Satria Gunung Kidul

 New Picturecc

Satria Gunung Kidul

Karya : Kho Ping Hoo

 

Raja wanita atau Ratu di Majapahit yang bernama Sri Gitarja atau Tribuwana Tungga Dewi, yang disebut juga Bhre Kahuripan (1328 – 1359), lebih dikenal dalam dongeng “Minakjinggo Damarwulan” sebagai Prabu Kenya (Raja Wanita) Diah Kencana Wungu.

Di dalam dongeng sejarah itu

diceritakan bahwa Prabu Kenya Diah

Kencana Wungu ini menikah dengan

Raden Damarwulan yang menurut

catatan sejarah sebenarnya bernama

Cakradara dengan gelar Kertawardana.

Sepasang suami-isteri kerajaan yang

terkenal ini mempunyai seorang putera yang diberi nama Hayam wuruk

(Ayam Muda). Hayam Wuruk inilah yang akhirnya menduduki tahta

kerajaan sebagai Raja Majapahit dengan bergelar Prabu Rajasanegara

(1350 – 1389).

Selama tiga puluh sembilan tahun. Sang Prabu Hayam Wuruk amat bijak

dan pandai mengendalikan pemerintahan dan pada jaman itu, Kerajaan

Majapahit mencapai puncak kebesaran dan kemakmurannya, menjadi

Kerajaan yang terbesar dan terkuat dalam kepulauan Nusantara. Bahkan

dalam jaman ini pula nama Majapahit dikenal, disegani, dan dikagumi oleh

negara-negara seberang lautan, termashur sampai ke tiongkok,India ,

Campa, Kamboja, anam. Hubungannya dengan negara-negara asing ini baik

sekali dan saling menghormat, karena Majapahit dianggap sebagai kerajaan

dan negara besar diantara negara-negara lain di dunia.

Semua hasil gilang-gemilang ini bukan semata-mata berkat kebijaksanaan

Prabu hayam Wuruk seorang, melainkan juga berkat jasa-jasa para

panglima Senapati Majapahit. Terutama sekali berkat jasa warangkadalem

atau Patih Gajah Mada, seorang perwira yang terkenal karena sakti

mandraguna, dan setia lahir-batin kepada kerajaan di mana ia mengabdikan

dirinya. Dalam sejarah, belum pernah terdapat seorang patih seperti Sang

Perkasa Patih Gajah Mada ini yang membela Kerajaan Majapahit semenjak

 

ibunda Prabu Hayam Wuruk, yakni Ratu Tribuwanatungga Dewi memegang

kendali kerajaan. Patih Gajah Mada menjalankan tugasnya sebagai seorang

patih yang setia selama tiga puluh tiga tahun (1331-1364).

Dan pada jaman keemasan Majapahit itulah kisah dibawah ini terjadi.

****

Raja yang memerintah di Kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di

Pakuan, adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata.

Ratu Dewata mempunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena

kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi. Kecantikan

Diah Pitaloka Citraresmi memang luar biasa dan agaknya sukar dicari

keduanya di dunia ini! Bahkan Dewi Komaratih sendiri, Dewi Asmara yang

terkenal sebagai bidadari tercantik di surga, agaknya akan kagum melihat

wajah dan bentuk tubuh Diah Pitaloka! Tiada cacat celanya, dari ujung

rambut di kepalanya sampai ke tumit kakinya. Kalau emas, dia adalah emas

murni yang belum tercampur sedikitpun dengan logam lain. Seumpama batu

permata, dia adalah mutiara asli yang telah digosok oleh tangan seorang

ahli. Orang yang melihatnya, baik ia laki-laki maupun perempuan, akan

terbelalak matanya dan ternganga mulutnya karena takjub dan kagum

menyaksikan puteri nan cantik jelita, ayu dan manis ini!

Pada suatu hari, datanglah utusan dari Kerajaan Majapahit. Ternyata

bahwa berita tentang kecantikan Diah Pitaloka tidak saja menggoncangkan

alam Pasundan, bahkan juga menjadi kemang-tutur orang-orang di

Majapahit dan akhirnya menggerakkan rasaasmara di dalam dada Sang

Prabu Hayam Wuruk. Maka diutuslah oleh Prabu Hayam Wuruk seorang

tumenggung untuk menyampaikan pinangannya ke Kerajaan Pajajaran.

Pada jaman itu, tidak ada raja yang lebih besar dan termashur daripada

Prabu Hayam Wuruk. Maka, sudah selayaknya kalau pinangan Raja

Majapahit ini diterima dengan hati gembira dan puas oleh Raja Dewata.

Prabu Hayam Wuruk terkenal cakap, gagah-perwira, masih muda dan belum

mempunyai permaisuri pula. Maka selain Raja Majapahit siapa pulakah

orangnya yang lebih pantas mendapat kehormatan untuk mengulurkan

tangan memetik bunga puspita dari Pajajaran itu?

Betapapun juga, Ratu Dewata sangat menyinta puterinya dan takkan puas

hatinya kalau belum mendengar keputusan tentang pinangan Raja

Majapahit itu dari mulut Diah Pitaloka sendiri. Ia ingin mendengar

pendapat puterinya, maka dipanggilnyalah Diah Pitaloka serta diceritakan

tentang datangnya utusan yang membawa pinangan dari Raja Majapahit,

Sang Prabu Hayam Wuruk.

Kulit muka yang putih kekuning-kuningan dan halus bersih dari Diah

Pitaloka segera menjadi merah bagaikan sekuntum mawar merah yang

 

indah. Puteri itu menundukkan kepalanya dan dadanya turun-naik menahan

desakan napasnya. Setelah agak reda gelora yang ditimbulkan oleh berita

yang disampaikan oleh ramandanya itu, dengan suaranya yang merdu dan

halus dia menjawab sambil menyembah.

“Ramanda prabu, junjungan tunggal di mayapada ini bagi hamba. Pendapat

dan pikiran apakah yang ramanda kehendaki daripada hamba? Segala

pendapat dan pikiran yang selalu menguasai hati dan ingatan hamba hanya

satu, yakni, taat, patuh, dan setia kepada segala titah ramanda,

sebagaimana layaknya seorang anak terhadap orang tuanya!”

Alangkah senangnya Ratu Dewata mendengar sembah puterinya ini. Ayah

manakah takkan menaruh hati sayang dan kasih yang besar terhadap

seorang anak yang tidak hanya kecantikannya membanggakan hati orang

tua, akan tetapi terutama yang demikian berbakti?

“Sukurlah, anakku yang manis, Ramanda akan menerima pinangan ini oleh

karena menurut pendapat dan pandanganku, Sang Prabu Hayam Wuruk

adalah seorang raja yang berbudi bawa laksana, pandai mengatur

pemerintahan, dan bijaksana pula. Kalau engkau menjadi permaisurinya,

ayahmu akan merasa puas dan tenteram, oleh karena engkau pasti akan

menemui kebahagiaan di Majapahit. Semoga dewata yang agung

melindungimu, Pitaloka.”

Maka dengan girang hati Ratu Dewata lalu menjamu utusan dari Majapahit

itu. Kemudian ia memberi jawabannya dan mengabarkan kepada Prabu

Hayam Wuruk bahwa selain pinangan itu diterima dan dianggap sebagai

penghormatan besar sekali, Ratu Dewata sendiri berkenan mengantar

puterinya ke Majapahit dengan membawa berita gembira itu, dan tak lupa

membawa serta pula hadiah-hadiah untuk sang Prabu.

Ketika berita ini disampaikan kepada rakyat Pajajaran, maka

bergembiralah semua orang Siapa orangnya yang takkan merasa gembira?

Puteri kedaton Pajajaran menjadi permaisuri Majapahit! Tentu saja rakyat

pun ikut merasa bahagia dan bangga. Berita ini disambut oleh rakyat

dengan meriah, bahkan mereka yang terdiri dari golongan berada, lalu

menyelenggarakan pesta untuk merayakan dan meriahkan pertunangan itu!

Seluruh Pajajaran berpesta-pora dan bergembira-ria. Hanya ada dua orang

yang tidak ikut bergembira. Pertama adalah Diah Pitaloka sendiri Dara

jelita ini sungguhpun di lahir tunduk dan patuh kepada ramandanya dan

ikut pula memperlihatkan wajah gembira untuk menyenangkan hati

ayahnya, namun di sudut hatinya timbul keraguan dan kebimbangan yang

membuatnya tidak berbahagia Ia telah mendengar akan kegagahan dan

kecakapan Prabu Hayam Wuruk dan ia percaya bahwa kedudukannya akan

terangkat tinggi dan akan mendapat kemuliaan besar di Majapahit. Akan

tetapi, selama hidupnya ia belum pernah bertemu dan melihat dengan mata

 

sendiri keadaan Sang Prabu Hayam Wuruk. Kalau boleh dan kalau mungkin,

ia akan merasa lebih senang jika dijodohkan dengan seorang pemuda di

Pajajaran sendiri, seorang pemuda yang pernah dilihatnya dan yang

kegagahan atau kecakapannya telah diketahuinya dari pandangan mata

sendiri, bukan hanya diketahui karena mendengar berita angin seperti

halnya Prabu Hayam Wuruk!

Akan tetapi, dia adalah seorang wanita sejati yang memegang teguh

kesusilaan, apalagi sebagai seorang puteri raja, ia harus memberi teladan

bagi kaum putri umumnya, yakni kepatuhan terhadap orang tua dengan

jalan berkorban. Ia menganggap pertunangan ini sebagai pengurbanan

dirinya demi kebahagiaan orang tua dan demi kepentingan negara!

Bukankah kalau dia menerima pinangan dan mentaati kehendak ayahnya,

maka orang tuanya akan berbahagia?

Dan bukankah kalau dia menjadi permaisuri Raja Majapahit yang besar dan

kuat, maka kedudukan Pajajaran pun akan kuat pula?

Orang kedua yang pada saat itu merasa berduka adalah seorang pemuda

rupawan yang tinggal seorang diri di dalam pondoknya. Pemuda ini adalah

seorang panglima perang atau Senapati muda dari Kerajaan Pajajaran.

Namanya sederhana sekali, yakni Sakri.

Telah tiga tahun Sakri menjadi Senapati di Pajajaran. Pemuda ini berasal

dari Gunung Kidul, di sebuah dusun kecil dekat pantai Laut selatan. Ia

adalah putera seorang panembahan atau wiku ahli tapa yang sakti dan suci.

Tidak mengherankan bahwa Sakri mendapat gemblengan lahir dan batin

oleh ayahnya dan mewarisi kesaktian yang hebat mengagumkan. Setelah

menjadi dewasa, ayahnya menyuruh ia merantau dan mencari pengalaman

hidup, dan kalau bertemu dengan orang besar yang berjodoh, supaya

bersuita (menghambakan diri).

Dalam perantauannya, akhirnya Sakri tiba di Pajajaran dan ia memasuki

gelanggang ujian yang diadakan oleh Ratu Dewata. Kesaktian dan

kegagahannya mengagumkan dan menyenangkan hati Raja Pajajaran hingga

ia diterima menjadi seorang Senapati muda.

Mengapa Sakri berduka mendengar bahwa Diah Pitaloka terikat jodoh

dengan Raja Majapahit? Mudah diduga, Dada pemuda ini telah ditembus

panah asmara yang mengandung bisa maha ampuh dan luka di dada kirinya

makin lama makin menghebat. Cintanya terhadap puteri itu makin

mendalam dan berakar. Akan tetapi, ia hanya seorang Senapati muda yang

baru menghambakan diri. Dia hanyalah seorang hamba dan kedudukannya

hanya setinggi rumput di ladang. Sedangkan Diah Pitaloka adalah seorang

puteri raja yang menjadi junjungannya dan kedudukan puteri itu setinggi

bintang di langit!

Kini, mendengar tentang diterimanya pinangan Prabu Hayam Wuruk atas

 

diri Diah Pitaloka, Sakri hanya dapat menyesali nasib.

Malam itu Sakri tak dapat tidur. Ia duduk di atas sebuah batu di belakang

pondoknya sambil berpangku tangan dan memandang ke arah bintangbintang

yang bertaburan di angkasa bebas. Berkali-kali ia menghela napas,

tanda dari kehancuran kalbunya.

“Habislah harapanku, rusak-binasalah cita-citaku. Duhai bintang selaksa,

tolonglah aku. Hidupku kosong, tiada pegangan lagi. Apa artinya hidupku

tanpa dia??”

Berulangkali ia menghela napas dan wajahnya yang tampan menjadi sepucat

bintang yang teraling mega. Kemudian ia teringat akan kampung halaman.

Sudah menjadi kelaziman orang bahwa dalam saat duka selalu ia akan

teringat akan kampung halamannya. Ia teringat akan ayahnya, dan teringat

pula akan adiknya yang bernama Saritama. Kedua orang ini adalah orangorang

yang terkasih dalam hidupnya, yakni sebelum ia bertemu dengan

Diah Pitaloka. Setelah seluruh hati dan nyawanya tercengkeram oleh

kecantikan puteri itu, jarang sekali ia teringat kepada ayah dan adiknya.

Tapi kini, tiba-tiba terbayanglah wajah kedua orang itu di ruang matanya

dan ia menjadi rindu sekali kepada mereka.

Kenangan ini mengingatkan ia kembali kepada segala petuah dan pelajaran

ayahnya yang bijaksana. Dan timbulah sesal dan kecewa dalam hatiya,

Menyesal dan kecewa kepada diri sendiri. Bukankah dulu ayahnya pernah

menyatakan bahwa cinta suci itu tak dikotori oleh segala kehendak dan

pamrih untuk kesenangan diri sendiri? Bukankah segala perbuatan

kebajikan itu baru dapat disebut sempurna apabila tidak dinodai oleh

nafsu ingin menyenangkan diri sendiri? Diah Pitaloka telah dijodohkan

dengan seorang Raja Besar dan akan menjadi seorang permaisuri yang

tinggi dan mulia kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia daripada

kedudukannya sekarang sebagai puteri Pajajaran. Bukankah hal ini berarti

bahagia bagi Diah Pitaloka?

Mengapa ia harus menyesal dan berduka?

Kalau ia memang benar-benar menyintai puteri itu, sudah seharusnya

apabila ia ikut bersukur melihat orang yang dikasihinya itu menjumpai

kemulaiaan dan mengecap kebahagiaan. Ah, alangkah sesatnya jalan pikiran

dan gelora perasaannya tadi. Hampir saja ia dibutakan oleh nafsu mudanya.

Sakri menghela napas lagi, akan tetapi kini penuh kesadaran. Ia harus

menerima nasib, Ia harus berani menerima sakit hati dan berani berkurban

demi cintanya kepada Diah Pitaloka. Pikiran ini melapangkan dadanya dan ia

lalu bangun dari duduknya, dan masuk ke dalam pondoknya. Terdengar

ayam jantan berkeruyuk tanda bahwa fajar telah mendatang. Tanpa terasa

olehnya, ia telah duduk melamun semalam suntuk di belakang rumahnya!

 

****

Oleh karena perjalanan dari Kerajaan Pajajaran ke Kerajaan Majapahit

bukanlah perjalanan yang dekat dan mudah, maka Ratu Dewata memberi

perintah agar semua Senapati dan panglima ikut mengiringkan

kepergiannya mengantar Diah Pitaloka ke Majapahit. Hanya beberapa

orang panglima tua saja yang ditinggal di kerajaan untuk menjaga kerajaan.

Sakri juga tidak ketinggalan dan diharuskan mengiringkan rombongan itu.

Rombongan keluarga agung ini berangkat dengan diantar oleh seluruh

rakyat sampai di luarkota raja. Di sepanjang jalan, rakyat di dusun-dusun

yang sudah mendengar akan rombongan ini, sudah menanti di pinggir jalan

untuk menyambut dan menghormat junjungan mereka dan mengagumi

kecantiakn Diah Pitaloka yang naik dalam sebuah tandu.

Sakri menunggang kudanya yang hitam dan besar. Kuda ini adalah hadiah

dari Ratu Dewata dan karena berbulu hitam mulus, maka ia memberi nama

Gagak Tantra. Pemuda ini nampak gagah sekali hingga beberapa kali sang

puteri yang tanpa disengaja menjenguk dari jendela tandu yang tertutup

tirai sutera biru, melihat dia dengan pandangan mata kagum. Puteri ini

merasa bangga sekali akan pahlawan-pahlawan dan ksatria-ksatria

Pajajaran. Sambil duduk kembali dan menyandarkan tubuhnya di dalam

tandu, ia menghela napas dan tersenyum. Di dunia ini tidak ada ksatriaksatria

yang hebat dan gagah seperti ksatria-ksatria Pajajaran, pikirnya.

Rombongan bergerak maju dengan cepat pada siang hari sedangkan pada

malam hari rombongan itu bermalam di sebuah dusun yang dilalui. Kadangkadang

mereka harus bermalam di sebuah hutan, akan tetapi oleh karena

rombongan itu telah membawa perbekalan lengkap, maka biarpun bermalan

di dalam hutan, mereka dapat membangun sebuah tempat darurat untuk

tempat bermalam Sang Prabu dan puterinya.

Pada hari ketujuh, mereka tiba di perbatasan Majapahit yang mempunyai

daerah luas sekali. Oleh karena kemalaman di sebuah hutan yang liar dan

luas, terpaksa rombongan itu membangun seuah pondok darurat untuk Ratu

Dewata dan Diah Pitaloka tanpa ada prasangka akan adanya malapetaka

yang mengancam keselamatan mereka.

Di dalam hutan yang liar itu tinggal serombongan begal yang ganas. Kepala

begal itu bernama Jatimurka, seorang berusia tiga puluh tahun lebih yang

bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis menakutkan. Ia sangat digdaya

dan memiliki ilmu weduk hingga tubuhnya tidak mempan tapak paluning

pande (tak dapat dilukai oleh senjata tajam)!

Disamping kehebatan dan kekebalan ini, dia juga telah mempelajari

pelbagai ilmu hitam, yakni ilmu sihir yang dipelajarinya dari seorang dukun

pemuja setan di hutan roban. Jatimurka memimpin empat puluh orang lebih

 

anggota perampok rata-rata emiliki ketangkasan dan kepandaian berkelahi.

Oleh karena iini, mereka ini ditakuti sekali dan jarang ada orang di sekitar

hutan itu berani memasuki hutan.

Jatimurka telah mendengar akan kedatangan rombongan Ratu Dewata dan

puterinya yang terkenal cantik-jelita. Maka diam-diam ia sendiri

bersembunyi di balik rumpun alang-alang dan mengintai. Ketika ia melihat

wajah Diah Pitaloka,ia menjadi tergila-gila dan biarpun hatinya gentar juga

melihat para Bayangkari (pengawal raja) dan panglima, namun ia telah

mengambil keputusan tetap untuk menculik sang puteri!

Malam itu gelap-gulita. Suasana di luar lingkungan yang dibuat oleh barisan

penjaga, sangat menyeramkan. Pohon-pohon hutan berubah bagaikan

raksasa-raksasa siluman yang tinggi besar dan bergerak-gerak. Suara

burung-burung malam terdengar seakan-akan sekalian isi neraka pada

keluar dan datang di hutan itu menambahkan seramnya kedadaan.

Berkat ketinggian ilmu batinnya, Sakri menjadi tidak enak hati dan merasa

seakan-akan ada bahaya mendatang. Tentu saja ia tidak dapat

memberitahukan kepada orang lain maka diam-diam ia mengadakan

pemeriksaan dan berkeliling memeriksa para penjaga yang ditugaskan

menjaga di setiap penjuru. Telah tiga kali ia berkeliling, akan tetapi

keadaan aman hingga dadanya menjadi agak lapang. Pondik tempat Raja dan

Puteri beristirahat telah sunyi, tanda bahwa penghuninya sudah tidur

pulas.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba Sakri merasa betapa kantuk

menyerangnya dengan hebat sekali. Hampir saja ia tak dapat bertahan lagi

dan ia lalu duduk menyandarkan tubuhnya yang letih ke batang pohon jati.

Pelupuk matanya bagaikan melekat dan sukar sekali dibuka. Tiba-tiba ia

ingat akan perasaan tadi dan dengan sekuat tenaga batinnya ia melawan

rasa kantuknya. Ia lalu berjalan ke arah penjaga dan alangkah marahnya

melihat betapa tiga orang penjaga itu telah tidur saling tindih di atas

tanah, mendengkur dengan enaknya!

Ia pegang pundak mereka dan diguncang-guncangkanya. Akan tetapi, tubuh

penjaga yang tertidur itu bagaikan mayat yang tak mungkin terbangun

pula! Sakri merasa gemas dan menghampiri penjaga-penjaga di sudut lain.

Sama saja!

Penjaga-penjaga di sinipun telah tidur mengorok! Dan tak mungkin

dibangunkan lagi, biarpun ia telah mengguncang dan menamparnya! Sakri

berlari ke dalam dan memeriksa para panglima dan Bayangkari. Juga

mereka semua telah tidur pulas!

Sakri terkejut dan maklum. Ini adalah ilmu sirep (ilmu sihir untuk

menidurkan orang) yang jahat dan mukjijat! Hidungnya mencium bau

kemenyan dibakar dan kembang cempaka.

 

Celaka! Tentu ada orang jahat menjalankan sihirnya hingga semua orang

kena hikmat sihir itu dan pulas. Kembali rasa kantuk menyerangnya. Akan

tetapi, Sakri tidak percuma menjadi putera Panembahan Sidik Panunggal

yang sakti mandraguna di Gunung Kidul! Ia lalu duduk menyandarkan diri di

batang pohon jati, dan berpura-pura tidur pula, akan tetapi ia kerahkan

tenaganya dan membaca mantera untuk menolak pengaruh jahat itu.

Matanya dibuka lebar-lebar memandang dengan penuh perhatian.

Dugaannya memang benar. Jatimurka telah memperlihatkan

kepandaiannya, ia mempergunakan ilmu sihir Cempaka-nendra yang berhasil

mempengaruhi seluruh anggota rombongan, kecuali Sakri. Tak lama

kemudian, Sakri melihat bayangan hitam tinggi besar berkelebat

melompati tubuh para penjaga. Bayangan hitam itu berhenti sejenak,

memandang ke kanan kiri seperti lakunya seorang maling, lalu bergerak

maju perlahan ke arah pondok di mana Ratu Dewata dan Diah Pitaloka

bermalam.

Hati Sakri bergetar. Apakah kehendak maling digdaya ini? Ia merasa

heran dan ingin melihat selanjutnya. Ia tidak segera menyerbu, akan

tetapi diam-diam mengintai dan berjaga-jaga dengan pisau belatinya yang

siap di tangan bilamana keadaan memerlukan. Bayangan hitam itu membuka

pintu pondok dan Sakri mengintai dari balik daun pintu dengan perhatian.

Oleh karena ia melihat bahwa bayangan itu tidak memegang senjata tajam,

maka ia menduga bahwa bayangan itu tentu hanya bermaksud mencuri

barang berharga. Akan tetapi, alangkah herannya ketika melihat bayangan

hitam itu tidak menghampiri peti tempat perhiasan Diah Pitaloka, akan

tetapi langsung menuju ke pembaringan sang puteri yang tertutup tirai

sutera putih.

Tangan Sakri menggigil. Ia tidak berani bertindak di dalam kamar Sang

puteri, khawatir kalau-kalau mengagetkan dara itu. Akan tetapi,

keraguannya ini memberi kesempatan kepada Jatimurka untuk cepat

membuka tirai pembaringan dan secepat kilat ia menubruk, Puteri juwita

itu telah berada dalam pondongannya dan Jatimurka melompat keluar!

Bukan main marahnya Sakri ketika melihat bahwa kedatangan penjahat itu

tidak lain ialah hendak menculik Diah Pitaloka.

Ia melompat keluar dari tempat mengintainya dan membentak, “Keparat

jahanam, lepaskan tanganmu yang kotor dari Sang Puteri!”

Jatimurka terkejut sekali oleh karena ia tidak pernah menyangka bahwa

ada orang yang tidak terpengaruh oleh aji sirepnya. Karena kagetnya, ia

melepaskan tubuh Diah Pitaloka hingga tubuh dara itu terbanting ke atas

tanah. Akan tetapi, puteri itu tidak terjaga dari tidur seakan-akan tak

merasa sama sekali, bahkan ia terus tidur pula dengan enaknya!

“Heh, pemuda keparat. Siapa kau yang berani-berani menghalangi tindakan

 

Jatimurka?”

Sakri tersenyum, biarpun hatinya panas sekali.

“Bangsat rendah! Kau berani-berani menjatuhkan sihir dan mencoba

menculik Sekar Kedaton Pajajaran! Tak tahukah kau bahwa di Pajajaran

masih ada seorang panglima yang bernama Sakri dan yang sama sekali

tidak takut segala ilmu iblis yang kau keluarkan? Menyerahlah, karena

kalau tidak, malam ini tentu akan tewas dalam tangan Sakri!”

“Ha, ha, ha, ha!” Suara ketawa Jatimurka terdengar menyeramkan sekali

dan menggema di seluruh penjuru hutan. Jangkerik-jangkerik dan segala

bunyi-bunyian binatang hutan serentak diam karena ketakutan mendengar

suara ketawa seperti ketawa iblis ini.

“Sakri! Kau anak muda yang masih berbau pupuk di embun-embun kepalamu!

Berani menentang Jatimurka?”

“Jatimurka, manusia iblis! Ingatlah betapapun saktinya kau, akan tetapi

kalau tindakanmu sesat, pasti kau akan binasa!”

“Bangsat jahanam!”

Jatimurka menepuk kedua tangannya dan dari segenap penjuru

berlompatan keluar semua anak buahnya yang berjumlah empat puluh

orang lebih! Mereka ini dengan sikap menakutkan menghampiri dan

mengurung Sakri!

Tempat itu diterangi oleh sinar obor yang banyak dipasang di sekitar

tempat itu hingga Sakri dapat melihat wajah mereka yang bengis dan

kejam. Maklumlah ia bahwa ia terkurung oleh segerombolan perampok

kejam dan ganas. Ia berpikir cepat, dan mengambil keputusan untuk

mendahului. Sekali tubuhnya berkelebat, ia telah menyerang maju dan tiga

orang begal kena hantam oleh kedua tangan dan sebelah kakinya hingga

mereka itu jatuh terguling-guling dan berteriak kesakitan. Pukulan Sakri

bukan main kerasnya hingga untuk beberapa lama, begal-begal yang telah

kena pukul ini takkan dapat bangun lagi.

Sambil berseru marah para begal lalu maju mengeroyoknya dengan parang

dan tombak di tangan. Sakri marah sekali, lalu menghunus keluar keris dan

sekali tangan kirinya bergerak, ia telah dapat menangkap seorang anggota

begal. Ia lalu mengangkat tubuh lawan ini dan dijadikan perisai! Dengan

perisai istimewa ini di tangan kiri dan keris pusakanya di tangan kanan,

Sakri lalu mengamuk. Sepak terjangnya laksana seekor banteng terluka

hingga ke mana saja tubuhnya bergerak, tentu terdengar teriakan keras

seorang lawan yang roboh mandi darah. Tubuh perisai hidup di tangan kiri

Sakri telah lama mampus karena senjata-senjata kawan sendiri yang

datang bagaikan hujan dalam penyerangan mereka kepada Sakri, akan

tetapi senjata itu semua diterima dengan perisai istimewa itu! Ketika

merasa, betapa perisai hidup itu membasahi tangan dan lengannya, Sakri

 

lalu melemparkan mayat itu ke arah pengeroyoknya.

Tiba-tiba ia melihat betapa diam-diam Jatimurka mempergunakan

kesempatan itu untuk menyaut tubuh Diah Pitaloka lagi dan hendak

melarikan gadis itu. Sakri berseru keras dan tubuhnya melayang ke arah

kepala begal itu. Karena tidak ingin melukai Diah Pitaloka, Sakri masukkan

kerisnya di sarung keris, dan menggunakan kedua tangannya. Tangan kiri ia

gunakan untuk memegang dan memeluk pinggang Sang Puteri, sedangkan

tangan kanannya ia gunakan untuk mengirim Pukulan Geledek yang mampir

dengan hebatnya di kepala Jatimurka!

“Aduh!!!”

Jatimurka memekik kesakitan dan tubuh Sang Puteri dapat terampas.

Sakri lalu melompat ke pinggir dan dengan hati-hati meletakkan tubuh

Diah Pitaloka ke atas rumput. Pada saat itu, Jatimurka yang bertubuh

kebal telah bangun kembali dan melompati Sakri dengan keris terhunus

dari belakang! Juga para begal lainnya lalu maju mengeroyok!

Sakri memutar otaknya. Kalau ia melayani semua orang ini tentu Jatimurka

akan mendapat kesempatan menculik Sang Puteri, maka ia menggeram

bagaikan suara seekor harimau hingga para anak buah begal itu tergetar

dan menahan serbuan mereka. Saat ini digunakan oleh Sakri untuk

menubruk maju kepada Jatimurka dan ketika kepala begal itu menusuk

dengan keris, Sakri memiringkan tubuh, menggunakan tangan kiri menolak

pergelangan tangan lawan dan secepat kilat tangan kanannya mengirim

pukulannya yang disertai Aji Kelabang Kencana! Bukan main hebatnya

pukulan yang mempunyai kemujijatan bagaikan mengandung racun ribuan

kelabang menyengat ini! Seketika itu juga, tubuh Jatimurka bergulingan di

atas tanah, mengaduh-aduh, menjerit-jerit, memekik-mekik kesakitan

kemudian diam tak bergerak. Tubuhnya telah bengkak-bengkak dan matang

biru dan nyawanya telah melayang!

Melihat kehebatan pemuda ini, sisa kawanan begal itu lainnya melempar

senjata mereka lari tunggang langgang di dalam gelap!

Sakri mengatur napas untuk memulihkan kekuatannya. Kemudian ia

menghampiri tubuh Sang Puteri yang masih rebah tak sadarkan diri di atas

tanah. Dengan penerangan obor, wajah puteri itu nampak cantik-jelita

mendebarkan jantung Sakri. Pada saat itu, Sang Puteri tersenyum dalam

tidurnya, seakan-akan sedang bermimpi bertemu dengan calon suaminya,

Raja Majapahit!

Sakri mengurungkan niatnya hendak memondong tubuh Diah Pitaloka dan

membawanya kembali ke peraduan. Ia lalu mengerahkan tenaga batinnya,

membaca mantera dan menggunakan tangan kanannya menguap muka gadis

itu tiga kali sambil berkata perlahan.

“Sang Puteri, sadar dan bangunlah!”

 

Diah Pitaloka bagaikan disiram air dingin. Serentak ia bangun duduk dan

terbelalak memandang kepada pemuda yang duduk bersila di depannya.

Ketika melihat bahwa iapun sedang duduk di atas rumput, kedua matanya

bernyala seakan-akan mengeluarkan api dan kedua mata itu ditujukan ke

arah wajah Sakri bagaikan hendak menembus wajah itu.

Sakri cepat menyembah.

“Duhai Gusti pujaan hamba, janganlah Paduka melepas pandang seganas itu

kepada hamba.”

“Kau … Senapati Sakri … apakah yang telah kau perbuat? Bagaimana aku

bisa berada di tempat ini bersama … kau … ?”

“Ampunkan hamba, Gusti. Hamba persilakan Paduka melihat ke sebelah

sana.” Sambil berkata demikian, Sakri menggunakan ibu jari tangannya

menunjuk ke belakangnya. Sang Puteri mengikuti arah ini dengan pandang

matanya dan tiba-tiba ia menjadi pucat dan otomatis tangan kanannya

diangkat naik menutupi mulutnya!

Ia melihat beberapa tubuh yang tinggi besar dan mengerikan

bergelimpangan di situ dan ketika melihat muka dan tubuh Jatimurka yang

bengkak-bengkak mengerikan, hampir saja ia menjerit dan menggunakan

kedua tangan untuk menutupi mukanya!

“Sakri … apa … apakah yang telah terjadi dan mengapa orang-orang kita

tidak ada yang muncul?”

Dengan sabar dan tenang, tetapi dengan suara agak gemetar oleh karena

selamanya tak pernah ia bermimpi akan dapat bercengkerama berdua di

atas rumput dan berhadapan dengan Diah Pitaloka, Sakri lalu menuturkan

segala peristiwa yang telah terjadi.

“Aduh Dewata yang agung!” Diah Pitaloka menyebut nama dewata.

“Keparat, laknat betul si Jatimurka! Berani bedebah itu mengotori

tubuhku dengan tangannya! Binasakan dia, Sakri!”

Sakri menahan senyumnya melihat perubahan pada diri dara jelita ini.

Tadinya ia merasa demikian takut dan ngeri, tapi sekarang begitu

bersemangat dan berani!

“Dia sudah hamba binasakan, Gusti.”

Kini Diah Pitaloka berdiri dan ia pandang wajah pemuda tampan dan gagah

yang dengan berani memandangnya dari bawah. “Sakri kau memang gagah

perkasa. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada kau!” Suaranya

terdengar mengandung keharuan besar dan bahkan disertai isak.

Sakri lupa diri dan serentak ia bangun berdiri pula. Ditentangnya pandang

mata dara itu dengan sinar mata yang mengandung apiasmara sepenuh

hatinya, hingga Diah Pitaloka menjadi takut dan malu lalu menundukkan

muka.

“Mengapa pula kau memandangku seperti itu, Sakri?” tanyanya lembut.

 

Sakri sadar kembali dan menghela napas.

“Ampun beribu ampun, Gusti pujaan hamba. Hamba hampir lupa bahwa

Paduka adalah junjungan hamba, bahwa hamba hanyalah seorang Senapati

rendah, dan bahwa Paduka adalah calon permaisuri Majapahit yang mulia!”

Kembali Sakri menghela napas.

Untuk beberapa lama Diah Pitaloka tak dapat menjawab atau mengeluarkan

kata-kata. Ia hanya memandang kepada Sakri yang bertunduk dengan mata

basah oleh air mata yang di tahan-tahannya. “Sakri, … Sakri, jangan kau

berkata demikian kepadaku, pahlawan yang gagah perkasa! Hanya sampai

sekiankah baktimu terhadap Pajajaran?”

Walau kata-kata ini diucapkan dengan suara bisikan tercampur sedusedan,

namun pengaruhnya menikam jantung pemuda itu, membuatnya

merasa rendah dan hina dan ia merasa malu sekali. Akan tetapi berbareng

semangatnya bangkit kembali. Ia lalu menyembah dan berlutut,

mengangkat dadanya dan berkata dengan suara gagah,

“Gusti yang hamba muliakan, hamba adalah Senapati dan panglima

Pajajaran sejati. Untuk Paduka, hamba rela mengurbankan nyawa dan

tubuh yang tak berharga ini! Mulai saat ini, hasrat hamba hanya tunggal,

yakin mengharap kebahagiaan Paduka dan membela Paduka sampai hayat

meninggalkan badan!”

Diah Pitaloka sangat terharu. Ia mengulurkan tangan kepada Sakri.

Pemuda itu menerima jari-jari yang halus dan mungil itu sambil memandang

ke atas dengan mata penuh pertanyaan. Melihat bahwa puteri itu

memandangnya dengan mata basah dan bibir tersenyum, ia maklum bahwa

ia dapat perkenaan, maka ditariknyalah jari-jari itu ke hidung dan

mulutnya dan diciumnya dengan penuh khidmat, hormat dan sepenuh

perasaan kasihnya.

Diah Pitaloka mengulurkan tangan karena hatinya tergerak oleh rasa haru

dan kagum, akan tetapi kasih sayang yang memancar keluar dari hati

sanubari Sakri dan yang menjalar ke bibirnya, oleh Sang Puteri dirasakan

bagaikan api membakar ujung jarinya. Dengan gerakan perlahan dan lemah

lembut Diah Pitaloka menarik kembali tangan itu dan berkata,

“Sakri, kuharap kau suka melindungi namaku dari cemar dan malu.

Janganlah kau ceritakan kepada siapa juga akan usaha buruk Jatimurka

yang hendak menculikku.”

“Hamba junjung tinggi perintah Paduka dan hamba bersumpah takkan

membocorkan peristiwa yang menimpa Paduka malam hari ini. Ancaman

maut sekalipun takkan kuasa membuka mulut hamba!”

Setelah melempar senyum manis yang mengandung penuh rasa terima kasih

ke arah Sakri, Diah Pitaloka lalu kembali dalam biliknya.

Serasa dalam mimpi segala peristiwa malam itu bagi Sakri. Dadanya masih

 

bergelombang dan pikirannya nanar karena pertemuan dengan dewi pujaan

hatinya yang tak tersangka-sangka itu. Ia merasa berbahagia sekali karena

sudah mendapat anugerah dewata dan diberi kesempatan membela Diah

Pitaloka. Kini hidupnya tidak kosong seperti yang dideritanya dalam

beberapa hari semenjak puteri itu ditunangkan dengan Raja Majapahit.

Kini ia memiliki pegangan hidup kembali, yakni bahwa seluruh jiwa-raganya

akan ia persembahkan demi kebahagiaan dan keselamatan dewi yang

dicintainya itu. Untuk beberapa lama Sakri tidak bergerak dari tempat

duduknya semula. Ia tetap duduk bersila di atas rumput dan tak bergerak

bagaikan patung.

Akhirnya, setelah gelombang di dalam dadanya mereda, ia bangun berdiri

lalu mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengusir pengaruh sirep

Cempaka-nendra yang masih meracuni udara di sekitar tempat itu. Maka

sadarlah semua penjaga yang tadinya tertidur. Mereka menggosok-gosok

mata dengan terkejut dan heran. Alangkah kaget mereka ketika melihat

banyak mayat bergelimpangan di situ. Juga para panglima segera berlari

keluar. Keadaan menjadi ribut. Sebenarnya, diantara semua Senapati dan

panglima, banyak yang pandai dan sakti, seperti misalnya Patih Anepaken,

Demang Cabo, Penghulu Borang, Patih Pitar dan lain-lain. Akan tetapi

mereka ini tadinya sama sekali tak pernah menduga akan datangnya bahaya

hingga tidak sampai berjaga diri. Kalau saja mereka tahu akan datangnya

bahaya yang mengancam, tentu mereka kuasa menolak sirep yang dilepas

oleh Jatimurka.

Sakri lalu dihujani pertanyaan dan dengan terus terang Sakri

menceritakan bahwa gerombolan begal itu melepas sirep yang ampuh dan

datang bermaksud merampok. Untung ia dapat membunuh kepala begal dan

beberapa orang kaki tangannya, hingga yang lain-lain lalu melarikan diri.

Ratu Dewata yang juga terjaga dari tidurnya mendengar ribut-ribut,

ketika mendengar akan kegagahan Sakri, merasa berterima kasih sekali

dan memuji-muji ketangkasan pemuda itu. Tak lupa raja ini menegur

sekalian Senapati dan Bayangkari oleh karena kelalaian mereka, hingga

kalau tidak ada Sakri yang waspada dan hati-hati, tentu begal-begal itu

telah berhasil mencuri barang-barang berharga!

Pada keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan dengan cepat. Berkat

penjagaan para pengawal yang semenjak terjadinya peristiwa itu kini

berlaku sangat tertib dan hati-hati, perjalanan rombongan itu selamat

tidak terhalang sesuatu.

Beberapa hari kemudian, rombongan Ratu Dewata telah tiba di Bubat,

sebuah lapangan yang luas di sebelah utara ibu kota Majapahit. Di tempat

ini Sang Prabu memerintahkan supaya romebongan memasang kemah dan

mereka berhenti di situ. Pak Lurah Bubat menerima kedatangan tamu-tamu

 

agung ini dengan gugup dan gembira dan menyediakan apa yang ada

sekuasanya untuk menjamu Raja calon mertua junjungannya yang

terhormat itu. Kemudian, tergopoh-gopoh Lurah Bubat pergi menghadap

ke Majapahit untuk mengabarkan perihal kedatangan rombongan Raja

Pajajaran yang mengantarkan puterinya ke Majapahit. Ratu Dewata dan

sekalian pengiringnya menunggu di Bubat dengan sabar sambil beristirahat

setelah melakukan perjalanan yang jauh dan penuh bahaya itu.

Keputusan Sang Prabu Hayam Wuruk untuk mengangkat puteri sekarkedaton

Pajajaran sebagai permaisuri disambut dengan gembira oleh

rakyat Majapahit, oleh karena rakyat Majapahit sendiri sudah lama

mendengar akan kecantikan puteri dan kepandaian puteri itu. Akan tetapi,

ada dua orang pembesar di Majapahit yang tidak puas dan tidak setuju

akan keputusan Sang Prabu ini. Mereka adalah Wijayarajasa, Raja di

Wengker dan Sang Patih Gajah Mada sendiri! Wijayarajasa adalah suami

Diah Wiat yang menjadi adinda Tribuwanatungga Dewi atau bibi dari Prabu

Hayam Wuruk sendiri. Wijayarajasa tidak senang mendengar keputusan

Sang Prabu untuk mengangkat seorang puteri Pajajaran sebagai

permaisuri, oleh karena sudah lama ia ingin melihat puterinya yang juga

cantik-juita bernama Susumnadewi, yakni puteri dari seorang selirnya yang

terkasih, untuk menjadi permaisuri di Majapahit!

Adapun Patih Gajah Mada tidak puas akan putusan Prabu Hayam Wuruk

bukan karena mempunyai sesuatu niat demi kepentingan sendiri

sebagaimana halnya Wijayarajasa, namun semata-mata karena terdorong

oleh rasa baktinya terhadap Sang Prabu dan Kerajaan Majapahit. Menurut

pendapat Patih Gajah Mada seyogianya Sang Prabu mengangkat seorang

puteri Jawa pula sebagai permaisuri, oleh karena selain terdapat

perbedaan adat-istiadat dengan puteri Pajajaran, juga hal ini akan

menimbulkan rasa iri hati di kalangan raja-raja kecil. Kalau Sang Prabu

mengambil puteri Pajajaran sebagai permaisuri muda atau selir, kiranya

Patih Gajah Mada akan dapat menyetujuinya, namun sesungguhnya, sikap

menentang keputusan Sang Prabu, yang terkandung dalam hati Patih Gajah

Mada, tidak sehebat rasa penasaran Wijayarajasa.

Diam-diam Wijayarajasa mencari akal untuk menghalangi pernikahan agung

ini. Ketika mendapat kabar bahwa Lurah Bubat berangkat ke kota raja, ia

mencegatnya di jalan.

Ketika bertemu dengan Raja Wengker yang menjadi paman dari Sang

Prabu Hayam Wuruk Lurah Bubat segera berlutut menyembah.

“Pak Lurah Bubat kiranya yang berjalan tergesa-gesa ini! Ada keperluan

apa maka kau nampak demikian gugup?” tanya Wijayarajasa.

“Hamba hendak pergi menghadap Sang Prabu di kota raja untuk

mewartakan tentang kedatangan rombongan Gusti Prabu dari Pajajaran,”

 

jawabnya.

“O, jadi Raja Pajajaran yang hendak mempersembahkan puterinya itu telah

tiba?” kata Wijayarajasa dengan tersenyum mengejek, kemudian

sambungnya. “Eh, Ki Lurah, dengan maksud apa engkau hendak

menyampaikan berita kedatangan mereka kehadapan Gusti Prabu Hayam

Wuruk?”

Pak Lurah Bubat memandang heran.

“Bukankah itu sudah seharusnya dan menjadi kewajiban hamba, Gusti?

Hamba mewartakan kekota raja, agar rombongan dari Pajajaran itu

disambut, karena mereka kini sedang menanti di Bubat.”

“Dengar, Ki Lurah, kau harus menurut perintahku. Dan awas, kalau kau

tidak mentaati perintahku ini, kau dan seluruh keluargamu akan kutumpas!”

Menggigillah seluruh tubuh Ki Lurah Bubat mendengar ancaman yang

diucapkan secara tiba-tiba ini.

“Apa … apakah maksud Paduka Gusti?”

“Kau perlambat perjalananmu, hingga besok baru boleh menghadap Sang

Prabu, dan apabila kau telah menghadap, beritahukanlah bahwa kau diutus

oleh Raja Pajajaran yang menuntut supaya Sang Prabu Hayam Wuruk

sendiri datang menyambut kedatangannya di Bubat!”

Lapanglah dada Ki Lurah Bubat. Tadinya ia menyangka bahwa apa yang akan

diperintahkan itu adalah sesuatu yang hebat. Tetapi kiranya hanya

demikian saja kehendak Raja Wengker ini. Dan bukankah sudah seharusnya

kalau calon mantu menyambut calon mertuanya?

“Baiklah, Gusti. Hamba akan mentaati perintah Paduka,” jawabnya.

“Nah, aku berangkat lebih dulu, Ki Lurah. Ingat besok pagi kau boleh

datang menghadap ke keraton.”

Setelah memberi pesan itu, Wijayarajasa lalu memacu kudanya menuju

kekota raja dan langsung menemui Patih Gajah Mada.

Setelah saling memberi salam, Wijayarajasa lalu memberitahukan bahwa

rombongan Raja Pajajaran telah tiba di Bubat dan bahwa menurut berita

angin yang ia dengar, Ratu Dewata dari Pajajaran itu tidak mau

melanjutkan perjalanan dan akan menanti sampai datang rombongan

penyambut dari Majapahit. Patih Gajah Mada menjawab bahwa hal itu

sudah semestinya dan bahwa ia sendiri bersedia mengadakan sambutan di

Bubat apabila diperintah oleh Sang Prabu Hayam Wuruk. Dengan cerdik

dan tidak kentara, malam hari itu Wijayarajasa membayangkan kepada

Patih Gajah Mada bahwa Ratu Dewata adalah seorang raja yang sombong,

angkuh dan merasa lebih tinggi kedudukannya daripada Prabu Hayam

Wuruk sendiri.

Gajah Mada adalah seorang perwira gagah perkasa yang beradat jujur dan

keras hati. Menghadapi siasat kelemasan lidah Wijayarajasa yang pandai

 

bertukar-kata, akhirnya ada juga sedikit pengaruh obrolannya yang

membuat hati Gajah Mada merasa kurang senang kepada Raja Pajajaran

itu. Wijayarajasa girang sekali bahwa ia telah berhasil menanam bibit

kebencian dalam dada patih yang berpengaruh ini.

Pada keesokan harinya, barulah Ki Lurah Bubat berani menghadap Sang

Prabu Hayam Wuruk yang sedang bersiniwaka dihadap oleh semua

pembesar dan panglimanya.

Setelah menyembah dengan khidmad, Ki Lurah Bubat berkata, “Ampunkan

hamba yang telah berlaku lancang dan berani menghadap tanpa dipanggil,

Gusti. Hamba menyampaikan berita bahwa rombongan dari Pajajaran telah

tiba di Bubat dan kini memasang pesanggrahan disana. Sang Nata Ratu

Dewata dari Pajajaran berkenan mengutus hamba untuk menyampaikan

berita ini kepada Paduka Gusti, dan … dan … Sang Nata dari Pajajaran

minta agar supaya Paduka sudi menyambut dan menjemput rombongan

mereka di Bubat!”

Ki Lurah Bubat teringat akan ancaman Wijayarajasa yang pada saat itu

juga hadir di situ.

Berserilah wajah Sang Prabu Hayam Wuruk mendengar berita baik ini.

Sang Prabu merasa gembira sekali karena hendak bertemu dengan puteri

juita yang telah lama dirindukannya.

“Baiklah, baiklah … ” ujarnya. “Paman Patih Gajah Mada, segera siapkanlah

semua pengiring. Aku hendak berangkat memapak mereka sekarang juga di

Bubat!”

Akan tetapi, pada saat itu bibit racun yang semalam ditanam oleh

Wijayarajasa di dalam hati Gajah Mada, telah mulai bersemi. Mendengar

bahwa Raja Pajajaran itu minta agar supaya Sang Prabu Hayam Wuruk

sendiri menyambut dan menjemput di Bubat, Patih Gajah Mada merasa

marah sekali. Alangkah sombongnya Raja Pajajaran, pikirnya! Maka ia

menyembah dan berkata,

“Ampunkanlah hamba berani menyampaikan kata hati hamba kepada

Paduka, Gusti. Bukan semata-mata hamba hendak membantah perintah dan

kehendak Paduka, akan tetapi yang hendak hamba haturkan ini adalah

sekadar usul untuk menjadi bahan pertimbangan Paduka dan sukurlah

apabila Paduka dapat menyetujui usul hamba ini. Menurut pendapat hamba,

kurang sempurna dan bukan selayaknyalah apabila Paduka sendiri pergi

melakukan penyambutan ke Bubat. Demikianlah sebabnya. Kedudukan Raja

di Pajajaran tidak lebih tinggi daripada kedudukan para ratu lain yang

telah takluk dan mengakui kedudukan Paduka sebagai Maharaja, hingga

kedudukan Paduka lebih tinggi daripada kedudukan raja di Pajajaran.

Apabila kini Paduka sendiri sampai menyambut dan memapak mereka di

Bubat, hal ini sangat merendahkan kedudukan Paduka sebagai Maharaja.

 

Terutama sekali hal ini akan mendatangkan iri hati dan tidak senang di

kalangan para raja lain dan akhirnya hanya akan mendatngkan keruwetan

dan kekacauan belaka. Apabila mereka itu menyatakan ketidaksukaan dan

iri hati mereka. Kalau Sang Prabu Pajajaran minta dijemput, biarlah hamba

dan para panglima yang menjemputnya sebagai wakil Paduka, dan Paduka

cukup menanti di keraton untuk menyambut kedatangan mereka. Nah,

demikianlah usul dan pendapat hamba yang hamba dasarkan semata-mata

demi keluhuran nama Paduka dan kebesaran Kerajaan Majapahit, Gusti.”

Termenunglah Sang Prabu Hayam Wuruk mendengar ucapan Patih Gajah

Mada ini. Kalau orang lain yang mengeluarkan ucapan ini, mungkin Sang

Prabu akan marah. Akan tetapi, Sang Prabu Hayam Wuruk telah yakin dan

percaya penuh akan kebijaksanaan dan kesetiaan Patih Gajah Mada dan

maklum pula bahwa usul ini benar-benar berdasar kesetiannya demi

kebaikan Raja dan Negara.

Setelah diam sejenak, Sang Prabu Hayam Wuruk lalu bersabda, “Benar dan

tepat pendapatmu, Pamanda Patih. Bukan karena kecongkakan, bukan

karena kurang hormat, dan juga bukan untuk merendahkan kedudukan

Rama Prabu di Pajajaran, akan tetapi aku tidak mengadakan penjemputan

sendiri hanya untuk mencegah iri hati dan ketidak-senangan fihak ketiga.

Kau benar, dan demikianlah seyogjanya. Jemputlah mereka dan aku

menanti di sini.”

“Ki Lurah, cepatlah kau kembali ke Bubat dan beritahukan kepada Ratu

dari Pajajaran bahwa Sang Prabu tak dapat menjemput sendiri, akan tetapi

Patih Gajah Mada yang akan mewakilinya.”

Ki Lurah Bubat segera memacu kudanya kembali ke Bubat, akan tetapi di

tengah jalan ia ditahan lagi oleh Wijayarajasa. Kembali Raja Wengker ini

mengancam dan minta supaya Ki Lurah menyampaikan kepada Sang Prabu

dari Pajajaran bahwa Sang Prabu Hayam Wuruk tidak suka menjemput dan

memerintahkan agar supaya para tamu itu segera menghadap dan ditunggu

di Majapahit.

Ki Lurah Bubat tak berani membantah dan mempercepat perjalanannya.

Sesungguhnya, tidak ada sesuatu tuntutan timbul dari fihak Pajajaran.

Sang Prabu beserta rombongannya berhenti dan berkemah di Bubat tak

lain hanya untuk beristirahat dan untuk bersiap-siap memasukikota raja.

Tentu saja rombongan itu mengharapkan datangnya rombongan penyambut

dari keraton Majapahit sebagaimana lazimnya.

Karena belum juga ada rombongan penyambut yang datang, Ratu Dewata

lalu mengutus beberapa orang Senapati dan pahlawan membawa perajurit

pergi kekota raja untuk memberitahukan bahwa rombongan dari Pajajaran

telah siap-sedia menerima rombongan penyambut dari Majapahit.

Di tengah jalan, rombongan dan barisan utusan ini bertemu dengan Ki

 

Lurah Bubat. Ki Lurah Bubat lalu memberitahu kepada mereka bahwa Sang

Prabu Hayam Wuruk tidak suka menyambut sendiri dan memerinthakan

supaya Raja Pajajaran segera masuk ke kota raja dan menghadap kepada

Sang Prabu yang sudah menanti di keraton.

Jawaban ini amat menyakiti hati pemimpin rombongan yang terdiri dari

Patih Anipaken, Demang Cabo dan Patih Pitar. Mereka mencela

kesombongan Raja Majapahit yang sama sekali tidak menaruh hormat

kepada calon mertua. Dengan hati panas mereka melanjutkan perjalanan

untuk menunaikan tugas mereka sebagai utusan ratu.

Ketika mereka tiba dikota raja, Patih Gajah Mada sedang bersiap sedia

untuk berangkat melakukan penjemputan dengan para pengiring dan

hulubalang lain. Kedatangan barisan utusan ini segera disambutnya dengan

baik.

Akan tetapi Patih Anepaken yang sudah merasa sakit hati dan marah, tak

dapat berlaku ramah terhadap Patih Gajah Mada, katanya, “Sang Nata

Pajajaran telah mengutus kami untuk memberi tahu bahwa rombongan

Pajajaran telah siap-sedia menerima kedatangan penyambut dan

penjemput di Bubat.”

Ketika Patih Gajah Mada melihat sikap keras dan mendengar ucapan

singkat ini, timbullah marahnya pula. Memang di dalam hati Patih Gajah

Mada sudah terdapat racun yang ditanam oleh Wijayarajasa hingga ia

telah mempunyai pandangan bahwa orang-orang Pajajaran ini sombongsombong,

sama sekali tidak menyangka bahwa Patih Anepaken juga

mempunyai pandangan yang demikian pula terhadap orang-orang Majapahit

akibat laporan palsu Ki Lurah Bubat! Syak wasangka dan salah paham telah

mengeruhkan pikiran dan hati kedua fihak.

“Tidak selayaknya apabila Gusti Prabu Hayam Wuruk yang harus

menjemput sendiri,” jawab Patih Gajah Mada, “Menurut tingkat dan

kedudukan, seharusnya Sang Prabu di Pajajaranlah yang datang menghadap

dan langsung menuju ke Majapahit tanpa menanti dijemput.”

Kedua patih ini mengukuhi pendirian masing-masing yang berdasar

membela kehormatan kerajaan sendiri di mana mereka menghambakan diri

dan sedikitpun tidak mau mengalah. Maka terjadilah pembantahan. Dalam

kemarahanya Patih Anepaken bahkan lalu berkata keras,

“He, Ki Patih Majapahit, alangkah rendahnya kamu orang-orang Majapahit,

memandang kami orang-orang Pajajaran! Memang kami akui bahwa Gusti

Prabu Hayam Wuruk adalah seorang Maharaja yang besar. Akan tetapi

janganlah kamu kira bahwa Gusti Prabu Ratu Dewata kalah dalam

keagungan dan kebesaran dengan Rajamu! Kami tidak merasa junjungan

kami itu lebih rendah tingkatnya dari junjungan kamu. Ingatlah bahwa

Pajajaran bukanlah daerah yang telah takluk kepada Majapahit!” Patih

 

Anepaken mengeluarkan kata-kata ini dengan wajah kemerah-merahan

karena marahnya.

Pada saat perang tutur itu terjadi, datanglah Wijayarajasa dan ketika

Raja Wengker ini melihat terjadinya pertikaian, hatinya girang sekali dan

ia lalu menjawab kata-kata keras Patih Anepaken dengan tantangan.

“He, Patih Anepaken! Janganlah kamu mengumbar nafsu dan kesombongan

di Majapahit! Ketahuilah bahwa pahlawan-pahlawan Majapahit tak dapat

menelan hinaan demikian saja! Gusti Prabu telah berkenan menerima puteri

Pajajaran, hal ini sudah merupakan penghormatan yang sangat besar bagi

Pajajaran. Pendeknya, Raja Pajajaran harus mengiringkan puterinya

kehadapan Gusti Prabu Hayam Wuruk, kalau tidak hal ini akan diselesaikan

dengan ketajaman tombak dan kekebalan kulit!”

Patih Anepaken memang berdarah panas. Mendengar ini, ia telah berdiri

dari tempat duduknya dan sekali tendang saja hancurlah kursi yang tadi

didudukinya. Matanya bernyala-nyala dan hidungnya berkembang-kempis!

“Hai, orang-orang Majapahit! Kau kira Pajajaran tidak punya satria-satria?

Ketahuilah, bagi kami orang-orang Pajajaran, kehormatan lebih utama

daripada jiwa, mengerti?”

Hampir saja terjadi keributan di ruang kepatihan itu dan hampir terjadi

adu tenaga diantara para pembesar itu. Akan tetapi, biarpun Sakri yang

juga hadir di situ telah merasa panas seluruh tubuhnya karena marah, ia

tetap dapat mempergunakan kekuatan batinnya untuk menekan

kemarahannya itu. Ia lalu melompat ke dekat Patih Anepaken dan

membujuk.

“Sudah, Gusti patih. Untuk apa menurutkan nafsu hati dan marah-marah di

sini? Ingat bahwa kita bukan sedang berada di dalammedan peperangan

dan sebagai utusan raja kita harus bersikap bijaksana.”

Kepala dari Patih Anepaken serasa diguyur air dingin ketika mendengar

ucapan Sakri ini dan ia lalu memandang kepada Sakri dengan pernyataan

terima kasih. Memang betul, hampir saja ia lupa akan keadaan dan

karenanya bahkan merendahkan martabat Rajanya dengan memperlihatkan

sikap yang tidak semestinya.

Sementara itu, biarpun Patih Gajah Mada merasa menyesal mendengar

tantangan yang diucapkan oleh Wijayarajasa, akan tetapi karena yang

mengucapkan adalah orang dari fihaknya, maka ia tidak mungkin dapat

menarik kembali kata-kata itu yang berarti akan merendahkan diri sendiri.

Maka hanya berkata kepada Wijayarajasa.

“Mereka ini adalah utusan nata dan tidak seharusnya kita menghina utusan

nata!”

Wijayarajasa melihat betapa dari sepasang mata Patih Gajah Mada

menyinarkan rasa penuh sesal, ia tidak berani banyak cakap lagi.

 

Demikianlah, dalam keadaan sama-sama panas dan meradang rombongan

utusan itu kembali ke Bubat.

Alangkah murkanya Sang Prabu Dewata mendengar laporan patihnya

karena merasa betapa kedudukannya direndahkan orang. Sabdanya dengan

marah.

“Ya Jagat Dewa Batara! Mengapa dijatuhkan percobaan sehebat ini kepada

hamba?Para pahlawanku sekalian. Memang semenjak kalian berangkat ke

Majapahit, telah ada perasaan tidak enak dalam hatiku tanda akan adanya

bahya mendatang. Kita harus bersiap sedia menjaga datangnya segala

kemungkinan. Betapapun hati seorang ayah menyinta puterinya, akan tetapi

bagi seorang satria, kehormatan lebih besar artinya. Lebih baik hancurlebur

tubuh ini daripada menyerah dalam kehinaan! Persiapkanlah seluruh

balatentara, kita menanti datangnya serbuan dari Majapahit! Demi

keluhuran Pajajaran kita lawan mereka mati-matian!”

“Hamba rela dan bersedia membela Pajajaran sampai hancur tubuh

hamba!” seru Patih Anepaken.

“Hamba bersedia membela Pajajaran sampai titik darah yang

penghabisan!!” Sakri ikut berseru dengan penuh semangat.

Ratu Dewata menjadi terharu sekali, terutama mendengar seruan Sakri

yang hendak membela Pajajaran sampai titik darah penghabisan! Bagi Patih

Anepaken dan yang lain-lain, hal ini tidak mengherankan dan bahkan sudah

selayaknya, karena mereka adalah orang-orang Pajajaran. Akan tetapi,

bukankah Sakri seorang Jawa?

Maka sabdanya perlahan, “Sakri, sudah yakin benarkah hatimu bahwa kau

hendak mengurbankan jiwa ragamu?”

Semua orang memandang ke arah pemuda yang gagah perkasa ini, dan

Sakri juga maklum ke mana maksud pertanyaan Sang Prabu Dewata itu.

Sembahnya, “Gusti, hamba adalah seorang laki-laki yang menjunjung tinggi

sifat satria utama. Semenjak kecil, ayah hamba telah menggembleng

hamba dengan ajaran yang luhur dari Sri Kresna yang bijak dan waspada.

Sekali hamba bersuwita, maka hamba akan setia sampai mati!”

Semua orang terharu mendengar ini, dan mereka lalu bersiap sedia

menjaga datangnya serbuan dari Majapahit.

Patih Gajah Mada mendengar pula dari para penyelidik akan sikap Ratu

Dewata dari Pajajaran. Ia maklum bahwa demi membela kehormatan

masing-masing, maka pertempuran takkan dapat dielakkan lagi. Maka ia lalu

menghadap kepada Prabu Hayam Wuruk untuk minta keputusan dan

perkenan akan maksudnya menggempur barisan Pajajaran di Bubat. Sang

Prabu Hayam Wuruk menghela napas panjang karena merasa berduka dan

kecewa bahwa persoalan menjadi demikian panas dan meruncing. Akan

tetapi, sebagai seorang raja, iapun harus mempertahankan kehormatan

 

kerajaannya. Dimintanya agar Patih Gajah Mada mencoba membereskan

persoalan ini dengan jalan damai dan membujuk Sang Prabu Dewata untuk

berdamai dan sudi mengalah, Patih Gajah Mada setelah menyatakan

kesanggupannya, lalu mengerahkan sejumlah perajurit yang besar untuk

pergi ke Bubat.

Sebetulnya Patih Gajah Mada juga ingin membereskan kesalah-pahaman ini

dengan cara damai. Akan tetapi, hal ini telah diketahui pula oleh

Wijayarajasa, maka Raja Wengker ini lalu mengutus beberapa puluh orang

suruhan, yang ini terdiri dari orang-orang jahat yang sanggup menjalankan

perintah apa saja asal mendapat upah besar. Begitu tiba di Bubat, mereka

menyerang orang-orang Pajajaran dan setelah membunuh beberapa orang

yang tak berjaga-jaga, mereka lalu melarikan diri.

Ributlah keadaan di Bubat dan semua orang Pajajaran mendengar bahwa

beberapa kawan dari Pajajaran telah terbunuh oleh orang-orang

Majapahit!

Maka memuncaklah kemarahan mereka hingga ketika barisan Gajah Mada

tiba, tanpa banyak cakap lagi barisan Pajajaran lalu menyerang!

Dan segeralah terjadi perang tanding yang hebat dan dahsyat di Bubat!

Peperangan ini terkenal dengan sebutan Perang Bubat dan sampai lama

menjadi kenangan orang. Darah membanjir di lapangan Buabat yang luas.

Rumput yang tadinya tumbuh segar, menjadi kering dan mati kena injak

kaki orang dan kuda. Warna lapangan yang tadinya hijau segar

menyedapkan mata, kini berubah merah oleh darah, darah perajuritperajurit

Majapahit dan Pajajaran! Keris dan tombak berkilauan mengamuk

menenbus perut dan dada. Pekik dan teriak menggegap-gempita dan debu

mengepul ke angkasa membuat sinar matahari menjadi pucat. Kehebatan

peperangan di lapangan Bubat ini tiada kalah hebatnya dengan peperangan

mahabesar yang disebut Bharata-yuda di lapangan Kurusetra!

Ribuan perajurit gagah-perkasa tewas di ujung senjata. Panglima-panglima

kedua fihak yang muda, tampan, dan perkasa, gugur bagaikan ratna dalam

perang itu!

Sakri mengamuk dengan hebatnya bagaikan seekor banteng sakti mencium

darah kawannya!

Tubuhnya penuh dengan darah lawan. Berpuluh-puluh orang tewas dalam

tangannya. Setiap kali tangan kanannya yang memegang keris bergerak,

robohlah seorang perajurit Majapahit, dan tiap kali kepalan tangan kirinya

diayun, pecahlah kepala seorang manusia yang menghalang di depannya!

Perajurit-perajurit Majapahit menjadi agak kocar-kacir menjauhi sepakterjang

pemuda yang luar biasa ini, bagaikan serombongan semut didekati

api.

Para perajurit dan panglima Pajajaran karena merasa telah jauh dari

 

negaranya, berperang mati-matian dan nekat hingga tak terhitung

banyaknya perajurit Majapahit yang tewas.

Melihat kehebatan sepak-terjangnya perajurit-perajurit dan panglimapanglima

Pajajaran, Patih Gajah Mada menjadi marah. Ia mendatangkan

balabantuan yang besar jumlahnya, dan diantara balabantuan yang tiba,

nampak seorang pemuda yang berpakaian sebagai seorang pemuda petani

sederhana. Menurut laporan pemimpin barisan yang baru tiba, pemuda ini

menyatakan hendak ikut membela Majapahit dan ikut menghalau musuh.

Gajah Mada lalu memanggilnya menghadap.

“Hai, anak muda yang muda rupawan. Siapakah kau dan mengapa kau yang

semuda ini hendak ikut pula beryuda?”

Dengan suaranya yang halus dan tutur katanya yang sederhana, pemuda itu

menyembah dan berkata, “Hamba bernama Saritama dari Gunung Kidul,

Gusti Patih. Dalam perantauan hamba, hamba mendengar bahwa seorang

panglima Pajajaran yang bernama Sakri amat digdaya dan sukar dilawan.

Maka apablia Gusti Patih memberi perkenan, hamba hendak mencoba

melawan panglima Pajajaran yang sakti itu.”

Patih Gajah Mada terkejut. Memang iapun telah menyaksikan sendiri

kesaktian Sakri pahlawan Pajajaran itu dan telah mengambil keputusan

untuk menghadapinya sendiri oleh karena anak buahnya tidak kuat

menghadapi amukan Sakri. Akan tetapi, tiba-tiba seorang pemuda dusun

telah mengajukan diri hendak menandingi Sakri!

“Cukup kuatkah pundakmu memikul beban ini?” tanyanya dan Patih Gajah

Mada melangkah maju mendekati pemuda yang masih duduk bersila di

depannya itu.

Ia gunakan kedua tangan untuk menekan kedua bahu Saritama dan pemuda

itu maklum bahwa Sang Patih sedang mencoba kesaktiannya, karena terasa

olehnya betapa sepasang tangan sang Patih itu bagaikan dua buah batu

besar yang beratnya luar biasa menekan dan menindih pundaknya!

Saritama tersenyum dan berkata, ”Hamba rasa beban ini tak cukup berat,

Gusti!”

Dan diam-diam ia mengerahkan tenaganya ke arah dua pundak yang

tertekan.

Patih Gajah Mada merasa terkejut dan berbareng kagum ketika merasa,

betapa kedua pundak pemuda itu tiba-tiba menjadi kaku keras bagaikan

baja dan dapat menahan tekanan kedua tangannya dengan mudah!

Tertawalah Sang Patih.

“Bagus, Saritama. Kau benar-benar pantas disebut Pendekar Gunung Kidul.

Maju dan lawanlah Sakri, aku membekali doa restu padamu.”

Saritama bertubuh sedang dan berkulit putih kuning. Wajahnya tampan

dan sepasang matanya mengeluarkan sinar gemilang. Pakaiannya sederhana

 

sekali, bahkan dadanya terbuka telanjang. Telinga kirinya digantungi

sebuah anting-anting perak yang mengeluarkan sinar aneh. Senjatanya

hanya sebilah keris kecil luk tiga yang diselipkan dalam sarung keris di

pinggangnya. Gerak gayanya perlahan dan lemah lembut, akan tetapi

tindakan kakinya cepat sekali ketika ia maju kemedan perang.

Para perajurit yang melihat majunya seorang pemuda bertelanjang dada

tanpa memegang senjatapun di tangan, merasa sangat heran dan untuk

sejenak perajurit-perajurit Pajajaran menjadi ragu-ragu. Mereka merasa

tidak tega menyerang seorang pemuda yang demikian tampan dan yang

maju kemedan pertempuran dengan senyum manis di bibir.

Tiba-tiba seorang perajurit Pajajaran maju dengan tombak di tangan. Ia

tidak perduli dengan sikap pemuda itu. Siapapun juga orangnya yang sudah

maju kemedan perang dan berada di fihak Majapahit, berarti musuh

mereka yang harus dibasmi! Akan tetapi Saritama menghadapi perajurit

itu dengan tenang. Ketika tombak itu meluncur hendak ditusukkan ke arah

dadanya, pemuda ini perlahan sekali memiringkan tubuh dan sekali

tangannya bergerak miring, tombak itu patah!

“Sabarlah, aku tak hendak bertempur dengan kalian!” katanya.

“Tunjukkanlah di mana adanya Sakri pahlawan besarmu, karena hanya

dengan dia saja aku mau bertemu!”

Masih ada dua tiga orang perajurit yang merasa gemas dan menyerang,

akan tetapi dengan cara sederhana dan mudah, semua senjata yang

menyerangnya dapat dibikin patah! Anehnya, sedikitpun pemuda itu tidak

mau membalas serangan atau menyakiti lawannya!

Demikianlah, Saritama terus maju mencari-cari Sakri. Akhirnya, ia

bertemu juga dengan Sakri yang sedang mengamuk dan yang kini berdiri

dengan tangan kanan memegang keris dan tangan kiri bertolak pinggang

karena sudah tidak ada lawan yang berani melawannya lagi! Gagah dan

hebat bagaikan Raden Abimanyu mengamuk di lapangan Kurusetra.

Ketika melihat seorang pemuda keluar dari fihak Majapahit, Sakri segera

lari menghampiri dengan keris di tangan. Akan tetapi, setelah melihat

orangnya yang datang, tiba-tiba tubuh Sakri terasa lemas, dadanya

berdebar dan tangan yang memegang keris menggigil.

“Dimas Saritama … !”

“Kakang Sakri!”

Mereka berdua hanya dapat mengeluarkan kata-kata ini dan berdiri

berhadapan saling pandang. Terharu, kecewa, girang, dan duka bercampuraduk

di dalam hati masing-masing, membuat mereka berdua tak kuasa

berkata-kata. Tanpa disadari Sakri memasukkan kerisnya kembali ke

dalam sarung keris.

Akhirnya Saritama yang lebih dulu memecah kesunyian yang menyelubungi

 

mereka berdua, “Kangmas, kangmas Sakri, kau … kau telah menjadi

seorang pengkhianat?”

Sakri terkejut mendengar ini. Tadinya ia telah ingin menubruk, memeluk

dan menciumi adiknya yang terkasih ini, akan tetapi oleh karena mereka

bertemu dalam keadaan bertentangan, ia tidak dapat melakukan hal ini.

Pada saat itu, Saritama adalah seorang musuh, musuh Pajajaran yang

berarti musuhnya pula!

“Tidak, Saritama!” jawabnya, “aku bukan seorang pengkhianat!”

“Kau tidak merasa menjadi seorang pengkhianat, akan tetapi kau telah

melawan Majapahit. Kalau begitu, apakah selain menjadi seorang

pengkhianat, kangmas Sakri juga telah berubah menjadi seorang pengecut

yang tidak berani mengakui dosa sendiri?”

“Saritama! Kau adikku yang kucinta, janganlah mulutmu begitu kejam

menjatuhkan fitnah keji terhadap kakakmu sendiri! Kalau bukan kau yang

mengucapkan kata-kata ini pasti telah kubinasakan kau!”

“Sakri! Pada saat ini janganlah kau anggap aku sebagai seorang adik. Kalau

kau hendak membinasakan aku pula, lakukanlah, wahai manusia sesat dan

gelap mata! Hendak kulihat sampai di mana kekejamanmu.”

“Saritama,” kata Sakri dengan hati perih, “aku bukan seorang pengkhianat,

juga bukan seorang pengecut seperti yang kau duga. Aku sadar dan yakin

bahwa perjuanganku ini suci dan benar. Ketahuilah, aku seorang panglima

Pajajaran, seorang hamba Pajajaran yang telah lama bersuita di depan

Sang Ratu Dewata dan yang telah banyak menerima budi Kerajaan

Pajajaran. Aku telah bersumpah untuk setia dan membela Pajajaran sampai

titik darahku yang penghabisan, yang memang sudah selayaknya menjadi

cita-cita seorang satria utama! Dengarlah, wahai anak muda, kalau aku

melanggar sumpah dan kesetiaanku terhadap kerajaan di mana aku

menghambakan diri dan aku tidak menghancurkan fihak Majapahit yang

telah menjadi musuh Pajajaran yang hendak menjaga kehormatan,

bukankah aku menjadi seorang pengkhianat dan pengecut sebesarbesarnya

di dunia ini?”

“Tapi lawanmu adalah bangsa dan darah dagingmu sendiri!” bantah

Saritama.

“Di dalam yuda, tidak ada hubungan apa-apa, yang ada hanyalah lawan dan

kawan. Siapa saja adanya dia yang berdiri di fihak musuh, dialah lawan

yang harus dimusnahkan. Cita-cita seorang perajurit utama hanya tunggal,

yaitu membasmi musuh dan membela negara serta taat kepada perintah

yang menjadi junjungan. Aku melakukan semua ini dengan penuh kesadaran.

Saritama, perjuanganku suci dan tanpa pamrih, karena aku hanyalah

menunaikan tugasku sebagai seorang perajurit. Kalau kau bukan perajurit

Majapahit, menyingkirlah Saritama, dan jangan kau menghalangi

 

perjuanganku yang suci. Kelak, kalau aku tidak terbinasa di ujung senjata

lawan, akan kuceritakan kepadamu tentang semua ini.”

Saritama tersenyum.

“Sakri, kau tenggelam dalam kesombonganmu sendiri! Kaukira bahwa

seluruh perajurit yang bertempur mengadu tenaga ini hanya bonekaboneka

belaka? Bahwa hanya kau seorang yang memiliki jiwa satria utama?

Ketahuilah, wahai panglima Pajajaran yang gagah perkasa, bahwa aku

Saritama juga seorang perajurit Majapahit. Majulah, karena akulah

lawanmu!”

“Duh Jagat Dewa Batara!” Sakri mengeluh, “mengapa aku harus

menjatuhkan tanganku kepada adikku sendiri?”

“Sakri, ingatlah akan kata-katamu tadi, kita perajurit sama perajurit.

Terima kasih atas pelajaranmu tadi yang membuat hatiku merasa lebih

lapang untuk mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit denganmu. Mengapa

ragu-ragu?”

“Aduh, adikku Saritama … Kau yang telah lama kurindukan! Tak ada jalan

lainkah yang dapat kita ambil? Aku tidak tega menjatuhkan tanganku di

atas kepalamu yang kukasihi, Saritama … kasihanilah kakakmu dan

mundurlah.”

“Manusia lemah, mana sifat satria yang kau sombongkan tadi?”

Sambil berkata demikian, Saritama melangkah maju dan menyerang dengan

pukulan tangannya. Sakri mengelak lemah, akan tetapi Saritama yang

memiliki ilmu kepandaian tinggi dan gerakan cepat itu sudah menyusul

dengan pukulan kedua hingga dada Sakri kena pukul dan panglima itu jatuh

tersungkur!

“Sakri bangunlah! Mari kita bertempur seperti perajurit-perajurit sejati!”

Saritama membentak marah karena gemas melihat betapa lawannya itu

tidak membalas.

Mendengar ucapan ini dan merasa betapa pukulan Saritama kuat dan

berat, bangkitlah semangat Sakri.

Serentak ia melompat berdiri dan menggeram keras, “Baiklah, Saritama.

Mari kau pertahankan serbuan seorang satria Pajajaran!”

Maka ia lalu menyerang dengan hebatnya. Kedua teruna remaja yang sama

tampan sama gagah itu, kakak beradik yang setelah lama berpisah kini

bertemu dimedan yuda menjadi lawan, berkelahi mati-matian!

Keduanya sama kuat, sama cepat, dan sama digdaya. Pukul-memukul,

tendang-menendang, hempas-menghempas hingga debu mengebul dari

tanah yang mereka pijak. Perkelahian ini demikian hebat dan seru,

sehingga para perajurit Majapahit dan Pajajaran yang sedang bertempur

di dekat tempat kedua kakak-beradik ini beryuda, menghentikan

pertempuran mereka dan menonton perkelahian ini dengan kagum!

 

Sakri dan Saritama bertempur bagaikan dua ekor harimau berebut kelinci.

Sepak-terjang Sakri bagaikan Gatutkaca yang menyambar-nyambar

dengan hebatnya, kuat dan cepat gerakannya. Sedangkan Saritama yang

lebih halus gerak-geriknya itu bagaikan Raden Angkawijaya yang biarpun

bergerak lemah-lembut, akan tetapi selalu tepat cekatan. Tak banyak

bergerak dalam mengelak sebuah serangan, dan setiap pukulan yang

dilancarkan, biarpun kelihatannya dilakukan dengan perlahan, namun

mengandung tenaga yang cukup besar untuk menghancurkan kepala seekor

banteng!

Pertempuran itu berjalan seru dan lama hingga para perajurit kedua fihak

bersorak-sorak membela jago masing-masing. Baik Sakri, maupun Saritama

keduanya merasa betapa berat dan kuat orang yang menjadi lawannya.

Sakri diam-diam merasa kagum dan girang melihat kehebatan adiknya,

akan tetapi oleh karena pada saat itu adiknya menjadi seorang Majapahit,

terpaksa harus dibinasakan! Sakri menggertak gigi untuk menguatkan

hatinya, kemudian ia mencari kesempatan. Ketika kesempatan yang dinantinanti

itu tiba, cepat bagaikan petir menyambar ia mengirim pukulan tangan

kanan yang disertai Aji Kelabang Kencana yang bukan main dahsyatnya!

Pukulan sakti ini tepat mengenai pangkal telinga Saritama dan tubuh

Saritama terpental jauh lalu jatuh di atas tanah tanpa daya!

Kalau saja yang terkena pukulan itu bukan Saritama, Satria Gunung Kidul

yang telah digembleng secara hebat oleh ayahnya, pasti akan tewas di saat

itu juga. Akan tetapi, Aji Kelabang Kencana mempunyai kesaktian luar

biasa hingga biarpun tidak tewas, namun tubuh Saritama telah menjadi

bengkak-bengkak dan matang biru! Pemuda ini merangkak bangun dan

mukanya yang tampan kini telah menjadi tidak karuan macamnya, bengkakbengkak

hingga kedua matanya hampir tak nampak lagi. Bukan main rasa

sakit yang diderita oleh Saritama, akan tetapi satria ini menguatkan tubuh

dan hatinya dan hanya sedikit keluhan terdengar dari mulutnya yang

bengkak-bengkak itu.

“Aduh, Rama panembahan, tak kusangka Saritama akan tewas dalam

kakangmas Sakri sendiri … ” Kemudian ia merangkak bangun dan berseru

keras kepada Sakri. “Panglima Pajajaran, janganlah berlaku kepalangtanggung,

majulah dan padamkanlah apiku kalau kau memang seorang

satria!”

Semenjak ia memukul Saritama dengan Aji Kelabang Kencana dan melihat

betapa adinda yang dikasihinya jatuh berguling dengan tubuh dan muka

bengkak-bengkak mengerikan, lenyaplah seketika itu juga semangat

bertempur dalam dada Sakri. Ia merasa ngeri dan kasihan sekali. Apalagi

setelah mendengar Saritama mengeluh dan menyebut ramanya, hancur

luluh perasaan Sakri. Ramanya dulu pernah berkata bahwa kelak ia harus

 

mewakili rama-ibu dan mendidik serta menjaga Saritama, akan tetapi

sekarang, dia sendiri telah berusaha sekuasanya untuk membinasakan

adindanya itu!

Tak tertahan lagi rasa terharu yang melemahkan hatinya.

Ia lalu menubruk maju sambil memekik, “Adimas Saritama … “

Saritama hendak mengelak, akan tetapi oleh karena tubuhnya telah

menjadi lemah dan sakit-sakit, ia tak kuasa melepaskan rangkulan

kakaknya. Sakri lalu menggunakan tangan kanannya untuk memijit-mijit dan

mengusap-ngusap muka dan tubuh adiknya, menggunakan kesaktiannya

untuk menghilangkan Aji Kelabang Kencana yang menyerang tubuh

Saritama. Memang selain memiliki Aji Kelabang Kencana dahsyat, Sakri

juga mempelajari aji untuk mengobati dan memusnahkan daya serang

Kelabang Kencana.

Seketika itu juga, pulihlah keadaan Saritama. Segala bengkak-bengkak

pada muka dan tubuhnya lenyap dan ia merasa segar kembali.

Saritama mencela kakaknya. Dengan cepat ia merenggutkan tubuh dari

pelukan Sakri dan berkata, “Kangmas Sakri, mengapa kau memperlihatkan

kelemahanmu lagi? Jangan kau memalukan aku, kangmas!”

“Saritama, adikku yang tersayang. Bagaimana aku dapat sampai hati

mencelakakan kau yang kukasihi? Adinda, sekali lagi kupinta kepadamu,

menyingkirlah dan jangan melawan aku. Kelak aku akan minta maaf

kepadamu, dinda.”

“Sakri! Kau hendak merendahkan adikmu sendiri? Kalau kau seorang satria

utama, apakah akupun bukan seorang satria Majapahit yang pantang

mundur dan tidak kenal takut pula? Hayo, majulah dan pergunakanlah aji

kesaktianmu pula. Saritama bukan anak kecil yang takut akan maut!”

Kembali kakak-beradik ini bertempur. Akan tetapi oleh karena Sakri

merasa bimbang, ia hanya berkelahi dengan setengah hati, sehingga pada

saat yang tepat Saritama berhasil memasukkan pukulannya yang dengan

jitu sekali menghantam kepala Sakri. Bukan main hebatnya pukulan ini, oleh

karena kali ini Saritama mempergunakan aji kesaktiannya yang bernama

Bromojati. Pukulan ini mempunyai daya bagaikan petir menyambar dan

seketika itu juga tubuh Sakri menjadi hangus dan kulitnya rusak bagaikan

terbakar api!

Sakri bergulingan di bawah dan mengeluh kesakitan, tak berdaya untuk

bangun lagi.

“Kangmas … kangmas … ampunkan aku … “ Saritama mengeluh.

“Tidak ada yang harus mengampunkan dan tidak ada yang harus minta

ampun, dimas. Kita sama-sama perajurit utama, bukan? Kematian bukan

apa-apa, teruskanlah perjuanganmu dengan hati suci. Tak usah kita

hiraukan sebab-sebab pertempuran. Tugas kita hanya berjuang, berjuang

 

dengan suci. Aku … aku puas, dinda … ” Kemudian ia mengeluh dan tiba-tiba

dari mulut keluar keluhan panjang, “Aduh … adinda Diah Pitaloka … “

Terkejutlah Saritama mendengar ini.

“Kangmas Sakri … kau … kau menyinta Diah Pitaloka Puteri Pajajaran?”

Sakri mencoba untuk tersenyum. “Dia … Dia pujaan kalbu dan sumber

kebahagiaanku, dinda … sampaikanlah salamku kepadanya dan sampaikan

pula bahwa aku telah membela kehormatannya sampai titik darah terakhir

… “

Dengan sedih Saritama menyanggupi. Pada saat itu, seorang perwira

Majapahit yang berdiri di belakang Saritama, ketika mendengar bahwa

Saritama, sebenarnya adalah adik dari Sakri panglima Pajajaran itu,

menjadi tercengang. Timbul pikiran jahat dalam otaknya. Ia hendak

merebut pahala dan jasa karena membinasakan Sakri, pahlawan musuh

yang digdaya itu. Maka, diam-diam ia angkat tombaknya tinggi-tinggi dan

cepat sekali ia menusuk punggung Saritama dengan tombak itu!

Saritama sama sekali tidak menyangka akan datangnya bahaya oleh karena

kedukaannya membuat ia lupa akan segala. Dan oleh karena segala

perhatiannya dicurahkan kepada kakaknya, maka agaknya tombak yang

ditusukkan ini tentu akan menembusi tubuhnya! Akan tetapi pada saat itu

Sakri yang telah hampir mati itu tiba-tiba meloncat bangun dan menubruk

ke belakang Saritama hingga tombak itu tidak jadi menancap di punggung

Saritama, akan tetapi tepat memasuki perut Sakri!

Sakri benar-benar digdaya. Biarpun tubuhnya telah hangus dan tombak itu

telah menembus perutnya, namun ia masih kuasa menyambar maju dan

kedua tangannya yang hangus itu mencekik leher perwira itu sampai kedua

mata perwira itu melotot dan lidahnya terjulur keluar. Perwira itu binasa

dan setelah melepas tubuh perwira yang telah menjadi mayat. Sakri lalu

terhuyung-huyung dan jatuh ke dalam pelukan Saritama,

“Kangmas … sungguh mulia hatimu. Di saat terakhir kau masih sudi

menolong jiwaku.”

Akan tetapi Sakri tak kuasa berkata banyak. Ia membuat gerakan agar

Saritama mendekatkan telinganya. Pemuda ini mengerti akan isyarat

kakaknya, maka ia lalu mendekatkan telinganya di mulut kakaknya. Dan

dalam saat terakhir itu, Sakri membisikkan semua aji kesaktiannya kepada

adiknya yang terkasih ini. Kemudian, satria utama ini menjadi lemas dan

menghembuskan napas terakhir.

Sakri telah gugur bagaikan ratna, yang takkan lenyap dan pudar

kegemilangan namanya selama dunia berkembang!

Saritama mencabut keluar tombak yang masih menancap di perut Sakri

dan dengan penuh khidmat ia pondong jenazah itu keluar dari medan

pertempuran, diikuti oleh pandangan mata perajurit-perajurit dari kedua

 

fihak. Setelah pemuda itu pergi, maka para perajurit itu mulai bertempur

pula dengan hebatnya!

Dengan hati duka, Saritama membakar jenazah kakaknya sambil berdoa.

Setelah pembakaran jenazah ini selesai, ia lalu maju pula kemedan

pertempuran, bukan untuk ikut bertempur, akan tetapi untuk mencari

Puteri Pajajaran dan menyampaikan pesan Sakri kepada Diah Pitaloka.

Setelah Sakri gugur, maka kekuatan fihak Pajajaran makin lemah.

Sungguhpun demikian, para satria Pajajaran yang gagah berani dan pantang

mundur itu melanjutkan pertempuran sampai orang terakhir! Patih Gajah

Mada mengerahkan semua pahlawannya dan akhirnya semua pahlawan

Pajajaran dapat dibinasakan dalam pertempuran yang maha hebat itu!

Darah mengalir bagaikan anak sungai dan mayat bergelimpangan

bertumpang-tindih memenuhi lapangan Bubat.

Diah pitaloka yang mendengar akan kekalahan fihaknya duduk di dalam

kemah dengan pikiran kusut dan hati risau. Tiba-tiba ia teringat kepada

Sakri. Ia tidak percaya bahwa fihaknya akan menderita kekalahan.

Bukankah di fihaknya ada Sakri, pahlawan yang gagah perkasa itu?

Tiba-tiba sesosok bayangan yang gesit sekali meloncat masuk ke dalam

kemahnya dan tahu-tahu seorang pemuda tampan yang sederhana berdiri

di situ dengan sikap hormat.

“Hai, siapa kau yang kurang ajar dan lancang memasuki tempat ini?” Diah

Pitaloka menegur marah.

“Maafkan hamba, Sang Puteri. Ketahuilah, hamba adalah adik dari seorang

panglimamu yang ternama, yaitu Sakri.”

“Kau adik Sakri? Dan … bagaimana dengan dia … ?”

Wajah yang tampan dan agak pucat itu nampak berduka ketika menjawab.

“Kangmas Sakri telah … gugur dan kedatanganku ini hanya hendak

menyampaikan pesannya, yakni bahwa kangmas Sakri meninggalkan salam

dan hormat kepada Sang Puteri dan bahwa kangmas Sakri telah

menunaikan tugasnya membela Paduka sampai pada saat terakhir!”

Diah Pitaloka terharu sekali dan ia tidak dapat menahan air matanya yang

mengucur turun. Dengan kedua tangannya, ia menutupi mukanya dan

tubuhnya bergoyang-goyang karena menahan sedu-sedan yang keluar

dadanya.

“Sakri … Sakri … kau pahlawan sejati, satria utama … terima kasih atas

pengurbananmu yang besar, Sakri … “

Ketika Diah Pitaloka menurunkan tangan dan memandang, ternyata pemuda

yang mengaku sebagai adik Sakri itu telah pergi!

Pada saat itu terdengar berita yang lebih menyayat jantung Diah Pitaloka.

Yang membawa berita adalah ibunya sendiri, permaisuri raja Pajajaran.

Permaisuri masuk ke dalam kamar puterinya sambil menangis dan dengan

 

suara terputus-putus ia menceritakan bahwa Sang Ratu Dewata telah

gugur di dalam yuda!

Mendengar ini, kedukaan yang sudah melemahkan jantung Diah Pitaloka,

memuncak hebat dan ia lalu roboh pingsan! Ibunya hanya dapat menangis

dan setelah Sang Puteri siuman kembali, kedua orang wanita, ibu dan anak

ini, bertangis-tangisan.

“Duhai anakku sayang, belahan nyawa bunda. Alangkah buruknya nasib yang

menimpa kita! Bunda tak menyesali untung bunda, karena bunda sudah tua,

sudah cukup mengecap nikmat hidup. Akan tetapi kau … anakku sayang,

ibarat bunga sedang mulai mekar … bunda tak patut mengurbankan

puterinya, sekarang terserah kepadamu, anakku. Kau masih muda, pantas

menjadi permaisuri yang mulia. Kau menurutlah saja anakku, taatilah

kehendak Sang Prabu di Majapahit yang hendak memboyongmu, kau akan

menjadi permaisuri yang dimuliakan orang, nak … “

“Duh bunda … “ Diah Pitaloka menangis dalam pelukan ibunya dan untuk

beberapa lama tak dapat berkata-kata. Akhirnya, sambil mengeluarkan

sebuah keris yang runcing dan tajam, Diah Pitaloka berkata, “Ibunda yang

mulia, mohon diampunkan segala dosa dan kesalahan ananda. Alangkah akan

hinanya nama ananda, alangkah akan rendahnya kehormatan ananda apabila

ananda menyerah kepada musuh! Budi ramanda dan ibunda yang demikian

besar bdilimpahkan kepada ananda, belum cukup terbalas hanya oleh

pengurbanan jiwa ananda, apakah mungkin ananda menyerahkan diri kepada

musuh yang berarti menghina dan menodai nama orang tua? Tidak, ibunda,

ananda seribu kali lebih suka mati daripada menyerah kepada musuh!

Ibunda, relakanlah, hamba hendak lebih dahulu menyusul ayahanda!”

Berseri wajah permaisuri mendengar ucapan puterinya itu. Saking

terharunya, ia tak dapat berkata-kata, dan setelah beberapa kali menelan

ludah, baru ia dapat berkata singkat, “Diah Pitaloka kau patut menjadi

puteri sesembahan di keraton Pajajaran, patut menjadi sari tauladan para

wanita!”

Di depan ibunya, Diah Pitaloka lalu menyuduk-salira (menusuk diri). Dengan

air mata berlinang-linang, permaisuri dan para emban yang menangis sedih

lalu menyelimuti jenazah Sang Puteri dengan sutera hijau. Kemudian

permaisuri lalu mengajak para emban untuk mencari jenazah Ratu Dewata,

suaminya. Diantara ribuan mayat yang malang melintang, akhirnya Sang

Permaisuri dapat pula menemukan jenazah suaminya terhantar di atas

tanah dengan sebatang tombak masih menancap di dadanya. Tombak itu

merupakan tanda bahwa suaminya telah gugur dengan gagah-berani.

Setelah menubruk dan menangisi jenazah suaminya, Sang Permaisuri lalu

mencabut kerisnya dan membunuh diri di dekat suaminya!

Para selir dan emban yang mengiringkan Permaisuri melihat hal ini lalu

 

meniru tindakan Sang Permaisuri. Mereka menggunakan senjata masingmasing

untuk membunuh diri hingga bertambah pula tubuh manusia

memenuhi lapangan Bubat! Sebelum senjakala, matahari telah

menyembunyikan diri siang-siang di belakang awan tebal, seakan-akan Sang

Batara Surya sendiri tidak tahan lebih lama menyaksikan akibat

mengerikan dari perbuatan manusia yang bodoh dan dungu, manusia yang

tak segan-segan untuk saling bunuh hanya karena memperebutkan sesuatu

yang kosong!

Ketika Sang Prabu Hayam Wuruk mendengar akan peristiwa yang amat

menyedihkan itu, bukan main duka dan menyesalnya. Padahal Sang Prabu

Hayam Wuruk yang telah amat rindu dan ingin sekali bertemu dengan calon

permaisurinya, telah menyusul ke Bubat. Tidak tahunya, ketika tiba di

Bubat, Sang Prabu hanya bertemu dengan layon Sang Puteri.

Perih dan sakit hati Sang Prabu Hayam Wuruk melihat jenazah yang telah

diselimuti sutera hijau seluruhnya itu. Tanpa dapat dicegah lagi, Sang

Prabu lalu melangkah maju dan menggunakan kedua tangannya untuk

menyingkap sutera itu dari muka jenazah Diah Pitaloka.

Naik sedu sedan dari dalam dada yang menyumbat kerongkongannya ketika

Sang Prabu menatap wajah yang tetap ayu, tetap gilang-gemilang, dengan

dihias senyum manis itu. Dalam pandangan Sang Prabu, wajah Diah Pitaloka

seakan-akan masih hidup dan senyum itu seperti sengaja ditujukan

padanya.

Tak tertahan pula rasa duka dan terharu yang menggelora dalam kalbunya

dan berjatuhanlah air mata Sang Prabu membasahi wajah Sang Ayu yang

telah tak bernyawa pula itu.

“Aduhai adinda juita! Adinda pujaan kalbu, mustikaningrat yang cantik

jelita, alangkah kejamnya nasib menimpa kita! Telah menjadi kembangmimpi

kanda saat pertemuan kita yang telah kurindu-rindukan. Akan

tetapi, setelah kita bertemu, kau telah pergi … aduhai adinda, adinda … “

Para pengiring Sang Prabu yang menyaksikan kedukaan Prabu Hayam

Wuruk, merasa terharu sekali dan menumpahkan air mata dalam

belasungkawa. Juga Patih Gajah Mada diam-diam merasa menyesal telah

terjadi perang yang mengakibatkan tewasnya Sang Puteri yang sedianya

akan mendatangkan bahagia maha besar bagi junjungannya itu.

Ia lalu melangkah maju dan sambil menyembah berkata, “Duh Gusti pujaan

hamba! Ingatlah bahwa segala peristiwa yang telah terjadi, sedang

terjadi, maupun yang akan terjadi, adalah kehendak Hyang Agung dan kita

manusia hanyalah sekedar menjalankan kodrat belaka.”

Maka sadarlah Prabu Hayam Wuruk dari pengaruh duka-nestapanya yang

maha hebat. Dengan kedua tangan gemetar Sang Prabu menyelimutkan

kembali sutera hijau itu di atas muka Diah Pitaloka, lalu memerintahkan

 

agar jenazah Ratu Dewata seanak-isteri mendapat penghormatan

selayaknya bagaikan keluarga raja yang terhormat serta jenazah mereka

dibakar menurut upacara yang telah lazim.

Kemudian Sang Prabu memerintahkan kepada para ahlinya untuk merawat

mereka yang terluka dalam perang itu, baik perajurit-perajurit Majapahit

sendiri maupun Pajajaran. Semua diperlakukan sama dan tak boleh dibedabedakan.

Sesungguhnya, sebelum Sang Prabu Hayam Wuruk meminang Diah Pitaloka,

Sang Prabu telah tertarik akan kecantikan Puteri Susumnadewi, puteri

Raja Wengker. Oleh karena itu, setelah perjodohan dengan Diah Pitaloka

gagal, Sang Prabu teringat kembali kepada Puteri Susumnadewi dan

akhirnya Sang Prabu melamarnya sebagai permaisuri. Tak perlu diceritakan

lagi betapa girang hati Wijayarajasa oleh karena dengan sendirinya

derajat serta kedudukannya meningkat tinggi sebagai mertua raja.

***

Di sebelah selatan Pulau Jawa, yakni di sepanjang pesisir Laut Selatan,

terdapat pegunungan yang memanjang dari barat ke timur yang terkenal

disebut Gunung Kidul. Diantara bukit-bukit kecil yang tak terbilang

banyaknya itu, bertapalah seorang Panembahan yang sakti dan suci, yakni

Panembahan Sidik Panunggal. Sang Panembahan belum tua benar, paling

banyak berusialima puluh tahun, akan tetapi rambutnya yang panjang serta

jenggotnya yang melambai sampai ke dada, telah putih semua. Panembahan

Sidik Panunggal tinggal dalam sebuah pondok kecil terbuat daripada bambu

sederhana. Hidupnya hanya bertani dan bermuja-samadhi, serta

mengulurkan tangan menolong para penduduk desa apabila mereka itu

membutuhkan pertolongan. Juga banyak sekali cantrik-cantrik yang

mengejar ilmu dan bersuwita kepada Sang Panembahan yang sakti.

Pada suatu hari, tak seperti biasanya, Sang Panembahan Sidik Panunggal

semenjak pagi tidak meninggalkan pondoknya. Biasanya, pagi-pagi sekali

pada waktu ayam-ayam jantan berkokok Sang Panembahan sudah keluar

dari pondok dan berjalan-jalan menghirup hawa udara sejuk di pegunungan,

kemudian Sang Panembahan lalu ikut pula mengerjakan sawah-ladang

dengan para petani lainnya. Berbeda dengan pertapa-pertapa lainnya yang

tidak mau bekerja, Sang Panembahan ini tiap hari selalu membantu

pekerjaan bapak tani dengan gembira, bahkan memberi petunjuk-petunjuk

penting oleh karena beliau juga ahli dalam soal pertanian dan cara-cara

menggarap sawah-ladang. Biarpun sudah tua dan tubuhnya kelihatan kurus,

akan tetapi ternyata bahwa Sang Panembahan masih kuat mengayun

cangkul.

Melihat betapa Sang Panembahan tidak seperti biasanya, dan tidak

 

nampak keluar dari sanggar pemujaan para cantrik merasa bingung dan

kuatir, akan tetapi mereka tidak berani mengganggu dan bertanya kepada

Sang Panembahan, hanya duduk di luar pondok dengan bersila dan tidak

berani membuat berisik.

Ketika akhirnya setelah lewat tengah hari Sang Panembahan keluar dari

pondok, wajah orang tua yang biasanya nampak riang itu, kini kelihatan

pucat dan walaupun kedua matanya tidak menampakkan kedukaan, namun

keriangan yang biasa membayang pada matanya itu telah lenyap.Para

cantrik maklum bahwa tentu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Sang

Panembahan Sidik Panunggal. Akan tetap, Sang Panembahan tidak berkata

apa-apa, kecuali menanyakan tentang pekerjaan para cantrik.

Pada senja hari datanglah Saritama. Wajah pemuda ini nampak kurus dan

pucat, sedangkan tubuhnya lemah-lunglai. Bahkan di atas kedua pipinya

masih nampak bekas-bekas air mata.Para cantrik yang tadinya merasa

gembira dan girang melihat kedatangan pemuda ini, menjadi heran dan

diam-diam saling berbisik menduga-duga apakah gerangan yang disedihkan

oleh Saritama.

“Angger, Saritama, kau sudah kembali, nak,” kata Sang Panembahan Sidik

Panunggal ketika melihat pemuda itu.

Tiba-tiba Saritama mengeluarkan suara isak tertahan dan sertamerta ia

menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Panembahan itu dan memeluk kaki

sambil menangis tersedu-sedu.

Sang Panembahan menggunkan tangan kanan mengelus-ngelus kepala

pemuda itu sambil berkata,

“Saritama, tidak ada kedukaan dan kekecewaan yang cukup besar untuk

dapat menggoncangkan iman seorang satria. Sadarlah kembali dan gunakan

sifat jantanmu untuk mengusir perasaan duka yang tak baik dan

melemahkan itu.”

“Aduh rama Panembahan, hamba telah berdosa besar rama … Hamba …

telah membunuh kakangmas Sakri … “ Pemuda itu menangis lagi.

“Wahai puteraku yang bagus, puteraku yang setia dan taat kepada

pelaksanaan tugas, mengapa kau begini lemah? Kau bilang bahwa kau telah

membunuh kakakmu Sakri? Ya Jagat Dewa Batara yang berkuasa di jagat

raya! Bagaimanakah asal-mulanya maka kau dapat berkata demikian?”

Setelah dapat menekan perasaan terharu dan dukanya dan menetapkan

hatinya, Saritama lalu berkata, “Hamba mentaati perintah Rama

Panembahan dan menuju ke Majapahit untuk menunaikan tugas sebagai

seorang satria dan pembela negara. Kebetulan sekali ketika hamba tiba

disana , Majapahit sedang mengadakan perang melawan barisan dari

Kerajaan Pajajaran. Hamba lalu menuju ke tempat peperangan dan disana

hamba mendengar tentang mengamuknya seorang panglima Pajajaran yang

 

gagah perkasa dan bernama Sakri. Tadinya hamba merasa ragu-ragu dan

tidak percaya bahwa panglima yang bernama Sakri itu adalah kakangmas

Sakri sendiri. Maka hamba lalu mengajukan diri membela perajuritperajurit

Majapahit. Ketika hamba bertemu dengan panglima itu, benar

saja, panglima Pajajaran itu adalah kangmas Sakri sendiri! Aduh, Rama

Panembahan, sebelum hamba melanjutkan cerita hamba, mohon penyesalan,

Rama, dalam keadaan seperti itu, apakah yang hamba harus perbuat?

Hamba ingin mendengar pendapat Rama, apakah perbuatan hamba itu

sesuai dengan pendapat Rama atau tidak, agar hati hamba menjadi tenang

dan puas.”

Sang Panembahan Sidik Panunggal mengangguk-angguk perlahan sedangkan

para cantrik saling pandang dengan heran mendengar cerita ini. Kemudian

terdengar suara Panembahan itu yang halus, sabar, dan penuh ketenangan,

“Saritama, ketika kau maju kemedan perang, kau adalah seorang perajurit

Majapahit, maka siapa juga orangnya yang berdiri di fihak musuh negara,

harus disingkirkan.”

“Aduh, Rama Panembahan! Lega rasa hati hamba mendengar pendapat

Rama ini! Ternyata biarpun perbuatan hamba telah membuat hati sanubari

hamba terasa perih dan hancur, namun agaknya tidak menyeleweng

daripada pelajaran Rama! Ketika hamba berhadapan dengan kakangmas

Sakri, hamba dan kangmas Sakri berselisih pendapat dan mempertahankan

tugas masing-masing hingga akhirnya kami berdua beryuda. Tadinya hamba

kalah dan terkena pukulan Kelabang Kencana yang ampuh dan luar biasa.

Akan tetapi, kakangmas Sakri menaruh kasihan kepada hamba dan hamba

disembuhkannya kembali! Kemudian karena dorongan tugas kami masingmasing

sebagai seorang perajurit dan satria utama, kami beretempur pula.

Bukan main hebatnya sepak-terjang kakangmas Sakri yang benar-benar

sakti mandaraguna! Dia terlampau gagah perkasa, terlampau sakti, hingga

terpaksa hamba mengeluarkan Aji Bromojati. Dan dia … kangmas Sakri

yang tercinta … dia kena hamba pukul Aduhai, Rama Panembahan, kalau

tidak takut akan dosa dan murka dewata, mau rasanya hamba memenggal

tangan hamba yang telah memukul kepala kakangmas Sakri. Rama … rama …

hukumlah hamba, karena hamba telah berdosa besar dan patut mendapat

hukuman berat!”

“Tenanglah, Saritama. Lalu bagaimana lanjutan ceritamu? Apakah Sakri

terus tewas karena pukulanmu Bromojati?”

“Tidak, rama. Dia terlalu sakti dan kebal untuk dapat sekali tewas dengan

sekali pukul. Hamba sudah tidak kuat meihat keadaannya setelah dia

terpukul oleh hamba. Hamba tubruk tubuhnya dan hamba tak kuat lagi

menahan keluarnya air mata. Hamba tangisi dia, dan pada saat itu, seorang

perwira Majapahit tanpa sebab lalu menyerang hamba dari belakang

 

dengan tombaknya. Hamba tidak melihat serangan ini, akan tetapi tibatiba

kakangmas Sakri melompat berdiri dan menubruk perwira itu hingga

tombak yang sedianya menancap di punggung hamba, lalu menancap di dada

kakangmas Sakri! Kakangmas Sakri membinasakan perwira yang curang itu

dan tak lama kemudian dia menghembuskan napas terakhir dalam pelukan

hamba! Ah, Rama Panembahan, perbuatan kakangmas Sakri yang biarpun

telah hampir tewas karena pukulan hamba itu, akhirnya masih menolong

hamba dari ancaman maut, sungguh memberatkan rasa duka di dalam hati

hamba! Dia yang telah hamba pukul hingga hampir tewas, bahkan menolong

dan menyelamatkan nyawa hamba!”

“Saritama, kaukira kau ini siapa maka mudah saja mengatakan dapat

membunuh? Lupakah kau akan ilmu penerangan yang telah diturunkan oleh

Sri Kresna? Bukankah Sri Kresna dulu pernah bersabda kepada Sang

Arjuna bahwa :

“Kalau ada orang berkata

bahwa Atman dapat terbunuh

atau berkata bahwa dia telah membunuh

maka orang yang berkata demikian itu

tidak mengetahui akan kebenaran!

Bagaimanakah Dia dapat membunuh

dan siapakah itu

ang dapat membunuh Dia?”

Ucapan di atas yang dipetik oleh Panembahan Sidik Panunggal ini adalah

ucapan Sri Kresna yang ditujukan kepada Sang Arjuna dalam wejanganwejangannya,

yang terkenal sebagai kitab Rhagawad Gita. Memang

semenjak kecil Saritama telah menerima bermacam pelajaran dari

Panembahan Sidik Panunggal, maka tentu saja ia masih ingat akan ilmu

pelajaran batin di atas.

Ia lalu menyembah di hadapan Sang Prabu Panembahan dan berkata,

“Terima kasih, Rama. Sungguh besar sekali pengaruh wejangan Rama,

karena kini hamba merasa tidak sangat tertekan.”

“Kau hanya menjalankan tugasmu sebagai seorang ksatria dan perajurit

utama, demikianpun Sakri. Biarpun dia telah tewas di dalam peperangan,

namun ia gugur sebagai seorang ksatria utama. Tewas di dalam menunaikan

tugas dimedan perang, bagi seorang perajurit dan ksatria utama, adalah

cara mengakhiri hidup yang paling nikmat dan sempurna!”

“Akan tetapi, Rama Panembahan yang menjadi pujaan hamba di jagat raya!

Betapa hati hamba takkan berduka oleh karena di dalam dunia ini, hamba

hanya mempunyai rama dan kakangmas Sakri. Kini kakangmas Sakri telah

pergi, ah, betapa hamba takkan merasa sunyi dan sengsara.”

 

Sang Panembahan tersenyum.

“Saritama, Saritama! Ucapanmu ini seperti seorang anak-anak saja.

Mengapa kau hanya mempunyai aku dan kangmasmu? Tengoklah di

sekelilingmu.Para cantrik ini, para kawan pamong desa, para petani, semua

itu juga bukankah manusia-manusia yang tiada bedanya dengan aku atau

kangmasmu? Kalau kau dapat menganggap aku sebagai ramamu dan Sakri

sebagai kangmasmu, mengapa kau takkan dapat menganggap mereka semua

itu sebagai ramamu dan juga sebagai kangmasmu? Dan sekarang, Saritama,

bersiaplah untuk menerima kenyataan yang sebetulnya bukan apa-apa, akan

tetapi kalau imanmu lemah, kau dapat menganggap bahwa hal ini merupakan

hal yang pahit bagimu. Kenyataan yang tadinya menjadi rahasia dan yang

kini hendak kubuka ini, juga akan membongkar pula kenyataan bahwa nafsu

perseorangan atau nafsu kekeluargaan yang menebal di dalam hati manusia

itu sebenarnya tidak selayaknya dan hanya timbul karena diadakan oleh

manusia sendiri, bukan timbul dari kodrat. Kasih sayang harus dicurahkan

kepada seluruh manusia, tak perduli orang itu keluarga maupun tidak,

berdasar rasa perikemanusiaan dan sesama hidup, bahkan seyogianya tidak

hanya terhadap sesama manusia, akan tetapi juga terhadap sesama mahluk

di dunia. Saritama, sekarang dengarlah, aku hendak menceritakan sebuah

riwayat yang hendak kupersingkat saja.”

Sang Panembahan Sidik Panunggal lalu bercerita sebagai berikut. Kurang

lebih empat belas tahun yang lalu, terdapat seorang adipati yang

mengepalai Kadipaten Tritis. Adipati ini mempunyai seorang musuh, yakni

seorang tumenggung. Oleh karena keduanya adalah hamba Kerajaan

Majapahit dan keduanya memiliki kesaktian dan telah berjasa besar

terhadap kerajaan hingga pengaruh mereka cukup besar, maka rasa

permusuhan ini tidak dinyatakan berterang, hanya terpendam dalam dasar

hati masing-masing. Walaupun pada lahirnya Adipati dan Tumenggung itu

tidak memperlihatkan sikap bermusuhan, akan tetapi di dalam hati mereka

menaruh dendam besar. Permusuhan ini timbul oleh karena seorang Puteri

keturunan Prabu Jayanegara yang lahir dari selir. Puteri ini sebenarnya

telah mempunyai hubungan kasih-sayang dengan adipati itu, akan tetapi

oleh karena pada waktu itu sang adipati masih belum menduduki pangkat

dan keadaannya miskin, maka akhirnya sang puteri tak dapat menjadi

jodohnya dan menjadi isteri sang tumenggung yang kaya raya dan

berpengaruh. Hal inilah yang menjadikan ganjalan di dalam hati kedua

orang itu dan menimbulkan sakit hati yang tak kunjung padam. Akan tetapi,

sang adipati itu dapat mengobati luka di hatinya dan biarpun ia masih

membenci sang tumenggung, namun dia tidak melakukan sesuatu, bahkan

lalu kawin dengan puteri lain dan hidup cukup berbahagia oleh karena ia

mendapat anugerah raja dan dijadikan adipati di Tritis.

 

Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan sang tumenggung itu. Biarpun

puteri juita yang diperebutkan itu akhirnya terjatuh ke dalam tangannya

dan menjadi isterinya, namun rasa cemburu masih melekat di dalam

hatinya dan bencinya terhadap adiapti itu makin lama makin menghebat.

Hingga pada suatu hari, dengan cara curang sang tumenggung itu berhasil

menfitnah sang adipati yang dituduh hendak memberontak terhadap

Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, yang memerintah di Majapahit adalah

Sang Ratu Tribuwana Tungga Dewi dan sebagai seorang wanita, Ratu ini

dapat dihasut hingga Sang Ratu menggerakkan panglima-panglimanya untuk

memukul hancur adipati itu hingga terbinasa seluruh keluarganya, kecuali

dua orang puteranya yang dapat diselamatkannya.

“Demikianlah riwayat itu, Saritama,” kata Sang Panembahan Sidik

Panunggal kepada Saritama yang mendengarkan dengan penuh perhatian

dan tertarik sekali. “Dan sekarang ketahuilah, wahai anakku, bahwa

tumenggung itu adalah Tumenggung Wiradigda yang sekarang masih

menjadi Tumenggung di Majapahit dan berkedudukan di wilayah Tangen,

sedangkan adipati itu adalah Adipati Cakrabuwana atau … adikku sendiri!

Sedangkan kedua putera adipati yang diselamatkan itu tidak lain adalah …

Sakri dan kau sendiri! Jadi, aku bukanlah ramamu sebagaimana yang

selama ini kau ketahui, akan tetapi adalah bapak tuamu atau pamanmu!”

Kalau bumi yang terpijak kaki Saritama pada saat itu ambles, belum tentu

pemuda itu akan sedemikian kagetnya mendengar penuturan ini. Sepasang

matanya tajam menatap Sang Panembahan, wajahnya memucat dan

bibirnya gemetar.

Tiba-tiba ia maju menyembah dan berkata dengan suara keras, “Paman

Panembahan, mohon doa restumu!” Ia lalu melompat bangun dan sambil

mengacungkan tinjunya ke atas, ia berseru dengan bengis. “Tumenggung

Wiradigda, tunggulah pembalasanku!”

Kemudian, tanpa menoleh lagi, pemuda itu lalu melompat ke depan dan lari

keluar dari tempat itu secepat kidang melompat!

Sang Panembahan memandang ke arah perginya Saritama sambil

menggeleng-geleng kepala, “Ah, hati muda … semoga Hyang Agung akan

menjauhkannya daripada kesesatan.”

Kemudian, tanpa mengeluarkan kata-kata lain kepada sekalian cantrik yang

masih duduk bersila di situ, Sang Panembahan lalu memasuki pondoknya

kembali dan duduk bersila bermuja samadhi dengan tekunnya.

Paracantrik hanya dapat saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepala

sambil menghela napas.

Dengan hati dan pikiran tak karuan rasa, duka, kecewa, marah menjadi

satu, Saritama meninggalkan pondok Panembahan Sidik Panunggal. Hatinya

dipenuhi rasa dendam dan sakit-hati, dan pada saat itu ingin sekali ia

 

segera bertemu dengan musuh besarnya yang telah menghancurkan

penghidupan ayah-ibu dan keluarganya. Ingin ia segera mendapat

kesempatan menjatuhkan tangan kepada Tumenggung Wiradigda.

“Hm, Wiradigda keparat! Kau mengandalkan pengaruh dan kedudukanmu,

dengan kejam dan buas menfitnah orang tuaku. Setelah kau merampas

kekasih ayah, kau masih sampai hati untuk menghancurkan penghidupan

ayah! Alangkah kejam, apa kaukira hanya aku saja laki-laki jantan di atas

dunia ini. Tunggulah, awaslah kau, tumenggung keparat!”

Tiada hentinya bibir Saritama bergerak-gerak membisikkan ancamanancaman

ini di sepanjang jalan. Ia berlari bagaikan gila menuju ke Tangen,

sebuah pedusunan yang berada di sebelah selatan Majapahit. Bukan dekat

perjalanan yang ditempuhnya, akan tetapi berkat kesaktian dan

kepandaiannya yang hebat, yakin dengan ilmu lari Kidang Kencana,ia

mengharapkan akan dapat sampai di tempat itu dalam tiga hari.

Pada malam hari ketiga, ia telah tiba di luar daerah Tangen. Oleh karena

malam itu gelap sekali, terpaksa ia harus bermalam di sebuah dusun kecil

dan tak dapat melanjutkan perjalanannya. Dusun di mana ia berhenti itu

kecil, akan tetapi cukup ramai. Ketika melihat sebuah pondok di dalam

dusun itu, pondok yang dilengkapi dengan sebuah tempat pemujaan di

sampingnya seperti yang biasa dipunyai oleh seorang pertapa atau seorang

Panembahan, ia menjadi tertarik. Ketika ia bertanya kepada seorang

petani yang kebetulan bertemu dengamnya di tengah jalan dekat pondok

itu, ia bertanya.

“Paman, maafkan kalau aku menganggumu. Pondok siapakah yang nampak di

depan ini. Agaknya pondok seorang pertapa.”

Petani itu memandangnya sejenak, karena ia dapat menduga bahwa pemuda

ini tentulah seorang pendatang dari jauh hingga tak mengenal pondok

pertapa terkenal itu.

“Raden,” katanya penuh hormat karena biarpun pakaian Saritama

sederhana dan bagaikan seorang petani, namun sikap halus dan wajah

tampan pemuda itu menimbulkan dugaan kepadanya bahwa pemuda ini tentu

bukanlah seorang petani biasa. “Pondok ini adalah tempat kediaman

seorang dukun yang sakti dan ditakuti orang, namanya Bagawan Kalamaya

yang kemashurannya telah terkenal sampai kekota raja.”

“Ah, kebetulan sekali, paman. Kalau seorang bagawan, tentu sudi menerima

aku untuk bermalam di sini.”

“Raden, kalau kau hendak bermalam di dusun kami, dan kalau kiranya

gubukku yang bobrok tidak menjadikan celaan, aku persilakan kau mampir

dan bermalam saja di rumahku. Janganlah kau mencoba untuk minta

bermalam di sini.”

Saritama merasa heran.

 

“Eh, mengapa begitu, paman? Aku berterima kasih sekali kepadamu, paman.

Kau memang baik hati dan ramah tamah, akan tetapi, hatiku menjadi ingin

tahu mendengar kata-katamu tadi. Mengapa Bagawan Kalamaya takkan mau

menerimaku? Bukankah seorang pendeta itu biasanya murah hati dan

berbudi?”

Petani itu menghela napas dan matanya memandang ke arah pondok itu

dengan hati-hati dan takut-takut, kemudian ia berbisik. “Raden,

ketahuilah, Bagawan Kalamaya adalah dukun tenung yang ditakuti orang

dan iapun galak sekali. Yang paling hebat ialah bahwa di rumahnya terdapat

banyak iblis yang dipeliharanya!”

Saritama tersenyum. Ia tidak merasa heran mendengar ucapan petani ini,

oleh karena memang para petani yang bodoh seringkali mudah dipengaruhi

dan ditakut-takuti tentang iblis-iblis dan segala setan oleh orang-orang

yang mereka anggap dukun tenung.

“Biarlah, paman. Betapapun juga aku ingin sekali berkelanan dengan dukun

yang sakti itu.”

Petani itu memandang kepada saritama dengan penuh kekuatiran dan juga

kagum, akan tetapi ia telah demikian ketakutan berada terlalu lama di

dekat pondok Bagawan Kalamaya, maka ia segera meninggalkan Saritama

cepat-cepat sambil menoleh beberapa kali.

Saritama lalu memasuki pekarangan pondok yang gelap itu. Langsung ia

menuju ke pintunya dan mengetok sambil mengucapkan salam. Setelah

beberapa kali ia mengetuk pintu, barulah terdengar jawaban dari dalam.

“Anak muda yang cakap dan gagah, pintu pondokku tidak terpalang, dorong

saja dan masuklah!”

Dengan sikap hormat Saritama lalu mendorong daun pintu itu. Daun pintu

mengeluarkan bunyi bergerit menyeramkan dan Saritama melihat seorang

kakek bongkok bersila menghadapi sebuah meja rendah dan di atas meja

itu terdapat sebuah dian minyak kecil. Cahaya dian itu remang-remang dan

membuat bayang-bayang suram pada dinding bilik. Tercium bau kemenyan

dan kembang layu ketika Saritama memasuki ruang kecil ini.

Dengan sikap menghormat, pemuda itu lalu duduk bersila pula menghadapi

tuan rumah yang tua itu, lalu berkata, “Mohon maaf sebesarnya dari Bapak

Bagawan apabila saya mengganggu ketentraman Bapak.”

“Ha, ha, ha!” Kakek itu tertawa dan sepasang matanya berputaran. “Anak

muda yang tabah dan cakap lagi sopan seperti engkau memang tak usah

takut takkan mendapat tempat bermalam! Bukankah kedatanganmu ini

hendak bermalam di tempatku yang buruk ini, anak muda?”

“Memang benar demikianlah maksud kedatangan saya, yakni kalau bapak

tidak menaruh keberatan dan rela menerimanya.”

“Tentu, tentu! Kau boleh bermalam di sini. Akan tetapi, siapakah kau, anak

 

muda yang tampan dan sopan, kau datang dari mana dan hendak ke mana?”

Ketika tadi untuk pertama kalinya melngkahkan kakinya ke dalam ruang ini,

Saritama yang bermata tajam sudah dapat melihat bahwa kakek ini

memang seorang sakti yang memiliki ilmu hitam atau ilmu sihir yang tidak

pantang mendatangkan celaka kepada orang lain, maka ia telah merasa

kecewa masuk ke situ. Akan tetapi, oleh karena ia telah berada di dalam,

pula sebagai seorang tamu, terpaksa ia harus berlaku sopan santun sesuai

dengan kepribadiannya.

Kini ia hendak mencoba sifat dukun itu dan menjawab pertanyaan dengan

suara tenang, “Bapak Bagawan, saya telah mendengar akan kesaktian dan

kewaspadaanmu, mengapakah bapak masih hendak bertanya lagi? Bukankah

bapak sudah tahu akan segala rahasia alam, termasuk namaku dan segala

hal yang mengenai diriku yang bodoh?”

Bagawan Kalamaya tertawa sehingga tubuhnya bergoyang-goyang. “Ha, ha,

ha, anak muda. Kau benar-benar pintar dan menyenangkan hati! Sudah

tentu aku tahu akan segala apa di mayapada ini, dan tidak ada rahasia bagi

Bagawan Kalamaya. Akan tetapi, sebagai seorang manusia, aku tak boleh

meninggalkan kebiasaan manusia terhadap manusia lain, yakni apabila

bertemu harus saling bertanya.”

Mendengar jawaban ini. Saritama dapat meraba bahwa pendeta ini

memiliki kesombongan besar dan hendak berpura-pura suci dan mengerti

akan hukum alam. Maka ia tersenyum ketika menjawab,

“Baiklah, bapak bagawan. Saya bernama Saritama dari Gunung Kidul, dan

saya hendak pergi ke Tangen.”

“Ah, ah … bukankah kau hendak mencari Tumenggung Wradigda?” tanya

kakek pendeta itu.

Saritama agak tercengang karena tak disangkanya bahwa pendeta ini

dapat pula membaca maksud hatinya! Ia tak tahu bahwa Bagawan Kalamaya

hanya menggunakan kecerdikan dan bahwa dugaannya itu hanya kebetulan

tepat. Orang terpenting di Tangen hanya Tumenggung Wiradigda seorang,

maka kalau ada seorang pemuda gagah datang dari tempat jauh menuju ke

Tangen, siapa lagi yang hendak ditemuinya disana selain Tumenggung

Wiradigda? Oleh karena inilah maka dukun hitam itu dapat menduga

dengan tepat.

“Benar, bapak bagawan yang waspada, memang rasa hendak pergi mencari

Tumenggung Wiradigda.” Ketika mengucapkan nama ini, suara Saritama

menjadi tajam dan mengandung kebencian. Hal ini tak terlepas daripada

pendengaran dukun hitam yang cerdik itu.

“Hm, hm, kulihat kau mempunyai permusuhan dengan sang tumenggung!

Kalau kau tidak merasa keberatan, Saritama, cobalah kauceritakan

urusanmu dengan tumenggung itu kepadaku. Mungkin sekali aku dapat

 

menolongmu!”

Kembali Saritama kagum mendengar dugaan yang tepat ini. Ia tidak

memiliki rahasia hati dan apa yang hendak ia lakukan terhadap

Tumenggung Wiradigda, yakni pembalasan dendam, tak hendak ia

rahasiakan kepada siapapun juga. Maka, apa salahnya menceritakan kepada

dukun ini?

“Memang tepat dugaan bapak bagawan. Saya hendak mencari Tumenggung

Wiradigda untuk membuat perhitungan lama yang hingga kini belum

diselesaikan! Tumenggung keparat itu telah membinasakan seluruh

keluarga ayahku dan sekarang tiba masanya bagi saya untuk membalas

kejahatannya itu!”

Bagawan Kalamaya memandang tajam. “Siapakah orang tuamu, Saritama

yang gagah berani?”

“Mendiang ramandaku adalah Adipati Cakrabuwana di Tritis.”

Kedua mata pendeta itu melebar lebar. “Eh, eh … jadi kau adalah putera

adipati yang telah lama dicari-cari oleh Tumenggung Wiradigda dan tak

pernah ditemukan itu? Dan saudaramu yang seorang lagi, di manakah dia?”

“Hm, agaknya bapak juga tahu benar akan riwayat itu, bukan?”

Dukun hitam itu mengangguk-angguk.”Siapa yang tak kenal Adipati

Cakrabuwana, pemberontak itu?”

“Jangan bapak berkata demikian!” bentak Saritama marah. “Tumenggung

Wiradigda memfitnahnya!”

“Ya, ya … memang kedua orang itu bermusuhan dan saling membenci!

Mereka saling membenci hanya karena seorang wanita. Ah, wanita, kau

mahluk lemah akan tetapi pengaruhmu lebih kuasa dan kuat daripada

sekalian pria yang terkuat! Tahukah kau Saritama? Wanita macam apa

yang dulu dicinta ayahmu dan yang telah direbut oleh Tumenggung

Wiradigda? Ha, ha! Sayang seribu sayang, seorang gagah seperti

Cakrabuwana hanya menjadi kurban karena seorang wanita macam itu!

Memang dulu wanita itu mencinta ayahmu, akan tetapi setelah ia menjadi

isteri Tumenggung, bahkan dia sendiri yang membujuk-bujuk suaminya

untuk menfitnah Cakrabuwana! Ah, wanita … memang kau mahluk termulia,

tapi juga mahluk paling jahat di dunia ini! Puteri itu sekarang telah

mempunyai seorang anak perempuan yang telah dewasa dan dalam hal

kecantikan, ia tak kalah oleh ibunya! Ha, ha, ha!”

Makin panas hati Saritama mendengar penuturan yang memanaskan hati

ini, maka dengan menggertak gigi pemuda itu berkata, “Biarlah, paling lama

sampai besok pagi, Wiradigda seanak-isterinya tentu akan binasa di dalam

tanganku!”

Tiba-tiba Bagawan Kalamaya tertawa gelak-gelak hingga terpingkal-pingkal

memegangi perut.

 

“Bapak Bagawan, apakah yang kau tertawakan?”

“Saritama kau anak kecil yang masih hijau, bagaikan seekor burung baru

belajar terbang! Apakah yang kauandalkan maka kau berani mengucapkan

kata-kata ancaman itu? Seekor semutpun kalau dapat mengerti omonganmu

akan tertawa geli, jangankah seorang manusia! Kau tahu apa? Wiradigda

bukanlah sembarang orang yang mudah dibinasakan begitu saja. Bahkan

aku dengan segala ilmu sihirku tak dapat membinasakannya, apalagi kau.

Tumenggung Wiradigda adalah seorang yang sakti mandraguna dan banyak

perwira sakti menjadi pembantunya. Barisan yang berada di dalam

kekuasaannya saja sebanyak ribuan orang!”

Namun Saritama tidak gentar mendengar ini.

“Aku tidak takut, Bagawan Kalamaya!” katanya dengan suara tetap keras.

“Biar andaikata Wiradigda mempunyai tiga kepala dan enam tangan,

kesemuanya akan kuhancurkan dengan kedua kepalan tanganku!”

Sekali lagi dukun itu tertawa geli hingga dari kedua matanya keluar air

mata.

“Saritama, jangan kau sombong! Selain para perwira dan para perajurit

Tangen yang sedemikian banyaknya itu, masih banyak pula pembantupembantunya,

yakni pertapa-pertapa sakti mandraguna yang memiliki

banyak ilmu dan aji kesaktian. Diantara mereka ini, akupun menjadi

penasehat dan pembantunya!”

Saritama bangkit berdiri dan bersiap-sedia!

“Ha, ha, anak muda, kau mempunyai kepandaian apa?” Sambil berkata

demikian, dukun hitam itu lalu mengangkat tangan kirinya ke atas dan tibatiba

dari arah jendela biliknya itu menyambar angin dingin! Api dian

berkelap-kelip dan hampir padam. Kini Bagawan Kalamaya juga berdiri dan

tubuhnya yang bongkok menambahkan keseraman ruang gelap itu.

Tangan kanan dukun itu memegang sebatang tongkat dan sambil melempar

tongkat itu ke arah Saritama, terdengar suaranya yang parau membentak,

“Lihat nagaku menelanmu bulat-bulat!”

Aneh sekali, dalam cahaya yang remang-remang itu, tongkat yang dilempar

tadi tiba-tiba mengeluarkan asap dan berubah menjadi seekor naga atau

ular besar bertanduk dua yang hanya dapat terlihat dalam alam mimpi

seorang penakut!

“Bagawan Kalamaya, apakah harganya permainan macam ini diperlihatkan?”

kata Saritama tiada gentar sedikitpun.

Ketika ular naga itu menyambar ke arah lehernya, ia angkat tangan kirinya

dan dengan telapak tangan dimiringkan ia memukul ke arah tubuh ular naga

itu sambil berseru keras, “Asal tongkat kembali menjadi tongkat!”

Terdengar suara keras dan tubuh ular naga itu kena pukul tangan Saritama

lalu terlempar ke dinding dan berubah menjadi dua batang kayu, karena

 

tongkat itu telah patah di tengah-tengah dan kini berserakan di atas

lantai!

Angin yang bertiup dari arah jendela berhenti dan api dian bernyala baik

kembali hingga keadaan menjadi terang. Bagawan Kalamaya tertawa

terkekeh-kekeh, lalu ia duduk bersila kembali.

“Kau sakti, Saritama, cukup sakti! Tak kunyana putera Cakrabuwana

memiliki kesaktian melebihi ayahnya. Bagus, bagus, anak muda, tadi aku

hanya mengujimu saja! Kau hendak menumpas keluarga Wiradigda di

Tangen? Bagus, memang mereka itu harus dibinasakan!”

Saritama tertegun melihat perubahan ini. Iapun lalu duduk kembali.

“Bagawan Kalamaya, agaknya kaupun membenci tumenggung keparat itu?”

tanyanya.

“Heh, heh, hem!” suara ketawa dukun itu makin menjemukan. “Siapa yang

tidak kubenci? Ketahuilah, Saritama, sudah lama akupun hendak menyerbu

ke Tangen, akan tetapi aku tidak cukup kuat menghadapi mereka, terutama

menghadapi Dewi Saraswati!”

“Sang Bagawan, siapakah Dewi Saraswati itu?” tanya Saritama.

“Ha, ha, ha, siapa lagi? Dewi Saraswati adalah permaisuri Sang Hyang

Brahma, Dewa tertinggi!”

Saritama memandang heran. Iapun maklum bahwa para pemeluk agama

Brahma menganggap Dewa yang tertinggi kekuasaannya adalah Sang Hyang

Brahma dan permaisuri atau yang disebut shakti dari dewa ini adalah Dewi

Saraswati.

“Akan tetapi, apakah maksudmu mengatakan kau takut menghadapi Dewi

Saraswati di Tangen?”

“Saritama, ketahuilah bahwa kekasih ayahmu yang telah mengecewakan

hatinya dan menjadi isteri Tumenggung Wiradigda, mempunyai seorang

puteri. Puteri inilah yang bernama Dewi Saraswati, dan dia ini benar-benar

penjelmaan Dewi Saraswati permaisuri Brahma dan kini puteri ini sedang

menanti kedatangan jodohnya yang harus titisan (penjelmaan) Sang Hyang

Brahma sendiri! Ha, ha, ha!”

Saritama makin heran dan ia mulai menduga bahwa dukun tua ini tentu

agak miring otaknya.

“Dan siapakah titisan Sang Hyang Brahma sekarang?” tanyanya karena

ingin mendengar sampai di mana kegilaan dukun hitam itu.

“Heh, heh, heh! Titisan Brahma telah berada di hadapanmu, masih juga kau

belum tahu? Akulah penjelmaan Sang Hyang Brahma!”

Ah, dia benar-benar gila! Demikian pikir Saritama, maka ia lalu bersila dan

diam saja, tidak mau melayani dukun itu lebih lanjut lagi. Juga Bagawan

Kalamaya agaknya telah lelah, karena ia lalu merebahkan tubuhnya dan tak

lama kemudian terdengar dengkurnya!

 

Saritama sudah terbiasa beristirahat sambil duduk bersila. Maka ia lalu

bersamadhi dan beristirahat sambil bersila dengan tenang.

Ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi benar Bagawan Kalamaya

terdengar menguap dan bangun dari tidurnya, Saritama juga mengakhiri

samadhinya. Setelah dukun tua itu duduk, pemuda itu lalu berkata.

“Sang Bagawan, saya mengucap diperbanyak terima kasih atas kebaikan

dan keramahanmu yang telah menerima saya bermalam di sini. Moga-moga

lain waktu saya akan mendapat kesempatan membalas kebaikanmu.

Sekarang, perkenankanlah saya melanjutkan perjalanan saya.”

“Eh, eh, nanti dulu, Saritama. Aku akan menyertaimu ke Tangen karena

menurut pendapatku, sekarang telah tiba saatnya aku bergerak bersama

kau yang muda dan gagah. Aku lebih mengenal keadaan di Tangen, maka

akan lebih mudahlah kau bertindak apabila kau bersama dengan aku.”

“Tapi bukankah kau ini menjadi hamba dari Tumenggung Wiradigda?”

“Heh, heh, heh! Ada kalanya aku menjadi hamba, ada kalanya aku menjadi

pujaan! Kali ini aku menjadi musuh Tumenggug Wiradigda!”

Saritama merasa tak enak untuk menolak, dan pula dia tidak mau dianggap

takut atau kuatir jika pergi bersama dengan dukun hitam ini. Maka ia lalu

menyatakan persetujuannya. Lama sekali Saritama harus menanti bagawan

itu berkemas, mengenakan pakaian indah-indah dan akhirnya setelah

mereka berangkat, diam-diam Saritama merasa mendongkol sekali oleh

karena bagawan itu berjalan perlahan sekali! Dengan bantuan tongkatnya,

Bagawan Kalamaya berjalan membungkuk-bungkuk.

“Sang Bagawan, kalau kita berjalan seperti ini, kapankah akan sampai di

Tangen? Marilah kita pergunakan ilmu!”

Bagawan Kalamaya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum.

“Orang yang memperlihatkan kepandaian di tempat umum adalah seorang

bodoh dan sombong. Nanti saja kalau kita sudah tiba di hutan itu, baru

kita menggunakan ilmu kesaktian akan tetapi aku kuatir kalau-kalau kau

ketinggalan jauh!”

Saritama tersenyum dan di dalam hati ia merasa geli dan juga mendongkol.

Dukun lepus ini melarang orang memperlihatkan kepandaian dengan alasan

tak baik berlaku sombong akan tetapi ucapannya yang terakhir itu jelas

sekali menyatakan betapa sombongnya kakek ini! Akan tetapi, Saritama

diam saja dan tidak mendesak lebih jauh. Hendak ia lihat, sampai di mana

kehebatan ilmu lari cepat dukun ini maka berani mengatakan bahwa dia

akan tertinggal jauh!

Setelah mereka tiba di dalam hutan, Saritama tak sabar lagi dan berkata,

“Marilah kita percepat langkah kita, Sang Bagawan.”

Bagawan Kalamaya tersenyum. “Baiklah, baiklah!”

Kemudian Bagawan Kalamaya mempergunakan aji kesaktiannya dan benar

 

saja, langkahnya lebar dan gerakannya cepat hingga tak lama kemudian

tubuh yang bongkok itu telah berlari cepat sekali. Saritama memandang

dan tahulah ia bahwa dukun itu mempunyai kepandaian yang disebut Aji

Pancal Panggung, semacam ilmu lari cepat yang hebat juga. Akan tetapi,

ketika Saritama mengeluarkan ajinya Kidang Kencana, tak lama kemudian ia

dapat menyusul bagawan itu yang menengok dengan heran dan kagum

melihat kepandaian Saritama.

Saritama cukup bijaksana dan ia tidak mau melampaui orang tua itu. Ia

sengaja memperlambat gerakan kakinya hingga mereka dapat berlari

dengan sama cepatnya.

Ketika hutan telah mereka lalui, Bagawan Kalamaya dengan napas

tersengal-sengal minta berhenti. Sebelum bicara ia menarik napas panjang

yang senin kemis itu!

“Aduh, tenagaku masih cukup, akan tetapi napasku … ” setelah menarik

napas panjang berulang-ulang, ia berkata lagi. “Saritama, kau benar sakti.

Kau dapat mengimbangi kecepatanku. Kalau aku masih muda seperti

engkau, tentu kau akan tertinggal jauh! Sekarang kita telah melampaui

hutan, maka biarlah kita berjalan biasa kembali.”

Saritama hanya tersenyum dan diam-diam ia merasa geli oleh karena dukun

lepus ini masih saja menyombongkan diri. Maka mereka lalu berjalan lagi

dengan cara biasa.

Oleh karena perjalanan ini dilakukan dengan perlahan dan hanya sekali dua

kali Bagawan Kalamaya mau mempergunakan aji kesaktian yang sangat

melelahkan itu, maka setelah hari menjadi gelap barulah mereka berdua

tiba di Tangen.

Sebelum menuju ke gedung Tumenggung Wiradigda yang besar dan megah

bagaikan istana Raja Majapahit sendiri, Bagawan Kalamaya memberi

nasehat,

“Saritama, penjagaan di bagian depan gedung tumenggung amat kuat.

Masuklah engkau diam-diam dari bagian kiri gedung oleh karena di bagian

kiri itu tak terjaga kuat dan di bagian kiri terdapat taman tumenggung

yang bersambung dengan taman belakang. Di situ banyak terdapat

tetumbuhan di mana kau dapat bersembunyi apabila ada penjaga-penjaga

keluar dan meronda. Kemudian kau dapat menyusup masuk ke dalam gedung

mencari Tumenggung Wiradigda.”

“Baiklah, Sang Bagawan,” kata Saritama.

Malam hari itu udara bersih dan ribuan bintang menyinarkan cahaya

gemilang dari angkasa raya. Oleh karena hawa malam itu sejuk dan bersih,

biarpun tidak terangbulan, namun anak-anak di Tangen banyak yang

bermain-main di pelataran depan, sedangkan orang-orang tua sambil

mengisap rokok daun jagung dan menikmati air teh kental, duduk di atas

 

tikar yang digelar di pelataran dan bercakap-cakap.

Keadaan demikian tenteram bagaikan tidak akan terjadi sesuatu yang

hebat. Memang, telah bertahun-tahun di Tangen selalu tata-tenteram

reja-raharja, tak pernah terjadi kejahatan, tak pernah terjadi pencurian

hingga para petani dapat bekerja dengan senang dan penghidupan peduduk

di sekeliling Tangen rata-rata makmur dan berbahagia.

Akan tetapi, pada malam hari itu, tanpa mereka ketahui dua sosok

bayangan bergerak menuju ke gedung Tumenggung Wiradigda. Setelah

keduanya tiba di dekat gedung, mereka berbisik-bisik, kemudian bayangan

dua orang itu berpisah, seorang menuju ke kiri gedung, yang kedua menuju

ke belakang.

Bayangan pertama yang memiliki gerakan cepat dan tangkas, yakni

Saritama sendiri, cepat menyelinap di dalam bayangan pohon di sebelah

kiri gedung. Ia memandang ke sekeliling dan kemudian dengan sekali

lompat saja ia sudah dapat meloncati pagar taman.

Memang benar kata-kata Bagawan Kalamaya bahwa gedung tumenggung itu

terjaga kuat, dan bahwa Tumenggung Wiradigda mempunyai banyak

punggawa yang tangguh dan sakti. Buktinya, ketika Saritama melompat

masuk ke dalam taman, baru saja kedua kakinya menginjak rumput, tibatiba

dua orang penjaga yang muda dan gagah membentaknya dari tempat

jauh,

“Hai! Siapakah kamu yang lancang memasuki taman?” Mereka ini dengan

cepat lari menghampiri.

Saritama tidak mau membuang waktu lagi. Sebelum kedua orang penjaga

itu sempat bertindak, ia telah bergerak lebih dulu. Dengan sekali

lompatan, Saritama telah menerkam kedua penjaga itu, dengan dua kali

kepalan tangannya menyambar, robohlah dua orang penjaga itu! Orang

pertama roboh tanpa dapat bangun lagi dan pingsan, sedang orang kedua

memang sengaja dipukul perlahan hingga masih dapat bicara walaupun

kepalanya terasa pusing berputaran akibat pukulan Sambernyawa!

“Lekas katakan, di mana Wiradigda?”

Penjaga itu tak dapat melihat muka penyerangnya dengan jelas, hanya

dapat menduga bahwa penyerang yang hebat dan cepat gerakannya ini

adalah seorang pemuda.

“Gusti tumenggung tidak berada di sini,” jawabnya sambil memegang

kepalanya yang berdenyut-denyut.

“Jangan kau membohong!” bentak Saritama sambil memegang leher orang

itu. “Kalau kau membohong, sekali pukul saja aku dapat menghancurkan

kepalamu!”

“Ampun, Raden, saya tidak membohong! Gusti tumenggung kemarin

berangkat ke Kadipaten Pacet untuk membicarakan tentang perkawinan

 

Gusti puteri.”

“Bila ia kembali?” tanya pemuda itu dengan hati kecewa.

“Kalau tidak salah, besok siang baru kembali.”

Pada saat itu, terlihat bayangan beberapa orang berkelebat dan mereka ini

tidak lain ialah para ponggawa Tumenggung Tangen. Dengan diam-diam

mereka menghampiri tempat itu oleh karena mereka mendengar suarasuara

mencurigakan. Ketika melihat betapa seorang penjaga masih rebah

di atas tanah, sedangkan seorang penjaga lain sedang dipegang dan

ditanyai oleh seorang pemuda yang tak jelas rupa wajahnya oleh karena

keadaan memang agak gelap di dalam taman itu yang penuh dengan bayangbayang

pohon dan tetumbuhan, para ponggawa yang tujuh orang jumlahnya

ini menjadi marah sekali.

“Bangsat maling, kau berani mengacau di taman tumenggungan!” teriak

seorang diantara mereka yang segera melompat maju diikuti oleh yang lain.

Saritama diam-diam memuji ketelitian dan kecepatan para ponggawa itu,

maka secepat kilat ia angkat tubuh penjaga tadi dan melontarkan tubuh itu

ke arah ketujuh orang ponggawa yang datang menyerbu! Akan tetapi

dengan sigapnya ketujuh orang ponggawa itu dapat mengelak dan dari

gerakan mereka Saritama maklum bahwa mereka rata-rata memiliki ilmu

pencak silat yang pandai.

Ketujuh orang ponggawa itu menyangka bahwa Saritama hanyalah seorang

yang datang hendak mencuri saja, maka mereka bermaksud hendak

menangkapnya. Seorang diantara mereka yang termuda dan bernama

Waskita hendak memperlihatkan ketangkasannya. Dengan seruan keras dia

maju menubruk Saritama, hendak menangkapnya dengan ilmu silat pencak

Palwaga Pancakara (Kera Berkelahi). Gerakannya gesit laksana seekor kera

jantan, kedua tanganya berkembang, yang kiri menangkap leher, yang

kanan menuju ke lambung Saritama!

Akan tetapi dengan sedikit gerakan saja Saritama berhasil mengelak

terkaman pada lehernya dan sekali tangan kirinya dikibaskan menangkis

tangan lawan yang mengarah lambung, terdengar Waskita menjerit

kesakitan oleh karena tulang lengannya terasa sakit bagaikan terpukul

sebatang tongkat besi. Ia membungkuk-bungkuk sambil mengaduh-aduh

dan mengelus-elus lengannya yang tertangkis itu!

Keenam kawannya terkejut melihat ketangkasan maling muda itu. Mereka

merasa gemas sekali melihat Waskita telah dikalahkan dalam sekali pukul

saja. Dua orang ponggawa lain lalu menyerang dari kiri kanan. Akan tetapi

Saritama cepat melangkah mundur dan ketika ia ulur kedua tangannya, ia

berhasil menjambak rambut kepala keduanya ponggawa itu dan sebelum

keduanya dapat melawan, Saritama telah membuat gentakan hebat hingga

dua kepala mereka saling bentur mengeluarkan suara keras.

 

“Aduh … !!!”

Terdengar teriak mereka berbareng dan keduanya terhuyung-huyung

setelah dilepas oleh Saritama, kemudian roboh tak ingat diri!

Bukan main marahnya empat orang ponggawa lain. Ponggawa tertua yang

juga menjadi kepala ponggawa di situ, memberi aba-aba dan keempat orang

itu mencabut keris masing-masing.

“He, maling muda yang kurang ajar! Menyerahlah!”

Saritama tersenyum.

“Bukan watak ksatria Gunung Kidul untuk menyerah!” jawabnya.

“Apa? Kau seorang ksatria? Eh, anak muda, kau siapa dan berdirilah di

tempat terang agar kami dapat melihat mukamu. Siapa kau dan apa

maksudmu datang membuat kacau?” berkata ponggawa tua itu yang

bernama Jaladara.

“Orang-orang Tangen, dengarlah! Aku bernama Saritama dan kedatanganku

ini bermaksud hendak membasmi keluarga Wiradigda si keparat yang

kejam!”

Bukan main terkejutnya para ponggawa itu ketika mendengar pemuda ini

datang hendak mencelakai Tumenggung Wiradigda. Waskita yang

mendengar ucapan ini lalu berlari cepat untuk memanggil bala bantuan di

luar gedung. Sedangkan keempat orang ponggawa lainnya lalu maju

menerkam dengan senjata mereka! Akan tetapi tiba-tiba mereka terkejut

oleh karena sekali berkelebat saja tubuh pemuda itu telah lenyap dan

tahu-tahu seorang ponggawa telah tertangkap oleh Saritama yang telah

melompat dan berada di belakangnya. Sebelum ia dapat berteriak,

tubuhnya telah diangkat tinggi-tinggi dan dilempar ke arah kawankawannya

yang cepat melompat ke pinggir agar jangan sampai tertumbuk

oleh tubuh kawan sendiri.

Pada saat itu, dari arah belakang gedung terdengar pekik seorang wanita.

Pekik ini terdengar mengerikan dan menggerakkan hati Saritama. Hati

nuraninya tersinggung dan jiwa ksatrianya bangkit dan menggerakkan

hatinya untuk segera menolong wanita yang memekik dan yang

membutuhkan pertolongan itu. Ia lalu bertindak cepat. Dengan ilmu

Nandaka Amapang (Banteng Menyambut) sambil mengeluarkan aji

kekebalannya ia menyerbu ke depan tanpa memperdulikan serbuan keris

lawan! Alangkah terkejutnya para ponggawa ketika merasa betapa keriskeris

mereka itu mengenai tubuh Saritama bagaikan bertemu dengan batu

atau baja saja! Tangan mereka terasa sakit dan keris mereka mental

kembali, sedangkan Saritama telah menerjang dengan gerakan siku,

tangan, dan kaki. Para ponggawa itu terbanting dan terpukul ke kanan kiri!

Saritama tidak memperdulikan mereka, tapi langsung berlari cepat sekali

ke arah taman di belakang gedung. Dan apa yang dilihatnya di dalam taman

 

itu membuat dadanya terasa panas dan sesak, dan tak terasa lagi ia

membentak, “Dukun lepus tak tahu malu!”

Ternyata bahwa yang dilihatnya itu adalah Bagawan Kalamaya yang sedang

menyeret-nyeret dan memeluk-meluk seorang dara muda yang cantikjelita

dan yang meronta-ronta sambil menangis. Dara itu memekik-mekik,

akan tetapi kini suara jeritannya tak dapat terdengar keras oleh karena

sebelah tangan Bagawan Kalamaya telah digunakan untuk menutupi mulut

gadis itu!

Siapakah dara muda yang ayu itu dan mengapa pula ia dapat terjatuh ke

dalam tangan Bagawan Kalamaya?

Pada malam hari itu, di dalam taman di belakang gedung tumenggungan,

terdapat dua orang wanita yang masih belum masuk ke dalam gedung.

Mereka ini adalah Dewi Saraswati, puteri tunggal Tumenggung Wiradigda,

seorang puteri berusia tujuh belas tahun yang cantik jelita bagaikan Dewi

Komaratih sendiri turun dari angkasa! Akan tetapi, pada malam hari itu,

Dewi Saraswati nampak berduka, bahkan ia menangis sedu-sedan, dihibur

oleh seorang wanita setengah tua yang bersusur besar di mulutnya hingga

wajahnya yang memang sudah buruk itu menjadi tambah tak enak dilihat.

Dia ini adalah biung emban, yakni pelayan pengasuh Dewi Saraswati

semenjak sang dewi masih kecil. Pengasuh ini bernama Tomblok.

“Aduhai, Gusti Ayu, sudahlah jangan Paduka terus-menerus bersedih saja.

Sayanglah air matamu, dan jangan kau buang-buang,” kata Tomblok yang

mencoba menghibur sang dewi yang dikasihinya bagaikan anak sendiri itu.

Biarpun sedang berduka, akan tetapi mendengar kata-kata Tomblok ini

Dewi Saraswati tertegun, “Apa maksudmu, biung?”

Melihat bahwa sang dewi sudah mau melayani kata-katanya, Tomblok

merasa girang sekali. Ia pindahkan susurnya yang besar dari ujung mulut

kiri ke kanan, lalu berkata,

“Maksudnya, janganlah air mata Gusti yang berharga itu dibuang-buang.

Kalau air mataku, jangankan dijual mahal, dihadiahkan dengan cuma-Cuma

juga takkan ada yang sudi! Tapi air mata seorang puteri sejati bagaikan

butir-butir mutiara berharga yang tak boleh diboroskan dengan sia-sia!

Demikianlah kata para punjangga jaman dahulu. Lagipula, air mata seorang

puteri cantik merupakan senjata yang paling ampuh dan keramat di atas

dunia ini. Maka peliharalah mutiara dan senjata keramat itu baik-baik,

Gusti Ayu, oleh karena kalau dipergunakan untuk hal-hal yang kecil tak

berarti saja, maka mutiara itu akan hilang keampuhannya! Karena itulah

maka mahal harganya Gusti!”

Memang Tomblok ini pandai sekali bicara. Selain pandai berkelakar oleh

karena seringkali harus menghibur hati kekasih dan junjungannya, juga ia

pandai menari dan bernyanyi serta pandai pula memberi nasihat-nasihat

 

dan petuah-petuah berharga.

“Biung emban, kau tidak mengerti. Aku bukan menyusahkan hal-hal remeh

sebagaimana yang kau duga, akan tetapi aku menyusahkan sisa hidupku.

Aku menyedihi nasibku yang akan datang, biung.”

“Ah, ah, sekali lagi kau keliru, Gustiku yang ayu dan manis! Kata para

cerdik pandai, daripada menyusahkan perkara yang belum datang dan

menguatirkan nasib yang belum tentu, lebih baik mengenang hal-hal yang

lalu untuk dijadikan contoh dan cermin! Dari pengalaman-pengalaman lalu

kita dapat memetik pelajaran-pelajaran berharga untuk mengatur langkah

hidup selanjutnya, sedangkan hal-hal yang belum terjadi serahkanlah

kepada Hyang Agung untuk mengaturnya, Gusti. Ah, junjunganku yang

manis, kalau Paduka bermuram durja, seakan-akan bintang-bintang di

langit kehilangan cahayanya dan hambapun kehilangan cahaya hamba!”

Nasihat-nasihat Tomblok selalu diseling sendau-gurau.

“Tomblok, Tomblok … ! Alangkah senangnya hatiku kalau pada saat ini kita

bertukar tempat!” kata Dewi Saraswati sambil termenung.

“Lho, mau bertukar tempat? Hamba duduk di bangku itu dan Paduka di

atas rumput ini? Kalau Paduka kehendaki, mengapa tidak bisa?” tanya

Tomblok sambil melebarkan kedua matanya yang sudah lebar dan bundar

sebesar telur ayam itu.

“Bukan begitu maksudnya, biung emban. Maksudku bertukar pakaian yaitu

kau menjadi aku dan aku menjadi kau! Kalau aku menjadi kau, takkan

mengalami nasib celaka ini!”

“Eh, eh, Gustiku yang manis. Kalau bertukar pakaian saja, saya tidak …

menolak! Kalau berganti orang … ah, berat juga, Gusti!”

“Biung emban, jangan kau bergurau saja, aku benar-benar sedang dalam

prihatin dan susah,” kata sang puteri dengan wajah muram.

“Ampun, Gusti Ayu, hamba hanya bermaksud menghibur. Hamba juga

maklum bahwa Gusti sedang menderita duka nestapa, akan tetapi,

sebenarnya ada apakah, Gusti?”

“Ketahuilah, biung. Kemarin ayah pergi ke Kadipaten Pacet.”

“Hamba sudah tahu, Gusti.”

“Dan tahukah kau mengapa ramanda pergi ke sana?”

Tomblok menggeleng-gelengkan kepalanya hingga gelung rambutnya yang

besar itu ikut bergerak-gerak ke kanan kiri.

“Dengarlah hal yang menyusahkan hatiku, biung. Rama pergi ke Kadipaten

Pacet perlu untuk merundingkan hal pernikahanku.”

Tomblok menepuk-nepuk pahanya dengan girang.

“Ah, Ndoro Ayu bukankah hal itu sangat menggembirakan dan tak perlu

disusahkan?”

“Biung emban, jangan kau berkata demikian. Adipati Pacet adalah seorang

 

duda yang sudah berusia hampir setengah abad dan bagaimana aku dapat

menjadi isterinya? Ah, biung … aku lebih suka mati daripada menjadi

sisihan kakek bandot itu!” Dewi Saraswati lalu menutupi mukanya dengan

ujung kemben (sabuk kain) dan menangis terisak-isak.

Tomblok ikut menangis dan suara tangisnya seperti suara bebek bertelur.

“Aduh, Gusti Ayu … kekasih hatiku … janganlah menangis, manis … hamba

tak kuat menahan air mata … Gusti Ayu Dewi Saraswati yang cantik jelita,

hamba menjadi teringat akan masa dahulu ketika hamba hendak dikawinkan

oleh ayah hamba … orangnya juga tua, bahkan bukan setengah abad lagi,

tapi sudah seabad penuh!”

Mendengar ucapan biung emban Tomblok, Dewi Saraswati menurunkan

kedua tangannya karena ia menjadi tertarik.

“Kau kan juga merasa susah, bukan, biung?”

“Tidak, Gusti, hamba tidak susah karena calon suami itu sudah tua, malah

kebetulan, oleh karena biarpun tua dia itu tua kelapa, yakni hartabendanya

banyak. Hamba pikir, kalau hamba sudah kawin dengannya, dalam

beberapa bulan atau beberapa hari saja tentu dia akan mampus dan semua

harta bendanya diwariskan kepada hamba! Akan tetapi, Gusti, dia mati … !

Aduh … dia mati!” Dan Tomblok menangis lagi!

Dewi Saraswati heran.

“Mengapa kau susahkan kematiannya, biung? Bukankah itu yang kau

harapkan?”

“Benar, Gusti, akan tetapi dia mati sebelum kami kawin! Baru saja kami

ditemukan, tiba-tiba dia menggigil dan roboh terus mampus! Hamba

menjadi janda sebelum kawin dan harta bendanya tidak terjatuh kepada

hamba.”

Tomblok menangis lagi dan diam-diam Dewi Saraswati menjadi sangat geli.

Pada saat itu, dari belakang sebatang pohon keluarlah bayangan seorang

bongkok, Dewi Saraswati dan Tomblok menjadi kaget sekali oleh karena

mereka tidak segera mengenal muka pendatang ini. Dewi Saraswati lalu

berdiri dengan takut, sedangkan Tomblok sudah memeluk kaki Dewi

Saraswati dengan tubuh menggigil.

“Ssss … ssseee … setan!” teriaknya ketakutan melihat tubuh bongkok itu

melangkah maju.

“Sst, biung emban, jangan ribut. Yang datang adalah Paman Bagawan

Kalamaya!”

“Benar, anakku yang ayu, anak manis dan jelita, akulah yang datang!”

“Paman Bagawan, sungguh aku merasa terkejut dan heran. Mengapa paman

bagawan datang ke taman sari dan pada waktu malam gelap begini? Apakah

kehendakmu, paman?” tanya Dewi Saraswati dengan suara penuh teguran.

“Saraswati, bocah ayu, bocah denok! Aku datang untuk memboyongmu,

 

kekasihku!” Sambil berkata demikian, Bagawan Kalamaya melangkah maju.

Bukan main terkejutnya Dewi Saraswati mendengar ucapan ini serta

melihat sikap sang pendeta itu. Ia menduga bahwa pendeta ini tentu telah

menjadi gila!

“Paman Bagawan, apakah artinya semua ini? Paman, janganlah kau

berkelakar yang tidak pantas seperti itu!”

“Saraswati, jantung hatiku, jimat pujaan kalbu! Tidak tahukah kau bahwa

aku adalah titisan Hyang Brahma? Kau adalah permaisuriku, Saraswati,

marilah kau ikut kakanda untuk bersama pulang ke Sorga. Marilah,

Saraswati permaisuriku!”

Bukan main takutnya Dewi Saraswati mendengar ini. Ia lalu lari di belakang

tubuh Tomblok hingga Bagawan itu kini menghadapi Tomblok.

Pada saat itu Bagawan Kalamaya hendak maju memeluk, akan tetapi ketika

melihat kepada Tomblok yang menghadang di depannya dan yang kini tidak

ketakutan lagi, Bagawan itu mundur menyebut.

“Ya dewata yang maha agung! Kukira Saraswati tadi, tidak tahunya kau! Eh,

kau ini mahluk apa? Manusia atau kadal?”

Bukan main marahnya Tomblok disebut kadal. Ia melangkah maju dan

memutar-mutar susurnya di dalam mulutnya.

“Kira-kira kalau menyebut orang! Biarpun kau menyebutku kadal, akan

tetapi aku bukan kadal sembarang kadal! Aku adalah kelangenan (kekasih)

sang puteri! Kau ini bagawan berotak miring barangkali. Mengapa malammalam

datang mengacau dan berlaku kurang ajar terhadap sang puteri?

Apakah kau tidak takut kepada Gusti Tumenggung?”

“Kau minggirlah!” bentak Bagawan Kalamaya dan sekali saja ia mendorong,

Tomblok jatuh terguling-guling sambil berteriak-teriak. Akan tetapi,

mendengar teriakan wanita ini, Bagawan Kalamaya lalu maju dan menendang

hingga Tomblok menjadi pingsan!

Kemudian, sambil membujuk dan merayu, menyebut-nyebut Dewi Saraswati

sebagai permaisurinya, ia maju hendak menangkap Dewi Saraswati! Puteri

itu merasa bingung dan jijik, hingga ia menjerit keras sekali. Agaknya

jeritan inilah yang terdengar oleh Saritama dan yang menarik

perhatiannya. Bagawan Kalamaya lalu melompat dan menerkam, dan ketika

Dewi Saraswati hendak menjerit lagi, bagawan yang sudah kesetanan itu

lalu menutup mulut Saraswati dengan tangannya.

Ketika mereka sedang bersitegang, datanglah Saritama yang hampir tak

dapat mempercayai matanya sendiri. Tak pernah disangkanya bahwa

Bagawan Kalamaya akan serendah itu batinnya!

“Pendeta bangsat tak tahu malu! Lepaskan gadis itu dan ingatlah, sadarlah

kau, pendeta keparat dan sesat.”

“Saritama, jangan kau mencampuri urusanku! Kau pergilah melakukan

 

tugasmu sendiri. Aku, titisan Brahma, sedang berurusan dengan Dewi

Saraswati, permaisuriku sendiri!”

Saritama marah sekali dan membentak sambil melangkah maju.

“Pendeta gila, kau dimabok kerendahan hatimu sendiri!”

Kemudian, sekali merenggutkan lengan pendeta itu, ia berhasil melepaskan

Dewi Saraswati yang dipeluk oleh bagawan gila itu.

“Saritama, kau ingin mampus!”

Bagawan Kalamaya berseru marah dan tiba-tiba bagawan itu mencabut

sebilah keris yang panjang dan beriuk lima. Keris ini nampak dahsyat

mengerikan oleh karena selain mempunyai hawa yang berpengaruh dan

jahat, keris ini juga selalu direndam dalam racun yang sangat jahat dan

yang didapat dari air liur ular belang!

Biarpun tubuhnya bongkok dan sudah tua, Bagawan Kalamaya masih

memiliki gerakan sigap dan tangkas oleh karena dia memang mempunyai

kepandaian pencak silat yang tinggi di waktu mudanya. Sambil

mengeluarkan suara tertawa yang aneh dan mengerikan, ia menyerang

dengan kerisnya yang dinamai Paripusta yang berarti puas dan senang. Dari

nama kerisnya ini saja dapat diukur bahwa pada hakekatnya, pendeta ini

masih menjadi hamba daripada nafsu-nafsu jahat yang mengutamakan

kepuasan dan kesenangan dunia.

Saritama yang bermata tajam dapat maklum akan kehebatan dan

berbahayanya keris ini, maka cepat ia mengelak lalu mengirim pukulan dari

samping kiri. Bagawan Kalamaya memiringkan tubuhnya untuk mengelak

bahaya pukulan ini dan segera mengirim serangan bertubi-tubi dengan

keris mautnya. Akan tetapi, Saritama dengan mudah sekali melompat ke

sana ke mari, gesit dan cepat bagaikan seekor burung Srikatan. Pada saat

yang tepat, sebuah pukulan tangan kirinya bersarang di dada pendeta

cabul itu hingga Bagawan Kalamaya roboh terjungkir dan mengaduh-aduh

tanpa dapat bangun lagi. Kerisnya terlempar jatuh dan menancap di atas

tanah!

Dewi Saraswati masih belum hilang kagetnya. Diam-diam ia memperhatikan

perkelahian tadi dan ia kagum sekali melihat ketangkasan dan kecakapan

pemuda penolongnya itu. Ketika Saritama melangkah maju menghampirinya,

Dewi Saraswati memandang dengan sepasang matanya yang tajam dan

bening sambil menduga-duga oleh karena belum pernah ia melihat pemuda

yang namanya disebut Saritama oleh bagawan tadi.

Kebetulan sekali pada saat itu keadaan tidak sangat gelap sehingga suramsuram

Saritama dapat melihat bahwa dara yang diserang oleh Bagawan

Kalamaya itu luar biasa cantiknya dan memiliki tubuh yang menggiurkan

pula. Akan tetapi, pada saat itu Saritama tidak memandang dengan mata

kagum, bahkan memandang dengan mata benci oleh karena ia teringat

 

bahwa gadis ini adalah puteri musuh besarnya yang harus dibasmi.

“Apakah kau bernama Dewi Saraswati dan anak dari Tumenggung

Wiradigda?” tanyanya dengan suara kasar hingga gadis itu menjadi

terkejut, apalagi ketika ia melihat betapa pandangan mata pemuda itu

ditujukan kepadanya dengan bengis.

Sebelum ia menjawab, dari luar terdengar suara riuh-rendah oleh karena

barisan ponggawa dan perajurit telah menyerbu ke dalam taman! Saritama

bersiap hendak melawan mereka, akan tetapi tiba-tiba ia mendapat sebuah

pikiran baik.

Ketika barisan terdepan telah tiba di situ dan beberapa orang serentak

maju menubruknya, dengan tangkas Saritama bergerak merobohkan

beberapa orang itu, kemudian secepat kilat tangan kanannya memeluk

pinggang Dewi Saraswati yang segera dipondongnya dengan ringan dan

mudah. Dewi Saraswati menjerit-jerit akan tetapi ia tidak berdaya dalam

pondongan lengan tangan yang kuat itu.

Beberapa orang perajurit maju lagi menyerbu, akan tetapi mereka tidak

berani menggunakan senjata tajam, kuatir kalau-kalau akan melukai sang

puteri. Hal ini menguntungkan Saritama yang segera beraksi dengan

menggunakan tangan kiri dan kedua kakinya. Beberapa orang roboh pula,

akan tetapi barisan penyerbu makin banyak hingga Saritama merasa

kewalahan.

Pemuda ini lalu membentak dengan suara keras, “Hai, para perajurit

Tangen! Bukan cara laki-laki sejati untuk maju secara keroyokan!

Beritahukanlah kepada si keparat Wiradigda bahwa aku, Saritama dari

Gunung Kidul, putera almarhum Adipati Cakrabuwana, datang hendak

membalas dendam! Aku tidak mau mencelakakan orang lain dan musuhku

hanyalah Wiradigda sekeluarga! Oleh karena keparat itu tidak ada di sini,

maka sebagai gantinya aku menawan puterinya. Jika ia memang gagah

berani dan menghendaki kembalinya sang puteri, silakan pergi menyusulku

di tempat kediaman mendiang ayahku untuk membuat perhitungan secara

laki-laki!”

Setelah berkata demikian Saritama lalu melompat ke dalam gelap sambil

memondong Dewi Saraswati yang masih meronta-ronta dan menjerit-jerit!

Semua ponggawa mencoba untuk mengejar, akan tetapi mereka tak dapat

mengejar ilmu lari Kidang Kencana yang hebat dari pemuda itu hingga tak

lama kemudian suara jeritan Dewi Saraswati makin melemah hingga tak

terdengar lagi dari situ,

Geger dan ributlah seluruh Tangen pada malam hari itu ketika berita

tentang penculikan diri Dewi Saraswati itu tersebar di seluruh

tumenggungan. Obor dinyalakan dan orang-orang mencari ke sana ke mari

dengan sia-sia.

 

Beberapa orang ponggawa segera menunggang kuda dan cepat menuju ke

Pacet untuk menyusul sang tumenggung dan untuk menyampaikan berita

buruk itu.

Setelah merasa bahwa larinya sudah cukup jauh dan tak mungkin terkejar

oleh musuh-musuhnya lagi, Saritama menghentikan larinya. Dia telah

sampai dalam sebuah hutan dan pada waktu itu, fajar telah mulai

menyingsing.

“Lepaskan aku, lepaskan! Kau, orang kurang ajar!”

Saritama tersenyum masam dan tiba-tiba ia melepaskan pondongannya

hingga tubuh Dewi Saraswati terbanting ke atas rumput sampai

bergulingan! Sang puteri menggigit bibir dan segera merayap berdiri.

Dengan sepasang mata bernyala-nyala dan bibir gemetar karena marahnya,

ia maju dan bertolak pinggang dengan tangan kiri. Tangan kanannya

diangkat dengan jari telunjuk menuding ke arah muka Saritama.

“Pengecut kau! Ah, kalau saja aku menjadi laki-laki tentu akan kupatahkan

lehermu! Akan kubeset kulitmu dan akan kuhancurkan kepalamu!”

“Alangkah sombongmu, gadis! Apakah yang hendak kau sombongkan? Dan

mengapa kau mencaci-maki?”

“Kau manusia rendah! Kaukira aku tertarik akan kedigdayaan dan

kecakapanmu? Cis! Tak tahu malu! Kaukira mudah saja kau hendak

memaksa dan mendapatkan diriku? Lebih baik aku mati daripada kau jamah

dengan tanganmu yang kotor dan keji!” Dewi Saraswati lalu menangis.

“Diam dan jangan kau berani mengeluarkan kata-kata keji lagi! Kalau tidak,

kutampar mukamu! Kau anggap aku ini orang apa maka timbul persangkaan

kotor dalam kepalamu yang kecil itu? Siapa yang menghendaki dirimu?

Kaukira aku tertarik dan tergila-gila akan kecantikanmu? Hah! Kau belum

kenal aku. Inilah Saritama, Ksatria Gunung Kidul yang tak mungkin tergiur

oleh kecantikan seorang wanita!”

Dewi Saraswati tercengang dan ia lupa bahwa ia sedang menangis. Ia

turunkan tangan yang menutupi mukanya lalu memandang dengan pipi masih

basah oleh air mata. Akan tetapi oleh karena kabut amat tebal di hutan

itu, maka air muka pemuda itu masih belum kelihatan nyata.

“Habis … untuk apa kau menculikku?”

Aneh sekali, tiba-tiba ia merasa kecewa dan mendongkol mendengar bahwa

pemuda penculiknya ini sedikitpun tidak menghiraukan atau tergiur oleh

kecantikannya!

“Dengarkan, gadis! Dulu, ketika kau dan aku masih kecil, ayahmu,

Tumenggung Wiradigda yang keparat itu telah memfitnah orang tuaku

sehingga ayah ibu dan keluarganya binasa semua! Kebetulan sekali aku

dapat menyelamatkan diri dan kini aku datang hendak membalas dendam!”

Saraswati tertegun. Ia pernah mendengar tentang Adipati Cakrabuwana

 

yang dianggap pemberontak dan ditumpas oleh barisan Majapahit.

“Siapakah ayahmu itu?” tanyanya minta kepastian.

“Ayahku adalah Adipati Cakrabuwana yang gagah perkasa, ksatria sejati,

tidak seperti ayahmu!”

Panas juga hati Saraswati mendengar ayahnya dimaki-maki.

“Oo, jadi ayahmu adalah pemberontak itu?” katanya dengan suara

mengejek. “Kalau begitu, kau seorang pengecut!”

Tangan Saritama sudah diangkat dan hendak menampar pipi gadis itu, akan

tetapi Saraswati sama sekali tidak takut, bahkan mengangkat dada dan

memandang tanpa berkedip hingga Saritama yang teringat bahwa ia

berhadapan dengan seorang wanita, menurunkan lagi tangannya.

“Kalau kau seorang laki-laki,” katanya dengan napas sesak menahan marah,

”tentu akan kupatahkan lehermu! Akan kubeset kulitmu dan akan

kuhancurkan kepalamu!” Tanpa disadarinya, ia mengulang ancaman

Saraswati tadi dengan otomatis oleh karena kata-kata ini masih mengiang

di dalam telinganya!

Saraswati tersenyum mengejek.

“Mengancam saja meniru-niru orang! Aku menyebutmu pengecut oleh

karena kau membalas dendam dengan curang. Mengapa kau menculikku?

Apakah dosaku? Mengapa kau tidak berani menghadapi ayahku untuk

bertanding secara laki-laki? Dan hendak kau apakankah aku ini?” kata-kata

terakhir ini tidak dikeluarkan dengan hati kuatir, bahkan dengan suara

menantang!

“Dengarlah, orang-orang Tangen yang pengecut! Bukan aku! Mereka maju

dengan keroyokan. Oleh karena itu maka aku menawanmu dan kau hendak

kubawa ke tempat tinggal ayahku dulu! Ayahmu harus datang ke sana

sendiri apabila ingin menjemputmu dan ia harus menghadapiku untuk

mengadu kesaktian!”

“Hah!” Saraswati mencibirkan bibir mengejek. “Dalam lima jurus saja

dadamu akan pecah oleh pukulan ayah!”

“Sombong kau!” Saritama membentak. “Sudah tutup mulutmu yang cerewet

itu dan hayo kita berjalan terus!”

“Tidak! Aku tidak sudi,” gadis itu menantang, dan mengangkat-angkat

dadanya yang penuh ke muka.

“Jalan! Kalau tidak, kau akan kuseret!” bentak Saritama gemas.

“Tidak! Boleh kau berbuat sesuka hatimu, aku tidak sudi menurut

perintahmu!”

“Gadis kepala batu!” Sambil bersungut-sungut Saritama lalu memegang

lengan tangan gadis itu dan menariknya ke depan.

Saraswati meronta-ronta dan memberontak sekuat tenaga, memukul-mukul

lengan tangan Saritama dengan tangan kanannya, menggunakan kakinya

 

menendang-nendang lutut pemuda itu. Ketika Saritama tidak

memperdulikan semua serangan ini dan tetap berjalan sambil menyeret

Saraswati, gadis itu lalu menundukkan kepala dan menggigit tangan

Saritama dengan giginya yang putih dan tajam!

Saritama berseru kesakitan dan terpaksa melepaskan pegangannya.

Saraswati berdiri terengah-engah karena menahan marahnya, kedua

matanya mengeluarkan air mata, akan tetapi ia tidak menangis, bahkan

memandang dengan mata bernyala dan hidungnya yang indah mancung itu

berkembang-kempis, seakan-akan mengeluarkan uap panas! Akan tetapi

semua ini tidak kelihatan oleh Saritama oleh karena kabut di hutan itu

masih tebal sekali hingga keadaan masih reamang-remang.

“Kau benar-benar kuda betina liar yang berkepala batu!” Saritama memaki.

“Dan kau kuda jantan liar yang tak tahu malu dan tidak sopan!” Saraswati

balas memaki!

“Keparat!”

Saritama membentak gemas dan tiba-tiba ia tangkap gadis itu, lalu dengan

mudah dipondongnya! Saraswati mencoba untuk memberontak, memukulmukulkan

kedua tangannya ke arah dada dan kepala pemuda itu, akan

tetapi dengan tangan kiri Saritama berhasil memegang kedua pergelangan

tangannya hingga ia tidak berdaya lagi, hanya kedua kakinya saja merontaronta

dan bergerak-gerak. Akan tetapi, Saraswati tidak mau menangis dan

tidak mau memperlihatkan kelemahannya. Ia sengaja meronta-ronta agar

pemuda itu tak mudah dapat melanjutkan perjalanannya.

Akan tetapi, Saritama adalah seorang pemuda yang bertubuh kuat dan

bertenaga besar, maka sedikit perlawanan itu tak berarti apa-apa baginya.

Bahkan ia lalu mempergunkan ilmu larinya Kidang Kencana hingga Saraswati

yang tiba-tiba merasa betapa pohon-pohon berlari-lari cepat dan angin

menyambar muka dan seluruh tubuhnya hingga rambutnya berkibar tertiup

angin, menjadi takut sekali. Gadis ini heran mengapa pemuda itu dapat

berlari demikian cepatnya, maka iapun lalu berhenti meronta-ronta,

bahkan memejamkan mata karena takut!

Berkat ilmu lari cepatnya yang luar biasa tak lama kemudian mereka telah

dapat keluar dari hutan itu. Sementara itu, matahari telah mengusir pergi

kabut yang tebal. Setelah keluar dari hutan Saritama kuatir kalau-kalau

bertemu dengan petani dan dapat melihat betapa ia berlari sambil

memondong seorang wanita, maka tiba-tiba ia berhenti.

Pada saat yang sama, ketika ia memandang ke arah muka gadis yang masih

berada di dalam pelukannya, gadis itupun membuka mata dan

memandangnya. Dua pasang mata bertemu dan keduanya diam tak berkatakata!

Lama sekali dua pasang mata itu saling pandang dengan penuh keheranan

 

dan kekaguman. Saritama melihat betapa muka yang berkulit kuning-putih

kemerah-merahan dan berbentuk sangat indah dihiasi mata, hidung, bibir

dan rambut disinom yang tak kalah oleh kecantikannya bidadari dalam alam

khayalannya. Sedangkan Saraswati melihat wajah pemuda yang tampan dan

gagah sekali, dengan sepasang mata jernih tajam, perkasa dan bagus

bagaikan Sang Arjuna sendiri!

Pada saat itu entah darimana datangnya, warna merah menjalar di kedua

wajah teruna dan dara itu hingga wajah mereka memerah sampai ke

telinga! Ketika melihat betapa tubuh yang berkulit halus dan hangat itu

menempel di dadanya dan kedua lengannya memeluk tubuh gadis itu, tibatiba

Saritama menjadi malu sekali hingga cepat-cepat ia menurunkan tubuh

itu ke atas tanah!

“Kau … kau harus berjalan sendiri,” kata Saritama dan ia berusaha

sekuatnya untuk memberi tekanan keras kepada suaranya supaya

terdengar marah, akan tetapi hasilnya tidak sebaik yang ia harapkan oleh

karena suara itu keluar dengan gagap dan lemah!

“Tidak, aku tidak sudi,” gadis itu menjawab dengan bibirnya yang indah dan

merah itu cemberut, sambil menunduk dan tak berani mengangkat muka

memandang wajah Saritama!

“Apakah kau lebih senang kalau kupondong?” tanya Saritama agak berani

dan dengan dada berdebar oleh karena gadis itu tidak memandangnya.

Mendengar ini, Saraswati cepat mengangkat kepala memandang dengan

mata bernyala lagi.

“Siapa sudi kau pondong?” bentaknya marah.

Saritama tersenyum dan wajahnya berseri oleh karena kini ia dapat

melihat betapa gadis itu menjadi makin cantik di waktu marah! Kedua

matanya seakan tertawa hingga gadis itu menjadi makin gemas.

“Kalau begitu, kau harus berjalan kaki.”

“Tidak sudi!”

“Baik, aku akan memondongmu lagi kalau kau lebih suka dipondong!”

Mendengar ini, Saraswati menjauhkan diri dan segera berjalan kaki tanpa

menoleh lagi, bahkan ia mendahului Saritama.

Pemuda itu tersenyum dan tiba-tiba ia merasa aneh sekali mengapa

kebenciannya terhadap gadis itu lenyap sama sekali bagaikan kabut terusir

matahari pagi! Untuk beberapa lamanya ia memandang lenggang gadis yang

marah itu dengan hati berdebar dan semangat melayang. Alangkah manis

dan lemah-gemulai lenggang gadis itu. Alangkah bersih dan halusnya kulit

leher yang nampak dari belakang itu, dan alangkah indahnya bentuk kaki

yang kadang-kadang nampak keluar dari kainnya ketika ia berjalan. Sebaik

dan seindah itukah potongan dan bentuk kaki bidadari? Tak mungkin!

Demikianlah, pemuda itu memandang bagaikan sebuah patung batu, dan

 

setelah dara itu berjalan agak jauh, ia segera mengejarnya.

Saritama berjalan di sebelah Saraswati dan beberapa kali ia menengok,

akan tetapi gadis itu berjalan dengan pandangan mata ditujukan ke depan,

berbuat seolah-olah tidak ada orang di dekatnya!

“Nah, begini lebih baik,” kata Saritama. “Aku tadi kuatir kalau-kalau ada

orang melihat aku memondongmu. Alangkah ganjilnya.”

Saraswati berdiam saja dan bahkan mempercepat langkahnya. Saritama

juga berjalan tanpa berkata-kata, hanya beberapa kali memandang wajah

yang marah itu. Lambatlaun, makin menipislah sinar kemarahan yang

membayang pada wajah ayu itu, bahkan kini sinar kemarahan itu telah

terganti oleh peluh yang memenuhi jidatnya. Dadanya agak terengahengah,

tanda bahwa gadis yang tidak biasa berjalan kaki jauh-jauh ini

telah merasa lelah. Akan tetapi, Saraswati tidak sudi memperlihatkan

kelemahannya dan memaksa diri berjalan cepat.

“Kau lelah? Marilah beristirahat dulu. Kita tak perlu tergesa-gesa!” kata

Saritama dan biarpun ia mencoba untuk membuat suaranya terdengar

biasa dan sewajarnya, namun ia tidak dapat melenyapkan suara yang

mengandung iba hati hingga ia menjadi benci kepada suaranya sendiri yang

telah membongkar rahasia perasaannya itu.

Akan tetapi, sedikitpun Saraswati tidak mau menengok atau menjawab,

bahkan gadis itu lalu merapatkan bibirnya untuk menahan lidahnya yang

hendak menjawab dan menundukkan kepalanya untuk mencegah matanya

yang hendak mengerling ke kanan di mana pemuda itu berjalan!

Saritama menghela napas. Beberapa lama mereka berdua berjalan lagi

dalam keadaan sunyi.

“Kau masih marah?” Saritama berkata lagi. Tidak ada jawaban.

“Dengarlah, Saraswati. Kau bernama Saraswati bukan? Nama yang indah!

Dengarlah, aku sebetulnya merasa menyesal juga bahwa aku terpaksa

menawan kau yang tidak berdosa. Akan tetapi, kalau aku melayani semua

ponggawa Tangen dan melakukan amukan di sana, tentu aku akan

membinasakan dan melukai banyak ponggawa yang sebetulnya tidak

mempunyai permusuhan apa-apa dengan aku. Aku tidak tega melukai orangorang

yang tidak berdosa itu. Maka setelah melihat kau sebagai anak

tunggal musuh besarku timbul akalku untuk membawamu pergi dan menanti

kedatangan musuh besarku itu di sana agar kami berdua berhadapan muka

tanpa ada orang lain yang mengganggu. Aku menyesal telah menyusahkan

dan membuat kau marah di luar kehendakku!”

Terdengar suara perlahan keluar dari kerongkongan gadis itu, seperti

sedu-sedan, akan tetapi Saraswati masih saja merapatkan bibirnya dan

berjalan terus. Akan tetapi kakinya telah terasa lelah sekali dan matahari

yang telah naik agak tinggi itu mulai terasa panasnya. Ia terhuyung-huyung

 

dan tiba-tiba kaki kanannya tersandung batu. Hampir saja ia jatuh kalau

Saritama tidak cepat-cepat memegang kedua tangannya dari samping.

Saraswati merasa kepalanya pening dan ia memejamkan kedua matanya

sambil tanpa disadarinya ia menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu.

Saritama mencium keharuman luar biasa yang keluar semerbak dari

rambut gadis yang terurai itu dan pemuda ini cepat-cepat mengatur napas

menutup mata untuk menahan gelora hatinya.

Akhirnya kepusingan yang membuat Saraswati merasa kepalanya berputar

itu mereda dan ketika gadis ini sadar bahwa ia menyandarkan kepalanya di

dada pemuda itu, ia cepat-cepat merenggutkan tubuhnya, lalu menjatuhkan

diri di atas rumput sambil menangis tersedu-sedu!

Saritama juga ikut duduk sambil mulai menyesali pebuatannya. Ia merasa

kasihan sekali melihat gadis ini yang menjadi kurban daripada pembalasan

dendamnya.

“Saraswati … ” katanya halus, “Jangan kau menangis … kau … Janganlah

kau marah, dan maafkan aku, Saraswati.”

Dengan mata mengalirkan air mata yang membasahi kedua pipinya yang

kemerah-merahan, Saraswati memandang pemuda itu.

“Saritama, mengapa kau mengubah sikapmu yang kasar? Mengapa kau

berubah sebaik ini? Berlakulah kasar karena aku adalah anak musuhmu.

Hentikanlah godaanmu ini, Saritama.”

“Saraswati, jangan kau anggap aku serendah itu. Aku tidak menggodamu,

aku memang … entah mengapa, tiba-tiba aku merasa kasihan kepadamu.

Maafkanlah perbuatanku yang terpaksa oleh karena tugasku dan baktiku

kepada mendiang ayahku.”

“Tidak, tidak! Tidak ada yang harus dimaafkan, agaknya begini lebih baik

lagi! Biarlah ayah mengalami sedikit kekuatiran oleh karena dia telah

memaksaku menikah dengan tua bangka bandotan itu!”

“Apa? Kau dipaksa menikah dengan seorang tua bangka?” tanya Saritama.

“Apakah dengan dukun lepus itu?”

Maka teringatlah Saraswati akan peristiwa di taman dan ia teringat pula

bahwa pemuda inilah yang telah menolongnya dari bahaya cengkeraman

Bagawan Kalamaya yang lebih hebat daripada bahaya maut. Untuk sesaat ia

memandang kepada wajah Saritama dengan pandangan mesra, akan tetapi

hanya untuk sebentar saja oleh karena ia segera dapat menguasai

perasaannya kembali. Dia sendiri merasa bahwa pemuda di depannya ini

adalah seorang ksatria yang baik budi dan gagah perwira maka tak

sedikitpun terkandung rasa benci dalam hatinya. Pemuda ini bersikap

demikian sopan-santun hingga menimbulkan kepercayaan besar di lubuk

hatinya. Maka tanpa disadarinya ia lalu menceritakan betapa ia telah

dilamar Adipati Tirtaganda dari Pacet yang sudah kakek-kakek dan

 

lamaran itu diterima baik oleh ayahnya!

Saritama marah sekali mendengar penuturan gadis itu.

“Sungguh memalukan! Biar kuputar batang leher bandot tua itu!”

Ucapan ini dikeluarkan tanpa disadarinya dan ketika gadis itu gadis itu

memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan bibir tersenyum,

barulah ia sadar dan tiba-tiba ia menundukkan mukanya dengan malu.

“Saritama, mengapa kau demikian memperhatikan nasibku? Bukankah aku

ini anak musuhmu yang hendak kau basmi?”

“Aku … eh … kau benar anak musuhku … dan … dan tentang Tirtaganda si

celeng tua … ah, aku memang benci sekali melihat bandot tua!” jawabnya

gagap dan tidak karuan hingga tiba-tiba gadis yang tadinya menangis itu

kini tertawa geli dengan air mata masih membasahi pipinya. Tertawanya

nyaring dan merdu hingga Saritama mengangkat muka lalu memandang

kagum.

“Saritama, kau ini … aneh sekali.”

“Mengapa aneh?”

“Betapa tidak? Kau memusuhi ayahku, membenci ayah dan hendak

membinasakannya, akan tetapi kau demikian baik kepadaku. Bukankah ini

aneh sekali?”

“Kau juga aneh, Saraswati.”

“Eh, mengapa pula aku kau sebut aneh?”

“Kau sebentar marah, sebentar bersedih, lalu berbalik tertawa dan

tersenyum riang! Kalau kau bersedih dan menangis hatiku menjadi tidak

karuan karena ikut terharu dan bersedih, kalau kau marah, kau …

bertambah … ayu, dan kalau kau tersenyum dan tertawa … ”

“Mengapa?” gadis itu mengerling dengan tajam dan manis sekali.

“Entah mengapa, tapi hatiku jadi tidak karuan!”

Tiba-tiba dara itu tertawa geli sambil memegangi perut karena menahan

gelak tawanya. “Kalau begitu, memang benar-benar kau ini pemuda aneh,

aneh sekali! Dan bilang bahwa kau hendak bertempur melawan ayah?

Sudahlah, tuan penculik, aku berada dalam kekuasaanmu, sekarang kita

harus ke mana?” Saraswati bangkit berdiri.

Saritama mendongkol sekali karena merasa bahwa ia ditertawakan.

“Mari kita berangkat ke Tritis. Kalau kita berjalan cepat, sore nanti kita

bisa sampai di sana!” katanya singkat.

Demikianlah, kedua anak muda itu berjalan melanjutkan perjalanan mereka

ke Tritis, bekas tempat kediaman Adipati Cakrabuwana yang sekarang

telah menjadi sebuah dusun kosong tak ditinggali seorang pendudukpun

semenjak keluarga adipati itu dibasmi berikut seluruh isi kampung.

Ketika Bagawan Kalamaya melihat betapa Saritama menculik pergi Dewi

Saraswati, ia menjadi marah sekali. Akan tetapi apa daya, pemuda itu

 

terlampau tangguh baginya. Diam-diam ia lalu menghampiri Tomblok yang

masih rebah sambil menangis. Para ponggawa yang sibuk mengejar

Saritama tidak memperdulikan pendeta itu hingga taman itu kembali

menjadi sunyi.

“Emban, kau sudah tahu siapa aku, bukan? Nah, kau harus menutup

mulutmu dan jangan sampai orang lain mendengar tentang peristiwa antara

aku dan sang puteri tadi. Kalau kau sampai bocor mulut, awas! Kerisku ini

akan menamatkan hidupmu!”

Dengan ketakutan dan tubuh menggigil, Tomblok menyatakan

kesanggupannya, dan akhirnya berkata, “Jangan kuatir, Sang Bagawan, oleh

karena pada akhirnya bukan kau yang membawa pergi Gusti puteri, akan

tetapi pemuda itu!”

Tomblok lalu menangis ketika teringat akan Saraswati yang tertawan

musuh. Kemudian, setelah mengancam dengan keras sekali lagi, Bagawan

Kalamaya lalu meninggalkan tempat itu, sedangkan Tomblok lalu lari masuk

untuk memberi laporan kepada ibu Saraswati.

Maka geger dan ributlah di dalam gedung ketika kaum wanitanya

mendengar cerita Tomblok. Terdengar tangis dan keluh-kesah seakan-akan

ada kematian dalam rumah itu.

Pada keesokan harinya, di Pacet juga terjadi keributan ketika para

ponggawa yang menyusul Tumenggung Wiradigda telah menyampaikan

berita itu. Adipati Pacet yang bernama Tirtaganda juga marah sekali

mendengar betapa calon isterinya dilarikan orang.

“Si keparat Saritama!” teriaknya dengan kumis berdiri karena marahnya.

“Berani kau menganggu calon isteriku?” Sambil berkata begitu Tirtaganda

mencabut kerisnya, seakan-akan Saritama telah berada dan berdiri di

depannya!

“Ananda Adipati, maafkan aku karena tak dapat lebih lama berada di sini,”

kata Tumenggung Wiradigda yang wajahnya menjadi pucat.

“Paman Tumenggung, bagaimana tentang perjodohan itu? Hari pernikahan

belum ditetapkan dan perundingan kita belum selesai, mengapa kini

pamanda hendak pulang?”

Bukan main mendongkolnya hati Wiradigda mendengar ini. Sudah jelas

bahwa Saraswati diculik orang, akan tetapi calon mantu ini masih hendak

bicara tentang hari pernikahan segala.

“Ah, tentang itu bagaimana nanti saja, ananda,” katanya dengan suara

kurang senang. Tumenggung Wiradigda dan ponggawanya lalu keluar dari

kadipaten dan menunggang kuda dengan secepatnya kembali ke Tangen. Di

sepanjang jalan ia menyuruh para ponggawa itu menceritakan segala

peristiwa yang terjadi di Tangen. Ketika mendengar yang menculik

puterinya adalah putera dari almarhum Adipati Cakrabuwana, wajah

 

Tumenggung Wiradigda makin pucat. Ia lalu mempercepat lari kudanya

hingga siang hari itu juga mereka telah tiba di Tangen.

Dari semua ponggawa yang malam hari kemarin mengeroyok Saritama, ia

mendapat keterangan betapa sakti dan perkasa pemuda musuhnya itu.

Maka diam-diam Tumenggung Wiradigda merasa kuatir dan cemas. Ia

sudah mulai menjadi tua dan tenaganya telah banyak berkurang hingga ia

merasa bahwa iapun takkan dapat menghadapi pemuda yang menjadi

musuhnya itu. Selain itu, Tumenggung Wiradigda juga merasa menyesal

sekali mendengar bahwa keturunan Adipati Cakrabuwana kini datang

menuntut balas. Ia tidak dapat membawa barisannya untuk mengejar dan

mengepung Saritama, oleh karena selain hal ini memalukan dan

menjatuhkan namanya, juga ia kuatir kalau-kalau pemuda itu akan

membinasakan puterinya. Maka ia lalu mengumumkan kepada semua

ponggawanya untuk mengadakan sayembara untuk memilih seorang yang

benar-benar gagah perkasa untuk mengawaninya mengejar Saritama di

Tritis! Dan oleh karena kebingungannya, Tumenggung yang sudah tua ini

bahkan lalu menyatakan bahwa siapa yang terpilih dan akhirnya berhasil

merebut kembali puterinya dari tangan Saritama, ksatria ini akan dipungut

mantu dan dijodohkan dengan Dewi Saraswati!

Setelah mengadakan pengumuman ini, Tumenggung Wiradigda memasuki

kamarnya, disambut oleh isterinya yang cantik dan yang sedang menangis

sedih memikirkan nasib anaknya.

“Rakanda tumenggung, bagaimanakah baiknya … ? Aduh, Saraswati anakku

… “

Tumenggung Wiradigda menghela napas. “Akhirnya Cakrabuwana dapat

juga membalas dendam, sungguhpun pembalasan dendam ini kurang tepat.

Memang, sampai matipun Cakrabuwana akan selalu menyangka bahwa aku

yang memfitnahnya! Cakrabuwana … sungguh besar rasa sakit hatimu

padaku … dan semua ini hanya karena engkau, Mirah.”

Isterinya menangis makin sedih. Terbayanglah segala peristiwa dan

pengalaman di waktu muda. Memang dulu dia telah mempunyai hubungan

yang mesra dengan Cakrabuwana, akan tetapi akhirnya ia harus mengalah

kepada pilihan ayahnya hingga ia dikawinkan dengan Wiradigda. Akan

tetapi, dia tidak menyesal oleh karena ternyata kemudian bahwa

Wiradigda adalah seorang yang baik dan suami yang bijak hingga hidupnya

cukup bahagia. Sungguh menyesal bahwa diantara Wiradigda dan

Cakrabuwana terdapat dendam hati yang besar, sungguhpun mereka

berdua tak pernah menyatakannya. Pada bulan-bulan pertama, Wiradigda

yang telah menjadi suaminya itu seringkali menyatakan ketidaksenangan

hatinya dan rasa cemburunya, akan tetapi lambat-laun, sikap inipun lenyap,

apalagi setelah anak mereka Saraswati itu lahir.

 

Pada waktu itu, memang banyak terjadi pemberontakan dari para adipati

dan tumenggung yang tidak merasa puas dengan pemerintah yang dipegang

oleh Ratu Wanita, akan tetapi semua pemberontak itu dapat ditumpas oleh

Patih Gajah Mada. Akhirnya dengan mempergunakan lidahnya yang tajam

dan hubungan yang baik dan erat dengan fihak keraton, seorang pejabat

tinggi dapat memfitnah Cakrabuwana dan menuduhnya hendak

memberontak pula. Kerajaan lalu mengirim bala-tentara dan Adipati

Cakrabuwana beserta seluruh keluarganya di Pacet dihancurkan. Dan

celakanya, tentara penumpas pemberontakan ini sebelum menuju ke Pacet,

terlebih dahulu berhenti dan bermalam di Tangen hingga tentu saja mudah

menimbulkan persangkaan bahwa Wiradigda-ah yang menjadi biang keladi

penumpasan itu!

Padahal pejabat tinggi yang telah memfitnah itu bukan lain orangnya

adalah Adipati Tirtaganda sendiri! Ketika itu, Adipati Tirtaganda masih

sangat muda oleh karena sebagai putera seorang pangeran ia merasa

dikalahkan dalam kemajuan oleh Cakrabuwana, seorang pemuda keturunan

rendah saja, timbul iri hatinya dan ia lalu menggunakan kedudukannya

sebagai putera pangeran untuk memfitnah adipati itu!

Akan tetapi, hal ini hanya diketahui oleh Wiradigda seorang, yang dapat

menduga dengan tepat, walaupun tidak berani menyatakan dengan mulut.

Dan menurut anggapan Wiradigda, oleh karena hal itu telah terjadi dan

tak dapat dicegah lagi maka ia lalu menutup mulut. Tak disangkanya sama

sekali bahwa keturunan Adipati Cakrabuwana masih hidup dan kini tibatiba

saja datang membalas dendam ayahnya kepada … dia!

Demikianlah, dengan hati penuh penyesalan Tumenggung Wiradigda

berdiam diri di dalam kamarnya dan ia telah mengambil keputusan tetap

untuk membatalkan perjodohan puterinya dengan Adipati Tirtaganda yang

menjadi biang keladi tersembunyi daripada segala peristiwa ini!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi, benar di halaman tumenggung telah

berkumpul banyak sekali ponggawa dan pemuda-pemuda yang hendak

memasuki sayembara. Akan tetapi, kepala ponggawa yang telah mendapat

perintah dan petunjuk Tumenggung Wiradigda, lalu mengadakan pemilihan

lagi dan diantara berpuluh ponggawa dan satria yang hendak mengikuti

sayembara ini, hanya ada dua belas orang yang ia pilih. Tiba-tiba diantara

para penonton yang banyak jumlahnya, keluarlah seorang yang cakap dan

gagah.

Pemuda ini menghadap kepala ponggawa dan berkata, “Perkenankanlah saya

untuk mengikuti sayembara ini.”

Kepala ponggawa memandangnya dengan tajam. Ia melihat bahwa pemuda

ini biarpun halus dan sopan-santun, namun memiliki tubuh yang padat dan

sepasang mata yang bersinar ganjil dan tajam, maka ia dapat menduga

 

bahwa satria ini tentulah bukan orang sembarangan.

“Siapa namamu, raden?” tanyanya.

“Saya adalah Jakalelana dari pesisir selatan,” jawab yang ditanya.

Kepala ponggawa maklum bahwa nama ini bukanlah nama aseli dan tentu

pemuda ini ingin menyembunyikan keadaan dirinya, maka ia makin tertarik.

“Baiklah, mari kau ke sini, berkumpul dengan dua belas orang pengikut

sayembara yang lain.”

Dengan demikian, maka jumlah pengikut yang terpilih ada tiga belas orang.

Ketika Tumenggung Wiradigda keluar dari gedungnya, dengan girang ia

melihat bahwa ketiga belas calon yang tepilih oleh kepala ponggawa adalah

orang-orang muda yang gagah perkasa. Ia menyatakan kecocokan hatinya

dan memberi tanda agar supaya pertandingan adu kesaktian segera dimulai

untuk memilih seorang jago yang sakti dan yang akan menyertainya

menghadapi Saritama!

Gong ditabuh keras dan semua penonton dipersilakan mundur untuk

memberi tempat bagi para peserta. Cara adu kepandaian dan kesaktian

yang dilakukan pada waktu itu ialah mengadu semua peserta supaya mereka

berkelahi tanpa membekal senjata. Yang menang terakhir, dialah yang

menjadi juara!

Atas isarat kepala ponggawa, dua peserta maju ke dalam kalangan dan

mereka segera bertempur. Keduanya memperlihatkan kepandaian masingmasing,

pukul-memukul, tendang-menendang, banting-membanting, diikuti

sorak-sorai para penonton. Demikianlah, dari dua belas orang peserta,

yang menang ada enam orang, sedangkan Jakalelana oleh karena datangnya

paling akhir dan merupakan angka ganjil, tidak mendapat lawan!

Kemudian enam orang pemenang itu lalu diadu kembali atas pilihan

ponggawa dan dalam babak kedua inipun, Jakalelana tidak mendapat lawan

oleh karena keenam pemenang itu telah menjadi tiga rombongan.

Setelah petandingan selesai dan para pemenang kini tinggal tiga orang

saja, maka pemuda itu nampaknya kurang puas dan tidak senang. Tiba-tiba

ia berdiri dan berkata kepada Tumenggung Wiradigda.

“Maafkan saya, Gusti Tumenggung. Oleh karena ketiga saudara ini telah

berkelahi dua kali dan tentu mereka ini telah lelah, maka tidak adillah

apabila saya harus menghadapi mereka seorang demi seorang. Saya

semenjak tadi tak kebagian lawan dan saya belum bertempur satu kalipun,

maka apabila Paduka mengizinkan biarlah sekarang mereka bertiga ini maju

berbareng menghadapi hamba! Apabila hamba kalah biarlah ini dianggap

bahwa saya tak berharga untuk menjadi pengikut Paduka menemui

Saritama.”

Tumenggung Wiradigda tertarik sekali kepada pemuda yang tampan dan

yang halus tutur katanya itu.

 

“Hai, satria yang gagah dan tampan, siapakah namamu?”

“Hamba bernama Jakalelana, Gusti Tumenggung.”

Tumenggung Wiradigda tertawa.

“Baiklah, untuk kali ini kau boleh menggunakan nama itu, akan tetapi

apabila kau telah terpilih dan menang dalam sayembara ini, kau harus

memberitahukan namamu yang sebetulnya.”

Pemuda itupun tersenyum.

“Baik, Gusti Tumenggung. Apabila dewata memberkahi hamba hingga

hamba menang dalam sayembara ini, pasti hamba akan memperkenalkan

diri hamba sebenarnya.”

Tumenggung Wiradigda memberi isarat dan pertandingan babak ketiga

dipersiapkan. Semua penonton memandang gembira oleh karena kali ini

tentu akan ada pertunjukan yang hebat menarik. Siapakah pemuda tampan

yang begitu berani mati menantang ketiga pemenang itu untuk maju

berbareng?

Para ponggawa lalu minta supaya penonton mundur hingga kalangan menjadi

lebih lebar oleh karena yang hendak bertanding kini adalah empat orang.

Ketiga pemenang itu menanti sambil duduk dan dada mereka yang bidang

itu berkilat karena peluh. Ketiganya masih muda dan kesemuanya bertubuh

tinggi besar. Akan tetapi, ketika mereka ini mendengar usul permintaan

pemuda yang bertubuh tak berapa besar dan nampaknya tak berapa kuat

itu, mereka saling pandang dan tersenyum mengejek.

Setelah mendapat isarat dari kepala ponggawa maka ketiga orang

pemenang itu berdiri dan bersiap di hadapan Jakalelana. Pemuda ini dengan

tenang lalu menghampiri mereka. Para penonton tak ada yang mengeluarkan

suara hingga keadaan menjadi sunyi seakan-akan di situ tidak terdapat

seorangpun! Semua mata kini memandang kepada Jakalelana dengan penuh

kekhawatiran. Memang kalau dipandang amat ganjil, karena Jakalelana

yang bertubuh tak besar dan yang nampaknya lemah-lembut itu berdiri

menghadapi tiga orang lawan yang demikian kuat dan gagahnya!

Tiba-tiba saja datangnya, bagaikan mendapat aba-aba, ketiga orang

pemenang itu lalu maju menubruk dan menyerang. Agaknya mereka hendak

merobohkan Jakalelana dalam satu gerakan saja. Serangan mereka ini

sangat dahsyat, bagaikan serangan ombak samudra! Para penonton

manahan napas dan memandang ke arah Jakalelana dengan kuatir akan

tetapi tiba-tiba mereka menjadi heran tercengang oleh karena bagaikan

seekor burung srikatan yang gesit sekali, tubuh Jakalelana telah melayang

di atas melewati kepala ketiga lawannya dan kini berada di belakang

mereka sambil bertolak pinggang!

Kini marahlah ketiga orang itu. Sambil menggeram mereka maju menyerbu

lagi sekuat tenaga. Akan tetapi lagi-lagi Jakalelana memperlihatkan

 

kegesitannya. Sambil melompat ke kanan kiri ia berhasil mengelakkan

semua serangan dan kadang-kadang menangkis dengan lengan tangannya.

Tiap kali melompat, tak pernah lupa ia memberi tepukan atau colekan

dengan tangan dan kakinya hingga semua penonton yang melihat betapa

ketiga orang itu dipermainkan oleh Jakalelana, tertawa geli dan bersoraksorak

makin hebat.

Juga Tumenggung Wiradigda yang menonton pertandingan ini, diam-diam

terkejut sekali. Hebat sekali pemuda ini, pikirnya. Bahkan ia akui bahwa ia

sendiri tak sanggup mengalahkan pemuda itu dalam ilmu perkelahian.

Alangkah gagah, cepat, tangkas, dan cekatan. Tiada ubahnya sebagai

seekor burung garuda menyambar-nyambar lawannya. Ah, pantas benar

pemuda ini menjadi suami Saraswati, pikir Tumenggung Wiradigda. Samasama

tampan sama-sama muda. Diam-diam hatinya menjadi girang dan

timbul harapannya. Dengan pemuda seperti ini sebagai kawan, mustahil ia

takkan dapat merebut kembali anaknya dari tangan Saritama.

Jakalelana merasa sudah cukup mempermainkan ketiga lawannya. Tiba-tiba

ia mempercepat gerakannya dan begitu kaki tangannya bergerak, maka

bergelimpanganlah tubuh ketiga orang lawannya tanpa sanggup bangun

kembali. Kemenangan yang mutlak ini disambut dengan gegap-gempita oleh

para penonton.

“Hai, Jakalelana. Dengan disaksikan oleh semua penonton dan semua

ponggawa, kau kunytakan sebagai pemenang dalam sayembara ini!”

Tumenggung Wiradigda berseru keras dan kata-katanya ini disambut

dengan sorak-sorai oleh para penonton.

“Sekarang, sebelum kau menyertai aku untuk menghadapi musuh, kau harus

memenuhi janjimu tadi dan perkenalkan dirimu sebenarnya. Siapakah

namamu dan dari mana asalmu?”

Pertanyaan ini disambut oleh para penonton dengan penuh perhatian hingga

keadaan menjadi sunyi sepi, karena semua penonton dan bahkan para

ponggawa dan para pengikut sayembara ingin sekali mendengar siapa

adanya pemuda gagah perkasa ini.

Jakalelana tersenyum dan bangkit berdiri dengan perlahan. Ia memandang

ke sekeliling, kemudian menatap wajah Tumenggung Wiradigda. Ketika

berkata-kata suaranya terdengar nyaring sekali dan bagi telinga semua

pendengarnya, ucapan dan jawabannya merupakan suara guntur di siang

hari!

“Tumenggung Wiradigda dan semua orang Tangen, dengarlah baik-baik!

Kalian semua hendak mengenal aku? Nah, pasanglah telingamu lebar-lebar

karena aku adalah putera dari Adipati Cakrabuwana dan namaku ialah

Saritama!”

Pucatlah wajah Tumenggung Wiradigda mendengar ini. Tumenggung sudah

 

tua ini bangkit berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

“Kalian mendengar sendiri betapa Tumenggung Wiradigda telah memilih

Saritama sebagai mantu, maka apa perlunya mengejar-ngejar Saritama?

Ha, ha, ha!” Saritama tertawa mengejek.

“Keparat, jangan kau mempermainkan orang!” Tumenggung Wiradigda

bangkit berdiri dengan marah sekali. Mereka siap dengan senjata di tangan

dan hendak menyerbu pemuda itu.

Akan tetapi Saritama mempergunakan kesaktiannya. Siapa saja berani

datang dekat tentu roboh karena pukulan atau tendangannya. Ketika

Tumenggung Wiradigda sendiri datang menyerang, Saritama melompat

pergi jauh dan pemuda itu lalu melarikan diri sambil berkata, “Wiradigda!

Tantanganku masih berlaku, tapi tidak di sini! Kalau kau memang jantan,

datanglah ke Tritis untuk membuat perhitungan!”

“Baik, Saritama, pemuda sombong! Kau kira aku takut padamu?”

Tumenggung Wiradigda lalu lari memasuki rumahnya dan sebentar

kemudian ia berlari keluar sambil membawa tombak pusakanya yang ampuh.

Ketika para ponggawa beramai-ramai hendak ikut mengejar, tumenggung

yang tua itu berhenti dan membentak, “Kalian hendak membuat malu aku?

Hayo mundur dan kembali! Aku sendiri masih sanggup menghadapi

Saritama!”

Semua ponggawa mundur ketakutan, sedangkan Tumenggung Wiradigda

dengan muka merah lalu melanjutkan perjalanannya ke Tritis!

Ketika ia tiba di sebuah hutan di mana kemarin dulu Saritama dan

Saraswati bercakap-cakap, tiba-tiba muncul beberapa belas orang dan

alangkah kagetnya ketika melihat bahwa yang muncul ini tidak lain adalah

Adipati Tirtaganda dan beberapa orang ponggawanya!

“Tirtaganda, mengapa kau menghalangi perjalananku?” tanya Tumenggung

Wiradigda yang tiba-tiba menjadi marah melihat orang ini oleh karena

teringat bahwa orang inilah yang menjadi biang keladi permusuhannya

dengan Saritama.

Adipati Tirtaganda tersenyum mengejek.

“Tumennggung Wiradigda! Kau tak patut menjadi seorang tumenggung oleh

karena kau telah melanggar janjimu sendiri. Aku mendegar bahwa kau

mengadakan sayembara dan memilih mantu, betulkah ini?”

“Betul!”

“Bukankah kau sudah berjanji hendak menjodohkan puterimu dengan aku?”

“Tirtaganda, jangan kau menambah-nambahi sendiri. Siapa yang berjanji?

Kita baru mengadakan perundingan akan tetapi perkara itu belum jadi dan

belum masak. Kau maklum bahwa puteriku telah diculik oleh putera Adipati

Cakrabuwana yang dulu kau khianati! Kaulah biang keladi segala malapetaka

ini. Kau yang memfitnah Cakrabuwana, akan tetapi sekarang puteranya

 

membalasnya kepadaku! Seharusnya kau sebagai laki-laki harus berani

bertanggung jawab dan pergi menghadapi Saritama, oleh karena kaulah

musuh besarnya, bukan aku! Aku hanyalah menjadi kurban kesalahfahaman

yang agaknya timbul semenjak Cakrabuwana masih hidup! Aku hanya akan

menjodohkan puteriku apabila dia suka menerimanya. Kalau kau dapat

merebut kembali Saraswati dari tangan Saritama, dan kalau anakku sudi

menjadi isterimu, aku orang tua takkan melarangnya!”

“Ha, ha, ha! Wiradigda, kau memutar-mutar lidah bagaikan wanita! Baik

kau, maupun Saritama hari ini tentu mampus dalam tanganku, sedangkan

Saraswati, mau tidak mau harus menjadi isteriku!”

“Bangsat besar, majulah kalau kau hendak mengenal tombak pusaka

Tumenggung Wiradigda!” kata tumenggung tua itu sambil mengacungacungkan

tombaknya.

“Maju, serbu!”

Tirtaganda memberi perintah, dan belasan orang itu lalu maju mengurung.

Tumenggung Wiradigda hendak mengamuk, akan tetapi jumlah lawannya

cukup banyak dan cukup tangguh, maka tak lama kemudian ia terdesak

hebat dan keselamatannya terancam!

Pada saat itu, dari balik sebatang pohon besar keluarlah seorang pemuda

yang tidak lain ialah Saritama sendiri!

Pemuda ini telah mendengar semua percakapan tadi dan timbul keraguan

dalam hatinya. Benarkah bahwa Tumenggung Wiradigda bukan orang yang

memfitnah ayahnya? Akan tetapi, oleh karena mendengar bahwa orang

yang mengeroyok Wiradigda adalah Tirtaganda, bandot tua yang

dibencinya, Saritama lalu melompat maju dan tanpa berkata apa-apa ia lalu

menyerbu membela Tumenggung Wiradigda!

Sepak-terjang pemuda ini hebat sekali hingga dalam sekejap saja

beberapa orang ponggawa kena dirobohkan.

“He, pemuda, siapakah kau?” bentak Tirtaganda.

“Bangsat dan bandot tua tak tahu malu! Dengarlah, aku adalah Saritama

putera Cakrabuwana! Jadi kau pun memfitnah mendiang ayahku? Kalau

begitu, kematianlah bagianmu!”

Sambil berkata demikian, Saritama menyerang hebat dan sebuah pukulan

yang disertai Aji Bromojati tepat mampir di pangkal telinga Tirtaganda!

Adipati itu memekik ngeri dan roboh dengan tubuh hangus dan tewas

seketika itu juga! Melihat hal ini para kaki tangannya lalu lari ketakutan!

Saritama lalu menghadapi Wiradigda dengan mata mengancam, akan tetapi

Tumenggung itu sama sekali tidak takut.

“Kau juga hendak membunuhku? Boleh, cobalah kalau kau dapat!”

Tumenggung itu menantang dengan suara keras.

Akan tetapi, oleh karena telah mendengar percakapan tadi, hati pemuda

 

itu menjadi ragu-ragu.

“Aku akan menangkapmu!”

Ia lalu menyerbu secepat kilat. Wiradigda mengangkat tombaknya dan

menusuk ke arah dada Saritama. Akan tetapi pemuda itu mengelak ke

samping dan dari samping bergerak hendak merampas tombak.

Tumenggung Wiradigda bukan orang lemah, maka tak mudah saja bagi

Saritama untuk merampas tombak itu. Demikianlah, pemuda dan orang tua

ini bertempur lama oleh karena Saritama tak hendak membunuhnya, hanya

hendak menawannya saja. Kalau pemuda itu mau menjatuhkan tangan jahat,

pasti Wiradigda takkan kuat menahan.

Akhirnya, karena tenaga Wiradigda yang sudah tua itu telah banyak

berkurang dan ia telah merasa lelah sekali sebuah tendangan Saritama

tepat mengenai pergelangan tangannya hingga tombak yang dipegangnya

terlempar jauh. Sebelum Tumenggung Wiradigda sempat mengelak,

Saritama telah menyergapnya dengan kedua lengan tangannya yang kuat!

Pemuda itu lalu mempergunakan sarung tumenggung itu sendiri untuk

mengikat kedua tangan Tumenggung Wiradigda ke belakang.

Kemudian ia pungut tombak tumenggung itu dan membentak, “Hayo jalan!”

“Saritama, kenapa aku tidak kau bunuh saja? Tak perlu aku dikasihani, tak

perlu aku menyangkal dan membela diri menyatakan kebersihanku. Kalau

kau anggap aku sebagai pengkhianat ayahmu, bunuh saja. Wiradigda tak

takut mati!”

“Bunuh kau … ? Mudah, itu perkara nanti. Hayo jalan!”

Dengan ujung tombaknya Saritama memaksa orang tua itu berjalan maju

menuju ke Tritis.

Ketika mereka tiba di dusun Tritis yang kosong sepi, dari dalam sebuah

pondok bobrok keluarlah seorang gadis cantik jelita yang segera berlari

menyambut mereka.

“Ayah …!”

“Saraswati … ! Kau selamat, nak? Terima kasih, Dewa!”

Saraswati ketika melihat ayahnya dibelenggu, menjadi marah sekali dan

sambil mengangkat dadanya ia menghadapi Saritama.

Saritama hanya menundukkan kepala dengan bingung. Ia hampir tak dengar

ucapan Saraswati oleh karena pada saat itu pikirannya bekerja keras dan

diputar-putar memikirkan tentang percakapan antara Wiradigda dan

Tirtaganda tadi. Ia menyesal mengapa ia telah menewaskannya, kalau

tidak, ia dapat memaksa adipati itu untuk memberi keterangan dan

penjelasan.

Melihat betapa Saritama tunduk saja dan agaknya takut kepada anaknya,

Wiradigda memandang dengan heran sekali, sedangkan Saraswati lalu

membuka belenggu ayahnya.

 

“Saritama, kau telah melakukan kekacauan di Tangen, telah menculik aku,

dan kini berani pula menangkap ayahku. Tahukah kau bahwa kau telah

melakukan pelanggaran besar sekali? Kalau Kerajaan Majapahit mengetahui

hal ini, kau bisa dianggap sebagai seorang pemberontak!”

“Dia bahkan telah membunuh Adipati Tirtaganda!” kata Tumenggung

Wiradigda.

Mata Saraswati yang lebar dan indah itu terbelalak memandang kepada

Saritama. Kegirangan besar memancar keluar dari sepasang mata itu.

“Apa? Bandot tua itu telah kau tewaskan? Ah, Saritama … ” tapi gadis itu

segera mengubah suaranya ketika berkata. “Kalau begitu dosamu lebih

besar lagi!”

Saritama berkata, “Saraswati, terserah kepadamulah! Aku … aku bingung

sekali. Sebetulnya saja paman Tumenggung Wiradigda, apakah yang telah

terjadi dengan mendiang ayahku? Tadi aku mendengar percakapanmu

dengan Tirtaganda. Bagaimanakah terjadinya pemfitnahan terhadap

keluargaku itu sesungguhnya?”

Maka Tumenggung Wiradigda lalu menceritakan semua peristiwa dahulu itu

dengan jelas. Saraswati yang baru kali ini mendengar bahwa ibunya adalah

bekas kekasih ayah Saritama, mendengarkan dengan hati tertarik pula.

Saritama sendiri ketika mendengar betapa ia telah salah sangka dan

menjatuhkan pembalasan kepada orang yang tidak berdosa, segera

menundukkan muka dengan menyesal dan malu.

Akan tetapi, ia masih merasa ragu-ragu, maka ia berkata, “Paman

Tumenggung, kalau memang Tirtaganda yang berkhianat dan kau tidak

berbuat apa-apa terhadap mendiang ayahku maka aku telah berlaku sangat

keji dengan menculik dinda Saraswati dan paman sendiri. Akan tetapi,

keterangan itu kudapat dari Paman Panembahan Sidik Panunggal,

mungkinkah beliau salah sangka pula?”

“Apa? Sidik Panunggal masih hidup? Di manakah dia sekarang?” Wajah

Tumenggung Wiradigda berseri oleh karena Panembahan ini dulu adalah

kawan baiknya.

“Aku berada di sini, Wiradigda! Dan kau Saritama, aku tak pernah salah

sangka!”

Tiba-tiba saja, entah darimana datanganya, Panembahan yang sakti itu

telah muncul di situ sambil tersenyum.

“Saritama, memang semua yang diceritakan oleh Tumwnggung Wiradigda

tadi benar belaka. Aku pun telah dapat menduga hal ini, akan tetapi

ketahuilah bahwa semua orang, kecuali Tumenggung Wiradigda dan Adipati

Tirtaganda, semua menganggap bahwa biang keladi pembasmian Tritis

adalah Tumenggung Wiradigda. Aku tidak bisa meyalahi hukum karma, dan

aku tidak mau membantah pendapat umum. Aku sengaja menceritakan

 

kepadamu menurut pandangan umum dan adalah menjadi kewajibanmu

sendiri untuk menyelidiki dan membongkar rahasia ini. Akan tetapi,

sebelum aku menuturkan dengan jelas, kau telah tak tahan dan segera

pergi terdorong hawa nafsumu. Untung sekali, Dewata berlaku murah dan

aku tidak salah tangan Saritama. Sekarang kau harus minta maaf kepada

Tumenggung Wiradigda.”

Saritama segera maju berlutut dan menyembah kepada Tumenggung itu

yang menerimanya dengan senyum lega.

“Wiradigda, selanjutnya terserah kepadamu. Aku hendak segera kembali

ke Gunung Kidul. Saritama kelak bila kau mempunyai kesempatan, ajaklah

isterimu mengunjungi pondokku di Gunung Kidul!”

Saritama heran, akan tetapi sebelum ia sempat bertanya, Panembahan

Sidik Panunggal sudah berkelebat pergi!

Tumenggung Wiradigda dapat menangkap maksud perkataan pendeta itu,

maka ia hanya tersenyum saja. Hatinya girang sekali dan diam-diam ia

mengucap sukur kepada Dewata Yang Maha Agung.

“Ayah, bagaimana dengan soal ini? Kita harus membelenggunya untuk

membalas perlakuannya terhadapmu tadi!” kata Saraswati kepada ayahnya.

“Kita tidak berdosa akan tetapi telah mendapat banyak hinaan dan

gangguan dari Saritama, maka apakah kita takkan membalas?”

Tumenggung Wiradigda tersenyum.

“Kau mau membelenggunya? Belenggulah, Saraswati!”

Saritama juga tersenyum. Hati pemuda ini sekarang merasa girang luar

biasa mendapatkan keterangan dari Panembahan Sidik Panunggal bahwa

Wiradigda benar-benar tidak berdosa! Ia memandang kepada Saraswati

dengan wajah berseri.

“Betul kata Rama Tumenggung, Wati. Belenggulah aku!”

Kedua mata dara itu terbelalak heran dan kemarahan menjalar di mukanya.

“Kau … kau kurang ajar … !” katanya gemas sekali. “Mengapa kau berani

mati menyebut rama (ayah) kepada ayahku?’

“Ayahmu telah menerimaku sebagai mantunya, mengapa aku tidak boleh

menyebutnya rama?” jawab Saritama yang tetap tersenyum.

“Ayah … ?” hanya demikian Saraswati dapat bertanya sambil memandang

wajah ayahnya.

Tumenggung Wiradigda mengangguk-anggukkan kepala.

“Memang benar! Aku telah menggunakan kau sebagai hadiah sayembara

ketika kau terculik dan yang memenangkan sayembara itu adalah

Saritama!”

“Kau … kau … !”

Saraswati menoleh kepada Saritama dan hendak memaki lagi, akan tetapi

ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Saritama, maka

menjalarlah warna merah pada wajahnya sampai ke telinga.

“Saraswati, mari sini, ikatlah tanganku! Belenggulah aku, aku menyerah

menjadi tawananmu,” Saritama menggoda.

“Kau … kau kurang ajar!” Saraswati lalu cemberut dan berjalan cepat

menyusul ayahnya yang telah mendahului mereka pergi menuju ke Tangen.

Saritama mengejar dan di sepanjang jalan tidak hentinya Saritama

menggoda Saraswati hingga gadis ini menjadi malu dan … girang.

Setelah berjalan jauh dan merasa lelah dan sakit telapak kakinya

menginjak-injak batu dan kerikil tajam, kembali Saritama menggunakan

kekuatan lengannya memondong tubuh gadis kekasihnya itu. Dan kini

Saraswati tidak meronta-ronta seperti dulu lagi!

TAMAT

Iklan

One thought on “Satria Gunung Kidul

  1. Ping-balik: KEPEMIMPINAN BUGIS MAKASSAR | Dewie Yasin Limpo

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s