Laron Penghisap Darah

New Picture

Laron Penghisap Darah

Karya : Huang Ying

Ide Cerita : Gu Long

Terjemahan Tjan ID

Editor : Adhi H

Scan djvu : Manise (dimhad)

Convert ke txt/doc : Abu Keisel (dimhad) & Dewi KZ

Edit, bundel ke Pdf Ebook oleh : Dewi KZ

Bab 1.

Nyawa terbang sukma buyar.

Bulan tiga, hujan gerimis membasahi wilayah Kanglam.

Berdiri seorang diri ditengah guguran bunga.

Burung walet melintas ditengah hujan.

Ketika sepasang burung walet terbang melintas diatas

dinding pekarangan, Siang Huhoa masih berdiri seorang diri

ditengah halaman.

Butiran air hujan telah membasahi pakaiannya, namun dia

seolah belum merasa, wajahnya kusam, kesepian.

Pancaran sinar matanya sayu dan kesepian, dia tidak

memandang guguran bunga di sekelilingnya, pun tidak

mengejar burung walet yang terbang berpasangan, sorot mata

itu hanya tertuju keatas sepucuk surat, surat yang berada

ditangannya.

Selembar kertas berwarna putih, dengan tulisan berwarna

hitam.

Setiap huruf yang tertera nyaris meliuk tidak beraturan,

seakan si penulis surat sedang tercekam rasa takut dan ngeri

yang luar biasa, demikian takutnya hingga batang pit juga

tidak sanggup digenggam kencang.

Mungkin semuanya adalah sebuah kenyataan. Sebab surat

itu adalah sepucuk surat permohonan minta tolong.

Laron Penghisap Darah tiap hari mengintai, nyawa kami

berada diujung tanduk!!!

Betapapun besarnya nyali Siang Huhoa, tidak urung

bergidik juga setelah membaca sampai disitu.

“Laron penghisap darah? Apa itu Laron penghisap darah?”

Berapa saat dia termenung, paras mukanya yang semula

kusam karena kesepian, kini telah berubah jadi penuh keraguraguan,

penuh rasa sangsi, setelah buru-buru menyelesaikan

pembacaan surat itu, dia segera beranjak dari tempat itu.

Langkah kakinya amat ringan, seringan bunga yang

berguguran.

3

Diujung kebun bunga sebelah depan, berdiri sebuah gardu

kecil, dua orang gadis secantik bunga, selembut tangkainya,

sedang duduk santai di dalam gardu.

Suara mereka indah, merdu bagaikan kicauan burung nuri,

senyum mereka pun cerah secerah bunga dimusin semi.

Bahkan nama mereka pun mengandung arti yang tidak

jauh dari jenis bunga.

Siau-tho mengenakan pakaian serba merah paras mukanya

putih lembut, Siau-tho meski mengenakan pakaian yang

sederhana, paras mukanya justru lebih mirip bunga Hua

ketimbang wajah Siau-tho.

Sebenarnya mereka berdua adalah dua ekor lebah jahat,

penyamun wanita yang seringkali malang melintang

disepanjang sungai Tiangkang, orang menyebutnya Heng

kang It ok Li ong hong (Seonggok lebah ratu dari sungai

besar), tapi sekarang, mereka lebih lembut ketimbang kupu

kupu, berdiam dalam perkampungan Ban hoa ceng dan selalu

melayani kebutuhan Siang Huhoa.

Hal ini bukan lantaran Siang Huhoa pernah selamatkan

nyawa mereka, tapi justru karena Siang huhoa adalah idola

mereka, Enghiong mereka, kuncu diantara kaum penyamun!

Mereka menyebut diri sebagai budak bunga dari Ban hoa

ceng (perkampungan selaksa bunga), pelayan Siang Huhoa.

Sementara Siang Huhoa sendiri selalu menganggap mereka

sebagai temannya, sahabat karibnya.

Tidak lebih tidak kurang hanya sebagai sahabat. Inilah

satu-satunya persoalan yang membuat mereka tidak puas.

Biarpun begitu mereka tetap gembira, asal masih bisa

berdiam dalam perkampungan selaksa bunga, mereka tetap

gembira, tetap merasa puas.

4

Aneka bunga selalu mekar di perkampungan Ban hoa ceng,

mekar di empat musim, begitu pula dengan senyuman diwajah

Siang Huhoa, senyum yang riang selalu menghiasi bibirnya

sepanjang tahun.

Mereka senang bunga, tapi lebih senang melihat wajah

Siang Huhoa yang ramah, dengan senyuman yang memikat

hati.

Tentu saja Siang Huhoa tidak selalu tertawa, ada kalanya

dia pun tidak tertawa.

Tidak heran kalau saat itu ke dua orang gadis itu dibuat

terperanjat setelah melihat Siang Huhoa berjalan mendekat

tanpa senyuman dibibir.

Mereka segera sadar, suatu peristiwa yang luar biasa tentu

telah terjadi!

Suara canda dan tawanya berhenti seketika, Siau-sin dan

Siau-tho serentak melompat bangun dari tempat duduknya.

Siang Huhoa melangkah masuk ke dalam gardu, sambil

mengacungkan surat dalam genggamannya, tiba tiba dia

bertanya:

“Siapa yang mengirim surat ini kemari?”

“Seorang lelaki setengah umur berdandan kacung, dia

mengaku bernama Jui Gi, datang dari Perpustakaan Ki po cay”

jawab Siau-tho.

Baru saja Siang Huhoa akan mengajukan pertanyaan lagi,

Siau-sin yang berada disisinya telah menyela duluan:

“Sebetulnya surat dari siapa itu?”

“Pemilik Perpustakaan Ki po cay, Jui Pakhay”

“Apakah dia temanmu?”

“Dulu yaa!” Siang Huhoa menghela napas riangan.

5

“Dan sekarang?” Siau-sin mendesak lebih jauh.

“Sekarang sudah tidak lagi”

Siau-sin tidak bertanya lebih lanjut, dia cukup tahu manusia

macam apakah Siang Huhoa itu, bila Jui Pakhay tidak kelewat

memuakkan, tidak kelewat memandang hina dirinya, tidak

mungkin dia tidak menganggap orang itu sebagai sahabatnya.

“Ada urusan apa dia menulis surat kepadamu?” tanya Siautho

sesaat kemudian.

“Suruh aku pergi menolong jiwanya”

“Suruh atau minta?”

“Suruh!”

“Memangnya Jui Pakhay belum tahu kalau kau sudah tidak

menganggap dia sebagai sahabatmu lagi?”

“Dia sudah tahu”

“Kalau memangnya sudah tahu, kenapa masih berkirim

surat?” tanya Siau-tho keheranan.

“Sebab ketika masih menjadi sahabatku dulu, dia pernah

menolongku satu kali, biarpun aku belum tentu akan mati

meski tidak peroleh bantuannya, bagaimanapun aku tetap

telah menerima bantuannya, sudah berhutang budi

kepadanya”

Setelah berhenti sejenak untuk menukar napas, lanjutnya:

“Dia tahu dan yakin, aku bukan orang yang lupa budi,

membalas air susu dengan air tuba!”

“Ooh, jadi dia minta balas jasa budi mu?”

“Setahuku, dia bukan manusia semacam ini, bisa jadi

peristiwa yang dialaminya kali ini kelewat horor, kelewat

menggidikkan hati, terjadi sangat mendadak sehingga

membuat hati dan pikirannya kalut, oleh karena tidak yakin

6

bisa menghadapi ancaman tersebut hingga terpaksa dia

datang minta bantuanku”

“Kesulitan macam apa yang dia hadapi sebenarnya?”

Pelan-pelan Siang Huhoa mengalihkan sorot matanya

keatas surat yang berada dalam genggamannya, dia bertanya:

“Apakah kalian pernah mendengar sesuatu benda yang

disebut Laron penghisap darah?”

“Laron penghisap darah?” sambil miringkan kepalanya Siautho

berpikir sejenak, ketika tidak peroleh jawaban, dia

berpaling ke arah Siau-sin.

Siau-sin sendiri pun balas memandangnya dengan mata

terbelalak lebar, tampaknya dia pun tak tahu.

“Apakah kalian sama sekali tidak punya gambaran?” tanya

Siang Huhoa kemudian setelah melihat tingkah laku ke dua

orang gadis itu.

“Sebetulnya benda apakah itu?”

“Aku sendiripun kurang begitu jelas” sahut Siang Huhoa.

Setelah berpikir sejenak, kembali dia melanjutkan:

“Bila kita telaah tulisan dalam surat itu, semestinya yang

dia maksud adalah seekor Laron penghisap darah”

Tiba-tiba Siau-tho mendongakkan kepalanya memandang

sebuah belandar berukir yang ada diatas gardu kecil itu.

Seekor kupu-kupu sedang hinggap diatas tiang belandar

berukir itu.

Seekor kupu-kupu dengan tujuh warna warni, walaupun

bukan berada dibawah cahaya sang surya, namun

keindahannya amat menawan hati.

Sebetulnya bukan belandar berukir yang diamati Siau-tho,

dia sedang mengawasi kupu kupu yang hinggap disitu:

7

“Menurut pandanganku, Laron tidak beda jauh dengan

kupu-kupu…….”

“Dipandang sepintas dari bentuk tubuhnya memang agak

mirip” tukas Siang Huhoa cepat, “padahal beda didalam

banyak hal, kupu kupu akan hinggap didahan jika malam tiba,

sementara Laron akan muncul diwaktu malam, ketika hinggap,

sepasang sayap kupu-kupu berdiri tegak dibelakang

punggungnya, sedang sayap Laron terpentang di kiri kanan”

Ternyata bukan saja dia memiliki pengetahuan yang luas

mengenai bunga-bungaan, pengetahuannya dalam hal

serangga pun amat mengagumkan.

“Paling tidak dalam satu hal ada kesamaan” kata Siau-tho.

“Hal yang mana?” tanya Siau-sin tidak tahan

“Serangga-serangga itu tidak suka darah, terlebih

menghisap darah”

“Itulah sebabnya aku merasa kejadian ini sangat aneh”

Siang Huhoa menerangkan.

Siau-sin dan Siau-tho tertegun, untuk sesaat mereka hanya

bisa berdiri termangu.

Kembali Siang Huhoa merentangkan suratnya seraya

berkata:

“Jui Pakhay sengaja berkirim surat kepadaku karena si

Laron penghisap darah itu mengintainya setiap hari, siang

maupun malam, keselamatan jiwanya sudah berada diujung

tanduk”

Sekali lagi Siau-sin dan Siau-tho tertegun.

“Benarkah ada kejadian seperti ini?” seru Siau-tho tanpa

terasa.

“Bila kita tinjau dari isi surat ini, rasanya memang benarbenar

telah terjadi peristiwa semacam ini”

8

“Jangan-jangan nama tersebut hanya julukan seseorang?”

tiba tiba Siau-sin menyela.

“Rasanya sih bukan”

“Tapi anehnya, kenapa Laron penghisap darah itu mencari

gara gara dengannya?” kembali Siau-tho bertanya.

Tiba-tiba Siang Huhoa bergidik, bulu kuduknya pada

bangun berdiri, setelah bersin berulang kali dengan nada

suara yang berubah sangat aneh jawabnya:

“Karena bininya adalah jelmaan Laron penghisap darah,

seorang siluman Laron!”

Bukan merasa takut atau ngeri, Siau-sin dan Siau-tho

malah tertawa tergelak.

“Aaah, masa kaupun percaya kalau di dunia ini terdapat

setan iblis atau siluman?” ejek Siau-tho sambil tertawa.

“Aku bicara demikian lantaran isi surat berbicara begitu”

kata Siang Huhoa cepat, kemudian dia sodorkan surat itu ke

tangan mereka.

Serentak Siau-sin dan Siau-tho menerima sodoran surat

tersebut, tapi begitu selesai membaca isi surat itu, senyuman

mereka seketika hilang lenyap tidak berbekas

“Jangan jangan otak Jui Pakhay kurang waras atau tidak

beres?” gumam Siau-tho dengan wajah hijau membesi.

“Paling tidak pada tiga tahun berselang dia masih waras,

kalau sekarang mah aku kurang tahu”

“Berarti sudah tiga tahun kau tidak pernah bersua

dengannya?”

“Yaa, tiga tahun lamanya” Siang Huhoa membenarkan

sambil menghela napas panjang, pelan-pelan dia alihkan

sorotnya ke angkasa.

9

“Apakah tiga tahun berselang dia sudah berbini?” kembali

Siau-tho bertanya.

Siang Huhoa menggeleng.

“Maksudmu kau belum pernah berjumpa dengan bininya?”

Siau-tho bertanya lagi.

“Benar, sampai sekarang aku belum pernah bertemu muka”

Siang Huhoa mengangguk, “tapi tidak lama kemudian kami

akan segera berjumpa”

“Berarti kau sudah putuskan untuk berangkat ke sana?”

Siau-tho nampak agak terperanjat.

“Benar, apa pun yang terjadi, aku tetap harus berangkat”

“Kau tidak kuatir bininya benar benar adalah siluman

Laron?” Siau-tho mulai cemberut tidak puas.

“Hingga detik ini aku belum merasa perlu untuk takut”

“Oya?”

“Karena hingga saat ini, seekor Laron penghisap darah juga

belum pernah kujumpai”

“Tidak ada salahnya kita ikut meramaikan suasana, toh

sudah agak lama kita tidak pernah berjalan-jalan” timbrung

Siau-sin sambil tertawa.

Siang Huhoa tersenyum.

“Tapi sayang, kali ini hanya aku seorang saja yang akan

berangkat ke sana”

“Aah…..” Siau-sin mendesis lirih lalu terbungkam seketika.

Siau-tho ikut jadi lemas dan tidak bersemangat lagi.

Mereka tahu apa yang telah diputuskan Siang Huhoa, tidak

mungkinada seorangpun yang dapat merubahnya.

10

“Persoalan ini adalah urusan pribadiku, aku tidak ingin

kalian ikut campur di dalam masalah ini” sambung Siang

Huhoa lagi sambil tertawa.

Siau-sin dan Siau-tho tetap terbungkam tanpa bersuara.

“Apakah Jui Gie si penghantar surat itu sudah berlalu?”

kembali Siang Huhoa bertanya setelah hening sesaat.

“Aku menyuruh dia menunggu jawabanmu di serambi

samping” jawab Siau-tho.

Ternyata orang itu masih menunggu di serambi samping.

Rupanya Jui Gie kenal dengan Siang Huhoa , begitu melihat

orang itu muncul di dalam serambi, dia segera bangkit berdiri.

“Ternyata memang benar kau” sapa Siang Huhoa dengan

mata mendelik.

“Tidak nyana Siang-ya masih kenal dengan hamba” ujar Jui

Gie sambil soja.

“Sewaktu mengabdi kepada Jui Pakhay, rasanya usiamu

sudah tidak terlalu muda lagi?”

“Turun temurun hamba selalu mengabdi kepada keluarga

Jui”

“Ooh….” Siang Huhoa kembali manggut-manggut,

kemudian dia mengalihkan pembicaraan dan bertanya lagi,

“sebenarnya apa yang telah terjadi di perkampunganmu?”

“Selama berapa hari beruntun majikan selalu di teror Laron

penghisap darah, mengerikan sekali………….” jawaban Jui Gie

tergagap seperti orang yang amat ketakutan.

Ternyata benar-benar ada Laron penghisap darah!!

Siang Huhoa agak tertegun, desaknya kemudian:

“Jadi kaupun sudah pernah bertemu dengan Laron

penghisap darah?”

11

“Belum, belum pernah” Jui Gie menggeleng.

“Bagaimana dengan penghuni yang lain?”

“Setahuku, mereka pun tidak pernah melihat”

“Berarti hanya Jui Pakhay seorang yang pernah melihat

makhluk itu?” Jui gie tertawa getir:

“Dalam hal ini aku sendiripun kurang begitu jelas”

Kembali Siang Huhoa berpaling sambil bertanya lebih jauh:

“Ketika menyerahkan surat itu kepadamu, apa yang dia

katakan?”

“Dia hanya berpesan agar secepat mungkin menyerahkan

surat ini ke perkampungan selaksa bunga:

Dan dia memang melaksanakan tugas itu dengan amat

cepat!

Ketika surat itu terkirim masih tanggal tujuh bulan tiga, hari

ini adalah bulan tiga tanggal tiga belas.

Jarak dari Perpustakaan Ki po cay menuju perkampungan

selaksa bunga ternyata bisa ditempuh tidak sampai enam hari.

Siang Huhoa berpikir sejenak, lalu katanya lagi:

“Waktu itu, apakah kau menjumpai sesuatu yang tidak

beres dengan dirinya?”

“Paras muka majikan sangat tidak sedap dipandang waktu

itu, bahkan sepasang tangannya gemetar terus tiada hentinya”

Siang Huhoa tidak bertanya lebih lanjut, sebab dia tahu

ditanya pun percuma karena orang ini tidak akan bisa

memberi penjelasan yang diperlukan.

Tiba-tiba dia berpaling, kemudian perintahnya:

“Siapkan kuda!”

12

Kakek yang berdiri menanti didepan pintu baru saja

menyahut dan siap mengundurkan diri, tiba tiba dari halaman

luar sudah berkumandang suara ringkikan kuda.

Ternyata Siau-tho dan Siau-sin telah menyiapkan kuda

baginya.

Sambil tersenyum Siang Huhoa segera melangkah keluar

diikuti Jui gie yang menguntil ketat di belakangnya.

Kulit tubuh yang putih, gagang pedang berwarna kuning

emas dengan sarung pedang berwarna merah tua.

Siau-tho segera membantu Siang Huhoa menggembolkan

pedangnya sementara Siau-sin memasangkan mantel

ditubuhnya. Sambil tersenyum Siang Huhoa segera melompat

naik ke punggung kudanya.

Lautan bunga menyelimuti seluruh halaman tengah, diluar

pintu bunga terhampar bagai menyelimuti langit, hujan

gerimis masih berderai ditengah kabut nan tebal, entah

berapa banyak bunga yang berguguran tertimpa olehnya.

Dengan sekali bentakan, Siang Huhoa melarikan kudanya

menembus lapisan hujan dan kabut yang menyelimuti udara.

Hari ini bulan tiga tanggal dua, kentongan ke dua,

rembulan yang melengkung bagai sabit menghiasi langit yang

bening bagai permukaan air. Perasaan hati Jui Pakhay terasa

lega dan nyaman bagai ikan yang berenang di dalam air.

Berapa butir mutiara mestika yang bernilai tiga ratus tahil

emas murni ternyata laku dijual dengan harga lima ratus tahil

emas murni. Kejadian semacam ini pada hakekatnya

merupakan satu kejadian yang layak digirangkan.

Setelah menghantar tamunya hingga didepan pintu

gerbang, sambil menggembol uang kertas senilai lima ratus

tahil emas murni, dia berjalan masuk dengan langkah yang

ringan dan cepat, menelusuri serambi panjang, melalui jalan

13

setapak ditengah kebun bunga dan kembali ke

perpustakaannya di halaman paling belakang.

Perpustakaan ini merupakan tempatnya untuk membaca

buku, juga merupakan tempatnya untuk menyimpan dan

menyembunyikan harta kekayaannya. Pada dinding samping

perpustakaan itu terdapat sebuah pintu rahasia, dibalik pintu

terbentang satu susun undak-undakan yang terbuat dari batu,

langsung berhubungan dengan sebuah ruang bawah tanah.

Dari pintu rahasia sampai ke ruang bawah tanah,

semuanya terdapat tujuh lapis alat jebakan rahasia yang bisa

mencabut nyawa siapa pun dalam sekejap mata, selain dia,

belum pernah ada orang yang berhasil melalui ke tujuh lapis

alat jebakan rahasia itu dengan aman dan selamat.

Dia percaya dan sangat yakin, karena ke tujuh lapis alat

jebakan maut itu adalah hasil rancangannya, dia sendiri yang

merancang, mencipta, membuat dan dia sendiri pula yang

memasangkan.

Dia memang murid paling buncit dari Hiun-cicu, seorang

ahli tehnik yang amat tersohor namanya dalam dunia

persilatan, hampir semua kepandaian gurunya dalam

menciptakan pelbagai peralatan telah dikuasahinya dengan

matang, tidak heran kalau ke tujuh lapis alat jebakan maut itu

merupakan hasil karyanya yang paling hebat.

Dia percaya dan yakin, ke tujuh buah alat jebakan mautnya

sangat dapat diandalkan, diapun sadar betapa dahsyatnya

kekuatan penghancur yang dihasilkan alat-alat jebakan itu.

Tombol buka tutup untuk membuka pintu rahasia itu

dipasang diatas dinding, dibalik dinding itu tergantung sebuah

lukisan antik.

Sebuah lukisan antik dari Tong Pak-hau, padahal lukisan itu

tidak ternilai harganya, namun dia hanya menggantungkan

dengan begitu saja, karena harta karun yang tersimpan dibalik

14

kamar rahasia, beribu kali lipat lebih berharga daripada lukisan

antik itu.

Kini, dia sedang berdiri dihadapan lukisan antik tersebut.

Tertimpa cahaya lentera yang terang benderang, diatas

dinding terbias bayangan tubuhnya yang tinggi besar.

Ketika dia mulai menyingkap lukisan tersebut, bayangan

tubuhnya juga bagai terbelah dari atas kepala hingga ke

bawah, terbelah jadi dua.

Keadaan semacam ini sudah banyak kali dialami, tapi baru

kali pertama ini tiba-tiba muncul suatu perasaan yang aneh

sekali dalam hati kecilnya.

Bersamaan waktunya, tiba-tiba bayangan tubuhnya hilang

lenyap tidak berbekas, lenyap ditengah bayangan aneh yang

tinggi besar dan sangat luar biasa.

Bayangan itu sudah pasti bukan bayangan tubuhnya sendiri

yang mendadak berubah menjadi besar, raksasa dan sangat

aneh: Sejenis makhluk tiba-tiba sudah muncul dari belakang

tubuhnya, merampas bayangan tubuh sendiri yang semula

terbias karena pantulan cahaya lentera.

Sejenis makhluk, yang jelas bukan manusia!

Dipandang dengan cara apa pun, bayangan tersebut sudah

pasti tidak mirip bayangan manusia, sama sekali tidak mirip,

malah kalau mau bicara jujur, bayangan itu mirip sekali

dengan bayangan kupu-kupu.

Bayangan itu sama sekali tidak bergerak, dia hanya muncul

secara mendadak, terlewat tiba-tiba sehingga mencekam

perasaan hatinya.

Agak tertegun Jui Pakhay merendahkan separuh badannya,

begitu merendahkan badannya, dia langsung menerobos

masuk ke balik ruang rahasia.

15

Bayangan itu langsung menutupi seluruh wajahnya, hampir

bersamaan waktunya dia pun telah melihat suatu makhluk.

Makhluk itu bukan kupu-kupu, melainkan seekor Laron!

Seekor Laron berwarna hijau kemala yang bening dan indah,

Laron itu menempel diatas kain penutup diatas lampu lentera

yang terletak dimeja tulis.

Dibawah pancaran sinar lentera, dari seluruh tubuh Laron

itu seakan memancarkan cahaya seram yang membawa

pancaran sinar siluman! Dibalik pancaran sinar siluman itu

tampak sepasang mata berwarna merah darah.

Bukan mata, ternyata bukan sepasang mata! Benda itu

tidak lebih hanya guratan garis merah darah yang berbentuk

mata, satu di sebelah kiri satu lagi disebelah kanan sayap

Laron hijau itu.

Disekeliling guratan sisik merah darah berbentuk mata itu

merupakan guratan-guratan sisik lain yang berwarna merah

darah pula, seakan sekujur tubuhnya terdiri dari serat-serat

berdarah.

Serat darah itu meliuk-liuk dari bawah membentang sampai

di atas dan berkumpul disekeliling “mata” itu, sekilas pandang

bentuknya mirip dengan sepasang alis mata, sementara garis

bulatan dibagian perut Laron hijau itu berbentuk seperti

sebuah hidung.

Dengan komposisi semacam ini, pada hakekatnya

terbentuklah selembar wajah, wajah tanpa muka, sebuah

wajah setan!!

Manusia, rasanya belum tentu bisa memiliki sebuah raut

wajah yang begitu menakutkan dan begitu menyeramkannya.

Raut wajah itu ternyata tidak lain adalah sepasang sayap

dari Laron itu, diatasnya pun terdapat guratan sisik berwarna

merah darah, hanya jumlahnya lebih tipis dan sedikit,

16

sepasang sayapnya ini berbentuk seperti sebuah mahkota

kemala hijau yang aneh sekali bentuknya.

Ditengah mahkota kemala hijau itu tentu saja terletak

kepala dari sang Laron.

Disebelah kiri kanan kepala Laron itu terdapat sebuah

sungut berbentuk sayap, selain itu terdapat pula sepasang

benda berbentuk bulat bagaikan bola, inilah sepasang mata

yang sebenarnya.

Ternyata sepasang mata inipun memiliki warna yang sama

dengan sepasang mata yang tumbuh diatas sayapnya itu,

merah bagai pancaran darah segar, bahkan memancarkan

pula sinar tajam yang menggidikkan hati

Cahaya darah! Sepasang mata yang memancarkan cahaya

darah itu seakan sedang melotot ke arah Jui Pakhay!

Benarkah Laron tersebut sedang mengawasinya? Jui

Pakhay tidak tahu dan tidak yakin, namun paling tidak dia

mempunyai perasaan semacam ini. Tidak heran kalau seketika

itu juga timbul perasaan ngeri dan perasaan takut yang luar

biasa dari dalam lubuk hatinya.

Semacam rasa ngeri, rasa takut yang belum pernah dialami

sebelumnya!

Dia ingin sekali mengalihkan sinar matanya ke tempat lain,

namun dalam detik tersebut, tiba-tiba dia menjumpai bahwa

sepasang matanya sudah jadi kaku, bahkan sekujur tubuhnya

mulai terasa kesemutan, mulai menjadi kaku.

Sepasang mata Laron yang berwarna merah darah itu

seakan menyimpan semacam kekuatan iblis yang maha aneh

dan maha dahsyat, yang menghisap sepasang mata Jui

Pakhay sehingga tidak mampu bergeser.

Kini, bukan Cuma sepasang matanya saja yang terhisap, Jui

Pakhay merasa bahkan sukmanya dan nyawanya pun seakan

ikut terhisap.

17

Lambat laun dia mulai merasakan betapa sukmanya,

nyawanya perlahan-lahan mulai melambung, mulai melayang

meninggalkan rongga badan kasarnya.

Pada detik itulah, dia pun mulai melihat mulut dari Laron

penghisap darah itu.

Dari balik mulut Laron merah darah itu menyembur keluar

sebatang tabung penghisap yang berwarna merah darah pula,

bagaikan sebatang jarum tajam, membiaskan cahaya tajam

yang menyilaukan mata ketika terkena cahaya lentera.

Segulung hawa dingin yang menggidikkan hati seketika

muncul dari dasar telapak kaki Jui Pakhay dan menyusup naik

ke atas kepala, bagaikan tertusuk jarum yang amat tajam,

dengan cepat menyusup naik dan menghujam ke ulu hatinya.

Dia sangat terkesiap, amat tercekat perasaan hatinya,

kesadaran otaknya seakan menjadi terang kembali, sekujur

badannya seakan tercebur ke dalam kolam yang berisi air

dingin, nyawanya, sukmanya seolah sudah terbang melayang

ke angkasa.

Dari balik matanya sudah mulai terpancar sinar kengerikan,

cahaya ketakutan yang luar biasa, tiba-tiba dia seakan sudah

teringat dengan suatu kejadian yang amat menakutkan!

Tak kuasa lagi dia menjerit keras:

“Laron penghisap darah!!”

Suara jeritannya parau dan gemetar, sama sekali tidak

mirip dengan suara jeritannya dihari hari biasa.

Begitu kata “Laron penghisap darah” meluncur dari

mulutnya, seluruh otot dan kulit wajahnya mengejang keras,

seluruh badannya menggigil keras bagaikan orang kedinginan,

raut muka itupun sama sekali tidak mirip dengan raut

wajahnya.

18

Dia seakan-akan telah berubah jadi orang lain, menjelma

jadi manusia yang berbeda!

“Sreeet!” bergema suara robekan yang tersayat oleh suatu

benda, tahu tahu di atas kain penutup lampu lentera itu sudah

muncul sebuah lubang kecil, tabung penghisap berwarna

merah darah dari Laron hijau itu tahu-tahu sudah menancap

diatas lubang tersebut.

Tidak dapat disangkal lagi kalau tabung penghisap itu

bentuknya memang tidak berbeda jauh dengan sebatang

jarum, bahkan dalam kenyataan memiliki ketajaman yang

melebihi ujung dari sebatang jarum.

Benda setajam itu tentu saja tidak terlalu sulit untuk

menusuk masuk ke dalam tubuh manusia dan menembusnya.

Mengawasi tutup lentera yang tertusuk hingga berlubang

itu, Jui Pakhay merasa seakan-akan kulit tubuh sendiripun ikut

tertusuk hingga tembus, terasa darah segar sedang terhisap

keluar dengan derasnya.

Kini sepasang tangannya mulai dingin membeku, sepasang

tangan yang dingin membeku itu sudah ditekan berbarengan

ke atas pinggangnya.

Ikat pinggang itu bukan ikat pinggang biasa, dibalik ikat

pinggang tersebut tersembunyi senjata tajam andalannya,

senjata yang membuat dia tersohor di dalam dunia persilatan,

Jit seng coat mia kiam (pedang tujuh bintang pemusnah

nyawa).

Pedang lemas sepanjang tiga depa dengan tujuh biji

senjata rahasia berbentuk bintang yang tersembunyi di balik

senjata tersebut, ketika melepaskan tusukan dengan

menyalurkan tenaga dalamnya, maka ke tujuh buah senjata

rahasia berbentuk bintang itu akan melesat keluar dengan

kecepatan luar biasa, mencabut nyawa lawan disaat musuh

sama sekali tidak menduga.

19

Hingga kini, belum pernah ada seorang manusia pun yang

berhasil mempertahankan selembar jiwanya dibawah ujung

pedang Jit seng coat mia kiam itu.

“Jit seng toh hun, It kiam coat mia” (tujuh bintang

pembetot sukma, satu tusukan mencabut nyawa) begitulah

gambaran senjatanya ketika menghadapi manusia, tapi

bagaimana pula kehebatannya sewaktu berhadapan dengan

seekor Laron?

Tabung penghisap telah ditarik kembali, setitik cahaya yang

luar biasa tajamnya terbias dari ujung jarum diatas kepala

Laron itu.

Dari balik keheningan yang mencekam suasana

Perpustakaan itu, tiba-tiba bergema suara yang sangat aneh..

“Seeerrr…serrrrr…!”

Sepasang sayap Laron itu mulai bergetar, mulai dikibaskibaskan,

perasaan hati Jui Pakhay mulai menyusut, mulai

mengecil sementara suara “Seerrr, seerrr” itu makin lama

semakin bertambah nyaring.

Laron hijau yang semula hanya sebesar kepalan tangan,

kini berubah selebar telapak tangan… suara “Seerrr, seerrr”

pun makin lama bergema makin keras dan memekikkan

telinga.

Akhirnya seluruh penutup lentera itu sudah tertutup oleh

tubuh Laron hijau itu.

Kelopak mata Jui Pakhay makin menyusut, peluh yang

bercucuran makin deras, peluh itu peluh dingin.

“Sreeet!” diiringi suara kebasan keras, Laron itu mulai

terbang meninggalkan penutup lentera, bagaikan setan iblis

yang ganas, langsung menerkam ke arah Jui Pakhay.

Sepasang mata diatas kepala Laron itu, sepasang mata

bermotif bunga di sayap Laron itu, bagaikan kobaran api yang

20

membara ditengah genangan darah, berkilauan ditengah

cahaya api yang membara.

Mendadak jarum penghisap itu kembali disemburkan

keluar, bersamaan waktunya pedang pun melepaskan sebuah

tusukan kilat.

Laron penghisap darah!! Jui Pakhay nyaris menjerit ngeri,

hampir pecah nyalinya membayangkan kengerian serta teror

horor yang terbentang di depan mata, akhirnya dia turun

tangan, pedang jit-seng-coat-mia-kiam melancarkan sebuah

tusukan maut.

Cahaya pedang yang meluncur bagai sambaran kilat, sinar

dingin yang cemerlang bagaikan cahaya bintang, sekali serang

tujuh bintang meluncur berbarengan ke arah depan.

Jit seng toh hun, It kiam coat mia (tujuh bintang pembetot

sukma, satu tusukan mencabut nyawa).

“Traak, traak, traak” tujuh kali dentingan nyaring bergema

memecahkan keheningan, ke tujuh batang senjata rahasia

berbentuk bintang itu sudah menancap semua diatas

permukaan meja.

Ditengah kilatan cahaya pedang yang menyambar diatas

penutup lentera, benda itu terpapas kutung jadi dua bagian,

tapi…….

“Sreet!” satu suara desingan angin melejit tinggi ke tengah

udara.

Lidah api dari lentera itu ikut terpapas kutung menjadi dua,

terpapas ditengah kilatan cahaya pedang yang menyambar

lewat bagai sambaran halilintar, melejit dan terbang ke tengah

udara.

Seketika itu juga suasana di dalam ruang perpustakaan

dicekam kegelapan yang luar biasa, sementara lidah api dari

lentera yang terbelah dan mencelat ke udara itu masih

menari-nari di angkasa bagaikan api setan yang membara.

21

Bagaimana dengan sang Laron? Dalam waktu singkat

tubuhnya berubah bagaikan setan gentayangan membuat

tubuh Laron penghisap darah itu berubah menjadi tembus

pandang hingga tersisa segulung lingkaran cahaya yang

memancarkan sinar terang, ketika tusukan pedang itu

menghampiri badannya, lingkaran cahaya itupun turut hilang

lenyap tidak berbekas.

Lenyap bagaikan setan iblis! Jui Pakhay celingukan ke sana

kemari, peluh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Tiba-tiba serangan pedangnya kembali dilancarkan,

menyambut lidah api yang sedang menari ditengah udara dan

menggesernya kembali ke atas lentera.

Sekali lagi cahaya lentera menerangi seluruh ruangan,

lambat laun suasana ditempat itupun jadi terang benderang,

dibawah cahaya lampu, dengan jelas Jui Pakhay menyaksikan

bahwa disana, dalam perpustakaan buku itu hanya ada dia

seorang.

Tidak ada Laron, nyamuk dan lalat pun tidak nampak

seekor pun, apa yang terpampang dihadapan matanya tadi

seolah hanya sebuah ilusi, sebuah khayalan yang tidak nyata.

Dia membungkukkan badan, memungut kembali penutup

lentera yang terjatuh diatas lantai.

Sebuah lubang tusukan kecil sebesar tusukan jarum,

terlihat muncul diatas penutup lentera itu, lubang tersebut

tidak lain adalah tempat yang ditusuk oleh Laron penghisap

darah itu dengan alat penghisapnya yang tajam.

Jelas peristiwa itu bukan sebuah ilusi, bukan sebuah

lamunan atau khayalan!! Sekujur badan Jui Pakhay mulai

gemetar keras, peluh dingin mulai bercucuran membasahi

seluruh tubuhnya.

Bab 2.

22

Teka teki seputar Raja Laron.

Bulan tiga tanggal dua, menjelang tengah hari, di tepi

telaga.

Air kelihatan jernih berwarna hijau dengan latar belakang

bukit nan biru, pepohonan Liu tumbuh rimbun disepanjang

tepi telaga, musim semi memang musim yang mudah

membuat orang mabuk, membuat orang terpesona.

Perasaan Jui Pakhay sangat murung, kesal dan masgul,

jauh lebih murung ketimbang mabuk oleh air kata-kata,

kemurungan yang susah terurai, bahkan semakin berusaha

dihilangkan, perasaan itu semakin mencekam.

Kejadian semalam masih jelas terbayang di depan matanya,

meski kini dia sedang berjalan menelusuri pepohonan Liu yang

rindang, namun langkah kakinya terasa berat.

Pemandangan alam nan indah yang terbentang

dihadapannya tidak membuat perasaannya tenang, dia bahkan

seakan tidak melihatnya, seakan tidak merasakannya.

Dalam keadaan seperti ini, dia memang tidak punya napsu

untuk menikmati kesemuanya itu.

Hari ini dia memang sengaja datang kesana, karena

ditempat inilah dia akan menemukan Tu Siau-thian.

Tu Siau-thian adalah sahabat karibnya, diapun seorang

wakil opas diwilayah itu, seorang jago golok yang handal,

selain pintar, kungfunya juga hebat. Hingga sampai hari ini

sudah begitu banyak kasus besar yang berhasil dibongkar

olehnya.

Ada orang bilang, bila latar belakang Tu Siau-thian

setengah saja melebihi Nyoo Sin, maka yang jadi komandan

opas di kota ini bukan Nyoo Sin melainkan Tu Siau-thian.

Menanggapi gurauan semacam ini, Tu Siau-thian tidak

pernah memberikan pandangan maupun pendapat pribadinya.

23

Dia seperti sudah amat puas dengan posisinya sekarang, wakil

komandan opas.

Sekarang dia sedang berjalan menuju ke sisi Jui Pakhay,

lagak maupun gayanya persis seperti orang yang sedang

terbuai karena mabuk oleh keindahan alam di tepi telaga yang

rimbun dengan pohon liu itu.

Berbicara sejujurnya, kedatangannya ke tempat itu

memang khusus untuk menikmati pemandangan alam disana.

Karena belum lama ini dia berhasil membongkar sebuah

kasus kriminal yang sangat berat, dalam kondisi demikian, dia

butuh tempat rileks untuk mengendorkan semua otot dan

uratnya yang telah cukup lama kencang dan tegang.

Dia baru terperanjat setelah Jui Pakhay berada disisinya,

dengan pandangan terkejut bercampur keheranan ditatapnya

wajah sahabatnya lekat-lekat.

Dia seperti tertegun, keheranan dan tidak percaya kalau

bakal berjumpa dengan Jui Pakhay ditempat seperti ini, dia

sangat mengenal siapa Jui Pakhay itu dan tahu pasti apa

kegemerannya.

Tempat semacam ini jelas bukan tempat yang cocok bagi

Jui Pakhay, dia bukan termasuk type manusia yang bisa

menikmati keindahan alam, terlebih kedatangan Jui Pakhay

kali ini hanya seorang diri.

Jui Pakhay sedang mengawasi dirinya pula, dia menatap

wajah rekannya dengan mimik muka yang sangat aneh, mimik

muka istimewa.

Tu Siau-thian semakin keheranan, setelah menyapanya

sambil tertawa, dia menegur:

“Jadi kaupun menyukai tempat ini?”

“Tidak terlalu suka” jawab Jui Pakhay dengan sorot mata

tidak tenang.

24

“Sungguh aneh, aku tidak menyangka bakal berjumpa

dengan kau di tempat semacam ini” kembali Tu Siau-thian

berseru sambil tertawa.

“Tapi aku dapat menduganya”

“Oya?” Tu Siau-thian tertegun.

“Aku telah berkunjung ke rumahmu, orang rumah yang

mengatakan kalau kau berada disini”

“Ooh, jadi kau sengaja datang kemari karena ada

keperluan denganku?” seru Tu Siau-thian seperti baru

mengerti.

Jui Pakhay manggut manggut pelan.

“Persoalan apa yang kau hadapi? Kenapa terburu-buru

mencari aku?” kembali Tu Siau-thian bertanya keheranan.

“Aku khusus kemari karena butuh petunjukmu tentang satu

hal” bicara sampai disitu, dia berbalik badan dan kembali

berjalan menelusuri jalanan yang baru saja dilaluinya.

Dalam keadaan begini terpaksa Tu Siau-thian mengikuti

dari belakang.

Sambil berjalan kembali Jui Pakhay berkata lagi:

“Aku tahu kau sudah banyak mengembara di seantero

jagad, pengetahuan dan pengalamanmu sangat luas, banyak

kejadian, banyak wilayah yang mungkin tidak pernah diketahui

orang, bagimu bukan satu kejadian yang aneh atau paling

tidak sama sekali tidak ada bayangan”

“Sebenarnya apa masalahmu?” tidak tahan Tu Siau-thian

menegur.

“Pernah tahu makhluk yang bernama Laron penghisap

darah?” tanya Jui Pakhay sambil bersin beberapa kali.

25

“Laron penghisap darah?” Tu Siau-thian agak tertegun,

“maksudmu Laron penghisap darah yang banyak hidup di

dalam belantara hutan diwilayah Siau-siang?”

“Aaah, rupanya kau tahu juga tentang hal ini” seru Jui

Pakhay kegirangan.

“Aku memang berasal dari wilayah Siau-siang”

“Bagus sekali…..”

“Kenapa secara tiba-tiba kau menanyakan soal makhluk

itu?” Tu Siau-thian bertanya lebih jauh.

Jui Pakhay tidak langsung menjawab, kembali dia bertanya:

“Sebenarnya makhluk apakah itu?”

“Salah satu jenis Laron” sahut Tu Siau-thian sambil

berusaha menekan perasaan heran dan tercengangnya.

“Jadi sama persis seperti jenis Laron pada umumnya?”

“Bentuk luarnya memang sama persis, tapi warnanya

sangat berbeda”

“Apa warnanya?”

“Hijau muda” Tu Siau-thian menerangkan sambil tertawa,

“hijau muda mendekati warna batu kemala hijau, matanya

berwarna merah, pada kedua belah sayapnya terdapat pula

guratan merah bermotif mata, sepasang mata itupun

berwarna merah, semerah darah segar, sementara disekeliling

matanya dipenuhi serat-serat merah seperti guratan darah

segar”

“Apakah karena sering menghisap darah manusia dan

hewan, maka dia berubah menjadi bentuk seperti itu?”

“Ooh, jadi kaupun terpengaruh oleh cerita dongeng itu?”

seru Tu Siau-thian sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Memangnya berita itu hanya sekedar berita angin?”

26

“Memang begitulah!” seru Tu Siau-thian sambil tertawa dan

manggut manggut.

“Kalau memang begitu, kenapa makhluk tersebut

dinamakan Laron penghisap darah?”

“Ini disebabkan sepasang matanya yang berwarna merah

darah, garis guratan mata yang merah darah serta garis garis

darah pada sepasang sayapnya, orang yang kurang tahu

beranggapan bahwa merahnya mata tersebut lantaran

kebanyakan menghisap darah manusia dan hewan, akhirnya

semua orangpun menyebut Laron tersebut sebagai Laron

penghisap darah”

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya:

“Orang bukan hanya menyebutnya sebagai Laron

penghisap darah, malahan ada yang menyebutnya sebagai

penyamun bermuka setan”

“Yaa, betul, jika dipandang dari punggungnya makhluk itu

memang mirip sekali dengan selembar wajah setan” tanpa

terasa Jui Pakhay mengangguk membenarkan.

Tiba-tiba Tu Siau-thian tertawa tergelak, selanya:

“Kapan sih kau pernah bertemu setan?”

Jui Pakhay melengak, sesaat kemudian dia menggeleng:

“Belum pernah aku melihat setan”

“Lantas darimana kau bisa membayangkan tampang setan

itu seperti apa?”

“Aku sendiripun kurang tahu, aku hanya berpendapat

tampang manusia tidak mungkin sejelek dan seseram itu”

Tu Siau-thian kembali tertawa tergelak, terusnya:

“Ada sementara orang menyebut makhluk itu sebagai Laron

bermata burung gereja, Laron bermata iblis, hal ini disebabkan

27

pada sepasang sayapnya terdapat guratan merah bermotif

mata darah”

“Apakah Laron semacam ini dapat menghisap darah?”

“Tentu saja tidak dapat, sebab guratan merah darah

bermotif mata yang tumbuh di sayap makhluk itu sudah ada

semenjak lahir”

“Kau yakin?”

Tu Siau-thian tidak menjawab, dia terbungkam.

Melihat itu, Jui Pakhay segera menatapnya lekat-lekat

Ditatapnya wajah rekannya itu sekejap, kemudian setelah

tertawa getir kembali Tu Siau-thian berkata:

“Walaupun aku tidak berani mengatakan yakin, namun

hingga detik ini belum satu kalipun menyaksikan ada Laron

yang bisa menghisap darah, bahkan mendengar cerita orang

pun belum pernah”

“Siapa tahu orang yang benar-benar pernah melihatnya

sudah pada mampus semua, mati karena badannya kering,

mati karena cairan darahnya telah dihisap habis oleh si Laron

penghisap darah itu”

Setelah menarik napas dalam-dalam, lanjutnya:

“Orang mati kan tidak mungkin bisa berbicara”

Tu Siau-thian tertawa getir:

“Mungkin saja apa yang kau katakan itu benar, tapi

menurut apa yang kuketahui, jenis Laron itu tidak suka darah”

“Siapa tahu ada pengecualian?”

Sekali lagi Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali,

ujarnya:

28

“Hingga detik ini aku tetap berpendapat bahwa apa yang

kau ucapkan itu hanya sekedar berita angin, isapan jempol,

hanya sekedar dongeng!”

“Akupun berharap kesemuanya itu hanya sekedar berita

isapan jempol belaka”

“Oya…?”

“Paling tidak, aku sudah tidak perlu menguatirkannya lagi”

lanjut Jui Pakhay.

“Sebenarnya apa yang kau kuatirkan?” tanya Tu Siau-thian

agak melengak.

“Aku kuatir ada Laron penghisap darah yang menghisap

darah tubuhku hingga mengering”

Tu Siau-thian semakin tercengang, dengan perasaan tidak

habis mengerti kembali tanyanya:

“Kapan kau telah bertemu dengan Laron penghisap darah?”

“Kemarin malam”

“Kemarin malam?” Tu Siau-thian semakin tercengang.

“Walaupun aku pernah mendengar cerita dongeng

mengenai Laron penghisap darah, namun selama hidup belum

pernah berkunjung ke wilayah Siau-siang, akupun belum

pernah melihat Laron penghisap darah, tapi kemarin

malam………..”

“Atas dasar apa kau yakin kalau makhluk yang kau jumpai

semalam adalah Laron penghisap darah?” sela Tu Siau-thian

cepat.

Jui Pakhay menghela napas panjang:

“Karena Laron yang tiba tiba muncul di dalam perpustakaan

ku semalam, persis sama seperti Laron penghisap darah yang

dilukiskan dalam cerita dongeng”

29

“Tapi wilayah Siau-siang selisih jauh sekali dari tempat ini,

mana mungkin Laron penghisap darah bisa terbang melewati

wilayah yang begitu luas hingga tiba disini? Belum pernah

kudengar ada kejadian seperti ini” seru Tu Siau-thian semakin

keheranan.

“Benar, aku sendiripun belum pernah dengar orang

bercerita kalau di tempat ini bisa melihat kehadiran Laron

penghisap darah”

“Mungkin juga lantaran ketidak sesuaian suasana dan hawa

ditempat ini dengan daerah asalnya, walau begitu bukan

berarti suasana dan hawa disini tidak mungkin bisa terjadi

perubahan, juga tidak menutup kemungkinan ada Laron

penghisap darah yang mampu terbang melintasi wilayah yang

luas untuk tiba di sini”

Setelah tertawa dan berganti napas, kembali terusnya:

“Padahal meskipun kau telah melihat munculnya seekor

Laron penghisap darah disini, bukan berarti kau mesti kuatir

setengah mati. Ketika masih berdiam di daerah Siau-siang

dulu, akupun sering bertemu dengan Laron penghisap darah,

tapi kenyataannya bukankah hingga detik ini aku masih bisa

hidup segar bugar?”

“Tatkala kau bertemu dengan makhluk-makhluk tersebut

tempo hari, bisa jadi mereka sudah kekenyangan sehingga

tidak berniat menghisap darahmu lagi” ujar Jui Pakhay.

“Hahaha.. mungkin saja perkataanmu itu benar”

Jui Pakhay tidak ikut tertawa, wajahnya semakin murung,

keningnya makin berkerut.

Tu Siau-thian merasa kurang leluasa untuk tertawa

sendirian, maka sambil berhenti tertawa katanya lagi:

“Aku lihat kau sudah dibikin ketakutan lantaran bertemu

dengan Laron penghisap darah semalam”

30

Jui Pakhay tidak menyangkal, dengan mulut membungkam

dia mengangguk berulang kali.

“Memangnya Laron penghisap darah yang kau jumpai

semalam ada niat akan menghisap darahmu?” tanya Tu Siauthian

lebih lanjut.

Paras muka Jui Pakhay berubah hebat, sahutnya tegas:

“Yaa, aku memang melihat kalau dia bermaksud demikian!”

“Kemudian, apakah dia sudah menghisap darahmu?” ejek

Tu Siau-thian lagi sambil tertawa.

Bila dilihat dari lagaknya, dia seakan telah menganggap

perkataan dari Jui Pakhay itu sebagai bahan gurauan.

Jui Pakhay masih tetap membungkam, tidak tertawa, pun

tidak perduli dengan ejekan dari Tu Siau-thian, ujarnya

bersungguh-sungguh:

“Tidak, baru saja dia akan menerkam tubuhku, pedangku

sudah melancarkan serangan maut ke tubuhnya”

Kali ini Tu Siau-thian nampak terperanjat, serunya

tertahan:

“Untuk menghadapi seekor Laron pun kau telah

menggunakan senjata andalanmu?”

Jika ditinjau dari lagak serta logat bicaranya, dia seolah

sedang menyindir Jui Pakhay karena membesar-besarkan

sebuah masalah yang sesungguhnya kecil.

Jui Pakhay sama sekali tak menggubris, bahkan

tambahnya:

“Bukan hanya menggunakan senjata andalanku, bahkan

senjata rahasia telah kugunakan juga”

“It kiam jit seng, satu pedang tujuh bintang?”

31

“Benar, hampir semuanya telah aku gunakan” jawab Jui

Pakhay serius.

Kini Tu Siau-thian baru benar benar terkesiap, akhirnya dia

sadar bahwa apa yang diceritakan Jui Pakhay bukanlah cerita

lelucon.

Jit seng toh hun, It kiam coat mia (tujuh bintang pembetot

sukma, satu tusukan mencabut nyawa) merupakan

kepandaian pamungkas andalan Jui Pakhay, tidak

sembarangan jago yang mampu menghadapi nya, selama

inipun kepandaian pamungkas ini tidak ikan digunakan bila

keadaan tidak terlampau gawat.

“Lantas, bagaimana hasilnya?” tanya Tu Siau-thian

kemudian.

“Begitu aku lancarkan serangan dengan satu pedang tujuh

bintang, tahu-tahu Laron penghisap darah lenyap tidak

berbekas”

“Bagaimana lenyapnya?” desak Tu Siau-thian.

“Hilang lenyap dengan begitu saja, lenyap secara tiba-tiba

bagaikan setan iblis”

“Apakah semalam kau mabuk berat?” tegur Tu Siau-thian

kemudian sambil menatap rekannya lekat-lekat.

“Tidak, jangan lagi mabuk, minum arak setetespun tidak”

“Berarti kau tidur kelewat awal hingga bermimpi?” kata Tu

Siau-thian lebih jauh.

“Waktu itu aku baru saja menghantar tamuku pulang,

kemudian balik ke perpustakaan dan baru saja akan masuk ke

dalam”

Tu Siau-thian membelalakkan matanya lebar-lebar, serunya

cepat:

32

“Kalau memang bukan mabuk kepayang karena pengaruh

alkohol, juga bukan bermimpi karena kebanyakan tidur, berarti

apa yang kau ceritakan merupakan kejadian yang beneran?”

Jui Pakhay menghela napas panjang:

“Haai, masa sampai sekarang kau masih sangsi dengan

perkataanku?”

Tu Siau-thian tertawa getir:

“Kini kau sudah menceritakan semua kejadian dengan

begitu nyata, biar masih sangsi juga aku harus mulai belajar

menerima ucapanmu sebagai satu kenyataan”

“Padahal kalau bukan mengalami sendiri belum tentu aku

percaya kalau peristiwa ini merupakan sebuah kenyataan”

kata Jui Pakhay pula sambil tertawa getir.

“Kali ini kau datang mencari aku, apakah tujuanmu hanya

ingin beritahukan kejadian ini saja?”

“Masih ada dua alasan lain”

“Apa alasanmu yang pertama?”

“Aku ingin tahu secara jelas, apakah benar terdapat

makhluk yang disebut Laron penghisap darah?”

“Dan sekarang kau sudah jelas, lantas apa alasanmu yang

kedua?”

“Minta petunjukmu, bagaimana cara menanggulangi

serangan dari makhluk semacam ini”

Untuk sesaat Tu Siau-thian berdiri termangu, agaknya dia

tidak menyangka kalau harus menghadapi permintaan

semacam ini.

Terdengar Jui Pakhay berkata lebih jauh:

“Sebenarnya cara apa yang paling tepat untuk

menanggulangi serangan mematikan dari Laron penghisap

33

darah? Benda apa pula yang paling dipantang Laron

penghisap darah semacam ini?”

Tu Siau-thian berdiri melongo, lama kemudian dia baru

tertawa getir sembari menggeleng:

“Aku sendiri juga tidak tahu”

Seketika itu juga semangat Jui Pakhay surut kembali, dia

jadi lemas dan tidak bernapsu untuk bicara lagi.

“Tapi kaupun tidak usah kelewat kuatir” buru buru Tu Siauthian

menghibur, “aku rasa makhluk tersebut belum tentu

sangat menakutkan seperti apa yang diceritakan orang”

Tiba-tiba Jui Pakhay berkata lagi:

“Aku masih dengar ada orang bercerita demikian, Laron

pertama yang munculkan diri biasanya adalah utusan dari raja

Laron penghisap darah, ketika sang raja Laron sudah memilih

sasaran yang akan dijadikan korban penghisapan darah, dia

akan mengirim utusannya, seakan hendak memberi kabar

kepada orang tersebut bahwa dia akan terpilih menjadi

korban, maka setelah kemunculan sang utusan, Laron

penghisap darah baru akan muncul berikutnya, menanti sang

raja Laron sudah menampilkan diri, kawanan Laron itu baru

akan menyerang bersama-sama, setiap Laron akan

menusukkan tabung suntiknya ke tubuh sang korban lalu

beramai-ramai menghisap cairan darah korbannya sampai

mengering!”

“Benar, cerita yang beredar memang mengatakan begitu”

Tu Siau-thian mengangguk tanda membenarkan.

“Aku dengar raja Laron baru akan muncul disaat malam

bulan purnama”

“Konon memang begitu” kembali Tu Siau-thian

mengangguk setelah termenung dan berpikir sejenak.

Menyusul kemudian ia berkata lebih jauh:

34

“Malam ini baru tanggal dua, hingga tanggal lima belas

berarti masih ada tiga belas malam”

“Tapi dengan cepat tiga belas malam akan berlalu dengan

begitu saja”

“Kalau begitu selama berapa malam nanti cobalah lebih

waspada dan berhati-hati, apabila Laron penghisap darah itu

muncul kembali, rasanya belum terlambat bagi kita untuk

mencari akal guna menghadapinya”

Jui Pakhay tidak bicara lagi, dia terbungkam dalam seribu

bahasa.

“Berapa hari lagi, aku pasti akan datang berkunjung ke

rumahmu” kembali Tu Siau-thian berjanji.

Jui Pakhay tetap membungkam tanpa menjawab,

mendadak dia menghentikan langkah kakinya.

Tanpa terasa Tu Siau-thian ikut menghentikan langkahnya

sembari bergumam:

“Mungkin apa yang kau tampak hanya gambar ilusi yang

muncul sesaat, karena terpengaruh oleh ilusi tersebut maka

kau kira ada Laron penghisap darah hendak menghisap

darahmu”

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, dia baru

menjumpai kalau sepasang mata Jui Pakhay sedang terbelalak

lebar-lebar, dengan wajah tertegun dan mulut melongo dia

sedang mengawasi sebuah dahan pohon liu yang tumbuh

ditepi jalan.

Tanpa terasa dia mengikuti arah pandangan mata rekannya

dan mengawasi pula dahan pohon itu.

Namun dengan cepat paras mukanya berubah hebat,

ternyata diatas dahan pohon itu bertengger dua ekor Laron.

35

Laron hijau yang tubuhnya mengkilat bagaikan batu kemala

hijau, diatas sayapnya seakan dipenuhi garis-garis merah

darah dengan sepasang mata yang merah membara.

Sepasang mata Laron yang tumbuh diatas kepalanya juga

berwarna merah membara, begitu merahnya sehingga mirip

dengan darah segar.

Laron penghisap darah!! Tu Siau-thian tertegun, matanya

mendelong, wajahnya berubah hebat, setelah tertegun sesaat

tiba tiba dia melangkah maju, dengan satu gerakan cepat

dihampirinya dahan pohon Liu itu.

Jui Pakhay mencoba menghalangi namun tidak berhasil,

untuk sesaat dia jadi melongo dan tidak sepatah kata pun

mampu diucapkan.

Ketika tiba di dekat pohon Liu itu, Tu Siau-thian

memperlambat langkah kakinya, begitu dia berhenti

melangkah, tangan kanannya secepat kilat menyambar ke

depan, mencengkeram seekor Laron penghisap darah yang

berada disitu.

Biarpun gerakan serangannya amat cepat, ternyata

gerakan Laron penghisap darah itu jauh lebih cepat, belum

sempat menyentuh makhluk tersebut, tahu-tahu ke dua ekor

Laron penghisap darah itu sudah terbang ke angkasa.

Reaksi maupun ke sensitifan Laron penghisap darah itu

ternyata sama sekali tidak berada dibawah kecepatan reaksi

kupu-kupu.

Gerakan tubuh Tu Siau-thian semakin cekatan, mendadak

dia melambung ke tengah udara sambil melancarkan tiga kali

sambaran, akhirnya dengan satu gerakan cepat dia berhasil

menangkap Laron penghisap darah itu.

Jangan dilihat gerakan tubuhnya sangat cekat dan kasar,

ternyata kekuatan yang digunakan telah diperhitungkan

dengan matang, hal ini menyebabkan Laron penghisap darah

36

itu sama sekali tidak sampai tergencet mati walau telah

berhasil dicengkeram olehnya, sepasang sayapnya masih

bergetar tiada hentinya.

Bubuk Laron berwarna hijau kepucat-pu catan telah

memenuhi telapak tangan Tu Siau-thian, melihat itu dia

tertawa terbahak bahak.

Tampaknya Laron penghisap darah itu seakan sudah

ketakutan setengah mati hingga mendekati gila, sepasang

matanya yang merah kini bertambah merah tajam, bahkan

seolah sudah mulai melelehkan darah segar.

Sambil tertawa Tu Siau-thian segera berpaling ke arah Jui

Pakhay, kemudian ujarnya:

“Bila Laron semacam ini benar-benar pandai menghisap

darah, sekarang sudah seharusnya menghisapkan

darahku……………”

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba paras

mukanya berubah hebat.

Satu tusukan keras yang menimbulkan perasaan sakit yang

luar biasa muncul dari ibu jarinya, dengan perasaan

terperanjat dia berpaling

Tampak olehnya sebuah tabung hisap berwarna merah

darah dengan ujung jarumnya yang tajam telah menancap di

ibu jari tangannya dan saat itu darah segar miliknya mulai

dihisap oleh Laron penghisap darah itu.

Tidak terlukiskan rasa kaget bercampur ngeri yang dialami

Tu Siau-thian waktu itu, paras mukanya sampai berubah

menjadi hijau membesi.

Ketika dia mulai merasa bahwa darah segar telah dihisap

keluar melalui jari tangannya, saat itu pula dia berdiri

termangu, benarkah apa yang sedang dialaminya saat ini

merupakan sebuah kejadian nyata? Apakah bukan hanya

37

sebuah ilusi? Untuk berapa saat dia jadi kebingungan dan

tidak bisa membedakan secara jelas.

“Laron penghisap darah!!” dengan perasaan takut

bercampur ngeri yang luar biasa dia menjerit.

Karena teriakan yang keras disertai perasaan kaget yang

luar biasa ini, tanpa sadar genggamannya pada Laron

penghisap darah itupun jadi mengendor.

“Sreeet!” diiringi desingan angin tajam, Laron penghisap

darah itu meloloskan diri dari genggamannya dan terbang ke

udara, langsung menyusup ke balik pepohonan Liu yang

rindang.

Dalam pada itu, Laron penghisap darah yang ke dua pun

sudah terbang lenyap entah ke mana.

Sorot mata Tu Siau-thian tidak pernah terlepas dari tubuh

Laron yang sedang terbang ke balik rimbunnya pepohonan.

Menanti bayangan tubuh makhluk itu sudah lenyap dari

pandangan, dia baru mengalihkan kembali sorot matanya

keatas ujung jari telunjuk sendiri.

Tidak ada darah yang meleleh keluar, diujung jari

tangannya hanya tersisa setitik darah segar, namun hal itu

sudah cukup membuat pandangan matanya terbelalak lebar.

Jui Pakhay ikut mengawasi ibu jari tangan Tu Siau-thian

yang berdarah itu, paras mukanya kini telah memucat

bagaikan selembar kertas.

Rasa takut, ngeri dan seram yang mencekam perasaan

hatinya sekarang sediktpun tidak berada dibawah perasaan Tu

Siau-thian.

Untuk berapa saat lamanya kedua orang itu hanya bisa

berdiri termangu tanpa mampu melakukan suatu perbuatan

apa pun.

38

Entah berapa saat sudah lewat, lama kemudian akhirnya Tu

Siau-thian memecahkan kesunyian lebih dahulu, katanya:

“Tidak disangka ternyata makhluk ini benar-benar mampu

menghisap darah”

Dalam keadaan seperti ini, ternyata dia masih sanggup

tertawa walaupun senyuman yang menghiasi bibirnya boleh

dibilang sama sekali tidak mirip sebuah senyuman.

Terlebih Jui Pakhay, boleh dibilang dia tidak sanggup

tertawa lagi, sambil mengamati ujung jari Tu Siau-thian yang

berdarah, gumamnya lirih:

“Kemarin malam hanya muncul seekor, hari ini sudah dua

ekor, berapa banyak yang akan muncul besok malam?”

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang sangat

aneh, boleh dibilang sama sekali tidak mirip dengan suara

aslinya.

Tu Siau-thian hanya mendengarkan dengan wajah

tertegun, hatinya bergidik, bulu romanya tanpa terasa pada

bangun berdiri.

Tiba-tiba Jui Pakhay mengalihkan sorot matanya ke atas

wajah Tu Siau-thian, kemudian katanya lirih:

“Begitu kau berhasil menemukan cara yang tepat untuk

menanggulangi serangan makhluk itu, cepatlah beritahu

kepadaku”

Begitu selesai berkata, ia segera beranjak pergi dari tempat

itu dengan kecepatan luar biasa.

“Kau akan ke mana sekarang?” teriak Tu Siau-thian keraskeras.

“Aku akan mencari teman-teman yang lain, siapa tahu

mereka punya cara untuk menghadapinya” ketika selesai

mengucapkan perkataan itu, tubuhnya sudah berada jauh

sekali.

39

Tu Siau-thian tidak mengejar, sekujur tubuhnya seolah

sudah menjadi kaku dan membeku ditengah rimbunnya

pepohonan.

Dia sebetulnya tidak mau percaya kalau kejadian semacam

ini merupakan sebuah kenyataan, tapi sekarang mau tidak

mau dia harus mempercayainya.

Menjelang tengah hari, kabut tipis makin menyelimuti tepi

telaga, membungkus seluruh pepohonan Liu hingga tampak

samar.

Dahan Liu bergoyang terhembus angin musim semi,

bergerak naik turun ditengah gulungan kabut, sesungguhnya

pemandangan saat ini sangat indah, namun dalam pandangan

Tu Siau-thian justru terasa menyeramkan dan mendirikan bulu

roma.

Dahan pohon Liu yang bergoyang, ibarat kerumunan Laron

yang sedang menggeliat, Laron penghisap darah!

0-0-0

Bulan tiga tanggal tiga, senja telah menjelang tiba, hujan

disertai angin membasahi seluruh jagad, membuat udara

terasa dingin.

Jui Pakhay duduk termenung seorang diri di dalam ruang

kamarnya, kemasgulan dan kemurungan jelas membekas

diatas raut mukanya

Dia baru saja selesai bersantap, ketika sisa nasi dan sayur

dibawa keluar, semuanya utuh seolah tidak satupun yang

pernah disentuh olehnya, dalam dua hari belakangan selera

makannya memang kurang begitu baik.

Kemarin malam, meski Laron penghisap darah tidak muncul

lagi, namun kemunculan dua ekor Laron penghisap darah

ditepi telaga siang tadi sudah lebih dari cukup untuk

mempengaruhi selera makannya.

40

Menyaksikan mimik mukanya itu, Gi Tiok-kun ikut hilang

selera makannya, jangan lagi bersantap, selera untuk

berbicara pun ikut lenyap tidak berbekas.

Gi Tiok-kun bukan orang lain, dia adalah istri Jui Pakhay,

usianya sepuluh tahun lebih muda dibandingkan usia

suaminya.

Tiga tahun berselang, dia masih nampak bagaikan

sekuntum bunga segar yang terhembus angin musim semi,

segar dan bergairah sehingga memancing datangnya kupukupu

dan serangga, cantik, segar dan menawan hati.

Tapi tiga tahun kemudian, dia nampak jauh lebih tua

ketimbang Jui Pakhay.

Meskipun belum tampak kerutan dahinya namun masa

remaja seakan sudah jauh meninggalkan dirinya, yang tersisa

sekarang hanya sepasang matanya yang jeli, sepasang mata

jeli yang masih membawa sebuah kehangatan dari masa

remajanya.

Biji matanya yang berkilat ibarat dua gulungan bara api

berwarna hitam, masih tetap berkialauan, masih tetap

membara. Siapa pun yang pernah bersua dengannya, pasti

dapat menduga kalau penghidupannya selama tiga tahun

terakhir pasti kurang nyaman, pasti kurang bahagia.

Kehidupan yang serba kecukupan bukan jaminan dapat

menghilangkan semua kemurungan, kemasgulan dan

kesengsaraan perasaan hatinya.

Karena orang yang dinikahi sekarang bukanlah orang yang

dia ingin nikahi.

Semenjak menikah dengan Jui Pakhay, kehidupannya

seolah sudah mati separuh.

Walaupun sampai kini dia belum sampai mati, namun

wajahnya, perasaan hatinya tidak berbeda dengan sekuntum

41

bunga yang mulai layu karena tidak pernah mendapat siraman

air segar.

Jui Pakhay sama sekali tidak bisa menyelami perasaan hati

istrinya, berbeda dengan Gi Toa-ma, ibu angkatnya, orang tua

ini sangat memahami perasaan hati anak asuhnya, hanya

sayang Gi Toa-ma tidak pernah memikirkan persoalan itu ke

dalam hatinya.

Apa yang dipikirkan Gi Toa-ma tidak lebih hanya semacam

benda, semacam benda yang bisa digunakan untuk membeli

apa-apa, duit!

Dulu, dia sengaja memelihara Gi Tiok-kun karena dia tahu

perempuan ini adalah seorang perempuan cantik, setelah

tumbuh dewasa nanti, dari tubuhnya dia bisa meraup duit

dalam jumlah yang sangat besar.

Itulah sebabnya dia selalu memberikan hidangan dan

pakaian terbaik untuk Gi Tiok-kun, melatihnya menyanyi,

menari dan memainkan alat musik, dia paksa gadis itu

menjual nyanyi tanpa menjual badan, menemani orang minum

arak tapi tidak menemani tidur, hal ini bukan dikarenakan dia

sayang dengan perempuan ini, tapi ingin menunggu hingga

munculnya sang pembeli yang ideal dan sesuai dengan

kehendak hatinya.

Ketika tawar menawar mencapai satu angka kesepakatan,

maka diapun serahkan Gi Tiok-kun kepada Jui Pakhay

bagaikan menyerahkan sebuah barang pesanan saja.

Saat itulah Gi Tiok-kun baru tahu manusia macam apakah

Gi Toa-ma dan apa maksud tujuannya, namun dia tidak bisa

berbuat lain kecuali pasrah.

Gi Toa-ma punya banyak anak buah dan begundal, terlebih

Jui Pakhay, dia adalah seorang jagoan yang luar biasa, bila

dirinya menolak perkawinan tersebut, bisa dipastikan hanya

jalan kematian yang terbentang di depan matanya

42

Tentu saja dia tidak ingin memilih jalan kematian, sebab

usianya masih sangat muda, sewaktu dikawinkan dengan Jui

Pakhay, usianya baru mencapai sembilan belas tahun.

Orang muda mana yang tidak menyayangi nyawanya

sendiri? Apalagi seorang gadis yang baru berusia sembilan

belas tahun.

Selama ini dia selalu beranggapan bisa menahan semua

siksaan batin itu. namun kenyataan membuktikan dia harus

menerima kesemuanya itu dengan susah payah.

Biarpun dia tumbuh dewasa dalam lingkungan pelacuran,

gadis ini tidak pernah tertular gaya hidup serta tingkah laku

kaum pelacur.

Tapi kesemuanya itu bukan merupakan alasannya yang

paling utama, alasannya yang terutama adalah karena hatinya

sudah dimiliki orang lain.

Pada malam pertama dia menikah dengan Jui Pakhay,

malam pengantin harus dia lalui bagaikan dalam malam

siksaan, malam perkosaan, dia merasa bagaikan sedang

dinodai orang, diperkosa orang lain, siksaan batin tersebut

selalu tersimpan dalam lubuk hatinya hingga detik ini.

Dia tidak menjadi gila sudah merupakan satu mukjizat,

bayangkan saja, perempuan mana yang bisa hidup tenteram

dalam suasana seperti ini.

Tidak heran kalau kini raut mukanya berubah menjadi

cepat tua. Meski penampilan mukanya hanya lebih tua sepuluh

tahun, namun perasaan hatinya sudah lama mati, mati

ketuaan.

Tidak seorang manusia pun yang memahami perasaan

hatinya, bahkan Jui Pakhay sendiripun sama sekali tidak tahu.

Selama ini dia selalu menunjukkan sikap seakan dia amat

mencintai Gi Tiok-kun, selalu berusaha dan berupaya untuk

43

merebut hati perempuan itu, berusaha membuatnya senang,

gembira…..

Sayang dua hari ini sikapnya agak berubah, selama dua

hari ini dia sama sekali tidak berselera untuk melakukan

kebiasaan itu, dia sama sekali tidak punya semangat untuk

melakukannya.

Kehadiran Laron penghisap darah telah membuat

pikirannya kalut, membuat perasaan hatinya kacau balau.

Mengapa Laron penghisap darah selalu menampakkan diri

dihadapannya? Apakah Raja Laron telah jatuhkan pilihannya

terhadapnya?

Laron yang muncul pada malam tanggal satu bulan tiga,

apakah dia adalah utusan dari Raja Laron? Apakah Laron

penghisap darah itu adalah utusan khususnya?

Mengapa si Raja Laron justru jatuhkan pilihannya terhadap

dia?

Bila seandainya kawanan Laron penghisap darah datang

menghisap darahnya, apa yang harus dia lakukan? Tindakan

apa yang harus dia ambil?

Setiap hari setiap waktu dia selalu memikirkan persoalan

itu, tidak terkecuali pada saat sekarang.

Butiran air hujan sudah lama berhenti menetes, namun air

masih mengalir dari luar jendela, butir air berkilauan ketika

tertimpa cahaya lentera, sekilas lewat kemudian lenyap dari

pandangan mata.

Dengan pikiran kusut Jui Pakhay mengawasi butiran air

diluar jendela, pikiran dan perasaan harinya kusut sekusut

tumpukan jerami, tiba tiba cahaya lentera meredup lalu mati,

kegelapan segera mencekam seluruh ruangan.

Bagaikan burung yang takut dengan anak panah, Jui

Pakhay segera melompat bangun sambil memutar badannya

44

secepat kilat, sorot matanya segera ditujukan ke atas lentera

perak diatas meja kecil, tidak jauh dihadapannya sana.

Diatas penutup lentera perak itu bertengger empat ekor

Laron penghisap darah, satu disisi kiri, satu di kanan, satu

diatas dan satu lagi di bawah, persis membentuk tanda salib.

Empat ekor Laron penghisap darah dengan empat pasang

mata pada sayapnya yang berwarna merah darah, seakan

akan sedang mengawasi Jui Pakhay tanpa berkedip,

mengawasinya dibawah sorot cahaya yang redup……

Tidak diketahui mereka datang dari mana, juga tidak

terdengar suara sayap mereka sewaktu terbang memasuki

ruangan itu, cahaya lentera hanya terasa redup bagaikan

padam secara tiba-tiba lalu mereka telah muncul disana,

muncul bagaikan kehadiran setan iblis.

Sepasang mata Jui Pakhay terbelalak semakin lebar,

diawasinya ke empat ekor Laron penghisap darah itu tanpa

berkedip, kulit, otot dan daging wajahnya mulai mengejang

keras lalu berdenyut tiada hentinya.

Tangan kanannya sudah menggenggam kencang pedang

Jit seng coat mia kiam, peluh dingin membasahi seluruh

jidatnya.

Biarpun senjatanya belum diloloskan, meskipun serangan

belum dilancarkan, namun hawa pembunuhan telah

menyelimuti seluruh udara.

Ke empat ekor Laron penghisap darah itu seolah belum

merasakan datangnya ancaman, mereka tidak bergerak, pun

tidak menunjukkan reaksi apapun.

Justru yang dibuat terkejut oleh ulah dan tingkah laku Jui

Pakhay adalah Gi Tiok-kun.

Sebenarnya dia sedang duduk terpekur disampingnya,

duduk sambil menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak

memperhatikan Jui Pakhay, maka ketika suaminya melompat

45

bangun secara tiba-tiba, bangku tempat duduk itu ikut dipukul

balik oleh ulahnya.

“Blaaam!” ditengah keheningan yang mencekam, suara itu

kedengaran amat nyaring dan memekikkan telinga.

Dengan perasaan terkesiap dia mendongakkan kepalanya,

dengan cepat perempuan itu telah menyaksikan raut muka Jui

Pakhay yang dicekam rasa takut, selembar wajah yang begitu

ketakutan dan penuh diliputi rasa gelisah bercampur ngeri.

“Apa yang terjadi?” tanpa terasa dia menegur.

“Laron!” bisik Jui Pakhay dengan suara gemetar.

“Apa? Laron apa?” Gi Tiok-kun keheranan.

“Laron penghisap darah!”

“Laron penghisap darah?” Gi Tiok-kun semakin keheranan.

Dia belum pernah mendengar judulan itu, belum pernah tahu

makhluk apakah itu.

“Yaa, empat ekor Laron penghisap darah!” ulang Jui

Pakhay dengan nada parau.

“Di mana?”

“Itu, diatas penutup lentera!” seru Jui Pakhay sambil

menuding ke depan.

Gi Tiok-kun segera menoleh dan memandang ke arah mana

yang ditunjuk.

Tadi dia duduk persis dibawah lentera perak itu, sama

sekali tidak merasa kalau diatas penutup lentera itu sudah

bertengger empat ekor Laron penghisap darah, ketika cahaya

lentera jadi redup tadi, dia pun seakan tidak merasakan

kehadiran makhluk-makhluk itu.

Kini, sorot matanya telah dialihkan ke atas penutup lentera

itu, perasaan tercengang, keheranan dan tidak habis mengerti

terlintas diwajahnya.

46

Hanya perasaan keheranan, sama sekali tidak terbias rasa

takut, atau ngeri atau seram.

Dengan keheranan dia berpaling lagi memandang wajah Jui

Pakhay, kemudian serunya:

“Empat ekor Laron penghisap darah yang bertengger di

penutup lentera? Mana? Kenapa aku tidak melihatnya?”

Jui Pakhay tertegun, dia tidak sanggup menjawab,

sepasang matanya terbelalak semakin lebar.

Dengan sangat jelas dan nyata dia saksikan ada empat

ekor Laron penghisap darah, bahkan sekarang pun masih

bertengger diatas penutup lentera itu.

Kenapa Gi Tiok-kun tidak melihatnya? Jangan-jangan

sewaktu dia berpaling tadi, ke empat ekor Laron penghisap

darah itu sudah menyembunyikan diri?

Dia membelalakkan matanya semakin lebar, serunya

gelisah:

“Coba perhatikan lagi dengan seksama”

Gi Tiok-kun mengiakan seraya berpaling, kali ini dia sama

seperti Jui Pakhay, membelalakkan sepasang matanya lebarlebar.

Biarpun ukuran badan ke empat ekor Laron penghisap

darah itu lebih kecil dari lalat pun, sekarang, seharusnya

sudah tidak bisa lolos dari pengamatan matanya.

Dia memeriksa dengan lebih seksama lagi, namun akhirnya

tetap menggeleng, ternyata perempuan itu tetap tidak

menyaksikan sesuatu apa pun.

“Sudah kau lihat?” tidak tahan Jui Pakhay bertanya.

“Belum” Gi Tiok-kun menggeleng.

“Tapi…. aku melihat dengan jelas, ada empat ekor Laron

penghisap darah!”

47

“Haai, tapi aku tidak melihatnya, walau hanya seekor pun”

sahut Gi Tiok-kun sambil menghela napas panjang.

Dia tidak mirip lagi berbohong, atau jangan-jangan

pandangan mata sendiri yang telah kabur?

Sambil mengucak matanya berulang kali kembali Jui Pakhay

berpaling mengawasi penutup lentera itu.

Bab 4.

Gerombolan Laron muncul kembali.

Bulan tiga tanggal tujuh, guguran bunga beterbangan di

kebun sebelah timur, kabut pun ikut beterbangan.

Padahal bukan kabut yang beterbangan tapi air hujan.

Air hujan dimusim semi lembut bagaikan serat, kabut tipis

menyelimuti seluruh halaman, Jui Pakhay berada pula dalam

halaman itu.

Biarpun kerutan alis matanya masih terbesit perasaan ngeri

dan ketakutan yang dialaminya semalam, namun perasaan

hatinya sudah tidak seberat semalam, karena secara rahasia

dia telah menulis sepucuk surat, secara rahasia mengutus Jui

Gi untuk menyampaikannya kepada Siang Huhoa.

Sepucuk surat permintaan tolong. Secara ringkas dia telah

menceritakan situasi yang sedang dihadapinya sekarang,

menyampaikan juga betapa butuhnya dia akan perlindungan

dari Siang Huhoa.

Dia tidak menulis surat kepada orang lain, surat semacam

ini hanya diberikan untuk Siang Huhoa seorang.

Hal ini bukan hanya lantaran kepandaian silat yang dimiliki

Siang Huhoa sangat hebat, hal inipun disebabkan meski Siang

Huhoa adalah seorang penyamun, namun dia adalah seorang

48

penyamun budiman, seorang pendekar pedang sejati yang

menjunjung tinggi kebenaran dan kesetia-kawanan.

Sekalipun di dunia ini benar-benar terdapat setan iblis atau

siluman jelmaan, dia yakin kawanan siluman itu tidak nanti

berani mengusik seorang pendekar pedang sejati.

Dia hanya berharap Siang Huhoa bisa datang tepat pada

waktunya, dia sama sekali tidak perlu kuatir bila Siang Huhoa

tak mau datang.

Dia sama sekali tidak lupa kalau mereka sudah bukan

sahabat lagi, juga belum pernah lupa kalau sewaktu mereka

masih bersahabat dulu, dia pernah menyelamatkan selembar

nyawa Siang Huhoa.

Siang Huhoa bukan orang yang melupakan budi. Tentang

hal ini dia jauh lebih jelas dari siapa pun.

Bila Siang Huhoa memang bukan orang yang suka

melupakan budi, bagaimana mungkin dia tidak akan datang

untuk membalas budinya?

Sayang seluruh mental dan kekuatan tubuhnya sudah

rontok, sudah hancur berantakan, dia memang tidak bisa

menjumpai orang ke dua lainnya yang bisa dimintai

pertolongan.

Hujan rintik di musim semi masih turun dengan tiada

hentinya, ketika angin berhembus lewat, berpuluh puluh

kuntum bunga jatuh berguguran, bunga yang berguguran

sekilas tampak bagaikan hujan, bagaikan kabut tipis yang

menyelimuti udara.

Mengawasi bunga-bunga yang berguguran, tiba tiba Jui

Pakhay merasa amat sedih, perasaan hatinya amat pedih.

Tanpa terasa dia mengambil sekuntum bunga yang rontok.

Diatas putik bunga berwarna putih itu ternyata muncul titik

warna merah, merah darah.

49

Jui Pakhay agak tertegun, belum sempat ingatan ke dua

melintas lewat, tiba tiba ujung jari tengahnya terasa amat

sakit, sakit sekali, sakit karena tertusuk oleh sebuah benda

yang sangat tajam.

Dari balik titik cahaya merah darah diujung putik bunga itu

tiba-tiba sudah muncul sebatang jarum tajam berwarna merah

darah, sementara putik bunga berwarna putih itu tahu-tahu

sudah berubah jadi hijau bening!

Laron penghisap darah!!

Seekor Laron penghisap darah ternyata sedang berdiam diri

diatas putik bunga berwarna putih itu, ketika Jui Pakhay

mengambil bunga itu, Laron penghisap darah pun

menusukkan tabung hisapnya yang tajam, langsung ke ujung

jari tengahnya.

Jui Pakhay terkesiap, buru buru dia ayunkan tangannya

kuat-kuat, membanting kuntum bunga yang berada dalam

genggamannya itu ke atas tanah.

Belum lagi kuntum bunga itu mencapai permukaan tanah,

Laron penghisap darah tersebut sudah melejit dan sang bunga

dan terbang ke udara.

Hanya didalam waktu singkat makhluk itu sudah terbang ke

angkasa dan lenyap dari pandangan mata.

Jui Pakhay segera menghembuskan napas lega……… tapi

sayang hembusan napas leganya kelewat awal dilakukan.

Angin masih berhembus kencang, bunga masih terus

berguguran ke tanah, dalam waktu Hekejap diatas bunga yang

berguguran itu kembali muncul setitik warna merah, merah d

irah.

Dari setiap kuntum bunga yang berguguran itu segera

bermunculan titik warna merah darah, setitik merah darah

yang berubah menjadi seekor Laron penghisap darah.

50

Berapa banyak bunga yang berguguran disitu? Dan berapa

banyak Laron penghisap darah yang hinggap diatasnya?

Menyaksikan kesemuanya itu Jui Pakhay mulai merasakan

jantungnya berdebar keras, hatinya seakan menyusut kecil,

tubuhnya mundur sempoyongan dan mulai menggigil keras

bagaikan orang kedinginan.

Setelah mundur sejauh berapa kaki, pedang Jit seng toh

hun kiam nya segera diloloskan dan digetarkan ditengah udara

hingga tegak kaku.

Kawanan Laron penghisap darah itu serentak terbang

meninggalkan guguran bunga-bungaan, lalu sambil

memuntahkan jarum tajam penghisap darahnya mereka

menyerang tubuh Jui Pakhay habis-habisan.

Rontokan bunga berwarna hijau pucat ditambah sayap

Laron berwarna hijau muda dan lidah mata berwarna merah

darah, membentuk serangka! lukisan yang sangat aneh dibalik

hujan berkabut itu.

Dalam keadaan begini, Jui Pakhay tidak berminat untuk

menikmati keanehan alam itu, sambil membentak gusar

kembali pedang Jit seng toh hun kiam nya melancarkan

selapis hujan pedang yang menyelimuti angkasa.

“Sreeet, sreet, sreet!” air hujan terbelah oleh babatan

cahaya pedang, guguran bunga hancur berkeping terhajar

angin tajam.

Yang nampak hanya air hujan, hanya guguran bunga yang

hancur, sementara puluhan ekor Laron penghisap darah itu

tidak satupun yang terhajar hingga rontok ke tanah, hampir

semuanya hilang lenyap dengan begitu saja.

Dalam waktu sekejap puluhan ekor Laron penghisap darah

itu seakan selapis kabut yang tipis, buyar, hilang dengan

begitu saja, seakan menguap ke angkasa,

51

Jui Pakhay sadar, lenyapnya kawanan Laron penghisap

darah itu bukan karena kepandaiannya, dia sadar kemampuan

yang dimiliki masih belum mencapai taraf sehebat itu, dia pun

tahu puluhan ekor Laron penghisap darah itu lagi-lagi hilang

lenyap seakan musnahnya setan iblis.

Menghadapi musuh tangguh semacam ini, dia benar-benar

dibuat kehabisan akal, dia merasa tidak tahu bagaimana harus

berbuat

Sambil melintangkan pedangnya di depan dada, dia berdiri

kaku ditempat, otot dan kulit badannya mengejang kencang,

dalam kelopak matanya meski tak ada air mata, namun serasa

ada gerakan yang membuat dia pingin melelehkan air mata.

Meskipun surat permintaan tolong telah dikirim, paling

cepat pun butuh enam hari untuk tiba di perkampungan

selaksa bunga, seandainya Siang Huhoa langsung berangkat

sehabis membaca surat itu, paling tidak dia baru bisa tiba di

perpustakaan Ci-po-cay pada tanggal delapan belas bulan tiga.

Itu berarti hati yang ditentukan kawanan Laron penghisap

darah itu untuk mulai melancarkan pembunuhan!

Bila Raja Laron sudah menampakkan diri, berarti kawanan

Laron penghisap darah itu akan mulai menyerang secara

serentak, mereka akan menggunakan badannya sebagai

sasaran penusukan jarum jarum penghisap darahnya, lalu

menggunakan cairan darah di dalam tubuhnya sebagai bahan

konsumsi.

Konon Raja Laron selalu akan muncul disaat bulan sedang

purnama, malam bulan purnama berarti malam tanggal lima

belas

Bila dongeng yang selama ini tersiar merupakan kenyataan,

berarti ketika Siang Huhoa tiba disana, kehadirannya sudah

terlambat tiga hari, seandainya kawanan Laron penghisap

darah itu benar-benar akan menghisap darahnya, waktu itu

52

dia sudah tinggal sesosok mumi, sesosok mayat yang telah

mengering.

0-0-0

Bulan tiga tanggal delapan, malam itu kawanan Laron

penghisap darah kembali munculkan diri.

Satu rombongan besar Laron penghisap darah, jumlahnya

satu kali lipat lebih banyak ketimbang jumlah yang muncul

pada malam sebelumnya, kawanan Laron itu mengelilingi

cahaya lentera dan menari-nari kian kemari

Jui Pakhay sama sekali tidak menggubris, juga tidak

mengusik, ketika kawanan Laron penghisap darah itu sudah

beterbangan selama seperminum teh lamanya, bagaikan

bayangan setan, lagi-lagi hilang lenyap tidak berbekas.

0-0-0

Bulan tiga tanggal sembilan, malam itu ketika Jui Pakhay

pulang dari bepergian, dia pulang dengan wajah yang muram.

Hari ini sudah berapa kali dia ceritakan kisah Laron

penghisap darah itu kepada sebelas orang sahabatnya.

Diantara ke sebelas orang sahabatnya itu ada yang sebagai

piausu, ada pedagang bahkan ada pula penjual obat keliling.

Tempat ini merupakan tempat yang dipenuhi dengan

pejabat-pejabat tinggi, Komandan opas Nyoo Sin termasuk

salah satu orang yang mengetahui kisah horor yang

dialaminya.

Sebagian besar orang orang itu merupakan orang yang

sudah cukup lama hidup menjelajahi seluruh kolong langit,

pengetahuan mereka sangat luas, Jui Pakhay sengaja

memberitahukan kejadian ini kepada mereka, tujuannya tidak

lain adalah berharap agar mereka bisa mengusulkan

kepadanya untuk menghubungi seseorang yang sanggup

menghadapi kejadian seperti ini, bahkan kalau mungkin

53

sebuah cara yang ampuh untuk membasmi serangan horor

dari kawanan Laron penghisap darah itu.

Tapi alhasil dia merasa sangat kecewa, malahan dia merasa

sedikit menyesal.

Kawanan orang-orang itu bukan saja tidak mempercayai

apa yang dia katakan, malah dianggapnya dia sedang

bergurau, hanya ada dua orang di antaranya yang terkecuali.

Ke dua orang ini menganggap otaknya sudah miring, ada

penyakitnya sehingga berpikiran yung bukan-bukan, Jui

Pakhay sama sekali tidak membantah ataupun berdebat, dia

hanya tertawa getir.

Sebab sejak awal dia sudah menduga, kemungkinan besar

akan peroleh hasil seperti ini.

Seandainya peristiwa Laron penghisap darah bukan

menimpa dirinya, dia pun sama seperti rekan-rekan lainnya,

tidak bakal percaya kalau ada kejadian seperti ini.

Sejak tanggal enam malam, dia sudah tidak berani lagi

tidur bersama Gi Tiok-kun.

Selama dua malam sebelumnya, dia selalu tidur seorang

diri di dalam perpustakaan bukunya.

Malam ini pun ada rembulan yang bersinar di angkasa.

Jui Pakhay berdiri seorang diri di depan jendela, mengawasi

cahaya rembulan yang bening bersih, timbul perasaan sedih

dan murung yang amat sangat di dalam hatinya.

Tiba tiba dia merasa sangat kesepian, merasa dirinya hidup

seorang diri, sebatang kara.

“Sreet, sreet, sreet” tiba-tiba bergema suara gemerisik dari

belakang tubuhnya, suara semacam ini sudah tidak terlalu

asing lagi baginya.

54

Setiap kali Laron penghisap darah itu munculkan diri,

mereka selalu muncul dengan membawa suara desiran tajam

semacam ini.

Suara itu muncul dari kebasan sayap kawanan Laron

penghisap darah itu, dengan satu kecepatan luar biasa dia

berpaling.

Tapi sepanjang mata memandang hanya kegelapan yang

menyelimuti seluruh ruangan, rupanya ketika memasuki ruang

perpustakaan dengan perasaan masgul tadi, dia lupa menyulut

api lentera.

Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh ruangan, tiba

tiba tampak berpuluh puluh bintik cahaya redup berwarna

hijau muda, cahaya api yang berkedip kedip persis seperti api

setan yang sedang gentayangan.

Dibalik setiap cahaya berwarna hijau itu tampak pula setitik

cahaya berwarna merah, walaupun titik cahaya itu kecil dan

lembut namun justru amat terang dan mencolong, cahaya

darah yang menakutkan!

Berpuluh-puluh titik cahaya hijau bercampur merah darah

itu beterbangan di udara bagaikan berpuluh pasang mata

setan yang sedang mengintai dan mengawasinya dari balik

kegelapan.

Laron penghisap darah!!

Jui Pakhay mulai menjerit di dalam hati, namun

tenggorokannya seolah telah tersumbat oleh sesuatu, suara

jeritannya sama sekali tidak bisa muncul keluar.

Mendadak ia membalikkan badannya lalu menerjang masuk

ke balik kegelapan!

Dia sudah hapal dengan setiap seluk beluk di dalam

Perpustakaan bukunya, karena itu dia bisa langsung

menerjang ke depan meja tulis, dia masih ingat, diatas meja

itu terletak sebuah lentera.

55

Jui Pakhay segera mengayunkan tangan kirinya, “PlaakF

cahaya api berkelebat lewat, tahu tahu dia sudah menyulut

sebuah korek api dan menyulut lampu lentera yang berada di

atas meja.

Seketika itu juga cahaya lentera yang redup mengusir

kegelapan yang mencekam ruangan itu.

Bersamaan dengan munculnya cahaya lentera, kerlipan

cahaya hijau kemerah-merahan itu hilang lenyap seketika,

bahkan suara desingan tajam dari sayap sayap itu pun ikut

lenyap tidak berbekas.

Tidak nampak seekor Laron penghisap darah pun di dalam

ruang baca Perpustakaan buku itu.

Ketika sinar hijau kemerah merahan itu sirna tertimpa

cahaya lentera, kawanan Laron penghisap darah itupun ikut

lenyap tidak berbekas! Sambil memegangi lentera untuk

menyinari sekeliling tempat itu, Jui Pakhay mulai bersumpah

serapah di dalam hati kecilnya.

0-0-0

Bulan tiga tanggal sepuluh, suasana amat hening, rembulan

bersinar lembut, angin berhembus sepoi.

Jui Pakhay berbaring seorang diri di dalam perpustakaan

bukunya, dia merasa lelah sekali, meski begitu dia belum

sampai tertidur pulas.

Dia paksakan diri untuk mementang sepasang matanya

lebar-lebar, tujuh buah cahaya api sebesar kepalan tangan

menyinari ruangan perpustakaan itu.

Tujuh buah lentera besar dengan tujuh buah lidah api yang

besar menerangi setiap sudut ruangan.

Separuh bagian dari lidah api itu terbenam didalam sebuah

tabung tembaga yang dipenuhi minyak, tabung tersebut

56

berada diatas sebuah meja kecil, sementara meja kecil itu

berada ditengah sebuah tempat yang ceper bentuknya.

Kuali ceper itu dipenuhi air, membuat meja kecil itu

terbenam didalam air, bahkan tabung tembaga itupun

setengah bagiannya terendam air.

Tujuh buah lidah api yang besar bersama-sama

memancarkan cahaya yang terang benderang, ketika terpantul

diatas permukaan air, membuat seluruh ruang perpustakaan

itu menjadi terang bagaikan disiang hari.

Jui Pakhay harus berpikir satu harian penuh sebelum

akhirnya berhasil menemukan jebakan tersebut.

Biasanya Laron akan mendekati cahaya api, maka bila ada

rombongan Laron yang menghampiri cahaya dan menari hari

disekelilingnya, jika penutup lentera diambil, otomatis Laron-

Laron itu akan menerjang langsung ke tengah jilatan api.

Bila kawanan Laron itu sampai menubruk ke atas jilatan

api, dapat dipastikan kawanan makhluk itu akan terbakar, bila

di bawah lentera diberi sebaskom air, tidak dapat disangkal

lagi binatang-binatang itu pasti akan mati semua.

Sementara kawanan Laron yang terluka akan segera

tercebur ke dalam air, bila sayapnya sudah basah maka

mereka tidak bakal mampu terbang tinggi lagi.

Kini, Jui Pakhay hanya berharap kebiasaan I aron

penghisap darah menghampiri cahaya api tidak berbeda

dengan keadaan pada umumnya.

Dia lebih berharap lagi jika api dapat memusnahkan

pengaruh sihir, dengan air pun bisa menenggelamkan sihir,

asal kawanan Laron penghisap darah itu sudah menubruk ke

dalam ipi lalu tercebur ke air maka mereka akan musnah dan

lenyap untuk selamanya.

Asal dia bisa mendapatkan satu saja bangkai Laron

penghisap darah, maka dia dapat menggunakannya untuk

57

membuktikan dihadapan teman-teman lainnya bahwa dia

bukan lagi berbohong.

Asal kecurigaan mereka bisa dihilangkan, dengan

sendirinya rekan-rekannya akan bersedia melakukan

penyelidikan, atau bahkan bergabung dengannya untuk

bersama-sama menghadapi kawanan Laron penghisap darah

itu.

Paling tidak dia tidak akan terpencil, tidak akan sendirian

seperti keadaannya saat ini.

Sekarang dia tidak tidur, berusaha dengan sekuat tenaga

untuk mempertahankan diri, dia ingin menunggu munculnya

kawanan Laron penghisap darah itu, menunggu kawanan

makhluk itu masuk perangkap dan bunuh diri.

Tiga kali suara kentungan bergema dari luar kamar,

ternyata waktu sudah menunjukkan kentongan ke tiga.

Jui Pakhay dengan menahan rasa kantuk yang luar biasa

berusaha memejamkan sejenak sepasang matanya, sementara

perasaan hatinya mulai gelisah, mulai tidak sabar.

Berbicara menurut pengalaman yang dirnilikinya di masa

lampau, bila kawanan Laron penghisap darah itu akan muncul

lagi pada malam ini, sudah seharusnya mereka muncul pada

saat ini.

Tapi anehnya, hingga sekarang kawanan Laron penghisap

darah itu belum juga menampakkan diri.

Benarkah kawanan makhluk itu sangat cerdas dan pandai

melihat gelagat sehingga tahu kalau disitu telah dipasang

sebuah perangkap maut?

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba Jui

Pakhay mulai mendengar suara desingan angin tajam.

Setiap kali Laron penghisap darah munculkan diri, dia pasti

akan mendengar suara aneh semacam ini.

58

Suara itu memang suara sayap Laron penghisap darah

ketika berkebas menembusi angkasa.

……………Apakah sudah datang?

Jui Pakhay segera merasakan semangatnya bangkit, dia

membuka sepasang matanya lebar-lebar.

Baru saja dia membuka matanya, tiba tiba dirasakan

kelopak matanya berat sekali bagaikan diberi beban besi

ribuan kati, beberapa kali dia ingin membuka matanya namun

tidak berhasil.

Terpaksa dia pejamkan matanya sambil mengatur

pernapasan, dia hanya pejamkan matanya tapi berusaha

untuk tidak tertidur. Aneh, sebenarnya apa yang telah terjadi?

Belum lama berselang dia masih segar bugar, mengapa

sekarang berubah jadi lemas tidak bertenaga?

Buru buru dia menggerakkan tangannya, mencoba untuk

meraba kelopak matanya, siapa tahu biarpun sudah dicoba

berapa kali ternyata tangannya sama sekali tidak sanggup

untuk digerakkan.

Dalam waktu sekejap mata, seluruh tenaga dalam yang

dirriiliknya seakan hilang lenyap tidak berbekas.

Tidak terlukiskan rasa kaget, ngeri dan takut yang

mencekam perasaan hatinya sekarang. Apa yang sebenarnya

telah terjadi?

Dia menjerit di dalam hati namun tenaga untuk berbicara

pun tidak punya, namun dia masih dapat merasakan, juga

masih bisa mendengarkan dengan sangat jelas.

“Sreet, sreett” suara desingan makin lama semakin jelas,

makin lama semakin bertambah nyaring.

Rupanya kawanan Laron penghisap darah itu mulai

beterbangan dalam ruang perpustakaan, mulai menari-nari

kian kemari.

59

Jui Pakhay merasa hatinya makin lama makin gelisah, dia

ingin sekali meronta untuk bangkit berdiri, mendadak

perasaan kantuk yang luar biasa hebatnya, sedemikian

hebatnya sehingga serasa tidak mampu dilawan, menyerang

dan mencekam seluruh tubuhnya.

Lambat laun pikirannya mulai kabur, bahkan perasaan nya

pun lambat laun ikut lenyap tidak berbekas.

Entah berapa saat sudah lewat, mendadak Jui Pakhay

mendapatkan kembali semua kesadaran dan perasaannya.

Begitu kesadarannya pulih kembali, dia mulai mendengar

semacam suara, semacam suara yang sangat aneh, seakan

ada sesuatu benda sedang menjerit lengking, sedang merintih

penuh kesedihan.

Dia ingin sekali melihat berada dimanakah dirinya sekarang,

sudah berubah menjadi apakah dirinya? Sebab dia memang

sangat kuatir, kuatir sewaktu tidak sadar tadi kawanan Laron

penghisap darah itu sudah memindahkan tubuhnya keluar dan

perpustakaan, menghisap darahnya hingga mengering.

Masih untung semua kejadian yang telah dialaminya

sebelum tidak sadarkan diri tadi, dia masih teringat semuanya,

dia pun amat kuatir dapatkah sepasang matanya dibuka

kembali, dapatkah dia menggerakkan tubuhnya lagi.

Dia mencoba untuk membuka matanya, begitu

dipentangkan lebar dengan cepat dia memejamkan kembali

matanya.

Walau pun hanya membuka matanya sebentar, namun dia

menjumpai tubuhnya masih berada di dalam ruang

perpustakaan, paling tidak satu hal tidak perlu dikuatirkan lagi.

Biarpun dia sangsi apakah masih berada dalam

perpustakaan, walaupun masih ragu apakah perasaannya

sudah pulih kembali, asal Laron penghisap darah belum

60

menghisap kering darah dalam tubuhnya, dia percaya dia

masih dapat hidup terus.

Dia mencoba membuka matanya lagi, kali ini keadaannya

jauh lebih mendingan.

Menanti matanya sudah terbiasa dengan keadaan diseputar

sana, paras mukanya pun ikut berubah jadi sangat aneh.

Dia telah menyaksikan sebuah kejadian yang luar biasa

anehnya.

Dari tujuh buah lidah api yang membara di tabung tembaga

itu ada dua diantaranya sudah terjatuh ke dalam air dan

padam, kini tinggal lima buah lidah api yang masih membara.

Lima buah lidah api memancarkan cahaya yang amat

terang, membuat seluruh ruangan perpustakaan itu jadi

terang benderang bermandikan cahaya.

Dibawah pancaran sinar api, cahaya air sudah tidak

nampak sama sekali, sejauh mata memandang hanya selapis

cahaya hijau yang berkedip, seluruh permukaan air seakan

dilapisi oleh cahaya kemala berwarna hijau.

Diantara kerlipan cahaya kemala hijau terbesit setitik

cahaya lain, cahaya terang berwarna merah darah.

Lapisan hijau kemala itu bukan terbentuk dari sebuah

lapisan besar, tapi terbentuk karena gabungan dari lembaranlembaran

kecil, penggabungan itu tidak terlalu rapi, tidak

terlalu rapat satu dengan lainnya.

Ketika cahaya merah darah itu berkedip tiada hentinya,

lapisan-lapisan kecil dibawahnya pun ikut bergoncang,

bentuknya mirip sekali dengan lapisan sisik ikan.

Tentu saja Jui Pakhay tahu lapisan itu bukan lapisan sisik

ikan, dia telah menyaksikan dengan jelas sekali, sisik-sisik

bening itu tak lain adalah laron-laron penghisap darah yang

61

mengambang diatas permukaan air, titik cahaya merah darah

tidak lain adalah mata laron-laron itu.

Perangkap yang dipersiapkan ternyata mulai membuahkan

hasil, kawanan laron penghisap darah itu benar-benar

berkumpul begitu berjumpa dengan cahaya api.

Tujuh buah lidah api yang besar dan kasar nyaris telah

membakar dan melukai sayap kawanan laron penghisap darah

itu, membuat tubuh mereka tercebur ke dalam air dalam

baskom.

Tapi kejadian aneh yang berlangsung justru bukan

mengambangnya bangkai laron penghisap darah yang

memenuhi permukaan air.

Sorot mata Jui Pakhay yang keheranan bukan tertuju ke

atas kawanan laron penghisap darah diatas permukaan air,

sinar matanya justru terpaku oleh seekor laron penghisap

darah yang sedang terbang mengelilingi baskom air itu

Laron penghisap darah yang sama namun berbeda dalam

keindahan warnanya, bentuk badan laron penghisap darah ini

tiga-empat kali lipat lebih besar dari rekannya, sayap

ditubuhnya selebar telapak tangan, ketika dikebaskan maka

bergemalah suara dengungan yang keras bagaikan kipas yang

sedang diayunkan kuat-kuat, sayap itu dikebaskan disekeliling

lidah api sehingga membuat jilatan api itu bergoyang tiada

hentinya.

Laron penghisap darah itu tidak menerkam ke arah jilatan

api yang membara, dia hanya beterbangan naik turun

disekeliling api.

Setiap kali tubuhnya bergerak naik turun, maka ada seekor

laron penghisap darah yang tercengkeram dari permukaan air

kemudian diangkat dan diletakkan disisi baskom air itu.

62

Ternyata dia sedang memberi pertolongan kepada rekan

rekan laron penghisap darah yang terluka bakar dan tercebur

ke dalam air.

Sekeliling baskom sudah dibuat basah kuyup, sekitar duatiga

puluhan ekor laron penghisap darah yang terluka sedang

mengerang dan menggeliat disitu, menggeliat sembari

menggetarkan sayapnya

Jeritan lengking yang begitu aneh, desisan lirih yang begitu

mengibakan hati ternyata berasal dari kawanan laron

penghisap darah yang terapung diatas permukaan air dan

tergeletak disekeliling baskom itu.

Tatkala kesadarannya pulih kembali, otomatis ketajaman

pendengaran-nya pun semakin meningkat tajam, semua suara

itu terdengar semakin jelas dan nyata, membuat perasaan hati

Jui Pakhay semakin tercekat.

Ditatapnya laron penghisap darah yang luar biasa besarnya

itu tanpa berkedip.

Tampaknya upaya pertolongan yang dilakukan laron

penghisap darah raksasa itu sudah berlangsung cukup lama,

kemunculannya paling tidak disaat kawanan laron penghisap

darah lainnya mulai muncul disitu dan menerjang ke arah

jilatan api, kalau tidak kenapa tak ada lagi kawanan laron

penghisap darah yang menerkam api? Kenapa tiada lagi

kawanan laron penghisap darah yang tercebur ke air?

Begitu sibuknya laron penghisap darah raksasa itu bekerja

sehingga rupanya diapun tidak tahu kalau Jui Pakhay sudah

mendusin dan sedang menatapnya lekat-lekat, bahkan sudah

bersiap sedia melakukan tindak selanjutnya.

Waktu itu, Jui Pakhay memang sudah siap melakukan

langkah selanjutnya, tangannya mulai meraba dan

menggenggam kencang gagang pedangnya.

63

Jit seng coat mia kiam miliknya memang selalu berada

disisi tubuhnya, gagang pedang memang selalu menempel

diantara telapak tangannya.

Tatkala dia selesai menyiapkan perangkap maut itu,

pedang jit seng coat mia kiam juga telah dipersiapkan dan

diletakkan pada posisi yang paling strategis dan paling

gampang untuk digunakan.

Memang sejak awal dia sudah siap melancarkan serangan

maut.

Begitu tangannya mulai menggenggam gagang pedang, dia

pun mulai sadar kalau tenaga dalam miliknya sama sekali tidak

buyar, dia pun tidak merasakan rasa sakit dibagian tubuhnya

yang mana pun.

Lalu mengapa dia tidak sadarkan diri? Apa benar lantaran

dia kelewat lelah sehingga tidak sanggup membendung rasa

kantuk yang luar biasa ketika mulai menyerang tubuhnya tadi?

Jui Pakhay tidak sempat berpikir lebih jauh, dia memang

tidak punya waktu untuk berpikir ke situ, sekarang dia hanya

tahu memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya untuk

membantai laron penghisap darah raksasa itu.

Bila ditinjau dari bentuk dan sepak teriang laron penghisap

darah itu, kalau dia bukan raja laron penghisap darah, sudah

pasti merupakan pimpinan dari kawanan laron penghisap

darah yang datang menyerang

Asal pemimpinnya sudah dibantai, tidak terlalu sulit untuk

menghabisi anak buahnya, apalagi kecuali pemimpin laron

penghisap darah yang amat besar itu, sebagian besar

kawanan laron penghisap darah lainnya sudah terluka parah

atau mati atau tergeletak lemas ditepi baskom.

Tanpa pemimpin ditambah jumlah korban yang tewas dan

terluka sangat banyak, biarpun raja laron penghisap darah

64

datang untuk menuntut balas, setelah melihat keadaan seperti

ini, dia tentu akan mempertimbangkan kembali rencananya.

Itu berarti raja laron penghisap darah akan menunda saat

munculnya, tatkala rombongan besar laron penghisap darah

itu berdatangan untuk melancarkan serangan, dia percaya

Siang Huhoa tentu sudah tiba disana.

Maka dari itu, bila dia ingin menyelamatkan jiwa sendiri

maka mau tidak mau saat ini dia harus berusaha untuk

membunuh pentolan laron penghisap darah itu, harus dibantai

hingga mampus!

Gagang pedang segera digenggam semakin kencang, hawa

napsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajah Jui

Pakhay, dia sudah siap menyerang, siap melakukan

pembunuhan besar-besaran.

Dalam waktu singkat seluruh tubuh Jui Pakhay sudah

dilapisi oleh selapis kabut tipis yang berwarna putih. Cahaya

tentera dalam ruangan pun seakan ikut berubah jadi remang

karena lapisan kabut.

Tampaknya laron penghisap darah yang sangat besar itu

mulai merasakan datangnya hawa pembunuhan yang

menekan tubuhnya, tiba-tiba dia menghentikan semua

gerakannya kemudian sambil menggerakkan sayapnya dia

berbalik menerjang ke arah Jui Pakhay.

Dengan membalikkan tubuhnya, kini Jui Pakhay dapat

melihat bentuk laron penghisap darah itu dengan lebih jelas,

ternyata laron penghisap darah tersebut benar benar luar

biasa besarnya.

Tidak terlukiskan rasa kaget Jui Pakhay setelah melihat

kejadian ini, hatinya tercekat, jantungnya berdebar keras,

bukan saja bentuk tubuh serangga ini luar biasa besarnya,

sepasang matanya pun lebih besar daripada bentuk mata

manusia.

65

Sepasang mata laron penghisap darah itu merah membara,

jauh lebih merah dari kentalnya darah, begitu merah seperti

lidah api yang membara, selain mencolok juga amat

mengerikan dan menggidikkan hati.

Apalagi ketika sepasang mata Jui Pakhay saling bertatapan

dengan sorot mata serangga itu, rasa seram dan ngeri yang

mencekam perasaan hatinya semakin menjadi-jadi.

Namun kesemuanya itu hanya berlangsung dalam waktu

singkat, karena dengan cepat semua perasaannya itu telah

diambil alih oleh semacam perasaan yang lain.

Semacam perasaan yang tidak terlukiskan dengan kata,

bahkan termasuk Jui Pakhay sendiripun tidak dapat

menerangkan bagaimana macam perasaan hatinya saat itu.

Dia hanya merasakan sukmanya seakan sedang bergerak

meninggalkan tubuh kasarnya, dia merasa kesadaran otaknya

lambat laun makin memudar dan menghilang.

Pedang yang semula sudah digenggam kencang, sudah

siap melancarkan serangan mematikan, tahu tahu menjadi

lemas kembali bahkan tanpa sadar dia sudah mengendorkan

genggamannya.

Baru saja pedang itu terangkat setengah depa, tahu tahu

genggamannya sudah mengendor dan melepaskannya,

pedang itupun segera terjatuh ke atas kakinya.

Untung saja punggung pedang yang menjatuhi betisnya,

bukan mata pedang yang tajam sehingga sama sekali tidak

melukainya, walau begitu hawa pedang yang dingin bagaikan

es seakan jarum jarum tajam yang menusuk betisnya,

menusuk ke dalam syaraf dibalik tulang belulangnya hingga

menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Dengan tubuh merinding dia tersentak kaget dan sadar

kembali! Aaah, tampaknya sepasang mata serangga itu yang

membuat ulah!!

66

Dia segera tersadar kembali apa gerangan yang telah

terjadi, hatinya makin tercekat, makin merasa seram.

Apakah serangga itu akan menghisap darahnya? Apakah

sukmanya akan dibetot dan dilarikan?? Aaah tidak! Aku harus

pertahankan hidupku, aku harus mempompa dan

membangkitkan kembali semangat tempurku! Aku tidak boleh

terpengaruh lagi oleh kekuatan magic yang terpancar keluar

dari sepasang matanya….

Begitulah dia mencoba memperingatkan diri, memberitahu

diri sendiri, meskipun sepasang matanya masih saling

bertatapan dengan mata laron penghisap darah itu, namun

semangat tempurnya harus tetap teguh, seteguh batu karang,

syarafnya juga harus tetap mengeras bagai kawat baja.

Orang yang terbiasa berlatih pedang seringkali juga melatih

pikiran dan perasaannya, tidak terkecuali dirinya.

Kembali dia menggenggam pedang itu erat erat, sorot mata

yang memancar keluar pun kini lebih tajam dari mata

senjatanya

Kelihatannya laron penghisap darah yang amat besar itu

mulai sadar kalau Jui Pakhay telah memperoleh kembali

kesadaran otaknya, serangga itupun mulai sadar kalau

pengaruh matanya sudah tidak mampu mempengaruhi pikiran

lawan, tiba tiba sepasang matanya yang berwarna merah

darah itu mulai meredup dan samar.

Tidak selang berapa saat kemudian dia sudah

menggerakkan sayapnya dan terbang menuju ke sisi jendela.

Apakah dia sudah menyadari datangnya mara bahaya dan

sekarang bersiap untuk melarikan diri?

Pada saat yang bersamaan, Jui Pakhay telah meluncur ke

depan langsung menerjang ke arah jendela.

“Nguung…….1” pedang jit seng coat mia kiam telah

digetarkan hingga menegang kencang, tubuh berpadu dengan

67

pedang segera berubah menjadi sekilas cahaya bianglala dan

langsung menerjang ke tubuh laron penghisap darah itu.

Belum lagi ujung pedang mengenai sasaran, hawa pedang

yang terpancar keluar telah menderu-deru hingga

memadamkan dua lidah api yang masih menyala.

Bersamaan dengan meredupnya suasana dalam

perpustakaan buku itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan

seseorang yang amat keras, suara itu jelas bukan suara jeritan

dari Jui Pakhay.

Suara jeritan itu tinggi melengking dan merdu, jelas suara

seorang wanita! Tapi, darimana munculnya perempuan itu?

Di dalam ruangan perpustakaan itu hanya ada seorang pria,

dia adalah Jui Pakhay.

Suara jeritan wanita itu ternyata berasal dari mulut laron

penghisap darah yang maha besar itu.

Bersamaan dengan bergemanya jeritan lengking itu, laron

penghisap darah yang maha besar itu pun bagaikan setan

yang tembus pandang, seluruh tubuhnya mendadak berubah

bening lalu menerobos dari daun jendela dan lenyap di luar

ruangan sana.

Tusukan maut yang dilancarkan Jui Pakhay pun mengenai

sasaran kosong, tubuhnya tahu tahu sudah berdiri disisi

baskom besar berisi air itu.

Cahaya api menyinari tubuhnya, juga menyinari pedang

dalam genggamannya!

Diujung pedang itu nampak ada cahaya darah, Jui Pakhay

coba mendekatkan pedangnya ke depan mata.

Ternyata benar, memang noda darah, setitik noda darah

sebesar kacang kedele yang membasahi ujung pedang itu.

68

Dengan jari tangannya dia mencoba untuk meraba cairan

tersebut, memang darah! Terasa cairan itu masih hangat dan

sedikit kental, darah yang masih segar!

Biarpun ujung pedang itu mengenai tempat yang kosong,

namun semuanya itu terjadi disaat laron penghisap darah itu

belum sempat lenyap dari pandangan mata

Mungkinkah tusukan kilatnya berhasil mengenai tubuh

laron penghisap darah raksasa itu?

Benarkah cairan darah yang menodai ujung pedangnya

sekarang adalah darah dari tubuh laron penghisap darah

tersebut?

Tapi anehnya, mengapa darah laron berwarna merah?

Kenapa darah laron terasa hangat seperti darah manusia?

Atau….. jangan-jangan laron penghisap darah itu benarbenar

adalah jelmaan dari siluman laron? Kalau semuanya

merupakan kenyataan, sudah pasti siluman itu adalah siluman

laron perempuan!

Bukankah suara jeritan yang terdengar tadi berasal dari

suara seorang wanita?

Dengan pandangan terkesima dan ketakutan, Jui Pakhay

berdiri termangu disisi baskom air, memandang darah yang

menodai jari tangannya sekarang, perasaan ngeri bercampur

seram menghiasi seluruh mimik mukanya.

Tanpa sadar dia tundukkan kepalanya sambil menengok,

namun perasaan hatinya makin membeku, darahnya semakin

dingin, begitu dingin dan membeku bagaikan gumpalan salju

abadi.

Sebaskom laron terluka yang menggelepar diatas

permukaan air, membiaskan cahaya hijau bening yang

mencolok mata, bagai sisik ikan yang menggelepar, kawanan

serangga itu masih meronta, masih berjuang untuk

mempertahankan hidupnya.

69

Sementara suara aneh yang mirip rintihan, bergema makin

keras dan nyaring, membuat suasana disekitar situ bukan

Cuma menyeramkan, bahkan sangat menggidikkan hati.

Jui Pakhay merasa dirinya seakan-akan sudah terperosok

ke dalam neraka jahanam, terperosok dalam suasa seram

yang mencekat hati.

Kembali dia menyapu sekeliling tempat itu sekejap, tibatiba

pandangan matanya terhenti lagi diatas lantai persis

dimuka jendela, lagi-lagi ditemukan bercak darah segar.

Jui Pakhay menarik napas panjang, tubuhnya segera

melambung lalu menerobos keluar melalui daun jendela.

Angin malam berhembus kencang diluar jendela sana,

rembulan masih tergantung di awang-awang, rembulan yang

bersinar terang dan angin yang menderu-deru.

Ketika Jui Pakhay melompat keluar dari jendela, kebetulan

rembulan sedang bersembunyi dibalik awan, hal ini membuat

suasana diseputar halaman terasa redup dan gelap, angin

musim semi yang semula terasa hangat, tahu tahu berubah

jadi dingin dan menusuk tulang.

Cahaya lentera yang memancar keluar dari balik ruang

perpustakaan masih cukup menerangi sekeliling bangunan,

membuat keadaan diseputar sana masih terlihat cukup jelas.

Kembali dijumpai bercak darah diatas lantai, ini

membuktikan tusukan yang dilepaskan Jui Pakhay tadi cukup

hebat.

Biarpun siluman laron itu sudah hilang lenyap tidak

berbekas, lenyap bagaikan setan iblis, namun cairan darah

yang meleleh keluar dari mulut lukanya tidak urung

membocorkan juga jejaknya yang misterius.

Asal mengikuti bercak darah yang menodai sepanjang

jalan, tidak sulit bagi kita untuk menemukan tempat

persembunyiannya.

70

Namun sayang Jui Pakhay sudah tidak sanggup lagi untuk

memandang lebih jauh ke depan, karena waktu itu cahaya

rembulan telah bersembunyi dibalik awan, seluruh halaman

dicekam dalam kegelapan yang mengerikan.

Tiba-tiba dia membalikkan badan lalu menerjang masuk

lagi ke dalam ruangan, dalam kamar ada lentera, dia bersiap

mengambil lentera untuk kemudian melanjutkan lagi

pengejarannya.

Tapi begitu tubuhnya melayang turun, kembali jagoan ini

berdiri tertegun.

Baskom berisi air masih tetap seperti sediakala, lidah api

dalam tabung tembaga juga masih membara seperti semula,

namun kawanan laron penghisap darah yang terluka dan

semula tergeletak disekeliling baskon, kini sudah hilang lenyap

tidak berbekas, seekor pun tidak nampak.

Bukan begitu saja bahkan sekawanan laron penghisap

darah yang semula masih mengapung diatas permukaan air

pun kini juga ikut lenyap.

Padahal serangga-serangga itu dalam keadaan terluka,

mustahil mereka bisa menggerakkan lagi sayapnya, aneh,

mengapa mereka dapat pergi meninggalkan tempat ini?

Terbang? Jelas tidak mungkin, atau pergi dengan merangkak?

Dengan sebuah lompatan kilat Jui Pakhay mendekati

baskom berisi air itu, lalu sambil pentangkan matanya lebarlebar

dia periksa seputar tempat itu.

Meski sudah ada empat buah lidah api yang padam dalam

tabung tembaga itu, namun masih ada tiga yang hidup dan

tetap membakar, cahaya yang terpancar keluar pun sangat

terang, membuat dia dapat melihat seputar sana dengan

sangat jelas.

71

Tidak salah, disana memang tidak ada seekor laron pun,

namun air bersih yang semula memenuhi baskom itu, kini

telah berubah jadi air darah!

Jangan-jangan bangkai dari kawanan laron penghisap

darah itu sudah hancur dan berubah jadi air darah? Dengan

perasaan penuh tanda tanya, jagoan itu mencoba

mencelupkan ujung pedangnya ke dalam air darah.

Belum sempat ujung pedang menyentuh permukaan air,

mendadak air darah dalam baskom itu hilang lenyap. Yang

lenyap hanya darah, bukan airnya.

Baskom itu masih dipenuhi dengan air, air bersih. Jui

Pakhay segera mengurungkan niatnya untuk mencelupkan

ujung pedang ke dalam air.

Dengan sigap dia berpaling ke arah jendela, namun bercak

darah yang semula menodai permukaan lantai, kinipun hilang

lenyap tidak berbekas, seakan sudah meresap ke dasar tanah.

Dengan perasaan tercekat dia periksa tangan sendiri, ujung

jarinya sempat memegang noda darah itu bahkan masih dapat

merasakan hangatnya darah, tapi….. ternyata diujung jaripun

tidak nampak ada noda darah, jangan jangan semua yang

dialami hanya ilusi? Hanya khayalan? Atau darah itu memang

benar-benar darah iblis?

Jui Pakhay tidak tahu. Peristiwa aneh ini benar-benar

membuatnya tidak habis mengerti dan tidak percaya, namun

mau tidak mau dia harus mempercayainya juga

Sebenarnya air bersih? Atau air darah?

Bab 5.

Sakit hati dan Obat hati.

Kalau dia sendiripun tidak percaya, biar diceritakan kepada

orang pun ada siapa yang mau mempercayainya?

72

Dia tertawa getir, yaa! Dia memang hanya bisa tertawa

getir.

0-0-0

Bulan tiga tanggal sebelas. Fajar. Angin timur kembali

berhembus kencang, guguran bebungahan rontok bagaikan

hujan gerimis.

Jui Pakhay berdiri termangu ditengah guguran bunga. Dia

berdiri kaku ditengah serambi panjang.

Tidak sedikit guguran bunga yang terbawa masuk ke dalam

serambi oleh hembusan angin timur, namun dia tidak

memungutnya, menggubris pun tidak

Dia kuatir dibalik guguran bunga itu hinggap seekor laron

penghisap darah, dia takut sewaktu dia pungut bunga

tersebut, sang laron akan menusuk tangannya dan menghisap

darahnya.

Mengawasi guguran bunga yang berserakan ditanah,

perasaan hatinya amat masgul, sedikitpun tak terlintas

keriangan musim semi.

Dia tidak merasakan apa-apa, dia tidak punya perasaaan

apa pun. Sorot matanya mendelong seperti orang bodoh,

hatinya sudah kaku, sudah membeku, sedikitpun tak ada

perasaan apapun.

Rasa takut yang mencekam, teror horor yang berulang,

rasa mengantuk, kurang tidur, harus dialami belasan hari

secara beruntun, dalam situasi dan kondisi seperti ini,

bagaimana mungkin ia dapat mempertahankan diri? Tidak

menjadi gila pun sudah sangat beruntung.

Bahkan dia sama sekali tidak merasa kalau Gi Tiok-kun

telah berjalan mendekatinya.

Kelihatannya Gi Tiok-kun sendiripun tidak menyangka akan

berjumpa dengan Jui Pakhay di serambi tersebut pada saat

73

sperti ini, padahal serambi itu letaknya sangat jauh dari

Perpustakaan buku.

Serambi tersebut selain penuh dengan kelokan dan

tikungan, Jui Pakhay juga bukan berdiri ditengah jalan, diapun

sama sekali tidak menimbulkan suara apa pun, menanti dia

bertemu dengan suaminya, untuk menghindar sudah tidak

sempat lagi.

Begitu melihat kehadiran suaminya, paras muka perempuan

itu segera menunjukkan perasaan kaget bercampur ngeri,

cepat badannya menyusut dan berusaha untuk

menghindarkan diri dari pertemuan itu.

Sayang walaupun Jui Pakhay tidak melihat bayangan

tubuhnya, namun suara langkah kakinya yang nyaring sudah

cukup menarik perhatian suaminya.

Pelan-pelan Jui Pakhay berpaling, namun ketika sorot

matanya yang kaku dan mendelong itu bertemu dengan tubuh

Gi Tiok-kun, mendadak dia gemetar keras kelopak matanya

seketika menyusut kencang.

“Laron………….”

Baru mengucapkan sepatah kata, dia segera menghentikan

teriakannya di tengah jalan.

Hari ini Gi Tiok-kun mengenakan pakaian berwarna hijau

pupus, hijau bagaikan warna kemala, persis seperti warna

tubuh sang laron, warna sayap dari laron.

Keadaan Jui Pakhay saat itu tidak ubahnya seperti sang

burung yang takut melihat busur, baru menjumpai warna

semacam itu dia sudah ketakutan setengah mati, karena

secara otomatis dia menghubungkan warna tersebut dengan

sang laron penghisap darah.

Tanpa sadar tangannya sudah mulai menggenggam gagang

pedangnya kencang-kencang, masih untung dia dapat

74

membedakan kalau bayangan yang muncul adalah seorang

manusia, bininya.

Itulah sebabnya teriakannya ditelan kembali separuh jalan,

kemudian karena tidak ada lagi bahan pembicaraan maka

untuk sesaat dia hanya mengawasi wajah bininya dengan

pandangan tertegun.

Gi Tiok-kun sendiripun tidak bicara, perasaan ketakutan

bercampur ngeri masih kental menghiasi wajahnya, dia seakan

baru saja bertemu dengan seorang manusia sinting, orang

gila!

Bila seseorang bertemu dengan orang gila dan sang orang

gila memancarkan sinar napsu membunuh yang tebal, apalagi

ditangannya menggenggam sebilah pedang tajam, tentu saja

siapa pun akan berusaha untuk menghindarkan diri, dan

paling baik adalah membungkam diri.

Gi Tiok-kun tidak bersuara, diapun tidak bisa bersuara

karena dia tak lain adalah bininya si orang gila.

Begitulah, kedua orang itu saling berhadapan dan saling

berpandangan bagaikan sepasang boneka kayu, tak ada yang

bicara, pun tak ada yang melakukan suatu tindakan atau

gerakan apapun

Keadaan mereka berdua sama sekali tidak mirip dengan

sepasang suami istri, jangan lagi suami istri, dengan orang

asingpun jauh lebih terasa asing.

Dua orang asing yang bersua dipagi hari pun kadangkala

akan saling menyapa, tidak mungkin mereka akan berusaha

menghindar begitu bertemu dari kejauhan.

Kembali Jui Pakhay merasa amat pedih, akhirnya dia tidak

kuasa menahan diri, tegurnya lebih dulu:

“Sepagi ini, kau hendak kemana?”

“Mencari angin di tepi kolam teratai”

75

“Kenapa? Murung? Masgul?”

Gi Tiok-kun tidak menjawab.

Jui Pakhay tidak mendesak lebih jauh, setelah menghela

napas panjang kembali ujarnya:

“Bunga teratai memang masih mekar berkembang,

mumpung belum layu, kalau ingin menikmati memang

sekarang waktunya…..”

Walaupun bicara begitu namun kakinya sama sekali tidak

bergeser setengah langkah pun, sorot matanya juga tidak

pernah beralih untuk mengawasi perempuan itu, dia seakan

sama sekali tidak berniat untuk menemani bininya berjalan

jalan ke tepi kolam.

Gi Tiok-kun sendiripun tetap membungkam diri, dia masih

berdiri mematung.

“Apa lagi yang kau tunggu?” kembali Jui Pakhay menegur

sambil menghela napas.

“Kau tidak ikut?” tanya Gi Tiok-kun lirih.

“Kau berharap aku turut serta?”

Kembali Gi Tiok-kun terbungkam, dia seakan tidak tahu

bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Setelah tertawa getir kembali Jui Pakhay berkata:

“Sebenarnya akupun ingin menemani kau berjalan-jalan ke

sana, sayang aku masih ada urusan lain yang harus segera

diselesaikan, lebih baik kau pergilah seorang diri”

Tertawanya nampak begitu mengenaskan, sorot matanya

juga mengenaskan, benarkah dia tidak sanggup untuk ikut

serta bersama istrinya? Benarkah ada urusan penting yang

harus segera dia selesaikan?

Gi Tiok-kun tidak bertanya, dengan kepala tertunduk dia

melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan tempat itu.

76

Dengan termangu dan pandangan mendelong Jui Pakhay

mengawasi bininya berjalan lewat dari sisi tubuhnya. Baru

berjalan setengah kaki, mendadak perempuan itu mulai

mempercepat langkahnya dan buru buru kabur dari situ.

“Tiok-kun!” teriak Jui Pakhay lantang. Teriakan itu sangat

mendadak, nada suara yang digunakan pun aneh sekali.

Seketika itu juga Gi Tiok-kun nampak tertegun, langkah

kakinya yang mulai diayunkan cepat seketika terhenti, namun

dia tidak berpaling.

Begitu memanggil nama istrinya, Jui Pakhay segera

bergerak cepat mengejar kearah depan. Apakah dia telah

berubah pikiran dan sekarang berniat menemani Gi Tiok-kun

berjalan jalan di tepi kolam bunga teratai?

Menyaksikan suaminya berjalan mendekat, wajah Gi Tiokkun

sama sekali tidak menunjukkan perasaan girang atau

puas, bahkan berpaling pun tidak.

Menanti suaminya telah menyusul tiba dan berhenti persis

disisi tubuhnya, Gi Tiok-kun baru tidak bisa menahan diri, dia

berpaling lalu menegur:

“Ada apa?”

Jui Pakhay tidak menjawab, hanya sepasang matanya yang

terbelalak lebar mengawasi terus tangan kiri bininya tanpa

berkedip.

Waktu itu sepasang tangan Gi Tiok-kun disembunyikan

dibalik bajunya, sekarang yang dia tatap adalah ujung

bajunya.

Ujung baju berwarna hijau bagaikan kemala itu tampak

dihiasi segumpal bercak warna merah yang mencolok, begitu

merahnya hingga mirip sekali dengan darah segar.

Kelihatannya Gi Tiok-kun sudah merasa apa yang sedang

diperhatikan suaminya, tanpa sadar dia menarik tangan kirinya

77

makin ke dalam, namun gerakan tubuh Jui Pakhay jauh lebih

cepat, dengan suatu gerakan kilat dia sudah pegang tangan

kiri itu dan menariknya kuat kuat.

Cengkeraman itu nampaknya mengenai bagian tangannya

yang sakit, keningnya nampak berkerut dan wajahnya

menunjukkan kesakitan yang luar biasa.

Jui Pakhay tidak memperhatikan hal itu, sinar matanya

seratus persen tertuju ke ujung baju itu, mendadak ia

menegur:

“Kenapa dengan tangan kirimu itu?”

Sekujur tubuh Gi Tiok-kun gemetar keras, agak tersedak

sahutnya:

“Tidak apa apa, tidak apa apa…….”

“Kalau tidak apa apa, kenapa ada darah yang mengalir?

Kenapa sampai baju mu pun ada bercak darahnya?”

“Jangan jangan lenganmu terluka? Darah itu mengalir

keluar dari mulut luka di lengan mu?”

Tanpa banyak bicara lagi dia tarik keluar lengan kiri Gi Tiokkun

dari balik bajunya, benar juga, lengan yang putih mulus

bagaikan pualam itu kini sudah dibalut dengan selembar kain

putih.

Kain perban putih itu sudah berubah menjadi merah, basah

oleh cucuran darah segar.

“Apa yang terjadi?” kembali Jui Pakhay menegur dengan

wajah berubah, “mengapa lenganmu terluka dan

mengucurkan banyak darah?”

“Tadi…… tadi aku sedang menjahit pakaian, karena kurang

hati hati…. lenganku…. lenganku terkena gunting hingga

terluka…….” sahut Gi Tiok-kun agak tergagap.

78

Menjahit pakaian? Kena gunting? Bagaimana cara dia

memegang gunting hingga bisa melukai lengan sendiri? Mana

mungkin sebuah gunting bisa melukai lengannya separah ini?

Satu ingatan melintas dalam benak Jui Pakhay, serunya

kemudian:

“Coba aku periksa bagaimana keadaan lukamu itu?”

Tidak menunggu persetujuan dari bininya, ia segera

membuka kain perban yang membungkus lengan perempuan

itu, benar juga, luka yang dideritanya cukup parah, mulut luka

sepanjang lima-enam inci dengan kedalaman dua-tiga mili,

cairan darah masih bercucuran dengan derasnya dari mulut

luka itu.

Ditinjau dari mulut luka yang begitu dalam, mena mungkin

disebabkan terluka oleh gunting?

Dalam sekilas pandangan saja, Jui Pakhay sudah

mengetahui kalau luka itu berasal dari luka pedang, air

mukanya seketika berubah hebat, dia pingin menjerit, namun

tidak sepatah kata pun yang meluncur keluar.

Dia percaya dan yakin, dugaan dan kesimpulan yang dibuat

tidak bakal salah. Tidak seharusnya salah.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang jagoan lihay dalam

penggunaan pedang, seharusnya bukan pekerjaan yang

kelewat sulit untuk membedakan mulut luka itu berasal dari

luka pedang atau bukan.

……Tapi…….mengapa dia harus berbohong?

Tanpa sadar sorot mata Jui Pakhay pelan-pelan dialihkan ke

wajah perempuan itu, tampak paras muka Gi Tiok-kun

dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, apa yang

dia takuti? Apa yang membuatnya merasa ngeri?

79

Dengan terkesima Jui Pakhay mengawasi bininya tanpa

berkedip, rasa takut dan ngeri yang mencekam perasaan

hatinya sedikitpun tidak dibawah rasa takut perempuan itu.

……Dia tak mengerti ilmu silat, tidak ada alasan dia

menggunakan pedang, tapi mengapa dia terluka? Mengapa

luka yang ada dilengannya berasal dari luka bekas tusukan

pedang?

……Jangan jangan………? Mana mungkin dia?

Tapi kalau bukan dia, lantas siapa?

……Ditempat ini, dirumah kediaman mereka, siapa yang

berani melukainya dengan menggunakan pedang? Tidak ada

orang lain, kecuali aku!

…..Jangan-jangan laron penghisap darah yang amat besar

dan muncul dalam perpustakaan semalam adalah jelmaannya?

Jangan-jangan dia jelmaan dari siluman laron?

…..Itu berarti tusukan pedang yang dilancarkan semalam

telah mengenai lengannya, darah yang menodai ujung

pedangnya, bercak darah dilantai, semua adalah darah yang

berasal dari tubuhnya?

…..Tapi…. mengapa bercak bercak darah itu

bisa lenyap dalam waktu singkat? Mungkinkah ketika dia

menjelma jadi laron penghisap darah, cairan darah yang

mengalir dalam tubuhnya ikut berubah pula jadi darah

siluman?

….Kesemuanya ini merupakan kenyataan, jangan-jangan

dia memang benar-benar jelmaan dari siluman laron

penghisap darah? Dia adalah seekor siluman laron? Makin

berpikir, Jui Pakhay merasa makin terkejut dan ngeri.

……Bukankah hal ini berarti, untuk menyelamatkan nyawa

sendiri, dia harus menghabisi nyawanya?

80

….. Tapi, bagaimana pun juga dia adalah istriku, tegakah

aku membunuhnya?

Kelopak mata Jui Pakhay mulai bergetar, kulit matanya

seakan melompat-lompat, dia memandang sekejap tangan

sendiri lalu memandang pula tangan Gi Tiok-kun, akhirnya dia

lepaskan genggamannya dan menghela napas panjang.

“Percuma kalau kau hanya membungkus dengan kain

perban, si nenek tukang masak mengerti soal luka pisau, pergi

dan cari dia, mintalah obat luka luar, kalau tidak mulut luka itu

akan membusuk dan semakin parah”

“Baik, aku segera pergi mencarinya” akhirnya Gi Tiok-kun

mengangguk.

“Bukankah tadi kau bilang mau jalan jalan ke kolam

teratai?” kembali Jui Pakhay berkata sambil tertawa hambar.

Gi Tiok-kun nampak tertegun, tapi akhirnya dia tundukkan

kepalanya.

Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, kembali Jui

Pakhay melanjutkan:

“Jalan-jalan mah urusan kecil, lebih baik perhatikan

kesehatan badan sendiri, aku rasa luka itu tidak terlalu serius,

Liu popo tentu bisa mengobatinya”

“Ehmml”

“Kenapa tidak segera pergi?”

Gi Tiok-kun memang seorang bini yang penurut, dia segera

beranjak pergi dari situ.

Memandang hingga bayangan tubuhnya menjauh, sorot

mata kesedihan yang terpancar keluar dari mata Jui Pakhay

nampak makin tebal dan kental.

Mengawini istri hasil jelmaan siluman laron, siluman yang

berusaha menghisap darahnya, sama parahnya sama

81

pedihnya seperti mengawini istri yang membohongi dirinya,

tidak setia kepadanya, bila semua kejadian terbukti

merupakan kenyataan, jelas hal ini merupakan sebuah tragedi

yang amat memilukan hati.

Angin timur kembali berhembus lewat, kembab bunga

berguguran, ditengah guguran bunga yang menyelimuti

angkasa, kembali Jui Pakhay menghela napas panjang.

Tahun ini bunga berguguran, tahun depan bunga akan

kuncup dan mekar kembali, tapi bagaimana dengan perasaan

yang mulai retak, hubungan yang mulai renggang, masih

adakah kesempatan untuk memperbaiki dan membinanya

kembali jadi utuh dan damai?

0-0-0

Bulan tiga tanggal dua belas, ditengah hujan rintik dan

angin kencang, seorang rekan lama telah datang berkunjung.

Orang yang datang sebenarnya bukan sanak, bukan pula

keluarga dengan Jui Pakhay, karena orang ini tidak lain adalah

kakak misan Gi Tiok-kun.

Sebutan kakak misan atau piauko sering bukan hanya

melambangkan seorang piauko yang sebenarnya, terkadang

melambangkan juga bekas kekasih lama.

Konon banyak perempuan yang senang menyebut kekasih

hatinya sebagai piauko, sebab panggilan ini bukan saja dapat

mengurai kesungkanan dalam penyebutan, pun jauh lebih

leluasa dan bebas, tidak gampang memancing kasak usuk

orang lain.

Tentu saja piauko dari Gi Tiok-kun ini belum tentu piauko

macam begitu.

Piauko nya ini bernama Kwee Bok, sepintas lalu

memandang usianya mungkin jauh lebih muda ketimbang usia

Gi Tiok-kun. Selain masih muda, dia pun berwajah tampan.

82

Bukankah pemuda tampan semacam ini merupakan pilihan

setiap gadis muda di dunia ini? Tidak heran kalau Jui Pakhay

merasa amat tidak senang dengan kehadiran Kwee Bok.

Setelah sibuk seharian penuh dan menyerahkan urusan lain

kepada pegawainya, dia berencana kembali ke Perpustakaan

untuk beristirahat, saat itulah Gi Tiok-kun muncul sambil

membawa piauko nya Kwee Bok.

Ternyata mereka berdua datang bersama ke Ruang

Perpustaan, paling tidak mereka datang berurutan, satu

didepan dan yang lain menyusul di belakangnya.

Gi Tiok-kun berjalan dimuka, berulang kali dia berpaling

menengok sekejap piaukonya, sementara Kwee Bok menyusul

dibelakang, sepasang matanya seakan belum pernah berpisah

dari tubuh Gi Tiok-kun yang ramping semampai.

Melihat kesemuanya itu, Jui Pakhay merasa sangat kheki,

jengkel bercampur mendongkol, namun dia berusaha

menahan diri, emosinya tidak sampai diutarakan keluar.

Masih dengari senyum dikulum dia segera menyapa:

“Siapakah saudara cilik ini?”

“Ooh, dia piauko ku” buru buru Gi Tiok-kun

memperkenalkan saudaranya.

“Ooh, rupanya piauko mu, siapa namanya?”

“Kwee Bok!”

“Ehmm, aku seperti pernah mendengar nama ini”

“Padahal kau semestinya sudah pernah berjumpa

dengannya”

“Apa sewaktu dirumah ibu angkatmu dulu?”

Gi Tiok-kun mengangguk.

83

“Tidak aneh kalau rasanya pernah bertemu, silahkan

duduk!”

Dia mengulapkan tangannya mempersilahkan tamunya

duduk, mimik muka serta penampilannya amat sopan.

Bagai terkejut dan tidak menyangka akan perlakuan orang,

Kwee Bok nampak salah tingkah dan buru buru duduk

disebuah bangku dengan tersipu.

Dengan pandangan dingin Jui Pakhay mengawasi orang itu

hingga duduk, meski dimulut dia bicara sungkan padahal hati

kecilnya dongkol bukan kepalang, kalau bisa dia pingin

menendang pantat sang piauko hingga menggelinding keluar

dari pintu.

Meski api cemburu sudah membara dalam hati kecilnya,

namun dia berusaha untuk menahan diri, karena dia pingin

tahu apa sebabnya Gi Tiok-kun mengajak piauko nya datang

menghadap?

Seakan tidak ada kejadian apa pun, dia berkata kepada

Kwee Bok:

“Sudah hampir tiga tahun lamanya aku tidak berkunjung ke

rumahnya Gi Toama, tidak heran kalau meski sudah pernah

bertemu, namun lantaran kejadian sudah kelewat tiga tahun,

sekarang aku sudah tidak mengenalinya lagi”

“Tidak berani, tidak berani” buru-buru Kwee Bok merendah

“Boleh aku tahu ada urusan apa kau datang berkunjung kali

ini?”

Sebelum Kwee Bok buka suara, Gi Tiok-kun sudah berebut

menjawab duluan:

“Piauko ku adalah seorang tabib kenamaan, sejak kecil dia

sudah belajar ilmu pengobatan, pandai periksa nadi, pandai

mengobati pelbagai penyakit, dua tahun terakhir da sudah

84

banyak mengobati penyakit orang dan selamatkan jiwa

mereka”

“Ooh?”

“Aku lihat pikiran dan kesadaranmu kurang normal, sering

mengucapkan kata kata yang aneh dan sama sekali tidak

masuk diakal, maka aku sengaja mengundangnya datang

untuk memeriksakan kondisi kesehatanmu”

Ternyata inilah alasan kedatangannya.

Bila ditinjau dari perkataan Gi Tiok-kun barusan, dia seakan

sama sekali tidak tahu persoalan yang sebenarnya, dia sangka

otak Jui Pakhay sudah tak waras, dia sudah dianggapnya gila,

edan!

…..Mungkin dia memang bukan jelmaan dari laron

penghisap darah? Dia memang bukan jelmaan dari siluman

laron?

…..Benarkah selama berapa hari belakangan, dia benarbenar

tidak pernah melihat kawanan laron penghisap darah

itu?

…..Benarkah dia sangat memperhatikan kondisi

kesehatannya?

Jui Pakhay merasakan hatinya dingin, sekulum senyuman

aneh menghiasi wajahnya, seperti sedang tertawa dingin,

seperti juga sedang tertawa getir.

Sambil tertawa, ujarnya: “biarpun perasaanku tidak stabil,

gerak gerikku masih tetap normal dan wajar, apa yang

kuucapkan juga tidak aneh, aku sama sekali tidak sakit, buat

apa kau mencarikan tabib?”

“Diperiksa tabib bukanlah suatu kejadian yang buruk” bujuk

Gi Tiok-kun sambil menghela napas.

“Kalau kau bersikeras mengatakan aku sedang sakit,

penyakit yang kuderita hanya semacam!”

85

“Apa penyakitmu?”

“Sakit hati”

“Sakit hati?” Gi Tiok-kun nampak tertegun.

“Yaa. Sakit hati” pelan-pelan dia membalikkan badan dan

berpaling ke arah Kwee Bok kemudian terusnya, “tahukah kau

sakit hati mesti disembuhkan dengan apa?”

Kwee Bok tertegun.

Belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun, Jui

Pakhay telah bicara lebih jauh:

“Penyakit lain mungkin harus disembuhkan oleh seorang

tabib, tapi sakit hati …..? Aku rasa tidak perlu tabib untuk

menyembuhkannya”

Kwee Bok manggut-manggut, baru saja dia akan

mengucapkan sesuatu, Jui Pakhay telah berkata lebih jauh:

“Padahal hanya ada satu cara untuk menyembuhkan

penyakit semacam ini”

Pelan-pelan sorot matanya dialihkan ke tempat kejauhan

sana, setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

“Untuk menyembuhkan sakit hati dibutuhkan tabib penyakit

hati, sang tabib penyakit hati bila ingin mengobati sakit hati,

diapun harus menggunakan obat hati”

Setelah menghela napas panjang, tambahnya:

“Oleh sebab itu obat hati memang paling susah dicari dan

didapatkan dibandingkan dengan obat apa pun”

Gi Tiok-kun dan Kwee Bok saling berpandangan dengan

wajah termangu, walau hanya sekali saling berpandangan

namun dibalik pandangan tersebut seakan mengandung

banyak, banyak sekali maksud yang mungkin hanya diketahui

mereka berdua.

86

Setelah itu sorot mata mereka berdua kembali dialihkan ke

wajah Jui Pakhay, hanya kali ini mimik muka yang mereka

tampilkan adalah perasaan iba dan kasihan.

Pandangan ke dua orang ini seakan pandangan terhadap

seseorang yang telah mengidap penyakit yang amat parah

Tentu saja Jui Pakhay dapat melihat perubahan mimik

muka mereka berdua, dia segera tertawa, mendadak ujarnya

lagi:

“Perkataanku mungkin tidak kalian pahami, mungkin juga

dipahami, perduli mau mengerti atau tidak, aku tak ambil

perduli”

Sekali lagi dia berpaling menatap wajah Kwee Bok, sambil

meletakkan tangannya ke atas meja kecil, ujarnya:

“Kalau memang kau sudah banyak belajar ilmu pertabiban,

pandai memeriksa nadi dan membuka resep obat, coba

periksakan denyut nadiku, lihatlah apa aku benar-benar telah

mengidap penyakit?”

Kwee Bok melirik Gi Tiok-kun sekejap, kemudian baru

mengangguk.

“Baiklah, akan kuperiksa!”

Dia tempelkan jari tangannya ke atas pergelangan tangan

Jui Pakhay, sementara paras mukanya berubah amat serius,

seluruh perhatiannya dipusatkan jadi satu, lagaknya persis

seperti seperti seorang tabib pengalaman.

Jui Pakhay tidak menampilkan perubahan mimik wajah

apapun, sementara dihati kecilnya diam-diam dia tertawa geli,

dia tidak percaya orang itu berhasil menemukan sesuatu

penyakit pada dirinya, karena jauh sebelum kejadian ini, dia

sudah dua kali memeriksa sendiri seluruh badannya.

87

Dia yakin kalau badannya sehat dan tidak mengidap

penyakit apapun, meski begitu, dia tetap membiarkan Gi Tiokkun

dan Kwee Bok melakukan apa mereka mereka kehendaki

Sebab dia sudah menaruh curiga, dia ingin tahu permainan

busuk apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan kedua orang

itu, diapun ingin menjajal apa benar Kwee Bok adalah seorang

tabib sakti seperti apa yang dia katakan.

Kalau dibilang seorang pemuda tampan macam dia adalah

seorang tabib pintar yang pandai mengobati pelbagai

penyakit, siapa pun rasanya tak mau percaya dengan begitu

saja.

Sejak awal, Jui Pakhay nampaknya sudah mencurigai setiap

tindak tanduk dan perkataan yang diucapkan Gi Tiok-kun

Sekalipun begitu, kadangkala wajah seseorang memang tak

bisa mencerminkan kehebatan yang dimiliki orang itu.

Pemuda yang bernama Kwee Bok ini bukan saja pandai

memeriksa denyut nadi orang, dia bahkan benar-benar

memiliki kepandaian pertabiban yang mengagumkan.

Setelah memeriksa denyut nadinya, Kwee Bok memeriksa

juga raut wajah Jui Pakhay dengan seksama, tiba tiba sorot

matanya berubah jadi aneh sekli.

Melihat perubahan wajah orang, dengan cepat Jui Pakhay

merasakannya, buru-buru dia menegur:

“Bagaimana? Apakah aku berpenyakit?”

“Denyut nadinya sangat normal sama sekali tak ada gejala

sakit atau menderita suatu penyakit, aku lihat kau hanya

kurang tidur saja”

Jui Pakhay agak tertegun, kemudian ia tertawa tergelak:

“Hahahaha….ternyata kau hebat juga, terus terang aku

sendiripun mengerti sedikit tentang ilmu pertabiban,

menderita sakit atau tidak aku mengetahui dengn jelas sekali”

88

Kwee Bok tertawa getir.

“Kalau dibiang kau sedang sakit, rasanya penyakitmu

memang semacam sakit hati yang baru bisa disembuhkan bila

diobati dengan obat hati”

“Hahaha….memang begitulah masalahnya”

“Kalau memang begitu, aku tidak bisa membantumu”

“Untuk mengobati penyakit hati memang tidak dibutuhkan

seorang tabib, asal kita bisa menemukan sumber penyakitnya,

biar seseorang yang tidak memahami ilmu pertabiban pun,

rasanya tidak sulit untuk menemukan cara yag tepat untuk

mengobatinya”

“Dan kau telah berhasil menemukan sumber penyakitnya?”

tanya Kwee Bok ceat.

Jui Pakhay manggut manggut:

“Yaa, sejak awal sudah kutemukan”

“Lalu sudah kau temukan cara untuk mengobati penyakit

itu?”

“Sudah”

“Waah, kalau begitu kedatanganku sama sekali tidak ada

gunanya” kata Kwee Bok kemudia sambil menghela napas

panjang.

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia tertawa tergelak,

katanya lebih jauh:

“Tapi begini pun ada baiknya juga, paling tidak piaumoayku

tidak usah kuatir dan risau siang malam”

Sambil tertawa dia mengerling sekejap ke arah Gi Tiok-kun.

Gi Tiok-kun ikut tertawa, hanya tertawanya kelewat

dipaksakan, kalau dilihat dari tampangnya seakan dia lebih

89

suka merasa kuatir siang dan malam daripada menjumpai Jui

Pakhay tidak menderita sakit.

Seandainya suaminya benar-benar menderita sakit, belum

tentu dia akan merasa kuatir siang dan malam.

Dalam hati kecilnya Jui Pakhay berpikir terus sementara

penampilan wajahnya justru lain, senyuman mulai menghiasi

ujung bibirnya, kepada Kwee Bok ujarnya:

“Aku lihat kedatanganmu memang tepat pada waktunya”

“Oya….?” Kwee Bok agak tercengang.

“Saat ini aku memang sedang murung bercampur masgul,

aku memang butuh seseorang untuk menemani aku minum

barang berapa cawan”

Sekali lagi Kwee Bok tertegun.

“Kau sudah makan siang?” Gi Tiok-kun bertanya pula.

“Belum!”

“Mengerti cara minum arak?” sambung Jui Pakhay.

“Berapa cawan mah masih sanggup”

“Bagus sekali!” seru Jui Pakhay sambil bertepuk tangan.

Dia segera berpaling, belum sempat minta kepada istrinya

untuk mempersiapkan perjamuan, Gi Tiok-kun sudah berkata

duluan:

“Biar kuperintahkan orang untuk menyiapkan sayur dan

arak”

Selesai berkata dia segera berlalu dengan senyuman

menghiasi wajahnya.

Kalau dilihat tampang wajahnya, dia seperti amat gembira

karena Kwee Bok bisa tinggal lebih lama lagi disitu.

Sedemikian gembiranya sehingga dia lupa untuk bertanya

kepada Jui Pakhay, perjamuan harus disiapkan dimana.

90

Bab 6.

Malam bulan purnama.

Meja perjamuan telah dipersiapkan dalam ruang samping.

Disitulah Jui Pakhay biasanya menjamu para tamutamunya,

paling tidak Gi Tiok-kun masih teringat dengan

kebiasaan suaminya ini. Dia perintahkan orang untuk

menyiapkan enam macam hidangan, lima macam hidangan

lezat ditambah semacam hidangan lagi yang masih tertutup

dengan kain sutera halus.

Dengan sorot mata berkilat Jui Pakhay menyebutkan nama

dari kelima macam hidangan itu satu per satu, akhirnya dia

berhenti memandang di atas hidangan yang masih tertutup

dengan kain sutera itu, tanyanya keheranan:

“Hidangan macam apa lagi yang ada dibalik kain itu?”

“Ooh, hidangn ini adalah bola udang masak madu, sebuah

hidangan yang khusus aku masak sendiri” sahut Gi Tiok-kun

sambil membuka penutupnya.

Bola udang goreng yang ditaburi madu bening diatasnya,

dihiasi pula denga mentimun yang hijau sehingga bentuk

hidangan ini mirip dengan sebuah mutiara berwarna hijau

kemala.

Selain indah bentuknya juga lezat rasanya, jelas Gi Tiokkun

sudah menggunakan banyak pikiran dan tenaga untuk

mempersiapkan hidangan istimewa ini.

Kwee Bok dengan mata melotot besar sedang mengawasi

hidangan bola udang itu tanpa berkedip, wajahnya nampak

kerakusannya.

Dilihat dari tampang mukanya, jelas dia merasa tidak asing

dengan hidangan tersebut, hunya saja sudah kelewat lama

tidak pernah mencicipinya lagi.

91

Sebaliknya Jui Pakhay justru menunjukkan wajah

keheranan, dia sepertinya belum pernah mendengar nama

hidangan seperti itu, terlebih diapun tidak tahu kalau istrinya

memiliki kepandaian sehebat ini.

Ditatapnya wajah perempuan itu dengan termangu,

kemudian baru tegurnya:

“Rupanya kau mempunyai kepandaian dihidang memasak?”

“Kepandaiannya yang paling utama memang dalam bidang

ini” sambung Kwee Bok sebelum perempuan itu sempat

menjawab.

Tidak nyana sang kakak misan ternyata jauh lebih mengerti

ketimbang Jui Pakhay yang menjadi suaminya, bisa

dibayangkan bagaimana perasaan hatinya saat ini.

“Oya…..?” serunya kemudian.

Kembali Kwee Bok berkata:

Bola udang dilapisi madu merupakan hidangan andalannya,

buatan dia sangat lezat, sudah tiga tahun aku tidak pernah

mencicipinya”

Jui Pakhay merasakan hatinya makin kecut, meski begitu

dia sempat tertawa juga, katanya:

“Aneh, aku yang menjadi suaminya malah belum pernah

mencicipi”

Meskipun dia masih tertawa namun nada suaranya sudah

kedengaran agak berubah, Gi Tiok-kun segera dapat

merasakan perubahan itu.

Kwee Bok bukan orang bodoh, tentu saja diapun dapat

mendengar perubahan nada suara pembicaraannya, teringat

kembali apa yang diucapkan orang itu, kontan wajah pemuda

tampan ini berubah menjadi beku.

Setelah tertawa tergelak kembali Jui Pakhay berkata:

92

“Rupanya lantaran kehadiranmu kali ini, dia khusus turun

ke dapur untuk mempersiapkan sendiri beberapa hidangan ini,

hahaha…..kelihatannya aku telah membonceng hokkie mu!”

Begitu perkataan tersebut diutarakan, paras muka Gi Tiokkun

kontan berubah makin tidak sedap dipandang.

Sambil tertawa paksa buru buru Kwee Bok berkata:

“Setelah menikah dengan orang kaya, kebanyakan wanita

memang enggan turun tangan sendiri, mungkin lantaran

kedatangan aku si piauko kali ini, dia jadi teringat akan

kepandaiannya memasak hingga turun tangan sendiri,

mungkin dia pingin tahu apakah kepandaiannya masih ada

atau tidak……”

Kemudian sambil berpaling ke arah Gi Tiok-kun, terusnya:

“Bukan begitu maksudmu piaumoay?”

Tentu saja Gi Tiok-kun segera mengangguk berulang kali.

“Aaah, kalau begitu aku harus mencobanya, siapa tahu

kalau akupun cocok dengan selera masaknya…..”

Seraya berkata, kembali dia tertawa tergelak.

Melihat suasana mereda kembali, Gi Tiok-kun maupun

Kwee Bok diam diam menghembuskan napas lega.

Kembali Jui Pakhay berkata sambil tertawa:

“Kita semua kan orang sendiri, kenapa mesti sungkan

sungkan? Mari, mumpung masih panas, kita makan bersama”

Sambil berkata, dia segera menyumpit sepotong udang dan

digigit ke dalam mulut.

“Ciiit……ciiit….!” siapa tahu begitu udang tersebut digigit,

bergema suara yang sangat aneh, ternyata bukan udang yang

dia gigit melainkan daging seekor tikus.

93

Bangkai tikus! Cairan merah darah segera memancar keluar

dari daging yang digigit dan mengalir masuk melalui

tenggorokannya.

Cairan darah itu membawa semacam bau busuk yang tidak

terlukiskan dengan kata, mirip sekali dengan bau busuk dan

bangkai tikus yang mulai membusuk.

Semestinya bau udang tidak seperti bau begini, sudah pasti

bukan!

Lalu apa isi bola udang berlapis madu itu? Kenapa baunya

mirip bangkai tikus?

Jui Pakhay tidak ingin bersikap kurang sopan dihadapan

tamunya, tapi setelah ditahan berapa saat, akhirnya dia tidak

kuasa menahan diri lagi.

Cairan berbau busuk itu benar benar membuat perutnya

mual, membuat dia pusing dan pingin muntah rasanya….

Dan….. “Huaaa…..!” dia membuka mulutnya lebar-lebar

dan muntahkan keluar bola udang yang ditelannya tadi.

Ketika bola udang terjatuh persis diatas meja, tenhat jelas

daging itu telah tergigit hingga nyaris terbelah dua, ternyata

isi dibalik bungkusan madu itu bukan daging udang, melainkan

seekor laron.

Seekor laron penghisap darah dengan sayap berwarna

hijau kemala dan sepasang mata berwarna merah darah.

Bola laron penghisap darah yang dibungkus dengan madu!

Entah laron penghisap darah itu mati karena tergigit atau

pada dasarnya memang seekor bangkai laron penghisap

darah, yang pasti darah terlihat bercucuran keluar dari tubuh

bangkai itu, membasahi lapisan luar madu yang membungkus

hidangan tersebut hingga warnanya ikut berubah jadi merah.

Darah yang berwarna merah kental, dengan membawa

semacam bau busuk yag sukar dilukiskan dengan kata

94

mengalir masuk melalui tenggorokan Jui Pakhay bau busuk

semakin menyebar ke mana-mana.

Masih mending kalau tidak dipandang, begitu dilihat paras

mukanya kontan berubah jadi pucat pias bagai mayat.

Sambil berpegangan disisi meja, kontan dia memuntahkan

seluruh isi perutnya.

Darah laron penghisap darah yang berbau busuk seketika

mengotori seluruh permukaan lantai, bukan cuma itu saja

bahkan seluruh isi perutnya ikut tertumpah keluar, membuat

Gi Tiok-kun serta Kwee Bok berdiri terkesima.

Sorot mata mereka berdua sama-sama bertuju keatas bola

udang yang ditumpahkan Jui Pakhay, namun tiada perasaan

aneh atau kaget yang terbesit dari wajah mereka, seakan

didalam pandangan mereka, benda itu sama sekali tidak aneh

atau menakutkan.

Apakah mereka telah menduga benda apa yang berada

dibalik bungkusan madu itu? Buktinya mereka tidak ikut

memakan hidangan tersebut.

Jui Pakhay masih saja memuntahkan isi perutnya, malah

sekarang air getir pun ikut tertumpah keluar.

Paras mukanya yang semula pucat keabu-abuan kini telah

berubah jadi merah padam, tubuhnya ikut gontai dan lemas

lantaran tumpahannya nyaris telah menguras seluruh isi

perutnya, dia nampak sempoyongan seakan setiap saat bisa

roboh terjungkal.

Tanpa terasa Gi Tiok-kun dan Kwee Bok bangkit berdiri lalu

memburu ke depan dengan langkah cepat, baru saja mereka

akan memayang tubuh Jui Pakhay, tiba-tiba lelaki itu

mendongakkan kepalanya lalu melotot ke arah mereka dengan

pandangan buas.

Dipelototi dengan pandangan yang begitu buas, tangan Gi

Tiok-kun dan Kwee Bok yang sudah terangkat pun seketika

95

terhenti ditengah jalan, mereka berdua melengak dan berdiri

mematung.

Bersamaan dengan berhentinya muntahan, otot dan kulit

tenggorokan Jui Pakhay mulai mengejang keras.

Mulutnya masih ternganga, air liur bercampur sisa

muntahan masih meleleh dari ujung mulut, sementara butiran

peluh sebesar kacang kedele jatuh bercucuran membasahi

seluruh badan, seluruh otot tubuhnya nyaris ikut mengejang

keras, tampang dan mimik mukanya menampilkan perubahan

yang sangat aneh, entah dia sedang ketakutan atau justru

sedang amat gusar.

Mengawasi wajah suaminya, Gi Tiok-kun tertegun berapa

saat lalu tegurnya tanpa terasa:

“Kee….kenapa kau?”

Jui Pakhay berusaha mengendalikan ujung bibirnya yang

mengejang, dengan susah payah akhirnya bisiknya juga:

“La…..la….ron…….”

“Apa? Laron? Laron penghisap darah?” mimik muka Gi

Tiok-kun menampilkan suatu perubahan yang sangat aneh.

Jui Pakhay berusaha miringkan badannya, lalu sambil

menuding Gi Tiok-kun katanya dengan suara parau:

“Darimana kau dapatkan begitu banyak laron penghisap

darah?”

“Laron penghisap darah? Dimana lagi kau jumpai laron

penghisap darah?” Gi Tiok-kun menghela napas panjang.

Dengan jari tangan yang gemetar keras Jui Pakhay

menunjuk ke arah bola udang bungkus madu diatas piring,

serunya:

“Kau…..kau bilang…. masakan apa itu?”

96

“Bukankah bola udang bungkus madu?” sahut Gi Tiok-kun

setelah tertegun sejenak.

“Bola udang? Hahaha…..bola udang…..?” Jui Pakhay

tertawa seram, “benarkah dibalik bungkusan madu itu berisi

bola udang?”

“Haii…..kalau bukan bola udang lantas apa?”

“Apa? Laron! Laron penghisap darah!”

Gi Tiok-kun gelengkan kepalanya berulang kali tanpa

komentar lagi.

Kembali Jui Pakhay berkata:

“Kau sengaja masuk ke dapur mempersiapkan secara

khusus hidangan bola udang bungkus madu, sebetulnya

hidangan ini kau siapkan untuk siapa?”

Sekali lagi Gi Tiok-kun gelengkan kepalanya dengan mulut

terbungkam.

“Mana ada laron penghisap darah?” sela Kwee Bok tibatiba.

“Itu dia! Masa kau tidak melihat……” teriak Jui Pakhay

gusar.

Sembari berkata, dia menuding kearah bola udang yang

baru saja dimuntahkan ke atas meja.

Tadi, bola udang itu berbentuk seekor laron penghisap

darah, tapi sekarang telah berubah jadi cairan lebah berwarna

kuning emas.

Dalam sekejap mata itu pula mendadak dia merasa

mulutnya yang semula berbau sangat amis dan busuk, kini

telah berubah jadi harum semerbak seperti harumnya patih

bunga.

Jui Pakhay berdiri melongo dengan mata terbelalak

lebar…….. entah berapa lama sudah lewat, kemudian sinar

97

matanya baru pelan-pelan dialihkan ke wajah Gi Tiok-kun

berdua.

Saat inilah dia telah menyaksikan dua orang “manusia”

yang sangat menakutkan!

Dua orang manusia dengan wajah berwarna hijau kemala,

sepasang mata tanpa pupil berwarna merah darah dan bola

mata yang menyerupai berapa sarang tawon yang bergabung

menjadi satu.

Kalau mereka adalah manusia, kenapa begitu seram

tampangnya? Siluman! Pekik Jui Pakhay dalam hati kecilnya.

Belum sempat suara jeritannya terlontar keluar, ke dua

siluman menyeramkan itu sudah lenyap tidak berbekas,

termasuk juga bayangan tubuhnya, bilang lenyap seakan

sudah menguap ke udara.

Yang lebih tepat sebenarnya yang hilang lenyap hanya raut

wajah mereka berdua yang menyeramkan itu.

Ke dua lembar wajah siluman itu sebenarnya tidak lenyap

dengan begitu saja, yang benar wajah itu sudah tidak lagi

berwarna hijau, matanya tidak lagi berwarna merah dan biji

matanya yang hitam tidak lagi melotot keluar.

Dua lembar wajah siluman itu telah berubah jadi dua

lembar wajah manusia lagi, wajah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok.

Raut muka berwarna hijau kemala, mata berwarna merah

darah, pada hakekatnya mereka berdua merupakan jelmaan

dari laron penghisap darah.

Jangan jangan mereka berdua adalah jelmaan dari siluman

laron penghisap darah?

Jui Pakhay merasa darah yang mengalir dalam tubuhnya

seolah membeku, ditatapnya wajah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok

dengan pandangan kaku.

98

Sebaliknya Gi Tiok-kun dan Kwee Bok juga sedang menatap

Jui Pakhay tanpa berkedip, begitu melihat dia berpaling, Kwee

Bok segera menegur:

“Dimana sih laron penghisap darah nya?”

Jui Pakhay tidak menjawab, namun sinar matanya lagi lagi

mencerminkan perasaan takut dan ngeri yang luar biasa.

Akhirnya Gi Tiok-kun menghela napas panjang, seraya

berpaling ke arah Kwee Bok katanya:

“Begitulah kondisinya, berulang kali dia ribut mengatakan

telah melihat laron penghisap darah, menurut pendapatku ada

baiknya kau periksakan dulu denyut nadinya, mungkin

sekarang kau sudah bisa menemukan penyebab penyakitnya”

“Yaa, aku memang punya maksud begitu” Kwee Bok

mengangguk.

Baru dia maju dua langkah dan siap memegang nadinya,

mendadak terdengar Jui Pakhay menjerit sekeras kerasnya

sambil berteriak:

“Jangan dekati aku!”

Teriakan itu sangat aneh dan sangat menggidikkan hati.

Kwee Bok nyaris mati lantaran kaget, sambil paksakan diri

tertawa katanya:

“Lebih, baik biarkan aku periksa dulu nadimu”

“Apa yang perlu dilihat?” sahut Jui Pakhay dingin,

“sekarang…… sekarang aku semakin mengerti…….”

Gi Tiok-kun dan Kwee Bok saling bertukar pandangan

sekejap, seakan mereka tidak mengerti apa yang dimaksud Jui

Pakhay.

“Laron penghisap darah……. wahai laron penghisap darah!

Sebenarnya apa salahku dengan kalian…..?”

99

Setelah bergumam sendirian, tiba-tiba dia mendongakkan

kepala nya dan tertawa seram Wajahnya diliputi kedukaan,

dibalik gelak tertawanya terselip pula perasaan pedih dan

sedih yang luar biasa.

Kembali Gi Tiok-kun dan Kwee Bok saling bertukar

pandangan, tiba tiba mereka berdua menghela napas panjang.

“Kelihatannya penyakit lamanya telah kambuh lagi” bisik Gi

Tiok-kun sambil menarik napas panjang.

Kelihatannya Jui Pakhay ikut mendengar gumaman itu,

mendadak serunya sambil tertawa pedih:

“Yaa betul, penyakit lamaku kambuh kembali!”

Begitu selesai bicara, mendadak dia membalikkan tubuh

dan kabur dari situ.

0-0-0

Air dalam kolam teratai terasa dingin bagaikan es.

Jui Pakhay menggunakan sepasang tangannya meraup

segenggam air kemudian diguyurkan ke wajah sendiri, gejolak

emosinya yang menggelora tadi lambat laun menjadi tenang

kembali, perasaan hatinya saat ini tidak ubahnya seperti

rerumputan di musim semi.

Ketika Gi Tiok-kun kawin denganku, dia bukan dalam status

seorang gadis perawan, walaupun lantaran amat mencintainya

aku tidak membongkar rahasia tersebut, juga tidak membuat

perhitungan dengan Gi Toa-ma, namun kejadian ini selalu

menjadi ganjalan dalam hatiku, aku selalu berharap suatu

ketika nanti bisa menemukan orang yang telah merenggut

mahkota kegadisannya.

Jangan jangan orang itu adalah kakak misannya, Kwee

Bok?

Siapa pun orangnya, bila dia bisa memperoleh gadis

secantik dan semenarik Gi Tiok-kun, dapat dipastikan orang

100

itu akan berusaha untuk mempertahankan kepemilikannya,

Kwee Bok tidak berani berebut denganku waktu itu dan

membiarkan pujaan hatinya kawin denganku, dapat dipastikan

karena dia merasa takut untuk berhadapan denganku

sehingga tidak berani menampilkan diri dan berebut

denganku.

Selama tiga tahun ini bisa jadi dia telah pergi mempelajari

semacam ilmu sesat, dan kali ini dia sengaja kembali ke sini

untuk merebut Gi Tiok-kun dari tanganku, atau mungkin

kemunculan kawanan laron penghisap darah itu ada hubungan

dan sangkut pautnya dengannya? Siapa tahu dialah pawang

dari laron penghisap darah? Siapa tahu semua peristiwa aneh

yang terjadi selama ini adalah hasil karyanya?

Mungkinkah mereka berdua memang jelmaan dari siluman

laron penghisap darah? Mungkinkah Kwee Bok memang

sengaja membiarkan Gi Tiok-kun kawin denganku, agar

setelah saatnya tiba dia bisa muncul dalam wujud aslinya dan

menghisap darahku, mencabut nyawaku?

Kalau apa yang diduga memang merupakan satu

kenyataan, tujuan mereka jelas tidak akan sedemikian

sederhana, mungkinkah hal ini dikarenakan darah yang

mengalir dalam tubuhku merupakan sebuah mestika yang luar

biasa? Karena itu mereka tidak segan membuang waktu

selama tiga tahun untuk mempersiapkan segala sesuatunya?

Kalau bukan karena itu, lantas apa tujuan mereka yang

sebenarnya?

Semakin dipikir, Jui Pakhay merasa pikirannya semakin

kalut.

Kalau tujuan mereka benar benar berniat akan mencelakai

aku, jelas akupun tidak boleh berlaku sungkan lagi terhadap

mereka, terlepas dia manusia asli atau jelmaan dari siluman

laron penghisap darah, yang penting semuanya harus

dibunuh, dibantai sampai habis!

101

Begitu napsu membunuhnya muncul, tanpa sadar Jui

Pakhay meraba gagang pedang yang tersoren dipinggangnya.

Tapi kesemuanya itu hanya dugaanku sendiri, analisaku

sendiri, tanpa diperkuat dengan bukti dan fakta, lebih baik

tunggu lagi selama beberapa hari, siapa tahu dalam satu dua

hari mendatang aku akan menemukan bukti yang

menunjukkan bahwa mereka memang berencana akan

membunuhku, nah saat itulah aku baru akan turun tangan.

Berpikir sampai disitu, lambat laun Jui Pakhay mulai

mengendorkan kembali genggamannya, genggaman atas

gagang pedangnya.

Dia putuskan akan menunggu satu hari lagi.

0-0-0

Bulan tiga tanggal tiga belas, malam ini rembulan nampak

tidak utuh, meski tidak terlalu benjol namun masih sebesar

setengah bulatan jendela.

Kertas daun jendela ruang Perpustakaan yang menghadap

ke arah rembulan telah berubah warnanya menjadi putih

kepucat pucatan, pucat seperti wajah sesosok mayat.

Seorang diri Jui Pakhay bersandar diujung pembaringan,

dengan tenang mengawasi kertas jendela yang berwarna

putih kepucat-pucatan, paras mukanya saat itu berwarna putih

juga, putih pucat seperti mayat.

Wajahnya nampak sangat letih, sepasang matanya

terbelalak lebar.

Setelah sibuk seharian penuh, dia telah menelusuri hampir

setiap sudut ruangan di perkampungan itu, setiap barang milik

Gi Tiok-kun sudah diperiksa secara diam diam dan seksama.

Tapi dia tidak berhasil menemukan bukti apa pun, juga

tidak berhasil menemukan sesuatu benda yang mencurigakan,

bahkan seekor laron penghisap darah pun tidak dijumpainya.

102

Mungkinkah mereka sudah menduga kalau aku bakal

melakukan penyelidikan sehingga bertindak lebih awal dengan

menyembunyikan semua benda yang membawa persoalan?

Mungkinkah sarang dari kawanan laron penghisap darah itu

bukan berada di perkampungan ini tapi di tempat lain?

Sejak pagi hingga petang dia sudah menyibukkan diri

seharian penuh, tapi tidak seekor laron penghisap darah pun

ditemukan dan sekarang, baru saja dia merebahkan diri,

kawanan laron penghisap darah itu sudah muncul kembali.

Kawanan laron penghisap darah yang mengerikan itu

muncul diluar ruangan perpustakaannya, kebasan sayap

mereka yang bising kedengaran amat menusuk telinga,

apalagi di tengah keheningan malam seperti ini, suara itu

menambah seram dan ngerinya suasana.

Mereka seakan terbang datang dan rembulan. Sinar

rembulan yang memancar diatas kertas jendela membiaskan

pula bayangan tubuh mereka yang kecil.

Bayangan laron-laron itu beterbangan bagaikan

gerombolan setan iblis yang sedang menari, dari jauh semakin

mendekat, dari besar menjadi kecil!

Cahaya rembulan sudah dihancurkan oleh tarian bayangan

sang laron, kertas jendela pun seakan ikut hancur diterjang

oleh tarian binatang binatang itu.

Namun Jui Pakhay masih menahan diri, dia masih berusaha

tidak bergerak, tidak melakukan sesuatu tindakan apa pun.

Entah berapa lama sudah lewat, suara kebasan sayap dari

kawanan laron penghisap darah itupun berhenti secara

mendadak, bukan hanya suaranya hilang lenyap, bayangan

tarian mereka pun ikut terhenti, suasana serasa menjadi

hening dan sepi.

103

Beribu ribu ekor bayangan laron seakan seluruhnya

mendekam tenang, mendekam tanpa bergerak diatas kertas

jendela yang putih memucat itu.

Kertas jendela bukan lantaran kejadian ini lalu berubah jadi

suram, jadi gelap, sebaliknya malah tampak lebih hijau

bersinar, hijau dari ebongkah batu kemala.

Cahaya rembulan menyinari tubuh laron laron itu, membuat

kawanan binatang itu seakan bermandikan cahaya putih.

Paras muka Jui Pakhay yang putih memucat tiba tiba

berubah jadi hijau membesi, mendadak badannya melejit ke

udara, melompat bangun dari ujung pembaringan.

“Sreeet!” bagaikan anak panah yang terlepas dari

busurnya, dia hinggap didepan jendela, jendela dengan beribu

buah bayangan laron.

Dengan mata yang melotot besar diawasinya kawanan

laron penghisap darah itu tanpa berkedip, dia akan menunggu

sampai kawanan binatang itu benar-benar jadi tenang

sebelum mengambil sesuatu tindakan.

Sementara tubuhnya masih melambung, sepasang

tangannya sudah siap melancarkan serangan, begitu kakinya

hinggap di tanah, sepasang tangannya itu langsung

melepaskan sebuah bacokan, menghajar daun jendela itu.

Begitu bacokan sudah dilepas, tangan kanannya berputar

pula cepat dan “Criiing!” dia sudah meloloskan pedangnya.

Dia sudah bersiap sedia menghadapi serbuan dari kawanan

laron itu ketika daun jendela terbentang lebar karena bacokan

mautnya tadi.

Siapa tahu sama sekali diluar dugaannya, kawanan laron

penghisap darah yang semula menempel penuh diatas kertas

jendela, kini sudah hilang lenyap tidak berbekas, lenyap

seakan menguap menjadi asap.

104

Namun dihalaman luar, dibalik kabut tebal yang

menyelimuti kegelapan malam, seakan terlihat ada ribuan titik

cahaya berkedip mirip api setan sedang bergoyang menarikan

tari samba disana, cahayanya berwarna hijau yang

menggidikkan hati.

Jui Pakhay tidak melakukan pengejaran, tapi rasa duka,

rasa gusar bercampur aduk dalam lubuk hatinya dan tercermin

jelas diraut mukanya.

Mendadak dia mengayunkan kepalan tinjunya,

menghantam daun jendela dihadapannya kuat-kuat.

“Braaak…!” seluruh daun jendela hancur berantakan

terhajar pukulan itu, sayang hancurnya jendela tidak

menguraikan rasa duka dan gusar yang mengganjal dalam

hatinya.

Walaupun dia tidak tahu mengapa kawanan laron

penghisap darah yang menampakkan diri secara beruntun

selama berapa hari ini tidak melakukan tindakan lebih jauh,

walaupun dia tidak tahu apakah hal ini merupakan kebiasaan

dari kawanan laron tersebut atau karena takut dan jeri

terhadapnya, tapi ada satu hal yang dia ketahui secara pasti,

jika keadaan demikian dibiarkan berlangsung terus maka pada

akhirnya dia akan menjadi orang gila, orang yang tidak waras

otaknya karena gangguan jiwa.

Bila seseorang harus hidup berkepanjangan dalam suasana

teror, suasana horor dan suasana ketakutan yang begitu

mencekam, lambat laun rasa percaya diri orang tersebut akan

luntur dan memudar, kesadaran otaknya juga akan hancur

berantakan, pada akhirnya kalau bukan jadi pemurung, tentu

menjadi orang yang tidak waras olaknya.

Masih untung hari ini baru bulan tiga tanggal tiga belas,

lusa baru bulan tiga tanggal lima belas.

105

Konon ketika bulan sedang purnama setiap tanggal lima

belas, raja laron akan munculkan diri untuk menikmati

keindahan alam dan menghisap sari cahaya dari langit.

Ketika raja laron sudah menampakkan diri, maka saat itulah

semua masalah, semua persoalan akan berakhir.

Ini berarti dia masih harus hidup selama dua hari lagi

dalam suasana penuh teror, penuh horor seperti ini.

Jui Pakhay hanya berharap selama dua hari ini dia masih

dapat mempertahankan kejernihan otaknya, dia berharap

tidak sampai berubah jadi orang sinting, orang gila yang tidak

waras otaknya.

Walaupun disaat berakhirnya semua masalah dan semua

persoalan sama artinya saat berakhirnya kehidupan dia,

namun paling tidak, saat itu dia sudah tak perlu lagi

menghadapi teror dan horor yang menegangkan pikiran

seperti saat ini.

Rasa takut karena teror dan horor kadangkala memang

jauh lebih menyiksa daripada menghadapi kematian itu

sendiri.

0-0-0

Bulan tiga tanggal empat belas, saat itu matahari sore

sudah mulai condong ke langit barat.

Jui Pakhay sedang duduk santai ditengah halaman barat,

duduk dibawah cahaya matahari senja yang mulai redup, pada

saat itulah seorang pelayannya muncul diiringi Tu Siau-thian.

Dengan dandanan seorang wakil opas Tu Siau-thian

munculkan diri disitu, wajahnya nampak letih dan penuh debu.

Begitu melihat kehadiran orang tersebut, dengan penuh

kegirangan Jui Pakhay maju menyambut seraya berseru:

“Saudara Tu, kenapa baru muncul sekarang? Kau tahu, aku

sudah hampir gila karena menantikan kehadiranmu!”

106

Dengan penuh tenaga Jui Pakhay menepuk bahu Tu Siauthian,

tepukan yang merupakan luapan rasa gembiranya.

Tapi tepukan itu menyebabkan pula debu dan pasir

beterbangan ke udara.

Jui Pakhay nampak agak tertegun, sepasang tangannya

segera terhenti ditengah jalan.

Buru-buru Tu Siau-thian menyingkir ke samping, lalu

sahutnya sambil tertawa tergelak:

“Jika kau tepuk lebih jauh, maka tubuhmu pun akan ikut

bermandikan debu dan pasir”

Setelah tertegun sesaat Jui Pakhay baru bertanya:

“Sebenarnya kau datang dari mana? Mengapa seluruh

tubuhmu bermandikan pasir dan debu? Memangnya kau

menongol dan dalam tanah?”

“Hahaha…. tentu saja aku bukan baru nongol dari dalam

tanah, baru saja aku pulang dari menempuh perjalanan jauh,

seharian penuh berjalan ditengah pasir yang menderu”

“Oooh… jadi selama sepuluh hari terakhir kau sedang

pergi? Ke mana kau pergi selama ini?”

“Ke Hong-yang!”

“Karena urusan dinas?”

Tu Siau-thian mengangguk tanda membenarkan.

“Sudah kau selesaikan tugas kantormu itu?” kembali Jui

Pakhay bertanya.

“Yaaa, sudah selesai”

“Lantas kenapa kau masih nampak terburu-buru?”

“Sebab aku terburu-buru kemari karena ingin berjumpa

denganmu”

“Oya?”

107

“Jadi kau anggap aku sudah melupakan sama sekali urusan

tentang laron penghisap darah itu?”

“Yaa, kelihatannya aku memang berpendapat begitu” Jui

Pakhay mengangguk membenarkan.

“Ooh, jadi kau anggap aku termasuk manusia yang tidak

akan memperdulikan keselamatan jiwa rekan sendiri?”

“Bukan begitu maksudku” ujar Jui Pakhay serius, “tapi

kejadian ini memang tidak masuk akal, susah membuat orang

lain percaya, sekalipun kau benar-benar tidak memikirkannya

dihati, aku juga tidak bakal salahkan dirimu”

“Seandainya secara tidak sengaja aku tidak bertemu

dengan dua ekor laron penghisap darah ditepi telaga tempo

hari, bahkan secara tanpa sengaja tertusuk oleh salah satu

diantaranya, mungkin aku benar benar tidak akan

memikirkannya dihati”

“Kau sudah menemukan cara yang paling jitu untuk

menghadapi kawanan binatang itu?”

“Belum!”

“Lantas mau apa kau datang kemari mencari aku?”

“Coba lihat kau, kenapa watakmu berubah jadi begini

rupa?” seru Tu Siau-thian cepat, kemudian setelah

memperhatikan sekejap wajah rekannya, dia berkata lebih

jauh, “sekarang, tampaknya kau tetap sehat tanpa

kekurangan sesuatu apa pun?”

Jui Pakhay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.

Kembali Tu Siau-thian berkata:

“Seandainya apa yang diceritakan orang selama ini benar,

Raja laron baru akan muncul pada malam tanggal lima belas

dikala bulan sedang purnama, hari ini toh baru tanggal empat

belas, maka kepulanganku kali ini masih pada aatnya, aku

108

masih cukup waktu untuk membantumu menghadapi

serangan kawanan laron penghisap darah tersebut”

“Haai, walaupun kepulanganmu tepat pada aatnya, tapi aku

kuatir kau tidak bisa membantu apa apa kepadaku”

Tu Siau-thian melengak, serunya:

“Kalau didengar dari perkataanmu barusan, seakan dalam

sepuluh hari terakhir kau sudah banyak mengalami kejadian

yang aneh?”

“Benar, sudah terlalu banyak” Jui Pakhay mengangguk

membenarkan.

“Apakah kawanan laron penghisap darah itu kembali

menampakkan diri?”

“Bukan hanya menampakkan diri, bahkan ctiap kali

kemunculannya jumlah mereka tambah lama tambah banyak,

sewaktu muncul !ugi semalam, aku lihat jumlah mereka sudah

mencapai ribuan ekor”

Agak berubah paras muka Tu Siau-thian, tanpa sadar

serunya:

“Masa kejadian seperti ini bukan hanya sebuah dongeng

belaka?”

“Yaa, tampaknya bukan, semua sudah menjadi sebuah

kenyataan, aku telah melihat dan mengalaminya sendiri”

“Mereka terbang, datang dari mana?” tiba tiba Tu Siauthian

bertanya lagi.

“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu”

“Apakah mereka menyerangmu?” Tu Siau-thian bertanya

lebih jauh.

“Tidak, mereka hanya menebar teror dan horor, mungkin

begitulah kebiasaan mereka, mungkin juga merupakan

perintah dari si Raja laron, sebelum tiba tanggal lima belas,

109

sebelum bulan jadi purnama, sebelum raja laron

menampakkan diri, mereka dilarang melakukan suatu tindakan

apa pun”

“Bagaimana dengan kau sendiri” desak Tu Siau-thian,

“Apakah kau tidak melakukan sesuatu tindakan terhadap

mereka?”

“Sudah, aku telah melakukan suatu tindakan”

“Tidak mampu mencegah mereka? Tidak mampu

menghadapi mereka?”

“Bukan cuma tidak mampu mencegah mereka, pada

hakekatnya sama sekali tidak berguna”

“Memangnya mereka tidak takut dengan bacokan golok

atau sambaran pedang?”

“Betul, persis seperti kejadian pertama kali dulu”

“Apakah mereka mendadak hilang lenyap bagaikan

bayangan setan setiap kali kau siap melakukan sesuatu

tindakan?”

Jui Pakhay menghela napas panjang.

“Haai…… pada hakekatnya mereka memang jelmaan dari

setan iblis” bisiknya.

Tu Siau-thian termenung sambil berpikir sejenak, lalu

tanyanya:

“Pernah berpikir, sejak kapan kau usik kawanan makhluk

itu?”

Tampaknya Jui Pakhay tidak mengira kalau rekannya akan

mengajukan pertanyaan seperti itu, untuk sesaat dia

terbelalak dengan wajah tertegun.

Kembali terdengar Tu Siau-thian berkata:

110

“Pernah kau berpikir, ada begitu banyak manusia di dunia

ini, mengapa mereka justru menjatuhkan pilihannya

kepadamu? Jelas mereka pasti mempunyai alasan tertentu,

maka aku pikir asal kita memahami alasan mereka, urusan

akan lebih gampang untuk diatasi dan diselesaikan”

Jui Pakhay tertawa getir, dia seperti akan mengucapkan

sesuatu tapi kemudian niat tersebut diurungkan.

Dengan kepala tertunduk kembali Tu Siau-thian berpikir,

dia seakan tidak menaruh perhatian atas perubahan sikap

yang ditampilkan Jui Pakhay, tanyanya lebih jauh:

“Kebanyakan mereka muncul di mana?”

“Nyaris tidak pernah sama, setiap kali muncul mereka

selalu memilih tempat penampilan yang berbeda”

“Semalam mereka muncul di mana?” desak Tu Siau-thian

lagi.

“Diluar ruang perpustakaan”

“Beberapa hari berselang, mereka muncul di mana?”

Jui Pakhay segera menutup mulutnya rapat-rapat, dia

seperti enggan untuk menjawab pertanyaan itu.

“Sudah lupa?” tanya Tu Siau-thian.

“Memangnya aku mirip seorang pelupa?” teriak Jui Pakhay.

“Berarti ada kesulitan bagimu untuk bicara terus terang?”

Sekali lagi Jui Pakhay menutup mulutnya rapat-rapat.

“Bila tidak keberatan, katakanlah terus terang” pinta Tu

Siau-thian, “siapa tahu dari keterangan yang kau ungkap nanti

aku bisa menemukan titik kelemahan dari laron penghisap

darah tersebut dan merancangkan siasat untuk

menghadapinya, sebaliknya bila kau enggan mengungkapnya,

aku kuatir aku benar-benar tidak akan bisa membantu apaapa

lagi”

111

Sekali lagi Jui Pakhay tertawa getir, katanya:

“Ada sementara persoalan biar sudah kuungkap pun belum

tentu kau mau mempercayainya”

“Aaah belum tentu, coba saja kau utarakan”

Tapi Jui Pakhay hanya terbungkam sambil termenung,

sampai lama sekali dia belum juga memberikan tanggapan.

Tu Siau-thian tidak merecokinya, dia hanya menunggu

disisinya dengan tenang.

Bab 7.

Bianglala melintas dalam keremangan.

Jui Pakhay termenung sambil berpikir sejenak, kemudian

dia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya

berulang kali.

Melihat sikapnya yang serba ragu, Tu Siau-thian segera

menukas:

“Kalau memang kau anggap sulit untuk diutarakan, yaa

sudahlah, aku tidak akan memaksamu lebih jauh”

“Ada satu hal aku perlu mengatakannya kepadamu” ujar Jui

Pakhay sambil tertawa pahit.

“Katakan saja, akan kudengarkan”

“Setiap kali kawanan laron penghisap darah itu

menampakkan diri, tidak setiap kali aku sedang berada

seorang diri, tapi selain aku, orang lain yang turut hadir

ditempat kejadian sama sekali tidak melihat kehadiran

mereka, coba kau bayangkan, aneh tidak kejadian ini?”

“Aaah, masa ada kejadian seperti ini?”

“Masa saudara Tu juga tidak percaya dengan

penuturanku?”

112

“Bukan begitu” cepat cepat Tu Siau-thian menggeleng,

“tapi jika hal ini merupakan kenyataan, berarti kawanan laron

penghisap darah itu memang benar-benar merupakan jelmaan

dari setan iblis”

Tiba-tiba ia tertawa getir, setelah termenung sejenak,

terusnya:

“Tapi….. apa benar di dunia ini terdapat setan iblis atau

siluman? Aku tidak percaya!”

“Aku sendiripun tidak percaya kalau di dunia ini terdapat

setan iblis ataupun siluman, tapi…. dengan mata kepalaku

sendiri kusaksikan bagaimana ribuan ekor laron penghisap

darah itu munculkan diri secara bersamaan waktu, bahkan

selain aku seorang, kenyataannya orang lain tidak ikut

melihat, lantas….. bagaimana penjelasannya dengan peristiwa

ini?”

Tu Siau-thian tidak mampu memberi penjelasan, tentu saja

dia hanya bisa membungkam diri.

Kembali Jui Pakhay berkata:

“Kecuali mereka yang hadir bersama aku waktu kejadian,

aku pun sudah bertanya kepada seluruh penghuni

perkampungan ini, tapi jawaban mereka sama, semuanya

bilang tidak tahu, kalau hal tersebut bukan merupakan

kenyataan maka satu satunya penjelasan adalah mereka

semua sedang berbohong kepadaku!”

“Berapa saat berselang, bukankah kau pernah bilang

bahwa seluruh penghuni perkampungan ini amat setia

kepadamu?”

“Betul, waktu itu aku memang pernah berkata begitu.

Waktu itu aku bisa berkata demikian karena aku selalu

melupakan akan satu hal”

“Melupakan apa?”

113

“Hati manusia memang sukar diduga!” sahut Jui Pakhay

sambil menghela napas.

“Apakah kau tidak merasa kalau perkataan itu muncul

karena luapan emosi?”

Kembali Jui Pakhay menghela napas panjang.

“Andaikata mereka semua benar benar setia kepadaku,

tidak membohongiku, urusan ini malah lebih mudah

penyelesaiannya”

“Oya?”

“Sebab tinggal tiga kemungkinan yang perlu dibahas,

pertama kawanan laron penghisap darah itu memang benarbenar

jelmaan dari siluman, karena itu hanya aku sang korban

yang bisa melihat kehadirannya”

“Kalau tidak lantas kenapa?”

“Berarti akulah yang sedang berbohong, sengaja

mengarang cerita bohong, sengaja menakuti orang dengan

cerita horor, atau kalau tidak berarti otakku ada yang kurang

beres, segala sesuatu yang kuucapkan hanya muncul dari

ilusiku, dari khayalanku saja”

“Waah, bukankah hal ini berarti juga bahwa otak ku pun

tidak beres?” seru Tu Siau-thian sambil tertawa tergelak.

Jui Pakhay tidak menjawab, dia hanya menghela napas

berulang kali.

Perlahan-lahan Tu Siau-thian mengalihkan sinar matanya

ke ujung jari sendiri, ujung jari yang terluka karena tusukan

laron penghisap darah, mendadak senyumannya hilang

lenyap, katanya:

“Belum tentu kawanan makhluk itu merupakan jelmaan dari

setan iblis, tapi wujud dan keberadaan mereka itu nyata dan

benar benar ada”

114

Dia memang amat mempercayai pandangan mata sendiri,

apalagi saat itu dia sempat menangkap seekor laron

penghisap darah dan mencengkeramnya dalam genggaman

Bukankah ujung jarinya telah ditusuk oleh laron penghisap

darah itu? Masa kejadian itupun hanya sebuah ilusi? Sebuah

khayalan?

Bila otaknya waras, bila pikirannya tidak sinting, tidak gila,

semestinya otak Jui Pakhay pun waras dan tidak ada masalah.

Tapi…….apa yang telah terjadi dalam sepuluh hari itu?

Mengapa Jui Pakhay enggan menceritakannya keluar?

Mengapa dia harus merahasiakan semua pengalamannya?

Tanpa terasa sorot mata Tu Siau-thian beralih kembali ke

wajah Jui Pakhay, dia menemukan rekannya sedang berdiri

dengan mata mendelong, bukan sedang mengawasinya tapi

sedang memandang ke tempat kejauhan sana.

Sebenarnya apa yang sedang dia perhatikan?

Tanpa terasa pandangan mata Tu Siau-thian mengikuti

arah mata Jui Pakhay dan ikut berpaling.

Dengan cepat dia pun menyaksikan sepasang laron! Mata

yang merah padam bagai darah dengan sepasang sayap yang

hijau bagai pualam.

Laron penghisap darah! Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian

bersin berulang kali, bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Dibawah sinar matahari senja yang berwarna kuning

keemas-emasan, sepasang laron penghisap darah itu nampak

lebih cantik, lebih menarik dan sangat aneh.

Mereka terbang berpasangan dan menari di antara

kelompok bunga-bunga an yang mekar.

Kelopak bunga nampak berguguran, bergetar ditengah

hembusan angin senja yang dingin, apakah bunga bunga itu

pun berfirasat? Apakah mereka pun tahu kalau kehadiran

115

sepasang laron penghisap darah itu membawa petaka,

membawa bencana besar sehingga mereka ketakutan dan

gemetaran?

Ternyata benar juga, bencana memang segera tiba.

“Weeesss….!” diiringi desingan angin tajam, mendadak

bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya tubuh Jui

Pakhay meluncur ke depan, menerjang ke tengah gerombolan

bunga itu.

Belum lagi tubuhnya tiba, serangan pedangnya sudah

dilancarkan duluan, pedang jit seng coat mia kiam bagaikan

titiran air hujan telah berhamburan disekeliling tempat itu.

Seketika itu juga segerombol bunga-bunga hancur dan

berguguran terbabat sambaran pedang yang tajam, apakah

sepasang laron penghisap darah itupun ikut tercincang dan

mati dengan tubuh hancur?

Ketika serangannya berakhir, tubuh Jui Pakhay ikut

melayang turun ke bawah, hujan pedang telah merontokan

sebagian besar kuncup bunga ditaman itu.

“Criiing….!” pedang telah disarungkan kembali, seluruh

gerakan tubuh Jui Pakhay ikut berhenti, berdiri mematung

ditengah guguran bunga, sepasang matanya terbelalak lebar

dan sinar matanya berkilauan.

Hampir pada saat yang bersamaan Tu Siau-thian ikut

melayang turun disamping tubuh Jui Pakhay, segera tegurnya:

“Saudara Jui, bagaimana?”

Jui Pakhay mengalihkan sorot matanya menatap tajam

wajah Tu Siau-thian, lalu tegurnya:

“Barusan, apakah kau pun ikut melihat ada sepasang laron

penghisap darah?”

Tu Siau-thian mengangguk tanpa menjawab.

116

“Apakah kau sedang membohongi aku? Kembali Jui Pakhay

bertanya dengan suara dalam.

“Aku rasa tidak ada alasan untuk membohongi dirimu,

apalagi sekarang bukan saat yang tepat untuk bergurau”

Mendadak Jui Pakhay mendongakkan kepalanya dan

tertawa nyaring.

Gelak tertawa itu kontan membuat Tu Siau-thian tertegun,

tidak tahan lagi diapun menegur:

“Hey, apa yang kau tertawakan?”

“Aku benar benar merasa gembira, benar benar merasa

riang”

“Oya?” sekali lagi Tu Siau-thian tertegun.

Sambil tertawa Jui Pakhay berkata lebih jauh:

“Bila sekali lagi hanya aku seorang yang melihatnya, berarti

otakku memang benar benar kurang beres, tapi sekarang kau

pun ikut melihatnya bahkan melihat untuk kedua kalinya, hal

ini membuktikan bahwa laron penghisap darah memang

benar-benar nyata, memang ada makhluk semacam ini di

dunia kita, aku sendiripun tidak percaya kalau di dunia ini ada

kejadian yang kebetulan, otak kita berdua sama-sama sehat,

sama sama tidak ada masalah, tidak mungkin bukan secara

kebetulan dikala untuk ke dua kalinya kita berada bersama,

kita berdua telah sama sama melihat seeekor makhluk yang

tidak mungkin ada di dunia ini”

“Yaa, aku pikir otak kita seharusnya memang tidak ada

masalah…….” ujar Tu Siau-thian sambil mengangguk.

“Sewaktu aku melancarkan serangan pedang tadi, apakah

kau sempat menyaksikan sepasang laron penghisap darah itu

kabur dari balik jaring pedang?” tiba-tiba Jui Pakhay menukas.

“Rasanya tidak pernah” Tu Siau-thian menggeleng.

117

“Padahal seluruh tubuh mereka sudah terkurung didalam

jaring pedang” ujar Jui Pakhay dengan gemas, “tapi begitu

aku mulai mempersempit jaring pedang itu, mereka seakan

berubah jadi tembus pandang dan lenyap dengan begitu saja

bagaikan setan iblis!”

Tu Siau-thian tertawa getir, sorot matanya dialihkan keatas

permukaan tanah.

Dia hanya berharap bisa menemukan sebuah saja bangkai

laron, sebab hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk

membuktikan bahwa laron penghisap darah itu sudah mati

karena tusukan pedang tersebut dan apa yang dikatakan Jui

Pakhay tidak lebih karena akibat pandangan matanya yang

mulai kabur.

Tapi apa yang dia temukan? Hanya hancuran daun-daunan,

juga hancuran bunga yang berserakan dimana mana.

Diantara hancuran daun dan bunga itu tidak ditemukan

bangkai laron, jangan lagi tubuhnya, biar selembar sayapnya

yang kecil pun tidak ada.

Tu Siau-thian segera mengebaskan ujung bajunya,

membuat daun-daunan dan bunga-bungaan itu segera

beterbangan ke angkasa, namun bangkai laron yang dicari

satupun tidak ditemukan, dibawah tumpukan daun dan bunga

ternyata memang tidak ditemukan bangkai makhluk kecil itu.

Lantas ke mana perginya laron penghisap darah itu? Masa

mereka benar-benar dapat lenyap bagaikan setan iblis?

Apa benar mereka memang jelmaan dari setan iblis atau

siluman?

Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian menghela napas panjang,

begitu juga dengan Jui Pakhay, dia pun menghela napas tiada

hentinya.

“Apa yang hendak kau lakukan sekarang?” tiba tiba Tu

Siau-thian bertanya.

118

“Menunggu mati!” jawaban dari Jui Pakhay ini singkat tapi

jelas.

“Apa?” Tu Siau-thian nampak seperti tertegun, “besok

sudah tanggal lima belas, berarti kau masih mempunyai waktu

satu hari”

“Kau anggap waktu yang tinggal satu hari itu sudah lebih

dari cukup untuk menemukan suatu cara yang tepat untuk

menghadapi serangan itu?”

“Tapi paling tidak kau toh bisa memanfaatkan kesempatan

itu untuk pergi jauh, pergi tinggalkan tempat ini, atau mungkin

mencari sebuah tempat yang rahasia dan bersembunyi

sementara waktu, muncullah selewatnya tanggal lima belas”

“Kalau aku kabur dari sini, sejak awal aku sudah pergi

meninggalkan tempat ini”

“Lalu…. kenapa kau tidak pergi dan sini?” tanya Tu Siauthian

keheranan.

“Seandainya kawanan laron penghisap darah itu benarbenar

jelmaan dari iblis atau setan, biar ke mana pun aku

pergi, mereka tetap masih bisa menemukan jejakku”

Sekali lagi Tu Siau-thian berdiri termangu, apa yang

dikatakan Jui Pakhay memang sangat masuk di akal.

Menurut cerita orang kuno, setan iblis itu tahu segalanya

dan mampu melakukan apa pun, mau kabur dan bersembunyi

ke dasar tanah pun tidak ada gunanya, sebab akhirnya akan

ditemukan juga.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Tu Siau-thian,

buru buru serunya:

“Kau bisa kabur ke biara atau kuil Buddha untuk

menghindarkan diri”

“Kau anggap aku tidak pernah berpikir sampai ke situ?” Jui

Pakhay balik bertanya sambil tertawa.

119

“Menurut apa yang kuketahui, setan iblis pasti akan

menghindari tempat tempat suci seperti biara atau kuil

Buddha”

“Aku pun tahu kalau diseputar sini banyak terdapat biara

atau kuil Buddha”

“Memangnya sudah kau coba cara ini? Sudah tahu dan

yakin kalau cara tersebut sama sekali tidak bermanfaat?”

“Aku hanya mengetahui satu hal”

“Apa?”

“Walaupun diseputar tempat ini banyak terdapat biara atau

kuil Buddha, namun belum uda sebuah tempat pun yang

benar-benar merupakan biara atau kuil Buddha yang sangat

tenang, juga tidak seorang pendeta suci pun yang terdapat

disini”

Tu Siau-thian tidak mencoba untuk membantah apa yang

dikatakan Jui Pakhay, tebagai seorang opas, dia memang

cukup tahu keadaan diseputar wilayah itu, tidak ada orang

kedua yang lebih jelas ketimbang dirinya.

Apa yang diucapkan Jui Pakhay memang benar dan

merupakan satu kenyataan.

Maka setelah menghela napas panjang, ujarnya:

“Yaaa, kalau mau bicara jujur, berapa banyak biara dan kuil

suci yang terdapat didunia ini? Berapa banyak pendeta suci

yang menghuni di sekeliling kita?”

“Apalagi semakin tinggi ajaran To, semakin tinggi pula

pengaruh sesat” sambung Jui Pakhay cepat, “sekalipun aku

benar benar bersembunyi didalam biara suci, biarpun ada

seorang pendeta suci yang mendampingiku, apakah

kesemuanya ini menjamin kalau si Raja laron tidak akan

munculkan diri?”

120

“Maka kau lebih suka menunggu kemunculan si Raja laron

disini?”

“Betul, terus terang, aku sendiripun ingin sekali bertemu

dengannya!” kata Jui Pakhay sambil manggut-manggut.

“Oya?”

“Lebih baik lagi bila tiba pada saatnya nanti dia bisa muncul

dengan wujud sebagai manusia, dapat berbicara seperti

manusia dan memberi kesempatan pula kepadaku untuk

berbicara dan mengeluarkan seluruh isi hatiku”

“Kau ingin bertanya kepadanya, mengapa kau yang dipilih

sebagai korbannya?”

Sekali lagi Jui Pakhay tertawa sedih.

“Asal dia bersedia memberikan sedikit keterangan

kepadaku, aku pun rela mempersembahkan darahku

kepadanya, mempersembahkan dengan ikhlas”

Tu Siau-thian tidak bicara lagi, dia tertunduk dengan mulut

membungkam.

“Aku hanya menuntut sebuah penjelasan” sambung Jui

Pakhay lagi perlahan.

“Yaa, aku sendiripun berharap bisa mendengar sebuah

penjelasan” tanpa terasa Tu Siau-thian menambahkan.

“Kalau itu agak sulit, sebab disaat aku memahami semua

duduknya persoalan, saat itulah ajalku akan tiba, orang mati

kan tidak bisa menyampaikan kabar apa apa”

“Besok malam aku akan mendampingimu setiap saat setiap

detik, asal kau diberi penjelasan maka aku pun pasti akan

mendengarnya juga” ujar Tu Siau-thian sambil tertawa.

“Jangan, jangan sekali kali kau berbuat begitu!” cegah Jui

Pakhay. “Kenapa?”

121

“Sebab kau adalah sahabatku, kau tidak seharusnya

mempertaruhkan nyawamu demi seorang teman macam aku”

“Semakin kau berkata begitu, aku semakin harus

menyerempet bahaya ini”

Jui Pakhay tidak berbicara lagi, dia hanya mengawasi

rekannya dengan mata melotot.

Terdengar Tu Siau-thian berkata lebih jauh:

“Bila kau sudah anggap aku sebagai sahabatmu, kenapa

aku tidak boleh memandang kau sebagai temanku? Ketika

melihat teman sedang menghadapi kesulitan, masa aku harus

berpeluk tangan belaka?”

“Tahukah kau, siapa pun itu orangnya, bila dia berada

bersama aku besok malam, besar kemungkinan dia pun akan

dijadikan target sasaran dan kawanan laron penghisap darah

itu?”

Tu Siau-thian mengangguk.

“Tahukah kau, bila apa yang dikatakan orang benar,

kemungkinan besar kawanan laron itu akan menghisap darah

dalam tubuhmu hingga mengering?” kembali Jui Pakhay

berkata.

Untuk kedua kalinya Tu Siau-thian mengangguk.

“Kalau sudah tahu begitu, kau masih tetap bersikeras akan

menyerempet bahaya?” sambung Jui Pakhay.

Sekali lagi Tu Siau-thian mengangguk.

Mendadak Jui Pakhay menepuk bahu Tu Siau-thian keras

keras, serunya sambil tertawa tergelak:

“Hahaha…. sahabat karib, sahabat karib!”

“Jadi kau sudah mengijinkan aku untuk mendampingimu

besok malam?” tanya Tu Siau-thian.

122

“Tidak, aku masih tetap menolak!” tiba tiba Jui Pakhay

menghentikan gelak tertawanya, kemudian setelah menatap

wajah Tu Siau-thian sesaat, terusnya, “bila kuijinkan kau

mendampingiku, berarti aku lah yang tidak setiakawan”

Sambil menggeleng berulang kali, Tu Siau-thian menghela

napas panjang:

“Aaai…. kau terlalu kolot, terlalu kaku dan keras kepala”

“Betul, memang begitu watakku sejak lahir”

“Tapi sampai waktunya aku tetap akan datang, kau toh

tidak mungkin bisa mengusirku” tiba tiba Tu Siau-thian

tertawa.

“Karena kau adalah seorang opas?”

“Benar, aku bertanggung jawab untuk menghentikan setiap

pembunuhan yang bakal terjadi diwilayahku”

“Tapi berbicara dari kedudukanku dalam masyarakat, masa

dikala aku sedang tidur pun kau bisa masuk ke kamarku

seenaknya?”

“Baiklah, kalau begitu besok malam aku akan berjaga-jaga

diluar kamarmu saja” kata Tu Siau-thian sambil tertawa

“Apakah ada sesuatu yang bisa mengubah rencanamu itu?”

“Tidak ada”

Dengan perasaan apa boleh buat Jui Pakhay menghela

napas panjang, ujarnya kemudian:

“Asalkan kau tidak menyerbu masuk ke dalam kamarku

ketika gerombolan laron itu muncul, semestinya diluar pintu

merupakan sebuah tempat yang sangat aman”

Tu Siau-thian segera tertawa tergelak.

Terdengar Jui Pakhay berkata lebih jauh:

123

“Aku tahu, kau tidak bakal memiliki kesabaran seperti itu,

jangan lagi gerombolan laron itu sudah menampakkan diri,

asal di dalam kamarku terdapat sedikit gerakan pun mungkin

kau sudah menyerbu masuk ke dalam”

“Hey, sejak kapan kau tahu dengan begitu jelas tentang

watakku?”

Jui Pakhay tidak menanggapi pertanyaan itu, dia hanya

bertanya:

“Besok, jam berapa kau akan datang kemari?”

“Semakin awal tentu saja semakin baik”

“Besok, seharian penuh aku akan tetap berdiam di dalam

perpustakaan ku”

“Ehmmm, memang tidak salah pilih, pemandangan diluar

perpustakaanmu memang cukup indah”

“Memang indah, mungkin pemandangan dikala malam

bulan purnama jauh lebih indah lagi, hanya sayang hawa pasti

dingin dan angin pasti bertambah kencang”

“Kalau udara terlalu dingin, aku bisa mengenakan pakaian

lebih”

“Haai, tidak kusangka kau lebih keras kepala ketimbang

aku” keluh Jui Pakhay sambil gelengkan kepalanya berulang

kali.

Tu Siau-thian hanya tertawa saja, kemudian dia

mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya:

“Aku masih bermandikan debu dan berwajah letih, kenapa

kau tidak memberikan pernyataan apa pun?”

“Semestinya aku harus menjamu kedatanganmu dari

tempat yang jauh, hanya sayang perasaan hatiku saat ini

sedang kurang baik sehingga aku merasa segan untuk

melakukan sesuatu apa pun”

124

“Kalau begitu aku mesti mohon diri lebih dulu?”

Jui Pakhay sama sekali tidak berminat untuk menahannya

lebih jauh, dengan menunjukkan perasaan menyesal katanya:

“Bila aku masih tetap hidup selepasnya besok malam, aku

pasti akan menjamumu besar besaran dan mengajakmu

mabuk selama tiga hari tiga malam”

“Sampai waktunya, jangan lupa kau keluarkan semua arak

simpananmu!”

“Asal kita dapatkan kesempatan seperti ini, kau anggap aku

merasa sayang untuk mengeluarkan barang barang

simpananku?” sahut Jui Pakhay sambil tertawa pedih.

Menyaksikan mimik wajah rekannya yang begitu

mengenaskan, tentu saja Tu Siau-thian tidak bisa bicara apa

apa lagi, katanya kemudian sambil menghela napas:

“Padahal kau tidak perlu begitu kuatir…..”

“Aaai…..apa mungkin aku tidak kuatir?”

Tu Siau-thian tidak bicara lagi, diapun segera berpamitan

dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Jui Pakhay benar benar tidak menghantar kepergjan

rekannya, bahkan dia hanya berdiri mematung ditempat,

bergerak sedikitpun tidak.

Matahari senja sudah condong diluar jendela kecil,

menyinari tanah lapang diluar dinding pekarangan.

Walaupun malam belum menjelang, namun cuaca lambat

laun bertambah gelap dan suram, angin malam yang dingin

pun mulai berhembus kencang.

Segulung angin berhembus lewat menyibak mantel panjang

yang dikenakan Jui Pakhay, menyibak pula tumpukan daundaunan

yang berada disisi kakinya.

125

Diatas daun terdapat bercak darah, darah itu darah kental,

walaupun hanya setetes namun memancarkan sinar yang

menyilaukan.

Ketika cahaya darah siluman itu berkelebat lewat kemudian

lenyap, daun itu kembali berbalik dan jatuh kembali ke tempat

semula.

Jui Pakhay membalikkan badan, sorot matanya mengawasi

bayangan tubuh Tu Siau thian yang lenyap di balik pintu

didepan situ, ketika kakinya bergeser itulah cahaya darah

kembali menampakkan diri.

Bercak darah yang terlihat kali ini bukan berada diatas

daun-daunan, juga bukan hanya setitik saja.

Segumpal bercak darah membasahi permukaan lantai,

darah itu kental dan bersinar aneh, sebenarnya darah apa itu?

Darah muncul dari bawah kaki Jui Pakhay, mungkinkah

darah tersebut adalah darah yang meleleh dari tubuhnya?

Kalau benar darahnya, mengapa dia berdarah?

Darah itu kental bagaikan cairan lem yang telah

menggumpal, lamat-lamat terendus pula bau amis yang aneh,

bau yang sukar dilukiskan dengan kata, cahaya darah yang

aneh membuat suasana disekeliling tempat itu terasa seakan

menyeramkan.

Mimik muka Jui Pakhay tiba-tiba mengalami perubahan,

raut wajahnya seakan ikut berubah jadi aneh karena pengaruh

suasana itu.

0-0-0

Bulan tiga tanggal lima belas, hujan rintik-rintik membasahi

bumi disaat senja menjelang datang, ketika malam semakin

mencekam jagad, hujan rintik itu seakan buyar terhembus

angin malam yang kencang.

126

Perlahan lahan rembulan mulai muncul dari balik awan

gelap, sinar yang redup mulai merambah seluruh jagad.

Tanggal lima belas saat bulan purnama, rembulan nampak

bulat bagai cermin.

“Aneh….” mendadak Tu Siau-thian seperti menemukan

sesuatu, “kenapa seawal ini rembulan sudah menampakkan

diri?”

Tidak kuasa dia merasakan bulu kuduknya pada bangun

berdiri hingga bersin berulang kali.

Rembulan yang berada diangkasa seakan mendatangkan

hawa dingin yang membekukan tubuh, mendatangkan

perasaan dingin, aneh, seram bagi siapa pun yang melihatnya.

Sekarang dia sedang berada di dalam perpustakaan Ki po

cay.

Karena sejak awal Jui Pakhay sudah meninggalkan pesan,

maka begitu Tu Siau-thian muncul disitu, pelayan segera

menghantarnya ke ruang perpustakaan dan meninggalkannya

di depan ruangan itu.

Memang inilah kehendak Tu Siau-thian sendiri, dia ingin

berjaga jaga didepan gedung.

Pelayan itu segera pergi meninggalkan tamunya seorang

diri, karena Jui Pakhay telah berpesan pula, bila Tu Siau-thian

sudah tiba disana, maka siapa pun dilarang mendekati lagi

ruang perpustakaan itu.

Dia memang sengaja berbuat demikian agar tidak menyeret

orang lain ke dalam kancah kekalutan ini.

Tu Siau-thian cukup memahami maksud dan niat rekannya

itu, maka dia bukan datang seorang diri, dia muncul

didampingi dua orang rekan opas lainnya, Tan Piau dan Yau

Kun.

127

Kedua orang ini merupakan opas opas andalannya, anak

buah yang sangat dipercaya olehnya, mereka miliki

kepandaian silat yang cukup tangguh.

Pintu ruang perpustakaan berada dalam keadaan tertutup

rapat, biarpun cahaya lentera telah menerangi ruangan itu,

namun tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun berada

disitu.

Pelan pelan Tu Siau-thian mengalihkan sorot matanya

keatas pintu, dia sedang mempertimbangkan haruskah

mengetuk pintu ruang perpustakaan atau tidak, dia pingin

menyapa Jui Pakhay rekannya itu sekalian memeriksa

bagaimana kondisi dalam ruangan itu sekarang.

Belum lagi dia melakukan sesuatu, mendadak pintu

ruangan dibuka orang.

Sambil memegangi pintu ruangan dengan kedua

tangannya, Jui Pakhay melongok keluar dari balik ruangan,

namun dia tidak bertindak keluar dari situ.

Maka sorot mata Tu Siau-thian pun beralih keatas wajah

rekannya, tapi dengan cepat dia merinding sambil bersin

berulang kali.

Baru berpisah satu hari, raut muka Jui Pakhay telah

berubah hebat, kini air mukanya tampak putih memucat,

bahkan pucat kehijauan persis seperti wajah sesosok mayat,

ketika tertimpa sinar rembulan yang redup, membuat raut

muka itu tampil menyeramkan, persis seperti wajah siluman.

Tampaknya sebelum membukakan pintu dia sudah tahu

akan kehadiran Tu Siau-thian, tapi diapun seakan baru

sekarang tahu akan kehadiran rekannya, suara maupun mimik

mukanya nampak dingin, kaku dan sangat aneh.

“Apa yang telah terjadi?” buru-buru Tu Siau-thian bertanya.

128

“Apa yang terjadi?” Jui Pakhay nampak agak melengak,

“tidak ada kejadian apa apa disini, kenapa kau mengajukan

pertanyaan yang aneh?”

“Masa kau tidak merasa kalau wajahmu nampak jelek

sekali?”

Jui Pakhay tertawa getir.

“Kalau orang tidak bisa tidur barang sekejap pun sepanjang

malam, seharian penuh mesti bersiap dalam suasana tegang

dan panik, apakah tampangnya masih bisa tampil bagus dan

enak dipandang?”

“Apa yang kau sibukkan seharian ini?”

“Mencatat semua peristiwa yang telah kualami selama

belasan hari ini dalam sebuah kitab catatan…….”

“Boleh aku melihatnya?”

“Boleh sih boleh, tapi bukan sekarang”

“Kalau bukan sekarang, aku harus menunggu sampai

kapan?” desak Tu Siau-thian lebih jauh.

“Tunggu setelah aku mati”

Tu Siau-thian tertegun, berapa saat lamanya dia hanya bisa

berdiri mematung tanpa mengucapkan sepat ah kata pun.

Dengan sedih Jui Pakhay berkata lebih jauh:

“Seandainya aku tidak jadi mati, maka akan kuusut

peristiwa ini hingga tuntas dan melakukan penyelesaian sesuai

dengan caraku sendiri”

“Bagaimana kalau kau keburu mati duluan?” seru Tu Siauthian

tanpa sadar.

“Cepat atau lambat kau pasti akan menemukan kitab

catatanku itu, dengan membaca seluruh rangkaian peristiwa

yang kucatat dalam kitab itu, kau bakal paham sendiri hal

129

ikhwal terjadinya peristiwa ini dan tidak sulit untuk

menemukan latar belakang yang sebenarnya atas kematianku

itu”

Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

“Kenapa tidak kau tunjukkan kepadaku sekarang saja?

Siapa tahu aku akan menemukan cara penanggulangan yang

belum terpikirkan sebelumnya, siapa tahu dengan cara

tersebut nyawamu masih bisa diselamatkan?”

Jui Pakhay menggelengkan kepalanya berulang kali,

tukasnya:

“Kitab catatan tersebut hanya boleh dibaca setelah aku

mati”

“Buat apa sih kau gunakan nyawa sendiri sebagai taruhan

untuk membuktikan kebenaran dari semua peristiwa ini?” seru

Tu Siau-thian dengan mata terbelalak.

“Sebab hanya cara inilah merupakan satu satunya cara

yang terbaik”

“Jadi kau sudah bosan hidup?”

“Siapa yang tidak bosan hidup bila tiap saat tiap detik harus

hidup dalam suasana horor dan penuh teror?”

Tu Siau-thian memperhatikan rekannya sekejap,

mengawasi dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya,

kemudian bergumam:

“Aku lihat kau sudah mirip dengan orang gila……..”

“Aku justru berharap diriku benar-benar bisa berubah

menjadi orang gila!”

Sesudah tertawa getir, lanjutnya:

“Kalau aku berubah menjadi orang gila maka aku tidak

perlu menguatirkan persoalan apa pun, juga tidak perlu

tersiksa oleh perasaan apa pun, aku tak usah takut, tak perlu

130

kuatir, tak usah tegang dan ketakutan, tak usah marah atau

sedih…….”

Sekali lagi Tu Siau-thian tertegun.

BAB 8

Bayangan Laron Berlapis-lapis

Dari dalam sakunya Jui Pakhay mengeluarkan sepucuk

surat, sambil disodorkan ke depan, ujarnya:

“Aku sempat menulis sepucuk surat ini.”

“Surat? Apa yang akan kau perbuat dengan surat ini?”

“Untuk kuserahkan kepadamu.”

“Buat aku?” Tu Siau-thian tercengang.

“Bukan, surat itu bukan untukmu,” Jui Pakhay menggeleng.

“Lantas, kenapa kau serahkan kepadaku?”

“Karena aku sudah tidak punya kesempatan untuk keluar

lagi dari tempat ini, sedang sekelilingku juga tidak ada

seorangpun orang yang bisa kupercaya, maka dari itu

terpaksa kugunakan kesempatan ini untuk menyerahkannya

kepadamu, tolong bantu aku untuk sampaikan surat tersebut

kepada alamat yang kumaksud.”

“Aku harus menghantar surat ini kemana?”

“Ke kantor polisi.”

“Serahkan kepada siapa?”

“Kepada penguasa setempat, Ko Thian-liok!”

Tampaknya Tu Siau-thian sangat tercengang dengan sikap

rekannya itu, buru buru dia bertanya lagi:

131

“Sebenarnya apa isi surat ini?”

“Sebetulnya bukan sebuah surat, lebih tepatnya sebuah

surat wasiat.”

“Surat wasiat?”

“Aku minta tuan Ko untuk mengaturkan semua harta

warisanku sepeninggalku nanti.”

“Ooh….”

“Tentu saja bila aku masih bisa hidup sampai esok pagi,

surat tersebut tidak perlu kau sampaikan lagi, segera

kembalikan kepadaku,” Jui Pakhay menambahkan sambil

tertawa paksa.

“Maksudmu, untuk sementara waktu kau minta aku untuk

menyimpankan surat wasiat ini?”

“Benar.”

Tiba-tiba Tu Siau-thian tertawa tergelak.

“Hahaha… aku kuatir sepeninggal gerombola laron

penghisap darah itu, aku sendiripun telah berubah jadi

sesosok mayat kering, kalau sampai begitu, tentu saja aku

tidak bisa sampaikan suratmu itu kepada yang bersangkutan.”

“Kalaupun kau telah berubah jadi sesosok mayat

mengering, toh masih ada dua orang anak buahmu.”

“Siapa tahu mereka akan senasib pula dengan diriku?” ucap

Tu Siau-thian sambil berpaling sekejap memandang ke dua

orang anak buahnya.

“Oooh, tidak kusangka hatimu begitu mulia….”

Tu Siau-thian menghela napas panjang, ujarnya:

“Kalau sampai kau dengan andalanmu jit-seng-toh-hun, Itkiam-

coat-mia tujuh bintang pencabut nyawa, pedang sakti

perenggut sukma pun masih tidak yakin bisa hidup,

132

bagaimana mungkin sepasang tombak pendeknya ditambah

ruyung bajanya mampu menandingi kehebatan pedang tujuh

bintang pencabut nyawamu?”

“Belum tentu gerombolan laron penghisap darah itu akan

menyerang kalian, seandainya kalian pun tertimpa musibah

hingga mati semua, aku yakin surat tersebut pun akan turut

musnah, jadi tidak perlu dipermasalahkan.”

Tu Siau-thian tidak mengerti, dia mengawasi rekannya

dengan termangu.

Buru-buru Jui Pakhay menjelaskan:

“Sebab selain surat itu, aku masih mempersiapkan lagi

sepucuk surat dengan isi yang sama sekali berbeda, surat itu

kutaruh menjadi satu dengan kitab catatanku itu, bila kita

semua harus mati bersama, tiga hari kemudian pun surat

tersebut tetap akan sampai ke tangan pejabat Ko.”

Tu Siau-thian semakin tidak mengerti, dia semakin

tertegun.

Terdengar Jui Pakhay berkata lagi:

“Tiga hari lagi seorang sahabatku akan tiba di sini, dalam

keadaan apa pun dia pasti akan muncul di tempat ini, dengan

kecerdasan otaknya, aku yakin dia pasti akan menemukan

kitab catatan beserta surat wasiatku itu, di atas surat sudah

kucantumkan nama si penerimanya dengan jelas, aku percaya

dia akan membantu aku untuk menyampaikannya.”

“Tampaknya kau termasuk orang yang sangat berhati-hati.”

“Kalau seseorang sudah berada dalam keadaan seperti ini,

bagaimana mungkin dia tidak berhati-hati?”

“Boleh aku tahu, siapa sih temanmu itu?” tiba-tiba Tu Siauthian

bertanya.

“Siang Hu-hoa!”

133

“Apa? Siang Hu-hoa?” begitu nama tersebut disebut, paras

muka Tu Siau-thian, Tan Piau maupun Yau Kun segera

berubah hebat.

“Memangnya kalian belum pernah mendengar nama

sahabatku itu?” tanya Jui Pakhay sambil melirik ke tiga orang

itu sekejap.

“Aku rasa tidak banyak lagi jago dalam persilatan yang

tidak pernah mendengar nama dari sahabatmu itu.”

“Betul,” Jui Pakhay mengangguk berulang kali, “nama

besarnya memang cukup tersohor di dalam dunia persilatan,

aku lihat di antara jagoan pedang yang ada di dunia saat ini,

mungkin dialah jagoan nomor wahid.”

Kelihatannya Tu Siau-thian sependapat dengan ucapan

rekannya, katanya:

“Walaupun aku belum pernah berjumpa dengan orang ini,

pun belum pernah melihat ilmu pedangnya, tapi di dalam

dunia persilatan saat ini rasanya memang belum ditemukan

orang ke dua yang sanggup menandingi kehebatannya.”

“Kalian pasti tidak menyangka bukan kalau aku mempunyai

seorang sahabat yang hebat macam dia?”

“Aku sudah kenal denganmu bertahun-tahun lamanya, tapi

baru pertama kali ini kudengar cerita tersebut.”

Jui Pakhay tidak bicara lagi, dia termenung dan terbungkam

mulutnya.

Kelihatannya Tu Siau-thian tidak merasakan perubahan

aneh di wajah rekannya itu, kembali ujarnya:

“Menurut apa yang kudengar, konon sahabatmu itu tinggal

di perkampungan selaksa bunga Ban-hoa-sanceng?”

Jui Pakhay tidak menjawab, dia hanya mengangguk.

134

“Aku rasa selisih jarak dari perkampungan Ban-hoa sanceng

sampai di sini tidaklah terlampau jauh,” kembali Tu Siau-thian

berkata.

“Dengan menunggang kuda tercepat pun butuh enam hari

untuk sampai di sini.”

“Apakah kau tidak berusaha menghubunginya sejak awal?”

“Tanggal tujuh aku baru mengutus Jui Gi untuk membawa

suratku berangkat ke perkampungan Ban-hoa sanceng.”

“Jui Gi?”

“Mestinya kau tidak asing dengan orang ini!”

“Yaa, rasanya aku ingat kalau ada manusia seperti ini.”

“Keluarganya turun temurun selalu bekerja melayani

keluarga Jui, aku percaya seratus persen dengan orang ini,

karenanya dialah yang kuutus untuk pergi menjumpai Siang

Hu-hoa.”

“Seharusnya kau utus dia lebih awal lagi, mungkin saat ini

dia sudah tiba di sini.”

“Kalau bukan betul-betul terpaksa, semestinya aku tidak

ingin pergi mencarinya….”

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

“Sebab… sebetulnya kami sudah tidak bersahabat lagi”

“Oya?”

Jui Pakhay tidak menjelaskan lebih jauh, dia alihkan sorot

matanya ke atas surat itu dan katanya:

“Surat ini sudah disegel dengan lak merah dan bukan kali

pertama kukirim surat semacam ini kepada ko thayjin, biarpun

belum tentu dia mengenali gaya tulisanku, tapi bila

disejajarkan dengan surat yang lama, bentuk maupun

modelnya persis sama.”

135

“Kau kuatir ada orang mengganti atau merubah isi surat

wasiatmu itu?” tegur Tu Siau-thian sambil tertawa.

“Yaa benar, aku memang menguatirkan hal ini, itulah

sebabnya di atas segel tersebut sengaja kuberikan cap

pribadiku sebanyak dua kali.”

Kemudian setelah tertawa paksa, lanjutnya:

“Surat wasiat yang telah dirancang macam begini, tentunya

tidak bakal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bukan?”

Tu Siau-thian tidak langsung menjawab, ujarnya setelah

menghela napas:

“Kalau dibilang otakmu sudah tidak waras, kau sudah jadi

orang gila, kenapa jalan pemikiranmu masih begitu teliti dan

cermat?”

Jui Pakhay ikut menghela napas panjang, tapi dia tidak

berkata apa-apa, suratnya segera dilontarkan ke depan.

Ketika Tu Siau-thian menerima surat tersebut, dengan

cepat dia menutup kembali pintu ruangannya, oleh sebab itu

dia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Serta-merta sorot matanya dialihkan ke atas surat itu,

diperiksanya sekejap dari depan ke belakang, dari atas hingga

ke bawah, memang surat itu merupakan sepucuk surat yang

sangat rapat dan tertutup.

Dengan sangat hati-hati Tu Siau-thian menyimpan surat itu

ke dalam sakunya, lalu setelah mengerling sekejap ke arah

dua orang pembantunya, dia berkata lagi:

“Di sebelah sana terdapat gardu, mari kita berjaga-jaga di

dalam gardu itu saja.”

Waktu itu sisa cahaya senja sama sekali sudah lenyap dari

pandangan, rembulan yang bulat di ujung langit sana nampak

masih bening bagaikan air.

136

??>

Bangunan gardu itu berada di tengah pepohonan dan

bebungaan, namun daun-daunan dan pohon-pohonan

tersebut sama sekali tidak menutupi pandangan orang ke

empat penjuru, tidak terlampau sulit untuk melihat keadaan

ruang perpustakaan dari situ, sebaliknya dari ruang

perpustakaan pun tidak sulit untuk memandang ke arah

gardu.

Di tengah gardu itu terdapat sebuah meja yang terbuat dari

batu dan beberapa buah bangku dari batu pula.

Tu Siau-thian segera memilih sebuah bangku yang persis

menghadap ke arah ruang perpustakaan dan duduk, perasaan

hatinya mulai tegang bercampur sedikit panik.

Tan Piau dan Yau Kun duduk di sisi kiri kanannya.

“Komandan,” ujar Yau Kun kemudian, “kalau didengar dari

nada pembicaraan orang she-Jui itu, tampaknya di sini benarbenar

terdapat makhluk yang disebut laron penghisap darah

itu?”

“Dalam kenyataan memang ada!”

“Apakah komandan juga telah menjumpai sendiri makhluk

itu?”

“Betul, sudah bertemu sebanyak dua kali” Tu Siau-thian

mengangguk.

“Benarkah makhluk itu adalah laron yang bisa menghisap

darah?” desak Yau Kun lebih jauh.

Sekali lagi Tu Siau-thian mengangguk.

Berubah paras muka Yau Kun, serunya:

“Kalau dilihat jawaban komandan yang begitu meyakinkan,

apakah kau pernah juga dihisap darahnya oleh makhluk itu?”

Untuk kesekian kalinya Tu Siau-thian mengangguk.

137

“Waktu itu yang muncul hanya seekor, baru saja laron

penghisap darah itu mulai menghisap darahku, segera

kukebaskan tanganku hingga terlepas gigitannya.”

Kali ini paras muka Yau Kun benar-benar berubah hebat,

seketika dia terbungkam.

Tan Piau yang berada di sisinya tidak tahan untuk ikut

menimbrung, tanyanya:

“Bagaimana sih ceritanya hingga orang she-Jui itu direcoki

makhluk tersebut?”

“Aku sendiripun kurang begitu jelas.”

“Dia sendiri juga tidak tahu?”

“Bila kudengar dari logat bicaranya, jelas dia tahu secara

pasti, Cuma dia enggan untuk mengatakannya, seakan ada

kesulitan yang sukar diterangkan.”

Setelah berhenti sejenak, tambahnya: “Cuma, sekalipun dia

enggan berbicara pun tidak jadi masalah, sebab pada malam

nanti, besar kemungkinan kita akan peroleh sebuah jawaban

yang jelas.”

“Tampaknya malam sudah menjelang tiba….”

Tu Siau-thian mengalihkan pandangan matanya ke luar

gardu, benar saja, kegelapan malam mulai menyelimuti

seluruh jagad.

Halaman mulai terselubung dalam kegelapan, hanya sedikit

cahaya remang terlihat memancar keluar dari balik ruang

perpustakaan.

Lambat laun Tu Siau-thian bertiga pun terkepung di balik

kegelapan, dalam suasana seperti ini mereka bertiga tidak

banyak bicara lagi.

??>

138

Malam semakin larut, bulan yang purnama pun lambat laun

semakin bergeser ke tengah angkasa.

Cahaya lentera yang menyorot keluar dari balik jendela

ruang perpustakaan makin bertambah terang-benderang,

seluruh daun jendela seakan berubah jadi memutih karena

bermandikan sinar.

Bayangan tubuh Jui Pakhay kelihatan lamat-lamat, ada

kalanya dia nampak berdiri, ada kalanya berjalan kian kemari,

ada kalanya berputar-putar saja dalam ruangan seperti semut

yang kepanasan di atas kuali.

Biarpun tidak terdengar suara apa pun, walau hanya

bayangan tubuh Jui Pakhay yang nampak, namun Tu Siauthian

bertiga dapat ikut merasaan ketidaktenangan, kepanikan

serta ketidaksabaran orang itu.

Tanpa sadar mereka bertiga pun ikut panik, ikut tidak

tenang, tidak sabar, sampai kapan kawanan laron penghisap

darah itu baru akan munculkan diri?

??>

Malam bertambah larut, rembulan semakin tinggi

menerawang, juga nampak semakin bulat.

Sinar rembulan yang dingin menyinari seluruh permukaan

bumi, kabut tipis mulai membungkus seluruh halaman.

Entah darimana datangnya kabut itu, tidak tahu pula sejak

kapan kemunculannya, di bawah cahaya rembulan lapisan

kabut tipis itu seakan menyebarkan hawa dingin yang

menggidikkan hati.

Tu Siau-thian bertiga seolah sudah kaku karena kedinginan,

mereka sama sekali tak bergerak, cahaya rembulan yang ikut

membeku seolah tak pernah bergeser pula dari jendela ruang

perpustakaan.

139

Kini cahaya lentera yang muncul dari balik jendela nampak

semakin terang, seluruh permukaan jendela seolah telah

berubah jadi putih bersih karena lapisan salju.

Bayangan tubuh Jui Pakhay masih tertera pula dari balik

jendela, sesosok bayangan tubuh yang sama sekali tak

bergerak.

Bila ditinjau dari bayangan yang memantul, tampaknya Jui

Pakhay sedang duduk di sisi lentera, betapa panik dan

gelisahnya seseorang ada saatnya juga untuk bersikap tenang.

Kentongan pertama, kentongan ke dua, kentongan ke

tiga….

Kini rembulan sudah berada tepat di atas angkasa, bening

bulat bagaikan sebuah cermin, sebuah bulan purnama yang

amat sempurna.

Suara kentongan sekali lagi berkumandang, tiba-tiba…

rembulan itu seakan retak dan mulai merekah….

Selapis awan yang berbentuk sangat aneh tiba-tiba

melayang datang, seakan ada sebuah tangan iblis yang

muncul entah dari mana dan secara tiba-tiba menerkam sang

rembulan dan mencabik-cabiknya.

Awan itu berwarna merah pekat, merah bagaikan

genangan darah segar.

Kini sang rembulan seakan sudah tercebur ke dalam

sebuah bak berisi darah, rembulan yang merah darah….

Saat itu Tu Siau-thian kebetulan sedang menengok ke

angkasa, sebenarnya dia ingin menikmati indahnya bulan

purnama, namun yang terlihat olehnya adalah bulan purnama

yang berwarna merah, merah darah kental.

Perasaan bergidik segera mencekam seluruh hatinya,

sungguh aneh, mengapa awan dan rembulan yang muncul

pada malam ini tampak begitu aneh?

140

Kini cahaya rembulan sudah sama sekali lenyap di balik

awan berwarna merah darah itu.

Dan pada saat itu pula bayangan tubuh Jui Pakhay yang

berada di tepi jendela mulai menunjukkan sebuah reaksi yang

luar biasa.

Diikuti kemudian sebuah jeritan ketakutan yang sangat

menggidikkan hati:

“Laron penghisap darah!”

Suara jeritan dari Jui Pakhay, akhirnya laron penghisap

darah itu muncul juga!

Sorot mata Tu Siau-thian segera dialihkan kembali ke arah

ruang perpustakaan diikuti “Criiing!” terdengar suara pedang

yang diloloskan dari sarungnya berkumandang memecahkan

keheningan.

Semua suara itu jelas muncul dari balik ruangan,

sedemikian nyaringnya suara itu sehingga Tu Siau-thian

bertiga yang berada di dalam gardu pun dapat mendengar

dengan jelas sekali.

Malam itu memang malam yang kelewat sepi.

Bayangan pedang, bayangan manusia melejit hampir pada

saat yang bersamaan, tiba-tiba seluruh cahaya lentera di

dalam ruang perpustakaan itu padam.

Seketika itu juga kegelapan yang luar biasa mencekam

seluruh bangunan perpustakaan itu.

Tu Siau-thian tidak berayal lagi, segera bentaknya:

“Cepat!”

Golok telah diloloskan dari sarungnya, hampir pada saat

yang bersamaan dia sudah melayang keluar dari gardu itu,

langsung menerjang ke arah ruang perpustakaan.

141

Reaksi dari Tan Piau dan Yau Kun cukup cepat juga, Yau

Kun segera membalikkan kedua lengannya meloloskan

sepasang tombak yang tersoren di punggungnya, “Criiiing!”

Tan Piau juga telah meloloskan senjata ruyung bajanya yang

selama ini melilit di pinggangnya, hampir pada waktu yang

bersamaan ke dua orang itu sudah menerjang keluar dari

gardu dan mengikuti di belakang komandannya.

Dalam satu kali lompatan Tu Siau-thian sudah melayang

turun tepat di depan pintu ruang perpustakaan, segera

teriaknya keras:

“Saudara Jui!”

Tiada jawaban, suasana dalam ruang perpustakaan sangat

hening, amat sepi, keheningan yang amat menakutkan!

“Bagaimana komandan?” bisik Yau Kun kemudian ketika

tiada reaksi dari dalam ruangan itu.

“Kita dobrak!” perintah Tu Siau-thian.

Begitu selesai bicara, kaki kanannya langsung melayang ke

depan dan “Duuuk!” menghajar di atas pintu ruangan.

“Braaak!” pintu ruangan segera jebol terhajar tendangan

dahsyat itu.

Sambil memutar goloknya membentuk selapis cahaya

perlindungan yang membungkus seluruh tubuhnya, Tu Siauthian

siap menerjang masuk ke dalam.

Kini pintu ruangan sudah terbuka, seandainya gerombolan

laron penghisap darah itu menerjang keluar dari balik ruangan

maka lapisan cahaya golok itu dapat dipakai untuk sementara

waktu memblokir serbuannya.

Di luar dugaan tidak ada laron penghisap darah yang

muncul dari balik ruangan, jangan lagi segerombolan, seekor

pun tidak nampak.

142

Suasana di balik pintu sangat gelap, sedemikian gelapnya

hingga sulit melihat keadaan di sekelilingnya dengan jelas.

Tu Siau-thian memandang sekejap sekeliling tempat itu,

kemudian dia menjatuhkan diri ke lantai dan berguling masuk

ke dalam ruangan, mengikuti gerakan itu cahaya golok diputar

sedemikian rupa untuk melindungi tubuhnya.

Tidak usah diperintah lagi, Yau Kun dan Tan Piau segera

mendobrak jendela yang berada di kiri dan kanan ruangan,

lalu yang satu melintangkan sepasang tombaknya untuk

melindungi badan, yang lain memutar ruyungnya langsung

menerjang masuk ke dalam ruang perpustakaan melalui

jendela yang terbuka itu.

Dalam waktu singkat mereka bertiga sudah tertelan di balik

kegelapan.

Kegelapan hanya berlangsung dalam waktu singkat, tibatiba

berkelebat sekilas cahaya terang, sebuah korek api telah

disulut orang.

Tu Siau-thian memang bukan opas kemarin sore yang

miskin pengalaman, korek api ternyata berada di dalam

genggamannya.

Kini dia telah bangkit berdiri, mengangkat tinggi korek api

tersebut dengan golok di tangan kanannya melintang di depan

dada, sorot matanya yang tajam tiada hentinya bergeser

memeriksa sekeliling tempat itu.

Sementara itu Tan Piau dan Yau Kun telah menyulut pula

dua obor, suasana di dalam ruang perpustakaan pun kembali

jadi terang-benderang.

Sekarang semuanya sudah terlihat jelas, di dalam ruang

perpustakaan itu kecuali dia bersama ke dua orang anak

buahnya, di situ tak nampak hadir orang ke empat.

Lalu ke mana perginya Jui Pakhay?

143

??>

Lampu lentera masih berada di atas meja, namun penutup

lampu itu sudah terbelah jadi dua, begitu pula dengan sumbu

api lentera, sumbu itu terbelah juga jadi dua bagian.

Tampaknya tusukan kilat yang dilancarkan Jui Pakhay

dengan pedangnya telah membelah penutup lampu itu hingga

terpapas menjadi dua bagian.

Bacokan pedang itu tepat membelah penutup lampu, tentu

saja Jui Pakhay mempunyai alasan yang kuat untuk berbuat

begitu.

Dia memang bukan orang gila, bukan orang yang tidak

waras otaknya,

… Laron penghisap darah!

Waktu itu dia memang berteriak kaget: Laron penghisap

darah! Mungkinkah laron itu muncul di sekitar atau di atas

penutup lampu itu? Karena makhluk penghisap darah itu

muncul di sana, maka serangan pedangnya ditujukan ke arah

sana dan membuat penutup lampu serta sumbu lampunya

terpapas jadi dua?

Untung sumbu lampu itu tidak terpapas habis dan masih

bisa disulut, Tu Siau-thian segera menyulut kembali lampu

lentera itu.

Dengan cepat cahaya lampu menerangi seluruh sudut

ruang perpustakaan, kini suasana jadi terang benderang

bagaikan di tengah hari.

Tu Siau-thian dapat melihat setiap benda yang ada dalam

ruangan dengan jelas, Jui Pakhay memang benar-benar tidak

berada dalam ruang perpustakaan.

Tidak nampak bayangan manusia, yang kelihatan justru

bercak darah, bercak darah itu berada di tepi lampu lentera, di

bawah cahaya sinar lampu yang terang.

144

Darah itu berwarna merah cerah, cahaya darah yang

membawa hawa sesat, mungkinkah berasal dari darah

manusia? Atau darah laron?

Darah laron biasanya tidak berwarna, atau mungkin darah

laron penghisap darah adalah pengecualian?

Kalau bukan berasal dan darah laron, berarti darah itu

adalah darah yang meleleh keluar dari tubuh Jui Pakhay.

Bercak darah masih tersisa di atas meja, tapi ke mana

perginya orang itu?

Tu Siau-thian mencoba mengambil darah itu dengan ujung

jarinya kemudian diendus sebentar, setelah itu gumamnya:

“Kalau ditinjau dari baunya, darah ini semestinya darah

manusia.”

Sudah belasan tahun dia bekerja sebagai seorang opas,

sudah tidak terhitung jumlah penjahat yang jatuh ke

tangannya, tentu saja kawanan penyamun itu tidak akan

menyerah dengan begitu saja, ini membuat kehidupannya

selama belasan tahun ini ibarat masuk keluar di antara

kehidupan dan kematian, bahkan dia sendiripun sampai lupa

sudah berapa banyak pertarungan yang dia lakukan.

Dengan pengalaman semacam ini, otomatis bau anyirnya

darah manusia sudah sangat dikenal olehnya, karena golok

andalannya entah sudah berapa kali mesti berpelepotan darah

kental.

Tapi sekarang, dia tidak yakin akan penemuannya, dia tidak

yakin kalau bercak darah itu berasal dari darah manusia.

Biarpun sudah dua kali dia menjumpai laron penghisap

darah, namun tidak sekali pun pernah melihat darah dari

kawanan laron itu.

Kawanan laron penghisap darah itu menghisap darah

manusia, berarti darah yang terhisap akan tersimpan di dalam

145

tubuhnya, mungkinkah lantaran menghisap darah manusia

maka darah yang mengalir dalam tubuh laron penghisap darah

itu berubah jadi darah manusia?

Atau mungkin cairan darah yang berada dalam tubuh laron

penghisap darah pada hakekatnya sama persis seperti darah

manusia?

Tu Siau-thian tidak berpikir lebih jauh, dia kuatir pikirannya

bertambah kalut, dewasa ini masih ada persoalan lain yang

jauh lebih penting daripada persoalan tersebut, persoalan

yang butuh penyelesaiannya.

Terlepas rekannya masih hidup atau sudah jadi mayat,

yang paling penting saat ini adalah menemukan dulu Jui

Pakhay.

Setelah menyimpan korek apinya, dia ambil lentera dari

atas meja dan menerangi sekeliling ruang perpustakaan itu

dengan seksama.

Dengan bergesernya dia, cahaya lentera pun ikut bergeser,

dia telusuri seluruh ruang perpustakaan, menggeledah dan

meneliti setiap bagian dari ruangan itu.

Sudah barang tentu Tan Piau dan Yau Kun tidak berpangku

tangan belaka, tempat yang telah diperiksa Tu Siau-thian,

sekali lagi mereka periksa dan geledah dengan seksama.

Dengan pemeriksaan dan penggeledahan seperti ini,

biarpun tubuh Jui Pakhay tiba-tiba berubah tinggal berapa inci

pun rasanya tidak sulit untuk ditemukan oleh mereka bertiga.

Seorang manusia dengan perawakan setinggi tujuh depa,

bila tiba-tiba berubah menjadi berapa inci saja tingginya maka

hanya ada satu jawabannya, Jui Pakhay pasti telah bertemu

dengan siluman atau dia sendirilah sang siluman itu.

Tadi dia berteriak kaget, meneriakkan laron penghisap

darah, seandainya dia benar-benar telah berjumpa dengan

146

siluman, semestinya siluman itu adalah seekor siluman laron

penghisap darah!

Masa benar bukan hanya dongeng saja? Masa di dunia ini

benar-benar terdapat setan iblis dan siluman?

Untuk ke tiga kalinya Tu Siau-thian menggeledah seluruh

ruangan, selain pintu, jendela pun dia periksa satu per satu

dengan seksama.

Pintu ruangan perpustakaan masih berada dalam posisi

terkunci dari dalam, pintu itu terbuka lantaran jebol terhajar

tendangannya, sementara Tan Piau dan Yau Kun menerjang

masuk melalui daun jendela.

Ini berarti seluruh ruangan perpustakaan itu dalam

keadaan terkunci dari dalam, sama sekali tidak ada akses

keluar yang mungkin bisa dipergunakan.

Biar Jui Pakhay punya sepasang sayap pun mustahil dia

bisa terbang meninggalkan ruangan itu tanpa membuka

jendela atau pintu, apalagi ruang perpustakaan berada di

bawah pengawasan yang ketat dari mereka bertiga.

Tidak mungkin dia meneriakkan laron penghisap darah

tanpa sebab musabab yang jelas, dia baru menjerit keras

karena telah berjumpa dengan laron penghisap darah

tersebut.

Jeritan itu penuh dengan rasa takut, kaget, ngeri dan

seram, jeritan yang sangat memilukan hati.

Sekalipun tidak sempat menyaksikan perubahan mimik

mukanya, meski mereka hanya sempat mendengar suara

jeritannya, tapi tidak sulit bagi mereka untuk membayangkan

betapa ketakutannya orang itu.

Padahal bukan untuk pertama kalinya dia berjumpa dengan

laron penghisap darah.

147

Seandainya yang muncul waktu itu hanya berapa ekor laron

penghisap darah, tidak nanti dia akan berteriak sekeras itu,

tidak ada alasan baginya untuk menunjukkan rasa takutnya

yang luar biasa.

Jangan-jangan pada saat yang bersamaan di dalam ruang

perpustakaan telah muncul berjuta-juta ekor laron penghisap

darah yang secara serentak menyerangnya?

Bila hal tersebut merupakan kenyataan, kenapa kawanan

laron penghisap darah itu bisa lolos dari pengawasan Tu Siauthian

bertiga? Dengan cara apa mereka memasuki ruang

perpustakaan dan mereka masuk melalui jalan yang mana?

Kelihatannya hanya hembusan angin yang bisa membawa

mereka masuk ke dalam ruang perpustakaan melalui celahcelah

pintu dan jendela yang apa, kendatipun bentuk tubuh

kawanan laron penghisap darah itu lebih tipis dari kertas,

mungkinkah dalam waktu yang relatip singkat mereka bisa

masuk secara bersama? Mungkinkah berjuta-juta ekor laron

itu bisa menyusup masuk dalam waktu singkat?

Sebenarnya laron penghisap darah yang dijumpai Jui

Pakhay adalah laron penghisap darah macam apa?

Atau jangan-jangan… yang muncul waktu itu adalah raja

sang laron? Rajadiraja dari kawanan laron penghisap darah?

Mungkinkah suasana seram yang mencekam tempat

tersebut tatkala kemunculan sang raja laron, seribu bahkan

selaksa kali lipat lebih menakutkan, lebih menyeramkan

ketimbang keseraman yang dijumpainya ketika melihat

kemunculan laron penghisap darah untuk pertama kalinya

dulu?

Sejak dia menjerit kaget untuk pertama kalinya, hingga dia

mencabut pedangnya, menerjang ke muka, padamnya cahaya

lentera sampai kemunculan Tu Siau-thian bertiga dengan

mendobrak pintu, semua kejadian tersebut hanya berlangsung

dalam waktu singkat.

148

Kalau benar Jui Pakhay gagal di dalam serangannya, kalau

dia memang tewas dibantai kawanan laron penghisap darah,

andaikata mayatnya sudah dibawa kabur kawanan makhluk

seram itu, lalu… dengan cara apa mereka membawanya

pergi? Melalui jalan mana mereka kabur dari situ?

Memangnya tubuh Jui Pakhay tiba-tiba menguap seperti

segumpal kapur? Menguap di dalam ruang perpustakaan dan

hilang lenyap dengan begitu saja?

Kejadian ini jelas bukan sulap, hanya sulap yang bisa

berbuat begitu.

Benarkah di kolong langit memang terdapat setan iblis dan

siluman?

Tu Siau-thian berdiri mematung, mengawasi bercak darah

di atas meja dengan termangu, dia merasa sekujur badannya

terasa sangat dingin, seolah-olah baru saja dia tercebur ke

dalam kolam yang berisi bongkahan salju beku.

Tubuhnya dingin kaku bahkan menggigil keras, namun

jidatnya basah oleh keringat, tentu saja keringat dingin!

??>

Bulan tiga tanggal enam belas, Tu Siau-thian masih

melanjutkan penggeledahannya, seluruh bangunan

perpustakaan Ki-po-cay hingga ke seluruh halaman di

sekeliling bangunan itu telah digeledah dan diperiksa dengan

seksama.

Selain Tan Piau dan Yau Kun, kali ini dia melibatkan pula

sepuluh orang anggota opas lainnya. Tu Siau-thian bahkan

turunkan larangan, barangsiapa yang terlibat dalam tugas ini

dilarang membocorkan kejadian tersebut kepada siapa pun.

Sebelum melalui pembuktian yang jelas dan ditemukannya

fakta, dia tidak ingin membocorkan berita yang sangat aneh

dan menyeramkan itu kepada khalayak ramai, dia tidak ingin

149

terjadinya kehebohan dan kegaduhan dalam kehidupan

masyarakat.

Walaupun perintah itu dijalankan tegas, tidak urung cerita

burung beredar juga di seantero kota dengan cepatnya.

Siapa yang telah membocorkan rahasia ini? Siapa yang

telah menyebarkan berita burung itu?

Tu Siau-thian tidak punya waktu untuk mengusut kejadian

itu, dia pun tidak membiarkan siapa pun mencegah atau

menghalangi pemeriksaan dan penggeledahan yang dilakukan.

Seharian penuh mereka menggeledah setiap jengkal tanah

yang ada di seputar gedung perpustakaan Ki-po-cay, namun

bayangan tubuh Jui Pakhay masih tetap menjadi tanda tanya

besar.

Kalau seseorang sudah mati, seharusnya ada mayat yang

ditinggalkan.

Mungkinkah kawanan laron penghisap darah itu sekalian

melahap mayat tubuhnya setelah menghisap kering cairan

darah yang mengalir dalam tubuhnya?

??>

Bulan tiga tanggal tujuh belas, lingkup penggeledahan

diperluas, kini mereka telah memeriksa setiap tempat yang

ada dalam kota itu.

Usul ini bukan muncul dari Tu Siau-thian, melainkan atas

perintah dari Ko Thian-liok, penguasa tertinggi kota itu.

Sebagaimana diketahui, Ko Thian-liok termasuk sahabat

karib Jui Pakhay.

Di kota tersebut Jui Pakhay bukan saja termashur sebagai

seorang hartawan yang kaya raya, dia pun termasuk seorang

tokoh masyarakat yang berstatus sosial tinggi dan sangat

terpandang.

150

Berita tentang hilangnya sang hartawan segera menyebar

ke seantero tempat, kini semua penduduk kota ikut

mengetahui kabar tersebut, maka tak sedikit penduduk yang

mulai bergabung dan ikut serta dalam pencarian itu.

Tapi alhasil, pencarian itu sama sekali tidak membuahkan

hasil.

??>

Bulan tiga tanggal delapan belas, atas perintah Ko Thianliok

dilakukan penggeledahan sekali lagi dalam gedung

perpustakaan Ki-po-cay, penggeledahan kali ini bukan

dipimpin oleh Tu Siau-thian melainkan langsung oleh

atasannya, Nyo Sin.

Akhirnya Nyo Sin harus turun tangan sendiri, dia pimpin

langsung penggeledahan dan pemeriksaan tersebut.

Selama ini Nyo sin memang selalu berpendapat dia jauh

lebih teliti ketimbang Tu Siau-thian, bahkan jauh lebih teliti

dan cekatan ketimbang siapa pun.

Tu Siau-thian tidak pernah membantah pandangan seperti

itu, tiap kali Nyo sin hadir di tempat kejadian, dia memang

sangat jarang mengemukakan pendapat pribadinya.

Dia bukan termasuk orang yang gila nama, dia pun tidak

pernah ambil perduli bagaimana pandangan orang lain

terhadap dirinya.

Selama sepuluh tahun berbakti, dia hanya tahu setia pada

tugas dan taat pada kewajiban.

Angin berhembus sepoi di pagi hari yang cerah itu, dengan

langkah lebar Nyo Sin berjalan di paling depan, baju

kebesarannya tampak berkibar ketika terhembus angin.

Tiba di depan pintu utara, dengan suara yang lantang Nyo

sin segera menghardik:

151

“Siapa yang akan masuk untuk mengabarkan

kehadiranku?”

Tu Siau-thian segera mengiakan dan melangkah maju ke

depan, saat itulah pintu utama Ki-po-cay dibuka orang,

seorang kacung cilik menongolkan kepalanya dari balik pintu.

Teriak dari Nyo Sin memang sangat keras, suaranya ibarat

guntur yang menggelegar di siang hari bolong, teriakannya

paling tidak bisa bergema hingga sepuluh kaki jauhnya.

Sementara Tu Siau-thian sedang berbincang-bincang

dengan kacung cilik itu, mendadak dari ujung jalan

kedengaran suara kelenengan yang amat merdu bergema

tiba.

Suara keleningan itu berasal dari kepala seekor kuda,

begitu merdu dan nyaringnya suara tersebut membuat semua

orang tanpa terasa sama-sama berpaling.

Dua ekor kuda berlari cepat di sudut jalan sana, tapi dalam

waktu singkat ke dua ekor kuda tunggangan itu sudah

berjalan mendekat.

Suara kelenengan yang merdu itu ternyata berasal dari

kuda tunggangan yang pertama.

Kuda berbulu merah dengan kelenengan berwarna kuning

emas, penunggangnya adalah seorang pemuda tampan

berbaju putih dengan sebilah pedang mestika bergagang emas

bersarung kulit ular tersoren di pinggangnya, seorang pemuda

gagah yang nyaris mirip seorang pangeran.

Siang Hu-hoa!

Bab 9.

Tujuh bintang pencabut nyawa.

Akhirnya Siang Huhoa muncul juga ditempat itu.

152

Begitu suara kelenengan berhenti berdenting, kuda berbulu

merah itupun berhenti berlari tepat di depan pintu

perpustakaan Ki po cay dan “Wees!” dengan sebuah gerakan

tubuh yang enteng Siang Huhoa sudah melompat turun dari

kudanya.

Jui Gi yang menyusul ketat di belakangnya segera

melompat turun juga dari kudanya dan berdiri persis di

belakangnya, tubuh yang semula tegak bagai batang pit kini

sudah terbongkok seperti udang ebi.

Maklum, kondisi badannya jelas tidak mampu menandingi

Siang Hu-hoa, apalagi secara beruntun dalam dua belas hari

dia mesti menempuh perjalanan jauh, tiap hari harus

menghabiskan waktunya duduk di pelana kuda sambil

menempuh perjalanan jauh.

Untuk itu semua dia sudah dua kali berganti kuda, jadi

harus disyukuri kalau pinggangnya tidak sampai patah dua

lantaran itu.

Dengan menuntun kudanya terburu buru dia berjalan

disamping Siang Hu-hoa.

Waktu itu Siang Huhoa sama sekali tidak memperdulikan

dirinya lagi, jagoan muda ini sedang mengalihkan sorot

matanya ke arah Nyo Sin, memandangnya dengan sinar kaget

bercampur tercengang.

Kalau tidak terjadi suatu peristiwa besar, todak nanti sepagi

ini sudah berkerumun begitu banyak opas di depan pintu

rumah, ini kejadian yang sangat lumrah, orang bodoh pun

pasti akan menyadari juga.

Lantas, apa yang telah terjadi?

Baru saja Siang Huhoa akan mengajukan pertanyaan, Nyoo

Sin dengan lagaknya yang angkuh sudah melotot ke arahnya

sambil berteriak:

“Siapa kau?”

153

Biarpun lagaknya masih menunjukkan gaya seorang

pejabat, namun nada suaranya sudah tidak segalak tadi.

Dandanan maupun cara berpakaian Siang Hu-hoa sudah

menunjukkan kalau dia bukan berasal dari keluarga

sembarangan, biasanya dia memang tak pingin cari masalah

dengan orang yang berasal dari keluarga luar biasa.

Bukannya menjawab Siang Hu-hoa malah balik bertanya:

“Siapa pula dirimu?”

“Komandan tertinggi dari pasukan opas kota ini!” jawab

Nyo Sin sambil membusungkan dadanya.

“Ohh…..Nyo Sin?”

“Haah, kau juga kenal aku?” Nyo Sin tampak melengak.

“Tidak kenal, hanya kebetulan ditengah perjalanan tadi Jui

Gi sempat menyinggung tentang dirimu”

“Oooh….kau belum menyebutkan namamu!” ujar Nyo sin

kemudian, lagak orang ini memang tak bisa terlepas dari

kebiasaannya sebagai seorang pejabat negara, lagak tengik.

Baru saja Siang Huhoa akan menjawab, Jui Gi yang berada

disampingnya telah menyela duluan:

“Nyo tayjin, dia adalah sahabat majikan kami…….”

“Siapa namanya?” tukas Nyo Sin cepat.

“Siang Hu-hoa!”

“Siang Huhoa?” kali ini nada suara Nyo Sin penuh diliputi

rasa kaget, heran dan tidak percaya, tampaknya dia pun

merasa tidak asing dengan nama besar tersebut.

Tu Siau-thian segera memburu maju ke depan, sapanya:

“Oooh, rupanya saudara Siang, kemarin saudara Jui sempat

menyinggung tentang dirimu, dia bilang kau pasti akan datang

kemari”

154

Siang Hu-hoa berpaling, diawasinya Tu Siau-thian sekejap

lalu balik bertanya:

“Kau adalah Tu Siau-thian, saudara Tu?”

Tu Siau-thian manggut m anggut.

“Rupanya saudara Jui pernah menyinggung tentang aku

dihadapanmu” katanya.

“Konon kau adalah sahabat paling akrab dari saudara Jui?”

“Kalau bicara soal keakraban, mungkin hubungan kami

masih kalah jauh dibandingkan hubunganmu dengannya, aku

baru kenal dia sekitar tiga tahun yang lalu”

“Keakraban suatu hubungan persahabatan tidak dinilai dari

pendek panjangnya masa perkenalan, ada orang yang begitu

berjumpa lantas hubungan jadi akrab, ada pula yang sudah

berkenalan sejak sepuluh tahun berselang, tapi hubungannya

tidak lebih hanya sekedar teman”

“Perkataanmu memang ada benarnya juga, Cuma tak

terbantahkan bahwa hubungan persahabatanmu dengannya

jauh lebih kental dan akrab ketimbang hubunganku

denganhnya”

“Atas dasar apa kau berkata begitu?”

“Seperti contohnya dalam peristiwa ini, dia tidak pernah

mau menjelaskan kepadaku secara terperinci, tapi dia justru

siap berterus terang kepadamu, agar kau bisa melakukan

penyelidikan baginya”

“Oya?’ Siang Hu-hoa tampak agak tertegun kemudian

berpikir dengan wajah sangsi.

Dia memang tidak mengerti dengan ucapan Tu Siau-thian

itu, apa makna dibalik kesemuanya itu?

“Kemudian bila ditinjau dari sudutmu” ujar Tu Siau-thian

lebih jauh.” begitu Jui Gi datang menyampaikan kabar,

155

nyatanya kau segera berangkat menuju kemari, bila bukan

disebabkan hubungan kalian yang begitu akrab, mana

mungkin kau sudi berbuat demikian?”

Siang Hu-hoa tertawa hambar, dia segera mengalihkan

pokok pembicaraan ke soal lain, katanya:

“Sepagi ini kalian semua sudah bergerombol ditempat ini,

apakah dalam gedung perpustakaan Ki-po-cay sudah terjadi

peristiwa yang amat serius?”

“Betul!”

“Apakah majikanku sudah ketimpa musibah?” sela Jui Gi

tak tahan.

Sebelum Tu Siau-thian sempat menjawab, tiba tiba Nyo Sin

menyela dari samping:

“Darimana kau bisa tahu kalau majikanmu ketimpa

musibah?”

“Aku hanya menduga”

“Tepat amat dugaanmu itu” jengek Nyo Sin lagi sambil

tertawa dingin.

Berubah hebat paras muka Jui Gi setelah mendengar

perkataan itu, tanyana dengan perasaan terperanjat:

“Bagaimana keadaan majikanku sekarang?”

Nyo sin tidak menjawab pertanyaan itu sebaliknya malah

bertanya lagi:

“Sejak kapan kau tinggalkan gedung perpustakaan Ki-pocay?”

“Bulan tiga tanggal tujuh”

“Ke mana?”

“Mendapat perintah dari majikanku untuk menghantar

sepucuk surat ke perkampungan Ban-hoa sanceng”

156

“Untuk diberikan kepada siapa?” kembali Nyo Sin

mendesak.

Seraya berpaling ke arah Siang Hu-hoa, sahut Jui Gi:

“Untuk pemilik perkampungan Ba-hoa sanceng, tuan

Siang!”

“Selama tenggang waktu ini, apakah secara diam diam kau

pernah berbalik kemari?”

Sekarang Jui Gi baru merasa kalau Nyo sin sedang

mengintrogasi dirinya, seakan sudah menganggapnya sebagai

seorang tersangka, sambil tertawa getir diapun berkata;

“Nyo tayjin, jarak antara Ki-po-cay dengan perkampungan

Ban-hoa-sanceng itu sangat jauh, untuk pulang pergi

dibutuhkan waktu paling tidak dua belas hari”

“Apa betul begitu?”

“Nyo tayjin, kalau tidak percaya dengan perkataan hamba,

silahkan utus orang untuk membuktikannya, setiap rumah

penginapan yang hamba gunakan masih tercatat rapi, tayjin

bisa telusuri semua tempat untuk mencocokkan perkataan

hamba”

“Tidak usah” Nyo Sin segera mengulapkan tangannya.

“Jadi Nyo tayjin sudah percaya?”

“Terlalu awal untuk berkata begitu”

Jui Gi menghela napas panjang, sementara dia ingin

berkata lagi, Siang Hu-hoa sudah menukas duluan:

“Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan saudara Jui?”

“Dia sudah lenyap selama dua hari” kata Tu Siau-thian.

“Kejadiannya berarti pada malam tanggal lima belas?”

tanya Siang Hu-hoa terperanjat.

“Benar”

157

Kembali Nyo Sin menyela pembicaraan itu, tanyanya

kepada Siang Hu-hoa:

“Darimana kau bisa tahu kalau peristiwa tersebut terjadi

pada malam tanggal lima belas?”

“Sebab dua hari berselang tepat tanggal lima belas, Raja

laron punya kebiasaan munculkan diri di malam tanggal lima

belas, persis saat bulan sedang purnama”

Begitu pernyataan itu diutarakan, paras muka Nyo sin dan

Tu Siau-thian seketika berubah sangat hebat.

“Darimana kau bisa tahu kalau saat itu si Raja laron telah

menampakkan diri?” desak Nyo Sin lagi.

“Siapa bilang aku tahu?”

“Tadi, bukankah kau berkata Raja laron muncul pada

malam tanggal lima belas, disaat bulan sedang purnama…….”

“Tadi aku kan bilang si Raja laron punya kebiasaan berbuat

begitu”

“Jadi kaupun mengetahui tentang kebiasaan sang raja

laron?”

“Kalau cerita dongeng tentang laron penghisap darah pun

kuketahui, masa kebiasaan sang raja laron tidak kupahami?”

Sambil m anggut manggut Tu Siau-thian segera berkata:

“Atas dasar apa kau merasa yakin kalau lenyapnya Jui

Pakhay ada hubungan yang sangat erat dengan laron

penghisap darah?”

“Belum pernah kugunakan kata yakin!”

“Kau tidak pernah menyebut?” kembali Nyo Sin berseru,

“lantas darimana kau bisa tahu kalau ke dua hal itu saling

berhubungan?”

158

“Apakah di dalam surat yang ditulis saudara Jui untukmu,

dia sudah menyinggung tentang peristiwa aneh yang telah

dialaminya pada permulaan bulan?” kembali Tu Siau-thian

menyela.

Siang Hu-hoa manggut manggut membenarkan.

“Apa yang ditulis dalam suratnya?”

“Laron penghisap darah tiap hari mengintai, nyawa kami

berada diujung tanduk!!!”

“Karena itu kau buru buru datang kemari?”

“Yaaa, dan kelihatannya kedatanganku sedikit agak

terlambat”

“Apa lagi yang telah dia katakan kepadamu” kembali Tu

Siau-thian bertanya.

“Semua kejadian yang dialaminya sejak tanggal satu hingga

tanggal enam telah dia sampaikan kepadaku secara terperinci

dan jelas”

Berbinar sepasang mata Nyo Sin sesudah mendengar

jawaban tersebut, baru saja dia akan menimbrung, Tu Siauthian

telah berkata duluan:

“Tanggal dua aku bersama dia berada ditepi telaga, saat

itulah kami telah berjumpa dengan dua ekor laron penghisap

darah, salah satu diantar anya malah sempat menggigit ujung

jariku, apakah dia juga menyinggung tentang peristiwa ini?”

“Benar, dia sempat menyinggung soal ini” jawab Siang Huhoa,

kemudian sambil menatap wajah orang dengan sorot

mata tajam, terusnya, “Apa benar telah terjadi peristiwa

semacam ini?”

“Benar, sama sekali tidak bohong” Tu Siau-thian

mengangguk.

Agak berubah air muka Siang Hu-hoa.

159

“Jadi di kolong langit benar benar terdapat makhluk

semacam laron penghisap darah?” tegasnya.

“Memang nyata ada!”

“Kelihatannya kau begitu yakin?*

“Aku sangat yakin, karena aku memang berasal dari

wilayah Siau-siang”

“Oooh…….”

“Laron semacam itu memang merupakan makhluk khas dari

hutan seputar wilayah Siau-siang, sudah sejak jaman dulu

makhluk tersebut hidup disana”

“Mereka benar benar pandai menghisap darah?”

“Kalau soal ini mah aku kurang yakin….” bisik Tu Siauthian.

“Kalau kutinjau dari isi surat yang ditulis saudara Jui,

kelihatannya laron itu selain pandai menghisap darah,

bentuknya pun sangat aneh, khas dan memiliki warna yang

sangat indah”

“Kalau dibilang bentuknya aneh, khas dan berwarna indah,

rasanya dia memang tidak berbohong” Tu Siau-thian

menegaskan.

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya:

“Tidak usah melihat makhluk tersebut dengan mata kepala

sendiripun, kita bisa membayangkan betapa aneh dan

indahnya binatang itu dari nama-nama yang diberikan orang”

“Ooh, mereka punya banyak nama? Apa saja?”

“Di wilayah Siau-siang, kebanyakan orang menyebutnya

laron penghisap darah, tapi ada juga yang menyebut laron

berwajah setan, laron bermata iblis, laron bermata burung

hantu”

160

“Bagaimana sih bentuk laron itu?” tidak tahan Siang Hu-hoa

bertanya lebih jauh.

“Bentuk luarnya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan

laron, tapi warnanya sangat berbeda, laron penghisap darah

mempunyai tubuh berwarna hijau kemala, sepasang sayapnya

berwarna hijau pula”

“Hijau kemala itu warna yang cantik dan indah, kenapa

dikatakan menyeramkan?”

“Sebab dibalik warna hijau yang menyelimuti seluruh

badannya, khusus pada bagian sayapnya justru penuh ditebari

garis garis merah darah yang mencolok, diatas sepasang

sayapnya itu terdapat pula garis merah yang berbentuk seperti

mata, mata berwarna merah darah sehingga sekilas pandang

mirip sekali dengan sepasang mata hantu yang berlumuran

darah”

“Oooh, tidak aneh kalau ada begitu banyak nama sebutan”

sekarang Siang Hu-hoa baru paham.

Tu Siau-thian kembali mengalihkan pokok pembicaraan,

ujarnya:

“Peristiwa yang terjadi selama berapa hari belakangan

memang terasa aneh sekali, bukan Cuma aneh bahkan sulit

dipercaya dengan akal sehat”

“Ehmmm, aku pun sependapat dengan pandanganmu itu,

mana mungkin di dunia ini terdapat setan hantu atau siluman

dan sebangsanya, mana mungkin istrinya adalah jelmaan dari

laron penghisap darah? Mana ada siluman laron di jagat raya

ini?”

Begitu perkataan itu diutarakan, suasana pun berubah jadi

gempar, hampir semua yang hadir dibuat terperanjat dan

keheranan.

161

“Siapa bilang istrinya adalah jelmaan dari laron penghisap

darah? Siapa bilang dia adalah siluman laron?” tidak kuasa

Nyo Sin berteriak keras.

“Apakah dia menulis begitu di dalam suratnya?” tanya Tu

Siau-thian pula.

Kini giliran Siang Hu-hoa yang melengak.

“Jadi kau tidak mengetahui secara keseluruhan peristiwa

yang terjadi waktu itu?” dia balik bertanya.

Ternyata Tu Siau-thian tidak menyangkal akan hal itu.

“Berarti kau hanya tahu peristiwa yang terjadi pada tanggal

satu saja?” kembali Siang Hu-hoa bertanya

“Dia pernah menyinggung soal peristiwa yang dialami pada

tanggal satu malam, tapi kemudian sejak tanggal tiga aku

mendapat tugas hingga mesti pergi dari sini, ketika balik lagi

waktu sudah menunjukkan tanggal empat belas bulan tiga

malam”

“Pada tanggal empat belas dan lima belas, apakah kau

pernah bersua dengannya?”

“Selama dua hari ini kami selalu bersama…….”

“Ketika bertemu, apakah dia sempat mengatakan sesuatu

kepadamu?”

Tu Siau-thian menggeleng.

“Aku pernah bertanya, tapi dia sepertinya enggan untuk

menjawab” katanya.

“Bila kutinjau dari apa yang kau utarakan tadi, seakan kau

sudah tahu secara jelas semua persoalan ini?”

Perasaan menyesal sempat melintas diwajah Tu Siau-thian,

sahutnya kemudian:

162

“Kalau bukan begitu, tak nanti aku bisa mengorek

keterangan sebanyak itu”

“Sudah berapa lama kau bekerja di kantor pengadilan (laksan-

bun)?”

“Sepuluh tahun lebih”

“Tidak heran kalau kaupun berhasil mengorek keterangan

dari mulutku, tampaknya kau selalu menggunakan cara seperti

ini untuk mengorek keterangan dari para tersangka”

“Cara sih bukan Cuma itu saja, masih banyak macam”

“Waah, kalau begitu aku mesti lebih waspada lagi jika harus

berbicara lagi dengan orang orang dari kalangan kalian

dikemudian hari”

Tu Siau-thian tidak menanggapi ucapan itu, kembali dia

mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya:

“Apa lagi yang saudara Jui terangkan didalam suratnya

kepadamu?”

Sebelum Siang Hu-hoa menjawab, Nyo Sin sudah

menimbrung lagi dengan suara keras:

“Apakah surat itu masih kau simpan?”

“Masih!”

“Kau bawa dalam sakumu?”

“Tidak”

“Sekarang surat itu berada di mana?”

“Perkampungan Ban-hoa sanceng”

“Kau taruh dimana dalam perkampunganmu itu?”

“Dalam kamar bacaku!” jawab Siang Huhoa ketus,

ditatapnya pembesar itu sekejap dengan pandangan dingin.

163

“Kalau begitu akan kuutus anak buahku untuk pergi

mengambilnya”

“Sayang kecuali aku sendiri, tidak pernah ada orang lain

yang sanggup mengambil dan membawa pergi benda apa pun

yang tersimpan dalam kamar bacaku di perkampungan Banhoa

san-ceng”

Mendengar perkataan itu, Nyo Sin kontan tertegun dan

tidak sanggup berkata-kata lagi.

Siang Hu-hoa tidak menggubris dia lagi, seraya berpaling

ke arah Tu Siau-thian, ujarnya:

“Ketika lenyap tidak berbekas, kebetulan saudara Jui

sedang berada di mana?”

“Di dalam ruangan perpustakaannya, Ki po cay!”

“Apakah di dalam ruang perpustakaan waktu itu hadir

orang lain?”

“Rasanya sih tidak ada”

“Diluar perpustakaan?”

“Aku dan ke dua anak buahku berjaga-jaga disitu”

“Apa yang sedang kalian bertiga lakukan waktu itu?”

“Lantaran kuatir pada malam tanggal lima belas benarbenar

akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, maka aku

mengajak dua orang anak buahku untuk bersiaga disini,

maksud kami, bila terjadi sesuatu kegaduhan maka kami bisa

segera memberi bantuan”

“Kalau memang bermaksud begitu, kenapa kalian tidak

sekalian bergabung dengannya di dalam ruangan?”

“Sebab dia bersikeras menampik tawaran kami”

“Oya?”

164

“Alasannya, dia tidak ingin ada teman yang

mempertaruhkan jiwa demi dirinya”

“Maka dari itu kalian bertiga hanya bisa berjaga jaga diluar

perpustakaan?”

Tu Siau-thian mengangguk membenarkan.

“Sebenarnya bagaimana kisah kejadian itu?” tanya Siang

Hu-hoa lagi.

Waktu itu kami bertiga berjaga didalam gardu diluar

halaman perpustakaan itu sambil mengawasi gerak gerik

disekeliling tempat itu, sejak kentongan pertama hingga

kentongan kedua, dari kentongan ke dua hingga kentongan

ketiga, selama itu suasana sangat tenang, tapi begitu tiba

pada kentongan ke tiga………”

“Apa yang terjadi?”

“Tiba-tiba terdengar jeritan kaget dari dalam ruang

perpustakaan”

“Kalian yakin dia yang menjerit?”

Tu Siau-thian mengangguk.

“Waktu itu bayangan tubuhnya menempel diatas kertas

jendela, begitu berkumandang suara jeritan, bayangan

tubuhnya segera melejit ke udara diikuti suara gemerincing

senjata yang diloloskan dari sarung!”

“Apa yang dia teriakkan?”

“Hanya tiga kata, laron penghisap darah!”

“Apa pula yang terjadi sesudah dia meloloskan

pedangnya?” tanya Siang Huhoa lebih jauh.

“Tubuh dan pedangnya melejit bersama ke udara!”

“Ehmmm, itulah tujuh bintang pencabut nyawa, pedang

sakti perenggut sukma, biarpun selama tiga tahun belakangan

165

ilmu tersebut tak pernah dilatih lagi, namun bukan setiap

orang mampu menghadapi serangan maut itu”

“Sayang musuh yang dia hadapi kali ini bukan manusia”

sela Tu Siau-thian.

“Setelah dia melancarkan serangan dengan pedangnya, apa

pula yang terjadi?”

“Tiba tiba seluruh cahaya lentera di dalam perpustakaan

padam, disusul kemudian semua suara yang semula gaduh

mendadak jadi hening, sepi dan tidak kedengaran sedikit

suara pun, ketika kami bertiga menerjang masuk dengan

menjebol pintu, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak

berbekas, yang kami jumpai hanya dua buah sayatan bekas

bacokan senjata diujung meja tepi lentera serta sebercak

darah kental”

“Bisa jadi bercak darah itu berasal dari darah musuh,

setelah berhasil pukul mundur musuhnya, dia segera

melakukan pengejaran” kata Siang Hu-hoa.

“Tapi semua pintu dan jendela berada dalam keadaan

tertutup, kami saja masuk dengan menjebol pintu sementara

semua jendela terkunci dari dalam, dengan cara apa dia

meninggalkan ruangan ini?”

“Kalian yakin tidak keliru?” Siang Hu-hoa mulai

mengerutkan dahinya.

“Kami sudah memeriksanya berulang kali dan yakin tidak

salah”

Siang Hu-hoa tidak bicara lagi, dia mulai termenung sambil

memutar otak.

Setelah menghela napas panjang Tu Siau-thian berkata

lagi:

“Kecuali didalam waktu yang relatip singkat dia sudah

dimakan kawanan laron penghisap darah itu hingga tulang

166

belulangnya pun ikut termakan, atau dia terkena kekuatan

siluman dari si Raja laron hingga badannya menguap jadi

asap, kalau bukan begitu, dia pasti memiliki ilmu penembus

dinding, kalau tidak, tak mungkin dia bisa meninggalkan

perpustakaan itu tanpa kami ketahui…….”

“Perpustakaan itu berada dimana?” tiba tiba Siang Hu-hoa

bertanya, “cepat bawa aku ke sana”

Belum sempat Tu Siau-thian memberikan jawaban, Jui Gi

yang berada disampingnya telah menyela duluan:

“Siang-ya, ikuti hamba” dia segera berjalan meninggalkan

tempat itu.

Tampaknya dia jauh lebih gelisah ketimbang Siang Hu-hoa.

Tanpa banyak bicara Siang Hu-hoa mengikuti di

belakangnya. Dengan cepat mereka berdua berjalan melewati

disisi Nyoo Sin, sewaktu lewat mereka sama sekali tidak

menggubris pembesar itu, seakan mereka sama sekali tidak

memandang sebelah matapun terhadap orang ini.

Bagaimana mungkin Nyo Sin bisa menela rasa

mendongkolnya, baru saja dia hendak menghardik, Tu Siauthian

yang tiba disampingnya segera menyela:

“Komandan, kita pun harus segera masuk”

Nyo Sin mengiakan seraya berpaling, ditatapnya Tu Siauthian

dengan mata melotot, tampaknya dia segera akan

mencaci maki anak buahnya ini.

Tampaknya Tu Siau-thian tahu gelagat, buru buru ujarnya

lagi:

“Nama besar Siang Hu-hoa sudah amat termashur dalam

dunia persilatan, baik ilmu silatnya maupun kecerdasan

otaknya konon jarang yang bisa menandingi, asal dia mau

membantu, aku yakin kasus ini bisa terkuak lebih cepat dan

gampang”

167

Nyo Sin tertawa dingin.

“Memangnya tanpa bantuan dia, kasus ini akan sulit

terkuak dan terselesaikan?” sahutnya tidak terima.

“Bukan begitu maksudku, kalau ada jalan pintas kenapa

kita mesti berputar? Komandan, tentunya kau paham akan

teori ini bukan?”

“Darimana kau bisa tahu kalau jalan yang bakal kutempuh

bukan jalan pintas? Dan penyelidikanku tak bakal lebih awal

mengungkap kasus ini?”

Tu Siau-thian tertawa hambar, katanya:

“Aku hanya tahu sampai sekarang kita masih tetap berada

disini, kalau memang komandan bisa menemukan kunci dari

seluruh persoalan dalam sekilas pandangan, aku yakin kita

pasti akan lebih cepat mengungkap kasus ini”

“Nah, begitu baru masuk akal” seru Nyo Sin sambil

manggut.

Dia segera berpaling sambil memberi tanda, serunya:

“Ayoh anak anak, ikuti aku!”

Dibawah pimpinan Nyo Sin, berangkatlah kawanan opas itu

menuju ke gedung perpustakaan Ki-po-cay.

Tentu saja tak ada orang yang menghalangi kepergian

mereka, dimana Jui Gi dan Siang Hu-hoa bisa masuk, mereka

pun dapat memasuki juga.

Jui Gi adalah kepala pengurus rumah tangga, disaat Jui

Pakhay tidak ada dirumah, kecuali Gi Tiok-kun, urusan apa

pun yang terjadi disana dapat dia putuskan sendiri.

Kini Gi Tiok-kun sama sekali tidak munculkan diri, besar

kemungkinan belum ada orang yang menyampaikan berita

buruk ini kepadanya hingga dia sama sekali tidak mengetahui

akan terjadinya peristiwa ini.

168

0-0-0

Angin timur berhembus sepoi ditengah halaman, bunga dan

dedaunan tampak berguguran dan mengotori permukaan

tanah.

Ketika menelusuri jalan setapak ditengah taman itu, tidak

tahan Nyo Sin berkata lagi:

“Aku adalah komandan opas diwilayah ini, perduli dia

seorang jago kenamaan dari dunia persilatan atau bukan,

tanpa seijin diriku siapa pun dilarang memasuki tempat

kejadian kasus barang setengah langkah pun, kalau tidak aku

bisa menjatukan tuduhan sebagai tersangka yang

mencurigakan terhadap dirinya!”

“Semestinya memang begitu” sahut Tu Siau-thian sambil

tertawa, “tapi sayang hingga sekarang keluarga Jui tidak ada

yang melaporkan kejadian ini kepada pengadilan”

Nyo Sin tertegun.

“Sekarang posisi kita tidak jauh berbeda dengan posisinya”

Tu Siau-thian berkata lebih jauh, “kita semua sama sama

masuk kemari dengan status sebagai teman Jui Pakhay, jadi

kita datang bukan untuk menyelidiki kasus ini tapi datang

untuk menjenguk teman”

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya: “Kini Jui

Pakhay tidak ditempat, nyonya rumah juga tidak nampak,

maka bila Jui Gi si kepala rumah tangga merasa tidak senang

menerima kita sebagai tamunya, jangankan memasuki

perpustakaan itu, mau berdiam lebih lama disini pun mungkin

akan jadi masalah besar, sebab setiap saat dia berhak untuk

mempersilahkan kita keluar dari sini”

“Tapi…..bukankah Jui Pakhay telah lenyap?”

“Kalau mereka bersikeras mengatakan tidak, apa yang bisa

kita lakukan?”

169

“Kita bisa meminta Jui Pakhay tampil keluar dan bertemu

dengan kita semua”

“Kalau mereka mengatakan bahwa tuan rumah tidak ingin

menerima tamu, apa yang bisa kita perbuat? Atau kalau

mereka mengatakan tuan rumah sedang bepergian, apa pula

yang bisa kita perbuat?”

“Tapi…..bukankah kau menyaksikan dengan

mata kepala sendiri……..”

“Tuduhan tanpa bukti sama sekali tidak ada kekuatan

hukumnya, apalagi kejadian semacam itu memang sulit

dipercaya dengan akal sehat”

“Lalu………” Nyo sin mulai kelimpungan.

“Kecuali keluarga Jui melaporkan kasus kejadian ini ke

pengadilan, atau kita temukan mayat, kalau bukan begitu

kehadiran kita tetap berstatus sebagai tamu”

“Lalu bagaimana baiknya?” tanya Nyo Sin kemudian agak

tergagap.

“Biarkan saja Siang Hu-hoa yang berperan”

“Kalau sampai dia yang memperoleh pahala, kita bisa

kehilangan muda”

“Dia adalah seorang anggota persilatan, sekalipun sudah

berjasa, apa gunanya?”

“Ehmm, benar juga perkataan itu”

“Seandainya dia yang bekerja keras dan berhasil

mengungkap kejadian yang sebenarnya, buat kita hal ini lebih

banyak untungnya daripada rugi” kembali Tu Siau-thian

berkata.

“Ehrnmm, betul juga” Nyo Sin m anggut m anggut, ditinjau

dari mimik mukanya, dia seakan sudah punya rencana sendiri.

170

Tentu saja Tu Siau-thian dapat melihat semua perubahan

mimik muka itu dengan jelas, buru buru ujarnya lagi:

“Tapi demi martabat dan harga diri, tentu saja dalam

bidang ini kitapun mesti ikut berusaha, kalau bisa tentu saja

komandan mesti bertindak lebih dini sehingga bisa mendahului

dia”

“Sudah pasti harus begitu” Nyo Sin manggut manggut

sambil mempercepat langkah kakinya.

Setelah memasuki pintu berbentuk setengah bulan dan

melewati gardu ditengah halaman, tibalah mereka di depan

gedung perpustakaan.

Nyo Sin dan Tu Siau-thian langsung melangkah masuk ke

dalam ruang gedung.

Pintu yang jebol masih tergeletak ditanah, hancuran daun

jendela pun masih berserakan disekeliling sana, segala

sesuatunya masih berada dalam posi» semula.

Cara kerja Siang Hu-hoa sangat berhati-hati, dia sama

sekali tidak menggeser benda apa pun yang ada disitu, ketika

Nyo Sin dan Tu Siau-thian berjalan masuk ke dalam ruangan,

dia sedang berdiri didepan meja sambil bergendong tangan,

seluruh perhatiannya tertuju pada bercak darah yang

tertinggal diatas meja.

Bercak darah itu sudah menghitam, sementara Jui Gi

berdiri disamping Siang Hu-hoa walaupun sorot matanya

justru tertuju ke wajah orang itu.

Tiba tiba Siang Hu-hoa mengernyitkan dahinya.

Melihat hal itu Jui Gi segera bertanya:

“Siang-ya, menurut pandanganmu apakah noda itu berasal

dari darah manusia?”

“Rasanya sih mirip, tapi darah lama atau darah baru tidak

ada bedanya, jadi lebih baik kita tanyai dulu opas Tu”

171

Dia tidak perlu berpaling sebab Tu Siau-thian sudah

menghampiri mereka dengan langkah cepat.

Begitu mendekat Tu Siau-thian segera menjawab:

“Aku rasa itu darah manusia, tapi seperti juga kalian, aku

pun tidak yakin seratus persen”

“Kenapa tidak terlalu yakin?”

Tu Siau-thian tertawa getir.

“Walaupun aku pernah bertemu laron penghisap darah

namun belum pernah menyaksikan darah dari laron laron

penghisap darah tersebut, aku tidak bisa membedakan apakah

darah dari laron penghisap darah sama seperti darah dari

manusia!”

“Sebelum terjadinya peristiwa ini, apakah kalian tidak

pernah berjumpa dengan laron penghisap darah?” tanya Siang

Hu-hoa kemudian.

“Belum pernah” Tu Siau-thian menggeleng.

“Setelah kejadian, apakah kalian juga tidak melihat laron

penghisap darah itu terbang pergi dari hadapan kalian?”

Sekali lagi Tu Siau-thian menggeleng:

“Juga tidak” sahutnya, “sewaktu kami menerjang masuk

dengan menjebol pintu, tidak seekorpun laron penghisap

darah yang kami saksikan”

“Dan dia juga sudah lenyap tidak berbekas?”

Tu Siau-thian mengangguk tanda membenarkan.

Siang Hu-hoa menyapu sekejap sekeliling ruangan,

kemudian tanyanya lagi:

“Waktu itu apakah posisi dan keadaan didalam

perpustakaan persis seperti keadaan saat ini?”

172

“Benar, aku berusaha agar segala sesuatunya tetap berada

pada posisi semula”

“Selama dua hari terakhir, aku percaya kalian pasti sudah

mendatangi tempat ini dan melakukan pelacakan secermat

mungkin”

“Segala sesuatunya telah kami periksa dengan seksama” Tu

Siau-thian membenarkan.

Kemudian setelah menyapu sekeliling tempat itu sekejap,

terusnya:

“Gedung perpustakaan ini tidak terlalu luas, untuk

memeriksa dan melacak setiap jengkal tanah di dalam Ki-pocay

ini tidak perlu waktu satu hari”

“Ehm, bila kutinjau dari ungkapanmu itu, berarti setiap

jengkal tanah di dalam gedung Ki-po-cay ini sudah kalian lacak

dan periksa dengan seksama?”

Untuk kesekian kalinya Tu Siau-thian mengangguk.

“Kemarin, lingkup penyelidikan kami malah sudah diperluas

hingga ke setiap sudut tempat di dalam kota”

“Apa berhasil menemukan sesuatu?”

“Tidak, dia seakan sudah berubah jadi segulung asap,

seonggok debu yang terbang melayang dan menyebar ke

angkasa, hilang lenyap dari permukaan bumi”

Dengan kening semakin berkerut Siang Hu-hoa mulai

berjalan mondar mandir dalam ruangan, sembari berjalan

gumamnya tiada hentinya:

“Jelas jelas gedung perpustakaan ini berada dalam keadaan

terkunci, bagaimana mungkin di dalam waktu yang amat

singkat seorang manusia yang begitu besar bisa hilang lenyap

tidak berbekas, memangnya ini sulapan? Memangnya dia

punya ilmu siluman?”

173

“Kau pun percaya dengan segala macam ilmu siluman atau

setan iblis?” dengan pandangan keheranan Tu Siau-thian

mengawasinya.

“Tentu saja tidak percaya” jawaban Siang Hu-hoa sangat

hambar.

“Kalau tidak, lantas bagaimana penjelasanmu tentang

peristiwa ini?”

Siang Hu-hoa tidak menyahut, sesungguhnya dia memang

tidak tahu bagaimana mesti memberikan penjelasannya,

mendadak dia menghentikan langkah kakinya lalu berputar

berapa kali disekeliling dinding ruangan.

Bab 10.

Pintu rahasia.

Sorot mata Tu Siau-thian ikut bergerak menyusul gerakan

pemuda itu, tiba-tiba dia berseru:

“Aaah. Ada beberapa hal hampir saja aku lupa untuk

menyampaikan kepadamu”

“Soal apa?” Siang Huhoa segera menghentikan langkahnya.

“Malam tanggal lima belas, ketika aku bersama ke dua

orang anak buahku sedang berjaga di luar gedung

Perpustakaan, tiba-tiba dia membuka pintu dan berjalan

keluar, dia mengundangku untuk berbicara”

“Apa saja yang dia katakan?” buru-buru Siang Huhoa

bertanya.

“Dia memberitahu kepadaku bahwa Jui Gi sudah diutus ke

perkampungan Ban hoa sanceng untuk mengundang

kehadiranmu, dia bilang kau pasti akan tiba disini”

“Selain itu?”

174

“Dia pun berkata kalau sebuah catatan terperinci yang

berisikan semua kejadian yang dialaminya selama belasan hari

ini telah dipersiapkan dan disimpan menjadi satu dengan

sepucuk surat”

“Dimana disimpannya?”

“Dia tidak beritahu, katanya dengan kecerdasan dan

kemampuanmu seharusnya tidak susah untuk

menemukannya”

Mendengar itu Siang Huhoa segera tertawa getir, namun

dia tidak berkata-kata.

Setelah berhenti sejenak, kembali Tu Siau-thian berkata:

“Katanya, asal kau berhasil mendapatkan kitab catatan itu

dan membaca isinya maka semua kasus peristiwa ini akan

terkuak lebih jelas, tidak sulit bagimu untuk menemukan latar

belakang yang sebenarnya dari kematiannya!”

“Kalau kudengar dari penjelasanmu itu, seolah dia sudah

tahu bakal mati, sudah tahu kalau keselamatan jiwanya

terancam, tapi, kenapa dia tidak mencari suatu tempat yang

aman dan mengungsi untuk sementara waktu?” gumam Siang

Hu-hoa dengan kening berkerut.

“Sebab dia beranggapan mau lari ke ujung dunia pun tidak

ada gunanya, sebab dia tidak akan bisa lolos dari musibah ini”

Setelah menghela napas panjang, kembali meneruskan:

“Tampaknya dia seolah-olah sudah yakin kalau kawanan

laron penghisap darah itu adalah jelmaan dari setan iblis,

bukankah orang kuno selalu berkata, setan iblis adalah

makhluk yang serba tahu dan serba bisa?”

Tanpa terasa Siang Huhoa ikut menghela napas panjang.

“Menurut apa yang kuketahui” ujarnya, “selama ini dia

bukan termasuk manusia yang terlalu percaya dengan setan

175

iblis, kenapa dalam waktu singkat pandangan dan prinsipnya

bisa berubah drastis?”

Setelah memandang lagi sekeliling tempat itu sekejap,

kembali dia bergumam:

“Gedung perpustakaan Ki po cay bukan terhitung sebuah

tempat yang kelewat kecil, memangnya gampang untuk

menemukan sepucuk surat dan sebuah buku catatan dari

dalam gedung sebesar ini?”

“Kalau dalam hal ini tentu saja kau tidak perlu kuatir”

“Oya?”

“Sewaktu dia membuka pintu dan mengajak aku berbicara,

dia bilang surat dan buku catatan itu telah selesai

dipersiapkan, setelah itu dia tidak pernah melangkah keluar

dari gedung perpustakaannya, itu berarti surat dan kitab

catatan itu seharusnya masih berada di dalam ruang

perpustakaan ini”

“Memangnya segampang itu analisamu?”

“Aku rasa analisa ku ini bukan sederhana”

“Bukankah kalian telah membuang banyak pikiran dan

tenaga untuk memeriksa dan melacak setiap jengkal tanah

disini? Apa hasilnya? Apakah berhasil menemukan sesuatu?”

Tu Siau-thian segera terbungkam, tidak bisa menjawab.

Siang Hu-hoa berkata lebih jauh:

“Diantara kalian adakah seseorang yang mengerti soal alat

rahasia?”

Tu Siau-thian menggeleng.

“Apakah kau mempunyai kesan tentang seseorang yang

bernama Hiankicu?” kembali Siang Huhoa bertanya,

176

“Apakah Hiankicu yang kau maksud adalah seorang ahli

tehnik yang amat tersohor itu?”

“Benar, dialah yang kumaksud”

“Apa hubungannya dengan Hiankicu?”

“Dia justru murid adalah terakhir dari Hiankicu”

“Murid penutup?” Tu Siau-thian tertegun, “rasanya belum

pernah kudengar dia mengungkap tentang hal ini”

Tapi kemudian setelah tertawa tambahnya:

“Sekalipun dia mengerti tentang alat rahasia dan

menyembunyikan barang-barang itu dalam sebuah bilik yang

dilengkapi alat rahasia, tapi setelah melalui pelacakan dan

pemeriksaan yang begitu seksama dari kami semua, sehebat

dan serapi apapun alat rahasia tersebut semestinya tempatnya

sudah berhasil kita temukan”

“Apa benar begitu?” Siang Huhoa tertawa.

Sinar matanya dialihkan ke bawah, lalu tambahnya:

“Kalian sudah memeriksa seluruh permukaan lantai?”

“Kalau bisa dibalik, seluruh lantai gedung ini sudah kami

balikan”

“Atap ruangan?”

“Seluruh atap pun sudah kami periksa”

“Apakah seluruh dinding ruangan ini ada yang

mencurigakan?”

“Sama sekali tidak” jawab Tu Siau-thian, kemudian setelah

menyapu sekejap sekeliling tempat itu tambahnya, “Setiap

benda, setiap jengkal tanah ditempat ini sudah kami periksa

dengan sangat teliti, andaikata dipasang alat rahasia, dimana

dia menaruhnya?”

“Dia bisa memasangnya di segala tempat”

177

“Oya?” perasaan ragu melintas diwajah Tu Siau-thian.

Tiba-tiba Siang Hu-hoa bertanya lagi:

“Apakah gara-gara perkataanku tadi, kau baru terbayang

kemungkinan di tempat ini sudah terpasang alat rahasia?”

“Tempo hari sudah kupertimbangkan kemungkinan itu, tapi

tidak terlalu yakin”

“Oleh sebab itu dalam pemeriksaanmu yang lalu,

kemungkinan besar, banyak tempat yang kau lewatkan karena

kelalaian, kau mesti tahu, tombol rahasia yang dirancang oleh

ilmu rahasia Hiancicu tidak gampang ditemukan”

“Atas dasar apa kau begitu yakin kalau disini sudah

terpasang alat rahasia?” tanya Tu Siau-thian mendadak.

“Sebab dibalik perkataannya, secara diam-diam dia sudah

memberi tanda”

“Berarti kau telah menemukan sesuatu?”

Siang Huhoa menggelengkan kepalanya sebagai pertanda

jawaban, kembali dia menggeser langkah kakinya.

Kali ini dia menggeser langkah kakinya dengan lebih

lambat, sementara sinar matanya berubah jadi lebih tajam dan

lebih mencorong.

Dia sebentar bergeser, sebentar berhenti, hampir seluruh

ruangan dijelajahi satu putaran lagi sebelum akhirnya

melangkah keluar dari ruangan itu.

Tu Siau-thian dan Jui Gi mengikuti terus di belakangnya,

Nyo Sin yang melihat itu tanpa sadar dia juga mengikuti pula

di paling belakang.

Matahari memancarkan sinar emas menyinari seluruh

halaman, kabut tipis tampak masih melayang diantara

pepohonan dan bunga.

178

Setibanya diluar pintu, Siang Hu-hoa mundur lagi sejauh

tiga kaki hingga tiba didepan gardu itu, kini dia berada dua

depa jauhnya dan pintu ruangan.

Tu Siau-thian segera menghampiri seraya berseru:

“Malam itu kamipun berdiri didalam gardu tersebut sambil

mengawasi gerak gerik di dalam ruang perpustakaan”

“Ehmmm, posisi ini memang cukup strategis” sahut Siang

Hu-hoa sambil mengangguk, “satu satunya kelemahan adalah

tidak bisa melihat jelas keadaan di belakang ruang

perpustakaan”

“Masih untung bagian belakang ruang perpustakaan adalah

sebuah dinding tembok, disitu juga tidak ada jendelanya” sela

Tu Siau-thian

“Moga-moga saja disitu tidak ada pintu rahasianya” Siang

Hu-hoa nyelutuk.

“Pintu rahasia?” Tu Siau-thian melengak keheranan.

Siang Hu-hoa tidak berkata apa apa lagi, dengan langkah

lebar dia berjalan balik ke arah ruang perpustakaan.

Tu Siau-thian, Jui Gi dan Nyo Sin segera mengikuti di

belakangnya, mereka bertiga seakan telah berubah menjadi

anak buahnya lelaki itu.

Ternyata Siang Hu-hoa tidak jadi masuk ke dalam ruang

perpustakaan melainkan berjalan mengelilingi seputar gedung.

Gedung perpustakaan itu dikelilingi taman bunga yang

sangat luas, waktu itu aneka bunga sedang mekar dengan

indahnya.

Meskipun bulan ke tiga sudah berjalan setengahnya namun

saat itu memang sedang musim bunga berkembang,

mekarnya aneka bunga membuat suasana disitu begitu tenang

dan nyaman.

179

Sayang Siang Hu-hoa tidak berminat untuk menikmati

keindahan alam, dia hanya berhenti sejenak di bagian

belakang gedung perpustakaan itu.

Di bagian belakang gedung ditanam sebatang pohon

mawar dan beberapa batang pohon pisang-pisangan.

Gedung perpustakaan itu dibangun menghadap ke timur,

waktu itu sinar sang surya yang baru terbit belum lagi

mencapai bagian belakang bangunan itu.

Waktu itu sinar mata Siang Hu-hoa sedang tertuju pada

dinding di belakang pohon mawar serta permukaan tanah

dialas rak mawar.

Setelah berhenti sejenak kembali dia beranjak pergi,

mengitari sudut lain dari gedung itu kemudian balik ke pintu

depan.

Kini sekulum senyuman telah menghiasi ujung bibirnya,

langkah kakinya jauh lebih ringan dan cepat, seakan setelah

berjalan mengelilingi bangunan itu, dia berhasil menemukan

sesuatu.

Waktu itu Tu Siau-thian berjalan mengikuti di belakang

Siang Hu-hoa, tentu saja dia tidak sempat melihat jelas

senyuman itu, dia hanya melihat langkah kaki lelaki tampan

itu lebih ringan dan lebih cepat.

Dia segera mempercepat langkahnya mendampingi Siang

Huhoa, kemudia bisiknya:

“Siang-heng, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?”

Siang Hu-hoa tidak menjawab, dia hanya mengangguk

sambil meneruskan langkahnya masuk ke dalam ruang

perpustakaan.

Nyo Sin yang berada di belakang dapat mendengar semua

pembicaraan itu dengan jelas dan melihat dengan jelas pula,

dia segera percepat langkah kakinya, sewaktu memasuki pintu

180

ruangan, dia sudah berebut untuk masuk mendahului Tu Siauthian.

Siang Huhoa sama sekali tidak menggubris tingkah laku

orang ini, dia tetap berjalan masuk ke dalam ruangan dan

baru berhenti setelah berada didepan dinding kurang lebih

tiga depa dihadapan pintu masuk, perlahan-lahan sorot

matanya dialihkan ke atas dinding itu dan menelitinya dengan

seksama.

Dinding itu penuh bergantungan lukisan kuno, selain itu

juga tergantung dua buah ukiran kayu yang besar lagi tua.

Kedua lembar ukiran kayu itu sama bentuknya, setengah

kaki lebar dengan satu kaki tingginya dan masing-masing

terpaku di kiri kanan dinding.

Ukiran yang berada disebelah kiri menggambarkan seorang

dewi Jian nien Kwan im sementara ukiran disebelah kanan

melukiskan seorang Milek Hud.

Walaupun ukiran itu sangat halus dan indah namun bukan

hasil karya dari pengukir kenamaan.

Kembali Siang Hu-hoa memeriksa sekeliling dinding itu, lagi

lagi sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya.

Buru-buru Nyo Sin menyusul ke samping Siang Huhoa,

setelah mengerling sekejap ke arah lelaki itu, serunya:

“Aku rasa dibalik dinding ini ada hal yang mencurigakan”

“Oooh, jadi kau pun berpendapat demikian?” seru Siang

Huhoa seraya berpaling.

Nyo Sin tidak menjawab, dia hanya mengelus jenggot

sendiri seraya manggut-manggut.

“Menurut pendapatmu, bagian mana yang mencurigakan?”

kembali Siang Huhoa bertanya

“Dinding itu!”

181

Siang Hu-hoa segera tertawa hambar dan tidak bertanya

lebih jauh.

Walaupun gerak gerik Nyo sin menunjukkan seolah dia

menemukan sesuatu, namun setelah ditanya, segera ketahuan

kalau dia tidak tahu apa-apa selain soal dinding itu.

Tu Siau-thian segera memburu maju, tanyanya:

“Saudara Siang, sebenarnya apa yang kau temukan?”

“Hanya masalah dinding ini” sahut Siang Huhoa sambil

mengalihkan kembali sorot matanya keatas dinding.

Waktu itu sorot mata Tu Siau-thian sudah tertumpu pula

pada dinding ruangan, namun setelah diperhatikan sekian

lama dia tidak berhasil menemukan sesuatu yang aneh,

serunya lagi seraya menggeleng:

“Sebenarnya apa yang aneh dengan dinding ini? Aku tidak

menemukan sesuatu yang mencurigakan”

“Sekilas pandang dinding ini memang kelihatannya wajar

dan tidak ada yang aneh, padahal dibalik semuanya, justru

terdapat ketidak wajaran yang amat besar”

“Jangan-jangan diatas dinding ini tersembunyi sebuah

lubang rahasia?”

“Bisa jadi sebuah lubang rahasia tapi bisa juga sebuah

pintu rahasia, yang jelas sebuah lubang masuk yang

berhubungan dengan ruang rahasia dibelakang dinding itu”

“Ruang rahasia di belakang dinding?” seru Tu Siau-thian

tertegun.

“Sekalipun di belakang dinding benar benar tersembunyi

sebuah ruang rahasia, rasanya hal ini bukan sesuatu yang

patut diherankan”

Kontan Tu Siau-thian tertawa terbahak-bahak, serunya:

See Yan Tjin Djin

182

“Hahahaha…… tapi di belakang dinding itu hanya terdapat

sebuah rak yang berisi bunga mawar serta beberapa batang

pohon pisang-pisangan”

“Menurut perkiraanmu, seberapa tebal dinding tembok itu?”

tiba-tiba Siang Hu-hoa bertanya.

“Ketebalannya paling banter dua depa, bagian tengah yang

kosong hanya satu depa, kalau benar disitu ada ruang

rahasianya berarti luas ruangan itu hanya satu depa. sama

sekali tidak cukup untuk berdiri seorang manusia pun, masa

ruangan semacam inipun patut disebut sebuah ruang

rahasia?”

“Bagaimana kalau ruangan itu mempunyai luas empat-lima

depa?”

“Maksudmu ruang kosong yang terdapat dibalik dinding ini

mempunyai luas mencapai empat lima depa?”

“Bahkan bisa jadi lebih dari itu”

“Atas dasar apa kau merasa begitu yakin?” tidak tahan Tu

Siau-thian berseru.

“Sewaktu melangkah di dalam ruang perpustakaan tadi,

secara diam-diam sudah kuukur panjang lebar dari seluruh

ruangan, kemudian setelah aku berjalan mengelilingi halaman

luar gedung ini, tiba-tiba kutemukan sesuatu hal”

“Temukan apa?” desak Tu Siau-thian.

“Walaupun sekilas pandang lebar ruang dalam dan halaman

luar gedung perpustakaan ini hampir seimbang, namun dalam

kenyataan panjangnya terdapat selisih yang cukup besar,

panjang ruang dalam perpustakaan itu ternyata tujuh-delapan

depa lebih luas ketimbang panjang di halaman depan,

kemudian ketebalan dinding di bagian belakang perpustakaan

itu rata-rata mencapai dua depa, ini berarti masih ada selisih

empat sampai lima depa, lalu ke mana larinya selisih

tersebut?”

183

Seketika itu juga Tu Siau-thian jadi paham.

Terdengar Siang Hu-hoa berkata lebih jauh:

“Semula kukira bagian belakang perpustakaan itu mungkin

cekung ke dalam sepanjang berapa depa, tapi setelah

kuperiksa ternyata bukan begitu keadaannya, ini menunjukkan

hanya ada satu kemungkinan yakni tempat seluas empat lima

depa yang hilang itu kemungkinan besar tersembunyi di

belakang dinding itu”

Sambil menuding ke arah dinding dihadapannya, kembali

dia berkata:

“Kecuali orang gila, kalau tidak, mustahil seorang normal

akan membuat sisi dinding ruangannya setebal tujuh delapan

depa, oleh sebab itu aku yakin dibalik dinding ini pasti

terdapat ruang kosong, ruangan itu tentu seluas empat lima

depa dan lebih dari cukup untuk digunakan berbuat sesuatu”

Mendengar sampai disitu, tanpa terasa Nyo Sin menyela:

“Kalau benar di belakang dinding ini terdapat ruang

rahasia, lalu pintu rahasianya berada dibagian dinding yang

mana?”

Sebelum Siang Hu-hoa menjawab, Tu Siau-thian sudah

menyahut duluan:

“Menurut analisaku, besar kemungkinan berada dibelakang

ke dua ukiran kayu itu”

“Betul, aku pun berpendapat demikian” Siang Huhoa

manggut manggut.

Kemudian sambil meraba ukiran Milek Hud itu, dia berkata

lagi:

“Sejak awal aku sudah mencurigai ke dua ukiran kayu itu”

184

“Apakah lantaran ke dua ukira kayu itu tidak serasi

digantung bersama dengan sebuah lukisan diatas dinding

yang sama?”

Siang Huhoa berpaling dan memandang Tu Siau-thian

sekejap, katanya:

“Menggantungkan sebuah lukisan tangan diatas dinding

sudah merupakan satu hal yang tidak serasi”

“Aku tidak mengerti soal lukisan”

“Kalau memang begitu, kenapa bisa timbul perasaan

kurang serasi dalam hati kecilmu?” sebuah pertanyaan dari

Siang Huhoa yang kedengaran sangat aneh.

“Bukan baru kali ini saja kulihat bentuk ukiran semacam

ini………..”

“Lalu biasanya di mana kau menjumpai ukiran semacam

ini?”

“Dalam kuil!”

“Bisa saja sebagai umat Buddha dia membeli ukiran

tersebut dan digantungkan di rumahnya untuk disembah”

“Sekalipun begitu, jarang ada yang menggantungkan dalam

ruang perpustakaan, apalagi menurut apa yang kuketahui, dia

bukan penganut Buddha”

Siang Huhoa kembali manggut-manggut.

Terdengar Tu Siau-thian berkata lagi:

“Meskipun sejak awal aku sudah merasakan sesuatu yang

kurang serasi dengan tempat ini, namun tidak menaruh curiga

lebih jauh, sebab belakang dinding itu adalah halaman

terbuka, dinding disebelah situ tidak kujumpai sesuatu celah,

juga penuh ditumbuhi lumut hijau hingga mustahil terdapat

ruang rahasia dibaliknya, permukaan tanah disekeliling tempat

itupun tidak meninggalkan jejak pernah diinjak manusia”

185

Setelah berhenti sejenak, terusnya:

“Apalagi selama berapa waktu belakang, otaknya hanya

dipenuhi bayangan setan iblis dan siluman, aku mengira dia

sengaja memindahkan ukiran Buddha itu kemari karena ingin

mengatasi rasa takut dan seramnya terhadap gangguan setan

iblis”

“Tapi rasanya kedua buah ukiran kayu itu tidak mirip baru

saja digantungkan disitu”

“Soal itu aku kurang jelas, sebab sejak lima belas hari

berselang aku sudah tidak pernah lagi masuk ke dalam

perpustakaan ini”

Sorot matanya kembali dialihkan keatas dinding itu,

katanya lagi:

“Bagaimana pula lukisan yang tidak serasi bisa tergantung

disitu?”

“Coba kau perhatikan lukisan itu” ujar Siang Huhoa sambil

menuding sebuah lukisan diantaranya yang tergantung diatas

dinding, “menurut kalian, berapa harga lukisan itu?”

Tu Siau-thian tertawa getir, dia bukan orang yang gemar

lukisan, mengerti saja tidak, darimana bisa tahu berapa harga

dari lukisan itu?

Kembali Siang Hu-hoa berkata:

“Kalau kau membawa lukisan itu ke toko, toko mana pun

diseantero negeri, maka kau segera dapat menjualnya dengan

harga dua sampai tiga ribu tahil perak”

“Wouw… mahal amat, lukisan siapa sih?” seru Tu Siauthian

tanpa sadar.

“Tong Pek-hauw!”

“Ooh… pantas begitu mahal”

186

Biarpun dia tidak mengerti soal lukisan, nama besar Tong

Pek-hauw sudah lama diketahuinya dan dia sadar bahwa

orang itu memang seorang pelukis terkenal.

Setelah memandang sekejap sekitar tempat itu, ujarnya

lagi:

“Ditempat ini paling tidak terdapat dua puluhan lukisan

semacam ini, padahal setiap lukisan bernilai beberapa ribu

tahil perak, bukankah sama artinya kalau dijumlahkan

seluruhnya sudah bernilai tiga puluh ribu tahil perak? Gila,

barang yang begini berharga dia hanya menempelkan diatas

dinding, jangan jangan pemilik tempat ini sudah sinting atau

tidak waras otaknya?”

“Lagi-lagi kau keliru besar” tukas Siang Huhoa hambar,

“kecuali lukisan buah tangan dari Tong Pek-hauw, jika kau

bisa menjual gabungan lukisan yang lain senilai seratus tahil

perak saja, kau sudah kuanggap luar biasa hebatnya”

“Maksudku lukisan-lukisan yang lain paling banter hanya

laku tiga-empat tahil perak?”

“Malah ada empat lukisan diantaranya tidak bakal laku lebih

dari satu tahil perak”

Dengan keheranan Tu Siau-thian menatap wajah Siang

Huhoa, dia seakan merasa kagum, tapi seakan juga merasa

tercengang dibuatnya.

Dengan tenang Siang Hu-hoa berkata lagi:

“Sebab ke empat buah lukisan itu adalah buah karya dia

sendiri”

“Waah, kelihatannya kalian memang bersahabat karib

hingga dalam sekilas pandang saja kau dapat mengenali

lukisan mana yang merupakan hasil karyanya sendiri”

“Menerut spa yang kau katakan, berarti tidak susah untuk

bersahabat karib dengannya bukan!”

187

Tu Siau-thian tidak mengerti dengan ucapan tersebut, dia

hanya berdiri melongo.

Tampaknya Siang Hu-hoa tahu akan kebingungan orang,

segera dia memberi penjelasan:

“Dia sudah meninggalkan nama sendiri diatas ke empat

lukisan itu, asal mau diperhatikan dengan lebih seksama, tidak

sulit untuk mengetahuinya”

Tu Siau-thian segera menghela napas panjang, mau tidak

mau dia mesti merasa kagum atas kejelian orang ini, manusia

teliti dan cermat macam Siang Hu-hoa memang merupakan

sesuatu yang langka.

Sejak hadir dalam ruang perpustakaan hingga sekarang,

Siang Hu-hoa hanya menghabiskan waktu yang amat singkat,

tapi hasil penyelidikannya ternyata jauh lebih banyak

ketimbang pemeriksaan nya yang dilakukan selama berharihari.

Bukan cuma begitu, pemeriksaan yang berhari hari itu

bahkan sama sekali tidak membuahkan hasil apa-apa.

Terdengar Siang Hu-hoa berkata lagi:

“Bagi orang yang sama sekali tidak tertarik dengan lukisan,

tidak aneh bila tidak terlalu memperhatikan soal seperti itu”

“Benarkah lukisan hasil karyanya tidak laku barang setahil

perak pun?” tiba-tiba Tu Siau-thian tertawa.

“Harga tersebut menurut penilaianku, dalam pandanganku

lukisan hasil karyanya memang tidak laku satu tahil pun”

Setelah tertawa lebar, lanjutnya:

“Dia memang hebat dalam bermain pedang, namun soal

lukisannya…….amat payah!”

“Menurut apa yang kuketahui, dia bukan termasuk orang

yang tidak suka menyembunyikan sesuatu dihadapan orang”

188

Siang Huhoa mengangguk.

“Bukan hanya dalam soal intan permata dan mutu

manikam, dalam masalah lukisan pun dia punya selera tinggi

dan sangat memperhatikan hal hal yang detil, bagi seorang

ahli yang mengerti nilai sesuatu benda, masa dia tidak tahu

kalau lukisan tersebut adalah lukisan asli dari pelukis Tong

Pek-hauw?”

Setelah mengalihkan kembali sorot matanya keatas lukisan

itu, katanya lebih jauh:

“Sampai detik ini belum pernah kujumpai ada orang yang

berani menggantungkan sebuah lukisan ternama

disembarangan tempat, kalau dibilang tujuannya untuk

mempamerkan kekayaan, tidak ada alasan untuk

menggantungkannya ditempat ini, apalagi sejak tiga tahun

berselang dia telah berhasil mengumpulkan tiga lukisan yang

lain dari Tong Pek-hauw, kalau ingin pamer kekayaan, paling

tidak seharusnya dia gantungkan ke empat lukisan kenamaan

itu sekaligus, kenapa sekarang yang digantungkan cuma satu?

Bukankah kejadian ini sangat aneh?”

“Itu berarti dia punya maksud lain” seru Tu Siau-thian.

“Benar, tombol pembuka pintu rahasia tersebut kalau

bukan terletak diatas ke dua ukiran kayu itu, besar

kemungkinan berada di belakang lukisan antik dari Tong Pekhauw”

Baru selesai dia berkata, Nyo Sin yang berada

disampingnya telah memburu maju ke depan dan menyingkap

lukisan antik dari Tong Pek-hauw itu.

Gerak geriknya sangat berhati hati, lamban dan seakan

sangat menguras tenaga, seperti sedang memegang dua-tiga

ribu tahil perak dalam genggamannya.

Siang Hu-hoa tidak berusaha untuk mencegah, dia

membiarkan Nyo Sin berulah, sorot matanya justru mengikuti

189

gerak gerik pembesar itu dan dialihkan keatas dinding di

belakang lukisan.

Tidak ada lekukan atau tonjolan apapun ditempat itu,

permukaan dinding kelihatan rata dan halus.

“Mana tombol rahasianya?” seru Nyo Sin kemudian

tertegun.

Siang Huhoa memburu maju ke depan, setelah diperhatikan

sekejap tiba-tiba dia menekan beberapa kali diatas permukaan

dinding itu.

“Ternyata memang berada disini” serunya dengan

senyuman menghiasi wajahnya.

“Sudah kau temukan? Di mana?” sela Nyo sin.

“Itu dia, dibalik dinding”

“Kalau begitu biar kuperintahkan orang untuk membongkar

dinding ini”

“Tidak usah” Siang Hu-hoa menggeleng, setelah tertawa

lanjutnya, “tidak gampang menjumpai kesempatan semacam

ini, mari kita kenali lebih jauh kehebatan dan keampuhan alat

rahasia yang dirancang berdasarkan ajaran Hiankicu”

Tangannya segera diputar lalu ditabokkan ke tengah

dinding itu.

Pukulan tersebut sama sekali tidak menggunakan tenaga,

tapi begitu tangannya menempel diatas dinding terdengar

suara mantap yang sangat aneh, jelas dalam pukulan tadi dia

telah sertakan tenaga dalam yang kuat.

“Triiing!” dentingan aneh seketika bergema dari balik

dinding, meski suaranya lirih dan lemah namun Nyo Sin

maupun Tu Siau-thian dapat mendengarnya dengan jelas.

190

Rupanya ketika Siang Hu-hoa melepaskan pukulannya tadi,

mereka telah menghimpun tenaga sambil pasang mata baikbaik.

Seluruh ruangan perpustakaan itu tercekam dalam

keheningan yang luar biasa, menyusul suara dentingan itu,

bergema suara gemerutuk yang panjang, suara itupun

kedengaran sangat jelas.

Lapisan dinding dimana tergantung dua buah ukisan kayu

yang melukiskan Kwan-Im bertangan seribu dan Milek Hud itu

segera bergeser ke samping kiri dan kanan, ternyata dinding

dengan dua ukiran kayu itu merupakan dua buah pintu

rahasia.

Suasana dibalik pintu itu sangat gelap, tapi luasnya

memang sekitar empat-lima depa, dibelakang itu terdapat lagi

sebuah lapisan dinding, dinding berwarna hitam gelap.

Gelap dan suramnya suasana dibalik pintu rahasia itu

mungkin disebabkan warna hitam pekat yang mendominasi

warna ruang rahasia itu.

Siang Huhoa memandang sekejap ke pintu sebelah kiri

kemudian menengok pula pintu disebelah kanan, untuk berapa

saat lamanya dia hanya bisa berdiri tertegun.

Munculnya dua buah pintu rahasia yang sekaligus

tampaknya jauh diluar dugaan lelaki tampan ini, dia tidak

habis mengerti, sebuah pintu saja seharusnya lebih dari

cukup, kenapa harus dibuatkan dua buah pintu rahasia?

Lalu pintu yang manakah merupakan pintu masuk yang

sebenarnya? Apa pula gunanya pintu rahasia ke dua?

Bab 11.

Kwan-Im bertangan seribu.

191

Tanpa terasa Siang Hu-hoa termenung berapa saat

lamanya, untuk sesaat dia tidak tahu apa yang mesti

dilakukan, begitu juga dengan Tu Siau-thian, dia hanya berdiri

dengan wajah penuh tanda tanya.

“Heran” tiba tiba Nyo Sin berkomentar setelah

memperhatikan wajah Siang Hu-hoa sekejap, “kenapa kau

begitu menguasahi tentang alat rahasia di sini?”

“Dia adalah sahabat karibku, sudah banyak waktu kita

sering jalan bersama, apa yang dia ketahui paling tidak aku

ketahui juga sebagian, ini toh bukan suatu kejadian yang

aneh”

“Menurut anggapanmu, kita mesti masuk melalui jalan

rahasia yang mana?” Nyo Sin memperlunak nada suaranya.

“Aku belum bisa memastikan”

“Padahal gampang sekali pemecahannya” ujar Nyo Sin

kemudian, “kita masuk saja melalui salah satu pintu rahasia

itu, kalau salah masuk, keluar dan berganti dengan pintu yang

lain, urusan kan beres”

Selesai bicara dia langsung melangkah masuk melalui pintu

rahasia yang bergambar Kwan-im bertangan seribu.

“Hati-hati!” teriak Siang Hu-hoa ketika menyaksikan ulah

pembesar itu.

Dengan satu gerakan cepat dia melesat maju ke depan dan

menyambar bahu Nyo Sin.

Waktu itu Nyo sin baru saja melangkah masuk ke dalam

pintu rahasia, begitu mendengar bentakan Siang Huhoa, dia

segera berpaling dengan hati kaget, belum sempat berbuat

sesuatu, seluruh badannya sudah dibetot Siang Huhoa dan

menariknya ke samping pintu luar.

Hampir pada saat yang bersamaan terdengar suara

desingan angin tajam membelah angkasa, dua tiga puluhan

192

batang anak panah mendadak meluncur keluar dari dalam

ruang rahasia dan meluncur keluar dengan cepatnya.

Untung mereka mundur dengan cepat meski bukan berarti

sama sekali sudah lolos dari ancaman yang datang, baru saja

tubuh mereka bergeser ke samping, tiga batang anak panah

sudah meluncur ke arah dada Nyo sin dengan kecepatan

tinggi.

Waktu itu Siang Huhoa menarik bahu Nyo Sin dengan

tangan kanannya, dengan tangan kiri yang kosong dia segera

menyambar ke depan menangkap dua batang anak panah

diantaranya, sementara sisa satu batang yang lolos dari

sambarannya langsung menyambar ke tubuh Nyo Sin dan

merobek pakaian bagian iganya.

Tidak terlukiskan rasa kaget Tu Siau-thian menyaksikan

kejadian itu, Siang Huhoa sendiripun diam-diam bermandikan

peluh dingin.

Sementara Nyo Sin sendiri sudah dibuat ketakutan

setengah mati, wajahnya berubah jadi pucat pias, sepasang

kakinya jadi lemas dan gemetaran, sewaktu Siang Huhoa

melepaskan cekalannya, nyaris dia jatuh berlutut ke tanah.

Buru-buru Tu Siau-thian memayangnya seraya menegur:

“Bagaimana keadaanmu komandan? Apakah terluka?”

Dengan pandangan terkesima Nyo Sin mengawasi bajunya

yang berlubang besar. Sampai lama kemudian dia baru bisa

menjawab:

“Untung hanya pakaianku yang tersambar!”

Kemudian sambil berpaling dan memperhatikan Siang

Huhoa dari atas hingga ke bawah, dia pun menegur:

“Apakah saudara Siang tidak terluka?”

“Tidak!”

193

“Untung tidak sampai terluka” Nyo Sin segera

menghembuskan napas lega, “kalau tidak, kejadian ini pasti

akan membuat perasaan ku tambah sungkan”

Perlahan-lahan dia bangkit berdiri sorot matanya dialihkan

kembali ke permukaan lantai di depan pintu rahasia.

Tampak beberapa batang anak panah itu hampir semuanya

menancap diatas ubin, bukan hanya menancap bahkan

menembusnya hingga sangat dalam.

Dari kejadian ini bisa diketahui betapa tajamnya mata anak

panah itu dan betapa kuatnya tenaga bidikan yang dihasilkan,

bisa dibayangkan apa jadinya bila ke dua-tiga puluhan anak

panah itu serentak menghujam diatas tubuh?

Diam diam Nyo Sin bergidik sambil merinding, tanpa sadar

dia berpaling lagi ke arah Siang Huhoa sambil berseru:

“Saudara Siang, untung kau sempat menarikku………”

Sebetulnya dia ingin sekali mengucapkan sepatah dua

patah kata ucapan terima kasih, namun untuk sesaat dia pun

tidak tahu bagaimana harus mengemukakan perasaan hatinya

itu.

Meskipun ungkapan kata terima kasih belum terlupakan

sama sekali dari otaknya, paling tidak sebagian besar

perbendaan katanya nyaris sudah dia lupakan.

Agaknya Siang Huhoa sama sekali tidak ambil perduli,

kembali dia mengalihkan pandangan matanya ke wajah Tu

Siau-thian.

Tampaknya Tu Siau-thian mengerti yang dimaksud, dia

segera membungkukkan tubuhnya dan mencabut keluar

sebatang anak panah yang tertancap dilantai itu.

Ternyata tidak mudah untuk mencabut keluar, dia harus

mengerahkan tenaga penuh sebelum berhasil mencabutnya.

194

Begitu anak panah sudah tercabut, paras muka Tu Siauthian

kontan berubah hebat

“Kau mengira ubin apa yang terpasang dilantai?” tegur

Siang Hu-hoa sambil tertawa.

Tu Siau-thian menghela napas panjang.

“Justru karena aku tahu kalau ubin yang dipasang dilantai

ruangan ini adalah ubin hijau yang digosok dengan air, maka

aku baru merasa keheranan, kenapa panah panah tersebut

dapat menembusi lantai ini se dalam itu” katanya.

Sekali lagi sinar matanya dialihkan ke atas panah yang

berada dalam genggamannya.

Anak panah itu panjangnya tidak sampai satu depa, mata

panah tajam dan memancarkan sinar berkilauan, seluruh

tubuh panah berwarna hitam dan amat berat, jelas terbuat

dari baja asli.

Setelah diperhatikan lagi berapa kejap, dia baru meletakkan

kembali anak panah itu ke lantai, kemudian sambil bangkit

berdiri dan sekali lagi menghela napas, ujarnya:

“Sungguh tidak kusangka dia dapat menciptakan alat

jebakan sedemikian hebatnya”

“Tapi aku dapat menduganya”

“Tentu saja sebab kalian adalah sahabat lama, kau sudah

tahu sejak awal kalau dia adalah murid penutup dari Hiankicu”

“Itulah sebabnya aku pun mengetahui kebiasaan dari

Hiankicu”

“Kebiasaan apa?”

“Ketika merancang alat jebakan jenis apa pun, dia pasti

akan sertakan alat pembunuh yang luar biasa hebatnya, bila

seseorang berani memasuki suatu tempat sebelum mematikan

195

alat jebakan itu maka sembilan puluh persen orang itu pasti

akan mati”

Tu Siau-thian segera manggut-manggut, dia memang tidak

perlu meragukan kebenaran dari ucapan tersebut.

Nyo Sin lebih percaya lagi, tadi, seandainya Siang Huhoa

tidak menariknya tepat waktu mungkin saat ini dia sudah mati

konyol, mati terhajar puluhan anak panah dari ruang rahasia.

Meski begitu dia bergumam juga dengan perasaan tidak

habis mengerti:

“Aneh benar, sebuah ruang perpustakaan yang begini

hebat kenapa mesti dilengkali dengan pelbagai alat jebakan

yang mematikan? Kalau bukan orang ini mempunyai tujuan

tertentu, pasti otaknya yang ada masalah”

“Sekalipun otaknya benar benar punya masalah,

masalahnya tidak akan berbeda dengan masalah setiap orang”

sambung Siang Huhoa sambil tertawa.

“Oya?”

“Bukankah siapa pun orangnya, dia pasti akan menyimpan

barang barang berharganya di suatu tempat yang paling

rahasia dan paling aman?”

Nyo Sin mengangguk.

“Itulah dia” ujar Siang Hu-hoa lagi, “dia hanya menciptakan

sebuah tempat yang rahasia dan sangat aman di dalam ruang

perpustakaannya untuk menyimpan semua barang barang

berharga miliknya”

“Mestika apa sih yang dia milik sehingga diperlukan tempat

seperti……..”

Belum selesai dia berkata tiba-tiba dia menutup mulutnya

kembali.

196

Rupanya secara tiba-tiba dia teringat kembali dengan nama

gedung perpustakaan itu, Ki Po cay, perpustakaan penyimpan

mestika, apalagi pekerjaan resmi Jui Pakhay adalah seorang

pengusaha.

Sementara dia masih termenung, terdengar Tu Siau-thian

telah bertanya kembali:

“Saudara Siang, apakah kau punya cara untuk mematikan

semua alat jebakan itu?”

“Akan kucoba untuk menemukan tombol rahasia itu………”

“Tidak usah dicari lagi” tukas Nyo Sin, “bukankah alat

jebakan itu sudah bekerja dengan melepaskan seluruh anak

panahnya? Aku rasa kita bisa masuk ke dalam sekarang

dengan perasaan aman”

Komentar boleh cepat, namun sepasang kakinya sama

sekali tidak bergerak, dia tetap berdiri ditempat semula.

Siang Hu-hoa mengerling sekejap ke arahnya, kemudian

menegur:

“Jadi kau anggap hanya ada sebuah alat jebakan saja

disitu?”

“Memangnya masih ada yang lain?”

“Aku rasa masih banyak sekali”

Tanpa sadar Nyo Sin mundur setengah langkah, kemudian

dengan pandangan berkilat ujarnya lagi:

“Alat jebakan itu pasti berada dibalik pintu rahasia, tapi

pintu mana yang benar-benar merupakan pintu masuk yang

sebenarnya? Atau mungkin pintu ke dua yang merupakan

pintu masuk sebenarnya?”

“Apakah kau yakin dibalik pintu rahasia ke dua itu tidak ada

alat jebakannya?” Siang Hu-hoa bertanya.

Nyo Sin tidak berani menjawab, dia segera terbungkam.

197

Siang Hu-hoa tidak banyak bicara lagi, tiba-tiba dia maju ke

depan, menyambar sebuah bangku lalu dilemparkan ke dalam

pintu rahasia itu kuat kuat.

“Weeess!” bangku itu segera melayang masuk melalui pintu

dan terjatuh ke balik ruang rahasia.

Ketika bangku itu menyentuh lantai, pintu itupun seketika

menutup kembali, seolah ada orang yang tiba-tiba mendorong

pintu itu kuat-kuat.

Dan pada itulah mereka semua melihat adanya kilatan

cahaya golok.

Berpuluh puluh batang pisau terbang dengan dahsyatnya

menyembur keluar dari balik dinding ruang rahasia dan

menyambar ke tengah ruangan.

Dengan tertutupnya pintu rahasia itu, cahaya golok pun

turut lenyap dari pandangan mata, namun secara lamat lamat

semua orang dapat mendengar suara benturan logam dengan

lantai yang amat ramai dibalik ruang rahasia itu.

Pucat pias selembar wajah Nyo Sin setelah menyaksikan

kejadian ini.

Air muka Tu Siau-thian pun nampak sangat jelek, serunya

tanpa sadar:

“Waah…. sungguh mengerikan, tampaknya alat rahasia ini

jauh lebih hebat dan mematikan ketimbang alat jebakan yang

pertama tadi, begitu pintu tertutup sama artinya jalan mundur

terpotong, bila ada orang didalam ruangan itu niscaya dia

akan jadi bulan bulanan pisau terbang itu”

“Betul” Siang Huhoa mengangguk, “ruang rahasia itu paling

banter empat lima depa, biar membawa senjata tajam pun

rasanya tidak gampang untuk dipergunakan melindungi diri”

198

“Sekalipun membawa senjata, rasanya tidak gampang

untuk menghadapi serangan pisau terbang yang muncul dari

empat arah delapan penjuru”

Siang Huhoa kembali manggut manggut, sorot matanya

masih belum beralih dari pintu rahasia yang tertutup rapat itu.

Ukiran Mi lek Hud di depan pintu rahasia itu masih tetap

seperti sedia kala, mengulumkan senyumannya yang khas.

Sekarang Siang Huhoa baru dapat melihat jelas mimik

muka ukiran tersebut, rupanya Mi LekHud digambarkan

sedang tertawa lebar, tertawanya begitu lembut, begitu

gembira dan peluh welas asih.

Tampaknya Tu Siau-thian pun sedang memperhatikan

ukiran itu, tiba-tiba dia menggelengkan kepala seraya berseru:

“Tampaknya alat jebakan ini dia namakan

menyembunyikan golok dibalik senyuman!”

“Masih untung hanya sebuah ukiran kayu” sambung Siang

Huhoa, “coba kalau dia adalah orang sungguhan, biar kita

tidak masuk ke dalam pun tetap ada peluang kena dibokong

dengan pisau terbang”

Bila ada manusia mirip Mi Lek Hud, selalu tersenyum

kepada siapa pun, bila dia ingin menghadiahkan sebuah

tusukan, hal ini memang bisa dilakukan sangat mudah.

Alat jebakan itu mati, tapi manusia hidup.

Bila kau tidak menyentuhnya, alat jebakan pun tidak akan

mengejar dan berusaha membunuhmu.

Berbeda sekali dengan manusia, berada disaat apa pun,

berada dimana pun, dia tetap bisa membunuhmu.

Karena alat jebakan merupakan hasil rancangan dan karya

seorang manusia, maka benda inipun bisa membunuh.

199

Tu Siau-thian sangat memahami ucapan dari Siang Hu-hoa

itu, katanya sambil tertawa:

“Tepat sekali perkataanmu, manusia memang lebih sukar

diwaspadai ketimbang sebuah alat jebakan”

Kini Nyo Sin tidak bisa tertawa lagi, sesudah celingukan ke

sana ke mari dia baru menatap wajah Siang Hu-hoa seraya

menghela napas, katanya perlahan:

“Ke dua buah pintu rahasia itu sudah dilengkapi dengan

alat perangkap, lantas menurutmu pintu yang mana

merupakan pintu masuk yang sebenarnya?”

“Tentu saja pintu yang ini!” sambil berkata Siang Hu-hoa

menuding ke arah pintu rahasia dengan ukisan Kwan-im

bertangan seribu, “sekarang Mi-Lek-hud sudah terbongkar

kedoknya, pintu rahasia itupun sudah terkunci dari dalam,

otomatis kita hanya punya satu pilihan saja”

Nyo Sin tertawa getir.

“Kwan-im bertangan seribu ini mesti tidak

menyembunyikan pisau dibalik senyumannya, namun cukup

membuat orang berubah jadi seekor landak” keluhnya.

“Asal kita tidak mengganggu dan mengusiknya hingga

marah, dia pasti tidak akan merecoki kita lagi”

“Jadi kau punya akal untuk membuatnya tidak marah?”

“Sekarang mah belum ketemu”

Mendadak dia berjongkok lalu memeriksa sekali lagi ukiran

kayu Kwan-im bertangan seribu itu dengan lebih seksama.

Tanpa terasa Tu Siau-thian ikut mengalihkan perhatiannya

ke situ, begitu juga Nyo Sin, tapi setelah diawasi berapa saat

belum juga menemukan sesuatu yang aneh, tidak tahan

pembesar itu berteriak:

“Hey, apa yang sedang kau lakukan?”

200

“Mencari tombol yang mengendalikan alat perangkap ini”

jawab Siang Hu-hoa tanpa berpaling.

“Mungkin tombol pengendalinya berada didalam”

“Kalau tombolnya di dalam, dengan cara apa dia masuk ke

situ?”

Merah jengah selembar wajah Nyo Sin, dia tidak bersuara

lagi.

Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh:

“Hiankicu adalah seorang ahli tehnik yang amat hebat,

sementara Jui Pakhay merupakan murid didikannya yang luar

biasa, sejak berapa tahun berselang dia sudah mampu

menyambung kunci sontekan didalam pintu dengan sebuah

tombol yang berada diluar pintu, asal kita memukul diatas

dinding yang berisi tombol rahasia itu maka getaran yang

ditimbulkan akan menggerakkan kunci dibalik dinding yang

akan bergerak menarik sontekan pintu ke samping, dengan

begitu pintu pun akan terbuka. Tapi bila kau ingin menutup

pintu itu dari luar maka kau mesti mendorong dengan

menggunakan tanganmu. Maka kalau kulihat permukaan

dinding yang licin, begitu juga dengan lantai yang licin, besar

dugaan tombol tersebut dia sembunyikan diatas pintu rahasia

itu sendiri”

Berbicara sampai disitu, tangannya mulai meraba ukiran

kayu Kwan-im bertangan seribu itu dari atas hingga ke bawah.

Ketika tangannya mulai bergeser, mendadak timbul satu

perasaan aneh dalam hatinya, perasaan seakan dia sedang

dipelototi seseorang.

Dia tidak tahu kenapa bisa muncul perasaan seperti itu,

tanpa terasa tangannya yang bergeser pun ikut berhenti.

Tapi dihadap annya tidak ada seorang manusia pun, yang

ada hanya sebuah ukiran kayu.

201

Ukiran kayu bergambar Kwan-im bertangan seribu.

Kwan-im bertangan seribu dikenal juga sebagai Kwan-im

bertangan seribu bermata seribu.

Menurut kitab suci Gavatamo, Kwan-im ini memiliki dua

puluh buah tangan dimasing masing tangannya, pada setiap

tangan terdapat sebuah mata hingga bila dijumlah maka

terdapat empat puluh tangan dengan empat puluh buah mata.

Dan sekarang, ukiran kayu bergambar Kwan-im bertangan

seribu pun memiliki empat puluh buah mata dan empat puluh

buah tangan, sama persis seperti apa yang tertera dalam kitab

suci itu.

Bukan hanya bentuk bahkan cara duduknya pun persis

sama seperti apa yang dilukiskan dalam kitab suci, tiga puluh

delapan buah tangannya membentang dibelakang tubuhnya

membentuk lingkaran, sementara dua tangannya yang asli

menempel diatas lutut dengan membuat tekukan jari.

Sekarang sepasang tangan Siang Huhoa sedang menekan

tangan Kwan-im bertangan seribu yang diletakkan diatas lutut

itu.

Dengan termangu-mangu dia awasi ukiran itu tanpa

berkedip, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

Belum sempat Tu Siau-thian bertanya, sepasang tangan

Siang Hu-hoa sudah mulai bergerak dan menggeser ke

samping.

Dia menggeser tangannya mulai dari jari tangan Kwan-im

bertangan seribu yang ditekuk diatas lutut itu menuju ke atas,

sementara sepasang matanya mengawasi biji mata Kwan-im

bertangan seribu itu tanpa berkedip.

Betul juga dugaannya, pupil mata Kwan-im bertangan

seribu itu ternyata ikut bergerak menyusul pergeseran jari

tangannya menuju ke atas, mata itu bergerak seakan sedang

menegurnya kenapa berani menyentuh tubuh sucinya.

202

Ternyata sepasang mata itu yang sedang mengawasi aku

terus menerus!” serunya kemudian sambil tertawa, sementara

jari tangannya mulai bergeser ke kiri kanan jari tangan Kwanim

itu.

Rupanya jari tangan yang ditekuk diatas lutut itupun bukan

ukiran mati, tapi bisa digerakkan dengan leluasa.

Ketika dia menggeser ke kiri, kekanan maupun ke bawah,

tiada reaksi apa pun yang timbul, tapi ketika jari tangan itu

digeser keatas maka ……”Kraaak!” terdengar bunyi gemerutuk

yang lembut diikuti melompat keluarnya pupil mata dari ukiran

Kwan-im bertangan seribu itu ke depan.

Biji mata itu tidak melejit ke udara tapi hanya melompat

keluar sejauh setengah depa, ternyata di belakang ukiran biji

mata itu tersambung dengan sebatang kayu sepanjang

setengah depa.

Siang Huhoa segera melepaskan ukiran jari tangan dilutut

itu lalu memegang sepasang biji mata yang melompat keluar

Ketika disentuh ternyata benda itu terasa dingin dan bukan

terbuat dari kayu, rupanya biji mata itu dibuat khusus dengan

baja.

Siang Huhoa mulai menggerakkan biji mata itu, ketika

digeser dari kiri menuju ke kanan, dari balik pintu rahasia pun

bergema suara yang sangat aneh.

Suara itu mirip suara sekelompok tikus yang sedang

menggigit dan mencakar sesosok bangkai atau mayat.

Karena suasana waktu itu sangat hening, maka suara aneh

itu kedengaran jelas sekali.

Suasana yang semula sudah terasa menyeramkan kini

terasa makin mengerikan dan menggidikkan hati, jangan lagi

orang lain, Siang Huhoa sendiripun tidak kuasa untuk

merinding dan bersin berulang kali.

203

Tapi tidak lama kemudian sekulum senyuman telah

menghiasi ujung bibirnya, sambil bertepuk tangan dan bangkit

berdiri serunya:

“Sekarang kita sudah boleh masuk!”

“Sudah kau tutup semua alat jebakan yang ada didalam

ruang rahasia itu?” tanya Nyo Sin kuatir.

“Mungkin saja dia telah mempersiapkan alat jebakan lain di

dalam ruangan itu, tapi untuk memasuki pintu rahasia,

menurut pendapatku, semestinya memang tidak ada masalah

lagi”

Biarpun sudah dikatakan kalau tidak ada masalah, Nyo Sin

tetap tidak berani beranjak dari tempatnya berdiri.

Tampaknya Siang Huhoa sendiripun tidak berani seratus

persen percaya dengan analisa sendiri, kembali dia mundur

beberapa langkah, menyambar lagi sebuah bangku kemudian

dilemparkan ke dalam pintu rahasia.

“Blaaaam!” bangku itu seketika hancur berantakan dibalik

ruang rahasia itu.

Bagaikan burung yang kaget melihat busur Nyo Sin

tergopoh gopoh melompat ke samping untuk menghindarkan

diri.

Ternyata kali ini tiada reaksi apa pun yang muncul dari

balik pintu rahasia, suasana tetap tenang.

Melihat kenyataan tersebut, dengan perasaan tenang Siang

Hu-hoa baru melangkah kakinya memasuki pintu rahasia itu.

Jui Gi yang pertama kali menyusul di belakang lelaki itu.

Tu Siau-thian menyusul di belakangnya, namun baru dua

langkah, Nyo Sin sudah mendahuluinya dengan langkah cepat.

204

Meskipun berani melampui anak buahnya, ternyata

pembesar ini hanya mengintil terus di belakang Siang Huhoa

dan Jui Gi.

Biarpun dia suka merebut pahala orang, bagaimana pun

termasuk juga seorang lelaki yang pintar.

Suasana dalam ruang rahasia itu gelap dan menyeramkan.

Baru satu langkah memasuki ruang rahasia tersebut, tibatiba

Siang Huhoa menghentikan kembali langkahnya.

Nyo Sin yang menyaksikan kejadian itu buru-buru

melompat ke samping untuk menghindar, dia mengira secara

tiba tiba Siang Hu-hoa telah menemukan sesuatu ancaman

mara bahaya.

Tampaknya Tu Siau-thian pun berpendapat sama, tanpa

sadar dia berseru nyaring:

“Hati-hati!”

Siang Huhoa sama sekali tidak memperlihatkan rasa gugup

atau panik, malah sembari berpaling ujarnya:

“Saudara Tu, tolong ambilkan lampu minyak yang berada di

meja sebelah sana”

Ternyata dia berhenti karena tiba-tiba teringat untuk

membawa lampu.

Tu Siau-thian segera menyahut dan membalikan badan

menuju ke arah meja.

Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, juga tidak

menunjukkan sikap apapun, terhadap seluruh peristiwa yang

baru terjadi dia seakan sudah melupakannya.

Siang Huhoa sendiripun berlagak seolah tidak pernah

terjadi apa-apa, dia tidak menegur Nyo Sin, pun tidak

berbicara apa apa, seolah dia sama sekali tidak tahu apa yang

telah dilakukan orang itu di belakang tubuhnya.

205

Tidak heran kalau Nyo Sin merasa rikuh bercampur jengah,

segera dia berjalan balik ke posisinya semula, kemudian baru

berkata:

“Tadi, kukira kau temukan alat jebakan lagi”

Siang Huhoa hanya tersenyum tanpa menjawab, sementara

Tu Siau-thian dengan membawa lampu lentera telah berjalan

mauk lagi ke dalam ruang rahasia.

Dibawah sorot cahaya lampu, kini Siang Hu-hoa dapat

melihat sangat jelas suasana di sekelilingnya.

Ternyata ruang rahasia itu memiliki kedalaman empat-lima

depa dengan lebar lebih kurang dua kaki.

Ketika berbelok enam depa ke kiri, maka akan terlihat

sebuah dinding ruangan yang memisahkan ruang ini dengan

ruang di balik pintu rahasia dengan ukiran Mi lek Hud,

sebaliknya ujung dari belokan ke kanan adalah sebuah dinding

pula, tapi setengah kaki sebelum dinding itu terlihat

permukaan tanahnya menjorok turun ke bawah, disana

terlihat anak tangga yang menghubungkan ruang atas dengan

ruang bawah.

Dari balik ruang bawah lamat-lamat terlihat ada cahaya

lampu yang memancar keluar.

Dinding disekeliling ruangan gelap karena dicat warna

hitam, diatas dinding hitam itu muncul lubang lubang kecil

yang banyak jumlahnya, dari balik lubang kecil itu terlihat

ujung anak panah yang menonjol keluar siap dibidikkan, ketika

tertimpa cahaya lampu, ujung senjata itu kelihatan

gemerlapan membiaskan cahaya tajam.

Untung tombol rahasia sudah dimatikan sebelum mereka

memasuki ruang rahasia itu, coba kalau tidak, bisa jadi hujan

panah akan berhamburan keluar melalui lubang lubang kecil

itu.

206

Padahal ruangan itu begitu sempit, tentu saja sulit bagi

mereka untuk menggerakkan badannya dengan leluasa, dalam

keadaan begini, biarpun kau memiliki kepandaian silat yang

hebat pun bukan pekerjaan yang gampang untuk menghadapi

datangnya ancaman dari empat penjuru.

Kecuali lubang lubang kecil berisi anak panah, disekeliling

dinding tidak tampak benda apa pun.

Ternyata ruang rahasia ini tidak lebih hanya sebuah lorong

penghubung.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang rahasia dan

menyaksikan ujung panah yang gemerlapan dibalik lubang

dinding, Nyo Sin seketika merasakan sepasang kakinya mulai

lemas, buru buru bertanya lagi:

“Saudara Siang, apakah semua alat perangkap sudah

dimatikan?”

Waktu itu Siang Huhoa sudah berada didepan anak tangga

yang menuju ke ruang bawah tanah, tanpa berpaling

sahutnya:

“Bukankah sampai saat ini aku baik-baik saja?”

Begitu selesai berkata, dia melanjutkan langkahnya

menuruni anak tangga.

Kini Nyo Sin baru merasa lega untuk melangkah masuk ke

dalam ruangan, agaknya baru sekarang dia merasa yakin

kalau semua alat jebakan benar-benar telah dimatikan.

Tu Siau-thian mengikuti di belakang Nyo Sin, perasaan

tidak sabar sudah muncul diwajahnya, namun dia masih

berusaha untuk menahan diri.

Memang sejak berapa tahun ini dia harus mulai belajar dan

mengerti apa arti dari sebuah kesabaran.

207

Justru karena dia memahami arti dari sebuah kesabaran,

maka sekarang dia baru bisa menjadi seorang opas yang

cekatan dan menonjol namanya.

Anak tangga yang menjorok ke bawah tanah itu tidak

terlalu panjang, paling banter hanya ada tiga puluhan

undakan.

Ujung dari anak tangga berupa sebuah pintu batu, pintu itu

sudah berada dalam keadaan terbuka, dari balik ruangan

itulah munculnya cahaya lentera.

Mungkinkah buka tutupnya pintu batu ini dikendalikan dari

atas? Karena semua tombol alat jebakan telah dimatikan,

maka secara otomatis pintu batu itu terbuka dengan

sendirinya?

Siang Huhoa berhenti sebentar diluar pintu batu itu, tapi

kemudian dengan mengangkat tinggi lenteranya dia

melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan.

Cahaya lentera lembut bagaikan sinar rembulan.

Begitu masuk ke dalam pintu batu itu maka terlihatlah

sebuah ruang batu yang luas. Ukuran ruangan batu ini

sedemikian luasnya sehingga setara dengan ukuran ruang

perpustakaan yang berada diatasnya.

Interior didalam ruang batu itu amat indah, ke empat

dindingnya diberi kain tirai yang terbuat dari kain sutera halus,

sementara permukaan lantainya dilapisi permadani tebal

berwarna merah menyala, permadani dari Persia, sehingga

waktu berjalan diatasnya, sama sekali tidak kedengaran suara

langkah kaki kita.

Lampu penerangan diletakkan ditengah ruangan, delapan

buah lampu abadi yang diatur berbentuk formasi tujuh bintang

mengelilingi rembulan’ berjajar rapi diatas sebuah rak

tembaga berbentuk lingkaran.

208

Rak tembaga itu digantungkan diatap ruangan dengan

memakai sebuah kawat baja yang besar dan kuat, seakan

tujuh buah bintang yang mengelilingi sebuah rembulan.

Sebab dari ke delapan buah lampu itu, hanya sebuah

dibagian tengah yang dibiarkan menyala

Dibawah gelang lampu itu terletak meja dan bangku,

sebuah meja dikelilingi tujuh buah bangku, benda benda

itupun diatur dalam formasi tujuh bintang mengelilingi

rembulan.

Tentu saja meja kursi yang diletakkan disitu merupakan

meja kursi dengan kwalitas luar biasa sempurnanya.

Dibawah tirai sutera di ke empat dinding ruangan itu

terletak pula meja meja kecil, jumlahnya mencapai dua-tiga

puluhan, diatas meja meja itu lah diletakkan aneka ragam

intan permata, mutu manikam yang tidak ternilai harganya,

tiada satu benda pun yang sama dengan benda lainnya, tapi

hampir semua yang ada disitu merupakan mestika langka

yang luar biasa indah dan berharganya.

Intan permata sebesar telur ayam, mutu manikam yang

menyala bagai bara api…….membuat seluruh ruangan

bermandikan cahaya terang.

Seandainya ke delapan buah lampu disitu dinyalakan

semua, niscaya ruangan itu akan bertambah terang dan

menyilaukan mata.

Sekarang pun Nyo Sin, Tu Siau-thian serta Jui Gi sudah

dibuat silau dan terbelalak matanya setelah menyaksikan

gemerlapannya cahaya diruangan itu.

Untuk sesaat mereka bertiga berdiri terkesima dengan mata

melotot dan mulut melongo, sesaat mereka seolah hanya bisa

berdiri mematung tanpa mengetahui apa yang mesti

dilakukan, hanya Siang Huhoa seorang yang terkecuali.

209

Sambil memegang lampu dia masih menelusuri seluruh

ruangan, ditinjau dari mimik mukanya dia seakan sama sekali

tidak memandang sebelah mata pun terhadap semua intan

permata, mutu manikam dan benda berharga lainnya yang

ada disana.

Selesai mengelilingi seluruh ruangan itu satu lingkaran, tiba

tiba dia menarik sebuah kursi ditengah ruangan dan duduk,

sementara lampunya diletakkan ditengah meja.

“Tuuukk…..!” suara lampu yang membentur permukaan

meja menimbulkan gema suara yang luar biasa nyaringnya

ditengah keheningan dalam ruang batu.

Seketika itu juga Nyo Sin, Tu Siau-thian dan Jui Gi tersadar

kembali dari lamunannya, sinar mata mereka serentak

dialihkan ke wajah Siang Huhoa dan menatapnya lekat-lekat.

Siang Huhoa tidak menanggapi pandangan semua orang,

kepada Jui Gi mendadak dia bertanya:

“Apa sebelumnya, kau pernah berkunjung kemari?”

Jui Gi menggeleng.

“Belum pernah” sahutnya, “baru kali ini aku tahu kalau

dibawah ruang perpustakaan ternyata terdapat sebuah ruang

rahasia macam ini, kalau tidak, meski aku tidak seberapa

mengerti soal peralatan rahasia itu, paling tidak tidak bakal

hanya berpeluk tangan belaka”

Siang Huhoa menatapnya sekejap kemudian manggutmanggut,

ujarnya lagi setelah termenung sejenak:

“Kalau sampai kau juga tidak tahu, berarti mustahil dia

akan bocorkan rahasia ini kepada orang lain, dengan

perlengkapan alat jebakan yang begini hebat, tempat ini boleh

dibilang sangat rahasia dan aman, memang paling cocok bila

digunakan sebagai tempat untuk menyimpan intan permata

dan benda berharga lainnya”

210

“Seandainya dia juga bersembunnyi disini, bukankah dia

menjadi aman sekali?” tiba-tiba Nyo Sin menyela.

“Semestinya memang begitu” Siang Huhoa mengangguk

“Siapa tahu lenyapnya dia pada malam tersebut karena dia

sudah menyembunyikan diri di tempat ini?”

“Tapi kami tidak mendengar suara apa-apa waktu itu” Tu

Siau-thian menimbrung.

“Waktu itu dia kabur kemari dengan tergopoh-gopoh, tentu

saja semua gerakan dilakukan sambil menahan napas dan

tidak berani menimbulkan suara apa pun”

“Tapi sewaktu aku bersama Tan Piau dan Yau Kun

menyerbu masuk ke dalam ruang perpustakaan, dia

semestinya tahu akan hal ini dan segera tampil keluar”

“Mungkin saja pada saat itu dia sudah berada dalam ruang

batu ini dan menutup pintunya rapat rapat sehingga sama

sekali tidak mendengar suara apa pun”

Tidak menunggu pendapat dari Tu Siau-thian, dia berkata

lebih jauh:

“Mungkin juga pada waktu itu dia sudah pingsan”

“Sekalipun sempat pingsan, toh ada saatnya tersadar

kembali”

“Tentu saja….”

“Tapi sejak peristiwa itu terjadi hingga senja hari ke dua,

orang orang kita selalu berjaga-jaga di dalam ruang

perpustakaan ini”

“Mungkin saja dia pingsan selama tiga hari tiga malam,

mungkin saja dia sudah……..” baru sampai ditengah jalan

mendadak pembesar itu menghentikan kata-katanya.

“Mungkin saja dia sudah mati waktu itu” Siang Hu-hoa

segera menyambung ucapannya yang terpotong itu.

211

“Benar” Nyo Sin berkata lagi, “bila seseorang sudah mati,

tentu saja reaksi apa pun tidak nanti bisa dia lakukan”

“Bila seseorang sudah mati, seharusnya dia meninggalkan

suatu benda” kata Siang Huhoa.

“Benda apa?”

“Mayatnya!”

Dalam ruangan batu itu tidak ditemukan jenasah dari Jui

Pakhay.

Seandainya Jui Pakhay mati di dalam ruangan batu itu,

seharusnya jenasahnya berada pula di dalam ruangan batu ini.

Nyo Sin menyapu sekejap seluruh ruangan, tiba tiba sambil

menuding ke satu arah serunya:

“Mungkin saja mayatnya tersembunyi di balik peti peti kayu

itu”

Yang dituding memang merupakan sebuah sudut ruangan

dimana terletak beberapa peti kayu besar.

Siang Huhoa melirik peti itu sekejap, tiba-tiba tanyanya:

“Apa kau pernah melihat ada mayat yang bisa berjalan?”

Kalau mayat itu tidak bisa berjalan, darimana dia bisa

menyembunyikan diri dibalik peti?

“Aku tidak pernah melihatnya” Nyo Sin menggeleng,

“sewaktu berjalan masuk ke dalam peti, bisa saja saat itu dia

belum mati”

“Ooh, maksudmu dia sendiri yang berjalan masuk ke dalam

peti itu kemudian mati di dalam peti?”

Kali ini Nyo Sin manggut-manggut tanda membenarkan.

“Bukankah ruangan ini sudah lebih dari aman?” ujar Siang

Hu-hoa.

212

“Ketika dia kabur ke dalam ruangan ini dengan membawa

luka, bisa saja ada sebagian dari kawanan laron penghisap

darah itu yang turut masuk, karena kehabisan akal akhirnya

dia memilih bersembunyi di dalam peti”

Tiba-tiba Siang Huhoa tertawa tergelak, serunya:

“Memangnya kau anggap dia adalah siluman?”

“Apa maksud perkataanmu itu?” Nyo Sin tertegun.

“Kalau bukan siluman, bagaimana caranya dia bersembunyi

di dalam peti lalu mengunci peti itu dengan sebuah gembokan

besar dari luar?” kata Siang Hu-hoa sambil tertawa.

“Gembokan itu bisa saja bukan dia sendiri yang melakukan”

ngotot Nyo sin dengan wajah tidak berubah.

“Kalau bukan dia, lalu siapa yang melakukan?”

“Bisa saja kawanan laron penghisap darah itu!”

“Memangnya kau anggap laron penghisap darah itu adalah

siluman?”

“Mungkin saja”

Siang Huhoa segera tertawa.

Hingga kini dia masih belum pernah melihat apa yang

dikatakan sebagai laron penghisap darah, karena itu dia pun

tidak ingin berdiskusi tentang hal hal yang tidak diketahui

olehnya secara pasti.

Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh:

“Begini saja, bagaimana kalau sekarang kita buka seluruh

peti yang ada disitu?”

Dalam hal ini ternyata Siang Huhoa malah sangat setuju.

Maka satu per satu peti peti itu dibuka semua, ternyata

gembokan yang berada diluar peti itu bukan dikunci beneran,

213

tanpa menggunakan anak kunci pun mereka dapat membuka

semua peti itu secara mudah.

Peti itu semuanya berjumlah tujuh buah dan ternyata

terbuat dari baja asli, bukan kayu.

Empat buah peti penuh berisikan emas murni dan perak

sementara tiga peti lainnya berisikan intan permata, mutiara,

batu zamrud, berlian dan mutu manikam yang tidak ternilai

harganya.

Sekali lagi Nyo sin dan Tu Siau-thian berdiri terkesima,

untuk sesaat mereka hanya bisa berdiri melongo.

Tampaknya kekayaan yang dimiliki Jui Pakhay jauh diluar

dugaan mereka semua, mereka tidak menyangka kalau ada

begitu banyak barang berharga yang tersimpan disitu.

Akhirnya setelah menghela napas panjang Nyo Sin berbisik:

“Kalau ditanya siapa orang paling kaya di wilayah ini,

kelihatannya dialah yang menduduki ranking nomor satu”

Jui Gi sendiripun berdiri termangu, biarpun dia adalah

pengurus rumah tangga tempat itu, namun dia sendiripun

tidak menyangka kalau Jui Pakhay ternyata memiliki kekayaan

yang luar biasa banyaknya.

Hanya mimik muka Siang Huhoa yang sama sekali tidak

berubah, tampaknya dia sudah tahu akan hal ini sehingga

sama sekali tidak tertarik untuk mempersoalkan.

Isi peti peti itu hanya emas, perak dan benda berharga,

sama sekali tidak ada mayat bahkan tulang belulang orang

mati pun tidak dijumpai.

Dengan susah payah akhirnya Nyo Sin dapat menarik

kembali sorot matanya, sambil mengelus jenggotnya dia

berkata kemudian:

214

“Mungkin saja setelah menghisap darahnya hingga kering,

kawanan laron penghisap darah itu sekalian memakan daging

dan tulangnya hingga habis”

“Oya?”

Karena tidak yakin dengan dugaan tersebut, setelah

berpikir sejenak Nyo Sin segera mengalihkan pembicaraan ke

soal lain, katanya:

“Mungkin di dalam ruangan batu ini masih terdapat jalan

keluar yang lain”

Bab 12.

Kabut hujan gerimis.

Dalam ruang batu itu tidak ditemukan jalan keluar yang

lain.

Mereka telah menyingkap semua tirai sutera yang melapisi

empat penjuru dinding, bahkan permadani yang melapisi

lantai pun sudah dibongkar, namun tidak ditemukan sesuatu

yang mencurigakan.

Akhirnya ke empat orang itu menghentikan

penggeledahannya.

Siang Huhoa berjalan balik ke tempat semula dan duduk

kembali sambil menengok ke arah Nyo Sin.

Kali ini Nyo sin tidak sanggup berkata-kata lagi.

Siang Hu-hoa menunggu beberapa saat, ketika melihat Nyo

Sin belum juga bersuara lagi maka dia pun menegur:

“Apakah kau pikir masih ada kemungkinan yang lain?”

“Rasanya sudah tidak ada lagi” sahut Nyo Sin sambil

menghela napas.

215

“Kalau memang sudah tidak ada, bagaimana kalau

sekarang mendengar kemungkinanku?”

“Aku sudah siap mendengarkan pendapatmu”

“Mungkin setelah berteriak kaget dan ketakutan, dia

menyembunyikan diri disini, hingga ruang perpustakaan

benar-benar tidak ada orang lagi, dia baru diam-diam

membuka pintu rahasia dan pergi meninggalkan tempat ini”

Nyo Sin mengawasi Siang Hu-hoa dengan mata mendelik,

dia seakan hendak mengatakan sesuatu, tapi sebelum dia

lakukan hal tersebut, Siang Huhoa sudah berkata lebih jauh:

“Apa yang kuuraikan barusan sebenarnya merupakan

alasan yang paling pas, sebab kalau tidak………….”

“Kalau tidak kenapa?”

“Kita harus menerima kisah tentang laron penghisap darah

itu sebagai suatu kenyataan”

Mendadak Tu Siau-thian menimbrung:

“Kalau kudengar dari perkataanmu itu, seolah kau masih

curiga kalau kisah tentang laron penghisap darah itu

sebenarnya hanya cerita khayalan belaka”

“Benar, aku memang masih curiga”

“Tapi sikap semacam itu rasanya tidak bermanfaat bagi dia”

“Memang sama sekali tidak bermanfaat”

Siang Huhoa membenarkan seraya tertawa, “siapa tahu

lantaran kelewat jemu dan kesal, dia sengaja mengajak kita

semua bergurau”

Tu Siau-thian tahu kalau rekannya tidak serius dengan

perkataan itu, maka diapun hanya tertawa tanpa menjawab.

Berbeda dengan Nyo Sin, dia anggap serius perkataan itu,

segera bantahnya:

216

“Tapi menurut apa yang ku tahu, dia bukan seseorang yang

gemar bergurau”

“Aku tahu, dia memang bukan manusia type itu”

Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya

lebih jauh:

“Tampaknya kita sudah melupakan tujuan utama kita

datang kemari”

Tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk mencari

buku catatan milik Jui Pakhay yang berisi catatan terperinci

tentang pengalamannya.

Seakan baru tersadar dari lamunan buru-buru Tu Siau-thian

menyahut:

“Aaah benar, aku rasa buku catatan itu pasti sudah dia

sembunyikan disuatu tempat diseputar sini”

Siang Huhoa mengangguk.

“Aku memang tidak menemukan tempat lain yang lebih

aman dan lebih rahasia didalam gedung perpustakaan ini

selain ruang rahasia ini………..”

“Tapi buku catatan itu dimana dia sembunyikan?” tukas

Nyo Sin tidak sabar.

“Jauh diujung langit, dekat di depan mata” jawab Siang

Huhoa sambil mengalihkan pandangan matanya ke samping

meja.

Diatas meja itu tergeletak berpuluh gulung lukisan,

dibawah tumpukan lukisan terlihat sepucuk sampul surat.

Setiap gulung lukisan yang tertumpuk disitu bukan berisi

lukisan berharga, melainkan tertulis tanggal hari dan bulan.

“Bulan tiga tanggal satu…… bulan tiga tanggal dua….bulan

tiga tanggal tiga…… bulantiga tanggal empat belas!”

217

Mungkinkah catatan yang sedang mereka cari ada di

tumpukan lukisan itu?

Tanpa terasa Nyo Sin, Tu Siau-thian maupun Jui Gi berjalan

mendekat dan mengelilingi meja itu.

Mula-mula Siang Hu-hoa mengambil dulu surat itu, ternyata

surat tersebut bukan ditujukan kepadanya, diatas sampul

surat itu tertulis dengan jelas bahwa surat itu dititipkan

sementara waktu kepadanya, bila Jui Pakhay sudah mati maka

diminta untuk menyerahkan surat tersebut kepada Ko Thianliok.

Dalam sekilas pandang Tu Siau-thian dapat melihat kalau

surat itu persis sama bentuknya dengan surat yang diserahkan

Jui Pakhay kepadanya pada malam tanggal lima belas dan

hingga kini masih tersimpan dalam sakunya.

Sampul surat yang sama dengan tulisan yang sama pula.

Dengan keheranan Siang Hu-hoa berpaling ke arah Tu

Siau-thian, kemudian tegurnya:

“Sebenarnya apa yang telah terjadi?”

Buru-buru Tu Siau-thian menjelaskan apa yang dialami

pada malam tanggal lima belas serta apa saja yang dikatakan

Jui Pakhay kepadanya.

Siang Huhoa mendengarkan dengan serius, sampai Tu

Siau-thian menyelesaikan kata-katanya, dia baru berkata:

“Cara kerja orang ini selamanya memang teliti dan cermat”

Tu Siau-thian manggut membenarkan, dia simpan kembali

surat miliknya.

Siang Huhoa memasukkan pula surat itu ke dalam sakunya,

kemudian baru berkata lagi:

“Sebelum membuktikan kematiannya, lebih baik kita berdua

masing-masing menyimpan sepucuk surat tersebut, jika nanti

218

sudah terbukti kalau dia memang mati, barulah kita serahkan

surat tersebut ke alamat yang bersangkutan”

“Kelihatannya dia memang bermaksud begitu”

Maka Siang Huhoa mengambil gulungan kertas yang

bertuliskan tanggal satu bulan tiga, ujarnya:

“Sekarang kita harus mulai memeriksa isi lukisan ini”

Sambil berkata dia mulai membuka gulungan lukisan itu

dan dibentangkan diatas meja.

Ternyata gulungan kertas itu bukan berisi lukisan tapi

penuh dengan tulisan, catatan kisah kejadian yang dialami

pada tanggal satu bulan tiga.

0-0-0

Malam tanggal satu bulan tiga, untuk pertama kalinya Jui

Pakhay bertemu dengan laron penghisap darah.

Dengan ilmu pedang andalannya, tujuh bintang perenggut

nyawa, pedang sakti pencabut sukma, dia melancarkan

serangan namun gagal membinasakan laron penghisap darah

itu.

Baru saja serangan dilancarkan, mendadak laron penghisap

darah itu hilang lenyap tidak berbekas, lenyap bagaikan setan

iblis.

0-0-0

Lukisan Jui Pakhay tidak bagus, ternyata tulisannya jauh

lebih payah apalagi ditulis dalam keadaan tergesa-gesa,

tulisannya benar benar sangat payah seperti tulisan cakar

ayam.

Masih untung apa yang dituturkan dalam tulisannya itu

merupakan sebuah kisah kejadian yang sangat menggidikkan

hati, sekalipun tulisannya jelek, orang tetap tertarik untuk

membacanya hingga selesai.

219

Empat belas gulung kertas lukisan berisikan catatan

lengkap tentang peristiwa yang terjadi selama empat belas

hari.

Satu gulung menandakan satu hari.

Dibawah sinar lentera yang redup, dari balik tulisan yang

tertera diatas gulungan kertas itu seolah terpancar keluar

hawa siluman yang sangat kental.

Hawa siluman yang aneh, hawa siluman yang mengerikan

dan menakutkan.

Tanpa terasa ke empat orang itu bergidik, bulu roma

bangun berdiri, namun pandangan mata mereka seolah sudah

tersihir, sulit dialihkan lagi dari atas gulungan kertas itu.

0-0-0

Bulan tiga tanggal satu, bulan tiga tanggal dua, bulan tiga

tanggal tiga,……….

Pada tiga gulungan yang pertama, Siang Huhoa hanya

membuka dan membacanya secara perlahan, namun mulai

gulungan ke empat, gerakannya dilakukan semakin cepat,

semakin dibaca dia membuka gulungan tersebut semakin

cepat.

Ternyata sorot mata Tu Siau-thian Nyo Sin dan Jui Gi ikut

bergerak mengikuti ke arah mana Siang Hu-hoa bergerak.

Ketika selesai membaca ke empat belas gulung tulisan itu,

Siang Huhoa merasa napasnya sesak dan nyaris tidak bisa

menghembuskan napas lagi.

Tu Siau-thian bertiga pun ikut menjadi sesak napas, hawa

siluman seolah memancar keluar dari balik gulungan kertas

dan mulai menyelimuti seluruh ruangan batu.

Ketika Siang Huhoa meletakkan kembali gulungan kertas ke

sepuluh, sepasang tangannya meski tidak sampai membeku

220

kaku saking dinginnya, namun seluruh tubuhnya sudah

bermandikan peluh dingin.

Paras muka Tu Siau-thian dan Nyo Sin berubah pucat pias,

sementara Jui Gi berdiri dengan badan gemetar keras.

Mereka semua ikut merasakan ketakutan, ngeri dengan

teror seperti apa yang dialami Jui Pakhay waktu itu.

Untuk sesaat ke empat orang itu tidak mampu berkata

kata, mereka tidak mampu melakukan gerakan apa pun,

seakan akan semuanya sudah dibuat beku dan kaku oleh

gulungan hawa siluman dalam ruangan.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya Tu Siau-thian

memecahkan keheningan:

“Kejadian ini menyangkut nama baik bininya, tidak heran

kalau sulit baginya untuk bercerita”

“Tapi….. apa benar bininya adalah jelmaan dari laron

penghisap darah? Apa benar dia adalah siluman laron?” kata

Nyo Sin.

Tu Siau-thian tidak menjawab, dia memang tidak tahu

bagaimana meski menjawab pertanyaan itu.

“Aku tidak percaya kalau semua kejadian itu adalah nyata!”

mendadak Jui Gi berteriak keras.

Kalau dia tidak percaya, lalu siapa pula yang percaya?

Nyo Sin tertawa getir, ujarnya tiba-tiba:

“Kau tidak percaya? Jadi kau anggap majikanmu sedang

berbohong?”

Jui Gi kontan tertegun, dia jadi gelagapan dan tidak mampu

menjawab.

Sementara itu Nyo Sin sudah berpaling ke arah Siang Huhoa

seraya bertanya:

221

“Bagaimana menurut saudara Siang?”

Siang Huhoa hanya menghela napas tanpa menjawab. Dia

pun sama seperti yang lain, tidak tahu harus menjawab apa.

Kalau dibilang Jui Pakhay kurang waras otaknya, mustahil

dia bisa menuturkan semua pengalamannya secara terperici

dalam empat belas gulungan kertas.

Berarti semua peristiwa itu nyata? Tidak ada yang berani

mengiayakan.

Sekali lagi Tu Siau-thian memecahkan keheningan, kali ini

dia hanya menghela napas panjang.

“Saudara Tu” Siang Huhoa segera mengalihkan pandangan

matanya ke wajah Tu Siau-thian, “dalam dua hari belakangan,

apakah kau telah bersua dengan bininya?”

“Gi Tiok-kun maksudmu?” seru Tu Siau-thian tertegun.

“Memangnya selain Gi Tiok-kun, dia masih mempunyai bini

ke dua?” Siang Hu-hoa balik bertanya keheranan.

“Tidak punya”

“Lantas kenapa kau tunjukkan wajah keheranan ketika aku

menyinggung tentang dia?”

“Aku hanya keheranan, kenapa secara tiba-tiba kau

menyinggung soal dia”

“Tentu saja ada alasan yang kuat, jawab dulu

pertanyaanku”

“Malam tanggal enam belas, dia sudah tahu kalau saudara

Jui lenyap tidak berbekas, dia sempat mendatangi ruang

perpustakaan untuk mencari berita, kemarin malam ketika aku

datang menjenguk untuk menanyakan lagi kabar tentang

saudara Jui, dia pula yang muncul untuk menyambut

kedatanganku”

“Kalau begitu aneh sekali”

222

“Apanya yang aneh?” Tu Siau-thian tertawa getir.

“Kau tidak mengerti?”

“Lebih baik kau terangkan sejelas-jelasnya” sahut Tu Siauthian

sambil menggeleng.

“Barusan kau telah ikut membaca catatan pengalamannya,

apakah kau tidak merasa banyak bagian dalam catatan itu

yang kelewat emosional?”

Tu Siau-thian membenarkan.

“Bila kita bahas dari catatan yang dia tulis” sambung Siang

Huhoa lebih jauh, “maka tidak sulit untuk kita ketahui bahwa

dia memang menaruh perasaan takut yang luar biasa, rasa

diteror yang membuatnya amat tersiksa, membuat kita bisa

menduga bahwa dia mempunyai satu pemikiran yang

menakutkan”

“Pemikiran yang bagaimana?”

“Dia ingin sekali membunuh Gi Tiok-kun dan Kwe Bok!”

“Bila mereka benar-benar berniat mencelakai aku, akupun

tidak akan berlaku sungkan terhadap mereka, mau manusia

atau siluman laron, aku harus membunuhnya!”

Demikian Jui Pakhay menuliskan jalan pemikirannya dalam

gulungan kertas yang bertuliskan bulan tiga tanggal dua belas.

“Benar, tampaknya dia memang punya maksud untuk

berbuat begitu” Tu Siau-thian segera teringat pula dengan

pernyataan itu.

“Mungkin saja apa yang kukatakan kelewatan batas” Siang

Huhoa berkata lebih jauh, “tapi satu hal dapat dipastikan, dia

memang amat takut dan ngeri terhadap makhluk yang

dinamakan laron penghisap darah itu, kemungkinan besar rasa

takut yang berlebihan membuat otaknya jadi tidak waras,

akibatnya dia menganggap bininya sendiri sebagai laron

penghisap darah”

223

“Bila apa yang dikatakan merupakan kenyataan, Gi Tiokkun

tidak mungkin bisa hidup sampai sekarang” sela Nyo Sin.

“Kalau otaknya memang tidak waras, matinya Gi Tiok-kun

dan lenyapnya dia malah tidak susah untuk ditebak”

Setelah bersin berulang kali, dia melanjutkan:

“Sebab dia bisa beralasan kalau dia membunuh Gi Tiok-kun

lantaran sudah menganggap bininya sebagai jelmaan siluman

laron, dan dia kabur karena berusaha untuk menyembunyikan

diri”

“Kita pun bisa menganggap semua catatan aneh yang dia

tuangkan dalam gulungan kertas ini sebagai buah pikirannya

yang ngawur dan tidak waras” sambung Siang Huhoa.

Bicara sampai disitu dia menggelengkan kepalanya, setelah

berhenti sejenak lanjutnya:

“Persoalannya adalah walaupun Kwee Bok dan Gi Tiok-kun

tidak melihat kawanan laron penghisap darah itu, namun

bukan hanya dia seorang yang telah menyaksikan makhluk

tersebut, selain dia, kaupun sempat melihatnya”

“Benar, aku memang menyaksikannya, waktu itu tanggal

dua bulan tiga dan tanggal empat belas, aku masih ingat

dengan jelas” Tu Siau-thian menandaskan.

“Justru itulah, kejadian ini baru merupakan satu masalah”

tukas Siang Hu-hoa.

“Lantas bagaimana kau menerangkan persoalan ini?” tanya

Nyo Sin.

“Penjelasan yang paling masuk diakal adalah satu diantara

mereka bertiga ada yang sedang berbohong!”

“Siapa yang kau maksud dengan mereka bertiga?” kembali

Nyo Sin menimbrung sembari mengerling sekejap ke arah Tu

Siau-thian.

224

“Maksudku Jui Pakhay, Gi Tiok-kun dan Kwee Bok”

Setelah berhenti sejenak kembali tambahnya:

“Tapi uraianku tadi hanya sebatas analisaku pribadi,

sebelum melihat sendiri bagaimana bentuk dari kawanan laron

penghisap darah itu serta segala kemungkinan yang bisa

dilakukan laron laron tersebut, untuk sementara waktu kita

tidak bisa seratus persen menyangkal”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Bagaimana pun juga kita harus temukan dulu Jui Pakhay,

kecuali kawanan laron penghisap darah itu selain telah

menghisap kering darahnya, juga melahap daging termasuk

tulang belulangnya hingga habis, kalau tidak, biarpun dia

sudah menjadi orang mati, paling tidak harus meninggalkan

jenasahnya”

“Tapi di mana mayatnya sekarang?” tanya Nyo Sin tanpa

sadar.

Kontan Siang Hu-hoa tertawa tergelak:

“Hahahaha…. darimana aku tahu?”

Sadar kalau dirinya telah salah bicara, buru-buru Nyo Sin

berkata lagi:

“Kalau begitu mari kita periksa lagi dengan hati-hati, siapa

tahu kali ini kita akan berhasil menemukannya”

“Sebelum mulai mencari jenasahnya, terlebih dulu kita

harus menjumpai dua orang” kata Siang Hu-hoa.

“Siapa?”

“Gi Tiok-kun dan Kwee Bok. Siapa tahu dari mulut mereka

kita akan berhasil mendapat keterangan tambahan”’

“Benar, siapa tahu mereka memang jelmaan dari laron

penghisap darah atau siluman laron seperti apa yang dicurigai

Jui Pakhay”

225

“Kalau benar begitu, urusan malah jadi semakin gampang!”

seru Siang Hu-hoa sambil tertawa. Pelan pelan dia

membalikkan tubuhnya, kemudian tambahnya, “sebelum

meninggalkan ruang perpustakaan ini, aku akan menutup dulu

ruang rahasia ini”

“Sudah seharusnya kau berbuat begitu, aku pun akan

mengirim berapa orang anak buah untuk berjaga jaga diluar

gedung secara bergilir, didalam sini tersimpan begitu banyak

harta karum, kalau sampai hilang, siapa yang sanggup

bertanggung jawab”

“Kalau hanya harta karun yang hilang, urusan itu lebih

gampang diatasi, justru yang paling aku kuatirkan adalah ada

orang yang masuk kemari secara sembrono, bila sampai

menggerakkan alat perangkap disini…….. bisa berabe nanti!”

“Jadi disini masih terdapat alat perangkap yang lain?” tanya

Nyo Sin terperanjat.

“Hasil rancangan dari Hiankicu merupakan sebuah

rancangan yang sempurna, menurut apa yang kuketahui, tidak

mungkin dia hanya memasang satu dua macam alat

perangkap saja”

Tiba-tiba Nyo Sin tertawa terbahak bahak, serunya:

“Bukankah kita sudah menjelajahi hampir seluruh pelosok

ruangan ini, kapan kita menjumpai ancaman bahaya maut?”

“Mungkin saja hal ini terjadi lantaran alat perangkap itu

tidak jalan”

Kemudian setelah berpaling ke arah pintu masuk, terusnya:

“Kita ambil contoh pintu masuk ruang rahasia itu,

semestinya pintu itupun sudah dilengkapi alat perangkap yang

ampuh dan berada dalam keadaan tertutup, tapi sewaktu kita

masuk kemari tadi, pintu sudah berada dalam keadaan

terbuka, bukankah hal ini merupakan satu contoh yang sangat

jelas?”

226

Tidak kuasa Nyo Sin manggut manggut.

Kembali Siang Huhoa berkata:

“Jadi menurut pendapatku, mungkin untuk saat ini semua

alat perangkap telah dimatikan”

Baru selesai dia berkata, mendadak dari arah pintu masuk

itu sudah berkumandang suara gemerutuk yang sangat aneh.

Paras muka Siang Huhoa seketika berubah hebat, buruburu

serunya:

“Cepat kita tinggalkan tempat ini”

Kalau diapun mendengar suara tersebut, tentu saja Nyo Sin

bertiga dapat mendengar pula suara aneh itu.

Paras muka Nyo Sin seketika berubah jadi pucat kehijauhijauan,

tanpa disuruh, dia orang pertama yang kabur lebih

dulu dari sana.

Siang Huhoa merupakan orang terakhir yang keluar dari

ruangan, ketika kakinya baru melangkah keluar dari balik

pintu, pintu rahasia ruang batu itu sudah mulai bergerak

pelahan menutup diri.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Tu Siau-thian

dengan mata terbelalak.

“Aku sendiripun kurang jelas” sahut Siang Huhoa sambil

menggeleng, matanya masih mengawasi pintu ruangan itu

dengan pandangan mendelong, “atau mungkin alat perangkap

yang kubilang sudah dimatikan, sekarang telah berjalan

normal kembali”

“Haai……tidak ubahnya seperti ulah setan iblis atau siluman

saja…….” teriak Nyo Sin ketakutan.

Suara itu berasal dari atas, ternyata dia sudah berdiri

disamping ukiran kayu Kwan-im bertangan seriu.

227

Kalau sudah dibikin ketakutan, ternyata kecepatan kabur

orang ini jauh lebih cepat daripada larinya seekor kuda.

Perubahan cuaca saja sukar diramalkan, apalagi menduga

hati manusia?

Cuaca yang semula terang benderang, entah sejak kapan

telah berubah menjadi mendung dan gelap, awan tebal

menyelimuti seluruh angkasa.

Ketika sinar sang surya telah menghilang dibalik awan,

sewaktu awan semakin tebal dan gelap, hujan pun mulai

turun, hujan gerimis yang lembut bagaikan lapisan kabut.

Awan gelap menyelimuti pula sebuah bangunan loteng,

tidak terkecuali menyelimuti juga perasaan penghuninya.

Seseorang duduk sendirian ditepi jendela.

Sebenarnya orang itu masih muda, namun masa remajanya

seolah sudah lenyap, menguap ke angkasa, yang tersisa

tinggal sepasang matanya yang memancarkan kehangatan

dan kegairahan seorang remaja, sepasang biji mata yang

bening bersinar, bagai dua bara api yang sedang berkobar. Gi

Tiok-kun!

Ketika Siang Hu-hoa memandang perempuan itu dari

kejauhan, timbul suatu perasaan duka yang aneh didalam hati

kecilnya.

Tu Siau-thian, Nyo Sin bahkan belasan orang opas yang

mengikuti dibelakang mereka, seolah terbuai juga oleh

perasaan duka yang begitu tebal, tanpa terasa muncul

perasaan murung diwajah setiap orang, terkecuali satu orang,

Jui Gil

Perasaan benci, muak, dendam bercampur aduk dalam

benak Jui Gi, hal ini disebabkan dia telah terpengaruh oleh

catatan peninggalan Jui Pakhay.

228

Tentu saja seorang pelayan yang setia tidak akan menaruh

perasaan simpatik terhadap seorang pembunuh yang dicurigai

telah menghabisi nyawa majikannya, yang tersisa dalam

benaknya kini hanya kebencian, rasa muak disamping

perasaan ngeri dan takut yang aneh.

Bila isi catatan pengalaman itu merupakan suatu

kenyataan, berarti Gi Tiok-kun bukan manusia, dia adalah

jelmaan dari laron penghisap darah, dia adalah siluman laron!

Jelas kenyataan ini merupakan sebuah kejadian yang

mengerikan. Masih untung hingga kini kecurigaan tersebut

belum terbukti kebenarannya.

Agaknya Jui Gi masih belum melupakan akan hal ini, dia

pun masih mengerti apa status dan kedudukan Gi Tiok-kun

hingga kini.

Maka begitu memasuki ruang utama, walaupun dalam hati

kecilnya tidak rela, dia tetap menghadap Gi Tiok-kun sambil

memberikan salam.

Dengan pandangan hambar Gi Tiok-kun meliriknya sekejap,

kemudian menegur:

“Berapa hari belakangan ini, kau telah pergi ke mana saja?”

“Menjalankan perintah majikan, mengunjungi

perkampungan Ban hoa sanceng”

“Majikan yang suruh kau pergi?”

“Benar!” Jui Gi menundukkan kepalanya rendah-rendah.

“Mau apa majikan mengutusmu pergi ke perkampungan

Ban hoa sanceng?” Gi Tiok-kun bertanya lebih lanjut.

“Mengundang kehadiran temannya”

“Ooh…..siapa dia?”

“Pemilik perkampungan selaksa bunga, Siang Huhoa, Siang

toaya!”

229

“Apa tamunya sudah datang?” tanya Gi Tiok-kun lebih

lanjut setelah berpikir sebentar.

“Sudah datang”

Tergopoh-gopoh Gi Tiok-kun bangkit berdiri lalu memberi

hormat, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Siang

Huhoa telah berkata duluan:

“Kelihatannya saudara Jui belum pernah menyinggung

tentang aku dihadapan enso”

“Satu dua kali pernah disinggung”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, secara

beruntun Nyo Sin dan Tu Siau-thian telah berjalan masuk.

Gi Tiok-kun mengerling pada mereka, sekejap kemudian

tegurnya:

“Oooh… ternyata Nyo tayjin dan Tu tayjin ikut datang juga”

biarpun nada suaranya sedikit kaget, paras mukanya sama

sekali tidak berubah.

Dia memang berasal dari dunia hiburan, tidak aneh bila

kenal dengan seorang pembesar macam Nyo Sin.

Nyo Sin serta Tu Siau-thian segera balas memberi hormat,

sebelum berkata-kata, Gi Tiok-kun telah berkata kembali:

“Sepagi ini tayjin berdua telah datang berkunjung, apakah

sudah mendapat sebuah berita?”

Nyo Sin menggeleng, dalam hati dia tertawa dingin.

“Pintar amat perempuan ini berlagak pilon…….!” tentu saja

ucapan semacam ini tidak nanti diutarakan.

Sementara itu Tu Siau-thian telah menanggapi, katanya:

“Apakah hujin sudah mendapat kabar?”

“Belum, sama sekali tidak ada kabar beritanya”

230

“Sebelum saudara Jui menghilang, pernahkah enso

berjumpa dengannya?” sela Siang Hu-hoa.

Gi Tiok-kun berpikir sejenak, kemudian jawabnya seraya

menggeleng:

“Rasanya tidak pernah”

“Kapan terakhir kali enso berjumpa dengannya?”

“Bulan tiga tanggal tiga belas”

“Waktu itu, apakah saudara Jui sempat mengatakan

sesuatu?”

Kembali Gi Tiok-kun menggeleng.

“Tidak sepatah kata pun yang dia ucapkan, ketika melihat

aku ditempat kejauhan, tergopoh gopoh dia membalikkan

badan dan kabur pergi”

Siang Huhoa termenung sambil berpikir sejenak. Menurut

data dalam catatan, pada tanggal tiga belas bulan tiga,

seharian penuh Jui Pakhay menelusuri seluruh perkampungan

dalam rangka melacak dan mengumpulkan barang bukti.

“Bagaimana dengan bulan tiga tanggal dua belas?”

tanyanya kemudian.

Gi Tiok-kun tidak langsung menjawab, dia perhatikan dulu

Siang Huhoa dan atas hingga ke bawah, lalu tegurnya:

“Aku lihat paman pasti kerap kali berhubungan dengan

orang orang pengadilan”

Mula mula Siang Huhoa agak tertegun, kemudian katanya:

“Maksud enso, caraku mengajukan pertanyaan barusan

mirip seorang opas yang sedang memeriksa seorang

tersangka?”

“Tidak berani”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:

231

“Sejak permulaan bulan ini, tingkah laku saudaramu itu

aneh dan tidak wajar, jauh berbeda dari sikapnya dulu, selama

belasan hari belakangan, dia selalu berteriak telah melihat

laron penghisap darah, kadangkala dia membuat keonaran

dengan mengobrak abrik barang, ada kalanya jendela pun

dibongkar sampai hancur, aku amat menguatirkan kesehatan

dan keselamatannya, maka pada tanggal dua belas aku

mengundang kakak misanku Kwee Bok agar datang

memeriksakan kesehatan tubuhnya, ternyata didapati dia

dalam kondisi sehat, namun ketika kami sedang makan

bersama, ketika dia menyumpit sepotong bola udang masak

madu, tiba-tiba dia muntah, katanya bola udang yang dia

telan adalah bola daging laron penghisap darah, malah

kemudian sambil tertawa kalap dia kabur meninggalkan meja

makan. Itulah peristiwa yang terjadi di hari itu”

Ternyata apa yang dituturkan Gi Tiok-kun persis sama

seperti apa yang tercatat dalam gulungan kertas catatan Jui

Pakhay.

Ketika selesai mendengarkan penuturan itu, Siang Huhoa

kembali termenung.

Gi Tiok-kun sendiripun tidak berbicara banyak lagi, dia

hanya mengawasi Siang Huhoa tanpa berkedip. Paras

mukanya kelihatan putih memucat, sedemikian pucatnya

seakan sama sekali tidak ada aliran darah.

Dibalik putih kepucatan terselip pula warna hijau kemala

yang bening.

Sewaktu Tu Siau-thian, Nyo Sin dan Jui Gi melirik sekejap

ke arahnya, entah mengapa, tiba tiba muncul perasaan

bergidik dari hati kecilnya.

Benarkah perempuan ini jelmaan dari siluman laron?

Bahkan Siang Hu-hoa sendiripun mempunyai pemikiran seperti

itu.

232

Gi Tiok-kun sendiri seakan tidak menyadari akan hal itu,

paras mukanya tetap hambar, kaku, tanpa perubahan mimik

wajah sedikitpun, dia ibarat sesosok mayat hidup yang tidak

berperasaan.

Kembali Siang Hu-hoa termenung berapa saat, akhirnya

setelah menghela napas, katanya:

“Enso, kami mempunyai satu permintaan yang mungkin

kurang pantas……..”

“Katakan saja berterus terang”

“Kami bermaksud melakukan penggeledahan diseputar

gedung ini, apakah enso mengijinkan?”

Gi Tiok-kun melirik sekejap ke arah Tu Siau-thian dan Nyo

Sin, lalu mengerling juga ke arah Jui Gi, setelah itu baru

sahutnya:

“Kelihatannya keputusanku tidak akan berpengaruh apaapa

lagi……..”

Siang Huhoa tidak menanggapi, dia hanya membungkam.

Sekali lagi sorot mata Gi Tiok-kun dialihkan ke wajah Siang

Huhoa, ujarnya lebih jauh:

“Aku dengar paman adalah seorang yang jujur dan penuh

timbang rasa, kelihatannya kau minta persetujuanku karena

kuatir aku sedih, padahal pertanyaanmu tidak ada gunanya”

“Ucapan enso kelewat serius!”

“Boleh tahu, apa yang sebenarnya sedang kalian cari?”

“Kabar berita saudara Jui”

“Jadi kalian curiga kalau dia bersembunyi disini?” Gi Tiokkun

nampak melengak dan sedikit diluar dugaan.

233

“Kami hanya berharap dapat menggeledah seluruh

bangunan yang ada disini, baik bangunan luar maupun

bangunan bagian dalam”

“Apakah baru hari ini paman tiba disini?”

Siang Huhoa mengangguk tanda membenarkan.

“Apakah tahu juga kalau dalam dua hari belakangan, Tu

tayjin sudah melakukan penggeledahan secara besar-besaran

diseluruh perkampungan?” lanjut Gi Tiok-kun.

“Aku tahu cara kerja saudara Tu selalu teliti dan cermat,

tapi sayang dia telah melupakan bangunan dalam”

“Bangunan bagian dalam tidak terlalu luas, seandainya ada

yang bersembunyi disini, masa aku tidak tahu?”

“Saudara Tu juga berpendapat sama, hanya

persoalannya…… …..” dia seperti ingin mengucapkan sesuatu,

namun akhirnya diurungkan.

“Kenapa?’ tanya Gi Tiok-kun cepat.

Siang Hu-hoa menghela napas panjang.

“Masalahnya, mungkin dia sudah bukan seorang manusia

hidup lagi”

Berubah hebat paras muka Gi Tiok-kun.

Setelah menghela napas lagi, Siang Huhoa berkata lebih

jauh:

“Orang mati tidak nanti bisa menimbulkan suara apa pun”

Gi Tiok-kun termenung sesaat, ujarnya kemudian:

“Kalau toh ada kecurigaan semacam ini, alangkah baiknya

kalau dilakukan penggeledahan yang seksama, mari, aku akan

menjadi petunjuk jalan”

Tidak berani merepotkan enso”

“Tidak jadi masalah” Gi Tiok-kun menggeleng.

234

Perlahan-lahan dia beranjak dari tempat itu, ke dua orang

dayangnya tanpa diperintah lagi segera maju dan

mendampingi majikannya.

Tapi Gi Tiok-kun segera menggoyangkan tangan kanannya

sambil menahan pundak dayangnya itu.

Tangannya kelihatan ramping dan indah, putih bagaikan

salju, berkilat bagai batu pualam, sayang tiada warna merah

darah sehingga nyaris tidak mirip tangan seorang manusia.

Dia pun memiliki pinggang yang sangat ramping, ketika

angin berhembus lewat melalui daun jendela, tubuhnya

tampak bergoyang keras seakan segera akan terhempas

karena dorongan angin itu.

Siang Huhoa berjalan persis di belakang tubuhnya, dia

dapat menyaksikan kesemuanya itu dengan amat jelas.

Dia merasa sedikit tidak percaya, mungkinkah perempuan

yang lemah lembut dan tidak tahan hembusan angin,

sesungguhnya adalah siluman laron, setan iblis yang telah

berubah menjadi laron penghisap darah.

Bab 13.

Serangan kawanan laron.

Bangunan bagian dalam terhitung cukup luas, namun

mereka tidak berhasil menemukan sesuatu apa pun meski

seluruh bagian bangunan itu sudah diperiksa dan dilacak

dengan seksama.

Akhirnya tibalah mereka di kamar tidurnya Jui Pakhay.

Segala sesuatu benda yang ada didalam kamar itu tertata

rapi, biarpun kamar itu tidak terhitung kecil namun segala

sesuatunya dapat terlihat dalam sekali pandangan, disana

memang tidak terdapat tempat yang bisa digunakan untuk

bersembunyi.

235

Mereka mencoba untuk memeriksa almari baju, namun

kecuali tumpukan pakaian, disitu tidak nampak sesuatu yang

mencurigakan, bahkan kolong ranjang pun tidak ditemukan

sesuatu apa pun.

Kamar tidur ini merupakan tempat terakhir yang mereka

periksa, di belakang kamar tidur itu masih tersisa sebuah

pintu.

Siang Hu-hoa berhenti sejenak didepan pintu itu, kemudian

tanyanya:

Tempat apa yang terdapat di belakang pintu ini?”

“Sebuah gudang kecil”

Siang Huhoa segera mendorong pintu itu dan berjalan

masuk.

Ruangan dibalik pintu itu memang merupakan sebuah

gudang kecil, tidak banyak barang yang tersimpan di situ.

Ruangan itu terbagi jadi dua bagian, satu setengah kaki

diatasnya terdapat sebuah loteng yang tidak begitu luas.

Anak tangga yang merupakan jalan masuk menuju ke

ruang loteng itu dibangun menempel pada dinding, begitu

sempit sehingga hanya cukup dilalui satu orang, pada ujung

anak tangga terdapat lagi sebuah pintu.

Pintu itu sama sekali tidak terkunci, hanya ditutup rapat,

dibawah pintu merupakan tangga yang terbuat dari kayu.

Ketika mulai melangkah naik ke atas tangga itu, paras

muka Siang Huhoa tiba tiba berubah menjadi sangat aneh.

Penghubung ruang kecil dengan kamar tidur hanya berupa

sebuah pintu, dinding disekeliling ruangan itu tidak nampak

pintu lain, bahkan jendela pun tidak ada.

236

Biasanya ruang kecil semacam ini pasti gelap gulita dan lagi

amat sunyi, tapi anehnya saat ini ruangan tersebut tidak

nampak gelap, juga tidak dalam kondisi senyap.

Pintu dalam keadaan terbuka lebar, walaupun tidak bisa

dibilang terlalu cerah, paling tidak masih ada secerca cahaya

yang menyoroti tempat itu, dengan sendirinya suasana di

dalam ruang kecil itupun tidak amat gelap, namun suasana

disitu tidak ikut berubah karena kehadiran beberapa orang itu.

Semenjak mereka masuk ke dalam ruangan, disitu sudah

terdapat semacam suara yang sangat aneh, seakan ada suara

kipas yang digoyangkan terus menerus, “Nguuung,….

nguungg….”

Suara “Nguuung,…. nguungg…..” itu tidak terlalu nyaring,

namun lantaran berkumandang dalam lingkungan yang sunyi

maka semua orang yang hadir disitu dapat mendengarnya

dengan jelas sekali.

Nyo Sin merupakan orang ke dua yang berjalan masuk, ia

segera berseru:

“Hey, suara apa itu?”

Tu Siau-thian segera pasang telinga ikut mendengarkan,

dia tidak berkata apa apa namun paras mukanya mulai

berubah hebat.

Gi Tiok-kun dengan dituntun dayangnya ikut berjalan

masuk, namun mimik mukanya sangat wajar, dia seolah sama

sekali tidak merasakan apa-apa.

Siang Huhoa segera mundur satu langkah, menghampiri ke

samping Gi Tiok-kun, kemudian tegurnya:

“Enso, apakah kau mendengar sejenis suara yang aneh?”

“Suara? Suara apa?” paras muka Gi Tiok-kun tetap kaku.

Siang Huhoa tertegun sejenak, kemudian serunya:

237

“Itu….. suara dengungan aneh, suara yang berbunyi

Nguuung …..nguungg…..”

“Tidak….! Tidak ada suara apa apa…….” sahut Gi Tiok-kun

sambil menggeleng.

Sekali lagi Siang Huhoa tertegun, ditatapnya perempuan itu

tanpa berkedip.

Gi Tiok-kun sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun,

dia hanya berdiri mematung, persis seperti sebuah arca yang

terbuat dari tanah liat.

Pada saat itulah tiba-tiba Tu Siau-thian berteriak keras:

“Suara itu mirip sekali dengan suara sayap laron penghisap

darah yang sedang berkerumun!”

Begitu teriakan tersebut berkumandang, suasana di dalam

ruangan pun seketika serasa membeku bagaikan es.

Nyo Sin adalah orang pertama yang bergidik, teriaknya

dengan suara gemetar:

“Berasal dari mana suara itu?”

Tidak seorangpun yang menjawab, kecuali Gi Tiok-kun,

hampir semua sorot mata telah tertuju ke atas bangunan

loteng.

Sekalipun Nyo Sin sedang berbicara, sorot matanya tetap

tertuju ke atas loteng, hal ini membuat semua yang hadir mau

tidak mau mesti menahan napas untuk mendengarkan dengan

lebih seksama.

Maka terdengarlah suara “Ngungg….nguuung…..!” itu

makin lama semakin bertambah jelas dan nyata.

Mendadak Siang Huhoa mulai melangkah maju, langsung

berjalan menuju ke depan anak tangga, setelah

mendongakkan kepalanya memperhatikan pintu di atas loteng

sekejap, dia pun mulai melangkah naik, langkah kakinya amat

238

lambat tapi ringan, meskipun anak tangga cuma terdiri dari

berapa buah namun dibutuhkan waktu yang lama untuk

mencapainya.

Setibanya di depan pintu itu, perlahan-lahan dia mulai

mendorong dan membuka pintu loteng tersebut, tapi begitu

pintu dibuka, suara “Ngungg…. nguuung…..!”tadi kedengaran

bertambah nyaring dan jelas.

Siang Huhoa mencoba untuk menengok sekejap ke ruang

dalam, tapi paras mukanya seketika berubah sangat hebat.

Buru-buru dia merapatkan kembali pintu loteng kemudian

segera beranjak turun dari anak tangga.

Sebenarnya Tu Siau-thian maupun Nyo Sin yang berada

dibawah tidak mengetahui apa yang telah terjadi, namun

melihat perubahan wajah Siang Huhoa ditambah tindakannya

yang meninggalkan loteng dengan gerak cepat, diam-diam

mereka ikut terkesiap.

Perubahan air muka Siang Huhoa memang amat tidak

sedap dipandang.

Walaupun selisih waktu hanya sekejap, namun air mukanya

saat ini tidak ubahnya seperti paras muka seseorang yang

sudah terendam ditengah air salju selama setengah harian

lamanya, pucat kehijau-hijauan.

“Saudara Siang, sebenarnya apa isi ruang loteng itu?” tidak

tahan Tu Siau-thian bertanya.

“Laron penghisap darah!” jawab Siang Huhoa setelah

menarik napas panjang.

Walaupun dia telah berusaha untuk menenangkan

suaranya, namun baik Tu Siau-thian maupun Nyo Sin dapat

mendengar betapa ngeri dan seramnya lelaki itu.

Tanpa sadar paras muka mereka berdua pun turut berubah

hebat.

239

“Laron penghisap darah?” seru Nyo Sin tidak tahan.

“Benar, beribu ribu ekor laron penghisap darah serta

sesosok tengkorak manusia!”

“Tengkorak manusia?” Tu Siau-thian menjerit kaget.

“Tengkorak siapa?” seru Nyo Sin pula. Siang Hu-hoa tidak

menjawab, mendadak dia berpaling seraya berseru:

“Jui Gi!”

Waktu itu Jui Gi sedang berdiri disamping dengan wajah

termangu, paras mukanya pucat kehijau hijauan, ketika

dipanggil Siang Huhoa, dia nampak sangat terperanjat hingga

tubuhnya bergetar keras.

Buru-buru dia maju menghampiri sambil bertanya:

“Ada urusan apa tuan Siang?”

“Disebelah sana ada lampu lentera, tolong ambilkan dua

untukku!”

“Baik!”

Buru-buru Jui Gi mengundurkan diri, sementara Nyo Sin

maju dua langkah ke depan, namun diapun tidak berbicara

lagi.

Suasana didalam ruang kecil ini sudah begitu remang, tentu

saja suasana diatas ruang loteng itu lebih gelap lagi, apalagi

disana tidak ada jendela, bila seseorang telah berubah jadi

tengkorak, darimana mungkin kau bisa mengenali raut muka

aslinya?

Saat ini tentu saja Nyo Sin pun memahami akan hal

tersebut, sebab dia memang bukan seseorang yang kelewat

tolol.

Dalam ruangan terdapat lampu lentera, kebetulan

jumlahnya ada dua buah.

240

Baru saja Jui Gi menyulut lampu lampu itu, Nyo Sin dan Tu

Siau-thian sudah tidak sabar lagi menanti, dengan cepat

mereka maju mendekat dan masing-masing menyambar

sebuah lampu.

Dua bilah golok panjang pun serentak diloloskan dari

sarungnya.

Tu Siau-thian serta Nyo Sin, masing masing dengan tangan

kiri memegang lampu, tangan kanan menggenggam golok,

dengan satu lompatan sudah tiba didepan anak tangga dan

berebut naik ke atas, saat ini perasaan mereka jauh lebih

gelisah dan cemas ketimbang Siang Hu-hoa.

Waktu itu, Siang Huhoa sama sekali tidak ikut berebut,

dalam keadaan begini perasaan hatinya malah jauh lebih

tenang, dia bahkan sama sekali tidak menggeserkan kakinya,

walaupun tangannya sudah menempel diatas gagang senjata,

pedang itu masih berada dalam sarungnya, hawa pedangpun

seolah sudah terpancar keluar, dia memang sudah berada

dalam posisi tempur.

Tentu saja sorot matanya telah tertuju ke atas pintu ruang

loteng itu.

Pintu sudah didongkel hingga terbuka, didongkel oleh ujung

golok Nyo Sin.

Rupanya dia yang pertama-tama tiba diujung tangga,

dengan golok ditangan kanannya dia mencongkel pintu hingga

terbuka, lampu ditangan kirinya segera didorong masuk ke

dalam.

Cahaya lentera yang berwarna kuning seketika berubah

menjadi hijau kemala.

Hanya didalam waktu amat singkat, penutup lentera itu

sudah dipenuhi oleh laron laron terbang.

241

Laron laron itu berwarna hijau pupus, hijau bagaikan

sebuah kemala, sepasang matanya merah membara bagaikan

darah segar, laron penghisap darah!

Penutup lampu kini telah berubah jadi penutup laron, ketika

cahaya lampu menembusi tubuh laron yang hijau, terpantullah

sinar lentera berwarna hijau kemala.

Berpuluh puluh ekor laron penghisap darah seakan terbang

bersama, suara “Ngungg….nguuung…..” yang menggema di

udara seakan telah berubah menjadi gelak tertawa seram dari

setan iblis.

Kawanan laron penghisap darah itu seakan merupakan

jelmaan dari setan iblis yang sedang gentayangan di angkasa.

Nyo Sin hanya merasakan pandangan matanya diselimuti

cahaya hijau dikombinasi dengan titik titik merah darah,

telinganya menangkap suara gemuruh sayap yang seolah

telah berubah menjadi gelak tertawa setan iblis….

Karena dia berdiri persis di depan pintu, kawanan laron

penghisap darah itupun persis menyongsong kehadirannya.

Dalam waktu singkat suasana seram menyelimuti seluruh

ruangan, sedemikian seram dan ngeri nya hingga susah

dilukiskan dengan kata-kata.

Perasaan takut, seram, ngeri dan horor yang mencekam

hati Nyo Sin saat itupun sukar dilukiskan dengan ucapan.

Sambil memejamkan matanya rapat rapat dia mulai

menjerit, suara jeritannya keras menyayat hati, jeritan yang

penuh ketakutan dan kengerian yang luar biasa.

Sedemikian seramnya jeritan ifu sehingga pada hakekatnya

tidak mirip dengan suara jeritan seorang manusia.

Tampaknya kawanan laron penghisap darah yang sedang

menempel dialas penutup lentera itu ikut dikagetkan oleh

242

suara jeritan, serentak mereka terbang di angkasa dan

menyambar kian kemari di udara dengan kalutnya.

Sekejap kemudian kawanan laron penghisap darah itu

sudah menerjang diatas tubuh Nyo Sin, menyambar

wajahnya……

Biarpun waktu itu Nyo Sin memejamkan matanya rapatrapat,

namun dia sempat merasakan sekujur badannya amat

sakit, hidungnya seakan terendus bau anyirnya darah!

“Mereka akan menghisap darahku!”

Sekali lagi Nyo Sin memperdengarkan suara jeritannya

yang menyayat hati, dengan sepasang tangan melindungi

kepalanya, buru buru dia melarikan diri meninggalkan tempat

itu, sedemikian terburunya sampai lampu dan golok miliknya

pun dilempar ke lantai.

Dia bahkan sudah lupa kalau tubuhnya berdiri diatas anak

tangga, begitu membalikkan badan, seketika itu juga

tubuhnya terguling dari atas anak tangga dan terjun bebas ke

bawah.

Tu Siau-thian yang mengikuti di belakang Nyo Sin agaknya

dibuat terkesiap juga oleh pemandangan yang terpampang di

depan mata, rasa terkesiap yang membuatnya tertegun dan

tidak mampu berbuat apa apa, bahkan dia seakan lupa untuk

memayang tubuh Nyo Sin yang sedang terpelanting jatuh ke

bawah.

Padahal meski dia bisa memayang pun belum tentu bisa

menghentikan tubuhnya.

Tidak ubahnya seperti sebuah buli-buli kosong, tubuh Nyo

Sin terguling ke bawah, jatuh menimpa diatas tubuh Tu Siauthian.

Maka tubuh Tu Siau-thian pun seketika ikut berubah

menjadi sebuah buli-buli dan terguling ke bawah.

243

Kini dihadapan Siang Huhoa telah bertambah dengan dua

buah buli-buli yang sedang bergulingan diatas lantai

Ternyata dia tidak maju ke depan untuk membangunkan

mereka, dia pun tidak meloloskan pedangnya, untuk sesaat

lelaki ini hanya berdiri termangu di tempatnya dan tidak tahu

apa yang mesti diperbuat.

Sekalipun tangannya masih menggenggam diatas gagang

pedang, namun dia seolah dia sudah lupa kalau benda yang

dipegangnya adalah sebilah pedang, dia seperti lupa benda itu

dipersiapkan untuk berbuat apa.

Sebenarnya dia sudah berada dalam posisi siap siaga,

setiap waktu setiap saat pedangnya bersiap melancarkan

serangan, namun dalam waktu sekejap dia seakan sudah

terkesima oleh suasana seram dan ngeri yang mencekam

sekeliling tempat itu.

Jui Gi, dua orang dayang yang memayang Gi Tiok-kun

maupun puluhan orang opas yang ada diluar pintu ikut

dicekam oleh perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, paras

muka mereka sudah berubah jadi pucat melebihi mayat.

Bahkan ada diantara mereka yang sudah dibuat ketakutan

hingga kabur dari situ sambil melindungi kepala sendiri, ada

pula yang tergeletak dilantai dalam keadaan lemas tidak

bertenaga, rasanya saat itu hanya ada satu orang yang

terkecuali, dia adalah Gi Tiok-kun!

Paras muka Gi Tiok-kun sama sekali tidak menampilkan

perubahan apa pun, dia masih berdiri bagaikan sebuah patung

pouwsat.

Satu satunya yang berubah hanya air mukanya, paras

muka yang pada dasarnya sudah pucat pias kini bertambah

pucat lagi, sedemikian pucatnya hingga mirip mayat yang

sudah membujur selama berhari hari.

0-0-0

244

Lampu yang terguling dilantai sudah padam, dua buah

lentera padam hampir bersamaan waktunya.

Tampaknya lantaran kehilangan cahaya kawanan laron

itupun seolah kehilangan sasaran, mereka beterbangan di

udara beberapa saat lamanya kemudian tiba-tiba berkumpul

menjadi satu dan terbang menuju ke luar ruangan.

Diluar pintu ruangan terdapat cahaya, walaupun makhluk

semacam laron lebih suka api namun tampaknya takut dengan

cahaya langit, itulah sebabnya mereka hanya muncul dikala

malam sudah tiba.

Tidak terkecuali pula dengan kawanan laron penghisap

darah itu, tapi ke mana mereka akan pergi?

Tidak seorang pun yang memperdulikan pertanyaan ini,

semua yang hadir seakan sudah terpengaruh oleh keadaan

disitu, seolah sudah terkena teluh, mereka hanya mengawasi

perginya kawanan laron penghisap darah itu dengan mata

terbelalak dan mulut melongo, tidak terkecuali Siang Huhoa.

Akhirnya kawanan laron itu telah terbang pergi, suara

“Ngungg…. nguuung…..” pun makin reda dan akhirnya

lenyap, kini suasana dalam ruangan pulih kembali dalam

keheningan yang luar biasa.

Semua suara seakan telah terhenti, bahkan suara dengusan

napas pun seakan ikut terhenti.

Semua orang seperti telah berubah jadi orang bodoh, orang

blo’on yang tidak tahu apa apa, untuk sesaat mereka hanya

berdiri mematung, tanpa bergerak tanpa bersuara.

Suasana benar benar dicekam dalam keheningan yang luar

biasa.

Udara yang sejak awal sudah kurang segar di dalam ruang

kecil itu kini terasa makin tidak sehat, karena lamat lamat

terendus bau busuk yang sangat aneh, bau busuk yang sukar

dicerna dengan perkataan.

245

Bau busuk itu seolah berasal dari ruang loteng, bau busuk

laron? Atau bau busuk dari mayat yang mulai membusuk?

Seorang dayang yang berdiri disamping Gi Tiok-kun

tampaknya mulai tidak tahan dengan bau busuk yang luar

biasa itu, tiba-tiba dia mulai muntah……..

Isi perut yang tertumpah keluar hanya air pahit, tapi

muntahan itu justru seakan telah mengembalikan sukma

setiap orang yang sempat hilang untuk sesaat.

Siang Huhoa menghembuskan napas panjang, dia segera

maju ke depan dan memungut sebuah lentera diantaranya.

Sebuah lentera masih berada dalam keadaan utuh

sementara lentera yang lain sudah hancur berantakan, dia pun

mengeluarkan korek api dan menyulut sumbu lampu.

Bersama dengan terangnya cahaya lampu lentera, Nyo Sin

dan Tu Siau-thian segera merangkak bangun dari atas tanah,

tampaknya mereka tidak sampai terluka gara-gara terjatuh

tadi.

Walau begitu, paras muka Nyo Sin telah berubah menjadi

pucat pias bagaikan mayat, bibirnya gemetar keras, sampai

lama kemudian ia baru mampu bersuara:

“Jadi…..jadi makhluk itulah laron penghisap darah?”

“Bee…..benar……..” jawaban dari Tu Siau-thian

kedengaran sangat lirih karena suara itu seolah muncul dari

balik sela-sela giginya.

“Coba tolong periksakan wajahku, apakah ada sesuatu

yang tidak beres” pinta Nyo Sin kemudian sambil menunjuk ke

wajah sendiri.

Tu Siau-thian segera mengalihkan perhatiannya ke wajah

Nyo Sin.

246

Siang Hu-hoa yang ikut mendengarkan pembicaraan itu

turut maju menghampiri, dia angkat lampu tinggi tinggi

sehingga paras muka Nyo Sin dapat terlihat sangat jelas.

Tampak kilatan cahaya kehijau hijauan memancar dari

seluruh wajah pembesar itu.

Ternyata seluruh permukaan wajahnya telah dilapisi oleh

serbuk berwarna putih kehijau hijauan, masih untung hanya

serbuk laron, sama sekali tidak ada luka apalagi darah.

“Apakah berdarah?” kembali Nyo Sin bertanya.

“Tidak!”

Sekarang Nyo Sin baru bisa menghembuskan napas lega,

dari dalam sakunya dia mengeluarkan selembar saputangan

lalu digosokkan ke atas wajah sendiri.

Sementara itu Tu Siau-thian telah melirik sekejap ke arah

pintu ruangan, sambil memperhatikan ruang sempit itu

katanya:

“Aku rasa jumlah laron penghisap darah yang berkumpul

disana tadi mencapai ribuan banyaknya…..”

“Ehmmm…” Siang Huhoa mengangguk.

Kemudian setelah memandang lagi ruang loteng itu

sekejap, Tu Siau-thian berkata lebih jauh:

“Aneh, apa yang sedang dilakukan ribuan ekor laron

penghisap darah itu diatas ruang loteng?”

Sebelum Siang Huhoa sempat menjawab, Nyo Sin telah

berteriak aneh:

“Mereka sedang melalap daging manusia”

Begitu ucapan tersebut diutarakan, bahkan dia sendiripun

ikut merinding dan bersin berulang kali.

247

Pucat pasi selembar wajah Siang Huhoa, begitu pula

dengan Tu Siau-thian, dengan wajah hijau kepucat pucatan ia

berbisik:

“Apa kau bilang? Sedang melahap daging manusia?”

“Benar” suara Nyo Sin kedengaran gemetar keras, “ketika

kuterangi ruangan dengan lampu, kusaksikan mereka sedang

mengerubungi sesosok jenasah manusia, menempel diatas

mayat itu sambil mengeluarkan suara mencicit yang amat

menyeramkan!”

“Sesosok mayat atau tengkorak manusia?” Siang Huhoa

mencoba menegaskan, nada suaranya kedengaran gemetar

juga.

“Yang kusaksikan adalah sesosok mayat”

“Sekarang kawanan laron itu sudah terbang pergi, ayoh

kita ke atas dan periksa lagi dengan lebih seksama!”

Dengan membawa lampu untuk menerangi sekeliling

tempat itu, Siang Huhoa segera beranjak naik ke atas anak

tangga.

Tampaknya nyali orang ini sangat besar.

Ternyata Tu Siau-thian cukup bernyali juga, dia segera

mengikuti dibelakang Siang Huhoa, tapi goloknya tetap di

persiapkan, tangannya yang menggenggam golok basah oleh

keringat dingin.

Kali ini Nyo Sin tidak berani berebut maju ke depan, namun

setelah ada dua orang yang bertindak sebagai pembuka jalan,

nyali nya tumbuh kembali.

Apalagi saat itu berada dihadapan anak buahnya, kalau

tidak ikut naik, jelas dia akan kehilangan muka.

Maka sambil keraskan kepala, dia memungut kembali

goloknya yang tergeletak dilantai kemudian sekali lagi menaiki

anak tangga.

248

Sebenarnya anak tangga itu cukup kokoh, namun berat

badan ke tiga orang itu terhitung lumayan juga, maka begitu

Nyo Sin mulai menaiki anak tangga itu, terdengarlah suara

mencicit yang sangat keras.

Sebuah suara yang amat menyeramkan dan menakutkan

dalam situasi seperti ini.

Biarpun Nyo Sin tahu kalau suara mencicit itu berasal dari

anak tangga, tidak urung bergidik juga perasaan hatinya.

Sekarang dia kuatir anak tangga itu tidak mampu menahan

bobot badan mereka hingga patah secara tiba tiba, kalau hal

itu sampai terjadi, sekali lagi mereka akan menjadi buli-buli

yang bergulingan diatas tanah

Tentu saja dia tidak ingin kehilangan muka lagi dihadapan

anak buahnya.

Untung pada saat itu Siang Huhoa sudah meninggalkan

anak tangga dan mulai melangkah masuk ke dalam ruang

loteng.

Cahaya yang terpancar keluar dari sebuah lentera ternyata

masih cukup untuk menerangi seluruh ruangan loteng.

Kali ini cahaya lentera yang terpancar keluar tidak lagi

berubah jadi hijau kemala, tidak seekor laron penghisap darah

pun yang tampak di dalam ruang loteng, tampaknya

rombongan makhluk aneh itu sudah terbang keluar dari

tempat itu.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, terenduslah

bau busuk yang makin lama semakin tajam dan kuat, sebuah

bau busuk yang memuakkan, membuat orang pingin muntah

rasanya.

Ternyata Siang Hu-hoa memiliki daya tahan yang luar

biasa, dia tidak sampai muntah karena bau busuk yang

menyengat itu, namun sekujur tubuhnya kelihatan gemetar

keras.

249

Pemandangan yang terpampang dihadapan matanya

sekarang sudah tidak mungkin dilukiskan dengan kata “Seram”

atau “menakutkan” atau “ngeri” lagi.

Biarpun dia telah berhasil melatih sepasang mata

malamnya, namun apa yang terlihat tidak sejelas apa yang

terpampang dibawah cahaya lentera saat ini, ketika untuk

pertama kalinya dia mendorong pintu dan berjalan masuk,

yang terlihat hanya sebuah raut muka yang samar, kendatipun

dia segera tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sekarang dia sudah melihat semuanya dengan sangat jelas,

ternyata kejadian yang ada di depan mata tidak sesederhana

apa yang dibayangkan semula.

Dibawah sinar lentera yang remang, dengan jelas dia

saksikan sesosok mayat membujur kaku diatas lantai, bahkan

mayat itu sudah berubah menjadi sesosok tengkorak.

Tadi dia mengatakan telah melihat sesosok tengkorak,

sementara Nyo Sin bersikeras mengatakan telah melihat

sesosok mayat, padahal mereka berdua sama-sama benar,

hanya penjelasan diberikan kurang lengkap.

Mayat itu berada dalam posisi duduk bersila ditengah

ruangan, bagian tengkuk ke bawah masih tetap berdaging tapi

bagian tengkuk ke atas telah berubah menjadi sesosok

tengkorak.

Tulang tengkorak yang berwarna putih memucat tampak

memancarkan sinar yang amat menyeramkan.

Dibalik kelopak mata tengkorak itu sudah tidak nampak biji

matanya, kelopak itu berada dalam keadaan berlubang besar,

lamat lamat terlihat cahaya api yang mirip dengan api setan

berkelip dari balik lubang hitam itu.

Ketika Siang Huhoa mencoba memperhatikan tengkorak

itu, dia segera merasakan kedua lubang mata yang hitam

250

diatas kepala tengkorak itu seakan akan sedang melotot pula

ke arahnya.

Biarpun kelopak mata itu sudah tidak punya biji mata,

namun seakan masih terdapat biji mata disitu, seakan masih

bisa mengutarakan perasaan hatinya.

Dalam sekejap mata Siang Huhoa segera merasakan suatu

pancaran kebencian dan dendam kesumat yang sangat kuat

terpancar keluar dari balik kelopak mata yang berlubang hitam

itu.

Dia bergidik, dia saksikan hidung tengkorak itupun telah

berubah jadi sebuah lubang hitam yang menyeramkan,

mulutnya…….

Tengkorak itu tidak bermulut tapi barisan giginya masih

utuh, mulutnya dalam keadaan ternganga, seolah sedang

mengucapkan kutukan atau sumpah serapa, mata yang

memancarkan kebencian dipadukan dengan mulut yang seolah

mengucapkan kutukan jahat……

Lidah dimulutnya juga telah lenyap, dari balik lubang

mulutnya yang hitam gelap seakan memancarkan selapis uap

putih yang lembut dan halus….

Jelas itulah hawa mayat!

Dibawah dagu tengkorak itu masih nampak ada sedikit

daging, namun daging disitu pun sudah tidak utuh, sebab

daging itu hakekatnya sudah tidak mirip daging tapi lebih

mirip ubur ubur.

Hancuran daging itu bergelantungan disepanjang dagunya,

daging itu sudah hancur dan membusuk, seakan pernah

digigit dan dicincang oleh sekelompok makhluk bergigi tajam.

Benarkah kawanan laron penghisap darah itu selain

menghisap darah manusia, juga pandai makan daging

manusia?

251

Hanya daging, tidak ada lelehan darah, hancuran daging

yang meleleh disepanjang dagu itu bukan saja bentuknya

mirip ubur ubur bahkan dalam kenyataan tidak ubahnya

seperti ubur-ubur, selain memancarkan cahaya yang

menyeramkan, pada setiap ujung hancuran daging itu seakan

terdapat setitik air yang sedang menetes jatuh…. Air mayat!

Kepala tengkorak pun terlihat basah karena cairan air

mayat yang sudah membusuk, cairan busuk itu bahkan

membiaskan cahaya fosfor yang berwarna putih kehijauhijauan.

Serbuk laron berwarna putih kehijau-hijauan nyaris hampir

menempel diseluruh kepala tengkorak itu bahkan pakaian

yang dikenakan mayat itupun penuh bertaburan serbuk laron

berwarna putih kehijau hijauan.

Pakaian yang dikenakan mayat tersebut masih berada

dalam keadaan utuh, namun sepasang tangannya yang

muncul dari balik ujung bajunya tinggal tulang tengkorak

berwarna putih pucat.

Tangan itu masih menggenggam sebilah pedang!

Ujung pedang menancap dalam dalam diatas lantai

ruangan, sementara tubuh pedang melengkung bagaikan

bianglala karena tenaga tekanan dari atas, rupanya jenasah

itu tidak sampai roboh ke lantai karena ditunjang oleh

kekuatan pedang itu.

Dalam sekilas pandangan saja Tu Siau-thian telah melihat

jelas bentuk pedang itu, tidak kuasa lagi dia menjerit kaget.

Nyo Sin segera memburu masuk ke dalam ruangan, begitu

memandang pedang tersebut, tidak kuasa lagi dia berseru

tertahan:

“Apa benar pedang itu adalah pedang tujuh bintang

pencabut nyawa miliknya?”

“Rasanya tidak mungkin salah” jawab Siang Huhoa.

252

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

“Pedang itu sesungguhnya merupakan pedang pusaka milik

keluarga Hiankicu yang diwariskan turun temurun, selama ini

Hiankicu hanya mewariskan ilmunya pada satu orang, karena

tidak punya keturunan maka pusaka itu dia wariskan kepada

muridnya, jadi hakekatnya selain menjadi murid penutup dari

Hiankicu, Jui Pakhay juga terhitung anak angkatnya”

“Sekarang kita temukan pedang itu sebagai pedang

miliknya, berarti mayat itu……mayat itu juga mayatnya?” bisik

Nyo Sin tergagap.

Siang Huhoa menghela napas panjang.

“Menurut apa yang kuketahui, diatas gagang pedang itu

tertera beberapa huruf yang berbunyi: Pedang utuh manusia

hidup, pedang hilang manusia mati….”

“Pedang utuh manusia hidup, pedang hilang manusia

mati….” Tu Siau-thian turut menghela napas panjang.

Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh:

“Selama ini dia selalu menganggap pedang tersebut

melebihi nyawa sendiri, kalau dia masih hidup, tidak nanti

pedangnya ditinggalkan ditempat ini, sekarang kita temukan

pedang tersebut tergenggam ditangan sang mayat, sedang dia

sendiri hilang tanpa jejak, ini membuktikan kalau mayat ini

bukan dia lalu siapa?”

“Aku pun berpendapat begitu, apalagi…….” tiba-tiba Tu

Siau-thian menghentikan kata katanya.

“Apalagi kenapa?” tanya Nyo Sin.

“Pada senja hari tanggal lima belas, yaitu saat untuk

terakhir kalinya aku berjumpa dengannya, pakaian yang dia

kenakan waktu itu persis sama seperti pakaian yang

dikenakan mayat ini”

253

Kali ini paras muka Siang Huhoa benar-benar berubah

hebat, rupanya tadi meskipun dia berkata begitu namun dalam

hati kecilnya masih menaruh setitik pengharapan kalau

dugaannya meleset.

Paras muka Nyo Sin turut berubah hebat, dia pun tidak

percaya kalau dikolong langit benar-benar bisa terjadi

peristiwa yang begitu kebetulan.

“Kau tidak salah ingat?” tegurnya kemudian.

“Komandan, bila kau kurang yakin, panggil saja Tan Piau

dan Yau Kun, suruh mereka ikut kenali, sebab mereka pun ikut

hadir waktu itu”

“Tidak usah, aku tahu kalau daya ingatmu selalu memang

bagus” sambil berkata, pembesar itu miringkan kepalanya dan

melirik Tu Siau-thian sekejap.

Sudah cukup lama Tu Siau-thian bekerja mengikuti

komandannya ini, dia pun sudah amat hapal dengan

kebiasaannya, melihat tingkah laku orang tersebut diapun

segera tahu kalau ada tugas yang harus dia kerjakan, maka

tanyanya:

“Komandan ada perintah apa?”

“Coba dekati gagang pedang itu dan periksa, apakah betul

ada ukiran tulisan yang dimaksud”

“Haaahh?” berubah hebat paras muka Tu Siau-thian.

Gagang pedang itu masih tergenggam oleh sepasang

tangan mayat tersebut, bila ingin memeriksa ukiran tulisan

diatas gagang pedangnya maka dia mesti menarik lepas dulu

sepasang tangan sang mayat yang menggenggam kencang

itu, tak heran kalau paras mukanya langsung berubah.

Betul mayat itu adalah mayat sahabat karibnya, betul

selama dia masih hidup sudah berulang kali dia berjabatan

tangan dengannya, tapi sekarang kondisi mayat itu sangat

254

menjijikkan dan mengerikan, cukup dilihatpun sudah membuat

perut mual, apalagi mesti menyentuh dan

menyingkirkannya……?

Tampaknya Nyo Sin sudah mengambil ke putusan untuk

memaksa Tu Siau-thian melaksanakan perintahnya, melihat

keraguan anak buahnya, kembali dia menegur:

“Apakah kau kurang jelas mendengar perintahku?”

Tu Siau-thian menghela napas panjang.

“Baiklah, akan segera kulakukan” sahutnya terpaksa.

Sembari berkata dia alihkan sorot matanya ke atas kepala

tengkorak itu, baru pertama kali ini dia benar-benar menatap

kepala tengkorak tersebut.

Jilatan api berwarna hijau yang seolah memancar keluar

dari balik mata tengkorak itu tampak semakin menyala tajam,

tengkorak itu seakan sedang balas menatap Tu Siau-thian

karena dia merasa sedang diawasi opas itu.

Rasa benci, dendam dan hawa jahat yang terpancar keluar

dari mata tengkorak itu terasa makin menebal dan berat.

Hawa mayat yang menyembur keluar lewat rongga giginya

pun tampak semakin menebal, dia seolah sedang peringatkan

Tu Siau-thian agar tidak menyentuh jenasahnya, kalau tidak,

dia akan menurunkan kutukan yang paling jahat terhadap

opas itu.

Bagaimanapun beraninya Tu Siau-thian, betapa besarnya

nyali orang ini, tidak urung bergidik juga perasaan hatinya

setelah dihadapkan dengan suasana seperti ini.

Padahal dia sudah menjadi opas selama puluhan tahun,

entah berapa banyak jenasah yang pernah disentuhnya,

namun baru pertama kali ini dia merasa begitu seram, begitu

takut dan ngeri untuk menyentuh mayat itu.

255

Tapi akhirnya dia tetap maju mendekat, baginya sekarang,

tugas tersebut mustahil bisa dihindari lagi.

Semakin mendekati mayat itu bau busuk yang tersiar keluar

makin tebal, dengan pengalaman Tu Siau-thian yang luas, dia

segera tahu kalau kematian orang itu paling tidak sudah

terjadi dua hari berselang, sebab hanya kematian selama ini

akan menghasilkan bau busuk mayat seperti sekarang

Padahal Jui Pakhay sudah lenyap sejak dua hari berselang,

tiga hari pun belum sampai.

Pakaian yang sama dengan senjata yang sama pula, tidak

bisa disangkal mayat itu adalah mayat dari Jui Pakhay.

Sekarang dia semakin percaya dengan apa yang telah

dikatakan Siang Huhoa tadi.

Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki Siang

Huhoa, tidak ada alasan untuk tidak bisa mengenali sebilah

pedang, apalagi pemilik pedang itu adalah sahabat karibnya.

Sebagai teman karibnya, Siang Huhoa pasti sangat

mengenal dengan segala kebiasaan rekannya itu, kalau dia

bisa mengenali pedang itu sebagai pedang miliki Jui Pakhay,

tentu saja dia pun tahu kalau diatas gagang pedangnya terukir

beberapa huruf kecil.

Sekalipun begitu, menurut prosedur dia tetap harus

melakukan perintah itu, maka dia tidak keberatan untuk

melaksanakan titah dari Nyo Sin, satu satunya hal yang

membuat dia merasa keberatan adalah tidak seharusnya

perintahkan dia untuk turun tangan sendiri.

Namun dalam keadaan seperti saat ini, tentu saja dia tidak

bisa protes dan tidak mungkin untuk protes, maka setelah

maju ke depan, dia pun mengeluarkan sebuah saputangan lalu

dibalutkan di tangan kanannya.

Dengan hidung berkerut, sorot matanya mulai dialihkan ke

tangan mayat itu, sepasang matanya sengaja disipitkan, agar

256

wajah seram dari tengkorak itu terlihat agak samar. Untung

keadaan dari sepasang tangan itu tidak terlampau

mengerikan.

Dengan tangan kirinya dia cengkeram gagang pedang,

tangan kanannya segera menggenggam tangan kiri mayat itu.

Walaupun sudah dilapisi dengan sapu tangan namun dia

masih bisa merasakan kalau tangan yang digenggamnya

hanya sekerat tulang, pada saat itulah bau busuknya mayat

terendus makin berat dan tebal.

Sambil menahan diri Tu Siau-thian mencoba untuk menarik

tangan itu, padahal dia sudah mengerahkan tenaga cukup

besar namun usahanya untuk menarik lepas gagang pedang

dari genggaman tangan mayat itu tetap tidak berhasil.

Dia mencoba untuk menarik tangan yang lain, namun

hasilnya sama saja.

Sangat aneh, kenapa genggaman sepasang tangan mayat

itu bisa begitu kuat? Kenapa tangannya yang menggenggam

gagang pedang susah dilepaskan. Tapi kesemuanya ini

semakin membuktikan sesuatu yakni tidak mungkin pedang itu

disusupkan ke tangan mayat tersebut setelah kematian orang

itu, kalau hal ini yang dilakukan, tidak mungkin tangan mayat

itu bisa menggenggam gagang pedang sedemikian

kencangnya.

Orang mati tidak akan menggenggam pedangnya sangat

kencang, dengan perkataan lain, sewaktu orang ini menemui

ajalnya, dia berada dalam kondisi menggenggam pedang itu.

Jika pedang ini benar benar adalah pedang tujuh bintang

pencabut nyawa, bukankah hal ini semakin memperkuat bukti

bahwa sang korban adalah Jui Pakhay?

Hanya Jui Pakhay seorang yang menganggap pedang tujuh

bintang lebih berharga daripada nyawa sendiri, hanya dia

257

seorang yang tidak akan melepaskan senjatanya sampai maut

menjemput dirinya.

Bab 14.

Pedang utuh manusia mati.

Cairan mayat yang berbau busuk telah membasahi seluruh

saputangannya.

Cairan mayat yang dingin, lengket berlendir serasa sudah

menodai seluruh kulit badannya, perasaannya waktu itu mirip

sekali dengan perasaan sewaktu memegang beberapa ekor

cacing yang baru digali dari dalam tanah…..

Tu Siau-thian merasa amat bergidik, perutnya terasa amat

mual, entah sudah berapa kali dia bersin, bulu kuduknya

sudah bangun berdiri.

Tapi dia paksakan diri untuk menekan rasa mual, rasa

seram dan rasa jijik yang mencekam perasaan hatinya,

dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk merentangkan jari

jemari tengkorak itu.

Jari tangan tengkorak itu menggenggam kencang, seakan

sudah merasuk ke dalam gagang pedang itu.

Ketika dia membetot dengan sepenuh tenaga…….”Kraak,

Kraak, Kraaaak!” tiga buah jari tangan tengkorak itu patah

seketika.

Mayat yang baru mati selama tiga hari ternyata memiliki

tulang belulang yang begitu rapuh, kejadian ini sedikit diluar

dugaan Tu Siau-thian.

Mengawasi ke tiga batang tulang jari yang patah dan

tergenggam ditangannya, sekali lagi opas itu bergidik sambil

bersin berulang kali, dia merasa tidak sanggup lagi untuk

melanjutkan tugasnya.

258

Bagaimana pun juga mayat itu adalah mayat sahabatnya,

dia tidak ingin setelah sahabatnya itu mati, sukmanya akan

gentayangan tanpa memiliki jari tangan lagi….

Walaupun selama ini dia tidak pernah mau percaya tentang

dongeng yang mengatakan bahwa manusia setelah mati akan

jadi setan gentayangan, namun setelah mengalami pelbagai

peristiwa aneh selama berapa hari belakangan, keyakinan itu

mulai goyah.

Kalau siluman laron pun terbukti ada, berarti setan

gentayangan pun pasti ada juga, untuk sesaat dia berdiri

terbelalak, tertegun bercampur kaget.

Melihat mimik muka anak buahnya itu Nyo Sin tercengang,

segera tegurnya:

“Hey, apa yang terjadi?”

“Aaah, tidak apa apa” jawab Tu Siau-thian tanpa berpaling,

“karena kurang berhati-hati, aku telah mematahkan tiga

batang tulang jarinya”

“Apakah pada gagang pedang itu kau jumpai tulisan yang

dimaksud?” kembali Nyo Sin bertanya.

“Aku belum lagi mengambil pedang itu”

“Ooh…”

Diam-diam Tu Siau-thian menghela napas, sambil bulatkan

tekad tangan kanannya segera ditekan kebawah lalu

membetot ke samping, dia mengangkat paksa tangan mayat

itu ke atas lalu bersamaan waktunya dia tarik pedang itu ke

luar.

“Kraak, kraaaak!” kembali dua buah jari tangan tengkorak

itu patah jadi dua, namun pedang itu berhasil direbut paksa

dari genggaman tangan mayat itu.

Karena pedang yang menopang tubuhnya telah direbut

paksa, tengkorak manusia itupun langsung terjungkal dan

259

roboh ke lantai, masih untung Tu Siau-thian berhasil

menyambar lengan tengkorak itu sehingga sang mayat tidak

sampai terjerembab keras ke tanah.

Pada saat itulah dari balik lubang mata sang tengkorak

yang berlubang itu mengucur keluar dua deret cairan mayat

yang berbau sangat busuk.

Cairan itu mirip sekali dengan lelehan air mata, apakah

mayat itu masih punya perasaan? Apakah dia merasa

menderita karena tulang jarinya patah?

Tu Siau-thian semakin bergidik disamping terharu dan iba,

dia paksakan diri untuk membetulkan posisi mayat itu

kemudian baru mundur ke belakang dan membalikkan badan,

sorot matanya segera dialihkan keatas gagang pedang itu.

Benar juga, diatas gagang pedang tertera beberapa huruf

kecil:

“Pedang utuh manusia hidup, pedang hancur manusia

mati!”

Tidak bisa disangkal lagi, pedang ini memang pedang tujuh

bintang milik Jui Pakhay, itu berarti mayat tersebut adalah

mayat dari Jui Pakhay.

Dengan mata melotot besar Nyo Sin mengawasi tulisan itu,

akhirnya tidak tahan dia menghela napas panjang, katanya:

“Pedang utuh manusia hidup, pedang hancur manusia mati,

tapi kenyataannya sekarang, pedang utuh manusia nya justru

mati!”

Siang Huhoa memandang pula gagang pedang itu sekejap,

namun dia tidak berkomentar atau pun mengucapkan sesuatu

pernyataan.

Nyo Sin memandang Siang Hu-hoa sekejap, tiba-tiba dia

membalikkan badan dan beranjak keluar dari situ.

260

Baru satu langkah dia berjalan, tubuhnya telah menumbuk

ditubuh seseorang, Jui Gi!

Entah sedari kapan Jui Gi ikut masuk ke dalam, sepasang

matanya mengawasi mayat tersebut dengan mata mendelik,

wajahnya penuh diliputi kedukaan dan amarah.

Di dalam pandangan matanya seakan hanya ada mayat

tersebut, dia bahkan tidak tahu kalau Nyo Sin sedang

membalikkan badan, begitu tabrakan terjadi tubuhnya kontan

jatuh terpelanting ke tanah.

Tubuh Nyo Sin ikut bergetar keras, masih untung dia tidak

ikut roboh.

Jui Gi tidak segera merangkak bangun, sambil berlutut dan

menyembah dihadapan Nyo Sin, serunya pedih:

Nyo tayjin, kau harus mencarikan keadilan buat majikan

kami!”

“Tidak usah diucapkan pun pasti akan kulakukan” sahut

Nyo Sin setelah berhasil berdiri tegak, dengan cepat dia

melampui Jui Gi dan menuruni anak tangga.

Sementara itu para jago lainnya masih menunggu di

bawah, sorot mata semua orang tertuju ke pintu masuk ruang

loteng, begitu Nyo Sin munculkan diri, otomatis sorot mata

semua orangpun tertuju ke tubuhnya.

Sekalipun mereka tidak tahu peristiwa apa yang telah

terjadi dalam ruang loteng, namun dari mimik muka Nyo Sin,

mereka sadar bahwa persoalan tersebut pasti sangat serius

Begitu menuruni anak tangga, Nyo Sin langsung

menghampiri Gi Tiok-kun dan mengawasinya dengan mata

melotot.

Sorot mata semua orang pun mengikuti gerakan tubuhnya

ikut bergeser ke atas wajah perempuan itu.

261

Gi Tiok-kun masih berdiri mematung seperti patung pousat,

wajahnya hambar tanpa perubahan apa pun.

Nyo Sin mengawasi perempuan itu berapa saat, mendadak

dia menarik napas panjang dan sambil menuding bentaknya:

“Tangkap dia!”

Gi Tiok-kun nampak tertegun, kawanan opas lebih tertegun

lagi, mereka tidak menyangka akan datangnya perintah

tersebut sehingga untuk berapa saat semua orang hanya

berdiri melongo dan tidak memberikan reaksi apapun.

“Hey, kenapa kalian semua?” sekali lagi Nyo Sin

menghardik, “telinga kalian sudah pada tuli? Tidak memahami

maksud perkataanku?”

Seakan baru sadar dari impian kawanan opas itu serentak

bergerak maju. Tan Piau dan Yau Kun saling bertukar

pandangan sekejap, lalu terdengar Yau Kun berbisik ragu:

“Komandan. Kau…..kau suruh kami membekuk Jui hujin?”

“Benar!” jawaban Nyo Sin amat tegas.

“Tapi kesalahan apa yang telah dilakukan Jui hujin?” tanya

Tan Piau keheranan.

“Pembunuhan!”

“Siapa yang dibunuh?” desak Tan Piau lebih jauh.

“Jui Pakhay!”

Tan Piau berseru tertahan dan tidak bertanya lagi, namun

rasa sangsi masih menyelimuti wajahnya.

Begitu juga keadaan Yau Kun, meskipun tidak ikut

menimbrung namun dia pun tidak melakukan suatu tindakan

apa pun.

Seorang wanita cantik yang begitu lemah lembut, begitu

halus dan begitu tidak bertenaga ternyata adalah seorang

262

pembunuh, kejadian ini sudah sangat aneh dan sukar

dipercaya apalagi orang yang dibunuh ternyata adalah

seorang lelaki yang berilmu silat sangat tinggi.

Bukan hanya begitu, lelaki itu bahkan adalah suaminya

sendiri, Jui Pakhay!

Karena ke dua orang itu tidak melakukan reaksi apa pun,

dengan sendirinya kawanan opas yang lain pun tidak

melakukan tindakan apapun Melihat anak buahnya tidak

melakukan tindakan apapun, Nyo Sin jadi semakin

mendongkol, teriaknya penuh amarah:

“Kenapa kalian masih berdiri termangu macam orang

bodoh? Cepat tangkap dia!”

“Baik!” sahut Tan Piau dan Yau Kun tergagap. Cepat

mereka memberi tanda, seorang opas yang berdiri di belakang

mereka segera maju menghampiri sambil menyerahkan

sebuah borgol.

Setelah menerima borgol itu Yau Kun maju ke hadapan Gi

Tiok-kun seraya serunya:

“Gi hujin, tolong ulurkan tanganmu!”

Gi Tiok-kun memandang borgol itu sekejap, setelah tertawa

getir dia sodorkan sepasang tangannya ke depan.

Dia sama sekali tidak melawan bahkan mengucapkan

sepatah kata pun tidak, tampang dan mimik mukanya saat itu

terlihat amat mengenaskan, sangat kasihan………

Yau Kun merasakan hatinya ikut remuk redam, dalam

kondisi demikian bagaimana mungkin dia bisa memasangkan

itu ke tangannya?

Hanya Nyo Sin seorang yang sama sekali tidak terpengaruh

oleh kesedihan dari perempuan itu, dengan hati sekeras baja

sekali lagi dia menghardik:

“Cepat diborgol!”

263

Terpaksa dengan keraskan hati Yau Kun mempersiapkan

borgolnya dan siap dipasangkan ke tangan Gi Tiok-kun. Saat

itulah dari balik ruang loteng kedengaran seseorang berseru

keras:

“Tunggu sebentar!”

Suara teriakan dari Siang Huhoa, bersamaan dengan

seruan tersebut dia pun muncul dari balik ruangan.

Ternyata Yau Kun menurut sekali dengan seruannya itu,

seketika dia menghentikan semua tindakannya.

Nyo Sin semakin mendongkol melihat kejadian ini, namun

dia tidak memberikan reaksinya dan cuma membungkam.

Bagaimana pun juga dia masih ingat bagaimana Siang

Huhoa telah menyelamatkan jiwanya ketika akan masuk ke

ruang rahasia tadi, pelan-pelan dia mendongakkan kepalanya

dan menatap lelaki itu tajam.

Selangkah demi selangkah Siang Huhoa berjalan menuruni

anak tangga, dia langsung berjalan menuju ke samping Nyo

Sin.

“Saudara Siang, apakah kau telah menemukan sesuatu

yang baru diatas ruang loteng?” Nyo Sin segera bertanya.

Siang Hu-hoa menggeleng.

“Lantas kenapa kau mencegah kami untuk membekuk

perempuan itu?” desak Nyo Sin lebih jauh.

“Sampai detik ini kita masih belum punya bukti yang

menunjukkan bahwa dialah pembunuh Jui Pakhay”

“Bukankah catatan yang ditinggalkan Jui Pakhay bisa kita

pakai sebagai tanda bukti?”

“Apakah kau tidak merasa kalau isi catatan itu kelewat

aneh, kelewat berbau mistik dan sulit membuat orang

percaya?”

264

“Jadi kau tidak percaya?”

“Kau percaya?” bukan menjawab Siang Huhoa malah balik

bertanya.

“Mau tidak percaya pun rasanya tidak mungkin”

“Tapi isi catatan itu hanya merupakan kesaksian sepihak”

“Kita semua telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri

bagaimana ada sekelompok laron penghisap darah yang

terbang keluar dari ruang loteng ini, kawanan laron tersebut

sedang menghisap darah Jui Pakhay diatas loteng, melalap

dan memakan daging mayatnya, bukankah kita semua telah

menyaksikan sendiri?”

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, sekali lagi

tubuhnya bergidik hingga bersin berulang kali, rupanya dia

terbayang kembali adegan mengerikan yang telah

disaksikannya itu.

Meskipun para opas yang lain tidak ikut menyaksikan, tapi

berdasarkan penuturan dari Nyo Sin, tak urung mereka semua

ikut bergidik.

Paras muka Gi Tiok-kun yang sudah putih memucat, kini

seakan bertambah pucat hingga tak ubahnya seperti wajah

sesosok mayat.

Siang Huhoa tidak menjawab, dia pun tidak menyangkal,

sebab apa yang diutarakan Nyo Sin memang merupakan

sebuah kenyataan.

Untuk sesaat suasana didalam ruangan tercekam dalam

keheningan.

Sampai lama kemudian, akhirnya keheningan itu

dipecahkan oleh suara Gi Tiok-kun, terdengar ia berbisik-

“Benarkah apa yang kau katakan tadi?”

265

Pertanyaan dari Gi Tiok-kun khusus ditujukan kepada Nyo

Sin, bibirnya kelihatan gemetar keras bahkan nada suaranya

pun kedengaran ikut gemetar.

Ditengah keheningan yang mencekam, suara pembicaraan

yang gemetar itu kedengaran seperti malayang di udara,

lamat-lamat tak jelas hingga nyaris tak mirip dengan suara

manusia.

Nyo Sin tidak menjawab pertanyaan itu, malah kepada

Siang Hu-hoa bisiknya:

“Coba kau dengar suaranya……”

“Kenapa dengan suaranya?” tanya Siang Hu-hoa

keheranan.

“Kau tidak merasakan sesuatu?” suara bisikan Nyo Sin

semakin merendah.

Siang Hu-hoa kembali menggeleng.

“Suaranya kedengaran sangat aneh” ujar Nyo Sin lebih

jauh, “seakan akan panggilan setan iblis dari sesuatu tempat,

seperti jeritan sukma gentayangan yang datang dari akhirat”

“Kapan sih kau pernah mendengar suara jeritan sukma

gentayangan yang datang dan akhirat?” tiba-tiba Siang Huhoa

tertawa.

Nyo Sin agak melengak, sahutnya kemudian:

“Tentu saja aku tak pernah mendengarnya”

“Lantas darimana kau bisa tahu kalau suara semacam itu

mirip dengan jeritan dari sukma gentayangan?”

Seketika itu juga Nyo Sin terbungkam, tak sanggup

membantah.

“Sekalipun kita mengetahui bahwa kawanan laron

penghisap darah itu terbang keluar dari tempat ini, bukan

266

berarti kawanan makhluk tersebut peliharaan dia” kata Siang

Huhoa lebih jauh.

“Kalau bukan dia yang pelihara, lalu siapa?” “Kalau aku

sudah tahu, buat apa bertanya lagi kepadamu”

“Kalau memang tidak tahu, atas dasar apa kau merasa

yakin kalau kawanan laron penghisap darah itu bukan makhluk

peliharaannya?”

“Aku tidak mengatakan yakin”

“Tapi kau menghalangi perbuatan kami”

“Betul, aku berbuat demikian karena kuanggap hingga

sekarang kita belum berhasil mengumpulkan bukti dan saksi

yang meyakinkan, sebelum kita bisa membuktikan kalau dialah

pembunuhnya, tidak pantas bila kita tangkap perempuan ini”

“Oya?”

“Bila dikemudian hari ternyata dia sama sekali tidak

terlibat………”

“Tentu saja aku segera akan membebaskan dirinya” tukas

Nyo Sin.

“Tapi tindakanmu menyangkut martabat, harga diri dan

nama baik seseorang…….”

“Percayalah, tindakanku ini tak akan berpengaruh banyak”

kembali Nyo Sin menukas sembari mengidapkan tangannya,

“apalagi tindakan ini terpaksa harus kita lakukan”

“Ooh……”

“Sebab sesuai dengan prosedur dan aturan, kita memang

harus bertindak begitu”

Kali ini Siang Huhoa tidak dapat berbicara lagi.

Perkataan dari seorang “pembesar” biasanya memang

merupakan sebuah peraturan, karena biarpun tidak pakai

267

aturan pun tetap dianggap sangat beraturan, apalagi kalau

sudah menyangkut masalah prosedur dan peraturan, orang

awam memang tak mungkin bisa membantah lagi.

Terdengar Nyo Sm berkata lebih jauh:

“Aku rasa kau pasti tak bisa menyangkal bukan kalau pada

saat ini tersangka yang paling mencurigakan adalah dirinya?”

Siang Huhoa tidak menyangkal.

“Terhadap seorang tersangka pembunuhan macam dia,

bukankah pantas bila kita tangkap dan menahannya lebih

dahulu?” kembali Nyo Sin mendesak.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya: “Seandainya

dia sampai lolos, mungkin dosa yang akan menimpa kita

semua akan jadi berat sekali. Saudara Siang, kau pasti

mengerti soal ini bukan?”

“Tapi kalian toh bisa mengirim petugas untuk

mengawasinya siang malam?”

“Andaikata dia benar-benar seorang siluman Laron,

seandainya ia benar-benar jelmaan dari laron penghisap

darah, siapa yang bisa mengawasinya?”

“Seandainya dia benar benar seorang siluman laron,

seandainya dia memang jelmaan dari laron penghisap darah,

biar sudah kau tangkap pun dia tetap sanggup melarikan diri”

“Kalau benar benar terjadi hal semacam ini, paling tidak

kita kan bisa mempertanggung jawabkan diri?” bantah Nyo

Sin.

Siang Huhoa menghela napas panjang dan tidak

melanjutkan perdebatan itu lagi, dia berjalan ke hadapan Gi

Tiok-kun lalu ujarnya:

“Enso, sudah kau dengar semua pembicaraan ini?”

Gi Tiok-kun menghela napas sedih.

268

“Mendengar mah sudah, tapi aku tidak mengerti”

“Tidak mengerti apa yang sedang kami bicarakan?”

“Juga tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi disini”

sambung Gi Tiok-kun sambil menghela napas.

“Enso benar benar tidak tahu duduknya persoalan?” Siang

Hu-hoa kembali bertanya.

“Bila kalian tidak percaya, akupun tak bisa berbuat apa

apa”

“Kalau begitu secara ringkas akan kuceritakan semua

kejadian yang telah terjadi disini”

Gi Tiok-kun manggut manggut.

Setelah termenung sejenak, Siang Hu-hoa mulai berkisah:

“Peristiwa ini dimulai pada tanggal satu malam dan

berlangsung hingga malam tanggal lima belas, hampir setiap

hari setiap saat saudara Jui diteror oleh kemunculan laron

penghisap darah, mengenai semua peristiwa yang dialami, dia

telah membuatkan sebuah catatan yang lengkap dan

membeberkannya secara detil”

Gi Tiok-kun hanya mendengarkan, sama sekali tidak

komentar.

Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh:

“Bila kita tinjau berdasarkan penuturannya lewat catatan

tersebut, tampaknya kejadian aneh yang ditimbulkan laron

penghisap darah itu memang sangat menakutkan, oleh sebab

alasan inilah maka pada tanggal tujuh dia mengutus Jui Gi

untuk berangkat ke perkampungan selaksa bunga dan datang

mencari aku, dia minta aku datang kemari untuk menghadapi

teror dari laron penghisap darah”

“Ooh… jadi selama belasan hari tidak nampak Jui Gi,

rupanya dia telah berangkat ke perkampungan selaksa bunga”

269

“Benar! Sayangnya ketika aku tiba disini pagi tadi, saudara

Jui sudah lenyap semenjak tiga hari berselang”

Kali ini Gi Tiok-kun tidak memberikan komentar.

Setelah menarik napas, Siang Hu-hoa berkata lebih jauh:

“Dalam tiga hari belakangan, opas Nyo telah mengirim

segenap kekuatannya untuk menggeledah seluruh kota,

namun kabar berita tentang saudara Jui belum juga

ditemukan, dan sekarang, hanya tempat ini yang belum

diperiksa, maka kami pun mendatangi tempat ini…..”

Siang Hu-hoa mengalihkan sorot matanya ke arah ruang

loteng, kemudian menambahkan:

“Maksudku, di dalam ruang loteng itulah akhirnya kami

berhasil menemukan jenasahnya”

“Apa benar jenasahnya?” tiba-tiba Gi Tiok-kun bertanya

“Rasanya memang jenasahnya!”

“Kedengarannya kau sendiripun tidak yakin?” tanya Gi Tiokkun.

Siang Huhoa tidak menyangkal.

“Aku pingin naik ke atas dan memeriksa sendiri” pinta Gi

Tiok-kun setelah berpikir sejenak.

“Biarpun enso naik sendiri pun kau tetap tak bisa

mengenalinya lagi”

“Ohh… kenapa?”

“Sebab lapisan daging dan kulit saudara Jui khususnya

pada seputar batok kepalanya sudah habis dimakan kawanan

laron penghisap darah itu, sekarang yang tersisa tinggal

sebuah tengkorak, bahkan sepasang tangannya pun tinggal

tulang belulang”

270

Gi Tiok-kun menjerit tertahan, paras mukanya berubah jadi

pucat pias, reaksinya sangat wajar dan sama sekali tak

nampak seperti dibuat-buat.

Menyaksikan hal itu Siang Hu-hoa segera berpikir:

“Jangan-jangan peristiwa ini memang sama sekali tak ada

sangkut paut dengan dirinya?”

Sebaliknya Nyo Sin tertawa dingin tiada hentinya.

Gi Tiok-kun sama sekali tidak menggubris sikap Nyo Sin,

dia hanya mengawasi Siang Huhoa dengan wajah tertegun.

Setelah berhasil mengendalikan emosinya, dia berkata lagi:

“Lantas atas dasar apa kalian bisa mengenali kalau mayat

itu adalah mayatnya?”

“Berdasarkan pakaian yang dikenakan jenasah itu, menurut

kesaksian opas Tu, pada saat malam menjelang lenyapnya

saudara Jui, pakaian yang dikenakan waktu itu persis sama

seperti pakaian yang dikenakan mayat ini, lagipula mayat

tersebut menggenggam sebilah pedang, pedang mestika

miliknya”

“Pedang tujuh bintang pencabut nyawa?”

“Betul, pedang tujuh bintang pencabut nyawa”

Sepasang mata Gi Tiok-kun mulai berkaca-kaca.

Terdengar Siang Huhoa berkata lagi:

“Menurut apa yang kuketahui, pedang tujuh pedang

pencabut nyawa merupakan pedang pusaka perguruannya,

dia selalu menyimpan nya secara baik baik, bahkan berulang

kali telah menyelamatkan jiwanya ketika terancam bahaya”

“Benar, dia pernah mengungkap persoalan ini denganku” Gi

Tiok-kun mengangguk.

271

“Oleh karena itu, walaupun kami tidak bisa mengenali raut

muka jenasah itu, namun berdasarkan pakaian dan pedang

tujuh bintang pencabut nyawa yang masih berada dalam

genggamannya, kami bisa membuktikan kalau jenasah itu

adalah mayat dari saudara Jui”

“Tapi apa sangkut pautnya dengan aku?”

“Di dalam catatan yang dia tinggalkan, secara lamat-lamat

dia menerangkan bahwa bila terjadi sesuatu atas dirinya,

besar kemungkinan enso lah pembunuhnya”

Sekali lagi Gi Tiok-kun terbelalak dengan mulut melongo,

tidak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

“Terlepas apakah isi catatan itu jujur atau hanya rekayasa,

sampai detik ini enso adalah satu satunya orang yang patut

dicurigai” Siang Hu-hoa menerangkan lebih jauh.

“Kenapa?”

“Ruangan kecil ini berada di bagian belakang kamar tidur,

untuk mencapai ruangan tersebut orang harus melalui kamar

tidur lebih dahulu, selain enso, siapa yang bisa masuk keluar

tempat ini dengan leluasa?”

“Tapi ada saatnya aku pun pergi meninggalkan kamar

tidur!”

“Maksudmu kemungkinan besar ada orang yang menyusup

masuk ke dalam kamar tidurmu secara diam diam disaat kau

sedang keluar?”

“Apakah tidak ada kemungkinan seperti ini?”

“Selama dua hari belakangan ini, kau pernah pergi ke mana

saja?” timbrung Nyo Sin tiba tiba

“Aku hanya berada disekeliling perkampungan, tidak

pernah melangkah keluar dari perkampungan barang

selangkah pun”

272

“Benarkah begitu? Baik, tidak sulit bagiku untuk memeriksa

apakah kau sedang berbohong atau tidak” seru Nyo Sin lagi.

Gi Tiok-kun tidak berbicara apa apa, dia membungkam

dalam seribu basa.

Dari sudut ruangan sana terdengar Tu Siau-thian berseru:

“Dalam masalah ini aku telah melakukan penyelidikan

dengan seksama, di dalam dua tiga hari belakangan nyonya

Jui memang tidak pernah pergi meninggalkan perkampungan”

Sementara berbicara, Tu Siau-thian telah muncul kembali

dari balik ruang loteng, lanjutnya:

“Sejak terjadinya peristiwa pada malam itu, secara

beruntun dalam dua hari belakangan aku selalu menugaskan

orang untuk mengawasi sekeliling perkampungan, semisal ada

orang membawa mayat keluar atau bergerak masuk keluar

dari halaman ini, niscaya jejak mereka akan segera ketahuan”

Sesudah berhenti sejenak, kembali lanjutnya:

“Betul setiap malam orang orang kita mengundurkan diri

dari sini, tapi aku percaya nyonya Jui pasti tidur di dalam

kamar tidurnya, sehingga kalau ada orang yang masuk secara

diam-diam, rasanya sulit kemungkinannya untuk tidak

membangunkan nyonya Jui”

Mau tidak mau Gi Tiok-kun mengakui juga:

“Benar, dalam dua malam terakhir tidurku memang kurang

nyenyak, sehingga saban kali mau berangkat tidur, aku tidak

pernah lupa untuk mengunci pintu kamarku dari dalam”

“Nah itulah dia” seru Tu Siau-thian, “bila seseorang ingin

memasuki ruang tidur ini, berarti dia mesti mematahkan

palang pintu lebih dulu, padahal sudah kuperhatikan dengan

seksama barusan, semua pintu dan jendela berada dalam

keadaan utuh, jika mataku tidak bermasalah, semestinya

273

keadaan dalam ruangan ini tidak jauh berbeda dengan

keadaan semula”

Tentu saja sepasang mata Tu Siau-thian tidak bermasalah.

Siang Huhoa segera menyambung pula:

“Apalagi selainjenasah itu, disini pun terdapat sekelompok

besar laron penghisap darah, untuk bergerak ke sana kemari,

kelompok makhluk itu sangat menyolok mata, apalagi

beterbangan dalam perkampungan, jelas hal ini akan

mengejutkan seluruh penghuni perkampungan ini,

maka………….”

“Maka hal ini mungkin bisa terjadi jika sebelumnya sudah

ada orang yang mengatur kesemuanya ini dan meletakkan

laron laron itu di dalam ruang loteng” sambung Gi Tiok-kun

cepat.

“Atau mereka memang benar benar jelmaan dari siluman

atau setan iblis” Siang Huhoa menambahkan.

“Kau percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat

siluman atau setan iblis?” mendadak perempuan itu bertanya.

Untuk sesaat Siang Huhoa hanya melongo, dia tidak tahu

bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Setelah menghela napas kembali Gi Tiok-kun berkata:

“Bukankah isu siluman atau setan iblis merupakan sebuah

lelucon yang tidak lucu? Siapa sih yang mau percaya?”

Siang Huhoa, Nyo Sin maupun Tu Siau-thian berdiri

melongo, untuk sesaat mereka hanya bisa tertegun.

Bukankah mereka semua sedang mencurigai Gi Tiok-kun

sebagai siluman laron? Sebagai jelmaan dari laron penghisap

darah?

274

“Hai, seandainya bukan ulah dari bangsa siluman atau

setan iblis, berarti akulah yang paling dicurigai dalam kasus

pembunuhan ini” keluh Gi Tiok-kun sambil menghela napas.

“Sekalipun peristiwa ini ulah dari siluman atau setan iblis,

tetap kau yang paling dicurigai!” nyaris perkataan semacam

itu meluncur keluar dari mulut Nyo Sin, untung pada akhirnya

dia urungkan niatnya.

Dengan sorot mata yang tajam Gi Tiok-kun menatap wajah

Siang Huhoa, kemudian tanyanya:

“Menurut pandanganmu, apakah aku mirip dengan manusia

macam itu?”

Siang Huhoa hanya menghela napas tanpa bicara.

“Tahu orangnya, tahu wajahnya sukar untuk tahu hatinya,

apalagi hati manusia lebih dalam dari lautan, darimana kami

bisa melihatnya?” perkataan inipun nyaris meluncur keluar dari

mulut Nyo Sin.

Gi Tiok-kun memandang Siang Huhoa sekejap, kemudian

memandang pula ke arah Nyo Sin dan Tu Siau-thian, akhirnya

setelah menghela napas dia ulurkan ke dua tangannya ke

depan.

Yau Kun dengan memegang borgol hanya berdiri disamping

sambil mengawasi sepasang tangan Gi Tiok-kun, ternyata dia

tidak berusaha untuk memborgol tangan perempuan cantik

itu.

“Borgol dia!” sekali lagi Nyo Sin menghardik sembari

mengulapkan tangannya.

Bentakannya kali ini sudah tidak segarang tadi, maka Yau

Kun mengiakan dan segera memborgol sepasang tangan Gi

Tiok-kun.

Kali ini Siang Hu-hoa tidak berusaha menghalangi, hanya

ujarnya:

275

“Persoalan separah dan seberat apa pun, cepat atau lambat

akhirnya akan tiba juga saatnya untuk menjadi terang”

Gi Tiok-kun hanya tertawa pedih.

Nyo Sin kembali berpikir sekejap, kemudian perintahnya

kepada Tan Piau dan Yau Kun:

“Segera kalian siapkan sebuah tandu, hantar balik nyonya

Jui terlebih dulu”

Agaknya pembesar inipun tidak ingin terlalu menyusahkan

Gi Tiok-kun, maka dia perintahkan orang untuk menghantar

perempuan itu dengan memakai tandu.

Mungkinkah pertimbangan ini dia lakukan setelah

menyaksikan sikap dari Gi Tiok-kun yang siap bekerja sama?

“Baik!” sahut Yau Kun dan Tan Piau hampir berbareng.

Sambil melangkah keluar dari ruangan, tiba-tiba Gi Tiokkun

berpaling lagi memandang ke arah Nyo Sin sambil

berkata:

“Apa aku boleh ikut membaca catatan itu?”

“Semua catatan tersebut telah kuperintahkan orang untuk

membawanya ke kantor polisi”

“Untung sekarang pun aku akan berangkat ke kantor polisi”

sahut Gi Tiok-kun sambil tertawa getir, bagaikan sukma

gentayangan diapun melanjutkan langkahnya.

Bab 15.

Gelang terbang Pedang baja.

Memandang hingga bayangan punggung Gi Tiok-kun

lenyap dari pandangan mata, kembali Siang Hu-hoa

termenung tanpa bicara.

276

Tu Siau-thian yang selama ini hanya membungkam

perlahan-lahan berjalan menghampiri Siang Hu-hoa, kemudian

ujarnya:

“Kelihatannya saudara Siang masih tetap ragu dan

menaruh curiga terhadap persoalan ini?”

Siang Hu-hoa mengangguk membenarkan:

“Apakah saudara Tu tidak ragu atau menaruh curiga

terhadap semua yang telah kita temukan?” dia balik bertanya.

Tu Siau-thian hanya menghela napas tanpa menjawab.

Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh:

“Semisalnya perempuan itu yang melakukan pembunuhan,

rasanya tidak masuk diakal jika dia tetap membiarkan mayat

korbannya tergeletak dalam ruang loteng”

“Mungkin saja dia tidak menyangka kalau secepat ini kita

akan menggeledah tempat ini” sela Nyo Sin.

“Aku rasa dia bukan orang bodoh, masa tidak bisa

menduga sampai ke situ?” kata Siang Hu-hoa.

Mendadak Nyo Sin bergidik, dengan badan merinding

katanya:

“Atau mungkin dia mengira kalau kawanan laron penghisap

darah itu telah melalap habis mayat itu?”

Kemudian setelah bersin berulang kali, tambahnya:

“Mungkin juga dia masih merasa sayang untuk membuang

mayat tersebut dan ingin melahapnya lagi………..”

“Jadi kau menuduh Gi Tiok-kun adalah siluman laron,

jelmaan dari seekor laron penghisap darah?” tukas Siang

Huhoa cepat.

“Betul!”

277

“Kalau persoalannya hanya begitu, kasus ini malah lebih

gampang penyelesaiannya, paling tidak jawaban untuk apa

yang ditulis Jui Pakhay dalam catatannya tentang peristiwa

aneh yang dialaminya sejak tanggal satu bulan tiga sampai

tanggal lima belas bulan tiga beserta lenyapnya jejak dia serta

kemunculan jenasahnya dalam ruang loteng sudah sangat

jelas sekali yakni ulah dari siluman laron atau ulah dari

jelmaan laron penghisap darah, kita tidak usah lagi peras otak

banting tulang untuk melacak dan melakukan penyelidikan”

“Itupun kita mesti membuktikan dulu bahwa dia memang

siluman laron atau jelmaan dari laron penghisap darah”

sambung Tu Siau-thian.

“Benar” kata Siang Hu-hoa, “bila dia memang siluman laron

atau jelmaan dari laron penghisap darah, cepat atau lambat

dia pasti akan tunjukkan wujud aslinya, asal kita menunggu

sampai dia tampil dengan wujud lain, semua urusanpun akan

terungkap”

“Saat itu kita semua bakal dibuat pusing kepala” Nyo Sin

menambahkan sambil memegang kepala sendiri.

“Oleh sebab itulah sekarang kita harus membuat dua

perumpamaan, ke satu seandainya Gi Tiok-kun benar-benar

adalah siluman laron dan kedua bila ternyata bukan demikian

kejadiannya”

“Maksudmu kita tetap harus melanjutkan penyelidikan?”

“Benar” Siang Huhoa mengangguk.

“Tapi penyelidikan kita harus dimulai dari mana?” tanya

Nyo Sin tiba tiba, namun begitu ucapan tersebut diutarakan,

dia pun merasa amat menyesal.

Sebagai seorang komandan opas yang terkenal pintar dan

punya nama besar, sama sekali tidak masuk diakal bila

persoalan macam begini juga harus menanyakan kepada

278

Siang Hu-hoa, dia seharusnya tahu dari bagian mana

penyelidikan ini harus mulai dilakukan.

Tampaknya Siang Hu-hoa tidak memperhatikan akan hal

itu, setelah berpikir sebentar dia berkata lagi:

“Terlepas kemungkinan mana yang akan terjadi, sekarang

sudah saatnya bagi kita untuk memeriksa seseorang”

“Siapa?”

“Kwee Bok!”

“Kakak misan Gi Tiok-kun?”

“Benar, bila kita tinjau dari keterangan yang tercantum

dalam catatan tersebut, bukankah dia termasuk orang yang

penuh tanda tanya?”

“Diantara kalian semua, siapa yang merasa pernah kenal

dengan orang ini?” Nyo Sin segera bertepuk tangan dan

bertanya kepada anak buahnya.

Ada empat orang opas berdiri berjaga didepan pintu, salah

seorang diantaranya segera menyahut:

“Aku kenal!”

“Apa pekerjaannya?”

“Dia adalah seorang tabib, tempat prakteknya di selatan

kota, konon ilmu pertabibannya sangat hebat, hingga kini

sudah banyak pasiennya yang berhasil disembuhkan”

“Kalian berempat cepat pergi mencarinya dan bawa dia

kemari” tukas Nyo Sin cepat.

“Baik!” sahut tiga orang opas itu.

“Membawanya kemari?” salah seorang opas itu bertanya

“Goblok, kau anggap tempat ini tempat apa?”

“Perpustakaan Ki po cay!” jawab opas itu tertegun.

279

“Memangnya perpustakaan Ki po cay adalah tempat untuk

melakukan interogasi terhadap tersangka?”

“Bukan!”

“Jadi menurutmu tempat mana yang cocok untuk

melakukan interogasi?”

“Kantor polisi!”

“Goblok, kalau begitu segera cari orang itu dan seret ke

kantor polisi!”

“Baik!” buru-buru opas itu mengundurkan diri diikuti tiga

orang rekan lainnya,

“Aku rasa ada baiknya kita pun ikut ke sana” tiba-tiba Siang

Huhoa berkata.

“Tidak usah, mereka berempat termasuk opas yang handal,

untuk menghadapi Kwee Bok seorang rasanya lebih dari

cukup”

“Seandainya Kwee bok pun jelmaan dari laron penghisap

darah………..”

“Ditengah hari bolong macam begini, aku percaya setan

iblis tidak akan mampu mengeluarkan kesaktiannya, bukankah

terbukti dengan Gi Tiok-kun tadi? Dia pun tidak mampu

berbuat banyak terhadap kita” tukas Nyo Sin sambil tertawa.

Siang Huhoa hanya tersenyum tanpa menanggapi.

Kembali Nyo Sin berkata:

“Apalagi saat ini masih ada satu persoalan lain yang sedang

menanti kita semua”

“Oya?”

“Sekarang Jui Pakhay sudah terbukti mati, itu berarti ke

dua pucuk surat wasiat peninggalannya harus dibuka dan

diperiksa isinya.”

280

“Maksudmu sekarang juga kita harus menghadapi Ko Taysiu?”

“Bukankah diatas sampul surat wasiat itu sudah tertulis

jelas, surat itu harus dibuka sendiri oleh Ko tayjin?”

Siang Huhoa mengangguk, dia memang belum melupakan

hal ini.

“Siapa tahu dari dalam surat wasiatnya, kita bisa menggali

lebih banyak keterangan dan petunjuk yang berharga” kata

Nyo Sin lagi. “Yaa, mungkin…..”

Hampir berbarengan waktu mereka bertiga segera beranjak

pergi dari situ, jelas mereka semua ingin secepatnya tahu apa

yang sebenarnya yang ditulis Jui Pakhay didalam ke dua pucuk

surat wasiatnya.

0-0-0

Angin masih berhembus kencang, hujan pun masih turun

dengan derasnya, kabut tebal menyelimuti sepanjang jalan

raya, membuat pemandangan kabur dan suasana sepi

Siang Hu-hoa, Tu Siau-thian maupun Nyo Sin merasakan

pula keseriusan suasana yang mencekam perasaan mereka.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka berjalan

menelusuri jalan raya, dengan wajah murung dan berat

mereka meniti jalan raya itu, siapa pun tidak ingin bicara,

semua orang terpekur dalam lamunan masing masing.

Saat ini mereka hanya ingin tiba di kantor polisi

secepatnya, ingin segera bertemu dengan pembesar Ko dan

ikut membaca isi surat wasiat peninggalan Jui Pakhay.

Sekarang mereka bertiga sudah tiba disebuah tikungan

jalan, pintu gerbang kantor polisi sudah terlihat di depan

mata.

281

Ketika mereka sedang mempercepat langkah kakinya,

mendadak dari arah belakang terdengar seseorang mengejar

sambil berteriak memanggil:

“Siang tayhiap! Nyo tayjin! Tu tayjin!”

Seketika Siang Hu-hoa, Nyo Sin dan Tu Siau-thian

menghentikan langkahnya seraya berpaling, tapi begitu

melihat siapa yang muncul, mereka bertiga segera tertegun

dan berdiri melongo.

Biasanya hanya orang yang kenal akrab dengan mereka

yang akan memanggil dengan cara begitu, tapi kenyataannya,

orang itu terasa sangat asing bagi mereka bertiga.

Orang itu masih muda, tampan dan berpakaian sederhana.

“Kelihatannya orang ini tidak mirip anak buahmu” ujar

Siang Huhoa sambil berpaling ke arah Nyo Sin.

“Aku malah sama sekali tidak kenal dengan orang itu”

sahut Nyo Sin seraya menggeleng.

“Saudara Tu juga tidak kenal?” Siang Huhoa kembali

berpaling ke arah Tu Siau-thian.

Dengan cepat opas Tu menggeleng.

“Kalau begitu aneh sekali” ujar Siang Huhoa lebih jauh,

“kalau kita semua tidak kenal dengannya, kenapa dia justru

kenal dengan kita bertiga?”

“Aku malah mengira dia adalah sahabatmu” kata Tu Siauthian.

“Aku malah merasa asing sekali dengan orang ini”

“Oya?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, orang itu

sudah menyusul tiba, sambil menghentikan langkahnya

dihadapan Nyo Sin, dia berdiri dengan napas terengah-engah.

282

“Siapa kau?” dengan mata melotot Nyo Sin segera

menegur.

“Siaubin adalah Kwee Bok!” jawab pemuda itu sambil

terengah.

Untuk kesekian kalinya Nyo Sin berdiri tertegun.

Rasa heran dan tidak habis mengerti pun segera

menyelimuti wajah Siang Huhoa serta Tu Siau-thian, tanpa

terasa mereka berdua sama-sama mengawasi pemuda yang

mengaku bernama Kwee Bok itu tanpa berkedip.

Pemuda yang bernama Kwee Bok ini tidak mirip seorang

yang jahat.

Setelah sekian lama Nyo Sin mengawasi pemuda itu

dengan termangu, akhirnya dia berseru keras:

“Kwee bok? Jadi kau yang bernama Kwee Bok?”

“Benar”

“Kepandaian yang hebat!” puji Nyo Sin tiba-tiba.

Kali ini giliran Kwee Bok yang dibuat tertegun dan tidak

habis mengerti.

Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh:

“Keempat orang anak buahku adalah empat opas yang

handal, sungguh tidak kusangka secepat itu kau berhasil

merobohkan mereka semua”

“Nyo tayjin, apa yang kau maksud?” seru Kwee Bok

keheranan.

Nyo Sin tertawa dingin.

“Bagus, bagus sekali monyet kecil!” serunya, “sampai

sekarangpun kau masih berani berlagak pilon?”

283

Mendadak dia menggenggam gagang goloknya dan siap

diloloskan, untung Tu Siau-thian yang berada disampingnya

mengetahui hal ini dan segera menahan tangannya.

Dengan mata mendelik Nyo Sin segera berpaling ke arah

Tu Siau-thian, baru saja dia hendak membentak agar

melepaskan tangannya, opas itu sudah berkata duluan kepada

Kwee Bok:

“Apakah kau telah bersua dengan ke empat opas yang

kami kirim untuk mencarimu?”

“Tidak!” sahut Kwee Bok seraya menggeleng.

“Lantas kau hendak ke mana sekarang?” kembali Tu Siauthian

bertanya

“Kantor polisi”

“Mau apa pergi ke kantor polisi?”

“Apakah hendak menyerahkan diri?” timbrung Nyo Sin

“Menyerahkan diri?” Kwee Bok tertegun.

“Yaa atau tidak?” desak Nyo Sin lebih jauh.

Tampaknya Kwee Bok tidak habis mengerti dengan

pertanyaan itu, dia berdiri dengan wajah tercengang, bingung

dan tidak tahu apa yang mesti dijawab.

Baru saja Nyo Sin akan mendesak lebih jauh, kembali Tu

Siau-thian menarik tangannya sembari berkata:

“Lebih baik kita dengarkan dulu penjelasannya”

Nyo Sin mendengus dingin dan terpaksa membungkam diri.

“Ada urusan apa kau datangi kantor polisi?” tanya Tu Siauthian

kemudian.

“Tadi kakek Gi datang ke kantor praktekku di selatan kota,

mengabarkan kalau kalian telah membawa piaumoay ku ke

284

kantor polisi, maka aku segera menyusul kemari untuk

mencari tahu apa masalahnya”

“Jadi kau adalah piauko nya Gi Tiok-kun?”

“Benar”

“Lalu apa pula hubungan kakek Gi dengan Gi Tiok-kun?”

“Dia adalah salah satu famili jauh adik misanku, orangnya

sudah tua dan sangat miskin, karena kasihan melihat

kondisinya maka sejak dua tahun terakhir piaumoay

menerimanya di rumah dan dipekerjakan sebagai salah satu

pembantunya”

“Apa lagi yang dia katakan kepadamu?”

“Beritahu kepadaku apa alasan kalian menangkap

piaumoay ku”

“Berapa usia kakek Gi?” tanya Tu Siau-thian lebih jauh.

“Enam puluh tahun lebih”

“Enam puluh tahun?” kembali Nyo Sin menimbrung.

“Usia yang pasti tidak terlalu jelas”

Kontan Nyo Sin tertawa dingin.

“Hmmm, heran, usianya sudah tua ternyata telinganya

masih tajam dan larinya masih cepat, belum lagi ke empat

orang anak buahku tiba, ia sudah tiba duluan”

“Menurut penuturannya, kenapa kami menangkap Gi Tiokkun?”

kembali Tu Siau-thian bertanya.

“Konon dia ditangkap karenakalian menuduhnya sebagai

pembunuh Jui Pakhay”

“Tepat sekali!”

“Tidak mungkin!” teriak Kwee Bok lantang, “dia bukan

manusia type begitu, mana mungkin dia adalah seorang

pembunuh, apalagi pembunuh suami sendiri?”

285

“Benar atau tidak percuma diperdebatkan sekarang, lebih

baik kita tunggu semua bukti sudah terkumpul karena sampai

sekarang pun kami belum yakin seratus persen”

“Kalau memang belum yakin, kenapa dia tetap ditangkap?”

“Sebab dialah satu satunya orang yang paling mungkin jadi

pembunuh berdarah itu”

“Jadi kalian utus orang untuk memanggilku karena

menganggap akupun patut dicurigai sebagai salah satu

pembunuhnya?”

Tu Siau-thian mengangguk membenarkan.

“Atas dasar apa kalian menuduh aku?” protes Kwee Bok.

Baru saja Tu Siau-thian hendak menjawab, mendadak Nyo

Sin bertanya pula:

“Darimana kau bisa mengenali kami?”

“Rasanya tidak banyak orang disini yang tidak kenal

dengan tayjin berdua”

“Tapi aku tidak kenal kau”

Kwee Bok tertawa getir.

“Aku ini manusia macam apa, tentu saja Nyo tayjin tidak

bakal kenal aku. Seperti juga penduduk kota ini jarang yang

pernah bersua dengan Ko tayjin, tapi hampir setiap kepala

tahu akan nama besar Ko tayjin, sebaliknya Ko tayjin sendiri

belum tentu akan mengetahui penduduk kota ini, jangan lagi

namanya, bagaimana bentuk mukanya pun tidak bakal tahu”

Dalam hati kecilnya Nyo Sin merasa senang sekali dengan

pujian itu, tapi dengan lagak sok keren kembali ia menegur:

“Baru pertama kali ini Siang tayhiap berkunjung kemari,

darimana kau bisa mengenalinya?”

286

“Kakek Gi yang beritahu kepadaku, katanya Jui Gi telah

pulang bersama seorang pendekar besar yang dipanggil Siang

tayhiap!” jawab Kwee Bok tenang.

“Kalau hanya mendengar kata orang, kenapa kau bisa

mengenali bahkan berteriak memanggil meski masih berada

dikejauhan?”

“Sebab kakek Gi telah melukiskan bentuk badan dan bentuk

wajah Siang tayhiap”

“Apalagi yang dia katakan kepadamu?” smdir Nyo Sin

sambil tertawa dingin.

“Tidak ada lagi”

“Tapi suara panggilanmu tadi kedengaran begitu kenal

dengan hangat”

“Biarpun baru pertama kali ini kami bersua, namun

sebelumnya aku sudah kerapkali mendengar orang

menyinggung tentang nama besar Siang tayhiap”

“Siapa yang pernah membicarakan masalah ini?” tanya Nyo

Sin.

“Pasien yang datang berobat, aku tidak pernah berkelana di

dalam dunia persilatan tapi pasien yang datang mencariku

banyak sekali merupakan anggota dunia persilatan”

“Oya?”

“Dari penuturan mereka, sudah lama aku tahu manusia

macam apakah Siang tayhiap ini, asal Siang tayhiap mau

tampilkan diri niscaya segala masalah akan menjadi beres dan

tuntas”

Nyo Sin mendengus tidak senang hati.

“Maksudmu, kalau kami yang selesaikan persoalan ini maka

penyelesaiannya tidak beres dan tidak tuntas?” serunya.

“Aku tidak pernah berkata begitu”

287

“Tapi dalam hati kecilmu kau berpendapat demikian

bukan?”

“Tidak berani!”

“Kau anggap kami sudah salah menangkap, salah menuduh

Gi Tiok-kun?” kembali Nyo Sin bertanya.

“Salah menuduh atau tidak persis seperti apa yang telah

dikatakan Tu tayjin tadi, harus menunggu pembuktian serta

lengkapnya penyelidikan, tapi berbicara dari sudut pandangku,

sampai detik terakhir pun aku tetap beranggapan bahwa

piaumoay ku bukanlah manusia semacam itu!”

“Bagaimana dengan kau sendiri?” Kwee Bok tertawa getir.

“Aku? Hingga detik inipun aku masih belum tahu apa

gerangan yang sebenarnya telah terjadi”

“Hmmm, kalau didengar dari nada pembicaraanmu, seakan

kau benar-benar tidak tahu”

“Tapi di dalam kenyataan aku memang tidak tahu”

Nyo Sin tertawa dingin, hanya tertawa dingin.

Siang Huhoa yang selama ini hanya membungkam,

mendadak memecahkan keheningan dengan bertanya kepada

Kwee Bok:

“Tanggal dua belas bulan tiga hari itu, benarkah kau telah

terkunjung ke perpustakaan Ki po cay?”

“Benar!”

“Gi Tiok-kun yang mengundangmu?”

“Darimana kau bisa tahu? Apakah piaumoay ku yang

mengatakan?” tanya Kwee Bok keheranan.

Bukannya menjawab, Siang Huhoa bertanya lebih lanjut:

“Ada urusan apa Gi Tiok-kun mengundangmu untuk datang

mengunjungi perpustakaan Ki po cay?”

288

“Memeriksa pasien”

“Siapa pasiennya?”

“Jui Pakhay!”

“Atas ide siapa ini?”

“Adik misanku!”

“Apakah Jui Pakhay mengetahui rencana ini?”

“Tidak tahu”

“Kenapa dia mencari mu secara mendadak?” Siang Hu-hoa

mendesak lagi.

“Dia bilang selama berapa hari belakangan, pikiran dan

perasaan suaminya sangat kalut, tingkah lakunya sering diluar

batas kewajaran bahkan kerap mengucapkan kata-kata yang

aneh dan mengherankan, dia curiga suaminya mengidap sakit

gila atau tidak waras otaknya, maka aku diundang untuk

melakukan pemeriksaan”

“Menurut kau penyakit apa yang diidapnya?”

“Menurut pandanganku, dia sehat, sama sekali tidak

mengidap penyakit apa pun”

Siang Huhoa segera berpaling ke arah Nyo Sin seraya

bertanya:

“Apakah dalam catatan tersebut, dia menulis begitu?”

“Sejak awal aku sudah tahu kalau isi catatan itu sama sekali

tidak ada masalah”

“Catatan apa sih yang kalian maksudkan?” tanya Kwee Bok

keheranan.

“Catatan peninggalan Jui Pakhay yang berisikan semua

pengalaman yang dialaminya sejak tanggal satu bulan tiga

hingga tanggal lima belas bulan tiga”

289

“Dia pun mencatat peristiwa yang dialaminya pada tanggal

dua belas bulan tiga?”

“Benar, bahkan dicatat dengan sangat terperinci” sahut

Siang Hu-hoa sambil mengangguk.

“Ooh…?”

“Selesai memeriksa penyakitnya, benarkah Jui Pakhay

mengundangmu untuk makan bersama di rumahnya?”

“Benar”

“Benarkah Gi Tiok-kun turun tangan sendiri ke dapur

dengan mempersiapkan sebuah hidangan yang disebut bola

udang masak madu?”

Kembali Kwee Bok mengangguk.

“Hidangan tersebut memang merupakan hidangan

faforitnya, dia paling senang memasak masakan itu”

“Sewaktu Jui Pakhay makan bola udang masak madu itu,

benarkah telah terjadi suatu peristiwa yang sangat aneh?”

“Apa dia menulis begitu di dalam buku catatannya?”

“Benar”

“Peristiwa itu memang aneh sekali, ketika dia menyumpit

sebiji bola daging dan baru saja dimasukkan mulut dan

menggigitnya sekali, tiba tiba hidangan tersebut dimuntahkan

kembali, kemudian dia muntah tiada hentinya sambil menuduh

bola udang itu bukan hidangan udang melainkan bola laron

penghisap darah”

“Apakah memang begitu dalam kenyataannya?”

“Mana mungkin?” bantah Kwee Bok cepat, “sebenarnya aku

yakin benar dengan hasil pemeriksaan nadiku, tapi setelah

menyaksikan ulah serta tingkah lakunya, mau tidak mau aku

menjadi sangsi juga”

290

“Apa yang kau sangsikan?” “Aku curiga otaknya memang

kurang waras, sekalipun dari denyut nadi bisa dicari sumber

dari kekalutan itu, namun jika penyakitnya timbul pada

otaknya maka akan jadi sulit untuk menemukan sumber

penyakitnya hanya dari pemeriksaan denyut nadi, atau dengan

perkataan lain hasil diagnosaku sebelumnya memang tidak

keliru”

“Kalau memang sudah muncul kecurigaan semacam itu,

kenapa kau tidak lakukan pemeriksaan sekali lagi dengan lebih

teliti?”

Kwee Bok tertawa getir.

“Sebenarnya aku pun punya rencana untuk berbuat begitu,

tapi sejak peristiwa itu, pada hakekatnya dia sudah

menganggap kami berdua sebagai siluman atau setan iblis,

setelah menghardik kami agar tidak mendekatinya, dia

langsung melarikan diri dari meja perjamuan”

“Jadi dia benar-benar telah menganggap kalian sebagai

siluman atau setan iblis?” Nyo Sin menatap tajam pemuda

tampan itu.

“Kenapa dia bisa berpendapat begitu?” tanya Kwee Bok

tercengang.

“Seharusnya kau mengerti akan hal ini” “Tapi aku benar

benar tidak tahu” sekali lagi Kwee Bok tertawa getir.

“Hmmm, pandai amat kau berlagak pilon” jengek Nyo Sin.

Kwee Bok menghela napas panjang, selang sesaat

kemudian dia baru bertanya lagi: “Jui Pakhay benar benar

telah mati?” “Kenapa kau masih belum yakin kalau dia telah

mati?”

“Kenapa pula Nyo tayjin begitu yakin kalau kematian Jui

Pakhay benar-benar ada sangkut pautnya dengan kami

berdua?” Kwee Bok balik bertanya sambil menghela napas.

291

“Karena dua alasan”

“Apa itu alasannya?”

“Pertama, didalam catatan yang ditinggalkan Jui Pakhay,

dia pernah menyinggung kalau kalian berdua punya rencana

akan menghabisi nyawanya!”

“Soal ini…………….”

Tidak menunggu pemuda itu membantah, Nyo Sin berkata

lebih jauh:

“Kedua, jenasah Jui Pakhay ditemukan didalam sebuah

ruang kecil persis dibelakang kamar tidur mereka suami istri

berdua, untuk bisa mencapai ruangan kecil itu, orang harus

melalui kamar tidurnya lebih dulu, disaat kami menjumpai

mayat dari Jui Pakhay, kami pun menemukan juga sejumlah

laron penghisap darah”

“Laron penghisap darah?” “Beribu-ribu ekor laron

penghisap darah sedang menghisap darah jenasah dan

melalap daging mayat”

“Benarkah ada kejadian seperti ini?” seru Kwee Bok dengan

tubuh bergidik.

Kalau ditinjau dari lagaknya, dia seakan memang benarbenar

tidak mengetahui akan peristiwa ini.

Sorot mata Siang Hu-hoa tidak pernah bergeser dari raut

muka Kwee Bok, dia memperhatikan terus setiap perubahan

mimik muka pemuda itu, setelah dicermati sampai disitu,

tanpa terasa pikirnya:

“Apa benar peristiwa ini memang sama sekali tidak ada

sangkut pautnya dengan mereka?”

Sementara dia masih termenung, Nyo Sin telah berkata

lebih jauih:

292

“Kecuali mereka suami istri berdua, aku tidak percaya kalau

masih ada orang luar yang bisa menyembunyikan mayat serta

sejumlah laron penghisap darah didalam ruangan kecil itu

tanpa ketahuan orang lain”

“Aku pun tidak percaya” sahut Kwee Bok setelah

termenung sejenak.

“Bila sang korban adalah satu diantara sepasang suami istri

tersebut, bukankah orang yang tersisa merupakan tersangka

yang pantas paling dicurigai?”

Mau tidak mau Kwee Bok harus mengangguk juga.

“Jadi berdasarkan dua alasan tersebut maka kau

menangkap kami berdua?” tanyanya.

“Memangnya dengan dua alasan tersebut masih belum

cukup?”

“Benar, memang sudah lebih dari cukup” Kwee Bok

mengangguk.

“Kalau memang begitu, ayoh ikut kami kembali ke kantor

polisi” seru Nyo Sin sambil mengulurkan tangan kirinya dan

mencengkeram bahu pemuda itu.

Kwee Bok tidak membiarkan bahunya ditangkap orang,

belum sampai tangan pembesar itu menyentuh badannya, dia

sudah menarik diri sambil bergeser mundur.

“Kunyuk jelek, kau berani melawan?” kontan saja Nyo Sin

berkaok kaok gusar.

“Aku bukannya bermaksud melawan, tapi ada yang mesti

kusampaikan dulu” sahut Kwee Bok sambil menggoyangkan

tangannya berulang kali.

“Kalau ada yang hendak disampaikan, katakan saja setelah

tiba di kantor polisi”

293

“Kalau harus menunggu sampai waktu itu, mungkin

keadaan sudah terlambat”

“Tidak ada gunanya kau berusaha mengulur waktu…….”

Mendadak Siang Huhoa menyela, ujarnya:

“Biarkan dia sampaikan dulu apa yang hendak dikatakan”

Nyo Sin memandang Siang Huhoa sekejap, akhirnya

dengan perasaan apa boleh buat sahutnya:

“Baiklah kalau begitu”

Sesudah menghembuskan napas panjang ujar Kwee Bok:

“Terlepas Nyo tayjin mau percaya atau tidak, perkataanku

ini harus kusampaikan dulu sejelasnya”

“Kalau ingin berbicara, cepat katakan” tukas Nyo Sin tak

sabar.

“Aku sama sekali tidak membunuh Jui Pakhay!”

“Mungkin kau tidak, tapi Gi Tiok-kun yang melakukan

pembantaian tersebut”

“Aku yakin peristiwa ini sama sekali tidak ada sangkut

pautnya dengan adik misanku”

“Oya?” jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

“Jika kami yang melakukan pembunuhan itu, kenapa

mayatnya tidak kami musnahkan saja untuk menghilangkan

jejak, kalau dibilang peristiwa itu merupakan hasil perbuatan

pribadi, akupun tidak mempunyai alasan untuk berbuat

demikian, terlebih lagi tidak mungkin akan kumasukkan

jenasahnya ke dalam ruangan kecil itu. Apalagi jika

pembunuhan ini dilakukan piaumoay ku, dia terlebih tak

mungkin akan meninggalkan mayatnya ke dalam ruangan

yang dekat dengan kamar tidur pribadinya”

294

“Dalam hal ini kau tidak perlu menguatirkan cara kerja kami

sebab kami sudah mempunyai alasan yang paling bagus untuk

menerangkan kesemuanya itu”

“Aku percaya, tapi aku yakin semua penjelasan kalian

hanya berdasarkan perkiraan”

Nyo Sin tidak menyangkal akan hal tersebut.

Terdengar Kwee Bok berkata lebih jauh:

“Nyo tayjin, pernahkah kau mencurigai seseorang lain yang

bisa jadi sedang menfitnah kami berdua atau ada orang lain

yang menjadikan kami berdua sebagai kambing hitam atas

perbuatannya?”

“Hmm, siapa yang sudi mengkambing hitamkan kalian

berdua?” jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

“Mungkin saja semuanya ini merupakan ulah dari Si Siangho”

“Si Siang-ho?” Nyo Sin mengerutkan dahinya, “nama ini

rasanya seperti pernah kudengar disuatu tempat”

“Si Siang-ho adalah pemilik lama gedung perpustakaan Ki

po cay ini” Tu Siau-thian segera menerangkan.

Begitu dijelaskan, Nyo Sin seakan teringat kembali akan

orang tersebut, serunya tertahan:

“Oooh, rupanya dia!”

Sementara itu Tu Siau-thian telah berpaling ke arah Siang

Hu-hoa sambil bertanya:

“Saudara Siang, pernah mendengar nama orang ini?”

Siang Huhoa manggut-manggut.

“Si Siang-ho dengan sebilah pedang baja dan tiga buah

gelang terbangnya sudah lama menjagoi dunia persilatan,

295

hampir semua anggota persilatan pernah mendengar nama

besarnya itu”

“Menurut apa yang kuketahui, dia mempunyai sebuah

julukan yaitu Pedang baja gelang terbang!” Tu Siau-thian

kembali menjelaskan.

Bab 16.

Pertaruhan Gedung perpustakaan Ki po cay.

“Berapa tahun belakangan sudah jarang kami dengar

tentang kabar beritanya” kata Siang Huhoa.

“Menurut pendapat saudara Siang, manusia macam apakah

dia ini?”

“Aku tidak pernah bertemu dengannya jadi tidak terlalu

jelas bagaimana tabiat serta sepak terjangnya, tapi menurut

apa yang kudengar, dia terhitung seorang hiapkek, pendekar

sejati”

“Moga-moga saja kesemuanya itu memang sebuah

kenyataan”

“Jadi kau tidak kenal dengan orang ini?”

Tu Siau-thian menggeleng.

“Kami hanya pernah bertemu beberapa kali ditengah jalan”

“Apakah dia mempunyai ganjalan atau sakit hati dengan Jui

Pakhay?”

“Kalau bukan gara-gara Jui Pakhay, adik misanku sudah

lama menjadi bininya” Kwee Bok segera menimbrung.

“Oooh, jadi mereka adalah musuh cinta?”

“Boleh dibilang begitu”

“Kalau begitu aneh sekali…..” seru Siang Huhoa lebih jauh.

296

“Apanya yang aneh?” sela Nyo Sin.

“Kenapa Si Siang-ho rela menjual perpustakaan ki po cay

miliknya ini kepada musuh cintanya?”

Ehmmm, betul juga, akupun merasa kejadian ini rada

aneh” kata Nyo Sin setelah termenung sejenak.

Kwee Bok segera menerangkan:

“Ketika Si Siang-ho akan menjual gedung perpustakaan ki

po cay ini kepada Jui Pakhay, dia sama sekali tidak tahu kalau

Jui Pakhay adalah musuh cintanya, apalagi dalam kenyataan

Ki po cay tidak pernah dijual kepada Jui Pakhay”

“Kalau bukan dijual, memangnya dihibahkan kepadanya?”

“Bukan, bukan dihibahkan tapi diserahkan dengan begitu

saja karena kalah bertaruh” kata Kwee Bok sambil

menggeleng.

“Maksudmu gedung perpustakaan Ki po cay diperoleh Jui

Pakhay dari tangan Si Siang-ho karena dia menang bertaruh?”

“Begitulah kenyataannya”

“Aku pernah mendengar juga tentang hal ini” sela Tu Siauthian,

“Ki po cay memang diperoleh Jui Pakhay setelah

menangkan pertaruhan dari tangan Si Siang-ho”

“Wah, sepak terjangnya ternyata hebat sekali”

“Sebenarnya orang ini gemar sekali berjudi, bertaruh

merupakan kegemarannya yang paling utama, biasanya kalau

dia sudah mulai berjudi maka barang taruhannya pasti sangat

mengerikan, mempertaruhkan sebuah perkampungan

memang merupakan satu angka pertaruhan yang

menakutkan”

“Oooh, tidak kusangka kalau kecanduan Jui Pakhay pada

bertaruh demikian hebatnya”

297

“Kalau aku sih sudah pernah menduga sampai ke situ” kata

Tu Siau-thian.

“Waktu itu, dia memang berniat untuk menantang Si Siangho

bertaruh habis habisan!” Kwee Bok menambahkan.

“Kenapa sampai muncul niat seperti itu?” tanya Siang Huhoa

keheranan.

“Sebab sudah lama dia mengincar gedung Ki po cay bahkan

sangat berminat untuk menguasahinya”

“Kalau begitu gedung Ki po cay jelas merupakan sebuah

tempat yang sangat bagus dan hebat”

“Sebelum terjadinya peristiwa itu” sambung Kwee Bok lebih

lanjut, “sudah beberapa kali dia mengutus orang untuk

mengadakan pembicaraan dengan Si Siang-ho, dia berencana

untuk membeli gedung Ki po cay dengan harga yang pantas”

“Dan Si Siang-ho enggan menjual kepadanya?”

“Benar, penawaran itu ditolak mentah-mentah”

“Kalau tidak punya uang, tidak nanti orang itu memiliki

sebuah perkampungan sebesar itu, kalau seseorang punya

uang banyak, tentu saja dia tidak bakal menjual

perkampungan miliknya”

“Tapi waktu itu dia sudah tidak seberapa punya uang”

“Oya?”

“Dulunya Ki po cay adalah sebuah toko yang menjual aneka

mutiara, tapi saat itu usaha dagangnya sudah nyaris bangkrut”

Kwee Bok menerangkan.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

“Si Siang-ho sendiripun amat tergila-gila dengan berjudi,

dia pun tidak pandai berdagang, jauh sebelum kejadian

tersebut didalam gedungnya yang dinamakan penyimpan

mestika nyaris sudah tidak tersisa sebuah mestika pun”

298

“Kalau memang sudah nyaris bangkrut, mengapa Si Siangho

segan untuk menjual gedungnya itu?” ujar Siang Hu-hoa

keheranan.

“Sebab perkampungan itu merupakan warisan dari

leluhurnya”

“Kalau sudah tahu merupakan warisan dari leluhurnya,

mengapa pula dia dijadikan barang taruhan?”

“Sebab pada waktu itu dia sudah kelewat banyak minum

arak, bila seseorang sudah mabuk berat, seringkali

perbuatannya bisa mengakibatkan kejadian fatal”

“Jui Pakhay yang suruh dia mempertaruhkan

perkampungan Ki Po cay atau dia sendiri yang berniat

mempertaruhkan perkampungannya?”

“Pada mulanya yang mereka pertaruhkan hanya uang,

sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk membeli seluruh

perkampungan Ki po cay”

“Waktu itu apakah Si Siang-ho memiliki jumlah uang

sebanyak itu?”

“Tidak punya”

“Saat itu dia baru mabuk tiga puluh persen, semestinya dia

tahu bahwa dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu untuk

diper-taruhkan?”

“Mungkin dia menyadari akan hal tersebut, tapi kemudian

Jui Pakhay memanasi hatinya dengan perkataan dan minta dia

menggunakan perkampungan Ki po cay sebagai barang

taruhan”

“Tapi sepantasnya dia waspada dan hati-hati sebelum

mengambil keputusan” kata Siang Hu-hoa.

“Sayangnya dia sudah mabuk duluan, apalagi ditambah

wataknya yang pingin menang sendiri, dia takut dipandang

hina orang lain terutama dikala itu banyak sekali yang hadir

299

dan menyaksikan pertaruhan tersebut, kuatir orang

mengatakan dia bernyali kecil, takut kalah, ditambah lagi

diapun menganggap dirinya belum tentu akan kalah, maka

tantangan itu diterimanya tanpa dipikir lagi”

Siang Hu-hoa cukup mengetahui keadaan seperti ini,

bukankah pemikiran semacam itu selalu dimiliki setiap

penjudi?

Terdengar Kwee Bok berkata lebih jauh:

“Tampaknya dia tidak sadar, kecuali dia tolak taruhan

tersebut, kalau tidak, dapat dipastikan dia pasti akan kalah

ditangan Jui Pakhay”

“Tapi setahuku, dibidang pertaruhan kemampuan yang

dimiliki Jui Pakhay tidak terlampau hebat atau luar biasa”

“Demikian pula dengan keadaan Si Siang-ho, apalagi saat

itu dia sudah sangat mabuk, ditambah lagi Jui Pakhay memiliki

uang kontan yang lebih dari cukup untuk menantangnya

bertaruh”

“Justru kondisi semacam inilah merupakan kunci yang

paling utama untuk meraih sebuah kemenangan”

“Itulah sebabnya kecuali dia bernasib luar biasa bagusnya

dan selalu meraih kemenangan dalam setiap taruhan, kalau

tidak, kekalahan sudah menunggunya di depan mata” Siang

Huhoa manggut manggut. “Benar, sesungguhnya posisinya

waktu itu sangat tidak menguntungkan, sebab Jui Pakhay

boleh kalah berulang kali namun baginya dia hanya bisa kalah

satu kali dari Jui Pakhay”

“Ternyata nasibnya memang jelek sekali, pertaruhan baru

saja dimulai, dia sudah kalah ditangan Jui Pakhay” Kwee Bok

menerangkan.

“Bukankah dengan begitu pertaruhan tidak bisa dilanjutkan

lagi?”

300

“Yaa, selain memiliki perkampungan Ki po cay, dia memang

sudah tidak memiliki secuwil benda pun yang bisa digunakan

sebagai barang taruhan”

“Ehmm, sepintas lalu pertaruhan ini kelihatannya seakan

adil sekali!”

“Padahal sama sekali tidak adil” seru Kwee Bok, “sebab

sejak awal Jui Pakhay memang sengaja mengatur jebakan itu,

dia sengaja meloloh Si Siang-ho dengan arak agar cepat

mabuk, kemudian sengaja mengajaknya bertaruh,

kesemuanya ini merupakan satu rancangan siasat yang luar

biasa”

“Tentunya Si Siang-ho juga menyadari akan hal itu bukan?”

“Waktu itu dia sih tidak mengatakan sekecap katapun,

perkampungan Ki po cay langsung dia serahkan kepada Jui

Pakhay, bagaimanapun dia merupakan seorang lelaki yang

berani berbuat berani pula menerima resiko”

“Setelah kehilangan perkampungan Ki po cay, dengan

sendirinya dia pun tidak akan berhasil menangkan Gi Tiok-kun

dari tangan Jui Pakhay?” kata Siang Hu-hoa.

“Benar, saat itulah dia baru betul-betul naik pitam”

“Terjadinya ke dua peristiwa itu berselisih berapa lama?”

“Paling banter cuma dua bulan, itulah sebabnya Si Siang-ho

menganggap semua peristiwa ini merupakan serangkaian

rencana keji yang sengaja diatur Jui Pakhay dengan tujuan

untuk mendapatkan adik misanku”

“Tindakan apa yang kemudian dilakukan Si Siang-ho untuk

menuntut balas atas sakit hati ini?”

“Dia tidak melakukan pembalasan, pada hari dimana adik

misanku menikah dengan Jui Pakhay, dia segera bebenah dan

diam diam pergi meninggalkan tempat ini”

“Dia pergi ke mana?”

301

“Tidak pernah diungkapkan, juga tidak seorang manusia

pun yang memperdulikan dirinya”

Tidak sulit bagi Siang Huhoa untuk membayangkan

suasana seperti itu, dingin atau hangatnya hubungan sesama

manusia seringkali ada hubungan yang erat dengan banyak

dan tidaknya kekayaan yang kau miliki, semakin kau banyak

uang dan kaya raya, biasanya orang lain akan berusaha untuk

mendekatimu dan bersikap hangat kepadamu, semakin sedikit

kekayaan yang kau miliki, semakin dingin pula sikap orang

terhadapmu.

“Aaai, kelihatannya orang ini memang termasuk orang yang

berani berbuat, berani pula menanggung akibatnya” kata

Siang Hu-hoa perlahan.

Tu Siau-thian yang selama ini hanya membungkam, kini

tidak kuasa lagi menahan rasa kesalnya, tiba tiba dia menyela:

“Kalau toh dia sudah pergi meninggalkan tempat ini, lantas

mengapa kau menghubungkan peristriwa tentang laron

penghisap darah dengan dirinya?”

“Karena sejak tiga bulan berselang dia sudah muncul lagi

disini” Kwee Bok menjelaskan.

Tu Siau-thian tertegun.

“Kembalinya dia kali ini bertujuan untuk mencari Jui Pakhay

dan membuat perhitungan dengannya” kata Kwee Bok lebih

jauh.

“Seandainya dia memang berniat membuat perhitungan

dengan Jui Pakhay, seharusnya hal ini dilakukan sedari dulu”

kata Tu Siau-thian.

“Tiga tahun berselang, dia tahu kemampuan yang

dimilikinya masih bukan tandingan dari Jui Pakhay”

302

“Apakah dalam tiga tahun terakhir dia telah berhasil

mempelajari suatu kepandaian silat yang tangguh?” tanya Tu

Siau-thian.

“Dalam hal ini aku kurang begitu tahu, mungkin saja dia

telah berhasil mempelajari sejenis ilmu silat yang sangat

tangguh, mungkin juga telah memperoleh sejenis ilmu sesat

yang hebat, yang pasti katanya dia mampu menghabisi nyawa

Jui Pakhay setiap waktu setiap saat”

“Waah, nampaknya perbuatan orang ini mencerminkan jiwa

seorang kuncu” tiba tiba Siang Hu-hoa tertawa.

“Maksudmu?”

“Orang bilang bila seorang kuncu ingin membalas dendam,

tiga tahun pun belum terlambat”

“Ooh, rupanya begitu maksudmu” kata Kwee Bok kemudian

sambil tertawa.

Mendadak Siang Huhoa menarik kembali senyumannya,

sambil mengawasi Kwee Bok dengan mata melotot, tegurnya:

“Kenapa kau bisa mengetahui urusannya dengan begitu

jelas?”

“Kapan kau pernah bersua dengannya? Kenapa pula dia

beritahukan segala sesuatunya kepadamu?” tanya Tu Siauthian

pula.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan dirinya?” Nyo Sin

menimbrung pula.

Karena ke tiga orang itu mengajukan pertanyaan hampir

bersamaan waktunya, untuk sesaat Kwee Bok jadi bingung,

dia tidak tahu pertanyaan mana yang harus dijawab terlebih

dulu.

Setelah menghela napas panjang, katanya perlahan:

“Si Siang-ho pernah menjadi pasienku!”

303

“Karena sakit apa dia mencarimu?” tidak tahan Nyo Sin

bertanya lagi.

“Tempo hari karena kurang hati hati dia masuk angin,

setelah minum obat yang kubuat sebanyak satu tiap lalu

beristirahat sejenak, kondisi badannya telah pulih kembali”

“Darimana kau bisa begitu yakin?”

“Sebab obat itu dimasak di rumahku” jawab Kwee Bok

Setelah berpikir sejenak kembali ujarnya:

“Setiap kali melihat aku sedang menganggur tidak ada

pekerjaan, dia selalu memaksaku untuk menemaninya minum

berapa cawan arak, menghadapi pasien yang tidak tahu

menyayangi kesehatan sendiri macam begini, saat itu aku

benar-benar dibuat serba salah”

“Akhirnya apakah kau menemaninya dia pergi minum

arak?”

“Menolak pun tidak ada gunanya”

“Kenapa?”

“Tenagaku tidak sekuat tenaganya, apalagi dia berbuat

demikianpun berdasarkan niat baik”

Maka dia pun memberitahukan semua rahasia tersebut

kepadamu?”

“Waktu bercerita, dia sudah berada dalam kondisi mabuk,

maka aku percaya semua yang dia tuturkan adalah perkataan

yang sejujurnya”

“Apakah dia jugamem beritahu kepadamu bahwa

kedatangannya kali ini bertujuan untuk membalas dendam?”

Kwee Bok mengangguk

Kembali Nyo Sin bertanya:

304

“Apakah dia sempat menyinggung masalah yang ada

hubungannya dengan laron penghisap darah?”

“Soal itu, tidak pernah”

“Selain kepada kami, apakah kau pernah memberitahukan

persoalan ini kepada orang lain?”

“Tidak pernah”

“Juga tidak pernah memberitahu kepada Jui Pakhay?”

“Selama ini antara aku dengan dia tidak pernah

berhubungan atau mengadakan kontak”

“Kau pun tidak pernah mendatangi perkampungan Ki po

cay?” desak Nyo Sin lebih jauh.

“Aku hanya pernah datang satu kali yaitu pada tanggal dua

belas bulan tiga, ketika itu aku diundang adik misanku untuk

memeriksakan kondisi kesehatan tubuhnya”

“Waktu itu kau toh punya peluang untuk menyampaikan

kabar tersebut kepadanya?”

“Waktu itu tidak terpikirkan olehku akan kejadian tersebut,

sewaktu aku mulai teringat dan akan sampaikan kabar

kepadanya, dia sudah anggap kami sebagai jelmaan siluman

atau setan iblis, untuk menghindar saja rasanya sudah tidak

sempat apalagi mau berbicara denganku, mendengarkan

perkataanku?”

“Ooh……” wajah Nyo Sin mulai menunjukkan kesangsian

dan keraguan.

“Setelah kejadian itu, apakah kau pernah berjumpa lagi

dengan Si Siang-ho?” tanya Tu Siau-thian kemudian

“Masih bertemu satu kali lagi”

“Lagi-lagi untuk memeriksakan kesehatan tubuhnya?”

305

“Benar, datang untuk memeriksakan diri, hanya kali ini dia

mengutus orang untuk mengundangku datang ke tempat

tinggalnya”

“Jangan-jangan perbuatannya?”

“Benar!”

“Kali ini dia sakit apa lagi?”

“Seperti yang lalu, masuk angin, hanya kali ini kondisinya

sedikit lebih parah”

“Dia tinggal di mana?” tiba-tiba Nyo Sin menyela.

“Sebuah rumah penginapan disebelah timur kota, konon

penginapan itu merupakan perusahaan miliknya”

“Apa nama penginapan itu?” desak Nyo Sin lebih jauh.

“Hun-lay!”

Nyo Sin segera berpaling ke arah Siang Hu-hoa dan

ajaknya:

“Bagaimana kalau kita mengunjungi rumah penginapan

Hun-lay?”

Siang Huhoa tidak berkata apa apa, dia pun tidak menolak

atau mengajukan usul lain.

“Siapa tahu disana kita akan menemukan lagi sesuatu”

sambung Nyo Sin.

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Kwee Bok, lalu

katanya lagi:

“Kau ikut bersama kami dan menjadi petunjuk jalan”

“Bolehkah aku tidak ikut serta?” pinta Kwee Bok sambil

tertawa hambar.

“Tentu saja tidak boleh, mulai sekarang tanpa seijinku,

jangan harap kau bisa berlalu dari hadapanku barang

setengah langkah pun”

306

“Nyo tayjin tidak usah kuatir” ucap Kwee Bok sambil

menghela napas, “sebelum duduknya persoalan menjadi jelas

dan tuntas, aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini”

“Memang paling bagus begitu, jadi masing masing tidak

perlu direpotkan oleh yang lain”

Kwee Bok tidak banyak bicara lagi, dia segera beranjak,

sikapnya sangat tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan

perubahan apapun.

Ketika sikapnya yang tenang itu terlihat oleh Siang Huhoa,

Nyo Sin maupun Tu Siau-thian, tanpa terasa satu ingatan

melintas bersama dalam benak mereka.

Benarkah peristiwa berdarah ini sama sekali tidak ada

sangkut pautnya dengan dirinya? Benarkah semua kejadian ini

merupakan ulah dari Si Siang-ho?

Tanpa terasa mereka pun ikut beranjak dan mengikuti di

belakang tubuhnya.

Terlepas benar atau tidak, asal Si Siang-ho berhasil

ditemukan, sudah pasti akan diperoleh jawaban yang jelas,

mereka hanya berharap Si Siang-ho masih tetap berdiam di

rumah penginapan Hun-lay.

0-0-0

Rumah penginapan Hun-lay, sebuah nama yang sangat

indah, sayang letaknya sedikit diluar kota, disisi timur pintu

gerbang kota.

Jalanan menuju ke luar kota sangat tidak rata dan tidak

enak dilalui. Rumah penginapan itu meski dibangun tidak

terlalu dekat dengan kota namun tidak juga terhitung kelewat

jauh, asal langkah mereka agak cepat maka sebelum malam

menjelang tiba nanti, mereka masih sempat untuk balik ke

dalam kota.

307

Oleh sebab itu rumah penginapan Hun-lay bukan termasuk

sebuah penginapan yang berlimpah tetamunya, dusun itu

pada hakekatnya merupakan sebuah dusun yang amat miskin.

Dalam seluruh dusun tersebut hanya terdapat sebuah

jalanan yang beralaskan batu, tentu saja rumah penginapan

Hun-lay dibangun disisi jalan besar.

Beberapa orang bocah cilik nampak sedang bermain disisi

jalan, pintu depan rumah penginapan kelihatan amat sepi dan

hening.

Ketika Siang Hu-hoa sekalian sudah berjalan mendekat,

mereka baru tahu kalau sepasang pintu gerbang rumah

penginapan itu berada dalam keadaan tertutup rapat, malah

diatas salah satu pintunya tertempel selembar kertas

pengumuman yang bertuliskan:

“Sementara berhenti usaha”

Kertas itu sudah lusuh dan warnanya sudah luntur, ini

menunjukkan kalau sudah lama rumah penginapan Hun-lay

menutup usahanya, tanpa terasa Siang Huhoa bertiga

mengalihkan sorot matanya mengawasi wajah Kwee Bok.

“Sejak enam bulan berselang rumah penginapan ini

memang sudah menghentikan usahanya untuk sementara

waktu” Kwee Bok menerangkan.

Dia segera maju ke depan, memegang gelang diatas pintu

dan dipukulkan kuat kuat sebanyak berapa kali diatas pintu

itu.

Tidak lama kemudian kedengaran seseorang menegur dari

dalam pintu:

“Siapa?”

“Aku, Kwee Bok!” jawab pemuda itu cepat.

“Ooh, rupanya saudara Kwee!” suara orang itu segera

berubah jadi tinggi melengking.

308

Menyusul kemudian kedengaran suara langkah kaki yang

berjalan mendekat, suara langkah yang sangat aneh, seolaholah

orang tersebut sangat rapuh kesehatannya sehingga

tenaga untuk berdiri tegak pun tidak ada.

henti dibalik pintu tapi pintu itu tidak segera dibuka, sampai

sesaat kemudian dia baru membukakan pintu gerbang.

Bau arak yang sangat menyengat segera menyebar

disekeliling tempat itu, tanpa terasa Siang Huhoa berempat

pun mengalihkan perhatiannya ke wajah orang itu.

Orang itu berdiri sambil berpegangan pada daun pintu,

namun tubuhnya masih kelihatan gontai seakan akan setiap

saat bakal roboh ke tanah.

Dalam genggamannya masih terdapat sebuah cawan arak,

cawan itu penuh berisikan arak, pakaian berwarna biru yang

dikenakannya juga dipenuhi oleh noda arak yang menusuk

hidung.

Rambutnya awut awutan, jenggotnya tidak terawat,

mukanya sangat dekil, entah sudah berapa hari dia tidak

pernah cuci muka dan menyisir rambutnya.

Dalam ruangan itupun tidak ada lentera, seluruh jendela

dibiarkan dalam keadaan tertutup rapat, hal ini membuat

suasana dalam bangunan itu terasa remang remang dan

sangat menyeramkan, seakan sebuah neraka ditengah alam

manusia.

Dalam kenyataan raut muka orang ini memang tidak jauh

berbeda seperti wajah setan gentayangan dari neraka,

wajahnya pucat kehijau hijauan dan sama sekali tidak ada

rona merahnya, namun sepasang matanya justru dipenuhi

dengan garis garis merah darah, sedemikian merahnya

sehingga mirip dengan lelehan darah segar.

Siapa pun yang bertemu dengan manusia macam begini,

dapat dipastikan mereka akan terkesiap bercampur ngeri.

309

Untung saja waktu itu masih tengah hari sehingga nyali

mereka pun otomatis jauh lebih besar.

Sejak terjadinya peristiwa berdarah dalam perkampungan

Ki-po-cay, segala persoalan yang kemudian mereka jumpai

seakan tak ada yang tidak mengejutkan hati, semua

penemuan, semua kejadian seolah sama sekali diluar dugaan

dan mendatangkan kabut tanda tanya yang semakin besar.

Saat itu, orang yang benar benar terperanjat ternyata

hanya Kwee Bok seorang, tampaknya pemuda itupun baru

pertama kali ini bersua dengan manusia tersebut, untuk

berapa saat dia nampak berdiri termangu dan tak tahu apa

yang mesti dilakukan.

Siang Hu-hoa melirik sekejap wajah orang itu, kemudian

sambil berpaling ke arah Tu Siau-thian, ujarnya:

“Apakah orang ini yang bernama Si Siang-ho?”

“Benar, dialah orangnya”

“Dulu, apakah begitu juga tampangnya?” tanya Siang

Huhoa lebih jauh.

Tu Siau-thian segera menggeleng.

“Tidak, dulu dia sangat memperhatikan penampilan,

pakaiannya, dandanannya selalu rapi dan perlente”

“Pakaian yang dikenakan seseorang bisa saja berganti tiga

kali dalam sehari, tapi apa raut wajah orang tidak mungkin

berubah setiap tiga tahun?”

“Itulah sebabnya meski keadaannya saat ini sangat payah,

aku masih tetap dapat mengenalinya dalam pandangan

pertama”

“Aku pun dapat mengenali dirinya” Nyo Sin menambahkan.

“Aku rasa usianya jauh lebih tua ketimbang usia Jui

Pakhay” kata Siang Hu-hoa.

310

“Waah, kalau soal ini aku kurang begitu jelas” ucap Tu

Siau-thian.

“Kalau dilihat dari penampilannya sekarang, paling tidak dia

telah berusia diatas lima puluh tahunan” Nyo Sin menimpali.

“Aku benar benar kurang jelas tentang masalah ini” kembali

Tu Siau-thian menggeleng.

Mendadak terdengar Si Siang-ho menghela napas panjang,

tanyanya:

“Benarkah penampilanku sekarang nampak sangat tua?”

Tampaknya semua pembicaraan mereka bertiga terdengar

pula oleh Si Siang-ho.

“Sebenarnya berapa sih usiamu tahun ini?” tanya Nyo Sin

kemudian.

“Satu bulan lagi aku baru berusia tiga puluh sembilan

tahun”

“Apa? Empat puluh tahun pun belum sampai?”

“Aku toh bukan wanita, kenapa mesti merahasiakan umur?”

“Tapi kalau dilihat dari penampilanmu sekarang, kau lebih

mirip berusia lima puluhan tahun ketimbang berusia tiga puluh

sembilan tahun”

“Mana mungkin” bantah Si Siang-ho sambil garuk-garuk

kepalanya, “malah tiga tahun berselang orang bilang dari

penampilanku, usiaku paling banter baru tiga puluhan tahun”

Sesudah menghela napas panjang, tambahnya:

“Masa baru lewat tidak sampai tiga tahun, penampilanku

sudah berubah dua puluh tahun lebih tua?”

“Memangnya kau tidak menyadari?”

“Aku hanya menyadari akan sesuatu”

“Soal apa?”

311

“Perasaan hatiku memang sudah semakin tua, bahkan

sedemikian tuanya hingga mendekati saat ajalnya”

“Berarti kau masih terbayang terus akan peristiwa yang

telah terjadi tiga tahun berselang?” tanya Nyo Sin

Si Siang-ho mengangguk berulang kali.

Tidak tahan lagi Nyo Sin menghela napas panjang, namun

dia tidak berkata-kata.

Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh:

“Padahal aku sudah berusaha dengan segala cara untuk

melupakan kejadian itu”

“Jadi inikah alasanmu kenapa minum arak sebanyakbanyaknya?”

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

“Sebenarnya aku menyangka cara ini merupakan sebuah

cara terbaik untuk melupakan kejadian lama, namun

belakangan aku malah semakin sulit dibuat mabuk”

“Mengapa tidak langsung pergi mencari Jui Pakhay dan

menantangnya untuk berduel, agar semua sakit hatimu

terlampiaskan?” tanya Nyo Sin.

Tiba-tiba Si Siang-ho tertawa tergelak, katanya:

“Hahahaha……karena tidak lama setelah itu, aku telah

berhasil memahami semua masalah yang sedang kuhadapi”

“Kau berhasil memahami? Memahami apa?” Nyo Sin

semakin keheranan.

“Walaupun peristiwa ini terjadi gara-gara rencana busuk

yang diatur Jui Pakhay, seandainya aku tidak gemar berjudi,

sebenarnya diapun tidak akan berhasil menjalankan rencana

busuknya itu, dan dengan sendirinya perkampungan Ki po cay

pun tidak nanti bisa terjatuh ke tangannya, jadi kalau mau

mecari sumber masalahnya, aku harus menyalahkan diriku

312

sendiri, aku tidak boleh menyalahkan orang lain saja, kalau

aku tidak kemaruk, kalau aku tidak suka bertaruh, peristiwa ini

tidak mungkin akan menimpa diriku”

Kemudian setelah berhenti sejenak untuk berganti napas,

lanjutnya:

“Terus terang saja aku katakan, waktu itu aku memang

terlalu suka berjudi, aku gemar bertaruh, jadi, seandainya

perkampungan Ki po cay tidak hilang pada saat itu, suatu

ketika akupun pasti akan kehilangan perkampungan tersebut,

karena masalahnya tinggal cepat atau lambat”

Nyo Sin mengawasi Si Siang-ho dengan mata melotot,

mimik mukanya dipenuhi rasa heran dan tercengang.

Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh:

“Kalau mau bicara yang lebih jujur, sebenarnya pertaruhan

yang berlangsung waktu itu cukup adil, aku mesti salahkan

nasibku yang tidak mujur, jadi peristiwa itu merupakan

kejadian yang lumpah, tidak ada yang bisa disalahkan”

“Tapi bagaimana pula dengan masalah yang menyangkut

Gi Tiok-kun?”

“Bila perkampungan Ki po cay sudah jatuh ke tangan orang

lain, dengan sendirinya Gi Tiok-kun juga tidak bakal jatuh ke

tanganku, sebab aku pasti bukan tandingannya lagi” kata Si

Siang-ho dengan wajah sedih.

“Tapi kau tidak mirip dengan orang yang rela menerima

kekalahan?”

“Kalau kenyataan sudah terpampang di depan mata, tidak

rela pun harus rela juga menerima nasib”

Sesudah menghela napas panjang, tambahnya:

“Waktu itu, sisa harta kekayaan yang kumiliki bila

dijumlahkan keseluruhannya, paling banter baru senilai

perkampungan Ki po cay, apakah aku mampu menandingi

313

kekayaan Jui Pakhay rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi,

pada hakekatnya aku sudah tidak mungkin memenuhi

kebutuhan dari Gi toama”

“Maka terpaksa kau lepas tangan?”

“Kalau tidak lepas tangan, apa lagi yang bisa kuperbuat?”

“Ooh, rupanya kau belum sampai mabuk, kenyataannya

kau masih bisa berbicara dengan jelas”

Si Siang-ho tertawa terkekeh.

“Hahaha…. walaupun saat ini aku merasakan kepalaku

berat dan kakiku ringan, namun otak dan kesadaranku masih

sangat waras”

“Apa yang barusan kau katakan apakah ungkapan yang

sejujurnya?” tanya Nyo Sin lagi.

“Sekarang aku sudah terjerumus dalam kehidupan yang

susah, keadaanku sudah bukan rahasia lagi, kenapa aku mesti

takut untuk bicara sejujurnya?” Si Siang-ho balik bertanya

sambil tertawa.

“Kau tetap akan bercerita kepada orang asing mana pun?”

“Bagiku, kau bukan termasuk orang yang terlalu asing” kata

Si Siang-ho seraya mengangguk.

“Berarti kau sudah tahu siapakah aku?”

“Siapa yang tidak kenal dengan komandan Nyo yang punya

nama besar dan amat tersohor di kolong langit? Tidak banyak

orang diseputar sini yang tidak mengenali namamu” Nyo Sin

tertawa senang.

“Tidak heran kalau semua pertanyaan yang kuajukan telah

kau jawab dengan sejujurnya, seolah bukan sedang berbicara

dengan orang asing saja”

Perlahan-lahan Si Siang-ho mengalihkan sorot matanya ke

wajah Tu Siau-thian, kemudian katanya lagi:

314

“Bila aku tidak salah ingat, semestinya saudara ini adalah

wakil komandan opas Tu Siau-thian bukan?”

“Benar akulah orangnya” Tu Siau-thian menyahut.

Dia berpaling ke arah Siang Huhoa lalu tanyanya:

“Apakah saudara Si tahu siapakah dia?”

Sambil memicingkan matanya yang setengah mabuk, Si

Siang-ho mengawasi Siang Hu-hoa berulang kali, lama

kemudian dia baru menggeleng.

“Wajahnya terasa asing sekali bagiku, apakah dia………”

“Dia adalah Siang Huhoa, Siang tayhiap” Tu Siau-thian

memperkenalkan rekannya.

Mula-mula Si Siang-ho agak tertegun, kemudian sambil

tertawa tergelak serunya:

“Hahaha…….ternyata saudara Siang!”

“Aneh, tadi bilang tidak kenal, sekarang kenapa tiba-tiba

sudah kenal?” sindir Nyo Sin dingin.

Si Siang-ho tertawa.

“Aku hanya mengenali nama besarnya, aku rasa tidak

banyak orang persilatan yang tidak mengenali nama besarnya”

Bab 17.

Kawanan laron muncul kembali.

Dia maju kedepan menghampiri Siang Huhoa, kemudian

sambil tertawa lanjutnya:

“Sudah lama aku mengagumi nama besar anda, sayang

selama ini tidak ada kesempatan untuk bersua, sungguh

beruntung aku bisa menjumpaimu hari ini, untuk merayakan

pertemuan ini, aku harus meneguk habis isi cawan ini”

315

Selesai berkata dia segera mengangkat cawannya dan

meneguk habis isinya.

Dengan bertambahnya secawan arak, langkah kakinya

semakin enteng dan gontai, namun untung tidak sampai roboh

terkapar ke tanah.

Siang Huhoa memandangnya sekejap, tiba-tiba tanyanya

sambil tertawa:

“Kau hanya memiliki secawan arak?”

“Hahahaha…….. aku punya banyak arak didalam sana,

apakah saudara Siang sudi memberi muka kepadaku?” Si

Siang-ho tertawa tergelak.

“Sayang saat ini bukan saat yang tepat untuk minum arak,

masih banyak urusan yang sedang menanti kami”

Seakan baru teringat akan sesuatu, buru-buru Si Siang-ho

bertanya:

“Apakah kedatangan kalian adalah untuk mencari aku?”

“Benar!”

“Boleh tahu ada urusan apa?”

“Memang ada berapa persoalan yang tidak dapat kami

pecahkan, karena itu terpaksa harus berkunjung kemari dan

menantikan petunjukmu”

“Tidak berani, tidak berani, kalau memang ada persoalan,

katakan saja berterus terang, asal bisa kujawab pasti akan

kukatakan sejujurnya”

“Sejak pertaruhan tempo hari, saudara Si telah menyingkir

ke mana saja?” tanya Siang Huhoa kemudian.

Si Siang-ho segera menunjuk ke arah dalam rumah,

sahutnya:

“Aku selalu bersembunyi di dalam rumah penginapan ini”

316

Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya:

“Waktu itu aku putus asa bercampur kecewa, ditambah lagi

akupun merasa sangat kehilangan muka, aku benar benar

tidak ingin dijadikan bahan tertawaan orang kota, maka

berapa saat lamanya aku hidup menyembunyikan diri”

“Ada orang bilang, waktu itu kau telah pergi jauh

meninggalkan kota?”

“Tidak ada, tidak ada kejadian semacam ini” Si Siang-ho

gelengkan kepalanya berulang kali, “meskipun aku telah

kehilangan perkampungan Ki po cay, namun aku masih

memiliki harta kekayaan lain, asal aku mau hidup tenang dan

tidak tergila gila untuk main judi lagi, masalah kehidupan

sudah bukan masalah lagi bagiku”

Kemudian setelah tertawa getir, tambahnya:

“Sejak peristiwa itu, dalam kenyataan aku memang tidak

pernah main judi lagi”

“Benarkah begitu?”

“Penduduk sekitar tempat ini bisa bertindak sebagai saksi

ku”

“Dengan cara apa kau urusi harta kekayaanmu itu?” tanya

Siang Huhoa lagi

“Hampir semuanya kusewakan kepada orang lain”

“Maksudmu, kau hanya menerima uang sewa?”

Kembali Si Siang-ho mengangguk.

“Walaupun aku punya keinginan untuk meninggalkan

berapa bau sawah untuk dikerjakan sendiri, sayang

pengetahuan tentang bercocok tanam sama sekali tidak

kumiliki”

“Bagaimana sistim pembayaran uang sewa itu?”

317

“Setiap kali panenan mereka akan menghantar uang

sewanya kemari”

“Maksudmu ke rumah penginapan Hun-lay?”

“Benar”

“Selama tiga tahun terakhir kau tidak pernah pergi ke

tempat jauh, apakah mereka dapat bertindak sebagai

saksimu?”

“Benar”

Kwee Bok yang selama ini hanya membungkam diri, kini

tidak tahan untuk menimbrung:

“Bukankah kau pernah berkata kepadaku kalau selama tiga

tahun terakhir kau hidup berkelana di dalam dunia persilatan

dan baru balik kemari pada tiga bulan berselang?”

Si Siang-ho nampak tertegun, lalu serunya:

“Kepan aku pernah berkata begitu kepadamu?”

“Waktu pertama kali kau datang memeriksakan badanmu”

“Aku memang pernah datang mencarimu untuk berobat”

“Bukankah resep obat yang kubuatkan untukmu kau masak

di ruang praktekku?” seru Kwee Bok.

“Benar”

“Setelah itu bukankah kau mengundangku pergi minum

arak?”

“Benar”

“Aku rasa kau belum lupa bukan ditempat mana kita minum

arak?”

“Tentu saja, di rumah makan cong-goan” jawab Si Siang-ho

tanpa ragu.

“Bukankah waktu itu kau minum sampai mabuk?”

318

Kali ini ternyata Si Siang-ho menggelengkan kepalanya

seraya membantah:

“Siapa bilang aku minum sampai mabuk waktu itu?”

Kontan Kwee Bok mendelikkan matanya lebar-lebar.

Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh:

“Aku masih ingat, waktu itu semuanya kita pesan empat

poci arak ditambah empat macam hidangan”

“Kita pesan dua poci arak, satu setengah poci diantaranya

kau sendiri yang menghabiskan” Kwee Bok mencoba meralat.

“Dengan takaran minum yang kumiliki saat ini, jangankan

baru satu setengah poci, ditambah lagi empat lima kali lipat

pun aku masih tetap bisa melayaninya tanpa mabuk”

“Sewaktu kita meninggalkan rumah makan itu, kau sudah

tak mampu berdiri tegak”

“Apakah waktu itu aku minta kepadamu untuk memayang

atau menuntun diriku?” ucap Si Siang-ho sambil tertawa.

“Kalau itu sih tidak!”

“Apakah aku pergi membayar rekening lalu turun dari

loteng sendirian?” “Benar”

“Waktu itu kita menghabiskan tiga tahil perak” kata Si

Siang-ho lebih jauh, kemudian setelah berhenti sejenak

lanjutnya, “sewaktu turun dari loteng, kita bertemu dengan

nenek Cho……”

“Nenek Cho yang menjual gula-gula? Tukas Tu Siau-thian.

“Betul, nenek Cho yang menjual gula-gula!”

Setelah berpikir sejenak, kembali ujarnya:

“Ternyata dia masih mengenali aku, dia ribut dan minta aku

membeli sebungkus gula-gula”

“Apakah kau membelinya?”

319

“Aku tetap membelinya, walaupun saat itu kondisi ku sudah

tidak semakmur dulu, namun untuk membeli sebungkus gulagula

rasanya aku masih mampu untuk melakukannya”

“Berapa harga gula gula yang dijual nenek Cho waktu itu?”

tanya Tu Siau-thian.

“Masih seperti harga lama, lima hun untuk satu bungkus

gula gula, aku minta sebungkus dan memberinya satu tangce”

Tu Siau-thian segera mengerling sekejap ke arah Kwee

Bok, sementara pemuda itu berdiri termangu dengan mata

terbelalak dan mulut melongo, diawasinya wajah Si Siang-ho

dengan tertegun.

Seandainya waktu itu Si Siang-ho benar-benar berada

dalam keadaan mabuk, tidak mungkin dia masih ingat semua

kejadian yang dialaminya secara jelas dan terperinci, hanya

orang sadar yang bisa melakukan hal seperti itu.

Kembali Tu Siau-thian bertanya kepada Si Siang-ho:

“Waktu itu sebenarnya apa saja yang telah kau katakan

kepadanya?”

Si Siang-ho mencoba mengingat kembali, kemudian

sahutnya:

“Rasanya tidak banyak yang kami bicarakan, seingatku,

bahan pembicaraan saat itu hanya sekitar masalah sepele dan

hal yang ringan ringan saja”

“Betul tidak ada urusan yang sedikit lebih istimewa?” desak

Tu Siau-thian lebih jauh.

“Kalau dibilang sedikit rada istimewa, mungkin urusan ini

yang dimaksud agak istimewa”

“Urusan apa?”

320

“Sewaktu sedang bersantap, dia pernah bertanya kepadaku

apakah disekitar tempat tinggalku ada rumah kosong yang

hendak disewakan”

“Bagaimana jawabanmu?”

“Aku menjawab sejujurnya, sekitar tempat tinggalku tidak

ada rumah kosong yang akan disewakan, tapi rumah

penginapan Hun-lay milikku sudah tutup usaha, jadi tempat

kami terdapat ruang kosong yang bisa disewa”

“Bagaimana jawabannya?”

“Dia akan mengunjungi tempat kami berapa hari kemudian,

apabila cocok dia akan menyewanya”

“Kemudian, apakah dia datang berkunjung?”

“Benar”

“Kapan itu kejadiannya?”

“Kurang lebih sepuluh hari kemudian”

“Datang untuk melihat rumahmu?”

“Benar”

“Berarti bukan datang karena dipanggil untuk

memeriksakan sakitmu?” tukas Siang Hu-hoa tiba-tiba.

“Siapa bilang aku sakit?” tanya Si Siang-ho tertegun.

“Aku!” jawaban Kwee Bok keras dan lantang.

“Apa maksudmu berkata begitu?” tegur Si Siang-ho.

“Justru aku yang ingin bertanya kepadamu, apa maksudmu

berkata begitu?” teriak Kwee Bok semakin keras.

“Jadi kau menuduh aku sedang berbohong?”

“Kau memang sedang berbohong!”

“Buat apa aku meski berbohong?”

321

“Untuk menutupi semua dosa dan perbuatan bejadmu”

“Perbuatan bejad apa yang telah kulakukan? Kenapa harus

kututupi?” Si Siang-ho balik bertanya.

“Seharusnya kau lebih mengerti”

“Aku benar-benar tidak mengerti” seru Si Siang-ho cepat,

kemudian sambil berpaling ke arah Siang Huhoa katanya lebih

jauh, “hingga sekarang aku masih belum tahu peristiwa apa

yang sebenarnya telah terjadi”

“Benarkah begitu?” jengek Siang Huhoa hambar

“Sebenarnya apa maksud dan tujuan kedatangan kalian

semua mencari aku?” tanya Si Siang-ho lagi.

Siang Hu-hoa tidak menjawab, malah katanya kepada Kwee

Bok:

“Kau bilang dia mengutus orang untuk mengundangmu

kemari dan memeriksakan kesehatan tubuhnya?”

“Memang begitu kenyataannya!”

“Siapa yang dia utus waktu itu untuk mengundang

kedatanganmu?”

“Seorang kakek yang mengaku dari marga Kwee, kakek itu

tetangganya, sewaktu datang membawa sebuah kereta kuda

yang sudah kuno dan jelek”

“Dengan kereta kudanya itu si kakek Kwe menghantarmu

sampai disini?”

“Tidak, hanya menghantar sampai di mulut dusun, dia

bilang harus pergi ke tempat lain maka setelah aku turun dari

kereta, dia pun segera pergi”

Baru saja Siang Hu-hoa ingin bertanya lagi, mendadak Si

Siang-ho menukas:

322

“Di dalam dusun ini sama sekali tidak ada kakek dari marga

Kwee, juga tidak ada kakek Kwee yang memiliki kereta kuda”

“Hmmm, benarkah begitu?” Kwee Bok mendengus dingin.

“Aku rasa didalam dusun ini bukan hanya aku seorang yang

masih hidup, bukan hanya aku seorang yang bisa berbicara”

“Maksudmu asal diselidiki, segera akan diketahui apakah

didusun ini terdapat seorang kakek semacam ini atau bukan?”

sambung Siang Hu-hoa.

Setelah menatap wajah Si Siang-ho lekat lekat, kembali

tanyanya:

“Kau bilang Kwee Bok datang kemari untuk melihat

rumahmu?”

Si Siang-ho mengangguk tanda membenarkan.

“Bagaimana hasilnya setelah peninjauan itu?”

“Tampaknya merasa sangat puas”

“Dan jadi menyewanya?”

Kembali Si Siang-ho mengangguk.

“Dia bahkan bersedia membayar tiga ribu tahil perak”

sahutnya.

“Ehmmm, satu jumlah yang tidak kecil”

“Benar, sebuah penawaran yang sangat menggiurkan

karena pada tahun yang paling baguspun pemasukan rumah

penginapan Hun-lay paling banter Cuma seribu tahil perak”

“Tentu saja kau menyetujuinya bukan?”

“Tentu saja” sahut Si Siang-ho.

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya:

“Rumah penginapan ini terpaksa tutup usaha karena tamu

yang menginap ditempat kami akhir-akhir ini amat sepi dan

323

minim, sekarang bertemu dengan orang yang mau membayar

tinggi rumah kami, tentu saja tidak akan kulepas kesempatan

baik itu, apalagi pihak penyewa bersedia membayar dengan

tiga ribu tahil perak”

“Dengan uang sebesar tiga ribu tahil perak, rasanya sudah

lebih dari cukup untuk membeli rumah penginapan ini” kata

Siang Hu-hoa.

Si Siang-ho segera tertawa.

“Jangan lagi tiga ribu tahil perak, sewaktu membeli rumah

penginapan ini, aku hanya cukup mengeluarkan uang lima

ratus tahil”

“Memangnya dia tidak bisa menilai berapa harga dari

rumah penginapan itu?”

“Mungkin saja dia memang tidak tahu” jawab Si Siang-ho.

Kemudian setelah mengerling Kwee Bok sekejap, terusnya,

“mungkin juga uang sebesar tiga ribu tahil perak merupakan

sebuah angka yang kecil baginya, atau bahkan dia tidak

pernah pandang sebelah matapun atas jumlah tersebut”

“Kenapa tidak membeli sekalian rumah penginapan itu?”

“Menurut pendapatku, hal ini disebabkan ada dua alasan”

“Salah satu alasannya pasti karena dia kuatir kau enggan

menjual kepadanya”

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

“Selain itu masih ada sebuah alasan lagi yakni karena dia

hanya butuh rumah penginapan ini untuk sementara waktu”

katanya.

“Sebenarnya dia mau pakai rumah penginapan ini berapa

lama?” tanya Siang Hu-hoa.

“Setengah tahun”

324

“Tiga ribu tahil perak untuk menyewa selama setengah

tahun? Wah, siapa pun pasti akan bersedia untuk melakukan

transaksi yang sangat menguntungkan ini”

“Itulah sebabnya aku segera mengabulkan pennintaannya”

seru Si Siang-ho, kemudian setelah mengerling lagi Kwee Bok

sekejap, lanjutnya, “cuma, ke tiga ribu tahil perak itu bukan

seluruhnya untuk membayar uang sewa”

“Lalu berapa semestinya uang sewa gedung?”

“Hanya seribu tahil perak”

“Lalu yang dua ribu tahil perak untuk apa?”

“Upah kerjakul”

“Upah kerja? Apa yang harus kau lakukan?”

“Menjaga rumah ini, melarang siapa pun masuk keluar

tempat ini dan setiap hari mempersiapkan sejumlah makanan

untuk segerombolan mestika miliknya”

“Kau bersedia melakukan pekerjaan seperti itu?” tanya

Siang Huhoa keheranan

“Tiga ribu tahil perak masih belum kupandang sebelah

matapun, aku mengabulkan tawarannya karena terdorong

oleh rasa ingin tahu, aku merasa sangat tertarik dengan

pekerjaan yang ditawarkan dan mulai asyik mengerjakannya”

“Sebenarnya apa tujuannya menyewa rumah penginapan

ini?” tanya Siang Hu-hoa keheranan.

“Mencarikan tempat tinggal bagi sekelompok mestika nya!”

“Makhluk apa sih yang kau sebut sebagai sekelompok

mestika itu?” desak Siang Huhoa lebih jauh.

Seketika itu juga paras muka Si Siang-ho berubah sangat

aneh, bahkan nada ucapannya pun ikut berubah jadi aneh

sekali, jawabnya:

325

“Sekelompok laron, sekelompok laron hijau!”

Laron hijau!

Siang Huhoa merasa hatinya tercekat sementara paras

muka Tu Siau-thian dan Nyo Sin berubah hebat.

Paras muka Kwee Bok turut berubah hebat, baru saja dia

membuka mulutnya siap mengatakan sesuatu, Si Siang-ho

telah berkata lebih jauh:

“Kelompok laron hijau yang kupelihara merupakan sejenis

laron yang paling aneh dan paling cantik yang pernah

kujumpai sepanjang hidupku! Mereka memiliki tubuh yang

bening bagaikan batu kemala hijau, matanya merah seperti

bercak darah, sayapnya dipenuhi garis garis merah seperti

lelehan darah segar sementara diatas sepasang sayapnya

terdapat garis darah yang berbentuk seperti mata, bentuk

mata itu mirip mata burung hantu, tapi mirip juga ular kobra

sementara perutnya berbentuk seperti hidung sehingga kalau

dilihat dari punggungnya, pada hakekatnya sangat mirip

dengan selembar wajah setan!”

Belum selesai dia mengucapkan perkataannya, semua

orang sudah merasakan badannya merinding hingga bersin

berulang kali.

Begitu Si Siang-ho menyelesaikan perkataannya, Nyo Sin

langsung menjerit keras:

“Laron Penghisap darah! Itulah Laron Penghisap darah!”

“Laron Penghisap darah?” Si Siang-ho agak tertegun.

“Laron laron yang kau maksud itu adalah Laron Penghisap

darah”

Mendadak Si Siang-ho seakan teringat akan sesuatu, paras

mukanya berubah jadi hijau membesi, serunya tertahan:

“Aaah, benar! Kelihatannya mereka memang pandai sekali

menghisap darah……………”

326

“Darimana kau bisa tahu?” tukas Siang Hu-hoa.

“Sebab setiap hari aku harus menghantar makanan untuk

kawanan laron itu, setiap hari mereka butuh sepuluh ekor

kelinci hidup”

“Lalu apa hubungannya dengan menghisap darah?” tanya

Siang Hu-hoa.

Dengan wajah hijau membesi sahut Si Siang-ho:

“Keesokan harinya ketika aku balik lagi ke kandang, maka

akan kujumpai ke sepuluh ekor kelinci itu tinggal sepuluh

kerat tulang belulang, kulitnya sudah tersayat, dagingnya

sudah habis dan darah pun sudah lenyap”

“Apakah kau pernah melihat bagaimana cara kawanan

laron itu menyerbu santapannya?” tanya Siang Huhoa lebih

lanjut.

“Satu kali, setelah memberi makanan kepada mereka, aku

mengintipnya dari balik celah celah pintu”

“Apa yang kau saksikan?”

“Aku saksikan rombongan laron itu mengerumuni kelincikelinci

tersebut, yang kudengar hanya suara dengungan dan

suara cicitan, suara itu mirip sekali seperti suara yang sedang

menghisap cairan dan mengunyah daging…….” kata Si Siangho

dengan nada gemetar.

Tidak kuasa lagi Siang Huhoa merasakan hatinya bergidik,

cepat tanyanya:

“Sekarang dimana rombongan laron itu berada?”

“Diruangan atas loteng”

“Cepat ajak kami ke sana, akan kulihat bagaimana

keadaannya”

Si Siang-ho manggut-manggut, ujarnya tiba-tiba:

327

“Kedatangan kalian memang tepat pada waktunya”

“Oya?”

Buru-buru Si Siang-ho menerangkan lebih jauh:

“Selama belasan hari terakhir, setiap malam mereka selalu

terbang keluar secara rombongan, pada mulanya aku kuatir

mereka terbang dan tidak balik lagi, tapi kenyataannya

keesokan harinya mereka terbang balik lagi secara

rombongan”

“Kapan mereka baru balik malam ini?”

“Jauh lebih malam ketimbang dihari biasa, mereka baru

saja balik ke kandangnya”

Tergerak perasaan Siang Huhoa setelah mendengar

penjelasan itu, tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Tu

Siau-thian kemudian menengok pula ke arah Nyo Sin.

Pada saat yang sama Tu Siau-thian dan Nyo Sin

memandang pula ke arahnya, maka mereka bertiga pun saling

bertukar pandangan sekejap lalu bersama-sama mengalihkan

sorot matanya ke wajah Kwee Bok.

Dalam pada itu Kwee Bok kembali berdiri tertegun dengan

wajah melongo dan mata terbelalak, agaknya dia merasa jauh

diluar dugaan terhadap apa yang barusan diucapkan Si Siangho

itu.

Sepasang mata Siang Huhoa berbinar-binar, kembali dia

menatap wajah Si Siang-ho, setelah berpikir sejenak, tanyanya

lagi:

“Sewaktu dalam kenyataan kau ketahui bahwa dia

menyewa rumah penginapanmu bukan untuk ditempati

manusia melainkan untuk memelihara laron, pernahkan timbul

rasa antipati dalam hati kecilmu?”

“Siapa bilang tidak?”

328

“Tapi nyatanya kau tidak pernah protes, kau terima semua

kenyataan itu dengan mulut membungkam?”

“Bagaimana pun juga bangunan rumah ini sudah disewa

orang, selama pihak penyewa tidak menggunakannya untuk

membuka usaha gelap, atau melakukan pembunuhan dan

perampokan, biar mau dipakai untuk pelihara babi pun tidak

ada alasan bagiku untuk merasa keberatan, apalagi aku

sendiripun sebenarnya pingin tahu apa maksud dan tujuannya

yang terutama dengan memelihara sekelompok laron itu”

“Apakah pihak penyewa pernah menyinggung soal ini?”

tanya Siang Hu-hoa.

Si Siang-ho mengangguk.

“Apa yang dia katakan?” tanya Siang Hu-hoa lagi.

“Berulang kali dia kemukakan alasan yang sama yaitu

hendak dipakai untuk meramu sejenis obat”

“Obat apa?”

“Obat untuk menyembuhkan sejenis penyakit, obat untuk

melenyapkan nyawa seseorang”

“Kau percaya dengan pengakuannya itu?”

“Tidak percaya”

“Kalau hanya dipakai untuk meramu obat, dia tidak perlu

jauh jauh datang kemari dan lagi dia pun tidak perlu berlagak

sok rahasia”

“Dalam hal ini dia mempunyai alasan dan penjelasannya”

ujar Si Siang-ho menerangkan.

“Bagaimana penjelasannya?”

“Menurut dia, bentuk dari kawanan Laron Penghisap darah

itu menakutkan dan sangat mengerikan hati, bila dipelihara

ditempat ramai dan banyak penghuninya, kejadian ini pasti

gampang menjadi pembicaraan orang, gampang pula

329

memancing kecurigaan pihak pemerintah, sekalipun tidak

banyak berpengaruh terhadap perkembangan kawanan laron

tersebut, namun hal mana akan sangat merepotkan, maka

untuk memeliharanya secara diam diam dan tidak mudah

diketahui orang banyak, satu satunya cara adalah pindah ke

pinggiran kota”

“Penjelasan yang sangat bagus” puji Siang Hu-hoa,

kemudian setelah berhenti sejenak tanyanya lagi:

“Sebelum dipindah kemari, kawanan laron itu pernah

dipelihara di mana?”

“Itu sih kurang jelas” Si Siang-ho menggeleng.

“Dengan cara apa dia memindahkan kawanan Laron

Penghisap darah itu kemari?” Siang Hu-hoa mengalihkan

pertanyaannya.

“Diangkut kemari dengan menggunakan sebuah kereta

kuda”

“Kereta kuda milik siapa?”

“Kurang jelas”

“Berapa besar usia sang kusir kereta? Bagaimana bentuk

tubuh dan wajahnya? Apakah masih tersisa ingatan tentang

orang tersebut?”

“Kusirnya bukan orang lain tapi dia sendiri”

“Semua pekerjaan dia lakukan seorang diri, tanpa bantuan

orang lain?”

“Benar, semua pekerjaan dia lakukan seorang diri kecuali

tugas menghantar masuk kawanan kelinci ke dalam kamar

setiap harinya, karena dia tidak punya waktu untuk

mendatangi tempat ini saban hari”

330

“Lalu dengan cara apa pula dia mengangkut masuk

kawanan Laron Penghisap darah itu ke dalam rumah

penginapan?”

“Menggunakan kerangkengan, dia masukkan kawanan

laron itu ke dalam beberapa buah kerangkeng”

“Beberapa buah kerangkeng? Berapa besar kerangkeng

itu?”

“Kurang lebih lima enam depa persegi”

“Berapa banyak Laron Penghisap darah yang dia angkut

kemari?” agak berubah paras muka Siang Huhoa.

Si Siang-ho termenung seperti berpikir sejenak, kemudian

sahutnya:

“Menurut perkiraanku, jumlahnya bisa mencapai ribuan

ekor”

Tanpa terasa sekali lagi Siang Huhoa, Tu Siau-thian dan

Nyo Sin saling bertukar pandangan sekejap, sebaliknya paras

muka Kwee Bok telah berubah jadi hijau membesi.

Kembali Siang Huhoa berkata:

“Oleh sebab itu setiap hari mereka butuh sepuluh ekor

kelinci sebagai santapannya?”

Sebelum pertanyaan itu dijawab, kembali dia bertanya:

“Dia yang mempersiapkan kelinci-kelinci itu setiap harinya

atau kau yang pergi membelinya di pekan?”

“Setiap sepuluh hari satu kali dia datang menghantar

kawanan kelinci itu dengan menunggang kereta kuda”

“Bukankah berarti penduduk didusun ini hampir sebagian

besar mengenalinya?”

“Seharusnya begitu”

331

“Apakah mereka juga tahu kalau dia telah memindahkan

berapa buah kerangkeng berisi Laron Penghisap darah

kemari?”

“Aku percaya mereka tidak akan tahu soal ini, pertama

karena aku tidak pernah menyinggung persoalan ini dengan

orang lain, kedua sewaktu memindahkan beberapa buah

kerangkeng berisi Laron Penghisap darah itu, seluruh

kerangkeng telah dikerudungi dengan selembar kain warna

hitam”

“Kemudian ketika setiap kali dia datang menghantar begitu

banyak kelinci, masa tidak ada yang menaruh curiga? Atau

tidak ada yang mengajukan pertanyaan?” tanya Siang Hu-hoa.

“Sewaktu mengirim kawanan kelinci itupun dia gunakan

kerangkeng yang ditutupi kain hitam, kalau tidak memangnya

orang lain tidak akan menaruh curiga kepadaku, masa tidak

membuka toko penjual kelinci, aku mendatangkan begitu

banyak binatang tersebut, memangnya aku seorang bisa

menghabiskan begitu banyak kelinci sekaligus?”

“Paling tidak semestinya mereka menaruh curiga juga

bukan ketika melihat ada begitu banyak barang yang

dibongkar dari atas kereta dan diangkut masuk ke dalam

rumah penginapan?” kata Siang Huhoa.

“Seandainya aku jadi mereka, aku pasti akan menaruh

curiga”

“Apa pernah ada orang yang bertanya kepadamu, barang

apa yang kau bongkar dari atas kereta dan diangkut ke dalam

rumah? Apa mereka tidak bertanya, siapa tamu asing yang

kerap datang berkunjung?”

“Mungkin saja mereka curiga, tapi selama ini tidak

seorangpun yang berani datang menanyakan kepadaku”

“Kenapa tidak berani?”

332

“Sebab sudah berapa kali aku mabuk berat karena arak dan

membuat keonaran yang sangat hebat disini, maka selama ini

mereka selalu menaruh perasaaan was was dan ngeri

terhadapku, otomatis semua tingkah laku dan perbuatanku

juga tidak ada yang berani bertanya”

Setelah tertawa santai, lanjutnya:

“Walaupun begitu aku juga sudah banyak mendengar isu

yang beredar di masyarakat, di antara mereka ada yang

mengira aku sedang bersiap sedia untuk membangun kembali

usahaku, mungkin saja barang yang diangkut kereta kuda itu

adalah barang perabot baru untuk keperluan rumah

penginapan, tapi ada juga yang menuduh aku sebagai seorang

perampok ulung dan barang yang diangkut masuk merupakan

barang barang hasil rampokan”

“Isu tersebut pasti akan menakutkan orang banyak!”

“Apalagi selama setengah bulan terakhir, mereka semakin

ngeri terhadapku, setiap kali bertemu, tergopoh gopoh mereka

akan menghindar dan bersembunyi” Si Siang-ho berkata

kembali.

“Kenapa bisa begitu?”

“Mungkin saja mereka sempat menyaksikan munculnya

sekelompok laron dari dalam rumah penginapan yang sangat

banyak bagaikan gerombolan lebah”

“Atas dasar apa kau menduga begitu?”

“Berapa hari berselang, ketika aku lewat disebuah tanah

lapang diluar dusun sana, kebetulan disitu sedang ada

sekelompok bocah sedang bermain, tapi begitu melihat

kemunculanku, seperti bertemu setan saja mereka langsung

membubarkan diri, bahkan satu diantara mereka sempat

berteriak……….”

“Teriak apa?”

333

“Siluman tosu pemelihara laron telah datang!” sahut Si

Siang-ho sambil tertawa getir.

“Siluman tosu?”

Sembari meraba batok kepala sendiri Si Siang-ho

menerangkan:

“Mungkin lantaran saban hari aku selalu menggulung

rambutku diatas kepala dan menggunakan sebuah tusuk

konde dari bambu, mereka mengira aku adalah seorang tosu”

Sekarang Siang Huhoa baru memperhatikan gulungan

rambut Si Siang-ho itu, benar juga, dia memang mirip sekali

dengan seorang tosu.

Maka tanyanya sambil tertawa:

“Setelah mendengar olokan itu, apakah kau merasa marah

sekali?”

“Marah sih tidak, Cuma merasa mendongkol bercampur

geli”

“Kapan teraldiir kalinya dia berkunjung kemari?” selidik

Siang Huhoa lebih jauh.

“Lima hari berselang”

“Datang menghantar kelinci?”

“Yaa, menghantar tiga puluh ekor kelinci”

“Apakah masih ada sisa dari pengiriman yang terakhir kali?”

“Seekor pun sudah tidak tersisa”

“Tiga puluh ekor kelinci berarti jatah ransum tiga hari untuk

kawanan Laron Penghisap darah itu?”

“Benar”

“Biasanya berapa banyak kelinci yang dia kirim setiap

kalinya?”

334

“Seratus ekor kelinci setiap sepuluh hari”

“Kali ini dia hanya mengirim tiga puluh ekor, tentunya kau

bertanya apa alasannya bukan?”

Si Siang-ho mengangguk.

“Apa jawabannya?” tanya Siang Hu-hoa.

“Dia bilang ada rencana lain setelah tiga hari”

“Selain itu adakah pesan istimewa yang dia sampaikan?”

Si Siang-ho berpikir sejenak, kemudian katanya:

“Aku seperti mendengar ada beberapa patah kata…….”

Tanpa terasa Siang Huhoa, Tu Siau-thian serta Nyo Sin

pasang telinga baik baik untuk mendengarkan, sementara

Kwee Bok sendiripun ikut pasang telinga.

Terdengar Si Siang-ho berkata:

Tanpa sengaja aku seperti mendengar dia sedang

bergumam, katanya….. selewat bulan purnama tanggal lima

belas, semua urusan akan beres……”

“Apakah kau paham apa maksud dan perkataannya itu?”

tanya Siang Hu-hoa.

“Tidak, aku tidak mengerti” Si Siang-ho menggeleng.

Siang Huhoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin saling bertukar

pandangan sekejap, Si Siang-ho memang tidak mengerti, tapi

mereka mengerti amat jelas.

“Pada malam bulan purnama tanggal lima belas, apakah

kawanan Laron Penghisap darah itu terbang keluar lagi?”

tanya Siang Huhoa lagi.

“Benar, malam itu sebelum bulan purnama berada diatas

angkasa, kawanan laron itu sudah mulai bergolak dengan

hebatnya”

“Waktu itu kau belum tidur?”

335

“Sedang bersiap siap untuk tidur”

“Kau dikejutkan oleh kegaduhan yang ditimbulkan kawanan

laron itu?”

Kembali Si Siang-ho mengangguk.

“Kegaduhan yang mereka lakukan saat itu luar biasa

hebatnya dan belum pernah terjadi sebelum ini, secara

kebetulan akupun sempat menyaksikan kawanan laron itu

terbang menyongsong datangnya rembulan di angkasa”

“Keesokan harinya baru kembali?”

“Tidak, pagi tadi baru kembali ke kandang” kata Si Siangho

sambil menggeleng.

“Ini berarti mereka telah hilang selama dua, tiga hari

lamanya?”

“Benar”

“Apakah selama berapa hari ini kau tidak berusaha untuk

melacak jejak mereka?”

“Pernah terlintas ingatan tersebut dalam benakku,

khususnya pada malam tanggal lima belas, keinginanku untuk

menguntil ke mana perginya kawanan laron itu kuat sekali”

Tiba-tiba dia menggeleng, terusnya:

“Sayang aku tidak bersayap, kecepatan terbang mereka

luar biasa, dalam sekejap mata bayangan dari rombongan

laron itu sudah lenyap dibalik kegelapan malam”

“Benarkah begitu?”

“Benar, aku benar benar tidak tahu selama tiga hari ini ke

mana saja perginya kawanan laron tersebut” kata Si Siang-ho

sambil angkat tangannya.

Siang Hu-hoa manggut manggut sementara Tu Siau-thian

dan Nyo Sin saling bertukar pandangan.

336

Si Siang-ho memang tidak tahu, tapi mereka tahu jelas.

Bab 18.

Membingungkan

Siang Huhoa segera mengalihkan sorot matanya ke wajah

Kwee Bok, tanyanya:

“Sudah kau dengar semua penjelasannya?”

Tidak kuasa lagi Kwee Bok mengangguk.

“Apakah semua yang dia tuturkan adalah kenyataan?”

desak Siang Huhoa.

Sekujur badan Kwee Bok bergetar keras, tiba-tiba dia

berteriak lantang:

“Siapa bilang semuanya kenyataan, dia sedang bohong!”

Mendadak tubuhnya menubruk maju ke muka, sambil

mencengkeram dada Si Siang-ho teriaknya lagi:

“Kenapa kau harus berbohong? Kenapa kau harus

menfitnah aku? Kenapa harus mencelakai aku?”

Si Siang-ho sama sekali tidak berkelit, dia membiarkan

Kwee Bok mencengkeram baju dibagian dadanya, dia pun

tidak berubah membantah, sorot matanya malah dialihkan

memandang ke wajah Siang Huhoa.

Sementara itu Siang Huhoa sendiripun hanya berdiri tanpa

bergerak, sebab pada saat itulah Tu Siau-thian dan Nyo Sin

sudah maju ke depan dan satu dari kiri yang lain dari kanan

telah menangkap sepasang tangan Kwee Bok serta

menariknya dengan paksa hingga cengkeraman pemuda itu

terlepas.

337

“Kalian jangan percaya dengan perkataannya” jerit Kwee

Bok sambil meronta keras.

“Tutup mulutmu!” bentak Nyo Sin lantang, suara bentakan

yang begitu nyaring itu seketika membuat Kwee Bok

terbungkam.

Saat itulah Siang Huhoa baru berkata:

“Mari kita naik ke loteng untuk memeriksa dulu kawanan

Laron Penghisap darah tersebut”

Si Siang-ho yang pertama menyetujui usulan itu, sahutnya

sambil mengangguk:

“Mari ikut aku!”

Dia segera membalikkan badan dan beranjak masuk ke

dalam rumah penginapan diikuti Siang Hu-hoa di belakangnya.

Kwee Bok merupakan orang ke dua yang menguntil di

belakangnya, bukan karena kemauan sendiri tapi Nyo Sin dan

Tu Siau-thian lah yang mendorong tubuhnya agar bergerak

masuk duluan.

Sembari mendorong tubuhnya Nyo Sin dan Tu Siau-thian

segera menghunus pula goloknya untuk bersiap sedia.

Mereka berharap bisa secepatnya membuktikan apakah

semua keterangan yang diberikan Si Siang-ho merupakan

kenyataan.

Mungkin saja Kwee Bok terkecuali, tapi sayang dia tidak

mampu berbuat lain kecuali mengikuti rombongan itu, sebab

didepan ada Si Siang-ho dan Siang Huhoa sementara

dibelakangnya mengikuti Tu Siau-thian dan Nyo Sin, semua

tindak tanduknya sudah diluar kontrol diri sendiri, bahkan mau

pergi meninggalkan tempat itupun sudah menjadi masalah.

Baginya hanya ada satu jalan bila ingin pergi meninggalkan

tempat itu, yakni kecuali dia memang benar-benar seorang

siluman.

338

Entah sudah berapa lama rumah penginapan itu tidak

pernah disapu dan dibersihkan, sebagian besar tempat telah

dilapisi sarang laba-laba yang tebal, bahkan debu dan kotoran

nyaris mengotori setiap tempat.

Sebuah bangunan rumah yang pada dasarnya sudah jelek,

kuno dan mengenaskan, kini nampak lebih jelek, lebih kuno

dan lebih mengenaskan lagi.

Hanya anak tangga menuju ke bangunan loteng yang

nampak agak bersih, mungkin lantaran terlalu sering

digunakan untuk berlalu lalang, walau begitu, bentuknya

kelihatan tidak begitu kokoh, sewaktu berjalan diatasnya, anak

tangga itu segera memperdengarkan suara mencicit yang

keras, seakan setiap saat anak tangga itu bisa patah dan

roboh.

Dengan perasaan kebat kebit Nyo Sin ikut menaiki anak

tangga itu, baru berapa langkah dia sudah berseru sambil

tertawa:

“Terus terang, aku kuatir kalau anak tangga ini patah dan

roboh secara tiba-tiba”

“Soal ini kau tidak usah kuatir” jawab Si Siang-ho sambil

menghentikan langkahnya dan berpaling, “setiap hari, paling

tidak aku naik turun sebanyak dua kali, bukankah hingga

sekarang aku masih tetap hidup segar bugar?”

“Sebetulnya tempat ini cukup bagus, hanya sayang debu

dan sarang laba-labanya kelewat banyak, kenapa tidak kau

bersihkan?”

“Sebab aku tidak punya waktu senggang”

“Apa yang kau sibukkan setiap hari?”

“Minum arak”

339

“Kelihatannya nasib rumah penginapan Hun-lay sudah

mendekati masa akhirnya” gumam Nyo Sin sambil

menggelengkan kepalanya berulang kali.

Si Siang-ho tidak menjawab, dia hanya tertawa.

Kembali Nyo Sin berkata:

“Heran, kenapa kau bisa betah bertempat tinggal di tempat

seperti ini?”

“Nyo tayjin, apakah kau tertarik juga dengan arak?”

kembali Si Siang-ho tertawa.

“Aku jamin arak yang telah kuminum tidak lebih sedikit dari

apa yang telah kau minum” sahut Nyo Sin sambil manggutmanggut.

“Indah bukan impian sewaktu mabok?” mendadak Si Siangho

bertanya.

“Tentu, indah sekali” sahut Nyo Sin, setelah berhenti

sejenak, lanjutnya, “setiap kali berada dalam mendusin, aku

tahu bahwa diriku hanya seorang opas, tapi begitu sudah

memasuki impian indah ketika sedang mabuk, aku selalu

merasa diriku bukan seorang opas lagi, tapi seorang raja

muda”

“Itulah dia” seru Si Siang-ho segera, “hampir sepanjang

tahun aku berada dalam impian mabuk ku”

“Maka kau tidak acuh dan tidak ambil perduli terhadap

lingkungan yang dalam kenyataan mengelilingi dirimu?”

“Betul, aku sama sekali tidak acuh”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka

berlima sudah tiba diatas bangunan loteng.

Sebelum melangkah masuk ke ruang atas, semua orang

sudah mengendus semacam bau busuk yang sangat

memualkan, sedemikian busuknya bau yang tersebar

340

membuat setiap orang nyaris muntahkan seluruh isi perutnya,

apalagi ketika melangkah masuk ke dalam ruang atas, bau

busuk itu semakin menusuk penciuman.

Mereka semua seolah-olah sudah terjerumus ke dalam

alam kebusukan, bau busuk yang menyebar luas seolah

sedang menyusup ke dalam tubuh mereka dan mulai beredar

dalam badan mengikuti aliran darah.

Tiba-tiba saja mereka merasakan cairan darah dalam tubuh

masing masing seakan ikut mulai berbau, seakan seluruh

badan mereka ikut mengeluarkan bau busuk yang menusuk

hidung………

Untung saja semuanya itu bukan sebuah kenyataan!

0-0-0

Sebuah beranda yang memanjang terbentang dihadapan

mereka semua.

Dikedua sisi beranda itu masing masing terdapat empat

buah kamar disisi kiri dan empat kamar disisi kanan, saat ini

ada tujuh buah kamar yang terbuka lebar pintu dan jendela

kamarnya, hanya ruang disudut paling kiri yang terkecuali.

Pintu dan jendela ruang kamar itu hampir semuanya

tertutup rapat, sebelah sisi kiri pintu merupakan ujung paling

dalam dari beranda itu tersusun beberapa buah kerangkengan

besi, bau busuk yang memuakkan itu tampaknya muncul dari

balik ruangan tersebut.

Sebelum mereka mendekati ruangan itu, lamat lamat

terdengarlah suara yang sangat aneh berkumandang keluar

dari dalam ruangan itu, suara tersebut mirip suara

serombongan manusia yang bersama-sama sedang

mengunyah sesuatu benda.

341

Terhadap suara asing semacam itu, Siang Hu-hoa, Tu Siauthian

maupun Nyo Sm tidak merasa terlalu asing.

Tanpa sadar paras muka mereka bertiga berubah hebat,

badan mereka merinding keras hingga bersin berulang kali.

“Jadi kawanan laron itu berdiam didalam kamar itu?” tanya

Tu Siau-thian kemudian dengan wajah hijau membesi.

Si Siang-ho manggut manggut membenarkan.

“Dan kau juga yang membuka kerangkeng besi itu serta

melepaskan mereka semua?” tanya Tu Siau-thian lebih jauh.

“Bukan aku, tapi dia!” jawab Si Siang-ho sambil melirik

Kwee Bok sekejap.

“Omong kosong!” teriak Kwee Bok gusar.

Si Siang-ho sama sekali tidak menggubris, katanya lebih

jauh:

“Sewaktu baru dipindahkan kemari, dialah yang membuka

kerangkengan itu serta melepaskan mereka semua”

“Selanjutnya kau yang setiap hari masuk ke dalam kamar

untuk mengirim kawanan kelinci itu?”

“Benar”

“Setiap kali sedang bekerja, apakah kau berada dalam

keadaan mabuk?”

“Sebelum menghantar kawanan kelinci itu kepada mereka,

aku tidak berani menyentuh arak walau hanya setetes pun”

“Oya?”

“Sebab aku kuatir napsu minumku kambuh hingga benarbenar

dibikin mabuk, kalau sampai aku masuk dalam keadaan

mabuk, bisa berabe nantinya….”

342

“Bukankah selama ini kau selalu masuk ke dalam kamar

untuk menghantar kelinci kelinci itu? Kenapa bisa berabe?”

tanya Tu Siau-thian keheranan.

“Tidak, aku sendiri tidak punya keberanian sebesar itu”

seru Si Siang-ho sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Lalu dengan cara apa kau laksanakan tugas itu?”

“Diatas pintu ruangan terdapat sebuah pintu otomatis, aku

cukup memasukkan kelinci kelinci itu seekor demi seekor

melalui pintu otomatis”

Dia segera mempercepat langkah kakinya mendekati

ruangan itu, kemudian tangannya menekan sebuah tombol

diatas pintu.

Begitu tombol tersebut ditekan maka terbukalah sebuah

lubang pintu selebar satu depa, tapi begitu tombol dilepas,

pintu itupun menutup secara otomatis.

Tiba-tiba Siang Hu-hoa menatap wajah Si Siang-ho lekatlekat

lalu berkata:

“Kalau tadi aku melihat kau masih dipengaruhi oleh mabuk,

tapi sekarang aku lihat tidak secuwilpun pengaruh arak yang

masih tersisa ditubuhmu”

“Betul, sekarang pengaruh arak dalam tubuhku benarbenar

telah punah” jawab Si Siang-ho, kemudian setelah otot

tenggorokannya nampak mengejang, dia lanjutkan, “suara

seperti ini, bau memuakkan semacam ini tidak disangkal

merupakan obat penghilang mabuk yang paling jitu dan

mujarab”

Mau tidak mau Siang Hu-hoa harus mengangguk juga,

sebab apa yang dia katakan memang sangat tepat.

Kini mereka telah tiba didepan ruang kamar itu, segerombol

laron sedang mengunyah sesuatu karena menimbulkan suara

kunyahan yang aneh, tajam, melengking dan sangat

343

menegangkan syarat, bahkan bau busuk yang tersiar keluar

seolah sudah menembusi dinding lambung dan dinding usus

mereka.

Dia memang tidak sampai memuntahkan isi perutnya,

namun lambungnya terasa mulai menyusut kencang dan

mengejang keras.

“Kenapa bisa begitu bau?” gumamnya tanpa terasa, dia

berjalan semakin mendekat lalu menekan tombol diatas pintu

sehingga pintu otomatis itu terbuka sedikit.

Bau busuk terendus makin tajam dan keras, dia mencoba

untuk menahan napas sambil melongok ke dalam ruang kamar

itu.

Laron Penghisap darah!

Ada sekamar penuh Laron Penghisap darah yang sedang

beterbangan disana!

Dalam ruang kamar itu tidak ada perabot lain, semua

barang yang semula terdapat disetiap kamar penginapan kini

nyaris sudah terangkut keluar semua, yang tersisa hanya

sebuah rak yang terbuat dari bambu.

Rak bambu itu lebarnya mencapai separuh ruang kamar itu,

batang bambu yang digunakan pun merupakan batang bambu

alami yang belum dibersihkan, bahkan daun daun bambu pun

masih nampak berserakan disana sini.

Beribu ekor Laron Penghisap darah itu berada disekeliling

dahan dan ranting bambu itu, ada yang sedang terbang

mengelilingi rak bambu ada pula yang hinggap diantara

ranting dan dedaunan, matanya yang merah dan sayapnya

yang hijau membuat pemandangan yang menawan ditempat

itu.

Dalam pandangan mata Siang Hu-hoa, semua keindahan

yang ditampilkan laron laron itu justru mendatangkan

perasaan ngeri dan seram yang menggidikkan hati.

344

Ternyata jendela dibagian luar ruang kamar itu berada

dalam keadaan terbuka lebar.

Biarpun jendela dalam keadaan terbuka, namun kawanan

Laron Penghisap darah itu tidak seekor pun yang terbang

keluar dari ruang kamar itu, mereka hanya beterbangan

disekeliling rak bambu.

Didepan rak bambu itu berserakan setumpuk tulang

belulang, bukan tulang belulang manusia, dari bentuk dan

wujudnya tulang itu semestinya tulang belulang dari kelinci.

Tumpukan tulang belulang itu memancarkan sinar putih

yang pucat, pantulan sinar yang aneh sekali, seolah setelah

dikerati daging dan kulitnya kemudian dicuci bersih dengan air

dan diskat satu per satu.

Siang Hu-hoa menghembuskan napas dingin, buru buru dia

lepaskan tombol rahasia itu dan mundur tiga langkah.

Tu Siau-thian dan Nyo Sin segera maju ke depan

menggantikan posisi Siang Hu-hoa tadi.

Tapi begitu melihat suasana dalam ruang kamar itu, paras

muka mereka berubah langsung berubah hebat, cepat-cepat

mereka pun mundur ke belakang.

Dengan kedua belah tangannya Nyo Sin memegangi

tenggorokan sendiri, dia seakan harus berbuat begini agar isi

perutnya tidak sampai tumpah keluar.

Lama kemudian, Siang Huhoa baru menghembuskan napas

panjang, kepada Si Siang-ho tanyanya:

“Kenapa semua jendela bagian luar bisa dalam keadaan

terbuka?”

Sekali lagi Si Siang-ho mengerling Kwee Bok sekejap,

kemudian jawabnya:

“Mungkin saja agar kawanan laron itu bisa masuk keluar

dengan lebih leluasa, mengenai bagaimana caranya untuk

345

membuka jendela itu……..lebih baik tanyakan saja langsung

kepadanya”

Sementara itu Kwee Bok sudah berjalan menuju ke depan

pintu amar, dia pun ikut melongok ke dalam melalui pintu

otomatis, tapi tidak lama kemudian paras mukanya ikut

berubah sangat hebat.

Tampaknya dia sama sekali tidak mengetahui tentang

semua persoalan disitu, diapun seakan tidak mendengar apa

yang diucapkan Si Siang-ho barusan, kali ini dia sama sekali

tidak menunjukkan reaksi apapun.

“Kau bilang, dia yang membuka jendela jendela itu?” tanya

Siang Huhoa kemudian.

“Sebelum melepaskan kawanan laron itu ke dalam ruangan

tersebut, dia sudah membuka semua jendela itu terlebih dulu”

“Tidak kuatir kawanan Laron Penghisap darah itu kabur

melalui jendela?” tanya Siang Huhoa keheranan.

“Aku sendiripun merasa agak heran, di hari hari biasa

kawanan laron itu hanya beterbangan didalam ruang kamar,

tidak seekor pun yang berusaha untuk terbang keluar dari

situ”

Siang Hu-hoa kembali berpikir sejenak, kemudian tanyanya

lagi:

“Apakah tumpukan tulang belulang yang ada didepan rak

bambu itu adalah tulang belulang dari kawanan kelinci?”

“Benar”

“Tapi aku lihat tulang belulang dari tiga puluh ekor kelinci

pun tidak genap?”

“Tepat tiga puluh ekor!”

346

“Tiga puluh ekor kelinci hanya cukup untuk rangsum tiga

hari, memangnya kawanan Laron Penghisap darah itu sudah

melalap habis sisa sisa tulang belulang yang dulu?”

Si Siang-ho kembali memandang Kwee Bok sekejap,

kemudian katanya:

“Setiap kali datang menghantar kelinci baru, dia pasti akan

masuk ke dalam ruangan dan membersihkan sisa-sisa tulang

belulang kelinci yang sudah terlalap habis”

“Ooh rupanya begitu, aku masih mengira kawanan Laron

Penghisap darah itu sudah melalap habis seluruh kelinci itu

berikut tulang belulangnya” ujar Siang Huhoa sambil manggut

manggut, kemudian dia bertanya lagi:

“Apakah kau tahu semua tulang belulang kelinci itu sudah

dipindahkan ke mana?”

“Aku hanya tahu semua tulang belulang itu dia angkut

pergi dengan menggunakan kereta kuda”

Kembali Siang Huhoa manggut manggut, baru saja dia

akan mengajukan pertanyaan lagi, mendadak hidungnya

mengendus semacam bau harum yang sangat aneh.

Bau harum itu tidak diketahui berasal dari benda apa, juga

tidak diketahui bersumber dari mana, bau itu seolah olah ada

tapi seolah olah tidak ada, kadang baunya tipis kadang baunya

menebal dan melayang layang terus ditengah udara.

Siang Hu-hoa belum pernah mendengus bau harum

semacam ini.

Dia segera memusatkan seluruh perhatiannya dan baru

saja akan menyelidiki sumber dari bau harum itu, tiba-tiba dia

menjumpai bahwa suara dengungan dan suara mengunyah

yang semula amat ramai mendadak jadi mereda, sebaliknya

suara kepakan sayap kian lama kian bertambah ramai dan

keras.

347

Dengan satu gerakan refleks dia melompat ke depan,

mendorong tubuh Kwee Bok kesamping lalu menekan tombol

dan melongok ke dalam ruangan.

Tampak olehnya beribu-ribu ekor Laron Penghisap darah

yang semula berkerumun diatas rak bambu itu kini sudah

mengepakkan sayapnya dan beterbangan keluar dari ruangan

melalui daun jendela.

Menyaksikan kejadian itu Siang Huhoa nampak tertegun,

gumamnya:

“Heran, tidak ada hujan tidak ada angin, kenapa secara

tiba- tiba pada terbang pergi?”

Tu Siau-thian maupun Nyo Sin serentak menerjang maju

dan melongok ke dalam ruangan, tapi dengan cepat paras

muka ke dua orang itupun diliputi perasaan tercengang

bercampur tidak habis mengerti.

“Mungkin saja kawanan laron itu terpengaruh oleh bau

harum ini” ujar Si Siang-ho pelan, tampaknya diapun turut

mengendus bau harum yang sangat aneh itu.

“Berasal dari benda apakah bau harum itu?” tanya Siang

Huhoa.

“Entahlah, aku sendiri juga kurang jelas” sahut Si Siang-ho

seraya menggeleng.

“Sebelum hari ini, apakah kau pernah mengendus bau

harum semacam ini?”

“Pernah, malah beberapa kali”

“Kira-kira kapan kau pernah mengendus bau harum itu?”

sela Siang Huhoa.

“Sesaat sebelum gerombolan laron itu terbang

meninggalkan kandangnya”

348

“Oooh…….” seru Siang Hu-hoa, dia melongok lagi ke dalam

ruangan, ternyata hanya dalam waktu singkat beribu-ribu ekor

Laron Penghisap darah itu sudah terbang bersih dari ruangan

tersebut.

Tanpa terasa pandangan matanya dialihkan ke atas gelang

pintu, tanyanya mendadak:

“Kau membawa kunci ruangan?”

Diantara dua gelang pintu memang tergantung sebuah

gembokan kunci yang sangat besar, gembokan besi disertai

rantai besar.

Si Siang-ho gelengkan kepalanya.

“Dia yang menyimpan ke dua buah anak kunci itu!”

katanya, sementara berbicara sinar matanya kembali dialihkan

ke wajah Kwee Bok.

Waktu itu Kwee Bok sedang berdiri termangu-mangu, tapi

begitu mendengar perkataan Si Siang-ho apalagi melihat sorot

matanya tertuju ke wajah sendiri, kontan saja dia mencak

mencak kegusaran, teriaknya:

“Siapa bilang aku mempunyai kuncinya?”

Si Siang-ho hanya tertawa, dia tidak menanggapi teriakan

orang.

Dengan cepat Nyo Sin melotot sekejap ke arah Kwee Bok,

hardiknya:

“Siau Tu, cepat geledah sakunya!”

Tentu saja Tu Siau-thian tidak berani membangkang

perintah komandannya, dia menyahut dan segera jalan

mendekat.

Kwee Bok tidak berusaha untuk menghindar, diapun tidak

melakukan perlawanan, sambil tertawa pedih ujarnya:

“Baik, silahkan kalian geledah!”

349

Tu Siau-thian tidak sungkan sungkan lagi, dengan seksama

dia geledah seluruh badan Kwee Bok, alhasil tidak ditemukan

anak kunci walau hanya sebuah pun.

Sambil gelengkan kepalanya berulang kali Tu Siau-thian

terpaksa lepas tangan dan mundur kembali.

Nyo Sin melirik Kwee Bok sekejap, tiba-tiba dia berpaling

seraya berseru:

“Ayoh kita dobrak pintu itu dan menerjang masuk!”

Begitu selesai bicara, dia mundur selangkah dan siap

menendang pintu itu.

Belum lagi kakinya terangkat, Siang Huhoa telah

mencegahnya.

“Tidak perlu!” cegah Siang Hu-hoa sambil menggeleng.

Sepasang tangannya serentak dijatuhkan keatas gelang

pintu disebelah kiri, ketika hawa murninya disalurkan,

“Kraaak” gelang pintu itu seketika terbetot hingga hancur

berantakan.

Pintu pun perlahan-lahan mulai terbuka lebar, bau busuk

yang semakin menyengat hidung segera menyembur keluar

dan tersebar ke mana-mana.

Dengan cepat Siang Huhoa berpaling ke arah lain untuk

menghindari semburan bau busuk itu, Tu Siau-thian menutupi

hidungnya, Nyo Sin membuang napas sementara Kwee Bok

mulai memuntahkan isi perutnya.

Menghadapi bau busuk yang luar biasa hebatnya itu jelas

dia sudah tidak mampu untuk mengendalikan diri.

Seandainya dialah pemilik kawanan Laron Penghisap darah

itu, semestinya dia sudah terbiasa dengan bau busuk

semacam ini, atau mungkin dia memang bukan pemiliknya?

350

“Hmmm, pandai amat kau berlagak!” jengek Nyo Sin sambil

tertawa dingin.

Kwee Bok tidak menggubris, dia masih muntah terus tiada

hentinya.

“Mari kita masuk ke dalam” ajak Nyo Sin kemudian sambil

mengerling Tu Siau-thian sekejap, walaupun dia berkata

begitu namun tubuhnya sama sekali bergeming.

Akhirnya Tu Siau-thian menghela napas panjang, dia tahu

tidak ada pilihan lain baginya kecuali masuk ke dalam ruangan

terlebih dulu.

Nyo Sin segera menyambar bahu Kwee Bok dan

mendorongnya masuk ke dalam ruang kamar, setelah itu dia

baru mengikuti di belakangnya.

Siang Huhoa dan Si Siang-ho ikut masuk ke dalam, namun

tidak terlihat seekor Laron Penghisap darah pun didalam

ruangan itu.

Seluruh ruangan seolah dicekam bau busuk yang sangat

tebal, ditengah bau busuk lamat lamat terendus bau harum

yang aneh, bau harum itu meski sangat tipis namun masih

dapat tercium dengan jelas.

Tiba-tiba Nyo Sin merasa bahwa bau harum itu rupanya

datang dari tubuh Kwee Bok.

Dia segera melepaskan cengkeraman pada bahunya,

setelah mundur tiga langkah, diamatinya tubuh Kwee Bok dari

atas hingga ke bawah.

Waktu itu Kwee Bok masih muntah tiada hentinya, bukan

cuma seluruh isi perutnya tertumpah keluar bahkan air pahit

pun ikut tertumpah keluar.

Nyo Sin mencoba mengendus beberapa kali diseputar

tubuh Kwee Bok, tiba-tiba tanyanya kepada Tu Siau-thian:

“Tadi, kau sudah menggeledah seluruh sakunya?”

351

Tu Siau-thian membenarkan.

“Kenapa bau harum itu seolah olah muncul dari tubuhnya?”

tanya Nyo Sin lagi.

“Masa begitu?” tanya Tu Siau-thian keheranan, ia segera

maju mendekat, mengendusnya beberapa kali, kemudian

dengan wajah tercengang bercampur keheranan, serunya

tertahan:

“Aaah, benar, bau harum itu berasal dari tubuhnya”

Seraya berpaling ke arah Nyo Sin, gumamnya:

“Aneh, kenapa tidak kurasakan sejak tadi?”

“Coba kau geledah sakunya sekali lagi!” perintah Nyo Sin.

“Padahal tadi sudah kugeledah dengan teliti”

“Mungkin kau kurang seksama, coba digeledah sekali lagi”

“Yaa. Mungkin aku kurang teliti, tapi sudah kuperiksa

semuanya, apalagi yang mesti aku geledah…….”

“Mungkin lipatan bajunya!” tiba-tiba Siang Hu-hoa menyela

dari samping.

Berbinar sepasang mata Tu Siau-thian, serunya tertahan:

“Lipatan ujung bajunya?”

Dengan cepat dia sambar tangan kanan Kwee Bok dan

mencengkeram lipatan ujung bajunya.

Begitu dicengkeram, dia segera berhasil menggenggam

sebuah benda bulatan, karena cengkeramannya kelewat

keras, benda bulatan itu segera hancur berantakan.

“Blukkkk!” dari balik lipatan baju Kwee Bok segera

berkumandang suara ledakan kecil, disusul kemudian tampak

segumpal asap putih menyembur keluar dari sela sela

bajunya, bau harum yang sangat menyengat pun menyebar

ke seluruh angkasa.

352

Berubah hebat paras muka semua orang, sementara Kwee

Bok sendiri seolah berubah jadi orang yang sangat bodoh, dia

tampak tertegun hingga melanjutkan muntahannya pun jadi

terhenti sementara waktu.

Dengan wajah berubah hebat Nyo Sin segera berseru:

“Hati-hati racun dibalik asap………”

Seraya berkata buru buru dia menutup seluruh

pernapasannya.

Tu Siau-thian tidak ketinggalan untuk menutup

pernapasannya, sedangkan Siang Huhoa sudah menutup

napasnya semenjak tadi.

“Aku percaya tidak ada racun dibalik asap itu” kata Si

Siang-ho kemudian, “aku sudah berulang kali mengendus bau

harum seperti ini, seandainya ada racun, memangnya aku

masih bisa hidup hingga kini?”

“Ehm, benar juga” Nyo Sin manggut-manggut, “lantas

menurut pendapatmu, apa kegunaan asap itu?”

Si Siang-ho termenung sambil berpikir sejenak, kemudian

sahutnya:

“Bisa jadi asap wangi itu digunakan untuk mengendalikan

kawanan Laron Penghisap darah, benar atau tidak dugaanku

ini, kita mesti tanyakan kepadanya”

Kali ini, tidak menunggu dia mengalihkan sorot matanya,

Kwee Bok sudah berteriak sambil mencak-mencak kegusaran:

“Si Siang-ho, kenapa kau menfitnah aku? Kenapa kau

berupaya mencelakai aku?”

“Buat apa aku menfitnahmu? Buat apa aku mencelakaimu?

Toh antara kau dan aku tidak punya ikatan dendam atau sakit

hati?” sahut Si Siang-ho sambil tertawa getir.

353

“Lalu kenapa kau menuduh aku dengan segala tuduhan

yang tidak masuk diakal?” jerit Kwee Bok.

Si Siang-ho menghela napas panjang.

“Aai, bila kenyataan memang demikian, apalagi yang bisa

kuperbuat?” sahutnya.

Kembali dia berpaling ke arah Siang Huhoa dan Tu Siauthian,

lalu terusnya:

“Semua yang kukatakan adalah kata yang sejujurnya!”

“Dia bohong! Dia sedang menfitnah aku!” jerit Kwee Bok

sambil mengepal tinjunya.

Kalau dilihat dari gayanya, dia seakan hendak menerjang

ke depan dan menghadiahkan dua pukulan tinju ke dada Si

Siang-ho, sayang sebelum hal ini dilakukan, tangannya sudah

keburu ditangkap Tu Siau-thian.

Ketika Tu Siau-thian menggetarkan tangannya, beberapa

buah kotak lilin berbentuk bulat terjatuh dari balik lipatan baju

kanannya, dari balik kotak lilin itulah asap putih itu berasal.

Sambil tertawa dingin Tu Siau-thian segera menegur:

“Jika dia sedang menfitnahmu, lalu apa penjelasanmu

tentang bulatan bulatan lilin yang jatuh dari balik lipatan

bajumu?”

“Darimana aku bisa tahu kalau bulatan lilin itu bisa muncul

dibalik lipatan bajuku” jawab Kwee Bok sambil tertawa getir.

Tu Siau-thian tertawa dingin, sebelum dia sempat bersuara,

sambil tertawa dingin Nyo Sin sudah bicara duluan:

“Kalau kau tidak tahu, siapa yang tahu?”

“Aku benar-benar……”

354

“Benar-benar kenapa?” tukas Nyo Sin, “semuanya sudah

terbukti didepan orang banyak, memangnya tuduhan inipun

merupakan fitnahan?”

Perkataan itu kontan saja membuat paras muka Kwee Bok

berubah jadi merah jengah dan panas, untuk sesaat dia tidak

sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Kembali Nyo Sin berkata:

“Sebentar kami akan menanyai semua penduduk dusun,

apa benar setiap sepuluh hari kau datang satu kali kemari, apa

benar kau pernah mengangkut keranjang besi menggunakan

kereta kuda yang ditutup kain hitam, asal semua sudah

ditanyakan, urusan akan lebih jelas lagi”

Dengan wajah merah padam Kwee Bok melotot Si Siang-ho

sekejap, teriaknya:

“Semua penduduk dusun ini merupakan komplotannya!”

“Hmmm, kalau begitu kami juga merupakan

komplotannya?” jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

Kontan Kwee Bok terbungkam mulutnya.

Nyo Sin segera berpaling ke arah Tu Siau-thian, lalu

perintahnya:

“Coba geledah sekeliling tempat ini, periksa apakah masih

ada benda lain yang mencurigakan”

Tu Siau-thian mengangguk dan segera berlalu.

Dalam pada itu Siang Huhoa sudah mulai berjalan

mengitari ruang kamar itu.

Ruang kamar itu tidak terlalu besar. Tidak selang berapa

saat kemudian ke dua orang itu sudah selesai memeriksa dan

menggeledah seluruh ruangan.

Tidak ditemukan sesuatu benda yang mencurigakan, tidak

juga ditemukan sesuatu penemuan yang baru.

355

Kembali ke sisi Nyo Sin, Tu Siau-thian segera melapor

seraya menggeleng:

“Aku lihat ruang kamar itu tidak ada yang perlu

dicurigakan”

“Apakah saudara Siang berhasil menemukan sesuatu?” Nyo

Sin segera berpaling ke arah Siang Huhoa.

Siang Huhoa tidak menjawab, tiba-tiba dia

membungkukkan badannya dan memungut berapa buah

potongan kotak lilin yang terjatuh ke lantai.

Mendadak sorot matanya membeku, ternyata ditemukan

tulisan diatas kerak lilin itu.

Buru-buru dia menyatukan kedua potongan kotak lilin itu

hingga muncullah tiga buah huruf yang amat jelas: Hui cun

tong.

Sebuah cap berwarna merah tertera sangat jelas diatas

lapisan lilin.

Semua tingkah laku Siang Huhoa diikuti terus oleh Nyo Sin

dengan seksama, maka sebelum Siang Hu-hoa sempat

mengatakan sesuatu, dia sudah memburu ke depan untuk

memeriksa sendiri penemuan apa yang berhasil didapatkan.

Sementara itu Siang Huhoa sudah berpaling ke arah Kwee

Bok, sambil menatap tajam wajah pemuda itu tanyanya:

“Boleh aku tahu apa nama balai pengobatan milikmu itu?”

“Hui Cun-tong!” jawab Kwee Bok tanpa ragu.

Siang Huhoa menghela napas panjang, pelan-pelan dia

sodorkan sepasang tangannya ke depan.

Dengan ketajaman mata Nyo Sin, hanya dalam sekali

pandang saja dia sudah melihat jelas tulisan itu, teriaknya

tanpa sadar:

“Aaah, Hui cun tong!”

356

Sebelum Siang Huhoa menyodorkan lilin itu ke hadapan

Kwee Bok, agaknya pemuda itu pun sudah melihat dengan

jelas tulisan yang tertera disitu.

Berubah hebat paras muka Kwee Bok, apalagi setelah

lapisan lilin itu disodorkan ke hadapannya, air mukanya saat

ini telah berubah jadi putih pucat bagai selembar kertas.

Tampaknya dia sudah melihat dengan jelas benda itu,

sudah melihat pula dengan jelas ke tiga huruf yang tertera

disitu.

Dengan mata melotot Siang Huhoa segera menegur:

“Betulkah benda itu hasil produksi dari balai

pengobatanmu?”

“Benar, obat itu memang aku buat sendiri” jawab Kwee Bok

sambil mengangguk, wajahnya penuh diliputi kebingungan.”

“Berdasarkan apa kau bisa membedakan kalau obat ini hasil

produksimu?”

“Diatas lapisan lilin itu tertera cap identitasku”

“Tapi cap ini bisa dipalsukan orang….”

“Apakah kau tidak merasa bahwa warna merah dari cap itu

sedikit agak istimewa bila dibandingkan dengan warna lain?”

tiba tiba Kwee Bok bertanya.

“Benar” Siang Hu-hoa mengangguk, “rasanya warna jenis

begini jarang sekali dijumpai”

“Warna itu merupakan hasil pencampuranku sendiri,

sementara cap itu diterakan diatas lapisan lilin ketika lilin

belum sama sekali membeku, itulah sebabnya warna yang

ditimbulkan sangat berbeda dengan warna pada umumnya,

biar orang lain bisa memalsukan cap ku, belum tentu ia bisa

memalsukan persis seperti apa yang kuhasilkan”

Sesudah menghela napas, terusnya:

357

“Rahasia ini hanya diketahui aku seorang, sejak meramu

obat sampai memasukkan ke dalam kapsul lilin itu, aku tidak

pernah suruh orang lain yang mengerjakan, hampir semuanya

aku lakukan sendiri”

“Apa tujuanmu berbuat demikian?”

“Untuk mencegah agar tidak dipalsukan orang lain”

“Sebetulnya obat itu dipakai untuk mengobati sakit apa?”

tanya Siang Huhoa lagi.

“Terhadap beberapa jenis penyakit yang sering dijumpai

dalam masyarakat, obat itu manjur sekali”

“Oooh, jadi obat itulah yang disebut orang si mia wan (pil

penyambung nyawa) dari Hui cun tong?” timbrung Tu Siauthian

tiba tiba.

“Benar!”

“Apa benar bisa menyambung nyawa orang?” tanya Siang

Huhoa agak sangsi.

“Kalau dibilang benar benar bisa menyambung nyawa

orang, hal itu sih kelewat dibesar besarkan, tapi nama ini

paling tidak sudah digunakan hampir lima puluh tahun

lamanya”

“Bukankah kau bilang obat itu kau sendiri yang buat?”

“Sekarang memang aku sendiri yang membuat obat

tersebut, tapi dulu tidak, pencipta ramuan obat itu toh bukan

aku”

Bab 19.

Membetot serat menguliti kepompong.

“Kalau bukan kau, lantas siapa?” tanya Siang Huhoa.

358

“Mendiang guruku!”

“Waah…. obat itu pasti laku keras di pasaran?”

“Betul” Kwee Bok mengangguk, “justru karena itulah diluar

sana banyak beredar obat palsu”

“Apakah obat sejenis itu hanya diperjual belikan di Hui cun

tong?”

“Benar”

“Sebenarnya pil Si mia wan itu mahal tidak harganya?”

“Yang tulen murah harganya, justru yang palsu baru mahal

sekali”

“Maka kau pandang sebelah mata terhadap obat itu?”

“Aku memang memandang sebelah mata, masalahnya

bukan dalam hal untung rugi, balai pengobatan Hui cun tong

bukan usaha dagang yang mengejar keuntungan besar, aku

belajar ilmu pengobatan karena aku ingin menolong orang”

“Kalau memang begitu, kenapa kau masih memandang

sebelah mata?” sindir Nyo Sin sambil tertawa dingin.

“Sebab mereka yang memalsukan obatku hanya mampu

meniru bagian luarnya saja, sedang isinya sangat berbeda,

meskipun setelah diminum tidak sampai menimbulkan

kematian namun obat itu tidak banyak berpengaruh bagi

penderita sakit, bahkan bila berlarut larut bisa menimbulkan

kematian”

“Hmmm, kelihatannya kau bukan termasuk orang berhati

keji” kembali sindir Nyo Sin.

“Apakah kau yakin obat Si mia wan yang kutemukan adalah

obat asli buatanmu sendiri?” tiba-tiba Siang Hu-hoa menyela.

Kwee Bok mengangguk.

359

“Kalau memang asli buatanmu, seharusnya isi kapsul lilin

itu adalah bubuk obat” kata Siang Huhoa lebih jauh, “kenapa

isinya sekarang justru segumpal asap harum? Bagaimana

penjelasanmu tentang kejadian ini?”

Kwee Bok menghela napas panjang.

“Aaai…. mungkin ada orang telah mengeluarkan isi bubuk

obat itu, kemudian memasukkan bubuk obat yang lain ke

dalam kapsul tersebut”

“Siapa orang itu?” jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

“Alangkah baiknya bila aku tahu akan hal ini” sahut Kwee

Bok sambil mengalihkan sorot matanya ke wajah Si Siang-ho.

Walau dipandang dengan sinar mata tajam, Si Siang-ho

masih tetap berdiri tenang, begitu tenangnya seolah tidak ada

urusan dengan dirinya.

“ooh, jadi kau mencurigai dia?” tegur Nyo Sin kemudian.

“Benar, aku memang mempunyai kecurigaan itu”

“Ketika memeriksakan kesehatan tubuhnya, apakah kau

pernah memberi Si mia wan kepada nya?” tanya Nyo Sin.

“Penyakit yang dideritanya sangat ringan, tidak perlu obat

macam si mia wan”

“Apakah dia pernah membeli obat Si mia wan dari balai

pengobatanmu?”

“Juga tidak pernah”

“Lalu darimana dia dapatkan Si mia wan dari Hui cun

tong?”

“Mungkin saja dia suruh orang lain yang membeli”

“Mungkin?” jengek Nyo Sin ketus, “jadi kau tidak yakin?”

Mau tidak mau Kwee Bok harus mengakuinya.

360

“Mungkin kau tidak yakin, tapi aku telah yakin akan satu

hal” kata Nyo Sin lebih jauh.

Kwee Bok tidak bertanya apa yang dia yakini, sebab dia

sudah dapat menebak apa jawaban-nya.

Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh:

“Kapsul lilin itu disembunyikan dibalik lipatan ujung bajumu,

sementara opas itu meremuk kapsul lilin itu dari luar lipatan

baju……..”

Kwee Bok tidak dapat membantah, sebab apa yang

diutarakan memang merupakan sebuah kenyataan.

Setelah tertawa dingin lanjut Nyo Sin:

“Sekarang kau hanya bisa berharap orang dusun tidak ada

yang kenal dengan dirimu, dan tidak ada yang tahu kalau

setiap sepuluh hari sekali kau pasti datang kemari dengan

menunggang kereta kuda”

Kwee Bok tidak berbicara lagi, entah sejak kapan dengus

napasnya mulai memburu hingga nyaris tersengkal, dengan

sorot mata penuh kebencian dia awasi wajah Si Siang-ho.

Si Siang-ho sama sekali tidak menghindari sorot matanya,

sekulum senyum tidak senyum justru menghiasi wajahnya.

Dengus napas Kwee Bok makin lama semakin bertambah

cepat, tiba tiba dia berteriak keras, sambil mengayunkan

tinjunya dia menerjang ke tubuh Si Siang-ho.

Sejak awal Tu Siau-thian sudah menduga sampai ke situ,

dia memang sudah bersiap sedia sejak tadi, maka begitu

ayunan tinju mulai dilontarkanh, dia segera menghadang

dihadapannya.

Siapa tahu baru melangkah beberapa tindak mendadak

Kwee Bok berganti arah dan langsung kabur keluar dari

ruangan itu.

361

Tindakan ini jauh diluar dugaan siapa pun, untuk sesaat Tu

Siau-thian hanya berdiri tertegun sementara Nyo Sin tidak

sempat lagi untuk menghalangi.

Siang Huhoa pun nampaknya agak tercengang dengan

kejadian ini, tanpa terasa sinar matanya dialihkan ke wajah Si

Siang-ho.

Dalam pada itu Si Siang-ho sedang mengangkat tinggi

tangan kirinya, jari telunjukkan ditempelkan diujung hidung

sementara diatas jari manisnya nampak sebuah cincin yang

aneh sekali bentuknya.

Cincin itu terbuat dari besi dan sangat besar bentuknya,

sebuah cincin berwarna hitam yang memancarkan cahaya

tajam.

“Mau kabur ke mana kau!” hardik Tu Siau-thian.

“Berhenti!” bentak Nyo Sin pula, baru dia buka mulut, Kwee

Bok sudah menerjang keluar dari pintu kamar.

“Kena!” terdengar Si Siang-ho membentak nyaring.

Tangan kirinya segera diayunkan ke muka, cincin besi yang

dikenakan dijari telunjuknya itu segera melesat ke tengah

udara dan meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Diantara kilatan cahaya berwarna hitam, terdengar Kwee

Bok mendengus tertahan dan jatuh berlutut diluar pintu.

“Traang!” cincin besi itupun jatuh ke lantai dari lekukan

lutut kakinya.

Dengan satu lompatan cepat Si Siang-ho menghampiri

pemuda itu, memungut kembali cincin besi itu dan dikenakan

pada jari telunjuknya.

Tidak lama kemudian Siang Huhoa bertiga telah memburu

pula dari balik kamar dan menyusul ke samping tubuhnya.

Berbinar sepasang mata Siang Huhoa, pujinya:

362

“Pedang baja gelang terbang, ternyata memang bukan

nama kosong”

“Aaah, hanya permainan kucing kaki tiga, tidak ada

harganya untuk dikagumi” sahut Si Siang-ho merendah.

“Takaran minum arakmu terhitung hebat juga” kembali

Siang Hu-hoa memuji.

“Kenyataan memang begitu, tapi seandainya kedatangan

saudara Siang sedikit agak terlambat sehingga aku

berkesempatan minum lagi berapa cawan, mungkin kau tidak

akan memuji takaran minumku lagi”

Sembari menggosokkan cincin besi itu diantara telapak

tangannya, dia berkata lebih jauh:

“Kalau sampai serangan dilancarkan dalam keadaan pusing

dan tidak tepat dalam penggunaan tenaga, mungkin yang

kena bukan lututnya melainkan batok kepalanya”

Setelah tertawa tergelak, tambahnya:

“Jika sampai terjadi peristiwa macam itu, besar

kemungkinan aku bakal menjadi seorang pembunuh

sungguhan!”

Siang Huhoa hanya tertawa tanpa komentar.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Tu Siau-thian

sudah mencengkeram kerah baju Kwee Bok dan menariknya

hingga terbangun dari tanah.

Nyo Sin tidak tinggal diam, dia ikut maju sambil menelikung

tangan Kwee Bok ke belakang punggungnya.

Telikungan itu mestinya tidak menggunakan tenaga yang

terlalu besar, namun Kwee Bok tidak mampu menahan diri,

tubuhnya segera melengkung bagaikan seekor udang.

363

“Kau tidak usah main akal akalan lagi” seru Nyo Sin sambil

tertawa seram, “belum pernah ada tersangka yang berhasil

kabur dari hadapanku”

Dia pada hakekatnya telah menganggap Si Siang-ho

sebagai anak buahnya.

“Aku bukannya mau melarikan diri” bantah Kwee Bok

dengan wajah hijau membesi.

“Oya?”

“Aku hanya ingin keluar dari sini secepatnya, mencari

seseorang dan menanyai masalah ini hingga jelas” teriak Kwee

Bok lagi.

Nyo Sin sambil tertawa dingin, “apalagi mau cepat atau

lambat, jawabannya tetap sama, buat apa kau mesti terburu

napsu”

Kwee Bok menutup mulutnya rapat rapat, tapi sepasang

matanya mengawasi terus wajah Si Siang-ho dengan penuh

amarah.

“Buat apa kau mendelik kepadanya?” tegur Nyo Sin yang

menyaksikan hal itu.

“Aku pingin melihat jelas rencana busuk apa lagi yang

sedang dia persiapkan”

“Waaah, kau punya kepandaian sehebat itu, mampu

melihat jelas rencana yang sedang dia persiapkan?”

Kwee Bok mendengus dingin, tentu saja dia tidak memiliki

kepandaian seperti itu.

“Jadi selama ini kau masih menyangka dia yang

menfitnahmu, dia yang sengaja mengatur jebakan untuk

mencelakaimu?” tanya Nyo Sin.

“Sudah tentu ulah dia!”

“Tapi ada satu hal kau mesti tahu terlebih dulu”

364

“Soal apa yang kau maksud?”

“Jenasah Jui Pak-hay telah ditemukan dimana?”

“Kau pernah menjelaskan tadi, aku belum lupa”

“Nah itulah dia, jika dia yang membunuh Jui Pak-hay,

kenapa jenasah Jui Pak-hay bisa ditemukan ditempat itu?”

“Aku memang tahu dengan pasti bahwa tempat itu

merupakan kamar tidur Jui Pak-hay dan bininya, tapi ada satu

hal lebih baik jangan komandan lupakan”

“Soal apa?”

“Dulu, Si Siang-ho adalah pemilik perkampungan Ki po

cay!”

“Kalau yaa, lalu kenapa?”

“Tentu saja dia hapal sekali dengan keadaan disekeliling

perkampungan Ki po cay, karena dulu tempat ini memang

miliknya, apalagi dengan kehebatan ilmu silatnya, bukan satu

pekerjaan yang sulit untuk menyelundupkan sesosok jenasah

ke dalam ruang loteng itu”

“Tapi hampir sepanjang hari Gi Tiok-kun berada didalam

kamar tidurnya, memangnya perempuan itu tidak akan

memergoki kehadirannya?” seru Nyo Sin.

“Adik misanku nyaris tidak mengerti ilmu silat, dengan

kemampuan ilmu silat yang dia miliki, bukan pekerjaan yang

terlampau sulit untuk memasuki kamar tidur adik misanku

tanpa harus dipergoki”

“Menurut kau, kenapa dia harus berbuat begitu?”

“Tentu saja untuk menuntut balas” sahut Kwee Bok.

Kemudian setelah mendelik ke arah Si Siang-ho, lanjutnya:

“Hingga sekarang dia belum pernah lupa dengan sakit

hatinya, sakit hati lantaran Jui Pak-hay berhasil merebut

365

pujaan hatinya bahkan menikahinya, setiap waktu setiap saat

dia selalu berusaha untuk balas dendam sambil menunggu

tibanya kesempatan yang sangat baik. Dan kini waktunya

sudah tiba, dia bukan saja telah merenggut nyawa Jui Pakhay,

bahkan dengan cara begini dia ingin menghabisi pula

nyawa adik misanku, satu batu dua burung, satu siasat yang

amat keji dan jahat dan sesuai dengan keinginan

hatinya……….”

Setelah berhenti sejenak untuk berganti napas, terusnya

lagi:

“Sedang mengenai aku…..karena kehadiranku yang tidak

terduga olehnya, maka demi kesempurnaan rencana kejinya,

dia pun sekalian menghabisi aku”

Tiba-tiba Nyo Sin tertawa dingin, selanya:

“Kau boleh saja bicara semaumu, tapi lebih baik jangan

melupakan peristiwa apa saja yang telah berlangsung mulai

tanggal satu bulan tiga hingga tanggal lima belas”

Kwee Bok menggelengkan kepalanya berulang kali,

teriaknya:

“Antara aku dengan kawanan Laron Penghisap darah itu

sama sekali tidak ada hubungannya”

Nyo Sin tidak berkata apa-apa. Dia hanya tertawa dingin.

Dalam pada itu Si Siang-ho sudah berjalan mendekat, tibatiba

dia mengeluarkan selembar uang kertas dari sakunya lalu

berkata:

“Uang cek ini bernilai tiga ribu tahil perak yang dia

serahkan kepadaku, mungkin dengan barang buku ini kau

lebih leluasa melacak dan mengungkap kasus ini”

Nyo Sin segera menerimanya.

“Uang cek itu berasal dari rumah uang mana?” tanya Siang

Hu-hoa.

366

“Kwang-hong!”

“Betul, Rumah uang Kwang-hong” kata Nyo Sin pula

setelah memeriksa lembaran uang cek itu.

“Dibuka tanggal berapa?”

“Bulan dua belas tanggal lima belas” jawab Nyo Sin lagi

setelah periksa cek itu.

“Terus, lembaran cek itu bernomor berapa?”

“Hong-ci nomor dua ratus empat puluh sembilan”

Siang Huhoa segera berpaling ke arah Tu Siau-thian dan

ujarnya:

“Saudara Tu, coba kau turut mengingat nomor cek itu”

Tu Siau-thian manggut-manggut.

“Tidak perlu dicatat lagi” tukas Nyo Sin sambil menggeleng,

“lebih baik kita sita lembaran cek ini sebagai barang bukti,

agar lebih gampang sewaktu dibutuhkan dalam penyelidikan

nanti”

“Tadi lembaran cek itu bernilai nominal tiga ribu tahil perak,

yaa… tiga ribu tahil perak, sekalipun pemilik cek percaya

dengan kita pun, lebih baik kita pertimbangkan lagi”

“Tiga ribu tahil perak memang bukan jumlah yang kecil”

Nyo Sin mengangguk sambil mengelus jenggotnya, “apalagi

itu hanya selembar kertas tipis yang setiap saat bisa rusak

atau hilang, kalau sampai hilang, wah… susah buat kita untuk

mencarikan penggantinya:

Ternyata walaupun dalam keadaan tegang, dia masih

sempat juga berseloroh dengan rekannya.

Tu Siau-thian tidak bicara apa-apa, dia hanya tertawa getir.

Kembali Nyo Sin berkata:

367

“Biarpun kita mampu menggantinya, buat apa mesti

menanggung resiko sebesar itu? Baiklah, aku rasa asal kita

catat nomor cek dan tanggal dibukanya cek tersebut, itu pun

sudah lebih dari cukup”

Seraya berkata diapun mengembalikan lembaran uang cek

itu ke tangan Si Siang-ho.

“Kalau dimasa dulu uang sebesar tiga ribu tahil perak masih

tidak kupandang sebelah matapun” kata Si Siang-ho sambil

tertawa, kelihatan kalau tertawa itu kelewat dipaksakan,

tertawa pedih.

Kalau mesti bicara jujur, baginya sekarang, uang sebesar

tiga ribu tahil perak memang merupakan sebuah angka yang

amat besar. Dengan sangat berhati hati dia lipat kertas cek itu

kemudian dengan berhati hati pula memasukkannya ke dalam

saku.

Dalam pada itu Nyo Sin telah mengalihkan sorot matanya

ke wajah Kwee Bok dan tegurnya:

“Benarkah cek itu milikmu?”

“Bukan!” jawab Kwee Bok cepat.

Jawaban tersebut tentu saja jauh diluar dugaan Nyo Sin,

dia nampak tertegun, tapi kemudian ujarnya sambil tertawa:

“Cek itu dibuka pada tanggal lima belas bulan dua belas,

berarti baru tiga bulnanan, aku percaya pemilik rumah uang

kwong-hong masih bisa mengenali pemilik cek itu. Asal kita

datangi tempat itu dan melakukan penyelidikan rasanya tidak

gampang untuk mengungkap siapa pemilik cek tersebut,

apalagi tiga ribu tahil perak bukan sebuah angka yang kecil”

“Silahkan saja ke sana dan tanya saja sampai jelas” seru

Kwee Bok.

Sambil tertawa dingin Nyo Sin segera beranjak pergi.

368

Tidak usah diperintah lagi, Tu Siau-thian segera

mencengkeram bahu Kwee Bok dan menggelandangnya

mengikuti di belakang sang komandan.

Si Siang-ho ikut menyusul diikuti Siang Hu-hoa di paling

belakang. Sepasang keningnya nampak berkerut kencang, dia

seakan sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin lelaki ini

telah berhasil menemukan sesuatu?

Tiba kembali di ruang penginapan lantai bawah, suasana

terasa jauh lebih nyaman dan segar, sekarang mereka sudah

terbebas dari bau busuk yang sangat menusuk hidung

kendatipun lamat lamat bau tersebut seakan masih menempel

terus diujung hidung masing masing.

Untung saja keadaan tersebut hanya berlangsung sekejap

karena tidak lama kemudian bau harumnya arak telah

mengusir jauh-jauh bau busuk tersebut.

Nyo Sin segera berjalan menghampiri tepi meja, sambil

menghadap guci arak yang sama sekali tak tertutup itu, dia

menarik napas panjang panjang.

Setelah menghirup bau harumnya arak, dia merasa

semangatnya segar kembali, pujinya sambil tertawa:

“Ehmm, arak bagus!”

Si Siang-ho ikut tertawa.

“Tentu saja arak bagus, aku tidak pernah sembarangan

memilih dalam soal kwalitas arak”

Diambilnya sebuah cawan arak lalu katanya lagi:

“Bagaimana kalau meneguk dulu satu cawan?”

Sambil mengelus jenggotnya mendadak Nyo Sin menarik

muka.

“Tidak boleh, sekarang aku sedang berdinas” katanya.

369

Si Siang-ho pun tertawa dan tidak memaksa lagi,

sementara Nyo Sin juga tidak berkata apa apa lagi.

Segulung angin berhembus lewat, menembusi pintu

belakang dan menerpa ke dalam ruangan. Angin itu dengan

cepat membuyarkan bau harumnya arak, tapi mendatangkan

semacam bau harum lain yang terasa sangat aneh.

Nyo Sin dengan daya penciumannya yang sensitip seketika

dapat menangkap bau harum yang aneh itu.

Dia segera berpaling ke arah Siang Huhoa dan Tu Siauthian,

ternyata ke dua orang itupun sedang berpaling ke arah

sumber datangnya hembusan angin itu, tampaknya daya

penciuman mereka berdua tidak kalah dengan kemampuannya

dan merasakan pula hal tersebut.

“Bau harum apa lagi itu?” akhirnya tidak tahan dia berseru.

“Entahlah, belum pernah kuendus bau harum semacam ini”

sahut Tu Siau-thian seraya menggeleng.

Begitu pula dengan Siang Huhoa, dengan penuh tanda

tanya dia berpaling ke arah Si Siang-ho.

Sebelum dia sempat bersuara, Si Siang-ho sudah menjawab

duluan:

“Oh, bau harum itu berasal dari harumnya sejenis bunga”

“Bunga apa?”

“Aku sendiripun kurang jelas, ketika kubeli rumah

penginapan ini, di belakang bangunan sudah tumbuh bunga

jenis itu”

“Tidak pernah kau tanyakan kepada pemilik lama?” tanya

Siang Hu-hoa.

“Waktu itu tidak terpikir olehku sampai ke situ”

“Setelah itu apakah kalian pernah bersua lagi?”

370

“Tatkala aku mencarinya untuk menanyakan masalah ini,

ternyata orang itu sudah pergi meninggalkan desa”

Siang Huhoa mencoba untuk mengendus bau harum itu

berulang kali, kemudian ujarnya:

“Bau harum ini sangat khas dan istimewa, sudah pasti

berasal dari sejenis bunga langka yang jarang ada”

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

“Bagaimana kalau kita periksa sebentar bunga itu?” ajak

Siang Huhoa sambil melirik Tu Siau-thian sekejap.

Begitu selesai berkata dia segera membalikan tubuh dan

beranjak pergi, dia tidak menunggu lagi jawaban dari Tu Siauthian,

juga tidak ambil perduli apakah Si Siang-ho setuju atau

tidak.

Rasa ingin tahu orang ini memang sangat besar, apa yang

aneh, apa yang tidak diketahui olehnya pasti ditinjau dengan

segera.

Dengan pandangan heran dan penuh kesangsian Tu Siauthian

melirik Siang Hu-hoa sekejap, kemudian setelah

termenung sejenak, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia

menggelandang Kwee Bok dan mengikuti di belakangnya.

Nyo Sin sendiripun menunjukkan kesangsian, dia seakan

enggan untuk ikut ke belakang, tapi pada akhirnya dia tetap

mengayunkan langkahnya menyusul dari belakang.

Si Siang-ho mengikuti di paling belakang, dia tidak

bermaksud mencegah atau menghalangi. Mungkin lantaran dia

sadar, mau dicegah pun jelas tidak mungkin.

0-0-0

371

Ternyata halaman belakang rumah penginapan itu sangat

lebar dan luas, dimana mana tumbuh pepohonan dan

bebungahan.

Diantara pepohonan dan bebungahan itu membujur sebuah

jalan setapak selebar tiga depa yang beralaskan batu putih,

jalanan setapak itu berada disisi kiri yang berawal dari

beranda belakang, mengelilingi tembok pagar dan

membentang terus ke depan, kemudian berputar lagi ke sisi

kanan hingga menyambung ke beranda sebelah kanan.

Pohon-pohonan dan bunga-bungaan yang tumbuh disitu

sama sekali tidak terawat, sedemikian lebatnya daun-daunan

hingga siapa pun yang berada dijalan setapak itu, bayangan

tubuhnya segera akan tenggelam dibalik semak belukar.

Dinding pekarangan yang mengelilingi kebun itu tingginya

mencapai dua kaki, kecuali memanjat ke puncak dinding,

maka sulit bagi orang luar untuk mengetahui bahwa dibalik

dinding terdapat pohon-pohonan dan bunga-bungaan yang

begitu lebat.

Bunga yang tumbuh sepanjang jalan setapak itu berwarna

kuning segar, daunnya panjang dan rantingnya penuh tumbuh

duri yang tajam.

Sepanjang hidup belum pernah Siang Hu-hoa menjumpai

bunga macam begini.

Lama sekali dia berdiri ditengah bunga-bungaan sambil

mengawasi tumbuhan itu, kemudian gumamnya:

“Kelihatannya bunga jenis ini bukan berasal dari daratan

Tionggoan”

“Darimana kau bisa berpikir begitu?” tanya Tu Siau-thian

yang mengikuti di belakangnya.

“Kau tentu tahu bukan bahwa aku tinggal di perkampungan

selaksa bunga?”

372

Tu Siau-thian kembali mengangguk.

“Didalam perkampungan selaksa bunga milikku itu, meski

tidak terdapat selaksa jenis bunga, namun kalau dibilang tiga

empat ribu jenis mah lebih dari itu” kata Siang Huhoa lagi.

Tu Siau-thian terbelalak matanya, semula dia mengira

nama perkampungan selaksa bunga hanya berupa sebuah

nama belaka, kalaupun dibilang tumbuh aneka bunga, dalam

perkiraannya semula paling banter hanya ada dua ratusan

jenis bunga.

Sebab siapa pun sadar, bukan pekerjaan yang gampang

untuk mengumpulkan dua ratusan jenis bunga sekaligus.

Terdengar Siang Hu-hoa berkata lebih jauh:

“Hampir semua jenis bunga yang bisa tumbuh di daratan

Tionggoan telah kutanam dalam perkampunganku, kecuali

tumbuhan yang tidak mungkin bisa ditanam disitu atau selama

ini belum pernah kulihat atau kudengar, hampir seluruhnya

pernah ku telusuri dan kucari. Selain itu akupun memiliki buku

catatan tentang aneka bunga, sehingga terhadap jenis bunga

yang langka lainnya bisa kupelajari dari buku itu. Tapi

kenyataannya sekarang, jangan lagi aku tidak mengenali jenis

bunga ini, didengar pun belum pernah”

“Maka kau menaruh curiga kalau bunga ini bukan berasal

dari daratan Tionggoan?” kata Tu Siau-thian.

Baru saja Siang Hu-hoa hendak menjawab, Tu Siau-thian

sudah maju mendekat sambil berbisik:

“Tentunya kedatanganmu ke kebun belakang bukan cuma

untuk menonton jenis bunga itu bukan?”

“Boleh dibilang begitu” jawab Siang Huhoa setelah berpikir

sebentar.

“Jadi masih ada maksud lain?” desak Tu Siau-thian.

Siang Huhoa mengangguk.

373

“Lalu apa tujuanmu?” kembali Tu Siau-thian bertanya.

“Coba menganalisa mungkinkah tanaman langka ini ada

hubungannya dengan kasus tersebut dan mungkinkah

tanaman ini akan menjadi titik terang”

“Berarti sejak tadi kau sudah menemukan sesuatu?”

tergerak hati Tu Siau-thian.

Ternyata Siang Huhoa tidak menyangkal.

Tu Siau-thian segera mendesak lebih jauh:

“sebenarnya apa yang telah kau temukan?”

“Sesungguhnya tidak menemukan apa-apa, hanya secara

tiba-tiba timbul satu perasaan….”

“Perasaan apa?”

“Bau harumnya bunga langka ini sangat mirip atau paling

tidak berasal dari jenis yang sama dengan bau harum yang

kita endus dalam kamar tadi”

Setelah disinggung, Tu Siau-thian seakan merasakan juga

hal itu, katanya kemudian:

“Yaa, nampaknya memang mirip sekali”

“Tapi sekarang aku lihat perasaan tersebut ternyata sama

sekali tidak bermanfaat untuk menangani masalah ini”

Sorot matanya perlahan-lahan dialihkan kembali ke atas

pepohonan itu, setelah termenung sejenak terusnya:

“Atau mungkin aku harus mengetahui terlebih dulu jenis

apakah bunga ini, kemudian baru mendatangkan manfaat?”

“Mungkin saja?” sahut Tu Siau-thian, mendadak dia

semakin merendahkan suaranya, “jadi kau tidak percaya

dengan perkataannya?”

Yang dimaksud “dia” jelas adalah Si Siang-ho.

374

“Memangnya kau percaya?” bukan menjawab Siang Huhoa

balik bertanya.

Tu Siau-thian tidak menjawab, bunga jenis itu bukan

termasuk sejenis bunga yang indah, anehnya setelah rumah

penginapan itu dibeli, mengapa bunga itu dibiarkan tumbuh di

halaman belakang, dan setelah tumbuh menjadi lebat

mengapa tidak dipangkas atau ditata secara rapi, mengapa

tumbuhan itu dibiarkan tumbuh liar? Bukankah kejadian ini

aneh sekali?

Setelah termenung sebentar, Tu Siau-thian bertanya lagi:

“Apakah kau bisa berupaya untuk mengetahui bunga itu

berasal dari jenis apa?”

“Asal kita petik sekuntum bunga dan sehelai daunnya lalu

ditanyakan orang, aku yakin kita pasti akan mendapatkan

jawaban yang memuaskan”

“Tapi mau ditanyakan kepada siapa?”

“Aku mempunyai beberapa orang teman yang punya

keahlian khusus tentang tumbuhan, aku percaya mereka pasti

dapat mengenali bunga ini”

“Tinggal dimana teman temanmu itu?”

“Ada yang tinggal di tepi perbatasan, ada yang jauh di

negeri asing, tapi ada satu orang yang justru berdiam di

keresidenan tetangga”

“Itu sih gampang dicari”

“Sayangnya temanku ini tidak senang berdiam di rumah,

moga moga saja kali ini terkecuali” kata Siang Hu-hoa.

“Apa perlu aku membantumu untuk mencarinya?”

“Kalau dia tidak berada dirumah, terpaksa aku harus pergi

mencari orangnya, tidak ada orang yang tahu dia berada di

mana dan senang berdiam di mana”

375

“Kalau begitu hanya ada satu hal yang bisa kubantu untuk

mu” kata Tu Siau-thian kemudian sambil tertawa.

“Oya?”

“Aku yakin masih bisa membantumu untuk memetik bunga

itu”

“Tidak usah dipetik” cegah Siang Huhoa, sambil berkata dia

membungkukkan tubuhnya untuk memungut selembar daun

yang rontok ke tanah.

Ketika bangkit berdiri, kebetulan segulung angin

berhembus lewat dan menggugurkan beberapa kuntum

bunga.

Dengan selembar saputangan dia terima guguran bunga itu

sambil katanya:

“Aku rasa ini sudah cukup”

“Wah, aku lihat namamu memang sesuai benar dengan

sifatmu, Hu-hoa, pelindung bunga-bungaan!” ejek Tu Siauthian

sambil tertawa tergelak.

Siang Huhoa ikut tertawa, tiba-tiba dia bertanya:

“Kau pernah menanam bunga?”

“Semasa masih muda dulu pernah”

“Dari sebuah biji yang sangat kecil ternyata bisa tumbuh

pohon yang begitu besar, apakah kau tidak merasa sangat

aneh?”

“Benar, aku memang merasa keheranan” Tu Siau-thian

mengangguk.

“Apakah kau pernah berpikir, mengapa bisa terjadi hal

seperti ini?”

“Aku pernah berpikir, namun tidak mengerti”

376

“Padahal prinsip mereka sama seperti penghidupan

manusia, asal ada nyawa maka mereka bisa tumbuh dan

tumbuh terus hingga dewasa dan besar”

“Oleh karena itu kau menganggap mereka pun sama

seperti manusia, berperasaan, bisa memiliki naluri?”

“Aku memang berpandangan demikian”

“Maka kau tidak tega untuk memetik dan mematahkan

rantingnya?”

“Yaa, sebab berbuat seperti itu tidak ada bedanya dengan

membunuh manusia”

“Sekarang aku baru paham” dia memperhatikan Siang Huhoa

sekejap, “tidak banyak manusia macam kau yang hidup di

dalam dunia persilatan”

Orang persilatan memang sebagian besar lebih suka masuk

dengan pisau mengkilap, waktu keluar golok sudah berubah

menjadi warna merah.

Siang Huhoa menghela napas, dia bungkus saputangannya

dan memasukkan daun dan bunga itu ke dalam sakunya,

kemudian dia berjalan menelusuri jalan setapak dan

mengelilingi kebun itu satu kali, namun tidak menemukan

sesuatu yang aneh.

Dari beranda sebelah kanan dia berjalan menuju ke

beranda kiri setelah itu baru balik ke hadapan Si Siang-ho

sambil berkata tiba tiba:

“Bagaimana kalau kau hadiahkan berapa batang pohon itu

untukku?”

“Kau maksudkan pohon bunga itu?” tanya Si Siang-ho

tertegun.

“Benar”

377

“Bila kau suka, angkut saja seluruh pepohonan itu” seru Si

Siang-ho sambil tertawa.

“Jadi kau tidak suka dengan bunga-bungaan itu?”

“Aku memang tidak pernah tertarik dengan aneka macam

tumbuhan, begitu juga dengan segala macam hewan

peliharaan” setelah berhenti sejenak dan tertawa, tambahnya,

“yang paling menarik perhatianku hanya semacam benda”

“Arak?”

“Benar, hanya arak!”

“Ternyata kau memang tidak pelit, untung perkampungan

selaksa bunga ku terletak tidak jauh dari sini”

“Kau bisa mengangkutnya beberapa kali”

“Tidak perlu semuanya, berapa batang pun sudah cukup”

“Kalau begitu aku hadiahkan berapa batang pohon itu

untukmu” dia membalikkan badan sambil beranjak, “tunggulah

sejenak, segera kuambilkan sekop”

“Tidak usah, aku tidak akan mengambilnya sekarang”

“Oya?”

“Sekarang aku masih ada urusan, tidak mungkin bisa

pulang ke perkampungan selaksa bunga”

“Kalau begitu kapan kau akan pulang kapan ambillah pohon

itu, aku rasa tidak nanti rumah penginapan ini akan

kedatangan perampok atau pencuri yang akan membabat

habis pepohonan itu, sekalipun ada pun tidak nanti mereka

bisa mengangkut pergi seluruh tumbuhan itu” kata Si Siangho.

Kemudian setelah tertawa ringan, lanjutnya:

“Kecuali seluruh persediaan arakku habis, kalau tidak, tidak

nanti aku akan pergi meninggalkan rumah penginapan ini, bila

378

nanti kau datang lagi dan kebetulan tidak berjumpa denganku,

tidak usah sungkan sungkan, ambil saja sendiri, aku jamin

tidak akan ada orang yang menganggap dirimu sebagai

pencuri”

Sebelum Siang Huhoa memberikan tanggapannya, Nyo Sin

yang berada disisinya telah menyela:

“Biarpun kasus Laron Penghisap darah sama sekali tidak

ada hubungannya denganmu, lebih baik kau jangan pergi dulu

selama berapa hari ini, siapa tahu setiap saat pengadilan

membutuhkan kesaksianmu”

“Waah, begitu merepotkan…….” keluh Si Siang-ho.

“Tidak bisa dibilang merepotkan, karena setiap penduduk

punya kewajiban membantu pemerintah untuk mengungkap

setiap kasus kejahatan”

Si Siang-ho tertawa getir dan tidak berkata lagi.

Siang Huhoa juga tidak berkata apa apa, dia berjalan balik

menuju ke arah semula.

Mengawasi bayangan punggung laki-laki itu, Nyo Sin

gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam:

“Orang ini betul-betul membingungkan………”

“Dia tidak membingungkan, hanya kebetulan suka sekali

dengan bunga” ujar Tu Siau-thian.

“Menurut pendapatku, masalahnya tidak begitu sederhana”

tiba tiba Si Siang-ho menimpali.

“Lantas bagaimana menurut pendapatmu?” tanya Nyo Sin

seraya berpaling.

“Tampaknya dia sudah menaruh curiga atas tumbuhan

bunga itu!”

“Apa yang perlu dicurigai dengan tumbuhan bunga itu?”

379

Bab 20.

Kosong tidak berisi.

“Aku kurang tahu, lebih baik tanyakan sendiri dengan yang

bersangkutan”

Tampaknya Siang Huhoa mendengar semua pembicaraan

itu, tiba-tiba dia berpaling seraya berkata:

“Tidak ada yang perlu dicurigai dengan tumbuhan bunga

itu”

“Aku sendiripun tidak melihat atau menemukan hal yang

kurang wajar dengan tumbuhan bunga itu” kata Si Siang-ho,

“tapi setelah melihat tingkah lakumu tadi, aku masih mengira

mataku kurang awas sehingga ada yang ketinggalan”

Siang Huhoa tidak menanggapi lagi, dia berpaling dan

melanjutkan perjalanannya.

Dalam keadaan begini terpaksa Si Siang-ho hanya bisa

membungkam.

Walaupun Kwee Bok masih menaruh pengharapan, namun

akhirnya dia terpaksa harus menghadapi semua kejadian

dengan kekecewaan.

Apa yang diungkap dan dikatakan Si Siang-ho ternyata

memang merupakan kenyataan.

Banyak orang dusun yang kenal dengan Kwee Bok, berapa

orang diantaranya ternyata memiliki rasa ingin tahu yang amat

besar sehingga selalu mengawasi dan memperhatikan semua

gerak gerik pemuda itu.

Mereka mengatakan secara yakin kalau selalu bertemu

dengan Kwee Bok setiap sepuluh hari satu kali, kereta

kudanya selalu berhenti didepan pintu rumah penginapan dan

380

dari kereta selalu menggotong turun keranjang keranjang besi

yang ditutupi dengan kain hitam.

Seorang nenek dari warung teh dimulut dusun malah

bercerita, sewaktu pertama kali Kwee Bok datang ke tempat

itu, dia datang diantar sebuah kereta kuda dan sempat

mencari tahu alamat rumah penginapan itu dengan dirinya.

Orang orang dusun itu tetap berlagak seperti orang dusun,

mereka tidak mirip menjadi komplotan Si Siang-ho, sebab

begitu melihat Si Siang-ho berjalan menghampiri mereka,

orang-orang itu segera mundur dan menyingkir dengan

ketakutan.

Rasa ketakutan mereka sangat nyata dan sama sekali tidak

mirip dibuat buat, bukan hanya orang dewasa bahkan anak

kecil pun pada lari ketakutan begitu melihat kemunculan Si

Siang-ho, seakan mereka semua telah menganggap orang itu

sebagai siluman tosu.

Sama seperti orang dusun pada umumnya, mereka hangat,

polos dan selalu bersikap sahabat terhadap orang asing.

Namun terhadap orang asing yang aneh dan mencurigakan

gerak geriknya merupakan pengecualian, kebetulan Kwee Bok

termasuk type orang asing seperti ini.

maka mereka menaruh perasaaan was-was dan kecurigaan

yang sangat besar terhadap pemuda ini, dengan sendirinya

mereka pun memperhatikan lebih seksama.

Ulasan dan keterangan yang mereka berikan jauh lebih

jelas dan terperinci ketimbang keterangan dari Si Siang-ho,

tapi sayangnya keterangan dari mereka tidak bermanfaat

banyak bagi pengungkapan kasus misterius ini.

Orang-orang dari rumah uang Kwang-hong jauh lebih

memuakkan lagi, khusus dalam pandangan Kwee Bok, begitu

berjumpa dengan sang pemilik rumah uang, dia segera dapat

mengenali dirinya.

381

Sewaktu mereka balik ke kota dan menuju ke rumah uang

Kwang-hong, waktu sudah mendekati senja, meski dalam

suasana remang-remang, tidak sulit bagi sang pemilik rumah

uang untuk melihat wajah Kwee Bok dengan jelas.

Baru saja Kwee Bok melangkah masuk ke dalam rumah

uang itu, sang Ciangkwe sudah bangkit berdiri seraya

menyapa:

“Kongcu ini adalah……..”

Dia termenung sejenak tapi tidak sanggup melanjutkan

kata katanya, rupanya meski dia kenal dengan Kwee Bok

namun untuk sesaat lupa siapa nama pemuda itu.

“Dia dari marga Kwe” Nyo Sin segera menyela dari

samping.

“Aaah betul, Kwe kongcu!” seru sang ciangkwe seakan baru

teringat dengan namanya.

Kemudian dengan mata terbelalak dia berseru pula kepada

Nyo Sin:

“Rupanya komandan Nyo!”

“Kau pun kenal dengan aku?”

“Biarpun komandan belum pernah datang kemari, namun

paling tidak sudah ratusan kali melewati depan pintu

rumahku”

Diluar pintu rumah merupakan sebuah jalan raya yang

sangat ramai, bukan hanya ratusan kali saja Nyo Sin melalui

jalanan tersebut, sehingga kalau dibilang sang tauke tidak

mengenalinya, itu baru aneh!

Baru saja Nyo Sin hendak mengatakan sesuatu, sang tauke

sudah bicara lagi:

“Ada urusan apa komandan datang berkunjung hari ini?’

“Melacak sebuah kasus”

382

“Sebuah kasus? Di tempat kami belum pernah terjadi suatu

peristiwa apa pun”

“Kasus ini memang tidak menyangkut kalian semua”

“Lalu menyangkut siapa?”

“Kwe kongcu itu”

Dengan pandangan keheranan sang tauke melotot sekejap

ke arah Kwee Bok, nampaknya dia tidak menyangka akan hal

itu.

“Apakah kau kenal dengan Kwe kongcu itu?” tanya Nyo Sin

kemudian.

“Tentu saja kenal, dia adalah langganan kami”

“Apakah sering datang kemari?”

Tauke itu berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

“Kalau aku tidak salah ingat, dia hanya pernah datang satu

kali”

“Kapan itu?”

“Lebih kurang dua tiga bulan berselang”

“Yang benar jawabanmu, dua bulan atau tiga bulan

berselang?”

“Kalau itu mah kurang jelas, Kwong-hong toh bukan

bertransaksi hanya dengan dia seorang”

“Apakah kau mempunyai kesan yang cukup mendalam

dengan dia?”

“Sudah menjadi kebiasaan kami untuk sedapat mungkin

mengingat-ingat wajah setiap langganan kami, agar didalam

kunjungan berikut kami bisa memberikan pelayanan yang

terbaik, meninggalkan kesan baik kepada pelanggang

merupakan salah satu kunci rahasia untuk suksesnya sebuah

perdagangan”

383

“Berani nilai transaksi yang dia lakukan waktu itu?”

“Kalau tidak salah tiga ribu tahil perak” jawab sang tauke

setelah berpikir sejenak.

“Bagus sekali” seru Nyo Sin sambil manggut-manggut dan

tertawa.

“Apanya yang bagus?” sang tauke keheranan.

“Hal ini membuktikan kalau kasus itu sudah berada pada

jalur yang sebenarnya”

“Bila ingin pembuktian yang lebih akurat, lebih baik

dicocokkan pula tanggal dibukanya cek tersebut” sela Tu Siauthian

dari samping.

“Gampang kalau ingin pembuktian itu, asal kita buka buku

transaksi dalam dua tiga bulan terakhir maka semuanya akan

ditemukan, tentu saja lebih baik lagi jika lembaran cek itu pun

dibawa serta”

Lembaran cek itu sudah diserahkan kembali kepada Si

Siang-ho, padahal orang itu tidak ikut mereka masuk ke kota,

untung mereka masih ingat benar lembaran cek itu dibuka

pada tanggal lima belas bulan dua belas dengan nomor urut

dua ratus tiga puluh sembilan.

Ketika sang tauke membuka buku catatan transaksi yang

terjadi pada tanggal lima belas bula dua belas dengan nomor

urut dua ratus tiga puluh sembilan maka tercatat disitu nilai

nominalnya adalah tiga ribu tahil perak.

Hal ini membuktikan kalau apa yang dikatakan Si Siang-ho

memang benar, cocok dan merupakan kenyataan.

Pada tanggal lima belas bulan dua belas Kwee Bok benarbenar

telah mendatangi rumah uang Kwong-hong dan

membuka selembar cek sebesar tiga ribu tahil perak.

Catatan itu tertera sangat jelas didalam kitab tebal milik

perusahaan, bukan saja Tu Siau-thian dan Nyo Sin dapat

384

melihatnya dengan jelas, Siang Huhoa pun dapat

membacanya dengan jelas.

Tidak terkecuali Kwee Bok, kini paras mukanya telah

berubah menjadi pucat pias, sorot matanya serasa membeku,

dia hanya mengawasi buku catatan itu dengan mata

mendelong.

Kini, sorot mata Tu Siau-thian dan Nyo Sin perlahan-lahan

mulai bergeser ke wajah Kwee Bok.

Siang Huhoa juga mengalihkan pandangan matanya ke

wajah pemuda itu, namun Kwee Bok seakan sama sekali tidak

merasakan hal ini.

“Sudah kau lihat dengan jelas?” tegur Nyo Sin kemudian

sambil tertawa dingin.

Kwee Bok mengangguk.

“Bagaimana penjelasanmu tentang bukti ini?” tanya Nyo Sin

lagi sambil tertawa dingin.

“Aku tidak bisa memberi penjelasan apa-apa”

“Jadi kau mengaku bersalah?”

“Tidak, aku tidak merasa bersalah, aku tidak merasa

pernah melakukan pelanggaran” kata Kwee Bok sambil

menggeleng, “kesemuanya ini merupakan sebuah intrik jahat,

sebuah perangkap yang dengan sengaja hendak mencelakai

aku!”

“Siapa yang membuat perangkap itu? Mereka?” kembali

Nyo Sin mengejek.

“Aku pun berharap bisa mengetahui hal ini secara jelas”

sahut Kwee Bok sambil tertawa mengenaskan.

“Padahal kau sudah tahu dengan jelas, yang kau maksud

mereka sesungguhnya hanya kau seorang diri!”

Kwee Bok hanya tertawa tanpa menjawab.

385

“Sekarang, apa lagi yang hendak kau utarakan?” tanya Nyo

Sin kemudian.

Kwee Bok masih tetap membungkam.

“Pengawal!” Nyo Sin membentak keras, tapi begitu

berteriak dia baru teringat kalau anak buahnya hanya Tu Siauthian

seorang.

“Ada apa?” tanya Tu Siau-thian sambil maju mendekat.

“Tangkap dia dan jebloskan dulu ke dalam sel tahanan”

Tu Siau-thian tertawa, selama ini dia memang selalu

memegangi bahu Kwee Bok.

Sekarang Nyo Sin baru teringat kalau mereka masih berada

di rumah uang Kwong-hong, maka setelah menghela napas

panjang katanya:

“Kelihatannya kasus ini membuat aku jadi kebingungan

sendiri”

“Benar, kejadian ini memang membuat orang kebingungan”

kata Siang Hu-hoa pula, pelahan lahan dia mengalihkan sorot

matanya ke wajah Kwee Bok.

Sementara itu Kwee Bok juga sedang memandang ke

arahnya, sinar matanya kelihatan kalut dan sangat aneh.

“Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepadaku?”

tanya Siang Huhoa tiba-tiba.

“Hanya sepatah kata”

“Katakan!”

“Aku sama sekali tidak membunuh Jui Pak-hay!”

Kembali Siang Huhoa menatapnya lekat-lekat, dia tidak

memberi komentar.

386

Kwee Bok sama sekali tidak berusaha untuk menghindari

sorot mata Siang Huhoa, kalau dilihat dari mimik mukanya, dia

tidak mirip orang yang sedang berbohong.

Setelah menghela napas panjang Siang Huhoa berkata:

“Kalau masalahnya sudah berkembang jadi begini, sulit

rasanya bagiku untuk mempercayai ucapanmu”

Kwee Bok terbungkam dan tidak mampu berkata-kata.

Siang Huhoa berkata lebih jauh:

“Bukan Cuma aku, setiap orang mungkin hampir sama

seperti diriku, kalau satu dua kejadian mungkin bisa dikatakan

kejadian yang kebetulan, tapi kalau setiap masalah ternyata

persis sama, itu sudah bukan kebetulan lagi”

Kwee Bok semakin terbungkam.

“Kendatipun kau anggap kejadian ini penasaran dan kau

hanya menjadi kambing hitam, mau tidak mau perasaan

tersebut harus kau terima dulu” kata Siang Huhoa lagi,

“menanti semua urusan sudah diselidiki dengan tuntas dan

terbukti kau memang tidak terlibat, pihak pengadilan pasti

akan membebaskan dirimu”

Kali ini Kwee Bok menghela napas panjang, dia tetap

membungkam.

“Benarkah semua kejadian adalah begini, cepat atau lambat

pasti akan tiba saatnya semua masalah jadi terang” Siang Huhoa

menambahkan.

“Aku tahu, kau memang seorang pendekar sejati yang jujur

dan adil!” akhirnya Kwee Bok buka suara.

Kali ini Siang Huhoa yang terbungkam.

“Aku tidak mempunyai tuntutan apa pun, aku hanya

berharap kau bisa menegakkan keadilan bagiku” Kwee Bok

berkata lagi.

387

Siang Huhoa mengangguk.

0-0-0

Ketika rombongan itu meninggalkan rumah uang Kwonghong

dan kembali ke pengadilan, senja sudah berlalu, malam

hari pun telah menyelimuti seluruh jagad.

Malam sudah larut, hanya bintang yang bertaburan di

angkasa.

Diwaktu biasa, saat seperti ini Ko Thian-liok sudah istirahat,

tapi malam ini terkecuali, biarpun sudah tengah malam buta,

dia masih berada di beranda samping.

Kecuali dia, disitu hadir pula Siang Huhoa, Tu Siau-thian

dan Nyo Sin, mereka sedang membicarakan kasus horor yang

menimpa Jui Pak-hay, teror yang dilakukan segerombol Laron

Penghisap darah.

Peristiwa ini memang kelewat aneh, kelewat mengerikan

hati.

Rasa mengantuk Ko Thian-liok sudah hilang lenyap

semenjak tadi, tentu saja rasa kantuk Siang Hu-hoa bertiga

pun sudah musnah tidak berbekas, mereka sedang membahas

apa benar di dunia ini terdapat setan iblis dan siluman?

Benarkah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok adalah jelmaan dari

siluman laron?

Apa benar pembunuh yang telah menghabisi nyawa Jui

Pak-hay adalah mereka berdua?

Ketika angin malam berhembus lewat, tanpa terasa ke

empat orang itu sama sama bersin berulang kali.

Setelah mengelus jenggotnya tiba tiba Ko Thian-liok

berkata:

388

“Aku rasa kita harus mengambil sebuah kesimpulan atas

kejadian ini”

“Kami sudah mempunyai tertuduh” jawab Nyo Sin.

“Siapa mereka?”

“Tertuduh utama adalah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok!”

“Apakah opas Nyo percaya akan adanya setan iblis dan

siluman?”

Nyo Sin berpikir sebentar lalu mengangguk.

Kembali Ko Thian-liok berpaling ke arah Tu Siau-thian

sambil bertanya:

“Bagaimana menurut pendapat opas Tu?”

“Pandanganku justru bertolak belakang”

“Tidak percaya maksudmu?”

“Yaa, sama sekali tidak percaya?”

“Alasannya?”

“Walaupun banyak tersiar kabar berita tentang setan iblis

atau siluman, tapi siapa sih manusia di dunia ini yang benar

benar pernah berjumpa dengan setan iblis atau siluman?’

“Jui Pak-hay!” tukas Nyo Sin.

“Justru karena kita sudah membaca semua catatan

peninggalan Jui Pak-hay maka kita mengira Jui Pak-hay benar

benar pernah bertemu dengan setan iblis dan siluman, tapi

aku berpendapat, kita tidak boleh percaya seratus persen atas

semua laporan yang tertinggal dalam kitab cacatan tersebut,

sebab hal ini membuat analisa kita gampang kabur lantaran

terpengaruh oleh catatan itu”

“Jadi kau menganggap kitab catatan itu palsu?”

Tu Siau-thian menggeleng.

389

“Kecuali Jui Pak-hay memang sengaja membesar-besarkan

masalah, kalau tidak, aku rasa kitab catatan itu tidak perlu

diragukan lagi keasliannya”

“Membesar besarkan masalah? Menggunakan nyawa

sendiri sebagai taruhan?”

“Oleh sebab itu aku percaya kitab catatan itu tidak ada

masalah”

“Lalu apa bedanya dengan percaya akan adanya setan iblis

atau siluman?” seru Nyo Sin.

“Jelas berbeda sekali”

“Dimana letak perbedaannya?”

“Biarpun apa yang tercatat merupakan kejadian nyata,

namun apa yang dilihat Jui Pak-hay belum tentu merupakan

kejadian nyata”

“Apa maksud perkataanmu itu? Tolong katakan lebih jelas

dan gamblang”

“Maksudku, ketika Jui Pak-hay sedang menulis buku

catatan itu, belum tentu setiap kali dia berada dalam keadaan

normal”

“Aku tetap tidak mengerti”

“Sewaktu menulis catatan itu, aku rasa ada berapa kali

benda atau makhluk yang dia anggap telah melihatnya itu

kemungkinan besar belum tentu ada wujudnya”

Tampaknya Nyo Sin masih tetap tidak mengerti namun dia

tidak bertanya lebih jauh, sambil mengalihkan pokok

pembicaraan ujarnya:

“Bila sesuai dengan keyakinanmu, setan iblis dan siluman

itu tidak ada, lalu kenapa bisa terjadi peristiwa seperti itu?”

“Aku rasa semuanya itu merupakan ulah atau perbuatan

manusia” Tu Siau-thian menegaskan.

390

“Ulah siapa?”

“Mungkin saja ulah Gi Tiok-kun, mungkin juga ulah Kwee

Bokl”

“Bukankah sejak tadi sudah kukatakan kalau pembunuh

yang sesungguhnya adalah mereka berdua?” protes Nyo Sin.

“Tapi aku tetap tidak yakin kalau kejadian ini merupakan

ulah mereka, juga tidak beranggapan kalau mereka berdua

adalah jelmaan dari siuman laron”

“Jadi menurut kau, seandainya merekalah pembunuhnya,

dengan cara apa kedua orang itu membantai Jui Pak-hay?”

“Benar, coba kau utarakan pandanganmu” sela Ko Thianliok

pula, “mungkin kita bisa membahasnya bersama”

“Baiklah” kata Tu Siau-thian kemudian, setelah mendeham

dia terusnya:

“Menurut pandanganku, sebenarnya kasus ini bukan suatu

kejadian yang aneh atau luar biasa, peristiwa ini berubah jadi

aneh dan penuh misteriu lantaran Jui Pak-hay telah

memasukkan masalah kejiwaannya ke dalam kejadian ini,

terpengaruh oleh jiwanya yang labil maka muncul khayalan

khayalan yang nampaknya sangat mengerikan”

“Kejiwaan bagaimana maksudmu?” tanya Ko Thian-liok

tertegun.

Siang Hu-hoa juga menunjukkan perasaan bingung dan tak

habis mengerti, apalagi Nyo Sin.

Tu Siau-thian segera menjelaskan:

“Setiap insan manusia tentu mempunyai kesukaan dan rasa

muak terhadap suatu jenis makhluk atau hewan, misalnya

ketika bertemu dengan seseorang, si A akan merasa muak

sekali tapi tidak begitu dengan pandangan si B”

391

“Maksudmu seperti tauke pegadaian di kota utara Thio

Hok?” tanya Ko Thian-liok sambil tertawa.

“Benar”

“Padahal Thio Hok punya wajah yang tampan, orang bilang

muka hokki, terhadap setiap orang pun ramah dan murah

senyum, wajah semacam ini sebetulnya tidak termasuk wajah

yang membosankan” kata Ko Thian-liok.

“Benar, tapi siapa pun yang bertemu dengannya, secara

otomatis muncul rasa ketidak senangannya, bahkan aku pun p

ingin sekali menghajarnya habis-habisan setiap kali berjumpa

dengannya” Tu Siau-thian menerangkan.

“Ini disebabkan dia sembunyi golok dibalik senyumannya,

dibalik senyumannya yang ramah terselip jiwa bangsatnya

yang tega menelan manusia berikut tulang belulangnya”

“Orang semacam ini memang sangat licik dan

menyebalkan”

“Karena itu semakin dipandang kau akan merasa semakin

muak”

“Benar, dan inilah masalah kejiwaan yang kita miliki”

Sekarang Ko Thian-liok baru mengerti apa yang dia

maksudkan, maka semua orang pun manggut manggut.

“Sebetulnya masalah kejiwaan semacam ini tidak jahat,

seperti misalnya saja aku, setiap kali melihat cicak, timbul rasa

muak dan ngeri diliati kecilku, bahkan melihat benda yang

mirip dengan warna cicak pun aku jadi muak dan ketakutan

setengah mati, kalau sudah mencapai puncaknya aku bisa

muntah muntah karena muaknya”

“Tapi apa hubungan persoalanmu dengan kematian Jui

Pak-hay?” tak tahan Nyo Sin menyela.

392

“Aku percaya Jui Pak-hay pun mempunyai masalah

kejiwaan dengan sejenis makhluk, makhluk yang membuatnya

sensitip, takut dan ngeri”

“Kau maksudkan makhluk apa?”

“Dengan laron misalnya!”

“Laron Penghisap darah?” Nyo Sin tertegun.

“Tidak harus dengan Laron Penghisap darah, mungkin

terhadap setiap jenis laron dia sudah merasa takut dan muak”

“Ooh…….”

Tu Siau-thian melirik Siang Hu-hoa sekejap kemudian baru

berpaling ke arah Nyo Sin, tiba tiba katanya:

“Bukankah bentuk dan warna dari Laron Penghisap darah

sangat mencolok dan menarik perhatian, bukankah bentuknya

yang mencolok itu justru mendatangkan perasaan seram bagi

yang melihatnya?”

Tanpa terasa Siang Hu-hoa mengangguk, sedang Nyo Sin

segera berseru:

“Bukan Cuma aneh dan menyeramkan, aku bilang betul

betul horor……..”

“Betul, memang mendatangkan perasaan horor………” Tu

Siau-thian membenarkan seraya mengangguk.

“Lantas kenapa?” tak sabar Nyo Sin mendesak.

Tu Siau-thian tidak menjawab, kembali tanyanya:

“Aku rasa diantara kita berempat tidak ada yang takut

dengan makhluk sebangsa laron bukan?”

Tidak seorang pun yang menjawab takut.

Tu Siau-thian segera berkata lebih jauh:

“Bagi kita yang tidak pernah punya perasaan takut

terhadap makhluk bangsa laron saja sudah dibuat ngeri dan

393

seram setelah menyaksikan sendiri kawanan Laron Penghisap

darah, coba bayangkan apa reaksinya bagi seseorang yang

pada dasarnya sudah takut dengan makhluk sebangsa laron

kemudian dia sangka telah bertemu dengan Laron Penghisap

darah?”

“Tentu saja lebih seram, lebih ngeri dan takut yang luar

biasa”

“Itulah dia, bila ledakan emosi seseorang sudah mencapai

suatu tingkat atau batas tertentu, kadangkala hal ini bisa

menyebabkan syarafnya terganggu hingga muncul khayalan

yang tidak waras”

“Tapi aku tidak melihat Jui Pak-hay berubah jadi orang gila

atau kurang waras otaknya”

“Tentu saja dia masih waras karena kepandaian silatnya

tinggi, dengan sendirinya diapun memiliki syaraf yang jauh

lebih kokoh ketimbang orang biasa, namun ketika ia jumpai

kawanan Laron Penghisap darah tersebut, rasa takut dan

ngeri yang muncul pasti amat kuat dan hebat yang belum

tentu bisa diterima dan dibendung oleh kekuatan syarafnya”

“Kalau tidak tahan lantas kenapa?”

“Semenjak peristiwa itu, besar kemungkinan otaknya jadi

kurang normal, untuk sementara waktu otaknya kehilangan

kontrol sehingga tingkah lakunya jadi aneh” kata Tu Siau-thian

dengan suara dalam.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi dengan

suara yang lebih dalam:

“Bila seseorang berada dalam kondisi kesadaran tidak

terkontrol, seringkali dia akan melihat banyak kejadian yang

aneh dan menyeramkan”

“Kejadian apa maksudmu?”

394

“Kejadian yang tidak nyata dan seringkali kejadian tersebut

hanya bisa disaksikan oleh dia sendiri”

“Aneh, bagaimana mungkin bisa terjadi peristiwa semacam

ini?”

“Semua kejadian, semua benda dan semua makhluk yang

dia lihat sebetulnya timbul dari khayalan dia sendiri, apa yang

dia sebut sebagai menyaksikan padahal hanya sebuah ilusi,

sesuatu yang tidak nyata” Tu Siau-thian menerangkan.

Kemudian setelah tertawa, lanjutnya:

“Kejadian tersebut tidak jauh berbeda seperti mimpi yang

kita peroleh sewaktu tidur dimalam hari, dalam alam mimpi

seringkali kita pun menyaksikan banyak makhluk, banyak

benda dan banyak kejadian yang tidak nyata, kejadian

kejadian tragis yang sebetulnya tak pernah ada dan tak

pernah terjadi beneran”

“Yaa benar” sela Ko Thian-liok sambil tertawa dan manggut

m anggut, “semalam pun aku mendapat mimpi, seolah aku

bersayap dan bisa terbang ke langit”

“Bisa jadi apa yang dialami Jui Pak-hay waktu itu

sesungguhnya adalah kejadian seperti ini, tapi ketika dia

mencatat kembali semua peristiwa itu di atas kertas,

kemungkinan dia sudah berada dalam kondisi stabil dan sadar,

hanya dia tidak tahu kalau apa yang sudah dia catat

sebetulnya hanya ilusi belaka, kejadian tidak nyata yang

dialarriinya ketika jiwanya sedang tergoncang dan tidak stabil”

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya:

“Sewaktu jiwanya sedang goncang dia akan menyaksikan

kejadian kejadian yang menakutkan, tapi ketika jiwanya stabil

kembali apa yang pernah dilihat lenyap dengan begitu saja,

bila keadaan seperti ini dialaminya berulang kali, tak aneh jika

dia anggap telah bertemu dengan setan iblis atau siluman dan

sebangsanya”

395

Penjelasan tersebut bukannya tanpa dasar, kalau ditelaah

kembali semuanya memang merupakan kenyataan.

Tu Siau-thian memang punya bakat bicara, kata kata yang

meluncur keluar dari mulutnya membuat orang makin yakin

dan percaya.

Tanpa terasa Siang Hu-hoa dan Ko Thian-liok manggut

manggut, hanya Nyo Sin yang terkecuali, dia sedang awasi Tu

Siau-thian dengan pandangan dingin.

Terdengar Tu Siau-thian berkata lebih jauh:

“Dengan dasar analisa itulah aku katakan bahwa buku

catatan tersebut memang merupakan kenyataan, tapi apa

yang dicatat Jui Pak-hay dalam catatan tersebut bukan

kenyataan tapi hanya ilusi saja, khayalan kosong”

“Dan karena itu pula dia merasa seakan di teror, seakan

merasa dikejar dengan segala keseraman dan kengerian?”

tanya Ko Thian-liok.

“Besar kemungkinan hal ini pun disebabkan karena dia

terlalu banyak mendengarkan kisah dongeng seputar

keseraman Laron Penghisap darah”

“Hmmm, kalau didengar sepintas lalu perkataanmu seolah

sangat masuk diakah…” ujar Nyo Sin tiba-tiba.

Tu Siau-thian segera menangkap arti lain dibalik perkataan

itu, maka dia tidak memberi komentar dan hanya

membungkam diri.

Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh:

“Apa itu otak tak waras, apa pula ilusi, darimana kau

dapatkan istilah istilah baru macam begitu?”

“Akupun baru pertama kali ini mendengar hal-hal seperti

itu” ujar Ko Thian-liok pula sambil memandang Tu Siau-thian

dengan sorot mata ragu.

396

Hanya Siang Huhoa seorang yang tetap berdiri tenang,

seakan kejadian macam begitu sudah bukan hal yang aneh

lagi baginya.

“Tayjin, masih ingat bukan lantaran satu kasus besar

hamba pernah berangkat ke Pakkhia untuk melakukan

penyelidikan?” tanya Tu Siau-thian tenang.

Ko Thian-liok segera mengangguk:

“Benar, aku masih ingat”

“Dalam perjalanan menuju ke kota Pakkhia, hamba telah

berkenalan dengan seorang penyebar agama bangsa asing,

orang itu sebenarnya berprofesi sebagai seorang dokter”

“Jadi orang asing itu yang memberitahukan segala

sesuatunya kepadamu?”

“Benar”

Nyo Sin kembali mendengus:

“Hmmm, biasanya ajaran orang asing hanya cocok untuk

orang asing” selanya.

“Itu mah belum tentu” timbrung Siang Huhoa.

Sekali lagi Nyo Sin mendengus.

Siang Huhoa tidak perdulikan dia, kembali ujarnya kepada

Tu Siau-thian:

“Kalau toh terjadi keadaan seperti apa yang kau utarakan,

paling tidak dia kehilangan kontrol atas kesadaran sendiri

setelah bertemu dengan kawanan Laron Penghisap darah,

atau dengan perkataan lain Laron Penghisap darah memang

ada wujudnya di dunia ini”

“Sepasang mata yang kita miliki belum berpenyakit bukan?

Aku percaya apa yang telah kita saksikan merupakan satu

kenyataan” sahut Tu Siau-thian sambil tertawa.

397

Mereka berdua memang telah menyaksikan kehadiran

Laron Penghisap darah, bukan hanya satu kali malah.

“Dalam keadaan sadar dan terkontrol syarafnya, aku

percaya sepasang mata Jui Pak-hay pun tidak bermasalah”

kata Siang Hu-hoa.

“Kalau memang demikian kenyataannya, berarti Jui Pak-hay

baru kehilangan kontrol setelah menyaksikan kehadiran

kawanan Laron Penghisap darah itu”

“Kalau toch dia takut dengan makhluk sebangsa laron,

tentu saja tidak akan memelihara Laron Penghisap darah

didalam rumahnya”

“Maksudmu orang yang memelihara kawanan Laron

Penghisap darah itu sudah pasti orang yang berniat

mencelakai atau ingin membunuhnya?”

“Benar! Dengan kata lain pemilik Laron Penghisap darah

itulah pembunuh yang sesungguhnya dari Jui Pak-hay”

“Rasanya memang begitu”

“Pembunuh yang sebenarnya pasti bukan orang yang

kurang waras otaknya atau punya kelainan jiwa bukan?” Siang

Hu-hoa menambahkan.

Tu Siau-thian tertawa tergelak.

“Aaah, masa begitu kebetulan?” serunya.

“Kalau memang bukan, berarti pembunuh Jui Pak-hay tentu

orang yang mempunyai rencana yang matang, dia pasti punya

maksud dan tujuan tertentu”

“Maksudmu dia memang punya niat untuk membunuh

korbannya?”

“Benar, paling tidak aku beranggapan bahwa kematian Jui

Pak-hay bukan karena salah membunuh, aku yakin segala

398

sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana yang telah

dipersiapkan secara matang”

“Menurut pengalamanku, biasanya rencana pembunuhan

dilakukan karena berapa macam alasan”

“Maksudmu?”

“Membalas dendam adalah salah satu alasan

diantaranya……..”

“Menurut apa yang kuketahui, semua musuh besarnya

telah tewas diujung pedangnya, jadi tak pernah ada musuh

besarnya yang tahu siapakah dia” kata Siang Hu-hoa, setelah

menghela napas terusnya, “selama melakukan perjalanan

dalam dunia persilatan, dia tidak pernah membiarkan

korbannya tetap hidup”

“Berarti Si Siang-ho adalah pengecualian?”

“Mungkin saja dia memang tidak pernah menganggap

peristiwa ini sebagai sesuatu yang serius, sehingga dia anggap

tidak perlu diselesaikan dengan ilmu silat, otomatis dia pun

menganggap tidak ada perlunya untuk membunuh Si Siangho”

“Atau bisa jadi dia memang tidak pernah pandang sebelah

matapun terhadap Si Siang-ho”

Siang Huhoa manggut manggut, setelah termenung

sejenak dia menambahkan:

“Mungkin watak dan perangainya telah terjadi perubahan

besar saat itu sehingga berbeda dengan masa masa

sebelumnya”

“Benturan karena kepentingan merupakan alasan ke

dua…………..”

“Kalau soal ini mah semestinya kalian jauh lebih jelas” ucap

Siang Huhoa.

399

“Aku tidak melihat terjadinya benturan karena kepentingan

di wilayah seputar sini…..”

“Itu berarti kemungkinan alasan ke tiga, tapi apa itu?”

“Bencana yang timbul karena harta atau wanita”

“Jui Pak-hay memang seorang lelaki” Tu Siau-thian segera

tertawa tergelak. “Hahaha…. aku tahu kalau dia seorang

lelaki” serunya, “semisal dia menyamar jadi perempuan pun

sudah pasti dia bukan perempuan yang cantik, aku rasa

kemungkinan karena perempuan kecil sekali. Ini berarti karena

harta…… aku lihat bibit bencana yang paling memungkinkan

adalah karena harta”

“Sebelum kita memasuki ruang rahasia bawah tanahnya,

apakah kau pernah menduga kalau dia memiliki harta

kekayaan yang begitu banyak?” tanya Siang Huhoa.

Tu Siau-thian menggeleng.

“Padahal kau adalah sahabat karibnya” ujar Siang Hu-hoa

lebih jauh, “kalau kau saja tidak tahu, Jui Gi sebagai

pembantu kepercayaannya juga tidak tahu, lalu siapa yang

tahu akan rahasia ini?”

“Aku rasa hanya satu orang yang kemungkinan tahu akan

hal itu”

“Gi Tiok-kun maksudmu?”

“Biasanya seorang lelaki tidak akan merahasiakan masalah

apa pun dihadapan perempuan kesayangannya”

Siang Huhoa sama sekali tidak menyangkal akan perkataan

itu, sebab bukan hanya satu dua kali dia jumpai lelaki

semacam ini, untuk menarik perhatian kaum wanita yang

dituju, seringkah kaum lelaki akan mempamerkan segala

kemampuan, segala kekayaan yang dimilikinya.

400

Keadaan tersebut tidak jauh berbeda seperti burung merak

jantan yang mementangkan bulu-bulu indahnya untuk menarik

perhatian merak betina.

Bab 21.

Dongeng dari Siau-siang.

Apakah Jui Pak-hay termasuk lelaki semacam ini? Dia tidak

yakin.

Ketika mereka masih bersahabat karib, Jui Pak-hay belum

pernah menyinggung soal keinginannya untuk membangun

rumah tangga, dia adalah orang yang suka berganti pacar dan

mencicipi tubuh perempuan satu ke tubuh perempuan lain.

Tapi akhirnya dia telah menikahi Gi Tiok-kun, benarkah dia

amat mencintai perempuan itu sehingga meninggalkan

kebiasaan lamanya?

Untuk mendapatkan perhatian dari Gi Tiok-kun, apakah Jui

Pak-hay menggunakan pula taktik burung merak jantan yang

mempamerkan kelebihan sendiri? Tidak ada yang tahu,

mungkin dalam hal ini hanya Jui Pak-hay dan Gi Tiok-kun

berdua yang bisa menjawab.

“Tidak ada salahnya kita berandai andai” kembali Tu Siauthian

berkata, “kita anggap Gi Tiok-kun memang sudah tahu

kalau Jui Pak-hay memiliki harta karun yang luar biasa

besarnya, kitapun menganggap hubungan antara Jui Pak-hay

dengan bininya persis seperti apa yang digambarkan Jui Pakhay

di dalam catatannya……….”

Siang Huhoa yang mendengar sampai disitu segera

menghela napas panjang, kalau urusan memang seperti apa

yang Tu Siau-thian gambarkan, masalahnya jadi lebih

sederhana dan gampang.

401

Kembali Tu Siau-thian berkata:

“Jui Pak-hay mencintai Gi Tiok-kun sebaliknya Gi Tiok-kun

mencintai Kwee Bok, bila perempuan itu sedang mengincar

harta karum milik Jui Pak-hay sementara diapun enggan hidup

bersama suaminya sampai hari tua nanti, menurut kalian jalan

terbaik apa yang bakal dia lakukan?”

Siang Huhoa tidak menjawab, sebaliknya Nyo Sin segera

berseru:

“Jalan yang terbaik adalah berkomplot dengan kekasih

gelapnya, membunuh suaminya dan merampas harta

kekayaan miliknya!”

“Betul!” sambung Ko Thian-liok pula, “begitu Jui Pak-hay

mati, otomatis seluruh harta kekayaan itu akan jatuh ke

tangan Gi Tiok-kun”

“Peristiwa pembunuhan karena alasan klasik semacam ini

sudah terlalu sering terjadi, oleh sebab itu aku anggap

kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi dalam kasus ini” ujar

Tu Siau-thian lagi.

Siang Huhoa masih tetap membungkam.

Tu Siau-thian berkata lebih lanjut:

“Bila kita membuat perumpamaan seperti ini, maka

beberapa bukti yang berhasil kita kumpulkan selama ini sudah

lebih dari cukup untuk menuduh Gi Tiok-kun dan Kwee Bok

berdua sebagai dalang pembunuhan ini, coba kita bayangkan

saja dengan kepala dingin, kecuali Jui Pak-hay, siapa lagi yang

bisa keluar masuk di dalam perkampungan Ki po cay dengan

leluasa bahkan memelihara Laron Penghisap darah disitu?”

“Tentu saja hanya Gi Tiok-kun seorang!” sela Nyo Sin

cepat.

402

“Dan siapa pula yang bisa menyimpan Laron Penghisap

darah didalam lemari pakaian serta di sela sela payudara Gi

Tiok-kun?”

“Tentu saja hanya Gi Tiok-kun seorang!”

Siang Hu-hoa yang membungkam selama ini tiba tiba

berkata:

“Kalau aku tidak salah tebak, semestinya Gi Tiok-kun sudah

tahu tentang rahasia harta kekayaan Jui Pak-hay semenjak

tiga tahun berselang bukan?”

“Mungkin, tapi biarpun sudah tahu sejak lama bukan berarti

ia bisa turun tangan secara langsung” sahut Tu Siau-thian.

“Jadi dia mesti menunggu selama tiga tahun?”

“Tiga tahun toh bkan terhitung waktu yang cukup panjang”

Siang Hu-hoa segera berpaling dan menatap tajam wajah

Tu Siau-thian, ujarna:

“Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, aku tahu kau

pasti mempunyai alasan yang bagus untuk menjelaskan hal

ini”

“Sekalipun sejak awal dia sudah punya ingatan untuk

mencelakai Jui Pak-hay, namun sebelum segala persiapan

menjadi matang dan segala rencana siap dilaksanakan,

perempuan itu pasti tidak akan turun tangan secara gegabah”

“Jadi menurut pendapatmu?”

“Mula mula dia pasti harus selidiki dahulu segala sesuatu

mengenai Jui Pak-hay, dia harus yakin kalau lelaki itu tidak

memiliki istri lain, tidak punya anak atau sanak keluarga

lainnya, sehingga dia harus yakin dulu bila lelaki itu

sampai mati maka seluruh harta kekayaannya akan jatuh

ke tangannya”

“Kemudian?”

403

“Dia harus memiliki sebuah rencana yang paling luwes dan

paling sempurna” “Selainku?”

“Cukup untuk persiapkan dua hal ini, dia sudah butuh

waktu yang lama sekali, apalagi membunuh Jui Pak-hay belum

tentu murni usulannya”

Tiba tiba Tu Siau-thian menghela napas panjang, terusnya:

“Terus terang, aku pun tidak percaya kalau perempuan itu

begitu keji dan telengas sehingga tega membunuh suami

sendiri”

“Jadi kau curiga kalau semua usul dan ide ini muncul dari

pemikiran Kwee Bok?” tanya Siang Huhoa.

“Aku memang curiga ke situ” sahut Tu Siau-thian, setelah

menghela napas panjang lanjutnya, “tapi sayang bocah muda

itu tidak mirip manusia semacam ini……”

Saat itulah mendadak Ko Thian-liok menyela:

“Jika mereka berdua benar benar merupakan pembunuh

utama dalam kasus ini, lalu bagaimana analisa mu tentang

perjalanan mereka untuk melaksanakan pembunuhan

berdarah ini?”

“Menurut perhitunganku, sejak menikah dengan Jui Pakhay,

besar kemungkinan Gi Tiok-kun masih memelihara

hubungan dengan Kwee Bok secara diam-diam, tatkala dia

mendapat tahu kalau Jui Pak-hay sangat takut dan mual

terhadap laron, mereka berdua pun menyusun rencana kerja

berikut sambil menunggu tibanya saat yang paling tepat untuk

membunuh Jui Pak-hay!”

“Bagaimana rencananya?”

“Langkah pertama, tentu saja Kwee Bok harus

mempersiapkan sejumlah Laron Penghisap darah”

“Kenapa harus mengumpulkan Laron Penghisap darah?”

404

Tu Siau-thian termenung sambil berpikir sejenak, lalu

katanya:

“Mungkin saja didalam pembicaraan sehari hari, Gi Tiok-kun

mendapat tahu kalau diantara kelompok laron ternyata Jui

Pak-hay paling takut dengan Laron Penghisap darah, atau

mungkin saja Kwee Bok pernah berkunjung ke wilayah Siausiang,

pernah menyaksikan Laron Penghisap darah dan

menganggap hanya Laron Penghisap darah yang bisa

membuat pikiran Jui Pak-hay kalut dan hilang kontrol”

“Lantas apa langkah ke dua mereka?’

“Tentu saja melatih pengendalian terhadap kelompok Laron

Penghisap darah itu”

“Memangnya kawanan Laron Penghisap darah itu benarbenar

bisa dikendalikan?”

“Percaya saja, melatih kawanan laron tidak jauh berbeda

seperti melatih sekelompok lebah, asal mau dilatih dengan

sungguh sungguh, asal mau mempelajari sifat dan kebiasaan

makhluk tersebut, suatu saat kawanan makhluk itu pasti dapat

dikendalikan”

“Langkah berikut……….” tanya Ko Thian-liok lagi.

“Ketika semua persiapan sudah matang, mereka pun mulai

melancarkan gerakan untuk mencelakai Jui Pak-hay, mula

mula mereka gunakan rasa takut Jui Pak-hay terhadap Laron

Penghisap darah untuk menteror dirinya, mereka sengaja

mengatur kawanan Laron Penghisap darah agar bisa muncul

dihadapan Jui Pak-hay berulang kali, semua gerakan, semua

penampilan laron laron itu disesuaikan persis sama dengan

berita dongeng yang banyak beredar di wilayah Siau-siang,

agar Jui Pak-hay yakin dan percaya kalau dirinya telah

dijadikan target dan sasaran dari si raja Laron Penghisap

darah”

Sesudah berhenti sejenak, kembali lanjutnya:

405

“Untuk kelancaran dalam melaksanakan rencana ini, sejak

tiga bulan berselang Kwee Bok menyewa ruangan di rumah

penginapan Hun-lay milik Si Siang-ho dengan alasan sedang

meramu sejenis obat mustajab, dia sengaja memelihara

kawanan Laron Penghisap darah itu didalam rumah

penginapan tersebut”

“Yaa, dalam hal ini kita nyaris dapat mengumpulkan saksi

dari orang orang seluruh dusun, dia memang tidak mungkin

bisa mungkir lagi” sela Nyo Sin.

“Tauke rumah uang Kwong-hong beserta beberapa orang

karyawannya juga merupakan saksi saksi yang menguatkan”

Ko Thian-liok menambahkan.

“Telah kuselidiki dengan jelas asai usul tauke rumah uang

itu” kata Nyo Sin cepat, “dia hanya seorang rakyat biasa, tidak

mungkin ada masalah dan dia tidak mungkin sengaja

menfitnah atau menuduh Kwee Bok tanpa bukti”

“Selain itu pedagang kelinci juga merupakan saksi yang

menguatkan, mereka bisa membuktikan kalau Kwee Bok

pernah membeli ribuan ekor kelinci dari mereka” ujar Ko

Thian-liok pula.

“Aku pun telah selidiki beberapa orang pedagang itu,

mereka memang tidak ada masalah”

0-0-0

Dalam perjalanan kembali ke pengadilan, Nyo Sin, Siang

Huhoa dan Tu Siau-thian dengan mengggelandang Kwee Bok

sempat mampir di tempat penjualan kelinci.

Beberapa orang pedagang kelinci itu serentak maju

mengerubung ketika melihat kemunculan Kwee Bok, mereka

406

semua berkata kalau telah menyiapkan berapa ratus ekor

kelinci untuknya.

Tentu saja Nyo Sin tidak menyia nyiakan kesempatan ini

untuk memeriksa berapa orang pedagang itu.

Begitu pertanyaan diajukan, dia segera mendapat tahu

kalau selama ini Kwee Bok memang pernah membeli berapa

ribu ekor kelinci dari tangan mereka.

Langganan besar seperti Kwee Bok pasti tidak akan disia

siakan setiap pedagang, mereka pasti mempunyai kesan yang

dalam terhadap pelanggan besar seperti ini.

Konon setiap kali membeli kawanan kelinci itu, Kwee Bok

selalu berpesan wanti wanti agar mereka menutup rahasia

pembelian ini.

Bahkan Kwee Bok pun tidak pernah menawar harga yang

diminta para pedagang, dia selalu membayar kontan dan

membeli dalam jumlah besar.

Baru pertama kali ini para pedagang kelinci itu bertemu

dengan pelanggan seperti ini.

Padahal disekitar tempat itu bukan mereka saja yang

menjual kelinci, disana masih banyak terdapat pedagang lain.

Sudah barang tentu mereka tidak ingin pelanggan sebagus

ini jatuh ke tangan pedagang lain, maka mereka hanya

melakukan transaksi dengan Kwee Bok secara diam diam dan

penuh rahasia.

Jual beli telah berlangsung belasan kali, tapi sejak belasan

hari terakhir mereka tidak menemukan jejak Kwee Bok lagi.

Padahal selama ini mereka telah persiapkan lagi berapa

ratus ekor kelinci, tidak heran kalau mereka segera maju

mengerubung begitu melihat kemunculan Kwee Bok.

Tentu saja Nyo Sin pun tidak akan melepaskan kesempatan

baik ini.

407

Setelah melalui sederet pemeriksaan yang ketat, diketahui

bahwa kawanan pedagang itu sama sekali tidak bermasalah

dan tidak ada yang patut dicurigai.

Para pedagang itupun tidak ada yang tahu buat apa Kwee

Bok membeli begitu banyak kelinci. Ada orang yang menduga

Kwee Bok mempunyai toko penjual kelinci, ada yang menduga

dia adalah pedagang besar kelinci yang mengirim binatang

binatang itu ke tempat lain. Bahkan ada pula yang curiga

Kwee Bok membuka rumah makan dan menggunakan daging

kelinci untuk memalsukan daging babi.

Tentu saja dugaan dugaan mereka itu keliru besar.

Dalam kenyataan kawanan kelinci itu dikirim ke rumah

penginapan Hun-lay dan saban hari Si Siang-ho menghantar

sepuluh ekor kelinci untuk mangsa kawanan Laron Penghisap

darah yang dipelihara dalam ruang rumah penginapannya.

0-0-0

Nyo Sin tertawa dingin, kembali ujarnya:

“Sekarang barang bukti sudah lengkap, saksi pun sudah

lengkap, tapi orang she-Kwe itu belum juga mau mengaku

salah, entah rencana busuk apa lagi yang sedang dia

persiapkan”

Tidak ada yang menjawab.

Rencana busuk apa yang sedang dipersiapkan Kwee Bok?

Kecuali dia sendiri, tentu saja orang lain tidak akan bisa

menebaknya.

Ko Thian-liok segera mengalihkan pandangannya ke wajah

Tu Siau-thian, kemudian perintahnya:

“Lanjutkan!”

408

Tu Siau-thian mengangguk.

“Dengan Gi Tiok-kun membantunya dari dalam, tentu saja

semua rencana dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Gi

Tiok-kun bukan saja mengatur jadwal pemunculan kawanan

Laron Penghisap darah itu dihadapan Jui Pak-hay, bahkan

setiap kali muncul dihadapan suaminya, dia selalu berlagak

seolah olah dia sama sekali tidak menyaksikan sesuatu”

“Apa gunanya dia berlagak tidak melihat?”

“Agar Jui Pak-hay percaya kalau kawanan Laron Penghisap

darah itu merupakan jelmaan dari setan iblis. Pada dasarnya

Jui Pak-hay memang sangat takut terhadap Laron Penghisap

darah, dengan ditambahnya teror seperti ini tidak heran kalau

dia semakin panik dan ketidakutan, tidak heran pula jika

pikirannya jadi tidak waras”

Setelah berhenti sebentar, kembali terusnya: “Makin hari

mereka menteror Jui Pak-hay semakin hebat, rasa takut Jui

Pak-hay terhadap kawanan Laron Penghisap darah pun makin

lama semakin menjadi. Kini bukan saja Gi Tiok-kun telah

menyembunyikan kawanan Laron Penghisap darah itu didalam

lemari pakaiannya, dia pun menyimpan dalam kamar tidurnya,

jelas tujuannya adalah untuk semakin menakut nakuti

suaminya. Lalu dengan alasan hendak mengobati penyakitnya

dia mengundang kedatangan Kwee Bok, dalam perjamuan dia

pun meminta Kwee Bok menjadi pihak ke tiga yang

menyangkal kalau telah melihat kemunculan Laron Penghisap

darah, kesemuanya ini membuat rasa percaya diri yang

dimiliki Jui Pak-hay semakin runtuh. Dalam keadaan demikian

tidak aneh jika pikiran Jui Pak-hay semakin kalut dan otaknya

semakin tidak waras, bila seseorang sudah berada dalam

keadaan yang amat ketakutan, perbuatan apa pun bisa dia

lakukan”

“Ehmmm, analisa mu memang sangat masuk diakal”

409

“Aku yakin tujuan utama mereka adalah begitu, jika Jui

Pak-hay benar benar tewas karena alasan semacam ini, sudah

pasti orang lain tidak akan mencurigai mereka berdua, kalau

toch ada, orang pun sulit untuk menemukan barang bukti

yang bisa memberatkan tuduhan terhadap mereka”

Ko Thian-liok kembali manggut manggut.

“Jika Jui Pak-hay dianggap mati bunuh diri, pembunuhnya

adalah dia sendiri, tentu saja tidak ada sangkut pautnya

dengan orang lain” dia berkata.

“Sayang perhitungan manusia tidak mampu mengalahkan

kehendak Thian”

“Oya?”

“Ketika Laron Penghisap darah itu muncul untuk ke dua

kalinya, mereka tidak menyangka kalau Jui Pak-hay sedag

mencari aku. Dengan kehadiranku ditempat kejadian, maka

aku pun dapat melihat ke dua ekor Laron Penghisap darah itu,

bahkan berhasil menangkap seekor diantar anya”

“Apakah kejadian ini ada pengaruhnya?”

“Tentu saja, kejadian tersebut membuktikan tentang

keberadaan Laron Penghisap darah dan menumbuhkan

kembali rasa percaya diri dari Jui Pak-hay, oleh sebab itu

ketika Gi Tiok-kun bilang kalau dia tidak melihat kehadiran

Laron Penghisap darah, Jui Pak-hay tidak percaya dengan

pengakuannya, dia curiga bininya sedang berbohong.

Sesungguhnya Jui Pak-hay termasuk orang yang besar rasa

curiganya, bila satu ingatan sudah muncul maka dia akan

mengaitkan pemikiran itu dengan masalah yang lain,

akibatnya dia pun menganggap Gi Tiok-kun dan Kwee Bok

sebagai jelmaan dari siluman laron dan muncullah niatnya

untuk menghabisi nyawa ke dua orang ini”

Semua penjelasan dia tuturkan selancar aliran air disungai

Tiangkang, terusnya:

410

“Ketika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok menyadari akan rencana

jahat Jui Pak-hay terhadap mereka, kedua orang itupun

segera membatalkan rencana semula dan segera

mempercepat pembunuhan itu dengan dilakukan secara

langsung”

“Ehmmm, kemungkinan ini memang bisa diterima”

Tu Siau-thian berkata lagi:

“Mereka tentu tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki Jui

Pak-hay sangat hebat, bila harus bentrok berhadapan muka

jelas mereka mencari kematian, maka bisa jadi terpaksa

mereka harus gunakan Laron Penghisap darah untuk menakut

nakuti Jui Pak-hay. Ketika tiba pada malam tanggal lima belas,

karena secara beruntun Jui Pak-hay sudah mengalami teror

selama empat belas hari, ketegangan yang kelewat puncak

membuat tubuh maupun mentalnya menjadi melemah,

sewaktu sadar, dia hidup layak seperti manusia biasa, tapi

begitu otaknya mulai tidak waras, dia seakan berubah jadi

orang yang lain, dalam benak dan bayangannya hanya ada

bayangan dari Laron Penghisap darah”

Sesudah menghembuskan napas panjang, terusnya:

“Oleh karena selama ini dia selalu beranggapan bahwa raja

laron bakal muncul pada malam tanggal lima belas dan

kawanan laron itu pasti akan menghisap darahnya hingga

kering, maka begitu dia bertemu dengan kawanan Laron

Penghisap darah pada malam tersebut, semangat dan

mentalnya langsung rontok”

“Bukankah kau pernah bilang bahwa pada malam itu tidak

nampak ada rombongan Laron Penghisap darah yang terbang

masuk ke ruang perpustidakaan?” sela Nyo Sin.

Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya:

411

“Hanya siluman dan setan iblis yang bisa masuk tembus

dinding, kita toch sudah menyangkal kalau kawanan Laron

Penghisap darah itu bukan siluman atau setan iblis”

“Itu berarti hanya ilusi, hanya khayalan kosong yang

mengganggu pikirannya waktu itu?”

“Juga bukan begitu” Tu Siau-thian menggeleng.

Kontan Nyo Sin mendelik, tapi Tu Siau-thian tidak

menggubris, dia menerangkan lagi:

“Gi Tiok-kun sudah mengetahui rahasia kekayaan yang

dimiliki Jui Pak-hay, tentu saja diapun tahu ditempat mana

suaminya menyembunyikan harta karun itu, bahkan bisa jadi

segala alat jebakan dan perangkap yang dipasang berlapis

dalam ruang rahasia itu sudah tidak bermanfaat lagi terhadap

dirinya”

“Jadi dia mengetahui cara mengendalikan alat perangkap

itu?”

“Aku tidak bermaksud begitu”

“Lalu apa maksudmu?”

“Dia adalah perempuan kesayangan Jui Pak-hay, menurut

penilaianmu, bila dia sudah berniat mempelajari cara

mengendalikan alat perangkap tersebut, setelah melewati

waktu selama tiga tahun, mungkinkah usahanya itu tanpa

hasil?”

“Tentu saja tidak”

“Bila dia mengetahui bagaimana caranya mengendalikan

alat perangkap dalam ruang rahasia itu, otomatis Kwee Bok

juga tahu akan rahasia ini. Bila dugaanku tidak keliru, bisa jadi

secara diam diam Kwee Bok telah menyusup masuk ke dalam

ruang perpustakaan pada malam tanggal lima belas, membuka

pintu rahasia itu dan menyusup ke dalam ruang bawah tanah,

412

ketika dia melihat kesempatan telah datang maka dia buka

pintu rahasia itu dan melepaskan Laron Penghisap darah”

“Kemudian?”

“Sewaktu melihat munculnya Laron Penghisap darah

didalam ruang

perpustakaannya, Jui Pak-hay menyangka saat ajalnya

telah tiba, waktu itu semangat maupun mentalnya sudah

runtuh, peristiwa mengerikan apa lagi yang tidak bisa dia

lakukan dalam keadaan begitu? Ketika seorang manusia

menghadapi ancaman kematian, biasanya ada dua reaksi yang

mungkin mereka lakukan”

“Reaksi yang bagaimana?”

“Kalau tidak beradu jiwa tentu berusaha melarikan diri”

“Ooh?”

“Kalau bisa beradu jiwa pasti akan beradu jiwa, kalau tidak

bisa beradu jiwa tentu berusaha untuk melarikan diri, tidak

terkecuali diri Jui Pak-hay. Mula-mula dia mencabut dulu

pedangnya dan siap beradu jiwa, ketika melihat usahanya

tanpa hasil, tentu saja dia akan berusaha untuk melarikan diri”

Sesudah berhenti sebentar, lanjutnya:

“Tempat paling aman yang ada dalam ruang perpustakaan

ini adalah ruang bawah tanah, sebab dia anggap disitulah dia

telah persiapkan pelbagai alat perangkap yang canggih,oleh

sebab itu kecuali dia tidak berusaha kabur, bila ingin melarikan

diri, dia pasti akan kabur ke ruang bawah tanah, padahal

disanalah Kwee Bok telah menunggunya!”

“Kehadiran pemuda itu tentu jauh diluar dugaan Jui Pakhay

bukan?” kata Nyo Sin.

“Betul, selain diluar dugaan dia pun sedang kabur dengan

tergesa-gesa, pikirannya kalut dan mentalnya runtuh, dalam

kondisi seperti ini mana mungkin Jui Pak-hay bisa lolos dari

413

sergapan Kwee Bok? Maka pada akhirnya dia pun tewas

ditangan pemuda itu”

“Dengan kemampuan Kwee Bok, mana mungkin dia

mampu membunuhnya?”

“Betul, kepandaian silatnya memang sangat tangguh,

namun dalam kondisinya waktu itu, mungkin dia tidak jauh

berbeda dengan keadaan manusia biasa”

“Dengan cara apa Kwee Bok membunuhnya?”

“Mungkin menggunakan racun, mungkin menghantam dulu

kepalanya dengan benda berat kemudian baru membantainya,

apa pun penyebab kematiannya, yang pasti kita tidak akan

bisa menemukan bekas bekas tersebut dari atas jenasahnya”

Diam diam Nyo Sin bergidik, dia belum lupa bagaimana

kondisi mayat Jui Pak-hay saat itu.

Batok kepalanya sudah berubah jadi tengkorak, tubuhnya

sebagian sudah tinggal tulang belulang sebagian masih ada

dagingnya namun mulai membusuk dan melelehkan cairan

yang memuakkan, bagaimana mungkin mereka bisa

melakukan autopsi pada sesosok jenasah yang sudah parah

keadaannya?

Tu Siau-thian sendiri ikut bergidik, tapi tidak selang berapa

saat kemudian dia telah berkata lagi:

“Ketika aku bersama Tan Piau dan Yau Kun berhasil

menjebol pintu dan masuk ke dalam ruangan, Kwee Bok telah

kabur lagi ke dalam ruang rahasia, maka kami tidak berhasil

menemkan jejaknya”

Dengan suara berat dan dalam dia menambahkan:

“Mungkin inilah penyebab hilangnya Jui Pak-hay secara

misterius dari dalam ruang perpustakaan pada malam tanggal

lima belas”

414

“Kalau memang begitu, kenapa dia tidak meninggalkan saja

jenasah dari Jui Pak-hay itu didalam ruang rahasia?” tanya

Nyo Sin.

“Mungkin dia kuatir kita akan menemukan ruang rahasia itu

dan menemukan juga jenasah Jui Pak-hay, karena dengan

begitu penyebab kematian Jui Pak-hay segera akan

terungkap”

“Maka dia cari kesempatan lagi, menunggu kalian sudah

pergi dari situ, jenasah Jui Pak-hay segera diangkut keluar dari

ruang bawah tanah?” tanya Nyo Sin.

Tu Siau-thian mengangguk.

“Jika dia hanya keluarkan jenasah itu dari dalam ruang

perpustidakaan, maka tidak sulit hal ini akan ketahuan orang,

maka dia pun memindahkan mayat itu ke dalam ruang loteng

dibelakang kamar tidur Gi Tiok-kun, dengan kerja sama

perempuan itu, tentu saja semua pekerjaan dapat dia lakukan

secara mudah”

“Perkampungan Ki po cay sangat luas, kenapa dia tidak

memilih tempat lain saja?”

“Tempat mana yang jauh lebih rahasia daripada ruang

bawah tanah itu? Kalau tempat yang begitu rahasia pun tidak

dipercayai, memangnya ada tempat lain lagi yang bisa mereka

pilih?”

“Buktinya kita tetap berhasil menemukan ruang loteng itu!”

“Kalau kita tidak membaca buku catatan itu lebih dulu,

mungkin kita pun tidak bakal mencurigai kamar tidurnya”

“Aaah, belum tentu”

Tu Siau-thian tidak ingin berdebat, kembali dia bertanya:

“Sebelum kejadian ini, pernahkah kita menaruh curiga

terhadap Gi Tiok-kun? Pernahkah kita mencurigai dia sebagai

415

seorang pembunuh? Seorang istri yang membunuh suami

sendiri?”

Mau tidak mau Nyo Sin harus menggeleng.

“Kalau Gi Tiok-kun saja tidak kita curigai, mana mungkin

kita bisa menduga kalau jenasah Jui Pak-hay kemungkinan

besar telah disembunyikan didalam kamar tidur mereka, mana

mungkin kita bisa menyatroni tempat itu dan menemukan

ruang rahasia diatas loteng?” sambung Tu Siau-thian cepat.

Terpaksa Nyo Sin mengangguk.

Setelah tertawa lebar Tu Siau-thian berkata lagi:

“Ketika kita menemukan ruangan tersebut, mungkin Kwee

Bok mengira jenasah Jui Pak-hay sudah habis dilalap kawanan

Laron Penghisap darah itu”

“Tapi jenasah Jui Pak-hay belum habis……”

“Disinilah dia salah perhitungan” tukas Tu Siau-thian,

“kesalahan ini jadi fatal karena merupakan titik terang akan

terungkapnya semua misteri pembunuhan ini”

Setelah menyandarkan diri pada sebuah bangku, dia

melanjutkan:

“Ketika dia sadar akan kekeliruan tersebut, waktu itu kita

sudah membekuk Gi Tiok-kun”

“Padahal kalau dia sudah berencana menggunakan Laron

Penghisap darah untuk melenyapkan jenasah Jui Pak-hay,

kenapa tidak dia tinggalkan saja mayat tersebut di ruang

bawah tanah? Dengan berbuat begitu, bukan saja dia bisa

menghindari Gi Tiok-kun dari segala kecurigaan, lagipula

meski dengan cepat kita berhasil menemukan ruang bawah

tanah dan menjumpai pula mayat Jui Pak-hay, namun

penemuan ini tidak akan berpengaruh apa apa terhadap

mereka”

416

“Menurut dugaanku, kemungkinan besar hal ini

dikarenakan tumpukan harta karun dalam ruang rahasia itu”

“Oya?”

“Mungkin Laron Penghisap darah itu atau kotoran dari

makhluk itu bisa mendatangkan kerusakan atas harta karun

yang ada di ruang rahasia itu”

“Ehmmm, kau bisa mengurai semua kejadian secara

berurutan dan jelas, atau mungkin memang demikian

rangkaian peristiwanya?” tanya Nyo Sin kemudian sambil

mengelus jenggotnya.

“Aku hanya menduga dan menganalisanya, belum tentu

kenyataan nya demikian”

“Opas Tu, analisamu memang sangat hebat!” puji Ko

Thian-liok pula.

Pelan pelan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Siang

Hu-hoa, lalu sapanya:

“Saudara Siang!”

“Ko tayjin…….” sahut Siang Hu-hoa sembari menjura.

Tidak membiarkan lelaki itu berbicara, kembali Ko Thianliok

menukas:

“Sewaktu masih muda dulu aku pernah berkelana dalam

dunia persilatan, meski tidak terlampau lama, sesungguhnya

aku masih terhitung separuh orang kangouw, oleh sebab itu

kecuali berada di ruang sidang pengadilan, kau tidak usah

terlalu memakai aturan”

Siang Huhoa kontan tertawa tergelak.

“Jangan kuatir, biar di ruang sidang atau diluar sidang, aku

memang orang yang tidak suka berbasa basi” sahutnya.

“Kalau begitu kau pun tidak usah banyak adat denganku”

417

“Baiklah” ujar Siang Huhoa kemudian, “saudara Ko ada

urusan apa?’

“Aku ingin bertanya kepada saudara siang, bagaimana

pendapatmu atas analisa dari opas Tu itu?”

“Aku kurang setuju” jawab Siang Hu-hoa tanpa ragu.

“Oya?”

“Analisa dari saudara Tu memang hebat, alasannya cukup

kuat dan bisa dipertanggung jawabkan, tapi sayang sudah

melupakan beberapa hal”

“Silahkan diutarakan”

“Bagi seseorang yang memiliki kungfu hebat, sekalipun

berada dalam keadaan kurang terkontrol pikirannya, bukan

sembarangan obat racun bisa merobohkan dirinya, apalagi

meracuninya hingga mati dalam waktu singkat

“Mungkin saja Kwee Bok sudah mengantisipasi sampai ke

situ” seru Tu Siau-thian, “obat beracun yang dia gunakan pun

sudah pasti bukan obat racun sembarangan”

“Kalau bukan obat racun sembarangan berarti pasti obat

yang sangat lihay daya kerjanya?”

“Mungkin saja kadar racunnya sanggup menghabis nyawa

Jui Pak-hay dalam waktu setengah detik”

“Kalau memang terdapat racun sehebat itu, berarti setiap

waktu setiap saat dia bisa membunuh mati Jui Pak-hay, kalau

bisa begitu, buat apa dia mesti repot repot menyusun segala

rencana?”

“Dia toh belum pasti menggunakan obat racun” bela Tu

Siau-thian.

“Membunuh dengan cara memukulkan benda berat keatas

kepalanya jelas lebih sulit dia lakukan” Siang Hu-hoa

menerangkan, “dalam perjalanan menuju ke kantor

418

pengadilan tadi, secara diam diam aku telah menjajal

kemampuan Kwee Bok”

“Apa yang kau temukan?”

“Dia tidak ada bedanya dengan kebanyakan orang biasa,

sekalipun pernah belajar silat tidak nanti kehebatannya bisa

luar biasa, padahal seharusnya kalian sudah tahu sejak dia

dirobohkan oleh timpukan cincin besi milik Si Siang-ho”

“Apa lagi kesalahanku dalam analisa itu?” tanya Tu Siauthian

kemudian.

“Jika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok adalah pembunuh Jui Pakhay,

tidak ada alasan bagi mereka untuk menyimpan

jenasahnya dalam ruangan diatas loteng, sebab begitu

ketahuan, orang pertama yang bakal dicurigai adalah Gi Tiokkun…….”

“Bukankah aku telah membeberkan alasannya tadi?” tukas

Tu Siau-thian.

“Tapi kau tidak pernah menjelaskan tentang sesuatu”

“Soal apa?”

“Kenapa Kwee Bok mengajak kita pergi mengunjungi Si

Siang-ho? Memangnya dia ingin menggali liang kubur buat diri

sendiri?”

Tu Siau-thian termenung dan berpikir sejenak, kemudian

ujarnya:

“Aku memang pernah memikirkan persoalan ini, menurut

analisaku, sebetulnya kepergian kita ke rumah penginapan itu

merupakan bagian dari skenario nya, dia ingin mencelakai Si

Siang-ho, ingin menfitnah orang tersebut……bukankah antara

Si Siang-ho dengan Jui Pak-hay pernah terlibat satu masalah

pelik yang menimbulkan dendam pribadi? Tapi kalau dibilang

Si Siang-ho

419

yang mencelakai Jui Pak-hay……. pertama kita tidak punya

bukti dan saksi, biar kita percaya pun belum tentu orang lain

mau percaya”

Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya:

“Sayang hitungan manusia tidak bisa menangkan kemauan

takdir, siapa pun tidak menyangka kalau akan terjadi

perubahan yang diluar dugaan, bukan saja dia gagal

menfitnah Si Siang-ho, malah aib sendiri yang terbongkar”

“Kalau memang benar begitu, kenapa dia lakukan sendiri

semua pekerjaan itu, sedari menyewa ruangan, membeli

kelinci, menghantar kelinci ke rumah penginapan semuanya

dia kerjakan sendiri, apa dia tidak takut terbongkar rahasianya

dikemudian hari? Bukankah tindakannya itu kelewat goblok?”

“Mungkin baru pertama kali ini dia melakukan tindak pidana

dia belum mengerti bagaimana caranya menyembunyikan

semua perbuatan nya, orang yang bekerja dengan suasana

tegang seringkali memang tidak bisa berpikir panjang”

“Aku rasa dia termasuk orang pintar, bukankah sebelum

melakukan setiap langkah rencananya, dia selalu

mempertimbangkan secara masak masak? Ini sesuai dengan

apa yang kau tuduhan tadi”

“Mungkin dia pun kelewat banyak berpikir sehingga tidak

bisa mengontrol pikiran sendiri, akibatnya banyak melakukan

tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan” Tu Siau-thian

tertawa getir, “apakah hanya ini saja keteledoranku?”

“Ooh masih ada satu hal lagi yang jauh lebih penting”

“Soal apa?”

“Bila Kwee Bok pernah bersembunyi di dalam ruang

rahasia, kenapa dia tidak musnahkan juga buku catatan serta

surat wasiat yang diletidakkan Jui Pak-hay diatas meja?”

“Mungkin dia tidak memperhatikan?”

420

“Tidak aneh kalau dia tidak memperhatikan buku catatan

itu, sebab semua catatan dituangkan dalam gulungan kertas,

tapi surat wasiat itu jelas wujudnya bahkan diletidakkan

ditempat yang amat mencolok”

“Mungkin waktu itu dia kelewat tegang sehingga tidak

terlalu memperhatikan?” Tu Siau-thian menghela napas

panjang, “atau dia hanya bersembunyi ditempat kegelapan

dan sama sekali tidak pernah melangkah masuk ke dalam

ruang rahasia”

“Jadi semuanya serba mungkin?”

Kembali Tu Siau-thian menghela napas panjang.

“Aku tahu analisaku ini memang kelewat dipaksakan”

“Aku pikir, tidak ada alasan bagi Kwee Bok untuk tidak

memusnahkan surat wasiat yang dia temukan dalam ruang

rahasia itu” kata Siang Huhoa lagi.

Sementara berbicara, sinar matanya dialihkan ke atas meja.

Ke dua pucuk surat wasiat peninggalan Jui Pak-hay

terletidak diatas meja.

Walaupun disitu terdapat dua pucuk, namun isinya persis

sama satu dengan lainnya, seperti apa yang pernah dikatakan

Jui Pak-hay sendiri.

Sudah barang tentu Siang Hu-hoa cukup hapal dengan

gaya tulisan Jui Pak-hay, Ko Thian-liok sendiri pun merasa

tidak asing, ini berarti keaslian surat wasiat itu memang tidak

perlu diragukan.

Setelah memperhatikan surat wasiat itu sekejap, Ko Thianliok

berkata:

“Menyinggung soal surat wasiat, hal inipun terasa sangat

aneh”

“Dimana letak keanehannya?”

421

“Didalam ke dua pucuk surat wasiat itu masing-masing

disertakan selembar kertas yang mencantumkan seluruh harta

kekayaan yang mmilikinya”

“Apakah kau merasa heran karena dia meiniliki begitu

banyak harta?”

“Bukan, ada dua hal yang membuatku heran” kata Ko

Thian-liok seraya menggeleng.

“Dua hal yang mana?”

“Pertama, dari begitu banyak harta kekayaan yang dia

miliki ternyata tidak sepotong pun yang diwariskan kepada

bininya Gi Tiok-kun”

“Selama ini dia menganggap Gi Tiok-kun dan Kwee Bok

sebagai jelmaan siluman yang bekerja sama ingin

membunuhnya, hal ini bisa dimaklumi” ujar Siang Huhoa.

“Apapun analisa mu, tapi aku rasa kebangetan bila dia tidak

mewariskan secuwil harta pun untuk bininya”

“Lalu apa yang kedua?”

“Tiga ahli waris yang dia pilih untuk mewarisi seluruh harta

kekayaannya”

Kali ini Siang Huhoa terbungkam dan tidak berkata-kata.

Terdengar Ko Thian-liok berkata lebih jauh:

“Ke tiga orang ahli waris yang dipilih adalah Liong Ong-po,

Wan Kiam-peng serta Cu Hiap…..sebelum membaca isi surat

wasiat itu, aku sama sekali tidak tahu akan wujud ke tiga

orang itu, pun tidak pernah ada orang yang menyinggung

tentang ke tiga orang itu dihadapanku, ini menunjukkan kalau

mereka bertiga tidak memiliki hubungan yang kelewat akrab

dengan dirinya, tapi di dalam kenyataannya sekarang, dia

telah mewariskan seluruh harta kekayaannya yang begitu

banyak untuk mereka bertiga”

422

“Bukankah kau bersahabat karib dengan Jui Pak-hay?”

tanya Siang Huhoa.

“Aku sudah empat tahun kenal dengan dirinya”

“Dalam empat tahun ini pernahkah saudara Ko mendengar

dia menyinggung tentang diriku?” tanya Siang Hu-hoa lagi.

“Rasanya tidak pernah” jawab Ko Thian-liok tanpa ragu,

setelah berhenti sesaat tanyanya lagi, “sudah berapa tahun

kalian berkenalan?”

“Kalau bukan dua puluh tahun, paling tidak sudah delapansembilan

belas tahunan”

Seolah terbayang kembali masa lampau, dia menghela

napas panjang, lalu tambahnya:

“Ketika pertama kali berkenalan, waktu itu kami masih

kanak kanak”

“Bersahabat selama banyak tahun, aku percaya kalian tentu

merupakan sahabat yang sangat karib?”

“Semestinya begitu”

“Sebelum Jui Pak-hay lenyap, dia pernah menyinggung

akan kehadiranmu dihadapan opas Tu, aku dengar dia pun

pernah berkata bahwa kau adalah sahabat karibnya”

“Nah, terhadap seorang sahabat macam aku pun dia tidak

pernah menyinggung dihadapanmu, bukankah kau pun

merasa keheranan?”

Ko Thian-liok mengangguk.

“Padahal sedikitpun tidak aneh” ujar Siang Huhoa lagi.

“Oya?”

“Sebab sejak tiga tahun berselang, kami sudah bukan

sahabat lagi”

“Tapi……..”

423

“Sekalipun begitu” tukas Siang Hu-hoa, “ketika dia

menghadapi kesulitan dan hal itu kuketahui, aku tidak akan

berpeluk tangan belaka, kecuali aku memang tidak tahu, kalau

tidak aku pasti akan datang mencarinya”

“Kenapa?”

“Sebab dia tahu, aku bukan seorang manusia yang lupa

budi”

“Jadi kau berhutang budi kepadanya?”

“Benar, hutang budi karena dia pernah selamatkan jiwaku”

Bab 22.

Liong-sam kongcu.

Sesudah berhenti sejenak, kembali terusnya:

“Sekalipun aku tidak pernah berhutang budi kepadanya,

asal kami pernah berteman dan aku tahu kalau jiwanya

sedang terancam bahaya maut, aku tidak nanti akan

berpangku tangan belaka, kecuali kesalahan berada

dipihaknya, kesalahan yang tidak berharga untuk dimaafkan”

“Aku tahu kau memang seorang pendekar sejati yang

berjiwa ksatria!” puji Ko Thian-liok, setelah menatap Siang

Huhoa dalam dalam, dia bertanya lagi:

“Sebetulnya apa yang menyebabkan kalian bermusuhan?”

“Mengenai persoalan ini, aku rasa sudah tidak ada

kepentingan untuk dibicarakan lagi” tampik sianghu cepat.

“Apakah ada sangkut pautnya dengan kasus yang terjadi

saat ini?”

“Rasanya sama sekali tidak ada hubungan”

424

“Kalau memang begitu tidak perlu diungkap lagi……. Aku

bukan termasuk orang yang suka mendengarkan rahasia

orang lain”

“Aku pun tidak suka membongkar rahasia orang lain”

Ko Thian-liok manggut-manggut sambil tertawa, dia segera

mengalihkan pembicaraan ke soal lain, tanyanya:

“Apakah Liong Giok-po, Wan Kiam-peng dan Cu Hiap

termasuk juga sahabat sahabat Jui Pak-hay?”

“Sama sekali bukan, oleh sebab itu bukan satu kejadian

yang aneh bila dia tidak pernah menyinggung tentang ke tiga

orang itu sewaktu berada dihadapanmu”

“Apakah antara mereka dengan Jui Pak-hay punya

hubungan saudara atau famili?” kembali Ko Thian-liok

bertanya.

“Antara mereka dengan Jui Pak-hay sama sekali tidak ada

hubungan saudara maupun famili”

“Aneh” seru Ko Thian-liok keheranan, “kalau toch bukan

sanak bukan saudara, kenapa Jui Pak-hay mewariskan seluruh

harta kekayaannya yang luar biasa itu kepada mereka

bertiga?”

Siang Hu-hoa membungkam, seolah dia tidak tahu

bagaimana mesti menjawab.

“Jadi kaupun tidak tahu?” desak Ko Thian-liok.

Tiba-tiba Siang Huhoa menghela napas panjang, katanya:

“Aku tahu!”

“Karena apa?”

“Dia berbuat demikian untuk menebus dosa-dosanya!”

“Kalau begitu dulu dia pernah melakukan perbuatan yang

sangat merugikan ke tiga orang itu?”

425

Meski tidak menjawab, tampaknya Siang Huhoa mengakui

akan hal itu.

“Sebetulnya apa yang telah terjadi?” tanya Ko Thian-liok

lebih jauh.

“Aku rasa persoalan itu sama sekali tidak ada hubungan

dengan soal kematiannya”

“Jadi kau tidak berniat membeberkannya?”

Siang Huhoa membenarkan.

Setelah termenung sebentar kembali Ko Thian-liok berkata:

“Kalau dilihat dari kerelaannya menyerahkan harta

kekayaan sebesar itu kepada mereka bertiga, nampaknya

kejadian di masa lampau merupakan satu kejadian yang besar

dan amat serius”

Siang Huhoa tetap tidak menjawab.

“Mereka pasti amat membenci Jui Pak-hay hingga merasuk

ke tulang sumsum” lanjut Ko Thian-liok.

Siang Huhoa tetap bungkam seribu bahasa.

Mendadak Ko Thian-liok bertanya:

“Apakah selama ini mereka tidak pernah melakukan tindak

pembalasan dendam terhadap Jui Pak-hay ?”

“Menurut apa yang kuketahui, rasanya tidak pernah”

“Tentu mereka tidak berani balas dendam karena

kepandaian silat yang dimiliki Jui Pak-hay sangat hebat,

biarpun tidak melakukan sesuatu tindakan, dalam hati kecil

mereka pasti selalu berpikir bagaimana caranya membalas

dendam”

“Itu sih lumrah, setiap manusia pasti berbuat begitu”

“Mungkin kematian Jui Pak-hay ada hubungannya dengan

mereka?”

426

“Aku rasa tidak ada” Siang Hu-hoa segera menggeleng.

“Dengan dasar apa kau mengatidakan tidak ada?”

“Sebab kejadian itu sendiri merupakah satu misteri,

mungkin sampai sekarang pun mereka bertiga belum tahu

duduk persoalan yang sebenarnya”

“Mungkin? Berarti kau sendiripun tidak yakin?”

“Aku hanya manusia biasa, bukan dewa yang tahu

segalanya…..”

“Dulu mungkin misteri yang penuh rahasia, tapi sekarang

toch sudah bukan rahasia lagi”

“Sekalipun begitu, aku yakin peristiwa yang menyangkut

Laron Penghisap darah sama sekali tidak ada hubungannya

dengan mereka”

“Kau yakin?”

“Jika ingin mencelakai Jui Pak-hay, sesungguhnya mereka

tidak perlu berbuat demikian”

“Maksudmu mereka pun memiliki kepandaian silat yang

sangat tangguh sehingga tanpa cara cara seperti itupun

mereka masih sanggup menghabisi nyawa Jui Pak-hay?”

“Benar” Siang Hu-hoa mengangguk, “menurut penilaianku,

gabungan dari Wan Kiam-peng dan Cu Hiap pun sudah lebih

dari cukup untuk membuat Jui Pak-hay mati kutu”

“Bagaimana dengan Liong Giok-po?”

“Dengan kemampuannya seorang sudah lebih dari cukup

untuk merobohkan Jui Pak-hay!”

“Benarkah Liong Giok-po begitu hebat?”

Siang Huhoa tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya:

“Jadi kau meragukan perkataanku?”

427

“Bukan, bukan meragukan, aku hanya heran dan tidak

habis mengerti” sahut Ko Thian-liok sambil menggeleng,

“setahu ku, Jui Pak-hay adalah seorang tokoh silat yang luar

biasa hebatnya”

“Liong Giok-po justru merupakan jago tangguh diantar a

jago tangguh pada umumnya”

“Apa? Aku belum pernah mendengar tentang orang ini”

seru Ko Thian-liok.

“Aku pun belum pernah” Tu Siau-thian ikut menimbrung.

“Tentunya kalian pernah mendengar tentang Liong-sam

kongcu bukan?” tiba-tiba Siang Huhoa bertanya.

Berubah hebat paras muka Ko Thian-liok.

Paras muka Tu Siau-thian turut berubah, serunya tertahan:

“Liong-sam kongcu dari Kanglam?”

“Benar”

“Apa hubungan Liong Giok-po dengan Liong-sam kongcu?”

“Liong Giok-po itu tidak lain adalah Liong-sam kongcu!”

jelas Siang Huhoa.

Seketika itu juga Tu Siau-thian berdiri tertegun, untuk

sesaat dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

“Konon kekayaan yang dimiliki Liong-sam kongcu

merupakan yang terbanyak di wilayah Kanglam, ilmu silatnya

juga menjagoi seluruh dunia persilatan?” tanya Ko Thian-liok.

“Apa yang tersiar selama ini memang merupakan sebuah

kenyataan”

“Aku dengar dia pernah mengalahkan secara beruntun

tujuh pendekar paling ampuh di wilayah Kanglam hanya

dengan mengandalkan tangan kosong belaka……”

“Bukan tujuh, tapi sembilan orang!” Siang Hu-hoa meralat.

428

“Malah aku dengar dua orang diantaranya baru saja

dikalahkan olehnya belum lama ini”

“Betul, si cambuk emas Luci Sim dikalahkan dia pada tiga

tahun berselang, sementara Tok Tongcu si bocah beracun

malah keok ditangannya setahun berselang”

“Aku tidak sempat mendengar berita apa apa tentang dunia

persilatan, termasuk dua kejadian besar ini” ujar Ko Thian-liok

sambil gelengkan kepala dan tertawa, “tampaknya sudah tiga

empat tahun lamanya aku tidak mencampuri urusan dunia

kangouw lagi”

“Sudah pasti begitu keadaannya, sekarang saudara Ko lebih

konsentrasi ke bidang pemerintahan, tentu urusan negara

yang kau perhatikan, sebaliknya bila kau masih

berkecimpungan dalam dunia persilatan, biar tidak bertanya

pun pasti ada orang yang memberitahukan hal ini kepadamu”

“Dari sepuluh orang jago tangguh dunia persilatan, ada

sembilan orang diantaranya pernah kalah di tangannya, ini

berarti tinggal satu orang yang belum pernah dikalahkan,

kalau ingatanku tidak keliru semestinya dia adalah Siang to bu

tek (sepasang golok tanpa tanding) Be Tok-heng bukan?”

“Daya ingat mu ternyata masih hebat juga!”

“Aku yakin cepat atau lambat dia pasti akan menyatroni Be

Tok-heng”

“Bukan pasti, malah sudah dia satroni!”

“Apakah dia sudah tewas ditangan Be Tok-heng?”

“Dia mencari Be Tok-heng jauh sebelum berhasil

mengalahkan Luci Sim!”

“Ooh, apakah Be Tok-heng menolak untuk bertarung

melawannya?”

“Bukan menolak, Be Tok-heng ingin melayani tantangan

itupun tidak nanti bisa terjadi”

429

“Kenapa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Sewaktu dia menemukan Be Tok-heng, waktu itu kondisi

Be Tok-heng sudah payah, dia ibarat setengah orang

mampus”

“Oya?”

“Waktu itu Be Tok-heng sedang berbaring sakit diatas

pembaringannya”

“Parah sekali sakitnya?”

“Yaa, berat sekali, malah konon tidak lama sepeninggal

Liong Giok-po, dia menghembuskan napasnya yang terakhir,

mati lantaran sakit”

“Bukankah dengan begitu Liong Giok-po benar-benar telah

menjagoi wilayah Kanglam seorang diri?”

“Seandainya dalam wilayah Kanglam hanya terdapat

sepuluh orang jago tangguh, semestinya memang begitu

keadaannya”

“Bagaimana dengan kungfu yang dimiliki Jui Pak-hay?

Bagaimana kalau dibandingkan dengan kepandaian silat yang

dimiliki ke sepuluh orang jago dari wilayah Kanglam?” tanya

Ko Thian-liok lebih jauh.

“Aku rasa kepandaian mereka berimbang!”

“Kalau hal itu merupakan kenyataan, bukankah Liong Giokpo

dapat membunuh Jui Pak-hay dengan sangat mudah?”

“Itulah sebabnya aku berkata begitu tadi!”

“Tapi sampai hari ini toch sudah selisih tiga tahunan, siapa

tahu Jui Pak-hay telah melatih diri habis habisan hingga ilmu

silat yang dimilikinya sekarang sudah jauh lebih tangguh dan

hebat lagi?”

“Kemungkinan seperti ini memang ada”

430

“Bukan Cuma mungkin, bahkan besar sekali kemungkinan

ini, ilmu silat yang dimilikinya tentu sudah jauh diatas

kemampuan Liong Giok-po”

“Maksudmu kungfu yang dimiliki Jui Pak-hay benar benar

telah mencapai taraf dimana Liong Giok-po harus

menggunakan rencana yang licik untuk bisa menghabisi

nyawanya?”

Ko Thian-liok mengangguk tanda membenarkan.

“Aku tidak berani mengatidakan iya” sahut Siang Hu-hoa

kemudian, “karena aku tidak melihat ada kemungkinan seperti

itu”

“Bisa jadi Liong Giok-po berbuat demikian diluar

sepengetahuanmu, karena dia tahu kau adalah sahabat karib

Jui Pak-hay, dia kuatir bila rencana pembunuhan ini kau

ketahui maka dia bisa tewas diujung pedangmu, karenanya

semua rencana dilakukan secara diam diam dan sembunyi”

Siang Hu-hoa tidak menjawab.

Kembali Ko Thian-liok berkata:

“Mengenai harta kekayaan yang dimiliki Jui Pak-hay…….

mungkin saja dia tidak punya waktu untuk membawanya

pergi, atau dia sudah membaca isi surat wasiat peninggalan

Jui Pak-hay, tahu kalau cepat atau lambat sebagian dari harta

kekayaan itu akan jatuh ke tangannya, maka dia sama sekali

tidak menyentuhnya”

“Bukankah ke dua pucuk surat wasiat itu disegel dengan

lilin api?”

“Segel itu tampak baru, padahal ke dua pucuk surat wasiat

itu bukan ditulis pada saat yang bersamaan”

“Tentang hal ini aku pun sudah memperhatikan” Siang Huhoa

mengangguk, tanpa terasa sorot matanya dialihkan

kembali ke atas ke dua pucuk surat wasiat itu.

431

Biarpun isi surat kedua pucuk surat wasiat itu sama dan

persis, kertas serta sampul surat yang digunakan pun sama,

namun bila diperhatikan dari gaya tulisannya, dengan jelas

dapat dibedakan bahwa ke dua pucuk surat itu bukan ditulis

pada saat yang sama, paling tidak pasti selisih sekian hari.

“Kemungkinan besar surat wasiat pertama ditulis oleh Jui

Pak-hay pada awal bulan tiga, bisa jadi saat itulah Liong Giokpo

sudah mencuri lihat isi surat tersebut”

“Bila Liong Giok-po bisa mencuri lihat isi surat wasiat itu,

berarti Kwee Bok serta Gi Tiok¬ kun pun dapat mencuri lihat

isi surat itu” kata Siang Huhoa.

“Bila ke dua pucuk surat wasiat itu masih tetap ada, tidak

disangkal itulah alasan yang paling baik bagi Kwee Bok dan Gi

Tiok-kun untuk membunuh Jui Pak-hay”

‘Tapi kenyataannya ke dua pucuk surat itu tidak

dimusnahkan”

“Maka dari itulah kemungkinan keterlibatan Liong Giok-po

dalam kasus pembunuhan ini tidak lebih enteng ketimbang

mereka berdua”

“Jangan lupa, masih ada Cu Hiap dan Wan Kiam-peng”

“Benar!”

“Kalau sesuai dengan perkataanmu itu, berarti termasuk

diriku pun patut dicurigai” ujar Siang Hu-hoa tiba tiba.

Ko Thian-liok tertegun, dia tidak mengerti apa maksud

perkataan itu.

Terdengar Siang Huhoa berkata lebih lanjut:

“Bukankah didalam surat wasiat itu tercantum dengan jelas

bahwa setelah kematian Jui Pak-hay, maka seluruh harta

kekayaan milikinya dibagi rata antara Cu Hiap, Wan Kiampeng

dan Liong Giok-po, bila ke tiga orang itu sudah mati

maka harta kekayaan itu diwariskan kepada anak cucu

432

mereka, bila mereka bertiga tidak memiliki anak cucu maka

seluruh harta kekayaan itu akan diberikan kepadaku?”

“Dalam surat wasiat itu memang Jui Pak-hay berkata

demikian, tapi sampai sekarang Liong Giok-po, Cu Hiap serta

Wan Kiam-peng toch tetap sehat walafiat dan tidak

kekurangan sesuatu apa pun?”

“Darimana kau bisa tahu kalau mereka masih sehat?”

Ko Thian-liok melengak, sesaat kemudian dia baru

menjawab:

“Itu hanya dugaanku, aku sendiri memang tidak tahu

secara pasti”

“Bukankah baru malam ini kau mengetahui nama nama

seperti Liong Giok-po, Cu Hiap serta Wan Kiam-peng?”

“Benar, aku hanya mendengar nama mereka bertiga” Ko

Thian-liok mengangguk.

“Oleh sebab itu kau sama sekali tidak yakin apakah sampai

sekarang mereka bertiga tetap sehat wal’afiat atau tidak?”

Mau tidak mau terpaksa Ko Thian-liok harus mengangguk.

Pelan-pelan Siang Huhoa berkata lebih jauh:

“Sekarang aku hanya berharap mereka bertiga tetap aman

sentausa, selamat dan tidak kekurangan sesuatu apa pun,

sebab kalau tidak maka kecurigaan terhadap diriku akan

semakin bertambah besar”

Ko Thian-liok termenung berpikir sebentar, kemudian

katanya:

“Ehmm, kalau tadi aku sangat setuju dengan jalan

pemikiran serta analisa dari opas Tu, tapi sekarang,

kelihatannya aku harus mempertimbangkan kembali

keputusanku”

433

“Apakah tayjin curiga kematian Jui Pak-hay ada sangkut

pautnya dengan Liong Giok-po, Cu Hiap serta Wan Kiampeng?”

tanya Tu Siau-thian.

“Kita tidak kuatir ada seribu kasus tapi justru kuatir bila

terjadi hal yang diluar dugaan……”

“Bukankah barang bukti dan saksi yang memperberat

tuduhan atas diri Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sudah lebih dari

cukup?” tanya Tu Siau-thian.

“Justru karena lebih dari cukup, aku malah kuatir”

“Aaah, masa ada kejadian yang begitu kebetulan?” seru Tu

Siau-thian kurang sependapat.

“Maka dari itulah aku curiga kalau dibalik kesemuanya ini

terselip hal hal yang diluar dugaan siapa pun”

Nyo Siri yang selama ini hanya membungkam, kini tidak

tahan lagi, mendadak timbrungnya:

“Jadi menurut tayjin apa yang harus kita lakukan sekarang

untuk menyelesaikan kasus ini?”

“Pertama kita harus menemukan Liong Giok-po, Wan Kiampeng

dan Cu Hiap terlebih dulu sebagai pewaris harta

kekayaan itu, kita selidiki mereka apakah tersungkut dengan

pembunuhan atas diri Jui Pak-hay atau tidak, kemudian baru

mengambil keputusan”

“Bukankah dengan demikian kita harus membuang waktu

berhari hari lagi?” seru Nyo Sin tidak sependapat.

Yaaa, apa boleh buat, mau tidak mau terpaksa kita harus

berbuat begitu” ucap Ko Thian-liok sambil menghela napas.

Ia berpaling ke arah Siang Huhoa, lalu tanyanya:

“Saudara Siang tentu kenal dengan mereka bertiga bukan?”

“Kebetulan saja pernah bersua satu kali”

434

“Pernah bertemu dengan mereka bertiga?”

“Yaa, semuanya hanya pernah bersua satu kali”

“Kalau begitu kalian saling tidak kenal?”

Siang Huhoa mengangguk.

“Tidak masalah” kata Ko Thian-liok lagi, “asal saudara Siang

tahu alamat tempat tinggal mereka, itu sudah lebih dari

cukup”

“Walaupun alamat mereka yang sejelasnya tidak kuketahui,

namun sebagai orang kenamaan rasanya tidak susah untuk

mencari keterangan dari tetangga sekitarnya”

“Tentang kasus ini, apakah saudara Siang masih

mempunyai pandangan tambahan?”

“Rasanya sudah tidak ada lagi”

“Sekarang apa yang hendak kau lakukan?” kembali Ko

Thian-liok bertanya.

“Tetap tinggal disini hingga seluruh kasus ini terungkap”

“Bagus sekali” seru Ko Thian-liok, setelah manggutmanggut

kembali ujarnya, “aku rasa kasus ini tidak sederhana,

untuk bisa mengungkap seluruh teka teki dibalik kejadian ini,

kami masih membutuhkan bantuan saudara Siang, khususnya

dalam soal kepandaian silat serta kecerdasan”

“Saudara Ko terlalu menyanjung”

Kembali Ko Thian-liok tertawa.

“Kami mempunyai banyak kamar disini, bagaimana kalau

untuk sementara saudara siang tinggal disini saja?”

“Rumah pejabat terlalu ketat penjagaannya, tidak leluasa

untuk keluar masuk, aku rasa lebih baik tinggal di luar saja”

“Lalu saudara siang hendak tinggal dimana?”

“Perkampungan Ki po cay!”

435

“Ooh…?”

“Aku berniat sekali lagi melakukan penyelidikan dan

pemeriksaan dalam perkampungan itu”

“Kau takut masih ada tempat yang kelewatan dalam

pemeriksaan hari ini?”

“Biasanya pemeriksaan yang dilakukan secara tergesa-gesa

akan meninggalkan banyak tempat yang tidak sempat

ditinjau”

“Baiklah kalau begitu, bila menemukan sesuatu harap

segera menghubungi kami”

“Tentu saja”

“Bila aku membutuhkan bantuanmu, pasti akan kuutus

orang ke perkampungan Ki po cay untuk mencari dirimu”

“Bila tidak bertemu aku, tinggalkan saja pesan pada Jui Gi”

“Bagaimana kalau aku tinggalkan Yau Kun untuk melayani

kepentinganmu?” sela Tu Siau-thian tiba-tiba.

“Tidak usah”

“Aaah, betul, ide opas Tu memang sangat bagus” seru Ko

Thian-liok pula, “harus ada orang yang melayani keperluan

saudara Siang”

“Soal ini…….””

“Saudara Siang tidak usah menampik lagi” cepat Tu Siauthian

memotong.

Akhirnya Siang Hu-hoa mengiakan, dia memang bukan

lelaki yang suka banyak bicara.

Setelah hening sesaat, mendadak seperti teringat akan

sesuatu, ia bertanya lagi:

“Bagaimana dengan Kwee Bok dan Gi Tiok-kun? Sekarang

mereka ada dimana?”

436

“Sudah kukirim mereka berdua ke dalam penjara besar”

jawab Nyo Sin cepat.

“Penjara besar?”

“Penjara besar adalah tempat untuk mengurung tawanan

tawanan penting, bukan saja penjagaan sangat ketat bahkan

dijaga oleh jago jago tangguh, malah aku telah tempatkan

tambahan dua penjaga khusus didepan pintu mereka berdua”

“Dua penjaga khusus? Siapa mereka?” tiba-tiba Ko Thianliok

bertanya.

“Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei!”

“Lagi lagi mereka berdua!” keluh Ko Thian-liok.

“Mereka terhitung lumayan juga” bela Nyo Sin.

“Hebat dalam soal minum arak?” sindir Ko Thian-liok.

“Tapi ilmu golok mereka pun terhitung hebat……..” ucap

Nyo Sin tergagap.

“Sayangnya kalau sudah minum arak, tenaga untuk

menggenggam golok pun sudah tidak dimiliki”

“Sudah kuturunkan perintah untuk melarang mereka

minum arak”

“Menurut apa yang kuketahui, kedua orang ini termasuk

orang yang pelupa”

“Tapi kali ini aku percaya mereka pasti akan mengingatnya

terus”

“Moga-moga saja begitu” kata Ko Thian-liok, kemudian

setelah gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya lebih jauh:

“Sekali minum arak, Thio toa-cui pasti akan minum sampai

mabuk, sementara Oh Sam-pei ujian mabuk dalam tiga cawan,

bukan satu dua kali mereka berdua menyusahkan orang dan

bikin urusan berantakan”

437

“Tapi mereka………” Nyo Sin semakin tergagap.

“Aku tahu mereka adalah sahabat karibmu, tapi urusan

dinas tetap dinas urusan pribadi kembali ke pribadi, masa kau

masih belum bisa membedakan mana urusan dinas dan mana

urusan pribadi?”

Tayjin tidak usah kuatir, Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sudah

dijebloskan ke dalam penjara besar, biar mereka punya sayap

pun jangan harap bisa kabur dari situ”

“Bagaimana kalau mereka berubah menjadi laron dan

terbang pergi dari sana?” tanya Ko Thian-liok tiba-tiba.

Berubah hebat paras muka Nyo Sin.

Paras muka Siang Hu-hoa dan Tu Siau-thian turut berubah

hebat, ditengah malam buta begini, perkataan Ko Thian-liok

memang mendatangkan perasaan seram yang luar biasa.

Untuk sesaat suasana pun jadi hening, sepi dan tidak

kedengaran suara apapun.

Sampai lama kemudian Tu Siau-thian baru memecahkan

keheningan, katanya:

“Tayjin, apakah kau pun beranggapan bahwa mereka

berdua adalah jelmaan dari siluman laron?”

“Aaai, benar atau bukan, aku sendiripun tidak yakin” sahut

Ko Thian-liok sambil menghela napas panjang.

Siapa yang bisa menjawab secara pasti akan pertanyaan

itu?

Kembali Ko Thian-liok menghela napas panjang, katanya

lagi:

“Lebih baik kita percaya kemungkinan itu daripada sama

sekali tidak mempercayainya, sebelum semua masalah

terungkap, sementara waktu kita anggap saja mereka berdua

memang jelmaan dari siluman laron”

438

Tu Siau-thian dan Nyo Sin serentidak mengangguk.

Siang Hu-hoa sendiripun tidak memberi pernyataan

apapun.

“Maka dari itu sekarang aku mulai agak kuatir” ujar Ko

Thian-liok lagi.

“Apa yang tayjin kuatirkan?”

“Kuatir mereka benar benar berubah jadi laron dan terbang

keluar melalui jendela” sahut Ko Thian-liok sambil bergidik.

Paras muka Tu Siau-thian ikut berubah hebat.

“Maksud tayjin, kau akan menengok ke dalam penjara

sekarang juga?” tanyanya.

“Benar!”

“Aku pun punya maksud begitu” Ko Thian-liok segera

berpaling ke arah Siang Huhoa sambil bertanya:

“Bagaimana pendapat saudara Siang?”

“Tidak ada salahnya kita pergi ke sana.

Bab 23: Terancam bahaya.

Dengan cepat Ko Thian-liok beranjak pergi diikuti Siang Huhoa.

Tentu saja Tu Siau-thian tidak mau ketinggalan, tapi baru

saja dia mengayunkan langkah kakinya, Nyo Sin telah menarik

tangannya.

Dengan keheranan Tu Siau-thian berpaling ke arah

komandannya, tampak Nyo Sin memegangi lengan kanannya

tanpa bersuara, mimik mukanya kelihatan sangat aneh.

439

Baru saja dia ingin mengajukan pertanyaan, Nyo Sin telah

menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak usah banyak

bertanya.

Siang Hu-hoa maupun Ko Thian-liok tidak memiliki

sepasang mata di belakang kepalanya, tentu saja mereka

tidak tahu apa gerangan yang telah terjadi di belakang mereka

berdua.

Saat itu seluruh perhatian mereka hanya ingin secepatnya

tiba di penjara besar untuk melihat keadaan, karena itu tidak

ada yang menggubris ulah Nyo Sin berdua.

Menunggu bayangan tubuh mereka berdua sudah lenyap

dari pandangan, Nyo Sin baru tertawa dingin tiada hentinya.

“Komandan……..” tidak tahan Tu Siau-thian menegur.

“Hmmm, kuanjurkan kau segera merubah panggilanmu

kepadaku” tukas Nyo Sin sambil mendengus dingin.

“Komandan, apa maksudmu?”

“Kau masih belum mengerti?”

“Tidak, aku tidak mengerti”

“Bukankah selama ini Yau Kun selalu mendampingimu ke

manapun kau pergi?”

“Benar”

“Apakah dia anak buahmu?”

“Benar”

“Lalu siapa yang menjadi atasanmu?”

“Tentu saja dirimu”

“Jadi semestinya kau ikuti perintahku bukan?”

“Benar”

440

“Sebelum mengambil keputusan apapun seharusnya kau

minta persetujuanku lebih dulu bukan?”

“Benar”

“Bagaimana dengan Yau Kun?”

“Tentu saja harus seijinmu”

“Ketika kau mengutus dia untuk menemani Siang Hu-hoa

tadi, apakah sudah minta ijin kepadaku?”

Begitu mengetahui duduknya persoalan, Tu Siau-thian

segera menghela napas panjang, cepat ujarnya:

“Komandan, kau salah paham”

“Salah paham?”

“Maktu itu aku harus menggunakan peluang dengan sebaik

baiknya, karena itu tidak sempat berkonsultasi dulu dengan

komandan”

“Jadi kau punya tujuan lain?”

“Benar” kemudian sambil merendahkan suaranya dia

berbisik, “aku sengaja mengirim Yau Kun untuk melayaninya

bukan lantaran ingin membantu Siang Hu-hoa, tapi secara

diam diam mengawasi gerak geriknya”

“Jadi kau mencurigai dia?” seru Nyo Sin tertegun.

“Aku selalu berpendapat bahwa ada sesuatu yang sengaja

dia sembunyikan terhadap kita”

“Tampaknya rasa curigamu jauh lebih besar ketimbang

aku?”

“Banyak curiga bukan termasuk sifat yang buruk, apalagi

terlepas bagaimana hasil pengamatan kita nanti, hal ini tidak

akan mendatangkan kerugian apa apa baginya, kalau memang

terbukti tidak ada yang patut dicurigai, dia toch tidak rugi apa

apa”

441

“Ehmmm, tampaknya caramu memang bagus” Nyo Sin

manggut manggut, “kalau begitu apa lagi yang kau tunggu,

ayoh jalan!”

Sembari beranjak dari tempat semula, katanya lagi:

“Kalau kita tidak segera menyusul, tayjin akan mengira kita

telah menjumpai sesuatu kejadian”

“Sekarang aku justru menguatirkan satu hal” kata Tu Siauthian

sambil menyusul di belakang komandannya.

“Soal apa?”

“Keselamatan dari Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei”

“Kenapa dengan mereka berdua?”

“Jika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok benar benar adalah

jelmaan siluman laron, berarti keselamatan jiwa Thio Toa-cui

dan Oh Sam-pei sedang terancam bahaya maut”

Baru selesai perkataan itu diucapkan, Nyo Sin sedah

mempercepat langkahnya menuju ke arah penjara.

Waktu itu malam sudah larut, tampak rembulan

memancarkan cahayanya yang lembut menembusi kegelapan.

Sewaktu keluar dari ruangan, paras muka Nyo Sin nampak

putih memucat, pucat bagaikan mayat.

Cahaya rembulan menyinari pula penjara besar, sinar yang

putih memucat menembus ke dalam ruang penjara melalui

jendela.

Dalam ruang penjara terdapat lentera, dua buah lentera

tergantung masing masing didinding sebelah kiri dan dinding

sebelah kanan.

Penjara besar berdinding hitam itu mempunyai dua puluh

buah sel yang terbagi dua, sepuluh buah ruangan sel berada

disisi kiri dan sepuluh ruangan di sisi kanan.

442

Kini, didalam ruang penjara yang begitu luas hanya

terdapat dua orang hukuman, Kwee Bok dan Gi Tiok-kun.

Mereka berdua masing masing dikurung dalam ruang sel

pertama, satu diruang kiri dan satu lagi di ruang kanan.

Dalam ruang penjara terdapat pula sebuah pembaringan

kayu, sebuah meja dan sebuah bangku.

Sementara pembaringan kayu beralaskan seprei yang agak

kusam, sebuah teko air teh dan dua buah cawan diletakkan

diatas meja.

Penjara besar memang khusus digunakan untuk

mengurung narapidana kelas berat, tidak heran kalau

pelayanan terhadap mereka pun sedikit lebih istimewa.

Kalau narapidana di penjara biasa, mereka masih punya

kesempatan untuk menghirup udara bebas, berbeda dengan

mereka yang dijebloskan ke dalam penjara besar, biasanya

mereka hanya tersedia satu jalan.

Terhadap narapidana yang bakal dihukum mati, apa

salahnya kalau diberi pelayanan yang lebih istimewa, toch

keadaan seperti ini biasanya tidak akan berlangsung terlalu

lama.

Kwee Bok dan Gi Tiok-kun tidak duduk diatas pembaringan,

mereka berdua duduk ditepi meja, sikap maupun wajah

mereka nampak kaku, dungu dan layu.

Mereka pun tidak saling berpandangan muka.

Kwee Bok sedang mengawasi atap penjara, sementara Gi

Tiok-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, entah apa

yang sedang mereka pikirkan.

Sudah cukup lama mereka duduk dalam posisi seperti

ini……

443

Malam sudah semakin larut, tapi mereka belum juga

bergeming, apakah mereka akan lewatkan malam pertama di

penjara ini dengan duduk mematung?

Lampu lentera digantung di sudut kiri dan kanan pintu

masuk penjara, biarpun merupakan lampu lentera yang cukup

besar, namun sinar yang terpancar keluar tidaklah terlalu

terang.

Tentu saja suasana di dalam ruang penjara jauh lebih

gelap, suram dan menyeramkan.

Cahaya lampu tidak pernah bergeser, yang bergeser justru

cahaya yang terpancar dari rembulan di udara.

Cahaya putih kepucat pucatan itu pada akhirnya bergeser

dan menerobos masuk ke dalam ruang penjara, menyinari

tubuh Gi Tiok-kun yang putih mulus.

Seluruh tubuh Gi Tiok-kun seakan telah dilapisi oleh selapis

cahaya putih yang menggidikkan hati.

Cahaya itu membuat tubuh perempuan itu berubah

bagaikan pualam, seakan sama sekali tidak memancarkan

hawa kehidupan.

Diwaktu biasa pun Gi Tiok-kun sudah nampak dingin

membeku, apalagi dalam suasana begini, dia ibaratnya sukma

gentayangan yang baru kabur dari alam baka.

Masih untung wajahnya amat cantik, maka kendatipun hati

kecilnya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri,

seringkali Thio Toa-cui masih curi curi melirik perempuan itu,

tidak terkecuali Oh Sam-pei.

Disisi pintu masuk penjara besar terdapat pula sebuah meja

dengan beberapa buah bangku.

Diatas meja pun terdapat sebuah poci air teh, tidak ada

guci arak.

444

Ke dua orang itu benar-benar duduk disitu dengan penuh

sopan dan tahu aturan, yang aneh mereka tidak ada rasa

kantuk, pun tidak pernah bicara biar sepatah kata pun.

Dari kejauhan sana terdengar suara kentongan berbunyi

lamat lamat…….

“Aah, sudah kentongan ke dua!” tiba tiba Thio toa-cui

berbisik.

“Ehmm!” sahut Oh Sam-pei.

“Siau-Oh, apakah kau sedang memperhatikan perempuan

dari marga Gi itu?” bisik Thio Toa-cui lirih.

“Aku……….”

Baru sepotong kata meluncur keluar dari mulutnya, Thio

Toa-cui sudah menghardik lagi, tentu saja dengan suara lirih:

“Jangan keras keras, bicaralah perlahan sedikit”

“Baiklah” sahut Oh Sam-pei setengah berbisik, “selama ini

aku memang selalu memperhatikan gerak geriknya”

“Apakah kau tidak menemukan sesuatu yang istimewa

pada dirinya?”

“Tidak, dan kau?”

“Juga tidak” Thio Toa-cui menggeleng.

“Menurut Lo-Nyo, dia adalah jelmaan dari siluman laron,

tapi sudah sekian lama kita perhatikan gerak geriknya, namun

dia tidak menunjukkan gejala yang aneh, jangan jangan Nyo

tua salah menilai?”

“Aku rasa tidak begitu, apakah dia jelmaan siluman atau

bukan, tidak mungkin bisa kita pecahkan hanya mengandalkan

pengetahuan yang kita miliki”

Setelah berhenti sejenak, kembali katanya:

445

“Biarpun dia tidak nampak istimewa, namun dibawah

pancaran sinar rembulan terasa hawa siluman menyelimuti

tubuhnya”

“Aku tidak pernah berharap hal itu menjadi sebuah

kenyataan” bisik Oh Sam-pei dengan badan menggigil.

“Oya?”

“Jika dia benar benar jelmaan dari siuman laron, kita bakal

celaka”

“Bagaimana mungkin bisa celaka?”

“Kecuali dia tidak muncul dari bentuk aslinya, kalau tidak,

darah kita berdua pasti akan dihisapnya hingga kering”

Thio Toa-cui bersin berulang kali, tidak kuasa hawa bergidik

muncul dari dasar hatinya, biarpun hatinya sudah mulai

menciut namun diluar ia tetap berlagak sok:

“Kenapa mesti takut?” serunya, “bukankah kita membawa

golok tajam”

Tanpa terasa tangannya mulai meraba diatas gagang

goloknya.

“Aku dengar bangsa setan atau iblis atau siluman sama

sekali tidak tidakut menghadapi golok atau senjata tajam apa

pun” kata Oh Sam-pei sembari menggeleng.

Kini paras muka Thio Toa-cui sudah berubah jadi hijau

membesi, dia melirik sekejap ke arah perempuan dalam ruang

sel itu, kemudian setelah tertawa paksa katanya:

“Untung kita masih cukup waktu untuk melarikan diri”

Sekali lagi Oh Sam-pei menghela napas panjang.

“Aaai….. tampaknya lagi lagi kau melupakan

satu hal”

“Soal apa?”

446

“Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan,

lo-Nyo telah menggembok pintu penjara dari luar”

Paras muka Thio Toa-cui berubah makin memuat, tapi

sejenak kemudian, seakan teringat akan sesuatu, ujarnya lagi:

“Untung diluar sana ada penjaganya”

“Tapi sewaktu penjaga diluar sana berhasil membuka pintu

dan masuk kemari untuk menolong kita, cairan darah dalam

tubuh kita mungkin sudah habis dihisap olehnya” Oh Sam-pei

menarik napas panjang.

Sekarang Thio Toa-cui baru mengerti apa yang dimaksud

rekannya, dengan suara gemetar tegurnya:

“sialan, kau lagi ngoceh apaan?”

“Aku pun berharap apa yang barusan kukatakan bukan

ocehan belaka…..”

Sekali lagi Thio Toa-cui bersin berulang kali, untuk kesekian

kalinya dia mencuri lihat Gi Tiok-kun.

Dibawah sinar rembulan hawa siluman yang menyelimuti

tubuh Gi Tiok-kun nampak makin lama semakin menebal,

sekarang perempuan itu kelihatan jauh lebih menyeramkan

lagi, seperti peri yang muncul dari dalam neraka……

Tangan Thio Toa-cui yang menggenggam gagang golok

mulai gemetar keras, bahkan nada suara nya pun ikut

gemetar keras.

“Tampaknya dia segera akan tampil pada wujud

aslinya……..”

“Apa…… apa kau bilang?” teriak Oh Sam-pei dengan

perasaan tercekat.

Baru saja Thio Toa-cui hendak menjawab, Oh Sam-pei

sudah bertanya lagi:

447

“Dari sudut mana kau melihat kalau dia akan muncul dalam

wujud aslinya?”

“Aku hanya merasa udara disekitar tempat ini makin lama

semakin dingin dan menggigilkan tubuh”

“Tapi apa hubungannya dengan dia?”

“Menurut dongeng yang banyak beredar dalam masyarakat,

konon setiap kali setan iblis akan munculkan diri, angin akan

berhembus makin kencang dan udara akan terasa semakin

dingin”

Mau tidak mau Oh Sam-pei manggut manggut juga, maka

bersama Thio Toa-cui mereka awasi terus setiap gerak gerik

Gi Tiok-kun dengan mata terbelalak lebar.

Namun Gi Tiok-kun masih tetap seperti sedia kala, duduk

mematung ditempat tanpa bergerak sedikitpun juga.

Biarpun tidak nampak perubahan, Thio Toa-cui berdua

tidak berani gegabah, dengan perasaan tegang dan serius

mereka awasi terus perempuan itu.

Udara dalam ruang penjara terasa makin dingin membeku,

bulu kuduk ke dua orang itu semakin bergidik……

Bab 24: Banyak curiga

Akhirnya cahaya rembulan bergeser meninggalkan tubuh Gi

Tiok-kun, hawa dingin yang mencekam ruang penjara pun

seolah semakin memudar.

Gi Tiok-kun sama sekali tidak berubah, dia tidak muncul

dalam wujud siluman laron, bahkan dia seolah telah berubah

jadi sesosok boneka kayu yang tidak bernyawa.

Sekarang Thio Toa-cui baru bisa menarik kembali sorot

matanya, berpaling seraya menghembuskan napas lega.

448

Oh Sam-pei yang buka suara lebih dulu, ujarnya:

“Aaah, aku lihat kau hanya dipermainkan oleh perasaanmu

sendiri”

“Tapi hingga sekarang aku masih dapat merasakan hawa

dingin yang menusuk tulang” bantah Thio Toa-cui.

“Apa benar?”

Tiba tiba tenggorokan Thio Toa-cui berbunyi keras,

bisiknya:

“Alangkah baiknya kalau disini ada sepoci arak!”

“Ooh, rupanya kau hanya pingin minum arak?” serui Oh

Sam-pei sambil tertawa geli.

“Memangnya kau tidak kepingin?”

“Siapa bilang aku tidak pingin?”

“Arak bisa mengusir hawa dingin yang menusuk badan,

dapat pula memperbesar nyali kita”

“Sayang lo-Nyo sudah berjanji duluan, melarang kita

minum arak”

“Sekalipun kita minum secara diam diam, belum tentu dia

bakal tahu”

“Tapi kalau aku yang minum, dia pasti bakal tahu” sahut

Oh Sam-pei sambil menghela napas panjang.

“Tidak ada orang yang suruh kau harus minum sebanyak

tiga cawan, kenapa tidak meneguk dua setengah cawan saja,

dengan begitu tidak bakalan ada yang tahu kau sudah minum

arak atau tidak”

“Ah betul, sebuah cara yang bagus”

“Sayang tidak ada gunanya kalau hanya mempunyai cara

bagus, yang penting punya arak atau tidak”

Kemudian setelah menghela napas, tambahnya:

449

“Ketika Nyo tua datang aiencari kita, dia tidak pernah

menggeledah srku kita berdua, ebetulnya bisa saja kusei

unyikan berapi gui i ..v rak didalam sakuku”

“Dan sudah kau lakukan?” tanya Oh Sam-pei penuh harap.

“Tidak, pertama karena terdesak waktu, ke dua Nyo tua

sudah berbicara duluan, aku kuatir dia baru mau melepask

kita masuk setelah menggeledah saku saku kita”

“Padahal seharusnya kau selundupkan berapa guci didalam

sakumu, paling tidak kita beradu nasib”

“Kau hanya pandainya bicara…..”

“Bukan hanya pandai bicara……” sahut Oh

Sam-pei sambil tertawa secara tiba tiba, tertawa yang

sangat aneh.

Seakan teringat sesuatu Thio Toa-cui segera melompat

bangun, kemudian bisiknya:

“Jadi kau telah selundupkan berapa guci arak didalam

sakumu?”

Belum selesai dia berkata, diatas meja tepat dihadapannya

telah bertambah dengan dua buah botol arak.

Ternyata dari balik baju dinasnya yang lebar dia

mengeluarkan lagi botol arak yang ke tiga, bahkan isi arak

botol ke tiga adalah arak bagus.

Berbinar sepasang mata Thio Toa-cui, saking gembiranya

sampai mulut pun ikut terbuka lebar.

Dia sambar botol arak dimeja lalu serunya sambil tertawa

terkekeh:

“Bocah monyet, tidak nyana kau memang hebat”

“Ssst… jangan keras keras, kalau sampai Nyo tua kebetulan

lewat, dia bisa masuk kemari dan merampas arak kita…”

450

“Tidak usah kuatir, saat ini paling Nyo tua :•. udah tidur

pulas”

“Kecilkan suaramu, coba lihat, mereka berdua sampai

dibuat kaget oleh suara tertawamu”

Diam-diam Thio Toa-cui melirik, sinar matanya segera

berpapasan dengan sorot mata dingin Gi Tiok-kun.

Waktu itu Gi Tiok-kun sedang mengawasinya dengan sorot

mata yang dingin, ketika perempuan itu melihat Thio Toa-cui

berpaling, dia kembali tundukkan kepalanya.

Meski begitu tidak urung bergidik juga hati Thio Toa-cui

dibuatnya, cepat dia berbisik:

“Tidak usah kita gubris mereka, ayoh minum, minum……”

Sementara itu Oh Sam-pei telah membuka penutup botol,

bau harum arak segera menyebar ke seluruh ruangan.

“Arak bagus” puji Thio Toa-cui sambil menarik napas

panjang, dia merasa semangatnya berkobar kembali, “cukup

mengendus bau nya aku sudah tahu kalau arakmu arak

pilihan, tahu begini mestinya kau membawa lebih banyak lagi”

Oh Sam-pei tidak menjawab, dengan lahapnya dia

meneguk isi botol hingga ludes dalam berapa kali tegukan.

Dengan perasaan terkejut Thio Toa-cui mengawasi

rekannya itu. Tegurnya:

“Kalau kau teguk arakmu dengan cara begitu, tidak sampai

sesaat lagi, seluruh arak bakal kau lalap sampai habis”

“Siapa bilang aku tidak bisa minum lagi?” sahut Oh Sam-pei

cepat.

Thio Toa-cui tidak mampu melanjutkan perkataannya lagi,

sebab tahu tahu diatas meja telah bertambah lagi dengan dua

botol arak.

451

Tanpa membuang waktu lagi Thio Toa-cui menyambar

sebotol diantaranya dan membuka penutup botol dengan

gigitan.

“Ciiit….!” begitu penutup botol terbuka, bau arak segera

muncul dari balik botol itu menembusi lubang hidungnya.

Tentu saja Thio Toa-cui tidak menyia-nyiakan kesempatan

ini, dia segera mengendusnya dalam dalam, mendadak……

seluruh otot dan kulit wajahnya mengejang keras.

Ternyata bau arak yang terendus olehnya bukan berbau

harum, tapi bau busuk yang sangat memuakkan, bau busuk

yang tidak terlukiskan dengan kata.

Seolah baru saja tercebur ke dalam kubangan berisi

kotoran manusia, Thio Toa-cui tidak sanggup mengendalikan

diri lagi, akhirnya dia muntah, mengeluarkan seluruh isi

perutnya.

Dengan wajah keheranan Oh Sam-pei mengawasi

rekannya, mimik mukanya nampak sangat aneh.

“Arak macam apa yang kau simpan dalam botol itu?” seru

Thio Toa-cui sambil muntah terus.

“Tentu saja arak harum”

“Omong kosong!” umpat Thio Toa-cui gusar.

“Siapa bilang aku omong kosong?”

“Memangnya kau tidak mengendus bau busuk yang amat

menusuk hidung?”

“Bau busuk? Siapa bilang bau busuk? Aku hanya

mengendus bau harumnya arak……”

“Kau benar benar tidak merasa kalau botol arak itu agak

aneh?”

“Aneh? Menurut kau dimana letak keanehannya?”

452

“Isi botol itu bukan arak…….”

“Kalau bukan arak, apa isi botol itu?”

“Entahlah, tapi coba kau endus sendiri baunya, kelewat

busuk dan amat memuakkan”

Dengan perasaan keheranan Oh Sam-pei mengambil botol

arak itu dari tangan Thio Toa-cui, kemudian mengendusnya

sebentar.

Dia tidak mual apalagi muntah, malah tanyanya keheranan:

“Kau anggap isi botol ini bukan arak?”

“Kalau arak masa begitu busuk baunya?”

Oh Sam-pei semakin tercengang, sambil mengawasi wajah

rekannya dengan pandangan heran katanya:

“Jangan jangan hidungmu yang tidak beres?”

“Jadi kau tidak mengendus bau busuk?” Thio Toa-cui agak

tertegun.

“Bau busuk? Sudah jelas bau nya adalah bau harumnya

arak”

“Kau bukan sedang bergurau bukan?” paras muka Thio

Toa-cui berubah semakin aneh.

“Bergurau? Siapa yang sedang bergurau?”

“Kalau isi botol ini arak, kenapa begitu busuk baunya?” seru

Thio Toa-cui, sekali lagi dia mengambil botol arak itu dan

membuka penutupnya.

Lagi lagi bau busuk yang membuat perut jadi mual

menyebar keluar dari dalam botol arak itu.

Untung kali ini Thio Toa-cui sudah membuat persiapan

sehingga bau busuk itu tidak langsung menembusi lubang

hidungnya.

453

“Bagaimana sih kau ini? Jelas jelas baunya sangat

memuakkan…..”

“Jadi kau benar benar merasakan bau busuk?” bukan

menjawab Oh Sam-pei malah balik bertanya.

“Memangnya tidak kau lihat, cairan pahit pun sudah ikut

tertumpah keluar, jadi kau anggap aku sedang berpura pura?”

Oh Sam-pei manggut manggut, mendadak dia

mengucapkan perkataan yang sangat aneh:

“Ternyata perasaan setiap manusia memang berbeda

beda……..”

“Apa maksud perkataanmu itu?” tegur Thio Toa-cui gusar.

Oh Sam-pei kembali tidak menjawab, gumamnya:

“Sekarang aku sudah tahu bagaimana perasaanmu saat ini”

Thio Toa-cui tidak habis mengerti.

Kembali Oh Sam-pei berkata:

“Aku sama sekali tidak bergurau, pun tidak membohongi

dirimu, dalam pandangan kami, isi botol itu benar benar

adalah arak”

“Kami? Kami adalah……..” dengan tercengang

Thio Toa-cui menyela.

“Yang aku rasakan arak itu adalah arak harum, arak yang

sangat wangi dan lezat”

“Yang kau maksudkan adalah arak dalam botol pertama?”

“Ke tiga tiganya sama saja”

“Tapi aku hanya mengendus bau harumnya arak dari botol

yang berada ditanganmu”

“Tentu saja, karena botol tersebut selalu berada dalam

genggamanku dan tidak pernah melalui tanganmu”

454

“Tapi apa pengaruhnya?”

“Besar sekali pengaruhnya, begitu arak tersebut melalui

sentuhan tanganmu maka isi botol akan segera berubah

kwalitasnya”

“Sebetulnya arak yang kau bawa adalah arak aneh dari

mana?”

“Sebetul nya bukan arak aneh, arak itu hanya arak laron!”

“Apa kau bilang?” seru Thio Toa-cui kaget.

“Arak laron!”

“Aku belum pernah mendengar nama arak seaneh ini”

“Memang tidak banyak yang mendengar dan

mengetahuinya”

“Arak yang sudah melalui sentuhan tanganku akan

berubah? Memangnya tanganku memiliki kekuatan yang

hebat?

Oh Sam-pei menggeleng.

“Lalu apa sebabnya?”

“Karena sepasang tanganmu adalah tangan dari manusia”

“Memangnya tanganmu bukan tangan manusia?” Thio Toacui

semakin tercengang.

Kembali Oh Sam-pei mengangguk.

“Jadi maksudmu kau bukan termasuk manusia?” sekali lagi

Thio Toa-cui tertegun.

Kembali Oh Sam-pei mengangguk membenarkan.

“Hey, otakmu memangnya sudah tidak beres? Atau mulai

kurang waras?”

“Sama sekali tidak”

455

Hingga kini Thio Toa-cui masih menganggap Oh Sam-pei

sedang mengajak dirinya bergurau, tanpa terasa dia

perhatikan rekannya itu berulang kali.

Tidak ada yang aneh dengan Oh Sam-pei, tapi ketika dia

perhatikan beberapa kejap lagi, entah mengapa tiba-tiba

muncul segulung hawa dingin dari dalam lubuk hatinya.

Setelah bersin berulang kali dengan nada menyelidik ia

bertanya:

“Kalau bukan manusia, memangnya kau siluman?”

Kembali Oh Sam-pei tertawa, pada hakekatnya tertawanya

kali ini sama sekali tidak mirip dengan tertawa seorang

manusia.

Bab 25: Laron diujung golok

Thio Toa-cui sudah sepuluh tahun kenal dengan Oh Sampei,

tapi baru pertama kali ini dia menyaksikan senyuman

seaneh hari ini.

Senyuman tersebut sudah tidak mungkin dilukiskan dengan

kata menyeramkan lagi. Begitu ia mulai tertawa maka Oh

Sam-pei sudah tidak mirip lagi dengan Oh Sam-pei.

Pada hakekatnya dia seakan telah berubah jadi seorang

manusia yang lain! Sewaktu tertawa, nyaris seluruh

permukaan wajahnya ikut bergetar keras, wajah itu mirip

dengan ubur-ubur, bergoyang dan berubah tiada hentinya.

Paras muka Thio Toa-cui berubah semakin pucat, sambil

mengawasi Oh Sam-pei dengan mata terbelalak serunya

penuh kengerian:

“Se….sebenarnya siapakah kau?”

456

“Laron!” suara jawaban Oh Sam-pei kedengaran sangat

aneh, sama sekali tidak mirip suara manusia.

“Jadi kau juga jelmaan dari siluman laron?” suara Thio Toacui

semakin gemetar.

“Benar!”

Nada suaranya dari rendah dan berat mendadak berubah

jadi tinggi melengking dan tajam, begitu tajam seolah ada

gurdi baja yang sedang mengebor kendang telinga Thio Toacui.

Kulit wajahnya mulai mengelupas dan rontok, seperti

tepung yang mulai mengering, mengelupas selembar demi

selembar dan rontok ke tanah.

Ketika seluruh kulit wajahnya telah mengelupas habis,

akankah muncul selembar wajah dari siluman laron?

Bagaimana bentuk wajah siluman laron?

Sebetulnya rasa ingin tahu Thio Toa-cui amat besar, dia

pingin sekali mengetahui, tapi sayang dia tidak mampu

memperhatikan lagi.

Baginya, melarikan diri jauh lebih penting daripada

mengobati perasaan ingin tahunya, dia kuatir bila tidak segera

kabur, besar kemungkinan siluman laron itu akan menggigit

tengkuknya dan menghisap darahnya.

Dia mulai mundur terus ke belakang, sedang Oh Sam-pei

selangkah demi selangkah mendesak maju terus ke depan.

Tiba tiba Thio Toa-cui seperti teringat akan satu hal,

teriaknya keras:

“Benarkah kau adalah Oh Sam-pei?”

“Oh Sam-pei adalah sahabat karibmu, dia adalah seorang

manusia”

“Jadi kau bukan………” seru Thio Toa-cui gelisah.

457

“Tentu saja bukan laron, kalau tidak sudah sejak tadi

kuhisap darahmu…..”

“Ke mana perginya Oh Sam-pei?”

“Pergi ke tempat dimana mau tidak mau kau harus pergi!”

“Kemana?”

“Neraka…….orang semacam dia memang paling pantas

menjadi penghuni neraka, begitu juga dengan kau!”

“Bagai…….bagaimana mungkin dia bisa mati?”

“Heheheh….. darahnya telah kuhisap sampai mengering!”

Thio Toa-cui nyaris jatuh pingsan saking takutnya, dengan

wajah pucat pias melebihi mayat selangkah demi selangkah

dia mundur terus hingga akhirnya punggungnya menempel

diatas dinding penjara.

Kembali Oh Sam-pei tertawa seram:

“Sekarang kau bisa kabur ke mana lagi?” jengeknya, dia

meletakkan botol araknya ke atas meja kemudian mendesak

maju satu langkah lagi.

Kini Thio Toa-cui sudah tidak sanggup mundur lagi, paras

mukanya pun sudah tidak mampu berubah, begitu melihat Oh

Sam-pei masih mendesak maju ke depan, seketika itu juga dia

mendongakkan kepalanya seperti ayam j.igo yang siap tempur

dan mulai pasang kuda kuda.

Sekarang dia baru mulai teringat, bukankah ililuar pintu

penjara terdapat penjaga yang

sedang meronda? Mengapa dia tidak berteriak untuk minta

tolong?

Dia mulai menbuka mulut dan berteriak minta tolong, tapi

begitu mulut dibuka, tiba tiba dia jumpai dirinya seolah

berubah menjadi orang bisu, entah sejak kapan dia sudah

458

tidak mampu bersuara, biar sudah berusaha untuk berteriak

keras keras pun tidak sepotong suara yang muncul.

Sekarang dia baru benar benar gugup bercampur panik..

Sementara itu Oh Sam-pei sudah mendesak maju lagi dua

langkah, kulit mukanya yang mengelupas semakin bertambah

banyak.

Kini raut mukanya sudah berubah jadi begitu

menyeramkan, begitu mengerikan dan memuakkan hati….

Thio Toa-cui benar benar pecah nyali, rasa takut yang luar

biasa menimbulkan keinginannya untuk bertindak nekad.

“Aku akan beradu jiwa denganmu!” dalam hati dia menjerit,

botol arak yang berada dalam genggamannya langsung

dilemparkan ke arah kepala lawan.

Timpukan itu sama sekali tidak mengenai Oh Sam-pei,

diapun tidak berusaha untuk berkelit, tangannya begitu

diangkat, tahu tahu botol arak itu sudah jatuh ke tangannya.

Biarpun botol itu penuh berisi arak, ternyata lemparan itu

tidak menyebabkan arak dalam botol tertumpah keluar,

jangan lagi tumpah, menetes satu tetesan pun tidak.

Memangnya dia sedang bermain sulap? Atau dia memang

benar benar siluman iblis?

Sambil membentak nyaring Thio Toa-cui mencabut keluar

goloknya, cahaya senjata memancar ke empat penjuru dan

amat menyilaukan mata, sebilah golok yang sangat tajam!

Namun Oh Sam-pei seakan tidak melihat akan ancaman

tersebut, selangkah demi selangkah dia masih maju terus.

Kalau pada mulanya Thio Toa-cui hanya menggertidak

maka melihat Oh Sam-pei tidak berhenti malah semakin

mendekat, akhirnya sambil membentak nyaring dia ayunkan

goloknya melepaskan sebuah bacokan.

459

Dari tenggorokannya sudah tidak mampu mengeluarkan

suara lagi, jelas tenaga dan kemampuannya sudah melemah

beberapa bagian.

Walau begitu, bacokan golok nya itu telah dilancarkan

dengan menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Sekarang dia sudah mulai beradu jiwa, mau tidak mau

harus beradu jiwa!

Dengan menggunakan botol arak yang berada dalam

genggamannya Oh Sam-pei menangkis datangnya bacokan

golok itu, “Traaang!” botol itu seketika terbelah menjadi dua

bagian.

Kembali cahaya golok berkelebat lewat, arak yang

berwarna merah darah dengan membawa bau busuk yang

sangat kuat dan menyengat seketika berhamburan ke empat

penjuru, persis seperti hujan darah…..

Sebenarnya cairan merah itu darah laron atau arak laron?

Ketika menyembur diatas wajah Thio Toa-cui segera

mendatangkan bau busuk yang merasuk hingga ke tulang

sumsum, tapi kali ini dia malah tidak muntah.

Saat ini dia seolah sudah lupa untuk muntah karena dalam

detik yang amat singkat Oh Sam-pei kembali melambung ke

udara sambil merangsek ke depan.

Waktu itu pandangan mata Thio Toa-cui sudah dibikin

kabur karena tersembur cairan arak laron, bukan hanya

mukanya yang dibuat basah kuyup, bahkan sepasang matanya

pun sudah terasa amat pedas.

Rasa sakit yang luar biasa dimatanya membuat dia tidak

mampu untuk membuka matanya, tapi saat ini tidak mungkin

baginya untuk pejamkan mata, dengan memaksakan diri dia

coba mementangkan matanya lebar lebar.

Mati atau hidup segera akan ditentukan dalam detik ini,

tentu saja dia tidak bisa pejamkan mata, ketika matanya

460

terpentang lebar, yang tampak hanya selapis cahaya merah

darah.

Tiba tiba dia menjumpai tubuh Oh Sam-pei berada ditengah

lapisan merah darah itu, sambil memperdengarkan suara

dengungan yang keras sedang menerkam ke hadapannya.

Dia menjerit keras, goloknya segera dibacokkan berulang

kali.

Percikan darah segar berhamburan ke empat penjuru,

membuat lapisan merah itu nampak lebih merah lagi,

sekarang, seluruh angkasa seakan sudah terlapis semua oleh

merahnya darah, darah segar……..!

Kentongan ke tiga, ketika Siang Hu-hoa, Ko Thian-liok, Tu

Siau-thian dan Nyo Sin berempat tiba didepan penjara besar,

waktu sudah menunjukkan kentongan ke tiga.

Cahaya obor masih membara dengan hebatnya di depan

pintu penjara, lidah api yang menari nari ditengah hembusan

angin malam memperdengarkan suara desahan yang keras,

terutama ditengah keheningan malam, suara itu kedengaran

jauh lebih nyaring.

Pintu gerbang berwarna hitam, sebuah pintu besi yang

ditempa dari baja murni dan ditaburi beratus buah paku

tembaga, ketika tertimpa cahaya api paku paku itu segera

memantulkan cahaya dingin yang menyeramkan.

Diatas pintu baja utama terdapat sebuah ukiran kepala

harimau, ukiran itupun memancarkan cahaya berkilauan.

Hawa pembunuhan yang tebal menyelimuti sekeliling

tempat itu.

Tidak nampak ada penjaga yang meronda disitu, tidak ada

didepan pintu gerbang, tidak ada pula diseputar penjara.

461

Ke sembilan orang penjara sedang berkumpul diatas undak

undakan batu didepan pintu samping, lima orang berdiri,

empat orang duduk.

Yang berdiri memegang tombak panjang, tubuhnya tetap

berdiri kaku bagaikan senjatanya, sementara yang duduk

sudah lama terlelap tidur, kepalanya tertunduk dan suara

dengkuran menghiasi bibir.

Ketika Siang Hu-hoa datang menghampiri, empat penjaga

yang terduduk sama sekali tidak menunjukkan reaksi,

sementara lima orang yang berdiri pun seolah tidak melihat

kedatangan rombongan itu.

Mungkinkah mereka semua sudah terlelap tidur?

Dengan perasaan mendongkol Nyo Sin segera bergumam:

“Apa apaan mereka ini? Sedang menjaga penjara besar

atau pindah tempat tidur?”

“Apakah biasanya mereka pun bersikap begini?” tiba tiba

Ko Thian-liok bertanya.

Nyo Sin segera menggeleng.

“Kalau mereka mempunyai watak seperti ini, sudah sejak

dulu aku suruh mereka pensiun”

“Kalau begitu aneh sekali”

“Aku lihat sudah terjadi sesuatu disini!” sela Siang Hu-hoa

mendadak.

Ko Thian-liok merasakan hal yang sama, maka mereka

berempat pun segera mempercepat langkah kakinya.

Begitu tiba didepan pintu gerbang, mereka baru menjumpai

bahwa ke lima orang penjaga yang berdiri itu sedang

memejamkan matanya, dari sikap mereka nampak jelas kalau

orang orang itu sudah terlelap tidur.

462

Cara mereka berdiri sama sekali tidak wajar, namun mimik

mukanya nampak wajar sekali dan kelihatan sangat aneh, dua

orang diantara mereka kelihatan seakan sedang bercakap

cakap sementara ke tiga orang lainnya seakan sedang

memperhatikan pembicaraan rekannya.

Begitu menyaksikan keadaan tersebut, paras muka Tu Siauthian

seketika berubah hebat, sambil menghentakkan kakinya

dia berseru:

“Aduh celaka!”

Dia memburu ke atas undak undakan dan baru saja

mendekati tubuh salah seorang penjaganya, tiba tiba

terdengar Nyo Sin sedang berteriak sambil bertepuk tangan:

“Ayoh bangun, semuanya bangun!”

Suara teriakannya memang keras dan berat, apalagi dia

menjerit sekuat tenaga, jangan lagi manusia hidup. Orang

mati yang sudah berbaring dalam peti mati pun akan

melompat bangun setelah mendengar teriakannya itu.

Ke sembilan orang pengawal itu bukan orang mati, mereka

hanya terlelap tidur saja, tidak heran kalau orang orang itu

seketika tersadar kembali begitu mendengar teriakan Nyo Sin.

Begitu membuka mata dan melihat semua pejabat tinggi

pengadilan telah hadir dihadapan mereka, beberapa orang

pengawal itu jadi lemas kakinya, tanpa disuruh pun serentak

mereka sudah jatuhkan diri berlutut.

Ko Thian-liok tidak bicara apa apa, sebaliknya Nyo Sin

dengan suara yang nyaring telah mengumpat:

“Bagus, rupanya kalian semua telah tertidur…..”

Sembilan orang pengawal itu saling bertukar pandangan

tanpa menjawab, agaknya mereka sendiripun tidak tahu kalau

mereka baru saja terlelap tidur.

463

Melihat sikap serta mimik muka kawanan pengawal itu, Ko

Thian-liok segera memberi landa mencegah Nyo Sin bicara

lebih jauh, dia maju mendekat lalu menegur:

“Apakah kalian tidak tahu kalau kalian semua sudah

tertidur?”

Sembilan orang pengawal itu saling I H-rpandangan

sekejap, lalu menggeleng.

“Siapa komandan kalian?”

“Hamba Khoe Sun”

“Apakah kau pun tidak mengetahui apa yang telah terjadi?”

“Hamba memang bersalah” sahut Khoe Sun dengan kepala

tertunduk.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” tukas Ko Thian-liok

sambil tertawa.

“Hamba benar benar tidak tahu apa yang telah terjadi

disini, hamba bahkan tidak tahu apa yang terjadi hingga bisa

tertidur diatas undak undakan”

“Tadi kalian ada di mana?”

“Hamba sedang membawa empat orang anak buahku

berpatroli mengelilingi tembok pagar penjara……”

“Apakah kau menjumpai orang yang mencurigakan?”

“Seorang pun tidak ada”

“Oya”?”

“Apakah kalian sendiri juga tidak mengalami kejadian

kejadian yang aneh?” tiba tiba Siang Hu-hoa menimbrung.

Khoe Sun melirik Siang Hu-hoa sekejap, meskipun dia

merasa orang ini asing baginya, tapi lantaran jalan bersama

Ko Thian-liok, Tu Siau-thian serta Nyo Sin, maka setelah ragu

sesaat jawabnya:

464

“Sebenarnya aneh sekali, ada satu kejadian memang

sangat aneh”

“Cepat katakan!” desak Ko Thian-liok.

“Entah apa penyebabnya setelah lewat kentongan pertama

tadi, hamba bersembilan merasa luar biasa lelahnya hingga

menguap berulang kali, bukan saja merasa kantuk yang luar

biasa bahkan sepasang mata pun rasanya susah dibuka”

“Kemudian apa yang terjadi?”

“Entah sejak kapan empat orang yang bertugas menjaga

pintu gerbang sudah tertidur duluan, menyusul kemudian ke

empat orang yang ikut hamba berpatroli pun ikut

menyandarkan diri ke dinding penjara dan tertidur, hamba

adalah orang terakhir yang terlelap tidur, tapi sebelum aku

memejamkan mata, sempat hamba lihat bahwa semua orang

sudah tertidur nyenyak lebih dahulu”

“Waktu itu apakah kau menjumpai sesuatu yang aneh

disekeliling penjara?” kembali Siang Hu-hoa bertanya.

“Waktu itu aku sama sekali tidak sempat memperhatikan

sekeliling tempat itu, yang kupikirkan hanya ingin tidur

secepatnya”

“Bagaimana dengan ke empat orang yang ikut berpatroli

denganmu?”

Sebelum Khoe Sun menjawab, empat orang pengawal yang

berada di belakangnya telah maju ke depan.

“Ooh, jadi kalian berempat?” tanya Ko Thian-liok sambil

menyapu wajah mereka sekejap.

“Benar!” sahut ke empat orang pengawal itu sambil

serentak menjatuhkan diri berlutut

“Ayoh cepat bangun dan menjawab pertanyaan kami” seru

Ko Thian-liok lagi sambil mengulapkan tangannya.

465

Khoe Sun bersama delapan orang pengawal itu menyahut

dan serentak bangkit berdiri sambil menunggu pertanyaan.

Setelah memandang sekali lagi wajah ke empat orang

pengawal yang berdiri berjajar didepan, tanya Ko Thian-liok:

“Waktu itu apa yang kalian temukan?”

Serentak ke empat orang pengawal itu menggeleng.

“Waktu itu keadaan hamba persis sama seperti apa yang

dialami komandan Khoe”

“Kalau begitu menyingkirlah ke samping” seru Ko Thian-liok

sambil mengulapkan tangannya.

Ke empat orang pengawal itu menyahut dan segera

menyingkir ke samping.

Sekarang Ko Thian-liok mengalihkan sorot matanya ke

wajah ke empat orang penjaga pintu gerbang, tegurnya:

“Jadi kalian berempat yang menjaga di depan pintu

gerbang?”

“Benar!”

“Apa yang kalian saksikan?”

“Sama seperti mereka”

Sembilan orang penjaga mengalami kejadian yang persis

sama satu dengan lainnya, jelas kejadian ini kelewat kebetulan

dan kelewat aneh.

Perasaan bingung bercampur sangsi segera menghiasi

wajah Ko Thian-liok.

Siang Hu-hoa hanya terpekur tanpa bicara, sedang Tu Siauthian

berdiri dengan sepasang alis berkerut.

Tampaknya mereka bertiga sama-sama merasa pusing

kepala, untuk sesaat mereka tidak tahu bagaimana harus

menjelaskan tentang peristiwa ini.

466

Hanya Nyo Sin seorang yang terkecuali, dengan wajah

berubah hebat teriaknya keras keras:

“Hey, Apakah kalian semua sudah kesurupan setan

gentayangan?”

Siang Hu-hoa bertiga tidak menjawab tapi mereka pun

tidak menyangkal.

Apa pun yang dibicarakan Nyo Sin saat ini, mereka hanya

menampungnya sementara waktu tanpa memberi tanggapan.

Khoe sun dan ke delapan orang anak buahnya hanya

berdiri termangu mangut tanpa mengerti apa yang harus

dilakukan, entah hal ini lantaran perkataan dari Nyo Sin

ataukah secara tiba tiba mereka pun merasakan suasana yang

luar biasa anehnya disekeliling tempat itu.

Lidah api yang berkobar dari obor besar masih menari nari

terhembus angin, menggoyangkan pula bayangan tubuh

setiap orang yang membias ditanah.

Paling tidak ada setengah dari orang orang itu mulai

mencuri lihat disekitar dirinya….. memeriksa apakah ada setan

yang muncul d i samping mereka.

Ko Thian-liok berpikir sejenak, mendadak ujarnya:

“Bagaimana pun juga, sekarang kita harus segera masuk ke

dalam dan memeriksa keadaan disitu”

Serentak Siang Hu-hoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin

mengangguk tanda setuju.

“Pengawal, buka pintu!” perintah Ko Thian-liok kemudian.

Kunci gembokan pintu gerbang penjara i«iKantung

dipinggang Nyo Sin, cepat komandan opas ini maju ke depan

dan menggunakan tiga macam anak kunci yang berbeda

untuk membuka pintu besi itu.

467

Setiap anak kunci mempunyai bentuk dan ukuran yang

berbeda, semuanya mempunyai urutan yang pasti, bila salah

urutan maka buka saja pintu gerbang itu sulit dibuka bahkan

akan membunyikan sebuah lonceng besar yang dipasang

secara rahasia, semacam bunyi alarm yang akan memancing

hadirnya semua pengawal disekeliling tempat itu.

Penjara besar berada dibagian tengah kompleks

pengadilan, bila orang luar ingin masuk ke tempat itu maka

paling tidak dia harus melalui tiga lapis dinding tinggi yang

dijaga ketat oleh pengawal di empat penjuru.

Tidak mudah bagi siapa pun untuk menembusi penjagaan

dan pertahanan semacam ini, maka sewaktu menjumpai pintu

gerbang tidak ada yang aneh, Nyo Sin nyaris merasakan

hatinya sangat lega.

Tapi begitu pintu gerbang terbuka lebar, perasaan hatinya

yang baru saja merasa lega jadi berdebar kembali, bukan

cuma jantungnya yang dag dig dug, paras muka pun ikut

berubah sangat hebat.

Begitu pintu gerbang terpentang lebar, segulung bau busuk

yang amat memuakkan segera berhembus keluar dari balik

penjara, bau busuk semacam ini sudah tidak terlampau asing

lagi baginya.

Ketika pertama kali menemukan mayat Jui Pak-hay, ketika

memasuki ruangan khusus yang digunakan untuk memelihara

Laron Penghisap darah di rumah penginapan Hun-lay, dia

sudah pernah mengendus bau busuk semacam ini.

Karena sedemikian busuknya bau itu, hingga kini masih

berkesan mendalam dihatinya!

0-0-0

468

Paras muka Siang Hu-hoa maupun Tu Siau-thian ikut

berubah hebat, mereka pun belum melupakan bau busuk

semacam itu.

Dengan satu gerakan cepat Siang Hu-hoa melambung satu

kaki ke udara kemudian melayang turun didepan pintu

gerbang, tangan kanannya segera mencengkeram bahu Nyo

Sin dan menarik tubuhnya ke samping.

Dia kuatir setelah munculnya bau busuk itu, mungkin akan

disusul dengan munculnya sekelompok besar Laron Penghisap

darah

Dia menghadang didepan Nyo Sin, tangannya yang lain

telah meraba gagang pedang dan setiap saat siap

melancarkan serangan.

Pada saat yang bersamaan Tu Siau-thian menghardik pula:

“Kho Sun, cepat bawa anak buahmu melindungi

keselamatan tayjin!”

Selesai menghardik, dia ikut melayang ke sisi lain dari pintu

gerbang.

Khoe Sun tidak berani berayal, dia mengiakan sambil maju

menghadang didepan Ko Thian-liok sementara ke delapan

anak buahnya segera mengelilingi diseputarnya.

Melihat itu Ko Thian-liok merentangkan sepasang

tangannya minta mereka semua untuk menyingkir ke

samping, kemudian dia meraba ke pinggang sendiri.

Sebilah pedang yang antik dan indah tersoren

dipinggangnya itu.

Wajahnya sama sekali tidak menampilkan perubahan apa

pun, bila ditinjau dari cara dan sikapnya memegang pedang,

siapa pun dapat melihat bahwa orang ini pernah belajar silat

dan memiliki kepandaian yang cukup tangguh.

469

Walaupun wajahnya tidak nampak kusut namun hidungnya

sudah mulai berkerut. Siapa pun itu orangnya, pasti tidak akan

tahan bisa mengendus bau busuk seperti ini.

Angin malam berhembus kencang, lambat laun bau busuk

yang menyengat itu mulai menipis sebelum akhirnya

memudar.

Cahaya lentera yang menerangi ruang penjara sangat

redup, suasana pun sangat hening dan sepi.

Setelah munculnya bau busuk sama sekali tidak nampak

munculnya Laron Penghisap darah, jangan lagi satu kelompok,

seekor pun tidak nampak.

Siang Hu-hoa telah melepaskan cengkeramannya atas bahu

Nyo Sin, namun pembesar itu masih tetap berdiri tidak

bergerak, dia belum melakukan tindakan apapun, nampaknya

pengalaman yang berulang kali membuat dia bersikap lebih

cerdik.

Dia tahu, kemungkinan besar didalam ruang penjara telah

menunggu sekelompok besar Laron Penghisap darah,

sehingga bila ada yang menerjang masuk maka kawanan

makhluk itu akan menyerang bersama. Dia tidak ingin

kehilangan muka didepan orang banyak.

Berbeda dengan Tu Siau-thian, dia seakan tidak perduli

akan hal tersebut, kini dia sudah melakukan aksinya.

Sesungguhnya Siang Hu-hoa sudah bertindak duluan,

biarpun pedangnya belum diloloskan dari sarungnya, dia

sudah menerjang maju dengan tangan masih menempel pada

gagang senjatanya.

Asal ada sesuatu yang tidak beres, maka secepat kilat dia

akan mencabut keluar pedangnya sambil melancarkan

serangan.

470

Tu Siau-thian tidak memiliki kepandaian sehebat Siang Huhoa,

dia sadar akan hal itu, maka sebelum melangkah maju

goloknya telah diloloskan lebih dulu.

Kemudian mereka berdua melangkah masuk ke balik pintu

dan menerjang ke dalam ruang penjara.

0-0-0

Bau busuk di ruangan penjara masih amat lebal dan

menusuk hidung, tidak ada Laron Penghisap darah disitu tapi

didekat pintu, diatas permukaan lantai tampak segumpal

cairan darah l.aron.

Cairan darah itu membiarkan sinar merah ketika tertimpa

sinar lampu lentera, anehnya cairan darah tersebut tidak

membeku. Dari atas genangan cairan darah itulah bau busuk

tersebut berasal.

Seorang lelaki berbaju opas dengan sebilah golok masih

tergenggam ditangannya roboh terkapar diatas genangan

darah itu, wajahnya menghadap ke atas dan penuh

berlumuran darah. Dia mempunyai sebuah mulut yang sangat

besar.

Siang Hu-hoa segera menghentikan langkah kakinya

didepan genangan darah, tanyanya:

“Apakah dia adalah salah seorang diantara dua pengawal

yang kalian utus untuk menjaga ruang penjara?”

Tu Siau-thian memeriksa sebentar jenasah itu kemudian

baru mengangguk.

“Benar, dia adalah Thio Toa-cui!”

“Kalau begitu orang yang tergeletak di sebelah sana adalah

Oh Sam-pei?” ujar Siang Hu-hoa lagi.

471

Disamping terali besi didepan ruang penjara sebelah kiri,

tergeletak pula sesosok mayat.

Orang itupun berdandan seorang opas, tapi baju bagian

dadanya dibiarkan terbuka lebar, sebagian besar kancingnya

tidak dikancingkan.

Dengan langkah tergesa Tu Siau-thian menghampiri mayat

itu.

Orang tersebut tertelentang dengan wajah menghadap ke

atas, tidak ada noda darah diwajahnya itu, tentu saja dia lebih

mudah dikenali ketimbang Thio Toa-cui.

Setelah memandangnya sekejap, Tu Siau-thian segera

mengangguk.

“Benar, dia adalah Oh Sam-pei!”

Dia segera berjongkok sambil memeriksa denyut nadi Oh

Sam-pei, tapi sayang detak jantung opas itu sudah lama

berhenti. Kenyataan ini membuat hatinya tercekat sehingga

badannya bergetar keras.

“Bagaimana?” tanya Siang Hu-hoa.

“Sudah mati!”

“Thio Toa-cui masih bernapas” mendadak Siang Hu-hoa

berkata.

“Sungguh?” seru Tu Siau-thian sambil melompat ke

samping rekannya.

Waktu itu Siang Hu-hoa sedang menguruti jalan darah

penting ditubuh Thio Toa-cui sembari menyalurkan tenaga

murninya.

Benar juga, ternyata Thio Toa-cui masih bernapas walau

napasnya sudah amat lirih dan lemah sekali.

Dalam pada itu Ko Thian-liok dan Nyo Sin sekalian telah

menyusul masuk ke dalam ruang penjara.

472

Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, Ko Thianliok

berseru keheranan:

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Baru saja Tu Siau-thian hendak menjawab, tiba tiba

terdengar suara helaan napas panjang, ternyata helaan napas

itu berasal dari Thio Toa-cui.

Dengan cepat dia mengalihkan sorot matanya ke wajah

Thio Toa-cui dan mengawasinya dengan mata melotot.

Tampak Thio Toa-cui membuka matanya perlahan,

sementara tubuhnya kembali gemetar keras.

“Thio Toa-cui!” jerit Tu Siau-thian.

Otot wajah Thio Toa-cui kelihatan mengejang keras, lama

kemudian ia baru menghembuskan napas pajang dan

membuka lebar matanya, garis garis darah terlihat memenuhi

bola matanya.

“Apa yang telah terjadi ditempat ini?” buru luiru Tu Siauthian

bertanya.

“Laron!” dari balik kelopak mata Thio Toa-cui memancar

keluar rasa takut dan ngeri yang luar biasa.

“Laron? Laron apa?” desak Tu Siau-thian lebih lanjut.

Rasa tidakut dan ngeri yang memancar keluar dari balik

mata Thio Toa-cui bertambah tebal dan kental, kembali dia

mengucapkan sepatah kata:

“Arak……..”

“Arak apa?” Tu Siau-thian semakin tertegun. Dengan suara

terbata-bata bisik Thio Toa-cui:

“Arak laron…… arak laron berwarna merah darah……

kulit…kulit wajah yang mengelupas tiada hentinya…. siluman

laron dengan kulit muka yang mengelupas terus…… laron…..

Laron Penghisap darah……..”

473

“Laron Penghisap darah?” ulang Tu Siau-thian dengan

wajah hijau membesi.

Sekujur tubuh Thio Toa-cui gemetar keras, tiba tiba ia

berteriak nyaring:

“Laron Penghisap darah!”

Nada suaranya penuh dicekam perasaan takut dan ngeri

yang luar biasa, mendadak dia bangkit dan duduk, tapi sesaat

kemudian tubuhnya sudah roboh kembali ke tanah.

Siang Hu-hoa dan Tu Siau-thian ingin memayang tubuhnya,

tapi tidak sempat. “Blaaaam!” begitu badan Thio Toa-cui jatuh

terjungkal ke tanah, dia tidak pernah bergerak lagi.

Sepasang matanya masih terbelalak besar, rona matanya

sudah memudar sementara garis-garis merah yang memenuhi

bola matanya kini nampak jauh lebih jelas.

Siang Hu-hoa coba memeriksa dengus napas Thio Toa-cui,

tapi tangannya yang sudah diulurkan sampai tengah jalan tiba

tiba berhenti.

“Bagaimana?” buru buru Tu Siau-thian bertanya.

“Dia sudah mati!” jawab Siang Hu-hoa singkat.

“Dimana letak lukanya…….” timbrung Nyo Sin, tapi baru

setengah jalan sudah ditukas oleh Ko Thian-liok.

“Kita periksa dulu bagaimana kondisi para lawanan!”

perintahnya dengan suara lantang.

Tidak menunggu ucapan itu selesai diutarakan, Siang Huhoa

sudah melompat bangun dari atas tanah lalu dengan

sekali lompatan dia tiba disamping jenasah Oh Sam-pei.

Tu Siau-thian tidak berani berayal, cepat cepat dia

menyusul ke samping Siang Hu-hoa.

474

Dalam pada itu Siang Hu-hoa sudah melongok ke dalam

terali besi. Ternyata ruang penjara tidak ada penghuninya,

maka dia pun bertanya:

“Apakah mereka disekap di dalam ruang penjara?”

“Benar, Gi Tiok-kun disekap didalam sana” Tu Siau-thian

membenarkan.

“Tidak salah ingat?”

“Tidak mungkin salah ingat”

“Tapi ke mana orangnya sekarang?”

Tu Siau-thian kontan terbungkam tanpa mampu

mengucapkan sepatah kata pun.

Siang Hu-hoa mencoba memeriksa kunci gembokan

didepan terali besi, gembokan masih berada di posisi semula

dalam keadaan utuh, tidak nampak sesuatu gejala yang aneh.

“Cepat kita geledah!” seru Tu Siau-thian kemudian.

“Tunggu sebentar!” mendadak Siang Hu-hoa mencegah.

“Kau berhasil menemukan sesuatu?”

Siang Hu-hoa menunjuk kearah meja yang berada ditengah

ruang penjara, sebilah pisau panjang yang amat tajam

menancap diatas meja itu, diujung pisau yang tajam

menancap seekor laron!

Seekor laron dengan sepasang mata berwarna merah darah

dan tubuh hijau bagaikan kemala, seekor Laron Penghisap

darah!

Paras muka Tu Siau-thian dari pucat berubah jadi hijau,

dari hijau kembali memucat, pucat pasi seperti wajah mayat.

Tiba tiba dia berpaling kemudian teriaknya keras:

“Cepat bawa kemari kunci ruang penjara!”

475

Orang yang berdiri di belakangnya tidak lain adalah Nyo

Sin, dia seakan lupa kalau Nyo Sin adalah komandannya.

Teriakan yang begitu keras dan nyaring nyaris membuat Nyo

Sin terkesiap.

Nyo Sin pun seolah sudah lupa kalau dia adalah atasan Tu

Siau-thian, sambil mengiakan dia mengeluarkan anak kunci

dan membuka gembokan itu.

Dengan tangan sebelah mendorong pintu sel, dalam dua

tiga langkah kemudian Tu Siau-thian sudah menerjang masuk

ke dalam ruang penjara, mendekati meja itu.

Dia berdiri begitu dekat, tentu saja segala sesuatunya

dapat terlihat dengan sangat jelas.

Padahal sejak tadi dia sudah tidak salah melihat, seekor

Laron Penghisap darah terpantek diatas permukaan meja oleh

sebilah pisau panjang yang tajam.

Tubuh laron itu nyaris terbelah jadi dua, disekitar mulut

luka bercecer cairan darah. Cairan darah itu berwarna merah

dan menyiarkan bau amis serta busuk yang sangat kuat.

Inikah yang dinamakan darah laron? Kenapa darah laron

berwarna merah? Merah seperti darah manusia?

Tu Siau-thian berpaling memperhatikan jenasah Oh Sampei.

Dipinggang mayat itu tergantung sebilah sarung golok,

tapi golok tersebut tidak berada dalam genggamannya, juga

tidak nampak disekeliling tempat itu.

Karenanya Tu Siau-thian berpaling dan sekali lagi

memperhatikan golok tajam yang menancap diatas

permukaan meja.

“Apakah golok itu adalah golok milik Oh Sam-pei?” Siang

Hu-hoa bertanya kemudian.

“Aku rasa benar miliknya”

476

“Kelihatannya golok itu dilemparkan ke udara dan

menancap diatas meja”

“Bila ditinjau dari posisi mayat serta sudut golok yang

menancap di meja, tampaknya persis seperti apa yang kau

katakan”

“Kelihatannya ketajaman matanya cukup mengagumkan”

“Sekalipun ketajaman matanya tidak seberapa bagus pun,

dia sama saja dapat menimpuknya secara tepat” tiba tiba ujar

Nyo Sin.

“Oya?”

“Sebab sasaran yang sebenarnya tidak sekecil itu” Nyo Sin

menjelaskan.

“Kalau begitu seberapa besarnya?”

“Manusia itu besar sekali, karena sasarannya memang

seorang manusia”

“Siapa?”

Bab 26: Jejak Sang Raja Laron

“Gi Tiok-kun!” jawab Nyo Sin dengan wajah berubah,

kemudian setelah mengawasi Laron Penghisap darah itu

dengan mata melotot, dia melanjutkan, “saat itu bisa jadi dia

bersama Thio Toa-cui sedang meronda dalam ruang penjara,

tiba tiba mereka saksikan Gi Tiok-kun sedang berubah, maka

mereka pun menerjang ke depan terali besi, saat itu Gi Tiokkun

pasti sedang bersiap melancarkan serangan, maka dia

pun melontarkan goloknya untuk membunuh perempuan

siluman itu!”

“Lantas jenasah Gi Tiok-kun berada di mana sekarang?”

tanya Siang Hu-hoa.

477

“Disini!” jawab Nyo Sin sambil menuding Laron Penghisap

darah yang terbelah dua itu dengan ujung goloknya, “dialah Gi

Tiok-kun!”

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, paras mukanya

kembali berubah hebat, bahkan Siang Hu-hoa dan Tu Siauthian

pun ikut berubah wajahnya menjadi hijau membesi.

Dengan suara gemetar dia berkata lebih jauh:

“Sebetulnya Gi Tiok-kun sudah bersiap siap merubah diri

dalam wujud aslinya dan terbang keluar dari penjara, tapi dia

keburu dibunuh oleh sambitan golok Oh Sam-pei hingga tidak

sempat berubah lagi dalam wujud semula”

Gi Tiok-kun dikurung dalam ruang penjara seorang diri,

sekarang terbukti gembokan diluar pintu penjara dalam

keadaan utuh, tapi tawanan itu lenyap tidak berbekas, sebagai

gantinya didalam penjara telah bertambah dengan seekor

Laron Penghisap darah yang dipantek oleh golok milik Oh

Sam-pei.

Memangnya manusia bisa lenyap dengan begitu saja? Lalu

darimana munculnya laron itu? Mungkinkah telah terjadi

peristiwa seperti apa yang dikatakan Nyo Sin barusan?

Untuk beberapa saat Siang Hu-hoa tidak tahu apa yang

mesti diperbuat.

Tampaknya Tu Siau-thian juga mengalami hal yang sama,

dia pun bertanya:

“Kalau memang begitu ceritanya, kenapa Oh Sam-pei bisa

tewas diluar ruang sel?”

“Kalian jangan lupa, selain Gi Tiok-kun siluman laron ini,

disini masih ada seorang Kwee Bok!” seru Nyo Sin cepat.

Tapi begitu ucapan tersebut diutarakan, paras mukanya

kembali berubah hebat.

“Kwee Bok?” jerit Tu Siau-thian.

478

Sekarang mereka baru teringat akan Kwee Bok! Nyo Sin

yang pertama kali membalikkan badan sambil menerjang

keluar disusul Tu Siau-thian di belakangnya.

Tapi Siang Hu-hoa jauh lebih cepat daripada mereka

berdua, meskipun terakhir dia menerjang keluar dari ruang

penjara, namun justru orang pertama yang tiba dulu di ruang

penjara sebelah depan.

Sayang dia tidak memiliki anak kunci maka yang bisa

dilakukan hanya berdiri disitu, tentu saja dia pun sudah

melongokkan kepalanya ke dalam, ternyata ruang penjara

itupun kosong melompong, tidak nampak sesosok manusia

pun.

Ke mana perginya Kwee Bok? Jangan-jangan dia memang

benar jelmaan dari siluman laron dan sekarang sudah berubah

kembali dalam wujud aslinya dan terbang keluar dari ruang

penjara?

Diatas meja tidak ada golok, disitu hanya terdapat dua

bilah golok milik Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei sementara

golok milik Thio Toa-cui masih berada dalam genggamannya.

Diatas meja tidak nampak Laron Penghisap darah, begitu

juga diatas lantai, tidak nampak sesosok laron pun.

Nyo Sin tiba dua langkah lebih lambat ketimbang Siang Huhoa,

dia langsung menuju ke depan terali besi dan membuka

pintu sel.

Dengan perasaan cemas bercampur tidak sabar mereka

bertiga serentak menerjang masuk ke dalam ruang sel.

Biarpun agak kasar dan ceroboh, jelek jelek Nyo Sin masih

terhitung seorang opas yang cukup berpengalaman.

Tu Siau-thian merupakan orang yang cekatan dan teliti,

ditambah Siang Hu-hoa maka dengan bekerja sama mereka

bertiga mulai menyelidiki dan memeriksa setiap jengkal

tempat yang ada disana.

479

Bukan saja semua benda diperiksa, bahkan ranjang pun

sudah mereka bongkar, alhasil tidak sesuatu pun yang berhasil

mereka temukan.

Jika Kwee Bok sudah mampus, semestinya disitu akan

ditemukan sesosok mayat.

Kelihatannya pemuda itu memiliki ilmu siluman yang jauh

lebih hebat ketimbang kemampuan Gi Tiok-kun, bukan saja

berhasil membunuh Oh Sam-pei dan Thio Toa-cui, bahkan

sanggup pergi meninggalkan tempat itu.

Tapi mereka tidak mau menyerah begitu saja, bersama

para penjaga lainnya penggeledahan secara besar besaran

segera dilakukan, namun hasilnya tetap nihil.

Ketika penggeledahan selesai dilakukan, Nyo Sin sudah

kelelahan hingga napasnya tersengkal sengkal.

Sambil berpegangan pada terali besi dan berusaha

mengatur napas, ujarnya:

“Padahal semua pintu besi sudah dikunci, kenapa bocah

kunyuk itu sanggup melarikan diri?”

Tu Siau-thian mendongakkan kepalanya memperhatikan

sekejap lubang hawa diatas dinding penjara, kemudian

sahutnya:

“Kalau dia benar benar telah berubah jadi seekor Laron

Penghisap darah, semestinya tidak susah untuk kabur dari

jendela dengan melalui lubang udara itu”

Seakan baru tersadar dari impian, Nyo Sin segera

mendongakkan kepalanya seraya berteriak:

“Aaah betul, pasti lewat lubang hawa itu!”

Dalam pada itu sorot mata Siang Hu-hoa telah dialihkan ke

atas genangan darah dibawah tubuh Thio Toa-cui, tiba tiba ia

berkata:

480

“Tampaknya kita telah melupakan satu tempat”

“Tempat mana?” tanya Nyo Sin sembari berpaling.

“Bawa jenasah ini!” sahut Siang Hu-hoa.

Baru selesai berkata, Tu Siau-thian yang berada diujung

sana telah membalik jenasa