Matahari Esok Pagi (Jilid 7 – 9 Tamat)

New Picture (2)

Matahari Esok Pagi

(Jilid 7 – 9 Tamat)

Karya SH Mintarja

Jilid 7 – Bab 1 : Sadak Kinang

“MASIH ada waktu. Jangan tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan kadang-kadang menimbulkan banyak kesalahan.”  Perempuan tua itu mengangguk sekali lagi “Baiklah Nyai. Aku akan ke dapur lagi” Maka dilakukannya pesan Nyai Reksatani itu. Tetapi ia tidak menunggu apakah nasi yang ditanaknya semula itu akan masak. 
Supaya tidak dikejar oleh waktu, maka iapun menanak nasi di
tempat dan dengan alat yang lain.

“Kau menanak nasi lagi mBok ayu?” bertanya

orang yang menggantikannya.

“Nyai Reksatani menyuruh aku menanak nasi

yang lain. Kalau nasi itu tidak juga mau masak,

kita tidak akan kebingungan.

“Kalau nasi ini nanti mau masak juga?”

“Masih ada banyak sekali mulut yang akan

makan”

Yang mendengar pembicaraan itu tersenyum. Perempuan muda yang membuat

hawug-hawug itupun datang mendekatinya “Lambat laun makanan itu masak juga bibi”

“Nah. kalau begitu, kukusannyalah yang salah. Lubangnya pasti terlampau kecil,

seperti kukusan yang dipergunakan untuk menanak nasi itu”

“Tetapi kenapa justru yang di bawah yang mentah?”

Perempuan tua itu. tidak menjawab. Sambil mengangkat bahu ia berkata “Tetapi nasi

itu akhirnya akan masak juga”

Ternyata kata-katanya itu benar. Meskipun jauh lebih lama dari waktu yang biasanya

dipergunakan, nasi itupun masak juga. Tetapi rasanya tidak sesedap nasi yang biasa,

seakan-akan nasi itu terlampau lama terendam di dalam air.

Tetapi tidak banyak orang yang memperhatikan hal itu. Perempuan tua, perempuan

separo baya yang menggantikannya, perempuan muda yang membuat makanan,

ternyata tidak banyak menceriterakannya kepada orang lain agar tidak menumbuhkan

kegelisahan. Meskipun demikian sambil berbisik-bisik hal itupun meloncat dari mulut

ketelinga kemudian ke telinga yang lain pula, sehingga semakin malam, semakin

banyak pula orang yang mengerti. Tetapi mimpi yang mendebarkan itu tidak pernah

diceritera-kan kepada orang lain kecuali Nyai Reksatani.

Demikianlah maka malampun menjadi semakin malam. Ketika semua persiapan sudah

selesai, menjelang tengah malam, maka semua orang yang ikut serta di dalam

upacara itupun telah dijamu makan. Sebentar lagi mereka akan segera mengikuti

upacara adat, memandikan kedua suami isteri yang sedang menyambut kandungan

anak mereka genap tujuh bulan.

Pendapa Kademangan Kepandak yang terang benderang seperti siang itupun tampak

gembira sekali. Setiap kali suara tertawa meledak diantara para tamu yang sedang

dijamu makan Sempat juga mereka menyuapi mulut mereka sambil berkelakar.

Di ruang dalam perempuan-perempuan tua telah siap dengan segala macam

persiapan mereka. Rujak edan, pakaian tujuh pengadeg, cengkir kelapa sawit

bergambar Kama dan Ratih serta berbagai macam perlengkapan yang lain.

Ketika ayam jantan berkokok di tengah malam dan menjalar dari kandang kekandang,

maka orang-orang tuapun berdiri dari tempatnya masing-masing. Seorang yang

diserahi memimpin upacara itupun segera membawa sepasang suami isteri itu ke

pakiwan yang sudah diisi dengan air yang diambil dari tujuh buar sumur.

Setelah dibacakan mantera, maka orang tua itulah yang pertama-tama menyiram

kedua suami isteri yang duduk bersanding itu dari ujung rambut mereka sampai

keseluruh tubuh, dengan air dari tujuh mata air itu yang sudah ditaburi dengan bungabungaan.

Setelah pemimpin upacara itu selesai memandikannya, maka disiramnya kedua suami

isteri itu dengan air gendi, sambil mengusap kepala masing-masing berganti-ganti.

Setelah air gendi itu habis, maka gendi itupun dibantingnya sampai pecah.

Setelah itu, maka mulailah para tamu, terutama perempuan-perempuan tua, berurutan

memandikan keduanya. Setiap orang menyiram Ki Demang dan Nyai Demang dengan

air yang dingin itu. Tidak hanya satu dua kali, tetapi kadang-kadang mereka

memandikannya seperti memandikan bayi, menggosok tubuh mereka dan bahkan ada

juga yang masih membaca doa-doa.

“Alangkah dinginnya” desis Ki Demang di dalam hati Meskipun bibirnya menjadi biru

dan gemetar, tetapi ia masih harus tetap duduk di tempatnya sampai orang terakhir

selesai menyiram kepalanya dengan air yang dingin itu.

Demikian pula Sindangsari. Iapun menjadi kedinginan dan gemetar. Tetapi ia harus

bertahan sampai semuanya mendapat giliran memandikan mereka berdua.

Ketika orang yang terakhir telah selesai, maka orang tua yang memimpin upacara

itupun segera kembali masuk ke dalam pakiwan. Sekali lagi ia menyiram keduanya,

lalu katanya kepada orang yang masih berkerumun di luar pakiwan “Ambillah lampu

itu. Bawa pergi”

Seseorang segera mengambil lampu itu. Mereka sudah tahu, bahwa pakiwan itu

memang harus menjadi gelap.

“Nah, sekarang tergantilah. Lepaslah pakaianmu yang basah dan pakailah yang kering

ini” berkata perempuan tua itu.

Ki Demang dan isterinya menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil tersenyum tersipu-sipu Ki

Demang berkata “Nanti saja. Di dalam”

“Sekarang. Harus sekarang. Kau sekarang bukan Demang. Akulah yang berkuasa

sekarang” berkata perempuan tua itu.

Terdengar suara tertawa di luar pakiwan.

Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi karena pakiwan itu sangat gelap, maka

dengan terpaksa sekali Ki Demangpun akhirnya bersedia juga berganti pakaian.

“Nyai Demang” berkata perempuan tua itu “Kau masih harus mencuci pakaian

suamimu itu sebagai syarat bahwa kau benar-benar bakti dan setia”

Sindangsari tahu benar bahwa perempuan tua itu sama sekali tidak bermaksud apaapa.

Sebagai seseorang yang sudah terlampau biasa memimpin upacara semacam

itu, maka urut-urutan upacara itupun sudah dihafalnya. Namun demikian dada

Sindangsari berdesir juga. Ia tahu, bahwa ia bukannya perempuan yang setia. Tidak

setia kepada suaminya yang sekarang, dan tidak setia pula kepada cintanya.

Tetapi ia mencoba menyembunyikan perasaannya. Apalagi di dalam gelap. Sedang Ki

Demang yang berganti pakaian di sampingnyapun tidak begitu terlihat olehnya dan

oleh orang-orang yang berkerumun di luar pakiwan, meskipun pintu pakiwan itu tidak

tertutup. Dengan demikian, meskipun seandainya ada kesan yang melonjak ke

wajahnya sekalipun tentang perasaannya yang bergejolak itu, tentu tidak seorangpun

yang akan melihatnya. Perempuan tua itu tidak dan suaminyapun tidak.

Ki Demang yang masih ada di pakiwan itu masih harus menunggui isterinya mencuci

pakaiannya yang basah ketika ia dimandikan. Kemudian menunggu Sindangsari

mengganti pakaiannya yang basah dengan yang kering pula.

“Nah, semuanya sudah selesai. Berdirilah berjajar di pintu”

Keduanyapun kemudian berdiri berjajar di pintu meskipun mereka belum berpakaian

lengkap. Sementara itu, perempuan tua yang memimpin upacara itu mengayunkan

siwur. gayung yang dipakainya untuk memandikan sepasang suami isteri itu, yang

dibuat dari kelapa, bukan saja tempurungnya, tetapi juga bersama daging kelapanya,

keatas sebuah batu sehingga gayung itupun pecah pula berantakan.

Setelah itu, barulah Ki Demang yang hanya mengenakan celana dan isterinya berkain

pinjung diarak ke halaman depan. Sindangsari masih harus meloncati perapian di

halaman. Merang seonggok yang baru mulai menyala”

Dari halaman keduanya dibawa masuk ke pringgitan. Tepat di muka pintu mereka

harus berhenti untuk makan rujak tepat di tengah pintu.

“Ki demang” berkata perempuan yang memimpin upacara “sekarang Ki Demang boleh

berpakaian lengkap, sedang Nyai Demang masih harus mencoba beberapa macam

pakaian. Yang manakah nanti yang paling sesuai.

Pada saat Ki Demang mengenakan pakaiannya di dalam biliknya, setiap kali ia

mendengar perempuan-perempuan yang ada di pringgitan berseru “Tidak’. Tidak

sesuai. Tidak pantas”

Maka Sindangsaripun harus berganti pakaian. Demikian terulang sampai enam kali.

Dan ia harus mengenakan pakaiannya yang ke tujuh. Kain lurik berwarna hijau lumut

dan baju dari bahan yang sama dan berwarna sama. Selembar kemben yang kehitamhitaman

dan selendang berwarna batu bata.

“Nah, kini baru pantas” berkata seseorang yang disahut oleh yang lain “Ya, sekarang

baru pantas”

Hampir semua yang hadir menyambut pula “Ya. Sekarang sudah baik, sudah pantas

dan cantik sekali”

Sindangsari hanya tersipu-sipu saja sambil menundukkan kepalanya. Ia sama sekali

tidak berbuat apa-apa sementara orang-orang tua mengganti pakaiannya dan

mengenakan pakaiannya yang ke tujuh di hadapan perempuan-perempuan yang

memenuhi pringgitan.

Setelah ia mengenakan pakaiannya yang terakhir, maka perempuan yang memimpin

upacara itupun kemudian menyelusupkan sepasang kelapa gading di dalam kain

Sindangsari yang diterima dengan selendang diantara kedua kakinya sambil berkata

“Nah. Nyai Demang. Kelak apabila anakmu laki-laki, ia akan setampan Kama dan

apabila perempuan ia akan secantik Dewi Ratih”

Demikianlah maka upacara mengenakan pakaian itu sudah selesai. Sindangsaripun

kemudian dibawa masuk ke dalam biliknya untuk benar-benar berpakaian dan menyisir

rambutnya yang basah kuyup.

Dengan bibir yang biru dan gemetar karena dingin Sindangsari meneguk minuman

panas yang memang disediakan untuknya.

“Dingin sekali“ ia berdesis.

Beberapa orang perempuan mengusap kakinya dengan minyak kelapa “Nanti akan

segera menjadi hangat”

Namun dalam pada itu, Manguri yang menunggu upacara itu di kebun mengumpatumpat

di dalam hati.

Katanya “Apa saja yang dikerjakan oleh orang-orang gila itu”

Lamat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Semua sudah siap” berkata Manguri “perempuan-perempuan itu sudah keluar dari

pringgitan. Upacara itu sudah selesai. Sebentar lagi Nyai Reksatani akan membawa

Sindangsari keluar. Kau harus dapat melakukan tugasmu dengan baik”

Lamat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Semua sudah siap” berkata Manguri “perempuan-perempuan itu sudah keluar dari

pringgitan. Upacara itu sudah selesai. Sebentar lagi Nyai Reksatani akan membawa

Sindangsari keluar. Kau harus dapat melakukan tugasmu dengan baik”

Lamat menganggukkan kepalanya.

“Di ujung lorong ini telah tersedia seekor kuda untukmu dan seekor lagi kudaku. Di

sudut padukuhan kita akan melampaui beberapa orang Ki Reksatani. Mudah-mudahan

mereka tidak mengganggu kita”

“Kenapa mereka mengganggu?” bertanya Lamat.

“Mungkin mereka menginginkan Sindangsari pula Tetapi sudah tentu, mereka akan

membunuhnya”

Lamat mengerutkan keningnya.

“Kalau ia segera dibunuh itu akan cukup baik buatnya. Tetapi aku tidak percaya pada

laki-laki liar serupa itu. Mereka akan banyak berbuat sebelum mereka membunuh

Sindangsari. Karena Itu kita harus menyelamatkannya”

“Apakah kira-kira mereka akan berbuat demikian?”

“Aku tidak tahu, mudah-mudahan tidak. Tetapi seandainya demikian aku sudah

mengatur orang-orangku di pinggir parit di seberang jalan”

Lamat tidak menyahut.

“Kalau mereka akan merebut Sindangsari, kita akan mempertahankannya”

Lamat masih tetap berdiam diri.

“He, apakah kau sudah tuli he?” Manguri mengguncang-guncang tubuh Lamat.

“Ya, Aku mendengar dan aku mengerti. Aku sedang mencoba untuk menilai tugas

yang akan aku lakukan”

“Apa yang perlu kau nilai?”

Lamat menggelengkan kepalanya “Bukan apa-apa”

“Nah, sekarang kau harus masuk ke halaman. Kau harus menempatkan dirimu di

tempat yang sudah di tentukan. Aku sudah jemu menunggu”

“Baiklah. Aku akan mencoba melakukan tugasku baik-baik”

“Kalau kau membuat kesalahan, maka seluruh Kademangan akan menjadi gempar. Di

pendapa terdapat Ki Demang, Ki Jagabaya, para bebahu Kademangan yang lain, dan

beberapa orang kepercayaan Ki Demang”

Lamat menganggukkan kepalanya.

“Kegagalan itu akan berarti, mereka akan saling berkelahi melawan Ki Reksatani dan

orang-orangnya termasuk kau dan aku, dan barangkali ayah juga”

“Ya, aku mengerti”

“Cepat, masuklah ke halaman”

Lamatpun kemudian dengan hati-hati mendekati dinding halaman belakang

Kademangan. Di dalam bayangan dedaunan ia menjengukkan kepalanya. Ternyata

tempat yang ditunjukkan oleh Ki Reksatani memang sepi. Meskipun dari tempatnya

Lamat melihat beberapa orang duduk-duduk sambil berkelakar, namun mereka sama

sekali tidak membayangkan, karena orang-orang itu sama sekali tidak memperhatikan

tempat yang telah ditentukan itu.

Dengan lincahnya Lamatpun kemudian meloncat naik keatas dinding batu. Di

lekatkannya tubuhnya rapat-rapat pada dinding itu sambil memperhatikan keadaan di

sekitarnya.

Lamat menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang berjalan menelusur dinding

batu itu. Sambil menahan nafasnya ia semakin melekatkan tubuhnya. Namun demikian

ia sempat melihat, orang yang menelusuri dinding itu menjadi semakin dekat.

“Gila” desisnya “siapakah orang ini?” Tetapi agaknya orang itu sama sekali tidak

memperhatikan bahwa ada seseorang yang berbaring menelungkup melekat pada

dinding batu. Namun demikian Lamat menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan

Manguri yang ada di luar dindingpun menjadi berdebar-debar pula, karena iapun

mendengar langkah seseorang mendekati Lamat.

Ketika orang itu telah lewat, Lamat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang itu

adalah salah seorang keluarga dari orang-orang yang membantu bekerja di dapur.

Orang itu agak malu membawa sisa makanan lewat pintu depan. Karena itu, ia memilih

jalan halaman belakang sambil membawa makanan sisa yang besok akan dijemurnya

untuk makanan itik.

Meskipun demikian Lamat masih menunggu sejenak. Ketika ia sudah yakin bahwa

tidak ada lagi orang yang akan melihatnya, maka iapun segera meloncat masuk ke

halaman dan langsung bersembunyi di dalam gerumbul perdu. Sedang Manguri

berada di luar halaman sambil mengawasi keadaan. Ia mengetahui dengan pasti

bahwa di sekitar tempat itu ada satu atau dua orang pengawas yang di pasang oleh Ki

Reksatani, meskipun pengawas itu telah mengambil tempatnya sendiri tanpa

memberitahukan kepada Manguri.

Dalam pada itu, di dalam rumah Ki Demang di Kepandak, perempuan-perempuan tua

yang melayani Sindangsari dan meriasnya telah selesai. Ketika Sindangsari dibawa

keluar dari dalam biliknya, beberapa orang perempuan yang masih tinggal di pendapa

menyambutnya dengan ramah.

“Perempuan ini memang cantik sekali” desis salah seorang dari mereka. Di dalam

mengandung tujuh bulan, wajahnya menjadi semakin cerah seperti bulan”

Kawannya yang duduk di sampingnya menganggukkan kepalanya..Katanya “lihatlah

ibunya yang duduk di sudut itu. Ibunyapun pasti seorang perempuan yang cantik sekali

di masa remajanya”

Keduanyapun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka memandang

Sindangsari dengan mata yang seakan-akan tidak berkedip. Ketika Sindangsari

kemudian duduk di sebelah ibunya, maka setiap mata seakan-akan telah terpancang

pada keduanya.

“Alangkah cantiknya” tiba-tiba terdengar suara dari ruang dalam. Seseorang kemudian

muncul sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di muka dadanya “mBok-ayu

memang cantik sekali”

Sindangsari berpaling. Namun kepalanyapun kemudian tertunduk sambil tersipu-sipu.

Orang itu, Nyai Reksatanipun kemudian mendekatinya sambil berkata “Aku menjadi

sangat iri. Ketika aku menyambut bulan ke tujuh kandunganku yang pertama, aku tidak

secantik mBok-ayu. Bukankah begitu bibi?” bertanya Nyai Reksatani kepada ibu

Sindangsari”

“Ah” desis ibunya.

“Tentu saja” tiba-tiba seseorang menyahut “lihatlah. Keduanya memang sangat cantik.

Kecantikan itu agaknya memang menurun”

“Ah“ Sekali lagi ibu Sindangsari berdesah “jangan memuji. Rambutku telah berwarna

dua”

Perempuan-perempuan itu tertawa. Nyai Reksatanipun tertawa pula.

“Sayang” bisik seorang perempuan yang duduk di belakang “ibu Nyai Demang itu

menjanda sejak suaminya meninggal. Kalau ia mau, pasti masih puluhan laki-laki yang

ingin memperisterinya”

“Hidupnya semata-mata buat gadisnya sejak suaminya meninggal. Aku dengar, kawan

suaminya seorang prajurit ingin juga memperisterikannya. Bahkan seorang perwira.

Tetapi ia tidak bersedia. Ia lebih senang hidup bersama puteri dan kedua ayah ibunya”

Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu, maka Nyai Reksatanipun kemudian bertanya kepada Nyai Demang

“mBok-ayu, apakah masih ada yang perlu dilakukan malam ini?”

Sindangsari tidak segera menyahut, karena ia tidak mengetahui maksud pertanyaan

itu. Dipandanginya saja Nyai Reksatani dengan tatapan mata yang ragu-ragu.

“Eh, maksudku, apakah mBok-ayu akan beristirahat? Setelah mandi di tengah malam,

kemudian berganti pakaian sampai tujuh kali, barangkali mBok-ayu merasa lelah”

Sindangsari menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak lelah”

“Sokurlah” jawab Nyai Reksatani. Tetapi ia mulai gelisah. Ia mendapat tugas untuk

membawa Sindangsari keluar, ke tempat tugas untuk membawa Sindangsari keluar, ke

tempat yang sudah ditentukan, sedang di pringgitan masih juga ada beberapa orang

perempuan yang duduk-duduk mengawani Sindangsari dan ibunya.

Sejenak Nyai Reksatani kebingungan. Namun sejenak kemudian ia mendapat akal.

Katanya “Agaknya masih ada diantara kita yang akan tinggal disini semalam suntuk.

Karena itu, sebaiknya kalian duduk-duduk saja sejenak, aku akan menyiapkan jamuan

untuk kalian. Biarlah orang-orang di dapur menanak nasi. Nasi panas pasti akan

menambah gairah kalian tinggal bersama bidadari yang manis itu”

Ternyata pancingan itu mengena. Seorang perempuan tua segera menyahut

“Sudahlah Nyai. Menjelang tengah malam, sebelum upacara dimulai, kami sudah

makan. Dan kamipun agaknya tidak akan terlampau lama lagi tinggal disni”

“O, jangan begitu. Aku seakan-akan telah mengusir kalian. Tidak. Aku berharap agar

kalian tinggal disini semalam suntuk”

“Kami perlu beristirahat”

“Tinggallah sebentar. Selama orang di dapur menanak nasi. mBok-ayu pasti

kedinginan dan menjadi lapar. Kalian akan mengawaninya makan, karena sebenarnya

mBok-ayu Demang masih belum makan.

“Biarlah ia makan bersama suaminya “Perempuan-perempuan di pringgitan itupun

justru minta diri seorang demi seorang. Sebagian dari mereka tidak segera pulang.

Tetapi pergi ke dapur atau ke bilik pengrantunan.

Nyai Reksatani menarik nafas karenanya. Ia harus bekerja cepat. Sebelum fajar,

semuanya harus sudah selesai, sementara Ki Reksatani berusaha mengikat Ki

Demang dan para tamu laki-laki untuk tetap duduk-duduk saja di pendapa.

“Makanlah dahulu mBok-ayu” bisik Nyai Reksatani kepada Nyai Demang “bersama bibi

barangkali?”

“Aku sudah makan bersama para tamu” jawab ibu Sindangsari “makanlah sendiri, atau

kau menunggu suamimu?”

“Ah” sahut Nyai Reksatani “kakang Demang tidak usah diganggu. Biarlah ia menemui

tamu-tamunya. Marilah, aku layani kau makan mBok-ayu, selagi kau malam ini menjadi

ratu”

“Ah“ Sindangsari berdesah sementara Nyai Reksatani tertawa.

Tanpa menunggu jawabannya lagi, maka ditariknya tangan Sindangsari dan

dibawanya ke bilik dalam.

“Makanlah sudah sedia” katanya.

Sindangsari tidak dapat menolak lagi. Iapun kemudian berdiri sambil berkata kepada

ibunya “Apakah ibu tidak makan dahulu”

“Ya, marilah” sahut Nyai Reksatani.

“Terima kasih. Aku sudah makan bersama para tamu sebelum upacara. Sindangsari

memang belum makan, karena itu makanlah”

Sindangsaripun kemudian dibimbing oleh Nyai Reksatani ke biliknya sambil berkata

“Biarlah disediakan makanmu di dalam bilikmu saja”

Nyai Reksatanipun kemudian membimbing Nyai Demang masuk ke dalam biliknya.

Dalam pada itu. di halaman belakang, Manguri hampir tidak sabar lagi menunggu.

Setiap kali ia selalu menengadahkan wajahnya ke langit, memandang bintang-bintang

yang bergeser perlahan-lahan dari tempatnya.

“Semuanya harus dilakukan sebelum fajar” desisnya “kalau orang-orang di sekitar

halaman ini sudah bangun, maka gagallah semua usaha yang sudah dirancang begitu

matang. Untuk mendapatkan kesempatan yang lain agaknya terlampau sulit” berkata

Manguri di dalam hati “sudah tentu kita tidak dapat berbuat apa-apa pada saat

Sindangsari melahirkan. Anak itu akan menjadi hantu yang paling menakutkan bagi Ki

Reksatani, sehingga mungkin sekali, sebelum hari kelahiran ia akan mengambil cara

yang paling kasanMembunuh Sindangsari dengan caranya”

Manguri menarik nafas dalam-dalam. Keringat dingin telah membasahi di seluruh

tubuhnya. Sekali-sekali ia mencoba melekat pada dinding batu dan menengok ke

halaman belakang Kademangan Kepandak. Tetapi ia tidak dapat melihat Lamat yang

sudah bersembunyi di sana.

Selagi Manguri dilanda oleh kegelisahan, Lamatpun sedang mereka-reka apa yang

akan dilakukan kemudian setelah Sindangsari berhasil dibawa ke tempat

persembunyiannya itu.

“Apakah aku dapat membiarkan semuanya itu terjadi?” katanya di dalam hati.

Tetapi setiap kali Lamat hanya dapat berdesah di dalam hati ”Apakah aku benar-benar

telah terbelenggu oleh hutang budi itu sepanjang umurku? Umur yang seolah-olah

sudah bukan milikku lagi ini?”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjengukkan kepalanya dari sela-sela

dedaunan. Tetapi ia tidak melihat seorangpun yang datang mendekat. Bahkan kadangkadang

timbul pikirannya “Mudah-mudahan tidak ada kesempatan untuk membawa

Sindangsari kemari, sehingga seandainya malam ini gagal, maka kegagalan itu bukan

terletak pada kesalahanku”

Tetapi dalam pada itu Nyai Reksatani telah berhasil memisahkan Sindangsari dari

ibunya. Dilihatnya seseorang yang disuruhnya telah menyajikan makan bagi

Sindangsari ke dalam bilik itu, sementara ia berjalan hilir mudik di ruang tengah.

Namun sepeninggal orang yang mengantar makan ke dalam bilik itu, Nyai Reksatani

segera masuk ke dalam.

Dengan nada yang tergesa-gesa ia berkata “mBok-ayu, agaknya, masih ada yang

kurang di dalam peralatan ini”

Sindangsari mengerutkan keningnya.

“Apakah mBok-ayu mendengar ceritera yang telah terjadi di dapur?”

“Jambangan yang pecah itu?”

“Ya, dan nasi yang tidak mau masak seperti biasanya? Meskipun akhirnya masak juga,

tetapi cobalah, rasakanlah nasi itu yang agaknya sama sekali tidak sedap“

Sindangsari tidak segera menjawab

”mBok-ayu tahu sebabnya?”

Sindangsari menggeleng.

“Tentu ada sesaji yang kurang. Beruntunglah kita kalau yang diganggu hanya sekedar

macam-macam masakan atau jambangan pecah, tetapi kalau yang lain?”

“Apakah yang lain itu?”

“Kita. Salah seorang dari kita. Atau” Nyai Reksatani tidak melanjutkannya.

“Atau” Sindangsari mengulang.

“Sudahlah. Makanlah”

“Tetapi apakah yang kau maksud?”

“Makanlah“

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian menyenduk nasi

dengan entong kayu dan menaruhnya diatas mangkuk.

“Kau tidak makan?” ia bertanya kepada Nyai Reksatani.

“Aku sudah makan. Lima kali sejak tengah hari.

Sindangsari tersenyum. Kemudian iapun mulai menyuap mulutnya. Namun ia tertegun

ketika ia melihat Nyai Reksatani menjadi gelisah sekali.

“Kenapa kau?”

“Perasaanku menjadi tidak enak. Tetapi apakah kau merasakan sesuatu pada

kandunganmu?”

“Tidak. Kenapa?” Sindangsari menjadi gelisah pula.

“Sesaji itu” bisiknya “bibi juru adang di dapur bermimpi sambil duduk di muka perapian.

Ini tidak biasa terjadi.

“Mimpi apa?”

“Kiai Candil di rumpun bambu petung di belakang”

“Kenapa?”

“Yang memberikan sesaji agaknya bukan orang yang biasa membuat untuknya. Bukan

aku. Ternyata ada kekurangannya”

“Apa?”

“Sadak kinang yang diramu dengan daun sirih muda”

“O, kenapa tidak disediakan?”

“Aku akan pergi melengkapinya” Nyai Reksatanipun kemudian berdiri, lalu “aku sudah

menyediakan sadak kinang itu“ ia termenung sejenak, lalu “marilah, Ikutlah. Aku akan

menunjukkan kepadamu, dimanakah letak sesaji itu seharusnya. Karena kau akan

tinggal di rumah ini untuk seterusnya. Kau harus tahu dan harus mengerti, apa yang

sebaiknya kau lakukan untuk keselamatan seluruh keluarga dan terlebih-lebih untuk

bayimu”

“Jadi?”

“Kita pergi ke kebun belakang sebentar. Sebentar saja”

“Baiklah, aku selesaikan sebentar makanku ini”

“Ah, marilah. Tinggalkan itu sebentar supaya kau tidak tergesa-gesa dan kau dapat

makan dengan tenang”

Sindangsari termangu-mangu sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya “Tetapi kenapa

baru sekarang kau akan melengkapi sesaji itu? Selagi aku sudah mulai makan? Kalau

kau mengetahui hal itu sebelumnya, tentu aku tidak akan tergesa-gesa menyenduk

nasi”

“Aku mencoba untuk menunggu sampai kau selesai makan. Aku tidak mau

mengganggu ketenanganmu“ Nyai Reksatani berhenti sejenak, lalu “tetapi aku menjadi

sangat gelisah”

Sindangsari termenung sejenak Namun iapun menjadi gelisah karenanya. Tanpa

sesadarnya dirabanya perutnya yang terasa semakin membesar.

“Marilah sebentar mBok-ayu. Hanya sebentar. Kita akan menjadi tenteram. Tinggalkan

sajalah makanan itu, nanti kau ulangi lagi”

Sindangsari tidak dapat menolak lagi. Kemudian diikutinya Nyai Reksatani keluar dari

biliknya. Tetapi Nyai Reksatani tidak mengambil jalan tengah yang melalui dapur. Ia

lebih senang lewat butulan sebelah kiri.

“Kenapa kita memilih jalan yang gelap?” bertanya Sindangsari.

“Aku menghindari orang-orang yang ada di dapur Mereka akan bertanya segala

macam persoalan yang menjemukan. Kita pergi saja sendiri lalu semuanya akan

selesai tanpa pembicaraan yang kadang-kadang tidak masuk akal dan bahkan

menyimpang dari persoalan yang sebenarnya”

Sindangsari tidak bertanya lagi. Ia berjalan saja mengikuti Nyai Reksatani keluar dari

pintu butulan sebelah kiri.

Ketika Sindangsari menjejakkan kakinya di halaman, terasa bulu tengkuknya

meremang. Serasa sesuatu merayapi hatinya yang cemas dan gelisah. Di sebelah

rumah itu agaknya sudah menjadi sepi. Anak-anak muda yang duduk-duduk sambil

berkelakar sudah meninggalkan tempatnya dan tidur di gandok. Meskipun lampu yang

terang benderang di pendapa masih melemparkan cahayanya ke halaman depan,

tetapi agaknya mereka yang duduk di pendapapun sudah menjadi lelah dan kantuk.

Tidak banyak lagi terdengar gelak tertawa diantara mereka.

Sindangsari berjalan berjingkat tanpa sesadarnya di belakang Nyai Reksatani.

Meskipun tengah malam telah jauh lewat, tetapi malam masih kelam bukan kepalang.

“Di rumpun bambu yang mana?” bisik Sindangsari Terasa suaranya menjadi gemetar.

“Itu, rumpun bambu petung”

“Kenapa kita tidak membawa obor? Atau aku akan mengambilnya sebentar?”

“Ah tidak perlu. Kita sudah hampir sampai”

Sindangsari tidak berkata-kata lagi. Meskipun terasa dadanya bergetar, tetapi ia

berjalan saja di belakang Nyai Reksatani. Tanpa diketahui sebabnya, setiap langkah

terasa semakin bertambah berat. Tetapi dipaksakannya ia berjalan terus. Ia justru

mencoba mengusir segala perasaan takut dan cemas.

Manguri yang ada di luar halaman mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara

dua orang perempuan di halaman belakang. Meskipun seolah-olah mereka hanya

saling berbisik, tetapi telinga Manguri yang tajam segera dapat menangkapnya, dan

dengan segera pula ia memastikan bahwa keduanya itulah Nyai Reksatani dan

Sindangsari.

Terasa jantung Manguri berdetak semakin cepat. Dengan tegangnya ia mencoba

menjenguk dari atas dinding batu yang melingkari halaman itu. Darahnya serasa

berhenti ketika ia melihat dua orang perempuan berjalan ke arah tempat yang telah

ditentukan oleh Ki Reksatani.

“Pasti mereka” desisnya meskipun Manguri masih belum dapat melihat wajah-wajah

mereka di dalam gelap.

Sejenak Manguri seakan-akan membeku di tempatnya. Nafasnya menjadi terengahengah

dan dadanya serasa berdentangan.

“Mudah-mudahan Lamat berhasil tanpa menimbulkan persoalan yang rumit” katanya di

dalam hati.

Sementara itu, Lamat masih berjongkok di tempatnya. Ketika ia mendengar suara

perempuan dan melihat dua bayangan mendekat, iapun menjadi berdebar-debar. Tibatiba

saja kepalanya menunduk dalam-dalam seakan-akan ia ingin melihat warna hati di

dalam dadanya.

“Apakah aku akan melakukannya?” pertanyaan itu tiba-tiba telah meronta di dalam

dadanya.

Kedua bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka berjalan menuju

kerumpun bambu petung di sebelah rumpun perdu tempat Lamat tersembunyi.

“Disitu mBo-ayu berkata Nyai Reksatani “mbok-ayulah yang harus meletakkannya..

“Aku?”

“Ya”

“Dimana?”

“Di rumpun bambu itu telah ada sesaji. Tetapi sesaji itu kurang memenuhi keinginan

penunggu rumpun bambu itu. Karena itu taruhlah sadak kinang ini ke dalam ancak

sesaji itu”

Sindangsari termangu-mangu sejenak, seperti Lamat masih juga termangu-mangu.

Sejenak ia menahan nafas sambil memandang keduanya. Dadanya serasa menjadi

retak oleh pergolakan perasaannya sendiri.

“Aku tidak dapat lari dari dunia yang kelam ini. Aku adalah orang yang paling palsu di

muka bumi. Aku adalah orang yang sama sekali tidak berani melihat kejujuran di dalam

diri” berkata Lamat di dalam hatinya “dan kini aku harus melakukannya. Sebuah

kepalsuan yang tidak berperi-kemanusiaan sama sekali”

Lamat masih menundukkan kepalanya. Wajahnya yang kasar menjadi tegang.

Nafasnya tertahan-tahan dan tangannya tiba-tiba menjadi gemetar.

Lamat adalah seorang yang bertubuh raksasa, berwajah kasar seperti batu padas.

Namun di dalam keadaan yang paling sulit, terasa matanya menjadi panas. Ia merasa

betapa dirinya kini menjadi manusia yang paling tidak berharga, sehingga tidak

seorangpun yang dapat mengerti dan menghargai perasaannya.

Hampir saja Lamat tidak dapat menahan diri. Ia sadar ketika terasa setitik air

menghangati tangannya.

Ketika ia mengangkat wajahnya, ia melihat Sindangsari sedang membungkukkan

punggungnya meletakkan sadak kinang di dalam ancak sesaji. Bayangan kegelapan

rumpun bambu seakan-akan telah melindunginya. Ketika ia selesai, maka iapun

segera tegak kembali dan melangkah surut.

“Begitukah?” ia bertanya.

“Ya. Begitu” sahut Nyai Reksatani yang menjadi gelisah. Ia sudah berhasil membawa

Sindangsari ke tempat yang ditentukan. Tetapi tidak seorangpun yang datang untuk

mengambil Sindangsari.

Manguripun mengumpat-umpat di dalam hati.

“Apakah yang ditunggu anak gila itu?” Manguri menggeram di dalam hatinya.

Dalam pada itu, Lamat menyadari, bahwa ia tidak mempunyai waktu lagi. Ia harus

segera bertindak di dalam waktu yang singkat. Ia sadar, bahwa Nyai Reksatani sudah

menjadi gelisah, karena ia masih belum berbuat apa-apa.

“Maafkan aku Sindangsari“ ia berdesis di dalam hati. Namun sejenak kemudian ia

menggeretakkan giginya, seolah-olah mencari sandaran kekuatan bagi hatinya yang

ringkih.

Sejenak kemudian Lamat itupun segera meloncat seperti seekor harimau menerkam

Sindangsari. Betapa terkejutnya perempuan itu. Seperti juga Nyai Reksatani yang

terkejut pula. Tetapi Sindangsari sama sekali tidak sempat berteriak. Tangan yang

kokoh kuat tiba-tiba saja telah menyumbat mulutnya. Dalam keadaan yang tidak

terkuasai itu, ia masih mendengar seseorang berdesis “Maafkan aku. Bukan maksudku

menyakiti kau”

Setelah itu, ia merasakan tekanan yang berat pada urat di sisi lehernya. Kemudian ia

tidak merasakan sesuatu lagi. Pingsan.

Nyai Reksatani masih berdiri mematung di tempatnya. Dipandanginya Lamat seperti

memandang hantu. Namun demikian ketika ia melihat Sindangsari yang lemas di

tangan raksasa itu, terasa dadanya seakan-akan retak.

“Hati-hatilah “ia berdesis.

Lamat terkejut mendengar pesan itu. Tetapi ia tidak segera menyahut.

“Perlakukan perempuan itu dengan baik. Apalagi ia sedang mengandung”

Lamat mengangguk perlahan-lahan ”Baik Nyai jawabnya dengan suara yang berat

“aku akan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya”

“Katakanlah kepada Manguri, jagalah perempuan itu. Bukan saja tubuhnya, tetapi juga

perasaannya. Kalau Manguri menghendakinya, ia harus menerima perempuan itu

seutuhnya. Jangan hanya Sindangsari yang tampak itu. Seorang perempuan muda

yang cantik yang barangkali telah menggelegakkan nafsunya sebagai seorang laki-laki.

Tetapi Manguripun harus menerima semua yang ada padanya. Yang disenangi

maupun yang tidak”

“Ya Nyai“

“Kau tahu, aku juga seorang perempuan dan aku juga mempunyai anak perempuan”

Lamat tidak menjawab. Terasa matanya menjadi panas lagi dan tenggorokannya

serasa tersumbat ketika ia mendengar Nyai Reksatani itu terisak.

“Sudahlah, bawalah”

Lamat mengangguk “Aku akan menjaganya Nyai” tiba-tiba saja terloncat dari bibir

Lamat, sehingga justru Lamat sendiri terkejut karenanya.

Tetapi Nyai Reksatani tidak menyahut lagi. Bahkan dengan tergesa-gesa ia memutar

dan pergi meninggalkan Lamat yang termangu-mangu.

Lamat terkejut ketika ia merasa seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling ternyata

Manguri sudah berdiri di sampingnya.

“Kau jangan menjadi gila. Cepat, kalau kau terlambat, maka semuanya akan rusak”

bisik Manguri.

Lamat menganggukkan kepalanya. Keduanyapun kemudian pergi meninggalkan

halaman itu sambil membawa Sindangsari yang pingsan.

Lamat dan Manguripun kemudian segera pergi ke tempat kuda-kuda mereka

disediakan. Lamat segera meloncat naik sambil mendukung Sindangsari, sedang

Manguripun naik pula keatas punggung kudanya.

“Marilah “ajak Manguri.

Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang berbedabeda.

Namun keduanya tidak segera memacu kudanya, supaya derap kaki kuda-kuda itu

tidak menimbulkan berbagai macam pertanyaan di hati penduduk. Apalagi apabila

diantara mereka ada yang menjenguk keluar dan melihat siapakah mereka.

Di ujung desa mereka melewati beberapa orang yang di tempatkan oleh Ki Reksatani

untuk bertindak setiap saat, apabila keadaan memburuk. Tetapi agaknya mereka sama

sekali tidak berbuat apa-apa terhadap Manguri dan Lamat.

“Apakah kalian sudah berhasil?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Ya, semuanya sudah selesai” jawab Manguri.

“Baiklah. Supaya tidak menimbulkan kesan apapun bagi orang-orang yang melihat,

meskipun dari kejauhan, maka kita akan berpencar” berkata salah seorang dari

mereka.

“Ya, berpencarlah” sahut Manguri.

“Pada saatnya kami akan menemui Ki Reksatani

“Silahkan. Akupun akan mencari kesempatan pula”

Manguri dan Lamatpun kemudian meneruskan perjalanan mereka membawa

Sindangsari yang sedang pingsan. Namun agaknya Lamat benar-benar telah menjaga

sebaik-baiknya. Ia menyadari bahwa kandungan Sindangsari akan terganggu apabila

derap kudanya nanti akan mengguncang-guncang tubuh perempuan itu.

Setelah mereka sampai kebulak yang panjang harulah mereka mempercepat langkah

kuda kuda mereka. Apalagi setelah mereka melihat bayangan kemerahan di langit.

Di tengah-tengah bulak, Manguri berhenti sejenak. Dari sela-sela batang jagung muda

beberapa orang merangkak-rangkak keluar dan berloncatan kejalan.

“Tidak terjadi sesuatu?” bertanya salah seorang dari mereka, orang-orang yang

memang di tempatkan oleh Manguri untuk mengawasi keadaannya apabila lerjadi

sesuatu yang tidak terduga-duga.

“Tidak. Kembalilah Jangan menimbulkan kesan yang dapat merugikan aku dan kita

semua”

“Baiklah“

Orang-orang itu adalah orang-orang yang biasanya ikut mengawal ternak apabila ayah

Manguri mengirim ternak keluar daerah dan ke tempat-tempat yang jauh.

Sejenak kemudian maka Manguri dan Lamatpun berpacu semakin cepat menuju ke

tempat terpencil. Tempat penampungan ternak yang jarang dikenal. Yang ada di

tempat itu hanyalah kandang kandang yang besar, patok-patok dan pelanggaran untuk

mengikat tali-tali ternak yang sedang dikumpulkan sebelum dibawa keluar daerah.

Ternyata, baik orang-orang Ki Reksatani, maupun orang Manguri, segera telah

berhasil menghilangkan jejak mereka. Setelah mereka berpencaran, maka merekapun

berjalan seenaknya di jalan-jalan persawahan seperti orang-orang yang akan pergi ke

pasar yang jauh. Tidak seorangpun yang menumbuhkan kecurigaan kepada orangorang

yang mereka temui di sawah-sawah karena mereka sedang menunggui air yang

menjadi bagian mereka malam itu, karena air agak sulit didapat di musim kering yang

panjang.

Dalam pada itu, Manguri dan Lamatpun segera sampai pula ke tempat tujuan mereka,

karena kuda-kuda mereka berpacu semakin cepat.

Dengan tergesa-gesa mereka meloncat turun dan menambatkan kuda-kuda mereka.

Dengan tergesa-gesa pula Lamat mendukung Sindangsari menuju ke gubug di pinggir

pekarangan yang sangat luas itu.

Mereka terkejut ketika mereka melangkah masuk. Ternyata ayah Manguri telah duduk

di dalamnya menghadapi sebuah pelita minyak.

“Ayah” desis Manguri.

Jilid 7 – Bab 2 : Macan Luwe

“Ya. Aku sudah menunggu. Aku menjadi cemas

kalau terjadi sesuatu atas kalian. Tetapi yang paling

cemas adalah apa yang akan terjadi kemudian ”

“Kenapa?”

“Lalu, apakah yang akan kau lakukan setelah kau

berhasil membawa Sindangsari kemari”

“Biarlah ia ada di sini untuk beberapa lama.

Bukankah ayah sudah mendapatkan tempat yang

lain untuk menampung ternak sebelum ayah

membawanya pergi”

“Kenapa tempat lain”

“Menurut Ki Reksatani semakin banyak orang yang

mengetahui hal ini, akan semakin berbahaya

baginya”

“Ia benar” sahut ayahnya “aku akan membatasi

hanya orang-orang yang memang sudah

mengetahui hal ini sajalah yang akan datang ke

tempat ini. Tetapi untuk memindahkan dengan serta-merta tempat penampungan

ternak ini, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang apa yang akan kau lakukan?”

“Sekarang?”

“Ya, sekarang ini”

Manguri mengerutkan keningnya “Maksud ayah, apa yang harus aku kerjakan

sekarang ini?”

“Ya”

Manguri menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Tidak ada. Aku akan beristirahat

disini. Aku lelah sekali. Aku lelah dan mengantuk”

“Aku sudah menduga. Karena itulah maka aku datang kemari”

“Maksud ayah? Apa lagi yang harus aku lakukan pagi ini?”

“Pulanglah cepat. Masuklah ke dalam bilik kalian masing-masing, dan tidurlah seperti

biasa, seperti tidak terjadi apa-apa”

Manguri tidak segera mengetahui maksud ayahnya, sehingga sejenak ia memandang

Lamat, kemudian memandang ayahnya.

“Apakah maksud ayah, aku harus membawa Sindangsari pulang ke rumah?”

“Tentu tidak. Biarlah ia disembunyikan disini. Taruhlah ia di dalam bilik sempit di

sebelah. Kalau karena kecurigaan Ki Demang, ia mengirim orang kemari, biarlah aku

yang bertanggung jawab. Tidak seorangpun yang akan melihat, bahwa di balik gledeg

itu adalah pintu sebuah bilik”

“Lalu kenapa aku harus kembali pulang dan masuk ke dalam bilik seperti biasa dan

seperti tidak terjadi apa-apa”

“Cepat, letakkan perempuan itu di dalam bilik kecil itu, dan segera pulang. Kau

dengar?”

Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah Sindangsari yang masih

pingsan, kemudian wajah ayahnya berganti-ganti.

“Jangan cemas. Aku akan menungguinya seperti menunggui anakku sendiri. Tetapi

kau harus segera pulang sekarang”

Lamatpun kemudian masuk ke dalam bilik kecil di belakang gledeg itu untuk

meletakkan Sindangsari. Katanya “Ia akan segera sadar”

“Aku akan menungguinya. Kalau ia berbuat sesuatu yang dapat berbahaya bagi kita,

aku akan membuatnya pingsan pula”

Lamat mengerutkan keningnya Dan tanpa sesadarnya ia berkata “Ia sangat lemah”

Ayah Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya ”Baiklah. Aku akan menyesuaikan

keadaannya dengan kemungkinan yang dapat terjadi”

Meskipun ragu-ragu tetapi Manguri dan Lamatpun kemudian segera berpacu pulang ke

rumahnya. Seperti pesan ayahnya, merekapun segera membersihkan diri, mencuci

kaki dan berganti pakaian, kemudian masuk ke dalam bilik masing-masing”

Sementara itu, di Kademangan Kepandak. Nyai Reksatani yang telah mengumpankan

Sindangsari ke halaman belakang, langsung kembali masuk ke dapur. Ia tidak kembali

lagi ke bilik Sindangsari atau ke pringgitan. Sejenak kemudian iapun sudah sibuk

bekerja diantara orang-orang yang masih ada di dapur menyiapkan makan pagi bagi

orang-orang yang semalam-malaman membantu di rumah itu, serta untuk mereka

yang tertidur di gandok dan di pendapa.

Yang masih tinggal di pringgitan adalah ibu Sindangsari, Ia duduk dengan satu dua

orang perempuan tua sambil berbicara tentang berbagai masalah. Ibu Sindangsari itu

adalah perempuan yang paling banyak melihat dunia di luar lingkungan Kademangan

Kepandak dari orang-orang lain. Karena itu, maka ialah yang paling banyak berceritera

tentang segala sesuatu yang pernah dilihatnya.

Namun setelah sekian lama mereka berbicara, Sindangsari masih belum juga datang

kembali diantara mereka: Tetapi perempuan-perempuan itu tidak menghiraukannya.

Mereka menyangka bahwa Sindangsari masih terlampau lelah, sehingga ia tertidur

atau berbaring di biliknya.

“Biar sajalah” berkata seorang perempuan tua “ia lelah sekali. Apalagi perutnya yang

sudah menjadi semakin besar.Ia memang perlu beristirahat”

Karena itu maka tidak seorangpun yang segera mengetahui, bahwa Sindangsari sudah

tidak ada di dalam biliknya.

Ketika seorang perempuan yang menyediakan makan Sindangsari itu kemudian

masuk lagi ke dalam biliknya untuk mengambil sisa makannya, ia terkejut. Makanan

Sindangsari yang sudah disenduk di dalam mangkuk masih belum dimakannya.

Karena itu, maka iapun segera mencarinya ke pringgitan.

“Apakah Nyai Demang duduk disini?” perempuan itu bertanya.

“Ia ada di dalam biliknya” jawab ibu Sindangsari bersamaan dengan beberapa orang

perempuan lainnya.

“Tidak ada. Aku baru saja masuk ke dalam bilik itu”

“O, barangkali ia ada di dapur”

“Juga tidak ada. Sejak tengah malam aku ada di dapur”

Ibu Sindangsari mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata “Mungkin ia

sedang berada di pendapa atau di tempat-tempat lain”

“Tetapi NyaiDemang masih belum makan”

“Ia pergi ke dalam biliknya bersama Nyai Reksatani”

“Ya, akulah yang menyiapkan makan untuknya. Nasi sudah disenduk. Tetapi masih

belum dimakannya”

“Bertanyalah kepada Nyai Reksatani”

Perempuan itupun kemudian pergi mencari Nyai Reksatani di dapur. Kepadanya ia

bertanya pula tentang Sindangsari.

Betapa dada Nyai Reksatani serasa pepat. Namun kemudian ia menjawab ”Ia berada

di biliknya. Bukankah ia sedang makan? Dan bukankah kau tadi yang menyediakan

makan buatnya”

“Ya. Aku memang akan mengambil sisa makan itu. Tetapi nasi yang sudah disenduk

masih belum dimakannya”

“Ah, jangan berkhayal”

“Nyai tidak percaya”

Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada seorang

perempuan yang duduk di sampingnya ”Lihatlah ke dalam bilik itu. Aku sedang

mengukur kelapa. Tanganku kotor sekali”

Perempuan itupun kemudian berdiri dari tempatnya dan pergi ke dalam bilik

Sindangsari bersama perempuan yang telah menyediakan makan buatnya.

“Nah, kau lihat?”

Perempuan itu mengerutkan keningnya. “Aneh sekali. Nasi yang sudah disenduk ke

dalam mangkuk itu ditinggalkannya begitu saja. Bukankah aku tidak mengigau atau

berkhayal atau mimpi?”

Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya ”Memang aneh sekali”

Keduanyapun kemudian bersama-sama kembali ke dapur dan mengatakan apa yang

mereka lihat kepada Nyai Reksatani.

Beberapa orang yang lain ikut pula mendengarkannya. Hampir bersamaan mereka

bergumam ”Aneh sekali”

“Mari kita lihat” berkata Nyai Reksatani.

Merekapun kemudian bersama-sama pergi ke dalam bilik Sindangsari. Yang mereka

ketemukan di sana adalah persediaan makan buat Nyai Demang. Nasi yang sudah

disenduk ke dalam mangkuk dan beberapa potong lauk sudah berada dimangkuk itu

pula.

“Kemana mBok-ayu ini” desis Nyai Reksatani ”tidak pantas nasi yang sudah disenduk

ditinggal begitu saja. Apakah ia berada di pringgitan?”

“Tidak. Aku sudah kesana”

“Di pendapa?

“Aku belum melihatnya”

Nyai Reksatani sendiri kemudian pergi ke pringgitan untuk mencari Sindangsari.

Karena di pringgitan tidak ada, maka iapun kemudian bergumam ”Apakah ia berada di

pendapa menemui tamu suaminya?”

“Marilah kita lihat” desis seseorang.

Nyai Reksatani termenung sejenak. Tetapi yang direnungkan sama sekali bukan

dimana Sindangsari berada, tetapi apakah orang-orang yang melarikan Sindangsari

sudah sampai tujuannya.

“Bagaimana Nyai” bertanya seseorang.

Nyai Reksatani tergagap. Ia sudah tidak dapat berusaha mengulur waktu lagi. Karena

itu maka iapun berkata ”Marilah kita lihat, apakah ia berada di pendapa”

Nyai Reksatanipun kemudian pergi ke pendapa diikuti oleh ibu Sindangsari yang

menjadi sangat gelisah.

“Tidak mungkin ia tidak dapat diketemukan” berkata Nyai Reksatani kepada ibu

Sindangsari.

“Tetapi, bukankah ia meninggalkan nasi yang sudah di senduk ke dalam mangkuk”

“Memang aneh”

Ketika mereka sampai di pendapa. Ki Demang mengerutkan keningnya. Ki

Reksatanipun kemudian bertanya ”Siapakah yang kalian cari disini?”

“mBok-ayu”

“He” sahut Ki Demang ”bukankah ia ada di dalam?”

“Tidak ada” jawab ibu Sindangsari.

“Ah. Ia tidak ada disini. Cobalah cari di biliknya, di dapur atau barangkali ia berada di

pakiwan”

“Kami sudah mencari kemana-mana. Semua orang sudah mencarinya. Kecuali di

pakiwan”

“Ia tentu mendengar kami ribut apabila ia berada di pakiwan” berkata seorang

perempuan yang lain.

Ki Jagabaya tidak mengucapkan sepatah katapun. Tetapi ia langsung berdiri.

Kemudian ia melangkah turun dan pergi ke pakiwan ”Nyai Demang” ia berdesis.

Tidak ada yang menyahut.

Tiba-tiba saja Ki Jagabayapun menjadi gelisah. Ketika ia kembali ke pendapa,

beberapa orang perempuan masih berdiri di tangga dengan wajah yang gelisah.

“Di pakiwanpun tidak ada” desis Ki Jagabaya.

“Aneh sekali. Apakah kalian sudah menjadi gila?”

Ki Demangpun kemudian berdiri pula diikuti oleh tamu-tamunya yang lain. Mereka

yang sudah mengantukpun tiba-tiba tersadar dan meloncat berdiri pula.

Dengan tergesa-gesa Ki Demang masuk kepringgitan, kemudian ke dalam bilik

Sindangsari. Ia masih melihat nasi yang sudah disenduk, lauk pauk dan

kelengkapannya.

“Ia baru mulai makan” desisnya.

Ki Jagabaya yang mengikutinyapun memandang nasi yang sudah berada di dalam

mangkuk itu dengan dada yang berdebar-debar. Bahkan tanpa sesadarnya ia telah

menengok kebawah pembaringan.

“Ia tidak akan bersembunyi di sana” desis Ki Demang.

“Mungkin tanpa disengaja”

“Maksudmu, gangguan hantu atau roh halus yang jahat?”

Ki Jagabaya tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi tegang.

Dalam pada itu, seluruh isi Kademangan menjadi gempar. Nyai Reksatani berlari-larian

hilir mudik di dalam rumah itu. Demikian pula ibu Sindangsari dan bahkan Ki Demang

telah menjelajahi setiap sudut dan kemudian berpencaran di halaman dengan obor di

tangan.

Tetapi tidak seorangpun yang dapat menemukan Sindangsari, bahkan jejaknyapun

tidak.

“Apakah Nyai Demang telah dibawa wewe?” bertanya seseorang.

“Hanya anak-anak sajalah yang sering dibawa oleh kuntilanak” sahut yang lain.

“Tidak. Kadang-kadang orang tua-tuapun dibawanya. Apalagi Nyai Demang sedang

mengandung. Aku dengar ada kuntilanak yang sering mencari perempuan yang

sedang mengandung. Ia mengharap bahwa apabila kelak anaknya lahir, maka anak itu

akan diambilnya. Kuntilanak itu takut kedahuluan oleh kuntilanak yang lain apabila ia

menunggu bayi itu lahir”

Yang lain tidak menyahut lagi. Mereka menjadi ngeri membicarakan hal itu diantara

mereka.

Dalam pada itu, perempuan tua yang menunggui dandang penanak nasi, duduk sambil

bertopang dagu. Ia menghubungkan peristiwa itu dengan mimpinya, dengan

jambangan yang pecah dan dengan keanehan-keanehan yang terjadi di dapur.

Ternyata kini Nyai Demang Kepandak, yang malam ini dirayakan karena

kandungannya yang sudah genap tujuh bulan itu tiba-tiba telah hilang begitu saja.

“Nyai Reksatani agaknya kurang percaya kepada makna mimpi. Karena itu, ia tidak

mengambil sikap untuk mencegah hal serupa ini terjadi” desisnya.

Sementara itu, semua orang menjadi bingung. Semua orang diliputi oleh berbagai

macam pertanyaan, dan semua orang dicengkam oleh kecemasan. Beberapa orang

tua-tua tidak sempat lagi berpikir panjang. Mereka segera mencari beberapa helai

penampi, pisau parang dan kelinting kerbau. Dengan memukul semuanya itu beramairamai,

dibarengi de-nf.an kentongan-kentongan kecil, mereka memanggil-manggil

nama Nyai Demang di seluruh halaman dan kebun belakang. Bahkan kemudian

mereka meloncat keluar pagar dan mencarinya di sepanjang padukuhan. Di rumpunrumpun

bambu, di tikungan-tikungan dan di bawah pohon pohon besar.

Tetapi mereka tidak menemukan sesuatu. Namun dalam pada itu, Ki Demang, Ki

Jagabaya dan para bebahu Kademangan bersikap lain. Bersama dengan Ki Reksatani

mereka segera berbincang.

“Kita lihat rumah Pamot” tiba-tiba Ki Reksatani menggeram.

“Apakah ia sudah pulang?”

“Aku tidak tahu. Tetapi siapa tahu, ia pulang hari ini dan mBok-ayu lari kepadanya”

“Tidak mungkin” sahut Ki Demang ”ia sudah kerasan disini”

“Maaf. Aku harus mencurigai setiap orang di dalam saat serupa ini. Bagaimana

pendapatmu Ki Jagabaya?”

“Marilah kita lihat” sahut Ki Jagabaya ”Kalau ia ada di rumah, maka kita memang perlu

mencurigainya. Setidak-tidaknya ia memang sudah pulang”

“Belum seorangpun yang sudah pulang diantara mereka” berkata Ki Kebayan.

“Hampir sehari semalam Ki Kebayan ada di rumah ini” sahut Ki Jagabaya.

Ki Kebayan mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata ”Baiklah. Supaya

kita yakin, kita akan melihat rumah itu”

Demikianlah maka beberapa orang laki-laki segera mempersiapkan diri. Ki Jagabaya

yang merasa tersinggung karena peristiwa itu berkata ”Aku sendiri akan memimpin

pencaharian ini”

Ki Reksatani menjadi berdebar-debar karenanya. Kalau Ki Jagabaya tidak menemukan

Sindangsari di rumah Pamot, maka kemungkinan lain, Ki Jagabaya akan mencarinya

ke rumah Manguri. Apabila pada saat Ki Jagabaya datang ke rumah itu, Manguri tidak

ada di rumah, maka anak muda itu pasti akan dicurigai.

Karena itu, untuk meyakinkan dirinya pula, apakah ia aman atau tidak, Ki

Reksatanipun berkata ”Aku ikut bersamamu Ki Jagabaya”

“Bagus” sahut Ki Jagabaya. Kemudian kepada Ki Demang ia berkata ”Ki Demang

supaya tinggal saja di rumah. Apabila kemudian Nyai Demang diketemukan

dimanapun juga sebelum kami kembali, kami harap, Ki Demang menyuruh satu dua

orang menyusul kami”

“Baikklah”

“Supaya perjalanan kami cepat, kami akan berkuda”

“Ya. Cepatlah memberi kabar. Kalau perlu aku sendiri akan mencari dari rumah ke

rumah” geram Ki Demang.

Demikianlah maka Ki Jagabayapun kemudian menyiapkan segala keperluannya,

termasuk beberapa ekor kuda dan senjata. Hilangnya Sindangsari dari halaman

Kademangan merupakan lumpur yang memercik di wajahnya. Ia ada di Kademangan

pada saat itu, pada saat Nyai Demang hilang dari rumahnya.

“Kita harus menemukannya” ia menggeram ”Nyai Demang pasti belum lama hilang dari

Kademangan. Nasinya masih berada di dalam mangkuknya”

Demikianlah maka dengan darah yang serasa mendidih di dadanya Ki Jagabaya

membawa sejumlah laki-laki berkuda meninggalkan halaman Kademangan, termasuk

Ki Reksatani.

Sementara itu, perempuan-perempuan tua dan beberapa orang laki-laki yang tidak lagi

heran berlari diatas punggung kuda, masih berusaha mencari Nyai Demang dengan

bunyi-bunyian. Menyusup rumpun-rumpun bambu, sudut-sudut padukuhan yang

rimbun dan pinggir parit yang ditumbuhi empon-empon setinggi orang.

Di bawah sebatang pohon cangkring yang tua, beberapa orang berteriak-teriak

memanggil nama Sindangsari, tetapi tidak ada jawaban apapun. Kemudian merekapun

pergi ke sendang di bawah pohon Selikur yang berdaun tujuh macam. Tetapi

merekapun tidak menemukan seseorang meskipun mereka tidak henti-hentinya

memukul tetabuhan yang mereka bawa. Bahkan beberapa orang justru menggigil

karenanya, seolah-olah pohon Selikur yang besar itu memandang mereka dengan

matanya yang merah. Tangan-tangannya yang berbelitan pada. batang pohonnya

seakan-akan bergerak siap untuk menerkam.

Sampai fajar menyingsing di Timur, mereka sama sekali tidak menemukan apapun,

bahkan jejak Sindangsaripun tidak.

Sementara itu, Ki Jagabaya bersama beberapa orang laki-laki berderap diatas

punggung-punggung kuda memecah sepinya pagi. Orang-orang yang baru saja

terbangun, telah dikejutkan oleh gemeretak suara kaki kuda diatas batu-batu di jalan

yang membelah padukuhan mereka.

Beberapa orang segera menjengukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak sempat melihat

siapakah yang baru saja lewat di depan rumah mereka.

Dengan mulut yang terkatub rapat-rapat Ki Jagabaya memacu kudanya seperti dikejar

hantu. Dadanya yang pepat serasa ingin meledak. Begitu beraninya orang-orang gila

itu mengambil Nyai Demang dari hadapan hidungnya dan hidung suaminya, Ki

Demang di Kepandak yang hampir tidak ada duanya di daerah Selatan ini, yang

ditunggui pula oleh Ki Reksatani yang pernah mendapat gelar Macan Luwe oleh

kawan-kawannya selagi mereka masih muda, karena Ki Keksatani adalah seorang

yang garang seperti seekor harimau, tetapi ia selalu saja lapar. Setiap kali ia pergi ke

Kademangan, ia pasti langsung pergi ke dapur mencari makan, sehingga sampai saat

tuanyapun Ki Demang masih selalu bertanya kepadanya, apakah ia sudah makan.

Iring-iringan orang berkuda itu langsung menuju ke ke rumah Pamot yang masih

tertutup rapat. Seisi rumah itu terkejut bukan kepalang ketika mereka mendengar

derap kaki-kaki kuda memasuki halaman. Yang pertama-tama terlintas di kepalanya

adalah Pamot. Bagaimana dengan Pamot?

Dengan tergesa-gesa ayahnya berlari-lari membuka pintu. Ia terkejut sejenak, ketika ia

melihat di dalam keremangan cahaya pagi Ki Jagabaya, Ki Kebayan dan beberapa

orang lagi, termasuk Ki Reksatani.

Hampir tanpa disadarinya ayah Pamot bertanya ”Apakah kalian ingin memberikan

kabar tentang anakku? Bagaimana dengan Pamot?

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tetapi sejenak kemudian ia bertanya dengan

suara lantang ”Dimana Pamot?”

Ayah Pamot menjadi bingung. Dengan suara yang tinggi ia bertanya pula ”Siapakah

yang sebenarnya harus bertanya? Aku atau kalian? Aku kira kalian datang setelah

kalian mendengar berita tentang anakku. Sekarang Ki Jagabaya justru bertanya

dimana Pamot. Bukankah kita bersama-sama tahu bahwa Pamot ikut di dalam

pasukan yang menyerang Betawi bersama seluruh kekuatan Mataram?”

Ki Jagabaya tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Ki Reksatani, Ki Kebayan dan

para bebahu padukuhan yang lain yang ikut serta bersamanya.

“Ki Jagabaya?” bertanya ayah Pamot “apakah yang sebenarnya ingin Ki Jagabaya

katakan? Apakah Ki Jagabaya ingin menyampaikan berita yang paling jelek buat kami?

Dan agar supaya kami tidak terkejut, Ki Jagabaya mencoba mencari cara yang sebaikbaiknya

untuk mengatakannya?”

Ki Jagabaya masih tetap berdiam diri. Justru ia menjadi agak bingung untuk menjawab

pertanyaan ayah Pamot yang datang beruntun.

“Ki Jagabaya” berkata ayah Pamot kemudian “sebaiknya Ki Jagabaya berkata berterus

terang. Apakah Ki Jagabaya sudah menerima pemberitahuan dari Mataram bahwa

anakku mati?”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Namun dengan suara yang menghentak dari

dalam dadanya ia berkata “Aku mencari Pamot”

“Kenapa Ki Jagabaya mencari Pamot?” ayah Pamot menjadi semakin bingung “apakah

ia ternyata lari dari kesatuannya?”

Ki Jagabaya memandang ayah Pamot dengan sorot mata yang semakin lama menjadi

semakin lunak. Ia melihat kejujuran pada wajah ayah Pamot, seorang petani yang

sederhana, yang pasti tidak akan mampu membohonginya.

“Jadi Pamot tidak pulang atau belum pulang?” la kemudian bertanya.

“Aku menunggu berita tentang anakku itu. Jadi bagaimana sebenarnya? Anak itu mati

atau lari atau apalagi yang lebih jahat? Membunuh, merampok atau apa?“

Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Katanya “Baiklah kalau anakmu masih belum

pulang. Aku hanya ingin meyakinkan diri, apakah anak-anak kita memang belum

kembali dari medan”

“Aku tidak mengerti” desis ayah Pamot “aku merasa, sesuatu pasti terjadi. Tetapi Ki

Jagabaya agaknya masih merahasiakannya”

“Tidak. Tidak apa-apa” jawab Ki Jagabaya “Punta dan yang lain lagi juga belum ada di

rumahnya”

Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kini hatinya serasa tertusuk duri.

Setiap tarikan nafas, bagaikan ujung duri itu semakin dalam menghunjam masuk ke

dalam jaringan hatinya.

“Baiklah, aku akan melanjutkan perjalanan”

“Kemana?”

Ki Jagabaya menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia menjawab “Keliling

Kademangan”

Ketika Ki Jagabaya sudah siap meninggalkkan halaman itu, ayah Pamot mendekatnya

sambil berdesis “Perasaanku telah terguncang Ki Jagabaya. Aku memang bukan

orang yang pandai, tetapi kadang-kadang secara naluriah aku merasa bahwa sesuatu

telah atau akan terjadi. Adalah tidak biasa terjadi, Ki Jagabaya bersama beberapa

orang bebahu dan para pengawal di pagi-pagi buta berderap berkeliling Kademangan

diatas punggung kuda seperti sepasukan prajurit yang pergi berperang”

“Kau benar” sahut Ki Jagabaya “aku sendiri merasa aneh atas perbutan kami ini.

Tetapi apaboleh buat. Kalau kau ingin juga tahu, maka sebentar lagi kau pasti akan

tahu, apakah alasan kami datang kemari untuk meyakinkan bahwa Pamot memang

belum kembali hari ini”

“Jadi Ki Jagabaya berteka-teki?”

“Tidak. Tetapi aku tidak perlu mengatakannya, sekarang aku minta diri”

Ki Jagabaya tidak mununggu jawaban. Iapun segera memacu kudanya meninggalkan

halaman rumah Pamot, diikuti oleh orang-orang lain yang bersamanya mencari

sindangsari.

“Kemana kita sekarang?” bertanya salah seorang pengikutnya.

“Masih ada seorang yang pantas kita curigai. Manguri”

Dada Ki Reksatani menjadi berdebar-debar. Ia memacu kudanya lebih cepat sehingga

ia berada di samping Ki Jagabaya

“Kita pergi ke rumah Manguri sekarang?” ia bertanya.

“Ya“

“Apakah mungkin ia melakukannya?”

“Mungkin sekali. Ia jauh lebih kasar dari Pamot.

“Tetapi kalau ia berniat untuk mengambil, kenapa ia menunggu sampai hari ini, sampai

kandungan mBok-ayu Sindangsari genap berumur tujuh bulan?”

“Aku tidak sempat mempertimbangkannya sekarang. Aku mencurigainya dan aku akan

melihat rumiahnya, apakah ia menyembunyikannya di rumahnya”

“Kita akan membuang buang waktu. Lebih baik kita berpencar dan mencari jejak di

seluruh Kademangan”

“Terserah. Tetapi aku akan pergi ke rumah Manguri. Memang agak kurang

meyakinkan bahwa ia menunggu justru ketika di rumah Ki Demang sedang banyak

orang, termasuk Ki Reksatani dan para bebahu. Tetapi mungkin ia menganggap, justru

di dalam kesibukan itulah semua orang menjadi lengah”

Ki Reksatani tidak dapat mencegahnya lagi. Karena itu ia merasa wajib untuk ikut serta

bersama Ki jagabaya. Mungkin apabila perlu ia dapat mengambil tindakan secepatcepatnya.

Tanpa disadarinya, Ki Reksatani meraba kerisnya. Keris yang dipakai sebagai pakaian

kebesarannya dalam peralatan di rumah kakaknya. Tetapi keris itu adalah sebuah

keris pusaka yang dapat diandalkannya.

Kalau Ki Jagabaya menemukan jejak sindangsari di rumah Manguri, maka anak itu

harus segera dibungkam untuk selama-lamanya” katanya di dalam hati “kalau tidak,

anak itu memang cukup berbahaya bagiku. Aku mempunyai alasan yang cukup untuk

menikamnya tanpa menunggu keputusan kakang Demang. Semua orang pasti

menyangka aku kehilangan kesabaran, dan membunuhnya dengan serta-merta”

Namun kemudian tumbuh pertanyaan “Lalu bagaimana dengan perempuan itu? Ia kini

pasti menyadari, bahwa isteriku telah menjerumuskannya. Ia akan dapat banyak

berbicara”

Ki Reksatani menggeretakkan giginya, di dalam hati ia menggeram “Persetan. Aku

tahu dimana perempuan itu disembunyikan. Sudah tentu aku tidak akan dapat

membunuhnya di hadapan orang-orang yang mencarinnya. Kami memang harus

berpencar dan tidak boleh seorangpun yang tahu, bahwa aku telah membunuhnya”

Sejenak kemudian derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat dengan padukuhan

Gemulung. Merekapun langsung berpacu ke rumah seorang pedagang ternak yang

kaya-raya. Semakin dekat mereka itu ke rumah Manguri, maka dada Ki Reksatani

menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak dapat membayangkan apa yang sedang

dilakukan oleh Manguri saat itu. Apakah ia tidak berada di rumahnya karena ia sedang

menyembunyikan Sindangsari atau justru ia membawa sindangsari ke rumahnya

sebelum disembunyikannya.

“Mudah-mudahan anak itu bukan anak yang dungu atau gila sama sekali. Ia harus

menyembunyikan Sindangsari itu. Tidak seharusnya ia membawanya pulang apapun

alasannya” katanya di dalam hati.

Sejenak kemudian, rombongan orang-orang berkuda itupun telah memasuki regol

rumah pedagang kaya yang luas dan bersih itu. Beberapa orang pelayan menjadi

terkejut karenanya. Mereka yang sedang membersihkan halaman berlari-lari ke

belakang, sedang mereka yang sedang menimba airpun terpaksa berhenti karenanya.

Ki Reksatani yang sangat cemas merasa sedikit tenang ketika ia melihat Lamat yang

berdiri di depan kandang sambil menjinjing kapak. Di bawah kakinya beberapa potong

kayu sudah terbelah kecil-kecil

“He, dimana Manguri” terdengar suara Ki Jagabaya tegas.

Lamat menyandarkan kapaknya pada dinding kandang. Perlahan-lahan ia melangkah

mendekati orang-orang berkuda yang tidak juga mau turun meskipun mereka sudah

berhenti di halaman.

“Dimana Manguri?” bertanya Ki Jagabaya.

“Ia ada di dalam Ki Jagabaya” jawab Lamat sareh.

“Benar ia ada di rumah?”

“Ya. Ia ada di rumah”

“Apakah semalam ia ada di rumah?”

“Ya, semalam ia ada di rumah. Kenapa?”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Lalu ”Panggil anak itu kemari”

“Ia barangkali masih tidur”

“Kenapa ia masih tidur sesiang ini?”

“Bagi Manguri, hari masih terlampau pagi. Ia biasa bangun setelah nasi masak” jawab

Lamat.

“Panggil ia sekarang”

Lamat mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk sambil

menjawab “Baiklah. Aku akan memanggilnya“

“Apakah ayahnya juga ada di rumah?”

“Sudah tiga atau empat hari ini ia pergi mengantar ternak”

“Kemana?”

Lamat menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu”

“Kenapa kau tidak tahu?”

Lamat termangu-mangu sejenak. Lalu “Ki Jagabaya tahu, aku seorang pelayan disini.

Apakah aku harus mengetahui apa yang dilakukan oleh tuanku?”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya “Baik. Sekarang panggil Manguri

cepat. Ia tidak boleh berbuat sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaanku”

Lamat menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Aku akan memanggilnya”

Lamatpun kemudian meninggalkan orang-orang berkuda itu di halaman depan. Namun

agaknya Ki Jagabaya tidak mempercayai isi rumah itu, sehingga perintahnya kepada

orang-orangnya “Awasi semua sudut, aku tidak mau seorangpun ada yang

meninggalkan halaman rumah ini sebelum aku selesai”

Beberapa orangpun kemudian berpencar di sekitar rumah yang besar itu, di halaman

yang luas di depan dan di belakang.

Sambil menggosok matanya Manguri keluar dari pembaringannya. Ia masih sempat

berbisik kepada Lamat “Jadi, inilah agaknya kenapa ayah dengan tergesa-gesa

menyuruh kita segera pulang. Ternyata perhitungan ayah tepat. Mereka segera datang

ke rumah untuk mencari aku”

Karena Manguri benar-benar telah tertidur maka matanyapun menjadi merah, sekalikali

ia menguap ”Aku benar-benar tertidur” desisnya “apa jawabku kalau mereka

bertanya, kenapa aku masih tidur sampai saat begini?”

“Aku sudah mengatakan, bahwa setiap hari kau bangun pada saat nasi masak.

Merekapun bertanya tentang ayahnu. Aku katakan bahwa ayahmu pergi sejak tiga hari

yang lalu”

“Bagaimana kalau mereka bertanya kepada ibu?”

“Aku akan memberitahukannya”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian perlahan-lahan ia berjalan

keluar sambil menunggu Lamat yang singgah sejenak di bilik ibunya.

Ibu Manguri menjadi termangu-mangu sejenak. Namun Lamat berkata “Demi

keselamatannya”

“Ibu Manguri menganggukkan kepalanya “Baiklah”

Kepada seorang Pelayan yang sedang membersihkan ruang dalampun Lamat

berpesan, agar semua orang diberitahukan, bahwa ayah Manguri dianggap pergi sejak

tiga hari yang lalu.

“Kenapa?” bertanya pelayan itu.

“Kita malas untuk mencari kemana ia pergi. Jawaban itu akan segera menutup

kemungkinan agar kita mencarinya”

Pelayan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian pergi keluar menemui

orang-orang vang berkumpul di dapur sambil memperbincangkan orang berkuda yang

dipimpin oleh Ki Jagabaya sendiri.

“Jangan lupa. Kalau orang-orang itu bertanya, jawablah, bahwa tuan kita telah pergi

mengantar ternak sejak tiga hari yang lalu”

Sejenak kemudian Lamatpun telah mengantar Manguri keluar rumahnya. Namun

demikian Manguri masih juga berdebar-debar. Ketika ia turun tangga pendapa

rumahnya, dadanya berdesir ketika ia melihat Ki Reksatani ada diantara mereka.

“Apakah Ki Reksatani akan berkhianat?” pertanyaan itu membersit pula di hatinya.

Tetapi ia menggelengkan kepalanya sambil berkata ”Tentu tidak. Ia juga

berkepentingan. Bahkan berkepentingan sekali buat masa depannya”

“Manguri” berkata Ki Jagabaya kemudian dengan suara yang lantang ”apa benar kau

semalaman ada di rumah?

Debar jantung Manguri serasa menjadi semakin cepat. Ia melihat wajah Ki Jagabaya

yang tegang dan seakan-akan menyalakan kemarahannya di dadanya.

“Benar?” desak Ki Jagabaya.

“Ya Ki Jagabaya, semalaman aku di rumah. Kenapa?

“Kau tidak pergi sama sekali?”

Manguri menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku ada di rumah”

“Kau dapat membuktikan?”

Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya “Bagaimana caranya

agar dapat membuktikan bahwa aku semalaman di rumah”

“Terserah kepadamu. Apa saja, asal kau dapat meyakinkan kami bahwa kau

semalaman memang berada di rumah”

Manguri tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah-wajah yang tegang dari orang-orang

berkuda itu. Bahkan dilihatnya beberapa orang yang berpencaran di halamannya,

seakan-akan mereka sedang mengepung musuh di peperangan.

“Cepat. Buktikan bahwa kau memang ada di rumah”

Ki Jagabaya dan orang-orang berkuda itu serentak berpaling ketika mereka

mendengar suara dari pintu butulan “Ia berada di rumah semalaman”

Ki Jagabaya menjadi semakin tegang, seorang perempuan berdiri di muka pintu

butulan. Orang itu adalah ibu Manguri.

“Kau tahu benar bahwa ia semalaman ada di rumah?” bertanya Ki Jagabaya kepada

ibu Manguri.

“Aku tahu benar bahwa ia ada di rumah. Kami makan bersama-sama, kemudian aku

melihat ia pergi ke biliknya. Aku masih menegurnya ketika hampir tengah malam ia

masih juga membaca kidung dengan keras”

“Sesuatu itu?”

“Anak itu pergi ke pembaringan“

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sebelum ia mengucapkan pertanyaanpertanyaan

lagi Ki Reksatanilah yang mendahuluinya “Benar begitu Manguri?”

Manguri mengangguk “Ya. Benar begitu”

“Itukah sebabnya kau bangun terlampau siang pagi ini?”

“Aku biasa bangun siang. Aku tidak mempunyai pekerjaan apapun di pagi hari sambil

menunggu nasi masak”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Lamat ia bertanya

“Kaupun ada di rumah semalaman?”

“Aku hampir tidak pernah keluar halaman ini. Apalagi malam hari”

Sejenak Ki Reksatani memandang wajah Ki Jagabaya kemudian wajah-wajah yang

tegang di sekelilingnya.

“Dimana ayahmu?” tiba-tiba Ki Jagabaya bertanya.

“Ia pergi mengantarkan ternak keluar daerah”

“Kemana?”

“Ayah tidak pernah membicarakannya dengan siapapun di rumah ini. Kadang-kadang

dengan ibu, tetapi kadang-kadang juga tidak”

Ki Jagabaya berpaling kepada ibu Manguri -Benar begitu?”

“Ya. Suamiku jarang sekali mempersoalkan pekerjaannya di rumah. Katanya,

persoalan itu adalah persoalannya. Persoalan laki-laki. Ia hanya memberi uang untuk

keperluan rumah tangga ini secukupnya”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tetapi agaknya ia masih, belum mempercayai

seluruh keterangan itu. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata “Aku akan melihat seisi

rumah ini”

“Ada apa sebenarnya?” bertanya Manguri.

“Aku ingin melihat apakah tidak ada sesuatu yang mencurigakan disini”

“Ya, tetapi apa alasan kalian menggeledahi rumah ini. Ayah yang memiliki rumah ini

sedang tidak ada di rumah. Seharusnya kalian menunggu sampai ayah pulang”

“Aku tidak dapat menunda lagi“ kemudian kepada orang-orangnya Ki Jagabaya

memberikan perintah “lihatlah isi rumah ini. Apakah ia ada di dalamnya“

“Coba, sebutkan apa yang kalian cari. Kalau kalian mengatakan apa yang kalian cari,

barangkali kalian tidak perlu menggeledah rumah ini” berkata ibu Manguri “kalau kami

tahu apa yang kalian cari, dan ternyata yang kalian cari itu memang ada di rumah ini,

kami akan menunjukkannya”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Yang menyahut adalah Ki Reksatani

“Seandainya ada, kalian pasti tidak akan berterus terang”

“Apakah kalian menuduh kami telah merampok dan menyembunyikan barang-barang

rampokan itu di rumah ini?”

Ki Jagabaya menjadi ragu-ragu.

“Apakah kalian sangka bahwa kami akan kelaparan apabila kami tidak merampok?

Apakah kalian sangka bahwa hidup kami telah begitu sengsara sehingga kami harus

mencari nafkah dengan cara yang menakutkan itu?”

“Kami tidak menuduh kalian merampok. Kami tidak mencari barang rampokan di

rumah ini”

“Apa yang kalian cari. Kalau kalian tidak mau mengatakan kami, seisi rumah ini

menyatakan keberatan bahwa rumah kami akan kalian periksa”

“Kau tidak dapat menyatakan keberatan itu terhadapku. Terhadap Jagabaya

Kademangan Kepandak. Aku berhak berbuat apa saja untuk ketenteraman

Kademangan ini”

“Tetapi Ki Jagabaya tidak boleh menyalah gunakan wewenang itu”

“Aku tidak menyalah gunakannya sekarang”

“Kalau begitu beritahu, apakah yang kalian cari”

Ki Jagabaya masih juga ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata “Kami

mencari Sindangsari, Nyai Demang“

“He?” Manguri pura-pura terkejut “kalian mencari Nyai Demang di rumah ini? Alasan

apakah yang telah mendorong kalian berbuat demikian? Apakah kalian sangka bahwa

Nyai Demang itu lari dan bersembunyi disini?”

Ki Jagabaya tidak menyahut lagi. Tetapi ia mengulangi perintahnya “Cari di seluruh

bagian rumah dan halaman”

Manguri menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia akan melangkah meninggalkan

tempat itu, Ki Reksatani berkata “Kau tidak boleh pergi. Kau tetap disini”

Manguri berpaling memandanginya. Namun kemudian ia mengangguk “Baiklah. Aku

akan tetap disini. Tetapi apakah kalian menjamin bahwa tidak ada barang-barangku

yang akan hilang?”

Ki Jagabaya memandang Manguri dengan sorot mata yang tajam “Kau mencurigai

kami, para petugas?”

“Bukan Ki Jagabaya. Aku percaya kepada Ki Jagabaya. Tetapi bagaimana dengan

orang-orang lain itu”

“Aku akan mengawasinya. Biarlah ibumu ikut mengawasinya pula. Tetapi kau tetap

disini dengan Ki Reksatani”

Ki Jagabaya itupun kemudian meloncat dari punggung kudanya, untuk memimpin

orang-orangnya mencari Sindangsari di dalam rumah itu. Sementara Ki Reksatani

yang kemudian meloncat turun pula dari kudanya, tetap tinggal di tempatnya bersama

Manguri dan Lamat.

Ketika Ki Jagabaya dan orang-orangnya sudah meninggalkan Ki Reksatani, maka Ki

Reksatanipun berbisik “Apakah perempuan itu ada di rumah ini?”

Manguri tersenyum sambil menggeleng “Aku bukan anak gila seperti yang kau sangka”

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Iapun menjadi berlega hati, bahwa

perempuan yang dicari itu tidak ada disini.

“Di mana kau sembunyikan?” bertanya Ki Reksatani pula.

“Di tempat yang sudah aku tentukan”

Jilid 7 – Bab 3 : Keris Dapur Sangkelat

“Hati-hatilah. Agaknya Kakang Demang menjadi

sangat tersinggung. Juga Ki Jagabaya yang dungu

itu. Mungkin mereka akan mencari Nyai Demang

dari rumah ke rumah. Kami baru saja pergi ke

rumah Pamot. Tetapi Pamot masih belum pulang”

Manguri tertawa kecil. Katanya “Ki Demang benarbenar

menjadi kebingungan. Tetapi percayalah

bahwa Ki Demang tidak akan dengan mudah

dapat menemukan perempuan itu.

“Ingat, kalau perempuan itu dapat diketemukan,

maka taruhannya adalah leher kita. Aku kau dan

Lamat dan mungkin juga ayahmu dan isteriku”

“Aku mengerti”

“Atau kademangan ini dilanda oleh perang diantara

kita. Apabila demikian kita harus menyusun

alasan, yang akan kita pertanggung jawabkan

kepada pimpinan pemerintahan di Mataram”

“Itu urusanmu”

“Aku tahu, karena akulah yang akan menjadi orang yang paling berkuasa di

Kademangan ini. Aku dapat berbuat apapun sekehendak hatiku seperti kakang

Demang sekarang. Kawin enam kali, dan apapun juga”

“Dan apakah yang akan kau lakukan? Kau akan kawin lagi sampai enam kali?”

“Ah, tentu tidak”

“Lalu apa?”

“Jangan kita percakapkan sekarang. Kau harus tatap seperti keadaanmu semula. Aku

tetap mengawasi, kau dan Lamat” KiReksatani berhenti sejenak, lalu “lihat, mereka

sudah memasuki rumahmu”

“Ibu akan mengawasi mereka”

Demikianlah maka orang-orang yang datang berwarna Ki Jagabaya itupun memerik

setiap sudut rumah dan halaman Manguri. Setiap gerumbul, kandang-kandang ternak

yang berserakan telah dimasuki. Dapur dan bahkan pakiwan. Kini mereka memasuki

rumah di bawah pengawasan Ki Jagabaya dan ibu Manguri.

Dengan teliti mereka memeriksa semua ruangan. Bahkan di dalam kolong

pembaringan dan amben di ruang dalam. Di balik gleleg dan disentong-sentong.

Tetapi mereka tidak menemukan siapapun juga. Tidak ada seorangpun juga yang

bersembunyi di rumah itu. Yang ada hanyalah para pembantu dan pelayan. Pekatik

dan gamer serta mereka yang tinggal di rumah Itu.

Beberapa orang yang kemudian berkumpul di pringgitan menggelengkan kepalanya

sambil berkata kepada Ki Jagabaya “Tidak kami ketemukan di rumah Ini Ki.Jagabaya”

Ki Jagabaya tidak segera menjawab. Tetapi ia menjadi ragu-ragu atas dugaannya. Ia

semula menyangka bahwa Sindangsari pasti telah diambil oleh seseorang. Atas

persetujuannya sendiri atau tidak. Tetapi dua orang yang paling dicurigai ternyata

sama sekali tidak memberikan kesan apapun, bahwa merekalah yang telah

melakukannya.

Bagi Ki Jagabaya Pamot jelas masih belum kembali. Sedang kini, mereka telah

menggeledah rumah Manguri, mereka sama sekali tidak menemukan apa-apa.

“Gila” geram Ki Jagabaya “apakah benar pikiran perempuan-perempuan tua,

Sindangsari dibawa hantu? Tetapi alangkah malunya, apabila aku tidak dapat

menemukannya hidup atau mati. Dibawa hantu atau dibawa siapapun juga”

Tetapi Ki Jagabaya tidak dapat melepaskan kenyataan yang dihadapinya. Sulitlah

untuk tidak percaya, bahwa Manguri memang tidak pergi kemanapun juga semalam.

Beberapa keterangan yang didengarnya memang telah meyakinkannya bahwa

Sindangsari tidak akan dapat diketemukan di rumah ini. Keterangan yang meyakinkan

mengatakan bahwa semalam Manguri ada di rumah.

“Kalau begitu bagaimana?” pertanyaan itulah yang berputar-putar di kepala Ki

Jagabaya.

“Apakah aku pulang dengan tangan hampa, atau aku harus menjelajahi seluruh

Kademangan ini?”

Pertanyaan itu melonjak-lonjak di dalam dada Ki Jagabaya, sehingga justru ia sejenak

menjadi kebingungan.

Di luar Manguri dan Lamat duduk di tangga pendapa ditunggui oleh Ki Reksatani yang

berjalan mondar mandir sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Ia merasa sedikit

tenang karena Sindangsari memang tidak ada di rumah itu. Tetapi apabila nanti Ki

Demang sendiri yang merasa sangat tersinggung itu menyebar orang-orangnya dan

memasuki setiap rumah, maka sudah pasti rumah yang terpencil itu akan didatangi

juga. Apalagi kalau Ki Demang atau Ki Jagabaya mengetahui bahwa rumah itu adalah

rumah ayah Manguri.

Tiba-tiba Ki Reksatani itu berhenti sejenak sambil berbisik “Dimana ayahmu

sebenarnya?”

“Kenapa?” bertanya Manguri.

“Aku ingin tahu”

“Kau memerlukan ibu?”

“Persetan. Aku tidak sempat. Jangan gila”

“Ayah menunggui perempuan itu”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya ”Maksudmu menunggui Sindangsari?”

Manguri menganggukkan kepalanya.

Ki Reksatani berdesis “Ayahmu sudah merestuimu. Seorang ayah yang membantu

anaknya berbuat kejahatan”

Manguri tersenyum. Dipandanginya wajah Ki Reksatani yang tegang. Katanya

kemudian “Tetapi itu lebih baik. Bagaimanapun juga seorang ayah menginginkan

anaknya mendapatkan apa yang dicita-citakan. Seperti kau juga bercita-cita untuk

keturunanmu kelak, meskipun kau harus mengkhianati kakakmu sendiri”

“Kau memang anak gila”

Manguri tidak menyahut. Ia masih duduk di tangga pendapa rumahnya, dan di bibirnya

masih terbayang sebuah senyuman. Namun Ki Reksatani sudah tidak

menghiraukannya lagi. Kini ia berjalan lagi hilir mudik di halaman sambil menyilangkan

tangannya di dada.

Dalam pada itu Lamat duduk sambil menundukkan kepalanya. Terbayang di kepalanya

suatu perbuatan yang keji yang kini tengah berlangsung di Kademangan Kepandak. Ia

sadar, bahwa apabila kali ini mereka berhasil, maka tindakan mereka pasti akan

merembet kepada pengkhianatan yang lebih berani. Bukan sekedar membunuh

Sindangsari, tetapi pasti Ki Demang sendiri. Ki Reksatani pasti masih

memperhitungkan bahwa Ki Demang akan segera kawin lagi dan kemungkinan untuk

menumbuhkan keturunan telah dilihatnya kini, meskipun Lamat sendiri yakin, bahwa

keturunan itu sama sekali bukan keturunan Ki Demang seperti yang telah terjadi

bahwa kelima isterinya yang terdahulu tidak dapat melahirkan seorang anakpun.

Lamat tahu dengan pasti, hubungan yang tidak terkekang lagi antara perempuan yang

kini menjadi Nyai Demang itu dengan Pamot.

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya “Namun dengan suara yang menghentak dari

dalam dadanya la berkata “aku mencari Pamot”

Tetapi Lamat tidak mengerti seluruhnya, hubungan vang sebenarnya antara

Sindangsari dan suaminya itu, seperti juga setiap orang tidak akan dapat mengetahui

keseluruhan dari orang lain. Lamat tidak tahu, bahwa Sindangsari telah mengatakan

berterus terang kepada suaminya, meskipun hampir saja nyawanya dikorbankannya.

Sejenak kemudian Lamat mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Ki Reksatani

berkata kepada Manguri perlahan-lahan ”Kau harus mempertimbangkan tempat itu

baik-baik. Kakang Demang pasti akan mencari sampai ke tempat yang kau

pergunakan untuk menyembunyikan perempuan itu. Apalagi apabila ia mengetahui

bahwa gubug itu milikmu”

Manguri menganggukkan kepalanya.

“Kau harus memberitahukan pula kepada ayahmu, bahwa ia harus tidak

menampakkan diri untuk beberapa hari kalau ia memang ingin membantumu”

Sekali lagi Manguri menganggukkan kepalanya.

“Nah, sepeninggal kami, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Kau harus cepat-cepat

menghubungi ayahmu dan menyingkirkan Sindangsari”

“Ia akan aman di tempat itu”

”Kau bodoh” berkata Ki Reksatani sambil memandang Manguri tajam-tajam ”Ki

Jagabaya seolah-olah sudah menjadi gila, seperti kakang Demang sendiri”

Manguri tidak menyahut. Tetapi kata-kata Ki Ueksatani itu masuk diakalnya juga. Ki

Jagabaya pasti akan menggeledah semua rumah yang mungkin dipergunakannya

untuk menyembunyikan Sindangsari.

Sejenak kemudian, maka Ki Jagabaya beserta beberapa orang telah keluar dari

pringgitan. Dengan hati yang tegang Ki Jagabaya berkata kepada Manguri ”Aku tidak

menemukannya di rumah ini Manguri”

Manguri yang kemudian berdiri menyahut ”Ki Jagabaya. Buat apa sebenarnya Ki

Jagabaya mencari seorang perempuan yang sedang mengandung ke rumah ini? Aku

tidak ingkar bahwa aku pernah tergila-gila kepada perempuan itu. Dan aku tidak ingkar

bahwa aku memang seorang yang banyak berhubungan dengan perempuan. Tetapi

justru karena itu, apakah aku masih juga menghendaki seorang perempuan, suami

orang lain, apalagi suami Ki Demang yang sudah mengandung tujuh bulan?”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab ”Aku wajib mencurigai

setiap orang. Bahkan orang-orang yang belum pernah berhubungan dengan

Sindangsari sekalipun”

Manguri mengangkat bahunya ”Terserahlah. Tetapi Ki Jagabaya sudah mengetahui,

apa yang ada di rumah ini”

“Kau tidak usah banyak memberikan tanggapan” bentak Ki Reksatani tiba-tiba ”Ki

Jagabaya dan kami semuanya pasti tidak akan dapat menganggap bahwa katakatamu

itu keluar dari hatimu yang jujur” namun suara Ki Reksatani kemudian

merendah ”tetapi kita memang tidak menemukannya disini”

Ki Jagabaya memandang. Ki Reksatani dan Manguri berganti ganti. Namun seolaholah

tanpa disadarinya iapun bergumam pula ”Ya, kita memang tidak menemukannya

disini”

“Lalu, kemana kita sekarang?” bertanya Ki Reksatani.

Ki Jagabaya termenung sejenak. Ia menjadi bingung, kemana ia harus mencari.

“Kita kembali ke Kademangan” berkata Ki Reksatani ”Kita minta pertimbangan Ki

Demang. Sejak kita mendengar mBok-ayu hilang, kita belum pernah

memperbincangkannya dengan bersungguh-sungguh. Kita tergesa-gesa meengambil

sikap dan berpacu diatas punggung kuda. Kini kita harus bertindak dengan

pertimbangan yang matang, agar kita tidak sia-sia saja melakukan sesuatu”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah” katanya ”kita kembali ke Kademangan. Kita akan memperhitungkan langkah

selanjutnya”

Ki Reksatani memandang Manguri sejenak. Kemudian ditatapnya kepala Lamat yang

botak yang tidak tertutup oleh ikat kepalanya. Sementara Lamat masih saja tetap

duduk di tempatnya.

Ki Jagabayapun memandang Lamat sejenak. Ia mempunyai tanggapan yang lain

terhadap raksasa itu, karena Pamot pernah datang menghadapnya bersama dengan

Punta dan mengatakan serba sedikit tentang raksasa yang berwajah sekasar batu

padas itu.

“Marilah” tiba-tiba ia berdesis ”kita segera menghadap Ki Demang”

Ki Jagabaya diikuti oleh orang-orangnyapun kemudian melangkah menuju ke kuda

masing-masing. Ki Keksatanipun kemudian meninggalkan Manguri sambil berkata

lantang ”tetapi kami masih akan tetap mengawasi setiap orang yang kami curigai.

Terutama kau dan Pamot. Meskipun Pamot masih belum pulang, siapa tahu, ia

berbuat lebih licik lagi”

Manguri memandang Ki Reksatani sejenak, lalu ”Kalau kalian masih belum puas, pintu

rumah kami selalu terbuka. Aku kelak akan mengatakan kepada ayah, bahwa kalian

telah berkenan mengunjungi rumah kami”

“Persetan” bentak Ki Reksatani sambil meloncat ke punggung kudanya.

Ki Jagabayapun kemudian meninggalkan halaman ramah itu diikuti oleh Ki Reksatani

dan kawannya. Ketika mereka berderap di sepanjang jalan padukuhan, mereka

merasa bahwa berpuluh-puluh pasang mata rakyat Gemulung menatap iring-iringan itu

dengan hati vang cemas. Beberapa orang berkerumun di balik regol-regol halaman

sambil berbincang. Kemudian mereka mulai menduga-duga, karena mereka masih

belum tahu pasti apa yang telah terjadi sebenarnya.

“Apakah yang telah terjadi?” bertanya seorang laki-laki tua kepada anaknya yang baru

mengintip iring-iringan itu dari balik pintu regol halaman rumahnya.

“Entahlah ayah” jawab anaknya ”Aku tidak tahu. Tetangga-tetanggapun masih belum

ada yang tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.

Laki-laki itu menjadi semakin cemas. Katanya kepada anaknya ”Tinggal sajalah di

rumah hari ini. Hatiku menjadi berdebar-debar. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu

di Kademangan dan apalagi di padukuhan ini”

Anaknya tidak menyahut. Tetapi iapun menjadi berdebar-debar pula. Meskipun

demikian anaknya berkata ”Aku harus pergi ke sawah ayah. Hari ini kami mendapat

giliran air”

“Jangan hiraukan air itu. Kita belum tahu, apakah yang sebenarnya sudah terjadi”

“Tetapi, di musim kering serupa ini, kita harus mempergunakan air sebaik-baiknya.

Kalau kita kehilangan kesempatan sehari ini, tanaman kita di sawah akan layu dan

bahkan mungkin sebagian akan mati. Kasihan ayah. Kasihan tanaman yang sedang

tumbuh itu dan kasihan kita semuanya kalau kita tidak dapat menuai di musim yang

kacau ini”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “Kita akan segera mengetahui

apakah yang sebenarnya sudah terjadi”

Anak laki-lakinya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun ternyata mereka tidak usah menunggu terlampau lama. Berita tentang

hilangnya Nyai Demang di Kepandak segera tersebar keseluruh Padukuhan

Gemulung, dan bahkan keseluruh Kademangan Kepandak

Sementara itu, perempuan dan laki-laki tua di Kademangan masih sibuk mencari Nyai

Demang dengan cara mereka. Mereka tetap menganggap bahwa Nyai Demang di

Kepandak telah dibawa oleh hantu-hantu atau kuntilanak yang akan memeliharanya

sampai anaknya kelak lahir.

“Kita cari sampai ketemu” desis seorang perempuan tua.

“Tidak ada tempat yang kita lampaui di sekitar Kademangan ini. Tetapi kita tidak

menemukannya” sahut yang lain.

“Kita tidak hanya sekedar mencari di sekitar Kademangan. Kita cari Nyai Demang

sampai keluar Kademangan. Kita minta beberapa orang laki-laki untuk mencarinya ke

Gunung Sepikul, Kelokan Kali Praga dan bahkan sampai ke Pandan Segegek, di

pasisir Selatan”

Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian ”Kita

bilang saja kepada Nyai Reksatani”

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun kemudian kembali

ke Kademangan untuk menyampaikan maksud mereka, mencari Nyai Demang sampai

keluar Kademangan Kepandak.

Hampir bersamaan, perempuan dan orang tua yang kembali ke Kademangan dengan

rombongan Ki Jagabaya yang memasuki halaman dengan tergesa-gesa. Mereka

segera berloncatan dari punggung kuda masing-masing dan langsung naik ke

Pendapa mendapatkan Ki Demang yang menjadi semakin gelisah.

“Bagaimana?” Ki Demang bertanya dengan serta merta.

“Kami belum menemukannya Ki Demang” sahut Ki Jagabaya dengan suara tertahan.

“Kemana saja kalian mencarinya?” bertanya Ki Demang pula.

“Kami sudah pergi ke rumah Pamot. Ternyata Pamot masih belum kembali. Kami

langsung pergi ke rumah Manguri. Tetapi kami tidak menemukan Nyai Demang di

sana, meskipun kami sudah menggeledah seluruh sudut rumah itu”

“Apakah Manguri ada di rumah?”

Ya, semua ada di rumah kecuali ayahnya”

“Kemana ayahnya itu?”

“Seperti biasanya, mengantar ternak keluar daerah”

Ki Demang menggeretakkan giginya. Kemarahannya sudah melonjak sampai ke ujung

ubun-ubunnya. Kalau Pamot tidak ada di rumah, ia yakin bahwa Sindangsari tidak

akan pergi atas kehendak sendiri. Ia selama ini tampak sudah mulai kerasan tinggal di

Kademangan. Apalagi setelah perempuan itu yakin, bahwa Ki Demang itu tidak akan

berbuat sesuatu atas kandungannya, meskipun kandungan itu didapatkannya dari

orang lain. Karena itu, dugaan bahwa Sindangsari sengaja melarikan diri adalah tidak

mungkin sama sekali. Terlebih-lebih lagi, ibu Sindangsari ada di Kademangan itu pula.

“Apakah kalian yakin bahwa anak-anak yang pergi ke Betawi itu memang belum

kembali?” bertanya Ki Demang kemudian.

“Ya. Kami yakin. Dan kami justru bertanya, apakah masih ada diantara mereka yang

akan dapat kembali lagi” sahut Ki Jagabaya.

Ki Demang menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya dadanya menjadi panas, seolaholah

jantungnya sudah menjadi bara karenanya.

Dalam pada itu seorang perempuan tua yang sejak semula mendengarkan percakapan

itu menyela ”Kalian pasti tidak akan menemukannya kalau kalian mencarinya ke rumah

orang. Siapapun juga orangnya”

Ki Demang mengangkat wajahnya. Dipandanginya perempuan tua itu. Sorot matanya

membayangkan kekisruhan hati yang tiada taranya.

“Jadi kemana kita harus mencari nini?” bertanya Ki Jagabaya.

“Kami sudah mencari ke seluruh sudut Kademangan. Setiap pohon besar, setiap

gerumbul-gerumbul yang singup dan kuburan-kuburan. Tetapi kami belum

menemukannya. Kalau kalian mau mendengarkan aku pergilah kalian ke Gunung

Sepikul atau tikungan Kali Praga atau Pandan Segegek sekali. Kalian adalah laki-laki

yang dapat lari cepat diatas punggung kuda. Sebelum hal yang tidak bisa kita inginkan

terjadi.

Sejenak Ki Demang terdiam. Dipandanginya wajah Ki Jagabaya sekilas, kemudian

wajah adiknya Ki Reksatani.

“Kalian tentu tidak mempercayai aku” desis perempuan tua itu.

“Bukan tidak mempercayai nini. Kami belum menjawab apapun”

“Aku dapat melihat kesan di wajah kalian. Terserahlan kepada kalian”

Ki Reksatani kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya-Kami akan

memperhatikannya nini”

“Bukan sekedar untuk diperhatikan. Tetapi, sebaiknya kalian benar-benar

melakukannya. Kalau tidak, aku tidak ikut bertanggung jawab lagi”

Ki Reksatani memandang Ki Demang sejenak. Dengan ragu-ragu ia berkata

”Bagaimana pendapatmu kakang Demang?”

Ki Demang yang sedang bingung itu menjawab ”Kita lakukan semua usaha. Disini ada

berpuluh-puluh orang yang dapat disebar untuk mencari Sindangsari dengan segala

cara”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kalau Ki Demang benarbenar

menyuruh beberapa orang menjelajahi daerah Selatan ini, iapun menjadi cemas.

Barangkali Manguri benar-benar berusaha memindahkan Sindangsari. Dengan

demikian maka di sepanjang jalan akan mungkin sekali bertemu dengan orang-orang

Ki Demang yang bertebaran kesegenap penjuru.

Karena Ki Reksatani seolah-olah tidak menanggapinya karena ia sedang sibuk sendiri

dengan angan-angannya, Ki Demang membentaknya ”He, bagaimana pikiranmu

Reksatani?

“Ya, ya. Aku sependapat. Segala cara memang dapat ditempuh. Tetapi sudah tentu

kita akan mempergunakan cara yang paling mungkin dapat ditempuh dan paling

mungkin menghasilkan”

“Terserahlah kepadamu dan kepada Ki Jagabaya” berkata Ki Demang. Kemudian ”Aku

menunggu hasil kerja kalian hari ini. Kalau kalian gagal aku sendiri akan menjelajahi

setiap rumah di Kademangan ini. Kalau ternyata ia tidak diketemukan di Kademangan

ini, aku akan mencarinya kemana saja. Aku tidak peduli. Siapa yang berusaha

merintangi usahaku, aku akan mempergunakan kekerasan. Setiap orang di daerah

Selatan tahu, siapakah Demang di Kepandak. Aku akan memasuki Kademangan di

sekitar Kepandak. Tidak ada seorang Demangpun yang akan menghalangi aku,

apabila mereka tidak ingin aku menghancurkan mereka”

Semua orang terdiam karenanya. Mereka mengerti, dalam keadaan itu, tidak

sebaiknya seseorang menanggapi kata-katanya. Ki Demang memang seorang yang

dikenal di daerah Selatan. Semua orang menghormatinya. Bahkan Demang di sekitar

Kepandakpun mengormatinya pula. Dalam keadan wajar, Ki Demang tidak pernah

menumbuhkan gangguan-gangguan dan perselisihan dengan tetangga-tetangga

Kademangannya. Tetapi di dalam kegelapan hati, mungkin ia akan berbuat lain.

Meskipun Ki Reksatani menjadi berdebar-debar juga, tetapi iapun berkata di dalam hati

”Apabila keadaan memaksa, apaboleh buat. Setiap orang di daerah Selatanpun tahu,

siapakah orang yang bernama Reksatani, adik Demang di Kepandak”

Dalam pada itu Ki Jagabayapun kemudian berkata ”Jadi apakah kita akan menempuh

segala jalan itu?”

“Ya. Semua jalan dan semua cara” jawab Ki Demang tegas.

“Baiklah. Aku akan segera membagi orang yang ada. Sebagian akan pergi keluar

Kademangan, mencarinya ke Gunung Sepikul, ketikungan Kali Praga dan ke Pandan

Segegek di pesisir Selatan” desis Ki Jagabaya.

“Terserahlah kepada kalian. Aku menunggu sampai senja”

“Baiklah” lalu kepada Ki Reksatani Ki Jagabaya berkata “kita akan membagi tugas”

“Ya. Kita akan membagi tugas. Tetapi kita harus berbicara dahulu dengan sebaikbaiknya,

supaya kita tidak banyak kehilangan waktu, karena kita dengan mata gelap

berlari-larian di sepanjang jalan”

“Ya, berbicaralah” sahut Ki Demang “buatlah rencana yang sebaik-baiknya”

Ki Reksatani memandang Ki Demang sekilas, wajahnya yang kemerah-merahan itu

memancarkan kemarahan yang hampir tidak tertahankan. Tanpa menunggu jawaban

lagi, Ki Demang itupun kemudian melangkah masuk ke ruang dalam.

Sejenak Ki Jagabaya dan Ki Reksatani saling berpandangan. Namun sejenak

kemudian Ki Reksatanipun melangkahkan kakinya pula mengikuti Ki Demang yang

langsung masuk ke dalam biliknya.

Dari luar bilik, lewat pintu yang tidak tertutup rapat, Ki Reksatani melihat Ki Demang

membuka sebuah peti kayu di geledegnya. Kemudian dari dalamnya diambilnya

sebilah keris. Keris yang jarang sekali diambil dari simpanannya.

Terasa bulu-bulu tengkuk Ki Reksatani meremang. Ia sadar, bahwa kakaknya sudah

sampai pada puncak kemarahannya. Tanpa sesadarnya Ki Reksatanipun kemudian

meraba kerisnya sendiri. Keris pusaka yang didapatnya bersama-sama dengan keris

Ki Demang itu dari almarhum ayahnya. Sebagai dua orang anak laki-laki, keduanya

menerima peninggalan yang senilai.

Tetapi yang berbeda pada keduanya adalah, hubungan darah. Ki Demang telah lahir

lebih dahulu dari Ki Reksatani, sehingga ia menjadi saudara tua. Dan saudara tualah

yang berhak untuk menerima warisan kedudukan Demang di Kepandak.

Perlahan-lahan Ki Reksatani melangkah surut sebelum kakaknya mengetahui, bahwa

adiknya ada di luar pintu.

Di luar, Ki Jagabaya menunggu Ki Reksatani dengan berdebar-debar. Begitu Ki

Reksatani keluar, iapun bertanya dengan serta-merta “Apa yang dilakukannya?”

“Kakang Demang sudah sampai kebatas kesabarannya. Ia sudah mengambil keris

pusakanya. Keris yang tidak pernah keluar dari simpanan”

“Keris dapur sangkelat itu?”

Ki Reksatani menganggukkan kepalanya.

Ki Jagabayapun menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah lama mengenal Ki Demang

sebagai pemimpin tertinggi di Kademangan Kepandak. Ia mengenal pula tabiat dan

kemampuannya. Karena itu, ia kini merasa, bahwa keadaan Ki Demang sudah benarbenar

parah. Kalau tidak ada orang yang dapat sedikit memberinya ketenangan, maka

keadaannya pasti akan menjadi sangat sulit. Apalagi kalau Ki Demang benar-benar

menjadi mata gelap, dan melangkah keluar rangkahnya, keluar daerah Kademangan

Kepandak.

“Kademangan ini akan diliputi oleh suasana yang suram” berkata Ki Jagabaya

selanjutnya “banyak kemungkinan dapat terjadi karena hilangnya Sindangsari”

Ki Reksatani menganggukkan kepalanya “Ya. Perselisihan dengan Kademangankademangan

tetangga mungkin sekali terjadi. Kalau kakang Demang memaksa untuk

mencari Sindangsari kemana saja yang dikehendaki, maka perselisihan memang

mungkin akan timbul”

“Mudah-mudahan kita akan dapat membatasi diri. Mudah-mudahan nanti malam Ki

Demang menjadi sedikit tenang dan menemukan cara yang sebaik-baiknya”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang, marilah kita membagi kerja. Kita harus segera berangkat mencari

keseluruh daerah Kademangan ini”

“Marilah kita duduk sejenak. Marilah kita bicara, supaya kita mendapatkan landasan

dari usaha kita ini.

“Dan kalian tetap tidak mendengarkan usulku” terdengar suara perempuan tua yang

ternyata masih juga berada di tempat itu”

“Tentu nini, kami akan mencari ke tempat-tempat seperti yang nini sebutkan. Beberapa

orang akan segera berangkat”

“Mudah-mudahan kau tidak membohongi aku”

“Tidak, tentu tidak”

Perempuan itupun kemudian meninggalkan pendapa Kademangan bersama beberapa

orang yang masih menunggunya.

“Jadi, maksud Ki Reksatani, kita menentukan arah kita masing-masing setelah kita

membagi orang-orang kita?” bertanya Ki Jagabaya.

“Tentu. Tetapi sebaiknya kita bertanya dahulu kepada ibu Sindangsari, barangkali ia

dapat memberikan petunjuk untuk mencari anaknya” jawab Ki Reksatani.

“Apa yang dapat dilakukannya?” bertanya Ki Jagabaya.

“Barangkali, barangkali ia mempunyai pendapat” jawab Ki Reksatani “sementara itu,

sementara kau bertanya kepadanya aku akan pergi ke dapur lebih dahulu”

“Untuk apa?”

“Makan. Aku sudah lapar. Kita akan menjelajahi kademangan sehari penuh”

“Ki Reksatani masih juga sempat merasakan perutnya yang lapar. Tetapi aku kira baik

juga kalau semua orang yang akan pergi bersama kita, mendapat makan paginya lebih

dahulu. Aku kira di dapur sudah tersedia seadanya, meskipun barangkali nasi sisa

makan malam”

“Baiklah. Kaupun harus makan, tetapi temui dulu mBok-ayu Demang itu”

Ki Jagabayapun kemudian berusaha menemui ibu Sindangsari sementara Ki

Reksatani dan orang-orang yang akan mencari Nyai Demang yang hilang itu mencari

makan di dapur.

Namun tidak seorangpun yang tahu bahwa sebenarnya Ki Reksatani sedang berusaha

memperpanjang waktu, ia berusaha memberi kesempatan kepada Manguri untuk

menyingkirkan Sindangsari dari persembunyiannya.

Dalam pada itu, Manguri memang sedang sibuk merencanakan, apa yang sebaiknya

dilakukan. Tetapi kemungkinan-kemungkinan seperti yang terjadi ini agaknya tidak

dibayangkan. Ia memang sudah memperhitungkan, bahwa Ki Demang akan menyebar

orang-orangnya untuk mencari isterinya. Tetapi tidak terbayang, bahwa Ki Jagabaya

membawa pasukan seperti hendak berperang, menjelajahi lorong-lorong padukuhan.

Bahkan memaksa semua orang untuk membuka pintu rumahnya.

“Jika demikian” berkata Manguri kepada Lamat “memang mungkin sekali rumah itupun

pada suatu saat akan dimasuki oleh Ki Jagabaya. Apalagi kalau mereka tahu, bahwa

rumah itu adalah rumah ayah. Bahkan mungkin rumah itulah yang pertama-tama akan

didatangi. Mereka masih tetap mencurigai aku dan Pamot. Tetapi karena Pamot tidak

ada, maka kecurigaan mereka di pusatkan kepadaku”

Lamat menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Jadi, sebaiknya perempuan itu memang harus dipindahkan”

Lamat menganggukkan kepalanya pula.

“He, kenapa kau hanya sekedar mengangguk-angguk saja? Apakah kau tidak bisa

bicara lagi?”

“Ya, ya. Aku sependapat”

“Kau memang seorang raksasa yang dungu. Kau sama sekali tidak dapat berpikir. Kau

hanya dapat mengangguk-angguk sambil mengiakan pendapat orang lain”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Maksudku, pikiran Ki Reksatani itu

memang masuk akal. Mungkin Ki Jagabaya akan mendatangi semua rumah. Dan yang

pertama-tama adalah rumah-rumah yang dicurigainya. Termasuk rumah kecil yang

terpencil itu”

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?”

“Kita pergi ke rumah itu. Mungkin ayahmu dapat memberikan petunjuk”

“Ya. Kita pergi menemui ayah” sahut Manguri kemudian ”sekarang berkemaslah. Kita

akan pergi. Orang-orang ayah yang terpencar itupun agaknya langsung pergi kesana

pula”

Manguri dan Lamatpun segera berkemas pula. Mereka menyediakan kuda-kuda

mereka. Dan Manguri masih sempat memperingatkan ”Lamat, bawalah senjatamu.

Kita tidak tahu apakah yang akan terjadi di dalam kekisruhan ini”

Lamat menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun melangkah ke dalam

biliknya. Diambilnya sebuah parang dari dinding bilik itu dan diselipkannya pada ikat

pinggangnya.

Setelah minta diri kepada ibunya, maka Manguripun segera berpacu ke gubug yang

terpencil itu diiringi oleh Lamat.

Ketika mereka sampai ke gubug itu, didapatinya ayahnya sedang duduk di ruang

depan. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Manguri menceriterakan apa yang telah

terjadi di rumah mereka.

“Kami mengatakan bahwa ayah sudah tiga hari meninggalkan rumah kita. Kalau ada

orang yang melihat ayah disini, maka kecurigaan mereka pasti akan segera

meningkat”

Ayah Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap tenang.

“Jadi” berkata ayah Manguri itu kemudian ”menurut pertimbanganmu, sebaiknya aku

meninggalkan padukuhan ini?”

“Bukankah begitu sebaiknya?”

“Ya. Kemungkinan bahwa Ki Demang akan sampai ke tempat ini memang ada”

“Jika demikian, apakah yang akan ayah lakukan?”

“Sebaiknya aku memang menyingkir untuk beberapa hari”

“Tetapi bagaimana dengan Sindangsari? Dimana ia sekarang?”

“Di dalam. Aku terpaksa menyumbat mulutnya. Setelah sadar, ia mencoba berteriakteriak

saja. Aku tidak sampai hati untuk membuatnya pingsan lagi. Ia akan menjadi

sangat lemah. Apalagi ia sedang mengandung”

Darah Manguri berdesir. Iapun menyadari, bahwa seandainya Ki Demang, atau Ki

Jagabaya sampai ke gubug ini, maka rumah ini pasti akan digeledahnya sampai ke

bawah kolong sekalipun.

“Ayah” berkata Manguri kemudian ”Ki Reksatani berpendapat bahwa sebaiknya

Sindangsaripun disingkirkan pula”

“He” ayahnya mengerutkan keningnya ”Aku kira ia berada di tempat yang aman

sekarang. Pintu di belakang gledeg itu tidak mudah terlihat oleh siapapun”

“Tetapi siapakah yang akan menungguinya disini?”

“Kau dan Lamat?

“Itu akan menumbuhkan kecurigaan mereka. Baru saja mereka menemui kami di

rumah. Kemudian kami sudah berada di tempat ini”

“Katakan bahwa kalian sedang mengurusi ternak-ternak itu, karena aku tidak ada di

rumah”

“Mungkin sekali aku dapat menghapus kecurigaan karena aku ada disini. Tetapi aku

tidak akan dapat mencegah mereka merusak dinding dan bahkan membongkar gubug

ini sama sekali. Apalagi perempuan itu akan dapat membuat bunyi apapun meskipun

mulutnya disumbat”

“Kalau jelas mereka akan mencari kemari, kau dapat membuat perempuan itu pingsan

untuk sementara seperti yang tadi kau lakukan”

Manguri termenung sejenak. Namun kemudian berkata. Ayah. Ki Demang benar-benar

seperti orang kesurupan menurut Ki Reksatani. Bahkan Ki Jagabayapun menjadi

sangat garang, karena tugasnya yang gagal. Ia merasa tersinggung sekali atas

hilangnya Nyai Demang dari depan hidungnya di Kademangan”

Ayah Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya ”Ada baiknya juga aku

meninggalkan tempat ini membawa Sindangsari. Tetapi kemana?”

“Apakah ayah tidak dapat mencari tempat yang aman di sepanjang perjalanan yang

sering ayah lakukan?”

“Aman bagi ternak. Tetapi belum pasti bagi seorang perempuan curian seperti

Sindangsari” ayah Manguri kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya

selanjutnya ”kau memang gila Manguri. Kau selalu membuat orang tua menjadi

pening”

“Sekali ini saja ayah. Biasanya aku tidak pernah mengganggu ayah. Aku sudah dapat

mencari gadis-gadis sendiri. Tetapi sekali ini aku memerlukan bantuan”

“Ah, kau. Kau harus mencoba untuk memulai dengan kehidupan wajar”

“Tentu ayah. Setelah aku mengawini perempuan itu”

“Begitu?” ayah Manguri menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang di rongga

matanya suatu kehidupan yang justru selalu diliputi oleh rahasia dan kecemasan.

Bagaimana mungkin Manguri dapat hidup berumah tangga sewajarnya kalau isterinya

harus selalu disembunyikannya? Padahal isterinya adalah seseorang yang lengkap.

Jasmaniah dan rohaniah. Yang dapat berpikir dan berbuat, sehingga setiap saat akan

dapat melarikan dirinya.

“Manguri memang keras kepala” ia berdesah di dalam hatinya ”semakin sulit ia

mendapatkan seorang gadis, maka ia menjadi semakin bernafsu. Ia tidak mau menarik

niatnya, sebelum ia berhasil. Agaknya kali ini ia benar-benar mendapatkan kesulitan”

Tetapi ayahnya tidak mengucapkannya. Terbayang sekilas cara hidupnya sendiri. Cara

hidup yang sama sekali juga tidak terpuji.

“Jadi, bagaimana selanjutnya ayah. Kita harus berbuat cepat. Keadaan menjadi sangat

gawat”

“Baiklah” berkata ayahnya ”meskipun aku belum tahu, kemana aku harus pergi, tetapi

aku akan pergi. Nanti malam kalian dapat menyembunyikan Sindangsari di tempat

yang akan aku beritahukan lewat seseorang”

“Tidak nanti malam ayah. Sekarang perempuan itu harus disingkirkan”

“He, sekarang?”

“Hari ini Ki Demang atau Ki Jagabaya pasti akan segera menjelajahi isi Kademangan.

Semakin cepat, semakin baik. Bahkan sebaiknya sekarang ayah membawanya pergi”

“Sekarang? Kalau aku sendiri dapat saja sekarang pergi berkuda kemanapun. Aku

mempunyai banyak sekali kenalan. Aku dapat berpura-pura mengurus ternakku yang

masih tersisa belum dibayar, atau dengan dalih apapun. Tetapi dengan membawa

seorang perempuan yang sedang mengandung, aku harus berpikir beberapa kali lagi”

“Terserahlah kepada ayah. Tetapi aku minta ayah menyingkirkannya sekarang. Kalau

tidak, apabila ada bencana yang menimpa aku, ayah pasti akan tersangkut pula. Kita

tahu, bahwa sulit sekali untuk melawan Ki Demang dengan kekerasan. Ia adalah

seorang yang pilih tanding. Hampir tidak ada duanya di daerah Selatan ini”

Ayah Manguri termangu-mangu sejenak. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata

”Manguri, aku sudah memperingatkan sebelumnya. Carilah perempuan lain. Sekarang

kau terlibat dalam suatu kesulitan yang akan sulit kau atasi”

“Sudah ayah. Aku sudah mencari perempuan lain. Sejak itu aku sudah mendapatkan

lebih dari lima orang berganti-ganti. Aku sudah menjadi jemu dengan mereka,

sehingga satu-satu sudah aku lepaskan atau aku serahkan kepada laki-laki yang mau

mengawininya dengan sedikit bekal untuk hidup mereka. Tetapi aku tidak dapat

melupakan Sindangsari”

Sekali lagi ayahnya berdesah. Katanya ”Agaknya kau akan menempuh jalan yang lebih

hitam dari jalanku Manguri”

“Tidak ayah. Setelah aku mendapatkan perempuan itu, tentu tidak”

“Seperti perempuan lain Manguri. Kau akan segera menjadi jemu. Tetapi kalau kali ini

kau menjadi jemu, kau tidak akan dapat melemparnya begitu saja, atau membeli

seorang laki-laki berhati tikus untuk mengawininya. Tidak”

“Tentu tidak ayah. Aku tidak akan jemu dengan Sindangsari”

“Mudah-mudahan”

“Tetapi, agaknya bukan waktunya sekarang untuk mempersoalkannya ayah. Apakah

ayah bersedia menyelamatkan perempuan itu” Manguri memotong.

Ayahnya tidak segera menjawab.

“Ayah. Apakah ayah dapat menyingkirkannya?”

Ayah Manguri menarik nafas dalam-dalam.

“Ayah“ ulang Manguri.

“Bagaimana aku akan membawanya” Ayahnya bergumam seolah-olah ditujukan

kepada diri sendiri.

“Ayah” suara Manguri menjadi gemetar ”demi keselamatan kita dan keselamatan

perempuan itu. Kalau aku gagal menyembunyikannya, maka Ki Reksatani akan

menempuh jalannya sendiri. Jalan yang paling selamat buat dirinya”

“Jalan apakah itu?”

“Apakah aku belum pernah mengatakan kepada ayah? Jalan itu adalah jalan yang

paling mudah baginya. Membunuh Sindangsari”

Ayah Manguri mengangkat wajahnya sejenak, lalu “Keturunan Ki Demang itu selalu

menghantuinya. Ia ingin memiliki warisan kedudukan ini. Aku sudah mengerti”

“Karena itu ayah, selagi ada kemungkinan untuk menyingkirkannya “

Sejenak ayah Manguri termenung. Namun kemudian ia mengangguk-angguk kecil

”Baiklah. Aku akan membawanya pergi”

Manguri bergeser setapak. Katanya ”Terima kasih ayah. Tetapi bagaimana ayah akan

membawanya supaya tidak terlihat oleh seseorang?”

“Suruh siapkan pedati. Aku akan pergi dengan pedati”

“Dengan pedati?”

“Tidak ada cara yang lebih baik dari sebuah pedati”

Dada Manguri menjadi berdebar-debar ”Tetapi perjalanan ayah akan lambat sekali dan

barangkali akan makan waktu yang panjang”

“Tetapi aku tidak melihat kemungkinan lain” lalu katanya kepada Lamat ”Lamat,

suruhlah kusir pedati menyiapkan pedatinya. Aku akan pergi. Tiga orang yang ada di

sini akan ikut bersama aku”

“Kenapa?”

“Kalau aku bertemu dengan orang-orang Ki Demang di jalan aku tidak mau berbuat

tanggung-tanggung”

Sekali lagi dada Manguri berdesir, bahkan terasa dada Lamat bergejolak keras.

Agaknya demikianlah tabiat ayah Manguri. Dalam keadaan yang memaksa, ia tidak

mau berbuat tanggung-tanggung.

Terbayang di dalam angan-angan Lamat, beberapa orang yang sedang mencari

Sindangsari, yang berjumpa dengan ayah Manguri di perjalanan, tidak akan dapat

kembali pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada seorangpun dari mereka yang

sempat berceritera, siapakah yang telah melakukan hal itu. Kecuali kalau diantara

mereka terdapat Ki Demang atau Ki Jagabaya sendiri. Maka keadaannya pasti akan

berbeda.

“Cepat”

Lamat terkejut ketika ia mendengar Manguri membentaknya. Dengan tergesa-gesa

iapun pergi ke sudut halaman yang luas itu. Seperti apa yang diperintahkan oleh ayah

Manguri, maka iapun menyuruh kusir pedati untuk menyiapkan pedati lembunya.

“Kemana Ki Lurah akan pergi?”

Lamat menggelengkan kepalanya ”Aku tidak tahu. Tiga orang pengawalnya akan

dibawanya serta”

“Kami” bertanya salah seorang dari ketiga pengawal.

“Ya. Kalian akan dibawa pergi”

“Lalu siapakah yang akan menunggui rumah dan halaman ini? Disini masih ada

beberapa ekor lembu dan bahkan di dalam gubug itu ada Nyai Demang”

“Hus” desis Lamat ”jangan kau sebut-sebut. Jadi kau tahu bahwa Nyai Demang ada

disini?”

“Ya. Semula aku ragu-ragu ketika aku melihat kau datang membawanya. Tetapi ketika

aku diminta oleh Ki Lurah untuk membantu mengikat dan menyumbat mulutnya,

barulah aku yakin”

“Jadi perempuan itu diikat sekarang?”

“Ia selalu meronta-ronta. Supaya kandungannya tidak terganggu, maka Ki Lurah

memutuskan untuk mengikatnya. Ternyata ia menjadi tenang setelah ia yakin, bahwa

ia tidak akan dapat melepaskan tali pengikatnya”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata ”Jangan

mengatakan kepada siapapun di luar halaman ini. Kalau hal ini diketahui orang, maka

kalian akan kami gantung di pinggir hutan, dan tubuh kalian akan kami lemparkan agar

menjadi makanan harimau atau burung gagak”

“Tetapi bagaimana kalau bukan kami yang menyebarkannya?”

“Tidak ada orang lain yang mengetahui”

Jilid 7 – Bab 4 : Tikungan Kali Praga

“Para pengawal yang kalian pergunakan di

Kademangan semalam? Mereka pasti tahu juga

apa yang telah terjadi”

“Mereka sudah berjanji akan menutup mulut.

Bagaimana dengan kalian?”

“Jangan menganggap kami anak-anak lagi. Kami

tahu apa yang harus kami rahasiakan dan apa

yang tidak”

“Apakah kalian mau berjanji juga”

“Kami tahu apa kewajiban kami disini”

“Apakah kalian mau berjanji”

“Kami sudah mengerti, bahwa rahasia itu tidak

boleh merembes keluar halaman ini”

“Aku bertanya, apakah kalian mau berjanji?”

Para pengawal ternak itu menarik nafas dalamdalam.

Akhirnya mereka saling berpandangan.

“Baiklah. Kami berjanji” jawab salah seorang dari mereka.

“Yang lain?”

“Kami berjanji” jawab yang lain hampir bersamaan.

“Nah, sekarang siapkan pedati. Kalian akan segera pergi”

“Bagaimana dengan tempat ini”

“Tinggalkan saja. Sebentar lagi, orang-orang yang pergi ke Kademangan semalam

akan segera berdatangan”

“Tidak semuanya kemari. Mereka bahkan akan kembali ke rumah Ki Lurah”

“Aku akan segera menyuruh mereka kemari. Dua atau tiga orang sudah cukup”

“Baiklah” sahut salah seorang dari mereka “kami sekedar menjalankan perintah”

Demikianlah, maka orang-orang itupun segera menyiapkan pedati dan sebuah

perjalanan. Perjalanan yang lain dari perjalanan yang biasa mereka lakukan. Kali ini

mereka tidak mengawal ternak ke luar daerah, tetapi akan mengawal sebuah

perjalanan yang diliputi oleh suatu rahasia.

Sejenak kemudian maka pedati itupun sudah siap. Di dalam pedati ditaruhnya

seonggok jerami, rendeng dan beberapa macam barang lainnya. Keranjang-keranjang

kosong dan bakul-bakul berisi bahan makanan mentah.

“Aku akan mencoba mencari persembunyian di tempat kawan-kawanku. Mungkin aku

akan memilih tempat yang agak jauh sama sekali, supaya aku tidak selalu berpindahpindah

persembunyian. Tetapi dengan demikian kau tahu Manguri, bahwa aku telah

kehilangan beberapa hari dan kesempatan untuk mengadakan jual beli ternak.

Beberapa hari bagiku adalah kerugian” berkata ayah Manguri kemudian.

“Sekali-sekali ayah” jawab Manguri.

“Tetapi kita masih belum tahu, apakah yang akan kita kerjakan kemudian. Apakah aku

harus menunggui perempuan itu sampai aku tua, atau kita akan mendapat pemecahan

lain”

“Tentu tidak ayah. Akulah yang akan bertanggung jawab seterusnya”

“Kau menghilang dari Gemulung? Kau tahu akibatnya”

“Tidak begitu. Tetapi baiklah. Kita akan membicarakannya kelak”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah” katanya “sekarang, naikkanlah Sindangsari ke dalam pedati itu”

Manguri memandang ayahnya sesaat. Kemudian katanya kepada Lamat “Ambillah

perempuan itu”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun segera pergi ke bilik di belakang

geledeg. Setelah memindahkan geledeg bambu, maka iapun segera membuka pintu.

Dilihatnya Sindangsari memang terikat di pembaringan, sedang mulutnya tersumbat

rapat-rapat”

Sejenak Lamat berdiri termangu-mangu. Ia melihat sorot mata yang aneh yang

seakan-akan menembus langsung ke jantungnya, sehingga tanpa sesadarnya iapun

menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tetapi akhirnya ia sadar, bahwa ia harus segera melakukannya. Karena itu, maka

selangkah ia maju sambil berkata “Maafkan aku nyai Demang”

Sorot mata itu serasa semakin sakit menusuk dadanya. Tetapi ia tidak dapat berdiam

diri lebih lama lagi. Perlahan-lahan ia mendekati Sindangsari sambil berdesis

“Maafkan. Maafkan aku”

Ketika tangan Lamat menyentuh tali pengikatnya. Sindangsari sudah mulai meronta

lagi. Demikian satu tangannya terlepas, begitu ia merenggut sumbat di mulutnya ”Gila,

kau gila. Lepaskan aku” teriaknya nyaring.

“Tenanglah Nyai Demang” bisik Lamat. Tetapi Sindangsari meronta semakin keras dan

berteriak-teriak tidak menentu.

“Tenanglah Nyai Demang. Tenanglah”

Suara Lamat sama sekali tidak di dengarnya. Meskipun tangannya yang sebelah

masih terikat, tetapi ia meronta-ronta sekuat-kuatnya.

Lamat menjadi bingung sejenak. Namun tiba-tiba ia berteriak keras sekali, sehingga

gubug itu seolah-olah telah bergetar dan meledak.

“Diam, diam kau”

Teriakan itu ternyata telah mengejutkan Nyai Demang. Suara Lamat jauh melampaui

suaranya sendiri. Dengan demikian maka Nyai Demang itu tanpa sesadarnya telah

terdiam.

Ketika Nyai Demang telah diam barulah lamat bergeser semakin dekat. Tetapi kini

yang terbayang adalah ketakutan yang dahsyat telah mencengkam Nyai Demang di

Kepandak.

Lamat kemudian berjongkok di dekat Nyai Demang. Perlahan-lahan sekali ia berbisik

“Tenanglah Nyai Demang. Aku akan mencoba melindungimu sejauh dapat aku

lakukan. Karena itu jangan kehilangan akal. Jagalah dirimu baik-baik di saat-saat aku

tidak ada. Tetapi, kau dapat mempercayai aku”

Nyai Demang mengerutkan keningnya. Tetapi di wajahnya masih terbayang campur

aduk dari ketakutan dan keragu-raguan.

Yang penting, jagalah kandunganmu. Jangan meronta-ronta supaya kandunganmu

tidak terganggu.

Nyai Demang masih ragu-ragu

“Aku tahu, bahwa kandunganmu sama sekali bukan anak Ki Demang di Kepandak.

Tetapi anak yang akan lahir itu adalah anak Pamot

Mata Sindangsari terbelalak karenanya.

“Aku sama sekali tidak sengaja ketika aku melihat Pamot minta diri kepadamu, pada

saat ia akan berangkat meninggalkan padukuhan ini”

“Kau melihat” tiba-tiba wajah Sindangsari merah padam.

“Tanpa aku sengaja”

“Gila. Kau memang gila”

“Diamlah. Tenanglah. Aku bermaksud baik. Aku akan mengatakan selanjutnya. Tetapi

sekarang tidak ada waktu lagi”

Sindangsari ternyata tidak dapat menahan hatinya lagi. Meskipun ia tidak merontaronta

dan membiarkan Lamat melepaskan tali pengikat dari seluruh tubuhnya, namun

air matanya menjadi semakin deras mengalir. Bahkan kemudian setelah kedua

tangannya bebas ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Aku malu sekali” desisnya “kenapa kau berbuat gila itu?”

“Jangan ribut. Aku tidak bermaksud mengatakannya. Tetapi barangkali aku sudah

terlanjur. Sekarang yang penting, apa yang sedang kau hadapi kini, untuk sementara

kau harus menurut. Jangan mencoba melawan, itu tidak akan ada gunanya. Tetapi

percayalah kepadaku”

Sindangsari masih menangis.

“Sebenarnyalah jiwamu terancam”

”Aku memang ingin mati”

“Ah, jangan begitu Nyai”

“Aku tidak percaya kepada setiap orang. Semuanya hanya mementingkan dirinya

sendiri”

“Tetapi kadang-kadang seseorang mempunyai kepentingan bersama dengan orang

lain. Dan semuanya itu sebenarnya tidak penting sama sekali. Yang penting bagi Nyai

Demang adalah kandungan Nyai Demang meskipun Nyai Demang ingin mati, tetapi

anak itu tidak seharusnya ikut menjadi korban perasaan yang meledak sesaat itu”

“O” suara Sindangsari terputus oleh isaknya. Tiba-tiba saja ia menyadari keadaannya,

bahwa sebenarnya ia memang sedang mengandung.

Sejenak Lamat masih berdiam diri berjongkok di samping Nyai Demang, yang

meskipun sudah terlepas dari ikatannya, tetapi ia masih tetap berbaring sambil

menangis. Bahkan ia kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia

merasa malu sekali menatap wajah Lamat, yang ternyata telah mengetahui rahasianya

yang paling dalam, yang sebenarnya tidak boleh dilihat oleh siapapun juga.

Namun Lamat tidak dapat membiarkan hal itu terjadi terlampau lama. Di luar ayah

Manguri sudah menunggunya.

“Marilah. Nyai Demang harus segera menyingkir dari tempat ini. Jangan melawan,

agar kandungan Nyai Demang tidak terganggu. Selanjutnya, biarlah kita bersamasama

berusaha mencari jalan, agar Nyai Demang dapat melepaskan diri dari bencana“

Sindangsari tidak menyahut.

“Kali ini aku mengharap Nyai Demang mempercayai aku”

Sindangsari masih tetap tidak menjawab. Tetapi ketika Lamat berdiri, Sindangsari

bangkit pula.

“Marilah. Aku persilahkan Nyai berjalan sendiri”

Sindangsaripun kemudian melangkahkan kakinya. Ia kini sadar, bahwa ia pasti berada

di tangan Manguri. Ia mengenal raksasa itu dan ia mengenal juga saudagar ternak

yang kaya, yang telah mengikatnya. Ayah Manguri.

Ketika Sindangsari melangkah kakinya keluar pintu, dadanya berdesir. Ternyata

Manguri benar-benar telah berada di luar, berdiri tegak di samping ayahnya.

Terasa sesuatu melonjak di dadanya. Kebenciannya kepada anak muda itu serasa

akan meledakkan dadanya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa ia lebih aman berada di

samping Ki Demang yang telah jauh lebih tua itu, daripada di dekat Manguri.

Terbayang betapa anak muda itu menjadi begitu ganas dan kasar. Sedang Ki Demang

ternyata cukup mengerti tentang dirinya dan kadang-kadang bersikap seperti seorang

ayah. Apalagi Ki Demang itu sama sekali tidak menyentuhnya selama ini.

Tiba-tiba saja Sindangsari ingin berlari. Berlari kemana saja menjauhi anak muda itu.

Tetapi ketika ia ingin melangkah, Lamat yang berada di belakangnya segera

menangkap kedua lengannya “Tenanglah Nyai Demang”

Sindangsari meronta. Tetapi tangan Lamat bagaikan besi yang telah menghimpit

tubuhnya.

“Sayangilah kandunganmu” bisik Lamat.

“Lepaskan, lepaskan“

Tetapi tangan Lamat sama sekali tidak terlepas. Bahkan terasa semakin keras

menghimpit lengannya.

“Maafkan Nyai Demang” berkata Manguri sambil membungkukkan kepalanya

“maafkan kekasaran raksasa yang dungu itu. Aku juga mendengar ia berteriak-teriak di

dalam. Bukan maksudku berbuat begitu kasar. Tetapi Lamat tidak dapat berbuat lebih

baik dari itu”

Sindangsari tidak menjawab.

“Kami terpaksa menyelamatkan Nyai Demang dari Kademangan, karena Nyai Demang

terancam. Jiwa Nyai Demang benar-benar harus mendapat perlindungan”

“Bohong, bohong”

“Nyai Demang” berkata Manguri “mungkin Nyai Demang tidak percaya. Ki Reksatani,

adik Ki Demang itu, benar-benar ingin membunuh Nyai Demang”

“Bohong”

“Alasannya karena Nyai Demang sudah mengandung. Ki Reksatani ingin semua isteri

Ki Demang tidak mengandung, karena Ki Reksatani tidak mau melihat Ki Demang

mempunyai keturunan. Dengan demikian maka tidak akan ada seorangpun yang akan

dapat menggantikan kedudukannya. Tetapi ternyata Nyai Demang sekarang sedang

mengandung”

“Tetapi“ suara Sindangsari terputus karena tangannya segera menutup mulutnya

sendiri.

“Tetapi, apa?” bertanya Manguri.

“Tidak. Tidak“ tangis Sindangsari meledak lagi. Semakin keras. Bahkan timbullah

pertanyaan di dalam kepalanya “Apakah Manguri melihat juga apa yang telah terjadi itu

seperti Lamat?”

“Diamlah” desis Manguri “aku persilahkan Nyai menyingkir untuk keselamatan Nyai.

Silahkan Nyai naik kepedati. Ayah akan mengantarkan Nyai bersembunyi untuk

sementara”

Dada Nyai Demang menjadi sesak. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandang wajah

Lamat yang kasar sekasar batu padas. Tetapi tiba-tiba ia melihat sesuatu yang lembut

di wajah itu. Tatapan matanya. Ya tatapan mata Lamat.

Karena itu, ketika Lamat menganggukkan kepalanya, tiba-tiba saja ia telah dicengkam

oleh kepercayaan terhadap orang yang tinggi besar dan berkepala botak itu.

Perlahan-lahan Sindangsari melangkah mendekati pedati yang sudah tersedia. Lamat

mengikutinya di belakangnya. Ketika ada kesempatan ia berbisik “Manguri tidak tahu

sama sekali tentang kandunganmu. Ia mengira, anak itu anak Ki Demang di

Kepandak”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab dan bahkan

berpalingpun tidak. Tetapi kini ia mempercayai keterangan itu. Ia percaya bahwa

Manguri tidak mengetahuinya. Kalau ia tahu, mungkin ia sudah mempergunakan hal itu

untuk memerasnya sejak permulaan hari-hari perkawinannya dengan Ki Demang.

Sejenak kemudian Sindangsari telah naik keatas pedati ditolong oleh Lamat. Dan

Lamat sempat pula berbisik “Aku tidak ikut bersama Nyai sekarang. Jagalah dirimu

baik-baik. Aku akan selalu berada di dekat Manguri. Aku tahu apa yang akan

dikerjakannya”

Nyai Demang tidak juga menjawab. Tetapi ia mengangguk kecil.

Sejenak kemudian, maka ayah Manguri dan ketiga pengawalnyapun telah naik pula

keatas pedati itu. Ketika pengemudinya telah siap pula, ayah Manguri berkata “Hatihatilah.

Jagalah rumah dan ibumu baik-baik. Aku sekarang terpaksa melibatkan diri

dalam permainan yang gila ini. Aku akan segera mengirimkan orang untuk mengambil

pakaian, apabila aku harus berada dipersembunyian sampai sepekan. Aku tidak

membawa pakaian sama sekali”

“Ya ayah, aku akan menyediakan”

“Baiklah“ lalu kepada Lamat ia berkata “Jagalah seluruh milikku baik-baik”

Lamat mengangguk dalam dalam Jawabnya “Aku akan mencobanya”

Maka sejenak kemudian pedati itupun maju perlahan-lahan. Ketika pedati itu mulai

bergerak, terasa hati Sindangsaripun meronta pula.

“Tidak, tidak” tiba-tiba saja ia berteriak “aku akan turun. Lepaskan aku”

“Jangan berbuat bodoh Nyai. Aku dapat mengikatmu lagi” desis ayah Manguri “kami

semua telah berusaha dengan susah payah menyelamatkan Nyai dari ketamakan Ki

Reksatani. Nyai harus menyadari hal ini”

“Tetapi, aku tidak mau. Biarlah Ki Demang melindungi aku”

“Ki Demang terlampau percaya kepada adiknya itu. Sudahlah, tenanglah. Kami

bermaksud baik”

Mata Sindangsari yang basah itu menjadi semakin, basah. Tiba-tiba perasaan takut

yang mencengkamnya, semakin memuncak lagi. Ia berada di dalam satu pedati

dengan lima orang laki-laki yang kasar. Laki-laki yang tidak dikenalnya dengan baik

watak dan tabiatnya. Bahkan menurut pendengarannya, ayah Manguri itu adalah

seorang laki-laki yang tidak berbeda dengan Manguri sendiri.

Tetapi-dalam pada itu Sindangsaripun menyadari bahwa ia tidak akan dapat melawan.

Bahkan memang sebaiknya ia tetap mempergunakan pikirannya.

Karena itu, maka akhirnya Sindangsari itu duduk berdiam diri. Wajahnya tertunduk

dalam-dalam. Meskipun ia merasa, bahwa semua laki-laki yang ada di dalam pedati itu

seakan-akan tidak menghiraukannya, namun setiap kali terasa kulit di seluruh

tubuhnya meremang.

Demikianlah maka pedati itu berjalan perlahan-lahan keluar dari halaman yang luas itu,

turun kejalan padukuhan yang sepi. Kemudian menyelusuri jalan itu keluar dari telatah

Kademangan Kepandak.

Manguri dan Lamat mengantar mereka sampai ke regol halaman. Dengan mata yang

suram Lamat memperhatikan pedati yang berjalan terguncang-guncang ditarik oleh

dua ekor lembu itu. Semakin lama semakin jauh, membawa Sindangsari ke tempat

yang masih belum diketahui.

Setelah pedati itu hilang di kelok jalan, maka Lamatpun menarik nafas dalam-dalam.

“Kita harus segera kembali” desis Manguri.

Lamat menganggukkan kepalanya “Ya. Kita harus segera kembali”

“Sebentar lagi, Ki Demang akan menyebar orang-orangnya. Kita harus sudah berada

di rumah”

Lamat menganggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya “Bagaimana dengan halaman

ini?”

“Biarlah, kita tinggalkan saja”

“Beberapa ekor ternak yang ada disini?” “Biar sajalah. Ternak itu tidak akan hilang”

Lamat tidak bertanya lagi. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk. Tetapi

wajahnya masih saja diliputi oleh kecemasan tentang nasib Nyai Demang di

Kepandak.

Keduanyapun kemudian berpacu meninggalkan tempat itu, setelah menutup pintupintu

gubug dan mengikat beberapa ekor ternak yang ada erat-erat. Tetapi beberapa

ekor ternak itu hampir tidak berarti sama sekali bagi Manguri yang kaya raya,

seandainya ternak itu hilang sekalipun.

Dalam pada itu, orang-orang di Kademangan telah siap pula untuk melakukan

pencaharian yang lebih lama dan luas. Mereka sudah selesai makan dan berkemas.

Seperti yang diperintahkan oleh Ki Demang mereka diperkenankan menempuh semua

cara untuk menemukan Sindangsari.

“Sebagian dari kita akan pergi menjelajahi setiap rumah yang pantas dicurigai” berkata

Ki Jagabaya “Dan sebagian kecil akan pergi ke tempat-tempat yang wingit seperti yang

disebutkan oleh nini itu. Gunung Sepikul, Tikungan Kali Praga, kalau perlu dicari

sampai kepesisir Kidul, Pandan Segegek, sungapan Kali Praga dan dimana saja”

Orang-orang yang mendengarkannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun

merasa wajib untuk ikut serta menemukan Nyai Demang yang begitu saja hilang dari

Kademangan pada saat ia sedang makan di dalam biliknya.

“Hampir tidak masuk akal” berkata salah seorang dari mereka.

“Memang mungkin ia telah dibawa oleh hantu” jawab yang lain.

Demikianlah, maka Ki Jagabayapun segera membagi orang-orangnya. Setiap

kelompok terdiri dari tiga sampai lima orang. Ia sendiri bersama dua orang ikut pula di

dalam usaha pencaharian itu. Sedang Ki Reksatanipun ikut pula bersama dua orang

yang lain.

“Kita jelajahi setiap pintu” desis Ki Jagabaya “mustahil Nyai Demang dapat hilang

begitu saja seperti ditelan bumi”

Demikianlah maka orang-orang itupun mulai berpencaran. Beberapa kelompok pergi

ke timur, kelompok yang lain ke Barat, ke Selatan dan ke Utara. Sedang sekelompok

yang lain harus mencarinya keluar Kademangan, ke daerah-daerah yang wingit.

Seperti pasukan yang berangkat ke medan perang, maka kelompok-kelompok itupun

mulai berpencar. Mereka menuju ke arah masing-masing, dan setiap kelompok

dipimpin oleh seorang bebahu Kademangan termasuk Ki Jagabaya dan Ki Reksatani.

Sejenak kemudian, maka berderaplah kaki-kaki kuda di seluruh daerah Kademangan

Kepandak. Debu yang putih berhamburan ditiup angin yang kering. Mereka akan mulai

dengan pencaharian mereka dari daerah yang paling jauh, kemudian perlahan-lahan

mendekati induk Kademangan. Sedang sekelompok yang lain harus pergi ke tempattempat

yang wingit.

Kelompok yang harus mencari Nyai Demang keluar Kademangan itupun berpacu

seperti angin. Mereka harus menjelajahi tempat-tempat yang jaraknya agak berjauhan.

Karena itu, maka kuda-kuda merekapun berderap cepat sekali, secepat dapat

dilakukan.

Yang pertama-tama mereka datangi adalah Gunung Sepikul. Dua buah gumuk kecil

yang berdekatan. Diatas gumuk itu tumbuh berbagai macam tumbuh-tumbuhan liar.

Sebatang pohon cangkring yang sudah tua tumbuh pada salah sebuah gumuk itu,

sedang pada gumuk yang lain tumbuh sebatang pohon nyamplung yang besar-sekali.

Orang-orang berkuda yang dipimpin oleh Ki Kebayan itu berhenti beberapa langkah

dari kedua gumuk itu, tepat di tengah-tengah. Sejak mereka berdiri mematung. Namun

tanpa mereka sadari, bulu-bulu tengkuk merekapun meremang.

Sejenak mereka memandangi kedua batang pohon itu berganti-ganti. Pohon cangkring

yang meskipun tidak sebesar pohon nyamplung, namun tampaknya benar-benar

angker. Dahan-dahannya yang ditumbuhi duri yang besar bersilang melintang. Sedang

daun-daunnya yang rimbun bagaikan selimut yang tebal membungkus dahan

dahannya itu.

Namun pohon nyamplung itupun tidak kurang mengerikan. Batangnya besar dan

tinggi. Bahkan lurus seperti sebuah galah yang ingin menusuk langit. Baru pada bagian

ujungnya sajalah batang itu ditumbuhi oleh dahan-dahan yang besar dan teratur, ke

segala arah menunjuk kesegala penjuru. Daunnya yang besar dan tebal bergayutan di

ujung dahan.

“Dimana kita mencari?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Kita masuk kegerumbul liar itu” jawab Ki Kebayan.

Beberapa orang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi merekapun kemudian

membulatkan tekad mereka untuk menemukan Nyai Demang. Mereka percaya bahwa

Ki Kebayan termasuk salah seorang yang mempunyai ilmu yang gaib.

Sejenak kemudian merekapun mengikatkan kuda-kuda mereka. Ketika Ki Kebayan

melangkah ke gumuk yang ditumbuhi oleh pohon cangkring, maka semua orang

mengikutinya pula.

Di bawah gumuk itu Ki Kebayan berhenti sejenak. Ia menekurkan kepalanya sambil

berkumat-kamit. Kemudian ia memasukkan sesuatu di mulutnya. Setelah dikunyahnya

maka kemudian diambilnya lagi dari mulutnya, dan dilemparkannya menyebar keatas

gumuk itu.

“Marilah” katanya kemudian “tetapi hati-hati. Gumuk itu terkenal, banyak dihuni ular.

Kalau kau bertemu juga dengan seekor ular jangan dibunuh. Tetapi aku sudah

berusaha menyingkirkan ular-ular itu. Mudah-mudahan kita tidak diganggu oleh ularular

itu dan oleh danyang yang menunggui Gunung Sepikul ini”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tidak seorangpun yang

menjawab. Namun demikian sekali lagi bulu-bulu tengkuk mereka meremang.

Meskipun demikian, merekapun mengikuti Ki Kebayan naik keatas gumuk itu. Dengan

pedangnya Ki Kebayan menyibakkan rerumputan liar dan kemudian pohon-pohon

perdu yang rapat. Sedang kawan-kawannya mengikutinya saja di belakang.

Langkah Ki Kebayan tertegun ketika tiba-tiba saja seekor ular sawah yang besar

bergeser dari tempatnya, menyelusur menyilang langkah Ki Kebayan. Tetapi Ki

Kebayan membiarkannya saja. Ia sama sekali tidak mengganggunya, dan ular itupun

seolah-olah acuh tidak acuh saja terhadap kehadiran manusia yang jarang sekali

datang itu.

“Ular itu tidak melihat kita” desis seseorang “ternyata ular yang sekian besarnya itu

berpalingpun tidak. Rupa-rupanya jampi Ki Kebayan memang tajam”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi rasa-rasanya debar jantungnya menjadi semakin

cepat.

Semakin lama merekapun menjadi semakin dekat dengan pohon cangkring yang tua

itu. Dengan demikian, terasa nafas merekapun menjadi semakin memburu.

Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat kelepak seekor burung yang

sangat besar pada sebatang dahan cangkring itu. Seekor burung elang jantan yang

agaknya terkejut melihat kehadiran orang-orang yang jarang sekali mendatangi tempat

itu.

“Hem“ salah seorang dari mereka menarik nafas, sedang tangannya tiba-tiba saja telah

melekat di hulu pedangnya”

Tetapi Ki Kebayan sendiri masih tetap melangkah maju mendekati pohon cangkring itu.

Sambil berkumat-kamit ia memandang rimbunnya daun cangkring itu dengan

saksama.

Orang-orang yang pergi bersamanya itupun melangkah mengikutinya, meskipun

dengan hati yang berdebar-debar. Meskipun demikian, karena Ki Kebayan tidak juga

mengurungkan niatnya untuk mencari Nyai Demang, maka merekapun maju terus.

Ki Kebayan itu kemudian berhenti setelah ia berdiri di bawah pohon cangkring yang tua

itu. Dengan wajah yang tegang ia mengamati batangnya yang dipenuhi oleh lelumutan

yang hijau keputih-putihan. Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat seekor kala

merayap dan kemudian menyusup kebalik kulit kayu yang kering.

Ki Kebayan menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berdiam diri di tempat. Dianggukanggukkannya

kepalanya sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya di muka

dadanya.

Tiba-tiba Ki Kebayan itu menengadahkan wajahnya, memandang ke dahan cangkring

yang bersimpang siur di antara daun-daunnya yang lebat.

“He” Ki Kebayan itu kemudian berteriak ”Nya Demang Apakah kau ada disana?”

Suaranya bergema sekali. Kemudian hilang dibawa angin ”He, Nyai Demang” sekali

lagi ia memanggil. Tetapi sama sekali tidak ada jawaban.

Ki Kebayan menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya mengamati setiap dahan yang

rimbun, kalau-kalau Nyai Demang tersembunyi di sana tanpa dikehendakinya sendiri.

Tetapi baik Ki Kebayan, maupun para pengikutnya tidak seorangpun yang melibatnya.

Ki Kebayanpun kemudian menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis

”Apakah ada yang melihat Nyai Demang?”

Hampir berbareng semua menggelengkan kepalanya ”Tidak. Kami tidak melihat apaapa”

Ki Kebayan mengangguk-angguk pula. Katanya ”Memang, kita tidak melihat apa-apa.

Marilah kita lihat di gumuk sebelah”

Dengan hati yang berdebar-debar merekapun meninggalkan pohon tua itu menuju

kegumuk yang lain.

Seperti gumuk yang mereka tinggalkan, gumuk inipun tidak kalah rimbunnya pula.

Batang ilalang dan daun-daun perdu mengelilingi sebatang pohon nyamplung yang

tinggi besar yang berdiri hampir di tengah-tengah gumuk itu.

Tetapi disinipun mereka tidak menemukan sesuatu. Mereka tidak melihat Nyai

Demang berada di dalam gerumbul-gerumbul liar, dan tidak juga diatas pohon

nyamplung itu.

“Tidak ada” berkata Ki Kebayan ”kita tidak menemukannya disini”

“Lalu?” bertanya salah seorang pengikutnya.

“Kita pergi ke tikungan Kali Praga. Di sana ada sebatang Randu Alas yang besar

sekali. Dahulu seorang gembala yang hilang dari padukuhan Gemulung, pernah

diketemukan diatas pohon Randu Alas itu”

Sejenak para pengikutnya saling berpandangan. Kemudian mereka menganggukanggukkan

kepalanya.

Marilah. Kita harus segera kesana. Kalau kita tidak menemukannya di sana, kita akan

pergi ke pesisir”

Sejenak kemudian merekapun segera berpacu ketikungan Kali Praga, kesebatang

pohon Randu Alas yang besar serkali. Tetapi di sanapun mereka tidak menemukan

sesuatu, sehingga mereka memutuskan untuk pergi ke pantai Selatan, ke Pandan

Segegek.

Seperti pasukan yang. berangkat berperang, maka merekapun berderap kembali

diatas jalan berbatu-batu, melemparkan debu yang putih mengepul di belakang iringiringan

itu. Apabila mereka melewati tanah persawahan, maka beberapa orang petani

yang sedang bekerja di sawah memandangi mereka dengan penuh pertanyaan.

“Siapakah mereka itu?” bertanya seseorang.

Yang lain menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba seseorang berkata ”Kebayan

dari Kademangan Kepandak”

“Kemana ia pergi bersama beberapa orang itu?” apakah mereka sedang mengejar

penjahat yang telah melakukan kejahatan di Kepandak?”

“Tidak tahu. Tentu kita sama-sama tidak tahu. Tetapi apabila mereka mengejar

penjahat, pasti Ki Jagabaya atau justru Ki Demang sendiri ada diantara mereka”

“Kau mengenal keduanya?”

“Aku mengenal Ki Demang di Kepandak tetapi aku belum mengenal Ki Jagabaya

dengan baik”

Merekapun kemudian terdiam. Mereka hanya melihat debu yang kemudian pecah

ditiup angin yang lambat.

Dalam pada itu, Ki Kebayan bersama beberapa orang pengiringnya berpacu secepatcepatnya.

Mereka tidak boleh terlambat. Apabila benar Nyai Demang telah dibawa

lelembut ke Pandan Segegek, maka ia harus segera diketemukan, sebelum ia menjadi

kalap dan hilang bersama raganya.

Dengan demikian, maka merekapun segera mempercepat derap kuda mereka

melintasi jalan yang panjangdi tengah-tengah bulak.

Ki Kebayan mengerutkan keningnya ketika ia melihat jauh di hadapannya sebuah

pedati berjalan lambat sekali. Pedati yang ditarik oleh dua ekor lembu putih.

“Kalian melihat pedati itu?” bertanya Ki Kebayan.

“Ya” sahut salah seorang dari pengiringnya ”Jarang ada pedati menempuh jalan ini”

desis Ki Kebayan.

“Ke daerah pesisir. Mungkin pedati yang akan mengambil garam yang dibuat

sepanjang pantai”

“Tetapi bukan pantai Pandan Segegek”

“Mungkin pedati itu akan berbelok ke Timur dan melintasi Caluban kesuangan Kali

Opak”

Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian ”Kita akan melihat,

apakah yang dibawanya”

“Mungkin gula kelapa”

“Kenapa justru dibawa ke Selatan?”

“Ditukar dengan garam”

Sekali lagi Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepadanya. Tetapi keinginannya untuk

mengetahui isi pedati itu justru menjadi semakin besar. Karena itu tanpa disadarinya ia

memacu kudanya semakin cepat, sehingga debu di sepanjang jalan mengepul

semakin pekat.

Dalam pada itu, pedati yang dikejarnya berjalan terguncang-guncang di jalan berbatu,

batu. Sekali-sekali terdengar lecutan cambuk di punggung lembu yang malas.

“Ayo, cepat sedikit teriak pengemudinya. Namun kemudian ia bertanya ”tetapi kita

akan pergi kemana?”

Yang ada di dalam pedati itu adalah ayah Manguri yang sedang berusaha

menyingkirkan Sindangsari. Sambil terkantuk-kantuk ayah Manguri menjawab

”Berjalanlah terus. Kita akan berhenti apabila lembu itu sudah lelah, dimanapun juga”

“Tetapi?”

“Aku mempunyai kenalan di segela penjuru daerah ini. Dimanapun aku akan mendapat

tempat yang baik. Isteriku tersebar dimana-mana”

“Orang-orang yang ada di dalam pedati itu mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka

percaya bahwa dimana-mana memang ada saja perempuan yang diambilnya menjadi

isterinya yang ke tujuh, ke delapan atau bahkan ke limabelas.

Namun dalam pada itu bulu di kuduk Sindangsari meremang. Ternyata benar kata

orang bahwa ayah Manguri tidak ada bedanya dengan anaknya.

Selagi mereka membayangkan apa yang akan mereka lakukan, menurut angan-angan

masing-masing, tiba-tiba orang yang duduk di pinggir belakang mengerutkan

keningnya. Dilihatnya di kejauhan debu mengepul diudara, semakin lama semakin

jelas.

“Lihatlah” desisnya ”debu itu”

Semuanya berpaling. Ayah Manguri menjadi tegang. Katanya ”Beberapa orang

berkuda”

“Ya. Beberapa orang berkuda”

Merekapun kemudian terdiam sejenak. Dengan wajah yang tegang mereka

memandang debu yang seakan-akan telah mengejar mereka. Semakin lama semakin

dekat.

“Siapakah mereka itu?” desis ayah Manguri.

Dan tanpa sesadarnya Sindangsari bergumam ”Kakang Demang. Pasti kakang

Demang”

Ayah Manguri berpaling kepadanya. Sejenak kemudian ia berdesis ”Tentu bukan.

Tentu bukan Ki Demang di Kepandak”

“Beberapa orang” desis seorang yang lain.

Ayah Manguri menjadi tegang sejenak. Ia sedang sibuk memutar akalnya, bagaimana

ia harus membebaskan diri dari orang-orang berkuda itu apabila mereka ternyata

sedan mencari Sindangsari.

“Mereka tentu orang-orang Kademangan Kepandak” tiba-tiba Sindangsari menyahut

”mereka sedang mencari aku. Kalau kalian tidak mau menyerahkan aku, kalian pasti

akan dihukum”

Wajah ayah Manguri menjadi semakin tegang.

“Kalian tidak akan dapat lolos lagi. Pedati ini tidak akan dapat lari secepat kuda-kuda

itu”

Dada ayah Manguri dan setiap orang di dalam pedati itu menjadi semakin berdebardebar.

Mereka menyadari bahaya yang kini sedang mengancam. Memang

kemungkinan terbesar, penunggang kuda itu adalah orang-orang yang sedang mencari

Sindangsari.

“Tetapi darimana mereka mengetahui, bahwa kami sedang lari kejurusan ini” bertanya

ayah Manguri kepada diri sendiri.

Orang-orang di dalam pedati itu benar telah menjadi gelisah. Sejenak mereka saling

berpandangan. Tetapi mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan.

“Mereka pasti akan menolongku” gumam Sindangsari seperti ditujukan kepada diri

sendiri.

Namun perempuan itu terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar ayah Manguri memberi

perintah ”Sediakan senjatamu. Tetapi sebelumnya sembunyikanlah di bawah jerami.

Kau harus dapat mengambilnya dengan tiba-tiba apabila keadaan memaksa”

“Tetapi, tetapi” suara Sindangsari tergagap ”kalian tidak akan dapat melawan kakang

Demang”

Ayah Manguri tidak menyahut. Tetapi kini ia seolah-olah terpaku memandang debu

yang semakin dekat.

“Perempuan ini, cukup berbahaya” desisnya di dalam hati ”setiap saat ia dapat

berteriak”

Sementara itu, Ki Kebayan berpacu semakin cepat. Ia masih belum dapat melihat

dengan jelas, apakah pedati itu berisi orang atau barang atau apapun juga. Tetapi

sebentar lagi ia pasti akan segera dapat menyusulnya.

“Cepatlah sedikit” berkata Ki Kebayan. Pedati itu tidak akan dapat lari” sahut salah

seorang pengikutnya “apalagi tidak ada jalan simpang di hadapan kita. Kita pasti akan

segera menyusulnya dan mengetahui apa isinya”

Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tanpa disadarinya kudanya

semakin cepat berpacu mengejar pedati yang berjalan tersuruk-suruk seperti siput di

jalan yang sangat panjang.

Karena itu, Ki Kebayan tidak memerlukan waktu yang lama. Sebentar kemudian iapun

segera berhasil menyusul pedati itu. Bersama seorang pengiringnya ia mendahului dan

kemudian berhenti di depan dua ekor lembu yang menarik pedati itu.

“Berhenti“ ia memberikan perintah.

“Kenapa kami harus berhenti?” bertanya pengemudinya.

“Berhenti”

“Siapa kau? Apakah kau akan merampok kami?” bertanya pengemudi itu.

“Gila. Kau sangka kami segerombolan perampok.

“Karena itu sebut dirimu. Siapa kau?”

“Berhenti“ Ki Kebayan berteriak.

Pedati itupun kemudian berhenti. Pengemudinya yang masih tetap duduk di tempatnya

memandang Ki Kebayan dengan tegang.

“Kau belum mengenal aku?” bertanya Ki Kebayan.

Pengemudi pedati itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng “Belum.

Aku belum mengenal kalian”

“Aku Kebayan di Kepandak”

“O“ pengemudi itu mengangguk-anggukkan kepalanya “jadi kau Kebayan di Kepandak.

Maaf Ki Kebayan di Kepandak. Kami tidak mengenal Ki Kebayan dan Ki Sanak yang

lain. Tetapi kenapa Ki Kebayan mengejar kami dan menghentikan kami?”

“Siapakah kalian dan dari manakah pedati ini?” bertanya Ki Kebayan di Kepandak.

“Kami adalah orang-orang dari Menoreh”

“Seberang kali Praga?”

“Ya”

“Kalian menyeberang bersama pedati ini?”

Pengemudi itu menggelengkankepalanya. Katanya ”Tidak. Tentu tidak. Kami menyewa

pedati ini dari orang-orang di daerah Mangir”

Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia bertanya lagi

“Kemanakah kalian akan pergi?”

“Kami akan pergi ke pesisir”

“Pandan Segegek?”

“Tidak. Kami akan pergi ke parang endog di sebelah suwangan Kali Opak”

Ki Kebayan mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya “Apakah kepentingan

kalian kesana?

“Maaf Ki Kebayan” jawab pengemudi itu “itu adalah kepentingan pribadi. Terlampau

pribadi”

“Ya apa”

“Sebaiknya Ki Kebayan bertanya yang lain”

“Tidak. Aku bertanya, apakah kepentinganmu”

Pengemudi pedati itu menggelengkan kepalanya “Ki Kebayan di Kepandak tidak

berhak memaksa kami untuk menjawab kepentingan kami ke Parang Endog. Kami

tidak mempunyai hubungan apapun dengan Ki Kebayan, sehingga sebaiknya kita

melakukan tugas dan kepentingan kita masing-masing tanpa saling mengganggu”

Ki Kebayan mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih bertanya lagi “Dalam keadaan

yang wajar, kami memang tidak mempunyai kepentingan apapun. Tetapi kami sedang

dalam keadaan yang genting sekarang”

“Kenapa? Apakah Kepandak sedang didatangi oleh perampok atau apa?”

“Tidak”

“Lalu?”

Ki Kebayan menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa Kepandak

telah kehilangan isteri Demangnya.

“Kami sedang mencari seseorang” katanya kemudian.

“Siapa. Perampok?”

Ki Kebayan menggeleng.

“Jadi siapa?”

“Salah seorang keluarga kami. Keluarga Kademangan Kepandak”

“Kenapa orang itu dapat menjadi buruan?”

Ki Kebayanpun kemudian menjawab “Itupun persoalan kami. Tetapi kami memang

sedang mencarinya kemanapun”

Tukang pedati itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku tahu sekarang.

Kalian mencurigai kami. Mungkin orang yang kau cari itu bersembunyi di dalam pedati

kami. Kalau begitu, baiklah. Silahkan kalian melihat, apakah orang yang kalian cari itu

ada di dalam pedati kami” pengemudi itu berhenti sejenak, lalu “sebaiknya kami

berterus terang, supaya kalian tidak tetap mencurigai kami. Kami akan pergi ke Parang

Endog untuk mencari terang di hati kami”

”Bertapa?”

“Bukan bertapa. Sekedar menyepi”

Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sedang tukang pedati itu berkata

sekali lagi “Silahkanlah melihat isi dari pedati kami. Kami membawa bahan makanan

kami sekedarnya”

Ki Kebayan mengerutkan keningnya. Dilihatnya beberapa orang laki-laki duduk di

dalam pedati itu. Laki-laki yang belum dikenalnya.

“Baiklah” berkata Ki Kebayan yang tidak jadi mendekati pedati itu “aku kira aku sudah

cukup. Maaf kalau kami telah mengganggu kalian”

“Tidak apa Ki Kebayan. Kami tahu kesulitan kalian, sehingga kalian memang

memerlukan bantuan.

Jilid 7 – Bab 5 : Tusuk Konde

Ki Kebayan mengangguk-angguk sekali lagi.

Katanya “Baiklah, kami akan meneruskan

perjalanan kami”

“Silahkanlah Ki Kebayan. Mudah-mudahan Ki

Kebayan segera menemukan orang itu “tukang

pedati itu berhenti sejenak, lalu “tetapi apakah

kami boleh tahu, siapakah orang itu, seandainya

kami bertemu di perjalanan kami?”

“Terima kasih. Kami akan mencarinya sendiri”

Tukang pedati itu mengangkat pundaknya. Tetapi

ia tidak menyahut.

“Silahkan Ki Sanak meneruskan perjalanan.

Tetapi apakah Ki Sanak akan dapat

menyeberangi sungai Opak dengan pedati itu?”

“Entahlah. Kalau tidak, kami akan menitipkan

pedati ini. Tetapi perjalanan sudah dekat. Kami

akan dapat membawa barang-barang kami

dengan keranjang-keranjang, sedapat dan sekuat kami”

Ki Kebayanpun kemudian meninggalkan pedati itu diikuti oleh para pengiringnya.

Mereka sama sekali tidak berminat untuk menjengukkan kepalanya lebih dalam ke

dalam pedati itu, karena dari luar yang tampak hanyalah seonggok jerami dan

keranjang-keranjang yang besar.

Ketika Ki Kebayan sudah menjadi semakin jauh, maka dari dalam timbunan jerami,

muncullah sebuah kepala. Ayah Manguri. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia

mengumpat. Katanya “Gila Kebayan itu. Aku hampir mati kehabisan nafas”

“Bagaimana dengan Nyai Demang” desis salah seorang dari mereka.

Ayah Manguripun segera bangkit sambil mengibaskan jerami yang masih melekat

pada pakaiannya. Kemudian dengan hati-hati ia menyibakkan jerami yang menimbuni

tubuh Sindangsari yang pingsan.

“Maaf” desis ayah Manguri “aku terpaksa membuatnya pingsan sekali lagi”

Untuk sesaat Sindangsari masih terbaring pingsan. Beberapa orang laki-laki yang ada

di sekitarnya memandanginya dengan dada yang berdebar-debar. Perempuan yang

sedang mengandung itu terbaring seperti seseorang yang sedang tidur nyenyak.

Tidak seorangpun yang tahu, apakah yang sedang dipikirkan oleh orang lain. Demikian

pula setiap laki-laki di dalam pedati itu. Mereka tidak mengetahui, bahwa di setiap dada

telah tumbuh pengakuan ”Alangkah cantiknya perempuan itu. Adalah wajar sekali

kalau orang laki-laki menjadi tergila-gila kepadanya. Manguri, Ki Demang, Pamot dan

mungkin masih banyak lagi”

Tetapi tidak seorangpun yang mengucapkannya. Bahkan ayah Manguripun tidak

mengatakannya. Ia adalah laki-laki yang tidak pernah menahan kata hatinya atas

perempuan. Apalagi di hadapan orang-orangnya yang dianggapnya sudah tahu benar

tentang dirinya. Tetapi perempuan yang dibawanya kali ini adalah sekedar titipan dari

anaknya sendiri.

Meskipun demikian setiap kali ia masih memandangi wajah itu. Wajah Sindangsari

yang sedang pingsan. Perempuan yang sedang mengandung untuk pertama kalinya

itu, tampaknya justru menjadi kian cantik.

Pedati itu masih berjalan terus terguncang-guncang diatas jalan berbatu. Di sebelah

menyebelah jalan, tanah persawahan yang kering. Di beberapa bagian tampak

tanaman Palawija yang sudah hampir dipetik hasilnya. Kacang tanah, dele dan di

kejauhan batang-batang jagung.

“Kita harus berbelok” desis ayah Manguri ”kita sudah mengatakan bahwa kita akan

pergi ke Parang Endog”

“Ya. Nanti kita akan sampai pada sebuah jalan simpang”

“Tetapi kemana Ki Kebayan itu akan mencari Sindangsari?”

Tidak seorangpun yang menyahut.

“Mungkin ia akan mencarinya ke tempat-tempat yang angker Pandan Segegek.

Bukankah jalan ini akan menuju kesana?”

“Ya. Ki Kebayan itu menurut pendengaranku adalah orang yang dapat berhubungan

dengan hantu-hantu” desis ayah Manguri. Lalu ”Untunglah bahwa Ki Kebayan belum

banyak mengenal kalian karena kalian bukan orang Kepandak”

“Ya”

Ayah Manguripun kemudian terdiam. Dipandanginya Sindangsari yang masih terbaring

diam. Tanpa sesadarnya, tangannya telah mengusap kening perempuan yang dikotori

oleh jerami yang kering.

Ketika pedati itu kemudian berbelok mengambil jalan simpang kuda Ki Kebayan sudah

berlari semakin jauh menuju ke pantai Selatan. Pandan Segegek.

Tetapi kuda-kuda mereka tidak dapat langsung sampai ketujuah karena rawa-rawa

yang menebar di sepanjang pantai.

“Kita akan berjalan kaki” berkata Ki Kebayan ”Kita tinggalkan kuda kita disini?”

bertanya seseorang.

“Ya”

“Begitu saja?”

“Kuda-kuda itu tidak akan hilang”

“Tetapi” berkata salah seorang dari mereka ”Aku, aku akan menunggui kuda kita”

“Kenapa?” bertanya Ki Kebayan.

Orang itu ragu-ragu sejenak. Kemudian katanya ”Bukan aku tidak mau Ki Kebayan,

tetapi aku tidak sadar, bahwa kita akan datang ke tempat ini”

Ki Kebayan mengerutkan keningnya.

“Aku memakai kain hijau gadung”

Ki Kebayan dan kawan-kawannya menganggukkan kepalanya. Mereka mengerti

bahwa sebaiknya orang yang memakai pakaian hijau gadung tidak mendekat ke

pantai.

“Baiklah” berkata Ki Kebayan ”tunggui kuda-kuda ini. Tetapi ingat. Kalau ada orang

memanggil namamu, jangan kau jawab sebelum kau melihat orang yang

memanggilmu. Kau tahu”

Orang itu merenung sejenak.

“Supaya kau tidak kalap” desis kawannya ”mungkin bukan orang sesungguhnya yang

memangilmu, kecuali kau sudah melihat orang itu. Apalagi kau memakai pakaian hijau

itu”

Orang yang memakai pakaian hijau itu mengangguk-anggukkan kepalanya ”Ya,aku

mengerti”

“Nah,tinggallah disini. Hati-hati” berkata Ki Kebayan ”kalau kau melihat perempuan

cantik, jangan kau coba mengganggunya. Kau mengerti?”

Orang itu tidak segera menjawab. Dan Ki kebayanpun berbisik di telinganya ”Mereka

adalah orang jadi-jadian. Sebenarnya mereka itu adalah buaya-buaya dari sungapan

Kali Praga yang mencari mangsanya. Kau mengerti? Di sini ada semacam persaingan

antara Laut Selatan dengan buaya-buaya di Sungapan Kali Praga. Mereka dahulumendahului

menangkap mangsa mereka masing-masing. Kalau kau merasa bahwa

keadaanmu tidak wajar sebelum kau kehilangan akal sebutlah nama Kiai Jamur Dipa

yang bersemayam di Gunung Merapi. Kau akan terlepas dari bencana, karena kau

disangka pengikutnya”

Orang itu menganggukkan kepalanya.

“Dan ini berlaku pula bagi kalian semua” berkata Ki Kebayan ”sebutlah nama Kiai

Jamur Dipa. Jangan lupa. Kiai Jamur Dipa. Akupun selalu menyebutnya”

Para pengiring Ki Kebayan itupun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun

terasa juga hati mereka bergetar. Mereka menganggap bahwa pantai Selatan, apalagi

Pandan Segegek adalah tempat yang jarang sekali diambah kaki manusia.

Demikianlah merekapun kemudian berjalan menyeberangi rawa-rawa yang dangkal.

Namun kadang-kadang mereka harus menghindar dan melingkar agak jauh apabila

mereka menjumpai rawa-rawa lumpur yang dalam. Mereka sadar, bahwa di dalam

rawa-rawa itu banyak terdapat binatang air yang berbisa. Bahkan ular hitam berleher

putih.

Sedangkan diatas pasir pantai di daerah rawa-rawa yang berair tawar, diantara semaksemak

pandan yang lebat, terdapat pula berbagai jenis binatang. Campuran dari

binatang air tawar dan binatang air laut. Juga binatang darat yang hidup diantara duriduri

pandan.

Ki Kebayan dan para pengiringnya berjalan dengan sangat hati-hati melintasi daerah

rawa-rawa dan semak -semak pandan. Mulut mereka tidak henti-hentinya menyebut

nama Kiai Jamur Dipa, supaya mereka tidak diterkam oleh bencana yang dapat timbul

setiap saat.

Sejenak kemudian, setelah mereka semakin dekat dengan pantai dan sudah berada

diantara semak-semak pandan yang lebat, maka mulailah Ki Kebayan berkumat-kamit.

Sejenak kemudian iapun mulai meneriakkan nama Nyai Demang di Kepandak.

“Mungkin ia tidak mengenal nama itu lagi” desis salah seorang.

“Jadi?” bertanya Ki Kebayan.

“Panggil dengan nama nya sendiri”

Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun mulai memanggil.

Tetapi tidak dengan nama Nyai Demang di Kepandak.

“Sindangsari, Nyai Sindangsari”

Tetapi suara Ki Kebayan hilang saja ditelan oleh deru ombak yang semakin lama

seolah-olah menjadi semakin besar. Di bawah terik matahari, ujung gelombang yang

keputih-putihan setinggi gunung anakan itu seakan-akan saling mengejar,kemudian

meluncur menghantam pantai berpasir susul menyusul.

Ki Kebayan masih juga memanggil. Tetapi sampai suaranya menjadi parau, mereka

sama sekali tidak menemukan Nyai Demang di Kepandak. Apalagi mendengar

jawabannya.

Yang mereka dengar hanyalah angin pantai yang bertiup kencang, dibarengi oleh

debur ombak yang menggelegar bertautan.

Di telinga orang-orang Kepandak suara itu semakin lama menjadi semakin kisruh, dan

bahkan ada diantara mereka yang mendengar seolah-olah suara itu telah berubah

menjadi suara yang memancar dari pusat Samodra yang besar itu, memanggil

namanya perlahan-lahan.

Beberapa orangpun kemudian menjadi pucat. Tetapi mereka tidak henti-hentinya

menyebut nama Kiai Jamur Dipa.

“Kita tidak menemukannya disini” desis Ki Kebayan.

Para pengiringnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mungkin kita sudah terlambat” berkata Ki Kebayan selanjutnya ”Nyai Demang hilang

dari Kademangan hampir dini hari. Baru sekarang kita sampai disini”

Tidak seorangpun yang menyahut. Tetapi ketika mereka membentangkan pandangan

mata mereka, mereka melihat suatu padang pandan berduri yang sangat luas di

sepanjang pantai.

“Seandainya benar Nyai Demang disembunyikan diantara semak-semak ini,

bagaimana mungkin dapat menemukannya apabila ia sendiri tidak dapat berteriak

memanggil. Itupun kalau kebetulan kami lewat di dekatnya. Kalau ia berada di ujung

sebelah Timur atau di ujung Barat, maka tidak akan ada orang yang dapat

mendengarnya” beberapa orang berkata di dalam hatinya sendiri.

Ki Kebayanpun agaknya berpikir demikian pula. Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata

”Marilah, kita menyusur pantai”

Beberapa orang saling berpandangan. Namun mereka mengikuti saja ketika Ki

Kebayan pergi ke sebelah Timur menyusur pasir pantai. Sekali-sekali ia harus

menjauh, menghindari deburan ombak yang besar bergulung-gulung diatas pasir.

Tetapi ketika Ki Kebayan kemudian berteriak-teriak di sepanjang pantai, maka

suaranyapun hilang, tenggelam ke dalam gelora suara ombak dan angin yang

kencang.

Akhirnya, setelah Ki Kebayan hampir kehabisan suaranya, dan setelah ia menyusur

dari sebelah Timur sampai ke sebelah Barat, maka iapun berkata ”Kita sudah cukup

berusaha. Marilah kita kembali ke Kademangan. Mungkin kita dapat mencarinya

dengan jalan lain”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas mereka masih

memandang gerumbul-gerumbul pandan yang lebat yang bertebaran di sepanjang

pesisir. Kemudian ombak yang semakin besar di-siang hari dan angin yang menampar

wajah mereka semakin keras di bawah terik matahari yang membakar kulit.

“Marilah kita kembali”

Sejenak kemudian Ki Kebayan bersama para pengiringnyapun telah kembali melintasi

daerah yang berawa-rawa. Kemudian mereka segera meloncat keatas punggung kuda

masing masing dan berpacu meninggalkan pantai yang panas itu.

“Aku haus sekali” desis seseorang.

Kawannya yang mendengarpun menyahut ”Ya, akupun haus sekali. Kuda-kuda kitapun

haus pula”

Ki Kebayan mendengar pula pembicaraan itu. Karena itu, ketika mereka melintas

sebuah parit yang mengalir, meskipun hanya setinggi mata kaki mereka, ia berhenti

dan berkata ”Biarlah kuda kita minum sejenak.

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi yang dapat minum

barulah kuda-kuda mereka. Sedang orang orang Kepandak itu masih belum sampai

hati untuk ikut serta minum air parit yang hanya gemercik kecil karena musim panas

yang panjang.

Karena itu, mereka hanya dapat menelan ludah mereka sendiri yang sudah hampir

kering pula. Beberapa orang yang merasa terlampau panas hanya membasahi tangan

mereka kemudian mengusap kening mereka dengan tangan yang basah itu.

“Kita akan mencari kelapa muda di padukuhan yang pertama kali kita lalui” berkata Ki

Kebayan yang mengetahui bahwa para pengiringnya sudah kehausan.

Tidak seorangpun yang menyahut. Tetapi orang-orang yang kemudian sudah berpacu

pula itu, mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu, pedati yang ditumpangi oleh ayah Manguri bersama para

pengawalnya dan Sindangsari sudah menjadi semakin jauh. Ketika para penunggang

kuda yang dipimpin oleh Ki Kebayan melintasi jalan simpang, mereka melihat bahwa

bekas roda pedati itu memang berbelok menuju kesuangan Kali Praga.

Oleh usapan angin dari Selatan, perlahan-lahan Sindangsaripun menyadari dirinya

kembali. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya beberapa orang laki-laki duduk di

sekitarnya.

Sejenak ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atasnya. Namun kemudian

ia menjadi berdebar-debar. Laki-laki yang ada disekelilingnya masih juga laki-laki yang

membawanya pergi dengan pedati itu, sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis

“Dimanakah mereka?”

Ayah Manguri yang melihat Sindangsari telah sadar, tersenyum sambil bertanya

”siapakah yang kau cari?”

“Mereka, orang-orang berkuda yang mencari aku”

“Mereka sudah lewat”

Tiba-biba saja Sindangsari bangkit sambil bertanya ”Dimana mereka, dimana?

Bukankah mereka menyusul aku atas perintah Ki Demang?”

Tetapi ayah Manguri menggeleng ”Mereka tidak mencari kau Nyai Demang. Mereka

hanya sekedar lewat di samping pedati ini”

“Tidak.Mereka pasti mencari aku”

“Tidak. Mereka sudah melihat kau tertidur di dalam pedati ini. Tetapi mereka tidak

berkata apa-apa”

Sindangsari terdiam sejenak. Namun kemudian hampir berteriak ia berkata ”Tidak,

Mereka pasti mencari aku. Dimana mereka. Dimana”

Hampir saja Sindangsari berdiri dan meloncati orang-orang yang duduk di sekitarnya.

Namun tangan ayah Manguri lebih cepat lagi menangkapnya dan mendorongnya

duduk ”Jangan menjadi bingung dan kehilangan akal. Kandunganmu harus kau ingat.

Anak di dalam perutmu itu kelak akan lahir menjadi seorang bayi. Kaulah yang

bertanggung-jawab, apakah bayimu itu sehat atau tidak”

Nyai Sindangsari terdiam sejenak.

“Karena itu, jangan berbuat sesuatu yang dapat mengganggu anak di dalam

kandungan itu”

Sindangsari tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba matanya menjadi basah. Ia merasa

bahwa ia telah di sudutkan pada suatu keadaan yang tidak dapat dihindarinya. Karena

itu, sebagai seorang perempuan, yang dapat dilakukannya, adalah sekedar menangis.

Dan Sindangsaripun menangis pula karenanya. Menangisi nasibnya yang terlampau

jelek sejak ia ditinggalkan oleh ayahnya.

Beberapa orang laki-laki yang ada di sekitarnya adalah laki-laki yang kasar. Laki-laki

yang selalu mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain membawa ternak yang

sedang diperdagangkan. Apakah mereka sedang membeli atau menjual. Di dalam

perjalanan itu, mereka terpisah dari keluarga dan isteri mereka, sehingga baik ayah

Manguri maupun para pengawalnya, kadang-kadang harus berhadapan dengan

perempuan yang sekedar dapat mengisi waktunya. Dengan demikian maka tanggapan

mereka terhadap perempuan kadang kadang tidak sewajarnya. Tetapi ketika mereka

melihat Sindangsari menangis mereka menundukkan kepala mereka. Bahkan mereka

seakan-akan dihadapkan pada suatu keadaan yang selama ini hampir tidak

dimengertinya. Kesetiaan dari seorang perempuan.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Ayah Manguripun tidak. Perempuan itu

adalah titipan anaknya yang akan diperisterikannya. Bahkan dengan susah payah

telah diculiknya dari halaman rumah Ki Demang di Kepandak.

Dengan hati yang berat, laki-laki yang ada di pedati itu terpaksa duduk diam tanpa

berbuat apapun juga. Sedang roda pedati itu masih juga berputar diatas tanah yang

berbatu-batu.

Dalam pada itu, orang-orang yang mencari Sindangsari ke segala penjuru masih juga

berkeliaran di seluruh daerah Kademangan Kepandak. Hampir setiap rumah dimasuki

oleh kelompok-kelompok yang berpencaran. Bahkan rumah-rumah yang sama sekali

tidak mengenal orang yang bernama Pamotpun telah dimasukinya.

Ibu Sindangsari yang masih ada di Kademangan hanya dapat menangis. Ayah dan

ibunya masih juga mencoba menghiburnya, meskipun hati mereka sendiri serasa

tersayat karenanya.

“Jangan bersedih” berkata ayahnya, kakek Sindangsari ”Ki Demang pasti akan

menemukannya”

Ibu Sindangsari hanya menganggukkan kepalanya. Tetapi air matanya masih tetap

mengalir membasahi pipinya.

Ki Demang sendiri duduk di ruang dalam hampir tidak bergeser sedikitpun. Wajahnya

gelap dan tegang. Dipinggangnya terselip keris pusakanya yang jarang sekali

diambilnya dari simpanan. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam sambil

mengusap dadanya, seolah-olah ingin mengendapkan perasaannya yang sedang

bergolak.

Hampir tidak sabar ia menunggu orang-orangnya yang berkeliaran di seluruh

Kademangan mencari isterinya yang hilang. Ia merasa bahwa suatu penghinaan yang

tiada taranya telah mencoreng wajahnya.

“Aku harus membunuhnya. Membunuh orang yang berani menghinakan aku,

mengambil isteriku“ ia menggeram. Namun kadang-kadang terbersit pertanyaan

“Bagaimana kalau Sindangsari pergi atas kemauannya sendiri?”

“Tidak mungkin. Tidak mungkin. Ia sudah menjadi kerasan di rumah ini ”tetapi

kemudian “Kecuali kalau Pamot telah kembali dan membujuknya untuk pergi”

“Tidak” tiba-tiba ia tersentak bangkit “itupun tidak mungkin Pamot tidak akan dapat

menghubunginya tanpa diketahui oleh orang lain di Kademangan ini, kecuali setiap

orang, termasuk para peronda sudah bersepakat dengannya. Dan itu tidak mungkin

sama sekali”

Ki Demang menggeretakkan giginya. Ia membanting dirinya dan duduk kembali di

tempatnya.

Ki Demang tersentak ketika ia mendengar derap kaki kuda. Semakin lama semakin

dekat.

Seperti anak-anak yang menunggu ibunya pulang dari pasar Ki Demang segera berlari

keluar. Bukan saja Ki Demang, tetapi juga ibu Sindangsari, kedua orang tuanya, dan

orang-orang lain yang mendengarnya.

Nyai Reksatani yang ada di Kademangan itu menjadi berdebar-debar. Kalau benar

Sindangsari dapat diketemukan, maka ia pasti akan dapat berceritera tentang dirinya.

Karena itu, dengan hati yang berdebar-debar iapun berlari-lari pula menyongsong

beberapa ekor kuda yang kemudian memasuki halaman. Orang yang paling depan

diantara mereka adaah Ki Kebayan.

Sebelum Ki Kebayan turun dari kudanya, Ki Demang sudah bertanya “Apakah kau

berhasil?”

Ki Kebayan tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia turun dari kudanya, kemudian

menyerahkan kudanya kepada salah seorang yang berdiri di halaman.

“Bagaimana?” Ki Demang mendesaknya.

Ki Kebayan yang seolah-olah mandi karena keringatnya itu melangkah mendekatinya.

Tetapi kepalanya kemudian digelengkannya sambil menjawab “Maaf Ki Demang. Aku

tidak menemukannya”

“Kau mencarinya di mana?” bertanya Ki Demang sambil membelalakkan matanya.

“Gunung Sepikul, Tikungan Kali Praga, dan kemudian terus ke Pandan Segegek”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam ”Kau tidak ikut mencarinya di Kademangan

ini?”

“Kami sudah membagi diri. Bahkan aku kira bahwa salah satu kelompok yang ada,

disini telah menemukannya”

“Kalau perempuan itu sudah di ketemukannya, aku tidak akan bertanya lagi

kepadamu”

Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Kalau begitu,

kami akan ikut mencarinya”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Temuilah salah sebuah

kelompok. Ikutlah bersama mereka”

“Baiklah” jawab Ki Kebayan. Tetapi ketika ia berpaling, dilihatnya pengiringnya yang

sudah turun pula dari kuda mereka, tampak letih dan berwajah kemerah-merahan.

Karena itu, maka katanya “Kita akan segera berangkat lagi. Tetapi baiklah kalian

beristirahat dan minum sejenak. Barangkali kalian masih haus, meskipun kalian telah

mengambil banyak sekali kelapa muda di sepanjang perjalanan”

Pengiring Ki Kebayan itu saling berpandangan sejenak. Tampaknya mereka agak

segan-segan juga. Tetapi Ki Demang sendiri kemudian berkata “Ya, minumlah dan

barangkah kalian dapat makan pula di dapur. Mintalah Nyai Reksatani”

Nyai Reksatani yang ada diantara mereka yang menyongsong orang-orang yang

datang itu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa aman, karena Sindangsari tidak di

ketemukan. Karena itu ketika ia mendengar kata-kata Ki Demang kepada orang-orang

yang mencari Sindangsari itu, dengan penuh gairah ia menyahut “Mari, marilah kalian

makan dahulu. Di dapur masih banyak sekali persediaan”

Sejenak orang-orang itu masih saling berpandangan. Namun kemudian Ki Kebayan

sendirilah yang berkata “Marilah. Aku juga akan makan lagi, meskipun ketika kami

akan berangkat, kami sudah makan lebih dahulu”

Ketika orang-orang itu pergi ke dapur, Ki Demangpun kembali ke ruang dalam dan

duduk di amben bambu. Sekali lagi ia melepaskan pandangan matanya menembus

pintu pringgitan yang terbuka, ke kejauhan. Bahkan meskipun matanya terbuka, tetapi

seakan-akan ia tidak melihat sesuatu.

Sedang ibu Sindangsari yang mendengar keterangan para penunggang kuda itupun

menjadi lemah. Derap kaki-kaki kuda itu ternyata hanya mampu menumbuhkan

pengharapannya saja. Tetapi Sindangsari masih belum diketemukan.

Sejenak kemudian, orang-orang yang sudah selesai makan itupun segera minta diri

pula kepada Ki Demang untuk melanjutkan usaha mereka mencari Sindangsari.

“Mereka pasti tidak mencari dengan teliti” desis perempuan tua yang minta orangorang

Kepandak mencari ke Gunung Sepikul, tikungan kali Praga dan ke Pandan

Segegek ”Kemanapun mereka cari, mereka tidak akan dapat menemukannya”

Tetapi perempuan tua itu tidak mengatakannya kepada Ki Demang dan kepada setiap

laki-laki yang sedang sibuk dengan usaha mereka itu.

Ternyata sekelompok laki-laki sampai pula sekali lagi ke rumah Manguri. Mereka

dipimpin sendiri oleh Ki Jagabaya. Kali ini Ki Jagabaya tidak akan mencari Sindangsari

di rumah itu, tetapi ia berkata kepada Manguri “Jadi rumah di ujung Kademangan itu

rumah ayahmu?”

“Ya” jawab Manguri.

“Siapakah yang sekarang menunggui rumah itu?”

“Kenapa”

“Kami akan mencarinya ke dalam rumah itu”

Manguri mengerutkan keningnya. Katanya “Silahkan”

“Tetapi aku tidak akan masuk tanpa seorangpun dari pemiliknya ada di sana. Apakah

ada orang yang menungguinya?”

“Mestinya ada. Tetapi hari ini mereka tidak ada di rumah itu. Mungkin sore nanti

mereka akan datang. Di siang hari kami tidak merasa perlu untuk menungguinya”

“Ya, kami telah sampai ke tempat itu. Tetapi gubug itu kosong. Meskipun ada

beberapa ekor ternak yang terikat di patok-patok, tetapi tidak ada seorangpun

dipekarangan itu”

“Ya. Sebagian besar dari orang-orang kami mengikuti ayah sejak beberapa hari. Yang

lain masih belum datang”

“Sekarang, kami akan membuka gubug itu. Antarkan kami”

“Silahkan. Tanpa seorangpun dari kami, gubug itu dapat saja dibuka”

“Tidak. Aku tidak mau timbul dugaan yang bukan-bukan. Kalian dapat saja membuat

ceritera tentang kami yang membuka rumah kalian tanpa seorangpun dari kalian yang

menunggui kami”

Manguri mengerutkan keningnya. Dipandanginya Lamat sejenak. Lamat yang berdiri di

sampingnya dengan kepala tertunduk, sehingga botaknya menjadi semakin jelas

tampak di antara ikat kepalanya yang tidak menutup kepala itu rapat-rapat.

“Lamat” berkata Manguri”kita akan pergi ke gubug itu”

Lamat mengangkat wajah. Kemudian kepala itupun terangguk-angguk.

“Marilah Ki Jagabaya. Kami antarkan kalian kesana”

“Ya. Dua orang kami masih tinggal di sana”

Merekapun kemudian pergi bersama-sama ke ujung Kademangan itu. Ki Jagabaya

masih saja mencurigai, kalau-kalau Manguri menyembunyikan Sindangsari dimanapun

juga.

Ditunggui oleh Manguri dan Lamat. Ki Jagabaya bersama dengan orang-orangnya

telah memasuki gubug itu. Ternyata mata Ki Jagabaya yang tajam, dapat melihat juga

pintu yang berada di belakang gledeg. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya

”Apakah itu sebuah pintu?”

Manguri tidak dapat ingkar. Jawabnya ”Ya”

“Kenapa ditaruh gledeg di mukanya? Bukankah dengan begitu, pintu itu sukar dibuka?”

“Ya”

“Kenapa? Dan apakah ada seseorang di dalam bilik yang sengaja dirahasiakan itu?”

Manguri menggigit bibirnya. Untunglah bahwa Sindangsari sudah disingkirkan. Kalau

belum. Dan apalagi seperti yang dikatakan oleh ayahnya, bahwa orang yang datang ke

rumah itu pasti tidak akan memperhatikan pintu itu, maka keadaan Kademangan

Kepandak pasti akan segera berubah. Mungkin segera akan timbul kerusuhan dan

perkelahian.

“He, apakah ada seseorang di dalam bilik itu?” desak Ki Jagabaya.

Manguri menggelengkan kepalanya ”Tidak” jawabnya.

“Kenapa pintu itu tertutup rapat?”

“Bilik di balik pintu kosong” jawab Manguri.

“Seandainya benar kosong, kenapa ayahmu membuat bilik rahasia itu?”

“Sama sekali bukan bilik rahasia. Bilik itu adalah bilik biasa. Tetapi karena rumah ini

jarang sekali dipergunakan oleh keluarga kami, maka bilik itupun jarang sekali dibuka,

sehingga orang meletakkan perkakas di tempat yang tidak semestinya. Bahkan di

muka pintu sekalipun”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian kepada orang-orang yang datang

bersamanya ia berkata ”Bukalah pintu itu. Singkirkan dahulu geledeg itu”

Beberapa orangpun kemudian menyingkirkan geledeg itu, sehingga pintu itu tidak

tertutup lagi.

Ki Jagabaya sendirilah yang kemudian mendekati pintu itu. Perlahan-lahan ia

mendorong ke samping, sehingga akhirnya pintu itu terbuka sama sekali.

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia melihat pembaringan yang kusut. Tikar yang

menyingkap dan sebagian telah menyentuh lantai.

“Ruangan ini terlampau pengab” katanya.

“Ya. Ruangan ini memang jarang sekali dipakai. Biasanya ayah sajalah yang tidur

disini, apabila karena sesuatu hal ia harus menunggui ternak disini. Mungkin ayah

sedang terikat oleh suatu pembicaraan dengan seseorang yang akan membeli atau

sebaliknya menjual ternaknya ke tempat ini”

Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi diamatinya ruangan itu dengan saksama.

Hati Manguri menjadi berdebar-debar ketika tangan Ki Jagabaya memungut sesuatu

dari pembaringan itu. Tusuk konde.

“Gila” Manguri mengumpat di dalam hatinya ”Tusuk konde itu agaknya terjatuh dari

sanggul Sindangsari selagi ia meronta-ronta”

“Manguri” desis Ki Jagabaya ”apakah kau pernah melihat benda serupa ini”

“Ya” jawab Manguri. Terasa keringat dingin telah membasahi punggungnya. Tanpa

setahu Ki Jagabaya Manguri berpaling memandang wajah Lamat. Tetapi agaknya

Lamat berusaha untuk menghapuskan setiap kesan di wajahnya.

“Kau mengerti, apakah ini?” sekali lagi Ki Jagabaya bertanya.

“Ya” jawab Manguri.

“Sebut, apa namanya?”

“Tusuk konde“ Manguri masih juga berusaha untuk tersenyum “apakah Ki Jagabaya

menyangka aku belum pernah berkenalan dengan perempuan”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Aku tahu, bahwa kau

banyak berkenalan dengan gadis-gadis. Bukan sekedar berkenalan. Dan bahkan

bukan sekedar gadis-gadis. Kau adalah laki-laki yang rakus”

Wajah Manguri menjadi merah padam. Sejenak ia memandang Ki Jagabaya dengan

tajamnya. Bagaimanapun juga kata-kata itu telah menyinggung perasaannya.

Tetapi tiba-tiba wajah itu mengendor. Sebelum Ki Jagabaya melihat ketegangan itu,

Manguri justru sudah tersenyum karenanya. Ia dengan demikian, seolah-olah

mendapat petunjuk dari Ki Jagabaya, bagaimana ia harus menangani keadaan.

“Apakah kau tahu Manguri” bertanya Ki Jagabaya selanjutnya “Tusuk konde siapakah

yang terjatuh ini”

Manguri masih saja tersenyum.

“Tusuk konde siapa?” ia mendesak.

“Ah. Kenapa Ki Jagabaya mengurus tusuk konde itu?”

“Aku sedang mencari seorang perempuan. Kau mengerti”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan suara yang dalam ia bertanya

“Jadi, Ki Jagabaya mengira, bahwa tusuk konde itu milik Sindangsari, eh, Nyai

demang?”

“Bukan begitu. Aku justru bertanya kepadamu. Tetapi pantas juga aku mencurigai

bahwa Nyai Demang pernah kau sembunyikan disini. Nah, jawab, tusuk konde

siapakah itu?”

“Sebenarnya aku malu untuk menyebutkannya. Tetapi aku minta Ki Jagabaya jangan

mengatakan kepada ayah, kalau ayah kelak pulang” Manguripun berpaling sambil

berkata kepada Lamat “jangan kau katakan kepada ayah”

Lamat mengerutkan keningnya.

“Jangan kau katakan kepada ayah, kau dengar?” bentak Manguri.

“Ya, ya. Aku tidak akan mengatakannya. Tetapi apakah soalnya?”

“Tusuk konde itu” sahut Manguri. Lalu katanya kepada Ki Jagabaya “Kemarin aku

membawa seorang perempuan ke tempat ini. Aku tidak sempat membenahi tempat ini,

dan ternyata tusuk kondenya telah terjatuh disini. Adalah kebetulan sekali kini tusuk

konde itu diketemukan. Kalau ayah yang menemukannya, maka aku akan

dimarahinya”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam. Dipandanginya wajah

Manguri dan tusuk konde itu berganti-ganti.

“Lamat” berkata Manguri “buanglah tusuk konde itu jauh-jauh. Kalau ayah kelak

mengetahuinya, maka kaulah yang harus bertanggung jawab”

“Anak setan” desis Ki Jagabaya “kerakusan ayahmu menurun kepadamu”

Manguri tidak menyahut. Tetapi sekali lagi ia berkata kepada Lamat “Buanglah tusuk

konde itu”

“Buanglah“ Ki Jagabayapun segera melemparkan tusuk konde itu ke depan kaki

Lamat. Diusapkannya tangannya pada tiang, seolah-olah ia ingin menghilangkan

bekas-bekas sentuhannya dengan tusuk konde yang kotor itu.

Dengan ragu-ragu Lamat membungkukkan kepalanya memungut tusuk konde itu.

Kemudian iapun melangkah keluar membawa tusuk konde itu ke sudut halaman

belakang.

“Kita harus segera keluar dari bilik keparat ini” geram Ki Jagabaya sambil

melangkahkan kakinya. Tetapi sekali lagi ia tertegun. Diamatinya seutas tali yang

terkapar di lantai bilik itu. Namun kemudian ia tidak memperhatikannya lagi. Bilik itu

baginya adalah bilik yang sangat kotor, dikotori oleh kelakuan Manguri yang gila.

Perlahan-lahan ia berdesis “Kalau kau anakku, Manguri. Aku cekik kau sampai mati”

Manguri tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tersipu-sipu. Meskipun demikian ia tertawa

di dalam. hati, karena ia berhasil melenyapkan bekas yang hampir saja menjeratnya.

Ki Jagabayapun dengan tergesa-gesa dan dengan wajah yang merah telah keluar dari

rumah itu. Kemudian tanpa minta diri kepada Manguri iapun pergi meninggalkannya.

Terbayang di kepalanya, suatu permainan yang paling kotor yang telah terjadi di dalam

bilik itu selagi ayahnya tidak ada di rumah.

“Anak itu benar-benar anak setan yang liar. Ayahnya terlalu sering meninggalkannya

sehingga ia telah kehilangan pengawasan orang tuanya. Apalagi orang tuanya sendiri

bukanlah orang tua yang baik, yang dapat memberikan contoh yang baik pula kepada

satu-satunya anak laki-laki” katanya hampir menggeram.

Para pengiringnya tidak menyahut. Tetapi merekapun meninggalkan tempat itu pula

dengan tergesa-gesa, seolah-olah justru merekalah orang-orang yang harus segera

menyembunyikan diri, karena mereka telah dikejar oleh utusan Ki Demang di

Kepandak.

Sepeninggal orang-orang itu, Manguri tidak dapat menahan tertawanya. Seperti orang

yang mendapat permainan yang sangat menyenangkan ia tertawa berkepanjangan.

Lamat berdiri saja termangu-mangu di sampingnya. Suara tertawa Manguri itu semakin

lama terasa semakin bising di telinganya. Tetapi ia tidak berani mencegahnya.

“He, Lamat. Dimana tusuk konde itu he?”

“Aku buang ke parit di belakang dinding batu kebun belakang”

“Bodoh kau”

“Kenapa?”

“Ambil, ambil tusuk konde itu sebelum hanyut” Lamat tidak segera mengerti maksud

Manguri, sehingga karena itu ia masih saja berdiri termangu-mangu.

“Cepat ambil. Kenapa kau berdiri saja seperti patung?”

Meskipun Lamat masih belum tahu maksud Manguri yang sebenarnya, namun ia pergi

juga mengambil tusuk konde itu. Untunglah bahwa tusuk konde itu masih belum hanyut

terlalu jauh, karena parit itupun hanya mengalir terlampau kecil.

“Tusuk konde itu harus kita musnahkan”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini baru ia tahu maksud Manguri. Tusuk

konde itu tidak boleh menjadi barang bukti, bahwa Sindangsari pernah berada di

tempat ini

“Kalau Ki Jagabaya menyadari keadaannya, kemudian berusaha mendapatkan tusuk

konde itu, dan ditunjukkannya kepada Ki Demang atau ibunya yang barangkah

mengenalnya, maka kita pasti akan menemui kesulitan. Aku sudah mengorbankan

diriku untuk dihinakannya karena aku mengatakan, bahwa aku membawa seorang

perempuan ke dalam bilik ini” berkata Manguri kemudian.

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya, tusuk konde ini memang

harus dihancurkan”

“Tusuk konde itu terbuat dari penyu. Bakar sajalah”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian menyalakan api di kebun

belakang, dan melemparkan tusuk konde penyu itu ke dalamnya. Sejenak kemudian

maka baunya telah membubung memenuhi halaman itu.

“Kita sudah melenyapkan bukti itu” berkata Manguri “ternyata kau sama sekali tidak

bekerja dengan baik. Seharusnya ketika kau mengambil Sindangsari dari bilik itu, tidak

boleh ada sesuatu yang ketinggalan, yang dapat memberikan suatu petunjuk. Tusuk

konde dan tali pengikat itu hampir saja menyeret kita ke dalam kesulitan”

“Aku sangat tergesa-gesa. Dan aku tidak biasa melakukan pekerjaan serupa itu”

“He, kau sangka aku biasa melakukannya? Itu hanya karena otakmu memang

terlampau tumpul”

Lamat tidak menjawab.

“Nah, singkirkan tali di dalam bilik itu, dan benahi tikar serta ambennya”

“Baik”

Ketika Lamat memasuki bilik itu, Manguri kemudian berjalan hilir mudik di depan

gubugnya. Sekilas terbayang wajah Sindangsari yang sedih dan pucat. Dan sekilas

wajah Ki Demang di Kepandak yang merah padam.

“Ki Demang benar-benar akan mencari isterinya sampai ketemu” desis Manguri. Dan

tanpa sesadarnya terasa bulu tengkuknya meremang. Ki Demang adalah orang yang

tidak ada duanya di daerah Selatan ini.

“Aku mempunyai Lamat” geramnya “Lamat yang mempunyai tenaga sekuat kerbau itu

pasti akan mampu melawan Ki Demang betapapun tinggi ilmunya. Apalagi kalau aku

sempat membantunya. Aku dapat mempergunakan otakku, sedang Lamat akan

mempergunakan tenaganya”

Sejenak kemudian Lamatpun sudah selesai dengan tugasnya. Iapun segera menutup

semua pintu lalu mendekati Manguri sambil bertanya “Sekarang, apakah yang akan

kita lakukan”

“Kita kembali. Kita mengharap utusan ayah segera datang, supaya kita dapat

memberitahukan apa yang telah terjadi disini”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Banyak kemungkinan yang bakal terjadi di sini” berkata Manguri “sehingga karena itu,

Sindangsari harus disembunyikan jauh sekali”

Lamat tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“He, apakah kau tidak mendengar”

Lamat mengangkat wajahnya. Katanya “Ya, aku mendengar. Nyai Demang memang

harus di sembunyikan jauh sekali. Ki Demang agaknya akan menyebar orangorangnya

ke segenap penjuru daerah Selatan ini. Ke Kademangan-kademangan

tetangga, bahkan mungkin sampai ke seberang Sungai Opak dan Praga.

Manguri tidak menyahut. Tetapi ia merasa ngeri juga. Sejak semula ia memang sudah

menyangka, bahwa Ki Demang pasti akan marah dan mencari Sindangsari. Tetapi

tidak terbayang di dalam kepalanya, bahwa suasana Kademangan Kepandak seakanakan

seperti sedang dalam keadaan perang. Kuda-kuda berkeliaran hilir mudik. Orangorang

yang bersenjata di lambung dan mata yang merah pada wajah-wajah yang

tegang.

“Marilah, kita segera pulang. Orang-orang itu masih belum juga datang” desis Manguri

kemudian.

“Siapa?” bertanya Lamat.

“Orang-orang itu. Orang-orang yang semalam ikut serta ke Kademangan”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Mereka mungkin telah

menyingkir atau pulang ke rumah masing-masing”

“Mereka orang yang berdatangan dari kejauhan”

“Ada yang rumahnya di Kademangan tetangga. Mungkin mereka singgah di rumah

kawan-kawannya itu sampai keadaan menjadi tenang”

“Mungkin mereka sudah ada di rumah sekarang”

Lamat tidak menyahut lagi. Merekapun kemudian dengan tergesa-gesa pulang ke

rumah Manguri. Ditinggalkannya lagi ternak dan segala isi halaman itu tanpa

seorangpun yang menungguinya.

Dalam pada itu, hampir setiap rumah di Kademangan Kepandak telah dimasuki. Tetapi

tidak seorangpun dari orang-orang yang mencari Sindangsari itu menemukannya.

Bahkan bekasnyapun tidak, seolah-olah perempuan itu telah hilang lenyap.

Ki Jagabaya, Ki Kebayan, semua laki-laki yang mengelilingi Kademangan Kepandak,

menjadi semakin panas. Mereka merasa diri mereka menjadi semakin kecil karena

mereka sama sekali tidak berhasil menemukan seorang saja yang telah hilang dari

Kademangan.

“Gila“ Ki Jagabaya mengumpat-umpat “apakah Sindangsari benar telah ditelan setan?”

Pengiring-pengiringnya tidak menyahut. Wajah-wajah merekapun menjadi tegang dan

kemerah-merahan.

“Kemana lagi kita harus mencari?” geram Ki Jagabaya “semua rumah dan bahkan

kandang-kandang lembu dan kandang kuda telah kita masuki.

Daerah yang diserahkan kepada kita agaknya sudah habis kita lihat. Tetapi kami tidak

menemukan apa-apa.

Jilid 7 – Bab 6 : Di Perbatasan

Para pengiringnya hanya menganggukanggukkan

kepalanya saja. Mereka tetap berdiam

diri, meskipun hati mereka bergejolak pula seperti

Ki Jagabaya.

“Tidak masuk akal“ Ki Jagabaya masih saja

menggerutu “nasinya masih belum selesai

dimakan ketika ia tiba-tiba saja hilang dari

Kademangan. Tidak masuk akal”

Sementara itu, di bagian lain dari Kademangan

Kepandak, Ki Reksatani yang yakin bahwa

Sindangsari sudah tidak ada di Kademangan

Kepandak itupun telah memasuki setiap rumah

pula. Bahkan dengan lantang ia berteriak-teriak

“Siapa yang diketemukan menyembunyikan Nyai

Demang atau menyediakan tempat baginya, akan

dihukum seberat-beratnya. Tetapi apabila dalam

kesempatan ini ia berterus terang dan

menunjukkan tempat persembunyiannya, maka

kesalahannya akan dimaafkan”

Tetapi sudah tentu tidak ada seorangpun yang datang kepadanya dan menunjukkan

tempat Nyai Demang di Kepandak.

“Kemana lagi kita harus mencari?” desisnya kemudian dengan nada dalam “aku tidak

sampai hati melihat kakang Demang menjadi bersedih. Lima kali ia kawin, semuanya

tidak dapat memberikan keturunan kepadanya. Kini ketika isterinya yang keenam

mengandung, perempuan itu lenyap begitu saja”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana ia dapat hilang begitu saja. Nasi yang

sudah disenduknya masih belum seluruhnya dimakannya ketika tiba-tiba saja ia

lenyap” desis Ki Reksatani pula.

Beberapa orang kawannya hanya dapat mengangguk-angguk dan menganggukangguk

saja. Merekapun tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadiatas Nyai

Demang yang hilang selagi ia belum selesai makan itu.

“Tetapi” tiba-tiba seseorang di antara mereka berkata “apakah Nyai Demang sudah

dicari di dalam ruangan itu?”

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Anak di rumah sebelah pernah juga di sangka hilang. Tetapi ternyata ia berada di

kolong pembaringannya. Agaknya ia memang di sembunyikan oleh hantu, karena

untuk beberapa lama ia tidak dapat berbicara”

“Bukan hanya kolong pembaringan. Di semua tempat sudah dicari. Perempuanperempuan

dan laki-laki tua mencarinya sambil memukul perampi, bakul dan pisau.

Tetapi perempuan itu tidak di ketemukannya”

Kawan-kawannyapun terdiam. Tidak ada lagi yang mengatakan sesuatu. Sejenak

kemudian merekapun meneruskan perjalanan mereka dengan kepala tunduk, seperti

serombongan orang-orang yang mengantarkan mayat ke kuburan.

Di bagian lain, setiap kelompok menjadi gelisah pula, karena mereka tidak menemukan

orang yang mereka cari.

“Mungkin Nyai Demang kini sudah ada di kademangan” berkata seseorang.

“Tentu ada tanda-tanda yang dibunyikan. Kentongan misalnya”

Kawannya yang berbicara mula-mula itupun mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya.

Tentu ada tanda-tanda”

“Lalu, apakah yang sebaiknya kita lakukan sekarang. Tidak ada tempat bagi yang

terlampaui. Bahkan kita sudah mencarinya di kuburan kalau-kalau ia di sembunyikan

atau bersembunyi di sana”

Tidak ada yang menjawab. Dan merekapun berjalan terus, seakan-akan tanpa tujuan.

Hari itu Kademangan Kepandak telah benar-benar dibakar oleh kegelisahan. Suaranya

benar-benar seperti suasana perang, seakan-akan mereka sedang menunggu

sepasukan musuh yang akan memasuki Kademangan itu dari segala penjuru.

Tetapi akhirnya, orang-orang yang mencari Sindangsari itupun sampai pada suatu

kesimpulan, bahwa mereka tidak dapat menemukan perempuan itu di dalam daerah

Kademangan Kepandak. Bagaimanapun juga mereka harus melihat suatu kenyataan,

bahwa di setiap rumah, di setiap gubug dan bahkan di setiap kandang yang sudah

mereka masuki, mereka tidak menemukan Sindangsari.

Dengan demikian, meskipun hati mereka sangat berat, namun merekapun akhirnya

kembali pula ke Kademangan. Dengan kepala tunduk, sekelompok demi sekelompok

memasuki halaman Kademangan, seperti pasukan-pasukan yang pulang dari

peperangan tanpa membawa kemenangan.

“Bagaimana usaha kalian?” bertanya Ki Demang kepada Ki Jagabaya yang telah

kembali ke Kademangan pula.

Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya ”Maaf Ki Demang Aku sudah berusaha sejauh

dapat aku lakukan. Tetapi aku masih belum menemukannya”

Wajah Ki Demang menjadi merah padam. Katanya “Soalnya bukan sekedar aku

kehilangan seorang istri. Tetapi kini sudah dihinakan oleh keadaan ini. Seolah-olah di

Kademangan Kepandak ini tidak ada seorang laki-lakipun yang dapat melindungi

seorang perempuan”

Ki Jagabaya tidak menyahut.

“Bagaimana kau Reksatani?”

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia memandangi kawan-kawannya.

Kemudian jawabnya “Kami tidak dapat menemukan pula kakang. Semua rumah sudah

aku masuki. Semua pintu sudah terbuka. Tetapi kami tidak dapat menemukannya”

“Persetan“ Ki Demang menggeram “aku yakin yang lainpun akan menjawab seperti itu

pula. Ayo, siapa yang mempunyai jawaban lain?”

Tidak seorangpun yang duduk di pendapa Kademangan itu yang berani mengangkat

wajahnya. Semuanya tunduk tepekur dengan hati yang berdebar-debar. Mereka sadar,

bahwa Ki Demang kini benar-benar sudah sampai pada puncak kemarahannya.

“Baiklah” berkata Ki Demang kemudian “aku besok akan mencarinya sendiri. Sebentar

lagi senja akan turun. Aku tidak akan dapat banyak berbuat di malam hari. Tetapi, aku

tidak mau terjebak oleh waktu. Karena itu, setiap lorong yang keluar dari Kademangan

Kepandak di segala padukuhan harus dijaga. Kalau hari ini Sindangsari masih ada di

Kademangan ini, jangan sampai malam nanti ia berhasil dibawa keluar atau kalau ia

sengaja lari atas kehendak sendiri, ia tidak akan dapat pergi dari daerah ini”

Semua kepala terangguk-angguk.

“Bukan hanya itu. Yang lain harus memencar ke daerah di sekitar Kademangan ini.

Mungkin kalian bertemu dengan seseorang yang membawanya. Kalau karena

kelicinannya ia dapat membawanya keluar, maka di sepanjang jalan kalian mungkin

akan menjumpainya”

Sekali lagi semua kepala terangguk-angguk.

“Terserah kepada kalian, bagaimana kalian akan membagi diri. Akupun akan keluar

malam ini. Sendiri.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ki Reksatani,

kemudian kepada orang-orang lain, tampaklah kegelisahan yang membayang di setiap

wajah.

“Sekarang beristirahatlah. Semua pertunjukan dibatalkan. Tetapi kalian dapat makan

dari semua persediaan yang ada di dapur”

Ki Demang tidak menunggu lagi. Iapun segera bangkit dan melangkah masuk.

Di ruang dalam ia melihat ibu Sindangsari yang duduk sambil mengusap air matanya di

samping kedua orang tuanya. Ki Demang tertegun sejenak. Kemudian

menghampirinya sambil berkata “Maaf. Hari ini aku belum sempat menemukannya.

Tetapi aku berjanji, bahwa aku harus mendapatkannya. Kapan saja dan dimana saja.

Kalau perlu aku akan meninggalkan Kademangan ini mengelilingi Tanah Mataram dari

ujung sampai ke ujung. Pengembaraan ini tidak akan berakhir sebelum aku

menemukan isteriku”

Ibu Sindangsari mencoba untuk tersenyum. Jawabnya “Terima kasih. Tetapi Ki

Demang tidak akan dapat meninggalkan tugas Ki Demang di sini sebagai pemegang

kemudi”

“Aku dapat menitipkannya kepada Reksatani. Ia adalah adikku. Dan iapun berhak pula

atas Kademangan ini. Ia dapat mengganti aku dalam wewenang dan hak yang sama,

apabila aku tidak kembali lagi ke Kademangan ini”

“Taruhan itu terlampau berat Ki Demang”

“Tetapi buat apa aku tetap berada disini? Seandainya aku bertahan di dalam

kedudukanku buat apakah sebenarnya? Aku bukan orang yang paling baik di

Kademangan ini. Aku bukan satu-satunya orang yang dapat mengemudikannya dan

aku bukan satu-satunya orang yang berhak. Kalau aku kehilangan isteriku yang

sedang mengandung itu, aku sudah kehilangan semua harapan untuk mendapatkan

keturunan. Tidak akan ada orang yang kelak dapat menggantikan kedudukannya

sebagai seorang Demang. Dengan demikian maka kedudukan itu pasti akan berpindah

pula kepada Reksatani atau anak-anaknya. Dan aku tidak tahu, apakah ia justru tidak

lebih baik daripadaku untuk memimpin Kademangan ini. Ia adalah orang yang rajin

yang bercita-cita dan berpikiran hidup. Mungkin ia akan lebih baik daripadaku disini”

“Tetapi keputusan itu terlampau tergesa-gesa Ki Demang. Kini Ki Demang sedang

dibayangi oleh kegelapan hati”

“Mungkin, dan aku akan berpikir kembali. Tetapi bagaimanapun juga, aku harus

menemukan isteriku”

Ibu Sindangsari tidak menyahut lagi. Di pandanginya wajah Ki Demang yang kemudian

menunduk. Tampaklah betapa hatinya sedang dilanda oleh kegelisahan dan

kebingungan.

Setapak demi setapak Ki Demang itupun kemudian meninggalkan ibu mertuanya.

Kepalanya masih juga tertunduk dan hatinya bahkan menjadi semakin risau.

Namun tiba-tiba Ki Demang itu menggeram “Aku harus menemukannya. Harus.

Apapun yang akan terjadi”

Ketika bayangan gelap mulai meraba wajah Kademangan Kepandak, maka Ki

Demangpun segera bersiap. Malam itu ia ingin keluar dan pergi kemana saja. Ia tidak

ingin ditemani oleh siapapun juga, supaya ia dapat berbuat sesuka hatinya.

Demikianlah, ketika malampun turun, beberapa orang telah memencar untuk

mengawasi semua jalan keluar dan masuk Kademangan Kepandak. Tidak ada sebuah

lorongpun yang terlampaui. Bahkan pematang-pematang di tengah sawahpun

mendapat pengawasan yang saksama. Tidak ada seorangpun yang dapat keluar dari

Kademangan tanpa melalui pengawasan.

Lamat yang ketika senja turun berada di sawah, melihat betapa orang-orang

Kademangan Kepandak menjadi sibuk sejak malam menjadi gelap. Sambil

mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata kepada diri sendiri “Alangkah

pengecutnya aku ini. Kalau aku memiliki keberanian untuk melupakan kepentinganku

sendiri kalau aku mempunyai keberanian untuk melupakan budi itu, aku dapat berbuat

sesuatu. Orang-orang di Kepandak tidak perlu menjadi kebingungan seperti sarang

semut yang tersentuh api. Aku cukup datang kepada Ki Demang di Kepandak dan

mengatakan di mana Sindangsari itu berada. Ki Demang pasti akan segera bertindak”

Tetapi Lamat menggelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri pula “Alangkah

jahatnya aku ini. Keluarga ini sudah melepaskan aku dari bencana. Umurku sudah

disambungnya. Dan aku tidak akan dapat mengkhianatinya”

Ketika terbayang olehnya wajah Sindangsari yang pucat dan ketakutan di hadapan

mata Manguri yang membara, Lamat memejamkan matanya. Sambil menggelenggelengkan

kepalanya ia berdesis “Tidak. Itu tidak boleh terjadi”

Namun kemudian melonjak sebuah pertanyaan di hatinya “Kalau itu terjadi, apakah

yang akan kau lakukan?”

Tubuh Lamat terasa menjadi lemah. Hampir tidak bertenaga ia terduduk diatas

pematang berpegangan pada tangkai cangkulnya. Ia tidak menghiraukan lagi ketika

terasa kakinya menjadi basah karena air di sawah itu menjadi semakin tinggi, bahkan

ketika ujung kainnya yang berjuntai di antara kedua kakinyapun menjadi basah pula.

Dalam pada itu, Ki Demangpun telah berjalan menyusuri jalan-jalan Kademangan. Ia

tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tetapi ia berjalan juga dari satu padukuhan ke

padukuhan yang lain. Para peronda yang melihatnya hanya dapat menganggukkan

kepalanya saja, karena Ki Demang tidak mau menjawab pertanyaan apapun selain

berkata “Aku akan berjalan-jalan”

Di tiap-tiap mulut lorong, dua atau tiga orang yang mengawasi orang yang lewat, masih

sempat berganti-gantian tidur. Yang satu tidur, yang satu berjaga-jaga.

Atau yang dua tidur, yang satu berjaga-jaga. Mereka masih dapat, meskipun hanya

sekejap beristirahat untuk melepaskan lelah.

Tetapi Ki Demang di Kepandak tidak demikian. Ia tidak mempunyai seorang kawanpun

yang dapat membantunya, menggantikannya berjalan sepanjang jalan-jalan

padukuhan. Tidak seorangpun yang dapat membantunya memikul beban yang terasa

sangat berat menghimpit dadanya.

Di sepanjang jalan, seakan-akan telah terbayang kembali, apa yang telah terjadi

sepanjang umurnya. Terutama sejak ia menjadi seorang Demang menggantikan

kedudukan ayahnya.

Ki Demang menundukkan kepalanya kalau terbayang kembali di kepalanya,

bagaimana ia telah mengambil enam orang perempuan berturut-turut menjadi

isterinya. Beberapa orang di antaranya sama sekali tidak berkeberatan, bahkan ada

yang dengan bangga menepuk dada, bahwa ia akan menjadi isteri Demang di

Kepandak. Tetapi yang lain, perkawinan itu sama sekali tidak memberikan

kebahagiaan. Ia telah merampas perempuan-perempuan itu dari laki-laki yang telah

saling mencintai. Ia telah merusakkan hati sepasang manusia yang sedang membina

pengharapan di hari-hari mendatang.

Tetapi tidak seorangpun yang dapat menentang kekuasaan. Selain ia seorang

Demang yang berkuasa, iapun seorang laki-laki yang hampir tidak ada bandingnya di

daerah Selatan ini.

Baru sekarang Ki Demang mencoba melihat kembali, apakah yang sebenarnya telah

terjadi itu. Alangkah sakitnya seseorang yang tiba-tiba saja harus berpisah dengan

orang-orang yang dikasihinya. Seperti yang dialaminya kini meskipun ia bukan seorang

suami yang sebenarnya bagi Sindangsari. Tetapi kehidupan mereka yang mulai

tenang, telah menumbuhkan suatu ikatan bagi keduanya, terutama bagi Ki Demang di

Kepandak.

Semuanya itu seolah-olah terbayang kembali di hadapannya. Jelas sekali. Satu

persatu isterinya membayang di dalam kegelapan. Seorang dari mereka, seperti pada

saat ia masih menjadi isterinya, telah memaki-makinya dengan kata-kata yang paling

menyakitkan hati, sehingga hampir saja perempuan itu dibunuhnya. Tetapi seorang

diantara mereka, menyimpan segala derita di dalam hati, Sehingga akhirnya ia tidak

dapat melawan kepahitan hidup. Perlahan-lahan ia telah dicekik oleh maut. Beberapa

lama ia menderita sakit, sehingga sampai juga pada saatnya, perempuan itu

meninggal dunia.

Akhirnya ia menjumpai Sindangsari. Ia telah merenggut perempuan itu dari tangan

seorang laki-laki yang dicintainya dengan paksa. Dengan menengadahkan dadanya, ia

berkata “Tidak ada seorangpun yang dapat melawan kehendakku”

Namun perkawinan itupun hampir saja menumbuhkan pembunuhan ketika Ki Demang

sadar, bahwa isterinya itu telah mengandung, justru dengan laki-laki yang dicintainya.

Laki-laki yang telah di singkirkannya. Bahkan di jerumuskannya ke dalam jeratan maut.

Tetapi apa yang terjadi kemudian. Ketika ia sudah mulai memahami kenyataan tentang

bayi di dalam kandungan itu, tiba-tiba isterinya telah hilang. Hilang tanpa diketahui

kemana.

Ki Demang itu menggeretakkan giginya. Ternyata kekuasaan yang ada padanya tidak

mampu mempertahankan perempuan yang telah direnggutnya itu.

“Aku telah berdosa dua kali lipat“ seolah-olah terdengar suara dari dalam sudut hatinya

yang paling dalam “Aku sudah mengambilnya dari laki-laki yang dicintainya dan kini

aku tidak dapat melindunginya”

Kepala Ki Demang menjadi semakin tunduk karenanya. Di pandanginya ujung kakinya

yang melangkah satu-satu diatas tanah yang berpasir.

“Tetapi bagaimana kalau perempuan itu sengaja melarikan diri karena Pamot sudah

pulang atau sudah ada isyarat daripadanya?” pertanyaan itu telah mengganggunya

pula.

“Aku bunuh perempuan itu” geram Ki Demang “kalau ia sengaja

menghinakan aku, aku bunuh ia bersama laki-laki itu”

Tiba-tiba Ki Demang menggeretakkan giginya. Namun kemudian ia menarik nafas

dalam-dalam. Dirabanya dadanya dengan telapak tangannya, seakan-akan ingin

menjaga agar dada itu tidak meledak.

Langkah Ki Demang terhenti ketika ia melihat dua orang duduk diatas rerumputan di

pinggir lorong. Di sampingnya seorang lagi berbaring di bawah selimut kain panjang

yang menutup seluruh tubuhnya.

“Selamat malam Ki Demang“ salah seorang dari mereka telah menegurnya.

Ki Demang memandang kedua orang yang kemudian berdiri di hadapannya.

“Kami mendapat tugas disini Ki Demang” berkata seorang yang lain.

“Terima kasih atas kesediaan kalian” gumam Ki Demang. Tetapi kata-kata itu rasarasanya

seperti begitu saja meloncat dari mulutnya. Tanpa bertanya apapun lagi, Ki

Demang itupun kemudian berbalik dan melangkah pula dengan kepala tunduk

menyelusuri jalan di Kademangannya.

“Kasihan” desis salah seorang dari kedua orang yang bertugas mengawasi jalan itu.

“Ia menjadi terlampau bingung. Lima isterinya tidak memberikan keturunan untuknya”

Kedua orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun kemudian duduk

kembali diatas rerumputan.

“Ketika aku dengar ia mengambil seorang gadis yang sebenarnya telah saling

mencintai dengan seorang laki-laki Gemulung, aku mengumpatinya. Tetapi sekarang,

aku menaruh kasihan juga kepadanya”

Kawannya tidak menyahut. Dipandanginya saja Ki Demang yang seakan-akan menjadi

semakin kabur dan hilang di dalam kegelapan malam.

Ternyata, seperti orang yang kehilangan perasaan, Ki Demang berjalan hampir

semalam suntuk. Baru ketika fajar membayang di langit, ia melangkahkan kakinya

kembali ke Kademangan, setelah di dalam perjalanannya yang hampir semalam

suntuk tidak dijumpainya sesuatu yang berhubungan dengan hilangnya isterinya.

Hati Ki Demang itu menjadi semakin pudar ketika ia memasuki ruangan dalam

rumahnya, di lihatnya ibu Sindangsari masih duduk di amben tengah. Agaknya

perempuan yang telah kehilangan anak satu-satunya itupun tidak dapat tidur semalam

suntuk.

Tetapi ibu Sindangsari itu sama sekali tidak bertanya sesuatu kepada Ki Demang. Ia

tahu, bahwa Ki Demang tidak menemukan anaknya. Kalau ia menemukan

Sindangsari, maka Sindangsari, pasti sudah dibawanya pulang.

Namun justru karena itu, Ki Demang menjadi semakin merasa, seakan-akan ibu

Sindangsari meletakkan semua kesalahan kepadanya.

Perlahan-lahan Ki Demang memasuki biliknya. Ia mencoba berbaring sejenak tanpa

berganti pakaian. Tanpa mencuci kaki dan tanpa melepaskan kerisnya dari

lambungnya.

Tetapi hatinya seakan-akan justru menjadi semakin gelap. Atap rumahnya yang sudah

berpuluh-puluh tahun ditatapnya, sama sekali tidak memberikan kesegaran apapun

baginya.

Seperti tidak disadari Ki Demang itupun berdiri dan berjalan sambil menundukkan

kepalanya ke bilik isterinya. Di muka pintu ia tertegun sejenak. Memang tidak lajim,

bahwa sepasang suami isteri mempunyai dua bilik yang berbeda. Tetapi demikianlah

yang dialaminya. Sejak isterinya yang pertama sampai isterinya yang ke enam, Ki

Demang selalu tidur di biliknya sendiri.

Dan kini, bilik Sindangsari itu menjadi sepi. Sepi sekali. Apalagi hatinya sendiri.

Tetapi Ki Demang tidak memasuki bilik yang kosong itu. Ia kemudian melangkah terus

menuju ke dapur. Ia sendiri tidak tahu, apakah yang sudah membawanya kesana. Di

dapur ia melihat Nyai Reksatani yang agaknya baru saja bangun duduk di amben yang

besar. Beberapa orang perempuan sudah mulai menyalakan api dan merebus air.

Tetapi Ki Demang tidak mengucapkan sepatah katapun juga. Ia melangkah terus ke

halaman belakang. Namun kemudian ia kembali lagi ke dalam biliknya dan mencoba

sekali lagi untuk berbaring.

Sejenak kemudian maka terdengar ayam jantan mulai berkokok untuk yang terakhir

kalinya di malam itu. Bersahut-sahutan dari kandang yang satu ke kandang yang lain,

memenuhi seluruh Kademangan Kepandak.

Beberapa rang yang mengawasi lorong-lorong yang keluar dari Kademangarpun mulai

meninggalkan tempat mereka. Kepada beberapa orang petani yang sudah ada di

sawah mereka berpesan, apabila mereka melihat seseorang yang mereka curigai,

kalau perlu sebaiknya orang itu ditahan sejenak atau dibawa ke Kademangan.

Ketika matahari mulai menyembulkan dirinya di punggung bukit maka hampir semua

orang yang bertugas mengawasi lorong-lorong dan jalan-jalan keluar dari Kademangan

Kepandak telah berada di Kademangan kembali, termasuk Ki Jagabaya dan Ki

Reksatani.

“Sekarang kalian beristirahat sebentar. Kalian dapat mandi, makan dan berganti

pakaian. Nanti, sebagian dari kalian akan mengelilingi Kademangan ini sekali lagi. Aku

sendirilah yang akan memimpin pencaharian itu. Kalau hari ini kami tidak

menemukannya disini, maka besok kita akan pergi ke Kademangan tetangga. Kita

akan minta bantuan mereka untuk mencari Sindangsari di daerah mereka masingmasing”

Dada mereka yang mendengarnya menjadi berdebar-debar. Dalam keadaan demikian,

akan mudah sekali timbul salah paham dengan daerah tetangga. Tetapi di daerah

Selatan ini, tidak ada seorang Demangpun yang dapat mengimbangi ilmu Ki Demang

di Kepandak. Hal ini disadari pula oleh Ki Demang di Kepandak, sehingga justru

karena itu, hatinya yang buram dapat menumbuhkan banyak masalah di daerah

Selatan ini.

Ki Jagabaya yang hadir juga di pendapa, hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Semua persoalan yang dapat tumbuh akan menjadi bebannya pula. Tetapi dalam

keadaan yang demikian ia tidak berani langsung mempersoalkannya.

“Mudah-mudahan setelah sehari ini Ki Demang menjadi agak tenang” berkata Ki

Jagabaya di dalam hatinya “sehingga aku mendapat kesempatan untuk memberikan

pendapatku”

Dalam pada itu Ki Reksatani hanya dapat menundukkan kepalanya saja. Meskipun ia

juga menjadi berdebar-debar, bahwa persoalan ini akan berkembang semakin luas,

namun ia tidak dapat melangkah surut.

“Adalah kebetulan sekali kalau kakang Demang menjadi gila” katanya di dalam hati

“mungkin ia akan mengalami bencana di dalam kegilaannya, atau ia harus berhadapan

dengan pasukan yang pasti akan dikirim oleh Sinuhun di Mataram, atau setidaktidaknya

oleh para Senapati yang berwenang di daerah Selatan ini, apabila di daerah

ini timbul kerusuhan yang tidak teratasi. Para Demang yang merasa dirugikan pasti

akan menghadap para pemimpin pemerintah yang berkewajiban atas daerah ini.

Setidak-tidaknya seorang Bupati akan menaruh perhatian”

Demikianlah ketika matahari telah menjadi semakin tinggi maka Ki Demangpun

kemudian mempersiapkan orang-orangnya. Ia hanya mengambil beberapa orang saja

untuk menyertai Ki Reksatani, Ki Jagabaya, Ki Kebayan dan beberapa orang bebahu

di tambah beberapa orang saja, di antara dari para pengawal Kademangan. Anak-anak

muda yang tidak ikut serta terpilih untuk dikirim ke Mataram.

“Kita akan menjelajahi Kademangan ini sekali lagi. Meskipun harapan untuk

menemukannya tipis sekali, tetapi aku akan mencobanya sebelum aku akan

melangkah keluar”

Orang-orang yang hadir di pendapa itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah kalian sudah siap?” bertanya Ki Demang.

“Sudah Ki Demang“ Ki Jagabayalah yang menyahut.

“Baiklah. Kali ini kita akan berkuda pula. Kita akan mulai dari ujung Barat. Kemudian

sampai ke ujung Timur”

“Apakah kita akan memasuki setiap rumah?” Ki Demang menjadi bingung sejenak. Ia

tidak tahu, cara yang manakah yang akan ditempuhnya. Namun kemudian ia

menggelengkan kepalanya. Katanya “Tidak. Kita tidak akan memasuki setiap rumah.

Kita akan menjelajahi lorong-lorongnya saja.

“Tetapi Ki Demang, apakah yang dapat kita temui di lorong-lorong itu”

“Kita akan memasuki rumah yang kita curigai. Aku akan menemui tetua padukuhan.

Kalau ternyata isteriku di sembunyikan di padukuhannya, maka aku akan

menghukumnya. Mereka, sesudah hari ini, harus membantu berusaha mencari

Sindangsari di daerah masing-masing, Kalau dalam waktu sepekan Sindangsari tidak

dapat di ketemukan dengan cara itu di daerah ini, aku akan mengambil sikap lain,

sementara mulai besok aku akan mencarinya keluar daerah”

Demikianlah maka setelah semuanya siap, Ki Demangpun kemudian berangkat di

iringi oleh beberapa orang kepercayaannya diatas punggung kuda. Seperti pasukan

yang hendak berperang, mereka mulai perjalanan mereka ke arah Barat. Dari ujung

Baratlah kemudian mereka memasuki setiap padukuhan satu demi satu. Ki Demang

sendiri telah menemui setiap tetua padukuhan. Ia minta mereka membantunya mencari

isterinya. Tetapi ia juga mengancam hukuman yang seberat-beratnya apabila ternyata

Sindangsari kelak diketemukan di padukuhan itu oleh orang lain, bukan oleh orang

padukuhan itu sendiri.

“Kami akan membantu Ki Demang. Kami akan meneliti lebih teliti lagi” berkata salah

seorang tetua padukuhan.

“Terima kasih. Aku segera menunggu keterangan. Aku memberi waktu sepekan

sebelum aku menempuh kebijaksanaan lain”

Para tetua padukuhan itu hanya menarik nafas dalam-dalam: Namun terbayang di

rongga mata mereka, betapa mereka menjadi cemas menghadapi keadaan itu.

Ternyata pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang cepat dapat diselesaikan. Ki Demang

sendiri sama sekali tidak tampak letih meskipun semalam suntuk ia tidak tidur sama

sekali. Ia masih dapat berbicara dengan lantang kepada setiap tetua padukuhan,

bahkan sekali-sekali membentak-bentak. Namun kemudian dengan rendah hati ia

mengucapkan terima kasih atas semua kesanggupan para tetua padukuhan itu.

Kelompok orang-orang berkuda itu semakin lama semakin merayap kesebelan Timur.

Tidak ada padu-kuhan yang tidak terlampaui. Tidak ada seorang tetua padukuhanpun

yang tidak ditemui oleh Ki Demang.

Ketika matahari naik ke puncak mereka telah hampir sampai ke tengah-tengah

Kademangan Kepandak. Tetapi Ki Demang tidak berhenti. Ia masih tetap meneruskan

usahanya. Kadang-kadang kuda-kuda mereka itu berpacu di tengah-tengah bulak yang

mengantarai padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Namun kemudian

menyusuri jalan-jalan sempit perlahan-lahan.

Semakin rendah matahari, merekapun menjadi semakin jauh ke Timur. Di hadapan

mereka kini tinggallah dua padukuhan lagi. Padukuhan kecil. Karena itu, maka Ki

Demang tidak lagi menjadi tergesa-gesa meskipun ia tetap gelisah.

Sejenak Ki Demang memandang kedua padukuhan yang tidak begitu jauh letaknya itu

berganti-ganti. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam seolah-olah ingin menekan semua

perasaannya yang sedang bergejolak. Bahkan seolah-olah ia sudah meyakini, bahwa

ia tidak akan dapat menemukan Sindangsari di padukuhan itu. Tetapi setidak-tidaknya

ia sudah dapat menemui tetua dari kedua padukuhan itu untuk mengawasi daerah

masing-masing.

Tetapi tiba-tiba Ki Demang itu tertegun sejenak. Dari kejauhan ia melihat debu yang

mengepul. Semakin lama semakin dekat.

Bukan saja Ki Demang, namun orang-orang lain di dalam rombongannyapun terkejut

puia. Ki Jagabaya dan Ki Reksatani yang berada di belakangnya, tiba-tiba mendesak

maju dan berhenti di samping Ki Demang.

“Sekelompok orang-orang berkuda” desis Ki Jagabaya.

“Ya” sahut Ki Demang “sekelompok orang-orang berkuda.

Ki Reksatanipun menjadi tegang pula. Katanya “Siapa kah mereka itu?”

Ki Demang menggelengkan kepalanya ”Tidak seorangpun dari antara kita yang tahu,

siapakah mereka itu”

Merekapun kemudian terdiam. Dengan tegangnya mereka melihat debu yang

mengepul semakin tinggi dan semakin dekat.

“Kita menunggu disini” berkata Ki Demang ”agaknya mereka datang ke arah ini”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang yang ada di

belakang Ki Jagabayapun menjadi tegang pula. Mereka tidak melihat sekelompok

orang-orang berkuda sampai sebanyak itu.

“Aneh” berkata Ki Demang ”apakah yang datang itu sepasukan prajurit dari Mataram?”

Tidak seorangpun yang menyahut. Mereka terpancang pada debu yang semakin tinggi

mengepul diudara.

“Duapuluh lima ekor kuda” berkata salah seorang.

“Lebih dari itu” sahut Ki Jagabaya ”empat puluh kurang lebih”

“Ya, empat puluh kurang sedikit” sahut Ki Reksatani.

Dengan hati yang berdebar-debar Ki Demang berhenti di tengah Jalan menunggu

orang-orang berkuda itu mendekat. Namun demikian, karena hatinya sendiri memang

lagi gelap, iapun segera menanggapi kedatangan orang-orang berkuda itu dengan

hatinya yang gelap itu pula.

“Apabila kita berhadapan dengan orang-orang jahat yang barangkali telah menculik

Sindangsari, salah seorang dari kalian harus segera kembali ke Kademangan. Siapkan

semua orang, terutama para pengawal untuk membantu kita disini. Jumlah mereka

lebih banyak dari jumlah kita yang ada sekarang”

Ki Jagabaya mengangguk anggukkan kepalanya. Katanya ”Baik Ki Demang. Dua

orang akan melakukan tugas itu”

Ki Demangpun kemudian berdiam diri sejenak, namun wajahnya menjadi semakin

tegang.

Kuda-kuda itupun menjadi semakin dekat pula. Dengan nada yang dalam Ki Demang

berkata ”Bukankah mereka kesatuan prajurit Mataram?”

“Ya” sahut Ki Jagabaya.

“Apakah yang akan mereka lakukan? Mereka datang dalam suatu kelompok yang

besar, pasukan berkuda pula”

Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi kerut-merut di keningnya menjadi semakin dalam.

Pasukan itupun kemudian menjadi semakin dekat, dan Ki Demang serta orangorangnya

menjadi semakin jelas, bahkan akhirnya mereka mengenali beberapa wajah

dari pasukan itu.

“Anak-anak kita” Ki Jagabaya hampir berteriak ”anak-anak kita yang selama ini kita

tunggu-tunggu”

Wajah Ki Jagabaya tiba-tiba menjadi cerah. Hampir saja ia bergerak menyongsong

pasukan itu. Tetapi Ki Demang menahannya sambil berkata ”Kita menunggu disini”

Wajah Ki Reksatanipun menjadi tegang. Kedatangan mereka pasti akan berpengaruh

bagi tata kehidupan Kademangan Kepandak. Ia tidak dapat meramalkan, perubahan

yang manakah yang bakal terjadi. Apakah yang akan menguntungkannya, atau

sebaliknya.

Seorang Senopati prajurit Mataram yang ada di paling depan kemudian mengangkat

tangannya. Beberapa langkah di hadapan Ki Demang ia menghentikan kudanya.

Sambil tersenyum ia bertanya ”Ki Demang di Kepandak. Bukankah aku berhadapan

dengan Ki Demang di Kepandak”

“Ya tuan” berkata Ki Demang ”tuan berhadapan dengan Demang di Kepandak”

“Nah, terima kasih. Dari manakah kalian tahu, bahwa hari ini aku akan mengantarkan

anak-anak Kepandak kembali, setelah menunaikan tugasnya sebaik-baiknya”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menyahut ”kami tidak tahu

bahwa tuan akan datang”

“Tetapi agaknya Ki Demang telah mempersiapkan suatu penyambutan diperbatasan

Kademangan”

Ki Demang menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia menjawab ”Tidak tuan. Ini

adalah suatu kebetulan saja. Kami sama sekali tidak tahu bahwa anak-anak kami

sudah kembali”

“Kami sudah datang beberapa hari yang lampau. Tetapi sengaja kami tidak

memberitahukan kepada kalian disini, supaya tidak menimbulkan ketegangan. Dan

hari ini aku mendapat tugas untuk menyerahkan mereka kembali kepada Ki Demang”

Ki Demang menjadi tegang. Dan tiba-tiba ia bertanya. Jadi pasukan ini sudah datang

beberapa hari yang lampau?”

“Ya. Beberapa hari yang lampau”

Ki Demang terdiam sejenak. Dengan sorot mata yang tajam, dipandanginya wajah

wajah anak Kepandak itu satu demi satu. Meskipun sedikit tertutup oleh orang yang

berkuda di depannya, namun Ki Demang segera mengenal satu di antara mereka

”Pamot”

Tiba-tiba saja dada Ki Demang berdesir. Sejenak matanya terpaku pada anak muda

itu. Anak muda yang tampak agak kekurus-kurusan dibandingkan ketika ia berangkat

dari Kademangan Kepandak beberapa bulan yang lampau.

Pamot yang merasa tatapan mata Ki Demang seolah-olah terhunjam ke jantungnyapun

kemudian menundukkan kepalanya. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang

sebenarnya berkecamuk di dalam hati Demang di Kepandak itu.

“Tuan” berkata Ki Demang kemudian ”kalau anak-anak ini sudah kembali sejak

beberapa hari yang lalu, apakah sebabnya tuan tidak memberi tahukan hal itu kepada

kami, setidak-tidaknya pimpinan Kademangan, kalau hal itu tuan cemaskan akan dapat

menimbulkan ketegangan. Kami, para pemimpin dari Kademangan ini pasti akan dapat

memperhitungkan, manakah yang baik dan manakah yang tidak baik kami lakukan”

Senapati Mataram yang berada di paling depan itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia

kemudian menjawab ”Maaf Ki Demang. Anak-anak masih perlu beristirahat. Kalau

keluarga mereka tahu, bahwa mereka sudah ada di Mataram, maka mereka akan

berbondong-bondong pergi untuk menengok keluarganya itu. Dengan demikian maka

tidak akan ada keterangan yang pasti tentang diri mereka. Mungkin ada yang tidak

dapat di ketemukan diantara yang datang, mungkin ada yang masih terlampau payah,

ada yang sakit dan sebab-sebab yang lain. Di waktu yang singkat, kami berusaha

untuk menyusun laporan yang pasti tentang anak-anak dari Kepandak yang hari ini

akan kami serahkan kembali kepada Ki Demang”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sorot matanya seakan-akan

sama sekali tidak menanggapi kata-kata Senapati itu. Bahkan di dalam hatinya ia

berkata ”Di dalam beberapa hari itu. Pamot dapat berbuat apa saja. Ia dapat lari dari

kesatuannya untuk beberapa lama. Di saat-saat itulah ia mendapat kesempatan untuk

mengambil Sindangsari setelah ia berhasil menghubunginya dahulu. Mungkin ia

mempergunakan orang lain untuk menyampaikan maksudnya kepada Sindangsari dan

Sindangsari telah membantu pula usaha itu”

“Ki Demang” berkata Senapati itu, sehingga Ki Demang agak terperanjat karenanya

”Kenapa Ki Demang agak termangu-mangu menerima anak-anak ini kembali”

“Tidak, tidak” Ki Demang agak tergagap ”tetapi aku sedang memikirkan beberapa

masalah yang timbul di dalam Kademangan ini. Kami akan menerima dengan senang

hati kedatangan anak-anak kami ini, dan kami akan menerimanya dengan resmi di

halaman Kademangan”

“Terima kasih” sahut Senapati itu ”jadi, apakah kami dapat meneruskan perjalanan

kami ke Kademangan?”

“Tentu tuan, tetapi…” kata-kata Ki Demang terputus.

“Tetapi….” Senapati itu mengulang.

Ki Demang tidak segera menyahut. Setiap kali tatapan matanya menyambar wajah

Pamot yang agak pucat.

Pamotpun menjadi berdebar-debar pula. Ia merasa tatapan mata Ki Demang itu

mengandung arti yang mendebarkan jantungnya. Tetapi ia tidak tahu, apakah yang

akan dilakukan Ki Demang di Kepandak itu atasnya.

“Apakah ada sesuatu yang kurang wajar?” bertanya Senapati itu ”atau karena Ki

Demang merasa kecewa, bahwa kami tidak memberitahukan dahulu kedatangan anakanak

ini? Aku kira Ki Demang dapat mengerti alasan kami”

“Bukan, bukan itu” jawab Ki Demang. Sejenak ia merenung, namun kemudian ia

berkata ”Tuan, apaboleh buat, apakah aku dapat berterus-terang”

“Tentu, silahkan”

Tetapi sebelum Ki Demang berkata sesuatu. Ki Jagabaya telah menggamitnya sambil

berkata ”Ki Demang, apakah tidak lebih baik kita terima dahulu anak-anak itu di

halaman Kademangan? Aku tahu bahwa Ki Demang tergesa-gesa mengemukakan

persoalan Ki Demang sekarang. Agaknya itu kurang bijaksana”

Ki Demang berpaling kepada Ki Jagabaya. Sejenak ia terdiam namun kemudian ia

berkata ”Tidak Ki Jagabaya. Lebih baik bagiku apabila aku mengemukakan

persoalanku sekarang. Kami akan menerima anak-anak yang sama sekali bersih dari

segala kejahatan yang mungkin dilakukannya”

“Tetapi bukankah itu masih belum pasti. Bukankah Ki Demang juga baru menyangka

bahwa hal itu dilakukannya?” potong Ki Jagabaya yang sedikit banyak dapat membaca

perasaan yang terpahat di hati Ki Demang di Kepandak.

“Tidak“ Ki Demang menggelengkan kepalanya ”Aku akan menerima anak-anak kami.

Tetapi aku akan menyisihkan dahulu anak yang mungkin berbuat suatu kejahatan”

“Ki Demang” bertanya Senapati yang memimpin anak-anak di Kepandak itu ”apakah

yang Ki Demang maksudkan?”

“Tuan” berkata Ki Demang ”sesuatu telah terjadi di Kademangan ini. Dan aku telah

mencurigai, bahwa hal itu dilakukan oleh salah seorang dari anak-anak kami itu”

“Apakah yang sudah terjadi? Dan bagaimana mungkin anak-anak ini dapat

melakukannya?”

“Semula aku memang tidak menyangka. Tetapi setelah aku mendengar bahwa anakanak

ini telah beberapa hari berada di Mataram, maka kecurigaankupun segera

tumbuh”

“Apakah yang sudah terjadi?

“Jarak antara Mataram dan Kepandak tidak terlampau jauh”

“Ya, tetapi apakah yang sudah terjadi?”

“Tuan” Ki Jagabaya memotong ”agaknya hal itu kurang baik apabila kita bicarakan

sekarang” Kemudian kepada Ki Demang Ki Jagabaya itu berkata ”Cobalah Ki Demang

menahan hati sedikit. Kita akan menerima mereka dahulu di Kademangan. Anak-anak

yang baru saja menunaikan tugas negara. Bukan sekedar melakukan perjalanan

tamasya ke daerah yang belum pernah dilihatnya”

“Aku tahu. Aku tahu” tiba-tiba Ki Demang membentak ”Aku akan mengadakan malammalam

penyambutan tujuh hari tujuh malam. Semua pertunjukan yang dibatalkan akan

dilanjutkan untuk menyambut anak-anak kami, kebanggaan kami. Tetapi yang seorang

dari antara mereka harus diserahkan kepadaku lebih dahulu. Aku akan

meyakinkannya, apakah benar-benar ia tidak bersalah. Kalau aku kemudian yakin ia

tidak bersalah, aku akan melepaskannya. Tetapi kalau aku tidak yakin, aku akan

menggantungnya di regol Kademangan”

“Ki Demang” potong Senapati itu ”apakah sebenarnya yang sudah terjadi?

“Tetapi Ki Demang terlampau tergesa-gesa karena Ki Demang membiarkan perasaan

Ki Demang berbicara” berkata Ki Jagabaya mendahului.

“Diam, diam kau” tiba-tiba Ki Demang berteriak.

Suasana itupun menjadi tegang. Ki Demang duduk diatas punggung kudanya seperti

seorang yang sedang menghadapi sepasukan musuh yang kuat.

Baik pada pengikut Ki Demang di Kepandak, maupun anak-anak Kepandak yang baru

saja datang dari Mataram itu seolah-olah telah membeku di tempatnya. Apalagi Pamot.

Kini ia merasa, bahwa yang seorang itu pastilah dirinya yang selama ini selalu diawasi

oleh Ki Demang dengan tatapan mata yang tajam.

“Ki Demang” berkata Senapati itu kemudian dengan sareh ”agaknya sesuatu memang

sudah terjadi sehingga Ki Demang agaknya menjadi sangat terpengaruh karenanya.

Sikap Ki Demang kali ini benar-benar mengherankan. Kami sudah lama mendengar

nama Ki Demang di Kepandak. Tetapi ternyata ketika anak-anaknya datang dari

daerah yang paling gawat Ki Demang sedang diamuk oleh suatu goncangan perasaan

sehingga bersikap agak kekanak-kanakan”

“Jangan menghina tuan” potong Ki Demang ”Aku hormati tuan sebagai tamu kami.

Kalau tuan mengetahui persoalan kami, maka aku kira tuan tidak akan mengatakan

demikian”

“Baiklah Ki Demang, aku ingin mendengar persoalan itu. Kalau Ki Demang memang

merasa perlu menyampaikannya sekarang, akupun tidak akan berkeberatan”

“Baiklah” sahut Ki Demang ”Aku memang akan mengatakannya sekarang. Aku tidak

mau anak itu sempat melarikan dirinya”

“Katakanlah”

“Tuan, ternyata istriku telah hilang dari Kademangan”

“He” semua orang yang mendengar itupun terkejut karenanya. Terlebih-lebih lagi

Pamot. Namun ia masih dapat menahan dirinya. Bahkan dengan singkat ia dapat

menangkap persoalan yang tengah berkecamuk di kepala Ki Demang di Kepandak.

Agaknya Ki Demang telah mencurigainya. Di dalam waktu beberapa hari sepulangnya

dari Betawi, ia telah dituduh melakukan perbuatan itu, melarikan Sindangsari. Tetapi

Pamot masih tetap berdiam diri, menahan segala perasaan yang bergejolak di dalam

dadanya.

“Ki Demang” berkata Senapati itu ”Aku ikut berprihatin, bahwa Nyai Demang di

Kepandak telah hilang. Banyak masalah yang akan dihadapi oleh Ki Demang”

“Ya. Kalau tuan menjumpai kami disini sekarang, kami memang sedang mencari

isteriku yang hilang itu. Kami datangi setiap padukuhan dan setiap pemimpin dan tetua

padukuhan. Kami minta pertolongan mereka untuk mencari di daerah dan di

padukuhan masing-masing. Sehari kemarin Ki Jagabaya dan para pengawal

memasuki setiap rumah di seluruh Kademangan Kepandak. Tetapi isteriku itu masih

belum dapat diketemukan. Tetapi kami belum tahu bahwa anak-anak kami sudah

datang sejak beberapa hari yang lalu. Kalau kami tahu, mungkin kami tidak perlu

melakukan semuanya itu”

“Maksud Ki Demang?” bertanya Senapati itu.

”Kami memerlukan seseorang dari anak-anak itu”

“Apakah Ki Demang mencurigainya?”

“Ya”

“Kenapa?”

Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian berkata ”Setiap orang di

Kepandak telah mengetahuinya, sebelum perempuan itu menjadi isteriku, ia sudah

berhubungan dengan anak itu lebih dahulu”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menggeleng-gelengkan

kepalanya ”Tidak mungkin Ki Demang”

“Tuan jangan mendahului kenyataan yang akan dapat dibuktikan nanti”

“Tetapi siapakah anak itu?”

Ki Demang terdiam sejenak. Dipandanginya wajah-wajah yang tegang di seputarnya.

Apalagi ketika ia memandang wajah anak-anak yang baru saja kembali dari Betawi itu.

“Katakan Ki Demang” berkata Senapati itu ”anak-anak ini adalah tanggung jawabku.

Mungkin aku akan menaruh curiga pula kalau Ki Demang menyebut nama anak yang

bengal diantara mereka”

Ki Demang masih ragu-ragu.

“Aku kira hal ini kurang bijaksana” potong Ki Jagabaya ”Aku tetap menganggap, bahwa

sebaiknya kita pergi ke Kademangan lebih dahulu”

“Dan membiarkan anak itu lari?” bentak Ki Demang di Kepandak.

“Akulah taruhannya“ Ki Jagabaya masih juga menjawab “kalau anak itu lari, akulah

yang akan digantung di regol Kademangan”

Mata Ki Demang menjadi merah padam. Sejenak ia justru terbungkam. Ki Jagabaya

tidak pernah membantah perintah dan pendapatnya. Namun tiba-tiba kini ia

mempunyai pendirian sendiri yang dipertahankannya.

“Biarlah“ justru Senapati dari Mataram itulah yang kemudian menjawab “biarlah Ki

Demang mengatakannya. Aku dapat mengerti sekarang, kenapa Ki Demang telah

diguncang oleh perasaannya. Bagi seorang laki-laki hal itu memang dapat

menumbuhkan suatu pergolakan jiwa yang sangat dahsyat”

Ki Jagabaya memandang Senapati itu sejenak. Namun kemudian ia berkata “Jika

demikian, terserahlah kepada tuan”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak berbicara lagi. Ia hanya

sekedar menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Ki Demang di Kepandak.

“Tuan” berkata Ki Demang di Kepandak “terserahlah pada penilaian tuan. Aku

memang ingin mengambil salah seorang dari anak-anak itu. Aku berjanji bahwa aku

tidak akan berbuat lebih daripada mencari keterangan tentang isteriku yang hilang itu”

“Siapakah anak itu? Aku kira tuan sudah sampai pada suatu taraf mencurigainya”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah. Aku memang

mencurigainya”

“Ya, siapakah namanya“

“Pamot”

Senapati itu terkejut. Tetapi orang-orang lain, baik ia pengikut Ki Demang, maupun

kawan-kawan Pamot sama sekali tidak terkejut lagi karenanya. Dan merekapun saling

berpandangan sejenak, kemudian seperti berjanji mereka memandang wajah Pamot

yang menjadi merah karenanya.

Senapati yang terkejut itu sejenak duduk terdiam diatas punggung kudanya. Kedua

prajurit pengawalnyapun menjadi terheran-heran pula. Mereka mengenal Pamot

sebagai seorang anak yang baik. Anak yang tekun dan sama sekali tidak menunjukkan

kebengalannya.

“Apakah Ki Demang tidak keliru?” bertanya Senapati itu.

“Tidak tuan, Aku yakin”

“Apakah Ki Demang sekedar mencari keterangan, atau karena Ki Demang sudah yakin

bahwa Pamot sudah bersalah?”

“Sebagian aku yakin”

“Kenapa?”

“Semua orang di Kepandak akan dapat memberikan alasannya kenapa aku

mencurigainya, dan bahkan sebagian meyakininya, setelah aku tahu, bahwa sejak

beberapa hari ia sudah berada di Mataram”

“Tetapi aku belum tahu. Sekarang katakanlah kepadaku, apakah alasan Ki Demang”

“Aku sudah mengatakan”

“Jadi, yang Ki Demang maksudkan adalah laki-laki yang sudah mengadakan hubungan

dengan Nyai Demang sebelum ia menjadi isteri Ki Demang?”

“Ya”

“Kemudian itu merupakan alasan dan bahkan hampir suatu keyakinan bahwa ia

bersalah?”

“Ya”

Senapati itu menggelengkan kepalanya “Ki Demang keliru. Meskipun anak-anak itu

datang beberapa hari yang lampau, tetapi mereka sama sekali tidak boleh keluar dari

barak-barak mereka. Sama sekali tidak. Pamot juga tidak”

“Itu adalah peraturan yang ditentukan oleh para pemimpin pasukan. Tetapi anak-anak

dapat saja lari meninggalkan kesatuan tanpa diketahui. Kalau kemudian ia kembali

lagi, maka seolah-olah ia masih tetap berada di dalam pasukannya”

“Kawan-kawannya akan dapat mengatakannya”

Ki Demang terdiam sejenak. Namun dengan berat ia kemudian berkata “Anak-anak

kadang-kadang mempunyai setia kawan yang kuat”

“Memang mungkin. Tetapi aku yakin bahwa Pamot tidak melakukannya. Ia tetap di

dalam pengawasan para prajurit”

“Itu akan ternyata kemudian tuan. Tetapi aku sekarang memerlukannya. Aku akan

memeriksanya sendiri”

Tiba-tiba sebelum Senapati yang memimpin anak-anak Kepandak itu menjawab,

seorang anak muda yang berjambang lebat maju ke depan, ke samping Senapati itu.

Dengan bersungguh-sungguh ia berkata “Ki Demang. Aku adalah salah seorang dari

mereka yang ikut bersama Pamot. Aku adalah tetua anak-anak yang dari Gemulung”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Anak muda itu adalah Punta yang kini

memelihara jambang dan janggutnya yang lebat.

“Punta” desis Ki Demang.

“Ya Ki Demang. Aku ingin menambah keterangan tentang Pamot. Ia berada di dalam

satu barak dengan aku, bahkan ia berada di bawah pengawasanku. Kalau Ki Demang

bermaksud menuduh Pamot setelah ia kembali dari perjalanannya, maka aku

bertanggung jawab, bahwa hal itu tidak dilakukannya”

Sejenak Ki Demang menjadi tegang. Tetapi kemudian ia berkata ”Itu akan terbukti

kelak. Tetapi aku akan memeriksanya. Aku akan memeriksanya. Aku adalah Demang

di Kepandak”

“Benar Ki Demang” sahut Punta ”tetapi akulah yang langsung mempertanggung

jawabkannya karena ia termasuk di dalam kelompokku. Akulah pemimpin kelompok

itu”

“Aku tidak peduli” Ki Demang tiba-tiba berteriak ”kalian dapat saja saling melindungi.

Tetapi aku minta, Pamot diserahkan kepadaku”

“Sayang Ki Demang” berkata Senapati Mataram ”selama ia masih menjadi tanggung

jawabku, aku tidak dapat berbuat demikian. Aku tidak akan menyerahkan, anak anak

Kepandak, seorang demi seorang. Aku akan menyerahkannya semuanya sekaligus”

“Tidak. Aku tidak dapat menerima pasukan yang di dalamnya terdapat seorang

penjahat. Aku akan menyingkirkan penjahat itu lebih dahulu. Kemudian aku akan

menerima yang lain dengan segala macam upacara”

Ki Jagabaya hanya dapat menarik nafas saja. Ketika ia melihat wajah Ki Reksatani Ki

jagabaya menjadi heran. Ia melihat mata itu seakan-akan bercahaya.

“Apakah peristiwa ini sangat menarik bagi Ki Reksatani?” bertanya Ki Jagabaya di

dalam hatinya ”atau seperti kakaknya ia sudah langsung menghukum Pamot yang

dianggapnya bersalah melarikan Nyai Demang di Kepandak?”

Dalam pada itu Ki Jagabaya mendengar Senapati dari Mataram itu berkata ”Ki

Demang. Ki Demang jangan tenggelam di dalam arus perasaan yang sedang

bergejolak. Ki Demang sebaiknya mencoba untuk mempergunakan nalar. Aku

mengerti, betapa Ki Demang sedang diguncang oleh peristiwa ini. Tetapi Ki Demang

jangan kehilangan pertimbangan yang bening”

“Aku sudah mempertimbangkan” jawab Ki Demang ”anak itu aku minta dan akan aku

bawa langsung ke Kademangan. Itu sudah menjadi keputusanku. Keputusan Demang

di Kepandak”

“Sayang Ki Demang. Aku tidak dapat memberikannya sekarang sebelum aku

menyerahkan semuanya sama sekali. Setelah itu, setelah semua diterima dengan

baik, maka terserahlah kepada Ki Demang, apakah Ki Demang akan memeriksanya.

Itupun harus masih dibatasi menurut peraturan yang berlaku. Perlindungan kepada

setiap orang masih harus mendapat perhatian, sehingga Ki Demang tidak akan dapat

berbuat sewenang-wenang”

“Tuan” berkata Ki Demang ”tuan adalah seorang Senapati. Tuan berkuasa atas satu

pasukan. Tetapi kekuasaan di Kademangan Kepandak ada di tanganku. Maaf, aku

tidak ingin menerima campur tangan orang lain”

Sejenak Senapati itu terdiam. Wajahnya menegang. Namun kemudian, sebagai

seorang Senapati yang sudah masak, ia justru tersenyum. Katanya ”Ya, kau benar Ki

Demang. Aku berkuasa atas suatu pasukan. Pasukan itu adalah anak anak Kepandak

ini. Karena itu, aku wajib melindungi anak-anak itu. Kalau Ki Demang tidak dapat

menerima mereka sekarang baiklah, aku akan membawa mereka kembali ke Mataram”

“Tidak. Itu tidak mungkin” teriak Ki Demang ”dan tuan akan mencoba menyembunyikan

anak itu?”

Sekali lagi wajah Senapati itu menegang. Sejenak ia berdiam diri memandang wajahwagah

orang Kepandak yang menegang pula.

Namun dalam pada itu, sebelum ia menjawab, Pamot telah maju pula. Sambil

menganggukkan kepalanya ia berkata ”Ki Demang. Adalah pantas sekali kalau Ki

Demang telah mencurigai aku. Tetapi meskipun demikian, Ki Demang harus

memperhatikan kemungkinan yang dapat terjadi. Ki Demang sudah mendengar

penjelasan pimpinan pasukan kami, dan Ki Demang sudah mendengar keterangan

Punta. Kalau Ki Demang masih tidak mempercayai keterangan-keterangan itu, maka

terserahlah kepada Ki Demang” kemudian ia berpaling kepada Senapati dari Mataram

”tuan, biarlah Ki Demang melakukan kehendaknya. Aku tidak berkeberatan karena aku

sama sekali tidak merasa bersalah”

Tetapi Senapati itu menggelengkan kepalanya ”Tidak. Itu tidak mungkin. Aku masih

bertanggung jawab atas kalian”

Ternyata Ki Jagabaya tidak dapat menahan hatinya lagi dan berkata kepada Ki

Demang di Kepandak ”Ki Demang. Aku masih ingin mempersilahkan Ki Demang untuk

bersabar. Ki Demang memang sebaiknya menerima anak-anak kita. Kemudian

terserahlah, apa yang akan dilakukan kemudian”

Wajah Ki Demang yang merah menjadi semakin merah. Sejenak dipandanginya wajah

Ki Jagabaya. Kemudian wajah-wajah yang lain berganti-ganti. Namun sejenak

kemudian ia berkata ”Tidak. Aku tidak ingin anak itu melarikan diri. Aku tidak

memerlukan orang lain untuk menjadi gantinya. Aku inginkan anak itu”

“Tetapi ia tidak akan melarikan diri” sahut Ki Jagabaya.

“Aku tidak peduli” Ki Demang berteriak ”Aku memerlukannya sekarang”

Semua wajah yang tegang tambah menegang. Pamot justru menjadi terbungkam

karenanya. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.

Dalam pada itu Ki Demangpun berkata pula kepada Senapati Mataram itu ”Tuan. Aku

terpaksa melakukannya sekarang. Aku memerlukan anak itu. Aku tidak mau ia terlepas

dari tanganku karena kejahatan yang tidak termaafkan itu”

“Ki Demang terlampau tergesa-gesa mengambil kesimpulan”

“Aku tidak perduli anggapan orang lain atas keputusanku ini. Tetapi ia harus ditangkap

sekarang”

“Itu tidak mungkin”

“Aku akan melakukannya “

“Aku tidak mengijinkan”

Sorot mata Ki Demang kini telah benar-benar menyala. Ia maju setapak. Sambil

memegang kendali kudanya dengan tangan kirinya, ia mengacukan tangan kanannya

sambil berkata lantang ”Tidak seorangpun dapat menghalangi keputusan Demang di

Kepandak. Tidak seorangpun dapat menahan kemauannya. Kalau tuan tidak

memberikannya, aku akan mempergunakan kekerasan. Tuan pasti sudah mendengar,

siapakah Demang di Kepandak”

Kini wajah Senapati itupun menjadi merah. Namun ia masih dapat menahan hatinya.

Katanya ”Ki Demang. Saat ini Ki Demang baru diliputi oleh kegelapan hati. Kami sadar,

bahwa bukan seharusnya kami menjadi gelap pula. Karena itu, kami masih ingin

memperingatkan Ki Demang sekali lagi”

Ki Demang menggeretakkan giginya, sementara Ki Jagabaya menjadi bingung.

Dengan suara gemetar ia berbisik kepada Ki Reksatani ”Cobalah. Peringatkan

kakakmu yang sedang kehilangan akal itu”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab ”Kenapa? Bukankah ia

sudah berbuat sebaik-baiknya? Anak itu memang harus ditangkap”

“Jadi kau sependapat?”

Ki Reksatani mengangguk, tetapi Ki Jagabaya mengumpat di dalam hatinya.

 

Jilid 8

Bab 1 : Uger-Uger Lawang

DALAM pada itu Ki Demang menjawab “Aku tidak

mau mendengar alasan dan bujukan apapun lagi.

Aku harus mendapatkan anak itu sekarang.

Sudah aku katakan, aku akan mempergunakan

kekerasan”

Ki Jagabaya yang kecemasan itu bergeser

setapak. Tetapi Ki Reksatani sudah mendahului

”Tuan, sebaiknya tuan menyerahkan saja anak itu.

Apakah sebenarnya keberatan tuan? Bukankah

pada saatnya tuan juga akan menyerahkan

semuanya?”

Kesabaran Senapati itu menjadi semakin menipis

pula. Apalagi ketika ia mendengar Reksatani

berkata selanjutnya ”Tuan harus menyadari

bahwa kekuasaan di Kademangan ini ada di

tangan kakang Demang meskipun seandainya

kakang Demang tidak mempergunakan kekerasan

apapun. Kalau tuan mencoba mempersulit

penyelesaian berdasarkan kekuasaan itu, maka

kakang Demang pasti akan mempergunakan

kekerasan. Seperti yang dikatakan oleh kakang Demang, tuan pasti sudah pernah

mendengar tentang Demang di Kepandak. Dan kini Demang di Kepandak tidak

seorang diri. Ia datang bersama para bebahu dan adiknya, Reksatani. Tuanpun pasti

sudah pernah mendengar sebutan Harimau Lapar dari Kepandak, eh, maksudku

Macan Kelaparan di daerah Selatan ini. Sedang tuan hanya datang bertiga. Apakah

yang sebenarnya dapat tuan lakukan?”

Kini wajah Senapati itulah yang menyala. Kesabarannya benar-benar telah terbakar

oleh persoalan yang dihadapinya. Meskipun demikian ia masih mencoba menarik

nafas dalam-dalam, untuk mengatur kata-kata yang kemudian terlontar dari mulutnya

”Ki Demang di Kepandak dan para bebahu, serta Ki Reksatani yang perkasa. Aku

memang pernah mendengar bahwa di daerah Selatan ini tidak ada orang lain kecuali

Ki Demang kakak beradik. Demang di Kepandak adalah seorang yang sakti dan

mumpuni dalam olah kanuragan. Selain kekuasaannya sebagai seorang Demang,

maka apabila perlu iapun dapat menumbuhkan kekuasaan yang lain berdasarkan atas

kemampuannya itu, kemampuan berkelahi. Bukan kemampuan memberi pengertian

atas sikap dan pendapatnya kepada orang lain. Sekarang kalianpun akan mencoba

memaksakan kekuasaan yang tidak sewajarnya itu karena kalian mempunyai

kekuatan. Bukan karena hak kalian untuk berbuat demikian”

“Tidak” potong Ki Demang ”daerah ini adalah daerah Kademangan Kepandak”

“Tetapi setiap orang di dalam pasukanku berada di bawah kekuasaanku. Aku akan

mempertanggung jawabkannya. Bahkan kepada Senapati tertinggi di Mataram. Tidak

sekedar kepada Demang di Kepandak. Karena itu Ki Demang di Kepandak. Aku tidak

akan tunduk kepada kekuasaan siapapun selain kekuasaan Senapati yang lebih tinggi

dari padaku. Aku tahu bahwa sepasang harimau dari Selatan ini mempunyai

kemampuan yang luar biasa. Tetapi aku adalah salah seorang Senapati yang

mendapat kepercayaan dari Sinuhun Sultan Agung untuk ikut memimpin pasukan ke

Betawi. Aku pernah mengemban tugas untuk mempertahankan keadilan di Tanah

Mataram ini. Sekarang tuan-tuan di Kepandak akan menakut-nakuti aku. Maaf Ki

Demang. Aku akan mempertahankan sikapku. Seperti setiap orang pernah mendengar

nama Demang di Kepandak, maka setiap prajurit Mataram pasti pernah mendengar

Gelar Tumenggung Dipanata, pasangan dari Tumenggung Dipajaya yang sayang tidak

dapat hadir di dalam permainan ini”

Ternyata ketika Senapati itu menyebutkan namanya, dada Ki Demang di Kepandak

dan Ki Reksatani menjadi tergetar pula. Nama itupun adalah nama yang sudah

terlampau banyak disebut-sebut orang. Meskipun demikian, karena semuanya sudah

terlanjur, Ki Demang tidak ingin melangkah surut. Dengan nada yang tajam ia berkata

”Siapapun tuan, tetapi aku tetap pada pendirianku. Tuan hanya bertiga. Kami adalah

orang-orang dari seluruh Kademangan”

“Apa bedanya?” sahut Ki Dipanata ”Aku sadari akibat terakhir dari setiap pelaksanaan

tugas seorang prajurit. Disinipun aku sedang mempertahankan keadilan. Bukan

kesewenang-wenangan”

“Pekerjaan tuan akan sia-sia. Tuan akan hilang ditelan oleh Kademangan ini”

“Aku mengemban tugas kerajaan. Wewenangku sekarang adalah wewenang Sinuhun

Sultan Agung. Siapa yang melawan petugas kerajaan dan yang mendapat pelimpahan

kekuasaan dari Sinuhun Sultan Agung, ia sudah memberontak terhadap pemerintah”

Ki Demang terdiam sejenak. Dadanya serasa terguncang-guncang semakin dahsyat.

Tetapi Ki Reksatani berkata ”kamipun sedang menuntut keadilan. Kami tidak akan

takut melawan siapapun untuk mempertahankan keadilan itu”

“Kami tetap pada pendirian kami” geram Ki Demang kemudian ”dan sekali lagi kami

peringatkan, tuan akan tenggelam di Kademangan ini. Semua yang ada di sekitar tuan

adalah orang-orang dari Kademangan Kepandak selain dua prajurit pengawal tuan itu”

Senapati dari Mataram itu sama sekali tidak menundukkan kepalanya. Bahkan

matanya menjadi bersinar, dan tidak sesadarnya ia telah meraba senjatanya. Namun

sebelum ia berkata sesuatu, Punta telah mendahuluinya ”Ki Demang di Kepandak.

Kami dilahirkan dan dibesarkan di Kademangan ini. Kami adalah anak-anak muda,

pengawal Kademangan yang setia, yang atas nama Kademangannya pula, kami telah

mencoba untuk ikut mempertahankan kehadiran Mataram di muka bumi. Tetapi kami

menjadi sangat kecewa melihat peristiwa ini terjadi justru pada saat keringat kami

seolah-olah masih belum kering. Kami baru saja menempuh perjalanan yang jauh.

Kami telah gagal merebut kembali sebagian dari Tanah kami karena berbagai macam

sebab. Terutama karena, pengkhianatan. Kami berjanji di dalam hati kami bahwa akan

datang saatnya kami mengusir orang asing itu dari bumi sendiri. Jadi, apakah begini

cara Ki Demang menyambut kami”

Dada Ki Demang serasa diguncang mendengar kata-kata Punta itu. Kata-kata anak

ingusan dari Kademangannya sendiri. Dan ia masih harus mendengarkan anak itu

berkata ”Maaf Ki Demang. Kami adalah satu. Aku, Pamot dan pengawal-pengawal

yang lain. Kalau Ki Demang ingin menangkap Pamot, maka Ki Demang harus

menangkap kami semuanya. Kami tidak akan melawan kekerasan dengan kekerasan.

Kami justru minta agar kami semuanya saja ditangkap untuk mendapat tuduhan yang

sama, sebab kami dapat berbuat kemungkinan yang sama. Kami semua adalah laki-

laki muda dan kami semua menganggap Sindangsari adalah gadis yang cantik saat itu,

sebelum Ki Demang mengambilnya dengan paksa”

“Gila, gila kau. Aku bunuh kau pertama-tama” teriak Ki Demang.

Punta sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan kemudian ia berkata kepada Ki

Dipanata ”Tuan, serahkanlah kami semuanya kepada Ki Demang di Kepandak untuk

memberinya kepuasan yang sebesar-besarnya. Ia masih belum puas merampas

perempuan itu dari tangan anak-anak muda di Kepandak yang juga mengingininya.

Kini ia masih akan berbuat lebih jauh lagi”

“Diam, diam, diam” suara Ki Demang semakin keras. Bahkan kudanya telah maju

beberapa langkah mendekati Punta. Tetapi Ki Demang itupun terhenti ketika kuda Ki

Dipanata menyilang di hadapannya.

“Terserahlah apa yang akan dilakukannya nanti Punta” berkata Ki Dipanata. Lalu

“Tetapi sebelum aku menyerahkannya, kalian adalah tanggung jawabku. Aku bukan

pengecut yang akan lari dari kewajiban. Aku adalah prajurit sejak umurku meningkat

dewasa. Kini rambutku sudah mulai ubanan. Apa artinya Demang di Kepandak bagiku.

Aku pernah ikut di dalam peperangan besar di daerah Timur dan Barat. Tetapi aku

memang belum pernah bertempur di daerah Selatan yang sempit ini”

Telinga Ki Demang di Kepandak benar-benar serasa terbakar. Tetapi sebelum ia

berbuat sesuatu Ki Jagabaya telah berkata mendahuluinya “Ki Demang. Aku adalah

seorang bebahu yang paling setia. Aku selama ini telah membuat diriku sendiri seperti

seekor kerbau yang telah dicocok hidungku. Aku tidak pernah membantah semua

perintah, meskipun kadang-kadang aku tidak mengerti maknanya. Tetapi kali ini aku

tidak ikut campur di dalam pemberontakan ini. Aku tidak dapat melawan kekuasaan

Mataram. Kekuasaan yang dilimpahkan dari Sinuhun Sultan Agung. Bukan karena aku

silau melihat seorang Tumenggung yang bernama Dipanata, yang pernah bertempur di

berbagai medan karena akupun sadar, bahwa akibat yang paling jauh dari perkelahian

adalah mati. Kalau seseorang sudah menyingkirkan perasaan takut terhadap mati,

maka ia tidak akan takut bertempur di medan yang manapun. Namun sebelum mati

aku masih sempat berpikir. Dan tiba-tiba aku merasa bahwa aku tidak seharusnya

melawan kali ini”

“Pengecut“ Ki Keksatanilah yang berteriak “kau ternyata seorang pengecut”

“Mungkin. Mungkin aku seorang pengecut”

“Kau akan dihukum gantung karena kau telah berkhianat terhadap kampung halaman”

“Sudah aku katakan. Aku tidak takut mati. Tetapi aku tidak melihat bahwa kalian telah

berbuat benar kali ini”

“Gila, gila“ Ki Reksatani hampir tidak dapat menguasai dirinya. Tetapi ketika tangannya

telah meraba hulu kerisnya, justru tangan Ki Demanglah yang telah menahannya.

Ki Reksatani menjadi termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling ia menjadi sangat

terkejut melihat wajah kakaknya. Demang di Kepandak.

Wajah itu sama sekali tidak lagi terasa kegarangannya. Bahkan wajah itu menjadi layu

seperti selembar daun yang dibakar oleh terik matahari.

“Kenapa kau kakang?” Ki Reksatani bertanya.

Ki Demang tidak segera menjawab. Tetapi tampak di wajahnya, suatu benturan

perasaan telah terjadi di dalam dadanya.

“Apakah hati kakang menjadi lemah seperti hati Jagabaya pengecut itu?”

Ki Demang tidak segera menyahut. Tetapi tatapan matanya yang buram melontar jauh

ke bayangan sinar matahari yang sudah menjadi kemerah-merahan.

“Kakang“ Ki Reksatani mengguncang-guncang lengan kakaknya, Namun Ki Demang di

Kepandak masih tetap berdiam diri.

Akhirnya Ki Reksatanipun terdiam. Perlahan-lahan ia mencoba menilai semua yang

telah terjadi. Ia memang berusaha menjerumuskan kakaknya untuk melawan Mataram.

Meskipun ia ikut terlibat, tetapi ia dapat menghindarkan perbuatan langsung di dalam

perkelahian apabila sudah dapat dinyalakannya. Ia dapat surut dan bahkan kalau perlu

mengkhianati kakaknya sendiri sebagai suatu alasan untuk mendapat pengamatan dari

Mataram dan mendapat kesempatan untuk menggantikan kedudukan kakaknya. Tetapi

usahanya itu belum berhasil ketika ia justru tenggelam di dalam arus perasaannya

sendiri di luar pertimbangannya. Apakah kemudian ia akan menjadi orang pertama

yang berdiri di paling depan di dalam perlawanan ini kalau kakaknya memang mulai

bersikap lain. Dengan demikian, usahanya untuk merebut pengakuan dari Mataram

akan menjadi terlampau sulit.

Karena itu, ketika Ki Demang di Kepandak tidak berbuat apapun juga, Ki Reksatanipun

seakan-akan membeku pula. Bahkan tiba-tiba mendahului Ki Demang di Kepandak, ia

berkata “Ya, memang sebaiknya kita berpikir untuk kesekian kalinya”

Senapati Mataram yang bernama Dipanata itu masih tetap dalam sikapnya. Duduk

diam diatas punggung kudanya meskipun ia sudah bersiaga menghadapi segala

kemungkinan. Demikian juga kedua prajurit yang mengawalnya. Tetapi ketika ia

mendengar kata-kata Ki Reksatani ia menarik nafas dalam-dalam.

Ki Reksatani itupun kemudian berpaling kepada Ki Jagabaya sambil berdesis “Maaf Ki

Jagabaya. Aku terlampau kasar karena luapan perasaan selagi hatiku gelap”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku mengerti”

Namun Ki Demang sendiri masih tetap diam, seakan-akan benar-benar membeku

diatas kudanya. Baru sejenak kemudian ia berkata “Aku kira Reksatani benar. Kita

harus berpikir lagi sebelum kita bertindak “Lalu kepada Tumenggung Dipanata ia

berkata “Maafkan kami tuan. Kami telah terdorong oleh perasaan yang meluap”

Tumenggung Dipanata mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia

menjawab, Ki Reksatani lelah menyambung “Aku juga minta maaf tuan. Aku

sebenarnya telah dicengkam oleh perasaan iba. Aku tidak sampai hati melihat wajah

kakang Demang yang selalu bersedih. Ia tidak pernah makan, minum dan apalagi tidur

sejak mBok-ayu Sindangsari hilang dari Kademangan”

“Aku dapat mengerti” berkata Tumenggung Dipanata “mudah-mudahan kalian benarbenar

dapat melihat persoalannya dengan hati yang bening”

“Baiklah tuan” berkata Ki Demang “aku akan mencobanya” Lalu ia berpaling kepada

Punta “Aku minta maaf kepada kalian. Aku telah mengganggu saat-saat yang

barangkali telah kalian nanti-nantikan untuk dapat segera bertemu dengan keluarga”

Puntapun justru menundukkan kepalanya. Katanya “Akupun minta maaf pula kepada

Ki Demang. Mungkin aku tidak sempat menyaring kata-kataku. Tetapi seperti Ki

Demang aku dan kawan-kawanpun agaknya sedang berpikir keruh. Kami telah

kehilangan beberapa kawan-kawan kami di perjalanan, seperti Ki Demang kehilangan

isteri Ki Demang itu di Kademangan”

Hati Ki Demang menjadi semakin pedih. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia

berkata “Seharusnya aku menyambut kalian sebagai prajurit yang datang dari medan

perang. Apapun yang sudah terjadi di peperangan, berhasil atau tidak berhasil, tetapi

kalian sudah berjuang. Perjuangan yang seharusnya kami lanjutkan kapan saja

kesempatan terbuka di hadapan kami”

“Agaknya kita sudah dapat mendekatkan hati kita” berkata Tumenggung Dipanata.

“Marilah tuan” berkata Ki Demang “aku persilahkan tuan dan anak-anak kami. Kami

akan menerima anak-anak kami dengan sepenuh hati”

“Atas nama. Senapati tertinggi dari pasukan Mataram yang telah mencoba

membersihkan tanah ini, kami mengucapkan terima kasih”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sejenak di pandangmya wajah Pamot yang

agak kepucat-pucatan. Dan agaknya bukan Pamot saja yang menjadi pucat, tetapi

hampir semuanya. Wajah-wajah itu menjadi merah oleh ketegangan yang

mencengkam sesaat. Tetapi kini wajah-wajah itu telah menjadi pucat kembali.

Demikianlah, maka Ki Demangpun kemudian kembali ke Kademangan dengan kepala

tunduk di samping Ki Tumenggung Dipanata. Berbagai macam persoalan telah

bergolak di dalam hatinya. Tiba-tiba saja Ki Demang merasa hidupnya menjadi sangat

sepi. Ia kini merasa, dimana ia sebenarnya berdiri. Di dalam keadaan yang memaksa

ia dapat melihat, bagaimanakah sebenarnya pendapat orang tentang dirinya.

Ki Demang itu merasa dirinya seakan-akan terlempar ke dalam sebuah ruang yang

kosong, sepi. Sepi sekali. Satu-satu orang di sekitarnya pergi meninggalkannya.

Isterinya, anak-anak muda kebanggaannya, Ki Jagabaya yang setia dan mungkin seisi

Kademangannya.

Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang semua

persoalan yang dihadapinya. Kini, yang tetap berdiri teguh di belakangnya tanpa

menilai baik dan buruk, benar atau salah, tinggallah adiknya, Ki Reksatani.

“Ia adalah seorang adik yang baik” desis Ki Demang di dalam hatinya “ia tidak

mempersoalkan apakah yang aku lakukan dan siapakah yang dihadapinya. Ia adalah

saudara laki-laki yang dapat dibanggakan” Ki Demang sekali lagi menarik nafas

“Sayang, bahwa ia terseret dalam persoalan ini. Persoalan yang tidak

menguntungkannya. Untunglah bahwa benturan ini belum terlanjur. Jika demikian,

maka Kademangan di Kepandak mungkin akan diambil oleh Mataram, karena kami

disini dianggap memberontak. Kini} masih ada kesempatan bagi kami disini. Kalau aku

tidak mungkin lagi dapat duduk diatas jabatanku karena kekosongan di dalam diriku

sendiri, maka aku dapat menuntut agar Keksatanilah yang menggantikan aku. Aku

juga tidak mempunyai seorang keturunanpun. Aku harus menumpang pada keturunan

Reksatani kelak. Merekalah yang berhak atas Kademangan ini di masa mendatang”

Dan Ki Demang itu merasa, bahwa waktu itu sudah menjadi semakin dekat. Agaknya

ia tidak boleh bertahan lagi terlampau lama pada kedudukannya yang sekarang.

“Kalau ternyata bahwa keterangan Senapati dan anak-anak Gemulung itu benar,

bahwa Pamot tidak pernah berhubungan dan apalagi mengambil Sindangsari, maka

aku akan meninggalkan Kademangan ini. Aku pasti tidak akan kembali sebelum aku

menemukan Sindangsari, dan sudah tentu aku harus menyerahkan semua

kewajibanku kepada Reksatani”

Ki Demang di Kepandak hampir tidak mendengarnya ketika Ki Tumenggung Dipanata

bertanya kepadanya “Apakah Ki Demang sudah berusaha sepenuhnya untuk mencari

Nyai Demang?”

Ki Demang mengangkat kepalanya yang tertunduk. Di tatapnya Tumenggung Dipanata

itu sejenak. Kemudian jawabnya “Sudah aku katakan. Semua rumah di Kademangan

Kepandak sudah dimasuki, tetapi aku tidak menemukannya. Hari ini aku menemui

setiap pemimpin dan tetua padukuhan, kecuali dua padukuhan di ujung Timur yang

belum sempat aku datangi. Mereka harus membantu mencari isteriku. Aku minta

mereka menolongku, tetapi aku juga mengancam mereka. Aku mempergunakan

kekuasaan, kedudukan dan sekaligus kemampuanku sebagai seorang yang pilih

tanding di daerah Selatan ini. Kalau aku tidak menemukannya di daerah Kademangan

ini, aku akan masuk ke Kademangan tetangga, Mudah-mudahan tidak menumbuhkan

salah paham, tetapi seandainya demikian apaboleh buat”

Senapati dari Mataram itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Para

pengawal yang baru datang itu akan membantu dengan senang hati. Tetapi

ketenangan di daerah Selatan ini harus tetap dipelihara”

“Semula aku tidak menghiraukan ketenangan itu sahut Ki Demang “Hatiku benar-benar

gelap. Tetapi sekarang aku sudah berpendirian lain”

Ki Tumenggung Dipanata mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak dipandanginya

wajah Ki Demang di Kepandak. Kemudian katanya “Agaknya Ki Demang telah

menemukan sikap yang lebih mapan”

Ki Demang mengangguk-angguk ”Ya” katanya ternyata tindakan yang tergesa-gesa itu

tidak akan menguntungkan”

“Lalu apakah yang akan kau lakukan?”

“Aku tidak akan mencari isteriku dengan cara itu. Seperti sepasukan prajurit yang maju

ke medan perang”

Ki Tumenggung Dipanata tidak segera menyahut, sedang Ki Demang berkata

selanjutnya “Aku akan pergi seorang diri, sebagai seorang laki-laki yang kehilangan

isterinya”

“Maksud Ki Demang”

“Aku akan mengembara sampai aku menemukan isteriku. Aku kira aku memerlukan

waktu”

“Lalu Kademangan di Kepandak?”

“Masih ada Reksatani. Ia berhak atas Kademangan ini seperti aku apabila aku

berhalangan. Kami berdua adalah saudara laki-laki yang sering disebut uger-uger

lawang”

Ki Dipanata menganguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak membantah niat itu. Ia sadar,

bahwa hati Ki Demang masih belum terang benar. Mungkin Ki Demang masih

memerlukan dua tiga hari untuk dapat berpikir bening.

Demikianlah maka iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin mendekati pusat

Kademangan di Kepandak. Beberapa orang yang ada di sawah dan di pinggir-pinggir

desa melihat pasukan yang lewat itu dengan mulut ternganga-nganga. Baru sejenak

kemudian mereka berdesis diantara mereka “He, bukankah itu anak-anak kepandak?”

“Ya, bukankah itu anak-anak Kepandak?” Sejenak kemudian meledaklah berita

tentang kedatangan anak-anak di Kepandak. Anak-anak berlari-larian mengikuti iringiringan

berkuda itu. Beberapa diantara mereka berteriak-teriak menyebut nama

kakaknya yang ada di antara pasukan yang baru datang. Tetapi seorang anak

perempuan menjadi berdebar-debar. Ia menatap hampir semua wajah anak-anak

muda yang lewat di depannya, di jalan padukuhan. Tetapi ia tidak melihat wajah

kakaknya. Kakak yang dikasihinya. Tanpa sesadarnya anak itu mengusap kepala

golek kayu yang dibuat oleh kakaknya itu ketika ia akan berangkat meninggalkan

keluarganya.

“Simpan golek ini baik-baik denok“ pesan kakaknya itu “besok kalau kakak kembali,

kakak membawa sehelai kain buatan Parangakik untuk golek ini”

“Tetapi kakang tidak ada diantara mereka” desis anak perempuan itu.

Ketika ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, maka ia bertanya kepada seorang

anak muda yang dikenalnya, yang berkuda di paling belakang “Apakah kau tidak

datang bersama kakang?”

Anak muda yang berkuda di paling belakang itu berpaling. Dipandanginya wajah anak

perempuan itu. Hampir saja ia menjawab pertanyaannya, tetapi tiba-tiba ia menutup

mulutnya dengan telapak tangannya.

Gadis kecil itu tidak tahu apa yang terloncat di dalam angan-angan anak muda itu.

Tanpa sesadarnya ia mengikutinya di sisi kudanya sambil sekali lagi bertanya “Apakah

kau datang bersama kakang?”

Anak muda itu menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak berani mengucapkan

jawabannya.

Gadis kecil itu akhirnya berhenti. Dipandanginya iring-iringan yang seakan-akan

semakin lama menjadi semakin panjang. Anak-anak kecil dan bahkan anak-anak

tanggung mengikutinya di belakang sambung bersambung. Tetapi gadis kecil itu

terhenti di tempatnya.

Perlahan-lahan tangannya yang kecil membelai golek kayunya yang masih telanjang.

Ia menunggu kakaknya datang membawa kain dari Parangakik atau Kuta Inten. Tetapi

kakaknya tidak terdapat diantara anak-anak muda yang datang itu.

“Apakah kakang tidak pulang” desisnya. Sebutir air mata yang bening menitik di

pipinya. Gadis itu terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling

dilihatnya seorang kakaknya yang lain berdiri di belakangnya.

“Kakang, apakah kakang Ireng tidak datang bersama kawan-kawannya itu?” ia

bertanya.

Kakaknya tidak menjawab. Dibimbingnya tangan adiknya sambil berkata “Biyung

mencarimu. Marilah kita pulang “

“Tetapi bagaimana dengan kakang Ireng?

“Biarlah ayah nanti bertanya kepada prajurit itu?

“Yang manakah prajurit itu?”

“Yang berkuda paling depan di samping Ki Demang”

“Apakah prajurit sering membunuh orang?”

“Tidak. Tidak. Prajurit tidak membunuh orang. Prajurit harus melindungi kita semua

dari bahaya”

Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya “Kakang

akan membawa kain dari Parangakik atau dari Kuta Inten. Tetapi kakang belum

pulang”

“Besok aku cari kain dari Parang Akik atau dari Kuta Inten”

Tetapi anak perempuan itu menggeleng “Tidak kakang. Nanti kau juga tidak kembali

seperti kakang Ireng. Aku tidak mempunyai lagi kawan bermain. Tidak ada lagi yang

membuat golek kayu dan bandulan.

Kakaknya mengangguk-anggukkan kepalanya “Marilah. Biyung sudah menunggu.

Bukankah kau belum makan?”

“Aku tidak makan kakang”

“Kenapa? Kau akan lapar”

“Biarlah disediakan untuk kakang Ireng, kalau tiba-tiba saja ia pulang malam nanti”

“Sudah. Kakang Ireng sudah mendapat bagiannya sendiri. Biyung sudah menyediakan

buatnya”

Gadis kecil itu tidak menjawab. Di tatapnya mata kakaknya yang tiba-tiba saja menjadi

buram. Tetapi kakaknya itu kemudian membimbingnya di sepanjang jalan padukuhan,

pulang kepada ibunya.

Dalam pada itu, iring-iringan anak-anak muda Kepandak itu sudah memasuki induk

padukuhan dari Kademangan Kepandak. Sejenak kemudian merekapun telah

menyelusuri jalan yang membelah padukuhan itu langsung menuju ke Kademangan.

Berita kedatangan anak-anak muda itu telah tersebar di seluruh Kademangan, secepat

kalimat yang berloncatan dari mulut ke mulut. Orang-orang yang berada di sawah

segera pulang menyimpan alat-alatnya. Setelah membersihkan kakinya yang kotor

oleh lumpur, mereka yang merasa mempunyai salah seorang anggauta keluarganya

ikut di dalam pasukan pengawal khusus yang dikirim ke Mataram itupun segera pergi

ke Kademangan. Bahkan mereka yang tidak mempunyai seorang keluargapun ingin

juga melihat, siapakah yang telah berhasil pulang kembali ke kampung halaman.

Anak-anak mudapun berlari-larian ke halaman Kademangan. Mereka ingin menyambut

kawan-kawan mereka yang baru pulang dari arena perjuangan meskipun kali ini

mereka belum berhasil.

Lamat yang duduk di belakang rumah Manguripun telah mendengar pula berita itu.

Anak muda yang berlari-larian di jalan sebelah dinding berkata “Mereka telah kembali”

“Kapan?” bertanya yang lain dari halaman rumah sebelah.

“Baru saja”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu, siapa saja yang ikut di dalam barisan,

dan siapa saja yang telah gugur di dalam perjuangan.

Sejenak terbayang olehnya wajah Pamot yang suram. Kemudian terbayang wajah

Sindangsari dan Ki Demang di Kepandak.

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya “Persoalan di dalam

kepalaku benar-benar persoalan yang sangat pelik. Kenapa tidak terbayang betapa

dahsyatnya perjuangan untuk mengatasi segala macam kesulitan yang timbul karena

pengkhianatan itu? Perjuangan melawan orang-orang asing yang ganas dan

perjuangan menghadapi diri sendiri, menghadapi pengkhianat-pengkhianat” Lamat

menarik nafas dalam-dalam “Aku belum pernah melihat perjuangan sedahsyat itu. Aku

baru melihat perjuangan untuk merebut seorang perempuan di halaman Kademangan.

Aku baru melihat perjuangan untuk merebut kedudukan seorang Demang di

Kepandak.

Lamat menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia terkejut ketika dari kejauhan ia

mendengar Manguri berteriak “Lamat kemari kau”

Dengan malasnya Lamat berdiri dan berjalan ke gandok. Tetapi ia tidak menemui

Manguri disitu. Agaknya ia telah pergi ke pringgitan. Dari pringgitan ia berteriak “Aku

disini. Apakah kau sedang tidur atau sudah mati sama sekali?”

Lamatpun pergi ke pringgitan pula. Dengan wajah yang tegang Manguri berkata. “Aku

harus, menunggumu sampai tua. Apakah kau tidak mendengar?”

Lamat tidak menjawab.

“Duduklah”

Lamatpun kemudian duduk diatas tikar pandan. Sekali di tatapnya wajah Manguri yang

tegang. Namun kemudian iapun menundukkan wajahnya.

“Dimana kau selama ini?” bertanya Manguri.

“Aku berada di belakang, di sisi dapur”

Manguri memandanginya dengan tajam, seolah-olah ia tidak sabar lagi menunggu

Lamat datang kepadanya.

“Apakah kau sudah mendengar berita tentang anak yang pergi ke Mataram itu?”

Lamat menganggukkan kepalanya “Ya, aku sudah mendengar”

Dari mana kau mendengarnya?”

“Anak anak yang lewat di jalan sebelah saling berbicara tentang anak-anak yang telah

kembali itu”

“Kau bertanya kepada mereka?”

Lamat menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak bertanya kepada mereka”

“Kenapa?”

Lamat tidak segera menjawab.

“Kenapa?” Manguri berteriak.

“Mereka bersikap kurang baik kepada kita. Aku segan untuk berbicara dengan anakanak

itu”

Manguri menggeram. Namun kemudian ia berkata “Aku juga sudah mendengar. Anakanak

itu sudah kembali, termasuk Pamot”

Lamat mengangkat wajahnya “Jadi Pamot juga sudah kembali?”

“Ternyata ia tidak mati di perjalanannya. Ia sempat kembali dan melihat Sindangsari

hilang”

Lamat kini menjadi tegang pula tanpa diketahuinya sendiri, apakah sebabnya. Ia tidak

takut kepada Pamot. Ia tidak membenci Pamot dan ia tidak begitu berkepentingan.

Seandainya Pamot marah karena Sindangsari hilang, maka persoalannya akan

berkisar pada Ki Demang di Kepandak. Bahkan mungkin mereka akan saling tuduh

menuduh sehingga keduanya akan berbenturan. Sudah tentu Pamot tidak akan berarti

apa-apa bagi Ki Demang di Kepandak.

“Aku pasti tidak akan tersentuh oleh persoalan ini. Apalagi Pamot, sedang Ki Demang

di Kepandakpun tidak tahu, bahwa aku telah terlibat di dalam persoalan hilangnya

Sindangsari ini” berkata Lamat di dalam hatinya.

Namun ia tidak dapat lari dari perasaan sendiri. Ia merasa berdebar-debar dan dikejarkejar

oleh kecemasan yang tidak dimengertinya sendiri.

“Lamat” berkata Manguri kemudian “apa katamu tentang Pamot yang telah kembali

itu?”

Seperti yang mendesak di hatinya, maka seakan-akan tidak berpikir lagi Lamat

menyahut “Mungkin akan terjadi sesuatu karena kedatangannya”

“Apa? Apakah anak itu akan menuduh kita?”

“Mungkin. Tetapi bukankah mereka tidak dapat membuktikan?”

“Bagaimana menurut pertimbanganmu?”

Tiba-tiba Manguri membentak “Akulah yang bertanya kepadamu”

“Ya, ya. Mungkin karena perasaan cintanya, Pamot akan ikut serta merasa kehilangan.

Memang mungkin ia akan ikut mencari perempuan itu. Tetapi bukankah ia dapat

melibatkan kita seperti Ki Demang juga tidak berhasil menyeret kita di dalam persoalan

ini?”

“Jawablah dengan tegas. Dengan pasti. Kau sendiri tidak yakin akan jawabanmu.

Nada kata-katamu sangat meragukan”

“Maksudku, Pamot tidak akan dapat membuktikan bahwa kita terlibat di dalam

persoalan ini. Ya, begitulah. Kita tidak usah cemas, siapapun yang akan ikut serta

mencari Sindangsari”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Aku mengharap

suruhan ayah akan datang malam ini. Aku harus segera tahu dimana perempuan itu

disembunyikan”

“Ya, Aku kira malam ini suruhan itu pasti akan datang. Waktunya sudah cukup lama.

Tetapi sebaiknya ia tidak datang terlampau malam supaya tidak menumbuhkan

kecurigaan”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya iapun kemudian berjalan hilir mudik dengan gelisahnya.

“Ya, suruhan ayah tidak boleh datang pada waktu yang dapat menumbuhkan

kecurigaan”

Lamat tidak menyahut. Di biarkan saja Manguri berjalan hilir mudik sambil sekali-sekali

mengusap keringat dinginnya.

Dalam pada itu, maka senjapun perlahan-lahan turun menyelimuti Kademangan di

Kepandak. Di halaman rumah Ki Demang, sepasukan anak-anak muda Kepandak

berbaris rampak diatas punggung kuda. Di paling depan, adalah Ki Tumenggung

Dipanata diapit oleh kedua pengawalnya. Di hadapan mereka adalah Ki Demang di

Kepandak yang kebetulan memang duduk pula diatas punggung kuda. Di sampingnya

para bebahu Kademangan dan Ki Reksatani yang duduk diatas kudanya pula. Di

belakang mereka adalah para bebahu yang lain, para pengawal Kademangan dan

rakyat Kepandak yang tidak sabar menyambut anak-anak mereka yang baru saja

kembali.

Di hadapan Ki Demang di Kepandak Ki Tumenggung Dipanata menceriterakan segala

sesuatu mengenai anak-anak muda dari Kepandak. Ia sengaja berkata lantang, agar

rakyat di Kepandak dapat mendengar langsung dari mulutnya, apa yang sebenarnya

telah terjadi di perjalanan. Dengan demikian maka mereka akan dapat

menggambarkan betapa berat perjuangan anak-anak Kepandak itu selama mereka

menunaikan tugas negara. Tugas yang merupakan tanggung jawab bagi setiap orang

yang lahir di bumi Mataram, yang minum sumber air Tanah Mataram, dan yang makan

hasil bumi Tanah Mataram.

“Kami sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari kemungkinan yang pahit”

berkata Ki Tumenggung Dipanata “Jer Basuki Mawa Bea. Karena itulah maka ada

diantara anak-anak kami yang kini tidak dapat pulang bersama-sama dengan kami”

Wajah-wajahpun segera menjadi tegang. Apalagi mereka yang tidak dapat melihat

anak-anak mereka, suami-suami mereka yang belum lama mengikat perkawinan, adikadik

mereka dan kekasih-kekasih mereka.

Sejenak Ki Dipanata terdiam. Iapun melihat, diantara wajah-wajah orang Kepandak,

adalah wajah-wajah yang kecemasan. Dan merekapun harus menerima suatu

kenyataan, bahwa ada diantara anak-anak Kepandak yang memang tidak kembali dan

tidak akan pernah kembali.

Akhirnya Ki Tumenggung Dipanata berkata “Aku kira, aku memang lebih baik berterus

terang. Aku tidak ingin menyangkutkan harapan pada hati yang gelisah. Apalagi

harapan yang tidak akan pernah datang” Ki Tumenggung berhenti sejenak, lalu

“Memang ada diantara anak-anak kami yang gugur di peperangan atau karena sebabsebab

lain. Tetapi semuanya itu merupakan korban bagi perjuangan yang agaknya

masih panjang”

Wajah-wajah orang Kepandakpun menjadi semakin tegang. Bahkan mereka yang telah

melihat keluarga mereka di antara anak-anak muda yang datang, menjadi berdebardebar

pula.

Ki Tumenggung Dipanatapun kemudian menyebutkan nama-nama dari mereka yang

tidak dapat kembali. Di antara yang berangkat, seperempat yang tidak dapat melihat

kampung halamannya kembali.

Halaman Kademangan itu menjadi hening sejenak. Tidak seorangpun yang

mengucapkan kata-kata ketika’ Ki Tumenggung Dipanata menyebutkan nama-nama

itu. Namun sejenak kemudian meledaklah tangis diantara mereka. Ibu-ibu, isteri-isteri

yang masih muda, saudara kandung dan kekasih-kekasih yang menjadi pasti bahwa

yang mereka tunggu tidak akan pulang tidak dapat menahan air mata mereka. Mereka

telah kehilangan yang mereka kasihi. Anak yang dipelihara sejak bayi, hilang ketika ia

meningkat dewasa. Anak-anak yang masih sangat muda harus sudah meninggalkan

hijaunya dedaunan dan beningnya air sumur di Kepandak.

“Mereka telah mati” desis seorang perempuan tua.

Dan tiba-tiba seorang perempuan muda meloncat maju sambil menyingsingkan

kainnya. Dengan air mata yang membanjir ia berlari mendekati Tumenggung Dipanata.

Sambil menunjuk dengan jarinya ia berteriak “Kau, kau adalah pembunuh. Kau

jerumuskan suamiku itu ke dalam neraka yang paling jahat. Sekarang ia mati, sedang

aku lagi mengandung. Siapakah yang akan dapat menunjukkan kepada anak ini,

betapa wajah ayahnya yang sejuk. Suamiku kau bunuh sebelum ia memeluk bayinya”

Ki Tumenggung Dipanata mengerutkan keningnya.

“Sekarang kau tanpa perasaan apapun menyebut nama-nama orang yang telah kau

jerumuskan ke dalam kematian itu. Kenapa bukan kau sendiri yang mati? Kenapa?“

Ki Tumenggung Dipanata masih tetap berdiam diri, sementara suasana menjadi

semakin tegang. Ki Reksatani yang memang sedang berhati gelap, meloncat turun dari

kudanya sambil berkata “He, perempuan bodoh. Bukan kau sendiri yang kehilangan.

Kau harus rela suamimu mati. Bukan Ki Tumenggung Dipanatalah yang

membunuhnya. Tetapi peperangan. Peperangan itu sendirilah yang telah membunuh,

bukan saja suamimu, tetapi berpuluh-puluh orang yang lain, bahkan beratus-ratus”

“Tetapi prajurit itulah yang telah menjerumuskan suamiku ke dalam peperangan. Ialah

yang pantas mati. Ia seorang prajurit. Bukan suamiku, bukan suamiku”

Perempuan itu berteriak-teriak sambil menunjuk wajah Ki Tumenggung Dipanata.

“Pergi, pergi kau” teriak Ki Reksatani sambil melangkah mendekatinya. Wajahnya

menjadi merah padam dan giginya gemeretak.

Tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar Ki Tumenggung Dipanata berkata

“Biarlah. Biarlah ia mencurahkan isi hatinya. Kita dapat membayangkannya, betapa

sakitnya seseorang yang kehilangan”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandang

wajah Ki Demang. Tetapi wajah itu tertunduk dalam-dalam. Sedang Ki Tumenggung

masih melanjutkannya “Dan perempuan ini telah kehilangan suaminya. Tanpa harapan

untuk dapat menemukan kembali”

Suasana di halaman itu menjadi hening. Ki Jagabayapun telah turun dari kudanya.

Perlahan-lahan ia melangkah maju mendekati perempuan yang sedang menangis itu.

Perempuan itu adalah kemanakannya.

“Sudahlah” berkata Ki Jagabaya “jangan menangis lagi. Kita tidak dapat menuntut atas

kematian seseorang, karena hidup dan mati itu bukan terletak di tangan kita.

Dimanapun kita dapat dijemput oleh maut. Di rumah, di sawah, disungai dan bahkan

selagi kita tidur sekalipun. Apalagi suamimu sedang berada di peperangan”

“Kenapa suamiku dibawa ke peperangan paman?” bertanya perempuan itu.

“Bukan suamimu sendiri yang dibawa kepeperangan. Seperti kau mempertahankan

milikmu sendiri, maka suamimu telah mempertahankan miliknya pula. Milik kita semua.

Dan karena itu, maka anak-anak muda kita sudah berangkat. Tetapi hidup dan mati

bukanlah kita yang menentukan”

Perempuan itu masih menangis. Tetapi Ki Jagabaya kemudian membimbingnya

menepi. Diserahkannya perempuan itu kepada seorang perempuan tua tetangganya.

“Apakah mertuanya tidak datang?” ia bertanya kepada perempuan tua itu.

Perempuan tua itu menggeleng.

“Kenapa?”

“Ia takut mengalami kejutan seperti ini. Ia sedang mencoba mengatur perasaannya,

karena ia mendengar dari anak-anak yang melihat iring-iringan ini, bahwa anaknya

tidak ada di antara mereka”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun kembali ke samping

kudanya. Tetapi ia tidak meloncat naik, sementara Ki Reksatanipun masih juga berdiri

di samping kudanya pula.

“Kita tidak dapat mengingkari perasaan itu” berkata Ki Tumenggung Dipanata

“bukankah di dalam hati kita masing-masing juga melonjak perasaan yang serupa,

meskipun dalam ukuran yang berbeda? Kita masih sempat mempertimbangkannya

dengan nalar, tetapi agaknya perempuan itu tidak”

Suasana di halaman Kademangan itu menjadi hening. Sekali-sekali mereka masih

mendengar isak yang semakin menjauh Perempuan yang kehilangan suaminya itu

telah dibimbing oleh tetangganya meninggalkan halaman Kademangan.

“Sudahlah“ perempuan tua itu mencoba meredakan tangisnya “berdoalah kepada

Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, agar bayimu yang hampir lahir itu

mendapat perlindungannya”

“Tetapi ia tidak akan pernah melihat ayahnya”

“Kita memang tidak dapat ingkar dari keharusan yang telah tergores di sepanjang

perjalanan hidup kita masing-masing. Percayalah kepada kebesaran Tuhan. Pasti

bukan maksudnya untuk sekedar menyiksa perasaan kita tanpa arti. Memang mungkin

sekali akal dan nalar kita yang picik tidak akan pernah dapat mengerti isyarat yang

diberikan oleh Tuhan kepada kita masing-masing”

Perempuan itu tidak menyahut. Tetapi ia masih menangis dan suara isaknya telah

menyelusuri jalan-jalan di padukuhan Kepandak.

Di halaman Kademangan Ki Tumenggung Dipanata masih memberikan beberapa

petunjuk dan penjelasan. Dengan hati yang tersayat ia menyaksikan wajah-wajah yang

pucat dan mata yang basah.

Akhirnya Ki Tumenggung Dipanata itu berkata kepada Ki Demang di Kepandak “Ki

Demang. Aku menyesal sekali bahwa aku tidak dapat menyerahkan kembali anakanak

muda Kepandak sejumlah yang pernah kalian serahkan kepada Mataram. Tetapi

seluruh Mataram tidak akan pernah melupakan perjuangan mereka. Mungkin para

pemimpin dikemudian hari sama sekali tidak mengenal dan tidak pernah mendengar

nama-nama anak-anak muda yang telah gugur, tetapi jasa yang pernah diberikan tidak

akan dapat terhapus, walaupun tidak seorangpun yang akan menyebutnya lagi. Darah

yang pernah menitik di bumi Tanah Air akan tetap seperti yang pernah terjadi. Diakui

atau tidak diakui orang-orang yang akan datang kelak”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Cahaya senja yang merah mulai

membayang di langit, sehingga wajah-wajah mereka yang berada di halaman

Kademangan itupun menjadi kemerah-merahan pula.

Namun dalam pada itu, hati Ki Demang sendiri justru perlahan mulai mengendap.

Seolah-olah ia mendapatkan beberapa orang kawan sepenanggungan. Beberapa

orang yang telah kehilangan seperti dirinya sendiri. Bahkan mereka dapat menyebut

diri mereka, keluarga seorang pahlawan.

Ki Demang di Kepandak menundukkan kepalanya. Kini baru terasa, bahwa ia telah

terdorong oleh perasaannya tanpa pertimbangan nalar yang bening. Untunglah bahwa

Ki Tumenggung Dipanata seorang perwira yang bertanggung jawab. Kalau tidak,

seandainya saja ia menyerahkan Pamot kepadanya selagi hatinya gelap, ia tidak dapat

membayangkan, apa yang telah dilakukannya. Ia pasti berusaha untuk memeras anak

itu agar ia mengakui, bahwa ia telah mengambil Sindangsari. Benar atau tidak benar.

Kalau ia sudah mengucapkan pengakuan, meskipun terpaksa, maka pengakuan itu

akan menjadi alasan untuk berbuat apa saja atasnya lebih jauh lagi.

“Nah” berkata Ki Tumenggung Dipanata kemudian “terimalah anak-anak kalian

kembali. Aku masih akan sering datang ke Kademangan ini karena tugasku belum

selesai. Anak-anak yang tidak dapat kembali kepada keluarganya, akan sekedar

mendapat pernyataan terima kasih dari Sinuhun Sultan Agung. Mereka akan mendapat

sebidang tanah yang akan diserahkan kepada keluarganya. Tanah yang akan dibeli

oleh Sinuhun Sultan Agung di daerah mereka masing-masing”

Ki Demang mengangkat wajahnya. Dengan kata-kata yang dalam ia menerima anakanak

muda di Kepandak kembali ke rumah masing-masing, meskipun tidak sebanyak

pada saat mereka berangkat.

Setelah penyerahan itu selesai maka anak-anak muda yang baru saja kembali itupun

kemudian diperkenankan pulang. Mereka mendapat hadiah masing-masing seekor

kuda, Kuda yang cukup baik bagi anak-anak di Kepandak.

Namun dalam pada itu, Pamot masih termangu-mangu di luar regol halaman. Betapa

ia ingin segera pulang, tetapi rasa-rasanya sesuatu telah membebani hatinya.

“Marilah Pamot“ ajak ayahnya yang menjemputnya di halaman itu pula.

“Silahkan ayah pulang dahulu. Aku akan segera menyusul”

“Seisi rumah menunggumu Pamot”

“Ya, ya ayah. Aku tahu. Aku akan segera pulang. Tetapi aku akan menunggu dahulu.

Aku persilahkan ayah mendahului”

Ayahnya menjadi berdebar-debar. Teringat olehnya beberapa saat yang lampau,

beberapa orang telah mencari anaknya yang saat itu belum datang.

“Apakah ada sesuatu yang penting?” ia bertanya

“Silahkan ayah mendahului” berkata Pamot kemudian “aku akan segera menyusul”

Ayahnya tidak dapat memaksanya. Karena itu, maka ditinggalkannya Pamot di depan

regol dengan hatinya yang berat. Bahkan langkahnyapun kadang-kadang tertegun.

Ketika ia berpaling, dilihatnya Punta telah berada di samping anaknya.

“Kau tidak pulang” bertanya Punta.

“Hatiku serasa dibebani oleh sesuatu. Aku akan menghadap Ki Demang di Kepandak.

Barangkali hal itu akan menjadi lebih baik bagiku daripada aku harus menunggu ia

mengambilku di rumah. Apalagi dengan paksa”

Punta menarik nafas dalam-dalam. Ia masih melihat Ki Tumenggung Dipanata dijamu

dipandapa.

“Apakah kau akan menghadap sekarang?” bertanya Punta.

Pamot mengangguk.

“Marilah. Aku antar kau menghadap Ki Demang, mumpung Ki Tumenggung masih

ada”

Jilid 8 – Bab 2 : Sembojan

“Apakah kau tidak segera pulang?”

“Aku menunggumu sebentar. Aku akan

mempersilahkan ayah mendahului”

“Ayahku juga sudah dahulu pulang”

Punta yang mempersalahkan ayahnya

mendahului, kemudian mengantarkan Pamot

masuk kembali ke halaman Kademangan

Kepandak. Meskipun mereka agak ragu-ragu,

namun merekapun kemudian meloncat turun dari

punggung kuda mereka, dan mengikat kuda itu di

halaman.

Di pendapa Kademangan, Ki Demang di

Kepandak yang sedang menjamu Ki Tumenggung

Dipanata bersama para bebahu Kademangan

menjadi heran melihat Pamot dan Punta yang

tidak segera pulang dan justru kembali ke

pendapa.

Berbeda dengan nafsu Ki Demang yang meluapluap

untuk menangkap Pamot ketika ia baru datang, kini ia justru menjadi berdebardebar

melihat Pamot kembali. Meskipun ia belum melakukan tuduhan apapun yang

ditekankannya kepada anak muda itu, tetapi rasa-rasanya Pamot akan mengajukan

keberatannya atas tuduhan itu.

Karena itu, maka justru Ki Demang seakan-akan telah terbungkam karenanya. Hanya

perasaannya sajalah yang bergolak di dalam dadanya.

Yang mula-mula bertanya kepada Pamot justru adalah Ki Tumenggung Dipanata

“Kenapa kau kembali lagi Pamot?”

Pamot masih berdiri di bawah tangga pendapa bersama Punta. Sejenak ia termangumangu.

Namun kemudian ia menjawab “Tuan, aku menjadi bimbang untuk

meninggalkan Kademangan. Terasa sesuatu telah memberati langkahku. Aku ingin

pulang dengan tenang dan dapat beristirahat dengan tenang pula”

“Kenapa kau menjadi gelisah. Kau sudah dapat pulang sekarang. Pulanglah. Tidak ada

persoalan lagi yang perlu kau gelisahkan”

“Tetapi rasa-rasanya aku tidak akan dapat tidur. Setiap saat aku dapat diambil dari

rumahku. Karena itu, aku ingin semuanya menjadi jernih dahulu. Dengan demikian aku

akan dapat pulang dengan tenang. Punta akan menjadi saksi dari semua persoalanku”

“Kau memang bodoh“ Ki Reksatanilah yang menyahut “kau sudah mendapat

kesempatan pulang. Sekarang kau menantang kakang Demang. Apakah kau sangka

bahwa setelah kau pulang dari perjuanganmu itu kau menjadi kebal?”

“Bukan begitu Ki Reksatani” jawab Pamot “aku hanya ingin, bahwa aku dapat pulang

dan beristirahat dengan tenang, Aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak

akan terganggu lagi karenanya”

“Itu tidak mungkin. Selama persoalan mBok-Ayu Demang di Kepandak belum selesai,

kemungkinan yang demikian masih ada” sahut Ki Reksatani pula “kami masih tetap

mencurigai kau, sebelum kau benar-benar dapat membuktikan bahwa kau tidak

bersalah”

“Nah, yang aku inginkan, biarlah hal-hal yang demikian itu menjadi jernih sama sekali”

“Kalau begitu kau ingin aku tangkap he?” bentak Ki Reksatani “atau kau ingin

memanfaatkan kehadiran Ki Tumenggung Dipanata, agar kau mendapat

Perlindungannya?”

“Ki Reksatani agaknya menjadi salah paham” berkata Punta lambat “bukan maksudnya

menantang persoalan. Tetapi justru karena ia merasa terganggu oleh persoalan itu, ia

ingin mencoba untuk mendapat penyelesaian sehingga ia benar-benar dapat pulang

dengan hati tenteram“

“Persetan kau” bentak Ki Reksatani “kau tidak tahu apapun tentang persoalan ini”

Ki Tumenggung Dipanata mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak senang

melihat sikap Ki Reksatani sejak ia bertemu di jalan. Tetapi karena Ki Reksatani adalah

adik KiDemang di Kepandak, maka Senapati Mataram itu masih mencoba menahan

hatinya.

Ki Demang yang selama itu hanya berdiam diri saja, kemudian mengangkat wajahnya

sambil menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Sudahlah Reksatani, biarlah

aku menyelesaikannya”

“Sekarang?” bertanya adiknya.

“Ya. Sekarang”

Ki Reksatani menjadi heran. Bahkan orang-orang lain yang ada di pendapa itupun

menjadi heran pula.

“Pamot” berkata Ki Demang “kemarilah, dan duduklah bersama kami sebentar. Aku

tahu, seluruh keluargamu menunggu kedatanganmu”

Pamot ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun naik ke pendapa diikuti oleh Punta.

Sejenak kemudian kedua anak-anak muda itu telah duduk sambil menundukkan

kepalanya.

“Pamot” berkata Ki Demang dengan nada suara yang dalam. Sama sekali tidak lagi

terbayang di dalam getaran suaranya, nafsu yang menyala di dadanya untuk memaksa

anak itu mengatakan sesuatu tentang Sindangsari “Sebelum kau datang, aku memang

menyimpan kecurigaan atasmu. Apalagi setelah aku mendengar bahwa kau telah

berada beberapa hari di Mataram. Dan kini aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau

telah mengambil Sindangsari dari Kademangan ini?”

Pamot mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa begitu tiba-tiba Ki Demang

bertanya kepadanya di hadapan sekian banyak orang termasuk Ki Tumenggung

Dipanata.

“Cobalah, jawablah pertanyaanku itu Pamot?”

“Sejak aku datang Ki Demang, aku sama sekali tidak boleh keluar dari barak, dan

akupun mematuhinya”

“Ya, aku sudah menduga. Dan aku percaya bahwa kau telah mematuhi peraturan itu.

Karena itu, aku juga percaya bahwa kau tidak mengambil Sindangsari dari

Kademangan.

Pamot menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu. Dan Ki Demanglah

yang berkata kemudian “Sekarang, semua persoalan sudah selesai bagimu. Kau boleh

pulang dengan hati yang lapang. Aku tidak akan mengganggumu lagi”

“Kakang Demang” potong Ki Reksatani “apakah cukup begitu saja?”

“Aku sudah menganggapnya cukup”

“Tunggu“ Ki Reksatani bergeser setapak mendekati kakaknya “aku masih belum puas.

Masih banyak sekali kemungkinan dapat terjadi. Ia dapat meminjam tangan orang lain

untuk melakukannya, meskipun anak itu sendiri tidak meninggalkan baraknya”

Ki Demang merenung sejenak. Namun kemudian ia berkata “Aku percaya kepadanya.

Ia sudah mengatakan bahwa ia tidak mengambil isteriku”

Ki Reksatani masih akan berkata sesuatu, tetapi Ki Jagabaya mendahuluinya “Kalau

pendapat Ki Demang ternyata keliru, lain kali kita dapat memperbaikinya. Sekarang,

aku kira Pamot memang sudah boleh pulang. Keluarganya pasti sudah menunggunya.

“Ia memang sudah diijinkan pulang sejak semula” bantah Ki Reksatani “tetapi ia datang

sendiri menantang kakang Demang untuk membuka persoalan mengenai Sindangsari.

Kalau ia sejak semula tidak lagi membuat ribut disini, akupun tidak akan

mengganggunya”

“Jangan diperbincangkan lagi” berkata Ki Demang kemudian “aku menganggap sudah

cukup”

Lalu katanya kepada Pamot “pergilah sebelum aku merubah keputusanku”

Pamot beringsut surut. Tetapi tampaknya Ki Reksatani masih belum puas sama sekali.

Namun demikian ketika Ki Demang berpaling menatap matanya, Ki Reksatani tidak

mengatakan sesuatu lagi.

Ki Tumenggung Dipanata menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah payah ia

menahan hatinya. Dibiarkan Ki Demang di Kepandak mencegah adiknya sendiri kalau

ia ikut campur betapapun perasaannya melonjak-lonjak maka harga diri Ki Reksatani

pasti akan lebih mempersulit penyelesaian.

Pamotpun kemudian minta diri bersama Punta yang selalu mengawaninya. Dengan

hati yang masih diliputi oleh keragu-raguan Pamot meninggalkan halaman

Kademangan.

“Ternyata aku masih belum mendapatkan ketenangan itu” berkata Pamot kepada

Punta.

“Tetapi kau dapat beristirahat dengan lebih baik. Setidak-tidaknya sekarang kau

mengetahui, siapakah sebenarnya yang masih berkeras hati mencurigaimu. Aku

mengharap bahwa sikap Ki Demang itu tidak segera berubah”

“Apakah ia akan tetap berpendirian begitu seandainya Ki Tumenggung Dipanata sudah

kembali ke Mataram?”

Punta termenung sejenak. Lalu “Aku kira demikian. Ki Demang bukan seorang

pengecut. Kalau ia mempunyai sikap pribadi, ia tidak akan mudah terpengaruh oleh

kehadiran siapapun juga. Agaknya ia menemukan persoalan baru di dalam dirinya,

sehingga ia telah mengurungkan niatnya. Aku, Ki Jagabaya dan Ki Tumenggung

Dipanata telah mencoba menyentuh perasaannya, sehingga mungkin sekali persoalanpersoalan

baru itu telah dapat merubah sikapnya”

Pamot tidak menyahut. Tetapi kepalanya terangguk-angguk.

Keduanyapun kemudian berpisah di ujung jalan yang memasuki padukuhan

Gemulung. Mereka telah memilih jalan ke rumah masing-masing.

Malam itu Ki Tumenggung Dipanata bermalam satu malam di Kademangan Kepandak.

Ki Demang bahkan telah menyanggupi, bahwa di kesempatan yang dekat, ia akan

menyelenggarakan malam-malam penyambutan resmi bagi anak-anak Kepandak yang

telah kembali itu.

“Lain kali aku akan menga akan pertunjukan di halaman ini untuk mereka” berkata Ki

Demang “tetapi sementara ini aki ingin mengatur perasaanku lebih dahulu.Aku

memang harus malu terhadap mereka yang kehilangan suami mereka. Mereka

terpaksa menerima keadaan itu, sama sekali tanpa harapan bahwa suami mereka itu

akan datang kembali”

“Justru karena itu” sahut Ki Reksatani yang duduk di belakangnya “seandainya

mBokayu sudah diketemukan mati sama sekali, kita tidak akan bersusah payah

mencarinya. Tetapi kita sekarang selalu dibayangi oleh gambaran-gambaran apakah

yang sedang terjadiatasnya kini. Saat ini. Malam ini dan malam-malam berikutnya,

selagi ia mengandung tua”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, Manguri dengan gelisahnya menunggu pesuruh ayahnya yang akan

memberi tahukan, dimanakah kini Sindangsari itu disembunyikan.

“Malam ini pesuruh itu harus datang” desis Manguri.

Lamat, yang diajaknya berbincang hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya

sambil mengulangi kata-kata Manguri “Ya, malam ini pesuruh itu harus datang”

Sejak senja Manguri tidak beringsut dari tangga pendapa rumahnya. Matanya melekat

pada pintu regolnya yang tertutup. Hatinya berdesir setiap kali daun pintu regol itu

bergerit. Tetapi yang lewat bukanlah orang yang ditunggunya. Mereka adalah pelayanpalayan

yang sedang pulang dari sawah, atau dari sungai atau dari manapun juga.

Juga anak-anak yang menyabit rumput buat ternak di kandang.

“Kalau ia datang terlampau malam, ia pasti dicurigai oleh para peronda yang seakanakan

ikut menjadi gila pula sekarang” berkata Manguri. Kemudian “Kalau salah

seorang dari pesuruh itu tertangkap, dan tidak dapat menyimpan rahasia lagi, maka

semuanya akan hancur berantakan. Usaha yang kita lakukan sampai saat ini akan

menjadi sia-sia saja”

“Bukan saja sia-sia “sambung Lamat “tetapi Kademangan ini pasti akan dibakar oleh

kerusuhan yang tidak mudah teratasi, kecuali apabila Pasukan Mataram datang untuk

melerainya”

“He“ Manguri membelalakkan matanya “jadi kau pikir, apabila keadaan memaksa, kita

tidak akan dapat menyelesaikan persoalan ini sehingga kita harus menyerahkannya

kepada orang-orang Mataram?”

Lamat mengerutkan keningnya.

“Kau sangka mereka akan berbuat sebaik-baiknya disini? Tidak. Mereka justru akan

menambah kekeruhan saja. Mereka akan memeras kita kedua-belah pihak. Mereka

akan merampas apa saja yang mereka kehendaki. Bahkan termasuk Sindangsari

sendiri”

“Itu tidak mungkin” tiba-tiba saja Lamat membantah, sehingga Manguri menjadi

terheran-heran.

“Kenapa tidak mungkin?”

“Ayah Sindangsari juga seorang prajurit“ Lamat melanjutkannya.

Jawaban Lamat itu ternyata dapat dimengerti pula oleh Manguri, Sindangsari memang

anak seorang prajurit. Namun tiba-tiba ia berkata pula “Mungkin kau benar.

Sindangsari memang anak seorang prajurit meskipun prajurit itu sudah mati. Tetapi

masalah yang lain kecuali Sindangsari, akan terjadi seperti yang aku katakan”

Lamat menggelengkan kepalanya Desisnya “Mudah-mudahan tidak. Memang mungkin

ada satu dua orang prajurit yang berbuat demikian. Tetapi kawan-kawan mereka pasti

akan mencegahnya dan bahkan pemimpin mereka pasti akan menghukumnya”

Manguri menjadi heran mendengar kata-kata Lamat. Karena itu ia bertanya “Dari siapa

kau dengar hal itu?”

Lamat tiba-tiba saja menjadi bingung. Tetapi ia kemudian menjawab “Aku sering

mendengar pembicaraan orang-orang yang lewat di jalan sebelah apabila aku sedang

berada di regol atau sedang memperbaiki dinding batu yang pecah atau aku sedang

berjalan ke sawah. Sejak anak-anak Gemulung pergi ke Mataram, hampir setiap orang

berbicara tentang prajurit dan anak-anak muda yang pergi itu”

Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeram “Persetan. Tetapi

pesuruh ayah itu harus datang”

Lamat tidak menyahut. Tetapi ia menjadi berdebar-debar pula. Bahkan kemudian

terbayang di rongga matanya apa yang akan terjadi di Kademangan ini seandainya

permainan Manguri dan Ki Reksatani gagal. Tetapi seandainya permainan itu berhasil

apakah yang akan terjadi dengan Sindangsari dan Ki Demang di Kepandak?”

Lamat kemudian duduk membisu ketika Manguri berjalan hilir mudik dengan

gelisahnya. Bahkan ketika malam menjadi gelap. Ia berkata “Kita menunggu di depan

regol”

Lamat tidak membantah. Diikutinya saja Manguri yang berjalan ke regol halaman

rumahnya.

Namun sebelum mereka sampai keregol, mereka melihat pintu regol yang sudah

tertutup itu tersibak.

Seorang laki-laki yang menuntun seekor kuda melangkah memasuki halaman.

“Siapa?” Manguri bertanya.

“Aku, Bandil”

“O, kau” desis Manguri “apakah kau membawa pesan ayah?”

“Ya”

“Bagus. Bagus.Marilah, masuk sajalah ke pringgitan”

Setelah membawa kudanya ke belakang, laki-laki yang bernama Bandil itupun dibawa

masuk oleh Manguri dan Lamat ke pringgitan.

“Apakah kau baru saja datang?”

“Ya. Aku kemalaman di jalan”

“Kenapa?”

“Aku agak terlambat memasuki Kademangan Kepandak. Aku takut dicurigai. Karena

itu, aku menempuh jalan-jalan sempit dan bahkan menuntun kudaku di jalan setapak.

Aku menghindari gardu-gardu peronda supaya tidak ada seorangpun yang melihat aku

datang”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya “Kenapa kau datang

terlampau malam?”

Orang itu tidak segera menjawab.

“Kenapa he?” Manguri mendesak.

Sejenak orang itu menatap wajah Manguri, namun kemudian ia menundukkan

kepalanya. Namun ia masih tetap diam.

“Kenapa?” akhirnya Manguri membentak. Tetapi orang itu justru tersenyum tersipusipu.

Sambil beringsut sedikit ia berkata “Memang, memang aku agak kemalaman”

“Apakah ayah memang terlambat menyuruhmu berangkat?”

Orang itu menggeleng “Tidak aku tidak terlambat berangkat”

“Jadi bagaimana?”

“Aku singgah sejenak”

“Singgah dimana?”

“Di rumah isteri mudaku”

“Gila. Kau benar-benar gila. Kami yang menunggu disini serasa berdiri diatas bara.

Kau seenaknya singgah di rumah isteri mudamu. Kau sungguh-sungguh sudah gila.

Kalau ayah mendengar, kau akan dihajarnya habis-habisan” Manguri menggeretakkan

giginya. Tangannya sudah menjadi gatal. Kalau saja orang itu bukan orang yang

disuruh ayahnya membawa kabar penting dan rahasia, orang itu pasti sudah

dipukulnya “Kau tahu akibat dari kelambatanmu karena kau singgah di rumah isteri

mudamu itu he? Kalau kau tertangkap dan kau dipaksa berbicara, semuanya akan

berantakan”

“Sebenarnya aku juga tidak ingin singgah di rumah isteri mudaku itu. Tetapi jalan yang

aku lalui lewat tepat di muka rumahnya. Dan kebetulan sekali isteri mudaku itu baru

berada di regol halaman”

“Kau dapat mengatakan bahwa kau sedang bergegas”

“Aku sudah mengatakan”

“Kenapa kau singgah juga”

“Ia menangis kalau aku tidak mau singgah”

“Menangis?”

“Ya. Isteriku itu baru berumur empat belas tahun”

“Gila. Kau benar-benar gila. Kau sudah setua itu masih mempunyai seorang isteri

berumur empat belas tahun”

“O, itu masih belum mengherankan. Apakah kau tidak heran kalau salah seorang isteri

Ki Sukerta, baru berumur tiga belas tahun. Jadi setahun lebih muda dari isteriku itu?”

“Persetan. Persetan. Aku tidak berurusan dengan isteri-isteri muda itu. Aku ingin

segera mendengar keterangan tentang Sindangsari”

Laki-laki yang bernama Bandil itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata “Ya, aku memang mendapat tugas untuk

menyampaikan pesan tentang. Nyai Demang”

“Dimana dia sekarang?”

“Ki Sukerta telah menyembunyikannya baik-baik”

“Ya, tetapi dimana ayah menyembunyikannya”

“Ki Sukerta membawanya ke Sembojan”

“Sembojan? Dimanakah Sembojan itu?”

“Di sebelah Temu Agal, Kademangan Prambanan”

“Begitu jauh?”

“Ya. Tentu semula Ki Sukerta menganggap bahwa tempat itu adalah tempat yang

paling aman. Cukup jauh, tetapi masih dapat dicapai dalam waktu yang tidak

terlampau lama”

“Semula, kenapa kau mengatakan semula ayah menganggap tempat itu paling aman?”

“Agaknya Ki Sukerta mempertimbangkan akan membawanya ke tempat lain”

“Kenapa?”

“Dengan berpindah-pindah tempat, maka jejaknya tidak akan mudah diketahui oleh

orang lain”

“Tetapi bagaimana aku harus menghubunginya?

“Setiap kali akan ada seseorang yang memberitahukan kepadamu disini”

“Tetapi kami harus menetap. Kami akan hidup seperti manusia sewajarnya. Tidak

seperti seekor burung yang membuat sarangnya di sembarang tempat dan berpindahpindah”

“Tentu. Tetapi kau memerlukan waktu. Setelah semua orang melupakannya, kau dapat

menetap di suatu tempat yang kau pilih dari antara sekian banyak yang ditentukan oleh

ayahmu”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kapan waktu itu akan datang.

Kapan semua orang akan melupakan hilangnya Nyai Demang di Kepandak?

Sejenak Manguri berdiam diri. Ternyata tidak semudah yang disangkanya untuk

memperisteri Sindangsari. Tidak sekedar melarikannya dan menyingkir dari lingkungan

orang-orang Kepandak. Ternyata untuk waktu yang lama orang-orang Kepandak pasti

masih berusaha menemukan Nyai Demang yang hilang. Apalagi kini Pamot telah tiba

kembali di Kademangan. Bagaimanapun juga ia pasti akan ikut campur di dalam

persoalan ini.

Tetapi ia sudah bertekad, bahwa ia tidak akan mundur setapak.

“Mungkin aku akan tetap tinggal disini. Aku akan dapat mengunjunginya setiap pekan

sekali” berkata Manguri di dalam hatinya. Tetapi kemudian “Tidak mungkin. Siapakah

yang akan menungguinya selama aku tidak ada di tempat itu. Tidak seorang

perempuanpun yang dapat dipercaya untuk mengatasi kekerasan hati Sindangsari. Ia

pasti akan berusaha melarikan dirinya. Tetapi tidak seorang laki-lakipun yang dapat

dipercaya menunggui perempuan secantik Sindangsari.

“Gila“ akhirnya Manguri mengumpat-umpat. Dalam kebingungan ia berkata di dalam

dirinya “Biarlah aku akan memaksanya secara kasar. Kalau semuanya sudah terjadi, ia

tidak akan dapat lari lagi. Ia justru akan merasa malu menjumpai orang-orang yang

sudah dikenalnya. Dan ia akan tetap bersembunyi di tempat yang sudah disediakan

itu”

Demikianlah saat itu Manguri harus menerima keadaan yang masih belum dapat

dibayangkan, apa yang akan terjadi kemudian. Namun bahwa Sindangsari sudah

sampai di tempat yang jauh, ia sudah menjadi agak tenteram. Di hari-hari mendatang,

tinggal mengatur apakah yang akan dilakukannya atas perempuan itu.

Meskipun demikian, malam itu Manguri tidak dapat tidur dengan tenteram. Kadangkadang

ia bangkit dan berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Ia tidak pergi bersama

Lamat ke sawah untuk mengairi tanamannya yang sedang tumbuh. Hatinya selalu

terganggu oleh bayangan-bayangan yang kadang-kadang sangat mencemaskan.

Hampir tengah malam Manguri tidak dapat menahan kegelisahannya. Tiba-tiba saja ia

menyambar pedang yang tergantung di dinding. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan

pergi ke belakang. Di pintu bilik Lamat ia mengetuk perlahan-lahan sambil

memanggilnya “Lamat, Lamat?”

Tidak ada yang menyahut. Sedang di dalam bilik itu tampak masih gelap.

“Orang ini masih belum pulang” desis Manguri. Untuk menghilangkan kegelisahannya,

maka Manguripun kemudian menggeram “Apakah ia tertidur di tengah sawah”

Tiba-tiba saja Manguri berhasrat untuk menyusulnya. Tanpa minta diri kepada

siapapun ia berjalan keluar dari regol halamannya dan dengan tergesa-gesa pergi ke

sawah.

Di depan gardu peronda, seorang anak muda menghentikannya sambil bertanya

“Siapa?”

“Apakah kau belum mengenal aku?” sahut Manguri.

Anak muda itu mengerutkan keningnya “O, kau. Tetapi aku tidak melihat wajahmu di

kegelapan”

Manguri tidak menyahut lagi. Ia berjalan terus menuju kebulak yang terbentang di

sebelah padukuhan Gemulung.

“Anak itu masih saja sangat sombong” desis anak muda yang menyapanya.

“Kaulah yang kurang kerja malam ini. Kenapa kau sapa anak gila itu? Diantara kami

tidak ada lagi orang yang sempat menyapanya”

“Di dalam kegelapan, aku tidak begitu mengenalnya”

“Kau memang agak mengantuk. Langkahnya dari jarak seratus patok sudah dapat

dikenal, bahwa ia adalah Manguri yang perkasa”

Kawan-kawannya yang lain tertawa, sedang anak muda yang menyapanya itu diam

tersipu-sipu.

Dalam pada itu Lamat yang berada di sawah sedang sibuk membendung air yang

mengalir diparit yang menyusuri kotak-kotak sawah ayah Manguri. Mumpung air yang

mengalir cukup banyak ia mengharap bahwa semalam nanti sawahnya akan mendapat

air yang cukup.

Ketika air sudah mulai mengalir masuk ke dalam kotak sawah, maka Lamatpun

menggeliat sambil menekan lambungnya dengan telapak tangannya. Dipandanginya

air yang gemericik di bawah kakinya itu sejenak. Setelah mencuci cangkulnya, maka

iapun kemudian meninggalkan bendungan kecil itu menuju ke gubug di tikungan

pematang.

Tetapi alangkah tertegunnya ketika ia melihat bayangan seseorang yang berjalan

menyusuri pematang ke arahnya. Tampaknya agak ragu-ragu dan sangat hati-hati.

“Siapa?” desis Lamat di dalam hatinya.

Dan bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat sehingga akhirnya Lamat

dapat mengenalnya juga.

“Kau Pamot” sapa Lamat perlahan-lahan

“Ya” sahut Pamot ragu-ragu.

“Ternyata kau kembali dengan selamat meskipun kau tampak agak kurus“

“Ya Lamat. Semua yang ada di dalam pasukan itu menjadi kurus. Aku juga, Punta juga

dan yang lain juga”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Beruntunglah kau, bahwa kau

sudah mendapat kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada Tanah Mataram”

“Kelak akan datang giliranmu”

Tetapi Lamat menggelengkan kepalanya “Aku adalah sekedar kerbau penarik pedati.

Tidak pantas bagiku untuk membawa senjata di bawah panji-panji kebesaran

Mataram”

Pamot tidak menyahut.

“Marilah“ ajak Lamat “kita duduk di gubug itu.

Pamot ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menggeleng “Aku hanya sebentar”

Lamat mengerutkan keningnya. Lalu “Tetapi sebaiknya kita duduk. Duduklah disini.

Tetapi pematang sawah di Gemulung masih tetap kotor Pamot”

Pamot menarik nafas dalam-dalam.

“Duduklah diatas batu itu”

Pamotpun kemudian duduk diatas sebuah batu di samping Lamat.

“Aku senang sekali dapat bertemu dengan kau sekarang, selagi Manguri tidak ada He.

kau dapat memilih waktu dengan tepat”

“Aku melihat kau berjalan sendiri. Aku berada di belakang gardu ketika kau lewat”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kenapa Manguri tidak pergi?”

“Jarang sekali Manguri pergi ke sawah sekarang”

“Kenapa?”

Lamat tidak menyahut. Tetapi kemudian ia berkata “Berceriteralah tentang

perjalananmu Pamot. Aku ingin sekali mendengarkan”

“Perjalanan yang sangat berat. Apalagi bagi kami, anak-anak muda dari padukuhan

yang kurang terlatih. Tetapi perjalanan itu memberikan kebanggaan juga bagiku”

“Ceriterakan”

“Tetapi, aku memerlukan keteranganmu juga Lamat”

Lamat mengerutkan keningnya pula. Semakin dalam. Ia sudah merasa bahwa arah

percakapan Pamot pasti akan bergeser ke arah yang mendebarkan jantung baginya.

Karena itu ia masih ingin mengelak “Ceriterakan saja dahulu perjalananmu. Di

Gemulung tidak ada peristiwa yang menarik seperti perjalanan itu”

“Ada Lamat. Justru sangat menarik”

“Ah, tetapi itu bukan urusan kita. Aku ingin mendengar kau menceriterakan, betapa

panjangnya pasukan Mataram ketika mulai berangkat dari alun-alun. Dan betapa pula

panjangnya pasukan itu setelah melampaui daerah Kadipaten Pesisir Utara. Di

sepanjang jalan pejuang-pejuang yang akan mengusir orang asing itu pasti semakin

bertambah-tambah. Gamelan yang menurut pendengaranku mengiringi pasukan itu

pasti akan menambah gairah perjuangan di setiap dada”

“Ya. Kau sudah tahu semuanya Lamat. Dari siapa kau mendengarnya?”

Lamat menundukkan kepalanya “Aku mendengar dari orang-orang yang berbicara di

sebelah simpangan parit di seberang jalan. Kami telah membagi air untuk malam ini di

sana. Dan mereka berbicara tentang pasukan yang pergi ke Betawi.

“Ya. Seperangkat gamelan telah dibawa dan ditabuh di sepanjang jalan”

“Alangkah megahnya perjalanan itu”

“Tetapi, aku memerlukan keteranganmu Lamat”

Lamat terdiam.

“Aku kira kau mengerti meskipun tidak seluruhnya”

“Apa yang ingin kau tanyakan Pamot”

“Apakah kau tahu serba sedikit, atau mendengar dari orang-orang yang sering

berkumpul disimpangan parit diseberang jalan tentang Sindangsari?”

Dada Lamat menjadi berdebar-debar. Meskipun ia sudah menduga, tetapi pertanyaan

itu masih mengetuk jantungnya keras-keras.

“Bagaimana mungkin Sindangsari itu hilang?”

“Pamot” suara Lamat tiba-tiba menurun “aku tidak ubahnya seperti seekor binatang

peliharaan seperti aku katakan. Bagaimana mungkin aku dapat mengerti tentang

Sindangsari“

“Kau juga mendengar ceritera tentang pasukan yang berangkat itu. Kau mendengar

ceritera tentang seperangkat gamelan yang ikut bersama pasukan mataram. Jadi tidak

mustahil kalau kau mendengar juga ceritera serba sedikit tentang Sindangsari.

Mungkin dari orang-orang yang membagi air tetapi mungkin juga dari Manguri. Aku

tahu bahwa Manguri juga mencintai Sindangsari. Bahkan dengan segala macam cara

ia ingin memilikinya sebelum Sindangsari menjadi isteri Ki Demang di Kepandak. Bila

perlu Manguri tidak segan-segan mempergunakan kekerasan”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak mengerti Pamot. Aku mengerti

tentang Sindangsari di saat terakhir kau menemuinya dan terjadi hal yang terkutuk itu

sehingga kemudian Sindangsari telah mengandung”

“Lamat” potong Pamot “tetapi bukankah Sindangsaritelah menjadi isteri Ki Demang”

Lamat tidak menyahut.

“Aku berharap kau tidak menyebutkan hal itu lagi. Sudah aku katakan sejak itu, bahwa

aku menjadi sangat menyesal. Tetapi menurut pendengaranku, hidup Sindangsari

menjadi baik dan rumah tangganya cukup tenteram menurut pengamatan orang di luar

rumah itu. Tetapi kenapa tiba-tiba saja perempuan itu hilang”

Lamat menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu sama sekali”

“Lamat” berkata Pamot kemudian “selama ini kau tetap berada di Kademangan

Kepandak. Sebelum aku pergi kau menaruh banyak perhatian atas hubungan kami.

Maksudku aku dan Sindangsari. Ketika tiba-tiba saja perempuan itu hilang, aku kira

kau memerlukan mendengar dugaan orang tentang hal itu.

“Tidak seorangpun yang dapat menduga, kemana Nyai Demang itu pergi. Apakah ia

pergi atas kehendaknya sendiri atau diambil oleh orang lain. Bahkan selama ini Ki

Demang telah mengerahkan orang-orangnya, termasuk para pengawal Kademangan.

Ki Jagabaya, Ki Reksatani dan bebahu Kademangan yang lain untuk mencarinya.

Tetapi sampai saat ini, sama sekali tidak ada kabar beritanya”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Lamat berkata selanjutnya

“Barangkali yang aku dengar tidak lebih banyak dari yang didengar oleh ayahmu

atauoleh tetangga-tetanggamu”

Pamot tidak menyahut. Ketika ia memandang wajah Lamat, dilihatnya wajah itu

tertunduk dalam-dalam. Tetapi di dalam gelapnya malam Pamot tidak dapat melihat,

betapa. wajah Lamat menjadi pucat dan matanya seakan-akan telah padam sama

sekali.

“Baiklah Lamat” berkata Pamot kemudian “selama ini aku percaya kepadamu, karena

kau adalah orang yang paling banyak memberikan pertolongan kepadaku. Memang

aku mendengar juga dari orang-orang lain. Tetapi aku baru puas setelah aku

mendengarnya darimu. Aku tahu, kepadaku kau tidak pernah berbohong. Bahkan

sejak Sindangsari masih menjadi seakan-akan rebutan di Gemulung”

Lamat tidak dapat menjawab. Terasa kerongkongannya menjadi kering. Kering sekali.

Dalam pada itu, Manguri berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan simpang. Kemudian ia

meloncati sebuah parit dan kemudian melangkah di sepanjang pematang. Ia menjadi

demikian tergesa-gesa seakan-akan ada sesuatu yang harus segera diselesaikannya,

sehingga kadang-kadang ia hampir tergelincir karenanya.

Sekali-sekali angin malam yang berhembus dari Selatan telah mengusap wajahnya.

Terasa dinginnya menyentuh kulit. Tetapi karena langkahnya yang cepat, maka

Manguri dapat mengatasi rasa dinginnya, dan bahkan tubuhnya mulai basah oleh

keringat

Di kejauhan kunang-kunang berkeredipan pada batang-batang padi muda, sedang

suara cengkerik berderik bersahut-sahutan.

Sejenak kemudian Manguri telah sampai di ujung sawahnya. Langkahnya semakin

lama menjadi semakin cepat. Ia merasa selalu dikejar oleh kegelisahan yang

menghentak-hentakkan dadanya, sehingga ia harus melarikan dirinya, ke tengah

tengah sawah yang gelap dan sepi.

Sebelum Manguri sampai ke gubug yang berdiri diatas tiang yang agak tinggi, ia sudah

memanggil “Lamat, Lamat apakah kau ada disitu?”

Manguri terlonjak ketika ia mendengar jawaban dekat di sampingnya “Aku ada disini”

“Anak Setan“ ia menggeram “kau membuat aku terkejut”

“Aku sudah menjawab perlahan-lahan sekali”

Manguri memandangnya dengan tegang. Namun kemudian iapun menarik nafas

dalam-dalam.

“Kenapa kau menyusul?” tiba-tiba saja Lamat bertanya.

Pertanyaan itu ternyata telah membuat Manguri menjadi bingung. Setelah ia sampai di

tengah sawah, ia tidak tahu lagi, apa yang akan dilakukannya.

Namun kemudian ia menjawab “Ya. Aku tidak dapat tidur. Udara terlampau panas. Aku

ingin tidur di gubug itu saja”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya “Tidurlah. Aku sedang menunggui air. Aku

mengharap bahwa air akan dapat menggenangi seluruh kotak sawah kita malam ini”

“Ya. Tungguilah air yang hanya sedikit itu, kalau-kalau dicuri orang di bagian atas”

“Kami sudah membagi. Kita akan mendapat bagian sampai tengah malam, kemudian

kita akan memberikan kepada kotak-kotak sawah di bawah”

“Kenapa mesti diberikan? Biar saja sawah mereka menjadi kering. Sebelum sawah kita

cukup, kita tidak akan menutup pematang itu. Mungkin kau dapat menghapus

bendungan kecil itu, tetapi pematang kita, biar saja tetap terbuka”

Lamat tidak menjawab meskipun hal itu berarti menyalahi persetujuan. Namun,

Manguri pasti tidak akan menunggui pematang semalam suntuk. Ia pasti akan tertidur

juga di gubug itu. Sedang menurut perhitungannya, apabila aliran air diparit itu tetap,

maka sawahnya akan cukup tergenang.

Sepeninggal Manguri yang kemudian pergi ke gubug, Lamat menarik nafas dalamdalam.

Dengan isyarat ia menyuruh Pamot yang bersembunyi diantara batang-batang

padi yang subur untuk segera merangkak pergi.

“Hampir saja” desis Lamat “kalau Manguri melihat Pamot disini, ia pasti akan segera

menjadi curiga. Semuanya akan menjadi kacau, dan segala macam prasangka akan

timbul”

Dan kini Lamat dapat mengelus dadanya karena Pamot telah berhasil menyingkir

tanpa diketahui sama sekali oleh Manguri.

Namun sepeninggal Pamot Lamat duduk merenung diatas sebuah batu di pinggir parit

sambil memandangi air yang mengalir. Tidak terlampau banyak seperti di musim

basah. Tetapi cukup memberi kesegaran kepada tanamannya.

Ternyata pertemuannya dengan Pamot telah membuatnya berangan-angan.

Perasaannya menjadi kisruh, seperti daun ilalang yang tertiup angin pusaran.

Meskipun tubuhnya kuat seperti raksasa, dan tenaganya seperti seekor kerbau jantan,

namun ia tidak dapat bersikap sekuat tubuhnya. Hatinya justru terlampau lemah dan

kadang-kadang tidak mempunyai sikap sama sekali.

“Aku telah tersiksa oleh diriku sendiri, justru karena aku menyadari kelemahanku”

katanya di dalam hati “dan kini aku sampai pada puncak kebingungan yang hampir

tidak tertanggungkan. Mungkin aku harus memilih, apakah aku akan mengorbankan

seisi Kademangan Kepandak, atau aku tetap berdiam diri dan mengorbankan

Sindangsari”

Tetapi Lamat tidak juga mendapat pemecahan di dalam dirinya. Ia tetap masih

dicengkam oleh kebimbangan yang hampir tidak teratasi, sehingga dengan demikian

maka dunianya serasa menjadi semakin gelap.

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan menyusur

pematang. Ketika ia sampai pada kotak terakhir dari hamparan sawah Manguri, maka

ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya air telah cukup banyak menggenangi

sawahnya. Karena itu, maka iapun segera pergi ke pintu air yang dibuatnya pada

pematang sawah itu.

Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihatnya bintang gubug penceng di ujung

Selatan sudah mulai condong ke Barat, sehingga Lamat dapat mengetahui, bahwa

tengah malam memang telah lampau.

Seperti yang sudah saling disetujui, maka Lamatpun segera membuka bendungan

kecil yang menahan air parit dan membelokkannya ke dalam kotak-kotak sawah

Manguri. Tetapi ia memang tidak segera menutup pematangnya. Ditunggunya barang

sejenak, dan dibiarkan air yang gemercik masih masuk ke dalam sawah. Tetapi

sebagian terbesar dari air parit itu sudah mengalir terus, ke sawah yang lain seperti

yang sudah disetujuinya. Bahkan sejenak kemudian, pematangnyapun telah ditutupnya

sama sekali, karena air telah jauh daripada cukup.

Lamatpun kemudian perlahan-lahan pergi ke gubug pula. Di dalam kekeruhan pikiran,

ia tidak melihat, jalan keluar yang paling baik baginya.

Lamat yang bingung itu hanya dapat menarik nafas sambil berdesis “Untunglah bahwa

Manguri tidak melihat Pamot dan untung pulalah, bahwa Manguri yang tidak

mengetahui kehadiran Pamot sama sekali tidak menyebut tentang Nyai Demang di

Kepandak yang disembunyikannya itu. Seandainya karena tidak diketahuinya, ia

menyebutnya barang sepatah kata saja, maka Pamot pasti akan segera mengambil

kesimpulan.

Namun langkah Lamat itupun kemudian tertegun. Sekali lagi ia melihat sesosok

bayangan yang berjalan tergesa-gesa diatas pematang. Semakin lama menjadi

semakin cepat. Namun ia yakin bahwa yang datang itu sama sekali bukan Pamot.

Setelah bayangan itu menjadi semakin dekat, maka iapun kemudian berdesis tanpa

sesadarnya “Ki Reksatani”

Ki Reksatani berhenti sejenak. Lalu katanya “Kau mengenal aku di dalam gelapnya

malam?”

“Ya Ki Reksatani. Ki Reksatani sudah cukup dikenal oleh semua orang Kepandak.

Apalagi akhir-akhir ini Ki Reksatani sering mengunjungi rumah kami”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya. Tetapi dimana Manguri?”

“Ia ada di gubug itu“

“Aku ingin menemuinya“

“Silahkan. Mungkin ia sudah tidur”

“Aku baru datang dari rumahnya. Aku mencarinya di sana, tetapi ia tidak ada di dalam

biliknya, tidak seorangpun yang tahu. Tetapi ibunya mengatakan bahwa mungkin ia

menyusulmu ke sawah”

“Ya, ia telah menyusul aku”

“Dimana anak itu. Aku sudah menyusup di jalan-jalan sempit untuk menghindari

kecurigaan orang. Kalau ada seorangpun yang melihat aku menemui Manguri, maka

rahasia kita akan terbongkar. Lambat atau cepat”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kecemasan yang tajam telah

menyengat hatinya. Ia tidak tahu pasti, apakah Pamot benar-benar sudah

meninggalkan tempat itu dan pergi jauh. Kalau ia masih ada di sekitar tempat itu, maka

ia pasti akan mencurigai Ki Reksatani dan Manguri.

Sejenak kemudian Ki Reksatanipun menyusur pematang pergi ke gubug yang berada

diatas empat buah tiang bambu. Di dalam gubug itu Manguri membaringkan dirinya

diatas sehelai tikar pandan yang sudah menjadi kekuning-kuningan. Angin malam yang

sejuk telah membuatnya seakan-akan, terbius. Sehingga tanpa disadarinya, iapun

telah jatuh tertidur.

Manguri terkejut ketika gubugnya itu terguncang. Kemudian sebuah kepala tersembul

di dalam keremangan malam. Dan orang yang naik itu ternyata bukan Lamat.

“O, kau Ki Reksatani” desis Manguri sambil bangkit dan duduk.

“Ya. Aku memerlukan menemui kau. Aku mempunyai waktu sedikit. Aku dan isteriku

masih berada di Kademangan. Agaknya kakang Demang benar-benar akan

menyambut kedatangan anak-anak itu dengan berbagai macam upacara dan

keramaian”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dalam pada itu Ki Reksatanipun

kemudian bertanya “Manguri. Agaknya kedatangan anak-anak muda beserta Pamot itu

akan berpengaruh juga. Mereka pasti akan segera ikut serta mencari Sindangsari.

Beberapa lama mereka berada di medan yang sulit. Sudah tentu itu akan sangat

mempengaruhi mereka. Jiwa mereka dan tabiat merekapun sedikit banyak akan

mengalami sentuhan-sentuhan dari pengalaman mereka yang pahit. Dengan demikian,

maka mereka akan dapat banyak berbuat sesuai dengan pengaruh yang mereka dapat

selama ini”

Jilid 8 – Bab 3 : Satu Pertanyaan

Manguri mengerutkan keningnya. Namun

kemudian iapun mengangguk-anggukkan

kepalanya “Ya, aku mengerti” katanya.

“Karena itu, penyingkiran Sindangsari harus

benar-benar tidak memungkinkan lagi, salah

seorang dari mereka menemukannya”

“Aku bertanggung jawab” sahut Manguri

“Dimana perempuan itu sekarang?”

“Ia sudah berada di tempat yang jauh”

“Ya, dimana? Turi atau Kepanjen atau tlatah

Menoreh?”

Manguri menggelengkan kepalanya “Bukan”

“Ya. Tetapi dimana?”

“Perempuan itu kini berada di Sembojan”

“Sembojan?” Ki Reksatani mengulang. Manguri

menganggukkan kepalanya. Terbayang di dalam

angan-angan suatu padukuhan kecil yang jauh. Ia sudah pernah pergi ke Sembojan di

kademangan Prambanan karena kebetulan sekali ia mempunyai seorang kenalan yang

bertempat tinggal di Temu Agal. Ketika ia berkunjung ke rumah kenalannya it u, ia

dibawanya ke rumah orang tuanya di Sembojan.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Ki Reksatani bergumam “Sebuah

padukuhan kecil. Di sebelah Utara padukuhan itu masih terdapat sebuah hamparan

hutan yang rindang. Kemudian di seberang hutan masih terdapat beberapa padukuhan

lagi, sebelum sampai ke daerah hutan yang lebat di kaki gunung Merapi”

“Apakah Ki Reksatani pernah menjelajahi daerah itu?”

“Ya. Aku pernah mencari sebatang pohon Manca Warna bersama seorang kenalan

yang tinggal di padukuhan Temu Agal. Kami menyusur di sepanjang tepi hutan itu”

Manguri tidak menyahut. Namun Ki Reksatani berkata seakan-akan kepada diri sendiri

“Tetapi aku tidak menemukan pohon Manca Warna seperti yang dikatakan orang. Aku

hanya melihat tidak lebih dari sebatang pohon beringin”

Tiba-tiba Ki Reksatani itu menggeram “Aku akan melihat pohon itu sekali lagi. Pohon

yang dapat memberikan gambaran tentang nasib seseorang”

“Bagaimana mungkin?” bertanya Manguri.

“Kalau aku melihat pohon itu berbunga lebih dari tiga macam, itu pertanda bahwa

nasibku baik. Orang yang nasibnya sangat baik dapat melihat bunga pohon Manca

Warna itu sampai tujuh macam. Dan orang yang akan mendapat derajad yang luhur, ia

akan dapat melihat diantara macam-macam bunga itu, sekuntum bunga melati susun”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ceritera itu tidak begitu menarik

perhatiannya. Yang membuatnya termenung justru kedatangan anak-anak muda

anggauta pengawal khusus itu. Mereka pasti akan membantu Ki Demang menjelajahi

seluruh dataran di sebelah Selatan Gunung Merapi ini.

“Manguri” berkata Ki Reksatani kemudian “pada suatu saat kita harus melihat, apakah

tempat persembunyian itu benar-benar dapat dipertanggung jawabkan”

“Kapan kita akan pergi?”

“Sudah tentu kita tidak akan dapat pergi bersama-sama Aku harus menunggu sampai

saat-saat penyambutan itu selesai. Mungkin Kakang Demang akan mengadakan

keramaian meskipun hatinya sendiri sedang terluka. Itu hanya sekedar sikap

lahiriahnya saja. Mungkin tiga hari. Mungkin hanya sehari. Sesudah itu aku akan

mendapat kesempatan. Aku yakin sebelum saat-saat itu, anak-anak itupun tidak akan

sempat keluar Kademangan, apalagi mencari Sindangsari”

Manguri mengangguk-anggukkan Kepalanya. Tetapi ia menjawab “Sebenarnya Ki

Reksatani tidak perlu merisaukan Sindangsari. Aku akan bertanggung jawab.

Serahkan semuanya kepadaku dan aku harap Ki Reksatani dapat mempercayai aku”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun bagaimanapun juga ia tidak dapat

melepaskan begitu saja dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Manguri.

Kalau terjadi kegagalan, maka iapun akan terlibat dan justru ia akan dituntut oleh

kakaknya dan rakyat Kepandak sebagai seorang pengkhianat.

Bahkan sejenak kemudian terbersit pikiran di kepalanya “Yang paling baik bagiku

adalah melenyapkan perempuan itu. Aku tidak akan selalu diganggu lagi oleh

kecemasan dan kegelisahan sepanjang hidupku. Meskipun untuk waktu yang lama

perempuan itu tidak diketahui, namun apabila pada suata saat anaknya muncul di

Kepandak beberapa puluh tahun yang akan datang, maka ia pasti akan merupakan

duri bagi anak-anakku yang aku harapkan dapat menguasai jabatan kakang Demang”

Namun demikian Ki Reksatani masih tetap menyimpannya di dalam hati.

Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi pikiran itu masih saja tetap melonjak-lonjak di

dadanya.

Sejenak kemudian, ketika bintang Gubug Penceng semakin condong ke Barat, maka

Ki Reksatanipun berkata “Sudahlah. Aku akan kembali ke Kademangan, supaya tidak

ada orang yang mencurigaiku. Untuk sementara Sembojan cukup jauh bagi

persembunyian Sindangsari. Namun pada suatu saat aku akan membuktikannya

sendiri supaya aku menjadi tenang.

“Percayalah kepadaku, dan percaya pulalah kepada ayah”

“Tetapi sudah tentu ayahmu tidak akan dapat tenggelam di dalam persoalan ini

selama-lamanya. Ia harus bekerja, mencari nafkah dan melanjutkan usahanya di

dalam perdagangan ternak yang ternyata telah memberinya kekayaan yang melimpah.

Kalau ia terpancang pada persoalanmu, maka usahanya pasti akan mundur, dan

kalian akan jatuh miskin”

“Aku sedang memikirkannya”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian maka iapun

segera meninggalkan gubug itu dan kembali ke Kademangan.

Sepeninggal Ki Reksatani ternyata Manguri menyesal, bahwa ia sudah mengatakan

tempat persembunyian Sindangsari. Sampai saat-saat terakhir? agaknya Ki Reksatani

masih saja berusaha untuk melenyapkan perempuan itu.

“Ia tidak akan berani melakukannya” desis Manguri “dengan demikian ia pasti akan

segera dihancurkan oleh Ki Demang. Ia pasti memperhitungkan, bahwa aku akan

membuka rahasianya kalau ia menggagalkan niatku, memperisteri perempuan itu”

Namun demikian Manguri telah menjadi sangat gelisah, sehingga di luar sadarnya ia

berteriak memanggil “Lamat, Lamat”

Dan sekali lagi ia terkejut ketika ia mendengar jawaban justru dari bawah gubugnya

“Aku disini”

“Gila kau. Kemari. Naiklah”

Lamatpun kemudian naik ke gubug itu pula. Sambil mengusap titik embun yang

membasahi ikat kepalanya iapun duduk di hadapan Manguri yang gelisah.

“Aku terlanjur menunjukkan tempat persembunyian Sindangsari di Sembojan” berkata

Manguri.

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Aku mendengar percakapan

kalian”

“Kau mendengarkannya?”

“Ya, Aku berada di bawah gubung ini”

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Sebaiknya kita ikut serta, apabila pada suatu Ki Reksatani akan pergi ke Sembojan”

“Aku belum mengatakannya”

“Kita dapat menghubunginya. Kita minta, agar Ki Keksatani memberi tahukan apabila

ia akan pergi. Sudah tentu kita tidak akan keluar dari Kademangan ini bersama-sama.

Tetapi kita berjanji bertemu disuatu tempat”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Pikiranmu baik juga. Dengan

demikian Ki Reksatani tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap Sindangsari”

“Ya”

“Semakin cepat semakin baik” gumam Manguri kemudian “aku harus segera

mendapatkannya. Kalau perlu aku dapat mempergunakan kekerasan, sehingga ia

tidak akan berniat untuk lari lagi karena ia merasa tidak akan mendapat tempat lagi,

baik di Kademangan maupun di rumah Pamot”

Terasa bulu-bulu di seluruh tubuh Lamat meremang. Ia pernah menyaksikan hubungan

badaniah antara Pamot dan Sindangsari yang didorong oleh perasaan cinta mereka

yang tidak terkendali, apalagi pada saat itu mereka dihadapkan pada suatu saat yang

sangat menegangkan. Pamot dengan hati yang tersayat minta diri untuk meninggalkan

Kepandak dan Sindangsari untuk waktu yang tidak terbatas. Seandainya Pamot masih

sempat juga pulang, maka Sindangsari sudah menjadi isteri orang.

Pada saat itu, ia sudah merasa berdiri diatas seonggok bara. Hatinya meronta hampir

tidak terkekang lagi. Dan saat ini ia mendengar Manguri akan melakukannya dengan

kekerasan untuk mengikat Sindangsari agar tidak meninggalkannya.

“Gila. Itu suatu pendirian yang gila. Apakah aku dapat membiarkannya terjadi?” Lamat

menangis di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa pada saat itu. Ia

harus tetap diam dan duduk dihadapan Manguri.

“Kita harus segera menentukan saat itu” desis Manguri kemudian “nanti kita pikirkan.

Kau harus mengatur hubungan dengan Ki Reksatani. Sudah tentu bukan kau sendiri.

Tetapi kita dapat mengirim salah seorang dari para pengawal ternak yang tidak banyak

dikenal di padukuhan dan di Kademangan ini”

Lamat menganggukkan kepalanya.

“Sekarang pergilah. Aku akan tidur”

Lamatpun segera turun dari gubug itu. Betapa hatinya serasa tersayat mendengar

rencana Manguri. Sambil berjalan di sepanjang pematang ia merenungi nasib

Sindangsari. Perempuan itu dihadapkan pada dua kemungkinan yang sama-sama

pahit, la tidak akari dapat memilih satu diantara dua. Menjadi korban ketamakan Ki

Reksatani dan menyerahkan nyawanya atau menjadi korban nafsu Manguri yang

menggelagak sampai keubun-ubunnya.

“Alangkah buruk nasib perempuan itu” desis Lamat “jauh lebih buruk dari nasibku

sendiri”

Dengan kepala tunduk Lamatpun kemudian duduk di pematang sawahnya yang basah.

Dibelainya tangkai cangkulnya sambil memandang jauh ke dalam kegelapan.

Tiba-tiba ia tersentak. Sebuah bayangan berjalan menjauh dengan cepatnya.

Kemudian hilang menyuruk di dalam rimbunnya dedaunan yang hijau gelap.

Namun demikian matanya yang tajam masih menangkap, siapakah orang yang

mencoba untuk menyingkir itu.

“Hem” desisnya “ternyata Pamot masih ada di sekitar tempat ini. Apakah ia

mengetahui bahwa yang datang itu adalah Ki Reksatani? Jarak dari tempatnya

bersembunyi cukup jauh. Adalah kebetulan sekali bahwa aku melangkah mendekati

tempat persembunyiannya”

Sejenak Lamat menjadi termangu-mangu. Seandainya ia tidak ditahan oleh

kebimbangan, maka bagi Lamat, tidak akan terlampau sulit apabila ia meloncat dan

mengejar bayangan itu. Ia yakin bahwa ia pasti akan dapat menangkap Pamot.

Tetapi memang ada sesuatu yang menahannya setangga ia masih tetap duduk di

tempatnya dengan dada yang berdebar-debar.

Meskipun demikian, terasa di hati Lamat, bahwa sesuatu masih akan terjadi. Pamot

bukan seorang anak muda yang mudah berputus asa. Ada dua hal yang

mendorongnya untuk berusaha menemukan Sindangsari. Ia sendiri mencintai

perempuan itu. Bagaimanapun juga ia tidak akan sampai hati membiarkan Sindangsari

menjadi korban perbuatan apapun juga, meskipun ia tidak mungkin lagi akan

mendapatkannya. Juga Pamot pasti ingin menghilangkan segala kecurigaan siapapun

juga kepadanya. Ia pasti akan berusaha membuktikan bahwa bukan dirinyalah yang

telah mengambil Sindangsari dari Kademangan.

Dan kini Pamot ternyata telah berkeliaran di sekitar sawah Manguri yang mungkin juga

di sekitar rumahnya. Sudah pasti, bahwa di dalam hatinya ada sepercik kecurigaan

kepada Manguri meskipun secara resmi Manguri sudah dinyatakan bersih dari segala

tuduhan, karena Ki Jagabaya sendiri telah datang ke rumahnya dan tidak menemukan

apapun juga.

Persoalan itu menjadi semakin rumit bergulat di kepala Lamat. Namun kemudian ia

berdesis “Entahlah. Terserahlah apa yang akan terjadi. Mungkin aku akan dibakar juga

oleh akibat perbuatanku di dalam persoalan ini, atau mungkin seluruh Kademangan

akan menjadi bara”

Tiba-tiba Lamat menggeretakkan giginya. Ia berusaha mengusir segala macam

persoalan itu. Ia ingin beristirahat barang sejenak. Ia ingin mendapat ketenangan dan

menyingkir dari kejaran perasaan yang sangat menggelisahkannya.

Tetapi Lamat tidak pernah berhasil. Ia selalu dibayangi oleh gambaran-gambaran

tentang Sindangsari, Ki Rekstani dan bahkan kadang-kadang Kademangan Kepandak

yang seakan-akan telah menyala dibakar oleh pertengkaran yang memuakkan.

“Gila“ Lamat mengumpat di dalam hatinya “apakah aku harus mengorbankan kata

nuraniku sekedar untuk tahu budi karena aku telah diselamatkan hidupku?”

“Ya Harus” terdengar suara di dalam hatinya “orang yang paling baik adalah orang

yang mengenal dan bahkan membalas budi orang lain kepadanya”

“Juga untuk melakukan kejahatan seperti ini?”

“O“ akhirnya Lamat serasa menjadi lemah dan tidak bertenaga. Ia duduk terkulai

bersandar tangkai cangkulnya. Di bawah kakinya air parit mengalir gemericik mengusik

sepinya malam yang merayap terus menjelang fajar.

Manguri turun dari gubugnya ketika matahari mulai membayang di ujung Timur.

Sejenak ia mengusap matanya, kemudian mulai berteriak memanggil “Lamat, Lamat”

Lamat masih duduk di tempatnya. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Kemudian

iapun bangkit berdiri dengan malasnya.

“Kita harus segera pulang”

Lamat menganggukkan kepalanya. Sekali lagi dilihatnya air di sawahnya. Kemudian

dibetulkannya pematang sawah yang belum tertutup rapat.

Sejenak kemudian maka Lamat itupun melangkah mengikuti Manguri yang dengan

tergesa-gesa pulang ke rumahnya, seakan-akan ia tidak mau tersentuh oleh sinar

matahari dipagi yang cerah itu.

Ketika burung-burung bersiul dipepohonan, maka di halaman Kademangan telah

disiapkan tiga ekor kuda. Ki Tumenggung Dipanata dan pengawalnya akan segera

meninggalkan Kademangan Kepandak, kembali ke Mataram setelah ia menunaikan

tugasnya menyerahkan anak-anak Kepandak itu kembali, meskipun tidak seluruhnya

seperti ketika mereka berangkat.

“Apakah Ki Tumenggung tidak menunggu sampai besok? Kami bermaksud untuk

menyelenggarakan keramaian, menyambut anak-anak kami yang telah kembali.

Meskipun tidak seluruhnya dapat melihat kampung halamannya, tetapi kami ingin

menunjukkan kebanggaan kami atas mereka”

“Terima kasih” jawab Ki Tumenggung “kami masih mempunyai tugas-tugas lain yang

harus kami selesaikan. Kami sudah menyerahkan anak-anak Ki Demang itu kembali.

Dan perlakukan mereka seperti anak-anak Ki Demang pula. Tidak ada kecualinya.

Kalau ada persoalan sebaiknya dilihat dengan saksama dan dengan hati yang bening

supaya Ki Demang tidak salah langkah. Bagaimanapun juga, kami, para prajurit,

pernah berjuang bersama mereka, sehingga diantara kami dan anak-anak muda

Kepandak itu seakan-akan telah terikat oleh kesatuan nasib di medan yang ganas”

Ki Demang di Kepandak mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia segera dapat

menangkap maksud Ki Tumenggung, sehingga Ki Demang itupun kemudian menjawab

“Aku akan mencobanya. Aku akan mencoba mengamati hatiku yang sedang buram

saat ini”

Ki Tumenggung Dipanata tersenyum. Kemudian setelah ia merasa bahwa tugasnya

benar-benar telah selesai, iapun segera minta diri kepada Ki Demang dan bebahu

Kademangan yang ada di pendapa itu pula, termasuk Ki Reksatani.

Sejenak kemudian, diantar oleh Ki Demang dan paru bebahu itu sampai ke regol, Ki

Dipanayapun meninggalkan halaman Kademangan Kepandak bersama pengawalnya.

Di tikungan ia masih berpaling. Namun kemudian kudanya berpacu semakin cepat

meninggalkan padukuhan itu. Di ujung Kademangan Ki Tumenggung Dipanata sempat

bergumam “Kasihan Demang di Kepandak itu. Anak yang selama ini diidamidamkannya,

tiba-tiba hilang bersama ibunya selagi masih di dalam kandungan”

Kedua pengawalnya tidak menyahut. Namun mereka dapat mengerti, kenapa Ki

Demang mencurigai Pamot dan seperti yang mereka dengar selama di Kademangan,

ia mencurigai juga Manguri.

Sepeninggal Ki Tumenggung, meskipun dengan hati yang muram Ki Demang

memerintahkan juga para bebahu dan adiknya Ki Reksatani menyiapkan keramaian.

Bahan-bahan yang semula disediakan untuk menyambut bulan ke tujuh dari kehamilan

Sindangsari, kini dipergunakannya untuk menyelenggarakan keramaian menyambut

anak-anak Kepandak yang kembali dari medan. Namun Ki Demang berkata kepada Ki

Reksatani. “Aku hanya ingin mengadakan keramaian semalam saja”

Dan seperti yang dikatakan oleh Ki Demang, di hari berikutnya keramaian itu memang

hanya dilakukan semalam. Bukan saja karena Ki Demang sedang bersusah hati,

namun wajah-wajah dari anak-anak Kepandak yang baru pulang itupun tidak secerah

wajah-wajah mereka sebelum mereka berangkat karena ada diantara mereka yang

tidak pulang bersama mereka. Bayangan tubuh mereka yang terbujur di medan itu

selalu menyertai mereka, meskipun sedang berada di tengah-tengah keramaian

sekalipun.

“Semalam sudah cukup” berkata Ki Reksatani kepada Ki Demang di Kepandak

“sebenarnya kita harus mengadakan upacara berkabung karena ada diantara mereka,

bahkan beberapa, tidak dapat kembali ke rumah masing-masing”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menganggap bahwa kata-kata

adiknya itu memang lepat.

“Apalagi kakang Demang sendiri sedang mengalami kesulitan”

“Ya” Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kehidupan yang wajar harus segera pulih kembali di Kademangan ini, setelah

dikejutkan oleh hilangnya mBok-ayu dan kedatangan anak-anak itu”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun Ki Reksatani cepat-cepat meneruskan

“Bukan berarti usaha kila mencari mBok-ayu terhenti. Tetapi justru supaya usaha itu

tidak terganggu oleh bermacam-macam persoalan”

Ki Demang tidak menyahut. Tetapi direnunginya dedaunan yang bergerak-gerak

disentuh angin di luar pendapa. Sejenak hatinya diguncang oleh keragu-raguan.

Namun kemudian ditetapkannya niatnya untuk menemukan isterinya yang hilang itu.

Maka katanya “Ke Reksatani. Aku kira, setelah semuanya dapat berjalan sewajarnya,

datanglah saatnya, aku dengan sungguh-sungguh mencari isteriku. Itu adalah

terutama kewajibanku. Bukan kewajiban orang lain. Karena itu iku ingin mengatakan

kepadamu, lakukanlah tugasku sehari-hari sebagai Demang di Kepandak. Aku akan

pergi untuk waktu yang tidak tertentu. Aku harus menemukan mBok-ayumu yang

hilang itu”

Dada Ki Reksatani berdesir. Ia belum sempat melihat sendiri, dimana Sindangsari

disembunyikan. Ia belum sempat mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan

itu. Dan Ki Reksatani sama sekali lidak mengira, bahwa Ki Demang akan begitu cepat

mengambil keputusan untuk meninggalkan Kepandak.

“Apakah kau dapat mengerti?” bertanya Ki Demang kemudian karena Ki Reksatani

tidak segera menjawab.

“Kakang Demang” berkata Ki Reksatani agak tergagap “agaknya kakang Demang

menjadi terlampau tergesa-gesa. Bukankah kakang Demang merencanakan untuk

mencarinya di Kademangan di sekitar Kepandak? Kakang Demang dapat membawa

beberapa orang bebahu dan pembantu, sementara aku akan mencarinya dengan

sungguh-sungguh pula di tempat yang lain”

“Ki Demang di Kepandak menggelengkan kepalanya. Katanya “Niat itu aku batalkan.

Aku tidak ingin menumbuhkan geseran-geseran dengan tetangga, Kalau kita datang

dengan sekelompok bebahu dan pengawal, seakan-akan kita akan melakukan tindak

kekerasan di daerah tetangga. Setelah aku renungi, maka niat itu sebaiknya aku

batalkan saja. Yang akan aku lakukan kemudian adalah perbuatan seorang suami,

bukan seorang Demang. Aku harus menemukan isteriku tanpa menimbulkan benturanbenturan

dan apalagi korban-korban yang tidak bersalah.

Ki Reksatani menjadi semakin cemas. Ternyata Ki Demang telah menemukan

ketenangan sehingga ia dapat memikirkan cara yang sebaik-baiknya dan bahkan

dengan sikap seorang laki-laki. Meskipun demikian Ki Reksatani masih berusaha

“Baiklah kakang. Tetapi kakang tidak perlu segera berangkat. Apakah artinya

Reksatani sebagai seorang saudara muda. Aku akan mencobanya lebih dahulu”

“Aku lebih berkewajiban”

“Benar kakang. Tetapi ada kewajiban kakang yang lain sebagai seorang Demang. Aku

minta waktu sepuluh hari. Kalau di dalam sepuluh hari aku tidak dapat menemukan

mBok-ayu Sindangsari, maka terserahlah kepada kakang Demang. Apa yang akan

kakang Demang lakukan. Namun demikian setiap saat aku akan melakukan perintah

kakang apabila kakang menghendaki.

Ki Demang mengangguk-angguk sambil berkata “Terima kasih Reksatani. Aku kira aku

dapat memenuhi permintaanmu Tetapi tidak lebih dari sepuluh hari supaya aku tidak

terlambat apabila kau gagal menemukannya”

Serasa setitik embun jatuh di hati Ki Reksatani yang gersang. Ia mendapat waktu

sepuluh hari. Di dalam waktu sepuluh hari itu ia dapat pergi kemanapun tanpa

kecurigaan sama sekali. Dan di dalam waktu yang sepuluh hari itu ia akan dapat

berbuat banyak sekali atas Sindangsari yang disembunyikan di Sembojan.

“Baiklah kakang” berkata Ki Reksatani kemudian “aku akan mempergunakan waktu

yang sepuluh hari itu sebaik-baiknya. Aku akan berusaha untuk menemukan mBokayu.

Di dalam waktu yang sepuluh hari itu aku dapat menjelajahi seluruh daerah

Selatan ini. Bahkan sampai ketelatah Mangir dan Menoreh”

Demikianlah, maka Ki Reksatani merasa bahwa ia harus memanfaatkan waktu itu

sebaik-baiknya. Sesudah sepuluh hari, kalau kakaknya benar-benar akan

meninggalkan Kademangan, maka ia pasti akan terikat oleh jabatan yang akan

dipangkunya, meskipun jabatan itulah yang selama ini diimpikan.

“Di dalam pengembaraannya itu, mungkin sekali kakang Demang akan dapat

menemukan Sindangsari” katanya di dalam hati. Karena itu, maka kecemasan yang

melonjak-lonjak selalu menggetarkan dadanya.

“Yang paling baik bagiku adalah menyingkirkan Sindangsari. Menyingkirkan sejauhjauhnya,

sehingga tidak mungkin lagi seseorang dapat menemukannya” tiba-tiba saja

ia menggeram.

Memang bagi Ki Reksatani tidak ada jalan yang paling baik daripada membunuh

perempuan itu. Bahkan kemudian “Kalau perlu bersama Manguri dan ayahnya sama

sekali. Tidak akan ada orang yang mencarinya seandainya untuk beberapa lama

Manguri tidak tampak di Gemulung. bahkan seandainya ia dibicarakan orang, maka

setiap orang pasti justru akan mencurigainya, melarikan Sindangsari dan tidak kembali

lagi ke Kademangan Kepandak.

Ki Reksatani yang menyadari kelebihannya, sama sekali tidak mencemaskan

kemampuan ayah beranak itu. Bahkan Lamat yang bertubuh raksasa itu sama sekali

tidak dihiraukannya. Menurut pengertian Ki Reksatani. Lamat adalah raksasa yang

kuat, tetapi betapa bodohnya.

Pada hari itu Ki Reksatani minta diri kepada kakaknya untuk meninggalkan

Kademangan.

“Besok aku akan berangkat kakang” berkata Ki Reksatani “karena itu, biarlah isteriku

pulang menunggui anak-anaknya”

Ki Demang di Kepandak mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Hati-hatilah di

perjalanan. Jangan lengah tetapi juga jangan tergesa-gesa menentukan sikap apapun.

Dengan demikian kau tidak akan mudah masuk perangkap, tetapi juga tidak mudah

terjerumus ke dalam kekeliruan. Mungkin kau sendiri tidak akan mendapat cidera

karena kekeliruanmu itu. Tetapi apabila kau sudah terlanjur bertindak atas seseorang,

maka korbanmu itu akan mengutukmu sepanjang abad”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya ”Baiklah kakang. Sekaligus aku minta

diri. Selama sepuluh hari aku tidak berada di Kademangan. Bendungan yang sedang

digarap itupun akan aku tinggalkan untuk sementara. Tetapi beberapa orang sudah

akan dapat mengurusnya”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa curiga sama sekali ia

menjawab “Baiklah. Aku sekali-sekali akan menengok bendungan yang sedang kau

garap itu”

Ki Reksatanipun kemudian meninggalkan Kademangan itu bersama isterinya, pulang

ke rumahnya. Ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tugas yang cukup berat

baginya.

“Aku akan melihat perkembangan keadaan” katanya kepada isterinya ketika mereka

sudah berada di rumah “kalau aku menganggap bahwa tidak mungkin lagi

menyembunyikan Sindangsari, apaboleh buat”

“Tetapi jangan dibunuh perempuan itu. Ia sedang mengandung”

“Justru karena ia mengandung. Kandungannya itulah yang akan menjadi duri selama

hidupku. Kalau anak di dalam kandungan itu harus mati, lebih baik membunuhnya

sekarang, sebelum ia lahir dan hidup”

“Kita akan berdosa”

“Itu lebih baik. Dosa kita akan berlipat kalau kita menunggu bayi itu lahir”

Nyai Reksatani tidak dapat menjawab lagi. Tetapi kepalanya tertunduk. Hatinya adalah

hati perempuan. Bagaimanapun juga, terasa bahwa jalan yang diambah suaminya

adalah jalan yang sesat. Tetapi ia tidak kuasa untuk berbuat lebih banyak dari

memberinya peringatan.

Namun di dalam hatinya sendiri, kadang-kadang tumbuh juga keinginan seorang ibu.

Keinginan melihat anak-anak nya nanti menjadi orang yang terpandang, seperti

dikehendaki oleh suaminya.

Benturan-benturan itulah yang membuatnya kadang-kadang kehilangan kemampuan

berpikir lagi, sehingga kadang-kadang ia bergumam “Aku tidak tahu. Terserahlah apa

yang akan terjadi”

Demikianlah, maka dengan hati yang berdebar-debar Ia melihat suaminya

mempersiapkan dirinya. Keris pusakanya selalu disiapkannya di lambung meskipun ia

masih akan berangkat besok.

“Aku harus membawa Manguri” katanya di dalam hati “kalau perlu aku akan dapat

membunuhnya sekali”

Adalah kebetulan sekali, bahwa sebelum ia memberitahukan keberangkatannya

kepada Manguri, seorang pesuruh anak muda itu telah datang kepadanya dan

bertanya kapan ia akan pergi ke Sembojan.

“Aku akan pergi besok” berkata Ki Reksatani “kalau Manguri akan pergi juga, suruhlah

ia menunggu di luar Kademangan ini, supaya tidak ada orang yang melihat sehingga

dapat menumbuhkan kecurigaan”

Demikianlah maka pesuruh itupun segera pulang dan menyampaikannya kepada

Manguri.

“Lamat” berkata Manguri kemudian “besok kita akan pergi”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasakan perbedaan nada kata-kata

Manguri Kali ini Manguri tampak bersungguh-sungguh dan bukan sekedar ingin

membentak-bentak saja. Berkata anak muda itu pula “Kita harus berhati-hati. Banyak

hal dapat terjadi”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita akan menunggu di luar Kademangan Kepandak. Dan kita akan pergi bersamasama

dengan Ki Reksatani”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Terbayang di rongga matanya, suatu perjalanan

yang tegang dan mendebarkan. Setiap saat Ki Reksatani dapat berubah pendirian.

Apalagi Ki Reksatani adalah seorang yang tidak bedanya seperti Ki Demang di

Kepandak sendiri. Ia adalah orang yang tidak terlawan.

“Kita akan berangkat sebelum terang tanah, supaya tidak seorangpun yang melihat

kita. Apalagi apabila orang itu melihat pula Ki Reksatani meninggalkan Kademangan

ini”

“Ya“ Lamat mengangguk.

“Selain kau, aku akan membawa dua tiga orang kawan yang lain. Mungkin mereka kita

perlukan di perjalanan”

“Kita akan berangkat berlima atau enam bersama-sama?”

“Tentu tidak. Biarlah orang-orang itu mendahului kita berpencaran. Tetapi kita berjanji

untuk bertemu di luar Kademangan ini”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa ia harus mempersiapkan

semuanya. Kuda, memilih orang-orang terbaik dan menyiapkan senjata yang akan

mereka bawa, dan senjatanya sendiri.

Demikianlah, Lamat yang selalu diguncang oleh perasaannya itu menjadi semakin

bingung. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di perjalanan. Mungkin Ki Reksatani sudah

puas melihat persembunyian Sindangsari. namun mungkin karena kecemasannya,

tiba-tiba saja tumbuh keinginannya membunuh Sindangsari.

“Kalau Ki Reksatani ingin membunuh Sindangsari” berkata Lamat di dalam hatinya

“sudah pasti, ia yang termasuk orang-orang yang dapat menjadi saksi dari

pembunuhan itu akan dimusnahkannya pula”

Tanpa sesadarnya Lamat meraih sehelai golok di dinding biliknya. Jarang sekali golok

itu dibawanya keluar. Kadang-kadang ia hanya sekedar membawa sehelai parang.

Tetapi kali ini, tiba-tiba saja tumbuh keinginannya untuk membawa goloknya. Meskipun

golok itu tidak terlampau panjang, tetapi beratnya hampir dua kali lipat dari berat

pedang biasa Bahkan selain golok itu, Lamat telah menyisipkan pula sehelai pisau

belati kecil dipinggangnya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia menganggap perlu untuk

membawa senjata-senjata itu.

Bahkan ketika malam menjadi gelap, dan Lamat masih harus pergi ke sawah, senjatasenjata

itu sudah dibawanya pula selain cangkul di pundaknya. Seolah-olah di tengah

sawah telah pula menunggu bahaya yang akan mengancam jiwanya. Jiwanya yang

seolah-olah telah tergadaikan itu.

“Malam ini aku akan beristirahat di rumah” berkata Manguri ”Besok kita akan berangkat

lagi. Kaupun harus segera pulang dan tidur. Kita tidak boleh terlambat bangun”

Lamat mengangguk “Aku akan segera pulang apabila sawah itu sudah penuh. Mungkin

kita akan meninggalkan dua tiga hari, sehingga kita tidak akan dapat mengairinya

selama itu. Aku kurang yakin bahwa orang-orang lain, para pekerja itu dengan

sungguh-sungguh akan melakukan pekerjaan yang menjemukan ini”

“Terserahlah kepadamu. Tetapi besok kita akan berangkat menjelang fajar. Kita akan

menunggu Ki Reksatani di luar Kademangan”

Dengan kepala tunduk Lamatpun kemudian melangkahkan kakinya menyelusuri jalan

padukuhan pergi ke sawah. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja apabila ia

bertemu dengan anak-anak muda Gemulung. Hubungannya dengan anak-anak muda

itu tidak begitu baik seperti juga Manguri Tetapi anak-anak muda Gemulung

menganggap bahwa Lamat hanyalah sekedar lembu perahan yang bodoh dan tidak

bersikap apapun juga. Dengan demikian, maka anak-anak muda Gemulung justru tidak

menumpahkan kebencian mereka kepadanya. Bahkan ada beberapa diantara mereka

yang merasa kasihan kepada raksasa yang tidak lebih dari seorang budak itu.

Seperti biasanya, orang-orang di Padukuhan Gemulung berusaha untuk

menghindarkan pertengkaran berebutan air.

Karena itu, setiap kali mereka saling berbincang, bagaimana malam nanti mereka akan

membagi air yang tidak terlampau deras mengalir. Dengan demikian, maka

pertengkaran akan dapat dihindari sejauh-jauhnya. Setiap orang tidak berniat sama

sekali untuk mengingkari persetujuan mereka sehingga dengan demikian semuanya

dapat berlangsung dengan lancar dan baik.

Setelah mendapat ketetapan pembagian air, maka Lamatpun segera pergi ke

gubugnya. Ia mendapat pembagian air sedikit lewat tengah malam, sehingga karena

itu, ia akan dapat tidur barang sejenak.

“Mudah-mudahan aku tidak terlanjur tertidur sampai pagi” desisnya.

Tetapi apabila seseorang tertidur dan membiarkan air yang menjadi bagiannya lewat,

kadang-kadang tetangga-tetangga yang mengetahuinya membangunkannya juga.

Karena merekapun mengetahui, betapa besarnya nilai air di musim yang kering ini.

Tetapi ketika Lamat baru saja membaringkan dirinya, ia merasa gubugnya bergerakgerak.

Karena itu, maka iapun segera bangkit dan memperhatikan keadaan di

sekitarnya dengan saksama.

Telinganya yang tajam segera menangkap desah nafas di bawah gubugnya. Perlahanlahan.

Tetapi cukup jelas baginya.

Dengan dada yang berdebar-debar Lamat menunggu. Siapakah yang sedang berdiri di

bawah gubugnya itu. Sudah pasti bukan Manguri. Kalau yang datang itu Manguri, ia

akan segera berteriak memanggil, atau dengan segera meloncat naik.

Lamat masih menunggu sejenak. Tetapi orang yang berada di bawah gubugnya itu

masih tetap berada di tempatnya.

Akhirnya Lamat tidak menunggu lagi. Dari sela-sela alas gubugnya ia mencoba

mengintip. Namun ia tidak dapat melihat dengan jelas siapakah yang berada di bawah

gubugnya itu. Ia hanya melihat seseorang berdiri bersandar tiang.

Lamat menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun mencoba menyapa “Siapa

yang di bawah?”

Sejenak tidak ada jawaban, sehingga Lamat mengulanginya “Siapa yang di bawah

itu?”

Ketika orang itu kemudian menengadahkan wajahnya, Lamat dapat menduganya,

bahwa orang itu adalah Pamot.

“Aku Lamat” terdengar jawaban.

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba-menahan gelora yang melonjak-lonjak

di hatinya. Tiba-tiba saja Pamot kini menjadi hantu yang menakutkan baginya.

“Siapakah yang kau cari disini?” Lamat bertanya.

“Aku mencarimu Lamat”

“Aku?”

“Ya. Turunlah, atau aku akan naik?”

Lamat menjadi ragu-ragu sejenak. Ia sadar, bahwa pertanyaan Pamot akan berkisar di

sekitar Sindangsari.

Sehingga karena itu, iapun kemudian menjawab “Aku lelah sekali. Aku ingin tidur”

“Aku ingin berbicara sedikit saja Lamat. Kalau aku naik, dan Manguri datang setiap

saat, maka aku akan diketahuinya datang menemui kau”

“Pergilah” berkata Lamat kemudian. Detak jantungnya serasa menjadi semakin cepat

mengguncang isi dadanya “aku tidak sempat berbicara apapun sekarang”

“Sebentar saja. Atau aku akan berteriak dari bawah”

“Pergi. Pergilah Pamot, Jangan membuat aku marah”

Pamot mengerutkan keningnya. Namun ia tidak segera pergi. Bahkan ia berkata pula

“Kau tentu bersedia turun sejenak. Hanya sejenak. Aku akan segera pergi supaya aku

tidak mengganggumu disini”

“Pergilah sekarang”

“Aku harap kau turun sejenak Lamat, aku tidak mempunyai tempat lagi untuk bertanya

Aku menganggap bahwa pertanyaan ini dapat aku sampaikan kepadamu. Dan aku

mengharap kau masih bersedia menolongku”

“Cukup. Pertolonganku kepadamu sudah cukup banyak. Sekarang kau jangan

mengganggu aku lagi. Aku tidak tahu apa-apa tentang Sindangsari. Aku tidak tahu

apa-apa tentang dunia luar dinding halaman rumah Manguri. Aku tidak tahu apa-apa.

Bahkan keadaan di dalam halaman itupun aku tidak mengetahui banyak”

“Tetapi aku tidak bertanya tentang Sindangsari Lamat”

Terasa desir yang tajam tergores di dada Lamat. Sejenak ia merenung. Bahkan

kemudian ia menjengukkan kepalanya. Dilihatnya Pamot kini berdiri di depan tangga.

“Kenapa kau selalu menggelisahkan aku Pamot. Kau tahu siapa aku. Tidak

seharusnya kau selalu mengejar aku dan menghantui aku dengan pertanyaanpertanyaanmu

yang tidak aku mengerti”

“Apakah kau tidak akan turun?” bertanya Pamot.

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian bergeser menepi. Katanya

“Baiklah. Aku akan turun. Tetapi jangan bertanya tentang Sindangsari, tentang Ki

Demang dan persoalan-persoalan yang bersangkut paut dengan itu”

“Ya”

“Kau berjanji?”

“Ya”

Lamat terdiam sejenak. Namun kemudian iapun menuruni tangga gubugnya menemui

Pamot yang masih berdiri di bawah.

“Cepat bertanyalah” berkata Lamat.

“Lamat” sahut Pamot “Kenapa kau sekarang berubah? Ketika aku berada di dalam

kesulitan, di saat-saat aku akan meninggalkan Gemulung, kau selalu melindungi aku.

Bahkan kadang-kadang di luar dugaanku dan dapat membahayakan dirimu sendiri.

Tetapi sekarang kau bersikap sangat berbeda. Apakah aku sudah berbuat kesalahan

yang menyinggungmu? Atau barangkali, kau tidak dapat melupakan dosa yang telah

aku lakukan di luar sadarku itu?”

Dada Lamat menjadi semakin berdebar-debar. Namun kemudian ia memotongnya

“Cepat katakan keperluanmu”

“Apakah kau tidak mau lagi berbicara dengan tenang dan baik seperti dahulu”

“Diam“ Lamat tiba-tiba membentak “cepat katakan dan cepat tinggalkan tempat ini.

Sebentar lagi Manguri akan datang kemari. Kau tidak akan dapat bersembunyi lagi”

Pamot menarik nafas dalam-dalam.

“Ya. Memang mungkin sekali kau sudah terlampau muak kepadaku. Malam itu kau

masih dapat menahan hati. Kau masih sempat memberi kesempatan aku

bersembunyi”

“Ya. Sekarang aku sudah benar-benar muak melihat wajahmu. Aku tidak dapat

melupakan noda yang memercik di hatimu. Aku tidak dapat melupakan betapa

jahatnya kau malam itu. Kau sudah berbuat sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh

orang-orang beradab”

“Baiklah. Aku minta maaf sekali lagi”

“Kenapa kau minta maaf kepadaku. Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan

kau, dengan Sindangsari dan dengan Ki Demang yang isterinya telah kau nodai. Aku

tidak berkepentingan apapun”

“Baiklah Lamat. Baiklah. Tetapi apakah aku boleh bertanya sesuatu kepadamu.

Sebuah pertanyaan saja”

Lamat memandang Pamot dengan mata yang gelisah. Dan tiba-tiba ia membentak

“Cepat, katakan pertanyaanmu itu”

“Lamat” suara Pamot merendah “kenapa Ki Reksatani pada malam itu datang

menemui Manguri?”

Pertanyaan itu serasa menghentakkan seluruh isi dada Lamat. Sejenak ia membeku di

tempatnya. Namun sejenak kemudian ia membentak pula “Kau sudah berjanji, kau

tidak akan bertanya tentang Sindangsari, Ki Demang atau yang bersangkut paut

dengan itu. Kenapa kau melanggar janjimu?”

“Aku tidak bertanya tentang Sindangsari, tentang Ki Demang dan yang bersangkut

paut dengan itu Lamat. Tetapi aku bertanya, kenapa Ki Reksatani memerlukan

menemui Manguri di malam hari?”

Pamot hampir tidak dapat menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba saja terasa tangan

Lamat menampar pipinya, sehingga Pamot terputar ke samping. Bahkan karena

kakinya tergelincir, maka iapun kemudian terjatuh di tanah berlumpur.

Sebelum ia sempat bangkit, maka tangan Lamat yang kuat telah menerkam bajunya

dan menariknya.

“Kau gila Pamot. Kau sudah melanggar janjimu. Kau membuat hidupku yang pahit ini

menjadi semakin parah”

Betapa geramnya tangan Lamat mengguncang tubuh Pamot yang seakan-akan tidak

berdaya sama sekali.

“Kau tidak berhak memaksa aku menjawab pertanyaanmu yang manapun juga.

Karena itu, kau harus segera pergi. Kau jangan membuat aku menjadi gila dengan

pertanyaan-pertanyaan serupa itu. Atau aku harus membunuhmu sebelum aku benarbenar

menjadi gila?”

Sebelum Pamot menjawab, maka didorongnya tubuh anak muda itu sehingga sekali

lagi ia terlempar dan jatuh di dalam lumpur.

“Pergilah. Dan jangan bertanya apapun juga”

Tertatih-tatih Pamot berusaha bangkit. Apalagi setelah ia menjadi bagian dari pasukan

Mataram yang melawat ke Betawi. Oleh seorang perwira ia mendapat tuntutan khusus

di dalam olah kanuragan. Namun Pamot sama sekali tidak berusaha melawan. Ia

sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak akan dapat menang apabila ia sengaja melawan

raksasa itu. Tetapi lebih daripada itu, Pamot memang tidak berhasrat sama sekali

untuk bertengkar dengan Lamat.

“Baiklah Lamat” berkata Pamot kemudian “ternyata yang aku jumpai sekarang bukan

Lamat yang dahulu”

“Diam, diam kau”

“Ya, ya Lamat. Aku akan diam. Selamat malam. Aku akan pergi. Aku tidak akan

kembali lagi kepadamu, supaya kau tidak merasa terganggu, meskipun aku tidak

berniat demikian”

Lamat sama sekali tidak menjawab. Ia sama sekali tidak mau lagi memandang wajah

Pamot yang kotor oleh lumpur. Bahkan hampir seluruh tubuh dan pakaiannya.

“Aku akan pergi Lamat”

Lamat sama sekali tidak menjawab. Tetapi ketika Pamot mulai melangkahkan kakinya,

Lamat menggeram “Seharusnya aku bunuh kau. Kau dapat menimbulkan salah

paham. Kalau kau memang melihat Ki Reksatani menemui Manguri, itu karena Ki

Reksatani mencurigainya. Dan setiap saat selalu mendesaknya agar Manguri

mengaku bahwa ia telah ikut terlibat di dalam masalah itu”

Pamot memandang Lamat dengan tajamnya. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun.

“Tetapi dugaan itu sangat bodoh. Manguri tidak memerlukan perempuan itu.

Perempuan yang sudah mengandung karena kau dan yang sudah menjadi isteri orang

pula. Manguri dapat mengambil gadis yang manapun juga. Yang jauh lebih cantik dari

Sindangsari”’

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan-akan tanpa disadarinya ia berkata

“Ya Lamat. Memang Ki Reksatani bodoh sekali di dalam hal ini”

“Diam, diam kau. Kau tidak usah turut berbicara”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian ia melihat kegelisahan

yang memuncak pada diri Lamat. Kegelisahan yang tidak dapat disembunyikannya

lagi.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Pamot berkata “Sudahlah Lamat. Aku akan pergi.

Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun bahwa aku melihat Ki Reksatani datang

ke tempat ini dan memaksa Manguri untuk mengakui sesuatu yang tidak dilakukannya”

****

Jilid 8 – Bab 4 : Simpang Jalan

“Diam, diam“ Lamat hampir menjerit. Berbareng

dengan itu sekali lagi tangannya menampar pipi

Pamot, sehingga Pamot sekali lagi terputar dan

jatuh ke dalam lumpur.

Perlahan-lahan Pamot berdiri. Kini terasa

darahnya mulai menjadi panas. Bagaimanapun

juga, ia tidak akan dapat membiarkan dirinya

dipukuli tanpa berbuat sesuatu.

Sebelum ia sempat bangkit, maka tangan Lamat

yang kuat telah menerkam bajunya dan

menariknya.

Tiba-tiba Pamot menggeretakkan giginya.

Selangkah ia maju sambil berkata “Lamat. Aku

percaya bahwa kau dapat membunuh aku.

Kenapa hal itu tidak kau lakukan? Aku kira itu

akan menjadi lebih baik daripada kau seakanakan

benar-benar telah gila. Apakah kau sadari

kelakuanmu itu? Nah. Kalau kau ingin membunuh

aku, lakukanlah. Ketika aku datang untuk pertama kalinya di Kepandak, selagi aku

masih berada di dalam barisan berkuda itu, Ki Demang juga akan melakukannya. Ki

Demang menuduh aku melarikan Sindangsari dan menuntut agar aku diserahkannya

kepadanya. Tetapi Ki Tumenggung Dipanata tidak mau karena ia tahu, bahwa aku

tidak bersalah. Sekarang kau yang agaknya sudah menjadi gila itu akan membunuh

aku pula, karena aku melihat Ki Reksatani datang menemui Manguri dan memaksa

Manguri untuk mengakui tanpa melakukan kesalahan seperti, aku” Pamot berhenti

sejenak, lalu melangkah lagi ia mendekat “lakukanlah. Kau malam ini membawa

senjata yang mengerikan itu. Sekali ayun, leherku akan lepas dari tubuhku. Kau tinggal

menyeret mayatku dan melemparkannya ke kali. Tidak akan ada orang yang akan

menuduhmu. Semua orang pasti akan menyangka bahwa Ki Demanglah yang telah

melakukannya atau orang-orang yang disuruhnya seperti ketika aku merayap ke

rumah Sindangsari sebelum aku pergi”

“Cukup, cukup“ Lamat tiba-tiba menutup kedua telinganya dengan tangannya. Sama

sekali tidak seperti yang diduga oleh Pamot. bahwa Lamat itu akan marah sekali dan

mencekiknya sampai mati. Tetapi tiba-tiba Lamat menjatuhkan dirinya dan duduk di

pematang sambil menutup telinganya rapat-rapat.

Pamot menjadi heran. Karena itu, maka iapun justru terdiam. Perlahan-lahan ia

mendekati Lamat yang duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Pamot masih berdiri termangu-mangu, sedang

Lamat duduk terpekur seakan-akan merenungi air di bawah kakinya.

“Maaf Lamat Apakah aku menyakiti hatimu?” desis Pamot kemudian “baiklah, aku akan

diam. Aku hanya akan minta diri kepadamu kalau kau tidak ingin membunuh ku. Aku

tidak akan mengganggumu lagi”

Lamat tidak menjawab. Ia masih menekurkan kepalanya. Namun dalam pada itu,

dadanya bergejolak dahsyat sekali. Ia sedang diamuk oleh keragu-raguan dan hampir

kehilangan kesadarannya tentang dirinya sendiri, Lamat hampir tidak dapat mengenal

lagi kata-kata hatinya sendiri. Ia tidak tahu, apakah sebenarnya yang kini

dikehendakinya, diinginkannya dan persoalan yang dihadapinya. Dan bahkan ia tidak

lagi dapat membedakan, mana yang benar dan mana yang tidak benar menurut

nuraninya.

“Aku sudah menjadi gila Pamot. Benar-benar gila” desisnya.

Pamot mendekatinya dan seperti tanpa disadarinya ia duduk di samping raksasa itu

“Aku tidak mengetahui dengan pasti, apakah yang sedang bergolak di hatimu. Tetapi

kalau semuanya itu karena singgungan kata-kataku, pertanyaanku dan barangkali

kecurigaanku, aku minta maaf. Mudah-mudahan kau dapat melupakannya”

Lamat tidak menjawab. Tetapi kata-kata Pamot itu justru membuatnya semakin

bingung. Hatinya seakan-akan telah menjadi gelap pekat. Ia tidak tahu lagi jalan yang

harus dilaluinya.

“Aku memang sudah gila. Aku benar-benar sudah gila. Aku hanya tinggal mengenal

nama-nama orang, namamu, nama Manguri, Ki Reksatani, Ki Demang, Sindangsari,

tetapi aku tidak akan dapat mempunyai tanggapan apapun juga”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melihat beban yang terlampau berat di

hati raksasa yang jinak itu.

”Pamot” tiba-tiba Lamat berkata dalam nada yang dalam “kalau kau berdiri di simpang

jalan, jalan yang manakah yang akan kau pilih?”

Pamot menjadi bingung mendengar pertanyaan itu. Karena itu ia ganti bertanya “Aku

tidak mengetahui maksudmu dengan pasti Lamat. Dan aku tidak mengenal kedua

ujung dari jalan simpang itu, sehingga aku tidak akan dapat memilih”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya, kau tidak mengenal ujung

jalan simpang itu. Tetapi manakah yang lebih baik bagimu. Membalas budi atau

menyelamatkan jiwa seseorang. Aku berhutang budi kepada seseorang yang telah

menyelamatkan jiwaku Pamot, tetapi kini aku melihat jiwa seseorang sedang

terancam. Mungkin ia akan mati terbunuh, tetapi seandainya tidak, maka jiwa itupun

akan di rampas oleh malapetaka sepanjang hidupnya seperti hidupku sendiri. Bahkan

lebih parah lagi”

Pamot tidak segera menjawab. Di wajahnya membayang keheranannya yang

memuncak.

“Pamot” berkata Lamat kemudian “apakah sebaiknya yang akan kulakukan seandainya

Manguri menyuruh aku membunuhmu, sedang kau tidak bersalah?”

Dada Pamot berdesir mendengar pertanyaan itu. Dengan serta merta ia bertanya “Jadi

kau mendapat perintah Manguri untuk membunuh aku?”

“Tidak”

“Jadi” Pamot mendesak “jadi bagaimana”

“Seandainya, hanya seandainya. Aku telah berhutang budi kepada Manguri karena

ayahnya telah menyelamatkan nyawaku di masa kanak-kanak. Padahal aku tahu

bahwa kau sama sekali tidak bersalah. Hal itu hanya dilakukan sekedar untuk

kesenangannya saja”

“Kesenangan?”

“Ya. Sekedar kepuasan karena ia ingin melihat kau mati”

Pamot tidak menyahut.

“Pamot, apakah yang akan kau lakukan”? Apakah karena aku berhutang budi, maka

aku harus membunuhmu tanpa pertimbangan? Atau aku harus mencegahnya,

meskipun akibatnya akan membuat aku tidak lagi dapat membalas budi”

“Persoalanmu memang aneh Lamat” berkata Pamot “aku tidak dapat membantumu

memecahkan parsoalan itu. Tetapi kalau ayah Manguri benar seorang yang baik, ia

tidak akan menuntut balas budi dari pertolongannya itu.

“Maksudmu aku dapat melupakannya dan tidak memperhitungkannya lagi di dalam

setiap tindakanku?”

“Bukan begitu. Tetapi sampai dimanakah batasnya seseorang harus membalas budi?”

Lamat tidak menyahut. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Sejenak ia

membeku seperti itu. Bahkan kemudian terasa tubuhnya menjadi dingin sekali.

Pamot yang duduk di samping Lamat membiarkannya duduk terpekur. Namun dada

Pamot menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar nafas Lamat yang semakin cepat.

Bahkan kemudian terengah-engah seakan-akan Lamat sedang melakukan pekerjaan

yang sangat berat.

Sebenarnyalah, di dalam hati raksasa itu sedang terjadi benturan yang dahsyat. Suatu

pergolakan perasaan yang hampir tidak teratasi.

Dengan sekuat kemampuannya Lamat mencoba mengatasi. Sambil mengatupkan

giginya rapat-rapat Lamat memeras perasaan di dadanya. Sebuah pemberontakan

yang tidak tertahankan telah meledak di dadanya.

Tiba-tiba Lamat itu menghentakkan kakinya sehingga Pamot terkejut karenanya.

Apalagi ketika Lamat itu menggeram “Tidak. Aku harus berdiri diatas nuraniku sendiri.

Aku masih tetap mempunyai pribadi. Aku bukan seekor kerbau. Aku bukan seekor

lembu perahan yang tidak berhak menentukan sikap”

Pamot bergeser setapak menjauh. Dipandanginya Lamat yang perlahan-lahan

mengangkat wajahnya.

Ditatapkan kepekatan malam dengan mata yang seakan-akan menyala. “Aku telah

menemukannya. Aku telah memutuskannya apapun yang akan terjadi. Aku tidak dapat

membiarkan kegilaan itu berkepanjangan”

Pamot masih duduk diam, Sejengkal lagi ia bergeser menjauh tanpa menghiraukan

pakaiannya yang semakin kotor karena lumpur pematang. Bahkan kemudian ia

menjadi cemas melihat Lamat.

“Apakah Lamat telah benar-benar menjadi gila?”

Pamotpun kemudian berdiri ketika ia melihat Lamat berdiri. Ia harus bersiap

menghadapi setiap kemungkinan di dalam kegilaan itu, apabila Lamat benar-benar

menjadi gila.

Lamat yang berdiri tegak itu menjadi terengah-engah. Tubuhnya menjadi gemetar dan

bibirnya bergerak-gerak.

“Lamat” suara Pamot perlahan-lahan “apakah yang sudah terjadi atasmu?”

Lamat tidak menjawab. Kini mulutnya terkatub rapat-rapat.

“Lamat, apakah ada sesuatu yang telah mengguncangkan hatimu”

“Ya” tiba-tiba Lamat menjawab “Aku telah berusaha menguasai diriku sendiri” Lamat

berpaling. Dipandanginya wajah Pamot yang tegang ”Pamot. Aku bersumpah bahwa

aku adalah Lamat. Aku manusia juga seperti kau, seperti Manguri, seperti Ki

Reksatani, meskipun aku pernah berhutang budi. Bukankah aku tetap seorang yang

berpribadi?”

Tanpa mengetahui maksudnya Pamot mengangguk “Ya” desisnya.

“Ya. Dan aku akan bersikap sebagai seseorang yang berpribadi. Aku tidak dapat

membiarkan semuanya itu terjadi”

“Apa yang akan terjadi Lamat?”

Perlahan-lahan Lamat menarik nafas. Tangannya yang menggenggam perlahan-lahan

terurai. Sekali lagi ia memandang kekejauhan sambil berkata “Apakah kau masih

percaya kepadaku Pamot?”

“Ya” Pamot menjawab dengan serta-merta sebelum ia sempat berpikir.

“Baiklah Pamot. Kalau kau masih percaya kepadaku, dengarlah“ Lamat berhenti

sejenak. Sekali lagi ia menarik nafas. Kemudian katanya “Duduklah”

Pamot tidak menjawab. Tetapi ketika Lamat duduk di pematang yang basah itu,

Pamotpun segera duduk pula di sampingnya.

“Pamot” suara Lamat menurun “Apaboleh buat. Aku harus mengkhianati kebaikan

budinya”

“Apa yang sebenarnya telah terjadi atasmu Lamat”

“Kau tidak usah tahu Pamot“ Lamat berhenti sejenak, lalu “Pergilah kau besok pagipagi

ke Sembojan”

“Sembojan? Dimanakah Sembojan itu?”

“Pergilah sebelum fajar. Kau harus mendahului kami”

“Tetapi apakah kepentinganku?”

“Sindangsari berada di Sembojan”

Betapa terkejut Pamot mendengar keterangan yang tidak disangka-sangka itu,

sehingga rasa-rasanya darahnya berhenti mengalir. Sejenak ia justru membeku.

Dipandanginya Lamat dengan mulut ternganga.

“Bukankah kau masih percaya kepadaku?” bertanya Lamat.

“Ya, ya” jawab Pamot terbata-bata “Aku masih percaya Tetapi apakah aku dapat

mempercayai pendengaranku. Kau berkata bahwa Sindangsari berada di Sembojan?”

“Ya. Aku memang berkata demikian. Besok sebelum fajar, aku harus mengantar

Manguri pergi ke padukuhan itu. Selain kami, Ki Reksatanipun akan pergi pula. Apakah

kau dapat mengerti?”

Pamot tidak menyahut. Keringat dingin telah mengembun di seluruh tubuhnya.

“Ki Reksatani dan Manguri telah bersepakat mengambil Sindangsari dari Kademangan.

Itulah sebabnya, maka hampir tidak seorangpun dapat membayangkan, bagaimana

perempuan itu dapat hilang begitu saja. Akulah yang membawanya meloncat pagar

batu di halaman belakang, setelah Nyai Reksatani berhasil memancingkan kebawah

rumpun pering petung”

Pamot masih saja membeku. Sebuah kejutan yang dahsyat telah membuatnya seolaholah

tidak mampu lagi berpikir untuk sejenak.

“Pamot” desis Lamat “keduanya bertemu pada suatu kepentingan Sindangsari harus

pergi dari Kademangan. Manguri masih menginginkannya, sedang Ki Reksatani ingin

menyingkirkannya, karena Sindangsari, mengandung, dan akan memberikan

keturunan yang kelak dapat mewarisi jabatannya”

“Gila. Itu perbuatan gila” tiba-tiba Pamot menggeram “dan kau tidak berusaha

mencegahnya? Malahan kau membantu menculik perempuan itu” tiba-tiba Pamot

berdiri dan menuding wajah Lamat.

“Sekarang kaulah yang menjadi gila” sahut Lamat. Ketenangan Lamat telah membuat

Pamot menyadari dirinya. Ia mengangguk dan menjawab “Ya, kita bergantian menjadi

gila. Sesudah kau, sekarang aku”

“Kau harus dapat memandang persoalan ini dengan tenang. Ingat, besok mereka akan

pergi ke Sembojan, di daerah Kademangan Prambanan, sebelah Timur Hutan Tambak

Baya”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau harus mendahului kami. Banyak hal dapat terjadi Mungkin pembunuhan, sesuai

dengan kepentingan Ki Reksatani, tetapi mungkin juga perkosaan menurut kebutuhan

Manguri yang ingin memperisterikannya, meskipun dengan paksa”

Terdengar gigi Pamot gemeretak. Tiba-tiba ia berkata ”Aku akan menghadap Ki

Demang”

“Jangan. Kita masih belum yakin, apakah kita dapat menemukan Sindangsari. Kalau

Sindangsari tidak ada di Sembojan, maka Ki Demang akan menuduhmu mengadaada”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Bawalah beberapa orang kawan yang kau percaya. Jangan terlampau banyak supaya

tidak menumbuhkan kecurigaan di sepanjang jalan. Kau dapat menghubungi anakanak

muda di Sembojan, barangkali ada juga yang baru pulang dari tugasnya, seperti

yang kau lakukan?”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau kau sampai di Sembojan lebih dahulu, kau dapat mencari anak-anak muda itu

dan minta bantuan mereka apabila kau perlukan. Tetapi ingat, tunggu apa yang akan

terjadi. Kau harus mencari tempat Sindangsari disembunyikan, dan kau harus dapat

mengamati apa yang akan terjadi. Dengan bantuan anak-anak muda Sembojan, aku

yakin kau dapat melakukannya”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Terima kasih Lamat

Aku masih tetap percaya kepadamu. Aku yakin bahwa ujud lahiriahmu tidak sejalan

dengan ujud batinmu. Aku berhutang budi kepadamu sejak aku belum berangkat ke

Betawi”

“Jangan kau sebut-sebut tentang hutang budi. Aku menolongmu dengan ikhlas

sehingga aku tidak merasa mempunyai piutang yang akan aku tagih setiap waktu.

Hutang budi itu akan mengikatmu seperti aku telah terikat olehnya pula”

“Tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak tahu budi. Yang harus kita timbang adalah nilai

dari harga diri kita masing-masing dengan bagaimana kita harus membalas budi. Kita

harus menentukan keseimbangan di dalam saat-saat seperti yang kau hadapi itu”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Betapapun besar hutang budiku kepada seseorang, tentu aku tidak akan dapat

mengorbankan pribadiku, seperti aku tidak akan dapat menyerahkan isteriku misalnya,

kepada orang itu. Tetapi adalah harga seseorang itupun dapat dilihat bagaimana ia

menghargai budi seseorang”

Lamat masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, Lamat sebaiknya, aku berangkat sekarang. Aku akan membawa beberapa orang

kawan dari Gemulung. Tiga atau empat orang. Aku akan berusaha menghubungi anak

anak muda di Sembojan. Aku kira pasti ada juga yang ikut di dalam barisan Mataram,

karena aku mendengar juga anak-anak muda berdatangan dari Prambanan dan

sekitarnya”

“Hati-hatilah. Kau harus dapat memilih saat dan keadaan yang tepat. Kalau kau salah

hitung, maka kau pasti hanya akan mendapatkan mayat Sindangsari. Kau mengerti?”

Pamot mengangguk. Katanya “Aku akan berusaha. Aku harus mendahului mereka”

Pamotpun dengan tergesa-gesa meninggalkan sawah Manguri Ketika ia

menengadahkan kepalanya, ia melihat bintang Gubug Penceng telah condong ke

Barat. Tengah malam baru saja dilampaui. Karena itu, ia harus segera mendapat

kawan yang dapat dipercayanya untuk bersama-sama pergi ke Sembojan. Ia harus

keluar lebih dahulu dari Kademangan sebelum Manguri dan Ki Reksatani. Apalagi

mereka mengetahui, bahwa Ki Reksatani adalah seorang yang tidak terlawan di

samping Ki Demang di Kepandak sendiri.

Sepeninggal Pamot, maka Lamatpun segera berkemas pula. Ia sudah menentukan

suatu sikap, sehingga iapun harus bersedia menanggung akibatnya. Manguri baginya

kini bukan lagi seorang yang akan dapat mengikatnya, setelah ia berhasil mematahkan

ikatan perasaan yang selama ini membelenggunya. Sehingga tiba-tiba saja Lamat

merasa dirinya seorang yang bebas, yang tidak terikat lagi. Ia tidak perlu lagi selalu

menundukkan kepalanya apabila Manguri membentak-bentaknya.

Tetapi Lamat sadar, bahwa ia tidak dapat berbuat demikian dengan tiba-tiba, sehingga

dapat menimbulkan kecuriaan Manguri kepadanya. Bagaimanapun juga ia harus

bersikap seperti biasa, merendahkan diri dan menahan hati, apabila anak muda itu

memperlakukannya seperti budak belian di jaman negeri antah berantah.

Sambil menjinjing cangkulnya Lamat berjalan menyelusuri pematang. Ia harus segera

pulang untuk menenangkan hatinya, sebelum ia berangkat bersama Manguri keluar

Kademangan Kepandak.

Namun ketika ia meloncati parit, dilihatnya air yang gemericik. Tiba-tiba saja ia teringat

pada pembagian air yang sudah saling disetujui. Lewat tengah malam adalah

bagiannya.

“Persetan dengan sawah iblis kecil itu” geramnya. Dan Lamatpun melangkah terus.

Tetapi ketika dilihat batang-batang padi muda yang seolah-olah tertunduk lesu karena

kehausan, maka timbullah perasaan iba di hatinya. Meskipun yang dihadapi hanyalah

sekedar tumbuh-tumbuhan dan bukan sejenis makhluk yang dapat merasakan betapa

hausnya kekeringan air, namun Lamat tidak juga sampai hati untuk membiarkan

tumbuh-tumbuhan itu layu.

Lamat berhenti sejenak termangu-mangu. Namun ia terpaksa melangkah kembali.

Dibendungnya parit kecil dan dialirkannya air parit itu ke dalam kotak-kotak sawah.

Meskipun ia sama sekali tidak ingin lagi bekerja untuk Manguri namun tanamantanaman

yang masih muda itu memang memerlukan air.

Sejenak Lamat duduk menunggui air yang mengalir masuk ke dalam sawah, seperti

yang sudah saling disetujui. Lewat sedikit tengah malam adalah bagiannya. Dan Lamat

masih juga sempat mempergunakan kesempatan itu. Bahkan kemudian Lamat

menunggui percikan air itu sambil bertopang-dagu.

“Kalau aku belum datang, Manguri pasti belum akan pergi. Biar Pamot sempat

membawa kawan-kawannya meninggalkan Kademangan beberapa saat mendahului.

Kalau Manguri dan apalagi Ki Reksatani sempat menyusulnya, maka akibatnya akan

menjadi semakin parah” berkata Lamat di dalam hatinya.

Demikianlah, meskipun setiap kali Lamat menengadahkan kepalanya, memandang

langit yang menjadi kemerah-merahan, namun ia masih tetap duduk di pematang

menunggui air yang telah memenuhi sawahnya.

Lamat terkejut ketika ia mendengar langkah yang tergesa-gesa mendekatinya. Ketika

ia berpaling dilihatnya Manguri bergegas mendapatkannya. Sambil menghentakkan

kakinya anak muda itu mengumpat “He, Lamat, apakah kau sudah menjadi gila?”

Lamat tidak menjawab, Kali ini ia memaksa dirinya untuk tetap diam, agar Manguri

tidak mencurigainya.

“Apa kau tidak melihat langit yang sudah semakin merah?”

Lamat menengadahkan wajahnya “Kurang sedikit, Sawah ini hampir penuh”

“Tinggalkan saja sawah itu terbuka Nanti airnya akan penuh dengan sendirinya”

“Tetapi menjelang fajar, aku harus membuka parit itu untuk sawah di sebelah”

“Apa pedulimu dengan sawah orang lain”

“Kami sudah saling berjanji”

“Tutup mulutmu“ Manguri membentak “kalau kau takut kepada tetangga, tutup saja air

yang mengalir ke sawah kita. Aku kira airnya juga sudah cukup banyak”

Lamat tidak menyahut Dengan malasnya ia berdiri dan membuka parit serta penutup

pematang sawahnya.

“Cepat kita pulang” desis Manguri “Kita harus segera berangkat, sebelum Ki Reksatani

mendahului kita”

Keduanyapun kemudian berjalan tergesa-gesa meninggalkan sawah mereka. Mereka

masih harus pulang dahulu, berkemas dan dengan hati-hati meninggalkan padukuhan.

Mereka harus membawa kuda mereka perlahan-lahan agar tidak menumbuhkan

kegaduhan dan kecurigaan tetangga-tetangga mereka yang memang tidak begitu

senang kepada keluarga Manguri itu.

Selagi Manguri dan Lamat mempersiapkan diri, setelah mereka makan pagi karena

mereka akan menempuh perjalanan yang tidak menentu, maka Pamotpun telah

mendahului keluar dari padukuhan. Bersama tiga orang kawannya mereka berkuda

tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain. Mereka berempat kemudian berpacu di

tengah-tengah bulak yang memisahkan padukuhan-padukuhan kecil di Kademangan

Kepandak. Namun, mereka memilih jalan yang meskipun agak melingkar, namun

sejauh-jauh mungkin dari padukuhan-padukuhan itu, sehingga tidak mengejutkan dan

membangunkan penghuni-penghuninya yang masih tidur nyenyak.

“Kita menempuh jalan Utara” berkata Pamot.

“Kenapa?” bertanya Punta yang ikut pula bersama mereka.

“Kita harus menghindari, andaikata Manguri ternyata telah lebih dahulu daripada kita

menunggu Ki Reksatani”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Perhitunganmu baik sekali.

Mungkin Manguri juga berangkat sebelum fajar”

Keempat orang itupun kemudian berpacu semakin cepat. Angin malam yang dingin

menampar wajah-wajah mereka yang tegang. Suara cengkerik masih juga berderik

bersahut-sahutan dengan suara bilalang di rerumputan.

“Aku mengenal seorang anak muda yang ikut pergi ke Betawi” berkata Punta “Adalah

kebetulan kalau aku bertanya kepadanya, dimana rumahnya”

“Dimana?”

“Kali Mati. Tidak begitu jauh dari Sembojan. Juga termasuk Kademangan Prambanan.

Ia anak muda yang baik dan bertanggung jawab”

“Jadi maksudmu?”

“Apakah kita dapat datang kepadanya dan minta bantuannya. Kita tidak mengenal

pimpinan pengawal Kademangan Prambanan. Kita juga tidak mengenal dan tidak

dikenal oleh bebahu Kademangan Prambanan. Kalau kita keliru sepatah kata saja,

mungkin justru kitalah yang dicurigainya”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah. Kita datang kepadanya.

Kita akan melihat perkembangan keadaan sebelum kita mengambil sikap tertentu.

Tetapi aku kira hal itu akan menjadi lebih baik daripada kita berbuat sesuatu tanpa

petunjuk apapun”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sejenak kemudian tidak ada

seorangpun diantara mereka yang berbicara. Mereka berpacu terus di jalan

persawahan yang gelap, meskipun kemudian mata mereka menjadi semakin biasa dan

lambat laun seakan-akan malam menjadi semakin remang-remang. Apalagi karena

langit di Timurpun menjadi semburat merah pula. Fajar telah hampir menerangi malam

yang kelam. Namun anak-anak muda Gemulung itu telah keluar dari telatah

Kademangan Kepandak.

Dalam pada itu, setelah mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa, maka Manguri dan

Lamatpun keluar dari regol halaman rumah mereka. Betapapun gelisah hati Manguri,

tetapi mereka harus tetap berjalan perlahan-lahan. Merekapun sadar, bahwa kejutan

kaki-kaki kuda yang berderap terlampau cepat, akan dapat menumbuhkan pertanyaan

yang aneh di dalam hati tetangga-tetangganya.

“Berapa orang yang yang telah mendahului kita?” bertanya Manguri kepada Lamat.

“Seperti yang kau perintahkan. Hanya tiga orang termasuk pesuruh ayahmu itu”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keningnya kemudian berkerutmerut.

Katanya “Apakah sudah cukup? Apabila kita menghadapi sesuatu, kita

memerlukan banyak tenaga”

”Bersama ayahmu masih ada empat orang lagi di sana” sahut Lamat.

“Tetapi bagaimana dengan Ki Reksatani? Apakah ia tidak membawa banyak orang

bersamanya?”

Lamat merenung sejenak, namun kemudian jawabnya “Aku kira tidak. Kita masih

belum tahu pasti, apa yang akan dilakukannya. Kita hanya saling mencurigai”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih juga raguragu.

Tiga orang-orangnya yang terpercaya telah disuruhnya mendahului dan

menunggu di luar Kademangan. Mereka akan bersama-sama menunggu pula Ki

Reksatani yang sudah berjanji akan pergi bersama mereka ke Sembojan.

Ketika mereka telah keluar dari padukuhan, maka merekapun segera berpacu pula.

Namun setiap kali mereka memasuki padukuhan berikutnya, maka derap kuda

merekapun harus diperlambat.

Betapapun perjalanan itu terasa menjengkelkan sekali, tetapi akhirnya merekapun

sampai juga di luar Kademangan. Di tempat yang sudah ditentukan tiga orang

kepercayaan Manguri telah berada di tempat itu. Mereka menambatkan kuda- kuda

mereka agak jauh dari jalan, di belakang gerumbul. Seorang diantara mereka duduk

diatas rerumputan, sedang dua orang yang lain berbaring beralaskan rumput-rumput

kering. Bahkan seorang diantaranya telah tertidur dengan nyenyaknya.

Ketika Manguri menghampiri mereka, maka orang yang berbaring tetapi tidak tertidur

itu menguap sambil menggeliat “Apakah kita masih akan menunggu lagi?”

“Apakah kalian sudah melihat Ki Reksatani lewat?” bertanya Manguri kepada salah

seorang dari mereka yang tidak tertidur.

Orang yang duduk diatas rerumputan itu menjawab

“Belum. Aku belum melihat seorangpun lewat”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya, kalau begitu kita harus

menunggu lagi”

Orang yang berbaring itu berdesah “Memang sebaiknya aku tidur saja dahulu”

“Tidurlah” sahut kawannya yang masih tetap duduk ”Mudah-mudahan mimpimu

menarik”

“Aku tidak akan mimpi” jawabnya.

Manguri dan Lamatpun kemudian mengikat kuda-kuda mereka pula, serta duduk

diantara orang-orang yang telah mendahului mereka itu.

“Lebih baik kita menunggu daripada kita harus mengejarnya”

“Tentu tidak” jawab Lamat “kalau Ki Reksatani mendahului ialah yang akan menunggu

kita”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian bersandar sebatang

pohon perdu di pinggir jalan yang sepi.

Meskipun ia tidak memejamkan matanya, namun seolah-olah anak muda itu tidak

melihat apapun juga. Angan-angan nyalah yang terbang menyerawang ke dunia yang

lain. Hatinya yang selalu cemas dan gelisah kini serasa semakin menyempit Ia tidak

tahu, apakah yang bakal terjadi kemudian di Sembojan. Mungkin ia dapat mengatasi

keadaan dan benar-benar mengikat Sindangsari. Tetapi mungkin pula Ki Reksatani

menjadi gila, dan mencoba membunuhnya, Atau. masih ada seribu kemungkinan yang

bakal terjadi.

Lamat duduk tepekur di samping Manguri. Ia masih tetap berlaku sebagai Lamat yang

dahulu. Namun, meskipun Lamat telah bertekad untuk menyelamatkan Sindangsari,

tetapi hatinya masih juga tetap bergolak. Ia tidak tahu, apa yang bakal terjadi, seperti

juga Manguri. Selain itu Lamatpun berpikir pula tentang Pamot. Apakah Pamot sudah

berangkat mendahului atau ia kini sedang mempersiapkan diri dengan kawankawannya

yang baru berhasil dihubunginya.

“Kalau Pamot lewat jalan ini pula, maka kami pasti akan bertempur disini. Kami tidak

akan sampai ke Prambanan” Katanya di dalam hati “tetapi mudah-mudahan ia sudah

mendahului kami disni”

Tanpa sesadarnya Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tidak ada rencana yang masak

dapat disusunnya. Tetapi mudah-mudahan, baik Pamot maupun dirinya sendiri,

berhasil menyesuaikan diri dengan keadaan, sehingga akibatnya tidak justru

mencelakakan Sindangsari. Baik dicelakai oleh Ki Reksatani maupun oleh nafsu

Manguri.

Demikianlah setelah sejenak mereka menunggu, dan langit di Timur telah menjadi

semakin terang, barulah mereka melihat tiga orang berkuda datang dari jurusan

Kepandak.

“Agaknya mereka itulah Ki Reksatani” berkata Manguri.

“Belum tentu” sahut salah seorang kawannya “sebaiknya kita bersembunyi. Terutama

Manguri. Aku belum banyak dikenal disini”

Manguri tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Lamat, seakan-akan ia ingin

mendapat pertimbangan daripadanya. Ketika ia melihat Lamat mengangguk kecil,

maka iapun kemudian beringsut beberapa langkah surut dan berlindung di balik

gerumbul jarak yang tumbuh di pinggir jalan. Lamatpun kemudian berbuat serupa pula,

bersembunyi di belakang dedaunan.

Sejenak kemudian maka tiga orang berkuda itupun menjadi semakin dekat.

Lamat dan Manguri yang mengintip dari sela-sela gerumbul, ketika kuda-kuda itu

berhenti, ia segera melihat bahwa mereka adalah Ki Reksatani dengan dua orang

pengawalnya.

Manguripun kemudian meloncat keluar, sedang Lamat menyuruk perlahan-lahan dari

balik dedaunan.

“Kenapa kalian bersembunyi?” bertanya Ki Reksatani.

“Kami disini belum yakin, bahwa Ki Reksatanilah yang datang” jawab Manguri.

“Kalian cukup berhati-hati. Berapa orang kalian semuanya?”

“Lima orang”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya.

“Ki Reksatani hanya bertiga?”

“Aku masih harus menunggu tiga orang lagi”

“Kenapa masih harus menunggu?”

“Kami tidak dapat berangkat bersama-sama. Karena itulah maka aku berangkat dulu,

sedang tiga orang yang lain akan menyusul kemudian”

“Dan kami akan menunggu disini?”

“Ya. Tetapi tidak akan terlampau lama. Mereka akan segera datang”

Manguri tidak menjawab. Iapun kemudian duduk kembali bersandar sebatang pohon.

Sedang Lamat, masih saja duduk diatas rumput.

Kawan Manguri yang tertidur justru telah terbangun. Tetapi ia masih tetap berbaring

diam.

Ki Reksatani sendiri sama sekali tidak turun dari kudanya. Demikian juga kedua

pengawalnya. Dengan gelisah mereka menunggu tiga orang yang akan mengawani

mereka pergi ke Sembojan.

Ternyata mereka memang tidak usah menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian di

dalam keremangan malam tampak tiga orang berkuda berpacu di sepanjang jalan.

“Marilah” berkata Ki Reksatani kemudian “mereka telah datang”

Manguripun kemudian berdiri sambil memandang ketiga ekor kuda yang berlari

mendekat. Kemudian iapun melangkah kekudanya sambil berkata “Marilah-Lamat”

Dengan malas Lamatpun berdiri pula. Demikian juga kawan-kawan Manguri. Apalagi

orang yang telah tertidur nyenyak. Sambil menguap ia bangkit Kemudian menggeliat

sambil berkata “Aku masih ingin tidur beberapa lama lagi”

“Tidurlah” sahut kawannya.

Tetapi keduanyapun kemudian melangkah juga kekuda masing-masing.

Sejenak kemudian mereka telah berpacu beriringan ke Sembojan. Mereka tidak

melewati Pusat Pemerintahan Mataram, tetapi mereka menembus jalan-jalan

padukuhan yang sepi, agar tidak menumbuhkan pertanyaan, apalagi apabila mereka

berjumpa dengan beberapa pasukan pengawal dan prajurit.

Dalam pada itu, jauh di depan mereka Pamot juga berpacu bersama kawan-kawannya.

Keempat orang itu tidak langsung pergi ke Sembojan, tetapi mereka pergi ke Kali Mati.

Keempat anak-anak muda itu melampaui hutan Tambak Baya setelah matahari

merayap di kaki langit. Sinarnya telah mulai menggatalkan kulit. Namun mereka

berpacu terus. Mereka meminta di jalan sempit di sebelah Timur Cupu Watu ke arah

Utara. Di hadapan mereka Gunung Merapi yang hijau kemerah-merahan berdiri tegak

seakan-akan batas yang menyekat dua bagian dunia yang asing. Di sebelah Selatan

dan di sebelah Utara.

Pamot dan kawan-kawannya sempat juga menarik nafas dalam-dalam, menghirup

kesejukan udara pagi. Derap kaki kuda mereka ternyata telah menghalau burungburung

yang berterbangan di pohon-pohon perdu yang rendah. Di kejauhan terdengar

burung tekukur memanggil-manggil anaknya. Sedang diatas kepala mereka, di

sebatang dahan, burung jalak bersiut tanpa menghiraukan derap kaki-kaki kuda dan

debu yang putih.

Setelah menyeberangi sebatang sungai yang landai, maka merekapun melintasi

beberapa bulak kecil. Kemudian beberapa saat mereka menyusuri hutan yang rindang,

sampai ke ujungnya. Berbatasan dengan sebuah pategalan di ujung hutan yang

rindang itulah terletak sebuah padukuhan kecil yang disebut Kali Mati.

Mereka tidak menemui kesukaran apapun untuk mencari kawannya yang dikenalnya

selama perjalanan. Di ujung padukuhan mereka bertanya kepada seorang anak muda

yang menyandang cangkul dibahunya. Maka segera anak muda itu menjawab “O,

Rajab yang ikut di dalam pasukan Mataram ketika menyerang Betawi”

“Ya. Rajab atau Mudai, aku kenal keduanya” sahut Punta.

“Yang masih tinggal adalah Rajab. Mudai gugur di peperangan”

“O“ Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Di perjalanan kembali ia memang tidak

bertemu dengan keduanya. Untunglah bahwa masih ada salah seorang dari mereka

yang hidup

“Sayang” desis Punta “Mudai adalah anak yang baik. Tetapi baiklah, aku ingin bertemu

dengan Rajab”

“Pergilah ke ujung padukuhan. Kalau kau jumpai sebuah rumah limasan, berhalaman

penuh dengan pohon so dan sepasang kelapa gading. Regolnya sudah agak rusak,

karena sepeninggal Rajab, regol itu tidak terpelihara. Sampai saat ini agaknya Rajab

masih belum sempat mengganti selain diperbaiki saja di beberapa bagian”

“Terima kasih” sahut Punta.

“Apakah kau kawannya di dalam pasukan itu“ Punta mengangguk “Ya. Terima kasih

atas segala petunjuk Ki Sanak. Aku akan mencarinya di ujung padukuhan”

Demikianlah mereka melanjutkan perjalanan. Tetapi jarak yang terbentang di hadapan

mereka tinggal beberapa puluh langkah saja karena mereka telah sampai ke

padukuhan yang mereka tuju.

Kehadiran Punta dan kawan-kawannya ternyata telah mengejutkan Rajab. Baru saja ia

bersiap untuk pergi ke sawah sambil menuntun lembunya untuk membajak. Tetapi ia

melihat beberapa ekor kuda, maka iapun segera mengurungkan niatnya.

Sejenak Rajab berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia berteriak “He, bukankah

kau Punta yang pergi ke Betawi itu juga?”

Punta dan kawan-kawannya meloncat turun dari kuda mereka. Sambil tersenyum

Punta menjawab “Apakah kau masih ingat?”

“Tentu, Marilah“

Punta dan kawan-kawannyapun kemudian menuntun kuda mereka memasuki

halaman. Setelah mereka mengikat kuda mereka, maka merekapun segera

dipersilahkan masuk ke dalam rumah limasan tua yang besar. Di bagian depan dari

rumah itu terbuka, berdinding hanya setinggi lambung.

“Duduklah“ Rajab mempersilahkan “mimpi apa aku semalam. Hari ini aku menerima

tamu dari jauh”

Punta, Pamot dan kawan-kawanyapun kemudian duduk diatas tikar yang dibentangkan

diatas sehelai kepang bambu.

“Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kalian akan datang hari ini. Apakah kalian

semuanya ikut pada saat itu?”

“Ya” sahut Punta “semuanya kami ikut. Apakah kau tidak dapat mengenal kami?”

Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya, mungkin aku sudah melihat

kalian. Tetapi di dalam pasukan sebesar itu, kadang-kadang kita tidak saling

berkenalan. Kebetulan aku mengenal Punta saat itu”

“Memang suatu kebetulan”

“Ternyata kau memenuhi janjimu untuk datang berkunjung kemari”

“Kami sedang mencoba kuda-kuda kami”

Rajab tersenyum “Kudaku kemarin dulu aku pacu mengelilingi Gunung Merapi”

“He, kau tidak singgah ke Kepandak?”

Rajab tersenyum ”Maaf, aku tidak sempat saat itu. Aku berpacu melawan beberapa

orang. Kami bertiga mengelilingi Gunung Merapi dengan putaran ke kanan, sedang

tiga orang yang lain berpacu mengelilingi dengan putaran kekiri”

“Menarik sekali” sahut Punta “kalau aku tahu, aku ikut di dalam pacuan itu”

“Di hutan Sela kami berhenti sejenak, karena kami dengan tiba-tiba telah berhadapan

dengan seekor harimau”

“Dahsyat sekali“ Punta hampir berteriak. Demikianlah mereka kemudian berceritera

tentang pengalaman masing-masing. Pembicaraan mereka berkembang sampai

kepada persoalan-persoalan yang aneh-aneh. Namun agaknya Punta menyadari hal

itu, sehingga perlahan-lahan ia berhasil membawa pembicaraan mereka kepada

tujuannya.

Pembicaraan mereka terputus sejenak ketika adik Rajab menghidangkan minuman

panas dengan gula kelapa dibarengi dengan beberapa macam makanan.

Baru kemudian Punta berkata “Rajab, apakah kau pernah pergi ke Mataram selama

ini?”

Rajab menggelengkan kepalanya ”Aku hanya lewat di sebelah Utara Kota, ketika aku

berpacu kemarin dulu”

Punta mengangguk-angguk. Lalu “Apakah kau sering pergi ke Sembojan?”

“Sembojan?” Rajab mengerutkan keningnya “kenapa dengan Sembojan? Apakah

hubungannya Mataram dan Sembojan?”

Punta tersenyum, ia tidak ingin mengejutkan kawannya dengan sebuah pertanyaan

yang tampaknya dengan tiba-tiba berubah menjadi bersungguh-sungguh.

“Tidak apa-apa. Aku pernah dengar, bahwa rumahmu dekat Sembojan”

“Ya. Padukuhan di sebelah itulah Sembojan. Di sebelah hutan kecil dan pategalan

buah-buahan”

“Jadi, diantara sebuah hutan?”

“Sebenarnya bukan sebuah hutan. Tetapi daerah yang kurang menguntungkan untuk

digarap, sehingga dibiarkannya menjadi bera dan tidak terpelihara Meskipun demikian,

kita dapat berburu kijang dihutan itu”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kenapa Sembojan lebih terkenal dari padukuhanmu ini?”

Rajab mengerutkan keningnya. Jawabnya “Aku tidak tahu. Aku tidak melihat

kekhususan dari padukuhan itu”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata “Ada beberapa orang

yang lewat padukuhan Kepandak. Mereka yang datang dari Menoreh dan sekitarnya.

Menurut keterangan mereka, mereka akan pergi ke Sembojan menengok keluarganya.

Apakah hanya suatu kebetulan bahwa satu dua orang saudaranya tinggal di

Sembojan. Tetapi belum lagi lewat sehari, ada tiga orang yang katanya dari Sungapan

Kali Praga yang akan pergi ke Sembojan pula”

Tiba-tiba Rajab tertawa. Katanya “Tentu mereka adalah saudara orang gila yang

sekarang berada di Sembojan itu”

“Orang gila?”

“Ya” jawab Rajab “di Sembojan ada seorang perempuan gila yang membuat

keluarganya menjadi terlampau sibuk. Mungkin mereka telah memberi kabar keluarga

mereka yang bertempat tinggal di Menoreh dan di Sungapan Kali Praga itu”

Punta mengerutkan keningnya. Dipandanginya Pamot sejenak. Tampaklah ia menjadi

kecewa. Ternyata yang menarik perhatian Rajab adalah seorang gila. Bukan

kedatangan orang yang tidak mereka kenal di daerah Sembojan yang sedang

menyembunyikan Sindangsari.

“Lucu sekali” berkata Rajab “kebetulan sekali, aku sedang berada di Sembojan, di

rumah bibi, ketika orang gila itu berlari-lari dikejar oleh beberapa orang keluarganya”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Punta sejenak. Tetapi Puntapun

menjadi kecewa. Tetapi mereka tidak dapat memotong Rajab berceritera “Menurut

keluarganya yang menunggui orang gila itu, tidak seorangpun saudara-saudaranya

yang mau menerima orang gila itu di rumahnya, selain kakak perempuannya di

Sembojan itu”

Pamot, Punta dan kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, sekedar

mengangguk-angguk. Ceritera itu sama sekali tidak menarik baginya. Tidak hanya di

Sembojan, hampir di setiap padukuhan ada orang yang kurang waras. Tetapi kalau ia

sekedar gila karena kesadarannya yang tidak lengkap itu sama sekali tidak dapat

dipersoalkan. Tetapi orang-orang gila yang menyadari kegilaannya itulah yang

berbahaya, seperti Manguri Ki Reksatani dan orang-orangnya.

Meskipun demikian, meskipun Punta, Pamot dan kawan-kawannya sama sekali tidak

tertarik, namun Rajab masih berceritera terus sambil tersenyum-senyum “Kalau

seorang yang gila berlari-lari di sepanjang padukuhan sambil berteriak-teriak, sama

sekali tidak menarik perhatianku. Itu adalah hal yang wajar. Tetapi hampir setiap orang

menaruh belas kepada orang gila itu justru karena orang gila itu sedang mengandung,

dan agaknya laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab, tidak mau menerimanya.

Mungkin karena perempuan itu gila”

Jilid 8 – Bab 5 : Perempuan Gila

“Jadi orang gila itu perempuan?” bertanya Pamot

dengan serta merta. Terasa dadanya tergetar dan

wajahnya menegang “Apakah kau pernah melihat?”

Perhatian yang tiba-tiba itu justru telah membuat

Rajab menjadi heran. Apalagi ketika ia melihat

wajah-wajah kawan Pamot yang tiba-tiba menjadi

bersungguh-sungguh.

“Kenapa dengan perempuan gila itu?”

”Maksudmu, apakah perempuan itu masih muda?

“Ya. Masih muda dan cantik. Tetapi ia terlampau

kusut karena kegilaannya”

“Ia tidak gila. Ia bukan orang gila” Pamot hampir

berteriak. Tetapi Punta menggamitnya sambil

berkata “Tenanglah Pamot, kita berbicara dengan

tenang, supaya Rajab tidak menjadi bingung”

Rajablah yang kemudian menjadi terheran-heran.

“Rajab” berkata Punta kemudian “apakah kau pernah melihat perempuan yang kau

katakan gila itu?”

“Ya. aku melihat. Keluarganya sendirilah yang mengatakan bahwa ia gila ketika

perempuan itu mencoba melepaskan diri dari rumahnya dan berlari-lari di sepanjang

padukuhan sambil berteriak-teriak”

“Apakah yang diteriakkannya?”

“Perempuan itu memanggil ibunya, kakek dan neneknya”

Dada Punta menjadi berdebar-debar pula. Apalagi Pamot. Wajahnya yang tegang

menjadi merah padam.

“Maaf Rajab” berkata Punta “agaknya kau dapat memberikan beberapa keterangan

tentang perempuan itu?”

“Ya, beberapa yang aku ketahui. Aku tidak terlampau sering pergi ke Sembojan”

“Apakah perempuan itu memang tinggal di Sembojan sejak lama?”

Rajab menggeleng “Belum, belum lama. Baru saja ia dibawa kepada kakak

perempuannya di Sembojan.

“Dan kau katakan bahwa perempuan itu mengandung?”

“Ya. Mengandung. Aku tahu betul, dan semua orang justru mempercakapkan karena ia

mengandung”

“Apakah kau tahu namanya“

Rajab menggelengkan kepalanya ”Tidak seorangpun yang tahu namanya”

“Keluarganya tidak pernah mengatakannya?” Rajab menggeleng pula.

Sejenak mereka berdiam diri. Terbayang diangan-angan Pamot Punta dan kawankawannya

saat itu Ki Reksatani dan Manguri diikuti oleh beberapa orang

kepercayaannya sedang berpacu ke Sembojan, atau barangkali mereka telah sampai

di padukuhan itu saat ini.

Rajab benar-benar menjadi heran melihat sikap tamu-tamunya. Agaknya perempuan

gila di Sembojan itu benar-benar telah menarik perhatian mereka sehingga mereka

dengan sungguh-sungguh ingin mengetahui beberapa persoalan tentang orang gila itu.

“Rajab” berkata Punta sejenak kemudian “Maaf kalau akan selalu bertanya tentang

perempuan itu. Maksudku, perempuan yang kau sangka gila itu”

“Bukan aku menyangka perempuan itu gila” sahut Rajab “Tetapi keluarga merekalah

yang mengatakan bahwa perempuan itu gila. Memang sikapnya agak aneh dan

pakaian serta rambutnya yang kusut itu memberikan kesan, bahwa ia dalam keadaan

terganggu kesadarannya”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia semakin yakin bahwa perempuan itu

bukan perempuan gila. Tetapi perempuan itu adalah perempuan yang dicarinya.

Apalagi Pamot, Hampir saja Pamot tidak dapat menahan perasaannya jika setiap kali

Punta tidak menggamitnya.

“Rajab” berkata Punta kemudian “Aku kira, perempuan itu bukan perempuan gila.

Tetapi perempuan itu memang terganggu. Bukan ingatannya, tetapi kebebasannya”

“Rajab mengerutkan keningnya. Ia menjadi bingung. Katanya “Aku tidak tahu

maksudmu”

“Kau akan segera tahu” sahut Punta “Karena perempuan itulah agaknya aku kemari”

“O, aku semakin tidak mengerti”

“Meskipun aku belum dapat memastikan bahwa dugaanku benar, tetapi aku kira

perempuan itulah yang kami cari. Perempuan yang sedang mengandung itu”

“Kenapa kalian mencarinya?”

Punta menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Pamot sejenak, lalu katanya “Kami

sangat berkepentingan dengan perempuan itu. Kalau kami dapat meyakini bahwa

perempuan itu adalah perempuan yang kami cari, maka kami akan segera

menentukan sikap”

“Ya, tetapi kenapa kau mencarinya?” bertanya Rajab mendesak.

“Rajab” berkata Punta kemudian dalam nada yang dalam “kau adalah satu-satunya

orang yang aku kenal disini. Aku belum tahu pasti tentang kau. Tetapi karena kita

pernah bertemu di perjalanan selagi kita bersama-sama berjuang untuk Mataram,

maka aku percaya bahwa kau bersedia membantu kami”

“Ya, tetapi kau belum mengatakan persoalanmu. Apalagi di dalam hubungannya

dengan perempuan gila, eh, perempuan yang sedang mengandung itu”

Punta memandang Pamot sejenak. Kemudian ia bertanya “Sebaiknya aku berterus

terang Pamot”

Pamot mengangguk.

“Baiklah Rajab. Aku akan berterus terang. Perempuan yang dikatakan gila itu, apabila

perempuan yang kami cari, ia adalah isteri Ki Demang di Kepandak”

“He?” Rajab terkejut sekali, sehingga ia bergeser sejengkal maju “isteri Demang di

Kepandak?

“Ya”

“Tetapi, apakah ia memang sakit ingatan dan dibawa ke rumah kakaknya di

Sembojan?”

“Mudah-mudahan tebakan kami benar. Perempuan itu sama sekali tidak sakit. Kalau ia

berlari-lari dan berteriak-teriak itu karena ia ingin melepaskan diri. Tegasnya, ia kini di

dalam penguasaan orang yang tidak berhak atasnya”

“Diculik maksudmu?”

Punta menganggukkan kepalanya.

Wajah Rajab kini menegang. Sejenak ia membeku sambil memandang Pamot, Punta

dan kawan-kawannya berganti-ganti. Namun tiba-tiba ia mengangguk-angguk “Itulah

sebabnya, tidak ada seorangpun yang boleh mendekatinya. Meskipun alasan mereka,

perempuan itu berbahaya. Seorang dukun yang menawarkan dirinya untuk

mengobatinya, telah ditolak pula. Memang mungkin. Mungkin sekali perempuan itu

sama sekali bukan perempuan gila”

“Tetapi apakah ada cara yang baik untuk meyakininya?”

Rajab mengerutkan keningnya.

“Kalau aku berbuat sesuatu disini, dan ternyata bukan perempuan itu yang kami cari,

maka kami telah melakukan kesalahan”

“Apakah isteri Ki Demang itu sedang mengandung?”

“Ya”

“Mungkin sekali. Tetapi bagaimana kalian dapat melihatnya”

Sejenak mereka saling berdiam diri pula. Mereka sedang mencoba mencari jalan,

bagaimana mengetahui, bahwa perempuan itu benar-benar Sindangsari yang sedang

mereka cari.

Tiba-tiba saja Pamot berkata “Punta, bukankah hari ini beberapa orang akan datang ke

tempat Sindangsari disembunyikan?”

Punta menganggukkan kepalanya.

“Kalau dapat diketahui bahwa mereka datang ke tempat perempuan yang mereka

katakan gila itu, maka sudah pasti bahwa perempuan itu adalah Sindangsari”

“Siapakah namanya? Sindangsari?”

“Ya, namanya Sindangsari, tetapi ia sudah menjadi Nyai Demang di Kepandak”

Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Rajab” berkata Punta kemudian “aku tidak mengenal orang lain disini. Apakah kau

bersedia membantu kami?”

“Apakah kau berhasrat untuk mengambil Nyai Demang di Kepandak itu?”

“Ya. Kami ingin berbuat sesuatu untuk Demang kami”

Rajab menganggukkan kepalanya. Katanya “Apakah yang dapat aku lakukan? Apakah

aku harus mengumpulkan beberapa kawan lagi dan merebut Nyai Demang di

Kepandak itu dengan kekerasan?”

“Memang mungkin kita harus mempergunakan kekerasan. Tetapi kita harus berhatihati.

Kalau kita salah langkah, maka jiwa Nyai Demang itu berada dalam bahaya”

Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bertanya “Bagaimana mungkin

dapat terjadi begitu? Dan apakah Demang di Kepandak itu masih muda semuda kita?”

“Kenapa?”

“Perempuan yang disebut gila itu masih sangat muda”

“Ya. Ia masih sangat muda. Anak yang dikandungnya itu adalah anaknya yang

pertama, yang sudah berumur tujuh bulan di dalam kandungan”

“Ya. Ya. Kandungan itu memang kira-kira berumur tujuh bulan. Aku kira memang itulah

orangnya” Rajab berhenti sejenak, lalu “Tetapi sudah tentu kita tidak akan dapat

bertindak sendiri langsung di Kademangan ini. Kalau ada kesalah pahaman, maka Ki

Jagabaya dan Ki Demang pasti akan menumpahkan kesalahan kepada kita. Apapun

yang kita lakukan”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Tepat Rajab. Karena itu, aku

tidak berkeberatan apabila kami kau hadapkan kepada Ki Jagabaya. Setidak-tidaknya

tetua padukuhan Sembojan”

“Aku tidak berkeberatan” sahut Rajab. Tetapi Pamot menyahut “Dimanakah rumah Ki

Jagabaya? Bagaimana kalau kita bertemu dengan Ki Jagabaya? Aku tidak

mencemaskan nasib kita. Tetapi nasib Nyai Demang di Kepandak itu”

“Apakah sebenarnya maksud orang-orang yang menculik Nyai Demang itu sehingga

kau mencemaskan jiwanya”

Punta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian setelah memandang Pamot sejenak,

yang menganggukkan kepalanya, Punta menceriterakan serba sedikit tentang Nyai

Demang di Kepandak, meskipun ia tidak menyinggung sama sekali tentang Pamot. Ia

hanya mengatakan, apa alasan masing-masing dari orang-orang yang menculiknya.

Rajab mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata

“Memang masuk akal. Keduanya masuk akal. Bahwa anak muda yang kau sebut

bernama Manguri dan adik Ki Demang di Kepandak yang bernama Ki Reksatani itu,

memang mempunyai alasan masing-masing. Tetapi mereka adalah orang-orang yang

dikuasai oleh nafsu”

“Ya. Kademangan kami kini penuh dengan orang-orang yang sedang dikuasai oleh

nafsu. Bukan saja Ki Reksatani, Manguri, tetapi Ki Demang sendiri. Perkawinannya

dengan perempuan itu adalah perkawinannya yang keenam kalinya”

“Keenam kalinya?” Rajab terbelalak.

“Ya” sahut Punta “Dan ia adalah satu-satunya isterinya yang mengandung”

Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya “Perkawinan lima kali berturut-turut

tanpa anak itulah yang mendorong Ki Reksatani untuk mengharapkan kedudukan

kakaknya. Dan agaknya ia hampir pasti, bahwa Ki Demang di Kepandak itu tidak akan

mempunyai keturunan”

“Ya. Kehamilan isterinya yang keenam membuatnya sangat kecewa sehingga ia

terperosok ke dalam perbuatan yang sangat keji”

Rajab mengangguk-angguk. Kemudian setelah merenung sejenak ia berkata “Baiklah.

Aku akan membantu kalian. Aku akan menempatkan beberapa kawanku di Sembojan.

Terutama anak-anak yang memang sering berada di Sembojan untuk melihat, apakah

perempuan yang mereka katakan gila itu mendapat tamu. Kemudian kita akan pergi ke

rumah Ki Jagabaya.

Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu Rajab berkata “Kita

akan menempuh jalan yang lain sama sekali dari jalan yang mungkin dilalui orangorang

yang datang dari Barat, termasuk kalian dan Ki Reksatani”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya dan Punta berkata “Baiklah. Aku percaya

kepadamu”

Rajabpun kemudian mengurungkan niatnya untuk pergi ke sawah. Dipesankannya

agar adiknya sajalah yang pergi menengok sawah itu.

“Kau akan pergi kemana?” bertanya ibunya yang sudah agak lanjut.

“Aku mempunyai beberapa orang tamu. Aku akan mengantarkannya sebentar”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak mengerti apa yang akan

dilakukan anaknya itu.

Rajabpun segera menghubungi beberapa orang kawannya. Yang mula-mula dipilihnya

kawan-kawannya yang pergi juga bersamanya ke Betawi. Kawan-kawan itulah yang

dianggapnya mempunyai pengetahuan olah kanuragan. melebihi kawan-kawannya

yang lain, karena latihan-latihan yang pernah mereka terima dari prajurit Mataram, di

padukuhannya dan apalagi dalam persiapan mereka sebelum mereka berangkat ke

Betawi.

“Ah kau” berkata salah seorang kawannya “kau selalu mencari kerja. Bukankah hal ini

bukan urusan kita? Padahal akibatnya tidak dapat kita bayangkan. Mungkin kita harus

berkelahi, atau melakukan tindakan kekerasan lainnya”

“Memang mungkin” sahut Rajab “tetapi kalau kita melihat seseorang yang tenggelam

di sungai, apakah kita akan diam saja seandainya ia masih mungkin ditolong?”

“Itu persoalan lain. Kita menolong jiwa seseorang, bukan orang-orang yang sedang

berebut perempuan”

Rajab mengerutkan keningnya. Lalu katanya “He, apakah aku kurang lengkap

memberitahukan apa yang telah terjadi?”

Kawannya terdiam dan Rajab mencoba menerangkan apa yang telah terjadi

sebenarnya.

“O, begitu?” kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya “kalau begitu persoalannya

jadi lain. Kau tadi hanya mengatakan bahwa perempuan itu dilarikan orang”

“Seandainya demikian, dan kita mampu menolong?”

“Ya“ kawannya ragu-ragu “sebaiknya memang kita tolong”

“Macam kau” desis Rajab. Lalu “Nah, kita akan membagi kerja. Amatilah rumah itu.

Bukankah kau sering berada di Sembojan? Pergilah tiga atau empat orang. Kau dapat

mencari kawan di Sembojan. Anak-anak Sembojan pasti mau membantumu”

“Baiklah. Aku akan mencoba” Demikianlah, maka kawan Rajab yang dipercaya segera

melakukan tugas yang telah mereka sanggupkan. Tetapi mereka sadar, bahwa mereka

harus berhati-hati dan tetap merahasiakan persoalan yang sebenarnya, kecuali kepada

orang-orang yang telah mereka kenal baik dan dapat dipercaya. Sebab mereka telah

mendapat gambaran, bahwa nyawa Nyai Demang di Kepandak dapat terancam

karenanya.

Sementara itu Pamot dan kawannya bersama Rajab telah pergi ke rumah Ki Jagabaya

yang tinggal di sebelah Sungai Opak.

Dengan singkat mereka menceriterakan kepentingan mereka datang ke Kademangan

di Prambanan.

“Apakah Ki Demang di Kepandak tidak datang sendiri?

“Ki Demang belum tahu, bahwa Nyai Demang ada di sini. Kami mencoba

meyakinkannya lebih dahulu. Sebenarnyalah apabila benar Nyai Demang ada disini,

dan kami berhasil membebaskannya, kami akan membuat Ki Demang terkejut dan

bersenang hati”

“Aku menjadi tanggungan Ki Jagabaya” berkata Rajab “aku mengenal mereka di

perjalanan ke Betawi”

“Tetapi kau belum mengenalnya sebelum dan sesudah itu. Kau tidak tahu siapa

mereka sebenarnya, dan apa yang mereka lakukan di Kademangannya”

Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun Rajab kemudian menyahut

“Tetapi aku akan mempertaruhkan diriku. Aku percaya kepada mereka. Keterangan

mereka dapat kami mengerti”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata “Aku

harus melihat sendiri, apa yang akan terjadi. Ketenteraman Kademangan ini adalah

tanggung jawabku”

Sejenak Rajab terdiam. Ditatapnya wajah Pamot, Punta dan kawan-kawannya

berganti-ganti.

“Kita tidak berkeberatan” berkata Punta kemudian “maksud kita baik. Dan Ki Jagabaya

kelak akan dapat bertanya langsung kepada Nyai Demang dan kepada Ki Demang di

Kepandak”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Aku pernah mendengar

nama Ki Demang di Kepandak. Ia adalah seseorang yang pilih tanding. Tetapi kenapa

ia tidak pergi sendiri mencari isterinya kalau jelas, isterinya ada disini?”

“Kami ingin membuktikannya lebih dahulu Ki Jagabaya. Tetapi agaknya keadaan telah

gawat. Kalau kita menunda karena kita kembali memberitahukan kepada Ki Demang,

maka kemungkinan yang tidak kita harapkan mungkin sekali sudah terjadi. Dan seperti

yang sudah kami katakan, kami akan membuat Ki Demang bersenang hati”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah. Aku akan

mengawasi mereka langsung. Barangkali aku akan dapat berbicara dengan mereka”

“Berbahaya sekali Ki Jagabaya” berkata Pamot “kalau mereka mengetahui, bahwa

tempat persembunyian mereka telah diketahui, mereka akan menjadi mata gelap.

Lebih-lebih Ki Reksatani. Dan apabila Ki Jagabaya pernah mendengar nama Ki

Demang di Kepandak, maka keduanya adalah saudara kandung dan saudara

seperguruan. Keduanya adalah orang-orang yang tidak terlawan”

“Jadi bagaimana?”

“Kita hanya akan mengawasi. Kalau tidak terjadi sesuatu, kita akan mencari

kesempatan untuk mengambilnya tanpa diketahui oleh Ki Reksatani. Orang-orang lain

yang ada di sekitarnya, sama sekali tidak akan banyak berarti”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan pula. Sedang Rajab berkata “Aku sudah

mengirimkan beberapa orang kawan yang bersedia menolong kami. Mereka untuk

sementara akan mengawasi rumah itu”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Tetapi kalian harus

memberitahukan setiap perkembangan keadaan. Aku harus hadir seandainya terjadi

sesuatu”

“Baiklah Ki Jagabaya”

“Kalau kalian berkata sebenarnya, kami pasti akan membantu kalian. Hubungilah

bebahu padukuhan Sembojan. Katakan bahwa kalian telah menghubungi aku”

“Terima kasih”

Anak muda itupun segera kembali ke Kali Mati. Ketika mereka sampai di rumah Rajab,

seorang kawannya yang pergi ke Sembojan telah ada di rumah itu.

“Apa yang kau lihat?”

“Aku melihat beberapa orang berkuda. Ada tujuh atau delapan orang. Aku tidak begitu

jelas. Tetapi semuanya berada di rumah itu”

Dada Pamot serasa akan meledak karenanya. Terbayang sesuatu yang mengerikan

dapat terjadi setiap saat. Tetapi ia masih percaya kepada Lamat. Ia mengharap bahwa

Lamat masih akan berusaha untuk melindungi, sejalan dengan kepentingan Manguri.

Pihak Manguri pasti akan mencegah apabila Ki Reksatani benar-benar telah

kehilangan kesabaran dan menganggap Sindangsari terlampau berbahaya bagi

rencananya

Puntalah yang bertanya “Delapan orang?”

“Mungkin lebih dari itu”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Rajab yang mengerutkan

keningnya.

“Jumlah mereka cukup banyak. Diantaranya terdapat seorang yang bernama Ki

Reksatani” desis Rajab “jika demikian apabila terjadi sesuatu, jumlah kitapun harus

memadai”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya ”Kalau Ki Jagabaya yang memerintahkan,

maka dalam waktu sekejab, lebih dari duapuluh orang dapat dikumpulkan” sahut

Rajab.

“Tetapi tentu makan waktu. Bukan sekejap. Dan waktu yang diperlukan itu, sangat

berbahaya bagi Nyai Demang di Kepandak” berkata kawan Rajab itu.

Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Kita mengumpulkan

kawan sebanyak-banyaknya. Sepuluh atau dua belas di dua padukuhan ini. Sembojan

dan Kali Mati. Di dua padukuhan ini ada sepuluh orang yang kembali dari Betawi

bersama kami. Kami berharap bahwa ikatan yang ada diantara kami masih tetap utuh.

Menegakkan adab adalah perjuangan yang tidak kalah pentingnya. Apalagi

menyelamatkan jiwa seseorang. Selebihnya, kawan-kawan pengawal padukuhan kami

akan dapat kami kerahkan”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi” berkata Rajab “yang pertama-tama kita hubungi, biarlah kawan-kawan yang

dapat kita percaya saja. Kalau keadaan tidak memaksa, kita tidak akan menggunakan

kekerasan”

Demikianlah dengan diam-diam, padukuhan Kali Mati dan Sembojan menjadi sibuk.

Tetapi orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali tidak mengerti apakah yang

sedang dilakukan oleh anak-anak mereka. Bahkan kedatangan orang-orang berkuda

itupun sama sekali tidak menarik perhatian. Mereka hanya memperhatikan mereka

sejenak. Kemudian mereka bergumam “Orang-orang itu pasti keluarga orang gila itu.

Kasihan. Ternyata keluarganya adalah orang yang agaknya cukup terpandang menilik

pakaian dan sikap mereka. Dosa apakah yang telah membebani keluarga yang malang

itu. Sehingga seorang perempuan yang cantik telah menjadi gila dan mengandung

pula. Atau gadis itu gila karena mengandung di luar perkawinan?

Tidak seorangpun yang tahu pasti, apakah jawabnya Penghuni rumah tempat

Sindangsari disembunyikan itupun tidak pernah mengatakan apa-apa, selain,

perempuan itu adalah perempuan gila yang malang.

Kehadiran beberapa orang berkuda itu, membuat hati Sindangsari menjadi semakin

kecut. Sejak ia berusaha melarikan diri tetapi gagal, ia mendapat perlakuan yang lebih

jelek lagi. Orang yang menungguinya selalu mengancam, menakut-nakuti, bahkan

berlaku kasar kepadanya.

Tetapi Sindangsari tidak segera mengetahui, siapakah tamu-tamu berkuda itu. Ia

hanya mendengar derap kaki kuda itu. Kemudian beberapa pembicaraan yang tidak

begitu jelas, karena ia harus tinggal saja di dalam biliknya yang sempit di ujung

belakang.

Namun demikian hatinya serasa tersayat, apabila ia menyadari bahwa ia kini berada di

dalam kekuasaan keluarga Menguri. Setiap saat Manguri akan datang kepadanya, dan

ia akan dapat berbuat apa saja.

“Lebih baik dibunuh saja” berkata Sindangsari di dalam hati “Apakah yang akan terjadi

atas diriku, jika Manguri tidak dapat dicegah. Ketika aku menjadi isteri Ki Demang, aku

sudah ternoda. Sekarang, apabila ada orang yang menodai aku lagi, maka aku tidak

akan dapat lagi kembali kepada Ki Demang. Aku tidak akan merasa tenang, meskipun

karena bukan salahku Ki Demang menceraikan”

Tanpa disadarinya, air matanya mulai menitik dipangkuannya. Dengan lesu ia duduk di

bibir pembaringan bambu dengan pakaian yang kusut dan rambut yang terurai. Benarbenar

seperti seorang perempuan gila.

Yang dapat dilakukan oleh Sindangsari dalam keadaan itu adalah berdoa. Satusatunya

harapan yang ada padanya, justru adalah harapan yang tertinggi. Pertolongan

dari Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Ketika pintu bilik itu terbuka, Sindangsari terperanjat. Dada berdesir tajam sekali.

Tetapi ternyata yang dilihatnya adalah penjaganya. Seorang laki-laki berwajah sekasar

batu padas.

“Mereka sudah datang” desisnya. Sindangsari menatap orang itu dengan tajamnya.

Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun.

“Sebenarnya aku sudah jemu menunggui kau disini” berkata orang itu.

Sindangsari masih tetap diam.

“Selama ini kau menyiksa aku“ orang itu menyambung ”cobalah sekarang kau lari lagi.

Bukan hanya kami disini yang akan mengejarmu. Tetapi orang-orang padukuhan ini

pasti akan membantu karena mereka menganggapkau seorang perempuan gila”

Sindangsari tersentak mendengar kata-kata orang itu. Tetapi kemudian kepalanya

tertunduk lagi. Ia sama sekali tidak ingin orang itu berbicara tentang apa saja.

“Ini, makanmu” berkata orang itu kemudian sambil mempersilahkan seorang

perempuan masuk.

“Makanlah Nyai” berkata perempuan itu “jangan hiraukan igauan penjaga yang kurang

waras itu. Makanlah, supaya badanmu tetap segar dan kau tetap cantik”

“Kecantikannya itulah yang telah menyeretnya ke neraka ini” sahut penjaga di muka

pintu.

“Coba ulangi” desis perempuan yang membawa makan bagi Sindangsari itu.

Tetapi penjaga itu justru terdiam.

“Jangan hiraukan orang gila itu” berkata perempuan kepada Sindangsari “yang paling

menyiksanya, bukan karena ia harus duduk di muka bilik ini, atau harus selalu

mengawasi pintu itu. Tetapi siksaan yang paling berat baginya, adalah karena kau

cantik, muda dan segar. Apalagi pakaianmu tidak mapan, sehingga setiap kali ia selalu

saja membuka pintu dan mengumpatimu”

“O” tiba-tiba saja Sindangsari menyadari keadaan dirinya. Tanpa dikehendakinya

sendiri, tangannya telah membenahi pakaiannya yang kusut.

“Sekarang makanlah Aku sendiri masak untukmu”

Sindangsari tidak menjawab. Ketika mangkuk-mangkuk makanan itu diletakkan di

pembaringannya. Sindangsari justru beringsut menjauh.

“Kau memang sukar dikuasai. Tetapi lapar dan haus sama sekali tidak menguntungkan

bagimu. Ingat, kau sedang mengandung. Mungkin kau dapat menyakiti dirimu atau

membunuh diri dengan tidak makan berhari-hari. Tetapi kau akan berdosa karena

dengan demikian berarti kau sudah membunuh anakmu yang masih berada di dalam

kandungan”

Sindangsari berpaling sejenak. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang.

“Makanlah” desis perempuan itu. Sindangsari masih tetap diam.

“Bukan untuk kau sendiri, tetapi untuk anakmu”

Dada Sindangsari serasa menjadi retak. Tanpa disadarinya ia meraba perutnya yang

menjadi semakin besar. Pada saatnya bayi itu akan lahir. Apakah jadinya apabila ia

masih tetap berada di tempat yang sesak dan pengab ini.

Tiba-tiba saja Sindangsari terisak. Air matanya meleleh di pipinya yang semakin susut.

“Jangan menangis“ perempuan itu mencoba menenangkannya “Aku tahu, betapa

sakitnya perasaanmu. Aku juga seorang perempuan. Karena itu. sebaiknya kau

menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang. Kau tidak akan dapat ingkar lagi.

Dengan demikian kau tidak akan merasa tersiksa sepanjang umurmu”

Tangis Sindangsari justru menjadi semakin keras.

“Nyai Demang” berkata perempuan itu “Mula-mula akupun berontak terhadap

keadaanku. Ketika orang tuaku memberitahukan bahwa aku dipinang oleh seorang

laki-laki yang mempunyai anak laki-laki sebesar aku, dan bernama Manguri, aku

hampir pingsan. Tetapi ayah dan ibuku mempunyai banyak hutang kepadanya. Karena

itu aku harus menerimanya Namun lambat laun aku menjadi biasa. Aku menerima

keadaan ini dengan hati terbuka, meskipun aku tahu, bahwa aku adalah isterinya yang

kesekian kalinya, bahkan barangkali aku sudah tidak mendapat angka lagi.

Sindangsari sama sekali tidak menyahut.

“Tetapi apabila kita dapat menyesuaikan diri, kita akan justru menemukan kesenangan.

Setiap kali aku ditinggal sendiri karena suamiku pulang ke rumahnya di Kepandak” lalu

perempuan itu berbisik “Tetapi aku tidak mau kesepian. Aku dapat berbuat apa saja

asal tidak diketahui orang, supaya kami tidak dihukum rajam atau yang lebih pahit,

diasingkan dari pergaulan. Tetapi orang yang menghukum itupun dengan diam-diam

melakukannya pula” kembali ia terdiam, lalu “Nah, karena itu, pandanglah dunia ini apa

adanya. Kau harus berani melihat yang paling kotor sekalipun supaya kau dapat

menimbang keadaanmu”

Detak jantung Sindangsari seakan-akan menjadi semakin cepat berdetak. Sekilas

terbayang kembali bagaimana Nyai Reksatani telah membujuknya, untuk menemui

seorang anak muda yang hampir saja menerkamnya seperti seekor harimau yang

mendapatkan seekor anak domba yang tersesat.

Dan tiba-tiba saja Sindangsari menjatuhkan dirinya, menelungkup sambil menangis.

“Jangan menangis. Jangan menangis. Tangis tidak akan ada artinya bagimu di dalam

keadaan yang demikian” berkata perempuan itu “makan sajalah. Makanlah”

Tetapi Sindangsari sama sekali tidak mendengarnya. Ia masih saja menangis dan

terisak.

“Dengarlah” berkata perempuan itu berbisik di telinganya “Manguri sudah datang. Ia

akan segera mengawanimu di dalam bilik yang sempit ini. Terimalah kenyataan itu.

Carilah kegembiraan pada setiap keadaan yang bagaimanapun juga”

Perempuan itu tidak menunggu Sindangsari berhenti menangis. Ditinggalkannya saja

mangkuk-mangkuk berisi makanan itu di amben yang seakan-akan diguncangguncang

oleh isak Sindangsari.

Ketika perempuan itu sudah pergi, maka penjaga yang berada di pintu, perlahan-lahan

mendorong daun pintu itu. Tetapi sebelum tertutup rapat, ia menjengukkan kepalanya

sambil berkata “Jangan menangis. Kau dengar, Manguri sudah ada disini”

Sindangsari masih tetap menangis ketika pintu itu berderit dan kemudian tertutup

rapat.

Di ruang depan rumah itu, beberapa orang laki-laki duduk berkeliling diatas sehelai

tikar. Ki Reksatani, Manguri, Ayah Manguri dan beberapa orang lagi. Sedangkan

orang-orang yang lain berada di halaman, duduk di bawah batang pepohonan yang

rindang. Di ujung gandok Lamat duduk bersandar tiang sambil memandang

kekejauhan.

Meskipun matanya separo terpejam, tetapi di dalam dadanya telah terjadi gejolak yang

semakin dahsyat. Di tempat itu ia seakan-akan hanya seorang diri dikelilingi oleh

serigala-serigala yang liar. Di pendapa Manguri dan Ki Reksatani adalah dua orang

iblis yang buas, meskipun kepentingan mereka berbeda-beda.

Tetapi Lamat tidak menjadi cemas seandainya Ki Reksatani akan melakukan

rencananya segera, seandainya ia benar-benar ingin membunuh Sindangsari.

Seandainya demikian, maka Lamat masih melihat, kemungkinan untuk

menyelamatkannya. Karena dengan demikian pasti akan terjadi benturan antara Ki

Reksatani dan Manguri. Menurut perhitungan Lamat, kekuatan mereka masih dapat

dianggap seimbang, seandainya ia mampu melawan Ki Reksatani, atau setidaktidaknya,

mengikatnya dalam perkelahian tersendiri.

Tetapi apabila yang terjadi Mangurilah yang akan melakukan rencananya, maka ia

pasti akan kebingungan, Kalau ia mencegah tanpa alasan yang masuk akal, sehingga

Manguri tidak akan mengurungkan niatnya, apakah yang akan dilakukan? Kalau ia

memaksakan dengan kekerasan, melindungi Sindangsari, maka pasti akan terjadi

benturan pula. Tetapi ia akan berdiri sendiri. Bahkan Ki Reksatanipun pasti akan

berpihak kepada Manguri.

Lamat menarik nafas dalam-dalam.

“Melawan Ki Reksatani seorang diripun aku belum tahu, apakah aku akan dapat

bertahan. Apalagi apabila aku berdiri sendiri, sedang Ki Reksatani berada di pihak

Manguri dan orang-orangnya yang lain” berkata Lamat di dalam hatinya.

Tetapi Lamat tidak dapat meramalkan, apakah yang akan segera terjadi di rumah itu.

Di ruang depan Ki Reksatani sedang mendengarkan beberapa keterangan mengenai

Sindangsari. Ia mengerutkan keningnya ketika ia mendengar ceritera, bahwa

Sindangsari pernah mencoba melarikan diri, sehingga beberapa orang terpaksa

mengejarnya.

“Itu berbahaya sekali” berkata Ki Reksatani “ia dapat berkata apa saja yang

dikehendaki, berteriak-teriak memanggil-manggil dan menyebut-nyebut namanya dan

nama orang-orang yang dikehendakinya itu”

“Sindangsari memang berteriak-teriak. Tetapi atas kehendaknya sendiri, ia selalu

menyebut-nyebut ibu, kakek dan nenek, Tidak ada orang lain yang disebut namanya”

jawab ayah Manguri.

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebenarnya di dalam

dadanya telah terjadi pergolakan pula. Baginya, hal itu sangat berbahaya. Kalau suatu

ketika Sindangsari menyebut nama Demang di Kepandak atau nama orang-orang

Gemulung, maka rahasianya akan segera dapat diketahui orang.

Tetapi Ki Reksatani belum menyatakan kecemasannya. Bahkan kemudian iapun

menarik nafas dalam-dalam ketika ayah Manguri berkata “Tetapi setiap orang di sekitar

rumah ini menganggapnya ia seorang perempuan gila. Kami sengaja mengatakan,

bahwa perempuan itu adalah perempuan gila. Itulah sebabnya, maka tidak banyak

orang yang menaruh perhatian kepadanya. Kedatangan kalianpun tidak menarik

perhatian pula. Kami selalu mengatakan, bahwa keluarga kami yang jauh, akan

berdatangan untuk menengok perempuan gila ini. Kami disini menyebutnya sebagai

adik isteriku”

“Isterimu?” bertanya Ki Reksatani.

“Ya, isteriku”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia sudah mendengar bahwa Ki Sukerta

mempunyai banyak isteri dimana-mana, sehingga iapun segera mengerti, bahwa

perempuan yang tinggal di rumah itu adalah isterinya yang kesekian.

Meskipun demikian, ia masih tetap membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang

pahit yang dapat terjadi kalau Sindangsari masih hidup, apalagi apabila bayinya kelak

lahir dan menjadi besar. Tetapi Ki Reksatani masih belum akan mengambil kesimpulan

apapun. Ia masih akan mempelajari keadaan dengan saksama.

Bahkan ia tidak juga ambil pusing apa yang akan dilakukan Manguri. Baginya apa saja

yang akan terjadi, tidak akan berpengaruh atas keputusan manapun yang akan

diambilnya. Sehingga dengan demikian, seolah-olah Ki Reksatani acuh tidak acuh saja

kepada keadaan di rumah itu.

Ia mengangkat wajahnya ketika ayah Manguri bertanya “Setelah kau melihat keadaan

perempuan itu, apakah yang akan kau lakukan? Membiarkan perempuan itu disini,

atau kau mempunyai pendapat lain, misalnya, dalam waktu singkat harus segera

dipindahkan lagi? Seandainya menurut pertimbanganmu, Sindangsari harus segera

dipindahkan, aku tidak akan menemukan kesulitan apa-apa. Isteriku di segala tempat

pasti tidak akan berkeberatan, seandainya aku membawa menantuku itu ke rumahnya”

“Ia belum menantumu” desis Ki Reksatani.

Ayah Manguri tertawa “Lambat laun”

Ki Reksatani tidak menyahut. Tetapi ia menggeram di dalam hatinya “Kalau aku

berkeputusan lain, ia tidak akan menjadi menantumu untuk selama-lamanya. Bahkan

kau akan kehilangan anakmu dan kau sendiri”

Oleh kata hatinya itu Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Dan ia berkata kepada diri

sendiri seterusnya “Jika demikian apakah aku harus membunuh sekian banyak orang?

Manguri, ayahnya, Sindangsari dan bayi di dalam kandungan, kemudian sudah tentu

raksasa yang dungu itu beserta pengikut-pengikutnya yang mengetahui apa yang

sudah terjadi disini”

Terasa rambut di seluruh tubuh Ki Reksatani meremang, Namun kemudian ia

merapatkan giginya sambil berkata di dalam hati ”Persetan. Aku sudah terlanjur basah.

Kenapa aku tidak mandi sama sekali. Aku tidak peduli, berapa banyak orang yang

harus mati. Bahkan seluruh isi Kademangan Kepandak sekalipun”

Dada Ki Reksatani itu seolah-olah bergetar karenanya. Namun kemudian timbul

pertanyaan “Bagaimana dengan pengikut-pengikut Manguri yang tidak ikut serta di

tempat ini? Apakah aku harus membunuhnya pula?”

Pertanyaan itu melingkar-lingkar di dalam hatinya, sehingga pada suatu saat ia

menemukan jawaban “Tidak perlu. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi.

Seandainya mereka membuat ceritera tentang hilangnya Sindangsari, tidak akan ada

orang yang akan mempercayainya. Apalagi karena Manguri menghilang. Akulah yang

akan menyebarkan ceritera, bahwa Manguri telah lari membawa Sindangsari”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia terkejut ketika tiba-tiba saja ayah

Manguri bertanya “Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu”

Ki Reksatani menjawab asal saja terloncat dari bibirnya “Untuk sementara sudah

cukup”

“Baiklah. Kalau begitu, biarlah untuk sementara ia disini. Dan bagaimana dengan kau

dan orang-orangmu? Kalau kalian tidak berkeberatan kalian juga dapat bermalam

disini. Tetapi sudah tentu tempat yang dapat kami sediakan terlampau sederhana”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya “Sudah cukup. Bagi kami, tidur

dimanapun tidak ada bedanya, kami adalah orang-orang ladang. Agaknya memang

lain dengan para pedagang yang biasa hidup mewah”

“Kau keliru. Pedagang seperti aku adalah pedagang keliling. Kadang-kadang kami

harus berhenti disembarang tempat dan kamipun tidur dimanapun juga”

“Tetapi dimanapun juga kau mempunyai seorang isteri”

“Ah“ ayah Manguri tertawa. Sekilas dilihatnya wajah anaknya yang menjadi kemerahmerahan.

Tetapi Manguri tidak mengucapkan sepatah katapun menanggapi kelakar Ki Reksatani

yang menyakitkan hatinya sebagai seorang anak. Terbayang perbuatan laki-laki itu di

rumahnya di saat-saat ayahnya tidak ada. Tidak ubahnya seperti ayahnya di

perjalanan.

Untuk menghindarkan diri dari pembicaraan yang baginya memuakkan itu tiba-tiba saja

ia berkata “Ayah. Apakah aku diperkenankan menengok Sindangsari?”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Ki Reksatani sejenak. Tetapi

Ki Reksatani seakan-akan acuh tidak acuh saja atas permintaan Manguri itu. Ia sudah

mengambil sikap, bahwa apapun yang dilakukan oleh Manguri tidak akan berpengaruh

kelak terhadap keputusan yang manapun yang akan dijatuhkan atas Sindangsari.

“Bagaimana ayah”

“Terserahlah kepadamu” berkata ayahnya “tetapi hati-hatilah. Ia masih saja berusaha

melarikan dirinya atau berbuat hal-hal yang dapat menimbulkan persoalan, meskipun

agaknya kini telah dapat dibatasi. Orang-orang di sekitar rumah ini menganggapnya

perempuan gila, sehingga seandainya ia berteriak-teriak, tidak akan ada orang yang

memperhatikannya.

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah. Aku akan berhati-hati”

Manguripun kemudian meninggalkan ruang depan turun ke halaman. Ia mengambil

jalan lewat longkangan samping menuju ke bilik di ujung belakang.

Dada Lamat yang melihat Manguri lewat berdesir karenanya. Tetapi tanpa disadarinya

iapun berdiri dan melangkah mengikuti.

Lamat mengerutkan keningnya ketika Manguri berhenti, Sambil memandang Lamat

dengan tajamnya ia bertanya “Kau akan kemana?”

Lamat bingung sejenak. Tetapi ia kemudian menjawab ”Tempat ini adalah tempat yang

berbahaya. Kita tidak tahu apa yang tersimpan disini. Dimana bercampur baur orangorang

yang tidak sependirian”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa bertanya apapun lagi, iapun

kemudian meneruskan langkahnya, dan membiarkan Lamat mengikutinya di belakang,

meskipun ia tidak begitu senang karenanya. Namun alasan Lamat itu dapat

dimengertinya.

Di muka bilik di ujung belakang, ia berhenti sejenak. Ada dua orang yang menjaga

Sindangsari. Di pintu butulan seorang dan di pintu dalam seorang.

Manguri termangu-mangu sejenak. Dadanya menjadi berdebar-debar Ternyata

Sindangsari tidak lebih dari seorang tawanan yang dijaga sebaik-baiknya.

“Apakah untuk sepanjang hidupnya aku harus mengupah orang untuk menjaganya?

Dan apakah pada suatu saat penjaga-penjaga laki-laki itu masih juga dapat

dipercaya?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya.

Manguri yang termangu-mangu itu terkejut ketika salah seorang penjaganya itu

menyapanya “Nah, marilah. Silahkan”

Manguri mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia melangkah maju Dan penjaga itu

berkata pula “Sebenarnya aku sudah jemu duduk disini menunggui Nyai Demang di

Kepandak”

“Sst” desis Manguri.

“Tidak ada yang mendengar”

“Apakah kau tidak pernah mendapat giliran”

“Ya. Sehari aku bertugas menjagainya. Dua orang. Kemudian bergantian dua orang

yang lain. Ayahmu juga ikut bergantian dengan kami apabila ia sempat, seperti di saatsaat

yang gawat, sedang seorang kawan kami tidak ada disini. Seorang penghuni

rumah ini telah membantu kami pula, kadang-kadang ikut menggantikan kami disini”

Manguri mengangguk-angguk.

“Kalau ada pekerjaan lain, aku lebih senang melakukan tugas yang lain. Mengantar

ternak meskipun melewati daerah-daerah yang berbahaya”

“Kau akan segera bebas dari tugasmu yang tidak kau sukai ini”

“Terima kasih. Aku benar-benar tersiksa disini. Aku tidak tahu, yang manakah yang

paling tersiksa, diantara kami. Yang dijaga atau justru yang menjaga.

Manguri tidak menjawab.

Jilid 8 – Bab 6 : Ibu Tiri

“Apalagi di dalam bilik ini terdapat seorang

perempuan yang cantik, yang sudah tidak sampai

menghiraukan dirinya sendiri, termasuk

pakaiannya.

“Tutup mulutmu“ Manguri menggeram. Orang itu

menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadarinya di

pandanginya wajah Lamat yang berdiri di

belakang Manguri. Tiba-tiba saja penjaga itu

menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa tangan

raksasa itu dapat meremukkan tulang-tulangnya.

“Aku ingin melihatnya” desis Manguri kemudian

sambil melangkah ke pintu.

“Silahkan”

Sejenak Manguri ragu-ragu berdiri di muka pintu

yang tertutup. Lamatpun berdiri dengan cemasnya

di sampingnya.

“Kau disini Lamat” desis Manguri. Lamat

mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Awasilah keadaan”

Sekali lagi Lamat mengangguk.

Dengan ragu-ragu Manguri membuka pintu perlahan-lahan. Ketika pintu itu terbuka

sedikit, maka iapun menjengukkan kepalanya, memandang ke dalam bilik itu.

Manguri terkejut melihat keadaan Sindangsari, Ia menelungkup sambil menangis.

Sedang di pembaringannya terdapat beberapa buah mangkuk berisi makanan. Bahkan

ada pula mangkuk-mangkuk yang terguling di lantai dan isinya tumpah ruah.

Dengan dada yang berdebar-debar Manguri menarik daun pintu semakin lebar, dan

perlahan-lahan pula ia melangkah masuk.

Ketika pintu itu kemudian tertutup lagi, Lamat mengatupkan giginya rapat. Ia sadar,

bahwa sesuatu dapat meledak pada saat itu. Mungkin ia harus bertindak. Mungkin ia

dapat menyelamatkan Sindangsari, tetapi mungkin ia justru terbunuh karenanya.

Setelah ia mati, apapun dapat terjadi atas Sindangsari.

Sekilas melintas di kepala Lamat, Pamot bersama beberapa anak-anak muda di

Gemulung telah ada di sekitar rumah itu.

“Kalau mereka ada di sini” berkata Lamat “mungkin aku dapat berbuat sesuatu. Tetapi

kalau tidak, entahlah. Aku tidak dapat meramalkan”

Dalam pada itu Manguri mendekati pembaringan Sindangsari perlahan-lahan. Hatinya

menjadi semakin berdebar-debar Pantaslah kalau tetangga-tetangga yang pernah

melihat Sindangsari menyangkanya orang gila, karena Sindangsari sama sekali tidak

sempat lagi menghiraukan dirinya sendiri.

Perlahan-lahan Manguri kemudian memanggilnya “Sari, Sindangsari”

Meskipun suara Manguri tidak begitu keras, tetapi suara itu langsung menyentuh dada

Sindangsari. Ia tidak biasa mendengar panggilan itu sehari-hari. Dan tiba-tiba kini ada

seseorang yang memanggil namanya.

Perlahan-lahan pula Sindangsari mengangkat wajahnya. Kemudian dengan ragu-ragu

ia berpaling.

Tiba-tiba saja Sindangsari berteriak ketika ia melihat Manguri berdiri ditepi

pembaringannya “Pergi. Pergi, pergi kau”

Manguripun terkejut Sejenak ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Sementara itu

Sindangsari masih berteriak “Pergi, pergi atau bunuh aku”

Manguri menjadi bingung. Ia cemas kalau suara Sindangsari mengejutkan tetanggatetangga

meskipun tidak terlampau dekat. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah

mencoba menutup mulut Sindangsari. Tetapi Sindangsari meronta sehingga mangkukmangkuk

yang ada di pembaringannya berserakan.

“Pergi “

Manguri yang menjadi semakin bingung tidak sempat berpikir lagi. Dengan serta-merta

dibungkamnya mulut Sindangsari. Betapapun juga perempuan itu meronta-ronta,

namun ternyata tangan Manguri lebih kuat dari tenaga Sindangsari.

“Jangan berteriak-teriak” geram Manguri “atau aku cekik kau sampai mati”

Sindangsari tidak dapat menjawab, karena tangan Manguri menutup mulutnya eraterat.

Namun justru dengan demikian pakaian Sindangsari menjadi semakin kusut.

Rambutnya terurai menutup sebagian wajahnya. Tangannya yang menggapai-gapai

sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri”

“Kau harus sadar bahwa tidak ada gunanya berteriak-teriak. Aku dapat berbuat apa

saja. Mengerti?”

Sindangsari sama sekali tidak menjawab. Tetapi justru ia mulai meronta-ronta lagi.

Manguri masih tetap membungkam mulutnya. Tangannya melingkar di belakang

kepala Sindangsari, sedang tangannya yang lain menahan gerak tangan

Sindangsari yang masih saja selalu mencoba melepaskan diri.

“Jangan berbuat begitu“ Manguri menjadi semakin kasar ”kau akan menyesal.

Kandunganmu akan terganggu”

Tetapi Sindangsari sudah tidak dapat berpikir tentang apapun juga. Tentang dirinya

sendiri, tentang kandungannya dan tentang pakaiannya, ia masih saja menggeliat dan

meronta. Bahkan kemudian dengan tiba-tiba saja ia membuka mulutnya dan menggigit

tangan Manguri.

Manguri terkejut. Dengan serta-merta ditariknya tangannya.

Sindangsari yang sedikit terlepas itu berusaha bangkit berdiri dan berlari menjauh.

Tetapi Manguri sempat menangkap ujung bajunya, sehingga justru bajunya sobek

karenanya.

Sindangsari tidak sempat lari lagi. Tangan Manguri yang kuat telah menyumbat

mulutnya pula.

“Duduk“ Manguri menjadi semakin kasar “ingat. Aku dapat berbuat baik tetapi dapat

berbuat kasar. Aku dapat memukul tengkukmu sehingga kau menjadi pingsan. Aku

dapat membunuhmu dan aku dapat berbuat menurut keinginanku”

Tidak ada jawaban, karena mulut Sindangsari sudah terbungkam lagi.

“Dengar” geram Manguri “aku akan melepaskan mulutmu, dan aku akan pergi keluar.

Tetapi kalau kau berteriak lagi, aku akan berbuat apa saja menurut keinginanku. Aku

tidak peduli lagi kepada orang lain di sekitar bilik ini. Kau tahu”

Tidak ada jawaban.

“Ingat. Kau tidak berdaya apapun disini ”Perlahan-lahan Manguri melepaskan mulut

Sindangsari. Agaknya Sindangsari menyadari keadaannya. Karena itu, ia tidak

berteriak lagi. Ketika Manguri melepaskannya sama sekali perlahan-lahan ia

melangkah surut.

“Kau jangan benar-benar menjadi gila meskipun orang di sekitar rumah ini memang

menganggapmu gila. Kau mengerti?”

Sindangsari tidak menjawab. Ketakutan yang luar biasa membayang di wajahnya yang

pucat. Bibirnya yang menjadi biru bergetar, tetapi tidak sepatah katapun yang

diucapkan.

“Sindangsari” berkata Manguri “masih ada waktu bagimu untuk menilai keadaanmu.

Kau tidak akan dapat kembali ke Kepandak. Kau tidak akan dapat kembali kepada

Pamot. Mungkin pada suatu saat kau dapat melarikan diri. Tetapi mereka tidak akan

dapat menerimamu kembali, karena kau tidak sebersih pada saat kau meninggalkan

Kepandak lagi. Kau tahu maksudku? Karena itu, sebaiknya kau menerima

kenyataanmu, seperti pada saat kau direnggut dari tangan Pamot oleh Ki Demang di

Kepandak. Agaknya kau sudah berhasil melampaui kesulitan perasaanmu, sehingga

kau justru mengandung karenanya. Dengan demikian, kau tidak akan banyak

mengalami kesulitan apabila kau harus mengulanginya sekali lagi, menyesuaikan diri

dengan kenyataan yang kau hadapi sekarang ini”

Kata-kata Manguri itu bagaikan ujung sembilu yang langsung menusuk jantungnya.

Betapa sakitnya, betapa pedihnya. Betapa harga dirinya sebagai seorang perempuan

sudah direndahkannya, bahkan diinjak-injaknya.

Betapapun juga hatinya serasa menggelegak, tetapi tidak sepatah katapun yang

diucapkannya. Wajahnya menjadi semakin pucat, bibirnya membiru dan bergetar,

sedang tubuhnya menggigil seperti orang yang kedinginan.

Manguri memandang perempuan itu sejenak. Kemudian katanya “Aku akan keluar.

Benahilah pakaianmu. Mungkin ada orang lain yang memasuki ruangan ini. Bukan

aku”

Kata-kata itu membuat dada Sindangsari berdesir. Dan tiba-tiba saja iapun

menjatuhkan dirinya diatas pembaringannya menelungkupkan diri. Perlahan-lahan

Manguri melangkah keluar. Di depan pintu ia berpaling. Ia berdiri termangu-mangu

sejenak. Namun kemudian ia melangkah terus.

Lamat menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar pintu bergerit. Sejenak

kemudian Manguri melangkah keluar. Keringatnya mengembun di dahi dan keningnya.

Sejenak ia berpaling kepada penjaga yang duduk bersandar tiang di depan Lamat

yang berdiri tegak “Aku titipkan perempuan itu kepadamu, keselamatannya dan

perawatan secukupnya”

Penjaga itu menganggukkan kepalanya “Aku akan mencobanya”

Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun melangkah pergi

meninggalkan bilik itu.

Namun justru setelah ia menemui Sindangsari, wajah perempuan yang pucat itu selalu

membayanginya. Dalam keadaan yang kusut, dengan rambut yang terurai,

Sindangsari tampak menjadi semakin cantik.

Manguri mengambil nafas dalam-dalam. Keputusannya menjadi semakin mantap.

Katanya di dalam hati “Aku harus memaksakan kenyataan itu sehingga Sindangsari

kehilangan segala keinginan untuk lari”

Demikianlah, maka bayangan malam lambat laun mulai menyaput langit. Semakin

lama menjadi semakin rendah. Warna merah di bibir awan mulai menjadi pudar.

Satu-satu kelelawar mulai berterbangan di udara yang kelam. Berputar-putar kemudian

menukik menyambar seekor mangsanya dipepohonan.

Di rumah isteri muda yang kesekian dari ayah Manguri itu mulai menjadi semakin sepi.

Tanpa diatur terlebih dahulu, orang-orang yang ada di halaman rumah itu telah

membagi dirinya. Orang Manguri dan orang-orang Ki Reksatani Meskipun kadangkadang

satu dua diantara mereka ada juga saling berbicara, tetapi kemudian helai tikar

sudah dibentangkan di ruang depan. Sementara kuda-kuda mereka meringkik di

halaman.

Hanya lamatlah yang selalu menyendiri. Kadang-kadang ia mengikuti saja kemana

Manguri pergi, seolah-olah ia benar-benar mencemaskan keselamatannya di daerah

yang kurang dimengerti ini. Tetapi apabila Manguri kemudian duduk bersama ayahnya

dan Ki Reksatani, maka Lamatpun kemudian duduk di tangga.

“Padukuhan ini terlampau sepi” berkata ayah Manguri kepada Ki Reksatani.

“Ya. Padukuhan ini sudah berada di pinggir hutan, meskipun bukan hutan yang lebat”

“Hutan perburuan. Hutan itu seolah-olah sengaja disediakan bagi mereka yang senang

berburu”

“Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak begitu tertarik pada

hutan itu. Pikirannya masih juga mereka-reka apa yang sebaiknya dilakukan dalam

waktu yang dekat.

“Kalau kau lelah, tidurlah”

Ki Reksatani mengangguk. Ia lebih senang berbaring sambil merenung daripada harus

mendengarkan kata-kata ayah Manguri. Namun demikian ia masih juga bertanya

“Padukuhan ini memang sepi. Tetapi kenapa kau sampai juga di tempat yang sepi ini

di dalam perjalanan dagangmu. Apakah di padukuhan terpencil ini ada juga orang

yang membeli ternak dalam jumlah yang menguntungkan bagi perdaganganmu”

“Mereka tidak membeli, tetapi mereka justru menjual. Aku datang ke padukuhankepadukuhan

kecil untuk membeli ternak dengan harga yang agak murah, dan untuk

mendapatkan isteri-isteri muda”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab apapun.

Sejenak keduanya tidak mengatakan apa-apa. Mereka merenungi angan-angan di

dalam dada masing-masing. Sedang Manguri yang duduk bersama merekapun

menjadi jemu.

“Aku akan beristirahat” katanya kemudian.

“Aku juga” sahut Ki Reksatani.

“Silahkan. Kalau begitu akupun akan tidur juga”

Merekapun kemudian meninggalkan tempat masing-masing. Ki Reksatani perlahanlahan

melangkah mendekati orang-orangnya dan duduk diantara mereka yang sudah

berbaring diatas tikar. Tetapi Ki Reksatani tidak mengatakan sepatah katapun. Orangorangnyapun

tidak menegurnya. Mereka sudah mulai terkantuk-kantuk setelah

parjalanan yang cukup melelahkan sejak sebelum fajar.

Dalam pada itu Manguri tidak segera pergi mendapatkan ayahnya yang sudah

berbaring pula. Tetapi ia pergi ke regol halaman diikuti oleh Lamat.

“Apakah kau akan pergi?” bertanya Lamat.

Manguri menggelengkan kepalanya ”Tidak“

Lamat tidak bertanya lagi. Dipandanginya saja Manguri yang kemudian berdiri di

tengah-tengah pintu regol halaman yang rendah, seperti orang yang sedang mencari

sesuatu ia memandang ke segala arah. Tetapi Lamat yang berdiri beberapa langkah di

belakangnya, sama sekali tidak bertanya apapun.

Menguri yang berdiri termangu-mangu itu memandang sinar pelita rumah tetangga

yang agak berjauhan letaknya: Seberkas sinar yang menembus lubang dinding jatuh

diatas dedaunan di halaman.

Manguri menarik nafas dalam-dalam.

Lamat yang berdiri di belakangnya melihat anak muda itu menjadi gelisah. Bahkan

kadang-kadang terdengar ia berdesah.

“Apakah orang-orang didalarn rumah itu sudah tidur?” tiba-tiba saja Manguri bertanya.

Lamat heran mendengar pertanyaan itu, sehingga iapun menjawab “Aku tidak tahu.

Tetapi lampu-lampu di rumah itu masih terang. Aku kira masih ada diantara mereka

yang terbangun”

Manguri menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling, dilihatnya ruang depan

rumah isteri muda ayahnya itu sudah sepi.

“Kenapa mereka belum tidur?” ia bertanya kepada Lamat.

Lamat menggeleng “Aku tidak tahu”

Manguri masih saja berdiri di regol. Bahkan kemudian ia melangkah ke jalan di depan

regol itu. Dicobanya melihat ke arah yang jauh di sepanjang jalan. Tetapi jalan yang

seakan-akan menghunjam ke dalam gelap itu sama sekali tidak berkesan apapun

kepadanya, selain sepi.

Manguri mengerutkan keningnya. Dipandanginya bayangan di dalam kegelapan.

Lambat laun iapun dapat mengenalinya, sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis “O,

ibu, e, maksudku bibi”

“Ya” sahut suara itu “siapakah yang kau tunggu”

“Tidak ada”

Bayangan itu melangkah mendekatinya, lewat beberapa jengkal di samping Lamat.

“Apakah kau tidak ingin menemani bakal isterimu itu?” bertanya perempuan itu

“agaknya ia menjadi terlampau kesepian”

Dada Manguri berdesir. Dan perempuan itu berkata seterusnya “Cobalah. Tetapi

bersikaplah sebaik-baiknya. Jangan terlampau kasar. Perempuan itu adalah

perempuan yang berlebih senang hanyut di dalam dunia angan-angan, harapan dan

cita-cita daripada dunia yang sedang diinjaknya kini. Itulah sebabnya ia selalu

bermimpi tanpa menghiraukan kenyataan yang dihadapinya”

Manguri mengerutkan keningnya.

“Kalau kau ingin menemuinya, marilah, aku antarkan“

Manguri ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata “Aku ragu-ragu. Kalau ia

menjerit, maka suaranya akan mengejutkan tetangga di malam hari”

“Mereka menganggap perempuan itu gila”

“Tetapi mereka akan muak mendengar teriakan siang dan malam di rumah ini. Dan

mereka akan memaksa kau menyingkirkannya”

Perempuan itu tertawa. Katanya “Kalau begitu, kaulah yang harus berhati-hati. Jangan

membuatnya terkejut, takut dan muak melihatmu. Hati-hatilah. Marilah, aku antarkan

kau”

Manguri ragu-ragu sejenak. Tanpa sesadarnya dipandanginya ruang depan yang sepi.

“Ayahmu ada di dalam. Aku sudah mendapat ijinnya“

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu.

”Marilah” perempuan itupun melangkah maju mendekati Manguri. Sebelum Manguri

menjawab, perempuan itu sudah menarik tangannya sambil berkata “Cepatlah sedikit”

Manguri tidak dapat melawan lagi. Iapun kemudian melangkah mengikuti ibu tirinya ke

halaman belakang.

Lamat yang berdiri keheran-herananpun kemudian melangkah pula mengikuti mereka.

Tetapi ibu tiri Manguri itu kemudian berkata “Sudahlah, biarlah Manguri pergi sendiri.

Tidak pantas kau berada di dekat bilik itu. Akulah yang akan menemaninya”

Langkah Lamatpun tertegun. Dipandanginya Manguri yang berpaling pula.

“Biarlah pengawalmu itu di halaman depan. Biarlah ia tidur bersama yang lain”

Manguri tidak sempat menjawab, Sekali lagi ibu tirinya menarik tangannya ke dalam

gelap. Lamat masih berdiri termangu-mangu di tempatnya. Tetapi ia tidak maju lagi.

Manguri terpaksa mengikuti saja tarikan tangan ibu tirinya. Anak muda itu langsung

dibawa ke bilik Sindangsari lewat pintu butulan. Perlahan-lahan Lamat masih

mendengar perempuan itu berkata “Jangan terlampau kasar. Sekeras-batu akik

sekalipun, lambat laun akan lekuk juga oleh air yang menilik, setitik-titik tetapi terus

menerus. Kau mengerti? Kalau sekaligus kau lemparkan ke dalam banjir bandang,

maka batu itu akan lenyap dan hilang untuk selama-lamanya. Kau mengerti?”

Tidak terdengar jawaban Manguri. Namun merekapun kemudian melewati longkangan

dan sampai ke depan pintu butulan yang dijaga oleh seorang penjaga yang dengan

malasnya duduk bersandar pintu itu.

“Bukalah” desis perempuan itu.

Lamat yang tidak sampai hati melepaskan Sindangsari di luar pengawasannya, diamdiam

merayap mendekat di dalam kegelapan, Ia kini justru dapat melihat dan

mendengar pembicaraan mereka lebih jelas.

“Marilah” bisik perempuan itu. Lalu “Akulah yang akan mengatakannya. Kau jangan

terburu nafsu”

Manguri tidak menjawab. Ia berdiri saja di belakang ibu tirinya seperti anak-anak yang

bersembunyi di balik ibunya.

Penjaga yang duduk bersandar pintu itu berdiri tertatih-tatih. Sekali ia menguap,

kemudian tangannya mulai bergerak mengangkat selarak.

Perlahan-lahan pintupun kemudian terbuka. Seberkas sinar meloncat keluar.

Tetapi kedua orang yang melangkah memasuki ruangan itu terkejut. Mereka melihat

Sindangsari memegangi lampu minyak yang dinyalakan besar-besar.

“Kenapa kau pegangi lampu itu?” bertanya ibu tiri Manguri “Apakah tidak ada ajug-ajug

atau bancik di dalam bilik ini”

Sindangsari memandangi orang-orang yang masuk itu sejenak. Dibayanginya

wajahnya dengan telapak tangannya karena silau. Ketika ia mendengar suara

perempuan, maka iapun menjadi agak tenang.

Tetapi kemudian ia melihat Manguri di belakang perempuan itu. Karena itu, maka

katanya “Pergi, pergi dari bilik ini”

“Tunggulah” berkata ibu tiri Manguri “kami tidak akan berbuat apa-apa. Aku ingin

berbicara dengan kau sejenak dan dengan Manguri. Aku tahu, hubungan apakah yang

ada di antara kalian. Hubungan yang sampai saat ini masih samar-samar.

“Tidak. Tidak” potong Sindangsari “kalau kalian tidak pergi, aku akan berteriak ”

“Tidak ada gunanya. Kalau kau berteriak, maka dadamu akan sakit. Tetangga kita

disini akan muak kepadamu dan mereka akan dapat kita hasut untuk berbuat apa saja.

“Itu lebih baik”

“Jangan begitu. Jangan menjadi putus asa. Itulah sebabnya aku ingin berbicara sedikit”

“Tidak ada yang dibicarakan Kalau kau akan berbicara, berbicaralah. Tetapi suruh

orang itu keluar”

Ibu tiri Manguri berpaling kepadanya sejenak. Tetapi kemudian ia tersenyum “Jangan

begitu. Aku ingin berbicara dengan kalian berdua, aku menjadi jaminan, bahwa tidak

akan terjadi sesuatu tanpa kau kehendaki”

“Tidak, tidak”

“Jangan keras hati”

“Pergi, pergi”

“Sebaiknya kau mendengar kata-kataku “lalu ia berpaling kepada Manguri “kemarilah.

Biarlah untuk sementara Singandangsari menolak. Tetapi ia akan mendengar katakataku,

dan ia akan mengakui kebenarannya”

“Tidak, tidak.Jangan mendekat “

“Kemarilah Manguri”

Tetapi ketika Manguri melangkah maju, maka Sindangsari mengangkat pelita di

tangannya sambil berkata “Kalau satu langkah lagi kau maju, maka lampu ini akan aku

lemparkan ke dinding, kita akan bersama-sama terbakar di dalam bilik ini”

Kedua orang itu terkejut. Manguri tertegun, sedang wajahnya menjadi tegang. Tetapi

ibu tirinya kemudian justru tersenyum. Katanya “Tidak Nyai. Aku dan Manguri akan

segera berlari keluar sebelum api menjilat. Kami akan menutup pintu dan membiarkan

kau berada di dalam bilik ini”

“Itu lebih baik. Itulah yang aku ingini” Sindangsari berhenti sejenak, lalu “Tidak. Aku

tidak akan melemparkan lampu ini kedinding. Aku akan menyiramkan minyaknya pada

pakaianku, dan aku akan membakar diriku sendiri. Itu pasti akan lebih baik”

Kini wajah ibu tiri Manguri benar-benar menegang. Namun ia tidak yakin bahwa

Sindangsari benar-benar akan melakukannya. Karena itu, maka iapun berkata “Jangan

hiraukan Manguri. Ia tidak akan berbuat demikian kerena ia sadar, bahwa ia sedang

mengandung”

Tetapi di luar dugaan. Ketika Manguri beringsut sedikit tiba-tiba saja Sindangsari sudah

memercikkan minyak dipakaiannya. Dicelupkannya jari-jarinya pada dlupak yang

sedang menyala itu. Kemudian dikibaskannya pada pakaiannya.

“Kemarilah. Lihatlah mayatku yang hangus bersama, anakku di dalam kandungan. Itu

adalah jalan yang lebih baik bagiku”

Ketika Sindangsari memercikkan minyak lagi kepakaiannya, perempuan itu tiba-tiba

menjadi gemetar “Jangan. Jangan”

“Pergilah“

Ibu tiri Manguri menarik nafas. Akhirnya ia berkata “Kau memang seorang perempuan

yang berhati baja. Baiklah. Kami akan keluar. Tetapi sebaiknya kau memikirkannya,

bahwa hidup ini harus berpijak diatas kenyataan”

“Aku tidak mau mendengar. Aku tidak mau mendengar”

Ibu tiri Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah. Baiklah“

Keduanyapun kemudian melangkah keluar dari dalam bilik itu. Namun dengan

demikian mereka semakin yakin, betapa keras hati Sindangsari.

Ketika mereka melangkah keluar pintu, Lamatpun segera kembali ke tempatnya

semula, sehingga ketika Manguri dan ibu tirinya sampai di tempat itu, mereka bertanya

hampir berbareng “Kau masih disini?”

“Ya”

“Tidurlah” berkata Manguri ”Aku juga akan tidur”

Manguri benar-benar telah dicengkam oleh kekesalan. Kadang-kadang timbul niatnya

untuk berbuat kasar. Namun ia masih mencoba menahan diri. Mungkin ibu tirinya

dapat membujuk perempuan itu, agar hatinya tidak menjadi semakin sakit, dan ia tidak

semakin membencinya.

Manguripun kemudian pergi ke ruang depan. Ia langsung menuju ke tempat orangorangnya

berbaring. Dengan hati yang panas ia menjatuhkan dirinya diantara mereka,

sementara ibunya yang tidak kalah kesalnya masuk ke ruang dalam.

Sementara itu Lamat masih berdiri termangu-mangu di halaman. Agaknya Manguri

yang kecewa itu tidak menghiraukannya lagi. Anak muda itu ingin melepaskan

kekesalannya dengan memejamkan matanya, kemudian tidur semalam suntuk.

Lamat menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin menghirup udara malam

sepuas-puasnya. Perlahan-lahan ia melangkah melintasi halaman. Sejenak ia duduk

bersandar sebatang pohon dikegelapan. Dan malam menjadi semakin gelap segelap

hatinya.

Tiba-tiba Lamat berdiri. Setelah memandang ruang depan yang sepi, ia berjalan ke

regol halaman. Sejenak ia berdiri mematung, namun kemudian ia melangkah keluar.

“Kalau Pamot sudah ada di padukuhan ini” katanya di dalam hati “ia pasti akan

berusaha mendekati rumah ini. Aku akan berdiri disini. Mudah-mudahan ia dapat

melihat aku, meskipun di regol itu tidak dipasang obor”

Lamatpun kemudian berdiri bersandar tiang regol halaman. Dengan matanya yang

tajam ditembusnya kegelapan malam. Tetapi bagaimanapun juga, ia tidak dapat

melihat terlampau jauh. Bayang-bayang dedaunan membuat malam menjadi semakin

gelap.

Tetapi justru Lamat berdiri bersandar tiang regol, maka iapun telah dibayangi

kegelapan yang hitam pula, sehingga tidak mudah untuk dapat dilihatnya. Karena

itulah maka beberapa orang yang berada di halaman di sebelah rumah itu tidak

melihatnya.

Beberapa orang ternyata telah meloncati pagar batu di sebelah dalam dan perlahanlahan

beringsut mendekati dinding halaman rumah isteri ayah Manguri. Mereka sama

sekali tidak melihat bahwa di regol halaman masih ada seseorang yang tidak tertidur.

Orang itu adalah Lamat.

Ketika orang-orang itu beringsut sepanjang dinding diseberang jalan di halaman rumah

tetangga, maka mereka melintas di hadapan regol yang gelap itu. Kepala mereka yang

sedikit tersembul diatas dinding batu, telah menarik perhatian Lamat yang masih

berdiri tegak sambil menahan nafas.

“Siapakah mereka itu?” bertanya Lamat di dalam hatinya.

Tetapi ia masih tetap membeku. Ia tidak tahu pasti, siapakah yang mendekat itu.

Pamot dan kawan-kawannya, atau orang-orang Ki Reksatani yang dengan diam-diam

akan melakukan tugas yang dibebankan kepadanya.

Tiba-tiba timbullah niat Lamat untuk mengetahui orang-orang itu Karena itu, maka

iapun beringsut perlahan-lahan justru menghilang di balik regol.

Raksasa itupun kemudian dengan terbungkuk-bungkuk merayap di sepanjang dinding

berseberangan jalan dengan orang-orang yang tadi dilihatnya. Sekali-sekali ia

mencoba menjenguk di balik dedaunan. Dan ternyata ia berhasil mengetahui, dimana

orang-orang itu berhenti.

“Mereka sengaja mengawasi rumah ini” berkata Lamat di dalam hatinya.

Ia masih bergeser lagi beberapa puluh langkah. Kemudian dengan hati-hati ia

meloncat di tempat yang gelap, di bawah rumpun bambu yang rimbun menyilang jalan

padukuhan, masuk ke halaman yang berseberangan dengan halaman rumah isteri

muda ayah Manguri itu.

Sejenak Lamat menunggu. Ia bersembunyi di balik dedaunan ketika orang-orang itu

bergeser mendekati Namun kemudian raksasa itu menarik nafas dalam-dalam. Setelah

orang-orang itu menjadi semakin dekat, dan merayap di hadapannya tanpa

mengetahuinya, ia melihat bahwa diantara mereka terdapat Pamot dan Punta.

Namun ternyata tarikan nafasnya itu dapat didengar oleh Pamot dan kawan-kawannya,

seakan-akan terlontar dari senyapnya malam. Dan ternyata suara tarikan nafas itu

telah mengejutkan orang-orang yang sedang merayap itu, sehingga merekapun segera

berpencar dan bersiaga. Tanpa berjanji mereka mengepung gerumbul tempat Lamat

bersembunyi.

“Siapa?” Rajab berdesis perlahan-lahan.

Lamat masih tetap diam. Ia menjadi ragu-ragu. Diantara mereka terdapat orang-orang

yang belum dikenalnya.

“Siapa?” Rajab mengulang.

Dengan hati-hati Lamat bergeser. Kemudian untuk tidak menimbulkan salah paham ia

berdesis pula “Aku Pamot”

“Aku siapa?” desak Pamot.

“Kau tidak mengenal suaraku lagi?”

“Lamat?”

“Ya”

“O” Pamotlah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian

“keluarlah. Kenapa kau bersembunyi di situ”

“Siapakah orang ini Pamot?” bertanya Rajab.

“Nantilah aku ceriterakan.. Tetapi orang ini tidak berbahaya meskipun ia berada di

dalam lingkungan orang-orang yang melarikan Nyai Demang”

Rajab tidak menyahut. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu.

Perlahan-lahan Lamatpun merayap keluar dari gerumbul itu. Tetapi ia tidak mau

berdiri. Bahkan ia berkata “Duduklah Kepalamu agak lebih tinggi dari dinding halaman

ini”

Pamot dan kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian merekapun

menyadari, bahwa kepala mereka dapat dilihat dari luar halaman itu seandainya ada

orang yang lewat di jalan padukuhan. Peronda atau orang-orang yang kembali dari

menunggui air di sawah.

“Duduklah“ Lamat mengulangi.

Pamot dan kawan-kawannyapun kemudian duduk di seputarnya. Namun nampaknya

Rajab masih tetap mencurigainya.

“Bagaimana dengan Nyai Demang?” bertanya Pamot tidak sabar.

“Ia masih selamat. Sampai saat ini ia masih dapat bertahan. Tidak ada seorangpun

yang dapat mendekatinya”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya “Kenapa kau berada

disini”

“Aku melihat beberapa buah kepala yang bergeser di balik dinding batu ini. Karena itu

aku berusaha untuk memastikan, apakah kalian bukan orang-orang yang berbahaya

bagi Nyai Demang”

Pamot dan kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun dalam pada itu,

Rajab segera mengetahui, bahwa Lamat bukanlah orang kebanyakan. Ia dapat

mendekati mereka tanpa mereka sadari.

“Aku memang menunggu kalian” desis Lamat “tanpa kalian, aku tidak akan dapat

berbuat banyak. Apalagi apabila Mangurilah yang pertama-tama menjadi kalap. Kalau

Ki Reksatani berniat untuk membinasakan Sindangsari, aku kira Manguri pasti akan

mencegahnya, sehingga aku masih mempunyai kawan untuk mempertahankan tetapi

apabila Manguri yang kehilangan akal, akupun akan kehilangan akal pula“

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya “Kami sudah berada di sekitar

rumah ini. Bahkan Ki Jagabaya di Prambananpun telah berada di sini pula”

“O, kau sudah menghubungi pimpinan Kademangan ini”

“Ya”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika demikian, maka kali ini semua

persoalan harus selesai. Ki Jagabaya dan Ki Demang di daerah ini pasti tidak akan

dapat membiarkan persoalan ini berlarut-larut dan terjadi di wilayah mereka. Tetapi

Lamatpun mengetahui, bahkan hampir pasti, bahwa tidak ada seorangpun di

padukuhan ini yang mampu mengimbangi Ki Reksatani di dalam olah kanuragan.

“Baiklah” berkata Lamat kemudian “aku akan berusaha untuk selalu melindungi Nyai

Demang dari dalam. Tetapi kalian harus tetap mengawasi keadaan. Jika aku terpaksa

terlibat dalam sikap yang keras, maka kalian harus segera berusaha membantu. Kalau

tidak, dalam waktu yang sekejap saja, kepalaku akan terpenggal oleh Ki Reksatani

bersama orang-orangnya.

“Apalagi apabila Manguri berdiri di pihak mereka” Pamot mengangguk-anggukkan

kepalanya.

”Ya. Aku selalu siap bersama dengan kawan-kawan Rajab, adalah salah seorang anak

muda Kali Mati yang berpengaruh”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sokurlah. Mudah-mudahan kita dapat

menyelamatkan”

“Apa yang harus kita kerjakan sekarang?”

“Kalian harus mengawasi aku”

“Apakah isyaratmu?”

Lamat berpikir sejenak. Kemudian “Aku akan berteriak memanggil kalian. Aku tidak

mempunyai tanda apapun, dan barangkali aku juga tidak akan sempat

mempergunakan tanda tanda lain”

Pamot dan kawan-kawannya menganggukkan kepalanya. Dan Pamotpun kemudian

bertanya “Kapan hal itu terjadi?”

“Aku belum dapat mengatakan” Lamat berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia bertanya

“Berapa orang kalian sekarang?”

“Enam orang”

“Hanya enam orang?”

“Tetapi dengan isyarat, kami dapat memanggil lebih dari lima belas orang saat ini”

“Lima belas“ Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi jumlah itu masih

meragukan. Meskipun jumlah itu sudah seimbang, bahkan sedikit lebih banyak dari

jumlah orang-orang yang berkumpul di halaman ini, namun orang-orang yang ada di

halaman ini adalah orang upahan yang memang menyewakan dirinya untuk berkelahi.

Mereka memang hidup dari kemampuan mereka bertempur. Baik mereka orang-orang

Ki Reksatani, maupun orang-orang Manguri yang biasanya mengawal di daerahdaerah

yang berbahaya. Sedang anak-anak Sembojan dan sekitarnya adalah petani-

petani dan mungkin satu dua diantara mereka adalah pengawal-pengawal

Kademangan dan pengawal-pengawal khusus seperti Pamot dan Punta.

”Bagaimana?” bertanya Pamot.

“Di dalam halaman rumah ini berkumpul lebih dari sepuluh orang” berkata Lamat

“Maksudmu? Apakah kita akan merebut dengan kekerasan?”

“Berbahaya sekali. Kalian hanya akan menemukan mayat Nyai Demang di Kepandak”

Lamat tidak segera menyahut. Ia mencoba membayangkan, bagaimanakah kira-kira

kekuatan penjaga pintu bilik Nyai Demang itu. Kalau ia berhasil membungkamnya,

maka ia akan dapat membuka pintu bilik itu. Pintu butulan.

Tetapi Lamatpun sadar, untuk mendekati pintu bilik itu pasti sangat sulit. Kecuali kalau

penjaganya tidur. Agaknya ayah Manguri cukup berpengalaman, sehingga ia sudah

membersihkan beberapa puluh langkah dari pintu itu, sehingga orang yang

mendekatinya, akan segera dapat diketahui sebelum ia menjadi dekat.

“Baiklah kalian menunggu” berkata Lamat “tetapi bahwa aku tahu kalian disini, aku

menjadi semakin mantap. Percayalah kepadaku. Selagi aku masih hidup, Nyai

Demang akan selalu aku awasi. Namun demikian kalian harus membantu aku”

“Jangan cemas. Beberapa orang diantara kami selalu dekat dengan rumah ini. Salah

seorang dari kami tinggal di rumah sebelah. Dan aku, Punta beserta kedua kawan dari

Gemulung, tinggal di rumah itu pula, meskipun harus selalu bersembunyi”

“Baiklah” desis Lamat “sekarang pergilah. Awasilah dari rumah itu saja. Disini kalian

selalu dibayangi oleh bahaya. Siapa tahu, Ki Reksatanipun berkeliaran di malam begini

di sekitar rumah ini. Kalian baru akan menyadari setelah leher kalian tercekik dari

belakang”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Akupun akan kembali ke rumah itu. Tetapi aku sudah mempunyai pegangan,

sehingga aku tidak menjadi ragu-ragu bertindak”

“Baiklah” desis Pamot. Lalu nada suaranya menurun “Aku mengucapkan terima kasih

yang tidak terhingga Lamat. Kau selalu baik kepadaku”

“Ah, jangan menjadi cengeng. Pergilah”

Anak-anak muda itupun kemudian merayap pergi meninggalkan tempat itu. Namun

Rajab masih juga sempat bertanya “Apakah hubungannya dengan kalian, atau dengan

Nyai Demang?”

Pamot ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab “Tidak ada hubungan apaapa

diantara kami dan juga diantara Lamat, raksasa yang baru bangun dari tidurnya

itu, dengan Nyai Demang di Kepandak. Tetapi ada semacam dorongan dari dalam

dirinya sendiri untuk melindungi perempuan yang malang itu”

“Seperti kalian juga?”

Pamot tidak segera dapat menjawab. Ternyata pertanyaan itu telah melontarkannya

pada suatu pengakuan, bahwa ia tidak berusaha membebaskan Sindangsari dengan

alasan yang sama dengan Lamat. Sekedar karena rasa keadilannya tersinggung,

tanpa pamrih apapun. Lamat benar-benar telah berusaha melindungi Sindangsari

karena percikan rasa keadilan dan kebenaran di dalam hatinya, meskipun sebelumnya

ia merasa terikat oleh ikatan budi yang seakan-akan tidak dapat diputuskannya. Tetapi

bagi dirinya, ada sesuatu yang lain yang mendorongnya berbuat demikian. Ia

mempunyai bekal yang masih tergores di hatinya, dan ia mempunyai kepentingan

langsung dengan perempuan itu, karena benihnya yang tertabur di persemaian itu

telah tumbuh.

Karena Pamot tidak segera menjawab, maka Puntalah yang menolongnya menjawab

“Ya. Kami juga berusaha menyelamatkannya. Bedanya, kami adalah orang-orang yang

berada di luar lingkungan mereka, sedang Lamat adalah orang dalam, yang oleh

lingkungan mereka pasti akan disebut pengkhianat. Tetapi ia yakin bahwa apa yang

dilakukan itu benar, demi kemanusiaan”

Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu kini, bahwa ia telah terseret pula

untuk melakukan perbuatan serupa itu. Dengan kata sehari-hari, menolong sesama

yang sedang dalam kesulitan. Dan ia adalah perwujudan dari rasa kemanusiaan.

Seperti yang selalu didengarnya orang tua-tua mengajari agar setiap orang suka

tolong-menolong di dalam kesulitan. Bukan sekedar kata-kata yang merdu didengar,

tetapi yang lebih penting adalah melakukannya. Dan rajab merasa, kini ia telah

melakukannya.

Demikianlah maka merekapun kemudian saling berdiam diri. Perlahan dan hati-hati

sekali mereka bergeser setapak demi setapak. Kemudian merekapun meloncati pagarpagar

batu beberapa kali, sebelum mereka sampai ke halaman rumah seorang kawan

yang bertetangga dengan rumah yang dipergunakan oleh Sindangsari.

“Kita harus selalu mengawasi rumah itu” berkata salah seorang dari mereka.

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana dengan Ki Jagabaya”

“Ia sedang tidur. Ia berada di bilik tengah”

“Biarlah ia tidur. Kalau keadaan memuncak, barulah ia kita bangunkan. Tetapi kita

sudah berhasil menghubungi orang di dalam lingkungan mereka”

Pamot sendiri tidak menyahut pembicaraan itu. Ia duduk di sudut amben, di dalam

kegelapan, karena sinar pelita yang menyangkut pada tiang. Tetapi tidak seorangpun

yang menghiraukannya selain Punta.

“Kasihan anak itu” berkata Punta di dalam hatinya, seolah-olah ia mengetahui apa

yang bergolak di dalam hati Pamot.

“Apakah yang telah mendorong aku bersusah payah mencarinya?” pertanyaan itu

memang tumbuh di hati Pamot “Sindangsari bukan apa-apa lagi bagiku. Apakah ada

seorangpun yang dapat meyakinkan bahwa anak di dalam kandungannya itu ada

sangkut pautnya dengan aku?”

Berbagai bayangan di dalam angan-angannya telah membuatnya berkeringat. Bahkan

tumbuh pula di dalam dadanya seruan ”Kenapa tidak kau serahkan saja kepada Ki

Demang di Kepandak yang telah merampas perempuan itu dari tanganmu? Apa

pedulimu seandainya perempuan itu mati, atau diperisterikan oleh Manguri dengan

paksa, atau sebab-sebab yang lain?

Namun ketika tanpa sengaja ia melihat anak-anak muda yang ada di dalam ruangan

itu, dan terlebih-lebih lagi terbayang wajah Lamat yang keras seperti batu, dada Pamot

tergetar karenanya.

“Apa pula hubungan mereka dengan Sindangsari? Apa pula kepentingan mereka atas

perempuan itu dan bukankah mereka dapat tidak mempedulikannya sama sekali

seperti kita melihat seekor tikus yang hanyut di kali?”

“Tidak, tidak” Pamot menggeram di dalam hati ”perempuan itu memerlukan

pertolongan. Kenal atau tidak kenal, berkepentingan atau tidak berkepentingan”

Tiba-tiba saja angan-angannya terputus ketika ia mendengar hiruk pikuk di rumah

sebelah. Hampir berbareng anak-anak muda yang ada di dalam ruangan itu

berloncatan ke pintu. Dada mereka berdesir ketika mereka melihat api yang menyala di

rumah sebelah, rumah yang dipergunakan untuk menyimpan Sindangsari.

“Kebakaran” Punta bergumam.

“Ya, kebakaran” sahut Pamot.

Tetapi dengan demikian mereka tidak segera dapat mengambil sikap. Kebakaran tidak

termasuk di dalam perhitungan mereka. Mereka hanya menunggu isyarat Lamat. Kalau

mereka mendengar isyarat, mereka harus bertindak cepat. Kalau tidak, maka tidak

akan terjadi apa-apa di rumah itu. Tetapi kini rumahitu terbakar.

Anak-anak muda itu untuk sesaat hanya, berdiri mematung di halaman sambil

memandang api yang mulai menjilat atap. Beberapa bagian di sisi belakang telah mulai

berkobar. Orang-orang yang ada di rumah itu menjadi sibuk. Mereka yang sedang

tertidur oleh kelelahan, terperanjat bangun. Sejenak mereka saling berpandangan.

Namun sejenak kemudian merekapun segera berloncatan ke luar.

“Kebakaran, kebakaran”

Ayah Manguri yang ada di dalampun segera berlari keluar diikuti oleh isteri mudanya.

Manguri dan orang-orangnya, juga Ki Reksatani dan pengiringnya, telah berkumpul di

halaman. Sejenak mereka menilai keadaan, dan sejenak kemudian merekapun segera

berloncatan.

“Air, air” teriak salah seorang dari mereka.

Halaman rumah itupun kemudian menjadi hiruk pikuk. Api yang menyala di bagian

belakang semakin lama menjadi semakin besar.

Diantara mereka yang berlari-larian kian kemari mencari air dan alat-alat untuk

memadam kan kebakaran itu, Ki Reksatani berdiri termangu-mangu. Ia ingat, bahwa di

bagian belakang rumah itu disimpan Sindangsari, nalurinya telah mendorongnya untuk

menolong perempuan itu. Tetapi tiba-tiba ia berdiri tegak seperti patung. Bahkan

kemudian ia berdesis “Biarlah perempuan itu mati dimakan api. Itu lebih baik daripada

aku harus membunuhnya”

Karena itu, niatnya untuk menolong Sindangsari diurungkannya.

Tetapi selain Ki Reksatani, Manguripun menyadari hal itu. Karena itu, berlari-lari ia

melingkar rumah itu sambil berteriak memanggil “Lamat, Lamat“

Tetapi tidak ada seorangpun yang menyahut ”lamat, Lamat”

Suaranya seakan-akan tenggelam di dalam hiruk pikuk orang-orang yang berusaha

memadamkan api yang berkobar semakin besar. Bahkan kemudian orang-orang di

sekitar rumah itupun berlari-larian memberikan pertolongan. Mereka menebang

batang-batang pisang dan dilontarkannya ke dalam api.

Selagi Manguri sedang kebingungan, dan selagi Ki Reksatani memandangnya dengan

senyum kecil di bibirnya, mereka telah terkejut ketika dinding di sudut belakang rumah

itu terdorong oleh suatu kekuatan yang besar dari dalam. Dinding sudut yang sudah

hampir termakan api pula itu, kemudian roboh, sementara sebuah bayangan telah

meloncat keluar dari dalam.

Semua orang terpukau sejenak memandangnya. Orang itu adalah Lamat yang

mendukung Sindangsari.

Meskipun beberapa bagian pakaian dan kulitnya telah tersentuh api, namun Lamat

tidak menghiraukannya. Dan ia berhasil menyelamatkan Sindangsari.

Tetapi perempuan itu selalu meronta-ronta. Bahkan ia berteriak-teriak “Lepaskan,

lepaskan. Biarlah aku mati di dalam api itu. Lepaskan”

Orang-orang yang mendengar teriakan itupun segera menduga bahwa perempuan gila

itulah agaknya yang telah membakar rumah itu.

Sebenarnyalah bahwa Sindangsari yang menjadi bingung dan gelap hati itu, tidak tahu

lagi apa yang sebaiknya dilakukan. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa Manguri telah

berada di dalam rumah itu pula. Oleh kebingungan yang tidak terpecahkan, maka

hatinya benar-benar menjadi kelam. Ia lupa akan dirinya, lupa akan kandungannya,

dan sejenak ia lupa akan adanya Tuhan Yang Maha Bijaksana. Ia telah mencoba

menyelesaikan kesulitannya itu dengan caranya sendiri.

Ternyata Sindangsari itu telah menyiram dinding biliknya dengan minyak lampu di

dalam biliknya, kemudian membakarnya dari dalam tanpa menghiraukan keadaan

dirinya sendiri. Karena itulah, ia melawan ketika Lamat ingin menolongnya dari lidah

api yang sudah menjalar semakin besar.

Tetapi Lamat tidak menghiraukannya. Sindangsari itupun kemudian dibawa menjauhi

api yang semakin besar berkobar membakar rumah isteri muda ayah Manguri.

Pedagang ternak itu berdiri termangu-mangu di halaman yang merah karena nyala api.

Di sampingnya isteri mudanya menangis sambil berpegangan lengannya “Rumahku,

rumahku”

Ayah Manguri menarik nafas dalam-dalam. Ia hanya dapat memandang api yang

semakin besar, bahkan hampir menelan seluruh bagian rumah itu. Lambat tetapi pasti,

maka rumah itu akan menjadi abu sama sekali, karena pertolongan tetangga yang

hampir seluruh padukuhan telah mengelilingi api dan mencoba memadamkannya,

namun tidak berhasil.

 

Jilid 9

Bab 1 : Raksasa Jinak

MANGURI sama sekali tidak menghiraukan lagi

api yang seakan-akan melonjak-lonjak dalam

tarian maut menyentuh langit yang hitam. Yang

menjadi pusat perhatiannya adalah Sindangsari.

Karena itu dengan tergesa-gesa ia mengikuti

Lamat yang kemudian meletakkan Sindangsari di

sudut halaman belakang, diatas rerumputan yang

kekuning-kuningan. Oleh ketegangan yang luar

biasa, maka Sindangsari yang sedang

mengandung itupun telah menjadi pingsan.

Dalam pada itu, Ki Reksatanipun menjadi bingung.

Ia kecewa sekali melihat Lamat berhasil menolong

perempuan yang telah menyalakan api di dalam

hatinya pula. Ki Reksatani mengharap Sindangsari

mati. Tetapi kini ia dapat di selamatkan. Apalagi

halaman itu penuh dengan orang-orang dari

padukuhan Sembojan. Apabila ia tidak dapat

menyingkirkan Sindangsari, dan apabila karena

sesuatu hal rahasia ini merembes keluar

lingkungannya, maka ia akan mengalami bencana

yang tidak terkirakan.

Dalam kebingungan itu tiba-tiba ia mengambil keputusan. Perempuan itu harus mati.

Manguri, ayahnya dan orang-orangnyapun harus mati ”Tetapi bagaimana dengan

orang-orang Sembojan?” pertanyaan itu melonjak di dalam kepalanya “mereka pasti

akan berceritera tentang perkelahian yang timbul di rumah ini. Mereka Pasti akan

bercerita tentang kematian demi kematian. Mereka akan berceritera tentang orangorang

yang datang dan berselisih disini. Gambaran-gambaran yang mereka berikan

akan menunjukkan bahwa yang berkelahi dan yang saling berbunuhan adalah orangorang

Kepandak.

“Persetan“ ia menggeram “padukuhan ini cukup jauh. Di dalam hiruk pikuk ini aku

harus cepat melakukannya. Mungkin tidak ada orang yang mengetahui, siapakah yang

telah melakukan pembunuhan itu. Dengan diam-diam aku akan mendekati mereka

seorang demi seorang. Dan aku akan membunuhnya tanpa menimbulkan suara

apapun. Aku dapat menusuk setiap punggung. Kemudian meninggalkannya terbaring

di tanah. Orang-orang yang sibuk dengan api itu, pasti tidak akan segera menyadari

apa yang terjadi.

Ki Reksatanipun kemudian menggeram. Dibisikkannya rencana itu kepada seorang

pengikutnya. Dan rencana itupun segera menjalar.

“Kau serahkan Manguri dan ayahnya serta raksasa itu kepadaku. Kalian tidak akan

dapat berbuat banyak atas mereka. Lakukanlah atas pengiring-pengiringnya. Cepat,

selagi orang-orang Sembojan dan pengiring Manguri itu sibuk memadamkan api. Aku

akan mencari perempuan itu”

Ki Reksatani tidak perlu mengulangi perintahnya. Orang-orangnya yang segera

mengetahui hal itu, mulai berusaha melakukan tugasnya. Dengan pisau-pisau belati

pendek, mereka mendekati para pengiring Manguri dari belakang. Kemudian, mereka

membenamkan pisau belati mereka di punggung di dalam kegelapan, selagi orangorang

itu sibuk mengambil air, atau mencari batang-batang pisang, atau selagi mereka

berbuat apapun juga. Mereka mendorong mayat-mayat itu ke dalam rimbunnya

halaman yang kurang terpelihara. Dan membaringkannya di tanah.

Sementara itu, Manguri berdiri termangu-mangu di belakang Lamat yang sedang

berjongkok merenungi wajah Sindangsari yang pucat. Dicobanya untuk menggerakkan

tangannya perlahan-lahan. Kemudian menggerakkan kepalanya pula. Seperti seorang

ibu yang menyentuh bayinya, Lamat memijit pundak Sindangsari dengan hati-hati.

Tetapi perempuan itu masih saja pingsan.

Manguri masih berdiri di belakangnya. Dibiarkannya Lamat berusaha

membangunkannya. Bahkan dengan gelisahnya Manguripun maju selangkah. Tetapi ia

berhenti ketika Lamat merentangkan tangannya tanpa berkata apapun juga.

Semula Manguri tidak menghiraukannya. Tetapi ketika setiap kali ia ingin mendekat,

Lamat selalu berusaha mencegahnya, maka iapun kemudian berkata “Biarlah aku

yang mencoba membangunkannya”

Alangkah terkejut Manguri mendengar jawaban Lamat. Dadanya hampir meledak

karenanya dan jantungnya serasa berhenti mengalir. Lamat yang kemudian berdiri

menghadangnya itu berkata “Jangan kau sentuh perempuan itu”

“Lamat“ Manguri memandanginya dengan tajamnya “apakah kau menjadi gila?”

“Jangan kau sentuh”

“Pergi, pergi kau. Aku akan membangunkannya. Perempuan itu masih pingsan”

“Akulah yang menolongnya dari api. Kalau tidak ia sudah mati menjadi bara di dalam

api itu. Kau tidak berhak lagi atasnya”

Manguri berdiri membeku sejenak. Ia menjadi bingung menghadapi raksasa yang

jinak, tetapi tiba-tiba menjadi buas.

“Apakah kau kerasukan setan Sembojan, he Lamat. Jangan dungu. Perempuan itu

akan mati kalau ia tidak segera mendapat pertolongan”

“Serahkan ia kepadaku. Kau jangan mencampuri persoalanku dengan perempuan itu”

“He Lamat. Apakah kau benar-benar menjadi gila he?”

Lamat tidak menjawab. Ia masih berdiri saja mematung di tempatnya. Namun di dalam

keremangan cahaya api yang kemerah-merahan, mata Lamat tampak menyala seperti

bara.

Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Seperti memelihara seekor harimau, betapapun

jinaknya, pada suatu saat menggeram juga. Karena itu, maka ia harus berhati-hati. Ia

tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja Lamat telah berubah sama sekali.

Sebenarnyalah bahwa Manguri tidak mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati

Lamat. Ia tidak mengerti perkembangan perasaan raksasa itu. Apalagi kini, di saat-saat

terakhir, Lamat sudah tidak dapat membiarkan perlakuan yang memuakkan itu

berlangsung terus sebelum terlanjur terjadi akibat yang tidak akan dapat dihapus

seumur hidupnya.

Semula Lamat masih ragu-ragu untuk bertindak. Tetapi ketika ia membawa

Sindangsari ke sudut halaman, maka ia mendengar suara berbisik di balik dinding batu

“Lamat, aku disini. Kami sudah siap. Agaknya saat ini merupakan salah satu saat yang

baik untuk membebaskannya. Sindangsari sudah berada di tanganmu. Kemungkinan

untuk membunuhnya dapat dibatasi sekecil-kecilnya”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab ”Baiklah Kita akan mulai”

Pembicaraan itu terhenti ketika mereka melihat Manguri berlari-lari mendekati Lamat.

Namun semuanya sudah jelas. Semuanya sudah pasti. Sindangsari harus dibebaskan.

Sementara itu Pamot dan kawan-kawannyapun segera surut beberapa langkah.

Mereka berloncatan kebalik dinding di dalam kegelapan. Agaknya oleh hiruk pikuk di

halaman, tidak seorangpun yang memperhatikan mereka. Seandainya ada orang yang

melihat mereka berloncatan, orang itu pasti mengira bahwa mereka adalah tetanggatetangga

terdekat yang akan menolong kebakaran itu pula.

Dalam pada itu, Ki Reksatanipun dengan diam-diam telah mendekati Manguri yang

sedang berbantah dengan Lamat. Sejenak ia menjadi heran. Kenapa tiba-tiba saja

mereka tidak sependapat. Biasanya Lamat tidak pernah membantah, apapun yang

dikatakan oleh Manguri. Namun kini tiba-tiba Lamat telah mencegah Manguri

mendekati Sindangsari.

Sejenak Ki Reksatani berpikir. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Lamat atas

perempuan itu. Kalau ia sudah jemu mengawasinya dan akan membunuhnya, maka

biarlah raksasa itu melakukannya. Tetapi hal itu tidak akan mungkin terjadi. Raksasa

itu pulalah yang telah membebaskan perempuan itu dari jilatan api.

“Mereka sedang memperebutkan perempuan itu” berkata Ki Reksatani di dalam

hatinya. Namun perkembangan keadaan itu menambahkannya menjadi cemas.

Rahasia ini akan semakin cepat menjalar dan diketahui orang.

Karena itu, iapun segera mengambil keputusan. Bukankah keduanya harus

dimusnahkannya dan kemudian perempuan yang pingsan itu pula?

Ki Reksatani dapat berpura-pura memihak salah satu dari keduanya. Kemudian

setelah yang seorang selesai, maka yang lain akan diselesaikannya pula.

Menurut perhitungan Ki Reksatani, maka untuk membunuh Manguri tidak akan ada

kesulitan apapun. Tetapi untuk membunuh raksasa itu, mungkin ia memerlukan waktu.

Apalagi agaknya orang-orang lain tidak akan mengganggunya. Misalnya ayah Manguri

dan orang-orang yang sudah mengenal anak itu. Termasuk orang-orang Sembojan.

Karena itu, maka ia memutuskan untuk berpihak kepada Manguri. Dengan demikian,

rencananya akan dapat dilakukannya dengan lancar.

Dengan keputusan itulah, maka Ki Reksatani melangkah mendekati keduanya yang

masih berdiri berhadapan.

“Apa yang terjadi?” ia bertanya seolah-olah ia tidak tahu apa yang sedang mereka

percakapkan.

Dada Lamat berdesir. Ia sadar bahwa ia harus berhadapan dengan orang yang tidak

terkalahkan dari Kepandak itu. Tetapi ia sudah menyerahkan dirinya untuk menolong

Nyai Demang. Ia sudah bulat bertekad untuk menyelamatkan jiwa perempuan itu,

bahkan kalau perlu menukar dengan jiwanya yang sudah tidak berharga itu.

“Lamat menjadi gila” desis Manguri.

“Ia mendengar percakapan kita. Ia mengetahui bahwa kita tidak sependapat, aku tahu,

bahwa orang ini sudah lama memperhatikan kita”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Selangkah ia maju sambil berkata “Ya, aku

mendengar sebagian dari percakapan kalian. Tetapi aku tidak tahu, alasan apakah

yang mendorong kalian untuk memperebutkan perempuan itu”

“Aku akan menyelamatkannya. Menyelamatkannya dari tangan laki-laki yang dibakar

oleh nafsunya dan menyelamatkannya dari laki-laki yang digelut oleh ketamakan”

“Lamat” berkata Manguri “siapakah yang mengajarimu demikian?”

“Tidak ada. Tetapi aku adalah seorang manusia seperti kebanyakan manusia yang

lain. Mempunyai perasaan, harga diri dan perikemanusiaan. Apakah aku dapat

membiarkan perempuan yang tidak berdaya ini menjadi korban kalian. Ia akan binasa

lahir dan batinnya. Kalau ia tidak dibunuh secara badaniah, ia akan mati secara

batiniah. Hidupnya bukan hidup lagi, meskipun ia tidak dapat segera dikubur. Karena

itu, menyingkirlah kalian. Aku akan menyelamatkannya dan mengembalikannya

kepada Ki Demang di Kepandak”

Darah Manguri serasa berhenti mengalir mendengar jawaban itu. Namun sebelum ia

menjawab, terdengar suara Ki Reksatani tertawa betapapun terasa pahitnya “Kau gila

Lamat. Benar kata Manguri, bahwa kau sudah gila. Apakah kau sadar, bahwa dengan

demikian, kau akan dapat mengalami akibat yang tidak pernah kau perhitungkan?

Apakah kau sangka, begitu mudahnya mengembalikan Nyai Demang itu kepada

suaminya?”

“Aku tahu, bahwa tidak begitu mudah untuk melakukannya. Tetapi aku akan mencoba”

Ki Reksatani memandang wajah Lamat yang tegang, sorot matanya memancarkan

kebulatan hatinya yang membara. Karena itu, Ki Reksatani tidak dapat

memperpanjang waktu lagi. Ia harus segera berbuat sesuatu.

“Lamat“ Ki Reksatani menggeram “aku terpaksa membunuhmu. Aku kira Manguripun

tidak berkeberatan, karena selama ini kau adalah seekor kerbau dungu yang

dipeliharanya diantara ternak yang diperdagangkan oleh ayahnya. Tetapi ternyata kau

jauh lebih dungu dari yang aku duga semula. Ternyata saat ini kau sudah melakukan

kesalahan yang tidak termaafkan”

Lamat justru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku menyadari, bahwa kau

akan mengambil keputusan itu”

Ki Reksatani maju selangkah lagi. Tetapi ia tertegun sejenak ketika ia mendengar

dengan nafas di sektarnya. Tetapi Ki Reksatani tidak mengerti, siapakah orang-orang

yang sedang mengerumuninya. Mungkin orang-orangnya, mungkin orang-orang lain

yang melihat perselisihan itu, atau mungkin orang-orang Manguri.

Tetapi Ki Reksatani tidak mau mengorbankan dirinya dan apalagi kepentingannya.

Kalau orang-orang yang berada di sekitarnya itu tidak menguntungkannya, pasti akan

mengganggu usahanya membunuh raksasa itu. Karena itu, maka tiba-tiba terdengar ia

bersuit nyaring beberapa kali. Ia berharap bahwa orang-orangnya akan segera datang

mempercepat penyelesaian semuanya.

“Mudah-mudahan mereka sudah selesai” katanya di dalam hati.

Orang-orang Ki Reksatani yang mendengar suitan itupun segera menyahut, sekaligus

memberi isyarat bagi kawan-kawannya yang belum mendengar di tempat yang

bertebaran. Karena itu, maka sejenak kemudian merekapun telah bergeser dari

tempatnya mencari sumber bunyi isyarat itu, sementara beberapa dari mereka telah

berhasil membinasakan orang-orang Manguri yang ada di halaman.

Ternyata suara suitan itu telah menimbulkan berbagai tanggapan pada penduduk

Sembojan. Apalagi ketika salah seorang dari mereka yang berlari-lari terjatuh karena

kakinya terantuk sesosok mayat.

Maka sejenak kemudian hiruk pikuk di halaman itu telah berubah menjadi kegemparan

yang kisruh. Tidak seorangpun yang dapat bertindak dengan mapan. Semuanya hanya

menjadi kebingungan dan kehilangan akal.

Sementara itu, Ki Reksatani sudah mulai bertindak. Dengan garangnya ia mendekati

Lamat yang sudah bersiap pula menghadapi setiap kemungkinan.

Seperti Ki Reksatani, Lamatpun sadar, bahwa beberapa orang telah mengerumuninya.

Ia juga mendengar dengus nafas sebelum Ki Reksatani bersuit. Dan Lamatpun yakin,

bahwa orang-orang yang bersembunyi di sekitarnya itu pastilah Pamot dan kawankawannya,

sehingga dengan demikian Lamat berharap, bahwa Sindangsari benarbenar

akan dapat diselamatkan, meskipun mungkin ia sendiri tidak.

Sejenak kemudian, maka Ki Reksatanipun menyerang dengan cepatnya. Tetapi Lamat

agaknya benar-benar telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Demikianlah, maka perkelahian diantara dua orang yang luar biasa itu segera mulai. Ki

Reksatani yang selama ini hanya dikenal sebagai seorang yang tidak terkalahkan di

Kepandak bersama Ki Demang, maka kini ia benar-benar telah melibatkan diri dalam

suatu perkelahian melawan seorang raksasa yang selama ini dianggapnya terlampau

jinak.

Namun segera tampak, bahwa Lamat bukan seorang raksasa yang terlampau dungu.

Ia bukan sekedar seekor kerbau yang menurut kemana saja ia dituntun oleh

pemiliknya. Kini Lamat seakan-akan telah bangun dari tidurnya, dan mulai menyadari

dirinya sendiri.

Pada langkah-langkah permulaan dari perkelahian ternyata, bahwa Lamat mampu

mengimbangi kecepatan bergerak Ki Reksatani yang selama ini seakan-akan

merupakan tokoh di dalam dongeng-dongeng tentang seorang yang tiada duanya

didunia.

Meskipun demikian, perkelahian itu ternyata telah memukau setiap orang yang

menyaksikannya. Serangan Ki Reksatani datang bagaikan badai yang melanda

dengan dahsyatnya. Tetapi Lamat adalah raksasa yang berdiri tegak bagaikan batu

karang.

Manguri yang menyaksikan perkelahian itu berdiri termangu-mangu. Kini ia melihat

kebenaran dari ceritera yang merambat dari mulut kemulut tentang Ki Reksatani.

Tangannya dapat bergerak secepat tatit diudara. Sedang kakinya mampu meloncat

melampaui loncatan belalang.

Yang tidak diduganya adalah justru Lamat. Manguri mengetahui bahwa orang itu

memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa. Tetapi ia tidak menyangka sama sekali,

bahwa Lamat mampu melawan Ki Reksatani tidak sekedar mempergunakan kekuatan

yang diterimanya dari alam. Tetapi ia mampu melawan dengan ilmu olah kanuragan

yang mengagumkan. Lamatpun mampu berkelahi dengan dahsyatnya seperti juga

yang dilakukan oleh Ki Reksatani, di samping kekuatannya yang melampaui kekuatan

seorang manusia biasa.

Demikianlah perkelahian itupun segera berlangsung dengan dahsyatnya. Perkelahian

antara dua orang raksasa di dalam olah kanuragan. Perkelahian yang jarang terjadi,

apalagi di padukuhan kecil seperti padukuhan Sembojan.

Itulah sebabnya, maka perkelahian itu benar-benar telah menggemparkan orang

Sembojan. Mereka melihat dua orang yang berkelahi dengan dahsyatnya. Mereka

melihat di sudut halaman itu perempuan yang mereka sangka perempuan gila itu

masih terbaring diam. Namun, tidak seorangpun dari mereka yang berani mendekati

perkelahian itu. Tidak seorangpun yang berani berbuat sesuatu di dalam perkelahian

itu.

Dengan demikian, maka orang-orang yang semula sibuk dengan api yang hampir

menelan seluruh bangunan itu perhatian menjadi terbagi. Sebagian memperhatikan api

yang masih melonjak sampai ke langit, dan sebagian perhatian mereka terampas oleh

perkelahian yang semakin lama menjadi semakin dahsyat itu.

Perlawanan Lamat benar-benar tidak diduga pula oleh Ki Reksatani. Ia memang sudah

memperhitungkan bahwa membunuh Lamat bukanlah pekerjaan-pekerjaan yang

mudah. Tetapi bahwa Lamat mampu melawan dengan caranya, benar-benar telah

menggetarkan dadanya. Namun demikian, kemarahannyapun menjadi semakin

berkobar di dadanya.

“Dari mana setan gundul ini mendapatkan ilmunya “Ki Reksatani menggeram di dalam

hatinya.

Namun nama Ki Reksatani benar-benar bukan sekedar sebutan yang kosong.

Semakin lama menjadi semakin nyata, betapa ia menguasai ilmunya dengan matang.

Kedua tangannya yang bergerak berputaran, benar-benar membingungkan. Sekalisekali

ia meloncat bagaikan terbang dengan tangannya yang mengambang. Kemudian

menukik sambil mengayunkan serangan mautnya. Tandangnya bagaikan seekor

burung garuda raksasa yang dengan garangnya menyerang mangsanya.

Namun Lamat sama sekali tidak menjadi gentar karenanya. Bagaikan seekor naga

yang perkasa ia melawan kuku-kuku garuda yang ganas yang menyambarnya dari

segenap arah. Namun dengan taringnya yang tajam, naga raksasa itu berhasil

menghalau lawannya yang mengerikan itu.

Tetapi Ki Reksatani mampu menyerang lawannya dengan kedua tangannya yang

menjulur ke depan, bagaikan seekor harimau yang menerkam lawannya. Dengan

kuku-kukunya yang tajamnya dan giginya yang runcing ia siap untuk merobek tubuh

mangsanya. Namun Lamat mampu pula bertempur bagaikan banteng ketaton. Tanpa

menghiraukan keadaan tubuhnya sendiri Lamat mengamuk dengan dahsyatnya.

Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Kaki-kaki mereka

yang berloncatan telah menghamburkan debu yang putih keudara. Pepohonan perdu

menjadi berserakan. Ranting-ranting berpatahan dan batu-batu berterbangan tersentuh

oleh kaki-kaki mereka.

Manguri benar-benar membeku di tempatnya. Ia adalah seorang anak muda yang

mempunyai pengetahuan tentang olah kanuragan. Tetapi ia tidak dapat

membayangkan, bahwa perkelahian yang terjadi adalah perkelahian yang sedemikian

dahsyatnya.

Dalam pada itu, ketika keduanya sedang dicengkam oleh nafas maut yang berhembus

di jalan pernafasan mereka, Manguri melihat Sindangsari mulai bergerak-gerak. Tibatiba

timbullah niatnya untuk mendekatinya. Apapun yang akan terjadi dengan

perkelahian itu, namun Sindangsari harus diselamatkan.

Demikianlah, dengan diam-diam ia bergeser dari tempatnya. Sekali-sekali ia

memandangi perkelahian yang hampir tidak dapat diikutinya itu. Kemudian

dipandanginya sekelilingnya. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu dari

kejauhan, diterangi oleh sinar api yang kemerah-merahan.

Tetapi ketika Manguri berjongkok di samping Sindangsari ia merasa bahunya digamit

seseorang. Ketika ia berpaling maka darahnya bagaikan berhenti mengalir. Dilihatnya

seperti bayangan hantu yang tersembul dari dalam api yang menyala itu. Wajah yang

keras tegang berwarna tembaga.

Dengan gerak naluriah Manguri meloncat berdiri. Kemudian berdiri tegak diatas

kakinya yang renggang. Wajahnyapun kemudian menegang. Dengan tajamnya ia

memandang seorang anak muda yang berdiri di hadapannya. Pamot.

“Kita bertemu disini Manguri” geram Pamot.

“Gila” Manguripun menggeram “kenapa kau sampai juga ke tempat ini?”

Pamot memandang Manguri dengan tajamnya. Sejenak ia mencoba untuk

mengendapkan perasaannya, agar ia tidak terseret oleh arus darahnya yang bergolak

seperti banjir.

Dalam pada itu, Ki Reksatanipun terkejut pula ketika ia melihat Pamot telah berada di

halaman itu pula. Sejenak ia meloncat mundur untuk mendapat kesempatan

meyakinkan penglihatannya. Dan ia tidak salah lagi. Orang itu adalah Pamot.

Dengan demikian, maka Ki Reksatanipun harus mengambil keputusan segera.

Ternyata ia benar-benar menghadapi persoalan yang tidak diduganya sama sekali.

Bukan saja Pamot tetapi beberapa anak-anak muda dari Gemulung telah ada di sekitar

arena itu. Punta juga sudah berdiri tegak dengan wajah yang tegang.

Ki Reksatani tidak mendapat kesempatan lagi. Ia harus segera megambil sikap karena

Lamat telah menyerangnya pula dengan garangnya.

“Selamatkan perempuan itu” tiba-tiba Ki Reksatani berteriak.

Beberapa orang yang berdiri di sekitar arena itu menjadi termangu-mangu. Ia tidak

begitu jelas mendengar perintah yang diteriakkan oleh Ki Reksatani. Bahkan mereka

menangkap maksud kata-kata itu berlainan satu dengan yang lain. Bukankah Ki

Reksatani merencanakan untuk membunuh Manguri dan orang-orangnya, kemudian

sudah tentu juga Sindangsari? Apakah perintah itu berarti, bahwa mereka harus

melakukannya sekarang, membunuh Sindangsari?.

Dalam keragu-raguan itu sekali lagi terdengar Ki Reksatani berteriak “Jangan biarkan

perempuan itu jatuh ke tangan anak-anak Gemulung”

Kini barulah mereka menjadi jelas Merekapun segera meloncat menyerang Pamot

yang berdiri berhadapan dengan Manguri.

Tetapi Pamot tidak seorang diri. Bukan sekedar bersama Lamat. Tetapi Pamot berada

di halaman itu bersama beberapa orang kawannya. Dari Gemulung, dari Kali Mati dan

dari Sembojan sendiri. Bahkan Ki Jagabaya di Prambananpun telah ada di tempat itu

pula.

Dengan demikian, ketika serangan itu datang, bukan Pamot yang harus melawan

mereka, tetapi anak-anak muda itupun segera berloncatan menyongsong mereka.

“Gila” desis Ki Reksatani yang sambil bertempur sempat juga menyaksikan

perkelahian yang segera membakar hampir seluruh halaman belakang “dari mana

mereka mendapat kawan sebanyak itu?”

Sejenak timbullah penyesalannya bahwa beberapa orang Manguri pasti sudah terlanjur

terbunuh oleh orang-orangnya di dalam kekisruhan itu, sehingga apabila diperlukan,

sulitlah baginya untuk mendapatkan bantuan dari pihak manapun juga.

“Bagaimana mereka dapat sampai ke tempat ini” berkata Ki Reksatani di dalam

hatinya. Namun tiba-tiba saja darahnya bagaikan menggelegak ketika terpandang

olehnya wajah Lamat yang kasar sekasar padas.

“Pasti kaulah pengkhianat itu” geram Ki Reksatani.

Terasa dada Lamat berdesir tajam. Sungguh pahit untuk mendengar tuduhan itu.

Pangkhianat.

Apalagi ketika sejenak kemudian ia melihat ayah Manguri datang dengan tergesa-gesa

ke arena itu. diikuti oleh isterinya yang berlari-lari kecil. Sejenak ayah Manguri itu

membeku ketika ia melihat Lamat sedang bertempur dengan dahsyatnya melawan Ki

Reksatani. Hampir tidak dapat di bayangkan, bahwa perkelahian yang demikian dapat

terjadi.

Sejenak kemudian ayah Manguri itupun melangkah mendekati Manguri yang berdiri

tegak dengan tegangnya berhadapan dengan Pamot. Perlahan-lahan ayah Manguri itu

berkata “Kita sudah dikhianati”

“Lamatlah yang telah berkhianat” desis Manguri.

Wajah ayah Manguri menjadi merah padam. Kini ia berdiri menghadap perkelahian

antara Lamat dan Ki Reksatani. Perkelahian yang sama sekali tidak dapat diduga,

siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Mereka adalah orangorang

yang tangkas ian kuat. Bahkan Ki Reksatani dan Lamat yang ingin segera

memenangkan perkelahian sebelum nafas mereka menjadi semakin terengah-engah

itu telah mencabut senjata masing masing. Ki Reksatani menggenggam senjata di

kedua tangannya. Sebilah pedang di tangan kanan dan keris pusakanya di tangan kiri.

Sedang Lamatpun telah menggenggam senjatanya yang mengerikan, sebuah golok

yang besar dan tebal.

“Lamat” desis ayah Manguri “kenapa kau khianati kami?”

Lamat tidak menyahut. Tetapi kata-kata itu sangat berpengaruh di hatinya. Meskipun

demikian ia masih berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh kata-kata itu.

“Kau jugakah yang telah membunuh beberapa orang kami di halaman ini?” bertanya

ayah Manguri “aku sudah menemukan tiga mayat dari mereka. Semuanya telah

ditusuk di punggungnya. Suatu pembunuhan yang licik dan pengecut”

Kata-kata itu benar-benar bagaikan duri yang menusuk dinding jantung raksasa yang

sedang berkelahi itu. Tetapi Lamat berusaha agar ia sama sekali tidak terpengaruh

oleh kata-kata.

“Lamat“ ayah Manguri seakan-akan telah berbisik di telinganya “Kenapa kau sampai

hati berbuat demikian?”

Lamat mengatupkan giginya rapat-rapat.

“Jawablah Lamat. Jawablah? Apakah salah kami sekeluarga kepadamu? Apakah aku

sudah menyakiti hatimu? Atau barangkali anakku atau isteriku atau siapapun juga?”

Lamat tidak menjawab. Ia tetap mengatubkan mulutnya rapat-rapat. Namun demikian

terasa sesuatu menggelitik hatinya justru pada saat ia bertempur melawan seorang

yang pilih tanding, Ki Reksatani.

Untuk menghalau kegelisahan yang mulai menyentuh perasaannya tiba-tiba Lamat

berteriak nyaring ”Pamot, cepat bawa nyai Demang kepada suaminya, sebelum kita

terlambat”

“Gila” Ki Reksatanipun berteriak pula “kalau kau sentuh perempuan itu, aku akan

membunuh kalian secepatnya”

Namun Pamot mengerti, bahwa untuk melawan Lamat Ki Reksatani harus memeras

segenap kemampuannya.

Tetapi di dekat Sindangsari itu berdiri Manguri. Karena itu Lamat sadar, bahwa ia

harus Mengambil Sindangsari dengan kekerasan. Apalagi ketika ia sadar, bahwa ia

telah berada di tengah-tengah arena perkelahian yang seru. Anak-anak muda

Gemulung yang datang bersamanya telah terlibat di dalam perkelahian. Bahkan Rajab

dan kawan-kawannyapun telah membantu mereka, melawan orang-orang Ki Reksatani

dan orang-orang Manguri yang tersisa.

“Jangan sentuh perempuan itu“ Manguri yang juga mendengar suara Lamat itupun

menggeram.

Tetapi Pamot maju selangkah, Manguri baginya adalah musuh bebuyutan. Manguri

pernah berusaha untuk membinasakannya. Sehingga dengan demikian, maka

kemarahannya itu serasa kini telah terungkat.

“Manguri” geram Pamot “jangan halangi aku supaya kau tidak terlibat terlampau parah

di dalam masalah ini” berkata Pamot.

“Persetan” sahut Manguri “aku masih tetap akan membunuhmu. Ternyata kegagalan

yang pernah terjadi adalah karena pengkhianatan Lamat. Aku tidak menyangka,

bahwa ia seorang yang licik dan pengecut.

“Jangan salahkan Lamat. Ia melihat bahwa kau berdiri di jalan yang sesat. Tetapi ia

tidak mendapat kesempatan untuk membawamu kembali ke jalan yang benar. Ia selalu

kau anggap sebagai seekor kerbau yang dungu. Seekor kerbau yang telah dicocok

hidungnya. Apapun yang kau lakukan, ia tidak boleh membantah. Dan bahkan

bertanyapun tidak ada kesempatan”

“Bohong” teriak Manguri.

“Sudahlah” berkata Pamot “jangan ganggu aku. Aku akan mengembalikan perempuan

ini kepada suaminya”

Manguri menggeretakkan giginya. Ketika ia berpaling sejenak, dilihatnya Sindangsari

meggeliat.

Namun ia tidak sempat berbuat apa-apa, karena Pamot telah melangkah maju* sambil

berkata “Menyingkirlah, dan jangan ganggu perempuan itu lagi”

Dada Manguri serasa meledak karenanya. Ia tidak menjawab lagi. Namun dengan tibatiba

saja ia telah menyerang Pamot dengan garangnya.

Serangan itu telah mengejutkan Pamot. Tetapi ia segera menguasai perasaannya,

sehingga ia masih sempat menghindari serangan Manguri yang datang dengan tibatiba

itu.

Dengan demikian, maka keduanyapun kemudian telah terlibat dalam perkelahian pula.

Manguri mencoba berjuang sekuat-kuatnya untuk dapat mengimbangi Pamot. Selama

ini ia tidak pernah menjadi cemas, karena ia selalu dilindungi oleh Lamat. Tetapi kini

Lamat telah memilih jalannya sendiri. Sehingga dengan demikian ia harus berjuang

sendiri untuk menyingkirkan Pamot.

Tetapi Manguri masih berpengharapan, karena ayahnya masih berdiri bebas. Ia

mengharap bahwa ayahnya akan membantunya dan bersama-sama membinasakan

Pamot.

Dengan demikian maka, Manguripun telah mencoba menggeser diri sambil bertempur

mendekati ayahnya yang berdiri termangu-mangu memandang perkelahian itu.

Tetapi ternyata bahwa ayah Manguri tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun ia melihat

anaknya bertempur melawan Pamot, namun ia masih tetap berdiri saja di tempatnya.

Di sampingnya berdiri seorang yang berdahi lebar dan bermata tajam, Orang itu

adalah Jagabaya di Prambanan.

“Biarkan saja mereka berkelahi” berkata Ki Jagabaya “kau tidak perlu mencampurinya.

Bukankah kau suami perempuan yang rumahnya terbakar itu?”

Ayah Manguri tidak menyahut.

“Perempuan itu hampir diusir dari padukuhan ini” berkata Ki Jagabaya selanjutnya

“tetapi aku masih mencegahnya. Aku masih ingin menunggu, barangkali suaminya

dapat berbuat sesuatu untuk memperbaiki tingkah lakunya“

Ayah Manguri mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia tertarik kepada ceritera Ki

Jagabaya.

“Tetapi kau juga ikut bersalah, karena kau terlampau lama meninggalkan setiap kali.

Kau jarang-jarang datang ke rumah ini. Justru karena ia pernah bersuami, dan

suaminya tidak pernah datang kepadanya itulah yang telah membuatnya berbuat tidak

senonoh di padesan ini. Tetapi ketika ia dipanggil oleh tetua padukuhan, ia sudah

berjanji untuk memperbaiki kelakuannya”

Dada ayah Manguri menjadi semakin berdebar-debar. Namun tiba-tiba ia seakan-akan

terbangun dari tidurnya. Anaknya sedang bertempur mati-matian melawan Pamot.

Tidak selayaknya ia memikirkan kepentingannya sendiri. Kalau perempuan ini memang

pernah berbuat gila, biarlah rumahnya terbakar, dan ia tidak akan datang lagi ke

padukuhan ini.

“Sebaiknya kau tidak usah ikut campur” desis Ki Jagabaya.

“Tetapi itu anakku” jawabnya.

Anakmu bersalah. Ia mengelabui orang-orang di sekitar rumah ini. Kau katakan

perempuan yang dilarikan oleh anakmu itu perempuan gila. Aku tahu sekarang, bahwa

perempuan itu adalah isteri Ki Demang di Kepandak. Adalah tugas kami untuk saling

menolong. Suatu saat, kami memerlukan pertolongan Ki Demang di Kepandak kalau

terjadi sesuatu atas Kademangan ini, dan pelakunya berada di Kepandak”

Ayah Manguri hanya dapat mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia tidak tahu, apakah Ki

Jagabaya mempunyai kemampuan cukup untuk melawannya. Tetapi Ki Jagabaya

mempunyai pengaruh yang besar di padukuhan ini, sehingga apabila ia memberi

isyarat sedikit saja, maka orang-orang yang semula ketakutan, pasti akan berpikir

sekali lagi. Apalagi apabila mereka sudah melihat Ki Jagabaya itu ikut bertempur.

Perkelahian di halaman belakang rumah isteri muda ayah Manguri itu menjadi semakin

seru. Ki Reksatani dan Lamatpun seolah-olah telah sampai pada puncak kemampuan

masing-masing. Sedang di bagian lain anak-anak muda Kali Mati dan Sembojan

berkelahi dengan sengitnya pula.

Ternyata bahwa orang-orang Ki Reksatani dan sisa-sisa orang-orang Manguri

mempunyai pengalaman berkelahi lebih banyak dari anak-anak muda itu. Hanya

beberapa orang yang benar-benar telah mengalami tempaan lahir batin di dalam

perjalanan ke Betawi sajalah yang sama sekali tidak gentar menghadapi lawan-lawan

mereka, betapapun buas dan kasarnya tandang mereka.

Sedang Pamot yang telah pernah menyimpan dendam kepada Manguri, seolah-olah

kini teraduk kembali. Dengan penuh kemarahan ia mengerahkan segenap

kemampuannya untuk segera mengalahkan Manguri, agar anak itu tidak

mengganggunya lagi, apabila ia akan membawa Sindangsari kembali ke Kepandak.

Tetapi Manguripun berusaha melawan sebaik-baiknya. Ia telah memeras seluruh

tenaganya. Ia sama sekali tidak rela, apabila Pamot masih juga menyentuh

Sindangsari yang selama ini seakan-akan telah menjadi wewenangnya.

Namun, bagaimanapun juga Manguri berjuang, ternyata Pamot memiliki ilmu yang

lebih tinggi. Dengan demikian, maka Manguripun segera dapat didesaknya.

Dalam pada itu, Ki Reksatani yang bertempur melawan Lamatpun telah sampai pada

ujung kemampuan mereka Ki Reksatani yang tidak terkalahkan itu ternyata mengalami

kesulitan melawan raksasa yang tiba-tiba menjadi demikian garangnya. Apalagi Lamat

memiliki kekuatan jasmaniah yang luar biasa.

Tetapi meskipun ayah Manguri tidak dapat ikut bertempur, namun ia tidak tinggal diam.

Ia sadar, bahwa kata-katanya dapat menyentuh hati Lamat. Dengan demikian ia akan

dapat memperlemah perlawanannya, meskipun ayah Manguri itu masih belum tahu,

apa yang akan terjadi kemudian.

“Lamat” berkata ayah Manguri kemudian “apakah kau sudah benar-benar melupakan

keluargaku? Mungkin kau tidak bersangkut paut dengan Ki Reksatani, tetapi kau tidak

dapat berbuat demikian kepadaku”

Lamat menggeretakkan giginya. Ia memusatkan segenap perhatiannya kepada

sepasang senjata Ki Reksatani yang sangat berbahaya baginya. Kalau keris pusaka itu

berhasil menyentuh kulitnya, maka itu akan berarti maut baginya.

“Lamat“ Ayah Manguri masih berkata terus “ingatlah. Di saat kau diterkam oleh maut di

masa kecilmu, akulah yang menolongmu. Saat itu rumahmu terbakar, ayahmu dan

ibumu tidak dapat menghindarkan dirinya karena perampok-perampok yang datang ke

rumahmu itu. Akulah yang sempat menyelamatkan kau, meskipun menyesal sekali,

aku tidak dapat menolong ayah dan ibumu. Aku telah menyabung nyawaku melawan

perampok-perampok itu. Akhirnya kau selamat. Aku telah memeliharamu sampai kau

menjadi dewasa, dan kini kau telah tumbuh menjadi seorang raksasa yang perkasa”

“Cukup, cukup” tiba-tiba Lamat berteriak. Suaranya menggelegar memenuhi halaman.

Namun dengan demikian ayah Manguri yakin, bahwa usahanya akan berhasil. Karena

itu ia berniat untuk terus mempengaruhi perasaan raksasa itu.

Tetapi sebelum ia berkata sesuatu lagi, Ki Jagabaya berdesis “Kau memang orang

yang cerdas. Kau dapat bertempur tanpa bergeser dari tempatmu. Bukankah dengan

demikian kau telah ikut menentukan kekalahan raksasa itu?”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Aku menyayanginya. Aku mencoba untuk

menyadarkannya dari kekhilafan itu“

Dada Lamat benar-benar telah bergelora. Karena itu, sekali lagi ia berteriak ”Pamot,

bawa Sindangsari pergi. Bawa ia secepatnya kepada suaminya, Ki Demang di

Kepandak, sebelum aku kehilangan kemampuanku melawan hantu ini”

“Diam kau, diam” bentak Ki Reksatani. Tetapi Ki Reksatanipun tidak dapat berbuat

banyak selain membentak-bentak, karena Lamat masih mampu menjaga

keseimbangan perkelahian itu, betapapun perasaannya mulai dirayapi oleh kepahitan

hidup di masa kanak-kanaknya.

Pamot mendengar suara Lamat itu. Tetapi ia masih bertempur melawan Manguri

meskipun ia yakin bahwa ia akan dapat mengalahkannya. Namun ia memerlukan

waktu. Ia memerlukan waktu untuk menumpahkan kemarahan yang selama ini telah

terangkat kembali di dadanya.

“Aku bunuh anak ini“ ia menggeram. Segores luka telah menyilang di pundak Manguri

yang menyeringai kesakitan.

Tetapi ia tidak dapat mengabaikan suara Lamat, sehingga dengan demikian, ia justru

menjadi termangu-mangu sejenak, sehingga kadang-kadang ia kehilangan

pengamatan diri di dalam perkelahian itu. Bahkan sekali-sekali ia harus meloncat surut

ketika ujung pedang Manguri hampir menyobek dadanya.

Selagi Pamot menggeram sambil memusatkan segenap perhatiannya kepada ujung

senjata lawannya, tiba-tiba seseorang meloncat di hadapannya dengan pedang

telanjang. Orang itu langsung bertempur melawan Manguri sambil berkata ”Pamot, kau

dengar suara Lamat?”

Orang itu adalah Punta. agaknya ia dapat membebaskan diri dari lawannya, dan

berusaha untuk menggantikan Pamot.

“Biarlah aku membunuhnya” Pamot menggeram “aku sudah melukainya. Sebentar lagi

ia akan kehilangan segenap darahnya, dan ia akan mati terkapar di tanah”

Manguri berdesir mendengar suara Pamot. Suara itu seakan-akan bukan suara Pamot

sehari-hari. Seakan-akan suara yang geram itu bergetar dari dasar api yang paling

panas, dan siap menyeretnya ke dalamnya.

Manguri menjadi ngeri karenanya. Selama ini ia tidak pernah gentar berhadapan

dengan siapapun. Tetapi kini ia sadar, bahwa hal itu bukan karena kepercayaannya

kepada diri sendiri. Tetapi selama itu ia mempercayakan dirinya kepada Lamat.

Raksasa yang jinak itu, tetapi yang pada suatu saat telah terbangun dan menjadi

seakan-akan liar bagi Manguri.

Dan kini, dalam keadaan yang dirasakannya terlampau lemah itu ia berdiri berhadapan

dengan Pamot yang sedang diamuk oleh kemarahan.

Namun dengan demikian, Manguri yang merasa dirinya tidak dapat mengelak lagi

itupun menjadi seperti orang kesurupan. Dibayangi oleh keputus-asaan ia berkelahi

seperti serigala kelaparan.

Kini Punta datang untuk menggantikan Pamot. Bagi Manguri Punta dan Pamot hampir

tidak ada bedanya. Keduanya adalah hantu-hantu bertangan maut yang dapat saja

setiap saat mencabut nyawanya.

Namun yang lebih menyakitkan hatinya kemudian adalah kata-kata Punta ”Pamot,

jangan hiraukan kelinci ini. Tanpa Lamat ia tidak berarti apa-apa. Sekarang,

selamatkan Sindangsari. Seorang kawan Rajab telah menyiapkan seekor kuda

buatmu, dan seekor lagi buat seseorang yang akan mengawanimu. Cepat, bawa

Sindangsari kepada suaminya sebelum mengalami sesuatu disini”

Pamot ragu-ragu sejenak. Justru karena itu, hampir saja sekali lagi senjata Manguri

mengenainya. Untunglah Punta sudah siap mengambil alih perkelahian itu, sehingga

senjata Manguri itu telah membentur senjata Punta.

Pamotpun kemudian terdesak ke samping ketika Punta mulai menggerakkan

senjatanya. Sekali lagi Punta berkata “Jangan termangu-mangu seperti orang linglung.

Cepat berbuatlah sesuatu”

Pamot mundur selangkah. Dan kini ia mendengar suara Lamat “Cepat Pamot.

Lakukanlah. Aku akan menahan iparnya yang telah berkhianat”

“Diam kau” bentak Ki Reksatani “kau juga telah berkhianat”

“Ya. Kita sama-sama pengkhianat. Karena itu, apapun yang akan terjadiatas kita

berdua, tidak sepantasnya mendapat perhatian. Kita akan sama-sama mati dan

dicampakkan ke dalam tempat sampah dan akan dikubur di bawah timbunan kotoran

yang paling hina”

“Diam, diam” bentak Ki Reksatani “aku bukan pengkhianat, tetapi aku didorong oleh

cita-cita”

“Darimana kita memandang, aku dapat menyebut diriku sedang memperjuangkan

sendi-sendi kemanusiaan yang akan kau tumbangkan bersama orang-orangmu di

Kepandak”

“Omong kosong” teriak Ki Reksatani sambil menyerang semakin garang.

Pamot masih saja termangu-mangu. Namun sejenak kemudian seorang anak muda

menggamitnya sambil berbisik ”Pamot, kuda itu sudah siap”

Pamot menjadi berdebar-debar. Dilihatnya Sindangsari yang masih terbaring,

meskipun sekali-sekali ia sudah menggeliat.

“Cepat”

Pamot masih berdiri termangu-mangu. Bahkan sejenak disapunya halaman belakang

itu dengan tatapan matanya. Ia melihat perkelahian yang tersebut di halaman itu.

Agaknya anak-anak muda Kali Mati dan Sembojan telah membantu mereka dengan

segenap hati, ditunggui oleh Ki Jagabaya sendiri. Sedang beberapa puluh orang

Sembojan yang dengan cemas-cemas menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan,

seakan-akan semuanya memandang ke arahnya.

“Percayalah. Semuanya akan dapat dibatasi disini” desis anak muda itu ”Kalau perlu,

Ki Jagabaya tidak akan segan-segan berbuat sesuatu. Orang-orang yang ketakutan itu

akan segera terbangun apabila mereka mendengar perintah Ki Jagabaya di saat-saat

yang berbahaya”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika ia melangkah maju

mendekati, langkahnyapun tertegun. Tiba-tiba saja ia merasa, ada dinding penyekat

yang kuat membatasinya dengan perempuan itu. Sendangsari kini sudah menjadi isteri

orang lain.

“Cepat Pamot. Kenapa kau menjadi bingung” teriak Punta yang tidak sabar lagi melihat

sikap Pamot yang termangu-mangu “Apakah kau menunggu Sindang sari mati di

pertempuran ini?”

Tiba-tiba Pamot tersadar. Ia harus menolong perempuan itu. Siapapun juga. Namun ia

adalah isteri Ki Demang di Kepandak. Seperti juga yang lain, mereka menyerahkan

dirinya di dalam suatu sikap itu. Menolong sesama.

Pamotpun kemudian menggeretakkan giginya. Ia mencoba mengusir segenap

perasaan yang ada padanya. Ia mencoba melepaskan dirinya dari kenangan dan

ikatan yang pernah ada.

Meskipun ia masih juga ragu-agu, tetapi iapun kemudian mendekati Sindangsari dan

berjongkok di sampingnya.

Dadanya berdesir ketika ia melihat Sindangsari mulai menggerakkan kepalanya.

Namun ia tidak sempat berpikir lagi, ketika sekali lagi anak muda itu menggamitnya

“Kudamu sudah siap, dan seorang kawanmu dari Gemulungpun sudah siap pula

mengantar kau kembali membawa Nyai Demang di Kepandak”

Pamot tidak lagi mau berpikir. Dengan hampir memejamkan matanya, Pamot mulai

berbuat sesuatu. Ia bergeser maju, dan sambil menggeretakkan giginya, untuk

mendorong kekuatan hatinya, Sindangsaripun kemudian diangkatnya diatas kedua

tangannya. Perempuan yang masih sangat lemah itupun sama sekali belum menyadari

sepenuhnya apa yang telah terjadi atasnya.

Ketika ujung jari-jari Pamot menyentuh tubuh Sindangsari, terasa, seakan-akan

darahnya berhenti mengalir. Hanya dengan menghentakkan diri ia mendapatkan

kekuatan untuk mendukung Sindangsari itu keluar dari halaman belakang rumah isteri

muda ayah Manguri itu.

Ki Reksatani masih sempat melihat Pamot membawa Sindangsari yang lemah itu

diatas kedua tangannya. Terasa jantung seolah-olah telah tersayat. Betapa kemarahan

yang tidak tertahankan meledak-ledak di dalam dadanya.

“He, anak gila” Ki Reksatani berteriak ”lepaskan perempuan itu. Kau akan menyesal

kalau kau tidak mau mendengar kata-kataku”

Tetapi Pamot sama sekali tidak berpaling. Apalagi ketika ia mendengar kata-kata

Lamat ”Jangan hiraukan Pamot. Cepat, tinggalkan nereka ini”

Pamot melangkah semakin cepat. Dan ia masih mendengar Ki Reksatani berteriak

kepada anak buahnya ”Tahan anak itu. Jangan biarkan perempuan itu dibawa pergi”

Tetapi tidak seorangpun dari anak buahnya yang dapat mencegah Pamot

meninggalkan halaman itu. Dengan hati-hati ia meloncati pagar dibantu oleh anak

muda yang menyediakan kuda untuknya.

“Pergilah” berkata anak muda itu ”itu kudamu”

Pamot melihat dua ekor kuda yang besar di halaman rumah tempat ia bersembunyi

bersama kawan-kawannya. Kuda itu seperti kudanya yang ditinggalkannya di Kali Mati.

Kuda yang didapat dari Mataram.

“Kami akan memelihara kudamu baik-baik. Pakailah kudaku”

Pamot memandang anak muda itu. Ia belum begitu mengenalnya. Mungkin ia pernah

melihatnya di dalam perjalanan ke Betawi. Tetapi ia tidak ingat lagi.

Jilid 9 – Bab 2 : Kembali ke Kepandak

“Jangan hiraukan orang-orang yang kini sedang

bertempur itu. Aku kira anak-anak muda

Sembojan dan Kali Mati akan dapat

menguasainya Apalagi ada Punta dan seorang

anak Gemulung” anak muda itu berhenti sejenak,

lalu ”terlebih-lebih lagi seorang yang bertubuh

raksasa itu. Tanpa orang itu, aku kira memang

sulit untuk menguasai orang yang bernama

Reksatani itu“

Pamot menganggukkan kepalanya. Bersama

seorang kawannya yang datang dari Gemulung.

Iapun kemudian naik ke punggung kudanya

sambil mendukung Sindangsari. Ditolong oleh

kawannya, perlahan-lahan Sindangsari

diletakkannya di dalam tangan Pamot.

“Selamat jalan” berkata anak muda itu ”berhatihatilah.

Bukan perjalanan yang dekat. Kau akan

melampaui malam ini dan mungkin kau masih

harus berpacu besok sampai matahari sampai ke puncak. Kau tidak dapat terlampau

cepat, dan mungkin perempuan ini dapat menimbulkan pertanyaan di sepanjang

perjalananmu”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar bahwa perjalanannya bukanlah

perjalanan tamasya dengan seorang gadis menjelang hari perkawinan.

“Aku akan mengambil jalan memintas. Mungkin jalannya kurang baik. Tetapi sejauh

mungkin dapat menghindari kecurigaan orang lain. Mudah-mudahan aku dapat sampai

ke Kademangan Kepandak dengan selamat”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ketika tanpa disadarinya ia memandang wajah

Sindangsari yang pucat, terasa dadanya berdesir. Namun dihalaunya segala macam

perasaannya yang melonjak di dadanya. sebala macam perasaan yang melonjak di

dadanya. Kini ia berada dalam keadaan yang serba cepat. Karena itu maka iapun

kemudian berkata ”Terima kasih atas semua pertolonganmu, Rajab dan kawan-kawan

yang lain dari Kademangan ini. Terima kasih pula kepada Ki Jagabaya dan para

bebahu yang telah melindungi kami. Aku akan segera minta diri. Mudah-mudahan

Tuhan Yang Kuasa melindungi perjalananku”

Anak muda itu mengangguk. Dengan hati yang berat ia melepaskan Pamot membawa

Sindangsari meninggalkan halaman rumah itu, dikawani oleh seorang anak muda dari

Gemulung pula.

Sejenak kemudian, maka kedua ekor kuda itupun sudah berderap di kegelapan malam

meninggalkan daerah peperangan yang semakin kisruh, serta menjauhi api yang

seakan-akan menyala dari dalam neraka.

Tetapi api itu semakin lama menjadi semakin susut. Rumah isteri muda ayah Manguri

itupun telah habis menjadi abu. Satu-satu masih terdengar sepotong bambu yang

meledak, kemudian gemersik sisa-sisa kayu dan dinding yang masih menyala.

Sepeninggal Pamot, maka kemarahan Ki Reksatani bagaikan memecahkan dinding

dadanya. Hampir tidak masuk diakalnya, bahwa yang terjadi sama sekali jauh dari

yang diduganya. Ia sama sekali tidak memperhitungkan pengkhianatan Lamat, tidak

memperhitungkan kekuatan anak-anak Sembojan dan sekitarnya. Tetapi kini

semuanya itu harus dihadapinya.

Sambil menggeram Ki Reksatani mengerahkan segenap kemampuan yang ada

padanya. Bukan sia-sia ia disebut orang yang tidak terkalahkan di Kademangan

Kepandak. Semua ilmu yang ada padanya, semua kekuatan dan kemampuan, semua

tenaga cadangannya lelah dikerahkannya untuk segera dapat mengalahkan lawannya.

Namun Lamat melawannya dengan segenap kemampuan yang ada padanya pula.

Dengan demikian, maka perkelahian merekapun menjadi semakin lama semakin seru.

Seolah-olah mereka sama sekali bukan terdiri dari daging dan tulang yang dapat

kehilangan kekuatan dan kemampuan apabila telah sampai pada batas

kemungkinannya.

Derap kaki-kaki kuda Pamot membuat darah Ki Reksatani benar-benar mendidih.

Hampir di luar sadarnya, iapun berteriak ”Sediakan kudaku”

Beberapa orangnya mendengar teriakan itu. Tetapi mereka masih terikat dalam

perkelahian sehingga sulitlah bagi mereka untuk melepaskan diri.

Namun demikian, mereka menyadari, bahwa Ki Reksatani harus dapat menyusul

Pamot yang membawa Sindangsari itu. Kalau keduanya berhasil mencapai

Kademangan Kepandak, maka Ki Reksatani dan orang-orangnya tidak akan banyak

mengalami kesulitan.

Karena itu, bagaimanapun juga, salah seorang dari orang Ki Reksatani itupun dengan

susah payah berhasil menyelinap diantara perkelahian itu. Dengan tergesa-gesa ia

berlari ke tempat kuda mereka tertambat.

Yang kemudian dipersiapkan, bukan saja kuda Ki Reksatani, tetapi kuda-kuda yang

lainpun telah dipersiapkan pula. Ia menyadari, apabila perlu, maka kuda-kuda itupun

pasti akan dipergunakan juga.

Tetapi ternyata terlampau sulit bagi Ki Reksatani untuk dapat menyelesaikan

pertempuran itu dengan segera. Betapa ia mencoba mengerahkan semua kekuatan

yang ada, namun ia tidak dapat memaksakan kehendaknya dengan cepat, sesuai

dengan keinginannya.

Dengan demikian, betapapun kemarahan, kecewa dan dendam membara di hatinya,

tetapi ia masih harus tetap bertempur terus dengan sekuat tenaganya.

Dalam pada itu, Pamot telah berusaha memacu kudanya secepat dapat dilakukan. Di

belakangnya seorang kawannya selalu mengikutinya. Mungkin di perjalanan Pamot

memerlukan bantuannya, dan mungkin pula Pamot memerlukan seorang saksi apabila

ia menghadap Ki Demang di Kepandak untuk menyerahkan Sindangsari, bahwa bukan

Pamotlah yang telah menyembunyikannya.

Mereka telah memilih jalan melintas. Jalan yang lain dari yang ditempuhnya ketika

mereka berangkat ke Kali Mati. Meskipun jalan yang ditempuhnya kini agak lebih jelek

dari jalan di saat mereka berangkat, tetapi Pamot menganggap bahwa jalan ini adalah

jalan yang paling aman.

“Asal aku tidak tersesat” desisnya di dalam hati.

Dan kudanyapun berlari terus, melalui pategalan dan jalan setapak di hutan rindang.

Kadang-kadang mereka melalui bulak yang panjang di tengah-tengah padang rumput

dan tanah-tanah tandus mereka harus menyusup rimbunnya daun-daun perdu yang

berserakan, sulur-sulur batang-batang merayap dan batang-batang ilalang.

“Aku agak bingung” desis Pamot kemudian.

“Jalan terus” berkata kawannya ”kita akan sampai ke Tanjung Sari, kemudian kita akan

menyusup hutan dan melingkari rawa-rawa. Kita akan sampai ke Tegal Payung. Kita

akan melingkar kekanan”

“Kalau sudah sampai di sana, barangkali aku tidak akan bingung lagi”

“Nah, teruslah”

Pamot berpacu terus. Tetapi terasa tangannya yang menahan tubuh Sindangsari

menjadi lelah. Meskipun demikian ia harus berusaha melayaninya terus, agar

perempuan itu tidak terjatuh.

Ternyata angin yang silir telah membuat tubuh Sindangsari menjadi semakin segar.

Perlahan-lahan ia mulai menyadari dirinya. Tetapi ia tidak segera dapat menangkap

getaran di luar dirinya itu. Ia tidak segera mengerti, dimanakah ia, dan dalam keadaan

bagaimana.

Sindangsari merasa tubuhnya seakan akan telah diguncang-guncang. Kemudian

sebuah desir angin yang halus mengusap wajahnya, seolah-olah belaian tangan

ibunya di masa kanak-kanaknya.

Tetapi Sindangsari tidak segera berani membuka matanya. Ia mencoba memulihkan

kesadarannya sepenuhnya. Karena itu meskipun ia telah sadar, tetapi ia masih tetap

memejamkan matanya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atas

dirinya.

Tiba-tiba bulu-bulunya meremang ketika ia berhasil mengingat di saat-saat terakhir. Ia

dapat mengingatnya kembali, bagaimana ia menuangkan minyak pada dinding dari

lampu yang ada di dalam biliknya. Kemudian menimbuninya dengan kayu-kayu yang

ada di dalam bilik itu. Dingklik, peti-peti kayu, pembaringan dan tikar. Bahkan

semuanya yang ada di dalam bilik itu. Kemudian dengan api pelita itu pula, semuanya

itu dibakarnya. Api yang menyala itupun segera menyambar dinding. Karena api yang

memang sudah berkobar, maka dengan cepatnya, dinding biliknya itupun menyala

pula.

Sindangsari masih ingat, seseorang telah berteriak di luar biliknya. Tetapi ia tidak

menghiraukannya lagi. Ia sudah pasrah diri, bahwa api pasti akan menelannya.

Tetapi tiba-tiba dinding biliknya seakan-akan menjadi pecah Seseorang telah meloncat

masuk dan menyambarnya. Betapapun ia berusaha melepaskan diri, namun akhirnya

ia harus menyerah. Menerobos api yang berkobar, mereka berhasil keluar meskipun

sebagian dari tubuh dan pakaiannya telah terbakar.

Sesudah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi. Pingsan.

“Apakah aku sudah mati?” Ia bertanya kepada diri sendiri ”dan sekarang aku sedang

dalam perjalanan ke sorga atau ke dalam api neraka?”

Terasa dada Sindangsari berdebaran. Perlahan-lahan ia mencoba merasakan, apa

yang telah terjadi atas dirinya kini.

“Aku sedang didukung oleh malaikat ke surga atau ke neraka” katanya pula di dalam

hati.

Perlahan-lahan ia mencoba membuka matanya. Namun sebelum ia melihat sesuatu,

matanya telah di pejamkannya lagi. Ia tidak berani memandang wajah pendukungnya.

Mungkin wajah itu putih dan bersinar, tetapi mungkin merah seperti api dengan

lidahnya yang terjulur panjang.

Tetapi Sindangsari itu terkejut ketika ia mendengar suara ”Langit sudah menjadi

merah”

“Ya” jawab suara yang lain. Sindangsari mencoba untuk mempertajam kesadarannya.

Ketika angin yang sejuk mengusap wajahnya, ia menarik nafas dalam-dalam. Namun

kepalanya masih terasa pening, dan ingatannya kadang-kadang masih seperti

bayangan di dalam mimpi, meskipun sudah lengkap.

“Sebentar lagi, matahari akan terbit” suara itu terdengar lagi. Dan terasa oleh

Sindangsari bahwa ia menjadi semakin terguncang. Bahkan kini ia mendengar derap

kaki kuda.

“Aku harus sampai ke tujuan sebelum matahari terbit?” katanya di dalam hati ”mungkin

ke tempat yang menyenangkan, tetapi mungkin aku mendapat tempat yang paling

panas di dasar neraka, karena aku telah membunuh diri”

Tiba-tiba terasa tubuhnya meremang. Namun derap kaki kuda yang didengarnya

itupun merupakan persoalan baginya.

Akhirnya Sindangsari memaksa dirinya untuk membuka matanya. Perlahan-lahan

sekali. Di dalam kesuraman cahaya fajar ia melihat seraut wajah. Semakin lama

menjadi semakin jelas. Wajah yang tegang dan basah oleh keringat dan embun.

Tiba-tiba bibir Sindangsari bergerak. Tetapi tidak ada suara yang meloncat dari

mulutnya, meskipun ia mengucapkan nama ”Pamot. Apakah aku melihat Pamot”

Pamot masih belum mengetahui, bahwa Sindangsari sudah membuka matanya. Ia

masih memacu kudanya sambil mengerutkan wajahnya yang tegang. Dipandanginya

jalan sempit yang menjelujur dihadapan kaki-kaki kudanya. Jalan setapak yang

berbatu-batu.

Sindangsari memandang wajah Pamot tanpa berkedip. Seakan-akan ia tidak percaya

kepada matanya. Namun sejenak kemudian timbullah dugaan di dalam hatinya ”Oh,

aku benar-benar sudah mati. Agaknya Pamot juga sudah mati di perjalanan ke Betawi.

Dan kini ia menjemput aku”

Tanpa sesadarnya Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Ketika sekali lagi ia

terguncang agak keras, tiba-tiba saja tangannya sudah berpegangan pada lambungi

Pamot.

Pamot terkejut. Ditundukkan kepalanya, dan dilihatnya bahwa Sindangsari sudah

membuka matanya.

Ketika tatapan mata mereka bertemu, terasa dada mereka berdesir tajam. Sejenak

mereka terpukau oleh keadaan itu. Namun sejenak kemudian Pamot berhasil

menguasai perasaannya dan berkata ”kau sudah sadar Sari?”

“Dimanakah aku sekarang?” bertanya Sindangsari.

“Kau berada di perjalanan”

“Apakah kita akan pergi ke surga?”

Pamot mengerutkan keningnya. Katanya “Kau belum sadar sepenuhnya. Kau masih

mengigau”

“Aku sudah sadar sepenuhnya. Tetapi apakah aku masih tetap hidup bersama

wadagku. Dan apakah aku masih hidup?”

“Ya, kau masih hidup, seperti aku juga masih hidup”

“O” Sindangsari mencoba mengangkat wajahnya. Kini ia melihat dengan jelas,

pepohonan yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan yang mereka lalui.

Maka Sindangsari mulai yakin, bahwa ia memang masih hidup. Apalagi ketika terasa

kulitnya yang pedih karena sentuhan api yang hampir membakarnya hidup-hidup.

“Jadi” suara Sindangsari tertahan.

“Ya, kau selamat”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian terasa sesuatu melonjak di

hatinya. Hampir di luar sadarnya ia bertanya ”Kenapa kau dapat menemukan aku?”

“Kelak aku akan mengatakannya. Kini tidak ada waktu. Kita harus menyelamatkan diri

kita”

“Kita akan pergi kemana?”

“Kembali ke Kepandak”

“Kepandak?

“Ya”

Terasa dada Sindangsari berdesir. Nafasnya menjadi tersengal-sengal. Perasaan

pedih di kulitnya semakin lama justru menjadi semakin terasa.

“Kau sudah dapat duduk sendiri?” bertanya Pamot.

Sindangsari tidak menjawab. Namun kemudian wajahnya tertunduk. Ia baru

menyadari, bahwa ia bersandar pada tangan Pamot yang menjaganya agar tidak

terjatuh.

“Aku akan duduk sendiri” berkata Sindangsari.

Pamotpun kemudian menolongnya untuk duduk sendiri. Tetapi ketika kudanya

meloncati sebuah batu, hampir saja Sindangsari telempar jatuh, sehingga tanpa

disengaja oleh gerak naluriah ia berpegangan pada leher Pamot, dan Pamotpun

menangkapnya pula.

Terasa sesuatu menjalari urat darah mereka sampai ke jantung, sehingga seakanakan

dada mereka menjadi sesak. Sekilas Pamot memandang wajah Sindangsari yang

ketakutan dan seakan-akan mengharap perlindungan kepadanya. Sepenuhnya.

Tetapi perlahan-lahan Sindangsari melepaskan tangannya. Sekali lagi perempuan itu

mencoba duduk sendiri, miring, diatas punggung kuda.

Keduanya kemudian tidak berbicara lagi. Tetapi dada merekalah yang bergelora

dengan dahsyatnya. Tanpa mereka kehendaki sendiri, maka kenangan masa-masa

lampau mereka terbayang kembali di dalam kepala mereka, seakan-akan baru saja

kemarin terjadi.

Bagaimana mereka pertama kali bertemu. Bagaimana Pamot telah menjauhkannya

dari Manguri yang mula-mula dikaguminya. Dan bagaimana akhirnya hatinya telah

tersangkut pada anak muda itu. Terbayang pula, di saat-saat Ki Demang di Kepandak

mengunjunginya untuk yang pertama kali, setelah terjadi perselisihan antara Manguri

dan Pamot. Bagaimana akhirnya Ki Demang memaksakan kehendaknya,

mengambilnya sebagai isterinya. Dan hampir berbareng, terkenang pula oleh

keduanya, saat-saat Pamot minta diri kepada Sindangsari di suatu malam. Saat-saat

mereka kehilangan kendali dan terjerumus ke dalam suatu perbuatan yang dapat

menodai kesucian hubungan mereka, sehingga Sindangsari sadar sepenuhnya bahwa

karena itu ia mengandung. Dan kini ia telah berada kembali bersama-sama anak muda

yang bernama Pamot itu, tetapi justru setelah ia menjadi isteri Ki Demang di

Kepandak.

Tiba-tiba Sindangsari menutup wajahnya yang menjadi kemerah-merahan dengan

kedua tangannya. Semuanya itu seakan-akan terjadi kembali di saat itu di hadapan

matanya.

Pamot yang juga tenggelam di alam angan-angannya, terkejut melihat tingkah

Sindangsari. Tiba-tiba saja perempuan itu telah menutup wajahnya dengan kedua

tangannya.

Tetapi Pamotpun segera sadar, bahwa seperti dirinya sendiri, Sindangsari pasti

sedang mengenangkan peristiwa yang memalukan itu.

Namun keduanya tidak berkata apapun juga. Kuda mereka masih berderap terus.

Untunglah bahwa kuda itu adalah kuda yang tegar dan kuat, sehingga meskipun harus

membawa dua orang sekaligus diatas punggungnya, namun kuda itu dapat juga berlari

cepat, meskipun tidak secepat apabila hanya ada seorang saja yang duduk di

punggungnya.

Kawan Pamot yang berkuda di belakangnya, melihat juga bahwa agaknya Sindangsari

telah mendapatkan seluruh kesadarannya kembali. Tetapi justru karena itu, maka ia

memperlambat lari kudanya, dan membuat jarak yang agak jauh.

Sejenak kemudian fajar menjadi semakin terang. Warna merah di langit telah menjadi

kekuning-kuningan oleh cahaya matahari yang semakin naik mendekati cakrawala.

Ketika cahaya matahari pagi yang pertama terlempar keatas pepohonan, Sindangsari

menundukkan kepalanya. Terasa dadanya berdesir, ketika ia melihat dan menyadari,

bahwa pakaiannya sama sekali sudah tidak lengkap lagi. Hampir saja ia terpekik kecil

melihat kenyataan itu. Tetapi agaknya Pamot menyadarinya, sehingga ia berkata

”Jangan hiraukan apapun juga. Kau harus selamat sampai ke Kepandak. Kita harus

menyadari sepenuhnya bahwa setiap saat Ki Reksatani dapat mengejar kita dan

menangkap kita hidup atau mati. Tetapi hampir pasti, bahwa ia menghendaki kematian

kita, terutama kau”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Sesaat ia melupakan pakaiannya yang sebagian

sudah terbakar hangus. Wajahnya menjadi semakin pucat, dan dengan suara gemetar

ia bertanya ”Kenapa Ki Reksatani ingin membunuh aku? Apakah aku sudah

melakukan kesalahan terhadapnya atau terhadap siapapun?” ia berhenti sejenak, lalu

”atau, atau memang Ki Demang di kepandak yang menyuruhnya membunuhku karena

kenyataan yang tidak dapat dilupakannya. Kenyataan tentang diriku?”

Pamot mengerutkan keningnya, Tetapi ia tidak sempat menanyakan apakah yang

dimaksud oleh Sindangsari itu. Bahkan ia berkata ”Jangan salahkan diri sendiri. Dan

pembunuhan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Ki Demang. Ki

Demang sedang berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mencarimu. Siapapun

yang mencoba menghalangi, akan dibunuhnya tanpa ampun lagi”

“Tetapi kenapa aku dibiarkannya dibawa oleh adiknya?”

“Tentu tidak. Ki Demang tidak tahu, bahwa kau telah dibawa oleh Ki Reksatani”

Sindangsari merenung sejenak. Meskipun samar-samar ada juga dugaan di dalam

hatinya, bahwa Ki Demang sengaja menyingkirkannya, tetapi dengan cara yang tidak

diketahui oleh orang lain.

Pamot seolah-olah melihat keragu-raguan itu, sehingga ia masih berusaha

menjelaskan ”Ki Demang hampir kehilangan keseimbangan berpikir. Bahkan hampir

saja ia melawan seorang Senapati dari Mataram justru karena pikirannya sedang

disaput oleh kebingungan”

Sindangsari tidak menjawab, tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Matahari yang kemudian bertengger di punggung bukit tampak begitu cerahnya dipagi

yang segar. Angin berhembus dari Selatan menyusup dedaunan, membelai wajahwajah

mereka yang sedang berpacu diatas punggung kuda.

Di belakang Pamot, kawannya mengikutinya dari kejauhan. Tetapi setiap kali ia

mengerutkan keningnya. Agaknya kuda Pamot semakin lama menjadi semakin lambat.

Pasti bukan karena kelelahan. Kuda itu adalah kuda yang kuat dan tegar. Jarak yang

mereka tempuhpun belum terlampau jauh buat seekor kuda, meskipun kuda itu harus

mendukung dua orang sekaligus.

Kawannya itu menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia masih terlalu muda, tetapi ia

mengetahui, bahwa sesuatu pasti bergolak di dalam dada kedua orang itu. Dua orang

yang pernah terlibat dalam suatu ikatan perasaan anak-anak muda.

Tetapi pada suatu saat, anak muda itu merasa bahwa mereka benar-benar berada di

dalam bahaya. Matahari yang semakin tinggi seakan-akan memperingatkannya,

bahwa mereka harus berpacu semakin cepat. Apalagi jalan di hadapan mereka, bukan

saja sebuah lapangan yang penuh dengan batang ilalang diseling oleh pohon-pohon

perdu yang lebat, namun mereka masih harus melingkari rawa-rawa, menyusup hutanhutan

rindang dan meskipun hanya di bagian ujungnya, mereka akan melalui hutan

yang agak lebat juga, sebelum mereka sampai ke daerah yang lapang dan

berpenghuni. Tetapi di daerah itupun mereka masih mempunyai beberapa persoalan.

Bagaimana dengan perempuan yang duduk dipunggung kuda bersama-sama dengan

Pamot itu? Apakah hal itu tidak akan menimbulkan persoalan, setidak-tidaknya di

dalam hati mereka yang melihatnya? Apalagi menilik pakaian Sindangsari yang sudah

tidak lengkap lagi itu?”

Persoalan-persoalan itulah yang kemudian memaksanya untuk mendekat pada Pamot.

Meskipun ia harus mendeham beberapa kali sebelum ia benar-benar berada di

belakang kedua orang itu.

“Pamot” katanya kemudian ”apakah kita dapat mempercepat perjalanan kita?”

Pamot tergagap. Seolah-olah ia baru terbangun dari tidur. Terbata-bata ia menjawab

”O tentu. Tentu” Namun kemudian ia berkata ”tetapi barangkali kuda ini memang

sudah lelah“

“Mungkin” kata kawannya ”karena itu, supaya kudamu tidak terlalu lelah, kita tukar

kuda kita”

Pamot mengerutkan keningnya. Lalu Jawabnya ”Baiklah. Marilah kita tukar“

Merekapun kemudian berhenti. Dengan tergesa-gesa kawannya meloncat turun sambil

berkata “Kita sampai ke daerah rawa-rawa. Kita harus berpacu semakin cepat”

“Ya, kita harus mempercepat perjalanan ini” Pamotpun kemudian turun pula dari

kudanya.

Kemudian ditolongnya Sindangsari perlahan-lahan turun pula dari kuda itu.

Ketika perempuan itu kemudian berdiri terhuyung-huyung diatas tanah, semakin

sadarlah ia bahwa pakaiannya benar-benar sudah tidak pantas lagi, sehingga karena

itu, maka tiba-tiba ia berjongkok sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya

“Pakaianku sama sekali tidak pantas lagi. Aku malu sekali” desis Nyai Demang di

Kepandak.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh.

Yang dilihatnya hanyalah batang-batang ilalang setinggi lututnya, dan di sana-sini

pohon-pohon perdu yang berserakan.

“Tetapi kita harus berjalan terus” berkata kawannya.

“Aku tidak dapat meneruskan perjalanan dengan pakaian begini “Sindangsari berhenti

sejenak, lalu “bagaimana aku nanti apabila kita sampai di Kepandak. Apa kata orang

tentang diriku”

“Nyai Demang” berkata kawan Pamot “semua orang dapat melihat, bahwa pakaian

Nyai berlubang oleh api. Bekasnya sudah mengatakan, kenapa pakaian Nyai menjadi

compang-camping”

Sindangsari tidak menyahut.

Tetapi tanpa disadarinya, iapun mengamati pakaiannya yang telah sebagian dimakan

api.

“Pamot” berkata Sindangsari kemudian “apakah aku akan kau biarkan dalam keadaan

ini?”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti, bagaimana ia dapat menolong

keadaan Sindangsari itu.

“Nyai” berkata anak muda kawan Pamot itu “sebentar lagi Ki Reksatani akan sampai di

tempat ini. Kalau sekarang Nyai Demang segan memakan pakaian yang telah sobek

dan berlubang-lubang oleh api itu? maka Ki Reksatani nanti akan melepaskan seluruh

pakaian Nyai. Nyai akan terbaring di tanah ini tanpa selembar pakaianpun, selain

noda-noda darah yang akan membasahi tubuh nyai dan memerahi rerumputan ini, dan

kita akan terbunuh disini”

Bulu-bulu Sindangsari meremang. Pamot yang kemudian menyadari keadaannya

berkata “Marilah. Kita jangan terlambat”

Sindangsari termangu-mangu sejenak, namun kemudian kawan Pamot itu berkata

“Baiklah, pakailah kain panjangku. Pakailah ikat kepalaku, supaya Nyai Demang

menjadi seperti seorang laki-laki. Banyak keuntungan yang akan kita dapatkan dari

kesan itu. Di perjalanan nanti, apabila ada orang yang melihat kita berpacu, tidak akan

menyangka, kita melarikan seorang perempuan. Mungkin mereka bertanya, kemana

kita pergi. Tetapi kesan yang kita tinggalkan, tiga orang laki-laki berpacu diatas

punggung kuda dalam keadaan yang aneh. Dua orang di antaranya naik diatas seekor

kuda, sedang yang lain, tidak memakai kain panjang dan ikat kepala”

Pamot berpikir sejenak, lalu “Jangan kau. Biarlah pakaianku saja yang dipakainya”

Tetapi anak muda itu menggeleng “Sama sekali tidak pantas. Bagi yang belum

mengenalmu, memang tidak akan menimbulkan kesan apapun. Tetapi apabila kita

memasuki Kepandak, maka akan dapat tumbuh dugaan yang kurang mapan. Tanpa

kain panjang dan ikat kepala, kau berkuda bersama. Nyai Demang di Kepandak,

sedangkan setiap orang tahu, maaf, bahwa pernah ada sesuatu diantara kalian berdua

di masa kegadisan Nyai Demang”

Pamot menundukkan kepalanya, sedang wajah Sindangsari menjadi merah padam.

“Cepatlah Pamot, ambillah keputusan”

“Baiklah”

“Tetapi kain panjangku terlampau kotor. Debu dan lumpur melekat di sana-sini”

Anak muda itupun kemudian melepas kain panjangnya. Ia hanya sekedar memakai

celana dari selembar baju panjang. Kemudian menyerahkan kain dan ikat kepalanya

kepada Sindangsari.

“Pakailah”

Sindangsari menerima kain dan ikat kepalanya itu. Tetapi ia masih tetap berjongkok di

tempatnya.

“Cepat Sari, pakailah”

Sambil memandang kekejauhan Pamot dan kawannya menunggu Sindangsari selesai

mengenakan kain itu merangkapi pakaiannya yang telah sobek dan terbakar.

Kemudian dipakainya pula ikat kepala yang diberikan kepadanya. Dengan demikian,

maka Sindangsari tidak lagi jelas sebagai seorang perempuan, meskipun pakaiannya

tampak membingungkan. Tetapi diatas punggung kuda bersama Pamot, maka kesan

yang pertama-tama, ia seorang laki-laki muda yang tampan.

Sejenak kemudian, mereka telah berada diatas punggung kuda yang sudah saling

ditukar. Mereka sadar, bahwa waktu yang ada sangat berharga. Karena itu,

merekapun segera berpacu kembali meneruskan perjalanan.

Tetapi setiap kali kawan Pamot yang berkuda di belakang menarik nafas dalam-dalam.

Pamot tidak dapat berkuda cukup cepat. Bahkan kadang-kadang terlampau lambat.

“Mereka harus sadar, bahwa bahaya ada di belakang kita” desis kawan Pamot kepada

diri sendiri.

Dalam pada itu, di Sembojan masih terjadi perkelahian yang seru. Ki Reksatani masih

bertempur melawan Lamat. Di bagian yang lain, Manguri berkelahi dengan gigihnya

melawan Punta. Sedang bertebaran di halaman belakang rumah isteri muda ayah

Manguri itu pertempuran masih berlangsung terus.

Beberapa orang laki-laki berusaha mendekati arena, meskipun mereka tidak berani

berbuat apa-apa, karena mereka merasa tidak cukup mampu untuk terjun di dalam

pertempuran yang seru itu. Namun beberapa orang lain justru telah bersembunyi di

dalam rumah masing-masing, menutup pintu dan memaksa anaknya untuk tetap

berada di dalam biliknya masing-masing.

“Apakah yang terdengar ribut itu ayah?” bertanya seorang anak laki-laki yang

terbangun.

“Tidur, tidur sajalah”

Anak itu menjadi heran. Tetapi ia menjadi semakin heran melihat ibunya yang gemetar

“Tidur sajalah sayang”

Anak itu berbaring kembali di pembaringannya. Tetapi ia tidak lagi dapat tidur. Suara

hiruk pikuk itupun semakin jelas terdengar di telinganya.

Ki Jagabaya di Prambanan masih berdiri di sisi ayah Manguri yang gelisah. Setiap kali

ia bergerak, Ki Jagabaya itupun berkata “Kau disini saja. Perkelahian ini akan segera

selesai”

Ayah Manguri itu mengumpat-umpat di dalam hatinya. Apalagi ketika ia melihat

anaknya terdesak terus Apalagi luka-lukanya menjadi semakin parah. Bukan saja luka

yang timbul oleh bekas senjata Pamot, tetapi Puntapun telah berhasil melukainya pula.

“Anak itu terluka” desis ayahnya.

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa setiap saat ayah Manguri itu

akan kehilangan kesabaran dan meloncat ke dalam pertempuran. Apalagi setelah

dilihatnya anaknya menjadi semakin lemah. Tetapi dengan demikian, maka iapun akan

terjun pula melawannya. Bukan saja menunggui penyelesaian itu.

Dengan dada berdebar-debar Ki Jagabaya dan ayah Manguri itu menyaksikan

pertempuran yang berlangsung dengan serunya. Apalagi pertempuran antara Ki

Reksatani dan Lamat.

Namun ayah Manguri ternyata masih juga berusaha melemahkan pertahanan Lamat

dengan caranya ”Lamat, apakah kau masih dapat melihat api yang membakar sisa

rumah itu? Api itu hampir padam. Tetapi ketika aku menyelamatkan kau, api itu

seakan-akan justru akan membakar langit. Tetapi kau selamat saat itu, meskipun aku

sendiri terluka hampir di segenap tubuhku”

Tiba-tiba saja Lamat berteriak pula ”Diam, diam”

Ayah Manguri tidak mau diam. Katanya ”Sekarang, kebakaran telah terjadi lagi. Tetapi

tidak oleh perampok-perampok yang merampok seisi rumah dan membunuh ayah

ibumu. Aku tidak pula perlu menolong kau, karena kau ternyata seorang yang memiliki

kemampuan luar biasa, yang barangkali kau dapat dari setan-setan di pinggir kuburan.

Bahkan kau sudah dapat menolong dan menyelamatkan Nyai Demang di Kepandak”

“Cukup, cukup” Lamat berteriak-teriak seperti orang yang dihantui oleh bayanganbayangan

yang menakutkan. Dengan demikian, maka pemusatan pikiran dan

tenaganyapun tertanggu. Kadang-kadang seakan-akan sekilas membayang di rongga

matanya, saat-saat ia dikepung oleh api yang menyala menelan rumahnya, ayah dan

ibunya, dan seluruh isi rumahnya. Seakan-akan ia merasa dirinya disambar oleh

seseorang yang kemudian menyelamatkannya. Orang itu adalah ayah Manguri”

“Pengkhianat” suara Ki Reksatani yang menggeram itu bagaikan guruh yang meledak

di dalam kepalanya.

Lamat yang memiliki tenaga raksasa itupun mulai terdesak. Kini ia harus bertempur

menghadapi dua lawan. Ia harus melindungi dirinya sendiri dari sengatan senjata Ki

Reksatani, tetapi yang lebih berbahaya. Lamat harus berjuang melawan perasaan

sendiri. Perasaan yang seakan-akan dihembus-hembuskan ke dalam dadanya oleh

ayah Manguri.

“Kau memang licik sekali” Ki Jagabaya berdesis ”Aku tidak mengetahui latar belakang

hubunganmu dengan orang yang bertubuh raksasa itu. Tetapi tampaknya kau

mengetahui kelemahan perasaannya. Kau akan mempergunakan kelemahan itu untuk

membantu lawannya. Dan itu adalah suatu tindakan yang paling tidak terpuji. Bahkan

yang paling aku benci”

Tetapi ayah Manguri menyahut ”Dengan atau tidak dengan cara itu, kau pasti sudah

membenci aku. Aku tidak berkeberatan”

“Jangan berkata begitu. Isterimu ada di dalam wilayah kekuasaanku. Apalagi ia sudah

mendapat cela yang tidak akan dapat dilupakan oleh tetangga-tetangganya. Kalau

akhir-akhir ini ia sudah mencoba memperbaiki kesalahan itu, namun tiba-tiba timbullah

persoalan yang membuat daerah kekuasaanku menjadi kisruh seperti ini”

Jawabnya benar-benar di luar dugaan Ki Jagabaya itu. Katanya ”Aku sudah tidak

memerlukan lagi Ki Jagabaya. Aku masih mempunyai isteri di mana-mana”

“Kau mungkin tidak berbohong. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat

menghubungi Kademangan-kademangan yang lain. Juga Kademangan Kepandak?

Kalau jalan perdagangan ternakmu tertutup, maka akan tamatlah ceritera

petualanganmu di kalangan perempuan muda yang dapat kau beli dengan uang”

Ayah Manguri tertawa. Betapapun pahitnya. Namun tiba-tiba matanya terbelalak ketika

ia melihat. Manguri terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.

Meskipun ia dapat dengan tangkas berdiri, tetapi tampak oleh ayahnya, bahwa ia

sudah menjadi sangat lemah.

“Gila” Ia menggeram di dalam hatinya. Iapun kemudian memutuskan untuk berbuat

sesuatu. Ia belum mengenal Ki Jagabaya di dalam olah kanuragan. Sedangkan semua

yang terjadi di padukuhan ini adalah akibat dari tingkah anaknya. Anak laki-lakinya.

Karena itu, apapun yang dapat terjadi, tidak boleh dihindarinya. Ia sendiri sudah

memberikan perlindungan atas usaha menyembunyikan Sindangsari terhadap

anaknya. Kini iapun harus memberikan perlindungan pula terhadap akibat yang timbul

karenanya.

Dalam pada itu, cahaya matahari pagi sudah menguakkan kehitaman malam.

Perkelahian di halaman belakang itupun menjadi semakin nyata. Beberapa orang

menjadi semakin menggigil karenanya dan dengan gemetar meninggalkannya. Mereka

menjadi jelas,bagaimana mereka yang sedang bertempur itu benar-benar berusaha

membunuh lawannya.

Beberapa orang anak-anak muda Sembojan dan Kali Mati masih juga berkelahi

dengan gigihnya. Punta dan seorang kawannya yang datang dari Gemulung sama

sekali tidak mengecewakan, sebagai anak-anak muda yang pernah mendapat

tempaan dari sebuah perjalanan yang berat.

Diantara mereka, Lamat masih juga berusaha mengatasi getaran perasaannya,

sehingga ia masih dapat berkelahi sebaik-baiknya, meskipun kadang-kadang seperti

orang yang kehilangan kesadaran, ia menjadi bingung. Untunglah, di dalam setiap

keadaan itu, Lamat selalu masih dapat menghindarkan diri, meskipun ia harus

meloncat jauh-jauh.

Tetapi perasaan yang ditiup-tiupkan oleh ayah Manguri itu terasa semakin menggelitik

hatinya. Setiap kali ia harus menghentakkan giginya untuk mengatasi perasaan itu.

Namun perlawanan Lamat terhadap perasaannya sendiri itupun menjadi semakin

lemah sehingga perlahan-lahan perlawanannya terhadap Ki Reksatanipun mulai

terpengaruh pula.

Pada saat kecemasan di dada ayah Manguri memuncak melihat kadaan anaknya, tibatiba

terdengar sebuah keluhan tertahan. Lamat meloncat jauh-jauh surut sambil

meraba pundaknya. Titik darah telah memerah di tangannya. Ternyata pedang Ki

Reksatani telah berhasil menggoreskan luka yang cukup dalam selagi Lamat diterkam

oleh kebimbangan perasaan.

Tetapi luka itu agaknya telah menyadarkannya. Seperti orang yang terbangun. Lamat

menggeretakkan giginya. Mulailah perlawanannya yang garang dan bahkan seranganserangannya

yang dahsyat melanda lawannya.

Namun lawannya itu adalah Ki Reksatani. Itulah sebabnya, maka setiap kali Lamat

bagaikan membentur dinding baja yang tidak tertembus.

Ki Reksatanipun semakin menjadi gelisah pula. Pamot pasti sudah menjadi semakin

jauh. Karena itu, maka lapun memperkuat serangan-serangannya atas raksasa yang

mulai liar itu. Apalagi pundak kanan Lamat sudah tergores oleh senjata.

“He” seru ayah Manguri. Ia sengaja berkata keras-keras, agar beberapa orang

mendengarnya ”kau terluka Lamat? Sayang, aku kali ini tidak dapat menyelamatkanmu

lagi seperti di masa kanak-kanakmu. Sekarang aku yakin, bahwa memang tidak

sepatutnya aku menolong dan apalagi memelihara dan membesarkanmu, karena

akhirnya kau hanya akan menerkam kami yang memeliharamu dengan baik”

Lamat yang sudah terluka itu menggeram ”Kau pasti akan mendapat hukuman dari

penghianatan ini Lamat”

“Cukup” teriak Lamat ”apakah yang pernah kau berikan kepadaku selain

pertolonganmu yang tidak aku minta itu. Apakah kau benar-benar telah memelihara

aku baik-baik selama aku tinggal di rumahmu dan anakmu telah memperlakukan aku

tidak lebih dari seekor kerbau?”

Ayah Manguri mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa kelakuan Manguri kadangkadang

memang berlebih-lebihan. Dan itulah yang dicemaskannya, bahwa pada suatu

saat, jiwa Lamat yang selama ini tertekan itu akan meledak. Dan ternyata saat itu telah

datang.

Namun, betapapun juga Lamat mencoba mencari kebenaran landasan sikapnya itu,

dan bahkan ia yakin bahwa demikian kata nuraninya, namun ia sama sekali tidak dapat

melawan arus perasaannya. Perasaan berhutang budi, perasaan yang telah diungkitungkit

oleh ayah Manguri itu, sehingga selain luka di pundaknya, seolah-olah

jantungnyapun telah menjadi parah.

Itulah sebabnya, maka Lamatpun lambat laun telah terdesak. Agaknya Ki Reksatani

mampu mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan dahsyatnya ia

menyerang Lamat yang terus-menerus terdesak surut. Darah raksasa itupun semakin

banyak mengalir dari lukanya yang mulai terasa pedih.

Matahari yang semakin terangpun membuat Ki Reksatani semakin bernafsu. Kini ia

hampir pasti, bahwa ia akan dapat mengalahkan Lamat. Yang penting baginya adalah

mempercepat kekalahan raksasa itu.

Tetapi Lamat tidak segera menyerah pada keadaan. Bahkan ketika luka di pundaknya

menjadi semakin pedih, perlawanannyapun menjadi semakin gigih. Namun setiap kali

perasaannya tergetar oleh kenangan masa kecilnya, maka iapun kadang-kadang

menjadi lengah.

Bahkan Lamatpun kemudian berpikir ”Mudah-mudahan Pamot sudah jauh. Mudahmudahan

Pamot mendapat kesempatan membawa Nyai Demang kembali ke

Kepandak, kembali kepada suaminya”

Sejalan dengan harapan itu, maka perlawanannyapun menjadi semakin susut.

Darahnya tidak lagi dapat tertahan. Semakin banyak ia bergerak, semakin banyak arus

darah dari lukanya.

Beberapa orang anak-anak muda Sembojan, dan juga Punta. melihat luka di pundak

Lamat. Sejenak mereka tergetar oleh kecemasan. Tanpa Lamat, maka perlawanan

mereka akan menjadi tidak seimbang lagi, meskipun Ki Jagabaya ikut serta di dalam

perkelahian itu. Mereka sadar, bahwa ternyata Ki Reksatani benar-benar seorang yang

tidak terkalahkan. Bukan saja di Kademangan Kepandak, tetapi juga di daerah

sekitarnya. Di Kademangan-kademangan yang lain memang sulitlah dicari orang-orang

yang mampu mengimbanginya.

Karena itu, mereka harus mengambil kebijaksanaan lain, Semula atas persetujuan Ki

Jagabaya, anak-anak Sembojan dan Kali Mati yang merasa cukup kuat menghadapi

orang-orang yang telah membuat keributan di padukuhan mereka itu, tidak ingin

menggemparkan seluruh Kademangan. Mereka bersepakat untuk tidak memukul tanda

bahaya. Tetapi apabila Lamat dapat dikalahkan, maka anak-anak muda itu

memerlukan lebih banyak kawan lagi untuk melawan Ki Reksatani.

Karena itu, salah seorang dari mereka segera menghubungi Ki Jagabaya. Dengan

nafas terengah-engah ia berkata “Keadaan bertambah gawat Ki Jagabaya”

Sebelum Ki Jagabaya menyahut, ayah Mangurilah yang menjawab “Jangan ingkari

kenyataan. Karena itu jangan menjadi kebiasaan mencampuri persoalan orang lain”

“Persetan” geram Ki Jagabaya “sebentar lagi anakmu akan dibunuh oleh kawan

sepadukuhannya, lalu katanya kepada anak muda yang datang kepadanya “usahakan

bantuan”

“Dengan kentongan?”

Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya.

“Gila” potong ayah Manguri “kau akan melibatkan seluruh Kademangan?”

“Apaboleh buat” jawab Ki Jagabaya “Ki Reksatani itu ternyata sangat berbahaya bagi

kita disini”

“Yang akan datang hanyalah akan memperbanyak korban” berkata ayah Manguri “aku

mempunyai saran yang baik. Tariklah seluruh anak Sembojan dan Kali Mati dari

perkelahian ini. Mereka akan menjadi korban yang sia-sia. Biarlah anak-anak

Gemulung itu mati terbunuh disini. Bahkan Lamat itu sama sekali”

“Cepat” berkata Ki Jagabaya tanpa menghiraukan kata-kata ayah Manguri “bunyikan

tanda itu. Lamat benar-benar sudah terdesak. Tetapi itu bukan karena Ki Reksatani

tidak terlawan olehnya. Ia mampu mengimbangi kegarangan Ki Reksatani itu. Tetapi

karena kelicikan pedagang ternak yang tamak inilah, maka ia kehilangan

keseimbangan perlawanannya”

“Omong kosong” sahut ayah Manguri. Tetapi ia tidak sempat mengatakan

kelanjutannya, karena Ki Jagabaya berkata lantang “Cepat. Jangan hiraukan apapun

lagi”

Anak muda itupun segera berlari-lari ke gardu di simpang tiga. Sementara Lamat

menjadi semakin terdesak, maka terdengarlah suara titir dari gardu beberapa puluh

langkah dari halaman rumah itu.

“Gila“ Ki Reksatani menggeram. Ia sadar akan bunyi tanda itu. Karena itu,

serangannyapun menjadi semakin garang.

Apalagi ketika suara titir itu telah disahut oleh bunyi kentongan dari gardu yang lain.

Sambung menyambung, merambat dari gardu yang satu ke gardu yang lain.

Ki Reksatani benar-benar telah kehilangan pengekangan diri. Ia berkelahi seperti setan

takut kesiangan. Apalagi ketika sinar matahari mulai menyentuh tubuhnya, dan suara

titir itu sudah memenuhi udara pagi di padukuhan Sembojan dan sekitarnya.

Sejenak kemudian Lamat telah benar-benar terdesak. Tenaganya menjadi semakin

lemah, karena darah yang semakin banyak mengalir. Bahkan sejenak kemudian, ujung

senjata Ki Reksatani telah menyentuhnya sekali lagi. Meskipun tidak begitu dalam,

namun ujung pedang yang menyobek kulit lambungnya. tu membuatnya semakin

terdesak surut.

“Kau akan mati pagi ini” geram Ki Reksatani. Tetapi Lamat tidak gentar, karena akibat

itu sudah disadarinya. Jawabnya “Aku tidak takut melihat maut yang sudah

menjemputku. Tetapi aku merasa bahwa aku sudah berbuat arti di dalam hidupku yang

hina ini. Arti bagi perikemanusiaanku”

“Tutup mulutmu” bentak Ki Reksatani sambil menyerang dengan cepatnya. Untunglah

Lamat masih sempat memalingkan kepalanya. Namun demikian ujung pedang Ki

Reksatani masih juga menyentuh pipinya.

Setitik darah mengalir dari luka di pipinya. Sekali lagi tangan Lamat menjadi merah

oleh darah ketika ia meraba luka di pipinya itu. Namun demikian ia masih tetap

berusaha menyelamatkan diri dari sentuhan senjata Ki Reksatani yang satu lagi. Keris

pusakanya. Karena Lamat sadar bahwa sentuhan keris itu akibatnya adalah maut.

Racun pada keris itu akan segera bekerja di dalam tubuhnya tanpa ampun.

Karena itu, perlawanannya kini ditujukan lebih banyak pada serangan-serangan keris

itu daripada ujung pedangnya.

Ternyata Ki Reksatani masih berhasil melukai lawannya lagi. Lengan Lamatpun telah

tersobek pula. Kemudian pahanya, sehingga tubuhnya seakan-akan menjadi merah

karena darah dan keringat yang mengaliri wajah, dada dan kakinya.

Ki Jagabaya melihat luka-luka itu dengan tubuh yang bergetar karena marah. Ia bukan

sanak bukan kadang dengan raksasa itu, bahkan mengenal secara pribadipun belum.

Tetapi Ki Jagabaya telah meyakini kebenaran perjuangan Lamat, sehingga karena itu,

dadanya serasa telah terbakar, melihat luka-luka yang seolah-olah telah memenuhi

tubuh raksasa itu.

“Licik“ Ki Jagabaya menggeram “kaulah yang menyebabkan kekalahannya. Kalau kau

tidak menyerang perasaannya, maka ia tidak akan dapat dikalahkan oleh Ki Reksatani.

Karena itu, kaulah yang harus bertanggung jawab”

Tetapi ayah Manguri sama sekali tidak menjawab. Ketika Ki Jagabaya berpaling

kepada orang itu, ia terkejut bukan buatan. Wajah itu menjadi pucat dan tegang.

Bahkan tubuhnyapun menjadi gemetar pula.

Ki Jagabaya menjadi heran. Apalagi ketika tiba-tiba ayah Manguri itu berpaling sambil

berdesah “Tahan. Tahanlah dia. Jangan disakiti anak itu. Jangan diperlakukan anak itu

dengan semena-mena meskipun ia sudah berkhianat. Bunuh atau lepaskan. Jangan

dikupas seperti mengupas pisang”

Ki Jagabaya menjadi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia bertanya “Kenapa kau?

Apakah kau sudah menjadi gila”

Jilid 9 – Bab 3 : Pengejaran

“Tolonglah anak itu”

Ki Jagabaya menjadi bingung melihat tingkah laku

ayah Manguri itu. Namun ia tidak melepaskan

kewaspadaan. Ia masih saja curiga karena

kelicikan ayah Manguri itu.

Dalam pada itu, suara titir telah memenuhi seluruh

Kademangan. Ki Reksatanipun menjadi semakin

gelisah karenanya. Meskipun luka di tubuh Lamat,

seolah-olah telah menjadi arang kranjang, tetapi

raksasa itu sama sekali tidak menyerah. Ia masih

tetap bertempur terus meskipun ia selalu terdesak

mundur.

“Gila, apakah kau menyimpan nyawa rangkap?“ Ki

Reksatani menggeram.

Lamat tidak menjawab. Betapa perasaan sakit

telah mencengkam seluruh tubuhnya, namun ia

tidak mau menyerah.

Akhirnya Ki Reksatani tidak sabar lagi. Ketika ia

melihat orang yang pertama datang ke arena itu, kemudian disusul oleh beberapa

orang lagi, yang agaknya sudah dipanggil oleh suara titir itu, hatinya berdesir. Mereka

ternyata bukan penakut-penakut seperti orang-orang yang berdiri saja di kejauhan.

Mereka agaknya pengawal-pengawal dari padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan

Sembojan, seperti anak-anak muda yang telah berkelahi lebih dahulu.

Sejenak Ki Reksatani mempertimbangkan keadaannya, Ia masih melihat beberapa

orang-orangnya berkelahi dengan gigihnya. Karena itu, ia harus memilih. Melepaskan

kemarahan dan dendamnya kepada Lamat, atau mengejar Sindangsari yang sudah

dilarikan oleh Pamot dan akan diserahkan kepada suaminya.

“Persetan dengan padukuhan Sembojan. Aku harus meninggalkan neraka ini.

Persoalanku adalah persoalan Kademangan Kepandak. Aku tidak perlu terjerumus

dalam perangkap orang-orang Sembojan yang suka mencampuri persolan orang lain

ini”

Karena itu, maka Ki Reksatanipun segera memberikan isyarat kepada anak buahnya

yang masih ada beserta orang-orang Manguri. Merekapun segera berloncatan dari

arena, dan sambil mempertahankan diri, merekapun berlari- larian ke kuda masingmasing.

Untunglah bahwa kuda-kuda itu sudah dipersiapkan sehingga merekadengan

segera dapat berloncatan dan langsung memacunya. Ki Reksatani masih berusaha

melindungi anak buahnya sejenak. Dengan kudanya ia menyerang anak-anak muda

yang mencoba menghalangi anak buahnya yang akan naik ke punggung kudanya.

Tidak seorangpun yang berani melawannya langsung. Karena itu maka seorang demi

seorang, anak buahnya berhasil meninggalkan halaman rumah itu, meskipun beberapa

diantara mereka telah terbunuh. Diantaranya adalah mereka yang justru terbunuh oleh

kawan-kawan sendiri.

Meskipun mendapat kesempatan tetapi ayah Manguri sama sekali tidak berniat untuk

meninggalkan halaman rumah itu. Dengan wajah yang buram ia melihat beberapa

orang berlari-larian dikejar oleh anak-anak muda Sembojan. Tetapi hanya karena

ketangkasan Ki Reksatani mengayunkan senjatanya sambil mengendalikan kudanya

sajalah, sebagian terbesar dari mereka dapat dengan selamat meninggalkan halaman

rumah itu.

Ki Jagabaya masih berdiri di dekat ayah Manguri yang termangu-mangu. Ia hanya

mengikuti derap kuda yang berlari seperti dikejar hantu meninggalkan regol halaman.

Kemudian hilang di balik pepohonan.

Pada saat yang bersamaan, anak-anak muda di sekitar Sembojan berdatangan ke

padukuhan itu. Bukan saja anak-anak muda, tetapi laki-laki yang sudah menjelang

setengah umurpun ikut pula berdatangan dengan senjata.

“Apa yang terjadi?” bertanya seorang yang rambutnya sudah berwarna dua kepada

seseorang yang berdiri di luar dinding halaman.

“Untunglah kau datang terlambat” jawabnya “kalau kau sempat menyaksikan apa yang

terjadi, maka kau akan pingsan disini”

“Apa?”

“Lihatlah bekasnya”

Orang itu menjengukkan kepalanya. Ketika ia melayangkan pandangan matanya, ia

memandang tepat di saat Lamat tidak lagi dapat menguasai dirinya. Perlahan-lahan ia

jatuh terduduk, kemudian dengan lemahnya ia terkulai di tanah.

Tetapi orang yang berambut dua warna itulah yang lebih dahulu pingsan melihat tubuh

Lamat yang seakan-akan terbalut oleh darahnya yang merah.

Karena itu, maka beberapa orang harus memapah orang separo baya itu menepi,

sementara di dalam halaman belakang, Ki Jagabayapun berlari-lari dan kemudian

berjongkok di samping Lamat yang sudah tidak berdaya lagi.

“Bagaimana dengan kau?” bertanya Ki Jagabaya.

Lamat memandanginya sejenak. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Agaknya

ia telah memaksa dirinya, mengerahkan segala kemampuan dan tenaga, melampaui

kemampuan yang sewajarnya.

“Air, air” teriak Ki Jagabaya. Ketika ia berpaling, ia melihat ayah Manguripun sedang

merenungi anaknya yang terbaring di tanah. Sementara Punta dengan senjata di

tangan, berdiri di sampingnya.

“Janggan kau bunuh anak ini“ pinta ayah Manguri ”Aku akan kehilangan keduaduanya”

Punta tidak tahu arti permintaan itu. Tetapi ia memang tidak ingin membunuh Manguri.

Setelah ia berhasil menjatuhkan anak muda itu dan tidak mampu lagi untuk bangkit,

maka Punta tidak lagi dikuasai oleh nafsu membunuh. Ia dapat mengendalikan dirinya.

Dibiarkannya Manguri terbaring di tanah dengan nafas terengah-engah dan

menyeringai kesakitan. Namun sejenak kemudian Manguri itupun menjadi pingsan.

Kini suasana di halaman belakang rumah itu tidak lagi diwarnai oleh perkelahian dan

dibisingkan oleh bunyi dentang senjata beradu. Beberapa orang pengawal yang

terlukapun segera mendapat pertolongan, sehingga dengan demikian, kesibukan

orang-orang di halaman itu telah beralih.

Hanya orang-orang tertentu sajalah yang berani melihat kenyataan di halaman itu.

Beberapa orang yang semula datang dengan senjata di tangan karena titir yang sahut

menyahut, ternyata sama sekali tidak berani menginjakkan kakinya ke halaman itu.

Bekas perkelahian itu ternyata sangat mengerikan. Apalagi apabila mereka masih

sempat melihat perkelahian yang terjadi.

Untunglah, bahwa diantara mereka terdapat anak-anak muda yang telah mendapat

tempaan khusus. Terutama mereka yang pernah mengikuti pasukan yang berjuang

untuk mengusir orang-orang asing yang mulai berkuasa di tanah ini.

“Punta” berkata ayah Manguri “bukankah kau tidak membunuhnya?”

Punta menggelengkan kepalanya.

Ayah Manguri mengguncang-guncang kePala anaknya yang pingsan. Kemudian

menempelkan telinganya di dadanya. Ia masih mendengar detak jantung anak itu.

“Ia masih hidup. Ia masih hidup” Ayahnyapun kemudian berusaha untuk menolongnya

sejauh-jauh dapat dilakukan.

Tetapi ternyata bahwa orang Sembojan adalah orang-orang yang berhati lapang.

Meskipun mereka kemudian mengerti apa yang terjadi, namun mereka tidak sampai

hati membiarkan Manguri tanpa mendapat pertolongan apapun, karena justru ayahnya

menjadi kebingungan. Beberapa orang telah membantunya atas perintah Ki Jagabaya.

Seperti Lamat, maka Manguripun segera mendapat pertolongan.

Kedua nyapun kemudian telah dibawa ke rumah tetangga terdekat. Ditunggui oleh

beberapa pengawal bersama Punta dan seorang kawannya yang datang dari

Gemulung. Bagaimanapun juga mereka masih tetap harus bercuriga. Apalagi di dekat

ayah Manguri itu terbaring pula Lamat yang sudah kehabisan tenaga.

Seorang dukun tua telah berbuat sejauh-jauh dapat dilakukan untuk menyelamatkan

jiwa kedua orang itu. Sedang orang-orang lain yang meskipun juga terluka, tetapi tidak

begitu parah, telah mendapat pertolongan pula. Untunglah bahwa tidak ada seorang

pengawalpun yang menjadi korban sehingga meninggal. Yang ada diantara mereka

adalah pengawal-pengawal yang terluka.

Agaknya Manguri memang masih diberi kesempatan untuk hidup. Seandainya ia harus

bertempur melawan Pamot yang menyimpan berbagai macam masalah di dadanya

terhadap Manguri, maka harapan baginya untuk dapat tetap hidup adalah kecil sekali.

Tetapi kini, dukun yang mengobatinya masih berpengharapan bahwa nyawanya akan

dapat di selamatkan.

Sedangkan Lamat, agaknya masih lebih baik dari keadaan Manguri. Meskipun lukalukanya

bersilang melintang di seluruh tubuhnya, namun luka-luka itu tidak

membahayakan jiwanya. Satu dua ada juga lukanya yang dalam. Namun ketahanan

tubuh Lamat, lernyata memang melampaui ketahanan tubuh manusia biasa.

Dalam pada itu, di halaman yang baru saja menjadi kancah perkelahian itupun kini

telah disibukkan oleh orang-orang yang sedang membersihkan halaman itu dari mayatmayat

dan mereka yang terluka.

Setiap orang menjadi ngeri menyaksikan bekas-bekas dari apa yang telah terjadi.

Ceritera tentang sebab-sebab perkelahian itupun segera menjalar ke segenap telinga,

sehingga setiap orang telah terbakar batinya. Mereka menyesal bahwa Ki Reksatani

dapat terlepas dari tangan mereka. Dan bahkan Lamat yang melawannya dengan gigih

telah terluka parah.

Orang-orang Sembojan meletakkan kesalahan terberat pada Ki Reksatani. Itulah

agaknya sebabnya bahwa mereka masih dapat menguasai perasaan mereka terhadap

Manguri.

Perempuan-perempuan yang mendengar ceritera dan latar belakang dari peristiwa

itupun mengusap dada mereka sambil berkata “Kasihan Nyai Demang di Kepandak”

Sedang perempuan yang lain menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata “Aku

agaknya telah ikut berdosa. Kenapa aku percaya bahwa perempuan itu sekedar

perempuan gila. Dan bahkan aku pernah mengumpatinya karena ia berteriak-teriak

sambil berlari-lari di sepanjang jalan? Agaknya Nyai Demang saat itu masih berusaha

untuk melepaskan dirinya”

Sementara itu, setelah mendapat perawatan seperlunya, Lamat sudah dapat

mengingat semua yang terjadi dengan jelas. Bahkan ia sudah mulai gelisah dan

berkata kepada Punta. yang menungguinya “Bagaimana dengan Pamot? Apakah

masih ada kemungkinan Ki Reksatani menyusulnya di perjalanan?”

Punta berpikir sejenak. Dengan ragu-ragu ia menjawab “Jaraknya cukup panjang

Lamat”

“Tetapi Pamot membawa Nyai Demang yang terluka bakar. Ia tidak akan dapat

berpacu terlampau cepat”

“Kita akan berdoa untuknya. Mudah-mudahan ia tidak tersusul di perjalanan. Kita

mempunyai banyak harapan. Mungkin Pamot benar-benar tidak tersusul, mungkin

jalan yang ditempuh oleh Pamot bukannya jalan yang dipilih oleh Ki Reksatani”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia mencoba untuk bangkit. Tetapi

Ki Jagabaya dan dukun yang merawatnya telah mencegahnya.

“Berbaringlah” berkata Ki Jagabaya “darahmu hampir mampat”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya yang kuat seperti kerbau itu memang

terasa lemah sekali, sehingga seakan-akan ia tidak mampu lagi mengangkat

kepalanya.

“Hampir seluruh tubuhmu terluka parah” berkata Ki Jagabaya selanjutnya.

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang kembali perlawanannya atas Ki

Reksatani. Adalah suatu perlindungan yang ajaib bahwa ia tidak terbunuh karenanya.

Ia sadar, kemarahan Ki Reksatani kepadanya pasti melonjak sampai ke ujung ubunubun.

Namun demikian, ditinggalkannya ia masih dalam keadaan yang

memungkinkannya untuk tetap hidup.

Ketika Lamat kemudian memalingkan kepalanya perlahan-lahan di lihatnya

Manguripun terbaring diam beberapa langkah daripadanya ditunggui oleh ayahnya.

Dan tiba-tiba saja ia bertanya “Bagaimana dengan anak itu?”

Puntapun berpaling pula memandang tubuh Manguri. Ia lah yang telah melukai tubuh

itu setelah Lamot melukainya lebih dahulu.

“Apakah ia terluka parah juga?” Punta menganggukkan kepalanya.

“Kaulah yang melukainya?”

“Aku hampir membunuhnya” desis Punta. Lamat tidak menyahut. Di tatapnya jalur-jalur

bambu pada atap diatas pembaringannya. Dalam saat-saat yang diliputi oleh

ketegangan dan kegoncangan perasaan itu semuanya seakan-akan telah terbayang

kembali.

Namun tiba-tiba Lamat menjadi gelisah, ketika angan-angannya sampai pada akhir

peristiwa di Sembojan itu. Seakan-akan ia melihat Ki Reksatani sedang mengejar

Pamot yang tidak dapat berpacu karena Sindangsari yang terluka dan apalagi

perempuan itu sedang mengandung. Sedang derap kaki kudanya telah mengguncangguncangnya.

“Bagaimana dengan Pamot” tiba-tiba sekali lagi ia berdesis.

“Mudah-mudahan ia tidak tersusul” sahut Punta.

“Kalau ia tersusul di perjalanan, maka berakhirlah semuanya “Lamat berhenti sejenak,

lalu “tetapi kalau ia berhasil mencapai Kademangan Kepandak, maka ia akan dapat

berlindung pada Ki Demang. Satu-satunya orang yang dapat melawan Ki Reksatani.

Mudah-mudahan Ki Demang mempercayainya”

“Ada seorang saksi yang mengiringinya”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bayangan keragu-raguan tampak

pada tatapan matanya yang redup. Namun betapa mata itu redup, Lamat seolah-olah

melihat apa yang sedang terjadi. Pamot yang kehilangan kesempatan untuk

melepaskan diri. Keris Ki Reksatani. Darah.

Tiba-tiba saja Lamat bangkit sambil berkata “Tolonglah, tolonglah anak itu”

Punta, Ki Jagabaya dan dukun yang merawatnya segera menahannya dan berusaha

membaringkannya kembali. Mereka menjadi berdebar-debar karena tubuh Lamat

terasa menjadi panas. Apalagi ketika Ki Jagabaya meraba keningnya, seakan-akan

kepala raksasa itu sudah membara.

“Ambillah air” berkata dukun tua itu “rendamlah beberapa potong jeruk pecel”

‘Seseorang segera berlari-lari mencari air dan jeruk pecel. Dengan sehelai kain,

diusapkannya air jeruk pecel itu ke kening! Lamat. Tetapi ketika setitik air jeruk itu

menyentuh lukanya, Lamat telah menggeliat kesakitan.

“Bagaimana dengan Pamot, bagaimana?” ia masih bertanya terus.

“Percayakan anak itu kepada Tuhan Yang Maha Penyayang” desis dukun tua yang

menungguinya “kita bersama-sama berdoa untuknya”

Jawaban itu bagaikan titik-titik embun di ubun-ubunnya. Perlahan-lahan Lamat menarik

nafas dalam-dalam. Katanya “Ya. Kita percayakan anak itu kepada Tuhan. Mudahmudahan

ia selamat”

“Tidurlah. Kalau kau sempat tidurlah” berkata Ki Jagabaya “badanmu akan terasa

segar”

Oleh air jeruk pecel yang menyeka keningnya, Lamat merasa tubuhnya benar-benar

menjadi semakin segar. Namun ia masih belum dapat menghalau sama sekali

kegelisahan yang membayang di hatinya. Bahkan katanya kemudian “Apakah aku

dapat meninggalkan tempat ini”

Punta bergeser maju, mendekati telinga Lamat. Katanya perlahan-lahan “Kau harus

beristirahat. Kau memerlukan istirahat”

“Aku sudah cukup beristirahat”

Punta menggelengkan kepalanya.

“Apakah kudaku masih ada?” tiba-tiba ia bertanya.

“Jangan pikirkan tentang kuda. Kau harus beristirahat sebaik-baiknya”

Lamat tidak menyahut lagi. Tetapi bayangan-bayangan yang mengerikan kembali

mengganggunya. Namun titik-titik air jeruk membuatnya agak tenang sehingga ia

masih berhasil menguasai kegelisahan di dadanya. Kini bayangan-bayangan yang

bermain di hadapannya adalah kenangan-kenangan masa yang agak jauh berlalu.

Ketika tanpa sesadarnya ia sekali lagi melihat ayah Manguri yang duduk merenungi

anaknya.

Hampir tidak ada seorangpun yang menghiraukan anak yang pingsan itu. Yang

dilihatnya hanyalah beberapa orang pengawal dengan senjata telanjang berdiri di

depan pintu. Dua orang yang lain berdiri di sudut ruangan. Lamat mengerti benar,

bahwa para pengawal itu sedang mengawasi Manguri dan ayahnya yang kini

merupakan tawanan.

Tetapi Lamat tidak melihat istri ayah Manguri yang muda berada diantara mereka.

Namun demikian Lamat tidak bermaksud untuk menanyakannya.

Dalam pada itu, isteri ayah Manguri yang muda itu masih berada di halaman

rumahnya. Ia tidak menghiraukan sama sekali orang-orang yang sedang sibuk

membersihkan halamannya itu. Mengangkat orang-orang yang terluka dan bahkan

beberapa sosok mayat, ia tidak menghiraukan beberapa orang laki-laki yang hilir mudik

dengan wajah yang tegang sambil menjinjing senjata.

Perempuan itu berdiri tegak merenungi abu yang berserakan, yang masih

mengepulkan asap yang kehitam-hitaman.

“Rumahku, rumahku“ ia berdesis perlahan sekali “perhiasan yang aku kumpulkan

sedikit demi sedikit sekarang telah musnah”

Perempuan itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun tiba-tiba

terdengar ia tertawa kecil. Kini ditatapnya seonggok abu yang masih panas itu.

“He, itulah peti simpananku. Kenapa baru sekarang aku melihatnya. O, masih utuh.

Sepuluh laki-laki yang sudah berhasil aku hisap uangnya, kekayaannya dan bahwa

semua miliknya. Dan aku berhasil menyimpan seonggok permata” suara tertawanya

menjadi semakin keras.

Beberapa orang memandanginya dengan heran. Seorang perempuan tua telah

memaksa dirinya untuk mendekatinya “Apakah yang kau cari?”

“O, kau?” perempuan itu mengerutkan keningnya “kau akan merampas milikku?”

“Tidak. Tentu tidak. Tetapi, sadarilah apa yang sudah terjadi”

“Apa yang terjadi? Aku menyimpan simpananku sendiri. Apa salahnya. Dan kau tidak

usah mempedulikan darimana aku mendapatkannya. Adalah salah laki-laki yang

bersedia aku hisap darahnya sampai kering. Adalah salah mereka, bahwa mereka mau

membeli belaian tanganku dengan seluruh kekayaannya. Apakah kau iri ya? Kau

termasuk salah seorang dari mereka yang ingin mengusir aku dari sini. Dari rumahku

yang aku buat sendiri diatas tanah milikku”

“Tidak. Tidak. Aku tidak akan beriri hati. Tidak pula akan mengusirmu. Tetapi sadarilah

dirimu”

“Apa yang harus aku sadari? Maksudmu agar aku tidak menerima laki-laki lagi di

rumahku ini selain suamiku yang hanya datang tiga bulan atau empat bulan sekali itu?

Begitu?”

Perempuan tua itu menjadi bingung. Dan ia hampir memekik ketika ia melihat isteri

muda ayah Manguri itu tiba-tiba saja berlari terjun ke dalam onggokan abu yang masih

panas. Tetapi yang sama sekali tidak dihiraukannya. Dan ia hanya dapat mengusap

dadanya ketika ia melihat perempuan itu kemudian menjatuhkan dirinya, berlutut di

dalam onggokan abu itu. Sambil mengaduk abu yang hangat itu ia tertawa berderai.

Katanya ”Semuanya sudah aku ketemukan kembali. Inilah perhiasanku yang tidak

ternilai harganya. Aku akan menjadi semakin kaya. Perhiasan perempuan gila itu akan

menjadi milikku juga. Perempuan gila itu”

Semua orang yang ada di halaman itupun tertegun karenanya. Mereka memandang

perempuan yang kemudian menjadi seakan-akan disaput dengan abu yang kotor pada

seluruh tubuhnya itu sambil menarik nafas dalam-dalam. Dan perempuan itu tiba-tiba

ia berdiri dan memandang berkeliling. Ketika tampak olehnya beberapa orang laki-laki

yang seolah-olah membeku di sekeliling bekas rumahnya, ia tertawa berkepanjangan

”He, kau akan singgah ke rumah ini pula? Kau, kau, kau juga. Jangan bersama-sama.

Aku tidak akan pergi. Datanglah berganti-ganti. Suamiku tidak akan mengetahuinya.

Kemarilah. Kemarilah”

Dan suara tertawanya menggelepar seperti tingkah perempuan itu.

Di kejauhan terdengar seseorang berbisik kepada kawan yang berdiri di sampingnya

“Ia menjadi gila. Semua kekayaan yang dikumpulkannya dengan jalan yang sesat itu

agaknya telah ikut terbakar di dalam rumah itu”

“Kasihan. Ternyata perempuan itulah yang menjadi gila. Bukan perempuan yang

dikatakannya gila dan ternyata adalah Nyai Demang di Kepandak”

“Agaknya ia telah kena kutuk”

Dan dalam pada itu suara tertawanya masih saja berkepanjangan. Ketika beberapa

orang mencoba mengajaknya meninggalkan onggokan abu yang masih panas itu ia

justru mengumpat-umpat dengan kata-kata yang paling kotor yang pernah didengar

oleh telinga.

Akhirnya orang-orang itupun terpaksa membiarkannya berbuat sesuka hatinya di

dalam ketidak-sadarannya. Kejutan perasaan itu ternyata tidak tertanggungkan lagi,

sehingga ia telah berubah ingatan dengan tiba-tiba.

Dalam pada itu, ketika seorang laki-laki memberitahukannya kepada ayah Manguri,

laki-laki itu berkala dengan nada suara yang rendah dan datar ”Aku tidak

memerlukannya lagi. Aku sudah tidak memerlukan apa-apa”

“Perempuan itu menjadi gila”

Ayah Manguri mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu kemudian tertunduk kembali.

Desisya ”Dosaku memang sudah bertumpuk sampai menyentuh langit. Kini aku harus

menanggung segala dosaku” perlahan-lahan kepalanya digelengkannya ”mungkin

besok atau lusa, aku akan dihukum gantung bersama anakku yang seorang ini” ia

berhenti sejenak, lalu ”mudah-mudahan anak itu selamat” katanya kemudian sambil

berpaling kepada Lamat.

Laki-laki yang memberitahukan tentang perempuan yang gila itu tidak mengerti

maksudnya. Orang-orang yang mendengarpun tidak mengerti pula. Tetapi mereka

menyadari, bahwa laki-laki itu bersama anaknya yang terluka adalah tawanan yang

harus mempertanggung jawabkan semua kesalahannya. Tidak saja kepada Ki

Demang di Prambanan, tetapi juga kepada Ki Demang di Kepandak.

Karena itu, maka ditinggalkannya ayah Manguri itu di dalam kemuramannya.

Dalam pada itu, Ki Reksatani memacu kudanya seperti dikejar hantu. Ia tidak mau lagi

mengenangkan apa yang terjadi di Sembojan. Ia juga tidak mau lagi memikirkan,

apakah yang akan terjadi kemudian dengan Kepandak. Yang kini tersangkut di

kepalanya adalah rencananya untuk mengejar Pamot yang telah melarikan

Sindangsari.

Namun Ki Reksatani menjadi ragu-ragu sejenak. Tidak hanya ada satu jalan yang akan

sampai ke Kademangan Kepandak. Ada jalan induk yang sudah agak baik melintasi

hutan Tambakbaya. Ada jalan yang melintas di sebelah Utara. Tetapi ada juga jalan

yang menerobos daerah rawa-rawa di sebelah Selatan. Semuanya akan sampai ke

daerah pinggir kota Mataram yang kemudian dihubungkan dengan jalan-jalan yang

melintang, sampai kepadukuhan-padukuhan di daerah Kademangan Kepandak, agak

jauh di sebelah Selatan pusat pemerintahan Mataram.

“Persetan, jalan mana yang akan diambilnya“ geram Ki Reksatani “Aku harus sampai

ke Kepandak secepat-cepatnya. Apakah aku dapat menemukannya di sepanjang jalan,

atau aku harus mengambilnya lagi dengan paksa, di halaman Kademangan sekalipun,

aku tidak akan mundur. Semuanya sudah terjadi, dan aku tidak akan dapat menarik diri

lagi. Aku harus menengadahkan dadaku untuk menghadapi setiap kemungkinan”

Dengan demikian maka Ki Reksatani tidak menghiraukannya lagi, apakah ia

mengambil jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh oleh Pamot.

Tetapi agaknya Ki Reksatani tidak ingin juga terganggu di sepanjang jalan. Kalau ia

melalui jalan induk yang sampai langsung ke kota, maka akan timbul kecurigaan pada

orang-orang yang melihatnya. Kalau ia bertemu dengan peronda dari Mataram maka

peronda itu pasti akan menegurnya dan bahkan mungkin menghentikannya disertai

oleh beberapa pertanyaan yang menjemukan.

Karena itu, maka Ki Reksatani memutuskan untuk mengambil jalan lain. Justru tanpa

disengaja, ia mengambil jalan Selatan.

Demikianlah maka iring-iringan kecil itu berpacu semakin lama semakin cepat.

Matahari yang semakin tinggi bagaikan cambuk yang memaksa mereka untuk

mempercepat perjalanan yang menegangkan itu. Setelah kuda mereka mengitari

gerumbul-gerumbul perdu dan menusup ke dalam hutan yang rindang maka sampailah

mereka kesebuah padang rumput yang sempit. Kemudian mereka akan sampai pula

kegerumbul-gerumbul perdu yang agak lebat dan sejenak kemudian mereka akan

melingkari rawa-rawa.

Jalan yang mereka lalui memang jalan yang sempit. Namun karena jalan itu sering

dilalui juga oleh rombongan-rombongan pedagang yang beriring-iringan, maka kuda

mereka masih juga dapat berpacu.

Namun tiba-tiba mata Ki Reksatani yang tajam melihat sesuatu yang tersangkut pada

sebatang ilalang di pinggir jalan sempit itu. Dengan tergesa-gesa menarik kekang

kudanya sehingga kudanyapun berhenti dengan tiba-tiba.

“Apakah menurut dugaanmu?” bertanya Ki Reksatani sambil memungut benda itu.

Para pengiringnya yang ikut berhenti juga berdiri mengelilinginya sambil mengamatamati

benda itu. Dan tiba-tiba saja salah seorang dari mereka berkata Sepotong kain

lurik. Lihat bekas terbakar itu masih jelas”

“Pakaian barangkali. Sepotong sobekan pakaian” berkata yang lain.

Pakaian siapa? suara Ki Reksatani menjadi parau, beberapa orang saling

berpandangan. Tetapi tidak ada seorangpun yang segera menjawab, meskipun yang

tergembul di dalam hati mereka masing-masing hampir bersamaan.

Dan karena tidak ada seorang yang menjawab, maka Ki Reksatanipun berkata ”Aku

menduga bahwa pakaian ini memang pakaian yang baru saja tersentuh api”

Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak mereka termenung ketika Ki

Reksatani tiba-tiba saja mengamat-amati tanah di sepanjang jalan sempit itu.

“Pasti. Pakaian ini pasti pakaian Sindangsari. Lihat, jejak kaki kuda ini adalah jejak kaki

kuda Pamot”

“Ya” hampir berbareng beberapa orang menjawab.

“Pamot pasti mengambil jalan ini pula. Kita secara kebetulan mengambil jalan yang

sama”

“Ya”

Ki Reksatani tidak berkata sepatah katapun lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat ke

punggung kudanya. Sebuah hentakan kendali dan sentuhan pada perut kuda itu,

membuatnya melonjak dan kemudian lari sekencang-kencangnya.

Para pengiringnyapun segera menyusul pula. Mereka seakan-akan sedang berpacu

berebut dahulu.

Demikianlah maka iring-iringan itupun melanjutkan perjalanan mereka. Debu yang

putih berhamburan di belakang kaki-kaki kuda yang menjadi semakin lama semakin

panas.

“Apakah aku masih dapat mengejarnya” bertanya Ki Reksatani di dalam hatinya.

Namun agaknya jarak sudah menjadi demikian jauh.

Meskipun demikian Ki Reksatani masih terus berusaha. Dengan kecepatan penuh

kudanya berlari-lari mengitari rawa diantara padang perdu. Di hadapan mereka

kemudian terbentang sebuah hutan yang rindang, sebelum mereka akan memotong

sebuah sudut hutan yang masih agak lebat.

Dalam pada itu, Pamotpun masih juga berpacu diatas punggung kudanya. Tetapi

kawannya yang berkuda di belakangnya hampir tidak sabar karenanya. Pamot

semakin lama menjadi semakin lambat. Bahkan kadang-kadang kudanya hampir

berhenti sama sekali.

“Pamot” desis Sindangsari “tubuhku terasa sakit sekali”

“Tahankanlah Sari. Kita akan segera sampai ke tujuan”

“Perutku”

“Bagaimana dengan perutmu?” Sindangsari selalu berdesis karena perutnya terasa

sakit, selain bekas bekas luka bakarnya. Perjalanan itu adalah perjalanan yang

terlampau berat bagi Sindangsari yang sedang mengandung. Goncangan-goncangan

derap kaki kudanya membuatnya semakin kesakitan dan mual sehingga perempuan itu

tidak dapat menahan diri lagi, sehingga muntah-muntah.

Kawan Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin bahwa di belakangnya Ki

Reksatani bersama beberapa orang sedang mengejarnya. Meskipun jarak mereka

cukup panjang, tetapi apa bila perjalanan ini seakan-akan tidak juga sempat maju,

maka Ki Reksatani pasti akan dapat mengejarnya dan membinasakannya di perjalanan

sebelum mereka sempat sampai ke Kademangan.

“Apakah Lamat mampu bertahan lebih lama lagi” desis anak muda yang mengawani

Pamot itu.

Tetapi ia tidak dapat memaksa Pamot untuk berpacu lebih cepat lagi. Apalagi ketika

Sindangsari muntah-muntah karenanya. Kalau terjadi sesuatu dengan kandungan itu,

maka akibatnya pasti akan sangat jauh bagi Ki Demang di Kepandak yang sedang

merindukan seorang anak.

“Meskipun demikian kalau mereka terkejar oleh Ki Reksatani, akibatnya akan lebih

parah lagi” berkata anak muda itu di dalam hatinya.

Bagaimanapun juga, anak muda itu tidak lagi dapat menahan hatinya untuk setiap kali

memperingatkan Pamot bahwa di belakang mereka Ki Reksatani sedang mengejarnya.

Mudah-mudahan Lamat dapat mengalahkannya” desis Pamot.

“Kemungkinan yang kecil sekali” berkata kawannya “dan pikiran itu berbahaya bagimu

sekarang, karena kau akan menjadi lengah”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada Sindangsari “Kita

akan mempercepat perjalanan ini Sari”

“Tubuhku dan perutku semakin sakit”

“Tetapi, bahaya yang lebih besar agaknya akan mengejar kita. Bagaimana kalau Ki

Reksatani berhasil menangkap kita dan membunuhnya sekali”

Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ditatapnya mata Pamot yang suram dan

tampaknya menjadi cekung.

“Tahankanlah sedikit” berkata Pamot pula.

Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya. Namun tanpa sesadarnya ia

berpegangan lengan Pamot yang memegang kendali kudanya erat-erat. Bahkan

perempuan itu tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di dada anak muda itu sambil berdesis

“Aku takut. Aku takut Pamot”

“Jangan takut. Kita akan berpacu terus. Sebentar lagi kau akan mendapat

perlindungan Ki Demang di Kepandak“

Kuda mereka masih berlari terus meskipun tidak begitu kencang. Dan Sindangsari

berkata “Aku takut kepada Ki Demang di Kepandak”

“Kenapa? Ki Demang pasti akan menyambutmu dengan senang hati. Selama ini ia

mencarimu seperti seorang ayah yang kehilangan anak satu-satunya”

“Tetapi, tetapi…………” suaranya terputus.

“Kenapa Sari?”

“Ia pasti tidak ingin melihat aku datang bersamamu”

“Kenapa? Ia adalah suamimu. Kau adalah isterinya yang mempunyai kelebihan dari

isteri-isterinya yang lain. Kau akan memberinya anak. Sesuatu yang tidak dapat

diberikan oleh isteriisterinya yang lain”

“Pamot…” suara Sindangsari menjadi parau.

Seperti kanak-kanak ia membenamkan wajahnya di dada Pamot sehingga tangan

Pamot yang memegang kendali agak terganggu karenanya.

Sindangsari tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Air matanya tiba-tiba telah

mengambang di pelupuk matanya.

Sebelum Pamot sempat berkata lagi, kawannya telah mendekatinya sambil berdesis

”Pamot, maaf bahwa setiap kali aku terpaksa memperingatkannmu untuk

keselamatanmu dan Nyai Demang di Kepandak”

“O, terima kasih” jawab Pamot.

“Apakah kita dapat lebih cepat sedikit?”

“Ya, ya. Kita akan lebih cepat lagi”

“Aku yakin Ki Reksatani mengejar kita. Seandainya Lamat belum terkalahkan

sekalipun, namun agaknya Ki Reksatani tidak akan melepaskan Nyai Demang”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada Sindangsari

“Kita memang harus mempercepat perjalanan ini”

Sindangsari tidak menyahut. Tetapi ia berpegangan semakin erat, seakan-akan tidak

akan dilepaskannya lagi.

Pamot menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang bergelora.

Kalau yang dibawanya kali ini Nyai Demang di Kepandak, tetapi bukan Sindangsari,

mungkin ia masih berhasil mengatasi perasaannya. Tetapi kali ini perempuan yang

diselamatkan itu adalah Sindangsari yang sudah menjadi suami Demang di Kepandak.

Meskipun demikian, Pamot masih berusaha mempercepat derap kudanya. Sejenak

mereka melintasi bulak yang agak panjang di bawah terik matahari yang terasa

membakar tubuh.

Agak jauh di belakang mereka, Ki Reksatani berpacu seperti angin. Semakin lama

justru menjadi semakin cepat. Bagaimanapun juga masih terpercik di dalam hatinya,

suatu harapan untuk menyusul pamot di perjalanan. Ia akan membunuhnya dan Nyai

Demang sekaligus. Kemudian barulah ia akan menghadap Ki Demang di Kepandak. Ia

tidak akan ingkar lagi, Ia akan menghadapi semua akibat dari perbuatannya. Tetapi

kematian Sindangsari akan membuat Ki Demang kehilangan nafsu hidupnya karena

hari depannya benar-benar telah patah. Adalah tidak akan begitu sulit lagi untuk

mengalahkan orang yang sudah kehilangan keinginan untuk tetap hidup.

Dengan demikian maka nafsunyapun semakin berkobar di dalam dadanya. Seakanakan

ia tidak sabar lagi duduk diatas punggung kuda yang dirasanya terlampau

lamban.

Jejak kaki kuda yang masih baru, yang kadang-kadang tampak diatas tanah pada jalan

sempit itu membuat Ki Reksatani menjadi semakin geram. Tangannya sudah menjadi

gatal. Ia ingin segera dapat mencekik Pamot dan Sindangsari bersama-sama.

Jarak antara keduanya memang menjadi semakin pendek Pamot yang membawa

Sindangsari tidak dapat berpacu secepat-cepatnya, sedang Ki Reksatani justru

semakin mempercepat derap kudanya.

Hampir sehari-harian mereka berpacu. Namun demikian, mereka terpaksa kadangkadang

juga berhenti di pinggir parit untuk memberi kesempatan kuda mereka

melepaskan hausnya. Bagaimanapun juga nafsu melonjak di dada Ki Reksatani, tetapi

ia tidak dapat memaksa kuda itu berlari tanpa berhenti. Apabila mulut kudanya mulai

berbusa, maka terpaksa iapun berhenti sejenak untuk mendapatkan air.

Demikianlah maka laju kuda-kuda mereka semakin lamapun memang semakin lambat

pula, karena kuda-kuda mereka menjadi lelah. Ki Reksatani tidak dapat lagi memaksa

kudanya untuk berpacu lebih cepat lagi. Apalagi Pamot.

Namun demikian jarak diantara mereka masih tetap menjadi semakin pendek, karena

bagaimanapun juga, derap kuda Ki Reksatani masih tetap lebih cepat dari kuda Pamot.

Apalagi Sindangsari hampir-hampir tidak tahan lagi duduk sehari-harian diatas

punggung kuda meskipun ia menyadari keadaannya. Seluruh tubuhnya benar-benar

terasa sakit. Bukan saja karena luka-luka bakar, tetapi juga karena perutnya dan

pegal-pegal di punggung.

“Kau harus dapat bertahan Sindangsari. Sebentar lagi kita akan sampai”

Ketika Pamot berpacu lewat tanah persawahan di padukuhan padukuhan kecil yang

dilampauinya, seperti yang telah diduga, beberapa orang menjadi heran melihat

mereka. Tetapi karena Sindangsari memakai ikat kepala dan pakaian yang tidak

keruan, setiap orang memang menyangka, bahwa ia adalah seorang laki-laki.

Demikian pula anak muda yang berkuda di belakang mereka. Tanpa kain panjang dan

ikat kepala ia juga menarik perhatian.

Tetapi setelah mereka lewat, tidak ada lagi orang yang menghiraukan. Mereka

menyangka, bahwa orang-orang berkuda itu adalah anak-anak muda yang senang

dengan tindak tanduk yang aneh-aneh tanpa menghiraukan tata kesopanan.

Tetapi belum lagi mereka selesai mengerjakan sekotak sawah mereka melihat

beberapa ekor kuda berpacu pula. Bahkan beberapa orang telah mengenal, bahwa

orang yang berkuda paling depan adalah Ki Reksatani.

“He, bukankah orang itu adik Demang di Kepandak?”

“Ya” sahut kawannya

“Tampaknya agak aneh. Wajahnya tegang dan pakaiannya demikian kusutnya.

“Ia pasti sedang mencari isteri kakaknya yang hilang”

“Ya, aku juga mendengar. Isteri Demang di Kepandak telah hilang”

“He” berkata yang lain “apakah ia sedang mengejar orang aneh yang berkuda

beberapa saat sebelum ini”

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Salah seorang menyahut “Ya, aku juga

melihat tiga orang yang mempergunakan dua ekor kuda”

“Ya. Belum terlampau lama”

“Sebentar lagi Ki Reksatani pasti akan menyusul kalau mereka tidak berselisih jalan”

Sebenarnyalah bahwa jarak mereka memang semakin pendek. Beberapa bulak kecil

lagi, Ki Reksatani pasti sudah dapat menyusul Pamot, sebelum matahari terlampau

rendah.

Tetapi Pamotpun sudah menjadi semakin dekat dengan Kademangan Kepandak.

Setelah mereka melampaui sudut hutan yang agak lebat, maka jalan yang terbentang

di hadapannya adalah jalan yang lapang. Jalan yang semakin luas dan terpelihara.

Dengan dada yang berdebar-debar Pamot menyeberang sebuah bulak yang cukup

panjang. Jauh di hadapannya terbentang tanah persawahan Kademangan tetangga. Di

ujung bulak itu ia harus berbelok kekiri, kemudian ia akan sampai ditelatah

Kademangan meskipun baru ujungnya.

Matahari sudah menjadi semakin rendah, dan kuda-kuda yang berpacu itupun menjadi

semakin lelah. Sekali-sekali Pamot mengusap peluh yang membasah di keningnya.

Iapun sudah mulai merasa lelah. Tetapi ia tidak boleh berhenti. Seolah-olah ia

memang mendapat firasat, bahwa di belakangnya Ki Reksatani berpacu semakin

cepat.

Tepat ketika Pamot dan kawannya berbelok memasuki sebuah padukuhan kecil

setelah mereka mencapai ujung bulak Ki Reksatani muncul di ujung bulak itu pula.

Tetapi ia tidak lagi sempat melihat anak-anak muda yang sedang dikejarnya. Yang

mereka lihat hanyalah selapis debu yang putih. Tetapi mereka tidak tahu, apakah yang

telah melemparkan debu itu ke udara.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Pamot telah memasuki jalan-jalan di telatah

Kademangan Kepandak. Adalah di luar kemauannya sendiri, apabila kudanya berlari

semakin cepat seakan-akan kuda itupun mengerti, bahwa bahaya yang mengejarnya

menjadi semakin dekat pula.

Anak muda yang mengikuti Pamot itupun segera mendekatinya sambil berbisik “Kita

sudah menjadi semakin dekat. Tetapi kita masih belum lepas sama sekali dari setiap

bahaya yang sedang mengejar kita. Karena itu, supaya kita tidak kehilangan arti dari

usaha kita, kita justru harus mempercepat perjalanan ini. Jangan melalui jalan-jalan di

tengah-tengah bulak. Kita harus berusaha menembus jalan yang paling dekat ke

Kademangan”

Pamot menganggukkan kepalanya, Kepada Sindangsari ia berkata “Tinggal selangkah

lagi. Tahankan dirimu”

Tetapi setiap kali Pamot mendengar Sindangsari berdesis, sehingga kadang-kadang

tanpa disadarinya perhatiannya lebih banyak tertuju kepada Sindangsari daripada

kepada perjalanannya yang gawat itu. Namun demikian, kudanya masih berlari terus,

melintas jalan-jalan padukuhan yang sempit.

Beberapa orang yang mendengar derap kaki-kaki kuda itu menjengukkan kepala

mereka dari pintu regol. Mereka melihat dua ekor kuda yang berjalan beriringan.

Ketika kuda itu lewat di depan hidungnya, ia berdesis ”Pamot. Bukankah orang

berkuda itu Pamot?”

Namun ternyata ia tidak segera mengenal Sindangsari yang memakai ikat kepala.

Mereka memang melihat wajah yang pucat. Tetapi wajah itu seperti wajah seorang

laki-laki yang baru menjelang dewasa.

Tetapi orang itu tidak sempat bertanya. Pamot mencoba untuk mempercepat langkah

kudanya diiringi oleh temannya yang gelisah.

Orang yang berdiri di pintu regol itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejenak

ia berdiri termangu-mangu sehingga kuda-kuda itu hilang dari tatapan matanya.

Namun tiba-tiba ia terkejut karena ia mendengar derap kaki kuda berikutnya. Sejenak

kemudian ia melihat beberapa orang yang juga berpacu diatas punggung kuda.

“Ki Reksatani” desisnya.

Tetapi seperti Pamot, Ki Reksatanipun tidak menghiraukan orang-orang yang berdiri

termangu-mangu di sepanjang jalan yang dilaluinya. Yang terbayang dianganangannya

hanyalah Pamot yang membawa Sindangsari berpacu beberapa puluh

langkah di hadapannya.

Bagaimanapun juga Pamot berusaha, namun pada suatu saat ia tidak dapat

menghindari lagi jalan persawahan. Ia sudah sampai di padukuhan terakhir sebelum ia

mencapai induk Kademangan. Tetapi ia harus melintas sebuah bulak yang meskipun

tidak begitu panjang tetapi cukup mendebarkan.

“Apakah kita akan terus” bertanya Pamot kepada kawannya.

“Segera kita harus melintas secepat-cepat dapat kita lakukan”

Pamot mencoba melecut kudanya dengan ujung kendali. Tetapi kudanya seakan-akan

tidak terpengaruh lagi. Agaknya kuda itu benar-benar telah lelah, meskipun ada juga

usahanya untuk mempercepat derap kakinya.

Sejanak kemudian mereka telah memasuki sebuah bulak yang melintas di tengahtengah

tanah persawahan. Sebelah menyebelah terbentang lautan batang batang padi

muda yang menghijau kemerah-merahan ditaburi oleh cahaya matahari yang sudah

menjadi semakin rendah: Perlahan-lahan angin dari Selatan mengusap ujung daundaunnya

yang tipis, membuat susunan gelombang yang susul menyusul.

Dengan dada yang berdebar-debar ketiga orang itu melintas bulak tersebut. Sekalisekali

mereka berpaling, seakan-akan sudah terasa dipunggung mereka sentuhan jarijari

tangan Ki Reksatani yang menyusulnya.

Namun ketika mereka baru lepas melampaui tengah-tengah bulak itu, kawan Pamot

hampir terpekik karenanya. Ketika ia berpaling ia telah benar-benar melihat iringiringan

orang berkuda yang mengejarnya.

“Pamot” desisnya “lihat, siapakah orang yang mengejar kita itu?”

Pamot berpaling. Dadanyapun berdesir tajam ketika ia melihat debu yang mengepul

dari kaki-kaki kuda yang sedang berpacu.

“Ki Reksatani” desisnya.

“Ya, ia benar-benar mengejar kita”

“Jadi, kita akan ditangkapnya?”

Jilid 9 – Bab 4 : Tamu Agung

Pamot tidak menyahut. Tetapi sindangsari yang

ketakutan tiba-tiba saja telah memeluknya eraterat.

“Aku takut. Aku takut Pamot”

Pamot tidak menjawab. Kini ia benar-benar berada

dalam kesulitan. Kalau Ki Reksatani berhasil

menyusulnya maka akibatnya dapat

dibayangkannya.

Karena itu, satu-satunya usahanya adalah

mempercepat lari kudanya. Adapun yang akan

terjadi, biarlah terjadi di hadapan KI Demang di

Kepandak. Seandainya ia harus dibunuh oleh Ki

Reksatani sekalipun.

Dengan demikian, sekuat tenaganya ia melecut

kaki kudanya. Kemudian menyentuh perut kuda itu

dengan tumitnya sehingga kuda yang terkejut itu

meloncat semakin cepat.

Setiap kali Pamot berpaling, maka dilihatnya kuda

Ki Reksatani semakin dekat di belakangnya. Bahkan Ki Reksatani yang sudah

melihatnya pula mengacung-acungkan tangannya sambil berteriak-teriak.

“Apakah umurku sudah sampai batasnya?” bertanya Pamot kepada diri sendiri.

Tetapi Pamot masih berusaha terus. Kudanyapun agaknya mengerti bahwa ia harus

berlari semakin cepat.

Akhirnya Pamot berhasil melintas seluruh bulak. Tetapi ia tidak segera masuk ke

halaman rumah Ki Demang. Ia masih harus berpacu melingkar-lingkar di padukuhan

induk itu, barulah ia akan sampai ke halaman Kademangan.

Pamot tidak mengerti, apa yang akan dilakukan oleh kawannya yang agaknya masih

sempat berpacu mendahuluinya. Kudanya tidak selelah kuda Pamot yang dibebani

oleh dua orang sekaligus.

“Apa yang akan dilakukan?” pertanyaan itu telah mengganggunya.

Ternyata kawan Pamot mendahului mencapai gardu di tikungan. Dengan serta merta

ia meloncat turun di depan gardu yang masih kosong itu. Diambilnya selarak jalan

yang biasa dipasang di malam hari. Sebuah bambu panjang, sepanjang lebar jalan itu.

“Cepat Pamot cepat “serunya.

Pamot agaknya mengerti maksud kawannya. Karena itu iapun mempercepat sejauh

dapat dilakukan.

Sejenak kemudian Pamotpun telah melampaui gardu yang kosong itu. Ketika ia

berpaling dilihatnya kawannya sibuk memasang selarak seperti apabila ada sesuatu

yang penting di malam hari.

Tetapi agaknya kawan Pamot tidak sekedar memasang selarak itu saja. Ia tahu,

bahwa orang-orang Ki Reksatanipun akan dengan mudahnya membuka selarak itu,

meskipun mereka harus berhenti sekejap. Tetapi kawan Pamot itu memanjat sudut

gardu itu dan mengambil kentongan kecil yang tergantung di ujung emper.

Ketika ia meloncat turun, maka dilihatnya di tikungan beberapa ekor kuda berpacu

dengan cepatnya menuju ke arahnya.

Dada anak muda itu berdesir. Tetapi ia tidak boleh menyerah. Dengan tergesa-gesa ia

berlari dan meloncat kepunggung kudanya sambil membawa kentungan itu. Sejenak

kemudian kudanya sudah berpacu meninggalkan gardu itu tepat di saat Ki Reksatani

berteriak “Lepaskan selarak itu. Cepat”

Seseorang meloncat turun dari kudanya. Tetapi ketika tangannya mulai menyentuh

selarak itu, ternyata anak muda yang berpacu sambil membawa kentongan itu telah

memukul tanda bahaya. Sambil menyelusuri jalan padukuhan, bergemalah

kentongannya dalam nada titir yang berkepanjangan.

Karena orang yang akan membuka selarak itu menjadi ragu-ragu, Ki Reksatani telah

berteriak “Cepat, apakah kau menjadi gila?”

“O“ orang itu tergagap. Dengan serta merta tangannya menarik selarak dan

melemparkannya ketepi.

Namun waktu yang sekejap itu agaknya telah membuat Ki Reksatani menjadi bimbang.

Ternyata seseorang yang duduk di pintu rumahnya terkejut mendengar suara

kentongan dalam nada yang mencemaskan. Tanpa berpikir panjang, iapun segera

berlari ke sudut rumahnya dan memukul tanda yang serupa.

Demikianlah maka tanda itu telah merambat dari kentongan yang satu kekentongan

yang lain. Bukan saja kentongan di gardu-gardu tetapi juga kentongan di sudut-sudut

rumah. Bahkan seorang yang memiliki kentongan bongkotan glugu telah memukulnya

pula sehingga suaranya bergema di seluruh padukuhan.

“Gila” desis Ki Reksatani yang ragu-ragu. Ia mengerti, bahwa ia memerlukan waktu

untuk mencapai Kademangan. Waktu yang sejenak selama ia membuka selarak, telah

memberikan kesempatan kepada Pamot memperpanjang jarak daripadanya. Apalagi

kini didengarnya suara kentongan dalam nada yang mencemaskan.

“Beberapa orang akan sempat berkumpul di halaman Kademangan Kepandak” desis

Ki Reksatani “aku tidak mau mati seperti harimau di dalam rampogan. Aku harus

datang dalam kesiagaan menghadapi para pengawal dan kakang Demang di

Kepandak”

Para pengiringnya menjadi termangu-mangu.

“Aku tidak akan segera pergi ke Kademangan sekarang. Aku akan mempersiapkan

orang-orangku supaya aku tidak perlu mengulanginya. Pergilah kalian memanggil

kawan-kawan kita yang masih ada di rumah. Panggilah mereka yang menunggu di

pondokan-pondokannya“ lalu kepada pengikut Manguri yang ada diantara mereka ia

berkata “Kalian juga. Panggillah orang-orangmu. Pengawal-pengawal ternak yang ada.

Kita sudah sampai pada batas terakhir untuk bertindak. Kalau kita terlambat, kita

semua akan binasa. Sekarang kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita harus segera

menguasai keadaan. Kita harus menguasai para bebahu dan anak-anak ingusan yang

menyebut dirinya pengawal-pengawal Kademangan”

Sejenak mereka termangu-mangu.

“Kalian tidak usah menunggu Manguri yang terluka. Kalau kita berhasil, ia akan dapat

kita selamatkan. Tetapi kalau kita mati dicincang orang disini, Manguri dan

ayahnyapun akan mengalami nasib serupa“ Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu “Cepat.

Semuanya kita lakukan sekarang. Aku menunggu di ujung desa ini”

Sejenak kemudian, maka berpencaranlah kuda-kuda itu menuju ke arah masingmasing.

Dua orang tinggal bersama-sama Ki Reksatani. Merekapun kemudian

menunggu di ujung desa dengan gelisahnya.

Ternyata perhitungan Ki Reksatani tidak salah. Kentongan dalam nada titir itu telah

mengejutkan setiap orang. Beberapa orang anak muda segera menyambar senjata

masing-masing dan berlari-larian ke halaman Kademangan. Para bebahu dan laki-laki

di sekitar rumah Ki Demangpun segera bersiaga.

Ki Jagabaya yang ada di Kademanganpun terkejut pula. Karena ia belum mengerti apa

yang sudah terjadi, maka iapun tidak segera dapat menjawab beberapa pertanyaan

para pengawal.

“Apa yang terjadi Ki Jagabaya?”

Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya.

“Aku belum tahu” katanya “tenanglah. Sebentar lagi pasti akan ada laporan”

Anak-anak muda yang sudah berada di halaman kademangan menjadi gelisah.

Sementara anak-anak muda yang lain masih berlari-larian menuju ke halaman Ki

Demang di Kepandak.

Ki Demang di Kepandak sendiripun menjadi gelisah mendengar suara kentongan itu.

Setelah menyisipkan senjatanya di pinggangnya, iapun kemudian menuruni tangga

pendapa rumahnya, Hatinya yang selama ini sedang resah karena hilang nya Nyai

Demang, kini serasa menjadi semakin bergejolak mendengar tanda bahaya yang

sudah bergema di seluruh Padukuhan induk. Dan bahkan sudah merayapi ke

padukuhan-padukuhan lain.

Beberapa orang yang berlari-larian keluar dari regol masing-masing, tiba-tiba terkejut

oleh derap kuda yang berlari dengan kencangnya. Dua ekor kuda. Yang di depan

membawa dua orang sekaligus sedang yang di belakang seorang anak muda dalam

pakaian yang tidak lengap berpacu sambil memukul kentongan.

“Apakah mereka sedang saling berkejaran?” bertanya salah seorang.

“Entahlah. Mereka menuju ke halaman Ki Demang”

“Kita akan pergi ke Kademangan pula” Orang-orang itupun kemudian berlari-larian

mengikuti arah kuda yang berderap di jalan padukuhan itu.

Kademangan Kepandak yang gelisah itu tiba-tiba menjadi semakin hiruk pikuk. Kuda

berlari-larian ke segenap arah. Suara titir yang mengumandang di seluruh

kademangan. Anak-anak muda yang dengan tergesa-gesa berkumpul di Kademangan

dengan senjata di tangan.

Dalam pada itu Ki Reksatanipun menjadi gelisah pula. Hampir-hampir ia tidak bersabar

lagi menunggu orang-orangnya. Tetapi karena jaraknya yang cukup jauh, maka ia

terpaksa menunggu dengan dada yang bergejolak.

Tetapi Ki Reksatani yakin, bahwa Ki Demang di Kepandak tidak akan mencarinya ke

ujung padukuhan. seandainya ia menyadari apa yang akan terjadi, ia akan bertahan di

halaman Kademangan bersama para bebahu dan anak-anak muda yang disebut

pengawal Kademangan.

Ketika Ki Reksatani mengangkat wajahnya, dilihatnya langit sudah menjadi semakin

merah. Matahari perlahan-lahan telah tenggelam di ujung Barat, meninggalkan sisasisa

sinarnya yang tersangkut di bibir awan.

Perlahan-lahan senja yang suram menjadi semakin kelam, seperti hati setiap orang di

Kademangan Kepandak. Belum ada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti,

apa yang sudah terjadi.

Dalam pada itu, dua ekor kuda perlahan-lahan mendekati regol Kademangan yang

menjadi semakin penuh dengan para pengawal di sana-sini anak-anak muda tampak

bersiaga.

“Aku takut kakang” tiba-tiba Sindangsari berdesis dengan suara yang gemetar.

Pamotpun menjadi ragu-ragu karenanya. Sejenak mereka berhenti. Tetapi kawannya

mendekatinya sambil berkata ”Kita harus menyampaikannya kepada Ki Demang

sebelum Ki Reksatani datang mendahului kita”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanyapun bergolak pula. Sekali-sekali

iapun berpaling, tetapi ia tidak segera melihat Ki Reksatani menyusulnya.

“Mungkin Ki Reksatani mempergunakan cara lain setelah ia mendengar titir” berkata

kawan Pamot.

”Baiklah” desis Pamot.

“Tetapi aku takut” sekali lagi Sindangsari berbisik.

“Jangan takut Sari. Kau akan kembali kepada suamimu. Kau akan segera mendapat

perlindungannya”

“Tetapi” suara Sindangsari terputus.

”Marilah”

Terasa di tangan Pamot tubuh Sindangsari menjadi gemetar. Tetapi sebelum Pamot

berkata lebih lanjut, beberapa orang yang melihatnya segera mendekatinya. Di dalam

kesuraman senja orang-orang itu tidak segera mengenal, siapakah yang berada

dipunggung kuda itu.

Tiba-tiba seorang anak muda berdesis ”Kau Pamot”

“Ya”

“Tetapi siapakah yang kau bawa?”

Pamot menarik nafas sekali lagi. Agaknya tidak mudah mengenal seseorang di

keremangan senja, apalagi dalam pakaian yang aneh.

“Siapa?” orang itu mendesak sambil mendekat.

“Aku akan menghadap Ki Demang” desis Pamot.

Tanpa menunggu jawaban, Pamotpun segera menggerakkan kendali kudanya dan

maju mendekati regol halaman.

Orang-orang yang mendekatinya sama sekali tidak menahannya. Mereka telah

mengenal Pamot dengan baik. Tetapi mereka heran juga melihat seseorang yang aneh

duduk dipunggung kudanya pula.

Ketika Pamot telah lalu, merekapun segera mendekati kawan Pamot yang masih

termangu-mangu diatas punggung kudanya. Salah seorang segera bertanya

kepadanya ”Kenapa kau sebenarnya? Apakah kau datang dari sawah langsung

kemari? Apakah karena kau sedemikian tergesa-gesa, tidak sempat mengenakan kain

dan ikat kepala bahkan berkuda?”

Anak muda itupun menggelengkan kepalanya ”Dengarlah apa yang akan dikatakan

Pamot kepada Ki Demang di Kepandak”

“Apa yang akan dikatakannya?”

“Aku kurang tahu”

Orang-orang itupun menjadi termangu-mangu. Kemudian mereka tergesa-gesa

kembali ke halaman untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Pamot kepada Ki

Demang di Kepandak.

Ketika kuda Pamot sampai di regol, orang-orang yang berdiri di regolpun segera

menyibak. Di dalam keremangan senja yang semakin gelap mereka melihat Pamot

membawa seseorang yang agak aneh di pandangan mereka. Tetapi beberapa orang

berbisik ”He, kau kenal orang yang dibawa Pamot diatas punggung kudanya?”

Yang ditanya hanya menggigit bibirnya. Meskipun demikian orang itu berdesis di dalam

hatinya ”Wajah itu mirip sekali dengan Nyai Demang di Kepandak”

Pamot langsung memasuki halaman diatas punggung kudanya. Dengan dada yang

berdebar-debar ia melihat dua buah bayangan yang kehitam-hitaman berdiri di bawah

tangga pendapa. Semakin dekat, menjadi semakin jelas baginya, meskipun kegelapan

mulai menyelubungi Kademangan Kepandak, bahwa dua orang itu adalah Ki Demang

dan Ki Jagabaya.

Pamot baru menghentikan kudanya ketika ia sudah berada beberapa langkah di

hadapan Ki Demang di Kepandak. Iapun kemudian meloncat turun.

“Aku yang datang menghadap Ki Demang”

“Kau Pamot?” bertanya Ki Demang ”kaukah yang menyebabkan seisi Kademangan

menjadi gelisah karena tanda bahaya itu?”

“Ya Ki Demang”

“Kenapa?”

Pamot tidak segera menjawab. Dipandanginya Nyai Demang yang masih duduk diatas

punggung kudanya. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan menolongnya turun

perlahan-lahan.

“Aku takut” masih terdengar desis itu.

Ternyata desis itu telah menghentakkan dada Ki Demang di Kepandak. Suara itu suara

seorang perempuan. Karena itu, maka Ki Demangpun segera meloncat mendekati

sambil bertanya ”Siapa orang ini? Suaranya suara seorang perempuan, tetapi ia

memakai ikat kepala. seperti laki-laki”

Pamot menjadi berdebar-debar. Tetapi ia berkata “Ki Demang. Aku datang untuk

menyerahkan Nyai Demang di Kepandak”

“He?” suara Ki Demang di Kepandak terputus di kerongkongan. Pernyataan Pamot

yang tiba-tiba itu benar-benar telah mengguncang isi dadanya. Justru karena itu

sejenak ia membeku di tempatnya. Dalam kegelapan yang semakin hitam, Ki Demang

memandang seorang perempuan yang berdiri termangu-mangu di sisi Pamot. Bahkan

tanpa sesadarnya, Sindangsari itu masih juga berpegangan pada lengan Pamot.

Perlahan-lahan Ki Demang di Kepandak dapat mengenal wajah itu. Wajah itu adalah

wajah isterinya. Sindangsari yang sedang mengandung. Yang hilang selagi

Kademangan disibukkan oleh peralatan untuk menyambut bulan ke tujuh dari

kandungan Sindangsari itu.

Namun tiba-tiba terkilas di kepala Ki Demang di Kepandak, apa yang sebenarnya

dihadapi. Ketika ia memandang perut Sindangsari yang membesar, sesuatu kenyataan

telah menyambar kepalanya, bahwa sebenarnya anak di dalam kandungan itu sama

sekali bukan anaknya.

Karena itu, sesuatu terasa melonjak di dadanya. Kemudian jantungnya yang

berdentangan serasa tersentuh seonggok bara. Dengan serta-merta Ki Demang di

Kepandak meloncat maju menangkap baju Pamot. Sambil mengguncang-guncangnya

Ki Demang berkata geram “Jadi, jadi benar kau yang menculiknya Pamot? Jadi kaulah

yang telah membuat Kademangan Kepandak ini bagaikan neraka? Kenapa hal itu kau

lakukan he, kenapa?”

“Tidak, tidak Ki Demang. Bukan aku. Bukan aku”

“Jangan ingkar. Jangan ingkar. Darimana kau dapatkan perempuan itu kalau memang

bukan kau yang menyembunyikannya”

“Tidak, tidak Ki Demang“ tiba-tiba terdengar suara Sindangsari.

“O, agaknya semuanya memang sudah diatur. Agaknya kalian memang telah

bersepakat untuk melakukannya”

“Tidak Ki Demang”

“Jangan ingkar” tiba-tiba tangan Ki Demang telah menarik baju Pamot sehingga anak

itu terdorong maju.

“Tunggu Ki Demang” cegah Ki Jagabaya “sebaiknya kita bertanya kepadanya. Apakah

yang akan dilakukan dan apakah yang telah dilakukan”

“Aku tidak mempunyai waktu untuk berbicara dengan orang-orang semacam ini. Ia

telah menghinaku. Ia menganggapku sama sekali bukan seorang laki-laki” lalu

bertanya kepada Pamot ”Pamot, apakah kau merasa bahwa kau seorang laki-laki yang

tanpa tanding? Apakah kau sekarang ingin menantang aku dalam perang tanding?”

“Tidak Ki Demang” suara Pamot gemetar, sedang Sindangsari seolah-olah telah

kehilangan akal tanpa dapat berbuat sesuatu.

Dalam pada itu kawan Pamot segera maju mendekat sambil berkata “Aku adalah saksi

dari semua yang telah terjadi KiDemang”

Ki Demang di Kepandak mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah anak muda itu

dengan tajamnya. Tetapi Ki Demang seolah-olah justru terbungkam.

“Ki Demang” berkata anak muda itu ”Pamot sama sekali tidak bersalah”

Ki Demang memandangnya semakin tajam.

“Aku menyertainya sejak ia meninggalkan Kepandak untuk mencari Nyai Demang”

“Kau mencoba melindunginya?”

“Sama sekali tidak. Tetapi sebaiknya Ki Demang mendengarkan keteranganku”

Ki Demang di Kepandak menjadi ragu-ragu sejenak. Sedangkan anak muda itu

menjadi gelisah. Apabila tiba-tiba saja Ki Reksatani datang dan segera memberikan

keterangan dan kesaksian palsu, maka mungkin sekali Ki Demang akan lebih

mempercayainya.

“Cepat katakan, apa yang telah kau saksikan?” berkata Ki Demang sambil melepaskan

baju Pamot yang dipegangnya.

“Ki Demang” berkata anak muda itu “baik Pamot maupun Nyai Demang di Kepandak

sama sekali tidak bersalah, Ki Demang dapat melihat, bahwa Nyai Demang berpakaian

tidak sewajarnya karena pakaiannya sendiri sebagian telah terbakar”

“Terbakar?”

“Ya. Nyai Demang berusaha untuk membunuh diri dengan membakar bilik tempat ia

disembunyikan”

“Siapakah yang menyembunyikan? Siapa?!!” Ki Demang seakan-akan tidak sabar lagi

menunggu jawab anak muda itu ”jangan berbohong. Kalau kau berbohong karena kau

dan Pamot serta Sindangsari telah bersepakat, maka kalian akan aku gantung

bersama-sama”

“Aku mempunyai saksi. Tidak hanya seorang atau dua orang. Tetapi seluruh isi

padukuhan Sembojan dan Kali Mati. Bahkan seluruh Kademangan Prambanan karena

Ki Jagabaya di Prambanan ikut serta menyelesaikan masalah ini”

“Cepat, katakan apa yang kau lihat”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam keremangan malam ia melihat

bayangan para bebahu dan pengawal kademangan telah mengerumuninya.

“Cepat” bentak Ki Demang di Kepandak. Sekilas dipandanginya Sindangsari yang

kelelahan.

Ia masih saja berdiri di tengah-tengah lingkaran orang-orang Kepandak. Tetapi anak

muda itu tidak berani mengatakan sesuatu tentang Nyai Demang itu.

Karenai itu, maka anak muda itupun segera mulai berceritera, sejak mereka berangkat

meninggalkan Gemulung di malam hari, sampai saat-saat terakhir mereka berada di

Sembojan. Bagaimana mereka harus berkelahi melawan orang-orang Ki Reksatani

dan Manguri dan bagaimana mereka melarikan diri dari Sembojan dikejar oleh Ki

Reksatani dan orang-orangnya.

“Kami hampir saja dapat ditangkapnya. Ki Reksatani berada beberapa puluh langkah

di belakang kami”

Keterangan anak muda itu bagaikan bunyi guruh yang meledak diatas kepala mereka.

Terlebih-lebih Ki Demang di Kepandak. Beberapa kali anak muda itu menyebut nama

adiknya, Reksatani. Beberapa kali Ki Demang berusaha meyakinkan pendengarannya,

apakah benar nama itu yang diucapkan oleh anak muda itu.

Ki Demang di Kepandak hampir-hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya

sendiri, atas nama itu. Nama satu-satunya adiknya.

Karena itu, maka untuk meyakinkan dirinya Ki Demang kemudian bertanya dengan

suara gemetar “Kau sebut nama Reksatani?”

“Ya. Ya Ki Demang. Ki Reksatani. Memang hampir tidak masuk akal. Tetapi aku tidak

berbohong”

Terasa dada Ki Demang seolah-olah akan meledak karenanya. Anak muda itu telah

menceriterakan semuanya. Semuanya yang diketahui tentang Ki Reksatani Semua

yang telah dilihatnya dan semua yang pernah didengarnya dari Pamot.

Ki Jagabayapun bagaikan membeku di tempatnya mendengar keterangan anak muda

itu. Seperti melihat peristiwa di dalam mimpi yang mengerikan. Tetapi beberapa kali ia

mendengar nama itu nama Reksatani. Reksatani. Dan akhirnya Ki Jagabaya yakin

bahwa yang dimaksud adalah Ki Reksatani satu-satunya adik Ki Demang di Kepandak.

Dalam pada itu, Ki Demang di Kepandak masih berdiri membeku di tempatnya.

Sejenak ia mencoba membayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi itu. Selama ini

ia tidak pernah menaruh kecurigaan apapun terhadap adiknya. Bahkan ia sudah

pernah mengatakan kepada Ki Reksatani, bahwa apabila Nyai Demang di Kepandak

tidak segera dapat diketemukan, ia akan meninggalkan Kademangan dan

menyerahkan pimpinan Kademangan ini kepada adiknya itu.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Satu-satu peristiwa-peristiwa yang paling

penting di dalam hidupnya telah membayang. Satu-satu terbayang pula wajah-wajah

isterinya yang terdahulu. Isteri-isterinya yang tidak pernah dapat memberikan seorang

anak kepadanya

Kini isterinya yang terakhir itu sudah mengandung. Kandungan inilah yang membuat

adiknya menjadi gila. Setelah sekian lama ia berpengharapan, agar Ki Demang di

Kepandak tidak mempunyai seorang anak, tiba-tiba harapan itu lenyap seperti asap

tertiup angin Nyai Demang yang terakhir telah mengandung.

“Inilah sebabnya?” ia bertanya kepada diri sendiri kenapa ia tidak berterus terang

mengatakan bahwa ia menginginkan jabatan ini?”

Tetapi apa yang sudah dilakukan oleh Ki Reksatani telah membuat hati Ki Demang

menjadi panas. Seandainya benar keterangan itu, maka justru ia tidak akan dapat

begitu saja menyerah.

Dalam kegoncangan perasaan itu, Ki Demang bertanya dengan suara yang dalam

”Dimana Reksatani sekarang?”

“Kami tidak tahu Ki Demang. Hampir saja kami dapat disusulnya. Tetapi ketika kami

memasuki padukuhan ini, agaknya Ki Reksatani tidak mengejar terus”

Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Dipandanginya Pamot yang masih

berdiri membeku di kegelapan malam. Kemudian ditatapnya Wajah isterinya yang

ketakutan.

Dada Ki Demang tiba-tiba berdesir. Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah yang sangat

muda. Wajah Sindangsari yang memang sebaya untuk menjadi isteri Pamot.

Keduanya seolah-olah memiliki kesamaan. Tatapan mata mereka, bibir mereka,

lengkung alis dan sudut dagu.

“Sindangsari memang pantas menjadi isterinya” tiba-tiba saja, tanpa disadarinya

tumbuh suatu pengakuan di dalam hati ”Kenapa aku dahulu mengambilnya?”

Barulah kini Ki Demang menyadari, betapa pahit hidup Sindangsari selama ini. Sejak ia

diperebutkan oleh Pamot dan Manguri yang hampir saja terjadi korban ketika

gerombolan penjahat ikut campur pula di dalamnya. Dan belum lagi hati gadis itu

menjadi tenang, datanglah dirinya sebagai Demang di Kepandak, tanpa menghiraukan

perasan kedua anak-anak muda itu telah merampas kebahagiaan mereka dengan

paksa.

Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa setelah Sindangsari di Kademangan. Ia lebih

banyak berbuat sebagai seorang ayah terhadap anak gadisnya daripada seorang

suami.

Ketika ia mengetahui bahwa Sindangsari mengandung oleh tetesan darah Pamot,

hampir saja ia membunuh perempuan itu. Namun akhirnya ia memanfaatkannya,

karena ia sendiri memang tidak akan dapat memberinya. Tetapi kandungan itulah yang

telah menyeret Sindangsari ke dalam bencana.

Tiba-tiba Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Seakan-akan ia

dihadapkan pada sebuah cermin yang menunjukkan cacat di wajah sendiri. Bencana

yang mengejar Sindangsari dan Pamot selama ini adalah akibat dari perbuatannya.

Akibat dari keserakahannya. Bahkan ia telah dengan sengaja menjerumuskan Pamot

ke dalam tangan maut, dengan mengirimkannya ke Mataram. Tetapi anak itu masih

tetap hidup.

Kenangan tentang perjalanan hidup Ki Demang itu jelas terbayang di wajahnya. Satusatu.

Sehingga akhirnya ia mengambil suatu keputusan ”Pamot. Bawalah Sindangsari

masuk ke dalam. Aku akan menunggu Reksatani disini” lalu kepada Ki Jagabaya

”perintahkan beberapa pengawal menjaga setiap pintu. Tidak mustahil Reksatani akan

masuk lewat pintu butulan”

Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya. Bersamaan waktunya dengan langkah

Pamot mengantar Nyai Demang di Kepandak masuk ke ruang dalam, maka Ki

Jagabayapun telah menyebar orang-orang kesegenap sudut halaman Kademangan.

Ki Demang di Kepandak sadar, bahwa rencana Ki Reksatani bukanlah rencana yang

baru disusun kemarin. Rencana ini pasti sudah diperhitungkan masak-masak dengan

Manguri dan keluarganya. Karena itu, maka Ki Demangpun sadar, bahwa seandainya

Ki Reksatani akan datang nanti, ia pasti membawa beberapa orang kawan

bersamanya. Ki Reksatani pasti sudah siap untuk bertempur beradu dada. Dan kini,

adik satu-satunya itu pasti sedang mengumpulkan orang-orangnya.

Betapa pahitnya Ki Demang di Kepandak menyadari kenyataan itu. Tetapi semuanya

sudah merayap sampai ke puncaknya sehingga tidak akan mungkin diulang kembali.

Seperti Ki Demang di Kepandak, Ki Rekstanipun seakan-akan melihat seluruh

perjalanan hidupnya yang membayang. Sekilas terkenang masa kanak-kanaknya.

Kakaknya memang seorang kakak yang baik. Yang selalu berusaha mengasuhnya dan

menuntunnya dalam banyak hal.

“Tidak” Ki Reksatani menggeram ”ia sama sekali bukan seorang kakak yang baik. Ia

adalah seorang yang serakah. Seorang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia

sama sekali tidak memberikan apapun kepada Kademangan ini selain merampas

perempuan-perempuan cantik untuk dijadikan isterinya”

Sambil menunggu kawan-kawannya Ki Reksatani mereka-reka apa yang akan

dikerjakan. Ia harus menguasai seluruh halaman Kademangan, memusnahkan orangorang

yang setia kepada Ki Demang di Kepandak. Jumlah itu tidak begitu banyak.

Pengawal ingusan itu akan segera menjadi gentar melihat peperangan yang kalut.

Mungkin satu dua orang yang telah ikut serta pergi ke Betawi akan dapat bertahan.

Tetapi merekapun akan segera dihancurkan.

Setelah Ki Demang di Kepandak dan para bebahu Kademangan dibunuhnya, tugasnya

tidak akan seberat itu lagi. Apalagi Ki Reksatani yakin, bahwa tidak semua pengawal

pergi ke Kademangan karena sebagian dari mereka pasti menjaga padukuhan mereka

masing-masing.

“Tidak ada orang yang dapat menghalangi lagi. Kakang Demang bukan orang yang

tidak terkalahkan. Aku kira, aku akan dapat mengimbanginya” berkata Ki Reksatani di

dalam hatinya. Sekilas terbayang wajah Lamat raksasa yang baginya mulai menjadi

Uar. Sehingga dalam pada itu ia berkata kepada diri sendiri ”Ternyata Lamat memang

seorang pengkhianat. Agaknya ia pulalah yang telah membunuh laki-laki muda yang

hampir saja dapat menerkam Nyai Demang di Kepandak. Pasti Lamat pulalah yang

telah membunuhnya waktu itu”

Demikianlah, maka satu-satu orang-orang Ki Reksatani mulai berdatangan. Ada juga

diantara mereka orang-orang Manguri yang tidak banyak mengetahui persoalannya.

Tetapi mereka sadar, bahwa merekapun sudah terlibat pula di dalam persoalan ini,

sejak mereka harus berjaga-jaga ketika di Kademangan diadakan peralatan

menyambut bulan katujuh kandungan Sindangsari.

Dalam pada itu, seluruh Kademangan Kepandak menjadi panas, terbakar oleh

kekisruhan yang menyeluruh. Ibu Sindangsari yang baru saja pulang ke Gemulungpun

menjadi gemetar. Setiap peristiwa yang terjadi, selalu dihubungkannya dengan

hilangnya anak perempuannya dari Kademangan.

Akhirnya, ketika malam menjadi semakin gelap, baik orang-orang Ki Reksatani,

maupun orang-orang yang merasa berkewajiban melindungi Kademangan Kepandak

telah siap di tempat masing-masing. Rasa-rasanya Ki Reksatani sudah tidak sabar

lagi. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan yang sudah setengah dilakukannya itu.

Semisal orang yang menyeberang sungai, ia sudah terlanjur menjadi basah kuyup,

sehingga lebih baik terus daripada kembali dari tengah.

Demikianlah, maka Ki Reksatani sejenak memandang orang-orangnya yang hampir

semua berada di punggung kuda. Satu-satu dua diantara mereka terpaksa

mempergunakan seekor kuda untuk dua orang.

“Kita sudah sampai pada bagian terakhir dari perjuangan ini” berkata Ki Reksatani

kepada anak buahnya ”Aku sudah mencoba menempuh jalan yang paling baik, yang

tidak akan menumbuhkan pertentangan yang luas, yang tidak akan mengambil korban

terlampau banyak. Tetapi aku sudah gagal. Sekarang, mau tidak mau, senang tidak

senang, kita akan menempuh jalan kekerasan. Tetapi pekerjaan ini bukan pekerjaan

yang terlampau berat. Jumlah kita cukup banyak. Yang kita hadapipun hanyalah

sekedar kambing-kambing yang lemah. Bukan serigala” Ki Reksatani berhenti sejenak,

lalu ”Aku sadar, bahwa setelah semuanya selesai, aku masih harus mempertanggung

jawabkan perbuatan ini kepada pemimpin pemerintahan di Mataram. Mungkin mereka

akan mengirimkan beberapa orang untuk melihat kenyataan yang telah terjadi disini.

Tetapi itu akan dapat aku lakukan kelak dengan sempurna. Aku mempunyai bukti-bukti

kelemahan kakang Demang di Kepandak”

Tidak ada yang menyahut. Orang-orang yang ada di hadapan Ki Reksatani hampir

tidak mempedulikan apa yang terjadi. Hanya beberapa orang yang berhasil dibakar

hatinya sajalah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang lain sama sekali tidak

menghiraukannya. Yang penting bagi mereka, kalau mereka berhasil, maka mereka

akan mendapat upah yang cukup. Ada diantara mereka yang mendapat kesanggupan

untuk menjadi tetua padukuhan-padukuhan di telatah Kepandak. Ada yang akan

mendapat uang tunai. Ada pula yang akan mendapat garapan sawah turun tumurun.

Bahkan orang-orang Manguripun mengharapkan hadiah serupa itu pula. Meskipun

barangkali bukan dari Manguri, tetapi dari Ki Reksatani. Apalagi dari kedua-duanya,

karena kekalahan Ki Demang akan berarti menyelamatkan Manguri meskipun

andaikata Sindangsari tidak tertolong lagi.

Demikianlah, maka ketika mereka merasa sudah cukup kuat, Ki Reksatanipun segera

berteriak ”Kita akan berangkat. Kita akan mengepung halaman depan Kademangan.

Ingat, hanya halaman depan. Tetapi satu dua orang yang telah aku tunjuk akan

mengawasi halaman belakang seandainya Sindangsari berusaha dilarikan orang.

Adalah wewenangnya untuk sekaligus menyelesaikannya. Juga atas Pamot dan

orang-orang lain yang melindungi perempuan itu. Kita akan menghadapi bebahu

Kademangan yang berjiwa kerdil itu serta anak-anak ingusan yang merasa dirinya

pengawal-pengawal yang tidak terkalahkan. Kalau kita menang, aku akan melunasi

semua janjiku. Tetapi kalau kita tidak berhasil, maka kita semuanya akan digantung di

pinggir padukuhan induk ini untuk menjadi tontonan. Karena itu, selagi kita bertaruh

nyawa, kita tidak usah terlampau baik hati atas lawan-lawan kita nanti”

Tidak ada yang menyahut. Dan karena tidak ada sepatah katapun maka Ki

Reksatanipun berteriak ”Marilah kita berangkat. Aku percaya kepaa kalian”

Sejenak kemudian maka kuda-kuda itupun sudah berderap. Mereka yang tidak

mempunyai kuda segera bergayutan pada punggung kuda kawan-kawannya.

Dalam pada itu, orang-orang di halaman Kademangan sudah menjadi gelisah. Setelah

memerintahkan para penawal berjaga-jaga di segenap sudut, Ki Jababayapun kembali,

pula ke halaman. Sambil termangu-mangu ia berdiri di belakang Ki Demang di

Kepandak. Di sisinya Pamotpun berdiri tegak seperti patung. Ditinggalkannya

Sindangsari di dalam biliknya, yang setiap pintu telah dijaga oleh para pengawal.

Bukan saja di luar rumah, tetapi juga di dalam rumah.

“Mereka belum juga datang” akhirnya Ki Jagabaya berdesis.

Ki Demang tidak menyahut. “Apakah kita akan menunggu sampai kapanpun?”

bertanya Ki Jagabaya kemudian ”atau pada saatnya kita akan pergi ke rumahnya dan

menangkapnya hidup atau mati?”

“Ia pasti akan datang” geram Ki Demang ”Aku yakin. Dan aku akan menunggunya”

Ki Jagabaya tidak menyahut. Ketika ia sempat memandang wajah Ki Demang,

walaupun di dalam kegelapan, namun tampak, betapa wajah itu menjadi tegang.

Dan tiba-tiba saja Ki Demang itu berkata kepada Ki Jagabaya ”Perintah memasang

obor segala penjuru halaman ini. Kita sedang menyambut tamu agung”

Ki Jagabaya termangu-mangu.

“Cepat. Aku sedang menyambut satu-satunya adikku tersayang. Aku akan

menyambutnya sebagai seorang tamu yang sudah lama sekali aku rindukan”

Ki Jagabaya masih bingung. Tetapi iapun tidak bertanya sama sekali.

Diperintahkannya beberapa orang menyalakan obor dan memasangnya di segala

sudut. Di regol depan, di gardu, di pepohonan dan di dinding-dinding batu, sehingga

halaman itu menjadi terang-benderang bagaikan siang.

Tidak seorangpun yang segera mengerti maksud Ki Demang di Kepandak. Tetapi juga

tidak seorangpun yang berani bertanya. Mereka hanya dapat menduga, bahwa apabila

benar-benar terjadi bentrokan supaya setiap pihak dapat membedakan lawan dan

kawan.

Dalam cahaya obor yang kemerah-merahan tampaklah wajah-wajah yang tegang di

seputar halaman. Di bawah tangga pendapa, di sisi-sisi regol, di pinggir gandok dan di

sepanjang dinding batu. Bahkan ujung-ujung senjata yang telanjang bagaikan daun

ilalang yang mencuat dengan lebatnya.

Dalam pada itu Ki Reksatani dan orang-orangnya berderap menyusuri jalan

padukuhan induk itu menuju ke halaman Ki Demang di Kepandak. Bagaimanapun juga

hatinya menjadi berdebar-debar. Kadang-kadang memang terbayang masa kanakkanak

mereka,kakak beradik anak Demang di Kepandak. Namun justru kedudukan

Demang di Kepandak itulah agaknya yang kini telah memisahkan mereka. Bahkan

diantarai dengan tajamnya senjata.

Semakin dekat halaman Kademangan, hati Ki Reksatani memang menjadi semakin

berdebar-debar, Tetapi iapun kemudian menggeretakkan giginya “Aku sudah

melampaui separo jalan. Apaboleh buat. Apaboleh buat. Kakang Demang adalah

saudaraku karena kebetulan kami dilahirkan oleh ibu yang sama dari ayah yang sama

pula. Tetapi kini kami harus mencari jalan kami masing-masing”

Ki Reksatani telah berusaha mengingkari setiap kata hatinya tentang Ki Demang di

Kepandak, bahwa sampai saat ini, dan sampai kapanpun, ikatan yang ada diantara

mereka tidak akan dapat diputuskan. Ia tidak akan dapat ingkar, bahwa Demang di

kepandak adalah saudara tuanya.

“Tidak. Aku bukan adiknya lagi. Sejak ia menyimpang dari garis kebenaran, ia bukan

kakakku lagi”

Tetapi Ki Reksatani terkejut sendiri. Yang tampak olehnya adalah arti yang kabur dari

kebenaran itu.

Demikian derap kaki-kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan

halaman Kademangan. Karena itu, maka sekali lagi ia berteriak kepada para

pengikutnya ”Hati-hatilah. Jangan gagal kalau kalian tidak ingin digantung”

Ki Reksatanipun segera mempercepat derap kudanya untuk mengimbangi debar

jantungnya yang semakin cepat pula. Namun demikian ia menjadi heran melihat

cahaya yang kemerah-merahan membayang di arah halaman Kademangan.

“Api” desisnya “atau obor-obor yang banyak sekali”

Namun ia menggeram “Persetan. Aku harus membinasakan mereka yang tidak tunduk

atas kehendakku. Aku harus membunuh Sindangsari dan apabila mereka berkeras,

para bebahu Kademangan selain Ki Demang sendiri”

Sejenak kemudian, Ki Reksatanipun sudah melihat seperti yang disangkanya, obor

yang bertebaran di halaman. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin

berdebar-debar karenanya.

Tetapi ia memang sudah membulatkan tekadnya, merampas kedudukan kakaknya

dengan kekerasan.

Orang-orang di Kademanganpun telah mendengar pula derap kuda yang mendekat.

Tidak hanya tiga atau empat, tetapi banyak. Banyak sekali. Sehingga karena itu, tanpa

perintah siapapun, orang-orang segera berloncatan masuk ke dalam dinding-dinding

kebun dan halaman di sebelah menyebelah.

Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Ia maju beberapa langkah dan

berdiri hampir tepat di tengah-tengah halaman rumahnya yang luas, yang beberapa

waktu berselang dipergunakannya untuk berbagai keperluan. Untuk

menyelenggarakan upacara dan pertunjukan-pertunjukan di saat-saat ia kawin

beberapa kali. Untuk berlatih pasukan pengawal khusus yang terdiri dari anak-anak

muda dari beberapa padukuhan di dalam lingkungan Kademangan Kepandak. Untuk

menyelenggarakan upacara bulan ke tujuh kandungan Sindangsari di malam

malapetaka itu. Dan yang terakhir, Ki Demang telah menerima anak-anak muda

Kepandak yang kembali dari Mataram setelah mereka ikut berjuang merebut Betawi.

Kini Ki Demang berada di halaman itu. Dengan tegangnya ia menerima isterinya

kembali, dan kini ia sedang menunggu adiknya yang ternyata telah menimbulkan

bencana tidak saja dari dirinya sendiri, tetapi juga bagi Kademangan di Kepandak.

Sejenak kemudian dada Ki Demang di Kepandak itu berdesir. Ia melihat kuda yang

pertama berlari langsung masuk ke halaman Kademangan, diikuti oleh beberapa ekor

kuda yang lain, langsung bertebaran di jalan yang melingkari halaman Kademangan di

Kepandak.

Ki Jagabaya yang sudah mulai bergerak, tertegun kembali karena Ki Demang berdesis

“Biarkan mereka datang”

Ki Jagabaya berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak berani berbuat apapun juga tanpa

ijin Ki Demang.

Kuda yang langsung masuk ke halaman, berhenti beberapa langkah di dalam regol.

Dua ekor kuda yang lainpun berhenti tepat di regol halaman tanpa menghiraukan

anak-anak muda yang berjaga-jaga di sebelah menyebelah. Sedang yang lain,

seakan-akan telah mengepung halaman Kademangan itu dengan rapatnya. Namun

agaknya mereka tidak memperhatikan, bahwa di belakang mereka, di balik pagar-

pagar kebun dan halaman sebelah menyebelah, beberapa anak-anak mudapun telah

siap menunggu kedatangan mereka.

Ki Reksatani yang masih berada di punggung kudanya mencoba menenangkan

hatinya sejenak. Ditatapnya Ki Demang yang berdiri tegak di tengah halaman seperti

sebuah patung batu yang kokoh.

“Ki Demang di Kepandak” berkata Ki Reksatani dengan lantangnya “mungkin Ki

Demang sudah mendengar serba sedikit tentang usahaku membebaskan Kepandak

dari ketamakanmu”

Ki Demang tidak segera menjawab. Ia masih berdiri di halaman itu bagaikan sudah

membeku.

“He Ki Demang. Jangan ingkar. Rakyat Kademangan Kepandak sudah jemu melihat

tingkah lakumu, seolah-olah seluruh isi Kademangan ini adalah milikmu. Kau dapat

mengambil apa saja yang kau perlukan, termasuk perempuan-perempuan”

Ki Demang tidak menjawab.

“Kau merasa bahwa perbuatanmu tidak dapat diganggu gugat. Kekasaranmu,

ketamakanmu dan kegilaanmu pada harta benda dan perempuan membuat rakyat

Kepandak menjadi muak. Aku adalah penerus dari hasrat hati mereka. Pada saatnya

kau memang harus menyingkir. Kau harus pergi. dari Kepandak untuk selamalamanya.

Kau tidak dapat lagi mengotori tanah peninggalan orang-orang tua kita yang

selama ini kita hormati. Kita agung-agungkan dan kita bina bersama-sama”

Ki Demang masih tetap berdiam diri. Dan Ki Reksatanipun berteriak “Kenapa kau diam

saja Ki Demang? Ayo, cobalah membela diri. Ingkarlah dari segala kejahatan yang

pernah kau lakukan. Kini saatnya telah tiba. Aku membawa sepasukan pejuang yang

akan membebaskan tanah ini dari ketamakanmu”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa kau diam saja he? Kenapa? Apakah kau sudah menjadi bisu, tuli atau apa?”

Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia maju

beberapa langkah. Barulah ia berkata “Reksatani, aku menjadi heran. Kenapa kau tibatiba

marah-marah kepadaku? Bukankah kau selama ini seorang adik yang baik

bagiku? Adikku satu-satunya? Kau banyak memberikan petunjuk kepadaku di dalam

tugasku. Kau banyak memberikan bantuan selagi aku dalam kesulitan. Sekarang,

kenapa tiba-tiba kau berubah? Bukankah kau pergi dari padukuhan ini untuk mencari

mbok-ayumu yang hilang? Kau belum mengatakan hasil dari usahamu, tiba-tiba saja

kau mengumpat-umpat seperti orang mabuk” Ki Demang berhenti sejenak “Reksatani,

turunlah, dan berbicaralah dengan baik”

Jawaban Ki Demang itu benar-benar bagaikan menampar dada Ki Reksatani. Terasa

sejenak dadanya menjadi sesak dan mulutnya bagaikan tersumbat, sehingga ia tidak

dapat segera menjawab.

“Reksatani” berkata Ki Demang selanjutnya “selama ini aku selalu melihat wajahmu

yang cerah. Tingkah lakumu yang sopan dan hatimu yang aku sangka terbuka. Kini

tiba-tiba kau marah-marah tanpa sebab”

Sejenak Ki Reksatani masih terbungkam. Namun kemudian ia menghentakkan giginya

sambil berteriak “Jangan berpura-pura. Kenapa kau menyiapkan para pengawal di

halaman ini? Kenapa kau panggil orang-orang yang selama ini menjilatmu dengan

senjata di tangan?”

“Aku tidak mengerti Reksatani. Aku bahkan terkejut mendengar tanda bahaya yang

tiba-tiba saja bergema di seluruh Kademangan”

Sekali lagi Ki Reksatani membeku. Namun kemudian suaranya menghentak “Jangan

berpura-pura. Ki Demang di Kepandak. Sekarang perananmu sudah selesai. Kau

harus menyingkir. Sudah waktunya orang lain memperbaiki tata kehidupan yang

bernafaskan ketamakan itu”

Tetapi Ki Demang di Kepandak justru tertawa pendek “Reksatani. Apakah yang

sebenarnya kau kehendaki. Kau adalah adikku. Sebenarnya kau dapat berkata

berterus terang. Kau tidak perlu menempuh jalan yang berliku-liku. Jalan yang sulit dan

berbahaya. Tidak saja bagimu sendiri, tetapi juga bagi seluruh Kademangan”

Pertanyaan itu telah menggetarkan dada Ki Reksatani. Sejenak ia memandang Ki

Demang di Kepandak dalam cahaya obor yang terang benderang. Namun kemudian ia

tidak mau terseret oleh arus perasaannya, sehingga ia berkata lantang “Aku

menghendaki semuanya yang sekarang berkuasa bersamamu menyerahkan diri”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Lalu “Maksudmu, apakah aku harus

menyerahkan jabatanku, begitu?”

Pertanyaan itu memang agak membingungkan. Tetapi Ki Reksatani menyahut “Ya.

Kau harus menyerahkan diri”

Jilid 9 – Bab 5 : Perang Tanding Sedarah

“Reksatani, menurut adat yang berlaku, kalau aku

tidak lagi dapat memegang jabatan ini, maka

anakkulah yang harus menggantikannya. Padahal

anakku masih ada di dalam kandungan”

“Persetan dengan anak itu. Kau juga harus

menyerahkan isterimu itu. Isterimu itupun harus

disingkirkan untuk selamanya”

“Reksatani, coba katakan, apakah salah

Sindangsari? Misalnya aku seorang Demang yang

tamak, seorang Demang yang hanya memikirkan

diri sendiri dan mengambil apa saja yang aku

kehendaki termasuk perempuan, maka itu adalah

salahku, bukan salah Sindangsari. Justru

Sindangsari telah terkena akibat dari kesalahanku

itu. Kenapa sekarang Sindangsari harus diikut

sertakan dalam kesalahan ini? Bahkan harus

disingkirkan?”

“Di dalam perutnya ia menyimpan anak

keturunanmu. Itulah salahnya. Dan kesalahan itu

harus ditebus dengan nyawanya”

“Reksatani. Lima kali aku kawin. Tidak seorangpun yang dapat memberikan seorang

anak kepadaku. Sekarang, ketika aku kawin untuk keenam kalinya, isteriku itu sudah

mengandung. Nah, tentu kau tahu Reksatani, bahwa aku menjadi sangat berharga

karenanya. Aku berpengharapan bahwa kelak akan ada keturunan yang dapat

menyambung hidupku”

“Cukup” bentak Reksatani “itulah yang harus dicegah”

“Kenapa? Apakah kau tidak sedang mendapatkan seorang kemanakan?”

“Anak yang lahir karena kekuasaan itu sama sekali tidak berhak atas kedudukan

Demang di Kepandak”

“Kenapa atas kekuasaan? O, maksudmu, aku mengambil Sindangsari karena

kekuasaanku. Baiklah. Jika demikian Sindangsari tidak dapat kau anggap bersalah”

“Persetan semuanya. Pokoknya, kalian harus disingkirkan. Aku akan merampas segala

kekuasaan”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kenapa kau tidak berterus terang sebelumnya Reksatani. Kalau kau berterus terang,

aku tidak akan berkeberatan. Aku tahu kemudian, bahwa kau menjadi gila justru

isteriku telah mengandung. Kau telah kehilangan harapan untuk mendapatkan

kedudukan ini apabila aku mempunyai seorang anak”

“Cukup. Aku tidak akan ingkar. Aku akan menengadahkan dadaku menghadapi

apapun juga”

“Apakah kau sadar, bahwa apa yang kau lakukan itu bertentangan dengan adat?”

“Aku sadar”

“Itu berarti bahwa kau menentang adat? Dan itu berarti kau tidak lagi tunduk kepada

keharusan yang dibenarkan oleh Mataram?”

Ki Reksatani menggeretakkan giginya. Sekarang sudah tidak lagi ada kesempatan

untuk menghiraukan segala macam persoalan itu. Ia sudah sampai di puncak

perjuangannya untuk merebut hari depan bagi dirinya sendiri dan bagi anak-anaknya.

Karena itu, maka iapun menjawab “Ki Demang di Kepandak. Kau sangka orang-orang

Mataram selama ini tidak mengetahui, bahwa kau adalah seorang Demang yang

tamak, yang serakah. Yang sudah sewajarnya disingkirkan. Aku sama sekali tidak

akan mendapat hukuman. Tetapi aku justru akan mendapat penghargaan dan hadiah.

Mungkin tanah ini justru akan mendapat penghargaan dan hadiah. Mungkin tanah ini

justru akan mendapat kekancingan menjadi tanah perdikan karena jasa-jasaku

melepaskan tanah ini dari kekuasaanmu yang tamak itu”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Sokurlah. Itu artinya kau

yakin akan perjuanganmu sekarang. Kau yakini perbuatanmu sebagai suatu perbuatan

yang baik bagi tanah ini. Bukan sekedar ingin merebut kedudukanku sebagai Demang.

Bukan sekedar terbakar melihat isteriku mengandung setelah lima kali aku kawin tanpa

menghasilkan buah apapun, dan selama itu, sedikit demi sedikit telah tertimbun

harapan di hatimu, bahwa apabila aku tidak mempunyai seorang anakpun, kau akan

mewarisi kedudukan ini kelak”

“Diam, diam” bentak Ki Reksatani “kau jangan mengada-ada. Kau tidak usah menutupi

kesalahanmu. Sekarang, kau harus tunduk atas kehendakku”

“Kalau aku tunduk atas kehendakmu, apakah yang akan kau lakukan atasku? Apakah

aku harus menyerahkan kedudukanku dan menyingkir dari Kademangan ini?”

Pertanyaan ini sama sekali tidak diduga-duganya. Karena itu sejenak Ki Reksatani

terdiam. Di tatapnya wajah kakaknya di bawah sorot obor yang terang benderang di

halaman.

Tanpa disadarinya tatapan mata Ki Reksatanipun segera merambat ke wajah Ki

Jagabaya yang tegang. Wajah Pamot yang keras dan wajah-wajah bebahu

Kademangan Kepandak yang lain. Wajah-wajah yang memandangnya dengan penuh

kebencian dan kemarahan. Wajah-wajah yang seakan-akan menudingnya menyimpan

seribu macam pamrih pribadi yang memuakkan.

“Gila” tiba-tiba ia berteriak “kalian harus mati. Kalian harus mati”

“Reksatani” berkata Ki Demang kemudian “kalau kau hanya sekedar ingin

kedudukanku sebagai Demang di Kepandak, baiklah, aku akan mengalah. Memang

mungkin selama ini aku kurang berhasil. Mungkin aku tidak pernah menghiraukan

padukuhan-padukuhan terpencil. Mungkin aku memang menyalah gunakan

kekuasaanku untuk merampas perempuan-perempuan. Kaulah yang selama ini

bekerja keras membangun bendungan dan parit-parit, meskipun yang langsung dapat

bermanfaat bagi sawahmu. Tetapi tentu bermanfaat pula bagi sawah di sekitarnya” Ki

Demang berhenti sejenak, lalu “Baiklah. Aku akan berkemas untuk menyerahkan

jabatanku kepadamu. Aku akan hidup sebagai seorang petani biasa seperti orangorang

lain”

Wajah Ki Reksatani menjadi merah padam. Sedang Ki Jagabayapun menjadi semakin

tegang pula. Sejenak dipandanginya Ki Demang dengan sorot mata yang aneh.

Tetapi Ki Demang justru menjadi sangat tenang. Karena Ki Reksatani tidak menyahut,

maka ia melanjutkan kata-katanya “Reksatani. Kau dapat tinggal di Kademangan ini.

Aku akan membawa isteriku pindah ke rumah lain. Rumah seorang petani biasa. Aku

berjanji bahwa aku tidak akan mengganggumu. Kau berhak memerintah sebagai

seorang Demang sepenuhnya. Kepada pimpinan pemerintahan di Matarampun aku

akan mengatakan, bahwa aku menyerahkan kekuasaanku dengan suka rela”

Wajah Ki Reksatani menjadi bagaikan menyala. Dengan suara gemetar ia berkata

“Tetapi, tetapi bagaimana dengan anamu kelak? Apakah kau menjamin bahwa ia tidak

akan menuntut haknya?”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku akan memberitahukan

kepadanya kelak, bahwa hak itu sudah aku berikan kepadamu. Kepada satu-satunya

adikku”

Tiba-tiba dada Ki Reksatani bergetar. Seperti guruh yang meledak terdengar katakatanya

“Bohong. Semuanya omong kosong. Mungkin karena ketakutan sekarang kau

bersedia menyerahkan kedudukanmu. Tetapi kelak, anakmu pasti akan kau ajari

menuntut haknya. Apalagi apabila kau masih merasa kuat. Pengikut-pengikutmu yang

selama ini menjadi penjilat itu akan dapat kau gerakkan pada suatu saat untuk merebut

kembali hak itu daripadaku. Dari keturunanku”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Katanya “Jadi kau sudah tidak mempercayai aku

sama sekali Reksatani?”

“Tidak. Orang semacam kau memang tidak dapat dipercaya lagi”

“Jadi“

“Tidak ada tempat bagimu di Kepandak”

Ki Demang memandang Ki Reksatani dengan wajah yang semakin tegang “Jadi

maksudmu, aku akan kau usir dari Kepandak?”

“Ya. Tidak saja dari Kepandak. Tetapi kau harus dilenyapkan supaya pada suatu saat

baik kau maupun anakmu tidak akan dapat lagi membuat onar di Kademangan ini”

“Reksatani” potong Ki Demang di Kepandak “jadi maksudmu, kau akan membunuh aku

sekeluarga?

“Ya” suara Reksatani tegas.

Bagaimanapun juga Ki Demang menjaga perasaannya, namun jawaban yang tegas itu

membuatnya gemetar. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya

perlahan-lahan “Reksatani. Adalah menjadi naluri manusia untuk mempertahankan

hidupnya, seperti kita ingin mempertahankan kehadiran kita dan kelanjutan garis

keturunan kita Bahkan mahluk yang paling lemah sekalipun akan berusaha

mempertahankan hidupnya di saat-saat menghadapi kematian”

“Aku sudah memperhitungkannya” jawab Ki Reksatani “dan sudah siap

menghadapinya. Aku datang bukan seorang diri. Aku datang bersama-sama rakyat

Kepandak yang meyakini keadaan dan mengharap masa depan yang jauh lebih baik”

Tiba-tiba saja Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Sekian lama ia

mencoba menyabarkan diri untuk menjajagi niat adiknya yang sebenarnya. Dan kini

dadanya itu rasa-saranya hampir meledak karenanya.

“Reksatani” suara Ki Demang tiba-tiba menjadi bergetar sehingga semua orang yang

mendengarnya menjadi terkejut karenanya. Mereka yang sudah mengenal Ki Demang

bertahun-tahun segera mengetahui, bahwa Ki Demang telah sampai pada puncak

kemarahannya “Aku memang sudah mengetahui apa yang akan kau lakukan. Tetapi

seperti yang kau lihat, akupun sudah siap menyambutmu. Kau sangka anak-anak

Kepandak tidak mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan di hatimu”

“Itu hanya akan menambah korban. Sebaiknya mereka yang aku kehendaki menyerah

tanpa perlawanan. Yang lain akan aku ampuni dan akan mendapat kesempatan untuk

ikut serta membangun Kademangan ini sebaik-baiknya”

“O, jadi maksudmu, kami beberapa orang yang tidak kau sukai harus berdiri berjajar

sambil menundukkan kepala kami untuk kau penggal satu demi satu?”

“Ya”

“Termasuk Sindangsari dan anak di dalam kandungan itu?”

“Ya”

“Gila kau Reksatani. Hatimu sudah dicengkam oleh kehitaman hati setan yang paling

jahanam. Jangan kau sangka bahwa kami, orang-orang Kepandak adalah cucurut

yang tidak mengenal harga diri. Kau tidak akan dapat memaksakan kehendakmu itu

atasku. Aku sudah siap. Apakah yang akan kau lakukan”

Dada Ki Reksatani berdegup semain keras. Sejenak ia mengedarkan pandangan

matanya ke sekeliling halaman. Dilihatnya orang-orangnya sudah siap diatas

punggung kudanya. Bahkan merekapun sudah siap dengan senjata di tangan masingmasing.

Orang-orang itu hanya menunggu aba-abanya saja. Mereka pasti akan

langsung menyerbu masuk ke halaman dan membunuh setiap orang yang melakukan

perlawanan. Kuda-kuda mereka pasti akan sangat membantu di dalam pertempuran

itu.

Tetapi sebelum ia menjatuhkan perintah, tiba-tiba-tiba terdengar suara Ki Demang di

Kepandak lantang ”Reksatani. Persoalan ini sebenarnya adalah persoalan diantara

kita. Kau dan aku. Aku kebetulan lahir lebih dahulu daripadamu, sehingga aku menurut

adat, menerima warisan kedudukan ayah Demang di Kepandak. Sekarang kau

menuntut hak itu agar temurun kepadamu. Semua persoalan yang kemudian tumbuh

adalah persoalan sampingan yang sebenarnya tidak menyentuh persoalan pokoknya.

Isteri, anak, bebahu dan anak-anak muda itu adalah sekedar rangkaian dari peristiwa

ini. Tetapi marilah kita kembali kepada sumber persoalan tanpa mengorbankan orang

lain yang tidak berkepentingan langsung dengan persoalan ini. Karena itu, seperti yang

dicita-citakan oleh ayah kita, bahwa kita akan menjadi seorang laki-laki jantan, kita

akan menyelesaikan persoalan ini tanpa menyeret orang-orang lain ke dalamnya.

Tanpa mengorbankan bebahu Kademangan Kepandak. Tanpa mengorbankan para

pengawal dan tanpa mengorbankan apapun juga, terlebih-lebih ikatan persatuan

rakyat Kepandak. kalau aku mati di dalam perang tanding ini, kau berhak atas segalagalanya.

Para bebahu Kademangan inipun akan tunduk kepadamu. Merekapun akan

melindungi namamu terhadap orang-orang Mataram seandainya mereka mencium

persoalan ini. Terhadap isteri dan anakkupun kau dapat berbuat sesuka hatimu.

Apakah mereka akan kau buhuh, atau kau perlakukan seperti apapun juga. Tetapi

kalau kau kalah, semua orang-orangmu harus menyerah. Tetapi siapa yang mencoba

melakukan perlawanan, aku akan membunuhnya tanpa ampun. Nah, apa katamu?”

Terasa darah Ki Reksatani seakan-akan mendidih sampai ke ujung ubun-ubun. Ia

sadar, bahwa tantangan ini adalah tantangan laki-laki jantan. Dan Ki Reksatanipun

ternyata bukan seorang pengecut.

Sambil menggeretakkan giginya ia meloncat dari kudanya sambil berteriak “Aku terima

tantanganmu Ki Demang di Kepandak. Seperti cita-cita ayah kita. Kita adalah laki-laki

jantan”

Tetapi terbersit di hati Ki Demang di Kepandak “Tetapi bukan menjadi cita-cita ayah

kita, bahwa kita harus berhadapan di arena seperti ayam jantan di aduan”

Tetapi iblis benar-benar sudah merasuk ke dalam hati Ki Reksatani. Ia tidak melihat

apapun lagi, selain Ki Demang di Kepandak. Tidak ada keinginan apapun lagi di

hatinya saat itu, selain membunuh saudara kandungnya.

Setiap dada serasa bernafas, ketika mereka melihat di bawah cahaya obor yang

terang di halaman Kademangan, dua orang laki-laki yang pilih tanding sedang

berhadapan. Terlebih lagi keduanya adalah saudara sekandung, seibu dan seayah.

Ki Jagabaya memalingkan wajahnya sejenak. Hampir tidak tahan ia melihat dua orang

laki-laki sekandung itu menarik senjata masing-masing. Pusaka yang mereka terima

dari sumber yang sama, dari ayah mereka berdua.

“O” terdengar Ki Jagabaya mengeluh pendek. Ia bukan seorang yang memanjakan

perasaannya. Tetapi di dalam keadaan itu, hatinya benar-benar bergetar.

Pamot berdiri membeku di tempatnya. Ia tidak tahu, apakah sebenarnya yang

bergejolak di dalam hatinya. Tetapi terasa betapa suasana di halaman itu menjadi

tegang dan seakan-akan tidak lagi memberikan udara buat bernafas.

Bukan saja keduanya, terlebih-lebih orang-orang tua yang mengintip dari kejauhan.

Orang-orang tua yang pernah mengalami hidup pada suatu masa dengan Demang di

Kepandak yang terdahulu. Ayah dari kedua laki-laki yang kini berhadapan di halaman

rumah itu. Rumah mereka semasa kanak-kanak. Di halaman itu pula mereka dahulu

bermain-main. Di halaman itu pula mereka dahulu berkejar-kejaran. Dan kini, di

halaman itu pula mereka bermain-main dengan senjata.

Alangkah pahitnya peristiwa yang terjadi itu. desis salah seorang dari mereka.

Demikianlah kedua kakak beradik itu sudah berhadapan dengan senjata di tangan

masing-masing. Keris yang mereka terima dari ayah mereka. Pusaka peninggalan

yang tidak pernah di impikan saat itu oleh ayahnya, bahwa pada suatu saat kedua

keris itu akan beradu di arena perkelahian.

“Reksatani” berkata Ki Demang “apakah kau benar-benar sudah kehilangan

pertimbangan”

“Aku tidak akan berbicara lagi. Kita akan berkelahi”

“Kau benar-benar sudah kerasukan iblis. Apaboleh buat. Aku tidak mau mati sambil

menundukkan kepala”

“Persetan. Itu urusanmu. Tetapi aku akan membunuhmu, kemudian membunuh

perempuan itu”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia berpaling.

Ditatapnya wajah Pamot yang tegang. Namun Ki Demang itu tidak berkata sepatahpun

juga.

“Cepat” teriak Ki Reksatani “aku akan mulai”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah Reksatani. Kalau itu

keputusanmu”

Ki Reksatani tidak dapat menahan gelora di dadanya. Iapun kemudian segera

meloncat menyerang. Seperti di saat-saat ia berkelahi melawan Lamat, maka iapun

segera mengerahkan segenap kemampuannya. Ia tidak mau mengalami kegagalan

sekali lagi. Ia tidak mau kehilangan waktu. Kalau pada saat itu Nyai Demang

disingkirkan, maka ia akan kehilangan perempuan itu sekali lagi.

Tetapi Ki Reksatani sudah memerintahkan beberapa orang untuk mengawasi seluruh

halaman dan kebun belakang dari Kademangan ini. Tidak akan ada seorangpun yang

akan dapat lolos dari tangannya apabila ia sudah berhasil membunuh Ki Demang di

Kepandak.

Demikianlah maka perkelahian itu segera menjadi perkelahian yang seru. Darah Ki

Reksatani benar-benar telah mendidih. Tidak ada lagi yang menghalanginya kini.

Perasaannya seakan-akan telah membeku.

Keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding. Keduanya berguru pada guru yang

sama untuk waktu yang hampir sama pula. Meskipun Ki Demang di Kepandak lebih

tua dari Ki Reksatani, namun saat-saat mereka memasuki perguruan hampir

bersamaan. Demikian pula saat-saat mereka meninggalkan perguruan setelah ilmu

yang mereka serap dianggap cukup.

Bahkan umur Ki Reksatani yang lebih muda, agaknya membuat nafas Ki Reksatani

masih lebih segar dari Ki Demang di Kepandak.

Karena itulah, maka perkelahian itu benar-benar merupakan perkelahian yang

mendebarkan. Desak mendesak silih berganti. Kedua senjata di tangan kedua orang

itu berputar dengan dahsyatnya. Sekali-sekali mematuk, kemudian menyambar

mendatar. Disusul oleh serangan-serangan yang hampir tidak dapat diikuti oleh mata

telanjang.

Dua helai keris di tangan Ki Reksatani dan Ki Demang itu, di mata mereka yang

mengelilingi arena, seakan-akan telah berubah menjadi berpuluh-puluh keris yang

berputaran di tangan sepasang penari yang sedang menarikan tari maut.

Orang-orang yang ada di seputar arena itu menjadi seakan-akan membeku. Meskipun

diantara mereka pernah menyaksikan perkelahian yang dahsyat, tetapi perkelahian

diantara dua orang kakak beradik itu benar-benar telah menggetarkan dada mereka,

seakan-akan jantung mereka menjadi berhenti berdetak. Mereka yang selama ini

sekedar mengagumi Ki Demang di Kepandak dan Ki Reksatani sebagai pelindung

Kademangan mereka dari kejahatan-kejahatan para perusuh dan penjahat, kini

mereka melihat bagaimana sebenarnya kemampuan mereka berdua.

Ki Jagabaya yang berdiri di halaman itu juga, seakan-akan telah membeku di

tempatnya. Terasa dadanya bagaikan akan pecah menyaksikan perkelahian itu.

Meskipun ia mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka, namun

melihat perkelahian itu jantungnya bagaikan akan rontok. Ia telah ikut membina

Kademangan ini bertahun-tahun. Meskipun kadang-kadang ia tidak sesuai dengan

kehendak Ki Demang di Kepandak, terutama mengenai persoalan pribadinya, namun

bagi Kademangan, ia telah bekerja keras bersamanya. Bahkan bersama-sama

keduanya, kakak beradik yang kini tengah berkelahi mati-matian mempertaruhkan

nyawa mereka.

“Kenapa tiba-tiba Ki Reksatani telah dicengkam oleh kekuasaan iblis untuk merebut

kedudukan kakaknya?” tersirat pertanyaan di hati Ki Jagabaya.

Namun peristiwa ini memang tidak berdiri sendiri. Bahkan hampir setiap bebahu

Kademangan dan orang-orang yang berdiri mengitari arena itu telah mengetahui

bahwa keinginan Ki Reksatani itu telah tumbuh perlahan-lahan. Sehingga akhirnya ia

telah terjerumus ke dalam kelemahan hati.

“Tetapi kalau Ki Demang di Kepandak menyadari keadaan itu sejak semula, keadaan

pasti akan lain” desis Ki Jagabaya di dalam hatinya pula.

Tetapi siapa dapat membaca hati seseorang.

Meskipun demikian Ki Jagabayapun, melihat juga ketamakan Ki Demang di Kepandak.

Enam kali ia kawin. Perkawinan yang tidak menghasilkan anak, selain yang terakhir.

Perkawinan yang lima kali itulah sebenarnya yang telah memupuk tumbuhnya niat

yang hitam di hati Ki Reksatani tanpa dikehendakinya sendiri.

Namun demikian, perkelahian diantara keduanya telah membuat dada Ki Jagabaya

bergelora. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sadar, bahwa keduanya sedang

dibakar oleh perasaan yang meluap-luap, sehingga nalar mereka pasti tidak akan

dapat bekerja sewajarnya, meskipun Ki Demang di Kepandak masih berusaha untuk

mencari keseimbangannya.

Demikianlah, hati rakyat di Kademangan Kepandak telah tergetar menyaksikan apa

yang telah terjadi di halaman Kademangan. Sampai beberapa saat mereka tidak dapat

menduga, siapakah di antara keduanya yang akan menang.

Meskipun rakyat di Kepandak, kadang-kadang juga tersinggung rasa keadilan mereka

karena tindakan-tindakan Ki Demang yang selama ini mereka anggap sebagai seorang

laki-laki yang menggetarkan hati setiap orang yang mempunyai anak gadis, namun di

saat-saat ia bertempur mati-matian melawan Ki Reksatani, diam-diam mereka

berharap agar Ki Demang di Kepandak dapat selamat keluar dari perkelahian itu.

Bagaimanapun juga sikap Ki Reksatani, yang seakan-akan telah merebut kekuasaan

kakaknya dengan kekerasan, bahkan sebelumnya ia telah berusaha mengorbankan

seorang perempuan yang tidak bersalah yang untung dapat diselamatkan, sama sekali

tidak menarik bagi rakyat Kepandak.

Maka semakin lama perang tanding diantara kakak beradik itupun menjadi semakin

sengit. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam diri

masing-masing, kemampuan yang bersumber pada guru yang sama.

Ki Demang di Kepandak yang lebih tua, ternyata memiliki perhitungan yang lebih

masak. Ia tidak banyak bergerak di dalam olah senjata. Tetapi setiap ia melangkah,

maka udara maut telah berdesing di telinga Ki Reksatani. Namun Reksatani yang lebih

muda itu memiliki nafas yang lebih segar. Ia mampu bergerak lebih lincah dan cepat.

Seperti bilalang ia meloncat berputaran mengelilingi lawannya sambil memutar

kerisnya. Sekali-sekali ia melingkar sudut, namun tiba-tiba kerisnya telah menyambar

lambung. Demikian cepatnya, sehingga kadang-kadang orang-orang yang

menyaksikan perkelahian itu menjadi bingung.

Tetapi Ki Demang di Kepandak sama sekali tidak bingung. Beberapa langkah dari

arena, di belakang Ki Jagabaya, Pamot berdiri termangu-mangu. Iapun tidak mampu

menilai perkelahian itu. Tetapi yang lebih dalam menekan perasaanya,bahwa iapun

tidak mengerti, apakah yang diharapkan dari perkelahian itu. Seandainya ia

mengharap Ki Demang di Kepandak memenangkan perkelahian itu, maka selama

hidupnya hatinya akan tersayat melihat Sindangsari setiap kali duduk di pendapa

Kademangan memangku anak yang kini sedang dikandungnya. Selama ia berpacu

diatas punggung kuda membawa perempuan itu dari Sembojan, terasa tunas yang

tumbuh di dalam hatinya, dan yang ingin dipadamkannya itu rasa-rasanya menjadi

bertambah mekar. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi Sindangsari baginya adalah

seorang perempuan yang telah mendapat tempat di hatinya.

Meskipun ia berdiri di arena perkelahian itu, namun ia masih sempat membayangkan,

Nyai Demang di Kepandak, duduk bersama suaminya menunggui anak mereka yang

berlari-larian di halaman, bermain-main dengan biji-biji kemiri atau beradu kecil dengan

kawan-kawannya.

“Alangkah sakit hati ini” desisnya.

Tetapi Pamotpun tidak dapat mengharapkan Ki Reksatani memenangkan perkelahian

itu. Jika demikian, maka niat Ki Reksatani untuk membunuh Sindangsari itupun pasti

akan dilaksanakannya, karena di dalam perut Sindangsari terimpan anak yang

dianggap berhak atas warisan yang akan ditinggalkan oleh Ki Demang di Kepandak.

Meskipun seandainya Ki Reksatani berhasil, maka hak atas Kademangan ini akan

tetap menjadi milik anak di dalam kandungan itu sehingga anak itu harus dilenyapkan

pula.

Dengan demikian, maka Pamot telah terlibat di dalam persoalan yang menyangkut

dirinya sendiri. Bagaimanapun juga ia berusaha melenyapkannya, dan bagaimanapun

juga ia berusaha melihat persoalan itu lepas dari persoalan pribadinya, namun setiap

kali bayangan itu telah timbul diangan-angannya.

“Persetan” Pamot tiba-tiba saja mengumpat di dalam hatinya ”apapun yang terjadi, aku

tidak akan mendapatkan Sindangsari. Biar saja Ki Demang di Kepandak terbunuh,

kemudian Sindangsari dan anaknya dibunuh pula. Itu barangkali lebih baik daripada

aku setiap hari melihatnya duduk di pendapa Kademangan ini berdua dengan Ki

Demang di Kepandak”

Namun dalam pada itu, terdengar suara di dalam hatinya ”Itu pikiran gila. Setiap orang

berusaha menegakkan kemanusiaan. Punta dan kawan-kawan telah bersusah payah

membantu membebaskan Nyai Demang di Kepandak. Bahkan Lamat yang selama ini

merasa dirinya telah tergadai oleh ayah Manguripun melihat bahwa keadilan sedang

terancam di Kademangan Kepandak, dan bahkan Ki Reksatani sedang berusaha

menegakkan kekuasaan berdasarkan kekuatan”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian digertakkan giginya sambil

berkata “Ki Reksatani memang sedang berkhianat. Aku tidak boleh terpancang pada

persoalan pribadiku.

Namun demikian Pamot tidak segera dapat berbuat apa-apa. Tetapi seandainya para

pengikut Ki Reksatani berbuat curang, maka ia tidak akan dapat tinggal diam. Ia tidak

sekedar membebaskan Sindangsari dari Sembojan dan membawanya ke Kepandak

karena ada ikatan batin diantara dirinya dan Sindangsari, tetapi itu merupakan suatu

keharusan bagi mereka yang ingin menegakkan kemanusiaan dari kesewenangwenangan.

Pamot seakan-akan sadar dari mimpinya ketika ia melihat Ki Reksatani meloncat

menyerang dengan dahsyatnya. Namun Ki Demang di Kepandak yang leih masak itu

masih berhasil mengelakkan dirinya dengan beringsut selangkah.

Tetapi Ki Reksatani masih memburunya. Seperti orang yang kehilangan akal, ia

menyerang membabi buta. Tandangnya jauh lebih kasar dari tandang kakaknya,

meskipun ilmunya serupa, nafsu yang menggelora di dadanya telah membuatnya

menjadi seakan-akan bertambah buas.

Bagai seekor harimau yang lapar, Ki Reksatani menyerang kakaknya. Senjatanya

ternyata melampaui ketajaman kuku-kuku harimau yang paling ganas. Tetapi Ki

Demang di Kepandak yang lebih tenang bertempur bagaikan seekor banteng yang

terluka. Setiap geraknya yang mantap pasti mendesak lawannya beberapa langkah

surut.

Selagi di Kepandak terjadi perkelahian yang mengerikan, yang tidak diketahui kapan

akan berakhir, di Sembojan Lamat menggeliat dengan gelisahnya.

Obat yang ditaburkan pada lukanya, serta cairan yang telah diminumnya membuat

tubuhnya yang memiliki daya tahan luar biasa itu menjadi agak segar. Namun

hatinyalah yang rasa-rasanya menjadi bertambah kalut. Ia tidak berhasil menyingkirkan

bayangan yang mengerikan yang dapat terjadi atas Pamot di sepanjang

perjalanannya.

“Tidurlah” berkata dukun tua yang menungguinya.

Lamat menganggukkan kepalanya, tetapi jangankan tidur meskipun hanya sejenak,

sedangkan memejamkan matanya saja rasa-rasanya tidak dapat dilakukannya. Setiap

kali dadanya berdesir, seolah-olah ia mendengar jerit Sindangsari di tengah perjalanan

dan terbayang mayat Pamot terbujur di telapak kaki Ki Reksatani.

“Punta” desis Lamat kemudian.

Punta yang menungguinya mendekatkan telinganya.

“Bagaimana dengan Pamot?”

Punta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita berharap agar ia selamat”

“Tetapi hatiku rasa-rasanya selalu berdebaran”

“Tenangkan perasaanmu Lamat. Kau harus beristirahat”

“Tubuhku sudah terasa segar. Barangkali lukaku sudah tidak sakit lagi” Lamat berhenti

sejenak, lalu “aku sudah dapat berkuda ke Kepandak”

“Jangan sekarang”

“Aku tidak mau terlambat. Kalau Pamot dan Sindangsari masih hidup, aku ingin melihat

mereka berdua di Kademangan Kepandak. Tetapi kalau mereka sudah mati, aku ingin

melihat mayatnya”

“Tunggulah sampai besok Lamat”

“Badanku sudah segar. Aku sudah berhasil menguasai bukan saja perasaan sakit,

tetapi juga urat-urat nadi di segenap tubuhku. Dengan bantuan obat yang ditaburkan

dari luar, dan obat cair yang aku minum, aku sudah menemukan kekuatanku kembali”

“Kau masih terlampau lemah”

“Tidak”

Tetapi dukun tua di sampingnya berkata “Kau masih harus beristirahat. Jangan kau

paksa dirimu melakukan langkah-langkah yang dapat membuat luka-lukamu kambuh

dan berdarah lagi”

Lamat tidak menjawab. Tetapi tarikan nafasnya yang panjang menyatakan kegelisahan

perasaannya.

Sejenak kemudian Lamat tidak mengatakan apapun juga. Bahkan perlahan-lahan

matanya mulai terpejam. Sekali-sekali masih terdengar tarikan nafasnya yang dalam.

Namun semakin lama nafasnya menjadi semakin teratur, sehingga Punta yang

menungguinya menjadi agak tenang pula.

“Ia tertidur” bisiknya kepada dukun yang menungguinya.

“Ya. Ia tertidur”

Puntalah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya dua orang

yang terkantuk-kantuk duduk di depan pintu. Agaknya mereka masih harus menunggui

Manguri dan ayahnya yang ada di ruang itu pula. Tetapi seperti Lamat, merekapun

tidak dapat tertidur pula. Dengan gelisahnya ayah Manguri berjalan hilir mudik,

kemudian duduk sejenak, dan segera bangkit pula dengan tarikan nafas yang dalam.

Dalam pada itu, ketika Lamat telah tertidur nyenyak, maka Puntapun merasa perlu

untuk beristirahat pula. Tetapi ia tidak sampai hati meninggalkan Lamat tertidur di

pembaringan itu tanpa pengawalan, karena ayah Manguri yang mendendamnya akan

dapat berbuat banyak hal yang tidak terduga duga.

Karena itu, maka diserahkannya Lamat kepada seorang kawannya dari Kali Mati yang

masih ada di tempat itu juga untuk mendapatkan dua orang yang dapat dipercaya

untuk menunggui Lamat yang tertidur nyenyak.

“Biarlah aku saja yang menungguinya” berkata kawannya.

“Kau juga lelah seperti aku” sahut Punta. Kawannya mengangguk-anggukkan

kepalanya. Ia sendiri memang terlampau lelah. Karena itu, maka dimintanya dua orang

anak muda yang masih segar untuk menunggui Lamat yang sedang tertidur nyenyak.

Punta dan kawan-kawannya yang telah memeras tenaga itupun kemudian

meninggalkan ruangan itu dan pergi ke gandok. Merekapun merebahkan diri pula

untuk sekedar dapat beristirahat, sebelum tugas-tugas lain masih akan menunggu

besok.

Sepeninggal Punta, dukun tua dan kawan-kawannya, maka perlahan-lahan Lamat

menggeliat. Ketika ia membuka matanya perlahan-lahan, ternyata bahwa yang

menungguinya anak-anak muda yang belum dikenalnya.

“Ia sudah pergi” desisnya.

Sebenarnyalah bahwa Lamat sama sekali tidak tertidur. Ia berusaha untuk melepaskan

diri dari pengawasan Punta dan dukun yang mengobatinya. Ternyata ia sudah tidak

dapat lagi mengekang perasaannya, untuk melihat apa yang terjadi dengan Pamot dan

Sindangsari di perjalanan.

Karena itu perlahan-lahan ia menggerakkan kepalanya. Kemudian tangan dan kakinya.

Rasa-rasanya tubuhnya sudah menjadi jauh lebih segar dan kekuatannyapun sudah

hampir dimilikinya kembali, meskipun luka-lukanya masih juga terasa pedih.

“Tidurlah” berkata salah seorang anak muda yang menungguinya.

Lamat mencoba tersenyum. Tetapi justru ia bangkit perlahan-lahan.

“Jangan bangkit”

“Aku sudah sehat”

“Tetapi tidurlah”

Lamat mengangguk. Dan diletakkannya kepalanya kembali diatas pembaringan. Tetapi

iapun kemudian bangkit kembali sambil berkata “Di manakah pakiwan? Aku akan pergi

ke pakiwan sebentar saja”

“Tetapi kau harus beristirahat”

“Perutku sakit. Dan aku ingin mencuci tangan dan kaki supaya badanku menjadi

semakin segar”

“Luka-lukamu akan menjadi sangat pedih apabila tersentuh air”

“Aku kira tidak lagi. Tetapi akupun hanya akan sekedar membasahi telapak tangan dan

kaki, serta sedikit pada ubun-ubunku yang panas”

Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun merekapun saling

menganggukkan kepalanya.

“Marilah” berkata salah seorang “tetapi hati-hatilah”

Lamatpun kemudian bangkit berdiri dari pembaringannya. Dirabanya untuk mengetahui

keadaan tubuhnya. Digerak-gerakkannya segenap persendiannya. Dan agaknya tubuh

itu sudah tidak terlampau lemah lagi.

“Marilah aku tolong” berkata salah seorang anak muda itu.

Lamat tersenyum. Jawabnya “Aku sudah dapat berjalan sendiri”

Kedua anak-anak muda itu menjadi kagum. Luka-luka Lamat yang arang kranjang itu

seakan-akan sudah tidak terasa lagi. Dengan langkah yang mantab, Lamat berjalan

seperti seorang yang tidak pernah terkena sesuatu menuju ke pintu”

“Dimana pakiwan itu?”

“Di belakang”

Lamatpun kemudian mengikuti salah seorang dari anak-anak muda itu yang

membawanya ke pakiwan di belakang rumah.

“O, itu agaknya, di dekat sumur” berkata Lamat.

”Ya”

“Sudahlah. Tinggalkan aku. Aku akan segera kembali ke ruang depan”

Tanpa prasangka apapun anak muda itupun kembali kepada kawannya yang masih

berdiri di depan rumah.

“Mana orang itu?”

“Di pakiwan. Agaknya ia tidak menahan lagi”

Keduanya tidak lagi mempersoalkannya. Mereka mulai berbicara tentang peristiwa

yang baru saja terjadi. Mereka masih juga menyinggung-nyinggung Lamat dengan

penuh kekaguman.

“Adik Demang di Kepandak itu benar-benar orang luar biasa. Aku kira Demang kita

tidak akan dapat menyamainya”

“Ya. Aku kira demikian. Tetapi Lamat itupun ternyata orang yang luar biasa pula.

Menurut Ki Jagabaya, sebenarnya Lamat tidak akan dapat dikalahkan oleh Ki

Reksatani meskipun ia juga belum pasti dapat memenangkannya. Tetapi ayah Manguri

itulah yang licik. Ia berhasil melemahkan hati Lamat lewat kata-kata sindirannya yang

tajam”

“Dan luka-luka yang tampaknya demikian parahnya, segera dapat diatasinya. Hampir

seluruh tubuhnya terluka parah”

“Tetapi luka-luka itu tidak begitu dalam meskipun merata. Dan luka-luka yang demikian

tidak lebih berbahaya dari satu luka, tetapi langsung menghunjam ke dalam dada”

“Tentu, lebih-lebih lagi satu luka yang memisahkan kepala dari lehernya”

“Ah, macam kau” desis kawannya. Tetapi keduanya tersenyum.

Demikianlah beberapa lamanya keduanya berbicara tentang berbagai persoalan yang

sedang berkecamuk di padukuhan mereka yang sepi, yang biasanya tenang dan

tenteram meskipun bukan berarti beku. Namun yang tiba-tiba saja telah dibakar oleh

perkelahian yang menggetarkan dada setiap orang.

“He“ tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata “kanapa Lamat sedemikian lamanya

berada di pakiwan?”

“Ya. Terlampau lama”

“Eh, apakah ia tiba-tiba pingsan?”

“Marilah kita lihat”

Keduanyapun kemudian dengan tergesa-gesa berjalan ke pakiwan. Selangkah di

samping pakiwan, salah seorang dari mereka memanggil “Lamat. Lamat. Apakah kau

sudah selesai”

Tidak terdengar jawaban.

“Lamat”

Pakiwan itu masih tetap sepi.

Sejenak keduanya saling berpandangan. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata

“Aku akan menengoknya”

Dengan tergesa-gesa anak muda itupun mendorong pintu pakiwan dan menjengukkan

kepalanya ke dalam. Tetapi pakiwan itu telah kosong. Mereka tidak menemukan Lamat

di dalamnya.

“Apakah ia sudah kembali ke ruang dalam tanpa kita ketahui karena kau terlampau

banyak berbicara?” desis salah seorang dari mereka.

“Marilah kita lihat”

Keduanya melangkah dengan tergesa-gesa masuk ke ruang dalam. Tetapi

pembaringan Lamat ternyata masih juga kosong.

“Apakah ia melarikan diri”

“Kenapa melarikan diri. Lamat sama sekali bukan seorang tawanan. Berbeda dengan

Manguri dan ayahnya itu”

“Ya. Tetapi ia harus banyak beristirahat. Punta dan dukun tua itu menghendaki ia tidur

sebanyak-banyaknya, bukan pergi kemanapun juga”

“Beritahu Punta di gandok sebelah. Aku akan mencarinya di belakang. Siapa tahu,

mungkin keadaan tubuhnya masih terlampau lemah, sehingga ia pingsan di sekitar

pakiwan itu”

Yang seorang dari merekapun segera pergi ke pakiwan untuk mencari Lamat sekali

lagi. Yang lain dengan tergesa-gesa pergi ke gandok memberi tahukan hal itu kepada

Punta.

Anak muda yang mencari Lamat di belakang rumah itu terperanjat ketika ia mendengar

ringkik kuda di kandang. Dengan tergesa-gesa ia berlari-lari mendekatinya. Tetapi ia

justru tertegun ketika ia melihat seekor kuda meloncat keluar. Di punggung kuda itu

duduk agak merunduk Lamat yang sedang dicarinya.

“Lamat, Lamat” anak muda itu memanggil.

Tetapi Lamat tidak menghiraukannya. Dipacunya kudanya menuju ke halaman depan.

Punta yang sudah diberi tahupun terperanjat pula. Ketika ia keluar dari gandok,

didengarnya derap kaki kuda. Dari sisi rumah ia melihat seekor kuda berlari kencang.

Dengan demikian, maka iapun segera meloncat ke halaman. Tetapi kuda itu telah

mendahuluinya, sehingga Puntapun kemudian termangu-mangu beberapa saat

seolah-olah membeku di halaman.

Dalam pada itu, Lamat yang berada dipunggung kuda sempat memperlambat kudanya

sambil berkata “Maaf Punta, aku mendahului. Jagalah Manguri dan ayahnya baik-baik.

Mungkin ia masih berbahaya”

Sebelum Punta menjawab, Lamat sudah berpacu keluar regol halaman dan berlari

menyelusuri jalan padukuhan Sembojan. Beberapa orang yang berada di regol, justru

menyibak ketika kuda itu berlari seperti dikejar hantu diantara mereka.

“Lamat memang keras hati” desis Punta “aku akan menyusulnya. Keadaan tubuhnya

masih sangat lemah. Apakah masih ada kuda yang lain”

Anak-anak Sembojan itupun segera mengusahakannya dua ekor kuda. Bersama

kawannya ia menyusul Lamat, setelah ia minta diri kepada kawannya dari Kali Mati

dan berpesan seperti pesan Lamat atas Manguri dan ayahnya.

“Besok aku akan segera kembali bersama Ki Jagabaya di Kepandak” berkata Punta

sambil memacu kudanya.

Sejenak kemudian merekapun telah hilang ditelan gelap. Yang terdengar tinggallah

derap kaki-kaki kuda itu memecah sepinya malam yang dingin.

Demikianlah anak-anak Sembojan dan padukuhan di sekitarnya memandang mereka

dengan termangu-mangu. Orang-orang itu datang jauh dari luar Kademangan mereka.

Dan mereka telah menjadikan Sembojan sebagai ajang pertengkaran, yang bahkan

membawa beberapa akibat bagi anak-anak muda Sembojan dan sekitarnya, karena

ada diantara mereka yang terluka. Bahkan mereka menemukan beberapa sosok mayat

pula di halaman itu.

“Tetapi Punta akan kembali bersama Ki Jagabaya di Kepandak, yang akan

menyelesaikan segala sesuatu tentang persoalan ini. Merekapun harus mengambil

dan membawa Manguri bersama ayahnya yang untuk beberapa saat hanya akan

menjadi beban kita disini” berkata salah seorang dari mereka.

“Sebelum Ki Jagabaya di Kepandak datang dan berbicara dengan Ki Jagabaya dan Ki

Demang di Prambanan, kita masih mendapat beban ini” sahut kawannya.

Tetapi demi sesamanya yang sedang dilanda oleh malapetaka, maka anak-anak

Sembojan dan padukuhan di sekitarnya telah menyediakan waktu mereka untuk

melakukannya. Menjaga Manguri dan ayahnya, menjaga perempuan yang menangisi

anak-anaknya yang terluka dan bahkan merekapun harus menguburkan mayat-mayat

yang terdapat di halaman rumah yang terbakar itu.

Dalam pada itu, Lamat telah berpacu secepat-cepat dapat dilakukan oleh kudanya.

Meskipun ia sadar, bahwa selisih waktunya sudah terlampau panjang, namun ia

berharap untuk tidak terlambat berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak tahu, apakah sesuatu

yang dapat dilakukannya itu.

Meskipun demikian, sesuatu telah mendorongnya untuk segera sampai ke Kepandak.

Ia ingin segera melihat, apa saja yang sudah terjadi. Apakah Kepandak menjadi

karang abang, atau sekedar terjadi pembunuhan di jalan menuju ke Kademangan itu,

dan Ki Reksatani masih berhasil mengelabuhi Ki Demang lagi.

Angin yang dingin justru membuat tubuh Lamat menjadi semakin segar. Sekali-sekali

masih juga terasa pedih-pedih lukanya menyengat kulit. Namun karena daya tahannya

yang luar biasa, maka semuanya itu seakan-akan dapat dilupakannya.

Sementara itu, di halaman Kademangan Kepandak, Ki Reksatani masih bertempur

mati-matian seorang melawan seorang dengan Ki Demang di Kepandak. Setiap orang

yang menyaksikannya seakan-akan harus menghentikan pernafasannya. Halaman

yang bersih rata itu menjadi seperti kubangan yang kering. Debu berhamburan

membayangi warna kemerah-merahan api obor di segenap sudut halaman.

Berbeda dengan Ki Reksatani, maka Ki Demang di Kepandak, sebagai saudara yang

lebih tua, kadang-kadang masih juga dipengaruhi oleh kenangan di masa kanak-

kanak. Kadang-kadang wajah Ki Reksatani yang tegang itu membayang seperti

wajahnya di masa kanak-kanak. Memang sebagai dua orang bersaudara keduanya

pernah juga bertengkar, bahkan berkelahi. Tetapi apabila wajah adiknya telah

memucat dan matanya menjadi basah, Ki Demang di Kepandak semasa kanakkanaknya,

selalu menghentikan perkelahian. Dengan iba ditatapnya wajah adiknya

yang basah oleh air mata.

“Jangan menangis” desisnya “karena itu jangan nakal. Tetapi Ki Demang di Kepandak

terperanjat bukan kepalang. Selagi angan-angan itu bermain sejenak, hanya sejenak,

tidak lebih dari kejapan mata, terasa lengannya tergores oleh senjata. Senjata yang

digenggam oleh Ki Reksatani. Dan senjata itu adalah pusaka peninggalan ayahnya.

Tanpa sesadarnya Ki Demang meloncat surut. Dengan wajah tegang dipandanginya

adiknya yang tertegun sejenak.

Sejenak kemudian maka perkelahian itupun telah meledak lagi. Keduanya

mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Mereka tidak lagi

memperhitungkan apapun juga selain membinasakan lawannya.

Demikian juga Ki Demang di Kepandak. Luka di tangannya telah mengusir segala

macam perasaan yang selalu membayanginya. Dengan demikian, maka tiba-tiba

tandangnya menjadi semakin garang meskipun ia berumur lebih tua dari Ki Reksatani.

Tidak seorangpun dapat meramalkan, kapan perkelahian itu akan berakhir. Menurut

pendengaran mereka, Ki Demang di Kepandak seperti juga adiknya Ki Reksatani,

mampu, bertempur sehari semalam tanpa berhenti sama sekali. Dan kini keduanya

bertemu di arena perang tanding. Mereka pasti akan bertahan sampai kemungkinan

yang terakhir. Mungkin benar-benar sehari semalam mereka akan tetap bertempur di

halaman itu, mungkin lebih.

Beberapa orang yang berdiri diseputar halaman itupun ikut menjadi semakin tegang

pula. Beberapa orang yang tidak tahan lagi, meskipun ia sendiri menggenggam

senjata, menundukkan kepalanya yang menjadi pening. Tetapi, sekali-sekali mereka

masih ingin juga melihat, apa yang akan terjadi kemudian. Sehingga diantara ya dan

tidak, mereka melihat bayangan yang berputaran di halaman semakin lama semakin

cepat.

Tetapi ternyata racun warangan pada ujung keris Ki Reksatani benar-benar telah

berpengaruh pada Ki Demang di Kepandak. Terasa tubuhnya menjadi semakin panas,

dan tenaganya semakin susut.

Namun karena itulah, maka Ki Demang di Kepandak telah mengerahkan sisa-sisa

tenaga yang masih ada padanya, beserta segenap ilmunya.

Ki Reksatani yang yakin bahwa warangan kerisnya akan segera bekerja di dalam

darah Ki Demang di Kepandak, mulai melihat setiap kali Ki Demang mengusap

keringat di keningnya. Semakin banyak Ki Demang memeras tenaganya, maka darah

akan semakin deras mengalir di dalam tubuhnya, sehingga racun warangan keris

itupun akan menjadi semakin cepat berpengaruh pada tubuhnya.

Tetapi Ki Reksatanipun tidak dapat mengingkari, bahwa telah terjadi sesuatu di dalam

dirinya. Kelelahan yang tidak dapat dielakkannya lagi telah mulai merayapi ototototnya.

Ia baru saja memeras tenaga, berkelahi melawan Lamat di padukuhan

Sembojan. Kemudian berpacu ke Kepandak. Bagaimanapun juga, maka kemampuan

seseorang bukan tidak berbatas.

Demikianlah meskipun mereka masih belum bertempur semalam penuh, tetapi pada

keduanya telah tampak, bahwa tenaga mereka mulai susut. Namun kemarahan yang

bergetar di dalam dada masing-masing masih juga memaksa mereka untuk

mengerahkan tenaganya.

Ki Demang yang sudah merasa bahwa luka di tangannya itu akan menyeret nyawanya,

berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk menghentikan kematian, kematian-kematian

seterusnya. Meskipun ia tidak ingin membunuh Ki Reksatani sebagai tujuan, namun

orang itu memang harus dibinasakan untuk menghentikan perbuatan-perbuatan

terkutuknya.

Kekerasan hati Ki Demanglah yang kemudian seakan-akan memulihkan segenap

kemampuannya. Keyakinannya atas kebenaran sikapnya kali ini membuatnya semakin

mantap. Apalagi ketika darahnya serasa menjadi semakin panas karena pengaruh

racun warangan.

Jilid 9 – Bab 6 : Sampyuh

Di saat-saat berikutnya, Ki Demang menyerang

lawannya dengan garangnya. Kerisnya berputar

semakin cepat, meskipun tidak sekuat

sebelumnya. Tetapi lawannyapun menjadi semakin

lemah pula, bahkan sekali-sekali Ki Reksatani

telah berhasil didesaknya.

“Anak setan” geram Ki Reksatani di dalam hatinya

“ia masih mampu bertahan dari racun itu, apakah

orang ini”

Namun belum lagi umpatan di dalam hati itu

selesai, Ki Reksatanipun terperanjat bukan buatan.

Serangan yang tidak diduga-duga telah meluncur

dengan cepatnya. Ujung keris Ki Demang di

Kepandak seakan-akan tidak lagi dapat dilihatnya.

Namun tiba-tiba saja telah terasa goresan pada

jari-jarinya.

Ketika ia sempat memperhatikan jari-jarinya itu,

tampaklah tulang yang memutih. Tetapi tidak

setitik darahpun yang mengalir.

Dengan sigapnya Ki Reksatani meloncat surut. Dengan cepat ia menarik pisau belati

dari ikat pinggangnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, maka dipotongnya jari-jarinya

yang telah tersentuh warangan racun keris kakaknya.

Ki Demang di Kepandak tertegun sejenak menyaksikan hal itu. Tetapi ketika ia melihat

darah mengalir dari luka itu hatinya menjadi berdebar-debar. Sekilas dilihatnya keris Ki

Reksatani yang tergolek di sampingnya. Kemudian dilihatnya Ki Reksatani

melemparkan pisau belatinya dan memungut kerisnya kembali.

“Lukaku akan sembuh” geramnya “tetapi kau akan mati”

Ki Demang menggelengkan kepalanya “Kaupun akan mati. Keris itu tidak akan

berguna lagi. Kau sudah melupakan pantangan yang diberikan oleh ayah kita. Keris

pusaka itu tidak boleh diletakkan diatas tanah”

Sekilas wajah Ki Reksatani berubah, tetapi terdengar ia menggeram “Omong kosong.

Aku tidak memerlukan tuah dari keris itu. Aku memerlukan racun yang ada pada

warangannya. Dan itulah yang akan membunuhmu”

Tetapi belum lagi ia selesai, Ki Demang sudah menyerangnya lagi. Dengan susah

payah Ki Reksatani menghindarinya dan mencoba untuk menyerang kembali.

Namun darah dari jari-jarinya yang dipotongnya mengalir terus. Kekalahan yang

ditambah dengan arus darah itu membuatnya semakin lemah. Ia berharap dengan

arus darah itu membuatnya semakin lemah. Ia berharap bahwa Ki Demang akan

segera kehilangan kemampuan perlawanannya karena racun kerisnya. Tetapi ternyata

Ki Demang masih tetap bertempur dengan sengitnya. Bahkan semakin lama semakin

mendesaknya.

Di saat-saat tubuh Ki Demang serasa terbakar, diperasnya segenap ilmu yang ada

padanya. Kerisnya tiba-tiba telah berputaran seperti puluhan keris yang berterbangan

mengitari lawannya.

Ki Reksatani yang menjadi semakin lemah oleh lelah dan darah yang mengalir dari

lukanya, semakin lama menjadi semakin pening oleh serangan-serangan Ki Demang

yang membadai. Sebenarnya serangan-serangan itupun sudah mulai mengendor.

Tetapi daya perlawanan Ki Reksatanipun sudah semakin susut.

Ketika keris Ki Demang menyambar dengan dahsyatnya, Ki Reksatani berusaha

menghindarinya. Tetapi rasa-rasanya keris itu tidak lagi hanya sehelai. Keris itu

bagaikan lidah api yang menjilat kemanapun ia pergi.

Ki Reksatani menggeram ketika sekali lagi ia merasa keris kakaknya tergores

ditabuhnya, dan kali ini justru di kening. Dengan demikian Ki Reksatani tidak lagi dapat

melepaskan bagian yang tergores oleh senjata itu dari tubuhnya.

“Kita akan mati bersama-sama” desis Ki Demang di Kepandak.

“Persetan“ Ki Reksatani yang telah dibakar oleh nafsu itu bagaikan orang yang

kehilangan akal. Bahkan kemudian jantungnya telah dirayapi oleh perasaan putus-asa

tanpa sesadarnya. Ujung keris yang tergores di keningnya itu adalah suatu pertanda

bahwa tidak ada lagi jalan baginya untuk melepaskan diri.

Dengan demikian maka Ki Reksatani itupun kemudian mengamuk seperti orang yang

terganggu ingatannya. Iapun bertempur dengan tanpa harapan dapat keluar dari

peperangan itu, sehingga dengan demikian, tandangnya menjadi buas dan liar.

Di saat-saat itu pula Lamat memacu kudanya menjelajahi bulak-bulak yang panjang,

hutan-hutan perdu dan padang ilalang. Tanpa menghiraukan apapun juga, kudanya

berlari secepat-cepat dapat dilakukan. Setiap kali Lamat selalu menyentuh perut

kudanya dan memaksa kudanya berlari lebih cepat lagi.

Tetapi Kepandak masih terlampau jauh. Dan ia masih memerlukan waktu separo hari

untuk mencapai daerah itu apabila kudanya dapat berpacu dengan kecepatan yang

ajeg.

Agak jauh di belakang Lamat, Puntapun berpacu secepat-cepatnya. Menurut

pendapatnya, Lamat pasti masih terlampu lemah, sehingga mungkin sekali terjadi

sesuatu di perjalanan. Karena itu dengan cemasnya ia berusaha untuk dapat menyusul

Lamat yang belum terlampau lama mendahuluinya.

Ternyata selama di perjalanan tubuh Lamat justru terasa menjadi semakin segar.

Angin yang sejuk membuat luka-lukanya tidak lagi terasa panas dan nyeri. Bahkan

luka-luka yang pedih itu seakan-akan telah ditiup-tiup oleh nafas yang segar.

Dalam pada itu, perkelahian di halaman Kademangan Kepandak telah sampai di

puncaknya. Luka ditubuh Ki Reksatani telah bertambah-tambah. Goresan demi

goresan. Betapa ia mencoba berkelahi seperti harimau lapar, namun ternyata bahwa ia

tidak akan dapat menolong dirinya.

Akhirnya luka ditubuhnya tidak lagi dapat dihitung. Namun di dalam keadaan putus asa

itu, ia masih juga sempat melukai Ki Demang di Kepandak dengan beberapa goresan.

Namun sampailah pada suatu saat, Ki Reksatani kehabisan kekuatan. Luka-luka yang

pedih, kelelahan dan racun yang bekerja ditabuhnya, membuatnya semakin lemah,

sehingga akhirnya seperti kehilangan segenap tulang-tulangnya, Ki Reksatani menjadi

terhuyung-huyung. Sekali ia masih menggerakkan tangannya untuk menggoreskan

kerisnya. Namun tangan itupun segera terkulai bersamaan dengan lenyapnya

kemampuannya untuk berdiri tegak.

Perlahan-lahan Ki Reksatani jatuh diatas lututnya. Meskipun kerisnya masih di dalam

genggaman, namun ia sudah tidak berdaya lagi untuk menggerakkannya.

Sesaat Ki Demang di Kepandak masih dapat berdiri tegak. Ditatapnya wajah adiknya

yang pucat. Goresan-goresan yang merah kehitam-hitaman tetapi tidak menitikkan

darah.

Tiba-tiba Ki Reksatani itupun jatuh tersimpuli bertumpu pada kedua tangannya. Sekilas

ia menengadahkan wajahnya dan dilihatnya kakaknya, Ki Demang di Kepandak berdiri

di hadapannya dengan keris di tangannya.

“Ki Demang” suaranya menjadi parau “kenapa kau tidak menghunjamkan keris itu di

dadaku sama sekali”

Ki Demang tidak menyahut.

“Ternyata aku tidak berhasil sekedar membunuhnya. Tetapi aku juga akan mati

karenanya”

Ki Demang masih tetap berdiam diri.

“Ki Demang” suara Ki Reksatani semakin lambat “kita akan mati bersama-sama.

Apakah kau tidak menyadarinya?”

“Ya. Reksatani. Kita akan mati bersama-sama. Kau akan mati lebih dahulu, kemudian

baru aku akan menyusulmu”

Ki Reksatani menjadi semakin lemah. Namun ia masih mencoba mengangkat

wajahnya. Dipandanginya orang-orang yang berdiri di seputar halaman. Tampaknya

seperti bayangan-bayangan hantu yang hitam pekat di bawah cahaya obor yang

kemerah-merahan.

Kemudian tatapan matanya merayap kekaki Ki Demang di Kepandak dan perlahanlahan

memanjat naik. Sekali lagi ia melihat wajah Ki Demang, wajah kakaknya.

Ketika Ki Demang memandang wajah adiknya itu pula, wajah yang pucat pasi, tiba-tiba

terbayang di wajah itu, kenamgan yang sesaat telah terusir dari hatinya. Kini seakanakan

dilihatnya wajah Reksatani di masa kanak-kanak. Serasa mereka adalah kanakkanak

itu. Kanak-kanak yang bermain-main di halaman Kademangan. Kanak-kanak

yang berkelahi di Kademangan itu pula.

Serasa Ki Demang di Kepandak menghayati kembali hidupnya beberapa puluh tahun

yang lampau. Kalau ia mendapatkan permainan, maka adiknya itu selalu berusaha

merebutnya. Kadang-kadang mainan itu diberikannya, tetapi kadang-kadang

dipertahankannya, sehingga sekali-sekali merekapun berkelahi. Tetapi Ki Reksatani di

masa kanak-kanak selalu gagal. Bagaimanapun juga Ki Reksatani tidak akan dapat

menang. Yang dapat dilakukan kemudian adalah menangis.

Terasa dada Ki Demang di Kepandak berdesir ketika tampak olehnya kilatan pantulan

cahaya obor di mata Ki Reksatani. Bukan Ki Reksatani di masa kanak-kanak. Tetapi Ki

Reksatani yang telah berusaha membunuhnya. Benar-benar membunuhnya dengan

keris peninggalan ayahnya.

“Kakang” terdengar suara itu lirih sekali.

Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya udara di halaman

Kademangan itu telah menjadi kering sama sekali, sehingga hampir-hampir tidak ada

yang berhasil dihisapnya melalui hidungnya.

“Kita akan mati bersama-sama” desis Ki Reksatani kemudian.

Ki Reksatani menggeram ketika sekali lagi ia merasa keris kakaknya tergores di

tubuhnya, dan kali ini justru di kening. Dengan demikian Ki Reksatani tidak lagi dapat

melepaskan bagian yang tergores oleh senjata itu dari tubuhnya.

Ki Demang tidak menjawab.

Dan tiba-tiba saja diluar dugaannya, Ki Reksatani berkata terbata-bata” semuanya

sudah terlanjur. Dan semuanya sudah gagal”

Ki Demang sekali lagi mencoba menarik nafas.

“Aku minta maaf kakang”

Bagaimanapun juga terasa sesuatu menyentuh hatinya. Reksatani adalah adiknya.

“Aku minta maaf, bahwa aku telah melakukannya. Aku tidak mengerti, dorongan

apakah yang membuat aku seakan menjadi gila” Ki Reksatani berhenti sejenak “tetapi

semuanya sudah terlanjur. Aku akan mati, dan kau juga akan mati. Tetapi kau mati

diatas dasar hakmu sendiri kakang. Aku akan mati sebagai seorang pengkhianat

apalagi seorang adik yang telah membunuh kakaknya pula”

Ki Demang tidak menjawab. Tetapi seakan-akan ia melihat dada Reksatani yang

terbuka. Seolah-olah ia melihat bahwa di dalam dada itu kini memancar pengakuan

dan penyesalan. Seakan-akan di dalam dada yang gelap kelam itu telah menyala

pelita yang memberinya penerangan. Namun sudah terlambat. Yang dapat dilakukan

oleh adiknya di saat-saat terakhir adalah pengakuan. Hanya pengakuan yang ikhlas.

Tetapi ia tidak akan dapat lagi memperbaiki kelakuannya dan membenarkan

perbuatannya yang salah.

“Kakang, apakah kau masih bersedia memaafkan aku” suaranya menjadi semakin

lambat dan terputus-putus.

Ki Demang di Kepandak masih berdiri membeku. Nafasnya serasa menjadi semakin

sesak. Badannya bagaikan terbakar karena racun yang keras telah bekerja di seluruh

tubuhnya, meskipun racun warangan keris yang mencengkam darahnya tidak

sebanyak warangan yang masuk ke dalam tubuh adiknya.

“Kakang” suara Ki Reksatani menjadi semakin lirih “apakah kau mau memaafkan?”

Ki Demang maju selangkah. Tetapi iapun sudah mulai terhuyung-huyung.

Dipandanginya wajah adiknya yang pucat penuh penyesalan.

“Aku tahu, tidak akan ada gunanya lagi kakang. Tetapi aku menyesal sekali. Aku

menyesal”

“Belum terlambat Reksatani. Kau masih dapat mengucapkannya sendiri”

“Sudah terlambat. Aku akan mati”

“Mati adalah batas kesatuan roh dan wadag dihidup yang fana. Tetapi penyesalanmu

akan berpengaruh di dalam hidupmu yang baka. Kita akan bersama-sama menghadap

sumber dari hidup kita”

“Tetapi, tetapi..” suara Ki Reksatani terputus-putus “…..aku akan terjerumus ke dalam

kancah dosaku. Aku akan kehilangan jalan untuk menghadap Tuhan. Semua pintu

akan tertutup bagiku. Tetapi tidak bagimu kakang”

“Tidak ada manusia yang bersih dari dosa. Tetapi penyesalan yang tulus di saat

terakhir akan mendekatkan kita kepadanya. Kau menyesali dosa-dosamu, dan aku

akan menyesali dosa-dosaku. Marilah kita yakini bahwa Tuhan Maha Pengampun”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia berdesis “Tetapi juga

Maha Adil. Tuhan akan menghukum yang salah sesuai dengan kesalahannya”

“Dan semua penyesalan dan taubat akan diperhitungkannya”

Ki Reksatani mencoba menarik nafas. Dengan sisa tenaganya ia mengangkat

kepalanya. Dipandanginya bayangan hitam yang semakin kabur.

Tiba-tiba saja ia berteriak “Pergi. Pergi semua orang yang datang bersamaku. Jangan

kalian mengganggu Kademangan ini lagi. Korban yang paling berharga telah jatuh di

Kademangan ini. Kakang Demang di Kepandak dan aku sendiri. Jangan menambah

korban lagi. Pergi, pergi..”

Suara Ki Reksatani terputus. Sejenak ia mencoba bertahan. Namun perlahan-lahan

iapun tertelungkup.

“Reksatani “ Ki Demang berjongkok disampingnya, dengan lemahnya. Dicobanya

untuk mengangkat adiknya. Tetapi tangannya seakan-akan tidak bertulang lagi.

Orang-orang yang berdiri di sekeliling halaman, bagaikan mengalami sebuah mimpi

yang mengerikan. Sesaat mereka berdiri termangu-mangu. Namun kemudian Ki

Jagabaya meloncat mendekati mereka berdua yang telah sampai pada perbatasan

hidupnya.

Sambil menahan nafas iapun kemudian berjongkok pula di samping Ki Demang di

Kepandak.

“O” desah Ki Demang “Ki Jagabaya. Tolong, terlentangkan adikku”

Ki Jagabaya memandanginya sejenak. Namun kemudian tangannya terjulur

menggapai tubuh Ki Reksatani. Perlahan-lahan tubuh itupun ditelentangkannya.

Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. Namun sekali lagi Ki Reksatani mencoba

untuk membuka matanya sambil tersenyum. Ia masih melihat bayangan yang kabur.

Namun masih juga dikenalinya Ki Demang di Kepandak dan Ki Jagabaya.

“Aku minta maaf” suaranya parau dan hampir tidak terdengar ”katakan kepada mBokayu

Sindangsari. Aku minta maaf”

Ki Jagabaya yang menahan kepala Ki Reksatani mengangguk-angguk “Ya, Ki

Reksatani”

“Juga kepadamu dan kepada semua rakyat Kepandak”

“Ya Ki Reksatani”

Ki Reksatani tidak dapat mengucapkan kata-kata lagi. Sekali lagi ia mencoba

tersenyum. Namun kemudian wajahnya yang pucat menjadi seputih kapas. Sebuah

tarikan nafas yang terakhir telah lewat di hidungnya.

Ki Demang memejamkan matanya sejenak. Ketika ia membuka matanya kembali,

terasa kepalanya menjadi pening sekali. Tubuhnya bagaikan terbakar. Ketika ia

mencoba untuk berdiri, ia sudah tidak berhasil meskipun ia berpegangan Ki Jagabaya.

“Ki Jagabaya” suaranyapun mulai serak “akupun akan mati. Warangan keris itu sudah

bekerja di seluruh tubuhku. Tidak ada obat yang dapat menolongku”

“Apakah aku harus memanggil dukun yang paling pandai Ki Demang”

Ki Demang menggelengkan kepalanya ”Tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya Ki

Jagabaya”

Ki Jagabaya menjadi tegang. Seperti semua orang yang ada di sekeliling halaman itu.

“Ki Jagabaya” desis Ki Demang ”panggillah Sindangsari”

Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya. Diletakkannya kepala Ki Reksatani perlahanlahan.

Kemudian iapun berangkat berdiri dan meloncat ke ruang dalam. Ketika ia

melangkah dengan tergesa-gesa ke halaman, ia diikuti oleh Sindangsari.

Tetapi dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat Ki Demang sudah

semakin lemah. Tetapi kini beberapa orang bebahu Kademangan telah mengelilingi.

Sindangsari berdiri termangu-mangu sejenak. Ketika ia melihat Ki Demang yang duduk

bersandar seorang bebahu Kademangannya, tiba-tiba saja ia menjerit.

“Kakang Demang. Kakang Demang” Perempuan itupun berlari-lari melintasi halaman.

Sambil menjatuhkan dirinya di sisinya Sindangsari menangis sambil menutup

wajahnya dengan kedua telapak tangannya “Kakang Demang. Apa yang terjadi?”

Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya

dipandanginya mayat adiknya yang terbujur di sisinya.

“Sindangsari” berkata Ki Demang di Kepandak “kita tidak menghendaki semua ini

terjadi. Tetapi ternyata kita tidak dapat mengelakkannya. Aku terpaksa membunuh

Reksatani”

Sidangsari terkejut sehingga tanpa sesadarnya ia mengangkat wajahnya. Perlahanlahan

ia berpaling mengikuti arah tatapan mata Ki Demang di Kepandak.

“O“ dengan tergesa-gesa Sindangsari melemparkan pandangannya jauh ke sudut

halaman. Terasa dadanya berdentangan oleh denyut jantungnya yang semakin cepat.

“Reksatani sudah mati Sari” suara Ki Demang parau” ia sudah menebus kesalahannya

dengan nyawanya” Ki Demang berhenti sejenak, lalu “tetapi bukan saja Reksatani.

Akupun harus menebus ketamakanku”

“Kakang Demang“ wajah Sindangsari menjadi semakin tegang.

“Akupun akan mati”

“Kakang….” suara Sindangsari terputus.

“Ya Sari. Aku juga akan mati. Tubuhku telah tergores keris Reksatani. Keris pusaka

peninggalan ayah yang mempunyai kekuatan warangan yang luar biasa. Apalagi keris

itu dipelihara oleh Reksatani sebaik-baiknya. Dan keris itu ternyata telah melukai

kulitku. Dengan demikian maka aku tidak akan dapat hidup lebih lama lagi”

“Tidak. Tidak” teriak Sindangsari “kau tidak akan mati kakang. Kau tidak akan mati”

“Agaknya memang sudah sampai pada batas perjalanan hidupku Sari. Aku akan mati”

“Jangan” tangis Sindangsari tidak tertahankan lagi. Dan tanpa diduga-duga tiba-tiba

Sindangsari menjatuhkan dirinya di dada Ki Demang di Kepandak yang sudah sampai

dibatas akhir hidupnya.

“Jangan tinggalkan aku kakang. Kau tidak akan mati”

Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Demang di Kepandak. Selama hidupnya ia belum

pernah memeluk Sindangsari sebagai istrinya. Seakan-akan diantara keduanya

terdapat jarak yang tidak tertembuskan. Namun di saat-saat ajal mulai merabanya,

dengan sisa-sisa kekuatan yang ada padanya, Ki Demang menggerakkan tangannya

membelai rambut Sindangsari yang terurai kusut.

Karena itu maka didekapnya Sindangsari di dadanya. Ia merasa bahwa ia seorang

suami yang sah dari perempuan itu. Tetapi di dalam pergaulannya sehari-hari ia lebih

bersikap sebagai seorang ayah terhadap anak gadisnya.

Di bawah tangga pendapa Pamot berdiri termangu-mangu. Ketika ia melihat

Sindangsari menjatuhkan diri dipelukan Ki Demang, tiba-tiba saja kepalanya tertunduk.

Hatinya bergolak tanpa dapat dikendalikan lagi. Bagaimanapun juga hatinya serasa

tersayat melihat Sindangsari berada di dalam belaian tangan Ki Demang di Kepandak,

meskipun ia tahu, bahwa perempuan itu adalah isteri Ki Demang itu sendiri.

Tanpa sesadarnya Pamot mengatupkan giginya rapat-rapat, seakan-akan menahan

gejolak yang dahsyat di dalam dadanya. Namun demikian ia sama sekali tidak

beranjak dari tempatnya, seperti orang-orang lain yang juga tidak beranjak dari

tempatnya.

Tetapi Pamot itu terkejut ketika perlahan-lahan ia mendengar seolah-olah namanya

disebut beberapa kali.

Perlahan-lahan pula ia mengangkat wajahnya. Dan suara itu masih didengarnya.

“Pamot“ yang terdengar jelas kemudian adalah suara Ki Jagabaya.

Pamot mengerutkan keningnya.

“Kemarilah“ Ki Jagabaya meneruskan.

Gejolak di dada Pamot menjadi semakin keras.

Sekali lagi ia menundukkan kepalanya ketika ia melihat Sindangsari menelungkup

ditubuh Ki Demang yang lemah.

“Pamot, kemarilah. Ki Demang memanggilmu” ulang Ki Jagabaya.

Pamot menjadi termangu-mangu sejenak. Dadanya telah diamuk oleh kebimbangan. Ia

tidak dapat menyaksikan Sindangsari yang menangisi Ki Demang di Kepandak. Tetapi

Ki Demang justru telah memanggilnya.

“Cepat sedikit Pamot“ pinta Ki Jagabaya. Pamot tidak dapat menolak lagi. Perlahanlahan

ia melangkah mendekati Ki Demang yang bersandar seorang bebahu

Kademangan, sedang Sindangsari masih menangis membasahi dada Ki Demang yang

bidang itu.

Sejenak Pamot berdiri di samping Ki Jagabaya yang berjongkok.

“Kemarilah” desis Ki Demang di Kepandak dengan suara yang parau dan dalam.

“Berjongkoklah” gumam Ki Jagabaya. Pamotpun kemudian berjongkok di samping Ki

Demang yang menjadi semakin lemah.

“Pamot” bisik Ki Demang dengan suara yang parau “umurku tidak akan lebih panjang

dari malam ini”

Pamot tidak menyahut.

“Aku akan mati. Semua yang ada di Kademangan ini akan aku tinggalkan. Rumah,

ternak, sawah, halaman ini dan rakyat Kepandak yang baik. Juga Sindangsari dan

anak di dalam kandungannya”

Pamot masih tetap berdiam diri.

“Tetapi rasa-rasanya aku segan untuk berangkat, sebelum aku yakin bahwa yang aku

tinggalkan tidak akan mengalami kesulitan apapun juga. Terutama isteri dan anak di

dalam kandungannya itu”

“Pamot” desis Ki Demang. Suaranya menjadi semakin dalam “Semua yang mendengar

kata-kataku ini akan menjadi saksi. Bahwa sebagai kelajiman dan adat kita,

sepeninggalku, anakkulah yang akan berhak menggantikan kedudukanku. Karena

anakku masih ada di dalam kandungan, maka diperlukan seseorang yang dapat

mewakilinya untuk sementara. Sampai pada saatnya anakku kelak dapat menjabat

kedudukan Demang di Kepandak. Kalau ia laki-laki, maka ia adalah Demang itu. Tetapi

kalau ia perempuan, maka suaminyalah yang akan melakukan tugasnya sebagai

Demang di Kepandak.

Ki Jagabaya, para bebahu yang ada di sekitar Ki Demang di Kepandak menganggukanggukkan

kepalanya. Namun Pamot masih saja menundukkan kepalanya.

“Pamot” berkata Ki Demang kemudian dengan suara yang terputus-putus “aku sudah

akan mati. Baiklah aku berkata berterus terang, karena aku tidak mempunyai waktu

lagi” ia berhenti sejenak menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah nafasnya telah

hampir terputus dilubang hidungnya “Aku akan mati. Aku tahu, dan hampir seluruh

orang-orang Kepandak tahu, bahwa aku telah melakukan kesalahan yang besar

terhadapmu dan Sindangsari. Karena itu sepeninggalku Pamot, aku serahkan

Sindangsari kembali kepadamu. Terimalah. Aku minta sebelum ajalku, kau mau

menerimanya sebagai isterimu. Kau pulalah yang aku percaya untuk mewakili anakku

melakukan tugas Kademangan ini sebaik-baiknya, sampai saatnya kelak anak itu

dapat menjalankannya sendiri. Aku percaya bahwa kau mampu melakukan. Kau masih

muda. Kau masih mempunyai seribu macam harapan buat masa depan. Dalam olah

kanuragan dan olah kasukman. Semoga Tuhan melindungimu”

Nafas Ki Demang menjadi semakin pendek. Tetapi ia masih bertanya “Apakah kau

bersedia Pamot?”

Dada Pamot benar-benar telah dilanda kebimbangan yang dahsyat. Ia tidak mengerti,

perasaan apakah yang sebenarnya bergolak di dadanya terhadap Sindangsari.

Apakah benar ia memang mengharapkannya, atau sekedar hatinya diremas oleh

perasaan cemburu? Atau perasaan-perasaan lain yang tidak dikenalnya?”

Namun di saat terakhir seolah-olah Ki Demang dapat membaca guratan perasaannya

”Pamot. Kau ragu-ragu?”

Ki Jagabaya berpaling. Ditatapnya wajah Pamot yang tegang penuh pertentangan di

dalam diri.

“Jawablah Pamot“ desak Ki Jagabaya “kaulah yang mendapat kepercayaan itu”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Sindangsari yang terisak di dada

Ki Demang di Kepandak.

“Nafasnya tinggal satu dua. Aku ingin mendengar jawabmu Pamot”

“Pamot“ desak Ki Jagabaya.

Sekali lagi Pamot menarik nafas. Lalu terdengarlah suaranya yang dalam “Baiklah Ki

Demang. Aku menerimanya”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ia masih akan berbicara. Tetapi bibirnya

hanya dapat tersenyum. Perlahan-lahan ia mencoba meraba kening isterinya.

Tetapi ketika tangan itu menyentuh wajah Sindangsari, maka tangan itu terkulai

dengan lemahnya. Namun masih juga dipaksakannya berbisik “Sindangsari,

kembalilah kepadanya. Kepada Pamot” agaknya Ki Demang masih ingin berkata,

tetapi suaranya sudah tidak dapat melalui kerongkongannya.

Perlahan-lahan Ki Demang menggerakkan kepalanya. Kemudian sebuah tarikan nafas

yang dalam. Dan mata Ki Demang itupun terpejam dengan sebuah senyum di bibirnya.

“Ki Demang” desis Ki Jagabaya.

Sindangsari yang menelungkup di dada Ki Demang mengangkat kepalanya. Terasa

tarikan nafasnya terhenti. Dan ketika dilihatnya Ki Demang telah memejamkan

matanya, maka tiba-tiba perempuan itu menjerit keras sekali.

“Kakang Demang. Kakang Demang”

Tetapi Ki Demang sudah tidak mendengarnya. Tidak ada jawaban yang meloncat

melalui bibirnya.

Sekali lagi Sindangsari menjatuhkan kepalanya sambil menangis sejadi-jadinya.

Bagaimanapun juga ia mempunyai kenangan tersendiri selama ia hidup di

Kademangan. Ki Demang di Kepandak itu serasa seorang ayah yang selalu mencoba

mengerti keadaannya sebaik-baiknya. Tetapi juga seorang suami yang memerlukan

pelayanannya dalam hidup sehari-hari. Ia jugalah yang setiap hari menyediakan

makan dan minum. Membersihkan bilik dan pembaringannya. Menyapanya kalau ia

pulang dengan lelah setelah melakukan tugasnya. Tetapi yang selalu bertanya pula

kepadanya apabila ia mengeluh tanpa sesadarnya “Apakah aku dapat membantumu

Sari?”

Sejenak para bebahu Kademangan Kepandak seakan-akan membeku. Mereka tidak

segera dapat berbuat sesuatu. Dibiarkannya Sindangsari menangis sepuas-puasnya,

menangisi suaminya yang gugur mempertahankan bukan saja haknya, tetapi juga isteri

dan anak di dalam kandungan.

Tetapi sejenak kemudian Ki Jagabaya berbisik “Sudahlah Nyai Demang. Biarkan kami

mendapat kesempatan menyelenggarakan jenazah Ki Demang di Kepandak.

Sebaiknya Nyai Demang masuk saja ke dalam rumah Kademangan”

Tetapi Nyai Demang di Kepandak sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.

“Panggillah perempuan-perempuan tua” desis Ki Jagabaya kepada seorang bebahu

yang duduk di sampingnya.

Sejenak kemudian perempuan-perempuan tua itupun telah berdatangan. Dengan

lembut mereka mencoba mengajak Sindangsari masuk ke rumahnya.

“Lihatlah” berkata seorang perempuan “di sekitar halaman ini masih banyak sekali lakilaki

yang menggenggam senjata telanjang. Marilah. Biarlah Ki Jagabaya

menyelesaikan semuanya.

Perlahan-lahan namun akhirmya Sindangsaripun melepaskan suaminya. Dengan

dibimbing oleh perempuan-perempuan tua, Nyai Demang itupun dibawa masuk ke

ruang dalam.

Tetapi ketika di bawah tangga pendapa ia berpaling, dilihatnya Pamot berdiri

termangu-mangu.

Terasa dada Sindangsari berdesir. Pamot itu seakan-akan memandangnya seperti

baru pertama kali melihatnya. Sorot mata anak muda itu serasa menembus sampai ke

pusat jantungnya.

“Pamot“ Nyai Demang itu berdesis. Hampir saja ia berlari kepada anak muda itu.

Namun perempuan-perempuan tua yang membimbingnya membawanya naik ke

pendapa.

Pamot memalingkan wajahnya menyapu halaman. Beberapa orang sedang

mengangkat tubuh Ki Demang ke pendapa. Yang lain mengangkat tubuh Ki Reksatani.

Namun di sekitar halaman itu masih dilihatnya para pengawal yang bersenjata dan

orang-orang berkuda yang berdatangan bersama Ki Reksatani. Namun wajah-wajah

merekapun telah tunduk dalam-dalam. Hati mereka sempat juga merenungi apa yang

baru saja terjadi.

Tetapi agaknya Ki Jagabayapun segera bertindak pula atas nama Ki Demang “He,

orang-orang yang telah menjerumuskan diri ke dalam pengkhianatan. Kini Ki Reksatani

sudah tidak ada lagi di antara kalian. Kalian telah mendengar sendiri pesannya dan

janji jantannya sebelum ia melakukan perang tanding?” Ki Jagabaya berhenti sejenak,

lalu “Apakah kalian ingin meyakinkan siapa yang kalah dan siapa yang menang? Ki

Reksatani telah meninggal lebih dahulu. Karena itu, maka iapun dapat dianggap telah

kalah. Apalagi ia sendiri telah meneriakkan perintah kepada kalian untuk pergi

meninggalkan halaman ini“ sekali lagi ia berhenti, lalu “Tetapi yang penting bukan itu.

Bukan sekedar kalian pergi meninggalkan halaman ini. Tetapi apakah kalian telah

menyadari, bahwa yang terjadi adalah bencana buat Kademangan ini? Kalau kalian

tidak dapat menyadarinya, maka memang lebih baik kalau kita bertempur sekarang.

Siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Siapa yang akan tumpas dan

siapa yang akan menguasai Kepandak sebagai kuburan raksasa”

Tidak seorangpun yang menjawab.

“Nah, sekarang kalian dapat memilih. Kalau kalian menyesali perbuatan kalian,

tinggalkan halaman ini. Kalau tidak, kita akan segera bertempur. Kami sudah siap”

Beberapa orang berkuda itu saling berpandangan. Tetapi bagi mereka agaknya tidak

akan ada gunanya lagi untuk bertempur. Mereka sadar, bahwa Ki Jagabaya dan para

pengawal pasti akan menghancurkannya. Tetapi kalau mereka meninggalkan halaman

itu, mereka akan dimanfaatkan. Ki Jagabaya agaknya tidak akan melakukan tuntutan

lebih lanjut atas mereka.

Karena itu, maka ketika seorang dari mereka bergerak, maka yang lainpun segera

mengikutinya. Satu-satu mereka pergi meninggalkan jalan-jalan diseputar halaman

Kademangan Kepandak.

Para pengawal yang semula berdebar-debar, satu-satu mulai menarik nafas lega.

Mereka tidak lagi harus bertempur. Namun demikian kembali mereka harus

menundukkan kepala, karena di pendapa dua orang kakak beradik yang selama ini

mereka hormati, telah meninggal justru dalam perang tanding diantara mereka sendiri.

Pamot yang masih termangu-mangu, terkejut ketika Ki Jagabaya menepuk pundaknya.

Bisiknya “Kenapa kau seperti kehilangan akal Pamot. Kau berdiri merenung seperti

orang tua yang linglung”

Pamot tidak segera dapat menjawab. Tiba-tiba saja ia menjadi tergagap.

“Pamot” berkata Ki Jagabaya seterusnya “berbuatlah sesuatu. Kau sekarang adalah

Demang di Kepandak”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya dipandanginya pintu pringgitan

yang masih terbuka sedikit. Secercah cahaya meloncat keluar menarik garis yang

lurus.

“Masuklah ke rumah itu. Terimalah Sindangsari. Hatinya terlampau pedih mengalami

peristiwa ini. Kau adalah satu-satunya orang yang paling dekat di hatinya. Selebihnya

kau adalah seorang laki-laki. Jangan kehilangan akal”

Tetapi Pamot bahkan kemudian menggelengkan kepalanya. Katanya “Ki Jagabaya.

Aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup melakukan semuanya. Ki Jagabaya sajalah

yang menjadi Demang di Kepandak”

“Meskipun Ki Demang di Kepandak yang baru saja meninggal itu bukan orang yang

bersih sama sekali, tetapi kami mencoba untuk memenuhi permintaannya yang

terakhir. Kau juga sebaiknya memenuhinya. Apalagi kau sudah menyanggupinya”

“Aku hanya ingin menyenangkan hatinya di saat-saat ia akan meninggal”

“Jangan kau ingkari janjimu di hadapan orang yang akan meninggal”

“Pamot“ terdiam. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Pamot” berkata Ki Jagabaya “kau mempunyai pengetahuan. Kau juga mempunyai

pengalaman. Kalau masih ada yang kurang, kau dapat mempelajarinya dari orangorang

yang ada di sekitarmu. Dari aku, dan bebahu yang lain dan dari seluruh rakyat

Kepandak” Pamot tidak menjawab. Dan di luar sadarnya beberapa orang bebahu yang

lain telah berdiri mengitarinya.

“Nah, masuklah. Mulailah berbuat sesuatu atas Nyai Demang yang pasti sedang

murung itu”

Pamot tidak dapat menolak ketika Ki Jagabaya mendorongnya ke pendapa. Dengan

berat kakinya melangkah, menaiki tangga satu demi satu. Ketika ia sampai di tangga

teratas, sekali lagi langkahnya tertegun. Tetapi Ki Jagabaya mendorongnya.

“Masuklah. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, menjelang penyelenggaraan

jenazah Ki Demang dan Ki Reksatani. Kau mempunyai wewenang mengatur dan

mempergunakan apa saja yang ada di rumah ini dengan seizin Sindangsari. Karena itu

temuilah perempuan itu. Berbicaralah, bahwa masih ada yang harus dilakukan. Bahwa

jenazah suaminya masih harus dikuburkan. Dan kaulah pelaksananya. Kami akan

membantu sejauh dapat kami lakukan”

Pamot masih juga termangu-mangu. Namun kemudian kakinya melangkah juga ke

pintu pringgitan.

Dengan ragu-ragu Pamot mendorong pintu yang masih terbuka sedikit itu. Dengan kaki

gemetar ia maju selangkah, memasuki pringgitan rumah Kademangan di Kepandak.

Tetapi pringgitan itu ternyata kosong. Tidak ada seorangpun yang ada di pringgitan itu.

Sejenak Pamot berdiri termangu-mangu. Ia tidak segera tahu, apakah yang sebaiknya

dikerjakan. Dipandanginya saja isi pringgitan itu. Lampu yang menyala diatas ajugajug.

Sehelai tikar pandan yang tergantung di dinding dan sepasang tombak yang

silang menyilang.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Hatinya berdesir ketika dari balik pintu yang masuk

ke ruang dalam ia mendengar isak tangis Sindangsari. Seorang perempuan mencoba

menenteramkan hatinya. Namun Sindangsari masih juga menangis.

Tiba-tiba Pamot mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara seorang laki-laki di

dalam. Agaknya laki-laki itu telah masuk lewat pintu butulan. Perlahan-lahan ia berkata

kepada salah seorang perempuan ”Katakan kepadanya, bahwa Ki Demang telah

menentukan siapakah yang akan menjadi pelindungnya. Biarlah hatinya menjadi agak

tenang. Meskipun ia sudah mendengar sendiri, tetapi barangkali ia perlu meyakinkan”

“Siapa?” bertanya perempuan itu.

“Kita, yang menunggui di saat Ki Demang menarik nafas terakhirnya menjadi saksi. Ki

Demang telah menyerahkan seluruhnya kepada Pamot. Ialah yang akan menjadi wali

anak di dalam kandungan itu sampai anak itu kelak dapat menggantikan kedudukan

ayannya, Demang di Kepandak”

“O” desis perempuan itu.

Sejenak kemudian tidak terdengar suara apapun. Agaknya laki-laki itu telah pergi

meninggalkan Sindangsari yang menangis.

Pamot masih saja berdiri di tempatnya dengan termangu-mangu. Iapun kemudian

mendengar perempuan-perempuan itu mencoba menghibur hati Sindangsari. Dengan

hati-hati seorang perempuan tua berkata “Nyai Demang. Sudahlah. Jangan ditangisi

lagi yang sudah pergi. Biarlah Ki Demang dapat menempuh jalan lapang tanpa

tertegun-tegun di perjalanannya. Bukankah Ki Demang sudah menjatuhkan pesan

sebelum ia meninggal? Nah, pesan itu merupakan suatu penghibur yang dapat

mengurangi kepahitan perasaanmu. Mungkin kau tidak segera dapat menyesuaikan

diri dengan pesan itu. Tetapi pesan itu harus mendapat perhatian. Setidak-tidaknya

kau mendapat seorang kawan berbincang selama kau menghadapi percobaan yang

sangat berat ini”

Nyai Demang tidak menjawab. Ia memang mendengar sendiri bagaimana Ki Demang

menyerahkan dirinya ke dalam perlindungan Pamot. Bagaimana Ki Demang

mengatakan, bahwa anak di dalam kandungannya itulah yang kelak berhak menjadi

penggantinya, karena anak itu diakuinya sebagai anaknya.

Sindangsari tidak tahu perasaan apakah yang sebenarnya bergolak di dalam hatinya.

Apakah ia bersedih apakah ia merasa dirinya terlepas dari kekangan dan dapat

kembali kepada Pamot. Atau kedua-duanya kini sedang bergulat di dalam hatinya?”

Ia memang bersedih atas kematian Ki Demang di Kepandak. Tetapi ia

berpengharapan bahwa ia akan menjelang suatu kehidupan yang lain bersama Pamot

yang tidak pernah dilupakannya sekejappun. Namun justru karena Ki Demang

mengetahui perasaannya itulah maka ia menjadi sedih atas kematiannya. Agaknya

selama ini Ki Demangpun mencoba untuk mengerti tentang dirinya sedalam-dalamnya.

Dibiarkannya dirinya selalu berangan-angan tentang Pamot. Tentang anak muda yang

tidak akan dapat diuraikan lagi daripadanya karena ikatan yang ada di dalam dirinya

itu. Anak muda yang telah meletakkan benih yang sedang tumbuh. Semakin lama

menjadi semakin besar.

Selama ini Ki Demang tidak pernah mengganggu gugat, meskipun ia sudah tahu

keadaannya yang sebenarnya.

Demikianlah Sindangsari tidak segera dapat menguasai dirinya sendiri. Kebingungan

dan kegelisahan telah membakar dadanya. Ia tidak dapat menemukan perasaannya

sendiri. Dan suara perempuan-perempuan tua di sekitarnya itu justru telah

membuatnya menjadi semakin bingung.

“Kau harus menerima pesan itu Nyai” terdengar seseorang berkata.

“Jangan bersedih lagi. Ki Demang sudah menghadap Tuhannya kembali”

Dan yang lain “Kita bersama-sama telah bersedih hati atas kematiannya. Tetapi

semuanya yang terjadi ini tidak akan dapat kembali lagi. Tidak dapat diulang kembali.

Karena itu, terimalah keadaan yang mendatang”

Masih ada lagi yang berbisik “Jangan tenggelam dalam kepedihan. Kau masih harus

berbuat sesuatu atas jenazah suamimu. Kau dapat memanggil Ki Jagabaya dan

terutama, kau akan mendapat sisihan baru dalam kesulitan ini. Panggilan Pamot dan

para bebahu yang lain”

Nyai Demang masih saja menangis. Dan seorang perempuan yang lain berkata

“Jagalah kandunganmu Nyai. Jangan kau turutkan kata hatimu”

Suara-suara itu serasa berputar di kepalanya. Semakin lama semakin cepat sehingga

seakan-akan Sindangsari itu telah diputar oleh pusaran yang semakin lama semakin

menyeretnya ke dalam arus yang tidak terlawan.

Dalam keadaan itulah, seorang anak muda berdiri di muka pintu ruang dalam. Dengan

tatapan mata yang kosong ia memandangi perempuan-perempuan yang sedang

berkerumun di seputar Sindangsari.

Ketika salah seorang melihatnya, tiba-tiba ia berdesis ”Pamot. Pamot telah datang”

Semua orang berpaling kepadanya. Dan bahkan Sindangsari yang sedang

menangispun mengangkat wajahnya pula.

Ketika Sindangsari menatap wajah Pamot yang berdiri termangu-mangu di muka pintu

itu, Pamotpun ternyata sedang memandanginya pula. Benturan tatapan mata mereka

yang tiba-tiba itu, terasa menggetarkan hati Sindangsari. Sejenak ia membeku, namun

tanpa disadarinya, oleh dorongan yang tidak dikenalnya, maka tiba-tiba saja ia

meloncat berdiri dan berlari kepada anak muda itu. Sambil berpegangan kedua

lengannya yang kokoh, Sindangsari meletakkan kepalanya di dadanya yang bidang.

Tangisnya justru seakan-akan menjadi semakin keras dan meledak-ledak.

Perempuan-perempuan tua yang menyaksikan hal itu seakan-akan telah membeku di

tempatnya. Mereka berdiri termangu-mangu tanpa berbuat apapun juga. Satu dua

diantara mereka berdiri berpandangan. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Bahkan

sejenak kemudian salah seorang dari mereka berkata “Marilah, kita tinggalkan

keduanya. Biarlah mereka berbicara dan berbuat sesuatu”

Perempuan yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan merekapun saling

menggamit dan satu-satu mereka meninggalkan ruangan itu.

Sesaat kemudian yang ada di dalam ruangan itu tinggallah Pamot dan Sindangsari.

Sindangsari seakan-akan mendapat tempat untuk menumpahkan segenap himpitan

perasaannya. Karena itu, maka iapun menangis semakin menjadi-jadi, sehingga

tubuhnya, terguncang-guncang karenanya.

Tetapi Pamot masih saja berdiri membeku. Seakan-akan ia tidak mengerti, bagaimana

harus menanggapi sikap Sindangsari. Tangannya masih saja terkulai lemah di sisinya.

Dibiarkannya saja Sindangsari berpegangan pada bahunya yang kokoh kuat dan

membasahi dadanya dengan air matanya.

“Kakang, kakang Pamot, aku takut” desis Sindangsari.

Pamot sama sekali tidak menyahut. Ia masih saja berdiri membeku di tempatnya.

“Kakang, kakang “

Tetapi Pamot tidak juga menjawab.

“Kakang“ perlahan-lahan Sindangsari mengangkat wajahnya. Dadanya berdesir

melihat wajah Pamot yang kosong. Bahkan tatapan matanya jauh menjangkau melalui

lubang pintu butulan yang masih terbuka.

“Kakang, kakang” panggil Sindangsari sambil mengguncang-guncang tubuh Pamot

“kenapa kau bersikap seperti ini?”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dibiarkannya Sindangsari melepaskan pundaknya

dan mundur selangkah surut.

“Kenapa kau memandang seperti itu?” Pamot kini menundukkan kepalanya. Terasa

sesuatu bergolak di dalam dadanya. Tetapi tidak sepatah katapun yang dapat

dikatakannya.

“Kenapa kau kakang?” desak Sindangsari. Sejenak perempuan itu merenung. Namun

tangisnya justru mereda “Aku memerlukan seseorang di dalam keadaan ini. Aku telah

kehilangan sandaran kakang. Satu-satunya orang yang pantas adalah kau, dan kau

jugalah yang mendapat kepercayaan Ki Demang di saat terakhir”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengar suaranya yang berat datar

“Sindangsari. Kenapa Ki Demang menyerahkan kau kepadaku?”

Pertanyaan itu telah mengejutkan Sindangsari.

“Dan apakah aku hanya dapat sekedar menerima penyerahan?”

“Kakang“ wajah Sindangsari menjadi tegang.

“Sari, apakah aku masih dapat menerima kau kembali kepadaku?”

“Tetapi, apakah kau sudah menyanggupinya kakang. Kau akan menjadi pelindungku

dan anak di dalam kandungan ini”

“Itulah yang akan aku katakan kepadamu. Kau adalah seseorang yang bukan saja

terdiri atas kesadaran akan adamu serta kehidupan batiniah yang setia dan bersih atas

cinta dan kasih diantara kita, tetapi kau juga terdiri atas wadagmu yang mempunyai

kenyataan sendiri. Kau, kau yang kasat mata ini adalah isteri Demang di Kepandak.

Kau pernah menjadi isterinya dan sekarang kau mengandung anaknya. Sindangsari.

Apakah aku masih harus menerimamu seperti dahulu? Kalau sekarang aku terpaksa

menerima kau dan memenuhi permintaan Ki Demang di Kepandak di saat-saat

terakhir, maka akupun hanya akan menerima wadagmu. Meskipun di dalam wadagmu

masih tersimpan kesetiaan hidup batiniahmu. Tetapi aku sudah tidak akan mempunyai

kegairahan hidup dalam keutuhan yang bulat antara jasmaniah dan batiniah. Ada

semacam pertentangan di dalam diriku, antara nalar dan perasaan menghadapi

persoalan sekarang ini”

“Kakang” suara Sindangsari menjadi gemetar. Dan tiba-tiba saja wajahnya yang

tegang menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian wajah itu menjadi kemerahmerahan.

“Kakang, sebagai seorang perempuan, aku harus menjaga harga diriku. Sebaiknya

aku tidak menjajakan diriku lagi kepada siapapun juga. Terlebih-lebih lagi kepadamu.

Tetapi aku ingin memberikan penjelasan kakang. Aku selama ini masih aku yang

dahulu”

Pamot mengerutkan keningnya.

“Apakah tanggapanmu nanti, aku tidak akan mempedulikan. Seandainya kau ingkar

sekalipun, aku tidak akan menyesal” Sindangsari berhenti sejenak “aku tahu

perasaanmu. Kau menyangka bahwa aku tidak lagi sebersih saat kau tinggalkan.

Bersih dalam pengertian cinta kita yang telah kita nodai bersama. Kau ingat? Dan

inilah hasil dari percikan noda itu. Aku telah mengandung. Anak di dalam kandungan

ini sama sekali bukan anak Ki Demang di Kepandak. Terserah kepadamu, percaya

atau tidak. Tetapi selama aku menjadi isteri Ki Demang di Kepandak dalam pengertian

ketentuan yang berlaku setelah aku kawin dengannya, namun ia tidak lebih dari

seorang bapak bagiku. Aku tidak pernah disentuhnya. Aku tidak tahu, kenapa ia

berbuat begitu. Dan aku juga sudah mengatakan kepadanya, ketika ia bertanya

kepadaku, kenapa aku mengandung. Aku berkata terus terang, bahwa anak di dalam

kandungan ini adalah anakmu. Dan ia memperlakukan anak di dalam kandungan ini

seperti anaknya sendiri. Dan kau dengar, bahwa anak ini, anakmu inilah yang kelak

akan menggantikannya menjadi Demang di Kepandak”

“Sari“ wajah Pamot menjadi pucat.

“Kalau kau tidak percaya, terserahlah. Tetapi itulah kenyataannya. Dan kalau kau

sekarang akan ingkar, ingkarlah. Pergilah dan tinggalkanlah aku sendiri disini. Aku

masih mampu berbuat apa saja. Aku masih dapat menyelenggarakan jenazah

suamiku. Ki Demang di Kepandak”

Pamot berdiri di tempatnya seakan-akan membeku. Namun masih juga terloncat di

bibirnya “Tetapi bukankah selama ini kau berada di Kademangan?”

“Ya. Aku selama ini memang berada di rumah ini. Di rumah Ki Demang di Kepandak.

Bukankah kau akan mengatakan bahwa di dalam satu rumah aku berada dengan

seorang laki-laki untuk waktu yang lama? Dan kau akan tidak percaya bahwa selama

itu tidak pernah terjadi hubungan antara aku dan Ki Demang di Kepandak sebagai

seorang laki-laki, yang dengan demikian kehidupan wadagku sudah tidak sebersih di

saat kau tinggalkan?”

Pertanyaan-pertanyaan yang meluncur seperti air terjun itu tidak segera dapat dijawab.

Bahkan Pamot seakan-akan telah membeku di tempatnya.

“Kakang Pamot. Aku memang berada di rumah ini bersama seorang laki-laki tanpa

orang lain. Kalau kau percaya percayalah. Kalau tidak terserahlah. Aku masih tetap

bersih seperti dahulu. Noda yang melekat diwadagku adalah noda yang telah kita buat

bersama-sama. Bukan noda yang dipaksakan oleh Ki Demang di Kepandak”

Pamot masih berdiri saja seperti patung. Kata-kata Sindangsari yang terngiang-ngiang

di telinganya membuat pening. Sekali lagi ia diseret oleh amukan pertentangan antara

perasaan dan nalarnya.

Namun dalam ketegangan yang memuncak itu, keduanya terkejut ketika mereka

mendengar suara seorang perempuan yang lembut di pintu butulan “Nyai Demang di

Kepandak benar”

Keduanya serentak berpaling. Sejenak mereka termangu-mangu ketika mereka

melihat perempuan itu melangkah semakin dekat. Seorang perempuan yang

menjelang pertengahan usia, tetapi perempuan itu masih tampak segar dan cantik.

“Pamot” berkata perempuan itu “aku yakin bahwa Nyai Demang masih sebersih saatsaat

ia diarak memasuki jenjang perkawinannya. Dan akupun yakin, bahwa sebelum

itu, Nyai Demang pasti sudah membawa bibit yang kemudian tumbuh di dalam dirinya.

Sebelum aku mendengar dari siapapun juga, aku sudah tahu, bahwa Nyai Demang di

Kepandak pernah berhubungan dengan seorang laki-laki sebelum ia kawin dengan Ki

Demang”

Pamot dan Sindangsari berdiri tegak bagaikan patung. Tetapi tubuh mereka basah

oleh keringat yang seakan-akan terperas dari kulitnya.

“Adalah kebetulan sekali, bahwa kalian hanya berdua di ruangan ini. Adalah Kebetulan

bahwa perempuan-perempuan tua itu pergi meninggalkan kalian. Tetapi sebaiknya kita

berbicara tidak terlampau keras agar tidak ada orang yang mendengarnya” orang itu

berhenti sejenak, lalu “jangan terkejut Nyai Demang, bahwa ada orang lain kecuali

kalian berdua dan Ki Demang di Kepandak yang mengetahui hal itu. Bahkan mungkin

masih ada satu dua orang lain lagi yang mengetahuinya, setidak-tidaknya menduga

demikian”

“Siapa?” bertanya Sindangsari “dan darimana kau tahu?”

“Seperti katamu, Ki Demang tentu tidak akan pernah menyentuhmu. Benar ia seorang

laki-laki jantan. Ia adalah seorang yang pilih tanding di peperangan. Tetapi ia bukan

laki-laki yang utuh bagi perempuan. Itulah jawabnya”

“Darimana kau tahu?”

Perempuan itu terdiam sejenak. Ditatapnya wajah Sindangsari dan Pamot bergantiganti.

Kemudian jawabnya benar-benar telah menggetarkan hati keduanya ”Aku

adalah salah seorang dari bekas isteri Ki Demang di Kepandak”

“O“ Sindangsari berdesis “jadi?”

“Ya. Itulah sebabnya aku mengetahui keadaan Ki Demang di Kepandak sampai

sedalam-dalamnya” perempuan itu berhenti sejenak “ia hampir menjadi gila karena

kegagalan-kegagalannya, sehingga karena itu kadang-kadang ia berbuat aneh-aneh

terhadap isterinya. Kadang-kadang ia menyakiti dan kadang-kadang membentakbentak

tanpa sebab. Itulah agaknya salah seorang isterinya menjadi sakit-sakitan dan

meninggal. Tetapi aku tidak. Aku tidak menjadi sakit-sakitan, dan bahkan aku tidak

menjadi sakit hati. Aku membiarkan Ki Demang berbuat apa saja untuk mengisi

kepedihan hatinya“ suara perempuan itu tiba-tiba hampir hilang ditelannya kembali

“Aku sangat mencintainya”

Pamot dan Sindangsaripun menundukkan kepalanya. Dan mereka mendengar

perempuan itu berkata lambat sekali “Karena itulah aku tahu pasti bahwa anak di

dalam kandungan Nyai Demang itu bukan anaknya. Ki Demang tidak akan mempunyai

anak meskipun ia akan kawin sepuluh kali lagi”

“O“ Sindangsari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menjadi malu

sekali mengenang semuanya yang telah terjadi atasnya, dan yang ternyata diketahui

oleh beberapa orang lain. Perempuan itu, beberapa orang perempuan lain dan bahkan

Lamat.

“Tetapi anak itu ternyata akan kembali kepada ayahnya. Karena itu, jangan dirisaukan

lagi apa yang sudah terjadi di Kademangan ini. Aku memang merasa iri, kenapa Ki

Demang berbuat lain terhadap Nyai Demang yang terakhir. Aku tidak pernah

mendengar Ki Demang berbuat kasar terhadapnya. Aku juga tidak pernah mendengar

keduanya bertengkar. Hal itu mungkin disebabkan karena Nyai Demang sedang

mengandung, atau Ki Demang telah berhasil mengendapkan perasaannya. Bahkan ia

berhasil bersikap seperti seorang bapak terhadap anaknya”

Tidak ada jawaban. Tetapi terdengar perempuan itu terisak.

“Laki-laki yang aku cintai itu sekarang sudah meninggal” katanya pula, lalu “tetapi aku

ingin mohon ijin kepada Nyai Demang apakah aku diperkenankan ikut merawat

jenazah bekas suamiku itu?”

Sindangsari tidak segera menjawab.

“Nyai Demang” katanya pula “apakah Nyai Demang mengizikannya? Aku akan sangat

berterima kasih kalau Nyai Demang tidak berkeberatan”

Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya. Suaranya yang parau

terdengar terputus-putus “Silahkan Nyai. Aku tidak berkeberatan sama sekali”

“Terima kasih” jawab perempuan itu sambil mengusap matanya yang basah “kau

memang baik hati. Kesempatan ini adalah kesempatan yang terakhir bagiku”

Sindangsari tidak menyahut lagi. Dipandanginya saja perempuan yang kemudian

melangkah perlahan-lahan ke pendapa. Di pintu pringgitan, di samping Pamot ia

berkata ”Pamot, Sindangsari kembali kepadamu seperti pada saat ia meninggalkan

kau”

Pamot tidak menyahut, dan perempuan itupun kemudian berpaling kepada Sindangsari

“Aku akan ke pendapa. Aku akan berkata kepada Ki Jagabaya, bahwa kau sudah

memberi aku ijin”

Ketika Sindangsari kemudian menganggukkan kepalanya, maka perempuan itupun

meneruskan langkahnya.

Sepeninggal perempuan itu, Pamot dan Sindangsari saling berdiam diri sejenak.

Keduanya menundukkan kepala mereka sambil menahan nafas yang memburu.

Namun sejenak kemudian Pamot mengangkat wajahnya sambil berkata lirih “Sari,

maafkan aku. Ternyata aku telah keliru menilaimu. Aku minta maaf”

Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan iapun mengangkat

wajahnya pula. Sekali lagi pandangan mata bertemu, dan sekali lagi jantung mereka

bergetar.

“Maafkan aku Sari” desis Pamot sekali lagi. Sindangsari ternyata tidak dapat lagi

menahan perasaannya. Sekali lagi ia berlari kepada anak muda itu. Ketika ia

berpegangan pada bahu yang kokoh dan melekatkan kepalanya ke dada yang bidang,

maka Pamotpun kemudian memeluknya sambil berkata “Aku minta maaf. Mudahmudahan

hatimu selapang lautan”

Sindangsari tidak menjawab. Tetapi air matanya sajalah yang mengalir membasahi

dada Pamot.

Ki Jagabaya yang membuka pintu pringgitan, tertegun melihat keduanya. Perlahanlahan

ia berjingkat surut dan menutup pintu pringgitan itu tanpa menimbulkan bunyi

apapun.

Sejenak kemudian, maka Pamotpun melepaskan tangannya sambil berkata “Sari, aku

akan pergi ke pendapa. Aku akan mengatur segala sesuatunya untuk pemakaman Ki

Demang besok. Dan aku akan menerima semua tanggung jawab yang akan

dibebankan kepadaku, baik mengenai Kademangan Kepandak, maupun tentang kau

dan anakmu”

“Anak kita”

“Ya, anak kita”

Sindangsaripun melepaskan Pamot pula. Perlahan-lahan anak muda itu melangkah

melintasi pringgitan yang kosong. Mendorong pintu perlahan, dan langsung ke

pendapa, ke tempat kedua jenazah kakak-beradik itu dibujurkan.

“Kita menyiapkan perlengkapan buat menguburkan kedua kakak beradik ini Ki

Jagabaya” berkata Pamot.

“Ya. Perempuan-perempuan telah menyiapkan segala sesuatunya. Dan para

bebahupun telah menghubungi segala pihak yang berkepentingan”

Demikianlah semalam suntuk, di Kademangan Kepandak seakan-akan tidak ada

seorangpun yang sempat tidur. Para bebahu hilir mudik kesana kemari, dan

perempuan-perempuanpun sibuk pula di gandok dan di dapur.

Namun dalam pada itu, kedua orang yang meninggal di pendapa Kademangan itu

bagaikan tumbal bagi Kademangan Kepandak. Dengan demikian maka badai yang

seakan-akan melanda Kademangan Kepandak, kini telah mereda kembali. Tetapi

Kepandak telah kehilangan dua puteranya yang terbaik.

Berita tentang peristiwa di halaman Kepandak itupun telah tersebar tidak saja di

seluruh Kademangan Kepandak. Tetapi juga di padukuhan-padukuhan di sekitar

Kepandak. Setiap orang dengan ragu-ragu mendengar berita itu.

“Apakah benar Demang di Kepandak mati sampyuh dalam perang tanding melawan

adiknya?” hampir setiap orang bertanya di dalam hatinya.

Nyai Reksatani yang menunggu kedatangan suaminya dengan hati yang gelisah,

akhirnya mendengar juga berita tentang kematian suaminya. Tetapi bagi Nyai

Reksatani berita itu seperti ceritera tentang mimpi saja, sehingga ia tidak segera dapat

mempercayainya.

“Nyai Reksatani” berkata seseorang yang mendapat tugas untuk menjemput Nyai

Reksatani “marilah Nyai pergi ke Kademangan Ki Jagabaya ingin bertemu dan

mengatakan sesuatu“

“Apakah mereka akan menangkap aku?”

“Tidak Nyai. Nyai tidak akan ditangkap”

Nyai Reksatani menjadi ragu-ragu. Kalau ia pergi, apakah yang akan terjadi atas

dirinya? Tetapi kalau tidak, jangan-jangan Ki Reksatani benar-benar menemui

bencana.

“Percayalah kepadaku Nyai. Sebaiknya Nyai pergi ke Kademangan. Seandainya Ki

Jagabaya ingin menangkap Nyai, buat apa aku harus membujuk Nyai dan

menjebaknya? Tiga atau empat pengawal akan datang. Dan kekuatan itu telah cukup

memaksa Nyai untuk menyerah. Tetapi Ki Jagabaya tidak bermaksud demikian”

Nyai Reksatani termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkemas juga.

Kepada pembantunya ia berkata “Rawatlah anak-anakku baik-baik. Aku berharap

dapat segera pulang kembali. Kalau tidak jagalah mereka seperti anak-anakmu sendiri”

“Nyai, apakah Nyai akan pergi jauh?”

“Tidak, aku akan pergi ke Kademangan”

Pembantu rumahnya itu memandangnya dengan heran. Tetapi ia tidak bertanya

apapun juga.

“Sudahlah. Jagalah seisi rumah ini seperti milikmu sendiri”

Pembantunya menjadi semakin terheran-heran. Tetapi ia masih juga tidak bertanya.

Nyai Reksatanipun kemudian pergi dengan hati yang berdebar-debar ke Kademangan.

Hampir tidak sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya di sepanjang jalan.

Kepalanya yang selalu tunduk dan kakinya yang gemetar membuatnya kadang-kadang

tampak terlampau gugup.

Ketika ia sampai di regol Kademangan, kakinya serasa tidak mau melangkah lagi.

dipandanginya saja orang-orang yang hilir mudik di halaman.

“Marilah Nyai“ Ki Jagabaya telah menyongsongnya ”masuklah”

Nyai Reksatani tidak menjawab.

“Jangan berprasangka”

Masih tidak ada jawaban.

“Nyai” berkata Ki Jagabaya “marilah, Masuklah dan naiklah ke pendapa”

Perlahan-lahan Nyai Reksatani melangkah maju. Ketika ia melintasi pendapa serasa ia

harus menyeberangi sungai banjir yang amat luas.

Kakinya serasa tidak mau bergerak lagi ketika ia melihat dua sosok jenazah di

pendapa. Namun dipaksakannya juga melangkah naik. Perlahan-lahan sekali.

“Siapa?” terdengar suaranya lambat sekali.

Ki Jagabaya yang berdiri di sampingnya menundukkan kepalanya. Kata-katanya

seakan-akan telah tersangkut di kerongkongan.

“Siapa?” sekali lagi Nyai Reksatani bertanya. Meskipun telah membayang jawaban

atas pertanyaan itu di hatinya, namun ia masih juga ingin meyakinkannya.

Ki Jagabaya tidak dapat menjawab. Tetapi dipersilahkannya Nyai Reksatani dengan

isyarat untuk melihat siapakah yang terbaring di bawah selimut yang menutupi sekujur

tubuh-tubuh yang terbaring itu.

Sekali lagi Nyai Reksatani menghentakkan kekuatan yang tersisa pada dirinya. Ketika

ia membuka salah satu kerudung jenazah itu, dilihatnya wajah Ki Demang di Kepandak

yang pucat seperti kapas.

Cepat-cepat kerudung itu ditutupkannya kembali. Dan kini dengan penuh keraguraguan

ia mendekati jenazah yang satu lagi.

Dengan tangan yang gemetar maka jenazah itu dibukanya perlahan-lahan sekali.

Tiba-tiba tubuhnya serasa membeku. Ia melihat Ki Reksatani terbaring diam dengan

wajah yang tergores luka. Wajah yang putih seperti wajah Ki Demang di Kepandak.

Nyai Reksatani sudah tidak dapat menjerit lagi. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Dan Nyai Reksatani tidak sadar bahwa kemudian Ki Jagabaya harus menangkapnya

dan menahannya ketika ia terjatuh pingsan.

Tubuh Nyai Reksatani itupun kemudian dibawa pula ke ruang dalam. Beberapa orang

perempuan mencoba mengobatinya, agar ia segera dapat sadar kembali.

Sindangsari menjadi berdebar-debar ketika ia melihat perempuan yang pingsan itu.

Ternyata perempuan itu telah melibatkan diri dalam rencana yang paling jahat yang

pernah terjadi atas isteri Ki Demang di Kepandak. Bahkan Nyai Reksatani telah

mencoba pula untuk menjerumuskannya ke dalam suatu perbuatan yang bernoda.

Noda yang paling kotor dari segala noda. Dirinya sendiri memang telah ternoda,

karena cintanya yang dalam. Tetapi ia sudah menyerahkan segalanya untuk menerima

noda itu. Bukan seperti noda yang hampir saja terpercik padanya karena dorongan

Nyai Reksatani.

Tetapi ketika ia melihat perempuan itu pingsan, maka hatinyapun menjadi iba pula,

sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa selain memandanginya dengan mata yang

basah.

Dalam pada itu semuanya telah berlangsung seperti seharusnya mereka

menyelenggarakan pemakaman. Bunga dan sesaji telah tersedia. Kedua jenazah

itupun telah diselenggarakan sebaik-baiknya dan semua orang yang berkepentingan

sudah hadir di Kademangan.

Sejenak kemudian akan datanglah saatnya, jenazah itu dikebumikan.

Namun dalam pada itu, halaman Kademangan itu telah dikejutkan oleh derap kaki-kaki

kuda yang berpacu semakin dekat. Para pengawalpun kemudian segera Berloncatan

ke regol ketika mereka melihat seorang yang bertubuh raksasa duduk diatas punggung

kuda.

“Lamat. Ia adalah kepercayaan Manguri” desis salah seorang dari para pengawal.

Namun Pamotlah yang kemudian berlari-lari menyongsongnya. Dengan cemas ia

bertanya sebelum Lamat meloncat dari kudanya “Bagaimana dengan kau Lamat?”

Ketika Lamat melihat Pamot menyongsongnya, maka iapun menarik nafas dalamdalam.

Ternyata orang itu masih tetap hidup.

“Kau terluka. Bukan sekedar satu dua, tetapi tubuhmu menjadi arang kranjang, dan

kau sempat juga sampai kemari”

Lamat turun dari kudanya. Dilayangkannya tatapan matanya berkeliling. Ketika

dilihatnya dua sosok jenazah di pendapa, hatinya berdesir. Perlahan-lahan ia bertanya

“Siapa?”

“Ki Demang di Kepandak dan adiknya, Ki Reksatani”

“Keduanya?” suaranya meninggi, namun kemudian ia bergumam “Sampyuh. Begitu?”

“Ya, keduanya telah sampyuh”

Lamat tidak bertanya lagi. Tetapi direnunginya halaman Kademangan Kepandak.

Terasa meskipun halaman itu hampir penuh, dengan orang-orang yang melawat, dan

para pengawal, tetapi terasa betapa sunyinya.

Sejenak kemudian Punta dan kawannyapun datang pula ke halaman itu. Seperti Lamat

mereka hanya dapat menekurkan kepalanya. Dengan trenyuh mereka terpaksa

menyaksikan kematian yang tidak disangka-sangka akan terjadi di Kademangan

Kepandak ini.

Demikianlah, sampai juga saatnya kedua sosok jenazah itu di berangkatkan dari

pendapa Kademangan. Sekali lagi Nyai Reksatani jatuh pingsan, sedang Sindangsari

menangis di pringgitan.

Rakyat Kepandak melepas kedua jenazah itu dengan perasaan yang tidak menentu.

Mereka bersedih tetapi juga bersyukur, bahwa bencana yang lebih besar tidak

melanda Kepandak, meskipun Ki Demang sendiri harus dikorbankan.

Sepeninggal kedua jenazah itu, dan ketika keduanya telah dikebumikan, maka

tinggallah tugas-tugas yang membebani para bebahu Kademangan Kepandak.

Ki Jagabaya masih harus menyelesaikan persoalan Manguri dengan ayahnya,

meskipun ada juga pengampunan bagi mereka, tetapi mereka tetap bersalah. Mereka

harus meyakinkan para bebahu dan orang-orang di Kepandak, bahwa mereka tidak

akan lagi berbuas jahat seperti yang pernah dilakukan.

Demikianlah ketika matahari terbit diesok pagi, mulailah Kepandak dengan nafas baru.

Orang-orang Kepandak telah mendapat pelajaran dari peristiwa yang baru saja terjadi.

Pertentangan diantara keluarga sendiri, keluarga sedarah dan keluarga sekampung

halaman, setanah kelahiran, tidak akan membawa manfaat apapun. Bahkan Kepandak

nyaris menjadi karang abang seandainya keadaan itu tidak segera dapat diatasi

meskipun harus jatuh korban yang paling mahal.

Dan sejak matahari terbit diesok pagi itu pulalah, Pamot harus memangku tugasnya

yang baru, tugas seorang Demang di Kepandak. Ia akan menjadi pemangku jabatan

Demang yang masih sangat muda.

Selain para bebahu Kademangan Kepandak yang menyadari sepenuhnya keadaan

yang mereka hadapi, maka para pengawal, terutama mereka yang masih muda,

sebaya dengan Pamot, telah menyatakan diri untuk membantu semua tugas yang

dibebankan kepadanya. Karena merekapun menyadari, bahwa kehadiran mereka pada

tugas-tugas yang penting ternyata benar-benar diperlukan oleh Kademangan

Kepandak. Dengan didukung oleh lapisan anak muda, maka Kepandak akan menjadi

Kademangan yang banyak mempunyai arti.

Diantara mereka yang mendampingi Pamot adalah seorang raksasa yang bernama

Lamat. Ia kini telah menjadi sahabat anak anak muda di Kepandak. Meskipun

wajahnya masih tetap keras seperti batu padas, ternyata hatinya lunak, selunak lumpur

yang basah.

Namun kadang-kadang Lamat sendiri masih saja disentuh oleh kenangan yang buram

dari dirinya sendiri. Masa kanak-kanaknya dan saat-saat ia ditelikung oleh perasaan

berhutang budi.

Tetapi perasaan itu hampir meledak dan tidak terkendali ketika ia mendengar

keadaannya yang sebenarnya. Dari ayah Manguri ia pernah mendengar, bahwa iapun

termasuk diantara anak-anak yang lahir tanpa dikehendaki karena hubungan yang

suram dari sifat-sifat rakus orang-orang tua.

Namun, setiap kali ia melihat Sindangsari yang tidak lagi dibayangi oleh kemuraman

wajah, Lamat berkata kepada diri sendiri “Tetapi anak yang dikandung oleh Nyai

Demang itu akan menemukan cinta orang tuanya yang sejati tanpa dibayangi oleh

kabut buram. Ia akan menjadi anak yang tumbuh dan berkembang dengan wajar

seperti anak-anak lain yang lahir bersamanya, di bawah sayap kasih sayang yang

sebenarnya”

Tetapi ketika matahari terbit itu pulalah, Pamot mengantarkan Sindangsari sampai ke

regol halaman. Dilepaskannya Sindangsari pergi bersama ibu dan kakeknya

meninggalkan Kademangan di Kepandak, kembali ke rumahnya.

“Hati-hatilah” desis Pamot.

Sindangsari. menganggukkan kepalanya. Matanya menjadi basah dan sebuah senyum

yang samar membayang di bibirnya.

“Jagalah kandunganmu baik-baik” Pamot melanjutkan.

Sekali lagi Sindangsari menganggukkan kepalanya.

“Aku akan menjaganya baik-baik” sahut ibu Sindangsari.

“Terima kasih” desis Pamot kemudian. Sejenak kemudian, merekapun pergi

meninggalkan Kademangan, meninggalkan Pamot dan seisi rumah yang pernah

didiaminya untuk beberapa saat.

Ki Jagabaya yang berdiri di samping Lamat bersandar pada tiang regol, mengerutkan

keningnya ketika Punta bertanya kepadanya “Ki Jagabaya, kenapa Sindangsari itu

justru pergi?”

“Ia belum menjadi isteri Pamot. Karena itu, tidak sebaiknya ia tinggal dalam satu

rumah”

“Kenapa mereka tidak segera kawin? Bukankah Ki Demang almarhum justru minta hal

itu kepada Pamot, dan bukankah keduanya memang saling mencintai?”

Untuk beberapa saat Ki Jagabaya tidak menjawab.

“Ki Jagabaya” desis Punta lirih “apakah Pamot menjadi kecewa karena Sindangsari

pernah menjadi isteri orang lain dan bahkan telah mengandung

Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu pasti Punta. Tetapi

aku kira Pamot tidak terlalu kecewa. Ia sudah menyatakan kesediaannya menerima

Sindangsari sebagai isterinya dan anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya

sendiri. Tetapi untuk segera kawin, mereka tidak akan mungkin. Bayi itu harus lahir

lebih dahulu. Anak Ki Demang almarhum itulah yang kini masih membatasi keduanya”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Sindangsari yang berjalan

semakin jauh. Sekali perempuan itu berpaling. Tetapi iapun kemudian melangkah di

sisi ibunya semakin lama semakin jauh, sampai saatnya ia akan kembali lagi ke

Kademangan itu.

TAMAT

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s