Pendekar Cengeng

New Picture (3)

Pendekar Cengeng

Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Edited MCH, & nn dimhader

Jilid I

DARI dalam rumah ternbok model kuno terdengar suara tangis mengguguk, diselingi rintihan memanggil-manggil nama orang yang sudah sudah menjadi mayat. Sampai seakan suara orang yang menangis itu tak terdengar lagi karena sudah sehari semalam ia terus, menerus menaagis, tanpa rnemperdulikan orang yang melayat.

Semenjak jaman dulu, rakyat sudah mengenal

kesadaran bergotong-royong sehingga ada pepatah.

“Tangis dan tawa lebih cepat terdengar oleh

tetangga dekat daripada keluarga jauh.”

Rumah itu tempat tinggal keluarga Yu dan yang

meninggal dunia adalah kakek Yu. Bukan orang

biasa melainkan pendekar tua Yu Tiang Sin yang

selama puluhan tahun telah, terkenal di dunta

silat, jagoan atau penjahat manakah tidak

2

mengenal nama julukan Yu kiam sian -(Dewa

Pectang Yu)?

Bukan hanya terkenal sebagai seorang

pendekat pedang yang selalu membela kebenaran

dan keadilan, tetapi juga Yu Tiang Sin terkenal

sebagai seorang yang anti kepada pemerintah

penjajah.

Pada masa itu seluruh Tiongkok dikuasai

bangsa Goan, yaitu kerajaan bangsa Mongol yang

dipelopori Jenghis Khan yang terkenal sampai di

Eropa. Akan tetapi setelah bangsa Mongol dipimpin

Kaisar Kubilai Khan cucu Jenghis Khan. barulah

dinasti Goan berdiri dan seluruh Tiongkok

dikuasai.

Rakyat yang menderita akibat penyerbuan

tentara Mongol, sampai puluhan tahun tertindas,

menaruh dendam dan membenci kaum penjajah

ini. Akan tetapi disamping orang-orang berjiwa

pahlawan seperti pendekar tua Yu, banyak pula

bermunculan penjahat pangkhianat bangsa yang

tak segan-segan menjual negara dan tanah air

demi kedudukan, kemuliaan dan kekayaan.

Puluhan tahun lamanya pendekar Yu tiada,

hentinya berusaha untuk membela rakyat tertindas

dengan caranya sendiri, yaitu memusubi para

pembesar penjajah atau boneka-boneka penjajah,

juga raja muda yang bermunculan di dusundusun.

Entah berapa banyaknya pengkhianatpengkhianat

yang setelah menjadi pembesar lalu

menghina dan menindas bangsa sendiri dibunuh

oleh ‘Yu-kiam sian. tanyak pula hartawan3

hartawan yang kikir dan jahat tewas di ujung

pedang pendekar ini.

Hartawan-hartawan yang menjadi raja muda di

dusun-dusun memang banyak sekali yang jahat.

Mereka mengandalkan kekayaannya, menindas si

miskin dan si lemah, merampas anak bini orang,

dan di samping mereka memelihara tukang tukang

pukul, juga dengan jalan monyogok pembesarpembesar

seterapat mereka dapat memperalat para

pembesar itu.

Sepak terjang Yu Tiang Sin ini tentu saja

membuat ia dicintai rakyat yang tertindas dan

disegani serta dihormati orang-orang gagah, akan

tetapi ditakuti dan dibenci orang-orang dari

golongan hitam, setelah berusia tujuh puluh tahun

kakek Yu mengundurkan diri dan hidup tenang

serta damai di dusun Ki-bun di lembah Sungai

Huai.

Di sini ia hidup bersama tiga orang anak dan

tujuh orang cucunya, karena semua mantu dan

cucunya mernpelajari iltnu silat, maka keluarga Yu

ini terkenal sebagai keluarga yang kuat dan

disegani.

Ketika Dewa Pedang itu meninggal karena usia

tua, semua keluarganya berkabung dan berduka.

Akan tetapi yang paling berduka dan tak hentinya

menangis dan memanggil-manggil adalah cucunya

yang paling bungsu.

Cucu ini bernama Yu Lee dan sejak kecil

memang menjadi cucu kesayangan kakeknya.

Karena menurnpahkun kasih sayang ini, anak

4

itupun membalas cinta kasih yang melebihi ayah

bundanya sendiri.

Di saat kakeknya rneninggal, Yu Lee baru

berusia delapan tahun tahun dan biarpun semua

orang menghiburnya, ia tidak mau berhenti

menangisi mayat kakeknya.

Rurnah itu sudah diberi tanda berkabung

dengan kertas dan kain putih. Jenazah kakek Yu

telah dimasukkan peti mati dan ditaruh di ruargan

depan.

Di meja sembahyang yang berdiri di depan peti

mati, di samping lilin dan asap dupa serta hio

mengebul mernenuhi ruangan. Tiga orang putera

dan dua arang cucunya yang sudah berusia

belasan tahun, menjaga peti mati untuk mewakili

kakek Yu dalam membalas penghormatan

pengunjung yang berlayat.

Keluarga perempuan setelah menjalankan

“upacara berkabung” dengan jarit tangis sedih

depan peti mati, lalu masuk ke dalam untuk

membantu di dapur mengeluarkan hidangan bagi

mereka yang berlayat.

Yang amat mengharukan adalah Yu Lee. Ia

tetap saja menjaga pwti mati, biarpun ia dihardik

ayahnya sehingga tak bisa menangis keras, tetapi

masih bercucuran air mata dan terisak-isak,

matanya merah memandang peti mati, tangannya

mengelus-elus peti dan bibirnya bergetak-gerak,

seakan-akan berbicara dengan kakeknya yang

berada di dalam peti !

5

Sebagai seorang bekas pendekar terkenal tentu

saja banyak sahabat yang datang untuk

mamberikan penghormatan terakhir pada jenazah

kakek Yu. Hilir mudik orang yang datang dan yang

pergi, sehingga putera-putera dan cucu menjadi

sibuk sekali membalas penghormatan para tetamu.

Pada hari ketika, pagi pagi sekali telah tang

seorang tetamu, Sepagi itu hanya Yu Lee yang

sudah mendekam di dekat peti mati itu,. Ayah dan

saudara-saudaranya segera keluar menyambut

tamu itu.

Akan tetapi tamu yang datang kali ini sikapnya

luar biasa dan tidak seperti tamu-tamu yang lain.

Dia sudah tua, sedikitnya enam puluh tahun

usianya. Pakaiannya kasar dan sederhana, di

punggungnya terdapat sebuah guci arak berbentuk

bulat dengan leher panjang dan mulut tersurnbat

kain kuning, di pinggang kiri tergantung sebatang

pedang yang gagang dan sarungnya sudah tua dan

buruk. Melihat pakaian pendeta dan rambutnya

yang digelung dan diikat pita kuning, tentu dia

seorang tosu (pendeta Agama To) pengembara.

Tubuhnya kurus kering, mukanya pucat

kehijauran dan berbentuk panjang, matanya sipit

sekali seakan selalu terpejam. Keadaannya

sesungguhnya sangat menyelihkan, tidak

sedikitpun membayangkan semangat dan

keriangan hidup.

Akan tctapi anehnya mulut kecil yang ompong

itu selalu tersenyum dan karena bagian lain dari

mukanya tidak memancarkan keriangan maka

6

senyumnya ini tidak seperti senyum lagi, lebih

patut kalau dikatakan menyeringai dan mengejek.

Begitu masuk pekarangan rumah keluarga Yu

yang sedang berkabung terdengar ia bernyanyinyanyi

diseling suara terkekeh-kekeh.

Lain tamu, setelah berhadapan dengan meja

sembahyang dan peti mati lantas menyalakan hio

dan bersembahyang sebagai penghormatan

terakhir, namun tosu ini malah berdiri memandang

peti mati dengan matanya yang sipit berkedipkedip.

Kemudian terdengar suara tertawanya

bergelak.

‘Ha-ha-ha, Yuloheng (kakak tua Yu). Kau benarbenar

enak sekali pergi menuju kebebasan derita

hidup. Tinggalkan julukan yang kosong

melompong, terbebas urusan dunia yang serba

palsu. Yu- loheng di waktu hidup berjuluk Dewa

Pedang, Ha, ha, ha, bukankah itu nama kosong

belaka? Kalau dewa tentunya tidak mengenal mati

– hidup, dan pedangmu ….. ha-ha ..ha, mana

pedangmu,? Biarpun masih ada, tak ada gunanya

lagi. Kau senang Yulobeng sayangnya sebelum

pergi tidak pamit lebih dahulu kepadaku

Anak cucu kakek Yu memandang tosu itu

dengan muka membayangkan kemarahan. Kakek

yang mereka hormati telah meninggal, janazahnya

masih berada di dalam. Bagaimana sekarang tosu

ini berani terang-terangan rrenghina dengan katakata

aneh ? Hanya Yu Lee yang tidak merasa heran

bahkan tangisnya makin menjadi. Ia seolah-olah

membayangkan bahwa tosu itu bercakap-cakap

dengan kakeknya, seolah-olah mendengar suara

7

dan ketawa kakeknya. Akan tetapi, kalau ia

memandang peti mati, teringatlah ia bahwa

kakeknya yang tercinta telah meninggalkannya.

“Hai bocah! Kau tentunya cucu Yu-loheng.

Kenapa menangis? Bocah cengeng kau! Masa

dengan terbebas dari hukurnan kau sambut

dengan tangis? Bodoh ! Cengeng!” Tosu itu

mendelik memarahi Yu Lee kemudian memukulmukulkan

tongkat di atas lantai dan

bersenandung. Yang ia nyanyikan sama sekali

bukan doa untuk yang mati, dan lagunya malah

bernada gembira.

Manusia hidup lunak dan lemas,

kalau mati menjadi kaku dan keras. Segala

mahluk dan tanaman hidup

lunak dan lemas,

kalau mati menjadi kering dan getas

( mudah patah)

Kaku dan keras adalah kematian,

lunak dan lemas adalah teman kehidupan.

Tosu itu berhenti menyanyi dan tertawa lagi

terbahak-bahak, menurunkan guci araknya.

berkata nyaring.

“Yu lobeng, silakan minum arak !” Dia

menggerakkan guci araknya dan dari dalam guci

yang mulutnya sudah terbuka itu memercik arak

yang berbau harum. Kemudian tosu itu

mendekatkan mulut guci itu ke rnulutnya dan

8

terdengar suara menggelogok ketika arak yang

berwarna merah masuk ke mulutnya.

Kemudian ia menyimpan kembali guci araknya

dan tanpa dipersilakan ia telah duduk di atas

sebuah bangku,

Tiga orang putera kakek Yu ini memiliki

kepandaian silat yang tinggi namun mereka belum

pernah bertemu dengan tosu ini.

Dalam hati mereka marah sekali, namun

karena sikap tosu ini tidak memusuhi jenazah

ayah mereka, bahkan kata-katanyapun

mernbayangkon bahwa ia adalah sahabat kakek

Yu.

Mereka tidak

rnengutarakan

isi hatinya

Hanya mereka

tidak tahu

bagaimana

harus menyebut

tamu aneh ini.

Orang lain

berlayat untuk

berbela

sungkawa, akan

terapi tosu ini

datang seolaholeh

hendak

memberi

selarnat atas

kematian kakek

Yu bahkan

9

mengajak si peti untuk minum arak. Di dunia ini

mana ada atutan macam ini. Namun tiba-tiba Yu

Lee bangkit dari bawah peti mati di mana tadi ia

berlutut, kemudian menghampiri tosu itu dan

sambil terisaic-isak, “Orang tua, kakekku sudah

tidak dapat menyambutmu ……. ia sudah mati.”

Sampai di sini tak tahan lagi ia menangis terisakisak.

“He, bocah menyebalkan! Bocah cengeng ! Siapa

bilang Yu loheng mati? Apa kau tahu benar ?”

Yu Lee lupa akan kedukaannya, lupa akan

tangisnya. Ia menengadah memandang wajah tosu

yang duduk di kursi itu.

Sitosu terkejut. Anak ini wajahnva simpatik,

berbentuk bulat seperti bulan purnama, putih

bersih. Sepasang matanya yang kini merah karena

terlalu banyak menangis itu lebar dan bening.

Sinarnya tajam penuh kejujuran dan kemurnian.

“Orang tua, kakekku sudah mati. Banar-benar

mati. Ia tak menjawab pertanyaanku dan, tidak

bernapas lagi. Kalau tidak mati masa dimasukkan

peti mati?” Saking hetannya terhadap sikap dan

ucapan tosu itu Yu Lee sampai lupa akan

kesedihannya.

“Ha-ha –ha- bocah cengeng! Kau seperti yang

tahu saja ! Apa itu mati ? Apa itu hidup? Sebelum

hidup dari mana? Sesudah mati ke mana ?”

Sudah tentu bocah berusia delapan tahun itu

akan terlongo kebingungan mendengar pertanyaan

yang tidak mungkin terjawab oleh orang pandai

sekalipun.

10

“Locianpwe, harap maafkan puteraku yang

bodoh ini berani bersikap kurang ajar. Mohon

tanya, siapakah locianpwe yang terhormat?” Yu

Kai, ayah Yu lee dan sambil menarik tangan

puteranya ia menjura penuh hormat kepada tosu

itu. Yu Kai adalah putera sulung kakek Yu, seorang

berusia empat puluh lima tahun yang peadiam.

Tosu itu sejenak memandang Yu Kai, tiba-tiba

tangannya bergerak ke depan, jari telunjuknya

menotok ke arah jalan darah di dada Yu Kai.

Gerakan ini biarpun dilakukan sambil duduk,

namun cepatnya hukan main dan sebelum jari itu

menyentuh dada, angin pukulannya sudah

menyambar dan Yu Kai merasakan dadanya dingin

sekali. Sebagai putera pendekar, teutu saja Yu Kai

berkepandaian cukup tinggi.

Karena ia maklum bahwa totokan ini

mematikan dan tidak dapat ditangkis, ia cepat

menekuk tubuh ke belakang tanpa merobah

kedudukan kedua kakinya. Kalau meloncat ia

takkan dapat menghindarkan totokan itu. Dengan

menggerakkan tubuh melengkung ke belakang,

barulah ia dapat menghindarkan bahaya.

Setelah tubuh atasnya terhindar dari serangan,

baru kedua kakinya menekan lantai dan tubuhnva

mencelat ke belakang berjungkir balik membuat

salto dua kali dan kakinya menginjak lantai 1agi

dengan ringan.

“Ha, ha, ha, tua bangka Yu, a1angkah kikirnya.

Mempunyai kepandaian kalau tidak ditinggalkan

kepada anak cucu atau murid, untuk apa kau

bawa pergi ke lubang kubur ? Kau terkenal sebagai

11

Dewa Padang, namun puteramu hanya begini saja

kepandaiannya, sungguh memalukan…….

memalukan !”

Sementara itu Yu Kai marah bukan main

mendengar ejekan ini namun ia maklum bahwa

tosu ini mengejek bukan untuk menyombong.

Dalam segebrakan tadi, kalau tosu ini

menghendaki, nyawanva pasti sudah menyusul

ayahnya. Biarpun ia sudah mengelak dengan gerak

Siluman Naga Berjungkir Balik, sebuah gerakan

yang sukar dari hebat, namun masih kalah cepat

oleh si tosu aneh.

Buktinya baju bagian dadanya, tepat di jalan

darah yan-goat-hiat telah berlubang sebesar ujung

jari. Jelas bahwa tosu itu hanya mengujinya.

Namun sungguh keterlaluan tosu itu, menguji

sambil menghina.

Sesabar-sabarnya Yu Kai, karena baru berduka

dan berkabung, kini dihina orang, darahnya

mendidih dan memberi tanda dengan matanya

pada dua orang adiknya untuk mengusir tosu ini.

Para tetangga yang sudah berdatangan melihat

pula kejadian tadi. Mereka menjadi gelisah dan

makin banyaklah tetangga yang berdatangan

sambil berbisik-bisik.

“Hei, kakek tua!” Tiba tiba Yu Lee sebelum

dapat dieegah ayahnya sudah meloncat maju dan

membusungkan dada di depan tosu ini.

“Kau berani menghina ayahku? Orang gagah

macam apa kau ini? Setelah kakekku tak ada, baru

kau berani bikin ribut. Kalau kakekku masih

12

hidup, sekali bergerak kau tentu roboh…….. ” Tiba

tiba anak itu menangis, karena kalimatnya yang

terakhir ini mengingatkan ia kembali bahwa

kakeknya sudah mati!

Tosu itu sejenak memandang kagum, lalu

tertawa. “Ha-ha ha, engkau mewarisi kegagahan

kakekmu, sayang kau cengeng ! Yu-kiam Sian

mana mau bertanding denganku ? Siauw-bin-mo

(Setan Tertawa) Hap Tojin adalah sahabat baiknya,

ha-ha-ha !”

Mendengar disebutnya nama Hap Tojin yang

berjuluk Siauw-bin-mo, Yu Kai dan adik-adiknya

terkejut sekali.

Nama ini adalah nama seorang tokoh di dunia

kangouw. Ayah mereka pernah bercerita bahwa

Sianw-bin-mo Hap Tojin adalah teman

seperjuangannya. Seorang pendekar yang lihai.

Dan karena sepak terjangnya rnembasmi orangorang

jahat selalu dilakukan dengan tertawa-tawa

kaum penjahat rnemberinya julukan Siauw-bin-mo

atau Setan Tertawa.’

Pada saat itu terdengar suara ketukan keras.

Ketukan berirama yang datang dari luar

pekarangan. Keras sekali ketukan itu seperti

ketukan sebuah martil besar pada besi landasan.

Semua orang menengok keluar dan tampak-lah

seorang hwesio (rendeta Buddha) bertubuh pendek

gemuk, perutnya bulat seperti gentong, kepalanya

yang bundar itu gundul kelimis. Tubuh atasnya

telanjang bingga tampak sebagian perutnya yang

besar dan buah dadanya yang bergantung. Tubuh

bawahnya terbungkus kain yang berwarna kuning.

13

Hwesio ini mcmegang sebatang tongkat dan

suara ketukan nyaring itu adalah suara tongkat

yang memukul tanah berbatu. Begitu masuk

pekarangan hwesio itu menggerutu tetapi suaranya

nyaring dan parau.

“Mengapa ada suara gelak tawa, mengapa orang

dapat bergembira sedangkan dunia ini selalu

terbakar ? Kenapa kau tidak cari pelita, wahai

engkau yang berselubung kegelapan ?” Apa yang ia

ucapkan dengan nada nyanyian itu adalah sebuah

ayat dari kitab suci “Dhamma Pada” kitab Agana

Buddha.

“Ha-ha-ha, Tho- tee-kong (Malaikat Bumi)!

Kalau semua manusia ini pemurung seperti

engkau, matahari dan bulan menjadi gelap

sinarnya ! Ha-ha-ha !” sitosu mengejek. Kembali Yu

Kai dan adik-adiknya terkejut memandang hwesio

gundul itu.

Nama julukan Tho tee- kong sudah lama

mereka dengar dan baru kali ini melihat orangnya.

Menurut penuturan mendiang ayahnya. Tho-tee

kong ini bernama Liong Losu, hwesio perantau

yang berilmu tinggi.

Karena bentuk tubuh dan kelihaiannya maka

dunia persilatan memberi julukan Malaikat Bumi.

Seperti juga Siauw-bin-mo, Hap Tojin hwesio ini

adalah bekas teman seperjuangannya ayah

mereka.

Hwesio itu memandang kepada sitosu !alu

menggeleng-gelengkan kepala dan keningnya

berkerut. Kemudian ia berkata.

14

“Omitohud ! Hap- to-yu (sababat Hap)

sejak..dahulu masih juga belum mendapatkan

jaIan teraug !” Setelah berkata hwesio ini lalu

menghampiri meja sernbahyang dan menjura

dengan hormat ke arah peti mati. Perbuatan ini

segera, dibalas oleh Yu Kai dan adik-adiknya.

Dengan suara nyaring tapi parau hwesto ini

berkata,

‘”Yu ticu (orang gagah Yu), sungguh

menyedihkan sekali orang gagah dan baik seperti

sicu meninggalkan dunia yang masih sangat

membutuhkannya. Terlalu banyak orang jahat di

dunia ini sampai penuh berdesak-desakan.

Alangkah sukarnya mencari orang baik seperti

sicu. Dunia amat kehilangan dengan meninggalnya

sicu …… omitohud!”

Mendengar ucapan hwasio ini Yu Lee kembali

menangis mengguguk sambil memeluk peti mati

kongkongnya. “Kongkong ! Kenapa kongkong mati

sebelum aku kuat menggantikan kongkong menjadi

orang yang berguna ?” demikian anak ini berkata

sambil menangis.

Liong Losu mengangkat muka memandang.

Matanya bersinar kagum memandang kepada Yu

Lee. Ia mengangguk. “Siauw kongcu (tuan kecil) ini

betulkah cucu Yu sicu ?”

Yu Kai maju memberi hormat, “Betul dugaan

losuhu, Lee-ji (anak Lee) ini adalah cucu yang

bungsu. Dan putera tecu (saya-murid) yang

bungsu.”

Liong Losu mengangguk-angguk.

15

“Siauw-kongcu anak baik, kecil-kecil sudah

mengenal kebaktian dan kegagahan.”

“Gagah berbakti apa ?” Tiba-tiba Siauwbin. ma

Hap Tojin tertawa mengejek. “Dia bocah cengeng,

dengan yang tua bangka Tho-teekong Liong Losu

bocah ini benar-besar cocok. Keduanya tukang

mengeluh dan menangis, menjemukan benar? Di

dunia ini mana ada-orang jahat? Semua orang

baik, hanya karena bodoh maka menyeleweng dari

kebenaran. Kalau sudah sadar tentu kembali ke

jalan yang benar. Yang jahat bukan orangnya

tetapi penggodanya. Lempar semua penggodanya

maka manusia takkan tergoda, takkan ada

kejahatan. Buang semua emas, takkan ada lagi

maling emas. Setelah hidup, mengapa banyak

mengeluh? Kalau dengan menangis atau tertawa

keadaan tidak bisa berubah, mengapa tidak

memilih tertawa. Dengan tertawa menyambut yang

baik tentu akan terasa lebih nikmat. Dan dengan

tertawa menyambut yang jelek; tentu akan

berkurang penderitaannya. Bagi seorang laki-laki

air mata lebih mahal daripada darah. Kau mau apa

lagi Tao-teekong tua bangka gundul? Ha-ha-ha!”

“Omitohud! To-yu (sahabat) tersesat jauh sekali.

Sayang, sungguh sayang. Siapa bilang hidup

adalah kesenangan? Hidup adalah sengsara,

karena siapa terlahir, tentu akan mengalami segala

macam penderitaan, kepahitan hidup, kekecewaan,

kedukaan, sakit dan mati. Yang dapat mengatasi

kematian dan kelahiran barulah bahagia. To yu

tertawa, hal itu hanyalah palsu belaka sebagai

kedok untuk menyarnbunyikan penderitaan yang

16

sebenarnya. Mengapa berpura-pura tertawa kalau

bathin menangis?”

Perdebatan antara dua orang aneh ini makin

menjadi. Karena yang mereka bicarakan adalah

urusan kematian dan amat mendalam maka Yu Kai

dan adik adiknya tak berani mencarnpuri

percakapan mereka.

Karena itu mereka menabiarkan saja dua orang

tua itu berbantahan. Dan mereka sibuk

menyambut tamu-tamu lain yang berdatangan

untuk memberi penghormatan terakhir kepada

jenazah Yu Tiang Sin.

Ketika melihat datangnya seorang pengemis tua

di antara para tamu, Yu Kai segera menyambutnya

sebab rnengira pengemis ini seorang tokoh besar

persilatan yang mengenal ayahnya. Akan tetapi

kakek pengemis ini tidak menghampiri meja

sembahyang melainkan segera duduk di atas tanah

dan menundukkan muka sambil menggaruk-garuk

punggungnya.

Kepala pengemis itu tertutup sebuah topi lebar

yang butut sehingga mukanya tersembunyi di baik

topi lobar itu.

Rambutnya sudah putih semua, tubuhnya

kurus kering dan pakaiannya penuh tambalan

sobekan di sana-sini memperlihatkan kulit yang

keriput dan tulang yang menonjol. Sepatu rumput

yang menutupi kedua kakinya juga sudah butut.

Sewaktu berja1an masuk tadi ia dibantu oleh

tongkatnya yang terbuat dari bambu dan kini

tongkatnya melintang di pangkuannya.

17

Keadaannya jelas membayangkan bahwa ia

seorang pengemis yang hidupnya sangat sengsara

dan agaknya sering menderita kelaparan. Tak ada

hal yang aneh dan rnencurigakan pada diri kakek

ini hingga para tamu tidak ada yang

memperhatikannya. Melihat sikap pengemis itu Yu

Kai pun akhirnya menganggap dia bukan tamu

melainkan seorang pengemis biasa, maka dia tak

memperhatikannya lagi.

Tidak demikian dengan Siauw bin-mo Hap Tojin

dan Liong Losu. Karena pengemis itu berjongkok di

dekat meja mereka, keduanya memandangnya dan

menghentikan perbantahan mereka lalu Hap Tojin

rnenegurnya.

“Eh, lokai (pengemis tua), orang mengemis

sepatutnya mendatangi orang yang sedang

merayakan perkawinan dan bukan orang yang

berkabung! Di tempat kematian ini mana ada

makanan lebih?” Tosu itu tertawa-tawa sehingga

banyak tamu yang mungerutkan kening. Tertawa

tawa di waktu melayat benar-benar merupakan

perbuatan yang tak sopan.

Sebaliknya Liong Losu melihat pengemis ini

seraya berkata,

“Nah kau lihatlah baik-baik, to yu. Seperti

pengemis ini, bukankah ia rnenderita dalam

hidup? Sudah tua bangka dan berpenyakitan,

masih menderita kelaparan dan hidup terhina

sebagai pengemis. Tidak kasihankah kau melihat

penderitaan manusia ini?”

“Menderita apa ? Dia senang ! Lebih senang dari

orang lain. Dia tua, apa kau kira orang muda lebih

18

senang dari pada orang tua. Dia miskin, apa kau

kira orang kaya lebih senang dari pada orang

miskin? Dia kurus, apa kau kira orang gemuk

seperti kau ini lebih senang dari pada orang kurus

?”

Kembali dua orang ini berbantahan, tanpa

menghiraukan lagi kepada sipengemis tua itu.Tibatiba

pengemis itu menarik napas panjang dan

berkata.

“Apakah itu baik? Apakah itu jehat? Manusia

tidak baik, juga tidak jahat. Kebaikan yang dipuji

orang bukan kebaikan lagi. Kejahatan yang dicela

orang belum tentu kejahatan. Siapa menciptakan

baik dan jahat? Orang! Siapa menciptakan susah

dan senang? Orang. Semua itu sebetulnya tidak

ada. Adanya karena dipaksakan orang, oleh orang

yang memang suka mengada-ada! Semua kosong

kelihatannya berisi akan tetapi kosong. Yang

kosong sebetulnya penuh isi. Aneh tapi tidak aneh.

Benar tapi salah juga! Heh …….. … ” pengemis itu

menghela napas lagi. Lalu bangkit dan jalan

perlahan dibantu tongkatnya. Setelah berdiri baru

tampak mukanya. Muka tua yang keriputan, muka

yang terlalu tua untuk hidup, Usianya sudah

seratus tahun lebih.

Tosu dan hwesio itu saling pandang. Sebagai

dua orang ahli kebatinan, mereka mendengar

ucapan pengemis tadi seperti halilintar

menggelegar di angkasa. Mereka sekaligus tunduk,

takluk merasa terkalahkan. Keduanya segera

berdiri hendak menyusul, akan tetapi ketika

memandang keluar kakek itu sudah lenyap,

19

seakan-akan ditelan bumi. Keduanya menghela

napas. Siauw-bin-mo yang sadar lebih dahulu

berkata sambil tertawa.

“Dalam segebrakan kita runtuh, ha-ha-ha!

Dapatkah kau menduga, siapa dia?”

Hwesio gendut itu menggelengkan kepala.

“Pinceng (aku) tidak tahu. Akan tetapi sinar

matanya…….. hebat !”

Makin siang makin banyak tamu yang datang

berlayat kepada jenazah kakek Yu. Akan tetapi

setelah lewat tengah hari tamu-tamu mulai

meninggalkan tempat itu dan setelah senja rumah

itu menjadi sepi.

Anehnya tosu dan hwesio itu masih saja

bercakap-cakap. Diam-diam para pelayan merasa

mendongkol. Sudah dua kali mereka menyuguhkan

hidangan pada dua pendeta ini.

Yang paling menjemukan adalah si hwesio yang

tidak pantang makan daging dan arak. Tetapi Yu

Kai dan adik-adiknya maklum bahwa kedua

pendeta ini adalah orang yang ber-ilmu, mereka

tetap bersikap hormat sambil menduga-duga

mengapa kedua orang ini tetap berada di situ ?

Mereka mulai gelisah dan menduga pasti akan

terjadi sesuatu, maka mereka bersiap-siap untuk

menghadapi segala kemungkinan.

Orang-orang mulai menyalakan lampu, malam

itu malam terakhir menjaga peti mati, karena

besok pagi peti mati itu akan diberangkatkan ke

kubur. Setelah melakukan upacara sembahyang

Yu Kai dan adik-adiknya menjaga peti mati. Karena

20

khawatir kalau anak anak mereka sakit, Yu Kai

memaksa anak-anak masuk dan mengaso di dalam

rumah.

Yu Lee yang takut kepada ayahnya terpaksa

juga meninggalkan peti mati sambil menengok peti

mati itu beberapa kali. Kini yang menjaga peti mati

hanya Yu Kai dan adik-adiknya serta tosu dan

hwesio yang duduk menghadapi meja hidangan

dan arak.

Tak lama kemudian berkelebat bayangan hitam

dan tahu-tahu di depan peti mati telah berdiri dua

orang. Yang seorang berumur lima puluhan,

bermuka kuning bertubuh tinggi besar. Di

punggungnya tampak sebatang golok besar, Orang

kedua seorang wanita, usianya empat puluh tahun,

dimukanya yang putih dan cantik itu tampak

goresan pedang, dari pipi kanan sampai ke dagu

sehingga muka yang cantik itu tampak

menyeramkan.

Wanita cantik ini membawa sebatang pedang di

pinggang kirinya. Begitu tiba di depan peti, kedua

orang ini memandang peti mati dengan mata

beringas. Yang lelaki berkata, suaranya

menyeramkan.

“Yu Tsang Sin, kami berjanji sepuluh tahun

akan mengadakan perhitungan. Malam ini tepat

sepuluh tahun. Siapa kira kau tidak menepati janji

dan telah mati. Hendak kulihat apakah kau benarbenar

mampus ataukah hanya berpura-pura mati

karena takut akan pembalasan kami?”

21

Setelah berkata demikian laki-laki muka kuning

ini melangkah maju. Tangan kanannya bergerak

hendak memegang peti mati.

Yu Kai dan adik-adiknya yang menjaga peti

mati dan tadinya sudah bersiap.siap hendak

membalas penghormatan orang mendadak menjadi

terkejut mendengar ucapan itu. Yu Kai segera

melompat berdiri diikuti kedua orang adiknya dan

berkata,

“Tahan dulu ! Siapapun tidak boleh

mengganggu peti ayahku!”

Laki laki muka kuning ini menahan tangannya

lalu memandang kepada Yu Kai dan adik-adiknya.

Dua orang adik Yo Kai bernama Yu Liang berusia

empat puluh tahun dan Yu Goan tiga puluh tahun.

Seperti Yu Kai mereka juga telah menerima

gemblengan ilmu silat tinggi dari ayahnya. Akan

tetapi’, karena kurang berbakat, maka ilmu

silatnya tidak sebaik Yu Kai yang berwatak

pendiam.

“Hemm, kalian ini tentunya putera situa Yu

bukan? Bagus, ayah harimau anaknya harimau

pula. Tetapi kami bukan orang yang suka

menggangau harimau, kecuali harimau yang

pernah mencakar kami. Aku mau melihat muka Yu

Tiang Sin tidak perduli kau membolehkan atau

tidak!”

Setelah berkata si muka kuning melanjutkan

gerakan tangannya ke arah peti mati.

“Manusia jahat jangan kurang ajar!” tiba-tiba

Yu Goan tidak dapat menahan sabarnya lagi. Ia

22

menerjang ke arah lambung kiri si muka kuning

itu. Hebat sekali pukulan ini dilakukan dengan

pengerahan tenaga dalam yang dahsyat. mengarah

bagian lemah tubuh lawan.

“Bagus Yu Liang Sin, bukan aku yang menghina

orang muda, tapi anakmu yang menyerangku!” si

muka kuning berkata sambil menangkis dengan

tangan kirinya, sedang tangan kanannya tergerak

terus ke arah peti mati.

Terdengar suara keras, dan berbareng dengan

terbongkarnya tutup peti mati, tubuh Yu Goan

terlempar sampai tiga meter dan roboh di atas

lantai.

Yu Kai terkejut. Kemarahannya meluap. Orang

telah menghina ayahnya. Jenazah yang sudah tiga

hari tiga malam itu tercium bau tidak sedap. Dia

maklum betapa lihai lawan ketika menangkis

serangan Yu Goan, dengan gerakan sedikit

membetot, Yu Goan sudah terlempar jauh, dan

berbareng dengan itu tangan kanan si muka

kuning itu sekali memukul dengan jari terbuka

sudah dapat membongkar tutup peti mati yang

rapat dan amat kokoh kuat itu. Dapat dibayangkan

berapa hebat tenaga dalam si muka kuning ini.

Namun Yu Kai tidak sembrono seperti adiknya.

Ia cepat melangkah maju dan bertanya, “Siapakah

tuan berdua yang tidak berpribudi ini ? Dan apa

dosa mendiang ayah kami sehingga setelah

meninggal dunia masih mengalami penghinaan

tuan?”

Si muka. kuning mendengus. Sikap Yu Kai

membuat ia tidak berani memandang rendah.

23

Setetah memandang dengan penuh selidik, lalu

berkata. “Aku adalah Kim to (Golok Emaa) Cia

Koan Hok, dan dia isteriku Bi-kiam (Padang

Cantik) Souw Kwat Si. Sepuluh tahun yang lalu

ayahmu telah mencampari urusan kami yang tidak

ada sangkut pautnya dengan dia, sehingga melukai

kami berdua. Sayang. kiranya ayahmu telah benarbenar

mampus dan rnenyiarkan bau busuk!”

“Keparat ! Tutup mulutmu bentak Yu Liang

yang marah sekali. Tetapi tiba-tiba terdengar desir

angin menyambar, Yu Liang cepat mengelak. Dan

sebatang piauw (pisau rahasia) menyambar di atas

kepalanya.

“Perempuan keparat! Ia memaki sambil

menerjang penyerangnya tadi.

Bi-kiam Souw Kwat Si tersenyum mengejek dan

menangkis. Begitu kedua tangan bertemu secara

aneh jari tangan nyonya itu sudah menotok jalan

darah di pergelangan tangan. Yu Liang terkejut, ia

berusaha mengelak dan menarik kembali

lengannya.

Untung ia bisa bergerak cepat sehingga

lengannya tidak tertotok secara tepat, hanya

kesemutan saja. Terlambat sedikit saja tentu

tangannya akan lumpuh.

“Hi-hi-hi, kau terkejut ?” tanya si nyonya sambil

tersenyum lebar. Kalau saja tidak ada guratan

bekas luka dari pipi ke dagu tentu senyum itu

akan kelihatan manis. Pandangannya tajam penuh

arti, mata seorang perempuan genit !

24

Memang diantaaa saudara-saudaranya, Yu

Liang adalah yang paling tampan. Mukanya

bundar, alisnya tebal, hidungnya mancung. Jauh

lebih tampan dibanding dengan si muka kuning.

*Sayang ayah dulu tidak menggurat lehermu

sampai putus !” bentak Yu Liang marah. Ia mulai

dapat menduga mengapa wanita ini bermusuhan

dengan ayahnya. Jelas wanita ini bukan orang

baik-baik. Sambil membentak ia menerjang dengan

pukulan bertubi-tubi, namun sambil tertawa

perempuan ini rnengelak dengan gerakan lincah

sekali.

Melihat adiknya sudah bertanding melawan

musuh, Yu Kai juga tidak tinggal diam dan

berseru. “Ayah sudah meninggal tetapi masih ada

puteranya yang tidak akan mundur melawan

penjahat !”

“Bagus !’ Kim-to Cia Koan Hok miringkan tubuh

menghindarkan pukulan Yu Kai yang meluncur ke

arah dadanya dan pada detik berikutnya ia balas

menusuk ke arah iga lawan.

Yu Kai terkejut, sodokan jari itu bukan mainmain,

karena itu adalah jurus (Dewa Menunjuk

Jalan) yaitu menggunakan dua buah jari menutuk

jalan darah yan-goat-biat di bawah ketiaknya.

Cepat-cepat dia menurunkan pangkal lengannya,

rnenggunakan siku memapaki tangan lawan

sambil memukulkan tangan kiri ke pelipis kanan

lawan.

“Eh, kau boleh juga !” Si muka kuning berseru

merendahkan tubuh lalu mengirim tendangan

secara tiba-tiba.

25

Diserang seperti ini, Yu Kai meloncat mundur,

namun lawannya mendesak terus dengan gerakan

Lian-hoan-twi yaitu ilmu tendangan bertubi-tubi

dengan kedua kaki bergantian. Ia segera mundur

dengan langkah Tui-po-lian-hoan (Mengundurkan

Kaki Bcrantai ) sambil menungkis dan berusaha

menangkap kaki lawan. Dengan demikian keadaan

menjadi berbalik.

Biarpun kelihatannya menyerang namun

bahaya berada di pihak si penyerang. Karena sekali

saja kakinya tertangkap, celakalah ia. Si Golok

Emas ternyata lihai sekali karena ia segera

merobah gerakan kakinya dengan serangan

pukulan sehingga Yu Kai repot untuk

menangkisnya. Setiap kali lengannya menangkis, ia

merasa tubuhnya tergetar dan lengannya nyeri,

pertanda bahwa ia masih kalah tenaga.

Sementara Yu Liang yang melawan nyonya itu

segera terdesak setelah wanita itu melakukan

pertyerangan cepat. Gerakannya benar-benar cepat

seperti burung walet menyambar-nyambar.

Baru belasan jurus saja Yu Liang sudah kena

terpukul membuat ia terhuyung-huyung.

Namun Yu Liang tidak gentar. Ia lalu

menyerang lagi penuh kemarahan. Yu Goan yang

tadi terbanting roboh, kini bangun dan menerjang

membantu adiknya. Namun biar dikeroyok dua,

Souw Kwat Si masih tertawa-tawa mengejek dan

tubuhnya berkelebatan menyerang kepada kakak

beradik itu.

Keributan di ruang depan ini agaknya

menimbulkan panik di dalam rumah. Semua

26

pelayan dan anak isteri tiga saudara Yu

bersembunyi di dalam kamar. Biarpun mereka ini

keluarga pendekar, namun mereka ini hidup

tenteram dan baru kali ini mereka melawan musuh

yang datang menyerang.

Tetapi Yu Lee menyelinap keluar dan berlari ke

ruangan depan. Melihat peti mati terbuka ia lari

mendekati dan menjenguk ke dalam peti mati.

“Kong- kong, ah, kong-kong …….. ada orang

…….. yang mengganggu tempat tidurmu, kenapa

kau tidak pukul mereka? Kong-kong, kau ……..

sudah ….. kau sudah mati …… ” anak itu menangis

keras. Kemudian ia menengok ke arah mereka yang

berkelahi.

Ia baru mempelajari dasar-dasar ilmu silat

maka tidak tahu bagaimana keadaan ayah dan

kedua pamannya. Hatinya ingin membantu namun

ia dimarahi ayahnya. Kemudian ia berlari masuk

dan tak lama kemudian kembali sambil membawa

tiga batang pedang.

“Ayah,Paman! Mari gunakan pedang memukul

penjahat !” teriaknya.

Memang Yu Kai den kedua adiknya sudah

terdesak, rnaka teriakan ini mengingatkan mereka.

Juga teriakan anak itu menarik perhatian kedua

orang lawan sehingga ketiganya mendapat

kesempatan mundur.

“Lee-masuklah!” seru Yu Kai setelah menerima

pedangnya. Kemudian bersama adik-adiknya ia

sudah meloncat maju lagi menghadapi lawan. Kimto

Cia Koan Hok tertawa lalu menghunus goloknya

27

yang mengeluarkan sinar menyilaukan. Itulah Kimto

golok emas yang membuat namanya terkenal.

Sepuluh tahun yang lalu Kim-to Cia Koan Hok

terkenal sebagai seorang perampok yang ganas,

disamping isterinya Bi-kiam Souw Kwat Si yang

memiliki ilmu kepandaian setingkat dengan

suaminya. Akan tetapi semenjak suami isteri ini

roboh di tangan Yu kiam-sian, mereka menghilang

dari dunia kang ouw tidak mendengar lagi nama

mereka.

Melihat suaminya menghunus golok emasnya,

Bi-kiarn Souw Kwat Si tertawa. Suara ketawanya

merdu.

“Eh-eh, untuk menghajar anak.anak ini

perlukah menggunakan senjata?”

Akan tetapi tiba-tiba wanita ini meloncat ke

samping, menghindarkan diri dari serangan pedang

yang gerakannya cepat dan kuat. Ia terkejut

melihat serangan Yu Kai ini dan ia tahu bahwa

menghadapi pedang lawan ini, ia tidak boleh main

main, cepat tangan kanan.nya tergerak dan “sring

!” sebatang pedang sudah berada di tangannya.

Mendiang Yu Tiang Sin terkenal karena ilmu

pedangnya sehingga ia mendapat julukan Dewa

Pedang. Sayang bahwa ketiga puteranya kurang

berbakat hingga belum dapat mewarisi seluruh

kepandaiannya. Apa lagi ilmu pedangnya yang luar

biasa amat sukar dipelajari, putera-puteranya

belum dapat menguasai sepersepuluh bagian ilmu

ini. Ilmu pedang yang mengangkat nama Yu Tiang

Sin ini disebut Ngo-heng-lian-hoan.kiam.

28

Ilmu pedang ini berdasarkan Ngo-heng yaitu

lima unsur yang saling menghidupkan dan saling

mematikan (api-air-kayu-logam-tanah) maka di

datamnya mengandung perobaban.perobanan yang

tidak terduga, dan penggunaan tenagapun

berselang-saling tenaga Yang-kang (tenaga kasar)

dan Im-kang (tenaga lemas).

Sipat inilah yang membuat Ngo-heng lian hoan

kiam sukar dipelajari, dan hanya dapat dipelajari

oleh orang yang sudah tinggi tenaga lweekangnya,

semua terdiri dari seratus tujuh puluh duajurus,

dibagi dalam tiga tingkat.

Tiga orang putera Dewa Padang itu hanya

menguasai dua puluh jurus saja, tingkat

pertamapun belum habis.

Namun setelah mereka memegang pedang

ternyata keampuhan ilmu pedang Ngo-heng-tian

hoan-kiam mengagumkan. Tiga batang pedang itu

mengeluarkan angin yang keras dan begitu

menerjang maju, suami isteri itu terhuyung ke

belakang ! Sayang sekali ketiga saudara yang

mempunyai ilmu pedang hebat itu belum

mempunyai tingkat selanjutnya, hingga mereka

hanya mampu mendesak tanpa mampu

memperoleh kemenangan. Karena pada dasarnya

mereka memang kalah tenaga dan kalah

pangalaman. Setelah suami itu bertahan puluhan

jurus, mereka bertiga mulai terdesak!

“Ha ha ha ! Begitu sajakah ilmu pedang anakanaknya

si Dewa Pedang? Kalau sungguh tak tahu

malu si tua bangka she Yu berani menggunakan

juIukan Dewa Pedang !” seru Kim-to Cia Koan Hok

29

yang telah menyelami tingkat kepandaian lawan.

Iapun lalu menggelakkan kim-to sambil

mengerahkan tenaga, membabat pedang Yu Liang.

“Trang!” Pedang Yu Liang terlempar dan

berbareng dengan itu pedang Yu Goanpun

terlempar oleh pedang Bi-kiam Souw Kwat Si,

Tidak hanya di situ gerakan suami isteri ini. Golok

dan pedang berkelebat dan Yu Liang bersama

adiknya roboh dengan pundak dan paha terluka.

Untung mereka masih bisa berkelit, kalau tidak

tentu binasa. Lukanya tidak berat namun cukup

membuat mereka tidak bisa melawan lagi.

Yu Kai menggigit bibir dan memutar pedang

cepat sekali. Sedikitpun ia tidak mundur meskipun

suami isteri itu bukan tandingannya. Ketika

pedangnya meluncur dengan lingkaran besar, dari

kanan kini golok emas dan pedang lawannya

mengurung kemudian menjepit. Ia masih berusaha

mengerahkan tenaga ke tangannya lalu

menggetarkan pedang supaya ter]epas, namun siasia

bahkan terdengar suara “krek!” dan tahu tahu

pedangnya patah menjadi dua, ia hendak meloncat

mundur namun terlambat, karena pedang wanita

itu telah menyambarnya, sehingga pakaian dan

kulit di pangkal lengan kirinya terbabat sedikit.

Darah keluar dan tubuh Yu Kai terhuyunghuyung

ke belakang.

“Ayah!” Sesosok bayangan kecil berkelebat dan

tahu-tahu Yu Lee sudah berdiri di depan

orangtuaya melindurigi ayahnya dan menantang

suami isteti itu dengan air mata bercucuran, tetapi

muka dan dadanya diangkat, sedtkitpun tidak

30

takut. “Jangan bunuh ayahku ! Hayo, kalau kau

betul-betul gagah, boleh bunuh aku !” teriaknya

dengan nyaring.

“Huh !” Kim-to Cia Koan Hok mendengus. “Aku

tak butuh kepala kecilmu, yang aku butuhkan

kepala Yu Tiang Sin.” Ia tidak memperdulikan Yu

Lee dan melangkah ke arah peti mati dengan golok

di tangan. Ia agaknya hendak momenggal kepala

jenazah Yu Tiang Sin dan hendak membawanya

pergi.

“Tidak boleh ganggu kongkong !” Yu Lee

berteriak sarnbil maju, lalu memukul perut Kim.to

Cia Koan Hok.

“Lee jie mundur !” teriak Yu Kai kaget. Namun

terlambat, karena tahu-tahu kaki bekas perampok

ini menendang.

Tubuh Yu Lee terlempar ke atas dan masih

bagus baginya, karena Kim to Cia Koan Hok yang

merasa kagum melihat keberanian bocah ini tidak

mau menendang untuk membunuhnya, melainkan

hanya melontarkan tubuh anak itu dengan kaki.

“Omitohud!” Tiba-tiba terdengar suara

menyebut nama Buddha dan sebatang tongkat

bergerak menerima tubub Yu Lee, menahannya

hingga tidak sampai terbanting keras di tanah.

Ternyata Tho-tee.kong tiong Losu yang

menolongnya itu.

Adapun si Golok Emas dengan beringas terus

membacokkan goloknya ke arah leher jenazah Yu

Tiang Sin.

“Trang !”

31

Si Golok Emas terkejut sekali karena goloknya

tertahan dan hampir saja terlepas dari

pegangannya. Ketika melihat bahwa yang

menangkis goloknya adalah seorang tosu yang

memegang pedang buruk, ia cepat mundur sambit

menjura dengan hormat dan berkata, “Mohon

tanya, siapakah totiang dan mengapa mencegah

aku membalas sakit hati yang sudah terpendam

sepuluh tahun lamanya ?”

Penangkis golok itu ternyata Siauw bin-mo Hap

Tojin. Mendengar pertanyaan itu ia tertawa

bergelak.

“Ha- ha- ha, bocah sombong sungguh tidak

tahu diri. Dengan kepandaianmu yang cetek ini

bagaimana kau berani menghina jenazsh Yu Tiang

Sin? Sedangkan pedang bututku inipun belum

dapat menandingi Dewa Pcdang. Apa lagi golokmu

pemotong babi itu! Aku Siauw-bin.mo paling tidak

suka melihat bocah sombong!”

Kim-to Cia

Koan Hok tentu

saja pernah

mendengar

nama ini, diam

diam ia terkejut.

Tapi ia tidak

takut. Karena

tahu bahwa

tosu ini

membela musuh

besarnya. Ia lalu

memutar

32

goloknya, rnenyerang dengan dahsyat,

“Ha-ha ha . … . manusia tidak tahu diri!”

Hap Tojin tertawa, pedangnya berkelebat dan

sekali lagi terdengar suara beradunya senjata,

disusul seruan kaget Kim to Cia Koan Hok karena

goloknya terlepas dari tangannya. Dengan muka

merah saking geram dan mainnya ia mengambil

goloknya- Dan tanpa perdulikan lawan yang

mentertawakan ia kemudian menerjang lagi dengan

hati-hati. Melihat lihainya tosu yang bertanding

melawan suaminya. Souw Kwat Si segera meIoncat

maju hendak membantu.

Akan tetapi tiba-tiba sebatang tongkat telah

meluncur ke depan kakinya. Bi-kiam Souw Kwat Si

memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang

tinggi, namun karena tidak rnenyangka sama

sekali, kakinya terjegal dan ia terhuyung-huyung

hampir jatuh. Baiknya ia cepat mematahkan

dorongan ini dengan meloncat ke alas hingga dapat

menguasai kembali keeimbangan tubuhnya.. Cepat

ia memutar tubuh sambil rnenyabetkan pedang.

Kiranya di belakangnya berdiri seorang hvvesio

gendut yang tengah memandangnya. Hwesio ini

menggeleng-gelengkan kepala, menarik napas

panjang dan berkata.

*Orang sudah mati masih dicari hendak

diganggu. Sungguh merupakan dosa besar.

Sebelum terlambat mengapa tidak insaf dan pergi

agar tidak menumpuk dosa ?”

Bi kiam Souw Kwat Si tahu bahwa hwesio

gundul inipun yang tadi menghalanginya dengan

33

tongkat panjang itu. Ia marah sekali, “Hwesio

gundul! Tugasmu hanya menyembabyangkan si

mati agar rohnya dapat pengampunan di akherat.

Sekarang mengapa engkau ikut campur urusan

kami?”

“Omitohud! Pinceng tidak mencampuri urusan

kalian, hanya memberi nasehat kepada toanio

(nyonya) agar jangan tersesat. Orang berdosa yang

insyaf akan dosanya kemudian bertobat, itulah

jalan yang baik. Akan tetapi apa bila orang berdosa

itu seakan-akan tidak tahu dosanya dan

melanjutkan kesalahannya yang dikiranya benar,

aduh sangat kasihan sekali orang semacam itu.”

“Ha-ha-ha Tho-tee-kong, apa kau mau

berkhothah?” tiba tiba Hap Tojin yang masih

melawan si Golok Emas tertawa seenaknya.

Mendengar disebutnya julukan hwesio ini

nyonya itu kaget dan tahu bahwa hwesio itu bukan

orang sembarangan dan rnenjadi musuh para

penjahat. Maka tanpa banyak cakap lagi

pedangnya berkelebat menusuk ke arah

tenggorokan hwesio itu.

Tho-tet-tong tidak mengelak, dan begitu pedang

sudah dekat dengan lehernya, tongkatnya menotok

ke depan dengan gerakan cepat sekali.

Bi- kiam Souw Kwat Si terkejut. Kalau ia

meneruskan serangannya, tongkat lawan tentu

akan lebih dulu menghantam pangkal lengannya

yang memegang pedang. Terpaksa ia mengelak

sambil menarik lengannya dan dari samping ia

membabatkan pedangnya ke arah pinggang lawan.

Gerakan ini selain indah juga dahsyat dan

34

berbahaya. Inilah yang disebut jurus Sin-liongtianw-

wi (Naga Sakti Menyabatkan Ekor) cepat dan

kuat gerakannya.

“Omitohud …….. pedangmu ganas sekali!” Seru

si hwesio kagum. Dari gerakan ini terbukti bahwa

nyonya ini benar-benar memiliki kepandaian yang

tinggi.

Tidak heran kalau putera-putera kakek Yu

bukan lawan suami isteri ini. Karena sambaran

pedang itu berbahaya. Tho-tee.kong lalu menekan

tongkat ke lantai dan tubuhnya loncat ke atas, di

belakang tongkat.

“Trang !” pedangnya itu menghantam tongkat

dan membalik. Nyonya itu kaget, telapak

tangannya serasa diiris pisau. Celakanya pada saat

itu, tongkat lawan menyambar ke arah kepalanya.

Tongkat itu mempunyai hiasan kepala naga

yang kini akan menyarnbar batok kepala. Nyonya

muda itu mengeluarkan keringat dingin, terpaksa

ia membuang diri ke atas lantai terus bergulingan.

Celaka baginya, tongkat itu terus membayangi

kepalanya, hanya terpisah satu kaki jauhnya. Bikiam

Souw Kwat Si menggigit bibir mengerahkan

tenaga lain membabatkan pedang ke kepala

tongkat. Terdengar suara keras dan tubuhnya

mencelat ke belakang.

Kiranya pedangnya telah patah dua, dan

bersamaan pula pada saat itu terdengar suara

Siauw bin-mo Hap Tojin tertawa bergelak dan

berkata.

‘Pergilah !”

35

Tahu-tahu tubuh Kim-to Cia Koan Hok

melayang dan hampir saja menimpa tubuh

isterinya yang baru saja dapat menguasai

keseimbangan badannya.

Seperti isterinya, si golok emas tak berdaya

menghadapi lawan. Goloknya dibikin terpental oleh

Siauw-bin-mo dan lenyap entah ke mana. Kini

suarni isteri itu berdiri dengan pucat Rasa marah,

malu dan duka bercampur aduk menjadi satu.

Sepuluh tahun lebih mereka melatih diri

dengan tekun sehingga memperoleh kemajuan

pesat. Rasa dendam disimpan di dalam hati selama

sepuluh tahun. Kini mereka hanya bertemu dengan

peti mati musuh besarnya, kekecewaan ini saja

sudah hebat. Sekarang ditambah lagi kenyataan

bahwa jerih payah mereka ini sia-sia belaka.

Menghadapi dua orang sahabat musuh besarnya,

mereka tidak mampu berkutik ! Hati siapa takkan

menjadi malu, penasaran dan berduka ?

“Sudahlah !” Kim to Cia Koan Hok membanting

kakinya, lalu mengajak pergi isterinya. Mereka

meloncat dan lenyap dalam kegelapan malam,

Setelah mengobati luka-lukanya. Yu Kai dan

adik-adiknya lalu membetulkan penutup peti mati

memasang paku baru. Isteri dan anak anak

mereka baru berani keluar setelah musuh terusir

pergi. Kemudian dipimpin oleh Yu Kai mereka

berlutut di depan tosu dan hwesio itu untuk

menghaturkan terima kasih.

“Maafkan bahwa teecu menyambut jiwi

locianpwe (dua orang gagah) kurang hormat

kiranya jiwi adalah dua orang penolong besar yang

36

tidak saja sudah melindungi kehormatan keluarga

teecu sekalian juga menolong keselamatan teecu

bertiga.”

“Ornitohud …….. tidak ada urusan tolongmenolong.

Yu sicu yang sudah meninggal dunia

adalah sahabat baik pinceng, sehingga keluarganya

sama dengan keluarga pinceng sendiri. Disamping

itu perbuatan jahat memang harus dicegah.

Pinceng hanya memenuhi kewajiban belaka,” jawab

Tho-tee kong Liong Losu yang segera mengangkat

bangun tubuh Yu Kai.

“Ha-ha-ha…….. dua ekor anjing itu apa artinya?

Dikhawatirkan datangnya srigala yang lebih

berbahaya. Siapa tahu ? Yu Loheng dahulu di

waktu hidupnya terkenal seorang yang usil

tangannya, suka sekali mencampuri urusan orang

lain, sehingga musuh-musuhnya tidak terhitung

berapa orang banyaknya. Betapapun juga karena

pinto (saya) yakin dan percaya dia berada di fihak

yang benar, maka pinto tidak akan tinggal diam

kalau ada orang yang berani mengganggu

jenazahnya.”

Yu Kai kembali menghaturkan terima kasih.

Setelah peti mati ditutup rapat, kembali mereka

menjaga peti mati. Yu Lee menambah dupa di

perapian lalu terdengar suaranya berkata perlahan,

“Kongkong, sayang orang-orang jahat dapat

datang setelah kau pergi ! Kalau kau masih hidup

dan menghajar mereka, alangkah akan senangnya

aku menonton.” Bicara sampai di situ Yu Lee

teriugat lagi kepada kakeknya yang setiap hari.

mengajaknya jalan di waktu fajar menyingsing,

37

kakek yang amat sayang kepadanya dan yang

menjadi teman bermain-main baginya. Tidak

tertahankan lagi iapun lalu menangis.

“Heh-heh, cengeeeeng !” Hap Tojin mengejek.

“Bocah cengeng, kau sepatutnya menjadi murid

Tho-tee kong. Sama.sama cengengnya, cocok

benar!”

“Siauw kongcu ini berbakti dan mengenal kasih

sayang. Mengapa kau rnencela to-yu?” kata si

hwesio yang sudah duduk kembali menghadapi

meja, menyandarkan tongkatnya yang berat di

pundaknya.

“Lee-jie diamlah! Kau menangis saja tiada

hentinya !” Bentak Yu Kai kepada puteranya.

Yu Lee memandang ayahnya dengan sinar mata

sedih. “Ayah, kalau kongkong hidup lagi aku tidak

akan menangis……. “

Pada saat itu, terdengar suara melengking di

udara, suara yang bernada tinggi. Seakan-akan

ada sesuatu terbang di angkasa lalu perlahanlahan

turun dan mengitari tempat itu. Suara

melengking makin nyaring seperti rintthan, Yu Lee

menangis makin mengguguk seakan akan

terdorong oleh suara lengking yang menyeramkan

itu.

Yu Kai dan kedua adiknya saling pandang,

kemudian bulu tengkuk mereka meremang karena

lengkingan nyaring itu mengguncang jantungnya.

Ketika mereka melirik ke arah berdirinya dua

orang pendeta, keduanya sudah berhenti bercakapcakap,

bahkan kini sudah duduk diam dan

38

mengatur pernapasannya seperti orang sedang

mengerahkan lweekang.

“Celaka !” Bawa masuk anak-anak !” teriak Yu

Kai. Dan saat itu anak anak mereka telah roboh

terguling, setelah tadi menutup telinga yang terasa

ditusuk mendengar bunyi yang melengking itu.

Yu Liang dan Yu Goan sudah tidak kuat lagi

mengangkat anak anaknya yang roboh terguling

karena dirinya sendiri sudah menggigil.

Cepat-cepat mereka rneniru perbuatan Yu Kai,

duduk bersila sambil mengatur napas dan

mengerahkan tenaga lweekangnva untuk menahan

serangan hebat yang timbul dari getaran suara itu.

Namun, hampir saja mereka tidak kuat

menahan dan kini mata mereka sudah bercucuran

air mata, terbawa oleh lengking yang mengerikan

itu.

Tubuh mereka sudah bergoyang goyang dan

hampir roboh.

`Omitohud!” Tho tee-kong Liong Losu memuji

nama Buddha dan kakek inipun sudah bersila

sambil memeramkan mata dan mulutnya

berkemak-kemik membaca doa.

“Siancai!” Sauw-bin-mo Hap Tojin juga sudah

bersila dan mengatur pernapasan, kemudian ia

mengetuk-ngetukkan guci araknya untuk

menimbulkan suara nyaring melawan lengking

tangis itu.

Tapi yang mengherankan adalah Yu Lee. Bocah

ini masih saja menangis dan tangisnya amat hebat

39

tersedu-sedu dan sesenggukan. Akan tetapi ia

tidak segera roboh pingsan seperti saudara

saudaranya yang lain. Apa sebabnya bisa demikian

?

Seperti diketahui, Yu Lee tiada hentinya

menangis setelah kakek yang disayangnya itu

wafat. Dia merasakan hatinya sedih bukan main

dan tangisnya itu memang sudah sewajarnya.

Adapun lengkingan tangis yang terdengar itu

mengandung pengaruh luar biasa dan

menyedihkan sekali.

Bagi mereka yang mendengartan suara

lengkingan ini, langsung terserang perasaannya

hingga jantungnya terasa ditusuk-tusuk. Akan

tetapi kesedihan Yu Lee juga merupakan kesedihan

luar biasa, tidak sama dengan kesedihan manusia

yang hanya lumrah. Kesedihannya ini membuat

anak itu lupa akan segala-galanya.

Seluruh perasaannya tercurah di dalam

kedukaan sehingga hal-hal yang lain tidaklah

begitu dirasakannya.

Inilah sebabnya mengapa lengkingan tangis itu

tidak mempeagaruhi dirinya secara hebat, makin

sedih hatinya serta keras tangisnya makin

membuat dia terbebas dari pada pengaruh suara

lengkingan yang sangat mengerikan itu.

Tiga orang saudara Yu sudah hampir tak kuat

bertahan lagi. Wajah mereka sudah pucat dan

berkeringat. Tiba-tiba suara lengkingan itu

berhenti, suasana di tempat itu menjadi sunyi

sekali. Hanya terdengar tangis Yu Lee yang

mengguguk.

40

Sewaktu Yu Kai mau menegur puteranya tibatiba

terdengar suara gedubrakan ketika dua tubuh

manusia dilempar dari luar menimpa meja

sembahyang.

Ketika semua orang melihat, ternyata itu adalah

si golok emas Kim.to Cia Koan Hok dan isterinya,

tubuhnya kini telah menjadi mayat ! Kemudian

terdengar sebuah suara dari kegelapan,

“Yu Tiang Sin, aku datang akan menagih

hutang ! Seluruh keluarga Yu harus aku tumpas

habis, Semua anjing dan kucingnya, semua

pelayan dan tamu-tamunya tak satupun boleh

lolos.

Itulah suara seorang wanita yang sangat merdu

namun membuat bulu tengkuk berdiri. Yu Kai dan

kedua adiknya sudah melompat bangun

menyambar pedang dan mencelat, kedepan pintu

untuk menyambut musuh yang mengerikan ini.

Musuh yang datang kali ini benar-benar luar biasa

dan agaknya hendak membuktikan ancamannya,

yaitu menumpas habis seluruh isi rumah keluarga

Yu. Sebagai bukti Kim-to Cia Koan Hok dan Bikiam

Souw Kwat Si yang baru saja keluar telah

terbunuh dan mayatnya dilemparkan kembali

masuk ke rumah keluarga Yu !

Dapat membunuh suami isteri bekas perampok

itu dalam sekejap dan tanpa menimbulkan suara

benar-benar membuktikan kehebatan tamu aneh

itu. Namun untuk melindungi keluarganya, Yu Kai

dan adik-adiknya tidak merasa takut dan bersiapsiap

untuk melawan dengan taruhan nyawa.

“Sicu, hati.hatilah !”

41

Tampak dua bayangan berkelebat, ternyata

kedua orang hwesio itu telah berdiri di samping

tiga orang she Yu itu untuk membantu mereka.

Dua orang tokoh tua itu adalah orang. orang sakti

akan tetapi kali ini wajah mereka diliputi

ketegangan karena mereka maklum bahwa yang

datang kali ini benar-benar merupakan lawan yang

berat !

Tiba-tiba terdengar jeritan-jeritan ngeri dari

dalam rumah. Tiga saudara Yu rnenjadi pucat.

Cepat mereka menengok dan saat itu dari pintu

dalam muncul pelayan wanita yang tubuhnya

berlumuran darah. Pelayan itu terhuyung-huyung

ke depan, lalu serunya.

“Toaya (tuan)…….. celaka, aemua ….. semua

dibunuh…….. ” sampai di situ ia terguling dan

putus nyawanya.

“Celaka ! Musuh menggunakan memancing

harimau keluar dari sarang !” teriak Tho-te-kong

Liong Losu.

Yang disebut siasat memancing harimau keluar

dari sarang adalah siasat perang yang maksudnya

memancing keluar penghuni atau pun penjaga

kota, sehingga kotanya sendiri menjadi tidak

terjaga dan mudah diserang dari lain jurusan.

Agaknya tamu aneh yang datangnya ditandai

dengan lengking tangis ini sengaja memancing

perhatian mereka dari depan, lalu diam-diam

mengambil jalan memutar terus masuk ke

belakang rumah dan begitu masuk terus

melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap

wanita, anak-anak dan semua pelayan yang berada

42

di bagian belakang daIam rumah itu. Tidak hanya

keluarga dan pelayan, tetapi bahkan segala macam

binatang peliharaan seperti ayam, burung, anjing

dan kucing yang berada di belakang rumah ini,

semuanya dibunuh tanpa ampun lagi.

Mendengar teriakan Tho-tee-kong Liong Losu,

tiga orang saudara Yu seperti berlomba lari ke

dalam. Akan tetapi, mereka berhenti dan terbeliak

memandang orang yang keluar dari pintu dalam.

Dia seorang wanita. Usianya kurang lebih

empat puluh tahun. Wajahnya masih cantik dan

kulit mukanya putih sekali sampai seperti tidak

ada darahnya. Pakaiannya serba hitam dari sutera

tipis sehingga tersorot lampu tampak membayang

pakaian dalamnya yang serba putih.

Tangan kirinya memegang sebatang suling

hitam. Wanita ini berjalan keluar dari dalam

rumah dengan langkahnya perlahan, namun

langkah dan lenggang-lenggoknya seperti seorang

wanita, yang genit sekali. Melihat tiga orang

saudara yang datang dengan membawa pedang di

tangan, wanita itu segera tertawa, akan tetapi

betapa aneh suara ketawanya seperti anak

menangis !

“Huh Huh huh, tua bangka. Yu Tiang Sin !

Biarpun sudah menjadi mayat tetapi tentu

arwahmu dapat melihat betapa malam ini aku

berhasil membasmi seluruh isi rumahmu termasuk

juga para tamu-tamumu, hik-hik, hu. hu-hu !”

Tadinya ketika melihat munculnya wanita ini,

Yu Kai dan adik-adiknya masih ragu apakah benar

wanita ini yang muncul dengan lengking tangis

43

yang mengerikan dan kemudian membunuhi

seluruh isi rumah dari belakang. Akan tetapi

setelah mendengar kata-kata wanita ini, mereka

membentak marah dan seperti orang-orang gila,

saking marahnya mereka menerjang dan

menyerang dengan senjatanya masing-masing.

“jangan sembrono !” seru Tho-tee-tong Liong

Losu.

“Awas mundur kalian !” berteriak pula Hap

Tojin.

Namun teriakan dua orang ini terlambat. Yang

nampak hanyalah gulungan sinar hitam yang

mengeluarkan bunyi melengking nyaring. Dan …….

tubuh tiga orang saudara Yu itu terlempar ke

belakang lalu terbanting dalam keadaan tak

bernyawa.

“Omitohud …… kejarn sekali..!”berseru Liong

Losu.

“Celaka !” teriak Hap Tojin.

“Hi-hi hik! Memang kalian akan celaka. Salah

kalian sendiri berada di dalam rumah celaka ini,

yang sudah terkutuk akan kematian semua

penghuninya!” dengan genit wanita itu berkata.

“Ah, wanita sesat ! Betapapun besarnya dendam

yang kau kandung, tidak semestinya kau

melakukan pembunuhan-pembunuhan yang keji

seperti ini. Apakah kau tidak takut dosa?”’ To-teekung

Lions Losu dengan suara keren menegur,

tongkatnya sudah melintang di dada.

44

“Tho-tee-kong, kalau iblis ini betul seperti yang

aku duga, kau percuma saja bicara tentang dosa

dengan dia. Eh, iblis betina yang keji dan ganas !

Betulkah engkau ini berjuluk Hek-siauw Kui-bo

(Iblis Betina Suling Hitam)?”

Wanita yang mengerikan ini memang benar

Hek-siauw Kui-bo. Dua puluh tahun yang lalu

sebagai seorang kang-ouw yang berilmu tinggi,

cantik dan berwatak cabul, dia berhasil memikat

hati seorang pangeran kerajaan Goan-tiauw yang

menjadi tergila-gila kepadanya dan terjalin

hubungan gelap di antara mereka berdua. Dalam

memikat hati pangeran ini, dia mempunyai citacita,

yaitu hendak membantu kekasihnya mencapai

kekuasaan sebesar.besarnya kelak kalau

kekasihnya mencapai tingkat tertinggi, ia isendiri

akan terangkat dalam kedudukan mulia dan tinggi!

Dia mencita-citakan agar supaya pangeran

kekasihnya itu kelak menjadi kaisar dan dia

sendiri menjadi seorang permaisuri.

Akan tetapi semua mimpi muluk ini menjadi

buyar dan hancur ketika pada suatu malam sang

pangeran penindas rakyat jelata ini tahu tahu telah

tewas dengan leher putus di dalam kamarnya.

Seperti biasa terjadi di waktu itu pembunuhnya

adalah Si Dewa Pedang Yu Tiang Sin yang pada

waktu itu masih sangat aktip dan bersemangat

dalam membasmi pembesar- pembesar Mongol

yang berbuat sewenang- wenang terhadap rakyat.

Hek-siauw Kui-bo menjadi marah sekali.

Berkali-kali ia berusaha membalas dendam dan

45

melawan si Dewa Pedang, namun selalu

mengalarni kegagalan.

Pedang di tangan Yu kiam-sian benar-benar

hebat dan tak terlawan oleh suling hitamnya.

Belasan kali ia kalah dan ia tidak sampai tewas

oleh karena selalu Si Dewa Pedang melepaskannya

dan menganggapnya hanya seorang perempuan

cabul yang merasa kecewa karena kekasihnya

terbunuh.

Sama sekali Yu Tiang Sin tak pernah bermimpi

bahwa bukan hanya itu saja yang menjadi sebab,

melainkan lebih dalam lagi. Ia telah

menghancurkan cita-cita muluk si iblis betina !

Hek-siauw kui-bo lebih memperdalam ilmunya

dan di dunia persilatan namanya terkenal sebagat

iblis betina yang kejam sekali dan amat ganas.

Namun sudah bertahnn-tahun iblis betina ini

tidak menantang Yu-kiam-sian. Ia menjadi lebih

hati-hati dan menggembleng diri untuk

pembalasan-pembalasan dendam. Dan akhirnya ia

mendengar kematian musuh besarnya. Dapat

dibayangkan betapa kecewa hatinya mendengar hal

itu. Ia segera mengunjungi dusun Ki-bun dan

mengambil keputusan untuk membasmi semua

keluarga musuh besarnya untuk melampiaskan

dendam hatinya.

Ketika iblis wartita ini mendengar kata- kata

dua orang tamu musuh besarnya dan mendengar

Siauw-bin-mo Hap Tojin menyebut namanya, dia

memandang lebih tajam dan penuh perhatian.

46

Tadi ketika ia datang, ia sudah menyaksikan

betapa suami isteri yang agaknya juga hendak

membalas dendam dikalahkan oleh dua orang

pendeta ini. Untuk mamenuhi keputusan hatinya,

karena suami-isteri itu jaga pada saat ia datang

telah menjadi tamu pula, maka untuk menarnbah

keangkerannya. dia menyambut mereka di luar,

dan hanya dengan sekali menggerakkan sulingnya

saja ia telah berhasil membunuh suami-isteri yang

bernasib sial itu, kemudian melernparkan mayatmayat

itu ke pekarangan depan.

‘Hemm, tosu bau ! Tahu dari manakah kau

telah mengenal nyonya besarmu?” bentak wanita

itu.

“Ha-ha-ha-ha, nama buruk dan kotor itu

siapakah yang tidak pernah mendengarnya ? Heksiauw

Kui-bo ! Boleh jadi dunia kang-ouw

menggigil mendengar namamu, akan tetapi pinto,

Siauw-bin-mo Hap Tojin selamanya paling benci

kepada wanita kejam ! Kau telah membunuh

orang-orang yang tidak berdosa, hanya karena kau

merasa penasaran dahulu berkali-kali dihajar

setengah mampus oleh Yu Tiang Sin. Hayo

sekarang kau coba bunuh kami berdua Tho teekong

Liong Losu dan Siauw-bin-mo Hap Tojin, dua

orang sahabat baik Yu Tiang Sin !”

“Hu-hu-hu-hu ! Kiranya kalian dua orang

keledai yang sedikit terkenal namanya. Tidak usah

kau minta, memang nyonya besarmu bermaksud

akan membunuh kalian berdua !” Baru saja habis

ucapan ini, sudah tampak gulungan sinar hitam

47

menyambar ke depan, langsung menyerang ke arah

ulu hati si hwesio dan tenggorokan si tosu.

Dua orang pendeta yang berilmu tinggi ini

terkejut sekali. Biasanya, betapapun ringan senjata

lawan. kalau dipergunakan untuk menyerang,

tentu menimbulkan kesiuran angin.

Akan tetapi serangan wanita ini sarna sekali

tidak menimbulkan angin, juga tidak

mengeluarkan suara dan hal ini hanya dapat

dilakukan oleh orang yang telah mencapai ilmu

lweekang yang luar biasa tingginya. Namun mereka

bukan orang lemah, diserang sehebat dan secepat

itu mereka masih dapat menggerakkan senjata

masing-masing untuk melindungi tubuh.

Hebatnya, suling itu tidak jadi menyerang ke

sasaran semula, melainkan menyeleweng dan kini

secara langsung tanpa gerakan memutar telah

menotok ke arah pusar si tosu dan ke lambung si

hwesio!

Kembali dua orang ini terkejut setengah mati, ia

lalu melompat ke belakang untuk mengelak sambil

memutar senjata.

Sementara itu Yu Lee yang tadinya menangis

menggerung-gerung dan makin mengguguk oleh

pengaruh suara suling melengking seperti tangis,

begitu suara lengking berhenti tadi, tangisnyapun

berkurang dan mulailah ia memperhatikan

keadaan sekeliling.

Ketika ayahnya dan kedua orang pamannya

menyerbu iblis betina itu, ia sudah menyelinap dan

lari ke dalam rumah karena ia melihat si pelayan

yang mengatakan sebelum roboh bahwa semua

48

telah dibunuh iblis. Yu Lee rnenghawatirkan nasib

ibunya maka ia lari ke dalam.

Dapat dibayangkan betapa ngeri dan seperti

disayat-sayat pisau rasa hatinya ketika ia melihat

keadaan di dalam dan di belakang rumah orang

tuanya, ibunya. Para bibinya, saudara-saudara

misannya, para pelayan, ayam, burung, kucing,

dan anjing semuanya mati. Semua mati dalam

keadaan menyeramkan, mandi darah yang

bercucuran dari mulut dan muka mereka semua

berubah menjadi hitam.

Yu Lee menubruk ibunya, menjerit-jerit

menangis, lari sana lari sini, menubruk sana

menubruk sini, menangisi semua yang mati, tidak

sadar bahwa muka dan bajunya sudah mandi

darah mereka.

Mengerikan sekali keadaan di dalam rumah

maut itu. Ayah bundanya, dua orang sandaranya,

dua orang pamannya, dua orang bibinya, tujuh

orang saudara misannya, empat orang pelayan

berikut semua kucing, anjing, ayam, burung,

semua mati ! Yu Lee setelah memeluk mayat

ibunya lalu bangkit berdiri dan dengan langkah

terhuynng-huyung ia berjalan keluar sambil

menangis.

“Iblis jahat, kau harus mengganti nyawa ……..

uhuu…….. uhu……!” Yu Lee berjalan terus sampai

di ruangan depan.

Pada saat itu pertandingan masih berjalan

dengan seru dan tegang Tho-tee-kong Liong Losu

memutar tongkatnya sampai terdengar angin

menderu-deru, sedangkan Sianw-bin-mo Hap Tojin

49

pedangnya berkelebatan seperti halilintar

menyambar.

Namun, mereka berdua yang memiliki ilmu

kepandaian yang tinggi ini ternyata tidak mampu

menahan desakan dan tindasan segulung sinar

hitam yang melayang-layang bergulung-gulung

membuat Iingkaran lingkaran aneh sambil

mengeluarkan bunyi melengking nyaring.

Suara inilah yang amat mengganggu kedua

orang pendeta itu dan mengacaukan permainan

senjata mereka. Maklum bahwa iblis itu bertanding

dengan maksud membunuh, Liong Losu dan Hap

Tojin mengerahkan seluruh tenaga mengeluarkan

seluruh kepandaian mereka. Setelah keduanya

bergabung dan membentuk benteng pertahanan

barulah sinar hitam dapat dibendung bahkan kini

mereka mendapat kesempatan untuk

menggunakan waktu membalas satu dua kali

serangan.

Kiranya letak rahasia kelihaian ilmu silat iblis

betina itu adalah jika ia diserang, karena ia

menghadapi setiap serangan lawan dengan balasan

serangan yang lebih cepat sehingga ia mendahului

lawan yang sudah terlanjur manyerang sehingga

pertahanannya lemah.

Setelah kini kedua lawannya mempertahankan

iblis betina itu sukar untuk menembus benteng

pertahanan lawan, malah ia menjadi agak repot

karena kedua orang panderi itu kini

menghadapinya dengan bekerja sama.

Jika Liong Losu, menyerang dengan tongkatnya

Hap Tojin yang melakukan pertahanan dan

50

sebaliknya. Jika iblis betina itu tertalu hebat

serangannya mereka berdua melakukan

pertahanan bersama.

‘Pada saat yang tak terduga-duga, terdengar

jerit kemarahan dan tahu-tahu Yu Lee sudah

meloncat dan menubruk iblis betina itu dari

belakang merangkul leher dan tengkuknya.

“Aduh…… ! Eh, monyet kau minta mampus ??”

Hek-siauw Kui-bo berteriak dan semua bulu di

tubuhnya berdiri saking geli dan jengah.

Akan tetapi ketika ia hendak menggunakan

suling atau tangan kiri untuk menghantam anak

yang menggemblok di punggung merangkul leher

dan menggigit tengkuknya dua orang pendeta itu

sudah mendesaknya dengan hebat.

Liong Losu dan Hap Tojin yang melihat

kenekatan Yu Lee. menjadi khawatir sekali setelah

seluruh keluarga sahabat mereka dibasmi habis

dan kebetulan sekali Yu Lee terlewat dan masih

hidup, mereka berdua harus berusaha sedapat

mungkin untuk menolong.

Keturunan Yu Tiang Sin yang tinggal seorang

ini harus diselamatkan. Mereka tahu bahwa sekali

anak itu terkena hantaman tangan kiri atau suling

iblis betina itu, tentu nyawanya takkan dapat

ditolong lagi. Olehkarena tanpa mempedulikan

keselamatan sendiri, kedua orang pendeta itu

melupakan pertahanan bersama, kini melakukan

serangan bersama dengan dahsyat sekali.

Iblis betina itu benar benar hebat. Selain

ilmunya amat tinggi, juga ia cerdik luar biasa.

51

Perhatianuya tadi telah terpecah kepada anak yang

menggigit tengkuknya sehingga serangan dua

orang lawannya itu kini benar-benar amat

berbabaya.

Secepat kilat ia lalu membalikkan tubuhnya

sehingga tubuh itu kini terlindung oleh tubuh Yu

Lee yang menggemblok di punggung! Tentu saja

Hip Tojin dan Liong Losu kaget sekali dan menarik

senjata masing-masing agar jangan mencelakakan

Yu Lee.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Hek-siauw

Kui-bo untuk mengerahkan tenaga menggerakkan

pinggulnya keras-keras dan…… tubuh Yu Lee

mental terlempar cepat ke arah dinding dekat pintu

depan. Dapat dibayangkan betapa tubuh itu tentu

akan hancur dan setidak-tidaknya remuk tulangtulangnya

terbentur begitu kerasnya pada dinding.

“Celaka…….. !” seru Hap Tojin yang tak keburu

menangkis lagi. Ia merendahkan diri mengelak.

Juga Liong Losu berusana menyelamatkan diri

dengan sebuah loncatan ke samping. Namun

gerakan mereka tak dapat mengatasi kecepatan

sambaran suling hitam. Hap Tojin yang

merendahkan tubuh, terkena totokan pada

pundaknya, sedangkan pada detik berikutnya,

Liong Losu yang meloncat ke samping telah

tertotok pinggiran pinggulnya.

Memang totokan itu tidak mengenai sasaran

yang tepat, namun kehebatannya cukup membuat

dua orang jago tua itu roboh pingsan!

52

Tubuh Yu Lee melayang dan tentu kepalanya

bisa pecah karena ia meluncur dengan kepala di

depan menuju ke pintu.

Akan tetapi pada saat anak ini sudah

memejamkan mata menanti maut tiba-tiba sebuah

lengan kurus terulur dan di lain saat tubuh Yu Lee

telah diturunkan dengan selamat ke atas lantai.

‘Kau duduklah di sini dan lihat aku menghajar

iblis itu!” Kata seseorang yang bukan lain adalah si

kakek pengemis bertopi lebar yang sore harinya

baru saja datang berkunjung sebentar bukan

untuk berkabung atau mangernis, kemudian

mencela perdebatan antara Hap Tojin dan Liong

Losu lalu pergi lagi. Dari bawah topi lebar itu Yu

Lee melihat sepasang mata yang memandangnya

dengan tajam, penuh pengaruh luar biasa sehingga

sebelum ia tahu apa yang harus ia lakukan,

tubuhnya sudah mendeprok ke bawah dan duduk

di atas lantai seakan-akan tubuhnya itu tidak

dapat ia kuasai lagi, melainkan tunduk akan

perintah kakek pengemis ini.

Kini kakek pengemis itu dibantu tongkatnya

yang butut terseok-seok maju menghampiri iblis

betina yang sibuk menggosok-golok tengkuknya.

Tengkuk yang berkulit putih halus itu robek dan

berdarah oleh gigitan Yu Lee.

Begitu banyak darahnya mengucur keluar

sampai membasahi baju hitam di bagian leher dan

punggung. Melihat ini Hek-siauw Kui-bo menjadi

marah sekali.

“Hemnam, masih terlewat seorang cucu tua

bangka Yu yang ganas seperti monyet ? Tua

53

bangka Yu agaknya arwahmu yang menuntun

cucumu itu untuk melawan dan menghinaku.

Akan tetapi, dia ini akan mampus dalam keadaan

lebih mengerikan dari pada yang lain-lain !” Setelah

berkata_ demikian, perlahan-lahan Hek-siauw

Kut.bo memasukkau belasan batang jarum yang

halus sekali ke dalam suling hitamnya

mendekatkan suling ke mulut lalu meniupnya ke

arah Yu Lee yang masih duduk bersila di sudut

ruangan itu.

“Siuuttt !” Dari lubang suling itu tampak sinar

hijau berkelebat ke arah Yu-Lee. Akan tetapi

sebelum mengenai Yu Lee, sinar itu tiba-tiba

menyeleweng ke kiri dan semua jarum menancap

lenyap masuk ke dalam dinding sebelah kiri!

Hek-Siauw Kui-bo marah sekali, ia mengalihkan

pandang kepada kakek pengemis yang dengan

dorongan tangan berhasil menyelewengkan jarumjarumnya.

Hek-siauw Kui-bo adalah seorang tokoh

kang-ouw kenamaan ditakuti semua orang, karena

kelihaiannya maka ia menjadi sombong sekali.

Tadi ia tentu saja sudah melihat betapa anak

yang sudah menggigit itu ditolong oleh si kakek

pengemis ketika akan terbanting ke dinding. Akan

tetapi, ia sama sekali tidak memandang mata

kepada kakek itu dan barsikap seolah-olah kakek

pengemis itu tidak berada di situ.

JILID II

TADINYA ia mengira bahwa kakek itu menolong

Yu Lee karena kasihan, bukan bermaksud

54

memusuhinya. Akan tetapi setelah jarum-jarumnya

dipunahkan, baru ia maklum bahwa kembali ada

orang berani berlancang tangan dan mencari

mampus !

“’Hemmm jembel tua bangka yang busuk!

Untuk menyambung hidupmu, engkau rela

mengemis ke mana mana. Setelah hidupmu

tersambung mengapa sekarang menjadi bosan

hidup dan mencari mampus ? Tidak tahukah,

engkau dengan siapa engkau berhadapan ?”

Sikap wanita berwatak iblis ini angkuh sekali

dan ia tidak segera turun tangan memhunuh

karena ia merasa terlalu rendah dan memalukan

kalau harus membunuh seorang kakek yang

saking tuanya sudah mau mati ini.

Kakek pengemis itu memandang dari bawah

topinya yang tebar dan Hek-siauw Kui-bo bergidik

menyaksikan sinar mata yang begitu tajam dan

yang seakan-akan dapat menembusi mataya dan

menjenguk isi hatinya. Untuk mengusir rasa seram

ini ia segera menghardik.

“Tua bangka! Lekas mengaku siapa engkau dan

apa hubunganmu sama tua bangka she Yu, agar

aku dapat mengambil keputusan dahulu, setelah

mempertimbangkan apakah engkau layak dibunuh

atau tidak !” Benar-henar sombong kata-kata ini.

Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak

menjawab, bahkan segera mendekat dan menoleh

kepada Yu Lee sambil berkata.

“Bocah tahukah kau siapa dia yang membasmi

semua keluargamu ini?’

55

Yu Lae mengangkat muka memandang kepada

si iblis betina dengan sinar mata menyala-nyala

penuh kebencian, “Siapa lagi kalau bukan iblis

betina yang tadi namanya disebut Hek-siauw Kui

ho ini, locianpwe (orang tua gagah)?”

‘Engkau betul. Dia ini si iblis betina yang ganas

dan keji lagi pula pengecut dan hanya berani

membunuh orang-orang yang bukan lawannya.

Kebetulan sekali aku si tua bangka paling benci

segala macam iblis, maka telah menciptakan ilmu

tongkat Ta-kui-tung-hwat (Ilmu Tongkat Pamukul

Iblis)

Sejak tadi, dada Hak-siauw Kuibo serasa

dibakar saking panas dan marah. Ia tidak

mamandang sabelah mata kepada kakek jembel

itu, sekarang siapa kira, mendengar namanya

kakek ini bukannya takut, bahkan lebih-lebih tidak

memandang mata kepadanya, malah berani

menghina dan mcmakinya iblis cilik segala! Ia

seorang yang sombong dan angkuh, siapa kira di

tempat ini bertemu batunya. Kakek pengemis itu

agaknya lebih angkuh dan lebih sombong darinya !

“Jembel tua bangka buruk ! Engkau membuka

mulut lebar-Iebar? Engkau tidak melihat Siauwbin-

mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Locu itu.

Mereka adalah tokoh besar, akan tetapi karena

berani menentang kau lihat buktinya. Engkau ini

tua bangka jambel lekas sebutkan nama agar aku

tahu siapa yang kubunuh kali ini !”

Namun si kakek ini sama sekali tidak

meladeninya melainkan terus berkata pula kepada

Yu Lee dengan sikap sama sekali tak

56

menghiraukan si iblis yang kini sudah makin

dekat. “Eh, bocah baik, siapakah namamu ?”

“Locianpwe, boanpwe (saya yang rendah)

bernama Yu Lee.”

“Engkau masih kecil sudah tahu aturan, itu

bagus. Tidak seperti iblis cilik ini yang kurang ajar,

terhadap seorang kakek seperti aku Han It Kong

masih banyak lagak!” Kakek Itu lalu membuang

ludah ke bawah, akan tetapi menuju ke arah Heksiauw

Kui-bo dan tepat jatuh ke atas lantai di

depan kakinya.

Hampir meledak rasa dada iblis betina itu

saking marahnya. Baru kali ini selamanya ia

merasa dihina dan tidak dipandang sebelah mata

secara keterlaluan sekali. Ia mengingat-ingat

namun tidak merasa kenal dengan. nama Han It

Kong.

“Jembel buruk. aku akan membuat kau mati

dengan tubuh hancur !” Bentaknya dan sambil

berteriak yang menyerupai bunyi lengking atau

lolong srigala. Hek-siauw Kuibo menerjang maju.

Sulingnya berkelebat menjadi sinar hitam,

mengeluarkan bunyi mengerikan sebagai imbangan

teriakaunya tadi.

Saking marahnya, ia telah mengeluarkan

pukulan maut yang paling berbahaya terhadap diri

kakek tadi.

Namun kakek yang mengaku bernama Han It

Kong itu dengan sikap tenang sekali menyambut

terjangan dahsyat itu. Tubuhnya tak tampak

berkisar dari tempatnya, juga kedua kakinya tetap

57

berdiri tegak. Hanya tangan kanannya yang

memegang tongkat itu betgerak membuat

lingkaran-lingkaran beberapa kali di depan

tubuhnya dan ……suling hitam Hek-siauw Kui-bo

tidak dapat maju lagi.

Iblis betina ini berseru keras karena merasa

seakan-akan suling hitamnya terbetot dan dikuasai

gerakan lawan karena di luar kehendaknya,

tangannya yang memegang suling itu sudah ikut

membuat lingkaran-lingkaran meniru gerakan

kakek itu.

Hek-siauw Kui-bo mengeluarkan pekik kaget

sambil mengerahkan tenaga membetot sulingnya.

Kali ini ia berhasil menghendaki gerakannya yang

otomatis itu akan tetapi sebelum ia sempat

melompat mundur, terdengar suara, “plak” dan

pinggulnya yang besar telah kena dihajar oleh

tongkar si kakek itu sampai terasa pedas dan

panas!

“Yu Lee, kau lihat iblis kecil telah kena dihajar

satu kali oleh Ilmu tongkat penukul iblis !”

“Bagus ! Harap hajar lagi sampai mampus

locianpwe!” Yu Lee bersorak lupa akan

kedukaannya dan bergembira menyaksikan musuh

besar ini pantatnya dipukul sampai mengeluarkan

bunyi nyaring.

Hek-siauw Kui-bo memuncak kemarahannya,

namun ia berhati-hati Tongkat itu menghantam

dari depan bagaimana bisa mengenai pantatnya

yang berada di belakangnya? Benar-benar ilmu

tongkat yang luar biasa sekali. Akan tetapi karena

sedikitpun ia tidak terluka oleh pukulan itu,

58

hatinya menjadi besar dan menganggap bahwa

kakek aneh ini hanya memiliki ilmu silat yang

lihai, akan tetapi tidak memiliki tenaga yang besar.

Sambii berteriak menyeramkan ia menerjang

lagi, kini sulingnya membuat gerakan aneh dan

cepat sekali sehingga dalam sekali serangan itu ia

telah melakukan totokan terhadap semua jalan

darah di tubuh lawan. Bukan sembarang totokan,

melainkan lolokan maut.

Satu saja di antara totokan bertubi ini

mengenai sasaran, berarti nyawa lawan tercabut.

“Ilmu yang keji dan rendah!” Kakek itu berseru

akan tetapi tidak bergerak dari tempatnya. Hanya

tongkat bambunya yang kini menyambar-nyamhar

ke depan dan terdengar suara…. “tak, tok, tak,

tok,” tujuh balas kali dan semua totokan Haksiauw

Kuibo yang amat lihai itu dapat ditangkis.

Pada totokan terakhir, samhil menangkis,

tongkat itu mendadak melanjutkan dengan

gerakan mengait dan ….. suling itu telah kena

terkait dan terlepas dari tangan Hek-siauw Kui-bo

karena ketika mengait ujung tongkat menotok

telapak tangan yang memegang suling sehingga

iblis betina itu terpaksa melepaskan sulingnya.

Hek-siauw Kui-bo mengeluarkan jerit keras dan

tiba-tiba tangan kirinya bergerak menyambar dan

mencengkeram ke arah anggauta kemaluan kakek

itu.

“Rendah tak tahu malu !” Kakek itu terkejut

juga dan cepat menangkis dengan tangan kiri.

Kiranya Hek-siauw kui-bo. melakukan serangan

59

ganst dan randah ini dengan maksud mengalihkan

perhatian karena di detik berikutnya, tangan

kanannya sudah dapat merampas kembali,

sulingnya yang tadi menempel pada ujung tongkat

lawan.

“Pintar juga kau !” Kata si kakek, akan tetapi

sambil berkata demikian, tongkatnya bergerak

aneh dan, “plokk!” Sekali lagi pantat yang besar itu

sudah dihajar tongkat lagi. Padahal si iblis betina

sudah melompat cepat untuk menghindar, namun

sia-sia, tetap saja ia mengalami penghinaan ini.

“Huah, ha, ha, ha ! Pantatnya tidak kalah tebal

dengan mukanya ! “Gaplok yang keras lokai (jembel

tua) !” tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa dan

ternyata itu adalah suara Siatiw-bin-mo Hap Tojin

yang sudah sadar dari pingsannya dan kini masih

rebah sambil menonton pertandingan yang aneh

itu.

Dapat dibayangkan betapa marahnya Hek

siauw Kui-bo. Akan tetapi disamping rasa marah

dan penasaran iapun terheran-heran akan

kesaktian kakek ini.

Mendengar ejekan si tosu, kemarahannya

meluap-luap dan diam-diam ia memasukkan

jarum-jarum beracun ke dalam sulingnya, lain

untuk ketiga kalinya ia menyerang lagi dengan

gerakan sulingaya yang melenggak-lenggok sepetti

ular, sukar sekali diduga ke mana suling itu

hendak menyerang.

Mendadak terdengar suara mendesis halus dan

sinar hijau menyambar dari lubang suling

meluncur ke arah sembilan jalan darah terpenting

60

dari tubuh Han It Kong sedangkan suling hitam itu

sendiri berperak-gerak menutup jalan keluar di

sekitar tempat kakek itu berdiri.

Dengan demikian maka kakek ini diserang oieh

jarum-jarum berbisa tanpa dapat mangelak karena

tak ada lubang lagi untuk jalan keluar.

Akan tetapi Han It Kong memang tidak mau

mengelak, bahkan kini tongkatnya bergerak secara

aneh mengejar bayangan suling dan ia sama sekali

tidak perduli akan sinar bijau yang menyerbu ke

arah sembilan pusat jalan darah di tubuh depan.

“Tua bangka sombong, mampus kau?” teriak si

iblis betina kegirangan ketika ia melihat betapa

semua jarum rahasianya mengenai sasaran secara

tepat sekali.

“Praakkk……. Plookkk!” Suara ini adalah suara

pecahnya suling hitam disusul pukulan ketiga

kalinya pada pinggul yang penuh daging, sehingga

saking kaget dan nyeri si wanita iblis menjerit dan

loncat jauh ke belakang.

Dengan mata terbelalak dan muka pucat ia

memandang. Kaket itu sama sekali tidak apa apa

dan sembilan batang jarumnya semua runtuh ke

tanah begitu mengenai tubuh Han It Kong.

Sebaliknya suling hitamnya kena dipukul pecah

berantakan dan pinggulnya kembali kena dihajar.

“Tua bangka nusak, engkau telah menghina

orang ! Biar aku mengadu nyawa denganmu hari

ini !” Setelah mengeluarkan seruan bercampur isak

ini Hek-siauw Kui-bo menubruk ke depan,

61

mengembangkan kedua tangannya seperti harimau

menerkam.

“Perempuan keji. Engkau masih berani

bertingkah di depan Ong-ya?” Suara kakek itu

menjadi keren dan galak, tangan kirinya bergerak

ke depan dan ….. tubuh iblis betina itu seperti

terbanting oleh tenaga dahsyat ke kiri, jatuh

bergulingan di atas tanah! Ketika ia bangun sambil

mengeluarkan rintilaan perlahan. Wanita itu

memandang dengan mata terbelalak.

“Apa …… apakah saya berhadapan dengan…..

Siauw-ong-ya (Raja Muda) Han It Kong yang

berjuluk Sin-kong-ciang (Tangan Sinar Sakti)?’

*Tidak ada raja muda, yang ada sekarang hanya

sijembel Han It Kong,” jawab kakek itu. “Engkau

tidak lekas pergi dari sini?”

Hek-siauw Kui-bo menjura dan berkata. “Kali

ini aku mengaku kalah, kelak masih ada waktu

untuk mengadakan perhitungan lagi.” Setelah

berkata demikian, iblis betina itu melompat dan

terus menghilang ke dalam kesuraman fajar yang

mulal menyingsing. Dari kejauhan terdengar

lengking tangis yang makin lama makin menjauh

dan akhirnya menghilang.

Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong

Liong Losu yang telah sadar pula dari pingsannya,

kini melangkah maju dan memberi hormat kepada

kakek jembel itu.

“Sudah sejak muda pinto mendengar nama

besar Sin-kong-ciang Han-siauw-ong-ya, baru

sekarang dapat melihat orangnya dan

62

menyaksitcan kesaktiannya. Sungguh pinto merasa

takluk dan terimalah hormat dari Siauw-bin-mo

Hap Tojin, Ong-ya !” Kata si tosu.

“Omitobud! Sebelum mati. dapat bertemu muka

dengan patriot besar Han tayhiap, sungguh

merupakan kebahagiaan hidup!” Tho-teekong Liong

Losu juga berseru memberi hormat.

Kakek jambel itu menghela napas panjang,

mukanya tersembunyi di bawah topi yang lebar itu.

Kemudian terdengar suaranya bernada sedih.

°Biarpun baru sekarang bertemu jiwi (tuan

berdua) namun sepak terjang jiwi disamping Yu

sicu sudah lama saya dengar, perjuangan kita

boleh gagal seperti sudah ditakdirkan Tuhan,

namun selama semangat kita, masih hidup

menurun kepada anak cucu dan murid, pada

suatu hari akan tiba saatnya kaum penjajah

Mongol dapat terusir dari tanah air !’

Ia menghela napas lagi dan memandang ke arah

peti mati Yu Tiang Sin.

“Yu sicu banyak jasanya terhadap rakyat dan

negara, sayang ia terlampau banyak menanam

permusuhan pribadi. Jiwi sudah berusaha sekuat

tenaga menyelamatkan keluarganya, tidak

percuma Yu sicu bersababat dengan jiwi. Sayang

sekali kedatangan saya terlambat sehingga tidak

dapat mencegah terjadinya pembunuhanpembunuhan

ini. Sungguh saya merasa tidak enak

terhadap arwah Yu sicu. Untuk menebus kelalaian,

biarlah saya menghabiskan sisa usia yang tak

seberapa lama lagi ini untuk memberi bimbingan

cucunya yang tinggal seorang ini. Yu Lee hayo ikut

63

bersamaku !” -kakek ini mengulurkaa tangan kiri

dan entah bagaimana, tubuh Yu Lee tahu-tahu

sudah melayang dan berada dalam pondongannya.

Kemudian, sekali kakek itu menggerakkan

kakinya tubuhnya sudah leyap dari depan Siauwbin-

mo Hap Tojin dan Tho-tee kong Liong Losu!

“Ha, ba, ha ! Tua bangka Yu Tiang Sin biarpun

kehilangan semua keluarganya namun benarbenar

masih bernasib baik. Seorang cucunya, yang

tinggal satu-satunya telah menjadi murid Sinkong-

ciang !”

“Toyu (sabahat), bagaimana kau masih bisa

mengatakan sahabat kita Yu Tiang Sin bernasib

baik kalau semua anak cucunya dibasmi seperti

ini?”

Tho Tee-kong Liong Losu mencela sambil

mengeluarkan obat untuk ditelan dan

memunahkan hawa beracun akibat totokan suling

hitam itu, juga kepada sitosu ia memberi sebutir

obat pulung yang diterima oleh temannya tanpa

berterima kasih lagi.

“Liong Losu betapa dia tidak bahagia?

Bandingkan saja dengan kau atau pinto. Secuil

daging setetes darahpun diluar tuhuh kita tidak

punya. Sedangkan tua bangka Yu masih

mempunyai saorang cucu yang biarpun cengeng

akan tetapi menjadi murid Sin kong ciang !

“Ha, ha, ha, belasan tahun lagi kalau kita tidak

sudah mampu!, tentu akan. terbuka mata kita

menyaksikan sepak terjang seorang pendekar

muda yang sakti akan tetapi cengeng !”

64

“Omitohud ! Toyu, engkau terlalu memandang

rendah anak itu. Tidakkah jelas nampak sipatsipat

baik kepadanya? Sinar matanya tajam

berpengaruh, nyalinya lebih besar dari pada kita,

berani dia menyerang Hek-siauw Kui-bo! Kelak

tentu Hek-siauw Kui- bo takkan dapat banyak

tingkah lagi di depannya.”

“Ah, dasar Sin-kong-ciang Han It Kong yang

bekerja kepalang tanggung. Iblis macam itu.

kenapa tidak diburiuh saja ?”

“Toyu, hal begitu saja mengapa kau masih

mangherankan? Han taihiap adalah seorang

cianpwe yang tingkatnya sudah amat tinggi. Mana

dia sudi mengotorkan tangan dengan

pembunuhan, apalagi membunuh seorang yang dia

anggap hanya seorang iblis cilik seperti Hek.siauw

Kui-bo? Disamping Han it Kong taihiap terkenal

sebagai patriot sejati dan hanya terhadap kaum

penjajah ia mau membunuh tanpa perhitungan

lagi.

Sedangkan Hek-siauw Kui-bo adalah bangsa

sendiri, biarpun jahat akan tetapi urusannya

dengan Yu-kiam-sian adalah arusan prihadi. Tentu

saja akan dianggap tidak adil kalau Han it Kong

taihiap mencampuri dan menurunkan tangan

maut.”’

“Ha, ha, ha. ha ! Engkau dan dia terlalu banyak

pakai aturan, Liong Losu. Hari ini kita berdua

mendapat kenyataan bahwa kepandaian kita sama

sekali tidak ada harga. Akan tetapi kalau seorang

berilmu seperti Han It Kong masih ingin

meninggalkan kepandaiannya kepada seorang

65

murid apakah kita harus bersikap kikir dan

memhawa kepandaian kita yang tidak seberapa ini

bersama ke dalam neraka ?”

“Omitohud! Harap Toyu jangan bicara tentang

neraka. Mengerikan ! Akan tetapi pendapatmu itu

benar. Pinceng juga pikir lebih baik mengundurkan

diri dan, memilih murid-murid yang baik.”

Dua orang pandeta itu lalu pergi dari situ

menjelang pagi. Sunyi sepi di rumah keluarga Yu

itu. Sunyi yang niengerikan. Mayat-mayat orang

berserakan dari ruangan depan sampai tengah dan

belakang darah berceceran. Ngeri menyeramkan

Peristiwa yang akan menggegerkan dusun Kibun,

akan tetapi yang akan membuat para

penduduk Ki bun selalu berada dalam keheranan

dan dugaan-dugaan yang tak pernah akan dapat

dibuktikan kehenarannya.

Akan tetapi mereka semua tahu bahwa ada

seorang cucu kakek Yu yang tidak diketemulcan

mayatnya bersama anggauta keluarga lain, yaitu

Yu Lee.

Namun tak seoranapun di antara mereka dapat

menduga ke mana perginya anak berusia delapan

tahun itu, sepetti juga mereka tak dapat menduga

siapa yang melakukan pembunuhan dan

pembasmian keji terhadap seisi rumah keluarga

Yu.

Lima belas tahun kemudian!

Pagi hari itu amat ramai di dalam rumah

makan “Lok-nam” di kota Hopak yang besar dan

banyak dikunjungi pedagang dari luar kota. Lok66

nam adalah rumah makan terbesar di kota Hopak,

terkenal dengan masakan-masakannya yang lezat

dan beraneka macam.

Banyak masakan yang tak ada di rumah makan

lain, dapat dipesan di Lok-nam, diantaranya sop

buntut menjangan, kuwah daging ular goreng,

kodok gulai, yang besarnya seperti ayam. tidak

lupa tim cakar bebek yang lezat, gurih dan kanyilkenyil.

Semua itu kalau dimakan dengan dorongan

arak Hang-ciu yang harum dan keras, dapat

membuat orang jadi lupa segala.

Bahkan ada yang bergurau mengatakan bahwa

walaupun ada mertua lewat lupa untuk ditawari !

Baru setelah perut jadi gendut, orang akan menjadi

“sakit gigi” karena rekening yang bisa menguras isi

kantung, ditambah lagi oleh bahaya sakit perut !

Memang biasanya rumah makan Lok-nam

selalu ramai, karena pemiliknya pandai berusaha.

Di sebelah rumah makan ini pemiliknya membuka

sebuah pokoan (rumah judi) dan inilah yang

membuat rumah makan itu selalu jadi ramai.

Mereka yang menang berjudi biasanya amat royal

menghamburkan uang.

Di pagi hari itu sudah banyak orang makan di

dalam restoran Lok-nam. Karena belasan orang

yang manjadi tamu restoran itu kesemuanya

adalah laki-laki juga para pelayan dan pengurus

semuanya laki.laki, riuh rendah suara orang

bergurau di situ.

67

0mongan-omongan kotor dan cabul diselingi

gelak tawa mengotori hawa bersih yang masuk dari

luar. Apalagi pada saat itu terdapat lima orang

jagoan atau tukang pukul rumah judi yang sedang

dijamu oleh seorang tamu yang malam tadi

berhasil mendapat kemenangan besar dalam,

perjudiaan.

Mereka berlima ini bicara riuh rendah tentang

palacur-pelacur di kota Hopak seperti orang

membicarakan kelezatan bermecam-macam

masakan saja. Tanpa ditutup-tutupi blak-blakan

dan tidak ada rahasia sehingga para tamu lain

yang mendengarkannya ikut-ikutan tersenyum.

Telinga laki-laki memang paling suka

mendengarkan percakapan semacam itu.

Derap kaki kuda yang berhenti di depan rumah

makan tidak menarik perhatian mereka yang

tengah bergurau.

Akan tetapi ketika penunggangnya melompat

turun dari atas kuda, menyerahkan kuda kepada

penjaga di luar kemudian melangkah masuk ke

dalam restoran, serentak semua percakapan

berhenti dan semua mata, termasuk mata pelayan

dan pengurus restoran, memandang ke arah orang

yang baru masuk itu dengan pandang meta kagum

dan penuh gairah.

Wanita itu masih muda, kiranya tidak lebih dari

dua puluh lima tahun usianya. Pakaiannya serba

merah, merah muda. Dan tali rambutnya sampai

pakaiannya dari sutera tipis sehingga terbayang

pakaian dalam merah tua, dan sepatunya yang

kectl, semuanya berwarna merah muda.

68

Hanya pakaiannya karena membayangkan

pakaian dalam merah itu. tampak lebih terang

warnanya. Rambutnya hitam panjang, wajahnya

berbentuk bulat telur dengan kulit muka yang

sudah halus putih itu menjadi lebih menarik

karena bedak dan gincu (pemerah) tipis-tipis.

Sepasang matanya lebar amat tajam pandang

matanya, hidung kecil mancung dan mulut yang

berbentuk indah dan selalu mengulum senyum.

Dari sudut mata yang meruncing disertai kerling

tajam dan sudut bibir yang mengulum senyum

penuh daya tariknya inilah terbayang sifat wanita

yang berdarah panas, bernafsu dan romantis.

Pandeknya seorang wanita yang muda belia

yang cantik jelita dan manis dengan bentuk tubuh

yang menggairahkan.

Scorang pelayan muda agaknya lebih cepat

sadar daripada teman-temannya yang masih

terlongong. Ia cepat lari menghampiri wanita ini

dan sambil membungkuk-bungkuk berkata.

‘Selamat pagi, nona. Silakan duduk, di sebelah

kiri itu masih banyak meja kosong, silakan …. !”

Gadis cantik itu mengangkat muka, menyapu

ruangan restoran dengan pandang matanya yang

tajam kemudian mengebut-ngebut pakaiannya di

bagian paha dan pinggang untuk membersihkan

debu, dan mengikuti pelayan itu ke sudut ruangan

sebelah kiri di mana terdapat beberapa meja yang

masih kosong. Sapuan pandang matanya tadi

membuat ia tahu bahwa dirinya menjadi pusat

perhatian semua orang, akan tetapi ia tidak

69

mengacuhkan hal ini dan bersikap seolah-olah di

tempat itu tidak ada orang yang memandangnya.

Ia berkata kepada pelayan yang sambil

tersenyum-senyum membersihkan meja di depan

nona itu dengan sehelai kain yang selalu tersampir

di pandaknya. “Keluarkan arak hangat yang paling

baik lebih dulu.” Suaranya nyaring namun merdu,

dan bening. Sipelayan cepat pergi untuk melayani

permintaannya.

ketika pelayan datang membawa arak hangat,

nona itu memesan beberapa masakan kemudian

setelah pelayan pergi mulai minum arak dari guci

arak. Berturut-turut ia minum tiga cawan arak

penuh dan caranya minum jelas membuktikan

bahwa nona ini kuat minum dan sudah biasa.

Hal ini tentu saja membuat semua orang

menjadi heran. Nona itu kelihatannya bukan

seorang nona kang-ouw (dunia persilatan) yang

biasa merantau dan biasa pula hidup menghadapi

kekerasan dan kesukaran, biasa pula minum arak.

Pakaiannya begitu mewah, tak tampak

membawa senjata. Satu-satunya hal yang

membayangkan bahwa dia seorang nona perantau

adalah kedatangannya yang menunggang kuda dan

kenyataan bahwa ia seorang nona yang asing

suaranya, bicara seperti orang utara.

Melihat nona cantik jelita memasuki restoran

seorang diri, kumatlah perangai gila-gilaan lima

orang jagoan dari Lok-nam po-koan (rumah judi

Lok-nam) yang sudah setengah mabok itu.

70

Kalau tadi mereka bercakap-cakap tentang

pelacur-pelacur tanpa memperdulikan tata susila,

sekarang malah mereka sengaja memperkuat suara

mereka. bicara tentang hal-hal yang cabul dan

mesum ! Para tamu lainnya yang masih mengenal

kesopanan, merasa tidak enak hati dan malu

kepada wanita muda itu. Diam-diam mereka

memikir dan memperhatikan.

Akan tetapi aneh sekali, sinona pakaian merah

itu enak-enak saja minum dan makan masakan

yang dihidangkan. Seakan-akan semua percakapan

cabul itu tidak terdengar olehnya atau seperti

terdengar sebagai percakapan lumrah saja.

Sudah lajimnya laki-laki yang berwatak kasar,

ketika lima orang jagoan melihat nona itu masih

makan minum sambil berseri wajahnya seakanakan

tidak terjadi apa-apa, mereka menjadi makin

berani dalam usaha mereka membangkitkan reaksi

pada wanita muda belia yang cantik itu.

“Ah, Acong,” terdengar seorang di antara

mereka yang mukanya berlubang-lubang bekas

penyakit cacar mencela kawannya yang bermuka

kuning, “semua ceritamu tentang pelacur-pelacur

itu tidak ada gunanya. Betapapun cantik manis

wajah mereka, namun mereka itu tiada lain

hanyalah bunga-bunga layu yang tak menarik lagi,

bunga-bunga yang sudah dipetik dari tangkainya.

Berilah aku setangkai bunga segar yang masih

berada di pohonnya, hemmm. …… bunga merah

yang masih mekar di hutan bermandikan embun

pagi…….. ambooii, akan kacampakkan bungabunga

layu yang tak berharga itu !”

71

“Ha-ba-ha, Lui-heng (kakak Lui), pagi ini tibatiba

kau menjadi pintar bicara yang muluk-muluk !

Awas, Lui heng, mawar merah banyak durinya !”

Lima orang itu tertawa-tawa sambil memandang

ke arah nona itu secara terang-terangan.

Si muka bopeng she Lui itu lalu bangkit berdiri,

mengebut-ngebutkan jubahnya dan tertawa,

-Ha-ha-ha-ha, oleh sebab berduri itu maka

semakin menarik. Tiada bunga yang tak

merindukan kumbang ! Makin banyak kumbang

mendekatinya, makin bangga hatinya. Aku rasa

bunga merah ini tak terkecuali. Biarlah aku

menjadi kumbang pertama menghampirinya, kalau

perlu boleh tertusuk duri asal kemudian

mendapatkan hadiah madu. Ha-ha. ha !”

Dengan langkah, tidak tetap karena terlalu

banyak minum arak, si muka bopeng ini

menghampiri meja nona itu, kemudian dengan

sikap dibuat-buat ia menjura dan berkata, “Nona

yang cantik seperti dewi, bolehkah saya menemani

nona minum arak ?”

Para tamu mulai merasa khawatir dan sebagian

dari pada mereka sudah cepat-cepat membayar

dan meninggalkan tempat itu. Namun ada pula

yang sengaja hendak menonton keributan dengan

hati berdebar tegang.

Pada masa itu, teguran yang dilakukan seperti

si muka bopeng itu adalah pelanggaran tata susila

yang besar dan setiap orang wanita yang ditegur

laki-laki asing seperti itu. tentu akan menjadi

72

marah. Kalau tidak memaki tentu segera

meninggalkan penegur itu tanpa mengacuhkannya.

Dan mereka ingin sekali melihat sikap

bagaimana yang akan diambil nona yang cantik

itu. Akan tetapi mereka kecelik.

Nona itu memoleh dan tersenyum lebar “Mau

menemani aku minum? Boleh, duduklah asal

engkau sanggup menghabiskan seguci arak wangi

sekali minum !”

Sikap dan sambutan kata-kata nona tidak

hanya mengherankan semua tamu, bahkan si

muka bopeng sendiri melongo keheranan. Tadinya

ia mengira kalau wanita itu akan marah-marah

serta memakinya dan ia akan menggodanya. Siapa

kira, nona ini menerimanya baik-baik bahkan

menyuruhnya duduk dengan syarat supaya ia

menghabiskan seguci arak sekali minum ! Ia

menoleh ke arah kawan-kawannya yang

manyeringai lebar lalu tertawa,

“Ha-ha-ha-ha, nona manis. Seguci arak bagi

aku orang she Lui bukan apa-apa dan sanggup

menghahiskannya sekali minum asal ………. nona

menemani aku minum dan menghabiskan seguci

juga. Jadi sama-sama itu namanya rukun dan

serasi. Bukankah begitu ?” Sambil tertawa si muka

bopeng ini mengira bahwa ia telah mengalahkan si

nona dengan tantangannya.

Tentu sekarang nona itu akan menolak dan

marah-marah, baru ia akan menggodanya. Akan

tetapi kembali ia melongo. Dengan sikap tenang

nona itu menggapai memanggil pelayan.

73

“Pelayan bawa ke sini dua guci penuh arak yang

paling tua dan harum serta paling keras. Biar

mahal asal keras dan awas, jangan memhohongi

aku, aku mengenal arak baik !”

Pelayan itu yang menganggap semua ini sebagai

lelucon yang menguntungkan restoran, segera lari

menuju ke gudang dan mengambii dua guci arak

simpanan.

“Duduktah, hopeng. Aku terima tantanganmu,

kita masing-masing minum seguci arak!” kata nona

itu. Ucapannya begitu wajar sehinga ga orang she

Lui yang dipanggil ‘hopeng” ini tidak menjadi

tersinggung, apalagi ia sudah mulai terheranheran.

Sementara itu, empat orang jagoan lainnya

menjadi gembira menyaksikan perkembangan ini.

“Wah, Lui-heng benar-benar-bernasib baik

sekali pagi hari ini !” teriak seorang.

“Tentu malam tadi bermimpi mamangku bulan

purnama !” teriak yang lain.

Juga para tamu, para pelayan lain bahkan para

pengurus restoran kini semua menonton dua orang

yang duduk berhadapan dan hendak mengadu

kekuatan minum arak, seorang nona muda belia

yang cantik jelita dan seorang laki-laki yang

terkenal jagoan, tukang pukul dan penjaga

keamanan di Lok-nam Po-koan, sungguh lawan

yang sama sekali tak seimbang! Dan tantangan

nona itu benar luar biasa sekali.

Meminum seguci arak sekali tenggak bukanlah

hal yang mudah dilakukan setiap orang biasa.

74

Bahkan si muka hopeng sendiri tidak sanggup

malakukan hal ini. Dikarenakan saja si nona juga

mau menemani minum seguci, maka ia menjadi

malu untuk mundur dan menduga bahwa nona ini

tak bakal dapat menghabiskan seguci arak sekali

minum !

Ketika dua guci arak datang dan dibuka,

baunya keras menyerang hidung. Arak tua yang

keras bukan main !

Nona itu mengembang-kempiskan hidungnya

dan berkata sambil tersenyum lebar sehingga

tampaklah deretan gigi- putih hersih seperti

mutiara.

“Arak baik…….. ! Nah, kau bilang hendak

menemani aku minum, bukan ? Hayo kita minum

!” Sambil berkata begitu si nona terus mengambil

seguci arak dan membawa ke mulutnya sambil

melirik si muka bopeng.

Orang she Lui itu mulai kaget. Iapun

mengambil arak di depannya, akan tetapi tidak

segera membawa ke mulutnya.

“Nona, betulkah kau bisa mengbabiskan arak

seguci itu sekali minum ?”

“Mengapa tidak ?”

“Ah, mana bisa aku percaya…….?”

“Hemmm, kau mau menemaniku atau tidak?

Kalau tidak sanggup, bilang saja dan lekas pergi

dari sini !”

75

Tentu saja si muka bopeng tidak mau menjadi

bahan ejekan orang. Ia membasungkan dada dan

berkata,

“Siapa bilang aku tidak sanggup, hanya aku tak

percaya engkau mampu melakukannya. Kalau

engkau sekali minum dapat menghabiskan seguci

arak itu, barulan aku percaya dan arak itu pun

akan kuminum habis sekali tengggak.”

Wanita itu tersenyum dingin. “Biarlah,

betapapun juga kau takkan mampu menarik

kembali janjimu.” Setelah berkata demikian, nona

baju merah itu lalu mulai minum araknya..

Lehernya panjang dan berkulit putih halus. Kini

leher itu bergerak-gerak naik turun ketika

terdengar suara menggelogok-gelogok dan arak dari

dalam guci tertuang masuk melalui

kerongkongannya, semua orang memandang

dengan mata terbelalak.

Tak seorangpun di antara semua laki-laki yang

hadir sanggup melakukan hal itu. Seguci arak itu

paling sedikit ada dua puluh cawan, cukup untuk

diminum lima orang. Biarpun banyak orang

mampu menghabiskan seguci arak akan tetapi

diminum secawan demi secawan bukannya

langsung menenggak dari guci sampai habis tanpa

berhenti.

“Hayo minumlah arakmu !” kata nona itu

setelah menaruh guci kosong di atas meja dan

menggunakan sehelai saputangan sutera merah

menghapus bibirnya. Mukanya tetap tenang, tetap

kemerahan kedua pipinya, sama sekali tidak

76

memperlihatkan pengaruh arak yang sekian

banyaknya itu.

Si muka bopeng mulai menoleh kanan kiri.

Melihat wajah-wajah orang tersenyum memandang

ke arahnya. Ia merasa malu kalau sama sekali

tidak meminum araknya.

Biarlah ia minum sekuatnya, seperempat atau

sepertiga guci kemudian berbenti dan melayani

tuntutan nona ini dengan godaan, demikian

pikirnya, dengan lagak dibuat-buat si muka bopeng

itu lalu mengangkat guci araknya dan mulailah ia

menggelogok.

Nampak lehernya bergerak- gerak. Akan tetapi

ini cuma sebentar. Belum ada seperempat’ guci

memasuki perutnya ia sudah merasa tidak kuat

lagi. Lehernya serasa tercekik, kepalanya pening

dan tubuhnya gemetar.

Si muka bopeng maklum kalau dipaksakan

terus ia akan roboh terguling. Akan tetapi alangkah

kagetnya dia ketika Hendak menurunkan guci itu

dari mulutnya, ia tidak mampu menggerakkan

tangan yang memegang guci.

Lengan itu kini menjadi kaku sehingga guci itu

tetap menempel dan isinya tertuang terus. Ketika

ia mau menggerakkan tubuh serta melepaskan

tahu-tahu tubuhnya tak bisa pula ia gerakkan.

Sementara itu arak mengalir terus, si muka

bopeng hendak menutup kerongkongannya serta

membiarkan lagi arak mengalir keluar dari mulut,

akan tetapi tiba2 ia merasa lehernya nyeri sekali,

membuat ia jadi megap-megap dan arak terus

77

turun memasuki perutnya melewati kerongkongan.

Si muka bopeng terkejut sekali dan menjadi

ketakutan. Akan tetapi karena ia tidak mampu

bergerak terpaksa semua arak memasuki perutnya

dan ia tersedak-sedak dan terbatuk-batuk.

Begitu guci itu habis isinya, si muka bopeng

tiba-tiba merasa dapat bergerak lagi. Ia terhuyunghuyung

dan jatuh ke bawah seperti sehelai kain

basah, tiada tenaga sama sekali dan rebah

tertelungkup mengeluarkan suara mengorok

seperti seekor babi disembelih. Dari mulutnya

menetes-netes keluar arak bercampur buih.

Riuh-rendah empat orang teman si muka

bopeng dan para tamu lain tertawa-tawa

mentertawakan si muka bopeng yang demikian

mabuknya sampai tidak ingat orang lagi.

Juga nona baju merah itu tertawa sedikit pun

tidak tampak mabuk. Malah ia memanggil pelayan

untuk membayar harga makanan dan arak.

Ketika ia mengeluarkan sebuah kantung dari

bungkusan di pundaknya dan membuka kantung

itu semua orang melongo. Kantung itu penuh

dengan emas dan perak. Secara royal sekali ia

membayar pelayan dan memberi persen. Kemudian

nona itu bertanya kepada empat orang jagoan yang

sambil tertawa-tawa berusaha membangunkan si

muka bopeng yang masih ngorok.

“Aku mendengar di sini ada sebuah po- koan

yang besar, betulkah itu dan di manakah

tempatnya ?”

78

Para tukang pukul itu bukanlah orang baikbaik.

Tadinya mereka hendak mempermainkan

nona itu karena cantik jelitanya akan tetapi setelah

menyaksikan kekuatannya minum arak tadi, lalu

menduga bahwa si nona bukan orang

sembarangan.

Kemudian mereka melihat adanya kantong

uang terisi penuh emas dan perak, maka timbul

niat buruk di hati mereka.

“Betul sekali, nona. Bahkan kami berlima

adalah penjaga-peniaga po-koan. Apakah nona

suka berjudi ? Marilah, kami antatkan. Kebetulan

sekali tidak begitu ramai keadaan di po-koan

sepagi ini.”

Dengan langkah tenang nona itu lalu mengikuti

mereka menuju ke rumah judi yang letaknya di

sebetah restoran itu. Si muka bopeng terpaksa

digotong ke rumah judi karena tak dapat

disadarkan.

Ruangan judi itu cukup lebar, di dalamnya

terdapat lima buah meja judi yang masing-masing

dijaga oleh seorang pengawal. Memang sepagi itu

belum banyak tamu, hanya ada belasan orang.

Semua orang memandang dengan heran ketika

melihat nona itu masuk bersama empat orang

tukang pukul dan seorang jagoan yang mabuk

keras.

Setelah para tukang pukul itu menyatakan

bahwa nona itu hendak berjudi, makin besar

keheranan mereka semua. Akan tetapi karena

tukang pukulnya memberi tahu dalam bahasa

79

rahasia mereka, bahwa nona itu adalah seorang

yang membawa uang emas dan perak banyak

sekali, bandit-bandit judi itu jadi kegirangan.

“Silakan, nona.” kata seorang yang bertubuh

gemuk dan menjadi bandar kepala di situ. “Nona

hendak bermain apakah?”

Nona itu menyapu ruangan dengan pandang

matanya yang tajam, kemudian menghampiri

sebuah meja judi yang di atasnya terdapat sebuah

mangkok dan dadu. “Aku suka main dadu.”

katanya. Semua tamu mendekati meja itu. Bahkan

para tamu ikut pula menonton, karena baru

pertama kali ini melihat seorang nona cantik

hendak main judi dalam sebuah po-koan.

“Baiktah nona. Biar saya sendiri yang melayani

nona,” kata si bandar gemuk sambil memberi

isyarat agar pegawai di belakang meja itu mundur.

Setelah berkata, lalu si gendut itu mengambil

dadu terus memasukannya ke dalam mangkok dan

dengan gerakan seorang ahli ia memutar-mutar

dadu di dalam mangkok itu secara cepat sekali.

Suara nyaring terdengar ketika dadu itu

berputaran di dalam mangkok kemudian secepat

kilat bandar itu menumpahkan mangkok ke atas

meja dengan biji dadu terdapat di dalamnya. Ketika

menutupkan mangkok tadi kedua tangannya

bergerak cepat sekali sehingga dadu itu tidak

tampak sama sekali ketika mangkok dibalikkan. Ini

semua membuktikan keahlian bandar judi yang

sudah masak.

80

“Silakan, nona……” Si bandar judi yang gemuk

itu berkata sambil tersenyum lebar,

memperlihatkan deretan gigi yang kecil-kecil serta

renggang.

Nona itupun tersenyum manis sambil melihat

ke seputarnya. Semua muka menatapnya dengan

pandang mata heran, kagum serta tegang. Ia lalu

mengeluarkan kantungnya dan membuka tali

kantung. Dengan tenang sekali ia mengeluarkan

sepuluh tail perak, menaruhnya di atas gambar

tulisan “ganjil” di atas meja.

Dada itu segi empat dan pada enam permukaan

diberi angka satu sampai dengan angka enam.

Angka ganjil adalah satu tiga lima. sedangkan

angka dua empat enam adalah angka genap.

Apabila memasang ganjil atau genap, jika kena

menerima jumlah pasangan. Tetapi apabila

memasang pada sebuah angka tertentu apabila

menang akan menerima jumlah empat kali lipat

pasangan.

Melihat nona itu sudah memasang, sekali

pasang sepuluh tail-perak. Para tamu ramai-ramai

mulai pasang pula. Ada yang pasang ganjil, pasang

genap, ada pula yang memasang nomer-nomer

tertentu.

Setelah semua orang menaruh pasangan di atas

meja, si bandar gemuk yang tadi terseyum dengan

gerakan kilat dan sambil mengeluarkan seruan

nyaring, membuka mangkok itu.

Dan jelas tampak dadu itu menggeletak di atas

meja dengan nomor empat di atasnya. Bandar

81

menggaruk semua uang pasangan, kecuali

pasangan pada angka genap dan pasangan pada

angka empat yang mendapat hadiah sebagaimana

mestinya.

Nona yang kehilangan pasangannya itu masih

tenang saja, bahkan memperbesar pasangannya

lagi sampai menjadi lima puluh tail perak sekali

pasang.

Semua melongo. Inilah main judi besarbesaran.

Sekali dua kali gadis itu menarik

kemenangan. akan tetapi setelah ia mulai

inemasang dengan taruhan besar sampai seratus

tail perak sekali pasang, ia selalu kalah sampai

akhirnya habislah- semua peraknya.

Namun dengan sikap tenang nona itu masih

terus memasang kini malah mulai menggunakan

uang emas!

Para tamu menjadi tegang. Ada yang merasa

kasihan kepada gadis cantik ini. Ada yang diamdiam

memakinya bodoh. Akan tetapi yang lebih

tegang adalah si bandar judi yang gemuk, juga

para bandar lain yang menonton.

Bayangkan saja! Nona itu sekarang

memasangkan semua sisa uangnya pada nomor

lima. Taruhan yang dipasangkan adalah dua puluh

lima tail emas! Kalau menang, berarti bandar

harus membayar empat kali jadi seratus tail emas

dan hal ini berarti pula bahwa semua kekalahan

nona itu akan dapat ditebus.

Melihat bahwa para tamu lain kehilangan

nafsunya memasang melainkan lambih suka

82

menonton gadis yang luar biasa itu berjudi dengan

tambah gila-gilaan, bandar menjadi makin gelisah.

Kalau hanya melayani nona ini, sekali bintang

nona ini menjadi terang dengan taruhan sebesar

itu bandar akan menjadi bangkrut! Dengan

teriakan nyaring ia membuka mangkok penutup

dan…….. dadu meperlihatkan angka lima!

Di antara para tamu ada yang bersorak, dan

ributlah mereka membicarakan kemenangan ini.

Bandar gendut menghatus peluh dengan

saputangannya dan para pembantunya

menghitung uang pembayaran kepada yang

menang.

Nona itu tetap tersenyum tenang, kemudian

memasang lagi dengan taruhan yang membuat

semua orang membelalakkan mata. Berapakah

yang ia pasangkan? Seluruh uang dan

kemenangannya, berjumlah seratus dua puluh

lima tail emas

“Gila ……!”

‘Sekali kalah, habis dia…….. !”

“Masa sebegitu banyak dipasangkan semua ?”

Bermacam-macam komentar orang, akan tetapi

gadis itu tersenyum lebar dan menoleh ke belakang

ke arah para tamu yang menonton sambil berkata

suaranya halus serta merdu menarik.

‘Namanya juga berjudi. Akibatnya hanya dua

macam. Menang atau kalah. Kecil besar sama !”

Bandar gendut itu menatap jumlah uang yang

dipertaruhkan pada tulisan “ganjil” dengan mata

83

melotot dan ia tidak segera memutar dadunya.

Agaknya ia merasa jerih dan ragu-ragu.

“Hayo lekas putar. Mengapa ragu-ragu! Apakah

bandar takut kalah?” tanya si nona dengan suara

mengejek dan semua tamu tertawa karena memang

lucu kalau ada

bandar jadi

takut kalah.

“Eh, Agong

gendut. Kau

kenapa? Kalau

ragu-ragu

jangan main,

biar aku

melayani nona

ini!” terdengar

suara parau.

Semua arang

menengok.

Kiranya dia

seorang laki-laki

usia lima puluh

tahun bertubuh

tinggi besar

bermuka hitam,

pakaiannya

mewah dan matanya buta yang sebelah kiri.

Melihat orang ini, si gendut cepat-cepat

mengundurkan diri dan berkata kepada nona itu,

“Maafkan, nona. Karena taruhanmu luar biasa

besar, maka saya menjadi ragu- ragu dan gugup.

84

Majikan kami datang, biarlah majikan kami sendiri

yang menjadi bandar !”

Nona itu memandang tajam dan kini semua

tamu juga mengenal si muka hitam yang buta

sebelah matanya itu. Dia seorang she Lauw yang

dijuluki It-gan Hek-hauw (Macan Hitam Bermata

Satu), seorang tokoh besar dunia pejahat di kota

Hopak, bahkan terkenal di seluruh Propinsi Anhwa

dan kini setelah banyak mengumpulkan harta

lalu hidup sebagai orang kayaraya di kota Hopak.

Losmen serta rumah judi Lok-nam adalah

miliknya.

Tadi memang ada pegawai secara diam-diam

memberi laporan perihal nona . yang berjudi

dengan taruhan luar biasa itu, maka ia lalu datang

sendiri buat melihatnya khawatir kalau-kalau yang

datang itu adalah seorang musuh serta sengaja

mau mencari gara-gara.

Hatiaya lega ketika melihat seorang nona yang

tidak ia kenal juga sikapnya tidak seperti seorang

nona kang-ouw, akan tetapi melihat caranya

bertaruh, timbul kekhawatirannya kalau-kalau

rumah judinya akan bangkrut maka cepat-cepat

menyuruh si gendut mundur dan maju sendiri

sebagai bandar.

“Nona memasang ganjil dengan taruhan semua

uang nona? Ingat, kalau nona kalah berarti nona

takkan dapat melanjutkan perjudian ini lagi,” kata

orang she Lauw itu dengan suaranya yang parau,

akan tetapi dengan sikap tenang.

Nona itu tersenyum mengejek. ‘Kalau aku

kalah, ambil semua uang ini, mengapa banyak

85

komentar lagi ? Uangku boleh habis, tetapi apakah

perhiasan-perhiasanku ini tidak laku untuk

dipasangkan ?”

Ia membuka buntalan dan terdengar orang

berseru kagum ketika terlihat perhiasan-perhiasan

emas permata yang indah-indah dalam sebuah

bungkusan.

“Ha-ha-ha, nona benar-benar seorang penjudi

ulung yang tabah. Bagus hari ini kami menerima

kunjungan seorang tamu terhormat. He, pelayan,

lekas bawa ke sini arak yang paling baik untuk

nona !”

Setelah menuangkan arak dan mempersilakan

nona itu minum, It-gan Hek-hauw lalu berkata,

“Sekarang kita mulai, nona memasangkan semua

uang itu untuk angka ganjil ?”

“Betul dan harap lekas patar dadunya !” jawab

nona itu sambil tersenyum dan memandang

tenang. Ia melihat betapa orang tinggi besar yang

bermuka hitam itu menggulung lengan bajunya ke

atas, kemudian tangan kanannya memegang

mangkok, memasukkan dadu dengan tangan kiri

ke dalam mangkok itu dan matanya yang tinggal

satu memandang tajam ke arah dadu yang mulai ia

putar-putar di dalam mangkok.

Makin lama makIn cepat dadu terputar dan

dengan telapak tangan kirinya dia menutupi mulut

mangkok sambil memutar terus. Gerakan kedua

tangannya sedemikian cepat sehingga bagi mata

para tamu, kedua lengan yang besar dan berotot

itu telah berubah menjadi banyak demikian pula

86

mangkoknya membuat para penonton menjadi

pening kepala.

Namun nona itu memandang dengan mulut

masih tersenyum, namun kini senyumnya seperti

orang mengejek. Bagaikan kilat cepatnya. It-gan

Hek.hauw kini membentak keras dan mangkoknya

sudah tertelungkup di atas meja dengan biji dadu

di dalamnya. Ia mengangkat mukanya memandang

gadis itu dengan peluh dikeningnya.

“Nona, menurut aturan, baru setelah dadu

diputar, orang mulai memasang taruhannya.

Apakah nona tetap memasang angka ganjil ? tidak

dirabah lagi ?”

Nona itu menggelengkan kepala sambil menatap

tajam wajah orang pemilik rumah judi itu yang

mengangkat muka memandang para tamu lainnya.

“Karena nona ini memasang angka ganjil berarti

bertaruh langsung dengan aku, maka harap cuwi

(tuan sekalian) untuk kali ini berhenti dulu dengan

pasangan cuwi.” kemudian tanpa menanti jawaban

orang.orang itu ia telah mendekati mangkok, kedua

tangannya dipentang dan kini tangan itu

menggetar. Melihat ini nona itupun bangkit berdiri,

kedua tangannya terletak di atas meja.

*Awas, lihat baik-baik ! Mangkok dibuka

dua…….. tiga…….. !!”

Dengan tangan kanannya It-gan Hek-houw

mengangkat mangkok dan tangan kirinya menekan

meja. Semua mata melibat ke alas meja dan……..

mereka semua melongo.

87

Jelas tampak betapa biji dadu itu

mcmperiihatkan angka tiga, jadi angka ganjil. Akan

tetapi secara aneh sekali biji dadu itu bergerak dan

menggelimpang ke samping sehingga kini angka

empat yang berada di atas. Namun hanya sebentar

saja karena kembali biji dadu menggelimpang ke

angka tiga, lalu bergerak-gerak sedikit, hampir

terbalik ke angka empat tetapi seolah-olah tidak

kuat dan miring lagi kembali ke angka tiga terus

tidak bergerak-gerak lagi.

Nona itu beradu pandang dengan bandar yang

kini sudah menaruh kedua tangan di atas meja

pula. Mukanya yang hitam menjadi makin hitam,

matanya yang tinggal satu melotot serta muka itu

kini penuh keringat.

“Hemm, angka tiga adalah angka ganjil, bukan?

Aku menang lagi!” kata si nona, suaranya nyaring.

Kini para tukang pukul yang jumlahnya belasan

orang saling pandang dan semua memandang

kepada It-gan Hek houw sambil meraba gagang

golok, menanti perintah. Namun It gan-hek-houw

tidak memberi isyarat apa-apa, hanya menghapus

peluhnya kemudian tertawa bergelak dan berkata,

“Ha ha ha, nona benar hebat ! Hayo bayar

seratus dua puluh lima tail emas kepada nona ini

!” para pembantunya tersipu-sipu mengambil uang

dari dalam karena persediaan di depan tidak cukup

untuk membayar kekalahan yang begitu banyak.

Para tamu menjadi berisik membicarakan

pertaruhan yang besar-besaran dan keadaan biji

dadu yang amat aneh tadi. Mereka sama sekali

tidak tahu bahwa tadi telah turjadi adu tenaga

88

lwee-kang (tenaga dalam) yang seru antara It-gan

Hek-houw dan nona baju merah itu melalui

tekanan tangan mereka pada permukaan meja.

Setelah uang pembayaran selesai dihitung dan

ditumpuk di atas meja di depan nono itu, It-gan

Hek-houw berkata, “Apakah nona masih berani

untuk melanjutkan perjudian ini?”

Kembali senyum mengejek itu membayang di

mulut yang amat indah bentuknya dan berbibir

merah. “Mengapa tidak berani ?

“Awas, kali ini kau bisa kalah, nona.”

‘Kalau tidak menang, tentu kalah. Apa

bedanya? Lakas putar, aku akan mempetaruhkan

semua uangku ini, dua ratus lima puluh tail emas

Diantara para tamu ada yang menjadi pucat

mukanyta. Ini sudah gila, pikirnya. Mana ada

taruhan sekali pasang dua ratus lima puluh tail

emas? Kekayaan ini cukup untuk dipakai modal

berdagang besar. Ini tentu tidak sewajarnya dan

ada apa-apa di balik taruhan ini. Ia menjadi tegang

dan takut. Akan tetapi karena hatinya tertarik

ingin melihat perkembangan selanjutnya, ia berdiri

seperti terpaku pada lantai dan melihat sambil

menahan napas.

Kini It-gan Hek.hauw meaggerakkan kedua

lengannya secara aneh sekali, seperti orang

bersilat. Kedua tangan itu bergerak ke sana ke

mari dengan amat cepatnya sehingga orang-orang

tidak bisa melihatnya lagi sewaktu ia mengambil

mangkok dan kemudian dengan cara bagaimana

pula ia menaruh dadu ke dalamnya, tahu-tahu

89

sudah diputarnya mangkok itu dengan gerakangerakan

cepat dan aneh.

Nona itu hanya memandang dengan senyum

tetap mengejek dan senyumannya melebar ketika

tiba-tiba It-gan Hek-hauw menurunkan mangkok

di atas meja dengan mulut di bawah.

Ketika mangkok menyentuh meja, meja itu

sampai tergetar dan mengeluarkan suara nyaring.

Dengan mata berkilat kilat dia mandang nona itu

dan berkata nyaring.

“Nona, kau pasanglah !”

Nona itu dengan gerakan sembarangan

mendorong semua uangnya ke angka enam sambil

berkata, “Aku mempertaruhkan semua ini atas

angka enam!”

Kembali para tamu menjadi berisik. Bukan

main beraninya nona itu mempertaruhkan atas

angka enam, tentu saja kesempatan menang jauh

lebih kecil dari pada kalau memasang angka ganjil

atau genap. Akan tetapi kalau ia menang bandar

harus membayar empat kali lipat, berarti akan

membayarnya seribu tail emas! Bisa bangkrut kali

ini rumah judi Lak-nam kalau pasangan itu kena.

Wajah yang hitam itu kini menjadi agak hijau,

mata yang tinggal satu menjadi agak merah.

“Memasang atas angka enam? Bagus! Sekali ini

engkau kalah, nona. Lihatlah!” la menggerakkan

tangannya cepat sekali membuka mangkok itu.

“Ah, terlalu banyak engkau mengerahkan

tenaga sampai dadunya terbawa ke atas!” Nona itu

berseru berbareng dengan diangkatnya mangkok.

90

Semua orang memandang dan……… berseru heran

karena di bawah mangkok itu tidak ada apaapanya

! Akan tetapi si muka hitam yang kini

mengeluarkan gerengan hebat dan nona itu yang

tersenyum-senyum keduanya berdongak

memandang ke atas. Semua orang juga ikut

memandang ke atas dan.. . …. di langit-langit

ruangan itu, tepat di atas meja judi, dadu itu telah

menempel di langit-langit dan memperlihatkan

angka…….. enam.

“Aneh…….. ……

“Angka enam …..

“Ilmu situ man …… .!”

Nona itu tidak memnerdulikan teriakanteriakan

ini lalu berkata, suaranya tegas dan

nyaring.

“It-gan Hek-hauw, lekas bayar kekalahanmu

seribu tail emas !”

Diam-diam lt-gan Hek-hauw terkejut sekali dan

maklum bahwa nona ini meskipun kelihatannya

lemah, agaknya memiliki kepandaian hebat.

Dan ia sangat kagum kepada nona itu karena

ilmunya, meskipun ia sendiri pernah bertempur

dengan orang-orang sakti.

Tadi ia sudah mengadu lweekang dengan

menekan meja dan ternyata kalah. Sekali ini

dengan kecepatannya ia sudah mengantongi dadu

pertama dan ketika hendak membuka mangkok, ia

sengaja menaruh dadu lain dengan angka satu di

atas. Siapa kira, dengan kepandaian yang luar

91

biasa, entah secara bagaimana ia tidak tahu, dadu

itu telah diterbangkan oleh nona itu ke atas,

menempel langit-langit dan memperlihatkan angka

enam yang dipasangnya!

Pada saat itu, seorang tukang pukulnya berlarilari

ke dalam dari luar dengan muka pucat serta

berteriak di depan It-gan Hek-hauw. “Celaka, Lauw

taiya ……. , dia sekarang mati…….. seluruh tubuh

dan mukanya menjadi hitam……..! Nona itu pasti

yang melukainya !”

Nona baju merah itu yang sejak tadi sudah

berdiri, kini bertolak pinggang dan tersenyum lebar

lalu berkata, ‘Anjing muka bopeng itu dibunuh

sepuluh kalipun masih belum dapat menebus

kekurang-ajarannya kepadaku. Lalu kalian ributribut

mau apa? Hayo lekas bayar uangku !”

“Tangkap perempuan pengacau ini!” It-gan-Hekhauw

berteriak marah.

Lima belas jagoan yang menjadi tukang tukang

pukul dan pegawainya segera mencabut golok serta

mengurungnya. Akan tetapi gadis ini tersenyum

sabar, berbeda dengan para tamu yang kini

berlarian keluar serta ada pula yang mepet di

sudut dengan muka pucat dan tubuh menggigil.

“Eh, apakah kalian semua ini sudah tidak mau

hidup lagi ?” Ia menegur dan menyindir. Belasan

orang jagoan itu sudah biasa melakukan

pertempuran serta melawan musuh lihai,

mendengar ancaman nona itu, mana mereka takut,

apa lagi ia tak bersenjata !

92

Sambil berseru keras, mereka menyerang maju

seolah-olah berebut dan berlomba. Akan tetapi,

tampak tiba-tiba benda merah berkelebat disusul

suara melengking tinggi tubuh nona itu bergerak

lalu sinar merah menyambar-nyambar dan………

terdengar suara nyaring di susul golok-golok

terbang semua dan jerit mengerikan ketika tubuh

belasan jagoan itu roboh susul menyusul dalam

keadaan tidak bernyawa lagi.

Nona baju merah itu kini berdlri tegak, tangan

kiri bertolak pinggang serta tangan kanan

memegang sebuah suling merah yang kecil mungil

entah sejak kapan dikeluarkan. Sepasang mata

yang bening seperti burung Hong itu lalu menatap

kepada It-gan Hek-houw, bibirnya yang merah

basah tersenyum dan deretan gigi yang putih

bersih seperti mutiara berkilat ketika ia bertanya,

“Bagaimana sekarang? Masih hendak coba-coba

lagi atau lekas bayar uang kemenanganku?”

Tangan kanan itu menggerak-gerakkan suling

seperti gerakan seorang penari.

Biarpun digerakkan perlahan, namun suling itu

dapat mengeluarkan suara melengking lirih seperti

suara kucing atau bayi menangis. Kemudian tanpa

memperdulikan orang disekitarnya seakan-akan di

situ tidak ada orang lain, bibirnya diruncingkan

dan terdengarlah tiupan suling mengalun merdu!

“Cui-siauw-kwi……!” teriak seorang diantara

para pembantu It-gan Hek-hauw ketika melihat

sikap nona baju merah itu, semua orang terkejut

dan teringat. Tak salah lagi, inilah Cui-siauw-kwi

(Setan Peniup Suling) yang pada waktu dua tahun

93

ini amat menggemparkan dengan perbuatanperbuatannya

yang mengerikan.

Seorang iblis betina yang cantik jelita, namun

amat kejam sepak terjangnya. Entah berapa

banyak jumlahnya orang yang telah dibunuhnya

dan yang terbanyak adalah, laki-laki muda belia

yang tampan. Sudah terkenal betapa Cui-sianwkwi

gila laki-laki tampan.

Setiap kali ia melihat laki-laki tampan dan

muda lalu dipikat dan dibujuk menggunakan

kecantikannya atau kalau bujukan ini tidak

berhasil lalu memakai kepandaian untuk menculik

laki-laki itu dipaksa menjadi kekasihnya.

Celakanya laki-laki muda itu setelah jadi

kekasibuya tidak akan lebih umurnya dari lima

hari.

Mendengar ada orang mengetahui julukannya

itu, ia lalu melirik ke kiri dan -melihat bahwa yang

menyebut nama poyokannya tadi adalah seorang

laki-laki setengah tua yang menjadi pelayan rumah

judi.

Tangan kanannya masih mamegang suling

sambil meniup menyanyikan lagu asmara yang

merdu, akan tetapi tiba-tiba tangan kirinya

bergerak ke depan, dan…….. orang yang tadi

menyebut nama poyokannya itu menjerit terus

roboh terguling, lalu putus napasnya.

Nona itu mengbentikan tiupan sulingnya,

melihat ke sekeliling lalu bertanya, suaranya masih

halus merdu senyumnya masih mengembang di

bibirnya.

94

“Siapa lagi yang berani menyebutku setan?”

Para tamu dan pegawai Lok-nam Po-koan

menjadi pucat dan mundur ketakutan.

“It-gan Hek-hauw, kau tidak lekas mambayar

uangku? Apakah aku harus memaksamu?”

It-gan Hek-hauw adalah seorang bekas penjahat

kawakan, akan tetapi semenjak lama

mengundurkan diri dari dunia kejahatan karena

sudah menjadi seorang kayaraya. Kini karena

terancam kerugian besar sekali ia memutar otak. Ia

maklum bahwa kalau melawan dengan kekerasan

ia akan kalah dan tentu nona yang seperti iblis ini

takkan segan-segan membunuhnya, maka ia cepatcepat

tersenyum lebar dan maju selangkah,

memberi hormat dengan menjura dan

membungkuk,

“Ah, kiranya Cui-siauw Sianli ( Dewi Peniup

Suling) Ma-konwnio (nona Ma) yang datang

berkunjung. Maaf…….. maaf…….. karena belum

pernah jumpa biarpun sudah bertahun-tahun

mendengar nama besar Kouwnio yang menjulang

tinggi di angkasa, maka kami menyambut Kouwnio

kurang hormat. Kalau tahu bahwa Kouwnio

adalah Cui-siauw Sianti, tentu tidak akan sampai

terjadi kesalah-pahaman ini……”

Senyum manis itu makin melebar akan tetapi

pandang mata nona itu berobah dingin dan penuh

ancaman, “It-gan Hek hauw, tak perlu engkau

memulas bibir dengan madu. Akupun tidak sudi

berkenalan dan berhubungan dengan kau dan

orang-orangmu, maka tak perlu banyak cakap lagi.

Lekas bayar kemenanganku seribu tail emas!’

95

Muka yang hitam itu menjadi pucat sekali dan

cepat-cepat It-gan Hek-hauw menjura sampai

jidatnya hampir menyentuh tanah, semua anak

buahnya terheran-heran.

Biasanya, majikan mereka ini amat galak,

setanpun takkan ditakutinya, mengapa kini

bersikap demikian merendah terhadap nona baju

merah itu. Sedangkan mereka itu tahu bahwa

majikan mereka adalah seorang berkepandaian

tinggi.

”Tentu, tentu akan saya bayar lunas, Kouw nio.

Akan tetapi, seribu tail emas bukan jumlah sedikit.

Tak mungkin saya dapat membayar sekarang

karena tidak ada uang tunai sebanyak itu. Harap

kouw-nio sudi memberi waktu tiga hari, saya akan

kumpul-kumpulkan dan tukar-tukarkan perak

menjadi emas, setelah tiga hari, seribu tail emas itu

akan tersedia di sini harap saja kouw-nio

mempertimbangkan.”

Nona itu menyipitkan kedua matanya. “Hemm,

kalau menurut patut, setelah kalah berjudi tidak

mampu bayar, seharusnya aku turun tangan

memburtuhmu ! Akan tetapi, biarlah kuberi waktu

tiga hari, kau takkan dapat lari dariku setelah tiga

hari, malamnya aku akan datang untuk mengambil

uang atau kepalamu !”

Setelah berkata demikian, nona baju merah ini

dengan tenang mengambil uangnya dua ratus lima

puluh tail emas dari atas meja, memasukkannya

dalam buntalan, menggendong buntalannya,

kemudian dengan langkah lemah gemulai sehingga

sepasang pinggulnya menari-nari di belakangnya ia

96

keluar dari rumah judi itu sambil meniup

sulingnya perlahan-lahan.

Semua orang mengikutinya dengan pandang

mata terbelalak dan napas tertahan, dan belum

berani bergerak sebelum suara suling yang makin

lama makin lirih itu lenyap.

Barulah tampak kesibukan luar biasa, para

tamu-tamu cepat pergi meninggalkan ruangan dan

para pelayan sibuk merawat taman-temannya yang

tewas. Adapun It-gan Hek-hauw sendiri cepat

menyuruh sediakan seekor kuda dan tak lama

kemudian tampak pemilik rumah jadi ini sudah

menunggang kuda, membalapkan kudanya keluar

dari kota Hopak menuju ke selatan.

Biarpun hampir semua penduduk Hopak

menjadi. gelisah mendengar bahwa kota mereka

kedatangan seorang tokoh mengerikan seperti Cuisiauw-

kwi, namun sama sekali tidak mengganggu

kegembiraan besar yang terdapat di rumah dua

keluarga, yaitu keluarga Bhok dan keluarga Souw

yang sedang merayakan hari pernikahan putera

dan pateri mereka.

Pemuda she Bhok seorang sasterawan muda

yang tampan, pada hari itu dinikahkan dengan

gadis she Souw yang cantik rupawan dan kaya

raya.

Pemuda Bbok yang tidak kaya dipilih mantu

oleh hartawan Souw dan pada malam hari itu para

tamu memenuhi ruangan tamu rumah gedung

keluarga hartawan Souw, serombongan pemain

musik meramaikan suasona dengan bunyi-bunyian

97

merdu dan mengiringi uyanyian wanita-wanita

cantik,

Banjir arak dan masakan lezat membuat para

tamu menjadi makin gembira sehingga makin jauh

malam, suara ketawa para tamu makin bebas

terlempar.

Biarpun siang hari tadi terjadi pembunuhan

belasan orang dan kekacauan di rumah judi Loknam,

namun malam hari itu tak seorangpun

diantara auggauta keluarga hartawan Soaw

mengingat akan hal itu. Hanya para tamu yang

kadang-kadang terdengar membicarakan si nona

baju merah yang cantik seperti bidadari, namun

kejam seperti iblis.

Mereka bicara sambil tidak berani bicara karaskeras,

apalagi menyebut nama Dewi Suling dengan

nama poyokan, sama sekali mereka tidak berani!

Kalau terpaksa menyebut, juga mereka menyebut

Cui-siauw-sianli. Setelah mendengar betapa

seorang yang menyebutnya Satan Suling dibunuh,

semua bibir menyebut wanita aneh itu Dewi Suling

!

Menjelang tengah malam, sebagian besar para

tamu sudah mulai mabok dan permain musik yang

juga tidak sedikit minum arak, kini mainkan musik

makin ramai penuh gairah. Suara suling mengalun

merdu diseling suara yang-kim dan gitar, saling

susul dalam paduan suara yang harmonis.

Tiba-tiba terdengar suara melengking yang

merdu, juga tinggi mengalahkan paduan suara itu.

Suara melengking tinggi itu terdengar jelas seperti

suara suling tetapi bukan keluar dari suara pemain

98

musik. Suara melengking tinggi ini datangnya dari

atas!”

“Dewi Suling…….. !!!”

Entah siapa orangnya yang berteriak menyebut

nama itu. Agaknya ia tadi terpengaruh oleh

percakapan mengenai tokoh itu, maka begitu

mendengar lengking ini tanpa disadarinya ia

menyebut nama Dewi Suling.

Akan tetapi akibatnya luar biasa sekali.

Para tamu menjadi pucat mukanya dan ada

pula satu dua orang yang menyelinap turun

bersembunyi di bawah meja, semua tamu menjadi

panik, ada yang cepat-cepat menyelinap keluar dari

ruangan itu terus melarikan diri.

Dalam keadaan panik itu suara melengking

terus terdengar tetapi kian menurun ke bawah

tetapi tiba-tiba terdengar jerit mengerikan, jerit

seorang wanita yang keluar dari dalam kamar

pengantin menembus kegelapan malam di luar

rumah.

Mendengar jeritan ini, para tamu yang

sembunyi di bawah meja menggigil seluruh

tubuhnya, bahkan yang terlalu penakut sampai

terkencing-kencing, membasahi celananya dan

lantai. Yang sudah berlari keluar terus

mempercepat larinya sampai ada yang tersanduag

jatuh bangun mengaduh-aduh.

Keluarga Souw tadinya juga panik, akan tetapi

begitu mendengar jerit mengerikan dari kamar

pengantin, hartawan Souw menjadi gelisah sekali.

99

Teringat nasib puterinya, ia memberanikan diri

serta mengajak beberapa orang pengawal, lalu

menggedor pibtu kamar pangantin. Kamar ini

semenjak tadi menjadi bahan senda gurau para

tamu muda setiap kali mereka memandang pintu

kamar yang dicat merah, mereka tersenyumsenyum

dan memandang dengan mata penuh arti.

Kini pintu itu digedor-gedor oleh Souw wangwe

(hartawan Souw) yang memanggil-manggil

puterinya.

Namun suara saja tidak ada jawaban. Hanya

terdengar suara suling melengking itu kini makin

lama makin lirih dan akhirnya lenyap.

Hartawan Souw tak dapat menahan

kegelisahannya lebih lama lagi. Ia lalu menyuruh

para pengawal untuk membongkar saja pintu

kamar itu. Begitu daun pintu dibuka, hartawan

Souw dan isterinya lari memasuki kamar pengantin

yang dihias indah dan berbau harum sekali.

Tadi para tamu muda yang bersenda gurau

saling bicara tentang sikap sepasang pengantin itu

dengan bermacam-macam dugaan yang lucu-lucu.

Ada yang bilang betapa pengantin wanita

dengan malu-malu menolak pendekatan pengantin

pria, ada yang bilang pengantin wanita mengajak

bergelut lebih dulu sebelum menyerah, dan masih

banyak macam lagi. Sepantasnya pada saat seperti

itu sepasang pengantin tentu setidaknya sedang

berpelukan mesra. Akan tetapi ketika mereka

memandang ke atas pemharingan tampak darah

berlepotan dan tubuh pengantin wanita dengan

pakaian masih lengkap rebah terlentang tak

100

bernyawa. Pengantin wanita yang cantik dan muda

belia itu mati di atas ranjang pengantin,

menggeletak di atas gelimangan darahnya sendiri,

sedangkan pengantin pria tidak nampak

bayangannya lagi di dalam kamar itu.

Jendela kamar masih tertutup rapat, akan

tetapi langit-langit kamar itu robek lebar berikut

gentengnya yang terbuka.

Jerit tangis terdengar memenuhi malam sunyi,

tawa gembira seketika berubah menjadi tangis

duka. Perayaan pestapora berubah menjadi

perkabungan yang menyedihkan.

Para tamu segera pulang tanpa pamit, nama

Dewi Suling dibisikkan oleh bibir dan hati penuh

rasa takut.

Apakah yang sebenarnya telah terjadi di dalam

kamar pengantin itu ? Kedua orang muda yang

baru sekali itu mengalami tidur sekamar dengan

seorang lawan jenis menjadi jengah dan malu.

Ketika para sanak dan kerabat, seperti sudah

menjadi kebiasaan, mengantar pengantin pria

memasuki kamar pengantin sambil menggoda

dengan berbagai kata-kata kemudian menutup

pintu kamar pengantin, suara ketawa mereka itu

masih bergema dan terdengar dari dalam kamar

pengantin.

Pengantin pria, pemuda she Bhok itu semenjak

kecil hanya tekun membaca kitab mempelajari

sastera.

Mimpipun belum pernah berdekatan dengan

seorang wanita apalagi berduaan sekamar. Kini ia

101

melangkah maju, langkah-langkah kecil dengan

kedua kaki menggigil dan jantung berdebar seperti

hampir pecah rasanya, pengantin wanita duduk di

atas pembaringan sambil menundukkan mukanya.

Mengerlingpun ia tidak berani sungguhpun ia

tahu bahwa ia kini sudah berduaan sekamar

dengan calon suaminya. Ia tahu betapa suaminya

seorang pemuda yang halus dan tampan sekali dan

sebetulnya ia merasa bahagia di dalam hati akan

menjadi isteri pemuda itu.

Akan tetapi rasa malu membuat ia tidak berani

berkutik. Hanya kedua telinganya saja yang pada

saat itu hidup, mendengarkan penuh perhatian ke

arah suaminya bergerak. Sampai suaminya itu

duduk di atas pembaringan di sebelahnya, Ia tidak

berani mengerling apalagi menengok.

Mungkin ada satu jam lebih kedua orang muda

remaja yang usianya baru antara enam belas

sampai delapan belas tahun ini sudah duduk

bersanding tak bergerak-gerak seperti dua buah

arca yang amat bagus buatannya.

Siwanita duduk menunduk sampai

punggungnya melengkung dan dagunya

menyentuh dada, mata setengah terpejam dan

mukanya tertutup untaian mutiara yang semacam

kerudung.

Yang pria, masih dalam pakaian pengantin yang

indah, mukanya yang tampan itu kemerahan,

sepasang pipinya yang putih halus menjadi merah

karena tadi ia dipaksa minum arak pengantin oleh

para handaitolan yang memberinya selamat,

102

sepasang mata yang lebar bening itu berkilauan

akan tetapi mulutnya tersenyum-senyum malu.

Beberapa kali ia mengerling ke kanan, beberapa

kali ia menengok, beberapa kali bibirnya bergerakgerak

hendak mengeluarkan suara, Namun. semua

itu sia-sia belaka, tak dapat ia mengeluarkan suara

karena setiap kali jantungnya melonjak-lonjak

seperti mau meloncat keluar dari mulut melalui

kerongkongannya.

Ia sudah berusaha untuk menggerakkan tangan

kanan buat menyentuh jari-jari tangan halus

isterinya yang berada di atas pangkuan, namun

tangannya gemetaran dan hilang tenaganya.

Tiba-tiba perigantin wanita menarik napas

panjang dan terdengar isak tertahan satu kali. Ia

sudah lelah menanti, hampir tak kuat menahan

getaran jantungnya saking tegang, namun

suaminya tetap diam saja. Hal ini benar-benar

menjadi godaan yang tak dapat ditahan lagi hampir

ia menangts. Ingin ia menjatuhkan diri terlungkup

di atas pembaringan sambil menangis tersedusedu.

“Moi-moi…….! Akhirnya suara yang dinantinantinya

itu terdengar juga, suara suaminya yang

menggetar-getar. Suara yang menembus dadanya,

terus menyentuh jtungnya, membuat ia sesak

bernapas lalu menoleh sedikit, melirik kemudian

tersenyum malu-malu membuang muka lagi

melihat ke bawah.

Tangan pengantin pria itu tiba tiba berada di

tangan pengantin wanita, sentuhan perlahan

namun merupakan sentuhan pertama yang terasa

103

sampai ke tulang sumsum membuat tangan

pengantin wanita yang kecil itu menggigil seperti

seekor burung kecil digenggam orang. “Kenapa

tanganmu dingin sekali, moi. moi?”

“Tidak ……. Apa-apa.”

Kalimat pertama ini membuka pintu

kecanggungan yang tadi memisahkan mereka

tetapi tak lama kemudian, ketika dengan jari

gemetar sipengantin pria membuka kerudung

penutup muka pengantin wanita lalu terpesona

oleh kecantikan wajah isterinya, wanita muda belia

itu dengan malu-malu menahan ketawa lalu

menyandarkan kepala di dada suaminya.

Dalam keadaan mesra itu, keduanya lalu saling

menuturkan keadaan diri masing- masing.

Pada saat itulah mereka terkejut oleh suara

lengkingan yang terdengar di atas rumah, suara

yang makin lama makin nyaring dan dekat, setelah

itu terdengar suara genteng terbuka bersamaan

pecahnya langit-langit kamar pengantin melayang

turun sesosok tubuh manusia ke dalam kamar itu

lalu seperti seekor burung bayangan itu telah

berdiri di atas lantai tersenyum-senyum.

Sepasang pengantin itu terkejut bukan main.

Akan tetapi hati mereka agak lega ketika melihat

bahwa orang yang melayang turun dari atas ini

ternyata adalah seorang wanita muda yang cantik

sekali berpakaian serba marah dari sutera tipis.

Seorang wanita cantik yang tersenyum-senyum

dan sama sekali tidak menakutkan.

104

Tentu saja sepasang pengantin ini belum

mendengar tentang Dewi Suling yang telah

menyebar maut siang tadi di rumah judi Lok-nam.

Pengantin pria yang masih merangkul pinggang

isterinya, segera menegur, “Kau siapakah dan apa

perlumu memasuki kamar kami seperti ini……?”

Dewi Suling tersenyum, manis sekali dan

sepasang matanya menatap wajah pengantin pria

terus ke bawah seperti orang menaksir serta

memeriksa. Agaknya ia merasa puas dengan hasil

pemeriksaannya itu, lalu tertawa sehingga bibir

yang merah itu terbuka memperlihatkan rongga

mulut yang lebih merah lagi di balik deretan gigi

putih.

“Ah, benar.benar tampan pengantin pria !

Sayang jejaka setampan ini ditemani seorang

wanita yang lemah !” Ia melangkah maju dan jarijari

tangannya mengusap dagu dan pipi si

pengantin pria dengan gerakan mesra. Saking

kaget dan herannya, pengantin pria itu

membelalakkan mata tak mampu mengeluarkan

suara dan mukanya yang putih menjadi amat

merah.

Akan tetapi pengantin wanita yang melihat

bahwa pengunjungnya, itupun hanya seorang

wanita sudah dapat menguasai kekagetannya dan

membentak.

“Dari mana datangnya perempuan rendah dan

gila ini ? Hayo pergi…….!”

Akan tetapt kata-katanya ini segera disusul

jeritannya yang mengerikan karena Dewi Suling

105

sudah menggerakkan tangan kiri dengan jari-jari

terbuka menusuk ke depan dan …….. jari-jari yang

kecil halus itu bagaikan ujung lima batang pedang

yang telah amblas memasuki ulu hati si pengantin

wanita, menembus pakaian kulit dan daging.

Si pengantin wanita roboh di atas pembaringan

dan darah mengucur keluar dari dadanya. Di lain

saat pengantin pria yang hendak bergerak tiba-tiba

menjadi lemas dan tak dapat bergerak ketika

tubuhnya direnggut kemudian dipanggul di atas

pundak. Dewi Saling sekali meloncat sudah

malayang naik dan ke luar melalui langit-langit

kamar yang sudah bobol itu.

Tak lama kemudian pemuda belia she Bhok

yang tadi masih jadi pengantin, kini telah menjadi

seorang tawanan yang dibiwa berlari-lari cepat

sekali dalam malam gelap.

Malam itu pemuda remaja she Bhok memang

masih jadi pengantin pria, akan tetapi ia bukan

berpengantin dengan isterinya di dalam kamar

pengantin melainkan berpengantinan dengan Dewi

Suling seorang wanita yang penuh nafsu dan

pengalaman dan bertempat di pinggir sebuah

sungai kecil dalam hutan di luar kola Ho-pak.

Bukan di ranjang pengantin yang berhiasan

sutera berwarna, melainkan di atas tanah

bertilamkan rumpnt hijau tebal dihias bunga yang

tumbuh di sekitar tempat itu.

Muda belia she Bhok ini bukanlah seorang

mata keranjang. bukan pula seorang hamba nafsu

dan betapa cantik menggairahkan sekali pun Dewi

Suling itu, ia tidak akan tunduk dan menuruti

106

hasrat kotor dari hina si iblis betina, kalau saja ia

tidak dipaksa menelan dua butir obat yang

membuat pemuda she Bhok menjadi seperti mabok

dan gila karena pengaruh obat itu, dia berubah

menjadi seperti setan kelaparan dan melayani

hasrat Dewi Suling dengan nafsu yang sama

besarnya.

Akan tetapi pada keesokan harinya, menjelang

siang pengantin pria she Bhok ini sudah terkapar

mati di tepi sungai dengan tubuh utuh, tanpa

pakaian, sama sekali tidak tertuka dan mukanya

pucat tak berdarah lagi itu membayangkan

kepuasan dengan mulut tersenyum. Akan tetapi

dari semua lubang di tubuh menetes-netes keluar

darah!

Siapakah wanita sekeji iblis yang disebut Dewi

Suling itu? Dia ini bernama Ma Ji Nio dan orangorang

kang-ouw yang membenci sepak terjangnya

memberi jutukan Cui-siauw-kwi Setan Peniup

Suling) sedangkan orang-orang yang takut

menyebut Cui-siauw Sianli (Dewi Peniup Suting).

# MAAF JILID III ENGGA KEBACA TEKS DJVUNYA

JILID IV

AKAN tetapi, demikian pesan gurunya. Ia harus

berhati hati betul kalau bertemu dengan seorang

kakek aneh yang bernama Han It Kong berjuluk

Sin kong ciang.

107

“Kalau bertemu orang ini,” demikian papar

gurunya, “jangan kau sembaragan turun tangan.

Dia ini musuh besarku, tetapi ilmu silatnya hebat

bukan main. Kau bukan tandingannya muridku.

Kalau kau tahu di mana Han It Kong itu berada,

lekas beritahukan padaku dan kita lalu bersama

sama mengerubuti. Dengan cara ini kita bisa

berharap mampu mengalahkan serta

membunuhnya.”

Dan tidak diduga duganya ia lelah bertemu

dengan dua orang murid Hap Tojin. Betul saja,

dengan ilmu silatnya ia dapat mengatasi kedua

orang itu. Tetapi bayangan putih itu, siapakah dia?

Kepandaiannya seperti setan.

Dewi Suling telah melupakan bayangan putih

itu yang betul betul ditakutinya ketika tiga hari

kemudian ia tiba di kota Ang keng. Kota ini amat

besar serta ramai sebab letaknya di tepi lembab

Sungai Yang ce. Ramai didatangi kaum pedagang

karena sungai besar ini merupakan alat

penghubung air yang lancar serta murah.

Begitu memasuki kota ini, empat orang tinggi

besar telah menyambutnya di pintu gerbang serta

terus langsung menuju ke pelabuhan di mana

terdapat sebuah perahu bercat Hitam yang besar.

Mereka memasuki perahu ini dan duduk

mengelilingi meja.

Empat orang ini adalah pembantu pembantu

Dewi Suling yang berhasil membawa lari seribu tail

emas dari kota Hopak tiga hari yang lalu. Peti

hitam berisi emas itu dapat mereka selamatkan

108

sampai ke An keng dan kini mereka simpan dalam

perahu.

Mereka ini bukanlah orang orang biasa karena

sebelum menjadi kaki tangan Hek siauw Kui bo

guru Dewi Suling, mereka dahulu terkenal sebagai

bajak sungai Yang ce Su go (Empat Buaya Sungai

Yang ce). Beberapa tahun yang lalu, mereka

kesalahan tangan membajak Dewi Suling dan

gurunya.

Tentu saja dengan mudah mereka ditundukkan

dan semenjak itu mereka berempat menjadi kaki

tengan Dewi Suling dan gurunya yang bersembunyi

di dalam bukit bukit guha guha sepanjang Sungai

Yang ce, tak jauh di sebelah timur An keng.

“Nona, mengapa agak lambat sehingga kami

berempat merasa bimbang dan tak enak kami

menanti di sini?” Tanya seorang diantara Yang ce

Su go yaug paling tua, bernama Song Kai.

Dewi Suling tersenyum dan memainkan kerling

matanya. Empat orang tinggi besar itu adalah

orang orang kasar berusia empat puluh tahun

lebih dan sudah banyak mereka mempermainkan

wanita.

Akan tetapi menghadapi Dewi Suling mereka

berempat ini merasa kagum dan tergila gila tentu

saja hanya di dalam hati karena mereka sama

sekali tidak berani bersikap kurang ajar. Setiap

kali Dewi Suling tersenyun manis dan mengerling

genit seperti itu, hati mereka seperti dikutik kutik

dan mereka hanya memandang dan menelan

ludah. Sebagai seorang wanita yang hampir setiap

malam mempermainkan pria, tentu saja Dewi

109

Suling maklum apa makna pendang mata mereka

itu. Akan tetapi mereka itu orang orang kesar dan

buruk lagi pula sudah setengah tua. Mana dia mau

memperdulikan mereka?

“Paman Seng Kei, mengapa mereka tak enak

hati? Apakah tidak percaya kepadaku?”

“Eh…. ah…! bukan begitu. Tidak sekali kali

nona. Akan tetapi, emas ini… begini banyak

sehingga kami merasa tidak aman di jalan.

Bagaimana kalau ada yang mengetahui nya? Tentu

akan banyak gangguan dan keributan.”

“Hemm ! Kalau ada yang tahu, katakan ini milik

Dewi Suling. Siapa berani ganggu?”

Song Kai menundukkan mukanya “Nona benar,

hanya kami ingin lekas lekas membawa emas ini ke

istana air sehingga selesailah tugas kami.”

Dewi Suling melirik kearah peti hitam di sudut

ruangan perahu. “Kenapa kalian menantiku?

Kenapa tidak langsung saja membawa emas itu ke

sana?”

“Kami menanti nona, karena dari pada nona

susah susah mencari perahu dan berlayar

sendiri….“

“Sudahlah, sekarang kalian lekas pergi, bawa

emas itu pulang dan serahkan kepada guruku dan

stttt……. !” Tiba tiba Dewi Suling memberi tanda

dengan telunjuk di depan mulut karena mendadak

perahu besar itu agak bergoyang sedikit. Dengan

cepat ia melompat keluar dari pintu ruangan

perahu. Tidak ada apa apa di luar kamar perahu

hanya jauh di seberang ia melihat bayangan

110

berkelebat lenyap menyelinap diantara perahu

perahu lain. Seketika muka Dewi Suling menjadi

pucat. Ketika empat orang pembantunya itu

menyusul keluar dari dalam bilik ia cepat berkata,

“Lekas, lekas kalian berangkat sekarang juga ! Aku

akan pergi lebih dulu!”

“Nona……. tidak ikut bersama kami? Nona

hendak ke mana pula……,?”

Dewi Suling melotot. “Perlu apa kau bertanya

tanya ke mana aku hendak pergi?”

“Eh… bukan apa apa, nona. Hanya menjaga

kalau kalau Toanio (Nyonya Besar) menanyakan

nona.”

“Tak usah cerewet, pergilah dan jaga baik baik

peti itu.” Setelah berkata demikian, Dewi Suling

meninggalkan perahu hitam dengan tergesa gesa.

Empat orang itu saling pandang dan

mengangkat pundak. Seorang diantara mereka

mengomel. “Mana dia mau menghargai jasa jasa

kita? Yang dicarinya tentu orang orang muda yang

tampan, Hemm, tak tuhu….“

“Ssttt, sam te (adik ketiga), jangan mengomel.”

Song Kai menegur adiknya dan mereka berempat

lalu sibuk bersiap siap, lalu berangkat berlayar

menurutkan aliran sungai menuju ke timur.

Apa yang diomelkan Yang ce Su go paling muda

tadi memang tidak meleset daripada kenyataan.

Terhadap empat orang pembantunya itu, biarpun

ia tahu akan perasaan dan kekaguman mereka,

tentu Dewi Suling sama sekuli tidak mau perduli.

Yang dibutuhkan hanya pria pria muda belia yang

111

tampan, bukan laki laki setengah tua dan kasar

seperti bekas empat orang bajak sungai itu !

Setelah keluar dari perahu, Dewi Suling lalu

memasuki kota, berkeliling sambil memasang

mata. Sudah tiga hari tiga malam ia tak pernah

ditemani seorang pria tampan.

Kota An keng yang besar itu tidak kurang pria

pria tampan, tinggal memilih saja. Setelah berputar

putar setengah harian sudah ada sepuluh orang

pemuda jang diam diam dipilihnya. Malam ini ia

akan mulai dengan seorang pemuda putera pemilik

toko obat di sebelah barat jalan simpang empat.

Ia adalah seorang pemuda berusia tujuh belas

tahun, bermata lebar serta muka bundar putih

bibirnya berwarna merah tanda berbadan sehat

sekali, ia akan besenang senang dengan kesepuluh

pemuda pilihannya itu, lalu setelah puas, barulah

ia menyusul empat orang pembantunya dan juga

menemui gurunya. Tempat untuk bersenang

senang itu sudah dipilihnya yaitu sebuah Kuil yang

hanya dihuni oleh lima orang nikouw (pendeta

wanita).

Setelah hari berganti malam, sebelum menemui

putera pemilik toko obat, lebih dahulu Dewi Suling

hendak mempersiapkan tempatnya, maka ia terus

mendatangi kuil itu. Lima orang nikouw yang

mengira bahwa tamu ini adalah seorang gadis yang

akan bersembahyang, menyambutnya dengan

ramah serta penuh rasa sayang.

“Omitohud…. malam malam begini siocia (nona)

mau sembahyang? Ah, tentu banyak kesusahan

yang siocia dertia…..”

112

Nikouw kepala yang sudah tua itu tiba tiba

berdiam diri serta terkejut sewaktu tamu wanita itu

yang dikiranya mau bersembahyang menolong

berkah dari Sang Buddha itu tiba tiba membentak.

“Siapa mau sembahyang? Aku akan memakai

kuil kalian ini selama lima sampai sepuluh hari!

Aku membutuhkan kamar yang terbesar serta

terbaik, dan nanti kubayar mahal Tetapi asalkan

tak ada seorangpun yang boleh tahu bahwa kami

berada di tempat ini !”

Nikouw tua itu membelalakkan matanya,

merasa amat heran. Akan tetapi iu masih menjura

serta berkata ramah.

“Nona, pinni (aku) berlima akan merasa gembira

sekali kalau dapat menolongmu. Kalau nona

membutuhkan tempat beristirahat, kami

persilakan memakai tempat kami. Tapi kenapa

bicara soal pembayaran? Pinni berlima tidak mau

menerima uang sewa, pakai sajalah kamar kami,

boleh nona pilih.”

“Dan kalian bersumpah tidak akan bicara

kepada orang lain bahwa aku berada d sini?”

“Kalau nona berpesan begitu, tentu saja pinni

berlima tidak akan berkata kepada siapapun juga

mengenai diri nona.”

“Baik, kalau begitu sebentar aku kembali lagi

bersama…..eh, bersama …… suamiku.”

Lima orang nikoaw itu serentak mengeluarkan

seruan kaget dan muka mereka pucat.

“Omitohud…..!” Nikouw tertua mengeluh.

113

“Hal itu sama sekali tidak bisa ……! Nona tentu

mengerti sendiri, kuil ini adalah tempat para

pendeta wanita. Seorang laki laki tidak

diperkenakan, apalagi bermalam di ini!”

Tiba tiba kalima orang nikouw itu

mengeluarkan jeritan tertahan ketika berkelebat

sinar merah dan tahu tahu tubuh mereka telan

menjadi kaku di tempat mereka masing masing

tadi berdiri, sama sekali tak dapat digerakkan lagi.

Dan wanita cantik berpakaian merah itu kini telah

mencekal sebatang suling warna merah pula yang

tadi dengan kecepatan kilat telah menyambar dan

menotok jalan darah mereka berlima

“Kalian mau membantah lagi ?” Dewi Suling

bertanya, dengan tersenyum dingin mengejek.

Nikouw yang telah tua itu bersama keempat

temannya terkejut tetapi karena mereka masih bisa

bicara, maka mereka hanya bisa membaca doa

saja. Kini nikouw tua itu berkata. “Sebetulnya

tidak boleh….. akan tetapi pinni berlima mengenal

Cui siauw Sian li…… pinni tak berdaya, terserah

nona…”

Lalu sinar merah berkelebat pula dan kini

kelima nikouw itu sudah terbebas dari totokan.

“Nah, kau telah mengenalku itu bagus. Aku

tidak mau membunuh nikouw nikouw, juga tidak

mau merampok kuil butut ini. Aku cuma mau

beristirahat satu dua pekan di sini tanpa godaan.

Kalian boleh berkerja seperti biasa lalu melayani

aku dan… suamiku, tetapi ngat jangan sampai

seorangpun tahu aka berada di sini, mengerti?”

114

Lima orang nikouw itu mengangguk angguk

dengan muka pucat serta kedua tangan terangkap

di depan dada mereka.

“Omitohud… semoga dosa kami diampuni.”

Nikouw tua itu berdoa dengan penuh kedukaan.

Nama Dewi Suling sudah terkenal di kota An keng

bahkan telah menerobos dinding kuil serta

terdengar oleh para nikouw ini. Sebab mereka

sudah tahu akan halnya sepak terjang iblis betina

itu, maka kini para nikouw itu telah tahu pula

bahwa kuil ini mau dijadikan tempat

penyembelihan bagi pemuda pemuda tampan.

Tentu saja mereka merasa ngeri sekali serta

ketakutan sebab mereka maklum bahwa sekali

saja mereka cerita di luaran, jiwa mereka pasti

melayang !

==oo00oo==

Perahu hitam besar itu berlayar cepat di

sepanjang Sungai Yang ce kiang. Empat orang

bekas kepala bajak Yang ce Su go (Empat Buaya

Sungai Yang ce) duduk di dalam perahu,

membiarkan anak buah mereka yang mengurus

pelayanan perahu, sambil bercakap cakap dan

makan minum serta membicarakan keadaan Dewi

Suling dengan wajah bersungut sungut.

Mereka itu tidak tahu dan tidak menduga sama

sekali bahwa tak jauh dari mereka, sebuah perahu

kecil didayung seorang pemuda mengikuti perahu

besar mereka.

115

Biarpun hanya satu orang yang mendayung,

namun perahu kecil ini meluncur cepat sekali,

tidak pernah ketinggalan oleh perahu hitam besar

yang berlayar cepat.

Pemuda ini bertubuh tinggi besar, berwajah

tampan sekali dengan bentuk muka bundar,

sepasang matanya bersinar tajam, namun tarikan

mulut dan bentuk matanya membayangkan

penderitaan hidup yang membuat wajahnya tidak

bergembira. Tersalip di pingang, tertutup jubahnya

tampak menyembul gagang pedang, dan

menggeletak didekatnya dalam perahu terdapat

sebatang tongkat rotan sebesar ibu jari kaki

sepanjang satu meter.

Pemuda ini pakaiannya serba putih, kepalanya

memakai topi bambu lebar sehingga mukanya

selalu tertutup sebagian.

Siapakah dia ini? Pemuda inilah yang

merupakan bayangan putih, yang beberapa kali

muncul secara diam diam dan yang telah

membikin serem dan takut dari Dewi Suling yang

biasanya tak megenal takut itu. Dan pemuda ini

bukan lain adalah Yu Lee!

Seperti telah kita ketahui, Yu Lee merupakan

satu satunya anggauta keluarga Dewa Pedang Yu

atau Ye Tiang Sin yang terbasmi habis oleh musuh

besarnya, Hek siauw Kui bo si iblis betina yang

amat kejam dan ganas. Telah diceritakan di bagian

depan Yu Lee dibawa oleh kakek sakti Han It Kong

dan diambi sebagai muridnya.

Lima belas tahun lamanya semenjak ia berusia

delapan tahun ia digembleng oleh kakek yang

116

berjuluk Sin kong ciang ( Tiga Sinar Sakti), dan

karena anak ini memang keturunan pendekar dan

bertulang baik berdarah bersih bakatnya luar biasa

sekali sehingga setelah berlatih siang malam

selama belasan tahun, ia telah mewarisi semua

ilmu kesaktian gurunya, bahkan telah berhasil

pula menguasai dari ilmu simpanan gurunya yang

membuat nama kakek ini menjulang tinggi

diantara nama tokoh tokoh dunia persilatan yaitu

ilmu pukulan Sin kong ciang hoat (Ilmu Pukulan

Sinar Sakti ) dan ilmu tongkat Ta kui tung (Ilmu

Tongkat Pemukul Setan ).

“Dengan Sin kong ciang kau tak perlu gentar

menghadapi lawan betangan kosong yang

bagaimanapun juga, muridku. Juga dengan Ta kui

tung hoat setiap potong ramting kayu dapat kau

pergunakan menghadapi senjata lawan yang

bagaimanapun juga. Akan tetapi karena kau

adalah cucu tunggal Dewa Pedang Yu Tiang Sin,

sudah sepatutnya kalau kau dapat bermain pedang

untuk menjunjung nama baik kakekmu. Pedangku

ini sudah tua dan berkarat kau pakailah dan kau

harus dapat melatih diri, menyesuaikan pedang

dengan Ta kui tung haot. Terserah kepadamu dan

tergantung dari pada ketekunan serta bakatmu

apakah kau akan berhasil ataukah tidak”

Demikian kata kakek sakti itu.

Yu Lee adalah orang yang semenjak kecil sudah

memiliki kekerasan hati yang luar biasa

berkerasnya, sehingga apa yang ada dihati nya, ia

akan berusaha dengan .

117

Mendengar kata gurunya ini ia lalu

dan sehingga akhirnya ia berhasil

menciptakan ilmu tongkat Ta kui Tung hoat.

Lima belas tahun telah lewat dan kini Han It

Kong telah berusia seratus tahun lebih ! Ia sudah

tua tetapi masih sehat dan masih kuat belum

pikun, namun hatinya sudah tawar terhadup

urusan dunia.

Karera ia maklum bahwa muridnya harus pergi

mencari Hek siauw Kui bo, bukan hanya menuntut

balas atas kematian seluruh keluarga, tapi

terutama sekali untuk membasmi Iblis ganas itu

agar tidak melakukan kejahatan lagi di dunia,

maka pada hari itu ia memanggil muridnya.

Yu Lee yang dapat melihat sikap gurunya

bersungguh sunnguh tidak seperti biasa, lalu

berlutut di depan suhunya, siap mendengar hal hal

yang paling

tidak

menyenangkan.

“Yu Lee

muridku, kini

sudah tiba

saatnya kau

pergi

meninggalkan

aku. Kau harus

turun gunung

dan

melaksanakan

tugasmu… Tak

perlu lagi

118

kujelaskan karena sudah sering kau mendengar

tentang tugas seorang manusia hidup harus

berusaha dan mengrjakan sesuatu demi kebaikan

sesama hidup berdasarkan kebenaran. Dan

sesuatu yang dikerjakan itu harus sesuai dengan

kepandaian. Seorang petani takkan dapat

mengemudikan perahu dengan baik dan perahu itu

akan tenggelam, sebalik nya seorang nelayan

takkan dapat mengayunkan cangkul dengan baik

dan sawah ladang tak mendapatkan tanaman

subur. Engkau sejak kecil tekun belajar ilmu silat

maka sudah menjadi kewajibanmu untuk

menyesuaikan kepandaianmu guna kebaikan

masyarakat. Engkau harus selalu mempergunakan

kepandaianmu untuk menentang si jahat dan

melindungi si lemah. Tentang Hek siauw Kui bo,

engkau engkau sudah cukup mengerti bagaimana

harus menghadapinya. Ingat yang membasmi

keluargamu hanya Hek siauw Kui bo seorang kalau

dia punya murid atau kawan kawan mereka tidak

ikut ikut dan kau tidak boleh turun tangan

membunuh secara serampangan saja.

Kewajibanmu menentang kejahatan, bukan

membunuh orang seperti algojo ! Mengertikah?!”

“Teecu mengerti, dan bersumpah akan mentaati

semua pesan suhu.”

“Nah, baiklah kalau begitu. Kau pergilah, dan

aku melarangmu naik ke puncak ini mencariku

lagi karena aku tidak mau lagi bertemu dengan

manusia.”

119

“Tapi, suhu……!” Y u Lee memprotes dan tanpa

disengaja kedua matanya mengucurkan air mata

yang menitik nitik turun melalui kedua pipinya.

Han It Kong yang duduk bersila di atas batu itu

jadi menarik napas panjang dan memejamkan

matanya. “Aaahhh kau masih saja cengeng tak

pernah lenyap sejak kecil. Yu Lee, kehalusan

perasaanmu yang membuat mu cengeng inilah

agaknya yang kelak akan mengombang ambingkan

engkau antara suka dan duka. Baiklah, kau boleh

naik ke puncak ini menghadapku pada saat

engkau sudah bosan hidup, boleh kau datang ke

sini. Pergilah!”

Yu Lee masih bercucuran air mata ketika ia

berlutut dan mengangguk anggukkan kepala

sampai delapan kali di depan kaki gurunya.

Kemudian sambil menyusuti air matanya,

pemuda ini meninggalkan guha di puncak Tapie

san di mana ia hidup selama lima belas tahun itu.

Tangan kanannya memegang sebatang rotan yang

biasa ia pakai berlatih, pedang pemberian gurunya

terselip di pinggang dan buntalan pakaiannya

menempel di punggung.

Pada waktu ia turun gunung dan sampai di

kota Hopak, secara kebetulan sekali ia

menyaksikan Dewi Suling yang dikeroyok oleh

jagoan jagoan anak buah Gak Taijin.

Yu Lee tidak tahu apa yang menyebabkan gadis

cantik pakaian merah itu dikeroyok banyak orang

akan tetapi diam-diam ia merasa kagum akan

kepandaian wanita muda itu. Juga ia merasa ngeri

120

menyaksikan sepak terjang wanita itu yang

merobohkan banyak orang.

Ia dapat memperhitungkan dengan melihat

jalannya pertandingan bahwa kalau pengeroyokan

itu dilanjutkan akan lebih banyak lagi jatuh

korban di antara para pengeroyok sungguhpun

wanita itu belum tentu akan dapat menyelamatkan

diri.

Karena inilah maka untuk mencegah agar

jangan sampai jatuh lebih banyak korban lagi. Yu

Lee lalu menggunakan tenaga sinkang di

tangannya, mendorong ke arah pohon besar di

dekat situ sehingga daun daun itu rontok

menggelapkan gelanggang pertandingan dan

karena ini maka Dewi Suling mendapat

kesempatan melarikan diri bebas daripada

kepungan yang ketat.

Yu Lee adalah seorang yang amat berhati hati

dan selalu ia teringat akan nasihat gurunya agar ia

jangan terlalu sembrono dalam segala tindakannya.

Kalau tadi ia lancang turun tangan, tidak lain

maksudnya hanya untuk membubarkan

pertandingan itu, sama sekail hatinya tidak

berfihak siapapun juga karena ia tidak tahu akan

urusannya ! Akan tetapi setelah ia berhasil

menghentikan pertandingan matanya yang tajam

dapat melihat berkelebatnya dua bayangan orang

muda yang diam diam membayangi gadis muda

pakaian merah itu. Timbul kecurigaannya dan

diam diam iapun membayangi mereka !

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Yu Lee

ketika ia menyaksikan adegan antara Dewi Suling

121

dan dua orang muda murid Hap Tojin yang gagah

perkasa.

Ia merasa kecelik dan merasa menyesal sekali

telah membantu wanita yang amat cabul dan jahat

itu, dan berbareng ia merasa kagum sekali kepada

Ouw yang Tok dan Gui Siong. Ia pernah mendengar

dari suhunya bahwa sekarang amat sukar dicari

orang orang yang semulut sehati membela

kebenaran dan keadilan, yang benar benar berjiwa

pendekar dan kesatria.

Aku tetapi kini ia benar benar menyaksikan

sikap yang amat mengagumkan dari dua orang

pemuda perkasa itu. Terbayanglah dalam

ingatannya wajah Siauw bin mo Hap Tojin, tosu

yang selalu tertawa tawa, siauw bin mo Hap Tojin

adalah sahabat baik mendiang kakeknya, bahkan

Siauw bin mo Hap Tojin bersama Tho tee kong

Liong Losu telah membantu keluarganya ketika

muncul Hek siauw Kui bo. Sungguhpun kedua

orang Kakek itu akhirnya kalah namun ia tidak

dapat melupäkan budi mereka yang amat besar

terhadap keluarganya.

Tentu saja ia tidak dapat membiarkan Dewi

Suling membunuh dua orang muda perkasa itu

maka ia pun cepat turun tangan mempergunakan

kerikil untuk memukul mundur Dewi Suling dan

untuk membebaskan Ouw yang Tek dan Gui Siong

dari pada totokan.

Ia terus membayangi Dewi Suling dari jauh dan

ia melihat pula betapa Dewi Suling menghubungi

Yang ce Su go. Sementara itu di kota An keng ia

segera melakukan penyelidikan tantang Dewi

122

Saling. Tidak mudah bagi pemuda ini untuk

mencari keterangan perihal Dewi Süling karena

semua orang takut belaka untuk menyebut nama

ini. Akan tetapi akhirnya ada pula yang bercerita

kepadanya. Bukan main kaget hanya mendengar

berita tentang diri Dewi Suling yang cabul dan

jahat, pembunuh pemuda pemuda tampan yang

telah dipermainkannya.

Lebih kaget lagi dan juga girang hatinya ketika

mendengar gadis cabul itu adalah murid dari Hek

siauw Küi bo!

Karena tidak seorangpun dapat menerangkan di

mana adanya Hek siauw Kui bo, maka Yu Lee lalu

mengambil keputusan untuk membayangi

pelayanan, Yang ce Su go, pembantu pembantu

Dewi Suling yang pergi membawa peti hitam berisi

uang kemenangan berjudi di Hopak. Ia tak

memperdulikan lagi Dewi Suling karena bukan

gadis cabul itulah yang dicarinya.

Ia hanya akan mencari Hek siuw Kui ho, musuh

besar, iblis betina yang telah membunuh

sekeluarganya secara keji sekali.

Teringat akan peristiwa lima belas tahun yang

lalu. Yu Lee menangis tersedu sedu di atas

perahunya ketika malam hari itu ia mengikuti

pelayaran perahu besar hitam yang di tumpangi

oleh Yang ce Su go dan anak buahnya.

Merjelang pagi, ketika cahaya matahari yang

kemerahan telah muncul mendahului sang surya,

menerangi udara di sebelah timur, perahu hitam

itu berhenti di tepi sungai sebelah kanan. Tempat

itu adalah sebuah hutan yang tanahnya amat

123

subur. Dari jauh saja sudah tampak gerombolan

pohon pohon raksasa memenuhi lembah sungai,

dan tampak pula pohon pohon kembang beraneka

warna. Sungai di bagian ini amat lebar dan

agaknya amat dalam, terbukti dari adanya pusaran

air di pinggir sebelah selatan atau sebelah kanan

ada banyak bunga teratai.

Di bagian ini sungai mengalir perlahan sekali

hampir tidak terlihat alirannya, seperti air telaca.

Dan di antara pohon pohon raksasa itu, samar

samar tampak tembok genteng sebuah bangunan

besar dan indah seperti istana!

Bangunan itulah yang disebut Istana Air,

sebuah bangunan besar mewah semacam istana.

Di tempat inilah selama belasan tahun Hek siauw

Kui bo mengundurkan diri lalu mendidik Cui siauw

Sian li Ma Ji Nio dengan ilmu ilmu silat yang

tinggi.

Agaknya karena cita citanya di waktu muda

untuk menjadi seorang berpengaruh serta

berkedudukan tinggi disamping suami pangeran

tidak tercapai, kini Hek siauw Kui bo ingin

bermimpi menjadi “ratu” di dalam istana itu,

dilayani oleh banyak pelayan wanita wanita cantik

dan pemuda pemuda tampan.

Bagi seorang berilmu tinggi seperti Hek siauw

Kui bo, bukanlah hal yang sulit untuk membiayai

semua kehidupan royal ini, karena dengan

kepandaiannya itu mudah baginya untuk

mengangkuti harta benda orang orang kaya

Sebagai pencuri atau merampok barang kiriman.

124

Tidak ada perbuatan maksiat yang diharamkan

oleh iblis betina ini.

Yu Lee yang membayangi perahu hitam dari

jauh melihat betapa perahu hitam itu berhenti di

tepi sungai sebelah selatan, iapun cepat

minggirkan perahu kecilnya, kemudian meloncat

ke darat dan mengikat perahu kecil pada sebatang

pohon di tepi sungai itu sudah melihat samar

samar bangunan besar indah di tengah hutan di

tepi sungai itu, dan dapat menduga bahwa musuh

besar yang membasmi keluarganya tentu berada di

tempat itu. Dengan cepat namun hati hati ia lalu

menyelinap di antara pohon pohon menghampiri

Istana Air.

Gerakan pemuda ini amat cepat sehingga

andaikata ada orang melihatnya pada saat itu yang

tampak hanya berkelebat bayang bayang putih

saja.

Apalagi pada saat itu matahari belum

menampakkan diri, baru cahaya kemerahan

sebagai utusan atau pelapor sang raja siang,

sehingga keadaan di dalam hutan yang terlindung

daun daun lebat itu masih gelap.

Sementara itu keempat Yang ce Su go tudeh

mendarat dan mengangkut peti hitam terisi emas

masuk ke dalam gedung istana. Para penjaga pintu

depan dan tengah yang sudah mengenal baik

empat orang kepala bajak ini, memberi hormat dan

mempersilakan mereka masuk.

“Toanio masih tidur silakan cuwi menanti di

ruang tengah,” kata pelayan kepala, seorang laki

laki tua berjenggot putih. Empat orang kepala

125

bajak itu mengenal pula kepada pelayan ini yang

bukan orang sembarangan, melainkan seorang

bekas tokoh kang ouw yang berilmu tinggi dan

dipercaya menjadi pelayan kepala oleh Hek siauw

Kui bo.

Mereka mengucapkan terima kasih lalu menanti

di ruang tamu dimana keadaannya amat

meyenangkan ruangannya lebar, terdapat bangku

bangku bertilam kasur, terhias lukisan lukisan

indah dan bau kembang semerbak harum

memasuki ruangan itu dari jendela jendela besar

berhentuk bulan purnama.

Setelah menanti agak lama dan cukup

beristirahat di ruang tamu itu, akhirnya Yang ce

Su go bangkit dan cepat cepat duduk dengan

sopan ketika didengar pelayan kepala memberitahu

bahwa Toanio (nyonya besar) sudah siap menerima

mereka. Dua diantara mereka menggotong peti

hitam dan yang dua orang lagi berjalan di belakang

mereka, lalu berempat memasuki ruangan dalam.

Seorang wanita berpakaian serba hitam duduk

di ruangan dalam yang keadaannya lebih mewah

daripada ruangan tamu. Kursi yang diduduki

wanita itu terbuat daripada perak sehingga

pakaiannya yang terbuat dari sutera hitam itu

kelihatan menyolok sekali. Wanita ini sukar

ditaksir usianya.

Rambutnya sudah berwarna dua, namun di

gelung rapih dan bagus, berkilat karena minyak.

Wajahnya tidak setua rambutnya, masih

kemerahan dan halus kulitnya, dan amat cantik.

Matanya tajam dan bengis, hidungnya mancung

126

dan mulutnya membayangkan pengabdi nafsu

birahi. Pakaian sutera itu tipis sekali,

membayangkan bentuk tubuh yang masih padat

berisi.

Kalau orang mengerti bahwa Hek siauw Kui bo

ini sudah berusia enam puluh tahun, tentu ia akan

terheran heran karena wanita yang menurut

usianya sudah harus nenek nenek ini masih

memiliki daya tarik dan daya rangsang yang cukup

kuat untuk merobohkan hati seorang pria muda !

Yang ce Su go serta merta menjatuhkan diri

berlutut di depan wanita itu. Seorang diantara

mereka yang tertua berkata, “Kami empat saudara

Song memenuhi perintah Ma siocia (nona Ma)

untuk mengantarkan emas ini dan

menghaturkannya kepada Toanio.” Setelah

berkata demikian, Song Kai, orang tertua dari Yang

ce Su go lalu membuka peti hitam. Tampaklah

uang emas berkilauan tertimpa sinar lampu yang

menerangi ruangan itu.

Melihat peti hitam yang berisi penuh uang emas

itu, bibir Hek siauw Kui bo terbuka sedikit

tersenyum dan tampillah giginya yang putih dan

masih utuh, berderet rata. Benar benar

mengherankan sekali keadaan jasmani wanita ini,

sudah tua masih cantik dan gigi mata telinganya

masih dalam keadaan baik dan kuat.

“Eh darimana Ji Nio bisa mendapatkan semua

ini? Tentu tidak kurang dari seribu tail ……”

“Tepat seribu tail tidak kurang sedikitpun,

Toanio.” kata Song Kai yang lalu menceritakan

kemenangan Ma Ji Nio atau Dewi Suling dalam

127

perjudian di Hopak melawan. It gan Hek houw,

kemudian betapa Dewi Suling dikeroyok dan selain

berhasil menewaskan It gan Hek houw dan banyak

orang, juga berhasil lolos.

“Ma Siocia sudah menyusul kami di An keng

akan tetapi menyuruh kami menghadap Toanio

lebih dulu membawa peti ini, sedangkan siocia

sendiri katanya hendak berpesiar di An Keng

beberapa hari.”

Kembali Hek siauw Kui bo tertawa, “Ah,

muridku itu benar benar terlalu berani dan

gegabah. Untung ia tidak mengalami cedera dalam

keributan itu dan hasilnya lumayan. Dan ia terlalu

mengejar kesenangan…” ia berhenti sebentar

kemudian menarik napas panjang dan

menyambung, “…ah, begitulah kalau masih

muda…….!”

Ia termenung dan teringat akan masa mudanya.

Seperti juga muridnya, ia selalu menuruti

dorongan nafsunya, tiada yang menghalangi tiada

yang merintangi, berenang dalam lautan

kesenangan. Sekarang ia masih tak dapat

menghentikan kesenangan yang sudah mencandu

di darah dagingnya, namun semangatnya sudah

berkurang tidak sepenuh di masa mudanya.

Kembali ia menarik napas panjang dan diam

diam ia mengiri kepada muridnya yang muda dan

cantik sehingga tidak sukar mendapatkan pria pria

tampan dan gagah yang akan datang dengan

sukarela dan cintakasih. Diapun dapat

menaklukan pria muda yang bagaimanapun,

128

namun untuk mendapatkan cintakasih mereka

tidak akan semudah ketika ia masih muda dahulu.

“He, Cun Sam….! Cun Sam……. !!”

Wanita itu bertepuk tangan dan memanggil

pelayan kepala.

Muncullah pelayan kepala yang jenggotnya

panjang putih itu. Agak janggal dan aneh melihat

wanita yang masih cantik dan mada itu memanggil

seorang kakek berjenggot panjang putih seperti itu.

Akan tetapi sesungguhnya Hek siauw Kui bo

tidaklah lebih muda dari pada pelayan kepala itu.

Dia ini bernama Ngo Cun Sam, seorang ahli

ilmu silat dan gulat dari barat. Di masa mudanya

Ngo Cun Sam ini adalah seorang yang tampan dan

gagah juga, maka pernah ia mendapat kehormatan

dipilih oleh Hek siauw Kui bo sebagai kekasih

untuk beberapa malam. Dan agaknya mengingat

akan hubungan yang pernah ada ini, juga

mengingat bahwa ilmu kepandaian Ngo Cun Sam

boleh diandalkan maka ketika Hek siauw Kui bo

menjadi “ratu” di Istana Air, ia memanggil bekas

kekasih ini untuk menjadi pelayan kepala

merangkap pengawal pribadi.

“Cun Sam, kau bawa dan simpan peti hitam ini

ke dalam kamar !” kata pula Hek siauw Kui bo.

Ngo Cun Sam mengangguk dan melangkah

lebar menghampiri peti hitam, kemudian sekali

kakinya bergerak, peti hitam itu sudah mencelat ke

atas dan tangan kirinya menerima peti itu dengan

telapak tangan di atas, menyangga dengan sikap

ringan sekali.

129

Diam diam keempat Yang ce Su go kagum

bukan main. Memang setiap orang diantara mereka

berempat akan sanggup mengangkat peti hitam itu

akan tetapi tidak secara yang dilakukan Ngo Cun

Sam. Jelas bahwa lweekang yang dimiliki Ngo Cun

Sam jauh lebih kuat daripada mereka.

Pada saat Ngo Cun Sam hendak melangkah

keluar dari ruangaa itu, tiba tiba berkelebat

bayangan putih telah berdiri di ambang pintu

sikapnya keren dan gagah. Sepasang matanya

menatap wajah Hek siauw Kui bo dengsn sinar

berapi.

“Hek siauw Kui bo ! Masih ingatkah engkau

kepadaku?” Suara pemuda yang bukan lain orang

adalah Yu Lee itu halus dan tergetar penuh

keharuan melihat musuh besarnya ternyata masih

hidup dan saat pembalasan yang diidam idamkan

selama lima belas tahun itu sudah berada di depan

mata.

Ngo Cun Sam dan Yang ce Su go terkejut dan

marah sekali menganggap betapa sikap pemuda ini

kurang ajar dan tidak hormat kepada junjungan

mereka.

Akan tetapi Hek siauw Kui bo scendiri tidak

menjadi marah, melainkan tersenyum dan

wajahnya menjadi makin muda kalau ia tersenyum

lebar seperti itu. Sinar matanya lembut dan

keningnya berkerut ketika ia mengingat ingat.

Sebagai seorang tokoh besar yang sudah banyak

pengalaman dan berpandangan tajam, Hek siauw

Kui bo dapat mengenal orang pandai.

130

Pemuda tampan ini biarpun masih muda,

namun memiliki sinar mata yang tajam, dan sikap

yang begitu tenang seperti air telaga dalam.

Pemuda macam ini bukanlah pemuda

sembarangan.

“Orang muda, terlalu banyak pemuda tampan

dan orang gagah yang kukenal dalam hidupku,

maka maafkan kalau aku lupa lagi siapa engkau

ini?”

Yu Lee tersenyum pahit, “Jawabanmu tepat

sekali dengan dugananku. Hek siauw Kui bo.

Belasan tahun lewat dan kau tidak berubah !

Hanya rambutmu yang sudah berubah putih akan

tetapi hatimu makin hitam iblis betina, kau

rabalah tengkukmu dan engkau akan teringat

kepadaku.”

“Jahanam muda, lancang mulutmu !” Bentakan

ini keluar dari mulut Ngo Cun Sam yang sudah tak

dapat menahan kemarahannya lagi. Hek siauw Kui

bo adalah bekas kekasih nya yang masih

dicintainya, juga majikan dan junjungannya yang

dihormati dan dikagumi kepandaiannya. Sekarang

bocah ini datang datang mengeluarkan ucapan dan

makian yang sangat menghina ! Setelah

mengeluarkan bentakkan itu, peti hitam yang

masih tersimpan di tangan kirinya, ia lontarkan

dengan tenaga sekuatnya ke arah tubuh Yu Lee!

“Wuuuutttt !!” Peti hitam itu meluncur cepat ke

arah kepala Yu Lee. Isi peti itu beratnya seratus

dua puluh lima kati ditambah berat peti itu sendiri

tentu tidak kurang dari seratus lima puluh kati.

Kini dilontarkan dengan seorang ahli lweekeh

131

seperti Ngo Cun Sam, benar benar merupakan

serangan dahsyat dan berbahaya. Dinding bata

sekalipun akan ambruk dihantam lontaran peti ini,

apalagi kepala dan tubuh manusia biasa !

Yu Lee juga maklum akan bahayanya serangan

ini namun dengan amat tenang ia menggerakkan

tongkat rotan di tangan kanannya, menyambut

datangnya peti yang sudah menjadi bayangan

hitam menyambarnya itu.

Begitu ujung rotan menyentuh tengah peti, ia

mengerahkan ginkang dengan tiba tiba

menyentakkan tongkatnya berjungkir ke atas dan

….. peti hitam itu terbawa melayang ke atas dan

kini berputaran cepat di atas ujung rotan ! Rotan

yang hanya sebesar ibu jari kaki itu membal

membal seperti mau patah, namun ternyata tidak

patah dan gerakan pergelangan tangau Yu Lee

itulah yang penuh tenaga sinkang menyebabkan

peti itu seperti permainan seorang akrobat.

Kemudian ia berseru halus.

“Terimalah kembali !” Ia menggerakkan tangan

dan peti hitam itu melayang ke arah Ngo Cun Sam

dalam keadaan masih berputaran ! “Cun Sam

jangan terima …. ! Hek siauw Kui bo berseru kaget

karena maklum akan bahayanya menerima

lontaran peti hitam yang berputar seperti itu.

Namun terlambat karena dalam kemarahannya

Ngo Cun Sam kurang perhitungan dan sambil

mengarahkan lweekang, ia menyambut peti hitam

yang melayang ke arahnya itu. Begitu peti berada

dikedua tangannya ia kaget sekali karena

tubuhnya ikut terseret berputaran ! Ia tentu bisa

132

roboh dan terancam bahaya tertimpa peti. Tetapi

untung baginya sewaktu ia berputaran tubuhnya

lewat di dekat Yang ce Su go. Melihat tubuh

pelayan kepala itu berputaran, Song Kai serta Song

Leng pun maju menahan dengan memegangi

lengan Ngo cun Sim dari kanan kiri. Akibatnya,

tubuh tiga orang itu terhuyung dan hampir roboh,

tetapi tenaga putaran yang tadi menyeret tubuh

Ngo Cun Sam bisa tertahan.

Keringat dingin mengucur di tubuh Ngo Cun

Sam ketika ia menaruh peti hitam ke atas lantai.

Yang ce Su go yang tidak mau kalah dalam hal

mencari muka di depan Hek siauw Kui Bo, telah

mencabut golok masing masing terus meloncat

maju mengurung Yu Lee.

Melihat gerakan empat orang anak buahnya ini,

Hek siauw Kui bo tidak mencegah. Tadi ketika ia

mendengar ucapan Yu Lee, tanpa disadari lagi

tangannya meraba raba tengkuknya dan kebetulan

jari jarinya itu yang berkulit halus meraba bekas

luka kecil di tengkuk itu.

Mukanye seketika itu berubah pucat. Sebab

luka kecil ini mengingatkan ia kepada semua

peristiwa yang terjadi lima belas tahun yang lalu.

Kini teringatlah ia wajah seorang anak laki laki

berusia delapan tahun yang dulu pernah

merangkul leher serta menggigit tengkuknya, yaitu

cucu Dewa Pedang Yu Tiang Sin ! Satu satu nya

keturunan Yu Tiang Sin yang lolos dari tangan

mautnya ! Anak yang ditolong oleh Sin kong ciang

Han It Kong. Dan ternyata anak ini setelah menjadi

seorang pemuda perkasa, datang mencarinya.

133

Mudah di duga apa kehendaknya, tentu mau

membalas dendam, Hek siauw Koi bo jadi bengong,

biarpun ia tidak merasa takut, namun teringat

kepada Han It Kong ia merasa ngeri juga.

Itulah sebabnya mengapa Hek siauw Kui bo

yang biasanya tidak suka mengandalkan bantuan

anak buahnya dalam menghadapi musuh, kini

membiarkan saja Yang ce Su go mewakilinya

melawan pemuda itu karena mau mengukur

sampai di mana ilmu silat cucu Yu Tiang Sin yang

ia tahu pasti tak akan mau hidup bersama dia di

atas bumi ini.

Yang ce Su go juga bukan orang orang

sembarangan. Mereka adalah bekas kepala kepala

bajak sungai yang sudah mempunyai pengalaman

bertempur puluhan tahun. Golok yang mereka

pegang seolah olah sudah mendarah daging di

tangan mereka serta telah minum darah beberapa

ratus musuh.

Mereka telah dapat menduga bahwa pemuda

berpakaian putih itu bukan orang sembarangan

dan tentu murid orang pandai, namun tentu saja

mereka tidak takut, bahkan dapat memastikan

kalau mereka berempat maju berbareng sudah

sudah pasti akan dapat merobohkan pemuda ini.

Merasa bukan orang bodoh dan tanpa adanya

keyakinan ini, mereka pun tidak akan mau

mengorbankan diri.

Betapapun juga, Seng Kai yang dapat menduga

bahwa lawannya yang muda itu cukup lihai, segera

memberi tanda rahasia kepada adik adiknya dan

serentak mereka melakukan serangan secara

134

berbareng, atau setidaknya, serangan mereka itu

sambung menyambung secara otomatis sehingga

andaikata lawan mengelak dari serangan golok

pertama tentu ia akan disambut golok kedua dan

seterusnya.

Betapapun pandai dan gesit gerakan lawan,

menghadapi sambaran golok dari empat jurusan

yang sambung menyambang dan menutup “pintu”

di empat penjuru ini, kiranya tidak akan mudah

membebaskan diri.

Namun Yu Lee sama sekali tidak mengelak

ketika menghadapi serangan ganda yang serentak

datangnya ini. Hanya nampak tangannya yang

memegang tongkat rotan bergerak cepat sekali

sehingga sukar diikuti pandangan mata, begitu

cepatnya sehingga mata keempat orang

pengeroyoknya menjadi silau tertutup sinar kuning

yang bergulung gulung.

Trang trang trang ! Tahu tahu empat batang

golok itu telah terlepas dari tangan, lalu mencelat

dan jatuh berkerontengan di atas lantai.

Keempat orang Yang ce Su go yang selama

hidupnya belum pernah mengalami hal seperti ini,

mencekali tangan kanannya yang tertotok lumpuh,

lalu sebelum mereka tahu apa yang terjadi, mereka

berteriak susul menyusul terus jatuh berlutut

karena tahu tahu lutut merekapun lumpuh !

Hek siauw Kui bo terkejut bukan main.

Memang ia tahu bahwa ilmu silat Yang ce Su go

tidaklah bisa diandalkan, namun mereka itu

adalah jago jago tua berpengalaman luas.

135

Dengan cara bagaimana bisa dirobohkan begitu

mudahnya oleh pemuda itu? Ia bisa melihat

gerakan tongkat rotan yang bergetar menjadi

banyak sekali, lalu secara berturut turut telah

menyambar secepat kilat mendahului gerakan

Yang ce Su go, menotok pergelangan tangan

keempat orang itu yang memegang golok sehingga

terlepas, kemudian memakai kesempatan selagi

keempat orang itu kaget memegangi tangan kanan,

ujung rotan dudah menotok jalan darah di dekat

lutut sehingga tak dapat dicegah Yang ce Su go

jatuh berlutut di depan si pemuda sakti !

Akan tetapi ternyata totokan totokan itu hanya

membuat empat orang jago bajak sungai itu

lumpuh buat beberapa detik saja. Mereka kini

sadar akan situasi dan cepat melompat bangun

dengan muka merah saking malu dan marahnya.

“Setan cilik, kau sudah bosan hidup ….. !”

Bentak Song Kai yang sudah maju lagi siap

bertempur

“Cuwi harap mundur, biarkan aku menghadapi

bocah ini !” Suara ini keluar dari mulut Ngo Cun

Sam dan karena maklum akan kelihaian si pelayan

kepala, serta takut kepada Hek siauw Kui bo yang

rupanya membenarkan permintaan Ngo Cun Sam

sebab diam saja, lalu empat orang bekas kepala

bajak itu mundur dan berdiri di pinggir dengan

muka keruh. Kali ini mereka benar benar

kehilangan muka di depan majikan mereka, ini

membuktikan bahwa mereka kurang bisa

diandalkan.

136

Ngo Cun Sam memiliki ilmu silat yang melebihi

Yang ce Su go tingkatnya. Biarpun pertandingan

tadi cuma segebrakan saja, namun dia mengerti

bahwa pemuda itu memiliki ilmu tongkat yang

amat luar biasa serta sukar dilawan. Sebab itu,

dengan licik ia lalu berkata sambil tersenyum

mengejek, “Anak muda, kepandaian mu boleh juga

Akan tetapi rupanya masih belum pantas untuk

dilayani oleh majikanku, sebelum engkau bisa

mengalahkan aku, pelayan kepala dalam istana ini.

Di dalam pertempuran aku tidak biasa memakai

senjata, aku Ngo Cun Sam kemana mana cukup

mengandalkan kedua tangan serta kedua kaki.

Engkau telah menantang toanio, beranikah melawn

aku tanpa senjata?” sambil berkata demikian Ngo

Cun Sam melangkah maju.

Waktu mendekati Yu Lee, Ngo Cun Sam melalui

empat batang golok yang tergeletak di atas lantai.

Lalu sengaja ia menginjak golok golok itu dan

terdengarlah suara “tak tak tak !” ketika empat

batang golok itu terinjak, ternyata empat batang

golok itu telah patah patah oleh injakan kedua

kakinya !

Ngo Cun Sam memang cerdik. Ia sengaja

mendemonstrasikan tenaga lweekangnya yang

hebat. Jika orang muda itu menjadi gentar

bertanding melawannya dengan tangan kosong

setelah menyaksikan demonstrasinya, maka hal itu

tentu akan merendahkan dan memalukan pemuda

itu dan dengan demikian berarti satu kemenangan

bagi fthaknya.

137

Sebaliknya kalau pemuda itu menerima

tantangannya, ia yakin bahwa biarpun dalam ilmu

silat belum tentu ia dapat menangkan si pemuda

lihai, namun ia dapat mengandalkan ilmu gulatnya

yang hehat untuk mengalahkan lawannya.

Biarpun belum berpengalaman, namun sebagai

murid seorang sakti yang berpandangan luas

seperti Sin kong ciang Han It Kong yang tidak

hanya mendidik Yu Lee dengan ilmu silat,

melainkan juga dengan nasehat nasehat dan

kebatinan. Yu Lee dapat menduga bahwa lawannya

sengaja memancingnya mengadakan pertandingan

tanpa sengaja.

Ia menduga bahwa lawannya yang berjenggot

putih ini tahu akan kelihaian ilmu tongkatnya dan

menjadi gentar, maka sengaja menantang

bertanding dengan tangan kosong. Melihat cara

kakek ini tadi melontarkan peti hitam, kemudian

sekarang sekali injak mematahkan golok di lantai

jelas menunjukan bahwa orang ini memiliki

lweekang yang amat kuat.

Sambil tersenyum Yu Lee mengangkat rotannya

dengan menerjang depan.

Ia menoleh ke arah Hek siauw Kui bo lalu

berkata, “Hek siauw Kui bo engkau tahu bahwa

kedatanganku ini. Aku bukanlah iblis macam

engkau yang dalam urusan dendam terhadap

kakekku lalu membasmi semua keluargaku. Tidak,

aku tidak bermaksud memusuhi lain orang, baik

anak buahmu, murid muridmu maupun

keluargamu. Aku hanya datang untuk

menandingimu seorang. Akan tetapi kalau engkau

138

begini pengecut untuk mengajukan orang

orangmu, jangan mengira aku akan mundur dan

takut. Ngo Cun Sam aku tidak mengenalmu, tidak

punya urusan denganmu akan tetapi karena

engkau hendak maju mewakili nyonya besarmu,

silakan. Lihat, akupun bertangan kosong !”

Sikap pemuda itu yang tenang membuat Ngo

Cun Sam gentar juga. Kalau tidak memiliki ilmu

kepandaian amat tinggi tak mungkin pemuda itu

dapat bersikap begitu tenang menghadapinya

selelah ia mendemonstrasikan tenaganya, ia

menjadi hati hati dan berkata, “Orang muda, kau

sebagai tamu dan lebih muda, kau buka

seranganmu !”

Yu Lee juga maklum bahwa jika dua orang ahli

silat tinggi sudah saling berhadapan dan siap

sedia, maka dia yang menyerang duluan menjadi

lemah kedudukannya. Namun ia tak perduli

karena dari lontaran peti hitam tadi, sedikit banyak

ia sudah bisa mengukur tenaga lawan serta tidak

perlu khawatir. Lalu ia berseru.

“Kau sambutlah !” ia melangkah maju lalu

memukul dada dengan tinju kanannya. Jurus yang

ia pergunakan biasa saja, pukulannya tidak terlalu

keras namun mengandung hawa pukulan yang

antep. Ia hanya mengisi lengannya dengan sinkang

untuk menjaga tangkisan lawan.

Benar saja seperti dugaannya, kakek itu

menangkis dan Yu Lee telah memusatkan tenaga

agar dalam benturan dua tenaga raksasa ini tak

akan merugikannya. Tetapi alangkah kagetnya

ketika tiba tiba lengan kakek itu setelah bertemu

139

dengan lengannya, menjadi licin dan tahu tahu

berbalik cepat menangkap lengan nya.#

Sewaktu Yu Lee mau menarik pulang

tangannya, tiba tiba tubuh kakek itu membalik

dan membungkuk lalu sebuah tenaga …..tak

tertahankan lagi …..mencelat keatas seperti…….

pemuda itu melayang ke………. terbanting pada

langit langit ….. sekali dan cepat ………….. ia

menumbuk …………..di depan.

Ia menggunakan ……….. tangan kaki pada

langit langit seperti seekor cecak, kemudian

mendorong langit langit sambil berjungkir balik ke

bawah, ginkang atau ilmu meringankan tubuh

yang ia perlihatkan ini amat indah dan hebat

sehingga Ngo Cen Sam yang tadinya girang kini

menjadi kecewa.

Mereka sudah berhadapan lagi. Yu Lee

mengerutkan kening. Kakek ini mempunyai ilmu

yang aneh. Ilmu menangkap itu adalah semacam

Eng jiauw kang (Ilmu Cakar Garuda), akan tetapi

ilmu melontarkan itu benar benar hebat dan aneh.

Belum pernah ia mendengar ilmu seperti itu.

Saking herannya Yu Lee menjadi tertarik sekali.

Dalam gebrakan pertama tadi, hampir saja ia

celaka. Kalau tidak memiliki ginkang tinggi tentu

tubuhnya tadi sudah terluka.

Ia kagum akan ilmu tangkap dan lontar yang

aneh ini, semacam ilmu gulat yang belum pernah

dilihat maka ia ingin mencoba lagi. Betapapun juga

ia sudah yakin bahwa dalam hal tenaga dan

ginkang, ia masih memang, maka kalaupun ia

140

mencoba lagi dan tertangkap terlempar, hal itu

takkan membahayakan keselamatannya.

“Kakek she Ngo, kepaadaianmu hebat !” ia

memuji dan kembali ia menyerang dengan

pukulan tangan kiri. Kembali kakek itu menangkis

dan dalam sekejap mata tanpa dapat di cegah lagi

oleh Yu Les lengannya tertangkap dan tak mungkin

terlepas karena sambil menangkap kakek itu

membalikkan tubuh dan kembali kaki Yu Lee

terangkat dan kini tubuhnya tidak terlempar ke

atas seperti yang disangkanya melainkan

terbanting ke atas lantai ! inilah berbahaya sekali.

Secepat kilat, ketika merasa betapa tubuhnya

terbanting. Yu Lee mengerahkan tenaga terkumpul

di pinggang dan ia membuat gerakan Kucing Sakti

Memutar Pinggang.

Keadaan tubuhnya yang terbanting keras itu

tiada ubahnya seperti tubuh seekor kucing yang

ketika terbanting jatuh menggerakkan pinggangnya

sedemikian rupa sehingga kalau tadinya Yu Lee

terbanting dengan kepala di bawah, kini tubuhnya

jungkir balik dan…. tubuh itu terbanting, bukan

kepalanya yang di bawah melainkan kedua

kakinya.

“Bress….” Hebat sekali bantingan itu dan

betapapun lihainya Yu Lee kalau saja ia tadi tidak

cepat cepat membalikan tubuh dan kepalanya

yang…… ia akan terancam bahaya ………….. kedua

kakinya sampai……………………… sampai

disana…………………… kan betapa……….

Kalau Yu Lee…… lah Ngo Cun Sam yang

terkejut dan gentar sekali hatinya. Ia memang

141

berhasil dengan ilmu gulatnya sehingga dua kali ia

berbasil melontarkan dan membanting lawan. Akan

tetapi hasilnya benar benar mentakjubkan dan

jelaslah kini bahwa lawannya yang masih muda ini

benar benar hebat bukan main.

Maka ia segera mengambil keputusan untuk

melakukan serangan terakhir dan mematikan, ia

maklum bahwa pemuda ini memiliki ginkaug yang

amat mahir sehingga setiap kali terancam maut,

dapat menyelamatkan diri.

Kalau saja bantingannya itu dilakukan dengan

kedua tangannya masih memegangi lawan,

agaknya pemuda itu takkan mungkin

membebaskan diri daripada maut tadi.

Di waktu membanting tadi, kalau ia tidak

melepaskan tangan si pemuda, biarpun dengan

cara demikian bantingannya kurang keras, tentu

pemuda itu sukar membalikkan tubuh.

Yu Lee yang merasa kagum kini telah

mengetahui gerakan inti lawan. Kiranya kakek

jenggot putih itu menggunakan gerakan gerakan

mendadak dengan meminjam tenaga lawan serta

juga ganjalan tubuhnya, yaitu secara membalikkan

tubuh sehingra posisi lawan menjadi lemah,

kemudian dengan ganjalan kaki yang memasang

kuda kuda kuat dan gentakan tangan yang penuh

tenaga lweekang, melemparkan atau membanting

tubuh lawan sebelum lawan tahu apa yang akan

terjadi. Ia segera maju lagi menyerang, sengaja ia

melakukan gerakan memukul seperti tadi sambil

berseru, “Hendak kulihat apakah kau masih

mampu membantingku?”

142

Ngo Cun Sam secepat kilat menangkap tangan

kanan Yu Lee yang memukulnya itu, kini

menangkap dengan kedua tangannya, memutar

tubuh dan mengerahkan semua tenaga

lweekangnya mengangkat tubuh pemuda itu dari

belakang tubuhnya.

Namun alangkah kaget dan herannya ketika

tubuh itu sama sekail tak dapat ia angkat. Ia

mengerahkan tenaga lagi. Tidak mungkin ia tidak

kuat mengangkat pemuda itu. Dengan gerakan

seperti ini, ia akan mampu menarik jebol sebatang

pohon berikut akar akarnya.

Masa pemuda ini tak mampu ia rubuhkan !

Mulutnya mengeluarkan suara….. ketika ia

menahan dan bernapas tiba tiba Ngo Cun Sam

berteriak keras, kemudian tanpa ia dapat

mencegahnya , tubuhnya itu melayang ke arah Hek

siauw Kui Bo.

Kiranya

menggunakan

kesempatan

selagi si kakek

itu melepaskan

tenaga untuk

bernapas, Yu

Lee yang tadi

menggunakan

ilmu

memberatkan

tubuh segera

menyerang

kakek itu dan

143

melemparkannya ke arah iblis betina Hek siauw

Kui bo yang menonton jalannya pertandingan

dengan hati gentar.

Melihat datangnya tubuh pelayan kepala ke

arahnya, Hek siauw Kui bo menggerakkan tangan

kiri dengan jari jari tangan terbuka ia mendorong

ke depan dan…. sebelum jari jari tangannya

menyentuh tubuh yang melayang itu hawa

pukulannya saja sudah cukup membuat lontaran

Yu Lee kehilangan tenaga dan tubuh Ngo Cun Sam

terdorong ke samping, jatuh berdiri dan agak

terhuyung.

Keringat dingin membasahi tubub kakek itu, ia

bukan orang orang kasar macam Yeng ce Su go,

maka mengertilah ia bahwa pemuda baju putih

yang amai lihai itu telah membuktikan kata

katanya ketika tadi menyatakan bahwa ia datang

hanya untuk membalas dendam kepada Hek siauw

Kui bo dan ia tidak ingin mencelakakan orang lain.

Buktinya, kalau pemuda itu menghendaki,

bukan banya Yang ce Su go yang tadi dengan

mudah dapat dirobohkannya itu akan dapat

dibunuhnya, juga ia ia sendiri kalau pemuda itu

menghendaki, tentu sekarang sudah roboh tak

bernyawa lagi.

Maka kakek ini tahu diri dan tanpa berkata

sesuatu melangkah mundur, merasa bahwa ilmu

kepandaiannya masih jauh untuk dapat

menandingi pemuda itu.

Hek siauw Kui bo kini bangkit dari tempat

duduknya. Sejenak keadaan sunyi senyap. Yang ce

Su go yang berdiri di sudut memandang dengan

144

jantung berdebar, juga Ngo Cun Sam berdiri

dengan pandang mata penuh ketegangan.

Sepasang mata wanita iblis itu seperti

mengeluarkan cahaya berapi api akan tetapi

mulutnya tersenyum manis.

Kini ia mengerti bahwa ia tak dapat lagi

menghindari pertandingan maut melawan pemuda

ini. Pemuda yang pernah menggigit tengkuknya

sampai terluka.

Satu satunya keturunan Yu Tiang Sin yang

Terlepas dari tangan mautnya. Ia tahu bahwa

sekali ini ia harus bertanding mengadu nyawa

dengan pemuda ini, pemuda yang tampan dan

gagah.

“Orang muda engkau cucu Yu Tiang Sin,

bukan?” tanyanya, suara melengking, mengandung

kemarahan, namun hanya matanya yang

membayangkan kemarahan disamping suaranya,

mulutnya masih tersenyum manis dan wajahnya

berseri, sikapnya tenang.

“Bagus sekali, engkau masih ingat kepadaku,

Hek siauw Kui bo !” jawab Yu Lee sambil

melangkah maju dan mencabut tongkat rotan nya.

“Hmm, siapakah namamu?“

“Namaku Yu Lee. Kau dengar baik baik, Lee

artinya aturan dan aku selain menjunjung tinggi

arti namaku ini. Aku tidak akan menyimpang

daripada aturan dan keadilan. Engkau telah

membasmi semua keluargaku, sungguhpun yang

bermusuhan denganmu hanyalah mendiang

kakekku. Karena itu aku datang untuk

145

menghukummu atau kalau aku tidak mampu,

biarlah aku sempurnakan kejahatanmu dahulu

dengan membunuh pula aku, satu satunya warga

yang lolos dari kekejamanmu. Aku tidak mau

menyangkutkan lain orang, hanya engkau yang

harus binasa di tangan ku, atau aku yang akan

mati di tangan mu. Bersiaplah, Hek siauw Kui bo !”

Dengan gerakan perlahan Hek siauw Kui bo

meraba pinggangnya dan dirasakan sebatarg suling

berada di pinggangnya, ia mengangkat suling itu

kemudian terdengar suaranya yang begitu nyaring.

“Yu Lee, kau bocah……. ! Lihat semenjak

dahulu sampai sekarang, senjataku masih tetap

suling hitam. Akan tetapi kulihat Yu Tiang Sin

yang mengaku sebagai Dewa Pedang ternyata

mempunyai cucu yang rendah sekali, senjatanya

bukan pedang kebanggaan kakeknya melainkan

sebatang tongkat pengemis !” Ucapan ini saja

membuktikan kecerdikan Hek siauw Kui bo.

Ia mengarti bahwa cucu Yu Tiang Sin ini

dahulu ditolong oleh Sin kong ciang Han It Kong

dan mungkin menjadi muridnya. Ia gentar

melawan Han It Kong karena ilmu tongkat kakek

itu luar biasa sekali. Ia pernah menderita

kekalahan pahit oleh ilmu tongkat kakek itu, maka

sampai sekarangpun ia takut justeru kalau

pemuda ini yang menjadi musuh besarnya

menggunakan tongkat pula untuk memainkan

ilmu tongkat Han It Kong yang ia takuti itu.

Sungguhpun ia tidak percaya apakah seorang

pemuda seperti ini bisa mainkan ilmu tongkat

sehebat permainan Han It Kong, namun hatinya

146

akan lebih tenteram kalau pemuda itu tidak

mempergunakan tongkat.

Yu Lee tersenyum lalu menyimpan tongkatnya

kembali di pinggang, kemudian ia membuka

bajunya sehingga gagang pedang yang tertutup

baju itu nampak lalu ia berkata.

“Hek siauw Kui bo, kau tak usah khawatir.

Kalau kau masih menantang mendiang kakekku Si

Dewa Pedang yang belum pernah bisa kau

kalahkan, akulah sekarang menjadi wakilnya. Dan

aku sebagai cucunya akan menghadapimu

memakai pedang untuk membuktikan bahwa kalau

kakeknya Dewa Pedang tentu cucunya tidak asing

bermain pedang pula.”

“Hem, hendak kulihat kepandaianmu !“ Setelah

berkata demikian, Hek siauw Kui bo mendekatkan

ujung suling hitam ke mulutnya dan meniupnya.

Sinar hitam kehijauan menyambar keluar dari

suling, itulah jarum jarum yang amat berbahaya.

Dahulu lima belas tahun yang lalu ia hampir

binasa karena serangan jarum jarum hijau ini

kalau saja ia tidak ditolong olah suhunya, Han It

Kong.

Kini melihat sinar kehijauan itu, ia cepat

mengerahkan tenaga dan menggerakkan kedua

tangannya, digerakkan seperti orang digerakkan

seperti orang mengebut ngebut lalat dan…. jarum

jarum itu semua runtuh di atas lantai, menancap

di lantai dan ada yang menancap di tembok. Itulah

gerakan dari ilmu pukulan Sin kong ciang yang

amat hebat. Hawa pukulannya saja sudah cukup

membuat jarum jarum itu terpukul runtuh.

147

Hek siau Kui bo kaget. Tak salah apa yang ia

khawatirkan bahwa pemuda ini telah mewarisi

kepandaian Han it Kong. Andaikata Dewa Pedang

masih hidup kiranya masih tidak sehebat pemuda

cucunya ini dan Hek siauw Kui bo tentu akan

memilih Dewa Pedang sebagai lawan daripada

murid Han It Kong ini. Akan tetapi hanya sebentar

ia meragu, kemudian ia mengambil cawan berisi

arak yang terletak di atas meja di depannya lalu

tertawa dan berkata.

“Hai, kiranya cucu Yu Tiang Sin bukan orang

sembarangan. Orang muda, saat ini engkau

menjadi tamu agung, biarpun tamu yang hendak

menantang bertanding, selayaknya disambut

dengan arak. Terimalah ini !”

Sambil mengerahkan sin kang di tangannya,

Hek siauw Kui bo melontarkan cawan arak itu ke

arah Yu Lee. Cawan berisi arak itn terputar putar

seperti gasing di udara.

Hebatnya araknya sama sekali tidak tumpah.

Dan terdengarlah suara berdesing, menandakan

bahwa cawan itu terputar amat cepatnya.

Seperti dipegang tangan yang tak tampak

cawan itu bergerak gerak dan selama berputar

cepat, juga membuat gerak lingkaran di udara

seperti ragu ragu hendak turun. Luar biasa sekali

tenaga tak tampak yang mengusai cawan ini,

padahal Hek siauw Kui bo hanya mengulurkan

tangan kanan ke arah cawan. Seakan akan dari

jari jari tangannya yang terbuka itu keluar hawa

yang mengusai cawan arak.

148

Yu Lee dam diam merjadi kagum pula. Sinkang

yang didemonstrasikan lawannya itu banar benar

membuktikan betapa tinggi tingkat kepandaian

Hek siauw Kui bo.

Akan tetapi sebagai murid tunggal terkasih dari

kakek sakti Han It Kong, ia tidak menjadi gentar

karena mengenal ilmu ilmu apa yang dipergunakan

Hek siauw Kui bo itu.

Ia tahu benar bahwa pada akhirnya lawan akan

membuat cawan itu meluncur menyerangnya dan

kalan hal ini terjadi ia akan dapat menangkap

cawan, menangkis atau mengelak. Akan tetapi

kalau secara demikian ia menyambutnya, tentu ia

mendapat malu, apa la’gi kalau araknya sampai

tumpah dari dalam cawan berarti ia tidak

menerima penghormatan nyonya rumah !

Maka iapun mengeluarkan seruan nyaring,

tangan kanan nya didorongkan ke depan dan

cawan arak itu seketika berhenti bergerak di

tengah udara seakan akan terhimpit oleh dua

tenaga raksasa yang tak terlihat.

“Hek siauw Kui bo, jarum jarummu beracun,

arakmu tentu beracun pula seperti hatimu. Aku

tak sudi menerima penghormatanmu, terimalah

kembali !” setelah berkata Yu Lee menambah

tenaga dalam dorongannya.

Hek siauw Kui bo terkejut bukan main.

Kenyataan bahwa pemuda itu masih bisa

mempergunakan seluruh tenaganya, saat ini mulai

terasalah olehnya betapa tenaga dorongannya

membalik, cawan itu terdorong mundur sampai

beberapa jengkal.

149

Ia menjadi marah dan penasaran, lalu

mengerahkan semua tenaganya buat mendorong

kembali cawan itu. Tetapi sia sia, cawan itu tak

bergeming, bahkan makin lama makin doyong

kepadanya.

Harus diakui bahwa seorang tokoh seperti Hek

siauw Kui bo yang sudah malang melintang di

dunia kang ouw selama puluhan tahun, tentu saja

selain lebih berpengalaman, juga memiliki latihan

yang lebih matang daripada Yu Lee, seorang

pemuda berusia dua pulah tiga tahun.

Akan tetapi kenyataan lain yang

menguntungkan buat Yu Lee adalah bahwa dia

seorang pemuda yang masih bersih, belum di

perhamba nafsu nafsunya sehingga darahnya

masih bersih, hawa murni di badannya masih amat

kuat.

Sebaliknya, Hek siauw Kui bo sampai

sekarangpun menjadi hamba nafsu nafsunya, telah

terlalu mengumbar nafsu sehingga tanpa ia sadari,

hawa murni di tubuhnya menipis dan melemah.

Inilah sebabnya mengapa dalam pertandingan

adu tenaga sinking ini segera tampak betapa Hek

siauw Kui bo tak dapat bertahan lama.

Kekuatannya memang masih hebat, namun ia tak

dapat bertahan lama, napasnya mulai memburu,

wajahnya pucat dan dahinya penuh keringat.

Ia tahu bahwa kalau dilanjutkan ia akan celaka

maka untuk penghabisan kali ia mengerahkan

tenaga lalu menyusul tangan kirinya bergerak

mendorong atau memukul dari samping ke arah

cawan arak yang terhimpit di udara.

150

“Braakk…!” Cawan itu pecah dan arak nya

berhamburan seperti air hujan, membasahi lantai.

Karena benda yang menjadi pegangan kini telah

tiada, otomatis pertandingan adu tenaga itupnn

terhenti dan masing masing menurunkan lengan

yang tadi memanjang dilonjorkan lurus ke depan.

Walaupun Yu Lee biasa saja, hanya di dahi nya

…… peluh, akan tetapi wajah Hek siauw Kui bo

pucat, napasnya agak …… nampak lemas.

“Yu Lee bocah sombong …….. menerima

penghormatan…..Kalau begitu …. Dalam

mengampuni ….. kita harus bertanding sampai

mati. Engkau bukan musuh biasa, melainkan

musuh besar, maka petandingan inipun harus

diadakan di tempat yang sesuai. Marilah, cabut

pedangmu dan turuti caraku dengan bermain silat

agar darahmu nanti tidak mengotori ruangan tamu

ini!” Setelah berkata demikian dengan gerakan

gesit wanita tua yang cantik itu meloncat,

memasuki sebuah pintu yang berada di sudut

sebelah kiri.

Yu Lee maklum bahwa di sana bukan tidak ada

bahaya menanti untuk menjebaknya.

Namun ia bersikap waspada dan dengan hati

hati iapun meloncat ke depan, sengaja ia meloncat

dan selalu ia menginjak lantai di mana tadi Hek

siauw Kui bo lewat, ia tidak mau terperosok ke

dalam perangkap karena sangat boleh jadi wanita

iblis itu menggunakan akal muslihat. Juga ia

waspada terhadap sekelilingnya kalau kalau anak

buah wanita itu bergerak.

151

Akan tetapi ia melihat Yang ce Su go dan Ngo

Cun Sam tidak bergerak dari tempatnya, juga

bayangan para penjaga di luar ruangan itu tidak

ada yang bergerak.

Ruangan silat yang dimasuki Hek siauw Kui bo

ini merupakan raungan yang bentuknya bundar,

luasnya cukup untuk bertanding silat dengan garis

tengah tidak kurang dari lima meter, begitu Yu Lee

memasuki ruangan ini tepat di belakang Hek siauw

Kui bo pintu dari mana ia masuk itu tertutup. Hek

siauw Kui bo tertawa dan berdiri di sebelah kiri. Yu

Lee berdiri menghadapinya.

Pemuda ini memandang ke sekelilingnya.

Ruangan ini enak benar untuk berlatih silat atau

untuk samedhi, amat bersih dan tak tampak

sebuah pun perabot yang dapat menjadi

penghalang. Anehnya ruangan yang bundar ini

tidak mempunyai jendela bahkan pintunyapun

hanya sebuah, yaitu pintu yang mereka masuki

tadi dan yang kini sudah tertutup rapat.

Yu Lee menjadi curiga, menduga bahwa dia

memasuki mangan yang penuh perangkap. Akan

tetapi karena ia melihat lawannya juga berada di

situ di depannya, maka ia tidak menjadi khawatir

dan mengikuti setiap gerak gerik iblis betina itu

penuh perhatian.

“Hi, hi hi Yu Lee, sekarang kita saling

berhadapan, tidak ada seorangpun menjadi

penghalang. Hanya dinding putih menjadi saksi

akan kematianmu. Hi, hi, sayang kau pemuda

yang tampan!” Berbareng dengan ucapan ini, Hek

siauw Kui bo menggerakkan sulingnya, menerjang

152

sampai mengeluarkan suara melengking yang

…………….. memekik telinga dan keras. Mendengar

lengking ini terbayanglah di pelupuk mata Yu Lee

peristiwa lima belas tahun yang lalu. Teringatlah ia

akan ayah bundanya, paman pamannya, saudara

saudara misannya yang semua terbunuh oleh

wanita iblis ini. Suara lengking itu makin menusuk

perasaan nya dan tak tertahankan lagi air mata

bercucuran keluar dari kedua mata Yu Lee.

“Heii….!Kau …….. menangis?” Hek siauw Kui bo

menghentikan suara melengking dan

menghentikan pula serangannya, memandang

heran.

Namun Yu Lee kini sudah maju menerjang

dengan pedangnya. Hek siauw Kui bo cepat

menangkis. ”Trangg….” keduanya melompat

mundur karena merasa betapa lengan mereka

tergetar.

Akan tetapi Yu Lee yang masih terisak

menangis itu sudah menerjang lagi dan kini ia

mainkan ilmu pedang yang ia ciptakan sendiri

berdasarkan ilmu sakti Tu kui tung hoat.

Pedangnya bergerak cepat dan berubah menjadi

sinar terang bergulung gulung dan melirngkar

lingkar mengelilingi tubuh lawan. Hek siauw Kui bo

terkejut, cepat ia memutar sulingnya dan meloncat

ke kanan. Kaki kanannya menendang sebuah

tombol kecil di dinding, kemudian membalikkan

tubuhnya sambil memutar suling menangkis dan

balas menyerang.

Pertandingan sudah dimulai dengan hebat nya.

Gerakan iblis betina itu memang cepat dan ganas

153

sekali, dasar gerakannya adalah ilmu silat yang

amat tinggi yang diambil dari pelbagai ilmu silat,

dipilih dan disatukan, diambil sarinya, ilmu

silatnya menjadi amat ganas dan sukar dilawan.

Namun sekail ini Hek sianw Kui bo terkejut.

Bertahun tahun ia mempelajari ilmu, mencari dan

mencipta ilmu untuk menandingi ilmu pedang Yu

Tiang Sin yang lihai sebagai Dewa Pedang. Namun

sebelum ia sempat menandingi Dewa Pedang itu,

kakek Yu Tiang Sin keburu mati tua.

Kini ia menghadapi cucunya dengan pandangan

rendah karena betapapun juga, kalau pemuda ini

bersenjata pedang takkan mungkin lebih hebat

dari pada Yu Tiang Sin. Siapa kira, kini ternyata

ilmu pedang yang dinginkan pemuda ini luar biasa

sekali.

Aneh sekali dan sama sekali bukan ilmu pedang

biasa, melainkan ilmu pedang yang mirip ilmu

tongkat.

Hebatnya, gerakan pemuda ini….. persamaan

dengan ilmu……. yang ia latih, yaitu …… beberapa

kali tahu tahu ….. pedang pemuda itu telah

………………… dengan kelincahannya yang luar

biasa saja, sambil menggulingkan tubuh

menyabetkan suling ke belakang, Hek siauw Kui bo

bisa membebaskan diri dari pedang yang seperti

dapat melengkung lalu menyerangnya dari

belakang biarpun musuhnya itu berada di depan !

Sementara itn Yu Lee merasa gembira karena ia

merasa yakin bisa merobohkan musuh, berarti

akan bisa membalas kematian keluarganya di

samping membasmi seorang manusia yang

154

berwatak iblis. Ia semakin mempercepat

gerakannya dan mendesak terus.

Akan tetapi ia tidak tahu sama sekali bahwa

tendangan Hek siauw Kui bo pada dinding tadi

menekan tombol dan kini dari beberapa lubang

yang tersembunyi di dalam ruangan itu masuklah

asap yang bening warnanya, hampir tak terlihat.

Asap ini makin lama semakin memenuhi kamar.

Tiba tiba Yu Lee mencium bau yang harum luar

biasa lalu seketika itu lehernya seperti tercekik

“Celaka…. !” Serunya dan ia cepat menahan

napas, laju menyerang dengan tusukan maut

sambil terus melompat ke belakang. Ketika ia

sudah menjadi jauh dari lawan, ia melihat Hek

siauw Kui bo tertawa dan di mulut iblis betina itu

sudah tersumpal sehelai saputangan. Ia mulai

melihat pula betapa asap yang halus mulai

bergulung gulung memenuhi kamar itu.

Pada saat itu kembali Hek siauw Kui bo sudah

menerjangnya Terpaksa ia menggerakkan pedang

menangkis, akan tetapi begitu ia bernapas,

lehernya serasa tercekik serta dadanya panas,

kepalanya pening sekail.

“Plakk…!” Paha kirinya terpukul suling. Nyeri

sekail rasanya sampai menembus ke ulu hati.

Dalam keadaan pening tadi ia tak sempat mengelak

sehingga pahanya terpukul juga kini pandangan

matanya tidak terang lagi karena asap mulai

memenuhi ruangan dan bau harum yang

menyesakkan napas mulai meracuninya.

Ia maklum bahwa itu adalah asap beracun yang

entah dari mana telah memasuki ruangan silat.

155

Dan biarpun kepalanya pening, Yu Lee sudah tahu

pula bahwa saputangan yang disumpalkan ke

mulut lawan berfungsi sebagai penyaring, sehingga

lawannya……………………

Yu Lee melompat ke pintu dan pedangnya

menerjang daun pintu.

“Cringg…… !!” ia kaget sekali. Pintu itu ternyata

terbuat dari pada baja yang tebal sekali ! Ia lalu

mengerahkan tenaga dan menubruk pintu dengan

bahunya

“Bengg ….. !” Pintu itu bergetar, bahkan seluruh

ruangan itu ikut tergetar, akan tetapi ia tidak

berhasil mendobrak pintu yang ternyata amat kuat

itu Kembali ia harus melindungi tubuhnya yang

sudah di serang oleh Hek Siauw Kui bo. Dengan

nekad Yu Lee mempertahankan diri sambil

berusaha meloloskan diri dari dalam kamar yang

berbahaya ini. Tetapi kakinya terasa sakit, kepala

nya makin pening, pandangan matanya berkunang

sedangkan dadanya serasa mau meledak karena

terlalu lama ia menahan napas.

Beberapa kali ia menggunakan ginkangnya,

melesat ke atas dan menggunakan pedangnya

membabat langit langit akan tetapi pedangnya

bertemu dengan baja yang keras dan tebal. Tidak

ada jalan keluar lagi baginya.

Jalan satu satunya untuk menyelamatkan diri

hanya merobohkan lawan. Dan hal ini tidak

mungkin karena kakinya sudah terluka dan ia

hampir tak dapat bertahan untuk tidak menyedot

napas padahal udara di dalam ruangan sudah

penuh asap beracun.

156

“Ayah….ibu… ampun anak tak dapat menuntut

balas…!” Akhirnya Yu Lee berseru keras ketika

kembali pundaknya tertotok suling. Ia sudah tak

dapat lagi melihat lawannya, tertutup asap dan

pandangannya sudah gelap, kepalanya sudah

berpusingan, kemudian ia roboh, pingan

JILID V

KETIKA Yu Lee sadar kembali dari pingsannya

dan membuka mata, pertama tama yang terasa

oleh nya adalah rasa nyeri yang amat hebat di

dadanya. ia meramkan matanya kembali

mengumpulkan napas dan tenaga, membersihkan

ingatannya. Teringatlah ia kembali, ia telah roboh

di dalam ruangan silat oleh asap beracun dan

totokan totokan suling ditangan Hek siauw Kui bo

yang lihai, ia menahan diri untuk tidak mengeluh

ketika terasa seluruh tubuhnya sakit sakit dan

kedua lengannya tak dapat ia gerakkan.

Keiika berusaha menyalurkan tenaga ke arah

kedua tangan dan menggerakkan tangannya

ternyata kedua pergelangan tangannya itu

terbelenggu dan berada di belakang tubuh,

tertindih tubuhnya yang telentang. ia membuka

mata. Ternyata ia masih berada di ruangan bundar

itu terbaring telentang di atas lantai dengan

pergelangan kedua tangan terbelenggu.

Dengan susah payah Yu Lee menggulingkan diri

menekuk kedua lututnya dan bangkit duduk.

Untung bahwa kedua kakinya tidak terbelenggu. ia

memandang ke sekelilingnya. Sunyi tiada manusia.

157

Pintu satu satunya itu masih tertutup rapat.

Ruangan sudah bersih dari pada asap beracun,

namun bau harum aneh masih dapat tercium. ia

segera mengumpulkan napas, mengerahkan tenaga

untuk mematahkan belenggu.

Akan tetapi ia meringis kesakitan karena

ternyata bahwa belenggu besi itu agaknya di

pasangi gigi gigi tajam sehingga begitu ia

mengerahkan tenaga, gigi gigi tajam itu masuk ke

dalam kulit dagingnya! Pedang dan tongkatnya

lenyap. ia terbelenggu amat kuat dan penuh

dengan pemasangan gigi baja pada belenggu itu, ia

tak mungkin, dapat mematahkan belenggu tanpa

mengakibatkan pergelangan kedua tangannya.

Yu Lee menarik napas panjang. ia maklum

bahwa ia telah terjatuh ke tangan musuh

besarnya. Mengapa ia tak dibunuh? Mengapa ia

dijadikan tawanan? ia tidak mau memusingkan

kepala memikirkan hal ini. Lalu ia duduk bersila

dan bersamadhi mengumpulkan napas dan tenaga,

memulihkan hawa murni di tubuhnya.

Tak lama kemudian jawaban tiba, jawaban

tentang keheranannya mengapa ia tidak dibunuh.

Jawaban itu beupa terbukanya pintu dan

masuknya Empat Buaya Yang ce kepala kepala

bajak sungai yang terkenal kejam. Mereka masuk

dan menutupkan pintu kembali lalu terdengar

mereka tertawa tawa. Sejenak Y u Lee membuka

mata kemudian menutupkan matanya kembali.

“Ha, ha, ha kiranya hanya sebagini saja

kepandaianmu!” Song Kai tertawa mengejek dan

kakinya terayun keras menendang. Yu Lee maklum

158

akan datangnya tendangan ini. ia berusaha

mengelak akan tetapi sebuah pukulan tangan tepat

mengenai leher kanannya, membuat tubuhnya

roboh bergulingan. ia bangkit kembali dengan

pandangan mata berkunang.

Ketika itu, Song Kai yang tadi merasa

penasaran karena tendangan nya dapat dielakkan

lawan yang sudah luka luka terbelenggu, datang

memukul ke arah dadanya. pukulan yang amat

keras ! Yu Lee maklum bahwa ia terancam bahaya

maut, akan tetapi ia tidak menjadi gentar dan

mengambil keputusan bahwa sebelum tewas ia

akan melawan sebisanya. Cepat ia miringkan

tubuh membiarkan pukulan itu menyerempet

dadanya akan tetapi berbareng kakinya

menendang ke depan tepat mengenaisambugan

lutut Song Kui.

“Aduhh…!” Tubuh Song Kai tergelimpang dan

sabungan lututnya terlepas ! Untung baginya

bahwa keadaan Yu Lee demikian lemahnya, kalau

tidak, tentu akan remuk tulang lututnya.

Marahlah mereka. Berbareng mereka menyerbu

dan karena Yu Lee memang sudah terluka dan

amat lemah tentu saja pemuda ini menjadi korban

pemukulan pemukulan mereka. Tubuh Yu Lee

sampai terlempar ke sana ke mari bergulingan ke

atas lantai. Perutnya kena tendang dan pemuda ini

berusaha bangkit, akan tetapi pukulan keras pada

tengkuknya membuat ia rebab kembali. Akhirnya

ia tak dapat berkutik pula karena pukulan

pukulan dan tendangan tendangan datang bertubi

159

tubi. Mukanya penuh darah yang keluar dari

mulut dan hidung.

“Sudah … sudah twako, jangan sampai

terbunuh dia !” Seorang di antara buaya buaya

Yang Ce mencegah Son Kai yang terengah engah

dan terpincang pincang memukuli pemuda itu

dengan marah. “Toania pesan agar kita jangan

membunuhnya. Kalau dia mati kita celaka !”

Hal ini menyelamatkan Yu Lee Biarpun

tubuhnya penuh luka luka bekas pukulan dan

tendangan, namun keempat orang itu tidak

membunuhnya, sehingga pukulan pukulan dan

tendangan tadi pun hanya merupakaa hantaman

yang melukai kulit daging dan paling hebat

mematahkan tulang, tidak mendatangkan luka

dalam yang membahayakan nyawanya. Namun

siksaan mereka itu cukup hebat membuat Yu Lee

pingsan selama sehari semalam.

Dengan gerakan laksana seekor kucing. Dewi

Suling berloncatan di atas genteng rumah rumah

yang berjajar rapat. Kedua kakinya bergerak cepat

tanpa mengeluarkan suara dan sebentar saja ia

sudah di atas genteng rumah toko obat yaog

terletak di sebelah barat simpang empat.

Seperti biasa, setelah tiba di atas rumah calon

korbannya. Dewi Suling lalu meniup suling

merahnya.

Melengkinglah suara yang merdu, namun

menyeramkan, memecah kesunyian malam.

160

Tiba tiba suara suling itu terhenti dan Dewi

Suling mengeluarkan seruan tertahan ketika

genteng rumah yang diinjaknya itu tiba tiba

bergerak dan kakinya terpeleset. Sebagai seoraog

ahli “jalan malam” maklumlah ia bahwa ada orang

pandai berlaku usil. Siapakah yang memiliki

kepandaian di dalam rumah penjual obat ini?

Tiba tiba terdengar suara angin menyambar ke

arahnya. Dewi Suling cepat miringkan tubuh dan

berloncatan mengelak karena dari bawah

menyambar senjata senjata rahasia.

“Siiuut siuuut siuuut…!” tiga batang hui to

(pisau terbang) menyambar secepat kilat ke

arahnya dan ketika Dewi Suling mengelaknya, tiga

batang hui to itu jatuh ke atas genteng, suaranya

nyaring.

“Cui siauw kwi, mau apa engkau mengacau di

sini? Terdengar bentakan nyaring dan halus.

Dewi Suling cepat rnenengok dan melihat

bayangan hitam berkelebat di bawah. Dengan

ujung ujung kakinya ia mencongkel genteng dan

tampaklah bayangan hitam tadi kini berada di

ruangan belakang rumah obat itu.

Wajahnya berseri, matanya bersinar sinar

ketika melihat seorang pemuda tampan sekali

berdiri di bawah genteng dengan sepasang pedang

di tangan.

Kalau siang tadi ia melihat pemuda putera

penjual obat sebagai seorang pemuda remaja yang

tampan sekali, bermuka bundar dengan kulit

putih, mata jeli dan bibir merah seperti buah tomat

161

masak, kini pemuda tampan itu tidak hanya

kelihatan ganteng juga kelihatan gagah perkasa !

Hal ini sama sekali tak disangka sangkanya.

Pemuda tampan yang disangka lemah lembut itu

ternyata seorang yang berkepandaian dan melihat

lemparan tiga batang hui to tadi membuktikan

bahwa pemuda remaja itu kepandaiannya boleh

juga. Makin gembiralah hati Dewi Suling melihat

kenyataan ini dan seperti sehelai bulu saja

tubuhnya melayang turun melalui lubang yang

dibuat di atas dengan membongkar beberapa buah

genteng.

Lalu ia meloncat turun melalui lubang yang

dibuatnya itu sambil memutar sulingnya dan

tubuhnya melayang ringan ke bawah ke arah

pemuda yang berdiri dengan sepasang pedang di

tangan.

Sepasang kaki Dewi Suling seperti kaki burung

saja ketika hinggap di atas lantai sehingga pemuda

itu diam diam menjadi kaget sekali.

“Kongcu, maafkan kalau aku membikin kaget

padamu. Kedatanganku ini sesungguhnya karena

tertarik kepadamu dan ingin belajar kenal

denganmu. Siapakah namamu dan kenapa begitu

bertemu kau menyerang Cui siauw Sian li Ma Ji

Nio? Ah, tidak kasihankah engkau kalau sampai

hui to mu tadi itu membikin lecet kulitku? “

Dengan lagak genit Dewi Suling mengerling serta

tersenyum.

Sepasang mata yang lebar dan bersinar tajam

itu terbelalak, kemudian bibir yang merah sehat itu

tersenyum. Tampak deretan gigi putih rapi yang

162

membuat hati Dewi Suling menjadi semakin

berdebar. Selama ini belum pernah ia

mendapatkan seorang kekasih yang begini tampan!

Kalau saja pemuda ini memiliki ilmu silat yang

tinggi, sedikitnya seperti tingkat kepandaian dua

orang murid Hap To jin yang telah menghinanya

dan menolak cinta kasihnya, hatinya akan puas

serta tak kecewa untuk seterusnya berteman

dengan pemuda ini.

“Ohh, begitukah? Jadi engkau datang untuk

berkenalan? Cui siauw kwi, namaku adalah Tan Li

Ceng dan soal seranganku tadi yang sayang tidak

mengenai sasarannya adalah karena begitu

mendengar suara sulingmu aku sudah dapat

menduga siapa yang akan muncul. Baru sekarang

aku berrtemu denganmu. Engkau memang seorang

gadis yang cantik jelita, akan tetapi sayang engkau

jahat seperti iblis betina. Disebabkan kejahatanmu

itu lah maka akü tadi menyerangmu dan

sekarangpun aku mau membunuhmu. Lihat

pedang !” Cepat sekali gerakan pemuda itu.

Sepasang pedangnya berkelebat menjadi dua

gulung sinar perak yang “menggunting” dari kanan

kiri.

“Singg!…….. singg….!”

Dewi Suling cepat mengelak dan guntingan

sepasang pedanp itu lewat di dekat tubuh nya.

“”Eh .. Tan kongcu (tuan muda Tan), nanti dulu….”

“Mau bicara apa lagi? ” Si pemuda bertanya,

sepasang alisnya yang hitam hergerak gerak.

Sepasang pedangnya disilangkan di depan dada.

163

Sikapnya gagah sekali sehingga mata Dewi Suling

terpesona melihatnya.

“Tan kongcu, engkau mengapa begini kejam dan

sampai hati menuduh aku jahat? Kejahatan

apakah gerangan yang telah kuperbuat maka

kongcu menuduhku demikian? “

Tan Li Ceng mengeluarkan suara menghina dari

hidangnya yang kecil mancung. “Hemm! Masih

berpura pura suci? Entah sudah berapa banyak

pemuda pemuda yang menjadi korban mu, kau…

kau perkosa dan kau bubuh ! Masih beranikah

menyangkalnya?”

Dewi Suling menarik napas panjang, lalu

berkata, suaranya halus, “Tan kongcu, sudah

bertahun tahun aku mencari jodoh. Banyak sudah

pemuda kupilih, akan tetapi mereka itu hanyalah

laki laki tidak berguna. Mereka itu tiada bedanya

dengan kelinci kelinci gemuk yang hidupnya untuk

disembelih atau burung burung indah yang

hidupnya ditakdirkan buat tontonan serta hiburan.

Dan kalau telah bosan, bagian mereka ialah

kemalian. Aku mau mencari seorang suami yang

cocok, lalu melihat engkau ini…, hatiku rupanya

merasa puas bila bisa berkawan baik denganmu.

Maukah engkau mencoba serta melihat apakah

diantara kita berdua ada kecocokan hati kong cu?

Marilah ikut bersamaku dan kita mencoba serta

rasakan bersama, tentu kau tidak akan kecewa…”

Kemudian dengan sikap genit memikat Dewi

Suling melirik tajam penuh arti.

164

Akan tetapi agaknya Tan Li Ceng yang usianya

paling banyak delapan belas tahun itu masih hijau,

justeru masih hijau dan kurang pengalaman itulah

yang membuat Dewi Suling lebib mengilar lagi.

Pemuda tampan itu membanting kakinya dan

berkata, suaranya membentak, “Perempuan tak

tahu malu! Bersiaplah untuk mampus!” Kembali

pemuda ini menerjang dan sepasang pedangnya

berkelebat cepat bagaikan kilat menyambar.

Dimaki demikian oleh bibir yang penuh merah

menggairahkan itu. Dewi Suling tidak menjadi

marah, bahkan tertawa dan berkata, “Baik sekali,

memang aku ingin memuji kepandaianmu apakah

tidak mengecewakan!” Sulingnya berkelebat

berubah menjadi segulung sinar merah yang

panjang.

“Trang trang ….!

Pemuda itu meloncat ke belakang sambil

menarik kedua pedangnya. Benturan dengan

suling ketika lawan menangkis siang kiam

(sepasang pedang) tadi membuat kedua tangannya

terasa panas dan tergetar hebat !

“Hi, hi, hik. coba kau sambut ini !” Dewi Saling

berkata sambil tertawa dan sulingnya kini

membentuk gulungan sinar merah yang melingkar

lingkar panjang mengurung tubuh Tan Li Ceng.

Pemuda itu kaget sekali mengeluarkan seluruh

kepandaiannya. Sepasang pedangnya membentuk

benteng sinar pedang yang amat kuat sehingga

berkali kali terdengar bentrokan bentrokan nyaring

antara sepasang pedang dengan suling merah.

165

“Ah, hi hik !” Bagus sekali ! Ilmu pedangmu

hebat, tidak kalah oleh mereka. Bagus, kau

tampan dan gagah, aku tidak kecewa, hik hik!”

Dewi Suling girang sekali mendapat kenyataan

bahwa pemuda remaja ini benar benar gagah

perkasa, tidak kalah oleh Ouw yang Tek maupun

Gui Siong, dua orang murid Hap Tojin yang tadinya

ia kagumi. Makin besar rasa cinta kasihnya

terhadap pemuda ini.

Di dunia ini jarang dapat ia temukan seorang

pemuda seperti ini, memiliki ketampanan yang

sukar dicari bandingannya dan memiliki ilmu silat

yang cukup tinggi. Tentu saja belum cukup tinggi

untuk mengatasinya. Ah, di mana bisa bertemu

dengan seorang pemuda yang dapat

mengalahkannya? Kecuali…kecuali pemuda baju

putih yang ajaib itu. Akan tetapi pemuda baju

putih itu gerak geriknya bukan seperti manusia

seolah olah pandai menghilang. Kalau bukan dewa

tentu Setan! Lebih baik mencurahkan

perhatiannya kepada Tan Li Ceng pemuda remaja

yang tampan ini.

Setelah menguji kepandaian pemuda itu sampai

lima puluh jurus lebih, hati Dewi Suling menjadi

puas. Kalau ia mau, dengan bermacam akalnya

yang keji tentu sejak tadi ia sudah mampu

merobohkan pemuda ini. Akan tetapi timbul rasa

sayang yang amat besar di hatinya sehingga ia

tidak ingin melukai pemuda ini. Juga kalau dalam

waktu terlalu singkat ia mengalahkannya ia

khawatir kalau kalau pemuda ini menjadi malu

dan merasa terhina. Maka ia melayani sampai

puluhan jurus.

166

“Wah kau hebat, kongcu ! Aku terima kalah…!

Perlukah pertandingan ini dilanjutkan? Lebih baik

kita bercinta daripada bermusuhan….!””

Tan Li Ceng tidak menjawab, melainkan

menggeram dan pedannya berkelebat semakin

ganas. Kelihatan bahwa pemuda ini marah sekali.

“Ih, terpaksa ku hentikan kenakalanmu !” Tiba

tiba tangan kiri Dewi Suling mengebutkan sehelai

saputangan merah ke arah muka Tan Li Ceng yang

cepat mengelak dengan jalan miringkan kepalanya.

Akan tetapi kiranya serangan ini bukan serangan

senjata, melainkan serangan hawa beracun sebab

tahu tahu hidang Tan Li Ceng mencium bau harum

luar biasa yang membuat napasnya sesak serta

matanya berkunang kunang.

Waktu itu dipergunakan oleh Dewi Suling buat

melakukan totokan secepat kilat yang mengenai

kedua buah lengannya. Tanpa bisa dicegah lagi

kedua pedang itu jatuh berkerontangan di atas

lantai. Di lain saat, tubuh Tan Li Ceng yang

terhuyung itu telah didekap oleh Dewi Suling.

Karena sewaktu diserang oleh kebutan

saputangan merah tadi Tan Li Ceng telah

membuang muka, maka obat bubuk harum yang

mengandang obat bius itu hanya sedikit saja

memasuki hidungnya dan karena itu hanya

membuat ia pusing dan mabok tidak sampai

pingsan terlalu lama. Setelah lenyap pusingnya

dan kesadarannya pulih kembali pemuda ini

membuka mata. Alangkah kagetnya ia ketika

mendapatkan dirinya dirangkul serta didekap Dawi

167

Suling dan mulutnya tersumbat oleh bibir wanita

itu yang menciumnya mesra penuh nafsu !

Rasa mual naik dari perut pemuda ini. Ia

berusaha meronta, tapi sia sia sebab rangkulan

Dewi Suling itu membuat kedua lengannya

menempel di badan. Demikian kuat serta ketat

rangkulan Dewi Suling yang seperti orang gila atau

mabok mencium mulutnya. Saking marah, muak

dan gugupnya, pemuda ini lalu membuka mulut

tetapi bukan buat membalas ciuman mesra itu,

melainkan buat menggigit bibirnya Dewi Suling.

“Ihh…!” Dewi Suling kesakitan dan terpaksa

melepaskan rangkulannya sambil meloncat

mundur. Dirabanya bibir yang berdarah itu,

matanya melotot, akan tetapi ia tersenyum.

Mukanya merah serta pandangan matanya

bersinar sinar

“Aihh kongcu kau.,…. kau nakal sekali. Betapa

kejamnya melukai bibirku…!”

Akan tetapi Tan Li Ceng sudah meloncat

bangun terus menyambar sepasang pedangnya

yang tergeletak di lantai kemudian menerjang

kalang kabut kepada Dewi Suling dengan

kemarahan meluap luap. Akan tetapi begitu Dewi

Suling memutar suling merahnya itu, semua

terjangan pemuda itu dapat dibendung dan

kembali Tan Li Ceng terdesak serta terkurung oleh

sinar merah yang bergulung gulung dan melingkar

lingkar. Juga saputangan merah yang harum

sudah siap di tangan kirinya, Tan Li Ceng berlaku

hati hati, bersilat dengan cepat serta mengerahkan

semua ilmu silat dan tenaganya, juga waspada

168

menjaga diri dari serangan saputangun merah itu

yang sewaktu waktu bisa dikebutkan ke mukanya

Betapapun juga, suling di tangan musuhnya itu

benar benar amat lihai, sepasang pedangnya tak

bisa balas menyerang lagi hanya di pergunakan

buat melindangi tubuhnya.

“Omitohud…!” Tiba tiba terdengar seruan dan

dari pintu belakang muncul seorang hwesio tua

yang perutnya gendut sekali. Sebagian perutnya

yang di atas terbuka sebab bwesio ini memang

tidak berbaju sehinngga dada serta separah

perutnya itu telanjang. Wajahnya muram dan

alisnya sudah putih. Di lengan kanannya hwesio

ini mencekal sebuah tongkat berkepala naga.

Kalau hwesio ini muncul sambil mengeluarkan

seruan memuja Budha, tetapi orang kedua yang

tiba bersamanya sudah mencabut pedang terus

menyerbu ke depan. Orang ini ialah seorang gadis

manis berpakaian serba hijau berusia sekitar dua

pulah tahun, bertubuh langsing. Pedang

tunggalnya berderak cepat sekakli dan begitu

menyerbu, pedangnya berkelebat menusuk ke arah

lambung kanan Dewi Suling.

“Trang..!!” Pedang di tangan sadis baju hijau itu

membalik lalu ia berseru kaget, sama sekali tidak

mengira bahwa Dewi Suling demikian kuat

tangkisanya. Di lain fihak Dewi Suling mendapat

kenyataan bahwa gadis baju hijau yang baru tiba

ini memiliki sinking sedikitnya tak kalah oleh

pemuda tampan itu, maka ia berlaku hati hati lalu

meloncat mundur.

169

“Suci.. suhu… harap bantu aku membasmi iblis

betina ini!” Tan Li Ceng berseru girang melihat

munculnya dua orang itu.

“Sumoi, jangan khawatir lblis ini takkan bisa

lolos” jawab gadis baju hijau sambil menerjang lagi.

Lalu disusul oleh Tan Li Ceng yang berbesar hati

melihat munculnya guru serta kakak

seperguruannya.

“Trang trang trang…!” Tangkisan suling merah

kali ini amat kerasnya sehinga baik Tan Li Ceng

maupun gadis baju hijau itu terhuyung huyung

mundur. Dewi Suling berdiri dengan suling

melintang di depan dada, mukanya pucat dan

matanya terbelalak ketika memandang Tan Li

Ceng, telunjuk tangan kirinya menunjuk ke arah

muka bekas lawannya.

“Engkau…. Engkau… wanita ….? “

Tadi ketika Dewi Suling mendengar pemuda

tampan itu nenyebut suci kemudian oleh si kakak

seperguruannya disebut sumoi (adik perempuan

seperguruan) ia kaget seperti di sambar halilintar.

Saking kaget dan herannya ia masih penasaran

dan setelah menangkis, kini ia meyakinkan hatinya

dengan pertanyaan itu.

“Cih, perempuan tak tahu nalu dan gila !

Hatimu sudah begitu kotor sehingga matamu buta

tak dapat melihat mana wanita mana laki laki !”

bentak Tan Li Ceng yang sesungguh nya adalah

seorang gadis cantik jelita berusia delapan belas

tahun. Sebagai anak tunggal, Tan Li Ceng amat

dimanja dan karena sudah lajimnya pada jaman

itu orang orang tua ingin sekali mempunyai anak

170

laki laki. Li Ceng diberi pakaian laki laki untuk

mengurangi kecewa ayah ibunya.

Mendengar ini muka yang pucat dari Dewi

Suling berubah marah sekali, sepasang matanya

menjadi muram dan hatinya diliputi kekecewaan

besar. Harus ia akui bahwa ia tadi jatuh cinta

sungguh sungguh kepada “pemuda” ini dan kalau

ia berhasil, ia akan menghentikan petualangan

dengan pemuda pemuda lainnya dan ingin hidup

selamanya di samping “pemuda” yang dicintainya

ini. Sekarang semua harapan itu buyar seperti

asap tertiup angin dan selain rasa kecewa, ia juga

merasa malu sekali dan marah.

“Mampuslah!” Bentaknya dengan kemarahan

meluap luap. Rasa cinta kasihnya yang mendalam

terhadap “pemuda” itu kini berubah menjadi

kebencian yang amat sangat, yang dapat

dipuaskan hanya dengan pembunuhan.

Serangannya hebat bukan main sehingga enci adik

seperguruan itu cepat memutar senjata untuk

menangkis.

“Omitohud… pinceng mana dapat mendiamkan

iblis betina mengganas?” Hwesio tua guru kedua

orang gadis itu berseru dan tongkatnya meayang.

Dewi suling kaget bukan main. Ia sedang sibuk

dengan serangannya, dan kini enci adik

seperguruan itu juga balas menyerang. Secara tiba

tiba ia mendengar desir angin yang demikian

dahsyat yang ditimbulkan oleh tongkat panjang,

maka cepat ia meloncat sambil memutar sulingnya.

Namun, karena ia harus melindungi terjangan

pedang kedua gadis lawannya, dan karena hwesio

171

itu menerjang pada saat ia dalam kedudukan

kurang kuat elakannya tidak sepenuhnya berhasil.

“Bukk!” Ujung tongkat menggebuk

punggungnya. Untung Dewi Suling secepat kilat

sudah miringkan tubub sambil mengerahkan

sinkang ke punggung untuk melawan gebukan ini,

kalau tidak tentu tulang punggungnya bisa patah

patah! Betapapun juga ia masih terlempar dan

jatuh bergulingan, ia terus menggulingkan tubuh

mendekati pintu, kemudian meloncat bangun

sambil memutar suling.

“Gundul keparat! Siapa kau?” Bentaknya.

“Hemm, pinceng Liong Losu, selamanya anti

kejahatan !”

“Tho tee kong …!” Dewi Suling berseru keras

dengan kaget. Gurunya sudah berpesan agar hati

hati kalau bertemu dua orang, yaitu pertama

adalah Tho tee kong Liong Losu si Malaikat Bumi

ini, dan kedua adalah Siauw bin mo Hap Tojin si

Setan Tertawa yang menjadi guru kedua orang

muda yang pernah digodanya. Kini mendengar

hwesio guru kedua orang ini adalah Tho tee kong ia

tahu bahwa keadaannya amat berbahaya kalau ia

melanjutkan pertandingan. Apalagi punggungnya

sudah terluka, sungguhpun hanya merupakan

luka di luar saja.

Sambil meloncat ia mengeluarkan lengking

mengerikan dan pada saat itu tubuhnya sudah

melayang keluar dari pintu.

172

“Iblis betina hendak lari ke mana?” Tan Li Ceng

dan encinya yang bernama Lauw Ci Sian berbareng

membentak marah dan berlumba untuk mengejar.

“Awas…. !” Bentak guru mereka yang sudah

melompat maju dan memutar tongkat.

Dua orang gedis itu terkejut dan merebahkan

diri. Sinar hijsu menyambar di atas tubuh mereka

dan lenyap memasuki dinding. Itulah jarum jarum

hijau yang beracun. Beberapa jarum runtuh oleh

putaran tongkat Liong Losu.

“Kejar…!” Tan Li Ceng yang masih gemas

terhadap Dewi Suling, meloncat keluar disusul

kakak sepeguruannya.

Hwesio tua dan dua orang muridnya itu

mengerahkan ginkang dan melakukan pensgejaran

dengan ilmu lari cepat. Akn tetapi Dewi Suling

sudah lari juuh sekali, kemudian iblis betina itu

meloncat ke dalam sebuah perahu dan

meluncurlah perahunya bagaikan anak panah

terlepas dari busurnya. Guru dan dua orang

muridnya itupun mencari perahu dan terus

melakukan pengejaran.

Tho tee kong Liong Losu adalah seorang

pendeta yang selain berwatak aneh dan berjiwa

pendekar juga seorang yang berhati hati memilih

murid.

Ia tidak pernah mempunyai murid, hanya lima

belas tahun yang lalu ketika ia dan Siauw bin mo

Hap Tojin gagal membela keluarga Yu Kiam sian

dan melihat beapa pendekar sakti Sin kong ciang

Han In Kong mengambil Yu Lee sebagai murid,

173

maka ia mengambil keputusan buat mencari murid

berbakat, sebagai seorang pendeta Budha yang

menempuh hidup suci, Tho tee kong Liong Losu

mempunyai perangai yang halus, maka sesuai

dengan sifatnya ini ialah murid murid wanita.

Maka ia lalu memilih dua orang anak perempuan

sebagai muridnya.

Murid pertama ialah Lauw Ci Sian, seorang

anak perempuan yatim piatu berusia delapan

tahun. Murid kedua adalah Tan Li Ceng anak

perempuan tunggal Tan Kiat pemilik toko obat.

Sesuai pula dengan bakat masing masing, ia

memberikan ilmu pedang tunggal untuk Lauw Ci

Sian serta siang kiam (pedang berganda) buat Tan

Li Ceng, Selama dua belass tahun ia mendidik

kedua orang muridnya itu sehingga mereka

memperoleh ilmu silat yang tinggi serta jarang

menemui tandingannya di antara orang orang

muda jagoan di jeman itu.

Setelah belajar selama dua belas tahun. Tan Li

Ceng yang mempunyai kebiasaan berpakaian

seperti pria itu ialu kembili ke An keng tempat

tinggal ayahnya. Oleh sebab itulah di An keng ia

merupakan seorang “pemuda” baru saja terlihat

oleh Dewi Suling waktu itu. Dan kebetulan pula

malam itu Tho tee kong Liong Losu berserta murid

pertamanya datang berkunjung serta terus malam

itu juga mendatangi rumah Tan Li Ceng.

Kenapa begitu kebetulan? Tidak lain setelah

begitu hwesio tua itu tiba An keng sore tadi lalu

pergi ke kuil yang dihuni oleh lima orang nikouw

174

serta mendengar akan sepak terjang Dewi Suling.

Maka itu buru buru hwesio ini bersama

muridnya mendatangi rumah muridnya yang

kedua untuk nanti diajak bersama sama mencari

serta membasmi Dewi Suling. Tak disangka iblis

betina yang dicari carinya itu justeru berada di

rumah Tan Li Ceng yang disangkanya pria !

Sementara itu, dengan hati gemas Dewi Suling

cepat cepat modayung perahunya pulang ke tempat

tinggal gurunya di Istana Air. Ia telah terluka,

biarpun tidak berat, akan tetapi buat melawan Tho

tee kong serta kedua orang muridnya sendirian, ia

merasa tidak kuat. Ia harus melaporkan kepada

gurunya soal munculnya musuh besar itu. Dan

kekecewaan karena ternyata Tan Li Ceng adalah

seorang gadis membuat ia kehilangan semangat

buat bersenang senang dan bermain main di An

keng.

Malam lelah berganti fajar ketika Dewi suling

naik ke darat dan menarik perahu kecilnya ke

darat pula. Ia heran melihat betapa sepinya daerah

Istana Air. Akan tetapi baru saja ia lari beberapa

meter jauhnya, dari kanan kiri berlompatan keluar

penjaga yang bersenjata lengkap, bahkan seorang

penjaga membentaknya, “Siapa….!”

“Goblok… buka matamu lebar lebar ! Minta

mampus ?” Dewi Suling balas membentak dengan

perasaan mendongkol.

“Ahhh… ampun Siocia ! Ampunkan hamba… di

dalam gelap ini mana hamba bisa mengenali

Siocia? Taunio memerintahkan agar penjagaan

175

diperketat sebab dikhawatirkan datangnya musuh

yang akan menolong tawanan. Maka kami

melakukan penjagaan ketat sambil bersembunyi.”

Lenyap kemarahan Dewi Suling segera ia

tertarik sekali. “Tahanan sipakah orangnya? berani

betul masuk ke sini sampai tertawan.?”

“Seorang pemuda luar biasa, Siocia. Yang ce Su

go maupun Ngo tayhiap (pendekar Ngo Cun Sam)

tak bisa mengalahkannya. Baru Setelah Toanio

sendiri turun tangan, dia bisa ditawan di ruangan

berlatih silat.”

“Pemuda? Siapa…?” Dewi Suling bertanya

heran. Kalau sampai pemuda itu harus dikalahkan

gurunya di dalam tian bu thia ( Ruangan silat),

berarti gurunya tak kuat melawan dan perlu

dengan bantuan alat2 rahasia di tian bu thia.

Alangkah hebatnya kepandaian pemuda itu!

“Entahlah, Siocia Hamba tidak tahu namanya.

Hanya mendengar bahwa dia itu masih

26 -27 tidak ada

Ia telah keluar dari tian bu thia menghilang ke

dalam gelap.

Sementara itu, Tho tee kong Liong Losu

bersama dua orang muridnya Lauw Ci Sian serta

Tan Li Ceng dengan perahu mereka sudah tiba

pula di daerah Istana Air. Melihat perahu kecil

Dewi suling di darat serta melihat pula tembok

bangunan yang besar mereka lalu mendaratkan

perahu dan berlompatan memasuki hutan.

176

“Kita haru berhati hati dan membagi tugas.”

kata Liong Losu. “Dinding itu tebal dan kuat, tentu

penjagaannya juga… Awas !!”

Pada waktu itu dari belakang berhamburan

senjata rahasia banyak sekali. Dua orang gadis itu

sudah sejak tadi memegang pedangnya masing

masing lalu cepat mambalikkan tubuh memutar

senjata mereka sehingga terdengar bunyi trang

trang ketika senjata senjata rahasia itu tersampok

berjatuhan.

Liong Losu tahu bahwa senjata senjata rahasia

itu dilepakkan oleh oang orang berkepandaian

biasa saja, ia cuma menggerakkan tangan kirinya

menangkap lalu melemparkannya kembali ke arah

dari mana datangnya tadi.

“Aduh….! Aug…! Ahhh…!” Terdengar jeritan

jeritan dari dalam gelap sebab termakan senjata

rahasia sendiri. Kemudian bermunculan keluar

belasan orang tinggi besar, mereka adalah

anggauta anggauta bajak sungai yang ditugaskan

menjaga di situ. Tadi mereka melihat pendaratan

tiga orang ini akan tetapi mereka sengaja

membiarkan mereka memasuki daerah dekat

dinding Istana Air, baru mereka turun tangan dan

menghujankan senjata rahasia. Alangkah kaget

dan marah hati mereka ketika serangan gelap itu

gagal, bahkan sebaliknya tiga orang teman mereka

roboh. Obor dinyalakan dan berkilauanlah senjata

mereka ketika menyerbu tiga orang tersebut.

Namun, sial nasib para pembajak sungai itu.

Mereka ini seperti segerombolan nyamuk

menerjang api. Begitu Liong Losu menggerakkan

177

tongkatnya dan kedua orang muridnya

menggerakkan pedang dalam waktu beberapa

menit saja mereka sudah roboh tak dapat bangun

kembali.

“Terang di sini sarang Dewi suling dan kaki

tangnnya Kita bagi tugas, kalian berdua menyerbu

dari kanan sana, pineng dari kiri. Dengan demikian

kita memotong jalan keluar mencegah dia

melarikan diri. Dia sudah terluka, tentu kalian

cukup kuat mengatasinya.”

Bagaikan tiga ekor burung malam, guru dan

murid ini melayang naik ke atas dinding dan

memasuki daerah bangunan Istana Air. Liang Losu

melompat ke atas genteng sebelah kiri dan dua

orang gadis itu lari ke kanan yang menjadi bagian

belakang bangunan itu, kemudian melompat pula

ke atas genteng.

Sayang sekali bahwa Liong Losu tidak tahu

akan kejadian sebenarnya dari Istana Air, tidak

tahu bahwa Dewi Suling adalah murid terkasih

Hek siauw Kui bo dan lebih lebih tidak tahu bahwa

di dalam Istana Air yang megah itu berdiam nenek

iblis yang sakti ini ! Kalau ia tahu, tidak nanti ia

membiarkan dua orang muridnya berpisah dari

sampingnya di sarang nenek iblis yang amat lihai

itu.

Dengan ketabahan yang timbul dari percaya

kepada kepandaian sendiri, dua orang pendekar

wanita remaja itu berlompatan di atas genteng dan

langsung menyelidik di bagian belakang ruangan

gedung yang besar dan indah itu. Kemudian

melihat sebuah taman di belakang gedang, mereka

178

melayang turun dan menyelinap di dalam

bayangan pohon, kemudian berindap indap

memasuki ruangan belakang yang diterangi

remang remang.

Dengan sigap mereka berlari ke ruangan ini,

pedang di tangan dan mata memandang ke

sekeliling mencari cari pintu mana yang akan

mereka serbu untuk mencari Dewi Suling atau

menghadapi kaki tangannya.

Tiba tiba terdengar suara ketawa terbahak dan

muncullah empat orang laki laki tinggi besar

memegang golok berat dan seorang kakek

berjenggot putih panjang.

“Ji te (adik kedua), matamu tajam sekali, dalam

gelap begini mengenal gadis cantik jelita. Mereka

ini benar benar muda serta jelita, ha ha ha !” Song

Kai berkata sambil melihat tubuh kedua orang

gadis remaja itu dengan mata melotot. Lalu empat

orang Yang ce Su go itu tertawa tawa cengar cengir

kurang ajar.

“Su wi (tuan berempat) harap jangan sembrono.

Gadis gadis itu bukan orang sambarangan” kata

Ngo Cun Sam.

“Benar benar Ji te bermata tajam ! Kalau bukan

kau yang berkata dua orang gadis cantik, aku

tentu tidak akan mengenal dia ini sebagai seorarrg

gadis. Pantas saja tampan bukan main !” kata pula

Song Kai tanpa memperdulikan peringatan Ngo

Cun Sam terus menuding telunjuk kirinya ke arah

Tan Li Ceng.

179

“Ha, ha, ha, twako, aku seorang ahli

perempuan, mana bisa tidak dapat membedakan

pinggul laki laki dan pinggul perempuan? Lihat

saja pundak dan dadanya, kemudian lihat

tangannya.”

Ternyata kalau Dewi Suling yang telah gila laki

laki tidak mengenal Tan Li Ceng, sekarang keempat

Yang ce Su go yang gila perempuan itu südah bisa

mengenalinya sebagai seorang gadis.

Tan Li Ceng yang telah menjadi bahan

percakapan kurang ajar itu sudah tak bisa

menahan kemarahannya pula. Sambil berseru

keras ia memutar sepasang pedangnya, tetus

menyerang Song Kai xerta adiknya, yang bermata

tajam tadi. Melihat gerakan adik sepergurüannya,

Lauw Ci Sian juga menyerang dua orang auggauta

Yang ce Su go lainnya.

“Trang trang..! Aihh… lihay juga…!”

Song Kai berseru kaget sebab ketika ia dan

adiknya menagkis sepasang pedang Tan Li Ceng,

dengan kecepatan yang sukar diduga pedang itu

mental ke bawah dan membabat ke arah perut

mereka dari kanan kiri seperti kilat menyambar.

Untung Song Kai cepat mengelak mundur bersama

adiknya tetapi ba ju mereka tetap rerobek ujung

pedang. Nyaris kulit perut mereka robek! Kini

mereka tidak berani main main dan harus

mengakui kebenaran yang diterangkan kakek

jenggot putih Ngo Cun Sam tadi. Juga dua orang

Yang Ce Su go lainnya telah sibuk memutar serta

memainkan senjata karena terkurung oleh sinar

180

pedang yang bergulung gulung di tangan Lauw Ci

Sian, gadis baju hijau.

Pertempuran berlangsung seru dan mati matian

karena sambaran pedang dan golok yang

berdesingan serta bersiuran bunyinya itu

merupakan bayangan bayangan tangan elmaut

yang mengerikan, Yang ce Su go boleh menjagoi di

Sungai Yang ce tetapi kini berhadapan dengan dua

orang murid Tho tee kong, mereka terdesak dan

gerakan golok mereka terkurung serta tertindih

sinar sinar pedang kedua gadis itu

Tiba tiba Lauw Ci Sian terkejut sekali karena

merasa ada hawa pukulan yang amat kuat

menerjangnya dari belakang, ia bisa menduga

tentu kakek jerngot putih itu yang menyerangnya

karena sudah sejak tadi ia melihat bahwa kakek

inilah yang terlihay di antara musuh musuhnya.

Cepat gadis lihai ini miringkan bahuhnya

mengangkat sebelah kaki meloncat terus

menendang sementara pedangnya berkelebat te kiri

melindangi tubuhnya dari serangan kedua golok.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba tiba

kakinya yang menendang itu kena ditangkap oleh

kakek jenggot putih ! Sebagai seorang ahli pedang

yang lihai biarpun kaki kirinya tertangkap, namun

ia dapat mencenderungkan tubuhnya ke depan

sambil membebatkan pedang ke arah pergelangan

tangan Ngo Cun Sam.

“Uhhh…!” Kakek itu berseru kaget dan kagum

sekali. Terpaksa ia menarik pulang tangannya

sambil melepaskan pegangan. Ynag ce Su go sudah

menerjang dengan sambaran golok mereka. Golok

181

itu datangnya dari kanan kiri, ketika ditangkis

pedang, dua batang golok itu membuat gerakan

menggunting sehingga pedang Lauw Ci Sian

terjepit. Gadis itu tidak menjadi gugup, cepat

tangan kirinya mendorong sambil kaki kirinya

melangkah maju.

“Dukkk… ! Aduh…!” Seorang di antara kedua

Yang ce Su go terjengkang roboh karena dadanya

terkena pukulan tangan yang halus namun

mengandang tenaga sinkang hebat itu.

Akan tetapi pada detik pukulan Lauw Ci Sian

mengenai sasaran, gadis ini terkejut sekali karena

tiba tiba pinggangnya dipeluk orang dari belakang !

Sebelum ia sempat bergerak, golok lawan kedua

sudah menyambar dari depan. Terpakia ia

menangkis dengan pedang dan pada saat itu Ngo

Cun Sam yang memeluk pinggangnya telah

menangkap tangan kirinya dan terus ditelikung ke

belakang, ilmu gulat kakek ini hebat, maka berada

dalam cengkeraman kakek ini Lauw Cl Sian sama

sekali tak dapat berkutik lagi dan tangan kanannya

yang memegang pedang dapat ditendang lawan

sehingga pedangnya terlepas dan ia tertangkap !

Sebelum gadis itu dapat meronta. Ngo Cun Sam

sudah mengeluarkan tali kulit yang amat kuat dan

membelenggu tangan Liuw Ci Sian kemudian

menendang belakang lututnya sehingga Lauw Ci

Sian roboh terguling.

Tan Li Ceng yang melihat robohnya sucinya dia

menjadi marah sekali. Namun ia tidak dapat

menolong karena pada saat itu orang ketiga Yang

ce Su go juga sudah maju menerjang sehingga ia

182

kini dikeroyok tiga. Orang keempat masih duduk

dan meringis kesakitan sambil mengurut urut

dadanya yang tertonjok tadi.

Tan Li Ceng mengamuk nekad. Sepasang

pedangnya berkelebatan seperti dua ekor naga

sakti mengamuk. Namun tiga orang lawannya juga

bukan orang lemah. Tadi ketika menghadapi dua

orang lawan ia masih dapat mendesak, akan tetapi

sekarang ditambah seorang lawan dan melihat

kakak seperguruannya roboh, ia menjadi gelisah

dan berbalik terdesak hebat.

Lebih celaka lagi baginya, Ngo Cun Sam

kembali menubruknya dari belakang selagi kedua

pedang nya sibuk menangkis tiga batang golok,

dan sekali kena diterkam ia dapat ditelikung dan

pedangnya di rampas, lalu iapun dibelenggu dan

ditendang roboh. Dua orang gadis perkasa itu kini

rebab di atas lantai dengan mata melotot penuh

kebencian. Tan Li Ceng malah segera

mengeluarkan suaranya memaki maki !

“Hemm, dua orang gadis ini lihai. Akn harus

cepat melapor kepada Toanio,” kata Ngo Cun Sam.

Harap su wi suka menjaga agar mereka jangan

melarikan diri atau tertolong teman temannya.

Siapa tahu masih ada kawan kawannya.”

Setelah Ngo Cnn Sam lari untuk melapor

kepada Hek siauw Kuì bo, Song Bau orang termuda

Yang ce Su go yang terpukul roboh tadi, kini sudah

dapat bangkit dan ia mengambil golok nya lalu

melangkah maju. Dengan gemas ia mengangkat

golok untuk dibacokkan ke leher Lauw Ci Sian.

Lauw Ci Sian yang menghadapi ancaman maut

183

dengan mata terbelalak, sedikitpun tidak takut,

berkedip pun tidak.

Akan tetapi Song Kag memegang lengan

adiknya. “Eh goblok! Apakah engknu sebodoh Ngo

Cun Sam? Dia boleh jadi sudah pikun dan

kehilangan semangat, akan tatapi bagi kita, dua

orang cantik jelita seperti ini masa harus

diserahkan kepada Toanio untuk dibunuh atau

kau bunuh begitu saja? Sebelum dibunuh, kita

akan bersenang senang sampai puas lebih dulu.

Ha, ha, ha ! Hayo lekas bawa mereka ke tempat

kita.” Song Kai lalu menyambar tubuh Lauw Ci

Sian dan memondongnya

“Bagaimana kalau Toanio marah?” Seorang

adiknya meragu.

“Bodot ! Kenapa marah? Kita tidak akan

membebaskan mereka !”

Orang kedua Yang ce Su go mengerti akan

maksud kakaknya maka sambil tertawa iapun lalu

memondong tubuh Tan Li Ceng yang berusaha

meronta dan menendangkan kakinya. Akan tetapi

karena kedua tangannya terbelenggu dan laki laki

itu amat kaut, ia tidak berdya dan dapat di

pondong sambil memaki maki.

“Ha, ha, ha, kuda betina ini liar dan ganas

sekali. Biar aku yang menjinakkanya, ha, ha..!”

kata orang kedua yang memondong nya. Empat

orang Yang ce Su go itu lalu melarikan dua orang

gadis tadi ke dalam kamar mereka yang berada

disebelah belakang Istana Air.

184

Terdengar suara empat orang Yang ce Su go itu

teritawa tawa dan juga terdengar makian makian

dua orang gadis yang tertawan, menggema di

dalam gelap.

Yu Lee mengeluarkan keluhan perlahan dan

bulu matanya bergerak gerak, tiba tiba ia menekan

urat urat syarafnya yang akan bergerak, menahan

dirinya yang hentak meloncat. Ia merasa ada

tangan halus membelai rambutnya, bahkan

kemudian hidungnya mencium bau harum. Ketika

terasa olehnya sebuah bibir yang basah melekat di

pipinya, ia terkejut lalu membuka sedikit matanya.

Dari balik bulu matanya ia melihat bahwa yang

sedang mencium dan membelai rambutnya penuh

kasih sayang itu adalah Dewi Suling.

Yu Lee biarpun masih muda namun ia amal

cerdik serta berpikiran luas. Karena ia merasa

bebas dan tubuhnya segar ia bisa menduga

tentulah Dewi Suling yang menolongnya, selaiu ia

siapa lagi yang berani melakukan nya?

Pikiran inilah yang membuat Yu Lee tidak

berontak secara kasar serta di dalam hatinya ia

merasa bersyukur dan amat berterima kasih.

“Aku cinta padamu,…. Oh, betapa cinta ku

kepadamu…!”

Bisikan dari mulut Dewi Suling ini hampir

membuat Yu Lee pingsan lagi ! Ia menggunakan

kepandaiannya untuk menekan perasaan sehingga

jalan darahnya normal dan pernapasannya halus

185

seperti tadi ketika ia berada dalam keadaan pulas

atau pingsan!

Pada saat itu, daun pintu kamar yang terkunci

dari dalam diketuk. Dewi Suling mengangkat

mukanya dari pipi Yu Lee, menengok lalu

menghardik. Kalau tadi bisikannya halus merayu,

kini hardikan nya galak dan keras.

“Setan mana berani menggodaku? Siapa kau? “

“Ampun, Siocia ” Terdengar suara laki laki

dari luar. “Hamba diutus Toanio untut memanggil

Siocia. Malam ini Istana Air di serbu oleb musuh

kuat. Bantuan Siocia diperlukan!”

“Ahhh… !” Dewi Suling berseru kecewa lalu

membungkuk lagi mencium bibir Yu Lee sambil

berkata,

“Tidurlah yang tenang dulu, kekasihku!”

Kemudian ia menyambar pedangnya dan keluar

dari kamar menutup kembali serta mengunci dari

luar.

Seolah olah sebuah batu besar yang terlepas

dari menindih perasaan jantung Yu Lee. Lalu

segera menggerakkan kaki tangannya. Hanya

serasa sedikit perih dan sakit di beberapa bagian

luka di mukanya dan tubuhnya, namun untung

lukanya sudah kering dan sembuh. Masih tampak

olehnya obat bubuk putih si atas luka luka itu

maka ia makin berterima kasih kepada Dewi

Suling. Akan tetapi mendengar laporan tadi bahwa

Istana Air diserbu musuh ia menduga duga siapa

yang menyerbu ini. Cepat ia menyamber

pakaiannya yang tertumpuk di sudut pembaringan,

186

memakainya dengan cepat sekali lalu ia menuju ke

arah daun pintu.

Mudah saja baginya buat mendorong daun

pintu secara paksa sehingga terbuka, kemudian ia

meloncat keluar. Teringat bahwa ia tidak

bersenjata, ia lalu meloncat keluar, ke dalam

taman lalu mematahkan sebatang ranting dari

sebuah pohon. Kemudian ia melompat ke atas

genteng melakukan pengintaian.

Suara ketawa tawa dan jerit makian wanita

yang terdengar dari bangunan di sebelah belakang

Istana Air, inenarik perhatiannya lalu seperti

seekor burung garuda ia berlari secepatnya

bagaikan terbang, kemudian ia meloncat ke atas

genteng, dan melihat ke bawah. Apa yang

dilihatnya di dalam kamar di bawah itu membuat

darahnya mendadak menjadi panas sekali. Dua

orang gadis muda remaja yang terikat kedua

tangannya sedang mronta ronta serta memaki

maki, sedangkan enpat orang laki laki yang ia

ketahui sebagai Yang ce Su go sambil tertawa tawa

merenggut dan merobek robek pakaian dua orang

gadis itu sehingga mereka bedua kini menjadi

telanjang bulat!

“Iblis keji bunuhlah kami !” teriak gadis yang

memaki maki tadi sambil meramkan mata.

“Ya, bunuhlah kami… bunuh saja kami !” teriak

gadis kedua dengan air mata bercucuran. Dua

orang gadis itu memaki maki dan tidak takut

melawan maut, akan tetapi ancaman yang mereka

hadapi ini jauh lebih mengerikan daripada maut

sendiri !

187

Akan tetapi empat orang itu cuma tertawa tawa

dan laksana singa kelaparan sedang

memperebutkan dua ekor domba gemuk, lalu

berbareng mereka maju menubruk dengan nafsu

seekor binatang meluap luap,

“Manusia binatang….. !!”

Seruan ini disusul menyambarnya tubuh Yu

Lee ke bawah melalui genteng serta sebelum

satupun diantara tangan empat orang Yang ce Su

go itu dapat menyentuh tubuh dua orang gadis itu

yang telanjang bulat, Yu Lee sudah

menghantamkan tangan kiri yang terbuka jari

jarinya kearah mereka, membuat mereka bagaikan

disambar petir dan terlempar kesana kemari !

Kepala mereka terasa pening dan pandang mata

berputar putar dan sampai beberapa lama mereka

tak dapat bangun. Masih untung bagi mereka

bahwa pemuda itu hanya menghantam mereka

dengan hawa pukulannya saja karena kalau

tersentuh tangan yang penuh dengan ilmu Sin

kong ciang (Tangan Sinar Saki) itu tentu tubuh

mereka tak bernyawa lagi!

Yu Lee cepat mengambil pakaian luar dua orang

gadi itu yang tadi hanya dilepaskan dan tidak

dirobek robek seperti pakaian dalam mereka,

melemparkan dua perngkat pakaian itu kepada

mereka sehingga menutup dua orang gadis itu,

kemudian dua kali tangannya bergerak, tali kulit

yang membelenggu tangan Lauw Ci Sian dan Tan

Li Ceng putus putus semua!

Lauw Ci Sian dan Tau Li Ceng yang melihat

pemuda pakaian putih itu sengaja membalikan

188

tubuh membelakangi mereka, dengan muka merah

sekali cepat cepat mengenakan pakaian luar

mereka kemudian sambil berseru bagaikan seekor

harimau Tan Li Ceng meloncat ke depan Song Kai

dan kakinya terayun.

“Dess…!” Tubuh Song Kai terlempar seperti bola

membentur dinding di mana ia roboh dan

mengaduh aduh.

“Bukk!” Lauw Ci Sian juga menendang

bergantian dua orang Yang ce So go yang

menelanjanginya. Bagaikan dua ekor harimau

betina yang marah mereka menghantam dan

menendangi empat orang Yang ce Su go.

Empat orang kepala bajak sungai itu biarpun

sekarang telah sadar, namun begitu melihat Yu Lee

berdiri disitu dengan tegak dan gagah, semangat

mereka telah melayang dan keberanian mereka

lenyap seperti diterbangkan angin. Bahkan kini

mereka merintih rintih, mengaduh aduh karena

hajaran dua orang gadis itu, kemudian tanpa malu

malu lagi mereka berempat berlutut mengangguk

anggukkan kepala seperti ayam makan padi sambil

minta minta ampun !

Adapun Yu Lee bengong terlongong ketika

melihat bahwa dua orang gadis itu ternyata pandai

ilmu silat! Bukan hanya pandai, malah ahli benar

dan jelas bahwa tingkat kepandaian mereka jauh di

atas tingkat empat orang bajak itu! Saking

herannya, ia hanya bengong saja dan tak dapar

dicegah ketika dengan tiba tiba Tan Li Ceng

menyambar sebatang golok empat orang itu yang

tercecer karena dihajar, kemudian sambil memaki

189

maki disamping terisak menangis, gadis ini empat

kali menggerakkan golok dan… empat buah kepala

manusia menggelinding di atas lantai dan empat

batang tubuh menyemburkan darah dari leher

yang buntung !

“Ahhh…!”

Mendengar suara ini, Tan Li Ceng yang beringas

dan Lauw Ci Sian yang biarpun marah tidak

seganas adik seperguruannya, cepat membalikkan

tubuh dan.. mareka berdua kini yang menjadi

bengong melihat betapa pemuda gagah perkasa

yang telah menolong mereka itu kiní berdri sambil

menangis mengusap usap mata dengan ujung

lengan baju.

“Ihhh! Kau kenapa… “ Tan Li Ceng saking

herannya melangkah maju memegang tangan Yu

Lee dan mengguncang guncangkannya.

“In kong (tuan penolong) apakah artinya ini…?”

Lauw Ci Sian yang lebih mengenal aturan jasa

bertanya saking herannya…. “ahhhh tidak apa

apa…. ah, mengapa manusia dibunuh seperti itu

…..! Akan tetapi…. Eh, eh, mereka memang

jahat… dan aku tidak tahu…….!” Kembali ia

menangis ! Memang luar biasa pemuda ini.

Agaknya peristiwa hebat yang terjadi lima belas

tahun lalu, malapetaka yang menimpa keluarganya

dan yang merenggut nyawa semua keluarganya,

telah mengguncang perasaan pemuda ini sehingga

perasaannya menjadi amat halus dan mudah

tergetar mudah terharu dan tidak tega melihat

manusia terbunuh walaupun ia yakin benar bahwa

empat orang Yang ce Su go ini memang sudah

190

sepatutnya kalau dihukum mati Akan tetapi

karena sama sekai tidak tahu akan keadaaan

dirinya, maka ia menjawab dengan gagap dan

bingung.

“Ah, lekas kita cari suhu!” Tiba tiba Tan Li Ccng

berkata teringat akan guru nya yang memasuki

Istana Air itu dari depan, Sambil bertkata demikian

gadis ini menggerakkan tubuh meloncat keluar

dari dalam kamar melalui lubang atap yang dibuat

oleh Yu Lee tadi.

Lauw Ci Sian mengerling ke arah Yu Lee dan

kebetulan pemuda inipun memandangnya.

Gadis ini tersipu menunduk dengan sepasang

pipi merah, kemudian menghela napas panjang

untuk menekan perasaan yang tidak karuan,

jantungnya yang berdebar debar dan meronta

ronta lalu sekali menggenjot kan kedua kakinya,

tubuhnya sudah melayang mengikuti adik

sepeguruannya.

Yu Lee sejenak tercengang menyaksikan

gerakan dua orang gadis itu yang cukup lincah,

lalu ia pun melayang naik ke atas genteng dan

berkelebat menembus kegelapan malam hendak

mencari musuh besarnya, Hek siauw Kui bo. Kalau

teringat betapa ia dirawat Dewi Suling selama

sehari semalam, karena malam kemarin ia roboh,

hatinya merasa amat tidak enak.

Dewi Suling adalah murid Hek siauw Kui bo.

HeK siauw Kui bo boleh jadi adalah musuh

besarnya pembasmi keluarganya yang harus ia

lenyapkan dari muka bumi. Akan tetapi muridnya

Dewi Suling biarpun ia tahu betul juga bukan

191

seorang baik baik akan tetapi harus ia akui telah

menjadi penolongnya, bahkan telah

menyelamatkan nyawanya !

Kenyataan ini membuat ia menjadi bingung

ketika ia berlompatan di atas genteng mengikuti

dua bayangan gadis cantik yang baru saja

dibantunya itu.

“Suci… dia… dia hebat sekali….” Bisik Tan Li

Ceng ketika melihat bayangan kakak

seperguruannya berkelebat di sampingnya.

Lauw Ci Sian yang lari seperti orang kehilangan

semangat atau seperti dalam keadaan melamun itu

terkejut dan menjawab gagap “… eh, apa…? Ya….

betul.” Kemudian mengatupkan bibir rapat dan

menarik napas panjang dari hidugnya yang

mancung.

“Kenapa tidak tanyakan namanya?” Kembali

Tan Li Ceng berkata.

“Soal itu… hemm…. eh, dengar itu sumoi?”

Kedunya berhenti sebentar dan mendengar

suara riuh di sebelah depan Istana Air. Malam

telah mulai menjelang pagi dan di antara

keremangan cuaca fajar, mereka melihat

berkelebatnya banyak orang di depan bangunan

megah itu, juga banyak orang memegang obor.

Menduga bahwa suhu nya tentu beraba di situ

mereka lalu meloncat dan berlari cepat sekali ke

arah depan bangunan.

Dari atas genteng mengintai dan alangkah kaget

hati mereka melihat betapa guru mereka dibantu

seorang tosu bermuka hijau yang bersenjata

192

pedang butut, sedang mengeroyok seorang nenek

yang amat lihai. Biarpun guru mereka sudah

mengamuk dengan tongkatnya dan tosu itupun

ilmu pedangnya amat aneh serta cepat, tetapi

ternyata masih terdesak oleh suling hitam di

tangan nenek itu, suling hitam yang bergulung

gulung menjadi sinar hitam satu mengeluarkan

suara melengking lengking yang menyayat hati.

“Hek siauw Kui bo…!” bisik Lauw Ci Sian.

Sebagai murid Tho tee kong Liong Losu, tentu saja

mereka sudah diceritakan oleh guru mereka

perihal nenek iblis yng amat jahat dan sakti ini.

Mereka tak menduga sama sekali bahwa

mereka bisa bertemu dengan nenek sakti ini

disarang Dewi Suling. Meeka cerdik sekail dan kini

melihat betapa Dewi Suling yang cantik jelita itu

dikeroyok kedua orang pemuda tampan bersenjata

pedang mereka bisa menduga bahwa tentulah Dewi

Suling ini yang lihai tetapi cabul adalah murid Hek

siauw Kui bo si iblis wanita itu.

Lalu mereka melayang turun sambil mencabut

pedang mereka yang tadi mereka temukan di

dalam kamar, kemudian menerjang Hek siauw Kui

bo membantu guru mereka serta si tosu yang

kewalahan.

“Ci Sian! Li Ceng! Kau bantulah dua orang

murid Siauw bin mo itu merobohkan Cui siauw

Sianli si kuntilanak!” teriak Liong Losu karena

selain ia tahu bahwa bisa berbahaya kalau

membantunya sebab saking lihainya Hek slauw

Kui bo juga ia tadi telah melihat bahwa dua orang

pemuda murid sahabatnya itupun terdesak hebat

193

oleh Dewi Suling yang melawan sambil tertawa

tawa mengejek.

Kembali dua orang gadis itu terkejut. Kiranya

tosu yang lihai itu adalah Siuw bin mo Hap Tojin

yang suka disebut sebut oleh guru mereka sebagai

seorang sahabat baik. Dan kedua orang pemuda

itu yang tengah bertempur mati matian melawan

Dewi Suling adalah dua orang murid Siauw bin mo

Hap Tojin.

Mereka cepat menengok dan memang betul dua

orarg pemuda itu terdesak hebat serta terancam

bahaya karena dikeroyok pula oleh puluhan orang

anak buah Dewi Suling yang telah mengepungnya

dan sebagian bersorak sorak melihat betapa empat

orang musuh itu terdesak hebat oleh Toanio

(nyonya besar) dan Siocia (nona) mereka !

Sambil berseru keras sebab masih marah dan

teringat akan penghinaan yang mereka tadi alami,

Tan Li Ceng lalu memutar tubuhnya dan terus

menerjang Dewi Suling yang tengah melawan Ouw

yang Tek dan Gui Siong dua orang murid Siauw

bin mo yang dulu pernah dipermainkan oleh Dewi

Suling. Melihat adik seperguruannya mengeroyok,

Lauw Ci Sian juga terus ikut mengeroyok Dewi

Suling.

“Hi, hi, hi ! Dua orang bagus, kalian mendapat

bantuan dua orang budak budak cilik ini? Hi, hi,

mereka tidak cukup berharga buat melawanku !”

Dewi Suling menyambut kedua pengeroyok baru ini

dengan kibasan sulingnya yang membuat sinar

panjang sehingga dua orang gadis itu kaget sekali

194

lalu melompat mundur memutar pedang

melindungi diri masing masing.

Dewi Suling mengeluarkan suara melengking

keras disusul suara ketawanya lalu berkata,

“Kawan kawan semua, hayo kalian sambut dua

orang budak ini dan kalau tertawan, kuserahkan

kepada kalian untuk bersenang senang!”

Mendengar ini, para pimpinan bajak bajak

sungai menjadi girang sekali. Mereka terus

bersorak dan menyerbu ke depan dengan senjata

mereka sehingga dalam waktu singkat saja Tan Li

Ceng dan Lauw Ci Sian telah terkurung dan

dikeroyok oleh dua puluh orang lebih bajak sungai

yang sudah mengilar melihat kecantikan dua orang

gadis yang dijanjikan mau diserahkan kepada

mereka oleh Dewi Suling.

Pertempuran kini terpecah menjadi tiga bagian.

Siauw bin mo Hap Tojin dan Tho tee kong Liong

Losu sibuk melawan Hek siauw Kui bo. Ouw yang

Tek dan Gui Siong terdesak dan repot melayani

suling merah Dewi Suling, sedangkan Tan Li Ceng

dan Lauw Ci Sian dikeroyok puluhan bajak yang

biarpun kepandaian mereka tidak tinggi tetapi

jumlah mereka amat banyak sehingga dua orang

gadis itu menjadi repot juga.

Di luar kepungan itu masih terdengar banyak

bajak yang memegang obor sambil mengepung

serta bersorak sorak memberi “hati” kepada kawan

kawan mereka.

“Hemm Hap Tojin dan Liong Losu, dua orang

pendeta menjemukan ! Kalian ini sudah tua

bangka mengapa tidak mau menantikan mati baik

195

baik saja di tempat pertapaan, sebaliknya datang

ke sini untuk mati konyol. Menjemukan sekali !”

kata Hek siauw Kui bo sambil menahan tongkat

dan pedang musuh di dalam waktu cuma beberapa

detik saja dengan suling hitamnya. Hebat tenaga

sakti wanita tua ini karena tongkat dan pedang

dari kedua orang lawannya seperti melekat dan tak

dapat ditarik kembali

“Ha, ha, ha ! Hek siauw Kui bo jangan tekebur.

Pinto (aku) tidak ingin mati lebih dulu, karena

pinto ingin tertawa gembira melihat engkau kelak

tersiksa di dalam neraka Bukankah begitu, hwesio

gendut? Nenek macam Hek siauw Kui bo ini

bukankah kelak dipanggang dalam api neraka?”

jawab Siauw bin mo Hap Tojin yang selalu terwatak

riang gembira.

Wajah Liong Losu yang serius itu mengerutkan

kening. “Memang dia ini jahat dan tentu akan di

hukum, semoga saja dia insaf dan menyesali dosa

sendiri lalu bertobat. Omitohud ….!”

Hek siauw Kui bo marah bukan main. Dua

orang lawannya itu terang tidak akan mampu

menang melawannya, namun masih mengeluarkan

kata kata yang ia anggap menghinanya. Maka ia

lalu melangkah mundur dan menarik sulingnya,

kemudian terdengar ia melengking nyaring seperti

lolong serigala kelaparan dan sulingnya bergerak

lebih cepat dari tadi mengeluarkan suaru

melengking tinggi. Dua orang pendeta tua itu tidak

bermain main lagi dan cepat menggerakkan senjata

melindangi diri dan balas menyerang hebat.

196

Dewi Suling juga tertawa tawa mengejek. “Kalau

kalian berjanji mau menakluk, melempar pedang

dan berlutut, mencium ujung jariku tujuh kali, aku

mau mengampuni kalian dan selanjutnya

menjadikan kalian pelayan pelayan pribadiku.

Enak dan senang bukan? Eh, kalan boleh setiap

hari melayani aku hi, hi, hi hik !”

Saking marah dan jemunya. Ouw yang Tek dan

Gui Siong tak dapat menjawab, hanya berseru

marah dan menerjang makin hebat. Namun wanita

cantik baju merah itu hanya tertawa tawa, bahkan

dengan gerakan yang aneh sekali menyeluap

diantara sambaran sinar pedang lawan dan tahu

tahu ujung sulingnya telah menotok ke arah

pergelangan tangan dua orang lawannya secara

bertubi tubi.

Dua orang pemuda itu kaget sekali dan cepat

menarik kembali serangan mereka akan tetapi

tangan kiri Dewi Saling sempat mengelus dan

mencubit dagu Gui Siong yang halus dan putih

sambil tertawa terkekeh genit. Kesembronoan nya

ini hampir mencelakakannyaa, karena dengan

nekad Gui Siong lalu menusukkan pedangnya

tanpa melindangi diri lagi untuk mengadu nyawa

dengan si wanita yang dibencinya itu.

“Aihhh…!” Dewi Guling menangkis keras

sehingga pedang itu terpental akan tetapi tangan

kiri Gui Siong menghantam dan walaupun ia

sudah cepat mencelat, pundaknya masih terpukul,

membuatnya terhuyung ke belakang.

Seperti bernyala sepasang sinar mata Dewi

Suling, “Keparat, kalian sudah bosan hidup. Nah

197

mampuslah !” Kini ia menerjang maju dan

sulingnya, mengeluarkan bunyi melengking seperti

yang keluar dari suling hitam gurunya.

Sementara itu Tan Li Ceng dan Lauw Ci Sian

juga repot sekali. Tadinya mereka mengamuk

ganas dan merobohkan beberapa orang bajak,

akan tetapi empat orang roboh, delapan orang

maju menggantikan dan karena mereka itu

menyerang sambil mengurung, kedua orang tadi ini

akhirnya hanya mampu melindangi tubuh dari

hujan senjata, sukar mencari kesempatan untuk

balas menyerang.

“Hua, ha, ha, nona cantik. Lebih baik menyerah

dan melayani kami sampai puas, ha ha !” Suara

yang kurang ajar terdengar disela sela sorak sorak

menjemukan, membuat dua orang gadis itu makin

marah dan mengambil keputusau untuk melawan

sampai titik darah penghabisan.

Pagi telah tiba dan suara ysng terdengar di tepi

Sungai Yang ce di saat itu amat riuh gemuruh,

seolah olah semua iblis dan setan penghuni sungai

itu muncul dan berpesta pora ditempat itu.

Semua orang gagah yang menyerbu Istana Air

kini berada dalam keadaan terdesak karena fihak

lawan lebih unggul.

Tiba tiba terdengar suara yang menyayat hati,

suara lengking tangis yang amat keras, orang

terisak isak seperti yang menangis akan tetapi

suara ini mengatasi semua suara hiruk pikuk

bahkan mengatasi suara suling dari suling hitam

Hek siauw Kui bo dan suling merah Dewi Suling!

Hebat sekali suara yang tinggi nyaring ini sehingga

198

belasan orang bajak yang tidak memiliki ilmu

lwekang sudah roboh terguling ! Hek siauw Ku bo

dan Dewi Suling terkejut bukan main dan hati

mereka menjadi gentar.

Sesosok bayangan putih berkelebat dari atas

serta sebatang tongkat kecil menahan suling hitam

Hek siauw Kui bo, digetarkan dan…. tubuh Hek

siauw Kui bo terhuyung mundur dengan wajah

pucat ! Pemuda baju putih murid Sin kong ciang

Han It Kong yang ia takuti dan tadinya telah

tertawan di ruangan silat itu kini telah berdiri di

depannya.

Yu Lee dengan tenang menjura di depan kedua

orang pendeta itu sambil berkata “Hap Totiang

serta Liong Losu harap sudi berlaku murah dan

menyerahkan Hek siauw Kui bo kepada teecu

(murid), sebab teeculah yang berhak melawannya.”

Dua orang pendeta itu tadi merasa kaget, heran

serta kagum, betapa seorang pemuda berpakaian

putih ini hanya memakai sebatang tongkat mampu

membikin mundur Hek siuw Kui bo, membuat

mereka teringat kepada Sin kong ciang Han It Kong

serta otomatis mereka juga teringat akan bocah

cengeng cucu Yu Tiang Sin yang diambil murid

oleh pendekar sakti itu.

“Omitohud…..! Kiranya Yu kongcu yang sudah

datang….!” kata Liong Losu.

“Ha ha ha ! Cucu Yu Tiang Sin… Eh, namamu

Yu Lee, bukan? Ha ha ha, si bocah cengeng! Hei,

dengar baik baik Hek siauw Kui bo kini ajalmu tiba

di tangan Pendekar Cengeng buat menebus

199

dosamu terhadap keluarga Yu Tiang Sin

sahabatku, ha, ha, ha !”

Hek Siauw Kui bo marah sekali. Biarpun ia

maklum akan kelihaian Yu Lee, tetapi ia bukan

seorang penakut.

Hek siauw Koi bo terlalu percaya kepada

kepandaian sendiri dan kini ia harus nekad

bertempur mati matian. Cepat ia meniup sulingnya

dan serangkum sinar hitam menyambar ke arah

tujuh belas jalan darah di bagian depan tubuh Yu

Lee. Tetapi pemuda itu dengan kalemnya membuka

tangan kiri serta jari jarinya yang terbuka itu

mendorong dan…. sinar hitam itu runtuh lalu

lenyap membawa jarum jarum halus amblas ke

dalam tanah.

Kembali dua orang pendeta itu kaget serta

kagum. Kali ini mereka merasa yakin betul akan

kesaktian pemuda murid Han It Kong ini yang pasti

bisa menandingi Hek Siauw Kui bo, dua orang

pendeta ini lalu berpaling dan menyerbu Dewi

Suling yang tengah bikin repot dua orang pemuda

itu.

“Ouw yang Tek ! Gui Siong ! Kalian lekas bantu

dua orang nona itu, hajar semua penjahat !” kata

Siauw bin mo Hap Tojin kepada dua orang

muridnya itu.

Ouw yang Tek dan Gui Siong girang melihat

guru mereka yang tadi melawan nenek sakti, kini

tiba bersama hwesio Liong Losu menghadapi Dewi

Suling. Mereka segera melompat mundur lalu

menyerbu puluhan bajak yang mengeroyok kedua

orang gadis yang melawan mati matian itu.

200

Cerai berailah para pengerok dan keempat

orang muda itu menjadi senang dan terus

mengamuk seperti empat ekor burung garuda

menyambar nyambar sehingga pengeroyoknya

berlari serabutan, di dalam gelanggang tempat

mengeroyok empat orang muda itu.

Begitu dua orang pendeta itu datang

menyerbunya, Dewi Suling ……. sudah mendengar

dari gurunya……………………… orang musuh lama

gurunya …. Hap Tojin dan Tho tee kong ternyata

ilmu mereka ………. memiliki tenaga sakti

yang…………………………… tidak menjadi gentar

lalu menyambut serangan mereka dengan ilmu

silatnya yang ganas sekali.

“Omitohud, nona ini tidak kalah ganas oleh

gurunya !” Liong Losu menarik napas panjang

penuh penyesalan ketika menangkis suling itu

dengan tongkatnya. Ia merasa menyesal mengapa

seorang nona begini muda cantik, yang sepatutnya

menjadi seorang isteri dan ibu muda yang tercinta

penuh kasih sayang dari suami dan anak

anaknya, tetapi justeru menjadi seorang wanita

seperti iblis ganasnya.

“Ha, ha, ha, hwesio tua bangka, kau masih

merasa sayang, ya? Ha, ha! Aku berani bertaruh

potong kepala dengan tongkatmu, bahwa iblis

betina ini tentu tidak kalah jahat oleh gurunya,

mungkin lebih jahat serta lebih cabul. Hina sekali.

Ha, ha, ha!”

Dewi Suling marah seperti dibakar hatinya!

mengeluarkan pekik keras lalu menerjang mati

matian, tetapi kedua musuhnya adalah pendeta

201

pendeta yng lihai ilmu silatnya dan pertahanan

mereka seperti batu karang yang kokoh kuat serta

tidak takut diterjang ombak membadai.

Yung paling hebat adalah pertandingan antara

Yu Lee dan Hek siauw Kui bo. Dua orang musuh

besar itu kini berhadapan serta bertempur dalam

dalam keadaan yang menentukan, kalah atau

menang, mati atau hidup. Maklum akan kesaktian

lawan, Yu Lee terus saja memakai ilmu dari

gurunya, yaitu Ta kwi Tung hoat (Ilmu Tongkat

Penakluk Iblis) yang hebat. Dan tangannya kini

memegang sebatang ranting yang biarpun

terdengar aneh, namun sesungguhnya lah bahwa

yang dipgangnya ini merupakan satu satunya

senjata yang paling tepat untuk permainan ilmu

silat Ta kwi tung hoat. Dengan rantingnya ini, Yu

Lee jauh lebih hebat dan berbahaya dari pada

ketika ia melayani Hek Siauw Kui bo dengan

pedang di tangan kemarin dulu. Pedang adalah

sebatang benda baja yang keras, dan biarpun ia

sudah menggunakan ilmu pedang berdasarkan

ilmu Tongkat Pemukul iblis, namun masih tetap

…… ilmu ini adalah ilmu tonpkat, maka ……..lebih

tepat dan enak dimainkan …….. memegang

tongkat. Dan tongkat yang dipegangnya, sebatang

benda lemas,…….. dapat menerima penyaluran

tenaga serta hawa saktinya sehinggs dalam hal

“……….” Dan “menggetar” ranting ini jauh

lebih……… daripada sebatang pedang.

Hek siauw Kui bo melawan dengan….. nekad.

Wanita tua ini memang ……… sulingnya yang

sudah membinasakan lebih dari seribu orang itu

202

kini bargerak cepat, lenyap berubah menjadi

kilatan sinar yang bergulung gulung hitam.

Ia bernafsu sekali buat merobohkan pemuda

ini, sebab maklum bahwa pemuda ini merupakan

batu perintang yang berbahaya baginya. Sekali ia

dapat merobohkan pemuda ini, yang lain lain bisa

mudah dibereskannya. Sambil menerjang, ia

mengeluarkan suara melengking yang merupakan

ilmu terseandiri buat melemahkankan semangat

lawan.

Tetapi Yu Lee dengan tenang melayani,

tongkatnya telah mempunyai gerakan mantap serta

setiap jurus serangan musuh dapat ia punahkan,

mulailah ia mengerahkan semua tenaga serta

perhatian buat memainkan jurus jurus yang

mengurung dan memikat.

Jurus jurus inilah yang ditakuti Hek siauw Kui

bo serta membuatnya kewalahan, karena dulu

ketika melawan Han It Kong, ia pun repot oleh

jurus ini, jurus yang membuat tongkat pemuda itu

kadang kadang tanpa ia ketahui telah mengancam

tubuhnya bagian belakang walaupun pemuda ini

menyerang dari depan !

Hek siauw Kui bo yang menjadi repot sekali

karena tekanan tekanan jurus yang aneh ini serta

beberapa kali hampir saja jalan darah di

punggungnya terkena totokan ujung ranting, ia

lalu mendapat akal. Ia berseru keras serta segera

merobab gerakan, kini memainkan yang ia sebut

Naga Siluman Membela ……..

Gerakan jurus ini betul betul hebat sekali.

Sulingnya berubah menjadi gulungan sinar hitam

203

membuat lingkaran lingkaran seperti angka

delapan berputaran melingkari seluruh tubuhnya

sehingga tidak saja bagian depan yang terlindung,

tetapi di bagian belakang juga terlindung oleh sinar

suling itu!

Benar saja cara bertahan seperti ini membuat

jurus yang dimainkan Yu Lee mulai dapat

terbendung bahayanya.

“Bagus…! Hebat kau, Hek siauw Kui bo!” Mau

tidak mau Yu Lee memuji karena merasa baru

sekali ini selama hidupnya ia bertemu musuh yang

begini lihai serta kosen.

“Mampuslah setan cilik !” Hek siauw Kui bo

memekik keras dan kalau sulingnya kini telah

melindungi tubuhnya menjadi tameng baja, lalu

tangan kirinya bergerak gerak memukul ke arah

dada Yu Lee dengan gerak pukulan tenaga dalam

beracun! Ilmu pukulan Siauw hiat ciang

(Tangan………) semacam ilmu pukulan yang

amat…….. hawa beracun yang disalurkan dalam

pukulan ini bisa membuat orang yang

………….dengan darah menjadi kering ………Hawa

panas yang keluar dari telapak tangan kiri nenek

itu menyambar serta terasa panas oleh diri Yu Lee.

Pemuda ini terkejut, tetapi dengan tenang ia lalu

menahan napas menyalurkan hawa saktinya,

membiarkan dadanya terpukul akan tetapi dengan

cepat sekali tangan kirinya mengetok siku musuh

yang kiri.

“Dess….takkk !”

Hek Siauw Kui bo menjerit kesakitan karena

biarpun pukulannya tepat mengenai dada

204

lawannya, tetapi tulang sikunya juga patah oleh

ketukan jari tangan pemuda itu. Yu Lee terlempar

sampai empat meter lalu terjatuh roboh, tetapi ia

sudah melompat bangkit lagi dengan muka agak

pucat. Sementara itu Hek siauw Kui bo meringis

kesakitan, sejenak termangu, terus sambil

memekik keras tubuhnya melayang naik ke atas

genteng. Tangan kirinya lumpuh dan tangan kanan

masih tetap mencekal suling hitamnya.

“Kui bo hendak lari ke mana kau? ” Yu Lee juga

melompat untuk mengejar ke atas genteng. Pada

saat tubuh pemuda ini melayang Hek siauw Kui bo

membalikkan tubuhnya dan dari suling yang

ditiupnya menyambar sinar hitam kehijauan yang

amat berbahaya itu. Jarum jarum beracun !

Yu Lee memutar rantingnya menangkis dan

begitu kedua kakinya hinggap di atas genteng,

nenek itu telah menerjangnya. Mereka melanjutkan

pertandingan di atas genteng Istana Air. Sinar

matahari telah menerangi tempat itu dan kini

pertandingan antara kedua musuh besar itu terjadi

di atas genteng disinari cahaya matahari pagi.

JILID VI

DALAM keadaan sehat saja Hek siauw Kui bo

sudah terdesak hebat oleh Yu Lee, apalagi

sekarang dalam keadaan tulang lengan kirinya

patah, biarpun ia bermain suling dengan tangan

kanan namun ia membutuhkan tangan kirinya

sebagai imbangan gerakan dan juga sebagai

pancingan, ancaman, tangkisan atau serangan.

Dengan lumpuhnya lengan kirinya, ia kehilangan

205

hampir setengah kesaktiannya dan sebentar saja ia

sudah mandi keringat dingin dan menjadi pucat

sekali.

“Yu Tiang Sin! Kenapa bukan engkau sendiri

yang datang membunuhku?” Tiba tiba nenek itu

menjerit dengan suara menyayat hati.

Mendengar ini teringatlah Yu Lee akan

kakeknya, akan ayah bundanya, paman bibinya,

dan saudara saudaranya yang terbunuh iblis ini

dan tak tertahankan lagi ia menangis terisak isak.

Air matanya membanjir ke atas pipinya dan tentu

saja menghalangi pandang matanya.

Dalam keadaan seperti itu, Hek siauw Kui bo

tidak menyia nyiakan waktu. Sulingnya berkelebat

menusuk leher Yu Lee dengan kecepatan yang tak

mungkin dapat dihindarkan lagi. Ya Lee terkejut,

cepat membuang diri kesamping sambil tongkatnya

bergerak dari bawah. Namun patukan suling hitam

itu masih mengenai pundaknya dan darah muncrat

dari daging di atas pundak kirinya.

Akan tetapi Hek siauw Kui bo roboh terguling

sambil menjerit ngeri. Ternyata pada detik yang

bersamaan, ujung ranting di tangan Yu Lee telah

berhasil menotok jalan darah di ulu hatinya

membuat tubuhnya seketika menjadi lemas dan ia

tidak kuat berdiri lagi!

Yu Lee dengan tangan kiri memegangi pundak

dan tangan kanan memegang ranting dengan air

mata bercucuran, melangkah maju di atas genteng

menghampiri lawannya yang masih memegang

suling hitamnya akan tetapi sudah tak berdaya,

rebah miring dan mendekam di atas ganteng.

206

Dua pasang mata bertemu pandang, yang

sepasang penuh kebencian bercampur ketakutan,

yang sepasang lagi penuh kebencian bercampur

keharuan.

Tangan yang memegang ranting menggigil.

Tiba tiba terjadi perubahan pada Wajah Hek

siauw Kui bo. Kini sinar kebenciannya lenyap yang

tinggal hanya ketakutan. Tubuhnya menggigil

mukanya pucat sekali dan bibirnya bergerak gerak

“Jangan ….! Jangan siksa aku…! ah jangan

siksa aku….!”

Ketika Yu Lee melangkah maju setindak lagi,

Hek siauw Kui bo menggerakkan sulingnya dengan

sisa tenaga terakhir ia mengetuk kepalanya sendiri.

Terdengar suara “krakk !” dan kepala nenek iblis

ini pecah! darah dan otaknya berhamburan,

nyawanya melayang entah ke mana!

Yu Lee berdiri dengan muka pucat memandang

mayat musuhnya, kemudian dengan air mata

berlinang ia berdongak ke atas dan memandang

angkasa yang amat indah, dimana awan putih

berarak disinari cahaya kemerahan matahari pagi.

Dalam pandangan mata yang dibikin suram

oleh air matanya, ia melihat seolah olah awan awan

putih itu membentuk wajah kakeknya, Si Dewa

Pedang, wajah ayahnya, wajah ibunya, wajah

paman dan bibi serta saudara saudaranya.

Mereka itu seolah olah tersenyum kepadanya.

Ketika cahaya matahari melenyapkan bayangan

wajah wajah itu, ia menunduk dan terngiang kata

gurunya.

207

“Orang yang suka melakukan perbuatan keji

yang suka menyiksa den membunuh orang, pada

hakekatnya adalah orang orang pengecut yang

melakukan perbuatan keji itu terdorong oleh rasa

takutnya.” Dahulu ia tidak mengerti akan maksud

ucapan ini, akan tetapi sekarang melihat mayat

Hek siauw Kui bo dan mengenang betapa nenek

iblis ini amat ketakutan menghadapi pembalasan

baru ia mengerti. Hek siuuw Kui bo yang terkenal

keji, suka menyiksa dan membunuh manusia lain

ini pada hakekamya hanya seorang pengecut besar!

Ia lalu menoleh ke bawah dan apa yang

dilihatnya membuat ia menahan napas. Mayat

mayat bergelimpangan dan bertumpuk. Darah

mengalir membuat halaman depan itu menjadi

genangan air merah. Dua orang gadis dan dua

orang pemuda masih mengamuk. Sisa anak buah

bajak tinggal paling banyak dua puluh orang lagi.

Mereka ini hanya berani melawan karena terpaksa,

karena melarikan diri berarti mati oleh senjata

empat orang muda yang gagah perkasa itu. Maka

mereka melawan mati matian. Melihat ini Yu Lee

menggerakkan tubuhuya, melayang turun dan

menggerakkan rantingnya.

“Trang trang trang !” Semua pedang di tangan

empat orang muda terlempar dan terlepas dari

pegangan, Yu Lee menjura kepada mereka

berempat. “Maaf, saya rasa cukup banyak

penyembelihan.” Kemudian ia membalik dan

berkata, suaranya tetap halus akan tetapi penuh

wibawa. “Kalian tidak lekas berlutut minta ampun

kepada empat orang pendekar ini dan berjanji

merobah watak jahat?”

208

Dua puluh orang bajak itu lalu melempar

senjata masing masing dan menjatuhkan diri

berlutut mengangguk anggukkan kepala minta

minta ampun, Yu Lee lalu meninggalkan empat

orang muda yang terlongong, sekali melompat ia

sudah berada di tengah tengah pertempuran

antara Dewi Suling dan dua orang pendeta.

Memang patut dikagumi kelihaian Dewi Suling.

Biarpun dikeroyok dua orang pendeta berilmu

tinggi serta sudah sejak tadi ia terdesak dan terus

dihimpit, namun dua orang lawannya belum juga

berhasil merobohkannya.

Hanya dua kali ia terkena senjata lawan,

sebuah gebukan tongkat Liong Losu mengenai

pinggir pinggulnya, serta pedang Siauw bin mo

menyerempet pundaknya. Akan tetapi ia masih

terus bisa bertahan, keringatnya telah membasahi

seluruh tubuh, membuat pakaian merah yang tipis

halus serta ketat itu melekat di tubuh, membuat ia

seperti dalam keadaan telanjang bulat berkulit

merah !

“Jiwi cianpwe, harap tahan…. ! Seru Yu Lee

yang tiba tiba sudah berada di tengah mereka.

Kedua pendeta itu melangkah mundur serta

menatap aneh, sedangkan Dewi Suling terhuyung

huyung karena lelahnya, lalu menjatuhkan diri

duduk di atas tanah, sulingnya melintang di atas

pangkuan.

“Harap jiwi cianpwe (dua orang gagah) sudi

memaafkan kelancangan teecu, akan tetapi teecu

mintakan ampun untuk dia.” Ia menuding ke arah

209

Dewi Suling yang melihat ke arahnya dengan mata

terbelalak heran, tercengang serta juga kagum.

“Omitohud…! Yu kongcu (tuan muda Yu)

apakah tidak tahu betapa jahatnya wanita ini dan

betapa berbahayanya membiarkan dia hidup serta

menggoda pemuda pemuda tak berdosa?”

“Yu Lee, dia ini adalah Cui siauw Sianli Ma Ji

Nio atau juga disebut Dewi Suling, murid Hek

siauw Kui bo yang amat cabul dan ganas. Dua

orang murid pinto hampir aaja menjadi korbannya.

Dia jahat sekali patut dibunuh. Mengapa kau

menghalangi kami? Ha ba.ha, orang muda,

apakah kau mau mengecewakan gurumu dan kami

dengan kenyataan bahwa kau tergila gila oleh

kecantikannya?”

Yu Lee tidak memperlihatkan kemarahan, akan

tetapi matanya yang merah mengeluarkan sinar

berkilat yang membuat Hap Tojin membungkam

mulutnya.

“Jiwi cianpwe, kalau teecu membiarkan dia ini

tewas di depan mata teecu, hal ini bahkan akan

membikin malu hati guru teecu yang tercinta,

seorang gagah harus mengenal budi, membalas

kebaikan dengan kebaikan pula berlipat ganda,

membalas kejahatan dengan keadilan tanpa

dibutakan perasaan dendam. Teecu pernah

ditolong wanita ini, kalau tidak ada wanita ini,

tentu teecu sudah tewas di tangan Hek siauw Kui

bo. Oleh sebab itu, mana bisa teecu membiarkan

saja dia terbunuh di depan mata teecu. Harap jiwi

locianpwe sudi memaklumi hal ini serta

memaafkan teecu. Kalau jiwi berkeras mau

210

membunuhnya sedangkan di sini sudah begini

banyak manusia terbunuh biarlah teecu

menebusnya serta menerima kematian di tangan

jiwi.”

“Omitohud….!” Liong Losu berdoa dengan

penuh takjub.

“Siancai…. kau hebat. Ha ha ha! Kakek! Han It

Kong, dahulu kau mengalahkan kami, sekarang

muridmu. Ha, ha, ha !” Dua orang pendeta itu lalu

melangkah mundur sampai tiga tindak, pertanda

mereka tidak akan menyerang Dewi Suling.

Yu Lee membalikkan tubuh ke arah Dewi

Suling. Lalu ia berkata, “Nona, kau telah

menyelamatkan jiwaku dari tangan Hek siauw Kui

bo sekarang aku telah menebus jiwamu dari

tangan kedua locianpwe maka sudah tidak ada

budi apa apa lagi di antara kita. Kita berselisih

jalan. Hanya aku memberi nasihat kepadamu,

tinggalkanlah jalan gelap, carilah jalan terang.

Engkau masih muda cantik serta berilmu tinggi,

masih belum terlambat bagimu buat bertobat dan

merubah jalan hidup. Kalau kelak kita saling

berjumpa serta engkau masih tetap terbuat jahat,

terpaksa aku harus menamparmu?”

Dewi Suling bangkit sendiri perlahan, sejenak ia

melihat ke wajah pemuda baju putih itu, penuh

harap, penuh rindu serta penuh kasih. Tetapi ia

melihat sinar mata Yu Lee tetap diam seperti air di

telaga barat, ia menunduk serta terisak. Lalu ia

mengangguk, kemudian dengan sedu sedan naik

dari dada nya, ia memutar tubuhnya lalu lari pergi

dari tempat itu.

211

Kali ini tidak ada suara melengking yang

menjadi tanda setiap kali Dewi Suling pergi!

Dua orang pendeta itu lalu memerintahkan sisa

sisa anggauta bajak yang takluk buat merawat

temannya yang terluka serta mengurus mayat

mayat yang bergelimpangan, kemudian Tho tee

kong, Liong Losu membawa dua orang murid

wanitanya ke tempat terpisah.

“Ci Sian dan Li Ceng, secara kebetulan sekali

kita dapat bertemu dengan sahabatku Hap Tojin

dan dua orang muridnya. Pinceng lihat dua orang

muridnya itu baik dan gagah, dan pinceng akan

menjadi bahagia sekali andaikata kalian dapat

berjodoh dengan dua orang murid sahabatku Hap

Tojin itu. Bagaimana pendapat kalian? Kalau

cocok, akan pinceng bicarakan dengan Hap Tojin.

Tentu saja kau akan kumintakan ijin orang tuamu

Li Ceng. Dan engkau boleh memutuskannya

sendiri, Ci Sian.”

Tiba tiba Ci Sian menubruk kaki gurunya yang

bersila itu sambil menangis tersedu sedu.

“Suhu… ampunkan teecu… teecu tidak …..

tidak sanggup memenuhi perintah suhu … lebih

baik suhu bunuh saja teecu murid yang murtad ini

!”

“Omitohud! Apa artinya ini? Mengapa kau

bersikap begini? Apakah yang terjadi? Li Ceng

mengapa sucimu bersikap begini?”

Betapa kaget dan heran pendeta gundul itu

ketika Li Ceng yang biasanya keras hati dan tabah

212

itu juga menjatuhkan diri berlutut dan menangis di

samping sucinya!

“Eh, eh … bagaimana ini? Ci Sian! Li Ceng! Di

mana kagagahan kalian! Hayo bangkit dan

ceritakan yang jelas !” ia membentak, agak marah,

berbeda dengan sikapnya yang biasanya lemah

lembut.

“Suhu, ampunkan teecu,” akhirnya Ci Sian

berkata. “Teecu sudah berjanji dalam hati, hanya

ada dua pilihan bagi laki laki yang telah melihat

teecu dalam keadaan… telan jang bulat…! Pilihan

ini ialah… dia harus teecu bunuh dan kedua dia

harus menjadi jodoh teecu.”

Sepasang mata yang lebar itu terbelalak, kedua

tangan mengelus perut yang telanjang dan gendut

sedangkan mulutnya berkata,

“Omitohud! Telanjang bulat … bunuh … jodoh?

Apa artinya semua ini, Ci Sian muridku?”

Namun Lauw Ci Sian hanya terguguk menangis.

Li Ceng tidaklah selemah kakak seperguruannya,

maka setelah menghapus air matanya, gadis inilah

yang kemudian menceritakan kepada gurunya

tentang peristiwa penghinaan yang mereka alami

malam tadi. Betapa mereka tertawan, kemudian di

telanjangkau dan hampir saja dinodai empat orang

kepala bajak kalau tidak muncul Yu Lee yang

menolong mereka.

“Suhu tentu dapat memahami perasaan suci

dan juga perasaan teecu sendiri. Toecu semalam

dengan suci, sependeritaan. Setelah tubuh kami

terlihat seperti dalam keadaan itu bagaimana kami

213

dapat menjadi isteri orang lain? Yang ce Su go

yang melihat keadaan kami telah kami bunuh.

Adapun… dia….dia penolong kami mana mungkin

kami membunuhnya? Karena inilah, usul

perjodohan suhu tidak mungkin dapat teecu

berdua memenuhinya……”

Tho teekong Liong Losu meugerutkan kening

dan meogangauk angguk, “Omitohud… semoga

manusia terbebas dari pada nafsunya sendiri.

Pinceng hanya mengusulkan, akan tetapi… yah,

keputusannya ada pada kalian sendiri. Pinceng

akan kembali ke pertapaan, soal ini terserah

kalian. Kalian sudan cukup dewasa, sudah cukup

belajar ilmu, pinceng memberi ijin kepada kalian

berdua untuk menempuh hidup sendiri. Li Gang,

engkau yang masih mempunyai keluarga,

berlakulah murah kepada sucimu.”

“Baik, suhu. Suci tentu saja ikut bersama

teecu,” kata Tan Li Ceng yang merangkul sucinya

yang menangis torisak isak. Hwesio itu menarik

napas panjang lalu keluar dari tempat itu,

menyeret tongkatnya.

Setibaaya di luar ia disambut Siauw bin mo Hap

Tojin yang tertawa tawa.

“Eh, Tho teo kong, kenapa kalian muram

wajahmu?”

Hwesio itu menghela napas. “Ahh, toyu,

alangkah inginnya hatiku bisa segembira engkau

ini. Di dunia banyak hal hal yang menyusahkan

hati Di manakah adanya Yu Kongcu?”

214

“Dia tidak herpamit. Telah pergi begitu saja.

Dengar suaranya!” Tosu itu menuding ke arah

utara. Hwesio tua itu berhenti dan mengarahkan

pandang matanya. Sayup sampai terdengar

lengking tinggi menyayat hati seperti orang

menangis.

“Diakah itu …? Pergi sambil menangis?”

“Ha ha ha ! Pendekar Cengeng ! Entah

menangis entah tertawa dia sekarang, akan tetapi

tadi kulihat dia menangis ketika dia melihat para

bajak mengurus mayat mayat yang amat banyak

itu. Kemudian ia pergi tanpa pamit.”

”Ke mana?”

“Ke mana? Entah ke mana dia siapa tahu?”

Ya, tidak ada yaog tahu ke mana perginya Yu

Lee Si Pendekar Cengeng setelah ia berhasil

membinasakan Hek siauw Kui bo, menyelamatkan

nyawa Dewi Suling, dan sekaligus merusak hati

dua orang gadis tanpa ia sengaja dan ia ketahui.

Dua orang nona yaog kini sudah keluar dari

tempat terpisah tadi pun bengong mendengar

suara lengking meninggi dan makin menjauh itu.

Juga Ouwyang Tek dan Gui Siong yang merasa

amat kagum terhadap Yu Lee, hanya saling

pandang dan berjanji dalam hati nntuk mencontoh

sepak terjang Si Pendekar Cengeng dan

memperdalam ilmu silat mereka.

“Tho tee koog, aku telah membebaskan murid

muridku untuk memasuki dunia ramai dan

mendarmabaktikan kepandaian mereka guna

masyarakat. Aku telah bebas, ha ha ha!” Ia

215

memegang lengan hwesio itu. “Dan bagaimana

dengan engikau ?”

“Omitohud, pinceng juga melepas pergi ke dua

orang murid pinceng, Ci Sian akan ikut adik

seperguruannya yang mempunyai orang tua di An

keng, pinceng akan pergi ke gunung..”

“Bagus! Mari ikut bersamaku, Tho tee kong.

Mari kita lupakan segala kedukaan hidup. Di sana

kita dapat main citur, kita salurkan semua nafsu

nafsu duniawi melalui papan catur! Kalau perlu

kita boleh membunuh Raja di papan catur, boleh

bertaruh tanpa merugikan orang lain. Ha ha ha!”

“Baiklah To yu ( sahabat ). Pinceng akan belajar

gembira dari Siauw bin mo Hap Tojin.” Dua orang

pendeta tua itu sambil bergandeng tangan lalu

meninggalkan tempat itu pula, tanpa menoleh lagi

kepada murid mereka

OuwyangTek dan dan Gui Siong kini

berhadapan dengan Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng

yang masih merah matanya bekas menangis. Dua

orang pemuda itu dengan sikap sopan lalu

memberi hormat dengan merangkap kedua tangan

depan dada yang dibalas oleh dua orang gadis itu

dengan sopan pula.

“Soal mengurus bekas bekas bajak itu harap

jiwi siocia (nona berdua) serahkan saja kepada

kami. Tentu jiwi sudah mendengar bahwa kami

adalah murid murid Siauw bin mo Hap Tojin, nama

saya Ouwyang Tek dan ini adalah sute Gui Siong.”

216

Tan Li Ceng yang lebih tabah dari pada sucinya

setelah membalas penghormatan itu lalu

menjawab.

“Terima kasih atas kebaikan jiwi twako (kakak

berdua), karena guru kita bersahabat tidak akan

keliru kiranya apabila kita melanjutkan

persahabatan itu. Aku bernama Tan Li Ceng tinggal

bersama orang tuaku di toko obat dalam kota An

keng. Dan ini suciku Lauw Ci Sian. Sekarang kami

hendak ke An keng dan apabila jiwi lewat di An

keng, kami persilakan jiwi umuk singgah di rumah

kami.”

“Banyak terima kasih atas kemurahan jiwi

siocia,” jawab pula Ouwyang Tek.

Sekali lagi mereka saling memberi hormat

kemudian sambil menggandeng tangan sucinya Li

Ceng mengajak Ci Sian pergi meninggalkan tempat

itu diikuti pandangan mata dua orang pemuda

perkasa dengan penuh kekaguman. Untung bahwa

kedua orang pemuda itu tidak dapat menjenguk isi

hati dua orang gadis itu, juga tidak mendengar

pengakuan mereka. Pengakuan yarg menyatakan

bahwa mereka berdua itu mau dijodohkan kalau

dengan Si Pendekar Cengeng!

Dunia persilatan gempar, para tokoh Liok lim

dan kang ouw, datuk datuk serta cabang cabang

atas, baik dari aliran pntih (bersih) maupun hitam

(sesat) menjadi geger dengan munculnya seorang

pendekar muda yang terkenal dengan sebutan

Pendekar Cengeng! Dunia persilatan menyebutnya

Pendekar Cengeng karena pendekar muda yang

217

perkasa ini sering kali menangis. Tangan nya amat

ampuh, tongkat maupun pedangnya amat lihai

merobohkan lawan lawan yang kuat, akan tetapi

kedua matanya selain bercucuran air mata dan ia

menangis sedih menyaksikan mayat mayat lawan

yang roboh di tangannya. Juga ia selalu tidak

dapat menahan air matanya kalau mendengar

penuturan yang menyedihkan dari mereka yng

mohon pertolongannya.

Di dalam waktu Kurang dari setahun saja

Pendekar Cengeng ini telah membasmi tujuh buah

sarang bajak sungai di sepanjang Sungai Yang ce

kiang serta belasan buah sarang perampok di

hutan hutan. Semua perbuatan ini dilakukan

karena ada sebabnya bukan sekali kali ia mencari

sarang penjahat penjahat itu. Kalau tidak dia

sendiri yang kebetulan dihadang perampok tentu

ada orang orang lain yang menjadi korban

kejahatan dan ia kebetulan melihatnya. Yu Lee, Si

Pendekar Cengeng ini tidak pernah lupa kata kata

gurunya, serta tidak mau mencari permusuhan

bahkan tidak mengusik para penjahat kalau saja ia

tidak melihat kejahatan dilakukan orang. Kalau ia

kebetulan melihatnya, barulah ia turun tangan dan

sekali ia membasminya celakalah gerombolan

penjahat itu.

Para tokoh kang ouw kaum sesat merasa sakit

hati kepadanya sebab kematian kawan kawan

mereka serta saudara saudara seperguruan mereka

dan mereka selalu mencari kesempatan buat

membalas dendam serta membunuh Pendekar

Cengeng.

218

Sebaliknya, para tokoh kang ouw kaum

pendekar merasa iri hati dan penasaran kepadanya

serta merekapun mau bertemu dengan pendekar

muda ini buat ditantang ber pibu (Mengadu

kepandaian silat).

Yu Lee bukan tidak tahu akan hal ini. Ia tahu

bahwa banyak orang pandai marah kepadanya,

tetapi ia pura pura tidak tahu dan sebab sikapnya

selalu sederhana tidak suka menonjolkan diri,

maka tidak ada orang yang mengira bahwa pemuda

baju putih yaug kelihatan lemah, pakaian serta

sikapnya sederhana seperti seorang perantau

miskin itu adalah Pendekar Cengeng yang

menggemparkau dunia persilatan.

Pada suatu hari, pagi pagi sekali Yn Lee telah

memasuki dusun Ki bun. Walaupun hatinya sudah

digembleng oleh si manusia sakti Han It Kong,

tetapi hatinya berdebar penuh keharuan ketika ia

memasuki dusun yang sunyi serta tenteram ini,

dusun yang tidak pernah dilupakannya selama

hidupnya yaitu dusun tempat tumpah darahnya, di

mana darah ibunya tertumpah di waktu

melahirkan. Dusun tempat kelahirannya!

Enam belas tahun ia telah pergi dari dusun ini.

Lima belas tahun digembleng suhunya di puncak

Tapie san kemudian setahun merantau setelah

turun gunung. Dusun itu sendiri tak pernah

berubah tetapi cuma penduduknya yang berubah.

Ia kini tidak kenal akan wajah seorangpun serta

tidak ada seorangpun di dusun itu mengenalnya.

Tentu saja bisa demikisu halnya ! Karena dahulu ia

baru berusia delapan tahun, kini telah menjadi

219

seorang pemuda tinggi tegap berusia dua puluh

empat tahun.

Perih hati Yu Lee melihat betapa rumah rumah

di dusun ini masih seperti enam belas tahun yang

lalu, rumah penghuni dusun masih merupakan

pondok buruk. Demkianlah keadaan hampir di

seluruh dusun, tidak ada kemajuan, rakyatnya

miskin dan hidup serba kekurangan. Kekayaan

bertumpuk tumpuk di kota di mana orang orang

hidup bergelimang kemewahan. Anehnya di kota

kota inilah bertumpuk bahan makanan memenuhi

gudang gudang besar, bahkan makanan memenuhi

gudang gudang besar, bahkan sampai membusuk

katena terlampau banyak dan berlebihan.

Sedangkan di dusun dusun di mana bahan

makanan itu ditanam orang, yang menjadi sumber

bahan makanan, malah kekurangan makanan,

memang kalau direnungkan amatlah aneh dan

janggal, namun nyata demikian tempat sumber

bahan makanan malah kekurangan makanan,

petani malah kekurangan makan di tengah sawah!

Keadaan seperti ini tidaklah aneh kalau

diketahui bahwa seluruh sawah ladang itu

kesemuanya hanya dikuasai olah beberapa orang

saja, dan para petani yang bekerja di sawah

hanyalah merupakan buruh buruh tani yang

menerima upah amat sedikit, hanya cukup buat

dimakan seorang saja.

Sudah pasti para petani ini mempunyai

keluarga maka timbullah kelaparan sebab jatah

makanan buat seorang dimakan kadang kadang

empat atau lima orang. Akibat hal ini pula

220

menimbulkan pemerasan tenaga, sampai anak

anak kecil terpaksa bekerja di sawah untuk

sekedar mencari isi peut pencegah kelaparan. Bagi

para penduduk dusun yang miskin, hidup mereka

lebih rendah serta lebih sengsara dari pada kerbau.

Pekerjaan berat di sawah ladang, makan tidak

kenyang. Binatang kerbau masih dapat

mengenyangkan perut serta tidak kelaparan sebab

binatang ini dapat makan rumput yang tidak usah

dibeli. Oleh majikannya.

Para pemilik tanah yang membutuhkan

kemewahan dan sebab kemewahan hanya dapat

ditemukan di kota tentu saja mengirim seluruh

hasil tanah ke kota untuk ditukar dengan harta

benda. Hal inilah yang menyebahkan akibat bahwa

di kota sampai berlebihan makanan, sebaliknya di

dusun sebagai sumber makanan malah sampil

banyak orang mati kelaparan.

Tanah kuburan di luar dusuo Ki bun amat luas.

Kuburan ini sudah tua sekali, sudah ratusan

tahun dipakai sebagai tanah kuburan sehingga

setelah beberapa kali dipakai masih tetap digali lagi

buat dipakai yang baru.

Di tanah kuburan inilah enam belas tahun yang

lalu semua jenazah keluarga Yu dikubur oleh

penduduk dusun Ki bun. Dikubur menjadi satu,

merupakan gundukan tanah yang tinggi. Ayah

bundanya, dua orang pamannya dan dua orang

bibinya, dan kakak kandungnya, tujuh orang

kakak misan, empat orang pelayan semua

berjumlah sembilan belas orang anggauta keluarga

kakeknya, ditambah mayat dua orang penjahat

221

suami isteri Kim to Cia Koan Hok dan Bi kiam

Souw Kwai Si maka di dalam gundukan tanah

kuburan ini terdapat dua puluh satu orang mayat

yang dahulu binasa dalam tangan Hek siauw Kui

bo! Teringat akan ini, tak dapat ditahan lagi, air

mata Yu Lee bercucuran ketika ia berdiri di depan

gundukan tanah kuburan.

Ia lalu menjatuhkan diri berlutut. Biarpun ia

sudah berhasil membalas dendam, berhasil

membunuh Hek siauw Kui bo, akan tetapi ia masih

merasa menyesal dan berduka karena ia sama

sekali tidak diberi kesempatan untuk membalas

budi orang tuanya tidak diberi ke sempatan untuk

berbakti.

Selelah berlutut dan patkwi sampai delapan kali

di depan gundukan tanah kuburan itu, barulah Yu

Lee bangkit.

Dengan muka pucat dan mata basah dimana ia

memandang ke sekelilingnya. Kiranya tanah

kuburan itu kini telah dikurung oleh delapan orang

yang tidak diketahui kedatangaanya. Tahu tahu

mereka telah berada di tanah kuburan itu, berdiri

mengurung gundukan tanah kuburan berikut Yu

Lee dengan wajah beringas mengancam seperti iblis

iblis sendiri yang datang hendak mengeroyoknya.

Dalam kesedihannya Yu Lee tadi sampai tidak

memperhatikan sekelilingnya dan baru sekarang ia

tahu bahwa delapan orang itu datang dan sikap

mereka jelas membayangkan permusuhan. Ia

tenang tenang saja mempermainkan tongkat

bambunya dengan kedua tangan, matanya

memandang penuh selidik dan bergantian kepada

222

delapan orang itu. Mereka itu berusia antara tiga

puluh dan empat puluh tahun dan sikap mereka

jelas menunjukkan bahwa mereka adalah ahli ahli

silat yang pandai.

Yu Lee memang tidak suka mencari

permusuhan dan sikap serta pakaiannya memang

amat sederhana, sama sekali tidak menunjukkan

bahwa dia adalah seoiang ahli silat, apa lagi

seorang pendekar yang ternama, kini menyaksikan

sikp delapan orang itu iapun ingin menghindari

mereka dan pura pura tidak mengerti bahwa

mereka itu mengurungnya.

Kembali ia mengangguk kearah gundukan

tanah kuburan sebagai penghormatan terakhir

atau berpamit, kemudian ia membalikkan

tubuhnya untuk pergi dari situ.

“Hei, berhenti kau !” seorang di antara mereka

yang matanya merah menghardik.

Yu Lee memutar tubuh menghadapinya dan

berpura pura terheran lalu bertanya. “Apakah tuan

menegur saya?”

“Siapakah namamu dan mengapa kau

bersembahyang di depan kuburan ini?” tanpa

memperdulikan pertanyaannya, si mata merah itu

kembali bertanya.

Sekilas pandang saja Yu Lee dapat menduga

bahwa delapan orang ini adalah orang kasar,

golongan kaum sesat di dunia kang ouw. Tidak

mungkin mendiang kakek dan keluarga nya

bersahabat dengan orang orang seperti ini, akan

tetapi karena ia tahu bahwa kakeknya dahulu

223

adalah seorang pendekar pedang yang amat

terkenal dan mempunyai banyak sekali musuh di

dunia kang ouw maka ia dapat menduga bahwa

tentu mereka ini musuh musuh kakeknya. Kalau

orang orang ini memusuhi sebagai akibat dari

sepak terjangnya selama ini, tentu mereka

mengenalnya maka ia lalu menjawab sederhana

dan berusaha mengelakkan pertempuran.

“Saya adalah bekas pelayan keluarga Yu dan

karena tidak ada lain orang lagi yang mengurus

kuburan maka mengingat akan budi dahulu saya

datang untuk memberi hormat.”

“Ha, ha, ha ! Siapa kira Hek siauw Kui bo dapat

tertipu oleh seorang bocah pelayan sehingga

terluput daripada pembasmian !” Kata si mata

merah yang agaknya menjadi pemimpin di antara

delapan orang itu. “Hee, budak hina ! Belasan

tahun yang lalu kau terluput dari kebinasaan, dan

kami telah didahului Hek siauw Kui bo membasmi

keluarga Yu Tiang Sin. Biarlah sekarang kami

menyempurnakan pembasmian itu sebelum kami

berhasil mencari keturunannya terakhir yang

kabarnya telah lolos.”

Yu Lee mendongkol sekali. Tidak salah

dugaannya. Delapan orang ini adalah musuh

musuh dari mendiang kakeknya. Ia sengaja

memperlihatkan sikap takut dan bertanya. “Cuwi

(tuan sekalian) siapakah dan mengapa hendak

mengganggu saya yang tidak berdosa ?”

“Ha, ha, ha, perlu kau ketahui agar nyawamu

kelak cepat melapor kepada arwah Yu Tiang Sin.

Kami . adalah delapan orang dari Timur yang

224

terkenal dengan julukan Tung hai Pat ong (Delapan

Raja Laut Timur), dahulu belum sempat membasmi

keluarga Yu Thian Sin dan kedatangan kami untuk

membongkar kuburan nya, untuk menghancur

leburkan tulang tulang keluarganya, kebetulan kau

datang dan karena kau adalah pelayan Keluarga

Yu kau tidak terluput dari pada pembalasan kami,

bersiaplah untuk mampus budak cilik!”

Sambaran tangan si mata merah ke arah kepala

Yu Lee amat kuatnya. Yu Lee yaag tahu bahwa tak

mungkin ia mengelakkan pertempuran diam diam

sudah mengambil keputusan untuk menghajar

mereka ini, malah tidak berkelebihan kiranya

kalau ia membunuh mereka ini.

Mereka ini adalah orang orang jahat, tidak

mempunyai pribudi dan prikemanusiaan buktinya

mereka ini mempunyai niat yang amat keji, hendak

membongkar kuburan dan merusakkan tulang

keluarga Yu.

Melihat datangnya pukulan yang dimaksudkan

untuk merenggut nyawanya, Yu Lee tetap bersikap

tenang.Ia menanti saja karena dari gerakan si mata

merah itu ia maklum bahwa tingkat kepandaian

mereka ini biasa saia, walaupun si mata merah ini

memiliki tenaga lweekang yang cukup kuat. Akan

tetapi pada detik itu Yu Lee terkejut dan terheran

heran melihat berkelebatnya sinar putih yang kecil

sekali yang meluncur dari arah kanannya serta

menimpa lengan si mata merah, tepat pada jalan

darah di pergelngan tangan.

“Takk! Aduuhhl” Si mata merah berseru

kesakitan, tangannya lumpuh dan ia meloncat ke

225

belakang sambil meringis, ia memijat lengan

kanannya, lalu dengan memakai jari jari tangan

kirinya ia cabut keluar sebatang jarum kecil yang

menancap di pergelangan lengan itu.

Yu Lee menahan senyum karena maklum

bahwa ada orang membantunya, biarlah ia akan

berpura pura bodoh supaya tidak mengecewakan

hati si penolongnya, akan tetapi ketika ia menoleh

dan melihat berkelebatnya bayangan orang yang

menolongnya tadi ia melongo dan memandang

kagum.

Ternyata dari balik pohon itu meloncat keluar

seorang gadis remaja yang cantik molek, agaknya

sukarlah dipercaya bahwa gadis ini yang tadi

melepas jarum menolongnya. Gadis itu usianya

paling banyak delapan belas tahun, wajahnya

berkulit halus dengan sepasang pipi kemerahan

matanya bersinar sinar penuh semangat dan

mulutnya yang kecil tersenyum senyum serta dari

pandangan mata dan mulut ini terbayang sifat

jenaka dan riang juga nakal penuh ketabahan.

Kecantikannya itu tersendiri, seperti kecantikan

setangkai bunga liar di dalam hutan. Sedikitpun

tidak ada tanda tanda bekas alat rias pada

mukanya yang cantik, kehalusan kulit mukanya

warna putih kuning, warna merah di pipi dan

terutama di bibirnya semua adalah warna warna

yang wajar, membuktikan kebersihan dan

kesehatan tubuhnya.

Rambutnya hitam sekali juga amat lebat dan

panjang sehingga rambut yang digulung semuanya

itu menjadi mahkota hitam yang besar di atas

226

kepala, kalau terurai, agaknya rambut yang halus

itu ujungnya akan mencapai paha.

Dengan lebat rambutnya sampai anak

rambutnya merumbai di dahi dan tengkuk, juga

anak rambnt yang tumbuh subur di pelipis

menjuntai serta menjungat ujungnya di pipi,

hampir menyentuh hidung menimbulkan kejelitaan

yang lucu pada wajah ttu.

Matanya seperti sepasang bintang pagi yang

cemerlang, bersih dan bening sekali, sinarnya

tajam namun selalu berseri gembira serta nakal,

bentuk tubuhnya padat ramping, lincah gesit

gerakannya dan pakaiaanya sederhana pula seperti

cara ia berhias. Terbuat dari sutera warna hijau

puput dengan warna sabuk berwarna emas,

sepatunya dari kulit berwarna hitam

Gadis ini melangkah keluar dari balik pohon

sambil tersenyum senyum tangan kiri bertolak

pinggang, tangan kanan memegang sebatang

rumput yang ujung tangkainya ia gigit gigit dengan

giginya, sehingga tampak giginya yang berderet

putih dan rapih, matanya mengerling dan melihat

bergantian kepada delapan orang itu yang kini

semua melihatnya dengan pandang mata merah.

“Tung hai Pat ong kalian ini, ya? Wah betul

betul gagah perkasa, delapan orang raja

menghadapi seorang pelayan yang tidak tahu apa

apa ! Sejak tadi pagi aku sudah curiga dan

membayangi kalian, kukira kalian ini akan

merampok dusun ini, kiranya malah lebih hina

daripada perampok sebab ternyata kalian bukan

227

lain adalah tikus tikus kuburan yang tak tahu

malu !”

Makian “tikus kuburan” adalah makian yang

paling menghina, karena yang dimaksudkan

dengan tikus kuburan adalah pencuri pencuri yang

suka membongkar kuburan untuk mengambil

benda berharga yang menempel pada tubuh mayat.

Dan diantara maling maling, tikus kuburan inilah

maling yang paling rendah serta dianggap hina dan

rendah oleh kanm sesat sendiri sebab

merendahkan “derajat” bangsa maling!

“Bocah bermulut lancang !” bentak si mata

merah yang kini telah biasa lagi. Tangan kanannya

tidak sakit lagi dan hatinya lega sebab ini berarti

bahwa jarum itu tidak beracun. “Engkau tidak

mengenal betul siapa kami maka berani main gila.

Apakah kau sudah bosan hidup? Hayo lekas

katakan siapa kau dan siapa gurumu, mengapa

kau berani mencampuri urusan kami!”

Gadis itu melirik serta senyumnya makin

melebar. Cantik jelita seperti bidadari, belum

pernah Yu Lee bertemu dengan gadis secantik ini.

Entah mengapa, segala gerak gerik gadis ini

menarik hatinya, membuat jantungnya berdebar

debar serta membuat ia seperti berubah menjadi

sebuah arca, tidak mampu bergerak atau bersuara,

hanya memandang dengan mata terbelalak kagum.

“Hemmmm, kalian ini delapan anak kecil berani

menyombongkan diri terhadap nyonya besarmu.

Sungguh menjemukan! Siapa tidak mengenal

kalian bangsat bangsat kecil ini? Kalian adalah

bajak bajak di laut Tung hai, sombong sombongan

228

memakai julukan Delapan Raja, padahal tidak

becus apa apa Belasan tahun yang lalu kalian

membajak sebuah kapal, hendak merampas harta

dan menghina puteri puteri pembesar Kwan di

kapal itu, kemudian kalian dihajar habis habisan

sampai terkencing kencing dan terkentut kentut

oleh mendiang Yu Kiam sian Si Dewa Pedang. Huh,

kalian seperti delapan ekor anjing ketakuan

melingkarkan buntut dan lari bersembunyi Setelah

kini Yu Kiam sian sekarang menjadi gundukan

tanah pura pura mau gagah gagahan mau bongkar

kuburan. Mencari gigi emas? Atau bekas sepatu?

Tak tahu malu!”

Yu Lee makin terbelalak. Bagaimana nona yang

maih muda sekali ini tahu akan peristiwa itu? Dia

sendiri yaug menjadi cucu Si Dewa Pedang tidak

tahu dan tidak mendengar dari kakeknya atau

ayahnya! Dan sikap gadis ini benar benar terlalu

berani dan betapapun juga amat jenaka dan lucu

Masa gadis berusia kurang dari dua puluh

tahun bersikap seolah olah delapan orang yang

empat puluh tahun lebih umurnya seperti anak

anak saja?

Kalau Yu Lee terheran heran dan kagum adalah

Tung hai Pat ong itu yang menjadi kaget sekali,

kaget, malu malu dan marah bercampur aduk

menjadi satu, namun rasa kaget dan heran lebih

besar sehingga si mata merah bertanya, “Budak

cilik! Siapa kau?”

Dara kecil itu kembali bertolak pinggang, kini

dengan kedua tangannya sepuluh jari jari yang

kecil panjang itu seolah olah dapat melingkari

229

pinggangnya, begitu ramping pinggangnya,

kemudian dengan gerakan lucu jenaka nona ini

menuding hidungnya sendiri, hidung yang kecil

dan mancung “Kau mau tahu siapa nonamu ini?

Buka telinga lebar lebar unjuk mendengar, buka

mata baik baik untuk melihat, akan tetapi

teguhkan hati agar kalian tidak akan roboh

pingsan kareaa kaget dan mati ketakutan. Di

depan kalian inilah pendekar wanita muda yang

mewarisi ilmu kesaktian dari Kun lun pai. Akulah

yang berjuluk Sian li Eng cu (Si Bayangan

Bidadari). Setelah kalian berhadapan dengan Sian

li Eng cu, tidak lekas berlutut? Hayo berlutut dan

minta ampun, paykwi sampai tiga belas kali, baru

Sian li Eng cu memberi ampun dan hanya minta

sebuah saja daripada daun telinga kalian masing

masing satu, kalau tidak kepala kelinci yang akan

putus leher nya !”

Yu Lee hampir tak dapat menahan ketawa

bukan main nona ini ucapannya itu hebat dan

sombong, akan tetapi lucunya, sikapnya sama

sekali tidak membayangkan kesombongan bahkan

mata dan mulutnya itu membayangkan kenakalan,

jelas tampak oleh Yu Lee bahwa ucapannya yang

keluar dari mulut nona itu adalah ucapan yang

disengaja, bukan untuk menyombong melainkan

untuk mempermainkan delapan orang bajak itu.

Yu Lee makin tertarik dan ingin melihat sampai

di mana keahlian nona ini, apakah ilmu silatnya

selihai mulutnya? Melihat cara nona ini tadi

menyambitkan jarum, ia tidak perlu

mengkhawatirkan keselamatannya tetapi karena

delapan orang ini adalah orang orang kasar yang

230

kejam, diam diam ia bersiap melindungi nona yang

menarik hatinya itu.

Delapan orang itu tentu saja menjadi marah

sekali. Mereka belum pernah mendengar nama

julukan Sian li Eng cu pendekar wanita tokoh Kun

lun pai. Tentu saja memandang rendah. Nona yang

masih begitu muda mana mungkin memiliki

kepandaian lihai? Diantara delapan orang itu,

terdapat seorang yang mata kirinya buta.

Dia inilah amat terkenal mata keranjang serta

dahulunya ia pernah mengganas, secara keji

menculik dan memperkosa banyak sekali wanita,

asal wanita muda dan cantik, tak perduli wanita

itu isteri orang, ia tak mau berhenti kalau belum

dapat menculiknya, mata kirinya juga menjadi

buta karena kesukaannya mempermainkan isteri

orang karena dahulu ia pernah tertangkap basah,

dikeroyok orang sedusun, biarpun ia berhasil

melarikan diri mengandalkan kepandaiaanya,

namun mata kirinya tertusuk pedang dan menjadi

buta sebelah.

Namun mata yang tinggal sebelah itu tidak

mengurangi sifatnya yang buruk, bahkan ia

menjadi makin gila karena merasa sakit hati

melihat betapa wanita wanita merasa jijik

kepadanya karena matanya.

Ia makin mengganas dan baru ia bersama tujuh

orang saudara tidak berani mengganas lagi dan

terpaksa menyembunyikan diri setelah muncul Si

Dewa Pedang Yu Tiang Sin yang melabrak mereka

di atas perahu pembesar.

231

Kini melihat dara remaja yang cantik jelita dan

mengaku berjuluk Bayangan Bidadari ini, seketika

kambuh penyakitnya dan mantanya yang tinggal

sebelah itu berkedip kedip serta bersinar penuh

nafsu. Ia sudah meloncat maju dan berkata kepada

si mata merah, “Twako, serahkan anak ayam ini

kepadaku!”

“Memang dia lebih pantas untukmu.

Terkamlah!” kata si mata merah menyeringai dan

mundur, ia masih memandang rendah gadis itu

serta merasa yakin bahwa adiknya yang telah ahli

menghadapi wanita itu bisa menundukkan gadis

ini.

Si mata satu maju sampai dekat di depan gadis

itu, Sian li Eng cu, dara remaja yang cantik dan

jenaka itu menggerak gerakkan cuping hidungnya

yang mancung, lalu berkata, “Ihhh, bau busuk!

Kau ini si mata buta, keringatmu bau bangkai,

tanda bahwa sebentar lagi engkau akan menjadi

bangkai !”

Si mata satu menyeringai, memperlihatkan

deretan gigi yang besar besar dan berwarna kuning

di balik bibir membiru, “Heh heh, nona muda yang

manis! Mau kulihat apa yang kau akan lakukan

dan katakan kalau engkau sudah berada di dalam

pelukanku, heh heh!” Belum habis ucapannya, tiba

tiba si mata satu ini sudah menubruk maju,

gerakannya cepat sekali, kedua lengannya

dikembangkan, sepuluh jari tangannya juga

terbuka dan dengan gerakan gesit ia merangkul

leher dan pinggang.

232

Sesungguhnya gerakannya itu adalah jurus

ilmu silat yang bernama Go houw po touw (Macan

Lapar Menubruk Kelinci) semacam jurus serangan

dengan pukulan bertubi tubi dari kedua tangan,

akan tetapi oleh si mata satu ini dirobah menjadi

tubrukan buat menerkam tubuh gadis yang

menggairahkan itu.

“Menjijikkan!” Dara ita berseru marah dan ia

hanya menggeser kaki miringkan tubuh saja,

gerakan ini cukup membuat si mata satu

menubruk tempat kosong.

Dan sebelnm si mata satu dapat memperbaiki

posisi tubuhnya yang terhuyung ke depan, secara

tiba tiba saja tubuh dara itu berkelebat, meloncat

ke atas serta dengan gerakan indah sekali kaki nys

telah menendang dari atas, ujung sepatunya

membuat gerakan menotok yang tepat sekali

mengenai jalan darah di tengkuk si mata satu.

“Klokkk!”

Tubuh orang yang gerakannya gesit dan ringan

sekali itu sudah melayang turun kembali ke atas

tanah dan berdiri sambil bertolak pinggang. Celaka

adalah si mata satu. Tiba tiba saja ia meringis

lalu… menangis. Tak dapat menahan lagi ia, air

matanya bercucuran, dan matanya yang masih

baik, sedangkan matanya yang sudah rusak hanya

bergerak gerak, demikian mengguguk ia menangis

sampai hidungnyapun mengeluarkan air!

Pemandangan ini aneh dan lucu sekali akan

letapi Yu Lee yang tahu diam diam menjadi kagum.

Gadis itu ternyata memiliki ginkang yang

mengagumkan dan tingkat kepandaiannya agaknya

233

tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian dua

orang murid perempuan Tho tee koog Liong Losu!

Akan tetapi gadis ini memiliki ginkang tinggi dan

sifat ugal ugalan, nakal sekali dan suka

mempermainkan orang! Buktinya menghadapi si

mata satu yang tentu akan mudah ia robohkan itu

tadi ia bersusah payah meloncat hanya untuk

dapat menotok jalan darah di tengkuk yang

mengakibatkan si mata satu itu menangis di luar

kehendaknya, dan itupan ia lakukan dengan

meloncat karena agaknya gadis itu tidak sudi

melakukan totokan dengan tangan melainkan

dengan ujung sepatu! Kiranya dalam detlk terakhir

tadi ketika golok menyambar, dara itu meloncat ke

depan lalu membalikkan tubuh, tangannya

bergerak melepas sebatang jarum yang dengan

tepat menancap mata kanan lawan bahkan terus

masuk dalam sekali, kakinya menendang ke arah

pergelangan tangan sehingga golok lawan terpental.

Gadis itu berdiri sambil bertolak pinggang

tersenyum mengejek kepada si mata satu yang kini

mengaduh aduh dan merintih rintih dan cepat

ditolong oleh saudara saudaranya. Akan tetapi

jarum itu menancap terlalu dalam, tidak tampak

lagi dan sukarlah menolong nyawa orang itu

karena jarum menyelinap memasuki otak dalam

kepala.

“Perempuan jahanam, kau harus mengganti

nyawa!” bentak si mata merah ketika melihat

saudaranya itu berkelojotan seperti ayam

disembelih. Tujuh orang itu kini sudah

merebahkan tubuh si mata satu ke atas tanah

234

masing masing mencabut golok dan pedang dan

mengurung gadis yang masih tersenyum senyum.

“Ahaa, baru sekarang kalian tidak memandang

rendah dan hendak maju mengeroyokku? Bagus,

bagus, baik begitu agar aku tidak perlu membuang

banyak waktu. Majulah bersama dan matilah

bersama. Dunia akan menjadi lebih bersih dan

lebih tenteram kalau kalian mampus!”

Yu Lee kembali memandang penuh perhatian.

Boleh jadi tingkat kepandaian tujuh otaag itu lebih

rendah akan tetapi kalau mereka maju mengeroyok

dan kalau gadis itu masih bersikap sembrono

seperti tadi, ada bahayanya juga. Maka kini ia lalu

duduk di atas tanah, dekat gundukan tanah

kuburan keluarganya, menonton dan tangannya

mempermainkan tanah tanah kering. Ia melihat

betapa tujuh orang laki laki kasar itu mengurung

si gadis, senjata mereka berkilauan saking

tajamnya.

Gadis itu masih berdiri enak enak di tengah,

senyumnya mengejek, matanya mengerling ke

kanan ke kiri mengikuti gerakan mereka, tangan

kiri mendekati saku baju di mana tersimpan jarum

jarumnya, tangan kanan meraba pedang yang

tergantung di pinggang. Cantik jelita dan gagah

perkasa tampaknya, dan hati Yu Lee makin

terpikat dan kagum. Banyak sudah ia bertemu

dengan wanita wanita cantik jelita, bahkan pernah

dirayu seorang wanita cantik sekali seperti Dewi

Suling, pernah pula melihat dua orang dara jelita,

murid Tho tee kong Liong Losu, yaog selain gagah

perkasa juga muda remaja dan cantik jelita,

235

bahkan melihat mereka dalam keadaan telanjang

bulat ketika menolong mereka.

Namun, belum pernah ia merasa hatinya

terbetot seperti saat ini oleh gadis yang lincah

jenaka dan ugal ugalan yang mengaku berjuluk

Sian li Eng cu itu.

Si mata merah berseru keras dan ini

merupakan aba aba agaknya bagi saudara saudara

nya karena serentak mereka bertujuh itu maju

menerjang dengan senjata mereka mengeroyok

gadis itu, kembali Yu Lee kagum dalam hati nya.

Gadis itu benar benar memiliki ginkang yang

hebat. Tubuhnya yang ramping itu bergerak cepat

sekali, melebihi daripada kecepatan gerakan

senjata lawan berkelebatan ke kanan kiri, seolah

olah gerakan seekor burung walet, menyelinap

diantara sambaran senjata, mengelak ke kanan

kiri, menyepak pergelangan tangan lawan dan di

lain saat tangan kanannya indah memegang

sebatang pedang yang berkilauan putih dan

ternyata pedangnya itu adalah pedang perak

seperti juga jarum jarum nya. Pedang itu putih

mulus dan bersih sehingga waktu dimainkan,

berubahlah menjadi gundukan sinar putih

menyilaukan mata.

Yu Lee menyaksikan ilmu pedang Kun lun kiam

hoat yang amat indah dan cepat. Ia mengenal ilmu

pedang ini dan diam diam ia harus mengakui

bahwa gadis ini tehh mendapat latihan serta

didikan seorang tokoh Kun lun pai yang pandai.

Gerakannya indah seperti orang menari, cepat

seperti kilat menyambar. Hatinya kembali lega

236

sebab jangankan baru dikeroyok tujuh orang itu,

biar ditambah tujuh orang lagi, ia tidak perlu

mengkhawatirkan keadaan gadis itu.

Betul saja dugaannya, terdengar suara

berkerontangan serta teriakan mengaduh ketika

gadis itu memutar pedang dan membalas

serangan. Kemana saja pedangnya berkelebat,

pasti senjata lain terpental terta darah muncrat.

Juga tangan kirinya bergerak dan sinar sinar putih

jarumnya meluncur ke sana sini. Teriakan

mengaduh makin riuh disusul robohnya tujuh

orang itu yang mengaduh aduh.

Pedang di tangan gadis itu lalu berkelebat

menyambar ke arah delapan orang yang sudah

roboh. Yu Lee kaget sekali dan mencela di dalam

haranya ketika melihat betapa pedang itu telah

menyambar serta dalam sekejap mata telah

membuntungi delapan buah telinga para bajak itu!

“Masih tidak lekas pergi dari sini? Menanti

Sian li Eng cu memenggal leher kalian ?” Gadis itu

mengancam sambil memutar mutar pedangnya.

Walaupun pedang itu telah membuntungi delapan

buah daun telinga serta melukai pundak, lengan

dan paha, tetapi sedikit pun tidak terkena darah !

Keadaan delapan orang itu amat menyedihkan.

Semua terluka serta si mata satu tadi masih

berkelojotan dalam sekarat. Tiga orang lagi

menderita luka berat dan juga berkelojotan.

Empat orang yang juga lerluka, masih bisa

bergerak. Mereka ini sambil merintih rintih lalu

membantu saudara saudaranya yang tak bisa

berjalan sendiri, masing masing memondong

237

seorang kawan kemudian tanpa pamit mereka

pergi dari tempat itu setelah memungut delapan

buah daun telinga yang buntung. Karena mereka

itu takut kalau kalau si nona ganas mengejar,

empat orang itu menahan sakit serta terus lari

sehingga dalam waktu cepat mereka sudah tidak

tampak lagi.

“Kau ganas sekali, nona…!”

Gadis yang baru saja memasukkan pedang nya

ambil tersenyum puas itu membalikkan tubuhnya

melihat kepada Yu Lee yang masih duduk dengan

mata terbelalak, mulutnya lalu cemberut serta

pipinya merah. Telunjuk kirinya menuding ke arah

Yu Lee ketika ia memaki dengan kata kata ketus

“Engkau ini bekas pelayan macam apa? Tadi

bersikap seperti seorang pelayan setia, sekarang

ada orang membela nama baik dari kuburan

keluarga majikanmu malah kau mencela! Hayo

jawab apa itu pringas pringis kaya monyet?

Kenapa kau sebut aku ganas?”

Yu Lee menjadi merah mukanya, merah sampai

ke telinganya. Baru sekali inilah ia dimaki maki

oleh seorang gadis, akan tetapi tidak menimbulkan

marah di hatinya, hanya menimbulkan rasa malu.

Akan tetapi, di lubuk hatinya ia memang tidak

puas melihat keganasan gadis itu, maka ia

menjawab.

“Aku…. aku merasa ngeri melihat kau

membuntungi daun telinga mereka tadi. Setelah

mereka kalah, apakah masih perlu dibuntungi

daun telinga mereka?”

238

“Huhh, kau bujang tahu apa? Baru dibuntungi

daun telinganya mereka itu masih untung besar!

Coba kalau bertemu pendekar lain, umpamanya

Pendekar Cengeng, tentu mereka itu bukan hanya

daun telinganya yang buntung, melainkan

lehernya!”

Yu Lee terbelalak saking herannya, mendengar

disebutnya nama Pendekar Cengeng. Karena nama

itu adalah dia sendiri.

“Pendekar Cengeng…? Kenalkah nona

kepadanya?”

Gadis itu menggeleng kepala serta bibir nya

diliarkan menghina. Perlu apa mengenal seorang

suka menangis? Biar dia seorang pendekar, kalau

cengeng sungguh tidak patut. Tetapi aku memang

mencari dia! Eh, kau ini pelayan keluarga Yu, tentu

tahu dia. Bukankah Pendekar Cengeng yang suka

membantu orang yang tertindas itu cucu mendiang

Yu locianpwe (orang tua gagah she Yu) satu

satunya keluarga yang terbebas daripada maut

ketika Hek sisuw Kui bo membasmi keluarga Yu

locianpwe?”

Yu Lee makin heran. Gadis ini, semuda itu

sudah banyak pengetahuannya, bahkan tahu pula

akan keluarganya. Ia mengangguk, “Memang betul

nona. Akan tetapi mengapa nona mencari, Yu

kongcu (tuan muda Yu)?”

“Bocah cengeng itu sombong sekali, malang

melintang di dunia kang ouw tidak memandang

mata kepada orang lain, aku hendak mencarinya

dan manantangnya bertanding !”

239

“Kenapa? Apa kesalahannya?”

“Ihh kau ini cerewet benar! Dan tidak tahu

terima kasih, tahukah kau bahwa kalau tidak ada

aku tadi, kau sudah mampus di tangannya Tung

hai Pak ong. Dan kuburan majkanmu ini sudah

dibongkar, tulangnya dihancurkan? Dan kau

sepatah katapun tidak pernah berterima kasih

kepadaku !”

Yu Lee cepat cepat bangkit lalu menjura ke arah

gadis itu.

“Ah, maafkan ako nona. Aku menghaturkan

banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi

sehingga sampai detik ini, aku masih hidup dan

kuburan ini tidak dibongkar orang.”

“Cih! Beginikah sopan santan seorang bekas

pelayan, keluarga Yu? Hemm Yu locianpwe masih

hidup dan melihat sikapmu ini, tentu kau akan

digampar dan nantinya dipecat dengan tidak

hormat tanpa mendapat pesangon!’

Yu Lee teringat bahwa kini sedang bermain

sebagai pelayan, maka antuk menyesuaikan diri ia

berlutut, mengangguk angguk dan minta maaf

serta menghaturkan terima kasih. Heran sekali dia.

Biarpun ini hanya merupakan permainan

sandiwara baginya, namua hatinya merasa tulus

iklas biarpun ia harus berlutut seperti itu!

“Nah, begitu baru tahu peraturan dan sopan

santun namanya. Eh, pelayan, kau ketahuilah

bahwa antara majikanmu yang tua Yu locianpwe

dan kakekku terdapat persahabatan maka engkau

harus menganggap aku sebagai seorang nona

240

majikan pula. Akupun menganggap kau sebagai

pelayan keluargaku sendiri, maka aku tadi tidak

ragu ragu untuk menolongmu. Dan sekarang, aku

berbalik ingin minta pertolongan darimu.”

“Tentu saja saya bersedia melakukan perintah

nona, akan tetapi saya hanya seorang pelayan

biasa, dapat menolong apakah?”

Gadis itu lalu duduk di atas sebuah batu di

depan gundukan tanah kuburan. Sikapnya bebas

duduknya juga bebas seperti seorang laki laki saja.

“Kau duduklah dan dengarkan aku !” Ia

memandang wajah Yu Lee penuh perhatian

kemudian ia mengerutkan alisnya yang kecil

panjang dan hitam sekali. “Kau tentu masih kecil

ketika keluarga Yo dibasmi musuhnya. Selama

belasan tahun itu, kau menjadi apa dan berada di

mana?”

Pertanyaan yang tiba tiba itu membuat Yu Lee

gugup juga sehingga sejenak ia tidak mampu

menjawab, hanya memandang wajah yang semakin

lama makin cantik baginya itu

“Eh, kau memandang apa?” Bentak nona itu.

“Anu… eh, anu… memandang nona.”

“Kau mau kurang ajar, ya ?”

“Eh, tidak sama sekali. Bagaimana saya berani?

Dan kalau tidak memandang kepada nona,

bagaimana saya dapat diajak bicara?”

Gadis itu menggerak gerakkan alisnya,

menimbang nimbang lalu tersenyum “Betul juga

kau. Kukira tadi pandang matamu kurang ajar

241

seperti pandangan mata si mata satu tadi. Nah,

kau belum menjawab pertanyaanku.”

Semenjak itu, Yu Lee sudah dapat

menenangkan hatinya dan sudah dapat mencari

akal untuk menjawab. “Selama ini saya menjadi

petani di dusun, nona. Hari ini kebetulan hari

ulang tahun kematian keluarga majikan saya,

maka karena teringat akau budi mereka terhadap

orang tua saya dan saya, maka saya datang untuk

sekedar memberi hormat.”

“Hemm, bagus. Kau mengenal budi. Apakah

kau bisa membaca? Ataukah buta huruf?”

Pertanyaan aneh aneh, pikir Yu Lee yang

mengangguk. “Sedikit sedikit saya bisa nona.”

“Baik, aku tidak senang kalau kau buta huruf,

akan menambah kebodohanmu dan tentu akan

menjengkelkan saja. Kau bilang tadi bahwa kau

tahu akan Pendekar Cengeng. Betulkah ?”

Yu Lee mengangguk.

“Dan akan mengenalnya kalau bertemu

dengannya?”

Kembali Yu Lee mengangguk sambil menelan

ludah. Ia tidak biasa membohong, maka ia pilih

lebih baik tidak berkata apa apa. Kalau hanya

membohong dengan kata mengangguk itu mudah.

“Bagus, mulai sekarang biarlah kau menjadi

pelayanku. Kau bisu mengurus kuda, kan? Nah,

baik, kau kuberi gaji secukupnya, makan dan

pakaian akan kuberi jangan takut kekurangan.

Aku perlu bantuanmu mencari Pendekar Cengeng,

242

kalau sudah bertemu dengannya, kau berhenti

menjadi pelayanku Bagaimaua, maukah kau

membantu sebagai balasan pertolonganku tadi?”

Hebat! Bocah ini benar benar pintar sekali,

banyak akalnya serta bisa mempengaruhi hati

orang, pikir Yu Lee. Entah puteri siapa dia ini.

Heran dia mengapa ayah bunda anak ini

membiarkannya terlepas seorang diri. Dia mirip

seekor kuda betina liar yang sekali terlepas lalu

menjadi binal dan ugal ugalan. Akan telapi seekor

kuda betina yang hebat. Tak mungkin ia menolak,

Menjadi pelayan pun jadilah asalkan bisa

berdekatan dan dapat melihat sinar mata serta

senyumnya setiap hari. Ah, aku sudah meajadi

gila, pikir Yu Lee.

“Heee! Hayo jawab! Melamun apa lagi !” Tangan

gadis itu menyambar dan…. “plak!” pundaknya

telah ditampar. Yu Lee marasa betapa tangan gadis

itu mengandung tenaga ginkang, maka ia tahu

gadis itu tidak hanya sembarang menegur, tetapi

juga mengujinya. Mungkin gadis itu ragu ragu

serta curiga, karena sebagai bekas pelayan

keluarga jagoan, mungkin dia sendiripun

mempelajari ilmu silat.

“Aduh ……! Nona, kenapa nona memukul

saya…?” Yu Lee membuat gerakan wajar,

terjengkang lalu roboh, serta mengaduh aduh

memegangi pundaknya yang tertampar tadi.

Gadis itu tersenyum. Lega hatinya bahwa

pelayan ini tidak mengerti ilmu silat. “Kalau lain

kali kau tidak cepat menurut perintahku, baru

akan kupukul betul betul. Tadi cuma tamparan

243

pelan saja. Nah lekas jawab, mau atau tidak

engkau menjadi pelayan ku dan membantuku

mencari Pendekar Cengeng!”

Yu Lee cemberut, “Masih mau akan tetapi nona

jangan bersikap terlalu galak terhadap saya.”

“Aku tidak biasa bersikap galak terhadap

pelayan, akan tetapi aku belum pernah mempunyai

pelayan setolol engkau ini. Eh, siapa namamu?”

Ditanya namanya, Yu Lee bingung. Ia tidak

biasa membohong dan kalau saja nona ini tidak

lagi mencari Pendekar Cengeng untuk diajak

bertanding tentu ia pun mengakui terus terang

bahwa dialah si Pendekar Cengeng. Akan tetapi

untuk pergi begitu saja meninggalkan nona ini, tak

mungkin dapat ia lakukan karena seluruh

perasaan hatinya memaksa untuk selalu

berdekatan dengan nona ini. Terpaksa ia harus

mencari nama dan teringalah ia akan nama

seorang pelayan cilik keluarganya yang dahulu

juga ikut terbunuh, yaitu Aliok. Maka cepat

berkata menjawab, “Nama saya Aliok, nona,”

“Hemm, itu nama singkatan, nama lengkap mu

siap, Aliok?”

“Saya tidak tahu nona. Dahulu semua keluarga

majikan saya menyebut saya. Aliok. Dian siapakah

nama siocia ( nona)?”

Nona itu menggerakkan alisnya, matanya

mengerling tajam bibirnya cemberut. Mati aku,

pikir Yu Lee yang merasa seakan akan jantang nya

tertusuk. Begitu cantik menariknya nona ini kalau

sudah marah marah seperti itu.

244

“Eh, mau apa kau tanya tanya namaku segala?”

nona itu membentak.

Sambil memandang wajah nona itu penuh

kagum Yu Lee menjawab, “Setelah menjadi pelayan

nona, saya harus mengetahui nama nona.

Bagaimana kalau ada orang bertanya siapa nona.

Bagaimana kalau ada orang bertanya siapa nama

nona majikan saya? Apakah saya harus menjawab

tidak tahu ?”

“Hemm, kau betul juga Aliok. Namaku Siok Lan,

she Liem. Akan tetapi aku lebih terkenal dengan

Sian li Eng cu.”

Liem Siok Lan ! Sebuah nama yang indah bagi

Yu Lee serta sekaligus nama ini terukir di dalam

hatinya. Dia tersenyum di dalam hati, nona ini

begitu bangga akan nama julukannya, bangga

akan ilmu silatnya sehingga menganggap seolah

olah diri sendiri terpandai di dunia kang ouw.

Hemm, seorang bocah dengan kepala kosoag

seperti ini dibiarkan saja berkelana seorang diri,

sungguh berbahaya! Tidak mengenal tingginya

langit dalamnya lautan. Perlu sekali dilindungi dan

dijaga, kalau tidak tentu akan terjerumus dalam

bahaya dalam waktu dekat.

“Kalau begitu marilah kita berangkat siocia.”

“Kau ambilkan dalu kudaku, tadi kuikat di

sebuah pohon di sana!” Siok Lan menunjuk ke

selatan di mana terdapat segerombolan pohon dan

Yu Lee berjalan ke arah yang ditunjuk

melaksanakan perintah. Dari belakangnya, Siok

Lan memandang. Memang hebat keluarga Yu,

pikirnya, seorang bujang saja begini tampan dan

245

bagus gerak geriknya, dengan bentuk tubuh yang

jantan. Sayang ia bodoh, pikirnya lagi. Akan tetapi

tentu saja bodoh, kalau pintar masa menjadi

pelayan?

Lamunannya buyar ketika pelayannya itu

datang, sambil menuntun kudanya. Dengan

gerakan ringan dia melompat naik ke punggung

kudanya, lalu berkata. “Hayo kita berangkat.”

“Ke mana nona ?”

“Ke mana lagi kalau tidak mencari Pendekar

Cengeng? Kau tahu dimana ia sekarang ini ?”

Aku harus mengarang cerita, pikir Yu Lee, agar

dia percaya dan mereka dapat terus berkumpul

dan melakukan perjalanan bersama, “Saya pernah

bertema dengan Yu kongcu dan dia pernah bilang

bahwa dia ingin merantau ke kota raja. Sebaiknya

kita menyusul ke kota raja dan karena namanya

sudah terkenal tentu kita dapat bertanya tanya

sepanjang jalan!”

“Hemm benar juga pendapatmu itu. Akan tetapi

kota raja amatlah jauh!”

“Nona menunggang kuda, tentu tidak akan

lelah.”

“Hemm marilah!” Nona itu tentu saja tidak

menyatakan isi hatinya yang membuat nya

meragu. Biarpun orang muda ini menjadi

pelayannya namun keadaan orang muda ini terlalu

tampan untuk menjadi pelayan ! Siapa tahu,

jangan jangan orang orang di jalan mengira bahwa

pemuda ini bukan pelayannya, tetapi sahabatnya

atau lebih celaka lagi, sebagai suaminya atan

246

tunanganaya ! Inilah yang membuat ia tadi ragu

raga karena kalau harus melakukan perjalanan ke

kota raja yang jauh tentu makan waktu yang

cakup lama.

“Eh, nona … ? Jangan cepat cepat… nona,

mana mungkin saya dapat menyusul larinya

kuda?” Yu Lee berteriak teriak ketika nona ito

mempercepat kudanya. Siok Lan menoleh dan

menghela napas panjang. Wah, berabe juga

mempunyai pelayan, pikirnya. Kalau dia harus

melakukan perjalanan yang lambat hanya demi

untuk mencegah pelayannya ketinggalan ini berarti

dialah yang harus melayani si pelayan! Ah apa

perlunya ini? Dan diapun hanya membutuhkan

Aliok untuk mengenal dan mencari Pendekar

Cengeng.

Dia sadah bertanya tanya dan orang orang kang

oow sudah pula mendengar nama Pendekar

Cengeng sebagai seorang pendekar muda yang

bara muncul, akan tetapi tidak seorang pun tahu

di mana adanya si pendekar itu, dan ia mendengar

pula bahwa sukar untuk mengenal si pendekar

muda karena pendekar itu tidak pernah

menonjolkan diri bahkan lalu bersembunyi dari

dunia kang ouw. Maka ia mengambil Aliok sebagai

pelayan untuk membautunya, akan tetapi siapa

duga bahwa risikonya malah berat.

Baru dalam perjalanan saja ia harus

menjalankan kudanya perlahan lahan agar si

pelayan tidak ketinggalan.

“Aku akan jalan dulu ke dusun depan. Biar

kutunggu engkau di sana, kau jalanlah lebih cepat

247

!” teriaknya sambil menoleh lalu membalapkan

kudanya ke depan.

Ia akan menjadi kesal setengah mati kalau

harus menjalankan kudanya perlahan lahan,

mengimbangi si pelayan yang berjalan kaki begitu

lambat! Akan tetapi, sejam kemudian Siok Lan

menghentikan kudanya termangu mangu di atas

kuda. Ah, ia telah bersikap keterlaluan. Pelayan itu

harus berjalan menyusulnya dan tentu saja

tertinggal jauh. Entah mengapa, membayangkan

wajah pelayan itu timbul rasa kasihan di hatinya,

padahal kalau berhadapan ia ingin

memperlihatkan kekuasaan dan kegalakannya!

Biar kutunggu dia di sini, pikirnya dan iapun

melompat turun dan duduk di bawah pohon yang

teduh. Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia

menengok, ia melihat bayangan si pelayan itu

melenggang!

Keheranan hati Siok Lan tidak melawan

kekagetan Yu Lee, ketika di tikungan itu ia melihat

si nona duduk menantinya ! Hal ini sama sekali

tidak pernah disangkanya.

Ia mengira bahwa gadis itu benar benar

meninggalkannya sampai ke dusun di depan, maka

tadi karena tidak ingin tertinggal jauh dan ingin

mengamat amati sang nona itu dari dekat, maka ia

telah mempergunakan ilmu lari cepat mengejar.

Siapa kira gadis itu kini berhenti di situ dan

menantinya! Sebab tidak menduga maka ia terlihat

di tikungan dan sudah kepergok. Tetapi lalu ia

mencari akal, ia berpura pura lari terhuyung

huyung napasnya terengah engah serta begitu tiba

248

di depan nona itu, ia lalu menjatuhkan diri

kelelahan.

“Waduh….. siocia… bisa putus napas ku kalau

begini…..“ ia terengah engah.

“Aliok, kenapa kau berlari lari?”

“Habis, nona membalapkan kuda. Saya tidak

mau tertinggal jauh. Namanya saja pelayan, tentu

harus selalu mengiringkan majikannya. Masa

harus melakukan perjalanan terpisah?”

“Salahmu sendiri !”

Yu Lee mengangkat sepasang alisnya yang

hitam tebal, memandang heran. “Lhoh ! Salah aku

sendiri bagaimana nona ?”

“Kau tidak seperti pelayan …….. eh, ku

maksud… tidak patut menjadi pelayanku.”

Yu Lee melirik ke arah pakaiannya. Pakaiannya

memang sudah sederhana, cukup patut menjadi

pelayan. “Mengapa tidak patut, nona? Memang

saya pelayan.”

“Tidak, engkau lebih pantas menjadi seorang

perantau, malah.. hemm… kau membawa tongkat

bambu, seperti pengemis muda!”

“Ahhh ini? Sesungguhnya saya…. amat takut

terhadap anjing, nona. Apalagi anjing kelaparan

dan anjing gila. Kabarnya orang bisa gila kalau

terkena gigit anjing gila, bisa gila seperti anjing.

Mengerikan sekali, sebab itu saya bawa tongkat ini

buat menjaga diri untuk mengusir kalau kalau ada

anjing mau menggigit.”

249

“Huh, setelah menjadi pelayanku, masa

terhadap anjing saja takut? Memalukan majikan

itu namanya merendahkan nama besar Sian li Eng

cu!” Gadis itu cemberut, agaknya tidak puas

mendengar betapa pelayannya ini amat penakut.

Yu Lee diam diam tersenyum.

“Kalau dekat dengan nona yang saya tahu amat

lihai tentu saya tidak takut. Biarlah sayà

menuntun kuda nona jadi saya selalu dapat

berdekatan serta tidak takut lagi digigit anjing,

juga lebih patut kalau terlihat orang!”

“Akan tetapi perjalanan menjadi lambat sekali. “

Memang itu yang dikehendaki Yu Lee.

“Mengapa nona tergesa gesa? Bukankah kita

mencari orang? Kalau tergesa gesa, siapa tahu

orang itu justeru berada di tempat yang telah kita

lewati?“

Siok Lan mengerutkan keningnya lalu bangkit

berdiri. “Hemm, betul juga. Marilah kita berangkat

lagi.”

Girang hati Yu Lee. Sudah tiga kali nona itu

membenarkan pendapatnya serta menurut.

Biarpun galak kelihatannya, tetapi sebetulnya nona

ini punya pendirian yang adil, suka mendengar

kata dan tidak membawa maunya sendiri. Sifat

seperti ini adalah sifat yang baik sekali, sebab

memperlihatkan watak yang bijaksana mau

menurut kata kata orang lain biarpun orang itu

cuma pelayan atau bujangnya.

Berangkatlah mereka. Siok Lan duduk di atas

kudanya. Yu Lee berjalan di depan kuda,

250

menuntun kuda itu. Mula mula Siok Lan yang

keisengan mengajaknya bercakap cakap bertanya

soal keluarga Yu. Bahkan bertanya tentang nama

Pendekar Cengeng.

“Kau tentu tahu, siapakah nama cucu Yu

locianpwe yang kini menjadi Pendekar Cengeng itu,

Aliok?“

Sambil tetap menuntun kuda tanpa menoleh

agar nona itu tidak melihat perubahan pada

wajannya. Yu Lee menjawab, “Yu kong cu itu

namanya Lee. “

“Bagaimana dia dahulu bisa terbebas dari

tangan Hek siauw Kui bo. Dan engkau sendiri

bagaimana bisa bebas? Bukankah Hek siauw Kui

bo membasmi seluruh keluarga itu berikut semua

binatang peliharaan yang berada di situ?”

“Waktu itu, kebetulan sekali saya pulang ke

kampung, nona. Dan ketika keesokan harinya saya

kembali ke Ki bun mereka telah tewas semua,

kecuali Yu kongcu yaag entah pergi ke mana tak

seorangpun mengetahuinya. Saya sendiri juga

tidak tahu serta tidak bisa menduga, lalu saya

hidup sebagai petani di kampung dan setahun

sekali saya mendatangi Ki bun buat

bersembahyang di kuburan. Tahun lalu saya

bertemu dengan Yu kongcu di kuburan…..”

“Bagaimana dia? Betul betul lihaikah? Mana

lebih lihai antara dia dan aku?”

“Bagaimana saya bisa tahu nona? Akan tetapi,

melihat betapa nona tadi memukul delapan orang

penjahat, pasti nona lebih lihai dari dia.”

251

Girang hati Siok Lan mendengar ini, tersenyum

senyum wajahnya berseri seri sehingga geli hati Yu

Lee ketika menengok dan mengerling ke arah wajah

yang manis itu.

“Nona yang amat lihai benar benar membuat

saya heran. Seorang nona masih begini muda

sudah memiliki kepandaian yang mengalahkan

delapan orang kepala bajak, kalau tidak

menyaksikan sendiri, mana bisa saya percaya?

Tentu nona ini murid seorang yang sakti seperti

dewa dan yang kepandaiannya agaknya lebih tinggi

dari pada mendiang Yu Kiam Sian sendiri !”

Pancingan Yu Lee ini berhasil baik sekail.

Dengan penuh semangat, tanpa ia sadari bahwa ia

telah menceritakan riwayatnya kepada pelayannya,

Siok Lan lalu berkata, “Guruku adalah kakekku

sendiri yang bernama Liero Kwat Ek dan yang

terkenal dengan julukan Thian te Sin kiam

(Pedang Sakti Bumi Langit).”

“Wah, ssorang jago pedang seperti mendiang Yu

Kiam sian!” seru Yu Lee diluar kesadarannya.

Untung ia masih ingat untuk menyebut Yu Tiang

Sin dengan julukannya, kalau lupa menyebut

kakek tentu akan terbuka rahasianya.

“Memang! Kakekku seorang jago pedang yang

amat ternama sekali di Sensi. Kakekku di Sensi

dan majikanmu di Ki bun seperti sepasang bintang

di utara dan di selatan sama cemerlang dan kalau

mau diadakan pertandingan sungguh susah

dikatakan. Ditimbang sama beratnya, diukur sama

besarnya! Akan tetapi di antara mereka tidak

pernah terjadi permusuhan maka sukar diketahui

252

siapa yang lebih lihai. Bahkan mereka menjadi

sahabat baik, sahabat seperjuangan menentang

pemerintah penjajah Goan. Seiak kecil aku dilatih

ayah sendiri yang bernama Liem Swie dan kini

masih tinggal di Sensi akan tetapi selama lima

tahun terakhir ini aku dilatih sendiri oleh kakekku

yang menurunkan ilmu simpanannya kepadaku

seorang.”

“Wah, pantas saja nona begini lihai !”

Siok Lan semakin berseri wajahnya. Biarpun

yang memujinya hanyalah seorang pelayan namun

bukanlah sembarang pelayan, melainkan bekas

pelayan Yu Kiam sian !

“Kalau tidak lihai, masa dunia kang ouw

menyebutku Sian li Eng cu? Sebaliknya bekas

majikanmu itu, biarpun menjadi pendekar, disebut

Pendekar Cengeng? Uh memalukan sekali! Ingin

kucoba sampai di mana sih kepandaiannya maka

ia begitu sombong !”

Diam diam Yu Lee merasa penasaran sekali.

Nona iai sudah dua kali mengatakan bahwa

Pendekar Cengeng sombong. Apa sih sombongnya

dan mengapa? Bukankah menurut nona ini

sendiri tadi bahwa terdapat persahabatan erat,

bahkan sahabat seperjuangan antara pendekar Yu

Kiam sian dan kakek nona ini? Meagapa nona ini

mencari Pendekar Cengeng dan hendak

menantangnya dengan sikap kelihatan marah dan

membenci?

“Nona, maafkan pertanyaanku. Mengapa nona

membenci Pendekar Cengeng? Apakah

kesalahannya terhadap nona, padahal diantara Yu

253

kongcu dan nona tidak pernah ada hubungan,

bahkan tak pernah saling jumpa !”

“Apa? Engkau hendak berfihak kepadanya?”

“Wah… tidak sama sekali nona. Hanya ingin

tahu belaka….”

“Hemm, kau pelayan tahu apa? Dia telah

menghina keluargaku tidak mamandng sebelah

mata. Ia sombong.

Yu Lee semkin terheran heran, akan tetapi tidak

berani mendesak bertanya. Sementara itu Siok Lan

juga sadar kini bahwa ia telah bicara terlalu

banyak dengan pelayannya ini sehingga ia telah

menuturkan keadaan dirinya. Hal ini menimbulkan

kejengkelannya dan ia menghardik, “Kau cerewet

benar sih! Hayo jalan lebih cepat. Perutku sudah

lapat dan hari sudah hampir gelap, itu di depan

ada dusun, kita berhenti dan makan di sana.

Sukur kalau ada, aku akan membeli seekor kuda

untukmu agar perjalanan kita dapat lebih cepat

lagi.”

“Saya rasa tidak perlu membeli kuda, nona.

Bahkan kuda nona ini pun dalam waktu tiga hari

lagi lebih baik dijual saja.”

JILID VII

SAKING kaget dan heran bercampur marah.

Siok Lan menghentikan kudanya dengan tiba tiba.

“Eh, kau bilang apa tadi?” Ia mengangkat

cambuknya dan mengancam hendak memukul.

254

“Wah, wah, jangan pukul nona. Maksud saya

baik, harap nona dengarkan dengan sabar. Kita

menuju ke kota raja, bukan? Apakah nona pernah

pergi ke kota raja, raja?”

Siok Lan yang masih marah, hanya

menggelengkan kepadanya. Makin jengkel dia

karena pertanyaan itu malah membuktikan bahwa

ia kurang pengalaman, belum pernah ke kota raja!

“Nah, kalau nona belum pernah ke sana, saya

sudah pernah! Karena itu saja lebih mengetahui

jalan. Sebab itu pula, tadi saya katakan dalam

waktu tiga hari, terpaksa kuda nona ini narus

dijual sebab dalam waktu tiga hati kita akan tiba di

kota Kaifeng dan seterusnya dari situ kita berlayar

naik perahu sepanjang Sungai Huang ho ke timur

laut, terus sampai ke teluk Pohai. Dari sana

barulah mendarat dan melanjutkan perjalanan

melalui pesisir ke utara sampai ke kota raja.

Perjalanan ini selain lebih cepat, juga labih indah

menarik dengan pemandangan pemandangan alam

yang hebat sekali. Nona pasti akan senang melihat

pemandangan pemandangan indah dari tamasya

alam sepanjang sungai dan laut.”

Bibir yang merah basah itu berjebi. “Hem aku

bukan mau pesiar denganmu!”

Bukan pesiar, tetapi mencari Pendekar Cengeng

dan perjalanan itu jauh lebih cepat serta tidak

melelahkan. Hanya sayang…. dan saya sendiri

lebih senang melakukan perjalanan melalui darat

yang melelahkan dan jauh karena perjalanan

melalui Sungai Huang ho ini penuh bahaya maut!”

255

Kembali Siok Lan terkena pancingan Yu Lee

yang cerdik serta mengetahui wataknya dengan

baik,

“Bahaya apa ?”

“Pelayaran melalui Sungai Huang ho penuh

dengan bahaya serbuan kaum bajak sungai, belum

lagi para perampok serta penjahat. Apa lagi pada

saat ini pemerintah sedang membangun terusan

Sungai Huang ho sampai ke kota raja, maka

kabarnya keadaan makin tidak aman. Laki laki

muda yang lewat suka diculik oleh para serdadu

dan dipaksa bekerja di terusan itu sampai mati.

Wanita wanita muda jaga diculik untuk para

perwira pasukan yang menjaga pekerjaan terusan

itu. Sebetulnya saya tidak berani melakukan

perjalanan lewat di situ, hanya mengandalkan

kelihaian pedang nona. Akan tetapi kalau nona

juga merasa takut, lebih baik ….”

“Apa?? Aku….. takut…….?? Jangan ngaco belo

kau, ya? Kaulihat saja nanti, kubasmi semua

penjahat yang menghalang di jalan. Barlah mereka

tahu bahwa Sian li Eng cu tak boleh dibuat main

main dan jalan menuju ke kota raja akan menjadi

bersih daripada pangguan penjahat setelahaku

lewat. Kita jalan melalui Sungai Huang ho !”

“Dan kuda ini akan dijual nanti di Kaifeng

nona?”

Yu Lee menuntun kuda itu serta melanjutkan

perjalanan menuju ke dusun yang sudah tampak

di depan. Diam diam ia tersenyum.

256

Apa yang dikatakan Yu Lee kepada Siok Lan

perihal penggalian terusan itu memang betul

bukan sekedar cuma pancingan belaka agar si

nona mau melanjutkan perjalanan melalui Sungai

Huang ho. Pada waktu itu, Kaisar Kubilai Khan

yang memerintah kerajaan Goan, melihat perlunya

diadakan perhubungan yang baik sekali ke selatan

demi lancarnya pengiriman barang terutama bahan

makanan. Bahan makanan terutama beras

terdapat banyak sekali di lembah Sungai Yang ce,

maka untuk melancarkan pengangkutan bahan

makanan ke kota raja, kaisar memerintahkan

untuk menggali terusan dari Sungai Huang ho ke

kota raja.

Terusan antara Yang ce dengan Huang ho

memang sudah ada, yaitu peninggalan dari jaman

kerajaan Sui dan Sung dahulu. Seperti juga keiika

diadakan penggalian terusan di jaman Sui dan

Sung itu kini kerajaan Goan, apalagi sebagai

kerajaan penjajah, rakyatlah yang menjadi korban.

Buat pekerjaan menggali terusan sampai ke

kota raja ini memerlukan banyak sekali tenaga

manusia. Dan buat memenuhi kebutuhan ini para

petugas serta pembesar, demi melaksanakan

perintah kaisar melakukan paksaan kepada rakyat.

Laksaan rakyat dan ratusan ribu petani dipaksa

meninggalkan sawah ladang serta keluarganya

buat dipekerjakan dalam penggalian ini.

Mereka dipaksa bekerja melebihi kuda beratnya

serta tidak mesdapat jaminan selayak nya sehingga

banyak sekali diantara mereka meninggal dalam

257

kerja paksa itu. Kalau sudah mati dikubur

sejadinya di tepi sungai.

Bagaimana dengan sawah ladang mereka di

dusun? Ada yang “membereskannya”, yaitu para

tuan tanah yang menjadi raja raja kecil di setiap

dusun. Bukan hanya sawah ladang yang dirampas,

tetapi juga isteri muda yang cantik dan anak anak

gadis remaja dirampas buat dipaksa menjadi selir

oleh tuan tanah dan kaki tangannya. Anak lelaki

otomatis menjadi buruh tani yang nasibnya tidak

lebih dari pada budak belian.

Kebencian rakyat terhadap pemerintah penjajah

dan “raja kecil” di dusun, kehidupan rakyat yang

morat marit, dendam yang bertumpuk tumpuk,

semua ini tentu saja menimbulkan akibat yang

sangat tidak baik. Kekacauan, timbullah

pemberontak pemberontak kecil kecilan dalam

bentuk gerombolan gerombolan yang mengganggu

keamanan.

Rakyat pula yang makin menderita. Di satu

fihak takut kepada tangan tangan kejam

pemerintah yang setiap saat siap untuk menciduk

mereka untuk dijadikan pekerja paksa, di lain

fihak takut kepada gerombolan gerombolan yang

menjadi pengganggu siapa saja tanpa mengenal

hukum.

Dan dalam keadaan jaman seperti itulah Yu Lee

melakukan perjalanan bersama Siok Lan bahkan

mendekati daerah “angker, daerah gawat karena

pelayaran melalui Sungai Huang ho itu akan

melewati terusan yang kini sedang dilanjutkan

penggaliannya menuju ke utara, ke kota raja!

258

Dua hari kemudian, mereka telah tiba di luar

kota Kaifeng, kota besar bekas kota raja yang amat

ramai yang terletak di lembah Sungai Huang ho ini.

Yu Lee masih berjalan menuntun kuda, pakaian

dan mukanya penuh debu dan keringat, sehingga

kini ia agak patut menjadi pelayan Siok Lan duduk

di atas pelana kudanya, melenggut dan mengantuk

karena hawa amat panasnya di siang hari itu,

apalagi musim kering membuat jalan berdebu.

Karena kudanya dituntun sehingga ia tidak perlu

memperhatikan jalan lagi. Siok Lan menjadi

mengantuk dan tidur ayam sambil duduk di atas

punggung kuda

“Nona yang mulia mohon sudi membantu !”

Siok Lan membuka matanya memandang ke

depan. Ternyata di pinggir jalan itu berdiri seorang

pengemis penuh tambalan, memegang tongkat

yang dipakai bersandar dengan tangan kirinya,

sedangkan tangan kanannya memegang sebuah

mangkok retak.

Dari rambutnya yang panjang awut awutan

sampai kakinya yang telanjang dan pakaiannya

yang butut, jelas dia seorang pengemis biasa, akan

tetapi anehnya, pengemis yang berpakaian butut

itu memakai sabuk merah yang melibat

pinggangnya. Dan sabuk merah ini dari sutera

yang masih baru dan bersih

“Lopek, harap kau orang tua suka memaafkan

kami, biarlah kali ini kami tidak memberi apa apa

dan lain kali saja akan kami beri sumbangan

kepadamu. Harap lopek ketahui bahwa nona

majikanku ini sedang melakukan perjalanan jauh

259

sekali ke kota raja dan karenannya memerlukan

biaya yang banyak.” Demikian Yu Lee berkata

dengan suara halus kepada kakek pengemis itu.

Siok Lan merasa sebal mengapa pelayannya

bersikap begitu menghormat dan halus terhadap

seorang pengemis! Akan tetapi sebelum ia sempat

menegur, pengemis itu sudah membuka mulut nya

lagi dan kali ini bernyanyi dengan suara parau,

akan tetapi hanya perlahan seperti berbisik

sehingga hanya mereka berdua saja yang

mendengarnya :

Membanting tulang bekerja paksa

anak bini di rumah menderita

tanpa makan tiada upah

mengharap nona memberi sedekah

Siok Lan marah. Nona ini melihat betapa Aliok

memandang dan betkedip seperti memberi isyarat

atau mencegah kemarahannya akan tetapi ia tidak

perduli, bahkan makin mendongkol karena Aliok

tampaknya begitu takut terhadap jembel tua yang

banyak lagu itu. Ia menudingkan telunjuknya ke

arah muka pengemis sambil membentak.

“Sungguh engkau ini jembel tua yang tidak

tahu malu! Jelas engkau seorang pemalas yang

tidak mau bekerja, becusnya hanya minta minta

saja, akan tetapi masih bicara tentang bekerja

keras dan membanting tulang! Cih, tak tahu malu.

Masih mempunyai sabuk sutera merah yang tentu

dapat kau tukar dengan nasi untuk dimakan tetapi

ada muka untuk mengemis! Hayo pergi!”

260

Akan tetapi kakek itu tidak mau pergi, juga

pada wajahnya yang berdebu tidak tampak

perubahan, seolah olah kemarahan dan ucapan

Siok Lan itu dianggapnya seperti tingkah seorang

anak kecil saja. Malah ia menengadahkan

mukanya ke atas dan bernyanyi lagi, kini suaranya

yang parau terdengar lantang dan gagah, tidak

berbisik seperti tadi.

Dengan sabuk merah di pinggang

sampai mati kami berjuang

Siok Lan makin panas hatinya. Dengan gerakan

kilat tubuhnya mencelat dari atas kudanya lalu

berdiri di depan pengemis iiu

Sengaja ia memperlihatkan ginkangnya yang

hebat dan kini ia berdiri sambil bertolak pinggang

di depan kakek pengemis itu terus berkata.

“Rupanya engkau bukan jembel sembarangan,

melainkan seorang anggauta kaigang

(perkumpulan pengemis). Akan tetapi tidakkah

engkau tahu siapakah aku ?”

Pengemis tua itu melihat tajam sejenak ke pada

Siok Lan, lalu melirik ke arah Yu Lee kemudian

berkata sambil merangkap kedua tangan di depan

dada, “Maaf bahwa saya yang bodoh tidak

mengenal nona. Akan tetapi saya cuma tahu

sebuah hal yaitu bahwa tiada seorang gagah akan

menolak buat membantu kami yang miskin. Harap

nona tidak terkecuali dan suka membantu kami

dengan sedekah.”

“Aku tidak punya uang!”

261

“Uang tidak berapa perlu, kuda serta pedang

nona itu cukuplah…….”

“Jembel busuk! Kau buka mata serta telinga

lebar.lebar! Aku adalah Sian li Eng cu, tahukah

engkau? Aku adalah cucu dan juga murid Thian te

Sin kiam mengertikah engkau ?”

“Maaf.. maaf…. tentu saja saya telah

mendengar nama besar Thian te Sin kiam yang

amat kami hormati….”

“Nah, kalau sudah tahu, lekas minggir jangan

menghalangi jalan dan membuat malu saja

kepadaku!” Bentak Siok Lan memotong kata kata

Yu Lee yang merendah serta membujuk pengemis

itu.

Si pengemis menghela napas panjang, “Ahh

andaikata kakekmu sendiri yang lewat, tentu

beliau tidak akan menolak permintaanku dan

memberikan seluruh harta benda yang dibawanya.

Percuma saja engkau mengaku murid dan cucu

Thian te Sin kiam kalau begini pelit….”

“Apa kau bilang? Jembel busuk bermulut

lancang! Kau sendiri yang tidak tahu malu! Mana

di dunia ini ada orang mengemis secara paksa?

Kau ini pengemis atau perampok? “ Siok Lan

makin marah, sepasang pipinya sampai merah

sekali dan matanya bercahaya seperti kilat.

“Sudah menjadi peraturan perkumpulan kami

jika seorang budiman memberi sedekah secara

sukarela dan tulus ikhlas, biarpun hanya sekepal

beras dan sesuap nasi akan kami terima dengan

rasa syukur serta berterima kasih. Sebaliknya, jika

262

berhadapan dengan orang pelit tidak berpribudi

kami akan memilih sendiri sedekahnya. Maka saya

sekarang memilih sendiri kuda serta pedang nona!”

“Ngaco belo ! Perkumpulanku itu apakah?

Berani mengeluarkan peraturan petaturan seenak

parutnya sendiri!”

Pengemis itu tiba tiba lenyap sifatnya yang

merendah, kini bardiri tegak lalu menunjuk sabuk

sutera merahnya itu yang melilit di perut. “Kami

adalah anggauta Ang kin kai pang (Perkumpulan

Pengemis Sabuk Merah) dan peraturan peraturan

yang di keluarkan pangcu (ketua) kami, biar kaisar

sendiripun tidak boleh melanggarnya !”

Siok Lan merasa betapa ujung bajunya dibetot

orang dari belakang. Ia menoleh dan melibat Aliok

kembali berkedip kepadanya seperti orang memoeri

isyarat, memang Yu Lee yang sudah mendengar

tentang Ang kin kai pang dan tadipun sudah

mengenal pengemis ini tidak menghendaki si nona

bertengkar dan mengharapkan Siok Lan mengalah

saja. Akan tetapi cegahan cegahanaya dengan

kedipan mata itu dianggap oleh Siok Lan bahwa dia

takut terhadap si pengemis, bahkan menambah

kemarahan gadis itu.

“Boleh jadi kaisar akan takut menghadapi Ang

kin kai pang, akan tetapi aku Sian li Eng cu tidak

gentar menghadapinya! Aku tidak mau

memberikan pedang dan kudaku kepadamu, dan

hendak kulihat kau mau dan bisa apa!” Gadis itu

berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang,

sikapnya gagah dan memandang rendah

263

Wah, berabe! Demikian pikir Yu Lee yang tahu

bahwa pertandingan takkan bisa dielakkan lagi. Ia

sudah mendengar perihal Ang kin kai pang yang

merupakan sebuah perkumpulan pengemis

terbesar dan berpengaruh di waktu itu. Ang kin kai

pang merupakan perkumpulan tokoh tokoh berjiwa

patriot yang mementang kekuasaan kerajaan Goan

serta sudah banyak melakukan kekacauan

kekacauan dan membunuhi pembesar pembesar

Mongol.

Juga perkumpulan ini bergerak membantu para

pekerja paksa, diam diam menjamin ransum

kepada mereka, menyogok para petugas agar

meringankan beban mereka, atau membunuh para

petugas yang terlalu kejam. Mengumpulkan dana

dana buat menanggung beban hidup para keluarga

yang ditinggalkan suami atau ayah mereka dalam

melakukan kerja paksa menggali terusan.

An kin kai pang selain besar juga dipimpin oleh

orang orang yang berilmu tinggi! “Menurut kabar

yang ia dapat, ketuanya adalah seorang tokoh kang

ouw yang bernama Ang Kwi Han dan terkenal

dengan sebutan Ang pangcu ( ketua Ang ) atau juga

terkenal sebagai kai ong (raja pengemis). Ilmunya

amat tinggi dan dalam urutan tingkat ilmu yang

diatur rapi dalam perkumpulan, dia adalah seorang

yang tingkatnya tertinggi. Yang tingkatnya nomor

dua adalah pengemis pengemis yang membawa

pedang beronce merah besar sebanyak dua buah,

tingkat nomor tiga yang ronce di pedangnya ada

tiga pula, tetapi kecil sedikit. Begitu seterusnya

makin menurun tingkatnya, makin banyak

264

roncenya yang menghias gagang pedang akan

tetapi makin kecil pula bentuknya.

Yu Lee tidak melihat pengemis yang

menghadapi Siok Lan ini berpedang, maka ia tidak

tahu pengemis ini termasuk tokoh tingkat berapa

dalam Ang kin kai pang, tetapi melihat gerak

geriknya membayangkan bahwa pengemis ini

bukan orang sembarangan.

“Nona, perjalanan kita masih amat jauh, perlu

apa mencari keributan di sini? Lebih baik berikan

kuda ini kepadanya dan kita melanjutkan

perjalanan dengan jalan kaki. Betapapun juga

kuda ini sesampainya di Kaifeng toh akan kita

tinggalkan.”’

“Diam kau! Jangan turut campur! Kalau jembel

ini minta dengan baik baik, tentu aku tidak begini

pelit. Akan tetapi dia punya peraturan, akupun

punya peraturan. Kalau orang minta minta

kepadaku dengan baik, akan kuberi hadiah

sebanyaknya. Tapi kalau minta dengan paksa,

jangankan kudaku, buntut kuda sehelaipun dia

tidak boleh ambil !”

“Bagus! Jalan ke Kaifeng kelihatan dekat tetapi

tidak mudah kau capai dengan sikapmu itu, nona.

Karena kau melanggar peraturan kami, maka kau

baru boleh melanjutkan perjalananmu ke Kaifeng

kalau kau sudah dapat mengalahkan aku si

pengemis bodoh!” Setelah berkata demikian,

pengemis itu menggerakkan tangan kanannya dan

terdengar bunyi berdesing dan tercabutlah

sebatang pedang dari dalam tongkatnya yang butut

tadi. Kiranya tongkat itu merupakan sebuah

265

sarung pedang sehingga pedangnya sendiri

tersembunyi. Kiranya gagang tongkat itu adalah

gagang sebatang pedang yang berkilauan saking

tajamnya dan tampak kini hiasan ronce merah

sebanyak lima buah! Wah, pikir Yu Lee, kiranya

adalah seorang tokoh Ang kin kai pang yang

bertingkat lima.

Di samping kekhawatirannya karena Siok Lan

mencari keributan dengan aggauta perkumpulan

pengemis yang besar dan berpengaruh itu, juga di

hati Yu Lee timbul keinginan menyaksikan

kelihaian pengemis itu, juga ke lihaian “nona

majikannya” dalam melawan.

Ia lalu menarik kuda diajak minggir,

mengikatkan kendali kuda pada sebatang pohon

kemudian dia sendiri berdiri untuk menonton

pertandingan itu, siap siap untuk mencegah

terjadinya pertumpahan darah yang membawa

maut.

Sementara itu, melihat si pengemis mencabut

sebatang pedang dari tongkatnya, Siok Lan makin

marah.

“Singg…!” Tangannya mencabut pedang dan

telunjuk kirinya menuding, “Sikeparat, maka

tampaklah belangmu! Engkau berkedok pengemis

padahal pada dasarnya memang seorang penjahat.

Perampok berpedang yang menyamar sebagai

pengemis bertongkat! Hari ini bertemu Sian li Eng

cu, berarti akan berakhir praktek kejahatan mu.”

Setelah berkata demikian, tanpa menanti

jawaban pengemis itu Siok Lan sudah menerjang

maju dengan pedangnya. Gerakan nona ini

266

memang amat cekatan dan pedangnya yang

menyambar itupun cepat laksana kilat, tahu tahu

sudah meluncur ke arah dada pengemis tua itu.

“Bagus!” teriak si pengemis yang juga sudah

menggerakkan pedang, menangkis dari kiri dengan

ujung pedang digetarkan.

“Cringgg….!!” Pedang yang bertemu di udara itu

mengeluarkan bunyi nyaring, terutama sekali

pedang perak di tangan Siok Lan, sehingga

menimbulkan nyeri pada telinga, Siok Lan terkejut

karena ada getaran yang kuat menyelinap dari

pedangnya memasuki lengan, membuat lengannya

tergetar dan kesemutan.

Jelas bahwa hal ini membuktikan betapa kuat

tenaga sinkang fihak lawannya. Namun ia tidak

gentar dan mempercepat gerakannya, tahu tahu

tubuhnya sudah menyambar lagi, pedangnya

membabat kaki disusul tendangan kak kiri ke arah

lambung lawan

“Aiihhh……!” Pengemis itu berseru kaget. Begitu

cepatnya gerakan nona muda itu sehingga sukar

diikuti pandangan mata. Tahu tahu ujung pedang

gadis itu sudah dekat dengan kaki. Cepat ia

meloncat ke atas dan ketika kaki Siok Lan

menyambar lambung dengan tendangan kuat,

membacok ke arah kaki gadis itu dari atas.

Siok Lan maklum akan bahayanya hal ini cepat

ia menarik kembali kaki kirinya dan kembali

pedangnya membabat dengan bacokan ke arah

leher begitu tubuh lawan sudah turun kembali.

267

Hal ini dapat pula dielakkan oleh si pengemis

yang berjongkok dan berbareng dari bawah

menusukkan pedangnya ke arah perut Siok Lan.

Dara perkasa ini cepat menekuk siku menangkis

tutukan lawan dengan pedang.

Kembali kedua pedang beradu menimbulkan

suara nyaring. Selanjutnya dalam waktu singkat

dua orang itu telah terlibat dalam pertandingan

yang seru dan mati matian. Dua batang pedang itu

lenyap bentuknya, berubah menjadi dua gulung

sinar pedang. Akan tetapi biarpun kedua pedang

itu sama sama menjadi sinar putih pedang perak di

tangan Siok Lan lebih cemerlang sinarnya,

merupakan gulungan sinar perak yang memanjang

dan lincah menyambar ke sana sini sehingga

gulungan sinar lawan terkurung, terdesak dan

terhimpit.

Yu Lee yang berdiri menonton, setelah

pertandingan lewat tiga puluh jurus, maklum

bahwa ilmu pedang Siok Lan jauh lebih menang

dalam hal pariasi dan gerak tipu, terutama sekali

menang dalam kecepatan. Hal ini tak dapat ditutup

oleh kemenangan pengemis itu dalam kekuatan

sinkang dan ia tahu bahwa kalau dilanjutkan,

tidak sampai sepuluh jurus lagi kakek pengemis

itu tentu akan menjadi korban gin kiam yang

berada di tangan nona ganas itu. Ia bingung dan

hendak mencari akal untuk mencegah hal ini. Tiba

tiba ia terkejut.

Kakek itu dengan tangan kirinya telah

mengeluarkan mangkok bubur dari saku bajunya.

Saat itu Siok Lan sedang menerjang dengan

268

pedangnya ke tubuh bagian bawah si pengemis

yang sudah terdesak. Peugemis itu hendak

mengadu jiwa karena ia sama sekali tidak

mengelak, sebaliknya membarengi dengan tutukan

pula ke dada Siok Lan dan tangan kirinya yang

memegang mangkok retak dihantamkan ke arah

pelipis gadis itu! Gerakan pengemis itu jelas

merupakan gerakan orang nekad yang hendak

mengadu jiwa tidak memperdulikan sambaran

pedang Siok Lan ke arah lambungnya itu.

Pedang gadis itu pasti akan memasuki

lambungnya, akan tetapi kedua serangannya pun,

salah satu dan agaknya mangkok itu, akan

mengenai sasarannya pula.

Melihat ini, Yu Lee yang sudah memegang

beberapa butir kerikil cepat mengayunkan tangan.

Sebuah kerikil mengenai pergelangan tangan Siok

Lan yang memegang pedang, dan dua buah kerikil

mengenai kedua pergelangan tangan pengemis itu!

Siok Lan berseru kaget, pedangnya menyeleweng

dan cuma berhasil melukai paha si pengemis.

Sambaran kerikil ke arah kedua pergelangan

tangan pengemis itu mengandung tenaga lebih

kuat dan ……. pedang serta mangkok pengemis itu

terlepas dari pegangan, mangkoknya pecah pecah

dan pedangnya jatuh ke tanah. Siok Lan yang

kaget sudah lompat mundur memegangi

pedangnya, tangannya masih kesemutan karena

sambaran kerikil tadi. Ia terheran heran dan

terkejut, sama sekali tidak tahu bahwa yang

membuat tangannya lumpuh adalah sebutir kerikil

269

yang dilemparkan Aliok, menyangka bahwa si

pengemis itulah yang melakukan hal ini.

Di lain fihak, pengemis itu terguling dam jatuh

berlutut. Paha kirinya terluka mengeluarkan

darah. Yu Lee yang mau mencegah supaya Siok

Lan tidak mererjang lagi lawannya yang sudah

terluka itu cepat lari menghampiri pengemis itu

dan sebelum Siok Lan dapat mencegah, ia sudah

memegang pundak pengemis itu, berusaha

membangunkan sambil berkata.

“Lopek, nona majikanku sedang melakukan

perjalanan jauh, harap lopek sudahi saja

pertengkaran ini…”

Pengemis itu berusaha bangkit, namun tak

sanggup. Bahkan ketika ia mengerahkan tenaga

untuk bergerak, sama sekali tubuhnya tak dapat

digerakkan. Ia merasa betapa kedua tangan

pelayan itu menindih pundaknya seperti dua buah

gunung raksasa! Ia merasa penasaran sekali,

mengumpulkan tenaga dari pusar lalu

mengerahkan sinkang. Namun makin kagetlah ia

dan terpaksa meringis kesakitan ketika tenaga

sinkangnya itu sampai ke pundak bertemu dengan

telapak tangan si pemuda pelayan, tenaganya itu

membalik dengan cepat. Tentu ia akan celaka dan

terluka kalau saja ia tidak cepat cepat

membnyarkan tenaganya sendiri. Ia mengaadah

dan memandang wajah pelayan itu. Terkejut ia

melihat betapa sinar mata pemuda itu sangat

tajam berpengaruh, sampai sampai ia bergidik.

Kemudian ia mengangguk anggukkan kepala,

berkata lirih. “Sungguh tak tahu malu…… seperti

270

seekor tikus berani menantang naga….!” Pengemis

iu lalu berdiri terus memungut pedang dan

mangkoknya yang sudah pecah, memasukkan

pedang ke dalam tongkat, kemudian pergi dari situ

dengan kepala tunduk dan langkah terpincang

pincang.

Siok Lan menyarungkan gin kiam dan

mengangkat dada, menepuk nepuk debu yang

mengotori bajunya. “Huh, tak tahu diri! Kalau tadi

tadi mengaku tikus bertemu naga, tentu tak perlu

aku mencabut pedang.” Ia menggerutu lalu

menghampiri kudanya.

“Untung kelihaian nona bermain pedang

membuat dia kalah dan mundur.” kata Yu Lee,

“Akan tetapi bagaimana, kalau kawan kawannya

nanti datang? Tentu diantara kawan kawannya

ada yang lebih lihai. Oleh karena itu, kuharap

nona sukalah berlaku sabar dan tidak meladeni

mereka. Di Kaifeng banyak sekali orang orang kai

pang.”

“Hemm…. kaukira aku tidak tahu? Biarpun

aku belum pernah melakukan perjalanan ke kota

raja seperti engkau, akan tetapi pengertianku

tentang dunia kang ouw jauh lebih luas dari pada

pengetahuanmu. Aku tahu akan Ang kin kai pang,

tahu pula dari kakekku bahwa ketuanya bernama

Ang Kwi Han yang berjuluk Kai ong dan memiliki

ilmu pedang yang amat tinggi tingkatnya, kabarnya

pernah Ang Kwi Han itu dengan pedangnya

mengalahkan si iblis betina Hek siauw Kui bo!

Akan tetapi kalau orang tua she Ang itu tidak

becus mendidik anak buahnya yang bersikap edan

271

edanan serta seperti perampok mengganggu orang

lewat tampa pilih bulu, akupun tidak takut

menghadapinya!”

Yu Lee menggerakkan pundaknya. Sukar

mengatur serta mengatasi gadis ini! Kalau saja

hatinya tidak begitu terikat oleh semacam

kekuatan gaib yang membuatnya tidak berdaya,

kalau saja hasratnya tidak begitu menyala nyala

serta tertarik buat dia untuk tetap bisa selalu

berdekatan, untuk setiap saat dapat memandang

wajah itu, bertemu pandang dengan sinar mata

yang begitu cemerlang, melihat mulut berkembang

mengarah senyum seperti munculnya matahari

pagi kalau saja ia tidak jatuh bangun dalam cinta

asmara terhadap Siok Lan, tentu saat itu juga ia

sudah pergi meninggalkannya!

“Saya tahu kelihaianmu, nona. Saya hanya

mengharap agar tidak ada lagi perkelahian

perkelahian itu. Melihat nona bertanding pedang,

ihh… sungguh mengerikan sekali. Bagaimana

kalau sampai nona terbacok atau tertusuk pedang

lawan?”

“Tak mungkin !” jawab Siok Lan. Dia kalah dan

terbacok? Rasanya tidak mnngkin hal itu bisa

terjadi. Akan tetapi melihat sinar mata pelayannya

yang penuh kekhawatiran, ia melanjutkan. “Kalau

kena paling paling juga terluka dan paling hebat

mati!”

Mendengar jawaban yang dikeluarkan secara

tak acuh ini. Yu Lee menghela napas untuk

menekan perasaannya yang tergoncang. “Kalau

272

hanya terluka, tentu saja dapat mengusahakan

obatnya, akan tetapi kalau sampai mati.”

“Habis kenapa? “

“Kalau nona mati… bagaimana saya dapat

melakukan perjalanan bersama dan melanjutkan

ke kota raja? “ Siok Lan tertawa geli dan menutupi

mulutnya, lalu meloncat naik ke punggung

kudanya. “Aihh kau aneh sekali Aliok. Kalau aku

mati, kau dapat melanjutkan perjalananmu

seorang diri, atau mencari majikan baru. Mengapa

susah susah?“

Gadis itu tidak tahu betapa jawabannya yang

berkelakar ini seperti pisau menusuk jantung Yu

Lee. Pemuda itu menyambar kendali di hidung

kuda dan menuntun binatang itu. Kini ia berjalan

di depan kuda membelakangi nona majikannya

dan terdengar suaranya

“Mari kita berangkat siocia. Jangan sampai

kemalaman di Kaifeng, sukar mencari tempat

penginapan kalau sudah malam, penuh oleh

tamu.”

Hanya semalam mereka bermalam di Kai feng,

kota yang besar dan ramai itu Siok Lan menyewa

sebuah kamar, sedangkan Yu Lee yang kehabisan

kamar bujang, yaitu kamar besar dimana para

bujang dari tamu tamu tidur menjadi satu,

terpaksa tidur di emper, di luar kamar Siok Lan di

bawah jendela. Akan tetapi bagi Yu Lee hal ini

amat menyenangkan hatinya, sebab biarpun tidur

di atas lantai, ia berdekatan dengan “nona

273

majikan” yang makin lama makin menguasai cinta

kasihnya itu.

Pada keesokan harinya Yu Lee berhasil

menjualkan kuda nonanya, kemudian mereka pergi

ke pangkalan perahu di Sungai Huang ho yang

amat besar.

Karena perutnya merasa lapar, Siok Lan lalu

mengajak Aliok untuk makan di sebuah restoran di

pinggir sungai.

Hawa di siang hari itu amat panas, Siok Lan

lalu mengajak Aliok duduk di kursi terdepan, di

dekat pintu masuk restoran itu. Sambil duduk

meaghadapi meja, mereka dengan mudah bisa

melihat keramaian di luar restoran, dimana terlihat

kesibukan para pedagang serta para nelayan,

pengangkutan barang barang dari dan ke perahu

perahu yang banyak terdapat di pangkalan itu.

Pagi hari tadi Yu Lee telah mencari perahu buat

disewa melakukan pelayaran sampai ke teluk

Pohai, akan tetapi tidak ada satupun tukang

perahu yang mau menyewakan perahu nya buat

pelayaran melalui jarak sejauh itu.

“Kami hanya melakukan pelayaran di sepanjang

Huang ho dan sebelum tiba diterusan, kami sudah

kembali lagi ke sini. Dalam waktu seperti sekarang

ini, siapa berani menyeberangi terusan?” Demikian

rata rata jawaban tukang perahu sehingga

menjengkelkan hati Siok Lan dan akhirnya nona

itu mengajak pelayannya untuk mengaso dan

makan di restoran itu.

274

“Sialan!” Siok Lan mengomel. “Tukang tukang

perahu pengecut dan penakut! Kalau tidak ada

yang berani mengantar akan kubeli saja perahunya

dan kita dayung sendiri!”

Yu Lee hanya tersenyum, kagum akan

keberanian nona ini. Untuk menghibur hati nona

itu, ia berkata, “Harap siocia jangan khawatir. Saya

rasa dengan bayaran yang memadai ada juga nanti

tukang perahu yang berani membawa kita ke

sana.”

“Sekarang lebih baik nona makan dulu,

masakan apakah yang hendak dipesan, akan saya

sampaikan kepada pelayan restoran.”

“Hemm, apa sajalah! Asal enak, aku tidak tahu

masakan apa yang paling enak di sini.”

“Saya tahu nona. Di Kai feng ini bumbu

masakannya rata rata agak manis, berbeda dengan

di selatan. Akan tetapi, yang paling tersohor adalah

masakan ikan kakap merah dimasak saus tomat.

Bukan main enaknya, gurih dan sedap. Maukah

nona mencoba? “

Siok Lan tersenyum sedikit. Makin lama makin

suka ia kepada pelayannya yang ternyata penurut,

sopan dan pandai menggembirakan hati, juga

agaknya pelayan ini tidak begitu bodofe tahu akan

tempat tempat asing. Terhibur sedikit hatinya yang

mendongkol sebab penolakan tukang tukang

perahu tadi.

“Boleh, sesukamulah asal enak enak kataku

tadi, jangan lupa arak yang baik, yang sedang

kerasnya.”

275

Setelah Yu Lee memberitahu pengurus restoran

dan pengatur pesanan, tidak lama kemudian

pelayan datang membawa baki besar terisi

beberapa macam masakan daging dan sayur,

sepiring besar ikan kakap merah yang semua

digoreng kering dan dibumbui saus tomat yang

kemerahan. Melihat saja sudah menimbulkan

selara dan membuat orang menelan lir liur! Setelah

lengkap dengan minumannya, Siok Lan memberi

isyarat kepada Yu Lee dan makan minumlah

mereka. Biarpun Yu Lee pada waktu itu dianggap

sebagai seorang pelayan oleh Siok Lan namun

gadis ini tidak terlalu memakai banyak peraturan

serta selalu mengajak si pelayan makan bersama!

Kepolosan watak ini makin mengagumkan hati Yu

Lee yang menganggap Siok Lan seorang gadis yang

paling cantik, paling baik, paling menyenangkan

dan paling menimbulkan kasih sayang di dunia ini.

Begitulah kalau seorang pria sudah bertekuk lutut

dalam cinta asmara!

“Aliok hayo ambil dagingnya! Masa kau cuma

makian sirip, buntut, kepala dan tulang tulang

saja!”

Biarpun berkali kali Siok Lan mendesak dan

Yu Lee mengangguk, namun tetap pemuda ini

tidak mau mengambil daging yang paling gemuk

dari ikan kakap di depan mereka. Hal ini bukan

karena dia malu malu, bukan pula sebab terlalu

sayangnya kepada si nona saja, melainkan bagi dia

ialah, bagian yang paling lezat dari sebuah ikan

adalah sirip, buntut, kepala dan daging yang

menempel pada tulang.

276

Maka dia lebih suka menggerogoti tulang dari

pada mengambil daging yang empuk, sehingga, di

atas meja dekat mangkoknya terdapat tumpukan

tukang tulang ikan yang runcing.

Baru saja keduanya selesai makan dan minum,

duduk terhenyak kekenyangan di atas kursi

masing masing, tita tiba terdengar suara yang kecil

tinggi. “Kasihanilah kami, nona yang budiman …….

!”

Mereka berdua menengok dan berubahlah

wajah mereka. Yu Lee melihat kaget serta khawatir,

sebaliknya Siok Lan melihat marah. Kiranya yang

mengucapkan kata kata tadi adalah dua orang

pengemis berusia enam puluhan tahuan, pakaian

mereda butut tetapi pinggang mereka memakai

sabuk sutera merah! Sekali melihat saja

maklumlah Siok Lan serta Yu Lee bahwa dua orang

pengemis tua ini adalah kawan kawan dari

pengemis yang mereka usir di jalan tadi, serta

agaknya dua orang pengemis ini sengaja datang

untuk membalas dendam dan pasti mereka ini

memiliki tingkat yang lebih tinggi.

Siok Lan marah, akan tetapi ia menekan

kemarahannya dan masih enak enak duduk, lalu

bertanya dengan suara ketus “Kalian ini datang

mau apakah? “

Pengemis yang tertua yang mempunyai tahi

lalat besar di pelipis kanannya, berkat sambil

bersandar pada tongkat dan mengangkat mangkok

retaknya ke arah Siok Lan.

“Saya bernama Ang Ci dan bersama suteku ini

Ang Sui kami telah mendengar dari Ang Kun

277

tentang kemurahan hati nona yang suka sekali

memberi sedekah dan sumbangan kepada orang

orang miskin seperti kami. Karena itu kami sengaja

datang untuk mohon kasihan dan sedekah dari

nona.”

Siok Lan tadinya sudah marah sekali, akan

tetapi dasar wataknya memang jenaka dan

gembira, mendengar ucapan kakek itu yang

menyebut nama mereka, ia melihat kelucuannya

dan tertawa geli, “Aihhh, kiranya kalian dari Ang

kin Kai pang ini merupakan sebuah keluarga besar

yang mempunyai she ( nama keturunan) Ang?

Lucu sekali!”

“Kami memang dari keluarga besar Ang dan hal

ini sama sekali tidak ada lucunya. Harap nona

sebagai cucu Thian te Sin kiam suka

berpemandangan jauh, agar tidak mengecewakan

orang yang menjadi kakek dan guru,” kata

pengemis kedua yang mukanya kuning.

Kini Siok Lan tak dapat menahan

kemarahannya. Ia bangkit berdiri dari kursinya

dan membentak, “Jembel busuk mengapa banyak

cerewet dan membawa bawa nama kakekku?

Kalian dan golongan kalian inilah yang

berpemandangan cupat. Orang minta sedekah

harus mempunyai tata susila, harus sopan dan

dengan sukarela mengharapkan bantuan orang

Akan tetapi kalian melakukan paksaan, sungguh

pekerjaan yang hina dan rendah melebihi

perampok. Kalau perampok, mereka minta dengan

paksa secara terang terangan, sebaliknya kalian ini

278

minta secara paksa .berkedok pengemis! Aku tidak

mau memberi apa apa, kalian mau apa kah? “

Ucapan Siok Lan yang dilakukan dalam

keadaan marah ini menimbulkan keributan dan

menarik perhatian orang sehingga para tamu

dalam restoran itu kini menengok, bahkan mereka

yang tadinya bekerja menghentikan pekerjaan

mereka dan menengok.

Namun mereka semua itu tampak kaget ketika

melihat bahwa yang dimarahi gadis cantik itu

adalah dua orang pengemis tua yang bersabuk

sutera merah! Bagi mereka, sabuk sutera merah ini

merupakan tanda yang sudah amat dikenal dan

ditakuti. Siapakah yang tidak mengenal Ang kin

Kai pang perkumpulan pengemis gagah perkasa

yang berani menantang pemerintah dan yang telah

banyak bekerja membantu para pekerja paksa

pembuat terusan air? Dan sekarang ada seorang

nona muda berani marah marah terhadap mereka!

Ang Ci yang bertahi lalat di pelipisnya itu

tersenyum, lalu berkata suaranya masih tenang

seperti tadi, tinggi kecil suaranya, seperti suara

wanita.

“Nona, justeru mengingat nama besar Liem

Kwat Ek kakekmu, kami masih bersikap mengalah

kepadamu. Akan tetapi harus nona ketahui bahwa

Thian te Sin kiam sendiri tidak akan berani

bersikap seperti nona terhadap kami. Karena itu

kami pun akan menghabiskan urusan ini asal

nona mau menyumbangkan pedang nona kepada

kami!”

279

Yu Lee tahu bahwa biarpun Siok Lan berada di

fihak benar, namun nona ini telah melanggar

sopan santun dan peraturan dunia kang ouw, tidak

mengindahkan perjuangan Ang kin Kai pang maka

kini mendengar bahwa dua orang pengemis itu

mau menghabiskan perkara asalkan si nona suka

memberikan pedang, yang dalam dunia kang ouw

dapat dianggap sebagai tanda mengaku kalah

menganggap bahwa hal itu cukup patut. Nona ini

masih amat muda, dan mengaku kalah terhadap

dua orang tokoh Ang kin Kai pang bukanlah hal

yang memalukan apalagi mengaku kalah tidak

karena bertanding melainkan karena telah

melanggar dan memalukan fihak Ang kin Kai pang

ketika mengalahkan Ang Kun tadi.

“Nona, berikanlah saja, nona. Nona dapat

membelinya lagi pedang yang lebih bagus nanti…!”

“Apa …? Menyerahkan gin kiam begitu saja?

Bah, nanti dulu !” bentak Siok Lan yang sudah

melompat maju. Ia mencabut pedang nya dan

tampak sinar berkilauan dibarengi bunyi berdesing

yang nyaring. Dengan melintangkan pedang perak

di depan dada Siok Lan berkata, “Jembel tua !

Pedang merupakan pelindung dan andalan seorang

gagah! Aku tidak akan memberikannya kepada

siapa juga dan kalau sanggup merampasnya dari

tanganku ambil lah !”

Ini merupakan sebuah tantangan! Yu Lee yang

mengetahui bahwa kembali pertandingan takkan

dapat dielakkan, menjadi makin khawatir dan diam

diam ia mempersiapkan diri untuk mencari jalan

keluar tanpa diketahui nona itu.

280

“Ha, ha, ha, apa sukarnya merampas pedang

itu?”

Ang Ci berkata, kemudian seperti dikomando

saja, kedua orang pengemis itu mengangkat

tongkat mereka dan menggerakkan tongkat ke arah

Siok Lan. Gadis ini yang sudah marah, ingin

membabat putus putus tongkat itu dengan

pedangnya, untuk membikin malu dua orang

pengemis. Pedangnya berkelebat dan membacok

dua batang tongkat yang diangkat dan bergerak ke

arahnya itu.

“Plakkk!” Pedangnya menempel pada dua

tongkat dan tak…….. tak dapat ditarik kembali.

Betapapun si gadis jelita mengerahkan tenaga

untuk membetot pedangnya, namun pedang gin

kiam seperti telah berakar pada dua tongkat,

lengket dan tak dapat digerakkan sama sekali

“Wah, wah, jiwi locianpwe…. kami tidak punya

apa apa, makanan sudah habis hanya tinggal

tulang tulang ikan, kalau jiwi sudi boleh saja

ambil… !” Yu Lee mengeluarkan ucapan ini dengan

gugup serta sikapnya gugup pula. Ia mengambil

tulang tulang ikan di depannya lalu

melemparkannya ke arah dua buah mangkok di

tangan kiri kedua pengemis itu. Sebab ia gugup

serta gerakannya tidak keruan dan kacau balau,

tulang tulang itu tidak semua memasuki mangkok

dan ada yang mencelat ke mana mana.

Siok Lan yang lagi memusatkan seluruh tenaga,

tidak tahu akan hal ini semua. Tiba tiba ia merasa

betapa dua batang tongkat yang menempel

pedangnya itu mengendor, tanda bahwa dia mulai

281

menang tenaga, maka ia lalu memusatkan seluruh

tenaga serta membuat gerakan membetot secara

tiba tiba dan…. usahanya kali ini berhasil,

pedangnya terlepas.

Sebab marah, ia lalu memakai kedua kaki nya

menendang secara bergantian dan tubuh kedua

kakek pengemis itu terlempar keluar pintu restoran

sampai empat meter!

Pucat wajah kedua orang kakek itu. Merek tadi

sudah merasa yakin dapat mengalahkan gadis itu

serta bisa merampas pedangnya tanpa banyak

kesukaran.

Akan tetapi tiba tiba mereka merasa betapa

jalan darah di pundak kanan mereka yang

memegang tongkat menjadi kesemutan seperti

terkena totokan yang tepat sekali maka mereka

tidak mampu menahan ketika gadis itu menendang

biarpun tendangan itu amat cepat tetapi mereka

bisa mengelak kalau saja pada waktu yang

bersamaan mereka tidak merasa tubuh masing

masing tergetar oleh totokan pada pinggang mereka

sehingga tanpa bisa dicegah lagi mereka kena

ditendang sampai mencelat keluar restoran !

Ang Ci dan Ang Sim adalah tokoh tokoh tingkat

tiga dari Ang kin kai pang. Ilmu kepandaian

mereka sudah amat tinggi serta jarang dikalahkan

musuh.

Mereka juga merasa sungkan menghadapi

seorang gadis muda seperti Siok Lan, apalagi

mengingat kakek gadis itu yang menjadi teman

baik pangcu (ketua) mereka, maka mereka cuma

mau merampas pedang Siok Lan yang telah

282

menghina Ang kin kai pang dengan merobohkan

serta mengusir pengemis tokoh tingkat lima yang

bertemu Siok Lan dijalan.

Siapa duga, di restoran ini, di bawah mata

banyak sekali orang, mereka berdua telah di

tendang sampai mencelat oleh seorang gadis

remaja! Tentu saja hal ini amat memalukan serta

merendahkan nama mereka. Juga mereka menjadi

penasaran sekali dan mau berhadapan dengan

orang yang telah membantu gadis itu, maka kini

mereka sudah mencabut pedang dari tongkat

masing masing sambil berseru, “Berani kau

menghina Ang kin kai pang?”

Yu Lee telah berlari keluar dan berkata.

“Wah wah… kalian telah membikin nona

majikanku marah! Masih baik kalau hanya

ditendang kalau dia tak sabar, jangan jangan

kalian telah dibunuhnya!” Sambil berkata

demikian, ia mengangkat kedua tangan diluruskan

ke depan serta digoyang goyangkannya.

Ang Ci dan Ang Sun yang baru saja mencabut

pedang, merasa betapa ada hawa yang panas serta

kuat menyambar mereka.

Tubuh mereka terdorong dan alangkah kaget

hati mereka ketika melihat tiga buah ronce yang

menghias gagang pedang mereka telah putus

semua ! Sejenak mereka melihat ke arah “pelayan”

nona itu, tahulah mereka bahwa inilah dia seorang

lihai yang telah membantu Siok Lan.

Melihat sikap Yu Lee, kedua orang pengemis

tua ini maklum bahwa Yu Lee adalah teorang

283

pendekar sakti yang sedang meyembunyikan diri,

pura pura menjadi pelayan. Mereka mengenal

watak aneh dari orang orang pandai dan

menghormati penyembunyian diri serta rahasia ini.

Sebab dari totokan totokan tak tampak tadi

yang kini dapat mereka duga adalah tulang tulang

ikan yang menyambar, serta dari pukulan jarak

jauh yang menerbangkan ronce ronce merah di

pedang mereka, kedua orang pengemis tua ini

maklum bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat

yang benar benar hebat dan tidak terlawan oleh

mereka, maka kedua nya lalu berlutut dan berkata.

“Mata kami seperti buta tidak melihat gunung

tinggi menjulang di depan. Maaf dan sampai jumpa

pula !”

Setelah berkata demikian, dua orang kakek itu

memasukkan pedang mereka ke dalam tongkat lalu

pergi dari situ dengan muka merah serta muram.

Siok Lan khawatir melihat pelayannya berani

mendekati dua orang kakek itu, cepat meloncat

dan telah berada di dekat Yu Lee ketika dua orang

kakek itu menjura berlutut.

Nona ini membusungkan dadu sebab bangga

karena menganggap bahwa dialah yang dikatakan

“gunung tinggi menjulang di depan” oleh dua orang

Kakek itu !

“Yang tidak mengenal Sian li Eng cu memang

sama dengan orang buta!” Katanya bangga dan

menyarungkan kembali pedangnya dengan sikap

gagah.

284

Semua orang yang hadir di situ kini

memandang ke arah Siok Lan dengan mulut

ternganga dan mata terbelalak penuh keheranan

dan kekaguman. Mereka tahu bahwa para

pengemis Ang kin Kai pang adalah orang yang

berilmu tinggi, apalagi dua orang pengemis tadi

sudah tua dan pedangnya mempunyai ronce ronce

hanya tiga buah entah kenapa jatuh ke tanah,

berarti bahwa dua orang kakek itu adalah tokoh

tingkat tiga yang tentu saja amat lihai! Namun

dalam segebrakan saja telah ditendang mencelat

olah gadis remaja ini dan di depan mereka dua

orang tokoh itu mengakui kelihaian si gadis. Ketika

mereka mendengar ucapan Siok Lan, kekaguman

mereka makin memuncak dan nama julukan Sian

li Eng cu menjadi buah bibir sejak saat itu. Sian li

Eng cu Si Bayangan Bidadari!

Julukan yang indah, dan memang orangnya

pun amat jelita!

Para nelayan yang mendengar akan kegagahan

Sian li Eng cu kini berduyun datang dan

menawarkan perahunya untuk dipakai gadis

perkasa itu berlayar ke Pohai! Melihat ini Siok Lan

tersenyum puas dan berkata kepada Yu Lee.

“Aliok, kau pilihlah sebuah perahu yang cukup

baik katakan kepada pemiliknya bahwa kami akan

menyewanya sampai ke Pohai dan berani

membayar mahal. Selain itu katakan bahwa dia

tidak usah khawatir atau takut. Kalau ada bajak di

tengah jalan, tentu akan kubasmi mereka. Kalau

ada perajurit berani mengganggu di terusan itu,

biar aku yang akan mengobrak abrik mereka.

285

Pendeknya, aku menjamin keselamatan si tukang

perahu dan perahunya!”

Mendengar ucapan yang gagah ini, makin

kagumlah para pedagang dan nelayan yang berada

di situ, Akan tetapi Yu Lee diam diam menghela

napas panjang dan hatinya diam diam menjadi

gelisah.

Ia tahu bahwa kepandaiannya Ang Ci dan Ang

Sun tadi cukup tinggi, jangankan melawan mereka

berdua, melawan satu sama satu saja belum tentu

Siok Lan menang. Juga ia amat bersukur dan

kagum kepada dua orang pengemis tadi yang

ternyata mengerti bahwa dia ingin merahasiakan

dirinya, maka kedua orang pengemis itupun tidak

mendesaknya dan mereka tahu diri mengaku kalah

dan pergi. Namun iapun tahu bahwa mereka itu

merasa penasaran dan tentu akan melaporkan hal

ini kepada ketua mereka. Perjalanan selanjutnya

tidaklah selancar dan semudah yang di duga Siok

Lan apa lagi ditambah dengan sikap gadis itu yang

agak tekebur. Dipuji pujinya nama Sian li Eng cu

sampai setinggi langit tentu akan memancing

banyak orang kang ouw yang hendak mengujinya!

Setelah memilih sebuah perahu milik seorang

tukang perahu yang berusia kurang lebih empat

puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan kuat, Siok

Lan lalu meloncat ke atas perahu, diantar oleh

orang orang yang berada di situ dengan pandang

mata penuh kagum. Yu Lee juga sudah naik ke

perahu dan ia berkata dengan suara serius kepada

Siok Lan, “Siocia, pelayaran ini bukanlah

perjalanan yang aman. Biarpun nona lihai, akan

286

tetapi banyak sekali orang orang pandai dan jahat

berkeliaran di sepanjang tepi sungai. Saya takut

kalau kalau kita akan menemui banyak rintangan

di sepanjang sungai.”

“Ahhh, takut apa. Pokoknya, kita tidak

bermaksud jahat terhadap orang lain! Kalau toh

ada orang lain hendak berbuat jahat, akan

kulawan dia dan akan kubasmi agar dunia makin

bersih !”

Jawaban ini disambut sorakan para pengantar

yang menganggap nona ini amat gagah perkasa,

sebaliknya pelayannya amat penakut.

Berangkatlah perahu itu ke tengah sungai diikuti

teriakan teriakan dari tepi sungai,

“Selamat jalan, Sian li Eng cu!”

“Hidup Sian li Eng cu!”

Siok Lan berdiri di kepala perahu, tangan kiri

bertolak pinggang meraba gagang pedang, tangan

kanan melambai ke arah para pengagumnya di tepi

sungai. Sungguh jelita dan gagah. Dan Yu Lee

hanya dapat menggeleng kepala dan menghela

napas. Edan bocah ini pikirnya gemas. Akan tetapi

aku lebih edan lagi karena aku tergila gila kepada

seorang bocah gila! Perahu meluncur terus,

menurutkan aliran air sungai ditambah dorongan

dayung tukang perahu

Wanita berpakaian merah itu lari terhuyung

huyung menaiki sebuah bukit. Tubuhnya lemas

dan pakaiannya kusut, rambutnya pun terlepas

sanggulnya, terurai, sebagian menutupi mukanya

287

yang pucat. Dia wanita yang masih muda, tidak

akan lebih dari dua puluh lima tahun usianya,

cantik jelita dengan muka yang berbentuk bulat

telur, dan bentuk tubuh yang padat

menggairahkan. Pendeknya seorang wanita muda

yang cantik menarik, tetapi keadaan tubuhnya

sangat menyedihkan pada waktu itu.

Ia terluka, tetapi tidak diperdulikannya luka

luka itu, serta tubuh yang letih tidak

diperdulikannya pula, dan pakaiannya yang kusut,

ia terus saja jalan terhuyung huyung kadang

kadang lari ke depan seperti orang buta. Memang

ia seperti orang buta oleh air matanya sendiri, buta

oleh kehancuran hati, oleh penyesalan, oleh rasa

malu serta patah hati!

Malam itu biarpun terang bulan, tetapi jalan

mendaki bukit amatlah sukarnya, sinar bulan

kurang cukup menerangi jalan yang berbatu batu

dengan di tepinya jurang jurang menganga seperti

mulut maut. Tetapi wanita itu berjalan terus, naik

ke bukit tanpa tujuan.

Siapa dia ini? Bukan lain adalah Ma Ji Nio

yang terkenal dengan julukan Cui siauw Sian li

(Dewi Suling). Seperti telah kita ketahui, Ma Ji Nio

atau Dewi Suling ini adalah murid terkasih Hek

siauw Kui bo yang selain mewarisi ilmu silat

gurunya yang tinggi, juga mewarisi sifatnya yang

buruk yaitu kesukann mengumbar dan

melampiaskan nafsu birahi. Bahkan dalam

kebiasaan melampiaskan nafsu birahi ini, Ma Ji

Nio lebih ganas dari gurunya.

288

Pria yang bagaimanapun yang menarik hatinya,

harus ia dapatkan, baik secara halus maupun

secara kasar. Dan yang mengerikan, setelah ia

merasa bosan, ia lalu membunuh pria itu sebab

selain ia enggan membagi cinta kasih pria itu

dengan wanita lain juga ia tidak mau dijadikan

bahan percakapan pria pria bekas kekasihnya.

Dengan demikian. Selama mengumbar

nafsunya. Ma Ji Nio telah membunuh puluhan

orang pria muda dan tampan! Namun, selama

masa petualangannya yang mengerikan itu, Dewi

Suling selalu mendapatkan pria pria tampan tetapi

lemah dan hatinya tergerak ketika ia bertemu

Ouwyang Tek dan Gui Siong, dua orang pemuda

tampan serta perkasa murid Siauw bin mo Hap

Tojin.

Akan tetapi, alangkah kecewa serta menyesal

hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa bukan

saja dua orang pemuda perkasa itu tidak sudi

melayani nafsunya, bahkan sebaliknya menghina

memaki serta memusuhinya. Kemudian pula,

sekali ia bertemu Yu Lee dan kali ini hatinya betul

betul jatuh cinta. Belum pernah selama hidup nya

ia jatuh cinta sampai mendalam seperti ketika ia

bertemu pemuda ini.

Melihat Yu Lee serta menyaksikan kelihaian

pemuda itu yang tidak hanya melebihi

kepandaiannya bahkan jauh lebih pandai sampai

berhasil membunuh gurunya, Hek siauw Kui bo.

Hati Dewi Suling benar benar terpikat dan di dalam

hatinya ia bersumpah bahwa kalau bisa menjadi

289

istri pemuda itu, ia baru merasa puas dan akan

berhenti dari petualangannya.

Itulah sebabnya mengapa ketika ia melihat Yu

Lee tertawan oleh gurunya ia menolong pemuda itu

dan berani menghadapi kemarahan gurunya. Ia

sudah mempertaruhkan jiwanya buat menolong

pemuda itu serta membujuk pemuda perkasa itu

menjadi suaminya.

Akan tetapi apakah jadinya? Tidak saja ia telah

dikalahkan, lalu gurunya terbunuh, dia sendiri

terluka, malah Yu Lee sengaja memberi ampun

serta mengancam bahwa, kalau kelak jalannya

masih sesat, maka pemuda yang di cintanya itu

akan membunuhnya! Ia telah menerima

penghinaan yang hebat sekali serta mengalami

penyesalan. Ia merasa malu serta menyesal akan

semua perbuatannya yang telah lampau.

Andaikata dia masih seorang gadis yang bersih,

dengan kecantikannya dan ilmu silatnya yang

tinggi, tentu lebih besar harapan baginya buat

mempersuami Yu Lee. Akan te tapi kenyataannya

tidak demikian, serta semua petualangannya itu

sudah membosankan, tidak memberi kebahagiaan

buatnya lagi. Ia menghendaki kasih sayang murni,

cinta kasih antara suami isteri yang tulus ikhlas,

membina keluarga, mempunyai keturunan serta

hidup sebagai seorang isteri terkasih dan ibu

terhormat.

Makin dipikir dan dikenang, makin hancurlah

hati Dewi Suling. Apalagi ketika ia terusir dari

Istana Air tempat tinggal gurunya yang sudah

terbasmi musuh itu.

290

Makin bosanlah ia hidup dan tanpa

memperdulikan lukanya, ia melarikan diri terus

siang malam sampai akhirnya ia mendaki bukit itu

di malam hari, tanpa tujuan, hanya ingin lari, lari

pergi jauh sekali, menjauhi rasa malu, rasa rendah

serta kekecewaan hati.

Bulan tertutup awan hitam, keadaan gelap

pekat, segelap hati Dewi Suling, kakinya

tersandung batu dan ia terguling roboh. Kepalanya

terasa pecah ketika ia terbanting itu.

Dirabanya dahinya, berdarah tertumbuk batu

gunung.

Ia mengeluh dan merangkak bangun, gelap

gulita disekelilingnya. Kepeningan kepalanya

menambah kegelapan, sudah matikah dia? Di

manakah dia?

Tiga hari tiga malam ia berlari terus tanpa

berhenti keluar masuk hutan, naik turun gunung

sampai akhirnya ia tiba di tempat ini yang sama

sekali tidak dikenalnya. Matanya berkunang dan

pandangannya gelap. Tiba tiba tampak sebuah

cahaya kecil kelap kelip di dalam kegelapan malam,

tidak jauh di sebelah depan.

Dewi Suling bangkit berdiri, ia hampir tidak

kuat lagi. Dengan terhuyung huyung ia maju ke

arah cahaya kecil dan akhirnya ia roboh terguling

pingsan di depan pintu sebuah kuil tua, pintu yang

terbuka dan dari mana keluar cahaya api tadi,

cahaya sebatang lilin yang bernyala di atas meja di

ruang dalam.

291

“Omitohud… kasihan sekali nona muda ini!”

terdengar suara halus dan seorang nikouw

(pendeta perempuan) keluar, berlutut lalu

memanggil beberapa nikouw lain. Kemudian

beramai ramai para pendeta wanita itu menggotong

tubuh Dewi Suling, dibawa masuk ke dalam kuil

tua. Ternyata itu adalah sebuah kuil Kwan im bio

yang amat tua di lereng bukit yang sunyi, dan

didiami lima orang nikouw tua yang hidup sunyi

dan suci di tempat itu.

Hanya penduduk dusun di sekitar bukit itu

yang kadang kadang mengunjungi kuil untuk

minta berkah dan petunjuk dan untuk

menyambung hidup, lima orang nikouw ini

bercocok tanam disamping sumbangan yang

didapat dari harta penduduk dusun.

Sampai dua hari dua malam Dewi Suling rebah

pingsan, terjerang demam yang hebat. Keadaannya

amat berbahaya dan hanya berkat perawatan para

nikouw yang amat tekun dan penuh kasih sayang

pada hati ketiga, pagi sekali. Dewi Suling dapat

sadar dari pingsannya. Panas tubuhnya menurun

banyak. Selama pingsan, Dewi Suling merasa

seolah olah ia melayang di udara bingung karena

tidak tahu harus terbang ke mana.

Ia terkejut ketika sadar dan merasa bahwa ia

berbaring dalm sebuah kamar, menoleh ke kanan

kiri, kamar itu sederhana namun bersih sekali.

Tercium bau asap yang sedap harum. Ah, tidak

mungkin ini neraka. Terlalu baik untuk sebuah

neraka. Sorgakah? Tidak mungkin orang seperti

dia masuk sorga! Kalau begitu, berarti dia belum

292

mati. Ia teringat betapa ia roboh lemas di depan

sebuah bangunan seperti kuil, yang terbuka

pintunya dan dari pintu itulah cahaya terang

menyinar.

Teringat pula ia betapa ia menderita luka luka

yang cukup parah ketika ia bertanding melawan

Siauw bin mo Hap Tojin dan Tho tee kong Liong

Losu dan pasti dia akhirnya akan roboh binasa di

tangan kedua orang pendeta lihai itu. Kalau saja

tidak muncul Yu Lee yang menyelamatkannya.

Teringat ini ia meraba raba tubuhnya dan

mendapat kenyataan bahwa luka lukanya telah

sembuh. Ah, kembali ia ditolong orang yang

merawat dan mengobatinya. Ia masih belum mati

dan karenanya berarti ia masih harus terus

menderita, teringat akan sikap Yu Lee yang tidak

membalas cintanya bahkan memperlakukannya

dengan sikap yang menyakitkan hati, tak

tertahankan lagi Dewi Suling menangis.

“Omitohud….! Nona sudah sadar sukur lah.

Mengapa menangis? Di dunia ini tidak ada

kedukann yang tak dapat diatasi dengan

pengendalian tidak ada dosa yang tak dapat

ditebus oleh kesadaran. Kalau nona bersedia,

ceritakanlah segala penderitaan nona kepada pinni

(aku), mungkin pinni akan dapat membantu

meringankan beban itu, walaupun hanya dengan

kata kata dan nasihat!”

Mendengar suara yang halus penuh welas asih

ini tangis Dewi Suling makin mengguguk. Namun

hanya sebentar saja ia telah dapat menguasai

dirinya tangisnya terhenti dan ia mengangkat

293

mukanya memandang. Seorang nikouw tua,

berusia enam puluh tahun lebih, berkepala gundul

dan berpakaian serba kuning amat sederhana,

wajahnya membayangkan ketenangan jiwa dan

kehalusan budi, telah berdiri di dalam kamar itu

memandangnya dan merangkap kedua tangan di

depan dada.

“Engkau siapakah?” tanyanya.

Nikouw tua itu menggerakkan alis, dapat

menangkap sikap dan suara yang tinggi hati dari

nona di depannya, namun bibirnya tetap

tersenyum ramah, seolah olah baginya bukan hal

aneh menghadapi sikap kasar dan selalu sudah

siap memaafkannya.

“Nona pinni adalah Sui lian Nikouw yang

memimpin empat orang nikouw lain di kuil Kwan

im bio ini.”

Sepasang mata yang jernih dan tajam itu

melotot marah.

“Kenapa kalian menolongku? Kenapa? Aku

mau mati…..! Aku mau mati….!!” Dan kembali

Dewi Suling menangis tersedu sedu.

“Omitohud! Sungguh keliru sekali kalau nona

mengira bahwa kematian adalah jalan kebebasan

dari pada derita! Tidak sama sekali, nona.

Kematian hanyalah akibat daripada dosa dan

setelah mati sekalipun kita tidak akan terbebas

daripada akibat perbuatan kita sendiri, bahkan

penderitaannya akan lebih hebat lagi sebab kita

tidak mempunyai kesempatan lagi buat

menebusnya dengan kesadaran. Selagi masih

294

hidup, masih terdapat jalan bagi kita buat

bertobat, menjauhi dosa, hidup dalam kesadaran

dan memeluk kebajikan buat menebus semua dosa

yang telah kita perbuat. Nona, sadarlah dan

dengarkan baik baik ucapan seorang tua seperti

pinni.”

Biarpun kata kata itu amat halus, tetapi bagi

Dewi Suling merupakan tetesan tetesan embun

yang amat dingin menembus dada menyayat hati.

Ia terbelalak melihat, lalu berkata, suaranya

gemetar, “Dapat menebus dosa….? Kesadaran…..?

Apa…. apa yang kaumaksud dengan kesadaran !”

Sui lian Nikouw tersenyum, lalu terdengarlah ia

berayanyi perlahan, suaranya merdu serta

nyanyiannya adalah sebuah pelajaran dalam

Agama Buddha.

“Apabila seorang selalu sadar

selalu membangkitkan diri dengan kesadaran

bersikap waspada pembuatannya bersih

bertindak dengan bijaksana

teguh terhadap diri sendiri hidup sesuai dengan

ajaran benar

maka kemuliaannya bertambah”

Dewi Suling amat tertarik. Selama hidup nya,

tak pernah ia mendengar atau memperhatikan

pelajaran pelajaran tentang kebatinan dan kata

kata sederhana yang didengarnya sekarang adalah

seperti sinar terang yang mengusir kegelapan

hatinya. Namun kalau ia teringat akan semua

295

perbuatannya yang sudah sudah ia jadi ragu tagu

dan menyesal kembali.

“Akan tetapi, Sui lian Nikouw, aku adalah

seorang yang telah banyak berbuat dosa! Ke dua

tanganku sudah kotor, penuh lumpur dosa….!” Ia

mengeluh.

Kini Sui lian Nikouw meramkan kedua matanya

dan pendeta wanita ini yang berusaha untuk

menyadarkan seorang manusia vang menyeleweng

dalam hidupnya, kembali bernyanyi dengan suara

yang tergetar penuh perasaan, penuh pengaruh

halus yang amat kuat.

“Apabila seorang berbuat dosa biarlah ia sadar

dan tidak mengulang perbuatan, biarlah ia tidak

senang lagi akan kejahatan karena hanya

penderitaan menjadi timbunan kejahatan.”

Dewi Suling terisak, hatinya seperti ditusuk

tusuk. “Aahh, Sui lian Nikouw! Engkau tidak tahu,

tidak mengenal siapa aku ! Dosaku adalah dosa tak

berampun. Tahukah engkau siapa aku? Aku

adalah iblis betina yang terkenal dengan julukan

Cui siauw kwi (Iblis Peniup Suling)! Aku pula yang

disebut Dewi Suling. Aku telah membunuh banyak

sekali orang, baik orang jahat ataupun orang baik

baik. Aku juga membunuh puluhan orang pemuda

bekas kekasihku sendiri! Nah, katakan sekarang,

Nikouw, apakah dosa sebesar itu bisa ditebus?

Apakah tidak lebih baik kalau aku mati saja

sekarang agar segera menerima hukuman di

neraka serta tidak lagi mengotori dunia?”

Nikouw tua itu menggerakkan alisnya yang

sudah setengah putih. Rupanya ia terkejut

296

mendengar ucapan nama Dewi Suling yang

namanya telah tersohor sebagai wanita bersifat

iblis.

Hampir ia tidak percaya bahwa seorang wanita

muda cantik seperti ini bisa menjadi seorang yang

berwatak iblis Tetapi ia tidak heran, lalu menarik

napas panjang dan berkata.

“Tidak ada dosa yang betapapun besarnya tak

bisa diampuni nona. Nona sudah merasa bahwa

nona telah melakukan banyak dosa. Hal ini saja

terah manjadi pertanda baik, karena barang siapa

menyadari akan kesalahannya, itu merupakan

awal yang baik sekali. Terus kesadaran akan dosa

dan semua kesalahan ini ditingkatkan menjadi

sebuah perasaan menyesal akan dosa dosanya

kemudian dilanjutkan dengaa perasaan bertaubat.

Akan tetapi bertobat dengan mulut saja percuma

melainkan harus dengan hati dan diperkuat

dengan perbuatan. Hanya dengan perbuatan

sajalah manuia dapat membuktikan isi hatinya.

Menurut pendapat pinni, masih belum terlambat

bagimu, nona.”

Mendengar ini Dewi Suling yang tadinya sudah

putus asa, bangkit semangatnya. Ia melompat dari

pambaringan menjatuhkan diri berlutut di depan

nikouw yang bersikap tenang itu lalu berkata,

“Tunjukkanlah jalan bagiku…….. Nikouw yang bak,

tunjukkanlah agar aku dapat kembali menjadi

manusia baik…agar aku dapat terbebas daripada

noda noda dan dosa dosaku…. “

“Hanya dengan penebusan, nona. Penyesalan

hatimu harus diujudkan dalam perbuatan yang

297

tegas. Engkau tadi mengatakan bahwa engkau

telah membunuh puluhan orang? Nah, mulai detik

ini, kau usahakanlah agar engkau dapat

menyelamatkan nyawa orang, mencegah terjadinya

pembunuhan pembunuhan sampai engkau dapat

menolong nyawa orang yang terancam bahaya

maut sebanyak atau melebihi jumlah orang yang

pernah kau bunuh. Pupuklah kebaikan sebanyak

mungkin, dan kelak…. kalau di antara kita ada

jodoh dan kita dapat bertemu kembali, pinni akan

menuntunmu mencari kebebasan dari pada segala

penderitaan.”

Dewi Saling termenung, menengadahkan

mukanya memandang wajah nikouw itu. Sinar

kedukann mulai menghilang, terganti sinar penuh

harapan yang membuat wajahnya yang cantik itu

berseri. Seakan akan ada cahaya suci yang keluar

dari pribadi nikouw itu memasuki dirinya,

mambuataya sadar dan dapat melihat kebenaran.

Sambil berlutut ia mohon petunjuk petunjak

lagi dari Su lian Nikouw yang memberi wejangan

kepadanya tentang memenangkan diri sendiri

menguasai nafsu dan mencari jalan kebenaran

dengan liku liku utama.

Sepekan kemudian seorang Dewi Suling yang

lagi melesat keluar dari Kwan im bio itu. Masih

sama cantik jelitanya, masih seorang nona

bernama Ma Ji Nio yang sepekan lalu roboh

pingsan di depan kuil itu.

Akan tetapi dengan pandang mata yang jauh

berbeda dengan pakaian yang bukan sutera tipis

298

warna merah lagi melainkan pakaian berwarna

putih, yang sederhana dan kasar. Seorang wanita

yang mempunyai satu tekad di hatinya, yakni

memupuk kebaikan untuk menebus segala

perbuatan dosanya yang lalu, seorang wanita yang

tidak lagi mau menyentuh makanan berjiwa atau

memabukkan, tidak lagi menjadi hamba nafsu

karena ia bertekad untuk menundukkan nafsu

nafsunya.

Dan gemparlah lagi dunia kang ouw dengan

munculnya Dewi Suling yang merupakan kebalikan

daripada Dewi Suling yang pernah ada. Dewi

Suling yang sekarang ini benar benar merupakan

seorang dewi penolong yang mempergunakan ilmu

kepandaiannya untuk menolong mereka yang

tertindas, menyelamatkan banyak nyawa yang

terancam, penentang kejahatan dan memupuk

kebaikan.

Yu Lee mendayung perahu perlahan,

sebenarnya bukan mendayung karena perahu itu

sudah berjalan sendai hanyut bersama aliran

sungai, melainkan mengemudi perahu dibantu

dayungnya. Malam itu terang bulan, amat

indahnya dan ia menggantikan tukang perahu A

Bouw yang tidur mendengkur di perahu, Siok Lan

tidak mau berhenti malam itu, maka terpaksa Yu

Lee menggantikan tukang perahu yang sudah

terlalu lelah dan mengantuk.

Siok Lan menghampirinya dan duduk di

depannya memandang ke kanan kiri karena

memang pemandangan di malam ini amatlah

299

indahnya. Tertimpa sinar bulan purnama yang

amat terang keadaan di sepanjang tepi sungai

merupakan pemandangan seperti dalam mimpi,

diantara terang dan samar sehingga terrentuk

bayang bayang aneh dan cahaya kuning emas

menyelimuti permukann air.

“Nona, mengasolah, saya rasa besok pagi kita

sudah akan sampai dekat dengan tempat

penggalian terusan di sebelah utara pantai Huang

ho,” kata Yu Lee sambil menikmati keindahan luar

biasa di depan matanya, bukan keindahan

pemandangan di tepi pantai, melainkan keindahan

rambut rambut halus tertimpa sinar bulan yang

kuning emas itu.

“Mana mungkin mengaso apalagi tidur di

malam seindah ini?“ Siok Lan mencela

membetulkan rambutnya yang agak mawut oleh

angin semilir. “Bulan purnama, pemandangan

begini indah, menunggang perahu benar benar

amat menyenangkan. Jauh lebih senang dari pada

melakukan perjalanan darat. Aku tidak tidur,

Aliok, aku ingin mengajak kau bercakap cakap.”

Berdebar jantung Yu Lee. Kadang kadang sikap

nona ini amat mesra, seolah olah seperti bicara

terhadap seorang teman baik, kalau nona ini telah

bersikap demikian, hampir lupa dia bahwa dia

adalah seorang “pelayan”. Sebab denyut

jantungnya makin berdebar, ia mau menekannya

dengan mengingatkan kedudukan mereka kepada

nona itu, sekalian mau tahu isi hatinya ”Ah,

nona…..betapa janggalnya. Saya cuma seorang

pelayan !”

300

“Siapa mau melarang aku bercakap cakap

dengan pelayanku?“ Nona itu melihat dengan mata

menantang, agak marah. Akan tetapi ia segera

tersenyum dan menyambung. “Engkau kadang

kadang aneh sekali membuat aku mendongkol,

Aliok. Apa sih perlunya engkau kadang kadang

merendah rendah serta menekankan bahwa kau

adalah pelayan? Justeru sebab kau sekarang

menjadi pelayanku maka aku mau mengajak

engkau bercakap.cakap !”

Yu Lee tidak berani melihat wajah itu, wajah

yang sepenuhnya kini tersinar cahaya kuning emas

bermandi cahaya keemasan membuat wajah itu

bersinar indah hingga ia tak berani melihat

langsung, tidak percaya kepada dirinya sendiri.

Sebagai gantinya ia melihat ke arah bulan sambil

kadang kadang saja melihat ke depan kalau kalau

arah perahunya menyeleweng, “Bercakap cakap

soal apakah, nona?“

“Soal dirimu.”

Kedua tangan Yu Lee yang tadi bergerak gerak

mendayung, berhenti sejenak, baru digerakkan

pula setelah mulutnya berkata, “Soal diriku?

Ahhh, saya…. tidak ada sesuatu yang menarik,

soal diri saya, seorang bekas pelayan….”

“Dimana orang tuamu. Aliok?

“Sudah meninggal dunia, ikut terbasmi ketika

Hek siauw Kui bo mengamuk…. enam belas tahun

yang lalu…” Terhenti suaranya sebab terasa

tercekik lehernya dan tak bisa dicegah lagi air

matanya menetes netes ke atas kedua pipinya. Yu

Lee berusaha keras mencegah hal ini, tetapi tidak

301

kuat sebab ia teringat akan peristiwa yang

menimpa keluarganya dan seketika hatinya seperti

diremas remas.

Siok Lan melihat bengong, kemudian tertawa

tetapi cepat cepat menutupi mulutnya.

“Hi hi, lucunya…! Agaknya memang sekeluarga

Si Dewa Pedang, sampai ke pelayan pelayannya

cengeng semua ……. !”

Barulah Yu Lee teringat dan cepat ia

menghapus air matanya dengan ujung lengan baju

nya, “Ah. maaf nona. Sebab teringat bahwa ayah

bundaku telah tiada serta saya hidup sebatangkara

saya menjadi berduka….”

“Tidak apa, cuma lucu karena aku teringat

akan majikanmu yang kini terkenal disebut

Pendekar Cengeng! Aliok, ketika peristiwa itu

terjadi, enam belas tahun yang lalu kau bilang? “

“betul nona.”

“Berapa sekarang usiamu, Aliok? “

Yu Lee berdebar lagi jantungnya. Mengapa nona

ini begini memperhatikan dirinya, sampai tanya

tanya usia segala? Tidak sepatutnya seorang nona

majikan bersikap begitu terhadap pelayannya

Ataukah…. mungkin nona ini tertarik kepadanya,

seorang pelayan?

“Eh, ditanya malah melamuni !”

Teguran ini mengingatkan Yu Lee, ia lalu

menjawab dengan gagap. Dua puluh empat tahun

usia saya, nona“ Ia merasa heran kenapa hatinya

berdebar cepat. Ia telah digembleng oleh suhunya

302

serta memiliki ketabahan hati dan keberanian yang

lengkap biasanya menghadapi apapun ia akan

tetap tenang saja, bahkan menghadapi bahaya

maut sekalipun ia tidak akan gentar dan tetap

tenang. Namun kini berhadapan dengan Liem Siok

Lan, berdua di atas perahu di bawah sinar bulan

purnama, lenyaplah ketenangannya seperti awan

ditiup angin membuat ia berubah menjadi seorang

yang penggugup.

“Hemm dua puluh empat tahun, ya? Kalau

begitu engkau berusia delapan tahun ketika

peristiwa pembunuhan hebat itu terjadi. Dan kau

sedang pulang ke dusun ketika terjadi sehingga

kau tidak menyaksikannya sendiri seperti yang kau

katakan tempo hari? “

“Betul nona.” Yu Lee mencuri pandangan dan

melihat betapa kini nona itu memandang bulan

dengan mata setengah disipitkan. Wah berbahaya,

pikirnya. Nona ini agaknya bukan orang bodoh!

Jangan jangan rahasianya akan terbuka sebelum

habis perjalanan ini dan ia ngeri memikirkan apa

akan menjadi akibatnya dan apa yang akan

dilakukan Siok Lan kalau ia tahu dialah Si

Pendekar Cengeng.

“Si Pendekar Cengeng itu…..”

Nah celakakah pikir Yu Lee dan kembali kedua

tangannya berhenti mendayung, bahkan ia tidak

tahu bahwa perahunya kini mencong arahnya ke

pinggir.

“….. tua mana antara dia dengan engkau?”

303

Yu Lee menghela napas lega dan cepat cepat ia

menggerakkan dayung membetulkan arah perahu.

“Saya tidak begitu ingat lagi, nona.. kalau tidak

salah, kami hampir sebaya, sama… kurang lebih

begitulah.”

“Siapa namanya?”

“Yu kongcu? Namanya Lee.”

Siok Lan kembali berdiam diri merenungi bulan

dan Yu Lee mendapat kesempatan untuk sejenak

bernapas lega. Percakapan yang diarahkan gadis

itu benar benar menimbulkan gelisah hatinya,

akan tetapi juga ia menjadi agak kecewa karena

kini ia maklum bahwa kalau tadi gadis ini bertanya

tanya tentang dirinya, sesungguhnya bukan dia

yang menjadi perhatian melainkan Pendekar

Cengeng! Ia mengerling dan melihat gadis itu

masih merenungi bulan. Alangkah cantiknya.

Kalah cemerlang bulan purnama dengan wajah

gadis ini! Pantasnya, bulan begitu cemerlang

karena adanya wajah gadis inilah ! Karena wajah

itu berdongak, mulutnya terbuka dan tampaklah

deretan gigi yang kecil kecil dan putih seperti

mutiara. Ujung lidah yang kecil merah mengintai di

antara gigi. Alis yang kecil panjang hitam itu agak

bergerak gerak, tanda bahwa di dalam kepala yang

bagus ini otaknya sedang bekerja. Mau rasanya Yu

Lee memberikan seluruhnya miliknya di saat itu

kalau saja ia dapat menjenguk dan melihat apa

yang sedang dipikirkan gidis itu !

“Aliok, dia itu kalau dibandingkan dengan

engkau…”

304

“Dia siapa nona?” Yu Lee berpura pura

bertanya.

“Dia yang bernama Yu Lee itu, kalau di

bandingkan dengan engkau misalnya…. siapa lebih

tinggi? Bagaimanakah rupanya? Apa kah dia……..

ah, tampan….? Dan apakah benar benar dia lihai?“

Anehnya, dalam bertanya kali ini Siok Lan tidak

berani menoleh dan memandang pelayannya,

bahkan kedua pipinya tampak kemerahan karena

jengah dan malu malu!

“Ah, Yu kongcu itu biasa saja, nona. Orangnya

sederhana saja dan tentang kelihaian, saya rasa

tidak akan menang dari nona. Saya tidak tahu

apakah dia tampan, akan tetapi…… saya rasa

biasa malah lebih pantas dikatakan bermuka

buruk, agak bopeng, kulit nya hitam, tubuh…. eh,

agak tinggi juga tapi agak bongkok.!” Kacau balau

keterangan Yu Lee, dan terjadi sesuatu yang aneh

dalam hatinya.

Setelah kini Siok Lan mencurahkan

perhatiannya kepada Pendekar Cengeng, bertanya

tanya tentang diri Yu Lee, tentang ketampanannya

eh… hatinya mendadak meajadi cemburu! Karena

biarpun yang dibicarakan adalah dinnya sendiri,

namun pada saat itu Yu Lee adalah seorang lain!

Girang hatinya melihat betapa kini Siok Lan

menoleh kepada nya dan alis nona itu berkerut

kerut pandangan matanya jelas membayangkan

kekecewaan.

Agaknya nona itu tanpa disadarinya mengulang

kata katanya setengah berbisik, “Buruk …?

Bopeng, hitam dan bongkok….” Melihat Yu Lee

305

mengangguk membenarkan, nona itu menghela

napas panjang, lalu termenung lagi memandang

bulan.

Yu Lee melirik dan tersenyum lagi. Nona itu

benar benar kecewa sekarang, agaknya kesal dan

tidak senang hatinya. Keadaannya menjadi sunyi

sekali, malam telah larut dan yang terdengar hanya

suara keras dari ujung perahu, suara dengkur si

tukang perahu yang tidur pulas saking lelahnya.

JILID VIII

“MENJEMUKAN benar!” Tiba tiba Siok Lan

berkata dengan nada marah.

Yu Lee melihat terkejut. “Apa…..nona? Apa yang

menjemukan?”

“Coba dengar suara dengkurnya… dengar itu!

Seperti babi disembeleh!”

Ya Lee merapatkan bibirnya menahan ke ewa.

Ia tahu nona ini sedang jengkel, sungguhpun ia

tidak mengerti mengapa mendengar kejelekan

Pendekar Cengeng menjadi jengkel, akan tetapi ia

tidak berani menambah kemarahannya dengan

ketawa.

Setelah termenung lagi sampai lama, Siok Lan

menutup mulut dengan jari jari tangan kiri dan ia

menguap. Yu Lee merasa heran bukan main

bagaimana orang menguap bisa kelihatan begitu

manis! Pemuda yang masih hijau dalam soal

asmara ini tidak tahu bahwa kalau orang sedang

306

dilanda asmara, segala macam gerak gerik “si dia”

tentu selalu kelihatan menarik.

“Kalau nona merata lelah, harap rnengafso.”

“Aku mau tiduran….“ kata Siok Lan setelah

mengangguk, lalu bangkit berdiri dan melangkah

ke arah bilik perahu di tengah, di mana terdapat

sebuah gubuk kecil buat tempat bertedah di waktu

panas atau hujan. Akan tetapi baru beberapa

langkah, nona itu telah memhalikkan tubuh pula

lalu bertanya.

“Eh, Aliok….! Yu Lee itu dibandingkan dengan

engkau, siapa lebih… buruk?”

Diserang oleh pertanyaan yang tiba tiba seperti

ini serta sama sekali di luar dugaannya. Yu Lee

menjadi bingung lalu menjawab gugup, “Ah……

nona, mana mungkin saya disamakan Yu kongcu?

Tentu saya lebih buruk, jauh lebih buruk!”

Aneh sekali, di bawah sinar bulan purnama

jelas tampak oleh Yu Lee betapa muka cantik yang

tadinya muram kecewa itu kini berseri, tersenyum

lebar dan sorot matanya bersinar sinar. Suaranya

juga terdengar riang ketika nona itu berkata.

“Terima kasih, Aliok…! Aku makin ingin

bertemu dengan Pendekar Cengeng yang buruk

rupa seperti setan itu !” Setelah berkata demikian

lalu Siok Lan memasuki ruang gubuk di tengah

perahu dan merebahkan diri terus tidak bergerak

atau berkata kata lagi. Tinggal Yu Lee seorang diri,

yang tiba tiba merasa sunyi, ia termenung

memikirkan ucapan dan sikap terakhir dari gadis

itu.

307

Yu Lee terus mengemudikan perahu sambil

termenung. Tak habis heran ia terhadap diri nya

sendiri. Kenapa ia kini bermain api yang amat

berbahaya? Kenapa ia mempermainkan seorang

dara yang belum dikenalnya, membohonginya serta

membiarkan gadis itu mencari Pendekar Cengeng

ke kota raja padahal pendekar yang dimaksudkan

itu adalah dia sendiri? Kenapa dia tidak berterus

terang saja mengaku dan menanyakan apa yang

dikehendaki gadis itu? Ah, kesadarannya memang

mendesaknya berbuat begitu, tetapi hatinya tidak

mengijinkan. Ia merata ngeri kalau membayangkan

betapa gadis itu menantangnya, memusuhinya,

dan….akan meninggalkannya. Makin malam,

makin dalam gemericik seolah olah berbisik

kepadanya. “Kau gila… kau gila…..”

Waktu menjelang pagi, ketika tiba tiba perahu

itu berhenti di tengah tengah sungai, Yu Lee

terkejut, ia menengok ke kanan kiri sungai itu yang

penuh rumput alang alang, kemudian ia melihat

bahwa yang menahan perahunya adalah sebuah

tambang yang dipasang melintangi sungai.

Kemudian ia melihat bahwa di halik alang alang di

kanan kiri sungai tampak banyak sekali perahu

perahu kecil hitam!

“Eh, mengapa berhenti… Ada…. ada

apakah….?”

Yang berseru ini adalah A bouw si tukang

perahu. Biarpun sedang tidur pulas, sebagai

seorang tukang perahu yang ulung, begitu

perahunya berhenti meluncur, ia terbangun dan

seketika ia menduga hal yang tidak baik. Apa lagi

308

setelah ia meaengok ke arah rumput alang alang

tubuhnya menggigil dan ia cepat mengambil

dayung dari tangan Yu Lee seraya berbisik. “Harap

segera bangunkan lihiap (nona pendekar)! Ada

bajak ……!”

Pada saat itu dari tepi sungai meluncur sebuah

perahu hitam yang amat cepat dau tampaklah tiga

orang di atas perahu itu, yang seorang memegang

obor, yang kedua mendayung serta yang ketiga

berdiri di kepala perahu, yaitu seorang laki laki

tinggi besar dan sebatang golok besar tergantung di

pinggang nya. Setelah perahu ini dekat, laki laki

tinggi besar itu memegangi tambang dan perahu

terhenti, itu saja sudah membuktikan bahwa laki

laki itu mempunyai tenaga yang kuat.

“Huang ho Sam Hong mengundang Sian li Eng

cu untuk datang berkunjung!” Suara laki laki tinggi

besar itu parau namun keras sekali.

Yu Lee dapat menduga bahwa yang berjuluk

Huang ho Sam Hong (Tiga Naga dari Huang ho)

tentulah kepala bajak. Selagi ia hendak bersikap

pura pura gugup dan memanggil Siok Lan tampak

berkelebat bayangan nona itu yang tahu tahu telah

berdiri di sisinya dan nona itu menghadapi perahu

bajak sambil membentak nyaring.

“Akulah Sian li Eng cu dan selamanya aku tidak

bergaul dengan bangsa perampok dan bajak

sungai! Apakah kehendak kalian menahan

perahuku di tengah sungai?”

Laki laki tinggi besar itu membungkuk sedikit

tanpa melepaskan tambang, lalu ia berkata, “Ketiga

orang tai ong kami telah mendengar nama berar

309

Sian li Eng cu yang diketahui akan lewat di sini.

Oleh karena hari ini ketiga orang tai ong kami

sedang menjamu beberapa orang gagah, maka

apabila benar benar Sian li Eng cu adaah searang

wanita gagah seperti yang dikabarkan orang, maka

tiga tai ong kami mengundang dan menantang Sian

li Eng cu untuk mengunjungi markasnya di lembah

sungai kalau memang memiliki keberanian!”

Kata kata itu biarpun nadanya menghormati

namun mengandung tantangan yang hebat dan

sekaligus mengandung tekanan bahwa kalau Sian

li Eng cu tidak menerima undangan berarti dia

takut dan tidak memiliki keberanian.

Undangan macam ini tentu saja sukar ditolak

tanpa menimbulkan kesan bahwa yang di undang

takut. Akan tetapi Yu Lee yang tidak ingin melihat

nona itu terlihat dalam kesukaran sudah cepat

menjawab, “Eh, twako yang baik. Nona majikanku

adalah seorang wanita yang sedang melakukan

perjalanan jauh, bagaimana mungkin memenuhi

undangan ketua ketuamu? Harap kau maafkan

kami dan beri kesempatan perahu kami lewat.

Biarlah lain kali saja nonaku memenuhi….“

“Baik! Kuterima undangan Huaog ho Sam liong!

Jangan kira bahwa Sian li Eng cu takut akan

sarang tiga ekor naga Huang ho! Eh tukang perahu

hayo dayung ke pinggir !” Bentak Siok Lan tanpa

memperdulikan ucapan Yu Lee tadi. Yu Lee diam

diam menghela napas panjang. Dia benar benar

telah melakukan sebuah kesalahan besar

membohongi nona ini dan membiarkan dirinya

310

terlibat dalam akibat akibat dari pada watak gadis

yang ugal ugalan dan tidak pernah mau kalah ini !

Apa boleh buat, pikirnya, ia harus menanggung

akibat daripada kebohongannya dan kelemahan

hatinya sendiri !

Begitu perahu itu didaynng ke pinggir,

muncullah beberapa buah perahu kecil dari kanan

kiri dan diam diam Yu Lee harus mengakui bahwa

kalau tadi Siok Lan nekad tidak menerima

undangan, tentu pelayaran mereka akan

mengalami banyak gangguan yang berat.

Siok Lan yang berdiri di kepala perahunya

begitu perahu sudah mendekati daratan lalu

menggunakan ginkang, melompat ke tepi dengan

gerakan yang lincah dan ringan sekali. Terdengar

seruan seruan kagum dari mulut para bajak dan

inilah memang yang dikehendaki Siok Lan

mendemonstrasikan Kepandaian agar membikin

kuncup hati orang kasar itu

“Eh, nona….., harap tunggu saya…….”

Yu Lee berkata gugup dan ikut meloncat, akan

tetapi loncatannya cupat dan tercebur ke pinggir

sungai.

Para bajak tertawa dan Siok Lan sangat

mendongkol sekali, cepat menghampiri Yu Lee yang

gelagapan menyambar tangannya dan menariknya

ke atas.

Yu Lee berdiri dengan pakaian basah kuyup

dan menggigil kedinginan! Tentu saja diam diam ia

mengerahkan sinkang untuk melawan hawa dingin

311

dan hanya pura pura melakukan hal ini agar dapat

mengelabui mata para bajak !

A bouw biarpun seorang tukang perahu

berpengalaman namun kini berhadapan dengan

para bajak sungai, apa lagi tadi mendengar

disebutnya nama Huang ho Sam liong, ini mati

kutunya dan iapun bergegas minggirkan perahu.

Melompat turun, mengikat tali perahu dan berkata

dengan muka pucat kepada Siok Lan, “Lihiap.

Harap lindungi nyawa hamba yang tak

berharga…..“

“Jangan takut, kau ikut bersama kami.” kata

Siok Lan karena nona ini tidak ingin melihat

tukang perahu diganggu bajak kalau ditinggalkan

sendiri. Kemudian ia berkata kepada pimpinan

bajak yang tinggi besar dan yang kini sudah

mendarat, seorang laki laki setengah tua yang

bercambang bauk sehingga muka sebagian bawah

tidak tampak tertutup rambut kasar.

“Hayo lekas bikin api unggun lebih dulu untuk

pelayanku berdiang! Baru kita akan lanjutkan

perjalanan mergunjungi ketuamu!” Suara Siok Lan

berwibawa dan pimpinan bajak ini yang agaknya

sudah menerima pesan dari ketuanya untuk

bersikap lunak terhadap Sian li Eng cu, tidak

menolak. Lalu memberi aba aba dan beberapa

orang bajak sungai segera membuat api unggun,

Yu Lee menggunakan kesempatan itu untuk

mengeringkan pakaian dan menghangatkan badan.

“Harap nona suka mandi mandi dulu atau

bertukar pakaian biar saya memasak air. Eh, Bouw

312

lopek, tolong ambilkan tempat air untuk nona

bercuci muka!”

Siok Lan mengangguk, kemudian berkata lagi

kepada para bajak “Kalian menantilah di sana,

agak jauh. Setelah siap baru aku akan memanggil

kalian!”

Pemimpin bajak mengerutkan alisnya yang

tebal akan tetapi melihat sikap gadis yang tidak

suka dibantah, ia hanya mengangkat pundak dan

berkata.

“Harap lihiap tidak berlama lama karena aku

yang akan mendapat marah.”

“Perduli apa? hayo pergi dulu!” Siok Lan

membentak dan pimpinan bajak itu mengajak anak

buahnya menjauh. Setelan mereka menjauhi Yu

Lee berkata pura pura takut, “Nona apakah tidak

lebih baik kita lari saja selagi mereka menjauh?”

“Apa? Kau takut?”

“Siapa yang tidak takut? Akan tetapi saya tidak

mengkhawatirkan diri sava sendiri. Bajak bajak itu

mau apa terhidap seorang pelayan miskin seperti

saya ini. Akan tetapi nona ini…”

“Sudahlah, cerewet benar kau. Aku tidak takut !

Lekas panaskan air, yang banyak aku ingm

mandi!” sibuklah Yu Lee dan Abouw memasak air

dan terdengar oleh Yu Lee tukang perahu itu

mengomel perlahan. Diam diam ia merasa geli.

Memang keterlaluan sekali Siok lan. Dihadang

bajak begitu banyak, malah enak enak mandi air

313

hangat dan menyuruh para bajak menunggu!

Memang Siok Lan sama sekali tidak tampak takut.

Nona ini mandi di dalam bilik perahu sambil

bersenandung dan kembali Yu Lee tertegun

mendapat kenyataan betapa merdu dan indah

suara nona itu. Agaknya nona itu pun pandai

bernyanyi merdu di samping kegalakannya Tak

lama kemudian, nona itu sudah muncul keluar

dari dalam perahu dengan pakaian yang bersih,

rambut tersisir rapi dan wajah segar kemerahan

tertimpa cahaya matahari pagi yang mulai muncul.

Bengong Yu Lee memandang, seperti melihat Dewi

Fajar sendiri! Ia tadipun mempergunakan

kesempatan itu untuk mandi di sungai dan

berganti pakaian yang kering dan bersih, sekalian

mencuci pakaiannya. Abouw makin banyak

mengomel melihat ini. Dia sendiri sama sekali tidak

ada nafsu uatuk bertukar pakaian, apa lagi mandi

mandi segala!

Dengan langkah tegap gagah Siok Lan bersama

Yu Lee dan Abouw berjalan bersama rombongan

bajak menuju ke markas Huang ho Sam liong.

Kiranya markas itu tidak begitu dekat dengan

sungai, berada di lembah yang tertutup hutan

lebat. Di tengah hutan itulah terdapat bangunan

bangunan yang menjadi perkampungan bajak

sungai yang dipimpin oleh Tiga Naga dari Huang ho

ini.

Kelima rombongan ini memasuki perkampunjan

bajak, kiranya di s ini sedang di adakan perayaan

dan pertemuan penting. Tiga orang kepala bajak

sedang menerima tamu dam penghormatan

314

belasan orang tamunya yang terdiri dari orang

orang gagah, dan yang sejak kemarin telah berada

di sini dan pagi ini telah berkumpul di ruangan

besar yang berada di tengah kampung bajak,

mengelilingi beberapa buah meja besar yang penuh

hidangan dan minuman. Amat sedap dan lezat

baunya, mengepulkan uap yang menyambut

hidung Yu Lee dan membuat perut pemuda ini

berkeruyuk karena lapar.

Belasan orang tamu ikut bangkit berdiri ketika

fihak tuan rumah bangkit dan melangkah keluar

menyambut kedatangan Siok Lan.

Gadis ini memandang tajam daa melihat bahwa

yang menyambutnya adalah tiga orang laki laki

berusia lima puluhan tahun yang bertubuh kurus

kurus namun jelas memiliki gerakan gesit dan

bertenaga. Ia dapat menduga bauwa tentulah

mereka ini yang disebut Huang ho Sam liong, maka

ketika mereka mengangkat kedua tangan ke dada,

ia pun membalas seperlunya. Orang yang tertua,

yang putih kedua alisnya, berkata, “Kami Huang ho

Sam liong, baru baru ini mendengar dari sahabat

sahabat Ang kin Kai pang tentang munculnya

seorang pendekar wanita muda yang berjuluk Sian

li Eng cu. Hari ini kebetulan Sian li Eng Cu lewat,

kami merasa girang sekali dapat menyambut dan

memperkenalkan nona kepada sahabat sahabat

kami yang terdiri dari pada orang orang gagah yang

berjiwa besar !”

Setelah meneliti keadaan tiga orang tuan

rumah, Siok Lan mengerling kearah para tamu.

Belasan orang tamu itu terdiri dan bermacam

315

macam orang, bahkan di sana terdapat beberapa

orang wanita cantik yang bersikap gagah. Namun

karena tuan rumahnya adalah kepala bajak, iapun

menilai mereka sebagai golongan kaum hitam di

dunia kang ouw dan memandang rendah, iapun

menjawab dengan suara kering.

“Beberapa orang Ang kin Kay pang karena

mengemis secara paksa sebagai perampok,

terpaksa telah bentrok dengan aku, Tidak tahu

apakah maksud Sam wi (tuan bertiga)

mengundangku ke sini? Apakah hendak

membalaskan kekalahan beberapa orang pengemis

kasar itu?”

Siok Lan memang tidak suka bicara berbelit

belit, sikapnya polos sungguhpun sewaktu waktu

ia bisa bersikap amat nakal menggoda siapa saja.

Orang ketiga dari Huang hò Sam liong yang

tubuhnya paling jangkung, mukanya pucat dan

matanya genit, tertawa, “Ha, ha, ha, Siang li Eng

cu terlalu curiga ! Tentu saja kami tidak

mencampuri urusan nona dengan sahabat sahabat

kai pang. Hanya karena nona seorang dara remaja

yang amat cantik jelita sehingga patut diberi

julukan Dewi, juga nama nona sebagai seorang ahli

pedang cucu dan murid Thian te Sin kiam amat

terkenal, maka setelah lewat di aini, bagaimana

kami dapat lewatkan begitu saja tanpa

mengundang dan minta sedikit petunjuk untuk

menambah pengetahuan? Nona silakan duduk!

Dan kau pelayan dan tukang perahu, pergilah ke

belakang dimana kalan akan dapat makan minum

316

sepuasnya sampai kenyang!” Sambung si muka

tikus ini kepada Yu Lee dan Abouw.

“Nanti dulu!” seru Siok Lan, matanya sudah

memancarkan sinar kemarahan, “Pelayanku dan

tukang perahuku adalah aku yang membawa

mereka dan aku pula yang bertanggung jawab atas

keadaan mereka, maka kalau kalian mengundang

aku, pelayan dan tukang perahu harus diajak pula

duduk bersamaku.”

Terdengar suara berisik karena semua tamu

serta para bajak merasa heran mendengar ini.

Mana ada seorang nona majikan mengajak pelayan

dan tukang perahunya duduk makan semeja ?

Benar benar seorang nona majikan yang aneh.

Akan tetapi melihat pelayan yang muda dan

tampan sekali itu, mulailah beberapa diantara

mereka tersenyum senyum maklum dan mereka

menduga bahwa tentu Sian li Eng cu ini tidak

banyak bedanya dengan Cui siouw Sian li Si Dewi

Suling yang selain lihai juga mempunyai kesukaan

pengeram pria !

“Boleh, boleh, silakan… silakan…!” kata orang

tertua Huang ho Sam liong sambil mempersilakan

mereka bertiga masuk, Yu Lee sengaia masuk dan

berjalan ke belakang Siok Lan dengan sikap

seorang dusun memasuki gedung besar, ragu ragu,

takut takut, malu malu. Adapun si tukang perahu

berjalan paling belakang, mukanya kelihatan

sangat pucat dan berjalan menunduk. Tak berani

dia mengangkat muka, takut kalau kalau para

bajak itu akan mengenal dan mengingat muka nya

sehingga dikemudian hari kalau ia melakukan

317

pelayaran seorang diri, ia akan dikenal dan

diganggu.

Yu Lee menarik napas lega ketika mendapat

kenyataan bahwa tak seorangpun diantara para

tokoh kong ouw yang badir d tempat itu ada yang

mengenalnya, seperti yang tadi ia khawatirkan

ketika melihat banyak orang kang ouw menjadi

tamu Huang ho Sam liong. Memang sesungguhnya

biarpun ia telah membikin nama besar dalam

tahun ini dan mengguncang dunia kang ouw,

namun ia selalu menyembunyikan diri dan tidak

pernah menonjolkan diri sehingga dunia kang ouw

hanya mengenal namanya saja namun jarang ada

orang yang pernah melihatnya.

Ia selalu melakukan tugasnya sebagai seorang

pendekar secara bersembunyi dan saking cepatnya

gerakannya, baik mereka yang ditolongnya

manpun mereka yang dihajarnya tidak sempat

mengenal mukanya. Inilah sebabnya ia tidak

merasa khawatir menyamar sebagai pelayan Sian li

Eng cu.

Siok Lan memilih tempat duduk menghadapi

sebuah meja yang tidak berapa besar, cukup untuk

enam orang saja.

Ketika ia dan dua orang pelayan duduk,

terdengar suara.

“Biarlah kami yang menemani Sian li Eng cu

duduk!” Suara ini adalah suara seorang laki laki

muda yang berpakaian serba biru. Pemuda ini

tidak menanti jawaban, langsung berdiri bersama

seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun

lalu menghampiri meja Siok Lan dan keduanya

318

memberi hormat yang dibalas oleh gadis itu dengan

sederhana. Mereka duduk dan pemuda berusia

antara tiga puluh tahun itu berkata, “Maaf kalau

kami mengganggu nona, akan tetapi karena kami

tertarik mendengar bahwa nona adalah cucu Thian

te Sin kiam, maka kami memberanikan diri untuk

berkenalan. Kami berdua adalah murid murid

Gwat Kong Tosu.”

Berseri wajah Siok Lan dan ia cepat berkata.

“Ah, Gwan Kong Tosu ketua Kim hong pai? Pernah

aku bertemu dengan Gwat Kong Totiang ketika dia

berkunjung kepada kakek dan ayah! Guru jiwi itu

adalah sahabat baik kongkong (kakek). Aku girang

dapat berkenalan dengan jiwi!”

“Saya bernama Pui Tiong dan ini adalah suci

(kakak seperguruan) Can Bwee,” pemuda baju biru

itu memperkenalkan diri dengan ramah. Sucinya

dengan mengangguk dan tersenyum, agaknya

wanita cantik ini menang seorang yang pendiam

dan tidak pandai bicara.

“Namaku Siok Lan. Liem Siok Lan dan dia ini

pelayanku Aliok, dan tukang perahu ini Abouw

lopeh.” Siok Lan memperkenalkan kedua orang

pelayannya. Dua orang murid Kim hong pai itu

berdiri dan juga memberi hormat kepada Aliok dan

Abouw yang di balas cepat cepat oleh kedua orang

ini. Beberapa orang tertawa menyaksikan ini.

Sungguh lucu kalau dua orang pendekar yang

terkenal diperkenalkan dengan seorang pelayan

dan seorang tukang perahu miskin! Akan tetapi,

sikap kedua orang murid Gwat Kong Tosu ini benar

319

benar wajar dan mereka menghormat dua orang

yang dianggap rendah itu secara semestinya.

Juga diam diam Ya Lee menjadi kagum karena

dari sikap itu saja dapat diketahui bahwa dua

orang ini benar benar memiliki jiwa yang gagah.

Kini Can Bwee, wanita cantik berusia tiga puluh

tahun yang jarang bicara itu berbisik.

“Adik, harap hati hati, tiga orang itu tidak boleh

dipandang ringan.”

Biarpun ucapan ini hanya berbisik dan singkat

namun jelas mengandung kekhawatiran akan

keadaan Siok Lan, maka gadis ini tersenyum manis

dan mengangguk sambil berkata.

“Cici yang manis, terima kasih, atas

peringatanmu. Aku dapat menjaga diri. Jiwi (anda

berdua) sendiri, bagaimana bisa menjadi tamu di

sini?”

Pui Tiong berkata perlahan. “Betapapun juga,

mereka ini semua adalah pejuang pejuang yang

membela rakyat dan menentang pemerintah

penjajah….” Sampai disini pemuda baju biru ini

menghentikan kata katanya karena pada saat itu,

Huang ho Sam liong bertepuk tangan memberi

isyarat supaya semua orang memperhatikan

mereka dan orang tertua dari Huang ho Sam liong

berkata dengan suara lantang.

“Cuwi sekalian, para orang gagah patriot sejati

yang hadir di sini tentu sudah maklum semua

bahwa Ang kin Kai pang adalah perkumpulan

besar yang menjadi sekutu dan kawan

seperjuangan kita. Hari ini sampai tidak ada wakil

320

dari Ang kin Kai pang, tiada lain karena Ang kin

Kai pang baru saja menderita pukulan besar

karena beberapa orang tokoh nya di antaranya

saudara Ang Ci dan Ang Sun, telah menderita

kekalahan dalam bentrokan melawan Sian li Eng

cu. Kita akan menjadi hakim untuk mengadili

siapa salah siapa benar dalam bentrokan ini,

apalagi kalau diingat bahwa Sian li Eng cu adalah

cucu Thian te Sin kiam yang sudah kita kenal

sebagai seorang pejuang yang gigih. Karena itu,

selanjutnya kita serahkan kepada sikap dan sepak

terjang Sian li Eng cu sendiri, apakah dia benar

benar seorang pendekar wanita yang patut meujadi

kawan ataukah seorang pengacau yang harus

dilawan. Sementara itu karena dia telah menjadi

tamu, biarlah dia menyaksikan bahwa kita orang

orang pejuang bukanlah golongan yang mudah

dipermainkan dan diperhina oleh semua orang.

Pertama biarlah kami sebagai tuan rumah memberi

hormat kepada Sian li Eng cu dengan secawan

arak !”

Setelah berkata demikian, dengan tangan

kirinya ia memberi isyarat kepada dua orang

adiknya untuk minggir sedangkan tangan

kanannya menyambar sebuah cawan berisi arak.

Orang tersua dari Huang ho Sam liong ini

bernama Ie Cu Lin usianya sudah lima puluh

tahun lebih dan ia terkenal sebagai seorang ahli

lweekeh. Semua tamu yang berada disitu adalah

orang orang rimba persilatan belaka maka

penyambutan tuan rumah terhadap seorang tamu

dengan jalan menguji ilmu itu bukankah hal yang

aneh, apalagi kalau diingat bahwa tamu yang baru

321

tiba ini telah melakukan pelanggaran, yaitu telah

bentrok dan mengalahkan tokoh tokoh Ang kin Kai

pang.

“Dua orang saudara muda dari Kim hong pai,

apakah tidak suka mundur dulu agar aku dapat

menyambut dengan sebaik baiknya kepada Sian li

Eng cu?” Ucapan Ie Cu Lin ini ditujukan kepada

Pui Tong dan Can Bwee, dan merupakan

pertanyaan yang mengandung teguran.

Memang, sikap dua orang kakak berdik

seperguruan dari Kim hong pai yang amat ramah

terhadap Sian li Eng cu tadi sedkaya membuat hati

Huang ho Sam liong menjadi tidak semang. Sudah

jelas bahwa tamu ini belum dapat dikatakan

seorang sahabat, mengapa dua orang muda itu

memperlihatkan keramahan?

“Maafkan kami.” Kata Pui Tiong yang lalu

bangkit bersama Can Bwe dan meninggalkan meja

Siok Lan. Ucapan maaf ini tidak di tujukan pada

orang tertentu sehingga dapat diartikan terhadap

Siok Lan maupun terhadap tuao rumah.

Siok Lan maklum bahwa suasana menjadi

tegang dan bahwa fihak tuan rumah sudah mulai

hendak beraksi! Ia melirik ke arah Yu Lee dan

Abouw, berkata perlahan, “Kalian tenang saja!”

Kemudian ia bangkit berdiri, menghadap ke arah Ie

Cu Lin dan berkata, suaranya lantang dan

mulutnya tersenyum manis

“Aku sudah mendengar bahwa undangan

paksaan dari Huang ho Sam liong tentulah

mengandung maksud hati yang tidak baik.

322

Betapapun juga, aku telah menerima undangan,

dan aku siap menghadapi segala suguhanmu!”

Ie Cu Lin tenenyum dingin, lalu melangkah

maju, ia menuangkan arak dari guci ke dalam

cawan sambil berkata, “Saya Ie Cu Lin orang tertua

Huang ho Sam liong menyambut Sian li Eng cu

dengan secawan arak kehormatan !” Ia menuang

terus sampai cawan menjadi penuh dan baru

berhenti menuang arak ketika arak sudah

memenuhi cawan dengan permukaan lebih tinggi

daripada bibir cawan.

Namun arak itu tidak meluber dan tidak

tertumpah setetespun ! Sungguh amat

mengagumkan bahwa arak yang lebih banyak dari

padi cawan itu dapat tinggal tetap dalam cawan

seolah olah membeku dan permukaannya sampai

membulat di atas cawan. Inilah demonstrasi tenaga

sin kang yang menyedot arak melalui cawan

sehingga arak itu lekat dan tidak tumpah.

Dengan perbuatan ini Ie Cu Lin bermaksud

membikin malu tamunya, karena kalau cawan itu

diterima tamunya dan araknya meluber tampah

hal ini tentu saja akan membikin malu kepada

tamunya.

Akan tetapi Siok Lan agaknya tidak perduli

akan hal ini. Dengan wajah berseri ia berkata,

“Menyembunyikan niat buruk atau tidak, sebuah

penghormatan tidak boleh ditolak!” Gadis ini

mengangsurkan lengannya dengan tangan kanan

menerima cawan itu. Ia tidak kelihatan

mengerahkan tenaga, namun ketika cawan tiba di

tangannya, arak itu sedikitpun tidak bergerak,

323

apalagi meluber! Semua tamu yang menonton

dengan napas ditahan, kini menjadi kagum. Tidak

mereka sangka bahwa seorang nona yang begini

muda sudah memiliki kekuatan sinkang yang

demikian hebatnya.

Siok Lan mengangkat cawan itu dan terus

mengangkat sampai di atas mulut, lalu

menuangkannya akan tetapi …. arak itu tetap

tidak mau turun! Biarpun kini cawan sudah ia

balikkan, isinya tidak tumpah sama sekali. Dan

terdengar suara tepuk tangan dan ketika semua

tamu memandang, yang bertepuk tangan itu

adalah Yu Lee yang diikuti oleh Abouw.

“Lihat, nona bermain sulap. Apa tidak hebat?”

kata Yu Lee.

Pui Tiong tertawa, Can Bwee tersenyum,

bahkan dua oraog murid Kim hong pai ini lalu ikut

bertepuk tangan pula. Tamu tamu lainnya yang

merasa kagum baru berani ikut ikutan bertepuk

tangan.

Siok Lan menurunkan lagi cawan arak dan

berkata, “Ah, siauwmoi (adik) tidak bisa minum

arak keras, dan agaknya arakmu ini terlalu keras

lo enghiong. Sampai sampai arakmu tidak berani

memasuki mulutku, maafkan !” Ia meletakkan

cawan di atas meja dan ketika ia melepaskan

tangan, arak itu melebar dan tertumpah di atas

meja. “Biarlah pelayanku saja yang mewakili aku

minum arak kehormatan !”

Yu Lee lalu menyambar cawan dan

mengangkatnya, akan tetapi Abouw berseru

324

“Aliok, bagi aku setengahnya dong! Aku belum

pernah selama hidupku minum arak kehormatan,”

Yu Lee tetsenynm dan menuangkan setengah

cawan arak itu ke dalam mangkok di depan Abouw,

keduanya tertawa lalu minum arak masing masing

setelah mengangkat cawan dan mangkok ke arah

Siok Lan dan Ie Cu Lin sebagai tanda

penghormatan. Semua tamu tertawa dan muka Ie

Cu Lin berubah merah seperti udang yang direbus.

Arak penghormatan yang tadinya ia maksudkan

untuk membikin malu Siok Lan, kiranya malah

diminum oleh seorang pelayan dan seorang tukang

perahu sehingga berarti bahwa dia telah memberi

penghormatan kepada dua orang rendah itu. Akan

tetapi sebagai tuan rumah yang harus

menghormati tamu, diantara begitu banyak orang

gagah, pula karena dia sebagai seorang tua yang

sudah banyak pengalaman dapat menahan

kemarahan ia tersenyum dan berkata. “Sian li Eng

cu becar benar lihai !” Kemudian la mundur ke

tempat duduknya sendiri.

Si jangkung Ie Kiok Soe, orang kedua dari

Huang ho Sam liong yang sejak tadi menyaksikan

sepak terjang kakaknya dengan kurang sabar, kini

sudah bangkit dan menghampiri Siok Lan yang

sudah duduk kembali menghadapi mejanya

bersama dua orang pelayannya dan kedua orang

murid Kim hong pai yang kembali sudah

menemaninya.

Si muka tikus yang jangkung ini cengar cengir

dan kembali para tamu menjadi tegang karena

maklum bahwa orang kedua dari fihak tuan rumah

325

hendak melanjutkan menguji kepandaian nona

yang masih muda remaja namun amat lihai itu.

“Wah, benar benar Sian Ii Eng cu tidak

bernama kosong, memang seperti bayanan seorang

dewi yang cantik jelita. Maafkan, nona. Kakakku

tadi salah tafsir. Tentu saja seorang muda seperti

kau tidak biasa minum arak keras yang hanya

menjadi minuman orang orang kasar seperti kami.

Akan tetapi kurasa nona tidak akan menolak,

kalau aku Ie Kiok Soe, sebagai tuan rumah kedua,

menyambut kunjungan nona dengan suguhan

sepotong daging.” Cepat sekati tangannya bergerak

dan tahu tahu ia sudah menggerakkan sebuah

garpu bergigi dua yang runcing yang tadi dibawa

dari mejanya, langsung ia menusukkan garpu

perak ini ke dalam tempat sayur di atas meja

depan Siok Lan.

Ketika ia mengangkat tangannya, garpu itu

sudah menusuk sepotong daging kecil. Dengan

garpu di tangan ia menghampiri Siok Lan yang

masih duduk dengan tenang, sedangkan Yu Lee

memandang penuh kekhawatiran. Di dalam

hatinya, ia mencaci maki si jangkung ini yang

hendak menggunakan kebiasaan, kaum kasar

untuk menguji kepandaian orang, yaitu dengan

jalan menyuguhkan makanan di ujung pisau atau

garpu bahkan adakalanya di ujung pedang !

Bagi seorang yang sudah mempelajari cara

mempergunakan kegesitan menghadapi serangan

senjata gelap penyuguhan macam ini memang

tidaklah membahayakan. Sambaran sebatang

piauw saja dapat diterima dengan mulut, apa lagi

326

hanya tusukan pisau atau garpu. Yang mengerikan

kalau si penyuguh mempunyai niat membunuh,

karena garpu di tangan tentu saja berbeda dengan

menyambarnya piauw, karena si penusuk dapat

mengerahkan tenaga dan dapat mengubah arah

sesuka hatinya. Ada tiga jalan untuk menghadapi

penyuguhan seperti ini. Pertama begitu saja

mengelak membebakan diri dan habis perkara.

Kedua, dapat menangkis dengan tangan. Ketiga

dan ini yang diharapkan oleh semua orang akan

tetapi juga paling berbahaya menerimanya dengan

mulut !

Sejenak mereka berpandangan Ie Kiok Soe yang

berdiri dengan garpu di tangan dan Siok Lan yang

duduk dan tersenyum simpul. Kemudin nona itu

berkata, suaranya menantang. “Silakan !“ Baru

saja si nona mengeluarkan kata kata ini, garpu itu

sudah menyambar ke depan, tepat ke arah mulut

Siok Lan yang kecil mungil. Sema tamu menahan

napas dan seluruh urat saraf di tubuh Yu Lee

menegang karena pemuda ini sudah siap menolong

nona pujaan hatinya dari pada ancaman

berbahaya, Abouw mengeluarkan pekik tertahan

saking ngerinya.

Semua mata tertuju kepada garpu yang

berubah menjadi sinar putih, Siok Lan hanya

membuat sedikit gerakan, miringkan kepalanya

lalu membuka mulutnya yang kecil dan… garpu itu

ujungnya telah memasuki mulutnya!

Si jangkung yang tergila gila kepada nona

remaja yang jelita ini, tidak tega mencelakai Siok

Lan dan memang ia hanya mau mempermainkan

327

dan membikin nona itu mengakui kelihaiannya,

maka begitu melihat bahwa garpunya sudah

diterima dan digigit oleh si nona, ia lalu membuat

tangannya menggetar dengan tenaganya.

Gerakan ini tentu takkan tertahan oleh Siok

Lan, membuat giginya sakit dan akan memaksanya

membuka mulut memuntahkan daging dari garpu

sehingga dengan demikian nona itu akan kalah

dan kehilangan muka.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba tiba

terdengar suara “krekk!” dan si jangkung

terhuyung mundur karena garpunya yang berada

di tangannya itu tinggal gagangnya saja. Dua gigi

garpu yang runcing patah dan berada di mulut

Sian li Eng cu! Nona itu dengan ayem dan enaknya

mengunyah daging dan menelannya, tidak perduli

betapa semua mata ditujukan ke arahnya.

Kemudian ia membuka mulut dan meniup,

“Werrr…cap cap…!” Dua buah gigi garpu yang

runcing itu meluncur keluar dari mulut yang

mungil dan kini menancap pada kayu yang

melintang di bawah atap ruangan itu.

“Terima kasih lo enghiong. Daging yang kau

suguhkan enak sayang sekali ada tulang nya!” kata

Siok Lan dengan sikap biasa, seakan akan tidak

pernah terjadi sesuatu.

Kembali terdengar orang bersorak, dan kali ini

yang mendahului bersorak adalah Pui Tiong dan

Can Bwe. Makin kagumlah semua orang

menyaksikan demonstrasi yang luar biasa ini.

Bahkan Yu Lee diam diam makin kagum terhadap

Siok Lan, terutama sekali ketenangan dan

328

keberaniannya yang hebat. Ie Kiok Soe memandang

dengan mata terbelalak dan muka pucat. Siapa

kira, bukan dia yang mempermainkan, bahkan

sebaliknya si nona yang mempermainkannya,

membuatnya menderita malu dan kehilangan

muka. Ia marah sekali, akan tetapi ia masih dapat

melihat kakaknya memberi isyarat mata sehingga

ia hanya membanting kaki lalu mengundurkan

diri.

Orang ketiga dari Huaag ho Sam Liong adalah

yang paling pendiam diantara mereka. Tubuhnya

pendek kate dan biarpun dia seorang kepala bajak

tetapi melihat di pinggangnya terselip sepasang

senjata poan Koan pit (alat tulis seperti tongkat

pena). Tentu dia bukan seorang kasar yang buta

huruf. Dan memang sebetulnya demikian. Ie Bhok,

orang ketiga ini terkenal pandai menulis, dan

memang amat aneh seorang kepala bajak pandai

menulis, dan senjatanya poan koan pit. Tidak

mengherankan apabila sikapnyapun tidak sekasar

kedua orang kakaknya.

Tetapi, betapapun juga hatinya panas

menyaksikan dua orang kakaknya dipermainkan

seorang nona muda yang baru saja muncul di

dunia kang ouw, apalagi kalau nona itu berani

pula menantang Ang kim Kai pang. Ia sesegera

bangkit berdiri lalu melangkah tenang

menghampiri Siok Lan yang sudah memandangnya

karena nona ini sudah dapat menduga bahwa kini

tentu orang ke tiga Huang ho Sam liong akan

mencari perkara. Akan tetapi Ie Bhok menjura

kepadanya dan berkata, “Sian li Eng cu sebagai

seorang tamu, nona tidaklah mengecewakan kedua

329

orang kakakku. Perkenankanlah aku, Ie Bhok,

mendapat bagian untuk menyambut nona dengan

penghormatan.”

“Hemm… sudah kukatakan tadi, sebagai tuan

rumah memang, berhak melakukan apa saja yang

dikehendaki, sebaliknya aku sebagai tamu tentu

tidak bisa menolak penghormatan tuan rumah.

Silakan.”

Siok Lan sudah siap siap, akan tetapi Ie Bhok

bahkan menduduki bangku yang masih kosong

menghadapi meja Siok Lan. Memang, meja itu

mempunyai enam buah bangku dan baru lima

buah yang dipakai. Dengan tenang Ie Bhok

mengambil sepasang sumpit dari tempat sumpit,

lalu dengan sumpit itu ia mengambil sepotong

daging dan dengan siku kanan di atas meja ia

berkata,

“Saya seorang bodoh, tidak ada permainan

sesuatu untuk diperlihatkan kepada nona. Harap

nona sudi mengambil daging ini dari sumpit saya!”

Siok Lan maklum bahwa lawan ini hendak

memperlihatkan kepandaiannya memainkan

sumpitnya. Untuk dapat mempergunakan

sepasang sumpit merebut daging di antara sumpit

itu, selain ia harus memiliki tenaga yang kuat, juga

ia harus mempunyai kegesitan dalam

mempergunakan sepasang sumpit itu sebagai

senjata. Dan ia tahu, atau dapat menduga bahwa

Ie Bhok yang bersenjata sepasang poan koan pit ini

tentu amat mahir bermain sumpit. Betapapun juga

gadis remaja ini tidak mau kalah. Iapun lalu

mengambil sumpitnya sambil tersenyum ia

330

berkata, “Ie lo enghiong sanggah baik, mau

memilihkan sepotong daging untukku.” Setelah

berkata demikian, ia menggunakan sumpitnya

menyambar daging yang terjepit disumpit lawan.

Akan tetapi, benar seperti yang disangkanya,

dengan gerakan tangan yang kuat, Ie Bhok

membuat sumpitnya itu mengelak, bahkan dari

atas tepasang sumpitnya yang menjepit daging itu

menangkis dan menindih sepasang sumpit di

tangau Siok Lan dengan tenaga yang demikian

kuatnya sehingga hampir saja gadis itu

melepaskan sumpitnya. Sumpit itu tertangkis

sampai tergetar dan jari jari tangannya sampai

kesemutan !

Hebat gerakan orang she Ie yang pendek ini,

pikirnya. Kalau sampai lama ia tidak mampu

mengambil daging itu, tentu ia akan menjadi buah

tertawaan. Namun untung bahwa orang ini

berwatak halus dan biarpun ia akan kalah, namun

tidaklah memalukan. Maka sambil tertawa ia

berkata, “Ie Bhok lo enghiong sungguh mahir

menggunakan sumpit. Kalau sampai lima kali aka

gagal merebut daging, biarlah aku orang muda

mengaku kalah.”

“He, he, baiklah. Dan kalau ia sampai lima kali

nona dapat merampasnya, benar benar aku orang

she Ie merasa takluk. Terus terang saja, ketahuilah

nona bahwa di dunia ini kira nya harus dipilih pilih

dulu orang yang akan mampu merampas daging

dari sumpitku selama lima jurus !”

Panas rasa perut Siok Lan. Biarpun sikap nya

halus ucapan terakhir dari Ie Bhok ini boleh

331

dibilang mengandung kesombongan. Masa aku

tidak dapat merampas sampai lima jurus pikirnya,

dan tahu bahwa biarpun kelihatan hanya

“berebutan daging” dengan sumpit, gerakan

gerakannya mirip dengan mengadu ilmu silat dan

untuk dapat berhasil, tentu saja boleh

menggunakan taktik taktik pertandingan misalnya

dengan menggunakan sumpit menyerang tangan,

pendeknya asal dapat membuat daging itu terlepas

dari sumpit lawan dan dirampas dengan sumpit

sendiri. Tentu saja serangan hanya terbatas pada

tangan kanan lawan saja, tidak boleh menyerang

bagian tubuh yang lain.

“Aku sudah menyerang satu kali tinggal empat

kali. Awas, lo enghiong,” Siok Lan ber kata,

sepasang sumpitnya bergerak, bukan langsung

menjepit seperti tadi, melainkan dengan gerakan

menggunting dari atas ke bawah meluncur ke

depan dan digerakkan dengan membentuk

lingkaran. Dengan demikian tidak memberi

kesempatan kepada lawan untuk mengelak sepertì

tadi. Menghadapi serangan ini, mulut Ie Bhok

masih tersenyum, akan tetapi pergelangan

tangannya bergerak sepasang sumpitnya juga

membentuk lingkaran, lalu digetarkan dan dengan

daging misih terjepit sumpitnya itu mengangkas

dengan keras sekali dari atas ke bawah

“Trik rikkkkk!”

Biarpun yang beradu hanya sumpit dengan

sumpit namun menerbitkan suara keras dan

kembali tangan Siok Lan tergetar hebat. Masih

untung bahwa ia tidak sampai melepaskan

332

sepasang sumpitnya dan cepat cepat menarik

tangannya. Serangan kedua kembali gagal !

Kini mereka sudah bersiap siap kembali, Ie

Bhok dongan siku tetap menesan meja, memegangi

sumpitnya melintang dan biarpun sumpit itu

kelihatannya dipegang dengan seenaknya, namun

kekuatan yang tersalur melalui sumpit menjepit

daging adalah amat kuat. Matanya dengan tajam

memandang kepada sumpit lawan, siap

menghadapi serangan jurus ketiga. Sampai lama

Siok Lan tidak menyerang karena gadis ini

memutar otak untuk dapat mencapai kemenangan.

Kemudian ia berseru keras dan kembali sumpitnya

menyambar. Sumpit sumpitnya itu kini terbuka,

yang satu meluncur dan menotok ke arah jalan

darah diantara ibu jari dan telunjuk lawan yang

menjepit sumpit, yang sebatang lagi meluncur dan

menusuk ke asah daging!

“Bagus!” Ie Bhok berseru kagum karena jurus

ini benar bert amat indah dan lihai.

Akan tetapi biarpun kelihatannya sumpit

lawannya menotok jalan darah, ia maklum bahwa

yang dituju adalah tusukan pada daging. Sebagai

seorang ahli Poan koan pit, ia adalah seorang yang

sudah ulung dengan ilmu menotok, maka ia telah

dapat menduga jurus nona ini. Ia memutar

perulangan tangannya untuk mengelak dari

totokan, dan tiba tiba ia melepaskan jepitan

sumpitnya pada daging se waktu sumpit kedua

Siok Lan menusuk daging sehinga daging itu

terlepas dan jatuh, karena nya terluput dari

tusukan Siok Lan.

333

Sebelum gadis ini dapat mengatur sumpit

untuk merampas, lebih dulu Ie Bhok sudah

menggerakkan sumpitnya cepat sekali menyambar

daging yang melayang turun dan kembali daging

itu sudah dijepit oleh sumpitnya.

“Masih dua jurus lagi, nona” kata Ie Bhok.

Kalau saja serangan Siok Lan tidak makin lama

semakin lihai sehingga mengejutkan hatinya, tentu

Ie Bbok akan membiarkan saja gadis itu

menyerang sampai beberapa jurus sekalipun. Akan

tetapi ia harus mengakui bahwa seranggan

serangan dara remaja itu makin lama makin ganas

dan semakin berbahaya sehingga ia harus berhati

hati sekali biarpun hanya tinggal dua kali atau dua

jurus saja serangan yang bakal dilancarkan.

Siok Lan menggigit bibirnya. Di antara tiga

orang Huang ho Sam liong, hanya yang paling

muda inilah merupakan orang paling berbahaya.

Kalau sampai terjadi pertandingan, ia harus

berhati hati menghadapi orang ini. Jelas bahwa

biarpun dalam hal ilmu kepandaian, orang ini

belum tentu lebih lihai daripada dua orang

kakaknya, namun jelas bahwa orang yang pendiam

ini lebih berbahaya lebih cerdik dan banyak akal,

tidak gegabah dan kasar seperti dua orang

kakaknya.

Kembali ia memutar otak mencari akal sebelum

melakukan serangannya yang keempat. Kali ini ia

mau mengadu tenaga dan kalau sampai daging itu

kembali terlepas dari sumpit lawan, ia harus

mencegah sumpit lawan menyambarnya kembali

dan biarlah daging itu terjatuh ke atas meja.

334

Dengan demikian, biar pun ia tidak beihasil

merampasnya, sedikitnya ia telah mampu

membuatnya terlepas dari sumpit lawan dan hal ini

saja sudah berarti bahwa ia telah menang setengah

bagian! Dengan akal ini Sok Lan lalu berseru,

“Lihat serangan!” Kini sepasang sumpitnya

digerakkan dengan cepat dan bertenaga kuat

karena ia kini mengerahkan sin kangnya, tidak lagi

mengandalkan kecepatan melainkan

mengandalkan tenaga.

Ie Bhok kelihatan kaget sekali dan sekali

pandang saja ia sudah menduga akan akal gadis

ini. Kalau ia menangku dan melayani adu tenaga

dengan gadis yang ia ketahui memiliki kekuatan

sinkang hebat ini, tentu daging yang dijepit

sumpitnya akan terlempar dan dengan demikian ia

sudah akan mendapat malu.

Maka secara tiba tiba sekali ia melontarkan

daging yang dijepit itu ke atas, sumpitnya

mengelak ke bawah dan terus melakukan tiga kali

totokan ke arah tiga jalan darah di sekitar tangan

dan pergelangan tangan Siok Lan yang memegang

sumpit! Jadi kali ini Siok Lan menghadapi jurus

serangan ilmu senjata poan koan pit yang

berbahaya! Tentu saja Siok Lan tidak mau

membiarkan tangannya tertotok karena biarpun

andaikata ia mampu membuat daging itu terlepas,

kalau ampai ia tertotok dan sumpitnya sendiri

terlepas, ia tentu akan mendapat malu dan itu

berarti ia kalah! Cepat ia menggerakkan

pergelangan tangan memutar sumpitnya

membetuk lingkaran yang kuat, menangkis tiga

kali totokan lawan. Akan tetapi, ternyata lawan

335

tidak jadi menyerang, sebaliknya sumpit lawan kini

lagi lagi sudah menyambar dan menjepit dagingnya

yang tadi terpental ke atas dan kini sudah

melayang turun lagi. Karena Siok Lan tertipu dan

gadis ini tadi mencurahkan perhatian untuk

menangkis totokan totokan masa tentu saja ia tak

cepat mencegah lawannya menjepit kembali daging

itu.

“Tinggal sejurus lagi nona.” Ie Bhok tersenyum

dan mengacungkan daging dalam jepitan

sumpitnya.

Merah wajah Siok Lan dan nona ini hampir

putus aa. Orang di depannya benar benar lihai dan

cerdik, semua mata para ramu ditujukan kepada

adu kepandaian yang aneh dan lucu ini dan kalau

sekali lagi ia tidak mampu merampas daging,

betapapun juga ia akan kehilangan muka di tempat

itu ! Tiba tiba Yu Lee beikata, “Nonaku ini tidak

mau sungguh sungguh merampas, mengapa kau

orang tua tidak bisa mengerti? Kalau nona

majikanku menghendakinya, maka dalam sejurus

saja pasti daging itu dapat dirampasnya? Dan

sekarang ini nonaku sudah memberi muka terang

kepada lo enghiong, mengapa lo enghiong tidak

mau mengerti ?”

Ie Bhok mengerling ke arah Ya Lee dan tertawa

“Ha, ha, namamu Aliok tadi bukan? Eh, Aliok,

kalau benar nonamu sengaja tidak mau merampas

bolehkah aku tahu mengapa tidak mau?”

“Karena daging disumpitmu itu bau dan tidak

enak !”

336

Terdengar suara ketawa di sana sini, tetapi Ie

Bhok tidak marah hanya tersenyum. Sebalik nya

malah Siok Lan menjadi marah dan mendongkol,

Aliok ini bicara ngoco belo, apakah mengira bahwa

yang hadir itu anak anak kecil yang mudah saja

dibohongi? Akan tetapi karena pelayannya sudah

terlanjur bicara, ia berkata singkat, “Aku sudah

menyerang empat kali, kalau sekali lagi tidak

herhasil biarlah aku mengaku kalah !”

“Nona pasti berhasil kalau memang mau

sungguh sungguh! Mengapa tidak?” kata Yu Lee

dan seperti tanpa disengaja dengan muka tegang

pelayan ini menaruh kedua tangannya di atas

meja, di depannya.

Tiba tiba tampak sinar gembira di muka si

nona. Gerakan Yu Lee yang seperti tak di sengaja

itu mengingatkannya! Ah, kenapa ia begini bodoh?

Sejak tadi lawannya itu memegang sumpit dengan

siku ditekan di atas meja, sehingga dapat tegak

dan lebih bertenaga. Sikunya itulah yang menjadi

semacam “kaki” dan ia kalau mampu melemahkan

“kaki” ini, tentu dengan mudah, sumpitnya mampu

merampas daging.

Tanpa tergesa gesa sehingga tidak kentara nona

itu lalu menaruh pula tangan kirinyi di atas meja.

“Kau benar Aliok. Kalau aku mau, tentu sekali

serang aku berhasil. Orang tua she Ie, kali ini kau

waspada lah!” Dengan ucapan ini Siok Lan hendak

memancing perhatian lawan agar lebih

memusatkan perhatian pada sumpitnya yang

menjepit daging.

337

Pancingan ini berhasil karena Ie Bhok yang

mendengar ucpan pelayan dan nonanya tadi kini

benar benar memusatkan perhatian kepada

sumpitnya bertekad untuk mempertahankan

daging, sumpitnya menghadapi penyerang yang

terakhir.

Siok Lan dengan amat tajam memandang

daging disumpit lawan, kemudian sempitnya

sendiri bergerak, dibarengi bentakannya keras

“Lepaskan.” Dan ia menggunakan sumpitnya

untuk nenggempur sumpit lawan. Diam diam Ie

Bhok tertawa. Alangkah bodohnya nona ini,

pikirnya. Dengan jurus jurus yang lihai saja masih

belum mampu merampas daging nya, apalagi

dengan cara kasar seperti ini, hanya menggempur

sumpit beradu sumpit, menggunakan tenaga.

Mana mungkin berhasil? Ia tertawa dan hendak

mengerahkan tenaga menerima benturan sumpit

lawan.

Akan tetapi mulutnya yang menyeringai tertawa

itu berubah mengeluarkan seruan kaget ketika tiba

tiba meja tergetar dan sikunya menjadi lumpuh,

tangannya menggigil dan ketika benturan tiba, ia

tidak mampu mempertahankan lagi sumpitnya

yang runtuh terlepas dari jari jari tangannya!

Ketika Ie Bhok tersadar bahwa gadis itu

menyerangnya melalui meja dengan tangan kiri

yang menggunakan sinkang menggempur siku nya,

ternyata telah terlambat. Daging yang jatuh dari

sumpitnya telah disambar oleh sumpit Siok Lan

yang tersenynm senyum sambil mengangkat daging

itu tinggi tinggi agar tampak oleh semua orang.

338

Sorak sorai menyambut kemenangan Siok Lan

ini didahului oleh Yu Lee yang tadi diam diam

membantu nonanya dengan menggerarkan tangan

pada meja. Kalau saja tidak dibantu pemuda sakti

ini, agaknya belum tentu Siok Lan berhasil karena

menyerang siku lawan melalui meja yang

digetarkan tenaga sinkang membutuhkan tenaga

yang kuat sekali !

“Nona sungguh cerdik, saya mengaku kalah !”

kata Ie Bhok yang segera mengundurkan diri.

Pada saat itu terdengar suara mendengus

disusul kata kata yang nadanya mengejek. Suara

ini datangnya dari meja sebelah kiri meja Siok Lan,

suara seorang wanita yang terdengar lantang

karena pada saat itu semua orang sudah diam

kembali.

“Huh, permainan macam itu saja apa sih

anehnya? Anak kecilpun bisa!”

Tentu saja suara yang terdengar pada saat

semua tamu berdiam dan keadaan menjadi sunyi

ini. Terdengar jelas dan amat menarik perhatian.

Semua mata menengok dan karena wanita yang

bicara itu duduk di meja sebelah kirinya, Siok Lan

hanya mengerling dan memandang dari sudut

matanya. Tidak seperti Yu Lee dan Abouw yang

langsung menoleh dan memandang penuh selidik.

Dia adalah seorang wanita berusia kurang lebhh

tiga puluh tahun, bentuk mukanya tentu akan

cantik manis kalau saja wajah itu kulitnya tidak

dirusak oleh bekas penyakit cacar sehingga kulit

muka nya kini tidak halus lagi, melainkan agak

bopeng dan totol totol hitam ini dicobanya untuk

339

dihilangkan dengan lapisan bedak putih yang agak

tebal. Untuk menutupi kekurangan itu, wanita ini

menghitamkan alisnya dengan alat penghitam alis

sehingga alis itu bentuknya tebal dan panjang

melengkung dan bibirnya dicat merah sampai

menyolok.

Tubuhnya agak gemuk, akan tetapi

pinggangnya sengaja diikat dengan ikat pinggang

amat eratnya agar kelihatan ramping dan yang luar

biasa adalah pinggulnya. Pinggul ini berdaging

besar dan amat montok sekali sehingga ketika ia

duduk seakan akan ada yang mengganjal di bawah

pantatnya.

Ketika melihat bahwa semua mata, termasuk

mata ketiga tuan rumah memandang kepadanya,

wanita itu menjebikkan bibirnya lalu tersenyum

lebar sehingga tampak deretan gigi nya yang putih

dan rata akan tetapi agak besar besar sehingg

membuat mulutnya kelihatan lebar. Dengan

gerakan yang jelas ia lakukan agar tampak oleh

semua orang, ia menggerakkan sumpitnya,

memasukkan sepasang sumpit ke dalam mangkok

dan ketika ia mengambil sumpitnya diujung

masing masing sumpit sudah tertusuk sebuan

bakso ikan yang bundar dan putih. Kemudian

sekali ia menggetarkan tangan dua buah bakso itu

melayang naik ke atas dan tepat sekali memukul

potongan gigi garpu yaug tadi ditiup menancap

oleh Siok Lan di tiang yang melintang di bawah

atap.

Semua orang jadi terbelalak kaget dan kagum

karena dua buah bakso itu menghantam potongan

340

garpu dengan keras sekaji dan ketika

melayang turun ternyata potongan garpu itu sudah

terbawa turun menancap pada dua buah bakso !

Diam diam Yu Lee terkejut. Itulah hasil dari

kekuatan sin kang yang hebat, sama sekali tidak

boleh dipandang ringan, apa lagi oleh Siok Lan. Ia

tahu bahwa gadis ini jauh di bawah wanita itu

tingkat kekuatan sin kang nya. Siok Lan biarpun

kelihatan tersenyum dan tidak mengacuhkan,

namun sesungguhnya iapun terkejut sekali.

Sebagai seorang ahli yang sudah tergembleng

sejak kecil, iapun bukan tidak tahu bahwa wanita

itu amat tinggi kepaadaiannya dan dia sendiri tidak

akan mampu melakukan demonstrasi yang

diperlihatan wanita itu tadi. Akan tetapi tentu saja

ia tidak merasa gentar seujung rambutpun. Ia

masih duduk tidak per duli dan melanjutkan

makan minum.

Kesunyian yang menyusul perbuatan

demonstrasi wanita itu dipecahkan oleh suara

ketawa Ie Cu Lin. Perbuatan tamunya yang

menjadi sahabat baiknya ini sedikit banyak telah

membantu fihak tuan rumah menebus “kekalahan”

dalam demonstrasi mereka tadi melawan Sian li

Eng cu.

“Ha ha ha ha! Sungguh Cui Toanio amat hebat,

makin lama makin lihai saja membuat kami takluk

dan kagum. Akan tetapi, agaknya pertunjukan

pertunjukan para tamu yang terhormat dan gagah

perkasa seharusnya dilakukan menurut urutan

yang rapi dan tidak kacau balau. Kita semua tahu

bahwa pertemuan ini di samping membicarakan

341

tentang siasat siasat dan rencana rencana

pekerjaan kita menentang kaum penjajah, juga

diadakan pertemuan saling mempererat

persahabatan dan saling menambah ilmu

pengetahuan serta saling mengisi dan menuntun

agar kita makin kuat menghadapi musuh rakyat!

Semua tamu menyambut kata kata ini dengan

mengangguk angguk setuju, malah ada diantara

mereka yang sudah terlalu banyak minum, saking

gembira sebab akan menyaksikan demonstrasi

demonstrasi ilmu silat linggi, sudah bersorak dan

bertepuk tangan.

Ie Kiok Soe, orang ke dua dari Huang ho Sam

liong yang tadi mersa mendongkol ke pada dua

orang murid Kim hong pai karena mereka berdua

itu seolah olah beifihak dan bersikap ramah

kepada Sian li Eng cu, kini bangkit berdiri dan

mengangkat kedua lengan ke atas sebagai tanda

agar para tamu tidak berisik karena ia mau bicara.

Setelah suasana menjadi sunyi, si muka tikus ini

berkata sambil memandang ke arah meja Sian li

Eng cu.

“Cuwi sekalian! Dalam pertemuan hari ini, kami

mendapat kesempatan untuk memperkenalkan

sahabat sahabat seperjuangan yang baru. Biarpun

belum lama, baru beberapa pekan menggabungkan

diri dengan kita, namun nama Kim hong pai sudah

cukup terkenal di dunia kang ouw. Saat ini

diantara kita yang hadir terdapat dua oraug murid

Kim hong pai yang menjadi teman seperjuangan

bahkan menjadi murid murid terkasih dari Gwat

Kong Tosu sendiri. Kim hong pai sesungguhnya

342

adalah sebuah ranting dari Kun lun pai yang besar,

karena Gwat Kong Tosu adalah seorang anak

murid Kun lun pai yang telah mendirikan partai

persilatan tersendiri. Nah kami perkenalkan Pui

Tiong sicu (tuan gagah) dan Can Bwee lihiap (nona

gagah) dari Kim hong pai !”

Sejak si muka tikus angkat bicara Pui Tiong

dan Can Bwee sudah saling pandang. Kemudian

Pui Tiong berbisik kepada Sian li Eng. cu. “Harap

nona hati hati wanita itu adalah Cui Hwa Hwa atau

yang disebut Cui Toanio, ilmu kepandaiannya

tinggi sekali.”

Diam diam Siok Lan terkejut, pernah kakeknya

menyebut nama Cui Hwa Hwa ini sebagai seorang

tokoh kang ouw yang terkenal. Kini mendengar

keta kata si muka tikus ia tahu bahwa dua orang

murid Kim hong pai yang amat baik terhadapnya

ini dikutik kutik maka ia mendengarkan penuh

perhatian. Iapun tahu bahwa Kim hong pai masih

merupakan partai sesumber dengan dia, karena

benar seperti dikatakan si muka tikus tadi, dahulu

Gwat Kong Tosu adalah seorang anak murid Kun

lun pai yang melakukan “pelanggaran” sehingga

diusir dari Kua lun pai yang kemudian membentuk

sebuah partai persilatan sendiri. Maka ia tadi tidak

heran menyaksikan betapa dua orang itu bersikap

baik terhadap dirinya.

Memang kedua orang anak murid Kim hong pai

ini merupakan “pejuang pejuang” baru yang

menggabungkan diri dengan golongan pejuang

yang berkumpul di sepanjang Sungai Huang ho ini.

Maka setelah kini diri mereka diperkenalkan Pui

343

Tiong dan Cm Bwee lalu bangkit berdiri

mengangkat kedua tangan depan dada lalu

memberi hormat ke sekeliling.

“Harap saja Pui sicu sudi memberi sedikit

permainan pedang Kmi hong pai untuk membuka

mata kita!” Tiba tiba Ie Kiok Soe berkata dengan

suara lantang dan semua tamu lalu menyusulnya

dengan ucapan ucapan yang sifatnya mendesak.

Pui Tiong bertukar pandang dengan suci nya

yang mengangguk perlahan pemuda baju biru itu

lalu bangkit menjura ke arah Ie Kiok Soe dan

berkata,

“Sesungguhnya saya yang muda merasa malu

harus memperlihatkan kebodohan di depan banyak

orang gagah. Akan tetapi untuk sekedar

menggembirakan pertemuan ini, biarlah saya

melupakan kebodohan sendiri, harap sahabat

sekalian tidak menjadi kecewa.”

Para tamu bertepuk tangan ketika pemuda ini

malangkah ketengah lapangan kemudian monjura

ke sekeliling dan mencabut pedangnya. Sebuah

pedang yang bagus dan berkilau saking tajam.

Kemudian Pai Tiong mainkan pedangnya mula

mula lambat, makin lama makin cepat sehingga

pedangnya berubah menjadi segulungan sinar

putih berkeredepan.

Siok Lan yang menonton penuh perhatian,

mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang pemuda

She Pui ini cukup kuat, mempunyai sumber ilmu

pedang Kun lun pai, hanya gaya nya yang dirobab

sehingga kini ilmu pedang ini disebut Kim hong

kiam hoat (Ilmu pedang partai Kim hong pai).

344

Pada saat itu berkelebat bayangan hijau dan

tahu tahu Cui Hwa Hwa sudah berdiri di tengah

lapangan menghadapi Pui Tiong sambil berkata

nyaring. “Orang she Pui ilmu pedangmu bagus

sekali kalau bermain sendiri tentu kurang

menarik!”

Pui Tiong menghentikan tarian pedangnya dan

menjura sambil menekuk pergelangan tangan

sehingga pedangnya tersembunyi di bawah lengan.

“Toanio, apakah yang toanio maksudkan?”

Cui Hwa Hwa tertawa sehingga tampak giginya

yang besar besar, matanya yang lebar

mengeluarkan sinar berseri ketika ia berkata, “Pui

enghiong biarpun engkau dikenal sebagai seorang

tokoh Kim hong pai namun ilmu pedangmu masih

dapat kukenal sebagai Kun lun kiam hoat. Aku

sudah sering kali berhadapan dengan ilmu pedang

Kun lun pai dan sudah seringkali

menundukkannya.” Sampai di sini wanita ini

mengerling ke arah Siok Lan dengan senyum

mengejek dan memandang rendah sekali, “Maka

aku mengenalnya begitu melihat gerakanmu !”

Merah telinga Pui Tiong akan tetapi masih

bersikap merendah dan hormat.

“Tidak salah ucapan Toanio. Memang tidak

perlu kami sangkal bahwa guru kami Gwat Kong

Tosu adalah bekas murid Kun lun pai akan tetapi

ilmu pedang kami adalah Kim hong kiam hoat,

bukan Kun lun kiam hoat !”

Kembali wanita itu tertawa dan setelah kini ia

berdiri, tampak betapa pinggulnya benar besar

345

besar, menjendul di kanan kiri dan ketika ia

tertawa, kedua gunung pinggul penuh daging itu

bergoyang goyang di balik pakaian yang berwarna

hijau dan terbuat dari sutera tipis. Orang orang

yang berada di sebelah belakangnya seolah olah

dapat melihat daging pinggul yang montok itu

menari menari, “Pui enghiong, sudah kukatakan

tadi, bahwa bermain seorang diri kurang menarik.

Maka biarlah aku menemanimu dengan tangan

kosong dan sebagai bukti kata kataku tadi, hendak

kuperlihatkan kepadamu dan kepada semua tamu

betapa dalam sepuluh jurus aku sanggup

menundukkanmu seperti yang sudah terlalu sering

kulakukan terhadap ilmu pedang Kun lun pai !”

Semua yang hadir terkejut. Biarpun tak dapat

dikatakan bahwa ilmu pedang pemuda itu indah

sempurna, namun harus diakui cukup hebat, dan

tangguh. Mungkin kalau menghadapinya dengan

senjata lain, Cui Hwa Hwa yang terkenal sekali itu

akan dapat mengambil kemenangan. Akan tetapi,

menghadapi pedang pemuda itu dengan tangan

kosong dan berjanji akan menundukkannya dalam

sepuluh jurus? Benar benar terlalu tekebur !

Yu Lee yang menyaksikan gerak gerik wanita itu

penuh perhatian, diam diam merasa khawatir.

Jelas dapat terlihat oleh siapapun juga bahwa

sesungguhnya bukan murid Kim hong pai yang

ditekan atau ditantang oleh Cui Hwa Hwa,

melainkan Siok Lan, Sian li Eng cu yang dikenal

sebagai murid Kun lun pai! Dan menurut penilaian

Yu Lee, tingkat kepandaian wanita itu lebih tinggi

dari pada Siok Lan sehingga kalau ejekan ejekan

346

menantang itu dilayani Siok Lan tentu akan

berbahaya sekali bagi nona pujaan hatinya itu.

Memang kekhawatiran Yu Lee itu ada tanda

tandanya akan terjadi, Siok Lan biasanya berwatak

riang gembira, akan tetapi kalau ia tersinggung

dun marah, sepasang pipinya menjadi bersemu

kemerah merahan dan sepasang matanya yang

biasanya bening dan riang jenaka itu

memancarkan cahaya kilat. Dan pada saat itu

keadaan Siok Lan pun sudah seperti itu ketika

dara ini memandang ke arah Cui Hwa Hwa yang

hendak mempermainkan Pui Tiong.

Pui Tiong sendiri juga penasaran. Ditantang

untuk dihadapi dengan tangan kosong dan akan

dikalahkan dalam sepuluh jurus benar benar

memanaskan hatinya. Maka ia segera menjura lagi

dan berkata, “Sebelumnya terima kasih bahwa Cui

Toanio yang tersohor lihai suka memberi petunjuk

!”

“Tak perlu sungkan, seranglahl” kata Cui

Toanio sambil tersenyum lebar.

Pui Tiong lalu memutar pedangnya, mengayun

ke atas kepala dan mulai menyerang maju. Putaran

pedangnya cepat dan kuat sekali, lalu meluncur ke

arah leher lawan. Namun gerakan Cui Toanio

benar benar mengagumkan. Hanya pinggulnya

yang besar montok itu saja yang tampak bergerak,

sedangkan lain tubuh tidak lampak bergerak, akan

tetapi tahu tahu ia sudah miringkan tubuh dan

serangan pedang itu menyambar lewat, kemudian

secepat kilat, tangan kirinya menyambar maju ke

347

arah siku kanan Pui Tiong yang memegang

pedang!

Pui Tiong kaget sekali karena kalau sampai

sikunya tertotok atau terpukul tentu pedangnya

akan terlepas, maka cepat ia berseru sambil

meloncat, kebelakang pedangnya ditarik dan

diputar melingkar dari luar, kini membabat ke arah

pinggang. Akan tetapi agaknya Cui Toanio tadi

tidak berkata main main karena buktinya, ia

seperti telah tahu atau mengenal gerakan pedang

Pui Tiong dan sebelum pedang itu membabat

pinggangnya, tubuhnya sudah melompat ke atas,

kemudian dari atas tubuhnya melayang turun

dengan kedua ujung kaki menyerang pundak Pui

Tiong!

Pemuda baju biru ini tentu saja tidak mau

ditendang pundaknya dari atas, ia meredahkan

tubuh dan memutar pedang diatas kepala seperti

payung yang bertugas menyerampang buntung

kedua kaki lawan. Terdengar Cui Hwa Hwa tertawa

dan tubuhnya yang masih di udara itu tiba tiba

membuat salto atau poksai dua kali sehingga

serampangan pedang Pui Tiong tidak berhasil.

Pui Tiong mendesak terus dan sampai

berlangsung sembilan jurus, belum juga ia mampu

menyentuh ujung baju Cui Hwa Hwa, akan tetapi

hatinya girang karena sejurus lagi kalau wanita

sombong itu belum dapat mengalahkannya, berarti

ia menang! Maka ia kini tidak menitik beratkan

kepada serangan.

Jurus terakhir ini ia menitikberatkan kepada

pertahanan dan ia hanya membacokkan

348

padangnya ke arah leher lawan sambil menjaga diri

sendiri, menutup segala lobang.

Alangkah kaget hati Pui Tiong ketika mendapat

kenyataan bahwa kini lawannya sama sekali tidak

mengelak atau menangkis, membiarkan pedang

meayambar pinggir leher sebelah kiri! Betapapun

juga Pui Tiong tiaak bermaksud melukai lawan,

apalagi membacok leher yang dapat menimbulkan

bahaya maut, maka dengan gugup ia berusaha

menahan bacokan atau sedikitnya mengurangi

tenaga nya. Namun terlambat pedangnya tetap

mengenai leher Cui Toanio.

“Takk !” Pui Tiong terkejut sekali karena

pedangnya seperti mengenai benda keras dan pada

saat itu Cui Toanio membuat gerakan menghantam

dengun kepalan kiri kearah lambungaya. Selagi ia

bingung dan menangkis dengan tangan kiri, tiba

tiba pedangnya terampas oleh jari jari tangan Cui

Toanio yang kanan, yang menjepit pedang itu

dengan jari jari ditekuk dan dengan kenyataan

yang luar biasa telah merampas pedang sehingga

terlepas dari tangannya dan kini berada dalam

jepitan jari tangan kanan Cui Toanio yang

mengangkatnya tinggi tinggi!

“Nah, tepat sepuluh jurus! Inilah jurusku yang

ampuh untuk menghadapi ilmu pedang Kun lun

pai yang tak pernah gagal merampas pedang Kun

lun pai. Jurus ini kuberi nama Eng jiauw phok

kiam (Cakar Garuda Sambar Pedang). Jurus

macam ini barulah ada harganya disebut ilmu,

tidak seperti segala macam kepandaian ansak kecil

seperti yang telah diperlihatkan tadi!” Sambil

349

berkata demikian, kembali dengan sengaja dan

penuh tantangan Cui Hwa Hwa mengerling kearah

meja Siok Lan. Kemudian dengan sikap

memandang rendah, ia mengangsurkan pedang

kepada Pui Tiong yang menerimanya dan yang

segera mengundurkan diri dengan muka pucat.

Tadinya ia marah, akan tetapi ketika bertemu

pandang dengan sucinya, ia melihat Can Bwee

berkedip maka ia lalu mengundurkan diri tanpa

berkata sesuatu.

Seperti telah diharap harapkan orang banyak

dengan pancingan tantangan Cui Hwa Hwa

terhadap tamu istimewa Sian li Eng cu yang

dianggap telah memusuhi Ang bin Kai pang sebagai

teman teman seperjuangan mereka ini Siok Lan

bangkit berdiri. Akan tetapi Yu Lee yang sudah siap

menghindarkan Siok Lan daripada bahaya, jaga

cepat bangkit berdiri bahkan berlari lari

mendahului nona itu ke tengah lapangan di mana

Cui Hwi Hwa masih berdiri. Sambil tertawa tawa ia

berkata, mendahului Siok Lan yang sudah hendak

menegurnya.

“Eh. nona ! Bukankah ilmu yang

dipertontonkan tadi, menjepit pedang, sama benar

dengan ilmu yang pernah nona ajarkan kepada

saya? Namany juga hampir sama! Heran sekali

kenapa bisa begitu sama, bukankah yang nona

ajarkan itn hanya untuk tontonan anak anak di

tengah pasar?”

Hanya beberapa detik saja wajah Siok Lan

terlcegang keheranan, akan tetapi dasar ia cerdik

dan jenaka, segera saja wajahnya yang cantik jelita

350

itu berubah, bersari seri dan mulutnya tersenyum

simpul manis sekali.

“Kau betul, Aliok ! Baiknya kau ingatkan aku,

hampir aku lupa. Memang sudah pernah

kuajarkan padamu. Leher tidak luka oleh bacokan

pedang itu namanya ilmu lehar kepala batu. Dan

ilmu menjepit pedang dengan jari itu namanya

jurus Hek mauw phok ci (Kucing Hiiam Sambar

Tikus) !”

Jelas sekali apa yang diperbuat dan

dipercakapkan antara nona dan pelayannya ini

menyinggung peristiwa tadi. Lebih lebih nama

jurus itu ! Kalau jurus lihai dari Cui Hwa Hwa tadi

bernama Cakar Garuda Sambar Pedang, kini jurus

kedua orang ini bernama Kucing Hitam Sambar

Tikus ! Justeru muka Cui Hwa Hwa memang agak

kehitaman karena bekas penyakit cacar, jadi sama

saja dengan menyamakan dia dan memakinya

kucing hitam ! Para tamu memandang dengan

wajah tegang, dan hal yang lucu ini membuat

mereka ingin tertawa akan tetapi tidak berani

maka banyak yang menutup mulutnya agar tidak

kelihatan tertawa.

Wajah Cui Hwa Hwa sebentar merah sebentar

makin hitam. Kemarahannya hampir tak dapat

ditahannya lagi. Akan tetapi ia tidak tahu harus

berkata atau berbuat apa karena dua orang itu

tidak terang terangan menyinggung namanya. Pada

saat itu, tiba tiba Siok Lan merctibut pedangnya

dengan gerakan indah dan cepat. Semua orang

tertegun kagum menyaksikan sinar pedang putih

kemilau dari pedang perak itu.

351

“Awas, Aliok. Mari kita perlihatkan apa yang

telah kita latih dahulu. Aku akan bacok lehermu,

keluarkan Ilmu leher kepala batu kemudian kau

cakar pedang ini dengan ilmu Hek mouw phok ci !”

Mata Yu Lee berseri. Pemuda ini merasa geli,

akan tetapi juga gembira dan kagum Siok Lan

benar benar seorang gadis yang selain berani dan

jenaka, juga berotak tajam sekali sehingga dapat

mengerti ajakannya untuk bergurau dan

“memukul” kesombongan Cui Hwa Hwa.

“Baiklah, nona! Biar semua orang melihat

bahwa saya, biarpun hanya seorang pelayan, akan

tetapi adalah pelayan dari Sin li Eng cu dan tentu

saja mengenal ilmn kucing ini!” Ia mengatakan

ilmu kucing untuk mengimbangi ucapan Cui Hwa

Hwa yang mengatakan bahwa kepandaian Siok Lan

tadi seperti anak kecil.

Siok Lan memainkan pedangnya, memutar

mutar ke atas dan berteriak. “Hiaaaatt!” Pedang itu

menyambar leher Yu Lee. Pemuda ini maklum

bahwa nonanya sudah tahu akan keadaannya yang

tidak pandai silat, maka ia pun sengaja membuat

gerakan takut takut sehingga tampak lucu…

Pedang itu meluncur dan berhenti tepat setelah

menyentuh kulit leher Yu Lee! Dari situ saja para

ahli yang hadir di situ maklum bahwa Sian li Eng

cu benar benar seorang ahli pedang yang hebat !

Karena pandainya Yu Lee bersandiwara. Siok

Lan berlaku hati hati sekali agar pedang nya

jangan sampai melukai pelayannya, maka ia tadi

telah mengukur tenaganya dan tepat sekali

pedangnya sudah terhenti ketika menyentuh kulit

352

leher pelayan itu. Dengan lagak dibuat buat Yu Lee

lalu mengangkat tangannya, ditekuk jari jarinya

seperti yang dilakukan Cui Hwa Hwa tadi, lalu

perlahan lahan ia menggerakkan jari jarinya

menjepit pedang. Ia sengaja membuat jari jarinya

seperti tidak kuat dan takut takut menghadapi

mata pedang yang tajam, maka ia lalu

menggunakan pula tangan kirinya membantu,

barulah jari jari kedua tangannya dapat menjepit

pedang dan diangkatnya ke atas.

“Inilah jurus Kucing Hitam Sambar Tikus…?

Ciiiieet …ciiieeet…!” kata Yu Lee sambil berjingkrak

jingkrak dan berputaran di lapangan itu menjinjing

pedang.

Sorak sorai meledak menyaksikan pertunjukan

yang lucu ini. Apalagi Abouw, dia sampai hampir

terjungkal dari bangku yang didudukinya saking

terpingkal pingkal, kemudian ia bangkit dan

menghampiri Yu Lee, menjura sampai dalam dan

berkata mengacungkan jempolnya.

“Wahh, siapa kira, nona telah memberi

pelajaran begini hebat. Siapa duga saudara Aliok

ini ternyata seorang pandekar yang hebat ! Ha ha

ha !”

Yu Lee mengembalikan pedangnya kepada Siok

Lan yang menyimpannya, kemudian ber kata

kepada Ahouw. “Engkau sendiri, sudah dipilih

menjadi tukang perahu Sian li Eng cu, tentulah

bukan orang sembarangan pula. Ini aku ketahui

benar!”

Pada saai itu, suara ketawa mereda dan

terdengar bentakan nyaring. Inilah suara Cui Hwa

353

Hwa yang menjadi marah bukan main. Wanita ini

tak dapat menahan kemarahannya lagi sampai

hampir meledak rasa dadanya.

“Keparat laknat! Berani kalian memandang

rendah kepada nyonya besarmu? Kalau kalian

sudah bosan hidup, hayo maju. Baik nona

majikannya, maupun pelayannya, apa lagi tukang

perahunya semua akan kupatahkan batang

lehernya satu persatu! Kalau tidak bisa, jangan

sebut namaku Cui Hwa Hwa lagi!” Wanita itu

menghadapi Siok Lan bertiga sambil bertolak

pinggang, matanya seakan akan membakar mereka

bertiga

“Nah, paman Abouw. Kau ditantang orang!

Beranikah?”

“Aku…aku…!” Tentu saja Abon tidak berani dan

mukanya pucat matanya terbelalak, kedua kakinya

menggigil. Di sana sini sudah terdengar orang

tertawa Cui Hwa Hwa tersenyum mengejek dan

memandang rendah sekali.

Akan tetapi Yu Lee sudah mendapat akal. Ia

menghadapi wanita itu dan bertanya, “Kau tadi

benar benar menantang kami? Termasuk paman

Abouw tukang perahu iui?”

“Betul. Bujang hina dina!”

“Aduh aku… aku…!”

“Tahan, paman Abouw mengapa begitu

merendahkan diri? aku tahu bahwa dalam

mengadu kepandaian, kau jauh lebih menang dari

pada Toanio ini, kenapa kau pura pura khawatir?”

Sebelum sempat Abouw membantah. Yu Lee

354

berkedip kepadanya lalu bertanya lagi kepada Cui

Hwa Hwa, “Cui Toanio, di sini banyak saksi.

Benarkah kau berani menantang paman Abouw

untuk mengadu kepandaian? Siapa yang kalah

harus lekas lekas angkat kaki dari sini? Beranikah

Kau?”

“Boleh! Suruh dia maju akan kupatahkan

batang lehernya !”

Yu Lee lalu menghampiri Abouw yang masih

gemetaran, lalu mendekatkan mulut di telinga

tukang perahu itu beibisik bisik. Seketika cerah

wajah Abouw dan sambil mengangkat dada, ia

melangkah maju menghampiri Cui Hwa Hwa. Akan

tetapi betapapun juga masih tampak jelas kedua

kakinya menggigil sehingga keadaan yang lucu ini

membuat semua orang tertawa geli. Hanya Huang

ho Sam liong yang memandang marah karena

mereka sendiri merasa terhina olen pelayan

pelayan Sian li Eng cu yang menganggap tempat

itu sebagai panggung sandiwara di mana mereka

boleh membadut seenaknya !

“Toanio!” kata si tukang perahu dengan suara

lantang. “Seorang gagah tidak akan menjilat

ludahnya sendiri. Betul?”

“Betul!” bentak Cui Hwa Hwa dengan keras

sehingga tukang perahu itu kelihatan kaget.

“Kau menantang aku Abouw untuk meng adu

kepandaian. Betul ?”

“Betul. Mulailah!” bentak lagi Cui Hwa Hwa

yang sudah mengepal tinju gatal gatal kedua

355

tangannya untuk mematahkan leher tukang

perahu.

“Dan aku yang akan menentukan apa macam

pertandingan. Betul?”

“Betul dan boleh kau pilih. Tangan kosong atau

bersenjata !”

Tukang perahu itu mengangkat alisnya. “Siapa

bilang tentang tangan kosong? Siapa bilang pula

bersenjata? Tentu saja dua macam pertandingan

kan, Toanio! Pertama dengan tangan kosong,

kedua dengan senjata !”

“Baik, awaslah setangan tangan kos….!”

“Heeeeiiit….! Stop dulu !” Si tukang perahu

cepat mundur ketakutan. “Toanio, mengapa kau

begini ceroboh? Aku belum me nyatakan cara dan

pilihanku kau sudah buru buru saja. Bernafsu

sekali kau agaknya! Yang kumaksudkan dengan

tangan kosong bukan sekali kali uatuk memukul

orang ! Toanio jangan curang!” Saking takutnya

kalau kalau ia dipukul Abouw mundur mundur

seperti orang hendak melarikan diri. Akan tetapi

punggung nya di dorong maju dari belakang oleh

Yu Lee yang berkata mengejek.

“Abouw, jangang takut, banyak saksi hidup di

tempat ini. Kau harus memberi kuliah kepada

Toanio itu, agaknya Toanio itu mengira bahwa

Tuhan mnciptakan manusia diberi tangan hanya

untuk memukul orang !”

“Manuia manusia pengecut!” Cui Hwa Hwa

sudah memaki lagi, tangan kiri bertolak pinggang,

tangan kanan menudingkan telunjuk ke arah

356

muka Abouw “Kalau memang tidak berani, mundur

saja dan biarkan nonamu yang maju ! Mulutmu

yang buruk tadi menantang dengan tangan kosong,

kemudian dengan senjata! Apakah engkau hendak

menjilat ludah sendiri?”

“Sama sekali tidak Toanio. Aku tetap dengan

tantanganku kepadamu. Pertama dengan tangan

kosong, kita berdua boleh mengadu kepandaian,

terjun ke sungai dan menangkap ikan dengan

tangan kosong siapa lebih cepat dapat menangkap

ikan, dia menang! Nah siapa bilang peraturan ini

tidak adil? Dan kedua dengan senjata dayung, kita

berlomba memutari sungai melawan arus. Kalau

aku kalah aku akan paykui (berlutut menyembah)

sampai dua puluh tujuh kali di depan Toanio!”

Semua orang tercengang mendengar ini kemudian

meledak suara tawa mereka. Cui Hwa Hwa makin

hitam mukanya dan ia membanting banting

kakinya “Bedebah! Siapa sudi main main dengan

engkau?” Kalau tidak ada kepandaian hayo

menggelinding pergi, atau… hemm, kuhancurkan

kepalamu!”

Melihat wanita itu sudah gatal tangan hendak

menerjang maju Yu Lee khawatir dan cepat ia

melangkah maju.

“Eh, eh, Cui Toanio sebagai seorang pendekar

wanita yang besar, benar benarkah tidak malu

untuk memukul orang yang tak bersalah? Apalagi

orang yang tidak melawan? Toanio sendiri yang

salah sebaliknya paman Abouw ini benar seratus

prosen! Dia tadi menantang Toanio mengadu

kepandaian bukan? Nah berenang menangkap

357

ikan dan mendayung perahu tentu saja merupakan

kepandaiannya kepandaian seorang tukang

perahu! Masa ia diharuskan mengadu pukulan?

Dia bukan tukang pukul! Kalau memang Toanio

tidak berani menghadapi tantangannya, bilang saja

terus terang dan mengaku kalah, itu baru sikap

orang gagah. Kalau memang merasa kalah lalu

hendak meggunakan kekerasan dan memukul, itu

namanya sewenang wenang seperti perbuatan

tukang pukul bayaran yang kasar!” Setelah berkata

demikian Yu Lee memandang ke arah ruangan

tamu dan bertanya,” Cuwi eng hiong sekalian yang

mulia, kalau perkataan saya tadi ada yang keliru,

harap betulkan!”

Semua tamu menjadi geli dan juga kagum akan

kelihaian mulut pelayan Sian li Eng cu ini. Jarang

ada orang berani main main terhadap Cui Hwa

Hwa, akan tetapi sekali ini nyonya yang galak itu

dipermainkan dan terpojok dalam keadaan serba

salah! Maka mereka lalu berteriak,

“Betul…betul…!”

JILID IX

MATA Cui Hwa Hwa sampai menjadi merah.

Wanita ini tidak tahu agakah ia harus menangis

atau tertawa. Ingin ia sekali pukul menghancurkan

kepala pelayan ini, akan tetapi kalau ia melakukan

hal ini tentulah namanya akan menjadi tercemar

sebagai seorang pejuang yang gagah. Ia menggertak

gigi lalu berkata, “Biarlah aku mengaku kalah

terhadap tukang perahu. Akan tetapi sekarang

menantang engkau pelayan hina diria ! Aku

358

memaki engkau sebagai pengecut rendah, seorang

penakut yang hanya berlindung kepada lidah tak

bertulang! Engkau laki laki tidak berhanga, hayo

aku tantang kepadamu untuk bertandirig mengadu

ilmu silat….”

“Boleh ! Dengan tangan kosong !” Yu Lee cepat

cepat menymbung dengan sikap petentang

petenteng seperti lagak seorang jagoan besar,

mengangkat dada menggoyang kibul. “Memang

lidahku tidak bertulang Seperti lidah semua orang,

akan tetapi agaknya lidahmu bertulang Toanio.

Pantas saja begitu tegang dan kaku, suka memaki

orang. Memang aku tidak berhanga, tidak ada

hanganya. Kalau engkau berhanga beragakah

Toanio? Tentu tidak mahal karena bekas bopeng

itu…”

“Aliok !” Siok Lan berseru dan melancat dekat

pelayannya. Sementara itu, dengan alis berdiri Cui

Hwa Hwa seperti hendak menelan pelayan itu

dengan pandang matanya, sedangkan para tamu

menjadi tegang. Ucapan ucapan pelayan itu benar

benar amat menghina dan mereka kini akan

maklum bahwa tentu Cui Hwa Hwa hari ini akan

melakukan pembunuhan !

“Mundurlah Aliok, biarkan aku

menghadapinya,” kata Siok Lan suaranya penuh

kekhawatiran.

Melihat sikap dan mendengar suara nona ini,

jantung Yu Leo berdebar tidak karuan saking

girangnya. Benarkah ini? Benarkah nona ini begini

mengkhawatirkan keselamatan nya? Adakah ini

tanda tanda bahwa nona yang dipuja di dalam

359

hatinya ini diam diam …. ada rasa suka

kepadanya?

“Harap nona jangan khawatir,” bisiknya,

“biarpun saya tidak pandai Silat akan tetapi pandai

mengelak dengan akal. Nanti setelah saya memberi

hajaran, baru nona….”

“Kau…? Memberi hajaran….?” Siok Lan

bertanya dengan mata terbelalak, agaknya takut

kalau kalau pelayannya telah menjadi miring

otaknya. Ia tahu bahwa Cui Hwa Hwa lihai sekali,

sedangkan dia sendiri belum tentu akan mendapat

kemenangan kalau melawan wanita itu, apalagi

Aliok yang tidak pandai silat! Tentu dalam

segebrakan saja Aliok akan terpukul sampai mati.

Aliok tertawa dan sengaja mengeraskan

suaranya, “Nona, toanio ini mengingatkan saya

akan bibi Bhu saya di dusun. Bibi saya itu

pantatnya amat besar dan juga seringkah bibi yang

gemuk itu mengejar dan hendak memukuli saya!

Hal ini membuat saya menjadi pembenci pantat

besar dan selalu ingin memukul kalau melihat

orang yang berpinggul besar seperti toanio ini.”

“Aliok…!” Siok Lan khawatir sekali. Akan tetapi

pada saat itu. Cui Hwa Hwa sudah tak dapat

menahan kemarahannya lagi. Serasa hendak

meledak kepala dan dadanya yang terasa panas,

apalagi mendengar betapa para tamu berusaha

keras membendung suara ketawa yang hendak

terbahak keluar.

“Hayo yang mana ini yang akan maju? Nona

majikannya ataukah pelayannya? Jangan kasak

kusuk separti sepasang kekasih di sini!”

360

Mendengar ejekan ini, merah muka Siok Lan

dan terpaksa ia mundur karena maklum bahwa

percuma saja ia membujuk Aliok. Akan tetapi Siok

Lan tidak lagi duduk. Tak dapat ia duduk enak

menyaksikan betapa pelayan nya teraneam maut.

Ia sudah siap siap untuk menggunakan jarum

peraknya menyelamatkan nywa pelayannya kalau

teraneam nanti.

Begitu Siok Lan mundur, Cui Hwa Hwa sudah

menerjang maju.

“Eeeeiit… eeeiit…. jangan curang!” kata Yu Lee

sambil mundur mundur.

Karena takut dikatakan curang, Cui Hwa Hwa

menunda serangannya. “Curang apa? Kau hendak

lari? Tidak mungkin, bujang hina. Kali ini engkau

harus mampus, tidak peduli siapa yang akan

kehilangan pelayan tampan!” Kembali wanita yang

galak itu mengejek Siok Lan.

“Boleh boleh, mau bikin mampus aku, boleh

saja. Akan tetapi pertandingan ini harus diatur

sebaiknya. Bukankah kita semua ini tengolong

orang orang gagah dan kalian ini pejuang pejuang?

Apakah kau hendak membikin malu Huang ho

Sam liong sebagai tuan rumah ?”

“Sudahlah, kayo katakan apa kehendakmu

jangan terlalu cerewet !”

“Begini, toanio, kita boleh bertandirig mengadu

ilmu kepandaian…..“

“Ilmu kepandaian silat !” sambung Cui Hwa

Hwa yang sudah kapok tidak mau ditipu lagi.

361

Yu Lee tersenyum lebar. “Aku tidak bisa silat

bagaimana mungkin mengadu ilmu silat?

Sekarang begini saja. Toanio tadi bilang mau

membunuh aku, bolehhh. Aku sih tidak begitu

kejam seperti toanio yang sudah haus. Aku hanya

ingin satu kali menampar…. pinggul yang besar

itu. Kalau sampai dapat kutampar, berarti aku

menang. Sebaliknya, kalau ampai Toanio berhasil

membunuhku, sudah tentu saja aku mengaku

kalah ……? Eh, tentu saja kalau aku sasih mampu

mengaku, kalau sudah mati, mana mungkin

mengaku….? Wah, aku jadi bingung …”

Para tamu sudah tertawa lagi dan suara ketawa

ini merupakan minyak pembakar yang

memperbesar api kemurahan Cui Hwa Hwa. “Baik!

Nah, kita mulai…!” ia menerjang maju dengan

amat ganasnya memukul bertubi tubi deegan

kedua tangan yang mengandung hawa sakti

sehingga setiap pukulan merupakan maut, disusul

tendangan mengarah bagian bagian berbahaya.

“Ayaaaaa….!!” Yu Lee membuat gerakan kacau

balau seperti seekor kera ketakutan menghadapi

aneaman pukulan. Ia berlancatan mundur,

mengangkat kedua tantan ke atas, dan terus

berlancatan, akhirnya ia lari lari berputaran di

tempat itu ! Tentu saja Cui Hwa Hwa tidak mau

bersikap gila gilaan seperti pemuda itu. Ia mengejar

dengan langkah langkah teratur, langkah langkah

diseret sehingga terdengar jejaknya, “Sett…. Sett….

sett ….!” Terus mengikuti Yu Lee sambil kadang

kadang ia melanearkan satu dua pukulan. Biarpun

wanita ini memandang rendah, namun ia bukanlah

seorang bodoh. Seorang pelayan pendekar wanita

362

yang sudah berani bersikap seperti itu tak

mungkin kalau tidak memiliki kepandaian ilmn

silat, demikian pikirca, maka ia tidak mau berlaku

sembrono.

Siok Lan mungkin merupakan orang yang

paling gelisah menyaksikan pelayannya berlari

larian seperti itu.

“Aliok !Kau mengakn kalah saja, biar aku

menggantikanmu !” Ia berseru.

Yu Lee merasa kasihan kepada Siok Lan.

Betapa tersiksanya hati gadis itu, pikirnya bangga.

“Nanti dulu nona, biarkan aku menggaplok

pantatnya dulu !” Ia berkata. Pada saat ini Cui Hwa

Hwa datang memukul. Semua orang, termasuk

Siok Lan menjadi pucat karena pukulan tangan

kanan wanita itu amat cepat datangnya. Seorang

lawan yang pandai ilmul siat sekalipun akan sukar

menghindarkan diri dari pukulan seperti itu,

apalagi seorang yang tidak pandai silat seperti

Aliok!

Pukulan itu cepat menyambar ke arah dada Yu

Lee. Pemuda ini maklum bahwa kalau ia tidak

cepat cepat mengakhiri pertandingan ini tentu

rahasianya akan terbuka, maka ia sengaja seperti

tidak tahu akan datangnya pukulan ini.

“Aliok, awas….!” teriak Siok Lan.

Namun terlambat, biarpun Aliok yang bingung

itu menggerakan tubuh, tetap saja pukulan

menyambar pundaknya. Tubuh Aliok terbanting ke

atas tanh, bergulingan dan secara aneh tubuh itu

terguling ke belakang Cui Hwa Hwa yang sudah

363

kegirangan dan mengira bahwa pukulannya tentu

akan menewaskan pelayan kurang ajar itu. Dan

sebelum ada yang tahu apa terjadi, juga Cui Hwa

Hwa sendiri tidak tahu mengapa kedua kakinya

tiba tiba tak dapat digerakkan. Aliok sudah

merangkak bangun, lalu tangan kanannya, diayun

menampar pinggul Cui Hwa Hwa yang memang

besar seperti membengkak itu

“Pakkkk….!”

Karena tempat itu agak kering sehingga tadi

ada debu mengebul ketika tangan Yu Lee yang

terbuka itu menghantam daging pinggul, tampak

debu menyebul di baju yang menutupi pinggul, Yu

Lee berjingkrak dan mengangkat tangan kanannya

ke atas sambil berseru nyaring.

“Waaahhh…panas….!!” Kemudian ia menari

nari dan bersorak, “Aku menang….!”

Cui Hwa Hwa berusaha untuk menggerakkan

kedua kakinya, namun tetap tidak dapat

digerakkan. Yu Lee yang menari sengaja

mendekatinya dan menyentuh punggungnya tiga

kali dengan gerakan yang cepatnya tak dapat

terlihat orang lain sambil berkata, “Cui Toanio kau

harus mau mengaku kalah…!”

Cui Hwa Hwa yang seketika dapat bergerak

kembali, tak dapat menahan kemarahannya. Ia

mengira bahwa tentu Sian li Eng cu yang diam

diam secara rahasia membantu pelayan nya, maka

kini ia mendelik dan meneabut pedangnya yang

mengeluarkan sinar hijau “Aku Cui Hwa Hwa

menantang Sian li Eng cu !” bentaknya nyaring.

364

Yu Lee pura pura ketakutan dan lari mendekati

nonanya. “Waduh, dia galak sekali nona. Kau hati

hatilah!”

Siok Lan tadi melongo ketika tadi menyaksikan

betapa secara aneh pelayannya berhasil benar

benar menampar pinggul wanita itu dan pukulan

yang mengenai pundaknya tidak menewaskannya.

“Aliok, kau terpukul tadi…. Tijak apa apakah? “

“Tidak nona!” jawab Yu Lee dengan suara keras

disengaja. “Pukulannya lunak seperti tahu. Harap

nona suka balaskan dengan goreskan pedang nona

pada pinggulnya !”

Siok Lan tidak melayani kelakar pelayannya

karena ia sendiri merasa tegang, Cui Hwa Hwa

sudah mencabut pedang, sudah menantangnya.

Tak dapat ia menghindarkan pertandingan yang

tentu akan terjadi seru dan mati matian karena ia

tahu lelihaian lawannya.

“Cui Hwa Hwa, berkali kali engkau sengaja

menghinaku, sikapmu sungguh tidak patut

menjadi sikap seorang yang mengaku gagah dan

pejuang. Sepatutnya engkau dilaayni pelayanku

dan tukang perahu, bahkan ternyata menghadapi

kedua orang pembantu itupun kau sudah kalah.

Sekarang engkau menantangku, sungguh tak tahu

diri,” kata Siok Lan. Sikapnya angkuh seperti sikap

seorang tingkat atasan terhadap orang yang lebih

rendah.

“Tak usah banyak cakap, lihat pedang!” bentak

Cui Hwa Hwa dan segulung sinar hijau menyambar

ke arah dada Siok Lan. Gerakannya cepat dan

kuat, namun tidaklah secepat yang disangka Siok

365

Lan sehingga nona ini dengan mudahnya

miringkan tubuh mengelak sambil menggerakkan

pedang peraknya menangkis. Terdengar suara

nyaring dan pedang hijau di tangan Cui Hwa Hwa

terpukul miring. Kejadian ini kembali tidak

disangka sangka oleh Siok Lan dan tentu saja ia

menjadi girang mendapat kenyataan bahwa

lawannya ini tidaklah selihai yang ia sangka,

bahkan ia yakin bahwa dia lebih cepat dan lebih

kuat.

Di lain fihak, Cui Hwa Hwa terkejut setengah

mati. Bukan karena Sian li Eng cu itu memiliki

tenaga yang lebih kuat, sama sekali bukan. Ia tadi

sudah merasa yakin bahwa ia akan dapat

mengatasi kepandaian gadis remaja ini.

Akan tetapi begitu ia menggerakkan pedangnya

terasa betapa punggungaya, dari bawah sampai ke

tengkuk, panas dan nyeri seperti ditusuk.

Hal ini lah yang membuat gerakannya terlambat

dan tenaganya berkurang banyak sekali. Dia

sendiri tidak mengerti mengapa begini, karena

sebagai seorang ahli silat tinggi, keadaan seperti

yang dideritanya itu hanya berarti bahwa ia

mengalami luka dalam yang perlu cepat diobati.

Bagaimana ia sampai dapat terluka? Ia tidak

mengerti sama sekali dan karena keheranan dan

keraguan ini, maka ilmu silat nya menjadi makin

kacau Apalagi pada saat itu, Siok Lan sudah

berseru nyaring dan membalasnya dengan

serangan serangan hebat sekali. Terpaksa ia

menggunakan pedangnya menangkis dan

melindungi diri sedapat mungkin.

366

Yang mengerti akan hal ini tentu saja hanya Yu

Lee. Pemuda ini berdiri dengan tenang tersenyum

senyum karena yakin bahwa Siok Lan tidak akan

terancam bahaya lagi. Tidak percuma tadi ia

menggunakan kesaktiannya, menotok dengan

sentuhan sebanyak tiga kali di punggung Cui Hwa

Hwa ketika menari nari kegirangan. Ia sengaja

meonotok untuk menutup jalan hawa sakti

sehingga kecepatan dan tenaga wanita itu lenyap

setengahnya lebih ! Hal itu akan diderita Cui Hwa

Hwa selama kurang lebih tiga jam serta tak perlu

diobati, dalam waktu tiga jam akan lenyap sendiri

pengaruhnya.

Ilmu pedang Siok Lan adalah ilmu pedang Kun

lun kiam sut yang gerakannya cepat sekali,

dsamping amat indah dipandang. Apalagi karena

dara remaja ini memainkan tebatang pedang perak,

maka pedang itu berubah menjadi sinar putih

berkilauan yang bengulung gulung menyelimuti

tubuh lawan. Di lain fihak sinar pedang hijau

menjadi terdesak dan makin sempit gerakannya.

Kurang lebih tiga puluh jurus kemudian, Cui Hwa

Hwa tidak dapat menahan lagi. Mikin cepat ia

bergerak, makin besar tenaga ia kerahkan makin

sakit punggungnya sehingga ia hampir hampir

menangis dan pada saat yang amat baik itu, Siok

Lan menendang, tepat mengenai pergelangan

tangan kanannya yang memegang pedang.

Pedang hijau terlepas dan secepat kilat Siok Lan

melesat ke depan, pedangnya bergerak dan

terdengar Cui Hwa Hwa menjerit menyusul kain

robek.

367

Ketika Siok Lan meloncat mundur sambil

tersenyum dan semua orang memandang, kira nya

baju yang menutup pinggul terobek lebar dan pada

bukit pinggul yang kiri terdapat goresan merah

bekas ujung pedang Siok Lan ! Kulit pinggul yang

menonjol besar dan putih itu terluka!

Cui Hwa Hwa hampir menangis saking

malunya. Ia menggunakan tangan mencoba

menutupi pinggul yang tampak ini, namun karena

robeknya terlalu besar, tetap saja bukit pinggul kiri

yang menonjol amat besarnya itu tampak. Tersipu

sipu ia menyambar pedangnya yang terlepas tadi,

lalu tanpa berkala sesuatu ia melompat dan lari

secepatnya meninggalkan tempat itu !

Yu Lee melangkah maju dan dengan suara

lantang ia berkata, “Saya harap cuwi sekalian yang

gagah perkasa tidak lagi mengganggu nona

majikanku! Sudah jelas bahwa biarpun nona

majikanku berkali kali dihina oleh Cui Toanio,

namun nonaku masih mengampuninya. Hal ini

saja membuktikan bahwa nonaku bukan mencari

permusuhan dengan siapapun juga. Memang

nonaku telah bentrok dengan beberapa orang dari

Ang kin Kai pang. Akan tetapi hal itu adalah

karena kesalahan mereka sendiri yang

mengganggu nonaku, minta sumbangan secara

paksa. Karena itu, saya harap sukalah Huang ho

Sam liong dapat berpemandangan luas, tidak

memancing keributan yang hanya akan

mendatangkan malapetaka bagi cuwi sekalian.

Harap suka mempersilakan nonaku melanjutkan

perjalanan dengan aman.”

368

Siok Lan berdiri sampai bengong ketika,

menyaksikan sikap dan mendengarkan ucapan

pelayannya ini, sikap dan ucapan yang amat

teratur serta berpengaruh. Ah, tidak percuma

menjadi bekas pelayan keluanga si Dewa Pedang

Yu Kiam sian, pikirnya bangga. Dan sekarang

menjadi pelayannya.

Memang ucapan Yu Lee tadi besar pengaruhnya

apalagi karena Huang ho Sam liong dan para tamu

tadi sudah gentar menyaksikan kelihaian Sian li

Eng cu. Mereka semua mengenal siapa Cui Hwa

Hwa, dan boleh di bilang di antara mereka yang

berkumpul di situ, Cui Hwa Hwa termasuk orang

yang tingkat kepandaiannya paling tinggi.

Namun, terbukti wanita perkasa itu mati

kutunya menghadapi Sian li Eng cu !Apalagi kalau

mereka ingat bahwa Sian li Eng cu adalah cucu

Thian te Sin kiam Liem Kwat Ek yang sama sekali

tidak boleh dianggap sebagai musuh golongan,

mereka menjadi lebih segan. Ditambah ucapan

pelayan si nona yang cukup cengli, hati mereka

makin tunduk.

“Maaf, maaf…!” kata Ie Cu Lin si alis putih

sambil menjura ke arah Siok Lan. “Memang bukan

maksud kami untuk memusuhi nona Liem. Hanya

karena mendengar bahwa nona telah merobohkan

beberapa orang sahabat dari Ang kin Kai pang

maka kami menjadi penasaran dan ingin

membuktikan kelihaian Sian li Eng cu. Kini telah

terbukti dan memang nona amat lihai, membuat

kami jadi kagum. Kamipun percaya bahwa nona

tidak memusuhi Ang kin Kai pang, apalagi

369

memusuhi golongan kami yang menentang

penindasan pemerintah penjajah Mongol.

Mengingat akan perjuangan Thian te Sin kiam yang

gagah perkasa, nona sebagai cucunya tentu berjiwa

patriot pula. Oleh karena itu, biarlah dalam

kesempatan ini kami mengharap dan mengundang

nona, sudilah membantu perjuangan kami

membela rakyat tertindas.”

Liem Siok Lan adalah seorang gadis yang tabah

dan lincah jenaka, akan tetapi sebagai keturunan

pendekar besar, iapun dapat bersikap sebagai

seorang pendekar.

Kini menyaksikan sikap Huang ho Sam liong

dan para tamu, iapun cepat menjura dan berkata,

snaranya gagah.

“Terima kasih atas pengertian lo enghiong. Saya

dapat menghargai perjuangan cuwi (tuan sekalian)

dan saya menjunjung tinggi cita cita mulia itu.

Mungkin kelak kalau sudah tiba waktunya, saya

sendiripun tidak akan mendiamkan segala

penindasan yang diderita rakyat. Bahkan

sekarangpun, setiap kali melihat penindasan, tentu

saja berdaya upaya sekuat mungkin untuk turun

tangan. Akan tetapi untuk berjuang langsung

bersama cuwi pada waktu ini saya belum

mempunyai kesempatan karena saya ada tugas

lain urusan pribadi yang amat penting. Oleh

karena itu, harap suka maafkan.”

Ie Cu Lin mengangguk angguk, kemudian

berkata, “Baiklah, kami dapat menghargai urusan

pribadi seseorang. Kami persilakan kalau nona

hendak melanjutkan perjalanan, hanya kami

370

peringatkan agar nona tidak melanjutkan

perjalanan melalui sungai karena belasan li di

sebelah depan terdapat pasukan pemerintah yang

amat kuat, ratusan orang jumlahnya, menjaga di

sekitar tepi sungai. Amatlah berbahaya kalau nona

melanjutkan pelayaran dan juga untuk itulah

sebetulnya kami menghentikan nona di sini. Mulai

dari sini, sebaiknya nona mengambil jalan

memutar melalui darat, dan untuk itu kami

menyediakan dua ekor kuda, harap nona indi

menerimanya dengan baik !”

Kepala bajak itu memberi tanda, anak buah nya

sebanyak dua orang datang menuntun dua ekor

kuda besar besar dengan perbekalan lengkap, Siok

Lan yang berwatak angkuh merasa sungkan

menerima hadiah ini, akan tetapi Yu Lee yang

tahu akan pentingnya kuda tunggangan melalui

daerah gawat itu, cepat maju mendahuluinya

menyambut dua ekor kuda sebagai layaknya

seorang pelayan sambil berkata

“Aduh, kuda bagus! Twa ong ya (sebutan kepala

bajak) sungguh baik hati, nonaku tentu berterima

kasih sekali!”

Siok Lan mengerling tajam ke arah pelayannya,

akan tetapi karena pelayannya sudah terlanjur

menerima ia lalu mengangkat kedua tangan

menghaturkan terima kasih “Terima kasih dan

saya harap cuwi sekalian suka membiarkan tukang

perahuku kembali dengan aman. Sekarang saya

mohon diri, selamat tinggal!”

Dengan gerakan ringan sekali Siok Lan

melancat naik ke punggung seekor kuda yang

371

disediakan, kemudian mengangguk lagi dan

membedal kudanya meninggalkan tempat itu.

“Eh, nona… tunggu saya… !” Yu Lee berteriak

dan dengan susah payah “memanjat” naik ke

punggung kuda ke dua.

Abouw memegang lengannya, “Sahabat Aliok

yang baik, selamat jalan.”

“Selamat tinggal, paman Abouw!”

“Eh, ada satu hal saya ingin sekali tahu.”

“Apa itu? “

“Mengapa engkau begitu membenci pinggul

besar? “

Yu Lee mengangkat alis membelalakkan mata,

lalu tak tahan lagi ia tertawa bergelak sampai

kudanya menjadi kaget. Tanpa disadari, Yu Lee

menggunakan tenaga di dalam ketawanya sehingga

bukan saja kudanya yang kaget, juga Huang ho

Sam liong dan orang orang yang memiliki ilmu

kepandaian menjadi heran dan kaget sekali.

Mereka merasai getaran tenaga khikang yang

dahsyat dalam suara ketawa itu.

“Satu lagi… sahabat Aliok…..“

“Apa lagi? “ Yu Lee menahan kendali kuda,

ingin cepat cepat pergi karena tadi tanpa disadari

ia telah membuka rahasianya.

“Apakah engkau…benar benar seorang pelayan

tulen….? “

Pertanyaan ini agaknya berkenan di hati semua

orang sehingga mereka semua mendengarkan

372

penuh perhatian. Yu Lee tersenyum dan berkata.

“Tentu saja!” Lalu ia membedal kudanya membalap

dan mengejar Siok Lan yang sudah melarikan

kudanya jauh di depan.

“Suci (kakak perempuan seperguruan) kita

mengaso di sini dulu, sinar matahari teriknya

bukan main!” kata seorang pemuda tampan sekali

kepada seorang gadis cantik ketika mereka berdua

memasuki sebuah hutan kecil, pemuda itu usianya

paling banyak sembilan belas tahun, ganteng dan

tampan sekali, juga gagah karena gerak geriknya

gesit, sikapnya tabah dan gagang sepasang pedang

tampak di punggungnya. Adapun gadis itu yang

usianya satu dua tahun lebih tua, cantik jelita dan

sikapnya tenang, namun membayangkan

kegagahan. Pakaiannya serba hijau dan di

pinggangnya tengantung sebatang pedang panjang.

“Baiklah sumoi”, jawab si gadis. Kalau ada

orang mendengar jawaban ini tentu dia akan

terkejut dan heran. Bagaimana seorang pemuda

disebut sumoi (adik perempuan seperguruan)?

Akan tetapi kalau orang itu memandang “si

pemuda”dengan teliti, maka ia akan sadar bahwa

pemuda itu sesungguhnya adalah seorang gadis

juga. Kulituya begitu halus makanya begitu

tampan sehingga mendekati catik, tubuhnya juga

lunak halus tidak ada tanda tanda kaku seperti

terdapat pada tubuh pria. Yang membuat orang

akan percaya dia pria adalah sikspnya yang begitu

wajar dalam pakaian pria.

373

Memang sesungguhnyalah. “Pemuda” itu bukan

lain adalah Tan Li Ceng, murid perempuan Tho tee

kong Liong Losu yang semenjak kecil selalu

berpakaian seperti pria, dan setelah dewasa masih

suka berpakaian pria, apalagi sebagai seorang

pendekar, pakaian ini lebih memberi keleluasaan

dan kebebasan pada nya, menjauhkan hal hal

tidak enak yang selalu mengganggu wanita di

perjalanan, apa lagi wanita muda remaja dan

cantik jelita ! Adpun gadis cantik yang disebut suci

olehnya itu tentu saja adalah Lauw Ci Sian, karena

memang murid Tho tee kong Liong Losu hanya ada

dua orang inilah.

Telah diceritakan di bagian depan betapa kedua

orang gadis perkasa ini bersama dengan murid

murid Siauw bin mo Hap tojin secara kebetulan

telah bekerja sama dengan Yu Lee si Pendekar

Cengeng mengadakan penyerbuan di Istana Air

tempat tinggal Hek siauw Kui bo dan muridnya,

yaitu Si Dewi Suling atau Cui Siauw Sian li Ma Ji

Nio sehingga akhirnya Hek siauw Kui bo tewas di

tangan Yu Lee dan anak buah nenek iblis itu dapat

dibasmi. Betapa kemudian guru mereka, Tho tee

kong Liong Losu mengusulkan untuk menjodohkan

dua orang muridnya ini dengan dua orang murid

pria dari Siauw bin mo Hap Tojin yang merupakan

pemuda pemuda gagah perkasa dan tampan.

Namun dua orang gadis ini menolak karena

mereka merasa berat untuk dijodohkan dengan

orang lain setelah mereka mengalami hal yang bagi

mereka amat memalukan, yaitu bahwa mereka

telah tertolong oleh Yu Lee dari padi ancaman

bahaya ngeri dalam keadaan telanjang bulat!

374

Hal ini amat menggetarkan perasaan kedua

orang dara ini yang menganggap bahwa tidak

mungkin mereka dipat bersuamikan orang lain

setelah Yu Lee melihat mereka dalam keadaan

seperti itu!

Tan Li Ceng adalah puteri tunggal searang

pemilik kedai obat di kota An keag, adapua Lauw

Ci Sian adalah seorang gadis yatim piatu maka

setelah tamat belajar dari guru mereka. Ci Sian

ikut bersama sumoinya ke An keng. Tidak ada

peristiwa penting tetjadi selama kurang lebih

setahun, ketika Ci Sian tinggal bersama dengan

sumoinya di rumah Li Ceng di An keng itu,

kemudian dua orang gadis ini mendengar akan

sepak terjang Pendekar Cengeng yang

menggemparkan dunia kang ouw. Selain ini juga

mereka mendengar akan kekejaman penindasan

yang dilakukan oleh pemerintah penjajah terhadap

rakyat yang diharuskan bekerja paksa membuat

saluran atau terusan.

Betapa dalam kesempatan ini para pembesar

menggunakan wewenang mereka dan kekuatan

mereka untuk memancing di air keruh, melakukan

pemerasan dan perampasan secara keji.

Tergeraklah hati dua orang gadis pendekar ini.

Guru mereka, Tho tee kong Liong Losu dahulunya

juga seorang pejuang besar, penentang pemerintah

Goan (Mongol) maka sedikit banyak tentu saja guru

ini menanamkan semangat kepahlawanan kepada

dua orang muridnya.

Karena inilah maka Li Ceng dan sucinya Ci Sian

lalu berangkat meninggalkan An keng dan pada

375

hari itu mereka tiba di sebuah hutan. Mereka

mempunyai tujuan ke Propinsi Kian su sebelah

barat di mana saluran air dikerjakan untuk

menyambung Sungai Yang ce dengan Sungai

Huang ho. Mereka tidak tahu bahwa pada saat itu

mereka telah berada di daerah lembah Yang ce

bagian utara, dan dengan demikian mereka lelah

memasuki wilayah tempat penjagaan para pasukan

pemerintah yang ditempatkan di sekitar terusan,

menjaga keamanan para pekerja paksa.

Di dalam hutan kecil itu mereka berdua duduk

di bawah pohon besar, menanggalkan topi dan

mengebut ngebut leher mengeringkan keringat.

Dua orang gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa

semenjak mereka memasuki hutan, banyak pasang

mata mengikuti gerak gerik mereka mata yang

memandang penuh gairah ke arah Ci Sian. Pada

saat itu, Ci Sian dan Li Ceng saling pandang penuh

keheranan ketika tiba tiba terdengar suara orang

bernyanyi! Suara orang laki laki yang nyaring dan

besar, bernyanyi dengan kata kata yang terdengar

jelas dan agahnya tidak jauh dari tempat mereka

beristirahat.

Hanya Tuhan yang memilih Raja

untuk memilih memimpin manusia.

Seorang gagah akan setia selalu

kepada Raja tanpa memandang bulu

Mendengar nyanyian seperti itu, kakak beradik

septrguruan ini satling pandang dengan kening

berkerut. Sebagai murid murid seorang bekas

pejuang seperti Tho tee kong, tentu saja mereka

376

sama sekali tidak dapat menyetujui pendapat yang

dikemukakn dalam nyanyian itu. Pada waktu itu,

tanah air dijajah oleh bangsa Mongol, kerajaan

bangsa sendiri dihancurkan dan yang masih ada

disdutkan oleh pengaruh bangsa penjajah sehingga

makin suram.

Kalau semua orang gagah berpendirian seperti

penyanyi itu maka tentu tidak akan ada

perlawanan terhadap penjajah, dan hanya

mengelus dada menganggap bahwa raja penjajah

itu adalah pilihan “Tuhan”! Sungguh merupakan

nyanyian yang bagi dua orang dara perkasa itu

dianggap nyanyian yang amat rendah dan juga

berbahaya! Dengan sigapnya mereka lalu melompat

bangun, lalu melangkah ke arah terdengarnya

suara nyanyian.

Tampaklah kini oleh mereka si penyanyi.

Seorang laki laki berasia empat puluh tahunan,

berpakaian sebagai panglima atau perwira

pengawal pemerintah kerajaan Goan, pakaian

kebesaran yang terlindung sisik baja, pakaian

perang yang mewah dan indah. Topi perwira ini

dihias bulu indah pula.

Melihat ini, Tan Li Ceng menjadi gemas dan

tanpa dapat dicegah lagi ia lalu berpantun suara

dibesarkan seperti suara pria,

“Seekor anjing yang diberi tulang

akan menggoyang ekor menjilat tangan

tanpa memperdulikan siapa pemberinya.

Seorang gagah mempunya pendirian mulia

377

lebih baik mati dari pada menjadi pengkhianat

bangsa !

Mengabdi raja penjajah menindas rakyat

lebih hina dari pada anjing laknat”

Laki laki tinggi besar yang berpakaian perwira

pengawal itu menjadi merah mukanya, matanya

yang besar melotot ke arah Li Ceng dan terdengar

membentak keras, “Serbu dan tangkap

pemberontak!”

Li Ceng dan Ci Sian menggerakkan tangan dan

mereka sudah mencabut pedang masing masing Li

Ceng mencabut siang kiam (pedang sepasang) dan

menyilangkan kedua pedang itu di depan dada,

sedangkan Ci San mencabut pedang panjang yang

dilonjorkan di depan mukanya. Dua orang ini

tidak tampak gentar, pada saat itu dari balik pohon

pohon dan semak belukar bermunculan banyak

sekali orang, yaitu pasukan penjaga yang bertugas

menjaga di wilayah itu. Tidak kurang dari tiga

puluh orang perajurit mengepung dua orang gadis

itu, dikepalai oleh laki laki yang bernyani tadi, yang

kini tersenyum senyum memandang kepada Ci

Sian, pandang matanya liar dan seperti hendak

menelanjangi pakaian gadis itu.

“Nona yang cantik dan muda, sungguh sayang

sekai kalian sampai ikut terbasmi dengan

gerombolan pemberontak lain yang kami kejar

kejar. Lebih baik engkau menyerah dan menakluk,

nona, dan aku Twi sin to (si Golok Besar Sakti) Kui

Mo Yo yang menjamin bahwa engkau akan

diampuni dan memperoleh kedudukan mulia.

Kawanmu si mulut lancang inipun kalau engkau

378

yang mintakan ampun, tidak akan kami bunuh

asal dia nian membantu pekerjaan di saluran….”

“Anjing, pengkhianat bangsa, tak usah banyak

cerewet!” Li Ceng memaki dan ia sudah menerjang

maju, memutar sepasang pedangnya. Terdengar

teriakan kesakitan dan dua orang pengepung yang

paling dekat dengannya telah roboh mandi darah.

Ci Sian yang berdiri lebih dekat dengan perwira

itu, tanpa banyak berkata lagi menerjang maju

pula, pedangnya berkelebat cepat dan kuat,

sinarnya menyilaukan mata.

Mulailah dua orang kakak beradik seperguruan

itu dikeroyok. Ketika perwira yang bernama Kui Mo

Yo tadi menangkis pedang Ci Sian dan terkejut oleh

kenyataan bahwa nona cantik itu lihai sekali

pedangnya dan kuat tenaganya sehingga tangkisan

goloknya membuat ia terhuyung dan hampir

melepaskan senjatanya, lenyaplah nafsu birahinya

dan kini ia memberi aba aba untuk mengeroyok

dan membunuh dua orang pemberontak ini !

Li Ceng dan Ci Sian boleh jadi adalah dua orang

gadis perkasa yang meniliki ilmu silat tinggi dan

merupakan dara dara muda yang sukar dicari

tandingannya dan sukar pula dirobohkan. Akan

tetapi kini mereka menghadapi pengeroyokan tiga

puluh orang lebih pasukan penjaga kerajaan Goan

yang terdiri dari orang orang yang kuat dan liar,

sudah biasa bertempur, dan dipimpin oleh Kui Mo

Yo yang memiliki ilmu golok cukup lihai.

Betapapun dua orang dara perkasa iui mengamuk,

namun mereka segera terkurung rapat dan

379

terdesak hebat. Rapatnya pengurungan musuh,

banyak nya senjata yang datang menyerbu,

membuat mereka ini sukar sekali untuk

mercurahkan perhatiannya merobohkan lawan,

melainkan hampir semua perhatian harus

ditujukan untuk melindungi tubuh sendiri dari

pada ancaman puluhan batang senjata tajam yang

datang bagaikan hujan itu.

Pasukan penjaga itu mengeroyok sambil

bersorak hiruk pikuk, seperti sekumpulan

pemburu mengepung dua ekor harimau betina.

Namun di antara suara hiruk pikuk para

pengeroyok itu, masih terdengar teriakan dan

bentakan nyaring kedua orang gadis itu terutama

sekali Li Ceng yang mengikuti setiap serangan

balasan.

Setelah lewat seratus jurus dua orang gadis itu

sudah berhasil robohkan masing masing empat

orang pengeroyok lagi, akan tetapi mereka telah

menjadi lelah dan pening, napas terengah engah

dan tubuh basah oleh keringat. Melihat keedaan

kedua orang lawan yang makin lemah ini Kui Mo

Yo berkali kali mendesak anak buahnya untuk

memperketat pengepungan.

“Ha ha ha, kiranya mereka berdua semua

adalah wanita cantik! Hayo tangkap, siapa dapat

menangkap mereka akan menerima hadiah besar.

Kalau tidak bisa ditangkap hidup hidup boleh juga

bunuh saja!”

Pengepungan makin kuat dan dalam suatu

desakan hujan senjata Li Ceng terluka paha

kirinya, sedangkan Ci Sian kena hantam pundak

380

kirinya, dengan gagang tombak. Kedua orang gadis

itu terluka, namun mereka menggertak gigi dan

melawan terus.

“Ha ha ha.. kedua orang nona manis, masih

tidak mau menyerah?” Peiwira itu tertawa

mengejek, akan tetapi terdengar bentakan nyaring

dan tubuh Li Ceng yang terkepung itu tiba tiba

menyambar dengan sebuah loncatan tinggi,

langsung terjun menyerang Kui Mo Yo. Perwira ini

kaget dan berusaha menangkis dengan goloknya.

Namun yang menyerangnya adalan sepasang

pedang yang gerakannya susul menyusul. Ia

berbasil menangkis pedang kiri, namun pedang

kanan membabat lehernya ! Kui Mo Yo cepat

membuang diri ke samping.

“Haiiilt! Li Ceng melengking nyaring,

“Aduhhh….!” Kui Mo Yo menggulingkan tubuh

dan terus bergulingan untuk menghindarkan

serangan susulan. Anak buahnya sudah cepat

cepat mengurung lagi gadis berpakaian pria yang

lihai itu. Kui Mo Yo menyumpah nyumpah,

pundaknya terluka pedang, untung hanya daging

di pangkal lengan saja yang terkupas sehingga

darahnya bercucuran.

Setelah menempelkan obat dan dibalut, Kui Mo

Yo menggunakan tangan kiri memegang goloknya,

maju lagi untuk memimpin anak buahnya.

“Bunuh mereka! Bunuh…!” bentaknya marah

sekali.

“Bunuh mereka…! Bunuh anjing anjing

Mongol…!” Bentakan Kui Mo Yo tadi mendapat

381

sambutan suara yang gemuruh dan muccullah

orang orang yang pakaiannya tidak keruan,

compang camping bahkan ada yang bertelanjang

dada, rata rata mereka adalah laki laki yang

tubuhnya kurus dan pucat, akan tetapi mereka itu

dipimpin dua orang dua pemuda gagah perrkasa

dan tampan yang mengamuk bagaikan dua ekor

naga. Juga lima puluh orang laki laki kurus pucat

itu biarpun melihat gerak gerik mereka tidak dapat

disebut sebagai ahli ahli pertempuran, namun

ternyata mereka itu bertempur dengan semangat

tinggi dan kenekadan yang luar biasa. Jelas bahwa

kebencian mereka terhadap para penjaga Mongol

ini meluap luap dan karena inilah maka cara

mereka bertandirig amatlah dahsyat dan

mengerikan.

“Jiwi siocia (nona berdua) jangan khawatir kami

datang mrembantu !” teriak seorang diantara dua

orang pemuda gagah yang memimpin penyerbuan

pasukan laki laki kurus pucat itu.

Ci Sian dan Li Ceng segera mengenal dua orang

pemuda itu. Biarpun dua orang pemuda tampan

itu kini juga berpakaian tidak karuan kotor

compang camping namun wajah Owyang Tek tetap

tampan dan gagah perkasa, tubuh nya tetap tinggi

besar kuat berbeda dengan pasukan yang

dipimpinnya. Juga Gui Siong masih tampan sekali,

dengan gerak gerik yang halus namun pedang di

tangannya tidak kalah dahsyatnya dari pada

pedang di tangan suhengnya.

Dua orang pemuda ini adalah murid murid

terkasih Siauw bin mo Hap Tojin. Tentu saja hati

382

kedua orang gadis yang sudah terluka dan tadinya

tidak melihat harapan untuk dapat lolos dari

kepungan itu menjadi girang sekali, bangkit

kembali semangat mereka dan kini mereka

mengamuk lebih hebat lagi.

Pertempuran kini menjadi berat sebelah.

Mengalahkan dua orang gadis perkasa itu saja

sudah amat sukar, apalagi kini ditambah dua

orang pemuda yang tidak kalah lihainya daripada

kedua orang nona itu, masih ada lagi pasukan

sebanyak lima puluh orang yang bertempur tanpa

memperdulikan keselamatan sendiri !

Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Kui Mo

Yo dan pasukan penjaganya. Mereka itu roboh

seorang demi seorang, dan Si Golok Sakti itu

sendiripun akhirnya roboh mandi darah. Entah

pedang siapa yang membunuhnya, namun

setidaknya, di tubuhnya terdapat bekas tusukan

dan bacokan pedang keempat orang muda perkasa

itu ! Akhirnya pasukan laki laki kurus pucat itu

menghabiskan semua musuh, tidak ada

seorangpun dapat meloloskan diri semua tewas

dibawah hujan senjata orang orang yang meluap

luap kebenciannya.

“Jiwi terluka? Ah, sayang … kami agak

terlambat datang …!” kata Gui Siong setelah dua

pasang orang muda itu saling berhadapan,

Ouwyang Tek yang tidak pandai bicara itu tanpa

membuka mulut sudah mengeluarkan bungkusan

ooat luka dan kain pembalut, menyerahkan semua

ini kepada Ci Sian yang menerimanya dengan

383

mengangguk tanda terima kasih akan tetapi tanpa

berkata kata pula itu.

Mulailah kedua orang gadis itu saling bantu

mengobati dan membalut luka masing masing

sambil bercakap cakap dengan kedua orang

pemuda yang telah menolong mereka.

“Banyak terima kasih atas bantuan jiwi twako

(kakak berdua)!” kata Li Ceng sederhana. Memang

dalam soal bantu membantu melawan musuh

dalam dunia pendekar merupakan hal biasa dan

lumrah. “Akan tetapi bagaimana jiwi twako bisa

tiba tiba muncul di sini dan … siapakah mereka

yang jiwi pimpin?”

Ouwyang Tek yang kini sudah tidak begitu

sungkan dan malu lagi menghadapi dua orang

gadis cantik jelita yang selama ini menjadi buah

mimpi dan buah percakapan mereka berdua,

menghela napas panjang dan berkata, “Kasihan

mereka itu, menjadi korban kelaliman raja

penjajah, menjadi buruh paksa….!”

Ci Sian memandang pemuda tinggi besar itu,

terheran. “Mereka itu buruh yang disuruh bekerja

paksa menggali terusan? “

Ouwyang Tek memandang gadis itu. Dua

pasang mata melekat sejenak dan tiba tiba muka

pemuda tinggi besar itu menjadi merah,

jantungnya berdebar dan ia tidak dapat bicara lagi,

hanya dapat mengangguk angguk saja ! Melihat

keadaan suhengnya ini, Gui Siong yang sudah

mengikuti setiap gerak gerik kakak

sepenguruannya, lalu cepat menolongnya dan

berkata, “Betul, nona. Mereka ini adalah pekerja

384

pekerja paksaan yang bekerja dalam neraka dunia,

menggali terusan sampai mati !”

“Tapi… tapi bagaimana mereka dapat datang

menolong kami? Dan bagaimana jiwi dapat

memimpin mereka !” Ci Sian bertanya lagi.

“Nanti dulu, Gui twako (kakak Gui)!” Tan Li

Ceng memotong cepat, “Sungguh tidak enak

mendengar kalian berdua menyebut kami jiwi

siocia. Apa perlunya nona nonaan terhadap kami?

Guru kita saling bersahabat, karenanya di antara

kita juga terdapat tali persahabatan. Mengapa

bersikap sungkan seperti orang asing? Harap saja

kalian suka menganggap kami sahabat sehingga

tidak ada sikap sungkan seperti itu.”

Ouwyang Tek makin menunduk, akan tetapi

wajah Gui Siong yang tampan berseri. “Terima

kasih, Tan… siauw moi (adik). Sungguh

merupakan kehormatan besar bagi kami.”

“Nah, sekarang kau ceritakanlah bagaimana

mereka itu dapat lolos dan bagaimana kalian dapat

memimpin mereka sehingga hari ini dapat

menolong kami,” kata pula Li Ceng sambil

tersenyum manis sehingga Gui Siong yang

memandangnya tak dapat menahan diri lagi,

menelan ludah. Begitu manisnya gadis berpakaian

pria di depannya ini! Kami mentaati pesan suhu

agar membantu para orang orang yang dijadikan

kuli kuli paksa di sini. Sudah setengah tahun kami

berkeliaran di daerah ini dan berkali kali kami

mengacau para penjaga, membunuh mereka

apabila ada kesempatan. Akan tetapi, karena

jumlah mereka amat banyak, kedudukan mereka

385

terlalu kuat juga dengan jalan mengacau saja kami

masih belum dapat meringankan beban para

pekerja yang hidup seperti dalam neraka, maka

kami lalu mengambil keputusan untuk menyamar

dan masuk sebagai pekerja paksa.” “Ahhh….!” Dua

orang gadis itu berseru kaget dan memandang

kagum.

“Hanya itu satu satunya jalan agar dapat

berdekatan dengan mereka yang hidup dalam

neraka dunia itu. Dan kami berusaha

membangkitkan semangat mereka, membunuh

banyak penjaga yang terlalu kejam terhadap para

buruh kerja paksa, akhirnya, lima puluh orang

lebih ini bertekad ikut dengan kami melarikan diri,

membentak pasukan untuk melawan pemerintah

penjajah yang membikin sengsara kehidupan

rakyat.”

Dua orang gadis itu menjadi makin kagum. Kini

pandangan mata mereka terhadap pasukan orang

orang kurus pucat itu berobah. Kiranya mereka itu

adalah orang orang yang telah mengalami

penderitaan dan penghinaan sehingga hati mereka

menjadi keras dan semangat mereka meluap.

Padahal mereka semua itu bukanlah orang orang

yang memiliki kepandaian ! Kalau mereka yang

hidup sebagai rakyat petani di dusun dusun kini

telah menjadi pejuang penentang kerajaan

penjajah, apakah orang orang gagah di dunia kang

ouw tinggal memeluk tangan saja. Sungguh

memalukan. Li Ceng dan Ci Sian melihat betapa

pasukan itu kini sedang melucuti pakaian dan

senjata mayat mayat musuh untuk mereka

pengunakan karena memang mereka amat

386

membutuhkan pakaian sebagai pengganti pakaian

mereka yang compang camping, dan senjata untuk

melanjutkan perjuangan mereka mementang para

penjaga yang kejam.

“Bagus sekali !” Berseru Tan Li Ceng dengan

wajah gembira. “Kami berdua datang ke tempat

inipun dengan tujuan yang sama, menentang

kekejaman penjajah !”

“Kalau begitu…!” Kata Gui Siong gembira sambil

memandang wajah Li Ceng penuh harap, akan

tetapi tidak berani melanjutkan ucapannya.

“Kita sudah tiba di sini dan bertemu dengan

pasukan pejuang. Kalau kalian masih

membutuhkan pembantu….“ kata Ci Sian.

“Pembantu ….?” Ouwyang Tek berseru keras

dan nyaring. “Jiwi… siauw moi memiliki ilmu

kepandaian yang henat, lebih dari kami. Mari kita

berjuang bersama sampai dihentikannya

kekejaman oleh penjajah!”

“Tepat sekali ucapan suheng !” Sorak Gui Siong.

“Kita berempat memimpin pasukan pekerja paksa,

bergerak dari luar dan di dalam dengan cara

menyelundupkan pekerja untuk menghasut

mereka yang masih takut melawan dan berada di

dalam neraka itu. Hancurkan penjajah!” Gui Siong

mengepal tinju ke atas.

“Hancurkan penjajah !” Ouwyang Tek, Lauw Ci

Sian dan Tan Li Ceng mengikuti teriakan ini sambil

mengacungkan tinju ke atas.

“Hancurkan penjajah!!” Suara gemuruh ini

keluar dari mulut puluhan orang bekas pekerja itu

387

yang amat gembira menyaksikan empat orang

muda gagah perkasa itu meneriakkan suara yang

sudah lama bengema di hati mereka.

=====page 40,41 tidak ada=====

badi, sadar akan kewajiban tidak mabok oleh

hak dan kekuasaannya.

Untuk menjadi seorang raja bijaksana seperti

itu membutuhkan rasa cinta kasih yang mendalam

kepada rakyat dan negaranya, terutama kepada

rakyat kecil. Pemerintah Goan adalah pemerintah

penjajah, kaisarnyapun seorang asing. Tentu saja

andaikata ada perasaan kasih sayang di hatinya

terhadap rakyat, maka bukanlah rakyat yang

dijajahna yang disayangya! Kaisar kerajaan Goan

kedua, yaitu Kubilai Khan, boleh jadi seorang

kaisar yang besar dan pandai. Akan tetapi iapun

tidak memperdulikan nasib rakyat jelata, rakyat

kecil dan miskin.

Bukan saja tidak memperdulikan, bahkan dia

membutakan mata terhadap kenyataan betapa

semua perintah perintahnya dilaksanakan oleh

para penguasa dengan jalan memeras, menginjak,

dan memperkuda rakyat jelata.

Perbuatan atau penyempurnaan saluran dan

terusan yang dimaksudkan untuk memperlancar

hubungan dari selatan ke utara, dilaksanakan

secara keji. Rakyat dipaksa bekerja rodi dipaksa

mengalami hidup seperti dalam neraka, kerja berat

secara paksa kadang kadang tanpa ransum dan

sanpai mati di tempat kerja, dikubur begitu saja

oleh teman teman senasib di tempat kerja, ada

kalanya dicambuk sampai mati, disembelih oleh

388

penjaga penjaga yang dikuasai nafsu amarah. Yang

laki laki ditangkapi dari rumah disuruh kerja

paksa, anak bini ditinggalkan dan anak atau bini

yang muda dan yang cantik terjatuh ke tangan

orang orang kaya raya dan pejabat pejabat daerah

yang rakus, sedikit sawah ladang terjatuh para

tuan tuan tanah.

Tidaklah mengherankan apabila banyak

diantara rakyat yang sudah tidak dapat menahan

kesengsaraan hatinya, memberontak.

Di sana sini muncul pemberontakan dan di

sana sini muncul kekacauan kekacauan.

Pemerintah Mongol (Goan) berusaha menggencet

pemberontakan ini dengan kekerasan. Memang di

banyak tempat mereka berhasil membasmi kaum

pemberontak, namun mungkinkah membasmi rasa

dendam dan benci dari hati rakyat ? Menguasai

rakyat dengan jalan kekerasan merupakan langkah

pertama yang sesat dan keliru bagi sebuah

pemerintah, karena hal ini akan menanamkan bibit

kebencian dan dendam.

Dan betapa negara akan dapat menjadi

tenteram, damai dan makmur kalau rakyatnya

gelisah diamuk benci dan dendam? Akibatnya,

kekacauan terus menerus, padam di sini timbul di

sana, reda di sana bergolak di sini !

Ouwyang Tek, Gui Siong, Lauw Ci Sian dan Tan

Li Ceng terus menerus memimpin pasukannya

mengadakan kekacauan di daerah penjagaan di

sekitar terusan yang digali. Makin banyak pengikut

pasukan ini, sampai mencapai jumlah lebih dari

dua ratus orang ! Sebagian besar dari mereka

389

adalah pekerja pekerja yang berhasil lolos keluar

dengan bantuan pasukan ini.

Karena mereka semua telah mengalami

penyiksaan dan penderitaan yang amat hebat di

dalam neraka dunia ketika menggali terusan itu

maka rasa dendam dan kebencian mereka

membuat mereka semua ini menjadi sebuah

pasukan berani mati yang amat luar biasa !

Mereka tidak mempunyai markas tertentu,

selalu berpindah pindah tempat di daerah lembah

sungai yang banyak hutannya, dan selalu muncul

di saat yang tidak tersangka sangka lawan, di

tempat tempat yang selalu kurang penjagaannya

sehingga banyaklah para penjaga yang terbunuh.

Kalau pasukan penjaga mengadakan penyergapan

dengan pasukan yang besar dan kuat, mereka

hilang seperti ditelan bumi untuk kemudian

muncul di tempat lain yang penjagaannya kurang

kuat lalu menghancurkan pasukan penjaga di situ.

Mudah diduga sebelumnya dan memang

tidaklah aneh kalau dua pasang orang muda itu

makin lama makin saling tertarik. Bagi Ouwyang

Tek dan Gui Siong memang dua orang gadis itu

bukan wanita wanita biasa saja, melainkan

semenjak pertama ketika bertemu dahulu, hati

mereka telah dicuri. Apa lagi ketika guru mereka,

Siauw bin mo Hap Tojin menyatakan bahwa kakek

ini akan merasa bahagia sekali kalau dua orang

muridnya itu dapat mengikat perjodohan dengan

dua orang murid wanita sahabat baiknya itu.

Memang hal ini sudah pula dibicarakan oleh Hap

Tojin kepada sahabatnya Liong Losu, akan tetapi

390

pendeta berkepala gundul itu hanya

menggelengkan kepala dan berkata, “Pinceng

setuju sekali akan tetapi hanya terserah kepada

yang akan menjalani !”

Persoalan ikatan jodoh itu terhenti sampai di

situ saja dan selama setahun tidak diusik usik

kembali. Kini seolah olah Tuhan sendiri yang

mengatur sehingga mereka tidak hanya dapat

bertemu di tempat yang tak disangka sangka,

bahkan mereka terus dapat berkumpul dan

berjuang bahu membahu.

Mengherankankah itu namanya kalau Ouwyang

Tek makin lama makin tertarik kepada Lauw Ci

Sian, gadis pendiam yang cantik jelita dan gagah

perkasa itu !

Dan anehkah kalau Gui Siong yang halus

lembut dan hati hati itu makin lama makin tergila

gila kepada Tan Li Ceng, gadis cantik manis yang

lincah jenaka itu? Akan tetapi, sampai berbulan

bulan mereka berjuang bersama, bertanding bahu

membahu, berlumba merobohkan lawan, makin

berat menindih rasa cinta kasih di hati kedua

orang muda itu, namun mulut mereka tetap

membungkam, berat dan sukar rasanya untuk

membuka kata menyampaikan rasa cinta dengan

suara ! Apalagi bagi Ouwyang Tek yang memang

pendiam dan tidak pandai bicara, tiap kali hendak

mengaku cinta, lehernya seperti tercekik tangan

yang tak tampak sehingga jangankan

mengeluarkan kata kata bahkan bernapaspun

sukar rasanya, sedangkan Gui Siong yang biasanya

psndai bicarapun kalau berhadapan dengan Tan Li

391

Ceng, seperti seekor jangkerik terpijak, tidak ada

suaranya lagi, seperti “mati kutunya”!

Pada suatu malam empat orang muda ini

mengadakan sebuah serbuan pada sebuah tempat

penjagaan yang cukup kuat dijaga oleh seratus

orang lebih penjaga, sedangkan jumlah penyerbu

yang dipimpin keempat orang muda itu hanya ada

tujuh puluh orang.

Akan tetapi karena penyerbuan dilakukan pada

tengah malam secara tiba tiba dan tak terduga

duga, maka pasukan penjaga menjadi panik.

Apalagi karena pasukan penyerbu yang dipimpin

empat orang muda perkasa itu adalah pasukan

pilihan yang sudah terlatih, sudah belajar jurus

jurus pokok dalam perang campuh seperti itu,

diambil dari jurus jurus ilmu silat tinggi keempat

orang muda itu.

Terjadilah pertempuran hebat atau lebih tepat

penyembelihan karena fihak penjaga benar benar

dihancurkan di malam itu. Mereka berusaha

melawan namun sia sia dan mulailah tempat itu

banjir darah dan mayat mayat roboh

bergelimpangan.

Seperti biasa dalam setiap penyerbuan

Ouwyang Tek, Gui Siong, Lauw Ci Sian dan Tan Li

Ceng menjadi pelopor, mengamuk paling depan.

Pedang mereka merupakan jangkauan jangkauan

maut yang sukar dihindarkan musuh. Kemana

pedang mereka berkelebat, tentu ada lawan yang

roboh dibarengi darah muncrat !

Hiruk pikuk suara perang di malam terang

bulan itu. Teriakan teriakan marah dan

392

kemenangan para penyerbu bersaing dengan jerit

korban dan pekik kematian, membubung di

angkasa. Akan tetapi, diantara suara hiruk pikuk

ini, Ouwyang Tek yang kebetulan mengamuk

bersama Lauw Ci Sian, selalu berdekatan dan

seakan berlomba merobohkan lawan malah sempat

tertawa tawa gembira dan berkata, “Sian moi ( adik

Sian ), sudah beberapa orang korbanmu ?”

Lauw Ci Sian tersenyum. Selalu itulah yang

ditanyakan pemuda tinggi besar dan gagah perkasa

ini setiap kali mereka bertempur melawan musuh.

Ia melihat betapa pemuda itu merendahkan tubuh

untuk membiarkan sebatang golok terbang lewat di

atas kepala, lalu dari bawah pedangnya menusuk

memasuki perut seorang pengeroyok yang menjerit

dan roboh di bawah kaki si pemuda. Pada saat itu,

Ci Sian miringkan tubuhnya karena ada tombak

yang menusuk dada, begitu tombak lewat ia

menjepit batang tombak di dalam kempitan lengan

kiri pedangnya membabat dan si pemegang tombak

sudah kehilangan kepalanya karena lehernya

terpental putus !

“Baru enam, Ouwyang twako.” jawabnya.

Mereka berdua mengamuk terus, bahu

membahu. Agaknya Ouwyang Tek gembira bukau

main karena penyerbuan itu berbasil baik, maka

tidak seperti biasanya kini dia tidak hanya

mengeluarkan pertanyaan tentang banyaknya

korban saja, melainkan terdengar ia mengeluarkan

ucapan yang amat aneh bagi pendengaran Ci Sian

“Sian moi…!” Pemuda itu berseru lagi sambil tetap

393

mengamuk, tanpa menoleh ke arah gadis yang

diajak bicara.

“Trang, trang…!” Ci Sian memutar pedang

menangkis dua batang golok yang menyambar dari

kanan kiri, kemudian pedangnya menyambar.

Hanya dengan menjatuhkan diri, dua orang

pengeroyok itu terlepas daripada bahaya maut, lalu

meloncat dan mengeroyok lagi bersama teman

teman mereka.

“Ada apakah, Ouwyang twako?”

“Aku… aku… cinta padamu….mampus kau

setan!!”

Ci Sian terkejut bukan main dan memandang

dengan mata terbelalak, Ouwyang Tek tadi

mengeluarkan kata kata itu sambil melancat dan

menubruk ke belakangnya. Kiranya pemuda

perkasa itu telah menolongnya dari sebuah

serangan musuh yang kedua tangannya penuh

dengan senjata rahasia pisau kecil. Untung

didahului oleh Ouwyang Tek yang merobohkan

lawan itu dengan pedang.

Kalau sampai diserang piauw dari belakang

dalam jarak dekat berbahaya juga. Akan tetapi

kekagetan Ci Sian tidaklah sekaget ketika ia

mendengar pengakuan pemuda itu.

Ci Sian memutar pedangnya. Jantungnya

berdebar tidak karuan dan tiba tiba ia teringat

akan pengalamannya setahun yang lalu. Teringat

betapa ia seakan akan di dalam batinnya telah

terikat kepada Yu Lee Si Pendekar Cengeng.

Padahal pendekar itu sama sekali tidak pernah

394

memperdulikan dia dan sumoinya. Tentu saja ia

akan membuka kedua lengan lebar lebar,

membuka dada menyerahkan hati penuh kasih

dan kagum kepada Ouwyang Tek, pemuda yang

gagah perkasa ini. Akan tetapi hal itu tidak

mungkin karena ia telah terlihat dalam keadaan

telanjang bulat oleh seorang pria dan rasa malu ini

hanya dapat ditebus dengan menjadi isteri pria itu

atau…. membunuhnya ! Hal ini membuat Ci Sian

menjadi sedih dan tak tertahankannya lagi air

matanya bercucuran membasahi kedua pipinya.

Saking sedih, ia menjadi makin marah kepada

musuh dan mengamuklah Ci Sian dengan

hebatnya tanpa dapat menjawab pertanyaan

Oawyang Tek tadi.

Ouwyang Tek wajahnya agak pucat. Untuk

mengeluarkan pernyataan cinta tadi membutuhkan

seluruh tenaga batinnya ! Akan tetapi setelah ia

keluarkan juga, ketegangannya agak mengurang

dan ia terheran heran melihat Ci Sian kini

mengamuk hebat sambil menangis ! Iapun

menyerbu ke depan merobohkan dua orang lawan

dan bertanya, “Sian moi… kenapa kau menangis?

Aku … aku cinta padamu … adakah ini

menyakitkan hatimu ……?”

“Tidak….! Trang trangg … aduuh…!”

Seorang lawan tertembus pedang Ci Sian

sampai ke punggung.

Gadis itu melompat ke belakang menarik

pedangnya menghadapi pengeroyokan empat orang

lainnya. “Kalau begitu, engkau menerima

kasihku…?”

395

“Tidak bisa…. Ah, tidak mungkin…!”

Dua orang muda itu kini tidak berkata kata

lagi. Wajah keduanya pucat dan muram, akan

tetapi amukan mereka makin hebat. Bukan hanya

Ouwyang Tek dan Ci Sian saja yang mengamuk,

juga Gui Siong dan Li Ceng bersama anak buah

mereka mengamuk sehingga fihak musuh menjadi

makin panik, banyak jatuh korban di fihak musuh

dan tak lama kemudian setelah dua orang perwira

penjaga itu roboh di tangan Ouwyang Tek dan Ci

Sian sisa para penjaga itu lalu melarikan diri

meninggalkan pondok pondok dan gardu gardu

penjagaan, meninggalkan pula banyak senjata dan

ransum yang kemudian dirampas oleh pasukan

penyerbu, meninggalkan pula belasan wanita hasil

culikan yang terus dibebaskan oleh Ci Sian serta Li

Ceng.

Sebelum fajar muncul, pasukan ini lenyap dan

hanya ada belasan orang terluka ringan, telah

menghilang dari tempat itu sehingga ketika datang

ratusan serdadu penolong fihak penjaga, tempat

itu sudah menjadi sunyi dan gardu gardu telah

dibakar, mayat para penjaga berserakan!

Semenjak malam hari penyerbuan itu wajah

Ouwyang Tek kelihatan muram dan sayu

mencerminkan kekecewaan dan kedukaan besar.

Namun mulutnya tidak mengeluh, tidak pernah

mengeluarkan kata kata yaag menunjukkan hati

yang patah! Sebaliknya Ci Sian juga tampak

berduka dan setiap kali memandang wajah teman

seperjuangan ini, matanya menjadi merah. Betapa

tidak akan duka hatinya karena sesungguhnya ia

396

juga mencintai pemuda ini, namun perasaan cirita

kasih ini ia selimuti dengan pendapat pikiran

bahwa tidak mungkin ia menjadi isteri orang lain

kecuali Yu Lee ! Karena kedua orang ini adalah

orang orang pendiam, maka mereka itu menahan

derita korban asmara gagal ini di dalam batin saja.

Berbeda keadaan mereka dengan Gui Siong dan

Tan Li Ceng. Beberapa hari setelah penyerbuan

yang berhasil itu, pada malam harinya yang terang

benderang karena bulan purnama muncul sejak

sore, kebetulan Gui Siong dan Li Ceng berada

berdua saja di dalam hutan yang menjadi tempat

persembunyian mereka. Hampir semua pasukan

sudah beristirahat, kecuali mereka yang menjaga,

dan kedua orang muda yang bertugas mengawasi

penjagaan ini bertemu di bagian yang terbuka

sehingga sinar bulan sepenuhnya menyinari

mereka “Adik Li Ceng, ada satu hal yang sudah

lama sekali menjadi ganjalan di hatiku, namun

sampai kini belum jua dapat kukeluarkan dari

mulut ……”

“Hi, hik, kau aneh sekali, Siong koko (kakak

Siong)!” Li Ceng tertawa menutupi bibir nya.

Biarpun ia tetap berpakaian pria, namun kadang

kadang muncul juga sifat genit kewanitaannya

yang wajar, “Kalau ada ganjalan hati, kenapa tidak

lekas dikeluarkan? Ayahku seorang ahli obat dan

pernah bilang bahwa ganjalan hati dapat merusak

jantung dan paru paru. Kalau dibiarkan berlarut

larut menimbulkan racun mengamuk dalam dada.

Apa sih ganjalan hatimu, koko?”

397

“Aku khawatir akan ada orang yang marah

bssar kalau sampai aku berani mengatakan

ganjalan ini, Ceng moi….”

Li Ceng memandang, dengan mata bening

terbelalak, alis hitam panjang terangkat, Gui Siong

terpesona. Betapa cantiknya gadis ini kalau sudah

memandangnya seperti itu, ia tidak percaya kepada

kekuatan sendiri dan cepat cepat mengalihkan

pandangan, kini ia menengadah menatap bulan.

“Aìihh, engkau lucu dan aneh. Siapakah

orangnya yang akan marah marah?”

“Engkaulah orangnya.”

”Eh, eh! Jangan bergurau, Siong ko! Mengapa

aku harus marah? “

Tanpa mengalihkan pandang matanya dari

bulan, Gui Siong berkata perlahan. “Benarkah

engkau tidak akan marah, moi moi? “

“Tidak. Mengapa harus marah? Aku berjanji

takkan marah. Apa sih ganjalan aneh itu? “

“Biarlah aku berterus terang, memang tidak

baik menyimpan ganjalan hati, moi moi, dan

kaupun boleh marah padaku, memang aku yang

tak tahu diri. Moi moi… semenjak pertemuan kita

setahun lebih yang lalu, ketika menyerbu Istana

Air sarang iblis betina Dewi Suling dan gurunya.

Aku……. aku…. telah cinta kepadamu, Li Ceng.

Bahkan suhu sendiri mengusulkan agar aku dan

suheng dapat berjodoh dengan engkau dan

sucimu. Li Ceng, aku cinta padamu…! Nah, inilah

ganjalan hatiku…”

398

Seluruh muka Li Ceng menjadi merah

mendengar pernyataan cinta ini. Menurut suara

hatinya, pemuda itu tidak bertepuk sebelah

tangan. Pemuda yang begini tampan, halus, gagah

perkasa, sudah lama menjatuhkan hati nya Akan

tetapi, ah, betapa ia dapat menerima kasih sayang

nya kalau di sana ada…. Pendekar Cengeng ! Ia

menghela napas panjang.

Mendengar gadis itu menghela napas dan tidak

menjawab, Gui Song mengerutkan keningnya dan

menoleh dengan muka pucat, ia sudah siap

menanti akibat yang paling buruk yaitu ditolak

cintanya dan dianggap kurang ajar. Ia menoleh dan

melihat betapa gadis itu menunduk, wajah yang

cantik dan tersinar cahaya rembulan itu murung

dan muram.

“Maaf, Ceng moi, sungguh aku tak tahu diri

dan…”

“Bukan begitu, koko. Aku tidak marah, juga

aku harus bersukur dan berterima kasih bahwa

seorang peuuda gagah perkasa seperti engkau sudi

menaruh perhatian kepada diriku yang buruk dan

bodoh…….”

“Kalau begitu engkau? “ Gui Siong seperti

tercekik lehernya saking girangnya.

“Aku…. aku …. terpaksa tak…dapat menerima

perasaan hatimu yang murni itu, Siong koko,

karena…karena…..“

Gui Song melongo penuh kekecewaan. “Kenapa

moi moi? Karena engkau tidak mempunyai

perasaan cinta kepadaku? “

399

Li Ceng menggeleng kepalanya sambil

menunduk. Jari jari tangannya tanpa disadarinya

mencabut rumput dan mempermainkan rumput

rumput itu.

“Kalau begitu mengapa, Ceng moi? Beritahulah

kepadaku moi moi agar aku tidak menjadi

penasaran.”

Tan Li Geng menghela napas kemudian

mengangkat mukanya yang agak pucat. Mereka

saling berpandangan dan dan sinar mata gadis itu

Gui Song dapat merasa betapa mesra pandang

mata itu dan bahwa tidak mungkin pandang mata

seperti itu mencerminkan hati yang tidak mercinta!

“Siong ko, harap jangan salah mengerti,

sesungguhnya, bagaimanakah aku dapat

menjawab pertanyaanmu. Hal iiu tidak mungkin

karena…. ada sesuatu ikatan yang amat berat

bagiku….”

“Ahhh… “! Gui Siong melompat bangun dengan

wajah makin pucat. “Adikku yang baik, sungguh

aku tak tahu diri dan kurang ajar ! Maafkanlah

aku kalau begitu sungguh kalau aku tahu bahwa

engkau sudah terikat jodoh dengan orang lain, biar

sampai mati mulut ini takkan membuka rahasia

ini….”

Tan Li Ceng yang tadiriya duduk di atas akar

pohon, juga bangkit berdiri dan berkata, suaranya

sungguh sungguh “Bukan ikatan jodoh, koko.

Dengarkan baik baik dan aku mengharapkan

pengertianmu yang mendalam. Ingat kah engkau

ketika kita bersama menyerbu Istana Air dahulu

400

itu? Nah, di tempat itu aku dan suci mengalami

hal yang amat memalukan…..“

Tan Li Ceng lalu meneeritakan pengalamannya

bersama Lauw Ci Sian ketika mereka tertawan dan

hampir saja diperkosa Yan ce Su go kemudian

tertolong oleh Yu Lee dalam keadaan telanjang

bulat! Betapa kemudian dia dan sucinya

membunuh empat orang laki laki berhati binatang

itu.

“Demikianlah Song koko. Setelah ada seorang

pria melihat keadaan kami seperti itu, betapa

mungkin kami berdua menjadi isteri orang lain?”

Gui Siong mengangguk angguk. Wah, kiranya

saingannya adalah pendekar sakti itu ! Ia merasa

kecewa dan runtuh semangatnya. Berat kalau

harus bersaing dengan Pendekar Cengeng pikirnya

dengan hati berat ia lalu berkata, “Ah, sekali lagi

maaf. Kiranya engkau mencintai Yu taihip?”

Li Ceng cepat mengangkat muka memandang,

lalu menggelengkan kepala, “Siapa mencintai dia,

koko? Jangan menyangka sembarangan. Aku

memang kagum kepada Yu taihiap yang memang

patut dikagumi, akan tetapi mencinta….?

Kenalpun tidak, pertemuan baru satu kali itu,

dalam waktu singkat pula.

Gui Siong terheran heran dan jantungnya

kembali berdebar girang penuh harapan.

“Dan dia….? Adakah dia mencintaimu?”

“Siapa mengetahui hati orang lain ?”

401

“Eh, Ceog moi, bagaimana pula ini? Kalau

kalian tidak saling mencinta, kalau diantara kalian

tidak ada ikatan jodoh mengapa kau bilang tidak

mungkin menjadi isteri orang lain? “

Dara itu menghela napas panjang. “Engkau

tidak mengerti keadaan hati wanita, Siong koko.

Aku dan Suci Lauw Ci Sian mempunyai pendapat

yang sama. Kalau ada laki laki yang melihat

keadaan kami bertelanjang bulat seperti dahulu

itu, dia harus kami bunuh ! Itulah sebahnya

mengapa kami menbunuh Yang ce Su go. Akan

tetapi betapa kami dapat membunuh Yu taihiap

yang sudah menolong kami? Karena itulah maka

jalan satu satunya untuk menghilangkan aib dan

hina, kami harus menjadi isterinya ……” Dengan

saputangannya, Li Ceng mengusap dua butir air

mata dari pipinya.

Gui Sioag melongo. “Kalau…. andaikata…. Yu

taihiap tidak suka menjadi suami kalian berdua….

?“

Dengan muka menunduk, Li Ceng berkata,

“Kami akan menantangnya bertandirig sampai

mati.”

“Wah… mana bisa begini? Mana ada aturan

begitu…. ?“ Gui Siong berulang mencela dan

mengomel, akan tetapi Li Ceng sudah

meninggalkannya menggerutu seorang diri di

tempat itu, menyesali hal yang amat

membingungkan hatinya itu. Kembali teringatlah ia

akan kesuraman wajah suhengnya dalam beberapa

hari ini seolah olah ada sesuatu ganjalan di hati

kakak sepenguruannya itu semenjak penyerbuan

402

tengah malam yang berhasil menghancurkan pos

penjagaan musuh. Kalau ia tanya, suhengnya

hanya menghela napas dan tidak mau menjawab.

Kini ia dapat menduga. Memang antara dia dan

suhengnya tidak ada rahasia lagi betapa mereka

berdua mencinta dua orang gadis murid Liong Losu

itu. Ah, kini ia dapat menduga. Tentu suhengnya

telah mendenpar pula urusan dua orang gadis itu

dengan Yu Lee, dan telah pula ditolak cinta

kasihnya.

Keesokan harinya, Gui Siong menemui

suhengnya dan langsung berkata, “Suheng,

katakanlah terus terang, apakah suheng berduka

karena cinta kasih suheng ditolak oleh nona Lauw

Ci Sian? “

Wajah Ouwyang Tek seketika menjadi merah

sekali dan matanya melotot memandang sutenya,

siap untuk mendampratnya karena pertanyaan itu

dianggap kurang ajar. Akan tetapi meliat betapa

wajah sutenya ini tampak sungguh sungguh dan

juga membayangkan kedukaan kelihatan dan agak

pucat seperti orang kurang tidur, ia menahan

kemarahannya dan hanya berkata kasar, “Kau

bicara apa? Tak patut mau tahu urusan pribadi

orang !”

Gui Sioag memegang lengan kakak

seperguruannya yang sudah dianggap seperti

kakak kandungnya itu lalu bercerita, “Jangan

marah, suheng. Aku dapat menduga dan

memaklumi keadaanmu karena akupun malam

tadi telah mengalami hal yang sama yaitu ditolak

cinta kasihku terhadap adik Tan Li Ceng.”

403

Berkerut sepasang alis yang hitam tebal itu.

“Hemmm….! Dia kelihatan menaruh perhatian

kepadamu Mengapa menolak? “

“Dengan alasan yang sama dengan alasan

penolakan nona Ci Sian kepadamu, suheng.”

“Apa katamu? Sute, jangan main gila engkau !

Apa engkau telah mendengar percakapan antara

kami tentang hal itu? Dia… dia, tidak mengajukan

alasan sesuatu…”

“Aduh, apakah nona Ci Lian tidak bercerita

kepadamu tentang aib yang menimpa mereka dan

urusan mereka dengan Yu taihiap?”

Ouwyang Tek melongo terheran dan menggeleng

kepala. “Akupun masih bingung memikirkan,

betapa dia menolakku tanpa alasan, padahal

kelihatannya, eh sute, apakah ada sesuatu yang

terjadi?“ Ouwyang Tek memegang lengan sutenya

erat erat dengan hati tegang.

“Peristiwa yang membingungkan sekali, suheng.

Aku sendiri heran mengapa mereka begitu picik

pandangan dan mengambil keputusan gila seperu

itu. Persoalannya begini… Suheng masih ingat

ketika kita nertemu dengan mereka pertama kali

setahun yang lalu? “

Ouwyang Tek mengangguk. “Di Istana Air

bersama guru kita dan Liong Losu, dan Yu Lee Si

Pendekar Cengeng.”

“Nah, ketika itu, dua orang nona ini tertawan

musuh dan hampir saja diperkosa oleh Yang ce Su

go. Baiknya pada saat yang amat berbahaya itu

muncul Yu taihiap yang menolong mereka dan

404

merobohkan Yang ce Su go. Setelah dibebakan,

kedua orang nona itu membunuh Yang ce Su go

dan…. mulai saat itu lah mereka merasa tidak

bebas dan tidak mungkin dapat menjadi isteti

orang lain. Itulah sebabnya mengapa mereka

menolak cinta kasih kita,”

“Eh, mengapa begitu? “

“Mereka berpendapat bahwa laki laki yang

melihat mereka dalam keadaan telanjang bulat,

harus mereka bunuh ! Tentu saja mereka tidak

dapat membunuh Yu Lee yang menolong mereka,

maka jalan satu satunya bagi mereka untuk

mencuci aib itu hanya menjadi isterinya.”

“Begitu gila ! kalau Yu taihiap tidak setuju? “

“Kalau tidak setuju, mereka akan

menantangnya dan mengajak bertanding sampai

mati “

“Wah lebih gila lagi itu ! Tidak sute, kita harus

meucegah terjadiriya hal gila itu. Sute kita harus

berkorban, demi cinta kita !”

“Apa maksudmu suheng? “

“Kelak kitalah yang akan mencari Yu Lee kita

jelaskan persoalan mereka dan minta ke pada Yu

Lee agar suka menerima mereka sebagai isterinya.”

“Kalau dia tidak mau? “

“Kita paksa, kalau perlu kita tantang dia.

Biarlah kita atau dia yang tewas dalam

pertandingan itu, agar kedua orang nona yang kita

cinta tidak usah mengorbankan nyawa.”

405

Gui Siong hanya termenung, keduanya

merenungkan nasib mereka yang tidak beruntung

dalam asmara.

“Nona…! Tunggulah jangan tinggalkan saya….!”

Siok tan menahan kendali kudanya dan

membiarkan pelayannya itu sampai dapat

menyusulnya, lalu berkata, “Engkau menjemukan

sekali, membikin malu kepadaku!”

“Lhooh…! Apakah dosaku sekali ini siocia (

nona ) ?” tanya Yu Lee.

“Melakukan kesalahan berkali kali masih tidak

merasa punya dosa? Di tempat pertemuan tadi

kau sudah membikin kacau dan membikin malu

dengan tingkahmu bersama Abouw yang gila

gilaan. Masih untung bahwa engkau dan Abouw

tidak sampai celaka, kalau kalian roboh di tangan

orang, apakah aku yang menjadi majikannya tidak

menjadi malu sekali. Kedua, engkau begitu tak

tahu malu dau tidak sungkan sungkan lagi

menerima pemberian kuda ini. Hemm, agaknya

engkau paling senang akan pemberian orang lain,

ya? Memalukan saja! Apa kau kira aku tidak bisa

membeli kuda kalau aku mau ?”

JILID X

YU LEE diam diam tersenyum di dalam hatinya.

Nona ini lincah, jenaka, gálak, panas, penuh

semangat hidup, pendeknya, selalu menyenangkan

hatinya, baik dalam keadaan tenang dingin, panas

406

atau sedang marah marah tidak karuan sekalipun.

Begitulah kalau orang sudah mabok asmara, setiap

gerak gerik si dia tentu akan selalu menarik !

“Maaf, siocia,” kotanya sambil mengangkat

kedua tangan depan dada penuh hormat,

“Sesungguhnya karena hati saya tidak rela

mendengar nona dihina, maka saya memberanikan

diri untuk balas menghina dan mempermaainkan

si pinggul besar itu. Adapun tentang kuda…. Ah,

saya rasa….eh, nona akan lelah sekali kalau

melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, maka

saya….”

“Sudahlah, yang lewat biarlah lalu,” kata Siok

Lan, geli juga membayangkan kembali pelayannya

ini mempermainkan Cüi Hwa Hwa yang lihai,

“Akan tetapi, mulai detik ini, engkau tidak boleh

berbuat sesuka sendiri, harus menanti perintahku!

Mengerti?”

“Baik, siocia”

“Hemm kalau lain kali menjengkelkan hatiku

tentu akan kugaplok egkau !”

Yu Lee memandang kearah tangan gadis itu.

Tangan yang berjari halus kecil kulitnya halus

putih kelihatan lunak hangat. Tiba tiba saja ia

mempunyai perasaan ingin digaplok! Entah

bagaimana timbul keinginan hatinya agar pipinya

disentuh tangan itu!

“Memang saya telah melakukan dua kesalahan

di sana tadi, harap nona sekarang suka memberi

hukuman itu kepada saya….!” Ia memajukan

kudanya mendekati Siok Lan.

407

“Apa….? Kau….. minta digaplok…?”

Siok Lan demikiin herannya sampai matanya

terbuka lebar dan mulutnya agak ternganga

memperlihatkan deretan gigi putih dan ujung lidah

yang runcing merah. Saking terpesona Yu Lee

menyaksikan “keindahan” ini, sampai tak dapat

berkata sesuatu hanya mengangguk angguk dan

menelan ludah.

“Eh, Aliok, apakah kau ini agak tidak waras

pikiranmu?”

“Nona mengira saya gila? Tidak, nona. Saya

sehat walafiat, otak saya tidak parnah miring.”

“Kenapa minta di gaplok?”

“Karena…karena… saya sudah mengaku salah

dan memang patut dihukum.!”

“Kali ini kuampuankan kau. Sudahlah, kau

pergi carikan aku air dingin yang jernih, aku haus

sekali dan bekal minuamanku habis. Mengapa tadi

kau tidak sekalian mereka membekali minuman !”

Siok Lan melorcat turun dan cepat cepat Yu Lee

juga turun lalu membawa dua ekor kuda itu ke

bawah sebatang pohon dan membiarkannya makan

rumput. Memang siang hari itu panas amat

teriknya. Melihat Siok Lan duduk di akar akar

pohon, Yu Lee segera memeriksa perbekalan dalam

tas kulit itu cukup lengkap. Ada roti kering, daging

panggang, dendeng, bahkan ada seguci arak baik,

pada setiap punggung kuda!”

“Wah ini ada makanan dan minuman nona.

Apakah nona hendak makan?”

408

Agak merah wajah Siok Lan. Tadi ia tidak

memeriksa lebih dulu sudah pula menyalahkan

pelayannya mengapa tidak minta perbekalan

minuman. Kiranya di dekat sela kaki kudanya

terdapat makanan dan minuman, bahkan

sekantung uang perak !”

“Siapa sudi minum arak di tengah hari panas

ini? Aku ingin minum air sejuk yang jernih !”

katanya menutup rasa malu.

Yu Lee mengambil roti, daging dan arak,

menurunkannya dan menaruhnya baik baik di

depan Siok Lan kemudian berkata, “Saya akan

mencarikan air itu untuk nona.”

Setelah pelayannya itu tidak tampak lagi, Siok

Lan duduk termenung. Aneh sekali, menagapa ia

merasa amat suka kepada pelayan itu? Mengapa

pemuda yang bodoh dan tolol itu demikian menarik

hatinya? Pemuda yang lemah akan tetapi amat

pemberani sehingga tidak gentar mempermainkan

Cui Hwa Hwa dengan pertaruhan nyawa! Pemuda

yang bodoh akan tetapi cerdik sehingga

mengeluarkan ucapan ucapan yang kadang kadang

aneh dan berpengaruh di depan begitu banyak

orang kang ouw.

Pemuda miskn akan tetapi amat setia dan kaya

akan pribudi yang baik sifat sifat yang menawan

inilah agaknya yang menarik hati nya, yang

membuat ia kadang kadang merasa gemas dan

kadang kadang merasa kasihan, kadang kadang

merasa marah tanpa sebab dan barulah kadang

kadang marah karena semua sifat baik itu

dipunyai oleh seorang yang hanya menjadi pelayan

409

saja ! Mengapa kalau Pendekar Cengeng, pemuda

she Yu itu demikian sombong, tidak memandang

sebelah mata kepada keluarganya, kini pelayannya

begini baik?

Siok Lan sedang makan roti kering ketika Yu

Lee datang membawa tempat air yang penuh berisi

air dingin yang jernih sekali, diletakkannya tempat

air itu di depan Siok Lan dan berkatalah ia dengan

ramah.

“Minumlah, siocia. Airnya dingin dan amat

jernih.”

Siok Lan mengangguk dan minum air beberapa

teguk. “Kau makanlah rotinya.” Gadis itu

menawarkan.

Yu Lee menggeleng kepala. “Saya tidak lapar,

nona”

Gadis itu memandang dan melihat bibir

pemuda pelayannya ini kering, bertanya, “Kau juga

belum minum?”

Yu Lee tersenyum menggeleng kepala, “Saking

tegesa gesa saya lupa minum di sana tadi.”

“Aliok, kau memang aneh, kau begitu bodoh

tapi…..”

“Tapi bagaimana, siocia?”

“Sudahlah, kau boleh minum air ini !”

“Nona baru minum sedikit, dan sehabis makan

roti tentu haus lagi.”

Siok Lan memandang marah. “Aku bisa minum

lagi nanti. Apakah air sebegini banyak akan kau

410

habiskan sekali minum? Kalau kau habiskan,

engkau harus mengambilkan lagi untuk ku.

Minumlah kalau haus, kalau tidak ya sudah.”

Yu Lee berdebar jantungnya. Ia memang

mengenal watak gadis ini yang amat polos dan

menganggap pelayannya seperti teman

seperjalanan dan sudah biasa diajak makan

bersama. Akan tetapi untuk minum berdua dari

satu tempat air ? Sungguh ia hampir tak dapat

percaya maka untuk membuktikannya, ia lalu

meangngkat tempat air itu, lalu meneguk airnya

beberapa teguk. Sengaja ia menempelkan bibirnya

pada bibir tempat air yang tadi berbekas bibir Siok

Lan, kemudian diletakkannya kembali tempat air

itu. Airnya masih setengahnya.

“Hayo makanlah roti ini. Kalau kita berangkat

lagi nanti, aku tidak akun berhenti sebelum

malam, kau bisa mati kelaparan nanti !”

“Baiklah, siocia,” Yu Lee lalu mengambil roti

sisa yang dimakan Siok Lan dan ia mulai makan

roti kering. Jantungnya berdebar makin keras

ketika ia melihat Siok Lan mengelap bibirnya

kemudian mengangkat tempat air itu dan… minum

air itu tanpa ragu ragu lagi dan ia tahu betul

tempat bibir gadis itu tanpa disengaja meenempel

di bibir tempat air dibekas bibirnya tadi ! Lehernya

serasa tercekik karena ia merasa amat terharu.

Benar benar seorang gadis yang polos dan masih

bersih hatinya. Ia tersedak dan Siok Lan cepat

cepat menyerahkan tempat air.

411

“Ihh, seperti anak kecil sajal Makan sampai

tersedak. Hayo diberi minum, bisa mati mendelik

engkau nanti !”

Yu Lee minum air dan tenggorokannya menjadi

longgar kembali ia memandang kepada Siok Lan

dengan wajah berseri.

“Nona sungguh amat baik….”

Siok Lan megerutkan alisnya, “Apa? Kenapa

baik? Aku berbuat baik apa kepada siapa? Jagan

menjilat kau!”

Yu Lee melengak. Memang aneh watak nona ini.

Sebentar ramah sebentar galak! sebentar senyum

sebentar merengut. Saat itu bergurau, saat lain

membentak bentak!

“Nona amat baik sebagai nona majikan

mengajak makan minum pelayannya bahkan…. eh

… minum dari satu tempat air…sungguh

merupakan kehormatan besar bagi saya….!”

“Hemm apa anehnya begitu saja? Kau tidak

punya penyakit batuk bukan? Tidak punya

penyakit menular ?”

“Ah, tidak sama sekali nona.”

“Nah, mengapa ribut ribut? Majikan maupun

pelayan apa bedanya? Sama sama manusia.”

“Terima kasih atas pendapat yang mulia ini

nona.”

“Sudahlah, sudahlah! Kalau kau memuji muji

terus bisa kuanggap menjilat dan aku akan marah

412

setengah mati karena aku paling benci pada

seorang penjilat !”

Pada saat itu Yu Lee sudah tahu akan ada nya

orang yang bersembunyi di pohon besar tak jauh

dari situ. Sebaliknya Siok Lan baru terkejut ketika

dari balik pohon itu terdengar suara tertawa, “He,

he, he, benar sekali. Penjilat penjilat harus dibasmi

dari permukaan dunia !”

Siok Lan dan Yu Lee menoleh dan ternyata yang

muncul dari balik pohon itu adalah seorang

pengemis tua, usianya tentu paling sedikit enam

puluh tahun, pakaiannya penuh tambalan, akan

tetapi kelihatan bersih, juga sepatunya yang sudah

berlubang sehingga tampuk ibu jari kakinya itu

putih bersih seperti sepatu baru. Mukanya halus

tidak tertutup jenggot atau kumis, akan tetapi

sepasang alisnya yang tebal itu sudah putih, juga

rambut nya penuh uban. Tububnya tingi kurus

dan tangan kirinya memegang sebatang tongkat

bambu. Pinggangnya terikat sabuk merah yang

lebar dan berbunga, yaitu dibagian depan

diikatkan dalam bentuk bunga teratai. Dandanan

yang aneh menggelikan bagi seorang pengemis,

namun melihat sabuk merah dan tongkat itu, diam

diam Yu Lee terkejut dan memandang penuh

perhatian.

Siok Lan masih duduk di atas akar pohon

matanya mengerling tajam. Iapun dapat mengenal

tanda sabuk merah dan tongkat itu, maka

kemarahannya bangkit seketika dan ia menduga

tentu ini adalah tokoh Ang kin Kai pang yang

413

sudah berkali kali memumsuhinya. Berpikir

demikian, ia lalu berkata mengejek.

“Kembali ada srigala yang menyamar sebagai

domba, perampok menyamar sebagai pengemis.

Menjemukan sekali !” Setelah berkata demikian,

Siok Lan menyambar tempat air tadi lalu

mengerahkan sin kug, menyambitkan tempat air

itu kearah si pengemis tua.

Tempat air itu bentuknya seperti sebuah piring

yang dalam atau seperti sebuah panci yang

dangkal dan lebar, bentuknya bundar. Karena kini

disambitkan dengan keadaan miring dan didorong

tenaga sin kang yang amat kuat, maka piring itu

berputar cepat seperti gasing, mengeluarkan suara

mengaung keras dan meluncur ke arah si pengemis

tua. Tak boleh dianggap ringan piring terbang

seperti ini karena dalam keadaan berputar dan

mengandung tenaga kuat seperti itu, pinggiran nya

dapat setajam golok dan kalau mengenai leher

dapat menyembelih sampai putus! Maka serangan

Siok Lan ini amatlah bebat.

“He, he, he, sungguh ganas cucu Thian te Sin

kiam!” Kakek itu terkekeh dan tetap tenang tenang

saja menghadapi serangan piring terbang itu.

Ketika piring itu menyambar ke arahnyu, ia sama

sekali tidak membuat gerakan mengelak, hanya

memandang sambil terkekeh seperti seorang

dewasa mentertawai seorang anak anak nakal.

“Sungg ….!” Piring itu menyambar ke arah

lehernya. Kakek itu mengangkat tangan kanan ke

depan, dengan perlahan jari tangan telunjuk

menyentil ke arah piring terbang.

414

“Trang… nguuuuuung!” Piring dari panci itu

begitu kena disentil telunjuk kanan kakek

pengemis berbunyi nyaring lalu berputar lebih

cepat daripada tadi, akan tetapi kini meluncur ke

atas mengeluarkan suara mengaung yang jauh

lebih nyaring daripida ketika disambitkan Siok Lan

tadi ! Piring terbang itu melayang cepat dan jauh

sekali ke atas sampai akhirnya lenyap dari

pandangan mata, entah jatuh di mana. Akan tetapi

agaknya benda itu dijadikan sebagai isyarat

rahasia oleh kakek pengemis, karena tiba tiba

bermunculanlah sedikitnya tiga puluh orang

pengemis bersabuk merah dari semua penjuru dan

mereka berdiri mengepung tempat itu dari jarak

jauh. Bahkan di antara mereka sudah ada yang

“merawat” dua ekor kuda tunggangan Siok Lan dan

Yu Lee!

Siok Lan meloncat bangun diturut oleh Yu Lee

yang bangkit juga dengan tenang. “Wah, memang

tidak salah dugaanku ! Ang kin Kai pang hanyalah

sekumpulan perampok yang menyamar sebagai

pengemis kelaparan ! Sungguh hal ini amat

memalukan golongan hok lim (perampok) dan kai

pang (kaum pengemis) yang tulen !”

Kakek pengemis itu mengangkat tongkatnya ke

atas kepala dan suara hiruk pikuk para pengemis

yang muncul dan marah mendengar ucapan Siok

Lan, mendadak sirep dan keadaan menjadi sunyi.

Jelas bahwa semua pengemis, di mana tampak

juga Ang Kun, tokoh tingkat lima, kemudian Ang Ci

dan Ang Sun tokoh tokoh tingkat tiga, dan

beberapa tokoh Ang kin Kai pang yang lain, amat

415

mematuhi kakek ini sehingga makin yakinlah Yu

Lee akan dugaannya tadi bahwa kakek itu agaknya

adalah ketua dari Ang kin Kai pang yang terkenal

dengan julukan Kai ong (Raja Pengemis) Ang kwi

Han. Maka ia memandang penuh kekhawatiran

karena maklum bahwa menghadapi tokoh Ang kin

Kai pang tingkat tiga juga Siok Lan belum tentu

dapat menang, apa lagi menandingi ketuanya!

“Nona cilik yang bermulut besar!” Bentik Kakek

ketua itu. “Sesungguhnya tidaklah pantas bagi aku

sebagai ketua Ang kin Kai pang untuk berurusan

dengan bocah seperti engkau ! Semestinya aku

menemui kakekmu untuk menegur cucunya ! Akan

tetapi karena sudah dua kali engkau menghina

pembantu pembantuku, sudah sepatutnya pula

aku menegur langsung kepadamu agar engkau

tidak memandang rendah kami orang Ang kin Kai

pang !”

Siok Lan mendengar bahwa kakek ini adalah

ketua Ang kin Kai pang, menjadi terkejut juga ia

sudah mendengar dari kakeknya tentang kelihaian

raja Pengemis ini, akan tetapi dasar ia bandel,

berani dan tidak mengenal takut, maka ia

tersenyum dan berkata.

“Ah, kiranyn Ang kin Kai pangcu yang muncul

sendiri ! Pangcu, kebetulan sekali kita berjumpa.

Engkau tadi bilang hendak menegurku, boleh saja.

Akan tetapi ketahuilah bahwa aku pun ingin sekali

menegurmu atas kelakuan anak buahmu yang

tidak patut. Pelayan ku ini menjadi saksi akan

kekurangajaran para pengikutmu dan orang

orangmu itupun kebetulan hadir.” Sampai di sini

416

Siok Lan menudingkan telunjuknya ke arah Ang

Kun, Ang Ci dan Ang Sun yang berdiri tak

bergerak, mata mereka mendelik marah.

“Betul seperti yang dikatakan nona majikanku

!” Tiba tiba Yu Lee berkata, suaranya lantang dan

ia tidak perduli betapa tiga orang tokoh pengemis

itu juga siketua sendiri, memandang kepadanya

penuh perhatian dan kecurigaan. Pemuda ini

maklum bahwa tiga orang tokoh pengemis itu tentu

sudah mengerti bahwa dia adalah searang

berkepandaian tinggi dan tentu sudah melapor

kepada ketua mereka bahwa dialah yang

“melindungi” Siok Lan secara diam diam. “Aku

menjadi saksi hidup ! Aku berani sumpah demi

apapun juga bahwa dalam urusan antara nonaku

dan para tokoh Ang kin Kai pang nonaku tidak

bersalah seujung rambut sekali pun! Pangcu harap

suka mengambil pertimbangan yang adil. Pertama

tama, pembantu mu yang seorang itu telah

menghadang nnona dan dengan paksa hendak

minta sumbangan, yang kemudian ditolak oleh

nona majikanku sehingga terjadi bentrokan.

Kemudian kedua orang yang lebih besar itu,” ia

menudin ke arah Ang Ci dan Ang Sun, “datang

pula selagi nonaku sedang makan. Coba pangcu

katakan apa kesalahan nonaku? Kalau kalian

tidak mengganggunya, tentu tidak akan terjadi

bentrokan !”

“Ha ha ha ha ! Omonganmu tepat namun jelas

membela sebelah pihak! Seorang gagah akan

berpemandangan luas menilai persoalan nya,

bukan hanya yang berada di depan hidung saja.

Nona cilik ini cucu Thian te Sin kiam seorang

417

pejuang dan penentang pemerintah penjajah, maka

sudah sepatutnya kalau anak buahku minta

sumbangan kepada nona cilik ini, karena

sumbangan sumbangan itu bukan untuk diri kami

pribadi melainkan untuk pembiayaan perjuangan

melawan pemerintah Mongol. Akan tetapi nona

cilik ini tidak menyumbang malah menghina,

mengandalkan perlindungan sembunyi. Ha ha ha !”

Setelah sekarang bertemu dengan aku sendiri,

apakah nona cilik akan lari ketakutan?”

“Tua bangka sombong!” Tiba tiba Liem Siok Lan

berseru keras dan mencabut pedang nya, “Jangan

asal terbuka saja mulutmu ! Siapa takut

kepadamu? Kalau tidak terima dan mendendam

kepadaku, hayo ini aku sudah berada di sini. Kau

mau apa?”

Ang Kwi Han tertawa, akan tetapi matanya

mengerling ke arah Yu Lee “Setidaknya hari ini

akan kupaksa orang mengaku dirinya ! Nona mari

kita main main sebentar dengan pedangmu.

Bukankah itu gin kiam (pedang perak)? Tentu ada

pula gin ciam ( Jarum perak )! Itulah kepandaian

yang dibanggakan Thian te sin kiam. Apakah nona

telah mewarisi kepandaian itu seluruhna?

Perlihatkan baik baik kepadaku !” Setelah berkata

demikian, kakek itu melangkah maju, tangan

kanannya menampar ke arah Siok Lan.

Gadis ini maklum akan kelihaian lawan, maka

iapun berlaku hati hati dan miringkan tubuh

mengelak sambil menggeser kaki. Tangan lewat di

atas pundaknya, anginnya bersiut, akan tetapi

418

ujung lengan baju itu masih meluncur akan

menotok lehernya !

“Aiiihhh…..” Siok Lan berseru,

membelakangkan tubuhnya dan sinar perak

pedangnya menyambar ke arah lengan kakek itu.

Kakek itu memutar tubuh, tongkatnya di

gerakkan menangkis dan.. tubuh Siok Lan

terhuyung huyung ke belakang sampai delapan

langkah. Ia merasa seperti tubuhnya didorong

tenaga tersembunyi yang dahsyat. Namun, biarpun

jalas kakek tua sakti dan bertenaga sinkang amat

hebat, sedikitpun ia tidak memperlihatkan rasa

takut. Ia memasang kuda kuda, kemudian ia

meloncat ke depan, menelan jarak delapan langkah

tadi dalam sekali lompat, padangnya meluncur dan

menerjang lawan amat cepat dan kuatnya.

“Ha ha ha sedikitnya engkau mewarisi

semangat Liem Kwat Ek !” Kakek itu tertawa sambil

miringkan tubuhnya sehingga terjangan Siok Lan

yang dahsyat itu mengenai angin. Kembali kakek

itu menampar dengan lengan kanannya yang

dibuka lebar lebar. Angin sambaran hebat ini

menambah tenaga dorong dari serangan. Siok Lan

yang tidak mengenai sasaran sehingga kembali

gadis itu terhuyung ka depan. Akan tetapi Siok Lan

sudah siap siap begitu tubuhnya membalik, tangan

kiri yang bergerak dan sinar putih jarum jarum

peraknya menyambar ke arah tujuh bagian penting

tubuh depan kakek itu.

“Ha ha ha gin ciam yang hebat !” Teriak kakek

itu, lengan bajunya mengebut dan segera jarum

dapat dikebutnya runtuh Siok Lan sudah

419

menerjang lagi, kini mainkan jurus pedang Kun

lun pai yang amat indah dan hebat. Kakek itu tidak

berani memandang rendah, berkali kali mulutnya

memuji dan menggunakan ginkangnya untuk

mengelak ke sana ke mari dibantu tongkatnya yang

kadang kadang mendorong atau menangkis.

“Kiam hoat bagus….! Kiam hoat bagus..! Sayang

pemainnya amat sembrono dan keras kepala!” Ia

berulang kali memuji ilmu padangnya dan mencela

orangnya, membuat Siok Lan makin marah dan

memperhebat terjangannya yang selalu mengenai

tempat kosong, bahkan beberapa kali ia terhuyung.

Siok Lan terkejut sekali dan tahulah ia bahwa

sekali ini ia tentu akan menderita kekalahan

terhadap kakek yang amat lihai ini. Akan tetapi ia

menggertak gigi dan maju terus, malah kini ia

mengeluarkan jurus jurus nekad mengadu nyawa !

“Hemm, bocah ganas. Apakah engkau masih

juga tidak mau menyerah dan mengakui

keunggulan aku orang tua? Kakekmu sendiri

belum tentu dapat menangkan aku !”

“Tua bangka busuk! Siapa sudi menyerah?

Robobkan aku kalau kau mampu!” Siok Lan

menantang berani.

“Hemm, bocah sombong!” Kakek itu berkata

gemas sambil menangkis pedang Siok Lan sehingga

gadis itu terdorong mundur. “Kalau tidak ingat

kepaca kakekmu Liem Kwat Ek, apa kaukira tidak

sejak tadi kau sudah roboh binasa ! Lihatlah

sekarang, aku akan menghajarmu dengan

senjatamu sendiri, dan tanganmu sendirilah yang

akan melukaimu. Kalau kelak kakekmu melihat

420

betapa engkau melukai dirimu sendiri dengan

senjatamu, tentu akan insaf bahwa aku telah

memandang mukanya, masih mengampunkan

dirimu ! Engkau terluka atau mati tergantung

seranganmu sendiri!”

“Banyak cerewet !” Siok Lan membentak dan

menyerang, menusukkan pedangnya ke arah kakek

itu. Ang Kwi Han tidak mengelak, melainkan

menggerakkan tongkatnya menangkis dengan

menggunakan tenaga yang amat aneh dan…..

pedang itu masih di tangan Siok Lan, namun telah

membalik dan menusuk ke arah gadis itu sendiri!

“Aihhh…!” Siok Lan cepat membuang diri dan

memusnahkan tenaga menarik tangan nya,

betapapun juga, pedang itu ujungnya sudah

menyambar ujung bajunya sehingga berlubang.

Ternyata kakek itu tidak mengeluarkan

ancaman kosong. Namun Siok Lan masih belum

sadar dan kembali ia menubruk, kini pedangnya

membabat leher. Sekali lagi kakek itu menangkis

dan pedang itu membalik dan menyambar leher

Siok Lan sendiri yang kini sudah siap siap,

sehingga dapat mengelak sambutan pedang yang

dipegang oleh tangannya sendiri !

“Nona, lebih baik menyerah…!” Tiba tiba Yu Lee

berkata. Pemuda ini maklum akan bahayanya

permainan Siok Lan ini karena makin hebat

sarangan gadis itu, makin hebat pula bahaya

mengancam. Ia pernah mendengar akan ilmu

pedang yang bernama ilmu pedang “Mengusir Naga

Pulang ke Sarang!” yaitu yang jurus jurusnya

terdiri dan tangkisan tangkisan yang membuat

421

senjata lawan itu membalik dan menyerang

orangnya sendiri !

Diam diam ia amat kagum, sungguhpun ia

maklum bahwa kalau semacam itu hanya ampuh

kalau dipergunakan menghadapi lawan yang

tingkatnya jauh lebih rendah seperti hal nya kakek

itu menghadapi Siok Lan.

Akan tetapi, bujukan Yu Lee ini malah

merupakan minyak bakar menyiram api! Seperti

diketahui, Siok Lan tadinya merasa bangga sekali

karena berkali kali ia telah membuktikan di depan

pelayannya betapa hebat ilmunya sehingga ia tidak

pernah terkalahkan selama ini! Kalau sekarang ia

harus menyerah mentah mentah di depan

pelayannya, alangkah akan rendahnya, alahkah

akan malunya. Tentu pelayannya tidak lagi akan

memandang kepadanya dengan sinar mata begitu

penuh kekaguman!

Kembali kakek itu tertawa mengejek ketika

gadis itu menyerang makn hebat sebagai jawaban

atas permintaan Yu Lee. Memang ketua Ang kin

Kai pang ini sudah tahu bahwa pelayan nona ini

adalah orang yang sesungguhnya mengalahkan

beberapa orang pembantunya, maka kini ia hendak

mencari kesempatan agar si pelayan turun tangan

membantu Siok Lan. Kalau dia menghendaki, sejak

tadipun gadis itu tentu telah dapai ia robohkan.

Karena kini Siok Lan menjadi makin ganas

kakek itupun panas juga. Pada saat Siok Lan

menusukkan pedang ke dadanya, secepat kilat

tangan kanannya menotok pundak gadis itu dan

422

tongkatnya menangkis membuat pedang gadis itu

membalik dan menusuk dada itu sendiri.

Siok Lan sudah membelalakkan mata karena

merasa bahwa tubuhnya kaku tak dapat di

gerakkan sehingga sekali ini pedangnya sendiri

tentu akun menembusi dadanya.

Akan tetapi pada saat itu, Yu Lee berseru

“Jangan bunuh nonaku…!” Pelayan itu meloncat

kepadanya selagi pedangnya tertangkis dan kini

pedang di tangannya itu membalik dan menusuk

ke arah dada Yu Lee ! Pada saat itu. Yu Lee yang

marah karena kakek itu tega hendak membunuh

Siok Lan, sambil berdiri di depan gadis itu dan

membelakanginya, sengaja menerima ujung pedang

dengan dadanya akan tetapi pada detik itu ia

mendorongkan ke dua lengannya ke depan,

mengirim pukulan sakti Sin kong ciang ke arah

ketua Ang kin kai pang !

Cepat sekali terjadinya semua ini. Pedang itu

meleset seketika mengenai dada Yu Lee karena

tepat pada saat itu Yu Lee mengerahkan tenaga Sin

kong ciang akan tetapi ujung pedang yang melesat

itu menusuk miring dan melukai pundaknya. Akan

tetapi kakek yang terkena pukulan Sin kong ciang

itu terhuyung mundur tiga langkah dan dari

mulutnya menyembur darah segar.

“Sungguh kejam kau orang tua hendak

membunuh nonaku….!” Yu Lee berkata dan diapun

terhuyung ke kiri lalu roboh terduduk, Siok Lan

yang tadinya berdiri di belakang Yu Lee, tidak

melihat itu semua. Begitu Yu Lee roboh dan

melihat pundak dekat dada pemuda itu

423

mengucurkan darah, ia kaget bukan main.

Kemarahannya timbul dan ia menuding ke arah

kakek itu

“Kau …! Berani kau melukai pelayanku…?” ia

hendak menerjang maju, akan tetapi tertegun dan

terbelalak ketika kakek itu tiba tiba menjura dan

berkata.

“Mana aku berani kurang ajar? Terima kasih

atas pelajaran yang diberikan.” Setelah berkata

demikian Ang Kwi Han memberi isyarat dengan

tongkatnya dan pergilah dia diikuti semua

pengemis tadi menonton dengan muka pucat.

Gadis ini bingung, dia tidak tahu sama sekali

bahwa sikap Ang Kwi Han itu adalah akibat

pukulan sakti yang dilakukan Yu Lee.

Diserang pukulan sakti jarak jauh sekali saja

lalu menderita luka, segera kakek itu mengenali

bahwa pukulan itulah yang bernama Sin kong

ciang dan tiba tiba saja ia menjadi tunduk dan

gentar.

Ia dapat menduga bahwa pemuda yang

menyamar sebagai pelayan ini tantu ada hubungan

dengan tokoh yang menjadi pujaan dan

gembongnya semua dunia pengemis, yaitu Sin

kong Ciang Han It Kong, tokoh sakti dan penuh

rahasia yang selalu berpakaian pengemis. Karena

itulah Ang Kwi Han menjadi “mati kutunya” dan

tidak berani banyak lagak lagi karena maklum

bahwa pemuda itu adalah “golongan sendiri” yang

kedudukan dan kepandaiannya lebih tinggi

daripadanya.

“Aliok…. kau… kau terluka…?”

424

“Tidak… tidak mengapa, nona….!” jawab Yu

Lee. Akan tetapi pemuda ini wajahnya pucat sekali

dan terhuyung huyung Berat sungguhkah luka

yang diderita Yu Lee akibat tusukan pedang gin

Kiam pada dadanya tadi? Sesungguhnya tidaklah

terlalu berat biarpun mengeluarkan darah cukup

banyak, hanya pemuda ini masih terguncang

hatinya kalau teringat betapa tadi nyaris Siok Lan

tewas di tangan nona itu sendiri dengan pedang

nona itu sendiri pula kalau saja ia tidak cepat

turun tangan. Mengingat akan hal inilah yang

membuat ia menjadi ngeri dan lemas sahingga kini

ia terhuyung dengan kepala pening.

Melihat ini Siok Lan cepat memegang lengan

pelayannya dan membimbingnya ke dekat pohon

“Hati hati… agaknya lukamu berat, kau duduklah

bersandar pohon Aliok.” Nona itu membantu Yu

Lee yang diam diam merasa terharu, juga geli

karena sesungguhnya dia tidak apa apa. Luka itu

hanya luka kulit dan daging dan memang ia

sengaja menekan dari dalam agar banyak darahnya

mencuci bekas luka dari dalam. Hal ini amatlah

penting, demikian nasihat gurunya dahulu, karena

darah yang keluar iu dapat “mencuci” dan

membersihkan daging yang terluka asal jangan

terserang racun.

Yu Lee bersandar pada pohon, matanya

setengah terpejam tidak berani ia secara langsung

menentang wajah Siok Lan yang berada begitu

dekat dengannya.

Gadis itu tanpa ragu ragu membuka baju

atasnya untuk memeriksa luka di dada dan ini

425

dikerjakannya dengan begitu teliti sehingga Yu Lee

merasa betapa jari jari halus itu menyentuh

nyentuh dan mengusap usap dadanya, betapa

rambut yang hitam halus seperti benang sutera itu

kadang kadang menyapu leher dan pipinya, betapa

hembusan napas dari hidung gadis itu kadang

kadang menyentuh mukanya…

Yu Lee terpaksa memeramkan mata dan hanya

hidungnya yang menangkap keharuman yang amat

sedap, yang membuat jantungnya berdenyut lebih

cepat daripada biasanya.

“Eh, kenapa dadamu berdebar debar seperti

ini?” Siok Lan yang memeriksa luka itu dan

meraba meraba dada itu diam diam amat

mengagumi dada yang bidang dengan kulitnya

yang halus putih membayangkan otot yang hebat

dan kuat, akan tetapi gadis ini terheran ketika

ujung ujung jarinya merasakan denyut jantung

yang demikian keras.

“Ah, tidak apa apa, nona…” Yu Lee berkata,

akan tetapi kembali ia memejamkan kedua

matanya yang tiba tiba menjadi panas. Suara gadis

itu demikian halus dan merdu, penuh perhitungan

terhadap dirinya, membuat ia menjadi makin

terharu. Di dunia ini mana seorang nona majikan

yang merawat pelayan nya yang terluka seperti

yang dilakukan Siok Lan terhadap dirinya sekarang

ini? Gadis itu telah mengeluarkan arak dan

mencruci lukanya dengan arak dan saputangan,

begitu telaten dan mesra tampaknya, sedikitpun

tidak membayangkan jijik pada muka yang

menarik jelita itu.

426

“Sakitkah…?” Tanya Siok Lan ketika

memandang wajah pemuda itu yang agak pucat,

mata yang dipejamkan dan kening tebal itu

berkerut.

“Ti…tidak, nona….”

Siok Lan melanjutkan pekerjaan mencuci

kemudian mengeluarkan obat bubuk untuk luka

yang selalu dibawanya sebagai bekal, menaruh

obat bubuk pada luka di dada Yu Lee dan

membalut luka itu dengan sobekan ikat

pinggannya. Untuk membalut luka di dada, gadis

itu terpaksa beberapa kali merangkul leher

sehingga mukanya begitu dekat dengan muka Yu

Lee. Pemuda ini saking terharunya tak dapat

menahan menitiknya dua tetes air matanya.

“Ehh …? Kau… kau menangis?”

Melihat wajah yang cantik jelita dan amat detat

itu menatapnya penuh perhatian dan keheranan,

Yu Lee teringat bahwa ia telah mendekatkan diri

kepada terbukanya rahasianya, maka cepat cepat

ia memaksa dirinya tersenyum dan mengusap dua

bulir air mata itu dari pipinya.

“Tidak menangis hanya… rasa nyeri membuat

air mata keluar tanpa dapat saya cegah…”

“Ahhh… kukira engkau juga cengeng seperti

bekas majikanmu! Sakit benarkah rasanya sampai

keluar air matamu?”

“Tadi sakit sekali, nona. Panas dan pedih sekali,

akan tatapi… parawatan nona yang begitu teliti,

tangan nona begitu halus mengandung getaran

yang menyejukkan, mengusir panas dan perih…

427

malah kini menjadi nyaman…. Ah, betapa baik

budi nona terhadap seorang pelayan seperti saya.

Banyak terima kasih, nona, kebaikanmu tidak

akan pernah dapat saya lupakan “

Sejenak Siok Lan seperti terpesona memandang

wajah pelayannya. Ucapan pelayannya itu

terdengar amat menyenangkan hatinya, seperti

mengangkatnya tinggi ke angkasa, dan mukanya

tiba tiba menjadi kemerahan. Akan tetapi rasa

nyaman di hati ini seperti ia tutup dengan suara

celaan,

“Husss! Aliok, tidak perlu kau memuji mujiku

secara berlebihan. Apa yang kulakukan ini sudah

sewajarnya dan tidak ada artinya sama sekali

kalau dibandingkan dengan jasamu. Engkaulah

yang telah memperlihatkan budi amat baik

rerhadap aku. Engkau terluka karena aku, engkau

yang lemah berani menentang seorang seperti

ketua Ang kin Kai pang hanya untuk menolongku.

Kalau tidak ada engkau yang tadi menghalang,

apakah sekarang aku tidak sudah menjadi

mayat…? Aku bukan seorang yang tidak tahu

terima kasih, Aliok, maka sudah semestinya aku

merawat lukamu dan sekarang juga aku

menyatakan syukur dan terima kasih atas

pertolonganmu tadi. Engkau benar benar ssorang

hamba yang amat setia, patut menjadi bekas

pelayan keluarga Yu yang gagah perkasa.”

“Ahh, sekarang saya menjadi pelayan nona,

tidak perlu menyebut nyebut keluarga Yu yang

sudah terbasmi habis, nona. Tidak enak hati Yu

428

Lee diingatkan akan keluarganya yang sudah habis

itu.

“Tidak terbasmi habis Aliok Engkau lupa, masih

ada seorang yang lolos, seorang yang sekarang

sedang kucari, Yu Lee alias Pendekar Cengeng.”

Yu Lee mengerutkan alisnya yang tebal. Inilah

merupakan satu setunya hal yang tidak amat

menyenangkan selama ia berdekatan dengan Siok

Lan. “Ahh, siocia sendiri mengerti betapa semenjak

kecil saya menjadi pelayan yang setia keluarga Yu

sehingga bagaimana hati dapat merasa senang

mendengar bahwa nona mercari Yu kongcu dangan

maksud buruk?”

“Memang! Aku mencari dia untuk kuberi

hajaran! Untuk kutantang bertanding sampai salah

seorang diantara kami menggeletak tak bernyawa!

Dia terlalu menghina keluarga kami !”

Yu Lee menggeleng kepala. “Maaf nona bukan

sekali kali saya seorang pelayan berani lancang

mulut mencampuri urusan pribadi nona. Akan

tetapi nona amatlah baik kepada saya, juga

keluarga Yu telah menanam budi besar kepada

saya. Oleh karena itu bolehkah saya mengetahui

apa sebabnya nona mencari Yu kongcu untuk

ditantang bertanding? Permusuhan apakah yang

timbul antara keluarga nona dan keluarga Yu yang

sudah hancur berantakan itu yang menyebabkan

timbul ke bencian hebat di hati nona yang saya

tahu amat berbudi mulia.”

Sampai lama Siok Lan tidak menjawab dan

ketika pemuda itu mengerling kepadanya, Yu Lee

melihat betapa gadis itu termenung dengan

429

pandangan mata sayu dan penuh kedukaan ! Ia

menjadi heran dan hatinya menjadi tegang. Apakah

gerangan yang menyebabkan gadis ini menganggap

Pendekar Cengeng seorang yang sombong dan

memandang rendah keluarga Liem seperti yang

pernah dikatakannya dahulu?

“Aliok, biarpun engkau seorang pelayan biasa

akan tetapi kau telah menyelamatkan nyawaku

dan karena itu tidak ada salahnya kau mengetahui

rahasia keluarga kami. Pula, aku tidak ingin

engkau menganggap aku sewenang wenang

terhadap Pendekar Cengeng dan kuharap saja

engkau dapat menggunakan pikiran adil dan tidak

berpihak kepadanya dalam urusan kami ini !”

“Ahh, Siok Lan engkau tidak tahu apa yang kau

bicarakan ! Engkau tidak tahu betapa engkau telah

membuat aku menjadi penasaran sekali.” Demikian

suara dalam hati Yu Lee, akan tetapi ia hanya

mengangguk angguk.

“Antara kakekku yang terkenal dengan julukan

Thian te Sin kiam (Pedang Sakti Bumi Langit) Liem

Kwat Ek dan Yu Kiam sian (Dewa Pedang Yu)

terjalin persahabatan yang amal erat, bahkan

mereka berdua itu adalah teman teman

seperjuangan sehidup semati menantang penjajah

Mongol. Karena perjuangan gagal, mereka lalu

saling berpisah, akan tetapi kedua orang tua

bersahabat itu yakni Yu Tiang Sin dan kakekku

Liem Kwat Ek telah mengadakan sumpah dan janji

bahwa keluarga mereka kelak akan menjadi satu

keluarga dengan menjodohkan mereka. Akan tetapi

kemudian ternyata bahwa Yu Tiang Sin hanya

430

mempunyai tiga orang anak laki. laki semua,

sedangkan kakekku mempunyai hanya seorang

anak laki laki pula. Oleh kerena itu, sumpah dan

janji itu diteruskan oleh anak anak mereka yang

berjanji bahwa kelak akan menjodohkan seorang

cucu Yu dengan seorang cucu Liem. Karena

kemudian ternyata bahwa ayah hanya mempunyai

anak tunggal yaitu aku sendiri maka tentu saja

akulah yang semenjak lahir telah ditentukan oleh

ayah dan kakek sebagai calon jodoh seorang cucu

keluarga Yu….”

“Ahh…!” Yu Lee memandang dengan mata

terbelalak karena sesungguhnya seujung rambut

sekalipun ia tidak pernah menyangka akan

mendengar keterangan saperti ini dalam cerita

gadis ini. Jantungnya berdebar keras sekali,

terharu, khawatir dan bingung menjadi satu. Akan

tetapi denga kekuatan batinnya ia dapat

menguasai perasaannya lalu berkata, “Kalau begitu

bagus sekali, siocia. Mengapa siocia malah

memusuhi… Yu kongcu ?”

Wajah yang cantik itu kelihatan marah. “Karena

kongcuma itu seorang yang sombong!”

“Eh, sudah pernahkah nona bertemu de ngan

Yu kongcu ?”

Siok Lan menggeleng kepala, kelihatan tak

senang membicarakan Pendekar Cengeng, akan

tetapi Yu Lee yang menjadi penasaran mendesak

terus.

“Berjumpapun bulum pernah bagaimana nona

bisa mengatakan bahwa Yu kongcu seorang yang

sombong !”

431

“Tentu saja dia sombong.” Sepasang mata

menyinarkan kebencian. “Dan aku akan

mengadakan perhitungan menantangnya sampai

seorang diantara kami rebah tak bernyawa lagi. Dia

memandang rendah keluargaku !”

Yu Leo melongo. Ia mengingat ingat dan merasa

bahwa dia tidak pernah memandang rendah

keluarga nona ini. Bagaimana bisa memandang

rendah kalau kenalpun tidak sebelumnya? Bahkan

dahulu kakeknya atau ayahnya tidak pernah

bicara tentang ikatan jodoh yang dijanjikan itu…

“Siocia sepanjang ingatanku, keluarga Yu

terutama Yu kongcu, bukanlah orang yang suka

memandang rendah orang lain dan sama sekali

tidak sombong…”

“Tentu saja engkau bekas pelayannya tentu

membelanya. Hayo kau katakan terus terang,

engkau hendak berfihak siapa ? Kalau berpihak Yu

kongcu maka sebaiknya kita berpisah di sini saja.

Kalau membela aku itulah yang… kuharapkan.”

“Tentu saja aku membela dan berfihak kepada

nona. Tetapi karena aku merasa heran karena

sekeluarga Yu dulu…”

“Engkau tak mengerti Aliok? Janji antara

kakek dan Yu taihiap ini telah mengikatkan aku

dengan Yu Lee sebagai suami

isteri…………………………………………..

Aku belum pernah melihat macam apa adanya

orang bernama Yu Lee yang dijodohkan dengan

aku itu, akan tetapi aku hanya percaya bahwa

pilihan orang tuaku tidak akan keliru. Akan tetapi,

432

malapetaka menimpa keluarga Yu sehingga

hanya… tunangan…. eh, dia itu yang dapat lolos.

Keluarga kami tadinya mengira bahwa dia itupun

binasa pula karena tidak pernah ada kabar

ceritanya. Akan tetapi, tahu tahu muncul pendekar

Cengeng yang bukan lain adalah Yu Lee itulah !

Tentu saja kakekk dan ayahku menjadi penasaran

dan menjadi penasaran dan merasa malu sekali.

Selama itu orang yang bernama Yu Lee sama sekali

tidak memperdulikan keluarga kami, tak pernah

datang, tak pernah memberi kabar, seolah olah ia

menganggap sepi saja perjanjian keramat itu ! Dan

aku menjadi makin dewasa, dan datanglah

pinangan pinangan seperti hujan terhadap diri ku!

Puluhan orang pemuda pemuda pilihan ditolak

dengan tegas oleh kakek dan ayah, karena aku

telah ada yang punya, yaitu pemuda Yu. Siapa

kira, kalau fihak keluargaku setia kepada janji

keramat, adalah pemuda Yu itu agaknya acuh tak

acuh, agaknya setelah ia terkenal menjadi

pendekar besar dia telah memandang remeh

keluarga kami! Aku tidak tergila gila kepadanya!

Aku tidak kepingin sekali menjadi isterinya! Maka

aku barus mencarinya, membuka matanya dan

kalau ia tidak berubah sikap akan kutantang dia

sampai mati untuk menebus penghinaan ini !”

Gadis itu bicara penuh semangat, penuh

kemarahan, mukanya menjadi kemerahan, cuping

hidungnya kembang kempis, dadanya berkembang

tanda bahwa dia marah sekali dan tidak main main

! Adalah Yu Lee yang mendengarkan dan

memandang dengan mata terbelalak dan mulut

melongo saking heran serta kagumnya.

433

“Ahh…. Aah… kiranya begitukah…..!”

Keterangan itu benar benar membuat Yu Lee

terkejut dan wajahnya menjadi pucat, tubuh nya

seketika menjadi lemas. Sungguh tidak ……….

bahwa gadis yang menjatahkan hati nya dan yang

menumbuhkan cinta kasih ………. hatinya,

ternyata adalah tunangannya sendiri.

“Aliok,kau… kau kenapakah?” Suara ……..

gadis ini ketika me ………… menjatuhkan diri

duduk di bawah …….. bersandar batang pohon

……… di depan pelayan …….. dadamu?”

Yu Lee menggelengkan kepala. “Tidak…..

nona…..”

“Akan tetapi, kau….. pucat sekali setelah

mendengar keteranganku. Aliok, kau berduka?”

Pandangan mata itu penuh selidik dan amat tajam

seolah olah hendak membelah dada pemuda itu

dan menjenguk isi hatinya.

“Jadi nona….. nona ini…. tunangan?” Ia tidak

mampu melanjutkan saking tegang hatinya. Sikap

dan kata katanya ini diterima keliru oleh Siok Lan

yang kelihatan amat terharu, Siok Lan memegang

tangan Aliok dan berkata suaranya menggetar.

“Aliok, aku dipertunangkan dengan dia di luar

kehendak hatiku. Sesungguhnya… kalau aku

mempunyai hak memilih, aku … aku tidak sudi….

apalagi dia seorang sombong…… ah engkau biar

tak berkepandaian apa apa engkau seribu kali

lebih baik daripada dia….”

“Ahhh, nona Siok Lan yang mulia …… !”

434

Mereka saling berpegang tangan, jari jari

mereka saling genggam dan pandangan mata

mereka bertemu, bertaut melekat, pandang mata

yang mengandung semua bahasa hati, membuat

jantung berdebar dn napas sesak seketika. Akan

tetapi pada taat itu terdengar derap kaki banyak

orang, Siok Lan merenggutkan tangannya dan

meloncat berdiri, diikuti oleh Yu Lee.. Kiranya

tempat itu sudah terkurung rapat oleh banyak

sekali tentara Mongol yang dikepalai oleh lima

orang perwira !

“Nona awas….!” Yu Lee berseru keras. Akan

tetapi terlambat, karena belasan buah benda yang

dilemparkan oleh perwira perwira itu ke arah

mereka berdua telah meledak dan tempat itu

penuh dengan asap putih yang berbau harum

namun yang membuat mata tak dapat dibuka dan

napas menjadi sesak. Dalam keadaan gelap seperti

itu, Yu Lee tak dapat melihat apa apa hanya

menggerakkan kaki tangan merobohkan banyak

orang yang coba coba menubruk dan hendak

menangkapnya. Ia mengamuk sambil mencari cari

Siok Lan. Akan tetapi, ketika asap menipis dan ia

dapat bernapas biasa lagi, ia melihat Siok Lan

sudah dilarikan di atas kuda dalam ……

Ia marah sekali dan hendak mengejar, namun

lima orang perwira tadi telah meneriakkan………..

pasukan Mongol kini mengepung Yu Lee dengan

senjata mereka. Agaknya……… pemuda ini sukar

ditangkap. Tiga orang perwira itu menurunkan

perintah membentak.

435

Yu Lee bangkit kemarahannya. Pasukan itu

terdiri dari tentra tentara Mongol yang kuat….

dipimpin oleu lima orang perwira yang pandai ilmu

silat, akan tetapi saking marahnya Yu Lee melihat

Siok Lan ditawan, ia mengamuk dan sudah

mengeluarkan ilmu kepandaiannya yang hebat,

yaitu pukulan Sin kong ciang dan kemudian

mainkan sebuah pedang rampasan dengan ilmu

pedang Ta kui kiamsut. Bagaikan orang membabat

ramput saja Yu Lee mengamuk dan merobohkan

belasan orang perajurit dalam waktu singkat.

Menyaksikan kegagahan pemuda ini lima orang itu

lalu terjun sendiri dan mengeroyok.

Pasukan ini bukanlah pasukan penjaga,

melainkan pasukan pengawal dari kota raja yang

melakukan perjalanan memeriksa pelaksanaan

pembuatan saluran.

Karena pasukan ini adalah pasukan pengawal

kerajaan yang tentu saja amat kuat, apa lagi terdiri

dari pengawal pengawal pilihan dan jumlah mereka

lima puluh orang lebib. Yu Lee menghadapi lawan

yang amat tangguh, setelah lima orang itu maju

sendiri tidak begitu mudah lagi bagi Yu Lee untuk

merobohkan para pengeroyok. Kini pengeroyokan

di lakukan dengan tertur rapi dan amat kuat.

Betapapun juga, agaknya pemuda sakti ini

akan mampu membasmi habis semua

pengeroyoknya biarpun dalam waktu yang agak

lama, kalau saja hatinya tidak demikian risau

mengingat keadaan Siok Lan. Ia maklum bahwa

kalau terlalu lama ia melayani pasukan pengawal

ini tentu akan jauh Siok Lan dibawa lari oleh

436

pasukan musuh dan makin sukar baginya untuk

melakukan pengejaran dan menolong gadis yang

dicintainya itu. Biarpun demikian tiba tiba ia

mengeluarkan suara melengking keras sekali

sehingga lima orang perwira itu terkejut dan

mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Yu Lee

untuk melompat tinggi melampaui kepala beberapa

orang pengeroyok sebelah kiri, kemudian ia terus

mengerahkan ginkang menggunakan ilmu lari

cepat untuk melakukan pengejaran.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia

berhasil menyusul, ia dapat kenyataan bahwa Siok

Lan yang ditawan itu dikawal oleh pasukan Mongol

yang sedikitnya ada seratus orang jumlahnya

dipimpin oleh tiga orana perwira tinggi bangsa

Mongol yang merupakan tokoh tokoh pengawal

Istana! Penjagaan amat ketat, Siok Lan dibiarkan

berjalan dengan kedua tangan terbelenggu, di

tengah tengah. Yu Lee maklum bahwa dengan

penjagaan yang demikian kuatnya, amatlah

berbahaya kalau dia menyerbu mati matian,

berbahaya bagi keselamatan Siok Lan sendiri. Ia

tidak berani mengambil resiko seperti itu, maka

diam diam ia membayangi pasukan itu dan

mencari kesempatan baik untuk menolong gadis

yang dikasihinya.

Siok Lan berjalan dengan langkah tegap dada

membusung dan muka terangkat sediktipun tidak

membayangkan khawatir atau takut. Ketika terjadi

penyerbuan, ia tidak dapat banyak berdaya karena

asap itu telah membuatnya lemas dan setengah

pingsan. Ketika ia sadar kembali, tahu tahu telah

terbelenggu kedua tangannya dan dilarikan oleh

437

pasukan berkuda yang jumlahnya belasan orang.

Sebelum ia berontak, pasukan yang menawannya

telah tiba di sebuah markas barisan Mongol dan ia

lalu dikawal oleh seratus orang lebih tentara

mongol yang kuat di dorong dorong supaya

berjalan, Siok Lan meronta namun kulit yang

menjadi tali pengikat kedua tangannya amat kuat.

“Ha, ha, ha, percuma saja kau meronta, lebih

baik berjalan kalau tidak ingin dicambuk,” kata

seorang tentara musuh yang jalan terdekat.

“Mampuslah !” Siok Lan memaki dan kaki

kirinya melayang. Tentara itu berusaha menangkis

namun tetap saja tubuhnya terlempar ke belakang

sampai tiga meter lebih dimana ia terbanting jatuh

sampai mengeluarkan suara “ngek !” dan ia

merangkak bangun sambil pringas pringis. Dengan

marah tentara ini mencabut goloknya, akan tetapi

perwira tinggi besar yang melihat ini membentak,

“Mundur kau dan jangan mergganggu tawanan

!” Tentara itu mundur setelah memandang Siok

Lan dan mata melotot marah.

Seorang perwira lain bermuka kuning ia

berkata suaranya nyaring dan ditujukan pada

semua anak buahnya.

“Kita hanya bertugas mengawal tawanan ini ke

kota raja. Tidak seorangpun boleh mengganggunya

kecuali kalau ia hendak melarikan diri, baru boleh

menghalangi dan kalau perlu membunuhnya.

Ketahuilah kalian semua, tawanan ini adalah

seorang penting. Dia adalah cucu Thian te Sin

kiam Liem Kwan Ek dank arena itu, dia adalah

seorang tokoh di antara pemberontak. Dia

438

dijadikan tawanan untuk menyerang para tokoh

pemberontak lain agar menyerah, maka kalian

tidak boleh mengganggunya.”

Para prajurit terkejut. Nama Thian te Sin kiam

terkenal sekali sebagai seorang pemberontak yang

telah pernah mengacaukan markas besar tentara

Mongol. Kemudian perwira muka kuning berkata

kepada Siok Lao,

“Nona, harap suka berjalan baik baik dan tidak

mencoba untuk melawan karena hal itu akan

membikin sengsara nona sendiri!”

Siok Lan menjebikan bibirnya yang merah,

matanya bersinar sinar penuh ejekan dan

kebencian. “Cihh! Tak tahu malu! Merobohkan

orang dengan asap racun, kemudian mengawak

dengan seratus orang lebih tentara. Coba lepaskan

belenggu ini dan aku Sian li Eng cu akan

menghancurkan kepala kalian semua seorang demi

seorang! Kalian tunggu saja kalau kalau kakekku

muncul pedangnya akan membabat putus semua

batang leher kalian!”

Biarpun ancaman ini kosong belaka, namun

sebagian besar diantara para tentara itu meraba

leher mereka masing masing penuh kengerian.

Pasukan lalu bergerak maju lebih cepat lagi agar

mereka cepat cepat dapat tiba di kota raja dan

bebas daripada tugas mengawal wanita cucu Thian

te Sin kiam ini.

Semenjak ia tahu bahwa ia tidak akan

diganggu, Siok Lan menghentikan usahanya untuk

memberontak. Dia bukan seorang gadis bodoh dan

nekad. Ia tahu bahwa akan sia sia belaka kalau ia

439

mencoba untuk lari dalam keadaan kedua tangan

terbelenggu. Pula, ia tahu bahwa kalau ia gagal

lari, ia akan mengalami hal tidak enak, akan

dipukul dan mungkin sekali tidak akan dibiarkan

berjalan sendiri, kemungkinan pula kakinya akan

diikat dan diseret tubuhnya dengan kuda atau

diikat tubuhnya di atas kuda! Maka berjalanlah ia

dengan sikap gagah sedikitpun tidak

membayangkan wajah takut atau putus asa.

Kalau ia teringat kepana Aliok, keningnya

berkerut dan hatinya menjadi gelisah. Mungkin

pelayannya itu telah dibunuh oleh pasakan ini!

Berpikir demikian, hamper ia tidak kuat menahan

air matanya. Tidak! Alik tidak boleh mati! Hatinya

seperti disayat pisau. Rasa sayangnya kepada

pelayannya amat besar dan baru sekarang terasa

olehnya betapa ia amat kehilangan pelayannya itu.

Baru teringat betapa baiknya pelayannya itu

terhadap dirinya betapa setia, dan betapa pandang

mata pelayannya itu penuh perasaan mesra

kepadanya.

Ia kini berpendapat bahwa pelayannya itu. Aliok

yang ….. sesungguhnya amat mencintainya ! ……..

Sukar mengenal hati seorang. ……. pemuda yang

tampan dan biarpun tidak pandai ilmu silat tetapi

memiliki keberanian dan kegagahan

mengagumkan. Juga aman cakap.

Perjalanan ke kota raja amatlah jauh dan harus

melalui tebing tebing dan jurang jurang diantara

hutan hutan lebat. Akan tetapi di sepanjang jalan

ini terdapat pos pos penjagaan tentara Mongol oleh

karena jalan inilah yang dipergunakan untuk

440

dibuat saluran guna menyambung Sungai Yang ce

dengan Sungai Huang ho.

Ada kalanya jalan ini melalui jalan sempit yang

diapit oleh dinding dinding gunung atau batu batu

karang, ada kalanya menerjang hutan hutan lebat

dan liar, kadang kadang juga melalui tanah datar

yang luas dan tidak tampak pohon sedikitpun.

Akan tetapi semenjak hari ia ditawan, pada

malam malam harinya selalau terjadilah keributan

dan keanehan. Malam pertama sudah terjadi ribut

ribut. Siok Lan pada malam pertama itu tidur

menggeletak begitu saja di bawah pohon karena

pasukan kemalaman di dalam hutan. Api api

unggun dibuat di sekeliling tempat pemberhentian

sehingga keadaan remang remang namun cukup

hangat dan Siok Lan tidur di tengah tengah,

dikelilingi pasukan yang tidur malang melintang di

sekeliling hutan itu, ada pula yang berjaga, ada

yang meronda secara bergiliran.

Pokoknya, biarpun pada malam hari, mereka

tetap melakukan penjagaan yang amat ketat,

peristiwa yang jarang terjadi hanya untuk

mengamankan seorang tawanan saja! Diam diam

Siok Lan menjadi geli dan juga merasa amat naik

derajatnya! Tidaklah percuma ia menjadi tawanan

kalau telah diperlakukan sepenting ini. Ia menduga

duga apa yang akan ia hadapi di kota raja. Apakah

mereka ini menawannya benar benar untuk

memancing para pemberontak? Apakah benar para

pemberontak hendak muncul?

Kakeknya sudah lama mengundurkan diri

karena merasa usia tua, akan tetapi siapa tahu

441

kalau kalau kakeknya itu aktif kembali membantu

perjuangan para pemberontak, dan siapa tahu

kalau kalau kakeknya itu bersama kawan

kawannya benar benar mendengar bahwa ia

ditawan dan akan datang menolongnya. Selain

kakeknya, siapa lagi yang dapat ia harapkan untuk

membebaskannya daripada pasukan yang kuat ini?

Malam hari itu, menjelang tengah malam, tiba

tiba terdengar suara melengking tinggi juga

menyeramkan bulu kuduk.

Siok Lan tentu saja tidak dapat tidur pula

dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya itu

mendadak kaget dan bangun duduk. Juga semua

angauta pasukan terkejut bahkan beberapa yang

meloncat bangun berdiri dan saling pandang.

Suara itu amat sebat dan gelap, akan terapi

karena tidak ada binatang liar di dunia ini yang

mengeluarkan suara Seperti itu. Melengking

lengking seperti suara setan, dan seperti sangat

menyedihkan akan tetapi juga mengandung ketawa

mengejek! Selagi semua orang saling pandang,

sekali lagi lengking itu berbunyi lagi dan sekali ini

amat nyaringnya, mempunyai daya getaran hebat

sehingga jantung yang mendengarnya serasa

disayat, membuat kedua kaki menggigil.

Kemudian tampaklah berkelebatan sosok

bayangan hitam diantara pohon pohon. Melihat ini

gegerlah para perajuri dan mereka semua

mencabut senjata melakukan pengejaran ke arah

pohon besar di mana tadi mereka melihat

bayangan hitam itu melompat.

442

“Pemberontak jahat, turunlah !” bentak seorang

perwira.

Lalu kembali terdengar suara melengking dari

atas pohon dan bayangan hitam itu menyambar

turun, disambut oleh hantaman pedang dan golok

empat orang perajurit. Akan tetapi bayangan hitam

yang bertangan kosong itu dengan gerakan aneh

telah menyelinap, merampas sebatang pedang,

menggerakkan pedang rampasan seperti kilat

menyambar dan… robohlah keempat orang

perajurit itu sambil mengeluarkan pekik

mengerikan !

Keadaan menjadi makin ribut. Para perajurit

dengan marah menyerbu. Menghadapi gelombang

serbuan banyak sekali perajurit ini, si bayangan

hitam yang tidak tampak jelas wajahnya itu

kewalahan dan segera meloloskan diri, akan tetapi

smbil mengacungkan pedang menantang nantang.

Paru perajurit makin marah dan melakukan

pengejaran.

“Berhenti ! Jangan kejar dia! Jangan tinggalkan

tawanan !” bentak perwira Mongol yang cerdik dan

yang agaknya dapat menduga akan maksud

kedatangan bayangan hitam itu. Tentu si bayangan

hitam hendak memancing para perajurit

mengejarnya dan meninggalkan tawanan sehingga

mudah untuk dirampas.

Setelah keadaan sunyi kembali, empat orang

perajurit yang terluka dirawat, penjagaan di

peeketat. Siok Lan diam diam menduga duga siapa

gerangan bayangan hitam itu. Dia sendiri tidak

dapat menduga tepat dan mengingat ingat

443

siapakah orang sakti yang mengeluarkan suara

melengking seperti itu, lengking seperti tangis

menyedihkan.

Jantungnya berdebar. Siapakah orangnya yang

berusaha menolongaya? Jelas bukan kakeknya

atau ayahnya. Apakah tokoh tokoh pemberontak

yang ditemuinya di markas Huang ho Sam liong?

Karena tidak dapat menduga tepat ia lalu

memasang telinga mendengarkan tiga orang

perwira yang bercakap cakap tidak jauh dari

tempat ia duduk bersandar batang pohon. Perwira

itu sedang membicarakan si bayangan hitam yang

mengacau tadi.

“Dewi Suling? Ah, tapi dia tidak pernah

memusuhi kita, dan kalau betul dia mengapa

bergerak secara rahasia?” kata perwira tinggi

besar.

“Pula Dewi Suling adalah seorang tokoh hitam

dan tawanan ini cucu seorang tokoh bersih mana

mungkin seorang tokoh hitam seperti Dewi Suling

hendak menolongnya?” kata perwira lain.

“Hemm, kau keliru, apa kau tidak mendengar

desas desus yang ramai di dunia kang ouw bahwa

kini muncul Dewi Suling yang sekarang ini sama

atau bukan dengan Dewi Suling yang dahulu, tak

seorang pun tahu. Yang jelas, tandanya sama yaitu

sebatang suling yang mengeluarkan lengking

seperti tadi.

“Memang aneh! Sepanjang pendengaranku.

Dewi Suling adalah seorang wanita cabul, gila laki

laki tampan, menculik laki laki tampan yang

dipaksa melayani nafsunya yang tak kunjung

444

padam, kemudian setelah kenyang dan bosan ia

membunuh setiap orang korbannya…”

“Kabarna dia cantik jelita seperti dewi

kahyangan? Wah, kalau aku dapat menemani nya

beberapa malam saja, biar akhirnya matipun aku

puas…. ha ha ha !”

Siok Lan tidak mau mendengarkan mereka lagi.

Ia meramkan mata dan hatinya bertanya tanya.

Benarkah Dewi Suling yang tadi berulasa

menolongnya? Ah, tidak mungkin sama sekali!

Menurut kakeknya, Dewi Suling adalah murid Hek

siauw Kui bo yang amat jahat dan keji dan ia pun

sudah mendengar betapa Pendekar Cengeng

tunangannya yang tidak memandang mata

kepadanya itu, mengangkat nama besarnya justru

setelah membasmi sarang Dewi Suling dan

gurunya itu ! Tiba tiba telinganya kembali ia

pusatkan untuk mendengarkan percakapan

mereka kini mereka menyebut nyebut Pendekar

Cengeng!

“Hemm, kalau benar dugaanmu, kita akan

berjasa besar kalau dapat menangkapnya hidup

atau mati. Dia adalah keturunan terakhir Yu kiam

sian, musuh negara yang lebih penting dari pada

Thian te Sin kiam. Akan tetapi, betulkah dia ?”

tanya si tinggi besar.

“Aku sendiri belum pernah mendengar

suaranya. Akan tetapi menurut penuturan mereka

yang pernah bertemu dan bertanding dengannya

kadang kadang Pendekar Cengeng mengeluarkan

lengking tangis yang mengerikan. Dia suka

mengucurkan air mata dan suka melengking

445

seperti itu dan karena itulah dia dijuluki Pendekar

Cengeng,” kata si muka kuning.

“Aaah, tidak perlu khawatir, pemberontak tadi

si Dewi Suling atau si Pendekar Cengeng kita tidak

perlu takut dan yang paling penting, kita harus

mengamankan tawanan kita. Biarpun mereka itu

berkepala tiga berlengan delapan, dapat berbuat

apa terhadap kita? Pula bala bantuan dapat cepat

diharapkan datang dari pos pos depan dan

belakang !” kata perwira lain

Siok Lan kembali termenung. Mungkinkah

Pendekar Cengeng yang datang tadi? Ah tak

mungkin sama sekali. Pendekar Cengeng sudah

melupakan keluarga Liem, merasa diri terlalu

tinggi! Tak mungkin kini datang berusaha

menolong dia! Dan yang andaikata ada yang dapat

menolongnya, ia sama sekali tidak mengharapkan

bahwa orang itu adalah Pendekar Cengeng yang

dibencinya! Dengan pikiran ini, Siok Lan tertidur di

bawah pohon.

Pada malam kedua, ketiga dan keempat selain

rombongna pasukan pengawal itu diganggu

bayangan hítam yang mengeluarkan bunyi

melengking dan sedikitnya tentu ada lima orang

pengawal yang roboh menjadi korban. Akan tetapi

bayangan itu tetap saja tidak berhasil

membebaskan Siok Lan yang terjaga dan terkurung

ketat.

Pasukan itu beberapa kali berhenti di pos pos

penjagaan dan pada hari ke sepuluh mereka tiba di

luar kota Thian an bun yang menjadi pos besar

dari pada para penjaga yang menjaga jalan yang

446

direncanakan untuk penggalian terusan atau

saluran besar.

Ketika mereka tiba di tempat lapangan yang

luas, tiba tiba terdengar derap kaki kuda dan dari

dalam hutan muncul seorang penunggang kuda.

Para perwira pengawal mengangkat tangan

mengisyaratkan kepada anak buahnya agar supaya

berhenti dan waspada karena siapa tahu kalau

kalau penunggang kuda itu adalah pemberontak,

para pengawal itu sudah meraba gagang golok dan

mempererat genggaman gagang tombak semua

mata memandang ke arah penunggang kuda yang

masih agak jauh itu.

“Siocia… Siocia….! Tungguah saya,… !”

Siok Lan terkejut sekali. Penunggang kuda itu

bukan lain adalah Aliok! Beberapa detik lamanya

hatinya girang dan gembira bukan main

menyaksikan betapa pelayannya yang disayangnya

itu ternyata selamat dan masih hdup akan tetapi

pada detik detik berikutnya wajahnya menjadi

pucat dan hatinya menyesal sekali. Mau apakah

pelayannya itu? Seperti Ular mencari perggebuk.

Sungguh sungguh tolol hanya datang mencari

mampus!

“Aliok…! Kau pergilah jauh jauh ….!” ia berseru

dengan nyaring mengerahkan khi kangnya.

Akan tetapi dengan suara keras terdengar Aliok

membantah. “Tidak bisa, siocia! Saya pelayan

nona, bagaima bisa meninggalkan nona? Saya

harus mengawani nona dalam suka maupun

duka!”

447

Mendengar ini hati Siok Lan terharu sekali dan

ia teringat akan pandang mata pelayan itu pada

saat sebelum dia ditawan. Pandangan mata yang

amat mesra yang penuh getaran cinta kasih dan

mukanya merah sekali. Kini Aiiok yang

menunggang kuda itu sudah tiba dekat. Pasukan

pengawal yang mendengar ucapaa pemuda itu

menjadi geli sekali dan menganggap bahwa pelayan

itu tentu seorang yang kelewat bodohnya lalu

menjadi berubah seperti orang gila! Dimana ada

orang menyerahkan diri begitu saja, hanya untuk

melayani nona majikannya? Akan tetapi, melihat

betapa pelayan itu seorang pemuda tampan,

mereka mulai curiga. Begitu kuda yang ditunggangi

Aliok dekat, segera para pasukan mengurungnya

dengan tombak dan golok di todongkan

“Aihh… aih …. kalian mau apa? Aku datang

mengantarkan kuda untuk nona majikanku ini.

Kalian sungguh tidak tahu malu Mengiringkan

seorang nona muda dibelenggu seperti itu dan

disuruh jalan kaki. Bagaimana kalau nona

majikanku sampai jatuh sakit? Aku susah susah

datang membawakan kuda agar ditunggangi

nonaku dan aku akan ikut untuk melayani segala

keperluannya. Mengapa aku dikurung? Heeei,

lepaskan kendali kuda itu !” Aliok berteriak teriak

marah dan para perajurit Mongol tertawa bergelak.

Benar benar seorang pemuda yang tolol.

“Aliok, kenapa engkau menyusulku? Aku tidak

perlu pelayan pada waktu begini, engkau pergilah

Aliok, jangan berada di sini. Pergilah!” Sok Lan

berkata penuh kekhawatiran, kemudian

memandang para perwira.

448

“Heeeii kalian bebaskan pelayan itu, dia tidak

tahu apa apa !” 4

“Tidak !” Aliok atau Yu Lee membantah cepat

cepat. “Kalau nonaku dibebaskan, baru aku, mau

pula dibebaskan. Kalau nona ditangkap biarlah

aku ikut ditangkap dan kalian laki laki gagah

harap punya malu, berikanlah seekor kuda untuk

nonaku. Lihat, nonaku kelihatan begitu letih,

apakah kalian tidak kasihan terhadap seorang

wanita?”

Semua perwira tertawa. “Tak salah lagi, tentu

“ada main” antara nona majikan dan pelayan!” kata

perwira kedua

Mereka tertawa tawa dan wajah Siok Lan

menjadi merah sekali, matanya mendelik merah.

Akan tetapi Yu Lee berteriak teriak marah. “Jangan

menghina nonaku! Kalian sungguh kurang ajar !”

Akan tetapi tangan tangan yang kuat dan kasar

menyeret Yu Lee dari atas pungung kuda dan

beberapa kepalan tangan memukulnya. Yu Lee

pura pura ketakutan dan kesakitan, menjerit jerit.

“Kabar nya tentara Mongol paling gagah perkasa,

siapa kira kini memukuli orang tak berdosa.”

Perwira muka kuning menggerakkan tangan

menyuruh perajurit perajurit nya mundur. Yu Lee

dilepaskan, mukanya merah dan biru bekas

pukuln.

“Belenggu kedua tangan dan naikkan bersama

nonanya ke atas kuda. Satukan belenggu mereka

agar tidak menyulitkan penjagaan !”

449

Yu Lee berteriak teriak, akan tetapi percuma

aaja. Ia segera diringkus dan di belenggu kedua

lengannya yang ditelikung ke belakang, mirip

keadaan Siok Lan. Kemudian Siok Lan dan Yu Lee

diangkat ke atas kuda yang dibawa oleh Yu Lee

tadi, didudukkan di atas kuda saling

membelakangi, Siok Lan menghadap ke depan dan

Yu Lee menghadap ke belakang, beradu punggung

kemudian kembali tubuh mereka diikat menjadi

satu !

“Tolol engkau Aliok, mengapa menyusul?” bisik

Siok Lan sambil menoleh ke belakang.

“Nona, bagaimana saya dapat membiarkan

nona seorang diri? Mati hidup saya harus bersama

nona. Saya mencari kuda ini dan menyusul….”

bisik Yu Lee sepenuh perasaan hatinya sehingga

gadis itu semakin terharu.

Mendengar percakapan bisik bisik ini, para

perajurit tertawa geli dan kuda itu segera dikeprak

dari belakang dan mulailah rombongan itu

melanjutkan perjalanan. Dua orang tawanan yang

berada di punggung kuda itu berada di tengah

tengah, dan sungguhpun kini tidak berjalan kaki

melainkan menunggang kuda, akan tetapi hati Siok

Lan penuh kekhawatiran. Kalau tadinya ia hanya

memikirkan diri sendiri menanti kesempatan baik

untuk menyelamatkan diri, sekarang ia harus

memikirkan keselamatan pelayannya pula. Dan

diam diam di lubuk hatinya ia merasa heran

kepada hatinya sendiri. Kenapa munculnya

pelayannya merupakan hal yang begini

mendebarkan dan menggirangkan hatinya?

450

Mendatangkan rasa tenteram seolah olah sekarang

setelah ditemani Aliok, ia tidak takut lagi

menghadapi segala bencana? Kenapa melihat

kesetiaan dan kasih sayang Aliok yang begini besar

terhadap dirinya membuat hatinya begini besar?

Di tengah perjalanan, pada saat para pengawal

itu tidak memperhatikan, Yu Lee berbisik lirih

tanpa menggerakkan bibirnya,

“Nona, kita menanti kesempatan baik di waktu

malam. Saya akan membantu nona agar nona

dapat melarikan diri. Kalau berhasil, jangan

perdulikan saya….”

“Tidak mungkin! Aku tidak mau lari sendiri dan

meninggalkan kau!”

“Ahhh, nona seorang yang penting, kalau aku…

mereka tentu akan membebaskan aku, perlu apa

mengawal seorang pelayan ke kota raja?”

“Hussshh, diamlah, Aliok, aku tidak mau lari

sendiri! Aliok, kenapa kau mengorbankan dirimu

untukku?”

“Aku… mencinta nona dengan seluruh jiwa

ragaku, biar berkorban nyawa sekalipun untuk

nona saya rela!”

Siok Lan meramkan kedua matanya sejenak

untuk menahan air matanya. Akan tetapi ketika

membuka matanya kembali, dua butir air mata

membasahi pipinya. Tidak salah lagi, ia pun jatuh

cinta kepada pelayannya ini! Tanpa disadari,

tangannya yang berada di belakang karena

lengannya terbelenggu, bertemu dengan tangan Yu

Lee dan jari jari tangan itu saling genggam. Dari

451

remasan jari tangan itu menggetar perasaan

mereka masing masing mewakili pandangan mata

dan kata kata.

“Kau baik sekali Aliok, tapi jangan

membicarakan hal yang tidak mungkin terjadi…”

bisik Siok Lan dengan suara terharu.

Yu Lee diam diam tersenyum di dalam hati. Ia

maklum apa makna kata kata nona ini. Tentu saja

selelah menjadi tunangan Pendekar Cengeng tak

mungkin nona ini menyerahkan hatinya kepada

pria lain! Beberapa malam ini ia telah berusaha

untuk membebaskan Siok Lan, namun usahanya

selalu sia sia belaka biarpun ia berhasil

membunuh beberapa orang pengawal.

Ia tahu bahwa kalau ia nekad hal itu amat tidak

baik karena selain penjagaan yang ketat itu sukar

sekali dibobol, juga ada kemungkinan nona itu

dibunuh dari pada lolos.

Karena inilah maka ia mencari akal dan sengaja

menyamar sebagai pelayan lagi menyerahkan diri

agar ia dapat berdekatan dengan Siok Lan. Kalau

sudah berdekatan, tentu kesempatan untuk

menolong Siok Lan lebih banyak. Belenggu yang

mengikatnya dengan mudah akan dapat ia

patahkan.

Para perajurit yang menduga ia seorang pelayan

lemah mengkalnya secara sembarangan saja. Akan

tetapi ia harus menanti saat yang baik. Ia harus

terus berlagak bodoh agar para pengawal itu

percaya, memandang rendah dan lengah. Kota raja

masih jauh sehingga ia tidak perlu tergesa gesa.

Sekali usahanya gagal, akan tak mungkin lagi

452

menolong Siok Lan. Maka ia harus sabar dan hati

hati sekali berusaha dapat berhasil.

Karena rombongan sudah hampir tiba di Thian

an bun, maka perjalanan dipercepat dan menjelang

senja rombongan sudah tiba di luar kota Thian an

bun sejauh kurang lebih tiga puluh li dari kota itu.

Hanya tinggal melewati sebuah hutan lagi dan

malam hari itu mereka akan tiba di kota yang

menjadi markas para penjaga Mongol. Para perwira

tidak ingin bermalam di dalam hutan, ingin cepat

cepat memasuki kota agar mereka dapat benar

benar beristirahat dan bebas dari pada

pertanggungan jawab menjaga kedua orang

tawanan.

“Hayo cepat hari sudah hampir gelap!”

Demikian aba aba para perwira dan pasukan itu

biarpun sudah lelah terpaksa mempercepat

jalanayn memasuki hutan yang lebat.

Begitu masuki hutan, biarpun matahari belum

tenggelam sepenuhnya, masih mengembang di

cakrawala sebelah barat, namun cuaca menjadi

gelap oleh lebatnya pohon pohon besar di dalam

hutan. Yu Lee menggunakan jari tangannya

menggenggam tangan Siok Lan sebagai isyarat

kemudian berbisik lirih sekali.

“Dengarkan nona ……. tapi jangan menoleh

agar tidak menimbulkan kecurigaan… aku… aku

dapat melepaskan belengguku ….”

“Hemm…?” Siok Lan tercengang.

“Karena saya seorang pelayan, mereka tidak

mengikat erat erat dan guncangan guncangan di

453

atas kuda membuat belenggu ini longgar. Saya

telah dapat membebaskan tangan dan diam diam

saya akan mencoba untuk melepaskan belenggu di

tangan nona.”

Berdebar jantung Siok Lan. Ia tahu bahwa

pelayannya ini biarpun tidak pandai silat namun

amat cerdik, maka ia percaya sepenuhnya akan

keterangan ini. Hanya ia meragu karena ikatan

tangannya luar biasa eratnya.

“Mungkinkah kau membebaskan ikatanku …?”

Siok Lan bertanya ragu ragu karena selain

belenggu tangan, juga tubuh mereka diikat.

“Simpul ikatan berada di panggung nona, jari

jari tangan saya dapat menggapainya. Mudah

mudahan berhasil, harap nona bersikap biasa

sampai saya berhasil membuka belenggu yang

mengikat tangan nona!”

Siok Lan tentu saja sama sekali tak pernah

mimpi bahwa pelayannya itu menggunakan

sinkang untuk memutus belenggu yang amat kuat

dan yang mengikat kedua pergelangan tangannya.

Ia merasa betapa jari jari tangan pelayannya

meraba raba membetot dan menarik narik. Hatinya

makin terharu. Semenjak pelayannya secara

berterang menyatakan cinta kasih, mencintainya

dengan seluruh jiwa raga dan rela berkorban jiwa,

ia memandang pelayan ini dengan perasaan lain

lagi. Tak mungkin ia menganggapnya seperti

seorang pelayan biasa! Melainkan lebih tepat

sebagai seorang sahabat, seorang biasa

seperjalanan, bahkan seorang kawan senasib

sependeritaan.

454

“Nona, di sebelah depan ada apa ? Bagaimana

keadaan nona?”

“Jalan sempit dan ku melihat di depan ada

hutan di sebelah kanan. Di sebetah kiri curam

menurun dan agaknya pinggir sungai.”

“Bagus! Hari hampir gelap, kita menanti

kesempatan baik. Di hutan itu nona dapat

melarikan diri. Belenggu hampir terlepas…!” bisik

Yu Lae perlahan.

“Dan engkau…?” Siok Lan beibisik ragu.

“Saya akan berusaha lari pula. Akan tetapi

jangan nona perhatikan saya. Saya akan

menggunakan akal memancing perhatian mereka

agar tidak memperhatikan nona. Ingat nona.

Mereka itu mementingkan nona, bukan saya.

Kalau tidak ada nona di sini, mungkin saya sudah

dibebaskan Mau apa mereka menangkap saya?”

“Tapi… tapi….. baimana aku bisa lari

meninggalkan kau, Aliok? Aku tidak mau selamat

sendiri.”

“Ahhh, nona yang mulia, saya hanya Aliok

seorang pelayan…” Yu Lee menggoda, hatinya

terharu sekali dan penuh kebahagiaan dan untung

ia duduk beradu punggung dengan gadis

pujaannya itu, kalau tidak Siok Lan tentu akan

melihat dua titik air matanya yang meloncat keluar

tanpa dapat ia tahan lagi.

“Husshh, jangan ulangi ucapan separti itu,

Aliok. Pendeknya, aku bukan seorang yang hanya

memikirkan diri sendiri. Kalau aku bebas,

engkaupun harus bebas!”

455

Begitu besarnya hati Yu Lee sehingga ingin ia

pada saat itu dapat merangkul memeluk leher itu,

mendekap kepala itu ke dadanya. Akan tetapi ia

menahan perasaan cintanya dan berbisik lagi

tanpa menoleh sehingga para perajurit yang berada

di belakang kuda tidak tahu bahwa dia bercakap

cakap. Pemuda itu kini menggunakan ilmunya

sehingga ia berbisik tanpa menggerakkan mulut.

“Nona, harap jangan berpendirian seperti itu.

Kalau nona tidak bebas lebih dahulu, bagaimana

saya bisa tertolong? Sebentar lagi gelap, nona

harus terbebas dan sayapun akan berusaha lari.

Andaikata saya gagal tetapi nona sudah bebas,

bukankah nona dapat berusaha menolong saya?”

Siok Lan dapat membenarkan pendapat ini. Ia

mengangguk sedikit dan berkata, “Bagus….! Nah,

hati hati jangan sampai kentara. Belenggumu

sudah terbuka, nona…”

Siok Lan menggerak gerakkan jari tangannya

dan benar saja. Tali pengikat kedua pergelangan

tangannya sudah terlepas! Ia tidak tahu bahwa Y u

Lee mematahkan tali belenggu dengan pengerahan

sinkang yang amat kuat

“Pasukan jalan terus, biar malam ini sampai ke

Thian an bun !” teriak perwira muka kuning

kepada pasukannya setelah malam mulai tiba.

Pisukan di sebelah depan sudah memasang obor

untuk menerangi jalan dan mulailah mereka

memasuki hutan kecil di sebelah depan yang

berada di sebelah selatan kota Thian an bun,

hanya belasan li jauhnya.

456

“Apakah tidak berbahaya melanjutkan

perlalanan malam malam melalui hutan?” tanya

perwira tinggi besar.

“Ahhh, Thian afn bun hanya tinggal belasan li

lagi dan Thian an bun merupakan markas besar

penjagaan yang kuat. Kalau ada pemberontak, tak

bakalan mereka berani mampus menyerbu daerah

Thian an bua !” kata si muka kuning.

Akan tetapi tiba tiba ketenangan pasukan itu

diganggu oleh teriakan Yu Lee. “Aduh aduh

aduh…. heeeeiii, kuda nakal! Berhenti..! Aduh

celaka! Kabur! Tolong… tolong…. tahan kuda ini,

wah, binatang sialan !”

Kuda yang ditunggangi Siok Lan dan Yu Lee itu

tiba tiba menyepak nyepak dan meloncat ke depan,

menerjang pasukan yang berada di depan dengan

nekad sambil meringkik ringkik kesakitan. Tak

seorangpun tahu, juga Siok Lan tidak, betapa tadi

diam diam Yu Lee menepuk kaki kuda sampai

tulangnya retak dan tentu saja kuda yang

kesakitan hebat itu mengamuk dan lari ke depan,

menerjang dan merobohkan beberapa orang

pasukan kemudian terus lari membalap ke depan.

“Heeeii… kuda edan…. kuda celaka. Tolong…!”

Yu Lee berteriak teriak, akan tetapi diam dim ia

mengerahkan tenaga pada kedua kakinya menjepit

perut kuda, tangannya yang sudah bebas itu

menyambar kendali dan membetot kuda sehingga

lari menyeleweng ke kiri. Para pasukan yang

tadinya terkejut, kini menjadi panik.

“Tawanan lari…! Kejar…! Tangkap…!”

457

Ramailah mereka melakukan pengejaran. Para

perwira yang merasa khawtir kalau kalau tawanan

mereka yang penting lolos, segera meloncat dan

menggunakan lari cepat mengejar.

“Siapkan anak panah….!” Perwira muka kuning

memberi aba aba karena ia pikir kalau ia sampai

tak dapat mengejar, sebaiknya merobohkan kuda

dan tawanan dengan anak panah.

“Nona, lekas turun dan lari…..!” Yu Lee

berbisik.

“Tapi… tapi engkau…..”

JILID XI

“SUDAHLAH nona. Biar saya mengacau dan

menipu mereka…..”

“Tidak, Aliok…… kau akan dipanah.”

Mereka telah memasuki bagian yang gelap dan

lebat, menyaksikan betapa nona ini sangsi dan

meragu terdorong oleh rasa khawatir tantang

dirinya hati Yu Lee menjadi besar sekali. Perasaan

bahagia hebat memenuhi hatinya terdorong cinta

kasihnya dan tanpa pikir panjang lagi karena

dorongan hasrat hati, ia lalu merangkul leher Siok

Lan dari belakang, memutar tubuh nona itu

sehingga muka nya menghadapinya dan….

mencium mulut itu sepenuh cinta kasih hatinya,

sepenuh getaran jiwanya.

“Aughh ….” Seketika tubuh Siok Lan menjadi

lemas dan hampir nona ini pingsan dalam pelukan

Yu Lee. Pemuda itu sejenak seperti terbuai dan

458

diayun ke langit lapis ke tujuh, akan tetapi segera

ia teringat akan keadaan dan setelah sadar ia kaget

setengah mati akan keberaniannya sendiri yang

melampaui segala batas kesopanan.

“Aduh, mati aku….!” Ia melepaskan

rangkulannya. ”Kau ampunkan aku, nona biarlah

kalau aku mati, ciuman itu sebagai bekal ke

neraka…. Kau larilah sekarang!”

Tanpa menanti jawaban lagi, ia mendorong dan

terpaksa Siok Lan meloncat dari atas kuda kalau

tidak mau terguling jatuh, lalu terdengar ia terisak

dan menghilang di dalam semak semak gelap.

“Aduh… kuda gila… kuda celaka!” Yu Lee

berteriak teriak dan kini membalikkan kudanya

membalap dan menapaki para pengejarnya! Tentu

saja para perajurit menjadi makin panik ketika tiba

tiba derap kaki kuda yang dikejar itu memekik dan

menerjang mereka.

Mereka mencari tempat perlindungan ke

belakang pohon pohon. Akan tetapi kuda itu

ternyata tidak lewat karena telah membelok pula

ke kanan. Karena hutan itu gelap, maka para

perwira dan pasukannya tidak dapat melihat jelas

apakah kedua orang tawanan itu masih berada di

atas kuda.

Mendengar bentakan dan teriakan Yu Lee,

mereka merasa yakin bahwa kedua orang tawanan

itu masih di atas kuda. Apalagi mereka itu

terbelenggu erat, mana mungkin bisa lari? Maka

sambil berteriak teriak mereka terus mengejar,

tidak tahu bahwa yang berada di atas kuda kini

tinggal Yu Lee seorang dan tidak tahu pula bahwa

459

kuda itu makin menjauhi tempat di mana tadi Siok

Lan melompat turun.

Bagi Yu Lee, amatlah mudahnya kalau ia mau

melompat turun dan melarikan diri. Akan tetapi ia

sengaja tidak mau melakukan hal ini, karena kalau

ia lakukan hal ini tentu para pasukan akan

mengubek hutan itu dan besar bahayanya Siok

Lan akan ditemukan mneka. Apa lagi di situ sudah

dekat dengan Thian an bun yang menjadi markas

besar. Lebih baik dia terus mengacau dan

mengalihkan perhatian, membawa pasukan jauh

dari hutan agar Siok Lan dapat menyelamatkan

diri dengan aman.

“Aduh aduh…! Heeii.. tahan kuda ku !!” Ia

berteriak dan kini karena pasukan sudah

terpencar, mulailah ia terkurung. Ketika kudanya

mendekati empat orang perajurit yang siap dengan

tombak hendak menusuk roboh kuda yang lewat,

kaki tangan Yu Lee bergerak kacau dan… robohlah

empat orang itu, pingsan dan tombak mereka

beterbangan.

Makin lama, dari sinar obor obor yang

dipasang, para perwira dapat melihat keadaan Yu

Lee dan kudanya. Betapa terkejut hati mereka

ketika mendapat kenyataan bahwa nona tawanan

mereka telah lenyap ! Mereka kaget, juga marah.

Kalau tadi mereka tidak memerintahkan

menghujani anak panah adalah karena mereka

menganggap betapa nona tawanan ini amat penting

dan tidak baik kalau sampai terbunuh, tapi karena

nona tawanan itu lenyap, mereka marah sekali.

460

Kalau hanya ada si pelayan, biar seratus kail

mampus juga tidak ada halangannya.

“Hujani anak panah !” bentak si perwira muka

kuning.

Mulailah kuda itu dihujani anak panah

kemanapun juga ia lari. Para pasukan telah

mengurung serta menghadang dari segenap

penjuru dan siap dengan anak panah mereka. Yu

Lee tentu saja mudah untuk menghindarkan diri

dari hujan anak panah ini. Dengan mengelak,

mengandalkan ketajaman pendengaran dan

dengan sampokan kedua tangan dan kaki, bisa

saja ia membikin semua anak panah mencelat dan

tidak mengenai tubuhnya. Akan tetapi duduk di

atas kuda, tak mungkin pula ia melindungi tubuh

kuda yang begitu besar.

Tiba tiba kuda itu meringkik keras dan jatuh

terjungkal ke depan ! Tubuh Yu Lee yang tadinya

masih duduk menghadap ke belakang terlempar ke

atas dan ia lenyap ke dalam pohon.

Para pasukan segara mengurung pohon besar

itu. Akaa tetapi pada saat itu, beberapa oraang

perajurit memekik dan roboh terguling, tubuh

mereka tertancap anak panah! Kemudian terdengar

sorak sarai riuh dan diantara sinar obor, tampak

muncul puluhan orang yang menyerbu para

pasukan Mongol. Dari atas pohon besar dan tinggi

di mana Yu Lee tadi bersembunyi tampaklah oleh

pemuda ini bahwa para penyerbu itu bukan lain

adalah tamu tamu yang pernah ia lihat di tempat

tinggal Hoang ho Sam liong dipimpin oleh !e Bhok

orang bedua Hoang ho Sam liong si pelajar yang

461

pandai menggunakan senjata poan koan pit (alat

tulis). Dan yang mengagumkan dan juga

menggelikan adalah ketika ia melihat seorang

wanita baju hijau yang menggunakan pedang

mengamuk bagaikan seekor singa betina layaknya !

Pedangnya berkelebatan menjadi sinar hijau

merupakan serangan maut yang mencengkeram

nyawa ke kanan kiri dan lebih hebat serta

menggelikan lagi, pantatnya yang amat besar

bergerak gerak dan tiap kali ada lawan menerjang

dari belakang, senggolan pantat besar itu cukup

membuat seorang perajurit Mongol terlempar

sampai tiga empat meter jauhnya !

Dari atas pohon Yu Lee menonton dan menahan

ketawanya. Wanita itu bukan lain adalah Cui

Toanio atau Cui Hwa Hwa, wanita galak yang

pernah ribut mulut dan ia permalukan di sarang

Huang ho Sam liong !

Betapapun galaknya, ternyata wanita itu adalah

seorang pejuang, musuh pemerintah penjajah

Mongol yang kini mengamuk bersama kawan

kawannya untuk menolong Siok Lan! Dan tak jauh

dari situ ia melihat pula tokoh tokoh yang hadir,

akan tetapi ia meraaa heran tidak melihat adanya

dua orang murid Kim hong pai yang bersikap baik

terhadap Siok Lan dan dia, yaitu Pui Tiong dan

sucinya, Can Bwee.

Dari atas pohon itu pula Yu Lee kini melihat

Siok Lan dikeroyok oleh belasan orang penjaga dan

diam diam ia merasa kaget sekali. Kiranya nona ini

setelah tadi berhasil ia dorong meloncat turun dari

kuda, tidak dapat melarikan diri keluar hutan dan

462

melihat banyak pejuang menyerbu Siok Lan kini

turut mengamuk pula.

Hal ini ia tidak herankan, karena ia mengenal

watak Siok Lan. Sepak terjang gadis itu hebat dan

ganas, mengamuk dengan pedang rampasan

karena pedangnya telah dirampas musuh. Akah

tetapi karena diantara belasan orang

pengeroyoknya terdapat perwira muka kuning dan

perwira tinggi besar, gadis ini agak terdesak.

Perwira tinggi besar bermuka hitam itu

bersenjata …… berantai yang amat berat dan…….

diputar putar cepat sekali sampai mengeluarkan

suara mengaung. Siok Lan…… selalu

menggunakan ginkangnya untuk menghindarkan

diri setiap kali senjata lawan menyambar karena

untuk ….. ia khawatir pedang rampasannya

akan………. Adapun perwira muka kuning berseru

……. aneh, golok yang panjang ……

Senjata …… selain sebagai golok biasa. ……..

itu dapat dipergunakan untuk “……” senjata lawan

dan dengan gerakan tiba tiba dapat merampas

senjata lawan.

Melihat keadaan nona ini Yu Lee lalu melompt

dari pohon ke pohon untuk mendekati. Akan

tetapi ia melihat bahwa keadaan Siok Lan tidaklah

berbahaya, maka begitu mendengar teriakan kaget

Cui Hwa Hwa dan melihat nyonya ini terhuyung ke

belakang ketika pundaknya kena serempet gagang

toya seorang pengeroyok, perwira tinggi kurus yang

lihai, ia segera mengayun tangan. Sebuah ranting

kecil menyambar, dan perwira tinggi kurus itu

berteriak kesakitan dan menjerit sambil mundur

463

mundur. Ranting kecil itu melukai leher nya dan

menyelamatkan Cui Hwa Hwa.

Nyonya yang dikeroyok banyak lawan dan

hampir celaka, tadi tidak tahu bahwa dia di bantu

oleh “pelayan” yang pernah membikin malu

padanya, kini dengan marah sekali pedangnya

bergerak ke depan dan sebelum si perwira tinggi

kurus dapat menghindar, pedangnya yang berubah

sinar hijau menjadi gulungan sinar melingkar

lingkar ke arah perut dan.. perwira itu menjerit dan

roboh dengan pinggang hampir putus !

Yu Lee kembali melanjutkan usahanya

mendekati Siok Lan namun dari atas pohon itu ia

menjadi sibuk sendiri menyaksikan bahwa jumlah

penyerbu yang hanya paling banyak tiga puluh

orang itu terdesak hebat oleh pasukan Mongol yang

jumlahnya tiga kali lebih banyak! Ia masih ingin

menyembunyikan keadaan dirinya, apalagi Siok

Lan berada di situ, maka kini Yu Lee mulai

menyambar ke bawah dengan gerakan cepat,

merobohkan beberapa orang tentara Mongol tanpa

dilihat siapapun juga karena saking cepatnya

gerakan nya, yang tampak hanya bayangan hitam.

Kalau ada lawan datang membawa obor terlalu

dekat, ia menyelinap atau meloncat ke atas pohon

kamudian bergerak lagi di tempat yang gelap.

Agak lega hati Yu Lee menyaksikan bahwa para

pengeroyok itu rata rata memiliki ilmu kepandaian

silat yang tinggi kalau dibandingkan dengan …….

maka biarpun jumlahnya kalah tetapi masih dapat

mengimbangi. Akan tetapi perang tanding dalam

hutan gelap yang hanya diterangi obor obor itu,

464

benar benar amat mengerikan. Darah membanjir,

teriakan teriakan marah berseling dengan jerit jerit

kesakitan dan pekik pekik maut, mayat mayat

bergelimpangan. Seperti biasa menyaksikan seprti

ini membuat Yu Lee teringat akan keadaan di

rumah keluarganya dahulu dan tak terasa pula ia

menangis.

Suara tangis yang … keluar dari

kerongkongannya melengking lengking dan

menyeramkan. Dari atas pohon ia melempar

lemparkan batu yang tadi ia ambil dari bawah,

membantu Siok Lan sama sekali tidak ada bahaya

bagi gadis itn menghadapi pengeroyokan banyak

lawan. Tiap kali ada bahaya mengancam, tentu si

pemegang senjata yang mengancam itu sudah

tertotok batu yang menyambar dari tempat gelap.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara

terompet dan derap kaki kuda. Mendengar suara

yang datangnya dari utara ini, Yu Lee cepat

meoncat ke atas cabang pohon tertinggi dan

memandang. Kagetlah ketika ia menyaksikan dari

arah utara datang pasukan membawa obor. Bala

bantuan dari Thian an bun agaknya! Dari atas

pohon itu di malam gelap dia hanya melihat obor

yang banyak sekali datang dari utara sukarlah

menaksir jumlah pasukan yang datang. Akan

tetapi menurut dugaan Yu Lee, tentu jauh lebih

besar dari pada pasukan yang mengawal Siok Lan

tadi dan agaknya tidak akan kurang dari pada dua

tiga ratus orang. Keadaan berbahaya sekali.

Karena hatinya terguncang, kembali lengking

dahsyat keluar dari kerongkongannya dan pada

465

saat itu, ia terkejut karena berbareng terdengar

bunyi lengking lain di sebelah bawah. Lengking

yang nyaring dan dikenalnya baik! Ia cepat

menuruni beberapa cabang pohon dan tampaklah

olehnya bayangan berpakaian putih berkelebatan

di bawah dan kemanapun juga bayangan ini

berkelebat, terdengar pekik mengerikan disusul

roboh nya seorang tentara Mongol!

Dewi Suling ! Tak salah lagi, pikir Yu Lee, maka

ia menjadi tercengang. Mendengar suara lengking

itu, jelas adalah suara suling yang biasa ditiup

Dewi Suling, juga kalau suling itu dimainkan oleh

wanita sakti itu mengeluarkan lengking seperti itu.

Akan tetapi biarpun ia lihat gerakan bayangan

putih itu amat cepat dan amat lihai seperti Dewi

Suling tetaplah meragukan, mengapa Dewi Suling

mengenakan pakaian putih! Selain itu juga

mengapa Dewi Suling menjadi seorang …………..

setidaknya memusuhi tentara Mongol. Dewi Suling

adalah seorang sesat, seorang dari kalangan hitam.

Ahhh, mungkin………………. Yu Lee terhadap

pikirannya ………

Buk……………………………………… dan teman

temannya …………………………daripada orang

orang kang ouw dan tokoh tokoh bok lim,

bekas………? Banyak ….. orang yang biasanya

menjadi …………….. berubah menjadi pejuang

dikala negaranya diganggu bangsa asing dan

sebaliknya orang orang yang biasanya menjadi

seorang ….. yang dermawan menjadi pengkhianat

bangsa.

466

Karena Yu Lee melihat betapa besar bahaya

mengancam dengan munculnya pasukan besar

dari jauh itu, iapun lalu melayang turun dan

kembali ia menggunakan kesaktiannya untuk

merobohkan para perajurit musuh, memilih tempat

gelap dan menjauhi tempat Dewi Suling beraksi.

Hebat, bukan main sepak terjang dua orang ini

yaitu Dewi Suling dan Yu Lee. Mereka bergerak di

tempat terpisah, keduanya mengeluarkan suara

melengking mengerikan dan keduanya merobohkan

musuh seperti orang membbat rumput saja. Para

pejuang atau pemberontak itu terheran heran dan

juga kagum bercampur gembira

“Dewi Suling….” terdengar bisikan bisikan.

Biarpun para pejuang tak dapat melihat jelas,

namun berkelebatnya bayangan bertubuh ramping

yang melengking dan merobohkan banyak lawan

itu membuat mereka dapat menduga duga.

“Pendekar Cengeng…!” bisik orang lain

menyaksikan berkelebatnya bayangan Yu Lee.

Mereka tidak dapat melihat tegas karena pemuda

itu selalu bergerak di dalam gelap dan gerakannya

cepat sekali tak dapat dilihat pandangan mata,

akan tetapi para pejuang itu banyak yang sudah

mendengar kabar akan cara dan sepak terjang

Pendekar Cengeng, apa lagi mendengar suara

melengking seperti orang menangis keluar dari

kerongkongan pendekar itu!

Celakalah pasukan pengawal yang diserang oleh

para pejuang di maalm hari itu! Biarpun jumlah

mereka tiga kali lebih banyak, akan tetapi dengan

munculnya dua orang pendeker sakti yang

467

mngeluarkan bunyi melengking lengking dan

keadaan mereka menjadi berantakan dan dalam

waktu sebentar saja sebagian besar dari mereka

roboh tak dapat bangkit kembali apalagi karena

para pejuang yang mendapat bantuan dua orang

pendekar besar itu seolah olah mendapat

tambahan semangat baru, mereka mengamuk

makin hebat.

Tiba tiba terdengar sorak sorak riuh rendah dan

htan itu seolah olah kebakaran ketika pasukan

tambahan pembantu itu tiba, meloncat turun dari

kuda dan dengan obor di tangan kiri, senjata di

tangan kanan mereka menyerbu. Jumlah pasukan

yang baru tiba ini ada dua ratus orang!

Perang menjadi semakini hebat dan kini

bagaikan…….. air banjir, para pejuang yang sudah

lelah itu terdesak hebat.Untung disitu terdapat dua

orang sakti yang membantu mereka sehingga

meraka masih mampu melakukan perlawanan.

Betappun saktinya Pendekar Cengeng dan Dewi

Suling, namun karena fihak musuh amat banyak,

mereka menjadi sibuk sekali. Dewi Saling sudah

mengobral jarum jarumnya dan pedangnya. Hanya

Yu Lee yang agak repot karena pemuda ini tetap

hendak bergerak sambil bersembunyi.

Yu Lee selalu menjauhi para pejuang lain akan

tetapi juga harus selalu memperhatikan keadaan

Siok Lan yang mengamuk agar sewaktu waktu

dapat melindungi wanita yang dicintainya itu.

“Kalau gelagatnya begini, bisa berbahaya,”

pikirnya, Yu Lee mulai mendekati Siok Lan dan

ingin melarikan gadis itu. Akan tetapi pada saat itu

468

terdengar sorakan lain yang juga sangat dahsyat

dan dari sebelah kiri muncul sepasukan orang

gagah perkasa yang datang menyerbu, membantu

para pejuang dan menghantam para tentara

Mongol.

Pasukan yang gagah perkasa ini dipimpin oleh

empat orang mada, dan dapat dibayangkan betapa

girang hati Yu Lee ketika melihat dan mengenal

mereka itu. Dua orang pemuda tampan dan

perkasa itu adalah Ouwyang Tek dan Gui Siong,

murid murid Siauw bin mo Hap Tojin. Adapun dua

orang pemudi yang cantik dan perkasa itu adalah

Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng, murid murid Tho

tee kong Liong Losu! Adapun hampir seratus orang

pasukan perkasa yang dipimpin empat orang muda

itu benar benar hebat dan bertempur dengan

semangut yang amat tinggi!

Keadaan perang kecil di dalam hutan itu

berubah ubah. Tadinya fihak Mongol terdesak

hebat dan lebih dari setengah jumlah pasukan

tewas di tangan tiga puluhan orang pejuang

pimpinan Ie Bhok orang termuda Huang ho Sam

liong yang diam diam dibantu oleh Pendekar

Cengeng dan Dewi Suling. Kemudian fihak pejuang

terancam bahaya kehancuran ketika tiba dua ratus

orang pasukan Mongol yang datang dari Thian an

bun.

Akan tetapi dalam waktu singkat, muncullah

seratus orang pasukan istimewa ini, pasukan yang

sebagian besar terdiri dari bekas pekerja pekerja

terusan yang melarikan diri, yang mengandung

dendam dan kebencian meluap luap terhadap

469

orang orang Mongol sehingga kini pasukan Mongol

seperti sekumpulan pohon bambu diserang angin

taufan, mereka dibabat dan dalam waktu singkat

saja jatuhlah puluhan orang korban diantara

mereka!

Ouwyang Tek tidak mengenal pasukan kecil

yang ia bantu, akan tetapi karena pasukan kecil

yang gagah perkasa itu berperang melawan tentara

Mongol ia menganggap mereka itu teman teman

seperjuangan dan begitu mendengar dari

penyelidik bahwa di hutan itu terjadi perang, ia

lalu memimpin pasukannya untuk menyerbu dan

membantu pasukan kecil itu.

Ketika mendengar suara melengking lengking

dan amukan dua orang yang bergerak seperti setan

sehingga tidak tampak jelas orangnya, Ouwyang

Tek, Gui Song Tan Li Ceng dan Lauw Ci Sian

menjadi terkejut, dan juga girang. Mereka dapat

mengenal lengking dan gerakan Pendekar Cengeng.

Akan tatapi mereka juga bingung dan menduga

duga siapa adanya wanita perkasa yang mengamuk

itu. Melihat gerakannya yang lihai dan mendengar

suara melengking dari suling yang dipegang nya,

tidak salah lagi bahwa wanita itu tentulah Dewi

Suling ! Mereka menduga duga dan terheran heran,

akan tetapi karena Dewi Suling pada saat itu

bertanding memusuhi pasukan Mongol, tentu saja

mereka menganggapnya tidak sebagai musuh.

Munculnya pasukan yang dipimpin empat

orang muda perkasa ini mempercepat jalannya

perang. Sebagian besar pasukan musuh roboh

470

binasa dan sisanya lalu melarikan diri berlindung

pada kegelapan hutan itu.

“Yu taihiap…! Sungguh beruntung dapat

bertemu dengan taihiap di sini!” Terdengar Ouwang

Tek berkata.

“Pendekar Cengeng..! Pendekar Cengeng …!”

Nama ini disebut sebut oleh para pasukan pejuang.

Siok Lan yang sudah tidak bertempur lagi

mendengar disebutnya nama ini terkejut sekali ia

tadi memang mendengar sura melengking lengking

dan melihat berkelebatnya dua bayangan seperti

iblis cepatnya. Ia sudah menduga duga akan tetapi

belum merasa yakin siapa gerangan dua orang

aneh itu. Karena tadi ia dikeroyok banyak sekali

musuh, tentu saja ia tidak mendapat kesempatan

untuk meneliti. Kini mendengar debutnya “Yu

taihiap” dan “Pendekar Cengeng” wajahnya menjadi

berobah dan jantungnya berdebar debar.

Benarkah tunangannya itu yang tadi

mengamuk dan mengeluarkan suara melengking?

Tunangannya yang selama ini mengabaikannya

dan yang ia cari untuk diajak bertandirig untuk

menebus penghinaan? Cepat ia meloncat

menghampiri untuk mencari dan menjumpai orang

yang dicari carinya itu. Akan tetapi ia hanya

melihat berkelebatnya bayangan cepat sekali

menghilang di daerah hutan yang gelap, dan

mendengar suara orang laki laki yang berpengaruh.

“Kedua saudara Ouwyang dan Gui! Kedua nona

Lauw dan Tan! Selamat bertemu dan berjuang!

Maaf, saya ada urusan lain, sampai jumpa!”

Bayangan itupun lenyap dari tempat itu. Siok Lan

471

termenung merasa seperti kenal suara ini, ia

merasa penasaran lalu meloncat mengerahkan

ginkangnya mengejar di tengah hutan ke mana

bayangan itu tadi berkelebat.

Bayangan yang mengamuk dan menggunakan

suling sambil mengeluarkan suara melengking tadi

memang Ma Ji Nio atan Ciu siauw Sian li Si Dewi

Suling. Kini di bawah sinar banak obor, Dewi

Suling menghadapi Ouwyang Tek, Gui Siong, Luaw

Ci Sian dan Li Ceng yang berdiri berjajar

menghadapinya dengan pandangan mata penuh

selidik. Dewi Suling tersenyum dan cepat ia

mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil

berkata,

“Sungguh merupakan karma Thian bahwa

malam ini saya dapat berjumpa dengan ji wi

kongcu dan ji wi siocia sebagai teman teman

seperjuangan !”

Empat orang mada itu memang sudah

mendengar akan sepak terjang Dewi Suling selama

ini yang menjadi buah bibir kaum kang ouw

karena perubahannya luar biasa. Mereka merasa

tidak senang kepada wanita yang dahulunya

menjadi musuhnya ini, akan tetapi karena harus

diakui bahwa saat itu mereka bukanlah musuh

melainkan teman seperjuangan melawan penjajah,

mereka terpaksa membalas penghormatan, bahkan

Tan Li Ceng yang terpandai membawa sikap

diantara mereka segera berkata, “Kami sudah

mendengar akan sepak terjang cici selama ini.

Sukurlah !”

472

Wajah Dewi Suling berubah merah karena

merasa jengah akan tetapi di dalam hatinya ia

memuji Tan Li Ceng yang tidak banyak bicara.

Ia lalu berkata lagi, kali ini tidak hanya

ditujukan kepada empat orang muda itu,

melainkan juga kepada Ie Bhok, Cui Hwa Hwa dan

teman teman mereka.

“Diantara kita ada hubungan seperjuangan

teman teman sendiri, akan tetapi kini bukan

waktunya untuk bercakap cakap. Keadaan hutan

ini amat berhaya karena sungguhpun musuh

sudah terpukul mundur akan tetapi di Thian an

bun terdapat tidak kurang dari seribu orang

perajurit Mongol. Bagaimana mungkin kita dapat

melawan pasukan mereka yang begitu banyak?

Karena itu, menurut pendapatku, sekiranya kita

memasuki daerah hutan di sebelah barat ………..

karena daerah itu hutannya ……….. amat luas

daerah pegunungan…… mudah bagi kita untuk

bersembunyi sa mbil melakukan penyerbuan

serbuan mendadak ke Thian bun an. Menurut

pendapat saya, kalau saudara saudara sekaian

setuju, sekarang ini juga kita berangkat ke sana

memencarkan diri dan bertemu di …ga yang

berada di dalam hutan sebelah barat, kira kira dua

puluh li jauhnya dari …. pertama. Amat baik

tempat ini dijadikan markas, selain lebat juga

banyak terdapat guha guha besar.

Semua orang menyatakan setuju. Memang

pertempuran melawan tentara Mongol yang amat

besar jumlahnya tadi menyatukan mereka tanpa

janji lebih dahulu, yaitu pasukan yang dipimpin Ie

473

Bhok dan Cui Hwa Hwa, dan pasukan bekas

pekerja paksa yang dipimpin empat orang muda

perkasa.

Beramai ramai berangkatlah mereka sambil

membawa teman teman yang terluka dalam

pertempuran tadi meninggalkan teman teman yang

tewas karena memang keadaan menghendaki

demikan. Dalam perjalanan ini, mulailah mereka

berkenalan. Ie Bhok mengirim seorang …. untuk

menyampaikan berita tentang perang semalam dan

tentang rencana pasukan mereka pergi ke hutan

sebelah barat Thian an bun kepada kedua orang

saudaranya yang masih bermarkas di tepi sungai

Huang ho agar mereka dapat saling berhubungan

dan saling membantu.

Semalam suntuk pasukan pejuang ini

menyusup nyusup di antara hutan dan

pegunungan, berpencar akan tetapi tidak terpisah

jauh sehingga mereka dapat saling mengetahui

keadaan kawan memberi isyarat bunyi bunyi

burung. Mereka ini lelah sehabis bertempur, lelah

dan lapar akan tetapi kenyang oleh semangat

kepahlawanan. Hanya mereka yang pernah

berjuang saja, hanya mereka yang pernah

menderita dalam melaksanakan cita cita mulia saja

yang dapat merasa berapa di dalam keadaan

bersama ini terdapatlah sesuatu yang nikmat dan

bahagia yang mengatasi semua penderitaan

jasmani.

“Aliok ! Aliok …!!”

Siok Lan mencari cari di dalam hutan sambil

berkali kali memanggil nama pelayannya. Hatinya

474

amat risau, sungguhpun besar harapannya bahwa

pelayannya itu masih hidup dan berada di dalam

hutan.

Bukankah tadi ketika ia didorong turun oleh

pelayannya itu, Aliok masih berada di atas kuda

dan tiba tiba pecah pertempuran karena

munculnya Cui Hwa Hwa dan yang lain lain? Tidak

mungkin pelayannya itu ditawan karena sudah

jelas bahwa fihak musuh terpukul mundur bahkan

banyak yang tewas. Akan tetapi bagaimana kalau

Aliok terbunuh oleh musuh? Hati nya makin

gelisah dan kini ia mencari cari sambil memanggil

manggil, juga melihat lihat kalau pelayan nya itu

sudah menggeletak tak bernyawa lagi di dalam

hutan.

Mengingat akan kesitu tubuhnya menggigil dan

terngiaang bisikan ucapan pelayannya sebelum

mereka berpisah. “Aku mencinta nona dengan

seluruh jiwa ragaku …!

Hati Siok Lan terharu. Ia tidak meragukan lagi

cinta kasih pelayannya terhadap dirinya. Dan dia

sendiri? Entahlah. Andaikata di sana tidak ada

Pendekar Cengeng? Andaikata Aliok bukan seorang

pelayan! Andaikata … ahh, terlalu banyak

andaikata yang tak mungkin terjadi. Bahkan kini

Pendekar Cengeng sudah muncul !

Ia tadi mengejar sekuat tenaga, mengerahkan

ginkangnya, namun ia melihat betapa bayangan

Pendekar Cengeng itu berkelebat bagaikan terbang

cepatnya dan sebentar saja lenyap dari pandangan

matanya. Karena tidak berhasil mecari Pendekar

475

Cengeng, teringatlah ia akan Aliok dan kini ia

mulai mencari cari Aliok.

Ia melihat betapa para pejuang yang tadinya

menggempur pasukan Mongol itu meninggalkan

hutan. Ia sesungguhnya harus berterima kasih

kepada mereka karena tanpa adanya mereka itu,

tentu ia sudah binasa di bawah pengeroyokan para

pasukan Mongol, atau setidaknya tentu akan

tertawan lagi. Bahkan wanita galak Cui Hwa Hwa

itu telah menolong nya! Akan tetapi ia tidak sempat

menjumpai mereka.

Pertama karena ia tadi mencari Pendekar

Cengeng, dan sekarang, sebelumnya ia dapat

menemukan pelayannya, ia tidak akan berhenti

mencari dan tidak akan menjumpai mereka.

“Aliok…! Aliok…!” Siok Lan memanggil dengan

memakai kedua telapak tangannya untuk

mendekap kanan kiri mulutnya sehingga suara

panggilannya bergema di seluruh hutan itu.

Kegelapan mulai menipis, terdesak oleh munculnya

fajar.

“Aliok….!” Harapan Siok Lan menipis pula dan

hampir ia menangis kalau teringat betapa besar

kemungkinan pelayannya itu terbunuh musuh!

Teringat akan hal ini, baru terasa olehnya betapa

baiknya Aliok selama ini. Betapa akan berat

hatinya kalau harus berpisah dan henar benar

ditinggal mati oleh pemuda itu !

“Aliok…!” Panggilannya mulaa mengandung isak

tangis tertahan.

476

Teringat Siok Lan betapa Aliok pernah mencium

mulutnya dan teringat akan hal ini tak

tertahankan lagi air mata bercucuran. Apa kata

pemuda itu setelah menciumnya semesra itu?

“Kau ampunkan aku, nona. Biarlah kalau aku

mati, ciuman itu sebagai bekal ke neraka….!”

“Aliok…..!” Siok Lan menjatuhkan diri di bawah

sebatang pohon, terisak isak. Kiranya pemuda itu

sudah merasa dia akan mati sehingga berani

menciumnya seperti itu. Ciuman yang selama ia

hidup belum pernah ia alami atau ia terima dari

orang iain, bahkan tak juga dari ayah bundanya.

Ciuman penuh kasih sayang seorang pria. Dan kini

teringat ia menerima ciuman itu bukan dengan

hati marah atau benci atau jijik melainkan dengan

jantung berdebar tegang dan bahagia, bahkan

sekarang pun hatinya menggelora teringat akan

ciuman Aliok itu. Akak tetapi pemuda itu kini

sudah tidak ada, besar kemungkinannya sudah

tewas. Makin mengguguk tangis Siok Lan dan baru

sekarang ia mengakui dalam hatinya bahkan ia

mencinta pemuda itu, mencinta Aliok pelayannya!

“Aliok aduh, Aliok…. hu..hu huhuhu….”

Baru sekali ini Siok Lan, dara perkasa yang

berhati baja dan tidak pernah mengenal takut itu

menangis tersedu sedu.

Nona…! Nona…!”

Siok Lan yang sedang menangis itu tiba tiba

tersentak kaget menoleh ke kanan ke kiri dengan

mata terbelalak, mata yang merah dan pipi yang

basah.

477

“Aliok…??” Ia berbisik, setengah tidak percaya

akan pendengarannya sendiri.

“Nona Siok Lan…!” Kembali terdengar suara itu

perlahan akan tetapi jelas sekali, seperti terbawa

angin lalu, bercampur dengan bunyi kokok ayam

hutan dan kicau burung.

“Aliok…!!” Bagaikan digetarkan tenaga dahsyat

Siok Lan mencelat bangun, matanya terbelalak

bersinar sinar, pipinya berseri, dua butir air mata

masih bergantung pada bulu matanya. “Aliok…!

Dimana engkau…. !!”

“Aku di sini, nona…!”

Suara itu datangnya dari kanan! Siok Lan

hampir bersorak, hampir menari dan dengan suara

ketawa ditahan ia lalu mencelat ke kanan terus

menggunakan ginkangnya lari ke arah datangnya

suara.

“Aliok…. ! di mana engkau….?” teriaknya lagi.

“Di sini, nona …!”

Suara Aliok itu datangnya dari atas! Siok Lan

menengadah dan alangkah girang hatinya ketika ia

melihat pemuda pelayannya itu nongkrong di atas

pohon yang amat tinggi, di cabang tertinggi dan

kelihatannya takut akan tetapi tangan kirinya

mengempit seekor ayam hutan yang gemuk sekali!

“Eh, bagaimana kau bisa berada di situ?

Turunlah…!”

“Aku……… aku tidak berani turun…….”

478

Siok Lan tertawa, suara ketawanya nyaring dan

tiba tiba tubuhnya terayun ke atas dan

berloncatanlah ia dari cabang ke cabang sampai

tiba di cabang yang diduduki Aliok. Pemuda ini

melihat nonanya tertawa tawa dengan senyum

lebar pipinya merah berseri akan tetapi pipi di

bawah mata masih ada tanda air mata. Hatinya

terharu bukan main, tergetar dan …… Aliok

menangis sesenggukan!

“Aihhh… kau… kenapa? “

“Saya……… saya terlalu girang, nona…..”

Siok Lan tersenyum, lalu mengempit pinggang

pelayannya itu, dibawa loncat turun dengan

gerakan ringan sekali. Setibanya dt atas tanah,

lengan kanan Aliok masih merangkul lehernya

sedangkan tangan kiri pelayan itu mengempit

ayam. Sejenak mereka saling rangkul, saling

pandang dengan sinar mata seperti dalam mimpi,

kemudian Siok Lan teringat dan melepaskan

lengannya yang merangkul pinggang, mukanya

merah sekali, matanya mendelik dan mulutnya

setengah tersenyum setengah merenggut!

“Kau…. kau kenapa? Gilakah?”

“Eh, nona…. kenapa… kenapa sih?”

Siok Lan dengan muka merah mendorong

perlahan dada pemuda itu dengan jari tangan nya

seningga Yu Lee mundur tiga langkah.

“Kau… kau berhutang banyak persoalan

kepadaku yang harus kau bayar ! Kau harus jawab

satu satu dan awas ya! Jangan bohong dan main

main!” Gadis yang tadi menangisi Aliok ini setelah

479

sekarang berhadapan, segera menyembunyikan

perasaan hatinya dan mengambil sikap yang sesuai

sebagai seorang nona majikan terhadap seorang

pelayannya. Betapapun juga, ia merasa jengah dan

malu untuk membuka rahasia hatinya begitu saja.

Diam diam Yu Lee tertawa di dalam hati dan

rasa kasih sayangnya terhadap nona ini makin

menggelora dan mesra. Tedi secara diam diam ia

mengikuti Sìok Lan dan sudah menyaksikan

semua sikap gadis itu yang menangisinya! Karena

itulah ia menjadi terharu dan ikut menangis.

Sekarangpun menghadapi nona yang amat

dikasihinya, nona yang dianggapnya paling cantik

di dunia ini, paling gagah perkasa paling nakal dan

juga paling lucu, ia masih tak dapat menahan air

matanya yang menitik turun saat itu.

“Saya berhutang budi kepada nona, sampai

matipun takkan terbayar lunas. Biarlah kelak

dalam penitisan mendatang saya akan mènjadi

anjing atau kuda nona.”

“Aku tidak butuh anjing atau kuda ! Yang

sekarang kubutuhkan adalah keterangan

keteranganmu akan perlakuanmu selama ini !

Pertama tama, kenapa kau mendorong aku turun

dari kuda?”

“Ah, nona yang mulia. Selelah nona terbebas

dari belenggu tentu saja adalah amat besar

kesempatan bagi nona untuk melarikan diri. Saya

mendorong nona karena ingin sekali melihat nona

selamat…”

“Tapi kau membiarkan dirimu sendiri terancam

bahaya !”

480

“Aku… aku tidak berarti…”

“Hushhh ! Lain kali aku tidak mau begitu

mengerti? Apa kau kira aku seorang yang bocengli

(tak berbudi atau berperasaan) untuk enak enak

lari sendiri dan membiarkan kau celaka sendiri?

Lain kali kau tidak boleh begitu, kalau aku selamat

kau juga harus selamat, kalau celaka ya bersama

sama karena kita memang melakukan perjalanan

bersama. Mengerti?“

Yu Lee mengangguk angguk. “Mengerti nona.

Lain kali tidak berani lagi.”

Karena Yu Lee menunduk, ia tidak melihat

betapa Siok Lan masih geli melihat sikap nya ini.

Sebaliknya, Siok Lanpun tidak tahu bahwa diam

diam ia diketawai Yu Lee.

“Sekarang yang kedua. Setelah terjadi perang,

aku amat berkuatir karena kau tidak tampak.

Kenapa kau tidak keluar dan menemui aku?

Kenapa kau pergi dan kemana pula perginya kuda

itu?”

“Wah, nona tidak tahu… Saya dikejar dan

dibacok serdadu gila, untung tidak kena punggung

saya melainkan ke punggung kuda sehingga kuda

itu meloncat dan melemparkan saya ke bawah

sedangkan serdadu itu disepak nya dengan kaki

belakang sampai pecah dada nya. Karena saya

merasa takut, saya lalu memanjat pohon dan

semalam suntuk saya tidak berani turun, karena

takut lalu saya memanjat terus sampai di puncak,

kemudian tidak dapat turun lagi.“

“Hemm, aku tidak percaya kau begitu penakut.”

481

“Memang saya bukan orang penakut, nona.

Akan tetapi saya mempunyai kelemahan terhadap

tempat yang tinggi. Saya menjadi pening dan takut

sekali.”

“Hemm, kau bilang takut di pucuk ponon.

Kenapa bila memegang ayam hutan begitu

gemuk?”

Yu Lee tertawa, “Wah, memang Thian itu adil,

nona… Agaknya memang orang yang baik seperti

nona selalu diberi berkah sehingga tiada hujan

tiada angin ada ayam menghampiri saya untuk

saya panggang dagingnya dan persembahan pada

nona. Malam tadi ketika saya bersembunyi di atas

sana, mungkin karena bingung dan takut

mendengar pertempuran dan melihat obor, ayam

ini terbang lalu menabrak cabang di dekat saya

menggelepar dan pingsan sehingga mudah saya

tangkap Biarlah saya sembelih dia dan panggang

dagingnya untuk nona bawa sebagai bekal

menyusul rombongan pejuang yang menuju ke

pegunungan di sebelah barat kota Thian an bun.”

“Ihhhh, apa kau bilang? Mau apa aku ke sana?

Aku hendak mencari Pendekar Cengeng! Kau tahu

Aliok hampir saja aku dapat berhadapan dengan

Pendekar Cengeng malam tadi !”

Aliok tersenyum dan mengangguk. “Saya tahu,

nona.”

“Heeei?? Engkau tahu ?”

“Saya tahu karena Yu kongcu telah menemui

saya sebelum nona datang. Ketika saya

bersembunyi di atas pohon belum lama tadi tiba

482

tiba saja Yu kongcu muncul di depan saya di atas

pohon ini dan Yu kongcu yang menceritakan pada

saya tentang semua keadaan.”

“Hemm… di mana dia? Aku mengejar dan

mencarinya, Aliok katakan, di mana dia?”

“Mau apakah nona mencarinya??”

“Mau apa lagi? Aliok, tidak usah kau pura pura

tanya lagi, hayo katakan di mana dia agar dapat

kutemui sekarang juga.”

Yu Lee menarik napas panjang dan

menggelengkan kepala. “Nona, Yu kongcu tadi

telah bicara dengan saya dan telah saya katakan

tentang kehendak nona. Kemudian Yu kongcu

memberi keterangan sejelasnya kepada saya, harap

nona suka mendengarkan.”

“Aliok sesungguhnya engkau berpihak kepada

siapa sekarang?”

Yu Lee memandang kaget dan hatinya sedih

melihat betapa suara mesra lenyap dari mata

bening itu, terganti sinar marah. “Tentu saja saya

berpihak kepada nona, akan tetapi…Yu kongcu

tidak memusuhi nona … di… dia bahkan ingin

berbaik kepada nona. Dia menrangkan bahwa

tantang pesan ikatan jodoh itu dia sama sekali

tidak tahu, sama sekali tidak pernah mendengar

dari mendiang keluarganya. Karena itu, dia

berpesan kepada saya agar menyampaikan

permintaan maafnya kepada nona, dan dia kelak

hendak pergi mencari orang tua nona dan

menghadap…”

“Aku tidak butuh kasihannya! Di mana dia?”

483

“Nona, harap dengarkan lebih dulu. Saya tidak

tahu kemana dia pergi karena dia hanya

meninggalkan pesan begini. Yaitu bahwa tempat ini

amat berbahaya dan bahwa nona diminta segera

pergi menyusul para pejuang kepegunungan di

sebelah barat Thian an bun. Menurut Yu kongcu,

tempat ini akan diserbu ribuan orang musuh maka

nona harus cepat cepat pergi hari ini juga. Kongcu

sendiri pasti akan meggabung ke sana, maka

diharap nona suka menanti di sana karena kongcu

masih mempunyai beberapa urusan yang harus dl

selesaikan. Percayakah, nona? Yu kongcu bukan

seorang pembohong dan saya yakin bahwa sekali

waktu dia akan menemui nona di sana untuk

bercakap cakap dan membereskan semua urusan.”

Siok Lan mengerutkan keningnya. Memang

tidak bisa menyalahkan Aliok. Pula, ia mendengar

betapa anehnya Pendekar Cengeng, tentu saja

tidak mungkin bagi Aliok, untuk mengetahui

tempat sembunyi pendekar itu.

Dia sendiri tadi sudah menyaksikan kehebatan

gerakan pendekar itu yang seakan akan pandai

menghilang ketika dikejarnya. Sementara itu Aliok

sudah mencabuti bulu ayam hutan yang telah

ia….. kemudian membuat api dan memangang

dagingnya. Bau sedap gurih mengganggu perut

Siok Lan yang seketika menjadi lapar sekali.

“Kau sendiri akan kemana, Aliok ?”

“Setelah nona makan dan berangkat ke sana,

harap nona suka bergabung dengan para pejuang.

Saya sendiri telah Diminta oleh Yu kongcu untuk

484

menghadang di depan pintu gerbang Thian an bun

sesudah serbuan malam nanti…”

“Apa..? Malah mendekati Thian an bun sarang

musuh?”

Yu Lea tersenyum. “Nona masih belum

mengenal sepak terjang kongcu yang sukar

dimengerti. Akan tetapi percayalah nona. Kalau

kongcu menyerbu ke Thian an bun, tentu dia

mempunyai alasan yang amat penting. Maka

sebaiknya nona menanti. Saya yang tanggung

bahwa kalau urusan orang orang Mongol ini

selesai, pasti kongcu akan mencari dan menemui

nona untuk diajak membereskan semua urusan

yang ada diantara nona dan dia.”

Siok Lan termenung dan diam saja. Kalau

keadaan sudah seperti itu, ia dapat berbuat

apakah? Mencari dan menyusul? Ke mana? Ke

Thian an bun? Seperti mencari mati. Memang

labih baik menunggu. Seperti apakah Pendekar

Cengeng yang lihai itu? Ia memandang pelayannya

dan diam diam timbul rasa kasihan di hatinya.

Bagaimana nanti dengan hubungan cinta kasih

yang bersemi di hati mereka?

Daging ayam hutan itu sudah matang dan Yu

Lee memberikannya kepada Siok Lan.

“Bawalah ini sebagai bekal, nona. Dan saya kira

tidak baik menanti lebih lama lagi, siapa tahu

kalau kalau musuh akan memasuki hutan ini.

Harap nona segera berangkat dari sini menuju ke

barat, kira kira lima puluh li jauhnya lalu

membelok ke utara. Akan tampak pegunungan

sambung menyambung dan berangkatlah nona

485

mendaki pegunungan itu. Mereka berada di

puncak gunung ke tiga, dalam sebuah hutan dan

dari atas puncak itu tampak kota Thian an bun.

Nah sampai jumpa kembali, nona.”

Siok Lan memasukkan panggang ayam ke

buntalan pakaian, kemudian ia bertanya meragu,

“Kapan kita dapat bertemu, Aliok? “

“Tidak akan lama. Saya akan mendesak kongcu

agar cepat cepat menyusul ke sana nona.”

Setelah menghela napas panjang Siok Lan

meloncat dan pergi meninggalnan Yu Lee yang

memandangnya dengan sinar mata penun kasih

sayang.

Siapakah gerangan dua orang sakti yang malam

itu membantu para pejuang dan menghancurkan

pasukan Mongol dengan sepak terjang mereka

yang menyeramkan sambil melengking lengking

mengerikan itu? Seorang di antara mereka tentu

pembaca dapat menduganya, yaitu bukan lain

adalah Yu Lee si Pendekar Cengang sendiri. Akan

tetapi orang kedua yang menjadi bayangan putih,

siapakah dia? Bukan lain adalah Dewi Suling

tepat seperti yang diduga oleh para pejuang yang

sudah seringkali mendengar nama besar wanita

sakti ini akan tetapi jarang ada yang pernah

bertemu dengannya.

Seperti telah diceritakan bagian depan selelah

Dewi Suling bertemu dan menerima wejangan dari

Sui Lian Nikouw di kuil Kwan im bio, maka terjadi

perubahan hebat dalam diri wanita ini, ia kini ingin

486

menghabiskan sisa hidupnya untuk menebus dosa

dan memupuk kebajikan, menentang kejahatan

sebanyak mungkin. Karena inilah maka dunia

kang ouw menjadi geger dengan munculnya Dewi

Suling dalam bentuk lain yang menentang

kejahatan secara hebat sekali!

Berita tentang kekejaman kekejaman yang

terjadi di tempa penggalian saluran, dimana ribuan

orang rakyat tidak berdosa dipaksa bekerja sampai

mati, sampai pula ke telinga Dewi Suling.

Ah, di sanalah aku harus menebus dosa,

pikirnya. Maka banyak orang yang dapat ia tolong,

makin …. Dan makin cepat ia dapat …. banyaknya

dosa dosa yang pernah ia lakukan dengan

perbuatan perbuatan baik yaitu menolong mereka

yang sengsara !

Tanpa ragu ragu lagi Dewi Suling lalu berangkat

menuju ke tempat pengalian saluran air dan apa

yang ia saksikan membuat wanita bekas penjahat

ini mengucurkan air matanya!

Ia berdiri di tepi sungai, suling di tangan kiri

dan bagaikan berubah menjadi arca saking terharu

hatinya menyaksikan ribuan orang pekerja paksa

yang bertubuh kurus kurus seperti mayat hidup,

bekerja dibawah ancaman cambuk cambuk kejam

paru penjaga serdadu serdadu Mongol!

Ia melihat rakyat dengan tubuh kurus kecil

mengangkat batu batu yang lebih berat dari pada

tubuh mereka sendiri, mengangkut balok balok

besar, menyeberang air yang dalam, terjerumus,

tenggelam terhimpit, mati kelaparan, mati

kelelahan dan mati oleh hantaman cambuk bertubi

487

tubi atau pukulan dan bacokan golok para penjaga.

Mayat mereka yang mati dikubur begitu saja di

pasir sungai!

Dewi Suling dahulu adalah seorang penjahat,

akan tetapi belum penrah ia menyaksikan kekejian

seperti ini. Dalam ia suka membunuh orang karena

marah, atau karena tidak ingin rahasianya

disiarkan orang, atau karena orang itu musuhnya

Namun semua pembunuhan yang dilakukan

tentu ada sebabnya terdorong oleh darah panas.

Sebaliknya apa yang ia lihat dan dilakukan

sekarang ini adalah penyembelihan! Siksaan dan

penyembelihan yang dilakukan dengan darah

dingin! Ia bergidik ngeri.

“Bedebah! Jahanam keji iblis neraka!” Ia

menyumpah nyumpah sambil mengepal tinju dan

menggenggam sulingnya erat erat. Ingin ia pada

saat itu juga mengamuk, membunuhi para penjaga

yang seperti anjing anjing kelaparan menyiksa

kelinci kelinci yang tak berdaya. Akan tetapi Dewi

Suling menahan kemarahannya. Betapapun juga,

dia bukanlah seorang wanita yang bodoh dan

neked. Ia tahu bahwa kalau ia turun tangan ia

tidak akan berhasil menolong orang orang yang

sengsara itu, bahkan tak mungkin ia melawan

ratusan orang penjaga yang bersenjata lengkap itu.

Dari saat itu, mulailah Dewi Suling berubah

menjadi hantu pengacau daerah penggalian

terusan. Setiap malam tentu ada penjaga yang

tewas di tangannya. Sepak terjangnya

menggemparkan, datan dan pergi seperti siluman

saja dan setiap ada penjaga yang memisah diri dari

488

kawan kawannya tentu akan menjadi korban di

tangan maut Dewi Suling. Bahkan pernah dalam

waktu semalam saja membunuh belasan orang

penjaga dengan jarum, suling dan tangaanya.

Beberapa hari kemudian, kenyataan lain dibuat

Dewi Suling menjadi lebih marah lagi! Ia telah

mendengar akan kekejian para penjaga yang

menangkapi wanita wanita muda untuk diseret ke

dalam markas mereka, dijadikan mangsa para

perwira seperti domba domba muda diseret masuk

ke kandang penuh oleh harimau harimau

kelaparan.

Ia telah mendengar tentang perkosaan

perkosaan yang lebih mengerikan dan hebat

daripada penyembelihan kaum kerja paksa. Ia

mendengar pula betapa jeritan dan raung setiap

malam membubung ke angkasa keluar dari mulut

wanita wanita yang dikurung dalam markas.

Akan tetapi markas itu terlalu kuat. Dindingnya

terlalu tebal dan tinggi, penjaga amat kuatnya

sehingga tidaklah mungkin bagi Dewi Suling untuk

menyelinap atau menyerbu masuk. Sudah

beberapa hari ia tidak lagi mengancam para

penjaga di sekitar tempat penggalian melaikan

berkeliaran di luar markas di Thian an bun karena

di tempat inilah ia melihat belasan orang gadis

muda diseret masuk pagi kemaren. Namun belum

juga ia berhasil memasuki markas sehingga

hatinya menjadi kesal.

Akhirnya pada malam ketiga Dewi Suling

menjadi nekad. Ia memilih dinding di mana

terdapat sebatang pohon di dekatnya. Dengan

489

ginkangnya yang istimewa, tubuhnya melayang ke

atas pohon seperti seekor burung saja. Kegelapan

malam melindungi bayangannya dan pada saat

para peronda lewat, ia menggenjot tubuhnya dari

cabang teratas mencelat ke atas dinding markas.

Dari sini tubuhnya melayang ke atas genteng

kemudian mendekam, lalu menyelinap dan

berindap indap memasang mata dan telinga ke

arah bawah.

Kota Thian an bun adalah pusat yang dijadikan

markas besar para pasukan yang bertugas menjadi

pelaksana dari penjaga para pekerja paksa

pembuat saluran besar itu. Pasukan yang berada

di kota ini tidak kurang dari seribu lima ratus

orang. Di benteng ini, yang menjadi panglimanya

adalah seorang panglima Mongol yang bertubuh

tinggi besar bertenaga kuat, bermuka penuh

brewok dan terkenal keras memegang peraturan

terhadap para pekerja. Panglima ini sebenarnya

bukan seorang Mongol tulen, melainkan seorang

peranakan. Akan tetapi sudah lajim di dunia ini

bahwa si anjing lebih galak daripada tuannya, si

pejabat lebih galak daripada atasannya dan antek

antek lebih jahat daripada majikannya.

Oleh karena itu, panglima impun lebih bersifat

Mongol daripada si Mongol yang aseli, yaitu para

penjajah, lagaknya seolah olah dialah keturunan

Jengis Khan, pendiri kerajaan Mongol. Nama

panglima ini adalah Ban Ciang dan julukannya

adalah Thai ler Kwi ong (Raja Iblis Bertenaga

Dahsyat)! Sebagai pelaksana yang bertugas

menyelesaikan pembuatan saluran, dia

menggunakan tangan besi dan dia sendiri sudah

490

menyatakan bahwa kalau perlu agar saluran itu

berhasil diselesaikan, ia akan menggunakan mayat

mayat rakyat pekerja paksa sebagai dasar saluran!

Disamping tangan besi ini. Ban Ciang amat

pandai menyenangkan hati para perwira

pembantunya, memang inilah keistimewaannya

sehingga ia cepat sekali dapat mencapai

kedudukan tinggi. Ia pandai menjilat atasan,

pandai membujuk bawahan untuk menjadi

terkenal sehingga segala pelaporan mengenai diri

nya ke istana selalu baik dan menyenangkan.

Untuk menyenangkan hati para perwiranya

inilah Ban Ciang tidak segan segan untuk

menangkapi wanita wanita ini muda setiap hari,

bahkan ia menggunakan serombongan pasukan

yang tugasnya menangkap dan menyeret wanita

wanita muda sampai pula ke dusun dusun untuk

di bawa ke Taian an bun dan dipergunakan

“menjamu” para perwira pembantunya setelah

lebih dulu memilih yang tercantik untuk diri

sendiri. Setelan para perwira bosan, maka wanita

wanita muda itu dengan royal sekali ia lalu

dihadiahkan kepada anak buah, terus turun sesuai

dengan pangat mereka sampai akhir nya wanita

wanita itu ….. karena mati dan dikubur begita saja

di sungai sama seperti para pekerja. Seangkan

untuk para wanita muda inipun merupakan

pekerja pekerja paksa yang nasibnya malah jauh

lebih sengsara dan memalukan kalau

dibandingkan para pekerja pria.

Dewi Suling yang telah berhasil memasuki

markas, mengintai dari atas genteng bangunan

491

terbesar yang berada di tengah markas Thian an

bun. Dari atas ia melihat sinar terang dan suara

tertawa tawa dan ketika ia mengintai ke bawah ia

melihat bahwa dalam ruangan bawah itu para

perwira sedang mengadakan pertemuan dalam

sebuah pesta pora, bercakap cakap sambil tertawa

tawa dan dilayani oleh banyak wanita wanita

muda. Hati Dewi Suling perih sekali rasanya ketika

melihat keadaan wanita wanita itu. Jelas bahwa

wanita itu adalah orang orang yang sedang

menderita bathin, wajah mereka yang cantik cantik

dan muda itu pucat dan seluruh gerak gerik

mereka membayangkan kelelahan, kedukaan dan

keputusasaan yang menyedihkan. Disamping

perasaan …… ini, Dewi Suling marah sekali

menyaksikan pula betapa para perwira, yang hadir

di dalam pesta bersikap kasar dan tidak sopan

terhadap pelayan wanita yang melayani mereka,

mereka tertawa tawa, mereka kadang kadang

menarik memeluk atau mencium seorang wanita

begitu saja secara menjemukan.

Dan tempat pengintaiannya. Dewi Suling

melihat panglima Thian an bun yang tinggi besar

dan berewokan. Mudah saja mengenal Panglima

Ban Ciang karena selaiin pakaiannya paling megah

dan gagah juga ia merupakan satu satunya orang

yang paling dihormati di dalam ruangan diantara

perwira perwira yang jumlahnya kurang lebih tiga

puluh orang itu. Ban Ciang duduk di atas kursi

besar menghadapi meja, diapit oleh dua orang

tercantik yang melayani dengan arak dan

makanan, menyumpitkan daging menyuapinya

sambil memaksa mulut yang kecil itu tersenyum

492

senyum. Ban ciang kelihatan gembira, tertawa

tawa kalau bicara kepada para bawahannya dan

kadang ia mencubit dagu perempuan di kiri atau

menowel pinggang perepuan di kanan.

Akan tetapi Dewi Suling tidak memperdulikan

kekurang ajaran mereka itu, karena ia sedang

memperhatikan percakapan mereka. Sambil

tertawa tawa Ban Ciang menceritakan kepada

bawahannya tentang seorang tawanan yang

menarik Dewi Suling.

“Ha ha ha … kalian akan melihat sendiri nanti.

Tawanan itu adalah puteri jelita dan gagah perkasa

dan cucu dari Thian te Sin kiam. Julukannya Sian

li Eng cu.“

“Aduh! Hamba ……. dengan dia. Memang ……

bunga mawar hutan yang ….. kuda betina liar,

yang …….. menyepak dan menggigit kalian

berdua….., ha, ha, ha!” kata seorang panglima

bawahan.

“Heh, heh! Itulah sebabnnya mengapa aku

segera minta dia digusur ke mari! Belum pernah

aku mendapatan yang seperti itu!” kata Ban Ciang

mengangguk angguk.

“Akan tetapi, tidakkah mereka itu datang dari

selatan? Dan menurut penyelidik, di hutan sebelah

selatan penuh dengan kaum pemberontak.

Kabarnya para pelarin yang memberontak dipimpin

empat orang muda itu kini makin banyak

jumlahnya.”

“Dan juga ada gerakan dari pemberontak yang

dipimpin Huang ho Sam liong….”

493

Mendengar ucapan dua orang perwira itu Ban

Ciang tertawa bergelak. “Ha, ha, ha, memang

sengaja kubiarkan saja mereka itu agar kurang

waspada. Akan tetapi kalian bersiap siaplah untuk

melakukan penyembelihan karena aku sudah

mengatur pasukan untuk penyergapan dan

penangkapan agar sekaligus mereka itu dapat di

habsikan. Dan kalau nanti sampai dapat

menangkap hidup hidup dua orang gadis pemmpin

para pelarian itu, hemm…. kabarnya mereka hebat

hebat !”

Selagi para perwira tertawa tawa dan bercakap

cakap tiba tiba muncul dua orang penjaga yang

langsung melapor kepada Panglima Ban Ciang.

“Pasukan yang disuruh mengumpulkan tenaga

ke barat sudah tiba, mohon keputusan tai

ciangkun !”

Berseri wajah Ban Ciang “Ha, Perwira Kwa

sudah kembali? Lekas, suruh dia datang

mengnadap!”

Dari luar terdengar suara gaduh. Dewi Suling

memperhatikan dan dia menggigit bibir menahan

marah ketika mendengar suara tertawa tawa

diantara isak tangis. Tak salah lagi tentu Perwira

Kwa yang memimpin pasukan mencari tenaga

pekerja ke barat itu selain berhasil memaksa

rakyat pekerja, juga telah menangkapi banyak

wanita muda. Sepasang mata wanita sakti ini

seperi mengeluarkan api ketika ia mendapatkan

keanyataan bahwa dugaannya benar. Perwira she

Kwa itu muncul, seorang laki laki tinggi besar

bermuka hitam bersikap kasar sekali dan dengan

494

bangga sambil tertawa tawa perwira Kwa itu

memamerkan hasil pekerjaannya kepada

atasannya, yaitu selain ribuan orang pekerja

paksa, juga lebih dari lima puluh wanita muda

yang mereka culik dan tempat sepanjang

perjalanan !

“Huah ha ha ! Bagas sekali Ka ciangkun,

Jangan khawatir, jasamu sekali ini akan ku catat

dan sampaikan kota raja. Mari kita melihat lihat

domba domba yaag kau dapatkan, aku ingin

memilih ….. ekor … ha, ha, ha !”

“Sekali ini cukup dan semua rekan tentu akan

mendapat bagian!” kata perwira Kwa sambil

tertawa puas. Para perwira yang hadir menjadi

gembira sekali karena mereka akan mendapatkan

penghibur baru, juga para perwira rendahan

bergembira karena kalau atasan mereka

mendapatkan yang baru tentu yang lama akan

dilemparkan kepada mereka.

Sambil tertawa tawa perwira Kwa bertepuk

tangan memberi isyarat kepada anak buahnya.

…………….. sebelah belakang yang ….. menutup,

kini dibuka dan terdengarlah ……… isak isak

tertahan ketika serombongan ………. Muda digiring

memasuki ………………….

“Tar, tarr….!” Ledakan ledakan keras…… suara

cambuk yang dibunyikan di …… Kwa ciangkun.

Perwira she Kwa ini memang seorang ahli bermain

cambuk dan ….lah permainan cambuknya yang

telah …….. merenggut nyawa beberapa banyak

nyawa. Kini ia telah mengeluarkan cambuknya

495

untuk menakut nakuti para tawanan itu dan

seraya berseru,

“Hayo berbaris satu satu, tidak boleh menangis!

Hayo tertenyum ! Ha ha ha !”

Su