Pendekar Pemabuk dari Kanglam

New Picture

Pendekar Pemabuk dari Kanglam (Kanglam Tjiu Hiap)

Karya : Kho Ping Hoo

01. Calon Panglima Kiang-sui

DI sekitar tahun 600, Tiongkok berada di bawah pemerintahan Kaisar Yang Ti yang lalim dan berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Kaisar ini memeras dan memaksa rakyatnya untuk membuat bangunan-bangunan dan pekerjaan-pekerjaan raksasa dalam usahanya memperkuat pertahanan negaranya dan juga demi kesenangannya sendiri.

Kota Lokyang di bangun kembali dengan hebat mempergunakan tukang-tukang dan ahli-ahli yang didatangkan

dari tempat jauh di sebelah selatan sungat Yangtse. Sebagian dari para pekerja ini boleh

dibilang dipekerjakan sampai mati.

Hasil pekerjaan paksa yang banyak makan jiwa rakyat Tiongkok itu masih dapat disaksikan

hingga sekarang. Kaisar Yang Ti memerintahkan untuk menggali saluran besar yang

memanjang dari utara sampai ke selatan sungai Yangtse, yakni sampai ke Hongcou.

Pekerjaan besar ini selain membutuhkan banyak sekali tenaga manusia, juga membutuhkan

banyak biaya hingga kekayaan istana kaisar dikeduk habis. Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu

dan dengan kejam sekali Kaisar Yang Ti kembali memeras rakyat dengan memerintahkan

agar pajak-pajak dibayar sepuluh tahun di muka.

Selain pembuatan saluran besar itu, Kaisar Yang Ti juga memerintahkan agar supaya tembok

besar diperbaiki dan dibetulkan, yang kembali memerlukan tenaga ahli dan tukang-tukang

yang pandai serta tenaga pekerja-pekerja yang ribuan orang banyaknya.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa apabila pemimpin jahat, anak buahnya pun kurang benar.

Kaisar yang lalim itu bagaikan seorang guru memberi contoh buruk sekali kepada pembesarpembesarnya

hingga pada waktu itu, para pembesar sebagian besar merupakan pemeraspemeras

rakyat yang bahkan lebih kejam lagi dari pada Kaisarnya sendiri. Mereka

mempergunakan segala macam akal dan kesempatan untuk memperkaya diri, sama sekali

tidak memperdulikan keadaan rakyat yang diperas habis-habisan. Dan pada saat-saat yang

amat menyedihkan bagi rakyat Tiongkok inilah cerita ini terjadi.

****

Di sebelah selatan kota raja terdapat sebuah kota bernama Kiang-sui. Kota ini cukup ramai

dan besar karena dekat dengan ibukota dan di situ terdapat banyak sekali rumah-rumah

 2

gedung yang indah dan megah. Hal ini tidak aneh oleh karena para pembesar dan hartawan

mempergunakan kesempatan untuk memakai tenaga para ahli bangunan yang didatangkan

oleh kaisar itu guna mendirikan gedung-gedungnya sendiri.

Di tengah-tengah kota Kiang-sui terdapat sebuah gedung yang terbesar dan paling megah

nampak dari luar, dan apabila orang masuk ke dalamnya, ia akan kagum melihat keindahan

gedung itu. Perumahan ini tidak hanya terdiri dari satu bangunan, akan tetapi ada beberapa

bangunan yang bentuknya menarik, ada yang bertingkat tiga, ada pula yang tidak bertingkat

akan tetapi kesemuanya indah dan merupakan sekelompok bangunan yang dikelilingi tembok

dua tombak tingginya. Kalau dilihat dari luar, yang nampak hanya dinding ini dan lotengloteng

yang bercat warna warni menyedapkan mata.

Gedung indah ini adalah tempat tinggal Residen atau Kepala Daerah di Kiang-sui yang

bernama Liok Ong Gun. Kepala daerah ini memang keturunan bangsawan dan semenjak

dahulu nenek-moyangnya memang orang-orang berpangkat yang setia dan mempunyai

kedudukan tinggi. Ia amat berpengaruh, tidak saja karena kedudukannya sebagai Kepala

daerah, akan tetapi juga karena kekayaannya. Pada waktu itu, siapa yang kaya ia berkuasa,

sedangkan Liok Ong Gun ini memang semenjak lahir boleh dibilang hidup di atas tumpukan

harta benda.

Liok Ong Gun berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tegap dan memelihara

jenggot pendek yang hitam menghias muka bagian bawah, dari bawah telinga kiri sampai ke

bawah telinga kanan. Sepasang matanya lebar dan bersinar tajam. Ia seorang yang pandai

dalam ilmu sastera dan silat, dan di waktu mudanya ia telah mencapai gelar siucai setelah

lulus dalam ujian di kotaraja. Dalam hal ilmu silat, iapun tidak lemah oleh karena ia menjadi

murid dari ketua cabang Go-bi-pai yang pada waktu itu meninggal dunia karena sakit.

Permainan goloknya cukup lihai dan hal ini membuat ia lebih disegani orang.

Dalam pernikahannya dengan seorang gadis bangsawan yang selain cantik juga berbudi halus,

Liok Ong Gun memperoleh seorang anak tunggal. Anak ini perempuan dan diberi nama Liok

Tin Eng yang kini telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik seperti ibunya. Akan tetapi

beradat keras dan galak seperti ayahnya. Biarpun dalam hal kepandaian membaca dan

menulis, dara ini tidak sepandai ayahnya dan dalam hal pekerjaan tangan tidak sepandai

ibunya, namun terdengar desas-desus orang bahwa dalam hal ilmu silat, dara ini jauh melebihi

kelihaian ayahnya sendiri!

Tin Eng sebagai puteri tunggal tentu saja manja sekali dan biarpun ia disohorkan sebagai

kembang kota Kiang-sui dan banyak sekali pemuda merindukannya, akan tetapi tak

seorangpun di antara mereka berani mengajukan pinangan.

Kedudukan Liok Ong Gun memang amat kuat, selain ia sendiri memiliki kegagahan, iapun

selalu dikawal oleh pasukan perwira Sayap Garuda yang berkepandaian tinggi. Selain para

pengawal ini, iapun selalu didampingi oleh seorang kunsu atau penasehat yang cerdik pandai

bernama Lauw Lui Tek yang bertubuh gemuk.

Demikianlah keadaan penghuni gedung-gedung Kepala daerah itu dan selanjutnya masih

banyak pula para pelayan yang mengerjakan segala macam pekerjaan sehingga gedunggedung

di situ selain nampak indah juga bersih. Liok-hujin, isteri Liok Ong Gun tak pernah

mencampuri urusan suaminya dan nyonya ini selalu tinggal di dalam, mengatur rumah tangga

dan mengepalai semua pelayan yang amat taat dan tunduk terhadap nyonya yang berbudi

halus itu. Dari pelayan wanita yang bekerja di dalam kamar sampai pelayan laki-laki yang

bekerja di kebun atau di kandang kuda, semua amat taat dan setiap saat bersedia melakukan

perintah Liok-hujin dengan senang hati.

Pada suatu hari, seorang penjaga pintu gerbang melaporkan kepada Liok Ong Gun bahwa di

luar datang tiga orang tamu yang minta bertemu dengan Kepala daerah itu.

 3

“Siapakah mereka itu?” tanya Liok Ong Gun yang sedang duduk dengan Lauw Lui Tek dan

beberapa orang perwiranya guna membicarakan perintah kaisar untuk membangun sebuah

istana di atas bukit Bwee San sebelah timur kota Kiang-sui.

“Hamba telah bertanya tentang nama mereka, akan tetapi mereka tidak mau memberi tahu,

hanya supaya hamba melaporkan kepada taijin,” jawab penjaga itu dengan hormat.

“Tamu-tamu yang tidak mau menyebutkan namanya tak perlu diterima,” kata Lauw Lui Tek,

penasehat Kepala daerah itu dengan sikapnya yang hati-hati.

“Kenapa kau tidak usir saja mereka dan berani melaporkan kedatangan orang-orang yang

mencurigakan itu?” Liok Ong Gun menegur sehingga penjaga itu menjadi pucat.

”Ampun, taijin. Tiga orang tamu itu bukanlah orang-orang biasa, maka hamba tidak berani

bertindak sembarangan. Seorang di antara mereka adalah seorang hwesio gundul yang telah

tua dan memelihara jenggot panjang, sikapnya agung dan di pundaknya tergantung pedang.

Orang kedua juga seorang tosu tua yang gagah. Menurut pandangan hamba yang bodoh,

mereka ini bukanlah orang-orang jahat, maka hamba berani berlaku lancang memberi laporan

kepada taijin.”

Liok Ong Gun merasa heran mendengar bahwa tamu-tamunya adalah dua orang pertapa dan

seorang pemuda. Ketika Lauw Lui Tek hendak memaki penjaga itu, Liok Ong Gun

mendahuluinya dan berkata kepada penjaga tadi,

“Cobalah kau panggil mereka masuk.”

Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara halus menegur,

“Liok Ong Gun, kau benar-benar memegang aturan keras sekali!”

Pembesar itu terkejut dan segera bangun dari tempat duduknya dan menuju ke ruang depan,

diikuti oleh Lauw Lui Tek dan para perwira Sayap Garuda. Ketika mereka tiba di ruangan

depan, muncullah tiga orang tamu tadi. Memang benar, ketiga orang itu terdiri dari seorang

hwesio tua yang gagah, seorang tosu tua dan seorang anak muda yang tampan sekali.

Melihat Hwesio berjubah hitam itu Liok Ong Gun merasa terkejut sekali dan ia cepat-cepat

menjura dengan hormatnya dan berkata,

“Ah tidak tahunya susiok-couw (kakek guru) yang datang. Mohon maaf sebanyaknya karena

teecu tidak mengetahui kedatangan susiok-couw terlebih dahulu hingga tak dapat

mengadakan penyambutan yang layak.”

Hwesio itu tertawa bergelak dengan senangnya. Ia menoleh kepada tosu itu dan berkata,

“Bong Bi Toyu, apa kataku tadi? Biarpun telah menjadi seorang pembesar tinggi, namun Liok

Ong Gun tidak melupakan hubungan antara guru dan murid.”

Tosu itu mengangguk-angguk puas dan tersenyum. Siapakah mereka ini? Hwesio tua itu

sebenarnya adalah seorang tokoh besar dari Go-bi-san yang bernama Seng Le Hosiang dan

kakek ini adalah paman guru dari suhu Liok Ong Gun, dengan demikian maka hwesio ini

masih terhitung paman kakek gurunya! Adapun tosu itu juga bukan sembarang orang, karena

ia ini adalah Bong Bi Sianjin, seorang yang sangat ternama dalam kalangan persilatan,

sebagai tokoh besar dari Kim Lun San yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tosu ini

adalah kawan baik Seng Le Hosiang.

Liok Ong Gun dengan amat hormatnya lalu membungkukkan diri dan berkata, Susiok-couw

dan kedua jiwi (tuan berdua) silahkan masuk dan duduk di dalam.”

Seng Le Hosiang sambil tersenyum di balik kumis dan jenggotnya yang putih itu berkata

memperkenalkan, “Ketahuilah dulu, Liok Ong Gun. Kawanku ini adalah Bong Bi Sianjin,

pertapa di bukit Kim Lun San, dan anak muda ini bernama Gan Bu Gi, murid Bong Bi

Sianjin. Untuk keperluan mereka berdua inilah maka pinceng datang menjumpaimu.”

Liok Ong Gun menjura kepada Bong Bi Sianjin dan Gan Bu Gi. Lalu ia memperkenalkan

pula Lauw Lui Tek kepada mereka, demikian pula kelima orang perwira yang berada di situ.

Kemudian mereka semua masuk ke ruang dalam dan ketiga orang tamu itu tiada habisnya

mengagumi keindahan gedung itu dan sekalian isinya. Dinding-dinding yang putih bersih

 4

penuh digantungi lian (kain penghias dinding yang ditulis sajak) dan lukisan-lukisan indah.

Semua perabot rumah tangga tersebut dari kayu-kayu mahal yang terukir indah dan halus,

bahkan lantainya berkembang indah dan di sana-sini terbentang permadani Turki

“Bagus, bagus, rumahmu bagus sekali,” Seng Le Hosiang memuji dan memandang kagum.

Gan Bu Gi yang semenjak kecil berada di atas gunung juga memandang ke kanan-kiri dengan

kagum dan mata terbelalak lebar. Ia merasa malu-malu dan ketika kakinya menginjak lantai

yang berkembang dan halus mengkilap itu, ia merasa takut kalau-kalau sepatunya akan

merusak lantai maka ia berjalan dengan hati-hati sekali!

Setelah semua orang mengambil tempat duduk di ruangan tamu, Liok Ong Gun menanti

sampai pelayan datang membawa minuman.

“Susiok-couw suka minum apa? Arak wangi atau teh wangi? Juga Bong Bi Locianpwe dan

Gan-hiante ingin minum apa?” Liok Ong Gun menawarkan dengan ramah tamah.

“Arak saja, boleh keluarkan arak yang paling wangi!” kata Seng Le Hosiang dengan gembira

hingga diam-diam para perwira merasa heran mengapa ada hwesio yang suka minum arak.

Bagi Bong Bi Sianjin, tidak ada pantangan minum arak, akan tetapi dengan malu-malu Gan

Bu Gi menjawab,

“Harap taijin jangan terlalu merepotkan penyambutan. Siauwte biasanya hanya minum air

gunung.”

Jawaban pemuda yang sederhana ini membuat semua orang tersenyum dan Liok Ong Gun

merasa suka kepadanya. Ia heran melihat betapa Bong Bi Sianjin yang terkenal akan

kegagahannya itu mempunyai murid yang demikian lemah lembut.

Setelah semua orang minum, pembesar itu bertanya kepada susiok-couwnya, “Teecu merasa

mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan ini. Apakah kiranya yang dapat teecu

lakukan untuk sam-wi?”

“Sudah pinceng katakan tadi bahwa kedatanganku semata-mata hanya untuk urusan kedua

orang ini, terutama sekali untuk memperkenalkan Gan Bu Gi kepadamu. Ketahuilah, Liok

Ong Gun bahwa sahabatku Bong Bi Sianjin ini datang bersama muridnya kepadaku dengan

permintaan agar pinceng menjadi orang perantara terhadap dua hal yang hendak

kukemukakan kepadamu, yaitu pertama: sukakah kiranya kau menerima pemuda ini dan

memberi pekerjaan yang layak karena ia telah tamat belajar silat pada gurunya dan tentang

kepandaian silat patut kupuji dan dengan adanya pemuda ini di sini, agaknya kedudukanmu

akan makin kuat.”

Sambil berkata demikian, hwesio tua itu melirik ke arah para perwira yang duduk di pinggir.

“Terus terang saja aku berani menyatakan bahwa tenaganya akan jauh lebih berguna dari pada

tenaga dua puluh orang pengawalmu yang terpandai.”

Mendengar ucapan ini, tentu saja para perwira merasa mendongkol dan tak senang, akan

tetapi mereka tidak berani menyatakan dengan terang-terangan, hanya menundukkan kepala

dengan muka berubah merah. Sedangkan Kepala daerah itupun merasa tak enak hati terhadap

para perwiranya, maka ia lalu menjawabnya,

“Tentang hal itu, karena susiok-couw yang menjadi penghubung, tentu saja teecu akan

memberi pekerjaan yang layak bagi Gan-hiante sesuai dengan kepandaiannya.”

“Boleh diuji, boleh diuji!” kata Seng Le Hosiang sambil meraba jenggotnya yang putih.

“Jangan diterima demikian saja, sebelum kau menguji kepandaian. Akan tetapi hal ini boleh

dilakukan belakangan. Sekarang soal kedua. Pinceng tahu bahwa kau mempunyai seorang

puteri yang baik, dan karena pinceng sudah tahu jelas akan keadaan Gan Bu Gi ini, maka atas

persetujuan kami bertiga, pinceng dan sahabatku Bong Bi Sianjin ini bermaksud

menjodohkan Gan Bu Gi dengan puterimu! Tentu saja kalau puterimu itu belum

dipertunangkan dengan orang lain.”

 5

Bukan main terkejutnya hati Liok Ong Gun mendengar ini. Tiba-tiba wajahnya menjadi

merah padam akan tetapi ia tidak berani menyatakan marahnya. Siapakah orang muda ini

yang hendak dijodohkan dengan puterinya? Mengapa susiok-couwnya demikian lancang?

Diam-diam ia memandang tajam kepada Gan Bu Gi yang menundukkan kepalanya. Memang

pemuda ini cukup tampan dan sikapnya baik akan tetapi hal ini belum cukup pantas menjadi

menantunya, menjadi suami Tin Eng puteri tunggalnya.

“Maafkan teecu, susiok-couw. Tentang hal perjodohan puteri teecu, sungguhpun puteriku itu

belum dipertunangkan, akan tetapi agaknya hal ini tidak dapat diputuskan dengan tergesagesa

dan harus mendapat pertimbangan semasak-masaknya dari teecu sekeluarga. Bukan

teecu tidak percaya kepada susiok-couw yang tentu tidak akan memuji sembarangan saja,

akan tetapi biarlah hal perjodohan ini ditunda dulu, karena betapapun juga, puteri teecu itu

baru berusia lima belas tahun dan masih terlalu muda untuk meninggalkan orang tua.”

Seng Le Hosiang tertawa terbahak-bahak dan memandang kepada Bong Bi Sianjin. “Nah, kau

telah mendengar sendiri, toyu. Pinceng hanya menjadi orang perantara, segala keputusan

tergantung dari cucu-muridku.”

Sambil mengelus-elus jenggotnya yang juga sudah putih semua, tosu ini mengangguk ke arah

Liok Ong Gun dan berkata, “Terima kasih banyak atas segala perhatianmu, taijin. Muridku

adalah seorang anak muda yang bodoh dan masih hijau serta hanya memiliki sedikit

kepandaian yang tak berarti belaka. Oleh karena pinto ingin melihat muridku yang bodoh itu

mencari pengalaman dan ikut membantu pemerintah, mengangkat nama sendiri sebagai orang

yang gagah, maka harapanku yang terutama ialah agar supaya taijin sudi menolongnya dan

memberi pekerjaan yang layak. Sudah tentu saja ia perlu diuji terlebih dahulu dan pinto

mempersilahkan kepada taijin untuk menguji.”

“Memang harus diuji!” kata Seng Le Hosiang dengan gembira.

Liok Ong Gun merasa serba salah. Ia percaya bahwa pemuda itu tentu memiliki kepandaian

berarti sungguhpun nampaknya lemah, akan tetapi ia masih ragu-ragu untuk menguji yang

tentu saja seakan-akan merupakan kekurangpercayaan terhadap Bong Bi Sianjin, terutama

sekali terhadap susiok-couwnya. Dengan ragu-ragu ia lalu mengerling kepada penasehatnya

yang selalu dapat diharapkan pertolongannya di waktu ia terdesak oleh suatu keadaan.

Lauw Lui Tek dengan tenang lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya yang gemuk ke arah

para tamu,

“Maafkan kalau saya berlancang mulut karena sudah menjadi kewajiban saya untuk

memecahkan segala persoalan yang dihadapi oleh taijin. Mendengar segala uraian jiwi losuhu

tadi, saya dapat menduga bahwa kongcu ini tentu memiliki ilmu kepandaian silat dan

yang dimaksudkan dengan pekerjaan tentulah dalam bidang keperwiraan. Sebagaimana

lazimnya apabila kami menerima seorang perwira baru, ia harus diuji lebih dulu dan cara

pengujiannya itu biasanya diadakan sebuah pertandingan adu kepandaian antara perwira baru

itu dengan kepala-kepala pengawal untuk menentukan sampai di mana tingkat kepandaiannya.

Oleh karena itu, menurut pendapat saya, hendaknya diadakan ujian seperti itu pula kepada

kongcu ini dan para pengujinya ialah kelima ciangkun yang sekarang hadir di sini.”

Mendengar ini, diam-diam kelima orang perwira Sayap Garuda itu menjadi girang. Tadinya

mereka merasa mendongkol sekali karena dirinya dipandang rendah oleh tamu-tamu itu dan

sekarang mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. Hendak

mereka beri hajaran kepada pemuda yang datang hendak mendesak kedudukan mereka itu!

Mereka adalah panglima-panglima terkemuka di Kiang-sui yang memiliki ilmu kepandaian

silat tinggi, sedangkan pemuda itu kelihatan demikian malu-malu dan bodoh seperti pemuda

gunung. Apa susahnya mengalahkan pemuda macam itu dalam pertandingan pibu (silat)?

Sementara itu, Liok Ong Gun mengangguk-angguk dan berkata kepada Seng Le Hosiang,

“Susiok-couw, memang tepat ucapan Lauw-toako tadi dan demikianlah memang sudah

 6

menjadi kebiasaan di sini, juga kebiasaan di kota raja apabila kaisar hendak mengangkat

perwira baru.”

Bong Bi Sianjin bangun berdiri dan berkata, “Bagus, memang seharusnya demikian, taijin.

Harap jangan berlaku sungkan dan marilah kita menyaksikan ujian itu dilaksanakan sekarang

juga.”

Liok Ong Gun lalu mempersilahkan mereka menuju ke belakang gedung di mana terdapat

kebun kembang yang indah dan di tengah-tengah terdapat pekarangan luas yang memang

dipergunakan sebagai lian-bu-tia (tempat berlatih silat). Ketika mereka beramai-ramai tiba di

tempat itu, kebetulan sekali puteri Kepala daerah itu sedang berlatih silat pedang seorang diri.

Gadis itu berusia kurang lebih lima belas tahun, tubuhnya kecil padat, pinggangnya ramping.

Wajahnya cantik jelita dan manis sekali, diramaikan oleh sepasang mata yang lebar berseriseri

dan mulut yang manis berwarna merah delima. Rambutnya hitam dan tebal digulung ke

belakang dan dihiasi dengan bunga segar warna merah yang dipetiknya di kebun itu.

Segumpalan rambut menghias di depan telinganya, terurai sampai ke pipinya menambah

kecantikannya. Bajunya ringkas dengan lengan baju pendek sampai di bawah siku, baju itu

berwarna biru dengan pinggiran merah dan ikat pinggang warna merah pula. Celana berwarna

hijau menutupi kedua kakinya yang ringan gerakannya, sepatunya kecil berwarna hitam.

Biarpun pakaiannya itu sederhana saja, akan tetapi bahan pakaiannya terbuat dari sutera

mahal yang halus dan lemas.

Selain kembang hidup yang menghiasi rambutnya, gadis ini tidak mengenakan perhiasan lain

sebagaimana biasa dipakai oleh puteri-puteri bangsawan yang kaya. Memang Tin Eng tidak

suka memakai segala macam perhiasan emas permata yang mahal dan mewah. Namun

kesederhanaannya ini tidak mengurangi kecantikannya, bahkan membuat kejelitaannya makin

menonjol dan asli.

Tin Eng demikian asyiknya bermain silat pedang hingga ia tidak memperhatikan mereka yang

datang. Disangkanya bahwa mereka yang datang hanyalah ayahnya dan para perwira yang

sudah berada di situ dan ia tidak menghiraukannya.

Semua perwira di dalam gedung itu merasa kagum dan segan terhadap gadis itu karena

maklum bahwa ilmu kepandaian gadis itu amat tinggi, bahkan tidak berada di sebelah

kepandaian perwira yang manapun juga di kota Kiang-sui! Tadinya tak seorangpun

menyangka bahwa Tin Eng memiliki ilmu silat tinggi dan lihai dan hanya menyangka bahwa

gadis itu pernah belajar ilmu silat karena ayahnya pun seorang yang pandai ilmu silat, akan

tetapi semenjak terjadi sebuah peristiwa yang mengagumkan, barulah mereka tahu bahwa

gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Bahkan Liok Ong Gun sendiri tadinya tidak

pernah menyangka bahwa puterinya memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari

pada ilmu silatnya sendiri!

Hal itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Ketika itu, kota Kiang-sui kedatangan seorang

pencuri yang lihai sekali. Kepala daerah Liok telah mengerahkan para penjaga dan perwira

untuk menangkap pencuri itu, akan tetapi maling itu ternyata amat tangguhnya hingga tak

dapat ditangkap, bahkan ketika pada suatu malam dikepung, maling itu telah melukai

beberapa orang perwira! Dalam kesombongannya karena tidak menemukan tandingan, maling

itu akhirnya berani mendatangi gedung Liok Ong Gun untuk mencuri! Dan di tempat inilah ia

menemui tandingannya, yakni Tin Eng sendiri!

Ketika maling itu sedang mencari-cari di atas genteng, tiba-tiba ia diserang oleh Tin Eng dan

mereka bertempur hebat sekali. Ribut-ribut ini terdengar oleh Liok Ong Gun yang segera

mengerahkan para perwira dan menyusul ke atas di mana dengan bengong mereka

menyaksikan sebuah pertempuran hebat antara Tin Eng dan maling itu! Bukan main kagum

hati mereka ketika akhirnya Tin Eng berhasil merobohkan maling itu yang segera dibekuk dan

dihukum. Dan semenjak malam itulah maka Tin Eng terbuka rahasianya, dan semua orang,

 7

termasuk ayah sendiri, baru maklum bahwa dara jelita itu memiliki ilmu silat yang lebih

tinggi dari pada para perwira di kota Kiang-sui.

Pada saat Liok Ong Gun dan tamu-tamunya datang di kebun itu, Tin Eng sedang berlatih silat

pedang yang mempunyai gerakan-gerakan luar biasa cepatnya. Sinar pedangnya bergulunggulung

menyelimuti tubuhnya dan angin sabetan pedang menyambar-nyambar sampai jauh.

Para perwira memandang kagum, demikian pula Liok Ong Gun karena tidak mudah untuk

menyaksikan ilmu silat puterinya itu yang belum pernah mau memperlihatkan kepandaiannya

kepada siapapun juga.

Sementara itu, melihat kecantikan gadis yang hendak dijodohkan dengannya, pemuda murid

Bong Bi Sianjin tercengang dan pada saat itu yang kelihatan olehnya hanya kecantikan Tin

Eng, sama sekali tidak memperdulikan ilmu pedang yang dimainkan oleh dara itu.

Akan tetapi, Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin saling pandang dengan mata mengandung

keheranan besar. Selama mereka hidup, baru satu kali saja mereka pernah menyaksikan ilmu

pedang seperti ini, yaitu ketika mereka masih muda. Inilah ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat

yang jarang terlihat di atas dunia ini. Pencipta ilmu pedang ini telah meninggal dunia puluhan

tahun yang lalu, dan orang itu setahu mereka tidak mempunyai murid, bagaimana ilmu

pedangnya kini terjatuh kepada puteri Liok Ong Gun?

Dengan penuh perhatian, kedua kakek itu memandang ilmu pedang yang dimainkan Tin Eng.

Mereka maklum bahwa ilmu pedang itu benar-benar hebat sekali, akan tetapi sayang dara itu

masih belum sempurna kepandaiannya dan terdapat kesalahan di sana-sini, sungguhpun

mereka berdua juga tidak paham ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (ilmu pedang garuda sakti),

namun sebagai ahli-ahli ilmu silat mereka dapat melihat kesalahan-kesalahan dan cacat dalam

permainan gadis itu.

Sementara itu, Bong Bi Sianjin tak dapat menahan lagi kegembiraannya dan berseru, “Bagus

sekali Kiam-hoat ini!”

Mendengar seruan ini, barulah Tin Eng sadar bahwa di antara rombongan terdapat orang

asing, maka ia segera melompat mundur dan menahan gerakan pedangnya. Dengan mata

mengandung keheranan ia memandang ke arah dua orang kakek dan pemuda yang tak dikenal

itu, kemudian ia mengundurkan diri dengan malu-malu.

Liok Ong Gun menghampiri puterinya dan sambil tertawa berkata, “Tin Eng, kau berhadapan

dengan susiok-couw, beliau inilah yang bernama Seng Le Hosiang, susiok dari mendiang

suhuku.”

Tin Eng terkejut sekali dan segera menjura dengan hormatnya.

“Bagus, bagus! Kau patut menjadi puteri Liok Ong Gun. Cantik jelita dan kepandaian hebat

pula! Entah siapa yang memberi pelajaran ilmu pedang tadi kepadamu.”

Tin Eng tidak menjawab, hanya memberi hormat kepada Bong Bi Sianjin dan Gan Bu Gi

ketika ayahnya memperkenalkan mereka kepadanya. Mendengar bahwa pemuda yang tampan

dan nampak malu-malu itu hendak masuk menjadi perwira dan kini akan diuji kepandaiannya,

Tin Eng merasa gembira dan segera berdiri di tempat yang agak jauh dari situ untuk

menonton. Ayahnya tak dapat melarang puterinya yang manja dan keras hati ini, maka ia

mendiamkan saja.

Di dekat tempat gadis itu berdiri, terdapat seorang pelayan muda yang sedang mencabuti

rumput pengganggu pohon kembang. Dan melihat pemuda ini, Tin Eng segera berkata,

“Gwat Kong, tolong beritahu kepada ibu bahwa aku berada di sini untuk menyaksikan ujian

perwira baru!”

Pemuda itu mengangguk dan menjawab, “Baik, siocia.” Dan sebelum ia pergi jauh tiba-tiba

Liok Ong Gun memanggilnya. Ia segera berjalan kembali dan pembesar itu berkata,

“Kalau kau masuk ke dalam, sekalian ambil dua buah kursi untuk jiwi locianpwe ini!”

“Baik, taijin,” kata pemuda pelayan itu setelah memandang sekilas ke arah Seng Le Hosiang

dan Bong Bi Sianjin.

 8

“Siapakah pemuda itu?” tanya Seng Le Hosiang kepada Liok Ong Gun. Ia merasa tertarik

karena melihat betapa sepasang mata pelayan muda itu mengeluarkan cahaya yang tajam.

“Ah, dia adalah seorang pemuda she Bun yang telah tiga tahun bekerja di sini sebagai

pelayan. Orangnya jujur, pendiam, dan pekerjaannya baik,” jawab Liok Ong Gun sambil lalu.

Sementara itu, Liok Ong Gun lalu memberi perintah kepada seorang perwiranya untuk bersiap

menguji pemuda yang hendak menjadi perwira itu. Perwira ini adalah seorang perwira yang

sudah berusia empat puluh tahun lebih dan bernama Thio Sin. Dia memang dianggap sebagai

pimpinan para panglima yang berjumlah lima orang dan kepandaiannya dianggap paling

“Thio-ciangkun, harap kau segera melakukan upacara ujian ini sebagaimana mestinya dan

boleh kau pilih siapakah yang diharuskan maju untuk berpibu dengan Gan-kongcu,” kata Liok

Ong Gun kepadanya.

“Biarlah siauwte maju dan mengujinya, Thio-twako,” kata seorang perwira yang bermuka

hitam dan bertubuh tinggi besar. Perwira ini adalah Lie Bong yang beradat kasar. Ia tadi

merasa penasaran dan mendongkol sekali, maka kini ia hendak menggunakan kesempatan

untuk membalas penghinaan tadi.

Thio Sin mengangguk sambil tersenyum. Ia percaya penuh kepada kegagahan Lie Bong yang

memiliki tenaga besar dan ilmu silat cukup tinggi.

“Majulah, Lie-lote, akan tetapi hati-hatilah,” kata Thio Sin.

Lie Bong berseru girang dan segera bersiap sedia. Ia membereskan topinya yang dihias bulu

garuda panjang, lalu memasukkan kuncir rambutnya ke dalam punggung bajunya dan

menyingsing lengan bajunya, kemudian ia melompat ke tengah lapangan. Di tengah lapangan

itu terdapat sebongkah batu besar yang biasanya digunakan untuk melatih tenaga. Melihat

batu besar itu dengan congkaknya Lie Bong lalu menempelkan kakinya kanannya kepada batu

itu dan sekali ia menggerakkan kaki, batu itu terlempar jauh ke bawah pohon.

Setelah melakukan demonstrasi untuk memperlihatkan kehebatan tenaganya itu, Lie Bong

lalu menjura ke arah pemuda gunung yang masih berdiri sambil tersenyum malu-malu di

dekat suhunya sambil berkata,

“Gan-kongcu, aku mendapat kehormatan untuk melayani bermain-main denganmu. Silahkan

maju!”

Gan Bu Gi berpaling kepada suhunya seakan-akan minta perkenan dan setelah Bong Bi

Sianjin mengangguk, ia lalu berjalan dengan tenang ke dalam lapangan itu, menghadapi Lie

Pada saat itu, pelayan muda yang diperintah mengambil kursi telah datang. Biarpun hanya

disuruh mengambil dua buah kursi, pemuda itu ternyata membawa empat buah kursi. Dua

buah diletakkan di belakang kedua pendeta tua itu, sebuah diberikan kepada Liok Ong Gun

dan yang sebuah lagi lalu ia bawa menuju tempat Tin Eng berdiri dan ia memberikan kursi

kepada gadis itu!

Tak seorangpun memperhatikan pekerjaan ini dan Liok Ong Gun juga sudah lupa bahwa ia

tadi hanya memerintahkan mengambil dua buah kursi saja untuk Seng Le Hosiang dan Bong

Bi Sianjin. Mereka duduk dan memperhatikan ujian yang hendak dilangsungkan, sedangkan

pemuda pelayan yang bernama Bun Gwat Kong itu lalu melanjutkan pekerjaan mencabuti

rumput sambil kadang-kadang menengok ke arah tempat duduk Tin Eng.

“Gan-kongcu,” kata Lie Bong dengan suara keras. “Menurut kebiasaan, pibu ini dilakukan

dua kali. Pertama kali dengan bertangan kosong, dan kedua kalinya menggunakan senjata

untuk menguji kepandaian main senjata dari calon perwira. Sekarang marilah kita main-main

sebentar dengan bertangan kosong. Harap kau suka menanggalkan jubahmu yang panjang itu

agar supaya gerakanmu lebih leluasa.”

02. Pelayan Muda Kepala Daerah

 9

Memang pemuda itu memakai jubah pendeta yang panjang dan berlengan baju lebar sekali

maka tentu saja dalam pakaian seperti itu, gerakannya akan kurang leluasa. Akan tetapi,

sambil tersenyum Gan Bu Gi menjawab,

“Ciangkun, ujian ini hanya main-main belaka, bukan? Biarlah siauwte tetap memakai jubah

ini, hanya siauwte harap ciangkun suka menaruh kasihan kepadaku.” Biarpun Gan Bu Gi

berkata demikian, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum hingga bagi Lie Bong seakan-akan

pemuda itu mengejeknya dan memandang rendah. Menghadapinya dengan pakaian seperti itu

saja berarti sudah memandangnya rendah, maka ia menjadi marah sekali.

“Kalau begitu, jangan kau menggunakan alasan bajumu itu kalau nanti kau roboh!” katanya

sambil memasang kuda-kuda.

“Seranglah, ciangkun,” kata Gan Bu Gi yang masih tenang-tenang saja dan berdiri biasa

seakan-akan tidak menghadapi lawan yang hendak menyerangnya. Tin Eng merasa geli dan

juga heran melihat sikap pemuda itu dan ia menduga bahwa dalam satu-dua jurus saja Lie

Bong tentu akan menjatuhkan.

“Awas seranganku!” Lie Bong berseru keras dan maju menyerang dengan gerakan Go-yangpok-

sit atau kambing lapar tubruk makanan. Pukulannya keras sekali dan gerakannya cepat

hingga serangan pertama ini saja agaknya sudah cukup merobohkan lawan yang kurang gesit.

Akan tetapi, dengan masih tenang pemuda itu mengelak ke samping hingga serangan lawan

mengenai tempat kosong.

Lie Bong melanjutkan serangannya dengan pukulan Siok-lui-kik-ting atau Petir sambar

kepala. Serangan kedua ini lebih hebat dan pukulan yang ditujukan ke arah kepala Gan Bu Gi

itu. Kalau mengenai sasaran mungkin akan menghancurkan kepala pemuda itu. Sekali lagi

pemuda itu mengelak dengan cepat luar biasa sehingga Lie Bong mulai merasa panas dan

Ia tiada hentinya menyerang bertubi-tubi, kini tidak sungkan-sungkan lagi dan mengeluarkan

serangan-serangan yang paling berbahaya. Namun sungguh mengherankan, jangankan

mengenai tubuh pemuda itu, ujung baju yang panjang dari pemuda itu saja ia tak mampu

menyentuhnya! Pemuda itu berkelebat ke kanan-kiri dengan gerakan yang luar biasa

cepatnya, gesitnya melebihi burung walet dan setelah menyerang belasan jurus, belum juga

Lie Bong berhasil memukul lawannya.

Kini barulah para perwira merasa terkejut, sedangkan Tin Eng sendiri merasa kagum melihat

kelincahan pemuda itu yang ternyata memiliki ilmu gin-kang atau keringan tubuh yang luar

biasa sekali. Makin cepat Lie Bong menyerang, makin cepat pula pemuda itu bergerak

sehingga sebentar saja tubuhnya seakan-akan menjadi tiga atau empat karena cepatnya

gerakannya. Lie Bong mulai merasa pening karena ia tidak melihat dengan jelas ke jurusan

mana lawannya mengelak dan tahu-tahu lawannya telah berada di kanan, di kiri, bahkan di

Tak terasa lagi Liok Ong Gun bertepuk tangan saking gembiranya.

“Gan-kongcu, balaslah, jangan sungkan!” teriaknya, lupa bahwa pertandingan itu sebetulnya

hanya merupakan ujian bagi calon perwira itu.

Mendengar ini, Gan Bu Gi berkata kepada Lie Bong,

“Ciangkun, maafkan siauwte!” Baru saja kata-kata ini diucapkan, tahu-tahu Lie Bong

memekik dan tubuhnya terlempar sampai dua tombak jauhnya, jatuh berdebuk dengan pantat

di depan ke atas tanah sehingga debu mengepul ke atas dan ia merasa pantatnya sakit sekali!

Ternyata bahwa ketika ia sedang memukul, secepat kilat pemuda itu mengelak dan melompat

ke samping dan ketika ia melanjutkan serangannya dengan sebuah tendangan, sambil

mengelak pemuda itu lalu mendorong tubuh belakangnya dari samping dengan tenaga yang

luar biasa besarnya sehingga tidak ampun lagi ia terbawa oleh tenaga tendangan dan dorongan

itu sehingga terlempar jauh!

 10

Terdengar suara terbahak-bahak dari Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin, dibarengi tepuk

tangan Liok Ong Gun yang merasa kagum sekali.

Dengan mendongkol, malu, dan pemasaran Lie Bong merayap bangun dan hendak melawan

dengan menggunakan senjata, akan tetapi ternyata bahwa tubuh belakangnya terasa sakit

sekali sehingga ketika ia berdiri, ia merasa bahwa tak mungkin baginya untuk maju

bertanding lagi. Ia hanya berdiri dan mengurut-urut pantatnya sambil meringis kesakitan!”

Sementara itu, empat orang perwira lainnya merasa penasaran sekali melihat betapa Lie Bong

dipermainkan demikian mudahnya oleh pemuda itu. Thio Sin sebagai kepala perwira merasa

penasaran dan melompat maju sambil menjura kepada Liok Ong Gun dan berkata,

“Taijin, oleh karena saudara Lie Bong sudah kalah dan tidak mungkin untuk melakukan ujian

senjata, biarlah siauwte sendiri yang maju untuk melakukan ujian ini.”

Liok Ong Gun mengangguk dengan girang dan Thio Sin mencabut sepasang siang-kiam

(sepasang pedang) yang tajam dan tipis. Ia terkenal sebagai ahli main siang-kiam yang jarang

mendapat tandingan maka ia yakin bahwa kini ia akan dapat mengalahkan pemuda yang

hendak mendesak kedudukannya itu. Hatinya merasa iri sekali melihat betapa Liok Ong Gun

agaknya tertarik dan kagum sekali kepada Gan Bu Gi.

Setelah melompat dengan ringan dan gesitnya kehadapan pemuda itu, Thio Sin lalu berkata

sambil menyilangkan sepasang pedangnya di dada.

“Gan-kongcu, harap kau suka mengeluarkan senjatamu agar kita dapat segera menguji

kepandaian masing-masing. “ Dengan hati–hati Thio Sin menyebut “menguji kepandaian

masing-masing” dan tidak menguji kepandaian pemuda itu, oleh karena ia menduga bahwa

pemuda itu tentu berkepandaian tinggi dan belum tentu ia dapat mengalahkannya.

Gan Bu Gi balas menjura, “Ciangkun, biarlah kau saja yang mempergunakan senjata, siauwte

akan menghadapimu dengan bertangan kosong saja. Bukankah kita hanya hendak main-main

saja?”

Thio Sin marah sekali dalam hatinya karena jawaban ini. Biarpun tidak dikeluarkan untuk

menghinanya akan tetapi maksudnya sama dengan memandang rendah. Ia adalah perwira

kelas satu di kota Kiangsui, bahkan apabila ia menjadi perwira di kotaraja, sedikitnya akan

menduduki kelas tiga. Ilmu silatnya tinggi dan sudah dikenal oleh semua orang. Apakah

sekarang ia harus menghadapi seorang pemuda gunung yang bertangan kosong ini dengan

senjatanya? Sungguh memalukan sekali. Jangankan sampai kalah, biarpun ia mendapat

kemenangan, namanya akan jatuh dan ia akan ditertawakan orang karena sebagai seorang

perwira tinggi ia melawan dan menjatuhkan seorang pemuda tak ternama yang bertangan

kosong dengan menggunakan siang-kiam! Maka ia lalu berkata,

“Gan-kongcu, aku percaya bahwa kau memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya. Akan

tetapi kalau kau tidak menghadapiku dengan senjata, terpaksa ujian ini tidak dapat

dilanjutkan.”

Mendengar ucapan ini, Bong Bi Sianjin lalu bangun dari tempat duduknya dan berkata

dengan suara keras,

“Ciangkun, kalau muridku sudah menggunakan senjata, maka pertandingan ini tidak akan

menarik lagi. Akan tetapi oleh karena memang sudah menjadi peraturan, biarlah muridku

mempergunakan senjata dan kau bersama tiga orang kawanmu itu maju berbareng hingga

pertempuran ini akan menarik dan sedap ditonton! Bu Gi, kau pergunakanlah senjatamu, akan

tetapi jangan yang tajam, cukup dengan jubahmu itu saja,” perintahnya kepada muridnya.

Gan Bu Gi mengangguk dan segera menanggalkan jubahnya yang panjang itu. Ternyata

bahwa di sebelah dalam ia memakai pakaian yang ringkas dan kini ia nampak gagah sekali. Ia

menggulung jubahnya itu dan memegang di tangan kanan, lalu berkata kepada Thio Sin,

“Ciangkun, kau telah mendengar usul suhu tadi. Harap kau dan ketiga orang kawanmu itu

maju berbareng dan marilah kita main-main sebentar!”

 11

Saking marah dan mendongkolnya melihat kesombongan Bong Bi Sianjin yang mengusul

agar muridnya itu dikeroyok empat, Thio Sin tak dapat mengeluarkan kata-kata dan hanya

memandang dengan mata terbelalak marah. Akan tetapi ketiga orang kawannya tak dapat

menahan kemarahan hatinya lagi. Mereka ini adalah tiga saudara yang disebut Kiangsui Sameng

atau Tiga Pendekar Kiangsui karena sebelum mereka menjadi perwira-perwira pengawal

Liok Ong Gun, memang mereka ini merupakan tiga saudara cabang atas di kota itu.

Kepandaian mereka tidak rendah, hanya kalah sedikit saja dari Thio Sin, maka kini

mendengar kesombongan itu, mereka menjadi marah sekali dan berbareng mereka melompat

ke tengah lapangan sambil mencabut pedang masing-masing!

“Baik, kami akan maju bareng!” kata Thio Sin. “Akan tetapi, ini bukan kehendak kami.”

Kemudian ia menghadapi Liok Ong Gun untuk minta perkenan pembesar itu.

Liok Ong Gun juga merasa penasaran ketika melihat betapa para perwiranya dipandang

rendah. Ia ingin sekali melihat apakah benar-benar pemuda itu dengan sepotong jubah saja

sanggup menghadapi keempat orang perwira yang memegang pedang, maka ia lalu

mengangguk dan berkata,

“Karena mereka yang meminta, biarlah kalian mulai saja.”

Tin Eng merasa semakin kagum dan heran. Ia kagum melihat kelihaian pemuda itu dan heran

melihat keberaniannya. Ia maklum bahwa empat orang perwira ayahnya itu memiliki

kepandaian yang tidak rendah dan apabila mereka maju bersama, maka mereka merupakan

merupakan lawan yang tangguh. Akan tetapi diam-diam ia merasa gembira oleh karena ia

akan menyaksikan pertandingan yang benar-benar hebat.

Sementara itu, pelayan muda yang tadi masih mencabuti rumput dan hanya menonton

pertandingan yang terjadi antara Gan Bu Gi dengan Lie Bong, kini juga tertarik sekali hingga

lupa untuk melakukan pekerjaannya. Dengan tangan kiri memegang sekepal rumput yang

sudah dicabut, ia berjongkok tanpa bergerak dan nongkrong di situ sambil memandang

dengan hati berdebar.

Gan Bu Gi dengan tenangnya berdiri menghadapi empat orang perwira itu dengan jubah

tergulung dalam tangannya. Sikapnya tenang, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya

sehingga Liok Ong Gun makin lama makin kagum saja melihatnya. Pemuda yang baru

berusia paling banyak dua puluh tahun itu benar-benar mengagumkan, baik kepandaian

maupun keberaniannya.

Melihat sikap pemuda itu, Thio Sin lalu berkata sambil menahan marahnya, “Kongcu, kau

sendiri yang memilih senjatamu, jangan kau menyesal kalau nanti roboh di tangan kami.”

“Tidak akan ada penyesalan dalam hal ini dan silahkan mulai, cuwi ciangkun!” jawab Gan Bu

Gi yang memperlebar senyumnya. Pemuda ini merasa gembira sekali bukan karena

kemenangannya, akan tetapi oleh karena ia maklum bahwa Tin Eng gadis bidadari itu sedang

memandangnya dengan penuh perhatian dan ia mendapat kesempatan untuk memamerkan

kepandaiannya kepada dara jelita yang telah membetot hatinya.

Thio Sin dan kawan-kawannya lalu mulai menyerang dengan senjata mereka. Gerakan

mereka itu gesit dan cepat sekali, setiap serangan yang mereka lakukan amat berbahaya. Akan

tetapi pemuda itu dengan tenangnya lalu menggerakkan jubah di tangannya dan sekali gus

saja semua senjata lawan dapat ditangkis dengan hebat. Empat orang perwira itu merasa

terkejur sekali ketika merasa betapa tenaga yang keluar dari tangkisan itu hebat dan kuat

sekali, maka mereka lalu maju lagi mendesak dari segala jurusan dengan berpencar. Sebentar

saja pemuda itu terkepung dari empat penjuru dan datangnya serangan lawan bagai hujan.

Akan tetapi ia segera berseru keras dan Tiba-tiba jubah di tangannya yang kini menjadi

sebatang senjata yang keras dan kuat itu, diputar demikian cepatnya sehingga tubuhnya

tertutup sama sekali oleh gulungan sinat senjata istimewa ini.

Tak terasa lagi Tin Eng berseru dengan suara nyaring, “Bagus sekali!”

 12

Sementara itu, pelayan muda Bun Gwat Kong yang juga merasa kagum, tak terasa pula

meremas-remas rumput digenggamannya sehingga menjadi hancur. Kini ia tidak berjongkok

lagi akan tetapi berdiri dan memandang tanpa berkedip. Ia kagum melihat kehebatan

permainan silat Gan Bu Gi dan diam-diam merasa iri hati melihat betapa senjata istimewa

pemuda itu dapat melindungi dirinya sedemikian rupa terhadap kurungan lima batang pedang

dari keempat perwira itu. Memang Gan Bu Gi hendak mendemonstrasikan kepandaiannya dan

ia hanya memperlihatkan kekuatan menahan semua serangan itu tanpa membalas sedikit pun.

Tiga puluh jurus lebih telah berjalan dan senjata empat orang perwira itu ternyata sama sekali

tidak dapat mendesak padanya. Kini barulah mereka maklum dan mengakui keunggulan

pemuda itu dan merasa kuatir karena tadinya mereka sama sekali tak pernah menyangka

bahwa pemuda gunung itu demikian lihai.

“Bu Gi, rampas senjata mereka!” Tiba-tiba Bong Bi Sianjin berseru dengan gembira.

Mendengar perintah suhunya ini, Gan Bu Gi lalu berseru keras dan gulungan baju panjang di

tangannya lalu bergerak secara luar biasa sekali. Kini baju itu bergulung-gulung dan sebentar

saja ia berhasil melibat sepasang siang-kiam dari Thio Sin dan sekali membetot, sepasang

pedang itu terlepas dari pegangan dan jatuh di atas lantai! Tiga pendekar Kiangsui terkejut

melihat ini dan sebelum mereka sempat mengelak, pedang mereka telah terlibat pula dan

terbetot sehingga terlepas dari pegangan pula!

Pada saat itu juga, Lie Bong yang berhati curang melihat kekalahan kawan-kawannya, dari

belakang lalu mengirim tusukan dengan pedangnya tanpa memberi peringatan lebih dulu.

Tin Eng yang bermata tajam dapat melihat gerakan ini dan ia tak dapat menahan jeritannya,

sedangkan pelayan muda yang berdiri di belakangnya lalu tanpa disadarinya menggerakkan

tangan yang mengepal hancuran rumput tadi. Gerakan ini dilakukannya karena ia pun melihat

hal itu dan terkejut. Maksudnya hendak mencegah kecurangan itu, akan tetapi karena ia tidak

berani maju, maka tangannya secara otomatis lalu melempar bubukan rumput itu ke arah

pedang yang ditusukkan!

Gan Bu Gi juga merasa datangnya angin tusukan senjata, maka secepat kilat ia memutar tubuh

dan menggerakkan jubahnya untuk menangkis! Semua kejadian ini terjadi cepat sekali dan

semua mata ditujukan ke arah Lie Bong dan Gan Bu Gi hingga tak seorangpun melihat

datangnya hancuran rumput itu. Dengan tenaga yang luar biasa, hancuran rumput itu

memukul pedang Lie Bong dan sambil berteriak keheranan, perwira ini merasa betapa

pedangnya disambar oleh sebuah tenaga raksasa sehingga pedangnya terlepas dari pegangan!

Sementara itu, jubah di tangan Bu Gi sudah menyambar ke arah tubuhnya. Akan tetapi,

‘senjata rahasia’ yang membentur dan melemparkan pedang Lie Bong tadi, terpental dan

dengan tenaga yang masih hebat kini meluncur ke arah jubah Gan Bu Gi. “Brettt!” Jubah itu

tertembus oleh hancuran rumput dan menjadi bolong!

Gan Bu Gi terkejut sekali dan cepat menarik kembali jubahnya yang ketika diperiksa ternyata

telah menjadi bolong! Ia mengerling ke arah Tin Eng yang memandangnya dengan dada lega

karena pemuda itu dengan secara lihai sekali telah menyelamatkan diri. Tak seorangpun tahu

bahwa ada senjata rahasia yang aneh telah menolong pemuda itu. Orang satu-satunya yang

tahu hanyalah Gan Bu Gi sendiri dan pemuda ini pun menyangka bahwa nona jelita itulah

yang telah menolongnya, maka diam-diam ia menjadi girang sekali dan juga terkejut karena

tak disangkanya bahwa nona itu sedemikian lihai sehingga tenaga sambitannya berhasil

membuat jubahnya menjadi berlubang!

Dengan senyum manis Gan Bu Gi mengangguk ke arah Tin Eng dan berkata perlahan-lahan,

“Terima kasih!”

Hal ini membuat Lie Bong merasa heran karena tadipun ia tak mengerti mengapa tiba-tiba

pedangnya terlepas sedangkan jubah di tangan lawannya itu belum menyentuh sendjatanya.

Juga Tin Eng merasa terheran karena ia tidak mengerti mengapa pemuda itu berterima kasih

kepadanya. Yang paling merasa heran adalah si pelayan muda itu sendiri. Tanpa disengaja ia

 13

menyambit ke arah pedang Lie Bong dan melihat betapa benda lunak yang disambitkannya itu

dapat melemparkan pedang perwira itu, bahkan menembus jubah di tangan Gan Bu Gi, ia

merasa terheran-heran dan menjadi bengong! Kemudian ia lalu pergi dari situ, masuk ke

dalam kandang kuda di mana ia duduk melamun sambil mengelus-elus kuda yang menjadi

sahabat baiknya.

Sementara itu, Thio Sin dan kawan-kawannya lalu menjura kepada Gan Bu Gi dan dengan

jujur berkata, “Gan taihiap benar-benar hebat! Kami berlima mengaku bahwa kau memiliki

ilmu silat yang jauh lebih tinggi dari pada kami. Sudah sepatutnya kalau kau diangkat menjadi

Panglima Tertinggi di Kiangsui!”

Memang Thio Sin seorang yang cerdik. Tadinya ia merasa penasaran karena pemuda ini

dianggap sebagai pendesak kedudukannya. Akan tetapi setelah menyaksikan betapa lihainya

pemuda ini, ia merasa lebih baik menjadikannya sebagai sahabat dari pada sebagai musuh,

maka ia lalu memuji-mujinya untuk mengambil hati.

Liok Ong Gun merasa girang bukan main. Ia menghampiri pemuda itu dan melepaskan ikat

pinggang berikut pedangnya, diberikan kepada Gan Bu Gi sambil berkata, “Gan-hiante, mulai

sekarang kau kuangkat menjadi kepala perwira di daerah Kiangsui ini dan terimalah pedangku

ini sebagai tanda pangkatmu!”

Gan Bu Gi lalu menjatuhkan diri berlutut menghaturkan terima kasih.

Sementara itu, Bong Bi Sianjin dan Seng Le Hosiang juga menghampiri sambil tertawa

tergelak-gelak.

“Liok Ong Gun,” kata Seng Le Hosiang. “Tugasku telah selesai dan pinceng merasa girang

sekali bahwa kau dapat menerima Gan Bu Gi. Sekarang aku hendak kembali karena masih

ada urusan lain yang harus pinceng selesaikan.”

“Pinto juga mau pergi, taijin. Tentang perjodohan itu, biarlah lain kali kita bicarakan! Bu Gi,

berhati-hatilah dalam pekerjaanmu!”

Setelah berkata demikian, dua orang kakek pertapa itu berkelebat dan bagaikan dua ekor

burung saja, tahu-tahu tubuh mereka telah berada di atas dinding yang mengelilingi gedung

itu! Sekali lagi mereka melambaikan tangan kemudian berkelebat lenyap dari situ.

Tin Eng memandang semua itu dengan kagum dan ketika ia melihat betapa Gan Bu Gi sekali

lagi memandangnya dengan mata mengandung penuh perasaan, ia menjadi malu. Wajahnya

menjadi merah dan cepat-cepat ia berlari masuk ke dalam gedung.

****

Bun Gwat Kong yang berdiri termenung di kandang kuda sambil mengelus-elus leher kuda itu

masih saja terheran-heran. Ia lalu membungkuk dan mengambil sekepal makanan kuda yang

sudah hancur, lalu ia sambitkan makanan kuda itu ke arah tiang dengan sekuat tenaga.

Dengan mudah saja benda itu melesat ke dalam tiang kayu yang keras! Bukan main herannya

sehingga ia bergidik sendiri karena ngerinya. Bagaimana ia bisa mempunyai kelihaian seperti

itu?

Memang, di luar tahunya, pemuda ini memiliki kepandaian dan tenaga lweekang yang luar

biasa sekali. Hal ini memang aneh sekali, akan tetapi baiklah kita berhenti sebentar untuk

mengikuti pengalaman pemuda ini semenjak ia masih kecil sehingga ia menjadi pelayan di

rumah gedung keluarga Liok.

Bun Gwat Kong ini sebenarnya adalah putera tunggal seorang tihu di kota Lam-hoat sebelah

selatan. Ayahnya adalah seorang tihu yang amat adil dan bijaksana, serta jujur menjalankan

tugasnya. Ketika Gwat Kong masih kecil, ayahnya, yakni Bun-tihu, memeriksa perkara

seorang hartawan yang diadukan oleh orang-orang kampung karena memeras mereka dan

merampas tanah hak milik rakyat tani. Sebagai seorang tihu yang adil, Bun-tihu menjatuhkan

keputusan yang adil, mendenda hartawan itu dan merampas tanah itu untuk dikembalikan

kepada yang berhak, orang-orang kampung yang miskin.

 14

Hal itu tentu saja membuat hartawan she Tan itu menjadi sakit hati dan dengan pengaruh

uangnya, Tan-wangwe (hartawan she Tan) itu lalu memfitnahnya kepada pembesar yang lebih

tinggi pangkatnya dan dengan curang sekali ia menyuruh seorang penjahat untuk mencuri

harta dan cap kebesaran pembesar itu lalu disembunyikan ke dalam kamar Bun-tihu.

Kemudian Tan-wangwe mendakwa tihu itu sebagai seorang kepala pencuri yang diam-diam

mengepalai serombongan pencuri untuk mengumpulkan harta kekayaan. Rumah Bun-tihu

diperiksa dan benar saja, harta dan cap yang tercuri itu telah diketemukan di dalam kamarnya,

sedangkan maling yang melakukan perbuatan itu pun lalu menyerahkan diri dan mengaku

bahwa ia adalah anak buah Bun-tihu yang menjadi kepala gerombolan maling. Tentu saja

semua ini adalah tipu muslihat Tan-wangwe yang sudah memberi suapan besar kepada

pembesar itu sehingga Bun-tihu akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman. Diam-diam maling

yang telah membantu itu dibebaskan, bahkan banyak mendapat hadiah dari Tan-wangwe.

Peristiwa ini merupakan malapetaka besar bagi keluarga Bun. Bukan hanya karena hukuman

itu, akan tetapi yang lebih menyedihkan hati Bun-tihu ialah kehancuran namanya. Nama yang

tadinya putih bersih dan yang dijaganya dengan baik itu tiba-tiba saja menjadi ternoda kotor

dan hina. Ia tak kuat menahan kesedihannya dan akhirnya membunuh diri di dalam tahanan!

Nyonya Bun telah menjadi janda yang miskin karena setelah Bun-tihu ditangkap, harta

bendanya dirampas semua dengan alasan bahwa harta benda itu datang dari hasil rampokan

dan curian. Dengan kejamnya pembesar-pembesar atasan mengusir Nyonya Bun serta putera

tunggalnya dari rumah itu. Nyonya ini lalu meninggalkan Lam-hoat dan dengan hati hancur,

nyonya bangsawan yang tidak biasa hidup melarat ini merantau ke utara.

Ketika malapetaka itu menimpa keluarganya Bun Gwat Kong baru berusia lima tahun dan

anak kecil yang belum tahu apa-apa ini hanya dapat menangis di sepanjang perjalanan karena

sebagai putera bangsawan ia pun tidak biasa melakukan perjalanan jauh dan sengsara seperti

itu! Akhirnya ibu dan anak ini setelah mengalami kesengsaraan hebat, tiba di sebuah kota di

sebelah utara Lam-hoat. Kota ini adalah kota Ki-hong dan di sinilah nyonya Bun memilih

tempat tinggal. Mereka mondok di tempat seorang petani miskin dan nyonya Bun lalu

mempergunakan kepandaiannya untuk membuat kain sulaman indah dan menyuruh puteranya

menjual hasil kerajinan tangan itu ke rumah orang-orang hartawan. Karena hasil kerjanya

memang indah dan bermutu tinggi, maka barang-barang itu laku baik dan mendatangkan

penghasilan yang cukup untuk biaya sehari-hari.

Kalau ia mau, nyonya Bun tentu saja dapat pergi ke rumah orang tua atau keluarga lainnya

yang terdiri dari orang-orang hartawan, akan tetapi nyonya ini mempunyai keangkuhan yang

tinggi dan ia tidak mau menumpangkan diri membikin repot orang lain. Selain ini, ia pun

merasa malu karena tahu bahwa nama keluarganya telah menjadi cemar karena peristiwa itu.

Hatinya berduka dan sakit sekali kalau teringat betapa suaminya telah meninggal dunia dalam

keadaan yang amat menggenaskan. Kalau dia tidak mengingat puteranya, Gwat Kong, tentu

nyonya ini telah membunuh diri pula karena sedih dan malu.

Kini ia hidup hanya untuk putera tunggalnya. Dengan rajin ia mendidik puteranya itu dalam

hal kepandaian membaca dan menulis. Gwat Kong belajar dengan tekun dan rajin sehingga ia

dapat memiliki kepandaian itu dengan baik karena otaknya memang tajam. Selama lima tahun

sehingga usianya menjadi sepuluh, Gwat Kong merupakan seorang anak yang rajin bekerja

membantu ibunya dan rajin belajar pula hingga kesedihan hati ibunya banyak terhibur

Akan tetapi, sudah menjadi lazimnya bagi seorang anak laki-laki untuk bermain-main dan

bergaul dengan sesama kawannya. Di waktu senggang, Gwat Kong keluar dari rumah dan

bermain-main dengan banyak kawan di kota itu dan memang sesungguhnya bahwa pergaulan

itu mempengaruhi hidup dan tabiat seseorang. Setelah banyak bergaul dengan pemudapemuda

yang nakal maka mulai berubahlah sifat Gwat Kong yang tadinya pendiam dan

 15

penurut. Ia mulai malas belajar, bahkan kadang-kadang pada saat ibunya menyuruh dia

mengantarkan hasil sulaman, anak itu tidak ada di rumah, entah pergi bermain-main di mana.

Ibunya mulai berkuatir, apalagi setelah makin lama Gwat Kong makin menjadi malas, bahkan

kini berani pula pergi membawa uang yang dimintanya dari nyonya itu. Nyonya Bun mulai

menegur anaknya, akan tetapi tidak ada hasilnya. Diam-diam Gwat Kong telah kena pengaruh

pergaulan yang kurang baik.

Kawan-kawannya yang suka berjudi itu menyeretnya sehingga anak remaja yang baru berusia

sepuluh tahun itu kini gemar berjudi dan bertaruh mengadu jangkrik. Bahkan, yang lebih

hebat lagi Gwat Kong mulai belajar minum arak dengan kawan-kawannya. Dan yang aneh,

anak ini ternyata kuat sekali minum arak dan dalam beberapa bulan saja, tidak ada seorang

pun anak di kota itu yang berani bertanding minum arak dengan Gwat Kong. Oleh karena itu,

maka tak lama kemudian Gwat Kong disebut oleh kawan-kawannya ‘Ciu-siauwkoai’ atau

setan arak kecil!

Baiknya bukan hanya keburukan yang ia dapat dari pergaulannya dengan anak-anak jahat itu,

akan tetapi juga ada hasilnya yang baik yakni kepandaian silat. Ia mulai gemar belajar silat

karena selalu kalau sedang bermain-main dan berkelahi, ia menjadi korban yang menderita

kekalahan. Dan seperti juga dalam hal minum arak, dalam hal ilmu silat pun setelah ia mulai

belajar dari guru silat kota itu yang menerima bayaran, tak seorangpun di antara kawankawannya,

biar yang lebih besar sekalipun, dapat melawannya dalam perkelahian. Selain

tenaganya besar, iapun memiliki kecerdikan sehingga dapat mempergunakan sedikit ilmu silat

yang dipelajarinya dengan baik dan praktis, sedangkan sebagian besar kawan-kawannya itu

hanyalah mempelajari ilmu silat untuk dipakai berlagak belaka, bagus dilihat kalau bersilat

seorang diri, akan tetapi tidak ada gunanya jika menghadapi lawan.

Melihat keadaan puteranya ini, luka di hati nyonya Bun kambuh kembali. Tadinya hatinya

yang terluka karena peristiwa yang menimpa keluarganya itu mulai sembuh dan terhibur, akan

tetapi kini melihat keadaan puteranya, ia teringat kembali kepada suaminya dan berpikir

bahwa anaknya takkan menjadi demikian apabila suaminya masih hidup! Hal ini amat

mendukakan hatinya dan nyonya yang bernasib malang itu jatuh sakit. Barulah Gwat Kong

merasa terkejut dan menyesal sekali melihat ibunya jatuh sakit, dan sekali gus ia lalu

menghentikan kebiasaannya pergi bermain dan meninggalkan rumah itu. Ia berdiam saja di

rumah menjaga, akan tetapi terlambat. Penyakit nyonya ini bukanlah penyakit biasa, akan

tetapi penyakit yang timbul dari kesedihan hati dan akhirnya, setelah menghabiskan uang

simpanan untuk membeli obat guna menyembuhkan ibunya ternyata penyakit itu mengantar

nyonya Bun pulang ke alam baka.

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya itu, dengan suara terputus-putus menceritakan

kembali peristiwa yang menimpa keluarganya kepada Gwat Kong yang telah lupa sama sekali

akan hal itu. Setelah mengubur jenazah ibunya atas bantuan beberapa orang kawan Gwat

Kong yang baru berusia dua belas tahun itu, tak pernah dapat melupakan sakit hatinya yang

timbul serentak setelah mendengar cerita ibunya. Ia bersumpah di depan kuburan ibunya

untuk membalas dendam ini kepada Tan-wangwe yang tinggal di Lam-hoat. Dengan tabah

anak yang baru berusia dua belas tahun itu lalu pergi ke Lam-hoat dan setelah mendapatkan

rumah gedung Tan-wangwe ia lalu masuk kedalam rumah itu dan memaki-maki lalu

Akan tetapi, apakah daya seorang anak tanggung yang hanya memiliki kepandaian silat

pasaran? Ia dianggap anak gila yang datang mengacau dan setelah menerima gebukangebukan

dari para penjaga sehingga tubuhnya bengkak-bengkak dan kulitnya matang biru, ia

dibebaskan dan diusir bagaikan seekor anjing.

Bukan main hancur dan gemasnya hati Bun Gwat Kong menerima hinaan ini. Ia lalu keluar

meninggalkan Lam-hoat dan terus merantau ke utara. Akhirnya ia sampai di kota Kiangsui

 16

dan setelah mencari pekerjaan di sana-sini, akhirnya ia diterima sebagai seorang pelayan di

gedung keluarga Liok, Kepala daerah Kiangsui yang kaya raya itu.

Pada waktu itu, Gwat Kong telah berusia tiga belas tahun. Dengan pikiran dewasa telah

membuat ia dapat merahasiakan keadaannya. Ia bekerja dengan rajin sekali. Sikapnya yang

sopan dan pendiam membuat ia disukai oleh Liok Ong Gun dan orang-orang yang tinggal di

gedung itu.

Cita-cita Gwat Kong hanyalah untuk bekerja dengan baik, mengumpulkan hasil upahnya

untuk kemudian dipakai biaya mencari guru silat dan kemudian membalas sakit hati orang

Di antara semua orang yang tinggal di gedung besar itu, yang paling menarik hatinya ialah

puteri tunggal keluarga Liok, yakni Tin Eng. Semenjak ia melihat anak perempuan itu, ia

merasa kagum sekali dan timbul perasaan yang aneh dalam dadanya. Biarpun Tin Eng selalu

memperlakukannya dengan kasar dan menyuruhnya mengerjakan ini itu dengan lagak seorang

majikan memerintah hambanya, namun selalu Gwat Kong melakukannya dengan taat dan

girang. Entah mengapa, ia merasa girang sekali apabila ia dapat melakukan sesuatu untuk

menyenangkan hati gadis cilik itu!

Dengan adanya Tin Eng inilah maka Gwat Kong seakan-akan lupa akan segala. Lupa akan

kesukaannya minum arak, lupa akan cita-citanya belajar silat dan bahkan lupa pula akan

maksudnya membalas dendam sakit hati orang tuanya! Makin lama ia tinggal di situ, makin

betahlah ia dan sedikitpun tidak ada keinginan dalam hatinya untuk meninggalkan tempat itu.

Bahkan ia bekerja makin rajin hingga ia makin disuka saja.

Ia tahu bahwa Tin Eng suka sekali akan kembang-kembang indah, maka tiap hari ia merawat

kebun kembang di belakang gedung itu, menjaganya baik-baik, menanaminya dengan bungabunga

indah dan setiap hari selain menyapu kebun itu sehingga bersih, ia pun mencabuti

rumput-rumput yang tumbuh di situ. Tanpa diperintah ia lalu menggulung lengan baju dan

mencangkuli tanah yang ditumbuhi tumbuhan liar di sebelah barat kebun itu untuk

memperluas kebun kembang.

Dan kerajinannya inilah yang mendatangkan hal yang sama sekali tak pernah diduganya dan

yang kemudian mengubah keadaan hidupnya sama sekali.

Pada suatu hari, ketika dengan rajinnya ia pagi-pagi sekali mencangkul tanah liar yang keras

karena banyak terdapat batu-batu di tempat itu, Tiba-tiba ia berseru keras karena kaget. Ia

telah memukul benda yang amat keras dengan cangkulnya dan ketika diperiksanya ternyata

cangkulnya telah patah ujungnya! Dengan heran ia lalu menggali tanah itu, karena kalau

hanya batu yang terpukul cangkulnya tadi, tak mungkin cangkul itu sampai rusak. Benar saja

dugaannya, setelah ia menggali di bawah tanah itu terdapat sebuah peti logam yang kecil,

akan tetapi berat dan kokoh kuat sekali.

03. Cinta Kasih Pelayan Muda

Dengan hati berdebar ia membersihkan peti besi itu dan ternyata bahwa tutup peti itu tidak

terkunci. Ia lalu membukanya dan karena tertutup itu rapat sekali, maka tidak ada tanah yang

masuk ke dalam peti. Akan tetapi, kalau tadinya ia menyangka akan mendapatkan harta

pusaka di dalam peti, ia kecewa, karena ternyata bahwa isi peti itu tak lain hanyalah tiga buah

kitab yang kertasnya telah menjadi kuning saking tuanya. Terutama yang sebuah dan yang

paling tebal, sudah amat tuanya dan pinggirannya telah banyak di makan kutu, akan tetapi

tulisan di dalamnya masih lengkap.

Dengan ingin tahu sekali Gwat Kong membuka-buka kitab itu satu demi satu. Kitab pertama

adalah sebuah kitab kecil yang berisi tulisan kecil-kecil dan ternyata kitab ini adalah semacam

kamus yang menerangkan arti tulisan-tulisan kuno. Kitab kedua adalah semacam kitab

pelajaran ilmu silat tangan kosong dan ilmu silat pedang yang ditulis dengan huruf-huruf amat

 17

buruk, akan tetapi mudah dimengerti isinya. Adapun kitab ketiga yang tertua dan paling tebal

itu, pada sampulnya terdapat lukisan Burung Garuda yang indah sekali dan ketika ia

membukanya ternyata bahwa kitab ini penuh dengan tulisan-tulisan tangan yang bukan main

bagusnya. Akan tetapi sayang sekali, tulisan-tulisan itu agaknya dilakukan oleh seseorang di

jaman dahulu sehingga bahasanya adalah bahasa kuno yang sukar untuk dimengerti.

Gwat Kong merasa girang juga karena mendapatkan kitab pelajaran ilmu silat itu dan

mengambil keputusan untuk mempelajari ilmu silat dari buku itu. Ia segera mengubur kembali

peti kosong itu dan membawa ketiga kitab tadi ke dalam kamarnya. Kedua kitab yang besar

itu ia bawa dan kitab kecil seperti kamus itu ia masukkan ke dalam saku bajunya.

Dan pada saat itu, datanglah Tin Eng dari dalam. Ketika itu, Tin Eng baru berusia tiga belas

tahun dan Gwat Kong berusia lima belas tahun. Akan tetapi, gadis yang baru berusia tiga

belas tahun itu telah nampak cantik sekali dan ilmu silatnya telah cukup baik karena ia

mendapat didikan dan latihan dari ayahnya sendiri yang menjadi anak murid Gobi-san.

Melihat Gwat Kong membawa dua buah kitab tebal, Tin Eng segera menghampirinya dan

bertanya,

“Eh, Gwat Kong! Apakah yang kau bawa itu?”

Kalau saja yang melihat bukan Tin Eng, pemuda itu tentu segan untuk memperlihatkan kitabkitabnya,

akan tetapi ia memang ingin sekali menyenangkan hati Tin Eng, maka jawabnya,

“Siocia, tadi aku telah mendapatkan sebuah peti terpendam di dalam tanah yang berisi kitabkitab

pelajaran silat!” katanya dengan dengan wajah berseri.

Tin Eng merasa tertarik dan menghampiri lebih dekat.

“Coba kulihat kitab itu!” perintahnya dan tanpa disengaja Gwat Kong memberikan kitab yang

tertua dan yang amat tebal itu. Tin Eng membuka-bukanya sebentar, akan tetapi ia sama

sekali tidak mengerti, bahkan banyak huruf yang tak dikenalnya. Memang gadis ini kurang

pandai tentang ilmu membaca, maka sebentar saja kepalanya yang bagus itu telah menjadi

pening ketika ia membalik-balik beberapa helai kertas dalam kitab itu.

“Ah, ini adalah kitab kuno!” katanya dan perhatiannya menipis.

“Apa isi kitab itu, siocia?” tanya Gwat Kong.

Tin Eng adalah seorang gadis cilik yang cerdik dan tinggi hati. Ia tidak mau kalau sampai

pelayan ini mengetahui bahwa ia tidak mengerti atau tak dapat membaca kitab itu, maka

dengan lagak gagah ia berkata sambil mengembalikan kitab itu,

“Ini adalah kitab berisi syair zaman kuno semacam kitab To Tik King hasil karya Lo cu!”

Mendengar ini Gwat Kong menahan gelinya di dalam hati, karena biarpun ia hanya mengerti

sedikit saja akan isi kitab kuno itu, namun ia tahu bahwa kitab ini bukanlah kitab syair!

Tin Eng lalu memeriksa kitab kedua dan makin lama wajahnya makin berseri-seri.

“Inilah kitab pelajaran silat yang hebat!” serunya dengan bisikan dan kedua pipinya menjadi

merah. “Gwat Kong, kitab ini kau berikan kepadaku saja!”

“Boleh saja, siocia. Untuk apakah kitab seperti itu padaku?” jawab Gwat Kong, padahal kalau

lain orang yang minta, belum tentu akan ia berikan begitu saja.

Akan tetapi, setelah membaca halaman pertama dari kitab itu, Tin Eng lalu berkata lagi,

“Gwat Kong, kau harus merahasiakan hal ini dari siapa pun juga, bahkan kepada ayah sendiri

kau tidak boleh menceritakan tentang kitab ini, mengerti? Kitab kuno itu boleh kau simpan,

akan tetapi jangan sampai ketahuan orang lain!”

Gwat Kong mengangguk, akan tetapi ia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk

mengetahui sebabnya, maka ia bertanya,

“Baik, siocia. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui sebabnya maka hal ini harus

dirahasiakan?”

Tin Eng memandangnya dengan mata merah. “Kau tidak perlu tahu!” katanya, akan tetapi

agaknya ia merasa bahwa ia berlaku keterlaluan, maka sambil membuka halaman pertama tadi

ia berkata, “ Ini, kau baca sendiri!”

 18

Gwat Kong melihat betapa pada halaman pertama itu, di sebelah bawah, terdapat tulisan yang

tadi ia tidak memperhatikannya dan tulisan itu berbunyi demikian,

“Yang mendapatkan kitab ini berarti ada jodoh dan boleh mempelajari ilmu silat ini, akan

tetapi dengan syarat bahwa ia sama sekali tidak boleh memberitahukan kepada orang lain

tentang pelajaran ini.”

Biarpun sepintas lalu saja, Gwat Kong sudah dapat membaca habis kalimat itu, akan tetapi ia

berpura-pura tidak mengerti dan memandang dengan bodoh.

“Aku, tak dapat membacanya, siocia.”

“Ah, ya …… aku lupa,” kata Tin Eng sambil menarik napas panjang. “Seorang pelayan muda

seperti kau tentu saja tak pandai membaca.” Kemudian ia lalu membacakan kalimat itu

kepada Gwat Kong dan berkata,

“Karena itu, kita harus merahasiakan hal ini dari siapapun juga, dan kitab syair kuno itu boleh

kau simpan atau kau bakar saja karena tiada gunanya.”

“Kalau siocia sudah mempelajari ilmu silat ini tentu akan menjadi pandai sekali,” kata Gwat

Kong dengan mata berseri.

“Sudahlah, jangan banyak mengobrol, lekas kau sembunyikan kitab tebal itu sebelum orang

lain melihatnya,” kata Tin Eng tergesa-gesa dan ia menyembunyikan kitab pelajaran silat itu

di dalam bajunya, lalu masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ke kamarnya sendiri.

Gwat Kong juga segera masuk ke dalam kamarnya dan menyembunyikan kitab tebal itu. Dan

barulah ia teringat akan kitab kamus kecil di dalam saku bajunya, maka iapun segera

menyimpan pula kitab kecil itu. Setelah itu ia kembali ke kebun dan melanjutkan

pekerjaannya, akan tetapi hatinya selalu memikirkan penemuan kitab-kitab itu. Giranglah

hatinya memikirkan bahwa ia telah memberi kesempatan kepada Tin Eng untuk mempelajari

kitab itu dan kalau kelak Tin Eng menjadi seorang yang pandai, maka jasanyalah itu.

Setelah malam hari tiba, Gwat Kong mulai mengeluarkan kedua kitab tadi dan membukabukanya.

Alangkah girangnya bahwa kamus kecil itu adalah catatan-catatan yang

menerangkan isi kitab kuno itu sehingga ia mulai dapat membacanya dan bukan main

terperanjat dan gembiranya ketika mendapat kenyataan bahwa kitab kuno itu adalah pelajaran

ilmu silat tinggi terdiri dari tiga bagian.

Bagian pertama adalah pelajaran latihan lweekang dan ginkang, bagian kedua pelajaran ilmu

silat tangan kosong yang disebut Sin-eng Kun-hoat, bagian ketiga adalah pelajaran ilmu silat

pedang yang disebut Sin-eng Kiam-hoat! Kini mengertilah ia bahwa kitab yang dibawa oleh

Tin Eng tadi hanyalah salinan dari pada kitab kuno ini dan yang disalin hanya bagian ilmu

pedangnya saja, akan tetapi menurut dugaannya karena melihat buruknya tulisan penyalin itu,

maka salinan itupun tidak sempurna. Inilah kitab aslinya, kitab kuno peninggalan seorang

sakti yang kini dapat ia pelajari dengan pertolongan kamus kecil ini. Bukan main girangnya

hati Gwat Kong dan ia segera berlutut sambil mengangkat tinggi-tinggi kitab itu dan berbisik,

“Teecu akan mempelajari isi kitab ini, harap locianpwe memberi berkah dan ijin.”

Semenjak saat itu, setiap malam ia mempelajari isi kitab itu dengan penuh ketekunan. Ia

memperhatikan isi kitab itu dari baris pertama dan mempelajarinya dengan penuh kerajinan

dan ketekunan, dengan bantuan kamus itu. Ternyata susunan pelajaran itu rapi sekali dan ia

mulai mempelajari bagian pertama di mana terdapat pelajaran-pelajaran bersemedi dan latihan

napas untuk memperkuat lweekang dan ginkang.

Demikian pula keadaan Tin Eng. Gadis ini dengan diam-diam mempelajari ilmu silat pedang

yang tidak diketahui namanya itu di dalam kamarnya. Dengan girang ia mendapat kenyataan

bahwa ilmu pedang itu benar-benar lihai dan hebat sekali, jauh lebih tinggi dari pada ilmu

silat yang ia pelajari dari ayahnya.

Selama dua tahun lebih, Tin Eng dan Gwat Kong mempelajari isi kitab itu dalam kamar

masing-masing, akan tetapi tentu saja Tin Eng tidak tahu bahwa pemuda pelayan yang bodoh

itu pun sedang mempelajari ilmu silat yang sama dengan yang dipelajarinya, bahkan yang

 19

aslinya. Gadis ini hanya melihat betapa tubuh pelayan itu makin kurus saja seperti orang sakit.

Ia tidak pernah menduga bahwa hal ini adalah karena Gwat Kong hampir tak pernah tidur di

waktu malam untuk mempelajari ilmu itu dengan penuh ketekunan.

Dan dalam hal mempelajari ilmu itu, Gwat Kong jauh lebih rajin dari pada Tin Eng dan juga

pemuda itu tidak sering terganggu karena gadis itu tinggal di dalam gedung dan sewaktuwaktu

ibunya dan ayahnya tentu datang ke kamarnya. Sedangkan Gwat Kong tidur di dekat

kandang kuda karena tugasnya pula untuk merawat kuda, jarang sekali mendapat gangguan.

Baik Tin Eng maupun Gwat Kong, keduanya tidak sadar sama sekali bahwa mereka telah

mempelajari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat yang pada ratusan tahun yang lalu telah

menggemparkan dunia persilatan! Bahkan penyalin yang buruk tulisannya itu ketika masih

hidup, merupakan jago silat yang tak terkalahkan sungguhpun ia hanya mempelajari ilmu silat

itu dengan kurang sempurna oleh karena orang itu kurang pandai menyalin isi kitab!

Kedua orang muda itu tidak tahu bahwa di dalam tubuh mereka telah memiliki ilmu

kepandaian yang amat mengagumkan. Terutama sekali Gwat Kong yang mempelajari kitab

aslinya dan yang mempelajari dari tingkat permulaan. Pemuda itu sama sekali tidak merasa

bahwa ia telah memiliki kepandaian kepandaian yang sukar diukur tingginya.

Ketika terjadi pertempuran melawan maling sakti dan berhasil mengalahkan maling itu,

barulah Tin Eng sadar akan kelihaian ilmu pedang yang secara rahasia dipelajarinya itu dan

tentu saja ia menjadi girang dan bangga sekali, akan tetapi pada waktu itu, tetap saja Gwat

Kong sendiri belum menyadari bahwa ia telah memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih

tinggi dari pada Tin Eng!

Gadis yang keras hati dan manja ini tetap memegang teguh rahasianya sehingga biarpun

ayahnya sendiri yang bertanya karena terheran melihat kemajuannya setelah ia berhasil

menangkap maling, tidak diberitahunya tentang kitab itu.

Maka tibalah saatnya Gwat Kong menyadari dan mengherankan kelihaiannya sendiri yakni

ketika terjadi pertandingan sebagai ujian terhadap pemuda Gan Bu Gi itu. Tanpa disengaja ia

menyambit dengan hancuran rumput yang digenggamnya dan ternyata bahwa berkat latihan

lweekang dari kitab itu, ia memiliki pandangan mata yang luar biasa tajamnya sehingga

bidikannya mengenai sasaran dengan tepat!

Sebagaimana dituturkan di bagian depan, Gwat Kong termenung di kandang kuda sambil

mengelus-elus leher kuda itu. Semalam suntuk ia tidak dapat tidur, karena selain ia merasa

bangga dan girang mendapat kenyataan tentang kelihaian ilmu silatnya. Iapun merasa amat

Pemuda yang bernama Gan Bu Gi itu amat tampan dan gagah dan agaknya Tin Eng tertarik

hatinya kepada pemuda yang kini diangkat menjadi panglima dalam gedung keluarga Liok. Ia

tidak tahu tentang percakapan kedua kakek itu dengan Liok Ong Gun tentang perjodohan.

Kalau ia tahu, tentu ia akan merasa makin gelisah lagi! Diam-diam dan di luar tahunya,

pemuda yang kini menjadi pelayan ini telah terkena panah asmara yang menancap dalamdalam

di lubuk hatinya.

****

Kawan-kawan baik yang merupakan hiburan bagi Gwat Kong hanyalah kuda-kuda di dalam

kandang dan juga sebuah suling bambunya. Setahun yang lalu ketika ia membabat bambubambu

di dalam kebun kembang, ia merasa suka melihat bambu kecil yang hijau dengan

bintik-bintik kuning, maka dalam waktu senggangnya ia lalu membuat sebatang suling. Ia

tidak pandai menyuling, akan tetapi oleh karena tidak ada hiburan lain, ia mulai mempelajari

dan dapat juga meniup beberapa lagu dari suling buatan sendiri itu.

Akan tetapi ia jarang sekali meniup sulingnya. Malam hari itu, bulan bersinar terang dan

Gwat Kong membawa sulingnya menuju ke kebun kembang. Ia merasa sedih sekali malam itu

karena banyak hal yang mengganggu hatinya. Pertama-tama hal Gan Bu Gi. Telah enam

 20

bulan lamanya pemuda tampan itu bekerja pada Kepala daerah Liok dan kini pemuda itu

selalu mengenakan pakaian panglima yang menambah kegagahannya.

Ternyata pemuda gunung yang dulu amat sederhana itu, setelah mendapat kedudukan tinggi

dan tinggal di kota besar, kini menjadi seorang pesolek. Hal ini bukan merugikan baginya,

karena ia tampak makin tampan dan makin gagah saja sehingga tidak heranlah apabila Tin

Eng merasa tertarik hatinya. Hal ini amat menggelisahkan dan menyusahkan hati Gwat Kong.

Hal kedua yang membuatnya bersedih pada malam hari itu adalah kenangan tentang dendam

hatinya terhadap Tan-wangwe.

Ia kini telah memiliki kepandaian dan seharusnya ia boleh mencoba kepandaiannya itu untuk

membalas dendam orang tuanya. Akan tetapi bagaimana ia bisa meninggalkan pekerjaan? Ia

tidak merasa berat untuk meninggalkan pekerjaan, karena iapun tidak terlalu suka menjadi

pelayan seumur hidupnya, akan tetapi yang berat baginya ialah bahwa ia harus meninggalkan

Tin Eng. Tak sanggup rasanya untuk pergi meninggalkan dara jelita yang telah merebut

hatinya itu. Jangankan harus meninggalkan sampai lama dan jauh, sedangkan sehari saja tidak

jumpa, rasa hidupnya menjadi sunyi dan kosong!

Gwat Kong duduk di bawah pohon kembang sambil memandangi bulan yang nampaknya

meluncur maju, melayang-layang dan menari-nari di antara mega-mega putih. Bulan yang

bundar itu tiba-tiba berubah bentuknya, bermata, berhidung dan bermulut lalu perlahan-lahan

terbentuklah wajah Tin Eng yang tersenyum padanya. Ia menggosok-gosok matanya dan

pemandangan itu menjadi buyar lagi. Ah, … mengapa ia demikian tergila-gila? Ia sama sekali

tidak mempunyai harapan dan mana bisa seorang pelayan rendah seperti dia menjadi jodoh

puteri Kepala daerah yang kaya raya dan berkedudukan tinggi? Berpikir tentang keadaannya

sebagai pelayan, tiba-tiba mengalir air mata dari kedua mata Gwat Kong. Teringatlah ia akan

keadaannya di masa kecil dan kalau saja ia masih menjadi putera Bun-tihu dan tinggal di

gedung besar berpakaian indah, tentu ia mempunyai banyak harapan dan tidak usah khawatir

menghadapi seorang saingan seperti Gan Bu Gi!

Akan tetapi Gwat Kong adalah seorang pemuda yang telah banyak menelan pengalaman pahit

getir sehingga hatinya menjadi kuat dan tabah. Segera ia mengusap pipinya yang basah dan

dipaksanya senyum keluar menghias bibirnya. Sambil menatap bulan di atas kepalanya, ia

berkata dalam hati,

“Kau goblok! Kalau kau masih menjadi putera tihu di Lam-hoat, mana bisa kau bertemu

dengan dia? Mungkin kau menjadi seorang pemuda pemabukan!”

Ia tersenyum lagi dan teringatlah ia akan segala pengalamannya ketika masih kanak-kanak

dan bermain gila dengan kawan-kawannya di kota Ki-hong. Ia merasa menyesal sekali karena

kesesatannya itulah yang membuat ibunya sampai meninggal dunia.

“Aku harus membalas sakit hati ayah ibuku. Harus dan secepat mungkin! Kalau mungkin

besok pagi aku harus pergi.”

Akan tetapi kembali bulan di atasnya itu berubah menjadi wajah Tin Eng yang cantik jelita,

membuat ia menjadi ragu-ragu dan keputusannya tadi menjadi goyah!

“Tin Eng ….. Tin Eng …..” ia berbisik.

Tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya, “Gwat Kong, mengapa kau menyebut-nyebut

namaku?”

Gwat Kong terkejut sekali dan menoleh. Ternyata di belakangnya telah berdiri Tin Eng yang

nampak ayu sekali tertimpa cahaya bulan purnama.

“Kau …. siocia, eh … tidak, aku tidak menyebut-nyebut nama siapapun juga …..” jawabnya

Tin Eng lalu duduk di atas rumput dekat Gwat Kong, membuat pemuda itu merasa berdebardebar

jantungnya. Memang Tin Eng tidak merasa sungkan atau malu-malu pada Gwat Kong

karena biarpun mereka itu majikan dan pelayan namun karena telah empat tahun mereka

tinggal bersama di satu tempat, dan hubungan mereka telah terjadi semenjak Tin Eng baru

 21

berusia sebelas tahun dan Gwat Kong tiga belas tahun, maka Tin Eng menganggap Gwat

Kong sebagai seorang pelayan dan sahabat yang baik.

Gadis itu duduk sambil memandang bulan, wajahnya tertimpa cahaya bulan sepenuhnya, yang

menimbulkan pemandangan yang membuat hati Gwat Kong berdenyut-denyut lebih cepat

dari pada biasanya.

“Alangkah indahnya bulan itu,” kata Tin Eng dengan wajah berseri-seri.

“Nona, kau nampak gembira sekali,” kata Gwat Kong perlahan, mengagumi wajah cantik itu

selagi pemiliknya memandang bulan dan tidak memperhatikannya.

“Mengapa tidak? Hidup ini memang penuh kegembiraan,” jawab Tin Eng sambil tersenyum

manis, dan dara itu tetap memandang bulan.

Gwat Kong juga mengalihkan pandangannya kepada bulan lalu bertanya tanpa menoleh,

“Kalau begitu kau tentu berbahagia, siocia?”

“Tentu saja!” jawab yang ditanya secara langsung. “Mengapa aku tidak bahagia?”

Gwat Kong memandang kepada gadis itu lagi dan mereka bertemu pandang karena ketika

menjawab tadi, Tin Eng juga menatap wajahnya.

“Kau berhak menikmati kebahagiaan, siocia,” katanya perlahan.

“Setiap manusia berhak berbahagia,” jawab Tin Eng memandang tajam. “Gwat Kong, apakah

kau hendak berkata bahwa kau tidak bahagia?”

“Gwat Kong memandang ke arah bulan lagi. “Bahagia …? Apakah bahagia itu …?”

pertanyaan ini diucapkan dengan ragu-ragu dan perlahan, seakan-akan ia menggajukan

pertanyaan itu kepada bulan dan sang bulan agaknya tidak dapat menjawab karena buktinya ia

menyembunyikan dirinya di balik awan untuk menghindari pandang mata dan pertanyaan

Gwat Kong yang sulit itu!

Tin Eng merasa penasaran. “Setiap orang berhak berbahagia!” ia mengulangi. “Dan kau juga!

Mengapa kau tidak harus berbahagia? Apakah bedanya kau dan aku? Setiap hari aku makan

nasi dan kau pun juga. Aku boleh bergembira dan kau pun juga. Apakah perbedaan antara

kita?” Tiba-tiba ia sadar dan segera disambungnya cepat-cepat, “Ah, barangkali karena kau

merasa diri hanya sebagai seorang pelayan dan aku seorang puteri bangsawan. Di situkah

letak perbedaannya? Akan tetapi Gwat Kong, hal itupun tidak menjadi penghalang bagimu

untuk menikmati kebahagiaan hidup.” Memang gadis ini pandai sekali menghubungkan

sesuatu dengan filsafat hidup yang banyak dibacanya ketika ia dipaksa mempelajari ilmu

kesusasteraan oleh ayahnya.

Gwat Kong merasa tidak enak untuk melanjutkan percakapan ini, maka ia lalu berkata,

“Entahlah, siocia, akan tetapi buktinya hingga sekarang aku masih belum tahu apakah artinya

kebahagiaan, yang ada hanyalah penderitaan dan kekecewaan,” ia menghela napas.

“Kasihan kau, Gwat Kong,” kata Tin Eng dan untuk beberapa lama keduanya diam saja

memandang bulan yang telah muncul kembali, terbenam dalam lamunan masing-masing.

Tiba-tiba Gwat Kong insyaf betapa berbahagianya keadaan ini. Belum pernah ia mengadakan

percakapan semesra ini dengan gadis impiannya itu dan ia maklum bahwa kalau sampai Lioktaijin

melihat mereka duduk berdua di atas rumput menikmati cahaya bulan, akan

berbahayalah jadinya. Teringat akan hal ini, ia merasa khawatir, bukan untuk diri sendiri,

akan tetapi khawatir kalau-kalau gadis itu akan mendapat teguran dan marah dari ayahnya.

“Sudahlah, siocia, mari kita bicarakan tentang lain hal. Bagaimanakah dengan …. dengan

kitab pelajaran silat itu?”

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini, Tin Eng agak terkejut dan ia sadar kembali dari

“Kitab itu? Ah, justru inilah maksud kedatanganku. Aku sengaja mencarimu dengan dua

maksud, Gwat Kong. Pertama-tama untuk mengucapkan terima kasihku atas penemuan kitab

pelajaran itu. Kalau bukan kau yang mendapatkan kitab itu dan menyerahkan kepadaku serta

menjaga sehingga rahasia ini tertutup baik-baik, aku takkan mendapat kemajuan sehebat ini.”

 22

Gwat Kong pura-pura tidak mengerti dan bertanya, “Jadi kitab itu berguna bagimu, siocia?”

“Berguna? Bukan main! Sepuluh orang guru silat yang mengajarku belum tentu sebesar itu

gunanya! Setelah aku menangkap maling dulu itu, barulah aku merasa betapa hebatnya

kemajuan silatku, bahkan kini kepandaianku sudah lebih tinggi dari pada kepandaian ayah

sendiri!”

“Aduh, hebat sekali, siocia!” kata Gwat Kong dengan kagum dan girang.

“Karena itu, maka aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu dan sebagai pembalasan

budi, kalau kiranya kau perlu akan sesuatu, aku bersedia membantumu, Gwat Kong. Kau

ajukanlah permintaanmu dan aku akan memberikannya sebagai hadiah.”

Gwat Kong memandang dengan muka merah. “Apakah yang dapat kuminta, siocia? Aku …

aku tidak membutuhkan sesuatu.”

“Uang misalnya, atau pakaian? Aku akan memberi dengan suka hati.”

Gwat Kong menggelengkan kepalanya. Pada saat itu, hanya satu hal yang dikehendaki dari

gadis itu, akan tetapi seribu ujung pedang takkan kuasa memaksanya membuka mulut, karena

yang dibutuhkan itu adalah …. hati penuh cinta kasih dari gadis itu. “Tidak, siocia, aku tidak

membutuhkan sesuatu. Terima kasih atas kebaikanmu.”

Tin Eng menghela napas panjang. “Kau mengecewakan hatiku, Gwat Kong. Dengan

demikian maka aku tetap berhutang budi kepadamu dan entah kapan aku dapat membayarnya.

Sekarang hal kedua, yaitu aku hendak minta tolong kepadamu.”

“Bagaimanakah aku yang bodoh ini dapat menolongmu, siocia?”

“Dengarlah. Kau tentu tahu sendiri betapa lihai ilmu silat Gan-ciangkun yang kita saksikan

ketika ia diuji dulu itu.”

Kalau saja cahaya bulan bukannya memang sudah pucat, tentu Tin Eng akan dapat melihat

betapa wajah pemuda itu menjadi pucat ketika mendengar kata-kata ini. “Kau maksudkan

pemuda yang bernama Gan Bu Gi itu, siocia?”

Tin Eng mengangguk. “Ya, dialah, akan tetapi jangan sekali-kali kau menyebut namanya

begitu saja, harus menyebut Gan-ciangkun karena ia telah menjadi perwira kelas satu, bahkan

menjadi panglima dari ayah. Nah, aku ingin sekali mencoba kepandaiannya, kau harus

menyampaikan kepadanya akan keinginan hatiku ini. Kalau mungkin, besok malam suruhlah

dia datang ke tempat ini untuk mengadu kepandaian dengan aku. Kalau belum mengukur

kepandaiannya dengan ilmu pedangku sendiri, aku masih belum puas.”

Untuk beberapa saat Gwat Kong tak dapat berkata-kata. Hatinya merasa perih sekali karena ia

dapat menduga bahwa gadis ini tertarik oleh ketampanan wajah panglima muda itu, maka

hendak mencoba kepandaiannya pula sebagai pembukaan isi hatinya!

“Bagaimana, Gwat Kong? Kau mau menolongku atau tidak?”

“Tentu saja, siocia. Besok pagi aku berusaha menyampaikan hal ini kepadanya. Akan tetapi,

bagaimana kalau sampai ayahmu mendapat tahu?”

“Ah, hal itu tidak mengapa. Bukankah sudah lazim bagi orang-orang berkepandaian silat

untuk mengadakan pibu (adu kepandaian)? Dan pibu inipun hanya untuk menguji kepandaian

masing-masing saja. Kalau ayah marah, biarlah aku yang menghadapinya!” Anak manja ini

memang tidak takut kepada ayahnya.

Sambil menekan hatinya yang perih, Gwat Kong mengangguk dan berkata, “Baiklah, siocia.

Mudah-mudahan ia tidak akan mengecewakanmu.”

“Eh, eh, apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa, siocia. Maksudku mudah-mudahan dia mau menerima tantanganmu ini

sehingga kau tidak akan menjadi kecewa.”

Tin Eng lalu meninggalkan Gwat Kong yang duduk termenung di tempat semula. Kini ia

lebih berduka lagi dan makin tetap keputusannya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Akan

tetapi, betapapun juga ia harus memenuhi kehendak Tin Eng dulu dan iapun hendak

 23

menyaksikan sampai di mana kepandaian gadis itu, dan apakah ia akan dapat menandingi Gan

Bu Gi yang lihai itu.

Pada keesokan harinya, Gwat Kong mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Gan Bu Gi.

Dengan cepat ia menghampiri dan berkata,

“Gan-ciangkun, saya membawa pesan dari Liok-siocia untukmu.”

Panglima muda ini nampak tercengang dan memandang heran. Ia sudah kenal kepada pemuda

pelayan ini yang pandai membawa diri maka ia lalu bertanya, “Gwat Kong, jangan kau mainmain!

Pesan apakah yang dapat disampaikan Liok-siocia kepadaku?”

Melihat di situ tidak ada orang lain, Gwat Kong lalu berkata, “Siocia minta agar supaya

ciangkun suka datang di kebun bunga malam nanti untuk mengadu kepandaian pedang.”

Gan Bu Gi merasa makin terkejut, “Apa maksudmu? Mengadu pedang bagaimana?”

“Ah, benar-benarkah kau tidak tahu, ciangkun? Pendeknya siocia ingin mengajak pibu

kepadamu dan harap saja ciangkun suka menerima tantangan ini. Malam nanti siocia menanti

di taman bunga.”

Karena pada saat itu muncul pelayan lain, Gwat Kong lalu tinggalkan panglima muda yang

masih berdiri dengan mata terbelalak itu. Gan Bu Gi masih terlampau muda dan kurang

pengalaman untuk dapat mengetahui isi hati Tin Eng yang hendak mengukur sampai di mana

tingkat ilmu silatnya itu. Namun ia merasa girang juga mendapat kesempatan untuk bertemu,

bhakan mungkin bercakap-cakap dengan gadis yang cantik. Selama ia berada di situ sampai

enam bulan, ia hanya mendapat kesempatan sedikit saja untuk bertemu muka dengan Tin Eng.

Karena ia harus berlaku sopan dan menjaga diri agar jangan sampai tercela oleh Liok-taijin.

Pada malam hari itu, bulan masih bersinar terang, akan tetapi Gwat Kong tidak seperti

biasanya, tidak keluar dari kamarnya, karena ia tidak mau mengganggu Tin Eng yang hendak

mengadu kepandaian dengan Gan Bu Gi, sungguhpun ia ingin sekali menyaksikannya. Selagi

ia duduk termenung di dalam kamarnya tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

Ketika ia membuka daun pintu, ternyata bahwa yang mengetuk itu adalah Tin Eng. Memang

kamar Gwat Kong yang berada di dekat kandang kuda itu tidak jauh letaknya dari kebun

“Gwat Kong, kau harus ikut menyaksikan pibu ini hingga kalau sampai ketahuan oleh ayah

aku mempunyai saksi bahwa aku tidak bermaksud buruk dalam hal ini.”

Gwat Kong menyembunyikan rasa girangnya. Ia bergirang oleh karena tidak saja ia mendapat

kesempatan menyaksikan pertandingan, juga karena ternyata bahwa gadis itu benar-benar

berhati bersih dan hanya ingin menguji kepandaian Gan Bu Gi belaka tanpa maksud-maksud

Mereka lalu menuju ke tengah kebun kembang di mana memang terdapat lapangan berlatih

silat yang dulu dipergunakan untuk menguji kepandaian Gan Bu Gi itu. Mereka tidak usah

lama menanti, oleh karena Gan-ciangkun tak lama kemudian datang dengan sikapnya yang

gagah. Ia menjura dengan hormat kepada Tin Eng yang dibalas dengan selayaknya. Jelas

nampak kekecewaan membayang pada muka yang tampan itu ketika ia melihat Gwat Kong

berada di situ pula.

“Saya mendengar dari Gwat Kong tentang pesanan siocia maka sekarang saya datang untuk

memenuhi pesanan itu. Sebetulnya apakah kehendak siocia?” tanyanya.

“Tidak lain aku ingin mengadu kepandaian pedang denganmu, ciangkun. Marilah kita main

pedang sebentar untuk menambah pengalaman,” jawab Tin Eng singkat dan ia agak malumalu.

Gan Bu Gi tersenyum, senyum yang manis memikat dan yang membuat dada Gwat Kong

terasa panas.

“Siocia, kepandaianmu telah kusaksikan dan aku masih berterima kasih atas pertolonganmu

dulu itu. Baiklah, kalau kau masih penasaran dan hendak mengujiku, silahkan!”

 24

Biarpun Tin Eng merasa heran mendengar ucapan yang tidak dimengertinya ini, akan tetapi ia

tidak mau membuang waktu lagi dan mencabut pedangnya. Juga Gan Bu Gi mencabut pedang

dari pinggangnya sedangkan Gwat Kong yang mengerti bahwa panglima itu salah sangka

ketika dulu ia membantunya terhadap serangan gelap dari perwira Lie Bong, lalu duduk di

atas rumput dan menonton mereka mengadu kepandaian.

“Silahkan menyerang, siocia,” kata Gan Bu Gi dengan tenang dan ia memasang kuda-kuda

dengan melintangkan pedang pada dadanya dan tangan kirinya diangkat ke atas dengan sikap

yang amat menarik.

“Awas pedang!” seru Tin Eng yang segera maju menyerang dan menggunakan ilmu pedang

Garuda Sakti yang baru dipelajarinya selama hampir tiga tahun itu.

04. Penolakan Jodoh Puteri Kepala Daerah

Ketika pertama kali datang di tempat itu, Gan Bu Gi sudah menyaksikan gadis ini berlatih

pedang, maka ia maklum bahwa ilmu pedang gadis ini tinggi dan lihai serta tak boleh

dianggap ringan, maka ia lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri dan

jangan sampai dikalahkan.

Tangkisan pedang di tangan Gan Bu Gi membuat Tin Eng merasa terkejut sekali karena

ternyata olehnya bahwa tenaga lweekang dari pemuda itu masih jauh melebihi tenaganya

sendiri, sedangkan gerakan pemuda itu pun gesit sekali, menandakan bahwa ginkangnya

sudah sempurna. Namun berkat ilmu pedangnya yang mempunyai gerakan-gerakan aneh dan

sukar diduga perubahannya, ia dapat mendesak pemuda itu dengan serangan-serangan kilat.

Sementara itu, begitu melihat mereka bertempur dan setelah memperhatikan jalannya

pertempuran selama belasan jurus, tahulah Gwat Kong bahwa ilmu pedang Tin Eng masih

jauh dari sempurna dan banyak sekali terdapat kesalahan-kesalahan. Ia maklum bahwa hal ini

adalah kesalahan penyalinan kitab itu yang agaknya tidak begitu paham tentang isi tulisan

kuno itu, akan tetapi harus diakui bahwa biarpun hanya salinan yang buruk, namun apa yang

telah dipelajari oleh gadis itu merupakan ilmu pedang yang kalau sudah dilatih sempurna akan

sukar menemukan tandingan! Dan ia maklum pula bahwa ternyata Gan Bu Gi mempunyai

ilmu kepandaian yang berisi dan dalam hal lweekang dan ginkang, pemuda itu jauh lebih

unggul dari pada Tin Eng.

Betapapun juga, kalau saja Tin Eng mempelajari ilmu pedang itu sedikitnya lima tahun saja,

belum tentu Gan Bu Gi akan dapat dengan mudah mempertahankan diri terhadap seranganserangan

yang aneh itu. Pada saat itu Gan Bu Gi sendiri menjadi terkejut dan ia maklum

bahwa kalau ia tidak segera mendahuluinya dan mempergunakan tenaga untuk merampas

pedang Tin Eng, mungkin sekali ia akan terkena bencana di ujung pedang lawannya karena

gerakan ilmu pedang ini benar-benar aneh dan belum pernah dihadapinya seumur hidupnya.

“Maaf, siocia!” serunya keras setelah mereka bertanding tiga puluh jurus lebih dan dengan

sekuat tenaga ia menyampok pedang Tin Eng dengan pedangnya, sedangkan tangan kirinya

diulur untuk menangkap pergelangan lengan gadis itu! Tenaga sampok dan yang disertai

tenaga lweekang, sepenuhnya ini tentu saja tak dapat tertahan oleh Tin Eng yang hanya

mendapat latihan dari ayahnya dalam hal lweekang, maka sambil berteriak kaget ia terpaksa

melepaskan pegangannya pada gagang pedangnya sehingga pedang itu mencelat ke atas

sedangkan lengannya sudah terpegang oleh lengan Gan Bu Gi.

Tin Eng merasa malu sekali dan membetot lengannya. Gan Bu Gi juga melepaskan lengan

yang halus sekali kulitnya itu dan ia menyambar pedang Tin Eng yang melayang turun, lalu

memberikan pedang itu kepada Tin Eng sambil menjura,

“Ilmu pedangmu hebat sekali, nona, hingga terpaksa aku menggunakan tenaga untuk

merampasnya. Maaf, maaf!”

 25

Dengan muka merah karena jengah Tin Eng menerima pedangnya dan berkata, “Kau lihai,

ciangkun!” Lalu gadis ini berlari menuju ke dalam gedung.

Gan Bu Gi masukkan pedang dalam sarung pedangnya dan menoleh kepada Gwat Kong yang

masih duduk di atas rumput, “Gwat Kong …”

“Ya, Gan-ciangkun.”

“Gadis itu …..”

“Kau maksudkan, Liok-siocia? Ya, mengapa dia ….?”

“Gadis itu ….. sungguh manis sekali!”

“Memang manis dan lihai ilmu pedangnya.”

“Kulihat dia itu ……”

“Teruskanlah, ciangkun, jangan malu-malu.”

“Agaknya sudah pantas kalau ia menjadi isteriku yang tercinta. Bagaimana pendapatmu, Gwat

Kong?”

Akan tetapi Gwat Kong membalikkan tubuhnya dan terdengar suaranya, “Hm ….. entahlah,

aku ingin menengok kuda di kandang. Malam ini dingin sekali, kuatir kalau-kalau mereka

gelisah.” Dan Gwat Kong lalu lari ke kamarnya di dekat kandang kuda.

Gan Bu Gi tidak memperdulikan hal ini, lalu melangkah dengan senyum di bibir, kembali ke

kamarnya yang berada di gedung sebelah timur. Hatinya puas dan lega sekali, harapannya

makin membesar dan malam itu ia mendapat mimpi indah dalam tidurnya.

****

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gwat Kong sudah membuat persiapan untuk pergi

dari situ. Ia membungkus pakaiannya yang tak seberapa banyak itu dalam sebuah buntalan

kain kuning dan bersiap untuk menghadap Liok-taijin dan minta ijin serta menyatakan terima

kasih. Wajahnya pucat sekali oleh karena selain berduka, ia juga tidak tidur semalam suntuk,

mengenang nasibnya yang buruk.

Akan tetapi, ketika ia berjalan menuju ke ruang dalam ia bertemu dengan seorang penjaga

yang berkata kepadanya, “Gwat Kong, kau beritahu taijin bahwa Seng Le Hosiang, hwesio

yang dulu datang itu, kini datang minta bertemu.”

Gwat Kong terpaksa menunda maksudnya dan menyampaikan laporan itu kepada Liok Ong

Gun yang baru saja bangun dari tidurnya. Pembesar ini lalu berdandan dan menyambut

kedatangan susiok-couwnya dengan hormat sekali.

“Liok Ong Gun, pinceng datang untuk melanjutkan urusan perjodohan dulu itu. Bong Bi

Sianjin tak dapat datang karena ia sedang menghadapi urusan penting, maka akulah yang

mewakilinya. Bagaimana dengan keadaan Bu Gi?” Hwesio ini dengan suaranya yang besar

datang-datang membicarakan urusan perjodohan dan tidak perduli sama sekali bahwa di situ

terdapat Gwat Kong dan dua orang pelayan lain.

Liok Ong Gun menjawab sambil tersenyum. “Gan-ciangkun baik-baik saja dan sebentar lagi

ia tentu akan datang ke sini. Adapun tentang perjodohan itu, susiok-couw, harus teecu

tanyakan dulu kepada isteriku dan juga kepada anak itu sendiri!”

Gwat Kong menjadi pucat karena ia maklum bahwa yang dibicarakan ini tentulah perjodohan

antara Gan Bu Gi dan Tin Eng!

“Ha ha ha! Liok Ong Gun, kau ternyata berhati lemah. Kalau kau sendiri sudah setuju, tentu

saja anak isterimu juga setuju. Bagaimanakah pendapatmu sendiri?”

Dengan terus terang Kepala daerah itu menjawab, “Bagi teecu sendiri memang Gan-ciangkun

merupakan seorang pemuda yang baik dan memenuhi syarat, akan tetapi teecu tidak mau

memutuskan sebelum mendengar pendapat anak isteri teecu.”

Pada saat itu, Gan Bu Gi yang telah diberitahu akan kedatangan hwesio itu lalu datang dan

berlutut di depan Seng Le Hosiang sebagai penghormatan.

“Bagus, Bu Gi, kau nampak makin gagah saja. Ketahuilah, kedatanganku ini mewakili

suhumu untuk mematangkan urusan perjodohanmu dengan puteri Liok Ong Gun.”

 26

Merahlah wajah pemuda itu mendengar kata-kata yang terus terang ini. Ia merasa malu-malu

dan juga bergirang hati. Kemudian ia duduk di dekat hwesio itu dan Liok Ong Gun lalu

berkata kepada Seng Le Hosiang, “Apakah teecu harus memberi keputusan sekarang juga,

susiok-couw?”

“Tentu, sekarang juga. Tak usah sungkan-sungkan, tinggal menyatakan setuju atau tidak,

habis perkara. Pinceng tak dapat tinggal terlalu lama di sini.” Dari kata-katanya, dapat

diketahui bahwa hwesio tua yang lihai ini mempunyai tabiat terus terang dan kasar.

Liok Ong Gun lalu minta permisi untuk merundingkan hal itu dengan anak isterinya, lalu ia

memerintahkan dua orang pelayan yang berada di situ bersama Gwat Kong untuk

mengeluarkan arak wangi dan menjamu hwesio itu bersama Gan-ciangkun. Dua orang

pelayan itu segera mengambil arak dan hidangan pagi, dan dengan hati tak keruan rasa, Gwat

Kong lalu menuangkan arak pula pada cawan mereka.

Sambil minum arak dan makan buah kering, Gan Bu Gi menceritakan tentang pertandingan

malam tadi dengan Tin Eng. Mendengar ini Seng Le Hosiang tertawa-tawa girang sehingga

arak cawannya tumpah sedikit membasahi jubahnya. Akan tetapi ia tidak memperdulikan hal

ini, bahkan lalu berkata kepada Gan Bu Gi sambil tertawa, “Ha ha ha, kalau begitu, sudah

sepuluh bagian perjodohanmu akan berhasil. Nona itu ternyata menaruh perhatian kepadamu.

Ha ha ha! Siapakah pelayan yang baik hati dan yang menjadi perantara mempertemukan

kalian berdua itu?”

Gan Bu Gi tersenyum dan menunjuk ke arah Gwat Kong, “Dia inilah orangnya yang telah

begitu baik hati, locianpwe.”

Seng Le Hosiang memandang kepada Gwat Kong dan kembali ia tertawa besar, “Ha ha ha ….

orang seperti kau ini tidak pantas menjadi pelayan, anak muda. Hayo kau duduk di sini dan

menemani kami minum arak!”

Tentu saja Gwat Kong tidak berani melakukan hal itu dan dengan takut-takut ia menjawab,

“Ah, losuhu, mana siauwte yang rendah ini berani berlaku kurang ajar?”

“Tidak ada yang rendah atau tinggi, semua orang sama saja! Mari kau minum arak dengan

kami,“ kata hwesio itu.

Gan Bu Gi sudah maklum akan tabiat hwesio tua itu, maka ia lalu berdiri dari kursinya,

memegang lengan Gwat Kong dan menariknya perlahan.

“Marilah, Gwat Kong, mari kau minum sedikit arak agar kegirangan kami bertambah.”

Terpaksa Gwat Kong duduk di sebelah kursi Gan Bu Gi dan kedua orang pelayan kawannya

memandang dengan terheran-heran, akan tetapi mereka tidak berani ikut mencampuri hal ini

karena takut kepada Gan-ciangkun. Menghadapi secawan arak wangi dalam keadaan hati

menderita sedih, timbullah kembali nafsunya terhadap minuman keras itu. Nafsu minum arak

bermabuk-mabukan yang selama empat tahun dapat dipadamkan dan terpendam di dasar

perutnya itu, kini tiba-tiba menyala kembali dan berkobar membakar dadanya. Hanya araklah

yang akan menghilangkan rasa sedih yang menggerogoti hatinya, pikirnya sambil

menghabiskan arak secawan itu dengan sekali teguk!

Bukan main herannya kedua pelayan itu melihat betapa cara Gwat Kong minum arak

menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli minum kawakan! Juga Gan Bu Gi memandang

heran, akan tetapi Seng Le Hosiang tertawa terbahak-bahak dan memenuhi cawan pemuda itu

sampai penuh sekali.

“Ha ha ha! Betul dugaanku tadi, kau tidak pantas menjadi pelayan, dan ternyata kau seorang

laki-laki sejati. Hayo minum lagi, anak muda!” Sambil berkata demikian, hwesio yang doyan

arak ini mengangkat cawan araknya yang telah dipenuhinya dan mereka minum lagi.

Arak yang diminum oleh Gwat Kong itu adalah arak tua yang wangi dan sudah tersimpan

lama maka kerasnya bukan main. Biarpun dulu, empat tahun yang lalu, Gwat Kong kuat

sekali minum arak, akan tetapi karena dulu ia belum pernah minum arak sekeras ini dan juga

telah lama sekali perutnya tidak berkenalan dengan minuman keras, pula karena malam tadi ia

 27

tidak tidur sama sekali dan perutnya tidak diisi, maka setelah minum enam cawan arak wangi,

ia mulai terkena pengaruh minuman keras itu. Tubuhnya bergoyang-goyang dan ia mulai

memandang kepada Gan Bu Gi dan Seng Le Hosiang dengan sinar mata berani dan tidak

malu-malu seakan-akan mereka itu kawan-kawan baiknya sendiri, sedangkan ia kini mulai

ikut tertawa-tawa senang.

Melihat hal ini, baik kedua orang pelayan yang melayani mereka maupun Gan-ciangkun dan

Seng Le Hosiang, merasa geli dan gembira sekali.

“Tambah arak, tambah arak!” kata Seng Le Hosiang dengan girang dan kedua pelayan itu

tidak berani membantahnya, karena mereka maklum bahwa hwesio tua ini adalah susiokcouw

dari Liok-taijin dan memiliki ilmu yang hebat sekali.

Setelah minum lagi beberapa cawan, Gwat Kong menjadi mabuk betul-betul. Ia tersenyumsenyum

dan kedukaan lenyap sama sekali dari wajahnya.

Ia mengangkat cawan dan memberi selamat kepada Gan-ciangkun, “Gan-ciangkun, kionghi,

kionghi ….”

“Nanti dulu,” kata Gan Bu Gi sambil tertawa, “Kau memberiku selamat untuk apakah?”

“Bukankah kau telah berhasil memetik setangkai bunga indah di dalam taman keluarga Liok?

Kiongho, sekali lagi kionghi (selamat) …. kau berbahagia sekali!” Dengan iringan suara

ketawa riang mereka bertiga minum kembali araknya.

“Memang perempuan itu seperti kembang ….” Gwat Kong mulai mengoceh.

“Ha ha ha! Kau pandai membuat syair agaknya,” kata Seng Le Hosiang. “Belum pernah aku

bertemu dengan pelayan sehebat kau. Teruskan, teruskan!”

Sambil tersenyum-senyum dan berdiri dari kursinya memandang ke kanan kiri seperti seorang

pemain sandiwara sedang berlagak, Gwat Kong melanjutkan kata-katanya dengan suara

merayu, “Perempuan itu bagaikan kembang … kembang yang indah jelita ….”

“Betul, betul!” kata Gan Bu Gi yang juga sudah kemasukan ‘setan’ arak.

“Kembang indah membuat setiap laki-laki ingin memetiknya …. akan tetapi kembangnya

yang indah selalu berduri ……”

Gan-ciangkun dan Seng Le Hosiang tertawa lagi dengan girang.

“Perempuan itu bagaikan bintang di langit yang cemerlang …” kata pula Gwat Kong yang

makin ‘panas’ otaknya. “Setiap orang ingin sekali terbang ke sana. Akan tetapi, yang tidak

bersayap jangan harap akan dapat mencapainya, dan sayap itu harus terbuat dari pada emas

permata ….”

“Eh, Gwat Kong, apakah kau tidak ingin pula memetik kembang indah juita dan terbang ke

bintang gemilang?” tanya Seng Le Hosiang sambil tertawa-tawa lagi.

“Aku … aku pelayan hina dina yang miskin, yatim piatu yang bernasib malang, mana dapat

dibandingkan dengan dia …? Perempuan itu akan memandang rendah kepadaku, paling

banyak hanya akan memerintah ini-itu, atau bermurah hati sedikit memberi senyum tak berarti

….. aku …. bagianku hanya di kandang kuda.”

“Ha ha ha! Jangan berkata demikian, anak muda. Kau cukup tampan dan baik, hati wanita

akan tergerak melihat mukamu,” kata Seng Le Hosiang.

Gwat Kong menggeleng-geleng kepalanya. “Tak mungkin! Aku mencintainya semenjak

pertama kali melihatnya, memujanya bagaikan dewi, akan tetapi bagaimana aku dapat

menyatakan cintaku? Kalau dia menjadi bulan, aku hanyalah sebatang rumput kering yang

hanya dapat mengharapkan cahayanya yang sejuk pada saat ia muncul. Kalau ia tidak muncul,

aku hanya boleh mengeluh dan menderita atau makin mengering!”

Tiba-tiba Gan Bu Gi bangun berdiri dan dengan mata memandang tajam ia membentak.

“Gwat Kong! Siapakah perempuan yang kaumaksudkan itu?”

Akan tetapi Gwat Kong sudah lupa betul-betul akan keadaan dirinya itu dan yang kini

mendapat jalan untuk menumpahkan semua isi hati dan kesedihannya, tidak memperdulikan

pertanyaan ini dan terus mengoceh sambil memukul-mukul, “ha ha, namanya juga

 28

perempuan! Mudah sekali terpikat oleh harta benda, kedudukan, wajah tampan! Sekali saja

melihat ketiga hal itu menjadi satu dalam diri seorang pemuda, lupalah ia akan pemuda lain

yang miskin dan hina. Padahal akulah yang memberinya kesempatan untuk mempelajari ilmu

pedang ….”

“Gwat Kong!” sambil membentak marah Gan Bu Gi mengulur tangan mendorong tubuh Gwat

Kong sehingga pemuda itu terdorong ke belakang, akan tetapi Gwat Kong tidak roboh

tertelentang, bahkan lalu berjumpalitan ke belakang, sampai empat kali dalam gerakan yang

aneh dan indah sekali. Ia jatuh berdiri dan tertawa bergelak-gelak.

Bukan main terkejutnya Gan Bu Gi menyaksikan kehebatan ginkang ini, bahkan Seng Le

Hosiang juga terperanjat. Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda ini memiliki kelihaian

seperti itu.

“Anak muda, kau siapakah sebenarnya?” tanya Seng Le Hosiang dengan suara keras.

“Ha ha ha !” Gwat Kong tertawa terbahak-bahak. “Aku siapa? Aku adalah seorang pelayan

hina-dina, mana dapat dibandingkan dengan Gan-ciangkun. Seorang wanita akan memilih

dengan mudah. Ia tak mau memandang sebelah mata kepadaku walaupun aku yang telah

mendpapatkan kitab pelajaran pedang …. memang dia sudah lupa akan budi ….!”

Tiba-tiba terdengar seruan halus dan tahu-tahu Tin Eng sudah melompat ke ruang tamu itu

dengan pedangnya di tangan. Wajahnya merah padam karena marahnya.

“Gwat Kong! Tutup mulutmu, atau kau ingin kubunuh dengan pedang ini?” Sambil berkata

demikian gadis itu mengancam dengan pedangnya dan menggigit bibirnya dengan gemas.

“Ha ha ha!” Gwat Kong tertawa lagi. “Kau sudah lihai, dan mau bunuh aku? Silahkan, siocia,

silahkan!”

Dengan marah sekali pedang di tangan Tin Eng bergerak dan menusuk ke arah dada Gwat

Kong. Akan tetapi pemuda itu mengangkat dadanya dan menerima tusukan itu dengan kedua

mata terbuka lebar sehingga Tin Eng tiba-tiba merobah arah tusukannya, akan tetapi masih

saja mengenai lengan kanan Gwat Kong sehingga merahlah lengan bajunya karena darah

yang mengalir keluar dari luka di lengannya. Akan tetapi sedikit pun pemuda itu tidak

memperlihatkan rasa sakit maupun takut.

“Ilmu pedang itu ….” kembali ia mengoceh.

“Gwat Kong, diam! Dan pergi dari sini!” Tin Eng membentak lagi sambil menodongkan

pedangnya pada tenggorokan Gwat Kong. “Kau benar-benar mau menghinaku?”

Mendengar pertanyaan ini, Gwat Kong berseru keras dan mulai melangkah mundur perlahanlahan.

Pikirannya mulai terang dan ia dapat mengingat kembali keadaan. Bukan main

menyesalnya bahwa ia telah menimbulkan kehebohan dan bahkan menghina nama gadis yang

dicintainya. Ia mundur terus dan Tin Eng melangkah maju sambil terus mendorong lehernya.

Akhirnya, Gwat Kong menubruk pilar besar di belakangnya dan ia berdiri mepet pada pilar itu

dan berkata,

“Maaf, maaf …. siocia, maafkan aku … ah, tidak, tidak! Aku tak dapat dimaafkan ….

bunuhlah! Teruskanlah pedangmu itu, tusukkanlah dan bunuh saja pelayan hina dina ini …..”

Entah mengapa, melihat keadaan Gwat Kong sedemikian itu tiba-tiba saja meloncat keluar

dua butir air mata dari kedua mata Tin Eng. Ia tadinya marah sekali karena sudah lama ia

mengintai dan mendengarkan segala ocehan Gwat Kong dan baru ia melompat keluar ketika

Gwat Kong menyebut tentang kitab pelajaran ilmu pedang.

Sementara itu, Seng Le Hosiang dan Gan Bu Gi berdiri sambil memandang peristiwa itu

dengan terheran-heran. Juga dua orang pelayan memandang dengan heran dan takut kalaukalau

pedang itu akan benar-benar menusuk tenggorokan Gwat Kong.

“Kau … kau berani menghina, berani kau mencemarkan namaku di depan orang lain … kau ….

benar-benar kurang ajar ….!”

Dengan dada naik turun dan napas tersengal dara yang sedang marah itu berkata dengan suara

hampir tak dapat terdengar.

 29

Gwat Kong tak berani menentang pandang mata Tin Eng, hanya memandang kepada pedang

yang mengancamnya. “Memang, aku kurang ajar dan hina dina, kau teruskanlah seranganmu,

nona.”

Pada saat yang menegangkan itu, Liok Ong Gun yang mendengar suara ribut-ribut masuk ke

dalam ruangan tamu itu dan alangkah terkejutnya melihat betapa puterinya sedang menodong

Gwat Kong dengan pedangnya dan agaknya hendak membunuh pemuda itu.

“Tin Eng!” teriaknya, “Apakah kau sudah gila?”

Mendengar teriakan ayahnya, Tin Eng sadar kembali dari marahnya dan dengan isak tertahan

ia lalu menarik kembali pedangnya dan berlari ke kamarnya di mana ia banting tubuhnya di

atas pembaringan sambil menangis.

Sementara itu, Gwat Kong yang setengah sadar setengah mabuk itu lalu berlutut di depan

Liok Ong Gun dan berkata,

“Taijin, hamba telah melakukan dosa besar, mohon taijin suka memberi maaf sebanyaknya

dan ijinkanlah hamba pergi.”

Liok Ong Gun merasa amat marah dan malu melihat betapa pelayannya yang tadinya

dianggap baik ini ternyata mendatangkan keributan sehingga menimbulkan malu kepada

keluarganya, maka tanpa banyak pikir lagi lalu berkata,

“Pergilah segera dan jangan kau muncul lagi di depanku!”

Gwat Kong bangkit berdiri lalu berjalan ke arah kamarnya dengan terhuyung-huyung,

mengambil buntalannya dan segera meninggalkan gedung itu dengan hati perih. Luka di

lengannya tak dirasakan lagi. Akan tetapi luka di hatinya terasa menyakitkan seluruh

tubuhnya. Pikirannya tidak dapat digunakan dengan baik oleh karena terkacau oleh pengaruh

minuman keras. Setelah keluar dari kota Kiangsui, ia lalu lari. Pengaruh arak membuat ia tak

sadar betapa larinya itu cepat sekali, oleh karena tanpa disengaja ia telah mempergunakan

ginkang yang selama ini dilatih dengan secara diam-diam di dalam kamarnya. Buku pelajaran

silat yang tebal itu dibawanya di dalam buntalan pakaian yang kini berada di atas

punggungnya, berikut juga sejumlah uang yang ia kumpulkan dari hasil upahnya.

Sementara itu, setelah Gwat Kong pergi, Liok Ong Gun menjura kepada susiok-couwnya

menyatakan maafnya, sedangkan hwesio tua itu dengan masih terheran-heran bertanya,

“Ong Gun, sebetulnya siapakah anak muda tadi? Ku lihat ginkangnya tidak rendah!”

Kepala daerah itu merasa heran mendengar ini. “Ginkang? Ah, pemuda itu semenjak berusia

tiga belas tahun telah berada di tempat ini sebagai pelayan dan sama sekali tidak pernah

mempelajari ilmu silat, bagaimana bisa memiliki ginkang?” Kemudian dengan singkat ia

menceritakan keadaan Gwat Kong yang rajin dan jujur.

Seng Le Hosiang dan Gan Bu Gi merasa heran sekali karena tadi mereka benar-benar telah

menyaksikan kepandaian Gwat Kong. Dorongan Gan Bu Gi tadi bukanlah sembarangan

dorongan, akan tetapi adalah gerakan ilmu silat yang disebut Jeng-kin-jiu-pai-san atau Tangan

Seribu Kati Menolak Gunung. Tenaga dorongan itu sedikitnya ada tiga ratus kati dan

jangankan orang yang tidak mengerti ilmu silat bahkan orang yang ilmu silatnya tidak tinggi

dan tidak memiliki lweekang sempurna, tentu akan terdorong roboh. Akan tetapi, Gwat Kong

pelayan yang dianggap bodoh tadi tidak roboh, bahkan memperlihatkan ginkang yang

mengagumkan karena dalam keadaan setengah mabuk dapat berjumpalitan empat kali ke

belakang dan jatuh dalam keadaan berdiri.

Akan tetapi karena cerita Liok Ong Gun amat meyakinkan, mereka menganggap bahwa hal

itu mungkin terjadi karena kebetulan saja dan hal itu tidak dibicarakan pula.

“Bagaimana, apakah sudah ada keputusanmu tentang perjodohan ini?” tanya Seng Le Hosiang

secara langsung oleh karena setelah ia merasa kenyang dan telah cukup lama berada di situ, ia

ingin segera pergi pula.

“Teecu berdua isteri telah setuju dan dapat menerima pinangan ini, akan tetapi sebelum teecu

bertanya kepada Tin Eng sendiri, teecu tidak berani memberi keputusan.”

 30

Tiba-tiba Gan Bu Gi yang merasa amat kecewa setelah mendengar dan melihat sendiri

peristiwa yang terjadi antara Tin Eng dan Gwat Kong, diam-diam menaruh hati curiga dan

cemburu terhadap Tin Eng dan pelayan itu, maka lalu berkata cepat,

“Seng Le Locianpwe dan Liok-taijin saya harap hal ini ditunda dulu saja dan dengan

perlahan-lahan diurus, karena baru saja siocia mengalami kekagetan. Mengapa harus amat

tergesa-gesa?”

Akan tetapi Seng Le Hosiang mencelanya, “Bu Gi, kau harus tahu bahwa pinceng datang

menguruskan soal perjodohan ini untuk mewakili suhumu, dan kau tentu tahu pula bahwa

pinceng tidak biasa menunda-nunda urusan. Kau tak usah ikut-ikut membicarakan hal ini!

Bagaimana Liok Ong Gun, apakah pinceng dapat menentukan urusan ini untuk memberi

jawaban kepada Bong Bi Sianjin ?”

Didesak sedemikian rupa, terpaksa Liok Ong Gun yang sebenarnya sudah setuju untuk

mengambil Bu Gi sebagai menantu, menjawab, “Baiklah, susiok-couw, pinangan ini boleh

dianggap sudah diterima dan ikatan jodoh sudah disyahkan, hanya tentang pernikahan,

baiknya diputuskan kemudian untuk menetapkan waktunya. Teecu tidak bisa mendesak

terlalu keras terhadap anak tunggal sendiri, sungguhpun teecu dapat menduga bahwa anakku

tentu takkan keberatan terhadap hal ini.”

Barulah hati hwesio tua itu merasa lega mendengar ini. Ia tertawa tergelak-gelak dan berkata,

“Bagus, bagus! Nah, kalau begitu pinceng pergi sekarang juga dan penetapan hari pernikahan

akan ditentukan kemudian!”

Baik Gan Bu Gi maupun Liok-taijin, tak dapat menahan hwesio yang mempunyai adat kasar

dan aneh itu, hanya mengantarnya sampai di luar gedung.

Setelah itu, Liok-taijin lalu masuk ke dalam gedungnya kembali dengan maksud untuk

menegur puterinya tentang peristiwa tadi dan sekalian menyampaikan hal pinangan itu

kepadanya. Akan tetapi ketika ia tiba di luar kamar Tin Eng, ia mendengar suara isterinya

membujuk-bujuk dan suara Tin Eng menangis.

Ia masuk ke dalam kamar itu dan isterinya segera berdiri melihat ia masuk, akan tetapi Tin

Eng diam saja sambil terisak-isak di atas pembaringannya.

“Tin Eng, sungguh aku tidak mengerti melihat sikapmu tadi. Mengapa kau marah-marah dan

hendak membunuh Gwat Kong di depan para tamu?” Liok-taijin menegur puterinya.

Mendengar pertanyaan ini, bukannya menjawab bahkan Tin Eng menangis makin keras.

Ayahnya menggeleng-geleng kepala dan berkata kepada isterinya, “Coba kau lihat betapa

keras kepala anak kita ini! Sebetulnya mengapa pula ia menangis?”

“Entahlah, semenjak tadi aku bertanya akan tetapi ia hanya menangis saja, memang sukar

sekali mengurus Tin Eng!”

Kedua orang tua itu tentu saja tidak dapat tahu betapa hati dara itu merasa sakit sekali.

Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Gwat Kong masih bergema di telinganya dan biarpun

hal ini masih membuatnya marah akan tetapi kemarahannya tidak sebesar penyesalannya

teringat akan sikapnya sendiri yang hampir saja membunuh pelayan itu, bahkan telah melukai

lengannya. Gwat Kong selama ini berlaku amat baik kepadanya dan apakah pembalasannya?

Ia teringat betapa ia pernah menyatakan berhutang budi kepada pelayan itu dan belum

membalasnya. Ia merasa kasihan kepada Gwat Kong, terutama kalau ia kenangkan ucapanucapan

pemuda tadi yang dengan terang-terangan menyatakan cinta kasihnya!

“Tin Eng,” ayahnya berkata keras. “Jangan kau berlaku seperti anak kecil! Ketahuilah, usiamu

telah enam belas tahun lebih dan kau telah menjadi seorang dewasa. Perlakuanmu terhadap

Gwat Kong tadi tidak seharusnya dilakukan oleh seorang gadis bangsawan seperti engkau.

Boleh jadi pelayan itu membuat kesalahan, akan tetapi kau tidak berhak untuk turun tangan

sendiri kepadanya di depan susiok-couw dan calon suamimu.”

Mendengar sebutan terakhir ini tiba-tiba Tin Eng serentak bangun duduk dan memandang

kepada ayahnya dengan mata masih merah.

 31

Ibunya menaruh tangannya di atas pundak Tin Eng. “Anakku, kau telah dipinang untuk

dijodohkan dengan Gan-ciangkun dan menurut pandangan mata kami berdua, pemuda itu

sudah pantas untuk menjadi suamimu.”

Sebetulnya, hati Tin Eng memang amat tertarik oleh Gan Bu Gi yang selain tampan dan

gagah, juga memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya. Akan tetapi, sama sekali belum

terpikir olehnya tentang perjodohan, maka ia merasa terkejut sekali mendengar ini. Pula,

ucapan-ucapan Gwat Kong yang masih bergema di telinganya itu membuyarkan sama sekali

perasaan hatinya yang agak condong kepada Gan-ciangkun.

“Ayah, aku tidak ingin menikah dengan siapapun juga!” jawabnya keras dan dengan suara

“Anak bodoh! Ayah ibumu telah menerima pinangan itu. Siapa lagi kalau bukan Gan Bu Gi

yang pantas menjadi menantuku?”

“Ya, pantas menjadi menantumu, ayah, akan tetapi aku tidak ingin menjadi isterinya, atau

isteri siapapun juga!” jawab Tin Eng bersikeras.

Marahlah Liok Ong Gun melihat kebandelan anaknya ini. “Tin Eng! Jangan kau berkeras

kepala! Kurang apakah pemuda seperti Gan Bu Gi? Ia cukup tampan, berkepandaian tinggi,

berkedudukan baik, dan beradat baik pula!”

Teringat dara itu kepada ucapan dan sindiran-sindiran Gwat Kong, maka dengan muka merah

ia menjawab, “Boleh jadi ia cakap, gagah, kaya, berkedudukan tinggi. Akan tetapi aku

bukanlah gadis yang tergila-gila akan kekayaan dan kedudukan maupun ketampanan dan

kegagahan. Ayah, aku tidak mau!”

Maka meluaplah kemarahan dalam hati Liok Ong Gun. Ia mengangkat tangan dan menampar

muka Tin Eng sehingga gadis itu menekap pipinya yang tertampar dan air matanya mengalir

kembali. Belum pernah ia ditampar oleh ayahnya dan hal ini amat menyakitkan hatinya.

“Anak tidak berbakti! Kau terlalu dimanja sehingga menjadi keras kepala! Aku memberi

waktu sampai malam nanti untuk kau menyehatkan kembali pikiranmu yang tersesat! Malam

nanti aku menanti jawabanmu yang memastikan dan sekali-kali kau tidak boleh banyak

berbantah dalam hal ini!” Setelah berkata demikian, Liok-taijin tinggalkan kamar itu dan

menutup pintu kamar anaknya keras-keras.

Tin Eng menjatuhkan diri di atas pembaringannya dan menangis sedih. Ibunya memeluknya

dan membujuk-bujuk. Akan tetapi gadis itu tak dapat dihibur dan menangis tersedu-sedu

sehingga habis air matanya ditumpahkan membasahi bantalnya.

05. Pertikaian Murid Go-bi-pai dan Hoa-san-pai

SEMENTARA itu Liok-taijin lalu memanggil kedua orang pelayan yang tadi melayani Seng

Le Hosiang. Ia menyuruh kedua pelayan ini menceritakan segala peristiwa yang terjadi pada

waktu keributan tadi. Karena takut untuk menyembunyikan sesuatu, kedua pelayan itu lalu

menceritakan segala yang mereka dengar dan lihat.

Bukan main marahnya hati Liok Ong Gun mendengar akan kekurang ajaran Gwat Kong dan

ia merasa menyesal mengapa tadi ia membiarkan pemuda itu pergi. Kalau ia tahu akan

menghukumnya. Dan yang paling menyebalkan hatinya ialah pernyataan-pernyataan dan

ucapan-ucapan Gwat Kong yang seakan-akan menyindirkan keadaan Tin Eng dan

menyatakan cinta kasihnya terhadap anaknya. Puteri tunggalnya seorang dara puteri Kepala

daerah, bangsawan dan kaya raya. Orang paling berkuasa di kota Kiangsui, dicinta oleh

seorang bujang pelayan yang rendah dan hina? Kurang ajar sekali anak itu!

Dan ketika memikirkan hal ini, teringatlah ia akan penolakan Tin Eng terhadap perjodohan

itu, maka ia menduga-duga apakah hubungannya penolakan ini dengan kekurang ajaran Gwat

 32

Kong? Makin marahlah ia dan dengan mata terbelalak ia berkata kepada dua orang pelayan

itu, “Kalian berdua harus dapat menutup mulut dan jangan diceritakan segala peristiwa yang

terjadi tadi kepada siapapun juga! Aku akan mencari dan menjatuhi hukuman kepada Gwat

Kong si keparat, dan kalau sampai ada orang luar mendengar tentang peristiwa memalukan

itu, tentu kaulah yang bocor mulut dan awas! Aku takkan memberi ampun kepadamu!”

Kedua orang pelayan itu lalu mengundurkan diri dengan ketakutan dan tentu saja mereka

tidak berani membuka mulut tentang peristiwa yang terjadi pagi tadi, jangankan kepada orang

lain, kepada isteri mereka sendiri mereka tidak berani menceritakan!

Pada malam hari itu, dengan hati penuh harapan, Liok Ong Gun masuk ke dalam kamar

puterinya bersama isterinya untuk meminta jawaban dari gadis itu. Mereka mendapatkan Tin

Eng masih duduk di atas pembaringan sambil termenung.

“Tin Eng, pikirkan baik-baik bahwa kami berdua hanya ingin menunjukkan jalan kebahagiaan

untukmu, maka sebagai seorang anak berbakti kau pun harus mendatangkan kesenangan

dalam hati orang tuamu dengan jawaban yang baik,” kata Liok Ong Gun dengan suara halus

sungguhpun hatinya masih merasa marah karena teringat akan cerita kedua pelayan tadi.

Sampai lama Tin Eng tidak menjawab, hanya memandang kepada kedua orang tuanya.

Kemudian, setelah berkali-kali menarik napas panjang, ia berkata. “Ayah, aku masih belum

bersedia untuk terikat oleh perjodohan, harap kau suka maafkan, ayah.”

Timbullah lagi kemarahan dalam hati Liok-taijin, akan tetapi ditahan-tahannya ketika ia

bertanya dengan muka merah, “Sudah kau pikirkan baik-baik?”

“Sudah, ayah,” jawab gadis itu sambil menundukkan kepalanya.

“Apakah alasanmu maka kau menampik? Apakah tidak suka kepada Gan-ciangkun?”

Tin Eng menggeleng kepalanya. “Tidak ada alasan apa-apa, ayah. Hanya aku belum ada

pikiran untuk menikah. Aku tidak suka mengubah keadaan hidupku dan ingin tinggal seperti

biasa saja.”

“Anak bandel!” Liok-taijin membentak dan kini ia tidak dapat menahan marahnya yang tadi

ditekan-tekannya. Kemarahannya meluap dan ia berkata, “Kau anak tidak berbakti yang

hanya mengecewakan dan membikin malu orang tua! Diatur baik-baik kau tidak menurut, dan

membiarkan dirimu dihina oleh cinta seorang pelayan rendah!”

“Ayah!” Tin Eng memandang ayahnya dengan mata terbelalak.

“Hmm, kaukira aku tidak tahu? Anjing she Bun yang hina dina itu telah berani menyatakan di

depan pelayan lain dan susiok-couw bahwa ia mencintaimu! Alangkah rendahnya, sungguh

memalukan! Dan kau …. kau sekarang menolak pinangan Gan-ciangkun, bukankah ini

menimbulkan dugaan seakan-akan kau …. membalas cinta anjing itu …??”

“Ayah ….!!”

“Tutup mulutmu, aku tidak menyangka bahwa kau membalas cintanya karena tadi pun kau

hendak membunuhnya. Akan tetapi, kalau kau menolak pinangan ini, tentu akan timbul

 33

dugaan seperti itu dalam hatiku. Pendeknya kau harus menerima pinangan ini dan hari

pernikahan akan ditetapkan kemudian, dan kau tidak boleh membantah. Aku telah menerima

pinangan itu dan tak boleh dibatalkan lagi!”

“Ayah …!” Akan tetapi Liok Ong Gun telah melangkah pergi, diikuti oleh isterinya yang takut

kalau-kalau suaminya marah apabila ia tinggal di kamar puterinya.

Tin Eng menangis lagi dengan sedihnya. Ia merasa mendongkol dan gemas sekali kepada

Gwat Kong karena pemuda itulah yang menimbulkan gara-gara ini. Kalau saja Gwat Kong

tidak bersikap seperti pagi tadi, tentu ia lebih mudah untuk menolak pinangan itu. Apa daya?

Ayahnya telah memaksa dan ia cukup maklum akan kekerasan hati ayahnya.

Pada keesokan harinya, ketika pelayan wanita memasuki kamar Tin Eng, ia mendapatkan

kamar itu kosong karena Tin Eng telah pergi tak meninggalkan bekas. Gegerlah di dalam

gedung itu dan ternyata kemudian bahwa Tin Eng telah minggat dari rumahnya malam tadi,

membawa beberapa potong pakaian, tanpa meninggalkan pesan sesuatu!

Liok-taijin merasa marah dan malu sekali maka ia lalu memberi perintah kepada para pelayan

dan penjaga di gedung agar hal ini jangan sampai tersiar di luar. Kemudian ia lalu memanggil

Gan Bu Gi dan memberi perintah kepada calon menantu ini untuk membawa beberapa orang

perwira dan pergi mencari Tin Eng. Juga dipesan kalau bertemu dengan Gwat Kong supaya

dibunuh saja pelayan yang menimbulkan kekacauan itu.

****

Bun Gwat Kong yang melarikan diri terus ke selatan tiba di dalam hutan dan ia duduk

beristirahat. Setelah berlari dan keluar peluh, pusingnya akibat arak itu lenyap dan ketika

duduk di tempat teduh dan mendapat siliran angin lalu, terkenanglah ia akan segala peristiwa

yang terjadi dan timbul penyesalan hebat di dalam hatinya. Ia merasa lengannya yang tertusuk

ujung pedang Tin Eng, dan tersenyumlah dia. Luka itu telah mengering, tanda bahwa tiap luka

tentu lambat laun akan sembuh, sebagaimana juga dengan hatinya yang terluka pada saat itu.

Ia maklum bahwa dengan terjadinya peristiwa itu, Tin Eng tentu amat membencinya. Ah, ini

lebih baik lagi, agar ia tidak selalu memikirkan gadis itu karena bukankah gadis itu akan

menjadi isteri orang lain, isteri Gan-ciangkun?

Mendengar siliran angin dan karena perutnya amat lapar, ia lalu berpindah tempat, mencari

tempat yang enak di bawah pohon, tertutup oleh serumpun alang-alang dan sebentar saja ia

sudah tidur pulas.

Belum beberapa lama ia tidur, tiba-tiba terdengar suara ribut tak jauh dari tempat itu sehingga

Gwat Kong terbangun dengan terkejut. Ketika ia memperhatikan, terdengarlah suara senjata

tajam beradu, tanda bahwa di dekat situ terdapat orang-orang sedang bertempur. Dengan

heran Gwat Kong mengintai dari balik rumpun alang-alang itu dan terkejutlah ia ketika ia

melihat bahwa yang bertempur itu adalah seorang tosu tua yang ia kenal sebagai Bong Bi

Sianjin, guru Gan Bu Gi yang dulu datang di gedung Liok-taijin. Tadinya ia menyangka

bahwa kakek itu sedang bertempur dengan dua orang pemuda yang gagah perkasa. Gwat

Kong belum pernah melihat pemuda-pemuda itu, akan tetapi melihat wajah mereka yang

tampan itu membayangkan kegagahan, begitu melihat ia telah merasa suka.

Sebetulnya, pertandingan yang sedang berlangsung itu hebat sekali karena gerakan Bong Bi

Sianjin dan kedua orang lawannya yang muda itu benar-benar lihai dan cepat. Kalau orang

 34

biasa yang melihatnya tentu ia akan menjadi pening dan pandang matanya menjadi kabur.

Akan tetapi, Gwat Kong tanpa menyadari keadaannya sendiri, dapat melihat jalan

pertempuran itu dengan jelas. Ia melihat betapa kedua orang muda itu terdesak hebat oleh

sepasang tangan Bong Bi Sianjin, sungguhpun keduanya menggunakan senjata pedang.

Kedua pemuda itu bertubuh tegap dan berwajah tampan, seorang di antara mereka berbaju

biru dan yang seorang pula berbaju putih. Ilmu pedang mereka gesit dan kuat sehingga

pedang yang dimainkan merupakan gulungan sinar yang menyambar-nyambar. Akan tetapi

Bong Bi Sianjin yang menghadapi mereka dengan tangan kosong itu dengan tenang dapat

menghindarkan semua serangan pedang dengan ginkangnya yang tinggi hingga tubuhnya

dapat melayang di antara sinar pedang dan membalas dengan pukulan-pukulan yang

digerakan dengan tenaga khikang.

Kadang-kadang tangannya mencengkeram dengan Ilmu Eng-jiauw-kang dan angin

pukulannya ternyata kuat sekali. Kini sepasang pemuda itu telah terdesak hebat, dan tibalah

tendangan Siauw-cu-twi yang datangnya bertubi-tubi dan berhasil mengenai tangan pemuda

baju putih yang memegang pedang sehingga pedang itu terlempar ke atas! Akan tetapi,

pemuda itu ternyata hebat juga, karena ia dapat melompat ke atas dan menangkap kembali

gagang pedang itu!

“Bagus, anak muda murid Hoa-san tidak mengecewakan!” Tosu itu memuji dan mengirim

serangan lagi makin hebat sehingga kedua anak muda itu kini hanya dapat menangkis saja,

karena kedua ujung lengan tosu itu kini dugunakan sebagai senjata yang mengirim pukulan

dan totokan luar biasa!

Gwat Kong yang melihat guru Gan Bu Gi, merasa tidak senang karena betapapun juga ia

menganggap bahwa Gan Bu Gi adalah perusak kebahagiaannya. Ia mengambil tiga buah uang

tembaga dari buntalannya dan dari tempat sembunyinya ia menyambit ke arah tubuh Bong Bi

Tosu di tiga bagian!

Pada saat itu, Bong Bi Sianjin telah mendesak amat hebatnya dan telah dapat dibayangkan

bahwa tak lama kemudian tentu kedua orang muda itu akan roboh ditangannya. Tiba-tiba

nampak berkelebat tiga cahaya menuju ke tosu itu yang menjadi amat terkejut oleh karena

belum juga benda itu sampai, anginnya telah menyambar tiba terasa olehnya!

Dengan cepat Bong Bi Sianjin melompat ke kiri, akan tetapi sebuah di antara tiga senjata

rahasia itu malah melayang ke arah dada sehingga dengan cepat ia menyampoknya dengan

ujung lenagn bajunya. “Brett!” dan terkejutlah Bong Bi Sianjin karena biarpun senjata yang

ternyata hanya sebuah uang tembaga itu dapat dipukul ke samping akan tetapi ujung lengan

bajunya menjadi berlubang.

Padahal ketika menyampoknya tadi, ia telah mengerahkan lweekangnya dan jangankan baru

sebuah uang logam, bahkan baja sekalipun tak mungkin dapat membikin ujung baju itu

berlubang! Ia maklum bahwa pasti ada seorang sakti yang membela kedua pemuda lawannya

itu, maka sambil melompat mundur ia berseru, “Sahabat, terima kasih atas pertunjukkanmu

tadi. Harap suka keluar untuk bertemu muka.”

Akan tetapi, Gwat Kong diam saja dan hanya mengintai dari balik alang-alang itu tanpa

berani bergerak. Bong Bi Sianjin merasa marah sekali dan menganggap bahwa orang sakti itu

 35

tentu memandang rendah kepadanya, maka ia lalu menjura dan berkata, “”Biarlah, kalau ada

orang pandai melindungi anak murid Hoa-san, lain kali pasti bertemu lagi!” Setelah berkata

demikian, Bong Bi Sianjin melempar pandang mengejek ke arah kedua orang muda itu, lalu

tubuhnya berkelebat dan pergi dari tempat itu.

Kedua orang muda itu lalu memandang ke arah rumput alang-alang dan sambil mengangkat

kedua tangan memberi hormat, si baju biru yang lebih tua berkata, “Inkong (tuan penolong),

kami menghaturkan terima kasih dan harap inkong sudi memperlihatkan diri.”

Akan tetapi tidak ada jawaban sehingga kedua orang muda itu saling pandang dan

mengangkat pundak masing-masing.

“Mungkin dia sudah pergi lagi, “ kata pemuda baju putih.

“Mari kita lihat,” kata yang berbaju biru.

Mereka lalu melangkah maju dan menyingkapkan rumpun alang-alang itu dan bukan main

heran hati mereka ketika melihat di situ hanya ada seorang pemuda yang berpakaian pelayan

sedang berbaring dengan sebuah buntalan digunakan sebagai bantal!

“Kaukah yang menolong kami tadi?” tanya si baju putih dengan ragu-ragu, karena ia tidak

percaya kalau anak muda ini yang berhasil mengusir tosu yang amat lihai itu.

“Siapa yang menolong?” balas Gwat Kong dengan sikap tak acuh. “Aku tidak suka kepada

tosu yang mengganggu tidurku itu dan setelah kuberi tiga potong uang tembaga barulah

pengemis tua itu pergi.” Setelah berkata demikian, Gwat Kong lalu bangun duduk dan

mengambil buntalannya.

“Ah, kalau begitu benar kau yang telah menolong kami. Terima kasih, sahabat, marilah kita

bicara di tempat yang lebih enak,” kata pemuda yang berbaju biru sambil mempersilahkan

berdiri. Sedangkan si baju putih lalu memegang buntalan Gwat Kong untuk dibawakan.

“Biarlah siauwte membawakan bungkusanmu,” katanya, akan tetapi alangkah terkejutnya

ketika ia merasa betapa beratnya bungkusan yang dipegang oleh Gwat Kong itu. Ia merasa

penasaran dan mengerahkan tenaganya untuk mengambil bungkusan itu, akan tetapi

bungkusan yang terpegang oleh pemuda berpakaian pelayan itu sama sekali tak dapat ia

gerakan. Ia maklum bahwa pemuda pelayan itu memiliki kepandaian tinggi dan tenaga

lweekang yang luar biasa maka ia lalu melepaskan buntalan itu dan membungkuk-bungkuk

memberi hormat sambil berkata, “Maaf, maaf!”

Mereka lalu keluar dari tempat itu dan berjalan menuju ke tempat dua ekor kuda yang

ditambatkan pada sebatang pohon. Ternyata bahwa kedua pemuda itu datang menunggang

“Saudara yang gagah perkasa, kami telah berhutang budi kepadamu, karena kalau tidak ada

kau yang menolong, tentu tosu tadi tidak mau memberi ampun dan akan membinasakan kami.

Bolehkah kami mengetahui namamu yang mulia dan dari perguruan manakah kau datang?”

 36

Gwat Kong merasa bingung karena tidak tahu harus menjawab bagaimana, dan tiba-tiba ia

teringat akan rasa lapar yang menyerang perutnya, maka ia bahkan balas bertanya, “Apakah di

dekat ini ada yang menjual makanan? Perutku lapar sekali!”

Kedua orang muda itu saling pandang lagi dengan mata terheran karena mereka merasa

betapa anehnya sikap Gwat Kong itu.

“Kau lapar? Ah, kebetulan sekali kami membawa arak dan roti kering.”

“Bagus! Kalau begitu biarlah aku akan membeli makananmu itu,” kata Gwat Kong sambil

mengeluarkan uang dari buntalannya.

“Ah, mengapa kau berlaku sungkan-sungkan,” kata si baju biru dan si baju putih segera

mengambil makanan dan seguci arak dari punggung kuda.

“Marilah, sahabat, makanlah roti dan arak kami ini.”

Gwat Kong menggeleng-geleng kepala. “Tidak, kalau tidak mau menerima uangku, aku tidak

berani makan makanan orang lain.”

“Akan tetapi kami bukanlah orang lain lagi, sobat baik!”

Si baju biru berseru, “Kami adalah kakak beradik, namaku Pui Kiat dan ini adikku Pui Hok

dan sudilah kau memberi tahukan namamu yang mulia.”

“Namaku Bun Gwat Kong dan aku adalah seorang bekas pelayan biasa saja. Tentang

makanan …. kalau kalian menawarkan dengan rela, aku takkan menolaknya!” Dengan girang

Pui Kiat dan Pui Hok lalu mengajak Gwat Kong duduk di atas rumput dan makan roti kering

bersama arak.

Melihat betapa lahapnya Gwat Kong minum arak, kedua saudara Pui itu menjadi makin

“Mengapa kalian bertempur dengan tosu itu?” tanya Gwat Kong. Pui Kiat lalu menceritakan

sebab-sebab pertempuran tadi. Kedua saudara Pui ini adalah anak murid Hoa-san-pai dan

dalam beberapa bulan akhir-akhir ini pihak Hoa-san-pai memang menanam permusuhan

dengan pihak Go-bi-pai. Mula-mula hanya terjadi karena perkelahian antara anak murid saja,

akan tetapi lama kelamaan menjalar sampai ke tokoh-tokohnya, sehingga bertandinglah Seng

Le Hosiang tokoh Go-bi-pai melawan Sin Ceng Cu tokoh Hoa-san-pai yang berakhir dengan

kekalahan bagi Seng Le Hosiang.

Hwesio ini merasa penasaran dan mencari sahabat untuk membantunya, yakni Bong Bi

Sianjin tokoh Kim-san-pai itu. Oleh karena itulah, maka tiap kali Bong Bi Sianjin bertemu

dengan murid-murid Hoa-san-pai, ia selalu menyerang dan membikin malu mereka! Karena

kedua pihak tidak ada yang mau mengalah maka permusuhan itu makin menjalar, bahkan

sudah ada yang saling bunuh di antara anak murid Hoa-san-pai melawan anak murid Go-bipai!

 37

“Ah, tak kusangka sama sekali bahwa tokoh-tokoh persilatan itu tak lain hanya anak-anak

kecil yang nakal dan gemar berkelahi saja!” kata Gwat Kong terheran-heran dan menghela

napas panjang.

Kedua saudara Pui itu merasa amat heran melihat pemuda yang berkepandaian demikian lihai,

akan tetapi yang kelihatannya seperti orang bodoh dan tidak berpengalaman. “Bolehkah kami

mengetahui, Bun-taihiap ini anak murid cabang manakah?”

Gwat Kong tersenyum, bangkit berdiri sambil menyambar buntalan pakaiannya dan

menjawab, “Aku tidak mempunyai guru!” Dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah lari jauh

sekali!

Kedua saudara Pui itu hanya dapat saling pandang dengan bengong dan tiada hentinya mereka

membicarakan kehebatan dan keanehan pemuda itu, yang telah menolong mereka dari

desakan Bong Bi Sianjin.

“Bukan main!” akhirnya Pui Hok berkata. “Siapakah sebenarnya orang aneh tadi? Ia masih

muda, jauh lebih muda dari pada kita, paling banyak baru delapan belas tahun, akan tetapi

lweekang dan ginkangnya sudah sehebat itu! Suhu sendiri belum tentu dapat mengatasinya!”

Demikianlah, kedua saudara Pui itu menduga-duga kagum dan heran.

****

Sambil berlari terus menuju ke kota Kihong, Gwat Kong mulai merasa tertarik akan

penghidupan merantau. Ia kagumi kedua saudara Pui yang gagah perkasa dan merasa gembira

telah dapat berkenalan dengan dua orang pemuda itu. Kini ia maklum mengapa Seng Le

Hosiang begitu mati-matian membela Bong Bi Sianjin dan muridnya, tidak sedan-segan

mempergunakan pengaruhnya terhadap cucu muridnya, yaitu Liok Ong Gun untuk memberi

kedudukan baik kepada Gan Bu Gi serta memungut menantu pemuda itu.

Ia dapat menduga bahwa Seng Le Hosiang tentu mengharapkan bantuan Bong Bi Sianjin

dalam usahanya menghadapi pihak Hoa-san-pai, sebagaimana terbukti dari penuturan kedua

saudara Pui tadi. Karena ia memang tidak suka kepada Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin

yang timbul karena tidak sukanya kepada Gan Bu Gi, maka otomatis ia berpihak kepada

kedua saudara Pui atau kepada pihak Hoa-san-pai.

Dengan ginkangnya yang di luar pengetahuan sendiri telah mencapai tingkat tinggi itu, Gwat

Kong berlari cepat sekali hingga setelah hari mulai menjadi gelap ia tiba di kota Kihong. Ia

masih ingat di mana jenazah ibunya dimakamkan, maka ia langsung menuju ke tempat

kuburan itu dan ketika melihat betapa makam ibunya kini ditumbuhi rumput alang-alang yang

tinggi dan liar sehingga kuburan itu terlantar karena tidak terawat, ia menjadi terharu dan

bersedih. Ia merasa berdosa kepada ibunya, teringat akan segala kenakalannya ketika ia masih

tinggal bersama ibunya di Kihong. Ia menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan ibunya dan

menangis sedih.

Pada keesokan harinya, ia menggulung lengan baju dan mulai membabat dan mencabut

rumput alang-alang itu, membersihkan kuburan ibunya. Kemudian ia pergi ke kota dan

membeli hio-swa dan kembang untuk bersembahyang di depan makam ibunya. Dua hari dua

malam ia tinggal di situ dan tidak tidur sedikitpun, hanya duduk bersila di depan kuburan

 38

sambil mengenangkan semua peristiwa di waktu ia masih kecil dan yang masih dapat teringat

olehnya. Ia teringat akan pesan ibunya untuk membalas dendam kepada Tan-wangwe

(hartawan Tan) yang tinggal di Lam-hwat dan yang telah memfitnah ayahnya sehingga orang

tuanya itu menerima bencana hebat yang menyebabkan semua keluarganya menderita.

Pada hari kedua, karena lelah dan mengantuk, Gwat Kong tak dapat bertahan lagi dan ia

merebahkan tubuhnya di atas tumpukan rumput alang-alang yang dibabatnya. Angin pagi

berselir membuat matanya sukar untuk menahan ngantuknya sehingga tak lama kemudian ia

tertidur dengan nyenyak.

Ia tidak tahu bahwa belum lama setelah ia jatuh pulas, enam orang yang berpakaian perwira

Sayap Garuda datang di tempat itu dan kini keenam orang itu berdiri memandangnya dan

dengan lagak mengancam. Mereka ini bukan lain ialah Gan Bu Gi sendiri dengan lima orang

kepala perwira dari gedung Kepala daerah Kiang-sui yakni Thio Sin, Lie Bong, dan Kiang-sui

Sam-eng ketiga jago dari Kiang-sui!

Melihat Gwat Kong tertidur di dekat segunduk tanah kuburan, Gan Bu Gi yang mendapat

perintah dari calon mertuanya untuk membunuh Gwat Kong segera mencabut pedangnya dan

hendak menikam dada pemuda itu.

“Tahan dulu, ciangkun!” kata Thio Sin yang melihat gerakan ini sehingga perwira muda itu

menahan pedangnya dan memandang dengan heran.

“Mengapa, Thio-twako? Liok-taijin telah memberi perintah kepada kita untuk membunuhnya,

bukan?”

“Sesungguhnya kurang sempurna kalau kita yang disebut orang-orang gagah dari Kiang-sui

harus membunuh seorang pelayan lemah yang sedang tidur pulas! Bagaimana kalau sampai

terlihat oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw? Biarpun tidak akan mereka ketahuinya

setidaknya kita akan merasa malu terhadap batin sendiri!”

Bu Gi yang muda itu menjadi serba salah dan mengangkat pundak. “Habis, bagaimana

baiknya ? Aku hanya hendak memenuhi tugas yang diperintahkan oleh Liok-taijin.”

“Lebih baik kita tangkap padanya, kalau dia melawan, barulah kita mempunyai alasan untuk

membunuhnya. Biarpun hendak dibunuh harus dalam keadaan sadar dan tidak sedang tidur

seperti ini!” Thio Sin lalu menghampiri Gwat Kong yang sedang tidur dan mengeluarkan

sehelai tambang yang kuat. Dengan bantuan Lie Bong dan kawan-kawan lain ia lalu mengikat

kedua lengan Gwat Kong yang masih tidur nyenyak itu dengan erat. Ternyata Gwat Kong

yang terlampau lelah dan mengantuk itu tidak merasa sama sekali betapa kedua lengannya

ditelikung ke belakang dan dibelenggu erat-erat bagaikan kerbau hendak disembelih itu.

“He, Gwat Kong! Bangunlah!” Thio Sin menggoyang-goyang tubuhnya dan ketika pemuda

itu belum juga terbangun, timbullah gemasnya. “Dasar orang malas, malas dan tolol!”

Gan Bu Gi tertawa geli, menertawakan Thio Sin yang dianggap mencari kerepotan sendiri.

Mengapa harus berlaku sungkan-sungkan terhadap seorang pelayan seperti Gwat Kong?

Sekali tusuk dengan pedang dan habis perkara!

 39

“Kau memang terlampau lemah, Thio-twako. Biarlah aku tamatkan saja pelayan malas agar

kita tidak pusing-pusing lagi.” Kembali Gan Bu Gi mencabut pedangnya, akan tetapi pada

saat itu Lie Bong telah datang membawa tempat air yang dibekalnya dalam perjalanan.

Perwira muka hitam yang tinggi besar ini lalu membuka tutup mulut tempat air itu dan

menyiram muka Gwat Kong yang telentang. Usaha ini ternyata berhasil baik karena Gwat

Kong segera terjaga dari tidurnya dengan gelagapan! Ia bermimpi naik perahu dengan ibunya

dan ketika tiba di tengah-tengah telaga, perahu itu terguling hingga ia dan ibunya tenggelam

ke dalam air yang membuatnya gelagapan.

“Tolong …!” teriaknya sambil menggerak-gerakan tangan. Akan tetapi karena kedua

tangannya dibelenggu, maka ia membuka mata dan memandang di sekelilingnya dengan

terheran-heran. Ia melihat enam orang perwira mengelilingi sambil tertawa bergelak-gelak

karena merasa geli melihat ia gelagapan dan minta tolong tadi.

Begitu melihat orang-orang ini, maklumlah Gwat Kong bahwa ia berada dalam bahaya.

Kedatangan mereka ini tentu tidak mengandung maksud baik, pikirnya.

“Cuwi-ciangkun, kalian datang mengganggu tidurku dengan maksud apakah?” tanyanya

sambil memandang kepada Thio Sin yang sudah dikenalnya baik-baik.

“Gwat Kong, menurut perintah Liok-taijin, kau harus ditangkap,” jawab Thio Sin.

“Bukan hanya ditangkap, bahkan harus dibunuh!” kata Gan Bu Gi dengan gemas karena ia

teringat akan Tin Eng yang melarikan diri dari rumah. Dalam kesedihan dan kekecewaannya,

panglima muda ini menyalahkan Gwat Kong dalam hal ini, maka timbullah kebenciannya

semenjak Gwat Kong membuka rahasia hatinya dalam keadaan mabok itu.

Mendengar ucapan mereka yang hendak menangkap dan membunuhnya, Gwat Kong menjadi

terkejut sekali. Tanpa sengaja ia mengerahkan tenaganya dan menggerakkan kedua lengannya

yang diikat erat-erat. “Kreekkk!” dengan sekali renggut saja, putuslah semua tali yang

mengikatnya dan ia melompat berdiri lalu menyambar buntalan pakaian yang tadi ia gunakan

untuk bantal kepala!”

Bukan main terkejut dan herannya semua perwira yang mengepungnya, bahkan Thio Sin

memandang dengan melongo! Tambang yang digunakan untuk mengikat tangan Gwat Kong

itu adalah tambang yang kuat dan besar, maka mana mungkin pemuda itu dapat memutuskan

dengan sekali renggut saja?

Akan tetapi Gan Bu Gi yang sudah dapat menduga bahwa Gwat Kong memiliki ilmu

kepandaian tinggi karena dulu pernah menyaksikan kepandaian ginkang pelayan muda itu, tak

mau membuang waktu lagi dan segera menyerangnya dengan pedang di tangannya. Serangan

ini cepat dan hebat sekali dan pedangnya menyambar ke arah leher Gwat Kong. Begitu cepat

datangnya pedang yang menyambar ini sehingga semua perwira yang lain menyangka bahwa

leher Gwat Kong tentu akan putus seketika, akan tetapi bukan main heran dan terkejutnya hati

mereka ketika melihat betapa dengan amat mudahnya Gwat Kong melompat ke samping

sambil berseru, “Ayaaaa …” dan sabetan pedang itu mengenai tempat kosong!

“Kurung, tangkap atau bunuh dia!” teriak Gan Bu Gi. “Jangan biarkan dia lolos!”

 40

Mendengar perintah ini, barulah lima orang perwira Sayap Garuda itu menjadi sadar dan

segera bergerak maju dengan kedua tangan bermaksud untuk menangkap Gwat Kong. Mereka

masih merasa ragu-ragu untuk mempergunakan senjata, karena mereka merasa malu untuk

mengeroyok seorang pelayan muda yang bertangan kosong itu dengan senjata, padahal

mereka semua berenam! Akan tetapi, segera mereka merasa terkejut sekali oleh karena tubuh

Gwat Kong tiba-tiba berkelebat dan melompat tinggi sekali melewati kepala mereka dan

pemuda itu hendak melarikan diri.

“Kejar!” teriak Gan Bu Gi sambil melompat dan mengirim sebuah tusukan ke arah punggung

Gwat Kong. Pemuda ini yang belum menyadari betapa tinggi ilmu silatnya, mendengar suara

angin tusukan pedang dan otomatis tubuhnya yang sudah terlatih itu miring untuk mengelak

serangan tadi. Kemudian mengikuti gerakan tubuhnya yang sudah dapat bergerak dengan

otomatis menurut pelajaran yang dilatihnya selama ini, kaki kirinya menendang ke arah

pergelangan tangan Gan Bu Gi. Tendangan ini tak terduga sekali datangnya dan selain cepat,

juga dilakukan dalam kedudukan yang sukar sehingga Gan Bu Gi tak dapat mengelak lagi. Ia

berteriak kesakitan dan pedangnya terlepas dari pegangannya karena pergelangan tangannya

tertendang dengan cepat sekali oleh ujung kaki Gwat Kong!

Sementara itu lima orang perwira Sayap Garuda telah memburu dengan senjata masingmasing

di tangan, lalu maju menyerbu ketika melihat betapa Gan Bu Gi dalam sekali gebrak

saja telah kehilangan pedangnya! Kini mereka tidak merasa ragu-ragu lagi karena dapat

menduga bahwa diluar sangkaan, pelayan muda itu ternyata memiliki ilmu silat yang lihai!

Melihat hasil kelitan dan tendangannya, Gwat Kong menjadi gembira sekali. Gan Bu Gi yang

gagah perkasa itu dapat dibikin tak berdaya dalam sekali gebrakan saja! Kini dengan sikap

berani ia lalu menghadapi kelima orang perwira itu, bahkan hendak menguji kepandaian

sendiri dan menghadapi mereka dengan tangan kosong dan sikap tenang sekali.

Ketika lima orang perwira itu maju dengan senjata mereka, menyerang Gwat Kong dari

semua jurusan, tiba-tiba Gwat Kong berseru keras dan tubuhnya berkelebat cepat sekali ke

arah para penyerangnya. Sambil menyampok tiap senjata yang meluncur ke arahnya, ia

menggunakan tangan kiri yang digerakan ke arah kepala penyerangnya dan lima kali ia

bergerak, ternyata ia telah dapat merampas semua bulu garuda yang menghias topi para

perwira tadi! Kelima lawannya belum mengetahui hal ini akan tetapi ketika Gwat Kong

melompat jauh lalu berdiri sambil menjura dan memperlihatkan bulu-bulu itu, mereka terkejut

sekali lebih-lebih ketika mereka meraba topi mereka dan tidak mendapatkan lagi penghias

topi yang merupakan tanda pangkat itu!

“Thio-ciangkun, tanpa bulu garuda topimu, kau kelihatan seperti seorang petani saja.” Gwat

Kong menggoda. Sambil berkata demikian tiba-tiba ia menggerakkan tangannya yang

memegang bulu-bulu itu dan lima batang bulu yang bergagang runcing itu meluncur bagaikan

anak panah dan sebelum kelima orang perwira itu dapat mengelak, bulu-bulu itu dengan

tepatnya telah menancap ke topi mereka.

Mereka segera menanggalkan topi masing-masing dan ketika melihat betapa bulu-bulu itu

menancap dengan tepat seperti semula, mereka merasa makin terkejut dan heran sehingga kini

mereka memandang dengan mulut ternganga ke arah pelayan muda itu seakan-akan belum

percaya kepada pandang matanya sendiri. Topi mereka masih terpegang di tangan masingmasing!

06. Keturunan Tihu dari Lam-hwat

 41

MELIHAT hal ini, Gan Bu Gi merasa marah sekali. Dia adalah anak murid yang tersayang

dari Bong Bi Sianjin. Tokoh ternama dari Kim-san-pai yang telah membuat nama besar, maka

kalau kini ia sampai dikalahkan dengan secara demikian mudahnya oleh seorang pelayan

muda yang tidak ternama dan bodoh, alangkah akan malunya! Ia telah memungut kembali

pedangnya yang tadi terlepas karena tendangan Gwat Kong dan sambil berseru keras ia lalu

menubruk maju sambil putar-putar pedangnya dengan gerakan hebat sekali.

Memang tadi dalam segebrakan saja ia kena tertendang oleh Gwat Kong dan hal ini

sebetulnya karena ia tidak pernah menyangka bahwa Gwat Kong akan dapat bergerak

sedemikian cepatnya dan karena ia tadinya memandang rendah maka ia sampai terkena

tendangan. Akan tetapi sekarang ia telah tahu bahwa Gwat Kong bukanlah orang

sembarangan, maka selain berlaku hati-hati, iapun lalu mengeluarkan ilmu pedang Kim-san

Kiam-hoat yang memang kuat dan cepat gerakan itu. Sambil menyerang, tak lupa ia

mengerahkan tenaga lweekangnya sehingga serangannya makin lihai.

Melihat betapa sinar pedang di tangan Gan Bu Gi amat kuat dan cepat menyambar-nyambar

ke arah tubuhnya, Gwat Kong terkejut juga. Biarpun ia kini telah dapat mengetahui akan

tingkat kepandaiannya sendiri yang boleh diandalkan. Akan tetapi ia belum pernah bertempur

melawan musuh tangguh, dan boleh dibilang semua kepandaian itu masih terpendam dan

belum pernah digunakan.

Ia sama sekali belum mempunyai pengalaman bertempur, maka kini menghadapi Gan Bu Gi

yang tangguh, ia merasa jerih dan segera mengeluarkan kepandaian yang dianggapnya paling

hebat di antara semua pelajaran yang telah dipelajari dari kitab kuno itu, yakni ilmu pedang

Sin-eng Kiam-hoat. Ia berseru keras dan mencabut sulingnya yang tersembul keluar ujungnya

dari buntalan pakaian. Memang suling inilah yang selalu ia gunakan dalam latihan pedang di

kamarnya, karena sebagai seorang pelayan, dari mana ia bisa mendapatkan pedang?

Ketika ia telah memegang suling itu, hatinya menjadi tetap kembali karena memang ia telah

biasa mainkan suling ini sebagai pedang dalam latihan-latihan. Suling adalah benda yang

amat ringan. Maka ketika ia mainkan Sin-eng Kiam-hoat yang lihai, tentu saja suling itu lalu

terputar-putar hebat dan cepat sekali merupakan segulung sinar kekuning-kuningan yang

mengurungi tubuhnya sendiri.

Kagetlah Gan Bu Gi melihat ini dan ia lalu menyerbu dengan hebat. Akan tetapi gerakan

Gwat Kong amat cepatnya sehingga sukar untuk diikuti dengan pandang mata. Pedang Gan

Bu Gi tidak berdaya karena ia telah menjadi bingung ke arah mana ia harus menyerang.

Tubuh lawannya sebentar-sebentar berpindah tempat dan tanpa mengetahui bagaimana

lawannya itu bergerak, tahu-tahu ujung suling telah mengancam semua jalan darahnya

sehingga Gan Bu Gi merasa pening dan bingung.

Kelima orang perwira yang tadi telah dipermainkan oleh Gwat Kong, makin kagum dan

terheran-heran melihat sepak terjang pelayan itu. Mereka tidak dapat melihat lagi tubuh

pemuda itu karena tertutup oleh sinar sulingnya yang digerakan secara luar biasa. Mereka

hanya melihat betapa Gan Bu Gi terdesak dan terkurung oleh sinar kuning itu sehingga

panglima yang mereka anggap sudah amat gagah perkasa itu berkelahi sambil mundur dan

hanya dapat menangkis dan mengelak saja tanpa dapat membalas lawannya! Tiba-tiba mereka

mendengar Gan Bu Gi menjerit keras dan tubuh panglima itu terhuyung mundur sedangkan

pedangnya sekali lagi terpental dan terlepas dari pegangannya. Terdengar suara Gwat Kong

 42

tertawa girang dan pemuda pelayan itu lalu melompat pergi dan berlari cepat meninggalkan

Kelima orang perwira itu segera maju menolong dan mengangkat bangun pada Gan Bu Gi

yang menolak pertolongan mereka dengan muka bersungut-sungut dan marah sekali. Ternyata

tadi bahwa ketika ujung suling Gwat Kong secara aneh sekali dan bertubi-tubi menyerang dan

mengancam jalan darahnya, dengan marah dan nekad panglima muda ini lalu memukul suling

itu sekerasnya dengan pedang untuk mengadu tenaga. Akan tetapi. Bukan suling lawan yang

terpental, bahkan telapak tangannya merasa gemetar karena ternyata bahwa tenaga lweekang

lawannya luar biasa sekali kuatnya! Kemudian, selagi ia masih belum dapat mengembalikan

dan menenangkan keadaannya, ujung suling itu telah meluncur cepat dan mengetuk pundak

kanannya sehingga ia merasa pundaknya sakit sekali sampai terasa di hulu hati! Pedangnya

terpental dan terlepas sedangkan tubuhnya terhuyung ke belakang!

Dengan marah dan bersungut-sungut, Gan Bu Gi mengajak kawan-kawannya untuk kembali

ke Kiang-sui. Ia memesan kepada kelima orang perwira itu agar jangan menceritakan

peristiwa tadi kepada siapapun juga dan hanya melaporkan kepada Liok-taijin bahwa mereka

tidak berhasil menangkap Gwat Kong yang telah melarikan diri entah ke mana. Kelima orang

perwira itu setuju karena mereka telah dipermainkan oleh bekas pelayan itu.

Sementara itu, Gwat Kong dengan hati girang sekali melanjutkan larinya ke arah selatan

karena ia hendak pergi ke Lam-hwat untuk mencari musuh besarnya, yaitu Tan-wangwe yang

telah mendatangkan mala petaka kepada orang tuanya! Ia merasa girang sekali oleh karena

sekarang ia tidak ragu-ragu lagi akan kepandaiannya yang telah terbukti dengan

perlawanannya terhadap Gan Bu Gi tadi. Ia masih belum tahu bahwa sebenarnya bukan Gan

Bu Gi kurang lihai, akan tetapi adalah ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat yang dipelajari itulah

yang luar biasa.

Setelah melakukan perjalanan selama tiga hari, sampailah Gwat Kong di kota Lam-hwat,

tempat kelahirannya dan di mana dulu ayahnya menjadi tihu yang disegani karena jujur dan

adil. Akan tetapi oleh karena ia telah dibawa pergi oleh ibunya dari kota ini ketika ia masih

amat kecil maka ia tidak ingat sama sekali tentang kota ini dan memasuki kota Lam-hwat

sebagai seorang asing yang belum pernah melihatnya.

Gwat Kong lalu mencari sebuah kamar di hotel dan oleh karena pakaiannya sebagai seorang

pelayan itu, membuat para pengurus dan pelayan hotel memandangnya dengan curiga karena

jarang sekali ada seorang pelayan bermalam di sebuah hotel, maka ia lalu keluar dan membeli

pakaian di toko pakaian. Dengan pakaian barunya walaupun yang dibeli hanyalah pakaian

sederhana, ia nampak lebih gagah. Rambutnya yang panjang dan hitam itu ia ikat dengan

sehelai sapu tangan biru yang lebar sehingga keningnya nampak lebar menambah kegagahan

wajahnya. Setelah ia mengenakan pakaian dan sepatu baru, maka semua pelayan di hotel

tempat ia bermalam itu bersikap lebih hormat kepadanya sehingga diam-diam Gwat Kong

merasa geli melihat kepalsuan ini.

Pada keesokan harinya, Gwat Kong mulai mencari keterangan tentang rumah keluarga Tanwangwe,

akan tetapi ia merasa kecewa sekali oleh karena di kota Lam-hwat tidak ada seorang

hartawan bernama Tan-wangwe, sungguhpun banyak sekali bernama keturunan Tan tinggal di

kota itu. Gwat Kong tidak putus asa dan terus menyelidiki bertanya ke sana kemari, bahkan ia

mulai bertanya tentang nama ayahnya, yakni Bun Tiang Ek yang dulu menjadi tihu di kota

Lam-hwat. Akan tetapi, oleh karena hal itu telah terjadi belasan tahun yang lalu dan kota

 43

Lam-hwat telah banyak kedatangan orang-orang baru, maka agaknya nama ini telah dilupakan

orang! Tak seorangpun menyatakan pernah mendengar Bun-tihu ataupun Tan-wangwe.

Gwat Kong mulai merasa putus harapan dan dengan kecewa sekali ia masuk ke dalam sebuah

rumah makan dan memesan makanan. Seorang pelayan tua mengantarkan makanan yang

dipesannya. Melihat pelayan tua ini, teringatlah Gwat Kong bahwa ia telah melakukan

kesalahan, ketika mencari keterangan tadi tidak seharusnya ia bertanya kepada orang-orang

muda, yang mengetahui atau mengenal ayahnya serta Tan-wangwe tentulah orang-orang tua

yang telah lama tinggal di Lam-hwat. Maka ketika pelayan itu hendak meninggalkan mejanya

ia menahan dan bertanya,

“Lopeh (uwak), apakah lopeh sudah lama tinggal di kota ini?” Ia sengaja bertanya sambil lalu

seakan-akan untuk mengadakan percakapan biasa saja.

Pelayan tua itu memandangnya dengan bibir tersenyum. Ia menganggukan kepalanya dan

menjawab, “Tentu saja, kongcu, selama hidupku aku tinggal di kota ini, bahkan aku

dilahirkan di Lam-hwat.”

Mendengar pengakuan ini, giranglah hati Gwat Kong, akan tetapi sungguhpun ia merasa

betapa dadanya berdebar, ia berusaha agar wajahnya tetap biasa saja.

“Lopeh, marilah kau temani aku makan minum. Harap kau menambah sebuah mangkok

kosong dan sepasang sumpit lagi untukmu.”

Pelayan itu memandang heran, belum pernah ada seorang tamu minta seorang pelayan makan

bersama, dan selama puluhan tahun menjadi pelayan, baru kali ini ia mengalami pengalaman

ganjil itu.

“Maksud kongcu …. aku kau minta makan minum bersama di meja ini?” Ia menegaskan

dengan ragu-ragu.

“Ya, lopeh. Aku merasa tidak bisa makan seorang diri, kurang sedap rasanya kalau tidak ada

teman yang diajak mengobrol sambil makan minum. Marilah!”

Pelayan tua itu menengok ke kanan kiri dan di situ hanya terdapat seorang tamu lain yang

bertubuh tinggi besar dan penuh cambang bauk pada mukanya. Akan tetapi tamu ini makan di

meja lain dan agaknya sama sekali tidak memperdulikan mereka.

“Kongcu, kau seorang yang ramah sekali. Akan tetapi aku tidak boleh mengganggumu dan

kalau kau ingin mengajak bercakap-cakap sambil makan, kau makanlah seorang diri, biar aku

berdiri saja di sini menemanimu bercakap-cakap.”

“Ah, kau terlalu sungkan, lopeh,” cela Gwat Kong.

“Bukan sungkan-sungkan, kongcu, akan tetapi kalau majikanku melihat aku duduk makan

minum dengan seorang tamu, tentu ia akan marah-marah dan mungkin aku kehilangan

pekerjaanku.”

Gwat Kong mengangguk-angguk dan mengambil beberapa potong uang tembaga dari saku

bajunya lalu memberikan uang itu pada si pelayan sambil berkata,

 44

“Kalau begitu, terimalah uang ini untuk kau pakai membeli makanan nanti.”

Pelayan tua itu girang sekali dan menerima uang itu sambil mengucapkan terima kasih.

“Lopeh, kau tentu kenal dengan seorang hartawan besar yang beberapa belas tahun yang lalu

tinggal di kota ini. Ia bernama keturunan Tan dan disebut Tan-wangwe. Tahukah kau di mana

sekarang dia tinggal?”

Pelayan tua itu mengerutkan kening mengingat-ingat. “Ya, ya. Aku kenal, siapa yang takkan

mengenalnya belasan tahun yang lalu. Dulu dia adalah seorang yang terkenal paling

berpengaruh dan paling kaya di kota ini! Kongcu, apakah kau masih terhitung keluarga Tanwangwe

itu?” tanyanya tiba-tiba sambil memandang tajam.

Gwat Kong merasa girang sekali dan oleh karena ia tidak ingin memberitahukan tentang

maksudnya mencari hartawan itu, maka tanpa memperdulikan sesuatu ia lalu mengangguk

dan menjawab, “Ya, aku adalah seorang keponakannya dan tahukah kau di mana ia sekarang

tinggal?”

Tiba-tiba pelayan itu nampak berubah air mukanya mendengar bahwa Gwat Kong adalah

keponakannya Tan-wangwe. Bahkan ia lalu mengambil keluar uang tembaga pemberian Gwat

Kong tadi dan menaruh uang itu di atas meja kembali sambil berkata, “Kongcu, aku tidak

berhak menerima uangmu ini, oleh karena aku tidak dapat melayanimu lebih lagi. Aku harus

pergi ke dapur, di sana banyak pekerjaan.” Kemudian ia lalu berlari menuju ke dapur rumah

makan itu.

Bukan main terkejutnya hati Gwat Kong mendengar ini dan ia menunda makanannya sambil

memandang dengan bengong.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa keras dan ketika ia memandang, ternyata yang tertawa itu

adalah orang tinggi besar bercambang bauk itu yang kini memandang kepadanya.

“Mengapa kau tertawa?” tanya Gwat Kong penasaran sambil pandang muka orang yang

usianya telah enam puluh tahun lebih itu.

“Mengapa aku tertawa? Karena melihat kau hendak mencari keterangan sambil menyuap

dengan uang, persis seperti perbuatan Tan-wangwe di waktu dahulu. Kau memang pantas

sekali menjadi keponakannya! Ha ha ha!”

Mendengar ini, timbul lagi harapan dalam hati Gwat Kong. Orang ini tentu kenal baik kepada

hartawan itu, bahkan mungkin masih ada hubungan, kalau tidak, mana ia tahu tentang

kebiasaan menyuap uang dari hartawan itu? Maka ia segera bangun berdiri dan menjura,

“Sahabat baik, aku benar-benar perlu mengetahui keadaan Tan-wangwe, maka kalau kiranya

kau tahu tentang dia mohon kau suka menerangkan kepadaku. Marilah kita minum arak untuk

menambah kegembiraan dan aku yang muda mengundangmu dengan hormat untuk makan

bersama di mejaku.”

Kembali laki-laki tinggi besar itu tertawa bergelak. “Kau hendak mencari Tan-wangwe?

Boleh, boleh dan mudah sekali. Marilah kau ikut, akan kuantarkan ke tempat Tan-wangwe!”

 45

Bukan main girangnya hati Gwat Kong mendengar ini. Tak pernah disangkanya bahwa ia

akan demikian mudah mendapatkan tempat tinggal Tan-wangwe, bahkan orang kasar ini

sanggup mengantarkannya untuk berjumpa dengan musuh besarnya itu.

Segera ia membayar makanan orang itu sekalian, lalu ia mengajak orang itu keluar. Setelah

orang itu berjalan barulah Gwat Kong melihat betapa orang itu berjalan sambil menyeret kaki

kirinya yang telah cacat. Akan tetapi, biarpun berjalan dengan sebelah kaki diseret, ternyata

orang itu dapat berjalan cepat dan gerakannya gesit, tanda bahwa dia mengerti ilmu silat.

Orang itu berjalan saja tanpa banyak berkata sehingga Gwat Kong merasa tidak enak hati.

“Sahabat, siapakah namamu? Kau telah berlaku baik untuk mengantarku menemui Tanwangwe,

seharusnya kuketahui namamu.”

“Namaku A Sam, Gui A Sam,” jawab laki-laki itu singkat.

Mereka berjalan terus dan dengan heran Gwat Kong melihat betapa mereka menuju keluar

“Masih jauhkah tempat tinggal Tan-wangwe?” tanyanya.

“Dekat di depan itu!” kata A Sam sambil menunjuk ke depan.

Gwat Kong merasa heran. Yang ditunjuk oleh laki-laki pincang itu sebuah hutan yang besar.

“Apa? Di hutan itu?”

“Ya, dan jangan kau banyak bertanya. Bukankah kau ingin bertemu dengan dia?”

Gwat Kong terpaksa menutup mulutnya dan terus mengikuti orang itu menuju ke dalam

hutan. Setelah masuk ke dalam hutan itu, yang sunyi dan liar, Gwat Kong tak dapat menahan

lagi perasaan heran dan curiganya. Ia berhenti dan bertanya,

“Sahabat, jangan kau main-main! Benar-benarkah seorang kaya raya seperti Tan-wangwe itu

tinggal di tempat seperti ini?”

Tiba-tiba A Sam berhenti pula dan tertawa terbahak-bahak dengan wajah yang menyeramkan

“Anak muda, benar-benarkah kau keponakan Tan Kia Swi atau Tan-wangwe?”

Dengan terheran-heran Gwat Kong mengangguk.

“Dan kau ingin bertemu dengan hartawan Tan itu?”

“Benar, di mana tinggalnya?”

“Mari ku antar kau bertemu dengan si keparat itu!” Sambil berkata demikian tiba-tiba Gui A

Sam melangkah maju dan secepat kilat mengirim pukulan ke arah dada Gwat Kong. Inilah

 46

pukulan Hek-houw-to-sim atau Macan Hitam Menyambar Hati yang dilakukan dengan tenaga

keras dan kalau saja pukulan ini mengenai dada seorang biasa, maka kalau dada itu tidak

hancur pasti sedikitnya beberapa tulang iga akan patah-patah. Akan tetapi Gwat Kong

mempunyai urat syaraf halus dan perasa sekali sehingga tubuhnya dapat bergerak otomatis

sehingga begitu angin pukulan menyambar, ia telah miringkan tubuhnya sehingga pukulan

tangan A Sam itu mengenai angin.

“Eh, eh, tahan dulu kawan!” serunya kaget, akan tetapi Gui A Sam berseru marah dan

mengirim serangan lagi yang lebih hebat. Kini si tinggi besar itu memukul dengan kepalan

tangannya yang sebesar paha itu ke arah kepala Gwat Kong. Pemuda itu mulai penasaran dan

juga ingin tahu sekali mengapa orang kasar ini menyerangnya dan memusuhinya tanpa sebab!

Ia mengulur tangan dan menangkap pergelangan tangan yang memukul itu. A Sam hendak

kembali menarik tangannya, akan tetapi tangan itu tidak dapat terlepas dari pegangan Gwat

Kong. Dengan heran dan makin marah, A Sam lalu menggunakan tangan kirinya untuk

memukul ke lambung Gwat Kong. Pemuda itu cepat mendahuluinya dan menotok pundak kiri

sehingga tangan kirinya yang hendak memukul itu tiba-tiba menjadi lumpuh!

Akan tetapi ketika Gwat Kong melepaskan tangan kanan yang tadi dipegangnya, A Sam

dengan nekad lalu menggunakan tangan yang masih dapat bergerak ini untuk menyerang lagi!

Terpaksa Gwat Kong mempergunakan kecepatannya dan menotok pundak kanan lawannya

sehingga kini Gui A Sam berdiri dengan dua lengan tergantung tak berdaya sama sekali.

Akan tetapi ternyata keberanian orang ini hebat sekali. Dengan kedua mata melotot ia

memandang pemuda itu dan berkata, “Telah dua kali aku dikalahkan oleh orang-orang

pembela anjing setan itu, maka kalau kau mau bunuh boleh bunuh! Aku takkan malu

menghadapi Bun-tihu, karena aku telah menunaikan tugasku dengan baik dan sebagai seorang

gagah!”

Hampir saja Gwat Kong menjerit ketika ia mendengar ini. Wajahnya menjadi pucat dan ia

memandang orang itu dengan mata terbelalak.

“Apa katamu? Kau kenal kepada Bun-tihu? Siapakah kau sebenarnya?”

Sambil mengangkat dadanya, A Sam menjawab, “Aku tidak takut mengaku terus terang,

karena aku tidak takut mati! Ketahuilah, hai anak muda keponakan anjing rendah Tanwangwe,

aku adalah perwira kepala penjaga dari Bun-tihu yang adil dan jujur. Pamanmu yang

jahat itu telah berhasil menghancurkan keluarga Bun bahkan akupun telah menderita cacat,

akan tetapi, nama keluargamu akan busuk selama-lamanya dan akan dikutuk oleh setiap

orang!”

Bukan main girang hatinya ketika mendengar ini. Gwat Kong lalu menghampiri dan berkata,

“Sahabat baik, kau lupa tadi dan belum bertanya namaku.”

“Aku tak perlu mengetahui nama segala anjing keluarga Tan-wangwe!”

“Juga tidak perduli kalau aku memberi tahu padamu bahwa namaku sama sekali bukan Tan,

akan tetapi aku sebenarnya bernama Bun Gwat Kong?” Sambil berkata demikian secepat kilat

kedua tangan Gwat Kong bergerak ke arah pundak A Sam dan totoknya telah dibebaskan dari

tubuh orang kasar itu.

 47

Sementara itu, Gui A Sam memandang kepada Gwat Kong dengan wajah pucat dan bengong,

seakan-akan ia melihat setan pada siang hari.

“Bun Gwat Kong …?? Akan tetapi … bukankah kau tadi mencari Tan-wangwe dan hendak

bertemu dengannya ….?”

Gwat Kong tersenyum dan mengangguk. “Aku memang mencarinya dan hendak bertemu

dengannya untuk membuat perhitungan dan membalas dendam orang tuaku.”

Tiba-tiba Gui A Sam mengeluarkan keluhan seperti orang menangis dan ia menjatuhkan

dirinya dan berlutut di depan Gwat Kong. “Bun-kongcu … ah. Kau masih kecil sekali ketika

peristiwa itu terjadi … bagaimana dengan … Bun-hujin, ibumu?”

Gwat Kong dengan hati terharu mengangkat bangun laki-laki tinggi besar itu dan berkata,

“Ibu telah meninggal dunia kurang lebih lima tahun yang lalu. Gui-pepeh, di manakah

sebenarnya tempat tinggal si keparat she Tan itu?”

“Duduklah kongcu, marilah kita duduk. Kepalaku masih pening karena kenyataan yang tibatiba

ini, dan ilmu silatmu yang hebat itu benar-benar membuat aku tak mengerti. Bagaimana

kau dalam sejurus saja dapat mengalahkan aku! Hebat sekali! Ah, alangkah girangnya hati

Bun-taijin kalau dapat melihatmu, putera tunggalnya yang kini menjadi seorang gagah ini.

Dan ingin sekali melihat muka si keparat she Tan itu kalau ia masih dapat merasakan

kehebatan pembalasanmu!”

“Apa? Dia sudah tidak ada lagi?” tanya Gwat Kong dengan kaget dan kecewa.

Gui A Sam menarik napas panjang lalu menuturkan bahwa semenjak dapat memfitnah

keluarga Bun sehingga keluarga itu menjadi hancur berantakan, hartawan Tan menjadi buruk

sekali namanya. Biarpun ia hartawan besar dan berpengaruh, akan tetapi oleh karena seluruh

penduduk Lam-hwat yang amat mencintai Bun-tihu, sekarang membencinya dan bahkan

beberapa orang berusaha membunuhnya, akhirnya Tan-wangwe tidak betah tinggal di kota itu

lalu pindah ke Kang-lam. Gui A Sam sendiri yang tadinya bekerja sebagai kepala pengawal

dari Bun-tihu, mencoba untuk membalas dendam, akan tetapi bukan berhasil baik, bahkan ia

mendapat luka hebat pada kakinya sehingga ia menjadi pincang.

Ternyata beberapa tahun kemudian setelah pindah ke Kang-lam, Tan-wangwe yang bernama

Tan Kia Swi itu meninggal dunia karena sakit dan isterinya pun meninggal dunia tak lama

Pada waktu itu di Kang-lam menjalar penyakit menular yang hebat dan agaknya hartawan

yang jahat itu telah terlampau banyak menumpuk dosa hingga biarpun ia dilindungi oleh para

pengawal yang berkepandaian tinggi dan memiliki banyak sekali harta benda yang dapat

melindunginya pula dari musuh-musuhnya, karena dengan jalan menyuap para pembesar ia

mendapat pengaruh dan kekuasaan besar, namun akhirnya Thian yang membalas dan

Gwat Kong menarik napas panjang, “Kalau begitu, sia-sialah saja cita-citaku untuk membalas

dendam.”

 48

“Tidak, kongcu, masih ada yang harus dibalas!” kata Gui A Sam dengan suara keras

menyatakan kegemasan hatinya. “Hartawan Tan itu mempunyai seorang turunan, seorang

anak perempuan, dan dia ini harus dibinasakan sebagai pengganti ayahnya!”

Bun Gwat Kong memandang A Sam dengan mata heran dan tidak setuju. “Ayahnya yang

berbuat salah, mengapa harus mengganggu anaknya yang tidak berdosa?”

“Kau keliru, Bun-kongcu! Ketika hartawan Tan itu mencelakakan ayahmu, maka yang

menderita bukan hanya ayahmu, bahkan banyak sekali para pelayan dan pekerja ayahmu ikut

pula menderita. Oleh karena setelah ayahmu diganti oleh seorang tihu lain yang curang dan

suka makan uang sogokan, maka keadilan boleh dibilang tidak ada arti di Lam-hwat. Siapa

beruang dia menang dalam segala perkara. Maka sudah sepatutnya kalau keparat she Tan itu

pun dibinasakan seluruh keturunan dan keluarganya agar habislah riwayatnya yang busuk.

Orang sejahat dia tentu mempunyai anak yang jahat pula!”

Gwat Kong tersenyum dan berkata, “Aku belum yakin benar tentang kebenaran pendapatmu

ini, Gui-pehpeh.”

“Apa? Belum yakin? Akan tetapi sudah ada buktinya, kongcu! Ketahuilah, anak tunggal

hartawan Tan itu biarpun seorang wanita akan tetapi telah menjadi iblis wanita yang amat

lihai dan jahat! Entah beberapa banyak orang-orang gagah yang menjadi korbannya. Gadis itu

kabarnya ganas dan kejam sekali, juga amat sombongnya sehingga tiap kali mendengar

adanya seorang gagah di daerah Kang-lam, ia tentu akan mendatangi dan merobohkannya

dalam pibu. Karenanya maka ia diberi nama poyokan Dewi Tangan Maut, karena banyak

sudah orang-orang kangouw terbunuh olehnya.”

Tertarik hati Gwat Kong mendengar ini, bukan untuk melimpahkan dendamnya kepada gadis

itu, akan tetapi ingin bertemu dan mencoba kegagahan gadis yang amat disohorkan oleh Gui

A Sam ini.

“Kalau saja kakiku tidak bercacat seperti ini … ah, tentu akan kucari siluman wanita itu untuk

mengadu jiwa, biarpun aku pasti akan kalah menghadapinya,” kata A Sam sambil menarik

napas panjang dan memandang kakinya.

“Apakah dia selihai itu, sehingga kau takkan dapat menang terhadapnya?” tanya Gwat Kong.

“Dia memang lihai sekali. Tiga orang kawanku yang telah membuat nama besar, masih tak

kuat menghadapinya dan biarpun mereka mengeroyoknya, akan tetapi akhirnya ketiga orang

kawanku itu tewas di ujung pedangnya. Padahal tiga orang itu apabila dibandingkan dengan

kepandaianku mereka jauh lebih lihai.”

Diam-diam Gwat Kong tercengang mendengar ini dan ia pun merasa agak penasaran

mendengar betapa gadis itu demikian ganas dan kejam sehingga membunuh orang sedemikian

“Biar aku akan mencarinya,” katanya kepada diri sendiri akan tetapi oleh karena ucapan ini

dikeluarkan dengan keras, maka Gui A Sam menjadi gembira sekali dan berkata,

 49

“Kalau kau yang menghadapinya, pasti ia akan mampus, kongcu! Dan dengan membinasakan

iblis wanita itu, bukan saja kau berarti telah berbakti kepada mendiang ayahmu, tetapi juga

berarti melenyapkan seorang iblis, pengganggu rakyat jelata.”

Kemudian, Gwat Kong dipaksa-paksa oleh A Sam untuk bersama-sama makan minum dan

karena A Sam kini telah menjadi seorang pedagang, sehingga ia mempunyai uang cukup,

maka ia menjamu Gwat Kong dengan meriah. Dalam kesempatan ini, kembali Gwat Kong

minum arak sepuas-puasnya sehingga A Sam menjadi terheran-heran melihat betapa kuatnya

pemuda itu minum arak tanpa menjadi mabok sedikitpun.

“Kau betul-betul patut disebut Ciu hiap (Pendekar Arak), Bun-kongcu!” katanya dengan

memandang kagum.

Gwat Kong yang merasa gembira mengangguk-anggukan kepala dan berkata, “Sebuah

sebutan yang tidak buruk!”

Setelah menghaturkan terima kasih atas sebutan yang amat menggembirakan dari bekas

petugas ayahnya itu, Gwat Kong lalu berpamit untuk melanjutkan perjalanannya, kini ia

langsung menuju ke Kang-lam yang memerlukan perjalanan sedikitnya setengah bulan. Gui A

Sam berpesan agar supaya pemuda itu suka memberi kabar apabila ia telah berhasil

menewaskan Dewi Tangan Maut!

****

Kita ikuti perjalanan Liok Tin Eng, dara jelita yang keras hati dan yang telah menggegerkan

keadaan gedung Liok-taijin karena diam-diam ia telah minggat dari kamarnya pada malam

harinya itu.

Sebelum mengambil tindakan nekad itu, Tin Eng, sepeninggal ayahnya yang mengeluarkan

ancaman dan memaksanya untuk menerima pinangan Gan Bu Gi, menangis sedih di dalam

kamarnya seorang diri. Ia teringat segala kelakuannya terhadap Gwat Kong dan timbullah

perasaan menyesalnya yang amat besar. Memang, kalau ia teringat pula akan segala kata-kata

pemuda pelayan itu, ia masih terasa mendongkol dan marah, akan tetapi ia harus tahu bahwa

segala ucapan itu dikeluarkan oleh Gwat Kong dalam keadaan mabok! Buktinya, kemudian

pemuda itu minta maaf dan merasa demikian menyesal sehingga tidak penasaran kalau

dibunuh. Gwat Kong bahkan minta agar supaya ia membunuhnya untuk menebus dosa. Ah,

kasihan sekali pemuda itu. Tak pernah diduganya bahwa pemuda pelayan yang jujur, rajin dan

setia itu diam-diam menaruh hati cinta kasih kepadanya!

Tin Eng menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya. Alangkah malang nasibnya!

Dipaksa menerima pinangan seorang pemuda yang sungguhpun tampan dan gagah, akan

tetapi entah mengapa, dalam perasaan hatinya tak tertarik kepada Gan Bu Gi itu, terdapat

sesuatu yang membuat ia ragu-ragu. Ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menimbulkan

ketidak percayaannya dan yang membuatnya yakin bahwa ia takkan dapat hidup bahagia

sebagai isteri Gan Bu Gi.

Adapun tentang Gwat Kong, memang pemuda pelayan itu seorang yang jujur dan baik. Akan

tetapi mencintai padanya? Gila benar! Seorang pelayan mencintai puteri Kepala daerah yang

kaya raya dan berpengaruh, lagi pula Gwat Kong hanyalah seorang pelayan yang bodoh, tak

 50

mengerti ilmu silat dan buta huruf pula. Mengingat akan hal ini merahlah muka Tin Eng

karena marah dan malu!

Ia menjadi serba salah. Ia tidak mau dipaksa kawin dengan Gan Bu Gi atau dengan siapapun

juga. Ia belum bersedia mengikat diri dengan perkawinan. Akan tetapi, untuk membantah

ayahnya pun sukar, karena ia maklum akan kekerasan hati orang tua. Kedua hal inilah yang

membuatnya mengambil keputusan untuk merantau dan meluaskan pengalaman, untuk

mengumpulkan pakaiannya yang terbaik dan semua perhiasannya untuk bekal di dalam

perjalanan. Kemudian setelah membungkus semua itu menjadi sebuah buntalan besar yang

ditalikan pada punggungnya. Ia lalu menggunakan kepandaiannya untuk keluar dari jendela

kamarnya, melompat naik ke atas genteng, lalu berlari pergi dengan cepat! Beberapa kali ia

menengok ke arah gedung di mana ayah dan ibunya tinggal, akan tetapi ia dapat mengeraskan

hatinya dan terus lari pergi keluar kota dan menuju ke selatan. Ia tidak lupa untuk membawa

kitab pelajaran ilmu pedang Garuda Sakti yang dimasukkan pula kedalam buntalannya.

Pedang ia gantung pada pinggang dan sekantong piauw (senjata rahasia yang disambitkan)

tergantung pula di dekat pedang.

Biarpun sudah tak bundar lagi, namun bulan masih muncul malam itu sehingga Tin Eng dapat

melanjutkan perjalanannya. Ketika berlari di dalam cahaya bulan seorang diri, di atas jalan

yang sunyi itu, ia merasa gembira seperti seekor burung yang terlepas terbang bebas di udara.

Akan tetapi menjelang tengah malam, ketika ia tiba di pinggir sebuah hutan yang sunyi dan

hawa malam yang dingin menyerang tubuhnya, ia mulai merasa tak enak dan takut.

Sebagai puteri seorang bangsawan, belum pernah ia melakukan perjalanan malam seorang diri

dan perasaan takut dan menyesal mulai menyerang hatinya. Ia tidak takut segala maling atau

perampok, akan tetapi melihat bayang-bayangan pohon dan tetumbuhan yang menghitam dan

nampak menyeramkan bagaikan setan-setan di bawah sinar bulan itu, ia benar-benar menjadi

takut dan meremanglah bulu tengkuknya. Hawa dingin mengingatkan ia kepada kamarnya

yang hangat dan enak. Biasanya pada saat seperti itu ia sudah meringkuk di bawah lindungan

selimutnya yang tebal dan halus.

07. Dewi Tangan Maut

TERINGAT akan hal ini, ia segera berhenti di bawah sebatang pohon besar dan membuka

buntalannya untuk mengeluarkan baju tebalnya yang segera dipakai untuk menahan dingin. Ia

menunda perjalanannya dan duduk di bawah pohon menanti datangnya fajar. Akhirnya karena

berduka dan lelah, ia tertidur juga di bawah pohon itu sampai pagi.

Beberapa hari kemudian, ia menjadi biasa dengan segala penderitaan ini dan dapat

melanjutkan perjalanan dengan hati ringan. Ia tidak mau lagi bermalam di udara terbuka dan

selalu menunda perjalanannya dalam sebuah kota atau kampung di waktu malam dan

bermalam dalam sebuah kamar di rumah penginapan.

Ia mendengar tentang keindahan kota Ki-ciu yang telah dikagumi semenjak lama dari bukubuku

atau penuturan orang-orang ketika ia masih tinggal di gedung ayahnya, maka ia ingin

mengunjungi tempat itu. Ia mendengar keterangan pelayan hotel bahwa untuk menuju ke Kiciu

lebih baik mengambil jalan air, yakni berlayar sepanjang sungai Liang-ho yang selain

cepat, juga mempunyai pemandangan yang indah.

 51

“Memang masih ada bajak air yang suka mengganggu,” kata pelayan tua itu sambil

memandang ke arah pedang yang tergantung di pinggang Tin Eng. “Akan tetapi, kurasa nona

adalah seorang gagah yang tidak takut akan segala bajak pula. Kalau dibandingkan lebih

banyak perampok yang mengganggu jalan darat dari pada bajak yang mengganggu jalan air.”

“Terima kasih, lopeh,” jawab Tin Eng. “Keteranganmu ini penting sekali dan aku akan

menurut nasehatmu. Akan tetapi, di manakah adanya sungai Liang-ho itu dan apakah aku bisa

mendapat perahu untuk dipakai menyeberang?”

“Dari kota ini, nona pergilah ke barat kurang lebih dua puluh mil jauhnya, nona akan tiba di

sebuah dusun kecil di pinggir sungai Liang-ho dan di situ nona akan mendapatkan banyak

sekali perahu para nelayan yang dapat disewa. Akan tetapi, lebih baik nona memilih perahu

yang berlayar putih dan jangan menyewa perahu berlayar hitam.”

“Mengapakah, lopeh?”

“Aku mendengar bahwa kini ada perkumpulan Layar Hitam yang melakukan banyak

pemerasan dan perbuatan jahat.”

Setelah mengucapkan banyak terima kasih dan memberi persen kepada pelayan rumah

penginapan itu, Tin Eng lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke barat sebagaimana yang

ditunjukkan oleh kakek pelayan itu. Benar saja, setelah berlari cepat sejauh kurang lebih dua

puluh li, ia tiba di sebuah dusun yang cukup ramai di dekat sungai yang lebar. Rumah-rumah

para nelayan memenuhi dusun-dusun itu dan hampir di setiap rumah tentu terlihat jala yang

dijemur atau sedang dijahit dan dibetulkan oleh pemiliknya.

Di pinggir sungai terdapat banyak sekali perahu besar kecil. Benar saja sebagaimana

perkiraan pelayan hotel tadi, nampak dua macam layar pada perahu-perahu itu, baik layar

yang masih digulung maupun yang sudah dibuka itu. Ada yang berwarna hitam seluruhnya

dan ada pula yang berwarna putih. Layar-layar itu sudah penuh tambalan, lebih-lebih yang

putih. Beberapa orang nelayan bekerja di perahu masing-masing, ada yang menambal layar,

ada yang membetulkan papan perahu, ada pula yang menambal dasar perahu yang bocor.

Tin Eng menghampiri dua orang yang sedang menambal layar putih di pinggir sungai. Kedua

orang itu melihat seorang nona muda menghampiri, segera menunda pekerjaan mereka dan

bertanya,

“Apakah nona hendak menyewa perahu?”

“Ya, aku ingin pergi ke Ki-ciu, apakah kalian dapat mengantarkan aku ke sana dengan

perahumu dan berapakah sewanya?”

Kedua orang itu saling pandang dan yang memakai topi nelayan lebar lalu berkata, “Biasanya

kalau hanya menyeberang saja sih tidak mahal, nona, akan tetapi ke Ki-ciu …” ia berhenti

sebentar mengingat-ingat. “Dulu pernah ada orang pergi ke sana dan membayar lima tail

perak.”

Tiba-tiba datang seorang tinggi besar ke tempat mereka dan orang ini sambil cengar cengir

lalu bertanya kepada Tin Eng, “Apakah nona hendak menyewa perahu? Kemanakah?”

 52

Tin Eng memandang tak senang kepada orang itu dan berkata, “Aku tidak ada urusan dengan

kamu!”

Kemudian tanpa memperdulikan orang itu, Tin Eng berkata kepada kedua nelayan yang

diajaknya bicara tadi. “Begini saja lopeh, aku minta kau mengantar aku ke Ki-ciu dan untuk

itu akan kubayar sewanya secukupnya, akupun berani membayar sedemikian.”

“Lima tail perak?” kata orang tinggi besar itu menyela. “Murah amat! Sedikitnya harus lima

belas tail perak!” Sambil berkata demikian orang itu menolak pinggang dan memandang

kepada kedua orang nelayan itu dengan mata mengancam.

Tin Eng tanpa memperdulikan orang itu lalu berkata kepada dua orang nelayan tadi,

“Bagaimana? Berapakah kalian minta?”

Dengan suara berat dan menundukkan kepalanya, nelayan yang lebih tua itu menjawab,

“Sedikitnya lima belas tail perak, nona.”

Tin Eng tercengang dan ia mulai mengerling ke arah orang tinggi besar itu dengan penuh

perhatian. Ternyata orang itu berwajah kejam dan usianya kurang lebih tiga puluh tahun,

matanya lebar dan bertopi nelayan pula, Melihat gerak geriknya, ia tentu seorang yang

bertenaga kuat dan mengerti ilmu silat pula. Tin Eng menduga-duga siapakah adanya orang

ini, akan tetapi ia tidak mau mencari pertengkaran maka ia lalu menjawab nelayan tua itu,

“Baiklah, lopeh aku mau membayar lima belas tail perak.”

Kedua nelayan itu memandang kepada Tin Eng dengan mata mengandung rasa kasihan, akan

tetapi tiba-tiba nelayan tinggi besar yang berdiri di belakang Tin Eng itu berkata lagi,

“Harus dibayar di muka sepuluh tail dulu, baru bisa berangkat!”

Kini Tin Eng tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia cepat memutar tubuh menghadapi

orang tinggi besar itu sambil membentak,

“Bangsat kasar, tutup mulutmu yang busuk!”

Nelayan tinggi besar itu memandang dengan senyum menyeringai, seakan-akan memandang

rendah kepada Tin Eng, lalu berkata, “Aduh, jangan galak-galak, nona. Paling baik kau lekas

keluarkan uang muka sepuluh tail perak, kalau tidak jangan harap kau bisa menyewa perahu

di sini!”

“Orang liar! Aku tidak berurusan dengan kau dan tidak sudi menyewa perahumu! Mengapa

kau harus mencampuri urusanku. Pergilah!” Sambil berkata demikian, Tin Eng gunakan

tangan kirinya untuk mendorong orang itu, akan tetapi sambil tertawa cengar cengir orang itu

berkata,

“Ah, agaknya kau mau mengenal kelihaianku!” Lalu cepat ia mengulur tangan hendak

menangkap lengan Tin Eng yang mendorongnya itu. Akan tetapi, Tin Eng tentu saja tidak

mau ditangkap lengannya begitu saja. Ia lalu menarik kembali tangannya dan mengirim

tendangan ke arah lambung nelayan kasar itu. Tendangannya tepat mengenai lambung

nelayan itu, akan tetapi biarpun nelayan itu terguling-guling sampai beberapa kali, ia tidak

 53

menjadi kapok, bahkan dengan amat marahnya ia lalu melompat bangun dan mencabut

“Bangsat perempuan, kau mau mampus?” bentaknya sambil menyerang, akan tetapi dengan

cepat sekali Tin Eng telah mencabut pedangnya dan sekali saja pedangnya berkelebat dalam

gerakan yang aneh, nelayan kasar itu menjerit ngeri, goloknya terlempar dan lengan

tangannya berlumuran darah.

“Bajingan kasar, kalau aku mau, lehermu telah putus!” kata Tin Eng dan nelayan itu tanpa

berani berkata apa-apa lagi lalu berlari pergi.

“Siapakah dia?” tanya Tin Eng.

Nelayan tua itu menarik napas panjang. “Kau mencari penyakit, nona. Dia adalah seorang

anggauta Layar Hitam yang telah lama merajalela di sini, dan kami perkumpulan Layar Putih

selalu diperasnya. Kami harus menyerahkan setengah bagian dari pada hasil yang kami

peroleh kepada mereka, karena itulah maka mereka yang menetapkan tarif sewa perahu.”

“Bangsat benar! Jangan kuatir, aku akan membasmi mereka!” kata Tin Eng dengan marah

Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan keras yang nyaring dari atas sebuah perahu

besar, dan ketika Tin Eng dan kedua orang nelayan itu menengok, ternyata di atas perahu

besar yang berlayar putih dan masih tergulung, berdiri seorang perempuan muda dengan sikap

gagah. Perempuan itu usianya sebaya dengan Tin Eng, tubuhnya tegap langsing dan

rambutnya dikuncir panjang, akan tetapi yang pada saat itu diselipkan di dalam punggungnya.

Kepalanya memakai sebuah kopiah bulu yang halus, pakaiannya dari sutera mahal. Ia berdiri

dengan gagah dan berteriak nyaring,

“Hek-liong-ong (Raja Naga Hitam) ! Keluarlah untuk terima binasa!”

Teriakan ini ia keluarkan berulang-ulang. Beberapa nelayan yang bertopi seperti nelayan

tinggi besar yang dikalahkan oleh Tin Eng tadi melompat naik sambil memaki. Akan tetapi

beberapa kali saja dua kaki gadis gagah itu bergerak, empat orang nelayan yang mencoba

untuk menyerbunya itu kena ditendang dan tercebur ke dalam air.

“Ha ha!” Gadis itu tertawa keras. “Kalian ini anjing-anjing rendah, mengapa tak tahu diri dan

berani mendekati Dewi Tangan Maut? Suruh Hek-liong-ong si anjing tua itu keluar. Aku

tidak sudi berurusan dengan anjing-anjing kentut sekalian!”

Tin Eng memandang kagum dan ia bertanya kepada nelayan tua yang berdiri dengan wajah

pucat. “Lopeh, siapakah Hek-liong-ong yang ia tantang itu?”

“Hek-liong-ong adalah ketua dari perkumpulan Layar Hitam! Kalau nona itu betul-betul Dewi

Tangan Maut, akan hebatlah pertempuran nanti!”

“Siapakah Dewi Tangan Maut?” tanya pula Tin Eng dengan hati amat tertarik.

 54

Nelayan tua itu memandang kepada Tin Eng dengan mata heran karena ada orang yang belum

mendengar nama ini. “Dia adalah seorang pendekar wanita yang ditakuti orang karena gagah

berani dan ganas!”

Tin Eng merasa suka kepada nona pendekar itu, maka ia lalu berjalan lebih dekat untuk

melihat apa yang akan terjadi. Tak lama kemudian, dari dusun itu keluarlah seorang laki-laki

berbaju putih bercelana hitam dan yang memakai topi seperti para anggauta Layar Hitam itu.

Tindakan kakinya tetap dan kuat, menandakan bahwa ilmu silatnya tinggi. Mukanya hitam

dan rambutnya sudah banyak yang putih, akan tetapi mukanya amat kejam dan sepasang

matanya mengeluarkan cahaya liar.

Ia diikuti oleh belasan orang anggauta Layar Hitam. Dengan langkah lebar ia lalu

menghampiri perahu di mana Dewi Tangan Maut itu masih berdiri, dan ketika nona itu

melihat kedatangan Hek-liong-ong, ia tertawa dan sambil tersenyum manis ia berkata,

“Hek-liong-ong! Aku telah datang untuk menghancurkan kau yang penuh kejahatan itu!”

Marahlah Hek-liong-ong mendengar hinaan ini. Dengan gerakan ringan sekali ia melompat ke

atas perahu besar, sedangkan dua orang kawannya pun melompat ke atas perahu kecil yang

berada di dekat perahu besar itu, siap untuk membantu Hek-liong-ong. Kedua orang ini adalah

dua orang wakil kepala Layar Hitam yang berkepandaian tinggi pula, seorang setengah tua

yang menjadi sute (adik seperguruan) Hek-liong-ong dan seorang pula masih muda dan

berkopiah putih yang juga memiliki ilmu silat tinggi.

Sementara itu, belasan orang anak buah perkumpulan Layar Hitam berdiri di tepi sungai

sambil bertolak pinggang. Agaknya hendak menghadang kalau Dewi Tangan Maut akan

melarikan diri ke atas darat! Sikap mereka mengancam dan bengis sekali.

Setelah berada di atas perahu besar dan berdiri menghadapi Dewi Tangan Maut yang

memandangnya dengan mengejek dan bertolak pinggang, Hek-liong-ong menunjuk dengan

tangan kirinya dan berkata keras,

“Dewi Tangan Maut! Kau mau merajalela di darat mengapa berlancang tangan dan

mengotorkan keadaan di sungai? Apa kau kira aku Hek-liong-ong takut kepadamu?”

“Hek-liong-ong,” jawab dara pendekar itu sambil tersenyum tenang. “Tak perlu dipersoalkan

darat atau sungai, tak perlu dipersoalkan pula tentang kau takut kepadaku atau pun tidak!

Akan tetapi yang penting ialah bahwa kau telah berlaku terlampau kejam dan berbuat

sewenang-wenang! Kau telah menyiksa seorang nelayan, menyeretnya di atas tanah dengan

berkuda sehingga orang itu hampir mati tersiksa sedangkan kemarin kau telah menyiksa pula

seorang nelayan yang kau ikat kaki tangannya dan kau tenggelamkan berkali-kali ke dalam air

sehingga ia mati! Perbuatan ini lebih kejam dari pada perbuatan binatang liar, dan setelah aku

Dewi Tangan Maut mendengar tentang hal ini, apa kau kira aku bisa mendiamkan saja

kekejaman ini merajalela, biar di atas sungai sekalipun?”

“Dewi Tangan Maut! Kau tak perlu mencampuri urusanku! Hal yang terjadi itu adalah urusan

dalam perkumpulanku sendiri dan tak seorangpun boleh mencampurinya! Aku menghukum

nelayan-nelayan yang berdosa, apakah sangkut pautnya dengan kau?”

 55

Kembali nona pendekar itu tertawa menghina. “Kalau kau menghukum orang-orangmu

sendiri yang kesemuanya terdiri dari bajak-bajak dan penjahat-penjahat, aku takkan perduli

sama sekali! Akan tetapi justru yang kau siksa itu adalah nelayan-nelayan biasa, orang baikbaik

yang tidak mau menurut perintahmu!”

Makin marahlah Hek-liong-ong. Ia mencabut keluar senjatanya, yakni sepasang dayung dan

membentak, “Perempuan sombong! Habis kau mau apa?”

“Bagus, bagus sudah kuduga bahwa anjing tua yang mau mampus tentu akan menyalaknyalak

dulu!” jawab nona itu sambil mencabut pedangnya.

Hek-liong-ong menyerbu dengan sepasang dayungnya yang hebat itu, akan tetapi lawannya

mengelak dengan mudah dan mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Pertempuran hebat itu ditambah pula dengan majunya dua orang wakil ketua Layar Hitam

sehingga menjadi makin seru. Gadis yang diberi julukan Dewi Tangan Maut itu benar-benar

gagah perkasa, karena biarpun dikeroyok oleh Hek-liong-ong yang mainkan sepasang dayung

secara hebat dan oleh dua orang yang mainkan golok secara buas pula.

Namun ia dapat melayani mereka dengan baik bahkan melancarkan serangan-serangan

pembalasan yang benar-benar merupakan tangan maut karena sekali saja serangan pedangnya

mengenai sasaran, pasti lawannya yang terkena akan tewas di saat itu juga. Tin Eng merasa

kagum dan juga bergidik, karena ternyata bahwa ilmu pedang gadis itu benar-benar ganas

Sementara itu, belasan orang yang menjadi anak buah Layar Hitam itu kini telah bertambah

jumlahnya dan menjadi kurang lebih tiga puluh orang. Sikap mereka mengancam sekali dan

ketika mereka melihat betapa ketiga orang ketua mereka tak dapat menangkan Dewi Tangan

Maut, mereka mulai berteriak-teriak hendak maju mengeroyok.

Tiba-tiba terdengar seorang di antara mereka berseru, “Tenggelamkan perahunya! Biarkan ia

tenggelam dalam air, tentu tidak berdaya!”

Tin Eng merasa terkejut mendengar maksud keji ini dan ia telah melihat betapa belasan orang

mulai menyeburkan diri ke dalam air untuk menggulingkan perahu di mana ketiga pemimpin

Layar Hitam itu sedang mengeroyok Dewi Tangan Maut.

“Cici, kau lompatlah segera ke darat! Mereka hendak menggulingkan perahu!” Tin Eng

berteriak keras sambil melompat mendekati pantai dan ketika tiga orang anggauta Layar

Hitam dengan marah menyerangnya, ia merobohkan mereka dengan sekali dorong.

Dewi Tangan Maut merasa marah sekali mendengar tentang maksud curang ini. Pedangnya

bergerak cepat dan terdengar jerit kesakitan dan darah tersembur keluar dari dada seorang di

antara ke tiga pengeroyoknya, yakni sute dari Hek-liong-ong. Korban ini roboh dengan dada

tertembus pedang dan tewas pada saat itu juga. Hal ini membuat Hek-liong-ong dan seorang

kawannya menjadi jerih.

Pada saat itu perahu sudah mulai bergoyang-goyang dan Dewi Tangan Maut segera melompat

ke darat, diikuti oleh Hek-liong-ong dan anak buahnya yang mengejar. Maka terjadilah

pertempuran di darat yang lebih hebat dari pada pertempuran di atas perahu tadi. Dewi

Tangan Maut dikeroyok oleh puluhan orang.

 56

Akan tetapi sambil putar-putar pedangnya, nona pendekar itu masih sempat memandang

kepada Tin Eng dan tersenyum manis sambil berkata, “Adik yang baik, terima kasih.”

Melihat betapa nona pendekar itu dikeroyok oleh demikian banyak orang yang semuanya

memegang senjata, Tin Eng menjadi tak tega dan sambil mencabut pedangnya, ia menyerbu

dan membentak,

“Kawanan tikus tak tahu malu! Jangan mengandalkan keroyokan menghina orang!”

Hebat sekali permainan pedang Tin Eng ini. Setiap kali pedangnya berkelebat, tentu senjata

seorang lawan kena dibikin terlepas dan tangan yang memegang terluka. Terdengar jerit dan

pekik karena sakit dan terkejut, bahkan Dewi Tangan Maut itu sendiri merasa kagum dan

terkejut melihat kehebatan sepak terjang Tin Eng. Akan tetapi, Tin Eng tidak seganas dia

sehingga lawan-lawan yang kena dirobohkan oleh Tin Eng tidak ada yang menderita luka

berat, sungguhpun mereka itu tak dapat maju mengeroyok pula.

Sedangkan Dewi Tangan Maut ketika melihat kehebatan Tin Eng, tidak mau kalah. Ia berseru

nyaring dan ketika pedangnya berkelebat cepat beberapa kali, robohlah tiga orang anak buah

Layar Hitam dengan dada tertembus pedang atau leher terbacok sehingga mereka tewas pada

saat itu juga.

Melihat ini Tin Eng mendapat pikiran untuk merobohkan kepala penjahat dulu, karena kalau

dilanjutkan semua anak buah Layar Hitam ini bisa mati semua dalam tangan Dewi Tangan

Maut yang ganas. Ia melompat dan cepat mengirim serangan kepada Hek-liong-ong yang

menjadi terkejut karena menghadapi serangan Dewi Tangan Maut sendiri saja ia sudah

merasa sibuk, apalagi kini ditambah oleh seorang lawan lain yang tidak kalah lihainya.

Di dalam kegugupannya, tangan kanannya tersabet oleh pedang Tin Eng sehingga sambil

menjerit, ia melepaskan dayungnya dan segera teriakannya itu disambung dengan pekik hebat

karena Dewi Tangan Maut telah menggerakkan pedangnya menabas batang lehernya. Pemuda

yang menjadi pembantunya itu melihat kejadian ini menjadi terkejut dan kesima, sehingga

sebelum ia tahu apa yang terjadi, kembali pedang Dewi Tangan Maut menyambar dan

menusuk dadanya sehingga iapun rebah mandi darah dan tewas.

Tin Eng merasa ngeri sekali dan segera ia menahan pedangnya. Akan tetapi dengan wajah

gembira, Dewi Tangan Maut mengamuk terus sehingga beberapa orang anak buah Layar

Hitam kembali menjadi korban pedangnya.

“Cici, tahan dan ampuni mereka!” kata Tin Eng sambil melompat dan menahan amukan

pendekar wanita yang ganas itu. Kemudian Tin Eng berseru kepada semua anggauta Layar

Hitam, “Lemparkan senjata dan berlututlah untuk menyerah!”

Memang semua anggauta gerombolan itu telah menjadi ketakutan dan ngeri melihat

kehebatan kedua pendekar wanita itu, maka mendengar bentakan ini mereka lalu melempar

pedang masing-masing dan berlutut minta ampun.

Dewi Tangan Maut tertawa bergelak dan sambil menggerak-gerakkan pedangnya

mengancam, ia berkata, “Untung bahwa hari ini ada bidadari penolong yang mintakan ampun

untuk jiwa anjing kalian, kalau tidak, jangan harap ada seorang pun penjahat yang dapat lolos

 57

dari ujung pedangku! Mulai sekarang, jangan kalian berani-berani lagi mengganas. Uruslah

semua mayat ini baik-baik dan harap kalian dapat bekerja sama dengan para nelayan lain.

Kalau lain kali aku mendengar lagi akan kejahatan kalian, aku takkan mau memberi ampun

lagi, biarpun kalian berlutut seribu kali!”

Para anggauta Layar Hitam itu lalu mengangkat semua mayat dan mengurusnya baik-baik,

dibantu oleh nelayan-nelayan biasa dan anggauta-anggauta Layar Putih yang diam-diam

merasa girang sekali karena kejahatan yang selalu menekan dan mengganggu mereka itu

akhirnya dapat terbasmi sekali gus. Dewi Tangan Maut menghampiri Tin Eng dan sambil

tersenyum bertanya,

“Adik yang gagah perkasa, siapakah kau? Ilmu pedangmu sungguh-sungguh mengagumkan

hatiku!”

“Kepandaianku biasa saja, mana dapat dibandingkan dengan cici yang benar-benar

merupakan Dewi Penyebar Maut? Aku bernama Liok Tin Eng, tidak tahu cici ini bernama

siapakah?”

“Namaku Kui Hwa, she Tan. Aku anak murid Hoa-san-pai dan aku paling benci kepada

kejahatan. Adik Eng, kau ternyata berhati lemah dan sebenarnya keliru sekali perbuatanmu

tadi yang memberi ampun kepada para penjahat. Orang-orang kejam macam mereka itu harus

dibasmi, barulah keadaan menjadi benar-benar aman!”

“Akan tetapi, Tan-cici, mereka juga manusia dan kalau kiranya masih dapat diusahakan, lebih

baik mengampuni mereka agar mereka berubah menjadi orang baik-baik.”

Kui Hwa tersenyum, lenyaplah sifat galaknya, bahkan dalam pandangan Tin Eng, dara

pendekar ini nampak cantik jelita dan manis sekali, pantas disebut Dewi. “Mungkin kau

benar, adikku, akan tetapi, lebih besar kemungkinan kau akan kecele, karena biasanya orang

yang mempunyai dasar jahat sukar sekali untuk diperbaiki lagi.”

Tin Eng hanya tersenyum saja mendengar pendapat Dewi Tangan Maut itu, tidak mau

membantah sungguhpun di dalam hatinya ia tidak setuju dengan pendapat ini.

“Adik Tin Eng, sebetulnya kau hendak ke manakah maka sampai bisa datang ke tempat ini?”

tanya Kui Hwa yang ramah tamah.

“Aku hendak menyewa perahu ke Ki-ciu. Telah lama aku mendengar keindahan Ki-ciu dan

ingin merantau ke sana meluaskan pengalaman. Kebetulan sekali aku bertemu dengan

gerombolan Layar Hitam sehingga kalau seandainya cici tidak datang turun tangan, tentu aku

pun akan bertempur dengan mereka.” Tin Eng lalu menceritakan tentang pertempurannya

dengan seorang anggauta Layar Hitam yang kasar tadi.

Si Dewi Tangan Maut mengangguk-angguk dan berkata, “Memang tadi telah kulihat betapa

lihainya ilmu silatmu. Aku ingin memperkenalkan kau kepada kawan-kawanku dan biarlah

lain kali kita bertemu pula.”

Kemudian Tin Eng menyewa perahu Layar Hitam yang paling baik dan dua orang anggauta

Layar Hitam yang telah berubah amat baik dan menghormati sikapnya, lalu mendayung

 58

perahu itu ke tengah sungai. Setelah tiba di sungai, layar dikembangkan dan perahu kecil itu

melaju menuju Ki-ciu.

Benar saja, pemandangan alam di kanan kiri sungai itu amat indahnya sehingga Tin Eng

merasa gembira sekali. Terutama apabila ia teringat kepada Dewi Tangan Maut yang kini

telah menjadi seorang kenalan baik. Ia merasa kagum kepada nona pendekar itu dan hatinya

makin gembira apabila ia ingat bahwa di dalam perantauan ini ia tentu akan bertemu dengan

orang-orang gagah seperti nona she Tan itu. Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa pada

waktu itu Bun Gwat Kong, pelayannya yang menjadi biang keladi perantauannya ini sedang

menuju ke Kang-lam untuk mencari Tan Kui Hwa atau Dewi Tangan Maut yang menjadi

puteri dari musuh besarnya.

Juga gadis ini tidak pernah menduga bahwa ia sedang berada di dalam bahaya dan bahwa

ucapan Dewi Tangan Maut tadi yang menyatakan bahwa penjahat-penjahat itu patut dibasmi

karena dasarnya jahat akan tetap jahat! Karena di luar persangkaannya, kedua orang anggauta

Layar Hitam yang kini mengemudi perahu yang ditumpanginya ternyata mengandung maksud

jahat terhadap dirinya.

Hari telah mulai senja ketika perahu itu tiba di dalam sebuah hutan yang amat luas dan gelap.

Juga sungai menjadi lebar ketika tiba di tempat ini, akan tetapi karena tidak ada angin, maka

layar digulung dan perahu itu bergerak maju mengandalkan tenaga pendayung dari kedua

orang itu. Perahu maju perlahan-lahan dan ketika tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba perahu itu

Tin Eng hendak menegur kedua orang yang berhenti mendayung, akan tetapi tiba-tiba

terdengar suara suitan keras dari pinggir sebelah kiri dan kedua orang itu lalu membalas suara

itu dengan bersuit keras pula. Sebelum Tin Eng dapat bertanya, kedua orang itu tiba-tiba lalu

menyeburkan diri ke dalam air dan berenang ke pantai, meninggalkan perahu yang berhenti di

tengah-tengah sungai.

Karena memang mereka tadi sengaja menghentikan perahu di tempat yang terhalang oleh

batu-batu karang yang menonjol di tengah-tengah sungai. Tin Eng merasa terkejut dan heran

sekali dan hatinya mulai merasa tidak enak.

“Hai! Kalian hendak pergi kemana?” tegurnya kepada dua orang pendayung tadi, akan tetapi

kedua orang itu telah mendarat lalu lari ke dalam hutan dan lenyap.

Tin Eng merasa bingung sekali. Untuk mendayung perahu itu ia tidak sanggup karena ia

memang tidak pernah mengemudikan perahu. Untuk melompat ke tepi pun tak mungkin

karena letaknya kedua tepi di kanan kiri itu sedikitnya ada lima belas tombak dari perahunya.

Berenangpun ia tak pandai.

Tak lama kemudian, dari pantai sebelah kiri muncullah banyak sekali orang yang membawa

perahu-perahu kecil yang segera diturunkan ke dalam air. Mereka ini ternyata adalah bajak air

yang telah mendapat berita dari dua orang anggauta Layar Hitam yang sengaja hendak

membalas dendam.

Sebelumnya para anggauta Layar Hitam itu adalah bekas-bekas bajak air yang mengandalkan

kekejaman mereka atas pengaruh bajak air ini dan mereka selalu membagi hasil-hasil

pemerasan mereka kepada bajak-bajak ini sehingga tentu saja ketika mendengar betapa tiga

 59

orang pemimpin Layar Hitam terbunuh dan perkumpulan itu diobrak-abrik oleh Tin Eng dan

Dewi Tangan Maut, mereka menjadi marah dan hendak membalas dendam.

Akan tetapi yang menarik perhatian kepala bajak itu adalah cerita kedua orang anggauta

Layar Hitam tadi bahwa gadis yang menumpang di dalam perahu mereka dan yang telah ikut

menghancurkan perkumpulannya adalah seorang gadis cantik jelita. Kepala bajak ini adalah

seorang bajak muda yang rakus akan paras cantik, maka begitu mendengar berita ini ia lalu

mengerahkan anak buahnya untuk pergi mengeroyok dan menangkap gadis itu.

Melihat orang banyak itu, Tin Eng maklum bahwa mereka tentulah penjahat-penjahat yang

bermaksud jahat, maka ia segera mencabut pedangnya dan bersiap sedia menghadapi serbuan

mereka. Diam-diam ia merasa gemas sekali kepada dua orang tukang perahu tadi dan

mengakui kebenaran ucapan Dewi Tangan Maut, maka ia mengambil keputusan untuk

membasmi orang jahat ini sampai ke akar-akarnya.

Perahu-perahu kecil itu segera di dayung dan sebentar saja perahu yang ditumpangi oleh Tin

Eng dikurung dari segala jurusan. Kepala bajak yang mengenakan pakaian biru dan dengan

sepasang kampak di tangan berdiri di kepala perahu terdepan dengan sikap gagah. Di

sebelahnya berdiri dua orang tukang perahu anggauta Layar Hitam yang melapor tadi.

Tin Eng memandang ke arah mereka dengan mata merah. “He, kalian hendak berbuat

apakah?” tanyanya dengan gemas.

08. Kehilangan Kitab Pusaka

KEDUA orang anggauta Layar Hitam itu tertawa saja dan seorang di antaranya lalu berkata

dengan suara mengejek, “Nona, kau hendak kami jodohkan dengan Liang-ho Siauw-liong

(Naga Muda dari Liang-ho), tentu kau akan mengalami kesenangan besar! Ha ha ha!”

“Bangsat rendah! Kau telah mendapat ampun, apakah benar-benar kalian hendak mencari

mampus?”

Tiba-tiba kepala bajak itu tertawa dengan girang. Ia telah melihat bahwa dara muda itu benarbenar

cantik jelita, maka kini mendengar suaranya yang nyaring dan sikapnya yang gagah, ia

lalu berkata,

“Nona manis, kau telah terkurung dan berada dalam kekuasaanku, lebih baik kau menyerah

saja karena percuma kalau kau mau melawan juga!”

“Bangsat keji! Kau kira nonamu takut menghadapi tikus-tikus air semacam kau dan anak

buahmu? Naiklah kalian semua ke sini kalau hendak mencari mampus di ujung senjataku!”

tantang Tin Eng dengan tabah dan marah.

Liang-ho Siauw-liong tertawa bergelak-gelak lalu memberi perintah kepada anak buahnya,

“Tangkap padanya, akan tetapi jangan melukainya! Gunakan tali untuk menyeretnya ke air

dan kemudian mengikatnya kuat-kuat!”

Mendapat perintah ini, para bajak lalu mendayung perahu mereka mendekati perahu di mana

Tin Eng berdiri menanti dengan pedang ditangan. Mereka membawa senjata berupa tambang

dan kaitan-kaitan kayu, ada pula yang membawa dayung untuk mendorong gadis itu ke dalam

 60

air. Dengan mata tajam Tin Eng melihat lagak itu dan hanya menjaga untuk segera bergerak

begitu ada bajak naik ke atas perahu.

Benar saja, dari sebelah kiri perahu melompat dua orang bajak yang membawa tambang,

disusul oleh tiga orang pula yang melompat ke kanan perahu. Akan tetapi mereka itu segera

menjerit kesakitan ketika Tin Eng menyambar dengan pedangnya dan begitu ia menggerakkan

tangannya, pedang itu telah melukai mereka yang segera terguling ke dalam air.

Bajak lain menjadi jerih. Tak pernah mereka sangka bahwa gadis itu selihai ini, maka kini

tidak ada yang berani mencoba untuk naik ke perahu Tin Eng lagi. Bahkan perahu-perahu

kecil itu segera di dayung menjauhi dan para bajak yang terluka tadi lalu ditolong.

“Ilmu pedangnya lihai sekali, harap tai-ong berhati-hati,“ kata dua orang anggauta Layar

Hitam tadi.

Liang-ho Siauw-liong merasa marah sekali melihat betapa lima orang anak buahnya dengan

amat mudah dijatuhkan oleh Tin Eng, maka ia lalu memberi aba-aba.

“Terjun ke air dan gulingkan perahunya!”

Tin Eng merasa terkejut sekali mendengar perintah ini. Kalau mereka benar-benar

menggulingkan perahunya, maka celakalah dia! Biarpun di darat ia tak perlu takut

menghadapi keroyokan mereka, akan tetapi kalau sampai ia terjatuh ke dalam air, jangankan

menghadapi keroyokan, baru menghadapi seorang bajak biasa yang pandai berenang saja ia

takkan berdaya sama sekali. Ia melihat betapa bajak-bajak itu meninggalkan perahunya dan

mulai terjun ke dalam air untuk berenang menghampiri perahu di mana ia berdiri.

Tin Eng teringat akan kantong piauwnya, maka dengan gemas ia lalu mengeluarkan

segenggam piauw dan memindahkan pedang ke dalam tangan kiri. Ia pernah mempelajari

ilmu melepas piauw dari ayahnya dan dalam hal kepandaian melempar piauw ia telah

memiliki kepandaian yang boleh juga. Ia membidik dengan hati-hati dan begitu tangannya

berayun ke arah bajak yang berenang di air, piauw itu tepat sekali menancap di tubuh bajak

sehingga bajak itu menjerit kesakitan dan terus tenggelam ke dalam air. Tin Eng membagibagi

hadiah dengan piauwnya itu ke seluruh penjuru. Di mana terlihat tubuh bajak bergerak di

dalam air, ia segera mengayun tangannya hingga tak lama kemudian banyak sekali bajak yang

ia tewaskan.

Dalam kegembiraannya ia telah menghabiskan banyak sekali senjata piauwnya dan ketika ia

merogoh kembali ke kantong piauw, ia merasa terkejut sekali, karena piauwnya hanya tinggal

tiga buah lagi! Ia membawa dua puluh batang piauw dan ternyata ia telah menyambitkan

tujuh belas batang yang kesemuanya mengenai sasaran dengan tepat. Kini para bajak itu tidak

berani berenang di permukaan air dan segera menyelam untuk menghindarkan diri dari piauw

gadis yang tangguh itu, sehingga Tin Eng mulai kuatir sekali.

Melihat betapa kepala bajak itu berdiri di kepala perahu dan memberi perintah, ia menjadi

gemas dan segera tangannya terayun dan sekali gus tiga batang piauwnya menyambar ke arah

kepala bajak itu dan ke arah dua orang anggauta Layar Hitam yang berdiri di dekat Liang-ho

Siauw-liong. Terdengar jerit kesakitan dan tubuh kedua orang anggauta Layar Hitam itu

terjungkal dari perahu, masuk ke dalam air sungai. Akan tetapi sambil tertawa bergelak dan

sama sekali tidak memperdulikan dua orang yang menjadi korban senjata rahasia itu, ia

 61

menggerakkan kampak di tangan kanannya untuk menangkis piauw yang menyambar ke arah

tubuhnya sehingga senjata kecil itu terpukul jatuh ke dalam air.

Kini Tin Eng merasa betul-betul gelisah. Piauwnya telah habis dan apa dayanya? Ia melihat

ke kanan kiri dan ke dalam air, akan tetapi tidak melihat ada anggauta bajak yang berenang di

bawah permukaan air dan kini perahunya tiba-tiba mulai bergoyang-goyang.

Hampir saja Tin Eng terjatuh, ia terhuyung-huyung dan mempertahankan dirinya di atas

perahu agar supaya tidak terlempar keluar ke dalam air. Akan tetapi perahu itu makin miring

dan sebentar pula tentu terbalik. Tin Eng melihat sebuah perahu bajak kosong, yang jauhnya

tiga tombak lebih dari tempatnya, maka sambil berseru keras ia melompat ke arah perahu itu.

Akan tetapi, begitu ia turun menginjak perahu itu, ia segera terjatuh karena perahu kecil itu

tidak kuat menerima tubuhnya yang melompat dengan keras. Perahu itu terguling,

membawanya ikut terguling ke dalam air.

Tin Eng bergulat dengan air yang membuatnya tak berdaya. Beberapa kali ia terpaksa minum

air sungai dan ketika ia merasa ada tangan meraba dan hendak menangkapnya, ia memukul

dengan tangan kanannya sehingga bajak yang mencoba untuk menangkapnya itu memekik

dan melepaskan pegangannya. Biarpun berada dalam keadaan tak berdaya, namun Tin Eng

masih berbahaya dan tak mudah ditangkap.

“Biarkan dia lemas dulu!” terdengar suara Liang-ho Siauw-liong berkata keras sambil

mendayung perahunya mendekat.

Tin Eng sudah menjadi lemas sekali dan hampir pingsan. Ia masih mendengar betapa tiba-tiba

terdengar suara gaduh dan teriakan-teriakan para bajak itu dan ia merasa betapa tubuhnya

terikat oleh sehelai tali yang kuat, lalu tubuhnya di tarik ke sebuah perahu. Ia tak dapat

melihat lagi siapa yang melakukan ini, akan tetapi ia merasa tubuhnya diangkat ke dalam

perahu. Ia membuka mata dan melihat bahwa yang menolongnya adalah Tan Kui Hwa si

Dewi Tangan Maut.

Nona pendekar itu tersenyum dan berkata, “Untung kau belum terlalu banyak minum air,

adikku yang baik. Akan tetapi sedikit air yang memenuhi perutmu itu perlu dikeluarkan. Kau

menurutlah saja!”

Setelah berkata demikian, Kui Hwa lalu peluk tubuh Tin Eng dan menjungkirkan tubuh itu

dengan kaki ke atas dan kepala di bawah. Maka mengalirlah air dari mulut Tin Eng.

Setelah air yang memenuhi perut itu dikeluarkan, Tin Eng lalu berkata,

“Cici, Kui Hwa, mana keparat-keparat itu?”

“Mereka melarikan diri ke darat.”

“Mari kita kejar!” kata Tin Eng dengan marah sekali.

Kedua orang gadis itu lalu mendayung perahu mereka ke darat. Ternyata bahwa Kui Hwa

merasa curiga terhadap dua orang anak buah Layar Hitam yang mendayung perahu Tin Eng

dan dengan diam-diam ia lalu mengikuti perahu itu dari darat. Ia melihat betapa Tin Eng

dikeroyok, maka dapat menolong pada saat yang tepat.

 62

Dengan mudah ia melompat ke dalam perahu itu dan merampas tambang yang tadinya hendak

digunakan untuk mengikat kaki dan tangan Tin Eng. Dengan kepandaiannya yang

mengagumkan, Dewi Tangan Maut itu berhasil melemparkan ujung tali yang mengikat tubuh

Tin Eng dan menolong gadis itu sebelum terjatuh ke dalam tangan bajak.

Liang-ho Siauw-liong pernah mendengar nama Dewi Tangan Maut, maka melihat pendekar

wanita itu muncul ia lalu memerintahkan semua anak buahnya untuk melarikan diri.

Setelah mendarat, Kui Hwa dan Tin Eng lalu mengejar ke dalam hutan. Tak lama kemudian

mereka dapat mencari tempat tinggal para bajak itu di tengah hutan dan kedua nona itu segera

menyerbu dengan pedang di tangan.

“Serahkanlah kepala bajak itu kepadaku, cici!” kata Tin Eng yang merasa marah sekali.

Kawanan bajak menjadi kacau balau karena tidak pernah menyangka bahwa kedua orang dara

itu berani menyerbu ke dalam hutan yang liar dan gelap, maka mereka lari cerai berai.

Sedangkan kepala bajak Liang-ho Siauw-liong beserta beberapa belas orang yang memiliki

kepandaian dan menjadi pembantu-pembantunya segera mengeroyok Kui Hwa dan Tin Eng.

Akan tetapi mereka bukanlah lawan dari kedua pendekar wanita ini dan sebentar saja

beberapa orang bajak yang mengeroyok telah kena dirobohkan. Liang-ho Siauw-liong sendiri

didesak hebat oleh Tin Eng dan biarpun permainan sepasang kampak di tangannya amat lihai

dan cepat, akan tetapi menghadapi Sin-eng Kiam-hoat yang dimainkan oleh Tin Eng, ia

menjadi terdesak hebat dan pada satu saat pedang Tin Eng berhasil membacok putus sebelah

Kepala bajak itu roboh pingsan dan Tin Eng merasa lega serta tidak tega untuk mengirim

tusukan yang terakhir. Ia meninggalkan tubuh lawan, dan membantu Kui Hwa mengamuk,

sehingga para bajak itu menjadi jerih dan sisanya yang masih hidup lalu melarikan diri, tak

kuat menghadapi dua ekor harimau betina yang mengamuk itu.

Kemudian Tin Eng mencari buntalan pakaiannya yang terampas dan untung sekali bahwa

buntalannya masih terdapat di situ. Hatinya menjadi lega ketika ia memeriksa buntalannya,

ternyata barang-barangnya berikut kitab pelajaran pedang Sing-eng Kiam-hoat masih ada di

dalam bungkusan.

Ia memeluk Kui Hwa dan berkata, “Cici Kui Hwa, terima kasih atas pertolonganmu tadi.

Kalau tidak ada yang menolong entah bagaimana jadinya dengan aku.”

“Ah, tak perlu kau berterima kasih, kawan! Orang-orang seperti kita harus tolong menolong.

Akupun amat membutuhkan pertolonganmu untuk menghadapi musuh-musuhku.”

“Musuh-musuhmu? Siapakah mereka, cici?”

Kui Hwa lalu menceritakan tentang permusuhan dengan orang-orang cabang Go-bi-pai.

“Kami pihak Hoa-san-pai selalu mengalah, akan tetapi orang-orang Go-bi-pai itu benar-benar

tak tahu diri dan selalu mencari permusuhan dengan kami. Terutama sekali Seng Le Hosiang

yang tiada hentinya berusaha menebus kekalahannya dan mulai menghasut orang-orang gagah

dari luar untuk memusuhi kami.”

 63

Bukan main terkejutnya hati Tin Eng mendengar penuturan ini. Betapapun juga, ia boleh

dibilang seorang anak murid Go-bi-pai pula.

“Cici yang baik, terus terang saja kau telah menuturkan keburukan Go-bi-pai kepada seorang

anak muridnya!”

Kui Hwa melompat mundur dan memandang dengan mata terbelalak. “Apa?? Kau juga anak

murid Go-bi? Ah, jangan kau main-main kawan. Ku lihat ilmu pedangmu sama sekali bukan

dari Partai Go-bi-san. Aku kenal baik ilmu silat Go-bi-pai, maka jangan kau mencoba untuk

mempermainkan dan membohongi aku!”

Tin Eng tersenyum, lalu berkata, “Kau lihatlah baik-baik, cici!” Setelah berkata demikian,

dara muda ini lalu bersilat dengan ilmu silat Go-bi-pai sebagaimana yang dipelajari dari

ayahnya. “Kenalkah kau ilmu silat ini?” tanyanya lalu menghentikan gerakannya.

Kui Hwa lalu mencabut pedangnya dan berseru, “Kau benar-benar anak murid Go-bi-pai!

bagus mari kita akhiri di ujung pedang!”

Tin Eng mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berkata, “Cici yang baik, kau tadi

menyatakan heran bahwa orang-orang Go-bi-pai selalu memusuhi kalian orang-orang Hoasan-

pai. Akan tetapi melihat sikapmu ini, bukankah kau yang menunjukkan sikap

bermusuhan? Lihatlah saja, Kau mencabut pedang terhadap aku yang tidak menganggapmu

sebagai musuh, bukankah ini tidak sesuai dengan kata-katamu tadi?”

Kui Hwa tersadar dan ia cepat memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang lalu

tersenyum dan berkata dengan muka merah, “Maaf, adik Tin Eng. Baru sekarang aku melihat

seorang anak murid Go-bi-pai tidak mengambil sikap bermusuhan terhadapku, maafkan

sikapku tadi.”

Tin Eng memegang lengan Kui Hwa dan berkata,” Cici Kui Hwa, agaknya kau telah dibikin

sakit hati sekali oleh orang-orang Go-bi-pai, maka kau membenci mereka. Akan tetapi kau

lihat sekarang bahwa tidak semua anak murid Go-bi-pai jahat-jahat dan memusuhimu.

Marilah kita melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap, bukankah kau hendak ke Kiciu?”

“Tidak, adik Tin Eng. Aku hendak kembali ke Kang-lam, dan kau lanjutkanlah perjalananmu

ke Ki-ciu. Akan tetapi, lebih baik kau ambil jalan darat saja. Dari sini kau terus ke selatan,

setelah tiba di dusun kedua kau membelok ke timur. Ki-ciu terletak kurang lebih lima puluh li

dari situ.”

“Cici, melihat mukaku apakah kau mau menghabisi saja permusuhan dengan pihak Go-bi?

Aku merasa sedih sekali melihat kau bermusuhan dengan pihak Go-bi, karena secara tak

langsung akupun anak murid Go-bi-san, sebab ayahku adalah murid Go-bi-san pula. Seperti

kau ketahui, permusuhan itu merupakan permusuhan pribadi dan jangan membawa-bawa

cabang persilatan menjadi musuh, buktinya akupun tidak memusuhi kau, cici!”

Kui Hwa menarik napas panjang dan menggelengkan kepala. “Adikku yang baik, agaknya

kau belum banyak merantau dan belum banyak mengalami hal-hal yang mengecewakan,

sehingga kau tidak mengetahui keadaan. Permusuhan ini sudah amat mendalam dan

 64

sesungguhnya bukan datang dari pihak kami. Sudah banyak kami menerima hinaan dari pihak

Go-bi, maaf, adik Tin Eng. Memang sesungguhnya jarang sekali terdapat anak murid Go-bipai

seperti kau!”

“Apakah kau pernah mengalami hinaan? Dari siapakah?”

Kembali Kui Hwa menarik napas panjang. “Kalau diceritakan sungguh membuat orang

menjadi penasaran sekali. Semenjak memiliki sedikit kepandaian silat, sudah menjadi

kebiasaan ku untuk membasmi orang-orang jahat yang mengganggu rakyat. Beberapa bulan

yang lalu pernah aku mengejar seorang jai-hwa-cat (penjahat pengganggu anak bini orang)

dan kebetulan sekali penjahat itu juga memiliki ilmu-ilmu silat dari cabang Go-bi. Ia telah

tersusul olehku dan tentu ia akan binasa di ujung pedangku, kalau saja ia tidak ditolong oleh

seorang tosu dan muridnya, yang terang-terangan membela orang-orang Go-bi-pai. Aku

dikalahkan oleh murid tosu itu dan mendapat hinaan dari mereka. Tosu itu bernama Bong Bi

Sianjin dan muridnya bernama Gan Bu Gi.”

Tin Eng merasa terkejut sekali, akan tetapi ia dapat menahan perasaan ini dan berkata,

“Hinaan apakah yang mereka lakukan terhadapmu, cici?”

“Biarlah lain kali saja kuceritakan padamu, adik Tin Eng. Sekarang telah jauh malam, lebih

baik kita melanjutkan perjalanan masing-masing.”

Tin Eng maklum bahwa tentu telah terjadi sesuatu antara Gan Bu Gi dan Kui Hwa dan gadis

itu yang baru saja dikenalnya masih belum percaya penuh untuk menceritakan hal itu

kepadanya. Mereka lalu berpisah dan Tin Eng melanjutkan perjalanannya menuju ke Ki-ciu

dan setelah keluar dari hutan, lalu melalui jalan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kui Hwa.

Sementara itu Kui Hwa mengambil jalan lain ke Kang-lam.

****

Dua hari kemudian Tin Eng tiba di Ki-ciu. Ia mendapat kenyataan bahwa kota ini memang

benar-benar indah sehingga gadis ini merasa amat gembira. Selain bangunan-bangunan yang

besar dan megah memenuhi kota hingga membuat kota itu nampak indah dan toko-toko besar

membuktikan kemakmuran kota itu. Juga di sepanjang pantai sungai Liang-ho yang mengalir

di dekat kota itu telah dibangun tempat istirahat yang indah, penuh ditanami kembangkembang

dan didirikan menara-menara dan bangunan lain yang amat bagus. Di situ

disediakan pula perahu-perahu kecil bagi para pelancong yang hendak menghibur hati dan

setiap hari terdengar tetabuhan yang-kim dan suling merayu-rayu.

Tin Eng bermalam dalam sebuah hotel terbesar, memilih kamar di loteng. Hanya pada malam

hari saja ia berada di dalam kamarnya, karena pada pagi dan sore hari ia selalu keluar dari

hotel untuk berjalan-jalan dan mengagumi keindahan kota dan segala pemandangannya.

Pada hari kedua, ketika ia masuk ke dalam kamarnya setelah sehari penuh berpelesir di atas

perahu dan mendengarkan tetabuhan yang merdu, ia menjadi terkejut sekali melihat bahwa

buntalan pakaiannya telah lenyap dari kamar itu.

Ia segera berteriak memanggil pelayan dan ketika pelayan datang ia memberitahukan bahwa

barang-barangnya telah lenyap. Pelayan itu menjadi pucat sekali dan berkata,

 65

“Aneh sekali, siocia! Kami selalu menjaga di bawah dan tak seorangpun kami lihat naik ke

loteng ini. Bagaimana barang-barangmu bisa tercuri? Kalau memang ada pencuri yang

mengambilnya, dari mana ia bisa naik ke sini?”

Melihat betapa pelayan itu memandangnya seakan-akan tidak percaya kepadanya bahwa

barang-barangnya benar telah hilang, hampir saja Tin Eng menamparnya. Akan tetapi ia

menahan kemarahannya dan melakukan pemeriksaan. Ternyata buntalannya yang berisi

pakaian, perhiasan, uang dan juga kitab pelajaran ilmu pedang telah lenyap tak berbekas.

Ketika ia menjenguk ke luar jendela kamarnya, ia melihat sehelai sapu tangannya terletak di

luar jendela, maka tahulah dia bahwa pencurinya adalah seorang pandai ilmu silat yang

memasuki kamarnya dengan jalan melompat dari bawah dan masuk dari jendela.

“Celaka!” serunya marah sekali, sedangkan pelayan yang melihat hal inipun dapat menduga

pula, bahwa yang datang mencuri barang-barang tamunya tentu seorang maling yang pandai,

maka ia mulai menggigil seluruh tubuhnya.

“Bagaimana baiknya, siocia? Apakah saya harus melaporkan saja kepada penjaga kemanan?”

“Tak usah!” bentak Tin Eng marah sekali. “Aku akan mencarinya sendiri dan kalau maling

keparat itu sampai terjatuh ke dalam tanganku, kepalanya akan kuhadiahkan kepadamu!”

Dengan wajah makin pucat karena ngeri, pelayan itu lalu lari dari loteng, menuruni anak

tangga secepatnya.

Tin Eng duduk termenung. Apa daya? Kemana ia harus mencari seorang maling yang tidak

ada jejaknya? Kota Ki-ciu demikian besarnya sehingga untuk mencari seorang yang pernah

dilihatnya saja sudah merupakan pekerjaan yang tidak mudah, apalagi harus mencari seorang

maling yang belum dilihatnya sama sekali. Semua barang-barangnya berada dalam bungkusan

itu dan yang tertinggal padanya hanya pakaian yang dipakai, sedikit uang yang dibawahnya

untuk bekal siang tadi dan pedangnya. Untuk membayar sewa kamar pun ia tidak punya.

Semua ini tidak begitu menyusahkan hatinya, akan tetapi yang paling ia sedihkan ialah kitab

pelajaran ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat. Ia sayang kepada kitab itu melebihi seluruh barang

yang dibawanya dan kalau sampai kitab itu terjatuh ke dalam tangan seorang penjahat, ia

merasa ngeri memikirkan hal ini.

Kemudian Tin Eng mengambil keputusan untuk keluar dan mencari-cari ke mana saja nasib

membawa dirinya. Siapa tahu kalau-kalau barang-barang itu dijual oleh pencuri dan terlihat

olehnya dipakai orang. Ia akan dapat mengenali barang-barang dan pakaiannya sendiri.

Malam hari itu, Tin Eng kembali berjalan-jalan di sekeliling kota, akan tetapi tentu saja ia tak

dapat bertemu dengan yang dicarinya. Akhirnya karena sedih, kecewa dan putus harapan, ia

pergi ke tepi sungai yang sunyi dan duduk seorang diri melamun, sambil mendengarkan riak

air yang berdendang tiada hentinya itu.

Ia memikirkan nasibnya yang amat buruk. Dipaksa kawin, melarikan diri untuk merantau, dan

kini seluruh barangnya habis tercuri orang. Ia mulai merasa menyesal mengapa ia

meninggalkan rumah. Akan tetapi, kalau ia kembali, ia harus tunduk kepada kehendak

ayahnya dan ia tidak mau menikah dengan Gan Bu Gi. Apalagi setelah ia mendengar dari Kui

Hwa bahwa Gan Bu Gi dan suhunya membantu orang-orang Go-bi-san dan memperbesar

 66

permusuhan, bahkan pernah menghina kepada Kui Hwa, kawan baiknya itu. Ia tidak suka

menikah dengan panglima muda itu.

Ia lalu teringat Gwat Kong. Kasihan sekali pelayan muda itu. Kalau teringat betapa ia pernah

melukai lengan Gwat Kong dengan pedangnya bahkan pernah menodongnya dengan ujung

pedang menempel pada tenggorokan pemuda itu! Kalau teringat betapa pemuda itu

memandangnya dengan sayu dan sedikitpun tidak merasa takut, biarpun lehernya hendak

ditusuk pedang, bahkan minta kepadanya untuk membunuhnya saja. Kalau ia ingat betapa

Gwat Kong yang sedikitpun tidak merintih bahkan berkejap matapun tidak ketika menderita

luka pada lengannya. Ah, kalau ia teringat akan itu semua, timbul penyesalan besar dalam

Pemuda pelayan itu amat baik dan setia kepadanya, bahkan kitab ilmu pedang Sin-eng Kiamhoat

yang kini hilang itupun pemberiannya. Akan tetapi ia membalas pemuda itu dengan

tusukan pedang, bahkan dengan ancaman membunuh, hanya karena pemuda itu dengan berani

karena mabuknya, mencela di depan Gan Bu Gi dan Seng Le Hosiang, bahkan di dalam

mabuknya berani membayangkan perasaan cinta kasihnya kepada puteri majikannya.

Hal ini bagi Tin Eng memang dulu merupakan sebagai penghinaan. Betapa seorang puteri

tunggal Kepala daerah yang berdarah bangsawan, takkan merasa terhina kalau dicinta oleh

seorang pelayan dan tukang kebunnya sendiri. Akan tetapi sekarang ia bukanlah Tin Eng yang

dulu. Sekarang ia hanya seorang gadis perantau yang telah kehilangan semua barangnya,

seorang gadis semiskin-miskinnya karena pakaian pun hanya memiliki satu stel yang melekat

pada tubuhnya saja dan uang hanya tinggal sedikit, bahkan hutangnya pada hotel juga belum

dapat terbayar.

Kepada siapakah ia harus minta tolong? Kalau saja ia dapat bertemu dengan Gwat Kong,

pelayannya yang amat setia itu, tentu Gwat Kong akan suka menolongnya dari kesulitan ini

biarpun pemuda itu pernah hendak dibunuhnya, telah dilukainya, akan tetapi pasti pemuda itu

akan bersedia menolongnya. Hal ini ia yakin benar karena baru sekarang ia merasa betapa

besar cinta kasih pemuda itu kepadanya. Baru sekarang ia teringat betapa pemuda itu selalu

berusaha untuk menyenangkan hatinya!

Tak terasa lagi Tin Eng lalu menangis dan terisak-isak di pinggir sungai. Ia merasa berduka

sekali tanpa mengetahui dengan pasti apakah yang menimbulkan rasa duka ini. Entah karena

menyesal telah meninggalkan gedung orang tuanya. Entah karena menyesal akan

perlakuannya terhadap Gwat Kong, atau barangkali juga karena teringat akan barangbarangnya

yang hilang.

“Nona, aku hendak bicara padamu,” tiba-tiba terdengar suara orang laki-laki dan Tin Eng

melompat dengan terkejut sambil mencabut pedangnya dan memutar tubuhnya. Di depannya

berdiri seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, memakai pakaian hitam dan ikat

kepala hitam pula. Laki-laki itu segera menjura ketika Tin Eng mencabut pedang.

“Sabar, nona. Aku bukan datang dengan maksud jahat, bahkan hendak menolongmu

mendapatkan kembali kitabmu yang hilang.”

Tin Eng merasa gembira sekali. “Di mana kitabku itu? Siapa yang mencurinya?” pertanyaan

ini diajukan dengan suara mengancam dan pedangnya telah menggigil dalam tangannya.

 67

“Sabar, sabar, nona dan jangan salah sangka. Bukan aku yang melakukan pencurian itu.

Biarpun aku, Lok Ban si Tangan Seribu dianggap sebagai kepala semua pencuri dan pencopet

di Ki-ciu, akan tetapi aku belum pernah mengulurkan tangan panjang untuk mengambil milik

orang!”

“Katakanlah siapa yang mencuri barang-barangku dan di mana kitab itu?” Tin Eng mendesak

pula tidak sabar.

“Masukkan dulu pedangmu itu di dalam sarungnya, nona. Andaikata kau dapat membunuh si

Tangan Seribu sekalipun, kau takkan dapat menemukan kembali kitabmu tanpa

pertolonganku.”

Tin Eng sadar akan hal ini maka ia menekan perasaan marahnya dan memasukkan pedangnya,

lalu berkata. “Maaf, sahabat. Sekarang ceritakanlah apa sebenarnya maksud kedatanganmu

ini.”

“Seorang kawan kami secara kebetulan telah mendapat kitab itu di dalam bungkusan barangbarangmu.

Tentu saja tidak ada aturannya seorang pencuri mengembalikan barang-barang

berharga yang dicurinya, akan tetapi kitab itu ….”

“Aku tidak memperdulikan segala macam barang-barangku, asalkan kitab itu kembali

kepadaku,” kata Tin Eng memotong.

Lok Ban si Tangan Seribu itu tersenyum. “Inilah maksud kedatanganku, nona. Kami para

anggauta Perkumpulan Tangan Panjang di kota Ki-ciu biarpun melakukan pekerjaan yang

orang biasa menganggapnya jahat, akan tetapi kami memiliki cabang persilatan sendiri dan

sama sekali menjadi pantangan besar bagi kami untuk mencuri ilmu silat orang lain. Tanpa

disengaja, seorang kawan kami mendapatkan kitab pelajaran ilmu pedang dalam

bungkusanmu. Sudah menjadi kewajiban kami untuk mengembalikan kitab itu asal kau suka

memberi sedikit ‘uang lelah’ kepada kawan kami itu.”

Bukan main marahnya hati Tin Eng mendengar ini. Orang-orang telah mencuri kitabnya dan

sekarang masih hendak memeras lagi. Akan tetapi ia maklum bahwa ia tidak berdaya dan

seakan-akan berada dalam kekuasaan kepala maling ini. Kalau ia menjadi marah dan

menyerang kepala maling itu, makin jauhlah harapannya untuk mendapatkan kembali kitab

itu. Sedangkan untuk menebus dan memenuhi kehendak kepala maling ini, ia tidak

mempunyai uang. Tin Eng secara cerdik menyembunyikan perasaannya dan berkata,

“Hal itu mudah sekali. Pasti aku takkan melupakan kebaikan ini dan aku rela memberikan

semua harta bendaku asalkan kitab itu bisa kembali ke tanganku. Akan tetapi, apakah

buktinya bahwa kitab itu betul-betul berada pada kawanmu? Bagaimana kalau kau menipuku?

Kalau aku melihat sendiri kitab itu, barulah aku percaya.”

“Nona, jangan kau sembarangan mengeluarkan ucapan. Aku Lok Ban biarpun menjadi kepala

maling akan tetapi tak pernah membohong atau menipu orang. Kalau kau tidak percaya, mari

kau lihat sendiri buktinya!” Sambil berkata demikian kepala maling ini lalu memutar tubuh

dan berlari keras, memberi tanda agar supaya Tin Eng mengikutinya.

Tin Eng pun melompat dan menyusul, akan tetapi tiba-tiba ia mendapat pikiran yang baik

sekali. Bagaimana kepala maling ini mau mempercayainya dan membawanya ke tempat kitab

 68

itu berada? Kalau kepala maling ini melihat bahwa ia berkepandaian tinggi, tentu ia akan

menyesatkannya dan mungkin akan menjebaknya karena merasa jerih kepadanya. Oleh

karena ini ia sengaja memperlambat larinya hingga sebentar saja ia tertinggal jauh.

Beberapa kali Lok Ban menengok dan melihat betapa gadis itu tertinggal jauh sekali, ia lalu

berhenti dan membalikkan diri menghampiri Tin Eng sambil tertawa.

“Mengapa kau lari secepat itu? Jangan tergesa-gesa!” kata Tin Eng yang sengaja bernapas

tersengal-sengal. Lok Ban tertawa dan berkata dengan suara menyatakan kegirangan hatinya,

“Nona, kita telah salah jalan, seharusnya ke sana!” Sambil berkata demikian, ia lalu berlari ke

arah yang bertentangan dengan tadi dan kini ia berlari perlahan agar Tin Eng tak sampai

tertinggal lagi. Diam-diam Tin Eng merasa girang karena usahanya berhasil dan ternyata

bahwa tadi kepala maling ini benar-benar hendak mengujinya dan membawanya ke arah jalan

yang bertentangan.

Tak lama kemudian, tibalah mereka di dalam sebuah rumah yang besar dan yang berdiri di

luar sebuah hutan. Ketika mereka tiba di tempat itu, di luar terdapat belasan orang yang

agaknya sedang merundingkan sesuatu. Yang sedang bercakap-cakap hanyalah tiga orang saja

sedangkan yang lain hanya mendengarkan.

Ketika melihat kedatangan Lok Ban dan Tin Eng, seorang di antara ketiga orang yang

bercakap-cakap tadi, yakni seorang yang bertubuh kecil pendek dan berkepala botak, segera

lari menyambut dan berkata kepada Lok Ban sambil memandang ke arah Tin Eng dengan

tersenyum,

“Lok-pangcu (ketua Lok), kitab itu telah dibeli oleh dua orang tuan yang baru datang itu!”

Sambil berkata demikian, ia mengangkat dan memperlihatkan sebuah kantong yang terisi

uang kepada ketua maling ini.

“Jadi kaukah yang mencuri kitab dan barang-barangku?” Tin Eng membentak marah.

“Kembalikan kitabku dan jangan menjualnya kepada orang lain kalau kau sayangi jiwamu!”

Sambil berkata demikian, Tin Eng lalu mencabut pedangnya dan melompat ke dekat si kepala

botak sambil mengancam.

“Kitab sudah berada di tangan mereka,” kata si maling yang berkepala botak itu sambil

melompat pergi dan melarikan diri, Tin Eng hendak mengejar, akan tetapi Lok Ban tertawa

dan berkata,

“Nona, kau telah didahului orang, maka kalau kau hendak mengambil kembali kitabmu, kau

boleh berusaha membelinya kembali dari kedua orang itu!”

Bukan main marahnya hati Tin Eng yang merasa dipermainkan, akan tetapi oleh karena

mendapatkan kembali kitab itu lebih penting baginya dari pada berurusan dengan segala

maling, ia lalu berlari secepatnya terbang ke arah dua orang tadi. Lok Ban terkejut sekali

melihat gerakan kaki Tin Eng ini karena jauh sekali bedanya dengan kecepatan lari gadis tadi.

Otaknya yang cerdik segera dapat menduga bahwa ia tadi kena ditipu oleh gadis itu, maka ia

lalu memberi tanda kepada semua anak buahnya yang segera lari pergi meninggalkan tempat

itu. Maling-maling ini tidak perlu lagi dengan Tin Eng maupun dengan dua orang yang datang

 69

membeli kitab, oleh karena uang pembelian kitab sudah diterima dan mereka tidak mau

mencari penyakit dan mencampuri urusan itu.

Oleh karena ini, maka yang berada di situ kini hanyalah Tin Eng dan dua orang laki-laki

pembeli kitab pelajaran Sin-eng Kiam-hoat tadi. Tin Eng memperhatikan kedua orang itu dan

ternyata mereka adalah orang-orang yang bertubuh tegap, membawa pedang pada pinggang

masing-masing dan berusia kurang lebih empat puluh tahun dan sikapnya gagah sekali.

Tin Eng menjura kepada mereka dan berkata, “Jiwi harap suka mengembalikan kitab itu

kepadaku, karena kitab itu adalah milikku yang dicuri oleh gerombolan maling itu!”

Kedua orang laki-laki itu saling pandang kemudian tersenyum dan setelah mereka tersenyum

dan memandangnya, tahulah Tin Eng bahwa kedua orang inipun bukanlah orang baik-baik

karena senyum dan pandang matanya ternyata kurang ajar sekali.

“Nona, kitab ini kami beli dengan harga lima puluh tail perak!”

Tin Eng menjadi bingung. Ia tidak mempunyai uang sebanyak itu, maka terpaksa ia

menjawab,

“Maaf, pada waktu ini saya tidak membawa uang sebanyak itu. Akan tetapi, kalau jiwi pergi

ke Kiang-sui dengan membawa suratku kepada Kepala daerah Kiang-sui, jiwi akan menerima

uang pengganti seratus tail.”

Tiba-tiba berubahlah muka kedua orang itu mendengar disebutnya kota Kiang-sui. “Jadi kau

mendapatkan kitab ini di Kiang-sui, nona?” tanyanya.

“Tak perlu kalian tahu dari mana aku mendapatkan kitab ini, yang terpenting ialah bahwa

kitab itu adalah kitabku dan kalian harus mengembalikannya kepadaku!” kata Tin Eng yang

sudah menjadi tidak sabar lagi.

“Nona, kenalkah kau kepada Bu-eng-sian, Dewa Tanpa Bayangan?”

Baru kali ini Tin Eng mendengarkan nama itu maka ia menggelengkan kepala.

Orang kedua yang agaknya tidak percaya kepada sangkalan Tin Eng ini, bertanya lagi,

“Benar-benar kau tidak kenal pada Leng Po In, pengemis tua hina dina itu?”

Tin Eng menjadi hilang sabar. “Sudahlah, tak perlu kita bicarakan hal-hal yang tidak perlu

kumengerti. Pendeknya, betapapun juga kalian harus mengembalikan kitabku itu!” Ia

menggerak-gerakkan pedangnya.

Kedua orang itu tertawa cekakakan sambil mencabut pedang masing-masing.

“Nona manis, mudah saja kau bicara! Seandainya kitab ini tidak tercuri dari tanganmu, kalau

kami mengetahui bahwa kau membawa kitab ini, pasti kami akan turun tangan merampasnya,

baik dengan halus maupun dengan kasar. Ketahuilah bahwa guru-guru kami telah bertahuntahun

mencari kitab ini, dan karenanya lebih baik kau mengaku terus terang saja dari mana

mendapatkan kitab ini dan ada di mana pula adanya kitab tebal yang asli. Kalau kau mau

berterus terang, tentu kami takkan melupakan budimu.”

 70

“Siapa sudi mendengar ocehanmu! Kembalikan kitab itu!” Sambil berkata demikian, Tin Eng

menyerbu dengan pedang di tangan kanan digerakkan menyerbu, sedangkan tangan kiri diulur

untuk merampas kitab yang dipegang oleh seorang di antara mereka. Akan tetapi dengan gesit

orang itu melompat dan sebelum Tin Eng sempat mengejarnya, yang seorang lagi telah

menyerbu dan menyerangnya.

“BAGUS, kalian mencari mampus!” teriak Tin Eng yang segera memutar pedangnya

sedemikian rupa menurut gerakan-gerakan Sin-eng Kiam-hoat. Sebetulnya pelajaran pedang

Sin-eng Kiam-hoat yang dipelajari oleh Tin Eng masih belum matang betul, akan tetapi ilmu

pedang itu benar-benar hebat. Gerakan-gerakannya demikian cepat dan tidak tersangka

sehingga seakan-akan merupakan seekor Garuda Sakti yang menyambar dan menyerang

mempergunakan paruh, sepasang cakar, dan sepasang sayapnya. Biarpun kedua orang itu

mengeroyoknya dengan sengit, namun Tin Eng dapat mendesak mereka dengan seranganserangan

“Kalau tidak dikembalikan kitab itu, kalian mampus!” Kembali Tin Eng mengancam oleh

karena sesungguhnya ia tidak bermaksud membunuh orang-orang yang sama sekali tidak

mempunyai permusuhan dengannya itu. Akan tetapi, kedua orang lawannya tanpa banyak

cakap mengadakan perlawanan hebat, agaknya merekapun tidak mau mengalah dan hendak

mempertahankan kitab itu dengan nyawa mereka.

“Twako, kau bawalah kitab itu kepada suhu! Biar aku yang menahan iblis wanita ini,” seru

yang seorang dan orang yang membawa kitab itu lalu melompat jauh dan lari pergi. Tin Eng

merasa marah sekali dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba orang yang lari itu berseru

girang,

“Suhu telah datang!” Dan dengan pedang di tangan ia lalu menyerbu lagi!

Tin Eng memandang dan ternyata lima orang yang usianya rata-rata empat puluh tahun berlari

seperti terbang cepatnya menyerbu ke tempat itu.

“Suhu, perempuan ini hendak merampas kitab Sin-eng Kiam-hoat!”

Mendengar ini, seorang di antara mereka yang berbaju hitam panjang berseru, “Robohkan dia,

akan tetapi jangan membunuhnya!”

Sehabis berkata demikian, orang ini lalu melepaskan ikat pinggangnya, yang ternyata terbuat

dari kulit yang panjang dan kuat, merupakan senjata cambuk! Juga empat orang lain

mengeluarkan senjata mereka yang hebat, karena senjata mereka itu semua berlainan. Seorang

memegang tongkat besar yang kepalanya melengkung berbentuk kepala naga, seorang lain

memegang sebuah pedang pendek, orang ketiga memegang sebatang pedang panjang dan

orang keempat memegang sebatang golok kecil. Akan tetapi gerakan mereka ternyata gesit

dan bertenaga.

Tin Eng merasa terkejut sekali dan segera memutar pedangnya untuk menghadapi lima orang

 71

“Jangan turun tangan!” kata pemegang cambuk kepada kawan-kawannya. “Gunakan bubuk

Ang-hoa!” Kelima orang itu lalu mengeluarkan sehelai sapu tangan dan ketika mereka

mengebut, maka berhamburanlah bubuk bunga merah dan bau yang amat wangi keras

menyerang hidung Tin Eng, yang tiba-tiba menjadi pening. Bumi yang dipijaknya terasa

berputar-putar dan betapapun dia menguatkan tubuhnya, akhirnya ia menjadi limbung,

terhuyung-huyung dan roboh pingsan.

Kelima orang itu tertawa dan si pemegang cambuk berkata, “Nona manis, terpaksa kami tidak

ingin kau menderita luka atau binasa!” Ia menghampiri Tin Eng untuk memondongnya. Akan

tetapi baru saja ia mengulurkan tangan, tiba-tiba ia menarik tangannya sambil berseru kaget.

Ternyata sebutir buah le mentah telah menyambar dan tepat mengenai tangannya dan

sungguhpun buah itu kecil dan tidak keras, akan tetapi tangannya terasa sakit sekali.

Ia bangun berdiri, memandang ke sekelilingnya dan berseru, “Siapakah yang berani mainmain

dengan Ngo-heng-kun Ngo-hiap?” Seruan ini keras sekali sehingga menggema sampai

jauh. Akan tetapi tidak ada jawaban, hanya suara gemercik air sungai yang menjadi

Ketika mereka hendak mengangkat tubuh Tin Eng tanpa memperdulikan penyambit itu, tibatiba

berhamburanlah batu-batu kecil yang tepat menghantam tubuh mereka sehingga mereka

menjadi kaget dan wajah mereka jadi pucat sekali. Si pemegang cambuk tahu bahwa ada

orang luar biasa yang datang menolong gadis itu, maka karena kitab telah berada di tangan

mereka, ia lalu memberi tanda dan kelima orang itu bersama dua orang muridnya lalu

melompat pergi dan lari dari tempat itu.

Setelah mereka pergi jauh, muncullah seorang pemuda yang tadi bersembunyi di balik sebuah

pohon yang tumbuh di dekat sungai kecil dekat tempat itu. Pemuda ini dengan tenang lalu

menghampiri tubuh Tin Eng sambil membawa seguci arak yang diturunkan dari gendongan.

Guci arak ini besar dan pada lehernya diberi gantungan sehingga mudah dibawa ke manamana.

Ia lalu berlutut membuka mulut Tin Eng dan menuangkan sedikit arak ke dalam mulut

gadis itu kemudian ia menggunakan arak pula untuk dipercikan ke arah muka Tin Eng.

Tak lama kemudian gadis itu bergerak dan membuka mata. Bukan main herannya ketika ia

melihat pemuda itu berjongkok di dekatnya. Ia melompat bangun dan berseru keras,

“Gwat Kong …..!!”

Pemuda itu tersenyum lalu berdiri dan menjura memberi hormat kepadanya.

“Liok-siocia, apakah selama ini kau baik-baik saja?” suaranya masih halus dan merendah,

seperti sikapnya dulu ketika masih menjadi pelayan di rumah keluarga Liok.

Mendengar pertanyaan dan melihat sikap Gwat Kong ini, tiba-tiba merahlah seluruh muka Tin

Eng dan tak dapat ditahannya lagi, ia segera menangis tersedu-sedu. Ia merasa malu,

menyesal dan juga gemas, karena teringat akan kitabnya yang hilang.

Ketika tadi ia duduk di tepi sungai Liang-ho, termenung memikirkan keadaan dan nasibnya, ia

merasa berduka dan mengharapkan kedatangan seorang seperti Gwat Kong yang tentu dapat

dimintai tolong. Akan tetapi setelah sekarang benar-benar Gwat Kong yang muncul dengan

 72

tak tersangka-sangka, ia menjadi makin sedih. Bagaimana pemuda lemah ini dapat

menolongnya?

Selain membutuhkan uang untuk membayar sewa kamar dan biaya melanjutkan

perantauannya, juga ia membutuhkan bantuan orang pandai seperti Dewi Tangan Maut untuk

merampas dan mencari kembali kitabnya yang hilang. Gwat Kong mempunyai apa yang dapat

digunakan untuk membantunya dalam hal-hal itu? Namun, hatinya terharu juga melihat

pelayan ini.

“Nona, janganlah kau bersedih, nona. Bagaimanakah kau bisa sampai tiba di tempat ini?”

Tin Eng menyusut air matanya dan memandang kepada Gwat Kong dengan penuh perhatian.

Pemuda ini nampak lebih tegap dan air mukanya yang lebar dan jujur itu, kini nampak berseri

dan kulitnya kemerah-merahan, menandakan bahwa selain hatinya riang gembira, juga

keadaannya sehat sekali. Pakaiannya masih sederhana, walaupun bukan seperti pakaian

pelayan lagi dan rambutnya diikat pula oleh sehelai sapu tangan lebar.

“Gwat Kong, apakah kau tidak marah kepadaku?” tanya Tin Eng, sambil mengerling ke arah

lengan tangan Gwat Kong, seakan-akan hendak menembus lengan baju untuk melihat bekas

luka karena tusukan pedangnya dulu itu.

“Liok-siocia, mengapa kau ajukan pertanyaan ini? Mengapa aku mesti marah kepadamu?”

Gwat Kong memandang dengan mata terbuka lebar karena ia memang benar-benar merasa

“Aku … aku telah melukaimu bahkan … hampir membunuhmu.”

Gwat Kong mengerti dan ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Liok-siocia, harap kau jangan mengingatkan aku akan hal itu lagi. Aku masih merasa

menyesal sekali kepada diri sendiri karena perbuatanku yang kurang ajar itu dan kau memang

berhak untuk melukaiku, bahkan kalau kau membunuhku, akupun tidak merasa penasaran.”

“Gwat Kong, kau benar-benar seorang yang baik hati dan aku … ah, aku seorang tak tahu budi

yang bernasib malang.”

Kembali Tin Eng mengalirkan air mata dari kedua matanya karena terharu.

“Nona, sebenarnya mengapa kau bisa berada di tempat ini? Aku mendapatkan kau dalam

keadaan pingsan dan melihat bangsat-bangsat itu berlari pergi. Kau datang dari manakah dan

hendak kemana?”

“Bangsat-bangsat itu telah mencuri kitab pelajaran ilmu pedang yang dulu kauberikan

kepadaku!” kata Tin Eng dengan gemas. “Ketahuilah, Gwat Kong, setelah kau pergi, ayah

memaksaku untuk menerima pinangan Gan Bu Gi.”

Gwat Kong mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. “Aku telah tahu dan dapat

menduga akan hal itu, siocia, dan sekali lagi aku menghaturkan selamat kepadamu.”

 73

“Tariklah kembali ucapanmu itu!” kata Tin Eng sambil merengut. “Siapa yang butuh ucapan

selamat dalam keadaan seperti ini?”

“Eh eh, bukankah kau memang …. suka kepada panglima muda itu, siocia?” Gwat Kong

memandang tajam.

“Kalau aku suka, mengapa aku bisa sampai di tempat ini. Dengarlah baik-baik, Gwat Kong

dan jangan memotong penuturanku. Terus terang saja, aku memang tertarik kepada Ganciangkun

yang pandai sekali ilmu silatnya. Akan tetapi itu bukan berarti aku suka kepadanya.

Karena belum mempunyai keinginan untuk mengikat diri dengan perjodohan, maka aku

menolak kehendak ayah itu, sehingga ia menjadi marah sekali dan … ayah telah menamparku,

satu hal yang belum pernah ia lakukan selama hidupku! Dan aku …. karena dipaksa-paksa,

aku lalu melarikan diri pada malam hari. Aku merantau sehingga sampai di Ki-ciu ini. Malang

sekali bagiku. Buntalan pakaian berikut semua uang bekal, perhiasan dan juga kitab pelajaran

ilmu pedang itu telah dicuri orang. Dalam usahaku mencarinya aku bertemu dengan kepala

maling di kota ini dan dibawa kesini untuk menerima kembali kitab yang harus ditebus.

Biarpun aku tidak mempunyai uang, aku ikut padanya dengan maksud untuk merampasnya

kembali. Tidak tahunya, kitab itu telah dijual kepada dua orang yang tidak mau

mengembalikannya kepadaku, sehingga kami bertempur dan selagi aku berhasil mendesak

dua orang itu, datanglah lima orang guru mereka yang lihai. Dan menghadapi kelima orang

itu aku tidak berdaya karena mereka mempergunakan bubuk yang disebar kepadaku dan yang

membuatku pening dan roboh pingsan. Aku tidak ingat apa-apa lagi sehingga tahu-tahu kau

berada di sini menolongku.”

“Barang-barang sudah tercuri orang, mengapa harus bersedih, siocia? Memang daerah Ki-ciu

ini banyak terdapat maling-maling yang lihai sehingga seringkali pengunjung-pengunjung

dari luar kota menjadi korban mereka.”

“Kehilangan pakaian dan barang-barang sih tidak sangat menyusahkan hatiku, sungguhpun

sekarang aku telah kehabisan uang sama sekali, hingga untuk membayar sewa kamar pun aku

tidak mempunyai uang. Akan tetapi yang paling menyusahkan hatiku ialah kitab itu.”

“Mengapa pula, siocia? Bukankah kitab itu telah berada lama di tanganmu? Apakah kau

belum hafal dan belum mempelajari semua isi kitab itu?”

Tin Eng menarik napas panjang. Sukar baginya untuk membicarakan tentang kitab itu kepada

seorang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali. “Gwat Kong, biarpun aku telah hafal,

akan tetapi belum matang benar dan perlu sekali aku mempelajari lebih mendalam. Terutama

sekali, kitab itu adalah kitab pelajaran ilmu silat yang tinggi dan apabila pelajaran itu terjatuh

dan dipelajari oleh seorang jahat, maka ia akan menjadi seorang penjahat yang amat

berbahaya. Aku harus mendapatkan kembali kitab itu. Lebih baik melihat kitab itu terbakar

musnah dari pada melihat ia terjatuh ke dalam tangan orang jahat.”

“Kalau begitu, mengapa tidak kau kejar saja mereka?” tanya Gwat Kong. Dan mendengar

pertanyaan yang dianggapnya bodoh ini Tin Eng berkata bersungguh-sungguh,

“Enak saja kau bicara! Mereka telah lari selagi aku pingsan dan ke mana aku harus mengejar

mereka? Aku tidak mengenal mereka dan tidak tahu di mana mereka tinggal.”

“Akan tetapi aku kenal mereka dan tahu tempat tinggal mereka, siocia.”

 74

Tin Eng memandang heran. Gadis ini telah merasa biasa lagi dan sebagian besar rasa sedihnya

telah lenyap setelah bertemu dengan Gwat Kong. Karena bercakap-cakap dengan pemuda itu

membuat ia merasa seakan-akan ia kembali berada di tempat tinggal orang tuanya, seakanakan

ia tak pernah pergi dari rumah dan Gwat Kong masih menjadi pelayan ayahnya. Pemuda

itu sikapnya masih demikian polos dan menghormat. Entah bagaimana, biarpun tak ia

perlihatkan akan tetapi di dalam hatinya timbul kegirangan besar sekali setelah bertemu

dengan Gwat Kong, bekas pelayannya itu. Dan kini pemuda ini menyatakan bahwa ia kenal

dan tahu tempat tinggal kelima orang yang membawa pergi kitab ilmu pedangnya.

“Kau, Gwat Kong? Benar-benarkah kau tahu tempat tinggal mereka? Siapakah sebenarnya

mereka itu?” sambil ajukan pertanyaan ini Tin Eng memandang kepada pemuda itu dengan

kagum oleh karena semenjak ia masih kecil dan bergaul dengan pelayan ini, sudah seringkali

Gwat Kong merupakan sumber pertolongan baginya. Apalagi dalam hal mengatur taman

bunga, hanya Gwat Kong saja yang dapat memuaskan hatinya.

Pemuda itu mengangguk. “Tadi ketika aku melihat mereka pergi, aku tahu bahwa mereka itu

adalah Ngo-hiap. Lima jago tua yang amat terkenal di Ki-ciu. Mereka itu bertempat tinggal di

sebelah timur kota.”

“Bagus sekali, Gwat Kong. Kalau begitu hayo kau antar aku ke tempat mereka!”

“Jangan sekarang, siocia. Lebih baik besok pagi, karena tidak baik malam-malam mendatangi

tempat mereka. Dan pula mereka itu terkenal sebagai jagoan-jagoan yang lihai. Apakah tidak

berbahaya kalau kau datang ke sana?”

“Aku tidak takut!” jawab Tin Eng dengan sikap gagah. “Tadipun kalau mereka tidak berlaku

curang, belum tentu aku akan kalah! Pendeknya, lihai atau tidak, aku harus datang ke sana

mengadu nyawa untuk merampas kembali kitab itu!”

“Kau benar-benar hebat dan gagah sekali, Liok-siocia.” Tiba-tiba sepasang mata Gwat Kong

memandang dengan penuh kekaguman dan mesra sekali. Akan tetapi oleh karena keadaan

tidak begitu terang, Tin Eng tidak melihat pandang mata itu.

Mereka lalu meninggalkan tempat itu dan berjalan di bawah sinar bulan kembali ke kota Kiciu.

Gwat Kong mengantarkan Tin Eng sampai di hotelnya dan ketika gadis itu bertanya di

mana tempat pemuda itu, Gwat Kong menjawab sambil tersenyum,

“Aku juga seorang perantau seperti kau sendiri, siocia. Akan tetapi, aku tidak bisa tidur di

hotel sebesar ini.”

“Kalau begitu, kau minta saja sebuah kamar, biar aku yang akan membayar ….” Tiba-tiba Tin

Eng menghentikan omongannya, karena ia teringat betapa ia sendiripun belum tentu dapat

membayar sewa kamarnya.

Gwat Kong mengerti akan keraguan gadis itu maka ia tersenyum dan berkata, “Jangan kuatir,

nona. Bagiku sih mudah saja, tidur di kelenteng atau di emper rumah pun cukup dan tentang

uang sewa kamarmu, tak usah kau kuatir pula, kalau memang kau telah kehabisan uang dan

semua uangmu telah dicuri orang biarlah besok kucarikan uang pembayaran sewa kamar itu.”

 75

Tin Eng menarik napas lega. Selalu pemuda ini dapat memecahkan kesulitannya sehingga ia

merasa berterima kasih sekali.

“Nah, selamat malam, nona. Besok pagi-pagi aku akan datang ke sini untuk mengantarkan

kau ke tempat mereka itu.”

“Selamat malam, Gwat Kong dan … kau maafkanlah segala kekasaranku terhadapmu dulu!”

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara isak di tenggorokan.

“Jangan sebut lagi hal itu, siocia” kata Gwat Kong yang melangkahkan kaki untuk

meninggalkan ruangan hotel.

“Dan … terima kasih kepadamu, Gwat Kong, kau .. kau baik sekali.”

Gwat Kong menengok dan tersenyum, wajahnya yang tersorot lampu di ruang hotel itu

nampak tampan dan berseri girang. “Tidurlah, siocia!” katanya, kemudian ia menghilang di

dalam gelap.

Tin Eng masuk ke dalam kamarnya dan malam itu ia tidur dengan nyenyak seakan-akan

berada di dalam kamarnya sendiri di gedung ayahnya. Biarpun semenjak siang tadi ia belum

makan, akan tetapi ia tidak merasa lapar dan semua kedukaannya lenyap kalau ia mengingat

bahwa besok pagi ia akan pergi ke tempat lima jago tua yang telah mengambil kitabnya itu

bersama Gwat Kong.

****

Mari kita ikuti dulu perjalanan Gwat Kong semenjak ia berpisah dari Gui A Sam bekas kepala

pengawal mendiang ayahnya itu. Tertarik oleh penuturan A Sam tentang diri Dewi Tangan

Maut, puteri tunggal hartawan Tan, musuh besarnya yang telah meninggal dunia itu, ia lalu

berangkat menuju ke Kang-lam.

Ia dapat mencari rumah hartawan Tan, akan tetapi ternyata rumah gedung itu ditutup rapat

dan tidak ada penghuninya dan ketika ia mencari keterangan, ternyata bahwa pemilik rumah

gedung itu, yakni yang disebut oleh orang-orang di Kang-lam sebagai Tan-lihiap sedang pergi

merantau. Orang memberi keterangan kepada Gwat Kong menambahkan,

“Kalau saja Tan-lihiap berada di sini, tak mungkin dua orang penjahat itu berani mengacau!”

Gwat Kong tertarik hatinya. “Penjahat yang manakah?”

“Kau belum tahukah, kongcu? Bukankah ada pengumuman ditempel di mana-mana?

Pembesar di sini telah menjanjikan hadiah besar bagi siapa yang dapat menangkap kedua

orang penjahat itu!”

“Aku baru saja datang dari luar kota, mana aku tahu akan segala peristiwa yang terjadi di sini?

Sesungguhnya, apakah yang telah terjadi?”

“Kalau kongcu benar-benar tertarik dan ingin tahu, lebih baik kongcu datang kepada tihu di

tempat ini untuk mendapatkan keterangan lebih jelas lagi. Aku tidak berani banyak bicara,

 76

oleh karena kedua penjahat itu lihai sekali dan pernah ada orang yang membicarakan mereka,

pada malam harinya didatangi dan dibunuh.”

Bukan main herannya hati Gwat Kong mendengar ini. Akan tetapi ia tidak bisa mendapat

keterangan selanjutnya dari orang yang ketakutan itu, maka terpaksa ia lalu mengarahkan

langkahnya ke gedung tihu.

Tihu di Kang-lam orangnya ramah tamah dan Gwat Kong disambut dengan baik sekali

olehnya sehingga pemuda ini merasa suka. Karena jarang pada dewasa itu menemui seorang

pembesar sedemikian baik dan ramah sikapnya.

“Telah hampir sebulan kota kami mendapat gangguan dua orang penjahat,” tihu itu mulai

menerangkan. “Kami telah berusaha sedapatnya untuk menangkap mereka akan tetapi selalu

gagal. Banyak orang di kota ini tak sanggup menghadapi mereka yang amat lihai. Apakah

kedatangan hiante ini hendak membantu kami?”

“Hendak saya coba, taijin dan mudah-mudahan saja tenagaku yang lemah dapat merupakan

bantuan sekedarnya.”

Melihat sikap yang sopan santun dan merendah dari Gwat Kong, berbeda dengan sikap orangorang

ahli silat lainnya, tihu itu merasa ragu-ragu akan tetapi juga girang sekali. Ia lalu

memerintahkan pelayannya untuk mengeluarkan hidangan dan arak wangi, sedangkan Gwat

Kong yang telah beberapa hari tidak mencium bau arak wangi tanpa sungkan-sungkan lagi

lalu minum dengan lahapnya.

Tihu itu merasa heran dan gembira melihat betapa Gwat Kong kuat sekali minum arak.

Berkali-kali ia memerintahkan pelayan menambah arak sehingga sebentar saja Gwat Kong

telah menghabiskan hampir lima belas cawan besar arak wangi yang amat keras. Bukan main

herannya tihu itu beserta para pelayan karena orang biasa saja belum tentu akan sanggup

menghabiskan tiga cawan tanpa terserang mabuk. Akan tetapi pemuda yang nampak halus itu

telah menghabiskan lima belas cawan besar dan tidak terlihat tanda-tanda mabuk sama sekali.

Sambil makan minum, tihu itu menceritakan kepadanya bahwa dua orang pengacau yang

datang mengganggu itu adalah dua orang jahat yang selain mencuri harta-harta benda, juga

mengganggu anak bini orang dan tidak segan-segan membunuh. Sudah enam orang menjadi

korban senjata mereka, di antranya dua orang penjaga dan seorang gadis. Bukan main

marahnya Gwat Kong ketika mendengar ini.

“Malam ini saya akan menjaga di atas rumah dan mudah-mudahan saja mereka itu akan

muncul agar dapat saya serang,” katanya.

Malam itu keadaan sunyi dan orang-orang telah pergi tidur sebelum gelap benar. Sungguhpun

mereka tidak berani meramkan mata dan selalu mendengar kalau-kalau para penjahat itu

datang ke rumah mereka. Sebelum melakukan penjagaan di atas rumah-rumah para penduduk,

Gwat Kong minta seguci arak wangi lagi karena memang arak wangi dari Kang-lam luar

biasa enaknya.

Dengan membawa seguci arak wangi dan sulingnya yang terselip di pinggang, pemuda itu

melompat naik ke atas genteng dan mulai berkeliling mengadakan penjagaan. Hawa malam

itu dingin sekali, akan tetapi oleh karena ia berteman dengan araknya, ia tidak merasa dingin.

 77

Arak itu ia minum begitu saja tanpa menggunakan cawan, langsung dituang dari mulut guci

ke mulutnya.

Menjelang tengah malam, ketika ia sedang meneguk guci araknya yang tinggal sedikit lagi,

tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar ke arah perut dan lehernya. Ia maklum bahwa itu

tentulah sambaran senjata rahasia. Akan tetapi untuk memperlihatkan kepandaiannya, Gwat

Kong tidak menghentikan minumnya dan sekali tangan kirinya bergerak cepat, ia berhasil

menangkap dua buah senjata piauw yang menyambarnya itu.

Barulah ia menurunkan guci araknya dan berkata, “Penjahat-penjahat rendah yang manakah

yang berani mengganggu orang minum arak?”

Sementara itu, kedua orang penjahat yang pada siang harinya telah mendengar bahwa ada

seorang pemuda pemabokan hendak menangkap mereka, menjadi geli sekali. Dan semenjak

tadi mereka diam-diam telah mengikuti gerak-gerik Gwat Kong yang mereka anggap tolol.

Ketika pemuda itu sedang minum araknya, mereka lalu menyerang dengan piauw tadi untuk

membuatnya mati selagi minum arak. Akan tetapi, tak mereka sangka sama sekali bahwa

pemuda itu demikian lihai sehingga dapat menangkap piauw mereka sambil minum arak.

Gwat Kong berkata lagi, “Ini, terimalah kembali piauw kalian!” Ia mengayun tangannya

secara sembarangan ke arah mereka, lalu menenggak araknya lagi tanpa perdulikan apakah

sambitannya itu mengenai sasaran atau tidak. Piauw yang disambitkan dengan tenaga

lweekangnya yang hebat itu meluncur cepat sekali dan dengan kaget kedua penjahat itu lalu

mengelak agar jangan sampai terkena senjata rahasia mereka sendiri.

Mereka menjadi marah sekali dan dengan pedang di tangan mereka lalu melompat dan

menyerang Gwat Kong yang masih minum araknya. Gwat Kong tiba-tiba melompat jauh dan

menghindarkan diri dari serangan itu sambil menurunkan guci araknya yang kini telah

kosong. Dan ketika kedua orang itu menyerangnya lagi, tiba-tiba ia menyemburkan arak dari

mulutnya yang menyerang muka kedua orang lawannya bagaikan puluhan anak panah.

Kedua orang penjahat itu sama sekali tak pernah menduga dan tentu saja mereka tidak takut

terhadap semprotan arak ini. Akan tetapi ketika serangan arak yang disemburkan dengan

tenaga lweekang itu mengenai muka mereka, kedua orang penjahat itu memekik ngeri dan

tubuh mereka terhuyung-huyung di atas genteng dan pedang mereka terlepas karena kedua

tangan digunakan untuk menutupi muka mereka yang terasa sakit sekali.

Sambil tertawa tergelak-gelak, Gwat Kong lalu menggerakkan tangan kanannya untuk

mengirim totokan sehingga kedua orang penjahat itu roboh tak berkutik lagi dalam keadaan

lemas. Sambil tertawa-tawa karena telah agak terlampau banyak minum arak sehingga

menjadi riang gembira wataknya, Gwat Kong mengempit tubuh kedua penjahat itu di tangan

kanan kiri, meninggalkan guci araknya yang telah kosong. Lalu melompat turun dan terus

membawa mereka ke gedung tihu.

Tihu dari Kang-lam yang diberitahukan tentang kedatangan pemuda itu segera

menyambutnya. Gwat Kong melemparkan dua tubuh penjahat itu ke depan kaki tihu, lalu

menjura dalam-dalam dan berkata,

“Inilah kedua orang penjahat yang mengacau Kang-lam, taijin.”

 78

Bukan main heran dan girangnya pembesar itu dan ketika melihat bahwa Gwat Kong hendak

pergi lagi, lalu menahannya dan berkata, “Nanti dulu, taihiap! Kau belum menerima

hadiahmu.”

Gwat Kong tertawa bergelak, “Sudah, sudah kuterima, taijin. Hadiahnya ialah keramahtamahanmu

dan arak wangi yang amat enak itu.”

Tihu itu juga tertawa dan makin kagumlah ia terhadap pendekar muda yang aneh ini. “Kalau

begitu, biarlah kutambahkan lagi arak yang terbaik untuk kau bawa pergi. Dan kami pun

harus ketahui dulu siapa namamu, taihiap. Semenjak siang tadi, kau selalu menolak untuk

memberitahukan namamu kepada kami.”

Kembali Gwat Kong tertawa. “Apakah artinya nama? Disebut apapun saya tidak keberatan,

tajin dan tentang arak terbaik itu ….. hmmm, kalau memang taijin hendak memberi kepadaku

tentu saja kuterima dengan ucapan terima kasih.”

Tihu itu lalu memerintahkan seorang di antara pelayan yang juga memenuhi ruangan itu untuk

mengambil sebuah guci araknya yang terbuat dari pada perak dan memakai tali gantungan,

lalu memberikan benda itu kepada Gwat Kong.

“Taihiap, jangan pandang rendah guci arak ini, karena arak yang disimpan di dalam guci ini

akan dapat tahan sampai bertahun-tahun tanpa menjadi kurang kenikmatan rasanya dan segala

macam minuman apabila dimasukkan ke dalam guci ini, maka akan menjadi bersih dari

segala racun. Air beracun yang amat jahat akan menjadi air minum yang tidak berbahaya

apabali dimasukkan ke dalam guci ini karena racunnya telah dihisap oleh dasar guci. Dan

tentang namamu taihiap, kalau kau memang tidak mau memperkenalkannya, biarlah kami

memberi nama kehormatan Kang-lam Ciu-hiap (Pendekar Arak dari Kang-lam) kepadamu,”

Gwat Kong menerima guci yang berisi penuh arak terpilih itu, menggantungkan talinya pada

ikat pinggang dan tertawa girang.

“Nama yang bagus sekali! Dengan tihunya seperti taijin ini yang ramah tamah dan bijaksana,

Kang-lam merupakan kota istimewa bagiku, maka aku suka sekali disebut Kang-lam Ciuhiap.

Nah, selamat malam, taijin!”

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, tubuh Gwat Kong telah lenyap dari depan tihu

dan para pelayannya itu sehingga mereka merasa kagum sekali. Makin besar kegembiraan

mereka ketika ternyata bahwa kedua orang yang tak berdaya itu benar-benar adalah dua orang

penjahat yang selama ini mengacau kota mereka. Segera kedua orang itu dibelenggu dan

dimasukkan ke dalam penjara.

Gwat Kong lalu pergi keluar dari kota itu dan malam itu ia tidur dengan amat nyenyaknya di

sebuah kelenteng yang berada di luar kota. Hatinya merasa amat girang oleh karena selain

mendapat kenyataan bahwa latihan-latihannya selama ini makin memajukan kepandaiannya,

juga kebaikan hati tihu itu menyenangkan hatinya.

Hanya ia merasa agak penasaran dan kecewa karena belum dapat bertemu dengan Dewi

Tangan Maut, puteri musuh besarnya yang amat disohorkan orang itu. Ia tidak berniat untuk

membalas dendam orang tuanya kepada gadis itu. Hanya ia ingin melihat sampai di mana

 79

kelihaian gadis yang amat terkenal ini dan hendak melihat pula apakah benar-benar gadis itu

amat jahat dan kejam sebagaimana yang dikabarkan oleh Gui A Sam kepadanya.

Kalau toh ia harus menyerang gadis itu, ia akan menyerang karena kejahatannya, bukan

karena dendamnya kepada Tan-wangwe. Ucapan orang yang memberi keterangan kepadanya

tentang adanya dua orang penjahat di Kang-lam, yang berkata bahwa kalau Dewi Tangan

Maut berada di Kang-lam maka penjahat-penjahat itu tentu tak berani berlagak, menimbulkan

kesan baik terhadap gadis itu padanya.

Pada kesokan harinya, ia melanjutkan perjalanannya. Dua hari kemudian, ketika tiba di luar

sebuah hutan ia melihat serombongan orang yang terdiri dari dua belas orang-orang gagah

dikepalai oleh seorang tua yang membawa tongkat bambu, berlari-lari memasuki hutan itu.

Mereka ini semua membawa senjata pedang atau golok seakan-akan mereka hendak

menyerbu musuh. Gwat Kong merasa tertarik dan diam-diam ia mengikuti mereka dari

belakang dengan sembunyi.

Rombongan itu berhenti di depan gua besar yang berada di tengah hutan dan orang tua

bertongkat itu segera berteriak ke arah gua,

“Sahabat, keluarlah! Kami hendak bicara denganmu!”

Teriakan itu bergema di seluruh hutan, akan tetapi setelah itu sunyi karena tidak terdengar

jawaban. Tak lama kemudian, keluarlah seorang laki-laki tua dari dalam gua itu dan Gwat

Kong yang mengintai sambil bersembunyi, merasa kaget melihat keadaan orang yang aneh

itu. Orang ini telah tua sekali, tubuhnya bongkok dan tangan kanannya memegang sebuah

pedang yang mengeluarkan sinar gemilang.

Kakek bongkok ini mempunyai sepasang mata yang menakutkan dan melihat betapa sepasang

mata itu berputaran secara liar. Tahulah Gwat Kong bahwa orang ini tentu miring otaknya.

Kakek yang aneh ini lalu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara menyeramkan sekali.

Kemudian sambil menuding dengan pedangnya ia berkata tidak keruan,

“Ha ha ha, Ngo-heng-kun Ngo-koai, lima siluman jahat, kalian datang mengantarkan nyawa?

Ha ha ha!” Kakek ini lalu berjingkrak-jingkrak di atas kedua kakinya dan menari-narikan

pedangnya seperti orang atau anak kecil yang amat bergirang hati.

Orang tua bertongkat bambu yang memimpin rombongannya itu berkata dengan suara sabar,

“Lo-enghiong, jangan salah sangka. Kami adalah penduduk dusun Ma-chun yang datang

hendak minta pertolongan lo-enghiong. Dusun kami terserang penyakit kuning dan telah

banyak yang mati dan lebih banyak pula yang kini terancam bahaya maut. Karena loenghiong

telah mengambil semua akar putih yang berada di hutan ini, maka tolonglah

memberi kami obat itu untuk menyembuhkan kawan-kawan dan saudara-saudara kami.”

KEMBALI terdengar suara ketawa yang menyeramkan. “Kalian memang harus mampus! Ha

ha ha, Ngo-heng-kun kelima-limanya harus mampus, mengapa minta tolong padaku? Aku

boleh menolongmu, menolong mengantarkan kalian iblis-iblis Ngo-heng ini ke neraka, ha

ha!”

 80

Setelah berkata demikian, secepat kilat ia menubruk maju dan menyerang rombongan orangorang

itu. Ia mengamuk bagaikan seekor harimau gila dan pedangnya digerakkan dengan

hebat sekali.

Orang tua pemimpin rombongan itu berseru keras memberi aba-aba kepada para kawannya

untuk mengepung, sedangkan ia sendiri lalu menggerakkan tongkat bambunya yang lihai.

Ketika orang gila itu menusuk dengan pedangnya, tongkat bambu kakek itu menangkis dan

beradunya kedua senjata itu membuat kakek itu berseru keras karena terkejut. Ia merasa

tangannya perih sekali dan tongkatnya hampir terlepas dari pegangan.

“Ha ha ha!” Iblis-iblis Ngo-heng, sekarang kalian mampus!” orang gila itu tertawa-tawa dan

hendak menyerang lagi. Akan tetapi pada saat itu, sebelas orang pengikut kakek bertongkat

tadi menyerbu dari belakang dan belasan golok dan pedang berkelebat menimpanya bagaikan

air hujan.

Orang gila itu ternyata lihai sekali. Ia agaknya telah mendengar angin senjata menyambar ke

arahnya, maka sambil tertawa mengerikan, ia membalikkan tubuhnya dan pedang pusaka di

tangannya itu berkelebat cepat mendatangkan sinar putih yang gemilang. Teriakan-teriakan

terdengar dan beberapa batang pedang terlepas ke atas, bahkan banyak pula golok dan pedang

yang putus karena terbabat oleh pedang orang gila itu.

“Ha ha ha! Iblis-iblis Ngo-heng, rasakan pembalasanku! Lihatlah kelihaianku!” Sambil

berkata demikian, ia lalu memutar-mutar pedangnya dan bersilat dengan gerakan-gerakan

yang aneh dan hebat sekali sehingga semua pengeroyoknya mundur takut dan jerih. Akan

tetapi orang gila itu masih terus bersilat pedang seorang diri sambil tertawa-tawa. Juga kakek

bertongkat yang memiliki ilmu silat cukup tinggi itu tidak berani maju karena maklum ia

bukan tandingan orang gila yang amat berbahaya dan lihai itu.

Gwat Kong yang melihat ilmu silat pedang orang gila itu, tak terasa pula berseru keras

sehingga semua orang menengok ke arahnya dengan heran. Ternyata bahwa orang gila itu

telah bersilat pedang Sin-eng Kiam-hoat yang biarpun tidak sempurna benar, akan tetapi

masih lebih tinggi dan hebat dari pada Sin-eng Kiam-hoat yang dimiliki oleh Liok Tin Eng.

Saking tertariknya Gwat Kong tidak memperdulikan pandangan mata terheran-heran dari

semua orang dusun Ma-chun itu dan segera melangkah maju menghampiri orang gila yang

masih saja bersilat pedang dengan cepatnya. Pemuda ini lalu mencabut keluar sulingnya dan

ia segera bersilat pula, mengimbangi permainan orang gila itu. Kakek bongkok yang berotak

miring itu ketika melihat gerakan suling Gwat Kong, tiba-tiba menghentikan permainan

pedangnya dan memandang dengan mata terbelalak dan mulut berbusa.

“Kau mencuri ilmu pedangku!” teriaknya keras.

“Tidak, locianpwe, karena ilmu pedangku yang lebih asli. Ilmumu itu hanya tiruan belaka

yang tidak sempurna!” jawab Gwat Kong dengan berani.

Orang gila itu memekik keras lalu tertawa bergelak. “Kau ….. kau memiliki Sin-eng Kiamhoat!

Kau tentu orangnya iblis-iblis Ngo-heng!”

“Bukan, aku tidak kenal kepada iblis-iblis Ngo-heng!”

 81

Akan tetapi orang gila itu menjadi makin marah lagi. “Kau pencuri!” Setelah memaki marah,

ia lalu menggerakkan pedangnya dan menyerang Gwat Kong dengan ilmu gerakan Sin-engtian-

ci atau Garuda Sakti Pentangkan Sayap. Serangan ini hebat sekali dan Gwat Kong yang

sudah hafal benar akan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat, melihat betapa gerakan ini biarpun

kurang tepat, akan tetapi dilakukan dengan ginkang yang luar biasa tingginya sehingga tubuh

orang gila itu lenyap terbungkus sinar pedang.

Sebagai seorang ahli ilmu pedang ini, bahkan yang memiliki kepandaian dari kitab aslinya,

tentu saja Gwat Kong tahu bagaimana harus menghadapi lawannya, maka ia lalu mainkan

gerak tipu Sin-eng-hian-jiauw atau Garuda Sakti Pentang Kuku. Sulingnya bergerak cepat dan

mengikuti gerakan pedang lawan hingga ke mana saja ujung pedang itu selalu bertemu

dengan sulingnya dan dapat disampok kembali ke arah penyerangnya.

“Maling … pencuri ilmu …” berkali-kali orang gila itu berteriak-teriak marah dan gerakannya

makin nekat dan buas. Dari mulutnya keluar busa putih dan sepasang matanya terputar-putar

makin cepat dan kini telah berubah merah.

“Locianpwe, jangan salah duga. Aku bukan pencuri, dan marilah kita bicarakan baik-baik,”

kata Gwat Kong sambil membalas dengan serangannya. Akan tetapi kakek gila itu tidak mau

memperdulikan ucapannya, bahkan menyerang makin hebat.

Terpaksa Gwat Kong lalu melayaninya dan kini pemuda ini tidak mau memberi kelonggaran

pula. Ia keluarkan ilmu pedangnya yang paling kuat dan karena ilmu pedang itu walaupun

sama dengan kepandaian si gila, akan tetapi lebih asli dan sempurna. Sebentar saja sulingnya

dapat mendesak pedang lawan dan beberapa kali ia berhasil menotok jalan darah lawannya.

Namun, alangkah terkejut dan herannya ketika mendapat kenyataan betapa lawannya yang

gila itu ternyata memiliki kekebalan dan tidak roboh karena totokannya yang tepat mengenai

jalan darah. Dapat dibayangkan betapa tingginya ilmu lweekang kakek itu yang sambil

berkelahi dapat menutup jalan darahnya sehingga menjadi kebal terhadap totokan-totokan.

Sungguhpun demikian, namun tenaga totokan Gwat Kong yang kuat dengan lweekangnya

yang sudah tinggi karena dilatih secara rahasia dan luar biasa menurut petunjuk kitab

pelajarannya membuat kakek gila itu tergetar tubuhnya dan makin lama permainannya makin

menjadi lemah. Yang lebih merepotkannya, ialah karena tangan kirinya telah mati kaku dan

tak dapat digerakkan lagi sehingga permainan pedangnya kurang mendapat imbangan tubuh

yang baik. Terutama sekali ia telah menderita luka-luka di dalam tubuh yang makin

menghebat karena tidak terawat dan karena makan obat secara serampangan saja.

Tiba-tiba kakek gila itu mengeluarkan teriakan menyeramkan dan roboh pingsan dengan

pedang masih terpegang erat-erat di tangannya. Gwat Kong merasa heran sekali dan ketika ia

memeriksa, ternyata kakek itu berada dalam keadaan yang amat payah. Pemuda itu yang

tadinya merasa heran mengapa lawannya roboh tanpa kena pukulannya, kini mengerti kakek

itu memang telah menderita sakit dan luka-luka di dalam tubuh. Maka timbullah rasa kasihan

di dalam hatinya.

Ia menurunkan guci araknya dan setelah memberi minum seteguk, kakek itu membuka

matanya. Heran sekali, sinar gila yang liar itu kini lenyap dari matanya dan ia memandang

kepada Gwat Kong dengan kagum. Napasnya tinggal satu-satu dan keadaannya payah benar,

tubuhnya lemas. Akan tetapi pedangnya itu tidak pernah terlepas dari pegangannya.

 82

“Kau … kau bukan anggauta Ngo-heng?” tanyanya kepada Gwat Kong.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya. “Locianpwe, aku hanyalah seorang perantau yang

kebetulan lewat di sini saja. Orang-orang kampung itu datang hendak minta tolong kepadamu,

minta akar obat untuk menyembuhkan kawan-kawan yang menderita sakit kuning.”

Kakek itu mengangguk-angguk dan sambil menggerakkan tangannya ke arah orang-orang

kampung yang memandang dengan heran dan kagum, ia berkata, “Ambillah, ambillah … obat

itu di dalam gua …” lalu ia menjatuhkan tangannya yang memegang pedang itu di atas tanah

“Terima kasih, lo-enghiong,” kata kakek bertongkat tadi dan ia mengajak kawan-kawannya

memasuki gua. Akan tetapi tiba-tiba kakek gila itu berseru keras,

“Mundur semua!”

Orang-orang itu menjadi kaget, demikianpun Gwat Kong yang menyangka bahwa kakek ini

kambuh kembali penyakit gilanya. Akan tetapi, pada saat semua orang itu mundur kembali

dengan ragu-ragu, terdengar suara mendesis-desis dari dalam gua dan keluarlah belasan ekor

ular yang biarpun kecil-kecil akan tetapi bergerak maju dengan gesit, kepala terangkat dan

mendesis-desis menyemburkan uap putih. Sekali pandang saja tahulah semua orang bahwa

ular-ular itu berbahaya dan berbisa.

Selagi semua orang dusun Ma-chun tercengang dan terkesima, Gwat Kong lalu menuangkan

arak dari gucinya ke dalam mulut, lalu ia berdiri dan mendekati mulut gua yang penuh dengan

ular-ular itu. Ia lalu menyemburkan arak dari mulutnya ke arah binatang-binatang itu yang

segera berkelenjetan di atas tanah dan mati. Bukan main hebatnya tenaga semburan arak dari

mulut Gwat Kong ini dan tetesan-tetesan arak yang meluncur keluar itu bagaikan anak panah

menancap dan menembus kepala ular-ular itu sehingga menyerang ke dalam benak!

Melihat kelihaian ini, orang-orang dusun Ma-chun segera memuji dengan amat kagum.

Bahkan seorang di antara mereka lalu berseru, “Dia tentu Kang-lam Ciu-hiap!”

Gwat Kong memandang heran dan bertanya, “Sahabat, bagaimana kau bisa tahu aku disebut

Kang-lam Ciu-hiap? Baru tiga hari aku mendapat sebutan itu di Kang-lam?”

Kakek bertongkat itu lalu menjura dan berkata, “Jangan mengherankan hal ini, orang muda

yang gagah. Berita memang berjalan cepat laksana angin lalu. Sebelum kau tiba di tempat ini,

namamu telah terbawa angin dan telah terdengar sampai jauh di kampung kami. Kawankawan

tadi hanya menduga-duga saja bahwa kaulah orangnya yang disebut Kang-lam Ciuhiap

karena kau selain masih muda dan lihai, juga membawa–bawa arak dan bahkan dapat

mempergunakan arak sebagai senjata yang demikian ampuhnya!”

Sementara itu, kakek gila tadi tidak tahu akan nasib semua ular peliharaannya karena ia

sendiri telah lemas dan hanya rebah di atas tanah sambil meramkan mata. Kini orang-orang

kampung itu dapat masuk gua dan tak lama kemudian mereka membawa akar-akar obat

berwarna putih.

 83

Kakek bertongkat itu menjura lagi kepada Gwat Kong sambil menghaturkan terima kasihnya.

Juga tidak lupa ia menjura kepada kakek gila yang rebah di atas tanah itu sambil

menghaturkan terima kasihnya. Kemudian ia pimpin kawan-kawannya untuk kembali ke

dusun mereka untuk segera memberi pertolongan kepada sanak keluarga yang terserang

penyakit kuning yang pada waktu itu berjangkit di dusun mereka.

Gwat Kong yang tinggal seorang diri, lalu menghampiri kakek gila itu dan berlutut.

“Bagaimana, locianpwe, apakah kau masih merasa sakit?” tanyanya.

Orang tua itu membuka mata, tersenyum sedih dan berkata, “Anak muda, siapakah namamu?”

“Aku bernama Bun Gwat Kong.”

“Tadi aku mendengar mereka menyebut Kang-lam Ciu-hiap, kaukah itu?”

Gwat Kong diam-diam merasa kagum oleh karena biarpun keadaannya demikian lemah tak

berdaya, namun kakek ini mempunyai pendengaran yang amat tajam.

“Aku mendapatkan sebutan itu di Kang-lam,” jawabnya sederhana.

“Kang-lam Ciu-hiap, sebutan yang bagus! Dulupun aku mempunyai sebutan yang cukup

gagah. Bu-heng-sian. Dewa Tanpa Bayangan! Ah … semua itu telah berlalu, habis dimakan

usia … tiba-tiba ia bangun dan duduk, lalu memandang tajam kepada Gwat Kong yang

membantunya karena agak sukar sekali kakek itu dapat bangun sendiri.

“Kau ……. dari manakah kau dapatkan ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat?”

“Aku mendapatkan kitab-kitabnya secara kebetulan sekali, locianpwe. Ketika aku menggali

sebuah tempat belukar di Kiang-sui.”

“Di Kiang-sui katamu? Hm, jadi kaukah yang mendapatkan kitab-kitabku? Bagus, ketahuilah,

akulah orangnya yang menyimpannya di sana dan aku pula yang menyalin kitab itu!” Setelah

bicara sampai di sini, kakek itu nampak lelah sekali dan kembali ia menjatuhkan dirinya yang

segera dipeluk oleh Gwat Kong dan dibantunya rebah di atas tanah kembali.

“Kalau begitu, teecu harus menghaturkan terima kasih kepadamu, locianpwe.”

“Tak usah, tak usah …. akupun hanya mendapatkan kitab itu … dan kau agaknya lebih

berjodoh … kitab aslinya sukar sekali bagiku yang setengah buta huruf …. kau lihat pedang ini

…. aku mendapatkan kitab kuno itu bersama pedang ini …” Ia memberikan pedangnya yang

bersinar mengkilap itu dan Gwat Kong melihat sebuah gambar kepala garuda terukir pada

gagang pedang itu.

“Inilah Sin-eng-kiam … biar kuberikan padamu … kau lebih patut memegangnya, kau lebih

gagah dariku …”

“Tapi, locianpwe, kepandaianmu tinggi sekali …”

 84

“Jangan banyak cakap! Kau telah memiliki kepandaian aslinya. Hal itu sudah kuketahui ….

akan tetapi berhati-hatilah kau … kelima iblis Ngo-heng mencari-cari kitab itu dan kau takkan

diberinya ampun …” Setelah berkata demikian, kakek yang malang itu kembali roboh pingsan.

Gwat Kong merasa kasihan sekali dan ia lalu mengangkat tubuh kakek itu ke dalam gua.

Sehari semalam kakek itu rebah pingsan dan kadang-kadang Gwat Kong menuangkan arak ke

dalam mulutnya. Ketika siuman kembali, kakek itu nampaknya merasa terharu karena pemuda

itu masih menjaganya, maka ia lalu berkata,

“Kau … baik sekali … aku tak tahan lagi, tubuhku telah penuh luka di sebelah dalam akibat

pukulan-pukulan Ngo-heng … kau berhati-hatilah …” Dan tak lama kemudian kakek yang

tadinya menderita penyakit gila itu menghembuskan napas terakhir di pangkuan Gwat Kong.

Gwat Kong lalu mengubur jenazah kakek yang berjuluk Bu-eng-sian itu di dalam gua tadi.

Kemudian ia lalu tinggalkan gua itu sambil membawa pedang Sin-eng-kiam yang

disembunyikan di balik pakaiannya. Ia tak sempat mengetahui nama kakek itu karena ketika

ia bertanya jawabnya hanya “Bu-eng-sian … aku Bu-eng-sian ….”

****

Demikianlah kisah perjalanan Gwat Kong dan beberapa hari kemudian, perantauannya yang

dilakukan tanpa tujuan tertentu itu membawanya sampai ke dekat kota Ki-ciu di mana secara

kebetulan ia dapat melihat Tin Eng dikeroyok oleh Ngo-heng-kun Ngo-hiap dan berhasil

menolong nona itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia telah datang di hotel tempat Tin Eng bermalam. Ia

takut kalau-kalau ia datang terlampau pagi. Jangan-jangan Tin Eng masih tidur, pikirnya.

Akan tetapi, ketika ia tiba di halaman hotel, ternyata nona itu telah menantinya di situ dengan

tak sabar. Nona ini bangun pagi-pagi sekali dan telah lama berdiri menanti di depan hotel.

“Mari kita berangkat!” kata Tin Eng setelah melihat Gwat Kong datang dan suara nona ini

terdengar gembira sekali.

Mereka lalu berjalan keluar dari halaman hotel, keadaan di dalam kota masih sunyi sekali

karena sebagian besar penduduknya masih tidur. Gwat Kong memang tahu di mana tempat

tinggal Ngo-heng-kun Ngo-hiap itu karena sebelum bertemu dengan Tin Eng, ia telah

melakukan penyelidikan karena hatinya tertarik dan ingin sekali ia tahu lima orang yang

agaknya pernah bermusuhan dengan Bu-eng-sian sehingga kakek itu menderita luka-luka

hebat. Biarpun tidak diminta, akan tetapi di dalam hatinya ia merasa penasaran dan ingin

mencoba kepandaian mereka yang telah menjatuhkan Bu-eng-sian yang bagaimana pun juga

dianggap sebagai orang berjasa kepadanya.

Bukankah kalau kitab itu tidak disimpan di Kiang-sui ia takkan dapat memiliki ilmu pedang

dan lain-lain kepandaian itu? Dan bukankah kakek itu pun telah memberi pedang Sin-engkiam

kepadanya?

Rumah kelima orang jago ilmu silat Ngo-heng-kun itu berada di sebelah timur kota Ki-ciu

dan nama mereka ini amat terkenal. Lima jago-jago Ngo-heng-kun ini terdiri dari lima orang

gagah yang telah mengangkat saudara mempelajari ilmu silat Ngo-heng-kun bersama.

 85

Yang tertua bernama Lim Hwat dan keistimewaannya ialah permainan senjata cambuk

panjang yang amat lihai karena cambuk itu selain lemas dan kuat, juga digerakkan dengan

tenaga lweekang yang tinggi, sehingga selain dapat digunakan untuk menotok jalan darah

lawan juga baik sekali untuk membelit dan merampas senjata tajam lawan.

Orang kedua adalah adik kandungnya sendiri, Lim Can yang juga amat lihai dan menduduki

tempat kedua dalam perkumpulan itu oleh karena ia pandai sekali bersilat dengan sebatang

tongkat berkepala naga. Selain gerakannya yang amat lincah, juga tenaga gwakangnya besar

melebihi seekor kerbau jantan.

Orang ketiga biarpun bukan seorang hwesio, akan tetapi selalu menggunduli kepalanya. Ia

memiliki ilmu ginkang yang paling tinggi di antara semua saudaranya. Namanya Oey Sian

dan ia bersenjata golok yang kecil dan tipis sehingga gerakannya cepat luar biasa.

Orang keempat dan kelima adalah sepasang saudara kandung bernama Teng Ki dan Teng Li.

Teng Ki bersenjata pedang panjang, sedangkan Teng Li bersenjata pedang pendek. Juga

kedua orang ini bukanlah orang-orang yang rendah ilmu silatnya.

Selain memiliki kepandaian-kepandaian khusus ini, mereka berlima merupakan sebarisan

yang amat tangguhnya karena bersama-sama mereka membentuk sebuah ilmu silat berantai

yang disebut Ngo-heng-kun atau Ilmu Silat Lima Daya. Apabila mereka berlima bersamasama

melakukan penyerangan, maka mereka merupakan barisan Ngo-heng yang mengepung

lawan dari lima jurusan dan dalam kedudukan mereka yang amat kuat ini jarang sekali ada

lawan yang dapat mengalahkan mereka.

Mereka ini cukup kaya dan memiliki tanah yang lebar di mana para petani bekerja untuk

mereka dengan mendapat bagian sepantasnya. Dan mereka amat disegani oleh penduduk di

sekitar Ki-ciu karena selain gagah perkasa, juga mereka terkenal keras hati dan mudah

menjatuhkan tangan kepada mereka yang berani menentangnya.

Ketika Tin Eng dan Gwat Kong tiba di dekat rumah mereka, Gwat Kong berkali-kali memberi

peringatan, “Nona, harap kau berlaku hati-hati karena menurut pendengaranku, mereka itu

lihai sekali!”

Akan tetapi Tin Eng yang tabah itu hanya tersenyum dan berkata, “Tenanglah Gwat Kong dan

kalau aku bertempur menghadapi mereka jangan kau terlalu dekat agar tidak sampai terkena

senjata mereka!”

Setelah berada di depan pintu rumah mereka yang masih tertutup, Tin Eng berseru keras,

“Orang-orang Ngo-heng-kun! Keluarlah untuk membuat perhitungan!”

Dengan sikap gagah gadis itu berdiri sambil memegang pedang di tangan kanan. Dan

sikapnya yang tabah ini membuat Gwat Kong merasa kagum sekali. Seorang dara yang benarbenar

gagah perkasa, pikirnya dengan hati senang.

Tin Eng tidak perlu menanti lama karena tiba-tiba pintu rumah itu terpentang dari dalam dan

keluarlah kelima jago Ngo-heng-kun itu sambil membawa senjata masing-masing. Tadinya

mereka mengira bahwa gadis itu tentu datang dengan kawan-kawannya. Akan tetapi ketika

melihat bahwa gadis itu datang seorang diri, dikawani oleh seorang pemuda yang nampak

 86

lemah bodoh dan yang menanti di bawah pohon sambil berjongkok, mereka tersenyum

“Nona manis, kau benar-benar bernyali besar, berani datang menemui kami! Apakah kau

belum merasa kapok setelah kami robohkan kemarin?” kata Lim Hwat sambil mengayunayun

cambuknya dan tersenyum mengejek.

“Bangsat curang!” Tin Eng memaki sambil menudingkan pedangnya kepada orang itu.

“Kalian merobohkan aku karena menggunakan kecurangan yang hanya patut dilakukan oleh

bajingan-bajingan rendah. Kalau kalian memang jantan, marilah kita mengadu kepandaian

secara jujur. Kalau tidak berani, lebih baik kembalikan kitabku dan berlutut minta maaf!”

Ucapan yang amat sombong ini membuat Oey Sian si gundul merasa marah sekali. “Apa sih

kepandaianmu maka kau berlaku begini kurang ajar?” teriaknya sambil melompat maju ke

depan Tin Eng. Akan tetapi gadis itu dengan marah lalu menyambut kedatangannya dengan

serangan pedangnya yang ditusukkan ke dada Oey Sian sehingga orang ini cepat-cepat

menangkis dengan goloknya.

Akan tetapi serangan pertama ini hanya merupakan pancingan belaka dan tiba-tiba Tin Eng

menarik kembali pedangnya dan melanjutkan dengan serangan Garuda Sakti Menyambar Air.

Pedangnya berkelebat cepat sekali menebas leher lawannya sehingga dengan seruan terkejut

Oey Sian yang tak keburu menangkis lagi itu segera miringkan kepalanya yang gundul untuk

mengelak. Pedang Tin Eng menyerempet dekat sekali dengan kulit kepalanya yang gundul

sehingga kalau kepala itu ada rambutnya, tentu rambut itu akan terbabat putus. Pedang terus

meluncur dan menyerempet pundaknya. “Breet!” Pecahlah baju Oey Sian di bagian pundak

Dengan muka pucat Oey Sian melompat mundur dan pada saat itu juga, keempat saudaranya

yang maklum bahwa gadis ini tidak boleh dipandang ringan, lalu maju mengeroyok dan

mengurungnya dari lima jurusan. Secara otomatis mereka telah membentuk barisan Ngoheng-

“Bagus, bagus! Majulah semua dan kalau perlu, keluarkan senjata racun yang kemarin. Aku

tidak takut akan kecuranganmu!”

Tin Eng sebenarnya merasa jerih menghadapi obat bubuk merah mereka, dan sengaja

mengucapkan kata-kata ini agar mereka menjadi malu. Benar saja, sebagai lima orang gagah

yang telah terkenal, menghadapi seorang gadis muda yang menantang secara berani, tentu

saja mereka merasa malu sekali apabila mereka harus menggunakan cara yang curang itu.

Mereka merasa yakin bahwa dengan Ngo-heng-tin mereka pasti akan berhasil merobohkan

gadis yang sombong dan berani ini.

Akan tetapi Tin Eng tidak merasa jerih. Ia putar-putar pedangnya dan kakinya bergerak

dengan ilmu silat Jiauw-pouw-poan-san, yakni bertindak berputaran untuk menghadapi

kelima lawannya. Sedangkan pedangnya mainkan gerak tipu Garuda Sakti Mengitari Pohon

Liu. Pedang di tangannya berkelebat menimbulkan sinar pedang yang panjang dan yang

menyambar-nyambar ke arah lima orang lawannya.

Akan tetapi Ngo-heng-tin itu benar-benar lihai. Tiap kali pedang Tin Eng menyerang seorang

lawan yang berada di depannya, maka dua orang yang berada di depannya menangkis

 87

serangan itu dan tiga orang lain yang berada di belakang lalu menyerangnya dari belakang

dengan hebatnya. Kalau gadis itu cepat memutar tubuh untuk menghadapi penyerangpenyerangnya

yang berbalik menangkis, maka seorang diantara mereka yang dibantu oleh dua

orang yang ditinggalkan dan kini berada di belakangnya itu, berbalik menjadi penyerang.

Oleh sebab ini, Tin Eng menjadi bingung sekali. Setiap serangannya dihadapi oleh dua senjata

yang menangkis dan dibarengi dengan serangan tiga orang lain dari belakang. Sungguhsungguh

merupakan hal yang amat berbahaya sekali.

Tin Eng adalah seorang gadis yang amat pemberani dan keras hati, maka tanpa mengingat

akan keadaan diri sendiri, ia lalu mengamuk dan menyerang membabi buta. Siapa saja yang

paling dekat diserangnya dengan hebat. Ia hendak menjatuhkan seorang lawan dulu yang

berada di depannya untuk kemudian menghadapi empat lawan lain.

Namun kelima saudara Ngo-heng-kun itu telah dapat menangkap maksudnya. Maka mereka

melakukan penjagaan keras dan dari belakang datanglah serangan bertubi-tubi tiap kali Tin

Eng menggerakkan pedang. Sehingga terpaksa gadis itu tidak dapat mencurahkan seluruh

perhatian dan kepandaiannya karena ia harus pula menjaga diri. Dengan terpecah-pecahnya

perhatian serta tenaga ini, ia menjadi cepat lelah dan mulai merasa pening. Keadaannya mulai

berbahaya sekali dan senjata lawan makin mendesak dan mengurung rapat.

“Ha ha ha, nona manis, kau hendak lari ke mana? Kau seperti tikus terjebak ke dalam

kurungan, ha ha ha!” Lim Hwat menyindir sambil putar-putar cambuknya yang terlihai di

antara senjata-senjata adik-adiknya.

“Menyerahlah untuk menjadi bini mudaku saja!” Oey Sian yang terkenal mata keranjang

berkata, sehingga Tin Eng menjadi marah dan mendongkol sekali. Gadis ini menggigit

bibirnya dan mengambil keputusan untuk mengadu jiwa. Ia rela mati dalam pertempuran ini

akan tetapi sedikitnya ia harus dapat membunuh pula seorang atau dua orang lawannya.

Akan tetapi, sebelum ia dapat menjatuhkan korban, tiba-tiba ujung cambuk Lim Hwat telah

meluncur dan membelit kedua kakinya. Tin Eng menggerakkan pedang menyabet ke arah

cambuk, akan tetapi tongkat Lim Can menangkis pedangnya itu dan berbareng pada saat itu,

Lim Hwat mengerahkan lweekangnya dan sambil berseru keras ia membetot cambuknya. Tak

dapat dicegah lagi tubuh Tin Eng terguling dan pedangnya terlepas dari pegangan.

Akan tetapi sebelum terjadi hal yang lebih hebat lagi, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan

tahu-tahu Tin Eng merasa betapa tubuhnya disambar oleh sebuah tangan yang cepat dan kuat

sekali, kemudian orang itu lalu melompat keluar dari kepungan, sebelum kelima orang itu

sempat sadar dari rasa heran dan terkejut mereka.

Ketika Tin Eng diturunkan dari pondongan orang itu dan memandang, ia menjadi bengong.

Sepasang matanya yang indah dan bening itu terpentang lebar-lebar dan memandang bodoh,

sedangkan mulutnya celangap tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Ternyata bahwa

orang yang menolongnya tadi adalah Gwat Kong sendiri yang kini berdiri di depannya dengan

senyum manis di bibirnya dan seri gembira pada wajahnya.

“Jangan marah, siocia. Aku akan berusaha membalas mereka dan menebus kekalahanmu!”

 88

Merahlah seluruh muka Tin Eng karena suara pemuda itu masih saja halus merendah seperti

ketika menjadi pelayannya dulu. Ia tidak dapat menjawab sesuatu, hanya memandang dengan

masih bengong ketika pemuda itu dengan tindakan kaki tenang dan perlahan menghampiri

kelima jagoan Ngo-heng-tin yang berdiri dengan heran pula.

“Ah, pantas saja nona itu berani bersikap sombong, tidak tahunya dia membawa seorang

pembantu yang pandai!” kata Lim Hwat mencoba menyembunyikan kekagumannya.

“Tentu kau pula yang kemarin mempermainkan kami?” kata Lim Can sambil memandang

tajam dan menggerak-gerakkan tongkat naganya dengan sikap mengancam.

“Ngo-wi Lo-enghiong (tuan-tuan berlima yang gagah), hal ini tidak perlu kita persoalkan

sekarang, yang terpenting ialah bahwa sebenarnya tidak sepatutnya kalau kalian yang tersohor

sebagai orang-orang gagah yang menjagoi daerah ini, merampas kitab milik seorang nona

muda. Apakah kalian tidak merasa malu, kalau hal ini sampai terdengar oleh orang-orang

gagah sedunia? Apakah benar-benar kalian yang telah memiliki kepandaian tinggi ini ingin

pula mencuri ilmu pedang nona ini?”

“Enak saja kau membuka mulut!” seru Lim Hwat dengan marah. “Siapa yang mencuri ilmu

pedang? Bukan kami, kalau tidak, kami takkan mau memberi ampun kepadanya!”

Gwat Kong memandang heran. “Bagaimana kalian bisa menyatakan bahwa kitab ilmu pedang

itu adalah hak milik kalian? Sepanjang pengetahuanku pemiliknya adalah orang yang disebut

Bu-eng-sian.”

Mendengar disebutnya nama ini, tiba-tiba kelima orang itu lalu maju mengurung Gwat Kong,

“Di manakah setan tua itu? Apakah dia belum mampus?” tanya Oey Sian.

Gwat Kong menggeleng kepala. Kini ia ketahui nama Bu-eng-sian, maka ia berkata dengan

tenang. “Leng locianpwe telah meninggal dunia karena luka-lukanya yang diderita dan yang

disebabkan oleh pukulan-pukulan kalian yang kejam. Sebetulmya mengapakah kalian

memusuhinya? Apakah karena kitab itu?”

Terdengar seruan kecewa dari Lim Hwat. “Agaknya kau kenal baik kepada setan tua itu, anak

muda. Aku memberi nasehat agar supaya kau bicara terus terang. Ketahuilah bahwa pada

beberapa belas tahun yang lalu, kami berlima dengan Leng Po In adalah sahabat-sahabat baik

dan kami berlima bersama dia mendapatkan kitab dan pedang Sin-eng-kiam di dalam sebuah

gua di bukit Thai-san. Akan tetapi, secara curang sekali orang she Leng itu membawa lari

kitab dan pedang.

Bertahun-tahun kami berlima mencarinya dan akhirnya berhasil melukainya, akan tetapi kitab

dan pedang itu telah disembunyikan entah di mana. Kini tahu-tahu gadis ini pandai mainkan

Sin-eng Kiam-hoat. Bukankah itu berarti bahwa dia telah mencuri ilmu pedang yang menjadi

hak kami? Kitab yang kami ambil hanyalah salinan dari Leng Po In dan kami menuntut

dikembalikannya kitab asli dan pedang Sin-eng-kiam.”

Gwat Kong tidak tahu bahwa Lim Hwat membohong dalam penuturannya ini karena

sesungguhnya yang mendapatkan kitab dan pedang itu adalah Leng Po In sendiri. Mereka

berlima melihat hal ini dan berusaha merampasnya. Akan tetapi, biarpun ia tidak tahu, namun

 89

melihat sikap mereka yang galak ini. Gwat Kong dapat menduga bahwa mereka ini bukanlah

orang baik-baik, maka ia lalu menjawab,

“Nona Liok ini tanpa disengaja dapat mempelajari Sin-eng Kiam-hoat, bahkan aku sendiripun

telah mempelajarinya. Kami berdua tidak tahu menahu tentang perebutan kitab dan pedang.

Dan apabila kedua benda itu terjatuh ke dalam tangan kami yang tidak sengaja

menemukannya, maka sekarang benda-benda itu adalah menjadi hak milik kami!”

“Bangsat benar!” seru Oey Sian yang menjadi marah. “Kalau begitu, kau dan nona itu harus

mampus!”

“Cobalah!” tantang Gwat Kong sambil tersenyum tenang.

“Bunuh dia dan tangkap nona itu!” teriak Lim Hwat dan kelima orang itu kembali bergerak

dan mengurung Gwat Kong dalam lingkaran Ngo-heng-tin mereka yang lihai. Leng Po In

sendiri yang berjuluk Bu-eng-sian dulu roboh oleh karena kelihaian Ngo-heng-tin ini sehingga

mendapat luka-luka berat. Maka Gwat Kong yang tadi telah menyaksikan kehebatan barisan

Lima Daya ini, segera mencabut pedang yang disembunyikan di balik bajunya.

Melihat berkelebatnya pedang itu, kelima orang lawannya berseru hampir berbareng,

“Sin-eng-kiam!”

Gwat Kong menggerak-gerakkan pedangnya sambil tersenyum dan berkata, “Ya, memang ini

Sin-eng-kiam, akan tetapi aku menerimanya secara sah dari penemunya, yakni dari Leng

Locianpwe sendiri.”

“Kalau begitu, kitab aslinya juga berada padamu!” bentak Lim-hwat.

GWAT Kong mainkan senyum pada bibirnya dan bertanya,” Kalau benar demikian kalian

mau apa?”

“Bangsat!” Lim Can memaki dan mengayunkan tongkat naga dari belakang, mulai menyerang

ke arah kepala Gwat Kong. Akan tetapi pemuda itu dengan tenangnya mengelak ke pinggir

dan berdiri diam tak bergerak, menanti datangnya serangan lawan yang lain. Serangan itu

tidak kunjung datang, karena sesungguhnya gerakan Ngo-heng-tin dilakukan dengan otomatis

yakni kalau orang yang terkurung itu melakukan serangan. Barulah orang-orang yang berdiri

di belakangnya maju menyerang sedangkan orang yang berada di depan dibantu oleh seorang

kawan terdekat melakukan tangkisan.

Gwat Kong tertawa bergelak-gelak karena mereka juga diam saja tidak mau menyerang dulu.

“Eh he, mengapa kalian berdiam saja! Apakah takut menyerangku? Kalau begitu, baiklah, aku

yang akan menyerang. Kalian berhati-hatilah!”

Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri Gwat Kong mencabut sulingnya dan mulai

menyerang ke depan dengan suling itu. Sebagaimana yang ia duga, ketika dua orang lain di

belakangnya maju menyerang dengan hebat sekali. Akan tetapi Gwat Kong sudah tahu akan

hal ini, maka ia tanpa menoleh lalu mengangkat tangan kanannya dan menggunakan Sin-engKang-

lam Tjiu-Hiap > karya Kho Ping Hoo > buyankaba. 90

kiam utk diputar sedemikian rupa hingga tiga buah senjata lawan kena tertangkis, sedangkan

dengan sulingnya ia tetap mendesak lawan yang berada di depan.

Gwat Kong sengaja melancarkan serangan-serangannya kepada Lim Hwat yang bersenjata

cambuk panjang dan Lim Can yang bersenjata tongkat kepala naga, karena selain dua orang

ini memiliki ilmu kepandaian yang paling tinggi, juga senjata-senjata mereka lebih panjang

sehingga kalau dibiarkan melakukan serangan dari jarak jauh, ia akan menderita rugi. Maka ia

lalu mengeluarkan ilmu pedangnya Garuda Sakti Mencari Ikan yang dimainkan oleh suling di

tangan kirinya.

Sungguhpun yang dipakai menyerang hanya sebuah suling bambu, akan tetapi oleh karena

gerakannya demikian cepat bagaikan paruh garuda menyambar-nyambar mencari sasaran

yang tepat di tubuh lawan, maka amat berbahaya bagi kedua lawannya itu. Sedangkan tiga

orang lain yang bersenjata pendek, dapat digagalkan serangan mereka oleh tangkisan pedang

Sin-eng-kiam di tangan kanannya.

Menghadapi akal Gwat Kong yang amat lihai ini, Lim Hwat dan kawan-kawannya tidak

berdaya, maka ia lalu berseru keras memberi tanda sehingga kawan-kawannya segera

merobah gerakan mereka. Kini mereka mainkan ilmu silat Ngo-heng-soan, dan mereka mulai

berlari-lari mengitari Gwat Kong! Sambil berlari mengitari pemuda yang terkurung itu,

kadang-kadang mereka melancarkan serangan-serangan yang tak terduga datangnya sehingga

terpaksa Gwat Kong mengikuti gerakan memutar itu dan mainkan pedang dan suling untuk

menjaga diri! Pergantian serangan yang tiba-tiba ini agak membingungkan pemuda itu

sehingga untuk beberapa jurus lamanya ia tidak kuasa membalas dan hanya menjaga diri

dengan kuatnya.

Sementara itu, Tin Eng memandang ke arah pertempuran itu dengan keheranan dan

kekaguman yang makin memuncak. Dadanya berdebar keras karena berbagai macam

perasaan mengaduk hatinya. Bangga, girang, heran dan malu bercampur aduk di dalam

pikiran dan hatinya. Tak pernah disangkanya bahwa Gwat Kong, pemuda yang nampak bodoh

dan jujur itu, yang selalu menurut perintahnya dan selalu berusaha menyenangkan hatinya,

ternyata adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dari kepandaiannya

Akan tetapi ia mulai merasa khawatir melihat betapa kelima orang pengeroyok Gwat Kong itu

benar-benar lihai dan kini dengan agak bingung dan gelisah ia melihat betapa kelima orang itu

sambil berlari-lari mengitari Gwat Kong menyerang dan menghujani pemuda itu dengan

serangan bertubi-tubi.

Sebetulnya, Gwat Kong sedang mencari jalan untuk memecahkan cara menyerang yang aneh

dan membingungkan ini. Akan tetapi selagi ia mencari lowongan, tiba-tiba kelima orang itu

mengubah lagi gerakannya. Dan kini mereka mengelilingi tubuh Gwat Kong dengan cara

yang berlawanan yakni tiga orang lain berlari mengitari pemuda itu dari kiri memutar ke

kanan, sedangkan Lim Hwat dan Lim Can berlari dari kanan memutar ke kiri.

Sementara itu, serangan mereka datangnya lebih gencar lagi dan kembali Gwat Kong dapat

dibikin bingung karena ia tidak tahu dengan cara bagaimana ia dapat mengikuti gerakan

memutar yang berlawanan ini. Memang Ngo-heng-tin atau Barisan Lima Daya ini benarbenar

hebat dan luar biasa sekali.

 91

Sungguhpun hatinya ingin sekali membantu Gwat Kong, akan tetapi Tin Eng tidak berani

turun tangan oleh karena ia maklum akan kelihaian lawan dan sekarang setelah pedangnya

tidak ada, ia sama sekali tidak berani membantu, takut kalau-kalau bahkan mengacaukan

perlawanan Gwat Kong.

Tiba-tiba Gwat Kong mendapat akal dan matanya mulai menjadi biasa dengan gerakan

memutar dari kelima orang lawannya itu. Ia berhenti bergerak dan kini ia berdiri diam di

tengah-tengah kurungan, membiarkan kelima orang lawannya berlari-lari makin cepat. Kalau

ada senjata lawan yang melayang ke arahnya barulah ia menggerakkan suling atau pedangnya

untuk menangkis.

Yang paling lihai di antara kelima macam senjata lawan itu adalah cambuk Lim Hwat dan

tongkat kepala naga Lim Can, maka perhatiannya ditujukan sepenuhnya ke arah kedua senjata

tersebut. Pada suatu saat, cambuk Lim Hwat menyambar ke arah dadanya dalam sebuah

sabetan keras.

Gwat Kong membuat dua gerakan yang amat cepat sambil melompat ke atas menghindarkan

kedua kakinya dari sapuan tongkat kepala naga. Gerakan ini ialah dengan sulingnya ia

menangkis ujung cambuk dan ketika suling itu diputar maka ujung cambuk melibat suling itu.

Secepat kilat Sin-eng-kiam di tangan kanannya menyambar ke arah cambuk yang tertarik dan

menegang itu dan putuslah cambuk itu di bagian ujungnya terkena babatan Sin-eng-kiam

yang tajam.

“Kurang ajar!” Lim Hwat berseru marah dan pada saat itu karena gerakan tadi membuat

kawan-kawannya terpaksa menunda lari mereka. Maka dalam keadaan kepungan itu tidak

bergerak memutar, Gwat Kong lalu menyerang dengan kuat ke arah dua orang yang

dianggapnya paling lemah di antara mereka, yakni Teng Ki dan Teng Li yang bersenjata

Ketika sulingnya meluncur menotok pundak Teng Ki yang berpedang panjang dan pedang

Sin-eng-kiamnya diluncurkan membabat lengan Teng Li. Kedua orang itu segera menangkis

dan Oey Sian yang bersenjata golok dan berdiri di sebelah kiri Teng Li lalu menyerang

dengan goloknya ke arah leher Gwat Kong. Pemuda ini menggunakan pedangnya yang

tertangkis oleh Teng Li secepat kilat tanpa menunda lagi lalu mendahului Oey Sian dengan

tikaman pedang itu ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang golok.

Maka terdengar Oey Sian memekik kaget dan segera menggulingkan tubuhnya ke belakang

untuk menghindarkan babatan pedang kepada pergelangan lengannya itu. Kesempatan itu

dipergunakan oleh Gwat Kong untuk melompat keluar dari kepungan sambil memutar

pedangnya menerjang ke tempat lowong yang tadi di tempati Oey Sian, yakni di antara Teng

Li dan Lim Hwat.

Tentu saja Lim Hwat sebagai otak barisan itu yang memimpin pengepungan tidak

membiarkan lawannya terlolos dari kepungan, maka ia lalu berteriak sambil menggerakkan

cambuknya yang telah terputus ujungnya itu untuk memaksa Gwat Kong kembali ke dalam

kurungan. Akan tetapi, Gwat Kong berseru lagi dengan nyaring dan ketika ia berjungkir balik

dengan gerakan Garuda Sakti Menembus Mega, tubuhnya mumbul tinggi dengan kaki di atas

dan kepala di bawah. Saat itu ia pergunakan untuk mengirim bacokan ke arah pundak Lim

 92

Hwat yang tak berdaya mengelak sehingga pundak kirinya terserempet ujung pedang. Ia

berseru keras dan terhuyung-huyung ke belakang dengan pundak mengalirkan darah.

Gwat Kong tidak mau berhenti sampai sekian saja. Sambil mempergunakan kesempatan

selagi para pengeroyoknya kacau keadaannya. Ia lalu mengerjakan dua senjata di tangannya

dan kembali terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika pedangnya berhasil memutuskan dua

buah jari tangan Oey Sian sehingga goloknya terpental jauh dan sulingnya dapat menotok

jalan darah pada pundak Teng Li sehingga orang ini roboh dengan lemas.

Dua orang pengeroyok lain, yakni Lim Can yang bersenjata tongkat kepala naga dan Teng Ki

yang bersenjata pedang panjang, memburu untuk menolong saudara-saudaranya. Akan tetapi

sekali pedang dan suling di tangan Gwat Kong bergerak, ujung tongkat yang berbentuk kepala

naga itu terbabat putus dan pedang di tangan Teng Ki terpental jauh pula karena suling Gwat

Kong dengan tepat telah menghantam pergelangan tangannya.

Demikianlah, dengan sekali gus dan dalam waktu yang luar biasa cepatnya sehingga Tin Eng

sendiri memandang dengan bingung dan mata kabur, lima orang jago Ngo-heng-tin itu kena

dikalahkan oleh Gwat Kong yang masih berlaku murah hati dan tidak membinasakan mereka.

Hanya memberi pukulan-pukulan yang membuat mereka terluka, akan tetapi cukup membuat

mereka tak dapat maju pula.

Lim Hwat sambil meringis kesakitan dan memegang-megang pundaknya yang berdarah dan

wajahnya sebentar pucat sebentar merah, lalu menjura dan membungkukkan tubuh kepada

Gwat Kong sambil berkata,

“Anak muda, kau benar-benar lihai sekali dan ternyata kau telah memiliki ilmu pedang Sineng

Kiam-hoat dan juga pedang Sin-eng-kiam telah berada di tanganmu! Siapakah sebenarnya

kau?”

Dengan sikap masih tenang dan suara biasa saja, Gwat Kong menjawab, “Aku bernama Bun

Gwat Kong atau boleh juga kau sebut Kang-lam Ciu-hiap sebagai mana orang-orang Kanglam

menyebutku.”

“Bagus, bagus! Nama ini takkan kami lupakan. Saat ini kami mengaku kalah, akan tetapi

tunggulah satu dua tahun lagi, Kang-lam Ciu-hiap. Pasti kami akan mencarimu untuk

membuat perhitungan.”

“Bun-ko, mintakan kitabku!” Tiba-tiba Tin Eng berseru dan Gwat Kong tiba-tiba merasa

betapa mukanya menjadi panas dan warna merah menjalar dari telinga kiri sampai ke telinga

kanan ketika mendengar betapa gadis itu kini menyebutnya ‘Bun-ko’!”

Sementara itu, Lim Hwat ketika mendengar ucapan Tin Eng ini, dengan tersenyum pahit lalu

mengeluarkan kitab itu dari saku bajunya sebelah dalam dan memberikan itu kepada Tin Eng

sambil berkata,

“Terimalah kitab palsu ini. Kau boleh mempelajarinya sampai seratus kali akan tetapi tidak

akan ada gunanya!” Setelah berkata demikian, kembali Lim Hwat menjura terhadap Gwat

Kong dan kemudian memberi tanda kepada empat orang saudaranya untuk masuk ke dalam

rumah yang lalu ditutupkan pintunya keras-keras.

 93

Gwat Kong menghampiri Tin Eng yang memandangnya dengan mata kagum sekali. Tanpa

berkata sesuatu, keduanya lalu berjalan menuju kota Ki-Ciu kembali. Di tengah jalan, Gwat

Kong tidak dapat menahan lagi keadaan yang sunyi di antara mereka itu, maka dengan muka

merah ia lalu berkata,

“Liok-siocia, maafkan aku yang telah menyembunyikan keadaanku darimu.”

Tin Eng memandangnya dan tersenyum. “Mengapa minta maaf? Kau hebat dan lihai sekali,

seratus kali lebih hebat dari padaku.”

Makin merahlah wajah Gwat Kong mendengar ini, karena ia merasa seakan-akan ia disindir.

“Kau juga cukup lihai, nona, hanya sayangnya kau telah mempelajari kitab yang salinan

belaka. Masih ingatkah kau akan kitab yang sebuah lagi, yang kau sebut kitab berisi sajak dan

syair kuno itu?”

Tin Eng mengingat-ingat lalu mengangguk.

“Nah, kitab yang kau anggap tidak berguna itulah sebetulnya kitab pelajaran Sin-eng Kun-

Hoat dan Sin-eng Kiam-hoat yang asli. Aku diam-diam mempelajari kitab itu sehingga dapat

juga memiliki sedikit ilmu kepandaian.”

Tin Eng makin merasa kagum dan terheran sehingga ia menunda kedua kakinya. Keduanya

berdiri di pinggir jalan, berhadapan dan saling pandang.

“Bun-ko ……”

“Nona, mengapa kau menyebutku demikian, aku masih tetap Gwat Kong yang dulu bagimu.”

Tin Eng menggelengkan kepalanya. “Jangan membuat aku merasa malu terhadap diri sendiri,

Bun-ko. Aku selalu menganggap kau sebagai orang yang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Tidak

tahunya kau bahkan pandai membaca kitab kuno. Satu hal yang sama sekali tak pernah

kusangka. Tadinya ku kira kau buta huruf tidak tahunya kau terpelajar pula. Aku tidak berhak

menyebutmu dengan nama begitu saja.”

“Mengapa begitu? Sungguh, aku merasa tidak enak sekali mendengar sebutan itu, nona. Aku

lebih senang kalau kau sebut namaku saja!”

Tin Eng tersenyum dan menjawab, “Boleh, aku akan menyebutmu biasa saja, akan tetapi

kaupun harus membuang jauh-jauh sebutan nona itu! Aku boleh kau sebut Tin Eng saja tanpa

embel-embel nona. Bagaimana?”

Dengan muka merah Gwat Kong berkata, “Baiklah, nona.”

“Hussh! Bagaimanakah ini? Mengapa menyebut baik, akan tetapi kembali menyebut nona?”

“Eh … aku … aku lupa, non ..” jawab Gwat Kong gugup sehingga Tin Eng memandang geli.

“Gwat Kong, kau benar-benar hebat. Aku merasa kagum sekali. Kau harus mengajarku

dengan ilmu silatmu itu!”.

 94

Setelah menyebut nama Gwat Kong seperti biasa, Tin Eng merasa biasa kembali dan

lenyaplah keraguan dan rasa malu-malu tadi. Juga Gwat Kong merasa lebih enak dan leluasa.

“Tentu … Tin Eng, kalau kau kehendaki, aku akan dapat memberi pelajaran kepadamu

sedapat mungkin.”

Mereka duduk di pinggir jalan dan berteduh di bawah lindungan pohon. Kemudian Gwat

Kong menceritakan semua pengalamannya semenjak ia mendapatkan kitab itu. Betapa ia

mempelajari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat dengan diam-diam dan rajin. Ia menceritakan pula

tentang semua pengalamannya semenjak ia meninggalkan gedung Liok-taijin dan betapa ia

mendapat julukan Kang-lam Ciu-hiap.

“Kau memang patut menjadi pendekar arak, karena kau memang seorang pemabok!” kata Tin

Eng yang teringat kembali akan peristiwa di dalam gedungnya ketika ia hampir membunuh

Gwat Kong yang sedang mabok. Merahlah muka pemuda itu mendengar hal ini disebut-sebut.

“Gwat Kong, sebetulnya kau berasal dari manakah? Kau telah bertahun-tahun bekerja di

rumah orang tuaku, akan tetapi aku belum pernah mendengar riwayatmu. Apakah kau tidak

keberatan untuk menceritakan kepadaku?”

Sebetulnya Gwat Kong merasa ragu-ragu untuk menceritakan hal ini kepada siapapun juga

akan tetapi kepada Tin Eng, tiba-tiba ia timbul rasa seakan-akan gadis ini bukan orang lain

dan bahkan seakan-akan sudah seharusnya ia menceritakan keadaannya kepada Tin Eng.

Maka secara singkat ia menceritakan riwayatnya, betapa ia dahulu adalah seorang putera Buntihu

di Lam-hwat dan ayahnya difitnah orang sehingga ia dibawa pergi oleh ibunya yang

hidup penuh penderitaan. Ketika menceritakan betapa ia tersesat, mabok-mabokan dan

bergaul dengan segala orang muda yang tidak baik sehingga ibunya jatuh sakit dan meninggal

dunia di Ki-hong, tak tertahan pula Gwat Kong mengalirkan air mata yang segera disusutnya

dengan ujung lengan bajunya.

Tin Eng mendengar penuturan ini dengan hati amat terharu sehingga ia ikut pula melinangkan

air mata. Tak disangkanya bahwa Gwat Kong adalah putera seorang tihu yang adil dan jujur.

Diam-diam ia merasa girang mendapatkan kenyataan ini sungguhpun ia tidak tahu mengapa ia

boleh merasa girang.

“Sudahkah kau membalas dendam orang tuamu itu, Gwat Kong?” tanyanya.

“Musuh besar itu telah meninggal dunia hanya tinggal seorang puterinya. Bagaimana

pendapatmu tentang hal ini? Haruskah aku membalas kepada anaknya itu?”

Tin Eng merasa ragu-ragu untuk menjawab, karena iapun merasa betapa sulitnya untuk

mengambil keputusan dalam hal ini. “Dan bagaimana pendapatmu sendiri?” ia balas bertanya.

“Menurut pendapatku, puteri musuh besar orang tuaku itu tidak ikut apa-apa dan ia tidak

berdosa. Maka tidak seharusnya kalau aku membalas dendam kepadanya. Apakah

hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa keluarga ayahku? Yang bersalah adalah

ayahnya dan ia tidak tahu menahu tentang hal itu. Oleh karena inilah maka aku tidak berniat

membalas dendam kepada orang yang sama sekali tidak berdosa.”

 95

Tin Eng mengangguk menyatakan persetujuannya. “Kau adil dan mulia Gwat Kong. Kalau

aku sendiri menjadi puteri musuh besar itu, aku akan merasa ngeri mendapatkan musuh yang

membalas dendam seperti kau!”

Setelah agak lama mereka berdiam saja, Gwat Kong lalu bertanya,

“Dan sekarang kau hendak pergi ke manakah, Tin Eng?”

Ditanya demikian, Tin Eng kembali teringat akan semua barangnya yang telah hilang, maka

jawabnya sambil menarik napas panjang, “Entahlah, aku tidak mempunyai tujuan tetap,

apalagi sekarang setelah semua uangku tercuri orang. Untuk membayar sewa kamar saja aku

tidak mampu.”

“Akupun tidak mempunyai uang, akan tetapi apa susahnya hal ini? Kau bisa ‘pinjam’ dari

para hartawan di kota Ki-ciu.”

“Pinjam? Tanya Tin Eng heran.

Gwat Kong tersenyum. “Biarpun aku sendiri baru saja merantau dan menerjunkan diri dalam

dunia kang-ouw, akan tetapi agaknya dalam hal ini aku lebih matang dari padamu, Tin Eng.

Istilah ini digunakan oleh orang-orang kang-ouw untuk mengambil sedikit uang para

hartawan untuk digunakan sebagai biaya perjalanan.”

“kau maksudkan …. mencuri? Gwat Kong! Bagaimana kau bisa memberi nasehat kepadaku

supaya menjadi pencuri?”

“Dalam hal ini, mencuri yang dilakukan oleh orang-orang kang-ouw berbeda sifatnya, Tin

Eng,” katanya dengan wajah sungguh-sungguh. “Orang-orang perantau di dunia kang-ouw

pekerjaannya menolong orang-orang yang perlu ditolong tanpa mengharap akan upah atau

pembalasan jasa dan dari manakah mereka bisa mendapatkan uang untuk biaya perjalanan dan

membeli makanan? Mengambil sedikit uang dari para hartawan bukan berarti apa-apa lagi

bagi hartawan itu dan kalau digunakan bukan untuk mencari kesenangan diri, maka dosanya

tidak begitu besar!”

Tin Eng menjadi geli mendengar alasan ini. “Benar-benar lucu, apakah dosa itu ada yang

besar dan kecil?”

Gwat Kong juga tersenyum mendengar ini dan pada saat itu, tiba-tiba dari jauh datang berlari

seorang laki-laki yang setelah dekat ternyata bukan lain ialah Lok Ban si Tangan Seribu,

kepala maling di kota Ki-ciu.

Melihat orang ini, Tin Eng yang sudah mengambil kembali pedangnya tadi, melompat dan

mengejar dengan pedang di tangan. Akan tetapi, kepala maling itu memang sengaja

menghampiri mereka dan datang-datang ia lalu menjura dengan hormat sekali.

“Ji-wi, harap jangan salah sangka. Kedatangan siauwte ini bukan membawa maksud buruk

akan tetapi semata-mata hendak mengembalikan barang-barang lihiap yang tadi telah diambil

oleh seorang kawan kami yang salah tangan!” Sambil berkata demikian, ia memberikan

bungkusan pakaian Tin Eng yang ternyata masih lengkap.

 96

Tin Eng menerima buntalan pakaian dan perhiasan serta uangnya itu dengan girang dan juga

terheran-heran, lalu bertanya,

“Sahabat, bagaimanakah maksudnya semua ini? Tadinya kau dan kawan-kawanmu mencuri

barang-barangku dan sekarang tanpa diminta kau mengembalikannya!”

Si raja maling itu tersenyum dan menjura lagi. “Kami tidak tahu bahwa yang kami ambil

barangnya adalah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, bahkan kawan baik seorang

pendekar besar seperti Kang-lam Ciu-hiap, harap saja ji-wi sudi memberi maaf kepada kami.”

Gwat Kong yang telah berdiri bertanya dengan heran, “Eh, kau juga sudah mendengar

namaku?”

Lok Ban tersenyum. “Biarpun belum lama kau membuat nama besar, taihiap, akan tetapi kami

telah mendengarnya. Bahkan kami telah menyaksikan pula betapa kau telah mengalahkan

Ngo-heng-kun Ngo-hiap yang tangguh itu. Benar-benar membuat kami merasa tunduk!”

“Kau terlalu memuji, kawan,” kata Gwat Kong merendah.

“Untuk menebus kesalahan kawan kami, kami mengundang kepada ji-wi untuk datang

menghadiri sedikit perjamuan makan yang kami adakan untuk menghormati ji-wi dan

menyatakan maaf kami. Harap ji-wi tidak menolak.”

Kedua orang muda itu saling pandang dan sambil tersenyum, kemudian mereka mengikuti

Lok Ban yang ternyata membawa mereka ke kota Ki-ciu dan dalam sebuah rumah makan

terbesar telah berkumpul belasan maling-maling yang terbesar, di antaranya si botak yang

dulu mengambil barang-barang Tin Eng. Mereka menyambut Gwat Kong dan Tin Eng dengan

penuh penghormatan dan mempersilahkan mereka duduk di kursi kehormatan.

Gwat Kong dan Tin Eng dijamu dengan penuh penghormatan oleh Lok Ban si Tangan Seribu

dan kawan-kawannya, yakni seluruh anggauta perkumpulan maling. Kedua orang muda itu

setelah mulai makan, saling pandang dengan penuh keheranan, oleh karena masakan-masakan

yang dihidangkan luar biasa enaknya dan tidak kalah oleh hidangan-hidangan orang-orang

besar atau orang-orang hartawan.

“Masakan ini sedap sekali!” seru Tin Eng yang doyan makan hidangan lezat. “Saudara Lok,

bumbu apakah yang dipakai untuk masakan-masakan ini?”

Lok Ban si Tangan Seribu tersenyum-senyum senang mendengar pujian ini, dan kemudian

berkata dengan bangga,

“Lihiap, tidak sembarangan orang dapat menikmati masakan yang memakai bumbu dari

istana kaisar ini! Kami sengaja menggunakan sisa bumbu yang dulu kami ambil dari dapur

istana kaisar untuk membuat masakan ini dan menjamu ji-wi (kalian berdua)!”

Gwat Kong tertawa. “Jadi tanganmu sudah kau ulur demikian panjang sehingga sampai di

dapur istana kaisar?”

Lok Ban tersenyum lagi. “Hanya untuk mengambil bumbu ini Ciu-hiap! Kami tidak berani

mengambil barang-barang berharga. Oleh karena itu, kami tidak dikejar-kejar dan dimusuhi

 97

oleh perwira-perwira kerajaan. Siapa yang mau meributkan soal kehilangan bumbu masakan?

Paling-paling hanya tukang masak istana saja ribut-ribut seperti terbakar jenggotnya!” Lok

Ban tertawa, membuat Gwat Kong dan Tin Eng juga tertawa geli.

Tiba-tiba Lok Ban yang tadinya tertawa-tawa itu berubah menjadi bersungguh-sungguh dan ia

berdiri dari kursinya. Melihat kepala maling ini berdiri, semua anggauta yang hadir di situ lalu

menghentikan percakapan mereka dan keadaan menjadi hening.

“Saudara-saudara sekalian,” katanya dengan suara nyaring. “Kalian tentu telah mendengar

nama Kang-lam Ciu-hiap yang biarpun baru saja membuat nama besar, akan tetapi telah amat

terkenal. Dengan kedua mataku sendiri, aku menyaksikan bagaimana Ciu-hiap

mempermainkan dan mengalahkan Ngo-heng-kun Ngo-hiap yang lihai. Setelah kini Ciu-hiap

berada di tengah-tengah kita, mengapa kita tidak minta agar supaya Ciu-hiap memimpin kita?

Aku Lok Ban si Tangan Seribu, kalau dibandingkan dengan Kang-lam Ciu-hiap, menjadi Lok

Ban si Tangan Buntung.”

“Setuju ….! Setuju …!” Kawan-kawannya berseru gembira oleh karena mereka ini telah

percaya sepenuhnya kepada Lok Ban sehingga apa saja yang diusulkan oleh si Tangan Seribu

ini mereka anggap baik dan tepat.

Lok Ban lalu menjura kepada Gwat Kong dan berkata,

“Ciu-hiap, sebagaimana telah kau dengar sendiri, maka kami mohon sudilah kiranya mulai

sekarang Ciu-hiap menerima pengangkatan sebagai Pangcu (ketua) kami dan memimpin kami

yang bodoh!”

Gwat Kong menjadi bingung dan terkejut mendengar ini. Dia hendak diangkat menjadi kepala

maling? Pemuda itu hanya duduk dengan mata terbelalak dan mulutnya ternganga, bengong

tak dapat menjawab, hanya memandang kepada Tin Eng dengan muka bodoh.

Gadis itu tertawa geli melihat keadaan ini dan teringat akan ucapan Gwat Kong bahwa

pemuda itu juga pernah melakukan pencurian uang untuk biaya perjalanan. Maka ia segera

menggoda,

“Mengapa kau merasa sangsi? Bukankah kau juga mempunyai kesukaan untuk mencuri

seperti yang kaukatakan tadi sebelum datang ke sini? Ha ha ha, kau memang pantas menjadi

raja maling!”

Gwat Kong hendak menegur, akan tetapi pada saat itu terdengar suara tertawa keras dan tibatiba

sesosok bayangan orang melompat ke atas loteng di mana perjamuan para maling itu

diadakan. Bayangan ini adalah seorang pemuda tinggi besar yang bermuka hitam. Matanya

lebar dan hidungnya besar, sedangkanan dua telinganyapun lebar sehingga mukanya nampak

lucu akan tetapi membayangkan kebodohan, kekasaran dan kejujuran.

“Maling-maling berpesta pora di rumah makan dengan terang-terangan, Ha ha ha!

Pemandangan yang aneh! Sungguh lucu sekali kota Ki-ciu ini.”

Setelah berkata demikian, pemuda tinggi besar itu tertawa bergelak-gelak. Tubuhnya yang

besar itu bergerak-gerak, mukanya berdongak dan kedua tangannya bertolak pinggang.

 98

Marahlah maling botak itu yang dulu mencuri barang-barang Tin Eng melihat kedatangan

orang muda yang mengejek mereka ini. Dengan gerakan yang amat gesit, menunjukkan

bahwa ginkangnya sudah tinggi, si botak ini lalu melompat ke depan pemuda tinggi besar itu

dan membentak,

“Bangsat, kurang ajar dari manakah berani mengejek kami?”

Pemuda muka hitam itu menghentikan suara ketawanya dan menundukkan mukanya, karena

ia jauh lebih tinggi sehingga ia harus menundukkan muka untuk dapat menentang wajah

lawannya. Akan tetapi oleh karena ia benar-benar tinggi, ketika menunduk, ia melihat botak

yang licin di kepala itu sehingga kembali ia tertawa terbahak-bahak.

“Ha ha ha! Si botak ini apakah juga seorang maling? Ha ha! Aku berani bertaruh bahwa kau

tentu seorang maling ayam!”

Biarpun merasa marah melihat datangnya orang tinggi besar yang terang-terangan hendak

menghina mereka, akan tetapi mendengar ucapan ini dan melihat sikap yang lucu ini, mereka

terpaksa tersenyum. Si botak marah sekali dan sambil berseru keras ia lalu memukul perut

pemuda muka hitam itu dengan tangan kanannya.

Gerakannya memang cepat sekali oleh karena si botak ini memang sengaja mempelajari

ginkang yang amat berguna bagi pekerjaannya sebagai maling. Ia dapat berlari-lari cepat,

dapat melompat dan berlari-lari di atas genteng dan gerakannya memang luar biasa cepatnya.

Akan tetapi, dalam hal ilmu berkelahi, ia tidak memiliki kepandaian yang tinggi.

Pemuda tinggi besar itu terkejut juga melihat kecepatan gerakan lawannya. Akan tetapi ketika

melihat datangnya pukulan yang tak berapa kuat itu, ia sengaja menerima pukulan itu dengan

perutnya sambil mengerahkan sinkangnya.

“Bukk!” Pukulan itu menghantam perut si pemuda. Akan tetapi yang dipukul tidak apa-apa,

sebaliknya yang memukul terhuyung ke belakang.

Si botak marah sekali dan menyerbu lagi dengan penasaran. Akan tetapi tiba-tiba pemuda

tinggi besar itu lalu mengulurkan tangan kanannya dan karena lengannya jauh lebih panjang,

sebelum si botak dapat memukulnya, ia telah dapat menahan tubuh lawan dengan menangkap

kepala botak itu dengan telapak tangannya yang lebar.

Dengan tangan menahan kepala lawannya yang botak, ia tertawa-tawa sedangkan si botak

berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kepalanya. Kedua tangannya memukul-mukul ke

depan, akan tetapi karena lengannya jauh lebih pendek, pukulannya itu tidak mengenai tubuh

Sambil memperdengarkan suara ketawa geli, pemuda tinggi besar itu lalu menggerakkan

tangan kirinya dan tahu-tahu belakang leher si botak telah ditangkap lalu diangkat. Kini kedua

kaki si botak tak menginjak tanah dan bergerak-gerak dalam usahanya untuk melepaskan diri.

Sungguh pemandangan yang amat lucu, karena si botak itu bagaikan seekor kelinci yang

dipegang pada telinganya. Tak dapat ditahan pula Tin Eng terkekeh-kekeh saking geli hatinya

melihat pemandangan yang lucu ini. Juga Gwat Kong tersenyum karena ia maklum bahwa

betapapun sombongnya, pemuda tinggi besar yang lihai itu tidak berhati kejam.

 99

Buktinya, setelah tertawa bergelak, ia melemparkan tubuh si botak ke depan sehingga maling

ini jatuh bergulingan tanpa menderita luka sedikitpun. Akan tetapi, pelajaran itu sudah cukup

membuat hatinya menjadi gentar dan ia tidak berani maju lagi.

Tentu saja peristiwa ini membuat wajah Lok Ban menjadi pucat karena orang telah

mengalahkan muridnya. Orang telah menghina pestanya, berarti menghina perkumpulan

maling di Ki-ciu dan menghina Lok Ban si Tangan Seribu. Dengan gerakan ringan ia

melompat dan menghadapi pemuda tinggi besar itu sambil berkata,

“Orang gagah dari manakah datang memancing keributan? Aku Jian-jiu Lok Ban si Raja

Maling di Ki-ciu selamanya belum pernah mengganggu orang luar daerahku, mengapa orang

lain tidak memandang mukaku?”

Ucapan ini dikeluarkan oleh Lok Ban bukan dengan maksud menyombongkan diri, akan

tetapi karena ia telah melihat kelihaian orang, maka ia memperkenalkan namanya yang sudah

banyak dikenal oleh semua orang gagah di sekitar dan di daerah Ki-ciu. Akan tetapi ia kecele

kalau menyangka bahwa pemuda itu sudah mengenal nama dan mengubah sikapnya, karena

setelah mendengar ucapannya itu, ia bahkan tertawa geli dan menjawab,

“Eeeh eh, memang aneh-aneh di Ki-ciu ini. Ada raja malingnya segala macam! Jadi kaukah

raja maling di Ki-ciu? Hmmm, kebetulan sekali, aku adalah nenek moyangnya maling, maka

kau seharusnya menyebut kong-couw (kakek buyut) kepadaku!”

Terlalu sekali, pikir Lok Ban dengan marah maka ia lalu berkata, “Baiklah, kau sengaja

mencari keributan. Apa boleh buat! Lihat pukulan!” Ia mulai menyerang dengan gerakan tipu

Pek-wa-hian-to (kera Mempersembahkan Buah Tho). Serangannya selain cepat juga

bertenaga kuat maka pemuda tinggi besar itu tidak berani main-main seperti ketika

menghadapi si botak tadi.

Ia mengelak ke kiri sambil menyampok dengan tangan kanannya. Kemudian dengan

menggeser kakinya merobah bhesi (kuda-kuda) dan membalas dengan serangan yang disebut

Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Meluku Tanah). Serangannya ini dilakukannya dengan tenaga

yang bukan main kuatnya sehingga Gwat Kong diam-diam berkata perlahan kepada Tin Eng,

“Dia seorang ahli gwakang (tenaga kasar)! Lok Ban takkan menang!”

RAMALAN ini ternyata terbukti tak lama kemudian. Biarpun memiliki ilmu kepandaian silat

yang lumayan, akan tetapi ternyata ia kalah tenaga menghadapi pemuda raksasa itu. Tiap kali

pukulannya kena tangkis, tubuhnya sampai terhuyung-huyung ke samping dan ia merasa

lengan tangannya yang tertangkis sakit sekali.

Sebaliknya, tiap kali pemuda itu menghantam, Lok Ban tidak berani menangkis, hanya cepat

mengelak mempergunakan kegesitan dan keringanan tubuhnya. Celaka bagi Lok Ban bahwa

ia tidak dapat menarik keuntungan dari kecepatannya, karena pemuda itupun cukup gesit dan

memiliki ketenangan dan gerakan yang tetap sehingga tidak gugup menghadapi kegesitan Lok

 100

Setelah bertempur dua puluh jurus lebih, akhirnya pundak kanan Lok Ban kena di dorong

sehingga tubuhnya terpental dan kemudian roboh bergulingan menabrak kursi. Juga dalam

serangan ini ternyata bahwa pemuda tinggi besar itu tidak bermaksud kejam sehingga pundak

Lok Ban tidak terluka, hanya agak biru saja karena kerasnya tangan lawan. Lok Ban juga

maklum akan hal ini, maka ia merasa bahwa ia tidak akan menang melawan pemuda itu, lalu

sambil melirik kepada Gwat Kong, raja maling itu berkata,

“Anak muda, kau boleh menghina aku Lok Ban dan kawan-kawanku. Akan tetapi kau

sungguh keterlaluan karena perbuatanmu ini berarti tidak memandang maka kepada Kang-lam

Ciu-hiap!”

Gwat Kong maklum bahwa kini tuan rumah sedang berusaha untuk minta bantuannya.

Sementara itu Tin Eng juga merasa betapa pemuda itu memang agak keterlaluan, maka ia lalu

menggunakan sumpitnya untuk menjepit sepotong daging dan sekali ia menggerakan tangan,

daging itu melesat dengan cepatnya menuju ke arah muka pemuda itu.

“Tamu tak diundang rasakanlah sedikit daging!” seru gadis itu sambil tersenyum, dan kini

sumpitnya telah menjepit sepotong daging pula, siap menyusul serangan pertama kalau gagal.

Pemuda muka hitam itu terkejut melihat menyambarnya benda kecil itu dan maklum bahwa

orang hendak menghinanya, maka ia cepat miringkan kepala sehingga daging yang

dilemparkan oleh Tin Eng itu mengenai tempat kosong. Akan tetapi daging kedua telah

menyambar tepat di tempat pemuda itu membuang mukanya, maka hampir saja ia menjadi

korban sambaran daging. Untung ia masih berlaku cepat dan menundukkan muka.

Akan tetapi kini sambaran ketiga datang menyusul amat cepat. Kali ini yang menyambarnya

adalah sepotong bakso yang bundar bagaikan pelor. Pemuda itu kaget sekali karena tahu-tahu

bakso bundar itu telah mendekati mulutnya dan telah tercium baunya yang sedap. Ia

miringkan kepalanya, akan tetapi kurang cepat sehingga bakso itu masih menghantam daun

telinganya sebelah kanan.

“Kurang ajar!” serunya sambil memandang marah kepada Tin Eng dan Gwat Kong yang

tertawa bergelak, diikuti oleh suara ketawa semua orang yang hadir.

“Bukan salahku!” kata Tin Eng menyindir. “Mengapa telingamu besar amat? Kalau telingamu

tak sebesar itu, tentu takkan kena!”

Pemuda itu menggunakan tangan untuk menyusuti telinganya yang berlumur kuah dan

mendengar ejekan ini mukanya menjadi merah. Memang telinganya besar sekali, ini dapat ia

ketahui apabila ia meraba daun telinganya.

“Jangan berlaku seperti seorang pengecut!” teriaknya sambil membelalakkan matanya yang

“Menyerang orang secara menggelap. Sungguh patut dilakukan oleh seorang maling rendah!

Kalau mempunyai kegagahan majulah, aku tidak takut segala macam Pendekar Arak maupun

setan arak!” Ia sengaja menghina Kang-lam Ciu-hiap (Pendekar Arak Dari Kang-lam) karena

memang ia belum pernah mendengar nama ini.

 101

Gwat Kong merasa suka melihat pemuda itu, karena ia maklum bahwa betapa pun kasarnya

akan tetapi pemuda itu memiliki sifat-sifat baik, yakni jujur dan tidak kejam, juga ilmu

silatnya cukup baik. Setelah mengambil keputusan di dalam hatinya, Gwat Kong lalu berdiri

mendahului Tin Eng karena bila gadis itu yang menghadapi pemuda tinggi besar ini, tentu

keadaan akan menjadi rusak.

Gwat Kong lalu menghampiri pemuda itu lalu menjura, “Enghiong (orang gagah) dari

manakah dan siapa namamu? Kepandaianmu membuat kami merasa kagum!”

Akan tetapi pemuda itu yang masih marah karena telinganya disambar bakso, lalu menjawab

dengan pertanyaan pula sambil memandang tajam. “Apakah kau juga maling?”

“Buka matamu lebar-lebar!” seru seorang yang hadir. “Orang gagah itu adalah Kang-lam Ciuhiap!

Kau berani kurang ajar?”

“Hmm, jadi inikah Kang-lam Ciu-hiap yang disebut raja maling tadi? Tak berapa hebat! Dan

karena berkumpul dengan para maling, tentu Kang-lam Ciu-hiap juga maling!” kata pemuda

tinggi besar itu dengan beraninya.

Gwat Kong tersenyum. “Sesukamulah, boleh kau sebut apa saja. Akan tetapi, siapakah kau

dan mengapa kau datang-datang membikin ribut di sini?”

“Aku adalah seorang laki-laki sejati, bukan maling bukan perampok, tak pernah mengganti

she menyembunyikan nama. Aku datang tak disengaja ke rumah makan ini dan melihat

sekumpulan maling memilih ketua! Maling yang memperlihatkan diri di muka umum, bukan

maling lagi namanya, akan tetapi perampok-perampok jahat dan aku paling benci kepada

segala macam perampok!”

Gwat Kong tersenyum lagi. “Kau benar-benar orang gagah!” Kemudian ia berpaling kepada

semua yang hadir dan berkata, “Cuwi sekalian, kalau pemuda gagah ini menjadi pangcu, akan

bagus sekali.”

“Aku mau kau jadikan raja maling? Jangan menghina, akan kuhancurkan kepalamu!” seru

pemuda itu marah sekali sambil membelalakkan matanya.

“Apa kau berani melawan aku?” tanya Gwat Kong.

“Mengapa aku takut?”

“Bagaimana kalau kau kalah?” tanya pula Gwat Kong dan sengaja memperlihatkan sikap

memandang ringan.

“Ha ha ha! Aku yang kalah terhadap kau yang lemah ini? Kalau aku kalah, aku akan pai-kui

(memberi hormat sambil berlutut) kepadamu delapan kali dan mengangkat kau sebagai guru!”

“Tak usah, tak usah mengangkat guru, hanya satu permintaanku yakni kalau kau kalah dapat

kukalahkan dalam sepuluh jurus kau harus menurut segala perintahku!”

“Sepuluh jurus? Ha ha ha! Baik, baik, kalau aku kalah olehmu dalam sepuluh jurus, kau boleh

memerintahku apa saja, aku akan menurut.”

 102

“Benar-benarkah?” Gwat Kong menegaskan. “Kau takkan melanggar janji?”

Pemuda itu marah sekali. “Ucapan seorang jantan lebih berharga dari pada sepuluh ribu tail

emas!”

Kemudian ia memandang dengan senyum menghina. “Dan bagaimana kalau kau kalah dan

tidak dapat menjatuhkan aku dalam sepuluh jurus?”

“Hmm, sesukamulah, apa yang kau minta?”

“Kalau kau kalah olehku, kau kugantungi papan di dadamu yang bertuliskan bahwa kau

adalah seorang maling besar di Ki-ciu, kemudian kau harus berjalan keliling kota setengah

hari lamanya!”

“Baik, baik!” kata Gwat Kong yang segera melangkah maju mendekati. “Nah, kau jagalah

pukulanku jurus pertama!”

Sambil berkata demikian Gwat Kong menyerang dengan pukulan tangan secara sembarangan

saja. Dengan tangan kanan ia menonjok dada Nyo Leng dengan perlahan sambil berseru,

“Jurus pertama!”

Melihat datangnya jotosan ke arah dadanya itu, Nyo Leng tersenyum mengejek dan tidak

mengelak. Bahkan mengangkat dadanya itu sambil mengerahkan tenaganya. Ia hendak

membuat Gwat Kong terpental seperti si botak ketika memukul perutnya tadi.

Akan tetapi ketika pukulan Gwat Kong yang dilakukan tangan kosong tiba di dadanya, Nyo

Leng berteriak kesakitan dan terhuyung-huyung ke belakang. Akan tetapi ia benar-benar kuat.

Biarpun Gwat Kong tadi telah memukul uratnya, ia tidak sampai roboh dan dapat menahan

rasa sakit pada dadanya lalu melompat sambil berseru marah untuk membalas dengan

serangan pukulan tangannya yang keras itu.

Diam-diam Gwat Kong merasa kagum melihat daya tahan pemuda ini, maka ia lalu

mengelakkan diri dari pukulan lawannya, lalu menyerang lagi sambil berseru,

“Jurus kedua!” Kali ini Gwat Kong menyerang dengan mendorongkan kedua tangannya ke

arah bahu kanan kiri lawannya dengan maksud untuk mendorong jatuh pemuda itu. Nyo Leng

tidak berani berlaku semberono lagi setelah tadi merasa betapa ampuhnya bekas tangan

lawan, maka kini melihat dua tangan Gwat Kong mendorongnya, ia lalu berseru keras dan

tiba-tiba iapun mendorongkan kedua lengannya memapaki lengan Gwat Kong.

Ternyata pemuda kasar itu hendak mengadu tenaga. Sepasang lengannya yang besar dan kuat

itu yang mengandung tenaga gwakang luar biasa besarnya bagaikan tenaga kerbau jantan,

meluncur cepat dan hendak menumbuk dua tangan Gwat Kong yang menyambar ke arah

kedua pundaknya.

Akan tetapi, Gwat Kong yang cerdik tidak mau mengadu tenaga dan begitu kedua tangannya

hampir bertumbukkan dengan kedua tangan lawan, ia lalu gerakan kedua tangan ke samping

 103

dan ketika lengan lawan meluncur lewat, secepat kilat ia memegang pergelangan tangan

lawan dan sambil memiringkan tubuh ia menarik lengan Nyo Leng itu ke depan.

Tenaga dorongan Nyo Leng sudah besar bukan main, kini ditambah oleh tarikan Gwat Kong,

maka tidak dapat tertahan lagi, tubuh Nyo Leng terdorong ke depan dengan kerasnya

sehingga kalau saja ia tidak memiliki kecepatan dan berjungkir balik dengan tangan menepuk

lantai sedangkan kaki dilempar ke atas lalu membuat pok-sai (salto), tentu mukanya akan

beradu dengan tanah. Gerakan ini membuat kagum semua orang, karena sekali lagi Nyo Leng

memperlihatkan kekuatan dan kegesitannya.

Akan tetapi baru menghadapi dua jurus serangan Gwat Kong saja ia sudah hampir mendapat

kekalahan, maka kini Nyo Leng berlaku hati-hati sekali. Ia tidak mau mengadu tenaga dan

kini mulai bersilat dengan teratur dan tenang. Dengan baiknya ia dapat menjaga diri tanpa

mau membalas oleh karena ia maklum bahwa Kang-lam Ciu-hiap ini ternyata benar-benar

lihai bukan main, sehingga ia harus mencurahkan seluruh perhatian, tenaga dan

kepandaiannya untuk menjaga diri agar jangan sampai dapat dikalahkan dalam sepuluh jurus!

Benar saja, ia telah berhasl menghindarkan serangan-serangan Gwat Kong sampai jurus ke

tujuh. Akan tetapi tiba-tiba Gwat Kong mempergunakan ginkangnya yang tinggi sekali

sehingga Nyo Leng kehilangan lawannya! Selagi ia merasa bingung terdengar suara Gwat

Kong membentak,

“Jurus ke delapan!” Dan sebelum Nyo Leng dapat menjaga diri, jalan darahnya bagian Thianhi-

hiat telah kena ditotok oleh jari tangan Gwat Kong sehingga tiba-tiba ia merasa betapa

seluruh tubuhnya menjadi lemas. Akan tetapi Nyo Leng adalah seorang yang memiliki

kemauan dan semangat baja, sehingga biarpun seluruh tubuhnya lemas sekali, ia masih dapat

mempertahankan diri sehingga tidak roboh.

Gwat Kong merasa heran sekali dan menyangka bahwa totokannya tidak mengenai dengan

tepat, maka ia berseru,

“Jurus ke sembilan! Akan tetapi ia tidak jadi menyerang karena melihat lawannya sama sekali

tidak bergerak dan ketika ia mendorong perlahan kepada pundak Nyo Leng dan memulihkan

jalan darahnya. Pemuda itu lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

“Kang-lam Ciu-hiap benar-benar lihai dan hebat! Teecu (murid) Nyo Leng menerima kalah!”

Dengan girang Gwat Kong mengangkat bangun pemuda itu dan mengajaknya duduk bersama

di mejanya. Kemudian ia minta pemuda itu menuturkan riwayatnya.

Ternyata bahwa Nyo Leng adalah seorang yatim piatu yang semenjak kecil suka sekali

mempelajari ilmu silat. Akan tetapi ia paling suka mengadu kepandaiannya dengan orangorang

lain yang didengarnya memiliki kepandaian tinggi sehingga kepandaiannya makin

meningkat. Karena tiap kali kalah, ia lalu mengangkat guru kepada orang yang

Biarpun ia kasar dan tidak cerdik, akan tetapi berkat sukanya belajar silat, ia memiliki

kepandaian yang lumayan juga. Ia merantau ke sana ke mari tanpa tempat tujuan tertentu dan

biarpun ia bodoh, akan tetapi ia amat jujur dan membenci kejahatan.

 104

Mendengar riwayat pemuda ini, Gwat Kong lalu berkata, “Saudara Nyo, mulai sekarang kau

harus tinggal di Ki-ciu dan memimpin saudara-saudara ini!”

No Leng berdiri dan memandang kaget, “Apa? Benar-benar aku harus menjadi raja maling?

Ah, bagaimana aku bisa menjadi orang jahat?”

“Kau salah saudara Nyo. Kau bukan menjadi orang jahat, akan tetapi dengan adanya kau yang

mengawasi semua saudara ini, kau akan mencegah terjadinya kejahatan. Kau harus melarang

semua perbuatan sewenang-wenang dan harus mengadakan peraturan bagi semua anggauta.

Biarpun menjadi maling harus memakai aturan dan melihat siapa orangnya yang diganggu.

Para dermawan yang suka menolong orang, orang-orang kang-ouw yang kebetulan lewat di

kota ini, orang-orang miskin, pembesar-pembesar yang bijaksana dan adil, mereka ini tidak

seharusnya diganggu. Hartawan-hartawan kikir dan pembesar-pembesar kejam boleh diambil

hartanya.”

Nyo Leng memandang dengan wajah berseri. “Benar juga! Kalau aku dapat mengatur

sehingga maling-maling ini tidak berbuat sewenang-wenang, berarti aku telah menghalangi

kejahatan. Boleh-boleh! Aku terima jabatan ini sekarang juga!”

Gwat Kong lalu berkata kepada Lok Ban. “Saudara Lok, kau dan kawan-kawanmu tadi minta

kepadaku utk menjadi pangcu. Hal ini tak dapat kuterima oleh karena aku tak dapat tinggal di

tempat ini dan apakah artinya seorang pemimpin yang tidak berada di sini dan tidak

memimpin dengan langsung? Kalian telah melihat kepandaian saudara Nyo Leng ini yang

ternyata lebih tinggi dari pada kepandaian kalian. Maka sekarang jabatan yang tadi kalian

tawarkan kepadaku kuserahkan kepada saudara Nyo Leng ini. Harap kalian tidak menolak.”

Lok Ban dan kawan-kawannya menyatakan persetujuannya, oleh karena mereka maklum

bahwa pemuda muka hitam itu memang lebih lihai dari pada mereka. Dan juga bahwa

pemuda itu mempunyai hati yang baik, jujur dan tidak kejam. Maka, dengan gembira mereka

lalu merayakan pengangkatan ini dengan hidangan-hidangan baru.

Semenjak terjadinya pertempuran tadi, para tamu restauran ini telah pergi jauh-jauh karena

kuatir kalau-kalau terbawa-bawa sehingga keadaan di situ menjadi sunyi. Pesta berjalan

sampai jauh malam dan akhirnya Gwat Kong dan Tin Eng mengundurkan diri dan kembali ke

****

Atas permintaan Tin Eng, Gwat Kong mengawani gadis itu menuju ke kota Hun-lam.

“Di sana aku mempunyai seorang paman, yakni kakak dari ibuku,” kata gadis itu. “Aku

pernah pergi ke sana bersama ibu ketika masih kecil dan kalau tidak salah, pamanku seorang

hartawan besar yang baik hati.”

Perjalanan dilakukan tanpa tergesa-gesa dan di sepanjang jalan, Tin Eng mendapat petunjukpetunjuk

dari Gwat Kong dan kadang-kadang mereka berhenti untuk berlatih dalam ilmu silat

tangan kosong dan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat. Tin Eng pernah mempelajari ilmu pedang

ini dengan amat tekun dan rajinnya dan walaupun yang dipelajarinya hanyalah salinan yang

kurang sempurna, akan tetapi pengetahuannya cukup untuk dijadikan dasar.

 105

Maka kini setelah mendapat petunjuk dan latihan-latihan dari Gwat Kong, ia mulai dapat

merobah permainannya dengan ilmu yang asli, sehingga ia memperoleh kemajuan yang pesat

sekali. Juga dalam hal ilmu lweekang, ia mendapat petunjuk-petunjuk menurut pelajaran

dalam kitab aslinya.

Hubungan mereka makin erat dan kini mereka bukan bersikap sebagai dua orang sahabat

karib. Biarpun dari mulut mereka tak pernah mengeluarkan ucapan yang menyatakan betapa

perasaan hati mereka, akan tetapi pandangan mata mereka telah mewakili hati masing-masing.

Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di kota Hun-lam. Kota ini cukup besar dan ramai,

dan karena iklimnya sedang, maka banyak pengunjung dari luar kota datang bertamasya ke

Terutama sekali di sebelah barat kota terdapat sebuah telaga yang indah, yakni telaga Oei-hu

di mana banyak pelancong menghibur diri di atas perahu.

Sungguhpun Tin Eng telah lupa lagi di mana letak rumah pamannya. Bahkan telah lupa lagi

akan wajah orang tua itu, karena dulu ketika mengunjungi tempat ini ia baru berusia lima

tahun. Akan tetapi karena ia mengerti nama pamannya, mudah saja mereka mencari gedung

dari Lie Kun Cwan atau Lie-wangwe (hartawan Lie) oleh karena Lie-wangwe adalah

hartawan yang paling ternama di kota itu. Bukan hanya kekayaannya, akan tetapi karena ia

terkenal sebagai seorang dermawan.

Ketika Tin Eng bersama Gwat Kong diterima oleh Lie-wangwe, Tin Eng sama sekali

pangling melihat pamannya itu. Sebaliknya Lie Kun Cwan juga memandang heran karena ia

tidak pernah bertemu dengan gadis cantik dan pemuda yang gagah itu. Memang ada

persamaan antara mata orang tua itu dengan ibunya, demikian Tin Eng berpikir dengan

terharu karena ia melihat betapa wajah pamannya ini nampak seakan-akan ia sedang berada

dalam kedukaan besar.

Dengan ramah tamah Lie-wangwe mempersilahkan kedua tamunya yang muda itu mengambil

tempat duduk, kemudian dengan tenang ia berkata,

“Ji-wi (kalian berdua) ini siapakah dan keperluan apakah yang ji-wi bawa?”

“Peh-peh, apakah benar-benar aku berhadapan dengan Lie peh-peh (uwa Lie)?” tanya Tin Eng

sambil berdiri.

“Aku benar bernama Lie Kun Cwan, akan tetapi, …. siapakah nona?”

Sementara Tin Eng lalu menjura, “Ah, Lie peh-peh! Lupakah kau kepada Tin Eng?”

Untuk sejenak Lie-wangwe yang juga bangkit berdiri itu memandang dengan heran,

kemudian ia berseru,

“Apa…?? Kau … Tin Eng anak Liok Ong Gun …?”

“Benar, peh-peh dan apakah selama ini peh-peh dan peh-bo baik-baik saja?”

 106

Mendengar pertanyaan ini tiba-tiba air mata menitik turun dari kedua mata orang tua itu. Tin

Eng terkejut dan segera bertanya,

“Ada apakah, pek-hu? Apakah yang terjadi?” tanyanya kuatir.

“Peh-bomu …. telah meninggal dunia tiga bulan yang lalu …”

“Ah …” Tin Eng mengeluh dengan hati terharu. Lalu keponakan dan paman ini saling tubruk

di antara hujan air mata. “Bagaimana peh-bo bisa meninggal dunia, peh-peh …?” tanya Tin

Eng di antara tangisnya.

“Dia menderita sakit jantung … tak dapat diobati lagi …” Orang tua ini menarik napas

panjang. Lalu berkata sambil mengelus-elus rambut Tin Eng. “Akan tetapi semua itu telah

menjadi takdir Thian Yang Maha Kuasa …. harta benda tak dapat menghibur hati orang yang

berduka. Tak dapat menahan nyawa yang telah dipanggil oleh Thian! Sudahlah, keringkan air

matamu, Tin Eng. Tangismu hanya membuat aku merasa pilu.”

Tin Eng lalu duduk kembali di kursinya dan mengeringkan air matanya dengan sapu

“Nah, sekarang ceritakanlah keadaanmu, nak. Kau datang dari mana dan mengapa seorang

diri saja? Dan kawanmu ini siapakah? Apakah ayah-ibumu baik-baik saja?

Baru saja Tin Eng mengeringkan airmatanya, akan tetapi kini mendengar pertanyaan ini, ia

menangis lagi. Tangisnya bahkan lebih sedih lagi sehingga tubuhnya terisak-isak dan ia

menggunakan sapu tangan untuk menutupi mukanya. Gwat Kong menggeleng kepalanya dan

menghela napas. Ia merasa ‘bohwat’ (kehabisan akal) menyaksikan pertunjukkan tangis

menangis ini.

Kini Lie-wangwe yang nampak terkejut dan segera bertanya mengapa keponakannya itu

menangis sedemikian sedihnya. Dengan terisak-isak Tin Eng menceritakan kepada pamannya

betapa ia hendak dipaksa menikah oleh orang tuanya dan karena ia tidak suka, maka ia lalu

melarikan diri.

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hmm, tidak seharusnya kau membikin susah

hati orang tuamu, Tin Eng. Seorang anak wajib menurut sebagai seorang anak berbakti

terhadap orang tuanya.”

“Akan tetapi, pek-hu, kalau hendak dijodohkan dengan seorang yang tak ku suka, apakah aku

harus menurut saja?” tanya Tin Eng penasaran dan pamannya tersenyum.

“Aah, beginilah kalau anak perempuan pandai ilmu silat. Kabarnya kau memiliki ilmu silat

yang tinggi sekali, melebihi ayahmu! Benarkah?”

Tin Eng diam saja dan menundukkan kepalanya.

“Sudahlah, jangan kau berduka. Urusan ini akan kucoba damaikan dengan orang tuamu. Kau

tinggallah di sini untuk sementara waktu. Hitung-hitung menghibur hati pamanmu. Hidupku

sunyi sekali semenjak bibimu meninggal. Aku seorang bernasib malang, tidak mempunyai

anak, dan isteri meninggal dunia dalam usia belum tua, Aaah … biarlah kau menjadi seperti

 107

anakku sendiri, Tin Eng. Aku akan menulis surat kepada ayah-ibumu minta agar mereka tidak

terlalu memaksa.”

“Terima kasih, pek-hu.”

“O, ya! Kau belum ceritakan, siapakah orang muda ini?” tanyanya. Dan Gwat Kong menarik

napas lega, karena tadinya ia kuatir kalau-kalau kedua orang itu telah melupakan sama sekali

bahwa ia berada pula di tempat itu.

“Dia adalah Bun Gwat Kong, seorang pendekar yang diberi julukan Kang-lam Ciu-hiap!” kata

Tin Eng yang lalu menceritakan bahwa ketika ia mendapat halangan di tengah perjalanan dan

hampir mendapat celaka di tangan Ngo-heng-kun Ngo-hiap. Ia mendapat pertolongan dari

pemuda ini yang bahkan mengantarkan sampai di Hun-lam. Tentu saja Tin Eng tidak

menceritakan bahwa pemuda itu bukan lain ialah bekas pelayan ayahnya sendiri!

Mendengar bahwa pemuda itu berjuluk Ciu-hiap atau Pendekar Arak, Lie Kun Cwan menjadi

girang sekali dan segera berkata,

“Aah, tidak tahunya kau seorang pendekar muda yang gagah berani! Ciu-hiap, melihat nama

julukanmu, kau tentu suka sekali minum arak. Dalam hal ini kita mempunyai kesukaan yang

sama!” Hartawan itu tertawa bergelak lalu memberi perintah kepada seorang pelayan untuk

segera mengeluarkan araknya yang terbaik.

“Marilah kita minum arak, hendak kusaksikan sampai di mana kekuatanmu minum!”

Kemudian ia memanggil seorang pelayan wanita dan memberi perintah untuk membereskan

sebuah kamar besar untuk Tin Eng.

“Tin Eng kau membereslah sendiri kamar menurut sesuka hatimu. Segala kekurangan boleh

kau minta kepada pelayan itu. He, A-sui! Kau layani nonamu baik-baik!”

Melihat sikap yang manis dan kebebasan pamannya ini, Tin Eng merasa girang sekali dan

segera ia meninggalkan ruangan itu bersama pelayan muda yang membawanya ke ruang

dalam. Sementara itu, dengan girang dan sebagian besar kedukaannya terlupa, Lie-wangwe

lalu mengajak Gwat Kong minum arak. Ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benarbenar

kuat sekali minum araknya yang wangi, Lie-wangwe merasa gembira sekali. Ia sendiri

adalah seorang ‘setan arak’ akan tetapi sekarang ia menemukan tandingan.

Tak lama kemudian Tin Eng muncul lagi dan ternyata gadis itu telah berganti pakaian yang

lebih longgar dan rambutnya telah di sisir rapi. Mukanya nampak segar karena gadis ini telah

mandi dan tukar pakaian. Sungguhpun sepatunya masih sepatu kulit yang tadi ia pakai, yakni

sepatu yang kuat dan yang biasa dipakai oleh ahli-ahli silat.

“Ha ha, Tin Eng! Kawanmu ini benar-benar Pendekar Arak! Hebat sekali. Lihat, ia telah

menghabiskan lima cawan arak wangi yang keras. Akan tetapi mukanya sama sekali tidak

berobah. Padahal aku telah merasa betapa pelupuk mataku berdenyut-denyut tanda bahwa

hawa arak mulai naik. Ha ha ha! Kalian menggirang hatiku. Kedatangan kalian benar-benar

menggembirakan hatiku.”

 108

Gwat Kong melirik ke arah Tin Eng dan dengan matanya gadis itu memberi tanda bahwa ia

merasa berterima kasih kepada pemuda itu yang telah menyenangkan hati pamannya yang

sedang berduka.

Pada saat itu, dari luar terdengar suara keras,

“Lie-wangwe! Sumbanganmu untuk bulan ini lagi-lagi terlambat! Kau harus didenda dengan

tiga cawan arak wangi dan uang tambahan istimewa sepuluh bagian!”

Mendengar suara ini, Lie Kun Cwan mengerutkan keningnya, “Aah, celaka! Sedang senangsenangnya,

datang lagi buaya darat yang menjemukan!”

Akan tetapi ia segera memanggil pelayannya dan berkata, “Sediakan uang lima puluh tail

perak dan tambahan lima tail lagi dan ambil cawan kosong.”

Pada saat itu, seorang laki-laki baju hitam yang bertubuh tinggi besar melangkah masuk

dengan tindakan kaki lebar, diiringkan oleh seorang pelayan yang kelihatan takut. Orang itu

selain tinggi besar, juga wajahnya menunjukkan bahwa ia adalah bangsa orang kasar yang

hidup di kalangan liok-lim, dengan matanya yang lebar dan alisnya yang tebal serta brewokan

yang kaku.

Di pinggangnya tergantung sebatang pedang, membuat ia nampak gagah sekali. Di lihat dari

ikat kepalanya, bajunya yang hitam dan celananya yang putih sampai ke sepatunya yang

mengkilap, ia adalah seorang yang mewah, karena semua pakaiannya terbuat dari pada bahan

kain yang mahal.

Melihat kedatangan orang ini, Lie-wangwe dengan cepat segera berdiri dan menjura,

“Ah, ji-kauwsu, silahkan duduk! Kebetulan sekali kami sedang minum arak, mari aku akan

membayar denda itu dengan pernyataan maaf akan kelambatanku.”

Orang tinggi besar itu, yang disebut ji-kauwsu (guru silat kedua) itu mempergunakan

sepasang matanya yang besar untuk memandang ke arah Gwat Kong dengan penasaran dan

tak puas karena melihat pemuda yang tak dikenal ini sama sekali tidak mau berdiri

menyambutnya dan memberi hormat kepadanya. Ia hendak menegur, akan tetapi pada saat itu

ia dapat melihat Tin Eng yang sedang berdiri menyadar tiang. Kemarahannya lenyap, terganti

oleh senyum menyeringai yang dimaksudkan untuk memperindah mukanya yang tak sedap

dipandang, sehingga mukanya nampak makin menjemukan.

Bagitu melihat orang ini, baik Tin Eng maupun Gwat Kong merasa tak suka dan jemu. Akan

tetapi oleh karena mereka belum tahu apa hubungan orang ini dengan Lie-wangwe, maka

mereka diam saja sambil memandang saja.

Sementara itu, ketika melihat Tin Eng yang cantik molek berada di situ, si baju hitam yang

tinggi besar lalu tertawa bergelak,

“Lie-wangwe, tidak tahunya kau sedang menjamu dua orang tamu. Ha ha, tentu saja aku tidak

menolak tawaran arak wangi. Harap kau perkenalkan aku kepada dua orang tamumu ini, Liewangwe!”

 109

Sambil berkata demikian, ia menjura kepada Tin Eng yang sama sekali tidak dibalas oleh

gadis itu yang hanya tersenyum mengejek.

“Duduklah, ji-kauwsu!” kata Lie Kun Cwan membujuk karena ia merasa tidak enak melihat

sikap orang itu. “Dan marilah minum arak ini. Dia adalah seorang keponakanku, bukan tamu

dan pemuda inilah yang menjadi tamuku.”

Akan tetapi orang tinggi besar itu nampak mendongkol sekali. “Aku tidak biasa duduk

seorang diri sedangkanan orang lain hanya berdiri menonton saja. Lie-wangwe, apakah aku

Hun-lam Ji-kauwsu Touw Tek (Touw Tek si Jago Silat Nomor Dua di Hun-lam) terlampau

rendah untuk duduk minum arak semeja dengan keponakanmu?”

“Ah, tidak, tidak! Bukan demikian, ji-kauwsu, hanya karena keponakanku itu tidak biasa

minum arak. Tin Eng … kau masuklah saja …” Lie-wangwe nampak gelisah sekali.

Hal ini membuat Gwat Kong merasa mendongkol bukan main. Ia memberi isyarat dengan

mata kepada Tin Eng yang sudah merasa ‘gatal-gatal’ tangannya menyaksikan lagak orang

tinggi besar itu.

“Lie-lopeh.” Katanya dan ikut-ikutan menyebut lopeh (uwa) kepada hartawan itu.

“Sebetulnmya apakah kehendak ji-kauwsu ini datang ke rumahmu?”

“Ji-kauwsu ini datang hendak menerima sumbangan bulanan yang harus kuserahkan untuk

biaya penjagaan kota,” jawab Lie-wangwe. “Twa-kauwsu (guru silat pertama) Touw Cit dan

ji-kauwsu ini adalah dua orang saudara yang menjaga keamanan kota Hun-lam. Aku

diwajibkan membayar sumbangan lima puluh tail perak sebulan.”

“Kalau kami tidak menjaga dan ada perampok datang, tidak hanya semua uang dan harta

benda akan lenyap, bahkan nyawapun belum tentu akan dapat diselamatkan!” kata Touw Tek

yang tinggi besar itu sambil membusungkan dada.

GWAT Kong mengangguk-angguk dan berkata dengan suara nyaring dan mengejek. “Orang

yang menjual kepandaian dapat disebut pengemis, hal itu masih tidak apa. Akan tetapi kalau

kepandaian digunakan untuk memeras dan berlagak, maka ini sudah keterlaluan sekali!”.

Sambil berkata demikian, Gwat Kong minum arak dari cawannya.

Lie-wangwe menjadi pucat mendengar ini. Sedangkan Touw tek memandang kepada Gwat

Kong dengan mata terbelalak karena heran. Bagaimana pemuda ini berani mengucapkan katakata

demikian terhadap dia? Keheranan lebih besar dari pada kemarahannya, maka ia lalu

bertanya,

“Eh eh, apa maksudmu, bocah lancang?”

Gwat Kong menunda cawannya yang masih dipegangnya, lalu berkata,

“Maksudku bahwa orang yang berlagak seperti kau ini tak mungkin dapat menjaga keamanan,

hanya pandai memeras uang orang belaka!”

 110

“Tikus kecil!” Touw Tek memaki marah. “Siapa berani mengacau di Hun-lam? Coba hendak

kulihat, siapa berani?”

“Tikus besar!” Gwat Kong balas memaki. “Sekarang juga kau telah mengacau, hendak kulihat

kau mampu berbuat apa?”

Setelah berkata demikian, dengan tenang, Gwat Kong lalu minum habis arak di cawannya,

seakan-akan tak memandang sebelah mata kepada orang tinggi besar itu.

“Bun-hiante …. jangan cari perkara …” Lie-wangwe berseru kuatir. Akan tetapi Tin Eng yang

masih berdiri menyandar di tiang, berkata, “Peh-peh, jangan kuatir, tikus besar ini memang

perlu diberi sedikit hajaran!”

Sementara itu Touw Tek menjadi marah sekali. Dengan gerakan yang galak, ia mencabut

goloknya. Tubuh Lie-wangwe menjadi menggigil ketika ia melihat golok yang berkilau

saking tajamnya itu digerak-gerakkan di tangan Touw Tek.

“Ji-kauwsu … ji-kauwsu … mohon kau sudi memaafkan tamuku ini. Aku akan memberi

seratus tail perak kepadamu, maafkanlah kami …”

Akan tetapi Gwat Kong telah bangkit dari tempat duduknya dan berkata, “Lie-lopeh,

tenanglah dan biarkan aku menghadapi bajingan ini.”

Lie-wangwe menduga bahwa Gwat Kong telah menjadi mabuk, maka ia hendak mencegah,

kuatir kalau-kalau pemuda ini akan disembelih oleh Touw Tek di dalam rumahnya. Akan

tetapi kembali Tin Eng berkata,

“Peh-peh, biarkanlah Gwat Kong menghadapi tikus besar itu. Jangan kuatir, peh-peh!”

Terpaksa Lie Kun Cwan berdiri memandang dengan wajah membayangkan kegelisahan besar.

Sementara itu, Gwat Kong lalu melangkah maju dengan tenang menghadapi Ji-kauwsu Touw

Tek yang memperlihatkan muka mengancam.

“Golokmu yang tumpul itu hanya cukup baik untuk menakuti anak kecil belaka, apa sih

bagusnya? Membeli setail saja aku tak sudi, untuk apa kau perlihatkan kepadaku?”

“Bangsat kecil, lekas kau keluarkan senjatamu, kalau kau berkepandaian!” bentak Touw Tek

yang hampir tak dapat menahan marahnya lagi.

“Bangsat besar, menghadapi golok tumpul itu tak perlu aku bersenjata!”

“Kau cari mampus!” Touw Tek berseru lalu menyerang dengan goloknya. Gerakannya

dahsyat, ganas dan cepat. Goloknya diputar di atas kepala, kemudian ia membacok dengan

tipu Hong-sauw-pai-yap (Angin Menyapu Daun Rontok).

“Ha ha ha, gerakanmu ini hanya cukup baik untuk menyembeli babi!” Gwat Kong mengejek

sambil melompat ke pinggir mengelak dengan cepat sekali. Melihat bacokannya tak berhasil,

Touw Tek berseru marah dan menyerang lagi lebih hebat. Kini dengan gerak tipu Pek-miauwpo-

ci (Kucing Putih Terkam Tikus) yang dilakukan dengan nafsu membunuh bernyala-nyala

keluar dari matanya.

 111

Kembali Gwat Kong mengelak cepat sambil tersenyum-senyum. Sementara itu Tin Eng

menonton pertempuran itu sambil berdiri bersandarkan tiang dan iapun tersenyum melihat

betapa Gwat Kong mempermainkan orang kasar dan sombong itu. Sedangkan Lie-wangwe

berdiri dengan kaki terpentang dan muka dikerutkan tanda amat gelisah dan khawatir hatinya.

Ia tidak mengerti ilmu silat dan melihat serangan golok yang berkelebat cepat menyilaukan

mata itu, berkali-kali ia menutup matanya agar jangan melihat betapa tubuh pemuda itu akan

terbabat putus menjadi beberapa potong.

Akan tetapi, ketika ia membuka matanya kembali, Gwat Kong masih hidup, bahkan kini

berlompat-lompatan ke sana ke mari di sekeliling tubuh Touw Tek. Mempermainkan

bagaikan seekor tikus yang gesit sekali sedang mempermainkan seekor kucing tua yang

lambat dan ompong.

“Kau mau uang? Lima puluh tail perak? Seratus?” Gwat Kong mengejek sambil mengelak

cepat dari sebuah sabetan golok. “Nah, ini terimalah lima puluh tail!” Tangan kanannya

menyambar dan “Plok” pipi kiri Touw Tek telah kena ditamparnya.

Touw Tek merasa betapa pipinya panas dan pedas sedangkan mulutnya merasa asin tanda

bahwa lidahnya merasai darah yang keluar dari bibirnya yang pecah. Bukan main marahnya

dan sambil berseru keras ia menyerang dengan goloknya makin cepat. Ingin sekali ia

membacok tubuh lawannya ini sampai hancur seperti bakso.

“Masih kurang?” kembali Gwat Kong mengejek. “Mau lagi? Nah, ini lima puluh tail perak

lagi!” Kakinya menyambar cepat bagaikan sambaran kilat dan “buk” dada Touw Tek kena

tendang sehingga tubuhnya yang tinggi besar itu terhuyung-huyung ke belakang. Ia merasa

dadanya sakit sekali akan tetapi Gwat Kong memang tidak ingin mencelakakannya sehingga

tendangannya itu tidak mendatangkan luka berat.

Dasar Touw Tek berwatak sombong dan jumawa sekali, maka tendangan dan tamparan tadi

yang sebetulnya harus memperingatkan dia, bahwa lawannya tidak bermaksud kejam. Bahkan

diterimanya salah dan dianggapnya bahwa betapapun juga, lawannya itu tidak memiliki

tenaga yang cukup besar. Ia pikir bahwa biarpun ia terkena pukul berkali-kali kalau tenaga

lawannya hanya sedemikian saja, ia takkan roboh dan sekali saja ia berhasil membalas, akan

mampuslah lawan ini. Maka ia tidak mundur, bahkan lalu mendesak maju dengan seranganserangan

Melihat kebandelan ji-kauwsu Touw Tek ini, Gwat Kong menjadi sebal dan penasaran juga.

“Ah, bosan aku melayani kau bertempur, kau tak pernah dapat melakukan serangan cukup

baik!” katanya dan tiba-tiba pemuda itu melompat ke arah meja di mana tadi ia duduk dan

menyambar cawan arak yang terus diminumnya. Sama sekali ia tidak memperdulikan Touw

Tek lagi, seakan-akan menganggap lawan itu bukan apa-apa.

Hinaan ini membuat darah Touw Tek bergolak.

“Keparat!” teriaknya dengan mata merah. “Kalau hari ini aku tak dapat membunuhmu, jangan

sebut aku Hun-lam Ji-kauwsu lagi!”

 112

Akan tetapi dari samping berkelebat bayangan yang cepat dan tahu-tahu gadis cantik molek

yang hendak diganggunya telah berdiri di depannya sambil tersenyum manis.

“Tikus besar!” kata Tin Eng sambil memainkan senyum dan lirikannya. “Bagaimana kau

dapat melawan Kang-lam Ciu-hiap? Kalau kau bisa mengalahkan aku, kau baru patut disebut

Tikus Kedua! Mana kau patut disebut Guru Silat?”

Touw Tek tertegun. Apakah gadis inipun pandai ilmu silat? Ia ragu-ragu, karena biarpun

mengerti ilmu silat, tak mungkin gadis cantik jelita yang pinggang ramping ini memiliki

kepandaian tinggi.

“Nona, kau minggirlah dan biarkan aku membunuh bangsat itu!”

“Minggir? Kau cobalah membuat aku minggir!” Tin Eng menantang.

“Lie-wangwe!” Touw Tek berseru marah kepada hartawan itu. “Jangan kau persalahkan aku

apabila aku terpaksa memberi hajaran kepada keponakanmu ini!”

“Tin Eng, jangan ….!” Lie-wangwe mencegah.

Akan tetapi Tin Eng telah maju menyerang dengan tangan kosong. Touw Tek tadinya

memandang rendah dan pukulan tangan kanan Tin Eng itu disambutnya dengan cengkeraman

tangan kiri. Maksudnya ia hendak tangkap tangan itu dan dengan begitu membuat dara itu tak

Tak disangkanya, ketika tangannya bergerak hendak menangkap pergelangan tangan Tin Eng,

gadis itu menarik kembali pukulan tangan kanannya dan tangan kirinya bergerak cepat ke

arah kepala Touw Tek dan tahu-tahu ikat kepala si tinggi besar itu telah berada di tangan Tin

Touw Tek menjadi marah sekali, dan dengan rambut awut-awutan ia segera menyerang

dengan goloknya, membabat pinggang Tin Eng. Gadis itu tertawa mengejek dan melompat

mundur untuk menghindarkan diri dari pada babatan golok. Kemudian tubuhnya menyambar

dan membalas dengan serangan-serangan kilat. Ia menggunakan ikat kepala yang

dirampasnya tadi untuk menyerang dan “Plak!” muka Touw Tek telah kena ditampar dengan

keras oleh ikat kepalanya sendiri. Tamparan menggunakan ujung ikat kepala ini rasanya lebih

pedas dari pada tamparan Gwat Kong tadi sehingga Touw Tek merasa betapa matanya

Sebelum ia dapat membalas, ia mendengar suara ketawa dan tahu-tahu kaki gadis itu

melayang dan menendang pergelangan tangan kanannya yang memegang golok. Terdengar

bunyi “keekk!!” dan Touw Tek menjerit kesakitan, goloknya terlepas dari pegangan.

“Bangsat sombong, kau pergilah!” seru Tin Eng. “Dan lain kali jangan kau berani menginjak

lantai rumah pamanku!”

Dengan muka merah dan mulut meringis-ringis kesakitan. Touw Tek lalu menjumput

goloknya dan pergi dari situ setelah melayangkan pandang mata sekali lagi ke arah Gwat

Kong dan Tin Eng.

 113

Lie-wangwe merasa terheran-heran sehingga ia berdiri bengong tak dapat mengeluarkan katakata

melihat kelihaian keponakannya. Setelah penjahat itu pergi, barulah ia dapat menarik

napas panjang, sedangkan banyak pelayan yang tadi menonton pertempuran itu kini berdiri

dekat pintu, memandang dengan penuh kekaguman. Lie-wangwe memberi isyarat dengan

tangan sehingga semua pelayannya mengundurkan diri.

“Tin Eng, tak kusangka bahwa kaupun selihai itu! Ciu-hiap ini dan kau telah dapat

mempermainkan ji-kauwsu dengan tangan kosong. Sungguh takkan dapat kupercaya kalau

aku tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Seharusnya aku berterima kasih dan

merasa girang sekali karena kalian telah memberi hajaran kepada bangsat itu dan memang aku

merasa girang ….. Akan tetapi, disamping kegirangan ini, akupun merasa amat khawatir, Tin

Eng.”

“Jangan khawatir, pek-hu! Bangsat-bangsat kecil macam dia itu kalau berani datang lagi, akan

aku putar batang lehernya seorang demi seorang!” kata Tin Eng dengan gagahnya.

“Memang mudah bagimu, karena kau memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi bagaimana

kalau kau sudah tidak berada di sini lagi? Bagaimana aku harus membela diri kalau kalian

tidak ada dan bangsat-bangsat itu datang mengganggu? Ahh, kalian tidak tahu siapa ji-kauwsu

dan terutama kakaknya toa-kauwsu itu …”

“Sebetulnya mereka itu siapakah dan apa artinya uang sumbangan itu, Lie-lopeh?” tanya

Gwat Kong.

Juga Tin Eng ingin sekali mengetahui hal itu dan gadis ini lalu duduk di dekat mereka.

Setelah menuangkan arak dan minum secawan, Lie Kun Cwan lalu menceritakan keadaan di

kota Hun-lam dan tentang pemerasan yang dilakukan oleh bangsat-bangsat itu.

Ternyata bahwa pada beberapa bulan yang lalu, di kota Hun-lam itu tiba-tiba timbul gangguan

orang-orang jahat yang melakukan penggedoran, pencurian, dan perampokan di dalam dan di

sekitar kota Hun-lam. Pembesar yang berkuasa di Hun-lam, tak berdaya oleh karena biarpun

ia telah mengerahkan pasukan untuk menindas gangguan ini namun para penjahat itu ternyata

memiliki ilmu silat tinggi dan tidak mudah dikalahkan atau ditangkap.

Selagi orang-orang penduduk Hun-lam merasa gelisah dan ketakutan, tiba-tiba muncul dua

saudara Touw itu, yakni Touw Cit dan Touw Tek yang segera membuka perguruan silat di

kota itu dan kedua saudara ini datang menghadap kepada pembesar untuk menawarkan

bantuannya. Akan tetapi bantuan yang ditawarkan oleh mereka itu istimewa sifatnya, yakni

bukan bantuan tenaga dan kepandaian untuk mengusir para penjahat yang mengganggu, akan

tetapi untuk memberi ‘suapan’ kepada mereka.

Touw Cit dan Touw Tek mengusulkan agar supaya para hartawan dan orang berpangkat di

kota Hun-lam mengumpulkan sumbangan uang yang diberikan kepada ‘kepala penjahat’

dengan perantaraan mereka berdua. Dan ternyata hal ini mendapat persetujuan semua

hartawan, karena dari pada didatangi orang-orang jahat itu, tentu saja lebih baik

mengeluarkan uang puluhan atau bahkan ratusan tail sekali gus dan aman.

Usaha dua orang saudara Touw ini rupanya berhasil baik. Oleh karena setelah uang

dikumpulkan, benar saja penjahat itu tidak muncul lagi. Dengan amat cerdiknya kedua orang

saudara Touw ini mengadakan hubungan dengan para penjahat dan berkompromi,

 114

mengadakan ‘kerjasama’ yang amat baik. Tentu saja semua orang tidak tahu bahwa

sebenarnya kedua saudara Touw ini bukan lain adalah dua orang di antara para pemimpin

penjahat-penjahat itu sendiri.

Mereka menggunakan tipu daya yang amat cerdik dan kini mereka setiap bulan

mengumpulkan uang sumbangan yang besar jumlahnya. Seorang hartawan sedikitnya harus

menderma dua puluh lima tail perak tiap-tiap bulannya sehingga setiap bulan kedua orang ini

dapat mengumpulkan uang ratusan tail perak.

Memang enak sekali pekerjaan ini, tidak berbahaya seperti kalau menjadi penjahat yang

banyak resikonya. Kini mereka boleh ‘pensiun’, hanya bekerja sekali setiap bulan, yakni

mengumpulkan uang sumbangan itu. Biarpun penjahat-penjahat sudah tak nampak mata

hidungnya lagi, akan tetapi uang sumbangan setiap bulan tetap saja ditariknya.

Setelah berjalan beberapa bulan memang para penyumbang merasa ragu-ragu dan bercuriga,

dan menganggap bahwa setelah para penjahat kini pergi dan tidak mengganggu lagi, apa

perlunya diadakan uang-uang sumbangan? Akan tetapi, baru saja siang hari itu seorang

hartawan menolaknya, pada malam harinya gedungnya didatangi lima orang penjahat yang

selain menggondol pergi barang-barang berharga yang banyak jumlahnya, juga melukai

hartawan yang menolak memberi uang sumbangan itu.

Peristiwa itu tentu saja membuat lain-lain hartawan menjadi takut untuk menolak lagi dan kini

setiap bulan mereka dengan ‘setia’ memberi uang sumbangan. Sungguhpun hati mereka tidak

rela karena mereka tetap saja merasa curiga dan sangsi dan timbul dugaan-dugaan mereka

bahwa kedua guru silat itu main gila.

Hal ini terjadi berbulan-bulan dan kedua orang guru silat she Touw ini menjadi ‘hartawanhartawan’

mendadak. Mereka membuat gedung besar dan hidup dengan mewah sekali. Tak

seorangpun berani menganggu mereka. Akan tetapi, nasib orang memang tidak selamanya

mujur dan betapapun seorang dilindungi oleh payung kemujuran pasti akan tiba masanya

payung itu akan bocor, membuat ia tertimpa hujan kemalangan.

Demikian yang terjadi dengan kedua saudara she Touw itu, yakni ketika Touw Tek bertemu

dengan Kang-lam Ciu-hiap dan Tin Eng di dalam gedung Lie Kun Cwan. Touw Tek benarbenar

bertemu dengan ‘batu’ yang bertumbuk dengan batu karang yang membuatnya ‘babak

bundas’.

Semua ini diceritakan oleh Lie Kun Cwan kepada Gwat Kong dan Tin Eng dan sungguhpun

hartawan ini tidak ragu akan tipu muslihat Touw Cit dan Touw Tek, akan tetapi ia

mengutarakan kecurigaannya dan berkata,

“Aku dan juga pembesar dan lain-lain hartawan yang menolak itu didatangi penjahat yang

lima orang itu. Semuanya memakai kedok. Mungkin sekali mereka adalah dua orang she

Touw itu dan kaki tangannya, siapa tahu? Akan tetapi kami tidak berdaya, karena mereka itu

lihai!”

“Hmm, kalau begitu Lie-lopeh segera memberi tahu kepada semua penyumbang agar supaya

menghentikan sumbangan mereka sekarang juga. Bahkan uang-uang sumbangan yang sudah

diberikan, akan kuminta kembali dari kedua orang bangsat itu.”

 115

Lie-wangwe percaya penuh kepada kedua orang muda yang sudah disaksikan kelihaiannya

ini, maka ia segera menulis surat pemberitahuan dan mengutus orang-orangnya untuk

menyebarkan surat pemberitahuan itu.

Sementara itu, Gwat Kong dan Tin Eng lalu pergi mengunjungi gedung baru tempat tinggal

Touw Cit dan Touw Tek. Mereka berdua telah bersiap sedia untuk menghadapi pertempuran.

Akan tetapi alangkah heran mereka ketika mereka mendapat sambutan yang manis dari Touw

Tek dan Touw Cit. Seperti juga Touw Tek, Twa-kauwsu Touw Cit bertubuh tinggi besar dan

berbaju hitam bercelana putih. Akan tetapi keningnya tinggi membuat kepalanya nampak

seperti botak dan ia tidak bertopi atau berikat kepala.

Ketika Gwat Kong dan Tin Eng tiba di rumah besar itu, Touw Cit dan Touw Tek sendiri lalu

menyambut dan Touw Cit segera menjura dengan sikap yang menghormati sekali.

“Ji-wi yang gagah!” katanya dengan suara yang besar. “Aku telah mendengar dari adikku

Touw Tek tentang kegagahan ji-wi yang muda. Sungguh membuat kami merasa kagum

sekali. Harap saja ji-wi sudi memaafkan kekasaran adikku tadi.”

Gwat Kong benar-benar tertegun karena tak pernah menyangka akan mendapat sambutan

seperti ini. Ia membalas penghormatan tuan rumah dan berkata,

“Saudara tentulah yang bernama Hun-lam Twa-kauwsu Touw Cit. Kami berdua juga mohon

maaf apabila kami telah mengganggu adikmu di rumah Lie-wangwe tadi. Kedatangan kami

ini tak lain hendak membantu usaha ji-wi dalam menghadapi para penjahat yang suka

mengganggu kota ini. Akan tetapi kami berdua tidak hendak mempergunakan cara yang telah

dipergunakan oleh ji-wi (tuan berdua). Akan tetapi kami hendak menghadapi para penjahat itu

dengan pedang kami. Oleh karena itu, para penyumbang yang telah menyetor uang kepada jiwi

harap saja ji-wi suka mengembalikan uang sumbangan itu kepada mereka.” Touw Cit

mengerutkan keningnya, sungguhpun mulutnya tetap tersenyum.

“Akan tetapi bagaimana kalau mereka nanti marah dan menyerbu ke sini?”

Gwat Kong tersenyum. “Biarlah, kalau mereka benar-benar datang menyerbu, siauwte dan

kawanku ini yang bertangguing jawab menghadapi mereka!”

Touw Cit tersenyum, “Ah, taihiap benar-benar gagah, akan tetapi agaknya kau belum tahu

siapakah mereka yang kau hendak hadapi ini. Tidak tahu siapakah nama taihiap yang semuda

ini telah mempunyai keberanian hebat dan kegagahan yang mengagumkan? Kalau tidak salah,

julukan taihiap adalah Kang-lam Ciu-hiap seperti tadi yang didengar oleh adikku. Akan tetapi

siapakah taihiap dan siapa pula guru taihiap?”

Gwat Kong tersenyum. “Namaku adalah Bun Gwat Kong dan tentang suhuku, terus terang

saja aku tidak mempunyai guru, kecuali diriku sendiri!”

Touw Cit nampak tak puas, akan tetapi ia tetap tersenyum lalu berkata,

“Tidak apalah kalau Kang-lam Ciu-hiap menganggap diri terlalu tinggi untuk

memperkenalkan diri kepada kami orang-orang bodoh. Ha, Touw Tek, kau lekas kumpulkan

uang pemberian para dermawan tadi dan mengembalikannya sekarang juga.” Touw Tek

segera masuk ke dalam rumah.

 116

“Masa bodoh, kalau ada kerusuan, siauwte serahkan saja kepada Kang-lam Ciu-hiap dan

kawannya!” kata pula Touw Cit kepada Gwat Kong yang segera menyanggupinya. Dan

kemudian setelah mengucapkan terima kasih, ia mengajak Tin Eng pergi dari situ kembali ke

rumah Lie-wangwe.

Ternyata ketika mereka tiba di situ, rumah Lie-wangwe telah penuh tamu, yakni orang-orang

yang tadinya dikenakan sumbangan oleh kedua saudara Touw itu. Bahkan tihu kota itu juga

memerlukan datang. Mereka ini merasa gelisah sekali, takut kalau-kalau ada penyerbuan para

orang jahat sebagai akibat ditolaknya uang sumbangan itu. Terpaksa Gwat Kong menghibur

mereka dengan kata-kata gagah,

“Cu-wi sekalian! Terus terang saja, sesungguhnya bagi siauwte, tidak ada hubungannya dan

tidak ada ruginya meskipun cu-wi harus mengeluarkan banyak uang sumbangan. Oleh karena

orang-orang kaya seperti cu-wi ini tentu saja tidak berat untuk mengeluarkan uang barang

puluan atau ratusan tail perak tiap bulannya. Akan tetapi sebagai seorang perantauan yang

memperhatikan segala peristiwa yang diterbitkan oleh orang-orang jahat yang suka

mengganggu, tentu saja siauwte tidak suka melihat adanya orang-orang jahat yang

mengganggu di kota ini dan siauwte akan berdaya sekuat tenaga untuk membasmi mereka.

Kalau mereka datang, siauwte akan menghadapi mereka!”

“Kau hanya seorang diri atau berdua dengan nona ini, bagaimanakah kalau kalian berdua

kalah? Apakah itu bukan berarti keadaan kami makin celaka?” berkata seorang hartawan yang

selalu mengingat kepentingan dan keselamatan diri sendiri belaka, sehingga dalam pertanyaan

inipun sama sekali tidak perduli akan keadaan dua orang muda itu kalau kalah, akan tetapi

yang terutama mengingat keadaan sendiri dulu.”

Gwat Kong tersenyum menyindir. Sebenarnya ia tidak senang harus menjadi pelindung sekian

banyak orang-orang hartawan ini. Akan tetapi ia mengingat bahwa di antara mereka ada

paman Tin Eng yang baik hati dan dermawan dan ia harus melindungi. Maka ia lalu

menenggak secawan arak, lalu disemburkannyalah arak itu dari mulutnya ke arah tiang yang

besar di tengah ruangan itu.

Tiang itu terbuat dari kayu yang keras sekali dan jaraknya dari Gwat Kong ada dua tombak.

Akan tetapi ketika semburan arak itu mengenai kayu yang keras itu, tampak tiang itu menjadi

bolong-bolong, seakan-akan tiap tetes arak berubah menjadi pelor besi.

“Apakah kepala para penjahat itu lebih keras dari pada tiang ini?” Gwat Kong bertanya.

Semua mata memandang ke arah tiang itu dengan terbelalak lebar dan untuk sejenak tak

seorangpun terdengar mengeluarkan suara. Kemudian bagaikan mendapat komando, mereka

berseru memuji tiada habisnya dan kemudian mereka pulang ke rumahnya masing-masing

dengan hati besar.

“Maaf, Lie-lopeh,” kata Gwat Kong kepada Lie-wangwe setelah semua tamu itu pergi.

“Bukan maksudku untuk menyombongkan kepandaian, hanya untuk melenyapkan

kegelisahan mereka.”

Lie Kun Cwan tahu akan hal ini. Kemudian Gwat Kong berunding dengan Tin Eng untuk

mempersiapkan diri menanti datangnya serbuan orang-orang jahat.

 117

“Tin Eng, malam ini kita berdua harus berjaga dengan amat hati-hati. Sudah pasti orang-orang

jahat itu akan datang. Entah benar-benar orang dari luar, ataupun anak buah kedua saudara

Touw itu sendiri. Kita belum tahu dari mana mereka akan datang. Oleh karena itu lebih baik

kita berjaga dengan berpencar. Kau berkeliling dari selatan memutar ke timur dan aku dari

selatan memutar ke barat sehingga kita bertemu di ujung utara kota. Dengan cara meronda

seperti ini, kalau mereka berani datang pasti akan bertemu dengan kau atau aku!”

“Baik, Gwat Kong!” jawab Tin Eng dengan gagah dan sedikitpun gadis ini tidak nampak

“Akan tetapi, apakah tidak perlu kalian minta bantuan pasukan penjaga dari tihu? Bagaimana

kalau jumlah mereka banyak dan kalian di keroyok? Apakah itu tidak berbahaya?”

“Memang baik kalau mereka itu mau membantu,” jawab Gwat Kong. “Dan siauwte

menghaturkan terima kasih atas perhatian Lie-lopeh. Akan tetapi, harap lopeh beritahu kepada

tihu agar para penjaga itu disuruh bersembunyi, menjaga-jaga kalau-kalau ada penjahat diamdiam

memasuki kota. Mereka tak perlu turun tangan, kecuali kalau perampokan pada rumah

yang jauh letaknya dari tempat kami sehingga kami tak dapat menolongnya. Mereka itu boleh

menyediakan banyak belenggu untuk merantai para penjahat!”

Lie-wangwe menyatakan setuju dan ia segera pergi sendiri menemui tihu untuk mengatur

penjagaan pasukan bersembunyi itu. Seluruh kota Hun-lam terasa tegang menanti datangnya

malam hari. Semenjak masih sore, rumah-rumah telah menutup pintunya dan para

penghuninya tak dapat tidur, berkumpul di dalam dengan hati kebat-kebit. Setiap bunyi gaduh

yang terdengar oleh mereka, baik bunyi tikus ataupun kucing, membuat mereka pucat dan

menjumbul karena kaget setengah mati.

Gwat Kong dengan tenang lalu mengajak Tin Eng keluar dari rumah dan mereka lalu

melompat di atas genteng dan menuju ke pinggir kota sebelah selatan. Setelah tiba di situ,

mulailah mereka berpisah untuk melakukan perondaan, menjaga datangnya para penjahat

yang hendak mengganggu kota.

****

Malam itu tidak terlalu gelap. Lebih dari tiga perempat bagian bulan nampak di angkasa

tersenyum-senyum manis dan bermain-main dengan mega-mega putih. Bayangan tubuh Gwat

Kong dan Tin Eng yang melakukan penjagaan masing-masing, nampak berkelebat bagaikan

bayangan setan malam.

Akan tetapi, sudah dua kali putaran mereka meronda sehingga mereka bertemu di bagian

utara kota, akan tetapi sama sekali tidak terlihat penjahat yang menyerbu kota.

“Benar aneh!” kata Gwat Kong kepada Tin Eng ketika mereka bertemu untuk ketiga kalinya

di atas wuwungan rumah, sebelah utara. Mereka berdua duduk mengaso di atas wuwungan

rumah yang tinggi itu.

“Mungkin mereka tidak berani muncul karena tahu bahwa kita mengadakan penjagaan,’ kata

Tin Eng sambil membereskan segumpal rambut yang terlepas karena tiupan angin malam dan

berjuntai di atas keningnya.

 118

“Atau memang barangkali sama sekali tidak ada penjahat dari luar kota,” kata Gwat Kong

sambil memutar otaknya. “Jangan-jangan penjahat-penjahat sudah bersembunyi di dalam kota

dan tinggal bereaksi saja.”

Tiba-tiba Tin Eng berdiri dengan kaget. “Ah, mengapa kita begini bodoh! Kita sudah

mencurigai dua saudara Touw, mengapa tidak menyelidik mereka? Kalau mereka

pemimpinnya, tentu penjahat-penjahat itu sudah bersembunyi di dalam gedung mereka!”

“Mungkin kau benar Tin Eng!” kata Gwat Kong kaget. “Mari kita menyelidiki tempat

mereka!”

Mereka lalu berlari-lari di atas genteng. Pada waktu itu, tengah malam telah lewat lama

bahkan telah mendekati fajar dan ketika mereka tiba di tengah kota kembali, tiba-tiba mereka

mendengar suara teriakan-teriakan para penjaga. Mereka segera lari ke arah suara teriakan itu,

dan tiba-tiba dari lain jurusan terdengar teriakan-teriakan penjaga lain.

“Benar saja mereka itu beraksi selagi kita melakukan penjagaan di pinggir kota. Tin Eng kita

berpencar! Kau jagalah rumah pamanmu!”

Tin Eng terkejut ketika teringat kepada pamannya, maka cepat tubuhnya melesat menuju ke

rumah pamannya. Sementara itu, Gwat Kong segera menyambar turun, dan melihat betapa

empat orang penjaga sedang mengeroyok dua orang penjahat berkedok yang ilmu silatnya

cukup tinggi sehingga penjaga-penjaga itu terdesak hebat. Dua orang penjahat itu bersenjata

golok besar dan ketika Gwat Kong tiba di situ, seorang penjaga telah rebah mandi darah dan

yang empat inipun telah kacau permainan silatnya.

Gwat Kong menyambar dengan pedang ditangan dan sekali dia gerakan pedangnya,

“Trangg….!!” Dua golok di tangan penjahat itu terlempar jauh dan dua kaki dan tangan

kirinya bergerak, penjahat itu telah roboh dan tak berdaya. Para penjaga dengan girang lalu

menubruknya dan mengikat kaki tangan mereka.

Gwat Kong berlari ke arah lain di mana juga terdapat dua orang penjahat yang dikeroyok oleh

para penjaga. Dua orang penjahat ini lebih lihai lagi sehingga di tempat ini sudah ada empat

orang penjaga yang terluka, sedangkan lima orang lagi yang mengeroyok berada dalam

keadaan terdesak sekali.

“Serahkan mereka kepadaku!” teriak Gwat Kong dan para penjaga yang melihat datangnya

Kang-lam Ciu-hiap segera melompat mundur. Dua orang penjahat inipun berkedok dan begitu

melihat Gwat Kong, mereka lalu maju mengeroyok dengan pedang mereka. Gwat Kong

menangkis dengan pedangnya dan ternyata bahwa dua orang penjahat ini cukup gesit

sehingga dapat melayani untuk beberapa jurus.

Akan tetapi Gwat Kong tidak mau membuang banyak waktu untuk melayani mereka.

Terpaksa ia mainkan pedangnya dengan cepat dan dua gebrakan kemudian menjeritlah dua

orang penjahat itu dan pedang mereka terlepas dari tangannya karena lengan mereka terluka

oleh pedang Gwat Kong. Para penjaga menubruk dan mengikat mereka erat-erat.

Gwat Kong lalu melakukan penyelidikan dan ternyata bahwa di atap rumah seorang hartawan

yang biasanya memberi sumbangan didatangi dua orang atau tiga orang penjahat. Benar-benar

para penjahat itu berani dan cerdik sehingga mereka bergerak dengan berbareng pada waktu

 119

yang sama sehingga bagi Gwat Kong sukar sekali untuk membagi-bagi tangannya. Terpaksa

ia bekerja cepat dan berlari ke sana ke mari untuk membantu para penjaga yang terdesak oleh

para penjahat itu.

Para penjahat mendengar bahwa Kang-lam Ciu-hiap mengamuk dan menangkap banyak

kawan mereka, maka mereka lalu bersatu dan ketika Gwat Kong sedang dikeroyok oleh tiga

orang penjahat di rumah tihu yang juga diganggu, datanglah enam orang penjahat lain dan

sebentar saja Gwat Kong dikepung oleh sembilan orang penjahat yang bersenjata pedang dan

GWAT Kong tidak menjadi jerih, bahkan dengan tertawa bergelak ia lalu keluarkan seguci

arak dari jubahnya. Dengan tangan kiri ia menenggak araknya yang dibawanya dari rumah

Lie-wangwe, sedangkan tangan kanannya yang memegang pedang diputar sedemikian rupa

sehingga senjata para pengeroyoknya tidak ada yang dapat menembus sinar pedangnya itu.

Kemudian, ia menyimpan kembali guci araknya di dalam saku jubahnya dan para penjaga

yang melihat ini diam-diam merasa heran sekali. Mengapa pemuda itu demikian doyan arak

sehingga dalam keadaan pertempuran hebat dan dikeroyok sembilan orang ia ada kesempatan

untuk minum arak?

“Benar-benar setan arak!” kata seorang penjaga.

“Kalau tidak doyan arak, masa disebut Ciu-hiap (Pendekar Arak)?”

Akan tetapi, mereka itu kecele bahwa Gwat Kong itu demikian gila arak sehingga dalam

pertempuran sempat menikmati rasa arak yang wangi. Karena setelah menyimpan kembali

guci araknya, tiba-tiba tubuhnya melesat maju dan pedangnya diputar sedemikian rupa

sehingga terdengar dua kali teriakan dan tubuh dua orang pengeroyok jatuh tersungkur.

Kemudian tiba-tiba pemuda itu membentak keras dan dari mulutnya tersemburlah arak yang

diminumnya tadi dan para penjaga kini bengong dan memandang dengan mata terbelalak

karena terdengar pekik kesakitan dan lima orang di antara tujuh pengeroyok itu segera

melemparkan pedangnya atau goloknya dan menggunakan tangan untuk menutupi muka

mereka sambil merintih-rintih kesakitan. Ternyata bahwa semburan arak itu bagaikan jarumjarum

tajam menusuk-nusuk muka mereka, bahkan yang tidak keburu memeramkan mata ada

yang rusak matanya bagaikan ditusuk jarum.

Dua orang penjahat ketika melihat hal ini hendak lari, akan tetapi begitu Gwat Kong

melompat dan pedangnya digerakkan, dua orang inipun roboh terguling dengan pundak

mereka terluka hebat.

Tentu saja para penjaga menjadi girang luar biasa melihat hal ini. Mereka berebutan maju

untuk memasang belenggu pada tangan para penjahat itu. Tiada henti-hentinya mereka

memuji-muji Gwat Kong. Akan tetapi yang dipuji sudah semenjak tadi pergi dari tempat itu

dan cepat berlari menuju ke rumah Lie-wangwe untuk menyusul Tin Eng.

Juga Tin Eng menghadapi lawan-lawan, bahkan lawannya lebih berat dari pada yang dihadapi

oleh Gwat Kong ketika gadis itu tiba di atas genteng rumah Lie-wangwe. Ternyata ia melihat

lima orang penjahat sedang mengamuk dan biarpun di rumah pamannya itu terjaga oleh para

 120

penjaga yang sepuluh orang banyaknya, akan tetapi mereka tak berdaya apa-apa dan enam

orang penjaga sudah rebah sambil merintih-rintih.

Lima orang inipun mengenakan kedok pada mukanya. Akan tetapi Tin Eng mengenal

potongan badan dua orang di antara mereka yang terlihai, yang ia tahu adalah Touw Cit dan

Touw Tek. Segera ia menyambar turun dengan pedang di tangan sambil membentak,

“Touw Cit dan Touw Tek, dua bangsat rendah! Tak perlu kalian memakai ledok, karena

kalian tak dapat menipu nonamu!”

Touw Cit tertawa mendengar ini dan melemparkan kedoknya yang menutupi mukanya

sehingga sisa penjaga yang melihat ini menjadi terheran-heran!

“Mundurlah biar aku menghadapi tikus-tikus ini!” seru Tin Eng kepada mereka. Para penjaga

tentu saja menjadi girang karena mereka telah mendengar akan kelihaian nona ini, maka

mereka menolong kawan-kawan yang terluka itu.

Sementara itu, Touw Tek yang juga sudah melemparkan kedoknya, segera maju menyerang

dengan goloknya. Penjahat tinggi besar ini masih teringat akan sakit hatinya siang tadi ketika

ia dipermainkan oleh Tin Eng, maka kini ia hendak menggunakan kesempatan dan

mengandalkan kakak dan kawan-kawannya untuk membalas dendam.

Akan tetapi Tin Eng tertawa mengejek sambil menangkis serangan itu dengan pedangnya.

“Kau masih belum kapok?” Dan ketika ia membarengi tangkisan pedangnya itu dengan

serangan mendadak, Touw Tek terkejut sekali dan cepat melempar tubuhnya ke belakang

karena tahu-tahu ujung pedang nona itu telah berada di depan hidungnya.

Akan tetapi, betapapun cepat ia melempar diri ke belakang, ujung pedang itu agaknya tidak

mau meninggalkan lehernya. Untung baginya bahwa Touw Cit segera bergerak dan menusuk

lambung Tin Eng dari kanan. Nona itu terpaksa membatalkan serangannya kepada Touw Tek

dan menangkis tusukan Touw Cit.

Akan tetapi diam-diam ia merasa terkejut ketika merasa betapa benturan pedang itu membuat

tangannya tergetar. Maklumlah ia bahwa Touw Cit bukanlah seperti adiknya, Touw Tek.

Kepala gerombolan ini agaknya memiliki tenaga lweekang yang tinggi dan melihat gerakan

pedangnya, ia merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan.

Maka Tin Eng tidak mau membuang banyak waktu lagi karena ia maklum bahwa kini ia

menghadapi Touw Cit yang lihai ditambah dengan empat orang lagi. Dengan seruan garang,

ia lalu putar-putar pedangnya dan mainkan Sin-eng Kiam-hoat yang telah disempurnakan atas

petunjuk-petunjuk dari Gwat Kong.

Ilmu pedang ini memang lihai sekali dan baru beberapa gebrakan saja, kembali Touw Tek

telah terkena ujung pedang Tin Eng yang melukai pangkal lengan kanannya. Tiga orang

kawannya yang berkepandaian hanya setingkat dengan Touw Tek, menjadi jerih.

Pada saat itu, dari luar mendatangi serombongan penjaga lagi yang berjumlah enam orang.

Mereka itu lalu menggabung dengan sisa penjaga dan mengeroyok Touw Tek dan tiga orang

penjahat itu, karena tadi pun yang membuat para penjaga kewalahan hanyalah Touw Cit

seorang yang amat lihai. Dengan berteriak-teriak para penjaga mengeroyok Touw Tek yang

 121

telah terluka dan sebentar saja Touw Tek yang kenyang mendapat gebukan dari para penjaga,

kena ditangkap erat-erat bagaikan seekor babi mau disembeli!

Tiga orang kawannya melihat hal ini, menjadi kacau permainannya dan mereka lalu mencoba

untuk melarikan diri. Dua orang kena dikepung dan dihantam oleh para pengeroyoknya

sehingga tertangkap pula, sedangkan yang seorang lagi telah berhasil melompat naik ke atas

genteng. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar seruan Tin Eng,

“Turun kau!” Tangan kiri gadis yang masih bertempur hebat dengan Touw Cit ini diayun dan

sebatang piauw meluncur ke arah kaki penjahat yang mencoba untuk melarikan diri.

Terdengar teriakan ngeri dan tubuh penjahat itu menggelinding kembali ke bawah genteng

disambut oleh para penjaga dengan teriakan dan gebukan-gebukan.

Kini Tin Eng hanya menghadapi Touw Cit seorang lawan seorang. Ketika Touw Cit mainkan

pedangnya, diam-diam Tin Eng terkejut sekali. Ternyata bahwa penjahat ini mainkan ilmu

pedang Go-bi-pai. Ilmu pedang penjahat ini sama benar dengan ilmu pedang ayahnya dan

yang telah ia pelajari pula.

“Kau anak murid Go-bi-pai!” tak terasa lagi mulut dara itu berseru kaget sambil menangkis

serangan lawannya dengan pedang.

Touw Cit terkejut dan memandang tajam sambil menunda serangan.

“Siapakah kau?”

“Akupun anak murid Go-bi-pai!” jawab Tin Eng. “Kau sungguh memalukan dan

mencemarkan nama baik Go-bi-pai. Tak ingatkah kau akan sumpahmu ketika kau mulai

belajar silat?”

“Bohong!” seru Touw Cit. “Permainan pedangmu sama sekali bukan ilmu pedang Go-bi-pai!”

“Aku bukan membohong seperti kau! Buka matamu lebar-lebar!” Setelah berkata demikian,

Tin Eng lalu merobah permainan pedangnya dan kini ia menyerang lawannya itu dengan ilmu

pedang Go-bi-pai yang ia pelajari dari ayahnya. Touw Cit segera menangkis dan untuk

beberapa belas jurus lamanya mereka bertempur dalam ilmu pedang yang sama.

“Betul, betul kau, pandai mainkan ilmu pedang Go-bi-pai!” seru Touw Cit girang. “Mengapa

kau memusuhi saudara seperguruan sendiri?”

“Cih, siapa sudi kau sebut saudara seperguruan?” bentak Tin Eng. “Orang yang melakukan

kesesatan dan kejahatan macam kau tak berhak menyebut dirimu sebagai anak murid Go-bipai

lagi!”

Kembali Tin Eng menyerang sambil mempergunakan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat oleh

karena ternyata bahwa ilmu pedang Go-bi-pai yang ia miliki masih kalah tinggi apabila

dibandingkan dengan Touw Cit. Penjahat itu menjadi marah sekali dan mengerahkan seluruh

kepandaian untuk melayani gadis yang lihai itu. Pertempuran berjalan makin seru dan hebat

sehingga pedang mereka berkelebat dan sinarnya bergulung-gulung.

 122

Para penjaga yang kini telah membereskan semua penjahat yang menjadi korban, hanya

menonton saja karena mereka maklum bahwa kepandaian mereka masih jauh untuk dapat

membantu gadis pendekar itu. Mereka hanya berteriak-teriak menambah semangat Tin Eng.

Pada saat itu terdengar seruan, “Jangan lepaskan penjahat itu!” Dan dari atas wuwungan

nampak bayangan Gwat Kong mendatangi.

Melihat ini Touw Cit menjadi gentar juga dan segera mengirim tusukan kilat ke arah dada Tin

Eng yang mengelak cepat. Touw Cit menggerakkan tangan kiri dan dua butir peluru besi

sebesar telor ayam menyambar ke arah leher dan lambung Tin Eng. Gadis ini cepat

menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dengan terkejut karena hampir saja ia menjadi korban

serangan senjata gelap lawan.

Kesempatan ini digunakan oleh Touw Cit untuk melompat jauh dan melarikan diri di dalam

“Bangsat rendah hendak pergi ke mana!” teriak Tin Eng yang segera mengejar.

“Bagus, kejar dia Tin Eng!” Gwat Kong juga berseru dan menyusul pula untuk mengejar

penjahat yang lari itu. Para penjaga juga berteriak-teriak dan berlari-lari mengejar dari

belakang. “Kejar …..! Tangkap Touw Cit si bangsat besar ….!!”

Akan tetapi oleh karena penjahat itu menggunakan lari cepat, demikian pula Tin Eng dan

Gwat Kong, sebentar saja para penjaga itu tertinggal jauh dan menjadi bingung karena tidak

melihat tiga orang itu sehingga mereka tidak tahu harus mengejar ke jurusan mana?

Ternyata bahwa ilmu lari cepat dari Touw Cit sudah cukup tinggi, sehingga untuk beberapa

lama Tin Eng dan Gwat Kong belum berhasil menyusulnya. Akan tetapi, jarak antara mereka

dan Touw Cit makin mengecil juga sehingga penjahat itu menjadi bingung dan terus berlari

ke luar dari kota dan bermaksud untuk bersembunyi ke dalam hutan yang berada di luar kota.

Sementara itu, fajar telah mulai menyingsing dan karena pagi itu tidak ada halimun, maka

sebentar saja keadaan menjadi terang. Hal ini amat menggelisahkan hati Touw Cit yang

melarikan diri, oleh karena ia lari memasuki hutan, kedua orang pengejarnya terus mengejar

dan tak mau melepaskannya dan keadaan yang mulai terang itu tidak memungkinkan ia untuk

menyembunyikan diri.

“Touw Cit, tidak ada gunanya kau melarikan diri, biarpun akan masuk ke dalam tanah, kau

takkan terlepas dari tangan kami!” seru Gwat Kong sambil tertawa.

Karena kedua pengejarnya kini telah dekat sekali di belakangnya, ketika tiba di tempat

terbuka, tiba-tiba Touw Cit menahan langkah kakinya dan dengan pedang di tangannya

menanti datangnya para pengejar untuk berkelahi mati-matian!

“Keparat!” ia memaki sambil menudingkan pedangnya kepada Tin Eng. “Sebagai anak murid

Go-bi-pai, kau benar-benar tidak memandang perguruan kita! Sebenarnya kau ini murid

siapakah?”

Tin Eng dengan pedang ditangan berdiri menghadapi Touw Cit sambil tersenyum. “Ayahku

adalah murid Go-bi-pai. Akan tetapi, aku sendiri bukan langsung menjadi anak murid Go-biKang-

lam Tjiu-Hiap > karya Kho Ping Hoo > buyankaba. 123

pai. Aku lebih senang mempergunakan ilmu pedang lain! Ayahku adalah Liok Ong Gun

Kepala daerah Kiang-sui, seorang anak murid Go-bi-pai tulen dan sama sekali tidak dapat

disamakan dengan kau penjahat kejam yang hanya mengotorkan nama Go-bi-pai!”

Merahlah muka Touw Cit mendengar ini. “Aku pernah mendengar nama ayahmu yang

tingkatnya sama dengan aku. Kalau kau seorang gadis yang mengerti peraturan, kau

seharusnya menyebut aku susiok (paman guru).”

Tin Eng tersenyum mengejek. “Aku harus menyebut paman guru kepada seorang perampok,

penipu dan pemeras rakyat? Hm, nanti dulu, kawan! Pada saat ini, aku adalah seorang petugas

yang membawa dendam penduduk Hun-lam yang telah lama kau ganggu. Kalau kau hendak

menganggap aku sebagai anak murid Go-bi-pai, baiklah, aku mewakili Go-bi-pai pula untuk

membersihkan nama Go-bi-pai dari anak muridnya yang tersesat dan yang patut menerima

hukuman berat!”

“Boca sombong!” Touw Cit menjadi marah sekali lalu menyerang dengan pedangnya. Tin

Eng menangkis sambil tersenyum manis dan sebentar kemudian mereka telah bertempur

kembali dengan hebatnya. Gwat Kong hanya berdiri tak jauh dari situ dengan kedua tangan

bertolak pinggang dan bibir tersenyum. Ia hendak menyaksikan kemajuan ilmu pedang Tin

Pertempuran kali ini benar-benar hebat dan jauh lebih sengit dari pada tadi oleh karena Touw

Cit yang telah menghadapi jalan buntu dan tidak mempunyai harapan untuk melarikan diri

dan melepaskan diri dari kedua orang muda yang lihai ini, telah mengambil keputusan untuk

berlaku nekad dan bertempur mati-matian. Sepasang matanya memandang marah, seakanakan

mengeluarkan sinar berapi, mengandung nafsu membunuh. Ia lebih mengerahkan

kepandaian dan tenaganya untuk menyerang dari pada mempertahankan diri, dalam usahanya

untuk membunuh atau dibunuh.

Menghadapi serangan-serangan nekad ini, Tin Eng berlaku tenang dan hati-hati sekali dan

biarpun mulutnya masih memperlihatkan senyum manis, akan tetapi ia mencurahkan seluruh

perhatiannya karena maklum bahwa lawannya telah nekad untuk mengadu jiwa. Dara ini

mempergunakan ilmu ginkangnya yang lebih tinggi dari pada Touw Cit yang bertubuh besar

pula. Tubuh Tin Eng nampak ringan sekali dan gerakan kedua kakinya demikian cepat dan

gesit sehingga ia seakan-akan bertempur sambil menyambar-nyambar tanpa menginjak tanah.

Bagaikan seekor burung walet bermain di antara mega.

Pertempuran berjalan dengan ramainya sampai lima puluh jurus dan diam-diam Gwat Kong

merasa girang melihat kemajuan ilmu pedang gadis itu karena ia maklum pula bahwa gadis

itu sengaja mempermainkan lawannya. Kalau Tin Eng mau, memang sudah semenjak tadi ia

dapat merobohkan lawannya yang dalam kenekatannya telah membuka banyak lowongan

pada dirinya sendiri.

Akan tetapi Tin Eng masih tidak tega untuk memberi tusukan yang dapat membinasakan

lawannya atau mendatangkan luka berat. Karena betapapun juga ia masih ingat bahwa

lawannya ini adalah anak murid Go-bi-pai atau masih saudara seperguruan ayahnya.

Pertahanan Touw Cit makin lemah karena ia telah menggunakan tenaga terlalu banyak dan

terlalu dipaksakan, menuruti hatinya yang penuh dendam dan marah. Juga kegelisahannya

 124

membuat permainan pedangnya kacau balau. Dan tak lama kemudian, ia mulai terdesak dan

berkelahi sambil mundur!

Tiba-tiba Tin Eng berseru keras dan tubuhnya melompat ke atas dan mengirim serangan

dengan gerak tipu Air Mancur Menyiram Bunga. Pedangnya di tangan kanan ditusukkan ke

arah dada lawan sedangkan tangan kirinya dipentang ke belakang, kedua kakinya membuat

imbangan untuk menahan turun tubuhnya dari atas.

Serangannya cepat sekali sehingga dengan terkejut Touw Cit lalu melangkah mundur dan

menggerakkan pedangnya untuk menangkis dengan sabetan dari atas ke bawah dengan

maksud menghantam pedang gadis itu agar terlepas. Akan tetapi secepat kilat, pedang Tin

Eng ditarik mundur dan setelah pedang Touw Cit lewat ke bawah, ia lalu menindih pedang

lawan itu. Dengan pedangnya di atas pedang Touw Cit yang tak berdaya itu, maka kini dada

Touw Cit terbuka dan bagi Tin Eng dengan mudah saja kalau ia hendak merobohkan

lawannya. Sekali ia menusukkan pedangnya akan tertembus dada lawan.

Akan tetapi Tin Eng tidak mau melakukan hal ini, hanya menggerakkan pedang ke atas, ke

arah tangan Touw Cit yang memegang pedang. Penjahat itu menjerit kesakitan dan pedangnya

terlepas karena tangannya telah termakan oleh pedang Tin Eng sehingga ibu jarinya hampir

putus. Tin Eng menarik kembali pedangnya pada saat itu digunakan oleh Touw Cit untuk

melompat mundur dalam usahanya melarikan diri.

Akan tetapi, nampak berkelebat bayangan yang cepat sekali dan sebuah tendangan pada

lututnya membuat Touw Cit terjungkal tak dapat bangun kembali. Ternyata bahwa

sambungan lutut kanannya telah terlepas akibat tendangan yang dikirim oleh kaki Gwat Kong.

Pada saat itu, para penjaga yang mengejar baru dapat menemukan mereka dan dengan girang

mereka lalu menubruk dan mengikat kaki tangan Touw Cit, lalu diseretnya kembali ke kota.

Dengan jatuhnya Touw Cit, maka boleh dibilang semua penjahat yang melakukan pengacauan

itu, yang semua berjumlah empat belas orang telah diringkus.

Kota Hun-lam merayakan peristiwa itu dengan gembira sekali. Touw Cit dengan kawankawannya

dimasukkan ke dalam penjara dan mendapat hukuman berat atas dosa-dosanya.

Para penjahat di luar kota yang mendengar hal ini, menjadi ketakutan dan nama Kang-lam

Ciu-hiap makin terkenal. Sementara itu penduduk Hun-lam juga memberi nama pujian bagi

Tin Eng, yakni Sian-kiam Lihiap atau Pendekar Wanita Pedang Dewa.

****

Setelah tinggal di gedung Lie Kun Cwan sepekan lamanya, Gwat Kong lalu meninggalkan

kota Hun-lam. Atas permintaan Tin Eng, Gwat Kong hendak berusaha mendamaikan

permusuhan yang timbul antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai.

“Betapapun juga aku merasa bersedih kalau mengingat keadaan permusuhan itu, karena ayah

adalah anak murid Go-bi-pai dan tidak suka kalau ayah sampai terlibat dalam permusuhan ini.

Harap kau suka memberitahukan kepada setiap orang gagah dari Hoa-san-pai bahwa tidak

semua anak murid Go-bi-pai jahat-jahat belaka. Juga kalau kau bertemu dengan tokoh-tokoh

Go-bi-pai harap beritahukan bahwa tidak semua anak murid Go-bi-pai baik dan benar.

Buktinya Touw Cit itu juga telah mengotorkan nama Go-bi-pai dan melakukan perbuatan

yang jahat,” kata Tin Eng kepadanya.

 125

Sebetulnya Gwat Kong merasa berat untuk berpisah dari Tin Eng, gadis yang diam-diam

dicintainya semenjak ia masih menjadi pelayan di gedung orang tua gadis itu. Akan tetapi

tentu saja ia tidak bisa terus-terusan tinggal di rumah paman gadis itu. Lagi pula juga tidak

enak bagi Tin Eng untuk ikut pergi merantau dengan dia. Karena sebagai gadis sopan, tidak

selayaknya melakukan perantauan dengan seorang pemuda yang bukan menjadi keluarganya.

Ia hanya berpesan agar supaya gadis itu suka berlatih dengan giat. Karena biarpun telah

mendapat petunjuk-petunjuk darinya, namun gadis ini belum lama mempelajari Sin-eng

Kiam-hoat yang tulen sehingga gerakannya masih agak kaku.

Gwat Kong pergi dengan diantar oleh Lie-wangwe sampai di luar kota. Hartawan ini merasa

suka dan kagum sekali kepada Gwat Kong yang masih muda akan tetapi memiliki kepandaian

tinggi. Ia bahkan memberi hadiah sebuah guci arak terbuat dari pada perak terukir yang amat

indah kepada pemuda itu, berikut isinya yakni arak Hang-ciu yang bukan main keras dan

wanginya dan telah berusia tua sekali.

Gwat Kong menyimpan guci ini dengan menggantungkannya pada pinggangnya dan

berangkatlah dia, mulai dengan perantauannya. Ia cinta kepada Tin Eng, akan tetapi tidak

berani ia menyatakan cintanya itu. Sungguhpun dulu pernah ia menyatakan di luar

kesadarannya, yakni ketika ia mabuk di rumah gadis itu sebelum ia meninggalkan gedung

Liok-taijin.

Ia tidak berani menyatakan cintanya kepada seorang gadis puteri Kepala daerah, bangsawan

tinggi dan keponakan dari seorang yang demikian kaya seperti Lie-wangwe. Ia seorang

pemuda yatim piatu yang miskin, maka Gwat Kong merasa lebih baik ia menjauhkan diri dari

Tin Eng dan berusaha melupakannya sebelum terlambat, yakni sebelum ikatan hatinya makin

Sementara itu, Tin Eng yang ditinggal pergi oleh Gwat Kong, lalu berlatih diri dengan

giatnya. Ia senang tinggal di rumah pamannya yang amat baik terhadap dia dan Lie Kun

Cwan juga merasa terhibur dengan adanya gadis itu yang seakan-akan ia anggap sebagai anak

Kejenakaan dan kegembiraan watak gadis itu seolah-olah merupakan matahari yang

menyinari kesuraman suasana dalam gedungnya yang kosong setelah isterinya yang tercinta

meninggal dunia. Lie-wangwe telah mengirim surat kepada Liok-taijin suami isteri

menceritakan bahwa Tin Eng berada di rumahnya dan membujuk agar supaya suami isteri itu

tidak terlalu memaksa kepada Tin Eng yang disebutnya masih berwatak anak-anak.

Baik Gwat Kong maupun Tin Eng sama sekali tidak tahu bahwa dua orang bersaudara Touw

Cit dan Touw Tek adalah anggauta-anggauta dari perkumpulan Hek-i-pang, yakni

perkumpulan baju hitam yang berpusat di Tong-kwan, sebelah selatan Hun-lam. Ketika

menjalankan pemerasan pada para hartawan di Hun-lam, Touw Cit dan Touw Tek juga dapat

perlindungan dari perkumpulan gelap ini dan kedua saudara itu setiap bulan memberi bagian

kepada perkumpulan itu.

Yang menjadi Pangcu atau ketua Hek-i-pang adalah seorang tua bernama Song Bu Cu,

berusia lima puluh tahun dan terkenal sebagai seorang ahli silat yang memiliki lweekang

tinggi. Song Bu Cu ini adalah bekas perampok tunggal yang telah ‘mengundurkan diri’ dan

 126

untuk melewati hari tuanya ia membentuk perkumpulan baju hitam itu di mana ia menjadi

ketuanya dan hidup dari hasil ‘pensiun’ yang diterimanya dari para anak buahnya.

Perkumpulan ini mempunyai banyak anggauta dan Song Bu Cu yang cerdik itu tidak mau

menggunakan tenaga para anak buahnya untuk melakukan kejahatan secara terang-terangan

dan kasar seperti merampok, mencuri dan lain-lain. Ia lebih mengutamakan pekerjaan yang

aman baginya, yakni pekerjaan pemerasan yang tidak terlalu menyolok mata.

Dengan pengaruhnya yang besar, ia menyebar anak buahnya untuk minta ‘sumbangan’ dari

para hartawan dengan cara halus, yakni dengan berkedok menjaga keamanan sebagaimana

yang telah dijalankan dengan baiknya oleh Touw Cit dan Touw Tek di kota Hun-lam. Selain

ini juga setelah mendapat banyak uang, Song Bu Cu lalu menggunakan uang itu sebagai

modal dan membuka rumah-rumah gadai dengan bunga tinggi.

Bahkan di kota Tong-kwan ia memonopoli rumah-rumah makan, sehingga sebagian besar

rumah makan yang berada di kota Tong-kwan adalah milik perkumpulan Hek-i-pang, kecuali

rumah-rumah makan yang kecil dan bukan merupakan saingan besar. Orang-orang tidak

berani membuka rumah makan besar di kota itu karena mereka sungkan dan segan untuk

membukanya dan menghadapi perkumpulan gelap itu sebagai musuh.

Semua anggauta Hek-i-pang selalu mengenakan jubah hitam, sungguhpun celana mereka

boleh sesukanya. Ada yang putih, hijau dan menurut kesukaan masing-masing, akan tetapi

jubahnya selalu hitam. Inilah tanda pengenal anggauta perkumpulan Hek-i-pang. Oleh karena

itu pula, maka Touw Cit dan Touw Tek selalu memakai jubah hitam.

Ketika Song Bu Cu mendengar tentang para anak buahnya yang diobrak-abrik oleh Kang-lam

Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap di Hun-lam, ia menjadi marah sekali. Ia mengumpulkan

semua pembantunya untuk merundingkan hal ini. Kemudian memutuskan untuk mendatangi

tihu dari Hun-lam dan minta agar supaya para penjahat yang ditangkap itu dibebaskan

Song Bu Cu sendiri hendak turun tangan dan membalas dendam kepada Kang-lam Ciu-hiap

dan Sian-kiam Lihiap. Akan tetapi seorang pembantunya yang cukup pandai dan lihai, yakni

seorang yang bernama Lui Siok berjuluk si Ular Belang, segera berkata,

“Untuk apa pangcu harus maju sendiri? Menangkap dan memukul anjing-anjing kecil seperti

dua anak-anak muda itu tak perlu mempergunakan pentungan besar. Biarlah aku saja ke Hunlam

untuk membereskan urusan ini!”

Semua orang merasa girang mendengar ini karena mereka telah maklum akan kelihaian Lui

Siok ini yang juga menjadi wakil ketua dari Hek-i-pang. Kepandaian Lui Siok hampir

seimbang dengan kepandaian Song Bu Cu, bahkan si Ular Belang ini terkenal sekali dengan

kepandaiannya Siauw-kin-na Chiu-hwat, yakni ilmu silat yang berdasarkan tangkapan dan

cengkeraman tangan seperti ilmu Jujitsu dari Jepang.

Oleh karena memiliki kepandaian ini, maka Lui Siok jarang sekali mempergunakan senjata di

waktu menghadapi lawan. Sekali saja lawannya terkena pegang oleh tangannya maka lawan

itu takkan mudah dapat melepaskan diri tanpa mendapat luka patah tulang atau urat keseleo.

 127

“Kalau Lui-te (adik Lui) mau mewakili aku pergi, itu adalah yang baik sekali. Aku percaya

penuh bahwa kalau Lui-te yang pergi turun tangan, hal ini akan beres dan sakit hati kiranya

akan terbalas!” kata Song Bu Cu dengan girang. Dibandingkan dengan Song Bu Cu, Lui Siok

ini lebih muda dua tahun karena usianya baru empat puluh delapan. Akan tetapi melihat

rambut di kepalanya, ia nampak lebih tua karena rambutnya telah putih semua.

Demikianlah, beberapa hari kemudian, Lui Siok dengan diantar oleh dua orang kawannya

datang ke kota Hun-lam. Ia langsung menuju ke rumah tihu dan berkata kepada penjaga

bahwa ia datang dari Tong-kwan hendak bertemu dengan tihu karena urusan yang amat

penting. Penjaga lalu melaporkan dan tihu kota Hun-lam segera keluar dan menanti di ruang

tamu. Ketika tiga orang tamunya itu memasuki ruang tamu, ia melihat bahwa mereka adalah

orang-orang tak dikenal, akan tetapi baju mereka yang hitam itu menimbulkan perasaan

kurang enak di dalam hatinya mengingatkan tihu itu kepada Touw Cit dan Touw Tek yang

juga selalu berpakaian hitam.

“Taijin, kami datang dari Tong-kwan untuk menyampaikan surat ini dari perkumpulan kami!”

kata Lui Siok setelah dipersilahkan duduk.

Dengan heran dan tanpa banyak curiga tihu menerima surat itu dan membukanya. Akan

tetapi, setelah ia membaca surat itu wajahnya menjadi pucat dan ia mengerling ke arah Lui

Siok. Makin pucatlah dia ketika melihat betapa Lui Siok tersenyum-senyum penuh arti. Akan

tetapi ketika tihu melihat ke arah kedua tangan Lui Siok yang memegang pinggir meja,

ternyata meja itu telah remuk pinggirnya karena dicengkeram oleh sepuluh jari tangan

tamunya yang aneh itu. Seakan-akan orang mencengkeram keripik saja. Kedua tangan

pembesar itu mulai menggigil dan ia membaca sekali lagi surat yang dipegangnya:

Thio-tihu dari Hun-lam,

Kami mengutus seorang wakil perkumpulan kami bersama dua orang anak buah kami, untuk

menyampaikan hormat kami kepada taijin. Tentu taijin telah mendengar tentang nama

perkumpulan kami yang merupakan jaminan bagi keamanan daerah Tong-kwan, termasuk

Hun-lam.

Oleh karena mengingat akan perhubungan ini, kami minta dengan sangat kepada taijin agar

supaya berlaku bijaksana dan suka membebaskan kedua anggauta perkumpulan kami Touw

Cit dan Touw Tek yang telah ditahan oleh Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Li-hiap! Juga

kawan-kawan mereka harap diberi kelonggaran.

Terima kasih atas kebijaksanaan taijin.

Hormat kami,

Ketua dari Hek-i-pang

Di Tong-kwan.

Thio-tihu memang pernah mendengar tentang perkumpulan ini, akan tetapi ia sama sekali

tidak pernah menduga bahwa Touw Cit dan Touw Tek adalah anggauta perkumpulan yang

berpengaruh itu. Baru satu kali saja ia berurusan dengan perkumpulan itu, yakni pada tahun

yang lalu ketika hari tahun baru, di Hun-lam kedatangan serombongan pemain Barongsai

yang minta derma tanpa memberitahukan kepada rombongan Barongsai pribumi, yakni

 128

rombongan dari Hun-lam sendiri. Maka terjadilah pertengkaran yang diakhiri dengan

Akan tetapi ternyata bahwa rombongan Barongsai Baju Hitam ini lihai sekali sehingga

rombongan dari Hun-lam banyak yang menderita luka-luka. Para penjaga tak berdaya

terhadap mereka, sedangkan Touw Cit dan Touw Tek yang diminta bantuannya, hanya

menyatakan bahwa lebih baik rombongan dari Tong-kwan itu jangan diganggu. Maka

rombongan itu melanjutkan permainannya di depan tiap rumah dan pada para hartawan di

Hun-lam mereka minta jumlah sumbangan yang telah ditetapkan.

Kini setelah menerima surat ini dan melihat demonstrasi kelihaian yang diperlihatkan oleh

Lui Siok dengan mencengkeram hancur ujung mejanya yang tebal dan keras itu, tentu saja

Thio-tihu menjadi terkejut, gelisah dan ketakutan. Dengan lemas ia duduk kembali di

kursinya dan berkata dengan suara gemetar,

“Harap saja Samwi-enghiong (bertiga orang gagah) jangan marah karena sesungguhnya

urusan ini tak dapat dilakukan dengan mudah begitu saja. Bagaimana aku bisa membebaskan

orang-orang yang telah menjadi tahanan karena dianggap penjahat-penjahat?”

“Taijin,” berkata Lui Siok yang masih tersenyum ramah, akan tetapi matanya bersinar tajam

mengerikan. “Kami orang-orang dari Hek-i-pang selalu berlaku sabar, mengalah dan

memandang persahabatan. Kalau kami mau, apakah sukarnya mendatangi tempat tahanan itu

dan mengeluarkan kawan-kawan kami? Akan tetapi kami tidak mau melakukan kekerasan itu

dan sengaja minta kebijaksanaan taijin karena bukankah taijin yang berkuasa dan berhak

membebaskan mereka? Lebih baik taijin segera menulis sepucuk surat pembebasan agar dapat

kami bawa ke tempat tahanan untuk membebaskan kawan-kawan kami itu!”

Thio-tihu menjadi bingung. Menolak ia tidak berani karena maklum bahwa ketiga orang ini

bukanlah orang baik-baik dan tentu akan mencelakakannya apabila ia menolak, akan tetapi

untuk mentaati permintaan itu, juga sukar baginya.

“SAM-wi, memang benar aku yang berkuasa, akan tetapi harus kalian ketahui bahwa yang

menangkap mereka bukanlah aku! Semenjak dahulu hubunganku dengan saudara Touw baik

sekali, sampai datang Kang-lam Ciu-hiap dan memaksaku memberi hukuman kepada mereka.

Kalau sekarang aku melepaskan mereka, bukankah aku melakukan kesalahan besar terhadap

kedua pendekar muda itu? Harus diketahui bahwa mereka itu lihai sekali dan apa dayaku

terhadap mereka?”

Tiba-tiba Lui Siok si Ular Belang tertawa terbahak-bahak. “Anjing-anjing kecil itu untuk

apakah ditakuti sekali? Mereka hanya pandai menyalak dan tak mampu menggigit! Tentang

mereka, serahkanlah kepadaku, taijin. Setelah membebaskan Touw Cit dan Touw Tek, aku

akan langsung mencari mereka di gedung Lie-wangwe.”

Lega juga Thio-tihu mendengar ini, karena memang maksudnya hendak mengadu orangorang

ini dengan kedua pendekar muda ini yang tentu takkan tinggal diam. Hanya sayangnya

ia telah mendengar bahwa Kang-lam Ciu-hiap meninggalkan Hun-lam kemarin sehingga kini

hanya tinggal Sian-kiam Lihiap seorang.

 129

Terpaksa ia membuat sepucuk surat pembebasan bagi Touw Cit dan Touw Tek dan

menyerahkan kepada Lui Siok. Si Ular Belang tertawa bergelak dan sekali lagi tangan

kanannya digerakkan menghantam meja di depannya yang segera menjadi pecah bagaikan

kena hantaman kampak.

“Taijin, kalau lain kali terjadi penangkapan atas diri anggauta-anggauta perkumpulan kami,

bukan meja ini yang kupecahkan, akan tetapi kepala orang-orang yang bertanggung jawab

dalam urusan penangkapan itu!”

Setelah berkata demikian, dengan senyum dimulut, Lui Siok mengajak kedua anak buahnya

pergi meninggalkan Thio-tihu yang masih berdiri menggigil sambil memandang kepada meja

yang telah rusak terpukul itu.

Dengan surat perintah dari Thio-tihu, maka mudah saja Lui Siok dan dua orang anak buahnya

membebaskan Touw Cit dan Touw Tek. Kedua saudara ini segera memberi hormat dan

menghaturkan terima kasih banyak kepada Lui Siok yang menjawab sambil tertawa,

“Sudahlah, pengalaman ini kalian jadikan contoh agar lain kali tidak bertindak semberono dan

lebih dulu memberitahukan kepada kami apabila menghadapi urusan besar! Sekarang

ceritakanlah bagaimana kalian sampai kalah terhadap Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam

Lihiap.”

Touw Cit menceritakan pengalamannya dan ketika ia menceritakan bahwa Sian-kiam Lihiap

adalah seorang anak murid Go-bi-pai pula dan bahkan anak perempuan Liok Ong Gun Kepala

daerah Kiang-sui, Lui Siok membuka matanya lebar-lebar dan berseru, “Ah, kalau begitu kita

telah menghadapi orang sendiri!”

Touw Cit dan kawan-kawannya heran mendengar ini, akan tetapi Lui Siok tidak mau banyak

bicara, hanya berkata, “Kalian lebih baik segera kembali dulu ke Tong-kwan. Biarlah aku

sendiri yang membereskan segala urusan di sini. Tidak baik kalau kalian berada terlalu lama

di sini.”

Touw Cit, Touw Tek dan dua orang anak buah Hek-i-pang itu tidak berani membantah dan

mereka pergi menuju ke Tong-kwan. Adapun Lui Siok lalu pergi mencari Sian-kiam Lihiap

Liok Tin Eng.

Siapakah sebenarnya Lui Siok ini dan mengapa ia menganggap Tin Eng sebagai orang

sendiri? Si Ular Belang yang lihai ini sebenarnya bukan lain ialah murid kepala dari Bong Bi

Sianjin tokoh Kim-san-pai itu! Dengan demikian maka Lui Siok ini masih terhitung kakak

seperguruan dari Gan Bu Gi, pemuda yang hendak dijodohkan dengan Tin Eng dan yang

sekarang menjadi perwira di gedung ayah Tin Eng itu! Lui Siok telah mendengar tentang

keberuntungan Gan Bu Gi yang menjadi perwira itu, karena suhunya telah menceritakannya,

maka ia tahu bahwa sutenya itu hendak dipungut menantu oleh Liok-taijin.

Ia telah mengetahui bahwa Liok-taijin adalah seorang anak murid Go-bi-pai yang pandai dan

mendengar pula bahwa ilmu silat gadis yang hendak dijodohkan dengan sutenya itu bahkan

lebih tinggi lagi. Maka tentu saja ia terkejut sekali mendengar bahwa yang memusuhi Touw

Cit dan Touw Tek adalah Liok Tin Eng atau calon isteri dari Gan Bu Gi sutenya.

 130

Pada saat itu, Tin Eng sedang berada di kebun belakang yang dikelilingi tembok tinggi dan

gadis ini sedang berlatih silat seorang diri untuk menyempurnakan ilmu silat tangan kosong

Sin-eng Kun-hoat yang ia pelajari dari Gwat Kong. Berbeda dengan Sin-eng Kiam-hoat yang

pernah ia pelajari dari kitab salinan, untuk ilmu silat tangan kosong yang belum pernah ia

pelajari sama sekali ini, ia mendapatkan berbagai kesulitan.

Baiknya ia telah ingat di luar kepala tentang teori-teorinya sehingga ia dapat melatih seorang

diri dengan giat dan tekunnya. Ia sedang melatih berkali-kali gerakan dari Sin-eng Kai-peng

(Garuda Sakti Membuka Sayap). Gerakan ini walaupun dimulai dengan dua lengan terpentang

ke kanan kiri, akan tetapi mempunyai pecahan yang banyak macamnya, yang disesuaikan

dengan gerakan dan kedudukan lawan.

Ia pernah melihat Gwat Kong mendemonstrasikan gerakan ini. Akan tetapi masih saja ia

mendapatkan kesulitan dan belum merasa puas dengan gerakan sendiri yang dianggapnya

masih kurang sempurna. Oleh karena itu semenjak tadi ia mengulangi lagi gerakan itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara teguran. “Aneh sekali, mengapa anak murid Go-bi-pai mainkan

ilmu silat yang aneh semacam itu?”

Tin Eng cepat menengok dan melihat seorang laki-laki tua berbaju hitam berambut putih

berdiri di atas tembok taman itu. Ia kaget sekali karena sama sekali ia tidak mendengar atau

melihat gerakan orang ini sehingga ia dapat menduga bahwa kepandaian orang ini tentu tinggi

sekali. Ia memandang dan bertanya,

“Kakek yang gagah siapakah kau dan apakah maksudmu melompat ke atas tembok lain

orang?”

Kakek ini yang bukan lain adalah Lui Siok si Ular Belang, tertawa bergelak.

“Apakah kau yang disebut Sian-kiam Lihiap dan bernama Liok Tin Eng?” Ia balas bertanya.

Tin Eng mendongkol sekali karena sikap kakek ini ternyata memandang rendah, belum

menjawab sudah balas bertanya.

“Kalau aku benar Sian-kiam Lihiap Liok Tin Eng, habis kau mau apakah?”

“Benar galak …!” Lui Siok kembali tertawa. “Akan tetapi cantik manis dan gagah!” Kini ia

berjongkok di atas tembok itu dan sambil tersenyum ia berkata kembali,

“Nona, ketahuilah bahwa kau berhadapan dengan Hoa-coa-ji Lui Siok (Si Ular Belang)!”

Tin Eng tersenyum mengejek. “Semenjak hidupku, aku belum pernah mendengar nama dan

julukan itu.”

Lui Siok tidak marah, hanya tertawa lagi. “Tentu saja belum kenal karena kau masih hijau dan

kurang pengalaman.”

Tin Eng makin mendongkol lalu berkata ketus, “Orang tua, sebetulnya apakah maksud

kedatanganmu? Apakah kau datang hanya hendak memamerkan nama dan julukanmu? Kalau

benar demikian, kau salah alamat. Seharusnya kau pergi ke pasar di mana terdapat banyak

orang dan kau boleh menjual nama sesuka hatimu. Aku tidak butuh julukan!”

 131

“Aduh aduh! Mengapa sute berani menghadapi nona yang begini galak?” kembali Lui Siok

berkata. Akan tetapi ia benar-benar cantik jelita dan gagah. Ha ha, nona kecil, jangan kau

berlaku galak kepadaku. Ketahuilah bahwa aku sebetulnya masih suhengmu (kakak

seperguruan) sendiri!”

Tin Eng terkejut dan heran, akan tetapi ia makin gemas. Terang bahwa orang tua ini hendak

mempermainkannya. Dari mana ia mempunyai kakak seperguruan seperti ini? Melihat atau

mendengar namanya belum pernah.

“Aku tidak pernah mempunyai seorang suheng yang manapun juga!” katanya mendongkol.

“Harap jangan mengobrol di sini dan pergilah!”

“Ha ha ha! Tentu sute belum menceritakan hal suhengnya ini kepadamu. Ah, kalau bertemu

dengan Gan-sute, tentu ia akan kutegur! Ketahuilah nona, Gan Bu Gi, calon suamimu itu

adalah suteku! Kalau aku menjadi suhengnya, bukankah kau juga harus menyebut suheng

kepadaku?”

Kini mengertilah Tin Eng, akan tetapi pengertian ini bahkan menambah kemarahannya.

Dengan muka merah ia menuding,

“Jangan kau ngaco belo! Siapa yang menjadi calon isteri orang she Gan itu? Jangan kau

berlancang mulut!”

Kini Lui Siok memandang heran dan ia menggeleng-gelengkan kepala lalu berdiri di atas

tembok itu.

“Heran, heran! Gan-sute benar-benar gila! Mengapa ia mau mencari jodoh dengan gadis

segalak ini? Nona Liok! Ku berlaku kurang ajar terhadap saudara tua, kalau calon suamimu

mendengar tentang hal ini, kau tentu akan mendapat teguran keras!”

“Tutup mulutmu yang busuk!”

Marahlah Lui Siok melihat sikap Tin Eng yang dianggapnya terlalu kurang ajar ini. Mana ada

calon isteri seorang sute bersikap seperti ini terhadap seorang suheng?

“Hmmm, agaknya kau sombong karena kau telah mendapat julukan Sian-kiam Lihiap!

Ketahuilah nona galak, kedatanganku ini sebenarnya untuk mencari dan membunuh Kang-lam

Ciu-hiap yang telah mengganggu kawan-kawanku yaitu Touw Cit dan Touw Tek! Tadinya

kaupun hendak kuhajar, akan tetapi mendengar bahwa kau adalah calon isteri suteku, tentu

saja aku tidak mau turun tangan, hanya mengharapkan sikap manis darimu dan pernyataan

maaf. Sekarang sikapmu begini kurang ajar, agaknya kau mau mengandalkan kepandaian

Kang-lam Ciu-hiap. Suruh dia keluar agar dapat berkenalan dengan kelihaian Hoa-coa-ji Lui

Siok!”

“Kang-lam Ciu-hiap tidak berada di sini!” jawab Tin Eng dengan tabah. “Tak perduli kau

menjadi suheng siapapun juga, kalau kau membela Touw Cit, berarti kaupun bukan manusia

baik-baik. Bukan hanya Kang-lam Ciu-hiap yang memberi hajaran kepada Touw Cit, akan

tetapi akupun mempunyai saham terbesar! Kalau kau memang berani dan berkepandaian

turunlah, siapa takuti omonganmu yang besar?”

 132

“Bocah kurang ajar!” Lui Siok membentak dan ia segera melompat turun dengan gerakan

Chong-eng-kim-touw (Burung Sambar Kelinci), langsung menubruk dari atas dengan kedua

tangan diulur dan dibuka bagaikan seekor burung garuda menyambar dan menerkam tubuh

Tin Eng. Akan tetapi gadis itu telah siap menanti dan ketika tubuh lawannya telah turun dekat,

kaki kanannya menyambar sambil menendang dengan keras untuk memapaki dada musuhnya

“Bagus!” seru Lui Siok yang segera mengulur tangan kirinya yang tadi dibuka untuk

menangkap kaki kanan Tin Eng itu. Gadis itu terkejut sekali melihat gerakan tangan memutar

yang hendak menangkap kakinya dari bawah, maka ia cepat menarik kembali kakinya

melompat ke kiri dan mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah pelipis lawan.

Diam-diam Lui Siok memuji kegesitan gadis ini dan cepat ia miringkan kepala dan kembali

tangan kanannya menyerbu cepat untuk menangkap pergelangan tangan yang memukul itu.

Tin Eng maklum bahwa lawan ini memiliki lweekang yang kuat dan jari-jari tangan yang

dibuka dan merupakan kuku garuda itu. Ia dapat menduga lawan tentulah seorang ahli dalam

ilmu silat mencengkeram seperti halnya ilmu silat Eng-jiauw-kang, maka tentu saja ia tidak

membiarkan tangannya ditangkap dan segera menarik kembali tangannya cepat-cepat dan

menerjang lagi dengan pukulan tangan kiri.

Serangan-serangan yang dilakukan oleh Tin Eng ini adalah pukulan-pukulan dari Sin-eng

Kun-hoat dan gerakannya demikian aneh sehingga untuk jurus-jurus pertama Lui Siok merasa

bingung dan terkejut. Serangan-serangannya itu dapat dirubah sedemikian cepatnya dan

disusul oleh serangan-serangan berikutnya yang makin lama makin cepat. Ia sama sekali tidak

diberi kesempatan untuk menggunakan cengkeraman dan tangkapannya.

Akan tetapi sayang sekali bahwa ilmu silat tangan kosong yang dipelajari oleh Tin Eng ini

belum sempurna benar sehingga setelah beberapa jurus lamanya ia belum berhasil memukul

lawannya. Tin Eng segera merubah ilmu silatnya dan kini ia bersilat dengan ilmu silat Go-bipai

yang dipelajari dari ayahnya. Dalam hal ilmu silat ini, Tin Eng sudah mempunyai

kepandaian yang cukup lumayan. Akan tetapi Lui Siok tertawa bergelak menghadapi ilmu

silat yang dikenalnya dengan baik ini.

“Nona manis, kalau Seng Le Locianpwe melihat kau menyerang aku, tentu dia akan menegur

kau! Aku kenal baik padanya!”

“Siapa sudi banyak mengobrol dengan kau?” seru Tin Eng dengan marah dan menyerang

terus dengan bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan keras. Ia merasa sayang sekali bahwa

pedangnya tidak dibawa dan ditinggalkan di dalam kamarnya. Karena memang tadi ia sengaja

datang untuk berlatih silat tangan kosong, maka ia tidak membawa-bawa pedang.

“Bangsat tua bangka!” teriaknya memaki. “Kalau kau memang gagah, tunggulah aku

mengambil pedangku!”

“Ha ha ha, bocah galak. Boleh, boleh, kau ambillah pedangmu. Memang aku ingin sekali

menyaksikan bagaimana lihainya pedang dari Sian-kiam Lihiap!”

Tin Eng lalu berlari masuk dan tak lama kemudian ia telah kembali membawa pedangnya.

Benar saja, Lui Siok masih menanti di situ dengan tersenyum-senyum mengejek.

 133

“Awas pedang!” seru Tin Eng yang sama sekali tidak memperdulikan lawannya yang

bertangan kosong. Seruannya ini dibarengi dengan tusukan pedangnya yang digerakkan

secara luar biasa. Tadinya Lui Siok mengira bahwa ia akan menghadapi ilmu pedang Go-bi,

dan melihat tingkat nona itu, ia merasa cukup kuat untuk menghadapi pedang nona itu dengan

tangan kosong, mengandalkan lweekangnya yang jauh lebih kuat dan ilmu silatnya Siauwkin-

na Jiu-Hoat yang lihai. Akan tetapi, setelah nona itu menyerang bertubi-tubi dengan hebat

sekali membuat ia harus melompat kesana ke mari menghindarkan diri, terkejutlah dia! Ilmu

pedang ini sama sekali bukan ilmu pedang Go-bi-pai dan hebatnya bukan main! Belum

pernah ia menyaksikan ilmu pedang seperti ini.

Biasanya menghadapi ilmu pedang biasa, ia berani menghadapi dengan kedua tangannya

mengandalkan lweekang dan ilmu silatnya. Akan tetapi melihat betapa pedang ditangan gadis

itu, cara menusuk dan membacoknya berbeda dengan ilmu pedang yang lain, yakni

tusukannya digetarkan dan bacokannya dibarengi gerakan mengiris, ia tidak berani berlaku

gegabah dan tidak mau coba-coba untuk menangkap dan merampas pedang itu. Menghadapi

serangan-serangan ini, Lui Siok tidak berani main-main lagi, bahkan kini ia berhenti

tersenyum dan tak dapat mengeluarkan kata-kata ejekan lagi, akan tetapi mengerahkan

seluruh perhatian dan kepandaiannya untuk menjaga diri.

Lui Siok benar-benar lihai, karena setelah bertempur tiga puluh jurus lebih, pedang di tangan

Tin Eng belum juga berhasil sama sekali. Gerakan kakek ini terlampau gesit dan tangannya

yang kuat itu benar-benar lihai. Tiap kali pedang Tin Eng dengan gerakan aneh hampir

berhasil mengenai tubuhnya, ia lalu mempergunakan jari-jari tangannya dikepretkan ke arah

pedang sehingga senjata itu terpental dan tidak mengenai sasaran. Tin Eng benar-benar

merasa terkejut sekali.

Akhirnya Lui Siok mengambil keputusan untuk mempergunakan senjatanya yang jarang

sekali dikeluarkannya oleh karena ia maklum bahwa dengan hanya mengandalkan sepasang

tangannya saja, sukarlah baginya untuk memperoleh kemenangan terhadap gadis yang lihai

sekali ilmu pedangnya itu. Ia berseru keras dan tahu-tahu ia telah melepaskan sehelai

sabuknya yang aneh, karena sabuknya ini ternyata adalah seekor ular belang yang telah kering

akan tetapi masih lemas seperti hidup saja.

Inilah yang membuat dia diberi julukan si Ular Belang, karena senjatanya ini pernah

menggemparkan dunia kang-ouw. Lui Siok adatnya sombong dan angkuh, maka apabila tidak

menghadapi musuh yang benar-benar tangguh, ia jarang sekali mau mempergunakan

senjatanya ini.

Tin Eng merasa agak geli melihat ular itu, dan juga jijik sekali, akan tetapi itu bukan berarti

bahwa ia takut. Dengan cepat ia menyerang lagi dan ketika senjata ular itu menangkis, Tin

Eng terkejut sekali karena bukan saja ular itu ternyata keras bagaikan logam, akan tetapi

tangkisan itu membuat tangannya gemetar. Demikian hebatnya tenaga lweekang dari Lui Siok

Tin Eng terus menyerang dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Akan tetapi ternyata

bahwa ilmu kepandaian Lui Siok amat lihai dan tingkatnya masih lebih tinggi dari padanya.

Perlu diketahui bahwa twa-suheng (Kakak Seperguruan Tertua) dari Gan Bu Gi atau murid

yang paling lihai dari Bong Bi Sianjin, Lui Siok ini tentu saja mempunyai kepandaian yang

 134

amat tinggi, ditambah pula dengan pengalamannya bertempur yang sudah puluhan tahun,

maka kini Tin Eng merasa terdesak hebat.

Betapapun juga, gadis itu masih dapat mempertahankan diri sampai hampir lima puluh jurus.

Akhirnya, sebuah serangan dengan sabetan ular itu ke arah lehernya membuat Tin Eng

terkejut dan memperlambat gerakan pedang karena ia harus melompat ke pinggir melindungi

Kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh Lui Siok yang mempergunakan tangan

kirinya menyerang dengan ilmu silat mencengkeram. Sebelum Tin Eng dapat menarik,

pedangnya itu telah dapat dicengkeram dan dirampas. Gadis ini masih nekad dan hendak

merampas kembali pedangnya, akan tetapi pedang itu digerakkan oleh Lui Siok ke arah dada

gadis itu dengan ancaman tusukan. Tin Eng miringkan tubuh dan “brett!” robeklah baju Tin

Eng di bagian pinggang.

“Ha ha ha! Kau benar-benar lihai! Lihai, cantik dan galak. Kecantikan dan kepandaianmu

memang membuat kau patut menjadi nyonya Gan Bu Gi, akan tetapi sayang kau terlalu galak.

Kalau aku tak ingat bahwa kau adalah anak murid Seng Le Hosiang dan calon isteri Gan-sute,

tentu kau telah menggeletak tak bernyawa di depan kakiku!”

Sambil berkata demikian, Lui Siok menggerakkan tangannya mencengkeram pedang itu dan

“kreek!” patahlah pedang Tin Eng yang telah dirampas tadi. Kemudian ia melompat ke arah

tembok dan lenyap dari pandangan mata Tin Eng yang marah dan penasaran sekali.

Kemudian ia mendengar dari pamannya yakni Lie-wangwe, betapa Touw Cit dan Touw Tek

telah dibebaskan dari penjara oleh tihu karena ancaman Lui Siok yang lihai itu. Tin Eng

menarik napas panjang dan berkata,

“Mereka memang lihai sekali. Baru terhadap seorang lawan saja aku dapat dikalahkannya,

apalagi kalau mereka itu mengeluarkan jago-jago yang lain. Pek-hu, lebih baik untuk

sementara waktu kita jangan mencari permusuhan dengan mereka. Kecuali kalau mereka

datang mengganggu, aku akan pertaruhkan nyawaku untuk membela diri. Kalau saja Gwat

Kong berada di sini, tentu mereka itu akan disapu bersih. Tanpa adanya Kang-lam Ciu-hiap,

mereka terlalu berat bagiku.”

Song Bu Cu, ketua Hek-i-pang adalah seorang cerdik, maka setelah berhasil membebaskan

Touw Cit dan Touw Tek, ia melarang orang-orangnya untuk mengganggu kota Hun-lam. Ia

adalah seorang yang ingin bekerja dengan aman, tidak suka lagi mempergunakan kekerasan

seperti dulu-dulu. Ia ingin agar supaya keadaan di Hun-lam menjadi ‘dingin’ dulu untuk

kemudian menggunakan kecerdikan untuk mengeduk uang para hartawan dan pembesar.

Apalagi setelah ia mendengar dari Lui Siok bahwa Kang-lam Ciu-hiap yang menjadi musuh

mereka telah pergi dan mendengar bahwa Sian-kiam Lihiap ternyata adalah tunangan Gan Bu

Gi dan anak murid Seng Le Hosiang, maka tentu saja Song Bu Cu tidak berani

Melihat keadaan yang aman dan tidak adanya gangguan dari pihak penjahat, tidak saja

mendatangkan rasa heran kepada Tin Eng, akan tetapi juga perasaan lega, karena tanpa ada

pembantu yang pandai, ia merasa percuma untuk memusuhi gerombolan yang memiliki

banyak orang pandai itu. Kini ia merasa benci kepada Gan Bu Gi karena ternyata bahwa

pemuda itu mempunyai seorang suheng yang berjiwa penjahat.

 135

****

Gwat Kong melakukan perjalanan dengan perlahan, tidak tergesa-gesa dan orang-orang yang

melihatnya akan menyangka bahwa ia adalah seorang pemuda pelancong yang lemah. Sama

sekali takkan menyangka bahwa ia adalah Kang-lam Ciu-hiap, pendekar muda yang baru saja

muncul di dunia kang-ouw dan dalam waktu singkat telah membuat nama besar dengan

mengalahkan Ngo-heng-kun Ngo-hiap dan mengobrak-abrik anggauta-anggauta Hek-i-pang

di kota Hun-lam.

Ia ingin pergi lagi ke Ki-hong di mana terdapat makam ibunya dan hendak bersembahyang di

depan makam ibunya. Setelah ia selesai bersembahyang dan berjalan perlahan-lahan keluar

dari tanah kuburan itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang menangis sedih sekali. Hatinya

menjadi tergerak dan ikut terharu.

Siapakah yang menangis di kuburan itu? Suaranya menyatakan bahwa yang menangis adalah

seorang laki-laki, agaknya menangisi mendiang orang tuanya atau isterinya. Biarpun hal itu

tiada sangkut pautnya dengan dia, akan tetapi oleh karena Gwat Kong mempunyai perasaan

halus dan hatinya mudah tergerak, ia lalu membelokkan langkah kakinya menuju ke arah

suara yang menangis itu.

Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia melihat bahwa yang menangis itu adalah seorang

laki-laki tua. Seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua. Pakaiannya biarpun putih

bersih akan tetapi penuh tambalan. Di dekatnya terdapat sebuah pikulan dan keranjang terisi

daun-daun dan akar-akar obat-obatan. Kakek inilah yang mengeluarkan suara tangisan

demikian sedihnya sambil memukul-mukul tanah dan menjambak-jambak rambutnya.

Akan tetapi tak mungkin dia dia menangisi orang yang sudah mati, oleh karena ia tidak duduk

di depan makam tertentu. Akan tetapi duduk di bawah pohon sambil memandang ke arah

gundukan-gundukan tanah kuburan itu. Ketika Gwat Kong berdiri agak jauh sambil

memandang heran, ia mendengar keluh kesah kakek itu di antara tangisnya.

“Dasar aku yang bernasib buruk ….. Hidupku yang lampau terlalu banyak dosa, maka aku

harus menderita entah berapa tahun lagi … ah … nasib … aku sudah bosan hidup …..!” Katakata

‘bosan hidup’ ini ia teriakan beberapa kali sambil mengangkat kedua tangan dan

memandang ke angkasa, seakan-akan ia hendak mengajukan protesnya kepada langit biru.

Gwat Kong makin terheran-heran melihat sikap kakek ini. Mengapakah kakek ini begitu

sedih? Siapakah gerangan orang aneh yang sudah bosan hidup ini dan apa pula yang

menyusahkan hatinya? Terdorong oleh rasa kasihan, pemuda itu melangkah maju mendekati

dan bertanya,

“Lopeh, agaknya ada sesuatu yang menyusahkan hatimu. Apakah yang mengganggumu dan

dapatkah kiranya aku menolongmu?”

Kakek itu mengangkat muka dan memandang. Gwat Kong tercengang karena sepasang mata

kakek itu bersinar tajam dan kuat sekali sehingga ia tak kuat menatapnya lama-lama.

 136

Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak dan hal ini kembali membuat Gwat Kong tertegun

keheranan. Baru saja kakek itu menangis demikian sedihnya sehingga air matanya masih

nampak mengalir di sepanjang pipinya, akan tetapi kini telah dapat tertawa bergelak.

“Kau mau menolongku? Ha ha, boleh! Cabut pedangmu itu dan seranglah aku!”

Gwat Kong terkejut sekali. Pedangnya Sin-eng-kiam ia sembunyikan di balik jubahnya.

Bagaimana kakek ini bisa tahu bahwa ia membawa pedang?

“Akan tetapi …. aku … tidak mempunyai maksud jahat, lopeh? Sesungguhnya dengan tulus

hati aku ingin menolongmu kalau aku dapat.”

Tiba-tiba kakek itu berdiri dan menyambar pikulannya yang terbuat dari pada bambu kuning

melengkung di bagian tengah, hampir menyerupai sebatang gendewa.

“Kau mau menolongku bukan? Nah, mari kita bertempur! Kalau kau bisa menewaskanku,

berarti kau telah menolongku.”

Setelah berkata demikian, ia lalu menyerang dengan pikulannya ke arah kepala Gwat Kong.

Pukulan ini cepat sekali dan mendatangkan angin keras sehingga Gwat Kong merasa terkejut

dan cepat-cepat melompat ke belakang. Ia merasa heran, bingung dan mendongkol sekali.

Gilakah orang ini?

Akan tetapi ia tidak sempat banyak berpikir karena kembali pikulan itu telah menyambar dan

melihat gerakan yang hebat itu, ia maklum bahwa kepandaian kakek ini tak boleh dibuat

permainan. Maka ia lalu mencabut pedangnya dan bersiap sedia menghadapi kakek gila ini.

“Pokiam (pedang pusaka) yang bagus!” kakek itu berseru, lalu menyerang lagi dengan cepat

lebih cepat dan keras. Terpaksa Gwat Kong menangkis serangan itu dan sekali lagi ia menjadi

terkejut karena tangkisannya ini membuat telapak tangannya terasa perih sekali dan hampir

saja pedangnya terlepas dari pegangannya. Dari benturan senjata ini saja, ia maklum bahwa

senjata di tangan kakek itu adalah senjata pusaka yang ampuh dan tenga lweekang orang gila

ini jauh lebih tinggi dari pada lweekangnya sendiri. Maka ia tidak berani memandang ringan

dan segera mainkan Sin-eng Kiam-hoat untuk menjaga diri dan balas menyerang.

“Kiam-hoat yang bagus!” seru kakek itu lagi yang memuji ilmu pedang yang dimainkan oleh

Gwat Kong.

Akan tetapi kembali Gwat Kong terheran-heran karena ternyata bahwa kakek itu tidak saja

bertenaga kuat dan memiliki senjata yang luar biasa, akan tetapi ilmu silatnya pun amat

tinggi. Baru beberapa belas jurus saja pertempuran ini berjalan, tahulah ia bahwa kakek ini

benar-benar seorang yang sakti.

Tubuhnya berkelebat demikian cepat sehingga membuat pandangan matanya kabur,

sedangkan tipu gerakan kakek itu mendatangkan sambaran angin yang dahsyat.

Gwat Kong telah mengeluarkan tipu-tipu serangan yang paling ampuh dan lihai dari Sin-eng

Kiam-hoat. Akan tetapi dengan amat baiknya kakek itu dapat memecahkannya, bahkan

membalas dengan serangan-serangan yang lebih aneh gerakannya dari pada gerakan

pedangnya dan beberapa kali hampir saja ia menjadi sasaran pukulan itu kalau saja ia tidak

berlaku gesit.

 137

Pada suatu saat, Gwat Kong tak terasa mengeluarkan seruan kaget ketika pikulan itu dengan

gerakan yang cepat sekali menusuk ke arah dadanya. Ia cepat memutar pedangnya melalui

bawah lengan kirinya dan menyampok tusukan itu dari dalam dan menolak pikulan yang telah

mengenai bajunya itu.

Pikulan terpental akan tetapi terus melayang lagi menghantam pinggangnya dengan kecepatan

yang luar biasa sehingga tak mungkin dielakkan pula. Akan tetapi Sin-eng Kiam-hoat

memang mempunyai bagian mempertahankan diri yang istimewa.

Tiba-tiba Gwat Kong ingat akan gerakan Garuda Sakti Mendekam Di Tanah. Tubuhnya lalu

ditarik ke bawah dengan kaki di tekuk sehingga ia menjadi berjongkok dengan punggung

direndahkan sehingga dadanya hampir menyentuh tanah, akan tetapi pedangnya terus diputar

di atas kepalanya menjaga diri. Dengan gerakan yang cepat ini, ia terhindar dari pada

serangan yang hebat tadi. Akan tetapi keringat dingin keluar dari jidatnya karena tadi hampir

saja ia terkena celaka. Ia makin gelisah dan menjadi gentar menghadapi kakek yang benarbenar

lihai ini.

Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak menunda serangannya.

“Ha ha ha! Anak muda yang baik, maukah kau menjadi muridku? Hanya memiliki Sin-eng

Kiam-hoat saja, seakan-akan kau tahu barat tidak kenal timur!”

Gwat Kong adalah seorang pemuda yang cerdik dan memang sudah menjadi wataknya suka

merendah. Maka tanpa sangsi-sangsi lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu

dan berkata,

“Kalau locianpwe sudah memberi bimbingan kepada teecu yang bodoh, teecu Bun Gwat

Kong akan merasa beruntung sekali.”

Melihat pemuda itu berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya kepadanya, kakek itu

tertawa girang, lalu mengangkat pikulan bambunya dan memukulkan pikulannya ke arah

kepala Gwat Kong dengan keras.

Gwat Kong tentu saja tahu akan hal ini. Akan tetapi pemuda ini mengeraskan hatinya dan

meramkan matanya. Sama sekali tidak bergerak, karena memang sesungguhnya ia memang

takluk dan percaya kepada kakek yang sakti ini. Ketika pikulan itu telah dekat sekali dengan

kepala Gwat Kong, tiba-tiba pikulan itu seakan-akan tertolak oleh tenaga aneh dan membalik,

dibarengi suara ketawa kakek itu.

“Bagus, bagus! Kau benar percaya kepadaku. Mulai sekarang kau menjadi muridku. Namamu

Bun Gwat Kong? Bagus sekali, dan aku adalah Bok Kwi Sianjin!”

Kakek itu lalu melangkah maju menghampiri gundukan-gundukan kuburan yang terdekat dan

memukul-mukulkan tongkat bambunya itu kepada gundukan tanah itu sambil berkata,

“Aku tarik kembali omonganku tadi. Sekarang aku tidak ingin mati, belum bosan hidup

karena aku harus menurunkan Sin-hong-tung-hoat kepada muridku ini.”

Ia lalu menengok kepada Gwat Kong dan berkata,

 138

“Gwat Kong, kau kesinilah dan bersumpah dihadapan kuburan ini bahwa kau akan

mempelajari Sin-hong-tung-hoat dengan baik kemudian mewakili suhumu membasmi

kejahatan dan memperebutkan sebutan ahli silat kelas satu di waktu mendatang!”

Gwat Kong maklum bahwa suhunya adalah seorang kakek yang beradat aneh, maka tanpa

banyak bertanya ia lalu berlutut di depan beberapa gundukan tanah yang tidak diketahuinya

kuburan siapa itu, lalu bersumpah.

“Teecu Bun Gwat Kong dengan disaksikan oleh gundukan kuburan-kuburan ini, bersumpah

bahwa teecu akan mempelajari ilmu silat yang diajarkan oleh suhu Bok Kwi Sianjin sebaikbaiknya.

Kemudian kepandaian itu akan teecu pergunakan untuk membela kebenaran dan

keadilan, membasmi kejahatan!”

“Dan juga mewakili aku memperebutkan sebutan ahli silat kelas satu dan ilmu silat terbaik,”

kata Bok Kwi Sianjin.

“Dan juga mewakili aku memperebutkan ahli silat kelas satu dan ilmu silat terbaik,” Gwat

Kong mengulangi.

“Juga akan membasmi musuh-musuhku,” kata pula Bok Kwi Sianjin.

GWAT Kong merasa terkejut dan ragu-ragu. Bagaimana ia bisa mengangkat sumpah untuk

membalas musuh-musuh gurunya? Sedangkan musuh ayahnya pun ia tidak mau membalasnya

karena ternyata bahwa puteri musuh ayahnya bukan orang jahat. Akan tetapi ia tidak berani

membantah dan dengan cerdiknya ia mengulangi kata-kata suhunya dengan sedikit tambahan.

“Dan juga teecu akan membasmi musuh-musuh suhu yang jahat.”

Ia sengaja menambah kata-katanya, ‘yang jahat’ sehingga kalau kelak ia mendapatkan bahwa

musuh suhunya bukan orang jahat, ia tidak usah membalas dendam dan berarti ia tidak

melanggar sumpahnya. Kalau musuh suhunya memang jahat, jangankan menjadi musuh

suhunya, biarpun tidak menjadi musuh, sudah menjadi kewajibannya untuk membasmi orang

jahat! Memang Gwat Kong benar-benar cerdik dan berpikiran luas.

Bok Kwi Sianjin tertawa-tawa senang dan berkata kepada muridnya yang masih duduk di atas

tanah, bersila sambil memukul-mukulkan pikulannya pada tanah keras,

“Gwat Kong kau tak kusangka-sangka adalah penemu dari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat yang

kukira telah lenyap dari permukaan bumi ini. Aku tahu bahwa dulu yang mendapatkan kitab

pelajaran ilmu pedang itu adalah Leng Po In atau Bu-eng-san, si Dewa Tanpa Bayangan.

Akan tetapi ia menjadi gila dan entah ke mana ia buang kitab itu. Tak tahunya, kau yang

mendapat jodoh dan mewarisi kitab itu dan telah pula mempelajari ilmu pedangnya yang luar

biasa. Ketahuilah bahwa Sin-eng Kiam-hoat ini pada seratus tahun yang lalu menjadi ilmu

yang paling terkenal di barat. Akan tetapi masih belum dapat mengalahkan pengaruh ilmu

tongkat Sin-hong-tung-hoat dari timur. Sucouwmu (nenek moyang guru) yang menciptakan

Sin-hong-tung-hoat adalah saudara seperguruan dan keduanya selalu berusaha untuk menang

sehingga entah berapa kali kedua ilmu itu diadu. Betapapun juga, dibandingkan dengan ilmuilmu

keluaran berbagai cabang persilatan, kedua ilmu itu tidak akan kalah. Selain Go-bi, KunKang-

lam Tjiu-Hiap > karya Kho Ping Hoo > buyankaba. 139

lun, Thai-kek dan Hoa-san, yang berkembang luas dan telah terkenal, maka para ahli

persilatan maklum bahwa di empat penjuru terdapat Sin-eng Kiam-hoat dari barat, Sin-hongtung-

hoat dari Timur, Pat-kwa-to-hoat (Ilmu Golok Pat-kwa) dari utara dan Im-yang Siangkiam-

hoat (Ilmu Pedang Berpasangan Im-yang) dari selatan. Keempat ilmu silat ini

tingkatnya sedemikian tinggi sehingga tak usah menyerah terhadap cabang-cabang persilatan

yang manapun juga, oleh karena semua ini adalah ilmu silat khusus. Sin-eng Kiam-hoat

khusus pelajaran pedang. Sin-hong-tung-hoat pelajaran tongkat. Pat-kwa-to-hoat permainan

golok dan Im-yang Siang-kiam-hoat permainan pedang berpasangan. Tidak seperti cabangcabang

persilatan yang selain mempelajarkan banyak macam permainan sehingga tidak dapat

mencapai tingkat tinggi. Juga mereka menerima murid secara serampangan saja sehingga

terbukti sekarang terdapat kekacauan dan permusuhan antara Go-bi dan Hoa-san.”

Mendengar ucapan suhunya yang panjang lebar itu, diam-diam Gwat Kong merasa girang

karena ternyata bahwa sekali-kali suhunya bukanlah seorang gila seperti yang disangkanya

semula. Memang suhunya mempunyai watak dan sikap yang aneh sekali akan tetapi setelah ia

bicara, ternyata bahwa suhunya yang memiliki pengetahuan yang luas tentang keadaan di

kalangan kang-ouw. Akan tetapi agaknya yang mendengar pembicaraan Bok Kwi Sianjin tadi

bukan hanya Gwat Kong seorang, karena tiba-tiba terdengar suara orang mencela,

“Bok Kwi Sianjin, kau masih saja amat sombong dan tidak memandang kepada golongan

lain.”

Berbareng dengan habisnya perkataan ini, orang yang bicara ini muncul dan ternyata bahwa ia

tadi bersembunyi di atas pohon yang besar, agak jauh dari situ sehingga Gwat Kong merasa

kagum karena orang itu mempunyai pendengaran yang amat tajam serta mempunyai gerakan

yang amat cepat. Ia memperhatikan dan orang ini adalah seorang tosu (pendeta penganut

agama To) yang bertubuh tinggi kurus bagaikan pohon bambu, keningnya telah penuh keriput

dan giginya telah ompong semua.

Akan tetapi anehnya, kedua pipinya kemerah-merahan dan sehat sekali. Sedangkan rambut

dan kumis jenggotnya yang panjang semua masih hitam seperti dicat. Di punggungnya

tergantung sebuah tongkat yang gagangnya berbentuk kepala naga.

Melihat tosu ini, Bok Kwi Sianjin tertawa terkekeh-kekeh dan bangkit dari duduknya,

“Aha! Sin Seng Cu, tidak saja kau kelihatan makin muda, akan tetapi hatimu bertambah muda

saja.”

Kemudian ia berkata kepada Gwat Kong yang juga sudah berdiri. “Muridku, inilah tokoh

Hoa-san-pai, orang pertama yang menimbulkan kerusuhan antara Go-bi dan Hoa-san setelah

ia mengalahkan Seng Le Hosiang. Agaknya ia masih saja beradat keras. Lihat saja matanya

ditujukan kepadaku dengan penuh kehendak menguji kepandaian, ha ha ha!”

Mendengar nama ini, Gwat Kong menjadi terkejut dan memandang dengan penuh perhatian.

Kalau tosu itu pernah mengalahkan Seng Le Hosiang, tokoh Go-bi-pai yang pernah

dijumpainya itu, dapat dibayangkan betapa hebat dan tingginya ilmu kepandaian tosu ini.

Sementara itu, Sin Seng Cu ketika mendengar ucapan Bok Kwi Sianjin tadi, tertawa bergelak

lalu berkata,

 140

“Bok Kwi Sianjin, agaknya kau masih mengandalkan ilmu tongkatmu Sin-hong-tung-hoat.

Mari-mari kita boleh main-main sebentar untuk saling mengukur sampai di mana kemajuan

masing-masing.”

Sambil berkata demikian, kedua tangan tosu itu bergerak dan tahu-tahu tongkat kepala naga

itu telah berada di tangannya.

Kembali Bok Kwi Sianjin tertawa, “Sin Seng Cu! Sebelum kita tua sama tua bermain gila

dengan pedang harap kau suka berlaku murah sedikit kepadaku dan menguji kebodohan

pemuda yang menjadi muridku ini. Kalau dia bisa bertahan sampai dua puluh jurus

menghadapi Liong-thouw-koai-tung (Tongkat Iblis Kepala Naga) di tanganmu, aku takkan

menganggapmu bodoh lagi!” Kemudian kakek itu tanpa menanti jawaban Sin Seng Cu,

berkata kepada Gwat Kong.

“Hayo kau cabut pedangmu dan hadapi tosu ini dengan baik sampai dua puluh jurus!”

Diam-diam Sin Seng Cu merasa mendongkol karena hendak diadu dengan murid kakek itu.

Akan tetapi iapun merasa heran sekali karena mengapa Bok Kwi Sianjin yang menjadi ahli

ilmu silat tongkat, tiba-tiba mempunyai murid yang menggunakan pedang. Maka ia segera

menjawab sambil tersenyum,

“Baik, baik! Kau majulah anak muda!”

“Harap totiang suka berlaku murah hati kepada teecu,” kata Gwat Kong dengan hormat

karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang tokoh Hoa-san-pai yang tinggi ilmu

Ia diberi waktu untuk melawan sampai dua puluh jurus, maka ia merasa penasaran, karena

benarkah ia tidak kuat menghadapi tosu ini dalam dua puluh jurus saja? Dengan pikiran ini, ia

lalu maju dan mulai menyerangnya dengan gerak tipu yang lihai dari Sin-eng Kiam-hoat.

Pertama-tama ia menyerang dengan tusukan pedang pada leher tosu itu dalam gerak tipu Sineng-

chio-cu (Garuda Sakti Rebut Mestika) dan ketika tosu itu mengelak sambil gerakkan

tongkatnya yang aneh itu untuk menyabet pedang, ia segera menarik kembali pedangnya dan

membuka serangan kedua dengan gerakan Sin-eng-hian-bwe (Garuda Sakti Memperlihatkan

Ekor). Gerakan kedua ini dilakukan dengan membalikkan tubuh lalu tiba-tiba pedang

diluncurkan dari bawah lengan kiri dengan tidak terduga-duga dan cepat sekali.

“Bagus!” seru Sin Seng Cu memuji karena ia benar-benar tertegun melihat gerakan yang

cepat dan aneh ini sehingga ia harus cepat menggerakkan tongkatnya untuk melindungi

dadanya yang hendak disate. Tak pernah ia menyangka bahwa pemuda ini memiliki gerakan

pedang yang demikian aneh dan cepat, maka ia segera berseru keras dan sebentar saja tongkat

kepala naga di tangannya menyambar-nyambar ke atas dan ke bawah, mengurung Gwat Kong

dengan sinarnya. Tongkat itu kini seakan-akan berubah menjadi belasan batang dan semua

mengancam jalan darah dan bagian yang berbahaya dari tubuh Gwat Kong.

Pemuda ini terkejut sekali dan cepat mempergunakan ginkangnya dan mengerahkan seluruh

kepandaiannya untuk melakukan perlawanan. Ia mengeluarkan gerakan Sin-eng Kiam-hoat

yang paling sukar dan tinggi setelah ia putar-putar pedangnya dengan gerakan Hwee-engKang-

lam Tjiu-Hiap > karya Kho Ping Hoo > buyankaba. 141

koan-jit (Garuda Terbang Menutup Matahari), barulah ia dapat pecahkan serangan tosu yang

lihai itu.

Sin Seng Cu adalah seorang tosu yang terkenal mempunyai watak keras tidak mau kalah.

Ketika tadi menerima permintaan Bok Kwi Sianjin untuk menghadapi pemuda itu, ia

memandang rendah dan merasa pasti bahwa ia tentu akan berhasil mengalahkan pemuda itu

sebelum dua puluh jurus.

Kini melihat betapa sepuluh jurus telah berlalu tanpa ia dapat merobohkan lawannya, ia

menjadi penasaran sekali berbareng kaget. Ilmu pedang pemuda ini benar-benar lihai sekali

dan tingkatnya tidak berada di sebelah bawah ilmu tongkatnya. Kalau pemuda ini sudah

begini lihai, tentu Bok Kwi Sianjin telah memiliki ilmu silat yang tak dapat diukur tingginya.

Ia heran sekali karena ia belum pernah mendengar kakek itu memiliki ilmu pedang dan ketika

ia memperhatikan ilmu pedang dari Gwat Kong, ia makin menjadi heran.

Sambil berseru keras karena hatinya mulai menjadi panas, Sin Seng Cu lalu menyerang makin

hebat dan kini ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk merobohkan pemuda

itu. Biarpun untuk dapat mencapai maksudnya itu ia harus memukul hancur kepala lawannya

yang muda!

Ia maklum bahwa terhadap pemuda ini ia tak bisa main-main dan berlaku murah karena tanpa

penyerangan yang sungguh-sungguh dan mati-matian, agaknya tak mungkin ia akan dapat

mengalahkan pemuda ini, jangankan hendak merobohkannya dalam dua puluh jurus.

Sebaliknya, sungguhpun Gwat Kong dapat mengimbangi permainan tosu itu, akan tetapi ia

merasa betapa beratnya menghadapi lawan ini. Tiap kali tongkat itu menyerempet pedangnya,

ia merasa seakan-akan lengannya menjadi kaku. Akan tetapi Gwat Kong memiliki ketabahan

luar biasa yang membuat hatinya tenang dan matanya tajam waspada sehingga biarpun ia

terdesak hebat.

Akan tetapi ia masih belum berada dalam keadaan berbahaya dan masih sanggup menangkis

atau mengelak sambil melakukan serangan balasan yang tak kalah lihainya. Biarpun

kedudukannya kalah kuat karena selain kalah tenaga, juga kalah pengalaman dan keuletan,

akan tetapi ia dapat membalas tiap serangan sehingga boleh dibilang bahwa pertempuran itu

tak terlalu berat sebelah dan cukup ramai.

Dua puluh jurus telah lewat tanpa ada yang terkena senjata. Dua puluh lima jurus, tiga puluh

jurus! Tetap saja Gwat Kong dapat mempertahankan diri. Tiba-tiba Sin Seng Cu melompat

mundur dan menahan tongkatnya, sedangkan Gwat Kong dengan hati lega juga berdiri dan

menjura terhadap tosu itu.

“Bok Kwi Sianjin,” Sin Seng Cu menegur dengan muka merah. “Jangan kau main-main.

Siapakah sebetulnya pemuda ini? Bukankah ilmu pedangnya itu Sin-eng Kiam-hoat?”

Bok Kwi Sianjin tertawa puas. “Ha ha ha! Matamu tajam juga, Sin Seng Cu. Memang dia ini

ahli waris Sin-eng Kiam-hoat, dan sekarang dia juga calon ahli waris Sin-hong-tung-hoat.”

“Bok Kwi Sianjin, kau berlaku tolol,” kata Sin Seng Cu mengejek. “Bukan aku merasa takut

kepada Sin-eng Kiam-hoat digabung dengan Sin-hong-tung-hoat. Akan tetapi, dengan

terpisahnya kedua ilmu itu, kalau yang satu terbawa sesat, yang lain dapat menahannya. Kalau

 142

tergabung dalam diri seorang, lalu ia bermata gelap dan menjalani lorong kesesatan, bukankah

sama dengan mencari penyakit?”

“Sin Seng Cu, kau berpandangan picik. Aku tidak sembarangan menurunkan ilmu kepada

orang yang lemah iman. Tidak seperti kau dan golonganmu yang mengobral kepandaian

kepada siapa saja yang mau belajar sehingga banyak anak muridmu yang memancing

kekacauan dan permusuhan. Bagiku seorang murid yang baik lebih berharga dari pada seribu

orang murid yang tak benar.”

“Bok Kwi Sianjin, masih saja kau memperlihatkan kesombonganmu! Sebetulnya sampai di

mana sih, kelihaian Sin-hong-tung-hoat? Seakan-akan di kolong langit ini tak ada ilmu yang

lebih tinggi dari pada ilmu tongkatmu itu.”

“Kepandaian dan ilmu yang tinggi memang banyak, sayangnya orang-orang yang patut

memiliki kepandaian itu sedikit sekali,” jawab Bok Kwi Sianjin.

Diam-diam Gwat Kong mendengarkan perdebatan yang sukar ia mengerti ini dengan penuh

“Bok Kwi, cukup kita bermain lidah. Marilah kita main-main sebentar agar aku dapat merasai

di mana kemajuan tongkatmu.”

Bok Kwi Sianjin tersenyum lalu mengambil pikulannya yang tadi ditaruh di atas tanah dekat

keranjang obatnya. Kedua kakek itu saling berhadapan dengan senjata masing-masing.

Tongkat di tangan Sin Seng Cu lebih besar dan panjang dan nampak mengerikan dengan

ujung kepala naga itu. Ia memegang tongkatnya dengan lengan kanan di depan lurus ke

bawah dengan lengan di atas tongkat, sedangkan tangan kiri di belakang kepala memegang

ujung tongkat yang berkepala naga, menyangga di bawah tongkat itu. Inilah sikap pembukaan

dari ilmu toya Heng-cia-kun-hoat yang terkenal.

Sebaliknya Bok Kwi Sianjin juga lalu membuka permainannya dengan Sin-hong-kai-peng

(Burung Hong Sakti Buka Sayap), yakni gerakan permulaan dari Sin-hong-tung-hoat. Kedua

kakek ini saling pandang dengan tajam, bersikap waspada dan hati-hati karena keduanya

maklum bahwa lawan yang dihadapinya bukanlah lawan yang ringan.

Gwat Kong duduk di bawah pohon dan memandang dengan penuh perhatian. Pertempuran

yang akan berlangsung antara dua orang tokoh besar dunia persilatan ini amat menarik

hatinya dan oleh karena ia akan mendpatkan latihan dari Bok Kwi Sianjin yang telah menjadi

gurunya, maka ia pusatkan perhatiannya kepada Sin Seng Cu untuk melihat bagaimana tokoh

Hoa-san-pai ini bersilat.

“Sin Seng Cu, majulah!” seru Bok Kwi Sianjin tanpa bergerak dari pasangan kuda-kudanya

yang amat teguh.

“Bok Kwi, awas serangan!” Sin Seng Cu membentak dan berbareng dengan bentakan ini,

tongkat kepala naga di tangannya bergerak cepat membuka serangan menyambar kepala

lawan. Bok Kwi Sianjin juga menggerakkan pikulannya dan terdengar suara keras sekali

ketika dua batang senjata itu bertumbuk.

 143

Ternyata dalam gebrakan pertama ini, keduanya sengaja hendak mencoba senjata dan tenaga

masing-masing dan terpentalnya kedua senjata itu membuat mereka maklum bahwa tenaga

mereka seimbang. Maklumlah mereka bahwa untuk dapat memperoleh kemenangan, mereka

hanya harus mengandalkan kegesitan dan kesempurnaan ilmu silat masing-masing.

“Bok Kwi, jagalah baik-baik!” Sin Seng Cu berseru keras dan ia segera melanjutkan

serangannya dengan gerakan yang cepat dan berbahaya sekali datangnya.

“Bagus!” seru Bok Kwi Sianjin yang segera mengimbangi permainan lawannya dan pikulan

di kedua tangannya lalu bergerak berputar-putar sedemikian cepatnya sehingga tubuhnya

lenyap terbungkus oleh sinar senjatanya. Sin Seng Cu kagum sekali melihat ini dan iapun

menyerang lebih cepat lagi.

Tongkat kepala naga ditangannya menyambar-nyambar bagaikan seekor naga tulen yang tibatiba

menjadi hidup dan mengancam kepala dan dada Bok Kwi Sianjin. Akan tetapi kakek ini

dengan tenang, cepat sekali dapat menangkis semua serangan. Bahkan lalu mengembalikan

serangan lawan dengan luncuran kedua ujung pikulannya yang dapat bergerak secara lihai

Sungguhpun pikulan di tangannya itu hanya berujung dua, akan tetapi gerakan-gerakannya

membuat pikulan itu seakan-akan mempunyai lima bagian yang digunakan untuk menyerang

dan inilah kelihaian Sin-hong-tung-hoat (Ilmu Tongkat Burung Hong Sakti). Burung Hong

atau segala burung sakti apabila berkelahi selalu menggunakan lima senjatanya untuk

menyerang, yakni sepasang sayapnya untuk menampar, sepasang kaki untuk mencengkeram

dan sebuah paruh untuk menusuk dan mematuk.

Berdasarkan gerakan lima senjata inilah ilmu tongkat itu diciptakan sehingga pikulan itu

kedua ujungnya menyambar-nyambar dengan gerakan dan perubahan yang aneh dan tak

terduga oleh lawan. Kadang-kadang merupakan paruh burung menusuk mata atau menyerang

kepala. Kadang-kadang merupakan sayap burung yang menyabet pundak kanan atau kiri. Dan

kadang-kadang merupakan sepasang cakar burung yang menyerang dan menusuk tubuh

bagian bawah dari lambung ke bawah.

Gwat Kong tidak begitu memperhatikan permainan silat gurunya oleh karena ia pikir kelak

tentu akan mempelajarinya pula dan ia mencurahkan perhatiannya kepada Sin Seng Cu. Tadi

ketika ia bertempur menghadapi tosu itu, keadaannya amat terdesak sehingga tak mungkin

baginya untuk memperhatikan gerakan lawan. Maka kini ia memperhatikan dengan amat

Ternyata olehnya bahwa gerakan-gerakan kaki dari tokoh Hoa-san-pai ini berdasarkan ilmu

silat Sha-kak-kun-hoat (Ilmu Silat Segi Tiga). Kedua kakinya selalu membuat gerakan

langkah segi tiga yang teratur sekali sehingga bagaimana tosu itu diserang oleh lawan, selalu

lawannya berada tepat di depannya. Senjata lawan takkan dapat menyerangnya dari pinggir

kanan maupun kiri karena setiap kali tubuh lawannya bergerak, kedua kakinya ikut pula

bergerak membentuk segi tiga yang baru sehingga selalu ia menghadapi lawannya dengan

hanya menggerakan sedikit kedua kakinya.

Memang dalam persilatan, menghadapi serangan dari jurusan depan yang lurus lebih mudah

ditangkis atau dikelit dari pada menghadapi serangan dari samping. Perubahan serangan yang

datang dari depan mudah sekali dilihat perubahannya dengan hanya memandang gerakan

 144

pundak lawan. Akan tetapi perubahan serangan dari samping lebih sukar diketahui dan sering

kali seorang ahli silat dijatuhkan oleh lawannya dengan menggunakan serangan yang

menyerong dari samping kiri. Oleh karena itu, maka gerakan kaki yang berdasarkan Sha-kakkun-

hoat dan yang selalu membentuk garis-garis segi tiga dengan sepasang kaki dalam

pergerakkannya itu, amat praktis dan kuat kedudukannya.

Adapun gerakan ilmu tongkat yang dimainkan Sin Seng Cu, sungguhpun cukup

mengagumkan dan mempunyai perkembangan yang amat banyak, namun bagi Gwat Kong

tidak ada bagian-bagian yang luar biasa. Kalau saja permainan ilmu tongkat dari Sin Seng Cu

itu tidak digerakkan dengan lweekang dan ginkang yang sedemikian tinggi tingkatnya,

pemuda ini merasa sanggup untuk menghadapinya dan mengalahkannya.

Memang betul, ilmu tongkat yang dimainkan Sin Seng Cu, ternyata masih jauh untuk dapat

melawan Sin-hong-tung-hoat yang dimainkan oleh Bok Kwi Sianjin. Tadi ketika melawan

Gwat Kong, ia dapat mendesak mengatasi pemuda itu oleh karena dalam hal lweekang dan

ginkang, ia masih lebih unggul.

Akan tetapi kini, menghadapi Bok Kwi Sianjin yang tingkat tenaga dalam dan ilmu

meringankan tubuh tidak berada di sebelah bawahnya. Bahkan lebih menang sedikit, tentu

saja ia menjadi sibuk dan sebentar saja, setelah mereka bertempur selama lima puluh jurus,

Sin Seng Cu mulai merasa kewalahan! Beberapa kali ia kena dibingungkan oleh gerak tipu

silat dari Sin-hong-tung-hoat dan sama sekali tidak dapat menduga bagaimana perubahan dari

serangan selanjutnya. Dengan demikian, maka ia tidak berani membalas dengan serangan,

hanya menanti datangnya serangan lawan yang membuatnya terdesak dan mulai main

Bok Kwi Sianjin tidak mau memberi kesempatan dan terus menyerang dengan pukulanpukulan

terlihai dari ilmu tongkatnya. Akan tetapi kakek ini tidak bermaksud kejam dan tiap

kali ujung tongkatnya telah berhasil ‘memasuki’ lowongan pertahanan Sin Seng Cu, senjata

itu tidak diteruskan, melainkan ditariknya kembali secepatnya tanpa melukai Sin Seng Cu.

Tosu dari Hoa-san-pai itu adalah seorang ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya. Maka tentu

saja iapun tahu akan hal ini dan maklum pula bahwa apabila dikehendaki, Bok Kwi Sianjin

pasti telah berhasil merobohkannya. Sin Seng Cu terkenal sebagai seorang tosu yang belum

berhasil menundukkan ‘tujuh musuh di dalam tubuh’ yakni perasaan-perasaan senang-susah,

marah, malu dan sebagainya. Maka ia terkenal sebagai seorang yang tidak mau kalah oleh

orang lain. Nafsunya masih besar dan kuat menguasai hati dan pikirannya. Oleh karena itu, ia

tidak pernah mau mengalah terhadap siapapun juga, terutama dalam hal mengadu kepandaian

Akan tetapi, ia bukanlah seorang bermuka tebal yang tak tahu diri. Maka menghadapi Bok

Kwi Sianjin, ia tahu bahwa kepandaiannya masih belum dapat menandingi kesaktian Bok Kwi

Sianjin. Kalau ia teruskan dan sampai ia kena dirobohkan atau terluka, ia mendapat malu yang

lebih besar lagi, maka cepat ia meloncat jauh ke belakang dan berkata,

“Bok Kwi, kau benar-benar lihai! Biarlah lain kali aku minta berkenalan lagi dengan

tongkatmu!” Setelah berkata demikian tosu itu berkelebat cepat dan pergi dari tempat itu.

Bok Kwi Sianjin tertawa dan berkata kepada Gwat Kong, “Muridku, lain kali kau lah yang

wajib menghadapinya!”

 145

Gwat Kong buru-buru berlutut dan berkata, “Akan tetapi tosu itu lihai sekali suhu.”

“Memang dia lihai, namun bukan tak dapat terkalahkan! Ingatlah Gwat Kong, makin tinggi

seseorang mengangkat diri sendiri, makin banyak bahaya ia akan jatuh ke bawah secepatnya.

Sin Seng Cu terlalu mengagulkan kepandaian. Menilai kepandaian sendiri terlampau tinggi

dan memandang rendah kepada orang-orang lain. Oleh karena itulah maka di antara saudarasaudaranya,

yakni tokoh-tokoh besar dari Hoa-san-pai, hanya dia seorang yang mempunyai

banyak musuh. Kalau hari ini ia tidak mengangkat diri sendiri terlalu tinggi, tak mungkin dia

mengadu tongkat dengan aku dan ia takkan menerima kekalahan pula. Ha ha ha! Percuma saja

dia menjadi seorang tosu yang sudah bertapa puluhan tahun. Ternyata ia belum dapat melihat

bahwa tidak ada perbedaan antara atas dan bawah maupun antara tinggi dan rendah. Jangan

kira bahwa siapa yang berada di atas itu lebih tinggi dari pada yang berada di bawah! Yang

berpikir demikian, ia akhirnya akan kecele dan kecewa! Gwat Kong, kau tak usah takut

terhadap seorang seperti Sin Seng Cu. Lebih berhati-hatilah terhadap seorang yang

nampaknya bodoh tak berkepandaian karena biasanya mereka inilah yang benar-benar

memiliki ilmu yang tinggi. Tepat sekali kata-kata tua yang menyatakan bahwa gentong penuh

air takkan berbunyi.”

Gwat Kong menghaturkan terima kasih dan berjanji akan memperhatikan semua petunjuk dan

petuah suhunya. Kemudian atas permintaan Bok Kwi Sianjin, Gwat Kong menuturkan asal

mulanya ia belajar silat, yakni dari penemuan kitab ilmu silat Garuda Sakti.

Mendengar penuturan ini Bok Kwi Sianjin menjadi kagum sekali dan menarik napas panjang

lalu berkata, “Aaah, kalau demikian, benar kata suhu dulu bahwa di antara empat ilmu yang

terdapat di empat penjuru, Sin-eng Kiam-hoat boleh dibilang menduduki tempat tertinggi.

Kau yang tadinya tidak pernah belajar silat, dengan hanya belajar sendiri tanpa pimpinan guru

yang pandai, hanya membaca kitab pelajaran itu, telah mempunyai kepandaian lumayan dan

dapat bertahan menghadapi Sin Seng Cu sampai tiga puluh jurus. Benar-benar hebat sekali!

Kalau saja kau mempelajari Sin-eng Kiam-hoat lebih lama dan dipimpin oleh guru pandai,

sekarang juga aku takkan dapat mengalahkan kau!”

Bok Kwi Sianjin lalu mengajak Gwat Kong pergi ke tempat pertapaannya, yakni di sebuah

gua di tepi sungai Huang-ho. Karena gua ini berada di dalam hutan yang amat liar, maka tak

ada orang lain yang mengetahui tempat ini, kecuali tokoh-tokoh persilatan kalangan atas yang

telah kenal kepada Bok Kwi Sianjin. Akan tetapi, oleh karena merekapun tahu bahwa Bok

Kwi Sianjin jarang berada di tempat pertapaannya dan seringkali pergi merantau, maka jarang

ada kenalan yang datang ke tempat itu.

Gwat Kong mendapat latihan Sin-hong-tung-hoat atau Ilmu Tongkat Burung Hong Sakti yang

amat lihai. Juga selain ilmu silat ini, ia mendapat tambahan latihan lweekang dan ginkang dan

ilmu pedangnya juga mendapat kemajuan karena diberi petunjuk-petunjuk oleh Bok Kwi

Sianjin yang memiliki dasar ilmu silat yang amat tinggi dan pengalaman yang luas sekali.

Setelah tinggal bersama kakek itu, Gwat Kong mendapat tahu bahwa selain tinggi ilmu

silatnya, suhunya itu juga seorang ahli ilmu pengobatan maka ia menjadi kagum sekali dan

sedikit-sedikit ia mempelajari pula ilmu pengobatan yang ada hubungannya dengan persilatan,

misalnya cara menyambung tulang patah, mengobati luka-luka karena senjata tajam atau lukaluka

dalam karena pukulan, serta obat-obat pemunah racun-racun yang banyak dipergunakan

oleh ahli-ahli silat golongan hitam, yakni para penjahat yang berilmu tinggi.

 146

Dengan amat rajin dan penuh ketekunan, Gwat Kong mempelajari ilmu kepandaian di tepi

Huang-ho di bawah pimpinan dan gemblengan Bok Kwi Sianjin. Kakek ini merasa girang

sekali melihat kerajinan muridnya dan merasa kagum karena pemuda itu ternyata amat cerdik

dan cepat memperoleh kemajuan.

****

Kita tinggalkan dulu Gwat Kong yang sedang mengejar ilmu di tepi Sungai Huang-ho, di

dalam hutan yang liar itu, dan marilah kita menengok keadaan Tin Eng yang tinggal di rumah

pamannya, yakni Lie Kun Cwan atau Lie-wangwe (Hartawan Lie).

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tin Eng telah didatangi oleh Lui Siok yang

menjadi suheng dari Gan Bu Gi dan gadis itu telah dikalahkan dalam sebuah pertempuran,

bahkan pedangnya telah dipatahkan oleh Hoa-coa-ji Lui Siok si Ular Belang yang lihai itu.

Karena kekalahan ini dan karena maklum akan kelihaian para pemimpin Hek-i-pang, maka

Tin Eng makin giat mematangkan ilmu pedangnya di rumah pamannya.

Ia merasa lega karena ternyata bahwa Hek-i-pang selanjutnya tidak mengganggu kota Hunlam

lagi. Ia tidak tahu bahwa hal ini adalah karena kelicinan Song Bu Cu ketua dari Hek-ipang

yang tidak mau berlaku kasar, dan pula orang-orang Hek-i-pang itu masih merasa

sungkan-sungkan untuk bermusuhan dengan Tin Eng, mengingat bahwa gadis ini adalah

‘calon isteri’ Gan Bu Gi dan puteri dari Liok Ong Gun, Kepala daerah Kiang-sui dan anak

murid Go-bi-pai.

Di dekat kota Hun-lam terdapat sebuah danau yang cukup indah dan setiap datang musim

semi, banyak sekali pelancong dari dalam dan luar kota menghibur diri di danau itu sambil

berperahu atau duduk di tepi danau memancing ikan atau bercakap-cakap dengan sahabatsahabat

sambil minum arak.

Pada suatu hari, karena merasa kesepian berada di rumah seorang diri sedangkan pamannya

mengurus perdagangan di luar kota, Tin Eng keluar dari rumah dan berpesiar seorang diri di

danau itu. Telah dua kali Tin Eng mengunjungi danau Oei-hu itu dan ia senang sekali

menyewa perahu kecil, mendayung seorang diri dan bermain-main di atas telaga yang indah.

Hari itu udara cerah dan di danau itu terdapat banyak sekali pelancong. Perahu-perahu kecil

besar bergerak ke sana ke mari di atas danau yang airnya bergerak-gerak perlahan sehingga

bunga-bunga teratai yang bertumbuh di pinggir telaga ikut pula bergoyang-goyang seakanakan

menari-nari gembira. Dari perahu-perahu itu terdengar suara orang bercakap-cakap

dengan senang dan diselingi suara ketawa. Juga terdengar suara orang bernyanyi diiringi oleh

yang-kim yang amat merdu.

Tin Eng menyewa sebuah perahu kecil yang pada saat seperti itu jumlah sewanya dinaikkan

semuanya oleh tukang perahu. Saat-saat seperti itu merupakan saat yang baik dan

menguntungkan bagi para tukang perahu oleh karena para pelancong itu, terutama yang

datang dari luar kota, amat berani membayar mahal untuk perahu-perahu yang mereka sewa.

Perahu yang disewa oleh Tin Eng biarpun kecil, akan tetapi cukup indah dengan kepala

perahu diukir seperti seekor ular besar menjulurkan lidahnya. Tin Eng mendayung perahunya

ke tengah dengan gembira sekali. Banyak mata pemuda-pemuda pelancong memandang

 147

kagum kepada gadis yang mengenakan pakaian biru dengan lengan baju agak pendek itu

sehingga nampak sampai di atas pergelangan tangan.

Sungguhpun mereka merasa kagum akan kecantikan Tin Eng dan merasa heran karena

melihat seorang gadis muda yang cantik jelita berpesiar seorang diri bahkan mendayung

perahu seorang diri pula. Akan tetapi melihat sikap dan gerak-gerik Tin Eng, mereka dapat

menduga bahwa gadis itu tentulah seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian silat dan

bukan seorang gadis biasa. Oleh karena itu, mereka tidak berani berlaku kurang ajar hanya

memandang dengan kagum.

Tentu saja mereka ini terdiri dari laki-laki yang datang dari luar kota Hun-lam. Oleh karena

orang-orang dari Hun-lam sendiri sebagian besar telah tahu dan kenal gadis ini, yang bukan

lain ialah Sian-kiam Lihiap si pendekar Wanita Pedang Dewa yang telah mengobrak-abrik

penjahat-penjahat yang mengganggu Hun-lam. Ketika Tin Eng tiba di tempat itu, mereka ini

lalu memberi hormat dengan menjura atau menganggukkan kepala yang dibalas oleh Tin Eng

dengan anggukan kepala dan senyuman manis.

Melihat betapa banyak orang agaknya kenal dan menghormati gadis muda itu, orang-orang

dari luar kota segera mengajukan pertanyaan kepada orang-orang Hun-lam, dan yang ditanya

dengan senang hati dan bangga menceritakan keadaan dan kelihaian Tin Eng. Tentu saja

dengan bumbu dan tambahan betapa dara jelita itu seorang diri telah menghalau pergi ratusan

Bahkan di antara mereka itu ada yang secara berani mati menuturkan bahwa Tin Eng adalah

sebangsa Kiam-hiap, pendekar pedang yang memiliki Hui-kiam (pedang terbang) dan yang

dapat mengambil kepala penjahat dari jarak puluhan tombak dengan hanya melontarkan

pedangnya yang dapat terbang, memenggal kepala lawan dan membawa kepala itu kembali

kepada si gadis. Biarpun penuturan ini simpang siur dan dilebih-lebihkan, akan tetapi cukup

untuk membuat para pendengarnya meleletkan lidah dan kini mereka memandang ke arah Tin

Eng dengan lebih kagum lagi.

17 …

TIN ENG tidak memperdulikan itu semua dan ia pura-pura tidak melihat pandang mata

orang-orang yang ditujukan kepadanya dengan kagum, akan tetapi segera mendayung pergi

perahunya menuju ke tengah danau. Ia tidak tahu bahwa di antara sekian banyak pendengar

yang menjadi kagum mendengar dongeng dan obrolan orang-orang Hun-lam itu terdapat dua

orang muda yang cukup menarik perhatian.

Mereka ini adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia mereka paling banyak delapan

belas tahun akan tetapi sikap mereka menyatakan bahwa mereka itu selain agung dan tampan,

juga bersikap gagah seperti orang-orang yang pandai ilmu silat. Gadis ini berbaju hijau,

bercelana hitam dan wajahnya cantik manis dengan rambut dikuncir yang melambai ke

belakang punggung. Di atas rambutnya sebelah kanan terdapat sebuah hiasan rambut bunga

Pemudanya tampan dan gagah, tidak memakai topi dan rambutnya yang panjang dan hitam

juga dikuncir ke belakang seperti biasa pemuda-pemuda bangsawan-bangsawan pada waktu

itu. Bajunya putih dan celana Hitam, terbuat dari pada bahan-bahan yang mahal.

 148

Setelah mendengar penuturan orang-orang Hun-lam itu, mereka berdua memandang ke arah

Tin Eng dengan penuh perhatian. Kemudian mereka menjauhkan diri dari orang banyak dan

bicara bisik-bisik, lalu menyewa perahu dan mendayungnya ke tengah danau.

Setelah berada di tengah-tengah danau itu, Tin Eng melepaskan dayungnya ke dalam perahu

dan membiarkan perahunya bergerak perlahan. Ia menikmati pemandangan di sekitarnya

sambil duduk termenung. Pikirannya makin melayang jauh ketika sayup-sayup ia mendengar

suara penyanyi wanita dari sebuah perahu besar menyanyikan lagu asmara yang mengelus

Ia lalu mendayung perahunya mendekat, karena suara itu merdu benar dan ia ingin mendengar

kata-katanya lebih jelas. Setelah berada dekat, lagu asmara itu diulangi lagi dengan suara

merdu dari penyanyi di dalam perahu besar dan kini ia dapat mendengar dengan jelas.

Danau Oei dengan airnya yang seperti kaca,

Bagaikan hati seorang teruna yang setia!

Biarpun musim bunga datang dan pergi pula.

Biarpun teratai jelita akan lenyap sebelum lama

Danau Oei tetap menanti ……… menanti setia!

Ah, betapa inginku menjadi teratai jelita.

Mempunyai kekasih yang demikian setia …….!

Betapa inginku ……… menjadi teratai jelita ……!

Lagu asmara yang dinyanyikan dengan suara merdu merayu ini membawa Tin Eng ke alam

lamunan yang lebih tinggi. Ia menatap permukaan air yang penuh bayang-bayang indah dari

luar dan tiba-tiba ia melihat wajah orang di dalam bayangan air yang ketika diperhatikannya

betul-betul ternyata adalah bayangan wajah Gwat Kong! Tin Eng terkejut dan sadar dari

lamunannya, dan ketika ia memandang kembali ke dalam air, ternyata bayangan itu telah

lenyap. Mengapa tanpa terasa wajah pemuda itu terbayang? Ia suka dan kagum sekali kepada

pemuda itu, akan tetapi cinta …..?

Ah, ia tidak mengerti. Ketika Gwat Kong masih menjadi pelayan, ia telah suka kepada

pemuda itu tanpa disertai kekaguman. Dan tentang kekaguman ini dulu iapun kagum kepada

Gan Bu Gi. Dan ternyata bahwa kini jangankan mencinta, bahkan ia merasa benci kepada

pemuda she Gan itu!

Kata-kata dalam lagu tadi membuat ia berpikir-pikir tentang cinta dan sampai saat itupun ia

tidak tahu apakah ia mencinta Gwat Kong. Memang mendalam sekali isi kata-kata lagu itu

dan iapun suka menjadi seperti teratai jelita kalau mempunyai kekasih yang demikian setia air

danau Oei-hu. Ia tahu bahwa Gwat Kong mencintainya. Hal ini telah diutarakan oleh pemuda

itu ketika mabok di rumahnya dan pengutaraan itu dulu telah membuatnya menjadi marah

sehingga hampir saja ia membunuh pemuda itu!

Akan tetapi, sesungguhnya kemarahan itu bukanlah sekali-kali karena Gwat Kong karena

mencurahkan cintanya dengan ucapan-ucapan penuh sindiran itu. Akan tetapi adalah karena

tuduhan-tuduhan Gwat Kong yang mengatakan bahwa ia tidak berjantung tidak kenal budi

dan menyindir pula menyatakan bahwa setelah bertemu dengan Gan Bu Gi, lalu lupa kepada

pemuda itu yang hanya seorang pelayan. Bahwa ia tergila-gila oleh harta dan kedudukan!

 149

Akan tetapi, ia maklum bahwa tentu Gwat Kong menduga bahwa ia marah karena tidak sudi

mendengar pengakuan cinta pemuda itu yang dianggapnya rendah! Dengan demikian, dalam

anggapan Gwat Kong, ketika pemuda itu masih menjadi pelayan, ia tidak menyukainya, dan

sekarang setelah diketahuinya bahwa Gwat Kong ternyata pandai ilmu silat bahkan putera

pembesar pula, apakah ia akan menyatakan cintanya kepada pemuda itu?

Memikirkan hal ini, tiba-tiba wajah Tin Eng menjadi merah. Tentu, tentu Gwat Kong akan

berpikir demikian dan tentu pemuda itu akan memandangnya sebagai seorang gadis yang

rendah budi, yang hanya memandang keadaan dan tergila-gila oleh pangkat dan kedudukan.

Seorang gadis yang dulu membenci pemuda pelayan, akan tetapi berbalik pikir karena melihat

bahwa pelayan itu ternyata seorang putera pembesar yang pandai! Ah, tidak! Aku tak boleh

merendahkan diri semacam itu!

Demikian Tin Eng berpikir dengan marah kepada diri sendiri. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa

berduka karena semenjak Gwat Kong lari dari rumah, semenjak ia menusuk dada pemuda itu,

telah timbul perasaan yang aneh dalam hatinya terhadap Gwat Kong. Perasaan itulah yang

membuat ia mengeluarkan air mata apabila teringat akan luka di lengan pemuda itu akibat

ujung pedangnya. Dan perasaan itu pulalah yang memperkuat hatinya sehingga terpaksa ia

melarikan diri dari rumah ketika ayahnya hendak memaksa dia kawin dengan Gan Bu Gi.

Dalam keadaan masih dimabok lamunan, Tin Eng tidak melihat atau mendengar ketika

sebuah perahu lain dengan cepat meluncur ke arah perahunya, seakan-akan hendak menubruk

perahunya!

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari sebuah perahu yang juga meluncur

cepat menuju ke tempat itu, “Adik Tin Eng! Awas perahu di sebelah kanan!”

Terkejutlah Tin Eng yang sadar dari lamunannya. Ia cepat menoleh dan melihat sebuah

perahu kecil yang ditumpangi oleh seorang pemuda dan seorang gadis, sedang meluncur cepat

ke arah perahunya sendiri, hanya terpisah setombak saja lagi! Dua orang penumpangnya itu

kini memegang dayung mereka untuk mendorong perahu Tin Eng yang menghadang di jalan.

Tin Eng terkejut karena maklum bahwa dorongan itu akan berbahaya sekali bagi perahunya

karena kalau terlalu keras bisa membuat perahunya terguling. Maka ia lalu cepat menyambar

dayungnya dan menggerakkan dayungnya itu cepat-cepat ke kanan sambil membentak,

“Minggir!” Tin Eng menggunakan tenaga lweekangnya dan dengan cepat dayungnya

digerakkan menyapu dua dayung pemuda dan gadis itu yang segera tertangkis dan terpental

hampir terlepas dari pegangan! Tin Eng tidak berhenti dengan tangkisan itu saja oleh karena

kepala perahu itu hampir menumbuk perahunya, sehingga keadaan masih tetap berbahaya. Ia

lalu membungkukkan tubuhnya dan dayungnya cepat sekali didorongkan ke arah kepala

perahu itu yang segera meluncur lewat di dekat kepala perahunya dan tubrukan hebat dapat

Akan tetapi, dorongannya yang keras itu membuat perahu yang ditumpangi oleh kedua anak

muda itu miring dan hampir terguling. Tiba-tiba kedua anak muda itu berseru keras dan tubuh

mereka telah melompat ke atas dengan gerakan yang amat ringan! Perahu yang kosong itu

menjadi balik kembali kedudukannya dan barulah kedua orang muda itu melompat turun di

dalam perahunya.

 150

Tin Eng merasa kagum melihat pertunjukan ginkang dan ketabahan ini. Akan tetapi ia merasa

mendongkol juga mengapa mereka seakan-akan sengaja hendak menggulingkan perahunya.

Selagi ia hendak menegur, mereka telah menoleh dan tersenyum kepadanya sambil berkata,

“Lihiap, maafkan kami!” lalu mereka mendayung perahu mereka dengan cepat meninggalkan

tempat itu.

Tin Eng teringat akan seruan orang yang memperingatkannya tadi, maka ia lalu menengok ke

arah belakang dan kedua matanya terbelalak girang ketika ternyata olehnya bahwa yang tadi

memanggilnya adalah seorang gadis cantik dan gagah yang sedang mendayung perahunya

dengan kecepatan luar biasa menuju ke arahnya. Gadis itu bukan lain adalah Dewi Tangan

Maut Tan Kui Hwa, dara perkasa anak murid Hoa-san-pai yang dulu pernah bertemu dengan

dia dan menolongnya ketika ia hampir menjadi korban para bajak.

“Enci Kui Hwa ….! serunya gembira dan mendayung perahu menyambut kedatangan si Dewi

Tangan Maut.

Kui Hwa tersenyum manis. Gadis ini nampak cantik dan gagah sekali dengan baju hijau, ikat

kepala merah, ikat leher dan sabuk hitam. Gagang pedangnya nampak tersembul dari balik

Pertemuan yang tak tersangka-sangka dengan Tan Kui Hwa si Dewi Tangan Maut di atas

danau Oei-hu itu benar-benar mendatangkan kegembiraan luar biasa kepada Tin Eng. Setelah

perahu mereka berendeng, Tin Eng lalu melompat ke dalam perahu Kui Hwa dan memeluk

gadis itu dengan gembira sekali.

“Enci Kui Hwa, sekali lagi kaulah orangnya yang menolongku dari bahaya, kini bahaya

terguling dari perahu.”

“Tin Eng, mengapa kau tidak mengejar mereka? Dua orang kurang ajar itu terang-terangan

sengaja hendak menubruk perahumu dan membuat kau terlempar ke dalam air! Mereka perlu

diberi hajaran!”

Tin Eng memandang dengan senyum simpul. “Wah, enci Kui Hwa, kau benar-benar masih

galak sekali, membikin aku takut saja!”

Kui Hwa balas memandang dan melihat sinar mata kawannya. Ia tertawa geli dan lenyaplah

kekerasan yang tadi membayang pada wajahnya yang cantik, ketika ia marah terhadap dua

orang di dalam perahu yang menubruk perahu Tin Eng tadi. “Ah, jangan kau menggoda adik

Tin Eng. Kujiwir nanti bibirmu yang merah itu!”

Memang semenjak pertemuannya yang pertama dengan Kui Hwa, Tin Eng merasa tertarik

dan suka sekali kepada pendekar wanita ini. Karena dari sikap gadis ini terbayang kekerasan

hati, dan kejujuran, dan sifat-sifat yang amat baik, yakni bencinya terhadap segala macam

kejahatan. Hanya harus diakui bahwa gadis ini memiliki watak yang amat ganas dan tak kenal

ampun. Sebaliknya Kui Hwa yang belum pernah mempunyai kawan wanita yang amat baik

kepadanya, merasa suka pula kepada Tin Eng.

“Adik Tin Eng, bukankah kau yang disebut orang Sian-kiam Lihiap di kota Hun-lam?”

 151

“Eh, eh bagaimana kau bisa tahu akan hal itu, enci Kui Hwa?”

Kui Hwa tersenyum. “Namamu cukup terkenal, siapa yang tidak mengetahuinya?”

Kini Tin Eng merasa gemas. “Sekarang akulah yang ingin menjiwir bibirmu, enci!”

Kui Hwa tertawa, lalu berkata dengan sungguh-sungguh,

“Adikku yang manis, terus terang saja sudah dua hari aku berada di Hun-lam! Aku telah

mendengar tentang nama Sian-kiam Lihiap dan Kang-lam Ciu-hiap yang menggemparkan

kota Hun-lam, yang namanya dipuji-puji setinggi langit. Akan tetapi sungguh mati aku tidak

pernah mengira bahwa Sian-kiam Lihiap adalah kau sendiri. Kau agaknya jarang keluar, maka

aku tak dapat bertemu dengan kau, dan karena tadi melihat kau berada di dalam perahu

seorang diri maka mudahlah bagiku untuk menduga bahwa Sian-kiam Lihiap tentulah kau!

Siapa lagi ahli pedang yang patut disebut Pendekar Wanita Pedang Dewa selain kau?”

“Cici, kau terlalu memuji, padahal orang yang dipuji-puji ini baru beberapa hari yang lalu

telah dikalahkan oleh orang lain secara memalukan sekali. Sebutan itu sebenarnya tak patut

bagiku dan hanya membuat aku malu saja.”

Tan Kui Hwa memandang tajam lalu berkata. “Apakah yang mengalahkan kau itu Song Bu

Cu dan Lui Siok, kedua pangcu (ketua) dari Hek-i-pang?”

Tin Eng memandang kagum. “Enci, matamu benar-benar awas. Agaknya tidak ada sesuatu

yang tak kau ketahui! Kau benar-benar hebat dan luas pengetahuanmu. Memang benar, aku

telah dikalahkan oleh Lui Siok si Ular Belang! Bagaimana kau bisa tahu?”

“Adikku yang baik, aku tidak tahu apa-apa, hanya dugaan saja. Kalau kau tidak terlalu banyak

bersembunyi di dalam kamar dan suka keluar pintu melakukan perantauan seperti aku maka

bagimu juga akan mudah saja menduga-duga hal-hal itu. Aku tahu bahwa kau dan Kang-lam

Ciu-hiap telah mengobarak-abrik anggauta Hek-i-pang di kota Hun-lam, sedangkan aku telah

tahu pula bahwa sarang Hek-i-pang berpusat di Tong-kwan dengan diketuai oleh Song Bu Cu

dan Lui Siok yang lihai! Kepandaian mereka berdua itu memang tinggi sekali, sehingga aku

sendiripun tidak akan dapat melawan mereka. Maka, setelah kau mengobarak-abrik anggauta

Hek-i-pang, lalu siapa lagi kalau bukan mereka berdua yang datang membalas dendam dan

mengalahkan kau?”

“Ah, hal ini hanya menunjukkan kecerdikanmu, enci Kui Hwa.”

“Siapa bilang aku cerdik! Saat ini ada dua hal yang membuat aku merasa menjadi sebodohbodohnya

orang!”

Sambil tertawa Tin Eng bertanya, “Apakah gerangan dua hal itu?”

“Pertama melihat kau masih segar bugar dan bahkan bertambah cantik setelah kau tadi bilang

pernah dikalahkan oleh Lui Siok. Aku kenal Lui Siok sebagai seorang kejam dan aneh sekali

kalau dia atau Song Bu Cu mau mengampunkan kau yang telah merusak pekerjaan anak buah

mereka! Nah, hal itulah yang membikin aku menjadi bingung dan tak dapat menjawab. Kedua

kalinya, aku heran sekali melihat mengapa kau tidak mengejar dua orang muda yang tadi

 152

sengaja menubruk perahumu. Apakah benar-benar kau telah menjadi seorang yang demikian

sabarnya?”

Tin Eng menarik napas panjang dan menjawab, “Cici, jawaban kedua pertanyaan itu memang

ada hubungannya. Pertama-tama kujawab pertanyaan kedua. Aku memang tidak mau

mengejar kedua orang tadi yang menubruk perahuku. Oleh karena mungkin sekali mereka itu

adalah orang-orang dari Hek-i-pang yang sengaja mencari perkara dan pula akupun merasa

ragu-ragu karena melihat keadaan mereka itu seperti bukan orang jahat, sehingga mungkin

sekali mereka tidak sengaja hendak menubrukku. Mengapa aku harus mencari-cari

permusuhan baru sedangkan baru beberapa hari saja aku telah dikalahkan orang dan masih

terasa mendongkol? Dan tentang pertanyaan pertama itu agak panjanglah penjelasannya.”

Tin Eng lalu menuturkan tentang pertempurannya melawan Lui Siok, dan menuturkan pula

bahwa Lui Siok adalah suheng dari Gan Bu Gi, perwira muda yang telah dipilih oleh ayahnya

untuk dikawinkan dengan dia, dan bahwa Lui Siok memandang muka Seng Le Hosiang maka

tidak berani mengganggunya atau melukainya.

Kui Hwa mengangguk-angguk lalu berkata, “Masih baik bahwa dia tidak berani

mengganggumu, kalau tidak, sukarlah bagimu untuk melepaskan diri dari bencana. Memang

Lui Siok itu memiliki kepandaian tinggi, lebih-lebih Song Bu Cu yang menjadi ketua dari

Hek-i-pang. Aku pernah bertemu dengan Song Bu Cu dan kalau tidak keburu datang kedua

suhengku, tentu aku tewas dalam tangannya. Kau dan aku tak dapat menandingi mereka, adik

Tin Eng!”

Si Dewi Tangan Maut menarik napas panjang dan nampak menyesal dan kecewa sekali. Lalu

katanya gagah, “Akan tetapi, kalau kau tak dapat menahan sakit hatimu dan hendak membalas

dendam sekarang juga, jangan takut, aku tentu akan membantumu menghadapi mereka!”

Tin Eng terharu dan memegang lengan Kui Hwa, “Enci Kui Hwa, mereka memang jahat dan

perlu dibasmi, akan tetapi setelah tahu bahwa tenaga sendiri tak kuat menghadapi mereka

namun terus maju menyerbu bukankah itu amat bodoh namanya dan sama halnya dengan

membunuh diri? Takut sih tidak, akan tetapi lebih baik kita menanti saat yang lebih sempurna

dan mencari kawan-kawan yang sehaluan untuk menyingkirkan serigala-serigala buas itu.”

Kui Hwa mengangguk-angguk. “Kau sekarang telah banyak maju, adikku! Dari ucapanmu

tadi saja sudah menyatakan bahwa kau kini telah dewasa!”

“Aah, bisa saja kau memuji! Aku malah khawatir kalau-kalau kau menganggap aku pengecut

dengan ucapan tadi.”

Kui Hwa memandang dengan sikap sungguh-sungguh. “Tidak Tin Eng. Biarpun terus terang

kuakui bahwa adatku keras dan mudah marah, akan tetapi akupun sependapat dengan kau.

Keberanian dan ketabahan harus disertai kesadaran dan perhitungan yang masak sebagaimana

layak dilakukan oleh orang berakal. Keberanian yang dilakukan dengan serampangan dan

serudukan bagaikan kerbau gila secara hantam kromo tanpa perhitungan sama sekali, tidak

termasuk kegagahan, akan tetapi adalah kebodohan orang yang kurang pikir. Kita tidak

menyerbu dan menghalau penjahat-penjahat itu pada waktu ini bukan karena kita takut. Akan

tetapi karena kita menggunakan siasat, menanti saat baik di mana kekuatan kita melebihi

mereka sehingga gerakan kita akan berhasil.”

 153

“Terima kasih, cici. Sebetulnya kau hendak pergi ke manakah?”

“Aku hanya merantau saja tanpa tujuan tertentu, dan ketika aku mendengar nama besar Kanglam

Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap, aku menjadi tertarik dan menuju ke kota ini. Tidak tahu

siapakah sebetulnya Kang-lam Ciu-hiap yang baru saja muncul telah membuat nama besar

itu? Di mana dia dan anak murid mana?”

Tin Eng tersenyum dan menjawab, “Kang-lam Ciu-hiap telah pergi meninggalkan Hun-lam.

Kalau ia masih berada di sini, tak mungkin ada orang berani menggangguku dan Hek-i-pang

pasti telah rusak olehnya. Sayang ia telah pergi. Namanya adalah Bun Gwat Kong dan kalau

kau ingin mengetahui dari cabang persilatan mana ia datang, aku sendiripun tidak tahu. Hanya

satu hal yang boleh kau ketahui bahwa dia itu boleh juga disebut …. guruku!”

“Apa???” Kui Hwa memandang dengan mata terbelalak. “Menurut berita yang kudengar,

Kang-lam Ciu-hiap masih amat muda. Bagaimana bisa menjadi gurumu? Jangan kau mainmain

Tin Eng!”

“Aku tidak main-main, memang ilmu pedangku kudapatkan dari dia! Cici, hayo kau ikut aku

ke rumah pamanku. Jangan pergi dulu sebelum ada sesuatu yang memaksamu. Dari pada

seorang diri saja bukankah lebih senang kita berdua?”

“Ah, aku hanya akan mengganggu kau dan pamanmu saja.”

“Siapa bilang mengganggu? Paman jarang berada di rumah, selalu mengurus

perdagangannya. Sedangkan aku selalu menganggur dan duduk termenung seorang diri di

rumah.”

Sambil tertawa-tawa mereka lalu mendayung perahu ke pinggir. Kemudian setelah membayar

sewa perahu, mereka lalu berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke rumah Liewangwe.

Kebetulan sekali Lie-wangwe berada di rumah, maka Tin Eng lalu memperkenalkan

kawannya itu yang diterima dengan ramah tamah oleh Lie Kun Cwan. Kemudian Tin Eng

mengajak kawannya menuju ke taman bunga yang indah di mana mereka bercakap-cakap

dengan gembira sambil menikmati hidangan yang dikeluarkan oleh pelayan.

Belum lama kedua orang gadis itu bercakap-cakap, seorang pelayan memberitahukan bahwa

di luar ada dua orang muda datang minta bertemu dengan Sian-kiam Lihiap.

“Bagaimana macamnya orang-orang itu?” tanya Tin Eng.

“Mereka adalah seorang pemuda yang cakap dan seorang gadis yang cantik, siocia,” jawab si

pelayan. “Katanya mereka minta bertemu untuk menyampaikan hormatnya dan katanya tadi

mereka telah bertemu dengan siocia di danau Oei-hu.”

Tin Eng dan Kui Hwa saling pandang. Tak salah lagi, kedua orang itu tentulah dua orang

penumpang perahu yang menubruk perahu Tin Eng tadi. Apakah kehendak mereka datang?

“Suruh mereka datang ke taman ini, Tin Eng,” kata Kui Hwa.

“Persilahkan mereka masuk dan antarkan mereka datang ke sini, kemudian kau ambil

tambahan hidangan untuk mereka!”

 154

Pelayan itu mundur dan melakukan tugas yang diperintahkan itu. Tak lama kemudian, benarbenar

saja kedua orang yang tadi menubruk perahu Tin Eng, muncul dari pintu taman dengan

wajah nampak bersungguh-sungguh. Setelah bertemu dengan Tin Eng, mereka berdua lalu

menjura dan pemuda itu berkata, “Maafkan kami sebanyak-banyaknya kalau kami

mengganggu kepada lihiap!”

Tin Eng tersenyum dan menjawab, “Ah, sama sekali tidak. Silahkan ji-wi (kalian berdua)

duduk.”

“Terima kasih, lihiap. Kami tak berani mengganggu terlalu lama. Terus terang saja

kedatangan kami ini tak lain mohon pengajaran sedikit dari lihiap tentang ilmu pedang untuk

meluaskan pengetahuan kami yang amat dangkal!”

“Hmm, bagus!” tiba-tiba Tan Kui Hwa berkata menyindir. “Dengan dayung tidak berhasil

sekarang hendak menggunakan pedang!”

Pemuda dan gadis muda itu mengerling ke arah Kui Hwa, akan tetapi mereka tidak

menjawab, bahkan tidak memperdulikan sama sekali, dan kini gadis cilik itu yang bertanya

kepada Tin Eng.

“Bagaimana, lihiap? Sudikah kau bermurah hati dan memberi sedikit petunjuk kepada kami?”

Sambil berkata demikian, gadis itu meraba-raba gagang pedangnya.

Tin Eng di atas perahu telah mengukur tenaga dan kegesitan mereka menangkis dengan

dayungnya, maka ia maklum bahwa kepandaian kedua anak muda ini tidak seberapa. Hanya

ia merasa heran sekali mengapa dua orang ini mengejar-ngejarnya! Pasti ada sesuatu yang

tersembunyi di balik kelakuan mereka itu.

Tiba-tiba Kui Hwa yang juga mempunyai pikiran yang sama dan mempunyai sifat yang suka

akan kejujuran dan terus terang, berkata, “Kalian berdua anak kecil ini mengapa mengejarngejar

Sian-kiam Lihiap? Apakah yang tersembunyi di balik sikap kalian yang mencurigakan

ini? Awas, jangan kalian berani main gila!”

Kedua orang itu merasa terhina, akan tetapi tidak marah, sedangkan Tin Eng juga

menyambung. “Benar juga kata-kata kawanku itu. Sebetulnya mengapakah kalian hendak

mengajak pibu (adu kepandaian) dengan aku?”

“Terus terang saja lihiap. Kami berdua kakak beradik pernah mempelajari sedikit permainan

pedang dan ketika kami tiba di kota ini, kami mendengar tentang namamu sebagai Pendekar

Wanita Pedang Dewa. Maka kami merasa amat tertarik karena kami yakin bahwa lihiap tentu

memiliki ilmu pedang yang amat tinggi. Pertemuan kita yang amat kebetulan di danau tadi

membuat kami kakak beradik mengambil keputusan untuk mencoba lihiap dan ternyata

dugaan kami tak meleset. Lihiap memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai. Hanya kami

belum merasa puas kalau belum melihat ilmu silat lihiap. Maka, mohon sedikit pengajaran

dari lihiap!”

Alasan ini masih meragukan hati Kui Hwa. Akan tetapi Tin Eng telah merasa puas dan ia

segera melompat ke atas jalan taman yang sengaja dibuat dengan lantai tembok dan biasanya

 155

ia berlatih silat di tempat ini. Sambil berdiri di tengah-tengah lorong tembok itu, ia tersenyum

dan berkata,

“Baiklah, cabut pedang kalian dan mari kita main-main sebentar!”

Kedua anak muda itu saling pandang, lalu mencabut pedangnya. Akan tetapi melihat Tin Eng

berdiri dengan tangan kosong, pemuda itu berkata sangsi,

“Lihiap, kuharap lihiap segera mengeluarkan pedang untuk menghadapi kami kakak beradik.”

Tin Eng tersenyum. “Ini hanya main-main saja, mengapa mesti berpedang? Hayo, jangan

sangsi-sangsi, gerakkanlah pedang kalian, hendak kulihat sampai di mana tingkat

pelajaranmu.”

Sementara itu, Kui Hwa berdiri tak jauh dari situ sambil memandang dengan khawatir. Ia

menganggap perbuatan Tin Eng ini terlalu gegabah maka diam-diam ia bersiap sedia menjaga

kalau-kalau kawannya itu akan dicelakakan oleh kedua orang muda yang mencurigakan itu.

Sementara itu, pemuda dan adik perempuannya itu telah bersiap pula dengan pedang masingmasing

di tangan. Pemuda itu di sebelah kanan Tin Eng dan gadis cilik itu di sebelah kirinya.

Tin Eng tersenyum lagi dan berkata,

“Hayo, jangan ragu-ragu. Kalian maju dan seranglah baik-baik!”

Bukan watak Tin Eng untuk menyombongkan kepandaiannya dan memandang rendah

kepandaian lawan. Akan tetapi karena ia telah mengukur tenaga dan kegesitan kedua orang

muda itu di atas perahu dan maklum bahwa kepandaian mereka tak perlu ditakuti, pula karena

seperginya Gwat Kong, ia telah melatih ilmu silat tangan kosong Garuda Sakti dan kini ia

ingin mencoba kepandaiannya ini.

“Maaf, lihiap!” Pemuda itu berseru dan mulai menyerang dengan tusukan pedangnya, juga

adiknya menyerang dari samping kiri dengan gerakan indah.

Tin Eng segera mengelak dan mempergunakan ginkangnya yang telah memperoleh banyak

kemajuan. Gerakannya gesit dan tubuh seakan-akan burung garuda beterbangan di antara

sambaran pedang. Kedua tangannya dipentang ke kanan kiri atau ke depan belakang,

menghadapi keroyokan kedua orang lawannya.

Benar saja sebagai dugaan semula, biarpun kedua orang muda itu agaknya telah mempelajari

ilmu pedang Bu-tong-pai yang indah gerakannya, akan tetapi tingkat kepandaian mereka

masih rendah, sehingga mudahlah bagi Tin Eng untuk menghadapi mereka ini.

Tin Eng bersilat memperlihatkan gaya silat Garuda Sakti sambil tersenyum manis dan diamdiam

Dewi Tangan Maut Tan Kui Hwa memuji kelincahan kawannya itu. Ia dapat melihat

betapa dalam waktu yang tak berapa lama, Tin Eng telah memperoleh kemajuan pesat sekali.

Setelah mereka bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, Tin Eng merasa sudah cukup dan

tiba-tiba ia berseru keras. Dengan gerakan Garuda Sakti Hinggap Di Cabang, ia berdiri

menghadapi pemuda itu dengan kaki kanan berdiri berjingkat dan kaki kiri diangkat tinggi ke

 156

kiri lengan kanan dengan jari-jari tangan terbuka menghadapi gadis yang berada di

Pemuda itu menyerang dengan menyabetkan pedangnya ke arah kaki kanan Tin Eng yang

berdiri itu. Tin Eng berseru nyaring dan kaki kanannya tiba-tiba melompat ke atas. Pada saat

itu, ia mendengar sambaran angin pedang gadis yang berada di belakangnya membacok

kepalanya. Maka dalam keadaan melompat tadi dan tubuhnya masih di tengah udara, ia cepat

mengayun diri ke depan menghindarkan kepalanya dari bacokan sambil tangannya bergerak

cepat ke arah pergelangan tangan pemuda yang tak berhasil menyerampang kakinya tadi.

Pemuda itu hendak mengelak dan menarik kembali pedangnya, akan tetapi terlambat, gerakan

Tin Eng lebih cepat darinya dan pergelangan tangannya telah kena ditotok oleh jari tangan

Tin Eng. Ia berseru kesakitan dan pedangnya terlepas.

Pada saat itu juga, Tin Eng telah membalikkan tubuh dan sebelum gadis cilik itu sempat

menyerang lagi, ia telah mendesak maju, menggerakkan tangan kiri mencengkeram ke arah

muka gadis itu yang menjadi terkejut sekali dan miringkan kepala untuk mengelak. Akan

tetapi ternyata bahwa serangan ini hanyalah gertakan saja, karena sebenarnya yang dikendaki

oleh Tin Eng hanya untuk mengacaukan pandang mata lawannya dan ketika lawannya

miringkan muka, tahu-tahu pedang di tangan lawannya telah kena dirampas dan kini pindah

ke dalam tangannya.

Tin Eng sambil tersenyum melompat ke dekat Kui Hwa dan berkata, “Cukup, cukup ….

kepandaian kalian tidak jelek hanya kurang latihan dan pengalaman!”

Bukan main terkejutnya hati kedua orang muda itu ketika melihat betapa tanpa terduga lebih

dahulu, pedang mereka telah dapat dirampas dan dipukul jatuh. Mereka saling pandang

dengan mata penuh arti, kemudian tiba-tiba mereka menghampiri Tin Eng dan menjatuhkan

diri berlutut di depan gadis itu.

Tentu saja hal ini membuat Tin Eng menjadi gelagapan dan gugup sekali.

“Eh, eh …. apa-apaankah kalian ini? Kalau kalian bermaksud mengangkat guru kepadaku,

jangan harap! Aku masih belum begitu tua untuk mengambil murid. Juga kepandaianku masih

terlampau rendah!”

“Hmm, Hmm, mereka ini benar-benar mencurigakan. Hayo kalian katakan terus terang saja.

Sebenarnya apakah kehendak kalian mengganggu Sian-kiam Lihiap?” tegur Kui Hwa yang

tidak suka melihat segala macam kelakukan yang berahasia ini.

“Sian-kiam Lihiap, harap jangan salah mengerti. Bukan maksud kami untuk mengangkat

guru, sungguhpun hal itu akan mendatangkan kebahagiaan bagi kami yang bodoh. Akan tetapi

…. kami berdua mohon sudilah kiranya lihiap menolong kami, anak-anak yang amat sengsara

ini ….”

Setelah berkata demikian, gadis cilik itu lalu menangis.

Tentu saja Tin Eng makin terheran-heran mendengar ini dan ia memandang kepada Kui Hwa

yang mengerutkan keningnya. Tin Eng segera mengangkat bangun gadis itu sambil berkata,

 157

“Tenanglah adik yang manis dan ceritakanlah dengan jelas semua maksudmu!”

Ia membelai rambut yang halus itu dan diam-diam dia merasa makin heran karena melihat

sikap dan keadaannya, gadis cilik dan kakaknya ini bukanlah orang sembarangan. Kata-kata

mereka diucapkan dalam bahasa yang baik dan sopan sebagaimana biasa diucapkan oleh

orang-orang terpelajar. Pakaian mereka juga indah dan terbuat dari pada bahan yang halus,

sedangkan sedangkan kulit muka mereka halus dan bersih, semua menunjukkan perawatan

yang teliti. Siapakah mereka ini?

Gadis cilik itu ketika mendengar betapa Tin Eng menyebutnya adik yang manis, berubah

sikapnya. Ia memeluk Tin Eng dan berkata,

“Cici yang gagah, selain kau agaknyatidak ada orang lain yang akan dapat menolong aku dan

kakakku ini. Sebetulnya kami berdua …..” tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya dan

mengerling kepada Kui Hwa. “Cici, siapakah kawanmu ini? Kalau boleh, aku ingin bicara

dengan kau sendiri saja!”

Tin Eng tersenyum sedangkan Kui Hwa bermerah muka. “Jangan kau pandang rendah nona

ini. Dia adalah Tan Kui Hwa yang disebut Dewi Tangan Maut! Biarpun ia berjulukan seram

dan nampaknya galak, akan tetapi dia adalah seorang pendekar wanita yang kegagahannya

jauh di atasku!”

Mendengar disebutnya nama yang amat terkenal ini, kedua orang muda itu menjadi pucat dan

segera menghampiri Kui Hwa dan menjura.

“Tan-lihiap, mohon maaf sebanyaknya bahwa mata kami kakak beradik seakan-akan buta

tidak melihat gunung Tai-san menjulang di depan mata!” kata pemuda tanggung itu.

Kui Hwa tersenyum menyindir. “Sudahlah tak perlu banyak peradatan ini. Lebih baik kalian

segera menceritakan segala hal kepada Tin Eng dan aku, karena apa yang boleh diketahui oleh

Tin Eng, boleh pula kuketahui, demikian sebaliknya. Sikap yang diliputi rahasia dan

sembunyi-sembunyi, bukanlah sikap orang-orang gagah. Kalau tidak ada kepentingan lain,

lebih baik kalian segera pergi saja, jangan mengganggu aku dan kawanku ini bercakapcakap.”

Setelah mengetahui bahwa gadis yang nampaknya galak itu adalah pendekar wanita yang

namanya telah terkenal sebagai pembasmi penjahat itu, kedua anak muda ini tak lagi merasa

ragu-ragu untuk menceritakan riwayat mereka.

Bab 18 …

DUA orang anak muda itu sebetulnya adalah anak-anak seorang Pangeran di kota raja, yakni

mendiang Pangeran Pang Thian Ong yang kaya raya. Hanya dua orang itulah anak Pangeran

Pang, yang laki-laki bernama Pang Gun, sedangkan adiknya bernama Pang Sin Lan.

Ketika masih hidup, Pangeran Pang amat gemar berjudi dengan taruhan besar sehingga harta

bendanya yang amat besar itu hampir habis. Ia banyak berhutang uang dari adik misannya

yakni Pangeran Ong Kiat Bo, yang selain sering memberi hutang uang, juga menjadi kawankawan

judi yang paling baik. Baik nyonya Pang maupun kedua anaknya, amat benci kepada

 158

Pangeran Ong ini karena mereka menganggap bahwa yang membawa Pangeran Pang ke jalan

sesat adalah adik misan ini.

Karena seringkali bermain judi sampai beberapa malam tidak tidur, kesehatan Pangeran Pang

makin lama makin buruk sehingga akhirnya setelah harta bendanya hampir habis dikorbankan

di meja judi, ia jatuh sakit yang membawanya kembali ke tempat asal. Ia tidak meninggalkan

banyak harta. Bahkan meninggalkan hutang yang cukup besar kepada Pangeran Ong Kiat Bo.

Akan tetapi, diam-diam secara rahasia, ia meninggalkan warisan yang aneh kepada Pang Gun

dan Pang Sin Lan yang diberikan tanpa diketahui oleh orang lain sebelum Pangeran itu

meninggal dunia. Warisan ini hanya sehelai kain kuning yang mengandung sebuah lukisan

“Anak-anakku,” kata Pangeran Pang sebelum menghembuskan napas terakhir, sambil

memberikan peta itu kepada anaknya. “Ayahmu telah berlaku sesat dan mata gelap sehingga

harta benda kita habis kupakai bermain judi. Kalian berhati-hatilah terhadap Ong Kiat Bo,

baru sekarang aku tahu bahwa selama ini ia bermain curang. Bahkan ia sengaja

menjerumuskan uangku dengan bantuan kawan-kawannya di meja judi! Akan tetapi, jangan

kalian khawatir, peta ini adalah petunjuk tempat penyimpanan harta benda yang amat besar, di

gunung Hong-san. Di sana terdapat sebuah gua yang disebut gua Kilin, dan di situlah letaknya

harta benda yang tersimpan. Kalian cari dan ambillah harta itu dan hiduplah dengan tenteram.

Jaga ibumu baik-baik!”

Setelah Pangeran Pang meninggal dunia, maka mulailah Ong Kiat Bo memperlihatkan

maksud jahatnya. Pangeran Ong ini yang usianya telah empat puluh tahun lebih, dengan

berani sekali mengajukan pinangan terhadap diri Pang Sin Lan. Tentu saja pinangan itu

ditolak keras oleh nyonya Pang sehingga Pangeran Ong Kiat Bo menjadi marah dan lalu

menagih hutang yang bertumpuk-tumpuk dari mendiang Pangeran Pang, dengan ancaman

bahwa kalau tidak segera dibayar, maka hal itu akan diajukan ke muka pengadilan agung.

Tentu saja nyonya Pang menjadi gelisah sekali. Oleh karena kalau hal itu dilakukan oleh

Pangeran Ong, berarti bahwa nama keluarga Pang akan menjadi rusak dan ternoda. Maka

mulailah penjualan sisa barang-barang yang masih ada. Bahkan gedungnya pun dijual murahmurahan

untuk dapat membayar hutang itu.

Hutang dapat dibayar lunas, akan tetapi keluarga Pang menjadi rudin dan melarat betul-betul.

Mereka lalu berpindah ke sebuah dusun tak jauh dari kota raja. Nyonya Pang amat menderita

dengan adanya peristiwa ini sehingga jatuh sakit dan meninggal dunia tak lama kemudian,

menyusul suaminya.

Kemudian ternyata bahwa rahasia peta itu dapat diketahui juga oleh Pangeran Ong Kiat Bo,

karena semenjak Pangeran Pang hidup, Ong Kiat Bo telah tahu bahwa kakak misannya ini

diam-diam memiliki sebuah rahasia tentang tempat harta pusaka yang amat besar. Ia dapat

menduga bahwa rahasia itu tentu diwariskan kepada dua anak muda itu.

Berkali-kali ia mendatangi Pang Gun dan Pang Sin Lan dan membujuk-bujuk mereka untuk

menjual peta itu dengan harga tinggi. Bahkan ia menjanjikan pangkat dan kedudukan tinggi

untuk Pang Gun dan sebuah gedung baru untuk kedua orang keponakannya itu.

 159

Akan tetapi Pang Gun dan Pang Sin Lan tetap tidak mau memperdulikan orang yang berhati

jahat itu. Bahkan mereka berdua lalu mempelajari ilmu silat dari kepala hwesio di sebuah

kelenteng, untuk digunakan sebagai penjagaan diri dan juga sebagai persiapan mereka untuk

pergi mencari harta pusaka itu.

Ong Kiat Bo yang merasa penasaran sekali, mempergunakan segala daya upaya untuk dapat

merampas peta itu. Bahkan orang ini tak segan-segan untuk menyuruh seorang pencuri yang

berkepandaian tinggi untuk pada suatu malam memasuki kamar kedua orang itu dan

menggeledah seluruh milik mereka.

Akan tetapi hasilnya nihil sehingga membuat Pangeran Ong itu menjadi makin mendongkol

dan penasaran. Ia tidak mau mencelakakan kedua orang itu karena kalau mereka sampai

terbunuh, siapa lagi yang dapat menjadi petunjuk jalan kepada harta pusaka itu?

Pangeran Ong tentu tak pernah menduga bahwa peta itu sebenarnya telah dibakar oleh Pang

Gun dan adiknya, setelah mereka menghafal lukisan peta itu di luar kepala. Dan karena

menduga bahwa peta itu disimpan dengan amat baiknya oleh kedua saudara itu, dan ia tak

berdaya lagi untuk merampasnya. Ia lalu merobah siasatnya dan sekarang ia mengutus orang

untuk mengikuti dan mengawasi setiap gerak-gerik kedua saudara itu.

Hal ini diketahui pula oleh Pang Gun dan Pang Sin Lan, akan tetapi apakah daya mereka?

Dengan giat mereka berlatih silat. Akan tetapi ketika mereka dengan marah menyerang orang

yang ditugaskan untuk mengintai mereka, ternyata bahwa mereka masih belum cukup

tangguh dan bahkan kena dipukul matang biru!

“Demikianlah, cici!” kata Pang Sin Lan menutup ceritanya. “Kami berdua tak dapat berdaya

dan sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk pergi mencari harta pusaka itu. Maka kami

lalu mengambil keputusan dan melarikan diri dari kota raja dari tempat tinggal kami, pergi

merantau dan sampai di sini.”

“Apakah sampai sekarangpun kalian masih terus diikuti orangnya Pangeran Ong?” tanya Kui

“Tentu saja, biarpun secara sembunyi, kami merasa pasti bahwa ada yang mengikuti kami.”

“Jahanam!” kata Kui Hwa yang berdarah panas dan tubuhnya segera berkelebat dan lenyap

dari hadapan kedua saudara Pang itu, karena pendekar wanita ini telah melompat keluar. Tak

lama kemudian terdengar bunyi gaduh di luar dan muncullah Kui Hwa kembali sambil

menyeret leher baju seorang laki-laki. Ia melemparkan tubuh orang itu ke depan Pang Gun

dan Pang Sin Lan sambil bertanya,

“Inilah tikus yang mengikuti kalian?”

Pang Gun dan Pang Sin Lan memandang dengan kagum dan menganggukkan kepalanya,

sedangkan orang itu dengan tubuhnya menggigil minta ampun dan berkata, “Ampunkan

siauw-jin (hamba yang rendah) …. sama sekali siauw-jin tidak berani mengintai Pang kongcu

dan Pang siocia …..”

 160

Kui Hwa menggerakkan kakinya dan tubuh orang itu tertendang sampai terguling-guling dan

mengaduh-aduh. “Bangsat hina. Kau bilang tidak mengintai akan tetapi dari mana kau tahu

bahwa mereka ini adalah Pang kongcu dan Pang siocia?”

Orang itu menginsafi kekeliruannya yang tidak sengaja membuka rahasianya sendiri, maka ia

hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala minta ampun.

“Siapa yang menyuruhmu? Hayo lekas memberitahu!” bentak Tin Eng.

“Hamba … hamba disuruh oleh ….. Hek-i-pangcu Song Bu Cu …. diharuskan mengikuti dan

menjaga kedua kongcu dan siocia ini ….. Ampun, lihiap, hamba hanya pesuruh belaka.”

Terkejutlah hati Tin Eng dan Kui Hwa mendengar jawaban ini. Bagaimana Hek-i-pang sudah

ikut campur pula dalam urusan ini?

“Jangan kau membohong!” Pang Gun membentak, dan memandang tajam. “Bukankah

Pangeran Ong yang memerintahmu?”

“Memang tadinya datang orang pesuruh Pangeran Ong yang minta tolong kepada Hek-ipangcu

dan akulah yang ditunjuk oleh pangcu untuk mengikuti ji-wi di kota ini,”

menerangkan orang itu.

Mengertilah Tin Eng dan Kui Hwa bahwa Pangeran Ong itu ternyata telah pula kenal dan

berhubungan dengan Hek-i-pang. Tak mereka sangka bahwa pengaruh Hek-i-pang demikian

besarnya sehingga dikenal pula oleh seorang Pangeran.

“Nah, kau pergilah dan awas, jangan kau berani memperlihatkan mukamu lagi. Pedangku

takkan memberi ampun!” kata Kui Hwa dan orang itu lalu berlari keluar dengan ketakutan.

“Cici, bagaimana kau bisa menangkapnya demikian cepat?” tanya Tin Eng kepada Kui Hwa

sambil tertawa.

“Kebetulan saja,” jawab Kui Hwa sedangkan kedua kakak beradik Pang memandang kepada

Dewi Tangan Maut dengan penuh kekaguman. “Ketika aku mendengar penuturan Pang

kongcu bahwa mereka selalu diikuti orang, aku menduga bahwa sekarang juga tentu ada

orang yang mengikuti mereka ini dan tentu pengintai itu berada di luar tembok. Begitu aku

melompat keluar, aku lalu berseru keras. ‘Hai, pengintai kedua saudara Pang! Kau masih

berani bersembunyi di situ?’ Dan ternyata akalku ini berhasil karena kulihat seorang laki-laki

mencuri dengar dari balik tembok muncul dan hendak melarikan diri akan tetapi aku keburu

datang dan membekuknya!”

Pang Gun memandang kagum dan berseru. “Akan tetapi para pengawas kami itu biasanya

memiliki ilmu silat tinggi!”

Tin Eng tersenyum. “Mungkin bagimu ia berilmu tinggi, akan tetapi bagi Dewi Tangan Maut,

ia hanya merupakan seekor tikus kecil belaka. Sekarang ceritakanlah maksud kalian.

Pertolongan apakah yang hendak kalian minta?”

“Tak lain kami berdua mohon sudilah kiranya lihiap mewakili kami untuk mengambil harta

pusaka itu. Kami adalah orang-orang lemah yang tak berdaya dan kalau kami berdua yang

 161

pergi, tentu kami akan diganggu oleh Pangeran Ong dan kaki tangannya. Andaikata kami

berhasil mendapatkan harta pusaka itu, juga sukar bagi kami untuk membawanya pulang

dengan selamat. Maka kami mengambil keputusan untuk mencari seorang berilmu tinggi dan

boleh dipercaya. Dan kini pilihan kami terjatuh pada lihiap. Maaf lihiap, bukan sekali-kali

maksud kami hendak menyuruh lihiap demi kepentingan kami, akan tetapi sesungguhnya

kami hendak menyerahkan rahasia peta itu kepada lihiap. Adapun apabila kelak lihiap

berhasil mendapatkan harta pusaka itu, terserah kepada kebijaksanaan lihiap untuk memberi

bagian kepada kami berdua, karena kamipun bukanlah orang-orang temaha akan harta benda

yang banyak sekali. Bagiku, cukuplah kiranya asal aku dapat membeli rumah dan pakaian

sekedarnya untuk adikku ini …”

Setelah berkata demikian, Pang Gun memandang kepada adiknya dengan mata mengalirkan

air mata, dan adiknya lalu memegang tangan kakaknya sambil berkata, “Engko Gun, kau

terlalu memikirkan aku. Aku bukanlah seorang adik yang manja!”

Melihat sikap kedua kakak beradik yang telah yatim piatu dan telah jatuh miskin itu, mau

tidak mau tergeraklah hati Tin Eng dan Kui Hwa. Tin Eng berpikir sebentar. Rahasia harta

pusaka itu menarik perhatiannya, bukan karena ia ingin memperoleh harta benda, sama sekali

bukan, karena dia sendiri adalah seorang anak pembesar hartawan, bahkan pamannya sendiri

juga cukup kaya.

Akan tetapi yang menarik perhatiannya ialah rahasia itu sendiri, dan bahaya-bahaya yang

mengintai dalam usaha mendapatkan harta pusaka itu! Pula, ia merasa kasihan kepada Pang

Gun dan Pang Sin Lan dan ingin sekali dapat menolong mereka.

“Baiklah,” jawabnya kemudian, “Kalian boleh percayakan peta itu kepadaku. Akan tetapi, aku

hanya akan mencoba melanjutkan usaha kalian ini dan jangan sekali-kali kalian pastikan

bahwa aku akan berhasil mendapatkannya. Dan akupun tidak mau pergi sendiri, kalau cici

Kui Hwa suka pergi bersama, baru aku mau pergi pula.”

“Kalau mereka ini percaya kepadaku, tentu saja aku akan senang sekali pergi bersamamu,

adik Tin Eng.”

Bukan main girangnya hati Pang Gun dan Pang Sin Lan. Mereka kembali menjatuhkan diri

berlutut, kini kepada Tin Eng dan Kui Hwa.

“Kalau ji-wi lihiap yang gagah perkasa mau pergi bersama, kami yakin usaha ini akan

berhasil dan pesan mendiang ayah kami takkan tersia-sia.”

Tin Eng dan Kui Hwa minta supaya bangun lagi, kemudian Pang Gun minta sehelai kain

putih dan alat tulis. Tin Eng mengeluarkan sehelai sapu tangannya yang berwarna kuning dan

di atas sapu tangannya itulah Pang Gun lalu melukiskan peta yang telah dihafal di luar kepala

itu, dibantu oleh Pang Sin Lan. Peta itu jelas sekali, tidak saja disebutkan di mana letaknya

gunung Hong-san dan Gua Kilin, akan tetapi juga disebutkan rahasia tempat harta pusaka di

dalam gua itu.

Setelah memberi penjelasan, kedua kakak beradik she Pang itu lalu berpamit untuk kembali

ke dusunnya sebelah selatan kota raja. Kini mereka tidak merasa takut dan gelisah lagi. Tak

khawatirkan lagi segala pengintaian kaki tangan Pangeran Ong. Mereka tidak memegang

 162

rahasia lagi. Rahasia itu telah diserahkan kepada orang lain. Berada di tangan dua orang

pendekar wanita yang gagah perkasa! Apa yang mereka takuti lagi?

“Pangeran Ong boleh mengikuti kita terus selama hidup,” Pang Gun berkata kepada adiknya

sambil tertawa. “Untuk kita tidak ada ruginya, bahkan gagah sekali ke mana-mana ada yang

mengawal dan menjaga keselamatan kita! Ha ha ha!”

Juga Pang Sin Lan menertawakan Pangeran itu. Tentu saja para pengintai yang ditugaskan

untuk mengikuti mereka menjadi heran melihat betapa kedua anak muda itu kini kembali ke

tempat tinggal mereka dalam keadaan demikian gembira!

Pangeran Ong Kiat Bo yang diberi laporan tentang hal ini juga merasa heran dan curiga, maka

ia lalu mengunjungi rumah kedua keponakannya yang keras kepala itu. Ia masih merindukan

Pang Sin Lan akan tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu dengan kekerasan. Karena ia maklum

bahwa kedua orang muda ini mempunyai banyak kenalan di antara orang-orang besar. Dan

kalau saja ia menggunakan kekerasan terhadap gadis yang jelita ini, tentu namanya akan

Pang Gun dan Pang Sin Lan menyambut Ong Kiat Bo dengan sikap dingin sekali,

sungguhpun sebagai keturunan bangsawan mereka tidak melupakan peradatan dan menjura

dengan hormat kepada Pangeran itu.

“Eh, kalian pergi ke mana sajakah hampir sebulan ini?” tanyanya dengan nada suara penuh

perhatian sebagaimana layaknya seorang yang mencintai sanak keluarga.

“Ong-ya sudah tahu mengapa masih bertanya lagi?” balas Pang Gun dengan suara mengejek.

Memang kedua kakak beradik ini tidak mau menyebut siok-hu (paman) kepada adik misan

ayah mereka ini dan selalu menyebut Ong-ya atau tuan Ong sebagaimana para pelayan

menyebutnya karena kedua saudara Pang ini tidak sudi menganggapnya sebagai paman.

Sebaliknya Ong Kiat Bo lebih senang disebut seperti itu, karena ia akan merasa kurang enak

apabila ia disebut ‘paman’ oleh Pang Sin Lan, gadis yang dirindukannya itu.

“Hmm, memang aku mendengar dari kenalan-kenalan di Hun-lam bahwa kalian pergi ke

Hun-lam,” kata Pangeran itu dengan berani karena merasa takkan ada gunanya apabila ia

berpura-pura tidak tahu.”Mengapa kalian begitu keras kepala dan tidak mau ikut aku ke kota

raja kembali?”

Ia melihat ke sekelilingnya. Rumah yang ditinggali oleh kedua kakak beradik itu adalah

rumah kampung yang kecil lagi buruk, perabot rumahnya juga sederhana sekali. “Tak pantas

kalian tinggal di tempat seperti ini, memalukan aku saja! Lebih baik kalian tinggal bersamaku

di kota raja dan hidup sebagai keturunan bangsawan.”

“Aku seribu kali lebih senang tinggal di tempat yang buruk ini bersama kakakku dari pada

tinggal di gedung besar orang lain!” Tiba-tiba Sin Lan berkata sambil merengut. Akan tetapi

dalam pandangan mata Ong Kiat Bo, wajah gadis itu tambah cantik kalau sedang marahmarah.

“Gun-ji (anak Gun),” kata pula Pangeran Ong dengan suara membujuk kepada Pang Gun.

“Kau tahu bahwa kau dan adikmu takkan mungkin dapat mencari harta pusaka itu, maka

mengapa kau begitu berkepala batu? Berikanlah peta itu kepadaku dan aku akan mengerahkan

 163

orang-orangku mencari untuk kalian berdua. Aku sudah cukup kaya raya, untuk apakah harta

itu bagiku? Aku hanya ingin menolong kalian berdua, lain tidak. Kalau kalian ragu-ragu aku

boleh bersumpah dalam kelenteng bahwa setelah dapat diketemukan, harta pusaka itu akan

kuberikan kepada kalian berdua.”

“Peta itu sudah tidak ada lagi, Ong-ya,” jawab Pang Gun.

“Hmmm, berkali-kali kau berkata demikian. Aku tidak percaya!”

“Percaya atau tidak adalah soalmu sendiri, Ong-ya.”

“Pang Gun, jangan kau main-main. Kau di Hun-lam mengunjungi Sian-kiam Lihiap ada

keperluan apakah?” Sepasang mata Pangeran Ong memandang tajam dan menyelidik.

Pang Sin Lan tersenyum sindir. “Bagus sekali, kami mempunyai sahabat Sian-kiam Lihiap,

kau pun tahu! Kalau ingin sekali tahu urusan kami, mengapa tidak datang saja kepada Siankiam

Lihiap untuk bertanya? Hmmm, tentu takut kepadanya, bukan? Takut kepada pedangnya

yang tajam?”

Disindir seperti ini, Ong Kiat Bo merah juga mukanya. Ia lalu melangkah menuju ke pintu

dan berkata, “Betapapun juga, tak mungkin kalian akan bisa mendapatkan harta pusaka itu

tanpa bantuanku!” Ia lalu bertindak keluar dengan muka masam dan hati mendongkol. Pang

Gun dan adiknya saling pandang sambil tersenyum puas.

Sementara itu, ketika Tin Eng dan Kui Hwa sedang membicarakan soal pencarian harta

pusaka yang tiba-tiba saja diserahkan ke dalam tangan mereka itu, datanglah Lie-wangwe

menyusul keponakannya ke dalam taman. Ternyata bahwa pesuruh yang dulu membawa

suratnya untuk ayah Tin Eng, kini telah tiba kembali membawa balasan di mana Liok Ong

Gun minta agar supaya Tin Eng untuk sementara berdiam dulu di rumah Lie-wangwe dan

menanti datangnya orang-orang yang akan menjemputnya.

Selain itu, ayah Tin Eng menyatakan juga dalam surat itu bahwa kesalahan Tin Eng yang

melarikan diri dari rumah itu dimaafkan, dan kini sedang dipersiapkan perayaan

pernikahannya apabila sudah kembali ke rumah.

Mendengar berita ini, Tin Eng menjadi marah sekali.

“Paman, surat itu tidak ada artinya, karena hari ini juga aku mau pergi bersama kawanku ini!”

Lie-wangwe terkejut, “Eh, hendak pergi kemana, Tin Eng? Jangan kau tinggalkan rumah ini

seperti yang telah dipesankan oleh ayahmu. Bagaimana aku harus menjawab kalau ayahmu

atau orang-orang suruhannya datang ke ini dan tidak mendapatkan kau berada di sini?”

“Mudah saja, pekhu. Kau bilang saja bahwa aku telah berangkat pulang lebih dulu dengan

ambil jalan memutar, sekalian merantau dan melihat-lihat pemandangan, bersama seorang

kawan baikku, yakni cici Kui Hwa ini!”

Berkali-kali Lie-wangwe membujuk dan mencegah, akan tetapi akhirnya ia maklum bahwa ia

tak dapat menahan kehendak hati keponakannya yang keras ini. Ia amat mencinta

keponakannya ini dan pencegahannya hanya khawatir kalau-kalau keponakannya akan

 164

mengalami bencana di jalan. Maka ia lalu cepat menyuruh para pelayan untuk membeli dua

ekor kuda yang besar dan baik, serta mempersiapkan beberapa stel pakaian untuk Tin Eng.

Tak lupa ia memberi bekal uang mas yang sekiranya cukup untuk dipakai membiayai

perjalanan gadis itu.

Tin Eng merasa amat berterima kasih dan girang. Ia menjura kepada hartawan itu bersamasama

Kui Hwa yang juga menyatakan terima kasihnya atas pemberian kuda, dan Tin Eng

berkata,

“Lie-pekhu, aku takkan melupakan kebaikan hatimu dan mudah-mudahan saja kelak aku akan

dapat membalasnya!”

Maka berangkatlah kedua orang gadis pendekar ini, mengaburkan kuda keluar dari Hun-lam,

menuju ke bukit Hong-san untuk mencari harta pusaka yang dipercayakan oleh kedua anak

pangeran itu kepada mereka.

****

Kira-kira sepuluh lie di luar kota Hun-lam, ketika dua orang gadis sedang menjalankan

kudanya dengan perlahan, tiba-tiba mereka mendengar suara telapak kaki kuda mengejar dari

belakang dan suara panggilan penunggang kuda itu.

“Nona Liok, tunggu dulu!”

Tin Eng menahan kudanya lalu menoleh, juga Kui Hwa memutar kudanya memandang

penunggang kuda yang datang itu.

“Dia adalah Hoa-coa-ji Lui Siok, wakil ketua Hek-i-pang!” bisik Tin Eng dengan hati tak

“Hmm, hmm, apakah maksud kedatangannya? Dengan tenaga kita berdua untuk

menghadapinya, ia benar-benar mencari mampus sendiri!” kata Kui Hwa.

Setelah datang dekat, ternyata bahwa orang itu memang benar Lui Siok si Ular Belang, wakil

ketua Hek-i-pang yang lihai itu. Tangan kanannya bergerak dan sabuk ular belangnya yang

lihai telah berada di tangannya. Ia maklum akan kelihaian Dewi Tangan Maut, maka ia tidak

mau menghadapinya dengan tangan kosong.

“Kau berada di sini, bangsat perempuan dari Hoa-san? Kebetulan sekali, tanganku sudah

gatal-gatal untuk menghajar seorang bangsat Hoa-san-pai!”

Kui Hwa memandang tajam dan mencabut keluar pedangnya. “Lui Siok manusia busuk!

Bersiaplah untuk mampus!”

Juga Tin Eng mencabut keluar pedangnya, siap membantu Kui Hwa menghadapi si Ular

Belang yang telah diketahui kelihaiannya itu. Melihat sikap Tin Eng ini, Lui Siok berkata

kepadanya,

 165

“Nona Liok kau adalah anak murid Go-bi-pai. Tidak tahukah kau bahwa perempuan ini

adalah musuh besar cabang kita? Dia adalah musuhmu juga, mengapa kau berjalan bersamasama?”

Tin Eng tersenyum sindir. “Orang she Lui, dengarlah! Aku tidak tahu tentang permusuhanmu

dan takkan perduli sedikitpun juga. Aku hanya kenal dua golongan orang, yakni orang baikbaik

dan jahat. Yang baik kudekati dan yang jahat ku jahui. Cici Kui Hwa adalah orang baik

tidak seperti kau seorang penjahat, maka mudah saja bagiku untuk mengambil keputusan

harus membantu yang mana!”

“Anak kurang ajar! Tahukah kau bahwa ayahmu dan tunanganmu akan menjadi malu dan

marah sekali kalau mendengar bahwa kau membantu seorang anak murid Hoa-san-pai yang

menjadi musuh kita?”

“Aku tidak pernah bertunangan dan jangan kau sebut-sebut nama ayahku! Lebih baik kau

lekas bilang apa keperluanmu menyusul dan memanggil-manggil aku!”

Lui Siok marah sekali. Ia menuding ke arah Tin Eng dengan telunjuk tangan kirinya dan

membentak, “Perempuan tak tahu diri! Tadinya aku menyusulmu untuk membujuk agar

supaya jangan meninggalkan gedung Lie-wangwe karena akupun bertugas menjaga

keselamatanmu. Akan tetapi karena ternyata kau mengkhianati cabang persilatan kita, maka

kau akan kuhajar sekalian dengan anjing betina dari Hoa-san-pai ini!”

Sambil berkata demikian ia melompat turun dari kuda. Kui Hwa sudah tak dapat menahan

kemarahannya lagi, sambil berseru nyaring iapun melompat turun dari kuda dan langsung

menyerang Lui Siok dengan pedangnya. Serangan yang amat ganas dan cepat dan ia mainkan

Hoa-san-kiam-hoat yang cepat gerakannya dan lihai. Lui Siok berseru keras dan menangkis

dengan senjatanya yang istimewa.

Tin Eng lalu melompat turun dari kudanya pula, lalu membawa kudanya sendiri dan kuda Kui

Hwa ke bawah pohon di mana terdapat banyak rumput. Kemudian, dengan pedang

ditangannya ia lalu lari menyerbu pertempuran itu dan membantu Kui Hwa. Pedang Tin Eng

berkelebat menyambar bagaikan seekor burung garuda menyambar mangsanya. Ketika Lui

Siok menangkis serangan pedang gadis itu, diam-diam ia terkejut karena tenaga dan

kecepatan gadis ini sudah banyak maju jika dibandingkan dengan dulu ketika ia datang

menyerang gadis itu di kebun bunga Lie-wangwe.

Memang semenjak dikalahkan oleh Lui Siok, Tin Eng lalu melatih diri dengan amat giatnya,

sehingga ia mendapatkan kemajuan yang lumayan. Kini menghadapi musuh yang pernah

mengalahkannya, tentu saja hatinya penuh dendam hendak menebus kekalahannya sehingga

permainan pedangnya menjadi makin kuat. Ditambah pula dengan adanya Kui Hwa membuat

Tin Eng merasa tabah sekali dan setiap serangan pedangnya dengan ilmu pedang Sin-engkiam-

hoat yang luar biasa, merupakan tangan maut yang menjangkau ke arah nyawa Lui Siok.

Lui Siok harus mengerahkan seluruh kepandaian dan kegesitannya menghadapi kedua orang

lawannya ini, karena Tin Eng dan Kui Hwa benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh

dan berbahaya! Ilmu pedang Kui Hwa adalah Hoa-san-kiam-hoat yang memiliki gerakan

cepat, ditambah oleh watak Kui Hwa yang keras maka gerakan pedangnya menjadi ganas dan

berbahaya sekali.

 166

Tingkat kepandaian Kui Hwa sudah mencapai tempat cukup tinggi dan pengalaman

bertempur yang banyak membuat ia merupakan lawan yang bahkan lebih berbahaya dari pada

Tin Eng yang memiliki ilmu pedang luar biasa. Juga Tin Eng merupakan lawan yang cukup

berbahaya, maka kini ia menghadapi dua orang pendekar yang mainkan dua macam ilmu

pedang dengan gaya jauh berbeda.

Biarpun tingkat kepandaian Kui Hwa masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan Tin Eng,

akan tetapi ilmu pedang Tin Eng masih menang jauh. Menghadapi ilmu pedang Sin-eng

Kiam-hoat yang makin lama makin kuat, Lui Siok merasa bingung juga dan diam-diam ia

akui bahwa ilmu pedang ini jauh lebih berbahaya dari pada ilmu pedang Hoa-san-pai.

Lui Siok tidak ragu-ragu lagi menghadapi Tin Eng, karena ia mendapat alasan kuat untuk

melukai atau bahkan membunuh gadis ini. Terang-terangan gadis ini membantu Dewi Tangan

Maut yang telah menjadi musuh besar golongan Go-bi-pai. Maka kalau kini Tin Eng

membantunya, berarti gadis ini menjadi pengkhianat, menjadi musuh Go-bi-pai juga dan

karenanya ia takkan dipersalahkan oleh Seng Le Hosiang atau tokoh-tokoh Go-bi-pai yang

Kalau saja di situ tidak ada Kui Hwa, tentulah maksudnya hendak merobohkan Tin Eng akan

berhasil, karena sungguhpun Tin Eng telah mendapat banyak kemajuan, akan tetapi untuk

dapat mengalahkan sabuk ular belang dari Lui Siok bukanlah hal yang mudah. Mungkin kalau

ilmu pedangnya sudah matang betul, ia akan dapat mengalahkan jago dari Kim-san-pai yang

selain mahir ilmu silat Kim-san-pai, juga telah banyak mempelajari bermacam-macam ilmu

silat dari golongan hitam itu.

Setelah Lui Siok yang benar-benar lihai itu dapat bertahan sampai lima puluh jurus lebih,

kedua orang gadis itu merasa penasaran. Mereka lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya

dan pergerakan pedang mereka makin cepat, tubuh mereka berkelebat bagaikan dua ekor

burung walet sedang menyambar dan mengeroyok seekor ular besar. Dikeroyok sedemikian

rupa, Lui Siok menjadi pening juga karena ia harus memutar-mutar tubuhnya agar jangan

sampai terkena serangan pedang lawan.

Pada saat yang baik, Tin Eng mempergunakan kesempatannya dan berhasil memasuki

pertahanan lawannya. Pedang meluncur dan menerobos di antara sinar sabuk ular belang

mengarah ulu hati Lui Siok. Gerakannya ini demikian cepat dan dengan ujung pedang

digetarkan sebagaimana telah menjadi keistimewaan Sin-eng-kiam-hoat, sehingga Lui Siok

merasa terkejut sekali.

Pada saat itu, ia sedang menangkis bacokan pedang dari Kui Hwa, maka ia tak mendapat

kesempatan untuk menangkis tusukan Tin Eng itu. Ia berseru keras dan menggunakan tangan

kirinya untuk mencengkeram pergelangan tangan Tin Eng yang memegang pedang sambil

miringkan tubuhnya. Tin Eng sudah pernah berkenalan dengan lihainya cengkeraman tangan

ini, maka cepat gadis ini memutar pergelangan tangannya dan kini ujung pedangnya meluncur

cepat sekali ke arah tenggorokan Lui Siok.

Si Ular Belang mencoba untuk miringkan kepala, akan tetapi terlambat dan ujung pedang Tin

Eng berhasil melukai pundaknya. Lui Siok berseru marah dan memutar sabuknya secepat

mungkin. Kedua gadis itu melompat mundur dan mengurung lagi dengan hebat.

 167

Lui Siok merasa betapa pundaknya sakit dan perih, membuat sebelah tangan kirinya seperti

lumpuh. Gerakannya tidak lincah lagi dan ia tak dapat mengelak ketika sebuah tendangan Kui

Hwa menyambar bagaikan kilat. Ia hanya dapat mengerahkan lweekangnya ke arah lambung

yang tertendang. Akan tetapi tendangan itu demikian kerasnya sehingga biarpun di dalam

lambungnya tidak terluka parah tetap saja tubuhnya terlempar sampai setombak lebih dan

roboh di atas tanah bergulingan.

Pada saat yang amat berbahaya bagi nyawa Lui Siok itu, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda,

dan terdengar seruan keras,

“Penjahat perempuan kalian berani melukai kawanku!”

Kui Hwa menengok dan berkata kaget. “Ah, Song Bu Cu sendiri datang!”

Juga Tin Eng menengok dan berkata terkejut. “Dan yang seorang itu adalah Gan Bu Gi!”

Kui Hwa juga mengenal pemuda itu, maka bingunglah mereka karena maklum bahwa dengan

datangnya dua orang itu, sedangkan Lui Siok juga akan melawan lagi, keadaan mereka

sungguh berbahaya. Mereka maklum bahwa kepandaian Gan Bu Gi tidak kalah jauh jika

dibandingkan dengan Lui Siok, sedangkan kepandaian Song Bu Cu bahkan lebih tinggi lagi.

Bab 19 …

TIBA-tiba Tin Eng mendapatkan akal dan ia lalu mengeluarkan piauwnya dari kantong

piauw. Ia memberi dua batang piauw kepada Kui Hwa dan berkata perlahan,

“Kita hajar kuda mereka dan melarikan diri!”

Kui Hwa maklum akan maksud kawannya, maka ia menerima dua batang piauw itu dan

keduanya lalu melompat ke atas kuda masing-masing.

Song Bu Cu dan Gan Bu Gi telah mengenal kedua orang gadis itu, dan ketika Gan Bu Gi

melihat Kui Hwa, musuh besarnya ia berseru,

“Dewi Tangan Maut, jangan lari!”

Akan tetapi, Kui Hwa dan Tin Eng yang sudah siap sedia, tiba-tiba lalu menggerakkan tangan

mereka dan dua batang piauw menyambar dengan cepat sekali, sebatang ke arah Gan Bu Gi

dan sebatang lagi ke arah Song Bu Cu. Piauw yang dilepas oleh Kui Hwa mengarah ke tubuh

Gan Bu Gi sedangkan piauw dari Tin Eng menyambar dengan lebih cepat ke arah dada Song

Bu Cu. Dalam hal melepaskan senjata rahasia, Tin Eng lebih pandai dari Kui Hwa, karena Tin

Eng memang telah mempelajarinya dengan sempurna.

Gan Bu Gi dan Song Bu Cu yang berkepandaian tinggi, tentu saja tak dapat dirobohkan

dengan sambaran piauw itu. Maka mereka cepat mengelak di atas kudanya, sambil

menyampok piauw itu dengan tangan mereka.

Akan tetapi, beberapa detik setelah piauw pertama menyambar, dua batang piauw menyambar

lagi dan kini mengarah kuda yang ditunggangi oleh kedua orang itu! Hal ini sungguh-sungguh

di luar dugaan Gan Bu Gi dan Song Bu Cu sehingga mereka menjadi terkejut. Piauw yang

 168

dilepas oleh Kui Hwa menyambar ke arah kuda Gan Bu Gi, akan tetapi bidikannya terlalu

tinggi sehingga Gan Bu Gi dapat menendangnya dengan ujung sepatu sehingga piauw itu

terlempar ke samping.

Akan tetapi, Tin Eng yang melemparkan piauwnya ke arah kuda Song Bu Cu, telah membidik

dengan tepat sekali dan sebelum Song Bu Cu dapat menghalanginya, piauw itu telah

menancap pada perut kudanya! Kuda Song Bu Cu meringkik kesakitan, berdiri di atas dua

kaki belakang dan melompat-lompat dengan liar, sehingga Song Bu Cu tak kuasa

mengendalikannya lagi dan terpaksa melompat turun.

Pada saat itu, Tin Eng dan Kui Hwa sudah membalapkan kuda mereka sambil tertawa senang.

Song Bu Cu menyumpah-nyumpah dengan amat marah. Akan tetapi ia tidak berdaya untuk

mengejar. Sedangkan Gan Bu Gi, sungguhpun kudanya tidak terluka dan dapat mengejar,

akan tetapi merasa jerih untuk menghadapi dua orang pendekar wanita itu sendiri saja, maka

iapun tidak mau mengejar.

Lui Siok yang terluka pundaknya oleh pedang Tin Eng dan terkena tendangan Kui Hwa

menjadi marah sekali dan tiada hentinya mengeluarkan makian-makian kotor terhadap kedua

orang gadis itu.

“Gan-sute,” katanya kepada Gan Bu Gi ketika Song Bu Cu berusaha merawat lukanya.

“Mengapa kau memilih seorang gadis liar dan jahat seperti dia untuk calon isterimu? Dia

sekarang telah menjadi musuh kita, telah berani membantu si jahat Tan Kui Hwa.”

Gan Bu Gi menarik napas panjang dan berkata, “Namun ia cantik dan pandai, suheng, dan

pula harus diingat bahwa dia adalah puteri dari Liok-taijin Kepala daerah Kiang-sui dan anak

murid Go-bi-pai. Kalau aku menjadi menantu Kepala daerah, bukankah hal itu akan

memperkuat kedudukan Kim-san-pai kita? Hal ini adalah rencana dari suhu dan Seng Le

Hosiang dan aku hanyalah menurut saja perintah suhu!”

Memang, kedua kakek bersahabat itu, yakni Bong Bi Sianjin ketua Kim-san-pai dan Seng Le

Hosiang, tokoh Go-bi-pai, membuat rencana yang amat baik demi keuntungan masingmasing.

Pada saat itu, cabang-cabang persilatan di Tiongkok tidak mendapat nama baik bagi

pemerintah yang mulai merasa curiga dan khawatir kalau-kalau orang-orang kang-ouw

memiliki kepandaian tinggi itu sewaktu-waktu akan mengadakan pemberontakan. Kaisar dan

para penasehatnya maklum akan bahayanya hal ini, maka mulailah diadakan pengawasan dan

tekanan terhadap para ahli-ahli silat.

Partai-partai besar seperti Go-bi-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain yang berpusat di gununggunung

yang luas daerahnya dan sukar didatangi pasukan negeri, tidak merasa khawatir akan

hal ini. Akan tetapi golongan-golongan kecil mempunyai kekhawatiran juga kalau-kalau

cabang persilatan mereka akan mendapat gangguan.

Seng Le Hosiang merasa sakit hati dan menaruh hati dendam terhadap Hoa-san-pai dan

tokoh-tokoh Go-bi-pai yang lain tidak mau menghiraukan dan tidak ada nafsu untuk ikut

campur memperbesar permusuhan dengan Hoa-san-pai, lalu mencari kawan-kawan dan

pembantu dari luar. Di antaranya yang ia paling harapkan, adalah Bong Bi Sianjin sendiri

ketua Kim-san-pai. Oleh karena selain Bong Bi Sianjin sendiri berkepandaian tinggi, juga

 169

tokoh Kim-san-pai ini mempunyai beberapa orang murid yang tingkat kepandaiannya sudah

boleh diandalkan.

Bong Bi Sianjin bukanlah seorang yang bodoh. Sungguh pun ia bersahabat baik dengan Seng

Le Hosiang, akan tetapi ia maklum bahwa mencampuri urusan permusuhan itu berarti

mendatangkan bahaya baginya dan para muridnya, karena iapun tahu akan kelihaian anak

murid Hoa-san-pai. Maka ia takkan mau membantu begitu saja kalau ia tidak melihat hal-hal

yang kiranya akan mendatangkan kebaikan dan keuntungan bagi partainya sendiri.

Ia maklum bahwa di antara anak murid Go-bi-pai, terdapat Liok Ong Gun yang menjadi

Kepala daerah dan mempunyai hubungan dekat dengan kotanya. Maka alangkah baiknya

kalau ia bisa mendekati pembesar itu, agar kedudukan cabang persilatan Kim-san-pai

Oleh karena pikiran ini, maka ia lalu mengajukan usul agar supaya muridnya yang bungsu,

yakni Gan Bu Gi, dapat dipekerjakan pada Liok-taijin. Bahkan dapat dijodohkan dengan

puteri pembesar itu. Seng Le Hosiang suka melihat Gan Bu Gi, maka karena iapun

mengharapkan bantuan dari Kim-san-pai, dalam hal ini ia membantu sekuat tenaga, sehingga

Liok-taijin akhirnya tidak hanya menerima Gan Bu Gi sebagai perwira akan tetapi juga

sebagai calon mantu!

Gan Bu Gi mendengarkan dari calon mertuanya bahwa Tin Eng berada di Hun-lam. Sebelum

berangkat ke kota itu, ia lebih dulu mampir di kota Tong-kwan pusat perkumpulan Hek-IPang

karena ia tahu bahwa sesungguhnya Lui Siok berada di tempat itu menjadi wakil ketua.

Akan tetapi ia tidak bertemu dengan suhengnya yang sedang pergi ke Hun-lam dan hanya

bertemu dengan Song Bu Cu. Ketika mendengar bahwa Lui Siok menyelidiki ke Hun-lam

karena mendengar tentang adanya Tan Kui Hwa, si Dewi Tangan Maut yang menjadi musuh

besarnya, Gan Bu Gi lalu menyusul ke Hun-lam bersama Song Bu Cu dan di tengah jalan

kebetulan sekali mereka bertemu dengan Lui Siok yang sedang berada dalam bahaya.

Lui Siok dan Song Bu Cu lalu menceritakan kepada Gan Bu Gi betapa mereka mendapat

tugas dari Pangeran Ong Kiat Bo untuk menyelidiki halnya kedua orang muda yang kini telah

kembali ke kota raja.

“Mungkin sekali peta rahasia itu oleh kedua saudara Pang diberikan kepada Tin Eng dan Kui

Hwa,” kata Lui Siok. “Maka lebih baik kita mengejar mereka. Pertama-tama untuk

membinasakan perempuan rendah Dewi Tangan Maut itu, kedua untuk menawan tunanganmu

yang keras kepala, dan ketiga untuk merampas peta.”

“Akan tetapi, aku harus pergi ke Kim-san-pai untuk menemui suhu lebih dulu,” kata Gan Bu

Gi. “Karena suhu dulu berpesan bahwa apabila aku menghadapi kesulitan, aku harus

melaporkan kepada suhu. Hal ini amat ruwet. Tin Eng telah membawa kehendak sendiri

bahkan telah bersekutu dengan Dewi Tangan Maut. Sebagaimana kita semua mengetahui,

Dewi Tangan Maut selain lihai, juga seorang anak murid Hoa-san-pai yang paling jahat dan

paling banyak kawan-kawannya. Kini kalau betul-betul dia mendapatkan peta harta pusaka

dan bersama Tin Eng pergi mencarinya, maka hal yang penting ini harus kuberitahukan

kepada suhu. Apalagi kini telah muncul Kang-lam Ciu-hiap yang benar-benar gagah dan tak

boleh dipandang ringan!”

 170

Gan Bu Gi teringat akan pengalaman pahit ketika ia bersama kawan-kawannya sama sekali

tak berdaya menghadapi Gwat Kong. Akan tetapi hal ini ia tidak mau menceritakan kepada

Lui Siok dan Song Bu Cu karena malu. Adapun kedua ketua Hek-I-Pang ini biarpun telah

mendengar nama Kang-lam Ciu-hiap, akan tetapi belum pernah bertemu dan belum merasai

sendiri sampai di mana kelihaian pemuda pendekar itu.

“Aaah,” Lui Siok yang sombong mencela. “Mengapa harus ditakuti Kang-lam Ciu-hiap?

Sayang ia sudah pergi ketika aku datang di gedung Lie-wangwe. Kalau dia berada di sana

ketika itu, tentu sekarang Kang-lam Ciu-hiap tinggal namanya saja!”

Di dalam hatinya, Gan Bu Gi tidak menyetujui ucapan suhengnya ini, karena ia tahu bahwa

kepandaian suhengnya ini jauh untuk menandingi kelihaian Gwat Kong, akan tetapi ia tidak

mau membuka mulut, hanya berkata,

“Biarlah suheng dan Song twako berangkat dulu menyusul mereka, aku mau mencari suhu

lebih dulu agar kelak tidak mendapat teguran dari suhu yang menanti-nanti berita dariku.”

Demikianlah, Gan Bu Gi lalu berangkat mencari suhunya ke Kim-san dan kedua ketua Hek-IPang

itu lalu mengadakan perundingan untuk menyusul Tin Eng dan Kui Hwa.

****

Perjalanan ke Hong-san jauh sekali dan biarpun menggunakan kuda, akan makan waktu

berbulan-bulan. Maka biarlah kita tinggalkan dulu Tin Eng dan Kui Hwa yang menuju ke

bukit Hong-san untuk mencari harta pusaka rahasia itu. Dan marilah kita menengok keadaan

Gwat Kong, Kang-lam Ciu-hiap, yang sedang menerima gemblengan ilmu silat dan ilmu

tongkat Sin-hong Tung-hoat dari Bok Kwi Sianjin di tepi sungai Huang-ho.

Gwat Kong memang memiliki bakat yang baik sekali dan otak cerdas. Setelah belajar selama

seratus hari di gua pertapaan Bok Kwi Sianjin itu, ia telah dapat mempelajari Sin-hong Tunghoat

dan Sin-hong Kun-hoat dengan baik. Ia telah dapat menghafal semua kouw-koat (teori

persilatan) ilmu silat itu di luar kepala. Sedangkan dalam prateknya iapun telah menguasai

dasar-dasar yang penting sehingga tinggal melatih dan mematangkannya.

Bok Kwi Sianjin merasa girang sekali dan amat puas melihat kemajuan muridnya ini. Maka

ketika Gwat Kong menyatakan hendak melanjutkan perjalanannya ia tidak keberatan.

“Maksudmu hendak berusaha mendamaikan permusuhan yang ada antara Hoa-san-pai dan

Go-bi-pai memang baik,” kata Bok Kwi Sianjin dalam pesannya ketika ia mendengarkan

muridnya menyatakan pendapatnya. “Akan tetapi kukira hal itu takkan mudah kau lakukan

dengan berhasil. Memang di dunia ini segala hal mempunyai dua muka, terutama sekali bagi

manusia yang belum sadar akan rahasia Im-yang (positif dan negatif). Segala sesuatu yang

dianggap mendatangkan kebaikan bagi manusia selalu mempunyai bagian yang sebaliknya,

yakni keburukan. Ilmu kepandaian silat memang baik sekali dimiliki oleh setiap orang, demi

untuk alat penjaga diri dan kesehatan. Akan tetapi tetap saja ada pengaruhnya yang tidak baik

dan merugikan orang itu, yakni bagi orang yang lemah iman, kepandaian ini mendatangkan

watak sombong dan suka berkelahi ilmu kepandaian silat mendatangkan sifat pemberani dan

tabah. Karena orang yang memiliki kepandaian ini merasa dirinya terlindung oleh

kepandaiannya dan tidak menakuti apapun juga. Akan tetapi sifat tabah dan berani yang

berlebih-lebihan, membuat ia makin gelap dan hanya mengandalkan keberaniannya, siap

 171

sedia setiap saat untuk bertempur melawan siapapun juga, membangkitkan nafsu ingin

memperlihatkan kegagahan sendiri tanpa mau mengalah sedikit juga terhadap orang lain

karena takut kalau-kalau disangka jerih dan takut kalah. Karena sifat-sifat inilah maka terbit

permusuhan di antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai.”

“Akan tetapi suhu, menurut penuturan dua orang anak murid Hoa-san-pai, yakni kakak

beradik she Pui, banyak murid-murid Go-bi-pai yang jahat dan melanggar pantanganpantangan

orang gagah, melakukan perbuatan sewenang-wenang dan jahat sehingga golongan

Hoa-san-pai turun tangan memberi hajaran. Dan inilah yang menimbulkan perselisihan,” kata

Gwat Kong.

Suhunya tersenyum. “Mungkin benar juga kata kedua orang itu, akan tetapi muridku,

penuturan itu tak boleh kau jadikan dasar untuk memandang buruk kepada Go-bi-pai dan

membenarkan Hoa-san-pai. Kalau pandanganmu dipengaruhi oleh penuturan-penuturan kedua

belah pihak, kau lebih-lebih takkan berhasil menjadi pendamai di antara mereka. Seorang

pendamai tak boleh berpikir berat sebelah. Kalau hatinya dikotori oleh sifat memihak, lebih

baik jangan jadi pendamai karena hal itu berarti bahwa kau menaruh dirimu dalam kedudukan

yang amat berbahaya, yakni jangan-jangan kau akan dimusuhi oleh kedua belah pihak!

Orang-orang yang sedang bermusuhan dan marah memiliki perasaan curiga yang amat besar,

maka kau harus berhati-hati.”

Gwat Kong terpaksa membenarkan pernyataan suhunya itu dan menundukkan mukanya.

“Muridku, di antara dua orang atau dua pihak yang bermusuhan, mereka itu masing-masing

tentu membesar-besarkan kesalahan pihak musuh dan mencoba seberapa bisa untuk

menghapus dan menyembunyikan kesalahan sendiri. Kalau kau bertanya kepadaku, siapakah

yang bersalah di antara dua orang yang bermusuhan? Maka jawabku tentu bahwa dua orang

itu kedua-duanya bersalah! Karena orang yang sudah menjadikan orang lain sebagai

musuhnya, atau yang dijadikan musuh oleh orang lain, pokoknya dipengaruhi rasa benci

kepada orang lain atau menimbulkan benci, ia itu sudah bersalah!”.

Kakek ini tertawa geli ketika melihat bahwa muridnya nampak bingung mendengar jawaban

yang sulit dimengerti ini. Maka lalu ia berkata pula,

“Gwat Kong, tak perlu kau memusingkan hal ini. Kau masih terlalu muda untuk dapat

mengerti. Untuk mengetahui hal ini, orang harus berdiri di luar perputaran arus kehidupan,

sedangkan kau berada di dalamnya dan ikut terputar! Hal yang baik bagimu ialah harus dapat

menyesuaikan dirimu dengan keadaan di sekelilingmu, dan semua perbuatanmu harus

berdasarkan keadilan dan kebajikkan. Lenyapkanlah pandanganmu yang berat sebelah

terhadap permusuhan yang timbul di antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai dan aku tahu betul

bahwa baik di pihak Go-bi maupun pihak Hoa-san, para ketua dan tokohnya yang tertinggi

sama sekali tidak mempunyai permusuhan, dan semua itu hanyalah akibat sikap ‘keras

kepala’ dn ‘tak mau kalah’ dari tokoh-tokoh kecil kedua pihak seperti Seng Le Hosiang dan

Sin Seng Cu. Jangan sampai kau ikut menanam bibit permusuhan muridku, dan ingatlah akan

ucapan para cerdik pandai di jaman dahulu bahwa seribu orang kawan masih terlampau

sedikit, akan tetapi seorang musuh sudah terlalu banyak bagi seorang budiman.”

Setelah menghaturkan terima kasih kepada suhunya dan berjanji akan mengingat segala

nasehat dari kakek ini, Gwat Kong lalu keluar dari hutan liar itu. Pemuda yang keluar dari

 172

hutan itu jauh bedanya dengan Gwat Kong yang dulu memasuki hutan untuk mengikuti

suhunya belajar silat.

Dia telah mendapat kemajuan yang luar biasa sekali dalam waktu tiga bulan lebih itu. Tidak

saja tenaga lweekangnya telah meningkat karena petunjuk-petunjuk yang tepat dan cara

berlatih yang penuh rahasia, dan ginkangnya juga maju pesat berkat latihan-latihan

pernapasan dan bersamadhi, dalam hal ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat sungguhpun Bok Kwi

Sianjin tidak pernah mempelajarinya akan tetapi kakek ini telah memberi nasehat-nasehat dan

petunjuk-petunjuk yang penting untuk menyempurnakan permainan pedang pemuda itu.

Yang lebih hebat lagi, kini Gwat Kong dapat mengkombinasikan ilmu pedangnya dengan

ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat. Apabila ia mainkan pedangnya, ia dapat memasukkan

gerakan Sin-hong Tung-hoat di dalam pedang dan apabila memegang sebatang tongkat, ia

dapat memasukkan pula ilmu pedangnya, sehingga di dalam gerakannya telah dapat ia

mengawinkan dua macam ilmu silat yang lihai itu.

Dan selama seratus hari di dalam hutan itu bersama suhunya, terpaksa Gwat Kong menekan

kesukaannya akan arak, karena suhunya pernah berkata bahwa biarpun arak merupakan

minuman yang baik dan sehat, akan tetapi apabila dilakukan dengan berlebih-lebihan tak

kenal batas, sebagaimana hal lain di dunia ini, maka akan mendatangkan pengaruh buruk bagi

Sebagai gantinya, Bok Kwi Sianjin menganjurkannya untuk minum arak ringan yang terbuat

dari pada buah yang mengandung khasiat menyehatkan dan membersihkan darah. Kini guci

arak dari perak yang tergantung di pinggang Gwat Kong terisi oleh minuman ini.

Gwat Kong merasa rindu sekali kepada Tin Eng. Selama ini, ia makin merasa betapa

sesungguhnya ia amat mencintai gadis itu, dan berkali-kali usahanya untuk mengusir

bayangan gadis itu dari pikirannya, ternyata gagal. Tanpa disadarinya, kini kedua kakinya

membawa ia menuju ke Hun-lam. Ia telah lupa ke mana arah jalan yang menuju ke kota itu.

Akan tetapi berlawanan dengan maksud hatinya untuk berdaya melupakan Tin Eng, tiap kali

bertemu dengan orang dan bertanyakan jalan, ia selalu bertanya arah jalan ke Hun-lam.

Pada suatu hari, ia tiba di dusun Ngo-bun-chung di kaki bukit Siang-san. Dusun ini cukup

besar dan padat penduduk yang hidup sebagai petani. Biasanya dusun ini terkenal makmur

karena memang tergolong tanah subur. Akan tetapi pada waktu itu di Tiongkok banyak

daerah yang menderita karena musim kering yang luar biasa sekali.

Sudah lima bulan daerah yang menderita itu kehabisan air sehingga akibatnya, tanamantanaman

di sawah menjadi kering. Rakyat di daerah itu tidak saja menderita kekurangan

makan, akan tetapi juga kekurangan air sehingga harga air menjadi semahal harga emas.

Dusun Ngo-bun-chung termasuk daerah yang sedang kekurangan air dan rakyat di situpun

amat menderita. Pemandangan yang amat menyedihkan dari rakyat jelata yang menderita

kelaparan dan kehausan ini telah dilihat oleh Gwat Kong semenjak ia meninggalkan hutan di

mana ia belajar ilmu silat.

Daerah di dekat Sungai Kuning itu masih nampak subur dan tidak sangat menderita karena

musim kering. Akan tetapi makin jauh ia menuju ke selatan, makin menyedihkan keadaan

 173

daerah-daerah yang kering itu. Akan tetapi, belum pernah Gwat Kong melihat dusun yang

menderita gangguan alam itu sehebat dusun Ngo-bun-chung.

Baru masuk saja ia melihat keadaan yang amat menyedihkan dan mendengar suara tangis

memilukan dari beberapa rumah, tanda bahwa terdapat pula orang-orang yang mati kelaparan.

Di dusun-dusun lain yang ia lewati, keadaan belum demikian hebat karena penduduk dusun

dengan secara gotong rotong saling membantu dan membagi persediaan ransum sehingga

jumlah kematian karena kelaparan sangat sedikit.

Tiba-tiba Gwat Kong melihat serombongan petani berjalan menuju ke barat. Mereka itu

nampak pucat-pucat dan bersungguh-sungguh dengan tangan memegang senjata tajam seperti

cangkul, kampak, golok, dan lain-lain. Sikap mereka jelas menyatakan bahwa mereka itu

tengah menghadapi perkelahian.

Gwat Kong menjadi tertarik hatinya dan diam-diam ia mengikuti rombongan petani yang

terdiri tidak kurang dari dua puluh lima orang itu. Setelah rombongan itu tiba di ujung dusun

sebelah barat, mereka berhenti di depan pintu pekarangan sebuah rumah yang membuat Gwat

Kong merasa heran sekali. Rumah itu tak pantas berada di tempat semelarat ini. Sebuah

rumah kuno yang amat besar dan megah dengan pekarangan yang amat luas mengelilingi

bangunan itu. Pantasnya gedung ini menjadi tempat peristirahatan kaisar atau orang-orang

besar dari kota raja.

Para petani ini agaknya nampak ragu-ragu setelah tiba di tempat tujuan, dan untuk beberapa

lama berdiri di luar pintu pekarangan yang besar terbuat dari kayu tebal itu. Akan tetapi

seorang di antara mereka mempelopori kawan-kawannya sambil berseru keras, “Serbu!”

Ia membuka pintu itu yang ternyata diikat dengan rantai besi. Tentu saja ia tidak kuat

membukanya, akan tetapi kini kawan-kawannya telah dibangunkan semangat mereka oleh

contoh ini dan dua puluh orang itu lalu merenggut dan menarik pintu pekarangan itu sehingga

dengan mengeluarkan suara keras pintu itu roboh.

Suara roboh pintu yang gaduh ini seakan-akan menambah semangat kepada para petani itu

karena mereka serentak menyerbu ke pekarangan gedung itu sambil mengangkat senjatasenjata

mereka di atas kepala. Gwat Kong tidak ikut masuk hanya memandang dari luar pagar

dengan heran dan penuh perhatian, ingin melihat apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba daun pintu yang lebar dari gedung besar itu terbuka dari dalam, dan semua petani

yang memberontak itu memandang dengan mata terbelalak, seakan-akan tiba-tiba mereka

merasa takut sekali. Akan tetapi sungguh aneh, ketika daun pintu itu terbuka, di dalamnya

kosong tidak nampak sesuatu.

Gwat Kong merasa heran sekali dan sebelum ia dapat menduga, tiba-tiba dari dalam pintu

yang kosong itu berkelebat bayangan orang yang bertubuh tinggi besar dan memegang toya

kuningan. Tanpa banyak cakap bayangan itu menyambar dan tiga orang petani yang berada di

depan sekali berteriak ngeri dan roboh pingsan!

Ributlah para petani melihat hal ini dan beberapa orang dengan marahnya mengangkat senjata

untuk mengeroyok laki-laki tinggi besar itu. Akan tetapi, kembali toya kuningan itu bergerak

dan empat orang petani roboh lagi sambil mengeluarkan teriakan keras!

 174

Melihat ini, lenyaplah nyali besar orang-orang itu karena kini orang-orang yang terberani di

antara mereka dan yang dianggap menjadi pemimpin-pemimpin telah disapu roboh oleh toya

kuningan yang lihai itu. Mereka lalu melemparkan senjata masing-masing dan menjatuhkan

diri berlutut. Seorang di antara mereka yang paling tua berkata,

“Ji-cukong-ya …. (majikan kedua) harap suka memberi ampun kepada kami …. sesungguhnya

keluarga kami amat menderita dan dalam keadaan kelaparan, tolonglah kami.”

Orang tinggi besar itu berdiri dengan toya di tangan. Ia memandang dengan marah dan

bibirnya yang tebal itu menggulung ke atas. Ia membanting-banting kakinya dan memaki

“Anjing-anjing rendah tak tahu diri! Kalian ini orang-orang malas yang maunya hanya makan

milik lain orang! Kalian ini benar-benar anjing-anjing yang bong-im-pwe-gi (manusia tak

mengenal budi)! Kurang baik bagaimanakah keluarga Lai? Telah tiga bulan ini kami sengaja

tidak memungut uang pajak tanah dan memberikan tanah kami dengan cuma-cuma kepada

kalian untuk dikerjakan dan dimakan hasilnya. Sekarang kalian berani sekali datang seperti

perampok? Sungguh harus dipukul mampus!” Sambil berkata demikian, dua kali ia

menggerakkan kakinya dan tubuh dua orang, termasuk orang tua yang tadi mewakili kawankawannya

bicara, terlempar sampai terguling-guling dua tombak lebih!

Petani-petani lain berlutut dengan tubuh menggigil dan memandang dengan wajah cemas.

Mereka lebih menakuti penolakan pertolongan dari hartawan ini dari pada pukulan-pukulan

yang mungkin dijatuhkan kepada mereka, maka seorang berkata,

“Ji-cukong, biarlah kami dipukul, dimaki, bahkan boleh dibunuh sekalian asal saja cukong

sudi mengeluarkan sedikit gandum dan membiarkan anak-bini kita mengambil air dari sumber

air hijau itu!”

“Bangsat benar, apakah benar-benar kalian ingin mampus? Hayo pergi, .. pergi! Dan jangan

lupa untuk memperbaiki pintu pekarangan kami!” Ia mengancam lagi, dengan toyanya dan

mengusir mereka. Akan tetapi, tak seorangpun di antara mereka mau bergerak.

“Pergi, kataku!” teriak pula laki-laki tinggi besar itu dengan marah.

“Ji-cukong, kami telah berjanji takkan mau pergi sebelum mendapat pertolongan itu, karena

kalau kami pulang tanpa membawa gandum dan air, kami hanya akan melihat anak-bini kami

mati kelaparan!”

“Anjing rendah, kalau begitu biarlah kalian kubikin mampus dulu!” Orang tinggi besar itu

memaki kalang kabut dan ia nampak marah sekali. Agaknya ia benar-benar hendak

menggunakan toyanya yang hebat itu untuk membunuh belasan orang tani yang berlutut di

depannya itu.

Gwat Kong merasa marah sekali, dan sungguhpun ia belum tahu dengan jelas siapakah

gerangan orang tinggi besar itu, akan tetapi ia dapat menduga bahwa orang itu tentulah

seorang tuan tanah yang kaya raya dan kikir, yang menyimpan banyak gandum akan tetapi

tidak mau menolong petani-petani miskin yang menderita kelaparan. Ia benci sekali melihat

kekejaman orang itu dan selagi ia hendak bergerak untuk menolong para petani itu yang

 175

agaknya hendak dihajar, tiba-tiba dari atas genteng gedung besar itu menyambar turun

bayangan orang berpakaian serba kuning.

Gerakan orang ini amat cepatnya dan Gwat Kong menahan gerakan kakinya yang tadi sudah

akan melompat ke dalam pekarangan. Ia merasa heran dan kagum melihat bayangan itu

ternyata adalah seorang gadis yang cantik dan gagah sekali. Gadis itu memakai pakaian

kuning gading dengan ikat pinggang dan ikat rambut warna merah dan di kedua tangannya

memegang sepasang pedang yang bercahaya saking tajamnya.

Pada saat itu, si tinggi besar itu telah menggerakkan toyanya dan hendak memukul seorang

petani yang terdekat, akan tetapi tiba-tiba ia merasa ada sambaran angin dari atas dibarengi

bentakan nyaring, “Orang she Cong yang kejam! Jangan berlaku sewenang-wenang!”

Orang tinggi besar itu adalah Cong Si Kwi dan terkenal dengan sebutan Ji-sai-cu (Singa

Kedua), seorang yang amat terkenal di daerah itu yakni di sekeliling bukit Siang-san. Cong Si

Kwi dan kakaknya, yang bernama Cong Si Ban berjuluk Tai-sai-cu (Singa Tertua) adalah dua

kakak beradik yang kaya raya di daerah itu dan tiga perempat bagian tanah di sekitar bukit

Siang-san adalah milik mereka. Oleh karena ini, maka penghidupan sebagian besar rakyat

petani di sekitar daerah itu, boleh dibilang bersandar kepada kedua saudara Cong ini dan

tidaklah berlebihan kalau ada orang di dusun itu berkata bahwa nyawa mereka berada dalam

telapak tangan kedua singa itu.

Semua kepala dusun di seluruh daerah adalah pembantu atau kaki tangan kedua saudara

Cong, dan tak seorangpun yang berani menentang mereka karena selain mereka amat kaya

raya dan menjadi pemilik tanah yang dijadikan sumber nafkah para petani, juga kedua orang

itu memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi dan dahsyat. Kedua kakak beradik she

Cong ini memiliki ilmu silat keturunan yang disebut Sai-cu-ciang-hoat (Ilmu Pukulan Singa)

dan keduanya memiliki ilmu toya yang tinggi juga.

Sebetulnya kedua saudara Cong ini tidak biasa memeras rakyat. Mereka mengadakan pajak

tanah yang cukup pantas dan ketika musim kering mengganggu, mereka bahkan

membebaskan para petani dari pajak. Akan tetapi mereka ini terkenal berhati keras dan kejam

tidak mengenal kasihan, lagi pula amat kikir. Melihat keadaan rakyat di sekitar mereka yang

amat menderita dan kelaparan, mereka sama sekali tidak mengambil perhatian dan tumpukan

gandum dan padi di gudang mereka tetap bertumpuk.

Berkali-kali rakyat datang mohon pertolongan mereka, untuk meminjam gandum dengan

perjanjian pembayaran berlipat ganda. Akan tetapi semua permohonan tidak dihiraukan oleh

kedua saudara Cong itu. Yang lebih hebat lagi ialah ketika semua sumur dan anak sungai

kering, ternyata yang masih mengeluarkan air hanya sebuah sumber air yang disebut sumber

air hijau dan yang ada di sawah milik kedua saudara yang kaya itu. Karena tanah sawah

itupun disewakan pada petani, maka selama musim kering tiba, sumber air hijau itulah yang

menjadi penolong para petani karena mereka semua mendapat air minum dari sumber ini.

Akan tetapi, tiba-tiba kedua saudara Cong yang juga kehabisan air, lalu memblokir sumber ini

dan mengurungnya dengan pagar serta dijaga kuat oleh penjaga-penjaga bersenjata tombak.

Tak seorangpun boleh mengambil air dari sumber itu, kecuali pelayan keluarga Cong.

Cong Si Ban melakukan hal ini bukan karena ia berhati dengki, akan tetapi oleh karena ia

berkhawatir kalau-kalau sumber air itu akan menjadi kering jika diambil airnya oleh sekian

 176

banyak orang dan ia mengkhawatirkan keadaan keluarganya sendiri. Demi keselamatan

keluarga sendiri, ia tidak perduli apakah orang-orang di luar gedungnya akan mati kehausan

atau tidak.

Hal ini membuat para petani merasa bingung dan keadaan mereka makin menderita. Akhirnya

mereka tidak dapat menahan lagi dan demikianlah, maka dua puluh lima orang petani itu

memberanikan diri menyerbu ke gedung keluarga Cong untuk minta gandum dan air. Dan

yang keluar menyambut mereka adalah Cong Si Kwi, senga kedua yang lebih kejam dari pada

Ketika Cong Si Kwi mendengar bentakan dari atas dan merasa ada angin senjata menyambar,

ia cepat melompat ke kiri dan menggerakkan toyanya ke atas untuk memukul orang yang

menyambar dari atas ini. “Traaangg!” terdengar suara keras sekali ketika toyanya kena bentur

sebatang pedang yang menyambar dari atas. Bunga api memancar keluar dan alangkah

kagetnya hati Cong Si Kwi ketika melihat betapa ujung toyanya telah somplak!

Bab 20 …

IA memandang orang yang kini telah berdiri di depannya itu dan merasa heran sekali. Orang

yang berdiri di depannya adalah seorang gadis muda yang usianya paling banyak delapan

belas tahun, berwajah cantik manis dengan sepasang mata tajam dan mulut kecil

membayangkan kekerasan hati dan keberanian besar. Pakaiannya kuning dengan ikat

pinggang dan ikat rambut sutera merah.

“Siapakah kau yang berani mencampuri urusan orang lain?” Cong Si Kwi membentak dengan

marah, akan tetapi matanya menatap dengan kagum kepada gadis itu.

“Orang she Cong,” kata lagi gadis itu yang ternyata memiliki suara nyaring. “Aku pernah

mendengar orang berkata bahwa kakak beradik she Cong adalah orang-orang berhati kejam

melebihi singa yang liar. Ternyata sekarang bahwa ucapan-ucapan itu kurang tepat.

Seharusnya orang macam kau ini dipersamakan dengan serigala, anjing yang serendahrendahnya

dan sekejam-kejamnya.”

Bukan main marahnya Cong Si Kwi mendengar ini karena ia telah dimaki di depan para

petani yang kini pada berdiri dan berkumpul di dekat pintu pekarangan sambil menolong

kawan-kawan mereka yang tadi terpukul. Para petani itu memandang ke arah gadis itu dengan

girang dan kagum, penuh harap-harap cemas karena masih ragu-ragu apakah si gadis itu akan

sanggup melawan Cong Si Kwi yang terkenal kejam dan lihai.

“Perempuan lancang!” bentaknya. “Kau agaknya seorang yang memiliki kepandaian, akan

tetapi kau tidak mengindahkan sopan santun di antara orang-orang kang-ouw! Siapakah kau

yang datang-datang memaki orang?”

Dengan suara tenang gadis muda berpakaian kuning itu menjawab. “Biarpun kau mengaku

orang dari kang-ouw, akan tetapi kau adalah termasuk golongan hek-to (jalan hitam, yakni

golongan para penjahat). Terhadap orang macam kau, mengapa aku harus memakai banyak

aturan? Kau ingin tahu namaku? Dengarlah, nonamu Sie Cui Giok tak perlu menyembunyikan

nama. Dan kalau kau belum pernah mendengar namaku, mungkin kau telah kenal kakekku

yang bernama Sie Cui Lui dari selatan.”

 177

Bagi Gwat Kong dan lain-lain orang yang mendengar, nama itu tidak mempunyai arti sesuatu.

Akan tetapi heran sekali karena Cong Si Kwi menjadi pucat ketika mendengar nama ini.

“Kami selamanya belum pernah mengganggu Sie-locianpwe dan selalu memandangnya

sebagai seorang tokoh besar yang patut kami hormati. Sekarang kau datang mengunjungi

kami mempunyai maksud apakah? Kalau memang nona ada keperluan, kupersilahkan masuk

ke dalam untuk bercakap-cakap dengan aku dan saudaraku. Dan kebetulan sekali sekarang

kami sedang mempunyai seorang tamu yang mungkin tidak asing bagimu, yakni Sin Seng Cu

thaisu, tokoh dari Hoa-san-pai.”

Kini Gwat Kong yang merasa terkejut mendengar nama ini, akan tetapi sebaliknya nona itu

agaknya tidak perduli sama sekali.

“Aku tidak sudi untuk masuk ke dalam rumahmu dan bertemu dengan segala macam tosu.

Kedatanganku ini tak lain karena melihat kekejamanmu kepada para petani itu. Dan sekarang

aku mewakili mereka untuk minta kau suka segera mengeluarkan gandum dan padi yang

mereka butuhkan dan sumber air itu harus kau buka untuk keperluan umum.”

Biarpun Cong Si Kwi maklum bahwa cucu dari Sie Cui Lui ini tentu memiliki kepandaian

tinggi. Akan tetapi ia tidak merasa takut, apalagi karena nona itu demikian muda. Kini

mendengar tuntutan nona itu yang dianggapnya mencampuri urusannya dan sama sekali tidak

memandang sebelah mata kepadanya, ia menjadi marah sekali,

“Kau terlalu sekali! Agaknya kau sengaja hendak mencari perkara!”

“Jangan banyak cakap dan lekas kau penuhi kebutuhan mereka. Kau harus ingat bahwa kalau

tidak ada para petani ini, apakah kau kira perutmu setiap hari akan dapat diisi? Sanggupkah

kau mengerjakan tanahmu sendiri dan menanam gandum dan padi itu?”

Diam-diam Gwat Kong merasa kagum sekali melihat keberanian dan sepak terjang nona itu,

maka tak terasa lagi ia melangkah memasuki pekarangan dan berdiri di dekat para petani

sambil memandang dengan penuh perhatian. Ia bersiap sedia membantu nona itu apabila nona

itu sampai kalah dalam pertempuran yang terjadi.

“Kalau aku menolak, bagaimana?” Cong Si Kwi berkata sambil pegang toyanya erat-erat.

“Kalau kau menolak, terpaksa aku minta sebelah daun telingamu!” kata gadis itu dengan

pedangnya di tangan kiri berkelebat cepat sekali ke arah telinga Cong Si Kwi. Akan tetapi

orang she Cong ini cukup pandai, maka tentu saja tidak mudah untuk mengambil telinganya.

Ia berseru keras dan menggerakkan toyanya menangkis lalu membalas dengan serangannya

yang keras dan hebat.

Sie Cui Giok, gadis muda berpakaian kuning itu, cepat mengelak dan kembali pedangnya

meluncur dengan gerakan indah menyerang ke arah telinga Cong Si Kwi. Gwat Kong yang

memperhatikan gerakan pedang gadis itu, menjadi kagum sekali karena kedua pedang di

tangan gadis itu seakan-akan digerakkan oleh dua orang dengan ilmu silat berlainan!

Demikian jauh bedanya gerakan pedang di tangan kanan dan kiri. Bahkan seakan-akan

berlawanan! Pedang di tangan kiri gerakannya lambat dan halus akan tetapi setiap kali toya

 178

Cong Si Kwi menangkis pedang ini, nampak betapa toyanya terpental keras seakan-akan

membentur batu karang yang besar dan keras.

Adapun pedang di tangan kanan gadis itu gerakannya luar biasa gesitnya, menyambarnyambar

bagaikan seekor naga. Dan tiap kali toya Si Kwi menangkis pedang ini, selalu

terdengar suara keras dan bunga api berterbangan. Inilah tandanya keras lawan keras, dan dari

keadaan kedua batang pedang dan pergerakannya ini, tahulah Gwat Kong bahwa dua lengan

tangan yang memegang pedang itu benar-benar melakukan gerakan-gerakan yang

Kalau tangan kiri mainkan pedang dengan tenaga lweekang (tenaga dalam) adalah pedang di

tangan kanan digerakkan dengan tenaga gwakang (tenaga kasar). Ini adalah sifat-sifat yang

bertentangan dari Im dan Yang (Negatif dan Positif) dan tiba-tiba Gwat Kong memandang

dengan mata terbelalak.

Ia teringat akan penuturan suhunya tentang ilmu-ilmu silat dari empat penjuru yang disebut

empat besar, yakni Sin-eng Kiam-hoat dari barat, Sin-hong Tung-hoat dari timur, Pat-kwa Tohoat

dari utara, dan Im-yang Siang-kiam dari selatan. Ilmu pedang gadis ini berdasarkan Im

dan Yang. Apakah gadis ini bukan seorang ahli ilmu pedang Im-yang Siang-kiam?

Ia memandang dengan penuh perhatian makin penuh dan dengan kagum ia mendapat

kenyataan bahwa ilmu kepandaian gadis itu jauh lebih tinggi dari pada ilmu silat Cong Si

Kwi. Kalau gadis itu menghendaki, agaknya dalam sepuluh jurus saja Si Kwi pasti akan dapat

dirobohkan. Akan tetapi, dengan hati geli Gwat Kong mendapatkan kenyataan bahwa

sepasang pedang di tangan nona itu selalu mengarah dan mengancam daun telinga Si Kwi dan

agaknya gadis itu benar-benar hendak membuktikan ancaman tadi, yakni hendak mengambil

sehelai daun telinga Cong Si Kwi.

Orang tinggi besar itu merasa betapa kedua pedang lawannya menyambar dan mengeluarkan

bunyi yang mengerikan di sekitar daun telinganya, maka dengan gugup dan ketakutan ia

memutar-mutar toyanya untuk menangkis dan melindungi daun telinganya. Akan tetapi kedua

ujung pedang itu terus mengejar daun telinganya, mengiang-ngiang seperti bunyi nyamuknyamuk

yang tidak mau meninggalkan telinganya.

Cong Si Kwi menjadi takut dan gelisah sekali sampai keringatnya keluar membasahi jidatnya.

Ia putar-putar toyanya dan sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Akan tetapi akhirnya ia harus mengakui keunggulan gadis itu dan ia mengeluarkan seruan

ngeri ketika pedang di tangan kanan nona itu menyambar cepat dan anginnya telah terasa

perih menyambar telinganya.

“Cukup … nona …! Baiklah, kukeluarkan gandum itu …!”

Sie Cui Giok menahan pedangnya dan tersenyum mengejek. “Agaknya kau lebih menyayangi

daun telingamu yang kotor dari pada tumpukan gandummu.”

Tak terasa pula Cong Si Kwi menggunakan tangan meraba telinga kirinya dan hatinya merasa

lega ketika merasa betapa telinganya masih utuh. Hanya ketika ia menurunkan tangannya

ternyata tangan itu penuh dengan darah. Sungguhpun daun telinganya belum putus, akan

tetapi kulit daun telinga itu telah terluka oleh angin pedang dan mengeluarkan banyak darah.

Ia bergidik mengingat akan kelihaian ilmu pedang nona itu.

 179

Pada saat itu, dari pintu depan itu keluarlah dua orang dengan langkah lebar. Yang seorang

adalah seorang tinggi besar, bercambang bauk dan mukanya hampir serupa dengan Cong Si

Kwi hanya tubuhnya lebih pendek sedikit. Inilah Tai-sai-cu Cong Si Ban, kakak dari Cong Si

Kwi yang telah diberitahu oleh seorang pelayan bahwa adiknya sedang bertempur dengan

seorang gadis lihai di luar gedung.

Orang kedua yang ikut keluar adalah seorang tosu yang tinggi kurus dengan rambut dan

kumis jenggot hitam serta muka berkulit kemerah-merahan. Gwat Kong segera kenali tosu ini

yang bukan lain adalah Sin Seng Cu, tokoh Hoa-san-pai yang dulu pernah bertempur

melawan dia sebelum dia diberi palajaran silat oleh Bok Kwi Sianjin!

Melihat tosu yang pernah mengalahkannya dengan mudah itu, diam-diam Gwat Kong merasa

berdebar jantungnya. Bukan karena takut, akan tetapi karena ingin sekali ia bertempur lagi

melawan tosu itu dan berusaha menebus kekalahannya dulu. Karena Gwat Kong berdiri di

antara para petani yang banyak jumlahnya itu, maka Sin Seng Cu tidak melihatnya dan hanya

memandang kepada Sie Cui Giok dengan tajam.

“Eh eh, apakah yang telah terjadi di sini?” tanya Cong Si Ban kepada adiknya, akan tetapi

sebelum Cong Si Kwi menjawab, Cui Giok tanpa memperdulikan munculnya Si Ban dan tosu

itu, mendesak kepada Si Kwi.

“Hayo, kau lekas keluarkan gandum dan padi itu. Perut para petani dan keluarga mereka

sudah terlalu lapar untuk menanti lebih lama lagi!”

Cong Si Ban yang melihat sikap gadis itu dan melihat adiknya yang berwajah pucat, maklum

bahwa adiknya tentu telah dikalahkan oleh gadis ini, maka ia lalu menjura kepada gadis itu. Ia

mengangkat kedua tangannya ke arah dada dengan gerakan cepat. Dan Gwat Kong terkejut

sekali karena ia maklum bahwa tentulah gerakan itulah gerakan serangan gelap dengan tenaga

khikang yang disebut gerak tipu Dewi Sakti Mempersembahkan Buah.

Biarpun nampaknya seperti orang memberi hormat akan tetapi dari sepasang kepalan tangan

yang dirangkapkan itu menyambar angin pukulan khikang yang cukup kuat untuk

merobohkan lawan. Akan tetapi kekagetan hati Gwat Kong terganti oleh kekaguman ketika ia

melihat betapa dengan gerakan tenang dan indah, Cui Giok sambil tersenyum

membongkokkan tubuhnya pula dan mengangkat kedua tangan ke dada dengan telapak tangan

terbuka. Inilah gerakan Dewi Kwan Im Memberi Berkah dan diam-diam ia mengerahkan

tenaga untuk menerima serangan gelap itu.

Dengan penuh perhatian Gwat Kong memandang dan melihat betapa kedua orang yang diamdiam

mengadu tenaga itu melangkah mundur setindak, yang membuktikan bahwa tenaga

khikang mereka seimbang. Hampir saja Gwat Kong mengeluarkan seruan kagum terhadap

dara baju kuning itu.

Sementara itu Sin Seng Cu yang melihat pula adu tenaga ini agaknya tidak menyetujui sikap

Cong Si Ban, karena sambil menggerak-gerakan ujung lengan bajunya yang panjang, ia

berkata, “Apakah artinya semua pertunjukan ini? Kalau ada urusan, lebih baik diselesaikan

dengan baik-baik. Nona muda yang gagah, siapakah kau dan mengapa agaknya kau membuat

kegaduhan di pekarangan orang lain?” Ucapan ini menunjukkan betapa tosu itu mempunyai

 180

watak yang tinggi dan memandang rendah orang lain, terutama terhadap gadis muda ini, ia

menganggapnya sebagai seorang ahli silat tingkat rendah.

“Siapa yang membuat gaduh? Orang she Cong ini telah berjanji kepadaku untuk membagibagikan

gandum dan padi kepada para petani itu dan akan membuka sumber air untuk umum

dan kupercaya ia cukup laki-laki untuk memegang janjinya.”

Cong Si Ban memandang adiknya. “Si Kwi, apakah yang telah terjadi?”

“Petani-petani itu hendak merampok dan ketika aku berusaha menghalau mereka, nona ini

datang mencampuri urusan ini dan …. aku telah kalah olehnya. Terpaksa aku berjanji hendak

memberikan yang diminta oleh para perampok itu, twako!” Si Kwi mengadu.

“Bagus-bagus!” nona itu tersenyum sindir. “Kau sendiri yang telah merampok dan memeras

rakyat petani dan menumpuk hasil sawahnya di dalam gudangmu. Sekarang karena berada

dalam keadaan kelaparan para petani minta pertolonganmu. Bukan kau tolong bahkan kau

pukul mereka. Siapakah sebenarnya yang patut disebut perampok? Benar-benar orang busuk!”

Cong Si Ban maklum bahwa adiknya tentu telah berlaku kasar sehingga membuat gadis gagah

ini menjadi marah, maka oleh karena ia tahu sedang berhadapan dengan seorang yang pandai,

ia lalu tersenyum dan berkata, memperlihatkan sikap baik.

“Lihiap harap jangan marah dan maafkan adikku yang kasar. Tentang gandum dan air, tentu

saja akan kubagikan karena sebelum kau datang, akupun sedang memikirkan untuk menolong

mereka itu. Marilah duduk dan bercakap-cakap di dalam rumah.”

“Hmm, jadi kaukah kakak orang ini? Tentu kau yang disebut Cong Si Ban, yang menjadi raja

kecil di daerah ini. Aku tidak menghendaki jamuanmu, hanya satu yang kukehendaki, yaitu

sekarang juga harap kau keluarkan gandum dan padi secukupnya agar dapat dibawa oleh para

petani.”

“Kau betul-betul bersikap kurang ajar!” bentak Sin Seng Cu dengan marah. “Tuan rumah

berlaku mengalah dan peramah, akan tetapi kau memperlihatkan sikap seakan-akan menjadi

kepala! Eh, anak kecil, kau mengandalkan apakah maka begini sombong?”

Sambil berkata demikian, Sin Seng Cu tosu yang berdarah panas ini sudah hendak melangkah

maju. Akan tetapi Cong Si Ban yang amat cerdik dan hendak menggaruk keuntungan nama

dalam keadaan yang buruk ini, segera mencegah dan berkata, “Baik .. baik! Si Kwi, kau

keluarkan gandum dan bagi-bagikan seorang sekantong kepada para petani itu, dan mereka

boleh mengambil air seorang sepikul!”

Cong Si Kwi tak dapat membantah, maka ia lalu mengepalai sejumlah pelayan, mengeluarkan

bahan makanan mutlak itu, yang diterima oleh para petani dengan wajah girang dan air mata

mengalir saking terharu dan gembiranya. Mereka memandang ke arah gadis itu dengan sinar

mata penuh terima kasih. Akan tetapi karena khawatir kalau-kalau kedua saudara Cong itu

berobah pikiran, mereka segera membawa pergi gandum itu dan pulang ke rumah masingmasing.

Cong Si Ban kembali menjura kepada nona baju kuning itu,

 181

“Nona, sekarang keadaan telah beres dan kami telah menuruti kehendakmu. Maka kuharapkan

kau tidak menolak sedikit permintaanku.”

“Apakah itu?” tanya Cui Giok sambil memandang tajam.

“Karena kau telah mengalahkan adikku, maka aku merasa kagum sekali dan ingin melihat

kelihaianmu. Sukakah kau memberi sedikit pelajaran padaku?”

Sie Cui Giok tersenyum menghina. “Sudah kuduga!” katanya. “Orang seperti kau dan adikmu

mana dapat memberikan gandum itu dengan cuma-cuma? Kau tersenyum di mulut akan tetapi

mengutuk di hati. Kau hendak menguji aku? Baik, keluarkan senjatamu!” Sambil berkata

demikian, sekali kedua tangannya bergerak sepasang pedang itu telah berada di kedua

Sementara itu, ketika melihat para petani telah pergi, Gwat Kong masih saja berada di situ dan

kini ia duduk di bawah sebatang pohon, menonton pertandingan yang hendak dilangsungkan

itu. Dan karena semua mata sedang diarahkan kepada nona baju kuning yang gagah itu, maka

tak seorangpun memperhatikan pemuda yang berpakaian sederhana itu. Kalau sekiranya ada

yang melihatnya, tentu Gwat Kong akan dianggap sebagai seorang pemuda dusun yang ingin

menonton pertandingan silat.

Sementara itu, melihat gerakan Cui Giok yang mencabut pedangnya. Cong Si Ban lalu

menerima toyanya dari seorang pembantunya dan setelah berkata, “Mohon pengajaran!” ia

lalu menggerakkan toyanya dan memasang kuda-kuda yang kuat sekali nampaknya. Nona

baju kuning itu tidak mau membuang banyak waktu lagi dan segera mulai dengan

Pedangnya di tangan kanan bergerak menusuk ke arah dada lawan dan ketika Si Ban

mengangkat toya untuk menangkis, nona itu menggunakan pedang kiri yang bergerak lambat

untuk menahan tangkisan lawan dan pedang di tangan kanannya yang dapat bergerak amat

cepatnya itu melanjutkan tusukannya.

Cong Si Ban merasa terkejut sekali dan cepat mundur untuk menghindarkan diri. Ia tak

pernah menduga bahwa nona itu demikian lihainya. Pantas saja Si Kwi tak dapat

melawannya, pikir Si Ban yang segera menggerakkan toyanya dengan cepat dan memutarmutarnya

bagaikan kitiran angin, langsung menyerang dan melakukan pukulan-pukulan

bertubi-tubi dengan kedua ujung toyanya.

Sie Cui Giok maklum bahwa kepandaian Si Ban jauh lebih lihai dari pada Si Kwi, maka ia

berlaku hati-hati dan mainkan kedua pedangnya dengan gerakan yang amat indah. Tubuhnya

amat lincah dan ketika kedua pedangnya dimainkan, tubuhnya melompat ke sana ke mari

bagaikan seekor burung bulu kuning sedang menari-nari kegirangan.

Sin Seng Cu, tosu dari Hoa-san-pai itu ketika melihat permainan pedang nona itu, diam-diam

melengak dan memandang dengan mata dipentang lebar. Ia segera mengeluarkan tongkatnya

yang hebat, yakni Liong-thouw-koai-tung, tongkat kepala naga dan dengan tongkat di tangan

ia melompat ke tengah pertempuran itu sambil berseru, “Tahan dulu!”

Pada saat itu, pedang Cui Giok telah mengurung dan mendesak Cong Si Ban sehingga orang

tinggi besar itu hanya dapat menangkis dan mengelak saja tanpa dapat membalas karena

 182

kedua pedang di tangan Cui Giok tidak memberi kesempatan sedikitpun kepadanya untuk

menggerakkan toya dalam penyerangan. Yang amat menggelisahkan dan membuat hati Si

Ban menjadi jerih adalah pedang ditangan kiri nona itu, karena setiap kali toyanya terbentur

oleh pedang itu, ia merasa betapa toyanya terputar!

Ia tidak dapat mengikuti gerakan sepasang pedang itu karena kedua pedang itu gerakannya

amat berlainan, seakan-akan ia menghadapi keroyokan dua orang yang berpedang dari kanan

kiri. Melihat keadaan ini, Sin Seng Cu lalu menyodorkan tongkat kepala naga di tangannya itu

ditengah-tengah dan memisahkan kedua orang yang sedang bertempur itu.

Cong Si Ban menjadi lega karena ia telah merasa amat khawatir kalau-kalau ia akan

dirobohkan oleh gadis muda itu dalam waktu demikian pendeknya, belum juga ada dua puluh

jurus mereka bertempur ia telah terdesak demikian hebatnya. Kini melihat tosu itu turun

tangan, ia melompat ke belakang dan berseru, “Lihai sekali!”

Sementara itu, gadis baju kuning itu merasa penasaran melihat betapa tiba-tiba tongkat kepala

naga ditangan tosu itu telah dilonjorkan di tengah-tengah dan menghalangi penyerangannya

terhadap Si Ban yang sudah hampir kalah. Ia lalu menggunakan kedua pedangnya yang

digerakkan dengan berlawanan, satu dari atas dan satu dari bawah, untuk menggunting

tongkat itu dan untuk membuatnya menjadi terpotong.

Tiga senjata bertemu mengeluarkan suara keras dan gadis itu menjadi terkejut sekali karena

jangankan dapat diputuskan oleh guntingan kedua pedangnya, bahkan kedua tangannya,

terutama tangan kanan merasa tergetar ketika kedua pedangnya membacok tongkat itu.

Sebaliknya Sin Seng Cu juga merasa kagum dan mengeluarkan seruan memuji ketika merasa

betapa tongkatnya seakan-akan terjepit dan sukar ditarik kembali dari guntingan sepasang

pedang itu.

Karena maklum bahwa tosu ini lihai sekali, nona itu lalu melompat mundur sambil memutar

kedua pedangnya untuk menjaga diri. Akan tetapi Sin Seng Cu tidak menyerangnya, hanya

bertanya dengan suara kagum,

“Nona, ilmu pedangmu itu bukankah ilmu pedang Im-yang Siang-kiam? Apakah kau murid

Lo-hiapkek (pendekar tua) Sie Cui Lui?”

“Aku adalah cucu dari Sie Cui Lui, tidak tahu siapakah totiang ini?” balas tanya gadis itu.

Sin Seng Cu tertawa. “Ah, pantas saja ilmu pedangmu demikian hebat! Telah lama aku

mendengar nama Sie Cui Lui, raja pedang di daerah selatan yang telah menggemparkan

kalangan kang-ouw, dan telah lama aku ingin sekali merasai kelihaian ilmu pedangnya.

Kebetulan sekali sekarang aku bertemu dengan ahli warisnya yang telah memiliki ilmu

pedang Im-yang Siang-kiam. Ketahuilah nona, pinto adalah seorang dari Hoa-san-pai yang

bernama Sin Seng Cu. Karena nona adalah cucu dari orang tua gagah perkasa Sie Cui Lui,

maka melihat mukaku harap kau habiskan saja perkara dengan kedua saudara Cong ini. Juga

Cong-sicu (orang-orang gagah she Cong) kuharap suka menghabiskan perkara ini. Nona ini

adalah keturunan seorang gagah yang patut kita jadikan kawan, bukan lawan!”

Cong Si Ban telah merasai kelihaian nona itu, maka tentu saja ia setuju dengan omongan tosu

itu. Apalagi karena iapun telah mendengar nama besar Im-yang Siang-kiam. Maka ia lalu

menjura dan menyatakan maafnya.

 183

Sie Cui Giok melihat mereka bersikap ramah dan sungguh-sungguh juga menjadi sabar

kembali dan membalas dengan menjurah. “Aku yang muda baru saja keluar dari kampung

sendiri dan masih kurang pengalaman, maka banyak mengharap maaf dari cuwi yang lebih

pandai. Tentu saja aku yang muda dan bodoh tidak mau mencari permusuhan. Hanya saja

kuharap sukalah orang-orang yang mempunyai harta dan kepandaian menaruh sedikit belas

kasihan kepada para petani yang miskin dan tidak berdaya!”

Sin Seng Cu kembali tersenyum. “Kau masih muda akan tetapi hatimu mulia, nona. Sungguh

membuat pinto merasa kagum sekali. Memang perbuatanmu benar dan sudah menjadi

kewajiban kedua saudara Cong untuk menolong para petani yang miskin. Kalau nona tidak

datang, tentu pinto juga akan minta perhatian mereka akan hal ini. Sekarang nona telah datang

dan berkenalan dengan kami, maka pinto minta kepadamu sukalah memperlihatkan ilmu

pedang Im-yang Kiam-hoat itu barang sepuluh jurus untuk menambah kegembiraan kedua

mataku yang sudah tua.”

Sie Cui Giok maklum bahwa tosu tokoh Hoa-san-pai ini memiliki watak yang tidak mau

kalah dan sedikit menyombongkan kepandaian sendiri, maka ia tak dapat menghindarkan diri

dari tantangan ini, dan karena ia maklum pula bahwa tosu ini telah memiliki kepandaian yang

amat tinggi. Maka kalau ia tidak mengerahkan kepandaiannya, ia takkan bisa menang.

“Harap totiang suka berlaku murah kepada aku yang muda,” kata gadis itu yang telah siap

pula dengan sepasang pedangnya.

Sin Seng Cu lalu menggerakkan tongkat kepala naganya di tangan dengan sambaran keras

sambil berseru, “Lihat tongkat!”

Sie Cui Giok mengelak cepat dan merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua kakinya,

kaki kanan di belakang ditekuk rendah dan kaki kiri dilonjorkan ke depan sehingga tongkat

itu menyambar di atas kepalanya. Kemudian gadis itu dengan amat cepatnya menggerakkan

tangan kanan dan pedangnya menusuk ke arah perut lawan melalui atas kaki kirinya yang

Inilah gerak tipu Burung Hong Mengulur Leher, sebuah gerakan dari ilmu pedang Im-yang

Kiam-hoat. Sin Seng Cu cepat miringkan tubuh lalu memutar tubuhnya sambil menyabetkan

toyanya dari belakang tubuh menyerampang kedua kaki lawan. Gerakan ini dilakukan dengan

memutar tubuh di atas tumit kakinya lalu membarengi memutar tongkatnya yang setelah

dekat dengan sasaran lalu digerakkan ke bawah sambil tiba-tiba berjongkok. Lawan yang

kurang waspada dan kurang lincah gerakannya pasti akan tertipu karena serangan ini dibuka

dengan menyabet ke arah pinggang ke atas akan tetapi tiba-tiba berobah menjadi

serampangan pada kedua kaki.

Akan tetapi Sie Cui Giok benar-benar mengagumkan. Dengan tenang ia tadi menanti

datangnya sambaran tongkat dan ketika tiba-tiba tongkat itu dialihkan arahnya, yaitu

menyambar kedua kakinya, ia berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas dengan kedua

kaki di atas dan kedua tangan di bawah. Dan di dalam keadaan seperti itu ia balas menyerang

dengan kedua pedangnya, yang kiri menusuk leher dan yang kanan membacok kepala! Inilah

gerakan Burung Hong Terkam Harimau, sebuah gerakan yang selain indah juga amat sukar

karena serangan ini dilakukan selagi tubuh masih berada di udara.

 184

Sesungguhnya serangan ini amat berbahaya, baik bagi lawan maupun bagi diri sendiri, oleh

karena dalam keadaan tak menginjak tanah itu, sungguhpun serangannya berbahaya dan tak

terduga oleh lawan. Akan tetapi apabila lawannya cepat mengelak dan melakukan serangan

balasan, ia takkan dapat menjaga diri dengan baik. Namun Sie Cui Giok telah

memperhitungkannya dengan tepat.

Pada saat ia mengelak dari serampangan tongkat lawan, ia maklum bahwa tongkat lawan yang

sedang disabetkan pada kedua kakinya itu takkan dapat segera menyerangnya, sehingga ia

menang waktu, maka ia berani melakukan serangan ini. Seandainya tongkat di tangan lawan

berada dalam keadaan lebih baik dan dapat segera menyerangnya, tentu ia takkan

menggunakan tipu ini dan hanya melompat ke atas menghindarkan serampangan lalu turun

Sin Seng Cu terkejut juga melihat serangan dari atas yang amat lihai ini, maka mereka tidak

ada waktu baginya untuk menangkis dan untuk mengelak dengan kepalanya pun masih

berbahaya lantaran kedua pedang itu menyerang dengan dua macam gerakan, maka terpaksa

ia melempar tubuh bagian atas ke belakang terus melakukan gerakan poksai (salto) dan

dengan cara demikian baru ia dapat menghindarkan diri dari serangan yang berbahaya itu.

Melihat pertempuran yang luar biasa ini, semua penonton menjadi kagum sekali sehingga

kedua saudara Cong dan beberapa orang pelayan yang berada di situ memandang dengan

bengong. Juga Gwat Kong tanpa disadarinya berseru,

“Bagus sekali!”

Cong Si Ban dan Cong Si Kwi yang mendengar seruan ini segera menengok dan mereka

merasa heran ketika melihat seorang pemuda asing tengah duduk menonton pertempuran itu

sambil minum arak dari guci araknya yang terbuat dari pada perak. Baru sekarang mereka

melihat pemuda ini dan menjadi tertarik, juga curiga. Mereka belum pernah melihat pemuda

ini dan juga tahu bahwa pemuda ini bukanlah penduduk di sekitar bukit itu.

Si Kwi yang berdarah panas dan sedang mendongkol karena kekalahannya tadi, menjadi

marah melihat seorang pemuda enak-enak menonton dan minum arak di dalam pekarangan

rumahnya tanpa minta ijin, maka ia lalu menghampiri dengan tindakan lebar.

“Siapa kau? Hayo minggat dari sini!” tegur Cong Si Kwi dengan marah.

Akan tetapi Gwat Kong tersenyum-senyum sambil menenggak araknya, bahkan lalu bertanya

dan angsurkan gucinya,

“Kau suka arak? Ha ha lucu benar. Bukan tuan rumah yang menawarkan arak kepada tamu,

sebaliknya tamu yang menawarkan araknya. Tuan rumah macam apakah ini?”

Si Kwi yang sedang marah dan mendongkol, tentu saja merasa makin marah melihat betapa

seorang pemuda dusun berani mempermainkannya, maka ia menggerakkan toya yang berada

di tangannya sambil membentak,

“Bangsat kurang ajar! Pergilah ke neraka!”

 185

Toyanya dikemplangnya dengan sekuat tenaga ke arah guci arak perak yang disodorkan oleh

Gwat Kong itu, dengan maksud membuat guci itu pecah berantakan. Akan tetapi, dengan

hanya menggerakkan sedikit tangannya yang pegang guci arak, pukulan toya itu mengenai

tempat kosong dan Gwat Kong membelalakan mata sambil bersungut-sungut. “Eh eh, hatihati

kawan! Guciku ini bukan guci arak biasa dan kalau sampai rusak, kau harus

menggantinya dengan kepalamu!”

Si Kwi makin marah mendengar ini dan kini menggerakkan toyanya menyodok ke arah perut

Gwat Kong untuk membuat pemuda itu terpental. Akan tetapi, kembali ia kecele, karena

tanpa berpindah tempat duduk, Gwat Kong dapat mengelak sodokan itu dengan miringkan

tubuhnya sedemikian rupa sehingga sodokan ujung toya masuk ke bawah lengannya,

menyerempet bajunya yang menutupi iga. Ia lalu turunkan lengannya mengempit toya itu dan

tangan kanannya tetap mengangkat guci arak dan minum lagi seteguk.

Sia-sia saja Si Kwi hendak menarik kembali toyanya. Ia membetot-betot sekuat tenaga, makin

kuatlah kempitan lengan Gwat Kong.

Kalau Si Kwi tidak sedang marah dan mendongkol tentu akan terbuka matanya dan maklum

bahwa pemuda ini bukanlah orang yang boleh diperlakukan sembarangan. Akan tetapi, ia

sedang marah sekali, maka ketika ia tidak dapat menarik kembali toyanya, tiba-tiba ia

meludah ke arah muka Gwat Kong untuk menghinanya.

Semenjak tadi Gwat Kong hanya hendak mempermainkan orang ini saja dan sama sekali tidak

mau menjatuhkan tangan keras. Akan tetapi melihat sikap orang yang tiba-tiba meludah

kepadanya itu, timbul nafsu marahnya. Ia cepat mengelak dan terpaksa melepaskan kempitan

toya itu. Kemudian dari mulutnya tersemburlah arak obat itu, dibarengi bentakan nyaring.

Puluhan titik arak yang berwarna kuning keemasan itu menyambar ke arah muka Si Kwi yang

menjadi terkejut sekali dan tidak sempat mengelak. Ketika titik-titik arak itu mengenai kulit

mukanya, Si Kwi menjerit ngeri dan terhuyung-huyung. Toyanya terlepas dari tangan dan

kedua tangannya digunakan untuk menutup mukannya yang terasa perih dan panas sekali

seakan-akan kulit mukanya ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum!

Darah membasahi seluruh mukanya biarpun semburan arak itu hanya melukai kulitnya akan

tetapi demikian kerasnya sehingga kulitnya itu terluka dan mengeluarkan darah. Masih untung

bagi Si Kwi bahwa ia tadi menutup matanya ketika butir-butir arak itu menyambar, kalau

tidak tentu matanya akan menjadi buta.

Bab 21 …

MELIHAT betapa Si Kwi berjongkok dan menutup mukanya sambil mengaduh-aduh, Cong

Si Ban menjadi terkejut sekali dan juga marah. Tanpa bertanya lagi siapa adanya pemuda itu

dan tanpa mengingat bahwa sebetulnya adiknya sendirilah yang mencari penyakit dan

bersikap sewenang-wenang terhadap pemuda itu. Si Ban telah maju dan menghantam dengan

toyanya ke arah kepala Gwat Kong.

Pada saat itu, Gwat Kong masih duduk di tempat semula. Melihat sambaran toya di tangan Si

Ban ini, ia maklum bahwa kepandaian Si Ban lebih lihai dari Si Kwi. Maka tanpa membuang

waktu lagi, ia lalu menggelindingkan tubuhnya ke kiri sambil membawa guci araknya dan

ketika ia melompat berdiri, ternyata bahwa guci araknya telah digantungkan ke pinggang dan

 186

kini tangan kanannya telah memegang ranting pohon yang tadi dipungutnya ketika ia

menggelundung dan menghindarkan diri dari sambaran toya Si Ban. Ia tersenyum dan diamdiam

ingin menguji kepandaiannya yang baru dipelajarinya dari Bok Kwi Sianjin, yakni ilmu

to Sin-hong Tung-hoat.

Melihat gerakan Gwat Kong ketika mengelak dari sambaran toyanya, Si Ban maklum bahwa

pemuda ini adalah seorang yang “berisi” maka diam-diam ia mengeluh mengapa hari ini

demikian banyaknya orang-orang pandai datang mengganggunya! Ia tidak tahu hubungan

apakah adanya pemuda ini dengan gadis dari selatan itu. Akan tetapi karena melihat adiknya

telah dilukai, ia lalu mendesak maju dengan mainkan toyanya dalam ilmu toya Sai-cu-tunghoat

yang juga memiliki gerakan amat ganas dan dahsyat.

Kalau tadi ia merasa bahwa menghadapi ilmu pedang nona itu ia akan kalah, maka kini ia

hendak mendapat kemenangan dari pemuda yang hanya pegang sebatang ranting ini. Akan

tetapi, bukan main terkejutnya ketika dalam satu gebrakan saja ia hampir celaka! Ketika ia

mulai menyerang dengan membabat ke arah leher pemuda itu dengan gerakan cepat dan keras

dari kanan ke kiri, Gwat Kong tidak mengelak mundur.

Akan tetapi ia diam saja dan menanti sampai toya itu datang dekat di pinggir pundaknya.

Tiba-tiba pemuda ini merendahkan tubuh dan melangkah maju di bawah sambaran toya dan

mengirim tusukan dengan rantingnya ke arah jalan darah Kiu-ceng-hiat di pundak kirinya!

Untung bahwa ia masih sempat melepaskan tangan kiri yang ikut memegang toya dan

menggunakan tangannya menangkis ranting itu yang membuat lengannya yang menangkis

merasa sakit sekali dan ujung ranting itu biarpun tidak mengenai jalan darahnya di pundak,

namun masih tetap mengait bajunya di bagian pundak.

Dan “brettt!” sobeklah bajunya. Dalam segebrakan saja mendapat pelajaran sedemikian rupa,

Cong Si Ban tentu saja merasa terkejut dan pucat. Maka ia berlaku hati-hati sekali dan

menjaga dirinya rapat-rapat dari serangan ujung ranting di tangan pemuda itu yang kini

berkelebatan bagaikan kilat di hari hujan di depan matanya membuat ia merasa silau karena

lawannya seakan-akan telah menjadi beberapa orang yang menyerangnya dari seluruh

Sementara itu, pertempuran yang berlangsung antara Sin Seng Cu dan Sie Cui Giok makin

ramai dan seru sekali. Terdorong oleh wataknya yang tidak mau kalah biarpun mereka telah

bertempur lebih dari empat puluh jurus, namun Sin Seng Cu belum merasa puas karena ia

belum berhasil mengalahkan gadis muda itu!

Masa dia, seorang tokoh besar dari Hoa-san-pai, yang telah mengangkat tinggi namanya

karena kelihaian ilmu tongkatnya kini tak dapat mengalahkan seorang gadis muda yang masih

hijau? Diam-diam ia mengeluh karena benar-benar pedang di kedua tangan gadis itu amat

lihai dan sukar sekali dibobolkan oleh tongkat kepala naga di tangannya.

Gadis itu telah meyakinkan ilmu pedang Im-yang Kiam-hoat secara sempurna sekali sehingga

biarpun dalam hal keuletan dan tenaga ia masih berada di bawah tingkat tosu itu, namun ia

dapat mengimbangi permainan silat Sin Seng Cu dan selama itu tidak nampak terdesak sama

Juga Sie Cui Giok merasa penasaran dan marah melihat kenekatan tosu itu karena desakandesakan

Sin Seng Cu ini benar-benar di luar dugaannya. Tak disangkanya bahwa seorang

 187

tokoh persilatan yang telah menduduki tempat tinggi itu memiliki watak yang demikian

buruk. Maka ia lalu menggertak gigi dan melawan sebaik-baiknya untuk menjaga namanya

sendiri. Ia kini tidak mau mengalah dan membalas setiap serangan dengan balasan yang tak

kalah lihainya.

Pada saat pertempuran antara mereka sedang berjalan amat ramainya, tiba-tiba ia mendengar

seruan kaget dan tubuh seorang tinggi besar terlempar di antara mereka! Keduanya

memandang dan melihat bahwa tubuh yang melayang dan terlempar itu adalah tubuh Cong Si

Ban! Baik Cui Giok maupun Sin Seng Cu yang sedang mencurahkan perhatian karena

menghadapi lawan berat, tadi tidak melihat peristiwa lain terjadi tak jauh dari tempat mereka

bertempur yaitu tentang perkelahian antara Gwat Kong melawan kedua saudara Cong.

Maka kini melihat betapa tubuh Si Ban tiba-tiba terlempar dalam keadaan tunggang-langgang

ke tengah kalangan pertempuran tentu saja mereka menjadi terkejut dan juga terheran-heran

lalu menarik senjata masing-masing dengan cepat agar jangan sampai tersesat ke tubuh Si Ban

yang melayang itu. Tubuh itu jatuh ke atas tanah mengeluarkan suara “bukk!” dan debu dari

atas tanah yang tertimpa tubuh itu, sama sekali tak bergerak dan berada dalam keadaan kaku,

hanya kedua matanya saja yang masih bisa melirik!

Sin Seng Cu maklum bahwa Si Ban telah ditotok orang secara luar biasa sekali, maka ia lalu

maju dan memulihkan totokan itu dengan urutan dan ketukan. Kemudian Sin Seng Cu

menoleh ke arah Gwat Kong dan memandang kepada pemuda itu dengan mata tajam. Ia

seperti pernah bertemu dengan pemuda itu, akan tetapi ia lupa lagi entah di mana.

Bagaimanakah Si Ban bisa di”terbang”kan dalam keadaan tertotok oleh Gwat Kong?

Ketika kedua orang ini tadi bertempur, makin lama mata Si Ban menjadi silau dan kabur. Ia

tak dapat melihat dengan baik lagi dan terpaksa ia lalu memutar toya sedemikian rupa untuk

melindungi seluruh tubuhnya. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa bahwa toyanya telah menempel

pada ranting di tangan lawannya.

Gwat Kong telah mempergunakan tenaga “cam” (melibat/mengikat) sehingga toya Si Ban

menempel pada rantingnya dan tak dapat lepas lagi. Si Ban mengerahkan lweekangnya dan

berusaha membetotnya, dan tiba-tiba Gwat Kong melepaskan tenaganya lalu membarengi

betotan tenaga Si Ban itu untuk menusukkan rantingnya ke arah sambungan lutut Si Ban!

Kalau tusukan itu mengenai sasaran, tentu Si Ban akan roboh berlutut di depannya.

Akan tetapi Si Ban tentu saja tidak mau membiarkan lututnya dihajar, maka ia lalu berseru

keras dan melompat ke atas menarik kedua kakinya ke dekat tubuh belakang. Pada saat itu,

tak pernah disangkanya, ranting di tangan Gwat Kong kembali menyambar dan kini hendak

memukul kepalanya!

Si Ban benar-benar lihai karena dalam keadaan meloncat itu, masih sempat buang tubuh atas

ke depan sehingga kepalanya ditundukkan ke bawah mengelak serangan ranting itu. Akan

tetapi kini tubuhnya menjadi telungkup dengan kepala dan kaki ditarik bagaikan seekor anjing

sedang merangkak.

Gwat Kong masih tidak melepaskan korbannya dan secepat kilat ujung rantingnya menotok

jalan darah di iga lawan itu sehingga tubuh Si Ban menjadi kaku. Dan berbareng dengan

serangan itu Gwat Kong mengangkat sebelah kakinya menendang pantat lawannya sehingga

 188

tubuh Si Ban tanpa dapat dicegah lagi melayang ke depan bagaikan sebutir pelor dan jatuh di

tengah-tengah gelanggang pertempuran Sin Seng Cu dan Cui Giok!

Setelah melakukan perbuatan yang nakal itu, Gwat Kong berdiri bertolak pinggang dan

memandang dengan senyum. Ketika ia melihat betapa Sin Seng Cu memandangnya, ia segera

menjura dan bertanya, “Sin Seng Cu totiang, apakah selama ini totiang baik-baik saja?”

Sin Seng Cu memandang tajam, kemudian ia teringat dan bertanya, “Bukankah kau pemuda

yang mahir ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan kemudian diambil murid oleh Bok Kwi

Sianjin?”

Gwat Kong tersenyum, “Totiang memang memiliki pandangan mata yang tajam.”

Sementara itu ketika mendengar bahwa pemuda yang baru datang ini adalah seorang ahli ilmu

pedang Sin-eng Kiam-hoat dan bahkan menjadi murid Bok Kwi Sianjin. Nona baju kuning itu

nampak terkejut sekali dan kini ia memandang kepada Gwat Kong dengan penuh perhatian.

Melihat hubungan pemuda ini yang agaknya telah kenal baik kepada Sin Seng Cu, diam-diam

ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda ini akan berpihak kepada tosu itu. Baru menghadapi

tosu itu saja ia tadi telah merasa sukar untuk mengalahkannya, apalagi kalau mendapat

bantuan pemuda yang memiliki ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat!

“Maafkan, aku tak dapat mengganggu lebih lama lagi!” kata Sie Cui Giok, nona baju kuning

itu dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah berlari cepat keluar dari pekarangan itu dan

sebentar saja sudah lenyap dari pandangan mata.

“Hmm, seorang gadis muda yang memiliki kepandaian mengagumkan,” kata Sin Seng Cu

perlahan setelah bayangan gadis itu lenyap. Kemudian ia teringat kepada Gwat Kong dan

sambil memandang tajam ia berkata,

“Kau agaknya juga hendak memperlihatkan kepandaian, maka datang-datang kau telah

menghina Cong Si Ban!”

Akan tetapi, Gwat Kong hanya mendengar setengah-setengah saja. Oleh karena pikirannya

ikut terbang menyusul nona baju kuning yang menarik hati dan yang menimbulkan

kekagumannya itu.

“Ah, akupun harus pergi!” katanya perlahan dan membalikkan tubuh hendak pergi.

“Anak muda, jangan harap bisa pergi sebelum aku mencoba kepandaianmu dan menebus

kekasaranmu terhadap tuan rumah,” seru Sin Seng Cu yang mengulur tangannya hendak

menangkap pundak pemuda itu untuk mencegahnya pergi.

Akan tetapi, tanpa menoleh, Gwat Kong menggerakkan tangannya ke belakang dan jari

tangannya dengan cepat sekali mengirim totokan ke arah pergelangan tangan Sin Seng Cu

yang hendak mencengkeram pundaknya, maka terpaksa tosu itu menarik kembali tangannya

dengan hati terkejut dan kagum.

Tanpa menengok dapat melihat datangnya serangan bahkan dapat mengirim totokan yang

tepat ke arah pergelangan tangannya hanya dapat dilakukan oleh seorang yang ilmu

 189

kepandaiannya sudah tinggi. Maka tosu ini menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan niatnya

menguji kepandaian lawan ini.

Tadi, menghadapi seorang gadis muda saja tak dapat mengalahkannya dan baiknya

pertempuran tadi tidak berakhir kekalahan baginya dan keburu terhenti karena Si Ban

terlempar. Maka kalau kini ia berkeras menghadapi Gwat Kong untuk kemudian ia kalah

dalam tangan pemuda ini, biarpun yang menyaksikannya hanya kedua saudara Cong. Akan

tetapi namanya akan terbanting turun dengan hebat!

Maka ia diamkan saja Gwat Kong berlari keluar mengejar Cui Giok. Dan setelah pemuda itu

lenyap dari pandangan mata, ia bahkan lalu menegur kedua saudara Cong itu yang dikenalnya

baik. Ia memberi nasehat agar kedua saudara itu suka merobah pikirannya dan jangan berlaku

sewenang-wenang kepada kaum tani yang miskin. Karena hal itu tentu akan menimbulkan

hal-hal yang tidak enak seperti yang telah terjadi sekarang ini.

“Sebagai orang gagah kalian harus berwatak terlepas dan berlaku baik terhadap orang yang

patut ditolong. Karena kalau tidak demikian, tentu kalian akan dimusuhi oleh banyak orang

kang-ouw.

Kedua saudara Cong itu tak berani membantah dan hanya menyatakan kesanggupannya untuk

menurut nasehat tosu ini. Keduanya benar-benar telah merasa betapa hari ini mereka telah

mendapat hajaran keras dari dua orang muda yang kelihatannya masih hijau. Mereka baru

insyaf bahwa ilmu kepandaian mereka sesungguhnya masih rendah dan dangkal.

Maka mereka lalu mengajukan permohonan kepada Sin Seng Cu untuk melatih dan memberi

pelajaran silat kepada mereka. Tosu ini tidak keberatan dan untuk beberapa hari lamanya ia

memberi petunjuk-petunjuk kepada kedua saudara Cong itu dan banyak memberi nasehat

kepada mereka sehingga keduanya sedikitnya terbuka mata mereka dan diharapkan takkan

berlaku sewenang-wenang dan kejam terhadap kaum petani selanjutnya.

****

Gwat Kong percepat larinya untuk menyusul nona baju kuning yang amat dikaguminya itu. Ia

bukan kagum karena kecantikan gadis itu, akan tetapi kagum karena menyaksikan ilmu

pedangnya. Semenjak gurunya, yakni Bok Kwi Sianjin menceritakan kepadanya bahwa selain

Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat masih ada lagi Pat-kwa To-hoat dari utara dan

Im-yang Siang-kiam-hoat dari selatan. Ia ingin sekali bertemu dengan orang-orang yang

memiliki ilmu kepandaian itu.

Kini tak disangka-sangkanya, ia bertemu dengan seorang ahli waris Im-yang Siang-kiam dan

ternyata ahli waris itu adalah seorang gadis muda yang cantik dan gagah dan berpribudi

tinggi. Oleh karena inilah maka Gwat Kong ingin sekali berkenalan dan kalau mungkin

mencoba ilmu pedang Im-yang Siang-kiam itu dalam sebuah pertandingan persahabatan.

Ia tadi melihat betapa gadis baju kuning itu berlari keluar dari dusun itu menuju ke barat,

maka kini ia berlari cepat mengejar. Ia telah berlari cepat sekali dan cukup lama, akan tetapi

belum juga ia dapat menyusul gadis itu. Ia menjadi penasaran dan mempercepat larinya

hingga ia tiba di sebuah hutan yang penuh dengan pohon liu (semacam pohon cemara).

 190

Hutan itu indah sekali dan dari dari jauh ia mendengar suara air sungai mengalir. Akan tetapi

ia merasa heran sekali karena tidak melihat bayangan orang yang dikejarnya. Kemanakah

perginya gadis baju kuning itu? Apakah benar-benar ia memiliki ilmu lari cepat yang

demikian luar biasa sehingga ia tidak mampu mengejarnya?

Gwat Kong masih merasa penasaran, maka ia lalu mendapat akal. Ia melompat ke atas cabang

pohon liu dan terus memanjat ke atas bagaikan seekor kera. Setelah tiba di puncak pohon, ia

berdiri dan memandang sekelilingnya. Akhirnya ia mengeluarkan seruan girang ketika

melihat bayangan kuning berlari-lari di sebelah kiri hutan itu. Ia cepat melompat turun dan

melakukan pengejaran ke arah kiri.

Tak lama kemudian, benar saja ia melihat gadis baju kuning itu berlari-lari di dalam hutan itu

dengan gerakan yang gesit dan tubuh yang ringan. Gwat Kong lalu mempercepat larinya dan

berseru,

“Lihiap (nona yang gagah)! Tunggulah sebentar!”

Akan tetapi ia kecele kalau menyangka bahwa nona itu akan memperhatikan seruannya,

karena mendengar teriakannya ini, tanpa menoleh lagi dara baju kuning itu bahkan lalu

mempercepat larinya dan menggunakan ilmu lari cepat Jouw-sang-hwe (Terbang di atas

rumput). Gwat Kong menggigit bibirnya saking gemas. Jangan kau kira aku akan kalah dalam

hal ilmu lari cepat darimu, demikian pikirnya dengan hati panas.

Ia tidak mau teriak-teriak lagi dan hanya mempercepat larinya dan menggunakan ilmu lari

cepat yang belum lama ini disempurnakan atas petunjuk suhunya, yakni ilmu lari Teng-pengtouw-

sui (Injak rumput seberangi sungai). Demikianlah, pada senja hari yang cerah itu, di

dalam hutan pohon liu yang indah dua orang muda yang lihai sedang berlari cepat seakanakan

berlomba atau berkejar-kejaran!

Dengan mendongkol Gwat Kong mendapat kenyataan bahwa gadis itu ternyata memang

sengaja hendak mempermainkannya, karena gadis itu bukan terus berlari ke depan. Akan

tetapi membuat putaran dan seakan-akan sengaja main kejar-kejaran mengelilingi hutan. Ia

tidak mau kalah dan terus mengejar dengan cepat.

Akhirnya dara baju kuning itu terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu lari cepat Gwat

Kong karena jarak di antara mereka makin lama makin dekat. Tiba-tiba ketika ia sampai di

tempat terbuka, yakni sebuah lapangan rumput yang hijau dan segar, ia menunda larinya dan

membalikkan tubuh dengan sepasang pedangnya di kedua tangan!

Gwat Kong segera mengangkat kedua tangan memberi hormat setelah berhadapan dengan

nona baju kuning itu. Akan tetapi penghormatannya dibalas dengan sebuah tusukan kilat yang

dilakukan oleh pedang di tangan kanan Sie Cui Giok. Gwat Kong segera mengelak dan

berkata,

“Maaf, lihiap! Jangan marah dulu. Aku …….”

“Kau adalah seorang laki-laki ceriwis! Tukang mengejar wanita!” Kata-kata ini disusul

dengan sebuah serangan pula. Kini pedang di tangan kanan membabat leher dan pedang di

tangan kiri menyerampang kaki. Menghadapi serangan luar biasa lihainya ini Gwat Kong tak

 191

dapat membuka mulut karena ia harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mengelak

lagi dengan lompatan jauh ke belakang.

“Tidak nona. Aku tidak ceriwis! Aku hanya ingin kenal …… aku ….. tertarik dan kagum sekali

padamu ….”

“Cih, tak tahu malu! Ucapanmu ini membuktikan bahwa kau adalah seorang laki-laki ceriwis,

seorang pemuda hidung belang!” Kembali Cui Giok maju menyerang dengan hebat. Kini

pedang di tangan kanan menusuk hulu hati dan pedang di tangan kiri membelek perut!

Serangan-serangan ini biarpun amat berbahaya dan lihai mendatangkan rasa girang dan

gembira di hati Gwat Kong. Oleh karena ia benar-benar mengagumi gerakan-gerakan dua

pedang yang mempunyai gaya dan kelihaian tersendiri itu.

Ia maklum akan bahayanya dua serangan itu, maka ia melempar tubuh ke belakang lagi,

sambil berjungkir balik membuat salto ke belakang sampai dua kali. Ia melompat agak tinggi,

sehingga dapat mencapai cabang pohon yang paling rendah dan ketika tubuhnya kembali

menginjak tanah, di tangannya telah terdapat sepotong kayu yang dipatahkannya dari cabang

tadi. Kini Gwat Kong mencabut-cabut daun dari ranting kayu itu dan berkata,

“Nona, kau salah sangka! Yang mengagumkan dan menarik hatiku adalah ilmu pedangmu

yang luar biasa itu! Telah lama aku mendengar ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat, maka

kini aku merasa kagum dan tertarik sekali menyaksikan bahwa ilmu pedang itu benar-benar

indah dan luar biasa!”

Aneh sekali, mendengar ucapan ini, nona itu wajahnya menjadi merah dan agaknya ia marah

“Kau hanya mengagumi keindahan ilmu pedangku? Nah, rasakanlah siang-kiamku!” Tanpa

banyak cakap lagi Cui Giok lalu menyerang dengan sepasang pedangnya dengan gerakan

yang amat aneh dan cepat.

Gwat Kong menggerakkan kayu di tangannya itu dengan hati gembira. Tercapailah

maksudnya untuk menguji ilmu pedang Im-yang Siang-kiam yang dipuji-puji oleh gurunya.

Sungguhpun ia agak kecewa karena nampaknya ia telah mendatangkan kesan buruk di dalam

hati gadis itu, yang seakan-akan marah dan membencinya. Apa boleh buat, pikirnya. Akupun

hanya ingin mencoba kepandaiannya belaka.

Ia lalu kerahkan seluruh kepandaiannya dan mainkan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat yang

ia pelajari dari Bok Kwi Sianjin. Biarpun yang dipegangnya hanya sebatang kayu ranting

biasa, akan tetapi karena digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi dan mainkan ilmu

silat yang luar biasa sekali, maka ranting di tangannya itu bergerak-gerak dan menyambarnyambar

dengan amat ganas dan lincahnya sehingga ia dapat mengimbangi permainan siangkiam

dari Cui Giok yang benar-benar hebat itu.

Gwat Kong dengan teliti sekali memperhatikan gerakan kedua pedang di tangan nona itu, dan

beberapa kali ia sengaja mengadu tenaga dengan pedang di tangan kanan maupun yang di kiri.

Setelah beberapa kali mengadu tenaga, tahulah ia bahwa tangan kanan gadis itu

mempergunakan tenaga yang-kang (tenaga kasar/besar), sedangkan di tangan kiri

menggunakan tenaga Im-jin (halus/mulus), maka kedua pedang itu dapat digerakkan dengan

berlainan sekali.

 192

Kalau pedang di tangan kanan menyambar-nyambar dengan ganas luar biasa dengan

kecepatan yang menyilaukan mata, adalah pedang di tangan kiri digerakkan dengan lambat.

Akan tetapi, biarpun kelihatannya lambat, Gwat Kong maklum bahwa pedang di tangan kiri

inilah yang paling berbahaya di antara kedua pedang itu, karena kelambatan dan kelemasan

itu sebetulnya hanya nampaknya saja. Sebetulnya di dalam kelambatan itu mengandung

kecepatan yang lebih hebat dari pada pedang di tangan kanan.

Memang agaknya tak masuk diakal dan aneh, akan tetapi hal ini memang sebetulnya.

Kecepatan di tangan kanan adalah kecepatan tenaga gadis itu sendiri yang dikerahkan dengan

maksud menyerang dan membacok lawan dan pengerahan tenaga tangan untuk menggerakkan

pedang inilah maka disebut bahwa tenaga tangan kanan itu adalah kasar/keras. Kecepatan

hanya terletak pada sambaran senjata dan tergantung sepenuhnya dari besarnya dorongan

tenaga nona itu.

Akan tetapi, pedang di tangan kiri itu tidak mengandalkan tenaga sendiri, akan tetapi

mengandalkan tenaga lawan. Pedang yang nampaknya lambat apabila menyerang itu jangan

sekali-kali dipandang rendah karena kalau ditangkis oleh senjata lawan, pedang ini

mengambil atau mencuri tenaga lawan yang menangkis itu dan dengan dorongan tenaga yang

dipinjam itu ia melakukan serangan lanjutan yang luar biasa cepatnya dan tidak diduga sama

sekali oleh lawan.

Juga, setiap kali pedang di tangan kiri ini digunakan untuk menangkis serangan lawan, pedang

ini tidak menggunakan tenaga kekerasan, akan tetapi menguasai atau menangkap tenaga

lawan sedemikian rupa sehingga tenaga lawan yang besar itu akan lenyap sendiri. Bahkan

dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk melakukan serangan balasan pada saat

menangkis itu juga.

Memang agak sukar untuk mengerti bagi mereka yang tidak tahu akan ilmu silat tinggi. Akan

tetapi memang tenaga “im” atau tenaga dalam yang lemas ini benar-benar luar biasa. Sebagai

contoh untuk memudahkan penjelasan tentang perbedaan tenaga kasar dan tenaga lemas

adalah seperti berikut.

Kalau kita melemparkan sebuah benda yang berat ke atas udara dan kemudian benda itu

kembali menimpa ke arah tangan kita, maka ada dua jalan bagi kita untuk menerima kembali

jatuhnya benda itu dengan tenaga kasar dan tenaga lemas. Dengan tenaga kasar, yakni berarti

bahwa kita menggunakan kekuatan kita untuk menerima benda itu begitu saja dengan

mengandalkan kekuatan urat-urat di lengan kita sehingga akibatnya kalau tenaga kita lebih

besar dari pada luncuran benda yang jatuh itu, maka benda tersebut akan dapat kita terima

dengan mudah dan enak. Akan tetapi sebaliknya apabila tenaga luncuran benda yang jatuh itu

lebih besar dari pada tenaga tangan kita banyak bahayanya tangan kita akan tertimpa sampai

patah tulangnya atau keseleo dan benda itu akan terlepas dari tangan kita.

Adapun penggunaan tenaga lemas ialah apabila kita menerima benda yang meluncur dari atas

itu dengan ringan tanpa menggunakan tenaga besar atau kasar. Akan tetapi dengan tenaga

lemas dan lemah kita menyambutnya dan menuruti luncurannya dari atas itu ke bawah

kemudian dengan hanya sedikit tenaga saja kita mendorong benda itu ke samping untuk

mematahkan tenaga luncurannya yang menimpa itu kemudian dengan gaya yang baik, yakni

seakan-akan merupakan kemudi bagi tenaga luncur yang seperti raksasa itu. Kita bisa

 193

mendorong benda itu ke samping terus kembali ke atas, seakan-akan benda itu jatuh melalui

sebuah pipa yang di bagian bawah dibengkokkan dan membelok ke atas lagi.

Nah, demikianlah sekedar penjelasan singkat tentang perbedaan tenaga kasar dan tenaga

lemas. Permainan pedang di kedua tangan Sie Cui Giok adalah berdasarkan tenaga kasar dan

lemas maka ilmu pedang ini disebut Im-yang Siang-kiam-hoat atau ilmu pedang pasangan Im

dan Yang. Gwat Kong benar-benar merasa kagum karena setelah ia mengerahkan seluruh

kepandaiannya berdasarkan permainan tongkat Sin-hong Tung-hoat yang baru-baru ini

dipelajarinya dari Bok Kwi Sianjin, ia tetap saja terdesak oleh sepasang pedang itu sehingga

ia harus menambah ekstra kegesitan tubuhnya agar jangan sampai terbabat atau tertusuk

pedang nona itu.

“Ha ha! Tak tahunya Sin-hong Tung-hoat yang ternama itu hanya begini saja!” tiba-tiba nona

itu menyindir dan memutar kedua pedangnya lebih hebat dan lebih cepat lagi mendesak Gwat

Kong dengan serangan-serangan berbahaya dan yang paling lihai dari ilmu pedangnya.

Selain sibuk menghadapi desakan serangan ini, juga hati Gwat Kong merasa amat

mendongkol mendengar sindiran yang memandang rendah ilmu tongkatnya ini. Kalau saja ia

sudah melatih cukup masak, belum tentu ia akan kalah, pikirnya dengan mendongkol. Ia tahu

bahwa kekalahannya yang membuat ia amat terdesak ini tak lain hanya karena kalah latihan.

Ia dapat menduga bahwa melihat kemahiran nona ini mainkan ilmu pedangnya, tentu ia telah

melatih ilmu pedang ini bertahun-tahun lamanya. Maka ia segera berseru marah dan tiba-tiba

ia melempar rantingnya ke atas tanah dan tahu-tahu pedang Sin-eng-kiam pemberian Bu-engsian

Leng Po In dulu telah berada di tangannya, berkilau-kilau mendatangkan sinar putih yang

“Bagus! Hendak kulihat sampai di mana kehebatan Sin-eng Kiam-hoat!” seru nona baju

kuning itu. “Benar-benar hebat ataukah hanya namanya saja yang hebat seperti Sin-hong

Tung-hoat yang kau mainkan tadi!”

Saking mendongkolnya, Gwat Kong tak dapat menjawab sindiran ini dan segera menyerang

dengan pedangnya sambil membentak, “Awas pedang!”

Kini pertempuran menjadi lebih hebat lagi, karena sungguhpun Sin-hong Tung-hoat yang

baru tadi dimainkan oleh Gwat Kong tak kalah hebatnya, akan tetapi ilmu pedang Sin-eng

Kiam-hoat telah dilatihnya lama juga dan ia lebih biasa menggerakkan pedang dari pada

menggerakkan ranting tadi. Ketika memutar pedang tunggalnya, maka lenyaplah tubuhnya

tertutup oleh sinar pedangnya itu karena Cui Giok juga tidak mau kalah dan mainkan

sepasang pedangnya dengan cepat, maka yang nampak sekarang adalah tiga sinar pedang

yang saling menggulung, seakan-akan seekor naga jantan yang gagah perkasa dikeroyok oleh

sepasang naga betina yang memiliki gerakan indah.

Pertempuran ini benar-benar ramai dan hebat, jauh lebih ramai dari pada pertempuran yang

pernah dihadapi oleh Cui Giok maupun Gwat Kong. Keadaan mereka benar-benar berimbang.

Dalam hal gerakan ilmu pedang, Gwat Kong masih kalah mahir, dan hal ini adalah karena ia

memang kalah latihan. Cui Giok semenjak kecil digembleng oleh engkongnya (kakeknya) dan

telah belasan tahun ia mempelajari ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat ini, maka setiap

gerakannya amat sempurna.

 194

Akan tetapi sebaliknya, gadis ini masih kalah dalam hal lweekang karena Gwat Kong telah

mendapat latihan dari dua macam ilmu silat tinggi. Ginkang mereka setingkat, mereka samasama

maklum bahwa kalau pertempuran dilanjutkan, yang lebih dulu kehabisan napas dan

tenaga, dialah yang akan kalah. Dan sebelum mereka kehabisan tenaga dan napas, entah

beberapa ratus jurus mereka sanggup bertahan. Sementara itu, keadaan telah mulai menjadi

remang-remang, tanda bahwa senjakala telah hampir terganti malam.

Gwat Kong merasa sudah cukup menguji ilmu kepandaian gadis itu, maka tiba-tiba ia berseru

keras dan gerakan pedangnya berubah hebat. Cui Giok terkejut sekali dan hampir saja

pundaknya terkena sambaran ujung pedang pemuda itu. Gwat Kong makin gembira melihat

hasil perubahan ini dan menyerang makin hebat. Benar saja, Cui Giok menjadi terdesak dan

gadis ini nampak sibuk sekali.

Ternyata bahwa Gwat Kong telah mencampur adukkan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat

dengan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat. Ilmu pedang dan ilmu tongkat memang berbeda,

akan tetapi banyak pula persamaannya, yakni dalam hal serangan menusuk dan membacok.

Hanya berbeda, pedang menusuk untuk menembus kulit daging lawan sedangkan tongkat

menusuk ke arah jalan darah lawan. Diserang dengan ilmu silat campuran yang memang luar

biasa ini, Cui Giok benar-benar merasa bingung dan akhirnya ia merasa bahwa ia takkan kuat

menghadapi pemuda yang luar biasa ini, Maka ia lalu melompat ke belakang dan melarikan

Gwat Kong merasa tidak puas. Setelah bertempur sekian lamanya, ia harus dapat

mengalahkan gadis itu, atau setidaknya nona itu harus mengakui bahwa Im-yang Kiam-hoat

masih kalah oleh ilmu silatnya yang campuran ini. Maka melihat nona itu melarikan diri, ia

juga berlari cepat mengejar.

Sie Cui Giok berlari menuju ke utara dan tiba-tiba di depannya terdapat sebatang anak sungai

yang cukup lebar dan airnya jernih itu nampak kehijauan, tanda bahwa sungai itu cukup

dalam. Pemandangan di situ amat indahnya karena pohon-pohon dan bunga tumbuh di kedua

tepi sungai, dan di situ terdapat pula sebuah jembatan terbuat dari pada tiga batang bambu

yang disambung-sambung.

Rupa-rupanya para pemburu binatang yang membuat jembatan darurat ini.

Tanpa pikir panjang lagi Cui Giok lalu melompat dan berlari melalui bambu itu. Bambu itu

ketika diinjak dengan keras lalu bergerak-gerak dan bukan main sukarnya melintasi bambubambu

yang kecil, licin dan bergerak-gerak ini. Akan tetapi gadis itu sudah tak dapat kembali

lagi, karena ia melihat Gwat Kong sudah tiba di pinggir sungai pula dan agaknya hendak

melintasi jembatan itu pula.

“Awas nona, kau nanti jatuh!” Gwat Kong berseru kaget melihat betapa tubuh nona itu

bergerak-gerak di atas bambu yang bergoyang-goyang. Ia sendiri tidak berani melompat ke

atas jembatan karena maklum bahwa kalau ia ikut melompat, bambu-bambu itu belum tentu

kuat menahan beratnya dua tubuh orang.

Cui Giok agaknya akan dapat menyeberang dengan selamat, akan tetapi tiba-tiba gadis itu

berteriak ketakutan. Di tengah-tengah jembatan itu terdapat seekor tikus hutan yang besar dan

yang sedang menyeberangi jembatan itu pula. Dan Cui Giok termasuk seorang di antara para

gadis yang jijik dan takut serta geli melihat tikus. Wajahnya pucat, dan ia menjadi begitu takut

 195

dan kaget sehingga ia tidak dapat mengatur imbangan tubuhnya lagi. Dengan teriakan ngeri,

gadis itu terpeleset dari jembatan bambu dan tubuhnya melayang ke bawah.

“Jebur!!” Air memercik tinggi dan Gwat Kong menahan napas ketika melihat betapa tubuh

gadis itu timbul dipermukaan air dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi, tanda seorang

yang tak dapat berenang. Gadis itu memandangnya seketika, kemudian tenggelam timbul

dengan tangan terangkat. Keadaannya sungguh menyedihkan sekali.

Bab 22 …

SUNGGUHPUN ia sendiri tak amat pandai berenang, akan tetapi kalau hanya berenang dan

menolong orang tenggelam saja Gwat Kong masih sanggup, maka tanpa banyak pikir lagi ia

lalu melompat dan terjun ke bawah.

“Jebur!!” Air memercik lagi tinggi-tinggi dan Gwat Kong menggunakan kakinya untuk

mengangkat tubuh ke permukaan air. Kepalanya telah tersembul ke atas. Ia memandang ke

kanan kiri. Akan tetapi ia tidak melihat tubuh gadis yang sedang hanyut tadi!

“Nona ….. nona ….!” Ia berteriak-teriak dengan panik menyangka bahwa nona itu tentu

tenggelam. Ia berenang ke sana ke mari sampai kaki dan tangannya terasa lemas karena selain

ia tidak biasa berenang, juga rasa lelah cepat membuatnya lemas.

Tiba-tiba Gwat Kong melihat ke pinggir sungai dan nampak nona baju kuning itu sedang

duduk dalam keadaan basah kuyup, dan sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum.

Gwat Kong merasa seakan-akan hidungnya dipukul dari depan. Dengan gemas ia dapat

menduga bahwa tadi gadis ini hanya berpura-pura belaka. Dengan susah payah, Gwat Kong

lalu berenang ke pinggir sambil diam-diam menyumpahi ketololannya sendiri.

Ia merayap ke atas melalui tanah lumpur sehingga ketika ia telah berhasil duduk di dekat nona

itu dengan napas terengah-engah, seluruh pakaiannya kotor terkena lumpur dan seluruh

tubuhnya basah kuyup. Dalam keadaan basah dan hawa senja amat dinginnya itu, Gwat Kong

merasa amat tidak enak. Akan tetapi, tidak hanya tubuhnya terasa tidak enak, malah hatinya

terasa lebih-lebih tak enak lagi. Ia merasa mendongkol sekali, apalagi ketika melihat betapa

gadis itu memandangnya seperti seorang kakak memandang adiknya yang tolol.

“Nona, kau benar-benar keterlaluan!” katanya.

Cui Giok bangun berdiri, mencari-cari, lalu membungkuk dan mengumpulkan daun-daun dan

ranting kering. “Sebelum mengobrol, lebih baik membuat api unggun untuk mengusir dingin

dan mengeringkan pakaian,” katanya.

Gwat Kong menyetujui usul ini dan juga berdiri lalu membantu pengumpulan kayu-kayu

kering yang ditumpuk di dekat sungai itu. Lalu mereka membuat api dan tak lama kemudian

mereka duduk di dekat api unggun yang bernyala besar dan hangat.

“Kau benar-benar keterlaluan!” kata Gwat Kong sambil membuka jubah luarnya dan

memanggangnya di dekat api setelah diperasnya tadi.

“Mengapa keterlaluan?” Nona itu balas memandang sambil melonjorkan kakinya ke dekat api

karena sepatu dengan kaos kaki yang masih basah itu terasa tidak enak sekali.

 196

“Kukira tadi kau betul-betul akan tenggelam sehingga aku melompat ke air. Kalau aku tahu

kau pandai berenang, untuk apa aku bersusah payah sampai basah semua macam ini?”

Nona itu tertawa dan bukan main manisnya kalau ia tertawa. Dekik-dekik manis sekali

menghias kanan kiri mulutnya. “Hmm, memang kau seorang muda yang usilan dan selalu

mencampuri urusan orang lain. Siapakah yang minta kau menolongku? Apakah kau

mendengar aku menjerit minta tolong?”

Terpaksa Gwat Kong harus mengakui bahwa gadis itu tadi memang tidak minta tolong. Akan

tetapi mengapa kedua tangan gadis itu bergerak seakan-akan tak pandai berenang dan akan

tenggelam? Diam-diam Gwat Kong dapat menduga bahwa gadis ini selain cerdik sekali, juga

mempunyai kejenakaan. Sifatnya ini membuatnya teringat akan Tin Eng dan diam-diam ia

memandang dengan penuh perhatian.

Biarpun tubuhnya telah mulai hangat karena terpanggang api dari luar, namun ia masih

merasa dingin perutnya. Maka Gwat Kong lalu mengeluarkan guci araknya dan membuka

tutupnya. Ia mengulurkan tangan menawarkan minuman itu kepada Cui Giok.

“Minumlah supaya perut menjadi hangat!”

Cui Giok menerimanya dan memandang guci perak itu dengan kagum dan tanyanya,

“Mana cawannya?”

Gwat Kong menggeleng kepala. “Aku tidak pernah membawa cawan.”

“Habis bagaimana minumnya?”

“Teguk saja dari mulut guci!”

“Kau kira aku setan arak?” kata Cui Giok. Akan tetapi karena iapun merasa betapa perut dan

dadanya dingin, ia lalu membawa mulut guci itu ke bibirnya dan menuangkan sedikit isinya

ke dalam mulut. Ia merasai minuman yang manis dan wangi, sama sekali berbeda dengan arak

biasa, akan tetapi juga mempunyai sifat panas seperti arak. Ia menunda minumnya, dan

memandang kepada pemuda itu dengan heran dan mata mengandung pertanyaan.

“Itu sari buah, bukan arak biasa. Disebut arak obat oleh suhu, baik untuk peredaran darah.”

Cui Giok tersenyum lalu minum lagi beberapa teguk. Benar saja, tubuhnya terasa hangat dan

enak setelah arak obat itu mengalir masuk ke dalam perutnya. Ia mengembalikan guci itu

kepada Gwat Kong yang menerimanya dan terus meneguknya dengan gaya seorang ahli

minum benar-benar.

Melihat betapa pemuda itu tidak membersihkan atau menghapus dulu mulut guci yang tadi

menempel di bibirnya dan terus meneguknya, tak terasa lagi muka gadis itu menjadi merah

karena jengah. Akan tetapi melihat cara pemuda itu minum arak ia teringat akan sesuatu dan

setelah Gwat Kong menurunkan guci dan menutupnya kembali, Cui Giok berkata,

“Kau, tentulah Kang-lam Ciu-hiap yang disohorkan orang!”

 197

Gwat Kong tercengang, akan tetapi ia memandang kepada guci araknya dan tersenyum. “Kau

pandai sekali menghubungkan sesuatu. Tentu guci arakku ini yang telah membuka rahasia.

Nona bicaramu seperti orang selatan. Apakah benar-benar kau ahli waris Im-yang Siangkiam-

hoat sebagaimana yang aku dengar tadi? Telah lama sekali aku mendengar dari suhu

tentang kelihaian Im-yang Siang-kiam dan hari ini benar-benar aku membuktikan kebenaran

ucapan suhu itu. Ilmu pedangmu benar-benar hebat!”

Merahlah wajah gadis itu. “Kalau kau tidak mengeluarkan ilmu silat cap-jai itu, ilmu

pedangku takkan kalah oleh Sin-eng Kiam-hoat atau Sin-hong Tung-hoat!”

Gwat Kong tersenyum mendengar betapa ilmu silat campuran yang ia mainkan tadi untuk

mengalahkan gadis ini disebut ilmu silat cap-jai.

“Memang Im-yang Siang-kiam hebat sekali,” ia memuji. “Nona sebetulnya siapakah kau dan

hendak pergi ke mana?”

Nona itu memandang dengan mata yang tajam, lalu menjawab,

“Kau yang mengejarku dan karena gara-gara kau aku menjadi basah semua, maka sudah

sepatutnya kalau kau yang menceritakan lebih dulu siapa kau ini dan apa maksudmu

mengejarku tadi!”

Kembali Gwat Kong tertegun karena banyak sekali persamaan watak gadis ini dengan Tin

Eng akan tetapi ia mengalah dan mulai menuturkan keadaan dirinya.

“Aku bernama Gwat Kong, she Bun seorang ….. biasa saja, tidak ada apa-apa yang aneh

padaku dan …. eh, apalagi yang harus kuceritakan padamu?”

Ia memandang dengan bingung sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. Ketika ia

melihat betapa mata gadis itu memandang dengan lucu seakan-akan mentertawakannya, ia

buru-buru melanjutkan penuturannya.

“Aku Bun Gwat Kong … eh, sudah kukatakan tadi …. hmmm …….. kau juga sudah tahu bahwa

aku disebut Kang-lam Ciu-hiap. Aku yatim piatu, sebatang kara tak berhandai taulan, tiada

kawan kenalan, dan aku ….. tadi tanpa kusengaja aku melihat sepak terjangmu dan mendengar

bahwa kau adalah ahli waris Ilmu pedang Im-yang Siang-kiam. Oleh karena itu, aku sengaja

hendak berkenalan dengan ilmu pedangmu.”

Gwat Kong menarik napas lega karena dapat bicara lancar dan dapat menyelesaikan

penuturan itu, karena sesungguhnya belum pernah ia menuturkan riwayatnya sendiri di depan

orang lain, terutama kalau orang lain itu seorang gadis muda yang memandangnya dengan

sepasang mata yang bersinar demikian tajam dibarengi bibir menahan senyum geli seakanakan

“Jadi, kau murid Bok Kwi Sianjin?”

“Benar”

“Kalau begitu, untung aku bertemu dan bertempur dengan kau!”

 198

Gwat Kong memandang heran. “Mengapa bertempur dengan aku, kau anggap untung?”

“Kalau tidak bertemu dan bertempur dengan kau, tentu aku akan bertemu dengan Bok Kwi

Sianjin!”

“Nona, apa maksudmu?”

Sie Cui Giok menarik napas panjang dan berkata sambil mulai menguncir kembali rambutnya

yang telah mulai kering. Tadi ia melepaskan kuncirnya sehingga rambut terurai di atas

“Untuk menjelaskan maksud kata-kataku tadi, terpaksa aku harus menceritakan riwayatku.”

“Ceritakanlah!” kata Gwat Kong dengan gembira dan penuh perhatian.

“Namaku Cui Giok, she Sie. Keluargaku tinggal di daerah selatan, di propinsi Ciang-si. Aku

memang keturunan langsung dari pencipta Im-yang Kiam-hoat, yakni Sie Cui Lui, kakekku.

Ayah telah meninggal dunia semenjak aku masih kecil. Ibu tinggal bersama kakek dan nenek.

Jadi nasibku tak banyak bedanya dengan kau.

“Tapi kau masih punya ibu!” Gwat Kong mencela.

“Ya, akan tetapi ada ibu tidak ada ayah, apa artinya?”

“Tapi kau masih punya kakek, punya nenek!” Gwat Kong mengejar dan mendesak lagi.

Cui Giok memandangnya dan tersenyum, “Sudahlah, biar kau menang! Memang nasibmu

lebih buruk. Semenjak kecil aku mendapat latihan Im-yang Kun-hoat dan kiam-hoat dari

kakekku.”

“Kemudian aku mulai melakukan perjalanan perantauan, yakni kurang lebih satu setengah

tahun yang lalu. Aku mendapat dua macam pesanan dari kakek yang merupakan tugas bagiku

dan belum terlaksana. Pertama-tama kalau aku kebetulan lewat di daerah di mana tinggal Bok

Kwi Sianjin, aku harus menemuinya dan mengajak pibu sebagai wakil dari kakekku yang

menjadi kawan baik Bok Kwi Sianjin! Karena kakek berpesan bahwa pibu ini harus dilakukan

secara persahabatan untuk mengukur kepandaian masing-masing. Maka setelah kini bertemu

dengan kau yang menjadi murid Bok Kwi Sianjin, bahkan kita sudah bertempur pula, kurasa

tugas pertama ini sudah kupenuhi!”

Gwat Kong mengangguk-angguk. “Kurasa memang benar begitu!” Ia sengaja membenarkan

pandangan nona ini agar nona yang karena hari ini tidak mencari suhunya untuk mengajak

“Karena inilah maka tadi kukatakan untung telah bertempur dengan kau!” kata pula nona itu

dan karena melihat betapa api unggun itu mengecil karena kayu bakarnya telah hampir habis,

ia berkata,

“Apa ini perlu ditambah bahan bakar lagi?”

 199

Gwat Kong tersenyum, karena ia maklum bahwa secara tidak langsung, gadis ini minta ia

mencari tambahan kayu kering. Tak terasa lagi, ketika ia mencari kayu kering di bawahbawah

pohon, ia mendapat kenyataan bahwa pada saat itu senja telah terganti malam. Ia cepat

mengumpulkan kayu kering dan menambahkannya pada api unggun itu yang segera

membesar lagi nyalanya.

“Dan apakah adanya pesan kedua dari kakekmu?” tanya Gwat Kong setelah menambah kayu

pada api itu dan duduk di atas rumput lagi.

Untuk beberapa lama gadis itu tidak menjawab, kemudian tiba-tiba ia berkata, “Kau putarlah

tubuhmu dan harap duduk membelakangiku, jangan sekali-kali melihat aku!”

Tentu saja Gwat Kong menjadi bengong dan memandang dengan terheran-heran lalu

bertanya, “Bagaimanakah ini? Jawabanmu sama sekali tidak sejalan dengan pertanyaanku.

Dan mengapa aku harus duduk membelakangimu? Apakah mukaku begitu mengerikan dan

menjijikan sehingga kau tidak kuat memandang lebih lama lagi? Kalau kau tidak tahan duduk

lebih lama di dekatku, katakanlah saja, aku bersedia untuk pergi!”

“Bodoh!” gadis itu menjawab dengan muka merah. “Pakaianku telah kering, akan tetapi

sepatu dan kaos kaki ini sukar sekali keringnya. Kalau dibiarkan basah amat tidak enak maka

aku hendak membuka dan memanggangnya dekat api. Karena itu kau harus memutar

tubuhmu!”

Merahlah muka Gwat Kong mendengar ini dan cepat-cepat ia memutar tubuhnya

membelakangi gadis itu. Ia mendengar suara sepatu dan kaos kaki dilepas dan diam-diam ia

tersenyum geli. Gadis ini berani, tabah dan lucu.

“Bagaimana kau begitu percaya kepadaku? Mengapa kau begitu yakin bahwa aku bukan

seorang laki-laki kurang ajar yang akan menengok dan melihatmu pada saat ini?” tanya Gwat

Kong tanpa menggerakkan kepalanya.

“Tak mungkin! Laki-laki seperti kau takkan berani berbuat sekurang ajar itu!”

Gwat Kong menggigit bibirnya. Benar-benar berani sekali gadis itu, lebih berani dari Tin Eng.

Ia merasa heran mengapa malam ini ia bisa duduk-duduk di dekat api unggun bersama

seorang gadis yang tadinya sama sekali tak pernah dikenalnya, bercakap-cakap bagaikan dua

sahabat baik. Baru saja bertemu dan berkenalan belum beberapa lama, ia telah merasa dekat

sekali dengan nona ini, sama sekali tidak merasa asing, seakan-akan gadis ini adalah adik

perempuan sendiri.

Ia terkenang kepada Tin Eng, gadis yang telah merebut hatinya itu. Alangkah senangnya

kalau saja ia bisa melakukan perjalanan bersama Tin Eng, duduk di pinggir sungai di dekat

api unggun seperti sekarang ini.

“Gwat Kong, mengapa kau diam saja?”

Gwat Kong terkejut. Gadis ini tanpa banyak peraturan lagi telah memanggilnya berani.

Hampir saja ia lupa menengok. Untung ia masih teringat dan menjawab,

 200

“Aku sedang memikirkan tentang tugasmu yang kedua yang dipesankan oleh kakekmu. Kau

belum menceritakannya itu kepadaku.”

Terdengar gadis itu tertawa perlahan. “Kau benar-benar seorang pemuda yang ingin

mengetahui segalanya seperti watak seorang perempuan saja. Baiklah, dari pada kita diam

saja akan kuceritakan kepadamu. Pesan kakekku yang kedua ialah bahwa aku harus mencari

Liok-te Pat-mo (Delapan Iblis Bumi) dan membalaskan sakit hati kakekku kepada mereka.

Karena mencari mereka itulah maka aku sampai di tempat ini.”

“Siapakah delapan iblis bumi itu? Namanya amat mengerikan!”

“Ilmu kepandaian mereka lebih mengerikan lagi,” kata gadis itu. “Mereka adalah ahli-ahli

ilmu golok Pat-kwa To-hoat.”

Gwat Kong terkejut sehingga ia menengok. Akan tetapi untung bahwa ia hanya memandang

muka gadis itu dan segera membalikkan kepala kembali sebelum melihat kaki gadis itu yang

telanjang. (Pada masa itu, kaki seorang wanita dianggap sebagai bagian tubuh yang tak boleh

diperlihatkan kepada sembarangan orang, terutama kepada laki-laki, seperti halnya anggauta

tubuh lain yang dirahasiakan dan ditutup).

“Aku pernah mendengar dari suhu bahwa Pat-kwa To-hoat adalah ilmu golok yang menjagoi

di daerah utara, yang kedudukannya sama tingginya dengan Im-yang Siang-kiam-hoat!”

“Memang suhumu berkata benar,” jawab Cui Giok perlahan. “Di empat penjuru, Sin-eng

Kiam-hoat dari barat, Sin-hong Tung-hoat dari timur, Im-yang Siang-kiam-hoat dari selatan

dan Pat-kwa To-hoat dari utara telah amat terkenal. Kurasa Pat-kwa To-hoat tidak kalah

hebatnya dari ilmu pedangmu Sin-eng Kiam-hoat atau ilmu tongkatmu Sin-hong Tung-hoat.”

“Akan tetapi, mengapa pula kakekmu bermusuhan dengan mereka?”

Untuk beberapa lama Cui Giok tidak menjawab dan Gwat Kong mendengar betapa gadis itu

mengenakan kembali kaos kaki dan sepatunya pada kakinya.

“Sekarang kau boleh memutar tubuhmu.”

Gwat Kong memutar duduknya dan menghadapi gadis itu yang menarik napas panjang dan

kelihatan senang dan puas.

“Aaah ….. katanya senang. “Sekarang enaklah rasanya kedua kakiku. Hangat sekali!”

Gwat Kong merasa betapa sepatunya yang basah memang mendatangkan rasa dingin pada

telapak kakinya yang menjalar naik ke perut dan dada, maka iapun lalu melepaskan kedua

sepatunya dan mendekatkannya pada api.

“Kau pandai memancing cerita orang,” kata Cui Giok. “Karena untuk menjawab

pertanyaanmu terpaksa aku harus menuturkan pula riwayat Liok-te Pat-mo itu dan mengapa

mereka sampai dibenci oleh kakekku.”

Gwat Kong merasa betapa ia memang keterlaluan semenjak tadi hanya menjadi pendengar

saja dan ia belum menuturkan riwayatnya sendiri.

 201

“Biarlah kau menuturkan ceritamu dulu, Cui Giok, nanti baru tiba giliranku untuk bercerita.

Aku berjanji akan menceritakan keadaanku seluruhnya. Tentang riwayatku mempelajari ilmu

pedang Sin-eng Kiam-hoat dan lain-lain!”

“Nah, itu baru adil namanya!” Cui Giok berseru girang. Nah, sekarang dengarlah. Ilmu golok

Pat-kwa To-hoat diciptakan oleh mendiang Lok Kong Hosiang yang tinggal di propinsi Cekiang.

Sebagaimana sering kali terjadi pada ahli-ahli silat yang pandai, Lok Kong Hosiang

ternyata telah salah menerima murid. Murid tunggalnya ini bernama Ang Sun Tek, seorang

yang amat pandai membawa diri sehingga setiap orang akan menganggapnya sebagai seorang

pemuda yang amat berbudi. Oleh karena inilah maka Lok Kong Hosiang sampai tertipu

olehnya dan telah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada pemuda she Ang itu. Ang Sun

Tek mempelajari Pat-kwa To-hoat sampai sempurna betul dan tidak ada satupun gerakan yang

belum ia pelajari dari Lok Kong Hosiang. Kemudian, suhunya anggap ia telah tamat belajar

dan menyuruhnya mencari pengalaman di dunia kang-ouw. Akan tetapi, begitu ia turun

gunung, ia membuka kedoknya dan nampaklah wajah serigala kejam di balik kedok domba

itu. Ang Sun Tek berubah menjadi seorang penjahat yang kejam, yang melakukan segala

macam perbuatan hina. Merampok, membunuh, mengganggu anak bini orang, ah ….

pendeknya segala macam perbuatan jahat tidak ada yang tak dilakukan oleh penjahat itu!”

“Benar-benar manusia rendah budi dan bejat akhlak!” seru Gwat Kong.

“Bukan itu saja,” Cui Giok melanjutkan penuturannya. “Bahkan ia lalu mengumpulkan

kawan-kawan lamanya yang terdiri dari orang-orang jahat. Kemudian memilih empat pasang

saudara yang berbakat, yakni dia dan adiknya sendiri yang bernama Ang Sun Gi dan tiga

pasang saudara lain she Liem, Thio dan Tan. Empat pasang saudara ini merupakan delapan

orang muda yang berbakat baik. Kemudian Ang Sun Tek melatih tujuh orang kawannya ini

dengan ilmu Pat-kwa To-hoat itu. Memang ia memiliki kecerdikan yang luar biasa, sehingga

ia dapat menciptakan Pat-kwa-tin (Barisan Pat-kwa atau segi delapan), dan pat-kwa-tin inilah

yang hebat luar biasa. Entah berapa banyak orang gagah tewas dalam menghadapi Pat-kwa-tin

ini. Karena setelah membentuk delapan sekawan ini, Ang Sun Tek dan kawan-kawannya

makin mengganas dan berlaku sewenang-wenang, maka mereka diberi julukan Liok-te Patmo

atau Delapan Iblis Bumi dan banyak orang gagah datang untuk menumpasnya. Akan

tetapi mereka semua dipukul hancur, ada yang terluka, ada pula yang tewas. Bahkan, ketika

Lok Kong Hosiang mendengar hal ini dan datang pula untuk menghukum muridnya, ia

disambut dengan keroyokan delapan orang itu. Ang Sun Tek telah menyerang dan

mengeroyok gurunya sendiri mempergunakan Pat-kwa-tin!”

“Benar-benar manusia bong-im-pwe-gi (tak mengenal budi)!” seru Gwat Kong gemas.

Sebagai pencipta dari Pat-kwa To-hoat, tentu saja Lok Kong Hosiang dapat menghadapi

dengan baik Pat-kwa-tin itu, yang diciptakan oleh muridnya berdasarkan Pat-kwa To-hoat

pula. Akan tetapi, hwesio itu telah amat tua ketika meghadapi keroyokan mereka dan pula, ia

tidak tega untuk membunuh delapan orang-orang muda itu, sehingga akhirnya dia sendirilah

yang menderita luka-luka parah dan terpaksa melarikan diri.”

“Terkutuklah si jahanam Ang Sun Tek!” Gwat Kong memaki marah.

“Lok Kong Hosiang adalah sahabat baik dari kakekku dan ketika kakekku mendengar akan

hal itu, ia segera mencari Lok Kong Hosiang di propinsi Ce-kiang. Akan tetapi, kakek

 202

terlambat karena ketika ia tiba di kelenteng tempat tinggal Lok Kong Hosiang, hwesio itu

telah menghembuskan napas terakhir.”

“Hmmm, muridnya sendiri yang membunuhnya! Benar-benar manusia she Ang itu harus

dibinasakan!” kata Gwat Kong sambil mengepal tinjunya.

“Kakek juga berpikir begitu, maka kakekku lalu pergi mencari mereka ke kota Sianuang di

propinsi Ce-kiang.”

“Bagus!” kata Gwat Kong memuji.

“Sama sekali tidak bagus!” Cui Giok mencela. “Ternyata bahwa kakekku sendiri masih tak

cukup kuat menghadapi Pat-kwa-tin mereka sehingga hampir saja kakek mendapat celaka.

Untung kakek masih dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi, kakek merasa amat terhina dan

malu karena dikalahkan oleh mereka!”

“Sungguh lihai!” Gwat Kong memuji.

“Memang mereka lihai sekali. Akan tetapi aku tidak takut kepada mereka. Kakek telah

menggemblengku dan menurut pendapat kakek, kepandaianku telah lebih kuat dari pada

keadaan kakekku ketika menyerbu Pat-kwa-tin itu. Aku telah menyusul ke Ce-kiang. Akan

tetapi ternyata bahwa sekarang Liok-te Pat-mo telah pindah dan mereka itu telah diangkat

menjadi busu (perwira istana kaisar). Bahkan Ang Sun Tek dan kawan-kawannya merupakan

pasukan perwira istana yang istimewa dan mereka tinggal di kota raja.”

“Jadi sekarang kau hendak menyusul ke kota raja?”

“Tentu saja! Jangankan ke kota raja, biarpun mereka itu pindah ke pulau api, aku tentu akan

mengejar mereka!” kata Cui Giok dengan suara gagah.

“Akupun akan ke sana dan membantumu!”

Cui Giok memandangnya dan merengut.

“Apa kau kira aku takut kepada mereka dan memerlukan bantuanmu?”

“Bukan begitu. Akupun ingin sekali mencoba kepandaian mereka yang sombong dan jahat

hati itu. Suhu pernah bercerita tentang adanya Pat-kwa To-hoat. Agaknya suhu belum tahu

tentang kejahatan anak murid Pat-kwa To-hoat ini. Kalau suhu tahu tentu aku diperintahkan

pula untuk menghancurkan mereka!”

Tiba-tiba Cui Giok tersenyum lebar. “Bagus kalau begitu, empat besar akan bertemu di kota

raja. Dengan adanya kau, aku merasa lebih yakin bahwa mereka tentu akan mengalami

kehancuran. Aku tidak malu datang bersama kau mencari mereka, karena merekapun delapan

orang!”

“Terima kasih Cui Giok. Kau baik sekali dan aku girang kau percaya kepadaku.”

“Sekarang tiba giliranmu untuk menceritakan semua pengalamanmu semenjak kau terlahir

sampai sekarang!” kata Cui Giok yang mengumpulkan daun kering ditumpuk lalu ia

membaringkan tubuhnya berbantal daun kering setumpuk itu, di dekat api.

 203

Gwat Kong tersenyum geli mendengar ucapan itu, maka dengan singkat ia lalu bercerita

tentang riwayatnya, tentang ayahnya yang difitnah oleh hartwan Tan, tentang ibunya yang

hidup sengsara dan menderita. Kemudian ia menceritakan pula betapa ia bekerja sebagai

pelayan di rumah pembesar she Liok dan bagaimana ia menemukan kitab ilmu pedang Sineng

Kiam-hoat secara kebetulan.

Pendeknya ia menceritakan seluruh riwayatnya, kecuali tentu tentang Tin Eng ia tidak

menceritakan sama sekali. Lama juga ia bercerita sambil memandang ke arah api dengan

pikiran melayang ke masa lampau. Setelah ia berhenti bercerita dan memandang kepada Cui

Giok karena gadis itu semenjak tadi diam saja tidak bersuara sedikitpun, ia melengak. Karena

ternyata bahwa nona baju kuning itu telah tidur pulas!

Gwat Kong merasa mendongkol sekali karena agaknya sudah sejak tadi gadis itu tertidur

sehingga tadi ia bercerita kepada …. api unggun! Akan tetapi ia merasa geli juga dan

memandang kepada gadis itu dengan hati girang karena ia merasa suka melihat sikap gadis itu

yang begitu terbuka. Ia percaya bahwa Cui Giok bukan tertidur karena kesal mendengar

ceritanya. Akan tetapi karena memang benar-benar ia lelah sekali sehingga tertidur tanpa

terasa lagi.

Gwat Kong mencari ranting-ranting kering untuk menambah bahan bakar, kemudian iapun

duduk melenggut bersandarkan pohon dan tak lama kemudian iapun tertidur.

Pada keesokan harinya, pundaknya digoyang-goyang orang dan ketika ia terbangun ia

mendengar suara Cui Giok. “Bangun! Bangunlah, pemalas benar.”

Gwat Kong membuka matanya dan melihat bahwa malam telah berganti pagi dan api unggun

di depannya telah padam. Cui Giok nampak segar. Agaknya gadis ini pagi-pagi telah mandi di

sungai itu. Melihat pakaiannya sendiri yang masih kotor berlumpur, Gwat Kong lalu

membuka buntalan pakaiannya karena pakaian ini telah kering dan bersih. Kemudian ia

berlari menuju ke sungai untuk mandi dan bertukar pakaian. Ketika ia kembali ke tempat itu,

ternyata Cui Giok memanggang dua potong daging kelinci di atas api unggun. Bau daging

panggang yang sedap itu membuat perut Gwat Kong berbunyi keras dan panjang.

“Aduh sedapnya!” ia berkata sambil menelan ludah.

Cui Giok mengerling dan berkata, “Akan kuberikan sepotong kepadamu asal kau duduk

dengan baik dan menceritakan riwayatmu kepadaku. Kau belum menceritakannya sedangkan

aku telah menuturkan semua riwayatku.”

“Siapa bilang belum kuceritakan? Semalam telah kuceritakan semua dari awal sampai akhir.

Akan tetapi kau telah tertidur dan tidak mendengarkannya sama sekali!”

“Benarkah …..??” Suara ini terdengar demikian kecewa dan wajah yang manis itu nampak

demikian menyesal sehingga Gwat Kong segera berkata, “Ah, tidak, aku membohong. Kau

memang tertidur dan akupun menghentikan ceritaku. Nah, kau makanlah daging itu, aku akan

menuturkan riwayatku dengan singkat!”

 204

Demikianlah, Gwat Kong untuk kedua kalinya menuturkan riwayatnya dan beberapa kali ia

memandang tajam, takut kalau-kalau ia dipermainkan lagi. Akan tetapi melihat perhatian yang

dicurahkan oleh Cui Giok, ia maklum bahwa gadis itu tidak mempermainkannya.

Setelah daging itu matang, mereka makan dengan lezat dan enaknya. Kemudian mereka

melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja untuk mencari Liok-te Pat-mo si delapan iblis

Di sepanjang jalan mereka merasa gembira dan cocok sekali, bagaikan dua orang sahabat

yang telah bertahun-tahun menjadi sahabat.

****

Setelah merobohkan Lui Siok si Ular Belang yang menjadi wakil ketua dari Hek-i-pang dan

menjadi suheng (kakak seperguruan) Gan Bu Gi, kemudian melukai kuda yang ditunggangi

oleh Song Bu Cu ketua Hek-i-pang sehingga ketua itu bersama Gan Bu Gi tak berdaya dan

tak dapat mengejar. Tin Eng dan Kui Hwa melarikan kuda mereka dengan senang dan di

sepanjang jalan kedua orang nona pendekar ini tertawa terkekeh-kekeh karena merasa geli

“Aah, cici Hwa, benar-benar puas hatiku dapat mempermainkan mereka! Ha ha ha !! Kedua

ketua dari Hek-i-pang bersama si keparat Gan Bu Gi itu telah mendapat hinaan dari kita

berdua. Aah, sungguh senang melakukan perjalanan dengan kawan segagah engkau, enciku

yang baik.”

Sebaliknya Kui Hwa menarik napas panjang. “Akan tetapi aku merasa kecewa, adik Eng.

Kalau saja aku dapat bertemu berdua saja dengan Gan Bu Gi, tanpa adanya bantuan dari Lui

Siok dan Song Bu Cu yang tangguh tentu pedangku akan menamatkan riwayat pemuda

jahanam itu!”

“Enci Hwa, mengapakah sebetulnya maka kau amat membenci Gan Bu Gi? Dahulu kau

mengatakan bahwa orang she Gan itu pernah menyakitkan hatimu. Penghinaan apakah yang

telah ia perbuat?”

Tiba-tiba Kui Hwa menghentikan kudanya bahkan lalu turun dan pergi duduk di tepi jalan di

bawah sebatang pohon. Tin Eng juga melompat turun dan melihat betapa kedua mata Kui

Hwa tiba-tiba menjadi merah dan beberapa titik air mata turun membasahi pipinya. Tin Eng

merasa terkejut sekali. Ia memegang tangan kawannya itu dan bertanya, “Ah, maafkan aku

telah menyinggung perasaan hatimu, enci Hwa.”

Alangkah herannya ketika ia melihat Kui Hwa tiba-tiba menangis sedih, menutupi mukanya

dan dengan ujung lengan baju dan tak dapat menjawab, hanya terisak-isak.

“Enci Kui Hwa, agaknya orang she Gan itu telah memberikan sesuatu yang hebat kepadamu.

Ketahuilah bahwa aku juga menderita oleh karena dia.”

Kui Hwa mengangkat mukanya yang merah dan memandang kepada Tin Eng. Ucapan Tin

Eng ini benar-benar menarik perhatiannya. Tin Eng maklum bahwa kawannya itu ingin

mengertahui riwayatnya dan karena menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat

antara Gan Bu Gi dan Kui Hwa, maka ia lalu menuturkan riwayatnya.

 205

“Enci Kui Hwa, entah apa yang ia lakukan terhadapmu sehingga kau merasa amat berduka.

Akan tetapi, Gan Bu Gi yang menjadi biang keladi sehingga aku terpaksa meninggalkan

rumah orang tuaku dan merantau seperti seorang yang tak berkeluarga.”

Diceritakannya betapa Gan Bu Gi itu diantar oleh gurunya, yakni Bong Bi Sianjin tokoh Kimsan-

pai juga oleh Seng Le Hosiang tokoh Go-bi-pai mengunjungi ayahnya sehingga kemudian

Gan Bu Gi diberi kedudukan sebagai komandan pasukan pengawal. Betapa kemudian

ayahnya bahkan hendak memaksanya untuk menjadi isteri perwira she Gan itu.

“Demikianlah enci Kui Hwa, maka aku lalu melarikan diri dari rumah karena ayah

memaksaku. Aku tidak sudi menjadi isterinya, aku …. aku benci kepadanya. Akhir-akhir ini

aku mendapat perasaan bahwa orang she Gan itu bukanlah seorang manusia baik.”

“Kau benar, adikku dan dalam hal ini kau lebih cerdik dan awas dari padaku,” akhirnya Kui

Hwa berkata setelah berkali-kali menghela napas. “Gan Bu Gi memang hanya di luarnya saja

kelihatan tampan dan gagah serta halus, sopan sikapnya. Akan tetapi ia memiliki watak yang

tidak baik dan palsu.”

“Kalau kau percaya kepadaku, enci Kui Hwa, ceritakanlah pengalamanmu ini sehingga aku

dapat mendengar sampai di mana kejahatan Gan Bu Gi.”

Tadinya Kui Hwa masih merasa ragu-ragu untuk menuturkan riwayatnya. Akan tetapi melihat

pandang mata Tin Eng yang jujur dan karena ia memang merasa suka kepada dara ini dan

mempunyai perasaan seolah-olah Tin Eng menjadi adiknya sendiri, ia lalu menuturkan

riwayatnya secara singkat.

Bab 23 …

TAN KUI HWA adalah puteri seorang hartawan yang bernama Tan Kia Swi, yakni Tanwangwe

yang dahulu telah mencelakai orang tua dan keluarga Bun Gwat Kong! Semenjak

kecilnya, Tan Kui Hwa memang nakal sekali dan ia memiliki watak seperti seorang anak lakilaki

saja. Bahkan ia suka bermain-main dengan anak lelaki yang menjadi anak tetangga

ayahnya. Orang tuanya mendiamkannya, sebagai anak orang hartawan yang amat dimanja,

diturut belaka oleh ayah bundanya.

Ketika ia berusia sepuluh tahun, ia masih suka bermain-main di luar rumah tangga. Kawankawannya

yang sebagian besar terdiri anak-anak lelaki, bermain gundu, berkejar-kejaran,

bahkan ikut pula memanjat pohon-pohon tinggi mencari sarang-sarang burung atau ikut pula

Pada suatau hari ia pergi bermain dengan beberapa orang kawan agak jauh dari rumahnya.

Ketika mereka tiba di kampung lain, mereka bertemu dengan anak-anak kampung itu dan

sudah menjadi kebiasaan bahwa anak-anak suka mengganggu anak-anak lain yang datang dari

kampung lain. Tadinya anak-anak kampung itu hanya mengeluarkan ucapan-ucapan

mengolok-olok saja, yang dibalas oleh olok-olok lain. Akan tetapi seorang di antara mereka

yang melihat Kui Hwa lalu berkata, “Eh anak perempuan mengapa bermain-main dengan

anak-anak lelaki. Sungguh tak tahu malu!”

“Barangkali dia bukan perempuan. Ia tentu seorang anak banci!” kata anak lain.

 206

“Mari kita lihat!” seru yang lain.

“Ya, ya … mari kita buktikan!” kata lain anak lagi dan mereka lalu hendak menangkap Kui

Semenjak kecilnya, Kui Hwa memang tukang berkelahi. Adatnya keras dan hatinya tabah luar

biasa. Mendengar betapa ia dihina, ia lalu memaki-maki dan cepat menyerang anak yang

menyebutnya banci tadi. Bukan main kagetnya anak itu oleh karena tak disangkanya sama

sekali bahwa anak perempuan itu berani menyerangnya dan ternyata pukulannya keras dan

kuat sehingga begitu kena dipukul ia jatuh terguling dengan pipi biru. Maka terjadilah

perkelahian keroyokan yang ramai sekali di jalan itu. Tan Kui Hwa biarpun seorang anak

perempuan, akan tetapi oleh karena ia memiliki keberanian luar biasa dan kenekatan

berkelahi, maka sepak terjangnya mengecilkan hati anak-anak itu. Kui Hwa memukul,

menendang, mencakar, dan menggigit. Tidak ada anak yang berani mendekatinya.

Pada saat ramai-ramainya anak-anak itu berkelahi, tiba-tiba datang tosu (pendeta agama To)

yang segera menghampiri mereka dengan langkah lebar. Maka tosu memandang kepada Kui

Hwa dengan kagum sekali. Belum pernah ia melihat seorang anak perempuan yang demikian

tabah dan ganas dalam berkelahi. Memang amat ganjil kalau dilihat betapa seorang anak

perempuan kuat dalam perkelahian keroyokan antara anak-anak lelaki.

“Hai, jangan berkelahi!” seru tosu itu dan semua anak-anak cepat menoleh memandang ke

arah orang yang mencegah mereka. Bukan main terkejut hati mereka ketika melihat seorang

tosu yang bermuka aneh sekali. Kedua mata tosu itu yang nampak hanya putihnya saja,

karena manik matanya yang hitam hanya kecil sekali, bergerak-gerak liar ke kanan kiri

menimbulkan pemandangan yang menakutkan. Hidungnya mendongak ke atas, mulutnya

lebar sehingga hampir sampai ke telinga dengan dua buah gigi menonjol keluar seperti caling.

Tanpa diberi komando lagi, anak-anak itu melarikan diri dengan ketakutan. Semua anak

melarikan diri, kecuali Kui Hwa sendiri yang memandang dengan heran dan juga takut-takut.

Ia teringat akan dongeng-dongeng tentang setan dan iblis. Akan tetapi hatinya yang tabah

membantah, karena ia mendengar di dalam dongeng-dongeng bahwa setan dan iblis hanya

keluar di waktu malam hari. Saat itu mata hari telah naik tinggi, tak mungkin ada iblis berani

“Anak yang gagah, kau siapakah dan di mana rumahmu?”

“Namaku Kui Hwa dan rumahku di sana!” Anak itu menunjuk ke arah tempat tinggal orang

“Mari kau kuantar pulang.” Kata tosu itu yang lalu memegang tangan Kui Hwa untuk menguji

ketabahan anak ini. Akan tetapi Kui Hwa sama sekali tidak merasa takut, bahkan ia

tersenyum-senyum bangga. Alangkah akan herannya kawan-kawannya. Ia akan

memperlihatkan bahwa ia lebih berani dan tabah dari pada mereka semua. Maka ia lalu

berjalan bersama tosu itu menuju ke rumahnya dengan dada terangkat tinggi-tinggi. Dan

benar saja, anak-anak yang melihat ia berjalan bersama tosu itu diam-diam mengintai dengan

hati berdebar dan mengulurkan lidah dan di dalam hati mereka amat mengagumi keberanian

Kui Hwa.

 207

Tosu ini adalah Thian Seng Cu, tokoh Hoa-san-pai yang berilmu tinggi, yang kebetulan turun

gunung untuk melakukan perjalanan merantau. Ia adalah suheng dari Sin Seng Cu tosu Hoasan-

pai yang telah berhasil mengalahkan Seng Le Hosiang dari Go-bi-pai sehingga kejadian

itu menimbulkan permusuhan antara Hoa-san-pai dan Go-bi-pai.

Thian Seng Cu lalu menemui Tan-wangwe dan menyatakan hasrat hatinya melatih silat

kepada Kui Hwa. Tadinya orang tua Kui Hwa tidak setuju, akan tetapi Kui Hwa berkeras

mengangkat guru kepada tosu itu dengan rengek dan tangis sehingga kedua orang tuanya

terpaksa menyetujuinya dengan syarat bahwa latihan ilmu silat itu harus dilakukan di rumah

Selama tiga tahun Thian Seng Cu melatih kepada Kui Hwa di rumah Tan-wangwe. Akan

tetapi setelah anak itu berusia tiga belas tahun, pada suatu hari ia pergi meninggalkan rumah

bersama gurunya tanpa memberitahukan kepada ayah bundanya. Hanya meninggalkan

sepucuk surat yang menyatakan bahwa untuk memperdalam ilmu silat, Kui Hwa ikut gurunya

naik ke gunung Hoasan. Ia sengaja pergi dengan diam-diam oleh karena maklum bahwa

apabila ia minta ijin dari kedua orang tuanya tentu tak akan mungkin dapat.

Demikianlah, selama enam tahun mempelajari ilmu silat di puncak Hoasan, bersama dengan

kedua orang suhengnya yang bernama Pui Kiat dan Pui Hok dibawah asuhan Thian Seng Cu,

Sin Seng Cu dan lain tokoh Hoa-san-pai. Setelah tamat belajar silat, Kui Hwa kembali ke

rumah orang tuanya dan disambut dengan kegirangan besar.

Dasar watak yang telah menjadi kebiasaan di waktu masih kanak-kanak, ternyata masih

belum meninggalkan tabiat Kui Hwa. Kini setelah menjadi dewasa, menjadi seorang dara

yang cantik dan gagah perkasa, kesukaannya untuk berkelahi masih saja ada. Tiap kali ia

mendengar ada seorang ‘jago silat’ yang berpengaruh, tidak perduli tempat jauh, tentu ia akan

pergi mengunjunginya untuk ditantang pibu (mengadu kepandaian silat). Karena ilmu silatnya

memang lihai maka entah sudah berapa banyaknya jago-jago silat dan guru-guru silat yang

roboh di dalam tangannya.

Selain ini, juga Kui Hwa amat benci kepada orang-orang jahat, terutama para perampok dan

bangsat-bangsat pemetik bunga. Ia tidak mengenal ampun terhadap mereka ini dan di mana

saja ia bertemu dengan orang jahat, ia tak akan merasa puas sebelum membasminya,

membunuh atau sedikitnya melukainya. Oleh karena ini, ia diberi julukan Dewi tangan maut.

Pada suatu hari, ia mendengar bahwa di kota Lok-se terdapat seorang penjahat yang

melakukan perbuatan terkutuk, yakni mengganggu anak bini orang. Kui Hwa paling benci

kepada bangsat Jay-hwa-cat (penjahat pemetik bunga), maka tanpa banyak menunda lagi, ia

lalu menuju ke kota Lok-se dan melakukan pengintaian di waktu malam. Ia mengenakan

pakaian hitam dan mendekam di atas genteng untuk menanti munculnya penjahat itu.

Baru setelah fajar hampir menyingsing, ia melihat berkelebatnya bayangan orang di atas

sebuah bangunan besar. Ia cepat mengejar dan mengintai. Alangkah marahnya ketika ia

mendapat kenyataan bahwa orang itu adalah Jay-hwa-cat yang dicari-carinya, karena orang

itu dengan gerakan yang amat cepat melompat ke dalam rumah dan memasuki kamar seorang

gadis muda, puteri tuan rumah.

 208

Dengan amarah meluap-luap, Kui Hwa lalu membentak keras sehingga penjahat itu menjadi

terkejut dan keluar dari jendela kamar itu. Kui Hwa telah menanti di atas genteng dan mereka

bertempurlah dengan amat sengit dan mati-matian.

Penjahat itu ternyata memiliki kepandaian yang tidak buruk, ilmu pedangnya cukup cepat

sehingga ia dapat bertahan sampai beberapa lama terhadap serangan-serangan pedang Kui

Hwa. Gadis ini setelah mengenali ilmu pedang penjahat itu sebagai ilmu pedang dari cabang

Go-bi-pai, membentak makin marah,

“Hmmm, dasar anak-anak murid Gobi amat rendah budi dan jahat. Kau membikin malu saja

kepada tokoh Go-bi-pai.”

“Ha ha, perempuan sombong. Kau kira aku tidak tahu bahwa kau adalah orang Hoasan?

Jangan banyak mulut, kau sudah berani berlancang tangan mencampuri urusanku.

Keluarkanlah kepandaianmu!”

Kui Hwa menyerang dengan ganasnya dan memang ilmu kepandaiannya lebih tinggi dari

pada penjahat itu, sehingga dengan mengeluarkan suara keras, pedang di tangan penjahat itu

terpental dan terlepas dari pegangan. Penjahat itu berseru kaget, memutar tubuh dan

melarikan diri.Akan tetapi, mana Kui Hwa mau melepaskannya. Ia amat membenci Jay-hwacat

dan sebelum ia dapat membunuh atau melukainya, ia tidak akan melepaskannya begitu

“Bangsat cabul, jangan harap akan dapat lari dari aku!” Bentaknya sambil mengejar cepat.

Penjahat itu, biarpun kepandaian ilmu pedangnya kalah oleh Kui Hwa, namun memiliki ilmu

lari cepat yang lumayan juga. Agaknya ia telah melatih ilmu berlari cepat ini yang memang

amat perlu dan penting bagi pekerjaannya. Namun Kui Hwa tidak mau mengalah dan

mengejar terus.

Penjahat itu berlari keluar dari kota, terus dikejar oleh Kui Hwa sampai pagi. Ketika mereka

tiba di sebuah kaki bukit, tiba-tiba muncul dua orang yang menghadang di jalan. Penjahat itu

tadinya terkejut melihat dua orang itu berjalan dengan ilmu lari cepat yang tinggi, akan tetapi

ketika ia mengenal mereka, ia menjadi girang dan berkata,

“Locianpwe …… tolonglah teecu …..!”

Kedua orang itu ternyata adalah seorang tosu tua dan seorang pemuda yang tampan dan

mereka lalu mempercepat langkah menghampiri penjahat itu yang segera bersembunyi di

belakang mereka. Tosu itu tak lain adalah Bong Bi Sianjin dan pemuda itu adalah muridnya

yaitu Gan Bu Gi. Memang tokoh-tokoh Kim-san-pai ini telah mengadakan hubungan dengan

Seng Le Hosiang dari Go-bi-pai dan telah berjanji untuk membantu dalam permusuhan Go-bipai

melawan Hoa-san-pai. Oleh karena itu, sebagian besar anak murid Go-bi-pai telah kenal

dengan Bong Bi Sianjin dan muridnya Gan Bu Gi. Juga anak murid Go-bi-pai yang tersesat

dan menjadi penjahat itupun kenal pula kepada mereka.

Melihat munculnya seorang tosu dan seorang pemuda tampan yang agaknya hendak

membantu penjahat itu, Kui Hwa melintangkan pedangnya di dadanya dan memandang

kepada mereka dengan tajam.

 209

“Sicu (tuan yang gagah),” kata tosu itu kepada si penjahat. “Mengapa kau dikejar-kejar oleh

nona ini?”

“Tolonglah, locianpwe. Dia adalah anak murid Hoa-san-pai! Kami telah bertempur, akan

tetapi teecu kehilangan pedang dan ….dan terpaksa melarikan diri!”

“Hmm, orang-orang Hoa-san-pai memang selalu mengandalkan kepandaiannya sendiri. Nona,

biarpun pinto (aku) telah berjanji untuk menghadapi orang-orang Hoa-san-pai dengan pedang

ditangan, akan tetapi melihat bahwa kau adalah seorang nona muda, biarlah pinto memberi

ampun dan kau boleh pergi dengan aman!”

Ucapan ini benar-benar sombong dan memandang rendah, maka Kui Hwa yang beradat tinggi

tentu saja merasa amat tersinggung.

“Totiang, kau seorang pertapa janganlah mencampuri urusan ini. Ketahuilah bahwa anak

murid Gobi ini adalah seorang bangsat besar, seorang jay-hwa-cat yang kejam!”

“Perempuan Hoasan tutup mulutmu yang kotor! Tidak malukah kau seorang perempuan

mengeluarkan kata-kata kotor itu? Memang tadi aku kurang hati-hati sehingga pedangku

terlepas. Sekarang menghadapi jago dari Kim-san-pai kau merasa takut dan hendak

mempergunakan ketajaman mulutmu. Cih, tak tahu malu!”

“Bangsat rendah!” Kui Hwa memaki dan menyerbu ke depan, hendak menyerang penjahat

itu. Akan tetapi Gan Bu Gi yang telah mencabut pedangnya lalu menangkis serangan itu.

“Kau hendak melindungi penjahat ini?” teriak Kui Hwa sambil memandang tajam.

“Suhu, biar teecu yang menangkap gadis liar ini,” Gan Bu Gi berkata seperti minta izin

kepada gurunya yang hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Bagus, kalau begitu kaupun harus mampus di tanganku,” Kui Hwa berteriak garang dan

menyerang Gan Bu Gi. Pertempuran terjadi dengan amat serunya. Pemuda itu benar-benar

tangguh dan ilmu pedangnya hebat sekali, jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaian Jayhwa-

cat itu. Akan tetapi Kui Hwa tidak takut dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Setelah bertempur sampai seratus jurus lebih dengan amat seru dan saling serang tanpa ada

tanda-tanda siapa yang akan menang. Semalaman suntuk ia tidak tidur menjaga di atas

genteng yang dingin dan berangin, lalu ia harus bertempur melawan penjahat itu dan

mengejarnya sampai jauh sehingga tubuhnya telah merasa lelah dan lemas.

Kini menghadapi Gan Bu Gi yang benar-benar kosen, membuat ia lelah sekali dan permainan

pedangnya mulai kacau dan lemah. Akan tetapi sungguh aneh, ternyata pemuda yang tampan

itu tidak bermaksud mencelakainya. Buktinya, tiap kali pedangnya hampir mengenai

tubuhnya Kui Hwa, selalu ditariknya dan diserongkan sehingga tidak melukai Kui Hwa.

“Ha ha ha, muridku. Kau agaknya jatuh hati kepada lawanmu!” terdengar tosu itu tertawa

bergelak. Kui Hwa melihat betapa muka pemuda itu menjadi kemerahan dan ia sedikit pun

merasa jengah dan malu. Akhirnya dengan sabetan yang keras, pedang gadis itu terlepas dari

tangan dan sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Gan Bu Gi berhasil menotok jalan darahnya

sehingga ia menjadi lemas dan lumpuh tak berdaya.

 210

“Bunuh saja anjing betina Hoa-san-pai ini!” Jay-hwa-cat tadi berseru keras. Akan tetapi Gan

Bu Gi segera menjawab,

“Jangan!” Kau pergilah dari sini! Musuhmu ini aku yang menjatuhkannya, maka aku dan

suhu yang berhak memutuskannya. Pula kau telah melakukan pekerjaan buruk dan kalau saja

tidak mengingat bahwa kau adalah anak murid Gobi, tentu kami tak sudi membantumu.”

Penjahat itu pergi bagaikan anjing kena pukul, tidak berani menengok lagi, bahkan

mengucapkan terima kasih pun tidak.

“Suhu, teecu harap suhu tidak berkeberatan untuk mengampuni nona ini.”

Bong Bi Sianjin gelak terbahak mendengar ucapan muridnya ini.

“Kau yang menangkapnya, maka terserah kepadamu. Kau tahu kemana harus menyusul, kalau

sudah selesai urusanmu dengan nona ini!” Kembali tosu itu tertawa bergelak, lalu tubuhnya

berkelebat dan lenyap dari situ, meninggalkan Gan Bu Gi dan nona tawanan di tempat itu.

Tin Eng mendengar penuturan Kui Hwa dengan penuh perhatian. Ia melihat betapa kawannya

itu memandang jauh dengan mata penuh lamunan, seakan-akan membayangkan segala

peristiwa yang dahulu telah terjadi dan menimpa kepada dirinya.

“Demikianlah, adik Tin Eng. Tosu tua yang batinnya tidak bersih itu meninggalkan muridnya

seakan-akan ia memang sengaja memberi kesempatan kepada muridnya untuk melakukan

sesuatu yang tidak baik,” kata Kui Hwa melanjutkan ceritanya. “Dan semenjak saat itu, aku

telah bersumpah di dalam hatiku bahwa pada suatu hari aku pasti akan membunuh bangsat

Gan Bu Gi dan tosu keparat itu!” Gadis itu kini menjadi merah mukanya dan matanya

mengeluarkan cahaya berapi.

“Akan tetapi enci Hwa, apakah yang telah dilakukan oleh Gan Bu Gi kepadamu?” tanya Tin

Eng sambil memandang penuh perhatian.

“Apa yang dilakukan? Jahanam itu …. anjing rendah itu …. ia ….ah, tak dapat kuceritakan apa

yang telah ia perbuat terhadap diriku!” Dan tiba-tiba Kui Hwa mengucurkan air mata, lalu

bangkit berdiri dan melompat ke atas kudanya serta melarikan kuda itu secepatnya.

Tin Eng melengak, terpaksa iapun melompat ke atas kudanya dan menyusul kawannya.

Biarpun Kui Hwa tidak memberi penjelasan, akan tetapi ia dapat menduga apakah yang telah

diperbuat oleh Gan Bu Gi terhadap gadis itu. Dan kebenciannya terhadap Gan Bu Gi meluapluap,

Bangsat rendah, pikirnya, orang macam itu harus dibinasakan. Dan ayahnya bahkan

memaksanya untuk menjadi isteri dari pemuda macam itu.

Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke Hong-san dengan cepat. Karena Tin Eng tidak

mendesaknya dan tidak minta penjelasan, maka Kui Hwa tidak banyak bicara lagi dan soal

yang lalu itu tidak pernah disinggung-singgung oleh kedua pihak. Berkat kejenakaan dan

kegembiraan Tin Eng, awan gelap yang selalu menyelimuti wajah Kui Hwa semenjak ia

menuturkan pengalamannya, mulai pudar dan ia menjadi gembira lagi seperti biasa.

 211

Pada suatu hari, mereka tiba di kota Keng-hoa-bun yang berada di tepi sungai Siong-kiang.

Baru saja mereka memasuki pintu gerbang kota dan kuda-kuda mereka dilarikan congklang,

tiba-tiba terdengar suara laki-laki memanggil Kui Hwa. “Tan-sumoi!”

Kui Hwa menengok dan ketika melihat dua orang pemuda berdiri di pinggir jalan, ia menahan

kudanya dan menjawab, “Hai ….! Jiwi suheng! Kalian juga berada di sini?”

Tin Eng menengok dan memandang kepada dua orang pemuda yang ditegur oleh Kui Hwa.

Mereka ini adalah dua orang laki-laki muda yang tegap dan gagah, yang seorang berpakaian

baju biru dan yang kedua baju putih. Dari sebutan yang dikeluarkan oleh Kui Hwa tadi ia

maklum bahwa kedua orang pemuda itu adalah suheng (kakak seperguruan) dari kawannya,

jago-jago muda dari Hoa-san-pai, maka ia memandang dengan penuh perhatian.

Kui Hwa melompat turun dari kudanya, dituruti oleh Tin Eng, sedangkan kedua orang

pemuda itupun berlari menghampiri mereka.

“Sumoi, kau hendak pergi kemanakah?”

Kui Hwa tersenyum dan berkata sambil menunjuk ke arah Tin Eng,

“Panjang untuk dibicarakan, kita harus mencari tempat yang cocok untuk memutuskan hal ini.

Sekarang perkenalkan dulu, ini sahabat baikku yang bernama Liok Tin Eng yang berjuluk

Sian-kiam Lihiap. Adikku, ini adalah kedua suhengku yang bernama Pui Kiat dan Pui Hok!”

Kedua saudara Pui itu menjura kepada Tin Eng yang membalasnya pula sebagaimana

“Sumoi berkata benar!” kata Pui Hok yang berbaju putih. “Mari kita pergi ke rumah makan

untuk bercakap-cakap.”

Tin Eng dan Kui Hwa lalu menuntun kuda mereka dan berempat pergi ke sebuah rumah

makan yang terdekat. Mereka disambut oleh seorang pelayan yang segera menyuruh seorang

kawannya menerima dua ekor kuda itu untuk dicancang di pinggir rumah makan. Kemudian

ia mengantar keempat orang tamunya ke ruangan tamu yang kosong.

Pui Kiat, Pui Hok, Tin Eng dan Kui Hwa lalu duduk mengelilingi sebuah meja. Rumah makan

itu amat sederhana, bahkan buruk sekali. Temboknya sudah banyak yang rusak kelihatan

batanya, karena keadaan di situ tidak amat bersih, mereka memilih tempat duduk dekat

jendela yang kereinya tergulung agar mendapat hawa segar. Pelayan itu lalu mendekati

mereka sambil membungkuk-bungkuk. Sikapnya menghormat sekali dan pelayan ini memang

lucu wajahnya. Mukanya bundar, seperti juga tubuhnya yang gemuk pendek, senyumnya

lebar dan pakaiannya sudah tambal-tambalan.

“Tuan-tuan dan nona-nona tentu haus dan hendak minum arak, bukan? Arak kami sudah

tersohor enak dan wangi dan saya berani bertanggung jawab bahwa setetes pun air tidak

dicampurkan seperti arak yang dijual di lain rumah makan!” kata pelayan itu sambil

mengacungkan ibu jari kedua tangannya.

Pui Kiat berwatak polos dan kasar dan pada waktu itu ia telah merasa lapar sekali, maka

berkata keras,

 212

“Sediakan nasi yang banyak dan arak baik!”

Pelayan itu mengangguk-angguk lalu mengundurkan diri untuk menyediakan pesanan Pui

Kiat. Kemudian Pui Kiat memandang kepada sumoinya dan berkata dengan muka girang,

“Sumoi, telah lama kita tidak bertemu. Kau harus menuturkan semua pengalamanmu. Kau

hendak pergi kemanakah dan setelah kita bertemu di sini, lebih baik kita mengadakan

perjalanan bersama.”

Kui Hwa tersenyum dan Tin Eng yang melihat pandangan mata Pui Kiat kepada sumoinya

diam-diam tersenyum juga karena pandang mata pemuda itu dengan jelas menyatakan bahwa

Pui Kiat menaruh hati sayang kepada sumoinya.

“Twa-suheng, aku dan adik Tin Eng ini hendak pergi ke Hong-san!” jawab Kui Hwa.

Pui Kiat yang duduk di sebelah kanannya memandang kepada Pui Hok dan kedua orang itu

menyatakan keheranan mereka.

“Mengapa semua orang hendak pergi ke Hong-san?” kata Pui Hok. “Pasukan berkuda itupun

hendak pergi ke Hong-san! Ada apakah di Hong-san, sumoi?”

Kui Hwa bertukar pandang dengan Tin Eng dan Dewi tangan maut itu mengerti bahwa Tin

Eng tidak setuju apabila ia menceritakan tentang harta terpendam itu kepada kedua

suhengnya, maka lalu ia menjawab,

“Ah, itu hanya kebetulan saja barangkali jiwi-suheng. Kami berdua hanya ingin meluaskan

pemandangan. Karena kami mendengar bahwa pemandangan di Hong-san amat indah, maka

kami hendak pesiar di sana.”

Sementara itu, semenjak tadi Pui Hok mengerling ke arah Tin Eng dengan pandang mata

kagum dan hormat,

“Bolehkah siauwte mengetahui, Liok lihiap ini anak murid dari mana?” ia bertanya kepada

Tin Eng. Dara ini merasa ragu-ragu untuk menjawab oleh karena maklum bahwa kedua

saudara Pui ini adalah anak murid Hoa-san-pai yang bermusuhan dengan Go-bi-pai, cabang

persilatan dari ayahnya, maka ia menjadi serba salah dan memandang kepada Kui Hwa. Dewi

tangan maut itu tertawa dan berkata kepada kedua suhengnya,

“Harap jiwi suheng jangan heran dan kaget. Nona ini adalah seorang anak murid yang tidak

langsung dari Go-bi-pai.”

Kedua saudara Pui ini tercengang, bahkan air muka mereka berubah ketika mendengar ini,

akan tetapi Kui Hwa cepat-cepat melanjutkan keterangannya.

“Suheng berdua jangan salah sangka. Biarpun adik Tin Eng anak murid Gobi, akan tetapi

sikap dan pendiriannya berbeda dengan anak murid Go-bi-pai yang lain. Ia tidak bermusuhan

dengan cabang kita, buktinya ia menjadi sahabat karibku. Adik Tin Eng samasekali tidak

memperdulikan permusuhan-permusuhan itu, dan menurut pertimbangannya, tidak perduli

dari cabang manapun yang jahat adalah musuhnya dan yang baik menjadi sahabatnya.”

 213

Kedua saudara Pui itu mengangguk-angguk dan memandang dengan kagum dan girang.

“Pertimbangan yang amat bijaksana!” Pui Hok memuji.

“Bagus!” Pui Kiat menyatakan kegirangan. “Kalau semua anak murid Go-bi-pai seperti Liok

lihiap ini, alangkah akan senangnya hatiku.”

“Akan tetapi sesungguhnya adik Tin Eng bukanlah mengandalkan kepandaiannya dari ilmu

silat cabang Gobi. Ia mendapat sebutan Sian-kiam lihiap, bukan karena ilmu pedang cabang

Go-bi-pai, akan tetapi karena ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat!”

Makin tercengang kedua orang pemuda itu mendengar keterangan ini.

“Ah …! Tidak tahunya kita berhadapan dengan seorang ahli pedang Sin-eng Kiam-hoat yang

terkenal itu!” kata Pui Kiat sambil berdiri dan menjura kepada Tin Eng, diturut pula oleh Pui

Hok. “Maaf, lihiap. Kami berlaku kurang hormat!”

Tin Eng cepat berdiri dan membalas penghormatan ini, lalu berkata cemberut sambil

mengerling kepada Kui Hwa yang duduk di sebelah kanannya,

“Dasar enci Kui Hwa yang bisa saja memuji orang. Ilmu pedangku yang masih dangkal apa

harganya untuk diperkenalkan? Harap jiwi enghiong tidak berlaku sungkan dan banyak

menjalankan peradatan!”

Pada saat itu, pelayan yang gemuk pendek itu muncul membawa guci arak, cawan-cawan arak

dan empat mangkok nasi putih yang bersih. Dengan cekatan dan tersenyum-senyum ia

mengatur cawan-cawan arak dan mangkok nasi itu dihadapan keempat orang tamunya.

“Silahkan, tuan-tuan dan nona-nona. Selamat makan dan minum!”

Pui Kiat sudah lapar semenjak tadi. Melihat nasi putih yang masih mengebul hangat itu, cepat

ia menyambarnya dan menggunakan sumpit untuk makan nasi itu. Akan tetapi Kui Hwa

memandang kepada pelayan tadi dan berkata,

“Apakah kau sudah mabok? Mana masakan sayurannya? Apakah kami harus makan nasi

saja?”

Pui Hok juga merasa tidak senang dan sambil memandang kepada pelayan itu dengan mata

mendelik ia berkata,

“Bagaimana sih kau melayani tamu? Apakah restoran ini hanya menjual nasi saja? Hayo,

cepat sediakan masakan-masakannya yang paling istimewa. Cepat, kami sudah lapar!”

Akan tetapi, pelayan itu tidak cepat-cepat melakukan perintah ini, bahkan berdiri seperti

patung dan memandang kepada mereka dengan muka yang bodoh.

“Mengapa kau masih berdiri saja?” Pui Kiat yang masih makan nasinya itu membentak pula.

Pelayan gemuk pendek itu mengangkat pundak dan mengembangkan kedua tangannya seperti

orang yang merasa susah dan putus harapan.

 214

“Harap jangan marah, tuan-tuan dan nona-nona. Selain nasi, tidak ada masakan apapun juga

di sini. Kalau tuan-tuan dan nona-nona suka akan kecap saja ….”

“Kau suruh kami makan nasi dengan kecap? Gila! Kenapa tidak ada masakan? Apakah

restoranmu ini sudah mau gulung tikar?” kata Pui Kiat yang menunda makannya. Nasi

semangkok itu tinggal sedikit saja karena perutnya yang lapar membuat nasi tanpa sayur itu

terasa cukup nikmat.

“Pagi tadi sih lengkap,” pelayan itu menjawab. “Akan tetapi semua masakan kami diborong

oleh pasukan berkuda dari kota raja itu dan harus diantarkan semua ke tempat pemberhentian

mereka. Bukan dari restoran kami saja, bahkan dari restoran lain pun demikian.”

Pui Kiat menggebrak meja. “Apakah hanya mereka saja yang mampu membayar? Kami juga

akan membayar sepenuhnya!”

Pelayan itu makin gelisah dan mukanya menjadi pucat melihat dandanan pakaian empat orang

tamu ini. Ia dapat menduga bahwa mereka ini adalah orang-orang kang-ouw, ahli-ahli silat

yang tak boleh dibuat gegabah. Maka dengan amat hati-hati dan membungkuk-bungkuk ia

berkata,

“Maaf siauw-ya (tuan muda). Siapa berani membantah kehendak perwira dari kota raja?

Kalau kami memberi masakan kepada cuwi, kemudian terlihat kepada mereka, bukankah itu

berarti bahwa kami mencari bencana sendiri?”

“Jangan takut, kami yang akan tanggung!” kata pula Pui Kiat yang berangasan. Keluarkan

sayur dan daging untuk kami, akan kami bayar sepenuhnya. Lagi pula, kami hanya berempat

dan kami bukanlah orang-orang yang gembul, tentu takkan habis persediaan masakanmu oleh

kami berempat.”

Pelayan itu tidak menjawab hanya kini ia mewek seperti mau menangis, matanya memandang

bingung dan kadang-kadang melirik ke arah mangkok nasi Pui Kiat yang hampir habis

nasinya itu. Agaknya meragukan ucapan Pui Kiat yang menyatakan bahwa empat orang ini

bukan orang-orang gembul. Kalau bukan gembul, masa semangkok nasi tanpa sayur dapat

dilalap habis dalam waktu sebentar saja?

Pui Kiat tidak sabar lagi, lalu bangkit berdiri menghampiri pelayan itu, memegang tangannya

dan menariknya menuju ke dapur di restoran itu. Merasakan betapa pegangan tangan Pui Kiat

bagaikan jepitan besi pada pergelangan tangannya, pelayan itu tidak berani berlambat-lambat

lagi dan segera mengerjakan semua pesanan Pui Kiat. Juga para tukang masak melihat hal ini

menjadi bingung karena mereka benar-benar merasa takut kalau-kalau mendapat marah dari

perwira pemesan masakan itu.

Atas desakan dan ancaman Pui Kiat, karena bahan-bahan berupa sayur dan daging memang

sudah tersedia, sebentar saja beberapa mangkok masakan yang mengepul dan mengeluarkan

kesedapan yang menimbulkan selera dihidangkan oleh pelayan gemuk pendek ke meja empat

orang muda itu. Pui Kiat dan tiga orang kawannya lalu makan minum dengan gembira.

“Anak-anak murid Hoasan bermakan minum dengan seorang murid Gobi!” kata Pui Hok

sambil mengerling ke arah Tin Eng yang duduk di sebelah kanannya. “Aduh, sungguh hal

 215

yang belum pernah terjadi selama bertahun-tahun ini. Sungguh hal yang mengagumkan dan

menyenangkan sekali!”

“Jiwi suheng (kakak seperguruan berdua) sebetulnya hendak ke manakah? Tanya Kui Hwa

yang telah menghabiskan nasinya.

“Kami hendak pergi ke Swi-siang mengunjungi seorang paman dan karena kita satu jurusan,

maka biarlah kita melakukan perjalanan bersama,” kata Pui Kiat. “Bukankah perjalanan ke

Hong-san melalui kota itu?”

“Bagiku sih tidak ada halangannya, bahkan makin banyak kawan seperjalanan makin

gembira. Akan tetapi harus ditanyakan dahulu kepada adik Tin Eng.”

“Liok–lihiap tentu tidak keberatan untuk melakukan perjalanan bersama kami berdua,

bukan?” Pui Hok bertanya sambil memandang pada gadis itu.

Bab 24 …

MENGHADAPI dua orang bersaudara yang amat peramah itu, tentu saja tak mungkin bagi

Tin Eng untuk menyatakan keberatannya. Sungguhpun ia akan lebih senang apabila dapat

melakukan perjalanan berdua saja dengan Kui Hwa. Demi kesopanan dan persahabatan, ia

tersenyum sambil menjawab,

“Mengapa aku harus keberatan? Jiwi enghiong adalah kakak seperguruan enci Kui Hwa dan

karena enci Kui Hwa adalah sahabat baikku, maka jiwi berarti juga sahabat-sahabatku pula.”

Bukan main girangnya Pui Kiat dan Pui Hok mendengar ini. Lagi-lagi mereka memuji gadis

ini dan menyatakan bahwa apabila semua anak murid Go-bi-san seperti Tin Eng, tentu

keadaan dunia akan menjadi aman.

“Akan tetapi kalian berdua menunggang kuda,” kata Pui Kiat. “Maka lebih baik aku dan

adikku ini mencari dua ekor kuda pula. Sumoi dan Liok-lihiap harap tunggu sebentar di sini,

karena aku dan adikku akan membeli dua ekor kuda dulu.”

Kui Hwa dan Tin Eng menyatakan baik dan kedua orang saudara Pui itu meninggalkan rumah

makan untuk pergi membeli kuda tunggangan. Kedua orang gadis yang ditinggal berdua saja

itu bercakap dengan gembira.

“Kedua suhengku itu biarpun agak kasar, akan tetapi mereka mempunyai hati yang baik dan

jujur,” kata Kui Hwa.

“Enci Hwa, melihat suhengmu Pui Kiat itu amat menaruh perhatian padamu. Apakah kau

tidak merasakan hal itu?”

Merahlah muka Kui Hwa. Ia mengangguk dan menjawab, “Dugaanmu memang benar, Tin

Eng. Semenjak dahulu dia memang ….. ada hati terhadapku.”

Setelah berkata demikian, Dewi tangan maut ini menundukkan kepalanya dan mukanya

membayangkan kedukaan besar. Tin Eng yang cerdik dapat menduga bahwa kawannya ini

 216

tentu teringat lagi akan malapetaka yang menimpa dirinya berhubungan dengan pertemuannya

dengan Gan Bu Gi.

Pada saat itu terdengar suara orang di depan restoran dan mereka mengenal suara pelayan

pendek gemuk yang bicara dengan suara gemetar ketakutan.

“Ampun, tai-ciangkun. Bukan sekali-kali maksud hamba membangkang terhadap perintah

akan tetapi kami tidak berdaya. Empat orang tamu telah memaksa kepada hamba melayani

mereka dan menghidangkan masakan yang telah dipesan oleh Tai-ciangkun, maka terserahlah

kepada kebijaksanaan tai-ciangkun!”

“Kurang ajar!” terdengar suara orang memaki. Suara ini tinggi dan kecil hingga amat ganjil

bagi suara seorang laki-laki.

Kemudian terdengar tindakan kaki banyak orang memasuki restoran itu.

Tin Eng dan Kui Hwa saling pandang dan bersiap sedia karena mereka maklum bahwa yang

datang ini tentulah perwira kerajaan yang menurut kata pelayan tadi, itulah pemborong semua

masakan restoran itu. Mereka melihat munculnya lima orang.

Yang terdepan adalah seorang laki-laki berusia hampir empat puluh tahun yang berpakaian

seperti guru silat dengan sarung golok tergantung pada pinggang kirinya. Tubuh orang ini

tegap dan jenggotnya hanya sedikit, meruncing ke bawah bagaikan jenggot kambing bandot.

Di belakangnya nampak empat orang berpakaian seragam dan melihat hiasan bulu di atas topi

mereka, tahulah kedua orang gadis itu bahwa mereka adalah perwira-perwira kerajaan. Ketika

melihat seorang yang masuk paling belakang, Tin Eng terkejut sekali karena mengenal orang

itu sebagai Thio Sin, kepala pengawal atau perwira yang bekerja pada ayahnya. Thio Sin

membisikkan sesuatu kepada laki-laki setengah tua yang memimpin tadi. Laki-laki itu

berubah mukanya dan kalau tadi ia nampak marah sekali, kini ia berubah menjadi girang,

bahkan lalu tertawa bergelak.

“Ah, ini namanya jodoh! Dicari dengan sengaja ke mana juga tidak bertemu. Tidak tahunya

tanpa disengaja berjumpa di sini. Ha ha!”

Tin Eng berdiri dengan hati tidak enak. Ia tidak tahu siapakah orang ini. Akan tetapi dengan

hadirnya Thio Sin di situ, ia merasa bahwa tentu akan terjadi sesuatu yang tidak

“Liok-siocia,” kata Thio Sin. “Ketahuilah bahwa orang gagah ini adalah Ang Sun Tek,

pembantu istimewa dari kerajaan. Biarpun ia tidak mengenakan pakaian seragam, namun

Ang-ciangkun menduduki pangkat amat tinggi di kalangan perwira kerajaan.”

“Aku tidak perduli dan tidak ingin mengetahui hal itu!” jawab Tin Eng dengan kasar.

Orang yang bernama Ang Sun Tek itu tertawa bergelak. Dia inilah ketua dari Liok-te-Pat-mo

(Delapan Iblis Bumi) yang kini menjadi pembantu-pembantu istimewa dari pasukan pengawal

kerajaan. Ang Sun Tek inilah murid Lok Kong Hosiang yang telah mewarisi ilmu silat Patkwa

To-hoat, ahli golok yang amat lihai dan yang menjagoi di seluruh daerah utara. Dialah

yang kini sedang dicari-cari oleh Gwat Kong dan Cui Giok.

 217

“Nona Liok, sudah lama mendengar namamu yang hebat. Bukankah kau yang dijuluki Siankiam

Lihiap dan yang menerima tugas dari kedua anak Pangeran Pang Thian Ong untuk

mencari harta terpendam? Ha ha! Kebetulan sekali, kami serombongan ini sengaja keluar dari

kota raja untuk mencari permata yang telah terjatuh ke dalam tangan kedua putera she Pang

itu. Selain itu, akupun mendapat pesan dari ayahmu untuk mencarimu dan membawamu

kembali ke Kiang-sui!”

“Aku tidak kenal kepadamu dan tidak perduli apa yang sedang kau lakukan, tidak perduli

tentang segala urusanmu dengan ayahku!”

“Ha ha ha! Ganas, ganas! Aku hanya menerima pesan ayahmu dan mau atau tidak, kau harus

ikut kami pergi ke Kiang-sui untuk menghadap ayahmu!”

Tin Eng menjadi marah dan mencabut pedangnya. “Mau memaksa! Boleh, majulah

berkenalan dengan pedangku!”

“Ha ha ha! Sian-kiam Lihiap, si pedang dewa telah mencabut pedangnya Sungguh lihai!”

Sambil berkata demikian, Ang Sun Tek menggerakkan kaki tangannya ke kanan kiri dan

hebat sekali. Meja kursi yang berada di kanan kirinya, sungguhpun tidak tersentuh oleh kaki

tangannya, akan tetapi terdorong jatuh bagaikan disapu angin besar.

Tin Eng terkejut melihat kehebatan tenaga lweekang ini dan Kui Hwa yang melihat ini pun

kaget sekali. Ia maklum bahwa kepandaian Tin Eng takkan dapat menandingi laki-laki ini,

maka iapun segera mencabut pedangnya dan melompat di dekat Tin Eng.

“Eh, ada pendekar pedang wanita yang lain lagi. Siapakah kau, nona?” Ang Sun Tek tertawa

“Tak perlu aku memperkenalkan namaku kepada segala orang macam kau. Cukup kalau kau

kenal namaku sebagai Dewi Tangan Maut!”

Mendengar nama ini, kembali Ang Sun Tek tertawa menghina. “Ah, tidak tahunya ada anak

murid Hoa-san-pai di sini. Kau agaknya lebih bijaksana dari pada Sin Seng Cu. Buktinya kau

mau menjadi sahabat nona Liok yang menjadi anak murid Go-bi-pai.”

“Kau adalah seorang yang berkepandaian tinggi, akan tetapi sungguh tidak kusangka bahwa

kepandaianmu itu hanya kau gunakan untuk menghina wanita. Adik Tin Eng tidak mau

pulang, mengapa kau hendak memaksanya?”

“Ha ha! Dewi Tangan Maut. Apa kaukira bahwa dengan adanya kau di sini, aku takkan dapat

membawa nona Liok pulang ke Kiang-sui.

“Manusia sombong, pergilah!” Tin Eng yang tak dapat menahan sabar lagi melompat maju

dan mengirim serangan kilat dengan pedangnya.

Ang Sun Tek tertawa-tawa dan menggunakan kakinya menendang meja kursi melayang ke

arah Tin Eng sehingga gadis itu terpaksa menangkis dengan pedangnya. Sekali bacok kursi itu

terbelah dua dan jatuh di atas lantai. Dengan perbuatannya itu, Ang Sun Tek membuat

ruangan itu menjadi lega.

 218

“Nah, majulah dan coba perlihatkan ilmu pedangmu!” ia menantang Tin Eng yang segera mau

menyerbu. Tadinya Ang Sun Tek mengira bahwa ilmu pedang Tin Eng tentulah ilmu pedang

cabang Go-bi-pai. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat pedang itu berkelebat

cepat laksana halilintar menyambar-nyambar.

Terpaksa ia harus menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak ke sana ke mari sambil

mempergunakan kedua tangannya mainkan ilmu silat semacam eng-jiauw-kang untuk

merampas pedang di tangan Tin Eng. Kalau saja Tin Eng mempergunakan ilmu pedang Gobi-

pai, dalam beberapa jurus saja pedangnya tentu telah kena dirampas oleh Ang Sun Tek.

Akan tetapi ilmu pedang yang dimainkan oleh Tin Eng adalah ilmu pedang Sin-eng Kiamhoat

yang luar biasa lihainya, maka jangankan untuk dapat merampas, bahkan kalau

dilanjutkan menghadapi gadis itu dengan tangan kosong, belum tentu Ang Sun Tek akan

dapat mengalahkannya.

Barulah Ang Sun Tek merasa terkejut dan tidak berani memandang rendah. Ia berseru keras

dan mencabut keluar goloknya dan ketika goloknya itu digerakkan, maka menyambarlah

angin dingin yang membuat Tin Eng tercengang. Bukan main hebatnya ilmu golok ini dan

luar biasa pula tenaga sambarannya. Ia tidak tahu bahwa ilmu golok ini adalah Pat-kwa Tohoat

yang merupakan ilmu silat yang paling tinggi untuk daerah utara.

Melihat betapa dalam segebrakan saja golok Ang Sun Tek telah menindih dan mendesak

pedang Tin Eng, Kui Hwa lalu melompat maju dan membantu Tin Eng. Sementara itu, empat

orang perwira kerajaan yang mengikuti Ang Sun Tek hanya berdiri di pinggir menjadi

penonton saja oleh karena mereka tidak berani membantu tanpa diperintah dari Ang Sun Tek.

Biarpun dikeroyok oleh dua orang gadis pendekar itu, namun ilmu golok Ang Sun Tek benar

lihai sekali. Tiap kali goloknya membentur pedang lawan, Tin Eng atau Kui Hwa merasa

tangan mereka tergetar dan pedang mereka hampir terlepas dari genggaman. Hoa-san Kiamhoat

yang dimainkan oleh Kui Hwa adalah ilmu pedang yang lihai, sedangkan Sin-eng Kiamhoat

lebih luar biasa lagi. Akan tetapi kalau kedua ilmu pedang itu digunakan berbareng oleh

dua orang untuk mengeroyok, kedua ilmu pedang ini tidak mendatangkan kehebatan yang

berganda. Biarpun keduanya merupakan ilmu pedang yang lihai, akan tetapi memiliki

keistimewaan masing-masing dan gerakannya yang berbeda.

Hal ini menguntungkan Ang Sun Tek karena kalau saja yang mengeroyoknya itu keduanya

memiliki ilmu pedang Hoa-san Kiam-hoat tentu akan lebih berat baginya. Atau kalau saja

yang mengeroyoknya adalah dua orang Tin Eng, agaknya akan sukar baginya untuk

menjatuhkan lawan-lawannya.

Dengan gerakan-gerakan ilmu golok Pat-kwa To-hoat, yang mempunyai dasar delapan segi

itu, maka ia dapat menghadapi dua orang lawannya dengan baik, bahkan ia selalu berada di

pihak yang mendesak. Baik Tin Eng maupun Kui Hwa telah mulai lambat dan kacau gerakan

pedang mereka, oleh karena mereka telah dibikin bingung oleh perobahan-perobahan sinar

golok yang menyilaukan mata. Ketika Ang Sun Tek sambil tertawa-tawa memperhebat

gerakannya, maka sibuklah mereka menangkis dan mengelak.

“Lepas senjata!” Ang Sun Tek berseru keras dan terdengar bunyi “trang!!” keras sekali. Tahutahu

pedang di tangan Kui Hwa telah terlempar dan mencelat ke atas sampai menancap pada

langit-langit rumah makan itu.

 219

“Ha ha ha! Dewi Tangan Maut, aku merasa malu untuk melukai seorang yang tak pantas

menjadi lawanku. Kalau kau masih penasaran, suruhlah Sin Seng Cu atau yang lain

mencariku di kota raja!” kata Ang Sun Tek sambil mengelak dari sambaran pedang Tin Eng.

Kemudian secepat kilat tangan kirinya menotok Tin Eng. Gadis itu menjerit, pedangnya

terlepas dari pegangan dan tubuhnya menjadi lemas tidak berdaya lagi.

“Thio-ciangkun, rawatlah baik-baik nona majikanmu itu!” kata Ang Sun Tek kepada Thio Sin

yang segera maju dan menolong Tin Eng yang sudah tak berdaya itu. Sementara itu dengan

hati gemas, marah, sedih dan malu, Kui Hwa melompat pergi meninggalkan tempat itu.

Tak jauh dari situ, ia melihat Pui Kiat dan Pui Hok datang menunggang kuda. Kui Hwa lalu

memberi tanda-tanda kepada mereka sehingga kedua orang muda itu memutar kembali kuda

mereka dan mengikuti sumoi mereka itu keluar dari kota. Melihat wajah Kui Hwa yang

nampak pucat dan bersungguh-sungguh dan tidak bersama dengan Tin Eng, mereka merasa

“Sumoi, apakah yang telah terjadi?” tanya Pui Kiat setelah mereka tiba di luar kota.

“Dan dimanakah nona Liok?” tanya Pui Hok. “Mengapa ia tidak bersamamu?”

Dengan singkat Kui Hwa lalu menuturkan tentang pengalamannya bertemu dengan Ang Sun

Tek yang kosen dan yang telah berhasil menawan Tin Eng untuk dipulangkan ke Kiang-sui.

“Celaka!” kata Pui Kiat. “Dia adalah kepala dari Liok-te Pat-mo yang amat terkenal Pat-kwatin

mereka. Dia telah memandang rendah Hoa-san-pai kita. Benar-benar kurang ajar!”

“Mari kita tolong nona Liok!” kata Pui Hok.

“Tidak ada gunanya,” kata Kui Hwa. “Orang she Ang itu terlalu tangguh bagi kita. Aku

sendiri bersama Tin Eng sama sekali tidak berdaya menghadapinya. Ilmu goloknya amat luar

biasa. Selain itu, ia masih mempunyai kawan yang berkepandaian tinggi, semua perwira dari

kerajaaan yang tak boleh dipandang ringan. Kalau kita bertiga pergi menolong, kita sendiri

yang akan mendapat bencana.”

“Aku tidak takut!” seru Pui Hok bersemangat. “Apakah kita harus membiarkan saja nona

Liok tertawan?”

“Bukan begitu, ji-suheng,” kata Kui Hwa. “Aku sendiri tentu akan membela mati-matian

apabila mengetahui bahwa Tin Eng berada dalam bahaya. Akan tetapi ia tertawan oleh

kawan-kawan ayahnya sendiri dan maksud mereka hanya akan membawa Tin Eng secara

paksa kembali ke rumah orang tuanya. Memang Tin Eng pergi dari rumah orang tuanya tanpa

izin ayahnya.”

Kemudian karena terpaksa, secara singkat Kui Hwa menuturkan riwayat Tin Eng yang

dipaksa kawin sehingga lari dari rumahnya dan betapa mereka berdua bertemu dengan Phang

Gun dan Phang Si Lan yang mempercayakan pengambilan harta terpendam kepada Tin Eng

dan dia sendiri.

 220

“Oleh karena itu, keselamatan Tin Eng kurasa takkan terganggu. Mereka takkan berani

mengganggu puteri dari Kepala daerah Liok di Kiang-sui. Yang kukhawatirkan hanya kalaukalau

mereka akan dapat memaksa Tin Eng membongkar rahasia peta tempat harta pusaka itu

tersimpan. Dan terutama sekali, tantangan Ang Sun Tek amat menggemaskan hati, maka

sekarang baiknya diatur begini saja. Ang Sun Tek dan para kawannya belum kenal kepada

suheng berdua, maka suheng berdua baiknya mengikuti perjalanan mereka, sambil menjaga

kalau-kalau Tin Eng mengalami bencana. Pendeknya, suheng berdua mengawal Tin Eng

secara sembunyi. Aku sendiri hendak melaporkan hal ini kepada suhu dan susiok agar supaya

penghinaan Ang Sun Tek terhadap Hoa-san-pai dapat terbalas. Kemudian aku akan mewakili

Tin Eng mengambil harta pusaka itu sebelum didahului oleh Ang Sun Tek atau pesuruh dari

Pangeran Ong Kiat Bo yang lain.”

Pui Kiat dan Pui Hok menyatakan persetujuan dan kesanggupan mereka, terutama sekali Pui

Hok yang tanpa tedeng aling-aling lagi menyatakan perasaan tertarik dan sukanya kepada Tin

Eng dan pemuda ini amat mengkhawatirkan keadaan nona cantik itu. Dengan diam-diam

mereka mengikuti rombongan yang dipimpin oleh Ang Sun Tek itu, yang tidak melanjutkan

perjalanan mereka ke Hong-san, akan tetapi kembali ke utara dan kini menuju Kiang-sui.

Sebetulnya, ketika mereka memasuki kota itu dan bertemu dengan pasukan berkuda di bawah

pimpinan Ang Sun Tek, secara iseng Pui Kiat dan Pui Hok mencari keterangan tentang hal

mereka dan mendapat penuturan pengurus hotel bahwa rombongan berkuda itu adalah

perwira-perwira kerajaan yang akan pergi ke Hong-san. Tadinya mereka tidak mengambil

perhatian dan mereka tertarik ketika mereka bertemu dengan Kui Hwa dan mendapat

keterangan bahwa Kui Hwa dan Tin Eng juga sedang menuju ke Hong-san. Kini setelah

mendengar penuturan Kui Hwa, barulah kedua saudara Pui ini mengerti apakah maksud

semua orang pegi ke Hong-san, yakni mencari harta pusaka yang tersembunyi di daerah

pegunungan itu.

Sebagaimana yang telah diduga oleh Kui Hwa, Tin Eng tidak mendapat gangguan di tengah

perjalanan, sungguhpun ia tidak berdaya sama sekali, naik kuda di tengah-tengah rombongan,

Ang Sun Tek yang kosen itu senantiasa mendampinginya untuk menjaga kalau-kalau nona

pendekar itu melarikan diri.

****

Kita tinggalkan dulu pasukan berkuda yang membawa Tin Eng menuju Kiang-sui dan yang

selalu diikuti jejaknya oleh Pui Kiat dan Pui Hok itu dan marilah kita menengok keadaan Bun

Gwat Kong dan Sie Cui Giok yang melakukan perjalanan bersama.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan bahwa nona Sie Cui Giok yang gagah perkasa

itu sedang melakukan perjalanan untuk mencari Liok-te Pat-mo dan membalas dendam

kakeknya yang pernah dikalahkan oleh delapan iblis bumi yang lihai itu dan Bun Gwat Kong

yang merasa tertarik mendengar hal ini lalu ikut pergi bersama Cui Giok untuk bersama-sama

mencoba kelihaian Pat-kwa-tin dari Liok-te Pat-mo itu.

Karena perjalanan mereka ke kota raja itu, melalui Hun-lam, maka setelah lewat di kota itu,

Gwat Kong menyatakan kepada kawan seperjalanannya untuk mampir sebentar.

“Apakah kau ada keperluan di kota ini?” tanya Cui Giok yang ingin buru-buru sampai di kota

 221

Gwat Kong belum pernah menceritakan kepada nona ini perihal Tin Eng dan ia mengira

bahwa Tin Eng masih tinggal di rumah Lie-wangwe, yakni paman dari Tin Eng yang tinggal

di kota Hun-lam. Mendengar pertanyaan Cui Giok ini ia menjadi bingung karena sukar untuk

menyebut nama Tin Eng tanpa menceritakan semua riwayatnya dengan gadis itu. Akan tetapi

akhirnya ia menjawab juga, “Aku mempunyai seorang kawan baik di kota ini.”

“Siapa dia? Siapa namanya?”

Gwat Kong berwatak jujur dan sukar sekali baginya untuk membohong atau

menyembunyikan sesuatu, maka ia menjawab perlahan, “Namanya Tin Eng, ia she Liok.”

“Liok Tin Eng? Hm, indah sekali nama ini untuk seorang wanita!”

Muka Gwat Kong menjadi merah, “Memang dia seorang wanita.”

“Hmm, namanya sudah indah, tentu orangnya muda lagi cantik.”

“Eh, Cui Giok. Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?”

“Apakah kau menganggap aku sebodohnya orang? Kau katakan bahwa dia adalah kawan

baikmu. Kalau dia bukan seorang dara jelita, habis apakah kau berkawan baik dengan seorang

nenek-nenek tua yang ompong?”

Mau tak mau Bun Gwat Kong tertawa juga mendengar ucapan jenaka ini. Akan tetapi aneh

sekali, ketika ia memandang muka gadis itu, Cui Giok tidak tertawa geli sebagaimana

dugaannya, bahkan gadis itu nampak tak senang dan cemberut.

“Gwat Kong, apakah aku ….. harus ikut pula mengunjunginya?”

“Tentu saja!” jawab Gwat Kong sambil memandang heran. “Mengapa tidak ikut?”

Cui Giok menundukkan mukanya. “Ah, …. aku khawatir kalau-kalau ….. hanya akan

mengganggunya.”

“Kau benar-benar aneh. Bagaimana seorang sahabat dapat mengganggu pertemuan antara

kedua orang kawan?”

“Jadi kau anggap aku seorang sahabatmu?”

“Tentu saja, habis, bukankah kita memang sahabat karib?”

Diam sejenak.

“Gwat Kong, apakah dia akan suka melihat dan menerima aku kalau aku ikut ke sana?”

“Siapakah yang kau maksudkan? Tin Eng? Tentu saja! Tin Eng adalah seorang gadis

pendekar yang berkepandaian tinggi dan berhati gagah. Dia mempunyai ilmu pedang Sin-eng

Kiam-hoat.”

 222

Mendengar ini, Cui Giok memandang cepat. “Oh, jadi dia masih sumoimu sendiri?”

Memang pertanyaan Cui Giok ini sudah sewajarnya oleh karena ia tahu bahwa Gwat Kong

adalah ahli waris Sin-eng Kiam-hoat, maka kalau gadis yang bernama Tin Eng itu pandai ilmu

pedang Sin-eng Kiam-hoat pula, siapa lagi kalau bukan sumoi (adik perempuan seperguruan)

dari Gwat Kong?

“Bukan, bukan sumoiku. Dia itu adalah anak dari bekas majikanku. Tentang kepandaiannya

dalam ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat itu sesungguhnya ada perbedaannya dengan

kepandaianku.”

Gwat Kong lalu menuturkan tentang kitab pelajaran ilmu pedang yang diketemukannya ketika

ia menggali kebun di belakang rumah gedung Liok-taijin dan bahwa Tin Eng hanya

mempelajari ilmu pedang itu dari kitab salinannya yang disalin secara buruk sekali oleh Bueng-

sian Leng Po In.

Sambil bercakap-cakap mereka memasuki kota Hun-lam dan tak terasa pula tahu-tahu mereka

telah berada di depan gedung Lie-wangwe. Hati Gwat Kong berdebar ketika ia melihat

gedung itu. Kegembiraan memenuhi hatinya kalau ia ingat bahwa sebentar lagi akan bertemu

dan berhadapan muka dengan Tin Eng.

Akan tetapi gedung itu nampaknya sunyi saja dan ketika Gwat Kong yang diikuti oleh Cui

Giok telah masuk di ruang depan, seorang pelayan menyambutnya. Pelayan itu masih

mengenali Gwat Kong maka dengan muka girang ia lalu mempersilahkan pemuda itu duduk

untuk menunggu sedangkan ia lalu melaporkan kedatangan tamu ini kepada Lie-wangwe.

Tak lama kemudian pelayan itu keluar lagi dan mempersilahkan kedua orang tamunya masuk

ke ruang tamu di mana Lie-wangwe sendiri menyambut mereka. Gwat Kong terkejut melihat

orang tua itu nampak pucat dan seperti keadaan sakit. Ia buru-buru memberi hormat yang

diturut pula oleh Cui Giok.

“Bun-hiante, kau baru datang?” tanya hartawan itu dengan suara lemah.

“Lie-siokhu, apakah kau selama ini sehat-sehat saja?”

Hartawan itu menghela napas dan memberi isyarat dengan tangannya untuk mempersilahkan

kedua orang tamunya mengambil tempat duduk.

“Semenjak Tin Eng pergi, kesehatanku selalu terganggu. Aku merasa sunyi dan tak ada

kegembiraan sama sekali.”

“Tin Eng pergi? Kemanakah dia siokhu? Apakah dia pulang ke Kiang-sui?” tanya Gwat Kong

dengan hati kecewa.

“Tidak, mana dia mau pulang ke Kiang-sui? Dia pergi bersama seorang sahabatnya, seorang

nona gagah perkasa yang bernama Tan Kui Hwa yang berjuluk Dewi Tangan Maut.”

“Ah, dia??” kata Gwat Kong, teringat bahwa Dewi Tangan Maut adalah anak musuh besar

ayahnya. “Kemanakah mereka pergi, susiokhu?”

 223

“Siapa tahu ke mana anak-anak muda pergi. Mereka hanya menyatakan hendak merantau. Ah

… memang aneh sekali anak-anak muda sekarang. Lebih suka merantau bersusah payah dan

mencari lelah, padahal di rumah lebih senang dan segala apa tersedia.”

Gwat Kong tidak lama berada di situ, karena ia maklum bahwa orang tua yang sedang tidak

sehat itu tidak boleh diganggu terlalu lama. Ketika ia berpamit, Lie-wangwe hanya memesan

bahwa apabila pemuda itu bertemu dengan Tin Eng, minta supaya gadis itu kembali ke Hunlam.

Cui Giok dapat melihat kekecewaan yang membayang keluar dari pandang mata Gwat Kong,

maka ia tidak mau mengganggunya. Hanya berkata sambil berjalan di sebelah pemuda yang

menjadi pendiam itu,

“Aku pernah mendengar nama Dewi Tangan Maut yang terkenal. Bukankah dia itu anak

murid Hoa-san-pai?”

Gwat Kong hanya mengangguk. Kekecewaan membuat ia malas bicara. Cui Giok dapat

merasakan pula sikap Gwat Kong ini. Maka gadis yang berhati polos ini bertanya,

“Gwat Kong, agaknya kau dan Tin Eng saling menyintai.”

Gwat Kong terkejut mendengar ini dan mukanya menjadi merah sekali.

“Cui Giok, bagaimana kau bisa berkata demikian? Tin Eng adalah anak tunggal dari Kepala

daerah di Kiang-sui, seorang bangsawan tinggi yang berpengaruh dan kaya raya. Sedangkan

aku ini orang macam apakah? Aku dahulu hanyalah menjadi seorang pelayan tukang kebon

dari keluarga Liok. Mana ada aturan seperti yang kau duga itu?”

“Jadi kalau begitu, kau dan Tin Eng hanyalah sahabat belaka?”

“Disebut sahabat pun sudah janggal terdengarnya. Aku pernah menjadi pelayannya. Mana ada

pelayan menjadi sahabat puteri majikannya?”

Kini Cui Giok memandang dengan mata berseri.

“Gwat Kong ……” katanya akan tetapi kata-katanya terhenti.

“Kau hendak bilang apakah, Cui Giok?” Gwat Kong bertanya sambil memandang.

“Ada orang yang semenjak bertemu dengan kau ….” ia berhenti lagi.

“Ya ….?” Gwat Kong mendesak.

“Yang tidak memandang rendah kepadamu bahkan yang menganggap kau cukup berharga

untuk menjadi sahabat seorang puteri kaisar sekalipun!”

“Ah, orang itu tentu terdorong hatinya oleh rasa kasihan terhadap anak yatim piatu sebatang

kara yang miskin ini,” cela Gwat Kong.

 224

“Tidak! Orang itu menyatakan dengan sejujur hatinya bahwa kau adalah orang yang jujur dan

mulia. Sifat kebajikan ini tak dapat diukur dengan hanya melihat keadaan lahirnya. Sejarah

menyatakan bahwa tak sedikit jumlahnya orang-orang yatim piatu yang paling miskin

memiliki jiwa kesatria dan hati mulia yang jauh lebih berharga dari pada segala pangkat dan

harta benda orang-orang berhati rendah!”

Maka merahlah muka Gwat Kong. “Aaah, orang itu terlalu melebih-lebihkan!” Diam-diam ia

menjadi bingung dan dadanya berdebar, karena ia maklum bahwa yang dimaksudkan oleh Cui

Giok ‘orang’ itu adalah Cui Giok sendiri.

Nona itu tertawa dan memandang kepada Gwat Kong dengan mata berseri dan gembira.

“Sayangnya kau pemalu dan berpura-pura ……. alim!”

“Haaa …..?” Gwat Kong memandang dengan mata terbelalak. Akan tetapi Cui Giok hanya

tertawa geli lalu berlari cepat sehingga Gwat Kong harus mengerahkan tenaga untuk

Beberapa hari kemudian mereka tiba di pinggiran sungai Yung-ting di propinsi Hope.

“Gwat Kong, aku sudah bosan melakukan perjalanan melalui darat. Marilah kita melanjutkan

melalui sungai Yung-ting ini. Aku mendengar kabar bahwa pemandangan di kanan kiri sungai

ini amat indahnya, pula dengan membonceng kepada aliran air, kita menghemat tenaga kaki.”

“Kau pemalas!” Gwat Kong menggoda.

Akan tetapi ia tidak membantah dan keduanya lalu menyewa sebuah perahu kepunyaan

seorang nelayan tua yang berjenggot panjang. Perahu itu kecil saja akan tetapi masih baik dan

kuat. Di sini terdapat sebuah payon dari bilik yang kecil akan tetapi cukup untuk digunakan

sebagai pelindung serangan hujan atau angin. Tiang layarnya dari kayu kasar dan kuat,

dipasang di tengah-tengah perahu.

“Ji-wi jangan kuatir, perahuku ini cukup dan baik, tidak bocor sedikitpun juga seperti mulut

seorang budiman.”

Gwat Kong tersenyum dan sambil memandang air sungai Yung-ting yang sedang pasang, ia

bertanya,

“Apakah tidak berbahaya, lopek? Aku harus akui bahwa aku tak pandai berenang,

sungguhpun kawanku ini seorang ahli berenang yang pandai.” Sambil berkata demikian, ia

mengerling kepada Cui Giok yang tertawa geli karena kata-kata ini mengingatkan ia akan

peristiwa ketika ia berjumpa untuk pertama kalinya dengan Gwat Kong.

“Sama sekali tidak berbahaya. Bahkan kalau air sedang pasang seperti ini, lebih mudah untuk

berlayar. Tidak takut akan bahayanya batu karang yang menghalang di bawah permukaan

air.”

“Apakah tidak ada bajak sungai?” tanya Cui Giok.

 225

Kakek nelayan itu mengerutkan alisnya. “Tak berani aku mengatakan tidak ada. Biasanya sih

aman saja. Hanya kadang-kadang di dekat Kiang-sui suka timbul gangguan bajak sungai.

Akan tetapi setelah Kepala daerah Kiang-sui mengadakan pembersihan, kabarnya banyak

bajak sungai tak berani mengganggu lagi.”

Gwat Kong melompat ke atas ketika mendengar ini. “Apa sungai ini mengalir sampai ke

Kiang-sui?”

“Tidak memasuki kotanya, kongcu. Hanya mengalir di sebelah selatan kota itu. Kira-kira lima

li jauhnya dari batas kota.”

“Bagus!” kata Gwat Kong dengan girang. “Kalau begitu kita dapat berhenti sebentar karena

aku akan mengunjungi Kiang-sui.”

Cui Giok cemberut. “Hmm, kau tentu mencari Tin Eng di rumah ayahnya.”

Gwat Kong tersenyum. “Tidak, Cui Giok, Tin Eng tidak akan ada di rumahnya, karena aku

tahu betul gadis itu takkan mau pulang ke rumah orang tuanya. Aku hanya ingin melihat kota

di mana aku telah tinggal bertahun-tahun di situ, karena bukankah kita kebetulan melalui kota

itu?”

Pada saat kedua orang muda itu hendak naik ke dalam perahu itu, tiba-tiba terdengar derap

kaki kuda dan muncullah lima orang penunggang kuda. Dua di antara mereka adalah Lui Siok

si Ular Belang dan Song Bu Cu, dua orang pemimpin perkumpulan Hek-i-pang. Tiga yang

lain adalah tiga orang anak buah mereka di kota Tong-kwan, pusat perkumpulan itu.

Song Bu Cu dan Lui Siok belum pernah bertemu Gwat Kong, maka mereka hanya melirik

saja dan hendak melarikan kuda mereka melewati tempat itu. Akan tetapi seorang di antara

anak buah mereka pernah melihat Gwat Kong ketika pemuda ini menangkap Touw Cit dan

Touw Tek, pemeras kota Hun-lam dan anak buah Hek-i-pang, maka ia menahan kendali

kudanya dan berseru,

“Kang-lam Ciu-hiap!”

Mendengar disebutnya nama ini, Song Bu Cu dan Lui Siok terkejut dan segera menahan kuda

“Mana jahanam itu?” tanya Lui Siok kepada anak buahnya yang berseru tadi. Orang itu lalu

menudingkan jarinya ke arah Gwat Kong dan berkata,

“Itulah dia orangnya, Kang-lam Ciu-hiap yang telah mengacau di Hun-lam!”

Song Bu Cu dan Lui Siok memandang dan ketika melihat bahwa yang bernama Kang-lam

Ciu-hiap seorang pemuda yang nampaknya lemah dan kawan pemuda itupun hanya seorang

dara muda yang cantik. Maka mereka lalu melompat turun dari kuda dan menghampiri perahu

itu dengan lagak sombong.

“Cui Giok,” kata Gwat Kong melihat sikap kedua orang itu. “Kita bertemu dengan orangorang

jahat. Mereka tentu akan mencari perkara.”

 226

“Bagus!” kata Cui Giok tersenyum girang. “Mereka akan menyesal hari ini selama hidupnya.”

Bab 25 …

SEMENTARA itu, nelayan tua ketika mendengar ucapan-ucapan ini dan melihat sikap Song

Bu Cu dan Lui Siok yang galak mengancam menjadi ketakutan. Ia berjongkok di dalam

perahunya dengan tubuh menggigil dan mulutnya tiada hentinya menyebut nama Budha

sambil memohon,

“Omi-tohud! Lindungilah hamba ……..”

Dengan sikap tenang sekali Gwat Kong dan Cui Giok lalu keluar dari perahu dan berjalan

maju menyambut kedatangan kedua orang itu. Setelah mereka berhadapan, Lui Siok

menudingkan telunjuknya ke arah muka Gwat Kong dan membentak,

“Bangsat kecil, apakah kau yang bernama Gwat Kong dan yang menyombongkan diri sebagai

Kang-lam Ciu-hiap?”

“Bangsat besar!” Gwat Kong balas memaki. “Memang cocok sekali watakmu sebagai bangsat

besar, datang-datang memaki orang, seperti orang yang miring otaknya.”

“Kang-lam Ciu-hiap! Dengarlah baik-baik. Aku adalah Lui Siok, wakil ketua dari Hek-i-pang

di Tong-kwan, sedangkan twako ini adalah Song Bu Cu, ketua dari Hek-i-pang. Kau telah

berlaku kurang ajar dan telah menghina Touw Cit dan Touw Tek di Hun-lam. Mereka itu

adalah anggauta-anggauta perkumpulan kami.”

“Pantas, pantas!” Gwat Kong mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pantas saja nama Hek-ipang

dibenci semua orang. Tidak tahunya yang menjadi ketua dan wakil ketuanya orangorang

macam ini.”

“Akupun pernah mendengar tentang kebusukan nama Hek-i-pang,” tiba-tiba Cui Giok ikut

bicara. “Karenanya sudah lama aku ingin menegurnya. Sekarang pemimpin-pemimpinnya

datang menyerahkan diri. Sungguh bagus, tidak usah aku mencapekkan diri mencari.”

Bukan main marahnya Song Bu Cu dan Lui Siok mendengar ucapan kedua orang muda ini.

“Perempuan busuk!” Song Bu Cu membentak. “Siapakah kau yang lancang mulut ini?”

Cui Giok tertawa. “Mau tahu aku siapa? Aku adalah malaikat penjaga sungai Yung-ting ini

dan aku telah mendapat pesan dari Hay-liong-ong (Raja naga laut yang menguasai air) agar

supaya aku menangkapmu dan melemparkan kau ke air agar dosa-dosamu dicuci bersih

dengan air sungai ini.”

“Anjing betina!” Song Bu Cu memaki dengan marah yang meluap-luap. Belum pernah ada

orang yang berani menghina sedemikian rupa. Apalagi seorang dara muda seperti Cui Giok.

Maka ia lalu bergerak maju hendak menyerang, akan tetapi ia didahului oleh Lui Siok yang

berkata,

“Twako, biarlah aku yang menangkap domba betina yang pandai berlagak ini. Harap twako

membereskan saja Kang-lam Ciu-hiap!”

 227

Memang Lui Siok berwatak licik. Ia telah mendengar dari Gan Bu Gi tentang kelihaian Kanglam

Ciu-hiap, maka biarpun dulu di depan Gan Bu Gi ia bicara sombong, akan tetapi karena

kini Gwat Kong berkawan seorang gadis muda, ia hendak mengambil rsiko sekecil-kecilnya

dengan melawan gadis itu. Melawan Kang-lam Ciu-hiap ada bahayanya menderita kalah.

Akan tetapi menghadapi gadis muda ini tak mungkin akan kalah, demikian pikirnya.

Ia bermaksud membikin malu dara muda yang cantik itu, maka begitu ia menubruk maju, ia

mengeluarkan ilmu silatnya yang lihai, yakni ilmu tangkap yang disebut Siauw-kin-na-jiuhoat,

sebagaimana pernah ia pergunakan ketika ia melawan Tin Eng. Siauw-kin-na-jiu-hoat

ini dilakukan mengandalkan kekuatan jari tangan dan kecepatan gerakan. Setiap tangkapan

atau cengkeraman ditujukan kepada jalan darah sehingga sekali saja tangan atau bagian tubuh

lain dari lawan kena tertangkap, maka amat sukarlah bagi lawan itu untuk dapat melepaskan

Sambil berseru keras, Lui Siok menyerang ke arah kedua pundak Cui Giok dan ia merasa

bahwa serbuannya ini pasti akan berhasil karena selain ia lakukan dengan amat cepatnya, juga

ia melihat betapa gadis itu masih berdiri dengan bertolak pinggang, sama sekali tidak

memasang kuda-kuda.

Sementara itu, Song Bu Cu juga maju menyerbu Gwat Kong. Ketua dari Hek-i-pang terlalu

percaya kepada kepandaian sendiri dan ia memandang rendah kepada Gwat Kong yang masih

amat muda, maka ia menyerang menggunakan kedua tangannya saja. Melihat betapa pemuda

itu dengan sikap sembarangan berdiri dengan kaki kiri di depan dan dua tangan disilangkan di

dada, ia lalu memajukan kaki kanan dan memukul dengan gerak tipu Pek-wan-hian-tho

(Kerah putih persembahkan buah Tho) dengan maksud untuk menipu. Dan apabila lawannya

mengelak sambil mengundurkan kaki kiri, ia akan menyusul dengan kaki kirinya mengirim

tendangan dibarengi dengan pukulan tangan kanan.

Serangan yang dilakukan oleh Lui Siok dan Song Bu Cu datangnya pada saat yang sama, dan

keduanya telah merasa yakin bahwa serangan pertama itu tentu akan merobohkan lawan.

Akan tetapi, tiga orang anak buah Hek-i-pang dan nelayan tua yang menonton pertempuran

itu, tiba-tiba membelalakkan mata dan memandang dengan penuh keheranan ketika serangan

itu bukan mengakibatkan robohnya Gwat Kong dan Cui Giok, bahkan tiba-tiba terdengar

suara kaget disusul oleh melayangnya tubuh Song Bu Cu dan Lui Siok ke sungai.

“Byur…….. byur …….!!” air memercik ke atas ketika dua tubuh ketua Hek-i-pang itu menimpa

air. Song Bu Cu masih untung oleh karena ia terjatuh di air dengan kepala lebih dahulu

sehingga ia dapat meluruskan tubuhnya dan kedua tangannya dipergunakan untuk memasuki

air dengan baik. Akan tetapi Lui Siok terjatuh dengan pantat lebih dulu sehingga ia merasa

pantatnya panas dan pedas.

Gwat Kong dan Cui Giok saling pandang dengan alis terangkat dan ulut tersenyum geli.

Sungguh tak pernah mereka duga bahwa mereka mempunyai maksud dan gerakan yang sama

yakni melemparkan kedua lawan itu ke dalam air. Maka tak tertahan pula keduanya tertawa

bergelak sambil memandang ke arah dua orang lawannya yang sedang berenang ke pinggir.

Song Bu Cu dan Lui Siok menjadi marah sekali. Memang tadi mereka telah sangka dan

terlalu memandang rendah kepada lawan yang muda-muda ini. Ketika tadi Lui Siok

mencengkeram ke arah pundak Cui Giok, gadis itu sama sekali tidak mengelak atau

 228

menangkis, akan tetapi mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya ke arah pundak dan

mengeluarkan ilmu sia-kut-hoat (melepas tulang melemaskan tubuh). Sehingga ketika kedua

tangan Lui Siok mencengkeram pundak gadis itu, si Ular Belang terkejut karena kulit pundak

gadis itu terasa amat licin dan tak dapat ditangkap. Sebelum ia menginsyafi bahwa ia telah

melakukan serangan yang amat berbahaya bagi kedudukannya sendiri, tiba-tiba kedua tangan

Cui Giok telah menangkap leher dan bajunya, lalu melontarkan dengan tenaga lweekang

hebat ke sungai.

Adapun Song Bu Cu ketika menyerang Gwat Kong dengan pukulan Pek-wan-hian-tho sama

sekali tidak mengira bahwa Gwat Kong sudah dapat menduga maksudnya, maka dengan

sengaja pemuda itu melangkahkan kaki kiri ke belakang. Song Bu Cu menjadi girang dan

cepat menyusul dengan tendangan kaki kirinya dan pukulan tangan kirinya. Akan tetapi, tibatiba

Gwat Kong berjongkok meluputkan diri dari pukulan lawan. Adapun kaki kiri Song Bu

Cu menyambar kearahnya. Ia menyambut kaki kiri itu dengan tangkapan tangan kanan dan

sambil ‘meminjam’ tenaga tendangan lawan, ia membetot dan melontarkan tubuh Song Bu Cu

ke dalam air.

Demikianlah, maka dengan amarah yang menyesakkan pernapasan dan dengan pakaian basah

kuyup, Song Bu Cu dan Lui Siok berenang ke pinggir dan melompat ke darat.

Cui Giok menyambut Lui Siok dengan tertawa mengejek, “Nah, baru sekali kau mencuci

dosa, masih belum bersih. Masih kurang lama kau mencuci dosamu.”

Gwat Kong menjadi gembira juga mendengar kejenakaan Cui Giok, maka sambil tersenyumsenyum

yang memanaskan hati, ia berkata kepada Song Bu Cu,

“Pangcu (ketua), orang bilang bahwa air sungai Yung-ting ini rasanya asin seperti air laut,

betulkah itu?”

Song Bu Cu dan Lui Siok menjawab ejekan ini dengan mencabut senjata masing-masing.

Song Bu Cu mengeluarkan sepasang pedangnya, sedangkan Lui Siok melepaskan sabuk ular

belang yang tadi melibat di pinggangnya,

Gwat Kong dan Cui Giok maklum bahwa kedua orang lawan ini betapapun juga tak boleh di

pandang ringan dengan senjata-senjata mereka, maka kedua orang muda itupun lalu mencabut

pedang masing-masing. Gwat Kong mengeluarkan Sin-eng-kiam yang bercahaya gemilang

sedangkan Cui Giok juga mengeluarkan sepasang pedangnya yakni Im-yang Siang-kiam.

Berbareng dengan bentakan-bentakan mereka, Song Bu Cu menyerang Gwat Kong sedangkan

Lui Siok menyerang Cui Giok. Pertempuran yang amat seru terjadi di pinggir sungai itu.

Benar-benar hebat dan menarik, karena Gwat Kong yang berpedang tunggal menghadapi

sepasang pedang Song Bu Cu. Sedangkan sabuk ular belang di tangan Lui Siok yang lihai

bertemu dengan sepasang pedang pula di tangan Cui Giok.

Lui Siok adalah seorang murid tertua Kim-san-pai. Maka ilmu silatnya sudah cukup tinggi.

Dibandingkan dengan sutenya, yakni Gan Bu Gi, kepandaiannya masih lebih tinggi dan

ditambah pula dengan pengalaman bertempur berpuluh tahun, maka ia benar-benar tangguh

dan merupakan lawan berat.

 229

Juga Song Bu Cu lebih lihai lagi. Sepasang pedangnya berputar-putar cepat bagaikan

sepasang naga berebut mustika dan sebagai seorang ahli lweekeh yang memiliki ilmu

lweekang amat tinggi, maka gerakan sepasang pedangnya itu mengeluarkan angin dingin

yang mengerikan.

Akan tetapi kini kedua orang pemimpin Hek-i-pang itu benar-benar menjumpai batu karang.

Betapapun lihainya Song Bu Cu, kini menghadapi Sin-eng Kiam-hoat yang dimainkan oleh

Gwat Kong, ia seakan-akan bertemu dengan gurunya. Pedang tunggal Gwat Kong bergerak

lebih cepat dan tiap gerakannya merupakan tangkisan dan serangan balasan yang berbahaya

sekali sehingga dalam beberapa belas jurus Song Bu Cu telah terdesak mundur dan sepasang

pedangnya tertindih, membuat ia sukar sekali mengirim serangan balasan.

Apalagi Lui Siok. Orang ini setelah bertempur belasan jurus, diam-diam mengeluh dan

memaki kepada dirinya sendiri yang dianggapnya goblok dan buta sehingga tadi memilih

gadis ini untuk menjadi lawannya. Biarpun ia belum pernah bertempur melawan Gwat Kong,

akan tetapi menghadapi kelihaian gadis ini, ia berani bersumpah untuk menyatakan bahwa

kepandaian Gwat Kong tak mungkin dapat setinggi gadis ini.

Sebentar saja gerakan sabuknya menjadi kalut sekali. Sepasang pedang dari Cui Giok yang

bergerak dengan tenaga lemas dan keras berganti-ganti membuat Lui Siok menjadi pening

kepala dan pandangan matanya menjadi kabur berkunang.

Cui Giok memang seorang dara yang jenaka sekali dan ia paling suka mempermainkan orang.

Apalagi kalau orang itu seorang penjahat yang dibencinya. Bagaikan seekor kucing betina

menangkap tikus, ia tidak mau menamatkan riwayat tikus itu demikian saja tanpa

dipermainkan terlebih dahulu.

Kalau ia mau, sudah semenjak gebrakan pertama ia dapat membabat putus sabuk lawannya,

atau bahkan melukai tubuh Lui Siok. Akan tetapi ia tidak melakukan hal ini dan sengaja

menanti sampai Gwat Kong mengalahkan lawannya lebih dulu. Maka ujung pedangnya hanya

‘mampir’ saja dipakaian lawannya sehingga baju Lui Siok sudah bolong-bolong dimakan

ujung pedang. Bahkan kulit tubuhnya di beberapa bagian juga terbawa hingga mengeluarkan

darah dan terasa perih sekali.

Di lain pihak, Gwat Kong tidak mau mempermainkan Song Bu Cu sebagaimana yang

dilakukan oleh Cui Giok. Pemuda ini mainkan pedangnya dengan hebat dan mendesak terus

sambil mengirim serangan-serangan yang berbahaya. Sungguhpun ia tidak mau melakukan

serangan yang mematikan atau membahayakan keselamatan lawannya.

Ia hanya ingin merobohkan lawannya dengan luka seringan mungkin. Beberapa kali ia

berusaha membuat kedua pedang lawan terlepas. Akan tetapi ternyata bahwa usaha ini

amatlah sukar. Oleh karena itu Gwat Kong menjadi penasaran sekali. Ia maklum bahwa

berkat keuletan lawannya, maka amat sukarlah baginya untuk dapat merobohkan lawan ini

tanpa mengirim serangan hebat yang dapat mengakibatkan luka berat atau kebinasaan. Maka

setelah berpikir agak lama, Gwat Kong lalu mencabut sulingnya yang disimpan pada buntalan

pakaian yang diikat di punggungnya. Kemudian dengan suling di tangan kiri dan pedang di

tangan kanan, ia mendesak lagi.

Bukan main terkejutnya hati Song Bu Cu melihat gerakan suling ini, karena tidak saja hebat

dan lihai, bahkan lebih berbahaya agaknya dari pada pedang pemuda itu. Ia tidak tahu bahwa

 230

Gwat Kong mainkan sulingnya dengan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat, ilmu silat tingkat

tinggi yang dipelajari dari Bok Kwi Sianjin. Dengan suling dan pedang ditangannya, maka

sekali gus pemuda itu telah mainkan Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat.

Sudah tentu Song Bu Cu tidak kuat menghadapi dua ilmu silat yang telah menggemparkan

daerah barat dan timur ini. Maka mukanya menjadi pucat dan sepasang pedangnya tak

berdaya sama sekali. Pada saat yang tepat, suling di tangan kiri Gwat Kong bergerak

menyerang dengan totokan jalan darah di bagian pundak dan pedangnya berkelebat

mengancam pergelangan tangan lawan.

Song Bu Cu menjadi bingung oleh karena gerakan kedua senjata lawannya itu benar-benar tak

dapat diduga semula, maka ia terpaksa harus miringkan tubuh ke kiri untuk menghindarkan

totokan suling dan menggerakkan siang-kiamnya untuk menangkis sambaran pedang. Akan

tetapi pada saat itu ketika kedudukan tubuhnya masih buruk dan lemah, tiba-tiba kaki kanan

Gwat Kong menyambar dibarengi dengan ketokan sulingnya pada pergelangan tangan kanan

Song Bu Cu memekik nyaring dan untuk kedua kalinya, tubuhnya yang tinggi itu terlempar ke

tengah sungai.

Cui Giok gelak terbahak melihat hal ini, maka sambil tertawa-tawa ia lalu mempercepat

gerakan pedangnya yang menyambar-nyambar dan mengancam ulu hati dan leher lawan

bertubi-tubi. Lui Siok merasa bingung dan gelisah sekali, terutama karena ia melihat Song Bu

Cu telah dikalahkan, maka sambil menangkis ia main mundur saja tanpa dapat membalas

serangan Cui Giok.

“Hayo mundur! Terus sampai ke sungai. Kau harus mandi sekali lagi!” Sambil berkata

demikian, pedangnya berkelebat menghadang jalan keluar bagi Lui Siok, sehingga si Ular

Belang ini hanya mempunyai sejurus jalan, yakni di belakangnya di mana membentang sungai

Yung-ting. Makin cepat Cui Giok berjalan dan mendesak, makin cepat pula ia mundur

sehingga akhirnya ia sampai di pinggir sungai itu.

“Hayo, lekas lompat ke air! Kau harus mandi lagi seperti kawanmu!”

Karena pedang Cui Giok menyambar-nyambar dengan hebatnya, terpaksa Lui Siok melompat

ke belakang dan “byuuur..!” untuk kedua kalinya iapun dipaksa minum air sungai.

Bukan main hebatnya hinaan yang diderita oleh kedua orang pemimpin Hek-i-pang itu.

Mereka adalah jago-jago silat yang terkenal dan ditakuti, dan banyak orang kang-ouw

menganggap mereka sebagai ahli-ahli silat berkepandaian tinggi. Siapa nyana bahwa pada

hari ini mereka bertemu dengan dua orang muda yang mempermainkan mereka semaunya,

seakan-akan mereka adalah dua ekor tikus kecil berhadapan dengan dua kucing besar.

Lebih-lebih Song Bu Cu. Pangcu ini telah membuat nama besar dan belum pernah ia

dikalahkan orang dengan mudah. Kini setelah dipaksa untuk berenang melawan air sungai

oleh seorang pemuda yang baru saja muncul di dunia kang-ouw, ia merasa gemas dan marah,

sedih, malu dan penasaran sehingga ketika tubuhnya telah timbul dipermukaan air lagi, ia

memekik keras dan pingsan.

 231

Tubuhnya hanyut dibawa air dan baiknya pada saat itu tubuh Lui Siok yang melompat ke air

jatuh menimpa badannya yang mulai hanyut. Lui Siok tadinya merasa terkejut sekali dan

mengira bahwa yang ditimpa oleh tubuhnya adalah seekor buaya atau ikan besar. Akan tetapi

ketika melihat bahwa yang disangka ikan itu bukan lain adalah Song Bu Cu, ia segera

menolongnya dan membawanya ke pinggir.

Ia dan Song Bu Cu lalu ditolong oleh tiga orang anak buahnya dan ketika Lui Siok

memandang ke arah kedua orang muda lawannya, ternyata Cui Giok dan Gwat Kong telah

naik ke atas perahu dan menyuruh nelayan tua itu mendayung perahu ke tengah. Sepasang

anak muda itu berdiri di kepala perahu sambil tersenyum memandangnya. Lui Siok tak dapat

berkata sesuatu hanya mendelikkan mata memandang penuh kebencian dan sakit hati.

Pengalaman dan pertempuran melawan dua orang pemimpin Hek-i-pang itu membuat

pergaulan antara Gwat Kong dan Cui Giok makin erat. Sambil menikmati pemandangan yang

sungguh indah di sepanjang sungai tiada hentinya mereka membicarakan kedua orang itu

sambil tertawa-tawa gembira. Yang lebih gembira lagi adalah tukang perahu yang tua itu.

Tiada habisnya ia memuji dan matanya yang sudah tua itu berseri-seri.

“Seumur hidupku belum pernah aku menyaksikan dua orang muda yang sehebat dan segagah

kalian!” katanya sambil mendayung. “Kalian merupakan pasangan yang paling cocok dan

hebat yang pernah kujumpai, sama gagah, sama elok, pendeknya …. hebat! Anak kalian kelak

tentu seorang yang luar biasa dan ….”

“Hush ….” Lopek jangan bicara sembarangan! Kami bukan suami isteri, juga bukan

tunangan!”

Nelayan itu melongo dan memandang dengan heran. Jelas bahwa ia merasa amat kecewa.

Adapun Cui Giok ketika mendengar ucapan kakek nelayan itu, merahlah wajahnya sampai ke

telinganya. Semenjak saat itu, apabila mata mereka bertemu, Gwat Kong melihat cahaya

gemilang yang aneh di dalam manik mata gadis itu, sinar yang sebelumnya tak terlihat

Dan kalau dulu Cui Giok memandangnya dengan berani dan terbuka, kini gadis itu tidak

berani menentang pandang matanya terlalu lama. Aneh, pikirnya. Akan tetapi sama sekali ia

tidak dapat menduga apakah sebenarnya yang terdapat dibalik sinar mata itu.

Benar sebagaimana keterangan nelayan tua itu, perjalanan melalui air sungai Yung-ting itu

aman dan mnyenangkan. Tidak terdapat gangguan bajak sungai dan mereka kadang-kadang

hanya bertemu dengan perahu-perahu nelayan yang menjala ikan. Akan tetapi ketika telah

memasuki daerah Kiang-sui yang banyak terdapat hutan-hutan lebat, muncullah bajak sungai

yang pernah dituturkan oleh nelayan tua itu kepada mereka.

Perahu mereka sedang berlayar dengan tenang melalui sebuah hutan dan pada sebuah

tikungan yang tajam, ketika perahu mereka baru saja membelok, tiba-tiba mereka berhadapan

dengan lima buah perahu besar penuh dengan bajak-bajak sungai.

“Celaka!” nelayan tua yang mengemudikan perahu kecil itu berseru dengan wajah pucat.

 232

“Minggirkan perahu ke darat!” kata Gwat Kong yang duduk bersama Cui Giok. Kedua anak

muda ini masih tenang saja, bahkan ketika saling pandang, senyum gembira membayang di

bibir mereka.

Perahu-perahu bajak itu ketika melihat calon korbannya mendayung perahu ke pinggir, segera

meminggirkan perahu pula dan terdengar seruan-seruan mereka diselingi suara ketawa.

Mereka merasa gembira melihat betapa korban-korban mereka itu seperti hendak melarikan

diri ke darat. Akan tetapi, alangkah heran mereka ketika melihat sepasang orang muda yang

berada di perahu kecil itu setelah melompat ke darat. Bukannya mereka melarikan diri

sebagaimana mereka sangka, akan tetapi bahkan berdiri di pantai menanti mereka dengan

sikap menantang.

Kepala bajak ini adalah seorang bermuka hitam bertubuh kurus tinggi. Ia bernama Oey Bong

dan telah bertahun-tahun ia hidup sebagai kepala bajak yang ditakuti orang. Tadinya ia

bersama anak buahnya berpangkal di sungai Yung-ting dekat kota Kiang-sui. Akan tetapi

belakangan ini setelah Kepala daerah Kiang-sui, yakni Liok-taijin, mengerahkan tentara di

bawah pimpinan Gan Bu Gi yang pandai untuk menggempurnya, sehingga pasukan bajak itu

menjadi kocar-kacir. Terpaksa ia melarikan diri dan kini melakukan pencegatan dan

pembajakan di dalam hutan itu.

Melihat betapa sepasang muda-mudi yang hendak dirampok itu mendarat, Oey Bong lalu

mengerahkan anak buahnya untuk mengejar dan iapun terheran-heran ketika melihat sepasang

orang muda itu tidak melarikan diri. Maka ia menduga bahwa kedua orang muda itu tentulah

memiliki kepandaian.

Setelah perahunya berada dekat dengan daratan, ia lalu berseru keras dan tubuhnya melompat

ke darat dengan gesit. Beberapa orang pembantunya yang juga pandai ilmu silat, lalu

melompat pula ke darat dan sebentar saja Gwat Kong dan Cui Giok yang masih tersenyumsenyum

itu telah dikurung oleh belasan orang yang dipimpin oleh pemimpin bajak. Para

anggauta bajak hanya berdiri mengurung agak jauh sambil bersorak-sorak. Sementara itu,

kakek nelayan yang mengantar Gwat Kong, duduk mendekam di dalam perahunya dengan

tubuh menggigil ketakutan.

“Kalian ini orang-orang kasar menghadang perahu kami, mempunyai maksud apa?” tanya

Gwat Kong kepada si muka hitam Oey Bong.

Oey Bong tertawa geli dan kawannyapun tertawa bergelak mendengar pertanyaan ini.

“Orang muda,” kata Oey Bong. “Kami adalah orang baik-baik dan kami takkan

mengganggumu, asal saja kautinggalkan semua barang-barangmu, berikut isterimu yang

cantik jelita ini!” Dengan jari telunjuknya yang panjang, kepala bajak ini menunjuk ke arah

Cui Giok.

Merahlah wajah Cui Giok mendengar ini. Telah dua kali orang menyangka ia dan Gwat Kong

sebagai suami isteri. Akan tetapi, kalau persangkaan nelayan tua membuat ia malu dan hanya

diam-diam berdebar girang, adalah sangkaan kepala bajak yang amat kasar dan menghina ini

membuat ia jadi marah sekali.

“Anjing bermuka hitam!” ia memaki sambil menuding ke arah muka Oey Bong. “Apa sih

yang kau andalkan maka anjing buduk macam kau ini berani menjadi kepala bajak sungai?”

 233

“Ha ha ha!” Oey Bong yang dimaki itu tertawa bergelak. “Sungguh galak, makin galak makin

manis! Kau cocok sekali untuk menjadi permaisuriku. Ha ha!

“Kurang ajar!” seru Gwat Kong sambil mencabut pedangnya. Hatinya panas dan marah sekali

melihat kekurang ajaran bajak itu. Akan tetapi Cui Giok berseru menahannya,

“Jangan Gwat Kong! Biar aku yang memberi hajaran kepada anjing buduk ini. Kalau dia

belum melepaskan dua buah telinganya, aku tak mau ampunkan dia!” Cui Giok mencabut

sepasang pedangnya.

Gwat Kong tersenyum. “Ah, dasar kau yang sudah bernasib harus kehilangan telinga! Jagalah

baik-baik daun telingamu, muka hitam!” Sambil berkata demikian, Gwat Kong

menggenjotkan kedua kakinya dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas dan ketika para

penjahat dengan terkejut memandang ke atas, ternyata pemuda itu telah duduk di atas sebuah

cabang pohon yang tinggi.

Mereka merasa kaget sekali karena gerakan itu saja sudah cukup membuka mata mereka

bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada mereka. Akan

tetapi telah terlanjur dan karena pemuda yang lihai itu tidak ikut menghadapi mereka, maka

Oey Bong lalu mencabut goloknya dan mendahului menyerang Cui Giok.

Ia maklum bahwa pemuda itu amat lihai, maka lenyaplah keinginannya mengganggu Cui

Giok. Ia hendak merobohkan gadis itu terlebih dahulu sebelum pemuda itu turun tangan.

Kemudian kalau pemuda itu terlalu lihai baginya, ia akan mengeroyok dengan semua anak

buahnya. Cepat sekali ia mencabut golok dan menyerang Cui Giok dengan sebuah sabetan ke

arah pinggang. Inilah tipu gerakan Hon-cui-pai-hio (Angin Meniup Daun Tua) yang

dilakukan cukup gesit dan kuat.

Akan tetapi dengan tertawa mengejek, pedang di tangan Cui Giok melakukan gerakan

berbareng. Pedang kiri menangkis sambaran golok sedangkan pedang di tangan kanan

menghantam ke arah pergelangan tangan lawan. Oey Bong terkejut bukan main dan cepat

menarik kembali goloknya untuk menghindarkan tangannya terbabat putus. Akan tetapi

percuma saja ia mencoba menghindarkan diri. Oleh karena ujung pedang Cui Giok bagaikan

hidup dan bermata. terus mengikuti pergelangan tangannya dengan kecepatan yang

menyilaukan mata, maka Oey Bong menjadi makin gelisah.

“Lepaskan golok!” Cui Giok membentak dan Oey Bong merasa betapa pergelangan

tangannya menjadi perih sekali karena telah tertempel oleh mata pedang yang tajam. Ia tak

dapat berbuat lain dan terpaksa melepaskan goloknya. Dalam kegugupannya, ia berteriak

memberi komando kepada kawan-kawannya.

“Serbu!”

Setelah berteriak, kepala bajak yang licik ini lalu melompat mundur hendak lari.

Kawan-kawannya yang semenjak tadi telah berdiri dengan senjata di tangan, segera maju

menyerbu, mengeroyok Cui Giok. Akan tetapi gadis itu berseru keras dan begitu tubuhnya

berkelebat, maka terdengarlah seruan kaget dan pedang atau golok di tangan para bajak itu

beterbangan ke atas, ada yang patah, ada yang mencelat berikut jari-jari tangan yang terbabat

 234

putus. Jerit dan pekik terdengar dan keadaan menjadi amat gaduh. Oey Bong masih mencoba

untuk melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring di belakangnya,

“Anjing muka hitam! Tinggalkan dulu dua telingamu!” Sebelum ia dapat mengelak, tiba-tiba

kedua telinganya mendengar sambaran angin yang luar biasa dan tiba-tiba ia merasa

kepalanya menjadi sakit dan perih di kanan kiri. Ketika ia menggunakan kedua tangan untuk

meraba ia menjerit keras karena daun telinga di kanan kiri kepalanya benar-benar telah

lenyap. Oey Bong berhenti berlari dan membalikkan tubuh. Ia melihat gadis yang luar biasa

itu telah berdiri dengan tertawa bergelak sedangkan daun telinganya telah putus dan kini

berada di depan kakinya.

Melihat ini, makin sakitlah rasanya kepala yang luka itu. Maka tanpa dapat dicegah lagi, ia

lalu menjatuhkan diri berjongkok dan mengaduh-aduh seperti seekor anjing kena gebuk.

“Nah, siapa lagi yang sudah bosan mempunyai daun telinga?” seru Cui Giok sambil

memalangkan pedangnya di depan dada.

Para pemimpin bajak telah merasai kelihaian nona itu karena tadi ketika mereka menyerbu,

dalam segebrakan saja gadis itu telah berhasil merampas senjata dan melukai beberapa orang,

maka kini tak seorang pun berani bergerak. Juga anak buah bajak yang tadinya bersoraksorak,

kini berdiri bagaikan patung, sama sekali tak berani bersuara maupun bergerak.

Nelayan tua yang tadinya ketakutan, dengan memberanikan hati ia merangkak ke pinggir dan

menyaksikan pertempuran itu. Kini ia menjadi lega dan girang bukan kepalang, maka ia lalu

bangun berdiri dan dengan dada terangkat tinggi-tinggi dan kaki melangkah tetap, ia

menghampiri kepala bajak dan kawan-kawannya. Sambil bertolak pinggang ia lalu berkata

dengan suara keras,

“Nah, biarlah kali ini kalian mendapat pelajaran dan kapok. Kalian telah banyak mengganggu

orang, banyak membunuh nyawa orang-orang tak berdosa. Kalau sekarang mendapat

hukuman sebesar ini boleh dikatakan masih ringan dan terlalu murah. Jangan anggap bahwa

di kolong langit ini tidak ada orang yang gagah seperti siocia dan kongcu ini. Tadi baru siocia

sendiri yang turun tangan, kalau kongcu ikut marah, mungkin kepala kalian ini semua telah

putus. Tidak berlutut minta ampun sekarang, mau tunggu kapan lagi?”

Bentakannya terakhir ini amat berpengaruh karena tiba-tiba semua anggauta bajak itu lalu

menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun. Bukan main senangnya hati kakek itu. Belum

pernah ia mengalami hal seperti itu dan karena para bajak itu berlutut di depannya, maka ia

merasa seakan-akan menjadi seorang raja. Ia lalu berkata lagi dengan suara gagah,

“Mulai sekarang jangan kalian berani sekali lagi mengganggu lalu lintas di sungai Yung-ting

ini. Ketahuilah aku adalah kawan baik sepasang pendekar ini. Aku tukang perahunya dan

kalau kalian mengganggu perahuku dan perahu kawan-kawanku. Tentu kedua pendekar gagah

ini akan datang untuk menghukum kalian.

Kemudian ia berkata kepada Cui Giok dan Gwat Kong,

“Jiwi yang mulia, marilah kita melanjutkan perjalanan kita!”

 235

Melihat sikap nelayan tua ini, Cui Giok dan Gwat Kong tertawa geli dan merasa lucu sekali.

Akan tetapi mereka menganggap bahwa sikap nelayan tua itu bukan tak ada artinya bagi

keselamatan para nelayan. Maka Gwat Kong hendak memperkuat ucapan nelayan tadi. Ia

melompat turun bagaikan seekor burung garuda, kemudian menghampiri sebatang pohon

yang besarnya sepelukan lengan.

“Ucapan lopek ini harus kalian perhatikan dan taati, karena kami tidak mengancam kosong

belaka. Kalau kalian melanggar, inilah contohnya!” Dengan tangan kanannya, Gwat Kong

lalu memukul batang pohon itu dengan tangan dimiringkan sambil mengerahkan ilmu

keraskan tangan Cin-kong Pek-ko-jiu.

“Kraaak!” batang pohon itu terpukul patah dan dengan mengeluarkan suara keras pohon itu

Para bajak melihat ini dengan muka pucat dan mata terbelalak. Batang pohon yang besar dan

kuat itu sekali pukul saja patah, apalagi tubuh atau leher mereka. Maka mereka kembali

mengangguk-anggukan kepala bagaikan ayam mematuk beras dan mulut mereka tiada

hentinya minta ampun sambil berjanji akan mentaati larangan mengganggu sungai Yung-ting.

Gwat Kong, Cui Giok dan nelayan tua itu lalu berjalan kembali ke perahu mereka. Nelayan

tua itu berjalan dengan lenggang dibuat-buat, kepala dikedikkan dan dadanya yang kurus

ditonjolkan dengan perasaan seakan-akan dialah yang menjadi pendekar gagah dan

mengalahkan semua bajak kejam itu.

Pelayaran itu dilanjutkan dengan penuh kegembiraan. Makin lama, hubungan antara kedua

orang muda itu makin erat dan ternyata mereka saling cocok. Terutama sekali Cui Giok. Nona

ini tidak saja merasa kagum melihat Gwat Kong akan tetapi juga api asmara telah membakar

dan berkobar-kobar di dalam dadanya. Kalau dahulu dengan pedang ia sukar dirobohkan oleh

Gwat Kong, sekarang ia roboh betul-betul dan merasa bahwa tanpa Gwat Kong di dekatnya,

hidup akan sunyi tak berarti baginya.

Oleh karena itu semenjak gangguan bajak-bajak sungai, mereka tidak mendapat gangguan

lain, maka pelayaran berjalan lancar dan cepat. Apabila malam tiba, mereka berhenti di

pinggir sungai, membuat api unggun dan tidur di bawah pohon. Kadang-kadang Cui Giok

tidur di dalam perahu.

Bab 26 …..

NELAYAN tua itu membawa bekal beras dan dialah yang masak nasi dan memanggang ikan

yang mereka dapat memancing di sungai. Kadang-kadang Gwat Kong atau Cui Giok pergi ke

hutan dekat sungai untuk mencari binatang hutan seperti kijang, kelinci, ayam hutan dan lainlain

untuk dimakan dagingnya bersama nasi. Memang enak sekali makan di tempat-tempat

terbuka, dekat api unggun itu!”

“Nah, untuk mencari kota Kiang-sui, dari sinilah yang paling dekat.” Ia menunjuk ke arah

bukit di dekat pantai. “Dengan mengambil jalan mengitari bukit di depan itu, lalu membelok

ke kanan, maka paling jauh enam atau tujuh li, kongcu akan tiba di Kiang-sui.”

Gwat Kong memandang kepada Cui Giok dan aneh sekali, kembali gadis itu nampak muram

dan cemberut.

 236

“Cui Giok, apakah kau mau ikut ke Kiang-sui?” tanyanya manis.

Dara itu menggelengkan kepala. “Pergilah, biar aku menanti di sini saja!”

“Apakah kau tidak merasa kesal menanti seorang diri di sini? Tempat begini sunyi, jauh dari

perkampungan,” kata Gwat Kong sambil memandang ke sekeliling. Memang di situ sunyi,

yang nampak hanyalah pohon dan bukit-bukit.

Di dalam hatinya Cui Giok maklum bahwa ia tentu saja akan merasa kesal, akan tetapi

mulutnya berkata, “Mengapa kesal? Di sini ada lopek dan aku bisa memancing ikan!”

Tetap saja Gwat Kong merasa tidak puas dan tidak enak hati untuk meninggalkan Cui Giok,

maka ia membujuk lagi,

“Apakah tidak lebih baik kau ikut saja, Cui Giok? Kau bisa melihat-lihat keindahan kota,

mungkin ada barang-barang yang kau sukai, kau dapat berbelanja dan …..”

“Sudahlah,” Cui Giok memotong. “Kau pergilah sendiri karena kau mempunyai kepentingan

di sana.

“Kau mempunyai sahabat-sahabat baik di sana. Aku tidak mempunyai kenalan, untuk apa aku

harus pergi ke sana pula? Aku akan menunggu di sini saja!”

“Siocia berkata benar,” tiba-tiba nelayan tua itu ikut bicara. “Memang sudah menjadi

kelaziman bahwa wanitalah yang selalu harus menanti dengan sabar.”

Gwat Kong dan Cui Giok memandang kepada kakek nelayan itu.

“Eh, lopek apa maksudmu?” tanya Gwat Kong.

Karena sepasang anak muda itu memandangnya dengan mata tajam penuh pertanyaan, kakek

ini menjadi gugup.

“Aku ….. aku teringat akan permainan anak wayang yang kutonton belum lama ini …. katakata

siocia yang hendak menunggu tadi mengingatkan aku akan nyanyian yang diucapkan

oleh pelaku cerita sandiwara itu.” Kakek itu berhenti dan tertegun karena ia telah

mengeluarkan kata-kata yang makin mempersulit kedudukannya.

Bagaimana nyanyiannya? Coba kau jelaskan lopek,” Cui Giok juga mendesak.

“Ah …. eh …” Ia ragu-ragu, akan tetapi kemudian berdehem untuk menetapkan hatinya, lalu

berkata, “Cerita itu adalah cerita tentang dua orang sahabat baik seperti kongcu dan siocia ini.

Si teruna hendak pergi meninggalkan si dara dan nyanyian dara itu begini,

“Pergilah kanda, pergilah ke kota raja,

Dinda akan menanti dengan setia,

Pergilah dengan hati ringan, kanda!

Seribu tahun dinda akan menanti juga!

 237

“Ah, lopek! Gwat Kong mencela. “Aku tidak pergi ke kota raja, juga tidak pergi lama.

Bagaimana kau bisa membandingkan kami dengan mereka?”

“Akupun takkan menanti sampai seribu tahun!” Cui Giok mencela.

Kakek itu hanya tertawa dan karena kata-kata nelayan itu membuat menjadi merah muka,

maka Gwat Kong segera melompat ke darat dan setelah berkata, “Aku pergi takkan lama!” Ia

lalu pergi dengan berlari menuju ke bukit itu.

Nelayan tua itu dan Cui Giok memandang sampai bayangan Gwat Kong lenyap di balik bukit.

Nona itu masih berdiri termenung sehingga ia terkejut ketika nelayan itu berkata,

“Dia seorang pemuda yang baik, seorang calon suami yang sukar dicari bandingannya!”

Cui Giok memandang nelayan itu dengan mata tajam. “Lopek, jangan kau bicara sembrono.

Gwat Kong hanya sahabatku belaka. Sahabat yang kebetulan melakukan perjalanan yang

sama.”

Nelayan tua itu menarik napas panjang. “Aku sudah tua siocia. Mataku menjadi tajam karena

pengalaman. Aku berani menyatakan bahwa siocia tertarik kepada pemuda itu. Tak usah

membantah siocia. Aku pernah mempunyai anak perempuan yang juga jatuh hati kepada

seorang pemuda. Akan tetapi oleh karena aku yang bodoh menghalanginya. Akhirnya ia jatuh

sakit dan … meninggal dunia ….” Kakek itu menjadi berduka dan wajahnya muram.

Tadinya Cui Giok hendak marah, akan tetapi ketika kakek itu berkata tentang anaknya, gadis

ini menjadi tak tega hati.

“Aku tidak begitu bodoh untuk menyinta seorang pemuda yang sudah mempunyai kekasih,

lopek.”

Mendengar ini, kakek itu memandang dengan sinar mata yang demikian lembut dan penuh

iba, sehingga tanpa disadarinya dua butir air mata menitik turun dari mata Cui Giok. Gadis ini

buru-buru membalikkan tubuh, duduk di tepi perahu dan menatap air sungai dengan pikiran

melayang jauh.

****

Gwat Kong berlari cepat mengitari bukit itu dan benar saja, tak lama kemudian nampaklah

tembok kota Kiang-sui di depan matanya. Hatinya berdebar ketika ia melihat kota yang

pernah ditinggalinya sampai beberapa tahun itu dan teringatlah ia kepada Tin Eng. Bagaimana

kalau ia mengunjungi gedung Liok-taijin? Apakah pembesar itu masih marah kepadanya? Ia

teringat pula kepada Gan Bu Gi yang pernah menyerang dan hendak menangkapnya. Ia lalu

turunkan pedang dan menggantungkan sarung pedang Sin-eng-kiam di pinggangnya. Tadi ia

sengaja membawa pedang yang biasanya disimpan dalam bungkusan pakaian ini, untuk

menjaga kalau-kalau terjadi sesuatu. Ia tak perlu menyembunyikan kepandaiannya lagi,

bahkan kalau perlu ia hendak memperlihatkan kepada Liok-taijin bahwa dia bukanlah Gwat

Kong si pelayan yang bodoh dan lemah.

Kota Kiang-sui tidak banyak berubah semenjak ditinggalkan. Keadaannya masih tetap ramai,

bahkan restoran-restoran besar makin banyak dikunjungi orang. Gwat Kong berjalan-jalan

 238

melihat-lihat kota, bahkan ia berjalan di jalan raya depan gedung Liok-taijin. Akan tetapi pada

saat ia berjalan lewat di depan gedung itu, ia tidak melihat seorangpun di depan gedung. Ia

tidak berani masuk karena apakah yang akan dijadikan alasan untuk memasuki rumah itu?

Bagaimana kalau ia diusir seperti pengemis?

Gwat Kong lalu menuju ke sebuah restoran besar yang dulu hanya dilihat dari luar saja. Ia

maklum bahwa masakan restoran ini amat lezat dan mahal. Ia dahulu hanya dapat merasai

masakan restoran ini apabila Liok-taijin membeli masakan dari situ dan ia mendapatkan

sisanya. Kini ia ingin masuk dan membeli masakan sendiri, ingin duduk di bangku

menghadapi meja di restoran yang besar dan mewah itu.

Restoran besar itu mempunyai tiga ruang dan karena ruang di sebelah kanan dan tengah sudah

padat dengan tamu-tamu, Gwat Kong lalu melangkah memasuki ruangan sebelah kiri. Baru

saja kakinya melangkah ke ambang pintu, ia mendengar ribut-ribut di ruang itu dan ketika ia

memandangnya, alangkah terkejutnya melihat dua orang pemuda yang masih dikenalnya,

yakni Pui Kiat dan Pui Hok kedua orang murid Hoa-san-pai yang pernah bertemu dengannya

dahulu itu duduk menghadapi meja dan sedang dibentak-bentak oleh seorang setengah tua

yang berjenggot runcing.

“Kalian ini bajingan-bajingan kecil sungguh menjemukan sekali!” si jenggot runcing itu

membentak-bentak. “Tidak tahukah kau siapa aku? Apakah kalian mencari mampus? Aku

tahu bahwa kalian selalu mengikuti rombonganku semenjak dari Keng-hoa-bun sampai ke

Kiang-sui. Aku sengaja mendiamkan saja karena menyangka bahwa kalian hanya dua orang

penjahat tangan panjang. Akan tetapi sampai sekarang kalian tidak bergerak, bahkan masih

terus mengintaiku. Sekarang, katakanlah terus terang apakah kehendakmu? Awas, kalau tidak

berkata terus terang, kepalanku akan meremukkan kepalamu berdua seperti ini!” Sambil

berkata demikian, si jenggot runcing itu menggunakan kepalan tangannya ditekukkan dengan

perlahan pada ujung meja di mana kedua saudara Pui itu duduk dan …. hancurlah kayu tebal

itu bagaikan terpukul dengan penggada baja.

Gwat Kong merasa amat terkejut melihat kehebatan tenaga orang itu dan melihat demonstrasi

ini saja ia maklum bahwa kedua murid Hoa-san-pai itu bukanlah lawan orang yang kosen ini.

Maka ia lalu melangkah maju dan pada saat itu melihat seorang lain duduk menghadapi meja

di belakang si jenggot runcing yang sedang marah itu. Orang ini bukan lain adalah Gan Bu Gi

yang berpakaian sebagai panglima besar yang indah dan mentereng. Akan tetapi Gwat Kong

tidak memperdulikan. Gan Bu Gi hanya langsung menghampiri meja. Pui Kiat dan Pui Hok,

sengaja menuju ke depan si jenggot runcing itu dan berdiri membelakanginya.

“He, saudara2 Pui!” tegurnya keras.

Pui Kiat dan Pui Hok masih duduk dengan muka pucat. Mereka tidak mengira sama sekali

bahwa diam-diam Ang Sun Tek yang memimpin pasukan dan menawan Tin Eng itu mengenal

mereka dan tahu bahwa mereka mengikutinya sampai ke Kiang-sui. Karena terkejut, heran

dan gelisah, mereka tadi duduk diam saja bagaikan patung tak tahu harus berbuat apa.

Melihat pukulan Ang Sun Tek pada meja, mereka terkejut dan percaya kepada penuturan Kui

Hwa bahwa Ang Sun Tek memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada mereka. Maka

mereka berdua menjadi gentar juga. Selagi Pui Kiat dan Pui Hok tercengang dan mencari-cari

alasan untuk menjawab, tiba-tiba muncul Gwat Kong di depan mereka.

 239

Untuk beberapa lama mereka tidak mengenal Gwat Kong, akan tetapi Pui Kiat lalu teringat

akan pemuda aneh dan lihai yang pernah menolong mereka ketika mereka terdesak oleh Bong

Bi Sianjin.

“Ah, Bun-taihiap!” katanya girang sekali. Bagaimana pemuda ini selalu muncul pada waktu

mereka terancam bahaya? “Kau dari mana? Silahkan duduk!”

Sementara itu, Ang Sun Tek menjadi marah sekali melihat pemuda yang tidak

memperdulikannya dan bahkan secara sengaja berdiri menghalanginya dan

“Minggir kau, bedebah!” katanya sambil menggunakan tangan kanan memegang siku lengan

kiri Gwat Kong.

Angin gerakan Ang Sun Tek ini membuat Gwat Kong maklum bahwa apabila sambungan

sikunya terpegang, ada bahaya sambungan sikunya akan terluka atau terlepas maka dengan

cepat sekali sehingga tidak terlihat oleh kedua saudara Pui yang memandang cemas, ia

menggerakkan sikunya ke atas mengelak pegangan itu sehingga tangan Ang Sun Tek yang

mencengkeram itu tidak mengenai siku akan tetapi mengenai lengan.

Gwat Kong menggeser kakinya dan membalikkan tubuh sambil mengerahkan tenaga dalam

dengan ilmu Pi-ki-hu-hiat (Menutup hawa melindungi jalan darah), sehingga lengan yang

dicengkeram itu tidak terluka bagian dalamnya. Kemudian ia melangkah ke belakang dengan

cepat sambil membetot lengannya itu terlepas dari pegangan Ang Sun Tek.

Ang Sun Tek terkejut bukan main ketika tangannya yang mencengkeram itu merasa betapa

lengan tangan pemuda itu keras dan licin seperti besi, sehingga tenaga cengkeramannya dapat

terpental kembali. Dan tiba-tiba ia merasa betapa lengan tangan itu licin dan lemas bagaikan

belut sehingga dapat terlepas dari cengkeramannya ketika ditarik kembali oleh pemuda itu.

Inilah ilmu Jui-kut-kang atau ilmu melemaskan tulang yang hebat.

“Bagus!” teriaknya marah sekali. “Tidak tahunya kau memiliki sedikit ilmu kepandaian!” Ia

tahu bahwa pemuda ini lihai dan tindakannya tadi sengaja hendak mencari permusuhan untuk

melindungi kedua pemuda yang mengikutinya. Maka ia lalu menggerakkan tangan memegang

goloknya yang selalu tergantung di pinggang sambil membentak, “Barangkali kau sudah

bosan hidup!”

Dari pegangan pada lengannya tadi Gwat Kong dapat menduga bahwa orang berjenggot

runcing ini seorang ahli ilmu silat yang pandai karena biarpun ia berhasil melepaskan

tangannya, akan tetapi ketika ia membetot lengannya tadi, merasa betapa lengannya panas

tanda bahwa ilmu dan tenaga dalam orang ini tidak berada di sebelah bawah tingkatnya

sendiri. Maka iapun meraba gagang pedang Sin-eng-kiam dan berkata,

“Manusia sombong, apa kau kira, kau seorang saja yang mempunyai senjata tajam? Cabutlah

golokmu dan jangan kira bahwa aku takut kepadamu!”

Dua orang jago silat itu berdiri berhadapan dengan tangan memegang gagang senjata masingmasing,

siap untuk mencabutnya dan mata mereka saling pandang dengan tajam, seakan-akan

dua ekor ayam jago berlaga dan hendak bertempur mati-matian.

 240

Pui Kiat dan Pui Hok memandang dengan penuh kekhawatiran. Dua orang murid Hoa-san-pai

ini yang maklum akan kelihaian Ang Sun Tek, merasa gelisah dan takut kalau-kalau Gwat

Kong takkan dapat melawan ketua Liok-te Pat-mo itu maka Pui Kiat lalu bangun berdiri dan

menghampiri Gwat Kong sambil membujuk.

“Bun-taihiap, sudahlah, jangan kau berkelahi karena urusan kami. Mari kita pergi dari sini.

Ada urusan amat penting yang perlu kami sampaikan kepadamu.”

Sementara itu, Gan Bu Gi juga merasa cemas. Ia maklum pula akan kelihaian Gwat Kong dan

kalau sampai Ang Sun Tek kalah, tentu ia akan berada dalam bahaya menghadapi Gwat Kong

yang membencinya, maka ia membujuk Ang Sun Tek,

“Ang-ciangkun, jangan kau meladeni bocah ini!”

Memang Ang Sun Tek masih ragu-ragu untuk mencabut goloknya. Ia adalah seorang ternama

dan sedang menjalankan tugas sebagai seorang perwira kerajaan, maka di tempat umum ini

kalau sampai ia kalah oleh pemuda ini, tidak saja namanya akan jatuh, akan tetapi biar ia

menang sekalipun, namanya takkan menjadi harum karenanya. Melihat kepandaian pemuda

itu ketika melepaskan tangannya dari pegangannya, maka resikonya terlalu besar untuk

melawan pemuda ini yang sama sekali tidak berdasarkan permusuhan sesuatu. Maka iapun

hanya berdiri saja tak mau mencabut goloknya lebih dahulu.

Sementara itu, Gwat Kong ketika mendengar bujukan Pui Kiat, menjadi tertarik hatinya. Ia

tahu bahwa kedua orang ini bukan tanpa sebab berada di Kiang-sui dan tuduhan orang

berjenggot tadi terhadap kedua saudara Pui membuat ia menduga bahwa tentu terjadi sesuatu

yang hebat. Apalagi ia melihat bahwa orang berjenggot itu bersama Gan Bu Gi, maka ia lalu

melepaskan gagang pedangnya dan berpaling kepada Pui Kiat,

“Akupun tidak hendak mencari permusuhan dan perkelahian, asal saja orang tidak

mendahului dan menyerangku.”

Tanpa banyak cakap lagi, Pui Kiat lalu menggandeng tangan Gwat Kong dibawa keluar dari

restoran. Sedangkan Pui Hok lalu membayar harga makanan kepada seorang pelayan yang

semenjak tadi berdiri di sudut dengan muka pucat melihat pertempuran yang hampir saja

terjadi itu.

Setibanya di luar restoran, Pui Kiat dan Pui Hok membawa Gwat Kong ke tempat yang sunyi.

Mereka sudah mendapat tahu tentang keadaan Tin Eng.

Sebagaimana dituturkan di bagian depan, kedua saudara Pui ini mendapat tugas dari Kui Hwa

untuk mengikuti rombongan Ang Sun Tek yang menawan Tin Eng. Mereka merasa lega

ketika melihat bahwa Tin Eng benar-benar dikembalikan ke rumah orang tuanya dan tidak

mendapat gangguan di jalan.

Akan tetapi mereka masih tidak mengerti apakah sebenarnya kehendak Ang Sun Tek dengan

penangkapan atas diri Tin Eng itu dan mengapa pula Ang Sun Tek yang tadinya hendak pergi

ke Hong-san sampai menunda perjalanannya di Kiang-sui. Kemudian mereka melihat betapa

Ang Sun Tek mengadakan pertemuan dengan Gan Bu Gi dan masuk ke dalam restoran untuk

mencuri dengar pembicaraan mereka.

 241

“Saudara Pui, sebenarnya mengapakah kalian berada di kota ini dan mengapa pula orang itu

hendak menyerangmu? Siapakah dia yang kepandaiannya tinggi itu?”

Pui Kiat lalu menuturkan pengalamannya dengan singkat dan menutup penuturannya dengan

menghela napas,

“Bun-taihiap, memang dia bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang yang kini menjadi

pembantu istimewa pada perwira-perwira kerajaan. Namanya Ang Sun Tek. Dialah ketua dari

Liok-te Pat-mo, delapan iblis bumi yang amat terkenal itu!”

Terkejutlah Gwat Kong mendengar penuturan Pui Kiat. Sungguhpun nama Ang Sun Tek ini

membuatnya menjadi tercengang. Karena ini tidak disangkanya sama sekali bahwa ia akan

bertemu dengan orang yang sedang dicari-cari oleh Cui Giok. Namun ia lebih terkejut lagi

mendengar bahwa Tin Eng telah ditawan oleh Ang Sun Tek itu dan dengan paksa

dikembalikan ke rumah orang tuanya.

“Saudara Pui berdua, kalau begitu, serahkanlah urusan ini kepadaku. Kalian telah diketahui

bahwa kalian mengikuti rombongan mereka, dan hal ini berbahaya sekali. Aku kenal baik

dengan nona Liok Tin Eng, bahkan sekarang juga aku akan menengoknya. Tentang Ang Sun

Tek itu, memang sudah lama aku hendak mencoba kepandaiannya, bahkan terus terang saja,

aku ingin menghadapi delapan iblis itu sekali gus. Lebih baik sekarang kalian berdua cepat

pergi dari kota ini, menyusul dan membantu sumoimu itu.”

Pui Kiat dan Pui Hok tercengang mendengar ucapan ini, akan tetapi karena merekapun

maklum bahwa keadaan mereka di kota Kiang-sui akan membahayakan keselamatan mereka,

maka mereka menyatakan setuju dan segera meninggalkan Gwat Kong untuk keluar kota dan

pergi menyusul Kui Hwa ke Hong-san.

Gwat Kong tidak mau membuang banyak waktu lagi. Ia maklum akan kesedihan hati Tin Eng

dan ia merasa gemas kepada Ang Sun Tek yang telah menawan dan memaksa Tin Eng

pulang. Kalau saja ia tidak sedang merasa cemas memikirkan keadaan Tin Eng, tentu ia akan

kembali ke restoran itu menemui Ang Sun Tek dan mengajaknya berkelahi! Akan tetapi, ia

perlu sekali mendapatkan Tin Eng dan menengok keadaan gadis pujaan hatinya itu. Kalau

perlu menolongnya keluar dari gedung Liok-taijin.

Mudah saja bagi Gwat Kong untuk memasuki pekarangan belakang dari gedung keluarga

Liok, oleh karena ia memang hafal akan keadaan dan jalan di situ. Ia maklum bahwa kalau ia

mengambil jalan dari pintu depan dan masuk secara berterang, tak mungkin Liok-taijin akan

suka menerimanya. Atau andaikata pembesar itu suka menerimanya juga, sungguh amat tak

mungkin kalau ia diperkenankan bertemu dengan Tin Eng. Oleh karena itu, Gwat Kong

sengaja mengambil jalan belakang dan masuk ke dalam kebun bunga secara sembunyisembunyi

bagaikan maling.

Ia tidak berani mengambil jalan dari atas genteng, oleh karena maklum bahwa di dalam

gedung itu terdapat orang-orang pandai dan juga Liok-taijin sendiri memiliki ketajaman

telinga yang cukup sehingga hal itu akan membuat ia ketahuan orang sebelum dapat bertemu

dengan Tin Eng. Maka ia hanya bersembunyi dan mengintai menanti saat yang baik.

Kebetulan sekali seorang pelayan yang dikenalnya baik, keluar dari pintu belakang. Pelayan

ini adalah seorang wanita tua yang telah ikut keluarga itu semenjak Tin Eng masih kecil,

bahkan ia menjadi bujang pengasuh dari gadis itu.

 242

“Bibi Song ……!” Gwat Kong memanggil perlahan sambil keluar dari tempat sembunyinya.

Nenek pelayan itu terkejut memandang. Eh, kau itu, Gwat Kong? Aduh, sampai kaget

setengah mati aku! Seperti setan saja kau muncul tiba-tiba.”

“Ssst ……. jangan keras-keras, bibi Song! Kehadiranku di sini tidak dikehendaki orang!”

Nenek itu mengangguk-angguk. “Aku tahu, aku tahu! Kalau kau terlihat oleh taijin, kepalamu

akan digebuk!”

“Bibi yang baik, tolonglah aku. Aku ….. aku ingin bertemu dengan siocia, di manakah dia?”

Nenek itu mainkan matanya. “Hm, ….. kau main api!”

“Bibi tolonglah! Bukankah siocia sedang berduka? Tolonglah beritahu bahwa aku berada di

sini dan ingin berjumpa dengan dia!”

“Bagaimana kau bisa tahu dia berduka?” nenek itu bertanya heran.

“Bibi lekaslah kau beritahukan padanya. Apakah kau ingin ada orang melihat kita bicara di

sini? Kaupun akan mendapat gebukan kalau taijin melihatnya!”

Terkejut dan takutlah bibi Song mendengar hal ini. “Akan tetapi, tak mungkin siocia dapat

keluar. Ia dilarang keras untuk meninggalkan kamarnya!”

“Kalau begitu, beritahulah saja. Aku menanti di sini untuk mendengar jawabannya.”

Nenek itu lalu masuk ke dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah putih

rambutnya itu.

Memang semenjak Tin Eng ditawan oleh Ang Sun Tek, gadis ini sama sekali tidak berdaya

dan terpaksa menurut saja dibawa pulang ke rumah orang tuanya dengan paksa. Ketika tiba di

rumah, ia disambut dengan wajah muram dan marah oleh ayahnya. Akan tetapi ibunya segera

menubruk dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Tin Eng terkejut melihat betapa

ibunya menjadi kurus sekali dan pucat seperti orang yang bersedih. Ia dibawa masuk ke dalam

kamar oleh ibunya di mana ibunya itu sambil menangis berkata,

“Tin Eng ….. apakah kau tidak kasihan kepada ibumu. Anakku, janganlah kau pergi lagi

meninggalkan ibumu!”

Tin Eng menjadi terharu dan memeluk ibunya sambil menangis pula.

Ayahnya menyusul ke dalam kamar dan pembesar ini marah sekali.

“Tin Eng, bagus sekali perbuatanmu, ya? Kau sebagai puteri tunggal seorang pembesar telah

menodai nama baik orang tuamu! Kau telah membikin malu ayah ibumu dan membikin kami

merasa susah sekali. Apakah benar-benar kau tidak mempunyai rasa sayang kepada orang tua

dan akan menjadi anak yang puthauw (tidak berbakti)?”

 243

Tin Eng melihat betapa di dalam kemarahannya, ayahnya itu nampak amat berduka sehingga

muka ayahnya itu kelihatan makin tua. Ia menjadi kasihan juga dan dengan tangis sedih ia

menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya. Hati seorang ayah betapa bengispun akan

menjadi lunak apabila melihat anak tunggalnya berlutut dan menangis di depan kakinya, maka

pembesar ini lalu mengelus-elus kepala puterinya.

“Tin Eng, jadilah seorang anak yang baik dan jangan kau menyusahkan hati ayah ibumu.”

“Ayah, anak berjanji takkan pergi lagi, asal saja jangan memaksa anak harus kawin dengan

orang she Gan itu! Kalau ayah memaksa, biarlah anak membunuh diri saja!”

Ibunya menjerit dan memeluknya, sedangkan Liok-taijin menjadi pucat wajahnya. Kemudian

ia hanya menghela napas berulang-ulang dan menggelengkan kepala.

“Kau memang keras kepala ….. terlalu dimanja tadinya ….” kemudian ia bicara keras-keras,

“Hal ini kita bicarakan kelak saja. Akan tetapi, mulai sekg kau jangan keluar dari kamarmu.

Berlakulah sebagai seorang gadis bangsawan yang terhormat. Jangan kau berkeliaran di luar

seperti seorang gadis kang-ouw yang liar dan tidak tahu kesopanan!” Ayah ini lalu

meninggalkan anaknya yang masih bertangisan dengan ibunya.

Demikianlah, semenjak saat itu Tin Eng tidak pernah keluar dari dalam rumah. Ia bermaksud

untuk mentaati ayah ibunya, asal jangan dikawinkan dengan Gan Bu Gi.

Pada waktu Gwat Kong datang, Tin Eng sedang berada di dalam kamarnya bersama ibunya.

Gadis ini sedang membaca sebuah kitab kuno untuk menghibur hatinya waktu senggang.

Ibunya menyulam dan duduk di dekatnya. Tiba-tiba pintu diketuk dan bibi Song masuk

dengan membungkuk-bungkuk.

Nyonya Liok mengangkat muka memandang pelayan itu. “Ada keperluan apakah?” tanyanya.

Bukan main bingungnya hati nenek itu. Ia memandang ke arah Tin Eng yang sudah

mengangkat muka memandang nenek itu. “Hamba …….. hamba ……. ada pesanan untuk siocia

……”

Tin Eng lalu berdiri dan menghampiri nenek itu. “Ada apakah bibi Song? Pesanan apa dan

dari siapa?”

Nenek itu ragu-ragu dan memandang kepada nyonya Liok dengan takut-takut. Bagaimana ia

harus menyampaikan pesanan Gwat Kong di depan nyonya majikannya itu?

“Jangan takut, katakanlah bibi Song!” Tin Eng mendesak.

“Gwat Kong …..”

Mendengar nama ini, Tin Eng memegang pundak pelayan itu. “Apa …..? Dia di mana …..?”

Juga nyonya Liok bangun berdiri dari kursinya. “Kau bilang Gwat Kong berada di sini?

Berani betul anak itu! Tin Eng, ada perlu apakah kau dengan bekas pelayan itu?”

 244

“Ibu, Gwat Kong bukan pelayan kita lagi! Dia ….. dia adalah …. guruku yang mengajar ilmu

pedang. Biarkan aku betemu dengan dia!”

Pandangan mata gadis itu kepada ibunya membuat nyonya Liok tertegun dan terkejut sekali.

Sepasang mata gadis itu bersinar dan wajahnya berseri-seri.

“Bagaimana mungkin? Kau tidak boleh keluar dari sini. Kalau ayahmu melihatnya, ia tentu

akan marah sekali. Apa lagi kalau dilihatnya kau bertemu dengan Gwat Kong!”

“Kalau begitu, biar dia masuk ke kamar ini!” Tin Eng mendesak.

“Gila!” Ibunya berseru kaget. “Kau lupa daratan, Tin Eng. Bagaimana seorang laki-laki muda

boleh memasuki kamar kita? Tidak, hal itu tidak boleh jadi!”

Tin Eng membanting-banting kakinya dengan manja. “Akan tetapi, aku harus bertemu dan

bicara dengan dia, ibu!”

Nyonya Liok menarik napas panjang dan ia bingung sekali. Kemudian ia menengok ke arah

jendela kamar yang beruji besi dan berkata,

“Begini saja, suruh dia masuk dan bicara kepadamu dari balik jendela itu!”

Tin Eng memberi isyarat kepada nenek pelayan tadi untuk melakukan usul ibunya ini. Bibi

Song segera keluar lagi menemui Gwat Kong yang masih menanti di belakang rumah.

“Bagaimana, bibi yang baik?” tanya pemuda itu dengan penuh gairah.

“Sssst, jangan banyak ribut. Kau pergilah ke kamar siocia melalui ruang pelayan dan kau

boleh bicara dengan siocia dari balik jendela!”

Gwat Kong sudah hafal keadaan rumah itu. Maka setelah mendengar kata-kata ini, ia lalu

masuk ke dalam rumah itu melalui ruang pelayan dan langsung menuju ke ruang dalam, terus

menghampiri jendela kamar Tin Eng yang menembus di ruang dalam itu. Ia melihat Tin Eng

sudah berdiri di dekat jendela dan memandang keluar.

“Tin Eng ……” bisik Gwat Kong sambil menghampiri dengan cepat.

“Gwat Kong ……..” Tin Eng memanggil dengan girang.

Panggilan yang disertai pandangan mata mesra ini sudah cukup bagi keduanya untuk

menyatakan perasaan hati mereka yang girang dan gembira sekali. Wajah Tin Eng menjadi

merah padam, akan tetapi Gwat Kong menjadi pucat ketika melihat bahwa di belakang Tin

Eng itu nampak nyonya Liok duduk sambil menyulam. Nyonya itu mengerling ke arahnya

dan Gwat Kong buru-buru menjurah memberi hormat. Akan tetapi nyonya Liok segera

membuang muka pura-pura tidak melihatnya.

“Tin Eng …. kau …. baik-baik saja?”

Tin Eng mengangguk singkat lalu berkata, “Gwat Kong aku dikalahkan Ang Sun Tek ….”

 245

“Aku sudah tahu akan hal itu. Aku sudah bertemu dengan kedua saudara Pui!”

“Bagus kalau begitu. Kau harus balaskan penasaranku kepada bangsat she Ang itu!”

“Jangan khawatir, memang aku hendak mencari dan mencoba kepandaiannya.”

“Dan ……. Gwat Kong, karena aku tak mungkin melanjutkan tugasku yang sudah kujanjikan

kepada dua orang sdr Pang, kau harus mewakili aku dan meneruskan usahaku. Aku tak dapat

bercerita panjang lebar. Gwat Kong, kau pergi dan carilah sahabatku Kui Hwa, si Dewi

Tangan Maut!”

“Hm, dia …. ?”

“Ya, dia musuh besarmu itu! Akan tetapi, kau tak boleh memusuhinya, biarpun ia anak Tanwangwe

yang menjadi musuh besarmu. Ia seorang baik dan gagah, bantulah dia, Gwat Kong.

Tanpa bantuanmu, tak mungkin ia akan dapat menemukan harta itu.”

“Mengapa?” tanya Gwat Kong yang hanya mengetahui sedikit saja dari kedua saudara Pui

tentang harta terpendam itu.

“Karena dahulu aku belum memberitahukan dengan jelas tempat harta itu tersembunyi.

Majulah dan perhatikan ini!”

Gwat Kong mendekat dan Tin Eng lalu mengeluarkan sehelai saputangan sutera hijau dari

kantong bajunya bagian dalam. Ia memang telah menyediakan sebuah peta yang digambarnya

di atas saputangan itu karena takut kalau-kalau ia akan lupa lagi. Ia membuka sapu tangan

yang berbau harum itu dengan telunjuknya yang kecil runcing. Ia menunjuk sebuah titik pada

saputangan yang bergambar peta itu.

“Tempatnya memang di sini, akan tetapi enci Kui Hwa belum tahu bahwa jalan masuknya

bukan dari kanan atau kiri, melainkan dari atas! Orang harus naik ke atas dan di bawah sebuah

batu besar terdapat jalan masuk itu. Simpanlah saputangan ini, Gwat Kong!”

Bab 27 …..

GWAT KONG menerima saputangan itu yang cepat dimasukkan ke dalam saku bajunya.

Kemudian ia memandang gadis itu dengan sayu.

“Tin Eng …..kau tidak ………. tidak dengan Gan Bu Gi?” Sukar baginya untuk mengucapkan

kata-kata “kawin” yang menikam hatinya.

Makin merahlah wajah Tin Eng mendengar ini dan berbareng dengan perasaan malu yang

menyerangnya, ia merasa amat girang. Teranglah sudah bahwa pemuda yang gagah perkasa

ini masih mencintainya dan kalau saja keadaan tidak seperti itu, ingin sekali ia menggoda

pemuda ini.

“Tidak, Gwat Kong! Apapun yang akan terjadi, aku takkan sudi! Aku lebih suka mati!” Gwat

Kong bernapas lega mendengar ini dan sebelum ia dapat berkata lagi, tiba-tiba nyonya Liok

berkata perlahan.

 246

“Pergilah, Liok-taijin datang ……..!”

Gwat Kong mengulur tangan dan memegang tangan Tin Eng yang keluar dari jendela.

“Tin Eng ….. aku pergi ………!”

“Pergilah, Gwat Kong, aku …… menantimu!”

Gwat Kong menyelinap dari jendela itu dengan hati berdebar. Teringatlah ia kepada Cui Giok

dan nelayan tua itu. Juga Cui Giok berkata seperti yang baru saja diucapkan oleh Tin Eng itu.

Mereka akan menanti! Ia bingung, akan tetapi telinganya masih dapat menangkap suara Liok

Ong Gun berkata,

“Apakah kalian tidak melihat sesuatu? Menurut laporan penjaga, bangsat kecil Gwat Kong itu

tadi kelihatan berada di dekat rumah kita!”

Gwat Kong terkejut sekali dan cepat menuju ke belakang rumah untuk pergi dari tempat

berbahaya itu. Dengan cepat ia dapat keluar dari pintu belakang memasuki taman bunga, akan

tetapi ketika ia tiba di tempat terbuka di tengah taman di mana dahulu dilakukan ujian

terhadap Gan Bu Gi, tiba-tiba saja dari belakang pohon dan gerombolan kembang

berlompatan keluar beberapa orang perwira.

“Ha ha ha! Gwat Kong penjahat rendah!” teriak Gan Bu Gi. “Kau benar-benar berani mati,

masuk ke dalam tempat orang seperti maling!”

Gwat Kong cepat memandang dan ternyata ia telah dikurung oleh sepuluh orang, diantaranya

Ang Sun Tek yang sudah memegang goloknya yang bersinar mengkilap. Tujuh orang lain

juga memegang golok yang sama bentuknya, bahkan pakaian mereka juga sama dengan

pakaian Ang Sun Tek sehingga hati Gwat Kong tergerak karena ia menduga bahwa ketujuh

orang ini tentulah kawan-kawan Ang Sun Tek sehingga mereka ini delapan orang merupakan

Liok-te Pat-mo Delapan iblis bumi yang memiliki ilmu silat Pat-kwa To-hoat dan merupakan

barisan Pat-kwa-tin yang terkenal! Selain Liok-te Pat-mo dan Gan Bu Gi, terdapat pula

seorang perwira yang brewok dan bertubuh tinggi besar, memegang sebatang tombak

panjang. Perwira ini bernama Lim Pok Ki, seorang perwira kerajaan yang berkepandaian

tinggi dan tingkatnya menduduki tempat kedua di kotaraja.

Melihat sikap sepuluh orang ini, Gwat Kong maklum bahwa ia takkan dapat keluar dari

tempat itu tanpa pertempuran mati-matian. Maka ia lalu mencabut pedang Sin-eng-kiam,

memasang kuda-kuda dan berkata dengan senyum sindir,

“Gan Bu Gi! Kau pengecut besar. Apakah kau hendak mengandalkan keroyokan untuk

melawanku?”

“Maling busuk!” Gan Bu Gi memaki. “Kau takut menghadapi kami?”

Gwat Kong tersenyum, sikapnya masih tenang. “Orang she Gan! Biarpun belum tentu aku

akan dapat menang menghadapi keroyokan kau dan kawan-kawanmu, akan tetapi jangan

harap akan membikin aku takut. Biar kau tambah dengan sepuluh orang lagi, aku takkan takut

menghadapinya!”

 247

“Bangsat sombong!” teriak Ang Sun Tek yang melompat maju dengan goloknya yang lihai.

Gwat Kong menangkis dan segera ia dikeroyok oleh sepuluh orang kosen itu!

Melihat gerakan senjata mereka, Gwat Kong kaget juga, karena kesemuanya memiliki

gerakan yang amat cepat dan lihai sekali sehingga ia segera berseru keras dan memutar Sineng-

kiam sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. Sin-eng Kiam-hoat adalah

ilmu pedang yang menduduki tempat tinggi di kalangan persilatan. Sedangkan Gwat Kong

telah mempelajarinya dengan sempurna, maka pedangnya menyambar-nyambar seperti kilat

dan tubuhnya terbungkus oleh sinar pedang.

Bukan main kagumnya Ang Sun Tek melihat kehebatan ilmu pedang lawannya ini. Sama

sekali ia tidak menduga bahwa pemuda yang pernah ia jumpai di restoran dan yang telah ia

coba pula tenaga dan kelihaiannya, memiliki ilmu pedang yang belum pernah ia lihat selama

hidupnya. Ia teringat akan ilmu pedang yang dimainkan oleh Tin Eng. Akan tetapi

dibandingkan dengan Tin Eng, kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi dan lebih hebat.

Biarpun delapan buah golok, sebuah pedang dan sebatang tombak menyerang bagaikan hujan

lebat. Namun pedang ditangan Gwat Kong dapat melayani dan menangkis semua itu dengan

amat baik dan cepatnya!

Akan tetapi, diam-diam Gwat Kong mengeluh di dalam hatinya. Untuk menghadapi Liok-te

Pat-mo delapan orang itu saja, belum tentu ia akan dapat memperoleh kemenangan, oleh

karena mereka ini benar-benar hebat sekali permainan goloknya. Apalagi di tambah dengan

Gan Bu Gi yang juga lihai ilmu pedang Kim-san-painya, sedangkan perwira tinggi besar

itupun hebat sekali permainan tombaknya. Baiknya bahwa dengan ikut sertanya Gan Bu Gi

dan Lim Pok Ki perwira brewok tinggi besar itu, maka Liok-te Pat-mo tidak sempat untuk

mengatur barisan Pat-kwa-tin mereka dan di dalam keroyokan yang tak teratur ini, kelihaian

mereka banyak berkurang.

Gwat Kong merasa menyesal mengapa ia tidak membawa sulingnya, karena kalau ia

membawa benda itu, ia akan dapat melakukan perlawanan lebih baik lagi dan dapat mainkan

ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat dengan sulingnya. Tentu saja ketika berangkat ke Kiangsui,

ia tidak pernah menyangka akan bertemu dan menghadapi sekian banyaknya lawan-lawan

yang tangguh dan berat.

“Tahan!” tiba-tiba Ang Sun Tek berseru keras. Semua orang menahan senjata masing-masing.

“Apakah kau yang disebut Kang-lam Ciu-hiap?” Ang Sun Tek menegaskan.

“Benar,” jawab Gwat Kong.

“Apakah kau ahli waris dari Sin-eng Kiam-hoat?”

Gwat Kong tersenyum. “Hmm, masih bagus matamu tidak tertutup oleh kesombonganmu,

Ang Sun Tek. Memang aku ahliwaris Sin-eng Kiam-hoat dan tentu kau akan dapat melihat

pedang Sin-eng-kiam ini kalau matamu tidak buta.”

“Bagus!” teriak Ang Sun Tek dengan girang. Aku bersama tujuh orang saudaraku telah

mengalahkan Im-yang Siang-kiam dari selatan, hanya tinggal Sin-eng Kiam-hoat dan Sinhong

Tung-hoat yang belum dicoba!”

 248

“Ketahuilah, Ang Sun Tek! Kalau kau hendak mencoba Sin-hong Tung-hoat, kaupun harus

berhadapan dengan aku sendiri.”

“Apa? Kau anak murid Bok Kwi Sianjin pula ……?”

“Benar! Sayang tidak ada senjata tongkat untuk membuktikannya kepadamu!”

“Bagus, bagus! Kalau begitu, cobalah kau hadapi Pat-kwa-tin kami!” seru Ang Sun Tek

dengan gembira.

“Ang Sun Tek, telah lama aku mendengar bahwa Pat-kwa-tin dari Liok-te Pat-mo berbahaya

dan hebat sekali, dan semua golok dimainkan berdasarkan Pat-kwa-tin, ilmu golok yang

menggetarkan daerah utara. Akan tetapi kau dan kawan-kawanmu berjumlah delapan orang

sedangkan aku hanya seorang diri. Kalau kau memang gagah dan hendak mempertahankan

nama barisanmu, beranikah kau menghadapi aku dan seorang kawanku?”

“Ha ha ha! Tentu saja berani. Siapakah kawanmu itu dan di manakah dia?”

Gan Bu Gi dan Lim Pok Ki merasa kurang puas melihat betapa Ang Sun Tek kini bercakapcakap

dengan Gwat Kong sebagai ahli silat menghadapi ahli silat, bukan sebagai perwira yang

hendak menangkap seorang pelanggar hukum, maka Gan Bu Gi berseru,

“Hayo, tangkap maling ini!”

“Gan-ciangkun, jangan bergerak!” seru Ang Sun Tek marah. “Atau barangkali kau mau

menghadapi Kang-lam Ciu-hiap sendiri saja?”

Ditegur secara demikian, Gan Bu Gi tertegun. Tentu saja ia tidak berani menghadapi Gwat

Kong seorang diri saja.

“Ha ha ha, ternyata Ang Sun Tek masih memiliki kegagahan tidak seperti tikus kecil she Gan

yang bersifat pengecut ini,” kata Gwat Kong. “Ang Sun Tek, tadi kau bertanya tentang

kawanku itu. Masih ingatkah kau kepada jago tua Sie Cui Lui di Ciang-si?”

“Pencipta Im-yang Siang-kiam-hoat? Tentu saja, dia pernah menjadi pecundang menghadapi

barisan kami!”

Gwat Kong mengangguk. “Benar, dan karena itulah maka kawanku itu memang sengaja

mencari-carimu di Sian-nang, akan tetapi ternyata kalian telah pergi ke ibukota. Dia adalah

cucu dari Sie Cui Lui Locianpwe, dan sengaja hendak membalas dan menebus kekalahan Sie

locianpwe!”

“Bagus, suruh dia datang ke sini. Biar kau dan dia maju berbareng!” tantang Ang Sun Tek.

Pada saat itu, terdengar ribut-ribut dan dari pintu depan muncullah Liok Ong Gun bersama

perwira dan yang jumlahnya dua puluh orang lebih.

“Tangkap penjahat ini!” teriak Liok-taijin dan menyerbulah semua perwira itu.

 249

Ang Sun Tek sendiri bersama tujuh orang kawannya ketika melihat munculnya Liok-taijin,

merasa tidak enak hati kalau tinggal diam saja, maka Ang Sun Tek berkata, “Mungkin kau

tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menguji barisan kami, Kang-lam Ciu-hiap!” Dan

iapun menggerakkan goloknya maju menerjang, diikuti oleh kawan-kawannya yang lain!”

Kini keadaan Gwat Kong benar-benar berbahaya sekali. Ia telah diserang lagi oleh Ang Sun

Tek dan kawan-kawannya. Sedangkan Liok-taijin bersama pengikutnya telah mengurung dan

siap sedia menyerbu pula.

Akan tetapi, Gwat Kong merasa aneh sekali mendapat kenyataan bahwa gerakan golok Ang

Sun Tek amat berlainan dengan tadi. Kini gerakan golok mereka lemah dan biarpun gerakan

itu masih amat cepat akan tetapi mereka tidak menyerang dengan sungguh-sungguh. Tentu

saja Gwat Kong menjadi girang sekali dan diam-diam ia tahu akan maksud Ang Sun Tek dan

kawan-kawannya. Liok-te Pat-mo ini terkenal sebagai tokoh-tokoh besar dan mereka amat

bangga dengan Pat-kwa-tin mereka sehingga ketika mendengar bahwa Gwat Kong bersama

seorang keturunan Sie Cui Lui hendak mencoba kekuatan barisan mereka, Ang Sun Tek dan

kawan-kawannya telah menjadi gembira. Oleh karena itu, mereka ini sengaja tidak menyerang

sungguh-sungguh dan hendak memberi kesempatan kepada Gwat Kong untuk melarikan diri

agar kelak mereka dapat berhadapan di depan pibu (adu kepandaian).

Akan tetapi agaknya Ang Sun Tek hendak memperlihatkan kepada Gwat Kong akan kelihaian

ilmu goloknya, karena tiba-tiba ia berseru keras,

“Kang-lam Ciu-hiap, aku takkan puas membiarkan kau pergi begitu saja!” Ia memberi isyarat

dengan kata-kata rahasia kepada kawan-kawannya dan dengan amat cepatnya mereka itu lalu

menyerbu, merupakan serangan yang bersegi delapan. Inilah gerakan dari Pat-kwa-tin yang

sengaja didemonstrasikan oleh Ang Sun Tek dan kehebatannya memang luar biasa sekali.

Delapan buah golok yang menyerang Gwat Kong itu tidak dilakukan dalam saat yang sama,

akan tetapi sambung menyambung dan selalu mengarah bagian yang lemah menurut gerakan

Gwat Kong ketika mengelakkan diri dari golok yang menyerangnya. Pemuda ini dengan

kecepatannya masih dapat menghindarkan tujuh batang golok yang menyerang berturut-turut.

Akan tetapi golok Ang Sun Tek yang menyerang terakhir masih dapat menyerempet

pundaknya sehingga bajunya di bagian pundak kiri robek dan kulitnya terbabat berikut sedikit

daging. Darah keluar membasahi bajunya itu.

Terdengar Ang Sun Tek tertawa bergelak, akan tetapi mereka kini menyerang kembali dengan

mengendurkan dan tidak sungguh-sungguh. Gwat Kong terkejut sekali, akan tetapi ia juga

bersyukur oleh karena Ang Sun Tek ternyata tidak hendak mencelakainya, hanya terdorong

oleh karena kesombongannya hendak memberi peringatan bahwa Pat-kwa-tinh tidak boleh

dibuat main-main.

Karena merasa bahwa percuma saja baginya untuk melanjutkan perlawanan lebih lanjut, Gwat

Kong lalu menyerbu keluar hendak melarikan diri. Ia berhasil membabat putus tombak Lim

Pok Ki yang menghadang di jalan. Kemudian ia menyerbu keluar dari bagian yang terjaga

oleh Lim-ciangkun itu. Para penjaga di belakang yang dipimpin oleh Liok Ong Gun segera

menghadang di jalan dengan senjata diputar dan kembali Gwat Kong terkurung.

Akan tetapi kini Liok-te Pat-mo tidak ikut mengurung karena ketika Gwat Kong lari, mereka

sengaja tidak mau mengejar. Biarpun kini dikurung lagi, namun oleh karena para

 250

pengeroyoknya hanya terdiri dari penjaga-penjaga yang berkepandaian biasa, mudah bagi

Gwat Kong untuk merobohkan beberapa orang dan membikin terpental banyak senjata lawan.

Kemudian ia melompat lagi keluar dari kepungan. Para pengeroyoknya mengejar sambil

berteriak-teriak.

Cepat bagaikan seekor burung walet, Gwat Kong melompat ke atas pagar tembok yang

mengurungi taman bunga itu. Akan tetapi baru saja kakinya menginjak tembok, dari luar

tembok menyambar anak panah dan piauw bagaikan hujan ke arah tubuhnya. Untung baginya,

ia telah berlaku waspada dan tenang sehingga dengan cepat ia lalu memutar pedangnya

dengan gerakan Sin-eng Po-in (Garuda sakti menyapu awan) sehingga seluruh tubuhnya

bagian depan terlindung oleh sinar pedang dan semua anak panah dan senjata rahasia lain

tertangkis runtuh ke bawah tembok.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendengar suara sambaran angin senjata rahasia

dari belakang. Ternyata bahwa para pengejar di sebelah dalam taman itupun telah

menyerangnya dengan senjata-senjata rahasia pula.

“Pengecut!” Gwat Kong berseru dan menggunakan kedua kakinya menggenjot tubuh dan

melompat ke bagian lain di atas pagar tembok itu. Akan tetapi, oleh karena ia tidak dapat

menggunakan pedangnya untuk menangkis ke belakang pada saat pedangnya digunakan

untuk menangkis senjata rahasia dari depan, maka biarpun lompatannya cepat sekali, namun

masih ada sebatang anak panah yang menancap pada punggungnya.

Baiknya pemuda ini telah siap sedia dan mengerahkan tenaga khikang di bagian tubuh

belakang. Biarpun anak panah itu menancap pada punggungnya, akan tetapi tidak dalam

betul, hanya kepalanya saja yang menancap. Betapapun juga, ia merasa sakit sekali, terutama

karena luka di pundak kirinya dan keroyokan-keroyokan itu membuat ia merasa lelah dan

darah yang keluar dari luka-lukanya membuat ia merasa pening kepala.

Dengan cepat Gwat Kong lalu menyambar turun sambil memutar pedangnya. Ketika para

tentara penjaga di luar tembok itu menyerbu, ia berlaku ganas, dan roboh mandi darah.

Namun, para penjaga masih saja mendesak maju. Pada saat yang amat berbahaya itu, tiba-tiba

terdengar bentakan nyaring,

“Barisan penjaga, mundur!”

Para penjaga mengenal suara ini dan menjadi ragu-ragu. Ketika Gwat Kong menengok,

alangkah kaget dan girangnya karena yang membentak itu adalah Tin Eng yang datang

menuntun seekor kuda putih.

“Gwat Kong, lekas kau lari!” kata gadis itu sambil menyerahkan kendali kuda. Para penjaga

tidak berani menyerang oleh karena gadis majikannya itu berada bersama Gwat Kong.

“Tin Eng,” bisik Gwat Kong. “Jaga dirimu baik-baik. Aku akan kembali kelak …..”

“Gwat Kong, kau terluka …?”

“Tidak mengapa, hanya luka sedikit!” kata Gwat Kong yang segera melompat ke atas kuda

dan segera membalapkan kuda putih itu dengan cepat.

 251

“Aku menunggu …..” masih terdengar suara Tin Eng dan gadis itu segera melompat kembali

ke dalam pintu depan untuk kembali ke kamarnya, sebelum ayahnya yang masih berada di

dalam taman bunga itu melihatnya. Gadis ini tadi mendengar teriakan-teriakan di luar gedung,

dan karena ia maklum bahwa Gwat Kong sedang dikeroyok, maka dengan nekad gadis ini lalu

berlari keluar, tidak memperdulikan teriakan dan larangan ibunya. Ia melihat betapa Gwat

Kong dikeroyok dan sedang bertempur mati-matian. Maka ia lalu cepat mengambil seekor

kuda yang terbaik dari kandang kudanya kemudian menuntun kuda itu keluar dan menolong

Gwat Kong melarikan diri.

Ketika Liok-taijin berlari keluar, ia masih melihat bayangan Gwat Kong di atas kuda yang

melarikan diri dengan amat cepatnya.

“Keluarkan kuda!” teriaknya. “Kejar bangsat itu sampai dapat!”

Sepasukan berkuda lalu melakukan pengejaran, dipimpin oleh Liok-taijin sendiri.

Gwat Kong membandel kudanya dan ketika ia menengok, ia melihat sepasukan berkuda yang

terdiri dari belasan orang, dipimpin oleh Liok-taijin sendiri melakukan pengejaran. Karena ia

tidak melihat Liok-te Pat-mo di antara para pengejar itu, kalau ia mau, ia akan dapat

menghadapi mereka. Akan tetapi ia telah merasa jemu dan pening. Apalagi karena ia tidak

mau melawan Liok-taijin bekas majikannya sendiri itu.

Baiknya Tin Eng memberikan kuda putih yang paling baik di antara semua kuda di dalam

kandang Liok-taijin. Bahkan kuda putih ini adalah kesayangannya ketika ia masih menjadi

pelayan di gedung itu. Maka ia dapat melarikan kuda itu dengan amat cepatnya sehingga para

pengejarnya tertinggal di belakang.

Anak panah yang mengenai punggungnya masih menancap di punggung. Akan tetapi ia tidak

merasa khawatir karena luka itu hanyalah luka di luar saja yang cukup mendatangkan rasa

panas dan sakit.

Ia hanya mengharapkan untuk cepat sampai di sungai, di mana perahu telah menunggu, di

mana Cui Giok dan nelayan tua telah menunggunya. Mudah-mudahan Cui Giok dan nelayan

itu ada di sana, pikirnya. Bagaimana kalau Cui Giok tidak berada di dalam perahu?

Bagaimana kalau nona itu sedang pergi meninggalkan perahu untuk menghibur diri ke darat?

Ia telah terlalu lama meninggalkan Cui Giok. Ketika ia berangkat tadi, matahari baru saja

muncul. Sekarang matahari telah jauh berada di barat. Hampir sehari penuh ia meninggalkan

perahu. Ah, Cui Giok tentu merasa amat kesepian. Mengingat akan hal ini, Gwat Kong makin

mempercepat larinya kuda yang ditendang-tendangnya sehingga kuda itu membalap bagaikan

terbang cepatnya.

Ketika ia lewat di bukit dekat sungai itu, dan membelok ke kiri, hatinya merasa girang sekali.

Hampir saja ia berseru karena girangnya ketika melihat bahwa Cui Giok sedang berdiri di

kepala perahu. Gadis itu berdiri lurus dan jelas terlihat dari jauh bahwa gadis itu sedang

menungguinya. Angin yang bertiup perlahan membuat ikat pinggang gadis itu melambailambai

seakan-akan menyuruh ia datang lebih cepat.

Gwat Kong telah merasa pusing sekali, akan tetapi ia tersenyum girang.

 252

“Cui Giok,” bisiknya di dalam hati. “Kau benar-benar menungguku …..,” ia memandang

kepada gadis yang berdiri dengan gagah dan cantik menarik itu.

Sementara itu, Cui Giok berdiri dengan mulut merengut. Ia marah sekali setelah melihat

munculnya orang yang ditunggu-tunggu semenjak tadi. Semenjak Gwat Kong pergi, ia duduk

termenung saja, dan setelah hari menjadi siang, ia mulai gelisah karena belum juga melihat

Gwat Kong kembali.

Ketika nelayan tua itu telah memasak nasi dan menyuruh ia makan, gadis itu menolaknya,

menyatakan bahwa ia belum lapar. Nelayan itu menggeleng-gelengkan kepala dan maklum

bahwa gadis ini tak merasa senang karena Gwat Kong tidak berada di situ.

“Kongcu tentu akan kembali, siocia. Makanlah dulu dan jangan khawatirkan dia.”

“Siapa memikirkan dia?” kata Cui Giok marah. “Biar dia tidak kembali sekalipun, aku tidak

perduli.” Akan tetapi ia tahu bahwa ucapannya ini bohong belaka.

Setelah hari menjadi makin gelap, kegelisahannya memuncak. Semenjak tadi ia berdiri di

kepala perahu memandang ke arah jalan tikungan di balik bukit itu dengan wajah sayu dan

muram. Ingin sekali ia menyusul ke Kiang-sui. Akan tetapi ia merasa malu kepada Gwat

Kong dan malu kepada diri sendiri. Ia teringat akan dongengan nelayan tadi, dan diam-diam

di dalam hatinya terdengar nyanyian,

“Seribu tahun dinda akan menanti juga!”

Ketika tiba-tiba Gwat Kong muncul dari balik bukit sambil menunggang seekor kuda putih,

dadanya berdebar dan mukanya terasa panas. Sepasang matanya terasa pedas karena air mata

hampir menitik turun. Sedangkan mulutnya menjadi cemberut. Ia gemas dan marah.

Lenyaplah semua kegelisahannya berganti oleh rasa marah mengapa pemuda itu demikian

lama meninggalkannya.

Akan tetapi, ketika melihat pasukan berkuda yang mengejar dari belakang, kemarahannya

lenyap tersapu angin dan pada wajahnya yang manis itu terbayang kegelisahan hebat. Apalagi

setelah Gwat Kong tiba di depannya dan pemuda itu melompat turun terhuyung-huyung

dengan tubuh lemas. Ia menjadi kaget sekali. Dengan lompatan kilat ia mendarat dan

memegang tangan pemuda itu,

“Gwat Kong, apa yang terjadi ….?” suaranya gemetar ketika ia melihat pundak pemuda itu

yang penuh darah dan terbelalak matanya ketika melihat anak panah di punggung pemuda itu.

“Cui Giok! Syukurlah kau berada di perahu. Lekas kita pergi dari sini. Lopek, lekas lepaskan

tambang perahu dan jalankan perahu.”

Cui Giok menggandeng tangan Gwat Kong masuk ke dalam perahu. Ia penasaran sekali.

“Gwat Kong, kau beristirahatlah dan biar aku menghajar sampai mampus semua pengejarmu

itu.” Sambil berkata demikian, Cui Giok lalu mencabut sepasang pedangnya yang disimpan di

buntalan pakaiannya.

Akan tetapi Gwat Kong memegang tangannya.

 253

“Jangan, Cui Giok. Jangan lawan mereka. Pasukan itu dipimpin oleh Liok-taijin dan aku tak

dapat melawan dia. Lopek, hayo cepat jalankan perahu!”

Nelayan itu tak perlu diperintahkan lagi, karena dengan ketakutan ia telah melepaskan

tambang yang mengikat perahu dan cepat mendayung perahu itu ke tengah sungai, yang

menghanyutkan perahu itu dengan cepat, dibantu oleh tenaga dayung nelayan itu.

Cui Giok merasa dadanya panas. “Hmm, kau tidak mau melawan orang she Liok itu, karena

dia ayah …. Tin Eng …??” Nada suaranya penuh perasaan cemburu.

Gwat Kong menjatuhkan diri di bangku perahu. “Tidak …, aku, aku …. ah, pening sekali

kepalaku ….”

Lenyap pula kemarahan Cui Giok. Ia berlutut dan menahan tubuh Gwat Kong yang lemah.

Sementara itu para pengejar tiba di pantai sungai dan terdengar mereka memaki-maki marah,

karena mereka tidak berdaya mengejar perahu yang telah jauh itu. Tak lama kemudian mereka

lalu melarikan kuda kembali sambil membawa kuda yang tadi ditunggangi oleh Gwat Kong.

“Gwat Kong, kau terluka ……?” Cui Giok berbisik penuh perhatian. Mendengar pertanyaan

ini, Gwat Kong teringat akan ucapan Tin Eng yang sama pula. Tin Eng juga mengeluarkan

bisikan seperti itu ketika menyerahkan kuda tadi. Gelap kedua mata Gwat Kong dan tak dapat

ditahannya lagi. Ia lalu roboh tak sadarkan diri.

“Gwat Kong …!”

Cui Giok menjerit perlahan dan ia lalu mencabut anak panah yang masih menancap di

punggung pemuda itu. Ia merasa ngeri melihat dara mengalir keluar dari punggung itu. Tanpa

ragu-ragu lagi ia merobek baju Gwat Kong dan sambil melepaskan kepala pemuda itu di atas

pangkuannya, ia lalu membalut luka pemuda itu dengan ujung ikat pinggangnya yang

diputuskannya. Nelayan tua itupun membantunya dan melihat betapa gadis itu hendak

membalut pundak dan punggung yang luka, ia berkata dengan tenang,

“Tenanglah, siocia. Luka ini tidak besar dan berbahaya. Sebelum dibalut, lebih baik dicuci

lebih dahulu.”

Nelayan itu lalu membuat api di atas perahu dan memasak air sungai, karena menurut

pengalamannya, untuk mencuci luka, lebih baik menggunakan air yang telah matang.

Sementara itu, Cui Giok menutup luka dipunggung dan pundak Gwat Kong dengan sapu

tangannya yang telah basah oleh darah.

Melihat muka Gwat Kong yang pucat dan tak bergerak bagaikan mayat itu, hatinya terasa

gelisah dan terharu. Pikirannya bingung tidak keruan sehingga tanpa disadarinya pula

beberapa titik air matanya menetes turun dan mengenai muka Gwat Kong. Karena sapu

tangannya telah penuh dengan darah, Cui Giok lalu menggunakan ujung bajunya untuk

menghapus air mata yang membasahi hidung dan pipi pemuda itu.

Malam tiba dengan lambat, sama lambatnya dengan perahu kecil yang hanyut oleh aliran air

sungai Yung-ting. Untuk menjaga serangan angin malam, Cui Giok telah memindahkan Gwat

Kong ke dalam perahu, menyelimuti tubuh pemuda itu dengan selimut mantelnya dan

 254

menggunakan setumpuk pakaian sebagai bantal. Ketika perahu itu tiba di sebuah tempat yang

banyak pohonnya, Cui Giok minta nelayan minggirkan perahu dan nelayan tua itu lalu

mengikat perahu pada akar pohon.

Angkasa penuh bintang gemerlapan membuat langit nampak bagaikan beludru hitam terhias

ratna mutu manikam yang serba indah. Nelayan itu membuat api unggun di tepi sungai dan

karena ia merasa amat lelah, ia tertidur di bawah pohon, dekat api unggun.

Akan tetapi Cui Giok tak dapat tidur. Ia semenjak tadi duduk menjaga di dekat Gwat Kong

setelah mencuci luka-luka di tubuh pemuda itu dan membalutnya dengan hati-hati. Gwat

Kong masih tetap tak sadar, tak bergerak dengan wajah pucat. Akan tetapi pernapasannya

normal dan Cui Giok menjaga dengan hati gelisah. Gadis ini hanya memperhatikan jalan

pernapasan Gwat Kong, seakan-akan khawatir kalau-kalau jalan pernapasan itu tiba-tiba

Beberapa kali ia meraba-raba jidat pemuda itu dan mencoba untuk memanggil-manggilnya.

Akan tetapi Gwat Kong tetap tak sadar, bagaikan seorang yang tidur nyenyak.

Bukan main gelisahnya hati dara itu. Ia tidak mempunyai pengalaman merawat orang sakit,

dan tidak tahu harus berbuat apa. Kadang-kadang ia mencucurkan air mata kalau

kegelisahannya memuncak, takut kalau-kalau Gwat Kong akan mati karena luka-lukanya ini.

Setelah dapat menahan air matanya, ia memandang dengan mata sayu dan menghela napas

panjang berulang-ulang. Menjelang tengah malam, tiba-tiba terdengar keluhan dari mulut

pemuda itu dan tangannya bergerak-gerak.

“Gwat Kong ….” Cui Giok memanggil dengan mesra dan memegang tangan pemuda itu. Ia

merasa betapa Gwat Kong menekan jari-jari tangannya dan memegang tangannya itu eraterat.

“Gwat Kong ….” kembali Cui Giok memanggil perlahan dengan suara gemetar penuh

perasaan. Ia merasa girang karena pemuda itu telah siuman kembali.

Gwat Kong membuka matanya, akan tetapi ia tidak mengenal Cui Giok terbukti dari pandang

matanya yang liar. Penerangan api lilin di dalam perahu itu hanya suram-suram. Akan tetapi

Cui Giok dapat melihat betapa pipi Gwat Kong merah sekali. Ia mengulur tangan menyentuh

jidat pemuda itu. Alangkah kagetnya, ketika merasa betapa jidat itu panas membara. Gwat

Kong telah terserang demam yang timbul karena luka-lukanya. Luka itu memerlukan

perawatan dan pengobatan, akan tetapi Cui Giok dan nelayan itu tidak mempunyai obat dan

tidak tahu pula harus memberi obat apa, maka hanya dicuci dan dibalut. Inilah yang membuat

luka itu membengkak dan menimbulkan panas demam.

“Panas ….. panas ……” Gwat Kong berkata gelisah sambil menggoyang kepala ke kanan kiri.

Cui Giok makin bingung. “Bagaimana Gwat Kong …? Sakitkah ….?”

“Panas …. minum ….” Gwat Kong berkata setengah sadar.

Cui Giok cepat berbangkit dan mengambil minum yang tersedia di cawan. Ia mengangkat

kepala pemuda itu dan memberi minum yang diminum oleh Gwat Kong dengan lahapnya.

 255

Kemudian ia meletakkan kepala pemuda itu di atas tumpukan pakaian lagi. Akan tetapi Gwat

Kong tetap gelisah. Kepalanya berdenyut-denyut, tubuhnya terasa amat panasnya. Bagaikan

seorang gila ia merenggut pakaiannya dan “bret …. bret …” bajunya terobek dan terbuka

sehingga tubuhnya bagian atas terbuka dan telanjang sama sekali.

“Eh, jangan begitu, Gwat Kong! Kau nanti terkena angin!” kata Cui Giok yang segera

menarik mantelnya untuk diselimutkan kepada tubuh Gwat Kong.

“Panas ……,” Gwat Kong makin gelisah dan kepalanya miring ke kanan kiri sehingga

akhirnya terjatuh dari tumpukan pakaian itu.

“Diamlah, Gwat Kong. Tenanglah!” Cui Giok hampir menangis saking gelisahnya dan

bingungnya. Ia memegang kepala Gwat Kong, mengangkatnya dan meletakkan kepala itu di

atas pangkuannya sambil memeluk kepala itu erat-erat agar jangan tergoyang ke kanan kiri. Ia

menggunakan jari-jari tangannya yang halus itu untuk memijit-mijit kepala Gwat Kong

dengan mesra. Agaknya Gwat Kong merasa nyaman dipijit-pijit dan dipeluk kepalanya itu.

Karena ia menjadi tenang lagi dan sambil meramkan mata ia tertidur pula di atas pangkuan

Cui Giok.

Gadis itu merasa lega dan tidak berani bergerak sedikitpun, khawatir kalau-kalau ia

mengagetkan Gwat Kong. Dengan penuh kasih sayang, ia mengusap-usap rambut kepala

pemuda itu bagaikan seorang ibu mengelus-elus kepala anaknya. Kasih sayangnya terhadap

pemuda ini meluap-luap dan hatinya berdebar penuh kebahagiaan.

Semalam suntuk Cui Giok memangku kepala Gwat Kong dengan hati-hati dan tidak berani

bergerak sedikitpun sehingga kedua kakinya terasa lumpuh dan kaku kesemutan karena

darahnya tidak dapat berjalan dengan baik. Namun ia dapat mempertahankan diri dengan

setia. Tubuh Gwat Kong masih panas sekali sehingga rasa panas yang hebat menembus

pakaian dan membuat kedua paha Cui Giok terasa panas bagaikan dekat api.

Bab 28 …..

KETIKA matahari mulai menyinarkan cahayanya, nelayan tua itu terjaga dari tidurnya.

Melihat betapa Cui Giok masih duduk di dalam perahu sambil memangku kepala Gwat Kong,

ia menggeleng-geleng kepala dan merasa amat terharu, teringat akan anak perempuannya

yang telah mati.

“Siocia, tidurkan kongcu di atas tumpukan pakaian dan kau perlu beristirahat.”

Akan tetapi Cui Giok menggelengkan kepala dan berbisik,

“Tubuhnya panas sekali, lopek. Agaknya ia terkena demam.”

Nelayan itu meraba jidat Gwat Kong dan keningnya berkerut ketika merasa betapa panasnya

jidat pemuda itu.

“Hmmm, benar-benar ia terkena demam,” katanya.

Pada saat itu, Gwat Kong sadar kembali dan menggeliat-geliat karena napasnya. Cui Giok

menaruh kepala pemuda itu di atas bantal pakaian dan memberinya minum lagi.”

 256

“Kita berhenti dulu di sini, lopek. Tak perlu melanjutkan pelayaran,” katanya.

Demikianlah dengan penuh perhatian dan amat telaten dan sabar, Cui Giok dan nelayan tua

itu merawat Gwat Kong. Ternyata bahwa luka di bagian punggung yang terkena anak panah

itu membengkak dan berwarna merah sekali. Luka di pundak sudah mulai mengering.

Agaknya anak panah itu telah berkarat sehingga mendatangkan racun dan membuat luka itu

bengkak dan panas.

Sampai tiga hari Gwat Kong terserang demam dan tidak ingat akan keadaan sekelilingnya.

Akan tetapi pemuda itu bertubuh kuat dan darahnya yang sehat ternyata mempunyai daya

tahan yang luar biasa sehingga biarpun luka itu tidak diobati akan tetapi tiga hari kemudian

bengkaknya mengempis dan panasnya turun.

Ia mulai sadar dan teringat akan semua kejadian. Ketika ia membuka mata, sadar dari tidurnya

yang sudah mulai tenang, ia mendapatkan Cui Giok duduk di dekatnya dan kagetlah ia ketika

melihat betapa gadis itu nampak pucat dan kurus, sepasang matanya agak cekung. Ia tidak

tahu bahwa selama tiga hari itu Cui Giok hampir tidak makan sama sekali, hanya makan

sedikit kalau sudah dipaksa-paksa dan diberi nasehat oleh nelayan tua itu.

“Siocia,” nelayan itu memberi nasehat dengan terharu. “Kau benar-benar seorang gadis

berhati mulia dan amat setia kepada kawanmu. Akan tetapi, kongcu telah menderita sakit dan

betapapun juga, kita harus bersabar. Kalau kau menyiksa dirimu sendiri, tidak tidur dan tidak

makan, bagaimana kalau kau sampai menderita sakit pula? Bukankah hal itu membuat

keadaan menjadi makin buruk? Kalau kau jatuh sakit pula, siapa yang akan merawat kongcu?

Aku sudah tua dan bodoh. Bagaimana aku dapat mengurus kalian berdua kalau keduanya

jatuh sakit? Maka dari itu, makanlah siocia, biarpun hanya sedikit!”

Setelah diberi nasehat dan dibujuk-bujuk, barulah Cui Giok mau makan sedikit bubur, akan

tetapi apabila ia memandang ke arah Gwat Kong, ia melepaskan mangkuk buburnya lagi.

Dengan telaten ia menyuapkan bubur ke mulut Gwat Kong dan selama tiga hari itu biarpun ia

makan sedikit bubur, namun ia sama sekali tak pernah tidur.

Ketika Gwat Kong sadar dan melihat keadaan Cui Giok, ia bangun dan dibantu oleh Cui

Giok, ia duduk. Tubuhnya masih lemah, akan tetapi tidak panas lagi dan kepalanya tidak

“Bagaimana, Gwat Kong? Apakah masih merasa sakit dan pusing?” tanya Cui Giok penuh

Gwat Kong menggeleng kepalanya. “Aaah, apakah selama ini aku tidur saja? Alangkah

malasnya. Sudah berapa lamakah aku tertidur? Kita telah sampai di mana?” Ia memandang ke

darat di mana nelayan tua itu sedang memanggang ikan.

“Kau menderita demam,” kata Cui Giok dan wajahnya berseri girang karena ternyata bahwa

pemuda itu telah sembuh betul.

“Tubuhmu panas sekali, membikin aku dan lopek merasa gelisah dan bingung.”

“Akan tetapi, kau … kenapa kau kurus sekali…?”

 257

Dengan penuh perhatian Gwat Kong memandang kepada Cui Giok yang segera menundukkan

mukanya. Setelah hatinya menjadi lapang melihat Gwat Kong sembuh, ia merasa lelah dan

mengantuk sekali.

“Aku mengantuk ….. aku mau tidur Gwat Kong…..,” katanya sambil merebahkan diri dalam

perahu itu, berbatalkan lengan. Ia meramkan mata dan …. sebentar saja ia tidur nyenyak

Gwat Kong termenung. Ia tidak tahu berapa lama ia telah jatuh sakit. Ia memandang kepada

wajah Cui Giok yang tidur nyenyak. Gadis itu rebah dengan tubuh miring, menghadap

kepadanya. Ia mengamati wajah yang agak pucat dan kurus itu, dan iapun merasa heran.

Mengapa Cui Giok nampak seperti orang sakit? Dan mengapa pula pada pagi hari gadis itu

demikian mengantuk sehingga jatuh pulas begitu tubuhnya dibaringkan?

Perahu bergoyang sedikit ketika nelayan masuk ke dalam perahu membawa poci teh dan

mangkok bubur.

“Makanlah bubur ini, kongcu. Aku girang sekali kau dapat bangun pagi ini.”

Gwat Kong menjadi amat terharu. “Berapa lama aku menderita sakit dan tidur saja, lopek?”

Kakek itu memandangnya dan mulutnya tersenyum. “Berapa lama? Tak kurang dari tiga

malam, kongcu! Kau selama itu tidak ingat menderita demam panas, membuat kami merasa

khawatir sekali.”

Gwat Kong tercengang dan makin terharu, “Aaah …. dan selama itu kau merawatku, lopek?

Alangkah berbudi hatimu. Aku harus menyatakan terima kasihku kepadamu.”

“Berbudi? Terima kasih kepadaku? Kongcu, kalau mau bicara tentang budi dan terima kasih,

jangan tujukan itu kepadaku, akan tetapi kepada siocia ini. Dialah yang merawatmu selama

itu!”

Gwat Kong memandang ke arah Cui Giok yang masih tidur nyenyak.

“Dia …?” tanyanya terharu.

Kakek itu mengangguk-angguk. “Belum pernah aku melihat seorang gadis sedemikian setia

dan mulia. Ia pasti menyintaimu dengan sepenuh hati dan jiwanya. Tahukah kau, kongcu

bahwa dia selama tiga malam ini sedikitpun tidak pernah tidur? Bahkan dia hampir tidak

makan sama sekali. Dan tak pernah pergi dari sisimu, menjagamu, merawatmu, menyuapkan

bubur kepadamu. Bahkan ….. tidak jarang ia menangisimu.”

Gwat Kong merasa betapa lehernya seakan-akan tercekik ketika sedu-sedan keharuan naik

dari dalam dadanya.

“Be …. benarkah, lopek?”

 258

“Mengapa tidak benar?” Kakek itu mengangguk-angguk lagi. “Dia menjaga dan merawatmu

bagaikan seorang ibu merawat anaknya, penuh kasih sayang dan kalau tidak ada dia, entah

akan bagaimana jadinya dengan kau, kongcu. Kau benar-benar bahagia mendapat cinta kasih

seorang gadis semulia dia ini …” Kakek itu mengangguk-angguk lagi, dan keluar dari perahu

Bukan main terharunya hati Gwat Kong. Ia menatap wajah Cui Giok yang kurus dan pucat.

Tak terasa lagi dua titik air mata turun dan mengalir di pipinya. Alangkah mulia hati gadis ini,

pikirnya. Gadis yang cantik dan luar biasa gagahnya ini, yang berkepandaian tinggi, telah

merawatnya, menjaganya sampai tiga malam tanpa tidur sehingga muka menjadi pucat dan

Ah, bukan main. Hampir tak dapat dipercaya. Dengan perlahan Gwat Kong lalu

menanggalkan mantel yang tadinya diselimutkan kepada tubuhnya itu, mantel merah

kepunyaan Cui Giok. Ia lalu menghampiri gadis itu dan dengan hati-hati ia menyelimuti tubuh

gadis itu.

Kemudian ia duduk termenung lagi. Pikirannya bingung. Teringat ia kepada Tin Eng gadis

yang dicintainya itu. Kemudian ia teringat akan penuturan nelayan tadi, tentang kecintaan dan

kesetiaan Cui Giok. Ia menjadi bingung sekali memikirkan ini semua.

Setelah matahari naik tinggi, Cui Giok membuka matanya melihat Gwat Kong duduk di

dekatnya. Ia segera berbangkit dan kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya, ialah,

“Gwat Kong, apakah kau sudah sembuh betul? Tidak merasa sakit lagi?”

Ucapan ini mengharukan hati Gwat Kong benar. Dari ucapan yang sederhana ini terjamin

cinta kasih gadis itu yang amat besar. Begitu bangun dari tidur, yang menjadi perhatian

pertama adalah keadaannya. Gwat Kong tak dapat menahan keharuan hatinya. Ia memegang

kedua tangan gadis itu dan sambil memandangnya tajam ia berkata dengan suara gemetar

penuh perasaan,

“Cui Giok, alangkah mulia hatimu. Aku berterima kasih kepadamu, dan aku … aku berhutang

budi kepadamu. Percayalah bahwa selama aku hidup, aku takkan melupakan kamu dan

hatimu ini …”

Merahlah wajah Cui Giok. Untuk beberapa lama ia menatap wajah pemuda itu dengan

pandang mata yang mesra sekali, karena seluruh perasaan hatinya terpancar keluar dari

pandang mata ini. Akan tetapi ia segera menundukkan muka dan menarik kedua tangannya.

“Aaah, baru saja sembuh kau sudah berlaku aneh, Gwat Kong. Di antara kita untuk apa

berhutang budi. Gwat Kong mengapa kau sampai terluka? Ceritakanlah pengalamanmu di

Kiang-sui. Aku sudah tak sabar lagi untuk mendengar ceritamu itu.”

Maka berceritalah Gwat Kong tentang pengalamannya di Kiang-sui. Betapa Tin Eng ditawan,

dipaksa pulang oleh Ang Sun Tek. Beberapa lama kemudian Tin Eng minta pertolongannya

untuk membantu anak murid Hoa-san-pai mencari harta pusaka yang juga dicari oleh Ang

Sun Tek bersama kawan-kawannya. Juga ia menceritakan tentang pertempurannya melawan

Liok-te Pat-mo dan perwira-perwira lain.

 259

“Ah, kalau saja aku tahu bahwa Liok-te Pat-mo berada di Kiang-sui, tentu aku akan pergi

mencari mereka di sana,” kata Cui Giok setelah mendengar penuturan ini. “Gwat Kong,

biarlah sekarang aku pergi ke Kiang-sui untuk menantang mereka.”

“Jangan, Cui Giok. Aku telah mengajukan tantangan kepada mereka dan juga sudah

menyebutkan namamu. Agaknya Ang Sun Tek bersedia menghadapi kita di Sian-nang dan

diam-diam aku telah mengadakan perjanjian ini dengan dia. Bahkan ketika aku terdesak, ia

sengaja tidak mau membunuhku, hanya melukai pundakku, agaknya untuk memberi

kesempatan agar aku dan kau kelak dapat bertempur dengan Pat-kwa-tin di Sian-nang. Lagi

pula, sekarang mereka tidak berada di Kiang-sui lagi, karena mereka bertugas pula mencari

harta pusaka itu di Hong-san. Maka dari itu, kalau kau tidak berkeberatan, Cui Giok, marilah

kita pergi ke Hong-san lebih dahulu.”

“Hmm kau hendak mencarikan harta pusaka itu untuk Tin Eng?” Aneh, tiap kali menyebut

nama Tin Eng, suara gadis ini gemetar, dan sinar matanya memancarkan cahaya ganjil.

“Itu hanya soal kedua, Cui Giok. Harta pusaka itu adalah hak milik kedua saudara Phang yang

masih muda, keturunan dari Pangeran Phang Thian Ong. Yang terpenting bagiku adalah

membantu murid-murid Hoa-san-pai, karena apabila mereka bertiga itu, yakni yang bernama

Tan Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok, sampai bersua dengan rombongan perwira kerajaan,

mereka tentu akan mendapat bencana besar. Pula, selain maksud tersebut, kitapun akan dapat

bertemu dengan Liok-te Pat-mo di tempat itu sehingga kita sekalian dapat menghadapi

mereka dalam pibu. Bukankah ini berarti sekali bekerja banyak hasilnya?”

Cui Giok terpaksa harus menyatakan setujunya, oleh karena memang alasan pemuda itu kuat

sekali. Liok-te Pat-mo sedang pergi ke Hong-san, maka untuk apa mencari mereka ke kota

raja?”

“Baiklah, Gwat Kong. Akan tetapi, apakah kau sudah kuat betul untuk melakukan perjalanan

ke sana?”

Gwat Kong tersenyum. “Tidak percuma kau merawatku selama tiga malam ini, Cui Giok.

Aku sudah sembuh betul dan kalau digunakan untuk melakukan perjalanan darat, tentu

kekuatanku akan timbul kembali.”

Mereka lalu berkemas dan menyatakan keinginan mereka kepada nelayan tua itu.

“Lopek,” kata Gwat Kong. “Kami terpaksa meninggalkan perahumu untuk melanjutkan

perjalanan melalui darat. Besar jasamu untuk kami, lopek dan tak lupa kami menyatakan

terima kasih kami. Terimalah sedikit uang ini sekedar pembalas jasamu.” Gwat Kong

menyerahkan uang sepuluh tail kepada kakek itu.

Nelayan itu menghela napas. “Kongcu, selama aku menjadi nelayan, baru kali ini aku merasa

beruntung mempunyai penumpang-penumpang seperti kongcu dan siocia. Aku merasa

seakan-akan melakukan pelayaran dengan keluarga sendiri. Mudah-mudahan kalian berdua

selamat dan bahagia, kongcu dan besar harapanku kelak kita akan dapat bertemu pula.”

Juga Cui Giok menyatakan terima kasihnya dan sebagai tanda jasa, ia memberi sebuah hiasan

rambut dari pada emas. Kakek itu menerimanya dengan penuh kegirangan.

 260

Maka berangkatlah Cui Giok dan Gwat Kong meninggalkan perahu itu, langsung menuju ke

selatan untuk pergi ke Hong-san. Pada hari-hari pertama mereka melakukan perjalanan

seenaknya dan lambat karena kesehatan Gwat Kong baru saja sembuh. Akan tetapi, tiga hari

kemudian, Gwat Kong sudah sembuh sama sekali dan mereka dapat melakukan perjalanan

dengan cepat mempergunakan ilmu lari cepat. Setelah mereka tiba di pantai sungai Huang-ho

mereka lalu membelok ke kiri, menuju ke timur karena bukit Hong-san terletak di lembah

sungai Huang-ho sebelah timur.

Pada suatu hari, ketika mereka sedang berlari cepat melalui sebuah hutan, tiba-tiba dari depan

mereka melihat seorang kakek tua yang rambutnya putih, pakaiannya putih bersih penuh

tambalan. Biarpun kakek itu berjalan dibantu oleh tongkatnya, akan tetapi kedua kakinya

seakan-akan tidak mengambah bumi.

Cui Giok mengeluarkan seruan heran dan terkejut menyaksikan ilmu ginkang yang

sedemikian hebatnya, akan tetapi Gwat Kong berseru dengan girang,

“Suhu ……..!”

Memang kakek itu bukan lain adalah Bok Kwi Sianjin, pencipta ilmu tongkat Sin-hong Tunghoat,

yang pernah melatih ilmu silat itu kepada Gwat Kong. Sebagaimana diketahui, tempat

pertapaan kakek sakti ini memang dekat sungai Huang-ho.

Melihat Gwat Kong yang berlutut di depannya, dan juga seorang nona cantik jelita yang

gagah berlutut pula di depannya di sebelah Gwat Kong, kakek itu nampak girang sekali.

“Bagus! Memang agaknya Thian menaruh kasihan kepada sepasang kakiku yang tua sehingga

kita dapat bertemu di sini. Gwat Kong, siapakah kawanmu yang manis dan gagah ini?”

“Suhu, dia ini Sie Cui Giok, cucu dari Sie Cui Lui locianpwe. Dialah yang menjadi ahli waris

Im-yang Siang-kiam-hoat!”

Tercenganglah kakek itu mendengar keterangan ini. Tak disangkanya sama sekali bahwa Imyang

Siang-kiam-hoat terjatuh ke dalam tangan seorang gadis muda secantik ini.

“Ah, bagus, bagus! Nona, aku kenal baik kepada kakekmu Sie Cui Lui itu!”

Dengan amat hormatnya, Cui Giok berkata,

“Locianpwe, harap sudi menerima hormat dari aku yang muda dan bodoh.”

Kakek itu tertawa bergelak. “Gwat Kong, apakah kau sudah mencoba Im-yang Siang-kiam

dengan tongkatmu?”

“Sudah suhu. Pada pertemuan teecu dengan nona ini, kami telah bertempur.”

“Bagaimana keadaannya? Kau kalah?”

Gwat Kong hanya tersenyum sambil melirik ke arah Cui Giok. Gadis itulah yang menjawab

sambil tersenyum pula,

 261

“Teeculah yang kalah, Sin-hong Tung-hoat benar-benar lihai!”

“Jangan percaya kepadanya, suhu,” Gwat Kong membantah. Kalau teecu tidak menggunakan

Sin-hong Tung-hoat digabung Sin-eng Kiam-hoat tentu teecu yang kalah.”

Kembali kakek itu tertawa. Ia nampak senang sekali. “Dan apakah kalian pernah bertemu

dengan ahli waris Pat-kwa-tin dan mencoba kelihaiannya?”

Dengan singkat Gwat Kong lalu menuturkan tentang pertemuannya dengan Ang Sun Tek,

bahkan ia menuturkan tentang riwayat jahat dari Ang Sun Tek. Kemudian ia menuturkan pula

tentang perjalanannya menuju Hong-san.

Setelah mendengar semua penuturan itu dengan sabar, kakek itu berkata, “Kalau kalian

berdua yang maju menghadapi Liok-te Pat-mo, kalian takkan kalah. Gwat Kong, kalau bisa

perjalanan ke Hong-san itu baik kau tunda dulu karena ada hal yang lebih penting dari pada

itu. Ketahuilah bahwa murid-murid Go-bi-pai yang dikepalai oleh Seng Le Hosiang telah

mengadakan tantangan untuk bertempur mati-matian dengan anak murid Hoa-san-pai yang

dikepalai oleh Sin Seng Cu dan Thian Seng Cu. Mereka itu hendak mengadakan pertempuran

di puncak Thaysan pada permulaan musim Chun. Hal ini berbahaya sekali dan sudah menjadi

kewajiban kita untuk berusaha mencegahnya. Aku mendapat tahu bahwa tantangan bertempur

mengadu jiwa itu bukanlah kehendak ketua Go-bi-pai atau tokoh besar Hoa-san-pai. Oleh

karena itu, hal ini harus diberitahukan kepada Thay Yang Losu, ketua Go-bi-pai dan kepada

Pek Tho Sianjin ketua Hoa-san-pai. Dengan adanya campur tangan kedua orang tua itu, tentu

pertempuran dapat dicegah dan permusuhan yang bodoh itu akan dilenyapkan. Tadinya aku

sendiri hendak pergi ke Gobi dan Hoasan. Akan tetapi karena ada kau di sini, kau harus

membantuku dan mewakili aku pergi ke Gobi dan Hoasan.”

“Akan tetapi, suhu. Bagaimana dengan anak murid Hoa-san-pai di Hong-san nanti? Mereka

terancam oleh Liok-te Pat-mo dan para perwira kerajaan,” kata Gwat Kong ragu-ragu.

Bok Kwi Sianjin merasa ragu-ragu juga. “Ah, benar sulit.”

“Locianpwe,” tiba-tiba Cui Giok berkata. Karena kita bertiga dan hal yang perlu dilakukan

juga tiga macam, mengapa sulit?” Kemudian ia memandang kepada Gwat Kong dan berkata,

“Urusan di Hong-san itu serahkan saja kepadaku, pasti beres. Kalau kau mewakili locianpwe

ke Hoasan, yang tak berapa jauh dari sini, kemudian kau menyusul ke Hong-san. Bukankah

hal itu akan beres mudah saja?”

Bok Kwi Sianjin tertawa tenang. “Nona Sie, kau benar-benar cerdik seperti kakekmu. Ha ha

ha! Baik, demikianlah harus diatur, Gwat Kong. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Thay

Yang Losu di Gobi, maka biarlah aku pergi ke Gobisan, sedangkan kau pergilah ke Hoasan

membawa surat dariku untuk Pek Tho Sianjin. Nona ini bisa mewakili kau pergi ke Hong-san

untuk membantu anak-anak murid Hoa-san-pai apabila mereka terancam bahaya.”

Terpaksa Gwat Kong menerima perintah ini. Kakek sakti itu lalu membuat sepucuk surat

untuk ketua Hoa-san-pai kemudian ia tinggalkan kedua orang muda itu.

Cui Giok, kau berhati-hatilah. Kalau bertemu dengan Liok-te Pat-mo, harap kau berlaku hatihati

sekali, karena mereka itu benar-benar lihai.”

 262

Gadis itu tersenyum. “Jangan khawatir, Gwat Kong. Kuharap saja kau tidak terlalu lama di

Hoasan dan segera menyusul ke Hong-san. Oh, ya, siapa namanya ketiga anak murid Hoasan-

pai itu? Aku lupa lagi.”

“Seorang gadis bernama Tan Kui Hwa dan dua orang pemuda kakak beradik bernama Pui

Kiat dan Pui Hok.”

“Nah, selamat berpisah, Gwat Kong.” Gadis itu membalikkan tubuh dan melanjutkan

perjalanan ke Hong-san. Gwat Kong berdiri memandang sampai bayangan Cui Giok lenyap di

balik pohon. Kemudian iapun lalu lari cepat menuju ke Hoasan.

Karena ia amat tergesa-gesa hendak segera sampai di Hoasan dan segera kembali lagi ke

Hong-san, maka biarpun perjalanannya ini melalui Kiang-sui, Gwat Kong tidak berhenti.

Bahkan tidak mau masuk ke kota itu untuk menghindarkan rintangan perjalanannya.

Ketika ia tiba di Hoasan dan mendaki bukit itu, orang pertama yang menyambutnya adalah ….

Sin Seng Cu, tosu yang berangasan dan berwatak keras itu.

“Kau ….?” Tosu itu membentak marah. “Apa kehendakmu naik ke Hoasan?”

Gwat Kong menjura dan memberi penghormatan sepantasnya.

“Totiang, perkenankanlah aku menghadap kepada Pek Tho Sianjin.”

Pek Tho Sianjin adalah susiok (paman guru) dari Sin Seng Cu dan kakek itu pada waktu itu

menjadi orang tertua dan tokoh tertinggi di Hoasan. Heran dan curigalah hati Sin Seng Cu

mendengar bahwa pemuda ini hendak menghadap susioknya.

“Apa kehendakmu minta menghadap kepada susiok?”

“Totiang, maksud kedatanganku ini hanya dapat kuberitahukan kepada Pek Tho Sianjin

sendiri, dan aku datang atas perintah suhuku yakni Bok Kwi Sianjin membawa surat suhu

untuk diberikan kepada Pek Tho Sianjin.”

“Hmm, orang tua itu mau apakah berurusan dengan kami orang-orang Hoa-san-pai?” Akan

tetapi biarpun ia berkata demikian, namun ia tidak berani menghalangi kehendak pemuda itu.

Sebagai tuan rumah, ia masih mempunyai kesabaran dan tahu aturan.

“Ikutlah padaku!” katanya tanpa banyak cakap lagi. Gwat Kong mengikutinya naik ke puncak

dan masuk ke dalam sebuah kuil di puncak.

Mereka masuk ke dalam ruang dalam di mana Pek Tho Sianjin sedang duduk bersila di atas

bangku dan beberapa orang tosu sedang duduk dihadapannya. Agaknya kakek itu sedang

memberi wejangan dan pelajaran ilmu batin tentang agama To kepada murid-muridnya.

“Maaf susiok, teecu berani mengganggu. Ada seorang murid dari Bok Kwi Sianjin datang

menghadap membawa surat dari orang tua itu,” kata Sin Seng Cu.

 263

Pek Tho Sianjin memandang kepada Gwat Kong dan pemuda itu tercengang melihat betapa

kakek yang sudah amat tua itu memiliki sepasang mata yang mengeluarkan sinar tajam

berpengaruh. Ia cepat menjatuhkan diri berlutut hormat di depan kakek itu.

“Locianpwe, teecu Bun Gwat Kong murid dari Bok Kwi Sianjin datang menghadap.”

“Ah, sudah belasan tahun pinto (aku) tidak bertemu dengan Bok Kwi Sianjin. Tidak tahunya

ia telah mempunyai seorang murid yang gagah.” Kakek itu menarik napas panjang. Kemudian

ia berkata kepada murid-muridnya,

“Keluarlah kalian dan pikirkan baik-baik semua pelajaran tadi.”

Semua tosu yang tadi duduk di depannya, meninggalkan tempat itu akan tetapi Sin Seng Cu

tetap duduk di tempatnya.

“Sin Seng Cu, kau juga keluarlah dan biarkan pinto bicara sendiri dengan anak muda ini.”

Biarpun hatinya merasa tidak puas sekali, akan tetapi Sin Seng Cu tak berani membantah dan

ia meninggalkan tempat itu dengan penasaran.

“Anak muda, ada keperluan apakah maka suhumu sampai menyuruhmu datang di tempat

ini?”

“Teecu membawa sepucuk surat dari suhu untuk menyampaikan kepada locianpwe,” kata

Gwat Kong yang lalu mengeluarkan surat itu dari saku bajunya dan menyerahkan surat itu

dengan hormat kepada Pek Tho Sianjin.

Kakek itu menerima dan membaca surat itu. Berkali-kali terdengar ia menghela napas.

Kemudian terdengar ia berkata,

“Memang Bok Kwi Sianjin lebih benar, tidak mau mengikatkan diri dengan perguruanperguruan

dan tidak mau mempunyai banyak murid. Eh, Gwat Kong, menurut surat gurumu,

kau dapat menceritakan tentang pertikaian yang timbul di antara golongan Go-bi-pai dan

golongan kami. Sebetulnya, bagaimanakah soalnya?”

Bingunglah Gwat Kong mendapat pertanyaan ini. Sebenarnya ia adalah seorang luar yang

tidak mengetahui sejelas-jelasnya tentang pertikaian itu, yang ia ketahui hanya dari

pengalaman-pengalamannya dan dari penuturan kedua saudara Pui. Maka ia menjawab

dengan hati-hati,

“Locianpwe, semua permusuhan tentu ada sebabnya dan dalam permusuhan Go-bi-pai dan

Hoa-san-pai ini, menurut pendapat teecu yang muda dan bodoh, disebabkan oleh sifat tidak

mau mengalah. Menurut pendengaran teecu, pertama-tama disebabkan oleh pibu yang

dilakukan oleh Seng Le Hosiang dari Go-bi-pai dan Sin Seng Cu dari Hoa-san-pai. Kekalahan

Seng Le Hosiang membuat murid-murid Go-bi-pai merasa penasaran dan menaruh dendam.

Oleh karena sudah ada bahan ini, apabila murid Hoa-san-pai bertemu dengan murid Go-bipai,

keduanya tidak mau mengalah. Murid Gobi merasa penasaran dan hendak membalas

kekalahan sedangkan murid Hoasan merasa lebih tinggi karena kemenangannya, maka

pertempuran-pertempuran tak dapat dicegah lagi. Sekarang menurut penuturan suhu, kedua

 264

pihak hendak mengadakan pertempuran besar, maka kalau locianpwe tidak turun tangan

mendamaikan, tentu akan jatuh korban di kedua pihak.”

Pek Tho Sianjin mengangguk-angguk. “Aah, anak-anak itu membikin repot orang tua saja.

Sin Seng Cu beradat keras dan ia perlu ditegur.”

Kakek itu lalu memanggil, “Sin Seng Cu …..!” Terkejutlah Gwat Kong mendengar suara

panggilan ini, karena bukan main nyaringnya sehingga ia merasa selaput telinganya

menggetar dan sakit.

Sin Seng Cu datang menghadap dan berlutut di depan susioknya.

“Sin Seng Cu, perbuatan apalagi kau lakukan untuk mengacau dunia yang sudah kacau ini?

Benarkah kau hendak mengadakan pertempuran besar-besaran dengan pihak Go-bi-pai di

puncak Thaysan pada permulaan musim Chun?”

Sin Seng Cu menundukkan kepalanya akan tetapi matanya mengerling ke arah Gwat Kong,

“Maaf, susiok. Bukan pihak kami yang mulai lebih dahulu. Pihak merekalah yang mencari

permusuhan.”

“Bodoh!” Pek Tho Sianjin membentak. “Lupakah kau bahwa api takkan bernyala kalau tidak

bertemu dengan bahan kering? Lupakah kau telapak tangan kiri takkan mengeluarkan bunyi

keras apabila tidak bertumbuk kepada telapak tangan kanan? Tak mungkin akan ada

permusuhan dan pertempuran apabila pihak yang lain tidak melayani aksi pihak pertama.”

“Ampun, susiok ….,” Sin Seng Cu hanya dapat berkata demikian.

“Awas, jangan kau membawa murid-murid lain untuk permusuhan dengan golongan lain.

Pada permulaan musim Chun, kau dan pinto sendiri yang akan naik ke Thaysan untuk

bertemu dengan tokoh-tokoh Gobi dan di sana kami harus minta maaf kepada mereka.

Mengerti?”

“Baik, susiok.” Sungguh menggelikan dan lucu bagi Gwat Kong ketika melihat seorang tua

seperti Sin Seng Cu itu mendapat marah dan kini menundukkan kepala minta maaf seperti

anak kecil.

“Nah, keluarlah!”

Sin Seng Cu meninggalkan ruang itu dengan kepala tertunduk.

Pek Tho Sianjin berkata kepada Gwat Kong, “Orang yang mempunyai watak keras seperti Sin

Seng Cu itu, hanya mulutnya saja berkata baik, akan tetapi hatinya panas terbakar. Betapapun

juga, ia jujur dan baik. Kau pulanglah, Gwat Kong dan sampaikan kepada suhumu bahwa

pinto berterima kasih atas jasa-jasa baiknya mendamaikan urusan ini.”

Gwat Kong memberi hormat dan keluar dari ruangan itu, terus turun gunung. Akan tetapi,

ketika ia tiba di lereng gunung Hoasan, Sin Seng Cu telah berdiri menghadang di jalan. Muka

tosu ini kemerah-merahan, tanda bahwa ia marah sekali.

 265

“Tak kusangka sama sekali bahwa Kang-lam Ciu-hiap tak lain hanya seorang pemuda dengan

mulut tajam bagaikan ular yang hanya pandai mengadukan orang lain. Sebetulnya, kau

perduli apakah dengan urusan kami orang Hoa-san-pai, maka berani lancang mengadukan

urusan kami kepada susiok?”

Gwat Kong maklum bahwa ia menghadapi seorang berwatak keras dan sukar diajak

berunding, maka jawabnya sabar,

“Totiang, harap kau suka berlaku tenang dan sabar. Aku datang bukan untuk mengadu

sebagaimana yang kau kira, akan tetapi aku membawa surat suhu kepada susiokmu. Suhu

melihat bahwa apabila pertempuran yang hendak kau adakan di puncak Thaysan melawan

orang-orang Go-bi-pai itu dilanjutkan, maka akan jatuh banyak korban dan hal ini tentu saja

tidak baik bagi orang-orang dunia persilatan seperti kita.

SEBAB-sebabnya terlampau kecil untuk direntang panjang dan untuk dijadikan alasan

pertempuran mengadu jiwa. Seharusnya kau berterima kasih kepada usaha suhu yang baik ini.

Mengapa kau bahkan marah-marah?”

“Aku tak butuh pendamai seperti suhumu atau kau! Kau mengandalkan apakah maka berani

berlancang mulut? Apakah kepandaianmu sudah cukup tinggi maka kau berani sesombong

ini? Coba kau hadapi tongkatku kalau kau memang gagah! Sambil berkata demikian, Sin

Seng Cu mengeluarkan senjatanya Liong-thow-koay-tung, yakni tongkat kepala naga yang

hebat itu.

“Sabar, totiang. Janganlah menambah kesalahan dengan kekeliruan yang lain lagi!” Gwat

Kong mencoba menyabarkan, akan tetapi ucapan ini bukan menambah kemarahan Sin Seng

Cu reda.

“Anak sombong! Kau mencoba untuk memberi wejangan kepadaku?” Sambil berkata

demikian, tongkatnya menyambar dan memukul ke arah kepala Gwat Kong yang segera

mengelak dan mencabut pedang dan sulingnya sambil berkata,

“Totiang, menyesal sekali aku harus mengadakan perlawanan untuk membela diri!”

“Jangan banyak cakap!” teriak Sin Seng Cu dan menyerang lagi dengan lebih ganas.

Gwat Kong menangkis dan melawan sambil mengeluarkan dua macam ilmu silatnya yang

lihai, yakni tangan kanan memegang pedang mainkan Sin-eng Kiam-hoat, sedangkan suling

di tangan kiri digerakkan menurut ilmu silat Sin-hong Tung-hoat.

Sin Seng Cu dalam kemarahannya merasa terkejut sekali melihat hebatnya suling dan pedang

itu yang menyambar-nyambar bagaikan seekor garuda dan seekor burung Hong,

mendatangkan angin dingin dan sinarnya menyilaukan mata. Karena gerakan suling dan

pedang itu amat berlainan, maka sungguh sukarlah menjaga serangan kedua senjata itu.

Terpaksa ia memutar tongkatnya sedemikian rupa untuk melindungi tubuhnya dan membalas

dengan serangan dahsyat. Namun tetap saja ia terdesak hebat. Dari jurus pertama ia sudah

tertindih dan terdesak oleh gerakan pedang dan suling itu sehingga diam-diam ia merasa

kagum sekali. Tak disangkanya bahwa setelah mendapat latihan dari Bok Kwi Sianjin,

pemuda ini menjadi demikian lihai.

 266

Bab 29 …

BARU saja bertempur tiga puluh jurus lebih, Sin Seng Cu sudah tak dapat bertahan dan

bersilat sambil mundur. Ketika suling Gwat Kong menusuk ke arah leher, ia menangkis

dengan gagang tongkat yang berbentuk kepala naga, akan tetapi pedang Gwat Kong

menyambar ke arah pinggang. Terpaksa ia membalikkan tongkatnya menangkis dan terdengar

suara keras “Trang!” sehingga bunga api memancar keluar. Alangkah kagetnya Sin Seng Cu

ketika melihat betapa ujung tongkatnya telah putus.

Namun tosu yang keras hati ini belum mau mengaku kalah dan hendak menyerang lagi, akan

tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring,

“Sin Seng Cu, mundur kau!”

Sin Seng Cu terkejut karena bentakan ini adalah suara susioknya. Gwat Kong cepat

menyimpan suling dan pedangnya, lalu menjura kepada Pek Tho Sianjin yang tahu-tahu telah

berdiri di situ.

“Mohon maaf sebanyak-banyaknya, locianpwe. Teecu terpaksa berani bertempur dengan Sin

Seng Cu totiang.”

Akan tetapi Pek Tho Sianjin berpaling kepada Sin Seng Cu dengan marah. “Tak malukah

kau? Kau menyerang seorang muda dan akhirnya kau kalah. Orang seperti kau ini benarbenar

membikin malu nama Hoa-san-pai. Hayo naik ke atas dan tutup dirimu di dalam kamar

dan jangan keluar sebelum pinto datang!”

Bagaikan seekor anjing kena pukulan, Sin Seng Cu berlutut di depan susioknya dan berkata,

“Teecu bersedia dihukum, susiok. Akan tetapi, Gwat Kong ini terlalu berat sebelah. Dia hanya

menegur dan memperingatkan teecu sedangkan terhadap Gobi dia menutup mulut.”

“Suhu pergi ke Gobisan untuk mendamaikan hal ini dengan Thay Yang Losu,” kata Gwat

“Hm, kau mau berkata apa lagi?” Pek Tho Sianjin menegur Sin Seng Cu.

“Ampun, susiok hendaknya diketahui bahwa penggerak Seng Le Hosiang untuk memusuhi

teecu adalah seorang pembesar di Kiang-sui bernama Liok Ong Gun. Seng Le Hosiang

bersekutu dengan Bong Bi Sianjin dari Kim-san-pai dan mendekati orang-orang besar di

kerajaan untuk memusuhi Hoa-san-pai. Gwat Kong ini dahulunya adalah pelayan dari Liok

Ong Gun dan ia tidak pernah menegur pembesar itu. Bahkan teecu meragukan apakah dia

tidak membantu pembesar itu dengan diam-diam?”

Hal ini benar-benar tak diduga oleh Pek Tho Sianjin, maka ia lalu memandang kepada Gwat

Kong dan bertanya,

“Benarkah ini?”

 267

“Locianpwe, tidak teecu sangkal bahwa dahulu teecu memang menjadi pelayan di gedung

Liok-taijin. Akan tetapi bohonglah kalau dikatakan bahwa teecu membantu usaha Liok-taijin

untuk mengadakan permusuhan dengan pihak Hoa-san-pai.”

“Susiok, Liok-taijin atau Liok Ong Gun itu adalah anak murid Go-bi-pai!” kembali Sin Seng

Cu berkata untuk memanaskan hati susioknya.

“Hm, kalau benar demikian, keadaanmu sulit sekali, Gwat Kong,” kata tokoh besar Hoa-sanpai

itu. “Anak muda, untuk menghilangkan tuduhan Sin Seng Cu sudah sepatutnya kalau kau

menemui Liok Ong Gun itu untuk memberi peringatan dan nasehat agar ia jangan

melanjutkan usahanya yang buruk itu. Beranikah kau?”

Kalau saja Pek Tho Sianjin bertanya, “Maukah kau?” Mungkin Gwat Kong akan menyatakan

keberatannya. Akan tetapi karena tokoh besar Hoasan itu bertanya, “Beranikah kau?” terpaksa

ia menjawab,

“Tentu saja teecu berani, locianpwe.”

“Nah, Sin Seng Cu, kembali kau terpukul kalah. Dengarlah bahwa anak muda itu akan pergi

menemui Liok Ong Gun dan memberi peringatan kepadanya. Maka jangan kau banyak rewel

lagi. Hayo, lekas naik ke atas dan lakukan perintahku tadi!”

Maka pergilah Sin Seng Cu sambil berlari cepat ke atas puncak.

“Gwat Kong, Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat yang kau perlihatkan tadi benarbenar

indah dan hebat. Kau benar-benar tidak mengecewakan menjadi murid Bok Kwi Sianjin

dan kau patut pula menjadi pendamai pertikaian antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai. Selamat

jalan, anak yang baik!”

Gwat Kong memberi hormat lalu berlari, turun gunung. Hatinya rusuh dan gelisah. Ia telah

berjanji akan mengunjungi Liok Ong Gun untuk memberi nasehat dan peringatan! Ah,

bagaimana ia dapat melakukan hal itu? Apakah akan kata Tin Eng apabila ia melihat ayahnya

dinasehati dan diperingatkan, yang merupakan hinaan bagi seorang pembesar tinggi seperti

Liok-taijin? Akan tetapi, ia telah berjanji dan sebagai seorang gagah, ia harus memegang

teguh janjinya itu dan menemuinya, apapun yang akan menjadi halangannya.

Perjalanan ke Hong-san melalui Kiang-sui, maka ia hendak mampir di kota itu sebentar,

menemui Liok Ong Gun dan menyampaikan nasehat dan peringatannya. Mudah-mudahan

saja Tin Eng takkan melihatnya. Setelah menyampaikan nasehat itu, tidak perduli diturut atau

tidak, ia akan cepat meninggalkan kota itu menyusul Cui Giok di Hong-san. Ia tidak takut

menghadapi siapapun juga. Yang menggelisahkan hatinya hanya Tin Eng seorang.

Makin dekat dengan Kiang-sui, makin gelisahlah hatinya. Karena ia tiba di kota itu sudah

malam, ia merasa ragu-ragu untuk mendatangi gedung Liok-taijin dan semalam suntuk Gwat

Kong berada di sekeliling gedung itu, tak berani melakukan niatnya, takut kalau-kalau hal ini

akan menyakiti hati Tin Eng, gadis yang dicintainya.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, karena ia melihat di gedung itu sunyi saja dari luar, ia

membesarkan hatinya dan dengan gagah ia memasuki pekarangan depan gedung itu.

 268

Seorang pelayan yang kebetulan membersihkan meja kursi di ruangan depan, ketika melihat

pemuda itu memasuki pekarangan, memandang dengan mata terbelalak. Nama Gwat Kong

menggemparkan seluruh penduduk Kiang-sui, semenjak pemuda itu bertempur dan dikeroyok

pada waktu pemuda itu mengunjungi Tin Eng. Terutama sekali para pelayan di gedung

keluarga Liok.

Mereka terheran-heran karena bagaimana pelayan muda itu kini telah menjadi seorang yang

berkepandaian demikian tinggi? Pelayan yang sedang bekerja itu, ketika Gwat Kong

melangkah masuk dengan gagahnya, menjadi terkejut dan takut. Tak terasa lagi ia bangkit

berdiri dan berlari masuk bagaikan dikejar setan. Ia segera memberi laporan kepada Lioktaijin

yang pada saat itu sedang mengadakan pertemuan dan perundingan dengan Seng Le

Hosiang, Gan Bu Gi, dan seorang muda murid Kim-san-pai, yakni sute dari Gan Bu Gi.

Mereka sedang membicarakan tentang maksud mengadakan pertempuran melawan orangorang

Hoa-san-pai.

Alangkah marah dan herannya Liok-taijin ketika mendengar laporan pelayannya bahwa Bun

Gwat Kong mendatangi dari luar. Ia hendak keluar, akan tetapi dicegah oleh Seng Le Hosiang

yang berkata,

“Biarlah aku menemui anak muda yang lancang itu!”

Dengan tindakan lebar, Seng Le Hosiang keluar dari ruang dalam dan benar saja, ketika ia

tiba di ruangan depan, ia melihat Gwat Kong masuk dengan tenang dan gagah. Biarpun

hatinya tercengang melihat Seng Le Hosiang berada di tempat itu, namun ia dapat

menenangkan hatinya dan berkata sambil menjura dan tersenyum,

“Ah, tidak tahunya Losuhu juga berada di sini. Apakah selama ini losuhu baik-baik saja?”

Seng Le Hosiang telah mendengar tentang keadaan Gwat Kong, maka kini melihat munculnya

pemuda ini, diam-diam ia memuji keberanian anak muda ini.

“Kau … pelayan muda dahulu itu? Apakah perlumu datang ke sini setelah dahulu membikin

kacau? Apakah kau hendak membuat pengakuan bahwa kau telah membawa lari siocia?”

Bukan main terkejutnya hati Gwat Kong mendengar ini.

“Apa katamu, losuhu? Siapa membawa lari Liok-siocia?”

Pada saat itu, Liok Ong Gun, Gan Bu Gi, dan pemuda sute Gan Bu Gi yang bernama Lui Kun

itu muncul dari pintu.

“Bangsat, kurang ajar!” Liok Ong Gun berseru keras. “Di mana kau sembunyikan Tin Eng?

Kau sungguh seorang yang tak kenal budi. Sudah bertahun-tahun kami memberi tempat

tinggal, makan dan pakaian padamu. Kau diperlakukan dengan baik, akan tetapi apa

balasanmu? Kau menghina kami, mengacau dan menodai nama kami! Bahkan sekarang kau

berani melarikan Tin Eng! Kau benar-benar manusia bo-ceng-bo-gi (tidak punya aturan dan

pribudi), manusia rendah dan jahat.”

Gwat Kong mengangkat muka memandang kepada pembesar itu dengan mata sedih. Ia

kasihan melihat Liok Ong Gun yang nampak sedih, dan menyesal. Pembesar ini memakai

 269

pakaian biasa saja, berbeda dengan Gan Bu Gi yang berpakaian mentereng dengan tanda

pangkatnya, yang membuat ia nampak tampan seperti seorang pangeran dari istana kaisar.

“Taijin, sebelum hamba mohon maaf sebanyaknya apabila taijin menganggap hamba

mendatangkan bencana kepada keluarga taijin yang benar-benar telah melimpahkan budi,

kepada hamba.”

Gwat Kong bicara dengan suara terharu oleh karena ia memang tidak melupakan budi

pembesar itu dan dengan merendah ia masih menyebut diri sendiri “hamba” oleh karena

selain bekas majikan, Liok-taijin adalah ayah Tin Eng yang harus dihormati.

“Akan tetapi, seorang rendah dan bodoh seperti hamba ini, dapat membalas jasa apakah?

Hamba hanya mohon kepada Thian semoga taijin akan hidup bahagia dan berusia panjang.

Sesungguhnya taijin tidak sekali-kali hamba berani membujuk atau mengajak lari Liok-siocia

dan sungguh-sungguh hamba tidak tahu kemana perginya siocia. Baru sekarang hamba

ketahui bahwa siocia tidak berada di rumah.”

“Dia bohong!” tiba-tiba Gan Bu Gi membentak marah.

“Taijin,” Gwat Kong melanjutkan kata-katanya tanpa memperdulikan Gan Bu Gi. “Terserah

kepada taijin untuk mempercayai kata-kata hamba atau mempercayai ucapan Gan-ciangkun

yang palsu itu. Ketahuilah terus terang saja hamba baru datang dari Hoasan dan menemui Pek

Tho Sianjin, juga suhu hamba, yakni Bok Kwi Sianjin, sedang pergi ke Gobisan untuk

menemui Thay Yang Losu, perlu untuk membujuk agar supaya pertempuran antara muridmurid

Go-bi-pai dan Hoa-san-pai dapat dicegah. Hamba datang ini sengaja dengan maksud

membujuk kepada taijin agar jangan menuruti maksud jahat dari Seng Le Hosiang untuk

mengadakan pertempuran itu. Ini hamba maksudkan sebagai sekedar pembalasan budi, karena

hamba akan ikut bersedih mendengar taijin terbawa-bawa dalam pertikaian yang tidak sehat

itu. Taijin waspadalah terhadap orang-orang seperti Gan Bu Gi, terutama terhadap orangorang

yang memancing permusuhan dengan segolongan orang gagah. Karena hal ini akan

mendatangkan malapetaka dan pertumpahan darah. Adapun tentang nona Tin Eng, kalau saja

benar dia melarikan diri dari rumah, hamba akan mencoba untuk mencarinya dan

membujuknya pulang.”

Seng Le Hosiang marah sekali mendengar ucapan ini.

“Bangsat kecil kau lancang sekali.” Sambil berkata demikian hwesio itu lalu melompat dan

menerjang Gwat Kong dengan serangan maut, yakni dengan menggunakan pukulan Lui-kongtoat-

beng (Dewa geledek mencabut nyawa). Akan tetapi Gwat Kong mengelak dengan mudah

dan berkata kepada Liok-taijin,

“Maaf, taijin. Lihatlah betapa hwesio ini berdarah panas dan selalu menyerang orang

mengandalkan kepandaiannya!”

Gan Bu Gi dan Lui Kun bergerak hendak membantu Seng Le Hosiang, akan tetapi hwesio itu

membentak,

“Jangan ikut campur! Biar aku hancurkan kepala anak sombong ini!”

 270

Gan Bu Gi dan sutenya tidak berani melanjutkan niatnya dan hanya berdiri di belakang

hwesio itu, sedangkan Liok Ong Gun masih berdiri di depan melihat betapa bekas pelayan

muda itu berani menghadapi susiok-couwnya yang lihai.

“Seng Le Hosiang, kalau Thay Yang Losu melihat kelakuanmu ini, tentu kau akan mendapat

jiwiran pada telingamu!”

“Bangsat rendah, mampuslah kau!” bentak Seng Le Hosiang yang sudah marah sekali dan ia

lalu menyerang lagi dengan hebat. Tangan kirinya dipentangkan hendak mencengkeram ke

arah leher Gwat Kong, sedangkan kaki kirinya berbareng mengirim tendangan kilat. Inilah

gerak tipu Pek-ho-liang-ci (Bangau putih pentang sayap) yang dilakukan dengan tenaga

lweekang sepenuhnya.

Cengkeraman itu kalau mengenai leher, tentu akan hancur daging dan kulit dan remuk tulang

leher sedangkan tendangan yang diarahkan kepada kaki Gwat Kong itu cukup hebat untuk

membuat tulang kaki Gwat Kong patah-patah. Akan tetapi Gwat Kong telah memiliki

kepandaian tinggi dan melihat betapa hwesio itu menyerangnya dengan tenaga keras, iapun

hendak melawan dengan kekerasan pula.

Untuk menghindari tendangan lawan, ia melompat ke atas dengan gerak kaki Lo-wan-teng-ki

(Monyet tua loncati cabang). Kemudian tangan kanannya menyambar dengan jari terbuka,

memukul tangan kiri lawan itu sambil mengerahkan tenaga Pek-lek-jiu (si tangan kilat). Dua

tangan itu bertumbuk dan dua tenaga raksasa beradu.

Tubuh Gwat Kong yang sedang melompat itu terpental hampir setombak ke belakang.

Sedangkan Seng Le Hosiang juga terhuyung mundur sampai tiga tindak. Dan karena ia tadi

berdiri dekat meja, maka ketika ia terhuyung mundur, tubuhnya menubruk meja. Sebagai

seorang ahli silat tinggi, tangan kanannya memukul ke belakang dan “brak!!” sebagian meja

kayu yang tebal dan besar itu hancur berkeping-keping.

Akan tetapi, biarpun dalam adu tenaga itu ternyata Gwat Kong masih kalah kuat, namun

pemuda itu tidak terluka, bahkan memandang dengan senyum menghias mulut.

“Masih belum cukupkah kau melampiaskan kemurkaanmu, losuhu?” tanyanya.

Dengan muka merah bagaikan kepiting direbus, Seng Le Hosiang membentak,

“Bangsat kurang ajar! Hari ini kau harus mampus dalam tanganku!” sambil berkata demikian,

Seng Le Hosiang lalu mencabut pedangnya dari punggung.

Ketika masuk ke halaman rumah Liok-taijin tadi, Gwat Kong sengaja menyembunyikan

pedangnya di bawah baju. Karena ia merasa tidak pantas untuk mengunjungi bekas

majikannya dengan pedang tergantung di pinggang. Gwat Kong melihat betapa Seng Le

Hosiang mencabut pedang, ia tidak berani berlaku sembrono. Ia cukup maklum bahwa hwesio

ini amat lihai dan ilmu pedang Go-bi-pai sudah cukup terkenal kehebatannya. Maka iapun

mencabut Sin-eng-kiam dan sekalian ia mengeluarkan suling bambunya yang dipegang di

tangan kiri.

“Bangsat, lihat pedang!” Seng Le Hosiang berseru sambil menyerang dengan pedangnya.

Gwat Kong menangkis dan cepat mengirim serangan balasan. Sebentar saja lenyaplah tubuh

 271

mereka terbungkus oleh sinar pedang yang bergulung-gulung bagaikan awan putih menutupi

Bukan main kagum dan herannya hati Liok Ong Gun melihat ini. Dahulu ketika Gwat Kong

dikeroyok oleh perwira-perwira dan dapat melepaskan diri, ia telah merasa heran sekali. Akan

tetapi pada waktu itu ia tidak dapat menyaksikan kelihaian pemuda itu secara jelas. Akan

tetapi sekarang, ia melihat betapa pemuda itu menghadapi susiok-couwnya dengan demikian

hebatnya, maka diam-diam ia menghela napas. Ia melihat bahwa ada persamaan antara ilmu

pedang Tin Eng dengan ilmu pedang pemuda ini hanya permainan pemuda ini lebih hebat dan

Seng Le Hosiang juga terkejut sekali karena benar-benar ilmu pedang pemuda ini tidak kalah

tingginya dari ilmu pedangnya sendiri. Bahkan ilmu pedang Gwat Kong ini mempunyai

gerakan-gerakan yang amat aneh dan tidak terduga. Apalagi ditambah dengan gerakan suling

yang demikian cepatnya, yang setiap kali bergerak mengirim totokan ke arah jalan darah

dengan jitu dan berbahaya sekali, membuat ia harus mengerahkan seluruh perhatiannya.

Namun segera ternyata bahwa ilmu pedang Gwat Kong masih lebih tinggi karena setelah

bertempur puluhan jurus, Seng Le Hosiang mulai merasa pening sekali. Pedang dan suling itu

merupakan senjata yang berlainan sifat menyerangnya dan berbeda pula gerakannya, maka

amat sukarlah baginya untuk memecahkan perhatiannya kepada dua senjata itu. Ia merasa

seakan-akan menghadapi dua orang lawan yang luar biasa lihainya dan yang memiliki

kelihaian sendiri. Ia mulai berkelahi dengan hati-hati dan mundur, dan mengerahkan

kepandaian dan tenaga untuk mempertahankan diri saja.

Gwat Kong pun hanya bermaksud untuk memperlihatkan bahwa ia tidak takut menghadapi

pendeta gundul itu dan sama sekali tidak bermaksud untuk mencari kemenangan. Setelah

dapat mendesak, ia mulai berusaha untuk mengakhiri perkelahian ini.

“Losuhu, awas!” teriaknya dan tiba-tiba ia merobah gerakan pedang dan sulingnya. Kini

sulingnya berkelebat bagaikan seekor naga menyambar-nyambar ke depan mata lawan

seakan-akan hendak menyerang mata. Tentu saja Seng Le Hosiang berlaku hati-hati dan cepat

menggunakan pedangnya untuk melindungi matanya. Akan tetapi ini hanya merupakan tipu

dan pancingan belaka dari Gwat Kong karena setelah ia berhasil memancing lawan sehingga

hwesio itu mengerahkan pedangnya di bagian atas, tiba-tiba pedangnya menyambar ke bawah

dan “bret!” putuslah ujung jubah pendeta itu.

“Maaf, aku tak dapat melayani terlebih jauh!” kata Gwat Kong dan sekali ia berkelebat

keluar, tubuhnya bagaikan seekor burung walet terbang menembus pintu depan dan lenyap.

Seng Le Hosiang berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

“Hebat, hebat!!” ia menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang ke arah potongan ujung

jubahnya di atas lantai. “Setan itu telah mewarisi dua ilmu silat yang tinggi, yang dapat

dimainkan berbareng.”

Juga Liok Ong Gun terpesona oleh kelihaian Gwat Kong ini, maka diam-diam iapun merasa

ragu-ragu. Apakah usaha susiok-couwnya untuk mengadakan pertempuran di Thaysan itu

akan berhasil baik.

 272

Sementara itu, Gwat Kong pergi dari tempat itu dengan hati gelisah. Ia memikirkan Tin Eng.

Kemanakah perginya gadis itu? Mudah-mudahan ia pergi menyusulku ke Hong-san, pikirnya.

Dengan harapan ini di dalam dada, Gwat Kong mempercepat larinya menuju ke Hong-san

menyusul Cui Giok dan kalau benar dugaannya, mencari Tin Eng pula.

****

Marilah kita mengikuti pengalaman Tin Eng. Sebenarnya bagaimanakah gadis itu bisa pergi

dari rumahnya dan kemana ia pergi?

Semenjak menolong Gwat Kong melarikan diri dan memberi seekor kuda kepada pemuda itu,

Tin Eng selalu termenung memikirkan nasib pemuda itu. Kini ia tidak ragu-ragu lagi, bahwa

ia sebenarnya menyinta pemuda itu. Ia merasa bangga sekali melihat kelihaian Gwat Kong

dan merasa bahagia mendapat kenyataan betapa besar kasih sayang pemuda itu kepadanya.

Akan tetapi, ayahnya makin marah kepadanya dan telah memakinya dengan hebat ketika

mendengar bahwa Tin Eng lah yang menolong Gwat Kong sehingga bisa melarikan diri dari

“Kau benar-benar menodai nama keluarga orang tuamu. Kau telah merendahkan diri dan

menolong seorang bangsat rendah semacam Gwat Kong!” kata ayahnya.

“Ayah!” Tin Eng membantah dengan berani. “Apakah kesalahan Gwat Kong maka ayah

menamainya bangsat rendah dan hendak menangkapnya? Ketika aku lari dulu, bukan

kesalahan Gwat Kong dan ia sama sekali tidak tahu menahu tentang pergiku dari rumah.

Kedatangannya kali ini pun tidak bermaksud buruk, dan hanya hendak menolongku karena ia

mendengar bahwa aku ditawan Ang Sun Tek dan kawan-kawannya. Dosa apakah yang ia

lakukan maka ayah membencinya?”

Liok Ong Gun tak dapat menjawab, karena memang sesungguhnya pemuda itu tidak

mempunyai kesalahan sesuatu, kecuali bahwa pemuda itu telah mendatangkan kekacauan dan

terlalu berani.

“Kau memang anak liar. Orang tua mengatur perjodohan baik-baik, kau tidak mau,

membantah, bahkan melarikan diri. Hmm, dosa apakah yang aku dan ibumu lakukan sehingga

mempunyai anak tunggal macam kau!”

“Ayah, kalau memang ayah dan ibu menghendaki aku hidup beruntung, mengapa memaksaku

kawin dengan Gan-ciangkun? Aku tidak suka kepadanya, aku …. aku benci kepadanya. Kalau

ayah memaksa aku kawin dengan dia, berarti bahwa ayah memaksa aku memasuki jurang

kesengsaraan!”

“Bodoh! Dasar anak puthauw!” Sambil membanting daun pintu keras-keras, pembesar itu

keluar dari kamarnya.

Semenjak itu, telah beberapa hari lamanya sikap pembesar itu berubah terhadap Tin Eng,

sehingga gadis ini merasa heran. Ayah tidak lagi membujuk-bujuk atau memarahinya, tidak

lagi memaksanya kawin dengan Gan-ciangkun, bahkan tidak lagi membicarakan urusan

kawin. Akan tetapi, kini ayahnya minta penjelasan tentang pertemuannya dengan kedua

 273

saudara she Pang, bahkan akhirnya minta jawaban tentang letak tempat rahasia penyimpanan

harta pusaka itu.

“Ayah, memang betul bahwa kedua orang she Pang dari kota raja itu menaruh kepercayaan

kepadaku tentang hal itu. Akan tetapi aku sudah bersumpah takkan membuka rahasia ini

kepada lain orang. Bagaimana aku dapat menceritakannya kepadamu?”

“Tin Eng, dengarlah baik-baik, nak. Harta pusaka itu sebetulnya menjadi hak milik Pangeran

Ong Kiat Bo. Dan rombongan perwira yang dipimpin oleh Ang Sun Tek juga atas perintah

Pangeran Ong untuk mencari tempat harta pusaka itu. Petanya telah tercuri oleh kedua

saudara Pang yang menjadi anak kemenakan Pangeran Ong dan yang akhirnya dipercayakan

kepadamu. Pangeran Ong telah tahu akan hal ini, tahu bahwa kaulah yang menyimpan rahasia

itu dan tahu pulah bahwa kau adalah anakku. Coba saja kau pikir. Kalau kau berkeras tidak

mau memberi tahukan rahasia itu, tentu orang tuamu yang mendapat marah dari Pangeran

Ong dan hal ini bukan urusan kecil. Kau bisa menyebabkan ayahmu dipecat atau dihukum.

Sebaliknya, kalau kau mengaku, tentu Pangeran Ong akan berterima kasih dan soal kenaikan

pangkat bagi ayahmu menjadi soal mudah. Apakah kau tidak mau menolong ayahmu dan

bahkan akan mencelakakan kita sekeluarga hanya karena memegang teguh rahasia terhadap

dua orang maling kecil itu?”

“Kedua saudara Pang bukan maling, ayah!”

“Hmm, kau memang bodoh. Sudah berapa lama kau mengenal mereka? Mereka adalah

kemenakan Pangeran Ong dan mereka telah mencuri peta itu dari tangan pamannya.”

Tin Eng minta waktu sehari untuk memikirkan hal ini. Ia menjadi serba salah. Membuka

rahasia salah, berkeras juga tidak baik. Ia pikir bahwa Kui Hwa dan Gwat Kong telah

mengetahui rahasia tempat itu, bahkan sekarang mungkin telah mendapatkan harta terpendam

itu. Apa salahnya memberitahukan begitu saja tanpa syarat. Ia merasa ragu.

“Ayah,” katanya pada keesokan harinya, ketika ayahnya datang menagih janji. “Aku mau

membuka rahasia tempat penyimpanan harta pusaka di Hong-san itu, akan tetapi dengan

syarat bahwa ayah harus berjanji tidak akan menjodohkan aku dengan Gan-ciangkun!”

Tentu saja ayahnya tertegun mendengar hal ini.

“Tin Eng, mengapa kau begitu benci kepada Gan-ciangkun?”

Tin Eng tidak dapat menceritakan bahwa kebenciannya terhadap Gan Bu Gi memuncak oleh

karena orang she Gan itu telah melakukan sesuatu yang amat keji terhadap Kui Hwa. Ia tahu

bahwa Kui Hwa adalah anak murid Hoa-san-pai dan kalau ia beritahukan hal ini, ayahnya

yang membenci anak murid Hoasan tentu akan menjadi makin marah. Bahkan takkan

mempercayainya. Maka ia berkata,

“Aku tidak tahu mengapa, ayah. Akan tetapi menurut pendapatku, dia bukanlah seorang

pemuda yang baik!”

“Syaratmu itu aneh,” kata ayahnya. “Aku sudah menerima pinangan Bong Bi Sianjin dengan

perantaraan susiok-couw.”

 274

“Ayah dapat membatalkan itu!”

Ayahnya menghela napas dan menggelengkan kepala. Baiklah aku akan merundingkan hal

perjodohan itu dengan susiok-couw. Sekarang katakanlah kepadaku di mana sebetulnya peta

itu.”

“Peta itu telah kubakar, ayah,” kata Tin Eng sejujurnya. “Akan tetapi, aku masih ingat di luar

Demikianlah, Tin Eng lalu menggambarkan sebuah peta di atas kertas yang segera diberikan

kepada ayahnya.

Pada malam harinya, tanpa disengaja Tin Eng mendengarkan percakapan antara ayahnya

dengan Seng Le Hosiang yang datang di gedung itu dan apa yang ia dengar membuat ia

merasa kaget sekali, karena hwesio itu berkata cukup keras sehingga ia dapat mendengar dari

balik pintu,

“Jangan kau khawatir, memang demikianlah adat seorang gadis muda yang sedang jatuh

cinta. Menurut dugaanku, anakmu itu tergila-gila kepada Gwat Kong. Kalau kita binasakan

pemuda itu dan berhasil mendapatkan harta pusaka, soal perjodohan anakmu dengan Gan Bu

Gi mudah saja. Tanpa adanya Gwat Kong, tentu hati anakmu akan berubah.”

Lebih kaget lagi ketika ia mendengar ayahnya berkata, “Memang anak itu keras kepala,

susiok-couw. Teecu sudah mers cocok untuk menjodohkannya dengan Gan-ciangkun karena

pemuda itu menurut pandangan teecu cukup baik dan besar pengharapannya di kemudian

hari.”

Ucapan-ucapan kedua orang ini cukup membuat Tin Eng berlaku nekad dan malam hari itu

juga, ia melarikan diri dari rumahnya. Ia pergi menunggang seekor kuda terbaik dan karena

usahanya ini mendapat bantuan dari seorang pelayannya, maka dengan mudah saja ia dapat

melarikan diri dari rumah tanpa diketahui oleh ayahnya. Baru pada keesokan harinya gedung

Liok-taijin geger ketika mereka mendapatkan kamar gadis itu kosong.

Tin Eng membalapkan kuda dan tujuannya hanya satu, yakni menyusul Gwat Kong ke Hongsan.

Ketika tiba di sungai Huang-ho, ia lalu menyewa sebuah perahu dan berlayar ke timur,

menuju Hong-san.

Ketika perahunya tiba di sebuah hutan tak jauh dari bukit Hong-san, tiba-tiba ia mendengar

sorakan ramai di pantai sebelah kiri. Ia melihat pertempuran hebat sedang berlangsung di

tempat itu. Anak perahu ketakutan melihat ini dan hendak melanjutkan pelayaran. Akan

tetapi, Tin Eng membentaknya dan menyuruh ia mendayung perahu ke pinggir. Sebagai

seorang ahli silat, ia tertarik melihat sesuatu pertempuran.

Ketika perahu itu sudah tiba di pinggir pantai, alangkah terkejutnya ketika ia melihat bahwa

yang bertempur itu adalah Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok yang lihai itupun sampai terdesak

Tanpa membuang waktu lagi, Tin Eng melemparkan beberapa tail perak kepada anak perahu

dan berkata, “Pergilah kau dengan perahumu dari sini!” Sedangkan ia sendiri lalu mencabut

pedangnya dan melompat ke darat.

 275

Dengan keras Tin Eng berseru, “Enci Kui Hwa jangan khawatir. Aku datang membantu!”

Beberapa orang anggauta bajak sungai yang melihat kedatangan Tin Eng, segera menyerbu

akan tetapi dengan beberapa kali putaran pedangnya saja. Tin Eng telah merobohkan tiga

orang pengeroyok sehingga yang lain segera mundur ketakutan. Tin Eng lalu menyerbu dan

membantu Kui Hwa dan kedua suhengnya. Pertempuran makin ramai dan hebat setelah pihak

murid-murid Hoa-san-pai mendapat bantuan Tin Eng.

****

Sebelum kita melanjutkan melihat pertempuran yang amat seru ini, baik kita mundur dahulu

dan mencari tahu bagaimana Kui Hwa dan kedua orang suhengnya she Pui itu dapat berada di

tempat itu dan dikeroyok oleh sekawanan bajak sungai yang dipimpin tiga orang lihai itu.

Sebagaimana dituturkan di bagian depan, setelah menyuruh kedua suhengnya untuk

mengikuti rombongan Ang Sun Tek yang menawan Tin Eng, Kui Hwa lalu melanjutkan

perjalanannya ke Hong-san untuk mewakili Tin Eng mencari tempat harta pusaka itu

tersimpan. Ia dapat sampai di bukit Hong-san tanpa banyak rintangan di jalan. Pemandangan

alam di sekitar Hong-san memang indah. Dari lereng bukit itu nampak lembah Huang-ho

yang kehijau-hijauan. Kemudian sungai itu sendiri nampak bagaikan seekor naga besar

sedang minum di laut.

Ketika ia tiba di puncak bukit, ia segera mencari gua Kilin di antara batu-batuan karang.

Banyak gua terdapat di situ. Akan tetapi menurut peta petunjuk tempat harta pusaka itu

tersimpan adalah sebuah gua yang bentuknya persegi empat seperti muka kilin.

Akhirnya ia dapat juga menemukan gua itu. Akan tetapi Kui Hwa adalah seorang gadis yang

hati-hati dan cermat. Ia tidak segera masuk ke dalam gua, bahkan bersembunyi di balik

gerombolan pohon dan mengintai.

Bab 30 …

USAHANYA ini ternyata berguna sekali, oleh karena tiba-tiba ia melihat bayangan tinggi

besar keluar dari gua itu. Ketika bayangan itu berhenti di depan gua, Kui Hwa terkejut sekali

karena bayangan itu adalah seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar seperti seorang

raksasa dalam dongeng. Tidak saja tubuhnya yang besar, akan tetapi pakaiannya juga aneh

sekali. Berbeda dengan pakaian orang Han. Kulit mukanya kehitam-hitaman. Celananya

panjang hitam dan bajunya hijau dengan leher baju hitam pula.

Ia memakai kain kepala yang aneh bentuknya dan biarpun di bawah hidungnya tidak ada

kumis, akan tetapi dari bawah kedua telinga ke bawah penuh dengan jenggot hitam yang

lebat. Orang itu memakai ikat pinggang yang luar biasa, yakni rantai baja yang besar dan

berat dilibatkan ke pinggangnya dan ujungnya tergantung ke bawah.

Pada saat itu, orang berkulit hitam ini sedang memanggul sebuah paha kijang yang telah

dipanggang. Dan setelah ia ia tiba di depan gua, ia memandang ke kanan kiri, kemudian ia

duduk di atas batu dan menggerogoti paha kijang itu.

 276

Kui Hwa berlaku hati-hati sekali, tidak bergerak dari tempat sembunyinya dan hanya

memandang penuh keheranan, juga ia merasa khawatir. Apakah harta pusaka itu telah

ditemukan dan diambil oleh raksasa ini, pikirnya. Ia tidak takut kepada raksasa yang tingginya

hampir dua kali tubuhnya sendiri itu. Akan tetapi lebih baik jangan mencari perkara dan

perkelahian dalam tempat yang aneh ini.

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara memanggil dan tak lama kemudian muncullah seorang

gundul kate yang segalanya merupakan kebalikan dari raksasa itu. Kalau raksasa itu kulitnya

hitam, orang ini kulitnya keputih-putihan dan matanya biru. Kepalanya gundul sama sekali

dan tubuhnya pendek kecil. Akan tetapi larinya cepat sehingga Kui Hwa menjadi kaget karena

maklum bahwa ginkang dari orang kate ini masih lebih tinggi dari pada kepandaiannya

“Badasingh!” si kate itu berkata kepada raksasa yang masih enak-enak makan paha kijang

sambil duduk di atas batu. “Kita sudah terlalu lama di sini. Mengapa kita tidak berusaha

mengambil peti-peti itu?”

“Koay lojin,” kata orang aneh yang bernama Badasingh itu dengan bahasa Han yang kaku.

“Tak mungkin diambil sekarang. Tempatnya terlalu dalam dan jauh. Kita harus menanti

sampai ada orang lain yang mengambilnya untuk kita, kemudian kita merampasnya dari

mereka. Bukankah itu lebih mudah lagi? Ha ha ha!”

“Siapa yang mengetahui tempat ini selain kita?”

“Bodoh! Banyak yang tahu, bahkan aku mendengar bahwa dari kota raja akan datang

serombongan orang untuk mengambil harta itu. Kita sendiri takkan mungkin mengambilnya.

Jalan turun tidak ada.”

Si kate itu memandang dengan mata marah dan agaknya tidak percaya kepada si raksasa itu.

“Badasingh! Jangan kau mencoba menipuku! Ini usaha kita berdua maka kau tidak boleh

membohong kepadaku!”

Tiba-tiba Badasingh mengeram bagaikan suara seekor gajah, dan dengan marah sekali ia

membanting paha itu ke atas batu yang di dudukinya sehingga paha itu berikut tulangtulangnya

hancur lebur.

“Koay lojin! Tidak ada manusia yang bisa hidup setelah memaki aku sebagai pembohong!” Ia

bangun berdiri dan menyerang si kate itu dengan hebat! Si kate ternyata juga lihai sekali

karena sekali lompat ke samping ia dapat menghindarkan diri dari serangan itu.

“Badasingh! Aku tidak mau berkelahi dengan kau tanpa alasan. Pendeknya, kalau kita bisa

mengambilnya, kita ambil sekarang. Kalau tidak bisa, mari kita pergi dari sini. Aku sudah

bosan tinggal di tempat asing ini.”

“Kau mau pergi? Pergilah! Siapa melarangmu?” kata si raksasa.

Koay lojin (kakek aneh) itu tertawa bergelak dan dengan jari telunjuknya yang pendek ia

menuding kepada Badasingh,

 277

“Ha ha ha! Jangan coba berlaku licik. Badasingh! Kalau kau tidak mau pergi, itu berarti kau

hendak mengambil sendiri harta itu! Kau benar-benar curang.”

“Sudah kukatakan bahwa aku menanti orang yang dapat mengambilnya. Kemudian aku akan

merampasnya. Kau boleh pergi kalau kau kehendaki. Akan tetapi aku akan menanti di sini!”

“Kau bohong!” Koay lojin dalam marah lupa akan pantangan ini.

Bagaikan harimau terluka Badasingh melompat dan menerkam Koay lojin.

“Kalau aku bohong kau harus mampus!” teriaknya marah.

Kini keduanya tidak main-main lagi, mereka bertempur hebat. Tenaga Badasingh benar-benar

hebat dan batu karang yang terkena sambaran tangannya diwaktu ia menyerang, menjadi

hancur berkeping-keping. Akan tetapi, si kate itu benar-benar lincah dan gesit sekali sehingga

pertempuran itu benar-benar hebat.

Kui Hwa memandang dengan hati berdebar. Ia merasa kagum sekali menyaksikan kelihaian

dua orang aneh ini dan ia mengaku bahwa dia sendiri takkan dapat menang melawan seorang

di antara mereka. Tiba-tiba si kate mengeluarkan senjata, yakni sebatang cambuk lemas yang

berduri. Cambuk itu tadinya digulung dan disimpan di dalam saku bajunya. Akan tetapi

setelah dilepaskan, cambuknya yang berduri itu panjangnya lebih dari empat kaki.

“Bagus, kau memang betul-betul ingin mampus!” seru Badasingh yang segera membuka ikat

pinggangnya, yang terbuat dari pada rantai baja yang besar itu. Rantai ini lebih panjang lagi,

kira-kira ada tujuh kaki panjangnya. Pertempuran hebat dimulai dan Kui Hwa makin bengong

dan kagum melihatnya. Kalau cambuk berduri itu bergerak-gerak dengan gesit dan lihai

seakan-akan ular hidup, adalah rantai baja itu luar biasa dahsyatnya. Angin sambarannya saja

membuat daun-daun pohon bergerak-gerak bagaikan tertiup angin dan tanah di sekitar tempat

pertempuran itu mengebulkan debu ke atas.

Ternyata bahwa si kate itu kalah tenaga dan kalah hebat senjatanya, tubuhnya bergulingan.

Badasingh memburuh dengan cepat dan sekali kakinya menendang terdengar jerit ngeri dan

tubuh Koay-lojin terlempar jauh dan …. masuk ke dalam jurang yang tak terlihat dari atas

dasarnya, saking dalam dan gelapnya.

Kui Hwa bergidik dan merasa bulu tengkuknya berdiri. Dengan adanya raksasa hebat ini

menjaga Gua Kilin, tak mungkin baginya untuk mencari harta pusaka itu. Untuk maju

menyerang, sama dengan bunuh diri, oleh karena maklum bahwa ia takkan dapat menangkan

raksasa hitam ini. Oleh karena itu, Kui Hwa lalu turun lagi dengan diam-diam dari bukit

Hong-san.

Ia hendak menanti sampai datangnya kawan-kawannya, terutama sekali datangnya kedua

suhengnya, Pui Kiat dan Pui Hok. Sungguhpun raksasa itu merupakan lawan yang amat

tangguh, namun bertiga dengan suheng-suhengnya, ia tidak merasa takut.

Oleh karena itu, Kui Hwa lalu tinggal di dusun kecil di lembah sungai Huang-ho yang berada

di kaki bukit Hong-san untuk menanti datangnya kedua suhengnya. Ia menanti beberapa hari

lamanya, akan tetapi kedua suhengnya belum juga datang. Sehingga saking kesalnya ia

 278

menghibur diri, menyewa perahu kecil, dan mendayung di sungai Huang-ho sambil menonton

para nelayan mencari ikan.

Ketika ia sedang duduk termenung di dalam perahunya, tiba-tiba ia melihat seorang nelayan

tua yang menyebar jala ikan sambil mencucurkan air mata. Berkali-kali nelayan itu

menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut air matanya yang turun mengalir di

sepanjang kedua pipinya, bahkan kadang-kadang kalau jalanya tidak menghsilkan ikan, ia

menjatuhkan diri di dalam perahu dan menangis tersedu-sedu.

Melihat hal ini tergeraklah hati Kui Hwa. Ia mendayung perahunya mendekat. Setelah

perahunya menempel perahu nelayan itu, ia bertanya,

“Lopek, kau kenapakah? Apakah yang membuatmu demikian berduka sehingga kau bekerja

sambil menangis?”

Nelayan itu menengok dan ketika melihat Kui Hwa yang gagah dan cantik, ia menangis

makin sedih.

Kui Hwa mengikatkan tali perahunya pada ujung perahu nelayan itu, lalu berpindah perahu.

“Lopek, kesukaran apakah yang kau derita? Ceritakan kepadaku, barangkali aku dapat

menolongmu. Aku tidak kaya akan tetapi percayalah, pedangku ini sudah banyak menolong

orang yang tertindas!”

Mendengar ucapan ini, kakek itu lalu mengeringkan air matanya dan berkata dengan suara

ragu-ragu, “Siocia, benar-benarkah kau pandai bertempur menggunakan pedang?”

Kui Hwa tersenyum. “Pandai sih tidak. Akan tetapi sudah banyak penjahat mengakui

kelihaianku sehingga mereka memberi julukan Dewi Tangan Maut kepadaku!”

Mendengar ini, kakek itu segera memberi hormat dan berkata dengan girang, “Ah, tidak

tahunya nona adalah seorang pendekar pedang. Agaknya Thian yang menurunkan lihiap ke

sini untuk menolongku!”

“Sudahlah, lopek, jangan banyak sungkan. Ceritakanlah semua penderitaanmu kepadaku!”

Kakek itu menghela napas berkali-kali, kemudian ia menuturkan keadaannya. “Aku

mempunyai seorang anak perempuan yang sudah remaja puteri, dan sungguhpun aku sendiri

yang menyatakan, akan tetapi anakku itu termasuk golongan gadis cantik. Di dalam hutan

Ban-siong-lim terdapat serombongan bajak laut yang kejam. Sungguh pun mereka itu jarang

sekali mau mengganggu kampung kami yang miskin. Akan tetapi, pada suatu hari kepala

bajak laut yakni kepalanya yang termuda karena mereka itu mempunyai tiga orang pemimpin,

mengadakan perjalanan untuk melihat-lihat di kampung kami. Sungguh tak beruntung sekali,

anak perempuanku berada di luar rumah dan terlihat olehnya. Kepala bajak itu merasa suka

dan tanpa banyak cakap lagi ia membawa pergi anakku!”

“Bangsat kurang ajar!” Kui Hwa memaki gemas.

“Ibu anak itu telah lama meninggal dunia dan aku hanya hidup berdua dengan anakku itu,

maka dapat lihiap bayangkan betapa hancurnya hatiku. Dengan melupakan bahaya, aku lalu

 279

mengejar sampai ke hutan Ban-siong-lim itu untuk minta kembali anak perempuanku. Akan

tetapi, kepala bajak itu minta uang tebusan sebanyak tiga ratus tail. Darimana aku dapat

mengumpulkan uang sebanyak itu? Maka, aku berusaha untuk menjala terus menerus siang

malam untuk menebus anakku. Akan tetapi agaknya Thian sedang memberi hukuman

kepadaku, lihiap. Buktinya, jalaku jarang sekali menghasilkan sesuatu!” Kakek itu lalu

menangis lagi.

“Lopek!” kata Kui Hwa sambil memegang pundak nelayan itu. “Sudahlah, jangan kau

menangis. Antarkan aku ke tempat bajak sungai itu dan akulah yang akan mengambil kembali

anak perempuanmu!”

Kakek itu memandang dan nampaknya terkejut dan cemas. “Akan tetapi …. mereka itu lihai

sekali, lihiap.”

“Apakah kau tidak percaya kepadaku?”

Kakek itu tidak berkata sesuatu, lalu mendayung perahunya ke pinggir. “Mari kita berangkat

sekarang juga, lihiap,” katanya.

Demikianlah Kui Hwa bersama nelayan tua itu pergi ke hutan Ban-siong-lim yang berada di

tepi sungai. Kedatangan mereka disambut oleh tiga orang kepala bajak yang bertubuh tegaptegap.

Tentu saja tiga orang bajak itu memandang kepada Kui Hwa dengan mata terbelalak

saking kagum. Belum pernah mereka melihat seorang gadis secantik itu.

Sebelum tiba di tempat itu, Kui Hwa telah bertanya kepada nelayan itu tentang keadaan ketiga

orang kepala bajak ini. Ketiganya adalah bajak-bajak sungai Huang-ho yang amat terkenal

dan disebut Huang-ho Sam-kui (Tiga setan dari Huang-ho). Yang tertua bertubuh pendek

tegap berkepala botak bernama Louw Tek, yang kedua Louw Siang dan yang ketiga masih

muda dan tampan juga bernama Louw Liu. Ketiga orang bajak sungai itu bukanlah bajakbajak

biasa, karena mereka benar-benar memiliki ilmu silat yang tinggi. Mereka itu adalah

murid-murid Butongsan yang menyeleweng.

Ketika berhadapan dengan tiga orang kepala bajak itu, tanpa memperdulikan anggautaanggauta

bajak yang jumlahnya belasan itu dan yang mengurung tempat itu sambil tertawatawa,

Kui Hwa bertanya,

“Kalian bertigakah yang disebut Huang-ho Sam-kui?”

Louw Tek melangkah maju dan berkata, “Benar nona manis. Apakah kehendakmu mencari

kami bertiga?”

“Tak lain aku datang untuk mengambil kembali anak perempuan dari nelayan tua ini. Sambil

berkata demikian, Kui Hwa mencabut pedangnya. “Tinggal kalian pilih saja. Kembalikan

anak perempuan itu atau kalian akan berkenalan dengan Dewi tangan maut!”

Huang-ho Sam-kui itu saling pandang, kemudian meledaklah suara ketawa mereka, diikuti

oleh suara ketawa dari sekalian anak buahnya. Untuk daerah ini, nama Dewi Tangan Maut

memang tidak dikenal.

 280

“Sungguh lucu kakek nelayan ini. Agaknya ia merasa kasihan kepada kita, sehingga

mengantarkan seorang anak perempuan yang lebih cantik lagi. Lui-te (adik Lui), jangan kau

iri hati. Kau sudah mendapat bunga harum dari dusun itu dan yang kini adalah bagianku,”

kata Louw Tek kepada adiknya yang hanya tersenyum-senyum memandang kepada Kui Hwa

dengan amat kurang ajar.

Bukan main marahnya Kui Hwa mendengar ucapan yang amat menghinanya itu.

“Kalian memang sudah bosan hidup!” serunya dan ia menerjang dengan pedangnya. Pada saat

itu ketiga kepala bajak itu melompat ke belakang dan melihat lompatan mereka itu bukan

main terkejut hati Kui Hwa. Dari cara mereka melompat ke belakang amat cepat dan

lincahnya itu, tahulah Kui Hwa bahwa ketiga orang lawannya ini adalah orang-orang yang

memiliki ilmu silat tinggi. Sungguh mengherankan, di daerah ini benar-benar banyak terdapat

orang pandai. Baru saja ia bertemu dengan raksasa hitam dan si kate yang berilmu tinggi dan

sekarang ia menghadapi tiga orang kepala bajak yang berkepandaian tinggi pula.

Akan tetapi ia tidak takut dan menyerang dengan pedangnya. Melihat gerakan pedang gadis

itu lihai dan cepat, kepala bajak yang tertua, yakni Louw Tek, segera mengangkat dayungnya

menangkis sambil berkata kepada kedua adiknya.

“Jangan kalian membantu, biar aku sendiri mencoba kepandaian calon nyonyaku!”

Maka bertempurlah Kui Hwa melawan Louw Tek yang benar-benar tangguh. Sebetulnya

dalam hal kepandaian silat, Kui Hwa tak usah kalah oleh Louw Tek, hanya saja dalam hal

tenaga ia masih kalah. Apalagi orang she Louw itu mempunyai senjata istimewa, yakni

sebatang dayung yang panjang dan berat sehingga ia merupakan lawan yang benar-benar

Pada saat pertempuran berjalan seru, dari tengah sungai tampak sebuah perahu di dayung ke

pinggir dan dua orang pemuda melompat ke darat sambil mencabut pedangnya.

“Sumoi, jangan takut, kami datang membantumu!” Orang-orang ini bukan lain adalah Pui

Kiat dan Pui Hok. Besarlah hati Kui Hwa melihat kedatangan kedua suhengnya ini dan

pertempuran makin hebat, karena kini Louw Siang dan Louw Lui maju menyambut kedua

saudara Pui itu dan pertempuran terjadilah dengan sengitnya. Para anggauta bajak sungai

melihat ketangguhan ketiga orang murid Hoa-san-pai itu, menjadi tidak sabar dan mereka

mulai maju mengeroyok.

Kepandaian Kui Hwa dan kedua suhengnya sesungguhnya berimbang dengan kepandaian

Huang-ho Sam-kui, maka setelah anak buah bajak sungai yang rata-rata memiliki ilmu silat

yang lumayan itu maju membantu, tentu saja ketiga murid Hoasan itu mulai terdesak hebat

dan terkurung rapat. Namun mereka melakukan perlawanan sengit dan mati-matian sehingga

pertempuran berjalan lama dan di antara anggauta-anggauta bajak ada beberapa orang yang

sudah menjadi korban pedang Kui Hwa dan kedua suhengnya.

Betapapun juga, para bajak itu masih mengurung terus, sehingga keadaan tiga orang muda itu

makin berbahaya. Sukar bagi mereka untuk dapat meloloskan diri, karena selain kurungan

amat rapat, juga ketiga Huang-ho Sam-kui itu mainkan dayung mereka dengan amat cepatnya

sehingga Kui Hwa dan kedua saudara Pui harus menggerakkan seluruh kepandaian dan

 281

Pada saat yang amat genting itulah muncul Tin Eng. Dengan amat ganas Tin Eng menyerbu

dari luar kepungan dan dengan ilmu pedangnya Sin-eng Kiam-hoat yang lihai. Dalam

beberapa gebrakan saja ia telah berhasil merobohkan beberapa orang bajak. Hal ini

menimbulkan panik dan kekacauan pada pihak pengeroyok dan memperbesar semangat

perlawanan Kui Hwa dan kedua saudara Pui. Dibantu oleh Tin Eng, mereka lalu menerjang

ketiga orang Huang-ho Sam-kui sehingga mereka ini terpaksa mundur.

Kui Hwa maklum bahwa biarpun Tin Eng datang membantu, namun apabila pertempuran

dilanjutkan, pihaknya tentu akan kehabisan tenaga, maka ia lalu mendekati Tin Eng dan

berbisik,

“Kita tangkap kepala bajak termuda.”

Tin Eng tidak mengerti apakah kehendak kawannya itu dengan usul ini. Akan tetapi oleh

karena ia tidak tahu asal usulnya pertempuran, ia hanya menganggukkan kepala dan menurut.

Demikianlah selagi Pui Kiat dan adiknya menghadapi Louw Tek dan Louw Siang, Kui Hwa

berdua Tin Eng mendesak Louw Lui dengan hebat sekali. Sepasang pedang dari kedua orang

dara itu membabat dan mengurungnya dengan gerakan luar biasa sehingga betapapun

kosennya Louw Lui, ia menjadi bingung dan pening juga melihat sinar kedua pedang itu

berkelebatan bagaikan dua ekor naga sakti mengurung tubuhnya.

Sebelum ia sempat minta bantuan pada kawan-kawannya, tiba-tiba ujung pedang Tin Eng

telah melukai lengannya sehingga terpaksa ia melepaskan dayungnya dan Kui Hwa mengirim

totokan ke arah lambungnya dan robohlah Louw Lui sambil mengaduh-aduh. Kui Hwa

memburu dan menambah dengan totokan pada jalan darah thia-hu-hiat sehingga tubuh Louw

Lui menjadi lemas tak berdaya sama sekali.

Louw Tek dan Louw Siang marah sekali dan sambil memutar dayungnya, kedua kepala bajak

ini menyerbu Kui Hwa dan Tin Eng. Akan tetapi, sambil tekankan ujung pedang pada dada

Louw Lui, Kui Hwa membentak,

“Mundur kalian dan tahan pertempuran ini. Kalau tidak pedangku akan menembus dadanya.”

Louw Tek dan Louw Siang terkejut dan melangkah mundur, lalu memberi perintah kepada

anak buahnya untuk berhenti menyerang.

“Huang-ho Sam-kui!” kata Kui Hwa dengan gagah. “Kami sebetulnya tidak hendak mencari

permusuhan dengan kalian. Kalau kau memang sayang kepada nyawa saudaramu ini, lekas

keluarkan anak perempuan nelayan tua itu untuk ditukar dengan saudaramu ini!”

Karena maklum bahwa nyawa Louw Lui berada di ujung pedang Kui Hwa, terpaksa Louw

Tek dan Louw Siang memberi tanda kepada anggauta-anggautanya untuk mundur. Kemudian

Louw Tek menjura kepada Kui Hwa dan berkata,

“Lihiap, maafkanlah kami yang tadi tidak melihat orang-orang gagah. Kehidupan di tempat

asing ini membuat kami berwatak kasar. Tentang anak perempuan nelayan itu, sesungguhnya

ia menjadi isteri tercinta dari adik kami Louw Lui dan menurut pendapat kami yang bodoh,

agaknya tidak kecewa ia menjadi isteri adik kami. Iapun mencintai suaminya ini.”

 282

“Bohong!” tiba-tiba nelayan tua itu berteriak dengan marah. “Anakku dibawa dengan paksa,

siapa bilang tentang cinta? Hayo kembalikan anakku!”

Louw Tek terenyum dan memberi tanda kepada seorang anggauta bajak untuk menjemput

“nyonya muda.”

Tak lama kemudian datanglah seorang wanita muda yang cukup manis diiringkan oleh bajak

“Bwee Kim …!” Nelayan tua itu memanggil dan wanita muda itu cepat berpaling dan berseru,

“Ayah ….!” Ia berlari menghampiri ayahnya dengan kedua tangan terpentang. Akan tetapi

ketika ia lewat di dekat Kui Hwa dan melihat Louw Lui ditodong dadanya dengan pedang dan

lengan Louw Lui terluka mengeluarkan darah, tiba-tiba ia berhenti dan menubruk Louw Lui

sambil menangis.

Hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh nelayan tua itu, bahkan Kui Hwa sendiri menjadi

pucat karena terkejut. Sementara itu, Louw Tek dan Louw Siang tersenyum saja melihat

adiknya memeluk isterinya.

“Ah, kalau begitu, aku telah salah duga!” kata Kui Hwa yang lalu menyimpan kembali

pedangnya dan menghampiri kakek nelayan itu.

“Lopek, biarpun mantumu seorang kepala bajak, akan tetapi anakmu telah menjadi isterinya

dan kau lihat sendiri anakmu tidak menyesal menjadi isterinya. Oleh karena itu, kau tak perlu

lagi ribut-ribut!”

Kakek nelayan itu berdiri sambil menundukkan mukanya yang pucat, matanya sayu dan

nampak sedih sekali.

“Aku ditinggal seorang diri …. aku sudah tua ….. siapa yang akan merawatku kalau aku sakit

…?” Setelah berkata demikian, ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil menangis.

Kui Hwa berpaling memandang Louw Tek. “Orang dahulu berkata bahwa mau kepada anak

perempuannya harus mau menerima orang tuanya pula. Oleh karena itu, kuharap sam-wi tayong

suka pula menerima kakek ini agar supaya dia selalu dekat dengan anak perempuannya.

Ketiga kepala bajak menerima baik usul ini dan demikianlah, pertempuran yang hebat itu

berakhir dengan perdamaian yang menyenangkan kedua pihak.

Kui Hwa lalu mengajak kedua suhengnya dan Tin Eng pergi dari situ dan menuju ke bukit

Hong-san. Di tengah jalan mereka saling menuturkan pengalamannya masing-masing.

Setelah menuturkan pengalamannya, Tin Eng bertanya kepada Kui Hwa,

Apakah kau tidak bertemu dengan Kang-lam Ciu-hiap Bun Gwat Kong?”

Kui Hwa menggelengkan kepala, akan tetapi kedua saudara Pui segera menuturkan pertemuan

mereka dengan pemuda itu.

 283

“Dia tentu sudah berada di tempat ini!” kata Tin Eng penuh harapan, akan tetapi sungguh

heran mengapa ia tidak bertemu dengan kalian?”

Ketika Kui Hwa menceritakan tentang raksasa hitam itu, semua kawannya mendengarkan

dengan terheran-heran.

“Orang itu benar-benar hebat dan mengerikan. Aku sendiri tidak berani untuk mendekati gua

itu karena kepandaiannya amat tinggi dan aku takkan dapat menang. Maka aku sengaja

menanti di sini dan kebetulan sekali ini hari tidak saja ji-wi suheng yang datang, akan tetapi

juga adik Tin Eng. Dengan tenaga kita berempat ku rasa kita tak perlu takut menghadapi

raksasa yang menjaga gua itu!”

Oleh karena pertempuran tadi amat melelahkan Kui Hwa, juga kedua saudara Pui dan Tin Eng

yang baru datang masih merasa lelah, maka mereka mengambil keputusan untuk menyerbu ke

atas puncak Hong-san pada keesokan harinya.

****

Semenjak berpisah dengan Gwat Kong, Cui Giok melakukan perjalanan seorang diri untuk

memenuhi permintaan Gwat Kong yakni menuju ke Hong-san menyusul murid-murid Hoasan-

pai yang sedang mencari gua Kilin tempat penyimpanan harta pusaka. Ia tidak mengambil

jalan air seperti yang lain. Akan tetapi ia melakukan perjalanan darat melalui sepanjang pantai

sungai Huang-ho sebelah kiri.

Pada suatau hari, ketika ia sedang berlari cepat di sepanjang lembah sungai Huang-ho, melalui

bukit-bukit kecil yang ditutup oleh rumput hijau yang indah, tiba-tiba ia melihat seorang anak

laki-laki tanggung berusia kurang lebih sebelas tahun sedang bersilat seorang diri di dekat

pantai. Cui Giok amat tertarik melihat gerakan kaki tangan anak itu amat lincah dan

tangkasnya. Sedangkan wajah anak kecil itu amat tampan dan sepasang matanya bersinar.

Sebelum Cui Giok menghampiri, tiba-tiba ia melihat bayangan seorang hwesio berkelebat

keluar dari belakang pohon. Hwesio ini masih mudah dan wajahnya menyeramkan sekali,

sepasang matanya mengandung nafsu jahat.

“Ha ha ha! Bagus!” kata hwesio itu sambil melompat ke depan anak itu. “Kau tentulah murid

si tua bangka dari Kunlun. Anak baik, bukankah kau murid Kun-lun-pai? Gerakanmu jelas

menyatakan bahwa kau anak murid Kun-lun-pai.”

Anak itu berhenti berlatih silat dan memandang dengan matanya yang tajam.

“Losuhu, siapakah? Teecu memang benar anak murid Kun-lun-pai. Nama teecu Kwie Cu Ek

dan suhu adalah Lo Han Cinjin dari Kun-lun-pai.

Hwesio itu tertawa bergelak dan memandang ke kanan kiri.

“Dimana adanya Lo Han Cinjin?” Dari suaranya ternyata bahwa ia merasa takut.

“Suhu sedang memetik daun obat di bukit itu dan teecu diharuskan menanti di sini berlatih

silat.”

 284

“Bagus! Kalau begitu, kau harus ikut padaku!”

“Tidak bisa losuhu. Tanpa perintah suhu, teecu tidak berani meninggalkan tempat ini,” jawab

anak yang bernama Kwi Cu Ek itu dengan tegas.

“Apa? Kau berani membantah kehendakku? Hayo ikut!” Sambil berkata demikian si gundul

itu mengulurkan tangannya hendak menangkap pundak anak itu. Akan tetapi dengan gesit

anak itu mengelak dan melompat ke belakang. Cui Giok diam-diam merasa kagum dan

senang melihat anak yang lincah itu. Akan tetapi hwesio tadi menjadi marah dan terus

menyerang untuk menangkap anak itu.

Tiba-tiba anak itu berseru keras dan tahu-tahu sebatang pedang kecil telah ia cabut dari

punggungnya dan dengan pedang di tangan, ia menghadapi hwesio itu. Sepasang matanya

menyinarkan keberanian luar biasa sehingga hwesio itu menjadi tercengang juga.

“Eh, eh tua bangka itu sudah melatih pedang padamu?” kata hwesio itu yang terus menubruk.

Anak itu menggerakkan pedangnya dan terkejutlah hwesio tadi ketika melihat betapa gerakan

pedang anak itu tak boleh dipandang ringan.”

“Kau sudah dapat mainkan Sin-tiauw-kiam-sut? Hebat!” katanya dan ia lalu meloloskan

sabuknya yang terbuat dari pada sutera hijau. Sekali ia menggerakkan tangannya, sabuk itu

meluncur ke arah leher anak itu, yang segera menangkisnya dengan pedang. Akan tetapi

ujung sabuk melibat pedangnya dan sekali betot terlepaslah pedang itu dari pegangan.

Anak itu terkejut dan hendak melarikan diri. Akan tetapi dengan sekali lompatan saja, hwesio

itu telah mengejarnya dan dapat memegang pundaknya dengan cengkeraman tangan erat

sehingga anak itu meringis kesakitan.

Pada saat itu Cui Giok muncul dan membentak,

“Bangsat gundul, sungguh tak tahu malu!”

Hwesio itu terkejut dan melepaskan cengkeramannya. Ketika melihat seorang gadis cantik

jelita berdiri di depannya dengan pedang di tangan kanan dan kiri, ia terkejut sekali.

“Ha ha ha!” katanya sambil memandang kagum. “Kalau anak setan itu tidak mau ikut, lebih

baik kau saja ikut kepadaku!”

Sambil berkata demikian, ia menggerakkan sabuknya yang lihai itu untuk merampas kedua

pedang di tangan Cui Giok. Dara perkasa ini sengaja tidak mengelak sehingga ujung sabuk itu

membelit pedang di tangan kirinya. Tiba-tiba Cui Giok membetot pedangnya untuk membikin

putus sabuk itu.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa sabuk itu amat kuat dan

tenaga pemegangnya juga luar biasa besarnya. Tak disangkanya sama sekali bahwa hwesio itu

demikian lihai dan besar tenaga lweekangnya. Maka dengan cepat ia lalu menggerakkan

pedang di tangan kanannya untuk membabat putus sabuk yang melibat pedang kirinya.

 285

Hwesio itu ternyata lihai dan cepat gerakannya karena sebelum pedang Cui Giok membabat

sabuknya ia telah melepaskan kembali libatan sabuk dan kini sabuknya bergerak-gerak

bagaikan ular menyerang ke arah jalan darah Cui Giok, merupakan totokan-totokan yang

Akan tetapi ia mengeluh di dalam hati ketika mendapat kenyataan bahwa gadis itu bukan

merupakan lawan yang empuk baginya. Sepasang pedang ditangan nona itu, yang memainkan

ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat benar-benar luar biasa sekali sehingga beberapa kali

hwesio itu harus melompat jauh dengan kaget karena hampir saja ia menjadi korban ujung

Juga Cui Giok merasa amat penasaran. Hwesio itu hanya memegang sehelai senjata sabuk,

akan tetapi amat sukar baginya untuk mengalahkannya. Maka ia makin marah dan

mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mendesak sehingga hwesio itu terpaksa harus

mengakui keunggulan Cui Giok. Ia hanya dapat mengandalkan ginkangnya untuk melompat

ke kanan kiri menghindarkan diri dari bahaya maut yang tersebar dari sepasang pedang di

tangan nona itu.

Setelah bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, hwesio itu tak tahan lagi. Tiba-tiba terdengar

suara halus memuji,

“Im-yang Siang-kiam-hoat benar-benar hebat!”

Mendengar suara ini, hwesio tadi menjadi pucat dan ketika pedang Cui Giok agaknya tertahan

karena gadis ini pun mendengar seruan itu. Hwesio itu lalu melompat jauh dengan gerakan

Naga hitam menembus langit. Ia berlompatan beberapa kali dan tubuhnya lenyap di balik

pohon-pohon yang banyak tumbuh di atas bukit.

Cui Giok berpaling dan memandang kepada orang yang berseru memuji tadi. Ia melihat

seorang kakek berjenggot panjang keputih-putihan yang membawa sebuah keranjang obat dan

guci arak tergantung di pinggangnya. Melihat sikap kakek ini, ia dapat menduga bahwa ia

berhadapan dengan seorang sakti, maka ia cepat menyimpan pedangnya dan menjura dengan

penuh hormat. Sementara itu, anak kecil tadi menghampiri kakek itu dan berkata,

Bab 31 …

“SUHU, ilmu pedang cici ini benar-benar hebat sekali!”

“Nona,” terdengar kakek tua itu berkata dengan suaranya yang halus dan sabar. “Apakah kau

anak murid dari Sie Cui Lui?”

“Sie Cui Lui adalah kakekku, locianpwe. Teecu bernama Sie Cui Giok. Tidak tahu, siapakah

locianpwe yang terhormat dan siapa pula adanya hwesio jahat tadi? Mengapa ia hendak

menangkap adik kecil ini?”

Kakek ini menghela napas. “Biarpun amat memalukan untuk mengaku. Akan tetapi terus

terang saja, hwesio itu adalah muridku sendiri. Lima tahun yang lalu, ia masih menjadi

muridku yang baik, akan tetapi ia menyeleweng dan melakukan perbuatan zinah yang jahat,

sehingga aku terpaksa mengusirnya dan tidak mengakui sebagai murid. Semenjak itu, ia

merasa sakit hati dan karena tidak berani membalas dendam kepadaku, agaknya ia hendak

 286

menyakiti hatiku dengan menculik muridku yang kecil ini. Nona, ketahuilah aku adalah Lo

Han Cinjin dari Kun-lun-san. Kakekmu Sie Cui Lui itu telah dikenal baik padaku.” Kemudian

ia berpaling kepada muridnya dan berkata,

“Cu Ek, hayo kau menghaturkan terima kasih kepada nona ini yang telah membantu dan

menolongmu.”

Kui Cu Ek lalu menghampiri Cui Giok dan menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi Cui Giok

segera mengangkatnya bangun dan berkata sambil tertawa,

“Adik yang baik, ilmu pedangmu benar-benar mengagumkan sekali!”

“Belum ada sepersepuluh bagian dari kepandaian cici yang gagah,” kata anak kecil itu dengan

suaranya yang nyaring.

Lo Han Cinjin berkata lagi, “Dengan sepasang pedang dapat mendesak dan mengalahkan

muridku yang tersesat tadi telah menunjukkan bahwa kepandaianmu sudah cukup tinggi.

Sebenarnya kau hendak kemanakah?”

Dengan singkat Cui Giok menuturkan bahwa ia sedang menuju Hong-san untuk mencari guha

Kilin di mana tersimpan harta pusaka itu.

Kakek itu menarik napas panjang.

“Sayang …. sayang …. agaknya manusia takkan terlepas dari pengaruh harta …” Ia lalu

merogoh keranjang obatnya dan mengeluarkan sebatang ranting yang penuh daun berwarna

“Nona, kau telah bertemu dengan aku. Itu berarti ada jodoh. Aku tadi secara kebetulan sekali

mendapatkan daun Ang-giok (daun bermata merah) ini. Karena tidak perlu bagiku, terimalah

daun ini. Jangan kau anggap remeh daun ini karena segala luka di dalam tubuh dapat sembuh

dengan mudah apabila orang yang terluka itu makan sehelai daun ini. Dan karena kau

melakukan perantauan, terimalah lima butir pel ini. Kalau kau berada jauh dari rumah orang

dan kehabisan ransum, sebutir pel ini kalau kau telan akan melindungi pencernaanmu dan kau

dapat bertahan tidak makan sampai sepekan lamanya tanpa merasa lapar.”

Dengan girang Cui Giok menerima obat mujijat itu yang disimpannya di dalam buntalan

pakaian yang diikatkan pada punggungnya, lalu menghaturkan terima kasih. Akan tetapi,

tanpa berkata sesuatu lagi kakek yang aneh lalu menggandeng tangan muridnya dan pergi dari

Di kemudian hari, anak kecil yang bernama Kui Cu Ek itu, akan menjadi seorang pendekar

gagah perkasa yang menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu pedang Sin-tiauw-kiamsut.

Dia inilah yang akan mengharumkan nama Kun-lun-pai di kemudian hari.

Sementara itu, Cui Giok melanjutkan perjalanannya menuju ke Hong-san. Setelah dekat bukit

itu, ia menyelidiki dengan penuh perhatian, akan tetapi tidak bertemu dengan orang-orang

yang dicarinya, yakni anak murid Hoa-san-pai yang bernama Tan Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui

Hok itu. Maka, ia langsung mendaki bukit Hong-san untuk mencari di puncak bukit itu. Sama

sekali ia tidak tahu bahwa pada hari itu juga, pagi tadi, tiga orang murid Hoa-san-pai yang

 287

dicarinya itu telah naik pula ke Hong-san. Bahkan tidak disangkanya sama sekali bahwa di

tempat itu ia akan bertemu dengan Tin Eng, gadis puteri Liok-taijin yang telah seribu kali

membuat ia cemburu itu, karena agaknya Gwat Kong amat memperhatikan gadis itu.

****

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tin Eng, Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok naik

ke Hong-san pada pagi hari itu dengan maksud mencari harta pusaka dan kalau perlu

membinasakan penjaga guha Kilin, yakni raksasa hitam yang menurut Kui Hwa bernama

Benar saja sebagaimana telah dituturkan oleh Kui Hwa, ketika mereka tiba di puncak itu, di

depan guha Kilin, kelihatan Badasingh, orang tinggi besar yang seperti raksasa itu duduk di

atas batu sambil memukul-mukulkan rantai bajanya ke atas batu karang, menerbitkan suara

keras dan batu karang itu pecah berkeping-keping bagaikan batu merah dipukul oleh besi.

Wajah raksasa hitam itu nampak muram.

“Mari kita hampiri dia!” ajak Kui Hwa dan dengan hati berdebar keempat orang muda itu

berjalan menghampiri raksasa yang mengerikan ini.

Badasingh menengok cepat dan ketika melihat dua orang gadis cantik dan dua orang pemuda

mendatangi, ia segera bangun berdiri. Bukan main tingginya orang ini. Kalau berdiri di dekat

Pui Kiat dan Pui Hok yang sudah cukup tinggi itu barangkali hanya akan setinggi pundaknya.

“Kalian siapakah? Dan mau apa datang ke tempat ini?”

Badasingh bertanya dengan suaranya yang besar dan kaku, sedangkan sepasang matanya yang

hitam bersinar tajam itu ditujukan kepada Kui Hwa dan Tin Eng. Kedua orang gadis ini

merasa bulu tengkuk mereka meremang karena pandang mata itu sungguh-sungguh kurang

ajar, bagaikan pandang mata seorang rakus memandang semangkok masakan yang enak dan

masih mengebul hangat.

“Kami datang hendak menyelidiki guha ini dan mencari tempat penyimpanan harta

terpendam,” kata Kui Hwa terus terang karena tahu bahwa raksasa ini telah mengetahui

tentang harta itu. Ia hendak melihat bagaimana sikap raksasa itu setelah mendengar bahwa

mereka datang untuk keperluan yang sama.

Untuk sesaat, wajahnya yang hitam itu bergerak-gerak marah mendengar ucapan ini. Akan

tetapi kemudian ia tertawa bergelak-gelak sehingga suara ketawanya menggema di empat

“Kalian, orang-orang kecil lemah ini? Ha ha ha! Kalian mau melihat guha Kilin? Boleh,

boleh! Nah, mari lihatlah, kuantarkan!”

Pui Kiat dan Pui Hok melangkah maju ke arah guha diikuti oleh Kui Hwa dan Tin Eng.

Ketika mereka masuk ke dalam guha itu, mereka berseru penuh kengerian karena di dalam

guha itu ternyata merupakan sebuah sumur besar atau jurang yang tak berdasar saking

dalamnya. Yang nampak hanya kehitaman di bawah jurang itu tak dapat diukur berapa

 288

Melihat adanya beberapa kelelawar beterbangan di permukaan jurang, keluar masuk ke dalam

sumur itu, maka dapat diduga bahwa tempat itu tentu amat dalam. Untuk menuruni jurang itu

amat sukar, karena pinggirnya terdiri dari batu cadas yang amat licin dan tajam. Jalan masuk

ke dalam guha itu semuanya penuh oleh jurang itu, hanya sebagian kecil saja di sebelah kanan

terdapat batu karang yang dapat dijadikan tempat untuk berdiri atau duduk. Akan tetapi

lebarnya hanya kira-kira satu kaki saja. Oleh karena itu, memasuki guha Kilin ini pada waktu

gelap sungguh merupakan jalan maut yang mengerikan karena begitu masuk, orang akan

terguling ke dalam jurang.

“Ha ha ha! Kalian mau masuk ke dalam? Masuklah!” Sambil berkata demikian, membuat

gerakan tangan dan menyerang ke arah Pui Kiat dan Pui Hok.

Bukan main kagetnya Tin Eng dan Kui Hwa melihat ini dan untung sekali kedua gadis itu

berdiri di belakang si raksasa sehingga mereka dapat bergerak cepat. Bagaikan sudah diatur

lebih dahulu, Tin Eng menggerakkan tangan memukul ke lambung raksasa itu, sedangkan Kui

Hwa menangkap kedua tangan kedua suhengnya dan menariknya ke belakang.

Raksasa itu dengan amat mudahnya dapat mengelak dari pukulan Tin Eng dan ketika keempat

orang muda itu melompat ke belakang dengan muka pucat dan marah, ia tertawa bergelak dan

melangkah maju mengejar mereka dengan sikap mengancam dan menakutkan.

“Ha ha ha! Kalian orang-orang lemah ini tak mungkin dapat mengambil harta itu untukku.

Karena itu, kalian hrs mati di sini akan tetapi hanya kamu berdua yang harus mati!” Ia

menunjuk kepada Pui Kiat dan Pui Hok.

“Dua orang bidadari manis ini harus mengawani aku di sini. Aku kesepian sekali dan amat

haus. Kalian berdua, gadis-gadis manis, kalian akan dapat menghibur hatiku. Kalian menjadi

pengganti anggur yang segar! Ha ha ha!”

“Siluman jahanam!” bentak Tin Eng dengan marah sekali. Hampir berbareng keempat orang

muda itu mencabut pedang masing-masing dan menyerang dengan berbareng.

Akan tetapi keempatnya terpaksa harus meloncat mundur lagi karena sambil berseru keras,

Badasingh memutar rantainya yang berat dan panjang itu sehingga merupakan segulungan

sinar hitam menyambar di sekeliling tubuhnya. Empat orang muda itu tidak berani beradu

senjata karena takut kalau pedang mereka akan rusak, maka mereka ini hanya mengandalkan

kelincahan mereka untuk memasuki lowongan antara sambaran rantai baja. Namun

kepandaian Badasingh benar-benar luar biasa, terutama sekali tenaganya yang hebat.

Ia melayani empat orang lawannya sambil mengeluarkan seruan-seruan liar bagaikan suara

seekor beruang mengamuk. Kedua matanya terbelalak lebar, mulutnya menyeringai dan

tangan kirinya yang tidak memegang senjata itu tidak tinggal diam, akan tetapi melakukan

serangan-serangan mencengkeram dengan jari-jari tangannya yang panjang berbulu dan

kukunya yang panjang dan tebal.

Badasingh benar-benar hebat. Biarpun yang mengeroyoknya adalah empat orang muda yang

kepandaiannya telah cukup tinggi, namun ia tidak menjadi sibuk bahkan dapat mendesak

dengan senjata rantai bajanya. Berkali-kali empat orang muda itu terpaksa harus melompat

tinggi dan menjauhkan diri dari sambaran rantai yang besar dan berat itu, dan sukarlah bagi

mereka untuk mendekati atau menyerang si raksasa.

 289

Sebaliknya, Badasingh juga merasa penasaran. Jarang ada orang yang kuat menghadapinya

sampai puluhan jurus, maka tiba-tiba ia berseru keras dan dengan langkah lebar ia mendesak

terus kepada Kui Hwa dan Tin Eng sehingga kedua nona itu menangkis pedang mereka

terpental dan terlepas dari pegangan.

Sebelum hilang rasa kaget mereka, lengan kiri Badasingh telah terulur maju dan Kui Hwa

kena ditangkap pundaknya. Saking kaget dan takutnya, Kui Hwa sampai menjadi lemas dan

dengan gerakan luar biasa sekali, jari tangan Badasingh menotok dan menekan jalan darah

gadis itu pada pundaknya sehingga tubuh Kui Hwa seakan-akan menjadi lumpuh.

Badasingh melepaskan Kui Hwa dan kini ia mengulurkan tangan hendak menangkap Tin Eng.

Gadis ini tak mau menyerah begitu saja dan mengirim pukulan ke arah lengan yang terulur

hendak menangkapnya. Akan tetapi jari tangan Badasingh yang panjang-panjang itu bergerak

ke bawah dan tertangkaplah lengan Tin Eng.

“Ha ha ha! Kalian berdua nona manis harus menjadi penghiburku dan mengawani aku di

tempat ini. Ha ha ha!” Juga Tin Eng dibikin tak berdaya oleh totokannya yang lihai.

Pui Kiat dan Pui Hok terkejut sekali dan mereka berlaku nekad. Dengan marah mereka maju

menyerang lagi, akan tetapi agaknya mereka itu hanya hendak mencari kematiannya sendiri

karena sebentar saja rantai baja yang hebat itu telah bergerak-gerak mengancam mereka.

Pada saat terjadinya pertempuran dan tertangkapnya Tin Eng dan Kui Hwa, datanglah Cui

Giok. Dara perkasa ini dari jauh sudah mendengar gerakan-gerakan aneh dari mulut

Badasingh dan mendengar pula suara senjata beradu, maka ia mempercepat larinya bagaikan

terbang menuju ke arah suara itu.

Ketika ia tiba di situ, ia terkejut sekali melihat betapa dua nona muda telah tertangkap dan

kini duduk di atas tanah dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya sama sekali. Sedangkan

dua orang pemuda sedang mengeroyok seorang raksasa hitam yang dahsyat dan mengerikan.

Sekali pandang saja, tahulah Cui Giok bahwa dua orang itu tentulah Pui Kiat dan Pui Hok.

Akan tetapi ia merasa heran juga melihat adanya dua orang gadis di situ. Yang manakah

gerangan yang bernama Kui Hwa? Akan tetapi ia tidak mau pusingkan semua itu karena ia

melihat betapa kedua orang muda itu telah terdesak hebat dan keselamatan mereka terancam

bahaya maut. Ia segera mencabut sepasang pedangnya dan melompat dengan gerakan Walet

Hitam Keluar Dari Sarangnya, dan membentak,

“Siluman hitam, lihat pedang!”

Begitu tubuhnya tiba di depan Badasingh, ia lalu menyerang dengan kedua pedangnya ke arah

kedua pundak raksasa itu. Badasingh melihat dua sinar cemerlang menyambar ke arah

pundaknya menjadi terkejut sekali dan cepat berjumpalitan ke belakang sambil memandang.

Alangkah girangnya melihat seorang gadis yang cantik jelita berdiri di depannya.

“Ha ha ha! Datang seorang lagi! Ha ha ha, bagus! Yang ini lebih hebat lagi, ha ha! Sekarang

ada tiga! Cukuplah untukku!”

Sementara itu, Cui Giok bertanya kepada Pui Kiat dan Pui Hok,

 290

“Apakah jiwi yang bernama Pui Kiat dan Pui Hok?”

“Benar, nona,” jawab Pui Kiat sambil memandang heran. “Nona siapakah?”

“Aku datang mewakili Gwat Kong!” kata Cui Giok dan tubuhnya melayang ke arah Kui Hwa

dan Tin Eng. Dua kali tepukan saja ia sudah membikin dua orang gadis itu pulih kembali jalan

darahnya. Kui Hwa memandang kagum sedangkan Tin Eng memandang dengan heran.

Siapakah gadis ini yang menyebut nama Gwat Kong begitu saja?

Akan tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk banyak bicara. Karena pada saat itu,

Badasingh yang merasa marah melihat Cui Giok membebaskan dua orang korbannya, telah

datang untuk menangkap Cui Giok.

“Kalian berempat minggirlah, biarlah aku menghadapi siluman ini!”

Sambil berkata demikian, Cui Giok menyambut kedatangan Badasingh dengan sepasang

pedangnya digerakan membuat penyerangan yang hebat dan berbahaya. Badasingh hanya

menyeret rantainya karena tadinya ia hendak menawan hidup-hidup gadis cantik jelita ini.

Akan tetapi ketika sepasang pedang itu menyerang dengan gerakan berlawanan yang aneh

sekali, ia mengelak dan tetap saja ujung pedang di tangan Cui Giok berhasil menyerempet

Badasingh memekik keras dan mengeluarkan suara aneh, agaknya ia memaki-maki dalam

bahasa yang tidak dimengerti oleh Cui Giok dan kawan-kawannya dan melihat darah

mengalir membasahi baju di bagian pundaknya. Badasingh menjadi marah sekali. Sambil

mengeluarkan seruan-seruan keras, ia memutar-mutar rantai bajanya dan menyerang Cui Giok

dengan hebatnya bagaikan serangan air hujan dari atas.

Kalau Badasingh mengira akan dapat mengalahkan gadis yang baru datang ini dengan

serangan-serangannya yang mengandalkan tenaga besar dan kecepatan, ia kecele. Dara

perkasa ini kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada keempat orang muda tadi dan gerakan

sepasang pedangnya masih melebihi kecepatan rantai bajanya.

Cui Giok yang memiliki ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat dan berotak cerdik itu

maklum bahwa kalau ia merasa gentar dan bertempur sambil menjauhkan diri maka tak

mungkin akan dapat menang. Karena senjata lawannya yang panjang dan berat itu lebih

menguntungkan pihak lawan. Oleh karena itu, ia mengandalkan ginkangnya dan sikap kedua

pedangnya yang berdasarkan Im dan Yang yakni tenaga lemas dan kasar. Ia mendesak maju

dan mengajak bertempur dari jarak dekat.

Tentu saja cara bertempur menghadapi seorang raksasa mengerikan seperti Badasingh dari

jarak dekat membutuhkan ketabahan besar. Karena demikian berat dan cepatnya gerakan

rantai itu sehingga angin pukulannya terdengar bersiutan memenuhi telinga dan angin itu

membuat pakaian Cui Giok berkibar-kibar bagaikan tertiup angin badai.

Namun Cui Giok berlaku tabah dan ketika kedua pedangnya digerakkan dengan cepat dan

sinar pedangnya bergulung-gulung dan menyelinap di antara sambaran rantai sehingga

tubuhnya lenyap sama sekali terbungkus oleh gulungan sinar itu.

 291

Kalau Badasingh menjadi terkejut setengah mati melihat cara bertempur gadis yang lihai ini,

adalah Kui Hwa, Tin Eng, Pui Kiat dan Pui Hok berdiri dengan bengong dan penuh

kekaguman. Bagi Tin Eng dan dan kedua saudara Pui, mereka sudah menyaksikan kelihaian

Kang-lam Ciu-hiap Gwat Kong dan merasa amat kagum. Akan tetapi agaknya gadis yang

baru datang yang mengaku mewakili Gwat Kong ini, agaknya tidak kalah lihainya daripada

Gwat Kong sendiri. Adapun Kui Hwa juga merasa kagum karena selama hidupnya belum

pernah ia menyaksikan permainan pedang sehebat itu.

Tadinya keempat orang muda ini hendak membantu bahkan Kui Hwa dan Tin Eng sudah

mengambil pedang mereka yang tadi terpental dan terlepas dari tangan. Akan tetapi mereka

masih ragu-ragu karena larangan Cui Giok. Kini mereka tidak merasa ragu-ragu lagi akan

kelihaian nona penolong itu dan mereka menonton dengan penuh harapan dan kekaguman.

Lambat akan tetapi pasti, Cui Giok mendesak lawannya dan kini seruan-seruan yang keluar

dari mulut Badasingh adalah seruan-seruan kaget bercampur marah. Ia hanya dapat memutar

rantai melindungi dirinya sambil mundur, akan tetapi masih saja ujung pedang Cui Giok

berhasil melukai lengan kiri dan kulit lehernya.

Cui Giok makin bersemangat. Ia benci kepada raksasa hitam ini karena tadi melihat dengan

jelas betapa raksasa hitam ini bermaksud keji terhadap dua orang gadis itu, dan hal ini

memang amat dibenci oleh Cui Giok. Dengan dada penuh nafsu membunuh, ia terus

mendesak dan menindih senjata lawan tanpa memberi kesempatan sama sekali kepada raksasa

itu untuk balas menyerang atau melarikan diri.

Badasingh bingung sekali. Ia mundur terus dan kini ia telah mendekati guha Kilin di dalam

mana terdapat jurang yang mengerikan dan gelap itu. Tiba-tiba Badasingh yang sudah tak

tahan lagi menghadapi desakan sepasang pedang di tangan Cui Giok, melompat mundur ke

dalam guha. Cui Giok masih sempat mengirim tusukan yang mengenai pahanya sehingga

Badasingh menjerit kesakitan lalu melompat ke dalam mulut guha Kilin.

Cui Giok masih merasa penasaran dan cepat melompat pula ke dalam guha yang gelap.

“Awas, jangan masuk ……..!!!” Kui Hwa dan Tin Eng menjerit hampir berbareng. Akan tetapi

Cui Giok yang tidak tahu akan adanya bahaya di dalam guha, sudah melompat ke dalam dan

terdengarlah jerit gadis itu mengerikan sekali ketika tubuhnya melayang ke bawah jurang

yang amat gelap.

Ternyata bahwa Badasingh telah menggunakan akal memancing lawannya. Ia tahu bahwa di

dalam guha itu hanya terdapat sebuah tempat di sebelah kanan, maka ketika ia melompat ke

dalam guha yang gelap, ia melompat ke sebelah kanan, di atas batu karang yang lebarnya

hanya satu kaki itu. Akan tetapi Cui Giok yang tidak tahu akan hal ini, langsung melompat

dan ….. terjerumus ke dalam sumur atau jurang itu.

Setelah gema jeritan Cui Giok itu lenyap, terdengar gema suara ketawa Badasingh yang

bergelak-gelak dari dalam guha. Kui Hwa dan Tin Eng tadinya menutupi kedua matanya

dengan tangan karena merasa ngeri, kini mereka menjadi marah sekali. Tin Eng dengan

pedang ditangan melangkah maju dan memaki,

 292

“Siluman jahanam! Aku harus mengadu nyawa denganmu!” Ia hendak nekad dan menyerang

raksasa itu, akan tetapi Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok memegang tangannya dan menariknya

pergi dari situ.

“Adik Tin Eng, tak perlu membuang nyawa dengan sia-sia. Kita berempat bukanlah lawan

siluman itu.”

“Tidak, tidak! Aku harus membalas kematian penolong kita itu!” kata Tin Eng sambil

menangis. Akan tetapi Kui Hwa yang juga mengucurkan airmata itu memeluk dan

menariknya dengan paksa.

Demikianlah keempat orang itu dengan hati sedih sekali turun dari gunung. Mereka tidak tahu

bahwa sebenarnya Badasingh telah terluka berat juga di pahanya sehingga kalau mereka

nekad menyerbu, belum tentu raksasa itu akan dapat mempertahankan dirinya.

Sampai merah kedua mata Tin Eng dan Kui Hwa menangisi nasib Cui Giok, gadis penolong

yang belum mereka ketahui siapa namanya itu. Mereka tidak berdaya dan tak dapat berbuat

lain kecuali menanti datangnya Gwat Kong. Mereka tidak tahu dimana adanya Gwat Kong,

karena nona yang katanya mewakili Gwat Kong itu tak sempat memberi penjelasan sesuatu

kepada mereka.

“Lebih baik kita menanti saja di sini sampai datangnya Kang-lam Ciu-hiap,” kata Pui Kiat.

“Ku rasa betapapun juga dia tentu akan datang di sini!”

Karena tidak mendapat jalan lain, kawan-kawannya menyatakan setuju dan untuk menghibur

hati mereka yang ruwet, mereka menuju ke kota Thay-liok-kwan tak jauh dari situ. Kota ini

letaknya di tepi pantai sungai dan menjadi pusat keramaian yang cukup menarik. Di tepi-tepi

sungai terdapat perahu-perahu besar yang dipergunakan untuk orang berpelesir di sepanjang

tepi sungai, bahkan ada beberapa perahu besar yang dipergunakan sebagai restoran dimana

orang dapat naik perahu sambil memesan makanan.

Ketika empat orang muda itu sedang berjalan-jalan di dekat sungai sambil melihat-lihat

perahu yang dicat indah, tiba-tiba terdengar seruan orang,

“Omitohud, alangkah cantik-cantiknya!”

Mereka segera menengok ke belakang dan melihat seorang hwesio muda yang kepalanya

gundul sedang memandang kepada Tin Eng dan Kui Hwa dengan mata yang kurang ajar dan

mulut menyeringai. Tin Eng dan Kui Hwa hendak marah, akan tetapi Pui Kiat mengedipkan

mata mencegah mereka mencari keributan di tempat itu. Dengan hati sebal mereka lalu naik

ke perahu restoran mengambil tempat duduk dan memesan makanan.

Akan tetapi, baru saja makanan yang mereka pesan itu dikeluarkan, tiba-tiba perahu itu

menjadi miring dan para pelayan berteriak-teriak bingung. Ketika keempat orang muda itu

memandang keluar, ternyata hwesio kurang ajar itu dan sungguh mengherankan karena

biarpun tubuhnya tidak berapa besar dan ia berjalan dengan perlahan namun perahu itu miring

dan bergoyang-goyang seakan-akan ada seekor gajah yang berjalan di situ.

Diam-diam keempat orang muda itu terkejut sekali. Terang sekali bahwa hwesio itu

mendemonstrasikan ilmu Jian-kin-cui (tenaga seribu kati) untuk membuat tubuhnya menjadi

 293

berat. Akan tetapi, empat orang muda itu maklum bahwa kalau tidak mempunyai ilmu tinggi,

tak mungkin dapat membuat perahu besar menjadi miring dan bergoyang-goyang.

Sambil tertawa-tawa hwesio itu sengaja memilih meja di dekat empat orang muda itu dan

duduk dengan mulut menyeringai dan lagak sombong lalu pesan makanan dan arak kepada

pelayan. Tentu saja keempat orang muda itu merasa sebal dan mendongkol sekali.

Akan tetapi oleh karena hwesio itu tidak melakukan sesuatu, mereka tidak mempunyai alasan

untuk menyatakan kedongkolan hati. Apalagi mereka maklum bahwa hwesio itu

berkepandaian tinggi, maka lebih baik tidak mencari permusuhan dengan hwesio yang aneh

Hwesio ini bukan lain ialah Tong Kak Hwesio, murid dari Lo Han Cinjin tokoh Kun-lun-pai

itu, dan hwesio inilah yang pernah bertempur dan dikalahkan oleh Cui Giok. Ia pernah

menjadi murid tersayang dari Lo Han Cinjin dan mempelajari ilmu silat Kun-lun-pai yang

tinggi. Akan tetapi karena pada suatu hari ia mengganggu gadis kampung, ia mendapat marah

besar dari suhunya dan kemudian diusir dan tidak diakui lagi menjadi murid kakek sakti itu.

Di dalam perantauannya, Tong Kak Hwesio bertemu dengan Liok-taijinpm dan menjadi

sahabat baik dari Ang-sun-tek. Karena tahu bahwa hwesio ini selain mata keranjang juga mata

duitan serta memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Ang-sun-tek lalu mempergunakan

tenaganya dan ketika ia sedang berusaha mencari tahu tentang rahasia peta harta terpendam di

Hong-san itu, dari Tin Eng dengan perantara Liok-taijin.

Ia lalu minta pertolongan Tong Kak Hwesio untuk berangkat terlebih dahulu ke Hong-san dan

menyelidiki keadaan murid-murid Hoa-san-paiyang telah berangkat ke tempat itu. Ang-suntek

khawatir kalau-kalau murid-murid Hoasan itu mendahului mendapatkan harta itu.

Demikianlah, pada hari itu Tong Kak Hwesio bertemu dengan bekas suhunya bersama murid

kecil suhunya itu yang hendak diganggunya sehingga ia bertempur dengan Cui Giok. Setelah

ia dikalahkan, ia berlari cepat menuju ke Hong-san. Ia mencari-cari di sekeliling tempat itu.

Akan tetapi ia tidak melihat murid-murid Hoa-san-pai, oleh karena pada waktu itu, Kui Hwa

dan kawan-kawannya sedang bertempur melawan Badasingh di puncak Hong-san. Setelah

Cui Giok terjerumus ke dalam jurang dan keempat orang muda itu turun gunung, barulah

Tong Kak Hwesio melihat mereka sehingga ia menjadi girang sekali.

Tong Kak Hwesio memang mata keranjang dan mempunyai watak yang amat sombong dan

mengagulkan kepandaiannya sendiri. Maka begitu melihat empat orang muda itu ia lalu

mendekati mereka dengan terang-terangan. Kui Hwa dan kawan-kawannya tidak mau

meladeninya, hanya makan dengan diam-diam saja dan cepat-cepat.

Setelah selesai mereka tanpa banyak cakap lalu meninggalkan perahu itu dan turun ke darat.

Agaknya Tong Kak Hwesio maklum bahwa mereka merasa mendongkol kepadanya maka ia

hanya makan minum sambil tertawa-tawa. Ia tidak mau turun tangan, oleh karena Ang-suntek

hanya pesan agar supaya mengikuti dan menyelidiki keadaan mereka dan jangan

mengganggu mereka sebelum melihat bahwa mereka telah mendapatkan harta pusaka itu.

 294

Kui Hwa, Tin Eng dan kedua saudara Pui itu berjalan-jalan dengan hati rusuh dan bingung.

Gwat Kong yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Dalam kesempatan ini, Kui Hwa

bertanya tentang Gwat Kong kepada Tin Eng yang segera menceritakan riwayat Gwat Kong.

“Enci Kui Hwa, harap kau jangan kaget mendengar siapa adanya Gwat Kong itu. Karena ia

telah bercakap-cakap dengan aku tentang dirimu dan berbeda dengan kebiasaan umum,

pemuda itu sama sekali tidak mengandung hati dendam kepadamu.”

Kui Hwa terkejut sekali dan memandang kepada kawannya dengan alis berkerut.

“Apa maksudmu, adik Tin Eng?”

“Enci Hwa, bukankah kau puteri tunggal dari mendiang Tan-wangwe yang tinggal di Lamhwat?”

Kui Hwa mengangguk dengan heran. “Bagaimana kau bisa tahu tentang mendiang ayahku?”

“Gwat Kong yang menceritakannya kepadaku. Kau kenal atau pernah mendengar pembesar di

Lam-hwat itu yang bernama Bun-tihu? Tentu kau tahu pula akan permusuhan yang terjadi

antara ayahmu dengan Bun-tihu?”

Kui Hwa menghela napas panjang. “Aku tidak tahu jelas. Memang aku tahu bahwa mendiang

ayahku pernah melakukan sesuatu dosa terhadap Bun-tihu, karena sebelum meninggal dunia,

ayah seringkali menyebut-nyebut nama Bun-tihu. Akan tetapi entah dosa apa yang

diperbuatnya. Hanya setelah ayah menutup mata, beberapa kali ada orang datang menyerang

rumah ayah dan mereka itu semua terpaksa ku lawan dan aku usir. Memang aku selalu masih

memikirkan mengapa ayah dimusuhi orang-orang kang-ouw, sedangkan ibu juga tidak

memberi keterangan sesuatu. Ada hubungan apakah hal ini dengan diri Gwat Kong?”

Tin Eng mengangguk-angguk. “Kalau begitu, kau sama sekali belum tahu tentang peristiwa

itu, cici. Karena kita sudah menjadi kawan baik, maka tiada salahnya kalau aku

menuturkannya kepadamu. Akan tetapi harap kau jangan salah duga, karena aku sependapat

dengan Gwat Kong, yaitu bahwa perbuatan-perbuatan orang tua tiada sangkut pautnya dengan

keturunannya.”

Kui Hwa mendengarkan dengan wajah berubah agak pucat. “Ceritakanlah, adikku.”

“Menurut penuturan yang kudengar, ayahmu dahulu adalah seorang hartawan besar dan pada

suatu hari, ayahmu berurusan dengan para petani karena berebut tanah. Yang menjadi tihu

ketika itu adalah Bun-tihu dan di dalam pemeriksaan pengadilan akhirnya Bun-tihu

menangkan para petani itu. Ayahmu di denda dan tanah yang diperebutkan itu harus diberikan

kepada para petani.

Hal ini agaknya membuat ayahmu marah sekali. Tak lama kemudian serombongan pencuri

mengganggu Lam-hwat dan mereka ini bahkan berani mencuri cap kebesaran dari pembesar

tinggi. Seorang di antaranya tertangkap. Dalam pengakuannya ia menyatakan bahwa

pemimpin rombongan pencuri itu adalah …. Bun-tihu itulah. Sebagai buktinya, di dalam

kamar Bun-tihu itu, ketika dilakukan penggeledahan, ditemukan cap kebesaran yang tercuri

 295

Kui Hwa mendengarkan dengan mata terbelalak.

“Dan kau bilang bahwa semua itu adalah tipu muslihat mendiang ayahku?” tanyanya dengan

bibir gemetar.

“Sabar, cici! Aku sih tidak bisa berkata apa-apa, karena ketika hal itu terjadi, aku mungkin

masih orok dan berada di pangkuan ibuku. Sekarang baik kulanjutkan cerita ini. Bun-tihu

ditangkap dan harta bendanya dirampas. Karena merasa malu atas peristiwa ini, Bun-tihu lalu

membunuh diri dalam tahanan!”

“Kasihan!” kata Kui Hwa. “Ia mati dalam penasaran kalau memang betul ia tidak melakukan

kejahatan itu.”

“Semua penduduk Lam-hwat menyintai Bun-tihu dan tahu bahwa selama menjadi pembesar,

Bun-tihu terkenal adil. Maka biarpun ada pengakuan maling itu, hampir semua orang tidak

dapat percaya akan hal itu,” kata Tin Eng.

“Setelah Bun-tihu membunuh diri, maka isterinya yang sudah jatuh miskin, lalu pergi

bersama seorang puteranya, mengembara dan hidup sengsara sampai tiba masanya ia

meninggalkan dalam keadaan amat menderita.”

“Aduh, benar-benar kasihan nasibnya. Kalau memang ayah yang melakukan fitnah, amat

besar dosa yang diperbuat oleh mendiang ayah!” kata Kui Hwa dengan terharu.

“Nah, demikianlah ceritanya. Dan tentu kau dapat menduga, bahwa putera Bun-tihu itu bukan

lain ialah Bun Gwat Kong sendiri yang semenjak kecil hidup terlunta-lunta sebagai anak

yatim piatu. Kemudian ia menjadi pelayan dari ayah. Kami menganggap ia seorang pelayan

biasa dan aku … aku bahkan memperlakukan secara sewenang-wenang. Siapa tahu bahwa dia

adalah pendekar perkasa yang berilmu tinggi!”

Menutur sampai di sini, tiba-tiba Tin Eng menjadi terharu karena teringat akan kasih sayang

pelayan itu kepadanya. Ia menggunakan sapu tangannya untuk mencegah runtuhnya dua butir

air mata.

Kui Hwa menarik napas panjang berulang-ulang.

“Dan dia tidak menaruh hati dendam kepadaku?” tanyanya. Guha

Bab 32 …

TIN Eng menggelengkan kepala. “Dia sudah bicara dengan aku tentang hal ini. Memang

tadinya mendendam kepada ayahmu, bahkan sudah mencari ke Lam-hwat untuk membalas

dendam. Akan tetapi ia mendengar bahwa ayahmu telah meninggal dunia maka ia

menghabiskan urusan itu sampai di situ saja dan biarpun ia ingin bertemu dengan kau untuk

menguji kepandaian, akan tetapi ia sama sekali tidak merasa sakit hati kepadamu.”

“Biarlah, biar dia mendendam kepadaku. Biar kalau dia datang nanti, kami bertempur untuk

menentukan kemenangan. Aku tidak menyesal mati di ujung pedangnya kalau memang ayah

bersalah!”

 296

Tin Eng memegang tangan Kui Hwa. “Cici, jangan kau berkata demikian. Apakah kau hendak

memperbesar dosa yang telah dilakukan oleh mendiang ayahmu? Gwat Kong tidak

mendendam kepadamu. Apakah kau bahkan hendak memusuhinya, setelah ayahmu

mencelakakan ayahnya?”

Kui Hwa berdiri dengan muka pucat. “Tin Eng …!! Benar-benarkah ayah melakukan fitnahan

keji itu?”

Tin Eng menghela napas. “Apa yang harus kukatakan? Itu memang kenyataan, cici Hwa.

Hampir semua penduduk Lam-hwat mengetahui hal itu. Ayahmu telah menyewa penjahatpenjahat

untuk memfitnah Bun-tihu. Akan tetapi, sudahlah. Tidak baik membicarakan

kesalahan orang yang telah meninggal. Apalagi kalau orang itu, ayahmu sendiri.”

Kui Hwa berdiri bagaikan patung, dadanya turun naik dan kedua matanya basah,

“Ayah ….. kau yang berdosa …. aku, anakmu yang terhukum …,” bisiknya perlahan.

Tin Eng memeluknya dan kedua orang gadis itu sama-sama mengeluarkan air mata. Tin Eng

maklum bahwa yang dimaksudkan oleh Kui Hwa adalah peristiwa yang menimpa dirinya

karena perbuatan Gan Bu Gi. Sungguhpun ia belum tahu dengan jelas apakah yang terjadi

antara kedua orang itu.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan orang dan keadaan menjadi amat ribut.

“Penculik …..!!! Tangkap … tangkap ..!!”

Orang-orang berlari-lari membawa senjata dan ketika Kui Hwa dan Tin Eng menengok dan

berlari ke tempat itu, diikuti oleh Pui Kiat dan Pui Hok yang juga telah mendengar suara

ribut-ribut itu. Mereka berempat melihat bayangan hitam yang amat tinggi besar berlari

memanggul seorang wanita muda yang menjerit-jerit

“Badasingh …!!” seru Kui Hwa dan kawan-kawannya.

Ternyata bahwa yang menculik wanita muda itu benar-benar adalah raksasa hitam di puncak

Hong-san itu. Sedangkan keempat pendekar muda itu sendiri tak berdaya menghadapi

Badasingh, apalagi penduduk kota itu. Mereka hanya dapat berteriak-teriak, akan tetapi

gerakan Badasingh yang amat cepat itu hampir tak terlihat oleh mata mereka. Mereka hanya

melihat bayangan hitam berkelebat cepat dan mendengar jerit tangis wanita yang terculik itu.

“Celaka! Si bedebah itu telah berani turun gunung untuk menculik wanita!” kata Pui Kiat.

“Apa yang kita harus lakukan?” tanya Pui Hok dengan muka pucat.

“Kejar dia dan tolong wanita itu!” Tin Eng dan Kui Hwa berkata berbareng sambil mencabut

senjata masing-masing.

Akan tetapi, Pui Kiat menggelengkan kepala. “Dia bukan lawan kita, akan sia-sia saja. Wanita

itu tidak akan tertolong, bahkan kita sama dengan mengantar nyawa!”

 297

“Habis apakah kita harus diam berpeluk tangan saja melihat kejahatan ini?” kata Tin Eng

dengan penasaran.

Tiba-tiba Kui Hwa teringat akan sesuatu dan berkata, “Ah, mengapa aku begitu bodoh?

Menanti kedatangan Kang-lam Ciu-hiap belum tentu kapan? Dan kalau didiamkan saja,

kasihan nasib wanita itu. Mengapa kita tidak minta pertolongan Huang-ho Sam-kui? Mereka

cukup gagah dan dengan tenaga kita ditambah lagi dengan mereka bertiga, mustahil kita

takkan dapat binasakan siluman itu, menolong wanita tadi!”

Kawan-kawannya teringat pula akan hal ini. Mengapa tidak Huang-ho Sam-kui? Sungguhpun

kepala-kepala bajak, akan tetapi telah mereka kenal baik setelah mereka bertempur. Dan

agaknya kalau mereka datang minta pertolongan mereka takkan menolak.

Diam-diam dengan cepat mereka berempat lalu berlari menuju ke hutan yang dijadikan sarang

para bajak itu.

Kedatangan mereka disambut oleh para bajak dengan penuh kecurigaan. Mereka itu masih

teringat kepada empat orang muda yang dahulu pernah mengamuk. Akan tetapi dengan cepat

Kui Hwa berkata,

“Kami ingin bertemu dengan pemimpin-pemimpinmu. Di manakah adanya Huang-ho Samkui?

Beritahukan bahwa kami datang untuk sesuatu yang amat penting.

Para bajak itu memberi laporan dan tak lama kemudian muncullah tiga orang kepala bajak itu.

Huang-ho Sam-kui yang gagah, dan tidak ketinggalan mereka membawa senjata dayung

mereka yang lihai.

Melihat kedatangan empat orang muda ini, mereka bertiga menjura dan Louw Tek yang tertua

berkata,

“Saudara-saudara yang gagah mengunjungi tempat kami, ada maksud apakah?”

“Sam-wi Tay-ong,” kata Kui Hwa dengan cepat. “Kami datang untuk minta pertolongan dari

sam-wi yang gagah perkasa. Baru saja terjadi hal yang membutuhkan pertolongan kita, dan

karena kami berempat merasa tidak kuat menghadapi lawan yang amat tangguh, maka sengaja

datang mohon bantuan.”

Dengan singkat ia lalu menceritakan tentang penculikan wanita yang dilakukan oleh

Badasingh itu. Mendengar ini, ketiga bajak sungai itu saling pandang dengan muka berobah.

“Jadi siluman barat itu kini berada di puncak Hong-san?”

“Sam-wi sudah mengenal siluman itu?”

“Siapa yang tidak mengenal Badasingh, siluman hitam dari barat yang amat jahat dan lihai

itu? Beberapa tahun yang lalu, pernah ia membuat geger di daerah ini dan tak seorangpun

dapat melawannya karena ia memang amat lihai.

“Kalau begitu tentu Sam-wi suka membantu kami untuk menggempur dan

membinasakannya,” kata Kui Hwa.

 298

Louw Tek mengangguk-angguk. “Memang semenjak mendengar namanya, kami bertiga ingin

sekali bertemu dengan siluman itu dan membunuhnya. Akan tetapi telah bertahun-tahun ia

tidak muncul, agaknya kembali ke barat. Sekarang setelah ia muncul kembali, sudah tentu

kami akan berusaha membunuh atau mengusirnya. Apalagi mendapat bantuan saudarasaudara

berempat yang gagah.”

“Kalau begitu mari kita berangkat!” seru Tin Eng. “Kasihan wanita itu!”

Untuk mempercepat perjalanan, Huang-ho Sam-kui mengajak empat orang muda itu untuk

menggunakan sebuah perahu besar. Dengan lajunya perahu itu meluncur menuju ke Hongsan.

Setelah tiba di kaki bukit itu, mereka mendarat dan segera berlari-lari ke atas bukit.

Mereka tidak melihat raksasa hitam itu di depan guha Kilin dan selagi mereka menduga-duga,

tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita dari sebuah guha di dekat guha Kilin. Cepat-cepat

mereka lalu berlari memburu ke tempat itu.

Dengan penerangan cahaya matahari yang menyinari guha itu, mereka dapat melihat betapa

wanita yang terculik tadi meringkuk di sudut guha dalam keadaan ketakutan bagaikan seekor

kelinci yang tersasar memasuki lobang harimau. Sedangkan si raksasa hitam sambil tertawatawa

girang duduk memandang wanita itu dan tangan kanannya memegang seguci arak yang

tadi dirampoknya dari kota bersama dengan wanita muda itu.

“Badasingh, siluman jahat! Keluarlah untuk menerima binasa!” Kui Hwa berseru keras sambil

mengacung-ngacungkan pedangnya.

Melihat kedatangan orang-orang yang mengganggu kesenangannya itu, Badasingh

mengeluarkan gerengan marah dan keluarlah ia sambil menyeret rantai bajanya.

“Tin Eng, kaulah yang bertugas menolong wanita itu apabila siluman itu telah bertempur

dengan kami dan bawa wanita itu keluar guha dan suruh dia turun gunung lebih dulu,” Kui

Hwa berbisik.

Badasingh benar-benar marah ketika melihat bahwa di antara tujuh orang yang datang itu,

yang empat adalah orang-orang yang dulu pernah dikalahkannya. Ia tertawa bergelak dan

berkata kepada Kui Hwa,

“Apakah kau datang hendak menemani aku? Bagus, bagus!”

“Bangsat rendah!” Kui Hwa memaki marah dan segera memberi tanda kepada kawannya

yang menyerang maju berbareng.

“Kalian mencari mampus!” Badasingh membentak keras dan menggerakkan rantai bajanya

bagaikan kitiran.

Kui Hwa, Pui Kiat, Pui Hok dan ketiga Huang-ho Sam-kui lalu menyambutnya, sedangkan

Tin Eng