoh yang tak mengerti irama musik, aku kuatir kalau permainan tersebut malah

akan menyia-nyiakan harapan nona saja”

“Sekalipun kau tidak mengerti soal irama musik, orang lain toh memahaminya” kata

nona baju perak lagi dengan hambar.

Si Tiong-pek terbahak-bahak. “Haaahh…haaahh…haaahhh…kalau begitu biarlah aku

mohon diri terlebih dulu”

Begitu selesai berkata, dia lantas putar badan dan mengambil langkah seribu.

Perlu diketahui disini, bahwa Si Tiong pek adalah seorang pemuda yang cerdas

otaknya, sekalipun ia kesemsem oleh kecantikan nona berbaju perak, tapi disaat bahaya

yang menyangkut soal mati hidupnya ini, rasa kesemsemnya dapat diatasi dan otaknya

segera menjadi sadar kembali.

Tampaknya si nona berbaju perak tidak rela membiarkan musuhnya pergi, jari

jemarinya segera menarik diantara senar-senar harpanya.

Dentingan-dentingan nyaring menyebar keangkasa. Si Tiong-pek merasakan kepalanya

seperti dipukul dengan martil besar, kaki kanannya segera ditarik kembali, sebab

dentingan harpa itu ibaratnya panggilan ibu buat putranya, begitu halus, lembut membuat

hati menjadi iba.

Dengan dahi berkerut, Gak Lam-kun segera berbisik, “Saudara Si, cepat duduk bersila

dan mengatur pernapasan, pusatkan pikiranmu dan matikan perasaan”

Si Tiong-pek mengetahui pula kalau jiwanya berada diujung tanduk, dia lantas

tersenyum.

“Saudara Gak, bagaimana dengan kau sendiri? Sanggupkah menahan irama iblis

tersebut?” ia balik bertanya.

“Aku tidak tahu!”

Si nona berbaju perak yang duduk disisi jendela kembali membuka suara, ucapnya

dengan suara yang lembut, “Kalian tak usah takut, akan kupilihkan irama yang paling

datar untuk kalian berdua!”

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Si Tiong-pek, tiba-tiba saja ia

teringat dengan kabar yang tersiar dalam dunia persilatan, kabar tentang irama Sanggoan-

ci(irama peluka hawa murni) dari Soat-san Thian-li yang telah menggetarkan seluruh

dunia.

Dia ingin berteriak, ingin mengutarakan perkataan itu…

Sayang waktu tidak mengijinkan, gadis berbaju perak itu sudah mainkan kelima jari

tangan kanannya dan menyentil senar-senar harpa tersebut…

Suara detingan nyaring, berkumandang diangkasa dan menggetarkan perasaan

siapapun, dalam keadaan demikian sudah barang tentu ia tak berani cabangkan pikiran

untuk berbicara, cepat-cepat ia pejamkan matanya dan duduk bersila untuk mengatur

napas guna melawan pengaruh iblis irama tersebut.

Terdengar suara harpa yang merdu dan lembut teruar keluar mengikuti gerakan jari

jemari si nona baju perak yarg lembut, iramanya lembut dan menggetarkan sukma.

Meskipun iramanya merdu merayu, namun mengandung kekuatan yang seolah-olah

mampu membetot sukma setiap orang.

Dalam waktu singkat Si Tiong-pek telah dipengaruhi oleh alunan musik aneh tersebut,

pelbagai pikiran ataupun angan-angan yang serba aneh seketika mempengaruhi segenap

pikiran maupun perasaannya, dia seperti lagi terbang dilangit, seperti menyaksikan apa

yang diimpikan, seperti melakukan apa yang diangankan…

Gak Lam-kun pejamkan matanya pula rapat-rapat, dahinya berkerut dan butiran

keringat membasahi jidatnya, jelas sudah diapun terpengaruh oleh gelombang irama iblis

yang maha dahsyat itu.

Selang sesaat, Si Tiong-pek merasakan isi perutnya bergolak keras, ia tak dapat duduk

lagi dengan tenang, sambil berteriak keras tiba-tiba ia bangkit berdiri lalu ingin kabur

meninggalkan tempat itu.

Criing…! Criiing..! Criiing..! secara beruntun nona berbaju perak itu menyentilkan jari

tangannya, suara nyaring seketika mengalun memecahkan keheningan…

“Uuaak…!” Si Tiong pek memuntahkan darah segar, kaki yang sudah melangkah pergi

tiba-tiba terhenti kembali.

Oleh dentingan irama harpa tersebut, Gak Lam-kun ikut merasakan pula bergolaknya

darah yang menggulung didalam dadanya ia merasa sempoyongan dan tak bisa bertahan

lebih lama pemuda itu sadar jika permainan harpa tersebut dilanjutkan oleh si nona

berbaju perak, niscaya dia sendiripun tak akan tahan.

Makin lama pengaruh yang dirasakan dari permainan harpa itu makin menghebat,

akhirnya Gak Lam-kun tak tahan, dia bermaksud minta kepada nona itu agar

menghentikan permainannya.

Tapi sebelum ucapan tersebut sempat diutarakan, tiba-tiba nona berbaju perak

menghela napas panjang, permainan harpa itupun serentak berhenti.

Daun jendela ditutup kembali dan lampu lilinpun dipadamkan, suasana kembali menjadi

hening.

Keempat orang dayang cantik yang berada dihalaman luarpun ikut putar badan dan

masuk kedalam ruangan.

Dengan demikian suasana makin hening, makin sepi hingga tak kedengaran sedikit

suarapun.

Si Tiong-pek yang semula terpengaruh oleh permainan harpa, kini telah sadar kembali

namun lamat-lamat dia merasa dada maupun lambungnya menjadi sakit si pemuda segera

sadar bahwa isi perutnya telah mengalami luka yarg sangat parah.

Dengan wajah yang lemas dan tak punya tenaga dia berpaling kearah Gak Lam kun,

lalu bisiknya, “Saudara Gak, kau tidak terluka bukan?”

Sambil gelengkan kepalanya Gak Lam-kun menghela napas panjang.

“Aaaai… irama iblis itu memang kelewat lihay!” Sekali lagi Si Tiong-pek berusaha untuk

mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, siapa tahu begitu hawa murninya disalurkan,

rasa sakit didada maupun lambungnya semakin menghebat, sadarlah dia bahwa hawa

murninya telah menggumpal dalam pusar dan mengakibatkan luka dalam yang parah, luka

semacam ini bila tidak cepat-cepat disembuhkan, niscaya akan berakibat fatal yaitu selama

hidup jangan harap bisa berlatih ilmu silat lagi.

“Saudara Gak, siaute akan berangkat duluan!” bisik Si Tiong-pek.

Dia beranjak dan berusaha berlalu dari sana, apa mau dikata baru saja kakinya

melangkah pergi, dada serta lambungnya terasa sakit bukan kepalang, hingga saking tak

tahannya dia menjerit keras badannya makin sempoyongan.

Cepat-cepat Gak Lam-kun memburu kedepan serta memayarg tubuhnya, kemudian

bertanya, “Saudara Si, parahkah luka yang kau derita?”

Sepucat kertas air muka Si Tiong pek, ia tertawa getir.

“Aaaaai…kurasa siaute sudah tak berguna tak kusangka kalau dia berbuat sekeji itu”

Kiranya ketika Si Tiong pek menghimpun segenap tenaga murninya untuk menahan

pengaruh irama musik tersebut, tiba-tiba ia melompat bangun sambil menyalurkan hawa

murni yang dimilikinya itu kedalam dada serta lambung, siapa tahu tenaga tersebut justru

sukar disalurkan lagi…

Dengan keadaan semacam ini, bila dalam waktu enam jam tidak mendapat pengobatan

semestinya, maka hawa murni itu akan membeku, menvusup kedalam jalan darah dan

mengakibatkan luka dalam yang fatal, hal ini bisa mengakibatkan kematian atau paling

entengpun akan mendatangkan tubuh Cacad selama hidup.

Keadaan tersebut pada lazimnya disebut ‘jalan api menuju neraka’ oleh kalangan

persilatan, semakin tinggi kepandaian yang dimiliki seseorang semakin parah pula luka

yang dideritanya bila sampai mengalami jalan api menuju neraka.

Gak Lam-kun yang menyaksikan keadaan tersebut segera mengernyitkan alis matanya,

ia lantas menegur, “Saudara Si, apakah kau mengalami jalan api menuju neraka?”

Sambi! tertawa sedih Si Tiong-pek mengangguk.

“Yaa, aku tahu kehidupanku sudah tak lama lagi!”

Gak Lam-kun memayang rekannya itu berjalan keluar dari halaman rumah yang luas,

lalu bisiknya lirih, “Saudara Si, untuk sementara waktu cobalah untuk mengatur

pernapasanmu disini!”

“Percuma!” Si Tiong-pek tertawa getir, “setiap kali kucoba untuk mengatur pernapasan,

dada serta lambungku seketika terasa amat sakit bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau”

Gak Lam kun menghela napas panjang.

“Aku tahu, dan kebetulan siaute mempunyai suatu cara untuk mengobati luka dalam,

duduklah bersila lebih dulu”

Gak-Lam-kun mempersilahkan Si Tiong pek agar duduk bersila dulu, kemudian baru

mewariskan rahasia ilmu itu kepadanya.

Si Tiong pek berlatih mengikuti cara yang diwariskan Gak Lam-kun kepadanya itu,

kurang lebih sepertanakan nasi kemudian ia merasakan lukanya agak enteng juga, ini

membuat hatinya sangat gembira cepat-cepat latihan dilanjutkan untuk mengobati luka

tersebut.

Siapa tahu, ketika hawa murni dicoba untuk mengikuti seluruh tubuhnya lagi dada serta

lambungnya sekali lagi terasa sakit sekali, malah tenggorokannya terasa anyir dan darah

kental kembali tersembur keluar, mukanya yang pucat seperti mayat kini diikuti pula

dengan kejang-kejang keras.

Sesungguhnya, ketika itu Gak Lam-kun sedang memandang bintang diangkasa dengan

wajah murung betapa terperanjatnya setelah mendengar jeritan tersebut, telapak tangan

kanannya bertindak cepat menepuk jalan darah Hiang-ki-hiat ditubuh Si Tiong pek,

kemudian tegurnya, “Saudara Si kenapa kau?”

Si Tiong pek menghembuskan napas panjang, sahutnya dengan suara gemetar,

“Saudara Gak, aku…aku benar-benar tidak tahan, kini nadi-nadiku mulai terasa kaku dan

membatu…”

Diam-diam terkejut juga Gak Lam kun sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya,

“Masakah begitu lihay irama iblis tersebut…? Irama apa itu…?”

Berpikir sampai disitu, dengan suara rendah segera hiburnya, “Tak usah kuatir saudara

Si, apabila siau-te tidak berhasil menemukan cara pengobatan yang baik, pasti akan kucari

nona berbaju perak itu untuk menanyakan cara pengobatannya”

Si Tiong-pek menghela napas panjang.

“Aaaai…tak kusangka saudara Gak begitu mulia hatinya dan bijaksana, siau-te merasa

sangat beruntung dapat berkenalan denganmu, maksud baik saudara Gak akan kuingat

selalu dalam hati. Aaaai…saudara Gak tahukah kau lagu apakah yang telah melukai isi

perutku itu?”

“Aku tidak tahu!” jawab Gak Lam-kun sambil gelengkan kepalanya.

Pancaran sinar sedih menghiasi wajah Si Tiong pek, ia menghela napas panjang.

“Aaaai… itulah lagu pukulan isi perut Sang-goan-ki dari Soat-san Thian-li!”

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari tempat gelap tak jauh disisi

tubuhnya berkumandang suara tertawa dingin.

“Sang-goan-ki…! Sang-goan-ki…! Sudah belasan tahun lamanya aku tak pernah

mendengar lagi lagu ini, bocah muda, kau bisa nikmati lagu tersebut mendahului

siapapun, sekalipun mati kenapa musti susah?”

Ketika Si Tiong pek mendengar ucapan tersebut ia agak tertegun lalu tanyanya

tercengang, “Bukankah yang datang adalah Kiu-wi-hou (rase berekor sembilan) Kongsun

po locianpwe?”

Gelak tertawa yang amat nyaring bagaikan suara gembrengan berkumandang

memecahkan kesunyian, “Haaahhh…haaahhh…haaahhh… betul, tak kusangka kau si

bocah dapat mengenali suaraku”

Sesosok bayangan melompat keluar dari tempat kegelapan, dia adalah seorang kakek

bertubuh kurus kering, berjubah panjang bermuka kuda dan bermata tajam bagaikan

sembilu.

Ketika mendengar nama orang itu, Gak Lam kun merasakan sekujur badannya bergetar

keras, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, tapi sesaat kemudian

lenyap kembali tak berbekas.

Dengan sikap yang hambar ia berpaling memandang bintang-bintang yang bertaburan

diangkasa, terhadap kehadiran kakek tersebut jangankan menatapnya, melirik sekejappun

tidak.

Yang muncul dihadapan mereka tak lain adalah ketua dari perguruan Hoa-san-pay yang

menggetarkan seluruh dunia… Kiu-wi-hou(Rase berekor sembilan ) Kongsun Po.

Dengan sepasang sinar matanya yang tajam menggidikkan ia melirik sekejap kearah Si

Tiong pek, kemudian mendengus dingin.

“Hei bocah kecil, apakah setan tua gurumu juga ikut datang?” tegurnya sinis.

Sementara itu Si Tiong-pek, sedang menggerutu dalam hati kecilnya, dia tahu si Rase

berekor sembilan ini bukan saja memiliki ilmu silat yang amat sempurna, jadi orangpun

licik, keji dan berbahaya.

Konon dalam peristiwa keributan atas diri Tok-liong Cuncu ditebing Yanpo gan tempo

dulu dialah otak yang menyusun semua siasat dan perangkap, dan kini dia telah muncul

juga disini itu berarti kedatangannya pasti disertai d«ngan suara rencana tertentu.

“Siapa tahu kalau kedatangannya untuk menyatroni aku?” demikianlah Si Tiong pek

berkuatir “Jika ia tahu kalau guruku belum datang, kemungkinan besar aku bisa dibunuh

lebih dahulu sehingga menghilangkan seorang saingan beratnya untuk memperebutkan

lencana pembunuh naga…”

Berpikir sampai disitu, dengan memaksakan diri Si Tiong pek merangkak bangun,

kemudian setelah memberi hormat katanya, “Sungguh tak kusangka Kongsun locianpwe

telah muncul disini, boanpwe Si Tiong pek menyampaikan salam hormat kepada cianpwe!”

Rase berekor sembilan Kongsun po mendehem beberapa kali, lalu katanya sambil

tertawa, “Jangan sungkan-sungkan, jangan sungkan-sungkan, Sejak kapankah komandan

pasukan elang baja dari perkumpulan Thi-eng pang begitu menaruh perhatian terhadap

aku Kongsun po?”

Keadaan Si Tiong pek pada saat ini amat

lemah setelah isi perutnya terluka parah, sekalipun disindir orang ia masih tetap

mengendalikan amarahnya didalam bati, katanya sambil tertawa, “Thi-eng pangcu si kakek

sakti elang baja Oh-Bu-hong merupakan orang yang paling dimusuhi oleh perguruanperguruan

besar dalam dunia persilatan dewasa ini, hanya Kongsun Po locian-pwe dari

Hoa-san yang mempunyai hubungan akrab dengannya, siapakah manusia-manusia dalam

dunia persilatan dewasa ini yang tidak mengetahui akan bal tersebut…”

Paras muka Rase berekor sembilan Kongsun Po berubah membesi, setelah tertawa

dingin ia menukas ucapan Si Tiong-pek, “Semua orang mengatakan kau berotak cerdas

banyak tipu muslihatnya dan merupakan seorang manusia pilihan dari golongan muda,

tampaknya berita ini memang tidak keliru, tapi kau tak usah kuatir, aku tak bakal

membalikkan perahuku dalam selokan”

Si Tiong-pek tertawa.

“Kongsun locianpwe adalah orang yang cerdas dan bijaksana, pengetahuannya luas

pengalaman banyak, namanya menggetarkan baik disungai bagian utara maupun dibagian

selatan, siapakah dalam dunia persilatan dewasa ini yang tidak kagum oleh kecerdasan

locianpwee, malah Tok liong Cuncu yang dikenal sebagai seorang manusia berbakatpun

berhasil tewas ditanganmu, siapa yang tidak akan ngeri setelah berjumpa dengan kau?”

Ketika mendengar perkataan itu, tiba-tiba diatas paras muka Rase berekor sembilan

Kongsun Po melintas napsu membunuh bentaknya, “Bocah keparat, lebih baik kau tak

usah mencekoki kuah pemabuk kepadaku…?”

Ditengah bentakan itu. Kongsun Po mengayunkan telapak tangan kirinya kedepan,

segulung tenaga pukulan yang sangat hebat segera menggulung keluar dan langsung

menghajar kedada Si Tiong-pek.

Sebagai seorang pemuda yang cerdas dan cekatan, semenjak tadi Si Tiong-pek telah

menaruh perhatian terhadap segala gerak gerik Kongsun Po.

Dalam keadaan terluka parah, sudah barang tentu ia tak berani menyambut datangnya

serangan tersebut dengan kekerasan, sesungguhnya dia ingin melompat mundur

kebelakang untuk

menghindarkan diri, sayang luka dalamnya terlampau parah, luka tersebut telah

menyebabkan ia tak sanggup mengerahkan tenaganya walau hanya sedikitpun.

Dengan begitu maka tampaklah angin pukulan yang maha dahsyat tersebut segera

akan menghantam didada Si Tiong pek.

Untunglah Gak Lam kun yang berada disisinya bertindak cukup sigap, tiba-tiba dia

melompat kemuka dan menghadang dihadapannya. Lalu dengan telapak tangan kirinya

dia membabat keatas urat nadi pergelangan tangan Kongsun po.

Betapa terkejutnya si Rase berekor sembilan Kongsun po menyaksikan kecepatan gerak

Gak Lam-kun, cepat-cepat ia buyarkan tenaga pukulan pada telapak tangan kirinya lalu

ditarik kebelakang, sementara telapak tangan kanannya secepat sambaran kilat

mencengkeram bahu Kiri Si Tiong pek.

Gak Lam kun miringkan sedikit tubuhnya, tiba-tiba tangan kirinya yang sedang

membacok berputar satu lingkaran, kemudian berbalik menghantam pergelangan tangan

kanan Kongsun po.

Kongsun po semakin terperanjat lagi menyaksikan keanehan gerakan yang

dipergunakan Gak Lam kun ketika melancarkan serangan balasan itu, terutama terhadap

serangan jari tangannya yang kesemuanya tertuju pada jalan darah jalan darah penting

ditubuhnya.

Dengan suatu gerakan terpaksa ia tarik kembali lengan kanannya mentah-mentah,

meskipun cepat ketika melancarkan serangan, sewaktu menarik kembalipun tak kalah

cepatnya.

Dengan begitu kendatipun sapuan yang dilancarkan Gak Lam kun dilakukan dengan

kecepatan tinggi, akan tetapi tidak berhasil menyentuh ujung baju lawannya.

Kongsun po menarik kembali tangan kanannya, sementara tangan kirinya telah

dikembangkan kembali untuk melancarkan sebuah sapuan.

Mencorong sinar pembunuh dari sepasang mata Gak Lam kun, sumpahnya dihati,

“Bagus sekali! Rase berekor sembilan Kongsun po, kau berani berbuat demikian sama

artinya dengan mencari kematian buat diri sendiri…Hmm bersiap-siaplah untuk menerima

kematianmu.”

Ketika ingatan tersebut sudah melintas lewat dari benaknya, dengan menghimpun

tenaga pukulannya kedalam telapak tangan kanan, dia hantam dada Kongsun Po.

Rase tua tersebut sungguh memang amat licik dan cerdik. Jikala sorot matanya

berbenturan dengan sinar pembunuhan yang memancar dari mata Gak Lam-kun, segera

timbul kecurigaan dalam hatinya.

Maka dari itu dikala Gak Lam-kun melepaskan sebuah pukulan dan segulung angin

tajam yang menggidikkan hati ikut menerpa tiba, ia menjadi amat terkejut.

Dalam keadaan begitu, ketua dari Hoa san pay itu tak berani menyambut datangnya

ancaman dengan keras lawan keras, sambil membuyarkan tenaga pukulannya, ia

melompat dua kaki ketengah udara.

“Pleetaakk…baaam!”suatu benturan keras terjadi disusul terdengarnya suara gemuruh

yang memekikkan telinga.

Tenaga pukulan Gak Lam-kun yang amat dahsyat bak kuda liar yang terlepas dari

kendali meluncur kedepan dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam diatas

sebuah pohon Pek-yang yang tinggi besar tiga tombak didepannya.

Padahal pohon Pek-yang itu besar lagi kuat, namun begitu tersambar oleh angin

pukulan langsung terhajar patah dan tumbang keatas tanah.

Tiba-tiba berkumandang suara pekikan nyaring yang amat memekikkan telinga, dari

atas pohon Pek-yang yang tumbang ketanah itu melayang turun sesosok bayangan

manusia, orang itu ternyata adalah seorang kakek gemuk pendek yang berwajah merah

seperti bayi tapi berambut putih keperak-perakan…

Dengan entengnya kakek gemuk pendek itu melayang turun keatas permukaan tanah,

dengan sepasang matanya yang tajam menggidikkan ia perhatikan Gak Lam kun dari atas

kepalanya hingga kebawah kaki.

Waktu itu, Si Rase berekor sembilan Kongsun po serta Si Tiong pek masih berdiri

termangu-mangu ditempatnya, rupanya mereka tidak menyangka kalau serangan dari Gak

Lam kun sedemikian dahsyatnya.

Untuk sesaat suasana disekeliling tempat itu menjadi sepi dan hening, seakan-akan dia

merasa murung dan sedih lantaran pukulannya tidak berhasil mengenai tubuh lawannya.

Yaa, memang begitulah keadaan sesungguhnya, Gak Lam-kun memang sedang merasa

mUrung dan sedih karena serangan mautnya tidak berhasil membinasakan Kongsun po, ia

merasa musuhnya terlampau licin dan banyak tipu muslihatnya, keadaan itu semakin

menipiskan harapannya untuk berhasil menuntut balas.

Gurunya, Tok-liong Cuncu pernah berkata kepadanya bahwa diantara ketujuh belas

orang musuh besarnya, mulai dari Tang hay coa siu(kakek ular dari lautan timur) Ou

Yong-hu sekalian bertujuh merupakan musuh-musuh paling berbahaya yang kian keatas

kian tinggi ilmu silat yang mereka miliki!

Selapis awan mendung melintas dalam benak Gak Lam-kun, diam-diam pikirnya, “Dari

tujuh orang musuh tangguh yang musti kuperhatikan, secara beruntun sekarang telah

kujumpai Tang hay coa siu(kakek ular dari lautan timur), Jit poh toan hun(Tujuh langkah

pemutus nyawa) dan Kiu wi-hou(rase berekor sembilan), menurut Catatan musuh besar

yang ditinggalkan suhunya, Jit poh toan hun Kwik To merupakan jagoan nomer tiga, Kiuwi-

hou Kongsun Po merupakan jago nomer enam dan Tang hay-coa siu merupakan jago

yang paling belakang, sekalipun ketujuh orang musuh utamaku belum kujumpai semua,

tapi berbicara dari taraf ilmu silat yang dimiliki Kwik To bertiga, dapat dibuktikan bahwa

ilmu silat yang mereka miliki rata-rata memang amat lihay, seandainya ketujuh orang itu

sampai bersatu padu, mungkinkah aku bisa menahan mereka bersama…?”

Dalam pada itu, setelah si kakek gemuk pendek itu memperhatikan Gak Lam-kun sekian

lama, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, Suaranya

nyaring bagaikan genta yang dibunyikan bertalu-talu, bukan saja menggetarkan daerah

disekitarnya bahkan sangat menyakitkan telinga.

Rase berekor sembilan Kongsun Po mendehem ringan, setelah melirik sekejap kearah

kakek gemuk pendek itu, katanya, “Say loji, sejak berpisah ditebing Yan-Po gan tempo

hari, aku dengar belasan tahun belakangan ini kau tak pernah meninggalkan bukit Siau

Ngo Tay barang selangkahpun, setelah hari ini muncul kembali diwilayah Kanglam, aku

rasa tentu ada urusan penting yang hendak kau selesaikan bukan…?”

Gak Lam-kun yang mendengar perkataan itu merasakan hatinya bergetar keras

pikirnya, “Jangan-jangan orang ini adalah orang keempat dari ketujuh orang musuh

utamaku yang disebut Giok-bin-sin-ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit dari

bukit Siau-ngo-tay? Sungguh tak kusangka secara beruntun aku telah berjumpa dengan

empat orang musuh besarku diatas pulau yang terpencil ini”

Kakek gemuk pendek itu memang tak lain adalah Kakek sakti berwajah pualam Say Khipit

dari bukit Siau ngo tay, medengar perkataan itu dia lantas tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…haaahh…haahh…wahai rase tua, bukan aku seorang yang tiba disini,

mungkin semua sobat-sobat lama yang pernah berkumpul ditebing Yan po gan belasan

tahun berselang akan berkumpul semua disekitar bukit Kun san ini, waktu itu suasana

tentu ramai sekali…haaahh…haaah…haaah…”

“Jadi kalau begitu kedatangan Say-heng pun untuk ikut serta dalam keramaian ini?”

sambung Kongsun-Po dengan ketus.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit tertawa tergelak.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhhh…tidak berani tidak berani, aku cuma mengiringi saja

dari samping, kedatanganku tak lebih cuma ingin menonton keramaian”

Rase berekor sembilan kongsun Po tertawa dingin, katanya lagi, “Say loji, kau tak usah

berlagak, keadaan dalam dunia persilatan dewasa ini sudah berbeda jauh dengan keadaan

dulu, si kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu telah menjadi anggota Thi eng pang, ia

sudah mempunyai tulang punggung yang cukup kuat, sedang kau dan aku masih

bujangan tanpa teman, untuk mengangkat diri dalam pertarungan dibukit Kun san ini…”

Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa lebar.

“Aku memang bermaksud demikian, asal kita mau bersatupadu maka urusan lebih

gampang diselesaikan, sebaliknya kalau tercerai berai maka pasti akan ditunggangi orang

dan hancur musnah dengan sendirinya. Maka…kalau begitu akan kuusahakan bantuan

semaksimal mungkin..” kata Say Khi-pit kemudian sambil tertawa.

Si Tiong pek diam-diam menjadi terkejut, dia tahu kedua orang itu semuanya

merupakan jago-jago tangguh yang memimpin suatu golongan tertentu, ilmu silat mereka

boleh dibilang sudah mencapai taraf yang sangat tinggi, terutama Giok-bin sin-ang Say Khi

pit, kepandaiannya setingkat lebih tinggi daripada Kongsun po.

Bisa dibayangkan apa jadinya bila kedua orang tokoh persilatan itu sampai bersatu

padu?

Si Tiong pek cukup mengerti, kerja sama kedua orang tokoh ini memang masih belum

sanggup untuk mengalahkan perkumpulannya, meski demikian pasti akan merupakan

halangan yang menjengkelkan bagi perkembangan ambisi perkumpulannya sebab itu dia

mengambil keputusan untuk berusaha memecah belah kerja sama tersebut.

Karena itu setelah berpikir sebentar, Si Tiong pek pun memberi hormat kepada Say Khipi

sambil katanya, “Ilmu silat Say cianpwe menggetarkan dunia persilatan, selama ini

menjagoi pula wilayah sekitar Lam san, kegagahan tersebut sudah lama membuat hatiku

amat bangga, maka beruntunglah hari ini aku bisa bersua dengan cianpwe, Boanpwe Si

Tiong-pek dari pasukan elang baja mempersembahkan salam hormatku kepada locianpwe”

Selesai berkata ia lantas membungkukkan badannya dan memberi hormat.

Giok bin-sin-ang Say Khi-pit mengelus jenggotnya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…haaahhh…haaahhh…semua orang bilang Oh Bu-hong mempunyai seorang

ahli waris yang cerdik dan bisa diandalkan, setelah perjumpaan hari ini dapat kubuktikan

bahwa perkataan itu memang ada benarnya, haahh…haahh…haahh… kalau kulihat dari

sikap hormatmu kepadaku, tentunya ada urusan yang hendak kau sampaikan kepadaku

bukan?”

Si Tiong-pek tersenyum.

“Oooh…tidak berani merepotkan Say locianpwe”

Rase berekor sembilan Kongsun Po yang ada disampingnya segera tertawa dingin.

“Si Tiong-pek, siapakah dia?”

“Dia adalah seorang sahabat karibku!” jawab Si Tiong-pek sambil tersenyum lebar.

“Paras muka Kongsun Po berubah menjadi amat dingin, katanya ketus, “Apabila kau

masih mempunyai perasaan hormat kepada angkatan tua, maka harus kau katakan asal

usulnya.”

Tiba-tiba dari balik mata Gak Lam-kun memancar keluar sinar buas yang menggidikkan

hati. Pelan-pelan maju kemuka mendekati Kongsun Po, lalu sambil mendengus katanya,

“Apabila kau ingin tahu asal usulku, pergilah keakhirat dan tanyakan sendiri soal itu

kepada Giam-lo-ong!”

Secara tiba tiba saja anak muda itu berubah menjadi ganas seperti seekor binatang

buas, wajahnya penuh diliputi hawa napsu membunuh yang mengerikan.

Rupanya hawa amarah yang berkobar dalam dada Konsun Po telah memuncak juga,

sambil tertawa serak katanya, “Bocah keparat yang bau, berani betul kau pandang hina

diriku..Hmm..! Agaknya kau sudah bosan hidup?”

Si Tiong pek sendiri, ketika secara tiba-tiba menyaksikan paras muka Gak Lam kun

berubah seseram itu, hatinya ikut terperanjat pula, pikirnya, “Watak orang ini sungguh

sulit diraba oleh siapapun, apalagi sikapnya yang begitu tinggi hati dan congkak,

tampaknya sulit untuk kupergunakan tenaganya. Mumpung sekarang ada dua orang sakti

disini, kenapa tidak kubiarkan mereka berdua bekerja sama untuk menghadapi Gak Lam

kun. Asal orang she Gak ini sudah mampus, berarti pula aku akan kehilangan seorang

musuh tangguh”

Berpikir sampai disitu, dengan dingin dia lantas berkata, “Kongsun locianpwe, ibaratnya

rumput jerami ditumpuk sebukit, jangan harap bisa menindih mati seekor tikus, sekalipun

kau sudah hidup sekian lamanya, belum tentu ilmu silatmu akan lebih tangguh daripada

orang lain… jangan takabur dulu”

000000O000000

DALAM dunia persilatan, Kiu-wi-hou Kongsun po terhitung juga seorang jagoan yang

bisa diandalkan sekalipun merasa bahwa Gak Lam kun adalah seorang musuh tangguh

yang berilmu tinggi, terutama setelah terjadi pertarungan beberapa jurus tadi, tapi sebagai

orang yang sombong dan sudah biasa bersikap latah, sudah barang tentu tak mau

mengundurkan diri dengan begitu saja, terutama dalam ucapannya tadi Si Tiong pek jelas

memandang hina kepadanya.

“Bocah keparat!” ia lantas membentak, “begitu berani kau menghina diriku? Hmm, akan

kurenggut dulu selembar nyawamu!”

Sambil membentak, telapak tangan kanannya segera diayun membacok ketubuh Si

Tiong pek.

Gak Lam kun tidak merasa kalau dibalik serangannya terdapat tipuan, cepat telapak

tangan kirinya diayun kedepan untuk menyambut pukulan yang tertuju ketubuh Si Tiong

pek itu.

Dalam melancarkan serangannya, tidak terjadi desingan angin tajam maupun tidak

terjadi gelombang hawa tekanan yang dahsyat, gerakan itu enteng dan sederhana.

Ternyata serangan tangan kanan dari Rase berekor sembilan Kongsun po itu cuma

serangan tipuan, ia telah menghitung bahwa Gak Lam kun pasti akan melancarkan

serangan untuk menyambut ancaman itu.

Maka begitu Gak Lam kun melepaskan bacokannya kedepan, tiba-tiba ia menarik

kembali telapak tangan kanannya dan menerobos maju kedepan…

Telapak tangan kirinya dengan membawa desingan angin pukulan yang kuat segera

meluncur kedepan dengan jurus Sin-liong jut-im(naga sakti keluar dari awan), dasar

memang licik, ternyata dibalik deruan angin puyuh yang sangat keras itu diam-diam ia

sembunyikan sebuah serangan totokan secara keji mengancam dibawah ketiak Gak Lam

kun.

Serangan semacam ini sungguh merupakan Suatu serangan yang keji, ganas dan licik.

Gak Lam-kun sendiri bukan orang bodoh, ia telah menduga kalau si Rase berekor

sembilan bakal melancarkan serangan dahsyat dikala ia menyambut pukulan yang tertuju

ketubuh Si Tiong-pek, karenanya diam-diam hawa murninya sudah dikerahkan kedalam

telapak tangan kanan, meskipun begitu mimpipun dia tak menyangka kalau dibalik

serangan dahsyat tersebut si Rase berekor sembilan ini bakal menyembunyikan sebuah

serangan mematikan lainnya.

Disaat telapak tangan kiri Kiu-wi-hou membacok kedepan, telapak tangan kanan Gak

Lam-kun ditekan pula kedepan, tapi rupanya dia tak ingin telapak tangannya berbenturan

dengan telapak tangan Rase berekor sembilan itu, ketika serangan sudah dilontarkan tibatiba

ia menarik kembali telapak tangannya.

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po sendiri diam-diampun merasa terkejut ketika

telapak tangan kirinya baru saja dilancarkan, mendadak segulung tenaga pukulan yang

maha dahsyat telah menggulung tiba, segera pikirnya dihati, “Ilmu silat yang dimiliki

pemuda ini betul-betul tak boleh dipandang enteng, ia bisa menyembunyikan angin

pukulan sedemikian dahsyatnya dalam telapak tangan tanpa diketahui orang, bahkan

sewaktu dilontarkan kedepan kedahsyatannya mengerikan waah,..aku musti bertindak

lebih waspada lagi…”

Baru ingatan tersebut melintas dalam benaknya serangan jari yang tersembunyi dibalik

serangannya tadi telah bersarang dibahu Gak Lam kun yang dengan sigap telah berkelit

kesamping dikala merasakan tibanya ancaman maut.

Kedengaran Gak Lam kun mendengus tertahan tulang diatas bahu kirinya terasa amat

sakit seperti mau remuk, dengan sempoyongan mundur tiga langkah kebelakang.

Sekalipun begitu, si Rase berekor sembilan Kongsun po sendiripun tidak berhasil

meloloskan diri dengan begitu saja, ketika angin pukulan dari Gak Lam kun yang maha

dahsyat itu menyentuh telapak tangannya, segulung hawa dingin yang tajam terasa

menyengat badan menembusi nadinya dan ia langsunglah kebelakang.

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri yang mencekam perasaan Kongsun po ketika itu,

cepat-cepat ia berjumpalitan beberapa tombak kebelakang…

Untung ia menghindar dengan cepat sehingga luka yang lebih parah bisa dihindari,

kendatipun demikian isi perut Kongsun Po toh mengalami juga goncangan yang sangat

keras, jelas ia sudah menderita luka ringan.

Adegan demi adegan dahsyat yang berlangsung secara beruntun ini membuat orangorang

yang hadir berdiri tertegun, semua orang membelalakkan matanya dengan wajah

kaget, untuk sesaat tak seorangpun yang turun tangan lagi, masing-masing mengerahkan

tenaga dalamnya untuk mengendalikan golakan darah didalam dadanya.

Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam sebuah bangunan loteng disebelah barat

berkumandang serentetan suara teguran yang dingin dan menyeramkan, “Bila kalian tidak

segera meninggalkan tempat ini, hmm! Barangsiapa berani berdiam lebih lama lagi disini,

akan kusuruh kalian mampus tanpa kuburan.”

Sesungguhnya Giok-bin-sin ang(kakek sakti berwajah pualam) Say Khi-pit ada niat

untuk melenyapkan Gak Lam-kun setelah menyaksikan ilmu silatnya yang sakti dan lihay

itu daripada meninggalkan bibit bencana dikemudian hari.

Akan tetapi setelah mendengar suara peringatan tersebut, tak kuasa lagi ia

menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…haaahhh…haaahhh…siapakah kau? Takabur amat perkataanmu itu, tidakkah

kau takut bahwa ucapanmu itu akan ditertawakan oleh umat persilatan?”

Setelah menyampaikan suara peringatan tadi, suasana dalam bangunan rumah

berloteng itu pulih kembali dalam keheningan, tak kedengaran sedikit suarapun.

Karena tiada yang menggubris teriakannya, Giok-bin sin-ang Say Khi pit pun tidak

mendesak lebih lanjut, kembali ia berpaling kepada Gak Lam-kun kemudian tanyanya

sambil tertawa, “Lote, bolehkah aku tahu kau berasal dari perguruan mana?”

Gak lam-kun hanya memicingkan sepasang matanya, ia membungkam dalam seribu

bahasa.

Paras muka Say Khi-pit segera berobah hebat, katanya lagi dengan suara dalam,

“Jikalau kau congkak dan tinggi hati selalu, jangan salahkan bila aku akan berbuat kurang

ajar”

“Silahkan!” kata Gak Lam-kun hambar.

Bergetar juga perasaan Giok-bin-sin-ang Say Khi pit sebab dalam dunia persilatan

dewasa ini belum pernah ada orang yang berani menantangnya secara terus terang

macam begini, sekalipun dia adalah Oh Bu hong ketua perkumpulan elang baja.

Setelah tertegun beberapa saat, Say Khi pit mendengus dingin lalu katanya, “Besar

amat bacotmu, dengan maksud baik aku bertanya kepadamu, tak kusangka kalau kau

begini sombong dan tinggi hati, Hmm… tampaknya jika aku tidak memberi sedikit

pelajaran kepadamu, kau masih belum tahu diluar langit masih ada langit, diatas manusia

masih ada manusia yang lebih pintar”

Selesai berkata, tiba-tiba ia menerjang maju kedepan dan melancarkan sebuah

bacokan.

Dengan cekatan Gak Lam-kun merendahkan tubuhnya kebawah, sekalipun pukulan itu

berhasil dihindari, ia tidak melepaskan serangan balasan, sikapnya masih tenang dan

seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun…

Betapa gusarnya Giok-bin sin-ang Say Khi pit menyaksikan kelatahan dan

kesombongannya itu, pikirnya, “Betapa sombongnya orang ini, bila tak kuberi sedikit

pelajaran kepadanya pasti dianggapnya bahwa dia paling hebat dan didunia ini cuma ada

dia seorang yang pintar dan hebat”

Hawa murninya diam-diam dihimpun menjadi satu, lalu dengan satu dorongan telapak

tangan kanan ia lepaskan serangan tersebut.

Gak Lam kun mengebaskan telapak tangan kanannya, tanpa menimbulkan sedikit

suarapun ia sambut datangnya ancaman tersebut.

Padahal didalam melancarkan serangannya tadi, Say Khi pit telah mengerahkan tenaga

dalamnya sebesar delapan bagian, kekuatan angin pukulannya cukup untuk memukul

hancur batu cadas.

Dalam perkiraannya semula, kendatipun serangan tersebut belum tentu bisa menghajar

Gak Lam-kun sehingga terluka parah, paling sedikit kuda-kudanya pasti akan tergempur

dan tubuhnya akan mundur beberapa langkah dengan sempoyongan.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi ternyata diluar dugaan Say Khi pit, setelah

menyambut serangan itu tubuh Gak Lam-kun masih tetap tegak bagaikan bukit Tay-san,

jangankan bergerak mundur, bergerak sedikitpun tidak…

Sementara itu secara tiba-tiba timbul segulung angin pukulan yang tajam langsung

menghantam kedadanya.

Say Khi-pit tertegun, sepasang ujung bajunya dikebaskan untuk memunahkan

datangnya ancaman tersebut.

Pada saat itulah tiba-tiba Gak Lam-kun menerjang maju kedepan, telapak tangan dan

kakinya melancarkan serangan bersama, dalam waktu singkat lima buah pukulan

dilepaskan.

Kelima jurus serangannya bukan saja dilancarkan dengan kecepatan tinggi, bahkan

jurus serangannya aneh dan tenaganya dahsyat sedikit kurang waspada seketika Giok-binsin-

ang Say Khi-pit terdesak mundur sejauh tiga langkah.

Diantara tujuh belas orang jago tangguh yang mengerubuti Tok-liong Cuncu dibukit

Yan-po gan belasan tahun berselang, Giok-bin-sin-ang Say Khi-pit merupakan jago

tangguh keempat.

Bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, diapun terhitung jago nomor satu dalam dunia

persilatan dewasa ini.

Belasan tahun berselang ia sudah lihay apalagi belasan tahun kemudian, sudah barang

tentu kemajuan yang dicapainya dalam ilmu silat sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Siapa menyangka dalam kemunculannya kembali dalam dunia persilatan dia harus

berjumpa dengan musuh setangguh ini.

Selama hidup belum pernah ia menerima penghinaan dan rasa malu seperti yang

dialaminya sekarang, kontan saja hawa amarahnya berkobar sambil mendengus dingin

telapak tangannya diayun kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Dalam waktu singkat bayangan telapak tangan menyelimuti angkasa, segulung angin

pukulan yang kuat dan berat tiba berlapis-lapis.

Dari catatan ‘Ciu jin-liok’ yakni catatan yang berisi keterangan tentang musuh-musuh

besarnya. Gak Lam kun telah mendapat tahu bahwa Say Khi-pit merupakan jago keempat

diantara tujuh jago lihay lainnya, dengan dasar keterangan itu tentu saja ia tak berani

bertarung secara gegabah, semua serangan-serangannya dilancarkan dengan aneh dan

sakti bahkan beberapa gebrakan kemudian ia telah berhasil membendung semua serangan

tangguh dari Giok bin sin ang.

Pertarungan yang berlangsung ini sungguh merupakan suatu pertarungan indah yang

jarang ditemui dalam dunia persilatan, hal ini membuat Si Tiong pek yang menyaksikan

kejadian itu merasa terkejut bercampur tercekat.

Ia tak mengira kelihayan Gak Lam-kun ternyata jauh diluar dugaannya semula, ia lebihlebih

tak menyangka dengan usia Gak Lam kun yang beberapa tahun lebih muda darinya

ternyata memiliki ilmu silat sedemikian sempurna.

Untuk sesaat ia menjadi getun sendiri, bahkan makin dilihat rasa iri dan dengkinya

semakin menghebat.

Ketika serangan berantai yang dilancarkan Giok bin-Sin-ang Say Khi pit berhasil

dibendung semua oleh Gak Lam-kun, hatinya merasa kaget dan marah sambil membentak

keras sekali lagi dia menyerbu kedepan sambil melancarkan serangan.

Semua bacokan telapak tangannya dan totokan jari tangannya tertuju pada jalan darah

kematian disekujur badan Gak Lam-kun, bukan saja serangan itu amat dahsyat dan luar

biasa, bahkan datangnya berantai bagaikan gulungan ombak yang saling berkejaran.

Gak Lam kun mengernyitkan sepasang alis matanya, dibawah serangan dan desakan

Say Khi-pit yang bertubi-tubi, mendadak ia gunakan jurus serangan yang aneh dan sakti

untuk membacok urat nadi ditubuh lawan.

Dengan terjadinya ancaman tersebut, maka secara tiba-tiba saja semua serangan

ganas dari Giok bin-sin ang Say Khi-pit mengalami kemacetan total, bukan saja ia tak

mampu melukai musuhnya bahkan oleh ilmu bacokan nadi yang dipakai Gak Lam kun

seluruh kepandaian silatnya tak mampu dikembangkan kembali.

Sementara itu setelah mengatur pernapasan sekian lama, si Rase berekor sembilan

Kongsun po telah berhasil menenangkan kembali golakan hawa darah dalam dadanya

betapa terkesiapnya dia setelah menyaksikan pertarungan sengit antara Say Khi pit

melawan Gak Lam kun, pikirnya kemudian dengan hati kebat-kebit, “Sepintas lalu orang ini

tampaknya baru berusia dua puluh tahunan, tak nyana kalau kepandaian silatnya telah

mencapai taraf setinggi ini bila ia diberi kesempatan untuk hidup sepuluh tahun lagi entah

bagaimana jadinya nanti? Aaai…kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini

untuk bekerja sama dengan Say Khi-pit dan melenyapkannya dari muka bumi? Lebih baik

bersusah payah sekarang, daripada menjadi bibit bencana yang besar buatku dikemudian

hari…”

Berpikir sampai disitu, nafsu membunuh dihati Kongsun Po segera berkobar kembali,

katanya sambil tertawa kering, “Say loji, bocah keparat ini terlalu hebat, mari kubantu

untuk menaklukannya.”

Begitu ucapan diutarakan secepat sambaran kilat Kongsun Po menerjang maju kedepan

dan melepaskan serangkaian pukulan dan tiga kali tendangan kilat, bukan saja gerakannya

penuh bertenaga bahkan jurus-jurus serangan yang digunakan semuanya merupakan

serangan yang ganas dan mengerikan hati.

Sesungguhnya semenjak tadi Giok bin sin ang Say Khi-pit memang mempunyai ingatan

tersebut maka dia cepat-cepat menarik napas panjang, kemudian sepasang telapak

tangannya melancarkan serangan-serangan untuk mengimbangi kerja samanya dengan si

Rase berekor sembilan.

Kendatipun Gak Lam-kun berilmu tinggi, tapi dibawah serangan berantai dari dua orang

tokoh kelas satu yang amat lihay itu, terdesak juga dia sehingga harus mundur sejauh

empat lima langkah dari kedudukannya semula.

Ditengah sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung pada kegelapan menjelang

fajar tiba-tiba dari dalam bangunan loteng itu berkumandang suara suitan aneh yang

panjang tapi rendah dan berat. Suara itu sangat aneh dan seakan-akan membawa daya

pengaruh iblis yang sanggup membetot sukma orang.

Bersamaan dengan berkumandangnya suara suitan aneh itu, mendadak dari balik

semak belukar disekitar gelanggang itu berkumandang suara desisan yang ramai.

Dengan terkejut Si Tiong pek berpaling kearah mana berasalnya suara itu, tiba-tiba

segulung bau amis berhembus lewat, menyusul kemudian muncullah beberapa ekor ular

beracun yang bersisik emas dari balik semak belukar.

Ular-ular beracun yang menjijikkan sekali tampangnya itu dengan sigap dan sangat

terlatih langsung menyerbu kedalam gelanggang pertarungan.

Sementara itu Gak Lam-kun yang berada dalam kancah pertarungan, kendatipun ikut

mendengar suara suitan aneh tersebut akan tetapi berada dalam desakan dua orang

musuh besarnya yang datang secara bertubi-tubi, meluap juga hawa amarahnya. Ia tak

sempat untuk memikirkan persoalan lain lagi, sambil membentak keras sebuah pukulan

dahsyat dilancarkan kearah depannya…

Dengan penuh kegusaran kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit mendengus dingin,

ia melancarkan pula sebuah pukulan dahsyat untuk menyambut datangnya ancaman

tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaaang..!” dikala dua gulung angin pukulan saling bertemu satu sama lainnya,

terjadilah suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga, akan tetapi justru karena itu

gerak maju kedua belah pihakpun menjadi tertahan hingga jauh lebih lambat.

Gak Lam-kun tidak berhenti sampai disitu saja telapak tangan kirinya kembali

melancarkan sebuah pukulan untuk menghantam kedada lawan, sementara tangan

kanannya berputar mencengkeram urat nadi diatas pergelangan tangan Say Khi-pit.

Sesudah berlangsungnya adu kekuatan secara kekerasan tadi, Say Khi-pit merasakan isi

perutnya tergetar keras, meskipun diwajahnya ia masih dapat mempertahankan

ketenangannya seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadianpun, padahal isi perutnya

sudah tergoncang keras, bukan saja hawa darah sudah bergolak keras, diapun sudah tak

sanggup lagi untuk menyambut serangan lawan dengan kekerasan.

Oleh sebab itu, dikala serangan dari Gak Lam-kun yang maha dahsyat itu meluncur

datang dengan cepat-cepat dia melompat mundur kebelakang.

Gagal dengan serangannya yang pertama, Gak Lam kun mengangkat kaki kirinya dan

menyusul kedepan.

Pada saat itulah si Rase berekor sembilan Kongsun Po membentak keras, dua gulung

angin pukulan yang sangat kuat segera menggulung kedepan.

Gak Lam-kun tertawa dingin, ia merangkap sepasang telapak tangannya kedepan dada,

setelah berputar satu lingkaran ditolaknya serangan tersebut kearah dada Kiu-wi-hou.

Sepanjang karirnya sebagai jagoan dalam dunia persilatan, sudah banyak jago lihay

yang pernah ia temui belum pernah ia saksikan pukulan seaneh serangan yang dilancarkan

Gak Lam-kun ini.

Buru-buru ia menarik napas panjang dan menekan tubuhnya yang sedang menyerbu

kedepan itu sehingga merosot kebawah, lalu sepasang telapak tangannya yang penuh

berisikan tenaga pukulan itu pada saat yang hampir bersamaan dilancarkannya kedepan,

sementara Giok-bin-sin ang Say Khi-pit yang berada disebelah kanan ikut pula menyerbu

kedepan…

Gak Lam-kun mendengus dingin, dengan jurus Giok liong hun-sim (naga kemala

memecah perhatian) tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan kesamping,

tangan kirinya digunakan untuk menangkis serangan dari Say Khi-pit, sedang telapak

tangan kanannya bagaikan sambaran kilat cepatnya menghantam kedada Rase berekor

sembilan.

Perubahan jurus serangan ini sangat diluar dugaan orang, lagi pula datangnya ancaman

sedemikian cepatnya, peluh dingin segera membasahi sekujur badan Kongsun Po saking

kagetnya.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang rase tua yang sudah berpengalaman luas dalam

menghadapi musuh, sekalipun peluh dingin telah membasahi tubuhnya karena kaget,

gerak geriknya sama sekali tidak menjadi kalut, ia menarik napas panjang kemudian

menyurut mundur kebelakang.

Waktu itu api dendam dan kebencian sedang membara dalam hati Gak Lam-kun, tentu

saja ia tak sudi membiarkan musuhnya kabur dengan begitu saja dari cengkeramannya, ia

tahu diantara ketujuh orang musuh besarnya Jit-poh-toan-hun (tujuh langkah pemutus

nyawa) Kwik To dan Tang-hay-coa-siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong-hu telah

mengetahui asal usulnya yang sesungguhnya.

Ia cukup mengerti, apabila ia membiarkan mereka semua bersatu padu maka niscaya ia

tak akan sanggup untuk menghadapi mereka sekaligus.

Oleh sebab itulah bagaimanapun juga dua orang musuh besar yang sedang

dihadapinya ini harus dibinasakan dibawah telapak tangannya, daripada memberikan

mereka pulang gunung dan meninggalkan bibit bencana kemudian hari.

Berpikir sampai disitu Gak Lam-kun segera menghimpun hawa sakti Tok-liong-ci jiau

(cakar jari naga beracunnya kedalam telapak tangan…

Pada saat tenaga sakti yang maha dahsyat itu siap dilancarkan tiba-tiba terdengar Si

Tiong pek membentak keras, “Ular beracun!!”

Berbareng dengan teriakan itu, Gak Lam-kun merasa tumit kirinya amat sakit, ketika ia

mencoba untuk memeriksanya maka tampaklah seekor ular beracun yang berbadan bintikbintik

merah sedang melingkar diatas kakinya erat-erat.

Tak terkira rasa kaget dan terkesiap Gak Lam-kun menghadapi kejadian tersebut, cepat

kelima jari tangan kanannya disapu kebawah.

Termakan oleh pukulan yang sangat dahsyat itu kontan saja ular beracun yang

menggigit tumitnya itu hancur berkeping-keping, tapi Gak Lam-kun keburu merasakan

tumitnya menjadi panas seperti dibakar dengan api, dengan terkejut ia segera,

menghimpun tenaga dalamnya untuk mendesak keluar racun ular tersebut.

Pekikan nyaring yang amat tajam dan tak sedap didengar tadi kembali berkumandang

datang dari kejauhan.

“Sreeet..! Sreeet..!” bunyi desisan aneh berkumandang dari mana-mana, lalu tampaklah

beratus-ratus ekor ular berbisa bermunculan dari balik semak belukar disekelilingnya, ularular

tersebut sambil menjulurkan lidahnya yang merah membara, secara berpencar

mendekati tubuh Si Tiong pek, Say Khi-pit, Kongsun Po dan Gak Lam-kun.

Gak Lam-kun marah sekali menyaksikan ancaman itu, sepasangtelapak tangannya

dibacok kedepan berulang kali, gulungan angin puyuh yang disertai dengan batu dan

kerikil segera menggulung kemuka serta membinasakan beberapa ekor ular beracun.

Pada saat yang hampir bersamaan, Say Khi-pit serta Kongsun po telah melancarkan

juga pukulan-pukulan udara kosong untuk membinasakan ular-ular beracun yang

menyerbu kearah mereka.

Tapi sayang ular-ular beracun itu sangat banyak Jumlahnya, apalagi dibawah komando

suara lengkingan tajam yang sangat aneh itu, mereka bermunculan dari balik semak

belukar disekitar tempat itu dan menyerbu kearah musuh-musuhnya secara ganas dan

mengerikan.

Menyaksikan kejadian itu, si Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa kering

kemudian katanya, “Say loji, hari ini secara beruntun kita harus menghadapi beberapa

kejadian aneh, benar-benar sedang sial!”

Tentu saja yang dimaksudkan sebagai beberapa persoalan aneh adalah masalah ilmu

silat yang dimiliki Gak Lam-kun serta penyerbuan oleh ular beracun atas diri mereka

berempat.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit berkata, “Hei Rase tua, aku dengar Si Kakek

ular dari lautan Timur adalah seorang ahli dalam menangkap ular apabila hari ini Ou loji

juga berada disini, ingin kusaksikan dengan cara apakah dia akan menangkap gerombolan

ular-ular beracun ini”

Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa dingin.

“Sekalipun Ou Yong-hu terhitung seorang ahli dalam menangkap ular, tapi bila

dibandingkan dengan orang ini, hmm…dia masih ketinggalan jauh sekali coba dengarkan

irama musik yang mengendalikan gerakan maju ular-ular beracun itu, sungguh hebat dan

mengagumkan coba terka siapakah orang itu?”

“Haaahhh…haaahhh…haaaahh…rase tua masa kau tahu siapakah pawang ular itu?”

“Say loji, kau pernah mendengar kalau dari See Thian san terdapat tiga orang manusia

latah? Nah salah satu diantaranya adalah See hi Tong-seng malaikat racun dari See-hi Lo

Kay seng…”

Sementara pembicaraan masih berlangsung gerombolan ular-ular beracun itu sudah

berada beberapa kaki saja dihadapan kedua orang itu, terpaksa mereka harus

mengayunkan telapak tangan masing-masing untuk menghajar ular-ular beracun itu.

Tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun cukup sempurna, kendatipun ia kena digigit

oleh ular beracun itu, namun pukulan-pukulan yang dihasilkan dari sepasang telapak

tangannya masih mantap dan penuh bertenaga dahsyat, ular-ular beracun yang berada

disekitar tiga kaki darinya tak seekorpun berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.

Si Tiong-pek paling menggenaskan keadaannya, setelah isi perutnya menderita luka

yang cukup parah, ia telah kehilangan seluruh kekuatan hawa murninya, dikala ular-ular

beracun itu menyerbu tiba, dia cuma bisa berkelit kesana kemari secara gelagapan, tapi

sayang ular-ular beracun yang menyerbu datang terlampau banyak jumlahnya, tak selang

beberapa saat kemudian sekeliling tubuhnya telah dipenuhi oleh ular-ular beracun yang

ganas itu.

Tiba-tiba muncul seekor ular kecil berwarna hitam, sambil mendesis aneh ular itu

melompat keatas secepat kilat menggigit lengan kanan Si Tiong pek.

“Aduuuh..!” saking sakit dan kagetnya, pemuda itu menjerit tertahan lalu jatuh

terjerembab diatas tanah.

Gak Lam-kun yang menyaksikan kejadian itu dengan cepat melayang datang, ujung

bajunya dikebaskan berulangkali, seketika itu juga berpuluh-puluh ekor ular beracun yang

sedang menyerbu ketubuh Si Tiong pek berhasil dibinasakan.

Sungguh tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri yang mencekam perasaan Si Tiong pek

ketika itu buru-buru dia merangkak bangun.

Ular kecil berwarna hitam yang cuma beberapa depa panjangnya itu masih menggigit

lengan kanannya kencang-kencang Gak Lam kun bergerak cepat, dengan jari tengah dan

jari telunjuk tangan kirinya dia jepit ular hitam itu lalu ditarik hingga terlepas dari gigitan,

kemudian setelah digencet sampai mati, bangkai ular itu dibuangnya jauh-jauh dari sana…

“Saudara Si cepat kerahkan hawa murnimu untuk mencegah menjalarnya sari racun

tersebut!” serunya.

Si Tiong pek menghela napas panjang.

“Aaaaai…luka yang kuderita sudah terlampau parah, aku tak mampu untuk

mengerahkan tenaga lagi, apalagi setelah digigit ular beracun sekarang, sudah pasti aku

bakal mampus. Saudara Gak, cepat tinggalkan tempat ini, kau tak usah menggubris diriku

lagi”

Gak Lam-kun mengerutkan dahinya mendengar perkataan itu, katanya, “Saudara Si,

apabila kau cepat tinggalkan tempat ini dan berhasil menemukan Ou Yong hu tham cu dari

perkumpulanmu itu, mungkin jiwamu masih dapat diselamatkan, akupun sudah digigit oleh

ular beracun, siapa tahu kalau sebentar lagi bakal mampus pula diujung mulut ular-ular

beracun itu?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Gak Lam-kun telah mengerahkan tenaga

dalamnya untuk melancarkan beberapa buah pukulan dahsyat untuk membinasakan lagi

beberapa ekor ular beracun.

Si Tiong-pek tertawa terbahak-bahak, katanya, “Saudara Gak, kendatipun kita hanya

berjumpa dalam sekali perjumpaan belaka, tampaknya antara kau dan aku memang

mempunyai kecocokan, bila saudara Gak tidak keberatan, beruntunglah aku bila saudara

Gak bersedia mengangkat saudara denganku. Sekalipun kita tidak dilahirkan hari yang

sama, aku bersedia mati pada waktu yang bebarengan, sayang keadaanku sekarang

sudah amat payah, sekalipun berbasil menemukan Ou thamcu dan racun ular dalam

tubuhku berhasil dipunahkan, luka parah yang kuderita dalam perutku belum tentu bisa

disembuhkan maka dari itu saudara Gak, lebih baik kau saja yang tinggalkan tempat ini,

temukan Ou thamcu dan mintalah kepadanya untuk mengobati luka racun ular itu…

Sungguh gagah dan perkasa sekali perkataan itu bukan saja bijaksana dan lagi pula

amat tulus dan ikhlas, hal ini membuat Gak Lam kun merasa sangat terharu.

Tiba-tiba ia berpekik nyaring, sambil menahan rasa sakit dikakinya dia kerahkan hawa

murninya sedemikian rupa untuk melepaskan pukulan-pukulan jauh lebih ganas, kontan

berpuluh-puluh ekor ular beracun disekitar tempat itu berhasil dibinasakan.

Si Tiong-pek kembali dibikin tertegun oleh kejadian itu, mimpipun dia tak menyangka

kalau tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun telah mencapai pada taraf setinggi itu.

Begitulah, setelah Gak Lam kun mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk

membinasakan gerombolan ular beracun disekitar empat lima kaki disekeliling mereka,

iapun berpaling seraya berkata, “Saudara Si, mari kubopong dirimu untuk meninggalkan

tempat ini!”

Tanpa menunggu jawaban disambarnya tubuh Si Tiong pek, kemudian dibopong.

Sementara itu pekikan nyaring yang sangat aneh tadi mendadak semakin melengking

tinggi, bukan saja tajam bahkan amat tajam bagaikan lolongan serigala atau jeritan setansetan

gentayangan.

Berbareng dengan munculnya suara itu, dari balik semak belukar disekitar tempat itu

muncullah gerombolan demi gerombolan ular beracun yang menyerbu ketengah

gelanggang bagaikan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra.

Kali ini ular-ular beracun yang melancarkan serangan bukan ular-ular kecil saja

diantaranya ada yang besar mengerikan seperti ular sanca, ada pula yang amat kecil

bagaikan anak ular yang baru saja dilahirkan…

Yaa, kejadian ini aneh tampaknya padahal dalam kenyataan hal ini kemungkinan besar

bisa terjadi.

Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa tergelak, katanya mendadak, “Say loji ularular

beracun makin lama semakin banyak, kalau begini terus keadaannya, kendatipun

tubuh kita terbuat dari baja murni akhirnya bakal mampus juga karena kehabisan tenaga”

“Hei, rase tua!” sahut Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit, “aneh benar

kedatangan ular-ular beracun itu, lebih baik kita cepat-cepat tinggalkan tempat ini”

Tiba-tiba paras muka rase berekor sembilan Kongsun po berubah hebat, katanya lagi,

“Say loji, pernahkah kau baca kitab San hay keng yang membicarakan bahwa dijaman

dahulu terdapat seekor naga aneh pemakan racun yang bisa mengeluarkan bunyi sangat

aneh? Konon bunyi aneh itu bisa memancing datangnya beribu-ribu ekor ular beracun dan

binatang beracun lainnya untuk menghampirinya”

Satu ingatan melintas dalam benak Giok-bin-sin-ang Say Khi-pit, seperti teringat akan

sesuatu katanya, “Wahai rase tua, apakah ilmu yang digunakan See ih tok seng Lo Kay

seng adalah ilmu Seh hun liong ing (irama naga pembetot sukma) yang sudah lenyap dari

peredaran semenjak seribu tahun berselang?”

“Say loji, lebih baik cepat-cepat kita kabur dari sini, sekalipun tanpa memiliki ilmu irama

naga pembetot sukma yang maha lihay itu, dewasa ini Si malaikat racun dari See-ih Lo

Kay-seng telah memiliki irama suitan yang tampaknya mempunyai daya pengaruh iblis

yang luar biasa. Yaa…bila dugaanku tidak keliru kemungkinan besar disetiap sudut

bangunan gedung ini telah dipersiapkan berpuluh-puluh laksa ekor ular beracun yang siap

melancarkan serangan setiap saat”

Baik Gak Lam-kun maupun Si Tiong-pek yang mendengar pembicaraan kedua orang

itu, diam-diam merasa kaget dan terkesiap juga.

Sambil membopong tubuh Si Tiong-pek, Gak Lam-kun sudah mengundurkan diri sejauh

beberapa kaki, mendadak dari balik semak belukar didepan sana terjadi kembali suara

yang amat gaduh ternyata segerombolan ular beracun telah muncul kembali untuk

melancarkan serbuan maut.

Menyaksikan itu, Gak Lam-kun menghela napas panjang, keluhnya, “Aaaai..tampaknya

hari ini kita benar-benar akan tewas dimulut ular-ular beracun ini”

Kiranya pada waktu itu Gak Lam-kun telah merasakan betapa panas dan gatalnya

sekitar mulut luka di tumitnya yang terpagut ular tadi, bukan saja telah membengkak satu

kali lipat daripada keadaan semula, bahkan sedemikian kakunya sehingga tak medengar

perintahnya lagi.

Jilid 6

PERLU kiranya diterangkan disini bahwa ular berbintik bintik merah itu merupakan jenis

ular beracun yang jahat dan ganas sekali sari racunnya, meskipun Gak Lam kun telah

mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendesak racun itu terkumpul disuatu tubuhnya,

akan tetapi lantaran dia barus mengerahkan tenaga saktinya untuk membinasakan ularTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

ular beracun tadi, maka karena kurang waspada racun ular yang berhasil disudutkan itu

berhasil menjalar kembali kedalam isi perutnya mengikuti aliran darah.

Karena daya kerja racun yang berhasil lolos ketubuhnya itulah menyebabkan pemuda

itu merasakan dadanya menjadi kaku, segenap tenaga murninya membuyar dan badannya

menjadi lemas.

Masih untung tenaga dalamnya cukup sempurna, hingga sebelum keadaan bertambah

fatal, ia sudah keburu menutup kembali semua saluran jalan darah dibagian kakinya.

Si Tiong pek tertawa sedih katanya, “Aku bisa mati bersama-sama saudara Gak

sekalipun harus mati sekarang, mata juga akan meram!”

Sementara pembicaraan sedang berlangsung gerombolan ular beracun itu telah tiba

didepan mereka terpaksa Gak Lam kun mengayunkan kembali telapak tangan kanannya

untuk menghajar binatang-binatang tersebut.

“Blaaang…!” dimana angin pukulannya menyambar lewat, belasan ekor ular beracun

yang bergerak dibarisan terdepan segera terhantam sampai hancur berkeping-keping.

Setelah melancarkan serangan dengan telapak tangan kanannya tadi Gak Lam kun

merasakan dadanya kaku dan kesemutan, segenap kekuatannya punah tak berbekas, ia

menjadi sempoyongan lalu bersama Si Tiong pek jatuh terjerembab diatas tanah.

“Saudara Gak, kenapa kau?” Si Tiong pek segera bertanya dengan perasaan cemas.

Gak Lam kun menghela napas panjang.

“Aaaai…racun ular yang berada dalam tubuhku telah menyerang dalam isi perut”

Selesai mengucapkan kata-kata dengan cepat Gak Lam kun duduk bersila untuk

mengatur pernapasan, dengan kaki kanannya dia berusaha menopang seluruh badannya.

Si Tiong pek yang mendengar perkataan itu ikut merasa terperanjat pikirnya, “Tenaga

dalam yang dia miliki beberapa kali lipat lebih tinggi daripadaku, kenapa aku yang digigit

ular dengan isi perutku sudah terluka parah tidak merasakan apa-apa kecuali tak mampu

mengerahkan kembali tenaga dalamnya sedangkan dia yang tidak terluka isi perutnya

malah menunjukkan gejala keracunan? Jangan-jangan ular hitam kecil yang menggigitku

itu sama sekali tak beracun.”

Padahal mana dia tahu kalau racun dari ular hitam kecil itu jauh lebih jahat daripada

racun ular berbintik-bintik merah yang menggigit Gak Lam kun itu?

Barangsiapa sampai tergigit oleh ular hitam kecil itu maka dalam waktu singkat jiwanya

tentu akan melayang, tapi kenapa Si Tiong pek tidak mampus?

Alasannya yakni karena sebagian urat nadi dalam tubuhnya sudah membeku dan

tembusan racun jahat itu tak sanggup menyerbu sampai kedalam tubuhnya karena itu dia

masih tetap segar tanpa banyak menunjukkan gejala keracunan.

Akan tetapi, justru karena kejadian ini maka luka dalam yang diderita Si Tiong pek akan

semakin sukar disembuhkan, sekalipun sembuh nantinya, dia harus menderita kembali

suatu penyakit jahat yang tak ada sembuhnya…

Sementara itu desisan tajam berkumandang lagi silih berganti, segerombolan ular racun

muncul lagi dari semak belukar dan menyerbu kearah Gak Lam-kun serta Si Tiong pek.

Betapa gelisah dan cemasnya Si Tiong pek, cepat dia menarik bahu Gak Lam kun

seraya teriaknya, “Saudara Gak, rada baikkah keadaanmu?”

Ketika sinar matanya dialihkan kewajah Gak Lam-kun, maka tampaklah pemuda itu

memejamkan matanya rapat-rapat, mukanya tenang tapi dingin dan hambar, sama sekali

tidak tampak rasa murung ataupun bersedih hati.

Puluhan sosok ular beracun yang besar kecil tak menentu itu sudah bergeser kurang

lebih satu kaki dihadapan kedua orang itu, tampaknya sulit bagi mereka untuk meloloskan

diri dari gigitan ular-ular tersebut…

Mendadak disaat yang kritis itulah bergema suara desisan kacau yang memecahkan

kesunyian, ular-ular beracun yang berada disekitar tiga tombak dari kedua orang itu pada

bergelut sendiri seperti kegilaan, lalu setelah saling gigit menggigit dengan kalap,

binatang-binatang itu jumpalitan dan tewas secara misterius.

Sedangkan ular-ular beracun yang berada diluar radius tiga kaki, seakan-akan telah

bertemu dengan raja iblis tandingannya, dengan ketakutan mereka putar badan dan lari

tercerai-berai.

Saat itulah Si Tiong-pek sempat mencium bau harum yang tipis tersebar disana, bau itu

seperti bau harum bunga anggrek, tapi jelas bukan bunga anggrek, dengan tercengang ia

berpaling kearah Gak Lam kun.

Rupanya Gak Lam kun sendiripun mengendus bau harum yang tipis itu, segera ia

membuka matanya dan memutar badan dengan sigap…

Kurang lebih empat kaki didepannya berdiri seorang manusia berbaju abu-abu yang

mengenakan kain cadar diatas wajahnya, orarg itu tak lain adalah manusia berbaju abuabu

pendayung sampan Bwe Li-pek.

Tangannya waktu itu membawa sebuah botol yang berisi penuh bubuk putih setiap kali

tangan kanannya menyebarkan bubuk putih keatas tanah ular-ular beracun yang berada

beberapa kaki disekelilingnya segera melejit-lejit seperti kesurupan setelah terjadi adegan

saling menggigit, binatang-binatang itu tewas semua dalam keadaan yang menggenaskan.

Ular-ular beracun yang memenuhi seluruh permukaan tanah, kini sudah terkendalikan

oleh irama aneh tadi, masing-masing berebut melarikan diri keempat penjuru.

Suasana demikian kacaunya hingga serangan ular yang sesungguhnya sudah hampir

berhasil itu segera terbengkalai dan menderita kegagalan total…

Saat itulah dari atas loteng gedung rumah itu berkumandang suara teguran yang dingin

dan mengerikan.

“Siapa kau? Bila kulihat dari bubuk hatinya yang kau miliki, tampaknya kau bukan

manusia sembarangan!”

Manusia berbaju abu-abu itu segera tertawa tergelak.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhh..Lo Kay-seng ilmu irama naga pembetot sukmamu telah

mencapai tingkat yang keberapa?”

Orang yang berada diatas loteng gedung itu mendengus dingin.

“Hmm aku dengan saudara tak pernah saling mengenal, kenapa kau hancurkan barisan

ularku?”

“Lo Kay seng, aku hanya mohon bantuan agar menyampaikan pesan kepada Soat-san

Thian-li bahwa aku dengan membawa perintah dari pemimpin perguruan panah bercinta

ingin menghadap dirinya”

Berbicara sampai disitu, manusia berbaju abu-abu itu selangkah demi selangkah

berjalan mendekati Gak Lam kun serta Si Tiong-pek berdua.

Sementara itu orang yang berada diatas loteng gedung tersebut tertawa seram dengan

suaranya yang melengking setelah mendengar perkataan itu, bukan saja suaranya tak

sedap didengar bahkan bagaikan angin dingin yang berhembus datang dari gudang es,

membuat siapapun yang mendengarnya menjadi bergidik dan seram.

Gelak tertawa itu berlangsung seperminum teh lamanya, setelah berhenti orang itu

baru berkata, “Sungguh tak kusangka kaulah yang telah datang belasan tahun tak pernah

muncul dalam dunia persilatan, siau-te mengira kau sudah kembali kebukit To san atau

mungkin mengasingkan diri ditengah gunung yang terpencil dan jauh dari keramaian

dunia. Hmmm… Sungguh tak kusangka kau begitu tak becus dan memalukan sehingga

dengan kedudukan sebagai seorang Tokoh kenamaan dalam dunia persilatan kau rela

menggabungkan diri dengan perguruan panah bercinta serta menjadi budaknya…

heeeh…heeehh…heeehhh… siau-te sungguh merasa sayang untuk nama baikmu…”

Manusia berkerudung berbaju abu-abu itu mendengus dingin.

“Hmmm..! Lo Kay seng, aku rasa kemunculanmu kembali dalam dunia persilatan

dewasa ini adalah untuk mencari diriku, bukankah demikian? Baiklah, hutang-hutang lama

kita memang sudah seharusnya diselesaikan secepatnya, sebab dilain waktu mungkin

sudah tak ada kesempatan lagi”

Orang yang berada diatas loteng tertawa dingin.

“Bagus sekali, bagus sekali, malam ini aku Lo-Kay-seng akan menanti petunjukmu

didepan gudang sebelum bertemu tak akan bubar”

Semenjak semula Gak Lam kun sudah tahu kalau orang yang berada dihadapannya

sekarang adalah satu diantara musuh-musuh besar gurunya yang bernama Jit poh-toan

hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To, dengan perasaan gelisah buru-buru dia

himpun segenap tenaga dalamnya siap melancarkan serangan.

Sayang racun ular itu sudah menyerang kedalam tubuhnya, sekalipun dia telah

berusaha untuk menghimpun segenap tenaganya, akan tetapi setiap kali dadanya menjadi

kaku tenaga yang telah terhimpun itu lenyap kembali tak berbekas.

Tiba-tiba manusia berbaju abu-abu itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir

obat berwarna merah, lalu sambil diangsurkan kehadapan Gak Lam kun katanya, “Gak

siangkong, obat ini adalah obat penolak racun yang kubuat sendiri secara khusus cepat

telanlah obat ini untuk menawarkan racun yang berada dalam tubuhmu”

Gak Lam kun hanya mendengus dingin tiga kali ia tidak menjawabpun tidak menyambut

obat itu.

Si Tiong-pek yang berada disisinya segera tersenyum katanya, “Locianpwe, aku merasa

amat berterima kasih sekali atas bantuan yang telah kau berikan untuk membebaskan

kami dari mara bahaya budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya. Bolehkah

aku tahu siapa namamu, sehingga kemudian hari dapat kubalas budi kebaikan ini?”

Setajam sembilu sorot mata manusia berbaju abu-abu itu, setelah menatap sekejap

wajah Si Tiong pek katanya dengan nada ewa, “Dua jam lagi, racun ular yang mengendon

dalam tubuhmu akan menembusi nadi-nadimu yang membeku dan menyerang kedalam isi

perut, lukamu tak mungkin bisa disembuhkan lagi, lebih baik carilah tempat yang cocok

sebagai tempat istirahatmu untuk selamanya!”

Si Tiong-pek yang mendengar perkataan itu menjadi amat terkejut, namun paras

mukanya masih tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadian apapun.

“Haaaahhh…haaahhh…haaaahhh…” ia tertawa tergelak, “sebagai seorang laki-laki sejati

apa yang musti ditakuti sewaktu mati dan apa yang musti digembirakan dikala hidup?

Sejak dulu sampai sekarang tak ada manusia yang bisa melepaskan diri dari kematian,

yang berbeda hanya selisih waktunya saja, ada yang mati lebih duluan ada pula yang mati

belakangan. Si Tiong-pek hanya menyesal karena tak sempat menyaksikan keramaian

yang bakal berlangsung dalam dunia persilatan”

Sehabis berkata, ia lantas memutar badan dan memberi hormat kepada Gak Lam kun,

katanya lagi, “Saudara Gak, dewasa ini usia siau-te sudah tak akan lama, lebih baik kita

berpisah disini saja!”

Kedengaran sekali kalau ucapan tersebut mengandung nada sedih yang amat sangat.

Selesai mengucapkan kata-kata itu, dengan sempoyongan Si Tiong pek memutar

badannya dan berlalu dari situ.

Dengan satu kali lompatan, Gak Lam-kun menghadang dihadapannya, lalu serunya,

“Saudara Si, lukamu bukan tak dapat ditolong lagi!”

Si Tiong-pek tertawa sedih.

“Saudaraku, aku cukup memahami bahwa maut sudah tak jauh lagi dari hadapanku”

Manusia berbaju abu-abu yang ada dibelakangnya dengan cepat ikut menambahkan,

“Gak siangkong, ia benar-benar sudah tak dapat ditolong lagi, sebab irama ‘Sang goan-ki’

telah membuatnya mengalami jalan api menuju neraka, seluruh jalan darah dalam

tubuhnya telah tersumbat dan membeku, apalagi dalam keadaan demikian ia terpagut

pula oleh ular ‘Hek giok- coa’ (ular pualam hitam) yang amat jahat itu…”

Si Tiong pek yang ikut mendengar keterangan itu, perasaannya yang sudah putus asa

kini kian bertambah putus asa, sambil memutar badan ia berlalu dari sana dengan langkah

lebar.

“Saudara Si!” kata Gak Lam-kun lagi, “kalau kau harus pergi dengan begini saja, mana

mungkin hatiku bisa tenang?”

Sambil berpaling Si Tiong-pek tertawa.

“Dari sekian banyak orang yang kukenal didunia ini, hanya beberapa orang saja yang

benar-benar bisa akrab, walaupun siaute dan saudara Gak bertemu belum lama, tapi aku

merasa cocok sekali denganmu. Perduli bagaimanapun jalan pikiran saudara Gak, siaute

tetap menaruh perasaan persahabatan yang erat denganmu.

Aaai…cuma sayang kita harus menghadapi perpisahan antara hidup dan mati, hingga

persahabatan ini tak bisa berlangsung lebih mendalam andaikata aku beruntung bisa lolos

dari kematian, suatu hari kita tentu bisa bertemu lagi. Kenapa saudara Gak musti

mengesampingkan masalah penting hanya untuk mengurusi diriku?”

Tiba-tiba ia berpaling sekejap kearah manusia berbaju abu-abu itu, kemudian sambil

putar badan pelan-pelan ia berlalu dari situ.

Dari sikapnya ini, Gak Lam kun tahu kalau dia ada persoalan yang bendak dibicarakan

secara pribadi terpaksa dia mengikutinya sehingga sejauh tujuh delapan kaki dari tempat

semula.

Setelah jauh dari orang banyak. Si Tiong pek baru berkata dengan nada rendah,

“Saudara Gak, apabila kau tidak percaya penuh dengan orang itu lebih baik jangan kau

makan obat tersebut, sebab sudah menjadi kejadian umum dalam dunia persilatan bahwa

orang saling tipu menipu, semakin licik orang itu semakin beruntung posisinya didunia ini,

siapa tahu kalau ia mengandung maksud jahat untuk mencelakai jiwamu”

Sehabis berkata dia lantas memberi hormat, lalu memutar badan dan berlalu dengan

langkah lebar.

Si Tiong-pek memang seorang manusia yang berhati keji seperti binatang buas, dengan

wataknya yang licik dan banyak tipu muslihatnya ia merasa tak enak hati seandainya tidak

mencelakai orang lain.

Padahal dia tahu kalau Gak Lam-kun sudah terpagut ular beracun yang sangat

berbahaya, kendatipun tenaga dalamnya cukup sempurna, akan tetapi racun ular itu

sudah menyerang kedalam isi perutnya, andaikata tidak cepat-cepat makan obat pemunah

maka akibatnya akan fatal, yaitu tak sampai setengah jam jiwanya bakal melayang.

Si Tiong-pek cukup menyadari bahwa jiwanya sudah hampir berakhir, meski begitu ia

tak lupa untuk mencelakai orang lain, maka kalau bisa dia akan berusaha untuk

menghalangi Gak Lam-kun untuk menelan obat pemunah yang mujarab tersebut.

Dengan termangu-mangu Gak Lam-kun memandang bayangan punggung Si Tiong pek

lenyap dibawah sinar matahari disenja itu, akhirnya ia menghela napas panjang dan

memutar badan.

Tiba-tiba terdengar suara dari manusia berbaju abu-abu itu berkumandang dari

belakang, “Gak siangkong, Si Tiong pek adalah seorang manusia yang licik dan berbahaya

lebih baik kau jangan bersahabat dengannya”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Gak Lam kun, sambil memutar tubuhnya ia

berkata dengan dingin, “Jikalau kau kuatir pembalasanku dikemudian hari, mumpung aku

sedang keracunan cepat-cepatlah turun tangan untuk membunuhku”

Manusia berbaju abu-abu itu tertawa dingin, “Hutang uang bayar uang hutang nyawa

bayar nyawa, lebih baik makan dulu obatku ini Gak siangkong, bila dikemudian hari kau

ingin menuntut balas kepadaku, silahkan datang setiap saat aku pasti akan menaruhkan

selembar nyawaku untuk melayanimu”

00000O00000

“Kalau memang demikian mari kita bertarung sekarang juga!” tantang Gak Lam kun.

“Sekarang kau sudah tak punya sedikit tenagapun untuk bertarung, aku tak akan

menggunakan kelemahan orang untuk melakukan sesuatu tindakan..!”

Keadaan Gak Lam-kun pada saat ini memang sangat lemah dan sama sekali tak

berkekuatan, ketika mendengar ucapan tersebut, ia segera mendengus dingin.

“Berpura-pura sok baik hati. Hmm… perbuatan semacam ini hanya dapat membohongi

anak kecil! Baiklah, bila kau memang tak mau berkelahi pada saat ini, jangan menyesal

kau dikemudian hari”

Selesai berkata ia lantas memutar tubuhnya dan berlalu dari sana.

Giok bin-sin-ang Say Khi-pit dan Kiu wi hou Kongsun po serentak melompat kedepan

dan menghadang jalan pergi Gak Lam-kun.

Sambil tertawa dingin jengek si Rase berekor sembilan itu, “Saudara apakah kau pergi

dengan begitu saja?”

Gak Lam kun sama sekali tidak menggubris bahkan melirik sekejappun tidak, pelanpelan

ia melanjutkan langkahnya.

Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa seram tiba-tiba ia menerjang kedepan,

kelima jari tangan kirinya dipentangkan lebar-lebar untuk mencengkeram bahu Gak Lam

kun.

Manusia berbaju abu-abu yang berada dibelakangnya mendadak bergerak kedepan

secepat sambaran setan gentayangan ia menerkam kearah Rase berekor sembilan itu

kemudian mengayunkan telapak tangan kanannya mengirim sebuah pukulan dahsyat.

Sungguh hebat angin pukulan itu, bukan saja cepat dibayar bahkan membawa daya

penghancur yang sangat kuat.

Untuk seaat si Rase berekor sembilan Kongsun po kehilangan posisinya ia sambut

pukulan dari manusia berbaju abu-abu itu sementara cengkeraman tangan kirinya ketubuh

Gak Lam kun sama sekali tidak berubah.

“Baaang..!” suatu benturan keras menggelegar diudara.

Termakan oleh tenaga tersebut, si Rase berekor sembilan Kongsun po tergetar mundur

sejauh dua langkah, sedangkan manusia berbaju abu-abu itu hanya merasakan getaran

pada bahunya.

Hampir pada saat yang bersamaan, Gak Lam kun telah mengeluarkan juga ilmu

langkah Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat nya untuk menghindari cengkeraman

dari Kongsun po itu secara manis, kemudian dengan langkah lebar dia meneruskan

perjalanannya.

Betapa terkesiapnya Giok-bin sin-ang Say Khi-pit menyaksikan cara Gak Lam kun untuk

menghindarkan diri dari serangan itu, dengan jurus To pit kim kong (membacok malaikat

raksasa) ia menghantam pemuda itu.

Dengan suatu gerakan berputaran yang cepat manusia berbaju abu-abu itu memutar

badannya, lalu telapak tangannya dikebaskan keluar melancarkan sebuah pukulan untuk

membendung serangan dari Say Khi-pit, sementara tangan kirinya dengan jurus Hui-hong

hud liu (pusaran angin melambaikan pohon Liu) melepaskan serangan balasan.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit merasa amat gusar sekali karena manusia

berbaju abu-abu itu ikut melibatkan diri dalam pertarungan itu segera bentaknya, “Bagus

sekali, siapa kau? Berani benar tak tahu diri dihadapanku..?”

Sambil berkata dengan cepat ia menyerbu kedepan dan melancarkan sebuah sodokan

kejalan darah manusia berbaju abu-abu itu.

Dengan cekatan manusia berbaju abu-abu itu berkelit kesamping, kemudian secara

beruntun melancarkan tiga buah bacokan berantai.

Sungguh dahsyat dan buas pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu,

perubahan jurus pukulan maupun tendangan yang tertuju dalam serangan ganas, buas

dan sakti, tentu saja arah sasaran yang tertuju dalam serangan itu adalah tempat-tempat

yang mematikan ditubuh manusia, tampaknya mati hidup mereka berdua telah ditetapkan

pertarungan maut tersebut.

Sementara Gak Lam kun telah lenyap dibalik tikungan rumah sebelah depan sana.

“Weess..! Weess..!” secara beruntun manusia berbaju abu-abu itu melancarkan dua

buah pukulan berantai yang memaksa Giok bin sin ang harus melompat mundur sejauh

tiga langkah.

Begitu musuhnya berhasil dipaksa mundur, sambil tertawa terbahak-bahak kata

manusia berbaju abu-abu itu, “Haaaahhh…haaahhhh…haaahhh sudah lama

kudengar ilmu silat yang dimiliki Say Khi pit sangat lihay melebihi siapapun, setelah

perjumpaan hari ini kubuktikan sendiri bahwa nama besarmu memang bukan nama

kosong belaka, haaahhh…haaahh… haaahhh… kini orangnya sudah pergi, dan lagi kitapun

tak punya perselisihan atau sakit hati apa-apa, aku rasa pertarungan juga tak perlu

dilanjutkan lagi”

Sehabis berkata dia lantas melompat keudara, bagaikan burung elang yang terbang

keangkasa tahu-tahu ia sudah berada diatas atap rumah dan berlalu dengan kecepatan

bagaikan sambaran kilat.

Meskipun baru bertarung beberapa gebrakan saja, namun Giok-bin-sin ang Say Khi-pit

dapat merasakan betapa tangguhnya ilmu silat lawan, bahkan tidak berada dibawah taraf

kepandaiannya, dia menjadi heran dan tidak habis mengerti, siapa gerangan orang itu?

“Heran, siapakah orang tadi?” demikian ia berpikir, “padahal tidak terlalu banyak jago

persilatan yang memiliki ilmu silat setangguh ini kenapa aku tidak kenali orang itu?”

0000O0000

Dikala Say Khi-pit terlibat pertarungan sengit melawan manusia berbaju abu-abu itu,

menggunakan kesempatan yang sangat baik Gak Lam-kun telah berjalan keluar dari

perkampungan tersebut dengan langkah cepat, selewatnya beberapa buah halaman,

akhirnya ia menyelinap kedalam halaman sebelah barat.

Setelah menderita luka keracunan akibat pagutan ular berbisa, gerak gerik Gak Lam

kun sudah tidak segesit dan secepat tadi, dia cukup menyadari mara bahaya yang sedang

mengancamnya, apabila secara langsung dia keluar dari gedung itu. Kongsun Po atau

musuh-musuh tangguh lainnya berhasil menyusulnya, tak bisa disangsikan lagi, jiwanya

pasti akan terancam maut.

Gak Lam-kun berjalan terus dengan sekuat tenaga, lambat laun dadanya terasa sesak

dan sukar bernapas, langkah kakinya makin lama makin berat dan susah, kepalanya

pening dan matanya berkunang-kunang, terutama kaki. Anak muda itu makin sadar bahwa

racun ular dalam tubuhnya segera akan mulai bekerja.

Sekalipun begitu, kesadarannya masih belum hilang, dalam hati kecilnya masih terlintas

tekadnya yang kuat, sambil menahan penderitaan dan siksaan yang hebat ia berjalan

terus menuju kearah barat.

Perkampungan itu betul-betul luasnya bukan kepalang, halamannya saja mencapai

angka seratus, ketika Gak Lam-kun tiba digedung paling barat, tampaklah dihadapannya

terbentang tanah perbukitan yang tandus dan sepi.

Waktu itu, racun ular yang mulai bereaksi dalam tubuhnya makin lama semakin parah,

ia merasa dadanya makin sesak, perutnya mual sekali seperti mau tumpah, sepasang

kakinya seakan-akan sudah tidak menuruti perintah lagi.

Pemuda itu menghela napas panjang, dia tahu andaikata racun ular itu tidak

mendapatkan pengobatan tepat pada waktunya, besar kemungkinan ia akan tewas.

Terbayang akan kesemuanya itu semangat jantannya hampir buyar semua, dengan

sempoyongan ia berjalan kebawah sebuah pohon siong dan duduk bersila disana.

Tiba-tiba Gak Lam kun merasakan segulung angin sejuk berhembus lewat, sungguh

terperanjat perasaannya telapak tangannya cepat disilangkan didepan dada siap

melancarkan serangan, tapi sebelum ia keburu melakukan suatu tindakan, tahu-tahu urat

nadi pada pergelangan tangan kanannya sudah dicengkeram orang.

Gak Lam kun segera menengadahkan kepalanya, ternyata orang itu adalah Jit-pohtoan-

hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To atau manusia berbaju abu-abu tadi.

Betapa geramnya pemuda itu dengan penuh emosi hardiknya, “Kwik To mau apa

kau..?”

Belum habis kata-katanya, manusia berbaju abu-abu itu sudah mengayunkan telapak

tangan kirinya sebiji obat yang dijepit dengan jari tengah dan jari telunjuknya itu tahutahu

sudah dimasukan dalam mulut Gak Lam kun.

Begitu terkena air liur, obat itu segera melumer dan berikut air liurnya mengalir

kedalam perut.

Selesai dengan perbuatannya itu, manusia berbaju abu-abu itu baru tertawa tergelak.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhh… Gak siangkong, memangnya kau anggap julukan Jitpoh-

toan hun hanya panggilan kosong belaka bagiku? Haaahh…haaahhh… haaahhh…”

Betapa tercekatnya perasaan Gak Lam kun sehabis mendengar perkataan itu, ia

pentangkan mulutnya lebar-lebar dan berusaha menumpahkan obat tersebut, tapi

walaupun sudah muntah tiga kali dan perutnya hampir terkuras, cairan obat itu belum

berhasil juga dikorek keluar.

Pada saat itulah, mendadak lambungnya terasa sakit sekali seperti dililit-lilit, sedemikian

dahsyatnya rasa sakit yang menyerang perutnya membuat pemuda itu merasa lebih baik

mati daripada tersiksa.

“Uuaak..?” Gak Lam-kun muntah darah kental, kemudian tubuhnya tersungkur dan tak

berkutik lagi.

©ooooo

Setelah meninggalkan Gak Lam-kun, dengan pikiran yang bingung dan kosong Si Tiong

pek berjalan keluar dari gedung tersebut, berhadapan dengan maut yang setiap saat akan

merenggut nyawanya, ia tak tahu harus kemanakah dia pergi?

Tiba-tiba telinganya menangkap suara gulungan ombak yang membentur batu karang,

ketika ia menengadah kedepan, tampaknya tanpa disadari ia telah tiba diatas sebuah

tebing curam yang berada disebelah timur pulau tersebut.

Dibawah tebing itu merupakan sebuah jurang beratus-ratus kaki tingginya dengan batu

karang yang mencuat kesana sini, jika ia berdiri kurang hati-hati hingga terpeleset

kebawah, tidak bisa disangsikan lagi, tubuhnya pasti akan remuk berkeping-keping.

Dengan pandangan sayu ditatapnya ombak yang saling berkejar-kejaran ditengah

samudra, dibawah sorot cahaya sang surya, burung manyar dan burung laut terbang kian

kemari mencari mangsa, suatu perpaduan pemandangan yang indah sekali.

Tak kusangka lagi Si Tiong pek menghela napas sedih.

“Aaaai…mungkinkah aku Si Tiong pek harus mati dalam keadaan seperti ini?” keluhnya.

Setelah berpikir sebentar, tiba-tiba timbul kembali niatnya untuk mencari hidup, ia

segera duduk bersila diatas tanah dan pelan-pelan mengerahkan hawa murninya.

Tapi begitu ia mencoba untuk mengatur napas, dadanya segera menjadi sesak dan

hawa murninya bagaikan tersumbat, nyaris ia tak dapat bernapas, hatinya menjadi

tercekat dan harapannya untuk hidup segera terputus sama sekali, perasaan bergidik

muncul dari dasar hatinya dan mencekam seluruh perasaannya.

“Entah berapa lama lagi aku bisa hidup?” demikian pikirnya, “bila racun ular dan luka

dalam yang kuderita kambuh bersamaan waktunya, niscaya aku bakal mati dalam keadaan

yang mengerikan, daripada tersiksa pada akhirnya kenapa tidak kubereskan dulu nyawaku

mumpung racun ular dan luka dalamku belum mulai kambuh?”

Berpikir sampai disini, pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ketepi tebing.

Sedetik menjelang perpisahannya antara mati dan hidup, pemuda itu merasakan

hatinya pedih dan hampa, tanpa terasa airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

“Mendadak… Si Tiong-pek menangkap suara nyanyian yang amat memedihkan hati

diantara gulungan ombak yang menerjang batuan karang, lamat-lamat nyanyian itu

kedengaran sebagai berikut,

“…bertanya pada masyarakat, apakah cinta itu?

Haruskah mati atau bidup untuk mendapatkannya..?

Oh, jagat yang luas, mega yang tebal…

Langit selatan bumi utara, burung walet saling beterbangan…”

Suara nyanyian itu amat memedihkan hati, membuat orang amat berduka.

Untuk sesaat lamanya Si Tiong pek menjadi tertegun, menyusul kemudian pikirnya,

“Aneh! Kenapa suara nyanyian itu bisa berasal dari dasar telaga..?”

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya. Si Tiong-pek segera menghela napas

panjang, gumamnya, “Kemungkinan besar suara nyanyian itu berasal dari dalam sebuah

gua dekat tebing karang sana, tapi siapa pula perempuan itu? Kenapa dia menyanyikan

lagu yang begini sedih dan memedihkan hati?”

Nyanyian perempuan itu sekali demi sekali diulang terus menerus, tapi yang

dinyanyikan melulu hanya bait lagu itu saja, bahkan suaranya makin lama semakin

memedihkan hati…

Yaa, demikian mengharukannya suara nyanyian tersebut, membuat siapapun yang

mendengarnya akan ikut melelehkan airmatanya karena sedih.

Kembali Si Tiong pek berpikir, “Kini aku sudah menjelang menemui ajal, apa salahnya

kalau kugunakan kesempatan baik ini untuk menambah pengalamanku yang terahir

kalinya.”

Setelah berpikir sampai disitu, dia lantas memperhatikan keadaan tebing disekeliling

tempat itu kemudian pelan-pelan turun kebawah.

Tak lama kemudian, ia sudah mengitari tebing curam itu dan menuruninya, sekarang

yang terbentang dihadapannya cuma batu-batu karang ditepi pantai. Ombak yang

menggulung-gulung diatas permukaan laut menggempur diatas batu karang dan

memercikkan butiran-butiran air keseluruh penjuru…

Karena perasaan ingin tahunya, Si Tiong pek tak ambil perduli akan sulitnya jalan yang

dihadapinya, pelan-pelan dengan berpijak pada batu-batu karang yang licin ia sampai juga

didasar jurang sementara itu suara nyanyian yang memedihkan hati itu sudah tak

kedengaran lagi.

Menggunakan sepasang matanya yang tajam Si Tiong pek memperhatikan kembali

keadaan disekelilingnya, mendadak ia temukan sebuah mulut gua yang lebarnya tiga depa

dan tingginya enam depa berada kurang lebih dua kaki dari atas permukaan air segera

pikirnya kembali, “Rasanya suara nyanyian itu kecuali berasal dari dalam gua tak mungkin

datang dari arah lain!”

Berpikir demikian, dengan langkah yang lebih berhati-hati lagi Si Tiong pek menelusuri

tebing dan mendekati mulut gua itu.

Suasana dalam gua itu gelap gulita hingga susah untuk melihat kelima jari tangan

sendiri, pelan-pelan ia berjalan masuk kedalam, kurang lebih sepuluh kaki kemudian ia

sudah harus menikung sebanyak tiga kali, sementara lorong tersebut masih terbentang

jauh kedalam sana.

Semakin kedalam suasananya semakin gelap gulita, entah berapa jauh lagi baru akan

sampai didasar gua tersebut?

Akhirnya ia berhenti dan berusaha menenangkan kembali hatinya, kemudian ia berpikir,

“Biasanya gua-gua karang dipulau yang terpencil banyak digunakan sebagai tempat

bersembunyinya ular-ular beracun atau binatang-binatang buas, kini ilmu silatku sudah

punah, kalau sampai diserang…waah, celakalah aku…”

Teringat sampat disitu, hatinya menjadi ragu-ragu, tapi bila teringat kembali

bahwasanya ia sudah bakal mati pemuda itu segera tertawa pedih dan melanjutkan

kembali perjalanannya.

Ternyata gua itu panjang sekali, diam-diam Si Tiong-pek telah mengukur bahwa pada

saat itu ia sudah berada dalam kedalaman empat puluh kaki lebih, tanahnya makin lama

sekali makin becek, angin dingin yang menggidikkan hati berhembus datang dari depan

sana, entah angin tersebut asal mulanya darimana?

Mendadak terdengar suara teguran seorang perempuan yang bernada girang dan

setengah gemetar berkumandang dari balik gua itu, “Kekasihku kau disitu?”

Si Tiong pek tertegun.

“Siapakah perempuan itu? Siapakah kekasihnya?” demikian ia berpikir.

Ketika perempuan itu tidak mendengar suara jawaban, tiba-tiba ia menghela napas

sedih seraya bergumam, “Oooh… Yo-long, kau sungguh amat keji! Tahukah kau, mengapa

suhu berdiam seorang diri selama delapan belas tahun ditempai semacam ini? Hakekatnya

aku sedang menantikan kedatanganmu untuk kembali kedalam pelukan suhu”

Mendengar perkataan itu, Si Tiong pek merasa hatinya terperanjat, segera pikirnya, “Yo

long..? Yo long..? Bukankah dia adalah si bakat setan yang tersohor dalam dunia

persilatan sebagai manusia paling aneh dikolong langit Tok liong Cuncu Yo-long? Wah,

kalau benar-benar demikian, perempuan ini pastilah gurunya Tok liong Cuncu yang penuh

diselimuti teka teki itu…”

Sementara itu, dari dalam gua karang itu kembali terdengar suara yang memilukan hati

dari perempuan itu.

“Yo-long suhu tidak menaruh perasaan dendam apapun juga kepadamu, aku hanya

berharap kau suka kembali lagi dalam pelukanku dan hidup bersama-sama disini… Yolong,

cepatlah datang kemari! Tahukah kau suhu sudah delapan belas tahun menantikan

kedatanganmu, merindukan kasih sayangmu”

Si Tiong pek segera mengerutkan dahinya, ia berpikir lagi, “Aneh benar wah… janganjangan

hubungan

Tok-liong Cuncu dengan perempuan ini bukan cuma hubungan antara guru dan murid

saja, rasa-rasanya dibalik kesemuanya itu masih terselip hubungan cinta kasih..?”

Yaa benar, tokoh aneh nomor satu dalam dunia persilatan, Tok-liong Cuncu Yo long

memang mempunyai kisah percintaan yang lain daripada yang lain dan penuh dengan

kisah duka nestapa yang mengharukan.

Suara yang menggenaskan dari perempuan itu lagi-lagi kedengaran, “Yo long, apakah

pikiran dan perasaanmu belum berubah? Apakah hatimu masih sebeku es, wajahmu

sekeras baja..?”

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, tampaknya perempuan itu sedang

terpengaruh emosi suaranya sampai kedengaran begitu parau dan gemetar.

Mendadak Si Tiong pek merasakan separuh badan bagian kanannya menjadi

kesemutan, linu dan sakitnya bukan kepalang, betapa terkesiapnya pemuda itu, dia sadar

luka dalam yang telah menjalar sampai kedalam urat syarafnya itu sudah mulai kambuh,

berarti jiwanya sebentar lagi akan berakhir, saking pedihnya tanpa terasa ia menghela

napas lirih…

Meskipun helaan napas itu lirih sekali, tapi perempuan yang berada dalam gua itu dapat

mengenali sebagai bukan suara Yo long.

Tiba-tiba dengan suaranya yang keras bagaikan geledek ia membentak nyaring, “Siapa

kau?”

Belum sempat Si Tiong pek menjawab, tiba-tiba ia merasakan munculnya segulung

angin pukulan lembut berhembus keluar dari balik gua, baru saja ia berusaha untuk

menghindarkan diri kesamping tahu-tahu sekujur badannya sudah terkurung oleh tenaga

pukulan itu.

Ia merasa hawa murni yang membelenggu tubuhnya itu mendadak dihisap kembali,

seperti besi yang terkena pengaruh besi semberani, dengan sempoyongan ia terhisap

maju kedalam sana.

Sebagaimana diketahui, waktu itu luka dalam yang diderita Si Tiong-pek sudah mulai

bekerja, rasa sakit yang dideritanya sekarang sukar ditahan lagi, setelah tubuhnya terhisap

oleh tenaga murni yang maha kuat itu, ia merasakan badannya lebih payah lagi, bukan

saja semua persendian tulangnya menjadi kesemutan, lemas dan bunyar, badannya jadi

lemah tak bertenaga, ia cuma bisa tergeletak ditanah tak mampu berkutik barang

sedikitpun juga.

Tiba-tiba ia mendengar suara teguran yang menyeramkan berkumandang datang,

“Hey bocah cilik, siapa kau? Kenapa datang kemari?”

Si Tiong-pek adalah seorang pemuda yang licik dan panjang akalnya, ia tahu jika

kedudukan dan asal usulnya yang sebenarnya sampai diutarakan keluar, kemungkinan

besar perempuan aneh itu akan membinasakannya, atau paling tidak akan membiarkan

racun keji dalam tubuhnya bekerja hingga merenggut selembar jiwanya.

Sebaliknya jika ia berbohong, dengan kemampuannya sebagai gurunya Tok liong Cuncu

siapa tahu kalau racun ular dan luka dalam yang dideritanya bisa disembuhkan malah?

Berpikir sampai disitu Si Tiong pek segera menghela napas sambil berkata, “Oooh…

Sucou, oh…Sucou! Ampunilah kesalahan tecu ini…”

Sambil berkata ia lantas berpaling kearah perempuan tersebut.

Terlihatlah seorang perempuan yang buruk sekali rupanya dan rambut yang panjang

kulit yang hitam berkilat seperti setan buas duduk disampingnya.

Tampang wajahnya memang jelek dan menyeramkan akan tetapi bila kau perhatikan

potongan badannya, maka tampak langsing, montok dan padat berisi payudara

perempuan itu, apalagi kulit tangannya dibalik pakaian tampak putih mulus, bersih dan

halus sekali.

Si Tiong-pek yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun ia merasa perempuan itu

aneh sekali.

Mendadak sinar matanya terhenyak sebentar dilengan kanan perempuan aneh itu, ia

temukan sebuah gelang baja membelenggu pergelangannya itu sementara sebuah rantai

yang panjang sangat panjang menghubungkan gelang tersebut dengan dinding batu

kemala putih yang berada empat kaki jauhnya dari situ.

Kiranya suasana dalam ruang gua itu tidak segelap lorong gua didepan sana, sebab

empat buah dindingnya terbuat dari batu marmer yang putih berkilat, lagipula diatap

dinding gua terdapat pula sebiji butir mutiara sebesar buah kelengkeng yang

memancarkan sinar berkilauan.

Dibawah pancaran sinar bening yang dingin suasana dalam ruangan batu itu dapat

terlihat jelas, ternyata dibagian bawah sekeliling ruangan itu terdapat ruang kecil dengan

airnya berwarna hijau, begitu beningnya air tersebut sehingga ikan-ikan yang berenang

dapat terlihat jelas.

Jelas dasar kolam kecil itu berhubungan dengan dasar lautan, atau dengan perkataan

lain airnya adalah air laut.

“Apakan kau adalah muridnya Yo-long?” terdengar perempuan aneh berambut panjang

itu membentak keras, “mengapa ia tidak datang sendiri?”

Sekali lagi Si Tiong-pek tertegun sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian,

“Konon Tok-liong Cuncu Yo Lak-long masih hidup didunia ini, bahkan telah muncul kembali

dalam dunia persilatan, jika kukatakan padanya bahwa ia sudah mati lantas suatu ketika ia

bertemu lagi dengan Tok-liong Cuncu, bagaimana jadinya nanti..?”

Dalam pada itu, ketika perempuan aneh berambut panjang itu melihat lawannya hanya

membungkam diri, telapak tangan kirinya segera berkelebat kedepan dan mencengkeram

jalan darah Ki-thiam hiat disikut kanan Si Tiong pek, kemudian bentaknya, “Hayo cepat

katakan! Hayo cepat katakan! Kenapa Yo-long tidak datang sendiri?”

Ketika persendian tulang sikutnya kena dicengkeram, Si Tiong-pek segera merasakan

hawa darah dalam isi perutnya bergolak keras, sedemikian hebatnya pergolakan tersebut

sehingga hawa sesat itu menyumbat tenggorokannya, bukan kepalang sakitnya dada dan

isi perutnya ketika itu, tanpa sadar ia merintih.

Perempuan aneh berambut panjang itu berseru tertahan, lalu teriaknya keheranan,

“Hey, jika kau adalah muridnya, mengapa demikian tak becusnya kau?”

Sambil berkata dia lantas mengendorkan cengkeramannya.

Si Tiong-pek menghembuskan napas panjang, sahutnya dengan napas tersengkal, “Aku

sudah terkena sergapan orang jahat, luka yang kuderita sekarang parah sekali, sebentar

lagi jiwaku bakal melayang…”

Dengan tatapan sorot mata yang tajam, perempuan aneh berambut panjang itu

menatap wajah Si Tiong-pek tanpa berkedip, kemudian dirabanya pula sekujur badan

pemuda itu sekian lama, akhirnya dengan suara dingin ia berkata, “Betul, luka dalam yang

kau derita memang parah sekali, tapi aku sanggup menyembuhkan luka yang kau derita

itu”

Betapa girangnya Si Tiong pek setelah mendengar perkataan itu, tapi rasa gembiranya

hanya dirahasiakan didalam hati, sedang diluar ia pura-pura menghela napas.

************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************

“Aaaai…Sucou, luka yang kuderita bukan luka sembarangan luka, mungkin sudah tiada

harapan lagi bagiku untuk melanjutkan hidupku didunia ini…”

Dengan suara dingin kembali perempuan aneh berambut panjang itu berkata, “Memang

tidak banyak jagoan tangguh dalam dunia persilatan yang bisa menyembuhkan luka yang

kau derita itu, lukamu disebabkan karena serangan dahsyat tenaga dalam musuh yang

dilancarkan dikala kau sedang berusaha menghimpun tenaga dalammu, sebab itu hawa

murni yang terhimpun menjadi beku didalam urat nadi, itulah yang dikatakan orang

sebagai Jalan api menuju neraka. Kalau keadaan itu saja yang kau alami masih mendingan

tampaknya setelah menderita jalan api menuju neraka kau dilukai lagi olah sejenis

makhluk yang amat beracun, mungkin orang lain tak akan bisa menyembuhkan luka parah

ini tapi aku masih mampu untuk menolong.

Ketika Si Tiong pek mendengar bahwa apa yang dilukiskan tentang keadaan lukanya

memang persis seperti apa yang dialaminya, diam-diam diapun lantas berpikir, “Kalau

dilihat dari apa yang dikatakan, rupanya selembar jiwaku memang masih dapat

diselamatkan, aku harus berusaha agar ia mau menyembuhkan luka parahku ini”

Setelah berpikir sampai disitu harapannya untuk hidup muncul kembali, katanya

kemudian, “Sucou, aku dilukai oleh irama Sang goan ki yang lihay itu, lalu dipagut pula

oleh ular beracun.”

Mendengar kata-kata itu, perempuan aneh berambut panjang itu segera

mendongakkan kepalanya lalu bergumam, “Sang-goan-ki! Sang-goan-ki! Ternyata kau

dilukai oleh Soat-san-thian-li perempuan siluman itu…”

Ketika menggumamkan kata-kata tersebut wajahnya berkejang keras sehingga kulit

mukanya pada berkerut semua, lama sekali ia duduk termangu-mangu dengan mulut

membungkam, rupanya sedang ia kenang kembali kisah pengalamannya dimasa lampau

yang penuh dengan penderitaan dan kedukaan itu.

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu membentak keras, “Hey, kau bilang

Yo long masih berbaikan dengan siluman perempuan itu..?”

Ucapan tersebut diutarakan dengan nada emosi sampai-sampai rambutnya yang

panjang ikut bergetar keras.

Tiba-tiba telapak tangan kirinya ditekankan keatas dada Si Tiong pek, persis diatas

jalan darah Hian-ki-hiatnya, asal tenaga dalamnya dipancarkan keluar, tak bisa diragukan

lagi Si Tiong pek pasti akan mati dalam keadaan yang mengerikan.

Si Tiong pek agak tertegun sewaktu mendengar ucapan yang tidak dipahami ujung

pangkalnya itu, tetapi sebagai seorang pemuda yang cerdas, ia sadar bahwa keadaannya

saat ini berbahaya sekali, satu kali dia salah berbicara berarti jiwanya akan melayang

meninggalkan raga.

Maka sesudah termenung beberapa saat lamanya, diapun bertanya, “Sucou,

perempuan yang manakah yang kau maksudkan sebagai perempuan siluman itu?”

Aneh! Ketika mendengar pertanyaan itu, pergolakan emosi dalam hati perempuan aneh

berambut panjang itu segera menjadi tenang kembali, malah ia bergumam, “Yo Lak-long

wahai Yo Lak-long, mungkin kau sudah melupakan perempuan itu, maka tidak kau

ceritakan keadaan tersebut kepada muridmu…”

Setelah berhenti sebentar, ia menghela napas panjang lalu katanya kembali, “Aaaaai…

beritahu kepadaku, apakah Yo long pernah membicarakan tentang diriku kepadamu?”

Si Tiong-pek termenung sejenak, lalu menjawab, “Sucou, apabila suhu tak pernah

membicarakan tentang dirimu kepadaku, mana mungkin aku bisa sampai disini?”

Betapa girangnya perempuan aneh berambut panjang itu, tiba-tiba ia tertawa terkekehkekeh…

Dibalik gelak tertawanya yang amat nyaring itu terselip begitu banyak perasaan, baik

itu perasaan sedih, duka..

Kesepian, seorang diri…

Gembira, bangga…

Selama ini Si Tiong-pek memperhatikan terus perubahan mimik wajahnya, dikala gelak

tertawanya berakhir, terlihatlah butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya…

Gelak tertawa telah berakhir, kini yang kedengaran hanya isak tangis yang

mengharukan.

Didalam waktu yang relatif singkat ini, Si Tiong pek berhasil meraba garis besar

keadaan yang sedang dihadapinya ia tahu perempuan aneh itu bukan saja menjadi

gurunya Yo long diapun menjadi kekasihnya, kemudian mungkin disebabkan suatu

kejadian tertentu Yo-long tidak mencintainya lagi, maka diapun mengurung diri selama

delapan belas tahun disana.

Aaaai..!Perempuan yang menggenaskan ternyata cintanya kepada Yo long telah

mencapai taraf sedemikian hebatnya.

Isak tangis perempuan aneh berambut panjang itu makin lama semakin menggenaskan

kian lama kian mengharukan hati orang.

Mula pertama Si Tiong-pek masih tidak merasakan apa-apa terhadap isak tangis

tersebut tapi akhirnya menjadi kecut dan tanpa terasa airmatanya jatuh bercucuran

membasahi pipinya.

Si Tiong-pek sendiri tidak bisa mengatakan mengapa dia sampai ikut menangis ia cuma

merasa bahwa dibalik isak tangis perempuan aneh berambut panjang itu terkandung suatu

daya pengaruh aneh yang membuat orang ikut terpengaruh.

Mendadak perempuan aneh berambut panjang itu berhenti menangis, bentaknya lagi,

“Apakah semua perkataanmu tak ada sepotong katapun yang palsu?”

Setelah dibentak olehnya, Si Tiong-pek baru merasa bagaikan sadar dari impian, ia

menjadi tertegun.

“Heran, kenapa aku ikut menangis..?” pikirnya.

Paras muka perempuan aneh berambut panjang itu kembali berubah, dicengkeramnya

tubuh Si Tiong-pek dengan tangan kirinya, lalu bentaknya kembali, “Hay,sudah kau dengar

perkataanku?”

“Perkataan apa?” tanya pemuda itu kebingungan.

“Benarkah Yo-long masih rindu kepadaku?” bentak perempuan aneh berambut panjang

itu dengan mata mendelik.

Ingin tertawa rasanya Si Tiong-pek setelah mendengar perkataan itu, pikirnya,

“Perempuan ini terlalu mencintai Yo Lak long, sehingga cintanya itu hakekatnya lebih

mendekati kalap”

Dalam benak anak muda itu sekarang sudah tersusun suatu rencana matang, maka

dengan wajah yang bersungguh-sungguh dia menjawab, “Suhu benar-benar amat rindu

kepadamu, jika ada sepotong kataku yang bohong, biar aku mati secara menggenaskan!”

“Kalau memang begitu, mengapa ia tidak datang menjengukku?” kembali perempuan

aneh berambut panjang itu membentak.

Si Tiong-pek menghela napas panjang.

“Aaaai… suhu merasa malu dan menyesal, ia merasa tak punya muka untuk menjumpai

kau orang tua lagi!”

Begitu mendengar ucapan tersebut, perempuan aneh berambut panjang itu tertawa

terkekeh-kekeh.

“Heeehhh…heeehhh…heeehhh… bocah cilik, pandai amat kau berbicara yang bukanbukan”

Dari gelak tertawa tersebut, Si Tiong-pek dapat merasakan bahwa ia sedang merasa

gembira,

“Cucu murid mana berani berbohong kepada sucou?”

“Lantas sekarang dia berada dimana? Aku segera akan pergi mencarinya..!”

“Suhu berada pula diatas pulau ini, cuma aku lihat Sucou tidak dapat bergerak dengan

leluasa…”

“Kalau begitu cepat bebaskan aku dari rantai kunci kecintaan ini?” seru perempuan ini

ketus.

“Apa? Rantai kecintaan?” pikir Si Tiong pek dengan wajah tertegun dan mulut melongo.

Tiba-tiba paras muka perempuan aneh berambut panjang itu berubah hebat,

bentaknya, “Bagaimana? Apakah Yo Lak-long tidak berpesan kepadamu agar membukakan

rantai kecintaan?”

“Tidak!” sahut pemuda itu tanpa sadar.

Kontan saja perasaan perempuan aneh berambut panjang itu bergolak keras, lalu

sambil tertawa seram teriaknya, “Bagus…bagus sekali! Kau harus mampus”

Si Tiong pek ikut tertawa dingin, katanya pula lambat-lambat, “Jika kau ingin

membinasakan diriku, cepatlah turun tangan dengan segera, aku tidak akan menyesal

barang sedikitpun juga”

Mendadak sikap perempuan aneh berambut panjang itu berubah seratus delapan puluh

derajat dan hangat katanya, “Anak kunci untuk membuka rantai kecintaan berada dalam

ruang rahasia disudut timur sana, kesanalah dan ambil anak kunci tersebut..!”

Si Tiong pek menurut, dia menuju keruang timur betul juga diatas dinding yang

berwarna putih terdapat sebuah tombol rahasia, ketika tombol tersebut ditekan dengan

ujung jarinya terdengarlah suara gemerincingan yang nyaring berkumandang

memecahkan kesunyian.

Diatas dinding ruang berwarna putih yang tertutup rapat itu, tiba-tiba muncul sebuah

pintu rahasia ternyata dibalik pintu ada sebuah ruangan rahasia yang lain.

Dalam ruangan tersebut ternyata berisikan kitab-kitab kuno yang banyak sekali,

sepintas lalu mirip dengan kamar baca, disebelah kiri ruangan terdapat sebuah meja tulis,

diatas meja tergeletak beberapa jilid kitab dan diantara keliling kitab itu terletak sebuah

anak kunci yang berwarna emas.

Dengan langkah cepat Si Tiong pek menghampiri meja tulis itu dan mengambil anak

kunci emas itu, tanpa sadar matanya melirik sekejap tumpukan kitab disampingnya.

Mendadak sorot matanya tertarik oleh empat huruf besar yang tercantum dihalaman

terdepan dari sejilid kitab tipis, tulisan itu berbunyi demikian, “HAY-CIONG-KUN-BOH”

“Hay-ciong-kun-boh!” Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, “Bukankah kitab

ini ada hubungannya dengan manusia aneh yang pernah menggetarkan dunia persilatan

pada tiga ratus tahun berselang..?” demikian pikirnya.

Sementara dia masih melamun! perempuan aneh beramput panjang yang berada diluar

ruangan telah membentak, “Hey, sudahkah kau dapatkan anak kunci emas untuk

membuka rantai kecintaan?”

Si Tiong-pek tidak berpikir panjang lagi, sambil menyelam minum air, ia sambar juga

kitab pusaka “Hay ciong kun boh” tersebut dan segera dimasukkan kedalam sakunya.

“Sudah, anak kunci itu sudah kudapatkan!” sahutnya.

Dengan sikap yang santai selangkah demi selangkah ia berjalan balik kesamping

perempuan itu.

“Aduuuh..!” tiba-tiba Si Tiong pek menjerit kesakitan, lalu sambil mendekap perutnya ia

terhuyung-huyung, mukanya berubah menjadi hitam pekat, ternyata racun ular yang

berada dalam tubuhnya telah mulai bekerja.

Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak lamat-lamat Si Tiong-pek merasa

perempuan aneh berambut panjang itu menekankan telapak tangannya diatas tubuhnya,

segulung aliran hawa murni yang panas segera merembes masuk lewat jalan darah Miabun

hiat dan tersebar kesegala penjuru tubuh…

Kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.

Ketika Si Tiong-pek sadar kembali dari pingsannya, ia merasa seluruh tubuhnya yang

semula sakit dan tersiksa kini sudah tak terasa lagi, cuma badannya menjadi lemas tak

bertenaga, seakan-akan baru saja sembuh dari penyakit berat.

Si Tiong pek segera melompat bangun dari atas tanah…

“Criing..! Criing..!” tiba-tiba ia mendengar bunyi gemerincingan memecahkan kesunyian

dilanjutkan pergelangan tangan kanannya terasa berat sekali sehingga gerak geriknya

tidak leluasa.

Ketika ia perhatikan lengan kanannya dengan penuh keheranan, kontan saja hatinya

menjadi terperanjat. Ternyata sebuah gelang baja yang sangat kuat telah membelenggu

lengan kanannya itu.

“Tak usah keheranan!” tiba-tiba terdengar suara lembut dari perempuan aneh

berambut panjang itu menggema dari sisi telinganya, “gelang baja itu terbuat dari inti lima

jenis logam yang dicampur menjadi satu, bukan saja tak mempan dibacok dengan senjata,

gelang yang membelenggu pergelangan tanganmu itu mempunyai sifat per yang sangat

kuat, bagaimanapun kau berusaha untuk melepaskan diri, jangan harap gelang itu bisa

kau copot dari situ lagipula semakin keras kau meronta semakin kencang pula gelang itu

membelenggu tanganmu. Nah, sekarang aku hendak pergi mencari Yo Lak long bila ia

tidak berhasil kutemukan maka kau boleh hidup sepanjang masa dalam gua batu itu, air

dalam kolam adalah air tawar, bila lapar boleh kau tangkap sendiri ikan-ikan disana, mau

minum juga ada air tawar yang tersedia, pokoknya kau terjamin tak sampai mati

kelaparan.

Beristirahat saja disini dengan tenang, asal suhumu berhasil kutemukan dengan

sendirinya dia akan datang kemari untuk membebaskan dirimu. Waktu itu akupun bersedia

pula mewariskan ilmu silat tinggi kepadamu agar kau bisa menjagoi dalam dunia

persilatan”

Perkataan dari perempuan aneh berambut panjang yang kedengarannya begitu enteng

dan santai justru ibaratnya guntur yang membelah bumi disiang hari bolong bagi

pendengaran Si Tiong pek siksaan dan penderitaan yang tiada akhirnya ini bukan

sembarangan orang bisa mengalaminya.

Tak terlukiskan rasa marah, benci dan dendam Si Tiong pek menerima kenyataan

tersebut, ia segera tertawa dingin.

“Heeeehh…heeehhh…heeehhh…siluman iblis bertampang jelek, kau tak usah

berbangga dulu, terus terang kuberitahukan kepadamu, kekasihmu Tok-liong Cun-cu Yo

Long telah tewas ditebing Yan-po-gan dibukit Hoa-san pada delapan belas tahun

berselang, selama hidup jangan harap kau bisa berjumpa lagi dengannya”

Sekarang gilirannya perempuan aneh berambut panjang yang terbelalak kaget,

matanya melotot lebar penuh kekosongan, ditatapnya Si Tiong-pek dengan termangumangu…

Lama, lama sekali, akhirnya ia memperdengarkan suara tertawanya yang panjang tapi

seram bagaikan tangisan setan iblis.

“Haaahhh…haaahh…haaahhh…haaahhh… ia benar-benar sudah mati…siapa yang telah

membinasakan dirinya… haaahhh… haaahhh… Yo Long, wahai Yo Long… aku tidak

menginginkan kematianmu… siapakah… siapakah pembunubmu? Haahh.. haahh dia belum

mati, Lak-long, tidak akan mati… Yo Long wahai Yo Long aku tak dapat kehilangan

dirimu…haahhh… haaahh…haaahh…”

Dalam waktu singkat, perempuan aneh berambut panjang itu sudah berubah seperti

orang gila, ia berkaok-kaok sejadi-jadinya, sebentar tertawa tergelak sebentar menangis

tersedu, keadaannya semakin mengerikan.

Mimpipun Si Tiong-pek tidak menyangka kalau beberapa patah katanya itu sudah cukup

membuatnya menjadi gila, untuk sesaat pemuda itu menjadi tertegun dan tak tahu apa

yang musti dilakukan.

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu melotot kearah Si Tiong-pek dengan

penuh kebencian, sambil tertawa dingin katanya, “Kau pasti adalah pembunuh dari Yo

Long, aku hendak membinasakan dirimu… aku hendak mencincang tubuhmu…”

Sambil mengancam, perempuan aneh berambut panjang itu mengayunkan telapak

tangan kanannya segulung angin pukulan yang sangat kuat dan dahsyat secepat

sambaran kilat menerjang ketubuh Si Tiong pek.

Sejak mendengar kata-kata ancaman tadi, Si Tiong-pek sudah waspada dan bersiapsiap

menghadapi serangan maut dari lawannya, maka begitu angin pukulan yang

menyesakkan napas itu menindih tubuhnya buru-buru ia berkelit kesamping untuk

menghidarkan diri.

Sekalipun pukulan yang mengarah langsung kedadanya berhasil dihindari anak muda

itu, rupanya sisa angin pukulan yang melebar kesamping telah menyerempet

pinggangnya…

Tidak ampun lagi pemuda itu menjerit kesakitan, sambil muntah darah segera

badannya tergeletak ditanah dan tak bisa berkutik lagi.

Perempuan aneh berambut panjang itu segera terkekeh kekeh dengan seramnya.

“Heeehhh…heeehhh…heeehhh… mampus!

Sudah mampus! Haaahhh… haaahhh… haaahhh… Yo Long wahai Yo Long, kau berada

dimana? Kau tak dapat meninggalkan diriku seorang Yo Long.”

Secepat sambaran kilat perempuan aneh berambut panjang itu berkelebat keluar

ruangan, jeritan-jeritan kalapnya yang memilukan hati makin lama semakin menjauh dari

pendengaran sehingga akhirnya lenyap sama sekali.

Bagaimanakah dengan nasib Si Tiong-pek yang dirantai dalam gua? Untuk sementara

waktu baiklah kita tinggalkan lebih dulu.

0000O0000

Bintang-bintang bertebaran dilangit yang kelam, cahaya yang lembut dan redup

berkelip-kelip menyinari jagat, rembulan yang purnama mulai tampak dari balik awan di

ufuk sebelah timur.

Sinar keperak-perakan yang lembut menyoroti sebatang pohon siong dan memantulkan

cahayanya diwajah seorang pemuda tampan berbaju hijau yang sedang duduk bersila

disitu.

Pemuda itu duduk bersila tak berkutik bagaikan seorang pendeta, uap putih mengepul

dari atas kepalanya dan menciptakan awan yang amat tebal, rupanya ia sedang

mengerahkan tenaga dalamnya untuk menembusi seluruh jalan darah penting dalam

tubuhnya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian ia membuka kembali sepasang matanya yang

memancarkan cahaya tajam, lalu menghela napas panjang.

“Aaaai…aku tak sudi menerima budi kebaikan dari musuh besarku, sungguh tak

kusangka ia memaksa untuk melepaskan budinya kepadaku, Kwik To wahai Kwik To!

Meskipun aku Gak Lam kun telah menerima bantuan kali ini, akan tetapi aku tak akan

melupakan dendam sakit hati atas kematian yang menimpa guruku”

Dengan pandangan termangu, sorot matanya dialihkan keangkasa dan memandang

awan yang berkejaran, ia merasakan perasaannya, hampa dan pikirannya kosong.

Mendadak…serentetan suara nyanyian yang memilukan hati lamat-lamat

berkumandang dari tempat kejauhan dan memecahkan keheningan yang mencekam

sekeliling tempat itu.

Mula-mula nyanyian itu masih berada ditempat kejauhan, makin lama semakin dekat

sehingga akhirnya bait-bait nyanyian itu dapat terdengar olehnya dengan jelas.

“…..Bertanya pada masyarakat, apakah cinta itu?

Haruskah mati atau hidup untuk mendapatkannya..?

Oh, jagat yang luas, mega yang tebal…

Langit selatan bumi utara, burung walet saling beterbangan…”

Begitu mendengar suara nyanyian tersebut. Gak Lam-kun merasakan hatinya terkesiap,

sebab nyanyian itu terasa begitu kenal begitu hapal dalam benaknya sehingga ia sediripun

dapat membawakan diluar kepala.

Bukan hanya sekali dua kali saja ia mendengar nyanyian tersebut, hampir setiap hari

nyanyian itu pasti berkumandang, sebab tiap hari bila tengah malam telah tiba, gurunya

selalu menyanyikan lagu tersebut.

Bagaimana mungkin Gak Lam-kun tidak terperanjat setelah mendengar kembali

nyanyian tersebut ditengah keheningan malam seperti ini? Mimpipun tak pernah disangka

olehnya bahwa nyanyian tersebut bakal didengarnya kembali diatas pulau yang terpencil

ini.

Tiba-tiba suara nyanyian tersebut terputus sampai ditengah jalan.

Menyusul kemudian suara tertawa panjang yang menyeramkan dan mendirikan bulu

kuduk orang menyayat-nyayat keheningan yang mencekam seluruh jagad, ditengah gelak

tertawa tersebut menggema pula teriakan-teriakan yang amat nyaring,

“Oooh…kekasihku…ooooh…sayangku… dimanakah kau sekarang? Dimanakah kau

berada…”

Suara orang itu amat memilukan hati, bagaikan anak domba yang mencari induknya

seperti juga ibu yang menangisi anaknya, membuat siapapun yang mendengar suara itu

ikut merasa terharu dan melelehkan airmatanya…

Gak Lam kun tertegun, secara sigap ia segera menyadari bahwa nyanyian, gelak

tertawa dan teriakan tersebut dipancarkan seseorang dengan menggunakan tenaga

dalamnya yang sempurna.

0000000O0000000

Kalau ditinjau dari daya pengaruh yang diakibatkan dari suara nyanyian, gelak tertawa

dan teriakan tersebut, jelaslah terbukti bahwa tenaga dalam orang itu sudah mencapai

puncak kesempurnaan yang tiada taranya didunia ini.

“Siapakah dia?”

Tiba-tiba gelak tertawa aneh yang tinggi melengking dan tak sedap didengar

berkumandang datang dari kejauhan.

Pelan-pelan Gak Lam-kun bangkit berdiri, lalu melongok kearah mana berasalnya suara

itu, sesosok bayangan manusia laksana sambaran petir sedang meluncur datang

kearahnya.

Ketika tiba beberapa kaki dihadapan Gak Lam kun, tiba-tiba bayangan manusia yang

sedarg melintas dengan cepatnya itu menghentikan gerakan tubuhnya.

Dibawah cahaya rembulan tampak orang itu adalah seorang perempuan yang berwajah

jelek berbaju compang camping dan mempunyai rambut sepanjang pinggang.

Sesudah melihat jelas tampang orang itu, Gak Lam kun baru merasa terperanjat,

pikirnya dengan cepat, “Mungkinkah suara nyanyian tadi berasal dari perempuan gila

itu..?”

Sementara pemuda itu masih termenung, dengan sepasang matanya yang jeli

perempuan aneh berambut panjang itu sudah mengamati wajah Gak Lam kun dengan

seksama, lalu sambil tertawa dingin tegurnya, “Hey, siapakah kau? Mengapa berada disini?

Pernahkah kau jumpai kekasihku?”

Pertanyaan yang diajukan tanpa ujung pangkalnya itu disampaikan dengan kata-kata

yang cepat, hal ini membuat Gak Lam-kun diam-diam harus mengerutkan dahinya.

Betapa geramnya perempuan aneh berambut panjang itu setelah menyaksikan wajah

Gak Lam-kun yang ketus sikapnya yang enggan menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba

bentaknya lagi, “Hey, rupanya kau yang telah membinasakan kekasihku? Kau…kau harus

mampus!”

Tanpa banyak membuang waktu, sebuah bacokan keras segera diayunkan ketubuh Gak

Lam-kun…

Mengikuti gerakan bacokan tersebut, segulung angin pukulan yang sangat kuat segera

menyambar kedepan dan menindih dada lawan.

Sungguh tercekat perasaan Gak Lam-kun, mimpipun ia tak menyangka kalau

perempuan aneh berambut panjang itu bakal melancarkan serangan secepat itu, lagipula

angin yang dihasilkan orang itu ternyata belum pernah dijumpainya selama ini.

Ia tak berani menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras, dengan cekatan

tubuhnya berkelit tiga langkah kesamping dan menghindarkan diri dari ancaman tersebut,

kemudian serunya dengan lantang.

“Hey locianpwe, tunggu sebentar..! Jangan

melancarkan serangan dahulu!”

Rupanya perempuan aneh berambut panjang itupun merasa terkejut bercampur heran

setelah menyaksikan Gak Lam-kun berhasil menghindarkan serangannya semudah itu,

sambil mengayunkan kembali telapak tangan kirinya ia membentak, “Kekasihku telah kau

bunuh, apalagi yang hendak kau katakan? Apalagi yang hendak kau katakan?”

Dari kejauhan kembali dia lancarkan sebuah pukulan dengan telapak tangan kirinya.

Dalam serangannya yang dilancarkan kali ini ternyata tidak membawa sedikitpun hawa

pukulan yang mendesis, malah sepintas lalu seperti orang yang sedang berpura-pura

melancarkan serangan.

Namun paras muka Gak Lam-kun segera berubah menjadi serius, dengan telapak

tangan kirinya melindungi badan, kelima jari tangan kanannya dipentangkan lebar-lebar

untuk melancarkan pula sebuah pukulan kearah depan.

“Blaaamm…!” ketika dua gulung angin pukulan itu saling bertemu ditengah udara,

terjadilah ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.

Jilid 7

Dalam waktu singkat hawa murni memancar keempat penjuru, gulungan angin puyuh

tersebar keempat penjuru dan menerbangkan debu dan pasir disekelilingnya, dalam radius

tujuh kaki benda apapun terbawa semua keudara.

Ledakan dahsyat memekikkan telinga ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan

sebelumnya.

Setelah menyambut hawa pukulan bersifat lembut yang dipancarkan perempuan aneh

berambut panjang itu, Gak Lam-kun merasakan hawa darah di rongga dadanya bergolak

keras, betapa terperanjatnya pemuda itu, cepat-cepat telapak tangan kirinya diayunkan

kembali kemuka dengan kecepatan tinggi, ia berusaha untuk memusnahkan sisa kekuatan

yang masih tersisa dari pukulan lawan itu dari sekitar badannya.

Kemudian setelah bebas dari ancaman, Gak Lam-kun baru menegur dengan suara

dingin, “Siapakah nama kekasihmu itu? Aku sama sekali tidak kenal dengannya, kenapa

aku mesti mencelakai dirinya?”

Ketika perempuan aneh berambut panjang itu menyaksikan Gak Lam-kun berhasil

memunahkan serangannya yang kedua, mimik wajahnya agak bergerak, lalu sekulum

senyum menghiasi ujung bibirnya.

“Kenapa?” katanya, “masa kau tidak kenal dengannya, lantas tahukah kau siapa yang

kenal dengannya?”

Diam-diam Gak Lam-kun menyadari bahwa perempuan yang sedang dihadapinya

adalah perempuan gila, tapi harus diakui ilmu silatnya memang cukup menggentarkan

perasaan siapapun, sekalipun sewaktu tersenyum mukanya kelihatan jelek dan

menyeramkan, tapi dua baris giginya kelihatan begitu putih, bersih dan rata.

Diam-diam ia berpikir, “Aneh benar perempuan ini, bila ditinjau dari potongan

badannya, jelas dia adalah seorang perempuan cantik, tiada sebagianpun dari tubuhnya

yang cacad atau kurang sempurna, tapi justru raut mukanya berwarna merah hitam tak

menentu, ditambah lagi daging merah terkuar dimana-mana membuat tampangnya

kelihatan begitu jelek dan mengerikan lagi, disamping itu suaranya juga kadangkala tinggi

melengking amat menusuk pendengaran, bagaikan jeritan setan dari neraka, tapi

kadangkala merdu merayu bagaikan burung Nuri yang sedang berkicau, siapakah

sebetulnya orang ini..?”

Ingatan tersebut berputar tiada hentinya dalam benak Gak Lam-kun, setelah pusing

dibuatnya diapun tersenyum sambil berkata, “Locianpwe, bolehkah aku tahu siapa nama

kekasihmu itu?”

Paras muka perempuan aneh berambut panjang itu berubah menjadi serius, hardiknya,

“Hey, ngaco belo, apaan kamu ini? Long ji adalah kekasihku, calon suamiku, tapi ia pun

merupakan muridku.” Gak Lam-kun menjadi kaget dan tertegun lalu menghela napas

panjang, pikirnya, “Jelaslah sudah perempuan ini memang perempuan gila, sayang sekali

dengan ilmu silatnya yang tinggi… aaai, setelah kuketahui bahwa dia adalah perempuan

edan, kenapa aku musti berdebat terus, dengan perempuan edan semacam dia?”

Mimpipun Gak Lam-kun tidak menyangka kalau perempuan yang berada dihadapannya

sekarang adalah Sucounya, sayang sebelum ajalnya tiba Tok-liong Cuncu Yo Long sama

sekali tidak mengungkapkan kisah cintanya dengan perempuan tersebut.

Demikianlah, setelah berpikir sebentar, Gak Lam-kun lantas memberi hormat sambil

berkata, “Locianpwe, aku tidak kenal dengan Long ji mu, akupun tidak tahu siapa yang

kenal dengan dirinya, maaf aku masih ada urusan yang harus kukerjakan sekarang, jadi

terpaksa aku harus mohon diri terlebih dahulu…”

Selesai berkata, dia lantas putar badan dan siap meninggalkan tempat itu.

Bagaikan bayangan setan saja tahu-tahu perempuan aneh berambut panjang itu sudah

berkelebat kemuka dan menghadang tiga depa dihadapan Gak Lam-kun, dengan hawa

nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia membentak nyaring, “Nama besar Long-ji ku

menggetarkan seluruh dunia, tak seorang umat persilatanpun yang tidak kenal dengannya,

kalau kau tidak kenal dengan Long-ji ku, apa pula gunanya tetap hidup dikolong langit?”

Tangannya diayunkan dan sebuah pukulan dahsyat kembali dilancarkan ketubuh Gak

Lam-kun.

Segulung hawa pukulan yang dingin menggidikkan hati, mengikuti gerakan telapak

tangan tersebut langsung menerjang ke dada Gak Lam-kun.

Berubah hebat paras muka anak muda itu, dengan suatu gerakan aneh ia mengegos

kesamping dan berputar ke sisi kanan perempuan aneh berambut panjang itu, kemudian

dengan serius katanya, “Locianpwe, jika kau bertindak secara sembrono terus menerus,

maaf bila boanpwe terpaksa harus bertindak kurangajar!”

Perempuan aneh berambut panjang itu sama sekali tidak menggubris, sebelum Gak

Lam-kun sempat melancarkan serangannya, telapak tangan kirinya sudah dikebaskan tiga

kali masing-masing mengancam tiga buah jalan darah penting di dada lawan.

Tak terlukiskan rasa kaget Gak Lam-kun menghadapi serangan tersebut, untuk kedua

kalinya dia gunakan kembali ilmu langkah yang sangat ampuh itu untuk melepaskan diri

dari ancaman, kemudian jari tangan kirinya direntangkan, dengan gerak serangan yang

tak kalah anehnya ia cengkeram persendian tulang sikut ditangan perempuan itu.

Agaknya perempuan aneh berambut panjang itu dapat merasakan datangnya bahaya,

tangan kanannya segera dikebaskan kebawah, sementara tangan kirinya melancarkan

sebuah pukulan lagi mengarah jalan darah penting di pinggang Gak Lam-kun.

Dengan suatu lompatan si anak muda itu menghindarkan diri dari ancaman, lalu telapak

tangannya berputar membacok kebawah dengan kecepatan tinggi.

Baik menghindar maupun dikala melancarkan serangan balasan semua gerakan

tersebut dilaksanakan dengan kecepatan serta ketepatan yang mengagumkan.

Sebaliknya, jurus serangan yang digunakan perempuan aneh berambut panjang itu

sepintas lalu seperti jurus serangan biasa, tapi jurus-jurus serangan biasa itu dalam

penggunaannya ternyata berubah menjadi satu ancaman yang disertai dengan tenaga

penghancur yang mengerikan, seolah-olah dari balik gerak serangan yang sederhana,

sesungguhnya mengandung perubahan jurus yang amat sakti.

Dalam keadaan demikian, kendatipun, jurus serangan balasan yang dipergunakan Gak

Lam-kun mempunyai perubahan yang bagaimanapun saktinya namun setiap kali selalu

berhasil dipunahkan dengan begitu saja oleh jurus sederhana yang dipergunakan

perempuan aneh berambut panjang itu.

Untung Gak Lam-kun masih mempunyai ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng Jit eng liong

heng sin hoat, coba kalau tidak, sejak tadi ia sudah terluka ditangannya.

Beberapa saat kemudian, dua orang itu sudah bergebrak sebanyak belasan jurus lebih.

Setiap kali didesak oleh pukulan-pukulan gencar dari perempuan aneh berambut

panjang itu, tiap kali pula Gak Lam-kun harus mundur untuk menghindarkan diri, lama

kelamaan hal ini menimbulkan kemarahannva.

Telapak tangan kiri pukulan tangan kanan segera dilancarkan bersamaan waktunya,

tentu saja serangan-serangan itu dilancarkan dengan disertai tenaga pukulan yang

dahsyat.

Serangkaian pertarungan yang sedang berlangsung ini benar-benar merupakan suatu

pertarungan sengit yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan, terlepas dari jurus

serangan yang dipergunakan perempuan aneh tersebut, cukup meninjau dari setiap

pukulan, setiap sodokan dan setiap tendangan yang dipergunakan Gak Lam-kun,

semuanya merupakan jurus-jurus serangan yang jarang dijumpai dikolong langit.

Dibawah desakan dan terjangan Gak Lam-kun dengan pukulan dan tendangannya yang

bertubi-tubi, perempuan aneh berambut panjang itu segera memperlihatkan pula rasa

kaget dan tercengangnya.

Tiba-tiba ia meluruskan sepasang telapak tangannya ke depan, pergelangan tangannya

agak ditekuk ke bawah, kemudian segulung angin pukulan lembut pelan-pelan dilontarkan

ke depan.

Tapi setiap kali angin pukulan itu terbentur dengan jurus serangan yang dipergunakan

oleh Gak Lam-kun, hawa pukulan itu seakan-akan terbendung sama sekali, setiap kali

pukulan itu terpental dan tak mampu dikembangkan.

Akhirnya dengan jengkel perempuan aneh berambut panjang itu menarik kembali

serangannya.

“Hey, siapakah kau?” bentaknya kemudian.

“Aku She Gak bernama Lam kun!” jawab pemuda itu hambar.

“Gak Lam-kun…Gak Lam-kun..?” seperti orang yang sedang mengigau, perempuan

aneh berambut panjang itu mengulangi nama tersebut sampai berpuluh-puluh kali,

suaranya lirih sekali.

Entah beberapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia membentak keras, “Gak Lam-kun, kau

harus mampus!”

Kena dibentak oleh perempuan itu, Gak Lam-kun tersentak kaget, serunya tanpa

terasa, “Kenapa aku harus mampus?”

Perempuan aneh berambut panjang itu manggut-manggutkan kepalanya, lalu dengan

lembut berkata, “Kenapa kau harus mampus? Sebab kau bisa mempergunakan ilmu silat

dari Long-jiku!”

“Ilmu silatku berasal dari ajaran guruku sendiri, ilmu silat dia orang tua sudah mencapai

taraf yang luar biasa, jurus silat dari perguruan manapun didunia ini telah dikuasai semua

olehnya, tentu saja termasuk juga ilmu silat dari Long ji mu itu”

“Wahai Gak Lam-kun, siapa nama gurumu? Aku hendak membunuh dirinya..!” bentak

perempuan aneh berambut panjang itu dengan penuh kegusaran.

Gak Lam-kun segera menghela napas panjang.

“Aaaaai…guruku sudah tiada, jangan harap kau bisa beradu kepandaian dengannya”

Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu

menengadah dan tertawa seram.

“Haaahhh… haahhh… haaahhh… sudah mampus? Haahhh… haahhh… haaahhh…

rupanya semua orang dikolong langit sudah pada mampus, Long-ji juga sudah mampus.

Oooh…Long-ji ku yang patut dikasihani, kau berada dimana? Kau berada dimana? Yo

Long, Yo Long, begitu tegakah kau tinggalkan aku seorang? Yo Long…oooh Yo Long

betapa kejamnya hatimu, Yo Long…”

Sambil menjerit-jerit seperti orang gila, secepat sambaran kilat perempuan aneh

berambut panjang itu menjejakkan kakinya ke atas tanah dan berkelebat menuju ke arah

timur.

Teriakan-teriakannya dan jeritan-jeritannya penuh diliputi nada duka nestapa yang

tebal, bukan saja mengharukan perasaan siapapun yang mendengarkan, bahkan bikin

orang melelehkan air mata tanpa terasa…

Sewaktu Gak Lam-kun mendengar perempuan aneh berambut panjang itu, menyebutnyebut

nama gurunya, ia merasa terkejut sekali, segera teriaknya dengan suara lantang.

“Eeeh… locianpwe… locianpwe..! Tunggu sebentar, tunggu sebentar!”

Tapi gerakan tubuh dari perempuan aneh berambut panjang itu memang terlalu cepat

dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Yang masih terdengar hanya suara jeritannya yang memilukan hati, “Yo Long! Oooh…

Yo Long! Jangan kau tinggalkan diriku, jangan kau tinggalkan aku seorang diri, Yo Long…”

Menyaksikan kesemuanya itu. Gak Lam-kun hanya bisa menghela napas sedih pikirnya,

“Bila kutinjau dari ilmu silat yang dimiliki perempuan ini, jelas ia sudah berhasil mencapai

taraf paling sempurna yang tiada taranya didunia ini, mungkinkah Yo Long yang sedang

dicari-cari olehnya adalah guruku?

Tidak! Tidak mungkin! Mungkin masih ada Yo Long yang lain, memang terlalu banyak

manusia didunia ini, yang mempunyai nama marga dan nama kecil yang sama”

Setelah termenung beberapa waktu. Gak Lam-kun menengadah dan memandang awan

diangkasa, lama kemudian ia baru menghela napas panjang.

“Diantara musuh-musuh besar pembunuh suhuku, sudah ada empat orang diantaranya

yang muncul dipulau terpencil ini, diantara mereka berempat, ada dua orang yang sudah

mengetahui asal usulku, apabila mereka sampai bekerja sama untuk menghadapi

diriku,tentu aku tak kuat menghadapi mereka, aaaai… jika tidak kulenyapkan dulu

beberapa orang diantara mereka, malu rasanya aku terhadap kebaikan suhu selama ini”

Akhirnya setelah menghela napas panjang dia mengeluarkan sebuah topeng kepala

naga dari sakunya dan dikenakan diatas wajahnya secara sempurna, kemudian ia lepaskan

jubah hijaunya sehingga tampaklah pakaian berwarna emas yang berada dibaliknya.

Sesudah itu, Gak Lam-kun merogoh pula kedalam saku jubah berwarna emas itu dan

mengeluarkan senjata Toh-hun-liong-jiau (cakar naga perenggut nyawa) senjata andalan

Yo Long dikala masih menjelajahi dunia persilatan tempo dulu.

Ternyata senjata itu berupa sepasang sarung tangan berwarna kuning emas, cuma

sarung tangan ini jauh berbeda dengan sarung tangan biasa, yakni pada ujung kelima

jarinya tersembul cakar emas yang panjangnya satu setengah cun dengan bentuk yang

melengkung seperti cakar naga.

Dengan cekatan Gak Lam-kun mengenakan sarung tangan itu ditangannya, dibawah

sorot sinar rembulan terlihatlah sepuluh jari cakar mautnya memantulkan sinar gelap yang

gemerlapan, sekilas pandangan semua orang akan mengetahui bahwa cakar itu tajamnya

luar biasa.

Perlu diterangkan disini, kesepuluh buah jari cakar naga yang berada pada ujung

sarung tangan Toh-hun-liong-jiau tersebut, dibuat Tok-liong Cuncu Yo Long dengan

campuran baja dan emas murni, bukan saja tajamnya melebihi sebilah pedang mestika,

bahkan sarung tangan itupun kebal terhadap segala bacokan ataupun tusukan pedang

mestika.

Selesai berdandan, dengan sangat hati-hati Gak Lam-kun menyusupkan baju hijaunya

kedalam saku, lalu sekali melompat, laksana sambaran kilat ia meluncur kembali ke arah

bangunan gedung tersebut.

Setelah mengenakan dandanan istimewa semacam ini, Gak Lam-kun tak berani terlalu

gegabah sehingga jejaknya ketahuan orang dengan langkah yang sangat berhati-hati ia

menyusup dari satu halaman ke halaman yang lain, dalam waktu singkat ia telah tiba

diluar halaman dimana mereka pernah dikurung oleh barisan ular beracun kemarin.

Ia menghimpun tenaga dalamnya, kemudian setelah mengincar sebatang pohon siong

dekat pekarangan sana, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera melesat

kepuncak pohon itu, sementara sepasang matanya yang tajam menyapu sekejap sekeliling

tempat itu.

Suasana halaman itu sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, jangankan

manusia, bangkai ular yang penuh berserakan ditanah kemarinpun kini sudah tersapu

bersih.

Gak Lam-kun tak berani bertindak gegabah, ditunggunya sejenak dari atas pohon siong

sambil mengamati situasi disekeliling tempat itu…

Tapi suasana tetap hening dan sepi, diantara hembusan angin musim rontok yang

sepoi-sepoi, hanya bayangan daun yang bergoyang diatas permukaan tanah serta pasir

yang mendesis terhembus angin.

Meski suasana terasa hening, tapi keheningan tersebut membawa suasana seram yang

menggidikkan hati.

Ketika Gak Lam-kun merasa suasana disana amat tenang dan tidak nampak sesosok

bayangan manusiapun, dengan enteng ia melayang turun kembali keatas tanah, lalu sekali

melompat pemuda itu menyusup ke arah gedung dimana perempuan berbaju perak yang

memetik khim semalam berdiam.

Setelah melampaui dua buah halaman luas, sampailah pemuda itu diluar gedung

dimana gadis itu tinggal.

Halaman diluar gedung itu luas sekali, pohon-pohon siong tumbuh berjajar di empat

penjuru, Gak Lam-kun segera memilih sebatang pohon siong yang tumbuh dekat halaman

bagian barat, lalu dengan hati-hati sekali melompat kebawah pohon tadi.

Pemuda itu merasa perlu berhati-hati, dalam gerak-geriknya, sebab dia tahu empat

orang dayang yang tinggal digedung itu adalah jago-jago tangguh yang berilmu tinggi.

Sebelum melompat keatas, Gak Lam-kun memperhatikan lebih dahulu dahan pohon

tersebut ternyata dari akar sampai ranting yang pertama tingginya mencapai lima kaki,

bila seseorang tidak memiliki ilmu peringan tubuh yang sempurna, jangan harap dengan

sekali lompatan bisa mencapai ranting pohon itu.

Dengan cekatan Gak Lam-kun memperhatikan keadaan pohon itu lalu menimbang pula

kekuatan yang dimilikinya, setelah menghimpun hawa murninya ia getarkan sepasang

lengannya lalu meluncur naik keatas, ketika tiba ditengah jalan, tangan kirinya menyambar

sebatang ranting bercabang dan sekali berjumpalitan tahu-tahu tubuhnya sudah berdiri

diatas dahan pohon.

Berbicara dari taraf ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Gak Lam-kun, sesungguhnya

ia dapat mencapai dahan pohon siong itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun, sayang

sepasang tangannya mengenakan sarung tangan cakar naga perenggut nyawa, ketika

ujung cakarnya yang tajam menggurat dahan pohon, segera berkumandanglah suara

guratan yang lirih sekali.

Padahal suara itu lirihnya bukan kepalang, jangankan orang yang berada dikejauhan

sekalipun berdiri disampingnya belum tentu bisa menangkap suara tersebut.

Akan tetapi, baru saja sepasang kakinya berdiri tegak, mendadak dari dua kaki

disamping kiri, dari balik rimbunnya daun siong yang lebat, berkumandang suara tertawa

aneh yang menyeramkan.

Suara itu tidak terlalu keras, namun membawa nada menyeramkan yang cukup

menggidikkan hati orang.

Walaupun Gak Lam-kun dibuat tertegun oleh gelak tawa seram yang munculnya sangat

mendadak itu, tapi ia masih dapat mengenali suara tersebut sebagai suara manusia.

Diam-diam hawa murninya segera dihimpun untuk bersiap siaga menghadapi segala

kemungkinan yang tidak diinginkan, sementara diluar ia bersikap seakan-akan tak pernah

terjadi suatu apapun, seolah-olah suara tertawa aneh tadi sama sekali tidak terdengar

olehnya.

Setelah suara tertawa aneh tadi berkumandang, suasana pulih kembali dalam

keheningan. Kecuali angin berhembus lembut dan daun yang saling bergoyang, tak

kedengaran suara aneh yang lainnya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian karena tidak mendengar juga suara aneh

lainnya, lama kelamaan Gak Lam-kun tak dapat menahan diri, dia lantas memutar

tubuhnya dan siap menghampiri ke arah mana berasalnya suara tertawa aneh tadi.

Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya, mendadak terdengar seseorang

membentak dengan suara yang dingin, rendah dan berat, “Jangan sembarangan bergerak,

kau telah berada dibawah ancaman panah geledek Jit poh-lui-sim-ciam-ku, nah kemarilah

dengan tenang, ada beberapa persoalan hendak kutanyakan kepadamu!”

Ucapan itu bukan saja bernada berat, dan lagi kedengaran dingin dan menyeramkan.

Sejak pertama kali tadi Gak Lam-kun sudah memperhatikan dengan seksama tempat

persembunyian dari si pembicara tersebut, ia telah bertekad jika tempat

persembunyiannya sudah diketahui dengan pasti maka sebuah serangan tiba-tiba mungkin

akan berhasil menaklukkan orang itu.

Maka setelah mendengar ancaman tersebut dia hanya mendengus dingin tiada

hentinya.

Dengusan itu sangat aneh, nadanya dingin kaku dan membuat orang merasa sangat

tidak enak hati, tapi rendah dan berat bagaikan suara itu bisa terdengar oleh siapapun

juga yang berada tiga kaki disekeliling tempat itu.

Ternyata Gak Lam-kun telah menggunakan kepandaian Liong-gin-heng (dengusan naga

sakti) ajaran gurunya untuk menggetarkan perasaan musuh, sementara sepasang

matanya dengan tajam mengawasi terus tempat persembunyian orang itu.

Kiranya tempat yang digunakan orang itu sebagai tempat persembunyiannya

mempunyai daun yang istimewa rimbunnya, sekalipun dibawah cahaya rembulan, yang

terlihat cuma sesosok bayangan manusia belaka, bagaimanakah bentuk badan dan raut

wajah orang itu ternyata sukar ditentukan.

Mendengar ‘pekikan naga’ dari Gak Lam-kun tersebut, kembali orang itu tertawa dingin

dengan suara yang menyeramkan katanya, “Dandanan atau dengusan naga saktimu

memang mirip sekali dengan gaya Tok-liong Cuncu Yo Long, sayang kau tak bisa

membohongi aku, Heeehh… heeehhh… bocah cilik, bukankah demikian?”

Mendengar ucapan tersebut, Gak Lam-kun merasa terperanjat yang tak terkirakan

hebatnya, dia tak mengira kalau jejak atau rahasia penyaruannya ketahuan orang.

“Siapa kau?” akhirnya dia menegur, kalau kau memang ingin menjumpai aku untuk

menanyakan suatu masalah, kenapa tidak segera munculkan diri..?”

Pelan-pelan orang itu berkata, “Sekalipun kusebutkan namaku, belum tentu kau akan

mengetahuinya. Justru lantaran kusaksikan ilmu meringankan tubuhmu sewaktu melompat

naik keatas pohon siong tadi melampaui kehebatan orang lain, maka kulanggar

kebiasaanku dengan datang menjumpaimu, coba kalau diam-diam melepaskan serangan

mautku, niscaya pada saat ini nyawamu sudah lenyap di ujung anak panah Jit poh lui sim

cian (panah tujuh langkah pencabut nyawa) ku”

Ketika didengarnya perkataan orang itu makin lama semakin tidak sungkan-sungkan

Gak Lam-kun naik darah, tapi dia bukan seorang pemuda yang bodoh, ia tahu dari

kepandaian orang itu untuk mengenali penyamarannya hanya dalam sekejap mata, ini

sudah membuktikan kalau dia bukan manusia sembarangan.

Sambil menahan rasa mangkel, kesal dan golakan perasaannya ia menjawab, “Kalau

memang demikian, aku akan menyambangi dirimu!”

Seraya berkata tangan kanannya dikebaskan, kemudian tubuhnya meluncur ke arah

mana berasalnya suara tadi.

Benar juga, orang yang menyembunyikan diri dibalik pepohonan itu sama sekali tidak

turun tangan melancarkan sergapan, sebagai pemuda yang berilmu tinggi dan bernyali

besar, Gak Lam-kun menerobosi daun-daun pohon yang lebat dan berdiri diatas sebuah

dahan kurang lebih tiga depa diluar gerombolan daun tadi.

Ketika ranting-ranting pohon disingkapnya dengan kedua belah tangannya, hampir saja

Gak Lam-kun menjerit kaget setelah menyaksikan orang yang berada disana.

Pada salah sebuah dahan pohon dengan daun yang lebat, duduklah seorang kakek

bertampang jelek, berambut putih sepanjang punggung, mempunyai raut wajah jelek

mengerikan dengan bibir yang tebal, hidung yang datar, mata rada juling, jidat lebar serta

masing-masing sebuah codet diatas pipinya, sebuah tabung bulat berwarna hitam berada

dalam genggamannya…

Tabung bulat itu besarnya selengan dengan panjang dua depa, sesungguhnya bukan

suatu benda yang terlalu menarik perhatian, tapi siapapun tahu bahwa benda yang amat

sederhana itu justru merupakan sebuah alat pembunuh yang sangat jahat, keji dan

menggetarkan hati siapapun jua.

Tabung bulat itu kosong tengahnya dan terdapat tujuh buah lubang kecil, didalam

setiap lubang kecil itu masing-masing tersimpan sebatang anak panah Jit-poh-liu-sim cian

yang maha lihay.

Kakek aneh itu meletakkan tabung bulat tersebut disampingnya, lalu sambil menunjuk

kesebuah dahan pohon disisinya dia berkata, “Duduklah disana, ada persoalan hendak

kutanyakan kepadamu!”

Gak Lam-kun menurut dan duduk diatas dahan pohon yang dimaksudkan, ia masih

tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dengan tatapan mata yang tajam kakek aneh itu mengamati Gak Lam-kun beberapa

kejap, kemudian sambil tertawa katanya, “Bila dilihat dari ilmu meringankan tubuhmu

yang sempurna serta dandananmu yang aneh, tentunya kau adalah murid kesayangan dari

Tok liong Cuncu Yo Long bukan?”

“Rupanya saudara pernah berjumpa dengan guruku?” tanya Gak Lam-kun agak

tertegun.

“Benar…” jawab kakek aneh itu dengan mata yang membalik-balik keatas.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, giginya saling bergemerutuk keras, jelas ia

menaruh perasaan dendam dan benci yang amat mendalam sekali terhadap Tok liong

Cuncu Yo Long.

Menyaksikan kejadian itu, diam-diam Gak Lam-kun menghimpun segenap tenaga dalam

yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak

diinginkan.

Kemudian pelbagai ingatan melintas kembali dalam benaknya, ia berpikir, “Dari tujuh

belas orang musuh guruku yang tercantum dalam kitab catatan musuh-musuh besar,

kecuali sepuluh orang diantaranya yang sudah tewas, dari sisa tujuh orang yang masih

ada, kini telah muncul Jit-poh toan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To, Giok-bin

sin ang (kakek sakti berwajah kemala) Say khi pit, Kiu wi hou )rase berekor sembilan)

Kongsun Po dan Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu diatas pulau

terpencil ini, sementara tiga orang lainnya yang hingga kini belum muncul.

Kui to(imam setan) Thian yu Cin jin yang merupakan orang paling dahsyat kepandaian

silatnya, menyusul kemudian adalah Yan lo sat (iblis perempuan cantik) Hong im, dan

akhirnya adalah jago yang menduduki urutan kelima Che kiam kuncu (Laki-laki ksatria

pedang uang) Hoa kok khi, kecuali mereka semua, belum pernah kudengar kalau suhu

masih mempunyai musuh lainnya…”

Sementara itu si kakek aneh itu sudah tertawa dingin dengan seramnya, kemudian

katanya lebih jauh, “Yo long adalah musuh cintaku, akupun tidak takluk dengan kehebatan

ilmu silatnya, berulangkali aku ingin menjajal kepandaiannya, sayang tak ada kesempatan,

namun aku kagum juga oleh kehebatan ilmu silatnya, akupun merasa kasihan atas tragedi

serta musibah yang menimpanya dalam dunia persilatan, cuma kejadian itu sudah

berlangsung pada dua puluh tahun berselang, kini Yo long sudah mati tapi perempuan

rendah itu masih tetap hidup”

Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia menghela napas panjang matanya tertuju keatas

awan dan kepalanya bergeleng berulangkali, bisa dirasakan betapa sedih dan murungnya

perasaan orang itu.

Agak terperanjat Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Darimana

dia bisa tahu kalau guruku sudah tiada? Siapa orang ini? Mengapa suhu tak pernah

membicarakan tentang dirinya?”

Gak Lam-kun melakukan perjalanan dalam dunia persilatan semenjak tiga tahun

berselang, hanya sebagian besar ia bergerak disekitar daratan Tionggoan, jadi terhadap

budi dendam yang menyangkut tentang kakek aneh ini boleh dibilang ia sama sekali tak

tahu.

Kakek aneh itu melirik sekejap ke arah Gak Lam-kun, kemudian setelah tertawa dingin

katanya lagi, “Rupanya kau masih curiga dengan perkataanku bukan? Terus terang

kuberitahukan kepadamu, kekasihku tempo hari telah direbut oleh Yo long, sebenarnya

beberapa kali aku ingin membunuhnya secara diam-diam, latar belakang mengenai

kehidupan Yo Long pun sudah banyak yang berhasil kuselidiki, maka ketika belakangan ini

tersiar kabar yang mengatakan bahwa ia muncul kembali dalam dunia persilatan, aku

segera mengecek kebenaran dari kabar itu, akhirnya berhasil kuketahui bahwa Tok-Liong

Cuncu yang konon telah muncul kembali itu sesungguhnya adalah kau…yaaa, tak

kusangka memang dengan usiamu yang demikian muda ternyata berhasil memiliki

kecerdasan serta tingkat ilmu silat yang sedemikian tingginya…”

Setelah mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun baru mengakui bahwa dunia persilatan

memang terlalu banyak jago lihay yang tersembunyi. Tipu muslihat serta kejahatan yang

terjadi dalam dunia persilatan sukar diduga asal datangnya.

“Cianpwe!” kata Gak Lam-kun kemudian dengan suara lembut, “siapakah perempuan

yang kau maksudkan itu?”

“Dia bukan lain adalah Soat san thian li yang telah tiba digedung ini. Kecantikan

wajahnya tiada bandingan didunia ini, cuma cintanya tidak setia, dia suka ganti-ganti

pacar dan lagi pikirannya terlampau cupat, ia hanya tahu ingin menangnya sendiri…”

Diam-diam Gak Lam-kun mengernyitkan alis matanya, pikirnya, “Bila didengar dari

pembicaraan suhu mengenai Soat-san thian-li, agaknya suhu pernah berhutang budi

kepada perempuan itu, sebaliknya manusia aneh ini malah menjelek-jelekkan Soat-santhian-

li, jelaslah sudah bahwa dia sendirilah yang sempit jalan pikirannya”

Berpikir sampai disitu, dengan suara tawar dia lantas bertanya, “Locianpwe, apakah kau

mengundangku kemari karena ingin memberitahukan persoalan ini saja?”

Agaknya manusia bertampang jelek sedang terkenang kembali pengalamannya dimasa

silam, kepalanya terdongak keatas sambil memandang awan dengan termangu-mangu,

ketika selesai mendengar perkataan dari Gak Lam-kun, tiba-tiba ia berpaling sambil

membelai dua buah codet dipipinya, lalu katanya dengan dingin, “Kau jangan menuduh

aku yang bukan-bukan, apa yang kukatakan tentang watak Soat San-thian-li adalah

pengakuan yang sesungguhnya, kau tahu, pipiku ini justru rusak ditangannya”

“Oooh…kalau begitu kedatanganmu pada malam ini adalah untuk menunggu

kesempatan guna melampiaskan rasa dendam dalam hatimu?” tanya Gak Lam-kun

hambar.

“Soal membalas dendam adalah soal kedua selain itu masih ada satu tujuan lagi”

“Apakah tujuanmu itu?”

Dengan sinar mata setajam sembilu kakek bertampang jelek itu menatap lekat-lekat

topeng naga di wajah Gak Lam-kun, setelah itu dengan sikap serius tanyanya, “Jangan

kau tanyakan dulu apa tujuanku yang lain, sekarang tolong jawab dulu kepadaku,

bersediakah kau membantu usahaku?”

“Itu tergantung pada urusan apakah yang bisa kubantu!”

Dengan suara agak marah kata kakek bertampang jelek itu, “Tahukah kau tentang

rahasia perkampungan ini?”

Gak Lam-kun tertegun, pikirnya, “Masa didalam perkampungan ini ada rahasianya?”

Karena keheranan dan ingin tahu maka tanyanya, “Rahasia apakah itu?”

Si kakek bertampang jelek itu berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Rahasia itu

sesungguhnya adalah suatu rahasia yang sangat berharga, yang dapat bikin orang

persilatan menjadi gila. Hingga kini hanya beberapa gelintir manusia saja yang mengetahui

rahasia ini, maka bila kau bersedia membantuku, tentu saja rahasia tersebut akan

kujelaskan kepadamu seterperinci mungkin, tapi bila kau tidak bersedia membantu,

akupun tak akan memaksa”

Timbul juga kecurigaan dalam hati Gak Lam-kun, katanya kemudian setelah berpikir

sebentar, “Terangkan dulu rahasia apakah yang kau katakan amat berharga itu, dan

berilah kesempatan kepadaku untuk mempertimbangkannya, setelah itu baru bisa

kuputuskan apakah bersedia membantumu atau tidak”

Kakek bertampang jelek itu tertawa angkuh.

“Mau membantu atau tidak, lebih baik sekarang juga kau putuskan. Hmm! Jangan kau

anggap Jit poh lui sin ciam (panah inti guntur) Lui Seng thian adalah seorang manusia

yang sudi minta bantuan orang!”

Gak Lam-kun mendengus dingin.

“Hmmm! Kau tak sudi minta bantuanku, kenapa aku harus membantu dirimu pula?”

Sehabis berkata tiba-tiba ia berputar badan dan melompat ke dahan lain, kini jaraknya

dengan Jit-poh-lui sim-ciam Lui Seng-thian berselisih antara satu kaki lebih.

Demikianlah, untuk sesaat kedua orang itu duduk saling berhadapan dari tempat

kejauhan, siapapun tidak berbicara lagi melainkan termenung memikirkan rahasia hati

sendiri-sendiri.

Tiba-tiba dari sudut kegelapan disebelah utara sana berkumandang suara gelak tertawa

yang amat nyaring menyusul kemudian seorang berseru dengan lantang, “Saudara Lo,

dimanakah kita akan beradu kekuatan?”

“Didepan sana, ditengah lapangan kosong” jawab orang yang lain dengan suara

mengerikan.

Berbareng dengan selesainya perkataan itu seorang manusia berkerudung berbaju abuabu

dan seorang kakek kurus pendek berbaju hitam masing-masing melayang datang dari

bawah pohon dimana Gak Lam-kun berada, kemudian dengan kecepatan luar biasa

berkelebat menuju ke arah tanah lapang kurang lebih empat lima kaki jauhnya.

Kedua orang itu bukan lain adalah Jit poh tui hun Kwik To dan See ih Tok seng Lo Kay

seng yang semalam berjanji akan mengadakan pertarungan satu lawan satu.

See ih tok seng (malaikat racun dari See ih Lo Kay seng yang berbaju hitam berdiri

menghadap ke selatan, dengan suara dingin ia berkata, “Kwik heng, apakah kalian orangorang

dari perguruan Cing cian bun telah berdatangan semua?”

Jit poh toan hun Kwik To tertawa ringan.

“Sebentar lagi mungkin mereka akan berdatangan, cuma kau tak usah kuatir,

perselisihan kita diselesaikan juga oleh kita sendiri, orang lain tak akan mencampuri

urusan ini semisalnya saja See ih sam seng lainnya dan Soat san Thian li sekalian

berdatangan semua kemari, tentu saja mereka juga tak akan mencampuri urusan ini

bukan?”

“Tepat sekali, tepat sekali!” jawab See ih tok seng Lo Kay seng dengan nada

mengerikan, “selama orang-orangmu tidak turun tangan, tentu saja kamipun tak akan

menyergap orang lain secara diam-diam”

Mendadak Jit poh toan hun Kwik To berpaling ke arah gedung sebelah barat, kemudian

tegurnya dengan suara dalam, “Jago lihay darimanakah yang telah datang? Setelah

berada disini, mengapa harus menyembunyikan diri macam cucu kura-kura?”

Baru habis teguran tersebut, gelak tertawa seram berkumandang kembali memecahkan

kesunyian.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhh… Selamat bertemu kembali saudara Kwik, sejak

perpisahan kita ditebing Yan po gan pada belasan tahun berselang, tak kusangka kau

telah berubah menjadi anteknya perguruan panah bercinta”

Dua sosok bayangan manusia bagaikan burung rajawali terbang diangkasa menyambar

kebawah dengan kecepatan luar biasa, ternyata yang muncul adalah Giok bin sin ang

(kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit serta Kiu wi hou (rase berekor sembilan)

Kongsun Po.

Sambil tersenyum kembali si Rase berekor sembilan Kongsun Po berkata lantang,

“Saudara Kwik, kau benar-benar bersikap kurang bersahabat, setelah berjumpa dengan

sobat-sobat lama yang telah berpisah belasan tahun lamanya, mengapa kau mengenakan

terus kain cadarmu itu, atau jangan-jangan wajahmu telah mengalami perubahan?”

Jit poh toan hun Kwik To tertawa terbahak-bahak, ia menarik lepas kain cadarnya

sehingga terlihatlah raut wajahnya yang merah bercahaya dengan alis mata yang tebal

dan mata yang besar, gagah sekali tampang wajahnya itu.

Setelah puas tertawa, dengan wajah membesi Kwik To berkata lagi.

“Saudara Say, saudara Kongsun, mau apa kalian datang kemari?” Kongsun Po terkekeh

dengan suara parau.

“Heeee…heeee…heeee…ketika kudengar bahwa sahabat lama yang telah terpisah

selama belasan tahun ada janji dengan orang lain, sebagai sesama saudara tentu saja

kami datang untuk menyaksikan apakah ilmu silat yang dimiliki sahabat kita ini telah

peroleh kemajuan yang pesat atau tidak?”

“Kongsun-heng” kata Jit poh toan hun Kwik To hambar, “kalau hendak mengucapkan

sesuatu, mengapa tidak kau utarakan saja secara berterus terang..?”

“Aaah…mana, mana…” Kiu wi hou Kongsun Po kembali tertawa kering, “baiklah, setelah

kau berkata demikian maka kamipun akan buka kartu bicara secara blak-blakan

sesungguhnya kedatangan kami berdua adalah ingin menyaksikan wajah Soat san thian li

yang cantik jelita itu serta wajah dari ketua perguruan panah bercinta yang cuma kami

dengar namanya tapi belum pernah kami saksikan raut wajahnya itu”

Malaikat racun dari See ih Lo Kay-seng tertawa dingin.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… apakah saudara ini tidak merasa terlalu sungkansungkan?

Seandainya dipulau gersang yang terpencil letaknya ini tiada lencana pembunuh

naga, mungkinkah kalian bakal terpancing untuk datang kemari?”

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit tertawa lebar.

“Lencana pembunuh naga memang merupakan benda mestika yang dapat membuat

mata orang menjadi merah, tapi belum tentu kami datang kesini hanya lantaran benda

semacam itu”

Jit poh toan hun Kwik To lantas berpaling ke arah Say Khi pit dan Kongsun Po seraya

katanya, “Kalian berdua adalah orang-orang kangouw berpengalaman, tentunya kalian

juga mengetahui bukan pertarungan dunia persilatan tentang suatu duel satu lawan satu!”

“Saudara Kwik, kau tak usah kuatir,” kata si Rase berekor sembilan Kongsun Po dengan

cepat, “aku dan Say-heng hanya ingin menonton keramaian saja, kedua belah pihak samasama

tidak akan dibantu”

Pada saat itulah, mendadak dari balik keheningan berkumandang suara dengusan naga

yang menggetarkan sukma…

Ketika mendengar suara dengusan naga tersebut, Giok bin sin ang Say Khi pit dan Kiu

wi hou Kongsun Po sama-sama berubah wajahnya, dengan cekatan mereka memutar

badannya, lalu dengan dua pasang biji mata yang memancarkan perasaan takut mereka

menyapu sekejap sekeliling tempat itu…

Akhirnya mereka temukan Tok liong Cuncu yang mengenakan topeng naga dengan

sepasang tangannya mengenakan cakar naga perenggut nyawa serta mengenakan baju

naga berwarna kuning, bagaikan sebuah patung arca berdiri kurang lebih dua kaki

dibelakang mereka.

See ih tok seng Lo Kay seng sendiripun tampak agak tertegun ketika menyaksikan

kemunculan Tok liong Cuncu ditempat itu.

Diantara sekian banyak orang, hanya Jit poh toan hun Kwik To seorang tetap berdiri

dengan wajah sedingin es, sedikitpun tidak menampilkan perasaan kaget atau ngeri.

Sesaat kemudian, Kongsun Po dan Say Khi pit baru berhasil menenangkan kembali

hatinya, si Rase berekor sembilan itu lantas berpaling ke arah Kwik To seraya ujarnya,

“Saudara Kwik, langganan lama kita telah datang…”

Gak Lam-kun kembali memperdengarkan dengusan Liong leng heng yang dingin dan

rendah untuk menukas pembicaraan si Rase berekor sembilan yang belum habis,

kemudian bagaikan sukma gentayangan pelan-pelan ia mendekati kedua orang itu.

0000000o000000

Seketika itu juga suasana dalam arena tersebut berubah menjadi kaku dan tegang…

Dengan menirukan suara Yo Long seperti dulu, pelan-pelan Gak Lam-kun menegur,

“Kenapa kalian tidak segera bunuh diri? Mau menunggu sampai kapan lagi..?”

Sekalipun rasa ngeri dan ketakutan menghadapi maut menyelimuti perasaan Kakek

sakti berwajah pualam Say Khi pit serta Rase berekor sembilan Kongsun Po, akan tetapi

dalam keadaan tercekam oleh perasaan takut tersebut kadangkala akan muncul juga

sebercak harapan untuk mempertahankan hidupnya, mereka tak sudi menyerahkan

jiwanya dengan begitu saja, mereka harus melakukan perlawanan dengan segenap

kemampuan yang dimilikinya.

Apalagi setelah melalui latihan yang tekun dan bersungguh-sungguh selama belasan

tahun, mereka yakin masih mempunyai kemampuan untuk beradu kekuatan dengan Tok

liong Cuncu yang cukup membuat pecah nyali setiap umat persilatan itu, lagipula

bukankah disitu masih ada Kwik To dan Say Khi pit?

Selain dari pada itu, mereka tahu semenjak terjatuh kedalam jurang ditebing Yan po

gan, Tok liong Cuncu Yo Long telah menderita luka yang cukup parah, ini ditambah lagi

dengan racun jahat yang telah diminum sebelum pertarungan dimulai, berarti meski tidak

sampai tewas, ilmu silatnya sudah jelas tak mungkin bisa pulih kembali seperti sedia kala.

Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat cepatnya melintas dalam benak mereka,

kemudian sambil tertawa seram Si Rase berekor sembilan Kongsun Po berkata,

“Heeehhh… heeehhh… heeehh… bagus… Yo Long! Belasan tahun tidak berjumpa rupanya

kau makin lama semakin bertambah ganas..!”

Sekali lagi Gak Lam-kun mendengarkan dengusan naga Liong Gin heng nya, lalu seperti

sukma gentayangan ia menyerang maju kedepan, pergelangan tangan kirinya berkelebat

lewat dan langsung mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Kongsun

Po, cepat nian ancaman tersebut.

Semenjak tadi si Rase berekor sembilan Kongsun Po telah bersiap sedia menghadapi

serangan lawan sekalipun Gak Lam-kun menyerang dengan kecepatan luar biasa, namun

ia berhasil juga menghindarkan diri dari ancaman tadi.

Dengan gerakan yang tak kalah cepatnya telapak tangan kirinya menangkis serangan

Gak Lam-kun dengan jurus Tui po cut lam (mendorong membantu ombak).

“Say loji saudara Kwik” teriaknya “malam ini mari kita bersama-sama menyaksikan ilmu

silat dari manusia latah ini setelah belasan tabun tidak bersua”

Jelas sudah maksud dari kata-katanya itu, yakni minta kepada dua orang itu agar

bersama-sama membantunya untuk mengerubuti Tok liong Cuncu.

Dengan dingin Gak Lam-kun berkata, “Kongsun Po. lebih baik kau berkumpul saja

dengan ketujuh belas orang yang lain didalam neraka!”

Secara beruntun sepasang tangannya melancarkan empat buah serangan berantai.

Keempat buah serangan tersebut rata-rata sangat lihay dengan gerakan yang sakti

serta sukar diduga, empat buah pukulan dilancarkan berangkaian seakan-akan dilepas

secara bersamaan…

Kongsun Po menjadi kelabakan setengah mati untuk menangkis seluruh ancaman

tersebut jelas tidak gampang, terpaksa ia melompat kebelakang dan mundur sejauh tujuh

langkah.

Gak Lam-kun mendengus dingin, bagaikan bayangan ia menyusul maju kemuka,

telapak tangan kirinya dibabat kemuka melancarkan sebuah pukulan aneh maha sakti

dengan jurus Long tai cau gan (gulungan ombak menghantam karang).

Begitu jalan mundur Kongsun po tergencet, telapak tangan kanannya dengan kelima

jari yang dibentangkan menyerang lagi kedepan dengan jurus Im siau ngo gak (awan

tebal menyelimuti lima bukit), dibalik ancaman itu disertakan juga hawa sakti Tok liong ci

jiau (cakar maut naga beracun) yang mengerikan itu.

Sungguh dahsyat ancaman dari Gak Lam-kun itu, bukan saja jurus serangannya ampuh

membuat orang sukar menahannya, bahkan dilancarkan dengan mempergunakan

beberapa macam tenaga yang berbeda besar kecilnya.

Dalam waktu singkat, dari atas bawah depan dan belakangnya seakan-akan muncul

selapis kekuatan yang mengunci jalan mundur musuhnya, ini semua memaksa Kongsun Po

mau tak mau harus menyambut serangan Tok liong ci jiau ditelapak tangan kanan Gak

Lam-kun secara keras lawan keras.

Sebenarnya si Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit sedang memperhatikan ilmu

silat Gak Lam-kun sambil mengambil kesimpulan-kesimpulan, tapi setelah menyaksikan

dalam beberapa gebrakan saja Kongsun Po berhasil dipaksa sehingga tak sanggup

melakukan perlawanan lagi, hatinya mulai terperanjat.

Dikala ia masih terkesiap sambil berdiri tertegun, hawa sakti Tok liong ci jiau dari Gak

Lam-kun yang dilancarkan dengan jurus Im so ngo gak (awan tebal menyelimuti lima

bukit) telah mengurung segenap batok kepala Kongsun Po.

Untung Say Khi pit telah mengadakan persiapan jauh sebelumnya, begitu dilihatnya

Kongsun Po menjumpai bahaya maut, dia segera berpekik nyaring kemudian sambil

melompat keudara sepasang telapak tangannya berbareng didorong kedepan.

Segulung tenaga pukulan yang lebih dahsyat dari ombak ditengah samudera dengan

cepatnya menumbuk punggung Gak Lam-kun.

Serangan tersebut telah dilancarkan dengan mempergunakan segenap kekuatan yang

dimilikinya, sebab berhadapan dengan Tok liong Cuncu Yo long yang disegani setiap umat

persilatan ia harus bertindak cepat, karena bila lawan sampai diberi kesempatan untuk

mengadakan persiapan, maka akibatnya kendatipun ia dan Kongsun Po serta Kwik To

turun tangan bersama, belum tentu mereka sanggup menghadapi serangan maut dari Yo

Long, atau dengan perkataan lain jiwa mereka bertiga pada hakekatnya berada dalam

cengkeraman lawan.

Oleh sebab itulah begitu turun tangan ia lantas mempergunakan tenaganya sebesar

dua belas bagian, ia berharap dikala Gak Lam-kun tidak siap pukulan itu berhasil

membinasakan dirinya atau paling tidak melukai isi perutnya.

Berbareng disaat Giok bin sin ang Say Khi pit melancarkan serangan mautnya, si Rase

berekor sembilan Kongsun Po telah menghimpun pula segenap kekuatan tenaga dalamnya

untuk menyambut ancaman lawan, sebab keadaaan memaksanya mau tak mau harus

menerima pukulan itu secara keras lawan keras.

Dan pukulan ini menyangkut soal mati hidupnya, maka dia musti berjuang dengan

sungguh-sungguh untuk mempertahankan kehidupannya.

Terkesiap juga Gak Lam-kun menghadapi kejadian semacam ini, ia tahu sekalipun

pukulan saktinya pasti dapat membinasakan Kongsun Po atau paling sedikit membuatnya

terluka parah, tapi sergapan Giok bin sin ang Say Khi pit dari belakang yang disertai

dengan hawa pukulan yang maha dahsyat, itu mungkin akan membinasakan juga dirinya

atau paling tidak mengakibatkan isi perutnya bergoncang.

Situasi menjadi sangat gawat, pemuda itu agak sulit untuk menentukan pilihannya

dalam waktu singkat…

Sementara itu angin pukulan Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit yang kuat telah

tiba dibelakang punggungnya, sedangkan tenaga perlawanan yang dilancarkan Kongsun

Po bagaikan amukan ombak samudra juga telah menggulung tiba…

Gak Lam-kun tak bisa berpikir panjang lagi tiba-tiba tenaga sakti Tok liong ci jiau nya

ditarik kembali, lalu dengan gerakan sangat aneh badannya bergeser tiga depa kesamping

kanan.

“Weees..! Weeees..!” pukulan kiri kanan dari Gak Lam-kun telah membabat keluar

dengan kecepatan tinggi.

Sesungguhnya perubahan gerak badan dari anak muda tersebut sudah berada dalam

dugaan Kwik To, tapi ketika pukulan yang dilancarkan setelah badannya bergeser tiga

depa kesamping dengan kecepatan tinggi itu jauh diluar dugaannya, diam-diam ia merasa

kagum juga oleh kelihayan ilmu silat yang dimiliki Gak Lam-kun.

Kwik To juga tahu bahwa Tok liong Cuncu yang berada dihadapannya sekarang

merupakan penyaruan dari Gak Lam-kun, andaikata Yo Long sendiri yang memiliki

kepandaian semacam itu, dia tak akan terkejut atau keheranan lagi.

Say Khi pit dan Kongsun Po yang menyaksikan Gak Lam-kun berkelit kesamping juga

merasa amat terkejut, sebab dengan demikian tenaga pukulan mereka berdua justru akan

saling berpapasan.

Untunglah kedua orang itu merupakan jago nomor satu dalam dunia persilatan dewasa

ini, dalam kejutnya buru-buru mereka menarik kembali serangannya lalu sambil memutar

badan mereka muntahkan kembali segulung tenaga pukulan dahsyat untuk menyongsong

datangnya ancaman dari Gak Lam-kun yang tiba dari arah samping itu.

Sekalipun gerakan mereka berdua untuk membuyarkan serangan, dilakukan dengan

kecepatan yang cukup tinggi, namun akhirnya serangan dari Gak Lam-kun tiba pada

sasarannya lebih duluan.

Tenaga lwekang yang dimiliki kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit jauh lebih

sempurna daripada rekannya, maka disaat gerakan yang pertama telah dilancarkan tadi,

serangan kedua yang disertai tenaga pukulan yang maha dahsyat telah dimuntahkan

keluar lagi.

Akan tetapi disaat dua gulung tenaga pukulan tersebut saling menumbuk antara yang

satu dengan lainnya, tubuh Say Khi-pit segera tergetar keras sehingga mencelat tujuh

delapan depa jauhnya keudara, ketika mencapai permukaan tanah lagi, dia harus mundur

tiga empat langkah lagi dengan sempoyongan, hampir saja tubuhnya tak terbendungkan.

Bukan matanya saja yang berkunang-kunang, telinganya ikut terasa mendengung keras

seperti ditusuk-tusuk dengan jarum.

Menanti ia dapat mengatur napas kembali serta mendongakkan kepalanya, tampaklah

Si Rase berekor sembilan Konsun Po sedang berjongkok dengan tangan sebelah menguruti

dada, napasnya tersengal-sengal dan mukanya sangat pucat, agaknya tidak enteng luka

dalam yang dideritanya itu.

Gak Lam-kun sendiri berdiri disamping dengan tenang, sikapnya amat biasa seolah-olah

tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun.

Selang sejenak kemudian, Gak Lam-kun mendengus dingin, kemudian pelan-pelan ia

maju kedepan menghampiri si Rase berekor sembilan Kongsun Po yang masih berjongkok

itu.

Sekonyong-konyong…pekikan nyaring yang amat memekikkan telinga berkumandang

dari kejauhan, menyusul kemudian bayangan manusia saling berkelebat lewat, dalam

waktu singkat delapan belas orang laki-laki berbaju biru yang menggembol pedang elang

baja dipunggungnya telah munculkan diri dalam gelanggang, mereka adalah kedelapan

belas elang baja yang tergabung dalam pasukan Thiat eng tui dibawah pimpinan Si Tiong

pek.

Sebagai kepalanya ternyata adalah seorang kakek kurus yang kecil dan pendek, dia

bukan lain adalah Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu.

Begitu munculkan diri, dengan kecepatan paling tinggi kedelapan belas elang baja itu

meloloskan pedang masing-masing, cahaya perak gemerlapan dan menyiarkan hawa

dingin yang menggidikkan hati, pelan-pelan mereka menggeserkan tubuhnya menyebar

kesamping, agaknya orang-orang itu bermaksud hendak mengepung Gak Lam-kun.

Menyaksikan peristiwa tersebut, Gak Lam-kun menjadi tertegun dan segera

menghentikan langkah kakinya, sebab dia tahu kalau si Kakek ular dari lautan timur Ou

Yong hu telah mengetahui rahasia penyamarannya.

Sementara itu betapa leganya perasaan Kiu wi hou dan Giok bin sin ang setelah

menyaksikan kemunculan Ou Yong hu dengan membawa serta kedelapan belas elang baja

dari pasukan Thiat eng tui tersebut, mereka sadar kendatipun orang-orang tersebut masih

bukan tandingan Tok liong Cuncu, akan tetapi dengan kehadiran mereka justru akan

mempermudahkan niat mereka untuk mencari kesempatan mengambil langkah seribu dari

situ.

Giok bin sin ang Say Khi pit mengatur napasnya sebentar untuk mengendalikan hawa

darahnya yang bergolak, setelah itu sambil tertawa terbahak-bahak katanya, “Saudara Ou,

tidak kusangka kalau kau akan muncul tepat pada saatnya..haaha… haaahhh… haaahhh…”

“Bukan cuma aku saja yang telah datang coba lihatlah! Orang-orang dari perguruan

panah bercintapun telah berdatangan semua” kata si Kakek ular dari lautan timur dengan

suara ewa.

Baru selesai perkataannya itu, bayangan manusia tampak berkelebat dari arah timur

menyusul kemudian muncullah empat orang manusia dengan gerakan tubuh yang enteng.

Sebagai kepala rombongan adalah seorang sastrawan berbaju putih, dia bukan lain

adalah Bwee Li-pek, dikiri kanan kedua belah sampingnya mengikuti seorang perempuan

berambut putih yang menggembol sepasang pedang dipunggungnya, pakaian mereka

amat bagus dan mentereng, sedangkan dibarisan terbelakang adalah seorang kakek

berjenggot panjang sedada, dia bukan lain adalah Tan ciang ceng kan kun (Telapak

tangan tunggal yang menggetarkan jagad) Siangkoan Ik.

Menyusul kemunculan keempat orang itu, dari belakang muncul kembali delapan belas

orang manusia berbaju putih, potongan badan kedelapan belas orang itu secara kebetulan

justru merupakan kebalikan dari delapan belas elang baja dari pasukan Thiat eng tui

tersebut, karena tubuh mereka rata-rata kurus kering seperti lidi.

Bwe Li pek membawa anak buah perguruan panah bercintanya bergeser ke arah

selatan, Jit poh toan hun Kwik To segera memberi hormat kepada Bwe Li pek dan

mengundurkan diri kesamping perempuan tua berambut putih.

Senjata yang digembol oleh kedelapan belas manusia berbaju putih dari perguruan

panah bercinta adalah sebuah gendewa besar dengan tabung panah yang penuh dengan

anak-anak panah, cuma bentuk panah itu lain daripada yang lain, bukan saja tidak berbulu

pada tangkainya, bentuknya jauh lebih panjang dan ramping daripada anak panah biasa.

Setelah berdiri mengambil posisi, kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu

cepat melepaskan gendewanya dan memasang dua batang panah mereka diatas busur

tersebut, ujung anak panah semuanya tertuju ke arah tubuh delapan belas elang baja dari

Thiat eng tui.

Paras muka Bwe Li pek, ketua dari perguruan panah bercinta amat dingin tanpa emosi,

sulit buat orang untuk menduga bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.

Kemunculan sekian banyak orang secara tiba-tiba serta pelbagai perubahan yang

berlangsung secara beruntun dengan cepat membuat suasana ditengah gelanggang

berubah menjadi beku dan kaku.

Meski demikian dibalik benak masing-masing orang justru berputar pelbagai ingatan

yang beraneka ragam.

Karena perubahan yang berlangsung diluar dugaan itu, untuk sementara waktu Gak

Lam-kun menghentikan pula semua kegiatannya.

Akan tetapi suasana hening dan sepi semacam ini tidak bertahan terlalu lama…

Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang lagi suara tertawa panjang yang

menggidikkan hati.

Disela-sela tertawa panjangnya yang memilukan dan menggidikkan hati itu, terdengar

pula jeritan-jeritan seram yang mendebarkan sukma, “Long ji… oh Long ji… kau berada

dimana? Yo long… wahai Yo long… kembalilah kesisiku, aku tak dapat kehilangan kau”

Mendengar teriakan tersebut, Gak Lam-kun menjadi amat terperanjat, ia tak berani

tinggal terlalu lama lagi disitu, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia

melompat setinggi enam kaki ke tengah udara, kemudian bersalto beberapa kali bagaikan

kuda langit terbang di awan, dengan kecepatan bagaikan petir ia kabur keluar dari

halaman gedung tersebut…

Sungguh amat luar biasa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si anak muda itu, untuk

sesaat lamanya para jago yang hadir dalam gelanggang menjadi berdiri terbelalak dengan

mulut melongo.

Baru saja bayangan tubuh Gak Lam-kun lenyap dari pandangan mata, sesosok

bayangan manusia lain bagaikan seekor burung elang menerobos hutan menyambar

datang dan muncul di arena, ternyata dia adalah seorang perempuan aneh berambut

panjang.

Semua orang segera merasakan suara tertawanya itu bukan saja jauh membumbung ke

angkasa, lagi pula suaranya tajam memekikkan telinga, apabila tenaga dalam yang

dimilikinya tidak sempurna, jelas tak mungkin bisa melakukan kesemuanya itu.

Mereka lebih terperanjat lagi setelah menyaksikan gerakan tubuh orang itu lebih gesit

dari burung elang. Jangankan Giok bin sin ang dan lain-lainnya, bahkan Bwe Li pek dari

perguruan panah bercinta serta Jit poh lui sim ciang Lui Seng thian yang bersembunyi

diatas dahan pohon pun mengakui bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki

perempuan itu jauh berada diatas kepandaian mereka sendiri.

Dengan sepasang matanya yang jeli perempuan aneh berambut panjang itu

memandang sekejap sekeliling gelanggang, mendadak ia berpaling ke arah Giok bin sin

ang Say Khi pit kemudian pelan-pelan menghampirinya.

Terkejut juga si kakek sakti berwajah pualam ini, segera pikirnya dengan perasaan

tercekat, “Aku merasa tak pernah kenal dengan perempuan ini, dalam dunia persilatan

juga tak pernah kudengar namanya, waah… kalau begitu kedatangannya menghampiriku

jelas tidak mengandung maksud baik…”

Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, Say Khi pit segera

menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi

segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Perempuan aneh berambut panjang itu berhenti lebih kurang satu kaki didepan Say Khi

pit, lalu tegurnya dengan dingin, “Hey! tua bangka, kau pernah melihat Long ji ku?”

Giok bin sin ang Say Khi pit tertegun. Lalu tanyanya dengan keheranan. “Siapakah Long

ji mu itu?”

“Long ji adalah kekasihku, siapa kau?” bentak perempuan aneh berambut panjang itu

dengan marah, “tua bangka sialan, kau pantas dibikin mampus, masa cuma soal itu saja

tidak tahu”

Telapak tangannya segera diayun kedepan segulung angin pukulan yang maha dahsyat

segera meluncur kedepan dan menerjang ketubuhnya.

Kecepatan gerak si perempuan aneh berambut panjang dalam melancarkan

serangannya itu sungguh cepat bagaikan sambaran kilat karena terlalu cepat ancaman itu

tiba didepan matanya, untuk sesaat sulit bagi Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit

untuk menghindarkan diri, terpaksa sepasang telapak tangannya didorong kemuka untuk

menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Tapi baru saja hawa murninya disalurkan ia segera merasakan gelagat kurang

menguntungkan, sebab kekuatan angin pukulan yang dihasilkan lawan hampir boleh

dibilang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Dalam kejut dan terkesiapnya buru-buru ia menarik kembali pukulannya sambil

melompat mundur kekelakang.

Kendatipun demikian, ekor angin serangan yang dilancarkan perempuan aneh

berambut panjang itu sempat mementalkan tubuhnya sejauh lima enam langkah, isi

perutnya menyusul ikut bergetar keras dan…

‘Uaaak!’ ia muntah darah kental.

Peristiwa ini sungguh diluar dugaan siapapun juga, kontan saja membuat suasana

disekitar gelanggang menjadi gempar, semua orang terkejut dan semua orang merasa

jantungnya berdebar keras.

Sebagaimana diketahui, ilmu silat yang dimiliki kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit

termasuk golongan jago yang cukup lihay, akan tetapi nyatanya sekarang, ia tergetar

sampai muntah darah kental hanya karena tersambar oleh kebasan si perempuan aneh

berambut panjang yang amat enteng dan sederhana itu. Kejadian tersebut, sungguh

membuat orang lain tercengang dan diluar dugaan.

Seketika itu juga suasana menjadi gempar, para jago pada berbisik membicarakan

persoalan itu.

Sementara semua orang masih dibuat terkesiap oleh kelihayan lawan, perempuan aneh

berambut panjang itu pelan-pelan sudah berjalan kembali menghampiri Malaikat racun

dari See ih Lo Kay-seng.

Paras muka si Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng segera berubah menjadi amat

serius, dengan sepasang matanya yang lebih tajam dari sembilu ditatapnya perempuan

aneh berambut panjang itu lekat-lekat, kemudian tegurnya ketus, “Kau adalah anggota

perguruan Hay sim pay?”

Perempuan aneh berambut panjang itu tertegun, tiba-tiba ia balik bertanya, “Siapa

kau? Darimana kau bisa tahu kalau dalam dunia persilatan terdapat juga ilmu silat aliran

Hay sim it pay? Pernahkah kau berjumpa dengan Long ji ku?”

Menghadapi rentetan pertanyaan yang balik diajukan kepadanya itu, Malaikat racun

dari See ih Lo Kay seng menjadi tertegun, untuk sesaat ia terbungkam dan tak tahu

bagaimana musti menjawab.

Perlu diterangkan, perguruan Hay sim it pay bersumber dari pulau Hay sim to yang

berada diwilayah Cing hay, konon pada tiga ratus berselang dalam dunia persilatan telah

muncul seorang manusia aneh maha sakti yang bernama Hay Ciong ji, dialah pendiri dari

perguruan Hay sim it pay tersebut. 58

Tapi semenjak kemunculan Hay Ciong ji pada tiga ratus tahun berselang, dalam dunia

persilatan tak pernah dijumpai orang dari aliran Hay sim it pay lagi, sebab itu ilmu silat

aliran Hay sim it pay jarang sekali diketahui dalam dunia persilatan.

Begitu mendengar tentang Hay sim it pay satu ingatan dengan cepat melintas dalam

benak Bwe Li pek, ia menjadi teringat kembali dengan kata-kata gurunya, “Tok liong

Cuncu (rasul naga beracun) Yo Long adalah seorang jago dari perguruan Hay sim it pay,

sejak kecil ia dibesarkan oleh Hay sim li dan diberi pula pelajaran ilmu silat, tapi pada

akhirnya Hay sim li justru jatuh cinta sendiri kepada Yo Long…”

Teringat sampai disitu, paras mukanya berubah hebat, kembali pikirnya, “Janganjangan

perempuan aneh berambut panjang itu adalah Hay sim li yang dikatakan amat

cantik bak bidadari dari kahyangan dengan ilmu silatnya yang tiada tandingannya dikolong

langit?”

Ditengah keheningan tersebut seorang pemuda berbaju hijau diam-diam berjalan

menghampiri arena dan berdiri dipihak perguruan panah bercinta, orang itu bukan lain

adalah Gak Lam-kun.

Ternyata Gak Lam-kun yang mendengar suara dari perempuan aneh berambut panjang

itu berkumandang dari kejauhan, segera merasakan gelagat tidak menguntungkan

baginya, dia kuatir Yo Long yang sedang dicari perempuan itu adalah gurunya, sebab jika

dugaannya benar, maka pertemuannya dengan perempuan itu pasti akan mengakibatkan

ia dianggap sebagai gurunya, itu berarti banyak kesulitan yang bakal dijumpainya.

Selain daripada itu, disekitar gelanggang telah bermunculan pula sekian banyak jago

lihay, apabila orang-orang itu sampai bekerja sama untuk mengerubutinya, hal itu akan

sangat berbahaya bagi keselamatan jiwanya.

Maka setelah mempertimbangkan sejenak untung ruginya, Gak Lam-kun memutuskan

untuk cepat-cepat mengundurkan diri dari sana, disuatu tempat yang tiada manusia lain ia

berganti pakaian hijaunya, lalu memburu kesitu untuk menonton keramaian.

Sementara itu Bwe Li pek telah menjura kepada Gak Lam-kun setelah mengetahui

kemunculan anak muda itu.

“Saudara Gak, baik-baiklah kau? Sehat-sehatkah selalu selama ini?” Gak Lam-kun

tersenyum.

“Waaah…rupanya siaute datang terlambat satu langkah, sedang Bwee heng sekalian

sudah tiba lebih duluan”

Han Hu hoa menunjukkan pula sekulum senyumannya yang manis, seraya memberi

hormat kepada Gak Lam-kun katanya, “Gak lote, lagi-lagi kita berjumpa muka!”

Gak Lam-kun segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaaah… haaah… haaah… yaa, itulah yang dikatakan orang jika memang berjodoh

berselisih seribu li akhirnya juga ketemu, tapi kalau tidak berjodoh bertemu mukapun tidak

saling mengenal sejak berpisah dengan nona Han diatas telaga Tong ting ou, tidak

kusangka kalau kita kembali akan bersua diatas pulau terpencil ini, aku merasa benarbenar

amat beruntung karena bisa bersua kembali dengan wajah cantikmu”

Ketika mendengar suara dari Gak Lam-kun tiba-tiba perempuan aneh berambut

panjang itu memutar badannya kemudian pelan-pelan menghampirinya.

Menyaksikan Hay sim li, atau perempuan aneh berambut panjang itu mendekati ke arah

mereka, serentak kedelapan belas orang manusia berbaju putih dari perguruan panah

bercinta itu menarik gendewa masing-masing sambil mengarahkan ujung anak panahnya

ke arah perempuan tersebut.

“Berhenti!” bentak mereka serentak, “kalau berani maju selangkah lagi, jangan

salahkan kalau panah bercinta tidak berperasaan”

Menyaksikan situasi tegang itu, buru-buru Gak Lam-kun membentak, “Panah bercinta

jangan buru-buru dilepaskan!”

Mendengar itu. Bwe Li pek segera mengulapkan tangan kanannya yang putih halus

sambil berkata, “Delapan belas panah bercinta, jangan bertindak secara gegabah!”

Serentak kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu menurunkan kembali busur

masing-masing, cuma pengawasan sama sekali tidak dikendorkan, gerak-gerik perempuan

aneh itu masih saja diikuti dengan seksama.

Perempuan aneh berambut panjang itu berjalan kehadapan Gak Lam-kun, kemudian

setelah tertawa merdu tegurnya, “Gak Lam-kun, rupanya kau juga datang kemari, heeeh…

heeeh…”

Dia setengah waras setengah tidak, entah apa yang sedang dibayangkan waktu itu,

tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Sekali lagi semua orang dibuat terkesiap sehabis mendengar gelak tertawanya itu,

sebab bukan saja suara tertawanya sangat merdu dan sedap didengar, bahkan

mengandung pula semacam daya pengaruh iblis yang dapat mencekam perasaan orang.

Gak Lam-kun mengernyitkan alis matanya, tapi ia masih tertawa kembali katanya,

“Locianpwe, rupanya kau juga datang, apakah sedang mencari Long ji mu itu?”

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu menghentikan gelak tertawanya,

kemudian dengan suara yang lembut dan merdu merayu sahutnya, “Yaa! Gak Lam-kun,

apakah kau telah bertemu dengan Long ji ku?”

Suaranya begitu merdu merayu, seandainya semua orang tidak menyaksikan dengan

mata kepala sendiri, siapapun tidak akan percaya kalau suara tersebut berasal dari mulut

seorang perempuan bertampang jelek.

Sementara itu sejak tadi Bwe Li pek mengawasi terus raut wajah perempuan aneh

berambut panjang itu, tiba-tiba ia menemukan setitik bagian yang mencurigakan, sambil

menghela napas pikirnya kemudian, “Tak dapat diragukan lagi perempuan itu pastilah Hay

sim li, gurunya Tok liong Cuncu Yo Long, menurut kata suhu kecantikan Hay sim li tiada

bandingannya dikolong langit kesemuanya ini karena dia mengandalkan ilmu

menyamarnya yang sangat hebat. Perempuan aneh bertampang jelek yang berada

dihadapanku sekarang jelas adalah merupakan salah satu dari penyamarannya, atau

mungkin ia mengenakan selembar kulit manusia diatas wajahnya…”

Jilid 8

Dipihak lain Gak Lam-kun telah berkata lagi setelah menghela napas panjang,

“Locianpwe, bolehkah aku tahu julukan Long ji mu didalam dunia persilatan? Asal

boanpwe, mengetahui julukannya itu pasti akan kubantu Locianpwe untuk menemukannya

atau menyampaikan kabar kepadanya” Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu

berubah menjadi amat murung dan sedih setelah menghela napas panjang jawabnya,

“Long ji ku itu tak lain adalah Tok liong Cuncu Yo Long yang tersohor namanya dalam

dunia pesilatan!”

Sungguh tak sedap suara helaan napasnya itu membuat setiap orang yang

mendengarnya menjadi ikut murung kesal dan sedih.

Dengan cepat Bwe Li pek dan Gak Lam-kun menyadari bahwa setiap perubahan sikap

dari perempuan yang berada dihadapannya ini sesungguhnya tersembunyi suatu daya

pengaruh iblis yang cukup menggetarkan sukma dan perasaan siapapun.

Setelah mendengar julukan gurunya disebut oleh perempuan itu, Gak Lam-kun tidak

ragu lagi kalau orang yang sedang dicari olehnya tidak lain adalah gurunya sendiri tapi ada

satu hal yang tidak dipahami Gak Lam-kun, mengapa gurunya tak pernah menjelaskan

kepadanya tentang perempuan ini serta apa hubungan diantara mereka?

Seingatnya sepanjang hidup didunia ini gurunya pernah mengadakan hubungan cinta

dengan tiga orang perempuan saja, pertama adalah Soat san Thian li, kedua adalah Lam

hay sin ni yang kini hidup mengasingkan diri sebagai pendeta, dan ketiga adalah Yan lo

sat (perempuan iblis cantik) Hong Im yang lantaran cinta menjadi dendam.

Sebetulnya rasa cinta Yan lo sat Hong Im terhadap gurunya paling besar, tapi

cemburunya justru paling besar juga, ia tak sudi membiarkan gurunya mengadakan

hubungan cinta dengan orang lain, ketidak berhasilannya untuk mencegah Yo long

berhubungan dengan perempuan lain mengakibatkan timbulnya perasaan dendam dalam

hatinya, sebab itulah ia bertekad untuk turut serta dalam peristiwa ditebing Yan po gan

serta mencelakai jiwa kekasihnya.

Keempat orang jago lihay yang pernah terlibat dalam pembunuhan atas Tok liong

Cuncu ditebing Yan po gan segera merasakan jantungnya berdebar keras, terutama

setelah mengetahui bahwa kekasih dari perempuan aneh berambut panjang yang sangat

lihay itu bukan lain adalah korban yang telah mereka kerubuti.

Mereka mulai was-was, seandainya dia tahu jika Yo Long tewas ditebing Yan po gan

akibat ulah mereka, dengan kepandaian silatnya yang maha dahsyat jelas perempuan

tersebut merupakan bibit bencana terbesar bagi keselamatan jiwa mereka.

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po yang terkenal karena kelicikan serta kebusukan

hatinya segera merenungkan kembali kejadian tersebut, tiba-tiba suatu rencana busuk

timbul dalam hatinya.

Gak Lam-kun telah memusatkan kembali pikirannya, dengan suara lantang ia lantas

berkata, “Locianpwe, konon Tok liong cuncu Yo Long masih hidup didunia ini, malah

katanya tak lama kemudian dia akan datang kebukit Kun san untuk menyerahkan Lencana

pembunuh naga tersebut, waktu itu locianpwe pasti akan bersua kembali dengannya, apa

gunanya kau musti mencari dia orang tua dengan sikap macam orang kehilangan sukma?”

Sekali lagi perempuan aneh berambut panjang itu menghela napas panjang.

“Aaaai..! Gak Lam-kun, aku tahu hatimu sangat baik, cuma muridnya Yo Long pernah

berkata kepadaku kalau Yo Long telah mati dipuncak Yan po gan dibukit Hoa san,

mungkinkah ia berbohong kepadaku?”

Si Kakek ular dari lautan timur serta tujuh langkah pemutus nyawa Kwik To yang

mengetahui asal usul Gak Lam-kun sebenarnya diam-diam mengernyitkan alis matanya

setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian, “Murid Yo Long bukan lain adalah

Gak Lam-kun yang berada didepan mata, darimana mungkin bisa muncul kembali seorang

murid yang lain..? Aneh, benar-benar sangat aneh!”

Gak Lam-kun sendiripun lagi berpikir, “Entah bajingan keparat siapa yang mengakungaku

sebagai murid Yo Long untuk berbuat onar..?”

Tiba-tiba si Rase berekor sembilan Kongsun Po menyambung setelah tertawa serak, “Yo

Long belum mati, kau ditipu oleh muridnya!”

Perempuan aneh berambut panjang itu menjadi tertegun, tiba-tiba bentaknya,

“Mengapa muridnya membohongi aku? Kalau Yo Long belum mati, sekarang ia berada

dimana?”

Rase berekor sembilan Kongsun Po sudah mempunyai perhitungan sendiri didalam

hatinya, sambil tertawa seram kembali ia berkata, “Tok liong Cuncu Yo Long betul-betul

belum mati, baru saja ia berada disini, bila kau bersedia menunggunya disini, maka dia

pasti akan datang kemari untuk menjumpaimu.

Agaknya perempuan aneh berambut panjang itu merasa gembira sekali, dengan berseri

katanya, “Kau tidak bohong bukan? Yo Long telah pergi kemana?” “Mengapa aku musti

membohongimu? Setiap orang yang hadir disekitar gelanggang menyaksikan sendiri

bagaimana Tok Liong cuncu Yo long mmuncul ditempat ini, tentu saja aku tidak tahu

kemana ia telah pergi”

Mendengar jawaban tersebut, airmata segera jatuh bercucuran membasahi wajah

perempuan aneh berambut panjang itu, segera gumamnya dengan amat sedih, “Yaa, aku

tahu… dia pasti pergi karena tahu kalau aku hendak datang… ya, dia pasti enggan

bertemu lagi denganku…”

Tiba-tiba ia mendengarkan jeritan lengking, kemudian teriaknya seperti orang kalap,

“Ooo… Yo long, betapa kejamnya hatimu… Yo long wahai Yo long… kau berada dimana?

Cepatlah keluar… Yo long… cepat keluar… aku ingin bertemu denganmu…”

Ditengah jeritan lengkingnya yang amat memilukan hati, tiba-tiba perempuan aneh

berambut panjang itu berlalu dari sana dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Gak Lam-kun hanya bisa menghela napas setelah menyaksikan kejadian tersebut,

bisiknya dengan lirih, “Orang yang pantas dikasihani, aaiiii…”

Sebetulnya si Rase berekor sembilan Kongsun Po sedang berencana untuk menahan

perempuan aneh berambut panjang itu disitu, sebab ia tahu kepergian Tok liong Cuncu

tadi kemungkinan besar untuk menghindari pertemuannya dengan perempuan ini, maka

apabila ia tetap tinggal disana, Yo Long yang amat menakutkan itu tak nanti akan muncul

kembali disitu, bila urusan disana telah beres, dengan segala akal muslihat serta mulutnya

yang manis dia hendak menipunya dan mempergunakan tenaganya.

Tapi kenyataannya sekarang, dengan berlalunya perempuan aneh berambut panjang

itu berarti rencananya berantakan pula.

Sepeninggal perempuan aneh berambut panjang itu, tiba-tiba Malaikat racun dari See

ih berpaling kearah Gak Lam-kun kemudian berjalan menghampirinya, dengan suara yang

dingin menyeramkan ia berkata, “Apakah engkau adalah jago lihay yang telah melukai

Nian Eng hau sute ku itu?”

“Tidak berani, tidak berani” jawab Gak Lam-kun ketus, “dalam kejadian waktu itu, Ou

thamcu dari Thiat eng pang juga ikut menyaksikan, siapa benar siapa salah rasanya ia

juga tahu. Meski demikian aku merasa menyesal sekali telah salah melukai Nian tayhiap,”

Malaikat racun dari See ih memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin dan

rendah, lalu katanya, “Aku orang She Lo merasa kagum sekali oleh ilmu sikat saudara

yang melampaui orang lain itu, kalau bisa ingin sekali kumohon beberapa jurus petunjuk!”

“Setiap waktu tentu kulayani keinginanmu itu” kata Gak Lam-kun dengan ketus,

“merupakan suatu kebanggaan bagiku dapat menyaksikan ilmu silat aliran See thian san,

andaikata harus matipun aku akan mati dengan hati tentram.

Pelan-pelan ia lantas maju ketengah arena.

“Berhati-hatilah Gak sauhiap” kata malaikat racun dari See ih kemudian sambil menjura,

“lohu segera akan mulai melancarkan serangan!”

Mendadak ia menerjang maju kedepan sambil melancarkan sebuah pukulan yang maha

dahsyat.

Gak Lam-kun menggerakkan pula telapak tangannya sambil berkata dengan nada

hambar, “Ingin kuketahui sampai dimanakah kehebatan tenaga pukulanmu itu?”

Ketika sepasang telapak tangan saling beradu, segera terjadilah suatu ledakan yang

memekikkan telinga, Gak Lam-kun terdorong mundur sejauh tiga langkah sebaliknya Lo

Kay seng masih berdiri tenang ditempat semula, namun sekilas perasaan tercengang

segera menyelimuti wajahnya.

Sekalipun dipandang dari kejadiannya Gak Lam-kun seolah-olah masih kalah setingkat

bila dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki Lo Kay seng, namun dalam pandangan

para jago ahli justru sebaliknya, kiranya dalam bentrokan yang pertama tadi, Lo Kay seng

telah menderita sedikit luka ringan akibat serangan pantulan yang digunakan oleh si anak

muda itu.

Setelah berhasil dengan serangannya, Gak Lam-kun mempertahankan gayanya sebagai

seorang laki-laki ksatria, ia tidak melancarkan serangan lebih jauh sebaliknya cuma berdiri

tenang ditempat semula.

Lo Kay seng mengatur sebentar hawa murninya, ketika diketahui bahwa kerugian yang

dideritanya tidak terlalu besar, cepat badannya menerjang maju lagi dengan kecepatan

tinggi, sebuah tendangan segera dilancarkan mengarah lambung Gak Lam-kun.

Gak Lam-kun menggoyangkan tubuhnya menghindar kesamping lalu sepasang telapak

tangannya melancarkan serangkaian pukulan berantai.

Lo kay seng tertawa dingin, telapak tangan kanannya dikebaskan melancarkan sebuah

pukulan dahsyat untuk membendung ancaman dari Gak Lam-kun, kemudian telapak

tangan kirinya dengan jurus Thiat khi to jut (penunggang baja muncul mendadak)

melancarkan serangan balasan.

“Wees..! wees..!” begitu berhasil merebut kedudukan diatas angin, secara beruntun

telapak tangan kanannya melepaskan tiga buah serangan berantai diiringi tendangan kaki

kiri dan kanannya.

Bukannya mundur Gak Lam-kun malah menerobos maju kedepan, sepasang telapak

tangannya mengembangkan pula serangkaian pukulan dahsyat untuk membendung

tendangan-tendangan maut itu, semua gerakan yang dipergunakan boleh dibilang

merupakan jurus-jurus serangan untuk bertarung dalam jarak dekat.

Makin lama pertempuran berlangsung makin sengit, pukulan demi pukulan, tendangan

demi tendangan semuanya dipergunakan bukan saja dengan kecepatan tinggi, tenaga

pukulan yang disertakan pun luar biasa hebatnya…

Pertarungan antara mereka berdua hakekatnya merupakan pertarungan untuk

menentukan mati hidup mereka, semua ancaman hampir tak sebuahpun yang tidak tertuju

pada bagian badan yang mematikan, ini membuat para jago yang ikut menyaksikan

jalannya pertarungan itu merasa jantungnya berdebar keras.

Ditengah serunya pertarungan tersebut, tiba-tiba malaikat racun dari see ih Lo Kay

seng mengeluarkan jurus See lay tok ing (irama sunyi dari barat) menghantam kedada

lawan.

Jurus serangan tersebut merupakan salah satu jurus mematikan dalam aliran See thian

san, bukan saja aneh dan sakti gerakannya bahkan membuat musuhnya menjadi bingung

sebab sepintas lalu serangan tersebut seperti suatu totokan tapi mirip pula sebuah

babatan.

Gak Lam-kun terkesiap, buru-buru dia mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Jit gi ngo

heng jit seng liong heng sin hoat untuk bergeser tiga depa kesamping kiri.

“Gak sauhiap, hati-hati!” tiba-tiba Lo Kay seng berseru sambil tertawa dingin.

Ditengah seruan tersebut, jurus mematikan yang sengaja disembunyikan dibalik jurus

See lay tok ing tersebut segera dilancarkan, tampak telapak tangan kanannya tiba-tiba

terbalik keatas kemudian mengancam urat nadi pada pergelangan tangan kanan Gak Lamkun.

“Hmm… Tidak segampang itu” jengek si anak muda ketus.

Tiba-tiba kelima jari tangan kanannya berputar menyambar diatas pergelangan tangan

kanan Lo Kay seng, oleh sambaran tersebut Lo Kay seng segera merasakan urat nadi pada

pergelangan tangan kanannya menjadi kaku, akibatnya tangan kanan yang sesungguhnya

sedang mengancam pergelangan tangan musuhpun menjadi miring kesamping dan tidak

menemui sasarannya…

Perubahan jurus serangan ini sungguh amat manis dan sedap dipandang, tanpa terasa

semua jago berpekik dihati masing-masing, “Sebuah serangan yang amat bagus!”

Gak Lam-kun dengan demikian berhasil menang satu gebrakan dari lawannya, cepat Lo

Kay seng mundur dua langkah, dengan tangan kirinya memegang pergelangan tangan

kanan ia berkata dengan dingin, “Gak sauhiap, ilmu silatmu benar-benar amat sempurna,

dengan tebalkan muka lohu ingin minta petunjuk lagi dalam kepandaian senjata”

Sebelum Gak Lam-kun mengucapkan sesuatu, Jit poh toan hun Kwik To telah maju

kemuka sambil tertawa terbahak-bahak, katanya, “Lo Kay seng, kau jangan melayani

orang lain terus menerus, bagaimana dengan pertikaian diantara kita? Bagaimanapun juga

urusan kita musti diselesaikan pada malam ini juga, maka kuanjurkan kepadamu lebih baik

pertarungan babak berikutnya ditiadakan saja”

Malaikat racun dari See ih tertawa seram.

“Kwik To!” demikian katanya, “sekalipun aku harus bertarung tiga babak lagi

memangnya kau anggap aku tak punya keyakinan untuk memenangkan dirimu..?”

Jit poh toan hun Kwik To kembali mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahakbahak.

“Haahh…haahh…haahh…sulit! Sulit! Tiga hari tidak bertemupun bisa mengakibatkan

perubahan yang besar apalagi kita sudah dua puluh tahunan tak pernah bersua muka..?”

“Yang kau katakan tentang kau atau diriku?” tukas Malaikat racun dari See ih ketus.

“Kau atau aku adalah sama saja, cuma aku orang she Kwik tidak ingin mempergunakan

keuntungan tersebut”

“Baiklah!” kata Lo Kay seng kemudian “bagaimana kalau penyelesaian diantara kita

diundur tiga hari lagi?”

Jit poh toan hun Kwik To tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhh…bagus sekali, bagus sekali! Cuma sebelumnya aku

hendak berkata lebih dulu, ujung senjata itu tak bermata, bagaimana seandainya kau mati

dalam pertarungan itu?”

“Hmmm..! Kalau mampus anggap saja nasibku lagi jelek, atau mungkin kau lebih suka

kalau melihat aku mati ditangan orang lain saja?”

“Aaah..! Kita sama-sama tidak mempunyai dendam sakit hati apa-apa, kalau cuma ingin

mencoba kepandaian silat saja, kenapa harus mempergunakan nyawa sebagai taruhan?”

sela Gak Lam-kun tiba-tiba.

Jit poh toan hun Kwik To sama sekali tidak menggubris perkataan dari Gak Lam-kun itu,

lagi-lagi dia berkata, “Tidak berani! Tidak berani! Loheng tersohor sebagai malaikat racun,

aku percaya kau masih mempunyai kepandaian simpanan untuk menolong jiwamu sendiri”

Terkesiap juga Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya diam-diam.

“Kwik To berulangkali membantuku, entah apa maksud sesungguhnya? Coba kalau

tidak diingatkan olehnya, hampir saja aku lupa kalau Lo Kay seng masih mempunyai ilmu

racun yang maha sakti…”

Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng mendengus dingin.

“Hmmm..! Kwik To, seandainya aku orang she Lo hendak merebut kemenangan dengan

mengandalkan ilmu racunku, aku yakin kau Tionggoan tok hu (si Tabib keji dari

Tionggoan) tak akan lolos dari cengkeramanku”

Dari pembicaraan tersebut dapat diketahui bahwa dalam pertarungannya melawan Gak

Lam-kun dia tidak ingin menyergap si anak muda itu dengan mengandalkan kepandaian

racunnya.

Mendengar itu, Jit poh toan hun Kwik To segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…haaah…haaah…mana, mana, kalau begitu aku orang she Kwik telah

mempergunakan hati kecil seorang siaujin untuk menilai kebijaksanaan seorang kuncu”

Tiba-tiba dari sakunya Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng mengeluarkan sebuah

senjata Kim seng lun (roda bintang emas), diantara rentangan telapak tangannya kekiri

dan kekanan, ternyata roda tersebut telah berubah menjadi lima buah roda bintang emas

yang amat tipis, lantaran kelima roda itu besarnya sama dan lagi menempel antara yang

satu dengan yang lainnya, maka sulit buat orang lain untuk membedakan satukah senjata

roda itu atau limakah?

“Gak sauhiap, silahkan kau siapkan senjatamu, demikian Lo Kay seng berkata, “lohu

hendak mempergunakan kelima buah roda bintang emas itu untuk menyambut permainan

beberapa jurus seranganmu”

o0o

Terkesiap juga Gak Lam-kun setelah menyaksikan senjata lawan, pikirnya dengan

cepat. “Tampaknya ilmu silat yang dimiliki Lo Kay seng benar-benar sudah mencapai

tingkatan yang luar biasa, ia merupakan seorang musuh yang tangguh dalam dunia

persilatan dewasa ini, biasanya orang yang menggunakan senjata tersebut kebanyakan

cuma menggunakan dua biji senjata roda yang lebih dikenal sebagai Jit gwat lun (roda

matahari dan rembulan) tapi sekaligus Lo Kay seng dapat mempergunakan lima buah roda

bintang emas. Jelas sulit bagiku untuk melayani kelima senjata rodanya dengan tangan

kosong belaka padahal kecuali Toa hun liong jiau (cakar naga perenggut nyawa) aku tidak

membawa senjata lainnya, wah bagaimana enaknya sekarang…”

Sementara Gak Lam-kun masih sangsi dan tidak dapat mengambil keputusan, tiba-tiba

terdengar seseorang menegur dengan suara yang merdu, “Saudara Gak entah pedang ini

cocok dengan seleramu atau tidak?”

Bersama dengan berkumandangnya ucapan itu, tampak ketua dari perguruan panah

bercinta Bwe Li pek muncul sambil ditangan kirinya membawa sebilah pedang pendek, lalu

sambil tersenyum senjata itu diangsurkan kehadapan si anak muda.

Gak Lam-kun tersenyum.

“Terima kasih banyak saudara Bwe atas pinjaman pedangmu itu” katanya.

Dengan sepasang tangannya ia menyambut pedang pendek itu mendadak ia

mengendus bau harum semerbak yang amat menusuk hidung, Gak Lam-kun segera

tertegun, pikirnya kemudian, “Sudah tiga kali kucium bau harum aneh semacam ini dari

tubuhnya, jangan-jangan..?”

Ketika Gak Lam-kun berpaling kembali, Bwe Li pek telah memutar badannya sambil

mengundurkan diri dari situ.

“Criiing..!” bunyi lengking tajam yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan

kesunyian, diantara berkelebatnya segulung cahaya putih, pedang pendek itu sudah

diloloskan dari sarungnya.

Pedang itu putih mulus bagaikan kumala, tajam dan berkilau, sekilas pandangan saja

orang akan tahu bahwa pedang tersebut adalah sebuah pedang mustika yang amat tajam.

“Pedang bagus, pedang bagus!” puji Gak Lam-kun dalam hati kecilnya.

Setelah meloloskan pedangnya, Gak Lam-kun mundur tiga langkah kebelakang dan

berdiri dengan pinggang ditekuk, lima jari tangan kanannya direntangkan sejajar dada

sedang tangan kirinya memegang pedang sebatas alis mata, dengan sinar mata setajam

sembilu ditatapnya Lo Kay seng tajam-tajam.

“Nah saudara, silahkan turun tangan!” katanya.

Lo Kay seng yang menyaksikan gaya pembukaan dari Gak Lam-kun pun merasa amat

terkejut, pikirnya, “Orang ini benar-benar seorang manusia berbakat aneh dari dunia

persilatan tampaknya dalam pertarungan adu senjata tajampun aku harus terlibat lagi

dalam suatu pertarungan yang amat seru”

Tergerak juga perasaan Bwe Li pek setelah menyaksikan jurus pedang dari Gak Lamkun,

terutama kemampuan pemuda tersebut memainkan pedang ditangan kiri dan tangan

kanannya tak lupa menyerang dengan kepandaian Tok liong ci jiau, hal ini sungguh

merupakan suatu kejadian yang jarang dijumpai dikolong langit.

Mendadak… Suara desingan nyaring berkumandang memenuhi seluruh angkasa,

sebuah roda Kim seng lun yang berada ditangan kiri Lo Kay seng dilontarkan kearah Gak

Lam-kun.

Ketika anak muda itu membacok dengan pedang kirinya, diiringi desingan angin tajam

tiba-tiba roda Kim seng lun tersebut berputar kebelakang punggungnya, lalu kembali

ketangan Lo Kay seng. Dengan sendirinya bacokan itupun mengenai sasaran yang kosong.

“Ngiing…ngiing…ngiing…ngiing..!” bunyi desingan tajam kembali berdesing memenuhi

seluruh angkasa, cahaya emas berkilauan darimana-mana diiringi biasan cahaya perak,

lima batang roda Kim seng lun dari lima arah yang berbeda menerjang datang hampir

bersamaan waktunya…

Serangan tersebut merupakan sebuah serangan yang maha dahsyat gerakan itu

dinamakan gerakan Ban lun hud (selaksa roda membiaskan sinar sang Buddha).

Paras muka Gak Lam-kun agak berubah, pergelangan tangannya digoyangkan

berulangkali, tiba-tiba ia menggunakan pula sebuah jurus tangguh yang merupakan suatu

jurus pedang tingkat tinggi yakni Yang Kong bu ciau (sinar matahari memancar kemanamana).

Diantara perputaran pedang pendek ditangan kirinya itu, terciptalah berlapis-lapis

cahaya tajam yang melindungi sekujur tubuhnya.

Kendatipun Yang Kong bu ciau dinamakan satu gerakan, pada hakekatnya terselip

berbagai perubahan yang beruntun, bukan saja perubahannya dahsyat, gerakannya juga

tangguh.

Serentetan cahaya bianglala berwarna putih dengan cepat melesat keudara dan

mengelilingi kelima buah roda Kim seng lun tersebut, suasananya waktu itu ibaratnya

selapis awan tebal yang mengelilingi rembulan dan bintang.

Begitu turun tangan, kedua belah pihak segera terlibat dalam suatu pertarungan sengit

yang menentukan mati hidup mereka, kejadian tersebut dengan cepat menarik perhatian

para jago disekitar gelanggang untuk mengikuti jalannya pertarungan dengan lebih

seksama lagi.

Lima gumpal cahaya emas dan selapis hawa pedang yang mengerikan hampir

memenuhi seluruh angkasa, meski demikian ternyata sama sekali tidak kedengaran sedikit

suarapun.

Mendadak… lima buah roda dari Lo Kay seng itu mempersatuksn diri lalu, berbareng

menerjang kedada Gak Lam-kun, tentu saja kekuatannya ibarat lima ekor kerbau yang

menyerbu bersama kesatu arah.

Gak Lam-kun membentak keras, cahaya putih berputar mengikuti arah pergeseran

langkah kakinya yang maju mundur, diantara getaran ujung pedangnya, tiba-tiba lima

jalur sinar putih memancar keluar, sedang selaksa roda membiaskan sinar Buddha

mendadak menjadi sirap…

Gak Lam-kun berdiri serius sambil memeluk pedang, sementara Lo Kay seng hanya

berdiam diri sambil memperhatikan kelima buah roda Kim seng lunnya yang tergeletak

diatas tanah.

Akhirnya setelah menghela napas katanya, “Gak sauhiap, ilmu silatmu benar-benar

sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang luar biasa, aku orang she Lo sungguh merasa

amat kagum, baiklah kita akhiri pertarungan malam ini sampai disini saja.

Sehabis berkata ia memungut kembali kelima buah roda Kim seng lunnya dari tanah

dan dimasukkan kembali kedalam saku.

Gak Lam-kun menyarungkan pula pedangnya lalu sambil tertawa dan menjura katanya,

“Terima kasih banyak atas petunjuk ilmu silat yang telah Lo tayhiap berikan pada malam

ini, kesemuanya tersebut sungguh mendatangkan manfaat yang tak terhingga buat aku

orang she Gak.”

Kemudian sambil mengangsurkan pedang pendek itu kehadapan Bwe Li pek, katanya

lagi sambil tertawa.

“Terima kasih banyak untuk pinjaman pedang dari saudara Bwe, harap pedang ini suka

diterima kembali.”

Bwe Li pek tertawa ramah, katanya, “Saat ini adalah saatnya banyak urusan dalam

dunia persilatan, apa salahnya kalau saudara Gak meminjamnya untuk beberapa waktu

lagi.”

“Baiklah, daripada kutampik maksud baikmu, terpaksa siaute akan meminjamnya untuk

sementara sampai besok.

Dari balik sinar mata Bwe Li pek yang tajam seperti sembilu, tiba-tiba terpancar sekilas

cahaya lembut bagaikan hembusan angin sepoi, katanya lagi, “Bila saudara Gak merasa

tidak keberatan, biar kuhadiahkan pedang itu sebagai kenang-kenangan untukmu,

anggaplah hal ini sebagai tanda mata untuk mempererat jalinan hubungan kita.”

“Tidak berani, tidak berani, setiap orang yang termasuk kuli silat tidak pantas untuk

menyoren pedang mustika semacam ini” ujar Gak Lam-kun tertawa.

“Kalau begitu, kembalikanlah pedang itu bila kita bertemu kembali besok malam.”

Gak Lam-kun menyimpan pedang pendek itu kedalam sakunya, lalu berkata dengan

lantang, “Kentongan kelima esok, siaute pasti akan tiba tepat pada waktunya!”

Sementara itu Jit poh toan hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To pelan-pelan

maju kedepan, sambil memberi hormat kepada Lo Kay seng ia berkata, “Saudara Lo,

bagaimana dengan permintaan aku orang she Kwik semalam mengenai masalah Soat san

Thian li?”

“Dalam soal ini hanya terbatas untuk Buncu seorang” jawab See ih tok Seng Lo Kay

seng dengan suara menyeramkan, “bila kalian ingin datang bergerombol, maka maaf jika

hal ini tak bisa dikabulkan”

Bwe Li pek segera tertawa angkuh.

“Adapun maksud aku orang she Bwe tidak lebih cuma ingin menyambangi Soat san

Thian li, kami tidak mempunyai rencana atau tujuan lain, dan segenap anggota

perguruanku akan menanti disini!”

“Bwe ji, biar aku ikuti dirimu” bisik perempuan berambut putih yang berada disamping

kanannya dengan lembut.

Bwe Li pek segera berpaling dan tertawa.

“Nenek, legakan hatimu, tak nanti Soat san Thian li akan nenelan diriku bulat-bulat”

Berbicara sampai disitu ia lantas memberi hormat kepada Gak Lam-kun, kemudian

pelan-pelan menghampiri Lo Kay seng, katanya, “Tolong bawalah aku kesana”

“Blaaam…” mendadak terdengar ledakan nyaring menggeletar memecahkan

keheningan…

Dalam waktu singkat muncullah serentetan cahaya hijau yang menyambar ketubuh Bwe

Li pek dengan kecepatan luar biasa.

Cahaya hijau itu meluncur tiba dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan katakata,

bagaikan serentetan benang hijau yang berada tujuh delapan kaki jauhnya tahu-tahu

dalam sekejap mata telah melesat dihadapan mata Bwe li pek.

Terkesiap juga Buncu dari perguruan panah bercinta itu, tidak sempat melihat jelas lagi

senjata rahasia apakah itu, pergelangan tanganrya digetarkan cepat dan jari tangannya

segera menyentil kedepan.

“Blaaam..!” termakan oleh tenaga sentilan Tan ci sin thong (jari tunggal yang tembus

kemana-mana) dari Bwe Li pek, cahaya hijau yang telah berada tiga depa dihadapannya

itu segera terbendung dan terpental keempat penjuru.

“Blaam..!” sekali lagi benang hijau yang terpental itu meledak dan kemudian berubah

menjadi tujuh buah titik bintang api berwarna hijau yang segera menyebar keempat

penjuru.

Dua diantaranya langsung meluncur kearah Bwe Li pek, sedangkan lima buah titik hijau

lainnya segera memancar mengancam Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng serta dua

orang laki-laki kekar dari Thi eng pang dengan kecepatan tinggi.

Baik Bwe Li pek maupun Lo Kay seng tidak berani menerima serangan tersebut dengan

kekerasan, dengan perasan bergetar keras masing-masing berkelit kesamping.

Lain halnya dengan dua orang lelaki kekar dari pasukan delapan belas elang baja,

untuk berkelit sudah tak sempat lagi, yang satu segera terkena pada lengannya sedang

yang lain terkena pada paha kanannya, kedua-duanya bukan termasuk tempat yang

mematikan.

Akan tetapi, dua orang laki-laki kekar dari perkumpulan elang baja itu serentak roboh

ketanah, jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian

mengikuti bergulingnya tubuh kedua orang itu kesana kemari.

Senjata rahasia yang demikian lihay dan beracunnya belum pernah didengar ataupun

disaksikan sebelumnya dalam dunia persilatan, kontan saja peristiwa itu mendatangkan

kegemparan serta kepanikan bagi seluruh orang yang berada disekitar arena.

Kedua orang laki laki bertubuh tegap itu masing-masing memperdengarkan jeritan

lengking yang mengerikan serta lolongan minta tolong, itulah pekikkan terakhir menjelang

hidupnya didunia Ini, sedemikian menggenaskannya membuat bulu kuduk orang pada

bangun berdiri semua.

Jeritan ngeri yang memilukan hati itu masih juga berkumandang tiada hentinya,

kesemua ini semakin menambah seramnya suasana.

Akan tetapi semua jago yang hadir dalam arena tak berhasil mengetahui apa sebabnya

kedua orang itu menjerit ngeri, mereka hanya menyaksikan tubuh kedua orang itu secara

lamat-lamat memancarkan cahaya hijau, mungkin itulah penyebab yang mengakibatkan

mereka menemui ajalnya.

Mendadak dari luar arena berkumandang suara tertawa panjang yang memekikkan

telinga, menyusul kemudian dua sinar emas yang menyilaukan mata meluncur keudara

dan langsung menyambar ketubuh laki-laki yang sedang berguling diatas tanah itu.

Diikuti dua kali jeritan kesakitan, kedua orang, laki-laki kekar itu telah berhenti

berguling, akan tetapi cahaya hijau ditubuh mereka masih juga menggulung-gulung tiada

hentinya.

Diantara berkelebatnya bayangan manusia, kini ditengah arena telah bertambah

dengan seorang kakek berjubah panjang yang berambut putih diiringi tiga orang manusia

yang berpakaian aneka macam.

Kakek itu berwajah bersih, berjenggot putih sepanjang dada, jubah hijau selutut,

bermuka merah bercahaya dan sedikitpun tidak tampak ketuaannya terutama sekali

matanya besar alisnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam menggidikkan hati.

Dalam genggaman tangan kanannya membawa sebuah tongkat toya bukan toya yang

pada gagangnya berukirkan elang baja yang sedang mementangkan sayap dengan ekor

yang sangat panjang, inilah senjata andalan dari Thi eng sin siu (kakek sakti elang baja).

Dari antara tiga orang yang ikut datang, terlihat orang pertama adalah seorang

sastrawan berusia setengah umur yang berjubah biru, orang kedua adalah seorang kakek

kurus kering seperti bambu yang memakai jubah berwarna putih keperak-perakan,

sedangkan orang ketiga adalah seorang gadis cantik jelita yang seluruh badannya seperti

memancarkan sinar keemas-emasan.

Sekalipun tidak ditanyakan semua orang juga tahu bahwa kakek itu adalah pentolan

dunia persilatan yang ternama dalam dunia dewasa ini, pangcu dari perkumpulan Thi eng

pang, Thi eng sin siu Ou Bu hong.

Sastrawan berbaju biru adalah salah seorang diantara empat thamcu dibawah panji

perkumpulan elang baja, yang merupakan thamcu dan panji elang biru, orang menyebut

sebagai Cian seng khi si (sastrawan aneh seribu bintang) Wan Kiam ciu.

Si kakek kurus kering adalah Thamcu panji elang perak Gan tiong ciang (telapak tangan

ditengah karang) Kwan Kim ceng.

Sedangkan gadis cantik jelita itu adalah jago lihay nomor dua dalam perkumpulan Thi

eng pang Kim eng ki thamcu atau Thamcu panji elang emas Ki Li soat.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong menyapu sekejap sekeliling arena dengan sorot

matanya yang tajam, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak tegurnya, “Diantara yang

hadir disini, siapakah yang merupakan anak murid Jit poh lui sim ciam panah inti geledek

yang mencabut nyawa dalam tujuh langkah) Lui seng thian?”

Dari balik kegelapan segera terdengar seseorang menjawab sambil tertawa

menyeramkan.

“Heehhh…heehhhh…heehhh…Ou Bu hong lohu sendiri yang telah datang!”

Kakek sakti elang baja segera berpaling kearah mana berasalnya suara tersebut, maka

tampaklah seorang kakek berwajah jelek pelan-pelan memasuki gelanggang, ditangannya

menggenggam sebuah tabung bulat yang terbuat dari tembaga.

Gak Lam-kun cuma menonton semua peristiwa itu dari samping, ia kenali kakek

bertampang jelek itu tak lain adalah Lui seng thian yang bersembunyi dibalik pohon itu.

Sekarang ia baru terkejut dan ngeri atas keganasan, kekejian serta kehebatan dari anak

panah inti geledek yang dapat mencabut nyawa dalam tujuh langkah itu, seandainya Lui

seng thian sampai turun tangan jahat kepadanya tadi, peristiwa itu sungguh merupakan

suatu kejadian yang amat menakutkan.

Kecuali Gak Lam-kun, kakek sakti elang baja serta Malaikat racun dari See ih yang

sedikit mengetahui tentang diri Lui Seng thian, hampir boleh dibilang tak seorang jagopun

mengetahui asal-usulnya, tapi semua orang dapat merasakan bahwa manusia tersebut

pasti merupakan seorang gembong iblis yang susah dihadapi, terutama setelah

menyaksikan senjata rahasianya yang cukup menggetarkan sukma itu.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong segera tertawa dingin, lalu katanya ketus.

“Bagus! Bagus sekali! Tak nyana setelah kau Lui Seng thian muncul kembali didalam

dunia persilatan, ternyata berani memusuhi diriku.

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian berhenti kurang lebih tiga kaki dihadapannya,

dengan dingin ia menjawab, “Ou pangcu adalah seorang enghiong yang termashur

diseluruh dunia persilatan, jago darimanakah yang berani mencari urusan dengan dirimu?

Sebelum persoalan ini berkembang lebih lanjut, perlu aku terangkan lebih dulu bahwa

kedua sosok nyawa anggota perkumpulanmu bukan sengaja mampus oleh Lak hap im

hwee (enam gabungan api dingin) yang kulepaskan, aku sama sekali tidak berniat untuk

membinasakan mereka, akan tetapi jika kau Ou Bu hong ingin mencari balas kepadaku

tentu saja setiap saat aku Lui Seng thian bersedia untuk melayaninya.

Perlu diterangkan bahwa semua jago yang hadir digelanggang ketika itu hampir

sebagian besar merupakan jago-jago kenamaan yang termashur dalam dunia persilatan,

setiap orang kalau bukan memiliki ilmu silat yang tinggi tentu memiliki kecerdasan yang

luar biasa.

Dengan kemunculan kakek sakti elang baja beserta ketiga orang thamcunya serta

merta ikut merubah pula kekuatan dalam gelanggang, secara otomatis antara perguruan

panah bercinta dengan perkumpulan elang baja pun tercipta dua kekuatan paling besar

yang seimbang.

Ou Bu hong merupakan seorang pemimpin yang cerdik dan mempunyai otak encer,

sudah barang tentu diapun cukup memahami situasi yang sedang dihadapinya waktu itu,

dia juga tahu bahwa Jit poh lui sim ciam Lui seng thian adalah seorang iblis yang sukar

dihadapi, kendatipun ia telah mengucapkan kata-kata tantangan bukan berarti

perkumpulan Thi eng pang harus menghadapi lebih dahulu.

Maka setelah mempertimbangkan sejenak untung ruginya. Ou Bu hong segera

mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haahhh…haahhh…haahhh…bagus, bagus, kalau begitu utang ini akan kucatat atas

namamu Lui Seng thian!”

Mendadak…Sreet! Sreet! Sreet!… serentetan hujan panah mendesing memenuhi

angkasa.

Secara tiba-tiba kedelapan belas orang manusia berbaju putih dari perguruan panah

bercinta telah melepaskan masing-masing dua batang anak panah, diantara kilatan cahaya

putih yang menyilaukan mata, tiga puluh enam batang panah secara berbareng meluncur

kearah tubuh Lui seng thian.

Kiranya para jago dari perguruan panah bercinta merasa marah sekali setelah

menyaksikan Bwe Li pek diserang oleh kakek berwajah jelek itu, maka serentak mereka

melancarkan serangan balasan.

Sungguh dahsyat dan cepat dua batang panah yang masing-masing dilepaskan oleh

kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu, tiga puluh enam batang panah itu

dengan cepatnya memenuhi daerah sekitar tiga kaki disekeliling tubuh Lui Seng thian,

sungguh mengerikan sekali keadaannya ketika itu.

Tapi Lui Seng thian sendiri juga bukan orang bodoh, ia telah menduga bahwa orangorang

dari perguruan panah bercinta bakal melancarkan sergapan kearahnya, maka baru

saja suara gendewa berbunyi, secepat kilat tubuhnya sudah melambung lima enam kaki

tingginya keudara dan langsung menerjang kearah orang-orang dari perguruan panah

bercinta berada…

Bwe Li pek mengetahui bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek jelek itu sangat lihay, dan

lagi ia membekal senjata rahasia yang maha dahsyat, apabila orang itu dibiarkan

mendekati orang-orangnya niscaya akan banyak jago perguruan panah bercinta yang

terluka bahkan tewas.

Oleh karena itu baru saja Lui Seng thian melompat keudara seperti bayangan hitam

Bwe Li pek menyusul pula dari belakang, jago tersebut melompat setinggi enam tujuh kaki

keudara dan menghadang jalan pergi Lui Seng thian diudara.

Sekalipun menyusul belakangan, ternyata Bwe Li pek berhasil tiba lebih dulu ditempat

tujuan, sebuah pukulan dahsyat secepat kilat dilancarkan kedepan.

Sebetulnya Lui seng thian bermaksud untuk melepaskan panah inti geledeknya dari

tengah udara dengan maksud ingin melukai beberapa orang anggota perguruan panah

bercinta, akan tetapi berhubung jalan perginya terhadang oleh Bwe Li pek dan lagi pula

sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan kearahnya, terpaksa ia harus menggetarkan

telapak kirinya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

“Blaang…suatu ledakan nyaring kembali menggelegar ditengah udara.

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian berjumpalitan beberapa kali ketengah udara sebelum

melayang turun keatas permukaan tanah, sebaliknya Bwe Li pek melayang turun dengan

tenangnya seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu peristiwa apapun.

Dengan terjadinya peristiwa ini maka dengan cepat menimbulkan pula pandangan baru

kawanan jago lainnya terhadap kekuatan perguruan panah bercinta, semula mereka

memandang rendah kekuatan yang dimiliki Bwe Li pek karena dianggapnya masih ingusan

dan tak tahu apa-apa, tapi sekarang terbukti bahwa kekuatannya ternyata tidak berada

dibawah kekuatan perkumpulan Thi eng pang yang maha besar itu.

Dalam pada itu perempuan berambut putih dan Han Hu hoa dari perguruan panah

bercinta secepat kilat telah melompat kekiri dan kanan Bwe Li pek, kedua orang itu

masing-masing menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia melancarkan serangan.

Jit poh lui sim ciam Lui seng thian tidak berani melakukan serangan untuk kedua

kalinya setelah serangan yang pertama kali tadi, ini disebabkan karena terlalu pandang

rendah kekuatan lawannya sehingga cuma mempergunakan tenaga sebesar empat bagian,

akibatnya isi perutnya kena digetarkan oleh kekuatan Bwe Li pek yang menyebabkan

terluka ringan.

Dengan sorot mata setajam sembilu kakek sakti elang baja Ou Bu hong mengamati

wajah Bwe Li pek sekian lama, kemudian tegurnya, “Nona, meskipun hanya sebuah

pukulan tapi cukup untuk membuka lebar-lebar sepasang mataku, boleh aku tahu nona

berasal dari perguruan mana dan murid siapa?”

Gak Lam-kun merasakan jantungnya berdebar keras, kendatipun para jago lainnya juga

sama-sama tertegun sebab mereka tidak mengira kalau ketua perguruan panah bercinta

ternyata adalah seorang nona.

Bwe Li pek sendiripun mengernyitkan alis matanya sambil berpikir, “Semenjak kecil aku

sudah terbiasa mengenakan pakaian lelaki, lagi pula sudah kupelajari sedikit kepandaian

menyamar, selama beberapa tahun ini berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah

ada orang yang mengetahui penyamaranku, hanya dalam sekilas pandangan saja?”

Berpikir sampai disitu tanpa terasa lagi ia menundukkan kepalanya sambil

memperhatikan beberapa kejap dandanan sendiri.

Ou Bu-hong segera tertawa terbahak-bahak, sambil menuding kearah Thamcu elang

emas Ki Li soat katanya, “Penyaruan nona memang terhitung sangat hebat andaikata Ki

thamcu tidak memberitahukan hal ini secara diam-diam kepadaku, sampai melamur pun

aku tidak akan mengetahui rahasia ini, apalagi semua gerak gerik nona tak ubahnya

seperti pria-pria sejati lainnya.

Setelah rahasianya dibongkar, tentu saja Bwe Li pek merasa tak enak hati untuk

menyangkal lebih jauh, setelah tertawa dingin katanya dengan gusar.

“Hmm..! Sekalipun aku suka mengenakan pakaian pria, apa sangkut pautnya dengan

kalian semua?”

Bagaimanapun jua kebiasaan seorang gadis tidak terlepas dari tubuhnya, dimana

rahasianya berhasil dibongkar dihadapan umum, serta merta berkobar juga hawa amarah

dalam hatinya.

Ou Bu-hong tersenyum.

Seorang perempuan mengenakan pakaian pria bagi dunia persilatan merupakan suatu

kejadian yang lumrah, haaah… haaah… haaah… putri angkatku Ki thamcu juga sering

mengenakan pakaian pria untuk berkelana dalam dunia persilatan.

Bwe Li pek cuma tertawa dingin sambil mengalihkan sinar matanya memandang awan

diangkasa terhadap pertanyaan dari Ou Bu hong itu, dia tak mendengarkan maupun

menjawab.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong kembali memandang sekejap sekeliling gelanggang,

tiba-tiba tanyanya kepada Ou Yong hu, “Ou thamcu, kemana perginya komandan pasukan

elang baja?”

Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu mengalihkan sinar matanya kewajah Gak Lamkun,

kemudian sambil menjura katanya, “Gak sauhiap, tolong tanya kemana perginya Si

Tiong pek dari perkumpulan kami saat ini?”

Pelan-pelan Gak Lam-kun maju kedepan lalu menghela nafas sedih.

“Semalam Si heng bersama siaute datang menyelidiki perkampungan ini, sayang ia

kena dilukai oleh irama Sang goan ki yang mengakibatkan jalan api menuju neraka, pagi

tadi ia telah berpisah denganku, tidak kuketahui kemana ia telah pergi?”

Agak tergetar perasaan kakek sakti elang baja dan sekalian anggota perkumpulan Thi

eng pang setelah mendengar perkataan itu, terutama sekali Kim eng thamcu Ki Li soat,

wajahnya berubah dan airmata mengambang dalam kelopak matanya, semua orang tahu

bahwa jalan api menuju neraka merupakan pantangan terbesar bagi seseorang yang

belajar ilmu silat sebab kendatipun luka dalam tersebut berhasil disembuhkan, sekalipun

tidak sampai mati paling sedikit akan mengakibatkan cacad.

Tiba-tiba Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu membentak dengan suara lantang,

“Gak Lam-kun, bukankah kau telah mencelakainya secara diam-diam? Kenapa sekarang

kau katakan…”

Jit poh toan hun Kwik To segera tertawa dingin dan menukas pembicaraannya yang

belum selesai, katanya, “Ou Yong hu, kau jangan memfitnah orang yang bukan-bukan,

dengan mata kepalaku sendiri aku orang she Kwik menyaksikan betapa Si Tiong pek

memasuki perkampungan ini untuk melakukan penyelidikan, kemudian bagaimana ia

terluka oleh Sang goan ki dan diserang gerombolan ular beracun dimana tubuhnya

terpagut seekor ular beracun. Bukan aku saja. Say Khi pit dari Siau ngo tay serta Kongsun

Po dari Hoa san pun mengalami nasib yang sama.”

Setelah mendengar perkataan itu, kakek sakti elang baja merasakan kepalanya seperti

disambar petir disiang hari bolong, untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu.

Sebagaimana diketahui, Si Tiong pek adalah murid kesayangannya yang paling dimanja

dan merupakan satu-satunya, bahkan dia pula yang merupakan tumpuan harapannya

selama ini, bagaimana mungkin hatinya menjadi tidak pedih setelah mengetahui keadaan

Si Tiong pek yang mendekati setengah mati itu?

Gak Lam-kun menghela napas panjang, katanya, “Aku merasa amat bersedih hati atas

nasib buruk yang telah menimpa diri Si Tiong pek, tapi Thian selalu melindungi umatnya,

semoga saja ia berhasil menemukan keberuntungan”

Pada saat itulah secara tiba-tiba Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu membisikkan

sesuatu ketepi telinga Ou Bu hong.

Menyusul kemudian Kakek sakti elang baja Ou Bu hong dengan sorot mata yang tajam

dan buas menatap wajah Gak Lam-kun lekat-lekat.

Terkesiap hati Gak Lam-kun, dia tahu apa yang telah dibisikkan kakek ular dari lautan

timur Ou Yong hu kepada Kakek sakti elang baja.

Tiba-tiba Ou Bu hong menengadah dan tertawa panjang, suaranya keras memekikkan

telinga telapak tangan kirinya segera didorong kemuka melancarkan sebuah pukulan

dahsyat kearah Gak Lam-kun.

Sepintas lalu pukulan itu seolah-olah tidak mempergunakan tenaga besar, malah seperti

sebuah pukulan mainan, padahal justru mengandung himpunan tenaga murni yang maha

dahsyat.

Gak Lam-kun pun tahu bahwa gembong iblis tersebut mempunyai ilmu silat yang

sangat dahsyat dari perubahan wajahnya dapat diketahui bahwa orang itu bermaksud

membinasakannya dalam sekali pukulan, untung ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh,

kalau tidak, sulit rasanya untuk mempertahankan diri dari ancaman tersebut.

Dalam keadaan gawat dan jiwanya terancam oleh mara bahaya tersebut, Gak Lam-kun

tidak terlalu memikirkan soal rahasia dirinya lagi, hawa sakti Tok liong ci jiau segera

dihimpun dalam telapak tangan kanannya diantara rentangan kelima jari tangannya,

segulung desiran angin tajam segera memancar kedepan.

“Aaaah..! Tenaga sakti Tok liong ci jiau?” Pekik Say Khi pit yang berada disisi arena

dengan terperanjat.

Ketika tenaga pukulan yang dilancarkan kakek sakti elang baja Ou Bu hong saling

bertemu dengan tenaga sentilan Gak Lam-kun yang maha dahsyat itu diudara, tiba-tiba

saja dia merasakan hatinya bergetar keras, sepasang matanya melotot besar dan maju

selangkah kedepan, mendadak telapak tangan kirinya didorong kembali setengah depa

lebih kemuka.

Gak Lam-kun segera merasakan timbulnya suatu gulungan tenaga yang maha kuat

bagaikan gulungan ombak disamudra memantul balik ketubuhnya, ia merasa sangat

terperanjat, telapak tangan kirinya ikut dikebaskan pula kedepan…

Tiba-tiba saja Ou Bu hong merasakan timbulnya segulung tenaga tekanan yang maha

dahsyat menghantam tubuhnya mengikuti kebasan telapak tangan kiri dari Gak Lam-kun.

Rasa kaget dihati kakek sakti elang baja Ou Bu hong sukar dilukiskan lagi dengan katakata,

cepat toya elang baja ditangan kanannya dibuang kesamping lalu cepat-cepat

telapak tangan kanannya dikebaskan kedepan…

“Blaaang..? suatu benturan nyaring mengakibatkan terjadinya ledakan yang

memekikkan telinga, tenaga pukulan dari Ou Bu hong segera mendesak mundur tenaga

pukulan Gak Lam-kun itu.

Berhasil dengan serangannya itu, kakek sakti elang baja membentak keras bagaikan

guntur, pukulan dahsyatnya yang kedua kembali dilontarkan kedepan.

Terdengar Gak Lam-kun mendengus tertahan, badannya mundur setengah langkah,

tapi tenaga pukulannya toh berhasil juga untuk membendung dorongan angin pukulan Ou

Bu hong yang kuat.

Dengan demikian maka antara kedua orang segera terlibat dalam suatu pertarungan

adu tenaga dalam yang amat sengit keempat orang thamcu dari Thi eng pang dengan

cepat menyebarkan diri kebelakang Ou Bu hong sambil bersiap sedia, mereka takut ada

orang yang tiba-tiba melancarkan serangan dari belakang.

Tiba-tiba si Rase berekor sembilan Kongsun Po melompat kebelakang punggung Gak

Lam-kun dengan suatu gerakan cepat, tapi sebelum kakinya sempat menempel diatas

permukaan tanah, tiba-tiba terdengar seseorang membentak sambil tertawa dingin.

“Kembali kau!”

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menerjang kemuka

menyongsong kedatangan tubuhnya.

Oleh karena masih berada diudara, sulit bagi Kiu wi hou Kongsun po untuk

menghindarkan diri dari ancaman tersebut, terpaksa ia harus mendorong sepasang telapak

tangannya kedepan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan

keras.

“Blaaang…” ternyata tenaga pukulan itu amat dahsyat, oleh bentrokan tersebut

badannya terpental sampai sejauh lima enam langkah lebih, hatinya semakin tercekat.

Setelah berhasil menenangkan hatinya, Kongsun Po baru mendengus dingin, katanya,

“Kwik To, sebenarnya apa maksudmu dengan perbuatan tersebut?”

Jit poh toan hun Kwik To tertawa dingin.

“Bagaimanapun juga saudara Kongsun adalah seorang jago kenamaan dalam dunia

persilatan, bila perbuatanmu melakukan sergapan ini sampai tersiar luas dalam dunia

kangouw, hal ini akan sangat mempengaruhi nama baik serta martabat saudara Kongsun

dimata orang banyak…”

Si Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa seram.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… masih ingatkah kau dengan peristiwa dipuncak Yan

po gan? Digunung Hoa san? Tujuh belas orang jago mengerubuti seorang jago, hmm,

apakah perbuatan itu merusak nama baik kita semua?”

“Saudara Kongsun” kata jit poh toan hun Kwik To dengan ketus, “bila kau singgung

kembali peristiwa dipuncak Yan po gan, jangan salahkan kalau aku Kwik To tidak akan

mengenal teman dan bersikap keji kepadamu…”

Betapa gemas dan mendendamnya si rase berekor sembilan Kongsun po, kalau bisa

ingin sekali ia lumatkan manusia yang bernama Kwik To itu. Tapi iapun menyadari bahwa

situasi yang terbentang dihadapannya sekarang sangat tidak menguntungkan posisinya,

dengan jumlah jago yang begitu banyak dari perguruan panah bercinta jelas ia akan

konyol sendiri kalau berani mencari urusan.

Sebab itu terpaksa ia harus mengendalikan perasaan dendam dan benci dalam hatinya,

setelah tertawa kering katanya,

“Bagus! Bagus! Suatu hari aku Kongsun Po ingin menyaksikan bagaimanakah nasib

akhir dari manusia yang bernama Kwik To!”

Dipihak lain, Gak Lam-kun yang masih kalah setingkat tenaga dalamnya dibandingkan

dengan Ou Bu hong, telah terdesak mundur berulangkali kebelakang, ia tahu bila keadaan

tersebut dibiarkan berlangsung terus, maka akhirnya Gak Lam-kun pasti akan mati

kehabisan tenaga.

Jit poh lui sin ciam Lui seng thian segera berseru dengan suara menyeramkan, “0u Bu

hong, bila orang itu kau bunuh, jangan harap lencana pembunuh naga bisa kau

dapatkan!”

Mendengar perkataan itu, kakek sakti elang baja Ou Bu hong segera tertawa terbahakbahak.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… keadaanku sekarang ibaratnya sedang menunggang

dipunggung harimau, mau turun juga susah sekali bagaimana baiknya menurut

pendapatmu?”

Lui seng thian merasa ucapan itu ada benarnya juga, sebab dalam suatu pertarungan

beradu tenaga dalam, kecuali salah satu pihak terluka atau tewas sulit memang untuk

menghentikannya ditengah jalan.

Gak Lam-kun segera mendengus dingin.

“Diantara kita berdua tak pernah terikat dendam sakit hati atau perselisihan apa pun

pertarungan adu jiwa semacam ini sangat tidak menguntungkan kedua belah pihak,

sebaliknya justru menguntungkan orang lain, seandainya kau bersedia mendengarkan

perkataanku, aku mempunyai suatu cara untuk mengatasi kesulitan ini.”

Ou Bu hong sendiri juga tahu bagaimana peliknya suasana waktu itu, apabila pemuda

itu berhasil dibinasakan olehnya, kemungkinan besar Soat san thian li akan membatalkan

perjanjiannya dan tidak jadi menyerahkan lencana pembunuh naga tersebut, dan otomatis

diapun akan tidak berhasil merampasnya dari tangan Gak Lam-kun lagipula tenaga dalam

yang dimiliki pemuda itu tidak terpaut banyak darinya, sekalipun ia berhasil membinasakan

dirinya paling tidak dia sendiripun akan banyak sekali mengorbankan kekuatan sendiri.

Berbicara sesungguhnya, tenaga dalam yang dimiliki Ou Bu hong lebih tinggi tiga empat

puluh tahun hasil latihan bila dibandingkan dengan Gak Lam-kun, tapi berhubung Gak

Lam-kun melawan tenaga dalamnya dengan ilmu sakti dari aliran yang bersifat lembek,

maka kekuatan dari Ou Bu hong berhasil dibendung olehnya.

Hal mana hanya dipahami oleh dua orang saja dari sekian banyak jago yang hadir

dalam gelanggang dewasa itu, seandainya rahasia tersebut sampai terbongkar maka

akibatnya Gak Lam-kun segera akan binasa diujung telapak tangan Ou Bu hong.

Kedua orang itu bukan lain adalah Thamcu dari Panji emas Ki Li soat serta Bwe Li pek

dari perguruan panah bercinta.

Sementara itu si kakek sakti elang baja telah berpikir sejenak, kemudian sambil tertawa

katanya, “Bagaimanakah caramu itu? Coba kau katakan!”

“Cukup asal kau tarik kembali lima bagian tenaga dalammu!” kata Gak Lam-kun.

Ou Bu hong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah… haaah… haaah… apakah kau mempunyai niat jahat terhadapku?”

Thamcu panji elang emas Ki Li soat yang berada disamping segera berseru dengan

suara merdu, “Gihu (ayah angkat), ikuti saja perkataannya andaikata ia bermaksud jahat,

putrimu percaya masih sanggup untuk mendesak balik kekuatannya…!”

Perlu diketahui, selama hidupnya Ou Bu hong tidak pernah kawin, setelah menerima

gadis tersebut sabagai anak angkatnya, dihari biasa dia selalu memanjakan dan

menyayanginya terutama atas kecerdasan serta bakat ilmu silat yang dimilikinya, boleh

dibilang Ou Bu hong selalu mengagumi dan menyanjungnya.

Karenanya setelah mendengar perkataan itu ia lantas tertawa sambil mengangguk.

“Baiklah, akan kuturuti perkataanmu itu!” katanya.

Gak Lam-kun yang mendengarkan perkataan itu merasa terperanjat, segera pikirnya

pula.

“Jangan-jangan ia pun mengetahui caraku mengerahkan tenaga..?”

Sementara ia masih termenung, Ou Bu hong telah berkata kepada si anak muda itu,

“Pada hitungan yang ketiga, bersiap-siaplah… satu… dua… tiga..”

Begitu angka ketiga diucapkan, Gak Lam-kun segera merasakan berkurangnya tenaga

tekanan ia tak berani berayal lagi telapak tangan kirinya segera dibalik sambil dikebaskan

keatas…

“Weess…” gulungan tenaga pukulan Ou Bu hong yang kuat bagaikan gulungan

gelombang itu segera terpancing keudara, entah kepandaian apa yang telah dipergunakan

tahu-tahu tenaga tadi telah terpelanting kearah lain hingga lenyap.

Sepasang bahu Gak Lam-kun bergetar keras… dan secara beruntun ia mundur tujuh

delapan langkah kebelakang.

Sekonyong-konyong… pada saat itulah dari tempat kejauhan tiba-tiba terdengar suara

dentingan nyaring… ting tang ting… bunyi irama khim yang tajam.

Suara tabuhan khim itu berasal dari tempat yang amat jauh sekali…

“Blaang..!” suatu ledakan keras terjadi, tiba-tiba gumpalan asap berwarna merah

meluncur keudara dari langit sebelah barat dan meledak disana.

Ou Bu hong segera berpaling kearah Gak Lam-kun sambil memberi hormat, katanya,

“Ilmu silat yang dimiliki murid Yo Long memang cukup tangguh, bila dikemudian hari ada

kesempatan aku pasti akan mohon petunjuk lagi”

Sehabis berkata ia melompat pergi dari situ, dalam waktu singkat tubuhnya sudah

berada empat kaki jauhnya dan tempat semula diikuti para jago Thi eng pang lainnya.

Jit poh lui sim ciam Lui seng thian ikut tertawa dingin dengan seramnya tiba-tiba ia

melompat keudara dan menyerbu kedalam bangunan yang berlapis-lapis itu.

Kiranya See ih tok seng Lo Kay seng beserta Giok bin sin ang dan Kiu wi hou yang

semula berada diarena, entah semenjak kapan telah ngeloyor pergi dari situ.

Bwe Li pek mengernyitkan alis matanya, dengan suara yang merdu ia berkata,

“Perubahan terjadinya peristiwa ini sangat tiba-tiba, Kwik To! Apakah beritamu bisa

dipercaya?”

“Lapor nona Bwe, berita itu sedikitpun tidak salah!” jawab Jit Poh toan hun dengan

nada bersungguh-sungguh.

Mendengar itu, dengan wajah serius Bwe Li pek segera berkata, “Kwik To. Siau naynay,

kalian sekalian membawa segenap anggota perguruan menyusul kesana untuk

mengadakan pengecekan bila benar-benar sudah pergi usahakan mengadakan kontak,

jangan sampai terkena siasat memancing harimau turun gunung, sedang aku dan Han Hio

nio akan tetap tinggal dipulau ini.”

Selesai berkata, Kwik To, nenek berambut putih, Siangkoan It beserta delapan belas

orang manusia berbaju putih itu berlalu dari situ dengan kecepatan tinggi.

Sepeninggal anakbuahnya Bwe Li pek segera menjura kepada Gak Lam-kun sambil

berkata, “Gak siangkong, sampai jumpa lagi esok pagi!”

Dua orang perempuan itupun berlalu dari situ menyusul kearah mana Jit poh lui sim

ciam melenyapkan diri.

Gak Lam-kun benar-benar tak dapat menebak kejadian misterius apakah yang telah

terjadi disana ketika ditinggal seorang diri ditempat tersebut tiba-tiba ia merasakan suatu

kesepian dan keheningan yang amat mencekam.

Akhirnya setelah mengatur hawa murninya, Gak Lam-kun melompat masuk kedalam

halaman dimana gadis berbaju perak berdiam semalam, pemandangan disana tetap

seperti sedia kala, tapi suasananya amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit

suarapun.

Dengan enteng dia melompat naik keatas atap rumah, diperhatikannya sebentar

suasana sekitarnya, ketika terbukti bahwa disitu benar-benar tiada seorang manusiapun,

anak muda itu mulai berpikir, “Jangan-jangan Soat san thian li telah berlalu? Tapi kalau

didengar dari arah permainan khim tersebut, jelas suara itu berasal dari belakang halaman

sana.”

Terpikir sampai disitu, dengan sorot matanya yang tajam Gak Lam-kun segera

berpaling kebangunan dibelakang halaman sana.

Dibawah sinar rembulan dan bintang tampaklah delapan buah bangunan loteng yang

sangat megah bertengger disudut timur barat utara maupun selatan.

Gak Lam-kun berhenti untuk merenungkan sejenak arah berasalnya irama khim Mi tin

loan hun ki (irama pembingung tenaga pengalut sukma) yang dimainkan Soat san thian li

tadi, kemudian secepat sambaran kilat tubuhnya melayang kearah delapan buah

bangunan loteng itu.

Ternyata Soat san thian li telah berjanji pada saat penyerahan lencana pembunuh naga

nanti, ia akan mainkan irama Mi tin loan hun ki tersebut sebagai pertanda.

opoooOooooo

Sejak irama khim tadi berkumandang, Gak Lam-kun telah mengetahui bahwa

permainan khim tersebut dipancarkan dengan ilmu Mi tin loan hun ki, lagi pula bersumber

dari dalam loteng yang menjulang kelangit atau daerah sekitarnya.

Pada saat Gak Lam-kun bergerak menuju kearah delapan buah bangunan loteng itu,

dari atas atap bangunan tersebut berdirilah seperti sesosok bayangan sukma, kakek

berwajah jelek dan berambut putih sepundak, dia tak lain adalah Jit poh lui sim ciam Lui

Seng thian.

Setelah tertawa dingin berulangkali dengan suara menyeramkan, secepat kilat ia

menguntit kearah mana Gak Lam-kun pergi.

Dalam waktu singkat Gak Lam-kun telah tiba didepan kedelapan buah bangunan loteng

itu, diantara hembusan angin semilir dan dibawah cahaya bintang yang gemerlapan serta

rembulan yang separuh bulat, tampak kedelapan buah bangunan loteng itu begitu megah,

kokoh dan menyeramkan.

Atap rumah yang berjajar serta saling bersambungan berdempetan langsung dengan

delapan buah bangunan loteng tersebut, bangunan itu benar-benar luar biasa, cukup

dilihat dari kesemuanya itu dapat diketahui bahwa luas bangunan mencapai berhektarhektar

luasnya.

Gak Lam-kun menengok sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan kening

berkerut ia melayang turun kebawah dan masuk kebalik bangunan tersebut.

Halaman bangunan yang kokoh dan megah kecuali dipenuhi dengan bangunan rumah

dan berjejer serta loteng yang menjulang keangkasa, disekeliling tembok pekarangan yang

lebar telah dipenuhi dengan pohon-pohon bunga yang rapat.

Yang lebih istimewa lagi ternyata setiap gerombolan bebungahan tersebut secara

kebetulan menutup setiap pintu masuk menuju kebangunan loteng tadi dan diantara

setiap gerombolan bunga yang lebat berdiri sebatang pohon siong yang tinggi dan besar

membuat halaman itu tampak lebih megah dan menawan.

Diam-diam Gak Lam-kun menghela napas panjang, pikirnya, “Sungguh tak kusangka

diatas pulau yang terpencil ini ternyata terdapat sebuah bangunan semegah itu…”

Berpikir demikian, pelan-pelan Gak Lam-kun masuk melalui sudut barat daya, setelah

melewati gerombolan semak dan bunga serta membeloki juga beberapa tikungan akhirnya

ia sudah melampaui semak belukar itu sejauh belasan kaki lebih.

Akan tetapi, menanti Gak Lam-kun memperhatikan kembali keadaan disekelilingnya,

kontan saja ia berdiri tertegun dengan wajah penuh rasa kaget…

Ternyata dihadapannya tidak terlihat lagi kedelapan buah bangunan loteng itu, dimana

ia berdiri sekarang tidak lain adalah pintu masuk dimana ia berjalan masuk tadi, kedelapan

buah bangunan loteng itu justru berada dibelakangnya.

Gak Lam-kun pada dasarnya adalah seorang pemuda yang cerdik dan cekatan dengan

cepat ia tahu bahwa gerombolan semak dan bunga itu ditanam menurut kedudukan suatu

ilmu barisan yang amat sakti.

Sekalipun demikian Gak Lam-kun yang tinggi hati tidak percaya kalau barisan selihay itu

sanggup membelenggu dirinya. Ia merasa cukup mempunyai bekal dalam ilmu barisan

terutama dibawah petunjuk gurunya Tok liong cuncu Yo Long.

Setelah termenung sambil memperhatikan sekejap posisi ilmu barisan itu akhirnya Gak

Lam-kun memutuskan untuk menerobos masuk lewat bagian tengah gerombolan semak

itu.

Setelah berputar melalui beberapa tikungan akhirnya ia muncul dari mulut semak tadi

tapi kembali ia menjadi tertegun setelah memperhatikan keadaan disekitar sana.

Apa yang terjadi? Ternyata ia telah balik kembali kemulut masuk semula, bahkan

sepasang kakinya balik kembali keatas bekas telapak kaki semula.

Gak Lam-kun segera putar badan sambil memperhatikan kembali barisan bunga itu

dengan seksama, sepasang keningnya tiba-tiba berkerut kencang, karena terbukti sudah

kalau barisan tersebut benar-benar amat rumit dan kalut.

Kalau dibilang seperti barisan pat kwa, ternyata tidak mirip pat kwa, kalau dibilang

seperti barisan Ngo heng nyatanya bukan ngo heng, untuk sesaat dia tak tahu barisan

apakah itu?

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Gak Lam-kun.

“Kenapa aku tidak melompat keatas atap rumah untuk coba memecahkan barisan ini?”

Berpikir sampai disitu si anak muda itu segera melompat keatas rumah dan melewati

dua buah bangunan rumah sekaligus.

Beberapa bangunan sudah dilewatkan kembali menurut perhitungan Gak Lam-kun ia

sudah melewati belasan buah bangunan selama ini, tapi jaraknya dengan bangunan loteng

disebelah selatan yang selisihnya cuma tujuh delapan buah rumah itu masih tetap terpaut

lima enam buah bangunan rumah.

Kali ini Gak Lam-kun benar-benar merasa terperanjat, mimpipun ia tidak menyangka

kalau bangunan rumahpun dibangun sesuai dengan kedudukan suatu ilmu barisan.

Kini ia sudah terjebak ditengah-tengah barisan rumah, mau masuk tidak bisa mau

keluar juga tidak dapat, ia sungguh-sungguh menjadi bingung dan tidak habis mengerti.

Pada saat itulah dari balik kegelapan kurang lebih beberapa kaki disebelah kiri

terdengar seseorang sedang tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan.

“Gak Lam-kun, lebih baik duduklah untuk beristirahat malam ini, anggap saja kita

buang tenaga dengan percuma!”

Gak Lam-kun kenali suara itu sebagai suara dari Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian,

pelan-pelan ia lantas berjalan menghampirinya.

Tampak seorang kakek berwajah jelek sedang duduk diatas atap rumah sambil

mengatur napasnya yang terengah-engah, dia bukan lain adalah Jit poh lui sim cim Lui

Seng thian.

Gak Lam-kun menjadi tertegun ia tidak menyangka kalau Lui Seng thian pun mengerti

irama Mi tin loan hun ki sehingga ia ikut terpancing pula sampai disitu.

Agaknya si panah inti geledek yang membunuh orang dalam tujuh langkah Lui Seng

thian dapat menebak isi hati Gak Lam-kun, ia lantas menengadah dan memperdengarkan

gelak tertawa yang seram dan memekikkan telinga.

Sesungguhnya Gak Lam-kun memang tidak menaruh kesan baik terhadap keganasan

serta kekejian senjata rahasia milik Lui Seng thian, ia lebih-lebih tak senang sehabis

mendengar gelak tertawanya yang mengerikan itu sepasang alis matanya kontan

berkernyit.

Baru saja ia hendak menegur kenapa dia tertawa, Jit poh lui sim ciam telah berkata

dengan suara menyeramkan, “Gak Lam-kun, apakah kau menaruh curiga bahwa akupun

memahami irama Mi tin loan hun ki (irama pengalut tenaga pembingung sukma) dari Soat

san thian li? Haaahh… haaahh… haahh ketahuilah, aku bisa sampai disini karena diamdiam

menguntil dibelakangmu, waktu itu lantaran aku lihat kau masuk kedalam barisan

bunga tapi muncul kembali ditempat semula, maka kudahului dirimu naik keatas atap

rumah, siapa tahu… haaahh… haaahh… haaahh… aku toh tetap terkurung disini”

Diam-diam terkejut juga Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya,

“Orang persilatan memang, kebanyakan licik, banyak tipu muslihatnya dan berbahaya

sekali, coba kalau Lui seng thian bermaksud untuk mencelakai diriku, sudah pasti aku

sudah terkena sergapan mautnya”

Jilid 9

Jit Poh Lui sim ciam telah tertawa dingin sambil menegur lagi, “Gak lote, tidakkah kau

merasakan bahwa bangunan ini aneh sekali….?!”

“Kau toh sudah mencobanya sendiri, buat apa kau tanyakan kembali kepadaku….?”

jawab Gak Lam kun ketus.

“Bangunan ini sangat aneh, tapi yang aneh justru terletak pada halaman bangunan ini

sendiri aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti ada hal-hal yang tidak beres.

Gak Lam kun tidak memahami apa maksud perkataannya itu, ia lantas bertanya, “Maaf,

aku terlalu bodoh dan tak dapat memahami perkataanmu itu….!”

Kembali Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian tertawa seram.

“Haaah….haaah….haaah….Gak lote masa kau lupa. Aku toh pernah berkata bahwa

dibalik bangunan ditengah pulau terpencil ini sesungguhnya tersimpan suatu rahasia

besar?”

Gak Lam kun balik tertawa dingin.

“Lui locianpwe apakah kau maksudkan rahasia besar itu terdapat didalam bangunan

besar ini?”

Mendengar perkataan itu, sekarang ganti Jit poh lui sim ciam Lui seng thian yang

merasa terperanjat, pikirnya dengan cepat, “Jangan-jangan ia sudah tahu kalau rahasia

besar yang tersimpan dibalik lencana pembunuh naga sesungguhnya terdapat dalam

bangunan gedung ini….?”

Tiba-tiba Lui seng thian melompat bangun, dengan wajah yang menyeramkan dia

acungkan tabung tembaga itu kehadapan Gak Lam kun, kemudian setelah tertawa dingin

katanya, “Gak Lam kun, aku sudah mengetahui jelas tentang asal usulmu, sekarang aku

ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu, jika kau berani membohongi aku atau sengaja

merahasiakan dihadapanku, jangan salahkan kalau kusuruh kau rasakan betapa dahsyat

dan beracunnya Jit poh lui sim ciam ku ini….!”

Terkesiap juga Gak Lam kun menghadapi ancaman senjata rahasia beracun yang telah

diarahkan kedadanya itu, tapi wajah tetap dingin dan dihiasi senyuman menghina.

“Lui locianpwe!” katanya, “apakah kau memang khusus mencari kemenangan dengan

andalkan senjata rahasiamu itu?”

Lui Seng thian tertawa seram.

“Haaahhh….haaahhh….haaahhh…. mana…. mana, setiap jago yang hidup dalam dunia

persilatan sudah lumrah kalau khusus melatih sejenis senjata atau kepandaian sebagai

kekuatan andalannya, heeehhh…. heeehhh…. heeehhh…. seperti juga senjata panah inti

geledek ini, sesungguhnya sengaja kuciptakan untuk menghadapi Yo Long serta Soat san

thian li si perempuan rendah itu, tapi situasi dalam dunia persilatan dewasa ini telah

berubah, siapakah yang tidak ingin merebut kedudukan tinggi dan nama besar dalam

dunia persilatan dengan mengandalkan kemampuan serta kepandaian silatnya….”

“Oh, kalau begitu Lui locianpwe hendak mempergunakan senjata rahasia yang sangat

beracun itu untuk menghadapi diriku”

Lui Seng thian tertawa.

“Tidak berani, tidak berani, aku cuma berharap agar Gak lote bersedia menjawab

beberapa buah pertanyaanku!”

“Sebelum kudengarkan pertanyaan yang hendak kau ajukan itu, terlebih dulu aku ingin

memberitahukan sesuatu hal pula kepadamu, aku Gak lam kun tidak akan menjawab

pertanyaan yang kau ajukan.”

Perlu diketahui, Gak Lam kun adalah seorang yang keras kepala, bertekad besar dan

tinggi hati sudah barang tentu ia tidak tahan untuk menerima gertakan dari Lui Seng thian

yang memaksanya untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dibawah ancaman

senjata rahasia beracun andalannya.

Betul juga, selapis hawa amarah yang diliputi nafsu membunuh menyelimuti seluruh

wajah Lui Seng thian yang jelek, jelas ia murka sekali setelah mendengar perkataan itu.

Mendadak Gak Lam kun melompat keudara dengan kecepatan luar biasa.

“Berhenti!” bentak Lui Seng thian, “kau benar-benar kepingin mati?…. lihat serangan!”

Ditengah bentakan nyaring, tujuh buah senjata rahasia segera dilontarkan kedepan.

Bagaimanapun juga Lui Seng thian tidak sampai mempergunakan senjata rahasia

mautnya yakni Jit poh lui sim ciam, tapi mengayunkan tangan kirinya melepaskan tujuh

buah panah pendek dari ujung bajunya.

Perlu diterangkan disini, bahwa panah inti geledek adalah suatu senjata rahasia yang

maha dahsyat, apabila senjata rahasia itu telah dilepaskan maka korbannya pasti akan

tewas tak tertolong.

Sekalipun dimulut Lui Seng thian mengancam akan membunuhnya, padahal dihati

kecilnya ia masih belum berharap untuk membinasakan anak muda itu.

Terkesiap juga Gak Lam kun ketika merasakan tibanya ancaman dari ketujuh batang

senjata rahasia tersebut ia pernah menyaksikan kedahsyatan dari senjatanya, maka bisa

dibayangkan betapa mengerikannya kedatangan tujuh batang senjata secara berbarengan

itu….

Sedikit banyak pemuda itu menguatirkan juga keselamatan jiwanya, ia tak tahu apakah

ia sanggup meloloskan diri dari ancaman tersebut atau tidak….

Dalam kaget dan ngerinya, Gak Lam kun tidak berayal lagi, tubuh yang sedang

melambung diudara itu segera meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi kemudian

sepasang kakinya kembali menjejak permukaan rumah dan untuk kesekian kalinya ia

melambung lagi keatas.

Dalam lompatannya kali ini, Gak Lam kun telah mengerahkan segenap tenaga dalam

yang dimilikinya.

Harus diketahui, seorang yang lemah tidak bertenaga apabila sedang menghadapi

bahayapun bisa memiliki kekuatan sebesar beberapa ratus kati, apalagi Gak Lam kun yang

terancam bahaya kematian?

Ternyata daya lompatnya itu merupakan suatu lompatan yang tak mungkin bisa

diulangi kembali kendatipun ilmu meringankan tubuhnya telah dilatih sepuluh tahun lagi,

dalam sekejap mata ia sudah melewati permukaan rumah sejauh belasan kaki….

“Blaaang….!” tiba-tiba kaki Gak Lam kun menginjak tempat kosong, sebelum hawa

murninya sempat dirubah tubuhnya sudah terperosok jatuh kebawah.

Gak Lam kun membersihkan debu yang menempel ditubuhnya lalu memperhatikan

sekejap sekeliling tempat itu, ternyata ia telah berbasil melepaskan diri dari kurungan ilmu

barisan yang aneh itu sekarang tubuhnya berada ditengah sebuah halaman kecil.

Gak Lam kun memeriksa kembali keadaan disekitarnya ditemuinya pada tiga bagian

halaman rumah itu semuanya terdapat sebuah jalan tembus, cuma setiap jalan tembus itu

luasnya cuma satu kaki, kedua belah sisinya merupakan dinding bangunan yang tidak

berjendela atau pintu lain, hanya pada bagian tengah bangunan besar terdapat dua buah

pintu besar berwarna merah cuma pintu itu tertutup rapat.

Dibawah sinar rembulan, terasa suasana disekeliling tempat itu sunyi sepi dan terasa

agak menyeramkan.

Gak Lam kun kembali memperhatikan sekejap sekeliling sana, akhirnya pelan-pelan ia

berjalan menuju kearah jalan disebelah barat sana….

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba Gak Lam kun menghentikan

langkahnya dan memandang kearah depan dengan wajah tertegun.

Ternyata ia telah tiba lagi disebuah halaman kecil dengan tiga buah jalan tembus

dihadapannya, bentuk halaman tersebut persis seperti halaman yang pertama tadi, ketika

hal ini dicocokkan dengan letak bintang diangkasa pemuda itu semakin terkejut lagi.

Tadi ia merasa berjalan menuju kebarat, tapi sekarang ia berada diarah tenggara,

sepasang alis mata Gak Lam kun makin berkernyit, karena sepasang jalan yang dilaluinya

barusan jelas tanpa tikungan atau belokan sama sekali bahkan jalan itu sangat lurus dan

datar kenapa tanpa disadari ia sudah berada diarah tenggara?

Gak Lam kun kembali memutuskan untuk mengambil jalan tembus yang menuju

ketimur, kurang lebih setelah berjalan, sejauh enam tujuh puluh kaki didepan sana muncul

lagi sebuah halaman dengan tiga buah jalan tembus, hanya saja kali ini anak muda

tersebut telah berada disudut barat laut….

Gak Lam kun benar-benar keheranan, coba kalau bukan dialami sendiri, ia tak akan

percaya kalau didunia ini terdapat sebuah bangunan rumah dengan segala sesuatu yang

diatur menurut kedudukan sebuah ilmu barisan.

Pemuda itu mulai bingung, mau dilanjutkan perjalanan itu, ia tak tahu bagaimana

caranya memecahkan barisan tersebut, tidak dilanjutkan jelas tak mungkin, akhirnya

saking murungnya ia menengadah memandang rembulan diudara dan menghela napas

panjang….

Mendadak ia mendengar desingan angin lembut berhembus datang dari arah belakang.

Dengan cekatan Gak Lam kun memutar badannya memandang kearah mana

berasalnya desingan angin lembut tadi….

Seorang kakek berjenggot panjang berwajah merah bercahaya dan menggembol

sebilah pedang antik dipunggungnya telah berdiri tiga kaki dihadapan mukanya, orang itu

sedang memandang kearahnya dengan sinar mata yang tajam.

Ketika empat mata saling bertemu, mereka hanya saling berpandangan lama sekali,

kedua belah pihak sama-sama tidak mengucapkan sepatah katapun.

Diam-diam Gak Lam kun berpikir, “Entah darimana datangnya kakek ini? Ilmu

meringankan tubuhnya pasti lihay sekali, kalau tidak kenapa tidak kurasakan kehadirannya

meski sudah berada tiga kaki dibelakangku? Yaa, dia pasti adalah seorang jago persilatan

yang berilmu sangat tinggi.”

Lama…. lama, sekali, Gak Lam kun masih juga tidak mendengar suara teguran ataupun

suatu gerakan, orang itu tetap berdiri kaku ditempat semula.

Timbul juga perasaan tercekat dalam hatinya, segera pemuda itu berpikir dihati,

“Jangan-jangan dia adalah sesosok sukma gentayangan atau sukma penasaran….?”

Terhadap bangunan gedung itu Gak Lam kun memang sudah menaruh perasaan waswas,

sekarang setelah menyaksikan kemunculan orang tanpa menimbulkan suara, apalagi

muncul pula ingatan tersebut, tanpa terasa ia mundur beberapa langkah kebelakang.

Tapi iapun kuatir dirinya disergap secara tiba-tiba maka ia tak berani memutar badan.

Tapi, kendatipun ia sudah mundur sejauh tujuh delapan kaki, kakek berwajah bersih

seperti dewa itu belum juga melakukan suatu gerakan, Gak Lam kun segera bertekad

untuk kabur dari situ, tiba-tiba ia putar badan dan kabur kearah jalan tembus kesebelah

utara.

Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat ia bergeser sejauh enam

tujuh puluh kaki dari tempat semula, tapi begitu ia mendongakkan kepalanya, hampir saja

Gak Lam kun menjerit kaget….

Kurang lebih delapan kaki didepan sana kembali muncul sebuah halaman kecil, si orang

tua yang membawa pedang antik itu tahu-tahu sudah berdiri menanti ditengah halaman

itu.

“Berhenti!” terdengar kakek berbaju hijau itu membentak dengan suara yang rendah

tapi berat.

Berdebar keras jantung Gak Lam kun, tapi ia menurut dan menghentikan juga langkah

kakinya kemudian pelan-pelan memutar badannya.

Kakek berbaju hijau yang menggembol pedang antik itu selangkah demi selangkah

maju menghampiri kearahnya, kurang lebih delapan sembilan depa dari hadapan pemuda

itu ia haru berhenti. Tegurnya dengan suara dingin bagaikan es.

“Apakah kau bernama Gak Lam kun?”

Sekali lagi Gak Lam kun merasakan hatinya bergetar keras, tapi jawabnya juga, “Aku

adalah Gak Lam kun, tolong tanya siapa nama saudara?”

Paras muka kakek berbaju hijau itu agak tergerak, ia tidak menjawab pertanyaan

tersebut sebaliknya malah berkata dengan suara hambar, “Sanggupkah kau sambut tiga

jurus serangan pedangku?”

“Kita tak pernah saling mengenal, antara kitapun tak punya dendam sakit hati atau

perselisihan apa-apa, buat apa musti bermain kekerasan dengan senjata?”

“Jika kau tak bersedia menyambut tiga jurus pedangku, maka untuk selamanya kau

akan terkurung ditempat ini” kata kakek berbaju hijau itu lagi dengan suara dingin.

Mendengar perkataan itu Gak Lam kun segera berpikir, “Sekalipun ilmu silatku masih

belum menandingimu, tapi untuk tiga puluh gebrakan rasanya masih sanggup untuk

mempertahankan diri, apalagi ia cuma minta menghadapi tiga jurus serangannya belaka….

kalau didengar dari perkataannya itu agaknya bila aku sanggup menahan ketiga buah

serangan pedangnya, dia akan memberi petunjuk kepadaku untuk keluar dari kepungan

ini….”

Berpikir sampai disitu, Gak Lam kun yang keras kepala segera tersenyum, katanya,

“Kalau toh lotiang berharap agar boanpwe menyambut ketiga jurus serangan, akupun

akan menyanggupinya, cuma setelah kejadian, aku harap kau jangan menghalangi

kepergianku”

Kakek berbaju hijau itu segera tertawa dingin.

“Heeehh…. heeehh…. memangnya kau masih ingin tetap tinggal disini?”

“Kedatangan boanpwe ditengah malam buta ini bukan lantaran tanpa sebab, aku rasa

lotiang pasti mengetahui pula maksud kedatanganku”

“Selama hidupku belum pernah aku berbicara sebanyak ini dengan orang lain, tapi

malam ini aku telah melanggar kebiasaanku dengan berbicara lebih banyak kepadamu.

Ketahuilah halaman ini penuh diliputi alat rahasia yang berlapis-lapis, setiap rumput kayu,

batu bahkan kerikil kecilpun diatur menurut suatu posisi ilmu barisan yang maha sakti, jika

kau tidak bersedia mengundurkan diri dari sini, maka hal ini akan mendatangkan kerugian

untukmu”

Gak Lam kun tertawa ewa.

“Maksud baik lotiang biar kuterima dalam hati saja, mati hidup seorang manusia aku

rasa tak akan bisa diduga oleh siapapun”

Mendengar perkataan itu, si kakek berbaju hijau itu menjadi tertegun, lalu katanya

sambil tertawa, “Baik! Kalau begitu sambutlah lebih dahulu tiga buah tusukan pedangku

ini!”

Baru selesai perkataan itu diucapkan, Gak Lam kun merasakan pandangan matanya

menjadi silau dan tahu-tahu kakek berbaju hijau itu sudah berada dihadapannya, ia berdiri

dengan mencekal sebilah pedang panjang yang memancarkan cahaya kebiru-biruan.

Gak Lam kun merasa terkejut juga menyaksikan kecepatan orang itu dalam mencabut

pedangnya, ia tahu kakek berbaju hijau itu pasti seorang ahli pedang yang berilmu tinggi.

Tentu saja pemuda itu lebih-lebih tak berani berayal lagi, pedang pendek yang berada

dalam sakunya segera dicabut keluar.

Sekilas cahaya putih dengan cepat memancar keempat penjuru berpadu dengan cahaya

biru dari pedang kakek tersebut, ini menunjukkan kalau kedua bilah pedang tersebut

sama-sama merupakan pedang mustika yang mahal harganya.

Kakek berjubah hijau itu pelan-pelan mengangguk, lalu pujinya dengan suara pelan,

“Sudah lama kudengar orang berkata bahwa pedang Giok siang kiam milik Lam hay sin ni

adalah sebilah pedang mustika yang langka dalam dunia persilatan, setelah kulihat sendiri

sekarang terbuktilah bahwa berita tersebut bukan berita kosong belaka”

Gak Lam kun kembali merasa terkejut, pikirnya, “Aaah…. ternyata dugaanku memang

tidak salah ketua perguruan panah bercinta Bwe Li pek memang muridnya Lam hay sin ni,

kalau tidak tak mungkin Lam hay sin ni akan menyerahkan pedang mustika miliknya itu

kepada orang lain”

Dalam pada itu si kakek berjubah hijau itu sudah menyiapkan pedangnya, lalu sambil

tertawa ia berkata, “Gak Lam kun dalam dunia dewasa ini jarang sekali ada orang yang

sanggup menerima tiga buah serangan pedangku, kau harus perhatikan baik-baik karena

ketiga buah seranganku justru merupakan tiga jurus inti yang mencakup segenap

kekuatan serta kehebatan dari ilmu pedangku”

Gak Lam kun berdiri dengan pedang disilangkan didepan dadanya, ia berdiri sekokoh

batu karang jawabnya dengan dingin.

“Silahkan menyerang dengan sepenuh tenaga! Boanpwe akan pertaruhkan nyawaku

untuk menerima seranganmu itu!”

Menyaksikan cara Gak Lam kun memegang pedangnya sambil berdiri angker diam-diam

kakek berjubah hijau itu manggut berulangkali.

Tiba-tiba kakek berbaju hijau itu meluruskan pedangnya sejajar dengan dada sepasang

matanya terpejam rapat, wajahnya berubah menjadi serius sekali.

Waktu itu Gak Lam kun telah menghimpun pula segenap tenaga dalamnya kedalam

telapak tangan, ia sudah bersiap sedia menyambut serangan pertama dari lawannya.

Sebelum melakukan persiapan tadi, sesungguhnya ia sedikit memandang enteng ketiga

jurus serangan lawan, tapi sekarang ia tak berani gegabah ia merasa bahwa musuhnya

mungkin benar-benar memiliki ilmu pedang yang tiada tandingannya didunia ini.

Mendadak kakek berjubah hijau itu mementangkan sepasang matanya, setajam sembilu

sorot matanya dan pandangan itu tertuju pada ujung pedang yang berada dalam

genggamannya itu.

Berbareng dengan gerakan itu pelan-pelan si kakek berjubah hijau itu menggetarkan

pedang birunya lalu ditusuk kedada Gak Lam kun dengan suatu gerakan mendatar.

Serangan itu kelihatannya sederhana tanpa sesuatu yang aneh, tapi bagi penglihatan

seorang ahli pedang, serangan tersebut justru merupakan suatu serangan pedang tingkat

tinggi.

Tiba-tiba paras muka Gak Lam kun berubah hebat, mimik wajahnya menunjukkan

perasaan ngeri, kaget, kagum dan tercekat.

Tapi dalam waktu singkat paras mukanya kembali berubah, yaitu perasaan kecewa,

perasaan nekad dan semangat yang berkobar.

Sementara paras muka Gak Lam kun mengalami dua kali perubahan, ujung pedang

yang memancarkan sinar biru itu sudah berada tiga inci didepan dadanya.

Gak Lam kun segera menggerakkan pedang pendeknya untuk menyongsong datangnya

ancaman tersebut.

Criing! Criing! Criing…. tiga kali dentingan nyaring berkumandang memenuhi angkasa.

Kilatan warna biru dan bianglala warna putih dalam sekejap mata yang singkat telah

saling membentur sebanyak tiga kali….

Hawa pedang segera membumbung tinggi keangkasa, tapi sekejap kemudian tiba-tiba

lenyap tak berbekas….

Tubuh Gak Lam kun terdesak mundur sejauh tiga kaki, tapi ia masih berdiri sambil

memeluk pedang, tapi sorot matanya telah pudar, peluh sebesar kacang membasahi

jidatnya.

Jelas dalam bentrokan itu ia merasa betapa ngototnya serta mengalami rasa kaget

serta ngeri yang kelewat batas.

Kakek berbaju hijau itu sendiri masih tetap berdiri dengan sikap tenang, namun sekilas

rasa kaget sempat menghiasi wajahnya, jelas ia kagum atas kehebatan Gak Lam kun yang

masih muda namun telah berhasil mencapai kepuncak kesempurnaan dalam permainan

pedangnya itu.

Mendadak kakek berbaju hijau itu masukan kembali pedangnya kedalam sarung, lalu

dengan dingin berkata, “Tiga jurus sudah lewat, kau memang benar-benar murid seorang

kenamaan. Bila kau sedia meninggalkan gedung ini, silahkan mundur dulu lewat timur

kemudian berputar kebarat, dengan cepat barisan ini akan kau tinggalkan, bila berjumpa

lagi dikemudian hari mungkin kita akan menjadi musuh yang saling bertentangan bagaikan

api dan air, nah sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini!”

Selesai mengucapkan kata-kata tersebut kakek berbaju hijau itu lantas menuju

kelorong sebelah selatan dan pelan-pelan mengundurkan diri dari situ.

Gak Lam kun meraba rambut diatas jidatnya yang kutung dengan tangan kirinya,

kemudian menghela napas panjang, pedangnya dimasukkan kembali kedalam sarung.

Bagaimanapun juga, perasaannya telah bergetar keras karena dalam menghadapi

ketiga jurus serangan tersebut, hampir saja nyawanya lenyap diujung pedang lawan.

Tak bisa dibantah lagi ilmu pedang dari kakek berbaju hijau itu telah dilatih hingga

mencapai tingkat yang tiada tandingannya didunia ini, coba ia menyerang satu jurus lebih

banyak, sudah pasti dia tak akan mampu untuk menghadapinya.

Sesungguhnya semangat Gak Lam kun berkobar-kobar, akan tetapi sekarang ia merasa

agak lemas dan putus asa, ia tak mau tinggal terlalu lama lagi disitu, maka menurut

petunjuk dari kakek berbaju hijau tadi iapun mengundurkan diri dari situ.

Mendadak…. beberapa ucapan terakhir dari kakek berbaju hijau itu membangkitkan

kembali sikap ingin menangnya, ia mendengus dingin lalu bergumam, “Baiklah! Bila ada

jodoh aku pasti akan minta petunjuk darinya…. aku ingin tahu apakah ilmu silatnya

memang betul-betul tiada tandingannya didunia ini!”

Gak Lam kun segera sadar dari lamunan, tanpa terasa kembali dia berpikir, “Siapakah

kakek itu? Siapakah diantara jago-jago silat dewasa ini yang memiliki ilmu pedang selihay

itu?”

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya tanpa terasa serunya tertahan.

“Dia adalah See ih kiam seng (malaikat pedang dari See ih) Siang Ban im?! Hanya dia

seorang yang dapat memiliki ilmu pedang selihay itu…. kalau tidak siapa lagi didunia ini

yang berhak mendapatkan gelar sebagai malaikat pedang lagi?”

Tiba-tiba kedengaran seseorang membentak nyaring, “Siapa disitu?”

Mendengar teguran tersebut Gak Lam kun merasakan hatinya bergetar keras, buruburu

badannya berkelebat lewat dan menyembunyikan diri disisi dinding rumah sebelah

kanan.

Ternyata pada waktu itu Gak Lam kun telah berjalan dilorong terakhir yang menuju

kesebelah utara, jaraknya dengan jalan keluar tinggal tiga empat puluh kaki lagi dan

bentakan itupun berkumandang datang dari luar lorong.

Agaknya orang itu menunggu cukup lama, tapi setelah dilihatnya tiada jawaban yang

terdengar dia lantas bergumam pula.

“Jangan-jangan telingaku yang salah mendengar, Hoa heng, kau mendengar suara

manusia atautidak?”

Perlu diterangkan disini, gumaman Gak Lam kun tadi diucapkan dengan suara yang

amat lirih, sekalipun ditengah malam y»ng sunyi tapi bila seseorang tidak memiliki tenaga

dalam yang amat sempurna jangan harap bisa menangkap suara orang lain dari jarak

sejauh tiga empatpuluh kaki itu.

Kedengaran seseorang menyahut dengan suara yang nyaring, “To heng, lebih baik

jangan panik begitu, gedung ini penuh dengan ilmu barisan serta alat jebakan, kecuali kau

seorang, siapa pula yang bisa jalan-jalan seenaknya didalam sana sekalipun kau tidak

salah dengar tapi orang itupun belum tentu bisa keluar dari kurungan dengan selamat!”

Orang itu segera tertawa kering.

“Hoa heng, lebih baik kurangi jilat pantatmu nyaris kita akan terkurung malam ini

disini.”

“Lihay, sungguh teramat lihay” lanjut orang she Hoa itu, “coba kalau ilmu kepandaian

yang dimiliki To-heng tidak hebat dan luar biasa, siaute betul-betul akan terkurung disini

dan mati kelaparan.”

Tampaknya orang yang lain adalah seorang tosu, dia termenung sejenak kemudian

baru berkata, “Hoa heng, bukan aku sengaja menyombongkan diri, dalam dunia persilatan

dewasa ini boleh dibilang jarang sekali ada orang yang pandai segala ilmu barisan

semacam aku.”

“Bukan cuma jarang hakekatnya sama sekali tiada yang kedua!” sambung orang she

Hoa itu cepat-cepat.

Tosu itu termenung lagi sebelum melanjutkan kembali kata-katanya.

“…. tapi alat jebakan serta barisan yang diatur dalam gedung ini benar-benar sudah

memusingkan kepalaku”

“Terlalu sungkan, terlalu sungkan….” orang she Hoa itu tertawa ringan.

Rupanya tosu itu sudah dibuat marah, katanya cepat dengan suara yang dingin, “Hoa

heng, aku bicara sungguh-sungguh, antara kita berdua toh sudah terikat oleh perjanjian,

masakah aku bakal membohongi dirimu dengan kata yang sengaja kubuat-buat?”

Orang she Hoa itu segera tertawa.

“Tidak berani, tidak berani, harap to heng jangan salah paham dengan maksudku

pula?”

“Kita telah berhasil melewati barisan dalam kebun bunga dan bangunan gedung diluar

sana, segala sesuatunya meski sakti dan aneh untung semuanya telah kita lewati dengan

aman, tapi tahukah kau bahwa ilmu barisan yang lebih lihay dan alat jebakan yang lebih

hebat masih ada dibelakang sana? Konon alat-alat jebakan yang dipasang disekitar tempat

penyimpanan mustika sedemikian hebatnya, sehingga walaupun kau memiliki peta

petunjuk dari Lencana pembunuh naga, toh masih tetap setengah incipun sukar dilewati,

yaa…. percuma memang walaupun kita mempunyai lencana itu, sebab bagaimana pun hal

ini masih menyulitkan sebelum diadakan suatu penyelidikan yang seksama tak nanti aku

berani sembarangan memasukinya”

Gak Lam kun yang sempat mencuri dengar pembicaraan itu menjadi amat terkejut, dia

tidak mengira kalau lencana pembunuh naga sesungguhnya menyimpan begitu banyak

rahasia dunia persilatan.

Perlu diterangkan disini, menjelang saat kematiannya meskipun Yo Long menerangkan

kepadanya bahwa Lencana pembunuh naga adalah suatu mustika dunia yang diincar dan

menjadi idaman setiap umat persilatan, namun ia sama sekali tidak menerangkan rahasia

apakah yang tersimpan dibalik lencana tersebut.

Oleh sebab itu terhadap pelbagai macam rahasia yang berada dibalik lencana

pembunuh naga, Gak Lam kun masih tetap bingung dan tidak habis mengerti.

Siapakah dua orangitu? Tak disangka olehnya kalau dunia persilatan demikian licik dan

berbahayanya, padahal tidak sedikit jumlah jago persilatan yang berkumpul diatas pulau

terpencil itu, tapi kedua orang itu secara diam-diam bisa sampai disini, kalau didengar dari

pembicaraan mereka rupanya sebelum itu mereka sudah tahu tentang rahasia didalam

gedung itu.

Kedengaran orang she Hoa itu tertawa ringan, lalu berkata.

“Kalau begitu bagaimana pun juga kita harus mendapatkan lencana pembunuh naga

itu?”

Tosu tersebut tertawa dingin.

“Hoa heng dewasa ini para peserta yang telah berdatangan kemari untuk saling

memperebutkan lencana pembunuh naga terdiri dari pihak Thi eng pang, Cing ciam bun

beserta para jago dari aliran See thian san, aku lihat kekuatan kita betul-betul paling

minim dan lemah.”

“Jangan khawatir saudara To” jawab orang she Hoa itu sambil tertawa “siaute

mempunyai sebuah rencana bagus yang tanggung bisa menjirat beberapa orang jago

lihay”

Tosu itu tertawa kering.

“Heee…. heeehh…. heeh…. apakah kau maksudkan Say loji serta Kongsun Po….?”

“Toa heng kecerdasanmu memang luar biasa” puji orang she Hoa itu lagi sambil

tertawa “tapi kau lupa, toh masih ada seorang Yan lo sat (iblis perempuan cantik) Hoang

Im?”

“Saudara Hoa, yakinkah kau bahwa beberapa orang itu pasti dapat kaujerat?”

“Kini keadaan situasinya telah berubah, tentu saja dengan senang hati mereka bersedia

untuk bekerjasama dengan kita, apalagi aku masih mempunyai daya pikat lain yang tentu

akan merangsang mereka semua”

Mendengar perkataan itu, tosu tersebut tertawa bangga.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaaahhh…. bagus, bagus sekali, kalau begitu kuserahkan

persoalan ini kepada saudara Hoa”

Orang she Hoa itu ikut pula tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhh…. saudara To, mari kita tinggalkan tempat ini”

Selesai dengan ucapan tersebut, secara lamat-lamat Gak Lam kun mendengar suara

langkah kaki itu makin lama makin menjauh dan akhirnya lenyap dibalik keheningan.

Gak Lam kun menghembuskan napas panjang, pelan-pelan diapun berjalan keluar dari

tempat persembunyiannya.

Tapi kini satu persoalan berkecamuk dalam benaknya, sambil berjalan ia berpikir,

“Kedua orang itu je1as semuanya adalah jago-jago yang bernama besar dalam dunia

persilatan, entah siapakah dia?”

Pelan-pelan Gak Lam kun berjalan keluar dari mulut lorong itu, dihadapannya

terbentang sebuah lembah bukit yang sepi, rupanya tempat itu merupakan sudut tenggara

gedung besar itu.

Baru saja si anak muda itu keluar dari lorong, mendadak muncul sesosok bayangan

hitam yang bagaikan sesosok sukma gentayangan berkelebat menghampirinya, kelima jari

tangannya bagaikan cakar setan langsung mencengkeram urat nadi pada pergelangan

tangan kirinya.

Sergapan yang dilakukan sangat mendadak ini mempunyai gerakan yang amat cepat

dan luar biasa.

Seketika itu juga Gak Lam kun merasakan datangnya ancaman, tapi gerakan tangan

musuh sungguh teramat cepat, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah tersentuh

olehnya.

Dalam terkejutnya, buru-buru Gak Lam kun mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo

heng jit seng liong heng sin hoat, dengan suatu gerakan manis ia menghindar sejauh lima

enam depa dari posisi semula.

Tapi baru saja kakinya berdiri tegak, kembali datang segulung angin pukulan yang

sangat berat menghantam jalan darah Hong hu hiat pada bahu kirinya.

Tercekat hati Gak Lam kun, dia tidak mengira kalau sergapan musuh dilakukan

sedemikian cepatnya hingga tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk berganti

napas, satu ingatan melintas dalam benak anak muda itu, sekali lagi dia gunakan gerakan

Liong heng sin hoat yang maha sakti itu untuk berkelebat lewat sejauh satu kaki lebih dari

posisi semula.

Kali ini dia kuatir kalau musuhnya menguntil terus dibelakang, maka seraya

menghindarkan diri, telapak tangan kirinya diputar kebelakang melancarkan pula sebuah

pukulan, setelah itu secepat kilat badannya berputar kebelakang dan mengawasi sekeliling

tempat itu.

Kurang lebih satu tombak dihadapannya berdirilah seorang tosu setengah umur

berjubah warna kuning, bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, berwajah

pucat seperti mayat dan membawa sebuah senjata hudtim yang terdiri dari benang emas.

Disampingnya berdiri pula seorang pelajar berusia empat puluh tahunan berwajah

tampan, romantis dan menggembol sebilah pedang diatas bahunya.

Hanya sekilas pandangan saja Gak Lam kun sudah tahu kalau mereka berdua adalah

dua orang yang bercakap-cakap tadi, tak terlukiskan rasa kaget dan ngerinya pemuda itu,

dia tidak menyangka kalau mereka berdua sedemikian liciknya sehingga meski sudah

berlalu dari situ, ternyata secara diam-diam melakukan sergapan.

Sekalipun demikian, dari sini dapat diketahui pula bahwa ilmu meringankan tubuh yang

mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan, sebab dengan ketajaman

pendengarannya ternyata ia tidak mengetahui akan kehadiran kembali mereka berdua.

Tosu berjubah kuning itupun kelihatan tertegun kemudian sambil tertawa seram

katanya, “Aku lihat ilmu silatmu cukup sempurna, kecerdasanmu pun boleh juga dipupuk?”

Waktu itu Gak Lam kun sudah merasa amat marah karena tanpa sebab kedua orang itu

menyergapnya dan nyaris ia kena dipecundangi, dengan suara dalam serunya kemudian,

“Aku rasa kamu berduapun merupakan jago-jago persilatan yang punya nama dan

kedudukan, kenapa kalian lakukan tindak penyergapan yang rendah dan memalukan itu”

Sastrawan ganteng tertawa tergelak.

“Haaahh…. haaah…. haaah…. siapa pula dirimu? Kalau bicara begitu tak tahu diri?

Hmmm…. kalau menyergappun suatu perbuatan rendah, lantas aku ingin bertanya kalau

menyadap pembicaraan rahasia orang lain merupakan perbuatan yang rendah atau tidak?”

Gak Lam kun mengerutkan dahinya, kembali ia berseru dengan marah, “Saudara,

ucapanmu itu terlalu dibuat-buat, kau anggap hanya kalian saja yang boleh mendatangi

gedung ini dan orang lain tidak boleh mendatanginya”

Tosu berjubah kuning itu tertawa seram, senjata hudtimnya disisipkan kebelakang

bahunya, kemudian selangkah demi selangkah dia menghampiri si anak muda itu.

Dibalik wajahnya yang kurus dan jelek, terlintas kebuasan, kelicikan, kekejaman,

kesombongan dan keangkeran yang tebal membuat mimik wajahnya kelihatan begitu

seram dan menggidikkan hati.

Menyaksikan perubahan wajahnya itu, Gak Lam kun mendengus dingin dengan segala

kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tiba-tiba tosu berjubah kuning itu tertawa dingin tubuhnya menubruk kedepan, kelima

jari tangan kirinya secepat kilat mencengkeram tulang persendian pada sikut lengan kanan

pemuda itu.

Gerakan serangan tersebut bukau saja dilakukan dengan suatu jurus yang aneh lagi

pula jauh berbeda dibandingkan dengan ilmu Kin na jiu yang berlaku pada umumnya.

Gak Lam kun sangat terperanjat, buru-buru dia miringkan tubuhnya kesamping untuk

menghindarkan diri.

Tapi tosu berjubah kuning itu langsung menerjang maju kedepan lutut kanannya

segera diangkat dan disodokkan ketubuh bagian bawah lawan.

Tendangan maupun pukulan itu bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, dan

lagi disertakan juga tenaga pukulan yang sangat kuat.

Tampaknya tidak sempat lagi Gak Lam kun untuk menghindar ataupun membendung

datangnya ancaman tersebut, kelihatan sebentar lagi dia bakal terluka ditangan tosu

berjubah kuning itu.

Mendadak Gak Lam kun mengangkat kaki kanannya lalu kaki kirinya bergeser keluar,

tubuhnya berputar kesamping begitu menghindar diri dari serangan gabungan yang

datang dari depan, telapak tangan kanannya berputar kesamping dan balas melancarkan

sebuah pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

Tindakan dari Gak Lam kun ini bukan saja aneh lagi pula diluar dugaan orang, bukan

saja serangan musuh dapat dihindari, serangan balasanpun amat gencar, hanya dalam

satu gebrakan ia berhasil memperbaiki posisinya yang terdesak menjadi kedudukan yang

menguntungkan.

Rupanya tosu berjubah kuning itu tidak menyangka kalau musuhnya demikian cekatan,

oleh serangan balasan yang dilancarkan dengan tenaga besar itu ia malah berbalik

kedesak mundur sejauh tiga langkah lebar.

Dengan penasaran tosu berjubah kuning itu menerjang maju lagi kedepan, sekali lagi

telapak tangannya disapu kemuka melancarkan serangan balasan, diiringi suara tertawa

dingin yang menyeramkan, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia

menerjang maju kemuka.

Kali ini gantian Gak Lam kun yang merasa tertegun, dia tidak menyangka kalau gerakan

menubruk yang dilakukan musuhnya untuk kedua kalinya ini jauh lebih cepat daripada

serangan yang pertama, bahkan dilakukan hampir bersamaan waktunya dengan gerak

mundur tadi.

Ia merasa bahwa tenaga pukulan yang menghembus keluar dari telapak tangan lawan

mengandung unsur kekuatan panas yang kuat, tenaganya jauh berada diatas kepandaian

Giok bin sin ang (si kakek sakti berwajah pualam).

Gak Lam kun tak berani bertindak gegabah ia tak mau menyambut serangan itu dengan

keras lawan keras, kaki kanannya lantas diangkat dan tubuhnya bergeser kesamping,

dalam sekejap mata ia sudah menyingkir sejauh lima depa dari posisi semula.

Bagaikan sesosok bayangan tosu berjubah kuning itu menguntil dari belakang, sebuah

pukulan kembali dilancarkan mengimbangi gerakan tubrukannya ketubuh pemuda itu.

Dengan jurus Tham lip ki cu (merogoh saku mengambil mutiara) tangan kiri si tosu

berjubah kuning itu menyambar sepasang mata Gak Lam kun sementara tangan kanannya

dengan mempergunakan ilmu Ki na jiu hoat yang sangat aneh mencengkeram

pergelangan tangan kiri pemuda itu.

Rupanya tosu berjubah kuning itu sudah berhasil menyusul baik rencana penyerangan,

bukan saja semua serangan dilakukan dengan kecepatan yang mengagumkan, apalagi

ilmu ki na jiu hoat tersebut boleh dibilang merupakan suatu kepandaian maha sakti yang

jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Dari sini semakin terbuktilah bahwa tosu berjubah kuning itu tak lain adalah seorang

tokoh persilatan yang mempunyai nama serta kedudukan yang amat tinggi.

Meskipun ilmu silat yang dimiliki Gak Lam kun sendiri tidak termasuk lemah, akan tetapi

oleh karena terlalu memandang enteng musuh, akibatnya ia kehilangan posisi yang

menguntungkan, dalam keadaan demikian tak mungkin lagi baginya untuk menghindarkan

diri dari ancaman musuh.

Dalam keadaan kritis ia lantas mengeluarkan jurus Tay bong tian gi (burung elang

raksasa mementangkan sayap) untuk menangkis ancaman tangan kiri si tosu berjubah

kuning yang mengancam sepasang biji matanya itu….

oooOooo

Sayang seka1i pemuda itu lupa serangan Ki na jiu yang dilancarkan musuhnya lewat

tangan kanan justru berlipat kali lebih membahayakan tahu-tahu pergelangan tangan

kirinya terasa menjadi kaku, dan urat nadinya sudah terjatuh ditangan lawan.

Gak Lam kun merasa sangat terkejut, menggunakan kesempatan ketika tangan kanan

tosu berjubah kuning itu belum mengerahkan tenaga, jari tengah dan jari telunjuk tangan

kirinya segera disentik kedepan.

Segulung desingan angin serangan yang tajam dan kuat segera menyambar urat nadi

pada pergelangan tangan kanan tosu tadi.

Perubahan ini jauh diluar dugaan siapapun, tosu berjubah kuning itupun tidak

menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Gak Lam kun telah mencapai taraf

sedemikian tingginya, urat nadi pada pergelangan tangan kanannya tahu-tahu merasa

kesemutan dan ia sudah kena diserang oleh tenaga sergapan anak muda itu.

Setelah jari-jari tangan kirinya melancarkan sentilan tadi, Gak Lam kun lantas memutar

telapak tangan kanannya satu lingkaran dan kemudian dilontarkan kebelakang, tosu

berjubah kuning itu kena didesak lagi sehingga mundur sejauh tiga empat langkah.

Dengan demikian, kedua belah pihak sama-sama dikejutkan oleh kelihayan ilmu silat

lawannya, empat mata saling bertemu dan bertatapan tanpa berkedip, untuk sesaat

mereka berdua sama-sama tidak berani melakukan sergapan untuk ketiga kalinya.

Sastrawan tampan yang mengikuti jalannya pertarungan dari samping menunjukkan

pula perasaan kaget dan tercengang, sambil tertawa tergelak dia lantas mengejek, “Thian

yu to heng, rupanya ilmu silatmu belakangan ini telah peroleh kemajuan pesat, malam ini

siaute benar-benar merasa puas dengan kehebatanmu?”

Ucapan yang setengahnya mengandung ejekan dan sindiran itu sesungguhnya

bermaksud untuk memanasi hati lawan.

Mendengar ucapan itu, paras muka Gak Lam kun berubah hebat, ia merasa yaa kaget

yaa marah.

Ternyata ia telah berhasil menebak siapa gerangan orang yang berada dihadapannya

sekarang.

Tosu berjubah kuning itu mungkin adalah Kui to (tosu setan) Thian yu cinjin yang

merupakan musuh paling tinggi ilmu silatnya diantara sisa tujuh orang musuh besar

gurunya, sedangkan sastrawan ganteng itu mungkin adalah orang kelima yang dinamakan

orang sebagai Thiat kiam kuncu (lelaki sejati berpedang baja) Hoa Kok khi.

Kenyataannya manusia yang bernama Kui to (tosu setan) Thian yu cinjin memang

berilmu silat amat lihay, tapi yang mengherankannya adalah Thiat kiam kuncu (lelaki sejati

berpedang baja) Hoa Kok khi, menurut catatan Cin jin liok, jelas dikatakan bahwa ilmu

silatnya hanya bisa menangkan Kongsun Po serta Ou Yong hu, tapi kenyataannya ternyata

jauh diluar sangkaan.

Ditinjau dari tenaga sergapan yang ia lancarkan tadi, bisa diketahui bahwa ilmu silatnya

jauh diatas kepandaian Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say khi pit,

mungkinkah dia sengaja menyembunyikan ilmunya? Kalau memang demikian, jelaslah

sudah bahwa lelaki sejati berpedang baja Hoa kok khi sesungguhnya adalah seorang

manusia licik yang banyak sekali tipu muslihatnya.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Gak Lam kun, diam-diam pikirnya, “Setiap

orang yang berada dalam dunia persilatan memang amat licik dan sukar diraba jalan

pikirannya, untuk membalaskan dendam bagi guruku aku musti tahu keadaannya lebih

dulu sebelum melakukan tindakan”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa pemuda itu tertawa dingin kepada Thiat kiam kuncu

Hoa Kok khi katanya, “Hei, bukankah kau adalah laki-laki sejati berpedang baja yang

banyak disebut-sebut oleh orang persilatan?”

Agak tertegun si lelaki berpedang baja Hoa kok khi setelah mendengar perkataan itu,

tapi sebentar kemudian ia telah tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaaah…. sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan, boleh

aku tahu siapa namamu?”

Sekuat tenaga Gak Lam kun berusaha mengendalikan kobaran api dendam yang

membara dalam hatinya, dengan suara yang amat tenang dia menjawab, “Aku hanya

seorang prajurit tak bernama dalam dunia persilatan, apa gunanya kau menanyakan soal

namaku?”

Thian kiam kuncu Hoa kok khi tertawa ringan.

“Sudah belasan tahun aku Hoa kok khi jarang melakukan perjalanan dalam dunia

persilatan sungguh tak kusangka keadaan dalam dunia telah mengalami banyak

perobahan, seorang prajurit tak bernama dari dunia persilatanpun memiliki kepandaian

silat selihay ini”

“Belum tentu setiap orang yang sehari penuh melakukan perjalanan dalam dunia

persilatan mengetahui keadaan dalam dunia persilatan jauh lebih jelas dari mereka yang

mengasingkan diri” sambung Gak Lam kun “mengenal namaku juga bukan suatu yang luar

biasa sebagai orang muda dari dunia persilatan siapa yang tidak tahu bahwa peristiwa

besar ditebing Yan po gan dimasa lalu telah mengangkat nama Kui to Thian yu Cinjin serta

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi sekalian?”

Mendengar perkataan itu, paras muka Thian yu cinjin maupun Thiat kiam kuncu Hoa

Kok khi segera berubah hebat.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thiat kiam kuncu Hoa Kok Khi mencorong

sinar tajam dari balik matanya, ia bertanya, “Aku dengar belakangan ini dalam dunia

persilatan telah muncul seorang jago muda yang mempunyai ilmu silat amat tinggi,

tampaknya kaulah yang bernama Gak Lam kun.”

Terkesiap hati Gak Lam kun sesudah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka

kalau berita tersebut sudah tersiar demikian cepatnya keseluruh dunia persilatan.

“Jangan-jangan orang persilatan juga tahu kalau aku adalah muridnya Yo Long dan

selama ini aku pula yang telah munculkan diri sebagai Tok liong cuncu?” kekuatiran

tersebut segera mencekam seluruh perasaan anak muda itu.

Gak Lam kun tersenyum.

Aku tak lebih cuma seorang anak muda yang baru terjun dalam dunia persilatan,

sebutan yang terlalu muluk tak berani kuterima.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi kembali tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaaah…. kau terlalu sungkan, kau terlalu sungkan, dengan

andalkan beberapa jurus saktimu tadi, sebutan sebagai seorang jago lihay pantas kau

gunakan hanya saja aku orang she Hoa juga ingin sekali mencoba ilmu silatmu yang

sebenarnya.”

“Aku bisa memperoleh kesempatan untuk mencoba kepandaian silatku dengan seorang

jago kenamaan bagiku hal ini sungguh merupakan suatu keberuntungan.”

Rupanya secara diam-diam Gak Lam kun telah menyusun rencana baik, ia tahu ilmu

silat yang dimiliki Kui to Thian yu cinjin teramat lihay mungkin bukan suatu pekerjaan yang

gampang untuk mengalahkannya, apalagi sekarang ditambah pula seorang Hoa Kok khi,

semakin tipislah harapannya untuk meraih kemenangan.

Oleh karena itu, bila ilmu silat yang dimiliki Thiat kiam kuncu terbukti seperti apa yang

ditulis dalam kitab catatan musuh-musuh besar, maka dengan mempergunakan

kesempatan itu dia akan membinasakannya, kemudian baru menghimpun segenap

kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi jago yang maha sakti ini.

Jalan pikiran Gak Lam kun memang bagus tapi mana dia tahu kalau Tniat kiam kuncu

pun ketika itu sedang menyusun rencananya.

Perlu diterangkan disini, meskipun tenaga dalam dan ilmu silat merupakan inti kekuatan

yang diandalkan jago-jago persilatan, tapi biasanya kecerdasan jauh lebih hebat daripada

ilmu silat.

Ketika Gak Lam kun baru saja menyelesaikan kata-katanya, Thiat kiam kuncu Hoa Kok

khi telah melancarkan terjangan kedepan.

Ia tidak menggerahkan telapak tangannya, pun tidak menggerakkan kakinya, ia hanya

bergerak menghampiri kehadapan Gak Lam kun seakan-akan ia memang bersiap-siap

menghantarkan tubuhnya untuk digebuk.

Gak Lam kun agak tertegun tapi ia segera tertawa dingin, sambil memutar badan

kakinya bergeser kesamping, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan kebahu kanan

orang itu.

Bagi seorang ahli silat serangan yang dilancarkan dapat diketahui bahwa ia berilmu atsu

tidak, semenjak Gak Lam kun menyaksikan gerakan tubuhnya yang aneh tadi, dia sudah

tahu kalau Thiat kiam kuncu adalah seorang musuh tangguh yang tak boleh dipandang

enteng.

Betul juga, gerakan aneh yang dilakukan Thiat kiam kuncu tadi seakan-akan memberi

gambaran kepada orang kalau ia tidak mengerti ilmu silat tapi, begitu serangan tiba,

sepasang bahunya segera diturunkan kebawah dan secara kebetulan sekali berhasil

menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Dengan demikian meskipun seandainya serangan tadi mengenai bahu Thiat kiam kuncu

namun tenaga pukulannya sudah banyak yang punah, dan seranganpun menjadi lemas.

Pada saat itulah, Thiat kiam kuncu telah manfaatkan kesempatan baik itu untuk

menerjang maju kedepan, sepasang telapak tangannya secara beruntun melancarkan

bacokan berantai….

Dalam sekejap mata ia telah melepaskan dua belas buah pukulan yang mematikan.

Bayangan telapak tangan meluncur kesana kemari, desingan angin pukulan menderuderu

bagaikan putaran roda.

Gak Lam kun segera terdesak hingga mundur berulangkali, saat ini dia cuma bisa

menangkis dan tak mempunyai tenaga untuk melancarkan serangan balasan.

Diam-diam berkerut juga alis mata Thiat kiam kuncu, dia tak menyangka kalau Gak

Lam kun sanggup menghindari kedua belas buah pukulan yang dilancarkan secara

berantai itu dengan selamat.

Sementara ia masih tertegun, Gak Lam kun telah membentak gusar.

“Sreeet! Sreeet! Sreeet!….” secara beruntun telapak tangan kirinya melepaskan pula

tiga buah bacokan kilat yang memaksa gerak maju Hoa Kok khi menjadi terhalang.

Sekali berhasil merebut posisi yang menguntungkan, Gak Lam kun tak mau melepaskan

kesempatan baik itu dengan begitu saja, tiba-tiba ia menerjang maju kedepan sambi1

melancarkan sebuah tendangan kilat ketubuh Hoa Kok khi dengan kaki kirinya.

Deruan angin tajam menyambar-nyambar, secepat kilat Gak Lam kun telah

melancarkan tujuh buah tendangan kilat.

Tendangan cepat yang dilakukan oleh Gak Lam kun ini merupakan serangkaian ilmu

tendangan yang dahsyat dan jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Kecepatannya benar-benar sangat mengagumkan, ibaratnya gulungan ombak yang

saling susul menyusul menghantam tepian karang.

Karena posisinya mulai terdesak sehingga pihak lawan memegang peranan untuk

melakukan desakan, terpaksa Thiat kiam kuncu Hoa kok khi harus memutar sepasang

telapak tangannya sedemikian rupa untuk menciptakan selapis bayangan telapak tangan

yang tebal guna melindungi seluruh badannya.

Pertarungan mereka berdua kian lama berlangsung kian sengit, setiap pukulan yang

mereka gunakan rata-rata diarahkan pada jalan darah kematian ditubuh lawan, deruan

angin serangannya hampir menyelimuti wilayah seluas beberapa depa disekeliling sana.

Daun dan ranting berguguran, suara gemerisik karena pepohonan yang goncang

menambah ramainya suara disekeliling sana.

Ketika itu, mereka berdua telah saling berebut posisi dengan sepenuh tenaga, hampir

semua perubahan jurus serangannya dilakukan dengan gerakan paling aneh dan paling

tangguh.

Si tosu setan Thian yu Cinjin yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi gelanggang

diam-diam merasa terkejut, pikirnya, “Pinto sudah menduga kalau Hoa Kok khi itu licik dan

banyak tipu muslihatnya, ia jarang mengunjukkan taraf kepandaian yang dimilikinya tak

nyana kalau kepandaiannya telah mencapai taraf sehebat ini. Tapi Gak Lam kun itulah

menakutkan lagi dengan usia semuda ini taraf kepandaian silatnya sudah mencapai

sedemikian hebatnya, coba kalau diberi kesempatan lama sepuluh tahun lagi, dunia

persilatan niscaya akan berada dibawah kekuasaannya….”

Berpikir sampai disitu timbul niatnya untuk turun tangan serta melenyapkan pemuda itu

dari muka bumi.

Tapi karena diapun ingin mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang

dimiliki Hoa Kok khi, untuk sementara waktu niatnya yang pertama tadi diurungkan, sambil

berpeluk tangan diam-diam ia mulai mengamati jurus jurus serangan yang digunakan

Thiat kiam kuncu.

Kui to Thian yu cinjin bukan seorang yang bodoh, diapun seorang imam yang berakal

licik, sejak bekerja sama dengan Hoa Kok khi, ia sudah tahu bahwa begitu lencana

pembunuh naga berhasil didapatkan, atau begitu mereka berhasil memasuki tempat

penyimpanan harta, suatu pertarungan sengit diantara mereka tak akan terhindarkan lagi,

sebab itu sebelum kejadiannya berlangsung, dia musti mendalami lebih dulu taraf

kepandaian yang sesungguhnya dimiliki Hoa Kok khi.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi bukan manusia sembarangan, tentu saja diapun cukup

memahami siasat licik dari Thian yu cinjin yang ingin menyadap jurus serangannya dalam

pertarungan ini.

Ditengah berkobarnya pertarungan seru, tiba-tiba Hoa kok khi melancarkan sebuah

serangan kedepan, sampai ditengah jalan gerakan itu mendadak berputar dan menerobos

lewat sepasang telapak tangan Gak Lam kun dan langsung menghantam dada si anak

muda itu.

Melihat datangnya terobosan tersebut, Gak Lam kun mencoba hendak menangkisnya

sayang tak sempat lagi. Terpaksa segenap tenaga dalamnya dihimpun kedalam bahu lalu

secepat kilat dilontarkan kedepan.

Pukulan itu secara kebetulan menghantam tepat diatas bahu Gak Lam kun….

Rupanya Thiat kiam kuncu Hoa kok khi cukup memahami sampai dimanakah kehebatan

dari bahu lawan, dalam gugupnya ia membuyarkan dua bagian tenaga dalamnya.

Ketika telapak tangan dan bahu saling bertemu, segera terasalah segulung tenaga

pantulan yang amat kuat menerjang keluar, mau tak mau Hoa kok khi terdorong juga

kebelakang sejauh dua langkah lebih.

Ternyata didalam melancarkan tangkisan dengan bahunya itu Gak Lam kun telah

mempergunakan ilmu Tan suai cian (bantingan bahu) semacam ilmu pantulan yang amat

dahsyat.

Sebagaimana diketahui, apabila bahu orang dirapatkan satu sama lain, maka akan

timbullah sebuah tulang yang menongol keluar, dengan tulang itulah dia telah menahan

serangan musuh kemudian tenaga dalam yang terkandung dalam bahu menyusul

memantul keluar.

Dengan cara ini bukan saja serangan musuh dapat ditahan, sekaligus bisa mementalkan

pula serangan musuh sebesar tenaga yang dipergunakan lawan, atau dengan perkataan

lain, semakin besar serangan yang dipergunakan lawan, semakin besar pula tenaga

pantulan yang dihasilkan.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tidak mengetahui apakah Gak Lam kun telah berhasil

menguasai ilmu Tan suai cian tersebut atau tidak, maka tenaga pukulannya buru-buru

dibuyarkan beberapa bagian.

Setelah benturan terjadi, Hoa Kok khi baru merasa terperanjat, sebab terbuktilah sudah

kalau Gak Lam kun telah melatih kepandaian tersebut hingga mencapai tingkatan kelima.

Setelah memantulkan kembali tenaga lawan, Gak Lam kun ikut menubruk kedepan,

secepat kilat telapak tangan kanannya ditolak kedepan menghantam tubuh musuh.

Serangan tersebut boleh dibilang dilancarkan berbarengan dengan gerakan bahu yang

dilakukan tadi.

Berbicara menurut keadaannya ketika itu sesungguhnya sulit bagi Hoa Kok khi untuk

menghindarkan diri dari ancaman lawan.

Namun Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi yang banyak akal busuknya ini tidak gugup

menghadapi ancaman maut, ia tahu keadaan sudah kepepet sekali, mau tak mau dia

musti mengeluarkan ilmu simpanannya.

Seperti juga apa yang dilakukan Gak Lam kun tadi ternyata Hoa Kok khi pun

mempergunakan ilmu Tan suai cian untuk menyambut serangan tangan kanan si anak

muda itu dengan bahunya.

Gak Lam kun tidak menyangka kalau Hoa Kok khi dapat pula mempergunakan jurus

kepandaian itu untuk membuyarkan serangannya jelas tak mungkin lagi, dan…. “Blaang!”

telapak tangannya langsung beradu keras dengan bahu lawan.

Terdengar suara dengusan tertahan menggema memecahkan kesunyian, Thiat Kiam

kuncu terhantam sehingga mundur tujuh delapan langkah dari posisinya semula.

Gak Lam kun masih tetap berdiri ditempat semula tapi lengan kanannya terasa linu dan

kesemutan sakitnya bukan kepalang.

Waktu itu pemuda tersebut merasa keheranan, ia dengan pasti mengetahui bahwa Hoa

Kok khi telah memantulkan seluruh tenaga pukulannya dengan ilmu Tan suai cian, bahkan

lengan kanannya menjadi kesemutan dibuatnya, tapi diluar dugaan ternyata isi perutnya

tidak ikut terluka, ataukah mungkin tenaga dalamnya kurang sempurna?

Atau mungkin….?

Teringat akan yang terakhir ini Gak Lam kun merasa amat terkejut, buru-buru dia

mengatur hawa murninya untuk mengelilingi sekujur badannya, terbukti isi perutnya sama

sekali tidak terluka, hal ini semakin meyakinkan dia bahwa tenaga dalam dari Hoa Kok khi

lah yang kurang sempurna.

Padahal Gak Lam kun mana tahu kalau Hoa Kok khi ketika itu sedang beradu

kecerdasan dengan Thian yu cinjin! Ia memang sengaja menyembunyikan kepandaian

silatnya agar tidak terlalu menyolok.

Coba kalau Hoa Kok khi benar-benar memantulkan tenaga pukulannya yang disertai

dengan kekuatan mautnya tak bisa diragukan lagi Gak Lam kun pasti akan terluka parah.

Kiu to Thian yu Cinjin segera memburu maju kedepan, tegurnya, “Saudara Hoa,

bagaimana keadaanmu?”

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa lebar.

“Masih mendingan dan tak sampai terluka dalam, bocah keparat ini memang rada

hebat!”

“Hoa heng, biar pinto yang membalaskan sakit hatimu itu!” seru Thian yu Cinjin

kemudian dengan suara dingin.

Selesai berkata, si tosu setan segera meloloskan hudtim bulu emasnya dan pelan-pelan

menghampiri Gak Lam kun….

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi segera tertawa terbahak-bahak, serunya dengan lantang,

“Thian yu to heng, sakit hati atas sebuah pukulan ini bila tidak siaute balas malu aku

menjadi seorang pria!”

Dari tempat kejauhan kembali ia lepaskan sebuah bacokan kilat ketubuh Gak lam kun.

Gak Lam kun bukan seorang bodoh, sudah barang tentu diapun mengetahui bahwa

kedua orang itu bermaksud jelek terhadapnya, jelas lantaran mereka adalah jago-jago

kenamaan, maka kalau secara terang-terangan mengatakan hendak menghadapinya

bersama, hal ini pasti akan menurunkan derajatnya, maka digunakanlah sandiwara

tersebut untuk menyelimuti rencana mereka yang sesungguhnya.

Benar juga, serangan yang dilancarkan Hoa Kok khi segera mengunci jalan mundur Gak

Lam kun sementara bersamaan waktunya hudtim bulu emas ditangan Kui to Thian yu

cinjin secepat kilat telah menyambar datang mengancam batok kepalanya.

Serangan gabungan dari dua orang jagoan lihay ini boleh dibilang keji, ganas dan

mengerikan, didalam perkiraan kedua orang itu, Gak Lam kun pasti tak akan mampu

meloloskan diri dengan selamat.

Paras muka Gak Lam kun berubah juga setelah menyaksikan hebatnya serangan

gabungan tersebut, buru-buru dia keluarkan ilmu gerakan tubuh Liong heng sin hoat yang

maha sakti itu untuk menghindarkan diri dari sabetan senjata hudtim dari Thian yu Cinjin.

Ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng liong sin hoat memang suatu gerakan tubuh yang

sakti dan mengagumkan, Thian yu cinjin betul-betul dibikin tidak habis mengerti, padahal

ia tahu kalau semua jalan mundur bagi Gak Lam kun telah tertutup, tapi nyatanya pemuda

itu toh berhasil meloloskan diri dari kepungan.

Untuk sesaat lamanya, tosu setan itu sampai terkesima dibuatnya.

Sementara dia masih termenung, Gak Lam kun telah meloloskan pedang pendek Giok

siang kiam dari sakunya.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk

melancarkan serangan lebih dulu, ia segera membentak keras, sepasang telapak

tangannya secara beruntun dibabat keluar, dua gulung tenaga pukulan yang dahsyatnya

bagaikan ambruknya bukit tay san langsung menerpa kedepan.

Gak Lam kun tidak berani menyambut datangnya serangan dengan keras lawan keras,

cepat tubuhnya melejit keudara, segulung hembusan angin puyuh segera menggulung

lewat dari bawah kakinya, coba sedikit ia terlambat menghindar, niscaya tubuhnya akan

hancur termakan serangan itu.

Baru saja lolos dari ancaman Hoa Kok khi, Kui to Thian yu Cinjin telah menubruk lagi

dari belakang, telapak tangan kirinya dengan jurus Sin liong Tham jiau (naga sakti

unjukkan cakar) mencengkeram kepalanya sementara senjata hudtim ditangan kanannya

dengan jurus Poan koan boan poh (hakim pengadilan memeriksa catatan) menggulung

pergelangan tangan kanan pemuda itu.

Gak Lam kun menggetarkan pergelangan tangannya dan menyerang dengan

menggunakan jurus aneh, pedang pendeknya dengan gerakan seperti menotok seperti

juga sedang membacok dibawah kilatan cahaya yang menyilaukan mata secara beruntun

mengancam jalan darah Hian ki, Tong bun, Ciang tay tiga buah jalan darah kematian.

Jitu sekali serangan tersebut, kendatipun Thian yu Cinjin memiliki ilmu silat tinggi, sulit

juga baginya untuk mematahkan serangan tersebut, karena posisi tidak menguntungkan,

buru-buru tosu itu menarik kembali serangannya dan mundur tiga langkah.

Menggunakan kesempatan itu Gak Lam kun menciptakan segulung hembusan angin

pedang yang tajam untuk melindungi tubuhnya, tubuhnya melejit keudara lalu

menggunakan pancaran dari angin pedang tadi ia keluarkan ilmu Leng gong siu tok

(menyeberang lewat tengah udara) dan melayang sejauh enam tujuh kaki dari tempat

semula.

Ternyata Gak Lam kun tahu bahwa kepandaian silatnya seorang diri teramat minim, tak

mungkin ia bisa menghadapi dua orang musuh tangguh sekaligus sebab itu timbullah

pikirannya untuk kabur dulu dari situ, untuk kemudian bila ada kesempatan dilain saat

kedua orang itu baru akan dibunuhnya…. siapa tahu, baru saja kakinya menginjak

permukaan tanah dari samping tubuhnya telah berkumandang suara tertawa dingin dari

Hoa kok khi.

Menyusul suara tertawa dingin tadi sebuah pukulan dahsyat telah dibabat kearah

tubuhnya dari belakang.

Mimpipun Gak Lam kun tidak mengira kalau ilmu meringankan tubuhnya yang demikian

sempurna ternyata masih kalah satu tingkat bila dibanding dengan kepandaian Hoa kok

khi untuk sesaat sulit bagi pemuda itu untuk menghindarkaa diri.

Dalam keadaan begini ia menjadi nekad, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu

lalu telapak tangan kirinya didorong kebelakang dan bersiap sedia menerima pukulan itu

dengan keras lawan keras.

Siapa tahu pukulan yang dilancarkan itu ternyata sama sekali tidak menjumpai

halangan, karena keheranan maka tanpa terasa dia menarik kembali serangannya itu.

Pada saat itulah segulung tenaga pukulan berhawa dingin mengikuti tenaga yang

ditarik kembali itu memyusup kedalam tubuhnya, kenyataan tersebut sangat mengejutkan

hatinya, buru-buru ia menyalurkan hawa murninya untuk melindungi isi perut, semua jalan

darah penting ditutup dan hawa dingin yang sudah terlanjur menyusup kedalam tubuhpun

berusaha didesak keluar.

Sayang sebelum usahanya itu mendatangkan hasil Kui to Thian yu Cinjin telah

menyusul kedepan dan menghadang disehelah kanan belakang Gak Lam kun, sebuah

pukulan dilepaskan pula dengan telapak tangan kirinya.

Waktu itu Gak Lam kun telah terkena sergapan maut Hoa Kok khi, serta merta

serangan dahsyat dari Thian yu Cinjin sulit pula baginya untuk menghindarinya, apalagi

serangan itupun merupakan sejenis ilmu pukulan berhawa dingin, yang mengerikan.

Tampaknya sebentar lagi Gak Lam kun bakal terluka parah oleh pukulan mematikan itu.

Disaat yang kritis mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang

memecahkan kesunyian.

Mengikuti suara tertawa dingin tadi, segulung angin pukulan yang lembut langsung

menggulung kedepan dan menerjang serangan maut dari Thian yu Cinjin itu.

“Blaaang….!” kedua gulung tenaga itu saling bertemu satu sama lainnya, terjadilah

suatu gemuruh yang memekikkan telinga.

Oleh tenaga pantulan dari benturan tersebut, Thian yu Cinjin merasakan sepasang

bahunya bergetar keras, tubuhnya terdorong mundur setengah langkah dari posisi semula.

Cepat-cepat dia mendongakkan kepalanya, kurang lebih tiga kaki dihadapannya berdiri

seorang gadis cantik jelita yang mengenakan baju berwarna kuning emas, disisinya berdiri

pula seorang sastrawan berbaju biru.

Siapakah kedua orang itu? Ternyata mereka bukan lain adalah Kim eng thamcu

(thamcu elang emas Ki Li soat dan Lan ceng sin thamcu (Thamcu elang biru Cian seng kui

si sastrawan aneh seribu bintang) Wan Kiam ciu, dua orang jago tangguh dari

perkumpulan Thi eng pang.

Kui to Thian yu Cinjin kembali tertawa dingin.

“Selamat berjumpa, selamat berjumpa!” katanya, “tidak kusangka dua orang toa

thamcu dari Thi eng pang juga telah berdatangan kepulau terpencil ini, heeehh….

heeehh…. heeehhh….”

Kim eng thamcu Ki Li Soat tertawa dingin sindirnya pula dengan nada sinis

“Akupun tidak menyangka kalau dua orang jago tangguh yang mempunyai nama besar

dalam dunia persilatan telah melakukan perbuatan terkutuk serendah ini dengan

mengerubuti seorang pemuda ingusan”

Mendengar sindiran tersebut, si tosu setan Thian yu cinjin merasa malu bercampur

marah, sebenarnya ia hendak mengumbar hawa amarahnya, tapi setelah terbayang

kembali bahwa pukulannya berhasil menghapuskan pengaruh tenaga serangannya tadi

lagi pula mengetahui kalau thamcu ini merupakan orang pertama yang paling diandalkan

ketua Thi eng pang, niat tersebut segera diurungkan.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tergelak pula seraya berkata, “Sungguh mengagumkan!

Sungguh mengagumkan! Ki thamcu memang seorang jago perempuan yang tersohor

namanya diseluruh dunia, setelah perjumpaan hari ini kubaru ketahui bahwa namamu

bukan kosong belaka”

Pelan-pelan Cian seng ki su Wan kiam ciu maju kedepan, lalu katanya dengan dingin,

“Saudara Hoa, baik-baikkah kau selama ini? Sudah hampir dua puluh tahun lamanya kita

tak pernah bersua muka!”

“Baik sekali, baik sekali” jawab Thian kiam kuncu Hoa kok khi sambil memberi hormat

“setelah berpisah pada dua paluh tahun berselang, tidak kusangka kalau Wan heng telah

menjadi seorang toa thamcu dari perkumpulan Thi eng pang, siaute benar-benar ikut

gembira atas kesuksesanmu ini”

Cian seng Kisu Wan kiam ciu mendengus dingin.

“Dua puluh tahun tidak berjumpa tampaknya ilmu silat yang dimiliki Hoa heng telah

mengalami kemajuan pesat kalau dugaanku tidak salah, rupanya ilmu Tay siu im khi telah

berhasil kau kuasai secara sempurna….!”

Hoa kok khi tersenyum.

“Saudara wan terlalu memuji siaute tak berani menerimanya. Haaahh…. haahhh….

haaahh…. ilmu Tay siu im khi adalah sejenis kepandaian berhawa dingin yang amat sakti

dan sukar dipelajari, dengan kebebalan otak siaute, mana mungkin ilmu tersebut bisa

kupelajari secara sempurna? Haahh…. haaah…. cuma hadiah kitab pusaka Tay siu khi dari

saudara Wan tempo hari memang sangat membantuku, disini siaute ucapkan banyak

terima kasih dulu atas kerelaan hatimu”

Paras muka Cian seng Ki su Wan Kiam ciu berubah hebat, tapi segera ia tertawa dingin

tiada hentihya.

“Heee…. heeeh…. heeeh…. Saudara Hoa, kau jangan terlalu sombong, dulu siaute

hanya menyesal karena ilmu silatku bukan tandinganmu sehingga kitab pusaka Tay siu im

khi tersebut berhasil kau rampas, tapi sepuluh tahun kemudian ketika kitab tersebut kau

kembalikan kepadaku…. Hmm…. hmm…. Ternyata kau berniat busuk dengan

menyerahkan sejilid kitab Tay siu im khi palsu kepadaku, membuat jiwaku nyaris ikut

terbang meninggalkan raga”

“Haaah…. haaah…. haaah saudara Wan, kalau begitu kedatanganmu sekarang adalah

ingin melakukan perhitungan lama dengan siaute?” tukas Hoa Kok khi sambil tertawa

tergelak.

“Saudara Hoa, dahulu kita adalah sahabat karib tapi dengan cara yang rendah dan

biadab kau telah mencelakaiku, mengkhianati persahabatan kita, kesemuanya ini membuat

siaute benar-benar tak tahan untuk menyimpan terus rasa kesal dalam hatiku.”

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi kembali tertawa lebar, ujarnya dengan suara lembut,

“Kalau memang saudara Wan masih teringat dengan persahabatan kita dimasa lalu, aku

lihat pertarungan ini lebih baik ditiadakan saja, apalagi sampai dimanakah ilmu silat yang

dimiliki saudara Wan, siaute juga mengetahui sangat jelas, siapa menang siapa kalah aku

rasa hatimu tentu lebih terang bukan?”

Jelas perkataan itu dia maksudkan bahwa Cian seng Ki su pada hakekatnya bukan

tandingannya.

“Aah, belum tentu!” teriak Wan Kiam ciu gusar.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa enteng.

“Saudara Wan, antara kami dengan perkumpulanmu cepat atau lambat akhirnya pasti

akan terlibat dalam suatu pertarungan sengit dipulau ini, tetapi jika Wan heng memang

sudah tidak sabar menunggu, tentu saja dengan senang hati siaute akan melayanimu”

Dengan suatu gerakan cepat Wan Kiam ciu mengeluarkan sebuah cambuk lemas yang

penuh dengan kaitan perak dari sakunya, lalu dengan suara berat berkata, “Saudara Hoa.

sambutlah seranganku ini!”

Tangan kanannya lantas digetarkan dan hawa murninya disalurkan kedalam cambuk

tersebut dengan jurus Kim ciam teng hay (jarum emas memaku samudra) ia langsung

menyodok jalan darah Hu ciat hiat pada lambung Hoa Kok khi.

Seenteng awan yang bergerak diangkasa, Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi menyingkir

tiga depa kesamping.

Siapa tahu Wan kiam ciu telah memperhitungkan sampai kesitu, cambuk lemasnya

kembali diputar sedemikian rupa hingga melejit secara aneh menyusul kemudian telapak

tangan kirinya memainkan ilmu pukulan cian seng ciang hoat (pukulan seribu bintang)

untuk mengimbangi permainan cambuk lemasnya itu.

Jilid 10

Bayangan cambuk dengan dahsyatnya menyelimuti angkasa, bintang-bintang berwarna

perak meluncur kesana kemari, angin pukulan yang menderu-deru menambah seramnya

suasana, serangan tersebut betul-betul suatu kombinasi serangan yang maha hebat.

Karena kurang hati-hati, Thiat kiam kuncu terdesak hebat dan berulang kali harus

mundur kebelakang.

Gak Lam kun yang berdiri disamping arena sambil mengatur nafas dan mengobati isi

perutnya yang terluka dapat mengikuti jalannya penarungan itu dengan jelas ia menghela

nafas panjang tak disangkanyanya kalau begitu banyak jago lihay yang terdapat dalam

dunia persilatan ini, terutama Cian seng Kisu dari Thi eng pang tersebut, kehebatan ilmu

silatnya sudah cukup baginya untuk menjadi pemimpin suatu perkumpulan besar.

Setelah didesak berulangkali oleh permainan cambuk Wan Kiam ciu sehingga

berulangkali Hoa Kok khi harus menghadapi ancaman maut, lama kelamaan naik darah

juga orang itu, sambil tertawa dingin dia lantas mengejek:

“Saudara Wan, ilmu silatmu memang luar biasa, maaf kalau siaute musti bertindak

kurang ajar kepadamu”

Diantara berkelebatnya, bayangan cambuk serta bayangan telapak tangan, tiba-tiba ia

menerobos maju kedepan sambil melancarkan sebuah babatan kilat.

Cian seng Kisu Wan Kiam ciu tidak mau unjukan kelemahannya, kaki kanannya segera

maju setengah langkah, tubuhnya berputar kencang dan cambuknya disodok keatas

membabat lengan lawan dengan jurus Ing hong toan cau (menyongsong angin memotong

rumput).

Dengan memakai kaki kirinya sebagai poros Thiat kiam kuncu berputar secepat

gangsingan, dia mundur beberapa depa, lalu sepasang telapak tangannya secara

bergantian melancarkan pukulan dalam sekejap mata ia telah melepaskan empat buah

pukulan, bahkan pukulan demi pukulan dikeluarkan dengan kekuatan yang makin hebat.

Sekuat tenaga Wan Kiam ciu memutar cambuknya nenciptakan setengah lingkaran

bayangan perak setelah angin cambuk memunahkan empat buah pukulan lawan, dia

berebut kedepan sambil melancarkan tiga buah serangan cambuk, sayang serangan

tersebut semuanya berhasil dipukul balik oleh tenaga pukulan Hoa Kok khi.

Setelah pertarungan berlangsung beberapa jurus Cian seng kisu baru merasakan

kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Hoa Kok khi, jelas orang itu sudah berhasil

menguasai rahasia utama dari ilmu Tay siu im khi yang maha dahsyat tersebut.

Buru-buru dia mengatur pernapasannya dan menyiapkan senjata untuk menghadapi

segala kemungkinan tapi ia sendiri sama sekali tidak memulai dengan serangan baru.

Thiat kiam kuncu tertawa terbahak-bahak, sambil melompat mundur tiga langkah

katanya:

“Saudara Wan, sekarang bukan waktu yang cocok bagi kita untuk beradu jiwa,

bagaimana kalau kita sudahi pertarungan pada malam ini sampai disini saja?”

Tidak menunggu jawaban lagi, dia lantas putar badan dan berkata pula kepada Thian

yu Cinjin:

“Thian yu to heng, mari kita pergi”

Kui to (si tosu setan) Thian yu Cinjin tertawa dingin.

“Malam ini sepasang mataku benar-benar terbuka lebar, aku baru tahu kalau tenaga

dalam yang dimiliki Hoa heng jauh lebih sempurna dari apa yang pinto duga semula”

Thiat kiam Kuncu tertawa tergelak.

“Haaah… haah… sama-sama, sama-sama To heng pandai menyembunyikan

kepandaian, kesempurnaanmu jauh lebih diluar dugaan orang”

“Saudara jangan pergi dulu!” tiba-tiba Kim eng thamcu Ki Li soat berseru “dengan

memberanikan diri, pun thamcu minta petunjuk beberapa jurus ilmu pedangmu”

“Aaaa..! Ki thamcu terlalu sungkan, aku orang she Hoa dengan senang hati akan

menyambut tantanganmu”

“Kenapa tidak kau loloskan senjatamu?” ejek Ki Li soat sambil tertawa dingin.

Hoa Kok khi tersenyum.

“Kita toh cuma saling mengukur kepandaian, aku yakin nona Ki tidak akan merenggut

nyawa aku orang she Hoa, maka lebih baik kugunakan sepasang telapak tanganku untuk

menerima pedang nona”

Paras muka Ki Li soat berubah selapis hawa dingin menyelimuti wajahnya, pelan-pelan

dia meloloskan sebilah pedang dari belakang punggungnya pedang itu tidak memancarkan

sinar tajam atau cahaya berkilauan, karena senjata tersebut ternyata adalah sebilah

pedang bambu.

Semua orang baru kaget setelah mengetahui bahwa pedang yang dipergunakan adalah

sebilah pedang bambu yang tipis seperti lapisan pisau pikir orang-orang itu:

“Tanpa memiliki tenaga dalam yang sempurna tak mungkin ia bisa mempergunakan

lapisan bambu yang begini tipis sebagai senjata andalannya, wah… dia pasti seorang jago

yang menakutkan!”

Gak Lam kun tahu kalau gadis tersebut adalah pemimpin para thamcu dalam

perkumpulan Thi eng pang, ilmu silatnya pasti lihay sekali, tapi diapun tidak menyangka

kalau tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan yang dikatakan orang memetik daun

melukai orang, menyentil kedelai menotok jalan darah orang.

Paras muka Tniat kiam kuncu Hoa Kok khi agak berubah pula, ia tahu senjata tersebut

merupakan sebilah senjata yang mematikan, dia tak berani memandang enteng lagi,

segenap perhatiannya dipusatkan menjadi satu untuk bersiap-siap melancarkan serangan.

Tiba-tiba pedang bambu ditangan kanan Ki Li soat yang lemas itu menegang keras,

jari-jari tangan kirinya memegang gagang pedang dengan lembut sedang kaki kanannya

diseret kearah kiri belakang lalu setelah memutar badannya dengan kepala masih

menghadap kedepan ia berbisik:

“Maaf”

Pedang bambu itu pelan-pelan didorong kedepan dengan jurus Hui pau liu sian (air

terjun mengalirkan sumber air) ujung pedangnya bergerak lambat kedepan dan menusuk

dada kiri Hoa Kok khi.

Sepintas lalu gerakan ini tampak sangat indah ibaratnya bidadari yang sedang berjalan

diatas awan akan tetapi dibalik gerakan yang sederhana dan tiada sesuatu yang istimewa

itu justru tersimpan gerakan To coan im yang (memutar balikkan im yang) yang

merupakan perubahan kedua dari gerakan tersebut, asal musuh menghindari serangan

pertama, maka dari gerakan menusuk, pedang itu akan berubah menjadi gerakan sapuan

yang menyusul kedepan menyambar tubuh bagian tengah.

Sewaktu serangan kedua ini menyusul kedepan dengan membabat bagian tengah

tubuh, maka gerakannya dari lambat akan berubah menjadi cepat, sedemikian cepatnya

sehingga tak mungkin bagi musuhnya untuk menghindarkan diri.

Boleh dibilang jurus serangan itu merupakan dua jurus berantai yang maha lihay.

Selapis rasa tegang dan serius menghiasi wajah Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi, tapi ia

tidak menghindari serangan tersebut, telapak tangan kirinya segera diayun kedepan

menahan gerakan pedang itu sementara telapak tangan kanannya dengan jurus Ci kou

thian bun (menyembah langsung pintu langit) membacok batok kepala musuh.

Dibalik serangannya itu dia sertakan pula segulung tenaga dingin yang menusuk tulang,

sedemikian dingin dan tajamnya hawa serangan itu, membuat orang akan bergidik

rasanya.

Mendadak bentakan nyaring menggelegar diudara, telapak tangan kiri Ki Li soat

meluncur kedepan, sementara pedang bambu ditangan kanannya berubah gerakan.

“Breeet…”

Diiringi suara tertawa nyaring, seperti bayangan setan dalam angin dingin Thiat kiam

kuncu Hoa Kok khi telah mundur tujuh langkah, ketika ia menundukkan kepalanya tampak

ujung baju pada pergelangan tangan kanannya telah robek besar.

“Lihay, lihay, betul-betul sangat lihay” serunya sambil tertawa “ilmu pedang nona Ki

memang sungguh luar biasa sekali, sayang dalam dua jurus pedang kebanyakan sebuah

pukulan, bila ada jodoh aku orang she Hoa pasti akan mohon petunjukmu lagi, sekarang

terpaksa aku mohon diri lebih dulu.

Gak Lam kun yang mengikuti jalannya pertarungan diam-diam menghela napas,

ternyata didalam melancarkan serangannya tadi Ki Li soat memang telah kelebihan sebuah

pukulan.

Meskipun sekilas pandangan gadis itu berhasil menangkan pertarungan, tapi ia justru

telah mengingkari perkataannya sendiri yakni dua pedang kelebihan satu pukulan.

Sesungguhnya hal ini terpaksa dia lakukan karena pukulan Hoa kok khi yang terlampau

lihay hal tersebut memaksanya harus menggunakan pukulan untuk memusnahkan bahaya,

jadi dengan demikian menurut peraturan dunia persilatan hasil pertarungan itu adalah seri

alias sama kuat.

Walaupun kedua orang itu melangsungkan pertarungan dengan gerakan cepat tapi dari

serangan-serangan itu bisa diketahui pula sampai dimanakah sempurnanya ilmu silat

mereka serta kecerdasan dan daya refleknya.

Ki Li soat masih berdiri ditempat semula dengan wajah sedingin es, sedikitpun tanpa

emosi.

Thiat kiam kuncu Hoa kok khi berpaling kepada Gak Lam kun kemudian ujarnya sambil

tersenyum:

“Gak lote, maaf sekali, kau telah terkena pukulan Tay siu im khi ku, bila kau bersedia

bertukar syarat denganku, besok tengah hari silahkan kau menantikan kedatanganku

disini”

Selesai berkata sambil tertawa ringan ia dan Thian yu Cinjin berlalu dari situ.

Air muka Gak Lam kun yang sesungguhnya merah dadu, kini telah berubah menjadi

pucat pasi, matanya setengah terpejam dan mimik wajahnya secara lamat-lamat

menunjukkan kesakitan yang luar biasa.

Ki Li soat masukan kembali pedangnya kedalam sarung, pelan-pelan ia maju

menghampiri si anak muda itu.

Mendadak Gak Lam kun membuka matanya, dengan sinar mata tajam ditatapnya wajah

Ki Li soat sekejap, kemudian setelah tertawa hambar ia memejamkan kembali matanya.

Sekalipun hanya pandangan sekejap, namun sepasang sinar matanya yang tajam

bagaikan aliran listrik bertegangan tinggi telah menembusi dasar hati Ki Li soat.

Secara tiba-tiba saja sepasang keningnya berkerut, wajahnya menunjukkan kekesalan

dan sedih, sambil menatap wajah Gak Lam kun ia berdiri termangu…

Waktupun berjalan lewat ditengah keheningan.

Tiba-tiba Gak Lam kun membuka kembali matanya, sekulum senyuman tersungging

diatas wajahnya yang pucat, sambil menyeka keringat dengan ujung bajunya ia berkata:

“Nona Ki, aku orang she Gak akan mengingat selalu budi pertolonganmu kepadaku, kini

aku telah terkena pukulan Tay siu im khi dari Hoa Kok khi, hawa racun telah menyusup

ketubuhku dan menyerang isi perutku, kini Sam yang, sam im dan sam meh ku sudah

terluka oleh hawa dingin beracun tersebut, dengan keadaan seperti ini aku tahu kalau

usiaku tak akan melewati tujuh hari, aku mati bukan urusan, tapi ada satu persoalan

membuatku menjadi tidak tenang yakni tempo hari aku tak sanggup menyelamatkan jiwa

saudara Si Tiong pek”

ooooooOoooooo

Menyinggung kembali soal Si Tiong pek, Ki Li soat merasakan hatinya bergetar keras ia

menghela, nafas panjang.

“Mati hidup manusia ada ditangan Thian, mengenai persoalan komandan pasukan Thiat

eng tui kami, aku harap kau tak usah selalu memikirkannya dihati, yang penting sekarang

adalah luka yang diderita Gak siangkong! Bila kau bersedia, mungkin pangcu kami masih

sanggup untuk mengobati lukamu itu”

Gak Lam kun tersenyum.

“Ilmu silat nona Ki sangat tinggi, tentunya kaupun tahu bahwa Tay siu im khi adalah

semacam pukulan hawa beracun yang dilancarkan keluar dalam sebuah pukulan tenaga

murni tingkat tinggi, dengan meminjam hawa pukulan itulah sari racun dipaksakan masuk

kedalam urat nadi…”

Ki Li soat tertegun setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa tanyanya dengan

sedih:

“Apakah lukamu itu tak mungkin bisa diobati?”

Menyaksikan sikapnya yang begitu menaruh perhatian, sekulum senyuman penuh rasa

terima kasih kembali menghiasi wajah yang pucat, sorot matanya berkilat, katanya:

“Seandainya barusan ada orang membantuku untuk menembusi Sam im dan Lak meh

ku, setelah beristirahat beberapa hari lukaku itu pasti akan sembuh dengan sendirinya,

tapi sekarang sudah terlalu lambat untuk dikatakan lagi…”

Berkaca-kaca sepasang mata Ki Li soat setelah mendengar perkataan itu mungkin

karena ikut cemas dan gelisah atas keadaan lukanya, tanpa disadari airmata bercucuran.

Gak Lam kun terharu sekali, ia semakin merasa bahwa gadis itu adalah seorang gadis

cantik yang baik hati, penuh belas kasihan dan berhati polos. Ini bisa dibuktikan dari

sikapnya barusan, tanpa hubungan persahabatan diantara mereka bahkan malah berada

dalam posisi saling bermusuhan, ternyata ia menaruh simpatik kepadanya, dari sini bisa

diketahui bahwa hatinya memang benar-benar polos.

Selang sejenak kemudian, Ki Li soat menghela napas dan berkata sambil tertawa:

“Sebelum pergi Hoa Kok khi toh sudah meninggalkan pesan, aku rasa dia pasti

mempunyai cara penyembuhan…”

“Nona Ki, dugaanmu memang tak salah dia memang mempunyai cara penyembuhan

atas luka tersebut” kata Cian seng Kisu Wan Kiam ciu sambil tertawa dingin “tapi syarat

yang dia ajukan pasti akan jauh lebih berharga daripada nilai selembar nyawa”

“Sekalipun tanpa pertukaran syarat tak nanti akan kuterima bantuan pengobatannya”

tukas Gak Lam kun sambil tertawa ewa “Nona Ki silahkan kalian berlalu!”

Sehabis berkata dia lantas memberi hormat dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Dengan termangu-mangu Ki Li soat mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap

dibalik kegelapan, titik airmata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya.

Dia sendiripun tidak tahu apa sebabnya begitu menaruh simpatik kepadanya diapun tak

tahu mengapa ia harus mencucurkan airmata kepedihan baginya.

“Nona Ki!” Wan kiam Cu berkata nyaring “aku lihat asal usul orang ini amat

mencurigakan kenapa kita lepaskan dengan begitu saja?”

“Wan thamcu, tahukan kau murid siapa dia?”

Setelah berhenti sebentar dan menghela nafas lanjutnya:

“Orang itu bukan lain adalah ahli waris dari Tok liong cuncu Yo long yang namanya

tersohor dalam dunia persilatan”

Sekilas rasa kaget dan tercengang menghiasi wajah Cian seng Kisu Wan Kiam ciu.

“Nona Ki, kalau begitu mari kita susul dia dan membunuhnya”

“Wan thamcu masa kau tidak tahu bila perkumpulan kita ada maksud membinasakan

orang ini, semalam ayah angkatku telah turun tangan keji kepadanya” kata Ki Li soat

dengan dingin “sekarang aku ingin bertanya kepadamu pula, Tok Liong cuncu Yo Long

sesungguhnya masih hidup atau sudah mati? Tahukah kau?”

“Menurut pengakuan dari Ou Yong hu, Yo Long telah terjatuh kedalam jurang Yan po

gan dibukit Hoa san, sudah tentu sembilan puluh persen tak mungkin bisa hidup”

“Kalau Yo Long masih hidup kita tak usah mengikat seorang musuh tangguh

dengannya, kalau sudah mati tentu saja kita lebih-lebih tak usah membunuh orang she

Gak itu”

Cian seng Kisu Wan Kiam ciu tidak mengerti maksud dari ucapannya itu dia lantas

bertanya:

“Nona Ki, apa maksud perkataanmu itu?”

Sambil tertawa Ki Li soat berkata:

“Teka teki sekitar mati hidupnya Yo Long masih merupakan sebuah tanda tanya besar

bagi setiap umat persilatan, sekarang kita ambil contoh seandainya Yo Long telah tiada,

lantas siapakah yang akan mewakilinya untuk menerima Lencana pembunuh naga dari

Soat san thian li? Apalagi jika kita binasakan Gak Lam kun, bukankah tindakan kita ini

sama artinya dengan membantu pihak See Thian san pay untuk mengangkangi Lencana

pembunuh naga tersebut? Pangcu telah berpesan kepadaku, bila berjumpa lagi dengan

Gak Lam kun kita musti berusaha untuk membaikinya mengikat tali persahabatan

dengannya, bahkan bila perlu memanjakan agar dia bersedia kita gunakan, atau paling

tidak jangan membuat dia memusuhi kita.”

“Berbicara dari kekuatan yang hadir dipulau ini sekarang, boleh dibilang hanya Thi eng

pang kita dengan perguruan panah bercinta saja yang memiliki kekuatan paling besar,

sekalipun ilmu silat pangcu amat lihay, tapi kepandaian dari Lam hay sin ni juga lihay

sekali, kalau Gak Lam kun sampai ditarik oleh pihak perguruan panah bercinta, kejadian ini

bagi perkumpulan kita boleh dikatakan sebagai suatu kerugian yang sangat besar sekali”

Cian seng kisu Wan Kiam ciu manggut-manggut.

“Nona Ki benar-benar burung hong diantara manusia, pendapatmu memang hebat

sekali!”

Ki Li soat gelengkan kepalanya berulangkali, setelah menghela napas panjang, ujarnya

lebih jauh.

“Gak Lam kun adalah seorang pemuda yang tinggi hati dan berwatak keras kepala

selamanya ia selalu luntang lantung seorang diri tampaknya agak sulit untuk

merangkulnya agar memihak kepada perkumpulan kita padahal jago lihay yang dewasa ini

berkumpul disini sudah tak terhitung jumlahnya boleh dibilang belum pernah terjadi

kejadian semacam ini selama beratus tahun dalam dunia persilatan, aaai… jika sampai

terjadi bentrokan langsung, pastilah sudah banyak korban yang akan berjatuhan,

akibatnya dunia persilatan akan menjadi lemah sekali!”

“Nona Ki!” ujar Cian seng Kisu dengan cepat “buat apa kau merisaukan persoalan itu?

Kini ibaratnya airpun susah dibendung, terpaksa kita harus mengembangkannya sesuai

dengan rencana yang telah digariskan.”

Dengan sepasang mata yang tajam Ki Li soat menatap wajah Wan Kiam ciu lekat-lekat,

kemudian iapun menghela nafas panjang.

“Wan thamcu, memang ada baiknya kalau kita segera berangkat pulang untuk

melaporkan dulu kejadian ini kepada pangcu.”

Selesai berkata dua orang itupun pelan-pelan berlalu dari situ dibawah timpaan sinar

matahari pagi.

ooooooOoooooo

Dengan menelusuri bukit tebing yang mengitari sekeliling bangunan gedung itu Gak

Lam kun bergerak menuju ketimur.

Ia cukup menyadari, ilmu Tay siu im khi yang bersarang ditubuhnya akibat serangan

dari Thiat kiam kuncu amat parah sekali, kepandaian tersebut merupakan sejenis ilmu

pukulan beracun Im tok sin kang dari aliran perguruan Pek kut bun, para korban kecuali

mendapat pengobatan langsung dari pemukulnya boleh dibilang tiada pertolongan lain

kecuali jalan kematian.

Sekalipun demikian, untuk memperoleh pengobatan khusus dari pihak Pek kut bun

itupun tak bisa melampaui batas waktu selama sembilan jam, maka Thiat kiam Kuncu

berjanji kepadanya untuk bertemu pada tengah hari nanti, tentu saja bila syarat yang

diajukan dapat diterima, racun itu baru akan disembuhkan dengan suatu cara pengobatan

khusus.

Tentu saja Thiat kiam Kuncu mengajukan pertukaran syarat hanya merupakan sebuah

usul belaka, tapi Gak Lam kun yang keras kepala dan tinggi hati telah mengambil

keputusan untuk tidak menundukkan kepala apalagi minta ampun dari musuh besarnya, ia

lebih rela mati secara mengerikan tujuh hari kemudian akibat bekerjanya racun keji itu

daripada takluk dan menyerah kepada lawan.

Teringat soal kematian tiba-tiba saja Gak Lam kun merasakan pikiran maupun

perasaannya menjadi begitu kosong dan hampa.

Mati! Tentu saja ia tidak takut, sewaktu masih kecil dulu ia teringat kembali akan si

kakek yang patut dikasihani, serta teringat juga bahwa tugas yang dibebankan diatas

pundaknya hingga kini belum terselesaikan, padahal tak lama kemudian ia harus berpisah

dari dunia ini, rasa sedih seketika menyelimuti seluruh perasaannya, ia berusaha menahan

lelehan airmatanya, tapi toh akhirnya butiran airmata mengalir juga membasahi pipinya.

Dibalik butiran-butiran airmatanya itu entah terselip berapa banyak perasaan yang

beraneka ragam yang bercampur aduk menjadi satu…

Budi dan dendam belum terselesaikan…

Ciang ping, kekasihnya telah menitipkan adik lelakinya kepada dia untuk dirawat…

Semua kesedihan, kegembiraan, pahit getir dan aneka ragam penderitaan lain yang

dialami selama ini, sebentar lagi akan berpisah untuk selamanya…

Aaaai!

Dengan amat pedihnya Gak Lam kun menghela nafas panjang, ia tahu masalah

tersebut dengan perasaan apa boleh buat terpaksa harus ditinggalkan dengan begitu saja

tujuh hari kemudian.

Dewasa ini yang bisa ia lakukan hanya berusaha keras untuk mengendalikan diri agar

luka didalam nadinya tak sampai kambuh, dalam tujuh hari yang amat singkat ini, masih

banyak urusan yang harus ia selesaikan, paling tidak seorang musuh besar harus dibunuh,

bila masih sempat diapun harus menyambut kedatangan Lencana pembunuh naga, lalu

mencari seorang sahabat yang dapat dipercaya menitipkan Ji Kiu liong adik kekasihnya

agar dirawat serta melimpahkan tanggung jawab yang sangat berat ini kepada orang lain,

dengan begitu dia baru bisa mati dengan tenang tanpa harus risau oleh masalah lain.

Teringat sampai masalah yang terakhir itu tiba-tiba terlintas bayangan dari Bwe Li pek

dihadapan mata Gak Lam kun, ia merasa hanya dialah satu-satunya orang yang bisa

memikul tanggung jawab berat ini.

Gak Lam kun mendongakkan kepalanya menentukan arah tujuan, lalu ia percepat

langkahnya menuju kedepan sana.

Buncu dari perguruan panah bercinta telah berjanji dengannya untuk bertemu pada

kentongan kelima, dimana dia hendak mengembalikan pedang Giok siang kiam tersebut

kepadanya, kini kentongan kelima, sudah lewat, sinar fajar telah memancar kemanamana,

dalam gelisahnya Gak Lam kun segera mengerahkan segenap tenaga ilmu

meringankan tubuhnya untuk bergerak menuju kegedung sebelah tenggara.

Mendadak…

Dari balik kabut pagi yang tipis dan remang-remang, ia menyaksikan sesosok bayangan

manusia berbaju hitam yang kurus kecil sedang berjalan mendatangi dari arah tenggara.

Sekalipun tubuh Gak Lam kun sudah terluka oleh pukulan Tay siu im khi, bukan berarti

ilmu silatnya telah punah, dalam sekali lirikan saja ia telah mengetahui bahwa orang itu

bukan lain adalah Thamcu panji hitam dari perkumpulan Thi eng pang Tang hay coa siu

(kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu.

Pertemuan yang tidak terduga ini segera menimbulkan hawa napsu membunuh yang

tebal didalam benak Gak Lam kun.

Dengan cepat ia menghentikan langkah tubuhnya, sementara Kakek ular dari lautan

timur Ou Yong hu rupanya masih belum tahu kalau orang yang berada dihadapannya

adalah Gak Lam kun, pelan-pelan ia berjalan menghampirinya.

Kurang lebih tiga empat kaki kemudian, Kakek ular dari lautan timur baru

mendongakkan kepalanya, begitu menjumpai Gak Lam kun berada dihadapannya, kontan

saja paras mukanya berubah hebat, ia menjadi tertegun dan berdiri mematung disana,

untuk sesaat tidak diketahui olehnya apa yang musti dilakukan?

Gak Lam kun tertawa dingin dengan seramnya dengan suatu gerakan cepat sepasang

tangannya bekerja keras melepaskan jubah luarnya yang berwarna hijau pupus itu

sehingga tampak jubah naganya yang berwarna kuning keemas-emasan.

Menyusul kemudian wajahnya yang ganteng ditutup pula oleh selembar topeng

berbentuk naga, tangannya mengenakan cakar naga perenggut nyawa dan sekejap mata

kemudian, Gak Lam kun telah berubah menjadi Tok liong Cuncu Yo Long yang nama

besarnya pernah menggetarkan perasaan banyak orang dimasa lalu.

Tak terlukiskan rasa panik, takut dan ngeri yang berkecamuk dalam perasaan si Kakek

ular dari lautan timur Ou Yong hu dewasa ini, bayangan kematian sudah mulai menghantui

pikiran maupun perasaannya, utusan pencabut nyawa yang setiap hari ditakuti dan

dirisaukan, akhirnya muncul juga dihadapan mukanya.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh…” Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu

memperdengarkan suara tertawa seramnya yang rendah dan berat, suara tertawanya itu

diperdengarkan berulangkali dengan maksud untuk menutupi rasa ngeri, panik dan takut

yang hampir menguasai seluruh pikiran maupun perasaannya itu.

Lama, lama sekali, pelan-pelan ia baru berkata:

“Ternyata dugaan lohu tidak keliru, rupanya Tok liong Cuncu yang belakangan ini

muncul dalam dunia persilatan tidak lain adalah hasil penyaruan dari Gak sauhiap!”

Gak Lam kun mendengus dingin dan memperdengarkan ilmu Liong gin heng (dengusan

naga sakti) nya, kemudian dengan nada menyeramkan ia berkata:

“Ou Yong hu! Kalau engkau sudah tahu, itu lebih bagus lagi kau sudah berhutang

selama hampir delapan belas tahun lamanya atas hutang berdarah diatas tebing Yan po

gan aku pikir ada baiknya kalau hutang tersebut kau bayar secepatnya”

Mendengar perkataan itu, kembali si kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu

merasakan jantungnya berdenyut keras, sekalipun ia sudah menduga bahwa Gak Lam kun

bakal mengucapkan kata-kata tersebut kehadapannya tapi setelah kedengaran dalam

telinganya sekarang, tak urung menimbulkan juga perasaan ngeri, seram dan takut dalam

hatinya.

Sekuat tenaga Ou Yong hu berusaha menenangkan hatinya, lalu sambil tertawa seram

katanya:

“Gak sauhiap, bila kau membinasakan aku maka sahabat cilikmu itupun tidak akan

hidup lebih jauh!”

Sekali lagi Gak Lam kun mendengus dingin.

“Hmm…! Seandainya kau Ou Yong hu benar-benar sanggup menyembuhkan luka

beracun yang diderita Ji Kiu liong, tentu saja aku orang she Gak akan memenuhi janji

dengan mengampuni selembar jiwamu, sayangnya Kwik To telah menyerahkan Ji Kiu liong

kepada Buncu dari perguruan panah bercinta? Semua kejadian itu telah kuikuti semua

dengan mata kepala sendiri, maka sekarangpun kau tak usah banyak bersilat lidah, lebih

baik siapkanlah kekuatan untuk bertarung melawan setan pencabut nyawamu nanti”

Setelah mendengar ucapan tersebut, si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu baru

merasa amat terperanjat, mimpipun ia tak menyangka kalau semua kejadian tersebut

telah diikuti semua oleh Gak Lam kun dengan mata kepala sendiri.

Mendadak… Ou Yong hu memutar badannya dan siap kabur dari situ.

Kalau dia bisa bergerak cepat, ternyata gerakan tubuh Gak Lam kun jauh lebih cepat

lagi, seperti sesosok bayangan setan, tahu-tahu dia sudah berkelebat kehadapan

mukanya.

Tak terlukiskan rasa ngeri dan kaget Ou Yong hu, tongkat berkepala ularnya segera

disodok kedepan dengan jurus Tok coa toh sim (ular beracun menjulurkan lidah).

Namun serangan tersebut ternyata hanya sebuah serangan tipuan, begitu serangan

sudah dilepaskan, tongkat itu cepat ditarik kembali, sementara tubuhnya lantas melejit

keudara dan berusaha keras kabur dari tempat itu.

Dengan sinis dan penuh penghinaan Gak Lam kun mendengus dingin.

“Hmm…! Kauanggap bisa kabur dari cengkeramanku?” ejeknya dengan suara

menyeramkan.

Secepat sambaran kilat telapak tangan kirinya ditabok kemuka, segulung angin taufan

yang maha dahsyat langsung menerjang kearah punggung Ou Yong hu.

Rupanya si kakek ular dari lautan timur ini cukup tahu akan kehebatan serangan

tersebut, buru-buru ia mengerahkan ilmu bobot seribu untuk meluncur turun keatas

permukaan tanah.

Segulung desingan angin tajam kembali menyambar lewat, tahu-tahu kelima jari tangan

Gak Lam kun yang memakai cakaran naga yang tajam itu sudah menusuk jalan darah Tay

meh, Giok ki, Wi to, Im tok serta Tay ho lima buah jalan darah penting.

Sesungguhnya si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu adalah seorang ahli silat yang

memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna, tapi karena panik dan ketakutan,

ini mengakibatkan tenaga dalamnya tak bisa dihimpun sebagaimana mustinya.

Tapi sekarang, setelah ia sadar bahwa sulit baginya untuk lolos dalam keadaan selamat,

jagoan dari Thi eng pang ini segera membulatkan tekadnya untuk beradu jiwa,

menghadapi saat-saat kritis yang mengancam keselamatan jiwanya, tiba-tiba saja ia

kerahkan segenap tenaga dalam yang dilatihnya selama puluhan tahun ini untuk

melepaskan sebuah serangan kilat.

Toya ditangan kanannya diputar sedemikian rupa oleh Ou Yong hu untuk melindungi

seluruh tubuhnya, sedangkan telapak tangan kirinya dengan menghimpun segenap tenaga

yang dimilikinya melepaskan sebuah bacokan kilat kedepan.

Serangan tersebut telah disertakan segenap kekuatan yang dimilikinya bisa

dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.

Terasalah desingan angin tajam menderu-deru bagaikan amukan gelombang samudra

yang dipermainkan oleh angin puyuh, serangan tersebut langsung menerjang tubuh Gak

Lam kun.

Menghadapi ancaman seperti itu. Gak Lam kun mendengus dingin, tiba-tiba telapak

tangan kanannya mengerahkan ilmu Tok liong ci jiau (cakar maut naga beracun), hawa

sakti segera memancar keluar dan menyelimuti seluruh udara.

“Blaaang..!” suatu bentakan dahsyat yang memekikkan telinga tak dapat dihindari lagi.

Ou Yong hu mendengus tertahan secara beruntun ia mundur sejauh tujuh delapan

langkah dengan sempoyongan.

Paras mukanya segera berubah menjadi pucat pasi seperti mayat kulit wajahnya

mengejang keras menunjukkan lekukan-lekukan garis yang penuh penderitaan, toya

kepala ular ditangan kanannya telah ditancapkan keatas tanah, dengan sekuat tenaga ia

berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sementara dari balik sorot matanya

memancar keluar sinar buas yang penuh dengan rasa benci dan dendam yang sangat

mendalam.

Gak Lam kun mendengus dingin, paras mukanya dibalik topeng naga yang mengerikan

memancarkan keseraman dan sama sekali tanpa luapan emosi, sedangkan sepasang

matanya memancarkan sinar tajam yang dingin dan mengandung arti yang sukar

dipahami.

Selangkah demi selangkah ia berjalan semakin kedepan dan mendekati diri Ou Yong

hu.

Mendadak!

Serentetan jeritan aneh yang tinggi melengking dan memekikkan telinga berkumandang

diudara, serta mencabik-cabik keheningan malam yang mencekam seluruh jagad.

Raut wajah Ou Yong hu berkerut semakin kencang, mendadak terjadi perubahan hebat,

pelan-pelan suatu hawa membunuh yang keji, mengerikan dan buas menyelimuti seluruh

wajahnya.

Tubuhnya secara lurus menerjang ketubuh Gak Lam kun, dari tongkat kepala ular yang

berada ditangan kanannya tiba-tiba memancar keluar serentetan sinar hijau berupa cairan

racun yang baunya luar biasa amis dan busuk…

Inilah kepandaian beracun yang merupakan ilmu andalan Ou Yong hu, kiranya pada

ujung toya berkepala ular itu sesungguhnya berupa ruang kosong, didalam rongga kosong

tadi disimpanlah cairan bisa dari seribu ekor ular yang paling berbisa.

Ketika ia sudah menyambut serangan Tok liong ci jiau dari Gak Lam kun tadi, sekalipun

hawa murninya mengalami kerusakan besar, namun kerugian tadi tak sampai diperlihatkan

diatas wajahnya, agar pihak lawan tidak mengetahui sampai dimanakah sesungguhnya

luka yang ia derita.

Sebab ia cukup tahu dengan segala kekuatan yang dimilikinya sekarang, ia sadar

kekuatan tubuhnga masih belum sanggup untuk menangkan Gak Lam kun, satu-satunya

kemungkinan baginya untuk mempertahankan hidup adalah menyemburkan cairan racun

diujung toya berkepala ularnya secara tiba-tiba dan diluar dugaan.

Asal Gak Lam kun terkena sedikit saja dari racun jahat itu, dalam waktu singkat sekujur

tubuhnya akan membusuk yang mengakibatkan dia akan mati secara mengerikan.

Oleh karena itu, ketika raut wajah Ou Yong hu sedang berkerut kencang tadi, secara

diam-diam ia menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk dihimpun

keujung toyanya dan mendesak cairan racun agar berkumpul menjadi satu dikepala ular.

Menanti Gak Lam kun sudah berada satu tombak dari jaraknya, serangan kilatpun

segera dilancarkan.

Sesungguhnya dengan serangan mautnya itu, si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong

hu mempunyai kesempatan untuk berhasil sampai sembilan puluh persen, sayang ia lupa

akan sesuatu, dia lupa kalau Tok liong cuncu Yo Long telah mengetahui akan ilmu

kepandaian andalannya itu.

Didalam catatan Ciu jin liok (catatan musuh besar) dengan amat jelas Yo Long telah

menerangkan ilmu andalan dari Ou Yong hu itu, sementara Gak Lam kun sendiripun telah

menduga bahwa disaat menjelang kematiannya ia pasti akan mengerahkan sisa kekuatan

yang dimilikinya untuk memancarkan cairan racun dalam tongkat kepala ular itu.

Maka disaat Ou Yong hu menerjang maju kedepan, serentetan suara pekikan nyaring

segera berkumandang menjulang hingga keangkasa…

Tiba-tiba saja tubuh Gak Lam kun berputar bagaikan sebuah gangsingan, dengan suatu

gerakan yang sangat lincah sekali dan diluar dugaan tahu-tahu ia sudah berhasil

meloloskan diri dari sergapan maut itu.

Gak Lam kun tidak berhenti sampai disitu saja, kelima jari tangan kanannya segera

dipentangkan lebar-lebar, begitu disentil dan digetarkan maka meluncurlah lima jalur

tenaga serangan yang tajam yang langsung menerjarg kesisi kanan Ou Yong hu.

Dengan sempoyongan sekali lagi Ou Yong hu terpental sejauh dua kaki lebih dari

tempat semula.

Ditinjau dari sekujur badannya yang gemetar keras serta goncangan dari toya ditangan

kanannya, hal ini segera membuktikan bahwa ia betul-betul sudah lemas dan kehabisan

tenaga sehingga kekuatan untuk berdiri tegakpun sudah tidak dimiliki lagi.

Pelan-pelan Ou Yong hu memalingkan kepalanya, ujung bibirnya bergetar lirih

melontarkan serentetan ucapan yang sangat lemah dan pelan:

“Orang she Gak, cepatlah turun tangan untuk membunuh diriku!”

Tiba-tiba Gak Lam kun mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak, suara

tertawanya amat keras bagaikan lolongan srigala, begitu tajam dan mengerikan membuat

siapapun yang mendengarkan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Tiba-tiba ia berhenti tertawa, serentetan sinar mata setajam sembilu memancar keluar

dari balik matanya dengan nada sinis dan penuh penghinaan ia berseru:

“Heeeh… heeeh… heeeh… sebelum menerima siksaan yang paling kejam, kau sudah

pingin minta ampun? Sebagai seorang enghiong ho han, berani berbuat berani pula

menanggung resikonya, guruku sudah menderita siksaan dan penderitaan selama hampir

lima belas tahun akibat ulah serta kekejaman kalian semua, apakah kau tidak sanggup

untuk menerima sedikit siksaan dan penderitaan menjelang saat kematianmu tiba…?”

Sambil berkata, pelan-pelan Gak Lam kun bergerak maju kedepan, tangan kirinya

dengan cepat mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ou Yong hu hal

ini menyebabkan si kakek ular dari lautan timur tidak memiliki kekuatan lagi untuk

melakukan perlawanan.

Cakar naga yang dikenakan ditangan kiri Gak Lam kun telah membesi dalam urat nadi

pada pergelangan tangan kanan Ou Yong hu, darah segar telah mengucur keluar dengan

derasnya, raut wajahnya yang semula telah memucat kini berubah kian memucat lagi.

“Sreeet..! Breeet..!”

Kelima jari tangan kanan Gak Lam kun yang bercakar naga telah membesi pula kelima

buah jalan darah penting didadanya, lima gulung hawa murni segera bocor keluar

mengikuti kelima buah lubang luka tersebut.

Entah bagaimana kemudian secara tiba-tiba saja Ou Yong hu memperdengarkan jeritan

lengkingnya macam seekor babi yang disembelih.

Butiran keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar melalui sepasang poripori

tubuhnya, sepasang biji matanya telah melotot keluar, bibirnya melebar dan wajahnya

menyeringai seram, hal ini menyebabkan raut wajahnya berubah menjadi begitu seram,

begitu jelek, mengerikan dan tak sedap dipandang.

Gak Lam kun tertawa dingin cakar naga tangan kanannya tiba-tiba diangkat keatas lalu

ditusuk kearah sepasang mata Ou Yong hu dengan suatu kecepatan yang luar biasa.

Jeritan ngeri yang menyayat hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian

sepasang biji mata Ou Yong hu telah tercukil keluar, darah kental mengucur keluar

membasahi seluruh pakaiannya.

Tapi urat-urat yang menghubungkan biji mata dengan kelopak matanya belum putus,

sementara jari-jari tangannya masih mengorek diantara kelopak matanya yang kosong dsn

penuh berlepotan darah itu.

Suatu pemandangan yang mengerikan sekali, bayangkan saja andaikata cakar naga

yang begitu tajam mengorek-ngorek diantara kelopak mata yang kosong dengan urat

syaraf yang sama sekali belum putus.

Ou Yong hu memperdengarkan jeritan lengking yang menyayatkan hati, sambil

menggigit bibir menahan rasa sakit ia menjerit-jerit seperti orang kalap:

“Orang she Gak… kau teramat keji… kau kejam sekali…”

Mendadak kelima jari tangan Gak Lam kun beralih kemulut Ou Yong hu, menyusul

kemudian pancaran darah kental segera menyembur keluar dari mulutnya itu.

Ketika tangan kanan Gak Lam kun ditarik keluar, maka diantara jepitan jari tangannya

telah bertambah dengan sebuah lidah yang penuh berlepotan darah.

Sekarang Ou Yong hu sudah tak sanggup berteriak minta tolong atau mohon ampun

lagi, jeritan-jeritan sakitnya hanya kedengaran seperti raungan parau yang tak sedap

didengar, bahkan setiap kali ia berteriak, darah kental ikut pula menyembur keluar.

Tampaknya rasa dendam dan hawa amarah yang berkobar didalam dada Gak Lam kun

belum juga berakhir, cakar naga ditangan kanannya seperti kalap mencakar, menarik,

membetot dan merobek sekujur tubuh Ou Yong hu secara keji.

Setiap kali melancarkan cengkeraman, lima buah mulut luka yang sangat dalam segera

muncul diatas tubuhnya begitu dalam cengkeramannya itu sehingga tulang putih pun

sampai terlihat sekejap mata kemudian darah kental telah membasahi seluruh tubuhnya.

Puluhan kali cakaran kemudian seluruh badan Ou Yong hu dari atas kebawah sudah

tiada yang utuh lagi darah kental telah membasahi seluruh tubuhnya waktu itulah Gak

Lam kun baru menghentikan cara penganiayaannya yang brutal kejam dan tak kenal

perikemanusiaan itu.

Pelan-pelan topeng naganya dilepaskan cakar naga perenggut nyawa dicopot dan iapun

mengenakan kembali jubah hijaunya.

Sinar matanya yang dingin menyeramkan dialihkan sekejap keatas wajah Ou Yong hu

yang masih mengejang keras dan berguling kian kemari sambil melolong ngeri itu.

Mukanya sama sekali tanpa emosi, air mukanya yang dingin dan ketus sedikitpun tidak

memancarkan rasa kasihan atau iba hati.

Dengan tenang diperhatikan sekejap keadaan Ou Yong hu yang tersiksa dan amat

menderita menjelang saat ajalnya, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi

meninggalkan lawannya yang sekarat dan menjelang tibanya sakratul maut.

Menanti bayangan punggung si anak muda itu sudah jauh meninggalkan tempat itu,

dari balik semak belukar baru muncul dua buah batok kepala manusia, menyusul

kemudian berdirilah dua orang jago persilatan.

Dengan langkah tubuh yang sangat berhati-hati mereka menghampiri kesisi tubuh Ou

Yong hu, sedangkan perasaan hatinya anat tidak tenteram, denyut nadinya terasa

berdetak lebih cepat daripada keadaan semula.

Keadaan Ou Yong hu yang seram dan mengerikan benar-benar sangat mengejutkan

perasaan kedua orang itu.

Mau tak mau mereka harus bersiap sedia pula sebab pembalasan yang begitu brutal

dan mengerikan itu tak lama kemudian akan menimpa pula mereka berdua.

Akhirnya tubuh Ou Yong hu yang berguling-guling berhenti juga, tapi seluruh badannya

masih mengejang keras karena kesakitan, gemetar keras membuat badannya seperti

bergelombang, rintihan parau yang tak sedap didengarpun mendesis tiada hentinya dari

balik bibirnya yang telah tak berlidah itu.

Darah kental meleleh keluar segumpal demi segumpal, keadaan semacam itu betul

betul mengerikan sekali dan mendirikan bulu kuduk siapapun yang melihatnya.

Kakek gemuk pendek yang ada disebelah kiri itu tiba-tiba berbisik lirih:

“Saudara Kongsun, coba kau lihat cara bajingan itu membunuh orang betul betul amat

brutal, kejam dan tak mengenal peri kemanusiaan”

Kiu wi hou (rase berekor sembilan) Kongsun Po yang bermuka licik dan penuh dengan

segala tipu muslihat itu mendehem beberapa kali, kemudian baru sahutnya:

“Say heng bagaimanapun juga kita harus berusaha untuk melenyapkan orang ini dari

muka bumi!”

“Tapi… dengan kekuatan kita berdua aku rasa masih belum sanggup untuk

menundukkan orang itu” ujar Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit.

Ou Yong hu yang berada diatas permukaan tanah rupanya masih sempat mendengar

pembicaraan dari kedua orang itu, tenggorokannya kembali memperdengarkan suara

gemerutuk yang amat parau dan mengerikan.

Ditinjau dari suaranya itu, seakan-akan ia sedang mohon bantuan dari kedua orang itu

untuk membebaskannya dari siksaan yang tak tertahankan lagi itu.

Si Rase berekor sambilan Kongsun Po tertawa kering, lalu katanya kemudian:

“Tua bangka she Ou, beristirahatlah dengan tenang, kami pasti akan membalaskan

sakit hatimu itu”

Selesai berkata demikian, teiapak tangannya segera dibabat kebawah, diantara

gulungan angin tajam itu, nyawa Ou Yong hu pun terlepas dari tubuh kasarnya yang amat

menyiksa diri itu, kini tinggalkan sesosok mayat yang kaku dan berada dalam keadaan

menyeramkan.

Rase berekor sembilan Kongsun po kembali tertawa seram, katanya kembali:

“Say heng, setelah kita mempunyai bukti nyata dengan mayat dari tua bangka she Ou

ini, rasanya tidak sulit untuk memancing kemarahan khalayak ramai, marilah kita bekerja

sama untuk melenyapkan bangsat itu dari muka bumi”

Baru selesai ia berkata, terdengar seseorang telah menyambung sambil tertawa ringan:

“Saudara Kongsun, sekalipun caramu itu tidak jelek, tapi situasi yang kita hadapi

sekarang jauh berbeda, siapakah diantara jago persilatan didunia dewasa ini yang tidak

tahu kalau persoalan ini menyangkut soal balas membalas yang telah berlangsung turun

temurun?”

Mendengar perkataan itu, si Rase berekor sembilan serta si Kakek sakti berwajah

pualam segera berpaling kearah mana berasalnya suara tersebut…

Tampak seorang laki-laki tampan yang amat romantis berdiri kurang lebih beberapa

kaki dibelakang mereka, siapa lagi orang itu kalau bukan Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit merasa agak tertegun, ia tidak mengira kalau

secara diam-diam Hoa Kok khi telah menyusup hanya beberapa kaki saja dibelakang

mereka.

Coba kalau tidak mendengar suara teguran tersebut, mungkin mereka berdua masih

belum menyadari akan kehadirannya, untung ia tidak bermaksud mencelakai mereka, coba

kalau tidak demikian, mungkin nyawa mereka berdua sudah melayang semenjak tadi.

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa terkekeh-kekeh, kemudian serunya:

“Heeeeh… heeeehh… heeeeehh… rupanya saudara Hoa juga telah sampai dipulau ini

Hmm… hmm… tampaknya kau juga ikut menyaksikan tragedi itu bukan?”

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tersenyum.

“Betul kita semua telah ikut menyaksikan adegan tersebut, namun tak seorangpun

diantara kita yang secara sukarela bersedia menolong jiwa tua bangka she Ou itu”

“Saudara Hoa, apa maksud dari ucapanmu itu?” tegur kakek sakti berwajah pualam Say

Khi pit.

Kembali Hoa Kok khi tertawa:

“Perkataanku sama sekali tidak mengandung arti tertentu aku cuma maksudkan

andaikata kita bertiga mau menolong tua bangsa she Ou, paling tidak ia tak akan mampus

secara demikian mengerikan, tapi… haaaahhh… haaaah… haaaahh… kita semua samasama

mempunyai kepentingan pribadi, ternyata tidak seorangpun diantara kita yang turun

tangan memberi bantuan!”

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa kering, katanya pula:

“Perkataan saudara Hoa memang benar juga, tapi kaupun harus tahu apa alasan kami

sehingga tidak turun tangan untuk memberi bantuan..?”

“Haaah… haaah… haaah… mana, mana!” Thiat kiam Kuncu tertawa tergelak, “pada

hakekatnya tua bangka she Ou adalah kuku garudanya perkumpulan Thi eng pang, jika ia

dibiarkan hidup terus akibatnya hanya akan menambah kekuatan dari perkumpulan Thi

eng pang saja”

“Saudara Hoa memang betul-betul orang pintar yang mengetahui untung ruginya suatu

persoalan” puji rase berekor sembilan Kongsun po dengan suara serak cuma dari antara

sahabat-sahabat tebing Yan po gan yang telah berkumpul disini sekarang, kecuali tua

bangka Ou dan Kwik To situa renta itu, kita bertiga sudah seharusnya mengambil suatu

tindakan cerdik”

“Benar! Benar sekali! Justru siaute memang ada maksud untuk mengajak saudara

berdua merundingkan persoalan ini” sambung Thiat kiam kuncu tertawa.

“Saudara Hoa, Apalagi yang perlu kita rundingkan? Jelaslah sudah bahwa bila bersatu

kita teguh bila bercerai kita runtuh, aku rasa kita masing-masing juga telah mengetahui

sampai dimana letak kelihayan dari masalah ini”

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa bangga, katanya:

“Bagus sekali,bagus sekali, kalau begitu siaute pun tak ingin banyak berbicara lagi, Kui

to Thian yu to-heng ada dilembah bukit sebelah depan sana mari kita menyusul kesitu

untuk bersama-sama merundingkan persoalan besar ini”

Sehabis berkata dia lantas berangkat lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po dan Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit

saling berpandangan sekejap, akhirnya merekapun berangkat mengikuti dibelakang

rekannya.

Setelah membinasakan Ou Yong hu, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak

Gak Lam kun, ia selalu bertanya kepada diri sendiri apakah caranya turun tangan kelewat

brutal atau tidak..?

Pertanyaan semacam itu seringkali akan memenuhi benak seseorang dikala ia selesai

membunuh seseorang tapi bagaimanapun berusaha memutar otak tiada jawaban yang

berhasil didapatkan, selama tiga tahun belakangan ini, boleh dibilang jalan pemikirannya

selalu menjumpai pertentangan-pertentangan yang saling bertolak belakang.

Tanpa terasa sampailah Gak Lam kun digedung kediaman Bwe Li pek, dibawah sorot

Cahaya matahari, tampak Bwe Li pek dengan tenang berdiri diatas sebuah jembatan kayu,

ia berdiri sambil bergendong tangan dan sedikitpun tidak berkutik, seakan-akan ketika itu

ia sedang memikirkan sesuatu persoalan?

Tiba-tiba Bwe Li Pek berpaling, diantara sepasang biji matanya yang jeli tampak basah

oleh airmata, mukanya murung dan layu noda airmata masih membekas diatas wajahnya.

Sambil tertawa sedih, ia lantas bertanya:

“Apakah kau telah membunuh Ou Yong hu?”

Pertanyaan tersebut membuat Gak Lam kun menjadi tertegun, selang sesaat kemudian

ia baru menjawab:

“Yaa, aku telah membunuhnya? Apakah nona Bwe telah menyaksikan pula peristiwa

tersebut?”

Tiba-tiba dari balik mata Bwe Li pek yang jeli memancar keluar sinar yang lembut dan

hangat tanyanya dengan suara lirih:

“Mengapa kau selalu memandang begitu serius masalah dendam sakit hati..?”

Seka1i lagi Gak Lam kun dibikin tertegun oleh pertanyaan itu, kali ini ia berdiri

termangu sampai setengah harian lamanya tanpa sanggup mengucapkan sepatah

katapun.

Bwe Li pek segera menghela napas panjang, katanya lagi:

“Tahukah kau bagaimana akibatnya dari bunuh membunuh yang tiada akhirnya ini?”

“Ucapan nona Bwe memang sangat tepat, cuma aku ingin bertanya kepadamu,

seandainya kau mempunyai sakit hati atas terbunuhnya orang tuamu, apakah kau tidak

berusaha untuk membalasnya?” kata Gak Lam kun dengan suara dingin.

Ketika mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja dua titik airmata jatuh berlinang

membasahi pipinya, secara diam-diam ia berusaha untuk meresapi pertanyaan dari Gak

Lam kun serta berusaha untuk mencari jawabannya yang tepat.

“Seandainya kau terikat dendam karena pembunuhan atas ayahmu, apakah kau harus

membayarnya..? Apakah kau harus menuntut dan menagihnya..?”

Ji Cing ping wahai Ji Cing ping! Ia telah meninggalkan kau, hubungan cinta telah

berakhir, karena apakah ini?

Karena apakah ini? Karena membalas dendam? Karena sakit hati?

Yaa, benar! Demi membalas sakit hati! Tapi, kenapa kau tidak segera membalas

dendam? Kenapa tidak kau lakukan?

Dengan cara yang keji dan tak berperi kemanusiaan ia telah membunuh orang tuamu,

kaupun pernah menggunakan Bi jin ki (siasat perempuan cantik) untuk mencelakai

jiwanya… beberapa kali ingin membunuhnya… tapi sampai sekarang kenapa kau belum

juga turun tangan? sebaliknya malah berulangkali membantunya?

Mungkinkah karena cinta? Mungkinkah bibit cinta masih tertanam dalam hatimu?

Akhirnya ia tertawa getir dan bersenandung dengan suara yang amat lirih:

“Airmata mengering dalam kedukaan, jauh terkenang masa yang silam… manusia nun

jauh diujung langit…”

Bergumam sampai disitu, tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan

dan berjalan menuju keutara.

Gak Lam kun menyaksikan perbuatan diatas wajahnya, iapun mendengar

senandungannya itu, tapi pikirannya terasa bimbang dan kosong, ia tak tahu apa salahnya

dengan pertanyaan yang ia ajukan tadi?

Dengan cepat Gak Lam kun memburu beberapa langkah kedepan, kemudian serunya:

“Nona Bwe, bersediakah kau untuk berhenti sebentar saja…”

Bwe Li pek berpaling dan tertawa, sahutnya:

“Perasaan kesemsem hanya menambah beribu-ribu kesedihan apa gunanya kau…”

Ketika berbicara sampai disitu, ia tak dapat mengendalikan luapan perasaannya lagi,

butiran airmata tampak jatuh bercucuran membasahi pipinya…

Terkesiap Gak Lam kun sesudah mendengar ucapan tersebut, untuk sesaat lamanya ia

sampai berdiri tertegun.

ooooooooooooo0000000000ooooooooooooo

Jangan-jangan ia sudah menaruh bibit cinta kepadaku? demikian pikirnya dihati, “wah,

celaka juga begini! Kalau bilang tidak, apapula maksudnya dengan mengucapkan katakata

seperti itu, aaai..!

Apakah ia tidak tahu kalau aku sudah tak dapat hidup lebih lama lagi…”

Sekalipun sedang bermimpi Gak Lam kun juga tak akan mengira kalau Bwe Li pek,

ketua perguruan panah bercinta yang berdiri dihadapannya sekarang tak lain adalah Ji Cin

peng, kekasih yang paling dihormati dan paling disayangi sepanjang hidupnya, atau

dengan perkataan lain dia bukan lain adalah encinya Ji Kiu liong.

Padahal berbicara sesungguhnya, jangankan Gak Lam kun tidak tahu sekalipun Ji Kiu

liong sendiri juga tidak mengira kalau Bwe Li pek bukan lain adalah encinya yang sudah

mati dua tahun.

Rupanya ia telah merubah wajahnya sedemikian rupa dengan ilmu menyaru muka, tak

heran kalau tak seorangpun yang dapat mengenali kembali raut wajah aslinya.

Tentang hubungan cinta dan dendam antara Ji Cin peng dengan Gak Lam kun, akan

diceritakan kemudian pada bagian yang lain!

Sementara itu Gak Lam kun telah menghela napas sedih, katanya:

“Nona Bwe, benarkah kau hendak pergi dengan begitu saja?”

Tiba-tiba Ji Cing pen menggigit bibirnya, dengan tangan kiri ia melepaskan ikat

kepalanya sehingga rambut yang panjang dan hitam segera terurai kebawah, sementara

tangan kanannya merobek jubah panjangnya yang berwarna putih dan tampaklah

seperangkat pakaian ringkas berwarna gelap yang berukirkan burung hong putih diatas

dadanya.

Dengan pakaiannya yang ketat terlihat pula lekukan tubuhnya yang mungil dan indah,

ini semua menambah kecantikan dan daya pesona dari gadis tersebut.

Gak Lam kun yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun dengan sepasang mata

terbelalak lebar, potongan badan semacam ini terasa amat dikenal olehnya, sebab itulah

potongan badan Ji Cin peng, kekasihnya yang telah tiada.

Secara tiba-tiba saja Gak Lam kun teringat kembali dengan kenangan lamanya, disaat

mereka berdua masih berdampingan serta melewatkan kehidupan mereka dengan penuh

kemesraan dan kehangatan… untuk sesaat ia merasa emosinya meluap didalam dada,

airmata pun tanpa terasa jatuh bercucuran.

Airmata Ji Cin peng setetes demi setetes meleleh keluar, saat ini dia hanya berharap

agar ia tak mengenali wajah aslinya, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Sekalipun ia berniat untuk membalas dendam atas sakit hatinya, tetapi… bibit cinta

yang sudah terlanjur tertanam dalam hatinya membuat ia selalu tak tega untuk

melaksanakan niatnya itu.

Bukan saja Ji Cin peng telah melahirkan seorang anak lelaki untuk Gak Lam kun,

lagipula ia memang betul-betul sangat mencintainya.

Tapi, Gak Lam kun justru adalah musuh besar pembunuh orang tuanya…

Ia berusaha mengendalikan jalan pikirannya, berusaha untuk tidak mencintai

pembunuh orang tuanya, tapi dasar hati kecilnya justru berkata bahwa ia benar-benar

mencintai musuh besarnya ini.

Pengendalian perasaan yang saling bertentangan ini selama banyak tahun selalu

berkecamuk dan menghantui jalan pikirannya, tapi selalu saja Ji Cin peng gagal untuk

mengambil suatu keputusan yang pasti.

Ia amat menyesal, ia menyesal kepada dirinya karena tidak seharusnya ia mencintai

pemuda itu.

Sambil menangis terisak kata Ji Cin peng:

“Sejak dua tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, aku tidak akan

memperlihatkan wajah asliku sebagai seorang gadis dihadapan orang lain, hari ini aku

telah menjumpaimu dengan wajah asliku, itu berarti jodoh kita telah berakhir, sejak ini kita

akan dihalangi oleh ujung langit yang berbeda serta tanah perbukitan yang beribu-ribu li

panjangnya, kau ketimur aku kebarat dan sulit untuk saling berjumpa kembali. Kau… kau

haruslah baik-baik menjaga diri!”

Selesai berkata, ia lantas putar badan sambil melompat pergi dari situ, sesaat kemudian

tubuhnya sudah berada lima kaki jauhnya dari kedudukan semula.

Entah mengapa, tiba-tiba Gak Lam kun berteriak keras-keras:

“Nona Bwee..! adik Peng..!”

Ucapan ‘adik Peng’ ternyata mendatangkan daya pengaruh yang luar biasa, seketika itu

juga Ji Cin peng merasakan hatinya amat sakit seperti ditusuk-tusuk dengan pisau belati,

tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya, airmata seperti hujan gerimis mengucur

keluar tiada hentinya.

Dengan dua tiga kali lompatan Gak Lam kun telah memburu kesamping tubuhnya,

melihat rambutnya yang kalut terhembus angin, matanya yang basah oleh airmata, ia

merasa hatinya sedih hingga tanpa terasa airmata ikut bercucuran.

Ji Cin peng dapat menyaksikan keadaan pemuda itu, terutama wajahnya yang begitu

layu dan sedih, airmatanya yang setetes demi setetes meleleh keluar membasahi

tubuhnya… ia hanya berdiri termangu seperti sebuah patung arca, tidak berbicara pun

tidak bergerak.

Lama kelamaan luluh juga perasaan gadis itu, diambilnya sebuah sapu tangan dari

sakunya lalu disekanya airmata yang membasahi wajah Gak Lam kun.

Dalam keadaan itu, Ji Cin peng seakan-akan sudah melupakan sumpahnya, ia tak

sanggup mengendalikan jalan pikirannya yang telah ditekan selama dua tahun belakang

ini, dia seakan-akan telah berubah menjadi seorang manusia yang lain.

Kesombongan dan keangkuhannya kini telah berubah menjadi cinta kasih yang lembut,

badannya berdiri makin menempel disisi pemuda itu, bau harum yang tersebar keluar dari

tubuhnya menambah daya pesona dan rangsangan yang membuat orang menjadi mabuk.

Ketika Gak Lam kun mengendus bau harum itu jantungnya kontan berdenyut lebih

cepat dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, sepasang tangan Ji Cin peng yang

lembut dan halus itu tahu-tahu sudah digenggamnya erat-erat.

Ketika empat mata saling bertemu, kedua orang itu sama-sama bungkam dalam seribu

bahasa.

Padahal dalam keadaan seperti ini mereka memang tak perlu berkata apa-apa lagi,

pertemuan antara empat buah mata sudah cukup mengontak batin masing-masing,

hubungan batin itu jauh lebih menang dari beribu-ribu kata mesra.

Ketika sepasang tangan Ji Cin peng digenggam erat-erat, rasa cintanya yang memang

sudah tertekan lama sekali dalam hatinya kini betul-betul tak dapat dikendalikan lagi.

Akhirnya ia menempelkan wajahnya diatas dada Gak Lam kun, kemudian tubuhnya

bersandar dalam pelukan mesra anak muda tersebut.

Berhadapan dengan gadis cantik rupawan yang indah bagaikan sekuntum bunga ini,

tentu saja Gak Lam kun tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, dia merentangkan

sepasang tangannya dan memeluk gadis itu dengan penuh kehangatan.

Tiba-tiba… kenangan lama secepat kilat melintas dalam benak Ji Cin peng, ia merasa

kepalanya bagaikan diguyur dengan sebaskom air dingin, hatinya merasa amat tercekat

dan otaknya menjadi sadar kembali, pelan-pelan ia mendorong Gak Lam kun yang masih

mendekap tubuhnya erat-erat itu.

Gak Lam kun segera mundur selangkah lalu sambil tertawa sedih katanya lirih:

“Maaf nona Bwe, harap kau suka memaafkan kecerobohanku barusan, sebab potongan

badanmu serta segala tingkah lakumu membuat aku menjadi teringat kembali dengan

kekasihku yang telah tiada…”

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, tidak bisa ditahan lagi airmata jatuh

bercucuran membasahi wajah Gak Lam kun.

Dari sini dapat diketahui bahwa cinta Gak Lam kun terhadap Ji Cin peng betul-betul

sudah mendalam sekali hingga merasuk kedalam tulang sumsum…

Ketika mendengar ucapan itu, Ji cin peng merasakan hatinya seperti ditembusi dengan

sebatang anak panah sekujur badannya gemetar keras, sepasang matanya berkaca-kaca

dan memandang kearah wajah Gak Lam kun tanpa berkedip, lama sekali ia tak sanggup

mengucapkan sepatah katapun.

Gak Lam kun berhenti sejenak, lalu kembali katanya:

“Atas pertolongan nona Bwe yang selalu membantu diriku, serta kesediaan nona untuk

menganggapku sebagai seorang sahabat, aku Gak Lam kun akan mengukir selalu semua

kebaikan nona didalam hati, bila perbuatanku barusan telah menyinggung perasaanmu,

akupun mohon agar nona sudi memaafkannya”

Pelan-pelan Ji Cin peng pulih kembali dalam ketenangannya, ia tertawa ewa lalu

bertanya:

“Tadi, kau menyebutku sebagai adik Peng, bolehkah aku tahu apakah nama itu adalah

nama dari kekasihmu?”

Dengan amat sedih Gak Lam kun tertawa getir.

Dia bernama Ji Cin peng, yaitu encinya Ji Kiu liong, adik angkatku itu, raut mukanya

banyak bagian yang mirip dengan wajahnya, mana cantik, lembut dan baik hati lagi…

aaai…”

Dengan sedih ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar ia baru berkata

lebih jauh:

“Sayang gadis secantik dia harus diberi usia yang begitu pendek, aku harus berpisah

untuk selamanya dengan dia kekasihku seorang…”

Kembali Gak Lam kun tak dapat mengendalikan luapan emosinya, airmata yang meleleh

keluar makin deras lagi membasahi pipinya.

Ji Cin Peng merasa ususnya seperti dililit dengan jepitan, hatinya sakit seperti disayatsayat

pisau, kesedihan yang mencekam perasaannya saat ini benar-benar sukar dilukiskan

dengan kata-kata.

Dengan perasaan yang sedih dan murung diam-diam ia berbisik dalam hati kecilnya:

“Engkoh Gak… ooh engkoh Gak… akulah adik Peng mu! Tapi… tapi… kau adalah musuh

besar pembunuh orang tuaku, aku tak dapat kawin dengan seorang musuh besar

pembunuh orang tuaku, tapi aku mecintaimu, aku benar-benar amat menyayangimu, aku

tak ingin membinasakan dirimu.”

“Oh Thian! Apa yang harus dilakukan sekarang? dendam sakit hati terbunuhnya orang

tua lebih dalam dari samudra sebagai putra putrinya dendam sakit hati tak boleh tidak

dibalas, kalau tidak bagaimanakah pertanggungan jawabku terhadap arwah ayah dan ibu

dialam baka?”

“Ooh..! Ohh… ibu..! Maafkanlah aku, kasihanilah bocah cilik itu jika Gak Lam kun

sampai mati, akupun tak ingin hidup lebih jauh, tapi bocah itu baru berusia dua tahun,

bagaimanapun juga ia tak boleh hidup sebatangkara tanpa ayah tanpa bunda…”

Ji Cin peng sesungguhnya adalah seorang anak yang berbakti tapi setelah menghadapi

pilihan antara cinta dan dendam, ia menjadi bingung dan kalut, ia tak tahu musti

menjatuhkan pilihannya kemana…

Tiba-tiba dari sakunya Gak Lam kun mengeluarkan pedang pendek tersebut, sambil

diangsurkan kedepan ia berkata:

“Nona Bwe, terima kasih banyak atas pedangmu yang bersedia kau pinjamkan

kepadaku, dan sekarang akupun akan menepati janji dengan mengembalikan pedang ini

kepadamu”

“Apa salahnya kalau kau gunakan beberapa hari lagi?” bisik Ji Cin peng sambil

menghela napas sedih.

Gak Lam kun tertawa getir, ujarnya:

“Saat kematiaa dari aku orang she Gak sudah hampir tiba, aku kuatir pedang mustika

ini akan hilang bila berada ditanganku, maka lebih baik kukirim kembali daripada

meminjamnya lebih jauh.”

Ketika mendengar perkataan itu, Ji Cin peng menjadi tertegun, segera tanyanya:

“Apa kau bilang? Apa yang kau maksudkan?”

Gak Lam kun tertawa ewa.

“Usia aku orang she Gak hanya tinggal tujuh hari saja!” katanya.

Mendengar kata-kata tersebut, paras muka Ji Cin peng kembali mengalami perubahan

hebat, serunya dengan suara gemetar.

“Kau… tujuh hari lagi kau akan mati, ke… kenapa?”

Rasa sayang, kuatir, ingin tahu dan sedih hampir seluruhnya tertuang dalam ucapannya

itu.

Gak Lam kun merasa amat senang menyaksikan kekuatiran orang, ia menghela napas

sedih, sahutnya:

“Aku orang she Gak bisa memperoleh perhatian serta rasa kasih sayang dari seorang

perempuan macam kau, sekalipun mati akupun akan mati dengan perasaan tenang”

Dalam pada itu wajah Gak Lam kun diliputi ketenangan, dan kedamaian, ia sama sekali

tidak merasakan sedih atau ngerinya menghadapi kematian.

Sebab dalam hidupnya, asal bisa memperoleh perhatian dari seorang gadis secantik itu,

ia sudah merasa amat puas sekali.

Ketika Ji Cin peng menyaksikan pemuda itu tidak menjawab, perasaannya makin

bergolak, katanya lebih jauh:

“Kenapa tidak kau katakan? Hayolah katakan! Kenapa kau bakal mati..? Kenapa..?”

Sekali lagi Gak Lam kun menghela napas panjang.

“Aaai… nona Bwee, terima kasih banyak atas perhatianmu, kendatipun aku orang she

Gak sudah berada dialam baka nanti, tak akan kulupakan budi kebaikanmu itu, aaa..!

kenapa aku harus mati? Karena aku telah terkena pukulan beracun Tay siu im khi dari

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi. Padahal aku masih banyak urusan yang belum

terselesaikan, masa aku pingin mampus tanpa sebab. Inilah nasibku, nasib telah

menentukan agar aku menyambut datangnya tangan maut…”

Tak terkirakan rasa sedih Ji Cin peng mendengar uraian tersebut, hatinya bagaikan

disayat-sayat dengan pisau, tanyanya dengan penuh perasaan gelisah:

“Kapankah kau terkena ilmu pukulan Tay siu im khi tersebut?”

Gak Lam kun mendongakkan kepalanya memandang sang surya yang telah

menunjukkan tengah hari, lalu menghela napas sedih.

“Kejadian itu sudah berlangsung tujuh jam berselang, luka itu selamanya tak mungkin

bisa diobati lagi”

Agak tertegun Ji Cin peng sesudah mendengar kata-kata itu, ia tampak termenung

sebentar untuk memikirkan persoalan itu, tampaknya ia sedang berusaha memikirkan

bagaimana caranya untuk menyembuhkan luka akibat pukulan beracun itu.

Tiba-tiba ia menengadah kembali, lalu ditatapnya Gak Lam kun dengan serius katanya:

“Seandainya aku mempunyai cara pengobatan untuk menghindari kematian yang bakal

kau alami tujuh hari mendatang, apakah kau bersedia menerima pengobatan tersebut”

Berita ini sangat mengejutkan Gak Lam kun.

Sebagaimana diketahui si anak muda itupun terhitung seorang jago silat kelas satu

dalam dunia persilatan, tentu saja dia cukup mengetahui sampai dimanakah lihaynya ilmu

pukulan Tay siu im khi tersebut, dia pun tahu barangsiapa terkena ilmu pukulan beracun

tadi maka lukanya tak akan tersembuhkan lagi.

Sekalipun ada yang bisa menyembuhkan, itupun terbatas hanya beberapa orang saja,

tak mungkin dalam waktu sesingkat itu, dia dapat menemukan orang-orang yang

dimaksudkan.

Maka setelah mendengar tawaran itu, timbul kembali harapan hidup dalam hati Gak

Lam kun, segera ujarnya:

“Jangankan manusia, binatang, burung bahkan semutpun kepingin hidup lebih lama

didunia ini cuma aku percaya bahwa penyakitku sudah tak mungkin bisa diobati lagi.

Ji Cin peng manggut-manggut.

“Akupun tahu bahwa penyakitmu itu adalah suatu penyakit yang tak ada obatnya,

sekalipun dunia persilatan amat luas, menurut apa yang kuketahui hanya ada tiga empat

orang saja yang dapat menyembuhkan luka akibat pukulan Tay siu im khi itu…”

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar seseorang tertawa

tergelak, menyusul kemudian ujarnya dengan suara lantang:

“Empat orang yang nona maksudkan rupanya adalah Tok liong Cuncu Yo long, Soat san

thian li, Lam hay sin ni dan masih ada seorang lagi entah siapa? Apakah kau bersedia

memberitahukan kepadaku?”

Ditengah pembicaraan itu, dari ruang sebelah barat daya muncul seorang laki-laki

setengah umur yang berwajah tampan, siapa lagi orang itu kalau bukan Thiat kiam kuncu

Hoa Kok khi!

Melihat musuh besarnya muncul didepan mata, Gak Lam kun segera merasakan hawa

amarah berupa api dendam yang berkobar dalam dadanya bergolak hebat.

Jilid 11

Ji Cin peng agak terkejut juga ketika menyaksikan kemunculan Hoa Kok khi ditempat

itu, mencorong sinar tajam dari balik matanya yang jeli, setelah menatap sekejap wajah

lawannya dengan pandangan sedingin es, ia bertanya ketus, “Boleh aku tahu, apakah

saudara adalah manusia yang bernama Thiat kiam kuncu (lelaki sejati berpedang baja)

Hoa Kok khi?”

“Tidak berani, tidak berani, akulah orang she Hoa apakah nona adalah ketua dari

perguruan panah bercinta?”

Ji Cin peng mendengus dingin.

“Hmm..! Ada persoalan apa kau datang kemari?” tegurnya kemudian setelah berhenti

sejenak.

Dengan ujung matanya Hoa Kok khi menyapu sekejap wajah Gak Lam kun, lalu sambil

tertawa ringan ia menjawab, “Perkataan dari nona memang tidak salah, adapun

kedatangan aku orang she Hoa adalah untuk mencari Gak lote.

Gak Lam kun mendengus dingin.

“Hmm..! Hoa Kok-khi, kalau kau memang datang untuk menghantar kematianmu

sendiri, jangan salahkan kalau aku orang she Gak akan bertindak keji kepadamu”

Sekali lagi Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok-khi tertawa terbahak-bahak.

“Haaah… haaah… haaah… Gak Lote, kau jangan salah paham, aku orang she Hoa

datang kemari justru hendak mengajakmu untuk membicarakan suatu usaha barter”

“Barter apalagi yang hendak dibicarakan?” Gak Lam kun semakin naik darah, “kau tak

usah kuatir, aku orang she Gak tidak akan menerima syaratmu sekalipun aku bakal mati.

Hoa Kok khi tertawa.

“Tapi kau musti tahu racun dari Tay siu im khi tak akan bisa dibebaskan oleh siapa

pun!”

Dengan sinis dan penah nada menghina Gak Lam kun mendengus dingin, katanya: 4

“Sebagai seorang lelaki sejati, hidup tak perlu digirangkan, kenapa mati musti

dirisaukan? Kau tak usah menggunakan ancaman mati untuk menggertak aku orang she

Gak… Hmm! Tapi sebelum menjelang saat kematianku, kaupun jangan harap bisa lolos

dari kematian pula ditanganku”

Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi kembali tersenyum.

“Kagum, kagum, sungguh mengagumkan!” pujinya, “kau memang betul-betul seorang

manusia yang luar biasa, aku orang she Hoa paling mengagumi manusia berjiwa ksatria

semacam kau, karena akupun tidak tega untuk turun tangan membinasakan dirimu, coba

kalau tidak…”

Mendengar perkataan itu, kemarahan Gak Lam kun kontan saja berkobar kembali, ia

tertawa dingin dengan nada yang menyeramkan, kemudian ejeknya dengan sinis, “Hmm…

anggapanmu kau sanggup membunuhku dengan kepandaian silat yang kau miliki?”

Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi kembali tertawa.

“Gak lote!” demikian katanya, “berbicara menurut ilmu silat yang kau miliki, tidak

banyak jago persilatan didunia ini yang sanggup memiliki ilmu silat setarap denganmu,

boleh dibilang ilmu silatmu sudah cukup menjagoi seluruh dunia, tapi kalau ingin

memimpin umat persilatan terpaksa kepandaianmu musti dilatih puluhan tahun lagi.

Sedang mengetahui kepandaian silat yang aku orang she Hoa miliki, entah bagaimanakah

pendapat dari Gak lote?”

“Tentu saja jago pilihan!” sahut Gak Lam kun dengan suara yang sangat hambar.

Hoa Kok khi tersenyum.

“Terima kasih banyak, terima kasih banyak atas pujianmu” katanya, “sejak dua puluh

tahun berselang aku orang she Hoa sudah disebut orang jago nomor satu dalam dunia

persilatan, sampai kini aku rasa nama baik tersebut belum sampai kunodai, haahh…

haaahh… haaahh… terlepas dari taraf ilmu silat yang kita miliki, menyinggung soal

pengetahuan dalam dunia persilatan maupun kecerdasan otak, aku orang she Hoa percaya

masih sanggup untuk mengalahkan Gak lote. Kentongan kelima berselang, ketika kau

membunuh si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu secara keji, bila aku muncul tepat

pada waktunya untuk menghalangi niatmu itu, aku yakin kau tak akan sanggup

membunuh orang she Ou itu seperti apa yang kau kehendaki, waktu itu si Kakek sakti

berwajah pualam dari bukit Sian ngo tay san dan Kongsun po dari bukit Hoa san juga

bersembunyi disekitar sana, bayangkan sendiri lote sanggupkah kau melawan kerubutan

dari empat orang jago lihay sekaligus?”

Ketika mendengar ucapan tersebut, Gak Lam kun merasakan hatinya bergetar keras,

sukar dilukiskan betapa terkejutnya begitu berbahaya dan banyak tipu muslihatnya coba

kalau waktu itu mereka muncul berbareng, kemudian bersama-sama mengerubutinya, tak

bisa disangkal lagi jiwanya lebih banyak terancam bahaya maut daripada keberuntungan.

“Hoa Kok khi!” tiba-tiba Ji Cin peng menegur dengan suara dingin sekarang

sanggupkah kau mengobati luka racunnya itu?

Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi mengelus jenggotnya dan tersenyum.

“Asal dia menyanggupi untuk sebuah permintaanku, tanggung penyakitnya itu akan

lenyap hingga tak berbekas”

Tiba-tiba Ji Cin peng menubruk maju tiga langkah serunya lagi dengan suara dingin,

“Apakah obat itu berada disakumu?”

Sambil berkata, kelima jari tangan kirinya segera direntangkan kemudian secepat kilat

melancarkan cengkeraman kedepan.

Hoa Kok khi tergelak-gelak, teriaknya dengan suara lantang, “Obat itu tidak berada

dalam sakuku bagaimanapun juga tidak seharusnya nona merampas dengan

menggunakan kekerasan!”

Sambil berkata diapun melepaskan sebuah pukulan dahsyat kemuka dengan jurus Ki

hong teng ciau (burung hong terbang, ular sakti melihat).

“Dengan cara menyergap kau telah melukai orang lain apa salahnya jika kugunakan

cara yang sama pula untuk menghadapi dirimu?” bentak Ji Cin peng dengan marah.

Dengan cekatan ia menghindarkan diri dari serangan Hoa Kok khi, kemudian sambil

memutar lengan dia lepaskan tiga buah serangan totokan, hal mana memaksa Hoa Kok

khi mau tak mau harus mundur dua langkah untuk melepaskan diri.

Diam-diam Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi berpikir didalam hatinya, “Ilmu

silat yang dimiliki perempuan ini sungguh amat lihay, dalam tiga buah serangan jarinya ini,

hampir kesemuanya merupakan ilmu mengebut baju menolak jalan darah yang maha

dahsyat… aku tak boleh memandang enteng dirinya!”

Hawa murninya segera dihimpun kembali menjadi satu, kemudian secara beruntun ia

lepaskan lima buah serangan berantai.

Kelima buah serangan itu tampaknya sangat enteng, biasa dan amat sederhana,

padahal dibalik kesederhanaan itu justeru terselip perubahan jurus yang tak terlukiskan

hebatnya, dalam waktu singkat seluruh serangan jari tangan Ji Cin peng hampir telah

terbendung semuanya.

Melihat kehebatan lawannya, diam-diam Ji Cin peng mengerutkan dahinya, kemudian

berkata, “Rupanya kelima buah serangan yang kau pergunakan barusan, semuanya

merupakan jurus-jurus pukulan berhawa dingin dari perguruan Pek kut bun…”

Selesai berkata tubuhnya kembali menerjang kemuka, telapak tangan kirinya seperti

sebuah cakar burung elang langsung menyapu kedepan, sementara ujung jari telunjuk

dan jari tengah tangan kanannya melancarkan totokan langsung kemuka.

Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi segera merasakan dibalik serangannya itu

terkadang banyak perubanan yang sangat aneh dan luar biasa karenanya untuk sesaat ia

tak sanggup mencarikan pemecahan untuk mematahkan ancaman tersebut dan lagi

diapun tak berani menyambut serangan itu dengan keras lawan keras, terpaksa tubuhnya

harus melompat kesamping untuk menghindarkan diri.

Ji Cin peng menghentikan tubuhnya, lalu berkata dengan dingin.

“Hmm..! Tampaknya kau memang seorang manusia yang tahu mutu serangan, kenapa

tidak kau sambut pukulan Ci cit kan kun (langsung menunjuk alam jagad) ku itu secara

langsung?

Hoa Kok khi tertawa terbahak-bahak.

“Haaah… haaah… haaah… ilmu silat yang nona miliki jauh diatas dugaan aku orang she

Hoa, aku betul-betul merasa kagum denganmu!”

“Hmm! Jika tahu diri, lebih baik cepat serahkan obat pemunahnya kepadaku.

Tiba-tiba terdengar Gak Lam kun membentak dengan penuh kegusaran, “Nona Bwe,

bantuanmu itu biar kuterima didalam hati saja, tapi maaf aku tak dapat menerimanya

dengan begitu saja.

Kena dibentak oleh Gak Lam kun, untuk sesaat lamanya Ji Cin peng berdiri tertegun,

hampir saja airmatanya jatuh bercucuran.

Dengan wajah yang merah padam, Gak Lam kun kembali berpaling kearah Hoa Kok khi

kemudian bentaknya.

“Hoa kok khi, dendam baru perhitungan lama kita lebih baik kita selesaikan sekarang

juga. Nah sambutlah seranganku ini!”

“Sreeet… dengan jurus sin liong jut sui (naga air) ia melancarkan sebuah pukulan

langsung kedepan.

Serangan itu dilancarkan Gak Lam kun dalam keadaan gusar kekuatannya benar-benar

hebat dan mengerikan sekali, seandainya sampai kena pada sasarannya, tak bisa

diragukan lagi orangnya tentu akan tewas atau paling tidak terluka parah.

Kedua orang itu sudah pernah terlibat satu kali dalam suatu pertarungan sengit,

dengan sendirinya mereka berduapun sama-sama telah memahami pula sampai

dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki lawannya, maka begitu melancarkan

serangan, dia telah mempergunakan tenaganya mencapai tujuh bagian.

Hoa kok khi segera silangkan tubuhnya sambil menghindarkan diri kesamping,

kemudian telapak tangannya diputar lalu disodok kedepan dengan jurus Peng ho kas tong

(sungai es mulai membeku)

Dengan jurus Liu thian jiu (tangan langit mengalir) Gak Lam kun menyambut pukulan

dari Hoa kok khi itu dengan tangan kirinya, kemudian sambil berpekik nyaring tubuhnya

kembali menerjang kedepan.

Hoa Kok khi segera memutar tangan kanannya dengan jurus im hong say tee (angin

dingin menyapu bumi) selapis bayangan telapak tangan segera tercipta menyelimuti

seluruh angkasa dibalik bayangan yang amat tebal itu terseliplah tenaga pukulan berhawa

dingin yang amat menusuk tulang, agaknya dia bermaksud hendak menahan gerak maju

dari Gak Lam kun.

Siapa tahu gerakan tubuh dari Gak Lam kun ternyata sangat aneh dan jauh diluar

dugaan, bukan saja ia dapat menghindarkan diri dari lapisan bayangan telapak tangan

yang melindungi tubuh Hoa kok khi, malah tubuhnya sempat menerjang maju lebih

kedepan.

Gerakan tubuh yang aneh dan maha sakti itu tak lain tak bukan adalah ilmu gerakan Ji

gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat yang tiada tandingannya dikolong langit itu.

Bukan saja gerakan tersebut membuat Hoa Kok khi merasa sangat terperanjat,

sekalipun Ji Cin peng yang berada disamping ikut pula merasakan semangatnya berkobar

kembali, ia merasa hanya dengan suatu gerakan aneh ternyata, jurus serangan macam

apapun tak sanggup untuk membendung gerakan majunya.

Sesudah bergerak maju kedepan, Gak Lam kun menggerakkan sepasang tangannya

secara bersama dengan telapak tangan ditangan kiri ilmu jari ditangan kanan secara

beruntun dia lancarkan beberapa buah serangan berantai.

Didalam waktu singkat si anak muda itu telah melepaskan lima buah bacokan dan

sembilan totokan.

Kelima buah pukulan dan sembilan buah totokan itu bukan saja kesemuanya

dilancarkan dengan kecepatan luar biasa lagipula amat keji dan tidak kenal ampun, semua

sasaran tertuju pada jalan darah kematian, sebuah pukulan terarah pula pada bagianbagian

penting setiap serangan itu semuanya berbobot dan sanggup mencabut nyawa

manusia.

Termakan oleh serangkaian pukulan berantai yang dilancarkan hampir bersamaan

waktunya itu, Hoa Kok khi terdesak mundur berulangkali ketika ia berhasil lolos dari ketiga

belas buah serangan itu, secara kebetulan tubuhnya juga mundur sejauh tiga belas

langkah.

Gak Lam kun segera tertawa dingin, katanya, “Hoa Kok khi, beranikah kau menyambut

jurus pukulan Ngo ci tan sian (lima jari menyentil harpa) yang akan kulancarkan ini?”

Tanpa menanti jawaban telapak tangan kirinya melancarkan sebuah serangan tipuan

kedepan, sementara kelima jari tangannya didorong kedepan sejajar dengan dada.

Ketika menyaksikan gerakan itu, Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi tampak agak

tertegun, ia merasa jurus serangan itu belum pernah dijumpai selama hidupnya, lamatlamat

iapun merasakan bahwa dibalik kelima jari tangannya yang mengendor,

sesungguhnya tersimpan suatu gerakan membunuh serta perubahan yang amat lihay, ia

tak berani menyambutnya dengan keras lawan keras, terpaksa sepasang kakinya menjejak

tanah dan tubuhnya segera mundur beberapa depa dari posisi semula.

Sekulum senyuman dingin yang penuh dengan ejekan dan nada menghina menghiasi

ujung bibirnya, kemudian terdengarlah Gak Lam kun menyindir sinis, “Hoa Kok khi,

mengapa kau tak berani menyambut seranganku itu dengan kekerasan?”

Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi tersenyum.

“Suatu jurus lima jari mementil harpa yang sangat hebat!” pujinya, “aku rasa dibalik

serangan tersebut tentunya mengandung pula tenaga sakti Tok liong ci jiau?”

Seraya berkata ia melompat kedepan dan menerjang kembali si anak muda itu, telapak

tangannya dibacok kedepan dengan sejajar dada, lalu katanya lebih lanjut, “Gak lote,

bagaimana kalau kaupun merasakan juga sebuah jurus Hong yu pin tiok (Angin dan hujan

turun bersama) ku ini?”

“Kenapa tidak?” bentak Gak Lam kun pula dengan suara keras.

Tangan kanannya segera diayunkan kedepan, lalu disambutnya serangan dari Hoa Kok

khi itu dengan keras lawan keras.

Hoa Kok khi tertawa dingin tiba-tiba saja gerakan tangannya merendah kebawah,

kelima jari tangannya direntangkan lebar-lebar dan dari sebuah gerakan pukulan langsung

tiba-tiba saja berubah menjadi suatu sambaran miring.

Gak Lam kun segera menggoyangkan telapak tangannya, tiba-tiba saja jari telunjuk dan

jari tengahnya berputar satu lingkaran, kemudian dengan suatu gerakan cepat menyentil

kedepan.

Sejak melancarkan serangan saling beradu sampai gerak serangan sesungguhnya

kedua orang itu sama-sama melakukan tiga kali perubahan didalam setiap kali perubahan

terkandunglah jurus serangan mematikan yang dahsyat dan mengerikan.

Terdengar Gak Lam kun dan Hoa Kok khi sama-sama mendengus dingin kemudian

kedua orang itu sama-sama melompat kebelakang.

Dalam bentrokan pukulan yang terjadi secara diam-diam dan sama sekali tidak

menimbulkan suara itu, tampaknya kedua belah pihak sama-sama telah menderita luka

dalam.

Sesudah mundur kebelakang cepat-cepat kedua orang itu memejamkan matanya untuk

beristirahat.

Kalau paras muka Hoa Kok khi berubah menjadi pucat pias, maka paras muka dengan

ketajaman mata Ji Cin peng yang luar biasa itu, ternyata ia tidak berhasil mengetahui

dengan cara bagaimanakah kedua orang itu menderita luka, diapun tidak mendengar

suara benturan kekerasan akibat bentrokan dari pukulan kedua orang itu.

Buru buru Ji Cin peng melompat kedepan menghampiri si anak muda itu, lalu bisiknya,

“Kau terluka?”

Suaranya penuh kesedihan, rasa kuatir, rasa kasihan dan penuh rasa perhatian!

Sepasang mata Gak Lam kun yang terpejam rapat pelan-pelan membuka sedikit, lalu

manggut-manggut.

“Ehmm! Cuma luka yang ia deritapun tidak terhitung ringan!” sahutnya lirih.

Diam-diam Ji Cin peng membesut airmata dipipinya, lalu bertanya kembali, “Parahkah

lukamu?”

Gak Lam kun tersenyum.

“Aku pikir memang tidak enteng! Luka ditambah luka, pokoknya aku toh cuma

mempunyai selembar nyawa!”

Mendengar perkataan itu Ji Cin peng merasa semakin pedih hatinya, ia merasa hatinya

seperti tersayat-sayat oleh pisau tajam, titik airmata tak terbendung lagi segera meleleh

keluar membasahi pipinya.

Mendadak Hoa Kok khi membuka kembali sepasang matanya, setelah menatap wajah

Gak Lam kun sekejap sambil tersenyum katanya, “Pukulan dari Gak lote itu memang betulTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

betul sangat lihay hampir saja selembar nyawa aku orang she Hoa ikut terenggut, kalau

toh kau enggan membicarakan soal barter tersebut, terpaksa aku musti mohon diri lebih

dahulu”

Selesai berkata ia lantas putar badan dan siap meninggalkan tempat itu.

“Hoa Kok khi!” dengan suara dingin Gak Lam kun segera menegur, “sampai kini aku toh

belum mampus, masa kau hendak angkat kaki dengan begitu saja?”

Secepat sambaran petir ia menerjang maju ke depan dengan jurus Sam yang kay tay

(tiga kekuatan panas membuka bukit) ketiga jari tangannya secara gerakan mendatar

menerobos kedepan dan secara terpisah mengancam tiga buah jalan darah penting

ditubuh Hoa Kok khi.

Serangannya belum sampai, tiga gulung desingan angin jari tangan sudah menekan

badan lebih duluan.

Menghadapi ancaman tersebut Hoa Kok khi merasa sangat terkejut pikirnya, “Betapa

kuat dan ampuhnya angin serangan jari tangan itu!”

Cepat-cepat tubuhnya miring kesamping menghindarkan diri dari datangnya ancaman

tadi, tangan kirinya dengan jurus To coan im yang (memutar balikkan im yang)

menerobos kemuka, dibalik serangan yang kuat terkandung pula suatu ilmu Ki na jiu (ilmu

menangkap dengan tangan kosong) yang lihay, ia ancam urat nadi pada pergelangan

tangan musuh.

Gak Lam kun tertawa dingin, totokan tiga jarinya tiba-tiba berubah gerakan, diantara

perputaran jari-jari tangannya tahu-tahu ia sudah berebut untuk mencengkeram

pergelangan tangan Hoa Kok khi lebih dulu.

Kalau dua jago lihay sedang bertarung maka menang kalah seringkali ditentukan hanya

dalam sekejap mata, karena kurang hati-hati Hoa Kok khi segera harus menelan kerugian

besar, urat nadi pada pergelangan tangannya terasa menjadi kaku dan tahu-tahu urat

nadinya sudah kena dicengkeram oleh Gak Lam kun.

Tapi bagaimanapun juga, Hoa Kok khi adalah seorang jago kawakan yang berilmu

tinggi dan berpengalaman luas, meski terancam jiwanya ia tidak menjadi panik gugup

Begitulah, kendatipun Gak Lam kun berhasil merebut posisi diatas angin dan

mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan lawan, namun sebelum si anak muda

itu sempat mengerahkan tenaganya untuk menggencet urat nadi penting itu, mendadak

kelima jari tangan kanannya membalik pula keatas lalu mencengkeram urat nadi pada

pergelangan tangan Gak Lam kun, sekalipun waktunya berselisih namun perselisihan itu

boleh dibilang kecil sekali.

Setelah kehilangan posisinya yang menguntungkan, apalagi kelima jari tangannya yang

mencengkeram urat nadi pada pergelangan Gak Lam kun ternyata tidak tepat letaknya.

Hoa Kok khi segera berpikir dalam hati kecilnya, “Sekarang aku sudah menderita kerugian

akibat kehilangan posisi yang menguntungkan, aku tak boleh membiarkan ia mengerahkan

tenaga dalamnya lebih dulu…

Karena berpikir demikian, hawa murninya segera dikerahkan keluar dengan cepat.

Padahal pada waktu itu kelima jari tangan Gak Lam kun telah pula mengerahkan

tenaganya, kontan saja kedua belah pihak sama-sama merasakan hatinya bergetar keras

urat pada pergelangan tangannya menjadi kencang dan sakit bagaikan dijepit oleh japitan

baja.

Dalam keadaan beginilah pelan-pelan Ji Cin peng berjalan maju kedepan dan

menghampiri kedua orang itu.

Gak Lam kun mengerti apa yang dipikirkan gadis itu, tapi ia merasa perbuatan yang

rendah, terkutuk dan memalukan itu tidak sepantasnya dilakukan, walau dikerjakan gadis

itu tapi kenyataannya demi kepentingannya…

Maka dengan suara keras pemuda itu segera berteriak, “Adik Bwee, kau tidak boleh…

tidak boleh berbuat demikian sebab… perbuatan itu tak bisa kuterima… sampai matipun

aku tak akan mati dengan mata meram…”

Mendengar perkataan itu Ji Cin peng tertegun, ia mencintainya ia tak ingin pemuda itu

mati maka mau tak mau dia harus melakukan sergapan yang rendah dan terkutuk itu demi

menyelamatkan jiwa kekasihnya…

Sementara ia masih tertegun kedengaran Gak Lam kun mendengus tertahan, tubuhnya

digetar mundur sejauh tiga empat langkah oleh tenaga dalam Hoa Kok khi, sementara

cekalan pada pergelangan tangan masing-masing pun segera terlepas.

Hoa Kok khi sendiripun mundur dua langkah dengan sempoyongan, lalu sambil tertawa

katanya.

“Nona Bwee, apakah kau ingin menyergapku mumpung ada kesempatan baik yang

tersedia?”

Hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Ji Cin peng, ia tertawa dingin lalu

menjawab.

“Mana, mana sekarang tak bisa dibilang sebagai sergapan mumpung ada kesampatan!”

Sambil mengucapkan kata-kata itu, hawa murninya segera disalurkan kedalam telapak

tangannya lalu didorong kedepan, maksudnya ia hendak menghajar Hoa kok khi sehingga

terluka dalam seketika itu juga.

Siapa tahu baru saja hawa murninya dilontarkan keluar, tiba-tiba ia merasa ada

segulung hawa pukulan yang amat panas serta segulung hawa pukulan yang dingin

menusuk tulang secara bersamaan waktunya menggulung tiba dari kiri dan kanan.

Dengusan tertahan menggema memecahkan kesunyian, dengan sempoyongan Hoa kok

khi mundur kebelakang lalu tubuhnya roboh terjengkang diatas tanah…

Sebaliknya Ji Cin peng sendiripun mundur dua langkah dengan wajah pucat pias,

namun dibalik sorot matanya yang gusar ia melotot kearah seorang tojin berbaju kuning

dengan wajah tertegun.

Siapakah tosu itu? Ternyata dia adalah Kui to (tosu setan) Thian yu Cinjin.

Rupanya ia datang tepat pada saat Ji Cin peng sedang melepaskan pukulan dahsyatnya

tadi, diam-diam ia segera melancarkan pula sebuah pukulan dengan ilmu Ang yan ciang

(pukulan api membara).

Perlu diterangkan, Ang yan ciang merupakan kepandaian andalannya, dalam perkiraan

imam tersebut pukulan yang dilancarkan paling tidak dapat melukai gadis tersebut.

Siapa tahu, akibat dari bentrokan tersebut hawa darah yang berada dalam dadanya

bergolak keras, hampir saja kepalanya menjadi pusing tujuh keliling, kenyataan tersebut

tentu saja sangat mengejutkan hatinya.

Menurut apa yang dia ketahui, dalam dunia persilatan dewasa ini jarang sekali ada

orang yang mampu menerima sebuah pukulan Ang yan ciangnya tanpa cedera atau

terluka, apalagi pada saat yang bersamaan tadi Hoa Kok khi sedang melancarkan pula

sebuah pukulan dahsyat dengan hawa pukulan berhawa dinginnya.

Sementara itu, Ji Cin peng sendiripun ikut merasa terperanjat, karena didalam

serangannya tadi ia telah sertakan tenaga sakti Boa yok sin kang dari Lam hay sin ni yang

maha sakti itu.

Gak Lam kun maupun Hoa Kok khi sama-sama sudah terjatuh dan duduk diatas tanah.

Sedangkan si Tosu setan Thian yu tojin maupun Ji Cin peng sama-sama menyadari

bahwa mereka telah bertemu dengan musuh tangguh, untuk sesaat kedua belah pihak

sama-sama tidak melancarkan serangan tapi diam-diam mengerahkan hawa murninya

untuk mengendalikan golakan-golakan darah didadanya.

Keheningan yang luar biasa segera mencekam daerah disekeliling tempat itu, meski

dipagi hari namun mendatangkan pula suatu perasaan hening yang serius.

Angin musim gugur berhembus kencang, daun dan ranting beterbangan dan

menimbulkan suara yang amat gemerisik.

Tiba-tiba seorang mendengus tertahan, ternyata Gak Lam kun yang sedang duduk

bersila itu roboh terjengkang ketanah.

Ji Cin peng sangat terkejut menyaksikan kejadian itu, buru-buru ia melompat kedepan

dan berjongkok disampingnya, kemudian sambil mengerahkan tenaga dalamnya ia mulai

menguruti dada Gak Lam kun.

Sayang usahanya itu tidak mendatangkan hasil apa-apa, Gak Lam kun masih tetap

tergeletak tidak sadarkan diri.

Kenyataan tersebut amat mengalutkan pikiran Ji Cin peng, sorot matanya segera

dialihkan kewajah Hoa Kok khi.

Dalam keadaan begitulah tiba-tiba ia melompat bangun, lalu ujarnya, “Nona Bwee,

tenaga dalam yang kau miliki memang luar biasa sekali!”

Ji Cin peng tertegun, ia tak menyangka kalau Hoa Kok khi bisa sadar kembali

sedemikian cepatnya sesudah nadi penting ditubuhnya terluka oleh pukulan Boan yok

sinkangnya tadi, hal tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang aneh dan diluar

dugaan.

Teringat kembali keadaan dari Gak Lam kun, dengan nada marah ia lantas membentak,

“Hoa Kok khi, jika kau tak bisa menolongnya, maka kaupun jangan harap bisa tinggalkan

tempat ini dengan selamat!”

000000O000000

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tersenyum.

“Kalau aku tidak terluka lebih dulu oleh bentrokan tadi, dalam setengah menit saja aku

bisa melepaskan diri dari cengkeraman nadiku!”

Terhadap kcnampuan Hoa Kok khi untuk menembusi urat Meh hiat sendiri yang terluka

Ji Cin peng merasa kaget bercampur tercekat, pikirnya diam-diam, “Ilmu silat yang dimiliki

orang ini memang betul-betul hebat sekali, tampaknya keselamatan jiwa Gak Lam kun

lebih banyak celakanya daripada rejeki!”

Berpikir sampai disitu hawa amarah dalam dada Ji Cin peng tak terbendungkan lagi

bahunya bergerak sedikit dan tubuhnya telah menerjang beberapa kaki jauhuya, ia lantas

snembentak, “Betulkah tenaga dalammu sudah pulih kemba1i seperti sedia kala?”

“Yaa, sembilan puluh persen telah pulih kembali kalau sekarang kita harus bertarung

maka hal ini hanya akan mempercepat proses kematiannya saja, lagipula bicara menurut

kemampuan yang kita miliki belum tentu nona bisa meraih keuntungan banyak, maka aku

pikir lebih baik kita jangan bertarung saja”

Sebetulnya hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Ji Cin peng, ia

bermaksud untuk menggunakan segenap kepandaian yang dimilikinya untuk melukai Hoa

Kok khi.

Kini, setelah mendengar perkataan itu buru-buru ia menahan tubuhnya yang sedang

bergerak maju, lalu katanya dengan dingin, “Wahai orang she Hoa kalau kau bisa

menyembuhkan sakitnya apapun yang kau inginkan aku sanggup memberikannya

kepadamu”

Betapa girangnya Hoa Kok khi setelah mendengar janji itu, dengan wajah berseri ia

lantas berseru, “Dapat dipercayakah ucapan nona itu?”

Ji Cin peng sangat marah.

“Ucapanku lebih berat dari sebuah bukit karang, masa aku akan mengingkari janji?”

“Haaahhh… haaahhh… haaah…” Hoa Kok khi tertawa terkekeh-kekeh, “sebagai seorang

ketua suatu perguruan dan sebagai burung hong diantara manusia, tentu saja perkataan

nona Bwe dapat dipercaya, masa aku orang she Hoa menaruh curiga?”

“Sudah, tak usah banyak bicara, apa yang kau inginkan? Katakan dengan cepat!”

Hoa Kok khi tersenyum.

“Aku tidak menginginkan barang apa-apa dari nona” katanya, “apa yang kuinginkan tak

lebih hanya mengharapkan agar nona bersedia mengabulkan sebuah permintaanku”

Diam-diam Ji Cin peng berpikir dihati, “Permintaan apa yang dia inginkan? Tapi sudah

pasti adalah suatu permintaan yang sulit dilaksanakan, cuma… asal penyakit yang diderita

Gak Lam kun bisa sembuh, apapun yang ia harapkan aku bersedia untuk melakukannya”

Berpikir sampai disini gadis itu lantas berkata lagi, “Persoalan apa yang kau inginkan?

Hayo cepat katakan!”

Hoa Kok khi tertawa.

“Soal ini biar kita bicarakan setelah kusembuhkan dirinya nanti, yang penting asal nona

menyanggupi lebih dulu!” katanya.

Sekalipun Ji Cin peng tahu bahwa orang itu adalah seorang manusia yang licik dan

banyak akal muslihatnya seperti rase, tapi demi menyelamatkan jiwa Gak Lam kun,

sekalipun selembar jiwanya harus dikorbankan mau tak mau harus disanggupi juga.

Maka setelah termenung sejenak diapun mengangguk.

“Baiklah, kuturuti kehendakmu itu, Nah, sekarang tolonglah dia lebih dahulu!”

Hoa Kok khi lantas berpaling kearah Thian yu Cinjin lalu katanya, “Thian yu to heng

tolong periksalah sampai kapan dia baru akan sadar kembali?”

Sebelum Si tosu setan Thian yu Cinjin menjawab Gak Lam kun yang berbaring diatas

tanah itu mendadak melompat bangun seraya berseru, “Tidak usah kau repot-repot

menolongku!”

Tindakannya ini segera membuat tiga orang jago linay dari dunia persilatan tersebut

menjadi tertegun.

Hoa Kok khi termangu sejenak, kkemudian sambil tersenyum ujarnya, “Gak lote, kau

memang betul-betul seorang manusia berbakat aneh dari dunia persilatan sedari kapan

kau telah sadar kembali?”

Pelan-pelan Gak Lam kun bangkit berdiri, setelah tertawa dingin jawabnya, “Aku sudah

sadar lama sekali, apa yang kalian bicarakan telah kudengar semua dengan jelas.”

Berbicara sampai disini ia berhenti sejenak, lalu dengan sinar mata yang lembut dan

penuh rasa terima kasih ditatapnya muka Ji Cin peng, lalu setelah menghela nafas sedih

katanya, “Nona Bwe, budi kebaikan yang kau berikan kepada aku orang she Gak akan

terukir selalu dalam hatiku, tapi aku tidak percaya kalau ia memiliki kemampuan untuk

mengobati lukaku ini, sekalipun dia mempunyai obat untuk menyembuhkan lukaku, belum

tentu aku bersedia menerima pengobatannya. Nah, berhubung aku Gak Lam kun masih

mempunyai urusan penting lainnya, terpaksa aku akan mohon diri lebih dulu”

Selesai berkata, dengan langkah lebar buru-buru ia tinggalkan tempat tersebut.

Gerakan tubuhnya sangat cepat, hampir tidak mirip dengan seseorang yang sedang

meronta melawan elmaut, malah boleh dibilang ia sama sekali tidak mirip dengan orang

yang terluka apapun.

Ji Cin peng hanya termangu-mangu sambil memandang tingkah lakunya itu, ia baru

sadar kembali dari lamunannya sambil berteriak, “Gak siang kong… Gak siang kong..!

Harap kau berhenti dulu sebentar!”

Suara teriakannya itu agak bernada gemetar, sepertinya gadis itu sudah tak sanggup

mengendalikan lagi perasaan sedih dan dukanya.

Mendengar teriakan itu, terpaksa Gak Lam kun harus menghentikan langkah kakinya

dan berpaling.

Seperti seekor burung walet, dengan cepat Ji Cin peng memburu kehadapannya,

sepasang biji matanya yang besar dan jeli telah penuh airmata, ditatapnya pemuda

tersebut dengan lembut dan penuh kasih sayang…

ltulah tatapan wajah yang murung, penuh kepedihan hati!

Tapi rasa cintanya kepada pemuda itu terpancar keluar secara gamblang dari sinar

matanya.

Gak Lam kun menghela napas sedih, gumamnya dengan suara lirih, “Selamat tinggal

orang yang kukasihi, aku dapat teringat selalu akan dirimu, kau adalah orang kedua yang

kucintai selama kehidupanku didunia ini karena bentuk tubuhmu serta cinta kasihmu yang

sayu terlalu mirip dengannya, adik Peng kekasih sayangku yang telah tiada! Tapi akupun

mencintaimu, sayang… sikapmu yang begitu agung, begitu suci bersih membuatku merasa

rendah diri, lagi pula kehidupanku sudah tinggal beberapa hari saja…”

Ji Cin peng hanya berdiri dihadapannya dengan termangu, memandang mulutnya yang

bergumam, melihat titik airmatanya yang meleleh keluar dan membasahi dadanya…

Menyaksikan kemurungan dan kesedihan yang menyelimuti dirinya, gadis itu menghela

napas sedih, diambilnya secarik saputangan dan pelan-pelan disekanya airmata yang

membasahi pipi Gak Lam kun itu.

Secara diam-diam tosu setan Thian yu cinjin dan Hoa Kok khi telah berlalu dari sana,

suasana disekeliling tempat itu telah pulih kembali kedalam keheningan.

Namun perasaan Gak Lam kun dan Ji Cin peng bagaikan gelombang dahsyat ditengah

samudra bebas, bergelora dan bergulung tiada hentinya, siapapun tidak berbicara,

siapapun tak tahu apa yang musti dilakukan.

Setelah berdiri saling termenung sekian lamanya, Gak Lam kun baru berkata pelan,

“Nona Bwee, bila kau tiada perkataan lain, aku hendak mohon diri terlebih dahulu”

“Lukamu begitu parah, andaikata disergap oleh orang lagi..?

Gak Lam kun tertawa getir, tukasnya, “Didalam dua hari yang singkat ini, aku yakin

masih sanggup untuk menahan serangan dari jago lihay macam apapun”

Mendengar jawaban tersebut, paras muka Ji Cin peng segera berubah sangat hebat.

“Jadi kau… kau telah mengerahkan tenaga dalammu secara paksa..? Hal ini mana

boleh? Apakah kau telah mengerahkan ilmu Huan pu hwee kong sinkang (ilmu sakti

mengembalikan cahaya kekehidupan)?”

Gak Lam kun mengangguk pelan.

“Benar, aku telah menggunakan ilmu Huan pu hwe kong sinkang ajaran guruku, sisa

kekuatan yang berada dalam nadi-nadi keng meh telah kudesak semua untuk berhimpun

menjadi satu, didalam dua hari ini kekuatan saktiku tak akan menghilang, tapi itu berarti

kehidupanku telah menyurut semakin pendek”

Selesai mendengar perkataan itu, airmata Ji Cin peng bercucuran semakin deras, ia

tahu ilmu Huan pu hwee kong adalah suatu kepandaian rahasia yang maha sakti,

sekalipun seseorang yang jiwanya sudah terancam bahaya maut jika menggunakan

kepandaian ini maka segenap kekuatan tubuhnya akan pulih kembali seperti sedia kala,

namun kejadian inipun berarti menghilangkan kesempatan untuk menyembuhkan

penyakitnya dengan bahan obat-obatan, kecuali kematian tiada jalan kedua yang dapat

ditempuhnya lagi.

Ji Cin peng amat mencintainya, setelah tahu bahwa nyawa kekasihnya tinggal dua hari

saja, ia tak dapat mengendalikan rasa sedih dan duka yang berkecamuk dalam dadanya,

sambil menangis terisak ia berteriak keras, “Engkoh Gak… kenapa kau musti berbuat

demikian…”

Tubuhnya segera dijatuhkan kedalam rangkulan Gak Lam kun.

Untuk sesaat lamanya Gak Lam kun merasa yaa terkejut yaa girang, ia balas memeluk

gadis itu erat-erat, ia merasa hal tersebut merupakan 34

suatu kenikmatan serta kebahagiaan diluar dugaan yang bisa dinikmatinya menjelang

kematian.

Gak Lam kun bukan malaikat, bukan pula dewa, seorang malaikat sendiripun akan

terpesona, terbuai oleh kasih sayang seorang gadis yang cantik dan agung seperti Ji Cin

peng, apalagi dia tak lebih hanya seorang manusia biasa.

Isak tangis Ji Cin peng makin lama semakin mengibakan hati, keadaannya waktu itu

bagaikan seekor anak domba yang merengek-rengek mencari induknya.

Dia ingin menceritakan keadaan sesungguhnya kepadanya…

Tapi mendadak…

Gak Lam kun mendorong tubuhnya dan melepaskan diri dari pelukannya, kemudian

dengan langkah cepat ia berlalu meninggalkan tempat itu.

Ji Cin peng tertegun, kemudian teriaknya keras-keras, “Engkoh Gak, engkoh Gak… kau

berhenti dulu… engkoh Gak…”

Suaranya semakin mengibakan hati, membuat siapapun yang mendengarnya merasa

sedih dan ikut murung.

Gak Lam kun menghela napas sedih, katanya, “Selamat tinggal kekasihku yang

menawan hati, aku akan selalu mengingat-ingat raut wajahmu yang cantik jelita itu… tapi

aku harap kau dapat melupakan aku, sebab aku tak dapat mengangkangi dirimu, hal

tersebut hanya akan menambah kesedihan hatimu belaka…”

Gak Lam kun bagaikan seorang gila, ia kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu…

Ji Cin peng sangat sedih, ia merasa benak maupun dadanya serasa hampa belaka, ia

merasa seluruh semangat dan kehidupannya seakan-akan telah dibawa pergi oleh Gak

Lam kun, membuatnya berdiri termangu sekian lama ditempat…

Entah berapa lama sudah lewat, helaan napas panjang yang sedih tiba-tiba

menyadarkannya kembali dari lamunan.

“Nenek Siau…”

Ji Cin peng segera memutar badannya dan menjatuhkan diri kedalam pelukan seorang

perempuan berambut putih yang menggembol sepasang pedang dibelakangnya.

Dengan lembut perempuan berambut putih itu berkata, “Anak peng, kau jangan

bersedih hati sehingga merusak tubuhmu sendiri, kendalikanlah perasaan cintamu yang

meluap-luap itu”

“Nenek, aku tak mampu…” keluh Ji Cin peng.

Perempuan tua berambut putih itu menghela napas panjang.

“Aaaai… kalau memang demikian, mengapa waktu itu kau latih ilmu Ciat eng kang (ilmu

menolak cinta)?”

Ucapan tersebut segera menyadarkan kembali Ji cin peng dari lamunannya ia menjadi

teringat kembali dengan sumpahnya… ia tidak mencintainya ia harus membunuhnya dan

membalaskan dendam bagi kematian dua orang tuanya…

Tapi hal ini bukan suatu pekerjaan yang gampang, ia telah berusaha sepenuh tenaga

untuk menenteramkan hatinya tapi tidak berhasil.

Ia tahu bahwa dihadapannya telah terpentang suatu masa percobaan yang menakutkan

sekali, terutama beberapa hari belakangan ini ia harus lebih dapat mengendalikan

perasaan cintanya, sebab ia mulai merasa bahwa dirinya makin lama semakin terjerumus

kembali kedalam lautan cinta, sekali bertindak kurang hati-hati, akibatnya ia betul-betul

akan tenggelam ditengah samudra cinta yang tak bertepian itu.

Sementara itu Gak Lam kun sudah kabur menuju kearah daerah pegunungan disebelah

utara pulau gersang tersebut…

Dibawah sinar matahari, tampaklah aneka warna bunga liar tumbuh dengan suburnya

disana sini, persis seperti perasaan hatinya ketika itu, beraneka warna dan saling

bercampur aduk menjadi satu.

Tapi sesudah keindahan akan datang kegelapan, yang membuat kau tak dapat

menyaksikan lagi semua keindahan tersebut, karena sinar matahari telah condong kelangit

barat.

Dengan termangu-mangu Gak Lam kun berdiri dibawah sinar senja, memandang aneka

bunga dihadapannya dengan terpesona…

Pikiran maupun perasaannya ketika itu adalah kosong, hampa, tiada sesuatu yang

melintas.

Dalam waktu singkat, matahari telah tenggelam dibalik samudra jauh didepan sana.

Senja pun menjelang tiba dan menyelimuti seluruh jagat.

Angin musim gugur berhembus lewat, malam terasa lebih dingin dan menusuk tulang.

Pelan-pelan Gak Lam kun sadar kembali dari pikirannya yang gundah dan kalut.

Rembulan telah muncul diufuk timur, menembusi lapisan awan hitam dan

memancarkan sinarnya yang keperak-perakan kepermukaan jagad.

Gak Lam kun menghela nafas ringan, kemudian gumamnya lirih.

“Malam bulan purnama, malam yang indah dan cerah, itulah malam bulan delapan

tanggal lima belas… malam bulan Tiong ciu… aaa! Nyawaku akan berakhir pada tengah

hari tanggal enam belas.”

Timbul kembali kemurungan serta kepedihan yang amat tebal dalam hati kecilnya.

Sekonyong-konyong… ditengah keheningan malam yang mencekam, tiba-tiba

berkumandang suara harpa yang indah dan merdu.

Suara itu meski lirih dan lembut, tapi kedengaran begitu merdu dan mempesonakan

hati.

Seperti suara yang datang dari swargaloka seperti suatu lamunan kosong dan bukan

kenyataan.

Tapi begitu mendengar suara harpa tersebut, kontan saja Gak Lam kun merasakan

hatinya bergetar keras.

Ia merasa suara permainan khim itu justru merupakan irama Mi tin loan hun ki dari

Soat san Thian li, suatu kepandaian khusus dari perguruan See Thian san.

Tapi, bukankah malam ini baru tanggal empat belas? Apakah ia mengundang aku

sehari lebih pagian?”

Tapi, sekarang ia berada ditengah bangunan loteng yang aneh dan misterius itu,

dengan cara apa dirinya akan masuk kedalam?

Berpikir sampai disini, cepat-cepat Gak Lam kun memusatkan semua pikiran dan

perhatiannya lalu menentukan arah darimana datangnya irama khim tersebut.

Tiba-tiba sekilas perasaan kaget dan tercengang melintas diatas wajah Gak Lam kun.

Ternyata ia menemukan bahwa irama permainan khim dari Soat san thian li itu berasal

dari sekitar tempat dimana ia berada sekarang, mungkin berasal dari pantai samudra

sebelah utara yang jaraknya kurang lebih masih ada beberapa ratus kaki dari situ.

Mula-mula pemuda itu kuatir salah mendengar, sepasang telinga dan

memperhatikannya lagi dengan seksama, terbukti suara itu memang berasal dari arah

yang dimaksud.

Gak Lam kun tidak ragu-ragu lagi, ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya

dan bergerak menuju keutara pantai laut.

Irama khim itu makin lama semakin lirih dan melemah mengikuti semakin majunya

tubuh Gak Lam kun mendekati asal, suara tadi malah akhirnya begitu lirih dan pelan

hingga sukar ditangkap dengan pendengaran.

Untungnya Gak Lam kun tahu bahwa gejala aneh itu akan ditangkap oleh pendengaran

manusia bila seseorang makin mendekati tempat berasalnya sumber suara Mi tin loan hun

ki.

Sekalipun suara irama khim itu sedemikian lirih dan lembut, tapi dibalik kelembutan

tersebut justru terkandung suatu kekuatan daya pengaruh yang luar biasa, membuat

pikiran dan perasaan orang menjadi tenang, hampir saja ingin menari dan berjoget

mengikuti irama tersebut.

“Irama musik dari Soat san thian li memang betul-betul luar biasa sekali, aku yang

begini hapal dengan irama musik itupun nyaris terpengaruh, apalagi orang lain, mana

mungkin mereka bisa mempertahankan diri?”

Tiba-tiba permainan khim itu berhenti sama sekali.

Gak Lam kun tahu bahwa ia sudah mendekati sumber dari irama khim itu dalam jarak

ratusan kaki, oleh sebab itu permainan khim, tadi malah tidak terdengar sama sekali

olehnya, atau dengan perkataan lain bukan orang itu yang menghentikan permainan

khimnya.

Ternyata irama Mi tin loan hun ki adalah semacam kepandaian maha sakti dari tingkat

atas, bukan saja dapat mengaburkan pendengaran orang, lagi pula memiliki semacam

daya pengaruh iblis yang tebal sekali.

Satu-satunya titik kelemahan yang dimiliki irama tersebut adalah mereka yang berada

dekat dengan pemetik khim itu justru malah tak dapat mendengarnya sama sekali, apalagi

setelah berada seratus kaki dari sumber permainan itu, suaranya malah betul-betul lenyap

tak berbekas.

Gak Lam kun tahu bahwa ia sudah semakin dekat dengan diri Soat san thian li, buruburu

pemuda itu berhenti, melepaskan jubah hijaunya dan mengenakan dandanan dari

Tok liong Cuncu Yo long.

Kemudian selangkah demi selangkah pelan-pelan ia berjalan mendekati sumber irama

khim itu…

Tak lama kemudian, Gak Lam kun mendengar suara gulungan ombak samudra

berkumandang dengan nyaringnya dari sebelah samping sana.

Cepat ia mendongakkan kepalanya, maka tampaklah didepan sana terbentang tanah

datar seluas puluhan kaki, kedua belah sampingnya berupa tebing-tebing karang yang

tingginya mencapai ratusan kaki dan langsung berhubungan dengan permukaan samudra.

Disudut sebelah utara menghadap kesamudra sana justru terdapat sebuah batu karang

besar yang mirip dengan sebuah penahan angin, bukan saja telah membendung deburan

ombak yang meninggi sebukit, menghalangi pula pemandangannya kearah samudra

bebas.

Gelombang yang berlapis-lapis menggulung dan menghantam diatas batu karang

memercikkan butiran air keempat penjuru dan menciptakan selapis kabut yang tebal,

dipandang dari kejauhan tampak seperti selapis kabut tebal yang membeku diudara.

Semakin dekat ia menghampiri tanah datar itu getaran-getaran akibat memecahnya

ombak diatas batu karangpun terasa makin besar.

Gemuruh suaranya memekikkan telinga ibaratnya guntur yang menggelegar diangkasa.

Pohon siong, rerumputan hijau penuh tumbuh diatas permukaan tanah sesungguhnya

tempat itu adalah sebuah tempat yang indah.

Tiba-tiba sorot mata Gak Lam kun menyapu kearah belasan kaki didepan sana, dibawah

sebatang pohon siong, diatas sebuah batu karang datar yang luasnya beberapa kaki,

duduk bersila seorang gadis berbaju warna perak yang mempunyai rambut sepanjang

bahu.

Ia duduk dengan menghadap keutara, dalam pangkuannya memeluk sebuah khim antik

dan sedang memetiknya dengan penuh kesungguhan.

Oleh karena Gak Lam kun datang dari selatan menuju keutara, tentu saja dia tak dapat

melihat jelas raut wajahnya, yang dapat dikenal hanya potongan badannya yang

dipandang dari belakang.

Tapi kalau dipandang dari potongan badan bagian punggungnya, bisa diketahui bahwa

gadis itu memang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Diam-diam Gak Lam kun mengerutkan dahinya, sebab ia merasa bahwa potongan

tubuh gadis itu kalau dilihat dari belakang, ternyata mirip sekali dengan potongan badan si

gadis yang telah melukai Si Tiong pek dalam gedung mungil beberapa hari berselang.

Puluhan tombak dibelakang gadis tersebut Gak Lam kun menghentikan langkahnya, lalu

berkata dengan lantang, “Yo long telah datang sendiri untuk memenuhi undangan dari

Thian li..!”

Perkataan itu diucapkan dengan mempergunakan nada suara dari Yo Long, berat,

parau tapi nyaring.

Namun gadis berbaju perak itu masih juga duduk membelakanginya, bahkan

berpalingpun tidak, hanya tubuhnya agak bergetar, seakan-akan merasa agak tergolak

perasaannya.

Lama sekali Gak lam kun menunggu, ketika belum juga mendengar suara jawaban, ia

berkata sekali lagi, “Yo Long datang berkunjung sendiri untuk memenuhi janji dari Thian

li..!”

“Kau adalah Yo Long?” sementara suara yang halus dan lembut berkumandang

memecahkan keheningan.

Mendengar teguran itu, Gak Lam kun merasa terkejut, segera pikirnya, “Jangan-jangan

ia sudah ragu kalau aku bukan guruku sendiri?”

Berpikir sampai disitu. Gak Lam kun lantas menjawab.

“Memangnya masih ada orang lain?”

“Baru tanggal berapakah malam ini, kembali gadis berbaju perak itu bertanya dengan

suara lirih.

“Bulan delapan tanggal empat belas!”

“Lebih pagi seharipun boleh juga baiklah! Kau boleh kemari”

Gak Lam kun merasa nada ucapannya terlalu menyombongkan diri, hal mana membuat

hatinya merasa kurang senang, tapi diapun tak berani membangkang sebab Soat san thian

li adalah orang yang setingkat dengan gurunya.

Pelan-pelan Gak Lam kun maju kedepan lalu berhenti tiga kaki dibelakangnya setelah

itu, katanya lagi, “Apakah Thian li telah membawa datang Lencana pembunuh naga..?”

“Sudah!” kembali gadis berbaju perak itu menjawab sambil membelakanginya.

Jawabannya singkat jelas dan bernada ketus namun dibawah irama suaranya yang

merdu seperti kicauan burung nuri, justru, kedengarannya begitu merdu dan membuat

hati orang berdebar.

Yaa, suara orang itu adalah suara pembicaraan dari seorang gadis yang masih muda,

suara seorang gadis yang cantik jelita.

“Kalau memang sudah kau bawa kemari, tolong Thian li suka menyerahkan Lencana

pembunuh naga itu kepadaku” kata Gak Lam kun lebih lanjut”

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba saja gadis berbaju perak itu mendengus dingin…

Mendadak ia memutar tubuhnya dan melayang keudara, lalu tahu-tahu sudah berada

tujuh delapan depa dihadapan Gak Lam kun.

“Hei, kau bukan Soat san thian li!” si anak muda itu segera berpekik kaget.

Gadis itupun mendengus dingin.

“Hmm! Kau sendiripun bukan Yo Long, siapa kau?!” balas hardiknya.

Ternyata gadis berbaju perak itu adalah seorang gadis cantik jelita yang baru berusia

delapan sembilan belas tahun, ia cantik sekali kecantikannya tidak mirip manusia biasa

melainkan lebih mirip dengan bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Menyaksikan kecantikan gadis itu Gak Lam kun merasakan jantungnya berdebar keras,

pikirnya, “Benarkah didunia ini terdapat seorang gadis yang sedemikian cantiknya..?”

Tanpa terasa gadis itu kembali diamatinya dengan lebih seksama.

Muka seperti bunga tho, alis matanya lentik dan indah, hidungnya mancung dan

bibirnya kecil mungil.

Tak salah lagi, kecantikan wajahnya memang luar biasa sekali, membuat siapapun yang

melihatnya tanpa terasa akan dibikin termangu olehnya.

Gadis berbaju perak itu segera mendengus dingin, bentaknya.

“Siapa kau? Sudah bosan hidup rupanya?”

Tiba-tiba Gak Lam kun tersadar kembali dari lamunannya, diam-diam ia merasa malu

sendiri dengan keadaan dirinya yang mirip orang kehilangan sukma itu.

Dengan cepat ia memusatkan kembali semua perhatiannya, lalu dengan dingin

membentak, “Siapa pula kau?”

Dengan alis mata berkernyit gadis itu tertawa terkekeh-kekeh, “Haaah… haaaah…

haaaah… siapakah aku? Aku adalah Bi ji..!”

Dari suara tertawa cekikikannya yang merdu itu Gak Lam kun segera mengetahui

bahwa dia adalah seorang gadis polos yang masih belum hilang sifat kekanak-kanakannya.

“Apakah nona mendapat tugas dari Thian li untuk datang kemari?” tegur Gak Lam kun

dengan suara dalam.

Gadis berbaju perak itu tidak menjawab, ia malah balik bertanya, “Apakah kau juga

datang untuk melaksanakan tugas dari Yo long?”

“Yo long adalah guruku yang mewariskan ilmu silat kepadaku, aku memang datang

kemari untuk menyambut Lencana pembunuh naga atas perintah guruku, jika nona

memang sedang mendapat tugas dari Soat san thian li, maka aku harap Lencana

pembunuh naga agar segera diserahkan kepadaku agar aku pun dapat menyelesaikan

tugas ini”

Gadis berbaju perak itu segera tertawa dingin.

“Heehhh… heeehhh… heeehhh… Lencana pembunuh naga? Hmm! Bagaimanapun juga

Yo Long harus datang kemari sendiri”

Permintaannya itu memang suatu permintaan yang menyulitkan, kemana ia harus pergi

mencari Yo Long kedua?

Gak Lam kun segera menghela napas panjang, katanya, “Guruku telah tiada lagi!”

Mendengar jawaban itu, tubuh si nona berbaju perak agak menggigil kencang,

wajahnya menjadi amat sedih mulutnya berkemak-kemik seperti sedang berdoa kepada

seseorang…

Melihat itu Gak Lam kun menghela napas sedih katanya, “Suhuku telah dikerubuti

orang dibukit Yan po gan dibukit Hoasan pada delapan belas tahun berselang, kemudian

racun yang mengeram dalam tubuhnya kambuh dan pada musim gugur empat tahun

berselang telah berpulang kealam baka…”

Sementara Gak Lam kun hendak melanjutkan perkataannya mendadak dengan wajah

diliputi hawa napsu membunuh gadis berbaju perak itu menukas dengan nada dingin,

“Kau tak usah melanjutkan kata katamu itu aku telah berdoa kepada ibuku dan

memberitahukan bahwa musuh besarnya telah mati tapi sekarang aku hendak menuntut

balas terhadap muridnya.”

Gak Lam kun menjadi tertegun dan melongo, ia tidak habis mengerti dengan duduknya

persoalan yang sedang dihadapinya.

“Nona, apa yang sedang kau bicarakan?” tegurnya keheranan.

Gadis berbaju perak itu kembali tertawa terkekeh-kekeh.

“Terus terang kuberitahukan kepadamu, Soat san thian 1i adalah ibuku, sedang Yo

Long adalah musuh besar ibuku, sebelum meninggal dunia ibuku telah berpesan agar

kucari Yo Long sampai ketemu serta membalaskan sakit hatinya. Ibuku pun berpesan agar

Yo Long jangan dibunuh melainkan seluruh ilmu silat yang dimilikinya harus dipunahkan

kemudian menembusi tulang pipa kutnya dengan emas murni dan merantainya didepan

kuburan ibuku sampai mati. Sekarang, andaikata Yo Long sudah mati maka kau harus

serahkan jenasahnya kepadaku agar kubawanya kedepan kuburan ibuku dan berlutut

dihadapannya, biar mayatnya dihembus angin diterpa hujan hingga badannya membusuk

dan tulang baunya kusebarkan kesekeliling kuburan. Kau adalah muridnya, tentu saja kau

dapat menunjukkan letak jenasah itu kepadaku, bila kau tak mau menyerahkannya

kepadaku maka kau pun tak akan kubiarkan hidup, atau kalau tidak kau akan kubunuh,

lalu setelah kutemukan jenasah Yo Long maka jenasah kalian berdua kurantai didepan

kuburan ibuku agar sepanjang masa merasakan penderitaan hebat”

Mendengar perkataan itu, Gak Lam kun merasa mendongkol bercampur gusar, selain

daripada itu dia pun merasa terkejut bercampur curiga.

Mendongkol dan marah tentu saja disebabkan gadis itu amat mencemooh dan

menghina gurunya yang telah tiada.

Kaget dan curiga karena pesan terakhir dari Soat san thian li ini, kenapa perempuan itu

sedemikian bencinya kepada Yo Long?

Heran dan curiganya ini menimbulkan perasaan ingin tahu, sebab semasa masih

hidupnya dulu belum pernah Yo Long menceritakan soal budi dendamnya dengan Soat san

thian li.

Gak Lam kun tertawa seram, katanya, “Haaah… haaah… haaah… nona, aku pikir

perkataanmu itu mungkin cuma gurauan belaka.”

Yaa, sebab ketika gadis berbaju perak itu mengucapkan kata-kata tersebut, dia

mengucapkannya dengan suara begitu ringan dan santai, maka Gak Lam kun mengira

bahwa perkataannya itu tak mungkin terjadi.

“Kenapa? Kau mengira aku sedang membohongimu?” ejek si nona berbaju perak sambil

tertawa merdu.

Gak Lam kun ikut tertawa ringan.

“Aku pikir nona cantik seperti nona tak mungkin adalah seorang manusia yang kejam

dan berhati busuk!”

Tiba-tiba nona berbaju perak itu mengerutkan dahinya, lalu dengan dingin ia berkata,

“Aku ingin bertanya kepadamu, sesungguhnya kau bersedia untuk menyerahkan jenasah

Yo Long kepadaku atau tidak?”

Ketika menyaksikan perubahan wajahnya itu Gak lam kun merasakan hatinya bergetar

keras, sekarang ia baru tahu bahwa dugaannya meleset, ternyata ia berbicara sungguhsungguh,

dengan demikian maka Gak Lam kun segera terseret dalam lembah lamunan

yang amat kalut.

Triing! Triing..! dua kali dentingan khim yang membetot sukma menggetar dalam

hatinya…

Gak Lam kun segera merasakan hawa darah dalam dadanya mengalami pergolakan

hebat, kejadian ini mengejutkan sekali hatinya, buru-buru dia memusatkan pikirannya dan

hawa murni dihimpun menjadi satu, dengan mata terpejam ia duduk bersemedi.

Triiing! Triiing… Traaang! Traaang… jari jemari si nona baju perak yang lembut kembali

menari diantara senar-senar khimnya dan memetikkan empat kali dentingan merdu.

Akan tetapi keempat dentingan pencabut nyawa tersebut ternyata sama sekali tidak

mendatangkan manfaat apa-apa bagi Gak Lam kun.

Melihat itu, kembali si nona berbaju parak tertawa cekikikan, katanya kemudian,

“Ditinjau dari kemampuanmu untuk menahan enam dentingan irama Siang simci, hal ini

membuktikan bahwa kau memang benar-benar ahli waris dari Yo Long!”

Pelan-pelan Gak Lam kun membuka matanya kembali, kemudian berkata, “Nona, tak

mungkin aku akan serahkan jenasah Yo Long kepadamu, sekalipun Soat san thian li benarbenar

mempunyai ikatan dendam dengan guruku sebelum aku berhasil menyelidikinya

sampai jelas, tak ingin kuberikan banyak komentar mengenai persoalan tersebut. Dan kini

satu persoalan yang harus dilakukan adalah memohon kepada nona agar menyerahkan

Lencana pembunuh naga itu kepadaku, sedangkan mengenai persoalan selanjutnya

terserah apa yang hendak nona lakukan”

“Sebelum meninggal ibuku memang berpesan agar Lencana pembunuh naga

kuserahkan kepada Yo Long, tapi sekarang ia sudah tiada lagi, itu berarti benda mustika

itu sudah tak ada pemiliknya lagi, atau dengan perkataan lain siapa kuat siapa yang akan

memperolehnya. Nah, bila sekarang kau menginginkan Lencana pembunuh naga itu, boleh

saja! Kecuali kau berhasil mengalahkanku!”

Tertegun Gak Lam kun setelah mendengar perkataan itu.

“Nona, apakah kau hendak mengingkari janji?” tegurnya.

Gadis berbaju perak itu balas tertawa dingin.

“Heeehhh… heehhh… heeehh… kalau toh nona berkata demikian, terpaksa aku harus

menuruti perkataanmu dengan merebutnya mempergunakan kekerasan” Gak Lam kun

tertawa seram.

“Tunggu sebentar!” cegah si nona berbaju perak itu tiba-tiba, “boleh saja kalau ingin

beradu kekuatan, tapi lakukan itu setelah duduknya persoalan menjadi jelas”

“Hmm! Apalagi yang hendak kau ucapkan? Hayo katakan saja berterus terang”

“Lencana pembunuh naga adalah benda mestika yang tiada ternilai harganya, setiap

umat persilatan dalam dunia persilatan tak seorangpun yang tidak ingin mendapatkannya,

padahal diatas pulau terpencil ini sekarang telah berkumpul begitu banyak gembong iblis

dari pelbagai tempat, maka andaikata orang yang berhasil mendapatkan Lencana

pembunuh naga itu bukan seorang jago silat yang berilmu tinggi dan memiliki kecerdasan

yang luar biasa, pasti mustika tersebut bakal dirampas lagi oleh orang lain.”

“Selanjutnya walaupun Lencana pembunuh naga mengandung suatu partai harta

pusaka yang tak terhitung nilainya, tapi dimanakah letak harta karun tersebut disimpan?

Untuk menemukan letak tempat itu, tentu saja harus menguntungkan pula pada

pengalaman serta pengetahuan dari orang yang mendapatkannya. Maka dari itu, didalam

pertarungan yang bakal berlangsung diantara kita berdua hari ini, bukan ilmu silat saja

yang harus diadu, melainkan kecerdasan, pengetahuan serta pengalaman juga musti diuji,

apakah kau dapat menerima pendapatku ini?”

“Entah nona hendak beradu semua hal tersebut dengan cara apa?” tanya Gak Lam kun

hambar.

0000O0000

“Dalam soal pengetahuan, kita harus beradu untuk membuat sebait syair, pertama kali

kau yang hanya mengajukan persoalan lalu aku yang ajukan soal, sekalipun hanya beradu

dalam satu hal, sesungguhnya adu kepandaian semacam ini membutuhkan juga

kecerdasan” demikian si nona berbaju perak berkata sambil tertawa.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali, “Karena untuk membuat sepasang

Lian, hanya seorang manusia yang berotak encerlah yang dapat melakukannya, jika kau

setuju maka sekarang juga kita boleh mulai beradu membuat Lian itu”

Sudah belasan tahun lamanya Gak Lam kun mengikuti Tok liong cuncu Yo Long yang

orang berbakat setan, kecuali ilmu silat, dalam ilmu pengetahuan pun tak luput ia peroleh

gemblengan dari Yo Long.

Maka setelah mendengar perkataan itu jawabnya, “Kalau begitu harap nona ajukan

pertanyaan lebih dulu!”

Tampaknya nona berbaju perak itu seperti sudah mempunyai rencana yang matang, ia

segera tertawa hambar.

“Kau adalah tamu sedang aku adalah tuan rumah, sudah sepantasnya kalau kau dulu

yang mengajukan persoalan!” katanya.

Gak Lam kun manggut-manggut ujarnya kemudian.

“Kalau begitu biar aku pamerkan kejelekanku.

Setelah termenung sejenak katanya, “Lembah sepi bukit sunyi, sinar rembulan

berwarna keperak-perakan…”

Nona berbaju perak itu tersenyum katanya, “Lian itu rada susah untuk dicarikan

pasangannya, untung See Thian san kami mempunyai pemandangan alam yang terwujud,

baiklah kupinjam hal tersebut saja”

Maka diapun bersenandung, “Akar ganggang daun teratai, titik air hujan berbunyi

merdu” Gak Lam kun segera manggut-manggut.

“Pengetahuan nona memang amat hebat, Lembah sepi bukit sunyi dan akar ganggang

daun teratai memang merupakan sepasang Lian yang ideal, betul sekali! Nah, sekarang

kau boleh mengajukan persoalan, aku akan mencoba untuk menjawabnya”

Nona berbaju perak itu sendiri juga tahu bahwa Gak Lam kun adalah seorang pemuda

yang berpengetahuan luas, kalau cuma membuat Lian sederhana saja jelas tak akan

menyulitkan dirinya, maka sesudah termenung sejenak ia bersenandung lagi, “Kecerdasan

menangkan kemurungan, bukit kosong udara hampa, sekalipun rembulan bersinar cerah

manusia bermuram durja…”

Mendengar persoalan yang diajukan gadis itu, paras muka Gak Lam kun agak berubah,

ia merasa persoalan itu benar-benar sulit sekali, ia menghela napas sedih.

Baru saja pemuda itu akan mengaku kalah tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya

memandang angkasa dan menemukan lapisan awan yang bergerak diangkasa, satu

ingatan lantas melintas dalam benaknya.

Dengan cepat ia bersenandung, “Awan tipis laksana samudra perak, terbang melayang

ditengah udara, tiada jalan menuju sorgaloka, dunia makin sesat…”

“Suatu jawaban yang bagus sekali, tepat sekali!” puji nona berbaju perak itu dengan

rasa kagum, “didalam soal pengetahuan kita anggap seri, nah mari kita beradu kepandaian

silat sekarang”

“Ilmu silat itu terdiri dari beraneka ragam, tolong tanya nona ingin beradu tenaga

dalam, atau ilmu pukulan tangan kosong? Ataukah ilmu pedang…”

Nona berbaju perak itu tertawa.

“Sekalipun beraneka ragam, lebih baik lagi kalau kita bisa memilih suatu jenis yang

meliputi semua jenis kepandaian tersebut..!”

“Apakah nona ingin beradu ilmu pedang?”

“Bagi seorang yang berlatih silat, kalau ingin mencapai tingkatan yang tinggi dia

memang harus berlatih ilmu pedang, lagipula dalam beradu ilmu pedang kitapun bisa

beradu tenaga dalam maupun aneka macam ilmu pukulan tangan kosong lainnya”

“Tapi aku tidak membawa pedang…”

Sambil tersenyum gadis berbaju perak itu menukas, “Aku memiliki dua bilah pedang,

tak menjadi soal kalau kupinjamkan sebilah untukmu, cuma aku pikir kalau kita musti

beradu jurus pedang hanya mengandalkan gerakan belaka, hal ini rasanya terlalu

sederhana, lagipula selesai bertarung menang kalah segera ditentukan dan tidak mungkin

akan terjadi kesempatan untuk seri, maka aku pikir dalam beradu ilmu silat, lebih baik kita

bagi menjadi dua macam pertandingan saja”

Setelah mendengar perkataan tersebut, Gak Lam kun merasakan bahwa gadis itu

adalah seorang jago yang cerdik dan berakal banyak, mungkin saja ia sedang

melaksanakan suatu siasat untuk menjebak.

Tapi sebagai seorang laki-laki sejati yang berwatak tinggi hati, ia tak ingin menyerah

dengan begitu saja, dia ingin tahu permainan setan apakah yang sedang dimainkan gadis

tersebut.

Maka tanyanya, “Bolehkah aku tahu dua macam pertandingan yang bagaimanakah itu?

Apakah kau dapat menerangkan lebih dahulu?”

Gadis berbaju perak itu tertawa.

“Semacam adalah beradu ilmu silat secara lisan sedang semacam lagi adalah beradu

kepandaian dengan gerakan”

Gak Lam kun segera tersenyum.

“Bagus, bagus sekali, kalau begitu mari kita beradu kepandaian secara lisan lebih

dahulu. Nona silahkan kau untuk melancarkan lebih dahulu”

Sikap nona berbaju perak itu betul-betul amat santai setelah tertawa merdu katanya.

“Baiklah! Harap kau perhatikan baik-baik, pada jurus yang pertama kugunakan gerakan

Kiam hay leng po (pecahan ombak ditengah samudra pedang) untuk menyerang jalan

darah Khi si hiat dikaki kananmu, kemudian menukik keatas menusuk jalan darah Tay ing

hiat diatas pelipis dan menyapu kebawah menyambar jalan darah Gwa leng hiat

dipinggang”

Diam-diam Gak Lam kun merasa terperanjat, jurus serangannya itu betul-betul hebat

sekali, bukan saja perubahan jurusnya sakti bahkan aneh dan susah diduga sebelumnya.

Sesudah berpikir sejenak, ia lantas menjawab, “Jurus serangan Kiam hay leng po dari

nona memang betul-betul lihay sekali, tapi kugunakan jurus Sin ki hou sian (kesempatan

hidup muncul kembali) untuk membacok nadi penting dipergelangan tangan kananmu

yang menggenggam pedang, dengan gerakan tersebut dua perubahan saktimu bisa

kubendung, kemudian badanku menerobos kedepan, pedangku dengan jurus Sin liong

sam sian (naga sakti muncul tiga kali) menyerang atas, tengah dan bawah tiga tempat

penting ditubuhmu”

Jilid 12

Nona berbaju perak itu tertawa.

“Suatu jurus serangan Sin ki hou sias yang hebat, dengan menyerang menolong diri

bahkan sekalian memunahkan dua gerakan serangan lainnya, tapi meski gerakanku kena

kau kunci, pedangku segera kutarik kembali kebelakang, lalu dengan jurus Im hay toan

gak (lautan awan memotong bukit) kusambut gerakanmu, ingin kulihat apakah jurus Sin

liong sam sianmu bisa kau kerahkan lebih jauh atau tidak?”

“Bagus sekali! Bagus sekali!” puji Gak Lam kun, “jurus im hay toan gak itu memang

tandingan dari jurus Sin liong sam sian, cuma ditengah jalan gerakannya kurubah menjadi

Ciau ta kim ciong (memukul keras genta emas), bukan saja gerakan ini bisa memunahkan

hawa pembunuhan yang terkandung dalam jurus Im hay toan gak mu itu, lagipula aku

bisa gunakan jurus Sin liong tiau tau (naga sakti palingkan kepala) untuk memburu dirimu,

ingin kulihat apakah kau bisa menghindarkan diri dari serangan kilatku ini?”

Tergetar juga perasaan nona berbaju perak itu, jawabnya.

“Jurus Sin liong tiau tau memang khusus untuk mendahului lawan sambil melancarkan

sergapan, bila kugunakan jurus Shia ta kim ling (memukul miring genta emas) untuk

mundur sambil menutup diri, aku rasa jurus seranganmu itu pasti dapat kuhindari.”

Sekarang posisi Gak Lam kun sudah berada diatas angin, sambil tertawa hambar

katanya.

“Setelah jurus Sin liong tiau tau secara beruntun kulancarkan tiga buah serangan

berantai dengan gerakan-gerakan Hud kiam cian huan (seribu ciptaan pedang Buddha),

Siau ci thian lam (matahari tenggelam bianglala menyelimuti angkasa), ingin kulihat

dengan cara apa kau hendak menyambut serangan-serangan ini?”

Sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir nona berbaju perak itu, jawabnya,

“Seandainya kau tidak mempergunakan tiga jurus berantai itu untuk mendesakku,

mungkin aku benar-benar akan terperosok dibawah angin, ketika kau sedang

menggunakan jurus Hud kiam cian huan untuk diganti menjadi jurus Siau ci thian lam,

kugunakan jurus To coan im yang (memutar balikan im dan yang) untuk merebut posisi

denganmu, lalu dengan jurus Pek im jut siu (awan putih muncul dari bukit) kubacok

sepasang kakimu, ingin kulihat apakah kau mampu untuk menahan diri?”

Betapa terperanjatnya Gak Lam kun dengan kesudahan tersebut, sekalipun rangkaian

jurus serangannya cukup ketat dan kuat toh muncul juga titik kelemahan dibaliknya

dengan begitu posisinya kembali kena didesak dibawah angin.

Demikianlah pertarungan secara lisan berlangsung amat seru, berpuluh-puluh jurus

sudah berlangsung namun menang kalah sukar ditentukan, setiap jurus serangan yang

mereka sebutkan selalu mengandung perubahan gerakan yang luar biasa.

Dibawah desakan si nona berbaju perak setelah ia berbasil merebut posisi diatas angin,

Gak Lam kun benar-benar terdesak hebat, sekalipun ia masih menyebutkan terus jurusjurus

serangannya tapi setiap kali keadaannya selalu terancam bahaya ini semua membuat

peluh membasahi sekujur tubuhnya.

Mendadak ia berpekik nyaring serunya keras-keras, “Sekalipun jurus Ci kiam hui sian

(pedang sakti terbang berputar) mu membacok pergelang tangan dengan menelusuri

pedangku tapi aku bisa membuang pedang untuk menarik tangan sementara tangan kiriku

dengan ilmu sentilan Tan ci sin thong kugetar kutung pedang ditanganmu itu”

Nona berbaju perak itu tertawa dingin.

Dalam genggaman masih ada separuh pedang sebaliknya kau sudah bertangan

telanjang, nah dalam pertarungan lisan ini apakah kau tidak segera mengaku kalah?”

Gak Lam kun tertawa dingin pula, jawabnya, “Sekalipun tangan kananku membuang

pedang, tapi kaki kananku masih bisa mencongkel pedang itu keatas, bukankah tanganku

masih bisa memegang pedang lagi? Coba pikirlah dulu, yang menang kau atau aku?”

Nona berbaju perak itu mendengus dingin.

“Hmm..! Memangnya kau anggap begitu gampang? Ketika kau mencongkel pedang

untuk menangkapnya, kutungan pedang ditanganku bisa kutimpuk kearah bagian

mematikan ditubuhmu, dengan jarak sedekat ini lagipula perhatianmu sedang bercabang,

memangnya kau bisa meloloskan diri dengan selamat?”

Mendengar itu Gak Lam kun segera menghela napas panjang.

“Aaaai… aku tidak menyangka kalau kau akan bertindak demikian” katanya, “tapi aku

toh bisa membuang pedang sambil mundur kebelakang, aku pikir untuk menyelamatkan

diri masih bukan suatu pekerjaan yang sulit bagiku”

Nona berbaju perak itu segera tertawa cekikikan.

“Bagus, bagus sekali, sepasang pedang telah terjatuh ketanah, aku lihat pertarungan

silat secara lisan pun berakhir dengan seri!”

Gak Lam kun manggut-manggut.

“Yaa, anggap saja seri. Sekarang kita boleh bertarung dengan menggunakan gerakan

sesungguhnya nah mulailah melancarkan serangan!”

Pelan-pelan gadis berbaju perak itu mendekati batu datar didepan sana dan mengambil

dua bilah pedang, katanya sambil tertawa, “Pilih sebilah untukmu!”

Gak Lam kun melepaskan cakar naga perenggut nyawa serta topeng kepala naga, lalu

melepaskan pula jubah hijaunya sehingga raut wajahnya yang tampan.

Nona berbaju perak itu segera tertawa merdu, serunya, “Sejak semula aku sudah tahu

kalau dirimu!”

Gak Lam kun tetap tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun, sambil tersenyum

ia menerima sebilah pedang, menyentilnya sehingga berbunyi nyaring.

Lalu sambil berdiri didepan nona itu katanya, “Silahkan nona melancarkan serangan!”

Nona berbaju perak itu segera menggerakkan pedangnya secepat sambaran kilat

mendadak saja ia menciptakan beberapa kuntum bunga pedang yang memancarkan sinar

tajam.

Dengan wajah pucat pias Gak Lam kun melejit keudara beberapa depa tingginya,

cahaya pedang segera menyambar lewat dari bawah kakinya itu.

Nona berbaju perak itu berseru tertahan, ternyata jurus pedang yang barusan

dipergunakan ini merupakan salah satu jurus aneh didalam ilmu pedang Thianli kiam hoat,

meski dalam satu gerakan tapi secara terpisah dapat mengancam tiga buah jalan darah

kematian ditubuh lawan.

Selama ini belum pernah ada orang yang bisa lolos dari serangannya itu dalam keadaan

selamat, sungguh tak disangka ternyata Gak Lam kun dapat menghindarinya dengan

tepat.

Si anak muda itu segera berpekik nyaring, pedangnya digerakkan berulangkali

melancarkan dua buah tusukan berantai, dua tusukan kearah kanan dan setusukan

dilancarkan kearah tengah.

Dalam lima buah tusukan itu, dia telah menggunakan lima macam gerakan ilmu pedang

yang semuanya berbeda antara yang satu dengan lainnya.

“Bagus!” seru gadis berbaju perak itu.

Pedangnya diputar ditengah udara lalu menusuk dari kiri kearah kanan, tiba-tiba

ditengah jalan gerakan itu berubah, mendadak saja gerakan pedangnya berputar miring

kesamping.

Serangannya itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan bisa dirubah kesana

kemari sesuai dengan keinginan hatinya, boleh dibilang ilmu pedangnya telah berhasil

mencapai tingkatan yang luar biasa sekali.

Terlihatlah cahaya pedang sebentar berputar kekiri sebentar lagi kekanan lalu melejit

keudara dan menyambar tenggorokan Gak Lam kun.

Untungnya si anak muda itu tidak gugup dalam menghadapi keadaan tersebut, kembali

ia berhasil lolos dari serangan si nona berbaju perak itu secara jitu.

Kemudian pemuda itu membentak nyaring, tubuhnya bergerak maju mengikuti gerakan

pedang, serangannya dipergencar dengan jurus-jurus yang buas dan kasar, bukan saja

kecepatannya bagaikan sambaran petir, lincah dan gesit pula seperti awan yang bergerak

diangkasa.

Kedua orang muda mudi itu benar-benar merupakan sepasang musuh yang sama-sama

tangguhnya dan sama-sama berbakatnya.

Sesudah melancarkan serangkaian serangan kilat, tiba-tiba gadis berbaju perak itu

merubah kembali jurus pedangnya, cahaya pedang segera memancar keempat penjuru

bagaikan air raksa yang memancar kemana-mana, dalam waktu singkat empat arah

delapan penjuru telah dipenuhi oleh bayangan tubuhnya.

Gak Lam kun tidak mengira kalau seorang nona cantik yang masih polos dan manja itu

sesungguhnya memiliki ilmu silat yang luar biasa lihaynya, tubuhnya yang harus bergerak

kesana kemari diantara kilatan cahaya pedang, persis seperti sebuah sampan yang

diombang-ambingkan ditengah amukan gelombang dahsyat.

Gerakan tubuh kedua orang itu kian lama bergerak kian cepat, tak lama kemudian

selapis cahaya tajam telah menyelimuti seluruh angkasa, dalam keadaan demikian sulitlah

untuk membedakan mana Gak Lam kun dan mana si nona berbaju perak.

Sekalipun pertarungan berlangsung amat seru, namun selama ini tak pernah terdengar

suara senjata tajam yang saling membentur, rupanya kedua belah pihak sama-sama telah

menggunakan ilmu silat tingkat tinggi untuk saling menghindar.

Tampak cahaya pedang menyilaukan mata, bayangan manusia saling menggulung

kesana kemari, keadaan berlangsung makin seru.

Gak Lam kun betul-betul terkesiap menghadapi kenyataan ini pikirnya dihati.

“Rupanya ilmu silat See thian san mereka betul-betul merupakan ilmu pedang yang

manunggal, bukas saja jurusnya ampuh lagipula aneh dan diluar dugaan bikin orang sama

sekali tidak menduga sebelumnya dibandingkan dengan ilmu pedang aliran Tionggoan,

betul-betul jauh sekali bedanya…”

Dalam pada itu nona berbaju perak tersebut kembali sudah merubah gerakan

pedangnya, kali ini dia menggembangkan suatu jurus serangan yang semuanya

merupakan jurus-jurus mematikan.

Tiba-tiba ujung pedangnya seperti menuding keatas sebentar lagi tahu-tahu sudah

menuding kebawah langkahnya sempoyongan dan ilmu pedangnya seperti kacau balau

tidak beraturan, tapi justru dibalik kekalutan yang tidak beraturan itu tersimpanlah jurusjurus

ampuh yang luar biasa dahsyatnya.

Kali ini Gak Lam kun betul-betul tercekat, mendadak ia berdiri tak berkutik, pedangnya

dikembangkan menciptakan selapis cahaya pedang yang amat tebal untuk melindungi

tubuhnya.

Dalam waktu singkat, nona berbaju perak itu merasakan hawa pedang yang melindungi

badannya begitu kokoh bagaikan sebuah bukit karang, sekalipun berulangkali dia mencoba

untuk menerjang pertahanan tersebut, namun usahanya selalu gagal, sekarang nona

itupun baru merasa terkesiap.

Tiba-tiba nona berbaju perak itu menarik kembali pedangnya kebelakang, kemudian

tangannya didorong kemuka dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan

berantai yang maha dahsyat, jurus-jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus Thian

li san hoa (gadis suci menyambar bunga) See thian Hud co (Buddha suci dari langit barat)

serta Sian li ki poh (dewi cantik melangkah maju).

Jurus-jurus serangan berantai itu semuanya mengandung daya penghancur yang luar

biasa, gerakannya pun sukar diduga sebelumnya.

Dalam waktu singkat, diantara lapisan pedang yang kokoh bagaikan batu karang itu

mendadak muncul sinar putih yang tahu-tahu meluncur masuk kedalam lapisan

pertahanan dan menyambar tubuh si anak muda itu.

Gak Lam kun segera menggerakkan pergelangan tangannya, jurus ampuh kembali

dipergunakan, dengan memakai jurus Hay sim an liu (aliran maut ditengah samudra) dari

ilmu pedang aliran Hay sim pay, pedangnya berputar kencang menciptakan kembali

berlapis-lapis hawa pedang yang seketika itu juga menyelimuti tubuh anak muda itu.

Hawa pedang menusuk tulang, cahaya kilat menyilaukan mata, namun tak kedengaran

sedikit suarapun.

Jelas kedua orang itu telah mempergunakan tenaga dalam tingkat atas untuk

melangsungkan pertarungan tersebut, tapi ujung pedang masing-masing terpancarlah

hawa pedang yang kuat.

Tanpa terjadinya bentrokan secara kekerasan membuktikan bahwa kedua belah pihak

sama-sama berusaha untuk menyimpan tenaga dan sedapat mungkin mengalahkan

musuhnya dengan mempergunakan keampuhan jurus pedang masing-masing.

Pertarungan ini boleh dibilang benar-benar merupakan suatu pertarungan sengit yang

belum pernah terjadi sebelumnya.

Ditengah pertarungan seru, tiba-tiba terdengar suara dengusan tertahan memecahkan

kesunyian, cahaya pedang sirap dan pertarunganpun segera terhenti.

Tampaklah gadis berbaju perak itu secara beruntun mundur sejauh dua tiga langkah,

pedang yang ditanganpun kini tinggal sebuah gagang pedang saja.

Diatas bajunya yang berwarna perak telah muncul empat buah robekan yang cukup

panjang.

Sekalipun demikian paras muka Gak Lam kun pun pucat pias seperti mayat, peluh

dingin membasahi sekujur tubuhnya ia berdiri tegak dengan pedang digenggam ditangan

kiri, rupanya cukup parah luka yang dideritanya ini terlihat dari sepasang alis matanya

yang berkernyit serta bibirnya yang terkatup rapat rupanya sedang berusaha keras untuk

menahan penderitaan serta rasa sakit itu yang dialaminya.

Gadis berbaju perak itu menghela napas panjang lalu katanya, “Kenapa aku tidak

sekalian kau bunuh?”

Ternyata ditengah gumpalan hawa pedang yang menggulung-gulung tadi, dalam

melancarkan sebuah jurus serangan mematikannya, tiba-tiba Gak Lam kun menyerang

dengan menggunakan pedang ditangan kirinya untuk membabat lengan kanan gadis

berbaju perak itu.

Pada saat itu, serangan mematikan dari gadis berbaju perak pun telah dilepaskan,

dengan mendatar pedangnya menusuk kelambung Gak Lam kun, tapi ketika itu Gak Lam

kun telah menghimpun tenaga Tok liong ci jiau nya didalam telapak tangan kanan serta

merta ditekankan kepedang yang menusuk tiba itu.

Pedangnya secara langsung digetarkan oleh ilmu sakti Tok liong ci jiau dari Gak Lam

kun hingga hancur berkeping-keping, sementara pedang ditangan kiri pemuda itu telah

merobek-robek baju yang dikenakan gadis berbaju perak itu, bahkan kemudian telapak

tangan kanan pemuda itu sempat menggetarkan pula dadanya, untung pemuda itu tak

tega dan pada saat terakhir telah menarik kembali sebagian dari tenaga pukulannya…

Dalam keadaan kalah, dari rasa malunya si nona berbaju perak itu menjadi naik darah

hawa murninya segera dihimpun kedalam telapak tangan kirinya dan langsung disodokkan

keatas dada Gak Lam kun.

Si anak muda itu tertawa getir, katanya, “Apa yang kuharapkan adalah mendapatkan

Lencana pembunuh naga tersebut, kenapa kita musti saling melukai?”

Paras muka gadis berbaju perak itu agak berubah, lalu katanya, “Dalam pertarungan

adu kepandaian yang berlangsung sekarang kau yang berhasil mendapat kemenangan,

asal kau bisa menangkan pula pertarungan dalam adu kecerdikan dan pengetahuan,

Lencana pembunuh naga ini segera akan kupersembahkan kepadamu”

Seraya berkata, tiba-tiba gadis berbaju perak itu mengeluarkan sebuah kotak kumala

persegi panjang dari sakunya dan diletakkan diatas tanah, katanya kemudian.

“Sekarang kita akan beradu dalam kemampuan tentang pengetahuan..!”

Sekujur badan Gak Lam kun menggigil keras tiba-tiba ia menjatuhkan diri keatas tanah

dan duduk bersila, sepasang tangannya ditekankan keatas dada sendiri… napasnya

tersengal-sengal dan wajahnya berubah makin pucat pasi seperti mayat.

Setelah terengah-engah sekian lama, akhirnya Gak Lam kun berkata, “Bagaimana pula

kita harus bertanding dalam soal pengetahuan serta daya tahan?”

Sambil berkata sepasang matanya yang tajam itu mengawasi kotak kumala tersebut

tanpa berkedip ia saksikan kotak itu berwarna putih bersih bagaikan salju, diatas

permukaannya terukir seekor naga sakti, ukiran itu sangat indah dan hidup seakan-akan

sedang terbang diudara, bentuknya persegi panjang dan panjangnya lima inci dengan

lebar tiga inci.

“Criiing..!” diiringi bunyi nyaring tiba-tiba kotak kumala itu terbuka lebar, dari balik

kotak tersebut si gadis berbaju perak itu mengeluarkan sebuah lencana berwarna-warni

dengan bentuk bulat memanjang, panjang lencana itu kira-kira empat inci dengan lebar

dua inci.

Pelan-pelan gadis berbaju perak itu menyentil permukaan lencana berwarna-warni itu,

lalu katanya, “Lencana inilah merupakan lencana mustika yang telah menggemparkan

seluruh dunia persilatan, Lencana pembunuh naga adanya!”

Gak Lam kun segera merasakan hatinya bergetar keras, tiba-tiba dadanya terasa sakit

sekali dan… “Uaak!” ia muntah darah segar, tubuhnya jatuh terduduk dan bergoyang tiada

hentinya.

Dengan wajah yang berkerut kencang menahan rasa sakit yang luar biasa, Gak Lam

kun berusaha keras untuk mengendalikan golakan perasaan dalam hatinya, kemudian

pelan-pelan berkata, “Dapatkah kau pinjamkan lencana pembunuh naga itu kepadaku

barang sejenak saja?”

Gadis berbaju perak itu tertawa merdu, “Kau harus perhatikan Lencana pembunuh naga

itu baik-baik, sebab adu pengetahuan yang akan berlangsung nanti meliputi pengetahuan

tentang Lencana pembunuh naga itu.”

Sambil berkata ia angsurkan lencana pembunuh naga itu dengan kedua belah

tangannya kehadapan Gak Lam kun.

Agak gemetar Gak Lam kun menyambut lencana mustika itu, diamatinya benda yang

digilai banyak orang itu dengan sorot mata yang tajam.

Tampaklah Lencana mustika yang membuat hati orang persilatan jadi hampir gila itu

terdiri dari panca warna yang berkilauan, bentuknya sangat indah dan mempesona hati,

entah terbuat dari bahan apa? Tapi kalau ditinjau dari bobotnya jelas bukan besi atau

tembaga, tapi bukan pula terbuat dari bahan kemala, atau kayu ataukah kertas.

Pada pemukaan yang pertama terukirkan seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari

dari kahyangan, lukisan itu lembut sekali dan tampak sangat hidup.

Terutama senyuman yang tersungging diujung bibir gadis itu, kendatipun hanya sebuah

lukisan tapi tampak sangat hidup bagaikan orang hidup biasa, baik matanya, alis matanya,

bibirnya, terutama sepasang lesung pipi yang menambah keayuan dan kelembutan dari

dara itu.

Ia memang benar-benar seorang gadis cantik rupawan yang sukar dicarikan

tandingannya didunia ini.

Gak Lam kun yang memperhatikan lukisan gadis diatas lencana itu semakin

memandang senyuman gadis itu ia merasa senyuman tersebut makin memiliki daya tarik

yang amat luar biasa, membuat jantungnya berdebar semakin keras.

Makin dipandang makin tertarik, bagaikan orang yang minum arak saja, semakin

minum semakin nikmat tapi semakin cepat pula menjadi mabok.

Tiba-tiba gadis berbaju perak itu menegur dengan suara yang merdu dan lembut,

“Hei… rupanya kau sudah terkesima olehnya?”

Bagaikan baru sadar dari impian, Gak Lam kun berseru tertahan, betapa terperanjatnya

dia setelah menyaksikan paras muka dari dara berbaju perak itu, ternyata ia menemukan

bahwa senyuman yang tersungging diujung bibir gadis berbaju perak itu persis seperti

gadis yang tertera pada lencana tersebut.

Tanpa sadar ia menundukkan kepalanya dan memandang sekejap lukisan dara diatas

lencana tersebut, tapi ia tak berani melihat terlalu lama, buru-buru kepalanya didongakkan

kembali untuk memandang gadis berbaju perak itu, sesudah menghela napas katanya,

“Aaai… Thian memang maha kuasa dan maha luar biasa, aneka peristiwa yang serba aneh

bisa saja terjadi didalam dunia ini”

Gadis berbaju perak itu tertawa, “Apakah kau merasa gadis itu mirip sekali denganku?”

Gak Lam kun manggut-manggut.

“Yaa, memang rada mirip, tapi tak bisa dikatakan terlalu mirip… katanya, “Ehmm…

benar tapi tahukah kau apa maksud dari lukisan sang gadis diatas Lencana pembunuh

naga itu?”

“Aku tidak tahu!” Gak Lam kun gelengkan kepalanya berulangkali.

“Dapatkah kau menebak maksud dan tujuan sebenarnya?” kembali gadis berbaju perak

itu bertanya.

Satu ingatan melintas dalam benak Gak Lam kun segera pikirnya, “Kalau didengar dari

pembicaraan Si Tiong pek, katanya Lencana pembunuh naga ini menyangkut seorang

gadis yang amat cantik jelita, jangan-jangan benar juga perkataan itu, tapi benarkah

didunia ini terdapat seorang gadis seperti itu…”

Berpikir demikian ia lantas berkata, “Konon barang siapa yang mendapatkan Lencana

pembunuh naga itu, ia akan berbasil pula mempersunting seorang gadis yang cantik jelita

bak bidadari dari kahyangan, apakah gadis ini yang dimaksudkan?”

“Hei, aku kan sedang bertanya kepadamu? kenapa kau malah sebaliknya bertanya

kepadaku?”

“Aku tak mau menebak maksud dan tujuan yang sebenarnya!”

“Kalau begitu coba kau perhatikan kembali lukisan dibalik lencana itu, bila kau kembali

tidak berhasil menebak jitu maksud dan arti yang tertera disana, maka dalam

pertandingan adu pengetahuan ini kaulah yang berada dipihak kalah”

“Jadi kalau begitu, nona sendiri memahami maksud dan arti dari lukisan gadis yang

berada diatas lencana itu?”

Gadis berbaju perak itu termenung sebentar, kemudian sahutnya, “Aku sendiripun

merasa kurang jelas!”

“Kalau memang begitu, kenapa kau mengatakan bahwa dalam pertandingan adu

pengetahuan aku kalah darimu?”

“Sebab aku mengetahui arti dan maksud dari lukisan dibaliknya…”

Mendengar jawaban tersebut, Gak Lam kun tidak berbicara lagi, ia membalikkan

lencana itu dan memeriksa isinya, ternyata permukaan lencana itu penuh dengan lukisanlukisan

yang kacau balau tak karuan, sulit untuk mengetahui lukisan apakah itu?”

Yang lebih hebat lagi, semakin diperhatikan lukisan tersebut kepala terasa makin pusing

tujuh keliling, ditambah lagi matanya berkunang-kunang.

Sekalipun demikian, garis lukisan yang tertera diatas lencana itu tampak amat jelas.

Gadis berbaju perak itu membiarkan Gak Lam kun memperhatikan lukisan itu beberapa

kejap, kemudian baru bertanya, “Kau pahami maksud dan artinya?”

“Maksud dalam soal apa?” tanya Gak Lam kun dengan wajah tertegun.

“Maksud dari gambaran diatas lencana itu!”

“Aku pikir lukisan tersebut pastilah suatu penjelasan peta yang mengandung makna

yang mendalam sekali”

“Ya betul! Tapi tahukah kau dimanakah letak dari tempat yang dimaksudkan itu?”

Satu ingatan segera melintas dalam benak Gak Lam kun, tiba-tiba saja ia teringat

dengan kata-kata dari Jit poh lui sim ciam (panah inti geledek tujuh langkah pencabut

nyawa) Lui seng thian ketika berada diatas pohon siong, serta kata-kata dari Si tosu setan

Thian yu Cinjin dan Hoa Kok khi ketika berada dimulut masuk menuju kebangunan loteng

yang misterius itu.

Sambil tersenyum segera sahutnya, “Aku rasa letak dari tempat tersebut berada diatas

pulau ini!”

Gadis berbaju perak itu segera tetawa dingin, “Heeeh… heeeeh… heeeehh… kalau

begitu, dapatkah kau memahami kunci rahasia yang menyangkut dalam penjelasan peta

rahasia ini?”

“Apakah nona sendiri telah memahaminya?”

“Belum!” sahut gadis berbaju perak itu hambar.

Gak Lam kun segera tertawa dingin.

“Kalau begitu kita sama-sama tidak tahu, dalam soal adu pengetahuan kita hanya bisa

dibilang seri!”

“Yaa, hanya bisa bilang seri” gadis berbaju perak itu tertawa dan manggut-manggut,

“nah, sekarang mari kita adu persoalan yang terakhir, yakni mengadu kecerdikan dan daya

tahan”

“Bagaimana caranya kita harus beradu kecerdikan dan daya tahan?”

“Lantas menurut pandanganmu sendiri, bagaimana kita harus melakukannya?” gadis itu

malah balik bertanya.

“Tampaknya nona sudah mempunyai suatu rencana yang matang maka lebih baik

kuturuti kehendakmu saja”

“Sungguhkah perkataanmu ini? Jangan menyesal akhirnya”

“Sebagai seorang laki-laki sejati, apa yang telah diucapkan tak akan disesali kembali”

Gadis berbaju perak itu segera tersenyum.

“Untuk beradu kecerdasan maka hal ini tidak terbatas dalam bidang apapun juga

dimanapun kau berada apa yang ada dihadapanmu bisa kita gunakan untuk beradu

kecerdasan, aku pikir dalam soal ini tak usah kita pertandingkan lagi, sekarang aku hanya

minta kepadamu untuk mendengarkan sebuah lagu yang indah, asal kau sanggup

menahan daya pengaruh dari irama khim tersebut Lencana pembunuh naga ini segera

akan kuserahkan kepadamu.”

Mendengar perkataan tersebut, diam-diam Gak Lam kun segera berpikir, “Irama iblis

dari Soat san thian li merupakan suatu kepandaian yang maha sakti, untungnya suhu

pernah mendapat warisan ilmu tersebut, sekarang aku sudah tak takut terhadap pengaruh

irama iblis itu lagi, apa salahnya kalau kudengarkan permainan khimnya itu?”

Berpikir sampai disini, diapun segera manggut-manggut, sahutnya, “Baiklah kita

tetapkan dengan sepatah kata ini akan kudengarkan permainan khim mu itu”

Tiba-tiba saja paras muka gadis berbaju perak itu berubah menjadi amat serius,

senyuman yang manis dan menawan hati itu seketika lenyap tak berbekas, sambil

memeluk khim antiknya ia duduk bersila diatas tanah.

Gak Lam kun ikut bersemedi pula dihadapan gadis berbaju perak itu, meski isi perutnya

terluka sekarang, tapi tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna lagi pula ia telah

mengerahkan ilmu Huan bu hwe kong dari Yo Long sekalipun luka yang betapa parahnya

untuk sementara waktu semua luka itu dapat ditekan lebih dulu.

Hawa murninya segera disalurkan mengelilingi seluruh badan, seluruh perhatiannya

dipusatkan menjadi satu dan siap menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi.

Ia telah bertekad, bagaimanapun juga tugas yang dibebankan suhu kepadanya harus

diselesaikan, dan Lencana pembunuh naga itu harus dimenangkan olehnya…

Pada saat itulah, tiba-tiba berkumandang dua kali dentingan nyaring yang

menggetarkan sukma.

“Criing..!” “Criing..!”

Gak Lam kun segera merasakan hatinya bergetar keras oleh dua dentingan nyaring itu,

bahkan tubuhnya yang sedang duduk bersila pun ikut bergetar keras, hal ini membuat

hatinya amat terperanjat, paras mukanya seketika berubah menjadi pucat pias.

Menyaksikan perubahan wajahnya itu, si nona berbaju perak menghela napas panjang,

katanya, “Apakah kau sanggup untuk mempertahankan diri? Ketahuilah yang bakal

kumainkan bukan irama sebangsa Mi tin loan hun ci atau Sang goan ci melainkan sejenis

irama maut dari tingkatan paling tinggi yang dinamakan Kiu hian tay boan yok sin im”

Tak terlukiskan rasa kaget Gak Lam kun setelah mendengar nama itu, serunya

tertahan, “Apa? Kau telah menguasai ilmu sakti Kiu hian tay boan yok sin im yang maha

dahsyat itu?”

Kiranya ia pernah teringat dengan perkataan dari suhunya Yo Long kepadanya, waktu

itu ia berkata demikian, “Penyakit cacad yang kuderita sekarang baru akan bisa sembuh

dan nyawaku baru dapat diselamatkan andaikata ada seseorang yang dapat memainkan

irama sakti Kiu hian tay boan yok sin im, irama sakti ini adalah semacam irama maut yang

maha dahsyat, tapi apabila sipendengar dapat mempergunakan irama pembunuh manusia

itu untuk menembusi nadi-nadi penting ditubuhnya, maka bukan saja akan terhindar dari

kematian, malahan berbagai penyakit cacad yang dideritanya akan menjadi sembuh

malah, sekalipun aku sudah bisa mempergunakan kepandaian untuk memanfaatkan irama

maut menjadi kekuatan untuk mengobati luka, sayang sekali belum ada seorang

manusiapun didunia ini yang dapat mempergunakan irama Kiu hian tay boan yok sin im,

coba kalau tidak maka kekuatanku pasti akan menjadi tak terkalahkan didunia ini”

Entah apa sebabnya, ketika selesai mendengar perkataan dari Gak Lam kun itu, gadis

berbaju perak itu segera mendengus dingin, selapis hawa napsu membunuh yang

mengerikan dengan cepat menyelimuti wajahnya diawasinya senar-senar khim itu dengan

pandangan tajam.

Jari jemari yang lencir dan lembut pelan-pelan menari diatas senar khim dan

memainkan irama musik yang merdu merayu.

Rupanya ia telah memetik irama Kiu hian tay boan yok sin im tersebut untuk

menyerang musuhnya.

“Crring..! Crring..! Crring..!” bunyi gemerincingan nyaring menggema menyelimuti

seluruh angkasa.

Mengikuti permainan irama khim tersebut, tubuh Gak Lam kun mulai goncang dan

bergetar keras.

000000O00000

Mukanya yang sudah pucat kini makin memucat, kulit tubuhnya mengejang keras

menahan penderitaan yang luar biasa, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran

membasahi jidatnya.

Serentetan irama merdu merayu yang menawan hati berkumandang diangkasa

mengikuti gerakan jari tangan gadis berbaju perak itu, suaranya mana merdu, indah

menawan lagi.

Irama tersebut sepintas lalu tampak sama sekali tiada pengaruh daya iblis yang

mengerikan, irama itu kedengaran begitu lembut, begitu indah dan mendatangkan

kedamaian dalam hati.

Tapi jauh berbeda bagi perasaan Gak Lam kun, benaknya seakan-akan dipenuhi oleh

aneka macam lamunan yang aneh-aneh karena pengaruh irama tersebut, sekujur

badannya terasa seakan-akan sedang terbang melayang diudara.

Yang lebih membuatnya menderita adalah peredaran darah dalam tubuhnya kian lama

kian membeku kesatu arah, penderitaan tersebut adalah begitu hebat dan begitu

dahsyatnya, membuat Gak Lam kun harus menggertak giginya kencang-kencang, seluruh

kulit tubuhnya mengejang keras menahan rasa sakit yang luar biasa.

Lamat-lamat noda darah mulai mengalir keluar dari ujung bibirnya ia merasakan

tubuhnya yang sedang duduk bersila itu bagaikan berada dalam gudang es, sekujur

tubuhnya gemetar keras.

Bila keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, tak dapat disangsikan lagi

Gak Lam kun pasti akan mati secara mengerikan.

Gadis berbaju perak itu melirik sekejap kearah Gak Lam kun yang sedang menderita

kesakitan itu, lalu sambil menghela napas sedih ia menghentikan permainan seraya

berkata, “Aku tak ingin mencelakai jiwamu, lebih baik kau mengaku kalah saja!”

Gak Lam kun tidak berbicara ataupun bersuara, ia masih tetap duduk bersila ditempat

semula.

Ketika dilihatnya pemuda itu tidak juga menjawab, bahkan penderitaan yang dialaminya

berangsur-angsur menjadi tenang kembali, ia menghela nafas panjang, dan jari jemarinya

pun mulai memetik kembali senar-senar khim tersebut.

Alunan lagu yang indah dan merdu sekali lagi berkumandang memenuhi seluruh

angkasa.

Tapi kali ini Gak Lam kun duduk tenang bagaikan seorang pendeta tua, kejangankejangan

yang semula mencekam kulit tubuhnya dan badan yang semula gemetar keras

kini sudah menjadi tenang semuanya.

Bahkan diatas wajahnya yang pucat pias seperti mayat itu kini sudah mulai bersemu

merah.

Ia tampak begitu tenang, begitu santai dan seolah-olah tidak merasakan penderitaan

apapun.

Malah kemudian, sekulum senyuman yang penuh ejekan tersungging diujung bibirnya.

Betapa terkejutnya gadis berbaju perak itu, apalagi setelah menyaksikan paras

mukanya begitu tenang dan sama sekali tidak terpengaruh oleh irama iblis yang dimainkan

itu, muka yang cantik jelita itu mulai berubah pucat pasi jari jemarinya menari semakin

kencang diatas senar-senar khimnya.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, keadaan Gak Lam kun masih tetap tenang dan

sedikitpun tidak nampak terpengaruh, bahkan begitu tenangnya bagaikan air dikolam.

Menyaksikan keadaan tersebut, gadis berbaju perak itu segera tertawa dingin lalu

serunya, “Untuk mempertahankan keutuhan diri Lencana pembunuh naga ini, jangan kau

salahkan kalau terpaksa aku harus bertindak keji kepadamu!”

Begitu selesai berkata tangan kanannya segera bergerak cepat dan memetik senar khim

itu dengan gerakan mendatar.

“Crring..!” dentingan nyaring kembali menggeletar diudara…

“Uuaak..!” tidak ampun Gak Lam kun muntahkan darah kental.

“Criiing! Criiing..! Criiing..!” sekali lagi terdengar tiga kali dentingan yang amat nyaring.

Ketiga buah dentingan tersebut kedengarannya sangat lembut dan merdu sekali, akan

tetapi bagi pendengaran Gak Lam kun ibaratnya tiga bunyi geledek yang meledak diatas

batok kepalanya, kontan saja ia kehilangan seluruh daya kendalinya.

Ia memuntahkan darah kental yang menyembur keluar sangat deras, tubuh yang

semula masih duduk bersila kini roboh keatas tanah, suasana pun pulih kembali dalam

keheningan.

Tiba-tiba gadis berbaju perak itu melepaskan khim antik itu dari pondongannya

kemudian berjalan kesamping Gak Lam kun, setelah memeriksa hembusan napasnya, tibatiba

saja paras mukanya berubah sangat hebat…

Ternyata napas Gak Lam kun telah berhenti, peluh dingin membasahi jidatnya, muka

yang pucat pias kini berubah menjadi kelabu, tubuhnya kaku seperti sesosok mayat.

Memandang paras mukanya yang amat memedihkan hati itu, tanpa terasa dua titik

airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Mendadak ia merangkap sepasang tangannya didepan dada, lalu dengan suara lirih

mulai berdoa, “Oooh… Gak siangkong wahai Gak siangkong… maafkanlah daku!

Sesungguhnya aku tidak bermaksud membunuhmu tapi engkau terlalu keras kepala, hal

ini mau tak mau memaksaku untuk turun tangan keji kepadamu, tapi sekarang aku

merasa menyesal sekali, untuk menebus dosaku ini, aku telah bertekad untuk sepanjang

tahun mendampingimu disisi kuburanmu.”

“Ooooh ibu! Wahai ibuku! Biji tak akan melanggar pesan terakhirmu, sepanjang

hidupku sekarang tak akan kucintai seorang lelaki darimana pun, tapi sekarang, lantaran

memainkan irama Kiu hian tay boan yok sin ing, aku telah mencelakai jiwanya, maka aku

mohon kepada kau orang tua agar menyetujui tekadku ini untuk menemaninya sepanjang

masa, karena ia telah mati, bukankah kau orang tua tidak melarangku untuk mencintai

seseorang yang telah mati?”

Selesai berdoa, ia membungkukkan badannya dan memungut lencana pembunuh naga

itu, kemudian dimasukkan kembali kedalam kotak kumala tersebut…

Kemudian diambilnya kembali Khim antik itu dan… “Criing! Criing!” dia memainkan

irama yang memilukan hati.

Irama tersebut bernada sedih, penuh kedukaan kemurungan dan kemasgulan.

Diantara gulungan ombak yang menghantam diatas batu karang, irama khim itu

sungguh mengharukan hati siapapun.

Angin laut berhembus lewat menggoyangkan rambutnya yang lembut, bunyi pohon

siong yang terhembus angin menambah sedih dan murungnya pemandangan waktu itu.

Ditengah sinar rembulan yang purnama, tiba-tiba muncul seorang gadis berbaju putih

yang pelan-pelan menuju ketanah datar tersebut.

Gadis berbaju putih itu melirik sekejap kearah Gak Lam kun yang tergeletak ditanah lalu

tampak agak tertegun.

Tiba-tiba saja ia menjerit kaget, lalu secepat kilat menubruk kearah depan.

Dipeluknya Gak Lam kun erat-erat, lalu teriaknya keras-keras, “Engkoh Gak..!”

Teriakan tersebut segera menyadarkan gadis berbaju perak itu dari kesedihannya,

dengan sepasang matanya yang jeli dia melirik sekejap kearah gadis berbaju putih itu,

kemudian setelah menghela napas sedih katanya, “Kau kenal dengan orang ini?”

Siapa gadis berbaju putih itu? Dia tak lain adalah Ji Cin peng.

Dalam cemas dan gugupnya, ia tak sempat untuk menjawab pertanyaannya lagi,

dengan cepat dia meraba denyutan nadi Gak Lam kun, ketika dirasakan bahwa denyutan

jantungnya masih bergerak, dia segera mengerahkan tenaga dalamnya dan menguruti

disekeliling dada si anak muda itu.

Sudah berulangkali Ji Cin peng menguruti dada si anak muda ini, akan tetapi belum

juga sadar kembali, hal mana membuat gadis itu mulai gelisah, pikirannya menjadi kalut

sekali.

Tiba-tiba gadis berbaju perak itu menghela napas panjang, katanya kemudian dengan

lirih, “Ia sudah meninggal dunia!”

Ji Cin peng membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, ditatapnya gadis berbaju

perak itu sekejap, kemudian hardiknya, “Apakah kau yang telah mencelakainya?”

Sekali lagi gadis berbaju perak itu menghela nafas panjang.

“Yaa, benar! Tapi aku amat menyesal sekali!”

“Dengan menggunakan kepandaian apakah kau telah melukainya?” Ji Cin peng kembali

bertanya.

“Nadi-nadi pentingnya sudah terluka oleh getaran irama Kiu huan tay boan yok sin im

yang kulancarkan akibatnya ia meninggal dunia!”

“Heeeh… heeeh… heeeeh… masakah irama sakti Kiu huan tay boan yok sin im bisa

dipakai untuk membunuh orang?”

Mendengar pertanyaan itu, gadis berbaju perak tersebut menjadi tertegun, kemudian ia

balik bertanya, “Apakah kau sanggup untuk menerima permainan irama sakti dari Kiu

huan tay boan yok sin im ini?”

“Heeeh… heeeh… heeeh… sekalipun aku tidak mempunyai kepercayaan tersebut, akan

tetapi sebentar lagi aku pasti akan mencoba kelihayanmu itu”

Sehabis berkata, gadis itu segera menepuk pelan jalan darah Mia bun hiat dipunggung

Gak Lam kun, setelah itu hawa murninya segera disalurkan kedalam tubuhnya.

Dalam waktu singkat hawa murninya itu telah menembusi jalan darah Hu ciat hiat, Pek

hwei hiat dan Hian ki hiat ditubuh Gak Lam kun.

Akan tetapi, sekalipun ia sudah bekerja keras selama seperminum teh lamanya, kecuali

denyutan jantung didada Gak Lam kun masih berdetak, sekujur badannya hampir sudah

menjadi dingin dan kaku persis seperti sesosok mayat.

Sampai disini, Ji Cin peng benar-benar merasa kecewa sekali, ia menghela napas sedih

dan katanya, “Betulkah kau telah mempergunakan irama sakti Kiu huan tay boan yok sin

im melukai nadi-nadi penting didalam tubuhnya?”

Gadis berbaju perak itu mengangguk.

“Ilmu silat yang dimilikinya terlalu tinggi kecuali mempergunakan kepandaian ini, aku

tak akan sanggup untuk menangkan kehebatan ilmu silatnya…

Sekuat tenaga Ji Cin peng berusaha untuk mengendalikan rasa sedih yang mencekam

hatinya, kembali ia bertanya, “Apakah kau dapat mencarikan akal untuk menyembuhkan

luka yang dideritanya itu?”

Gadis berbaju perak itu gelengkan kepalanya berulangkali.

“Sekalipun ibuku masih hidup didunia, belum tentu ia sanggup untuk mengobati

lukanya itu!”

“Kenapa kau begitu tega untuk mencelakai jiwanya?” bisik Ji Cin peng dengan airmata

bercucuran saking sedihnya.

Mendengar perkataan itu, gadis berbaju perak itu tertegun, lalu diam-diam gumamnya,

“Yaa, benar, kenapa aku begitu tega untuk mencelakai jiwanya..?”

Dalam pada itu Ji Cin peng duduk dengan tenang disana tanpa bergerak ataupun

mengucapkan sepatah katapun sambil membopong tubuh Gak Lam kun yang sedang

menderita luka parah itu.

Tiada airmata yang jatuh bercucuran membasahi wajahnya, tiada pula suara isak tangis

yang memecahkan keheningan.

Tiba-tiba saja Ji Cin peng menundukkan kepalanya dan mencium noda darah diujung

bibir Gak Lam kun, ia tak takut kotor ia tak takut perbuatannya itu ditertawakan orang.

Dengan sepasang mata terbelalak besar gadis berbaju perak itu mengawasi gerak gerik

gadis itu wajahnya amat tenang dan wajar, sama sekali tiada rasa dengki atau iri.

Pemandangan itu benar-benar merupakan suatu pemandangan yang penuh dengan

kepedihan dan keseriusan.

Tapi dibalik ketenangan yang mencekam sekeliling tempat itu justru terkandung suatu

kekuatan yang merangsang perasaan orang membuat siapapun juga yang menyaksikan

adegan semacam ini akan merasa ikut terharu dan bersedih hati…

Lama, lama sekali…

Tiba-tiba Ji Cin peng berkata dengan suara dingin, “Aku akan membalaskan dendam

bagi sakit hatinya!”

Pelan-pelan Ji Cin peng menurunkan tubuh Gak Lam kun dari pelukannya, selapis hawa

napsu membunuh yang mengerikan telah menyelimuti seluruh wajahnya.

Gadis berbaju perak itu menghela napas sedih, tiba-tiba tanyanya, “Apakah

hubunganmu dengannya?”

“Aku adalah istrinya!” jawab Ji Cin peng dingin.

Mendengar jawaban tersebut, sekujur tubuh gadis berbaju perak itu gemetar keras,

tapi hanya sebentar kemudian wajahnya telah pulih kembali menjadi tenang, ia tertawa

getir lalu katanya.

“Kalau memang demikian, silahkan kau turun tangan!”

Ji Cin peng bukan orang yang ceroboh, diapun tahu bahwa orang yang sanggup

melukai kekasihnya hingga terluka parah pasti mempunyai kepandaian silat yang sangat

lihay dari sakunya dia mengeluarkan pedang Giok siang kut kiam yang amat tajam itu,

sambil meloloskan dari sarungnya ia berkata dengan suara dingin, “Cabut keluar senjata

tajammu !”

Gadis berbaju perak itu kembali menghela napas sedih.

“Terus terang kuberitahukan kepadamu, setelah melukai jiwanya tadi aku merasa amat

menyesal sekali, tapi kalau kau belum juga bisa memahami keadaanku, akupun tak bisa

berbuat apa-apa lagi!”

Sambil berkata dia mengambil kembali khim antiknya dan mulai memetik dua kali…

“Criiing! Criiing!”

Walaupun tenaga dalam yang dimiliki Ji Cin peng sangat sempurna, daya tahannya pun

sangat tinggi, akan tetapi dua kali dentingan bunyi irama khim itu membuat jantungnya

berdebar keras dan peredaran darahnya bergolak keras, buru-buru ia membuang semua

pikiran kalut untuk memusatkan diri menghadapi musuh.

Pedang pendek didalam genggamannya itu segera digetarkan keras, kemudian secara

beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai.

Walaupun ketiga buah serangan tersebut dilancarkan tidak bersamaan waktunya,

namun kecepatannya luar biasa sekali sehingga hampir bersamaan waktunya tiba ditubuh

lawan.

Gadis berbaju perak itu segera bergerak kesamping, dengan suatu gerakan tubuh yang

enteng dan gesit dia menghindarkan diri dari ketiga bacokan pedang itu.

“Criiing..! Criiing..! Criiing..!” kembali terdengar suara dentingan khim berbunyi diudara.

Sambil menghimpun tenaga dalamnya kembali Ji Cin peng melancarkan sebuah tusukan

kedepan, tiba-tiba saja hawa murninya terasa mengendor, tubuhnya bergetar dan mundur

dua langkah dengan sempoyongan.

Sambil membopong khim antiknya, gadis berbaju perak itu kembali berkata dengan

suara hambar.

“Kau sanggup menahan enam dentingan irama sakti dari Kiu hian tay boan yok sin im

yang kulancarkan, ini menunjukkan bahwa tenaga dalam yang kau miliki benar-benar

hebat, aku hendak memperingatkanmu, jika kau harus menyerang dengan hawa murni

yang buyar, maka akibatnya hawa murni akan menyerang kedalam nadi-nadi pentingmu

sendiri…”

Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan, Ji Cin peng telah menerjang kembali,

pedangnya menggunakan jurus Thian li hui ko (gadis langit mengayunkan tombak) tibatiba

dari gerakan membacok berubah menjadi gerakan menotok yang diancam adalah

jalan darah diatas bahu kanan gadis berbaju perak itu.

Dibalik serangannya itu lamat-lamat mengandung beberapa gerakan membunuh yang

luar biasa sekali.

Baru saja gadis berbaju perak itu berkelit kesamping, Ji Cin peng tidak sudi memberi

kesempatan baginya untuk memetik senar tali khimnya lagi, ia menerjang maju lebih

kedepan, pedangnya secara beruntun melancarkan beberapa buah bacokan.

Dalam waktu singkat bayangan pedang membumbung tinggi keangkasa, hawa pedang

yang tajam menyusup keempat penjuru.

Dalam sekejap mata Ji Cin peng telah melancarkan delapan buah serangan maut.

Dibawah desakan yang gencar dan dahsyat dari ilmu pedang maha sakti itu, gadis

berbaju perak tersebut betul-betul tidak mempunyai kesempatan untuk memetik tali senar

khimnya, malah sebaliknya setiap kali harus menghadapi keadaan yang sangat berbahaya.

Kejut dan heran Ji Cin peng menghadapi kenyataan tersebut, ia tak menyangka kalau

delapan belas buah serangan pedang kilatnya yang sangat luar biasa itu belum berhasil

juga untuk melukai lawannya, itu berarti jika jurus pedangnya tak dapat disambung lebih

lanjut, akibatnya dia sendirilah yang akan terluka oleh irama maut tersebut. Maka Ji Cin

peng segera menerjang maju kedepan, menggunakan kesempatan itu ia melancarkan

sebuah tusukan dengan mempergunakan jurus Cuan im ci seng (menembusi awan

memetik bintang).

Gadis berbaju perak itu segera mementalkan serangan pedang itu dengan

mempergunakan khim antiknya, lalu sepasang kaki menjejak tanah dan ia melompat

ketengah udara.

Ji Cin peng tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk kabur dari jangkauan

serangannya, melihat dia melompat keudara gadis itupun ikut melompat ketengah udara,

pedang pendeknya dengan menciptakan selapis cahaya pelangi berwarna putih langsung

menerobos maju kedepan.

Tiba-tiba ia menyaksikan gadis berbaju perak itu menarik keatas sepasang kakinya, lalu

dalam beberapa kali jumpalitan saja ia sudah berada ditempat semula.

Mimpipun Ji Cin peng tidak menyangka kalau gerakan tubuhnya secepat itu, dia tahu

apabila musuhnya dibiarkan kabur dari jangkauan serangannya, maka begitu irama khim

mulai dipetik, niscaya dia tak akan mampu untuk menahan datangnya serangan tersebut.

Didalam gugup dan cemasnya, dari tengah udara ia mengeluarkan tiga biji tasbeh dan

segera diayunkan kedepan.

Itulah senjata rahasia khas dari Lam hay sin ni, sambaran tasbeh tersebut sedemikian

cepatnya bak sambaran kilat ditengah udara.

Pada waktu itu, jari tangan gadis berbaju perak itu sudah menempel diatas tali senar

khim dan siap memetiknya, tapi lantaran ketiga biji tasbeh itu sudah keburu menyambar

datang lebih dahulu terpaksa mau tak mau dia harus menggeser badan untuk

menghindarkan diri.

Didalam kesempatan itulah Ji Cin peng telah menerjang maju kedepan dan secara

beruntun pedang pendeknya kembali melancarkan tiga buah serangan berantai.

Akibat dari serangan Ji Cin peng yang bertubi-tubi itu terpaksa si gadis berbaju perak

itu harus mundur sejauh beberapa langkah.

Diam-diam ia merasa terkejut dan keheranan juga menghadapi kejadian ini, pikirnya,

“Sungguh hebat dan luar biasa sekali kepandaian silat yang dimiliki gadis ini, terutama

sekali permainan ilmu pedangnya suugguh tidak lebih lemah dari permainan pedang

Malaikat pedang Siang hong im…

Diatas wajah Ji Cin peng yang dingin, lamat-lamat sudah mulai muncul hawa napsu

membunuh yang mengerikan, ia mendengus dingin tiba-tiba pedang dan telapak

tangannya melancarkan serangan.

Pedangnya melancarkan serangan dengan jurus Bang hong jut ciau (selaksa kumbang

dari sarang) suatu jurus serangan yang mematikan dari ilmu pedang Tay ik tiu bun kiam

hoat aliran Lam hay, sementara telapak tangan kirinya melancarkan serangan dengan

jurus Sin liong huan hay(naga sakti menggulung samudra) yang disertai dengan tenaga

sakti Boan yok sinkang.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul

kemudian muncul segulung tenaga pukulan yang maha sakti langsung menyergap

belakang punggung Ji Cin peng.

Berada dalam keadaan seperti ini, mau tak mau Ji Cin peng harus melindungi diri

sendiri, tubuhnya segera bergeser empat depa kesamping ketika berpaling maka

tampaklah kurang lebih dua kaki dibelakangnya berdiri seorang kakek berbaju hijau yang

rambutnya telah memutih semua dilihat dari dandanannya, tak salah lagi kalau dia adalah

seorang tokoh silat yang berilmu tinggi.

Kakek berbaju hijau itu menggembol sebilah pedang antik pada punggungnya dengan

sepasang mata yang tajam bagaikan kilat ia memandang Ji Cin peng sekejap, kemudian

pelan-pelan berkata, “Tolong tanya apakah kau adalah murid dari Lam hay sin ni?”

Begitu menyaksikan kakek tersebut, tanpa ditanyapun Ji Cin peng sudah tahu bahwa

kakek tersebut adalah See ih kiam seng (malaikat pedang dari wilayah See ih) Siang Bong

im.

Ia lantas tertawa dingin dan balik bertanya, “Bolehkah aku tahu bahwa kau adalah See

ih kiam seng Siang losianseng..?”

Kiam seng Siang Bong im mengelus jenggotnya dan tersenyum.

“Benar, itulah lohu!” sahutnya.

“Siang lo sianseng!” kata Ji Cin peng dengan dingin, “namamu sudah menggetarkan

seluruh dunia persilatan, sungguh beruntung kita bisa jumpa muka pada malam ini, aku

seorang pelajar yang belum tamat belajar ingin sekali memohon petunjuk beberapa jurus

kepandaian silatmu yang maha sakti itu”

Mendengar perkataan tersebut, See ih kiam seng Siang Bong im segera tertawa

terbahak-bahak.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… selamanya orang baru akan menggantikan orang

lama, kaum generasi yang muda memang selalu lebih hebat dan pemberani…”

Belum habis perkataan itu, mendadak dari kejauhan berkumandang suara gelak tertawa

yang menggetarkan seluruh angkasa ditengah malam tersebut.

Ketika Ji Cin peng mendongakkan kepalanya, maka tampaklah Thi eng sin siu (kakek

sakti elang baja) Oh Bu hong dibawah iringan Kim, Gin dan Lan tiga orang thamcunya

sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.

Dibelakang mereka mengikuti pula delapan belas orang elang baja yang tersohor itu.

Langkah Thi eng sin siu Oh Bu hong amat santai dan tenang, jenggot panjangnya

bergoyang keras terhembus angin malam, sekali lagi ia tertawa terbahak-bahak dengan

nyaringnya.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… tak kusangka kalau kalian semua telah datang

selangkah lebih dahulu, maaf jika kami dari Thi eng pang datang agak terlambat!”

Belum habis perkataan itu, serentetan suara dingin lain yang mengerikan kembali

berkumandang, “Sungguh pagi amat kedatangan kalian, biarlah aku si tua bangka yang

tidak mati-mati ikut datang meramaikan suasana ini”

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, tampaklah sesosok bayangan manusia

bagaikan sesosok sukma gentayangan yang telah menerjang masuk kedalam gelanggang,

orang itu bukan lain adalah Ji poh lui sim ciam Lui Seng thian adanya.

Dalam waktu singkat, tempat yang amat sempit itu telah berkumpul sekian banyak

jago-jago yang berilmu tinggi.

Ketika semua kawanan jago itu menyaksikan diri Gak Lam kun yang tergeletak kaku

diatas tanah, mula-mula mereka agak tertegun, terutama sekali Kim eng thamcu Ki Li soat

dari perkumpulan Thi eng pang.

Terdengar ia menjerit kaget lalu serunya, “Haah, rupanya dia…”

Mungkin penemuan tersebut sangat menggetarkan perasaannya sehingga sekujur

tubuhnya yang indah itu tampak agak menggigil keras.

Berbareng dengan berkumandangnya jeritan kaget itu, tiba-tiba terdengar seseorang

menghela napas panjang, lalu berseru, “Oooh… betapa lihaynya irama khim tersebut…”

Kontan saja gadis berbaju perak itu menjerit keras, lalu teriaknya dengan suara panik,

“Ada setan… ada setan…”

Paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sekujur tubuhnya gemetar

keras.

Ternyata Gak Lam kun yang mula-mula berbaring dengan tubuh kaku itu secara tibatiba

bangun dan berduduk.

Kejut dan girang Ji Cin peng menyaksikan kejadian itu, serta merta ia memutar

badannya sambil berseru, “Kau… kau tidak apa-apa..?”

Suaranya penuh dengan rasa kuatir, kasihan dan sayang, sekalipun nadanya agak

gemetar.

Gak Lam kun manggut-manggut.

“Ya, aku masih sanggup bertahan!” sahutnya.

Melihat pemuda itu tidak mati, gadis berbaju perak itupun dapat tersenyum kembali

serunya sambil tertawa, “Hei, rupanya kau belum mati?”

“Ehmmm..! Aku memang belum mati, maka aku minta agar kau dapat memenuhi

janjimu itu” kata Gak Lam kun sambil menarik muka.

Menggunakan kesempatan sedang berbicara, dengan suatu gerakan yang cepat Gak

Lam kun menyapu sekejap keadaan disekeliling tempat itu…

“Hei, sebenarnya kenapa kau bisa bangun kembali?” terdengar gadis berbaju perak itu

bertanya dengan wajah penuh kecurigaan.

“Sesungguhnya didunia ini penuh dengan kejadian yang aneh serta benda-benda yang

janggal, karena itu aku sendiripun tak tahu kenapa bisa hidup kembali” sahut pemuda itu

hambar.

Sebagaimana telah diucapkan tadi, sebenarnya Gak Lam kun sendiripun merasa heran

dan tercengang ketika mengetahui bahwa ia dapat sadar kembali dari pingsannya, sebab

sejak dulu sampai sekarang ia telah tahu bahwa ilmu irama Kiu hian tay boan yok sin im

adalah suatu irama iblis yang lihay sekali.

Tiba-tiba gadis berbaju perak itu berpaling kewajah Ji Cin peng, setelah menghela

napas sedih katanya, “Sungguh tak kusangka kalau dalam dunia persilatan dewasa ini

masih ada orang yang sanggup menyembuhkan penyakit semacam ini”

Mendengar perkataan itu, Gak Lam kun segera menyadari bahwa hidupnya kembali

disaat ini adalah berkat pertolongan dari Bwe Li pek, dengan cepat ia berpaling kearah Ji

Cin peng dan katanya sambil menghela napas panjang, “Aaai… Nona Bwe, selama

kehidupanku sekarang, entah dengan cara apakah Gak Lam kun dapat membalas budi

kebaikanmu itu”

Mendengar perkataan itu, sekali lagi si gadis berbaju perak itu merasa tertegun, tibatiba

ia berpaling kearah Ji Cin peng memandangnya sekejap dan berkata sambil tertawa,

“Ooo… rupanya kau sedang berbohong tadi”

Mendengar perkataan itu, merah padam selembar wajah Ji Cin peng karena jengah, ia

segera menundukkan kepalanya.

Oleh tanya jawab yang tiada ujung pangkalnya ini, semua orang yang hadir ditempat

itu menjadi kebingungan dan tak habis mengerti dengan apa yang mereka bicarakan,

demikian juga halnya dengan Gak Lam kun sendiri, ia tak tahu apa arti dari pembicaraan

kedua orang gadis tersebut.

Perasaan Ji Cin peng pada saat ini amat menderita, kiranya yang dimaksudkan oleh

gadis berbaju perak tadi adalah soal pengakuannya sebagai istri Gak Lam kun.

Ji Cin peng kuatir sekali jika gadis berbaju perak itu membongkar rahasianya secara

langsung, maka sambil mendongakan kepalanya ia berkata kembali, “Dibalik persoalan ini

sesungguhnya terdapat latar belakang yang sangat kalut sekali, aku harap agar kau

jangan menambah kesulitan bagiku saja!”

Gadis berbaju perak itu segera tertawa dingin, katanya, “Siapakah yang akan

menambah kesulitanmu? Hmm…”

Paras muka Gak Lam kun ikut berubah menjadi serius, tiba-tiba katanya, “Nona, lebih

baik kau selesaikan dengan segera pekerjaan yang harus kau lakukan”

“Persoalan apa?”

Hawa amarah sudah mulai menyelimuti seluruh wajah Gak Lam kun, tegurnya, “Apakah

kau hendak mengingkari janji?”

Gadis berbaju perak itu segera tertawa berderai-derai.

“Haaah… haaah… haaah… setelah kau ambil benda tersebut, apakah tidak takut kalau

dirampas orang lagi? Baiklah! Kalau toh aku yang telah kalah pada malam ini, terpaksa

benda itu harus kuserahkan kepadamu.”

Seraya berkata gadis berbaju perak itu mengambil keluar sebuah kotak kumala dari

dalam sakunya.

Sementara itu semua jago lihay yang berada disekitar gelanggang serta merta telah

maju beberapa langkah kedepan.

Thi eng sin siu Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak, sepasang matanya yang lebih

tajam dari sembilu itu menatap kotak kumala ditangan gadis berbaju perak itu tajamtajam

kemudian tegurnya, “Tolong tanya, apakah nona berasal dari perguruan See thian

san pay..?”

Gadis berbaju perak itu segera tertawa merdu.

“Benar!” sahutnya, “apakah kau ingin tanya apa isi dalam kotak kumala ini?”

Thi eng sin siu Oh Bu hong segera tersenyum.

“Nona memang cerdik sekali” katanya, “tolong tanya apa benar isi kotak kumala itu

adalah Lencana pembunuh naga?”

Gadis berbaju perak itu manggut-manggut.

“Ehmm, kaupun amat cerdas! Benda yang berada didalam kotak kumala ini memang

benar Lencana pembunuh naga yang dapat membuat setiap orang persilatan berubah

muka, eeeh… kau menanyakan persoalan ini sampai sedemikian jelasnya, apa maksud dan

tujuanmu?”

Oh Bu hong kembali tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh… haaahhhh… haaahhh… walaupun Lencana pembunuh naga adalah benda

mustika yang tiada taranya dalam dunia persilatan, akan tetapi aku Oh Bu hong masih tak

kesudian untuk merampasnya dengan kekerasan dewasa ini tak sedikit jumlah jago lihay

yang berkumpul dipulau ini, bila sampai terjadi pertarungan maka tidak sedikit nyawa

manusia yang akan melayang ditempat ini. Lolap rasa kita harus mencari sebuah akal yang

adil untuk menyelesaikan persoalan ini yakni mempergunakan kehebatan ilmu silat

masing-masing untuk menetapkan milik siapakah Lencana pembunuh naga itu, entah

bagaimana menurut pendapat nona..?”

Gadis berbaju perak itu segera tersenyum.

“Usulmu itu memang adil sekali cuma sayangnya Lencana pembunuh naga itu sudah

menjadi milik Gak siangkong, dalam hal ini aku sudah tak dapat mengambil keputusan lagi

karena itu lebih baik kau ajukan saja persoalan itu kepadanya”

Gak Lam kun segera maju dua langkah kedepan menerima kotak kemala tersebut dari

tangan gadis berbaju perak itu lalu sambil tertawa dingin katanya, “Cara yang diusulkan

Oh pangcu memang terhitung bagus sekali, cuma sayangnya aku tak dapat menyetujui

usulanmu itu”

Seraya berkata anak muda itu berpaling dan memberi tanda kepada Ji Cin peng untuk

berangkat meninggalkan tempat itu.

Sambil tertawa terbahak-bahak, Oh Bu hong segera maju kedepan dan menghadang

jalan perginya.

“Sekalipun kau maju kedepan juga percuma, sebab kepergianmu itu pasti akan

dihadang oleh orang-orang lain, itu berarti walaupun lohu tidak turun tangan, toh akhirnya

Lencana pembunuh naga itu tak akan berhasil kau pertahankan”

Gak Lam kun segera tertawa dingin.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… peringatan maupun maksud baik Oh pangcu biar

kuterima dalam hati, terima kasih banyak atas kebaikan hatimu itu” katanya.

Thi eng sin siu kembali tertawa, tanyanya kemudian, “Andaikata orang lain telah turun

tangan untuk merampas Lencana pembunuh nagamu apakah pihak Thi eng pang juga

boleh ikut memeriahkan keramaian ini?”

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… tentu saja boleh!” sahut Gak Lam kun sambil tertawa

dingin, “seandainya Oh pangcu mempunyai kegembiraan untuk turut ambil bagian,

silahkan saja untuk turun tangan”

Oh Bu hong segera menyingkir kesamping dan memberi jalan, katanya sambil tertawa,

“Lebih baik kita tentukan dengan sepatah kata itu saja, apabila orang lain tidak merampas

badanmu itu, pihak Thi eng pang pasti tak akan secara sengaja menyulitkan dirimu”

Gak Lam kun tidak menyangka kalau Oh Bu hong bisa bersikap demikian terbuka atas

peristiwa ini, padahal Oh Bu hong sekalian masih belum tahu kalau Tang hay coa siu

(kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu telah tewas ditangannya.

Baru saja Gak Lam kun dan Ji Cin peng hendak melanjutkan kembali perjalanannya

kedepan, tiba-tiba terdengar kembali suara tertawa dingin yang mengerikan

berkumandang diudara.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… Gak lote harap jangan pergi dulu” katanya, “aku Lui

Seng thian ingin merundingkan suatu persoalan denganmu”

Gak Lam kun merasa terkejut sekali menyaksikan jalan perginya dihadang oleh kakek

dengan panah mautnya, apalagi setelah menyaksikan tabung maut itu ditujukan

kearahnya serta Ji Cin peng.

Setelah termenung sejenak, diapun bertanya dengan suara dingin, “Lui locianpwe,

perundingan apakah yang hendak kau bicarakan dengan diriku?”

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian tertawa seram, kemudian katanya pelan, “Gak lote,

aku rasa kaupun seorang yang pintar, dan situasi diatas pulau inipun telah kau ketahui

dengan jelas, maka apabila kau bersedia mengijinkan lohu untuk turut serta dalam

membahas rahasia lencana itu, lohupun bersedia membantu dirimu untuk menghadapi

hadangan-hadangan dari musuh tangguh yang telah berada didepan mata sekarang”

Gak Lam kun tertawa.

“Lui locianpwe, biarlah maksud baikmu itu kuterima didalam hati saja, sayang aku Gak

Lam kun selamanya enggan berlutut dihadapan orang sambil memohon bantuannya!”

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian kembali tertawa seram.

“Heehhh… heehhhh… heeehhh… Gak lote, kau pasti sudah mengetahui betapa lihaynya

panah inti geledek yang bisa membunuh korbannya dari jarak tujuh langkah ini bukan?

Aku harap kau suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak”

Thi eng sin siu Oh Bu hong kembali tertawa terbahak-bahak, katanya, “Haaahhh…

haaahhh… haaahhh… Gak lote, sekarang kami orang-orang dari Thi eng pang terpaksa

harus ikut serta didalam keramaian ini…!”

Sambil berkata pelan-pelan ia berjalan maju kedepan.

Jilid 13

Lui Seng Thian segera mengalihkan panah inti geledek Jit poh lui sim ciamnya

mengarah

diri Oh Bu hong, lalu bertanya dengan keras.

“Oh Bu hong, jika kau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau lohu tak akan

bertindak sungkan-sungkan lagi kepadamu….”

Ji Cin peng pun sadar bahwa peristiwa yang telah terjadi hari ini tak mungkin bisa

diselesaikan secara baik-baik, maka begitu panah inti geledek milik Lui Seng thian beralih

ditujukan kearah Oh Bu hong, ia merasa bahwa kesempatan baik ini tak boleh dibiarkan

lewat dengan begitu saja….

Ia tidak ragu-ragu lagi, sambil membentak keras tubuhnya menerjang maju kemuka,

telapak tangan kirinya dengan jurus Hui tim cing tam (mengebut debu mencari

ketenangan) segera dikebaskan kedepan sementara kedua jari tangannya dengan disertai

tenaga penuh langsung disodokkan kearah jalan darah Khi bun hiat.

Lui seng thian adalah seorang gembong iblis tua yang sangat lihay sepasang bahunya

segera digetarkan dan tahu-tahu ia sudah mundur delapan depa dari posisi semula, kini

tabung bulatnya kembali ditujukan kearah gadis tersebut.

000000O00000

Begitu sudah lepas dari incaran musuh, sudah barang tentu Ji Cin peng tak sudi

membiarkan dirinya diancam oleh lawan lagi, dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia

memutar badannya dan langsung menerjang kesisi Lui Seng thian.

Gerakan itu bukan cuma menghindarkan diri dari ancaman saja bahkan sekaligus telah

melancarkan serangan, gerakan tersebut benar-benar dilakukan dengan kecepatan yang

luar biasa.

Perputaran badannya sambil disertai gerakan maju kedepan itu sungguh dilakukan

dengan menempuh bahaya maut nyaris tabung bulat itu mampir diatas tubuhnya meski

hanya selisih beberapa inci saja untung saja gerakan tubuhnya itu digunakan secara tepat

dan bagus, coba kalau tidak sekalipun tidak terluka parah oleh tabung bulat tersebut,

paling tidak diapun akan ditawan kembali dibawah ancaman musuh.

Lui Seng thian sesungguhnya adalah seorang jago lihay yang sudah lama tersohor

namanya dalam dunia persilatan, mana pengalamannya menghadapi musuh sudah cukup

banyak, tak sedikit pula jago lihay yang pernah dijumpainya, tapi sayang sekali gerakan

tubuh dari Ji Cin peng terlalu aneh dan sakti, kali inipun ia baru menjumpai untuk pertama

kalinya, tak urung dibuat tertegun juga ia oleh kejadian tersebut.

Gerakan tubuh yang barusan dipergunakan oleh Ji Cin peng itu bernama Lam hay peng

po leng im sin hoat (ilmu gerakan tubuh menyeberangi awan tenang dilautan selatan),

gerak geriknya bukan cuma aneh, sakti dan lihay lagi, gerakan itu agak sedikit mirip

dengan gerakan Ji gi heng jit seng liong heng sin hoat dari Gak Lam-kun.

Dikala Lui Seng thian masih tertegun itulah, Ji Cin peng telah menerjang kesamping

tubuhnya, dengan menggunakan jurus Peng hong tiang kang (salju menutup sungai

tiangkang) tangan kanannya dihantam kedepan dengan disertai tenaga yang luar biasa,

begitu tabung bulat milik Lui Seng thian dipukul sampai menyingkir kesamping, telapak

tangan kirinya, secepat kilat melancarkan empat buah pukulan dahsyat secara beruntun. 6

Keempat buah serangan itu meski dilancarkan dengan jarak yang berbeda, tapi karena

kecepatannya terlalu hebat, sehingga sepintas lalu tampaknya keempat buah pukulan itu

dilancarkan secara berbareng, ini semua membuat pandangan mata orang menjadi kabur

dan sukar untuk menghindarkan diri.

Lui Seng thian merasa amat terkejut, dengan cepat tubuhnya melompat mundur

kebelakang, menanti punggungnya hampir menempel dengan permukaan tanah, kakinya

segera mengerahkan tenaga penuh dan seluruh tubuhnya mencelat sejauh delapan

sembilan depa lebih dari posisi semula dengan tubuh hampir menempel diatas permukaan

tanah.

Akibat dari serangan tersebut, walaupun Lui Seng thian berhasil meloloskan diri dari

serangkaian ancaman tersebut, akan tetapi tabung panah inti geledeknya kena dihantam

oleh pukulan Ji Cin peng sehingga terjatuh keatas tanah.

Sekalipun kedua belah pihak hanya bergebrak dalam satu jurus belaka, akan tetapi

masing-masing pihak telah mempergunakan jurus paling tangguh yang jarang dijumpai

dalam dunia persilatan hal mana membuat para jago yang menyaksikan jalannya

pertarungan dari sisi gelanggang sama-sama terkejut dan menghela napas panjang.

Cara yang telah dipergunakan oleh Ji Cin peng untuk menghindari sergapan, menerjang

kedepan, mendesak mundur tabung panah, melancarkan serangan dan mendesak musuh,

semuanya mempergunakan jurus-jurus serangan yang tangguh, terutama sekali dikala

melancarkan sebuah pukulan untuk memaksa Lui Seng thian untuk membuang senjata Jit

poh lui sim ciamnya tadi, gerakan tersebut betul-betul luar biasa sekali.

Setelah berhasil meloloskan diri dari serangan Ji Cin peng tadi, hawa amarah yang

membara dalam dada Lui seng thian benar-benar tak terkendalikan sambil tertawa dingin

dengan suara yang menyeramkan ia berseru, “Ilmu silat yang dimiliki nona benar-benar

luar biasa sekali, kau merupakan satu-satunya jago tangguh yang pernah kujumpai selama

hidupku ini, sungguh tak kusangka dalam usia tuaku ini lohu masih sempat untuk bertemu

dengan jago setangguh nona….”

Setelah tertawa serak dengan nada menyeramkan ia berkata lebih jauh, “Cuma, aku

harap nona bersedia untuk menjelaskan asal usul perguruanmu agar bisa menambahkan

pengetahuan lohu untuk kali ini, aku ingin tahu ilmu silat dari perguruan manakah yang

sesungguhnya begitu sakti dan luar biasa”

Sebagaimana diketahui, Lui Seng thian adalah seorang jago kawakan yang sudah sering

melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, pengetahuan serta pengalamannya cukup

luas, iapun seringkali menjumpai pelbagai ilmu silat dari pelbagai aliran dalam dunia ini,

sekalipun tidak hapal seratus persen, tapi asal pihak lawan telah melancarkan

serangannya, dengan cepat dia akan mengetahui asal usul dari perguruannya itu….

Gak Lam-kun sendiri walaupun sudah tahu jelas kalau gadis ini mempunyai hubungan

dengan Lam hay sin ni tapi dia sendiripun tidak berhasil mengetahui asal usul dari ilmu

silat yang dipakai gadis tersebut, dia hanya merasa bahwa tangan gadis itu diayunkan

sekali dan tahu-tahu jurus serangan yang sangat aneh tapi lihay itu telah dipergunakan.

Sementara itu Ji Cin peng sedang tertawa dingin lalu berkata, “Ilmu silat yang

kugunakan ini tidak berasal dari partai manapun, buat apa kau musti menanyakannya?”

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian adalah seorang gembong iblis tua yang ternama,

ilmu silatnya amat menonjol dalam deretan jago kenamaan dalam dunia persilatan, selama

hidup belum pernah dihina dan dicemooh orang dengan cara serendah ini.

Kontan saja hawa amarah dalam tubuhnya berkobar, dengan tubuh gemetar keras ia

tertawa dingin tiada hentinya.

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. bocah perempuan kau benar-benar amat takabur, begitu

berani kau pandang hina diriku”

Sambil berkata, selangkah demi selangkah ia berjalan kedepan dan menghampiri gadis

tersebut.

Tiba-tiba Ji Cin peng menggunakan ujung kakinya untuk mencukil tabung bulat berisi Jit

poh lui sim ciam itu, begitu berhasil diterima dalam genggamannya ia lantas membentak

nyaring, “Hayo majulah jika kau memang tidak takut mampus”

Lui Seng thian benar-benar menghentikan langkah tubuhnya, ia tertawa seram lalu

katanya, “Lohu tidak percaya kalau dalam dunia persilatan dewasa ini masih terdapat

orang kedua yang bisa mempergunakan tabung anak panah ini.”

“Jawab saja kau pingin hidup atau mati?” kata Ji Cin peng dingin, “terserah

kemauanmu sendiri, aku tahu bahwa suatu pertarungan sengit tak akan terhindari lagi bila

ditinjau dari situasinya sekarang ini, jika kubunuh dirimu berarti aku akan kehilangan

seorang musuh tangguh”

Sekalipun Lui Seng thian adalah seorang gembong iblis yang membunuh orang tak

berkedip, akan tetapi menghadapi ancaman jiwa yang mempertaruhkan mati hidupnya, ia

tak berani bertindak secara sembarangan.

Bila meninjau keadaan yang terbentang didepan mata sekarang, aku tidak percaya

kalau nona bisa melindunginya untuk meninggalkan tempat ini dengan selamat.

Ji Cin peng tidak menggubris ucapan itu, tiba-tiba ia berpaling kearah Gak Lam-kun

seraya berkata, “Gak siangkong, mari kita pergi dari sini!”

Selesai berkata ia lantas melangkah kearah samping kiri.

Sementara pembicaraan itu sedang berlangsung secara diam-diam Lui Seng thian telah

menghimpun segenap hawa murni yang dimilikinya, terdengar gelak tertawa seram

berkumandang memecahkan kesunyian tahu-tahu sepasang telapak tangannya secara

beruntun telah melancarkan serangkaian pukulan berantai.

Sementara itu, delapan belas orang elang baja dari Thi eng pang telah membentak

bersama lalu maju kedepan sambil melakukan pengurungan yang ketat.

Hawa pedang serasa memancar kemana-mana, kedelapan belas bilah pedang itu

meluncur datang dari empat arah delapan penjuru dan langsung ditujukan ketubuh gadis

tersebut.

Berada dalam keadaan seperti ini Ji Cin peng segera tertawa dingin, telapak tangannya

disilangkan didepan dada sambil berdiri serius, sementara tabung bulat yang berada

ditangan kanannya diputar sedemikian rupa menciptakan selapis bayangan hitam yang

menerjang kearah delapan belas orang anggota Thi eng pang itu.

Delapan belas elang baja dari Thi eng pang sudah pernah menyaksikan keganasan dari

Jit poh lui sim ciam, ketika mereka saksikan Ji Cin peng memutar tabung bulatnya

sedemikian rupa seakan-akan hendak melancarkan serangan dengan panah itu, serta

merta mereka membuyarkan diri dan mencari selamatnya masing-masing.

Ji Cin peng berdiri dengan telapak tangan kiri disilangkan didepan dada, ketika hendak

saling bertemu dengan kekuatan dari Lui Seng thian, tiba-tiba saja ia menghantam

serangan itu kesamping, rupanya ia hendak memancing serangan lain kearah sana.

Tiba-tiba ia merasakan kembali datangnya segulung angin pukulan yang sangat kuat

langsung menerjang kearahnya.

Kiranya Lui Seng thian telah membagi segenap kekuatan yang diraihnya menjadi dua

bagian yang masing-masing dihimpun kedalam kedua belah telapak tangannya.

Dasar cerdik ia menyerang secara beruntun dengan cara tenaga yang meluncur secara

berlapis-lapis, hal ini membuat Ji Cin peng sama sekali tidak menyangka ataupun bersiap

sedia, kontan saja ia kena diterjang oleh gulungan angin pukulan yang datang secara

berlapis-lapis itu….

Untung saja reaksinya cukup cepat, sepasang kakinya segera menjejak tanah lalu

dengan mengikuti arah meluncurnya angin pukulan tersebut, tubuhnya meluncur kedepan

dan baru melayang turun tiga kaki jauhnya dari tempat semula.

Lui Seng thian terkejut sekali menghadapi kenyataan tersebut, segera pikirnya, “Ilmu

silat yang dimiliki orang ini benar-benar sukar diduga dengan akal biasa tampaknya ia

sudah terkena oleh pukulanku yang maha dahsyat itu kenapa ia tampak biasa saja dan

sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terluka?”

Darimana dia bisa tahu kalau sebelum berlangsungnya pertarungan tadi, secara diamdiam

Ji Cin peng telah menghimpun tenaga khiekang pelindung badan Sian thian

khikangnya untuk melindungi badannya?

Tenaga dalam semacam itu termasuk tenaga yang bersifat lunak, begitu terkena

serangan yang datangnya dari luar maka tenaga itu segera akan memberikan reaksi yang

hebat mengikuti datangnya aliran tenaga itu, gadis tersebut segera melayang keudara dan

atas gerakannya inilah maka terhindarlah dia dari getaran keras yang mengakibatkan

terlukanya isi perut gadis tersebut.

Sementara Lui Seng thian masih tertegun dan berdiri termangu-mangu, Ji Cin peng

telah melompat turun dari atas udara sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Lui Seng thian cukup tahu akan kelihayan musuhnya ia tak berani menyambut

datangnya serangan dengan keras lawan keras, ujung baju kanannya dengan cepat

dikebaskan kedepan, sementara tubuhnya bergeser sembilan depa jauhnya kesebelah kiri.

Cepat-cepat Ji Cin peng menekuk pinggangnya dan secara tiba-tiba berjumpalitan

diudara, dengan kecepatan bagaikan sambaran petir ia mengejar langsung kemana

kaburnya Lui Seng thian, angin jari setajam pisau langsung dilontarkan kedepan untuk

menghajar belakang bahunya.

Waktu itu sepasang kaki Lui Seng thian belum sempat berdiri tegak ketika merasakan

datangnya desingan angin jari dari Ji Cin peng, betapa terkesiapnya jago tua itu, buruburu

badannya menjatuhkan diri kedepan, lalu dengan jurus Hui tau wang gwat (berpaling

sambil memandang rembulan) ia melepaskan sebuah serangan balasan.

Rupanya dia tahu bahwa tak mungkin baginya untuk menghindarkan diri dari serangan

kilat Ji Cin peng itu, maka timbulnya niatnya untuk beradu jiwa.

Telapak tangannya segera dibalik sambil meluncur kedepan, segenap kekuatan

tubuhnya yang dimilikinya disalurkan keluar, angin pukulanpun menggulung dengan

hebatnya.

Sekalipun, Ji Cin peng memiliki ilmu silat yang amat sakti sayangnya ia masih cetek

dalam pengalaman suatu pertarungan, menghadapi sikap nekat Lui Seng thian yang

mengajak beradu jiwa ini sedikit banyak ia menjadi panik juga.

Betul juga serangan nekad dari Lui Seng thian tersebut segera memaksa Ji Cin peng

harus menarik kembali serangannya untuk melindungi diri, pinggangnya lantas

direndahkan kebawah dan tubuhnya yang sedang menerjang kemuka dihentikan secara

paksa, kemudian mengikuti hembusan angin pukulan yang menggulung datang itu

tubuhnya melayang sejauh enam tujuh depa kebelakang.

Begitu lolos dari bahaya maut setelah melancarkan serangan sambil menyerempet

bahaya peluh dingin segera membasahi setujur tubuh Lui Seng thian saking kagetnya.

Tiba-tiba Thi eng sin siu Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak, tubuhnya melayang

diudara bagaikan seekor burung elang raksasa, begitu melayang melewati atas kepala Ji

Cin peng sambil rentangkan sepasang lengannya, pedang dan tongkat Thi eng kiam

serentak digetarkan kemuka untuk menyerang diri Gak Lam-kun.

Sungguh cepat serangan tersebut, belum sirap gelak tertawanya, desingan toya pedang

itu sudah mengurung sekeliling batok kepalanya.

Gak Lam-kun terperanjat, ia merasa hawa murni dalam tubuhnya sekarang telah

mencapai keadaan yang paling lemah, tubuhpun serasa melayang-layang diatas awan

dengan entengnya, darimana mungkin ia dapat membendung tibanya serangan dahsyat

itu.

Dalam cemas dan gugupnya, cepat-cepat ia gunakan ilmu gerakan tubuhnya yang aneh

untuk berputar kesebelah kiri.

Oh Bu hong menekuk pinggang, tiba-tiba saja tubuhnya maju beberapa depa kedepan

toya pedang Thi eng kiamnya melepaskan sebuah serangan kosong sementara tangan

kirinya melepaskan cengkeraman.

Menanti sepasang kakinya telah mencapai permukaan tanah, tahu-tahu tangan kirinya

telah mencengkeram urat nadi diatas pergelangan tangan kanan Gak Lam-kun.

Semua kejadian ini hanya berlangsung didalam waktu yang amat singkat….

Baik Ji Cin peng maupun kawanan jago lainnya yang ada didalam gelanggang,

semuanya tidak menyangka kalau Gak Lam-kun bisa ditangkap oleh Oh Bu hong dengan

cara yang begitu mudah, menanti Ji Cin peng bersiap-siap hendak melakukan pertolongan.

Oh Bu hong telah berhasil menangkap korbannya.

Sekalipun demikian, gerakan Ji Cin peng dikala melakukan tubrukan itu dilakukan

dengan kecepatan luar biasa, baru saja Oh Bu hong berhasil mencengkeram pergelangan

tangan kanan Gak Lam-kun, angin serangan jari tangan dari Ji Cin peng tahu-tahu sudah

tiba dibelakang punggungnya.

Rupanya Oh Bu hong telah menduga bahwa Ji Cin peng pasti akan melakukan

pertolongan, maka begitu berhasil mencengkeram pergelangan tangan kanan Gak Lamkun,

segera ia menyingkir kesamping.

Sekalipun gerakan itu dilakukan cukup cepat, toh punggungnya kena disapu juga oleh

angin jari tangan Ji Cin peng….

“Breeet….!” pakaiannya segera tersambar robek dan punggungnya muncul sebuah

guratan sepanjang beberapa senti.

Gagal dengan serangannya tersebut, Oh Bu hong telah berhasil mantapkan dirinya,

dengan sentakan keras ia membetot Gak Lam-kun kedepan.

Termakan oleh kekuatan tersebut Gak Lam-kun yang pada dasarnya sudah lemah itu

segera tertarik kedepan, dan tubuhnya melintang dihadapan mukanya.

Dalam pada itu serangan kedua dari Ji Cin peng baru saja dilancarkan, Oh Bu hong

segera mengerahkan tenaga dalamnya kelengan kiri dan mendorong tubuh Gak Lam-kun

untuk menyongsong datangnya, ancaman dari gadis tersebut.

Yang satu menyerang yang lain menyongsong gerakan tersebut benar-benar dilakukan

dengan kecepatan luar biasa, menunggu Ji Cin peng menyadari bahwa Oh Bu hong telah

mempergunakan Gak Lam-kun untuk menyongsong tibanya serangan itu, serangan jarinya

yang dahsyat tahu-tahu sudah berada dimuka dada Gak Lam-kun.

Keadaan menjadi gawat, agaknya jari tangan Ji Cin peng yang tajam dan runcing itu

segera akan menempel diujung baju Gak Lam-kun….

Disaat yang amat kritis inilah, mendadak gadis itu menarik kembali serangan tangan

kanannya.

Tiba-tiba Oh Bu hong tertawa dingin, lalu bentaknya, “Gak lote, kau menginginkan

Lencana pembunuh naga ataukah menginginkan jiwa sendiri?”

Gak Lam-kun membentak gusar, ia mengibatkan tangannya keras-keras dengan

maksud hendak melepaskan diri dari cengkeraman Oh Bu hong, andaikata hal ini terjadi

dihari-hari biasa maka kebasan yang dilakukan sekuat tenaga itu pasti dapat membuatnya

lepas dari cengkeraman orang.

Berbeda jauh dengan keadaan pada saat ini dalam keadaan hawa murni yang

membuyar, kebasannya itu bukan saja gagal memenuhi harapan, bahkan daya tekanan

yang menekan pergelangan tangan kanannya terasa makin berat, ibaratnya dijepit dengan

tanggem besi yang kuat, cuma anehnya ternyata tidak terasa sakit.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ji Cin peng, dengan cekatan ia mengegos

kesamping kanan menghindari Gak Lam-kun lalu diantara getaran tangannya secara

beruntun ia melancarkan tiga buah serangan kilat dengan gerakan-gerakan yang aneh dan

sakti.

Termakan oleh tiga buah pukulan berantai itu, Oh Bu hong terdesak mundur sejauh

empat langkah lebih, tapi tangan kirinya masih mencengkeram pergelangan tangan kanan

Gak Lam-kun erat-erat, sementara tongkat pedang elang bajanya yang berada ditangan

kanan, diayunkan berulangkali untuk membendung datangnya ancaman tersebut, setelah

bersusah payah sekian lama akhirnya berhasil juga ia menghindari ketiga buah serangan

dahsyat itu.

Betapa terkesiapnya Oh Bu hong ketika menundukkan kepalanya dan tidak menjumpai

Gak Lam-kun dalam keadaan kesakitan. Sebab sebagaimana yang ia ketahui, barangsiapa

nadinya tercengkeram, maka sekalipun tenaga dalamnya amat sempurna, dalam keadaan

begini akan membuyar juga kekuatannya, badan akan terasa kaku dan sakitnya bukan

kepalang.

Tapi yang dijumpai sekarang, sekalipun Gak Lam-kun tidak memberikan perlawanan

namun sikapnya cukup santai.

Thi eng sin siu Oh Bu hong segera tertawa dingin, ancamnya, “Jika kau berani

melancarkan sebuah serangan lagi kepadaku, segera kuhancurkan tulang pergelangan

tangannya!”

“Hmm….!” Ji Cin peng mendengus dingin, menyandera orang sambil mengancam,

terhitung manusia macam apakah kau ini? Kalau berani hayolah kita berduel satu lawan

satu….

Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak, sebelum Ji Cin peng menyelesaikan perkataannya

ia segera menukas.

“Antara lohu dengan nona tak pernah terikat oleh dendam sakit hati ataupun

perselisihan lain, kenapa aku musti beradu jiwa dengan dirimu….”

Mendadak Gak Lam-kun membentak marah, “Bagi seorang laki-laki sejati lebih baik

dibunuh daripada dihina, bila bersikap semacam ini kepadaku, jangan salahkan kalau aku

hendak memakimu!”

Dalam pada itu, ketiga orang Thamcu dari Thi eng pang berserta kedelapan belas orang

elang bajanya telah menyebarkan diri keempat penjuru dengan mengambil posisi

mengepung.

Menyaksikan keadaan semacam ini, sadarlah Ji Cin peng bahwa dirinya amat terjepit

malam ini, anehnya sampai sekarang tak seorangpun dari anggota perguruannya tiba

disana.

Dalam menghadapi keadaan seperti ini tiba-tiba ia membentak keras, “Lui Seng thian,

sambutlah ini!”

Tiba-tiba ia melempar tabung panah inti geledek Jit poh lui sim ciam itu kepada Lui

Seng thian.

Begitu menerima kembali tabung bulatnya, Lui Seng thian segera tertawa seram.

“Heehhh…. heeehhh…. heeehhh…. tua bangka Oh, panah inti geledek yang bisa

mencabut nyawa orang dalam tujuh langkah ini telah kutujukan kepadamu!”

Perubahan ini terjadi sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan para jago Thi

eng pang. Mimpipun mereka tak mengira kalau Ji Cin peng bakal menyerahkan kembali

senjata ampuh tersebut kepada Lui Seng thian.

Mendengar ancaman itu, Oh Bu hong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh….haaahhh….haaahhh…. kau musti tahu, bukan aku seorang yang kau tuju,

disini masih ada seorang Gak lote”

Sekali lagi Lui Seng thian tertawa seram.

“Heeehh…. heeehh…. heeehh…. tua bangka Oh, mungkin kaupun sudah tahu dengan

tabiatku selamanya lohu hanya memikirkan bagaimana caranya mencapai tujuan, aku tak

pernah mempersoalkan tindakan apa yang musti kuambil”

Ou Bu hong tertawa dingin, “Heeehh…. heeehh…. heeehh…. kalau begitu lakukanlah

sekarang juga….!”

Dalam waktu singkat situasi yang terbentang didepan mata berubah menjadi amat

tegang, diam-diam Ji Cin peng segera mengerahkan tenaga dalam untuk bersiap sedia, dia

kuatir Lui Seng thian benar-benar akan membidikkan panah inti geledeknya kearah

mereka berdua.

Situasi ketika itu sungguh menjadi amat serius dan mengerikan, pertarungan sengit

setiap saat bisa meletus.

Lui Seng thian sama sekali tidak menekan tombol tabungnya, diapun hanya bersiap

siaga penuh dengan sikap yang was-was, hal ini sudah barang tentu menambah tegang

dan seramnya suasana disana.

Entah sedari kapan, gadis berbaju perak dan See ih kiam seng Siang Bong im telah

mengundurkan diri dari daerah disekitar tempat itu….

Gulungan ombak samudra berkejaran dilautan bebas dan memecah diatas batu karang,

peredaran darah didalam tubuh semua orang terasa begitu bergelora dan bertambah

cepat.

Tiba-tiba Lui Seng thian tertawa seram, suaranya yang keras memecahkan keheningan

dan suasana tegang disekeliling tempat itu.

“Tua bangga Oh!” katanya dengan dingin, “apakah kau tidak merasakan sesuatu yang

aneh dan mencurigakan?”

Oh Bu hong tertawa dingin.

“Tua bangka Lui, kau anggap aku bisa termakan oleh siasat busukmu yang licik itu?”

Thi eng sin siu mengira dia akan melancarkan sergapan dan sengaja mengucapkan

kata-kata itu untuk mengalihkan perhatiannya.

Lui Seng thian kembali tertawa dingin katanya

“Tua bangka Oh, seandainya aku orang she Lui hendak menyergap dirimu, sejak tadi

hal mana telah kulakukan”

“Haaaa…. haaaa…. haaaa…. kalau begitu apa yang hendak kau bicarakan?” Thi eng sin

siu tertawa terbahak-bahak.

“Menurut dugaanku, Lencana pembunuh naga yang berada disaku Gak lote pasti adalah

lencana palsu”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka semua orang segera berubah

hebat.

Gak Lam-kun mengejek sinis.

“Palsu juga boleh, asli juga boleh, kecuali aku sudah mampus kalau tidak jangan harap

kalian bisa mendapatkannya” ia berseru.

Thi eng sin siu tertawa dingin pula.

“Gak lote, kenapa pikiranmu tidak lebih kau buka? Ketahuilah, Lencana pembunuh naga

bukan terhitung sebuah rahasia besar lagi, tidak sedikit orang persilatan yang sudah

mengetahui tentang persoalan ini sudah begitu banyak manusia lihay yang telah

berdatangan kepulau terpencil ini dengan harapan bisa mendapatkan mustika itu,

sekalipun Gak lote berhasil kabur pada malam ini, aku rasa juga tak mungkin bisa

menghindari pengejaran serta pencarian dari kawanan jago persilatan dari pelbagai

golongan didunia ini. Apalagi sekalipun lencana tersebut berhasil kau dapatkan, toh belum

tentu mustika tersebut akan kau dapatkan dengan gampang.”

Gak Lam-kun mendengus dingin, bentaknya tiba-tiba, “Hei, mau apa kau

mencengkeram terus pergelangan tanganku ini?”

Oh Bu hong tertawa.

“Kecuali kau bersedia mengambil keluar lencana pembunuh naga itu dan membiarkan

kami memeriksa keasliannya.”

“Hmm….! Kau anggap aku orang she Gak sudi kau ancam dengan cara begini? Buat

seorang lelaki sejati, lebih baik mati daripada dihina.”

Mendadak Thi eng sin siu melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan

kanan Gak Lam-kun, lalu sambil mundur dua langkah katanya, “Aku tidak kuatir kalian bisa

kabur dari sini!”

Ji Cin peng dengan cepat maju kedepan dan menghampiri Gak Lam-kun, lalu dengan

suara lembut katanya, “Gak siangkong, bolehkah kau pinjamkan sebentar lencana

pembunuh naga itu kepadaku!”

Gak Lam-kun manggut-manggut dari dalam sakunya ia mengeluarkan kotak kumala

tersebut.

“Tunggu sebentar!” mendadak seseorang membentak keras.

Gan tiong ciang (pukulan batu karang) Kwan kim ceng dari perkumpulan Thi eng pang

segera melompat kedepan dan melancarkan sebuah bacokan kilat kedepan.

Ji Cin peng segera memutar balik telapak tangan kanannya, kemudian menyambut

datangnya ancaman tersebut sambil membentak, “Mundur kau!”

“Blaang….” ketika dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat bertemu satu sama

lainnya ditengah udara, segera terjadilah ledakan keras yang mengakibatkan timbulnya

pusaran angin kencang, pasir dan batu kerikil segera beterbangan keudara.

Manusia yang bernama Pukulan batu karang Kwan Kim ceng itu segera mencelat

kebelakang dan tergetar sejauh satu langkah lebih.

Sementara itu, Ji Cin peng telah menerima kotak kumala tersebut segera ujarnya

dengan dingin, “Lencana pembunuh naga yang kalian kehendaki berada didalam kotak

kosong”

Kotak yang sementara itu sudah dibuka oleh Ji Cin peng tampak kosong melompong

tak ada isinya sementara Lencana pembunuh naga yang berwarna warni itu entah sudah

kabur kemana.

Tak terkirakan rasa gusar Gak Lam-kun sesudah menyaksikan kejadian itu, ia

mendengus dingin lalu makinya.

“Budak liar kau berani menipu aku.”

Lui Seng thian pun tertawa seram.

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. Gak lote, dugaanku tidak salah bukan? Tak nanti orangorang

dari See thian san menyerahkan Lencana mustika itu kepadamu dengan segampang

ini”

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Thi eng sin siu sambil melanjutkan,

“Tua bangka Oh? Lohu ada satu persoalan yang hendak dirundingkan denganmu, apakah

kau punya keberanian untuk menjawabnya?”

“Persoalan apa?” tanya Oh Bu hong sambil tertawa dingin, “harap kau mengatakannya

lebih dulu, setelah kupikirkan baru dibicarakan lebih lanjut….”

Mendengar itu, diam-diam Lui Seng thian memaki didalam hati, “Tua bangka bajingan

ini betul-betul seorang bangsat tua yang berhati licik”

Berpikir sampai disitu katanya kemudian dengan dingin, “Tua bangka Oh, aku rasa kau

pasti telah bertekad untuk mendapatkan lencana pembunuh naga itu bukan?”

“Betul!” sahut Oh Bu hong ketus, “jauh-jauh dari ribuan li lohu datang kemari, kalau

tidak bertekad untuk memperolehnya lantas dengan maksud apa aku datang kemari?”

“Kalau begitu kita adalah sama-sama setujuan. Tapi, seperti kau lihat sendiri, disinipun

hadir kawanan jago dari See thian san, dari Perguruan panah bercinta serta sekawanan

jago lihay lainnya, yakinkah kalian Thi eng pang untuk memperoleh mustika?”

Walaupun ucapan tersebut ditujukan kepada Oh Bu hong, tapi sinar matanya dialihkan

kewajah Ji Cin peng serta memperhatikan perubahan mimik wajahnya itu.

Tapi paras muka Ji Cin peng amat dingin dan kaku bagaikan es, ia seperti tidak merasa

murung tidak pula merasa gembira, tapi jelas terlihat memancarkan sikap anggun yang

membuat setiap orang yang melihat merasa tunduk dan menaruh hormat.

Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. asal saudara Lui bersedia untuk menggabungkan diri

dengan perkumpulan kami, sembilan puluh sembilan persen Lencana pembunuh naga itu

akan menjadi milik perkumpulan kita”

Lui Seng thian tertawa dingin.

“Heeehh…. heeehh…. heeehh…. apakah maksudmu hendak menarik aku menjadi

anggota Thi eng pang? Sayang sekali aku orang she Lui tak sudi menerima perintah orang

lain!”

Bukan menjadi marah. Oh Bu hong kembali tertawa, katanya kembali, “Kalau begitu,

apa maksud saudara Lui dengan perkataanmu tadi?”

“Menurut maksud lohu, ada baiknya jika Thi eng pang bekerja sama dengan perguruan

panah bercinta untuk bersama-sama menghadapi perguruan See thian san.”

Mendengar ucapan itu Oh Bu hong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. jadi andaikata lencana pembunuh naga itu berhasil

didapatkan, maka pihak Thi eng pang kami harus bertarung melawan perguruan panah

bercinta untuk menentukan siapakah pemenangnya yang berhak untuk mendapatkan

Lencana pembunuh naga? Lantas bagaimana dengan kau sendiri dan Gak lote?”

“Kami berdua? Tentu saja yang satu bergabung dengan Thi eng pang sedang yang lain

bergabung dengan perguruan panah bercinta tapi bukan dalam arti kata masuk menjadi

anggota.”

Ketika mereka berbicara sampai disitu, diam-diam Ji Cin peng dan Gak Lam-kun telah

berlalu dari sana.

Oh Bu hong tertawa tergelak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. saudara Lui, pintu gerbang Thi eng pang selalu

terbuka bagimu, bila kau bersedia masuk kedalam perkumpulan kami, dengan senang hati

lohu akan menyambut kedatanganmu untuk bersama-sama menciptakan suatu pekerjaan

besar. Kini semua orang sudah pergi dari sini, kita tak boleh kehilangan kesempatan baik

ini sehingga didahului orang lain.

Berbicara sampai disitu, dia lantas memimpin kawanan jago Thi eng pang berangkat

meninggalkan tempat itu.

Bulan bersinar cerah diangkasa, sinar yang keperak-perakan memancar keempat

penjuru.

Gak Lam-kun dan Ji Cin peng melakukan perjalanan bersama dengan santainya….

Ji Cin peng menghela napas panjang, katanya, “Gak siangkong, benarkah kau bertekad

untuk mendapatkan Lencana pembunuh naga itu?”

Gak Lam-kun menghela napas pula dengan suara lirih, sahutnya, “Didalam Lencana

pembunuh naga terkandung suatu rahasia yang maha besar dan rahasia itu menyangkut

suatu mustika dunia yang tiada taranya didunia ini, setiap orang berusaha untuk

mendapatkan, bahkan dengan pelbaga