Pendekar Binal – Bakti Binal (Seri 2)

New Picture (2)

Pendekar Binal – Bakti Binal (Seri 2)

Karya : Khu Lung

Disadur : Gan Kl

 

Jilid 1. Bakti Binal

Suatu hari sampailah Siau-hi-ji di tepi sungai, menghadapi gelombang sungai yang besar itu, tanpa terasa ia memperlambat langkahnya, sungguh ia berharap akan dapat melihat pula perahu kaum pengelana yang hidupnya terhina tapi berkepribadian luhur itu. Ia ingin melihat pula sepasang mata yang besar dan cemerlang itu.

Banyak juga perahu yang hilir mudik di tengah

sungai, akan tetapi perahu kaum pengelana itu

sudah tak nampak lagi bayangannya. Ke mana

perginya mereka? Apakah masih tetap

mengembara dan terombang-ambing kian

kemari?

Sampai lama sekali Siau-hi-ji berdiri termangu-mangu di tepi sungai.

Entah sudah selang beberapa lamanya ketika tiba-tiba terdengar kesiur angin di

belakang, lalu seorang menegurnya, “Maafkan jika saudara harus menunggu terlalu lama.”

Meski merasa heran, tapi Siau-hi-ji tidak menoleh dan juga tidak bersuara.

Maka orang itu bertanya pula, “Kenapa saudara hanya sendirian? Di mana dua lagi yang

lain?”

Siau-hi-ji tetap diam saja.

Dengan gusar orang itu berkata, “Sesuai kehendak kalian Cayhe sudah datang kemari,

mengapa saudara malah tidak menggubris?”

Akhirnya Siau-hi-ji berpaling, katanya dengan tersenyum, “Mungkin kalian salah wesel,

aku bukan orang yang hendak kalian cari.”

Ketika ia lihat jelas tiga orang yang berdiri di depannya, tertampak orang yang paling kiri

tinggi besar, memakai baju merah, jelas dia inilah si “baju merah golok emas” Li Bengsing.

Orang yang berada di tengah tampak gagah perkasa, dengan sendirinya dia ayah Li Bengsing

yaitu “Kim-say” Singa Emas, Li Tik. Seorang lagi bermuka kelam dan berjenggot

pendek, yakni “Ci-bin-say”, singa muka ungu, Li Ting, yang dahulu bertemu dengan Siau-hiji

dan Kang Giok-long waktu berlayar itu.

Terkejut juga Siau-hi-ji demi melihat ketiga orang ini, wajahnya yang tersenyum hampir

saja berubah menjadi kaku, untung di malam gelap sehingga ketiga orang itu tidak

mengenalnya.

Cahaya bintang hanya berkelip-kelip, pula Siau-hi-ji sudah lebih tinggi daripada dulu,

mukanya juga kotor, tubuhnya berlepotan minyak goreng, keadaannya lebih mirip seorang

jembel.

Si Singa Emas Li Tik berkerut kening, katanya, “Kiranya seorang pengemis kecil.”

“Untuk apa kau berdiri di sini?” bentak Li Beng-sing.

Siau-hi-ji menunduk, jawabnya, “Hamba tiada punya tempat tinggal, terpaksa berada di

mana pun.”

“Lekas enyah!” bentak Li Beng-sing. “Apa kau minta di ….”

Belum habis ucapannya tiba-tiba si “Singa Ungu” Li Ting berteriak tertahan, “Itu dia

sudah datang!”

Waktu itu dari permukaan sungai sana sedang meluncur tiba sebuah sampan.

Penumpangnya adalah tiga orang berseragam hitam.

Siau-hi-ji menyingkir jauh ke tengah semak alang-alang di tepi sungai, di situlah dia

berjongkok, dia enggan pergi, sesungguhnya dia terlalu iseng dan ingin melihat keramaian.

Belum lagi sampan itu menepi, serentak ketiga bayangan itu lantas melompat ke daratan,

semuanya tangkas dan gesit, Ginkang mereka ternyata tidak lemah.

Orang yang paling depan berperawakan tinggi tegap, orang kedua di belakangnya

berbadan pendek tangkas, orang ketiga bertubuh ramping, tampaknya seperti seorang

perempuan.

Ketiga orang berseragam hitam dan memakai kedok hitam pula sehingga mata pun hampir

tertutup seluruhnya. Tangan masing-masing membawa bungkusan panjang, jelas yang

terbungkus itu adalah senjata.

Anehnya mengapa senjata mereka pun dibungkus dengan kain hitam? Masa senjata

mereka itu pun mengandung rahasia?

Sementara itu keluarga Li ayah beranak itu sudah menyongsong maju, tapi setelah

berhadapan dalam jarak beberapa meter mereka lantas berhenti dan saling tatap dengan

penuh waspada.

Kim-say Li Tik lantas berteriak dengan bengis, “Apakah kalian inilah yang mengaku

sebagai ‘Jin-gi-sam-hiap’ (tiga pendekar budiman)?”

Si baju hitam yang tinggi besar menjawab dengan dingin, “Betul!”

“Beberapa tahun terakhir ini, beberapa kereta barang kawalan kami selalu dirampok,

apakah semua ini pekerjaan kalian bertiga?”

Kembali si baju hitam menjawab, “Betul!”

Li Tik menjadi gusar, teriaknya, “Ada permusuhan apa antara Siang-say-piaukiok kami

dengan kalian? Mengapa kalian sengaja merecoki kami?”

“Tidak besar permusuhan kita, tapi juga tidak kecil,” ucap si baju hitam.

“Hm, setelah beberapa kali pekerjaan kalian berhasil dan pihak kami tak dapat

menemukan asal-usul kalian, seharusnya kalian dapat sembunyi dengan aman dan selamat,

tapi mengapa sekarang kalian sengaja menyurati kami dan mengundang kami datang ke

sini?”

“Setiap orang Kangouw sudah mengetahui bahwa Tio Coan-hay dan Le Hong sama

keracunan,” ucap si baju hitam dengan kalem. “Meski kedua orang itu belum mampus, tapi

Liang-ho-piau-lian dan Sam-siang-piau-lian sudah banyak kehilangan pamor dan

kepercayaan.”

Seketika air muka Li Tik berubah, tapi Li Ting lantas menjengek, “Lantas semua itu ada

hubungan apa dengan pihak kami?”

“Sudah tentu besar hubungannya,” ujar si baju hitam. Dia bicara dengan kalem-kalem

saja, tidak terburu-buru dan juga tidak alon-alon, tapi nadanya seperti sengaja dibikinbikin.

Li Tik menjadi tidak sabar, teriaknya, “Hubungan apa coba katakan?”

“Kalau Liang-ho dan Sam-siang kehilangan kepercayaan, kan kesempatan itu dapat

digunakan Siang-say-piaukiok untuk menonjolkan diri, barang kawalan Toan Hap-pui itu

dengan sendirinya akan jatuh di tangan kalian!” demikian seru si baju hitam.

Sampai di sini, mau tak mau hati Siau-hi-ji jadi tergerak. Begitu pula keluarga Li ayah

beranak itu pun terketuk pikirannya.

“Jika begitu, mengapa kau tidak menunggu kesempatan baik nanti untuk merampas lagi

barang kawalan kami?” teriak Li Tik.

“Tapi bukan soal kecil barang kawalan Toan Hap-pui itu,” ujar si baju hitam dengan kalem.

“Kukira pihak Siang-say-piaukiok sendiri juga tidak berani mengawalnya dengan tangan

sendiri dan pasti akan minta bantuan orang luar pula untuk membelanya, sedangkan tenaga

kami bertiga terasa pula tidak sanggup mengincarnya.”

“Hehe, kau ternyata cukup tahu diri!” jengek Ci-bin-say Li Ting.

“Makanya sekarang aku pun ingin membikin kalian juga tidak dapat mengawal barang Toan

Hap-pui itu,” bentak si baju hitam dengan bengis. “Kalau Sam-siang dan Liang-ho-piau-lian

lagi sial, maka kalian pun jangan harap akan mengeduk keuntungan.”

Habis berkata, sekali ia memberi tanda, serentak bungkusan yang dibawa mereka itu

terbuka, kain hitam terlempar ke tanah dan terlihatlah tiga batang senjata yang

memancarkan cahaya kemilau, senjata mereka itu tampaknya seperti gaetan, tapi

ujungnya berbentuk bunga Bwe.

“He, Bwe-hoa-kau (gaetan bunga Bwe)?!” seru Li Tik tanpa sadar.

“Haha, kenal juga kau akan senjata ini,” jengek si baju hitam.

“Hm, kalian ternyata berani memperlihatkan senjata ini, sungguh besar nyali kalian,

memangnya kalian tidak takut musuhmu memenggal kepala kalian secara diam-diam,” ejek

Li Ting.

“Tiada seorang pun yang akan tahu bahwa Bwe-hoa-kau telah muncul kembali di dunia

Kangouw!” ucap si baju hitam.

“Paling tidak aku kan sudah tahu?” seru Li Ting dengan tertawa.

“Tapi kalian takkan mampu bicara lagi,” jengek si baju hitam.

Berbareng itu ketiga orang seragam hitam lantas menubruk maju. Si pendek tangkas itu

mendahului menubruk ke arah Li Beng-sing. Gerak tubuh orang ini sangat cekatan, gaya

serangannya juga ganas, tampaknya seperti menaruh dendam terhadap Li Beng-sing.

Sedangkan si perempuan baju hitam justru menubruk ke arah Ci-bin-say Li Ting.

Gerakannya cepat dan gesit, jurus serangan Bwe-hoa-kau di tangannya ternyata lebih

cepat dan ganas dengan macam-macam perubahan.

Ilmu silat Li Ting tergolong lumayan dan sudah berpengalaman, tapi menghadapi serangan

senjata yang aneh dan cepat itu, seketika ia menjadi kelabakan tercecar.

Di sebelah sana Li Tik juga sudah bergebrak dengan si baju hitam yang tegap.

Li Tik terkenal sebagai jago ilmu golok, golok emas yang dimainkannya keras lagi kuat,

setiap serangannya selalu membawa sambaran angin yang dahsyat. Tapi si baju hitam yang

tegap itu pun tidak kalah lihainya, bahkan keuletannya malah di atas Li Tik. Bwe-hoa-kau

khusus digunakan mengunci senjata lawan, maka golok Li Tik menjadi macet dan sukar

dikembangkan.

Pertempuran ini boleh dikatakan sangat dahsyat, tapi bagi pandangan Siau-hi-ji ternyata

sangat cemplang, sama sekali tidak menarik, kecuali permainan Bwe-hoa-kau yang

terkadang muncul sejurus dua serangan aneh dan baru, selebihnya hampir tiada harganya

untuk ditonton.

Maklumlah dengan hasil renungan Siau-hi-ji sekarang, ilmu silat orang lain baginya hampir

tidak ada artinya lagi, pada hakikatnya seperti seorang ahli lukis sedang menyaksikan

anak kecil main corat-coret.

Hendaknya diketahui bahwa ilmu silat dalam kitab pusaka yang dipelajarinya itu meliputi

intisari ilmu silat yang paling tinggi di dunia ini, dibandingkan ilmu silat Li Tik dan

begundalnya itu bedanya sungguh dapat dikatakan seperti langit dan bumi.

Di antara Li Tik bertiga itu yang paling celaka adalah Li Beng-sing, baru belasan jurus

goloknya sudah sukar dikembangkan, butiran keringat sudah mulai merembes di dahi dan

ujung hidungnya. Sebaliknya si baju hitam yang pendek tangkas itu semakin bertempur

semakin gagah perwira, mendadak ia mengelak sambil menerjang maju, sinar hijau

berkelebat, tahu-tahu golok Li Beng-sing sudah terkunci oleh gaetannya.

Sungguh tidak kepalang kaget Li Beng-sing, semangat tempurnya juga runtuh seketika.

Sebab dalam keadaan demikian bagian dadanya menjadi terbuka dan tidak terjaga, kalau

pihak lawan melancarkan suatu pukulan, andaikan tidak mati juga setengah jiwanya akan

amblas.

Tak tahunya si baju hitam hanya memberinya suatu tamparan saja sambil membentak

tertahan, “Inilah bayar dulu utangmu!”

Kontan Li Beng-sing terhuyung-huyung oleh tamparan itu, waktu dia dapat berdiri tegak,

tanpa terasa ia menegas, “Bayar utang apa maksudmu?”

“Anak murid Bwe-hoa-pang cukup jelas membedakan dendam dan budi, setiap utangpiutang

harus dibayar lunas,” jengek si baju hitam.

“Tapi … tapi bilakah aku pernah ….”

“Sebelum ajalmu tentu akan kuberitahukan padamu apa utangmu padaku!” bentak si baju

hitam, Bwe-hoa-kau kembali bergerak, hanya sekejap cahaya hijau telah mengunci rapat

pula sinar golok lawan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa panjang seseorang, sesosok bayangan

tahu-tahu menyelinap ke tengah-tengah cahaya gaetan. Menyusul itu lantas terdengar

“sarr … serr … serr …” tiga kali, ketiga batang Bwe-hoa-kau kawanan baju hitam

mendadak mencelat semua ke udara, dua batang jatuh di tengah sungai.

Keruan ketiga orang berbaju hitam terkejut dan serentak melompat mundur. Mereka

hanya merasa pergelangan tangan tergetar dan tahu-tahu senjata terlepas dari cekalan,

cara bagaimana pihak lawan turun tangan sama sekali tak diketahui oleh mereka.

Waktu mereka mengawasi, terlihat entah sejak kapan di depan mereka sudah berdiri

seorang pemuda bermuka putih. Pemuda yang tampaknya lemah tak tahan tiupan angin ini

hanya dalam sekejap saja ternyata mampu membikin senjata mereka terlepas dari tangan,

sungguh mimpi pun mereka tak berani membayangkan akan kejadian luar biasa ini.

Melihat pemuda muka putih ini Siau-hi-ji juga rada terkejut. Kang Giok-long, pemuda

bermuka putih pucat dengan senyuman seram ini ternyata bukan lain daripada Kang Gioklong.

Tapi mengapa ilmu silat Kang Giok-long bisa maju sepesat ini?

Pertanyaan ini dengan sendirinya dapat dijawab oleh Siau-hi-ji. Soalnya Kang Giok-long

juga pernah menghafalkan isi kitab pusaka ilmu silat itu, selama dua tahun ini kalau ilmu

silatnya tidak mengalami kemajuan pesat, maka percumalah dia menjadi manusia.

Li Tik bertiga tampak kegirangan melihat datangnya Kang Giok-long, sebaliknya kawanan

baju hitam jadi terkejut.

“Huh, kiranya kalian sudah menyembunyikan bala bantuan,” bentak si baju hitam yang

tinggi besar itu dengan gusar.

“Haha, bagaimana pendapatmu dengan bala bantuanku ini?” jengek Li Tik dengan tertawa.

Si baju hitam tinggi besar itu menggentak kaki mendongkol, tampaknya ia hendak

melangkah pergi, tapi sekali menyelinap Kang Giok-long sudah mengadang di depan mereka

dan berkata dengan tertawa, “Eh, kalian jangan terburu-buru pergi, masih ada persoalan

yang harus kumintakan penjelasan darimu.”

“Kau ingin tanya apa?” bentak si baju hitam tinggi besar.

“Nona ini pun memakai kedok, apakah disebabkan mukanya terlalu jelek atau terlalu

cantik?” kata Giok-long dengan tertawa.

Si baju hitam pendek tangkas menjadi gusar, ia meraung murka terus menerjang maju

hendak menyerang.

Ilmu silatnya sesungguhnya tidak lemah terbukti Li Beng-sing sama sekali tidak mampu

melawannya, tapi kini berada di depan Kang Giok-long, ilmu silatnya ternyata tiada

berguna sedikit pun. Belum lagi dia sempat menjotos, tahu-tahu pergelangan tangannya

malah sudah terpegang oleh Kang Giok-long, hanya sedikit digentak, kontan tubuhnya

lantas mencelat jauh ke sana dan hampir kecebur ke dalam sungai.

“Karena kalian tidak mau mengaku, terpaksa Cayhe sendiri yang memeriksanya,” ucap

Giok-long dengan tertawa. Berbareng itu ia terus melompat maju, ia menyelinap lewat di

samping si baju hitam yang tinggi besar itu dan tahu-tahu sudah berada di depan si nona.

Sekaligus kedua tangan si nona baju hitam menghantam, tapi entah cara bagaimana kedua

tangannya malah kena ditangkap hanya oleh sebelah tangan Kang Giok-long. Cepat ia

hendak menendang, tapi baru saja kaki terangkat, tahu-tahu dengkulnya terasa kaku

kesemutan dan tak dapat bergerak lagi.

“Hehe, semoga wajah nona cantik molek, kalau tidak tentu Cayhe akan merasa kecewa,”

kata Giok-long dengan tertawa.

“Lep … lepaskan!” teriak si nona baju hitam dengan suara parau.

Dengan sendirinya Giok-long tidak mau melepaskan pegangannya, waktu sebelah tangannya

bergerak maju, sebisanya si nona mendongakkan mukanya ke belakang, walaupun begitu

akhirnya kain hitam yang menutupi mukanya itu toh tersingkap juga oleh Kang Giok-long.

Di bawah cahaya bintang yang remang-remang tertampaklah wajahnya dan kelihatan pula

matanya yang besar itu.

Seketika Siau-hi-ji hampir menjerit.

Hay Ang-cu, nona baju hitam ini ternyata Hay Ang-cu adanya!

“Bagus, bagus! Memang benar seorang nona cantik,” ujar Giok-long dengan tertawa. “He,

dia!” tanpa terasa Li Beng-sing berteriak.

“Kau kenal dia?” tanya Giok-long.

“Dia inilah si nona pemain akrobat yang mengakibatkan kematian Pek-toako itu ….” seru Li

Beng-sing dengan suara serak. “Rupanya si pendek itulah bocah yang pernah kutempeleng

satu kali ini, pantas dia menuntut balas padaku dan hilang hendak menagih utang padaku.”

“Haha, bagus, bagus, anak murid Bwe-hoa-pang sampai-sampai menjadi pemain akrobat

kelilingan,” seru Giok-long dengan tertawa. “Demi menghindari musuh kalian ternyata sudi

melakukan pekerjaan yang rendah itu, untuk ini betapa pun aku sangat kagum.”

Segera si baju hitam tinggi besar itu pun menarik kedoknya, betul juga, dia memang Hay

Si-tia adanya. Dengan menggereget dia berteriak, “Lepaskan tangannya!”

“Tidak sukar untuk melepaskan tangannya,” jawab Giok-long, “tapi aku ingin tanya lebih

dulu padamu, siapakah orang yang tempo hari sekali pukul membinasakan Pek-kongcu itu?

Saat ini dia berada di mana?”

“Kau ingin mencari dia?” teriak Hay Ang-cu dengan nyaring. “Huh, agaknya kau sedang

mimpi!”

“O, mimpi? ….” Giok-long tersenyum sambil mengencangkan genggamannya, kontan Hay

Ang-cu meringis kesakitan sehingga air mata pun berlinang-linang.

Tapi sekuatnya ia bertahan, jeritnya dengan menggereget, “Orang macam kau ini kalau

dibandingkan dia, huh, mungkin menjadi kacungnya saja tidak sesuai.” Bicara sampai

kalimat terakhir, terdengar suaranya menjadi gemetar, jelas dia menahan rasa sakit,

namun begitu mati pun dia tak mau tutup mulut.

Dengan murka Hay Si-tia meraung terus menghantam punggung Kang Giok-long dengan

kepalan yang kuat.

Sama sekali Kang Giok-long tidak menoleh, tubuhnya tetap tegak seperti tidak bergerak,

tapi tahu-tahu tangan Hay Si-tia sudah terjepit di bawah ketiaknya sehingga tak dapat

berkutik lagi.

Tampaknya Hay Si-tia membetot-betot tangannya sehingga urat hijau tampak merongkol

di dahinya disertai butiran keringat, tangannya mungkin serasa terjepit oleh tanggam

seakan-akan patah.

Dahulunya Hay Si-tia juga pernah malang melintang di dunia Kangouw, tapi sekarang

menghadapi seorang anak muda begini ternyata tak bisa berkutik sama sekali, ia menjadi

putus asa, ia menghela napas panjang dan berkata, “Sudahlah, aku ….”

Belum lanjut ucapannya tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan suara memilukan, “O,

betapa sakit Sin-kin-hiatku. Kang Giok-long, ayolah bayar kembali jiwaku!”

Suaranya tajam seram seperti rintihan hantu. Menyusul mana sesosok bayangan lantas

melayang tiba dari semak alang-alang tepi sungai.

Di tengah malam remang-remang tertampak rambut orang semrawut tak teratur, sekujur

badan berlepotan minyak, keadaannya lebih mirip setan daripada mirip manusia, tubuhnya

kelihatan melayang mengambang tidak menempel tanah. Jerit suaranya ngeri memilukan

sehingga membuat setiap orang yang melihatnya mustahil takkan berkeringat dingin

ketakutan.

Tentu saja Kang Giok-long juga mengkirik, dengan suara bengis ia tanya, “Kau … kau

siapa?”

“Bangsat berhati keji,” damprat Siau-hi-ji dengan terkekeh-kekeh. “Selamanya kita tiada

permusuhan apa-apa, tapi di dapur restoran Su-hay-jun itu kau tega membinasakan aku,

sekarang kau harus ganti nyawaku.”

Pegangan Kang Giok-long pada tangan Hay Ang-cu kini sudah dilepaskan, dia mulai mundurmundur

ke belakang, serunya dengan tergagap, “Kau … kau ….”

Orang seperti Kang Giok-long sebenarnya tidak mungkin percaya tentang setan iblis

segala, tapi kini mau tak mau dia harus percaya, soalnya dia yakin dirinya memang pernah

menutuk Hiat-to mematikan si koki dan jelas orang itu pasti tewas, padahal kejadian di

dapur Su-hay-jun itu tidak dilihat oleh orang lain. Lalu siapa “orang” ini kalau bukan

setan?

Begitulah gigi Kang Giok-long sampai gemertuk sehingga tidak sanggup bicara lagi.

Melihat jagonya ketakutan sedemikian rupa, tanpa kuasa Li Tik bertiga juga ikut mundurmundur

ke belakang.

“Hehe, kau ingin lari?” jengek Siau-hi-ji dengan suara seram. “Hah, kau takkan mampu

lari, tak mungkin, ayolah lekas serahkan jiwamu!”

Sambil menyeringai dia terus mendesak maju setindak demi setindak, jalannya sengaja

dibuat goyang ke kanan dan doyong ke kiri seakan-akan roboh tertiup angin.

Sudah tentu munculnya Siau-hi-ji sangat menarik perhatian Hay Ang-cu, ia

memandangnya dengan terbelalak, sekonyong-konyong ia berseru, “He kau! Kiranya kau,

Siau-ngay?”

Meski lahiriah Siau-hi-ji telah berubah, tapi sepasang matanya, sorot mata yang telah

terukir di dalam lubuk hati Hay Ang-cu, kedipan mata yang takkan terlupakan selama

hidupnya ini tentu saja segera dikenalinya.

Tapi begitu dia berteriak menegur, segera pula ia menyadari kesalahannya, namun sudah

telanjur dan tak dapat diurungkan lagi.

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh urusan pasti akan runyam.

Benar saja, Kang Giok-long yang cerdik itu segera melihat di balik kejadian ini ada

sesuatu yang tidak beres, mendadak ia bertindak, cepat sekali ia menubruk maju, dengan

enteng dia melancarkan tujuh kali pukulan secara berantai.

Melihat perubahan aneh itu serta menyaksikan pukulan Kang Giok-long yang lihai itu, Hay

Si-tia dan kedua anaknya menjadi kaget, bahkan diam-diam Hay Ang-cu berkhawatir bagi

si tolol yang dirindukannya.

Tapi Siau-hi-ji ternyata tidak gentar, ia mendengus, “Hm, masih juga kau ingin

membunuhku lagi.”

Dengan tenang Siau-hi-ji berdiri di tempat, tubuhnya seperti tidak bergoyang, pada

hakikatnya dia tidak menghindar, tapi beberapa kali pukulan Kang Giok-long itu ternyata

tidak mengenai sasarannya, bahkan ujung baju saja tidak menyenggol.

Tentu saja semua orang melongo heran, Kang Giok-long sendiri juga cemas dan gentar,

mendadak ia meraung, kembali ia melancarkan pukulan tujuh kali, serangan semakin cepat

dan tambah ganas.

Namun Siau-hi-ji tetap tidak bergerak sama sekali dan pukulan Kang Giok-long tetap

tidak mampu menyentuhnya.

“Betapa pun kau serang juga takkan mampu membunuhku lagi, apakah sekarang kau masih

tidak percaya?” jengek Siau-hi-ji.

Tubuh Kang Giok-long tampak gemetar, jidatnya sudah penuh butiran keringat, para

penonton yang menyaksikan kejadian luar biasa ini pun ikut terkesima.

Maklumlah, mereka adalah jago silat pilihan semua, mereka tahu ilmu pukulan Kang Gioklong

yang hebat dan lihai itu, bahwa seorang dapat berdiri tanpa bergerak dan empat

belas pukulan itu dapat dihindarinya, betapa kejadian ini sukar dibayangkan.

Akan tetapi “orang” ini justru sanggup berbuat demikian, belasan kali serangan Kang Gioklong

itu benar-benar mengenai tempat kosong, ini disaksikan dengan mata kepala mereka

sendiri, mana bisa tidak percaya? Mana bisa tidak membuat mereka keder?

Dengan sendirinya mereka tidak tahu bahwa ilmu pukulan Kang Giok-long itu berasal dari

satu sumber dengan kepandaian Siau-hi-ji, cuma pengetahuan Siau-hi-ji jauh lebih

mendalam daripada Kang Giok-long.

Kitab pusaka ilmu silat itu memang telah dibaca bersama oleh kedua orang, namun

kecerdasan dan daya ingat Siau-hi-ji jauh lebih baik daripada Kang Giok-long, apalagi

selama dua tahun ini Kang Giok-long sudah terkenal sebagai pendekar muda, putra Kanglam-

tayhiap Kang Piat-ho yang termasyhur itu, dengan sendirinya dia jarang berlatih,

sebab itulah setiap pukulan Kang Giok-long segera diketahui oleh Siau-hi-ji sebelum

serangan tiba. Asalkan Siau-hi-ji memperhitungkan dengan tepat arahnya, maka dengan

sedikit mengegos saja pukulan Kang Giok-long lantas luput.

Mata Hay Ang-cu terbelalak lebar dengan air mata berlinang-linang, namun bukan lagi air

mata kesedihan melainkan air mata kejut dan girang, air mata gembira.

Dilihatnya Siau-hi-ji mulai mendesak maju setindak demi setindak, Kang Giok-long juga

mundur setindak demi setindak, kaki tangan seakan-akan sudah lemas seluruhnya, sedikit

pun tiada keberanian untuk balas menyerang.

Dengan sendirinya Li Tik bertiga menyingkir mundur terlebih jauh, mundur punya mundur

dan akhirnya lantas lari.

Mendadak Kang Giok-long meloncat setingginya ke atas, dia berjumpalitan sekali di udara,

habis itu ia pun lari terlebih cepat daripada Li Tik bertiga.

Siau-hi-ji tidak mengejarnya, ia tertawa sambil memandangi bayangan mereka, gumamnya,

“Aku tidak ingin membunuh …, sungguh aku tidak ingin membunuhmu.”

Dalam pada itu Hay Ang-cu telah memburu maju, jeritnya dengan suara gemetar, “Siaungay,

kutahu kita pasti akan bertemu lagi, kutahu ….”

Siau-hi-ji tergelak-gelak, katanya, “Siau-ngay siapa? … aku ini setan … setan .…”

mendadak ia melayang mundur jauh ke belakang, waktu ia berjumpalitan pula di udara,

“plung”, tahu-tahu ia jatuh ke tengah sungai.

Hay Ang-cu memburu sampai di tepi sungai, ia menangis sedih dari menjerit, “Siau-ngay …

Siau-ngay … kalau engkau tidak sudi bertemu lagi denganku, untuk apa pula datang ke

sini? Jika kau berharap menemuiku, mengapa kau pergi lagi setelah bertemu? Kenapa …

kenapa? ….”

Hay Si-tia menghela napas panjang, katanya, “Kenapa? Memangnya siapa yang dapat

memberi penjelasan berbagai persoalan orang hidup di dunia ini? Anak Ang, sudah sejak

mula kukatakan padamu agar sebaiknya kau lupakan dia, kalau tidak kau sendiri pasti akan

menderita selamanya ….”

*****

Malam sudah larut, sedapatnya Siau-hi-ji mengendurkan seluruh urat anggota badannya

dan membiarkan dirinya terapung di permukaan air. Air sungai yang dingin menyerupai

sebuah ranjang baginya. Bintang berkelip-kelip bertaburan di langit, ia merasa sangat

nyaman.

Betapa pun ia sudah melihat orang yang ingin dilihatnya, walaupun perubahan mereka

membuatnya terkejut dan heran, meski dia hanya melihatnya barang sejenak saja, tapi ini

sudah cukup baginya. Ia merasa kalau melihatnya lebih lama mungkin malah akan berubah

menjadi bosan.

Persoalan yang membuatnya curiga selama beberapa hari kini pun dapat dipecahkan

olehnya. Pemuda baju ungu bermuka pucat itu memang betul bersekongkol dengan Kang

Giok-long, sedangkan Kang Giok-long jelas adalah peran utama di belakang layar Siangsay-

piaukiok.

Dengan demikian, maka persoalan Tio Coan-hay dan Le Hong yang keracunan itu menjadi

tidak perlu diherankan lagi. Arak yang mereka minum itu sudah pasti dituang oleh pemuda

muka pucat itu.

Begitulah Siau-hi-ji merenungkan semua kejadian itu dan ketika mendadak terasa ada

beberapa batang gala bambu sama meraih tubuhnya.

Semula ia kaget, tapi segera teringat olehnya, “Mungkin mereka mengira aku ini orang

yang mati tenggelam, maka berusaha hendak menolongku.” Diam-diam ia merasa geli, maka

dia sengaja memejamkan mata sekalian.

Terasa beberapa orang menyeretnya ke atas perahu, seorang meraba dadanya, lalu

berseru, “Hah, panjang juga nyawa bocah ini, untung dia ketemu kita, belum sampai mati

tenggelam.”

Lalu ada orang mencekoki dia dengan semangkuk kuah hangat, ada pula yang mengurut

anggota badannya.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring berkata, “Orang macam apa yang tertolong itu? Coba

kulihat.”

Segera Siau-hi-ji merasa tubuhnya digotong orang, tapi ia pun malas membuka mata, tapi

terasa cahaya lampu yang menyilaukan, agaknya dia telah diantar masuk ke dalam kabin

kapal.

Suara nyaring lantas berkata pula, “Orang itu sudah mati ataukah masih hidup?!”

“Hidup!” mendadak Siau-hi-ji membuka mata sambil berteriak tertawa.

Begitu dia pentang mata segera dilihatnya seorang lelaki tinggi besar dengan dada baju

setengah tersingkap, kopiahnya setengah miring, sebelah kaki terangkat tinggi di atas

kursi sebelahnya, tangan memegang sebuah Huncwe (pipa tembakau) yang panjang dan

besar.

Dengan pipa cangklong itu dia tuding Siau-hi-ji, lalu berseru pula, “Jika orang hidup,

mengapa kau pura-pura mati?”

Belum lagi Siau-hi-ji menjawab, tiba-tiba diketahuinya dada “lelaki” ini terjumbul tinggi,

pinggangnya ramping, meski alis tebal dan mata besar, tapi wajahnya tidaklah jelek.

“Lelaki” ini ternyata seorang perempuan, bahkan kalau perawakannya diperkecil sedikit,

malahan dia tergolong perempuan cantik. Cuma sekarang dia terhitung perempuan gede,

kuda teji, kalau boleh diberi poyokan, atau kalau menurut ukuran sepatu jaman kini,

sedikitnya dia lebih besar dua nomor daripada ukuran perempuan normal.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas menjawab, “Bilamana kau ini perempuan, mengapa pula

kau berdandan sebagai lelaki?”

Seketika nona besar itu mendelik, dampratnya, “Kau tahu tidak siapa diriku?”

“Peduli kau ini lelaki atau perempuan, yang jelas kau ini manusia,” ucap Siau-hi-ji dengan

tertawa. “Kukira kau sukar mendapatkan jodoh sekalipun kau sudah banting harga, kalau

kau bersikap pula segalak ini, wah, siapa lagi yang berani melamarmu?”

Mulut Siau-hi-ji memang usil dan tajam, selama dua tahun terakhir ini sedapatnya dia

mengekang diri, tapi setelah muncul kembali toh penyakitnya ini sukar diperbaiki. Apa

mau dikatakan lagi kalau memang dasar wataknya begitu.

Si nona gede itu menjadi gusar, bentaknya sambil gebrak meja, “Kau berani bicara

demikian padaku?”

Beberapa orang yang menggotong masuk Siau-hi-ji tadi menjadi ketakutan juga melihat

sang nona marah-marah, serentak mereka berjaga-jaga di belakang Siau-hi-ji.

Tapi Siau-hi-ji berlagak tidak tahu, ia masih tertawa dan berkata, “Mengapa tidak

berani? Asal kau ini manusia, betapa pun aku tidak ….”

Belum habis ucapannya, beberapa orang itu menyela, “Inilah juragan putri kami, putri

kesayangan Toan-lothaya, orang Kangouw menyebutnya ‘Li-beng-siang’(Beng-siang wanita),

tentu kau pun pernah mendengar namanya, maka cara bicaramu hendaklah hati-hati dan

sopan sedikit.”

“O, kiranya kau ini putri Toan Hap-pui,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Bukankah

ayahmu hendak mengirim suatu partai keuangan ke Kwan-gwa?”

Nona gede yang berjuluk Li-beng-siang (Beng-siang adalah seorang dermawan di jaman

Ciankok) itu berkerut kening, tanyanya, “Dari mana kau tahu?”

Siau-hi-ji berkerut-kerut hidung, lalu bertanya pula, “Muatan bahan obat-obatan ini

apakah kau angkut dari Kwan-gwa?”

Mata Li-beng-siang terbelalak lebih lebar, serunya, “Dari mana kau tahu kapal ini memuat

bahan-bahan obat-obatan?”

Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Bukan saja aku tahu kapal ini memuat obat-obatan, bahkan

kutahu obat-obat ini adalah Jinsom, Kuibwe, Lokka, Ngokacu ….” sekaligus ia menyebut

serentetan nama obat-obatan dan ternyata cocok dengan isi muatan kapal ini, sedikit pun

tidak keliru.

Sudah tentu orang lain tidak tahu bahwa Siau hi-ji ini dibesarkan di tengah onggokan

obat-obatan, jangankan cuma beberapa macam obat-obatan yang jamak ini, sekalipun

seluruh obat-obatan di dunia ini dicampur-aduk menjadi satu juga dapat diendus olehnya.

Sekarang dia dapat menerangkan nama semua obat itu, keruan semua orang sama melongo

heran.

Sorot mata Li-beng-siang tampak berbinar gembira, dia mengisap tembakaunya dalamdalam,

“berr”, mendadak ia semburkan asapnya ke muka Siau-hi-ji, lalu berkata dengan

kalem, “Tak tersangka kau bocah ini ternyata ahli dalam hal obat-obatan.”

Air mata Siau-hi-ji hampir saja merembes karena pedas oleh asap tembakau itu, ia kucekkucek

matanya dan berkata dengan tertawa, “Aku ini bukan saja ahli dalam hal obatobatan,

bahkan kuberani menyatakan jarang ada ahli yang lebih ahli daripadaku. Jika kau

ini benar-benar Li-beng-siang, seharusnya kau mengundang aku ke perusahaan obatmu

dengan segala kehormatan.”

Li-beng-siang mengisap pula tembakaunya, sekali ini asapnya tidak disemburkan lagi ke

muka Siau-hi-ji melainkan cuma diembuskan dengan perlahan, habis asap tembakau

terembus barulah mendadak ia bangkit dan melangkah ke dalam sambil berkata kepada

anak buahnya, “Berikan dia tukar pakaian dan antar dia ke Ging-ih-tong.”

*****

“Ging-ih-tong” adalah nama rumah obat paling besar di kota Ankhing, bahkan terbesar di

wilayah propinsi Anhwi. Oleh Li-beng-siang, putri kesayangan Toan Hap-pui itu, Siau-hi-ji

ditempatkan di rumah obat atau apotek menurut istilah sekarang dan dijadikan kepala

gudang merangkap sebagai apoteker.

Pekerjaan Siau-hi-ji cukup lengang, dia tidak perlu ke bagian depan, makanya tidak perlu

khawatir dikenali orang. Setiap hari dia hanya menimbang obat-obatan yang diperlukan

menurut resep dan mencocokkan sisa persediaan, selebihnya dia boleh dikatakan

menganggur.

Baru sekarang ia tahu bahwa Toan Hap-pui itu adalah hartawan paling kaya di sekitar

lembah Tiangkang, semua perusahaan yang paling banyak mengeduk keuntungan di daerah

ini hampir seluruhnya dimonopoli olehnya.

Dan “Li-beng-siang” itu adalah putrinya yang tunggal, konon dia mempunyai dua orang

kakak, tapi sudah mati sejak kecil, makanya orang menyebutnya “Samkohnio” atau si nona

ketiga.

Samkohnio itu sering datang ke Ging-ih-tong, tapi dia tidak menggubris Siau-hi-ji, maka

Siau-hi-ji juga tidak menggubris dia, meski Siau-hi-ji tahu si nona gede itu tampaknya

galak, tapi sesungguhnya hatinya tidak jelek.

Anehnya semakin Siau-hi-ji tidak menggubris dia, kedatangan si nona gede ke rumah

obatnya juga tambah sering, terkadang satu hari datang dua-tiga kali, tapi sekejap saja

dia tetap tidak memandang Siau-hi-ji dan dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tidak ambil

pusing, hanya diam-diam ia merasa geli saja.

Suatu hari Siau-hi-ji sedang berbaring di kursi malasnya berjemur sinar matahari, sinar

matahari di permulaan musim dingin terasa sangat nyaman sehingga saking nikmatnya

Siau-hi-ji hampir terpulas.

Tiba-tiba Samkohnio itu mendekati dia, dengan pipa cangklongnya dia ketok sandaran

kursi dan berkata, “Hai, bangun!”

Dengan kemalas-malasan Siau-hi-ji membuka matanya dan menjawab, “Kau bicara dengan

siapa?”

“Di sini selain kau masakah ada orang lain?” ucap Samkohnio.

“Tapi namaku bukanlah ‘Hei’,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Samkohnio jadi mendelik, tapi ia lantas tergelak-gelak, katanya, “Eh, ingin kutanya kau

tentang pengiriman uang ayahku ke Kwan-gwa seperti pernah kau katakan itu, dari mana

kau mendapat tahu?”

“Memangnya ada apa dengan pengiriman uang itu?” tanya Siau-hi-ji.

“Telah dirampok orang di tengah jalan,” tutur Samkohnio dengan dingin.

Seketika mata Siau-hi-ji terbelalak, cepat ia bangun duduk dan berkata, “Telah dirampok

orang? Memangnya pengiriman itu tidak dikawal oleh ‘Siang-say-piaukiok’?”

“Justru Siang-say-piaukiok yang mengawalnya,” jawab Samkohnio.

Tanpa terasa Siau-hi-ji meraba hidungnya sambil bergumam, “Aneh! Jika dikawal oleh

Siang-say-piaukiok, mengapa kena dirampok orang pula? ….”

“Memangnya barang kawalan Siang-say-piaukiok tidak mungkin dirampok orang?” jengek

Samkohnio. “Hm, kulihat kedua orang she Li itu pada hakikatnya adalah kantong nasi

belaka, hanya pandai gegares tapi tak bisa bekerja.”

“Meski orang she Li itu kantong nasi,” ujar Siau-hi-ji, “masih ada orang lain bukanlah

kantong nasi.”

“Siapa?” tanya Samkohnio.

“Di dalam persoalan ini tentu banyak seluk-beluknya, cuma kau sendiri yang tidak tahu,

malahan aku … ai, aku sendiri pun tidak tahu.”

“Kan omong kosong ocehanmu ini,” omel Samkohnio dengan mendelik.

Setelah berpikir sejenak, kemudian Siau-hi-ji bertanya, “Orang macam apakah yang

merampok itu, apakah kau tahu?”

“Kiriman itu tiba-tiba hilang di tengah malam, pintu tak terbuka, jendela tak terpentang,

penjaga juga tidak melihat apa-apa, bahkan suara kentut pun tidak terdengar dan tahutahu

barang kiriman itu lantas terbang hilang seperti bersayap.”

“Ini benar-benar peristiwa aneh,” ujar Siau-hi-ji. “Kukira kawanan perampok itu bisa ilmu

sihir atau mata telinga orang-orang Siang-say-piaukiok yang mengawal itu memang cacat.”

“Jika begitu, mereka sendiri yang akan rugi,” ucap Samkohnio.

“Memangnya mereka harus mengganti?”

“Tentu, biarpun menggadaikan celana juga harus ganti,” jengek si nona gede.

Siau-hi-ji meraba-raba hidungnya pula dan bergumam, “Sungguh aneh, tadinya kukira

pihak Siang-say-piaukiok yang maling teriak maling, tapi kalau mereka harus ganti rugi,

lalu apa sebabnya bisa terjadi begini?”

“Sebabnya mereka adalah kantong nasi semua, makanya barang kawalan mereka kena

dirampok begitu saja, teori ini kan sangat sederhana?”

“Tampaknya memang sangat sederhana, tapi bisa jadi di balik layar urusannya teramat

ruwet.”

“Apa artinya?” tanya Samkohnio.

“Aku pun tidak tahu apa artinya,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Samkohnio terbelalak memandangi anak muda itu, memandangi senyumannya, sampai

sekian lama, tiba-tiba ia berteriak, “Sesungguhnya kau ini orang pintar atau orang

bodoh?”

Siau-hi-ji menghela napas panjang, ia membalik tubuh dan membenamkan kepalanya ke

bawah siku, ucapnya dengan tak acuh, “Jika aku ini orang bodoh, tentu kehidupanku akan

terlalui dengan gembira.”

*****

Esoknya, cuaca cukup cerah, sang surya tetap bersinar menghangat. Kembali Siau-hi-ji

berbaring di kursinya dan berjemur sinar matahari.

Sekujur badannya terasa kendur seluruhnya seakan-akan tak bertulang, ia berbaring

dengan tenang-tenang seperti tidak pernah memikirkan sesuatu. Padahal sesungguhnya

benaknya sedang bekerja keras dan tidak sedikit yang dipikirkannya.

Walaupun banyak persoalan yang dipikirkannya, tapi jika diringkas dan diperas

kesimpulannya hanya dua kalimat saja, yakni “Mengapa barang kiriman itu kena dirampok?

Siapa yang merampoknya?”

Pertanyaan itulah yang belum dapat dipecahkannya.

Dalam pada itu, Samkohnio yang dibikin pergi dengan mendongkol itu ternyata datang

pula.

Sambil memicingkan sebelah mata Siau-hi-ji memandang nona itu, terlihat sikapnya

sangat gembira, dengan tergesa-gesa ia mendekati Siau-hi-ji dan berseru, “He, kau

salah!”

Sebenarnya Siau-hi-ji malas untuk mengubrisnya, tapi demi mendengar seruan itu, mau

tak mau ia lantas membuka mata dan bertanya, “Dalam hal apa aku salah?”

“Persoalan itu ternyata semakin sederhana, sedikit pun tidak ruwet,” kata Samkohnio

“O?!” singkat saja suara Siau-hi-ji.

Mata si nona tampak bersinar, katanya pula, “Baru saja kuterima berita, katanya barang

kiriman itu sudah dapat dirampas kembali.”

“Dirampas kembali oleh siapa?” tanya Siau-hi-ji dengan terbelalak.

“Usia orang itu kira-kira sebaya denganmu, tapi kepandaiannya jauh lebih hebat

daripadamu,” tutur Samkohnio. “Apabila kau tidak malas begini, bisa jadi kau akan

mencapai sepertiganya.”

Serentak Siau-hi-ji melompat bangun, katanya, “Yang kau maksudkan apakah Kang Gioklong?”

Samkohnio melengak, “Dari mana kau tahu?” tanyanya heran.

“Kutahu, tentu saja kutahu … segala apa pun kutahu … Hahaha!” mendadak Siau-hi-ji

bergelak tertawa.

Melihat anak muda itu ya tertawa, ya berteriak, ya berjingkrak, Samkohnio jadi

terkesima malah. Akhirnya ia tidak tahan dan berkata, “Apakah kau ini orang gila?”

“Jika benar aku gila, tentu ada sementara orang akan hidup lebih gembira,” sahut Siau-hiji

dengan tertawa. Sekonyong-konyong ia meloncat dan mencium pipi Samkohnio,

maklumlah dia jauh lebih pendek dari pada si nona. Habis itu ia lantas berseru pula, “Cuma

sayang aku bukan orang gila, makanya hari apes mereka kini pun sudah dekat.”

Sambil berkeplok dan tertawa gembira, Siau-hi-ji terus membalik tubuh dan lari ke dalam

gudang obat.

Samkohnio meraba pipinya yang baru di-”ngok” oleh Siau-hi-ji, ia pandang anak muda itu

dengan mata terbelalak seperti orang melihat sesuatu makhluk aneh. Sampai lama sekali,

mendadak ia menggigit bibir dan tersenyum penuh arti, ia bergumam sendiri, “Si gila cilik

… kau benar-benar si gila cilik.”

Siau-hi-ji sudah berada di kamarnya, di dalam kamar telah dinyalakan pelita minyak,

karena cuma memakai satu sumbu, maka cahaya pelita itu tidak cukup terang.

Dengan terkesima Siau-h-ji memandangi sumbu api pelita, ia tersenyum dan bergumam,

“Kang Giok-long, kau ternyata sangat cerdik, kau pura-pura membuat uang kiriman itu

dirampok, habis itu kau sendiri berlagak seperti berhasil merampasnya kembali ….

Perkara kejahatan yang penuh rahasia itu ternyata dapat kau pecahkan dengan mudah

saja, maka siapakah orang Kangouw yang takkan kagum padamu, siapa pula yang tahu

bahwa semua ini tidak lebih adalah permainan sandiwara dirimu sendiri.”

Ia menghela napas gegetun, lalu menyambung pula, “Tapi masih ada diriku … Kang Gioklong,

semoga jangan kau lupakan bahwa di dunia ini masih ada diriku. Biarpun isi perutmu

penuh akal muslihat, tapi tiada suatu pun akalmu yang licin itu mampu mengelabui aku.”

Malam sudah larut, suasana hening, hanya angin mendesir memecah kesunyian.

Tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan suara tertahan, “He, si gila cilik, lekas

keluar!”

Cepat Siau-hi-ji membuka daun jendela, dilihatnya Toan-samkohnio berdiri di luar dengan

memakai mantel merah.

Ia mengernyit dahi, katanya, “Si gila perempuan, tengah malam buta untuk apa kau bikin

ribut? Jika kau ingin dicium lagi, sedikitnya kau harus tunggu sampai besok pagi.”

Muka Samkohnio ternyata menjadi merah juga, namun tidak marah. Ia hanya menggigit

bibir, lalu berkata, “Ada … ada urusan penting harus kuberitahukan padamu.”

“Urusan penting apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Persoalan itu ternyata tidak begitu sederhana,” ucap Samkohnio dengan gegetun.

Mata Siau-hi-ji terbeliak, ia menegas, “Kau mendapatkan berita lain pula?”

“Ya, baru saja kuterima kabar lagi bahwa … bahwa barang kiriman itu kembali dirampok

orang pula.”

Tanpa memakai sepatu Siau-hi-ji lantas melompat keluar. Sekali ini dia benar-benar

terkejut. “Apakah betul kabar yang kau terima ini?” tanyanya.

“Tentu saja betul, sedikit pun tidak bohong,” jawab Samkohnio.

Siau-hi-ji gosok-gosok tangannya dan bergumam, “Barang kiriman kembali dirampok

orang, betapa pun hal ini tidak mungkin terjadi. Aku benar-benar tidak dapat mengerti ….

Eh, kau tahu siapa yang merampoknya?”

Samkohnio menghela napas, jawabnya, “Belum diketahui.”

“Memangnya barang kiriman itu hilang mendadak di tengah malam pula? Apakah para jago

pengawal dari Siang-say-piaukiok itu kembali suara kentut pun tidak mendengar dan tahutahu

barang yang mereka jaga sudah lenyap? Apakah mungkin mereka sedang main

sandiwara pula? Tapi bukankah cara demikian ini terlalu bodoh? Orang pintar seperti

mereka itu mana bisa melakukan perbuatan sebodoh ini?”

“Tapi sekali ini keadaannya sama sekali berbeda dengan kejadian pertama,” ucap

Samkohnio.

“Beda bagaimana? Apakah hilangnya uang kiriman ini mereka tidak perlu memberi ganti

rugi lagi?”

“Ya, betul, mereka memang tidak perlu memberi ganti rugi lagi.”

“Sebab apa?” teriak Siau-hi-ji sambil melonjak.

Sorot mata Samkohnio menjadi sayu, katanya, “Sebab segenap jago pengawal Siang-saypiaukiok,

dari petugas yang rendah sampai pejabat pimpinan, seluruhnya sembilan puluh

delapan orang kini telah mati semua, hanya tersisa seorang saja, yaitu tukang kuda yang

biasa memberi makan pada kuda.”

Siau-hi-ji mendekap kepalanya dan termenung sampai sekian lamanya, tiba-tiba ia

berseru, “Dan bagaimana dengan Kang Giok-long itu?”

“Kang Giok-long bukan orang perusahaan pengawalan Siang-say-piaukiok.”

“Tapi semula kan dia yang merampas kembali barang kiriman itu, dia … dia tidak ….”

“Setelah berhasil merampas kembali barang kiriman itu dia lantas undurkan diri dengan

berjasa, bukankah cara demikian sesuai tingkah laku seorang ksatria sejati, seorang

pahlawan tulen?!”

Siau-hi-ji terkekeh-kekeh, jengeknya, “Hm, hebat amat ksatria sejati, pahlawan tulen!

Bisa jadi sebelumnya dia sudah tahu barang kiriman bakal dirampok lagi, makanya dia

lantas mengeluyur pergi.”

“Maksudmu … perampokan kedua kalinya itu dilakukan oleh bandit yang sama pada

perampokan pertama kalinya?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, jawabnya, “Masa tidak mungkin begitu?”

“Tidak mungkin,” kata Samkohnio.

“Sebab apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Orang yang merampok pada pertama kali itu sudah terbunuh semua oleh Kang Giok-long,

waktu dia pulang dengan membawa harta kiriman itu diantar bersama dengan kepala

bandit itu.”

“Akal bagus! Sungguh akal yang keji!” Siau-hi-ji berkeplok tangan.

Samkohnio menatapnya tajam-tajam, lalu berkata pula dengan perlahan, “Apalagi

perampokan kedua kalinya hanya dilakukan oleh seorang saja … sembilan puluh delapan

jiwa jago pengawal Siang-say-piaukiok terbinasa seluruhnya di tangan seorang ini.”

“Hanya satu orang?” Siau-hi-ji menegas. “Hanya satu orang dalam semalam saja sekaligus

menghabiskan sembilan puluh delapan nyawa? Siapakah gerangan begitu kejam di dunia

Kangouw ini yang memiliki pula akal selihai itu?”

“Konon orang itu adalah seorang kakek berewok yang jenggot alisnya sudah beruban ….”

“Siapa yang melihatnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Dengan sendiri si tukang kuda yang lolos dari lubang jarum itu.”

“Jika begitu dia ….”

“Begitu dia mendengar jeritan pertama segera dia sembunyi di balik onggokan rumput

makanan kuda,” sela Samkohnio. “Didengarnya suara jeritan susul menyusul terjadi di

dalam rumah dan berlangsung dalam waktu singkat ….”

“Cepat amat gerakan goloknya!” seru Siau-hi-ji.

“Ya, meski tidak lama berlangsungnya pembunuhan itu, habis itu dia lantas melihat

seorang kakek berewok tinggi besar keluar dari rumah dengan membawa golok sambil

terbahak-bahak puas. Kakek itu memakai baju warna muda, tapi kini telah berubah

menjadi merah berlepotan darah.”

“Hm, teliti amat cara melihat tukang kuda itu,” jengek Siau-hi-ji.

“Hanya dua-tiga kejap saja dia memandang, lalu tidak berani melihatnya. Dia terus

sembunyi di situ hingga pagi baru merangkak keluar, antero pakaiannya juga sudah basah

kuyup oleh keringat dinginnya.”

Siau-hi-ji meraba dahi dan berkata pula dengan acuh, “Ceritamu ini seperti ki dalang yang

sedang mendongeng, setiap kejadian yang kecil-kecilan juga diuraikan dengan jelas dan

menarik …. Seorang yang baru lolos dari renggutan maut masih sanggup melukiskan apa

yang dilihatnya dengan begitu jelas, tukang kuda itu sungguh hebat dan cermat.”

“Ya, waktu kudengar itu aku pun merasakan dia teramat cermat,” ujar Samkohnio dengan

tertawa cerah.

“Bilakah kau mendengar berita itu?”

“Kira-kira setengah jam yang lalu.”

“Bilamana terjadi perampokan kedua itu?”

“Kemarin malam.”

“Masa beritanya bisa datang secepat itu?”

“Berita merpati pos,” tutur Samkohnio. “Di Ankhing sini pusatnya, beberapa ribu li

sekeliling sini, di tujuh sembilan kota besar kecil tersebar jaringan merpati pos keluarga

kami.”

“Dan begitu kau menerima berita itu segera kau memburu kemari untuk memberitahukan

padaku?”

Samkohnio mengiakan.

Mendadak Siau-hi-ji berteriak, “Lalu apa sangkut-pautku dengan urusan ini? Mengapa kau

terburu-buru memberitahukan padaku? Apakah kau terlalu iseng, di rumah tidak ada

pekerjaan?”

Melengak juga si nona gede, ia tergagap, “Ini … aku ….”

“Memangnya kau sangka aku ada hubungannya dengan kaum perampok itu?” seru Siau-hi-ji

dengan melotot.

“Tidak!” jawab Samkohnio sambil membanting kaki. “Bukan begitu maksudku.”

“Habis apa maksudmu?” tanya Siau-hi-ji.

Wajah Samkohnio menjadi merah dan ternyata tidak marah, bahkan dia menunduk, lalu

berkata dengan suara lirih, “Soalnya … kau adalah sahabatku, seseorang kalau menemukan

kejadian aneh tentu akan diberitahukan kepada sahabat sendiri ….”

“Sahabat?” teriak Siau-hi-ji. “Aku tidak lebih cuma seorang pegawaimu, mengapa kau

menganggap aku sebagai sahabatmu?”

Muka Samkohnio bertambah merah dan kepalanya semakin menunduk, jawabnya, “En …

entah, aku pun tidak tahu.”

Terbelalak Siau-hi-ji memandangi si nona hingga sekian lama, mendadak ia bergelak

tertawa.

“Ap … apa yang kau tertawakan?” tanya Samkohnio sambil menggigit bibir.

“Sejak kukenal kau sampai sekarang, baru detik ini bentukmu menyerupai seorang

perempuan!” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sambil tertunduk Samkohnio termangu-mangu di situ, tiba-tiba ia menangis keras-keras,

sekujur badannya serasa lemas lunglai, dia terus mendengkap lemari dan menangis dengan

sangat sedih.

Siau-hi-ji mengerut kening, tanyanya, “Apa yang kau tangiskan?”

“Sejak kecil hingga kini selamanya tak pernah ada yang memandang diriku sebagai

perempuan, sampai-sampai ayahku sendiri juga menganggap diriku sebagai anak lelaki,”

tutur Samkohnio dengan menangis. “Sedangkan aku … sudah jelas dan terang aku ini

perempuan.”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk, “Ya, seorang

perempuan kalau senantiasa dipandang orang sebagai anak lelaki, rasanya memang benarbenar

sangat tersiksa ….”

Sekonyong-konyong Samkohnio menjatuhkan dirinya di atas tubuh Siau-hi-ji sambil

menangis, katanya, “Hanya engkau, hanya engkau yang memandang diriku sebagai

perempuan, betul tidak?”

Sungguh lucu kelihatannya, seorang perempuan yang jauh lebih tinggi besar menangis

seperti anak kecil menggemblok di atas tubuhnya, tentu saja Siau-hi-ji serba susah.

“Ya, ya, kau memang seorang perempuan, dengan sendirinya kupandang kau sebagai

perempuan,” ucap anak muda ini.

Makanya aku … aku menganggapmu sebagai … sebagai sahabatku,” kata Samkohnio.

“Karena itu pula aku memberitahukan semua isi hatiku padamu, sebab selain kau di dunia

ini tiada orang yang memahami diriku. Mereka mengira aku ini galak dan kepala batu,

padahal … padahal aku pun anak perempuan, sama seperti anak perempuan lain-lainnya.”

“Betul, mereka memang betul sangat sulit memahami dirimu,” ujar Siau-hi-ji menghela

napas.

Tangis Samkohnio mulai berhenti, ia bersandar pada pundak Siau-hi-ji dan berkata,

“Sebenarnya juga tidak soal bagiku, hanya kesepian … kesepian yang mencekam itu

terkadang sangat menyiksa diriku dan rasanya akan gila, namun tiada seorang pun dapat

menjadi tempat tumpahan isi hatiku.”

“Ya, kau sesungguhnya seorang anak perempuan yang harus dikasihani,” kata Siau-hi-ji

gegetun.

“Baru sekarang kudengar ucapan demikian, seumpama segera mati juga aku rela,” keluh

Samkohnio.

“Tapi sedikit pun aku tidak bersimpati padamu,” kata Siau-hi-ji.

Samkohnio terhuyung-huyung sambil melotot, katanya dengan gemetar, “Kau … kau ….”

“Kau mengharapkan simpati orang lain padamu, minta dikasihani, begitukah?”

Seperti mau bicara si nona, tapi sukar diucapkan.

“Kau harapkan orang lain memandangmu sebagai anak perempuan, betul kan?”

“Aku memang anak perempuan, dengan sendirinya kuharap orang lain menganggap diriku

sebagai anak perempuan.”

“Jika kau ingin orang lain menganggapmu anak perempuan betul-betul, maka kau harus

bertingkah sebagai anak perempuan, tapi setiap hari kau memakai baju anak lelaki,

mengisap tembakau, sebelah kaki bertumpu di atas meja, kau lebih mirip kusir pedati.

Cara demikian mana bisa orang lain memandangmu sebagai perempuan.”

Samkohnio menerjang maju dan bermaksud memukul, tapi tangan terangkat dan tidak

dihantamkan, ia terkesima, sejenak kemudian ia menunduk lagi.

“Anak baik, pulanglah sana dan camkan apa yang kukatakan,” kata Siau-hi-ji. “Mengenai

barang kiriman itu saat ini aku tidak tahu apa-apa, tapi tidak sampai setengah bulan pasti

akan kuberitahukan duduk perkara yang sebenarnya.” Sambil bicara ia terus melompat

masuk ke kamar lagi dan menutup daun jendela, ia mencoba mengintip dari sela-sela

jendela, dilihatnya si nona masih termangu-mangu di situ, setelah termenung sekian

lamanya, akhirnya melangkah pergi juga.

Siau-hi-ji menggeleng kepala, sambil tersenyum getir ia bergumam, “Perempuan, mengapa

perempuan selalu bawel begini? Biarpun bangun tubuhnya seperti lelaki, tapi perempuan

tetap perempuan.”

*****

Malam ini Siau-hi-ji dapat tidur dengan nyenyak. Dia tidak memikirkan lagi peristiwa

perampokan barang kiriman Toan Hap-pui yang mencurigakan itu, sebab terhadap

kejadian ini dia sudah dapat menarik kesimpulan yang meyakinkan, soalnya hanya belum

dibuktikannya saja.

Tengah ia tidur dengan lelapnya, sekonyong-konyong beberapa orang menerobos ke dalam

kamarnya terus menyeretnya bangun, ada yang memakaikan baju, ada pula yang

mengenakan sepatu baginya.

Beberapa orang ini termasuk kuasa pertama dan kedua rumah obat ini. Mata Siau-hi-ji

masih sepat, dia kucek-kucek matanya yang masih belekan dan bertanya, “Belum tiba hari

gajian, untuk apa kalian menculik diriku?”

Sembari merapikan kancing baju Siau-hi-ji si kuasa kedua berkata dengan tertawa,

“Sungguh berita baik bagimu, hari ini Tuan Besar kita ternyata ingin bertemu denganmu.”

Si kuasa utama lantas menyambung, “Tuan Besar hampir tidak pernah menemui

pegawainya, tapi hari ini begitu sampai di Ankhing segera dia ingin bertemu denganmu?

Rupanya kau sedang mujur dan akan dapat rezeki nomplok.”

Dan begitulah, beramai-ramai Siau-hi-ji lantas diusung ke atas kereta, tidak lama

kemudian sampailah di depan sebuah rumah gedung yang sangat besar dan megah,

beramai-ramai Siau-hi-ji lantas digiring ke dalam.

Rumah ini terdiri dari berlapis-lapis, Siau-hi-ji disongsong oleh seorang kacung dan

dibawa masuk ke belakang, cukup lama barulah sampai di taman belakang. Di situlah ada

sebuah paviliun indah.

Kacung itu membisiki Siau-hi-ji, “Tuan Besar berada di dalam situ, beliau ingin kau masuk

sendiri saja.”

Siau-hi-ji ragu-ragu, ia merandek sejenak di luar pintu, akhirnya ia menyingkap kerai dan

melangkah ke dalam. Pandangan pertama segera dilihatnya Samkohnio sudah berada di

situ.

Dandanan Samkohnio hari ini sungguh jauh berbeda dari hari biasa. Pakaiannya tidak lagi

celana singsat dan baju ringkas, tapi memakai gaun berwiru ditambah baju sutera biru

berkembang putih, rambutnya juga sudah digelung.

Mukanya dibedaki dengan pupur tipis, gelung rambutnya dihiasi tusuk kundai dengan

mainan burung Hong bermata mutiara, anting-anting juga tidak ketinggalan gemandul di

daun telinganya.

Nona itu duduk tertunduk di situ dengan malu-malu kucing. Sekilas pandang Siau-hi-ji

hampir tidak mengenali dia sebagai Li-beng-siang Samkohnio.

Sebaliknya sudah jelas melihat Siau-hi-ji masuk ke situ, namun nona gede itu tetap tidak

angkat kepalanya, dia hanya melirik sekejap saja sambil menggigit bibir perlahan dan

kepalanya tertunduk semakin rendah.

Hampir saja Siau-hi-ji tertawa geli saking tak tahan kalau saja dia tidak melihat di situ

masih ada seorang lagi. Orang itu sangat aneh, sedang merangkak-rangkak di lantai.

Lantai dilapisi permadani Persia yang tebal, seorang gemuk dengan jubah yang longgar

tampak merangkak di lantai sehingga kalau dipandang sepintas lalu orang akan mengira

ada sebuah bola raksasa.

Di depan si gemuk itu ada sebuah kotak jamrud, kotak yang diukir dari sepotong batu

jamrud besar, nilainya sukar diperkirakan, tapi kotak semahal itu isinya ternyata dua ekor

jangkrik. Kiranya si gemuk lagi asyik mengadu jangkrik.

Siau-hi-ji lantas berjongkok juga di situ, setelah memandang sekian lama, dengan tertawa

ia menimbrung, “Si setan hitam mungkin algojo ….”

Si gemuk menoleh dan tertawa sehingga matanya menyipit hampir tidak kelihatan,

katanya, “Kau pun paham jangkrik?”

“Selain melahirkan anak, segala urusan aku paham,” sahut Siau-hi-ji.

Si gemuk terbahak-bahak, katanya, “Bagus, bagus sekali …. Eh, A Sam, apakah dia ini

orang yang kau katakan?”

Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa si gemuk ini dengan sendirinya adalah si hartawan

termasyhur Toan Hap-pui.

Samkohnio tampak menunduk malu-malu dan mengiakan dengan suara perlahan.

Toan Hap-pui tergelak-gelak lagi, ucapnya, “Bagus, bagus sekali, pandanganmu memang

tidak keliru.”

“Urusan apa ini?” Siau-hi-ji garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau jangan tanya, segala urusan serahkan saja padaku …. O, tarik bangun aku dulu, yang

kuat …. Ahhh, beginilah baru anak baik,” dengan susah payah, dengan bantuan Siau-hi-ji

barulah Toan Hap-pui dapat berdiri, tampaknya dia lebih payah daripada orang yang habis

berlari sepuluh li jauhnya, napasnya terengah-engah dan mulut megap-megap.

“Bagus, bagus sekali ….” dengan tertawa ia berkata pula pada Siau-hi-ji, “Apa kau gemar

makan Ang-sio-bak? Hah, biarpun Hi-sit, Yan-oh, Pauhi atau Him-cio segala, semuanya

omong kosong, yang paling lezat hanya Ang-sio-bak.”

Siau-hi-ji merasa bingung, tanyanya, “Sungguh aku tidak tahu ini ….”

Tapi cepat Toan Hap-pui memotongnya, “Kau tidak perlu tahu, segala apa tidak perlu tahu,

serahkan saja padaku, tanggung beres. Makanlah di sini, kokiku paling mahir mengolah

Ang-sio-bak, boleh dikatakan nomor satu di dunia.”

Maka tanpa bisa menolak dan tidak paham seluk-beluknya Siau-hi-ji lantas makan

semangkuk besar Ang-sio-bak yang memang cukup lezat.

Berada di sini mulut Siau-hi-ji seakan-akan tiada gunanya lagi selain makan Ang-sio-bak

belaka, sebab pada hakikatnya Toan Hap-pui tidak memberi kesempatan bicara padanya.

Petangnya ia sudah berada kembali di rumah obat dan tetap tidak tahu untuk apa Toan

Hap-pui memanggilnya ke rumah tadi. Yang jelas sekarang segenap pegawai Ging-ih-tong

telah berubah sikap padanya. Dengan sendirinya berubah lebih ramah dan lebih hormat.

Sehabis mandi, baru saja Siau-hi-ji berbaring di kursi malas, mendadak terdengar ributribut

di depan.

Seorang dengan suara yang kasar sedang berteriak, “Kuici, Bakkui, Lengka, Himta ….”

serentetan nama obat itu ternyata obat pilihan yang mahal.

Lalu terdengar sang kuasa kedua sedang bertanya dengan perlahan, “Tuan menghendaki

berapa banyak obat-obat itu?”

“Berapa banyak persediaan di toko obat ini, semuanya kami ambil, semuanya, setitik pun

tidak boleh tersisa,” teriak orang tadi.

Seorang lagi lantas menambahkan, “Ging-ih-tong kalian ini tentu masih ada gudang obat,

coba kami dibawa melihat ke sana.” Suara orang ini lebih nyaring dan cepat, agaknya

sudah tidak sabar lagi.

Tergerak hati Siau-hi-ji, baru saja ia berdiri, segera dilihatnya sang kuasa kedua itu

diseret masuk oleh dua orang lelaki kekar berjubah sulam,

Sang kuasa tidak mampu berkutik seperti anak ayam dicengkeram elang.

Di bawah cahaya pelita kelihatan kedua lelaki itu berwajah bengis, menghadapi orang

begini apa yang dapat diperbuat oleh kuasa rumah obat itu?

Siau-hi-ji hanya berdiri menonton saja di samping, pegawai lain lantas membungkus

seluruh obat-obatan yang diminta kedua lelaki itu, semuanya diikat menjadi empat

bungkus besar.

Diam-diam Siau-hi-ji menyiapkan sebutir batu kecil, begitu bungkusan obat itu diangkat

ke atas kereta mereka, perlahan ia menyelentik batu itu dan mengenai ujung bungkusan

obat. Karena cahaya pelita hanya remang-remang, gerak tangannya cepat lagi, dengan

sendirinya tiada seorang pun yang tahu akan perbuatannya itu.

Habis itu Siau-hi-ji merebahkan diri pula di kursi malasnya, sambil memandangi bintang

yang bertaburan di langit ia bergumam, “Tampaknya bakal ada tontonan sandiwara yang

menarik lagi ….”

*****

Malam semakin sunyi, semua orang di rumah obat itu sudah tidur, tapi Siau-hi-ji masih

duduk di bawah cahaya berkelipnya bintang. Di tengah malam nan terang dan sunyi itu dia

justru lagi mengharapkan terjadinya sesuatu yang mengejutkan.

Akan tetapi suasana tetap hening, tenang dan damai, di tengah desir angin yang lembut

terkadang diselingi suara jangkrik, lebih dari itu tiada nampak tanda akan terjadinya

sesuatu.

Siau-hi-ji memejamkan mata, tampaknya dia sudah ngantuk dan akan pulas.

Pada saat itulah di tengah malam sunyi tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda

yang dilarikan dengan cepat. Seketika mata Siau-hi-ji terbeliak, ia coba pasang telinga

sambil bergumam, “Satu, dua, tiga, mengapa cuma tiga ekor kuda?”

Dalam pada itu terdengar suara ringkik kuda, ringkik kuda yang berjingkrak kaget

bilamana sedang lari cepat dan mendadak dihentikan. Benar juga, habis itu suara derap

kaki kuda lantas lenyap. Jelas kuda-kuda itu sudah berhenti di depan Ging-ih-tong.

Menyusul itu lantas terdengar suara pintu digedor dengan keras, seorang berteriak, “He,

buka pintu, lekas buka, kami ingin beli obat, ada orang sakit keras.”

Suaranya yang nyaring keras itu memang penuh rasa cemas dan gelisah.

Dengan sendirinya pegawai yang tidur di bagian depan terjaga bangun, maka suara

gerundelan dan suara desakan menjadi bercampur aduk bersama dengan suara

berkeriutnya pintu terbuka.

Siau-hi-ji bergumam sendiri, “Jika dugaanku tidak salah, obat-obat yang hendak dibeli

orang ini pasti Kuici, Bakkui, Lengka, Himta dan sebagainya, sama seperti apa yang

diborong orang tadi.”

Dan dugaannya ternyata tidak meleset, segera terdengar suara kasar tadi lagi berteriak,

“Kami minta Kuici, Bakkui, Lengka, Himta … masing-masing tiga kati. Lekas, lekas

bungkuskan! Penting, orang sakit keras!”

Sudah barang tentu pegawai Ging-ih-tong itu melengak heran, mengapa pembeli obat yang

datang berturut-turut ini membeli obat yang sama. Dan dengan sendirinya dijawabnya

obat-obat itu tidak ada, sudah habis.

Dengan sendirinya orang yang bersuara kasar tadi bertambah gelisah dan cemas, bahkan

terus mengomel, “Rumah obat sebesar ini, masakah obat-obat begitu juga tidak

tersedia?”

Perawakan orang ini tinggi besar, sorot matanya tajam, namun merah beringas, tentu saja

pegawai toko obat menjadi takut, terpaksa ia memberi penjelasan, “Rumah obat tua dan

besar seperti toko kami ini dengan sendirinya mempunyai persediaan obat yang lengkap,

cuma sayang dan sangat kebetulan, beberapa macam yang tuan kehendaki ini baru duatiga

jam yang lalu diborong habis oleh pembeli lain, sebaiknya tuan coba mencari ke rumah

obat yang lain saja.”

Diam-diam Siau-hi-ji mendekati dan mengintip dari celah-celah pintu, dilihatnya dahi

lelaki kekar itu berkeringat saking gelisahnya, berulang-ulang ia mengomel pula, “Mengapa

begini kebetulan. Masa belasan rumah obat di kota ini semuanya kehabisan beberapa

macam obat ini?!”

Terlihat pula di luar pintu toko yang setengah terbuka itu menunggu seorang lelaki lain

dengan menuntun dua ekor kuda, mulut kuda tampak berbusa, jelas kuda itu baru saja

berlari jauh. Ada lagi seorang dengan kudanya berdiri rada jauh di sana.

Di bawah sinar bintang yang remang-remang kelihatan penunggang kuda itu memakai ikat

kepala hitam, rambut panjang terurai, kiranya orang ini adalah perempuan.

Sambil membawa lilin, pegawai toko bermaksud mengantar pergi tetamunya, maklumlah

dia masih ngantuk dan ingin tidur lagi.

Mendadak cahaya lilin berkelebat, perempuan baju hitam, yang menunggang kuda itu

tahu-tahu sudah berada di depan pegawai toko obat itu, sorot matanya setajam sembilu.

Si pegawai terkejut dan mundur sempoyongan, tangannya ketetesan cairan lilin yang

panas sehingga dia lepaskan pegangannya, tatakan lilin terus jatuh ke bawah.

Tapi tatakan lilin itu tidak jatuh ke lantai, entah cara bagaimana sudah berada di tangan

perempuan baju hitam. Lilin pun tidak padam dan api lilin menyinari wajahnya yang putih

pucat itu.

Dengan tajam perempuan itu menatap si pegawai, tanyanya dengan kata demi sekata,

“Obat-obatan ini apakah dibeli oleh satu orang saja?”

“Ya, o .. bukan … dibeli dua orang!” jawab si pegawai dengan suara gemetar dan ketakutan.

“Orang macam apa dan siapa mereka?” suaranya semula perlahan, tapi mendadak berubah

menjadi melengking cepat penuh rasa, dendam dan benci seakan-akan dengan sekali tikam

ia ingin membinasakan orang yang disebut si pegawai itu.

Keruan pegawai toko itu bertambah ketakutan, jawabnya dengan gelagapan, “En …

entahlah … kami cuma berdagang, mana berani sembarang tanya asal usul langganan?”

Perempuan baju hitam ini masih menatapnya dengan tajam tanpa berkedip seakan-akan

ingin menyelami apa yang dikatakan pegawai itu sebenarnya betul atau bohong.

Padahal di bawah tatapan sinar mata yang tajam begitu siapa pula yang berani berdusta?

Kaki pegawai itu terasa lemas, untunglah perempuan baju hitam itu lantas lari keluar

terus mencemplak ke atas kudanya dan dilarikan terlebih cepat daripada datangnya tadi,

suara derapan kaki kuda itu pun semakin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi.

Malam, kembali hening pula, angin masih mendesir dan mengaburkan secarik kertas di

jalan raya.

Pegawai toko obat itu seperti habis bermimpi saja, waktu dia menunduk, terlihat tatakan

Iilin justru tertaruh di depan kakinya, dengan sendirinya ini bukan mimpi, cepat ia

berjongkok dan mengangkat lagi tatakan lilin itu …. Mendadak api lilin bergoyang, pegawai

itu terkejut pula dan tatakan lilin itu tahu-tahu disambar oleh sebuah tangan.

Dengan terkejut pegawai toko obat itu berpaling dan yang terlihat ialah Siau-hi-ji.

Tangan Siau-hi-ji memegang tatakan lilin itu, sedangkan matanya memandang jauh ke sana

sambil bergumam, “Tak tersangka … sungguh tak tersangka dia adanya!”

Mata si pegawai toko obat terbelalak lebar, tanyanya, “Kau kenal perempuan tadi?”

“Tentu saja kukenal dia,” jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum.

“Dia … dia siapa?” tanya si pegawai.

“Dia bernama Ho-loh, seorang pelayan Ih-hoa-kiong … meski kuberitahukan semua ini juga

kau tidak paham,” ujar Siau-hi-ji. Mendadak ia melompat perlahan, sebelah tangannya

meraih kertas yang melayang-layang di udara tertiup angin tadi.

Dilihatnya di atas kertas itu tertulis nama rumah obat.

Pegawai toko obat itu pun melongok ingin tahu apa yang tertulis di kertas itu, segera ia

pun bergumam, “Semua rumah obat di dalam dan luar kota ternyata tercantum pada

kertas ini.”

“Kertas ini telah dibuang olehnya, jelas karena setiap rumah obat sudah didatanginya dan

tetap tidak berhasil membeli obat-obat yang diperlukannya itu,” kata Siau-hi-ji.

“Aneh, mengapa dia terburu-buru ingin membeli beberapa macam obat yang aneh ini?”

“Dengan sendirinya lantaran di rumah mereka ada orang sakit aneh yang memerlukan

obat-obat ini.”

“Lalu penyakit apakah itu? Kenapa memerlukan obat-obat yang istimewa ini,” gumam si

pegawai. Kemudian ia tanya Siau-hi-ji, “Tak pernah kudengar akan penyakit aneh begini,

pernahkah kau mendengarnya?”

Tapi waktu dia menoleh, tatakan lilin sudah tertaruh di lantai dan Siau-hi-ji sudah tidak

tampak lagi.

Di tengah malam sunyi, sayup-sayup derapan kaki kuda masih terdengar, setelah berlari

cepat melalui beberapa jalan samar-samar Siau-hi-ji dapat melihat ketiga ekor kuda yang

dilarikan cepat tadi. Betapa pun cepat lari kuda-kuda itu ternyata tidak lebih cepat

daripada Ginkang Siau-hi-ji yang kini telah mencapai taraf yang sukar dilukiskan.

Kuda-kuda itu lari di jalan raya, sedangkan Siau-hi-ji melayang-layang di atas rumah, dari

wuwungan satu ke wuwungan rumah yang lain. Diam-diam ia pun bertanya di dalam hati,

“Untuk apa Ho-loh terburu-buru membeli beberapa macam obat itu? Jangan-jangan ada

orang yang kena racun yang mahapanas atau mahadingin? Masakah racun demikian tak

dapat ditawarkan dengan obat mujarab yang dimiliki Ih-hoa-kiong?”

Setelah berpikir lagi, ia menjadi bimbang, batinnya, “Orang yang menaruh racun rupanya

sudah tahu mereka pasti akan mencari beberapa macam obat penawar racun ini, makanya

lebih dulu beberapa macam obat yang berada di semua rumah obat itu diborongnya hingga

habis, ini menandakan bahwa pemberi racun itu bertekad ingin membinasakan sasarannya

itu … Sungguh keji pemberi racun itu? Entah siapa dia? Lalu siapa pula yang diracuninya?

Apakah Hoa Bu-koat?!”

Begitulah Siau-hi-ji terus berpikir bolak-balik dan entah pula girang atau khawatir

perasaannya.

Setelah dilarikan sekian lama, ketiga ekor kuda tadi mendadak berhenti di depan sebuah

dinding yang tinggi, dinding itu ada sebuah pintu kecil, rupanya sebuah pintu belakang.

Pintu itu tidak dipalang dari dalam, maka begitu Ho-loh melompat turun dari kudanya

segera ia menolak pintu dan masuk ke situ.

Dengan tangkas dan enteng saja Siau-hi-ji melayang ke atas dinding yang tinggi itu terus

meluncur ke sana, begitu cepat gerakannya sehingga kedua lelaki di bawah itu sama sekali

tidak tahu.

Di balik dinding tinggi itu adalah sebuah halaman luas dengan taman, ada jembatan dan

sungai kecil, ada gardu dan loteng megah di sebelah sana, di tengah pepohonan yang

rimbun ada sebuah jalanan berbatu terawat bersih.

Ho-loh kelihatan berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri jalan berbatu itu sehingga

menerbitkan suara gemertak, kain hitam ikat kepalanya sudah ditanggalkannya sehingga

disanggulnya kelihatan sebiji mutiara besar bercahaya kelip-kelip.

Siau-hi-ji terus melayang ke puncak pohon dan mengikuti cahaya kelip-kelip mutiara itu.

Sinar mutiara itu kemudian lenyap di balik semak-semak pohon, di tengah pepohonan itu

ada beberapa buah rumah indah.

Tempat sembunyi Siau-hi-ji di balik daun pohon yang lebat sehingga tidak mudah

diketahui orang lain. Diam-diam ia mengintai ke bawah, sehingga dilihatnya seraut wajah

yang cakap, wajah Hoa Bu-koat.

Wajah yang biasanya cerah dan penuh percaya pada diri sendiri itu tampak gelisah dan

cemas, melihat kedatangan Ho-loh, cepat dia menyongsong maju dan kalimat pertama

yang ditanyakan adalah, “Mana obatnya?”

“Tak dapat dibeli,” jawab Ho-loh dengan suara perlahan sambil memutar kain hitam ikat

kepalanya itu.

Sebelum Ho-loh menjawab sebenarnya Hoa Bu-koat sudah dapat menduga apa yang akan

dikatakan pelayan itu demi melihat air mukanya yang murung. Tiba-tiba ia rebut kain

hitam dari tangan Ho-loh dan menegas, “Meng … mengapa tak dapat membelinya?”

Biasanya tingkah laku Ho Bu-koat sangat sopan santun dan ramah tamah, terhadap kaum

wanita bahkan sangat halus dan menghormat, tapi kini dia telah kehilangan kepribadiannya

yang biasa.

Melihat perubahan sikapnya itu segera Siau-hi-ji dapat menerka hubungannya dengan

orang yang sakit itu pasti sangat erat, kalau tidak rasanya tidak mungkin dia berubah

bingung begitu.

Namun Hoa Bu-koat yang tampaknya ramah tamah itu sesungguhnya berhati angkuh,

biasanya tidak menaruh perhatian sebesar itu terhadap seseorang, lantas siapakah

gerangannya?

Begitulah sedang Siau-hi-ji merasa heran dan menerka-nerka, dilihatnya Ho-loh dan Hoa

Bu-koat bicara beberapa patah kata lagi dan tidak terdengar olehnya, waktu dia kembali

menaruh perhatian, namun kedua orang itu sudah masuk ke rumah.

Cahaya lampu tertampak di balik jendela, samar-samar kelihatan dua sosok bayangan,

seorang menunduk dengan kopiahnya yang bergerak seperti orang lagi gemetar saking

cemasnya.

Tak perlu dijelaskan lagi orang ini pasti Hoa Bu-koat adanya.

Seorang lagi berkopiah tinggi berjenggot panjang duduk menegak, mungkin sikapnya

sangat kereng. Meski sudah diamat-amati, tetap Siau-hi-ji tidak tahu siapa yang seorang

ini.

Sementara desiran angin rada mereda, suasana malam semakin sunyi, sampai-sampai suara

Hoa Bu-koat yang menghela napas panjang sayup-sayup terdengar. Maka Siau-hi-ji juga

menahan napas, tidak berani menerbitkan sesuatu suara.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang bicara dengan suara ramah dan kalem, “Orang baik

tentu dikaruniai baik, maka Kongcu juga tidak perlu terlalu sedih …. Padahal, bahwa nona

Ho-loh akan pulang dengan tangan kosong memang juga sudah kuduga sebelumnya.”

Begitu mendengar suara orang ini, seketika jantung Siau-hi-ji berdetak keras.

Didengarnya Hoa Bu-koat lagi menghela napas dan berkata, “Meski obat-obatan itu

tergolong mahal, tapi bukan bahan obat yang sukar dicari, namun kota Ankhing sebesar ini

ternyata tak dapat dibeli beberapa macam obat ini, sungguh aku tidak mengerti.”

“Tentunya orang itu sudah memperhitungkan dengan tepat bahwa racunnya hanya dapat

ditawarkan dengan beberapa macam obat ini,” kata suara tadi. “Dengan sendirinya pula

dia sudah tahu bahwa Kongcu pasti juga paham pengobatan ini, makanya dia mendahului

memborong habis seluruh persediaan di pasaran, kalau tidak kan berarti sia-sia saja dia

meracuni orang.”

Apa pun yang dikatakan suara itu seakan-akan selalu dilakukan dengan tenang dan sabar,

diucapkan dengan sewajarnya. Maka sampai di sini Siau-hi-ji sudah dapat memastikan

pembicara ini jelas Kang Piat-ho adanya.

Teringat kepada kelicinan dan keculasan orang ini, tanpa terasa Siau-hi-ji mengkirik

sendiri, Hoa Bu-koat masih mendingan, kalau dirinya kepergok orang ini jangan harap

dapat lolos dengan hidup.

Karena itu Siau-hi-ji tambah tak berani bergerak sedikit pun di tempat sembunyinya.

Terdengar Hoa Bu-koat lagi berkata dengan gemas, “Betul, orang itu tentu sudah

memperhitungkan obat mujarab Ih-hoa-kiong kami juga tidak mampu menawarkan racun

mahadingin ini, cuma … cuma ada permusuhan apakah antara dia dan dia itu? Mengapa dia

sengaja meracuni dia?”

Sudah tentu Siau-hi-ji tidak tahu siapa yang dimaksud “dia” yang pertama dan siapa pula

“dia” yang kedua, maka ia menjadi gelisah juga.

“Mungkin sasarannya bukan ‘dia’ melainkan Kongcu sendiri,” ujar Kang Piat-ho.

“Tapi sejak kukeluar rumah belum pernah bermusuhan dengan siapa pun, untuk apakah

orang itu hendak mencelakai diriku? Lantas siapakah gerangan orang ini? Sungguh aku

tidak dapat menerkanya.”

“Bila Kongcu ingin tahu siapa dia, kukira tidaklah sulit,” ujar Kang Piat-ho.

Hoa Bu-koat merenung sejenak, katanya kemudian, “Maksudmu ….”

Kang Piat-ho seperti tersenyum, lalu berkata dengan perlahan, “Asalkan Kongcu tidak

berkhawatir bagi keadaan nona Thi dan mau ikut keluar bersama Cayhe sebentar, rasanya

besar kemungkinan Cayhe akan dapat menemukan orang yang meracuni nona Thi itu!”

Nona Thi?! yang keracunan itu jangan-jangan Thi Sim-lan yang dimaksudkan?

Sungguh kejut Siau-hi-ji tak terkatakan, hampir saja ia terjungkal dari atas pohon.

Seketika daun pohon berkeresek-keresekan.

Segera terlihat Hoa Bu-koat berbangkit dan membentak, “Siapa itu yang berada di luar?”

Saking tegangnya jantung Siau-hi-ji serasa akan melompat keluar dari rongga dadanya.

Terdengar Kang Piat-ho berkata, “Suara angin, mana ada orang. Biarlah kita menjenguk

dulu keadaan nona Thi saja.” Lalu kedua orang lantas meninggalkan kamar.

Siau-hi-ji merasa lega, pikirnya, “Syukur Thian memberkati, biasanya Kang Piat-ho sangat

cerdik, sekali ini ia rupanya lengah ….” Sampai di sini ia terkesiap pula, “Ah, tak mungkin,

biasanya Kang Piat-ho sangat hati-hati, tak mungkin ia lena begini, di balik ini tentu ada

akal bulusnya.”

Siau-hi-ji memang mahacerdik, jalan pikirannya dapat bekerja cepat, begitu ingat segera

ia bermaksud kabur. Walaupun begitu toh tetap terlambat. Di tengah kegelapan dua

sosok bayangan telah melayang tiba secepat burung terbang.

Tentu saja Siau-hi-ji terkejut, sekilas lirik segera diketahuinya yang datang memang

betul Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat berdua. Baju Hoa Bu-koat melambai-lambai tertiup

angin sehingga seperti dewa yang baru turun dari kayangan, sepasang matanya gemerdep

dalam kegelapan penuh mengandung rasa benci dan dendam, agaknya ia menyangka orang

yang mengintai ini pasti ada sangkut-pautnya dengan peracunan Thi Sim-lan.

Meski tubuh Kang Piat-ho juga terapung, tapi jauh ketinggalan di belakang Hoa Bu-koat,

agaknya bukan karena Ginkangnya lebih rendah, tapi mungkin karena sudah ada Hoa Bukoat

di depan, maka dia tidak perlu terburu-buru menyerempet bahaya dan kalau bisa

mungkin juga tidak unjuk muka.

Biarpun ilmu silat Siau-hi-ji kini sudah lain daripada dulu, tapi ketemu kedua seteru ini

mau tak mau ia rada jeri juga. Namun dia sudah biasa menyerempet bahaya, mati hidup

baginya dipandangnya seperti makan sehari-hari, soal rutin, maka biarpun terkejut ia

tidak menjadi bingung, sekali ia kerahkan tenaga murni, “krak”, dahan pohon yang

didudukinya lantas patah, tubuh lantas anjlok ke bawah.

Harus diketahui bahwa Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho sedang melayang cepat ke depan,

kalau Siau-hi-ji melompat turun untuk menghindar betapa pun pasti sukar meloloskan diri

dari kejaran kedua tokoh besar ini. Tapi sekarang dia anjlok lurus ke bawah, begitu kaki

menyentuh tanah seketika ia menerobos lewat di bawah kaki kedua orang itu.

Karena tubuh Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho terapung di udara, untuk anjlok seketika saja

sukar apalagi hendak memutar balik. Maka begitu Siau-hi-ji merasa angin menyambar

lewat di atas kepalanya, tanpa ayal ia terus melayang ke depan secepatnya.

Arah kedua pihak kini berlawanan, Siau-hi-ji sudah memperhitungkan bilamana Hoa Bukoat

memutar balik mengejarnya tentu akan ketinggalan sejenak, selisih waktu ini

memang cuma sekejap, tapi bagi Ginkang Siau-hi-ji sekarang cukup dengan sekejap itu

saja pasti dapat meninggalkan kedua pengejarnya.

Perhitungan Siau-hi-ji ini boleh dikatakan cukup tepat, perubahan tindakannya juga

teramat cepat.

Tak terduga, meski Kang Piat-ho tidak dapat berhenti seketika dan tetap melayang lurus

ke depan, tapi telapak tangannya sempat mengayun balik ke belakang, ternyata

sebelumnya ia sudah menyiapkan senjata rahasia, maka beberapa bintik perak lantas

menghambur ke punggung Siau-hi-ji.

Tubuh Hoa Bu-koat yang terapung itu mendadak juga mengayun sebelah kakinya sehingga

tepat menjejak pada sebatang pohon, dengan tenaga tolakan ini seluruh tubuhnya lantas

berganti arah, kepala dulu dan kaki belakang terus meluncur balik, cepatnya ternyata

tidak kalah daripada sambaran senjata rahasia yang dihamburkan Kang Piat-ho.

Kejadian itu sedemikian cepatnya, begitu Siau-hi-ji mendengar suara mendenging, lalu

bintik-bintik perak sudah menyambar tiba. Untuk meloncat ke atas terasa tidak keburu

lagi, terpaksa dia menjatuhkan diri ke tanah terus berguling-guling, maka terdengar suara

denting nyaring, bintik-bintik perak dengan tepat menancap di tanah tempat jatuhnya

tadi.

Mati hidupnya sungguh boleh dikatakan cuma selisih sekian detik saja, belum lagi hilang

kejut Siau-hi-ji dan belum sempat melompat pula ke depan, baru saja dia angkat kepala,

tahu-tahu kesiur angin lengan baju Hoa Bu-koat terasa sudah ada di atas kepalanya.

Dalam keadaan demikian Siau-hi-ji serba susah, mundur tak dapat, menghindar juga

sukar. Lebih celaka lagi tubuh Hoa Bu-koat yang terapung di atas itu terus menukik ke

bawah dan kedua tangannya menghantam sekaligus.

Tak tahunya pada saat itu juga tujuh bintik perak yang menancap di tanah tadi

sekonyong-konyong meluncur ke atas dan cepat menyambar ke muka Hoa Bu-koat.

Perubahan cepat dan mendadak ini tampaknya sukar dihindarkan Hoa Bu-koat.

Betapa pun lihainya Kang Piat-ho juga tidak menyangka akan kejadian ini, pihak lawan

ternyata dapat memperalat senjata rahasia yang disambitkannya tadi untuk

menyelamatkan diri. Mau tak mau ia berseru kaget juga.

Tapi Hoa Bu-koat tidak menjadi gugup, kedua tangan mendadak merapat, ketujuh bintik

perak itu pun lenyap seketika, semuanya tertangkap olehnya. Kejadian ini hanya

berlangsung sekejap saja, namun telah mengalami gerak perubahan beberapa kali.

Ketika sekali sampuk Siau-hi-ji membikin bintik perak yang menancap di tanah itu

terpental ke atas, berbareng itu dengan tenaga pukulannya ia pun melayang ke depan,

dalam seribu kerepotannya ia sempat melirik, dilihatnya tenaga dalam Hoa Bu-koat yang

luar biasa itu, tanpa terasa ia bersuara memuji, “Bagus!”

Sedangkan Kang Piat-ho juga tercengang oleh gerak perubahan Siau-hi-ji yang aneh dan

sukar dibayangkan itu, segera ia berseru, “Hebat benar kepandaian sahabat ini, apa

maksud kedatanganmu, mengapa tidak meninggalkan sesuatu pesan?!”

Tanpa menoleh Siau-hi-ji menjawab dengan suara yang dibikin kasar, “Ada urusan apa

boleh dibicarakan besok saja, sampai bertemu!”

Belum habis ucapannya, dengan dingin Hoa Bu-koat lantas membentak, “Kepandaian

sahabat memang luar biasa, kalau engkau pergi begini saja kan sayang.”

Suaranya serasa berada tepat di belakang Siau-hi-ji, tentu saja Siau-hi-ji tidak berani

berpaling, bahkan bersuara menanggapi juga tidak berani, sekuat tenaga ia melayang ke

depan.

Dilihatnya berderet-deret rumah telah dilintasinya, tapi ternyata belum juga keluar dari

lingkungan perumahan ini. Entah rumah keluarga siapa, ternyata begini luas.

Terdengar Kang Piat-ho berkata pula, “Umur sahabat ini tampaknya belum begitu banyak,

bukan saja gerak-geriknya cekatan, bahkan daya pikirnya juga cepat, ada ksatria muda

begini di dunia Kangouw, kalau Cayhe tidak mengikat persahabatan denganmu sungguh

berdosa rasanya.”

Sembari bicara ia pun terus mengejar dan sedikit pun tidak ketinggalan, nada ucapnya

terdengar wajar, seperti seorang bicara dengan seenaknya, agaknya dia yakin Siau-hi-ji

pasti takkan lolos dari tangannya.

“Betul, melulu Ginkang yang tinggi ini, biarpun belum terhitung nomor satu di dunia, tapi

juga sudah jarang ada bandingannya,” demikian Hoa Bu-koat menambahkan. Diam-diam ia

pun heran mengapa sebegitu jauh dirinya tak berhasil menyusul lawan.

Maklumlah, biarpun Ginkangnya memang lebih tinggi setingkat daripada Siau-hi-ji, tapi

orang yang lari itu dapat sembunyi ke sana kemari dan mengubah arah sesukanya, dengan

sendirinya lebih bebas daripada orang yang mengejarnya.

Terdengar Kang Piat-ho berkata pula, “Bukan saja Ginkangnya tinggi, bahkan tenaga murni

orang ini juga sangat kuat. Sekali ia berlari secepat ini, mungkin kita berdua tak dapat

menyusulnya lagi.”

Demi mendengar ucapan ini, sekonyong-konyong Siau-hi-ji menyusup ke bawah. Di

lingkungan ini memang banyak deretan rumah dengan serambi yang berliku-liku dan

pepohonan lebat, sungguh bodoh kalau Siau-hi-ji tidak memanfaatkan keadaan ini.

Sebenarnya maksud Kang Piat-ho berucap begitu adalah untuk membesarkan hati Siau-hiji,

sebab ia khawatir kalau anak muda itu melompat ke bawah dan menyembunyikan diri.

Tak tahunya Siau-hi-ji memang setan cilik yang mahacerdik, sekali mendengar ucapan

Kang Piat-ho tadi segera tergerak pikirannya dan cepat memanfaatkan lingkungan yang

menguntungkan itu.

Diam-diam Kang Piat-ho mendongkol, namun sudah terlambat, Siau-hi-ji telah berputar ke

sana sini, habis itu mendadak ia mendobrak sebuah jendela dan melompat masuk ke situ.

Cahaya lampu di rumah-rumah ini sudah seluruhnya dipadamkan, meski tak diketahuinya di

dalam rumah ini ada orang atau tidak, tapi rumah ini sedemikian luas, dapat dibayangkan

ruangannya pasti kosong. Dan rumah ini memang betul tiada penghuninya.

Baru saja Siau-hi-ji merasa lega, “serrr”, tahu-tahu Hoa Bu-koat ikut melayang masuk,

malahan Kang Piat-ho juga tidak ketinggalan.

Di dalam rumah gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan. Waktu Siau-hi-ji melayang

pula ke depan, hampir saja sebuah meja ditumbuknya terguling.

Kang Piat-ho tertawa dan berseru, “Lebih baik keluar saja, sahabat, Cayhe Kang Piat-ho,

kujamin dengan nama ‘Kang-lam-tayhiap’, asalkan sahabat dapat menjelaskan asal-usulmu,

tanggung engkau takkan dibikin susah.”

Kalau saja ucapan ini ditujukan kepada orang lain bukan mustahil orang itu akan percaya

penuh. Tapi Siau-hi-ji cukup tahu orang macam apakah ‘Kang-lam-tayhiap’ ini, apalagi kalau

siapa dirinya diketahui, maka mau tak mau pasti akan ‘dibikin susah’ olehnya.

“Jika sahabat tak mau menuruti nasihatku, tentu engkau akan menyesal nanti,” kata Kang

Piat-ho pula.

Diam-diam Siau-hi-ji angkat meja yang hampir terguling tadi terus dilemparkan ke arah

Kang Piat-ho, di tengah deru angin itu dia terus melompat ke sudut kiri.

Dia memperhitungkan di sudut kiri sana pasti ada daun pintu dan dugaannya tidak

meleset, begitu terdengar suara gemuruh jatuhnya meja, berbareng ia pun mendepak

terpentang pintu sana dan menerobos keluar.

Rumah di sebelah ini terlebih gelap lagi dan kegelapan selalu bermanfaat baginya. Dia

terus sembunyi di dalam kegelapan tanpa bergerak. Selagi menimang cara bagaimana agar

dapat lolos, tiba-tiba pandangannya terbeliak, Kang Piat-ho telah menyalakan lampu di

ruangan tadi.

Begitu cahaya lampu menyala, serentak Hoa Bu-koat juga melompat masuk. Sekenanya

Siau-hi-ji tarik sebuah kursi terus dilemparkan, berbareng ia pun melompat mundur,

‘blang’, sebuah jendela dijebolnya, habis itu ia terus menerjang masuk kamar di seberang.

Setelah terjang sini dan seruduk sana sehingga menerbitkan suara gedobrakan, penghuni

rumah-rumah ini juga bukan orang mampus, dengan sendirinya sebagian besar terjaga

bangun, seketika suara orang ribut berjangkit dan sama berteriak menanyakan siapa dan

ada urusan apa?

Dengan suara lantang Kang Piat-ho lantas menjawab, “Rumah ini kedatangan penjahat,

hendaknya semua orang jangan gelisah dan sembarangan keluar agar tidak terkena

senjata nyasar. Cukup asalkan menyalakan lampu masing-masing dan penjahat pasti takkan

lolos!”

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh dan mengakui kelihaian Kang Piat-ho, apa yang

dikatakannya selalu kena sasarannya. Maklumlah, yang diharapkan justru kalau suasana

menjadi kacau-balau, dan kesempatan ini akan digunakan untuk kabur dengan mudah.

Malahan ia pun berharap lampu jangan dinyalakan, sebab kalau keadaan terang benderang,

jangankan hendak kabur, untuk sembunyi saja sulit.

Begitulah dari berbagai tempat lantas terdengar orang berseru, “Itu suara Kang-tayhiap,

kita harus turut perkataannya!” Menyusul lampu di segenap pelosok rumah-rumah itu

lantas dinyalakan.

Waktu Siau-hi-ji mengawasi, ternyata dirinya sekarang berada di dalam sebuah kamar

tulis, kamar ini terpajang dengan indah, di samping meja tulis ada sebuah bangku peranti

menyulam.

Ia menjadi heran, mengapa di kamar tulis ada peralatan menyulam kaum wanita?

Dalam pada itu Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat sudah menyusul sampai di luar jendela.

Cepat Siau-hi-ji mundur ke arah sebuah pintu.

Pada saat itulah dari belakang pintu tiba-tiba ada seorang menegur, “Siapa itu di luar?”

Jelas itulah suara seorang perempuan.

Semula Siau-hi-ji terkejut karena di balik pintu itu ada orangnya, tapi segera pula ia

merasa girang, tanpa ragu dan ayal ia terus menolak pintu dan menerobos ke situ.

Menurut perhitungannya, Kang Piat-ho yang munafik itu tentu akan menjaga gengsi dan

tidak berani sembarangan menerjang ke kamar wanita, sedangkan Hoa Bu-koat lebih tidak

mungkin berlaku keras di depan orang perempuan.

Akan tetapi Siau-hi-ji tidak pedulikan perempuan atau bukan, begitu dia menerjang masuk

sekaligus ia sirapkan lampu, sekilas ia terlihat di pembaringan sana tertidur seorang

perempuan, segera ia melompat ke sana, secepat kilat ia dekap mulutnya, tangan lain

menahan pundaknya, lalu mengancam dengan suara tertahan, “Jangan bersuara jika kau

tidak ingin mampus?”

Karena menerobos ke kamar gadis secara kasar, betapa pun hati Siau-hi-ji merasa tidak

enak, maka biarpun mengancam juga tidak terlalu menggunakan tenaga.

Di luar dugaannya tenaga perempuan itu ternyata kuat luar biasa, bahkan gerak tangannya

juga teramat cepat, tahu-tahu kedua tangan Siau-hi-ji berbalik kena dicengkeram

olehnya.

Sungguh kejadian yang tak pernah terpikir oleh Siau-hi-ji, dalam terkejutnya dia

bermaksud meronta, akan tetapi perempuan itu telah menindihnya di atas tempat tidur,

sikutnya juga menahan di tenggorokannya. Seketika setengah badan Siau-hi-ji terasa

kaku kesemutan, ia benar-benar tak bisa berkutik dikerjai orang.

Diam-diam ia menghela napas, katanya dengan tersenyum getir, “Sudahlah, tamatlah aku

sekali ini …. Agaknya hidupku ini memang ditakdirkan harus mati di tangan orang

perempuan!”

Sementara itu suara Kang Piat-ho sudah berjangkit di luar, benar juga dia tidak berani

masuk, hanya bertanya di luar, “Nona, apakah penjahat itu menyusup ke kamarmu?”

Dalam keadaan demikian Siau-hi-ji sudah memejamkan mata dan pasrah nasib, ia tahu apa

yang bakal dijawab oleh si nona.

Tak tahunya perempuan itu lantas berseru, “Betul, tadi memang ada seorang menerobos

ke sini, tapi segera kabur lagi melalui jendela sebelah, mungkin lari ke taman, lekas Kangtayhiap

memburu ke sana.”

Mimpi pun Siau-hi-ji tidak menyangka akan jawaban perempuan ini, didengarnya Kang Piatho

mengucapkan terima kasih, lalu buru-buru lari pergi.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, seketika ia jadi terkesima. Perlahan-lahan perempuan itu

lantas melepaskan tangannya dan seperti lagi tertawa lirih.

Siau-hi-ji tidak tahan, tanyanya, “Meng … mengapa nona menolong diriku?”

Perempuan itu tidak lantas menjawab, tapi merapatkan pintu lebih dulu.

Di dalam rumah gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan, dengan sendirinya Siau-hi-ji

tak dapat melihat bagaimana bentuk perempuan ini, maka ia menjadi rada curiga, segera

ia melompat bangun dan bertanya pula dengan suara tertahan, “Selamanya Cayhe tidak

kenal nona, tapi nona sudi menolongku, entah apa sebabnya?”

Terhadap perempuan, tak peduli perempuan macam apa pun, Siau-hi-ji tak pernah

menaruh kepercayaan sekalipun perempuan ini baru saja telah menyelamatkan jiwanya.

Tapi perempuan ini mendadak tertawa, katanya, “Apakah betul kau dan aku tidak saling

kenal?”

“Perempuan yang kenal padaku selalu ingin membunuhku dan tidak mau menolongku,” kata

Siau-hi-ji.

Kembali perempuan itu tertawa, katanya, “Haha, mungkin nyalimu sudah pecah saking

takutnya sehingga suaraku juga tidak kau kenal lagi.” Bicaranya tadi dengan suara lemah

lembut, sekarang dia tertawa keras sehingga bersemangat lelaki.

Seketika Siau-hi-ji dapat mengenalnya, serunya, “He, engkau Samkohnio?”

“Akhirnya kau ingat juga padaku,” kata perempuan itu.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, tanyanya, “He, mengapa engkau berada di sini?”

“Ini rumahku, kalau aku tak berada di sini lalu di mana?” jawab Samkohnio.

Siau-hi-ji melengak, katanya kemudian dengan tertawa, “Ya, benar, aku sudah pikun

barangkali, masa tidak tahu perumahan ini adalah tempat kediaman Toan Hap-pui.

Sungguh sangat luas, begitu masuk ke sini aku seperti masuk ke lingkaran setan.”

“Jangankan dirimu, aku sendiri terkadang juga kesasar,” kata Samkohnio.

“Tapi mengapa Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat juga berada di sini?”

“Kedatangan mereka justru menyangkut persoalan hilangnya kiriman barang ayahku itu.”

“Wah, sungguh teramat kebetulan, mengapa segala kejadian yang kebetulan di dunia ini

selalu kepergok olehku,” kata Siau-hi-ji sambil menghela napas, “Tak pernah kuduga

bahwa Kang Piat-ho bisa berada di rumahmu dan kebetulan aku pun menerobos ke

rumahmu ini ….”

“Dan mereka pun tak pernah menyangka bahwa aku kenal kau,” sambung Samkohnio

dengan tertawa.

“Benar, kalau tidak masakah rase tua itu mau percaya pada keteranganmu tadi,” kata

Siau-hi-ji.

Maklumlah, betapa pun Kang Piat-ho tidak menyangka putri kesayangan Toan Hap-pui bisa

menolong seorang penjahat, sebab itulah dia percaya kepada keterangan Samkohnio tadi

yang mengatakan penjahat itu sudah lari.

Samkohnio lantas tanya pula, “Meng … mengapa kau dan Kang-tayhiap bisa bermu ….”

“Kang-tayhiap apa? Hm, tayhiap sontoloyo, tayhiap persetan!” jengek Siau-hi-ji.

“Aneh, siapa yang tak tahu namanya sebagai Kang-lam-tayhiap?” kata Samkohnio. “Jika

dia bukan tayhiap, habis siapa lagi?”

“Kalau dia terhitung tayhiap, maka segala setan belang juga akan menjadi tayhiap,” kata

Siau-hi-ji.

“Mungkin kau dibikin dongkol olehnya, maka kau benci padanya,” ujar Samkohnio. “Padahal

sebenarnya dia seorang baik, begitu mendengar barang kiriman kami dirampok, segera dia

berkunjung kemari untuk membela kami ….”

“Hm, ini namanya musang mengucapkan selamat kepada ayam,” jengek Siau-hi-ji.

“Maksudmu dia tidak berniat baik, tapi apa pula maksud jahatnya?”

“Jalan pikiran manusia begitu selama hidupmu juga takkan paham,” kata Siau-hi-ji.

Samkohnio duduk miring di atas tempat tidur, tepat di samping Siau-hi-ji, hati si nona

berdebar-debar dan kepala tertunduk, setelah termenung sekian lama, kemudian ia

berkata pula, “Hoa-kongcu itu juga … juga Kang Piat-ho yang mengajaknya kemari. Konon

Hoa-kongcu ini tergolong pahlawan nomor satu di Kangouw dan juga lelaki tercakap di

dunia, tapi kulihat lagak-lagunya yang kebetina-betinaan itu rasanya tidak cocok.”

Siau-hi-ji merasa senang karena si nona mencaci maki Hoa Bu-koat, ia pegang tangannya

dan berkata, “Benar, pandanganmu memang jitu dan ucapanmu juga tepat.”

“Aku … aku ….” dalam kegelapan tangannya dipegang Siau-hi-ji, Samkohnio merasa hatinya

berdetak keras, muka merah dan tenggorokan serasa kering sehingga sukar untuk bicara

lagi.

Diam-diam ia khawatir kalau-kalau Siau-hi-ji melakukan ‘sesuatu’ padanya, tapi

sebenarnya ia pun berharap anak muda itu melakukannya, semakin banyak yang

diperbuatnya semakin baik.

Selagi dia merasa kebat-kebit, sekonyong-konyong Siau-hi-ji berbangkit dan menubruk ke

atas tubuhnya, seketika wajah Samkohnio menjadi panas seperti dibakar, serasa napas

berhenti.

“Ap … apa yang hendak kau lakukan?” tanyanya dengan terputus-putus.

“Sssstt, jangan bersuara!” tiba-tiba Siau-hi-ji membisiki telinganya.

Sekujur badan Samkohnio menjadi lemas seperti tak bertulang lagi, katanya dengan

tergagap, “Aku … aku ti … tidak mau ….” Di mulut dia pura-pura tidak mau, tapi badan

tidak bergerak sama sekali, bahkan mata pun sudah terpejam.

Kalau anak perempuan sudah memejamkan matanya, itu tandanya sudah terserah apa yang

hendak kau lakukan atas dirinya.

Siapa tahu Siau-hi-ji ternyata tidak melakukan sesuatu tindak lanjut lagi, malahan ia

terus bangkit berdiri dan menarik napas lega, katanya, “Wah, sungguh berbahaya! Baru

saja ada Ya-heng-jin (orang lalu di waktu malam) di atas rumah, apakah kau tidak

mendengarnya?”

Buset! Jadi Samkohnio tadi hanya salah wesel dan menghayalkan akan terjadinya

“sesuatu”.

Seketika Samkohnio melenggong dalam kegelapan, darah seluruh badannya serasa

tersedot habis sekaligus, hatinya terasa kosong blong. Ia termangu-mangu agak lama,

dengan hampa kemudian ia berkata, “Aku … aku tidak mendengar apa-apa.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, tiba-tiba ia berkata pula, “Hoa-kongcu yang kau maksudkan

itu bukankah mempunyai seorang teman yang keracunan?”

“Dari mana kau tahu?” tanya Samkohnio.

“Apabila dia memiliki kepandaian setinggi itu, mengapa temannya sampai diracun orang?”

“Petang kemarin,” demikian tutur Samkohnio, “Hoa-kongcu itu bersama Kang … Kang Piatho

keluar bersama, hanya nona Thi saja yang berada di kamar tamu, pada waktu itulah ada

orang mengantarkan sesuatu oleh-oleh untuk Hoa-kongcu dan nona Thi sendiri yang

menerimanya, di antara oleh-oleh itu ada makanan kecil, mungkin nona Thi telah mencicipi

sedikit makanan itu dan akibatnya keracunan.”

“Siapa yang mengirim oleh-oleh itu?”

“Oleh-oleh itu langsung diterimakan kepada nona Thi, orang lain tidak ada yang tahu.”

“Masakah nona Thi itu tidak menjelaskan?”

“Waktu Hoa-kongcu pulang, nona Thi sudah pingsan keracunan dan tak dapat bicara lagi.”

“Mengapa dia begitu ceroboh dan sembarangan makan barang antaran orang lain?” ucap

Siau-hi-ji dengan mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, lalu dia berkata pula,

“Ya, mungkin pengirim oleh-oleh itu adalah kenalannya yang dipercayainya, makanya tanpa

sangsi dia makan begitu saja. Tapi … orang yang dipercaya mengapa pula meracuni dia?”

Samkohnio menghela napas, katanya, “Nona Thi itu sungguh cantik dan lemah lembut, dia

dan Hoa-kongcu benar-benar suatu pasangan yang sangat setimpal. Kalau sampai nona Thi

tidak tertolong, sungguh suatu hal yang sangat harus disesalkan.”

“Kau … kau bilang dia dan Hoa…” sedapatnya Siau-hi-ji menggereget menahan

perasaannya.

“Mereka sungguh amat kasih sayang dan membuat kagum setiap orang yang melihatnya,”

tutur Samkohnio. “Lebih-lebih Hoa-kongcu, boleh dikatakan menuruti segala kehendak

nona Thi itu, ya menyanjungnya, ya meladeninya, ya ….”

Mata Siau-hi-ji serasa gelap, dada hampir meledak, tanpa terasa ia berteriak, “Benci

aku!”

“Sia … siapa yang kau benci?” tanya Samkohnio.

“O, kumaksudkan … orang yang meracuninya itu,” jawab Siau-hi-ji.

“Sampai saat ini Hoa-kongcu dan Kang Piat-ho belum lagi mengetahui siapa yang

meracunnya itu.”

Mendadak Siau-hi-ji tergelak-gelak, “Hahaha, begitu kasih sayang Hoa-kongcu padanya,

tapi … tapi dia tak mampu menyelamatkan jiwanya … hahaha … hehe ….”

Melihat cara tertawa Siau-hi-ji rada aneh, dengan heran Samkohnio lantas tanya, “Kenapa

kau ini?”

“O, aku tidak apa-apa, aku sangat gembira, belum pernah aku segembira seperti sekarang

ini,” jawab Siau-hi-ji.

Samkohnio menunduk, katanya, “Berada bersama … bersamaku kau betul-betul merasa

gembira?”

Tampaknya dia salah terima lagi, disangkanya Siau-hi-ji benar-benar naksir padanya.

Sejenak Siau-hi-ji terdiam, mendadak ia tarik tangan Samkohnio pula dan berkata,

“Sekarang ingin kumohon sesuatu padamu, apakah engkau dapat menerimanya?”

Muka Samkohnio merah pula, jantungnya berdetak lebih keras, napasnya agak sesak,

dengan kepala tertunduk dia menjawab, “Apa pun yang kau minta padaku pasti akan

kusanggupi.”

“Kumohon kau suka mengantar aku keluar dari sini dan jangan sampai diketahui orang

lain,” ucap Siau-hi-ji dengan girang.

Kembali hati Samkohnio serasa kosong blong, malahan juga seperti kena dicambuk satu

kali, seketika ia melenggong kesima.

Entah sudah berapa lamanya, akhirnya ia berkata dengan suara terputus-putus, “Apakah

sekarang juga kau hendak … hendak pergi?”

“Ya, makin cepat makin baik,” ucap Siau-hi-ji.

Perlahan Samkohnio berbangkit sambil menghela napas, “Baiklah, akan kuantar kau

keluar.”

“Terima kasih banyak-banyak,” Siau-hi-ji tertawa.

Di luar dugaannya mendadak Samkohnio terus berteriak, “Tolong … tolong, di sini ada

penjahat.”

Seketika wajah Siau-hi-ji menjadi pucat, ia mencengkeram tangan Samkohnio dan

berkata, “Ap … apa maksudmu ini?”

Samkohnio tidak menjawab. Dalam pada itu terdengar suara berkibarnya kain baju, tahutahu

Kang Piat-ho sudah berada di luar dan sedang bertanya di mana penjahat yang

dimaksud? Datangnya sungguh cepat luar biasa. Keruan Siau-hi-ji terkejut, ya gemas, ya

dongkol.

“Perempuan, dasar perempuan! Demi untuk menahanku di sini, dia tidak sayang

mengorbankan diriku. Sejak mula juga kutahu perempuan adalah bibit penyakit, mengapa

aku masih percaya padanya?”

Begitulah Siau-hi-ji berpikir, ia sudah bertekad akan menerjang keluar dengan matimatian,

jika perlu.

Tak tersangka Samkohnio lantas berseru, “Baru saja kulihat bayangan seorang seperti

lari ke tempat tinggal nona Thi.”

Belum lenyap suaranya, segera Hoa Bu-koat berteriak, “Wah celaka! jangan-jangan kita

tepedaya oleh akal ‘memancing harimau meninggalkan gunung’ bangsat itu. Lekas kita ke

sana!” Menyusul mana lantas terdengar angin berkesiur, hanya sekejap saja kedua orang

itu sudah pergi jauh.

Siau-hi-ji menghela napas lega, ucapnya dengan meringis, “Sungguh engkau membikin

kaget padaku.”

“Jangan khawatir, aku takkan membikin susah padamu,” kata Samkohnio dengan tenang.

“Tapi engkau telah ….”

“Aku sengaja berteriak memancing kepergian mereka agar dapat membantumu keluar

dengan leluasa,” Samkohnio terus ambil sebuah mantel dan dilemparkan pada Siau-hi-ji,

katanya pula, “Pakai dan kubawa kau keluar.”

Entah bagaimana perasaan Siau-hi-ji, ia hanya bergumam, “Perempuan … sungguh aku pun

tidak jelas makhluk apakah sebenarnya perempuan?”

“Kau bilang apa?” tanya Samkohnio.

“O, tidak, kubilang … engkaulah anak perempuan yang paling jujur yang pernah kukenal.”

Samkohnio tertawa, katanya, “Jika benar aku ini jujur tentu aku takkan menggunakan akal

ini.”

“Makanya aku merasa anak perempuan itu sangat aneh, anak perempuan yang paling jujur

terkadang juga main tipu, anak perempuan yang paling licin terkadang justru sangat

bodoh.”

Untung perawakan Samkohnio tinggi besar, mantelnya bagi Siau-hi-ji terasa cocok juga,

dengan langkah lebar cepat mereka keluar.

Meski di halaman juga ada peronda, tapi demi melihat Samkohnio mereka lantas

menunduk dan memberi hormat, siapa pun tiada yang berani bertanya.

Samkohnio membawa Siau-hi-ji ke pintu samping, ia membuka pintu dan berpaling, di

bawah sinar bintang yang redup itu terlihat wajah Siau-hi-ji yang bandel, binal, tapi juga

penuh daya tarik itu.

Samkohnio menghela napas perlahan, katanya kemudian, “Apakah kau akan … akan datang

menjenguk aku lagi?”

“Ya, aku pasti akan datang lagi, hari ini juga ….” sembari bicara anak muda itu terus lari

pergi dengan cepat.

Termangu-mangu Samkohnio memandangi bayangan Siau-hi-ji, timbul semacam perasaan

aneh, entah pilu entah girang, semacam perasaan yang belum pernah dirasakannya selama

ini.

Kini Samkohnio telah menjadi seorang perempuan yang sempurna. Soalnya apa yang

dirasakannya sekarang hanya timbul pada anak perempuan yang sedang rindu. Perempuan

yang belum pernah mengalami perasaan demikian pada hakikatnya belum terhitung

sebagai perempuan.

Malam sudah larut, waktu yang paling sunyi di tengah kota, jalan raya sepi tiada seorang

pun, cepat Siau-hi-ji lari pulang ke rumah obat.

Sampai di jalan itu, samar-samar sudah kelihatan papan merek “Ging-ih-tong”, langkah

Siau-hi-ji lantas dilambatkan.

Seperti seekor anjing pelacak, hidung Siau-hi-ji mengendus ke kanan ke kiri, matanya

celingukan kian kemari, mendadak ia berjongkok dan mengawasi sesuatu, lalu bergumam,

“Ya, ini dia ….”

Dilihatnya di atas jalanan balok batu yang mengkilap itu ada sedikit bubuk obat, beberapa

kaki di depan sana terdapat lagi bubuk obat serupa. Dengan menggunakan indera matanya

Siau-hi-ji terus melacak sepanjang jalan.

Kiranya semalam dia menyambit dengan batu pada bungkusan obat yang diborong kedua

lelaki itu justru berharap obat-obat itu akan bocor keluar, dengan petunjuk obat bocoran

itu dengan sendirinya ia pun akan menemukan ke arah mana bungkusan obat-obat diantar.

Meski masih muda belia, namun cara kerja Siau-hi-ji sangat cermat, bukan saja dia sudah

menyiapkan jalur petunjuk ini, bahkan ia pun sudah memperhitungkan di malam sunyi

begini, di jalanan yang sepi dengan orang berlalu lalang ini bubuk obat yang berserakan

pasti tidak akan terinjak hilang.

Begitulah ia terus melacak ke depan, sampai akhirnya ia tidak perlu lagi berjongkok dan

memeriksa, cukup dengan bau obat yang terembus angin malam yang sejuk itu dan pasti

takkan salah alamat lagi.

Setelah sekian lamanya, jalanan makin lama makin terpencil dan sepi, tertampak di depan

ada sebuah kolam, air beriak kemilau, di tepi kolam ada papan kayu yang bertulis, “Kolam

ikan keluarga Tio, dilarang keras memancing di sini”.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Kolam sebesar ini ternyata milik pribadi, tampaknya

keluarga Tio ini selain kaya tentu juga berpengaruh.”

Tertampak tidak jauh di seberang kolam sana memang ada sebuah perkampungan dengan

rumah yang berderet-deret, walaupun tidak semegah perkampungan tempat kediaman

Toan Hap-pui, tapi dibangun membelakangi bukit dan menyebelah kolam, kelihatannya

menjadi sangat megah.

Dan bungkusan obat-obat itu ternyata diantar ke arah perkampungan ini.

Siau-hi-ji ragu-ragu, ia coba memandang sekelilingnya, di tengah malam sunyi di tengah

perkampungan itu ternyata masih ada cahaya lampu, pintu gerbang yang bercat hitam

juga ada sebuah papan.

“Thian-hiang-tong, Te-leng-ceng, Tio”, demikian tulisan di papan itu, artinya kolam Thianhiang,

perkampungan Te-leng, keluarga she Tio.

Siau-hi-ji membatin, “Melihat lagaknya, keluarga Tio ini tidak saja kaya dan berpengaruh,

bahkan pasti juga tokoh kalangan Kangouw. Di tengah malam buta mereka belum tidur,

rasanya bukan sedang berbuat sesuatu yang baik.”

Setelah mengincar baik-baik keadaan sekitarnya, Siau-hi-ji lantas melompat ke dalam

perkampungan itu.

Pada dasarnya Siau-hi-ji memang pemberani, akhir-akhir ini ilmu silatnya maju pesat pula,

tentu saja ia meremehkan segala sesuatu, langsung ia menuju ke tempat yang bercahaya

lampu.

Itulah sebuah ruangan duduk. Siau-hi-ji merunduk maju sampai di bawah emper, dengan

air ludah dia membasahi kertas penutup jendela dan membuat sebuah lubang kecil.

Tertampak di tengah ruangan sedang duduk empat orang lagi minum arak.

Ruangan duduk ini dengan sendirinya juga teratur sangat indah, hidangan di atas meja

juga kelas tinggi, semuanya ini tidak diteliti oleh Siau-hi-ji, pada hakikatnya ia malah

tidak menaruh perhatian.

Yang diincarnya justru pada sudut kiri ruangan itu, di pojok sana penuh tertimbun

bungkusan obat-obat sejenis Kuici, Lengka, Himta dan sebagainya.

Terdengar seorang di antaranya sedang bicara, “Betapa pun juga saudara bertiga sudah

berkunjung kemari, sungguh suatu kehormatan besar bagi Cayhe, marilah kusuguh pula

kalian secawan!”

Orang ini duduk di bagian tuan rumah, tinggi kurus, bermuka lonjong seperti kuda, hidung

besar mirip paruh kakak tua, pelipisnya menonjol, sorot matanya tajam, tampaknya

berwibawa.

Diam-diam Siau-hi-ji menduga orang ini tentu tuan rumah she Tio.

Segera terdengar seorang menanggapi dengan tertawa, “Ucapan Tio-cengcu ini entah

sudah diulang beberapa kali dan arak juga entah disuguh berapa cawan, kalau Tio-cengcu

masih sungkan-sungkan begini sungguh kami bersaudara akan merasa tidak tenteram.”

“Padahal kami bersaudara dapat menjadi tetamu Tio-cengcu, inilah yang benar-benar

suatu kehormatan bagi kami,” ucap orang ketiga. “Sepantasnya kami yang mesti menyuguh

secawan, kepada Tio-cengcu.”

Kedua orang tamu yang bicara ini mempunyai rupa yang sama, sama-sama berwajah bundar

dan gemuk. Waktu tertawa matanya menyipit hingga tidak kelihatan biji matanya, cara

bicaranya ramah tamah, bentuk mereka seperti pinang dibelah dua.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli, “Kedua orang gemuk ini ternyata dicetak dari suatu

klise yang sama. Meski banyak juga saudara kembar di dunia ini, tapi bentuknya yang

benar-benar serupa seperti kedua orang ini tidaklah banyak.”

Ia tidak kenal ketiga orang tamu Tio-cengcu ini, ia lebih-lebih tidak tahu mengapa mereka

meracuni Thi Sim-lan.

Selagi menimang-nimang, mendadak dilihatnya orang keempat itu menoleh. Orang ini

rambut dan jenggotnya sudah beruban, sikapnya angker, ternyata bukan lain dari pada

Thi Bu-siang yang berjuluk “Ay-cay-ji-beng”.

Melihat orang ini, Siau-hi-ji benar-benar terperanjat. Kiranya yang menaruh racun ialah

Thi Bu-siang, sungguh sukar dibayangkan olehnya.

Pantas Thi Sim-lan percaya penuh dan tanpa sangsi makan panganan yang diantarkan

padanya itu, “Ay-cay-ji-beng” Thi Bu-siang, dengan sendirinya setiap orang persilatan

percaya penuh pada nama tokoh besar ini. Sungguh tidak nyana Thi Bu-siang sama dengan

Kang Piat-ho, juga manusia munafik yang lahirnya berbudi tapi hatinya berbisa.

Tapi mengapa dia meracuni Thi Sim-lan?

Sesaat itu pikiran Siau-hi-ji telah bekerja keras, ia terkejut dan curiga, ia benar-benar

tidak percaya, tapi bukti tertampang di depan mata.

Dilihatnya Tio-cengcu itu sedang sibuk menuangkan arak, ia angkat cawan dan mengajak

minum, katanya dengan tertawa, “Kalian bersaudara dan Thi-loenghiong adalah ksatria

jaman ini, apa kepintaran dan kebaikanku Tio Hiang-leng sehingga mendapat perhatian

kalian, mari, marilah, biar Cayhe menyuguh pula kalian secawan.”

Kedua saudara kembar gemuk itu lantas angkat cawan masing-masing, tapi Thi Bu-siang

tidak bergerak sama sekali.

Si gemuk yang duduk di sebelah kiri segera menanggapi dengan tertawa, “Kami

bersaudara adalah angkatan muda dunia Kangouw, tergolong Bu-beng-siau-cut (prajurit

tak bernama, artinya kaum keroco), mana kami berani disejajarkan dengan Thi-locianpwe.

Apabila tiada undangan Tio-cengcu, mana kami sesuai ikut minum arak bersama Thilocianpwe.”

Yang seorang juga lantas menukas, “Betul, jika kawan-kawan Kangouw mendengar bahwa

kami Lo Sam dan Lo Kiu dapat duduk bersama Thi-locianpwe dan ikut minum arak, sungguh

entah betapa rasa kagum mereka.”

Mendadak Thi Bu-siang bergelak tertawa, katanya sambil angkat cawan, “Ah, kalian

terlalu rendah hati, apa pun juga aku bukan orang tuli, pernah kudengar nama kebesaran

Lo-si-hengte (persaudaraan Lo) di dunia Kangouw yang konon berbudi luhur, haha … haha,

untuk itu biarlah kuhormati kalian bersaudara satu cawan.”

Diam-diam Siau-hi-ji mengernyitkan dahi, pikirnya, “Thi Bu-siang menganggap dirinya

tokoh luar biasa, ternyata juga tidak tahan oleh sepatah dua kata sanjung puji saja.

Kedua saudara Lo ini pintar mengumpak dan menjilat, agaknya mereka pun bukan manusia

baik-baik.”

Dalam pada itu terdengar Tio Hiang-leng lagi berkata dengan tertawa, “Ah, kalian bertiga

tidak perlu rendah hati, bahwasanya Thi-locianpwe jelas dikagumi oleh setiap orang, tapi

kedua saudara Lo kan juga ksatria jaman kini.” Lalu dia berpaling dan bicara pada Thi Busiang,

“Mungkin Thi-locianpwe belum mengetahui bahwa kedua saudara Lo meski baru saja

muncul di dunia Kangouw, tapi sekali turun tangan mereka lantas mengalahkan tujuh

jagoan di Thay-ouw serta merobohkan lima tokoh di Soatang, lalu di Thay-heng-san

mengobrak-abrik delapan belas kawanan bandit, semua ini telah menggemparkan dunia

Kangouw.”

“Sungguh aneh, kejadian begitu, mengapa tak kuketahui,” ucap Thi Bu-siang.

“Agaknya Thi-locianpwe tidak paham kedua saudara Lo memang tidak suka menonjolkan

diri, apa pun juga yang mereka lakukan sengaja tidak disiarkan, budi luhur begini sungguh

jarang ada bandingannya,” demikian tutur Tio Hiang-leng.

“Bagus, bagus, sahabat begini harus kuikat dengan baik,” ucap Thi Bu-siang dengan

tertawa. “Cuma … eh, kalian pasti saudara sekandung kembar, mengapa yang seorang

berurutan Sam (tiga) dan yang lain Kiu (sembilan) ?”

“O, nama kami hanya memakai angka hitungan, jadi tiada sangkut-pautnya dengan nomor

urut tua dan muda,” jawab Lo Sam dengan tertawa.

“Padahal aku adalah saudara tua dan dia saudara muda,” sambung Lo Kiu.

“Haha, sungguh aneh dan lucu,” seru Thi Bu-siang tertawa, “Setiap orang yang tahu nama

kalian pasti tidak percaya yang bernama Kiu adalah kakak dan yang bernama Sam malah si

adik.” Setelah merandek sejenak, lalu katanya pula, “Kalian begini lihai, entah berasal dari

perguruan mana? Dan entah mengapa pula sedemikian lambat kalian tampil di depan

umum? Baru tiga tahun yang lalu mulai kudengar nama kalian.”

“Kami gemar ilmu silat sejak kecil,” jawab Lo Kiu, “Makanya suka berlatih beberapa jurus

cakar kucing di rumah, jadi tiada perguruan segala. Sampai berumur empat puluh

mendiang ibu kami masih hidup, kami bersaudara tidak berani pergi jauh, baru setelah ibu

wafat kami berani keluar.”

“Tak nyana kalian selain ksatria juga anak berbakti,” ucap Thi Bu-siang dengan gegetun.

“Ah, mana berani dipuji begitu,” kata Lo Sam.

“Mengingat kalian mampu malang-melintang ke sana sini sejak keluar rumah, jika kalian

tidak mendapatkan didikan guru ternama, sungguh sukar dipercaya,” kata Thi Bu-siang

pula.

“Di depan Locianpwe masakah kami berani berdusta,” ujar Lo Kiu.

“Jika begitu, kalian boleh dikatakan bakat yang sukar dicari, ilmu silat ciptaan sendiri

ternyata lebih hebat, entah kalian sudikah mempertunjukkan sejurus dua bagiku?”

“Mana kami berani pamer di depan tokoh besar seperti Thi-locianpwe,” kata Lo Sam.

“Jika kalian tidak sudi, sungguh aku akan tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.”

“Tapi Wanpwe benar-benar tidak berani,” jawab Lo Kiu dengan tertawa.

“Kalian harus memberi muka kepadaku, memangnya kalian tidak menghargai

permintaanku?” kata Thi Bu-siang dengan sungguh-sungguh.

Cepat Thio Hiang-leng menyela, “Thi-locianpwe berjuluk ‘Ai-cay-ji-heng’ dan terkenal

menyukai setiap orang muda berbakat, bisa jadi beliau menjadi tertarik oleh bakat kalian

bersaudara, maka kalian janganlah mengecewakan keinginan Thi-locianpwe.”

Lo Sam menyengir, jawabnya, “Masakah Tio-cengcu juga ….”

“Bicara terus terang, Cayhe memang juga ingin melihat pertunjukan kalian yang pasti

menarik,” ucap Tio Hiang-leng.

“Jika begitu, terpaksa kami harus menurut,” kata Lo Kiu sambil berbangkit.

Meski badan kedua Lo bersaudara ini sangat gemuk, tapi juga sangat tinggi. Mereka terus

menyingsing baju dan mulai “main” di ruangan tamu ini.

Maka bukan cuma Tio Hiang-leng dan Thi Bu-siang yang mengikutinya dengan cermat,

bahkan Siau-hi-ji yang mengintip di luar jendela juga melotot, ia pun ingin tahu sampai di

manakah taraf ilmu silat kedua Lo bersaudara itu dan berasal dari aliran mana.

Terlihat permainan silat kedua Lo bersaudara itu memang sedap dipandang, Lo Kiu

memainkan ilmu pukulan Siang-poan-ciang, sedangkan Lo Sam main ilmu pukulan Tay-hengkun.

Tampaknya memang tangkas, kuda-kudanya kuat, namun bagi kaum ahli jelas ilmu silat

mereka itu cuma sedap dipandang dan tidak enak dimakan, artinya cuma ilmu silat

kembangan belaka, ilmu silat mereka ini pada hakikatnya sangat umum, bahkan kusir dokar

atau kuli tepi jalan terkadang juga dapat main.

Thi Bu-siang seperti terkesima mengikuti permainan kedua Lo bersaudara itu, tapi

bukannya kesima kagum akan lihainya ilmu silat mereka, sebaliknya heran akan rendahnya

kepandaian mereka.

Selesai main, tampaknya muka kedua Lo bersaudara rada merah, mereka memberi hormat

dan berkata dengan rendah hati, “Mohon Thi-locianpwe suka memberi petunjuk.”

“Oo … ehm ….” Thi Bu-siang tidak menanggapi dan tiada komentar.

“Ilmu silat kedua saudara Lo sungguh teramat kuat, entah bagaimana pendapat Thilocianpwe?”

Tio Hiang-leng bertanya dengan tertawa.

“Ehm, be … betul, betul,” kata Thi Bu-siang. Walaupun begitu ucapnya, namun tidak dapat

menutupi nadanya yang merasa kecewa, dia benar-benar tidak tertarik lagi oleh kedua

orang gemuk itu.

Akan tetapi Siau-hi-ji justru sangat tertarik oleh kedua orang itu. Pikirnya, “Kedua orang

ini pintar dan cerdik, mahir menyembunyikan sesuatu tanpa kelihatan pada lahirnya,

sampai-sampai jago kawakan Kangouw seperti Thi Bu-siang juga kena dikelabui dan tak

dapat melihat bahwa ilmu silat mereka sebenarnya tidak terbatas begitu saja. Tindakan

mereka itu tidak saja menyembunyikan asal usul ilmu silat sendiri, bahkan juga

menghilangkan rasa curiga orang lain sehingga tidak menaruh waswas kepada mereka.

Jelas mereka lebih suka dianggap rendah oleh orang lain, sungguh suatu pikiran yang licin,

betapa pun aku harus waspada terhadap orang macam begini.

Walaupun Siau-hi-ji sudah dapat menerka sesuatu muslihat tersembunyi di balik

kerendahan hati kedua orang gemuk itu, tapi ia pun tak dapat mengetahui dengan pasti

akal busuk apa yang mereka atur. Dan dengan sendirinya pula ia tak dapat menerka asal

usul mereka.

Tadi ia bermaksud menerjang ke dalam untuk mengambil obat, kini demi melihat kelicinan

kedua orang gemuk itu, seketika ia menjadi ragu-ragu.

Terdengar Tio Hiang-leng sedang angkat cawan dan berkata pula, “Malam ini pasti kita

tak dapat tidur karena diributkan oleh peristiwa tak terpecahkan itu, namun barusan

dapat menyaksikan kehebatan kedua saudara Lo serta dapat mengiringi Thi-locianpwe

minum semalam suntuk, sedikitnya terhibur juga rasa kesal semula.”

Diam-diam Siau-hi-ji jadi heran, entah apa “peristiwa tak terpecahkan” yang dimaksud

Tio Hiang-leng?

Pada saat itulah di luar perkampungan tiba-tiba berkumandang suara ringkik kuda dan

roda kereta. Serentak Thi Bu-siang berbangkit dan berseru, “Jangan-jangan telah datang

pula!” Habis berkata, secepat terbang ia terus menerobos keluar.

Di luar perkampungan memang betul telah datang sebuah kereta kuda, waktu pintu

gerbang dibuka, kereta itu langsung dilarikan ke dalam, tapi di atas kereta tiada nampak

seorang penghela pun.

Tio Hiang-leng lantas memerintahkan centingnya menurunkan muatan kereta itu, begitu

bungkusan muatan itu dibuka, serentak terendus bau obat-obatan. Ternyata isi

bungkusan-bungkusan itu adalah Kuici, Bakui, Lengka, dan Himta ….

Siau-hi-ji dapat melihatnya dengan jelas, kembali ia terkejut.

Di bawah cahaya lampu kelihatan air muka Tio Hiang-leng dan Thi Bu-siang juga berubah.

“Urusan apa-apaan ini? Semalaman berturut-turut beberapa kali tanpa sebab mengantar

obat sebanyak ini ke sini, apakah ada orang sengaja bergurau denganku atau sengaja

hendak main gila padaku?” demikian omel Tio Hiang-leng.

“Semua bahan obat-obatan ini berharga mahal, siapa yang mau bergurau dengan

menggunakan benda berharga begini?” ujar Thi Bu-siang.

“Bagaimana kalau menurut pendapat Locianpwe?” tanya tuan rumah.

“Di balik urusan ini bukan mustahil ada sesuatu tipu muslihat keji,” kata Thi Bu-siang

setelah berpikir sejenak.

“Tapi obat-obatan ini bukanlah racun melainkan obat kuat malah, dengan mengantar obatobatan

ini rasanya juga tiada maksud jahat,” kata Tio Hiang-leng. “Apakah barangkali Loheng

dapat menerka apa sebabnya?”

“Thi-locianpwe berpengalaman luas dan berpengetahuan tinggi, apa yang diucapkannya

pasti beralasan,” ujar Lo Kiu dengan tertawa.

“Betul, kalau tokoh seperti Thi-locianpwe tak dapat menerkanya, apalagi kami bersaudara

ini?” dengan tertawa Lo Sam menambahkan.

“Sesungguhnya aku pun merasa bingung,” ucap Thi Bu-siang.

Meski dia merasa bingung, namun Siau-hi-ji sudah tahu jelas duduknya perkara. la

membatin, “Bagus sekali, kiranya kalian sengaja mengatur tempat tukang tadahnya, kalian

mengantar obat-obatan itu ke sini agar Hoa Bu-koat menyangka yang menaruh racun ialah

Thi Bu-siang, rupanya kalian memakai tipu ‘timpuk batu sembunyi tangan’. Cuma sayang

persoalan ini kebetulan kepergok olehku, maka apeslah kalian.”

Setelah berpikir dan mendapat akal, diam-diam ia lantas meninggalkan perkampungan

keluarga Tio ini.

Mumpung di waktu malam, ia mencari sebuah toko penjual sebangsa pupur bedak dan

sebagainya, dia masuk dengan bertangan kosong, keluarnya sudah penuh “muatan”, segala

keperluannya dalam bungkusan-bungkusan sudah dibawanya.

Kalau “Thian-hiang-tong, Te-leng-ceng” saja dia dapat masuk keluar dengan leluasa

seperti tiada penghuninya, dengan sendirinya toko sekecil ini bukan apa-apa baginya, apa

yang dia perlukan tinggal ambil saja.

Maka waktu fajar tiba, seperti ular habis mengelungsungi, Siau-hi-ji juga telah berganti

rupa, kini wajahnya putih gemuk, malahan rada-rada tembem, matanya riap-riap seperti

orang yang selalu mengantuk dan mulutnya rada monyong sehingga lebih mirip makelar di

rumah pelacur.

Kepandaian rias muka yang dipelajarinya dari To Kiau-kiau ternyata tidak sia-sia.

Waktu pagi tempat yang paling ramai di dalam kota dengan sendirinya adalah rumah

minum yang juga menjual sarapan pagi, Siau-hi-ji mencari sebuah rumah makan yang paling

ramai.

Biasanya, rumah makan yang ramai dikunjungi peminat hanya ada dua kemungkinan. Murah

dan enak. Jika bukan harganya murah tentu hidangannya lezat. Itulah daya tarik

langganan.

Di rumah makan itulah Siau-hi-ji mengisi perut sekenyangnya, ia habiskan satu piring Siomoy

dan beberapa potong Yucakue disertai satu mangkuk kuah panas. Ia tahu hari ini

pasti akan banyak keluarkan tenaga, maka “tangki bensin” juga perlu diisi penuh.

Supaya menghasilkan tenaga besar manusia harus makan kenyang.

Di luar rumah makan itu sudah ramai pasar pagi, orang berlalu lalang berjubel-jubel,

seorang lelaki tinggi kurus dengan pelipis bertempelkan koyok dan tangan menjinjing

sangkar burung tampak menerobos kian kemari di tengah-tengah khalayak ramai.

Sebelah tangan lelaki jangkung itu membawa sangkar burung, tapi tangan lain juga tidak

menganggur, sekali tangan terjulur, seketika isi saku orang lain sudah menjadi miliknya.

Orang inilah yang diincar dan dikuntit Siau-hi-ji, ia mendekatinya dan memegang

pundaknya sambil menegur dengan tertawa, “Gesit amat kerja tangan sahabat.”

Pencoleng itu menoleh dan merasa tidak kenal Siau-hi-ji, dengan gusar ia memaki, “Anak

jadah, barangkali kau makan kekenyangan dan ingin digebuk?” Berbareng tangannya

membalik terus menampar.

Sudah pasti selama hidupnya jangan harap akan dapat memukul Siau-hi-ji. Hanya dengan

dua jari saja Siau-hi-ji dapat menjepit pergelangan tangan pencoleng itu, sedikit dipencet

dan dipuntir, seketika pencoleng itu meringis dan mengaduh.

“Nah, siapa anak jadah?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa. Keringat dingin membasahi

dahi pencoleng itu, jawabnya dengan terputus-putus, “Aku … aku sendiri anak jadah, aku

sendiri anak haram. Tuan kecil, kakek kecil, ampun, ampunilah anak haram macamku ini,

biarlah kuserahkan seluruh isi bajuku ini padamu.”

“Aku tidak mengincar isi kantongmu,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Asalkan kau

menjawab beberapa pertanyaanku secara jujur, malahan aku yang akan menambahkan isi

sakumu sehingga penuh. Nah, mau tidak?”

“Su … sudah tentu mau,” jawab pencoleng itu.

Sambil menelikung tangan orang, Siau-hi-ji lantas tanya, “Tahukah tempat seperti Thianhiang-

tong, Te-leng-ceng?”

“Tentu saja tahu, kalau tempat begitu saja tidak tahu, mana hamba dapat cari makan di

sini.”

“Orang macam apakah Tio-cengcu itu?”

“Tio-cengcu terkenal kaya raya, tangan terbuka pula, baik kawan kalangan putih maupun

kalangan hitam mempunyai hubungan baik dengan dia. Cuma … cuma sejak sayap Toan Happui

melebar ke sini, semua usahanya hampir jatuh kalah bersaing dengan Toan Hap-pui,

dia bermaksud main kekerasan, tak tahunya Toan Hap-pui juga memiara sekawanan orang

Kangouw, bahkan kelasnya lebih tinggi daripada jago-jago kumpulan Tio-cengcu.”

“Betul, jika demikian halnya,” gumam Siau-hi-ji. “Sungguh Tio Hiang-leng mendatangkan

Thi Bu-siang ke sini tentunya karena dia ingin menggunakan pengaruh tokoh tua itu untuk

menindas Toan Hap-pui, di luar dugaannya usahanya ini justru kena diperalat oleh orang

lain.”

.Pencoleng itu tidak paham apa yang dikatakan Siau-hi-ji, dengan menyengir ia cuma

memohon, “Tuan kecil, Tuan besar, dapatkah engkau melepaskan hamba sekarang?”

“Kerjamu setiap hari putar kayun kian kemari, kau tentu sangat paham keadaan kota ini,

kukira Tio-keh-ceng (perkampungan keluarga Tio) tentu juga ada kenalan, asalkan kau mau

membawaku menemui temanmu dan membiarkan aku ngendon sehari di sana, untuk itu

akan kuberi tiga ratus tahil perak, kau mau tidak?”

Tawaran menarik ini mustahil dia tidak mau? Untuk tiga ratus tahil perak ini sekalipun

bininya juga pencoleng itu mau menjualnya.

*****

Tempat seperti Tio-keh-ceng dengan sendirinya terdapat orang bermacam-macam, ada

yang baik dan ada yang busuk. Di antara kaum pelayan dan pekerja dengan sendirinya

terdapat golongan yang bertujuan ‘cari-cari’ belaka dan orang-orang ini adalah kawan si

pencoleng itu.

Dengan sedikit akalnya Siau-hi-ji lantas dapat bergaul dengan mereka, tidak sampai

setengah hari orang-orang itu pun sudah pandang Siau-hi-ji sebagai teman sendiri.

Yang tidak terduga oleh Siau-hi-ji adalah pagi-pagi Tio Hiang-leng sudah berada di ruang

depan dengan penuh semangat, sedikit pun tiada tanda-tanda kurang tidur karena habis

pesta pora semalam suntuk.

Tidak lama kemudian datanglah berturut-turut beberapa kelompok orang, tampaknya

adalah kaum pedagang, semuanya bersikap sangat hormat kepada tuan rumah.

Siau-hi-ji berdiri agak jauh, ia coba tanya salah seorang centeng siapakah orang-orang

yang pagi-pagi menghadap Tio Hiang-leng itu.

“Mereka adalah pemegang kuasa Cengcu kami yang diserahi mengawasi berbagai

perusahaan di luar sana, setiap pagi mereka pasti datang memberi laporan kepada Cengcu

mengenai perkembangan perusahaan, selain orang-orang ini biasanya Cengcu kami tidak

menerima tamu,” demikian tutur centing itu.

“Ada sementara tamu mungkin mau tak mau harus diterima Cengcu kalian,” ujar Siau-hi-ji

dengan tersenyum.

Sudah tentu centing itu tidak paham maksud yang terkandung di balik ucapan Siau-hi-ji

itu, jawabnya dengan tertawa, “Memangnya ada orang yang berani sembarangan

menerjang masuk perkampungan kami ini?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Bagaimana kalau tamu itu Toan Hap-pui

adanya?”

“Huh, babi gemuk itu maksudmu?” jengek si centing. “Sudah lama Cengcu kami hendak

memotong dagingnya untuk dibuat Ang-sio-bak.”

“O, kiranya Cengcu kalian bermusuhan besar dengan Toan Hap-pui?” tanya Siau-hi-ji.

“Soalnya persaingan, usaha Cengcu kami mestinya maju dan lancar, tapi sejak kedatangan

Toan Hap-pui, dengan segala daya upaya dia selalu mengacau dan merusak.”

“Cara bagaimana dia mengacau dan merusak?”

“Misalnya di mana Cengcu kami ada toko, di situ pula dia membuka toko yang serupa,

setiap langganan Cengcu kami selalu diserobot olehnya, maka permusuhan Thian-hiangtong

kami dengan Toan Hap-pui boleh dikatakan adalah sedalam lautan.”

“Sungguh tidak nyana bahwa dunia dagang juga seperti medan perang,” kata Siau-hi-ji

dengan tertawa. “Tampaknya permusuhan di kalangan dagang akan jauh lebih keras dari

pada musuh di medan perang.”

“Orang dagang harus mengutamakan kejujuran, tapi cara kotor dan rendah seperti Toan

Hap-pui itu pada hakikatnya bukan cara manusia,” ucap si centing.

Maklumlah, orang dagang pada jaman dahulu umumnya mengutamakan kejujuran, akan

tetapi Toan Hap-pui ternyata memiliki otak dagang modern seperti jaman kini, dia

menggunakan akal dagang bersaing dan main monopoli seperti sekarang untuk

mengalahkan lawannya, dengan sendirinya caranya ini menimbulkan rasa benci pihak lawan.

Dalam pada itu Tio Hiang-leng sudah menyelesaikan urusannya dengan para pegawainya. Ia

menghirup teh yang sudah tersedia, lalu memberi perintah agar pelayan mengundang para

tamunya ke ruangan tamu ini untuk minum.

Siau-hi-ji putar kayun dulu ke perkampungan ini, sekembalinya ia lihat Thi Bu-siang, Lo Kiu

dan Lo Sam sudah berada di ruangan tamu dan asyik membicarakan kejadian aneh

semalam.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Jika taksiranku tidak meleset, mungkin sudah saatnya

dia akan tiba!” Maka ia lantas duduk di atas batu yang berada di bawah pohon yang

rindang.

Benar juga, tidak lama kemudian terdengarlah di pintu luar sana ada suara ramai, seorang

berseru, “Antarkan kartu nama ini kepada Cengcu kalian, katakan Cayhe minta bertemu.”

Terdengar penjaga menjawab, “Maaf, sudah menjadi kebiasaan Cengcu kami di waktu pagi

men ….” Mendadak ucapannya berhenti sampai di sini, seperti orang yang kaget demi

melihat nama yang tertulis pada kartu yang disodorkan.

“Itu dia sudah datang!” demikian Siau-hi-ji bergumam dengan girang dan rada tegang pula

demi mendengar suara orang tadi.

Dalam pada itu buru-buru si penjaga menyampaikan kartu nama itu kepada sang majikan.

Mula-mula Tio Hiang-leng mengerut kening karena kunjungan tamu di waktu pagi, tapi

demi membaca kartu nama itu, seketika ia pun berubah sikap dan berseru, “He, Kang lamtayhiap

Kang Piat-ho datang!”

Serentak Thi Bu-siang berbangkit, belum lagi dia buka suara, di luar ruangan sudah ada

orang berseru lantang dengan tertawa, “Kang Piat-ho mohon bertemu, masa Cengcu tidak

sudi menemuinya?”

Dua orang tampak melangkahi undak-undakan batu ruangan tamu, orang yang berada di

depan gagah angker, itulah dia Kang Piat-ho. Di belakangnya adalah seorang pemuda

mahacakep. Lebih belakang lagi ada empat lelaki menggotong sebuah joli indah berkain

beludru hijau, pintu joli tertutup tirai, entah siapa yang duduk di dalam joli itu.

Cepat Tio Hiang-leng memburu maju untuk menyambut, sapanya sambil memberi hormat,

“Cayhe tidak tahu akan kunjungan Kang-tayhiap sehingga tidak menyambut lebih dulu,

harap sudi memberi maaf.”

“Waktu berkunjung kami ini kurang tepat, kamilah yang perlu minta maaf kepada Cengcu,”

jawab Kang Piat-ho tertawa.

Setelah mempersilakan duduk tetamunya, dilihatnya air muka si pemuda cakep itu

bersungut, ketika sorot mata kedua orang beradu, tanpa terasa Tio Hiang-leng mengkirik,

ia menyapa, “Saudara ini entah ….”

“Ini Hoa-kongcu, Hoa Bu-koat,” sela Kang Piat-ho dengan tersenyum.

Dia sengaja memperkenalkan Hoa Bu-koat dengan tawar, tapi bagi Tio Hiang-leng, Thi Busiang

dan kedua saudara Lo itu menjadi terkesiap demi mendengar nama ini.

Setelah memandang sekejap, Thi Bu-siang berkata dengan tertawa, “Kiranya saudara ini

adalah Bu-koat Kongcu yang termasyhur akhir-akhir ini, ternyata memang ksatria muda

yang cakap, sungguh beruntung dapat berjumpa.”

“Terima kasih,” ucap Bu-koat dengan dingin-dingin saja.

“Dan inilah Thi-locianpwe,” dengan tertawa Tio Hiang-leng juga memperkenalkan jagonya.

“Mungkin kalian sudah lama saling kenal, tapi kedua saudara Lo ini ….” Dengan sendirinya

ia pun membumbu-bumbui lebih banyak ketika memperkenalkan kedua orang gemuk ini.

Tapi Hoa Bu-koat seperti tidak mendengarkan uraiannya, yang menarik perhatiannya

adalah hidungnya yang sedang mencium-cium sesuatu bau tertentu, mendadak lengan

jubahnya mengebas, dengan enteng dia melesat ke sana.

Semua orang cuma merasa ada bayangan berkelebat, tahu-tahu Hoa Bu-koat sudah

melayang ke ruang samping, waktu bayangan berkelebat pula, cepat sekali dia sudah

melayang balik, tangannya meraup segenggam obat dan air mukanya tampak pucat.

“Ternyata betul terdapat di sini,” demikian ucapannya dengan suara parau.

“Apakah obat-obatan ini milik Hoa-kongcu?” tanya Tio Hiang-leng. “Cayhe lagi bingung

karena tidak tahu siapa yang mengirimkannya kemari, semalam ….”

“Apakah Cengcu benar-benar tidak tahu siapa pengirimnya?” tiba-tiba Kang Piat-ho

menukas dengan senyum tak senyum.

Tio Hiang-leng memandangnya-sekejap, kemudian memandang Hoa Bu-koat pula, dari air

muka pemuda itu ia tahu di balik persoalan ini pasti menyangkut sesuatu urusan gawat

Maka dengan menyengir kikuk ia menjawab, “Se … sebenarnya bagaimana duduk

perkaranya?”

“Duduk perkara ini sebenarnya juga sangat sederhana,” kata Kang Piat-ho. “Ada orang

meracuni bakal istri Hoa-kongcu, tapi sengaja memborong habis semua obat penawar

racun di setiap toko obat. Nah, bagaimana duduk perkaranya menurut pendapat Tiocengcu?”

“Jelas tujuannya hendak menamatkan hidup calon istri Hoa-kongcu,” kata Tio Hiang-leng.

“Betul, dan dengan demikian, orang yang sengaja menguras semua obat penawar di

pasaran itu bukankah sama dengan orang yang menaruh racun itu?” tanya Kang Piat-ho.

“Ya, dengan sendirinya,” jawab Tio Hiang-leng.

“Bagus,” ucap Kang Piat-ho dengan tersenyum.

Setelah berpikir, seketika air muka Tio Hiang-leng berubah pucat, serunya, “He, jadi

obat … obat penawar yang dimaksud itu kini berada di tempatku ini?”

“Betul,” kata Kang Piat-ho tegas.

“Tapi … tapi Cayhe benar-benar tidak tahu seluk-beluk urusan ini ….” seru Tio Hiang-leng

sambil melonjak. “Obat-obatan itu baru kemarin dikirim kemari.”

“Siapa pengirimnya?” tanya Kang Piat-ho.

“Cayhe juga tidak tahu,” jawab Tio Hiang-leng.

“Tidak tahu?” jengek Kang Piat-ho. “Masa ada orang tanpa sebab mau mengirimkan obatobatan

yang bernilai mahal ini secara cuma-cuma kepada orang lain? Tio-cengcu bicara

cara begini, memangnya kau anggap diriku ini anak kecil?”

Bahwasanya kejadian ini memang aneh dan sukar dipercaya kalau diceritakan, dengan

sendirinya Tio Hiang-leng tidak dapat memberi penjelasan lebih lanjut, hanya keringat

dingin saja memenuhi dahinya.

Mendadak Thi Bu-siang berdiri dan berseru, “Lohu bersedia menjamin Tio-cengcu dengan

kehormatanku bahwa obat-obatan itu memang betul kiriman orang lain, Tio-cengcu

memang betul tidak tahu-menahu siapa pengirimnya.”

Kang Piat-ho meliriknya sekejap, katanya dengan acuh, “Kalau Tio-cengcu tidak tahu,

kurasa saudara pasti tahu.”

“Ap … apa maksudmu?” seru Thi Bu-siang dengan, gusar.

Kang Piat-ho hanya mendengus saja dan tidak menanggapinya, bahkan tidak lagi

memandang jago tua itu.

Pada saat inilah baru Hoa Bu-koat menarik diri dari dalam joli, kiranya yang berada di

dalam joli adalah Thi Sim-lan, Hoa Bu-koat telah menyuapi Thi Sim-lan dengan obat

penawar yang diambilnya dari ruangan dalam tadi.

Cara telan obat penawar mentah-mentah begitu meski tidak semanjur kalau minum obat

cara biasa, tapi sedikitnya dapat menahan menjalarnya racun, apalagi ditambah bantuan

tenaga dalam Hoa Bu-koat yang mahakuat, hanya sebentar saja di dalam joli lantas

terdengar suara orang merintih perlahan.

Hoa Bu-koat menghela napas lega, perlahan-lahan ia membalik tubuh, sorot matanya

menyapu muka setiap orang, begitu tajam sinar matanya sehingga membuat orang yang

ditatap olehnya merasa seram.

“Siapa yang menaruh racunnya?” dengan sekata demi sekata kemudian Hoa Bu-koat

bertanya.

“Cayhe … Cayhe benar-benar tidak tahu,” ucap Tio Hiang-leng sambil mengusap keringat

di dahinya.

“Ini pasti ada orang sengaja memfitnah!” teriak Thi Bu-siang dengan suara keras.

Kang Piat-ho memandang Lo Sam dan Lo Kiu sekejap, tiba-tiba ia berkata, “Memangnya

obat-obatan ini bukan dibeli oleh Thi-loenghiong dan Tio-cengcu?”

Lo Kiu dan Lo Sam saling pandang sekejap, lalu Lo Kiu menjawab dengan perlahan, “Kami

bersaudara tidak tahu apa-apa.”

“Secara gamblang kalian mengetahui, semalam juga kalian menyaksikan sendiri, mengapa

bilang tidak tahu apa-apa?” bentak Thi Bu-siang gusar.

“Kami bersaudara memang menyaksikan obat-obatan itu diantar sendiri ke sini dan tidak

tahu siapa pengirimnya, bisa jadi pengirimnya ialah Ong Ji, atau Li Si, atau mungkin juga

….” Lo Sam memandang Thi Bu-siang sekejap dan tidak meneruskan lagi.

“Atau mungkin juga dilakukan oleh anak murid Thi-loenghiong, begitu bukan?” tanya Kang

Piat-ho.

Lo Sam dan Lo Kiu kembali saling pandang dan tidak menjawab seakan-akan mengakui

kebenarannya secara diam.

Sorot mata Kang Piat-ho lantas menatap tajam ke arah Thi Bu-siang, lalu bertanya dengan

kalem, “Apalagi yang dapat saudara katakan?”

Thi Bu-siang melotot gusar kepada kedua Lo bersaudara, bentaknya bengis, “Mengapa

kalian berani bicara begitu?”

“Kami bicara sejujurnya,” ucap Lo Kiu.

“Kalian bersaudara sungguh orang yang terpuji, sungguh Cayhe sangat kagum,” ujar Kang

Piat-ho. “Tapi Thi-loenghiong ternyata …. Hehe!”

Thi Bu-siang menjadi murka, bentaknya, “Memangnya Lohu kenapa?”

Kang Piat-ho tidak menjawab, ia mendekati joli dan memanggil perlahan, “Nona Thi!

Apakah nona Thi sudah siuman?”

Terdengar suara rintihan Thi Sim-lan di dalam joli, “O, aku … aku kedinginan!”

“Apakah nona tahu siapa yang meracuni dirimu?” tanya Kang Piat-ho.

Pertanyaan ini membuat orang merasa tegang, semuanya ingin tahu bagaimana jawabnya.

Terdengar Thi Sim-lan menjawab dengan suara lemah, “Apakah aku … aku keracunan? Aku

pun tidak … aku tidak tahu siapa yang menaruh racun ….”

Baru saja Tio Hiang-leng merasa lega terdengar Thi Sim-lan telah menyambung pula,

“Yang jelas habis kumakan dua biji kurma antaran Thi Bu-siang, sekujur badan lantas

kedinginan hingga menggigil, hanya sebentar saja aku lantas tidak sadarkan diri.”

Keterangan ini membuat air muka semua orang berubah.

“Meng … mengapa kau menista orang?” seru Thi Bu-siang.

“Jika saudara tetap menyangkal, apakah sikap ini terhitung lelaki sejati?” kata Kang Piatho.

“Kentut busuk!” teriak Thi Bu-siang gusar. “Selamanya Lohu tidak kenal nona ini dan tiada

permusuhan apa-apa, untuk apa kuracuni dia?”

“Bagaimana pendapatmu atas jawaban ini, Hoa-kongcu?” tanya Kang Piat-ho kepada Hoa

Bu-koat.

Betapa pun Hoa Bu-koat memang bukan pemuda biasa, dalam keadaan demikian dia masih

tetap sabar, walaupun air mukanya tampak bersungut, tapi tetap tenang-tenang saja,

jawabnya dengan kalem, “Sebelum kita bertindak harus membuat mereka menyerah lahir

batin.”

“Ya, pantasnya memang harus begitu,” ucap Kang Piat-ho dengan tertawa, mendadak ia

memanggil salah seorang pemikul joli, “Coba kemari!”

Pemikul joli itu mengiakan dan mendekat, katanya sambil membungkuk tubuh, “Entah ada

pesan apa Kang-tayhiap?

Sudah tentu semua orang tidak tahu untuk apakah Kang Piat-ho memanggil seorang kuli

tukang pikul joli pada detik yang genting ini. Tertampak Kang Piat-ho menyeringai dan

bertanya kepada pemikul joli itu, “Apa yang dikatakan Thi-locianpwe barusan ini sudah

kau dengar bukan?”

“Ya, hamba mendengar dengan jelas,” sahut pemikul joli.

“Coba katakan, adakah alasannya mencelakai nona Thi?” tanya Kang Piat-ho pula.

“Tidak ada,” jawab pemikul joli.

Maka hadirin jadi saling pandang dengan bingung, mereka merasa Kang Piat-ho sengaja

main teka-teki, ada pula yang merasa Kang Piat-ho ini ingin untung malah menjadi buntung.

Tapi Kang Piat-ho sendiri tidak menjadi marah oleh jawaban si pemikul joli, sebaliknya ia

malah tertawa dan bertanya pula, “Jika demikian, jadi bukan Thi-locianpwe yang menaruh

racunnya?”

“Justru Thi-locianpwe yang menaruh racun itu,” kata si pemikul joli.

“Lho, mengapa sekarang kau bilang Thi-locianpwe yang menaruh racunnya?” kata Kang

Piat-ho.

“Sebabnya, meski beliau tiada maksud mencelakai nona Thi, tapi ada niat membinasakan

Hoa-kongcu,” jawab pemikul joli. “Jadi sasaran racunnya sebenarnya Hoa-kongcu, hanya

saja nona Thi yang ketiban pulung.”

Kang Piat-ho pura-pura mengernyitkan kening dan bertanya pula, “Selamanya Thilocianpwe

juga tiada permusuhan apa pun dengan Hoa-kongcu, untuk apa beliau meracuni

Hoa-kongcu?”

“Ya, tepat, untuk apa Lohu meracun orang yang tak kukenal?” tukas Thi Bu-siang dengan

murka.

Tapi pemikul joli itu menjawab dengan tenang, “Maksud tujuan membunuh orang hanya ada

beberapa alasan, misalnya iri, dendam, atau mungkin lantaran diri sendiri berbuat sesuatu

dosa yang tak boleh diketahui orang lain ….”

Dengan gusar Thi Bu-siang membentak, “Selama hidupku selalu bertindak sesuatu dengan

terang-terangan, masa kau budak keparat ini berani menista diriku berbuat sesuatu yang

takut diketahui orang?!”

Bentakan Thi Bu-siang ini menggelegar sehingga para centing Te-leng-ceng sama pucat

ketakutan. Tapi pemikul joli ini ternyata tidak jeri sedikit pun, dengan tenang ia malah

tertawa dan menjawab, “Sekali-kali hamba tidak bilang begitu, Thi-locianpwe sendirilah

yang berkata demikian.”

Bukan saja mulutnya tajam, bahkan nyali pemikul joli itu pun besar, malahan nada

bicaranya yang terdengar menghormat itu terasa menusuk perasaan pula seakan-akan

tidak mau kalah menghadapi Thi Bu-siang.

Semua orang menjadi heran bahwa seorang pemikul joli “Kang-lam-tayhiap” begitu lihai.

Akan tetapi Siau-hi-ji sudah dapat melihat bahwa “pemikul joli” ini seperti orang yang

sudah sangat dikenalnya.

Dalam pada itu, saking gusarnya Thi Bu-siang menjadi tertawa keras sambil menengadah,

teriaknya, “Bagus, bagus, di hadapan kawan sebanyak ini Lohu justru ingin mendengar

tuduhan budak keparat macam kau ini mengenai perbuatanku yang takut diketahui orang?”

“Perbuatan yang tidak boleh dilihat orang juga terdiri dari macam-macam,” ucap pemikul

joli.

“Umpamanya pencuri ayam atau sambar jemuran, ini terhitung kejahatan kecil, kalau

merampok uang kiriman, membunuh orang, ini tergolong kejahatan besar.”

“Mak … maksudmu Lohu pernah merampok uang kiriman siapa?” bentak Thi Bu-siang.

“Umpamanya milik Toan Hap-pui, Toan-loya,” jawab pemikul joli.

“Toan Hap-pui?” teriak Thi Bu-siang dengan parau. “Kau … kau ….”

“Setiap penduduk kota ini tahu bahwa Toan-loyacu adalah saingan keras Tio-cengcu,” kata

si pemikul joli. “Kalau harta Toan-loyacu yang disiapkan untuk membeli barang dagangan

dirampok sehingga barang dagangannya terlambat datang, bukankah Tio-cengcu akan

kehilangan saingan berat sehingga dapat berusaha dengan leluasa, bahkan menaikkan

harga dan untung besar.”

“Sekalipun begitu, lalu ada sangkut-paut apa dengan diriku?” teriak Thi Bu-siang gusar.

“Jika Thi-locianpwe berhasil merampas harta kiriman Toan-loyacu, untuk jasa besar ini

tentu Tio-cengcu akan memberi imbalan setimpal, bahkan harta rampasan itu pun dapat

dinikmati oleh Thi-locianpwe,” ucap si pemikul joli dengan tertawa.

Sungguh hampir meledak dada Thi Bu-siang saking murkanya, teriaknya, “Bagus, bagus,

apalagi? ayo teruskan!”

“Tentunya Thi-locianpwe mengira peristiwa ini takkan diketahui setan sekalipun, andaikan

ada orang Kangouw yang menyelidiki kejadian ini juga takkan mencurigai Thi-locianpwe,” si

pemikul joli tertawa, lalu menyambung pula, “Di luar dugaan, Toan-loyacu ternyata dapat

mengundang Hoa-kongcu kemari, dengan sendirinya Thi-locianpwe juga tahu Hoa-kongcu

bukan tokoh sembarangan dan tentu khawatir peristiwa ini dibongkar oleh Hoa-kongcu,

jika demikian jadinya, maka kelak Thi-locianpwe pasti tiada muka lagi buat berkecimpung

di dunia Kangouw, sebab itu pula harus turun tangan lebih dulu, Hoa-kongcu harus

dibinasakan sebelum dia bertindak sesuatu.”

Cara bicara pemikul joli makin lama makin mencolok, semula masih pakai istilah ‘umpama’

dan ‘misal’ segala, tapi sekarang cara terang-terangan ia menuduh Thi Bu-siang dengan

pasti.

Tentu saja tidak kepalang murka Thi Bu-siang, bentaknya, “Budak keparat, biar

kuhancurkan dulu mulutmu ini!” Berbareng itu ia menubruk maju, di mana angin pukulannya

menyambar, kontan pipi kanan kiri tukang pikul joli itu hendak ditempelengnya.

Thi Bu-siang adalah tokoh dunia persilatan daerah Sam-siang, dengan sendirinya ilmu

silatnya bukan jago pasaran biasa. Sekarang dia melancarkan serangan lihai itu terhadap

seorang kuli tukang pikul joli, ibaratnya elang menyambar kelinci, semua orang menyangka

serangannya pasti akan berhasil dengan mudah.

Anehnya, Kang Piat-ho berdiri tepat di sebelah tukang pikul joli itu, tapi dia tetap diam

saja meski menyaksikan anak buah sendiri hendak ditempeleng orang.

Maka terdengar suara “plak” yang keras disertai suara raungan dan bayangan seorang

lantas mencelat. Ternyata secara keras tukang joli itu telah menangkis pukulan Thi Busiang,

bahkan setelah adu tangan, yang mencelat bukan tukang pikul itu melainkan Thi Busiang

sendiri malah.

Keruan semua orang menjerit kaget.

Sebenarnya Siau-hi-ji sedang merenungkan siapakah sebenarnya kuli pikul itu, tapi kini

setelah melihat gaya pukulannya ternyata ilmu silat golongan murni, seketika tergerak

pikirannya, “Ah, kiranya dia!”

Dilihatnya Thi Bu-siang terpental hingga beberapa meter jauhnya, waktu hendak berdiri

ternyata masih sempoyongan, untung Tio Hiang-leng memburu maju untuk memayangnya

sebelum dia jatuh. Walaupun begitu wajah Thi Bu-siang yang merah itu pun berubah

menjadi pucat dan dada berempas-empis, jelas terluka dalam yang tidak ringan.

“Betapa pun Thi-locianpwe sudah tua,” ucap Kang Piat-ho dengan tersenyum.

“Kau … kau ….” gemetar suara Thi Bu-siang hingga tak sanggup melanjutkan.

“Apa yang ingin Cianpwe ucapkan, Cayhe siap mendengarkan,” kata Kang Piat-ho.

“Cayhe ingin tanya pula, coba jelaskan, apabila benar Thi-locianpwe yang menaruh racun,

mengapa waktu mengantarkan oleh-oleh itu dia memakai namanya sendiri secara terangterangan

dan mengapa pula obat-obat penawarnya disimpan di sini, memangnya dia

sengaja menunggu kedatangan kalian untuk menggerebeknya dengan bukti-bukti nyata?”

tanya Tio Hiang-leng.

“Jika manusia biasa tentu takkan bertindak begini,” si tukang joli tadi mendahului bicara,

“Tapi Thi-locianpwe sudah berpuluh tahun malang melintang di dunia Kangouw dengan

pengalaman yang luas, dia sengaja berbuat begini agar supaya orang lain tidak percaya

bahwa dia yang melakukan tindakan keji ini.”

“Tapi … tapi ….” Tio Hiang-leng tergagap-gagap juga. Biasanya ia pintar bicara dan banyak

akalnya, tapi sekarang ternyata tak dapat menandingi debatan seorang kuli tukang pikul.

“Urusan sudah kadung begini, bagaimana pendapat Hoa-kongcu?” tiba-tiba Kang Piat-ho

berpaling ke arah Hoa Bu-koat.

Perlahan Hoa Bu-koat menyapu pandang semua hadirin, akhirnya dia menatap tajam Thi

Bu-siang dan Tio Hiang-leng, lalu berkata, “Saat ini tepat lohor, biarlah kuberi tempo

setengah hari lagi bagi kalian berdua, boleh kalian berpikir cara bagaimana menyelesaikan

persoalan ini. Petang nanti aku akan datang lagi ke sini.” Habis berkata ia angkat tangan

memberi tanda dan melangkah keluar.

“Selama ini Cayhe juga kagum akan nama kebesaran Thi-locianpwe dan ingin sekali

berkenalan, tak tahunya …. Ai!” setelah menghela napas gegetun, segera Kang Piat-ho juga

melangkah pergi bersama kuli joli tadi.

Melihat mereka pergi begitu saja, semua orang jadi melongo, entah bersyukur, entah

khawatir.

Diam-diam Siau-hi-ji juga gegetun, pikirnya, “Betapa pun perginya kedua orang ini benarbenar

sikap seorang pendekar sejati, cuma perginya Hoa Bu-koat itu timbul dari lubuk

hati yang murni sedangkan Kang Piat-ho hanya sengaja berlagak demikian.”

Setelah menyaksikan kepergian Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho, sekonyong-konyong Thi

Bu-siang menggerung, “Sungguh bikin gusar Lohu ….” dan mendadak darah segar

tersembur dari mulutnya.

Kiranya dia telah terluka dalam yang parah akibat adu pukulan tadi, cuma dia bertahan

sekuatnya, makanya sebegitu lama dia tidak ikut bicara, sebab khawatir tumpah darah

dan kehilangan muka.

Pedih juga hati Tio Hiang-leng melihat keteguhan hati Thi Bu-siang meski sudah berusia

lanjut. Cepat ia berkata, “Silakan Cianpwe istirahat dulu ke ruang belakang untuk

merawat lukamu ….”

“Petang nanti juga akan tiba ajal kita, apa gunanya sekalipun luka ini dapat disembuhkan?”

ujar Thi Bu-siang dengan senyum pilu.

“Rasanya juga belum … belum tentu akan terjadi, mereka … mereka kan sudah pergi,” kata

Tio Hiang-leng.

“Meski mereka sudah pergi, memangnya Lohu dapat melarikan diri?” kata Thi Bu-siang.

“Ai, tidak nyana kehormatan selama hidupku ini akhirnya harus mati dengan hina cara

begini.”

Tio Hiang-leng menunduk sedih dan tidak tahu apa yang harus dikatakan pula. Ia tahu

dengan kedudukan Thi Bu-siang, orang tua itu lebih suka mati daripada melarikan diri.

“Urusan sudah begini, Lohu sudah menghadapi jalan buntu, daripada menantikan tibanya

ajal, lebih baik kuhabisi diriku sendiri saja!” ucap Thi Bu-siang pula dengan menengadah,

belum habis ucapannya air mata sudah bercucuran. Ksatria yang sudah lanjut usia harus

menghadapi jalan buntu, sungguh mengharukan dan menimbulkan rasa simpatik orang.

“Hendaklah Cianpwe jangan bertindak demikian,” kata Tio Hiang-leng khawatir, “mungkin

urusan masih bisa berubah ….”

“Dalam keadaan demikian, jelas kita tidak dapat membantah terkecuali kalau dapat

menemukan biang keladi yang sesungguhnya ….” ujar Thi Bu-siang. “Tapi dunia seluas ini,

ke mana biang keladi itu akan dicari? Apalagi kita hanya diberi waktu setengah hari saja.”

“Setengah hari … sampai petang nanti ….” demikian Tio Hiang-leng bergumam dengan

murung. Waktu ia memandang keluar, sang surya sudah tampak mulai bergeser ke barat.

“O, Kang Piat-ho! Wahai Hoa Bu-koat!” seru Thi Bu-siang sambil menengadah. “Lohu juga

tidak menyalahkan kalian, urusan sudah sejauh ini … Hkhk, lumrah juga jika kalian

bertindak begini … Hk, hk … kalian telah sudi memberi tempo setengah hari bagiku sudah

terhitung baik hati dan berbudi luhur. Ya, Lohu … hk-hk-hk … Hk-hk!” begitulah sambil

berkata ia pun terbatuk-batuk sehingga pakaiannya penuh berlepotan darah.

Dengan setengah bujuk dan setengah paksa Tio Hiang-leng menyuruh anak buahnya

membawa jago tua itu ke ruang belakang, lalu ia pandang Lo Sam dan Lo Kiu, katanya

dengan pedih, “Apakah kalian bersaudara juga tidak dapat memberi sesuatu petunjuk

bagiku?”

“Thi-locianpwe teramat sedih dan berduka, menurut pendapatku, persoalan ini sebenarnya

cukup sederhana,” kata Lo Kiu dengan tersenyum.

Tio Hiang-leng bergirang, cepat ia tanya, “Lekas memberi petunjuk.”

Lo Kiu berlagak berpikir, lalu Tio Hiang-leng dibisikinya, “Asalkan ….” karena suasana di

ruangan sedang ribut, maka siapa pun tidak akan mendengar apa yang dibisikinya.

Akan tetapi Siau-hi-ji sempat menyusup masuk di tengah keributan itu, orang lain tak

dapat mendengar apa yang dikatakan Lo Kiu itu, namun betapa tajam indera pendengaran

anak muda itu ditambah lagi dia melihat jelas gerak bibir orang, maka hampir sebagian

besar apa yang dibisikkannya kepada Tio Hiang-leng itu dapat ditangkapnya.

Rupanya Lo Kiu berkata, “Urusan sudah begini, asalkan kita turun tangan lebih dulu, kita

tawan dulu Toan Hap-pui dan anak perempuannya agar Kang Piat-ho tidak berani

sembarangan bertindak.”

Mendengar usul ini, sungguh Siau-hi-ji ingin, mendekati orang dan memberi beberapa kali

gamparan. Usul macam apa ini? Pada hakikatnya hendak menjebloskan orang ke jurang.

Tertampak Tio Hiang-leng berpikir sejenak, lalu berkata, “Wah, cara demikian tidak

boleh dilakukan, jika bertindak begini, tentu setiap orang Kangouw akan lebih yakin bahwa

orang yang merampok harta kiriman dan menaruh racun adalah pihak kita dan tentu kita

lebih-lebih tidak dapat membantah.”

Diam-diam Siau-hi-ji memuji tuan rumah yang bukan orang bodoh ini.

Tapi Lo Kiu lantas membisiki Tio Hiang-leng pula, “Jika Cengcu tidak mau melaksanakan

usulku ini, maka untuk menyelamatkan diri malam ini bagi Cengcu mungkin lebih sulit

daripada terbang ke langit, suatu dan lain mengingat ilmu silat Kang Piat-ho dan Hoa Bukoat

yang mahatinggi itu.”

“Ya, apa boleh buat kalau begitu?!” Tio Hiang-leng tersenyum getir. Setelah termenung

sejenak, lalu ia menyambung, “Cuma begundal Toan Hap-pui juga tidak sedikit, kalau kita

hendak menawannya dari tempatnya mungkin juga bukan pekerjaan mudah, untuk ini

diperlukan orang berkepandaian mahatinggi.”

“Untuk ini Cengcu tidak perlu khawatir,” ucap Lo Kiu dengan tersenyum.

Segera Lo Sam menyambung, “Saat ini Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho pasti tidak

menyangka akan tindakan kita ini, dengan sendirinya mereka pun tidak pernah berpikir

menjaga Toan Hap-pui dengan ketat. Selain kedua orang ini, rasanya yang lain-lain tidak

perlu dikhawatirkan lagi.”

“Memangnya kedua saudara Lo sudi memberi bantuan?” tanya Tio Hiang-leng dengan

girang.

“Kami telah mendapat perlakuan baik dari Cengcu, masa untuk persoalan begini saja kami

tinggal diam?” ucap Lo Kiu.

“Atas budi kebaikan kalian, sungguh Cayhe tidak tahu cara bagaimana harus

membalasnya,” kata Tio Hiang-leng dengan menjura.

Lekas Lo Kiu memegang pundak tuan rumah, katanya “Sudahlah, Cengcu jangan terlalu

banyak adat.”

Sudah tentu, semua itu dapat disaksikan Siau-hi-ji dengan jelas, diam-diam ia berpikir,

“Keji amat kedua saudara Lo ini, dengan muslihat mereka ini, jelas suasana akan

bertambah kacau dan persoalan akan tambah ruwet, dengan demikian kalian pun dapat

mengail ikan di air keruh.”

Dalam pada itu terdengar Lo Kiu lagi berkata, “Kalau mau bertindak harus cepat, sekarang

juga kami lantas berangkat.”

“Apakah kalian memerlukan sesuatu, silakan bicara saja,” kata Tio Hiang-leng.

“Tidak ada, cukup Cengcu mengirimkan delapan centing dan membawa dua buah joli untuk

ikut kami ke sana.”

“Ini mudah ….” segera Tio Hiang-leng memberi perintah, serentak beberapa centing

tampil ke muka.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat akal, segera ia pun maju. Dalam keadaan kacau dan bingung,

tentu tiada orang lagi yang memperhatikan siapakah Siau-hi-ji ini, apalagi menggotong joli

bukan pekerjaan enak, kalau ada orang mendahului, tentu saja yang lain tinggal diam.

Oleh karena itu Siau-hi-ji lantas menjadi tukang pikul joli darurat.

Ketika dua joli sudah disiapkan, segera Lo Kiu mendahului masuk ke salah sebuah joli,

katanya dengan tertawa, “Biarkan kami bersaudara menumpang joli ini, nanti giliran Toan

Hap-pui dan anak perempuannya yang menjadi penumpang, mungkin mereka berdua tidak

lebih ringan daripada kami.”

Setelah duduk anteng di dalam joli dan menutup tirainya, segera ia berseru kepada para

centing pemikul, “Apakah kalian tahu jalannya ke perkampungan Toan Hap-pui?”

Salah seorang centing menjawab dengan tertawa, “Sudah tentu tahu, beberapa kali kami

berniat ke sana untuk membakar kampungnya.”

“Baik, berangkatlah sekarang,” kata Lo Kiu.

Tujuh orang centing ditambah Siau-hi-ji lantas melarikan dua joli itu ke arah

perkampungan Toan Hap-pui.

Tidak terlalu lama, dari jauh tampaklah perkampungan Toan Hap-pui yang megah itu.

Terlihat di depan pintu gerbang duduk tujuh atau delapan lelaki kekar, di dalam pintu juga

duduk beberapa orang lagi.

“Itulah kandang babi Toan Hap-pui, apa yang harus kami kerjakan sekarang, Lo-ya?” tanya

salah seorang centing.

“Masuk saja langsung!” kata Lo Kiu.

Siau-hi-ji sampai terkejut mendengar ucapan ini, pikirnya, “Masa mereka tidak takut

kepada Kang Piat-ho.”

Dengan sendirinya centing tadi pun melengak, cepat ia berkata, “Wah, tidak sedikit anjing

penjaga pintu Toan Hap-pui, kalau kami kena tergigit kan berabe!?”

“Langsung saja masuk ke sana, kujamin kawanan anjing penjaga itu takkan mampu

menggigit kalian,” ucap Lo Kiu.

Mula-mula para centing itu saling pandang dengan ragu-ragu, akhirnya mereka tabahkan

hati, sekali berteriak mereka terus menerjang ke depan.

Baru saja kedua joli itu sampai di depan pintu, seketika kawanan centing keluarga Toan

memapaknya sambil membentak, “He, siapa kalian, mau apa? Berhenti! Lekas berhenti!”

Timbul pula pikiran Siau-hi-ji, segera ia balas membentak, “Kami hendak menggotong babi

ke sini, lekas enyah!”

Sudah tentu tujuan Siau-hi-ji adalah mengacau agar Kang Piat-ho dipancing keluar dan

usaha Lo Kiu akan gagal berantakan. Mengenai Thi Bu-siang dia sudah merencanakan

sesuatu akal untuk menolongnya.

Benar juga, para centing keluarga Toan lantas berteriak-teriak hendak mencegat,

“Keparat, Setan alas! Apakah kalian cari mampus? ….”

Karena menggotong joli, dengan sendirinya para centing keluarga Tio tak dapat memberi

perlawanan apabila sampai dilabrak musuh. Selagi mereka merasa khawatir, sekonyongkonyong

terdengar suara mendesir beberapa kali, beberapa centing keluarga Toan yang

memapak tiba itu kontan roboh terjungkal.

Orang lain tidak melihat apa-apa dan tahu-tahu para centing itu sudah terguling. Tapi

mata Siau-hi-ji cukup tajam, ia lihat beberapa titik hitam menyambar keluar dari dalam

joli, setiap centing itu kena satu dan kontan terguling. Cara turun tangan Lo Kiu ternyata

tidak kenal ampun.

Diam-diam Siau-hi-ji terkesiap, sudah tentu para centing keluarga Tio lebih-lebih heran

dan melenggong.

“Nah, anjing penjaga pintu tidak menggonggong lagi, kenapa kalian tidak lekas masuk ke

sana?!” seru Lo Kiu dengan tertawa.

Serentak para centing mengiakan terus menerjang pula ke depan.

Sementara itu beberapa centing yang duduk di dalam itu pun memburu keluar sambil

membentak-bentak, tapi baru saja beberapa langkah, kembali terdengar suara mendesir

beberapa kali, beberapa orang itu pun roboh terkapar.

Sisa seorang tidak sampai melangkah keluar, melihat kejadian mengerikan ini, ia menjadi

ketakutan, sekali menjerit ia terus lari ke dalam sambil berteriak, “Tolong! Di luar

kedatangan setan!”

Siau-hi-ji pikir dengan teriakan centing itu pasti Kang Piat-ho akan terpancing keluar,

mustahil kedua Lo bersaudara tidak memikirkan kemungkinan ini?

Tapi kedua Lo bersaudara itu ternyata tidak jeri akan munculnya Kang Piat-ho, malahan

mereka sengaja berteriak, “Ayo kawan-kawan, maju terus!”

Kini para centing pemikul joli sudah penuh semangat dan tidak takut-takut lagi, serentak

mereka lari secepat terbang.

Setelah menyusuri selapis halaman, di situ sudah siaga belasan orang bersenjata. Tapi

begitu suara senjata rahasia mendesing pula, kontan belasan orang di depan roboh

terguling lagi.

Seorang berbaju biru di antaranya berteriak jeri, “He, di dalam joli ada pembidik gelap,

mundur dulu para kawan!”

Di tengah ramai-ramai itu tampak lima orang melompat keluar, semuanya membawa

perisai, salah seorang lantas melemparkan sebuah perisai kepada si baju biru tadi dan

berseru, “Robohkan dulu para penggotong joli itu!”

Serentak enam orang lantas menerjang maju. Dari langkah mereka yang enteng dan

mantap itu, Siau-hi-ji menduga mereka pasti jago rumah tangga Toan Hap-pui. Kekayaan

Toan Hap-pui dapat menandingi negara, dengan sendirinya guru silat yang dia sewa tidak

mungkin kaum keroco.

Karena yang diincar adalah mereka, tentu saja para centing pemikul joli menjadi jeri.

Tertampak keenam guru silat itu menerjang tiba dengan berlindung di balik perisai

masing-masing, sesudah dekat seorang ayun golok terus membacok pemikul joli yang

paling depan.

Untunglah pada saat gawat itu seorang telah berseru, “He, tahan dulu!”

Sesosok bayangan lantas melayang keluar dari joli, punggung centing pemikul joli itu

ditariknya terus dilemparkan ke belakang joli sana.

Dengan sendirinya bacokan guru silat tadi mengenai tempat kosong, selagi dia melengak,

terlihat seorang gemuk dengan muka bulat sudah berdiri di depannya dengan tertawa.

“Masa kalian tidak kenal diriku ini?” demikian si gemuk bertanya dengan tertawa sambil

menuding hidung sendiri.

Para guru silat itu sama melenggong dan saling pandang, mereka mengira si gemuk ini

mungkin teman sendiri, tapi sebelum mereka mengenalinya, dengan tertawa Lo Kiu sudah

menyambung lagi, “Jika kalian tidak kenal diriku, terpaksa aku pun tidak kenal pada

kalian!”

Sambil bicara tangannya terus mencengkeram ke depan, “krek”, dengan tepat pergelangan

tangan guru silat yang bergolok tadi kena terpegang dan terpuntir patah.

Guru silat itu menjerit ngeri, golok terjatuh ke tanah, orangnya juga roboh kelengar.

Tentu saja kelima kawannya menjadi gusar dan terkejut pula, sebatang tombak, dua

pedang dan dua golok serentak menyambar ke tubuh si gemuk alias Lo Kiu.

“Tak tersangka di sini juga ada anak murid Nyo-keh-jiang (tombak keluarga Nyo). Jurus

ini tampaknya duga tidak lemah!” kata Lo Kiu dengan tertawa.

Pemain tombak itu memang betul anak murid Nyo-keh-jiang yang terkenal, diam-diam ia

terkejut melihat sekali gebrak saja asal usulnya sudah dikenali lawan. Karena itu gerak

tombaknya menjadi rada lamban. Di luar dugaan, hanya sedikit merandek itulah tahu-tahu

ujung tombaknya sudah terpegang oleh tangan musuh.

Dengan tangan kanan memegang ujung tombak, tubuh Lo Kiu setengah memutar, ia

gunakan gagang tombak lawan untuk menangkis pedang yang menyambar tiba dari kanan,

berbareng ia menegur penyerang sebelah kiri yang berbaju biru, “Eh, apakah Peng Liamco,

Peng-suhu, baik-baik saja?”

Peng Liam-co yang disebut itu adalah ketua Toan-bun-to yang terkenal permainan

goloknya, dan lelaki baju biru ini adalah murid kesayangannya. Ia jadi melengak demi

mendengar lawan menyebut nama gurunya, segera ia menjawab, “Apakah kau kenal

beliau?”

“Tidak kenal!” kata Lo Kiu dengan tertawa.

Baru habis ucapannya, kontan tangan kirinya menggaplok dada si baju biru sehingga

tubuhnya yang besar itu mencelat jauh ke sana.

Pada saat itu juga guru silat yang bertombak itu pun merasakan arus tenaga yang

mahakuat membanjir tiba dari gagang tombak, cepat ia hendak melepaskan tombaknya,

namun sudah terlambat. “Crat”, gagang tombak menancap masuk dadanya. Ternyata

tombaknya sendiri berbalik dijadikan senjata oleh lawan untuk menamatkan jiwanya.

“Sekarang kalian bertiga kenal diriku tidak?” tanya Lo Kiu pula sambil tepuk-tepuk

tangannya yang kosong.

Keruan sisa tiga guru silat itu pucat ketakutan, betapa pun mereka tidak berani

sembarangan menyerang lagi.

Hanya dalam sekejap saja disertai berseloroh ternyata Lo Kiu dapat membereskan tiga

jago silat yang tangguh, betapa tinggi ilmu silatnya rasanya tidak perlu diperbincangkan,

hanya mengenai ketajaman pandangannya yang mengenali setiap aliran persilatan serta

betapa licinnya waktu bertempur dan betapa kejam caranya turun tangan, semua ini

hampir tak pernah dilihat oleh Siau-hi-ji sejak dia meninggalkan Ok-jin-kok. Lo Kiu

sekarang dengan Lo Kiu semalam ternyata berbeda seperti langit dan bumi.

Meski sejak semalam Siau-hi-ji sudah menduga orang gemuk ini pasti licik dan licin, tapi

tak tersangka akan sedemikian licin dan begini kejam, rasanya tidak kalah daripada

kesepuluh top penjahat yang diketahuinya.

Selagi Siau-hi-ji termenung sejenak, ketika guru silat itu tahu-tahu sudah roboh lagi

satu, sisa dua orang menjadi gemetar ketakutan.

“Nah, sekarang kalian berdua tentunya kenal diriku bukan?” tanya Lo Kiu pula dengan

tertawa.

Tanpa terasa kedua orang itu menjawab dengan suara terputus-putus, “Ya, ken … kenal

….”

“Kalian kenal siapa diriku ini?” tanya Lo Kiu pula.

Kedua orang saling pandang dengan bingung, lalu menjawab, “Engkau … engkau ….”

“Aku she Lo, namaku Lo Kiu.”

“O, ya, betul engkau ini tuan Lo Kiu.”

“Karena kalian kenal diriku, maka kuharap kalian suka membawaku menemui Toan Hap-pui,

Toan-loyacu, sekarang juga!”

“Ini … ini ….” kembali kedua orang saling pandang dengan bingung.

“Memangnya urusan sekecil ini saja kalian tidak mau membantu?” tanya Lo Kiu dengan

menarik muka.

Kedua orang itu berpikir sejenak, akhirnya mereka menghela napas dan menjawab,

“Baiklah, silakan …” belum habis ucapan mereka, tiba-tiba terdengar suara mendesing dua

kali, dua titik cahaya menyambar tiba dari belakang dan tepat mengenai punggung

mereka, kontan mereka menjerit dan roboh.

Berbareng terdengar seorang tergelak-gelak dan berkata, “Toan-loyacu sudah kuundang

keluar, kalian tidak diperlukan lagi!”

Tertampak Lo Sam muncul dengan langkah lebar, tangan kiri menarik Toan Hap-pui,

tangan kanan menggandeng Toan-samkohnio.

Rupanya pada waktu Lo Kiu melabrak para guru silat tadi, diam-diam Lo Sam telah

menerobos ke ruangan dalam. Meski Toan-samkohnio juga mahir ilmu silat, namun jelas

bukan tandingan Lo Sam.

Para centing keluarga Toan ada tiga puluh atau empat puluh orang, dengan gamblang

mereka menyaksikan Lo Sam menyeret keluar majikan dan tuan putri mereka, tapi tiada

seorang pun yang berani turun tangan lagi.

Kedua Lo bersaudara yang misterius ini ternyata benar dapat menculik Toan Hap-pui dan

anak perempuannya dengan mudah sekali, tentu saja Siau-hi-ji merasa heran dan

terkesiap pula.

“Kang Piat-ho? Ke mana Kang Piat-ho? Memangnya dia sudah mampus?” demikian Siau-hi-ji

tidak habis mengerti karena sejauh itu Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat tidak muncul.

Dilihatnya Toan Hap-pui pucat pasi ketakutan, Lo Sam menyuruhnya berjalan segera ia

berjalan, disuruh naik joli, cepat ia masuk ke dalam joli. Samkohnio itu melotot, namun

tidak mampu melawan, dengan cengar-cengir Lo Sam mendorong nona gede itu ke dalam

joli yang sama dengan ayahnya.

“Nah, kawan-kawan, angkat joli dan berangkatlah!” kata Lo Sam.

“Joli ini tidak kecil, rasanya tidak terlalu sempit diduduki dua orang, hendaklah kawankawan

bersusah payah sedikit!” sela Lo Kiu dan mereka berdua juga berjubel di dalam joli

yang lain.

Sejak tadi kawanan centing keluarga Tio sudah memandang Lo Sam dan Lo Kiu seakanakan

malaikat dewata, betapa pun beratnya joli juga mereka rela menggotongnya, bukan

saja tidak menggerundel, bahkan mereka merasa gembira.

Tapi benak Siau-hi-ji mulai bekerja pula. Ia heran mengapa Kang Piat-ho tidak muncul,

jangan-jangan tidak berada di dalam. Padahal seharusnya mereka sudah pulang, mengapa

tidak kelihatan? Apakah sebelumnya dia sudah tahu bakal tindakan Lo Sam dan Lo Kiu ini

dan sengaja menyingkir lebih dulu?

Kalau Kang Piat-ho sengaja membiarkan Toan Hap-pui dan anak perempuannya diculik oleh

Lo Sam dan Lo Kiu, maka persoalan akan semakin rumit dan sukar diselesaikan, Thi Busiang

juga semakin tidak berdaya.

“Tapi dari mana Lo Sam dan Lo Kiu mengetahui Kang Piat-ho tidak berada di tempat Toan

Hap-pui ini? Jangan-jangan kedua Lo bersaudara ini diam-diam juga bersekongkol dengan

Kang Piat-ho?” demikian pikir Siau-hi-ji.

Diam-diam ia gegetun akan kelihaian Kang Piat-ho, di antara tipu kejinya tersembunyi pula

tipu keji yang lain. Di dunia ini selain aku Kang Siau-hi mungkin tiada orang lain yang

mampu membongkar tipu muslihatnya ini?

Tengah berpikir itulah, joli yang dipikulnya itu sudah membelok ke jalan yang lain. Tibatiba

dari depan juga datang sebuah joli, salah seorang penggotongnya adalah si tukang

pikul yang pintar bicara dan berkepandaian tinggi mengalahkan Thi Bu-siang itu. Di

belakang joli menyusul dua penunggang kuda, yakni Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat.

Kembali Siau-hi-ji terkejut, tiba-tiba timbul akalnya, ia sengaja membentak mendadak,

“Hai, lekas menyingkir joli di depan itu! Tahukah kalian siapa yang berada di joli kami ini?”

Para centing keluarga Tio sudah kebat-kebit ketika melihat Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat

muncul di depan, bentakan Siau-hi-ji semakin membikin mereka ketakutan.

Siapa tahu Kang Piat-ho benar-benar menyuruh joli yang dikawalnya itu memberi jalan.

Tanpa sungkan Siau-hi-ji menerjang maju dengan joli yang dipukulnya, ia sengaja

menyerempet si tukang pikul lawan itu sambil membisiknya, “Aku kenal kau, apakah kau

kenal aku?”

Tapi “tukang pikul” yang lihai itu berlagak seperti tidak mendengarnya, dengan tunduk

kepala ia lewat begitu saja. Hanya Kang Piat-ho tampak melototi Siau-hi-ji sekejap ketika

kedua pihak bersimpang jalan.

Setelah joli kedua pihak berlalu, para centing keluarga Tio merasa lega.

“Hm, dugaanku ternyata tidak keliru, Kang Piat-ho memang berkomplot dengan kedua

orang she Lo ini, makanya ia pura-pura tidak tahu meski jelas mengetahui siapa yang

berada di dalam joli ini,” demikian jengek Siau-hi-ji diam-diam.

Dengan tindakan kedua Lo bersaudara ini jelas Thi Bu-siang telah dijebloskan ke jurang

yang lebih dalam, kini biarpun jago tua itu bilang dirinya tiada sangkut-paut dengan

perampokan harta kiriman Toan Hap-pui juga tiada seorang pun yang mau percaya lagi

padanya.

Bahwasanya Toan Hap-pui berhasil ditawan ke Te-leng-ceng, semangat para penghuni

perkampungan itu, baik sang majikan maupun anak buahnya sama terbangkit, semuanya

berseri gembira. Rupanya dendam mereka selama bertahun-tahun ini baru sekarang ini

terasa terlampias. Meski Tio Hiang-leng merasakan tindakan ini rada-rada kurang enak,

tapi terasa puas juga demi nampak musuh besarnya kini telah menjadi tawanannya.

Jilid 2. Bakti Binal

Hanya Siau-hi-ji yang diam-diam menggeleng kepala, pikirnya, “Ya, tertawalah kalian,

tertawalah sepuasnya, tapi waktunya kalian menangis juga selekasnya akan tiba ….”

Begitulah Toan Hap-pui dan Samkohnio lantas digusur masuk ke ruangan belakang, ayah

beranak itu tertawan secara begini saja dan dengan sendirinya tidak terhindar dari

siksaan.

Tio Hiang-leng lantas mengadakan pesta besar untuk menghormati kedua Lo bersaudara,

ia angkat cawan dan mengucapkan terima kasih kepada bantuan mereka.

“Ah, hanya urusan kecil ini, kenapa mesti dibicarakan lagi,” ujar Lo Sam dengan tertawa.

“Cuma … entah bagaimana keputusan Cengcu sekarang?”

“Urusan sudah telanjur begini, yang kuharapkan adalah urusan besar dapat dikecilkan dan

urusan kecil dapat dihapuskan,” kata Tio Hiang-leng dengan gegetun. “Nanti kalau Kang

Piat-ho datang bolehlah kita menjelaskan duduknya perkara, asalkan ia mau terima

keterangan kita dan tidak mengusut lebih lanjut persoalan ini, maka Cayhe bersedia

membebaskan Toan Hap-pui.”

“Hm, urusan sudah telanjur begini dan Cengcu masih mengharapkan urusan besar berubah

menjadi urusan kecil segala?” tiba-tiba Lo Kiu mendengus.

Tertampak air muka Tio Hoang-leng rada berubah, “Memangnya … memangnya tidak ….”

“Urusan sudah kadung begini, kedua pihak sudah jelas bermusuhan, biarpun Cengcu

menegaskan tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini juga takkan dipercaya oleh Kang

Piat-ho,” jengek Lo Kiu.

“Jika … jika begini kan berarti kalian telah membikin susah diriku?” kata Tio Hiang-leng

dengan ketakutan.

“Kami bersaudara telah berusaha dengan mati-matian dan akhirnya cuma mendapatkan

hadiah ucapan Tio Cengcu ini?” jengek Lo Sam.

Cepat Tio Hiang-leng minta maaf, “O, apabila ucapanku menyinggung perasaan kalian

hendaklah sudi dimaafkan. Soalnya Cayhe benar-benar merasa bingung dan tak tahu

bagaimana baiknya, untuk ini diharapkan kalian suka memberi petunjuk lagi.”

Lo Kiu tertawa, katanya, “Kalau tidak dapat berdamai, jalan lain hanya bertempur!”

“Bertempur?!” Tio Hiang-leng menegas.

“Ya, bertempur!” jawab Lo Kiu.

“Tapi … tapi Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat itu teramat lihai, Cayhe tidak … tidak ….”

“Meski ilmu silat Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat memang lihai, tapi Cengcu juga tidak perlu

takut,” kata Lo Kiu dengan tersenyum.

“Tidakkah Cengcu tahu, kalau tidak dapat melawan dengan kekuatan, kalahkan saja dengan

akal,” sambung Lo Sam.

“Dengan akal apa?” tanya Tio Hiang-leng.

“Toan Hap-pui dan anak buahnya sudah berada di genggaman kita, untuk ini Kang Piat-ho

harus berpikir dua kali sebelum bertindak, andaikan dia datang kemari juga tidak berani

sembarangan turun tangan. Maka sekarang juga silakan Cengcu menyembunyikan Toan

Hap-pui berdua.”

“Lalu bagaimana?” tanya Tio Hiang-leng.

Lo Kiu memandang para centing, lalu berkata dengan suara tertahan, “Para saudara di Teleng-

ceng sini juga bukan kaum lemah, Cengcu boleh mengadakan perangkap di sekeliling

ruangan ini, siapkan busur panah yang kuat dan ….”

“Dan bila Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat itu masuk ke sini, biarpun mereka berkepala tiga

dan bertangan enam juga sukar keluar dengan hidup,” sambung Lo Sam dengan tersenyum.

Agaknya dia tidak pantang apa-apa, suara ucapannya sengaja diperkeras.

Dari jauh Siau-hi-ji dapat mendengar semua itu dengan jelas, diam-diam ia memaki, “Usul

kentut macam apa ini? Masa Kang Piat-ho mau terjebak dengan begitu saja? Kalau Tio

Hiang-leng menuruti saran ini sama saja dia telah menambahi dosa sendiri, dengan

demikian sekalipun Kang Piat-ho membunuhmu juga tiada orang Kangouw yang berani buka

suara membelamu lagi.”

Tapi Tio Hiang-leng agaknya tertarik oleh usul itu, ia tanya, “Apakah akal kalian ini dapat

dilaksanakan dengan baik?”

“Sudah tentu dapat,” kata Lo Kiu.

Segera pula Lo Sam menyambung, “Setelah akal ini berhasil, maka nama Thian-hiang-tong

Te-leng-ceng pasti akan mengguncangkan dunia, tatkala mana jangan-jangan kami akan

diusir malah oleh Tio-cengcu.”

“Ah, mana Cayhe berani melupakan kalian berdua ….” tanpa terasa Tio Hiang-leng tertawa

senang, Tapi mendadak ia berhenti tertawa dan menyambung pula dengan ragu-ragu,

“Cuma … cuma cara demikian, bilamana gagal, bukankah akan ….”

“Urusan sudah begini, masa Tio-cengcu masih ada pandangan lain?” kata Lo Kiu dengan

ketus.

Tio Hiang-leng merenung sejenak, katanya kemudian dengan menyengir, “Ya, urusan sudah

begini, rasanya tiada pilihan lagi, terpaksa kita harus menghadapi mereka sebisanya.”

“Itulah dia, ucapan Tio-cengcu ini barulah sikap ksatria sejati,” ucap Lo Kiu dengan

tertawa.

“Baiklah, sekarang kita harus lekas-lekas bersiap, sebab kalau Kang Piat-ho mengetahui

Toan Hap-pui dan putrinya diculik, tentu mereka akan segera menyusul kemari,” sambung

Lo Sam.

Segera Tio Hiang-leng memerintahkan centingnya menyiapkan barisan panah dan

bersembunyi di sekeliling ruangan, apabila cawan arak dibanting, itu tandanya harus turun

tangan.

Setelah mengatur perangkap, kemudian Lo Kiu dan Lo Sam minta tuan rumah mengundang

keluar pula Thi Bu-siang. Nyata tipu muslihat yang diatur Kang Piat-ho berlangsung

dengan sangat lancar, bukan saja Tio Hiang-leng setindak demi setindak melangkah masuk

perangkapnya, bahkan Thi Bu-siang juga terseret dan ikut kejeblos. Dengan demikian

Kang Piat-ho akan dapat menumpas pengaruh Thi Bu-siang dengan mudah sehingga

kekuatan orang-orang Kangouw yang anti Kang Piat-ho juga semakin berkurang.

Begitulah, secara tak jelas Thi Bu-siang telah dijadikan kambing hitam sebagai orang

yang merampok harta kiriman Toan Hap-pui itu, kini setiap orang Kangouw malahan tidak

ragu-ragu lagi terhadap persoalan ini.

Jaring sudah mulai ditarik dan semakin kencang, ikan tak dapat lolos lagi ….

Siau-hi-ji sedang merenungkan semua kejadian ini, ia bergumam sendiri, “Apakah tipu

muslihat keji Kang Piat-ho kini benar-benar tiada lubang kelemahannya yang dapat

digempur?”

Petangnya, Thi Bu-siang sudah duduk di ruangan tamu yang luas itu, meski tubuhnya duduk

tegak, tapi kelihatan lesu, sorot matanya pun kehilangan cahaya seperti biasanya.

Sebaliknya Lo Kiu dan Lo Sam tampak penuh semangat, Tio Hiang-leng juga kelihatan giat

mengatur ini dan itu, di sekeliling ruangan sudah bersembunyi puluhan pemanah kuat, di

halaman sana juga siap berpuluh kelompok centing yang lain dengan senjata lengkap, Siauhi-

ji juga berbaur di antara mereka.

Suasana semakin mencekam, setiap orang merasa tegang. Tiba-tiba di luar perkampungan

ada suara derapan kaki kuda yang ramai, serentak semua orang siap siaga.

Mendadak suara kaki kuda itu berhenti, lalu masuklah tujuh pemuda dengan dandanan

ringkas berpedang. Langsung ketujuh pemuda itu masuk ke ruangan tamu dan menyembah

di depan Thi Bu-siang.

Kiranya ketujuh pemuda ini adalah jago pilihan di antara kedelapan belas murid

kesayangan Thi Bu-siang. Tentu saja jago tua itu merasa terhibur oleh datangnya anak

murid ini, malahan Tio Hiang-leng juga kegirangan.

Terbeliak juga mata Siau-hi-ji demi melihat ketujuh anak muda ini, sebab satu di

antaranya yang menjadi kepala itu bukan lain daripada si pemuda baju ungu bermuka pucat

yang diam-diam bersekongkol dengan Kang Giok-long itu.

Terdengar pemuda itu berkata dengan sangat hormat, “Tecu datang terlambat, mohon

Suhu memberi maaf ….”

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Tidak, kau tidak terlambat, kedatanganmu tepat pada

waktunya, memang sudah kutunggu kedatanganmu.”

Rasa girang tampak pada wajah Thi Bu-siang, tapi segera timbul pula rasa sedihnya, ia

menghela napas panjang dan menjawab, “Meski kalian sudah datang, kurasa juga tiada

berguna bagi persoalan ruwet ini …. Urusan ini tidak dapat lagi diselesaikan dengan

kekerasan, maka sebentar kalian jangan sembarangan turun tangan agar tidak ….”

Belum lenyap suaranya tiba-tiba terdengar seorang menjerit kaget.

“Bluk”, tahu-tahu sesosok tubuh melayang masuk dari luar jendela di belakang ruangan

tamu dan terbanting di lantai, tubuh itu kaku dan tak bergerak lagi, berpakaian hitam

ringkas, busur masih terpegang di tangannya, malahan satu kantong anak panah juga

masih tersandang di punggungnya. Jelas dia salah seorang pemanah yang disembunyikan

Tio Hiang-leng di sekitar ruangan ini.

Seketika muka Tio Hiang-leng berubah pucat, Thi Bu-siang juga bersuara kaget.

Menyusul terdengar jeritan pula, kembali seorang terlempar masuk …. Hanya sekejap saja

terdengarlah jerit ngeri berbangkit berulang-ulang, di tengah ruangan sekarang telah

bertumpuk belasan tubuh orang, semuanya sudah kaku menjadi mayat.

“He, ba … bagaimana terjadinya?” seru Tio Hiang-leng bingung.

“Ini … ini ….” Thi Bu-siang juga kehilangan akal.

“Ini namanya mau untung menjadi buntung akibat perbuatanmu sendiri,” jengek seorang di

luar.

Dua bayangan orang lantas melayang masuk, siapa lagi kalau bukan Kang Piat-ho dan Hoa

Bu-koat.

“Bluk”, Tio Hiang-leng jatuh terduduk lemas di kursinya dan tidak sanggup berdiri lagi.

Kang Piat-ho berdiri dengan pongahnya di tengah ruangan, jengeknya, “Barangkali Thiloenghiong

mengira dengan menyembunyikan barisan pemanah ini akan dapat menjebak

orang she Kang? Hehehe, teramat rendah sekali kalian menilai diriku.”

Dengan suara keras Thi Bu-siang menjawab, “Sesungguhnya apa yang terjadi ini sama

sekali Lohu tidak tahu-menahu.”

“Tapi kalau tidak disetujui Thi-loenghiong rasanya Tio-cengcu juga tidak berani bertindak

demikian,” jengek Kang Piat-ho.

Segera Thi Bu-siang berpaling kepada tuan rumah dan membentak dengan gusar, “Tio

Hiang-leng, coba katakan, siapa yang suruh menggunakan cara rendah dan kotor ini?”

“Ini … ini ….” Tio Hiang-leng gelagapan dan menunduk.

Sekonyong-konyong Lo Kiu berdiri dan berseru, “Kami bersaudara mengira Thi-locianpwe

dan Tio-cengcu adalah ksatria sejati, makanya jauh-jauh kami datang ke sini, tak tahunya

sekarang kalian menggunakan cara kotor begini ….”

Dengan suara keras Lo Sam lantas menyambung, “Jelek-jelek kami bersaudara juga tidak

sudi bergaul dengan manusia rendah begini. Mulai saat ini apa pun yang terjadi atas Teleng-

ceng sama sekali tiada sangkut-paut dengan kami bersaudara.”

“He, mengapa kalian berkata demikian, bukankah semua ini atas prakarsa kalian?” teriak

Tio Hiang-leng.

“Hm, orang she Tio, setelah kepepet, kau berani menumplekkan semua persoalan kepada

kami bersaudara?” jengek Lo Kiu.

“Biarpun kau menyangkal dengan cara apa pun juga tiada orang mau percaya,” sambung Lo

Sam.

“Bagus, kau … bagus ….” Tio Hiang-leng meraung dengan murka.

“Aku tidak ingin membela pihak mana pun, tapi urusan sudah jelas begini, apa pula yang

dapat kalian katakan?” demikian Hoa Bu-koat membuka suara dengan tenang.

“Lohu …. Ai, sungguh bikin gusar Lohu!” seru Thi Bu-siang dengan menggereget, mendadak

darah tersembur dari mulutnya. Saking gemasnya orang tua ini jadi pingsan.

Anak muridnya menjadi kaget dan gusar pula, ada yang memburu maju untuk menolong

sang guru, ada yang melolos pedang siap tempur. Pemuda baju ungu itu lantas berseru,

“Sabar dulu, sebelum persoalan menjadi jelas, kita jangan sembarangan bertindak!”

Dengan sikap kereng Kang Piat-ho berkata, “Betul, kalau sang guru tidak berbudi, anak

murid tidak perlu lagi taat padanya. Kalian harus dapat membedakan antara yang benar

dan salah, dengan demikian kalian pasti akan dihormati setiap orang persilatan.”

“Tapi urusan ini sesungguhnya bagaimana, kami ….” pemuda baju ungu tampak ragu-ragu.

“Urusan ini sudah jelas, bukti dan saksi sudah nyata, memangnya kalian masih tidak

percaya?” kata Kang Piat-ho dengan tegas.

Mendadak pemuda baju ungu menghela napas sedih, katanya, “O, Suhu, janganlah engkau

menyesali tindakan murid yang tak setia ini, soalnya engkau sendiri melakukan perbuatan

yang tidak baik, demi kebenaran terpaksa Tecu ….” dia merandek, setelah menggentak

kaki, tiba-tiba ia menanggalkan pedangnya dan dilemparkan ke lantai.

Perbuatan pemuda baju ungu ini sungguh amat lihai, kalau setiap orang Kangouw sudah

mengetahui anak murid Thi Bu-siang sendiri juga mengakui kesalahan gurunya, lalu orang

lain mau bilang apa lagi?

Keenam murid Thi Bu-siang yang lain hanya taat kepada sang pimpinan, melihat tindakan

pemuda baju ungu itu, tiga orang lainnya segera ikut membuang pedang, sebagian pedang

yang tadinya terhunus siap tempur itu pun diturunkan ke bawah.

Dengan suara lantang Kang Piat-ho lantas berseru, “Kecuali Thi Bu-siang dan Tio Hiangleng,

urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan orang lain, asalkan kalian tidak ikut-ikutan,

maka pihak kami juga takkan membikin susah orang yang tak berdosa.”

Tio Hiang-leng ketakutan hingga giginya gemertuk, katanya dengan suara parau,

“Sesungguhnya ada permusuhan apa antara kau dan aku, mengapa kau bikin susah diriku

cara begini?”

“Meski Cayhe tiada permusuhan apa-apa dengan kau, tapi demi kebenaran dan keadilan

tak dapat kuampunimu.”

Mendadak Tio Hiang-leng menjadi nekat, teriaknya dengan menyeringai, “Baik, kutahu kau

bela Toan Hap-pui dan bertekad hendak melenyapkan diriku, tapi kau pun jangan

menyalahkan aku, sebab saat ini Toan Hap-pui sudah berada dalam genggamanku, kalau

aku mati dia juga takkan hidup.”

“Apa betul?” jengek Kang Piat-ho. Dia memberi tanda, segera dua joli digotong keluar dari

ruangan belakang, pemikul joli bagian depan jelas adalah si tukang pikul yang pintar omong

dan pandai berdebat itu.

“Siapa yang berada di dalam joli, apakah kau ingin tahu?” tanya Kang Piat-ho kepada Tio

Hiang-leng.

Waktu “tukang pikul joli” itu menyingkap tirai joli, tertampak seorang gemuk duduk di

dalam dengan tertawa, siapa lagi kalau bukan Toan Hap-pui.

Sampai di sini Tio Hiang-leng benar-benar sudah kalah habis-habisan, dengan pedih ia

memandang sekelilingnya, mendadak ia meraung sekali, seperti orang gila terus berlari

keluar.

Kang Piat-ho juga tidak mencegahnya, jengeknya, “Hm, memangnya kau masih ingin

kabur?!”

Baru saja Tio Hiang-leng lari keluar ruangan tamu itu, dari samping yang gelap tiba-tiba

sebuah tangan menariknya, lalu membisiki beberapa patah kata di telinganya.

Setelah mendengar bisikan itu, Tio Hiang-leng seperti habis minum obat mujarab,

seketika semangatnya terbangkit.

*****

Sementara itu Thi Bu-siang sudah siuman.

Dengan tenang Hoa Bu-koat berkata, “Mengingat namanya diperoleh dengan susah payah,

biarlah dia membereskan dirinya sendiri saka.”

Walaupun menghadapi sesuatu keputusan besar, tapi sikap Hoa Bu-koat tetap tenangtenang

dan sabar, seakan-akan segala urusan tidak begitu penting baginya.

Segera Kang Piat-ho menjemput pedang yang dibuang si pemuda baju ungu tadi, perlahanlahan

ia sodorkan kepada Thi Bu-siang dengan pandangan tajam tanpa berucap. Dia

memang tidak perlu lagi membuka suara.

Thi Bu-siang lantas menghela napas panjang sambil menengadah, serunya dengan suara

parau, “O, Tuhan, betapa pun matiku tidak rela.” Sorot matanya yang penuh rasa pedih

dan bengis itu menyapu pandang setiap anak muridnya, sampai-sampai pemuda baju ungu

juga tidak berani menatapnya dan lekas menunduk.

Mendadak Thi Bu-siang berteriak dengan suara kereng, “Ini Thi Bu-siang berdiri di sini,

jika di antara kalian ada yang anggap aku berdosa dan ingin mencabut nyawaku, ayolah

maju sekarang juga! Kuyakin Tuhan takkan mengampuni orang yang berdosa!”

Di bawah cahaya lilin yang gemerlap tertampak sorot matanya tajam berapi, rambut

jenggotnya seakan-akan berjengat, sikapnya yang murka penuh rasa duka itu membuat

keder orang yang memandangnya.

Tanpa terasa Kang Piat-ho mundur satu tindak. Tapi si “tukang pikul joli” itu malah terus

melompat maju sambil membentak, “Manusia yang tidak berbudi setiap orang boleh

membunuhnya, kalau orang lain tidak tega turun tangan, biar aku saja yang membereskan

kau.”

Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar seorang membentak, “Kang Giok-long, kau benarbenar

berani turun tangan?!”

“Tukang pikul” itu tergetar, cepat ia membalik tubuh, terlihat Tio Hiang-leng masuk

kembali dengan langkah lebar, meski wajahnya tetap pucat pasi, tapi dadanya sudah

terbusung, bicaranya juga lantang, tidak lagi takut seperti tadi.

Setelah Tio Hiang-leng sampai di tengah ruangan barulah semua orang melihat di

belakangnya masih ikut satu orang lagi. Orang ini berjubah hijau dan berkaos kaki putih,

kepalanya memakai sebuah kalo bambu untuk menutupi mukanya, jalannya bergoyanggoyang

sehingga mirip “arwah halus” yang menempel di tubuh Tio Hiang-leng seperti lakon

yang biasa dimainkan di atas panggung, seram tampaknya sehingga membuat orang

bergidik.

Tapi hanya sekejap saja “tukang pikul” itu terkejut, segera dia dapat tenangkan diri,

dengan tertawa ia lantas menjawab, “Haha, apakah kau maksudkan diriku ini Kang Gioklong,

Kang Siauhiap? Masakah pendekar muda kita yang termasyhur itu sudi menjadi

tukang pikul joli seperti diriku, apa matamu tidak buta?”

“Kang Giok-long,” teriak Tio Hiang-leng, “Orang lain mungkin dapat dikelabui olehmu, tapi

jangan harap dapat mengelabui aku. Kau telah merampas harta kiriman keluarga Toan, lalu

cepat-cepat pulang ke sini untuk menyamar sebagai tukang pikul joli, tujuanmu sudah

tentu hendak membunuh Thi-locianpwe, dengan caramu ini tentu setiap orang Kangouw

akan menganggap Thi-locianpwe tewas di tangan seorang kuli tukang pikul, andaikan kelak

ada orang yang ingin menuntut balas juga tidak perlu mencari ayah beranak ‘Kang-lamtayhiap’

yang munafik dan palsu itu …. Wahai, Kang Giok-long, tindak tanduk kalian ayah

beranak memang harus diakui teramat rapi sehingga setitik lubang saja tidak kentara

sama sekali.”

“Tukang pikul” itu tergelak-gelak, katanya, “Nah, hadirin sudah dengar semua, keparat ini

ternyata berani menuduh Kang-siauhiap sebagai perampok harta kiriman keluarga Toan ….

Hehe, coba Toan-loyacu, tidakkah keparat ini orang gila sembarangan mengoceh?”

Mata Toan Hap-pui yang menyipit itu sekilas gemerdep memancarkan cahaya yang licik,

dengan tersenyum ia pandang Tio Hiang-leng, katanya dengan perlahan, “Mengapa kau

berkata demikian? Padahal Kang-siauhiap sendiri yang merampaskan kembali harta

kirimanku yang dirampok orang itu, jika dia yang merampok, kenapa pula dia merampasnya

kembali?”

“Waktu pertama kali harta kirimanmu itu dirampok adalah kerja sama antara Siang-saypiaukiok

dengan Kang Giok-long, jika Kang Giok-long tidak pura-pura merampas kembali

harta kirimanmu itu tentu Siang-say-piaukiok yang wajib memberi ganti rugi padamu,”

tutur Tio Hiang-leng.

“Untuk apa mereka membuat begitu?” tanya Toan Hap-pui.

“Dengan berbuat begitu, tentu nama Kang Giok-long akan tambah tersohor dan terhormat

di dunia Kangouw, apalagi ….” Sampai di sini Tio Hiang-leng sengaja merandek.

Toan Hap-pui menjadi tidak sabar dan mendesak, “Apalagi bagaimana?”

“Apalagi kalau terjadi harta kiriman dirampok untuk yang kedua kalinya, tentu orang lain

takkan curiga atas diri Kang Giok-long,” dengan perlahan Tio Hiang-leng menjelaskan.

“Kalau begitu, lalu orang-orang Siang-say-piaukiok mengapa terbunuh pula?”

“Untuk rapinya muslihat keji ini, dengan sendirinya orang-orang Siang-say-piaukiok harus

dikorbankan,” sambung Tio Hiang-leng. “Dengan sendirinya Kang Giok-long harus

membunuh mereka untuk melenyapkan saksi. Apalagi kalau orang-orang Siang-say-piaukiok

sudah mati semua, dengan sendirinya mereka tidak perlu ganti rugi lagi dan harta kiriman

yang berjumlah besar itu akan jatuh ke tangan Kang-lam-tayhiap kita dengan aman

sentosa.”

Kang Piat-ho mengernyitkan dahi dan melirik sekejap ke arah si “tukang pikul joli” tadi.

Dengan gusar “tukang pikul joli” itu lantas membentak, “Dasar maling berteriak maling,

sudah kepepet malah kau menggigit orang, betapa pun takkan kuampuni kau!” Di tengah

bentakannya ia terus menubruk ke arah Tio Hiang-leng dengan cepat luar biasa.

Tentu saja Tio Hiang-leng kaget dan tampak tidak sempat mengelak, pada saat itulah

sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu Hoa Bu-koat sudah

mengadang di depan si “tukang pikul”.

Pukulan “tukang pikul” itu sudah telanjur dilontarkan dari sukar dikendalikan, tampaknya

tubuh Hoa Bu-koat akan terpukul, tapi mendadak ia menggeser tubuh, tangan lain

menepuk tangan yang lagi menghantam itu, dengan demikian tubuhnya lantas berputar dan

pukulan juga menceng ke samping.

Gerakan yang gesit dan cekatan ini sungguh luar biasa, kalau tidak memiliki ilmu silat

tingkat tinggi tidak mungkin bertindak demikian, dan ini dapat dilakukan oleh seorang

“tukang pikul joli”.

Tentu saja hati semua orang tergerak, sedang dahi Kang Piat-ho berkerut semakin rapat.

Hoa Bu-koat juga berkata dengan tersenyum, “Ilmu silat bagus! Gerak tubuh yang hebat

….”

“Tukang pikul joli” itu memandangnya dengan terkesiap, tanyanya dengan tergagap,

“Mengapa Hoa-kongcu ber ….”

“Siapa pun yang ingin bicara harus kita terima dan dengarkan pendapatnya,” kata Hoa Bukoat

dengan tersenyum, “Sekalipun kita tidak percaya ucapannya juga harus memberi

kebebasan bicara padanya. Betul tidak?”

Terpaksa “tukang pikul” itu mengiakan sambil menunduk.

Hoa Bu-koat lantas berpaling kepada Tio Hiang-leng, tanyanya, “Kau berani bicara begitu,

memangnya kau mempunyai buktinya?”

Tio Hiang-leng termenung-menung sejenak, tapi segera ia berseru pula, “Bahwa orangorang

Siang-say-piaukiok terbunuh begitu saja tanpa melawan sama sekali, padahal

kepandaian kedua ekor singa itu tidaklah lemah. Nah, sekarang Cayhe ingin tanya,

seumpama orang berkepandaian tinggi seperti Hoa-kongcu, kalau sekaligus hendak

membinasakan orang-orang itu, dapatkah engkau laksanakan tanpa mendapat perlawanan

sama sekali dari mereka?”

Hanya setelah termenung sejenak lalu ia dapat bicara dengan lancar dan tajam seakanakan

mendadak diberi petunjuk oleh seseorang. Dengan sendirinya hal ini menimbulkan

curiga Kang Piat-ho, sorot matanya yang tajam segera menyapu ke arah “badan halus”

yang berada di belakang Tio Hiang-leng itu.

Dengan perlahan Hoa Bu-koat lantas menjawab, “Betul, seumpama orang berkepandaian

lebih kuat daripadaku juga pasti akan mendapat perlawanan sekalipun dia dapat

membinasakan mereka dengan mudah akhirnya.”

“Dan di dunia ini apakah masih ada orang yang berkepandaian lebih tinggi daripada Hoakongcu?”

“Andai kata ada juga tidak banyak jumlahnya,” jawab Hoa Bu-koat dengan tersenyum.

“Bagus, makanya persoalan ini hanya ada satu jawabannya,” kata Tio Hiang-leng.

“Bagaimana jawabannya?” tanya Bu-koat.

“Yang membunuh mereka itu pastilah orang yang sangat karib dengan kedua ekor singa

she Li itu, karena mereka tidak menyangka orang itu bakal turun tangan keji padanya,

maka mereka tidak berjaga-jaga dan karena itu pula tidak sempat melawan ….” Tio Hiangleng

menyeringai, lalu menyambung pula, “Dan tidak perlu ditanyakan pula bahwa orang itu

dengan sendirinya ialah Kang Giok-long.”

“Tapi menurut saksi hidup si tukang kuda itu, katanya yang turun tangan keji itu adalah

seorang kakek,” kata Bu-koat.

“Ilmu mengubah rupa di dunia Kangouw sekarang sudah bukan rahasia lagi, kalau dia dapat

menyamar sebagai tukang pikul joli, mengapa dia tidak dapat menyamar sebagai seorang

kakek ….” dia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “dia sengaja membiarkan si

tukang kuda tetap hidup agar dari mulut tukang kuda itu bisa tersiar apa yang dilihatnya,

kalau tidak dengan kepandaiannya masakah tukang kuda itu dapat mengelabui mata

telinganya sungguhpun dia bersembunyi. Kecuali itu, setelah tukang kuda itu dapat

menyelamatkan diri segera dia menyiarkan kejadian itu secara jelas dengan dibumbubumbui

pula, coba pikir seorang yang terkejut mengalami kejadian ngeri itu masih dapat

bicara sejelas itu, maka … maka tukang kuda itu pasti juga sekomplotan dengan dia dan

sebelumnya telah diberi petunjuk cara bagaimana dia harus menyiarkan peristiwa itu ….”

Pada bagian-bagian ucapannya selalu dia berhenti sejenak seakan-akan sedang

memperhatikan apa yang dibisikkan oleh si “badan halus” yang berada di belakangnya itu.

Dengan tatapan tajam Kang Piat-ho lantas mengejek, “Dan apa yang kau uraikan ini atas

petunjuk siapa pula?”

“Ini … ini … adalah hasil pemikiranku sendiri, aku ….” sampai di sini kembali Tio Hiang-leng

merandek pula, lalu menyambung dengan suara keras, “Oya, tadi aku keliru, bisa jadi si

tukang kuda itu adalah samaran si ‘tukang pikul joli’ sekarang ini, ialah Kang Giok-long,

sedangkan yang turun tangan keji itu ialah Kang Piat-ho.”

Mendadak Kang Piat-ho terbahak-bahak sambil menengadah, katanya, “Sebelumnya aku

tidak peduli akan jalan pikiranmu, tapi lantaran kau mengoceh sembarangan, terpaksa tak

bisa kuampuni kau.”

Ucapannya ini ternyata tidak ditujukan kepada Tio Hiang-leng, matanya juga tidak

memandang tuan rumah itu, tapi sorot matanya yang tajam justru menatap ke arah si

“badan halus” yang berada di belakang Tio Hiang-leng.

Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan perlahan, entah sejak kapan si “tukang

pikul joli” itu sudah berada di belakang “badan halus”, menyusul ia terus menubruk maju,

secepat kilat telapak tangannya terus menghantam.

Perhatian semua orang sama tertarik oleh ucapan Kang Piat-ho tadi sehingga tiada yang

memperhatikan tindakan “tukang pikul joli” itu, tahu-tahu dia menyerang secara tiba-tiba

dan tampaknya pasti akan mengenai sasarannya.

Tak terduga “badan halus” itu seperti sudah memperhitungkan cara bagaimana dan dari

arah mana akan diserang, tanpa menoleh sebelah tangannya lantas menampar ke belakang.

Gerakan yang kelihatannya sepele itu ternyata menuju ke titik lemah serangan si “tukang

pikul joli” itu sehingga memaksa dia harus menyelamatkan diri lebih dulu sebelum sempat

melukai lawan. Sebisanya ia menutul kedua kakinya dan melompat mundur, dengan

terbelalak ia pandang “badan halus” ini dengan sangat ketakutan seperti melihat setan.

Padahal semua orang sudah menyaksikan betapa lihai ilmu silatnya ketika menyerang Thi

Bu-siang tadi, kini dia dapat digempur mundur oleh gerakan sepele seorang yang tak

menarik, tentu saja semua orang sama terkejut. Sudah tentu si “tukang pikul” sendiri

lebih-lebih tidak menduga bahwa serangannya yang pasti akan berhasil itu bisa berubah

menjadi seperti permainan anak kecil saja bagi lawan.

Dilihatnya “badan halus” itu membalik tubuh perlahan, dengan terkekeh-kekeh

menegurnya, “Apakah kau kenal aku?”

“Sia … siapa kau?” tanya si ‘tukang pikul’ dengan suara parau.

“Kau tidak kenal aku, tapi kukenal kau … mati pun takkan kulupakan dirimu,” suaranya

melengking tajam dan kedengaran rada-rada seram.

Tanpa terasa “tukang pikul” itu bergidik, katanya pula, “Sesungguhnya kau ini sia …

siapa?”

“Sudah kukatakan sejak tadi, aku ini bukan manusia, tapi setan!” sambil bicara selangkah

demi selangkah ia terus mendekati orang dan tanpa terasa “tukang pikul” itu pun mundur

selangkah demi selangkah.

Entah mengapa, suasana di tengah ruangan yang terang benderang itu mendadak berubah

menjadi seram.

Walaupun air muka “tukang pikul” itu tidak kelihatan berubah, namun sinar matanya jelas

menampilkan rasa takut luar biasa, wajah yang kaku tanpa perasaan itu disertai sorot

mata yang ketakutan itu semakin menambah seram orang yang melihatnya.

Hoa Bu-koat ternyata diam saja dan tiada tanda-tanda hendak turun tangan. Kang Piat-ho

tampak mengedip, seperti memberi isyarat, habis itu lantas terdengar si pemuda baju

ungu berteriak, “Wah, celaka! O, Suhu … Suhu … O, Suhu bunuh diri!”

Karena teriakan ini, seketika pandangan semua orang beralih dari si “badan halus” ke arah

Thi Bu-siang, setelah melihat apa yang terjadi, semua orang ikut menjerit kaget.

Thi Bu-siang kelihatan masih duduk tegak di kursinya, tapi pedang tadi kini telah

menancap di lehernya, bajunya berlumuran darah. Karena lehernya tertembus pedang

sehingga tak dapat berteriak, kedua tangannya tampak memegangi batang pedang,

seperti hendak menusukkannya lebih dalam, tapi juga seperti ingin mencabutnya, namun

tidak kuat.

Kedua mata jago tua itu tampak melotot gusar, sorot mata sebelum ajalnya menampilkan

rasa kaget, gusar dan penuh dendam, setelah mengembuskan napas terakhir,

pandangannya yang masih penuh rasa benci dan dendam itu seakan-akan tetap menatap si

pemuda baju ungu.

“Thi Bu-siang tidak malu sebagai seorang ksatria,” demikian Kang Piat-ho berkata dengan

menghela napas menyesal. “Dia berani mengaku salah dan berani bertanggung jawab,

dengan kematiannya ini, segala dosa dan nama busuk di waktu hidupnya boleh dikatakan

sudah tercuci bersih.”

Mendadak “badan halus” itu berteriak, “Kentut busuk! Thi Bu-siang sekali-kali bukan

membunuh diri!”

“Kalau Thi-locianpwe tidak bunuh diri, memangnya aku orang she Kang yang

membunuhnya?” damprat Kang Piat-ho dengan gusar. Setelah merandek sejenak, lalu ia

menyambung pula, “Seumpama aku mau membunuh dia tentu sudah kulakukan sejak tadi,

untuk apa menunggu sampai sekarang?”

Tapi “badan halus” itu pun mengejek, “Hm, kalau Thi Bu-siang mau membunuh diri tentu

sudah lama dia lakukan, tidak nanti dia menunggu sampai sekarang. Kalau tadi dia tidak

sudi mati penasaran, sekarang duduknya perkara sudah terang, lebih-lebih tidak mungkin

dia membunuh diri.”

“Jika Thi-locianpwe bukan membunuh diri, lalu siapa lagi yang mampu membunuhnya tanpa

mendapat perlawanan? Kematian Thi-locianpwe ini justru mati dengan putih bersih,

memangnya kau ingin dia mendapat nama busuk setelah mati?” bentak Kang Piat-ho

dengan bengis.

Dengan suara tidak kalah bengisnya “badan halus” itu menjawab, “Kalau bertempur

berhadapan, sudah tentu tiada seorang pun yang dapat membunuh Thi-locianpwe tanpa

mendapat perlawanannya, tapi kalau membunuhnya secara gelap ….”

“Memangnya aku Kang Piat-ho dapat membunuhnya secara menggelap?” teriak Kang Piatho

murka.

“Sekali ini dengan sendirinya bukan perbuatanmu, kau sendiri tahu Thi Bu-siang sudah

berjaga-jaga terhadap kecuranganmu, sekalipun kau hendak menyergapnya juga sukar

berhasil,” jengek pula ‘badan halus’ itu.

“Kalau bukan aku, habis apakah Hoa-kongcu?” dengus Kang Piat-ho.

“Kan sudah kukatakan, yang turun tangan pastilah orang yang paling karib dengan Thi Busiang,

karena tidak tersangka orang ini akan menyerangnya secara gelap, maka dengan

mudah dapat berhasil.”

“Siapa yang membunuh guruku, biar aku adu jiwa dengan dia!” mendadak pemuda baju ungu

berteriak.

“Yang membunuh gurumu ialah kau sendiri!” jengek ‘badan halus’ itu.

Tergetar badan pemuda itu, teriaknya dengan gusar, “Kentut busuk, betapa berbudi

guruku terhadapku, mana bisa aku membunuh guruku sendiri, apa kau … sudah … sudah

gila!”

“Kau sendiri yang sudah gila!” jengek orang itu. “Jika kau merasa utang budi kepada guru,

seharusnya kau membalas kebaikannya itu, tapi kau justru membalas air susu dengan air

tuba, diam-diam kau bersekongkol dengan orang she Kang. Tatkala perbuatanmu yang

khianat ini akan terbongkar diam-diam kau menikam leher gurumu. Kau kira setelah

gurumu mati tentu tiada saksi hidup lagi untuk membongkar perbuatanmu yang terkutuk

ini, tapi kau lupa bahwa di sini masih ada aku!”

“Kau ini siapa? Berani sembarang memfitnah orang?” teriak pemuda baju ungu dengan

parau.

“Memangnya kau mau bukti?”

“Mana buktinya? Coba perlihatkan!”

“Orang lain tidak punya bukti, tapi bukti lengkap berada padaku. Aku sendiri yang

menyaksikan kau yang menaruh racun di dalam arak waktu kalian hendak meracun Tio

Coan-hay tempo hari.”

Tubuh pemuda baju ungu kembali bergetar, tapi ia membentak pula, “Kentut busuk!

Guruku yang mengundang Tio-congpiauthau untuk didamaikan dengan Sam-siang-piaukiok,

untuk apa aku meracuni Tio-congpiauthau malah?”

“Soalnya kau telah bersekongkol dan diperintah berbuat begitu oleh Kang Giok-long agar

perdamaian itu gagal dan sekaligus merusak nama baik gurumu, itu artinya sekali

bertindak tiga korban, sungguh muslihat keji.”

“Kentut busuk! Siapa … siapa yang mau percaya ocehanmu ini?”

“Kau berani menyangkal lagi? Justru aku menyaksikan sendiri kau berunding dengan Kang

Giok-long tentang muslihat keji itu di dapur restoran Su-hay-jun tempo hari.”

“Mana bisa kau menyaksikan sendiri? Kau … kau sembarangan memfitnah orang, biar ku …

ku mampuskan kau!” teriak pemuda baju ungu sambil menubruk maju.

Tapi baru saja ia bergerak, mendadak “badan halus” itu membuka kalo bambu yang

menutupi mukanya itu dan menyeringai, “Coba pandanglah dengan jelas siapakah diriku

ini?”

Di bawah cahaya lampu tertampak wajahnya yang kotor, rambut semrawut sehingga

seperti setan gentayangan.

Seketika pemuda baju ungu tergetar mundur, serunya dengan suara gemetar “Kau … kau

….”

“Supaya tahu, aku adalah arwah halus orang yang kau bunuh bersama Kang Giok-long itu,

kalian hendak menghilangkan saksi hidup dan membunuhku, aku mati penasaran, jadi setan

juga akan kubongkar muslihat keji kalian, akan kutagih nyawa padamu.”

Belum habis ucapannya, seperti kesurupan pemuda baju ungu itu lantas menjerit, “Setan

… setan … ada setan!” Berbareng ia terus mundur-mundur dan akhirnya lari terbirit-birit

seperti orang gila.

Tapi belum beberapa jauh ia lari, sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, belum

pemuda itu mencapai pintu sudah lantas jatuh tersungkur, sebilah pedang telah

menembus tengkuknya hingga dia terpantek di tanah.

Pemuda baju ungu itu tidak sempat menjerit dan tahu-tahu sudah mati terkapar. Tapi

sekali ini semua orang menyaksikan dengan jelas, pedang itu tersambit dari tangan Kang

Piat-ho.

Tenang-tenang saja Kang Piat-ho, katanya dengan perlahan, “Orang ini menjadi tidak

waras, kalau membiarkan dia pergi mungkin akan mengganggu ketenteraman umum,

terpaksa aku membunuhnya.”

Tiba-tiba “badan halus” tadi membentak, “Kang Piat-ho, kau membunuhnya untuk

menghilangkan saksi hidup, tapi malah bicara muluk-muluk, terkutuklah kau!”

“Huh, kau main sembunyi-sembunyi dan tidak berani memperlihatkan wajah aslimu, siapa

yang mau percaya ocehanmu?!” jawab Kang Piat-ho tersenyum.

Ucapan ini dengan jitu mengenai titik kelemahan si “badan halus”.

Tidak perlu dijelaskan lagi, “badan halus” ini dengan sendirinya ialah Siau-hi-ji, di depan

Hoa Bu-koat, dengan sendirinya ia tidak berani memperlihatkan muka aslinya.

Perlahan Kang Piat-ho berkata pula, “Seorang lelaki sejati harus berani bicara dan berani

bertanggung jawab, jika apa yang kau katakan tadi menyangkut persoalan sepenting ini,

seharusnya kau berani memperlihatkan muka aslimu di depan orang banyak.”

Tertegun juga Siau-hi-ji, akhirnya ia berteriak, “Asalkan apa yang kukatakan adalah

betul, apa sangkut-pautnya dengan wajah asliku segala?”

“Nah, coba pikir, hadirin sekalian,” segera Kang Piat-ho menambahkan, “jika perkataan

orang ini memang betul, mengapa dia tidak berani menghadapi orang dengan muka aslinya.”

Waktu Siau-hi-ji memandang sekelilingnya, tertampak sorot mata setiap orang sama

menatap wajahnya dengan rasa sangsi.

Dengan tenang Kang Piat-ho lantas berkata pula, “Orang ini sengaja main sembunyisembunyi,

sembunyi kepala memperlihatkan ekor, mengoceh semaunya untuk menakutnakuti

orang lain, maksud tujuannya jelas tidak baik ….”

Sembari bicara ia pun senantiasa memperhatikan sikap hadirin, sampai di sini tiba-tiba ia

berkata kepada Hoa Bu-koat dengan sekata demi sekata, “Hoa-kongcu adalah orang

bijaksana, apakah engkau tidak ingin tahu asal usul mereka?”

“Mereka?” Hoa Bu-koat menegas.

“Ya, selain bocah ini tentu masih ada pula si ‘tukang pikul’ itu, Cayhe juga ingin tahu

apakah dia memang anakku yang tak becus Giok-long sebagaimana dituduhkan orang ini.”

Ucapan Kang Piat-ho ini kedengaran adil dan tidak memihak. Maklumlah dalam waktu

sesingkat ini suasana di ruangan ini sesungguhnya telah berubah terlalu banyak dan

terlalu cepat.

Di tengah kegaduhan tadi banyak orang sudah melupakan urusan si “tukang pikul joli” itu.

Kini setelah disebut oleh Kang Piat-ho, dengan sendirinya pandangan semua orang lantas

mencari ke arah orang yang disebut, tapi bayangan “tukang pikul” itu ternyata tidak

nampak lagi, bahkan para tukang joli yang ikut serta Toan Hap-pui dan Samkohnio dengan

kedua jolinya juga sudah menghilang entah sejak kapan.

Tanpa terasa Siau-hi-ji menggentak kaki, meski dia pintar dan cerdik, tapi pengalaman

masih cetek sehingga kurang rapi pengawasannya dan akibatnya terjadilah kelengahan

yang fatal ini.

Kang Piat-ho tampaknya menjadi gusar dan berteriak, “He, mengapa ‘tukang pikul’ itu

menghilang? Bilakah perginya?”

Lo Kiu yang sejak tadi hanya menjadi penonton itu tiba-tiba menanggapi, “Badan Toanloyacu

kurang sehat, dia terlalu tegang dan tidak tahan melihat semua kejadian ini, maka

sejak tadi dia suruh mereka menggotongnya pulang.”

“Orang kalau terlalu gemuk memang tidak boleh merasa tegang, jika sering tegang bisa

kena angin duduk, kami bersaudara juga mempunyai penyakit begitu,” demikian sambung

Lo Sam dengan tertawa.

Kang Piat-ho berlagak menyesali Lo Kiu, katanya, “Jika kalian melihat kepergian mereka,

seharusnya ‘tukang pikul’ itu ditahan di sini, kalau persoalan ini tidak dibikin terang,

betapa pun Cayhe merasa tidak enak.”

“Huh, kau musang berbulu ayam ini, kalau bicara hal pura-pura dan berlagak, kau memang

terhitung nomor satu di dunia,” damprat Siau-hi-ji saking gemasnya.

Kang Piat-ho balas mendengus, “Hm, bukan mustahil ‘tukang pikul’ itu sekomplotan

denganmu dan sengaja hendak memfitnah diriku, kalau tidak mengapa kau membiarkan dia

kabur begitu saja?”

Ternyata menghilangnya “tukang pikul” itu berbalik digunakannya untuk menghantam Siauhi-

ji dan cara bicaranya juga cukup beralasan, kini meski tidak semua orang percaya

kepada ucapannya, sedikitnya sudah mulai meragukan tuduhan Siau-hi-ji tadi.

Tentu saja Siau-hi-ji geregetan dan kelabakan, baru sekarang ia tahu Kang Piat-ho

memang benar-benar bukan tokoh yang mudah dilayani, hanya beberapa patah kata saja

suasana yang tidak menguntungkannya telah dapat diputar balik olehnya. Tanpa

menggerakkan satu jari pun kini Siau-hi-ji telah didesaknya ke jalan buntu.

Ruangan tamu ini sangat luas, banyak pintu dan jendelanya, kalau mau, dengan mudah

sekali Siau-hi-ji dapat menerobos keluar. Tapi sekarang Siau-hi-ji tidak dapat pergi,

sebab mata Hoa Bu-koat sekarang sedang menatap tajam padanya.

Dengan tenang didengarnya Kang Piat-ho berkata pula, “Meski tukang pikul itu sudah

kabur, tapi saudara mungkin tidak dapat lolos lagi, saudara ternyata tetap tidak sudi

memperlihatkan wajah aslimu, jangan-jangan disebabkan kau telah berbuat sesuatu yang

tidak boleh dilihat orang?”

Benak Siau-hi-ji terus bekerja, tapi tidak mendapatkan sesuatu akal yang baik.

Tiba-tiba Hoa Bu-koat membuka suara, “Jika sahabat tidak sudi turun tangan sendiri,

rasanya Cayhe perlu melakukannya bagimu.”

“Hoa Bu-koat,” damprat Siau-hi-ji, “sebenarnya kuanggap kau ini orang pintar, siapa tahu

kau ternyata sudi diperalat orang lain seperti boneka, sungguh aku merasa malu bagimu.”

Sama sekali Hoa Bu-koat tidak marah, ia malah tersenyum dan berkata, “Jika engkau

bermaksud memancing kemarahanku, maka usahamu ini cuma sia-sia belaka.”

“Orang yang tidak bisa marah adalah orang yang tak berguna, memangnya ada harganya

untuk dibuat bangga dan pamer?”

“Bukannya aku tidak pernah marah, soalnya orang seperti kau ini belum ada harganya

untuk kumarahi.”

Dengan tertawa Kang Piat-ho menukas, “Biarpun masih muda, tapi kesabaran Hoa-kongcu

sungguh sangat terpuji, untuk bisa memancing kemarahannya kau harus ….”

“Untuk memancing kemarahannya kau harus merebut Thi Sim-lan dari pelukannya, begitu

bukan?” teriak Siau-hi-ji.

Air muka Hoa Bu-koat benar-benar rada berubah demi mendengar perkataan ini, dengan

suara berat ia menjawab, “Urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan dia, sebaiknya

saudara jangan menyinggung namanya.”

“Thi Sim-lan kan bukan milikmu, dengan hak apa kau larang orang lain menyebut

namanya?” teriak Siau-hi-ji dengan tertawa.

Entah mengapa, bicara tentang Thi Sim-lan, seketika darah seakan-akan bergolak di

sekujur badan anak muda itu, segala apa tidak membuatnya gentar lagi, yang dituju hanya

memancing kemarahan Hoa Bu-koat saja, supaya Hoa Bu-koat malu pula, biarpun

menyadari dirinya sekali-kali bukan tandingan Hoa Bu-koat, tapi dia justru ingin mengadu

jiwa dengan Hoa Bu-koat agar perasaannya yang bergolak itu terlampiaskan.

Seorang yang biasanya dapat menguasai perasaan dan dapat berpikir dengan tenang kini

mendadak terangsang oleh emosi yang tak terkendalikan, perubahan ini nampaknya sangat

luar biasa dan tidak masuk akal, tapi kalau dipikir lebih jauh, hal ini tidak perlu

diherankan.

Maklumlah, selama beberapa tahun terakhir ini Siau-hi-ji selalu berusaha mengekang diri,

lebih-lebih terhadap Hoa Bu-koat. Semua ini disebabkan karena Siau-hi-ji memang benarbenar

seorang yang mahapintar, bukan saja dia sangat memahami orang lain tapi juga

memahami dirinya sendiri, ia tahu dirinya sesungguhnya tidak dapat membandingi Hoa Bukoat,

makanya dia harus bersabar dan menahan diri. Kalau saja tiada tekanan lain, kalau

tiada sumbu penyebab, bisa jadi dia akan terus bersabar dan menahan perasaannya ini

sehingga tiba saatnya dia dapat mengalahkan Hoa Bu-koat.

Tapi sekarang dia benar-benar kepepet, dia terdesak hingga tak dapat bernapas,

sedangkan nama Thi Sim-lan justru adalah sumbu penyebabnya, pergolakan darah yang

telah dikekang sebisanya akhirnya meledak.

Dengan tertawa ngakak Siau-hi-ji berteriak pula, “Hoa Bu-koat, bicara terus terang,

sejak lama Thi Sim-lan sudah mempunyai kekasih, hatinya sudah lama menjadi milik orang

itu, betapa pun kau tidak dapat merebutnya, andaikan kau dapat memperistrikan dia, tapi

kau tidak dapat memiliki hatinya.”

Di tengah tertawa keras itu mendadak tubuh Siau-hi-ji melambung tinggi ke atas. Pada

saat itu juga tangan Hoa Bu-koat sudah terayun ke depan, kalau saja Siau-hi-ji terlambat

setengah jengkal mungkin dadanya sudah hancur terhantam.

Belandar ruangan besar itu sedikitnya lima meter tingginya, tapi sekali loncat Siau-hi-ji

meraih belandar itu, tubuhnya bergelantungan laksana anak main ayunan dan seakan-akan

setiap saat bisa jatuh. Tapi Kang Piat-ho dapat melihatnya bahwa gerak tubuh Siau-hi-ji

adalah Ginkang yang paling tinggi, tampaknya tubuh bergoyang-goyang hendak jatuh,

padahal setiap gerakan itu tersembunyi serangan maut.

Apalagi dengan bergelantungan di atas berarti menduduki tempat yang lebih

menguntungkan, dalam keadaan demikian, siapa pun kalau meloncat ke atas dan

menyerangnya mungkin akan mengalami nasib malang lebih dulu.

Namun Hoa Bu-koat tiada bermaksud menyerang ke atas, bahkan memandang sekejap

saja tidak, dia tetap berdiri tenang di tempatnya, ia malah menatap ke ujung kakinya

sendiri laksana seorang paderi tua yang sedang bersemadi, apa yang terjadi di

sekelilingnya seperti tak digubrisnya lagi.

Sudah tentu semua orang menjadi heran melihat sikap Hoa Bu-koat yang aneh itu, yang

lebih mengherankan adalah Siau-hi-ji, kesempatan baik itu ternyata tidak digunakan

untuk kabur.

Namun Siau-hi-ji tahu bahwa saat ini Hoa Bu-koat justru sedang memusatkan

pancaindera, tampaknya dia tidak melihat dan tidak mendengar segala apa pun, padahal

setiap gerak-gerik siapa pun juga tak terhindar dari mata telinganya.

Karena Siau-hi-ji menduduki tempat yang lebih menguntungkan, mungkin Hoa Bu-koat

tidak mau sembarangan turun tangan, tapi kalau Siau-hi-ji bertindak sedikit, seketika dia

akan kehilangan inisiatif dan mungkin akan mengalami serangan fatal dari Hoa Bu-koat.

Sebab itulah Siau-hi-ji tidak berani kabur, dia memang tidak dapat pergi.

Begitulah yang satu bergelantungan di atas dan yang lain berdiri diam di bawah, keduanya

lantas saling bertahan dalam posisi demikian.

Orang lain tidak tahu ketergantungan apa yang terkandung di antara kedua seteru itu,

tapi aneh, suasana yang tadinya rada kacau itu kini berubah menjadi sunyi senyap.

Semakin lama suasana tegang semakin terasa mencekam.

Siau-hi-ji masih terus bergelantungan, tapi semua orang tidak merasakan lagi dia akan

jatuh ke bawah, bahkan terasakan ayunan yang tak menentu itu membuat kepala mereka

pusing dan mata berkunang-kunang. Akhirnya mereka tidak berani memandang ke atas

lagi, tapi cahaya lilin di ruangan seakan-akan ikut bergoyang-goyang oleh gerak ayunan

Siau-hi-ji itu, sampai akhirnya seluruh ruangan seperti juga ikut bergoyang. Semua orang

merasa seperti terombang-ambing di sebuah sampan dan terasa mabuk laut.

Hanya Kang Piat-ho saja, dia menatap Hoa Bu-koat dengan tajam dan sikapnya tetap

tenang.

Hoa Bu-koat masih berdiri tegak seakan-akan sebuah tombak di tengah damparan ombak

samudera, berdirinya tegak kuat sehingga membawa rasa aman juga bagi orang lain. Tapi

selain Kang Piat-ho tiada orang lain lagi yang berani memandangnya, rasanya dari

tubuhnya yang tegak itu terpancar semacam hawa membunuh yang menyesakkan napas

Yang satu bergerak dan yang lain berdiam, sungguh perbandingan yang sangat kontras.

Jarak kedua pemuda itu ada beberapa meter jauhnya, namun di tengah-tengah mereka

sudah tidak boleh terselip sesuatu benda apa pun.

Satu bergerak dan satu lagi berdiam, keadaan ini terus bertahan, namun lama-lama yang

bergerak dengan sendirinya tidak sekuat yang berdiam. Sudah tentu Kang Piat-ho

memahami hal ini, tanpa terasa tersembul senyum senang di ujung mulutnya.

Malam sudah larut, sudah mulai terasa dingin, meski tidak keras hawa dingin di malam

musim panas, namun semua orang yang berada di situ sudah mulai menggigil.

Sekonyong-konyong seekor burung seriti menerobos masuk dari jendela, itulah burung

walet yang kesasar dan kebetulan menerobos ke tempat yang ada cahayanya, tujuannya

mungkin untuk mencari selamat. Burung itu langsung terbang ke tengah-tengah antara

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat yang sedang saling bertahan itu.

Tiada seorang pun yang melihat sesuatu gerakan dari Siau-hi-ji maupun Hoa Bu-koat, tapi

entah mengapa, tahu-tahu burung seriti tidak mampu menerobos hawa pembunuhan yang

tak berwujud itu, langsung burung itu jatuh ke bawah dan menyerempet muka Hoa Bukoat.

Pada saat itu juga tubuh Siau-hi-ji mendadak anjlok ke bawah dengan berputar seperti

gangsingan, dipandang dari jauh tangan dan kaki anak muda itu seperti sedang menari-nari

menyilaukan mata, seakan-akan malaikat bertangan seribu yang mendadak turun dari

langit.

Namun Hoa Bu-koat tetap tenang-tenang saja dan tidak menengadah sama sekali.

Tiba-tiba Siau-hi-ji membentak selagi masih terapung di udara, bersamaan ia

melancarkan delapan kali tendangan dan enam belas kali pukulan.

Betapa cepat serangannya sungguh sukar diukur, tampaknya tubuhnya seakan-akan

tumbuh delapan tangan dan enam belas kaki sekaligus serta menyerang secara serentak,

seluruhnya mengarah Hoa Bu-koat.

Pandangan semua orang terasa berkunang-kunang, jika mereka yang menghadapi serangan

yang demikian, jangankan hendak menangkis, mengelak mungkin juga tidak tahu caranya.

Mendadak Hoa Bu-koat mendongak, di bawah cahaya lampu yang bergoyang-goyang itu

sorot matanya gemerlap laksana bintang berkelip, wajahnya senyum tak senyum, telapak

tangan terayun, dengan perlahan ia menarik dan ditolak pula ke samping, tampaknya bukan

gerak serangan tapi juga bukan pertahanan. Tapi aneh, hanya gerakan yang sepele ini

tahu-tahu serangan Siau-hi-ji yang lihai itu telah dapat dipatahkan.

Segera terdengar suara “plak-plak” beberapa kali, tangan kiri Siau-hi-ji memukul pada

tangan kanan sendiri, kaki kanan juga menendang kaki kiri sendiri, serangan Siau-hi-ji

yang lihai itu ternyata mengenai tubuhnya sendiri sehingga terlempar mundur dan jatuh

tersungkur.

Senang sekali hati Kang Piat-ho melihat kejadian itu, katanya sambil tertawa, “Hebat,

sungguh jurus ‘Ih-hoa-ciap-giok’ yang bagus!”

Tertampak kedua telapak tangan Siau-hi-ji merah bengkak, napas terengah-engah dan

tidak sanggup merangkak bangun lagi.

Sambil memandangi Siau-hi-ji, dengan tersenyum Hoa Bu-koat berkata, “Ilmu silatmu

terhitung juga tokoh kelas satu, kekuatan tenaga dalammu juga di luar dugaanku, cuma

sayang, semakin kuat tenagamu, semakin berat pula lukamu.” Sembari bicara ia pun

mendekati Siau-hi-ji dengan perlahan.

Pada saat itu juga sekonyong-konyong suara mendesing memenuhi seluruh ruangan tamu,

cahaya lampu mendadak padam, bahkan berpuluh senjata rahasia dengan suara mendesing

keras menyambar ke arah Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat.

Bahwa sekaligus senjata-senjata rahasia itu dapat memadamkan lampu dan berbareng

menyerang lawan pula, betapa hebat cara menyambitnya dan betapa kuat tenaganya boleh

dikatakan jarang ada bandingannya di dunia Kangouw.

Namun hujan senjata rahasia itu tetap tidak dapat melukai Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat,

hanya sedikit melompat saja dapatlah mereka mengelaknya.

Selagi suasana kacau-balau, terdengar Lo Kiu membentak, “Harap semua orang berdiri

tenang di tempat masing-masing dan jangan sembarang bergerak!”

“Ya, jangan sampai keparat itu kabur di tengah kekalutan ini!” Lo Sam juga berteriak.

Ucapan itu memang cocok dengan pikiran Kang Piat-ho, diam-diam ia memuji, “Kedua Lo

bersaudara itu ternyata jagoan juga.”

Dalam pada itu terdengar suara Lo Kiu berseru pula, “Biar kujaga di luar agar dia tidak

dapat kabur dan lekas menyalakan lampu!”

“Baiklah, kau boleh keluar!” jawab Lo Sam. Menyusul cahaya api lantas menyala. Waktu

semua orang memandang si “badan halus” yang jatuh tadi, ternyata betul sudah

menghilang.

Berubah air muka Kang Piat-ho, cepat ia melompat ke tepi jendela, namun di luar tetap

gelap gulita dan tiada bayangan seorang pun.

“Cepat benar kaburnya keparat tadi, lekas kita mengejarnya!” kata Lo Sam sambil

menghentak lantai.

“Banyak sekali jalan lolos di sini, mungkin percuma saja mengejarnya,” ujar Hoa Bu-koat.

“Apakah membiarkan dia kabur begitu saja?” kata Kang Piat-ho penasaran.

“Dengan tenaga pukulannya tadi setelah kugeser balik sehingga dia melukai kaki tangan

sendiri, kuyakin dia tidak sanggup kabur begitu saja,” kata Hoa Bu-koat.

“Kalau begitu jelas orang yang menghamburkan senjata rahasia dan memadamkan lampu

itulah yang membawa lari dia,” ucap Kang Piat-ho dengan gemas.

“Tapi saudaraku mungkin telah mengejarnya, entah dapat menyusulnya atau tidak?” kata

Lo Sam.

“Kukira kakakmu tidak dapat menyusulnya,” ujar Hoa Bu-koat. “Kalau orang itu mampu

membawa lari pecundangku di depan mataku dengan sendirinya dia memiliki kepandaian

lain daripada yang lain, apalagi kita sudah terhalang sejenak oleh senjata rahasia yang

dihamburkan tadi, hendak mengejarnya juga sia-sia belaka.”

“Betul, kalau orang itu mampu menolong keparat itu di depan Hoa-kongcu, dengan

sendirinya saudaraku juga tidak mampu menyusulnya,” kata Lo Sam dengan gegetun.

“Kukira kakakmu akan lebih baik tidak berhasil menyusulnya, kalau tidak dalam keadaan

sendirian tentu dia akan menghadapi bahaya, inilah yang membuat hatiku tidak tenteram,”

ujar Kang Piat-ho dengan tertawa.

“Keparat itu berani sembarangan mengoceh dan merusak nama baik Kang-tayhiap, dengan

sendirinya dia harus dibekuk untuk bisa mencuci bersih nama Kang-tayhiap yang

tercemar. Sekarang dia telah kabur, betapa penting soal ini. Namun Kang-tayhiap

ternyata tidak ambil pusing dan malah memikirkan keselamatan saudaraku, sungguh budi

luhur Kang-tayhiap sukar dibandingi orang lain,” demikian Lo Sam mengumpak.

“Ah, benar atau salah tentu orang Kangouw dapat membedakannya, orang macam apa

diriku Kang Piat-ho ini tentu juga sudah cukup diketahui oleh kawan-kawan Kangouw,

bagiku cukup asalkan merasa tidak berbuat sesuatu yang memalukan, pada hakikatnya aku

tidak pedulikan fitnah dan nista orang lain,” seru Kang Piat-ho dengan lantang.

“Benar,” kata Lo Sam pula dengan tertawa, “orang yang terkenal tentu tidak luput dari

desas-desus jahat, nama Kang-tayhiap segemilang sang surya di tengah cakrawala, hanya

sedikit fitnah yang tidak masuk akal itu mana dapat menggoyahkan nama baik Kangtayhiap

di mata orang Kangouw?”

“Sebab itu juga kuyakin orang itu pasti takkan pergi begitu saja,” ucap Kang Piat-ho

dengan tersenyum. “Kalau dia bertekad hendak menjatuhkan namaku, tentu dia akan

datang kembali ….”

“Jika dia datang lagi, tentu engkau takkan membiarkan dia lolos lagi, begitu bukan?” sela

Hoa Bu-koat dengan mengulum senyum.

“Bilamana dia datang lagi, Cayhe hanya ingin tahu sesungguhnya dia itu orang macam apa?”

ucap Kang Piat-ho sekata demi sekata.

*****

Tadi, begitu lampu padam dan terdengar suara mendesing ramai, segera Siau-hi-ji tahu

telah kedatangan bintang penolong. Selagi dia hendak merangkak bangun, tahu-tahu

seorang telah merangkulnya terus dibawa lari menerobos keluar jendela.

Ginkang orang itu tergolong tokoh kelas satu, hanya beberapa kali gerakan saja sudah

berada beberapa puluh tombak jauhnya. Pada saat itulah Siau-hi-ji masih sempat

mendengar suara Lo Kiu lagi berseru di dalam ruangan agar semua orang jangan

sembarang bergerak dan tetap berdiri di tempat masing-masing.

Habis itu ia tidak dengar lagi apa yang terjadi di sana, sejenak kemudian ia sudah dibawa

kabur meninggalkan perkampungan yang kacau itu.

Terasa angin malam meniup sejuk, tangan dan kaki Siau-hi-ji masih terasa sakit akibat

saling genjot sendiri tadi, diam-diam ia terkejut juga teringat kepada ilmu silat Hoa Bukoat

yang ajaib dan lihai itu.

Sekejap tadi sesungguhnya sangat berbahaya bagi keselamatan Siau-hi-ji kalau saja tiada

orang menolongnya tentu dia tak dapat lolos.

Dan siapakah penolongnya ini?

Selama hidup Siau-hi-ji boleh dikatakan cuma ada musuh dan tiada kawan, lalu siapakah

yang sudi turun tangan menyelamatkannya dan untuk apakah menolongnya?

Karena ingin tahu, Siau-hi-ji lantas tanya, “Sungguh sangat berterima kasih atas

pertolongan saudara ini.”

“Ehm!” terdengar orang itu bersuara singkat sambil tetap lari. Karena terkempit olehnya,

maka Siau-hi-ji tidak dapat melihat wajah orang.

Selang sejenak, kembali Siau-hi-ji bertanya, “Apakah kau tahu bahwa diriku ini bukanlah

orang yang baik, mengapa engkau menolong aku?”

“Tapi kau pun tidak busuk,” ucap orang itu dengan tertawa.

“Jika demikian, jadi kau kenal aku?”

“Ehm,” kembali orang itu cuma mendengus.

“Namun aku tidak kenal engkau, siapakah engkau?”

“Coba tebak!”

“Dengan sendirinya engkau seorang lelaki.”

“Betul!”

“Dari suaramu kukira usiamu belum tua.”

“Tapi juga tidak muda lagi.”

“Dengan sendirinya pula engkau bukan Sin-sik Totiang,” kata Siau-hi-ji pula.

“O,” kembali orang itu bersuara singkat.

“Jika engkau Sin-sik Totiang tentu aku takkan disuruh menerka, orang beragama pasti

tidak suka main sembunyi seperti maling takut ketahuan.”

Dasar anak dugal, orang menolongnya, dia malah memaki orang. Soalnya dia sengaja

hendak memancingnya supaya orang bicara lebih banyak, dengan demikian ia berharap

dapat mengenali dari suaranya.

Tak disangka orang itu pun tidak marah, sebaliknya menjawab dengan tertawa, “Betul

juga ucapanmu.”

Karena tidak dapat menerka siapa penolongnya ini, tiba-tiba Siau-hi-ji berkata, “He,

jangan-jangan engkau ini Han-wan Sam-kong?”

“Aku tidak kenal setan judi itu,” jawab orang itu dengan tertawa.

“Habis siapa? Sesungguhnya engkau ini setan atau manusia?”

“Selamanya kau takkan mampu menerka siapa diriku ini.”

“Kalau tidak kau katakan, awas akan kumaki kau!”

“Makilah, tak pernah kutakut dimaki orang.”

“Hm, jangan kau kira kaki tanganku tak dapat bergerak, jika kau tak mau mengaku, segera

kututuk Hiat-tomu, lalu meringkusmu dan akan kulihat kau ini siapa sebenarnya,” sembari

bicara tangan Siau-hi-ji benar-benar mulai menggerayangi pinggang orang.

“Tapi jangan kau lupa aku adalah tuan penolongmu.”

“Aku tidak sudi menerima budimu ini!” ucap Siau-hi-ji. “Ada sementara orang sengaja

menolong orang dengan harapan mendapatkan imbalan, kau menolong aku, bukan mustahil

kau pun ingin peralat diriku, bisa jadi kau handak mencelakakan aku dengan lebih kejam.”

“Kau ternyata sukar dilayani, tidak sedikit orang yang kukenal, tapi belum pernah kulihat

orang macam kau ….” sambil berkata orang itu mendadak melayang masuk jendela sebuah

rumah, lalu Siau-hi-ji diturunkan.

Daun jendela rumah itu ternyata terbuka sepanjang malam, di dalam rumah malahan lampu

masih menyala. Di bawah cahaya lampu akhirnya Siau-hi-ji dapat melihat wajah

penolongnya.

Orang ini bukan lain daripada Lo Kiu yang penuh rahasia itu!

Dengan tersenyum-senyum Lo Kiu memandang Siau-hi-ji, katanya kemudian, “Aku, tak

tersangka olehmu bukan?”

“Kau … mengapa bisa kau?” gumam Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Kutahu selamanya kau takkan mampu menerka,” Lo Kiu tertawa.

“Tapi … tapi jelas kudengar kau berseru di ruangan tadi.”

“Itu suara saudaraku Lo Sam, dia sengaja bersuara dua orang dan orang lain tentu

menyangka aku masih berada di sana, dengan sendirinya takkan terpikir bahwa akulah

yang menolongmu.”

“Aha, benar-benar akal bagus, sampai aku pun tertipu, apalagi orang-orang itu.”

“Untuk mengelabui mata rase tua macam Kang Piat-ho itu bukanlah permainan yang

mudah.”

“Betul, hendak menipu Kang Piat-ho memang bukan pekerjaan mudah,” kata Siau-hi-ji

dengan sorot mata tajam. “Tapi engkau toh berhasil menipu Kang Piat-ho, sesungguhnya

engkau ini siapa?”

“Cayhe she Lo bernama Kiu, bukankah sejak tadi kau sudah tahu?”

“Kau dapat mengelabui orang lain tapi jangan harap dapat mengelabui aku. Kutahu kau ini

pasti bukan sembarangan orang, tapi sengaja berlagak bodoh dan pura-pura dungu, kau

sengaja menyembunyikan nama aslimu serta mengubah tingkah lakumu, kau pasti

mempunyai muslihat tertentu.”

“Kau sendiri menyembunyikan wajah aslimu, memangnya kau pun mempunyai muslihat

tertentu?” balas Lo Kiu dengan tertawa.

Siau-hi-ji melengak, akhirnya ia tertawa, katanya, “Baiklah, anggap kau memang pintar

bicara, aku pun takkan tanya dirimu lagi, tak peduli siapa kau dan muslihat apa yang

terkandung di balik tindakanmu ini, akhirnya toh pasti akan kuketahui kelak.”

“Akhirnya pasti akan kau ketahui bahwa Cayhe sama sekali tidak mempunyai tipu muslihat

apa-apa,” kata Lo Kiu.

“Jika begitu, coba jawab pertanyaan ini, pertama kita bukan sanak bukan kadang, kedua

selamanya kita belum kenal. Nah, untuk apa kau menolong aku?”

“Cayhe cuma kagum dan bersimpatik padamu, tidak tega melihat engkau terdesak begitu,

makanya turun tangan menyelamatkanmu.”

“Hm, mungkin karena kau lihat aku mempunyai kemampuan sejurus-dua, makanya ingin

memperalat diriku ….”

“Haha, ucapan saudara ini terasa berlebihan, maksud baikku malah kau terima dengan

pengertian keliru.”

“Jika kau ini orang baik, maka di dunia ini pasti tiada orang busuk,” ujar Siau-hi-ji, “Ada

lebih baik kau bicara terus terang, apa maksud tujuanmu menolong aku dengan

menyerempet bahaya tadi?”

“Tentang ini ….”

“Di antara manusia dan manusia memang kebanyakan saling memperalat, kau ingin

memperalat diriku, siapa tahu aku pun ingin memperalatmu. Maka, bila kau menginginkan

sesuatu, katakan saja terus terang, sekali-kali aku takkan menyalahkan kau.”

“Haha, saudara benar-benar seorang yang suka bicara blak-blakan, sungguh Cayhe sangat

kagum,” Lo Kiu bergelak tertawa, mendadak ia berhenti tertawa dan menatap Siau-hi-ji,

lalu menyambung dengan suara berat, “Soalnya Cayhe melihat tindakan saudara berniat

membongkar kedok Kang Piat-ho yang munafik itu, padahal Cayhe juga sudah lama berniat

demikian, sebab itulah ….”

“Sebab itulah kau menyelamatkan aku, begitu?”

“Jika saudara mau bekerja sama dengan kami bersaudara, betapa pun licinnya Kang Piatho

sekali ini mungkin sukar mempertahankan diri.”

Dia menatap Siau-hi-ji, tapi anak muda itu pun menatapnya, katanya dengan perlahan,

“Sudah jelas kau berada di pihak Thi Bu-siang dan Tio Hiang-leng, tapi diam-diam kau

bersekongkol pula dengan Kang Piat-ho, sudah terang kau berkomplot dengan Kang Piatho,

tapi diam-diam ingin bersekongkol pula dengan diriku, sesungguhnya apa sebabnya?”

Lo Kiu meraba-raba dagunya yang gemuk itu, jawabnya dengan tertawa, “Tujuanku

berkawan denganmu benar-benar timbul dari lubuk hati yang murni, masa saudara tidak

percaya padaku?”

“Baik, tak peduli apa maksud tujuanmu, asalkan kau mau benar-benar membongkar kedok

Kang Piat-ho, maka aku bersedia berserikat denganmu, dalam hal ini aku pasti

menyokongmu sampai detik terakhir.”

“Bagus, sekali janji pasti jadi!” seru Lo Kiu girang.

“Mestinya aku hendak bertepuk tangan denganmu sebagai janji seorang lelaki, cuma

sayang tanganku bengkak kesakitan karena terpukul tanganku sendiri tadi,” kata Siau-hiji

dengan tertawa.

Tempat mereka berada ini ternyata sebuah loteng kecil, namun terpajang cukup indah,

permadani tebal dengan bunga sulaman menarik, berjalan di atas permadani tebal ini

sedikit pun tidak menerbitkan suara.

Baru sekarang Siau-hi-ji sempat mengawasi sekelilingnya, tertampak di atas meja

terpajang barang-barang antik yang bernilai tinggi, di dinding banyak hiasan indah, ada

benda-benda kecil sebangsa golok dan pedang terbuat dari emas murni, ada pula kudakudaan

dan orang-orangan ukiran batu kemala, ada pula boneka siluman iblis yang bermuka

buruk serta bidadari yang cantik. seluruh ruangan penuh suasana gaib laksana dunia

khayalan dalam dongeng kanak-kanak.

“Bagaimana rumah ini menurut pandangan saudara?” tanya Lo Kiu dengan tertawa.

“Sebenarnya rumah ini milik siapa? Mengapa kau sembarangan menerobos kemari?” tanya

Siau-hi-ji.

“Inilah tempat tinggalku,” jawab Lo Kiu.

“Ini rumahmu?” Siau-hi-ji menegas dengan terkejut. “Memangnya kau tidak takut Kang

Piat-ho mencari ke sini?”

“Saudara tidak perlu khawatir, tempat tinggalku tidak diketahui oleh siapa pun.”

“Tampaknya kau dapat berpikir panjang dan pintar mengatur sehingga dapat merancang

suatu tempat tinggal begini di sini ….” Siau-hi-ji memandang pula sekitarnya, lalu

menyambung dengan tertawa, “Tapi aku benar-benar tidak mengerti bahwa kalian berdua

orang gede dapat mengatur tempat tinggal sebagus ini.”

“Meski tempat tinggal ini milik kami bersaudara, tapi bukan kami sendiri yang

mengaturnya?” jawab Lo Kiu.

“O, jadi ada orang lain yang mengaturnya?”

“Ya, orang yang mengatur tempat ini tentu sangat menarik perhatian saudara bilamana

kau melihatnya.”

“Memangnya sebab apa,” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab dia adalah wanita yang mahacantik.”

“Wanita cantik? Hahaha!” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Justru kepalaku jadi pusing bila

melihat wanita cantik.”

“Biarpun saudara tidak bakal terpikat oleh wanita cantik, tapi dia … dia benar-benar lain

daripada yang lain. Bukan saja cantik, bahkan membawa semacam perasaan yang

misterius, kukira pasti mencocoki seleramu.”

“Caramu propaganda ini rada menarik juga, aku menjadi ingin melihatnya,” ucap Siau-hi-ji.

Segera Lo Kiu menarik tali keleningan, katanya dengan tertawa, “Segera saudara dapat

melihatnya.”

“Orang yang dapat mengatur tempat seindah ini tentu rada-rada lain daripada yang lain

….” belum lanjut ucapannya, tiba-tiba Siau-hi-ji membelokkan pokok percakapan, katanya,

“He, apakah Kang Piat-ho masih tinggal di tempat yang bobrok itu?”

“Meski masih di sana, tapi rumah itu sudah tidak bobrok lagi,” jawab Lo Kiu tertawa.

“Bukankah dia lebih suka tinggal di rumah rusak dan tidak ingin diperbaiki, mengapa

sekarang dia berubah pikiran?” tanya Siau-hi-ji.

“Soalnya Hoa Bu-koat yang memperbaiki rumahnya itu dan Hoa Bu-koat juga berdiam di

sana.”

“Tak tersangka bahwa Hoa Bu-koat bisa bergaul dengan manusia munafik begitu, sungguh

aku merasa sayang baginya.”

“Lahirnya Kang Piat-ho berlagak seperti orang berbudi luhur, orang yang tidak tahu

kemunafikannya tentu suka bersahabat dengan dia. Ilmu silat Hoa Bu-koat sangat hebat,

namun dia masih muda belia dan kurang berpengalaman ….”

“Hoa Bu-koat justru pintar luar dalam, cuma dia dapat menyembunyikan semuanya ini, jika

kau anggap dia masih muda dan hijau, maka kau sendirilah yang kurang pengetahuan.”

“Jangan-jangan saudara dan Hoa Bu-koat kenalan lama?” sinar mata Lo Kiu tampak

gemerlap.

Siau-hi-ji tersenyum, jawabnya “Apakah kau tahu pemeo yang mengatakan ‘siapa yang

paling mendalam, memahami pribadi seseorang, seringkali dia adalah musuhnya yang paling

besar’.”

Sekonyong-konyong ia merasakan sesuatu di belakangnya, cepat ia berpaling, benar saja

tahu-tahu. seorang telah berdiri di situ, cahaya lampu dengan jelas menyinari wajahnya.

Ternyata sebuah wajah yang mahacantik, alis yang lentik, mata yang besar dengan

pandangan yang rawan.

Tampaknya dia memandang Siau-hi-ji, tapi justru seperti tidak tahu Siau-hi-ji berada di

situ, dia tetap berdiri tegak seperti orang linglung.

Dia ternyata bukan lain daripada Buyung Kiu adanya, itu nona kesembilan dari keluarga

Buyung yang termasyhur.

Seketika Siau-hi-ji juga melenggong.

Lo Kiu seperti tidak memperhatikan perubahan sikap Siau-hi-ji itu, dia malah berkata

dengan tertawa, “Nona linglung inilah yang mengatur ruangan ini.”

“Nona linglung?” Siau-hi-ji menegas.

“Ya, waktu kutemukan dia, keadaannya justru begitu, berlari kian kemari seperti orang

linglung. Kutanya dia apakah mau ikut aku pulang, dengan tertawa dia mengangguk.

Kutanya siapa namanya, dia tetap tertawa dan mengangguk …. Ai, hari-hari dia seperti

orang suka berjalan di waktu tidur, maka kusebut dia nona linglung atau nona mimpi.”

Siau-hi-ji tahu, semakin pintar seseorang, semakin banyak memeras otak, semakin tidak

tahan oleh suatu pukulan batin, kalau mengalami guncangan batin yang keras, pasti jiwanya

akan terganggu dan jadi abnormal.

Sudah tentu Siau-hi-ji tahu Buyung Kiu mengalami pukulan batin apa dan mengapa

berubah menjadi begini, namun dia tidak mau menerangkannya, dia hanya menghela napas

dan berkata, “Nona linglung, nona mimpi, ehm, baik juga nama ini.”

Lo Kiu mengawasi Siau-hi-ji sejenak, tiba-tiba ia tanya, “Jangan-jangan saudara kenal

dia?”

“Apakah kelihatan dia kenal aku?” jawab Siau-hi-ji.

Sinar mata Buyung Kiu tampak buram seakan-akan tidak mengenal siapa pun juga.

“Tentunya saudara tidak kenal dia, tapi … tapi bagaimana pandanganmu terhadap dia?”

tanya Lo Kiu.

Tergerak pikiran Siau-hi-ji, jawabnya, “Biarpun kubilang bagus juga tiada gunanya, masa

kau rela memberikan dia padaku?”

“Kalau saudara sudah berserikat denganku, maka apa yang menjadi milikku tentu juga

milikmu, apalagi diriku ini sudah tua, malas lagi gemuk. Tentunya saudara tahu, tua, gemuk

dan malas adalah tiga kelemahan besar bagi urusan perempuan.”

“Haha, jika engkau begini murah hati, aku menjadi tidak enak untuk menolak,” kata Siauhi-

ji dengan tertawa.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan seorang melompat masuk dari jendela, kiranya Lo

Sam adanya.

“He, mengapa kau pun pulang kemari? Apakah Kang Piat-ho telah mencurigai diriku?”

tanya Lo Kiu.

“Sudah tentu mimpi pun dia takkan mencurigai dirimu,” tutur Lo Sam dengan tertawa.

“Saat ini Thi Bu-siang sudah mati, Tio Hiang-leng sudah ketakutan setengah mati dan

tunduk munduk-munduk menuruti segala perintahnya, semua ini tentu telah membuat Kang

Piat-ho kegirangan.”

“Betul, tindak tanduknya selamanya bersih, tidak pernah meninggalkan bekas, kini satusatunya

saksi hidup juga sudah terbunuh olehnya, dengan sendirinya dia mengira telah

aman sentosa, saking senangnya dia mungkin bisa keblinger.”

“Yang sudah mati itu bukanlah saksi hidup satu-satunya,” tiba-tiba Siau-hi-ji menimbrung.

Lo Kiu dan Lo Sam saling pandang sekejap, lalu tanya berbareng, “Masih ada siapa lagi?”

“Masa kalian sudah lupa, kan masih ada putranya, yaitu Kang Giok-long,” ucap Siau-hi-ji.

“Tapi Kang Giok-long mana bisa membongkar rahasia muslihat bapaknya sendiri?” ujar Lo

Kiu.

Siau-hi-ji tersenyum penuh arti, ucapnya, “Mungkin aku mempunyai akal yang baik.” Dia

mengulet dan menguap, lalu tubuhnya memberosot dari kursi dan berbaring di atas

permadani yang tebal dan empuk itu, gumamnya, “Ehmm, sinar matahari yang hangat,

padang rumput yang luas … permadani ini sungguh mirip rumput lebat di padang rumput

sana, lunak, ringan dan lebat pula, kalau saja aku dapat tidur selama tiga hari tiga malam

di atas permadani ini sungguh hatiku akan senang sekali.”

“Silakan tidur saja saudara, di sini pasti takkan diganggu oleh siapa pun juga,” kata Lo Kiu.

Seseorang kalau saja dapat tidur nyenyak dalam keadaan apa pun juga, maka orang itu

boleh dikatakan berbahagia. Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa dalam hal ini Siau-hi-ji

memang berbahagia.

Entah sudah berapa lama dia tertidur, waktu mendusin, api lilin sudah padam, tampaknya

hari sudah siang, namun tirai jendela cukup tebal sehingga cahaya matahari menembus

remang-remang. Tapi di tengah keremangan itulah sepasang mata gemerlap sedang

mengawasi Siau-hi-ji.

Meski sorot mata itu cukup cemerlang, tapi juga penuh rasa bingung, walaupun sepasang

mata itu sedang mengawasinya dengan tajam, tapi kelihatannya seperti sedang

menerawang ke tempat yang amat jauh sana.

Siau-hi-ji tetap berbaring di tempatnya tanpa bergerak. Dilihatnya Buyung Kiu duduk di

atas permadani tepat di sebelahnya, seperti baru saja duduk, tapi juga seperti sejak

semalam sudah duduk di situ.

Dengan mata terbelalak Siau-hi-ji juga mengawasi nona itu, dilihatnya wajah yang pucat,

tangan yang halus dan kaki yang telanjang dan mulus. Sungguh kecantikannya bukan lagi

cantiknya manusia biasa, tapi cantiknya sudah bersemu gaib, tanpa terasa Siau-hi-ji

terkesima.

Siau-hi-ji tidak bersuara, dengan sendirinya ia pun tidak mengharapkan si nona bicara.

Tak terduga mendadak Buyung Kiu berkata, “Aku merasa seperti pernah melihatmu entah

di mana, rasanya kukenal kau.”

Berdebar hati Siau-hi-ji, jawabnya, “Kau kenal aku?”

“Ehm,” Buyung Kiu manggut-manggut.

“Apakah kau masih ingat pernah melihatku di mana?”

“Aku … aku tidak ingat lagi, aku cuma … cuma mempunyai perasaan demikian.”

Siau-hi-ji tertawa, tiba-tiba ia tanya, “Apakah kau ingat pada dirimu sendiri?”

Sekonyong-konyong Buyung Kiu mendekap kepalanya sendiri dan berseru, “Tidak, aku

tidak ingat lagi, aku tak dapat berpikir, sekali berpikir segera kepalaku menjadi pusing.”

“Jika begitu janganlah berpikir, paling baik memang tidak berpikir supaya kepalamu tidak

sakit.”

“Jangan-jangan kau mengetahui siapakah … siapakah diriku ini?” tanya Buyung Kiu.

“Aku pun tidak ingat,” sahut Siau-hi-ji tertawa. “Aku cuma tahu keadaanmu sekarang jauh

lebih baik daripada dahulu.”

Suasana di dalam ruangan yang tidak luas ini terasa sumpek sehingga membuat orang

kegerahan, meski tiada angin, namun terendus juga hawa udara yang berbau harum.

Setelah kenyang tidur, kini sekujur badan Siau-hi-ji penuh gairah, bahkan kelebihan

tenaga, sambil memandangi betis yang putih mulus itu, ia jadi teringat kepada Buyung Kiu

yang telanjang bulat di gudang es dahulu … di dalam ruangan yang remang-remang dan

berhawa panas ini tiba-tiba timbul semacam perasaan yang jahat dan sesat.

Tiba-tiba Siau-hi-ji berkata pula, “Betapa pun juga kau tetap ingin tahu bagaimana

keadaan dirimu di masa dahulu, begitu bukan?”

“Jika dapat ingat kembali kejadian masa lalu, andaikan segera mati juga aku rela,” kata

Buyung Kiu.

“Kau benar-benar bersedia mengorbankan segalanya?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya,” jawab Buyung Kiu.

“Baik, jika begitu bukalah pakaianmu hingga telanjang, biar kucarikan akal bagimu.”

Mata Buyung Kiu terbelalak lebar dan menegas dengan suara gemetar, “Buk … buka

pakaian dan … dan telanjang bulat?”

“Tentunya kau pernah lihat sesuatu yang sangat menakutkan sehingga kau berubah jadi

begini, soalnya kejadian yang seram itu kini masih mengeram di dalam tubuhmu seperti

setan iblis jahat.”

“Ehm, Buyung Kiu mengangguk.

“Oleh karena itu, apabila kau ingin teringat kembali pada kejadian masa lalu, lebih dulu

kau harus mengusir semua setan iblis yang hinggap di tubuhmu. Untuk bisa mengusir setan

iblis ini lebih dulu kau harus membebaskan segala ikatan yang berada di tubuhmu.”

Buyung Kiu mendengarkan dengan termangu-mangu sambil mengangguk terus-menerus.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menambahkan pula, “Dan pakaian adalah ikatan paling besar

bagi manusia, jika kau sudah buka pakaian, akan kubantu mengusir setan iblisnya, soal ini

sangat sederhana, tentunya kau paham bukan?”

“Tapi … tapi ….”

“Turutlah ucapanku, pasti takkan salah ….” kata Siau-hi-ji dengan tertawa, tangannya

sudah mulai meraba betis si nona.

Tapi mendadak Buyung Kiu melonjak bangun, tahu-tahu tangannya sudah memegang

sebilah belati yang bersinar kemilauan dan langsung mengancam tenggorokan Siau-hi-ji.

“He, apa-apaan kau ini? Bukankah aku hendak membantu kau?” seru anak muda itu.

Dengan perlahan Buyung Kiu menjawab, “Ada orang yang menganjurkan padaku agar belati

ini kugunakan menghadapi dia barang siapa berani menyentuh tubuhku.”

Siau-hi-ji menyengir, gumamnya, “Pantas kedua Lo bersaudara tidak berani menyentuhmu

dan … dan pantas pula mereka menyerahkan dirimu padaku.”

“Apa katamu?” Buyung Kiu menegas.

“Kutahu orang yang menganjurkan padamu itu hendak membikin susah padamu, sebab dia

tidak ingin kau ingat kembali pada kejadian masa lampau.”

Perlahan-lahan tangan Buyung Kiu di turunkan ke bawah, katanya, “Mengapa dia membikin

susah padaku?”

“Apakah kau kenal dia?” tanya Siau-hi-ji.

“Rasanya tidak,” jawab Buyung Kiu.

“Tapi kau kenal aku, mengapa kau tidak percaya padaku dan sebaliknya lebih percaya

padanya?”

Buyung Kiu menunduk dan berpikir, tanpa terasa belatinya jatuh ke permadani.

Siau-hi-ji terus menarik si nona serta menindih di atas tubuhnya, sama sekali Buyung Kiu

tidak melawan, tangan Siau-hi-ji mulai membuka leher baju nona itu sambil bergumam

sendiri, “Bilamana seseorang hampir membunuhmu, apa pun yang kau lakukan terhadapnya

kiranya bukan suatu dosa.”

Mulutnya bicara, tangan pun bekerja.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang membentaknya, “Jangan!”

Siau-hi-ji terkejut. Berbareng itu dari balik tirai jendela telah melayang masuk seutas

benang perak dan melilit tangan Siau-hi-ji. Dengan ilmu silat Siau-hi-ji sekarang ternyata

tidak mampu menghindar dan juga tak dapat melepaskan diri. Meski benang perak yang

lembut dan panjang itu kena ditariknya hingga lurus, tapi tak dapat terbetot putus.

Menyusul sesosok tubuh kurus kecil seperti hantu saja lantas menyelinap masuk dan

menubruk ke arah Siau-hi-ji. Cepat Siau-hi-ji berguling ke samping.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji sudah dapat melihat jelas bayangan kurus kecil itu. Tubuh

kurus kecil itu terbungkus oleh pakaian hitam ketat, wajahnya juga tertutup oleh topeng

hitam, hanya kedua matanya yang kelihatan gemerlap di balik topengnya sehingga

tertampak seperti mata setan yang seram dan gaib.

“Hei, Oh-ti-tu!” seru Siau-hi-ji.

Orang kurus kecil itu memang betul Oh-ti-tu, si labah-labah hitam adanya, dia sudah

hampir melayang pergi pula, ketika namanya disebut, mendadak ia tancapkan kakinya ke

lantai dan menjengek, “Siapa kau? Dari mana kau kenal aku?”

“Haha, Oh-laute, masa kau tidak kenal aku lagi?” seru Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sorot mata Oh-ti-tu menjadi terang, katanya, “He, kiranya kau?! Mengapa kau berubah

menjadi begini?”

“Kau sendiri tidak suka memperlihatkan wajah aslimu kepada orang lain, memangnya aku

tidak boleh meniru caramu ini?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sinar mata Oh-ti-tu tampak gemerlap, katanya, “Seorang sedang melakukan perbuatan

kotor dan kena kupergoki, tapi sekarang masih sanggup bicara dengan cengar-cengir

padaku, manusia demikian selain kau rasanya di dunia ini tiada orang kedua lagi.”

“Apa yang kulakukan masa dapat dianggap perbuatan kotor?” ujar Siau-hi-ji tertawa.

“Setiap lelaki yang berusia muda dan penuh gairah pasti dapat melakukan perbuatan

demikian.”

“Tapi mengapa kau lakukan terhadap seorang yang sama sekali tidak dapat melawan?”

seru Oh-ti-tu.

“Maksudku tidak ingin mencelakai dia, sebaliknya aku bertindak baik padanya. Coba pikir,

bilamana dia benci pada orang itu, sudikah dia berbuat demikian padanya?”

Oh-ti-tu memandangi anak muda itu dengan mata melotot, tampaknya dia terheran-heran.

Seorang telah berbuat rendah begitu, tapi masih dapat bicara seakan-akan dia telah

melakukan sesuatu yang baik dan benar.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menyambung pula, “Apalagi perbuatan demikian sebenarnya

bukan sesuatu yang luar biasa, hanya manusia yang berpikiran kotor yang menganggapnya

perbuatan rendah, bagiku hal ini justru perbuatan suci, bila melakukannya takkan merasa

berdosa, tidak berbuat juga tidak menjadi soal.”

Tiba-tiba Oh-ti-tu tertawa, katanya, “Ocehanmu yang ngelantur ini, ternyata tidak

menjijikkan sedikit pun, sungguh aku tidak tahu apa sebabnya.”

“Sebabnya aku ini memang bukan orang yang menjijikkan,” kata Siau-hi-ji

Oh-ti-tu menghela napas, katanya, “Sesungguhnya kau ini orang busuk atau orang baik,

apakah kau sendiri dapat membedakannya dengan jelas?”

“Dengan sendirinya aku tidak terhitung orang busuk, sedikitnya aku tidak pernah berniat

melakukan kejahatan, kau ….”

Belum selesai ucapan Siau-hi-ji, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang dari luar, cepat

Oh-ti-tu menyelinap ke balik tirai jendela, benang perak tadi juga menyusut balik ke

tangannya.

Siau-hi-ji tetap berdiri di situ dan berlagak mengeluarkan suara ngorok. Agaknya orang

itu pasang kuping sejenak di luar pintu, habis itu lantas melangkah pergi.

Waktu Siau-hi-ji menarik kain tirai, bayangan Oh-ti-tu ternyata tidak kelihatan lagi.

Di luar kelihatan masih terang, sang surya sudah hampir terbenam, Siau-hi-ji bergumam,

“Siang, masih siang, tapi di tengah siang hari bolong Oh-ti-tu dapat melayang pergi

datang seperti terbang dengan bebasnya, pantas orang Kangouw menganggapnya makhluk

ajaib.”

Buyung Kiu tampak berdiri termangu-mangu di sana, tiba-tiba ia bertanya dengan

perlahan, “Kau pun anggap dia orang aneh?”

Siau-hi-ji berpaling dan menatap si nona, katanya kemudian, “Belatimu itu pemberian dia?”

“Ehm,” Buyung Kiu mengangguk.

“Dia sering kemari menjenguk dirimu?”

“Ehm,” kembali Buyung Kiu mengangguk.

“Memangnya dia tidak khawatir kepergok orang?”

Buyung Kiu menggigit bibir dan berpikir agak lama, kemudian berkata dengan perlahan,

“Meski mereka pun curiga ada orang sering kali muncul di sekitar sini, tapi usaha mereka

mencari jejaknya sia-sia belaka, jika dia kemari, senantiasa pada waktu aku berada

sendirian.”

Siau-hi-ji mengernyit dahi, katanya, “Dia sering datang menjengukmu, dia selalu berada di

sekitar sini … jangan-jangan dia telah menaruh curiga terhadap kedua Lo bersaudara ini?

Begitu besar kedua Lo bersaudara ini menarik perhatiannya, sesungguhnya orang macam

apakah mereka ini?”

Dia mondar-mandir dengan tertunduk, waktu dia angkat kepalanya mendadak, tiba-tiba

terlihat Buyung Kiu telah membuka pakaian sendiri dan telanjang bulat berdiri di situ.

Dalam keadaan remang-remang tubuhnya yang mulus itu laksana sutera yang bercahaya,

kedua kakinya yang panjang dan kencang itu terkempit rapat, dadanya yang montok

menegak …. Buyung Kiu yang berbaju kelihatan lemah gemulai, tapi Buyung Kiu yang tanpa

busana ternyata penuh daya tarik, setiap senti bagian tubuhnya seakan-akan penuh daya

pikat.

Untuk kedua kalinya ini Siau-hi-ji melihat badan Buyung Kiu yang telanjang bulat, pertama

kali terjadi di gudang es yang penuh rahasia itu dan sekarang ….

Dahi Siau-hi-ji sudah berkeringat, ia menelan ludah, kerongkongan serasa parau, ia

berseru, “Kau … kau ini kenapa?”

Dengan pandangan linglung Buyung Kiu mendekati anak muda itu, katanya, “Katamu harus

kuminta kau bantu mengusirkan hantu yang mengeram di tubuhku.”

“Di tubuhmu tiada hantu iblis segala, aku sengaja menipumu,” teriak Siau-hi-ji.

“Ada, kutahu ada,” ucap Buyung Kiu. “Ah, kurasakan ‘dia’ sudah mulai bergerak dalam

tubuhku, ya, tidak salah lagi, dapat kurasakan.”

Dia melangkah maju lagi dengan tertawa linglung, gigi yang putih menyeringai seperti

binatang buas, mukanya yang pucat kini berubah merah, sorot matanya juga memancarkan

sinar yang aneh.

Tanpa terasa Siau-hi-ji menyurut mundur, teriaknya, “Ngacau! Ayo lekas pakai bajumu,

kalau tidak ….”

“Tidak, aku tak mau pakai baju, kuminta engkau membantuku ….” mendadak Buyung Kiu

menubruk ke atas tubuh Siau-hi-ji, kedua tangan dan kedua kakinya terus merangkul erat

tubuh anak muda itu, maka keduanya lantas jatuh terguling.

Tubuh Buyung Kiu yang dingin itu mendadak berubah menjadi panas laksana gunung

berapi, bibirnya menempel rapat di pipi Siau-hi-ji, dadanya berombak dengan napas

tersengal-sengal, katanya dengan suara gemetar, “Hantu … hantu itu telah bekerja … aku

… aku tidak tahan … mengapa kau tidak mau membantuku.”

Dengan perlahan Siau-hi-ji merabai punggung Buyung Kiu yang halus licin itu, jawabnya,

“Ya, betul, dalam tubuhmu memang mengeram satu setan iblis, dia sudah sembunyi

belasan tahun di tubuhmu dan kini dia sudah mulai bergerak … setiap perempuan pasti

dihinggapi iblis jahat begini, setiap lelaki juga … cuma aku … aku ….”

Mendadak ia jambak rambut Buyung Kiu terus diputar balik ke bawah, tubuh Siau-hi-ji

kini berbalik menindih di atas Buyung Kiu, cepat ia meraih sebuah selimut terus ditutup

ke tubuh si nona, dengan erat ia bungkus tubuh Buyung Kiu.

Sinar mata Buyung Kiu tampak penuh rasa terkejut, teriaknya dengan parau, “Ken …

kenapa kau bertindak begini?”

Siau-hi-ji, lantas berdiri dan menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Setiap orang

tentu mempunyai hantunya sendiri dan hanya dia sendiri yang dapat mengusirnya, orang

lain tidak mungkin membantumu ….”

“Aku … aku tidak paham ucapanmu, bebaskan aku … bebaskan aku!” teriak Buyung Kiu.

Dengan tertawa Siau-hi-ji memandang nona yang cuma kelihatan bagian kepala itu, lalu ia

pegang pakaian si nona yang ditanggalkan itu dan dipandangnya sejenak, kemudian ia ambil

poci teh di atas meja dan perlahan-lahan air teh itu disiramkan ke atas kepala Buyung Kiu.

“Nah, ingat, anak perempuan tidak boleh sembarangan, sedikitnya dia harus menunggu

anak lelaki yang membukanya,” kata Siau-hi-ii dengan tertawa. “Ingat, kalau kau berbuat

begini lagi pasti akan kupukul pantatmu.”

Buyung Kiu megap-megap karena disiram air teh, teriaknya gusar, “Kau keparat, jahat,

bebaskan aku ….”

Siau-hi-ji tidak menggubrisnya lagi, ia bungkus poci yang sudah tak berisi itu dengan baju

Buyung Kiu dan ditaruh di atas dada si nona, lalu membuka pintu dan turun ke bawah

loteng.

Setelah putar keliling di bawah loteng, dilihatnya dua pelayan yang bermuka lumayan

walaupun kelihatan ketolol-tololan, kedua Lo bersaudara tidak diketemukan di situ.

Mendadak Siau-hi-ji tarik salah satu pelayan itu dan digigit pipinya dengan geregetan, lalu

berkata dengan tertawa, “Perempuan, dasar perempuan, kalau kau berbuat busuk padanya

dia malah anggap kau ini orang baik, sebaliknya kalau kau berbuat baik padanya, dia malah

memaki kau bangsat keparat, dan inilah perempuan ….”

Dengan kasar Siau-hi-ji memutar tubuh pelayan itu dan menggablok keras-keras

pantatnya yang besar dan keras itu, lalu melangkah pergi.

Keruan pelayan itu melongo kaget, setelah Siau-hi-ji pergi barulah ia menjerit.

Siau-hi-ji masuk ke dapur, ia cuci muka, dengan sisa bahan rias kemarin ia mengubah

wajah dalam bentuk lain pula, habis itu barulah ia meninggalkan tempat itu.

Rumah ini ternyata terletak di tengah-tengah pasar yang ramai, Siau-hi-ji membeli

seperangkat baju baru di sebuah toko konveksi dan langsung dipakai, lalu ia makan

sekenyangnya di sebuah restoran, setelah memandang cuaca yang sudah dekat petang ia

bergumam dengan tertawa, “Hari sudah hampir gelap, sudah tiba pula waktunya bagiku

untuk beraksi ….”

Terhadap perbuatannya tadi ia merasa puas, kini seluruh badan terasa segar, penuh

gairah, kalau nanti tidak beraksi sebaik-baiknya rasanya berdosa terhadap dirinya

sendiri.

Menjelang magrib, Siau-hi-ji menuju ke toko obat di mana dia bekerja itu, ia pura-pura

membeli satu tahil likiam (asinan) dan ternyata tiada seorang pun yang mengenalnya.

Maksud Siau-hi-ji cuma ingin tahu apakah terjadi sesuatu di toko obat itu, tapi suasana

toko itu tenang-tenang saja, agaknya pergolakan dunia persilatan tidak sampai

mempengaruhi perdagangan sehari-hari toko obat itu.

Siau-hi-ji lantas menuju ke luar kota, sebenarnya ia ingin mendatangi rumah Toan Happui,

tapi mendadak berubah pikiran, soalnya dia melihat tidak sedikit orang persilatan

sama menuju luar kota, mungkin sekali hendak pergi ke Thian-hiang-tong.

Maklumlah, nama Ay-cay-ji-beng Thi Bu-siang cukup gemilang di dunia Kangouw, selama

berpuluh tahun ini tidak sedikit kaum muda yang mendapat bimbingannya dan menerima

kebaikannya, tidak sedikit orang yang telah utang budi padanya. Kini jago tua itu

meninggal dengan terhina, namun kematian Thi Bu-siang benar-benar kejadian besar di

dunia Kangouw sehingga banyak orang datang melayat, paling tidak juga ingin melihat

keramaian.

Dari jauh Siau-hi-ji sudah melihat suasana ramai di Thian-hiang-tong, cahaya lampu

terang benderang, bayangan orang berseliweran, halaman yang luas itu penuh sesak

dengan pengunjung.

Di luar perkampungan juga penuh berparkir macam-macam kereta kuda. Dengan langkah

cepat Siau-hi-ji maju ke sana, tapi mendadak ia berhenti di antara kawanan kuda penarik

kereta. Ia dengar suara ringkik kuda yang nyaring, ia merasa kenal ringkik kuda itu, yakni

“Yan-ci-be” (kuda gincu), kuda merah milik Siau-sian-li.

Ia menjadi heran, jangan-jangan “Siau-sian-li” Thio Cing juga datang kemari?!

Tersembul senyuman geli bilamana Siau-hi-ji teringat kepada nona garang itu. Pikirnya,

“Entah bagaimana dia selama dua tahun ini? Apakah masih serupa dahulu selalu

mengenakan baju merah membara dan berkeliaran kian kemari dengan kuda merahnya dan

menghajar orang dengan cambuknya?”

Ia benar-benar ingin melihat nona cilik mungil yang cantik tapi juga galak itu, selama dua

tahun ini tentunya sudah tumbuh lebih besar, bisa jadi sudah bertambah alim pula.

Akan tetapi orang-orang di halaman depan itu terlalu banyak, Siau-hi-ji coba melongok

sana-sini dan tetap tidak nampak bayangan nona itu. Padahal nona seperti Siau-sian-li

Thio Cing biarpun bercampur baur di tengah orang yang berjumlah ribuan juga akan

ditemukan dengan sekali pandang saja.

Soalnya Siau-sian-li benar-benar laksana seonggok bara, cuma onggok bara ini mengapa

sekarang tidak mencolok mata? Jangan-jangan dia tidak datang, kudanya itu dipinjamkan

kepada orang lain?

Begitulah Siau-hi-ji menjadi ragu-ragu dan rada kecewa.

Layon Thi Bu-siang ditaruh di tengah ruangan depan, Tio Hiang-leng berdiri di samping

peti mati dengan wajah murung, ternyata dia yang “wajib dinas” sebagai Haulam (putra

yang mati).

Orang-orang yang melayat sama berjubel di halaman depan secara bergerombol-gerombol

dan sedang berbisik-bisik entah apa yang diperbincangkan.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba suasana di luar rada gempar, terdengar seruan beberapa

orang. “Ah, Kang-tayhiap juga datang!”, “Selamanya Kang-tayhiap berbudi luhur,

sebelumnya sudah kuduga beliau pasti akan datang melayat.”

Serentak orang yang berjubel di halaman itu menyiah ke kanan kiri untuk memberi jalan,

hampir semuanya sama munduk-munduk memberi hormat, malahan ada di antaranya kalau

bisa ingin menyembah.

Beberapa lelaki kekar tampak melangkah masuk mengiringi Kang Piat-ho. Wajah

“pendekar besar” kita ini tampak murung, langsung dia menuju ke depan layon Thi Busiang

dan menjura dengan khidmat serta berdoa, “Thi-locianpwe, waktu hidupmu engkau

bermusuhan denganku, tapi itu pun disebabkan rasa setia kawan di dunia Kangouw, di alam

baka engkau tentu tahu maksud tujuanku, selanjutnya mohon arwahmu sudi memberi

bantuan padaku untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia persilatan. Pada masamasa

tertentu atas nama para kawan Bu-lim pasti juga kami akan berziarah ke makan Thilocianpwe

dan berdoa semoga arwahmu beristirahat tenang di alam baka.”

Ucapan Kang Piat-ho ini kedengarannya sangat bijaksana dan berbudi luhur, kebanyakan

pendengarnya tentu akan memuji jiwa ksatria Kang Piat-ho. Akan tetapi bagi Siau-hi-ji,

ucapan Kang Piat-ho itu membuatnya mual, diam-diam ia menjengek, “Hm, ini benar-benar

kucing menangisi kematian tikus ….”

Belum lagi lenyap pikirannya itu, tiba-tiba terdengar seorang mendengus dengan suara

keras, “Huh, ini namanya kucing menangisi tikus, sudah membunuh, pura-pura berduka

bagi sang korban.”

Suaranya nyaring lantang, ternyata suara kaum wanita.

Semua orang terkesiap dan memandang ke arah datangnya suara itu, benar juga yang

bicara adalah seorang perempuan berbaju hitam, memakai topi bertepi lebar sehingga

mata alisnya hampir tidak kelihatan, meski di musim panas, tapi memakai mantel hitam

yang panjang, walau dipelototi orang sebanyak itu, sama sekali ia tidak keder, sebaliknya

ia pun balas mendelik dengan sorot mata yang bercahaya tajam.

Di sebelah perempuan baju hitam ini berdiri pula seorang pemuda berpakaian perlente

dan berperawakan jangkung, namun sikapnya malu-malu seperti gadis pingitan.

Sekali pandang saja Siau-hi-ji lantas tahu siapa kedua orang itu, diam-diam ia terkejut

dan bergirang pula, pikirnya, “Dia benar-benar datang, tabiatnya yang keras dan ingin

menang sendiri sedikit pun belum berubah.”

Dalam pada itu di antara hadirin sudah ada beberapa orang menerjang ke sana dan

membentak sambil menuding si nona baju hitam, “Kau ini perempuan dari mana? Berani

bersikap kasar terhadap Kang-tayhiap?”

“Hm, aku ingin omong apa boleh sesukaku, peduli kau?” jengek si nona.

“Apakah kau tahu tempat apa di sini? Berani sembarangan bicara!?”

“Memangnya kau mau apa?” dengus si nona.

“Kang-tayhiap berhati mulia, terpaksa aku mewakilkan Kang-tayhiap memberi hajaran

setimpal padamu!” bentak salah seorang lelaki berewok, berbareng dengan telapak

tangannya yang lebar terus mencengkeram.

Si nona baju hitam hanya mendengus saja tanpa bergerak. Tapi pemuda yang berdiri di

sebelahnya mendadak menangkis. Sungguh aneh, lelaki yang berewok tinggi besar itu

mendadak terpental hanya kena ditangkis dengan perlahan oleh pemuda yang lebih mirip

gadis pingitan itu. Keruan banyak yang menjerit kaget, beberapa orang segera hendak

menubruk maju.

Pemuda itu menarik kembali daya pukulannya dan pasang kuda-kuda dengan kuat. Di waktu

diam dia mirip gadis pingitan, tapi sekali bergerak ternyata tangkas dan berwibawa.

“Pukul dan hajar saja mereka, kalau ada apa-apa biar tanggung jawabku,” kata si nona baju

hitam.

Tampaknya pemuda itu memang penurut, kaki kiri maju setengah langkah, kepalan tangan

secepat kilat menjotos, kontan lelaki yang paling depan kena digenjot hingga terpental.

“Nanti dulu, berhenti!” tiba-tiba terdengar suara orang membentak.

Dengan tersenyum Kang Piat-ho telah mengadang di depan pemuda itu, katanya sambil

memberi hormat, “Hebat benar kepandaian saudara, jangan-jangan ahli waris ‘Koh-kehsin-

kun’ (pukulan sakti dari keluarga Koh) dari Kang-lam?”

Muka pemuda itu kembali menjadi merah, tangannya melurus ke bawah dan melangkah

mundur, jawabnya singkat, “Ya.”

“Jika Cayhe tidak keliru, mungkin saudara inilah Giok-bin-sin-kun (si pukulan sakti

berwajah cakap) Koh Jin-giok, Koh-jikongcu.”

Diam-diam Siau-hi-ji mengakui ketajaman mata Kang Piat-ho yang lihai itu.

Sebelum Koh Jin-giok menjawab, si nona baju hitam sudah menariknya sambil mendengus,

“Huh, tak perlu bicara dengan dia, ayolah kita pergi!”

Begitu kata terakhir itu terucap, serentak dua sosok bayangan telah melayang keluar

melampaui kepala orang banyak, mantel hitam yang berkibar tertiup angin itu tersingkap

sehingga kelihatan pakaian bagian dalam yang merah membara.

“Jangan-jangan dia itulah Siau-sian-li!” seorang berseru di tengah hadirin.

“Harap kalian tinggal dulu di sini agar Cayhe dapat memberi pelayanan sekadarnya,” seru

Kang Piat-ho.

Namun kedua orang itu sudah melayang keluar pintu, sekali bersuit, terdengar derapan

kaki kuda, seekor kuda merah segera lari tiba dan membawa kedua orang itu terus kabur

secepat terbang.

Kang Piat-ho mengelus jenggot menyaksikan kepergian kedua orang itu, katanya dengan

gegetun, “Anak murid dari keluarga ternama memang lain daripada yang lain.”

“Biarpun anak murid keluarga ternama juga tidak boleh congkak begitu,” demikian seru

seorang di tengah hadirin. “Memangnya di kalangan Kangouw siapa yang tidak

menghormati Kang-tayhiap, berdasarkan apa mereka berani bersikap kasar begitu?”

“Anak muda berkepandaian tinggi, sedikit banyak tentu rada angkuh, lumrah dan tidak

perlu menyalahkan mereka,” ujar Kang Piat-ho dengan tersenyum, berbareng ia rangkap

kedua tangannya memberi hormat kepada hadirin sehingga semua orang terlebih

menghormat dan memujinya.

Selagi Siau-hi-ji hendak mulai beraksi, tiba-tiba nampak seorang gelandangan berlari

masuk dengan membawa sebuah galah bambu. Pada galah itu bergantung sehelai kain putih

bertulis, yaitu “wan-lian” atau kain bertuliskan sanjak tanda berdukacita bagi orang mati.

Tulisan yang terdapat pada kain putih itu berbunyi: “Waktu hidupmu, aku susah; Setelah

kau mati, aku duka!”

Tulisan itu tampak tandas dan kuat seperti buah tangan seniman ternama tapi kalimatnya

lucu dan tidak layak.

Semua orang menjadi heran dan tertawa geli pula, tapi setelah membaca lagi bagian atas

dan bawah, yaitu nama yang dituju dan nama si pengirim, seketika air muka mereka

berubah dan tiada seorang pun berani tertawa.

Kiranya bagian depan sajak itu tertulis, “Kepada bapak mertua” dan bagian bawah sebagai

pengirimnya tercantum “Dari menantumu Li Toa-jui”.

“Li Toa-jui”, satu di antara ke-10 top penjahat penghuni Ok-jin-kok, tentu saja nama ini

cukup menggemparkan hadirin, bahkan Siau-hi-ji juga melongo heran. Ia coba mengamati

lebih teliti dan rasanya gaya tulisan itu memang mirip tulisan tangan Li Toa-jui, ia menjadi

heran apakah betul Li Toa-jui telah meninggalkan Ok-jin-kok? Bilakah dia keluar dari

lembah pusatnya top penjahat itu dan kini dia berada di mana?

Dalam pada itu Kang Piat-ho telah mengadang di depan gelandangan itu dan

membentaknya, “Siapa yang suruh kau membawa kain tanda dukacita ini?”

Orang itu berkedip-kedip bingung, jawabnya, “Aku pun tidak jelas siapa dia, maklumlah

malam gelap, cuma kelihatan perawakannya tinggi besar dan garang, tampangnya radarada

mirip patung beringas yang dipuja di kelenteng.”

“Ha itu dia, memang begitulah bentuk Li Toa-jui,” demikian beberapa orang yang berusia

agak lanjut lantas berseru.

“Selain disuruh mengantarkan Wan-lian ini, apalagi yang dikatakannya” tanya Kang Piat-ho.

Orang itu tergagap-gagap, akhirnya dia menutur, “Dia bil … bilang, meski bapak

mertuanya pernah ingin membunuhnya, tapi dia tetap sakit hati terhadap orang yang

membunuh bapak mertuanya, maka dia mengharapkan orang yang membunuh mertuanya

supaya mandi sebersih-bersihnya. Aku menjadi heran dan bertanya untuk apa dia

mengharapkan orang mandi bersih-bersih, dia tidak menjawab melainkan cuma tertawa

lebar, lalu melangkah pergi.”

Seketika air muka Kang Piat-ho berubah, dia tidak bertanya pula terus melangkah pergi.

Hadirin menjadi panik demi mendengar penuturan orang tadi, banyak yang

memperbincangkan munculnya Li Toa-jui, kata seorang, “Cap-toa-ok-jin itu sudah

menghilang sekian tahun, kini Li Toa-jui telah muncul kembali, bukan mustahil kawankawannya

juga akan membanjiri dunia Kangouw pula.”

“Selain Li Toa-jui, ada lagi seorang Ok-tu-kui yang sudah muncul di muka umum, melulu

kedua orang ini sudah cukup membikin kepala pusing,” demikian kata yang lain.

Di tengah suara berisik dan ramai ocehan orang banyak itu, diam-diam si gelandangan tadi

sudah mengeluyur keluar, hanya Siau-hi-ji saja terus mengintil di belakangnya.

Secara beriring-iringan mereka berjalan sekian jauhnya, sekonyong-konyong orang itu

membalik tubuh dan menegur Siau-hi-ji dengan tertawa, “Aku baru saja mendapat persen

tiga tahil perak, masa jumlah ini cukup menarik perhatianmu dan kau hendak membegal

diriku?”

Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Sesungguhnya kau ini siapa? Apa maksudmu mengantarkan

Wan-lian itu dengan memalsukan nama Li Toa-jui?”

Air muka orang itu tampak berubah, matanya memancarkan sinar yang tajam, sinar mata

yang lebih licin daripada Kang Piat-ho dan lebih bengis daripada Ok-tu-kui.

Tapi hanya sekejap saja ia telah mengatupkan kelopak matanya dan berkata dengan

tertawa, “Aku diberi persen tiga tahil perak dan segera kulakukan apa yang dia minta,

urusan lain aku tidak perlu ambil pusing.”

“Tapi dari mana kau tahu aku mengintil di belakangmu?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jelas kau memiliki ilmu silat yang tinggi, mengapa ingin mengelabui diriku?”

Orang itu terbahak-bahak, katanya, “Jika aku mahir ilmu silat, tentu aku sudah menjadi

bandit, untuk apa menjadi pengangguran begini?”

“Kau tidak mau mengaku? Segera akan kubikin kau mengaku!” teriak Siau-hi-ji, berbareng

ia terus menubruk maju dan menghantam.

Siapa tahu orang itu ternyata benar tidak mahir ilmu silat, sekali digenjot Siau-hi-ji,

kontan dia roboh terjungkal.

Sudah tentu Siau-hi-ji tidak percaya, ia pikir orang cuma pura-pura saja. Tapi setelah

ditunggu sekian lama orang itu tetap menggeletak tak bergerak, waktu ia meraba

dadanya, napasnya ternyata sudah berhenti dan kaki tangan sudah mulai dingin rupanya

telah mati terpukul olehnya.

Tak tersangka oleh Siau-hi-ji bahwa orang itu ternyata tidak tahan sekali pukul, diamdiam

ia pun menyesal telah memukul mati orang tanpa sebab. Setelah tertegun sejenak,

kemudian ia menghela napas dan berkata, “Jangan kau salahkan aku, kau sendiri yang

tidak tahan pukul, biarlah kukubur kau dengan baik-baik.”

Dengan rasa menyesal segera ia panggul mayat orang itu dan memutar balik ke kota. Tapi

belum beberapa jauh, tiba-tiba kuduknya terasa basah-basah hangat, bahkan berbau

pesing.

“Buset! Orang mati masa bisa ngompol?!” omel Siau-hi-ji terkejut, segera ia bermaksud

mengusap bagian yang basah itu.

Tapi karena tangannya terangkat, mayat itu lantas memberosot ke bawah, waktu Siau-hiji

mendepak, mendadak “mayat” itu mencelat ke sana dengan gelak tertawa dan berkata,

“Hari ini kusuguh kau dengan air kencing, lain hari akan kusuguh kau makan najis!”

Di tengah suara tertawanya itu mendadak ia berjumpalitan jauh ke sana, sekali

berkelebat lagi lantas menghilang.

Ginkang orang ini ternyata tidak di bawah Kang Piat-ho, ketika Siau-hi-ji hendak

mengejarnya, bayangan orang sudah tak tertampak pula.

Sejak kecil hingga besar ini belum pernah Siau-hi-ji dikerjai orang seperti sekarang ini,

sungguh dadanya hampir meledak saking gemasnya. Lebih konyol lagi adalah siapa orang

itu bahkan sama sekali tidak diketahuinya.

Ginkang orang itu sudah jelas mahatinggi, yang lebih hebat adalah caranya berlagak mati.

Untuk bisa pura-pura mati sebaik itu harus memiliki Lwekang yang sempurna.

Setelah tertegun sejenak, tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa sendiri, gumamnya, “Untung dia

cuma menggoda diriku saja, kalau tadi dia mau membunuhku, mustahil aku dapat hidup

sampai sekarang. Jadi seharusnya aku bergembira, memangnya apa yang kusesalkan?”

Begitulah dengan tertawa dia melanjutkan perjalanan, sedikit pun tidak uring-uringan

pula. Terhadap segala sesuatu yang tak dapat diatasinya dia dapat menerima menurut

kenyataanya, Siau-hi-ji memang dapat berlapang dada terhadap segala persoalan, kalau

tidak demikian tentu dia bukanlah Siau-hi-ji.

Sementara itu cahaya lampu sudah memenuhi pula jalanan di kota, tiba pula waktunya

pasar malam yang paling ramai. Siau-hi-ji membeli pula seperangkat pakaian untuk salin,

dia keluyuran ke sana sini untuk membuang waktu.

Selagi dia tengak-tengok kian kemari itulah, tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari cepat

lewat di sebelahnya dan hampir menyerempetnya. Kereta itu mendadak berhenti di depan

sebuah hotel yang besar, selang sejenak, beberapa orang centing yang berpakaian

mentereng keluar dari hotel itu, lalu membuka pintu kereta dan berdiri tegak di samping

dengan menahan napas.

Tidak lama kemudian, dari hotel itu keluar pula dua orang dengan iringan serombongan

orang yang bersikap munduk-munduk dan ada beberapa orang yang membawa lentera.

Di bawah cahaya lampu itu kelihatan orang di sebelah kiri berwajah pucat, badan kurus

lemah, tampaknya tidak tahan angin, namun sikapnya simpatik, meski warna bajunya

sederhana dan potongan biasa, tapi semuanya serasi, dari kepala hingga kaki tiada suatu

cacat.

Orang sebelah kanan bertubuh lebih tinggi besar, sikapnya gagah, sorot matanya

berwibawa. Pakaiannya juga sederhana, tapi pakaian sederhana menjadi tidak sederhana

lagi setelah dikenakan olehnya.

Kedua orang itu berturut-turut naik ke atas kereta, tidak bergaya dan juga tidak

berlagak, tapi nampaknya memang rada berbeda dengan orang lain, seakan-akan sejak

lahirnya sudah harus dilayani orang dan menumpang kereta sebagus itu, kalau orang

mengumpak dan menjilatnya juga pantas dan adil.

Sampai kereta itu sudah berangkat Siau-hi-ji masih berdiri termenung di situ, ia heran

siapakah kedua orang yang memiliki gaya luar biasa itu? Maklumlah, gaya anggun begitu

memang sukar ditiru dan juga tidak mungkin dibuat-buat.

Di kota Ankhing sekarang ternyata banyak muncul kaum ksatria dan pendekar, dalam dua

hari saja Siau-hi-ji telah berturut-turut memergoki tokoh-tokoh yang lain daripada yang

lain. Yang membuatnya tidak paham adalah untuk apakah tokoh-tokoh ini datang ke

Ankhing dan siapakah mereka? Yang jelas, wilayah ini selanjutnya pasti akan menjadi

ramai.

Begitulah setelah berputar kayun setengah malaman, tanpa terasa Siau-hi-ji berada

kembali di rumah Lo Kiu itu.

Meski pasar malam sudah mulai sepi, namun masih terlalu dini waktunya bagi beraksinya

Ya-heng-jin (orang pejalan malam), setelah berpikir sejenak akhirnya ia masuk juga ke

rumah itu.

Dia tidak naik ke loteng, dia duduk sekian lamanya di bawah, kedua pelayan yang ketololtololan

itu berdiri jauh di sana, seperti takut pada setan saja, mereka tidak berani

mendekati Siau-hi-ji.

Akhirnya malam pun larut, baru saja Siau-hi-ji berbangkit hendak berangkat, mendadak

terdengar jeritan kaget di atas loteng, menyusul Lo Sam dan Lo Kiu tampak berlari turun.

“Kalian juga bisa terkejut, sungguh sukar untuk dipercaya?!” ucap Siau-hi-ji dengan

tertawa.

Lo Iuu dan Lo Sam juga terkejut melihat Siau-hi-ji berada di situ, mereka menyurut

mundur, sambil menatap anak muda itu, akhirnya Lo Kiu tertawa dan berkata, “Hebat

benar kepandaian menyamar saudara, tampaknya sukar ada bandingannya dalam hal ini.”

“Jika saudara tidak buka suara, sungguh kami tidak mengenalimu lagi,” sambung Lo Sam

tertawa.

“Kalian ke mana semalam hingga baru sekarang kalian pulang ke sini,” dengan tertawa

Siau-hi-ji menanggapi.

“Soalnya hari ini ada tamu agung, Kang Piat-ho menjamunya dan kami bersaudara juga

diundang, maka pulang agak terlambat,” tutur Lo Kiu.

“Maaf beribu maaf jika saudara menunggu terlalu lama,” sambung Lo Sam.

Ternyata kedua Lo bersaudara itu sama sekali tidak menyinggung apa-apa yang dilihatnya

di atas loteng yang membuat mereka menjerit kaget tadi.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tidak suka menyinggungnya, dengan tertawa ia

bertanya, “Tamu agung? Siapa dia?”

“Cukup ternama juga kedua tamu itu,” tutur Lo Kiu. “Mereka adalah menantu kesayangan

keluarga Buyung, yang seorang adalah ahli waris keluarga bangsawan Lamkiong, yaitu

Lamkiong Liu, seorang lagi adalah cendekia dunia Kangouw dan juga menjabat ketua

serikat Bu-lim propinsi Kwitang dan Kwisay, yaitu Cin Kiam.”

“Anak muda bangsawan begitu biasanya merupakan suatu lingkungan kecil tersendiri di

dunia Kangouw dan suka meremehkan orang lain, tapi hari ini mereka sudi menyambangi

Kang Piat-ho, tentu saja Kang Piat-ho menjamu mereka sehormat-hormatnya,” tutur Lo

Sam pula.

“Jadi mereka anak menantu keluarga Buyung?” tukas Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Aha, bagus, bagus sekali.”

“Dari ucapan saudara ini, jangan-jangan engkau kenal mereka?” tanya Lo Kiu.

“Meski aku tidak kenal mereka, tapi tadi aku telah melihat wajah mereka, yang satu pucat

dan yang lain gagah, semuanya berpakaian sederhana tapi sangat serasi dipandang, betul

tidak?”

“Betul, memang mereka itulah,” sahut Lo Kiu.

“Bukan saja kedua orang tersebut, konon keenam anak menantu keluarga Buyung yang lain

juga akan segera menyusul kemari dalam waktu dua hari ini,” sambung Lo Sam. “Selain itu

ada lagi seorang bakal menantu Giok-bin-sin-kun Koh Jin-giok

“O, jadi Koh Jin-giok juga datang bersama mereka?” Siau-hi-ji menegas.

“Betul,” jawab Lo Kiu.

“Orang-orang ini sama meluruk ke sini, apakah kalian tahu apa sebabnya?” tanya Siau-hiji.

“Konon salah seorang nona keluarga Buyung telah hilang dan kabarnya nona ini pernah

terlihat berada bersama Hoa Bu-koat, makanya mereka sama menyusul ke sini untuk

mencari kabar,” tutur Lo Sam.

“Tepatlah jika begitu, memang sudah kuduga kedatangan mereka pasti menyangkut

persoalan ini,” ucap Siau-hi-ji sambil keplok.

“Apakah saudara juga kenal nona yang hilang itu?” tanya Lo Kiu.

Siau-hi-ji berlagak mengingat-ingat sejenak, lalu menjawab, “Rasanya seperti pernah

melihatnya.”

“Jangan-jangan saudara tahu jejak nona itu?” tanya Lo Kiu pula sambil menatap anak muda

itu.

Sama sekali Siau-hi-ji tidak memandang ke arah loteng, ia sengaja menarik muka dan

menjawab, “Dari mana kutahu, memangnya aku menyembunyikan gadis orang?”

“Mana berani kumaksudkan begitu,” ucap Lo Kiu dengan tertawa, “cuma ….”

“Cuma nona yang sudah berusia 18-19 tahun masa bisa menghilang begitu saja?” sambung

Lo Sam. “Mana mungkin pula disembunyikan orang? Apalagi setiap nona keluarga Buyung

terkenal serba mahir ilmu silat maupun ilmu surat, kukira di balik persoalan ini pasti ada

sesuatu yang tidak beres.”

“Bisa jadi nona itu minggat bersama pacarnya, bisa juga dia terpengaruh oleh obat bius

orang ….” Siau-hi-ji berlagak berpikir, mendadak ia terbahak-bahak dan berkata pula,

“Haha, sungguh menarik persoalan ini, sungguh sangat menarik.”

Lo Kiu dan Lo Sam saling pandang sekejap, lalu berkata, “Tapi kami bersaudara tidak

melihat adanya sesuatu yang menarik dalam persoalan ini.”

Lo Kiu tertawa ngakak sambil memandang sekejap ke arah loteng, lalu berkata, “Selama

setengah hari ini saudara pergi ke mana?”

“Selama setengah hari aku pun banyak melihat kejadian yang menarik dan juga melihat

beberapa orang yang menarik, yang paling menarik di antaranya ialah ….” meski dia telah

dikencingi orang, tapi sedikit pun ia tidak merasa malu, ia malah menceritakan

pengalamannya itu dengan jelas, sembari menutur sambil tertawa sehingga mirip orang

yang sedang bercerita kejadian yang lucu.

Setelah mendengar cerita anak muda itu, Lo Sam dan Lo Kiu juga tertawa, tapi tertawa di

kulit dan tidak tertawa masuk ke daging, malahan air muka mereka menjadi rada pucat.

Kedua orang saling mengedip, lalu Lo Kiu bertanya, “Entah bagaimana bentuk orang yang

saudara lihat itu?”

“Orang itu berpotongan seratus persen mirip kaum gelandangan atau pencoleng pasar, di

tempat ramai di mana pun kau dapat melihat orang begitu, namun tiada seorang pun yang

mau memperhatikan orang semacam dia, maka di sinilah letak kelihaiannya. Bahwasanya

orang yang tidak menarik perhatian dengan sendirinya akan jauh lebih mudah bilamana dia

mau berbuat sesuatu yang busuk.”

Kembali Lo Kiu dan Lo Sam saling memberi isyarat, mendadak Lo Kiu berbangkit dan

masuk ke kamar.

Siau-hi-ji mendengar suara membuka laci di dalam kamar, menyusul terdengar suara

keresak-keresek gulungan kertas, habis itu Lo Kiu keluar pula dengan membawa segulung

kertas yang sudah lusuh dan menguning.

Gulungan kertas itu sudah tua sehingga warnanya telah luntur, bahkan robek, namun Lo

Kiu memandangnya seperti benda pusaka yang berharga, ia memegangnya dengan hati-hati

dan prihatin serta ditaruh di atas meja di depan Siau-hi-ji, anehnya setengah badannya

sengaja mengalingi Siau-hi-ji seakan-akan khawatir anak muda itu melihat benda

mustikanya itu.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata, “Kertas begini dibanting juga takkan hancur, jatuh

juga takkan rusak, orang pun takkan tertarik untuk merampasnya, tapi kau memandangnya

seperti benda pusaka saja.”

“Meski kertas ini sudah tua lagi rusak, tapi bagi sementara orang Bu-lim memang

terpandang sebagai pusaka yang sukar dinilai, jika saudara mengira tiada orang yang ingin

merebutnya, maka salah besarlah engkau,” kata Lo Kiu.

“He, jika begitu, barangkali kertas ini juga sebangsa peta harta karun? Jika betul

demikian, ha, memandangnya saja aku tidak sudi.”

“Di dunia Kangouw memang tidak sedikit beredar ‘peta harta karun’ yang menipu orang, di

antara sekian ribu helai peta begituan mungkin tiada satu pun yang tulen,” kata Lo Sam

dengan tertawa. “Dari ucapan saudara tadi, jangan-jangan engkau juga pernah tertipu

oleh peta begitu?”

“Akan tetapi peta kita ini bukanlah peta begituan ….” sambung Lo Kiu.

“Kau mengeluarkan kertas ini, mestinya hendak diperlihatkan padaku, mengapa kau

mengalingi pula pandanganku?” tanya Siau-hi-ji.

“Biasanya kami memandang peta ini sebagai pusaka yang berharga, namun saudara kini

bukan lagi orang luar, sebab itulah Cayhe mau mengeluarkannya,” tutur Lo Kiu. “Cuma …

cuma saudara harus berjanji, setelah melihat gambar ini, betapa pun kau harus menjaga

rahasia.”

Mau tak mau Siau-hi-ji jadi tertarik juga dan ingin tahu, tapi dia sengaja berbangkit dan

menyingkir ke sana, katanya dengan tertawa, “Jika kalian tidak percaya padaku, lebih baik

aku tidak melihatnya.”

Dengan tertawa cepat Lo Sam menanggapi, “Ah, kalau kami tidak percaya pada saudara

mau percaya pada siapa lagi?”

“Jika begitu, coba katakan dulu gambar apa yang terlukis di situ dan akan

kupertimbangkan mau melihatnya atau tidak,” kata Siau-hi-ji.

“Yang terlukis di gambar ini adalah wajah asli Cap-toa-ok-jin,” jawab Lo Kiu dengan suara

berat.

Terbelalak mata Siau-hi-ji, tapi dia sengaja berkata acuh tak acuh, “Meski aku belum

pernah melihat Cap-toa-ok-jin, tapi dari nama mereka dapat kubayangkan wajah mereka

pasti buruk seperti siluman, memangnya apa perlunya memandang wajah mereka yang

buruk itu dan untuk apa pula orang ingin merebut gambar ini?”

“Saudara tahu bahwa Cap-toa-ok-jin ini rata-rata memiliki kepandaian tinggi, semuanya

suka berbuat jahat, entah berapa banyak orang Kangouw yang pernah dicelakai mereka

….” sampai di sini penuturan Lo Kiu, segera Lo Sam menyambungnya, “Tapi jejak kesepuluh

orang ini justru tidak menentu, semua pandai menyamar pula, maka banyak orang yang

dikerjai mereka, tapi bagaimana wajah musuh itu tidak pernah dilihatnya, karena itu pula

sukarlah untuk menuntut balas dan dendam tetap tak terlampiaskan.”

“Ah, tahulah aku sekarang,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Kiranya orang ingin merampas

gambar ini, tujuannya agar dapat mengenali wajah asli kesepuluh wajah top penjahat ini

supaya bisa mencari mereka untuk menuntut balas.”

“Ya, memang begitulah,” seru Lo Sam.

“Tapi mereka tiada permusuhan apa pun dengan aku, untuk apa kalian suruh aku melihat

potret mereka?” tanya Siau-hi-ji.

Lo Kiu tersenyum misterius, katanya, “Apa betul saudara tidak bermusuhan dengan

mereka?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji ingat sesuatu, jawabnya, “Jangan-jangan kalian maksudkan

gelandangan yang berlagak mampus itu pun salah satu dari Cap-toa-ok-jin?”

Lo Kiu tidak menjawabnya melainkan menyingkir ke samping, lalu ia tunjuk salah seorang

yang terlukis di gambarnya dan berkata, “Boleh saudara melihatnya sendiri, bukankah dia

inilah pencoleng yang mengerjaimu itu?”

Di atas kertas yang sudah menguning itu memang benar terlukis sepuluh orang, akan

tetapi kalau dihitung dengan teliti, sebenarnya yang terlukis bukan hanya sepuluh orang

melainkan ada sebelas orang. Semuanya terlukis dengan goresan yang hidup. Seorang di

antaranya berbaju putih mulus, mukanya pucat, jelas dia ini “Hiat-jiu” Toh Sat, si tangan

berdarah.

Di sebelah Toh Sat terlukis seorang yang sedang menengadah dan tertawa, dengan

sendirinya ialah Si Budha tertawa Ha-ha-ji dengan filsafat hidupnya yang terkenal, yaitu

“tertawa sambil menikam”.

Sebelahnya lagi adalah seorang perempuan cantik dan genit, terang dia ini Siau Mi-mi, si

tukang pikat tanpa ganti nyawa. Dan di sampingnya adalah Li Toa-jui yang memegang

sebuah kepala manusia dengan wajah murung, si tukang makan daging manusia ini terkenal

dengan julukan “Put-sip-jin-thau” atau tidak makan kepala manusia.

Lalu seorang terlukis berdiri remang-remang di tengah kabut, tak perlu diterangkan lagi

dia adalah Im Kiu-yu, si setengah manusia setengah setan. Dan orang yang berada di

sebelah Im Kiu-yu terlukis berkepala dua, bagian kepala sebelah kiri berwajah nona

cantik, bagian kepala sebelah kanan terlukis wajah pemuda cakap, terang dia inilah To

Kiau-kiau, si banci.

Orang-orang ini entah sudah berapa ribu kali dilihat oleh Siau-hi-ji, ia merasa lukisan ini

memang sangat hidup, sampai-sampai sikap dan mimik wajah setiap orang yang dilukis itu

pun mirip benar.

Diam-diam Siau-hi-ji memuji pelukisnya yang mahir itu, ia menjadi heran siapakah

pelukisnya itu? Kalau bukan orang yang sangat karib dengan ke-10 top penjahat itu mana

bisa melukisnya sedemikian hidup?

Lalu Siau-hi-ji melihat pula Han-wan Sam-kong, si setan judi yang bertubuh gagah itu, di

sebelahnya adalah seorang berewok dan berwajah beringas, matanya melotot seperti

harimau hendak menerkam mangsanya, tangan memegang golok besar berlumuran darah.

“Wajah orang ini sungguh menakutkan, entah siapa dia?” demikian Siau-hi-ji sengaja

bertanya.

“Dia inilah Ong-say Thi Cian, si singa gila,” tutur Lo Kiu.

“Meski bentuk orang ini tampaknya buas menakutkan, padahal dia dapat dikatakan orang

yang paling alim di antara Cap-toa-ok-jin, asalkan orang lain tidak merecoki dia, maka dia

juga tidak mengganggu orang,” sambung Lo Sam dengan tertawa.

“Tapi kalau orang mengganggu dia, lalu bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Wah, kalau dia diganggu, maka celakalah tujuh turunan orang itu,” tutur Lo Sam. “Singa

Gila itu pasti akan mengamuk dan membunuh habis-habisan segenap makhluk berjiwa di

rumah musuhnya.”

“Haha, kalau orang begitu dianggap alim, maka aku boleh dianggap sebagai nabi,” ucap

Siau-hi-ji. Meski bicara mengenai orang lain, tiba-tiba teringat olehnya akan diri Thi Simlan,

terbayang senyuman si nona yang menggiurkan serta sorot matanya yang sayu itu,

seketika hatinya merasa pedih, cepat ia berseru pula, “Dan siapa lagi yang dua orang ini?”

Dua orang yang ditanyakan ini jelas adalah saudara kembar, keduanya sama-sama kurus

kering, tulang pipi menonjol, yang satu membawa Swipoa, yang lain membawa buku utang

piutang, dandanan mereka mirip saudagar besar yang kaya raya, tapi potongan tubuh dan

sikap mereka lebih mirip setan kelaparan yang kabur dari neraka.

Dengan tertawa Lo Kiu menjawab, “Kedua orang ini adalah saudara kembar sekandung,

keduanya senantiasa berada bersama, A tidak meninggalkan B dan B juga tidak pernah

berpisah dengan A. Meski Cap-toa-ok-jin resminya disebut Cap (sepuluh), padahal

sesungguhnya berjumlah sebelas orang, hanya saja orang Kangouw menganggap kedua

saudara kembar ini sebagai satu orang.”

“Kedua saudara kembar ini she Suma,” sambung Lo Sam, “Yang satu berjuluk ‘adu jiwa

juga ingin untung’ dan yang lain berjuluk ‘mati pun tidak mau rugi’, Dari julukan mereka ini

tentu saudara dapat membayangkan mereka ini manusia macam apa?!”

Segera Lo Kiu menyambung pula, “Meski nama Cap-toa-ok-jin sangat terkenal, tapi ratarata

mereka adalah orang miskin, hanya kedua saudara kembar inilah yang kaya raya,

hartawan besar.”

“Pantas saja,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa, “Yang satu mati-matian cari untung dan

yang lain tidak mau rugi, kalau mereka tidak kaya kan mustahil. Pantas mereka senantiasa

membawa Swipoa serta buku, mungkin khawatir harta kekayaan mereka akan dikerjai

orang lain.”

“Betul, memang begitulah,” kata Lo Kiu.

Lalu Lo Sam menunjuk orang terakhir pada lukisan itu, katanya, “Tapi watak orang ini

justru sama sekali terbalik daripada kedua saudara kembar ini, selama hidup orang ini

paling suka membikin susah orang, menipu dan menjebak orang, soal apakah dia sendiri

mendapatkan untung atau tidak, sama sekali tak terpikir olehnya.”

“Dia sendiri tidak mendapatkan untung, malahan terkadang dia harus tombok, namun

baginya bukan soal, asalkan dia melihat orang yang dikerjainya itu kelabakan setengah

mati dan mau menangis, maka hal ini dianggapnya kejadian yang paling menyenangkan

baginya,” demikian tukas Lo Kiu.

“Hah, orang demikian sungguh jarang ada, dia ….” mendadak Siau-hi-ji berseru, “He,

betul, itulah dia, yaitu orang yang berlagak mati dan mengencingi diriku itu.”

Orang-orang yang terlukis itu ada yang duduk dan ada yang berdiri, hanya yang terakhir

inilah yang terlukis sedang berjongkok di pojok bawah, tangan yang satu lagi korek-korek

celah jari kaki, sehingga mengingatkan orang akan penyakit eksim yang gatal itu, sedang

tangan yang lain terangkat di depan hidung seperti lagi mengendus-endus baunya.

Kalau orang yang terlukis itu rata-rata juga bersikap menonjol sebagaimana umumnya

orang yang ada nama, hanya orang terakhir inilah yang kelihatan munduk-munduk, takuttakut,

cengar-cengir persis seorang pencoleng kecil-kecilan.

“Nah, saudara sudah melihat jelas?” demikian Lo Kiu menegas.

“Betul, sedikit pun tidak salah, memang betul dia ini,” seru Siau-hi-ji pula. “Meski

wajahnya sudah tersamar, tapi lagak lagunya, cengar-cengirnya yang khas ini sekali-kali

tidak bisa keliru.”

“Ya, makanya begitu Cayhe mendengar cerita saudara tentang tindak tanduk pencoleng

itu segera kuduga pasti dia ini orangnya,” kata Lo Kiu.

“Siapa nama orang ini?” tanya Siau-hi-ji.

“Orang ini she Pek, ia sendiri mengaku bernama Khay-sim,” jawab Lo Kiu.

“Tapi orang-orang Kangouw menambahkan pula sebuah julukan baginya, yaitu ‘bikin rugi

orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri’, dengan demikian lengkaplah dia terkenal

sebagai Pek Kay-sim (gembira percuma), setelah bikin rugi orang lain tanpa menarik

keuntungan apa-apa.”

“Haha, namanya benar-benar cocok dengan perbuatannya,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa

geli. “Dia memalsukan nama orang lain untuk mengirim Wan-lian berduka cita, berlagak

mati untuk menipu orang, semua ini memang merugikan orang lain tapi tidak

menguntungkan dia sendiri. Malahan dia harus tombok membeli kain putih dan membuang

tenaga percuma.”

“Di dunia Kangouw terdapat macam-macam penjahat, tapi orang yang khusus berbuat

merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri hanya dia saja seorang, makanya

kami bersaudara …”

Belum selesai ucapan Lo Kiu, mendadak Siau-hi-ji memotong, “Makanya kalian lantas ingat

akan dia begitu mendengar ceritaku tadi, jangan-jangan kalian memang kenal baik

padanya.”

Lo Kiu meraba-raba dagunya yang gemuk itu, jawabnya dengan tertawa, “Jelek-jelek kami

bersaudara tidak sampai bergaul dengan manusia begitu.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula sambil menatap Lo Kiu, “Kukira kalian kenal benar

dengan dia, bahkan kenal baik Cap-toa-ok-jin, kalau tidak masakah kalian sedemikian jelas

terhadap tingkah laku setiap pribadi Cap-toa-ok-jin ini dan mengapa lukisan ini berada

pula padamu.”

Air muka Lo Kiu tampak berubah, tapi Lo Sam lantas menyela, “Bicara terus terang,

sesungguhnya Cap-toa-ok-jin adalah musuh besar kami, soalnya ayah ibu kami justru

terbunuh oleh mereka.”

Keterangan ini rada di luar dugaan Siau-hi-ji, katanya, “O, bet … betulkah demikian?”

“Untuk menuntut balas, kami telah berdaya upaya dengan segala jalan dan akhirnya

mendapatkan lukisan ini,” tutur Lo Kiu. “Dengan macam-macam usaha lain kami berhasil

menyelidiki dan mendapat keterangan sejelas-jelasnya mengenai tindak-tanduk mereka.”

“Jika begitu, mengapa kalian tidak memperlihatkan lukisan ini kepada umum agar orang

lain juga mencari perkara kepada mereka, tapi apa sebabnya kalian malah merahasiakan

mereka?”

Lo Kiu menyeringai, jawabnya, “Jika kalian menghadapi kejadian yang menyenangkan,

apakah kau mau merasakannya bersama orang lain?”

“Masa ini termasuk urusan yang menyenangkan?” ujar Siau-hi-ji.

“Kami sudah berusaha dengan macam-macam daya upaya, dengan susah payah akhirnya

kami akan dapat menuntut balas, bilamana kami membayangkan betapa senangnya nanti

kalau kami membunuh musuh dengan tangan sendiri, apakah kami dapat membiarkan

mereka mati di tangan orang lain?” kata Lo Kiu dengan gemas.

Siau-hi-ji mengangguk, katanya, “Ya, beralasan juga dan masuk akal.”

Dengan hati-hati, Lo Kiu menggulung pula lukisan tua itu, katanya kemudian, “Sebab itulah

bila nanti saudara bertemu pula dengan Pek Khay-sim itu, hendaklah engkau suka

memperhatikannya bagi kami.”

“Jika saudara dapat menyelidiki di mana jejaknya, tentu kami akan lebih-lebih berterima

kasih,” sambung Lo Sam.

Sinar mata Siau-hi-ji gemerlap, katanya, “Baik, Pek Khay-sim bagianmu, tapi Kang Gioklong

bagianku, betapa pun kalian harus menahannya bagiku, paling baik apabila orang lain

tidak menyentuhnya sama sekali.”

“Sudah tentu,” seru Lo Kiu dengan tertawa.

“Eh, bapaknya menjamu tamu, tentu putranya juga hadir, jadi tadi kalian telah bertemu

dengan. dia,” tanya Siau-hi-ji.

“Di sinilah keanehannya,” tutur Lo Kiu, “Bahwa Kang Piat-ho menjamu tamu, tapi Kang

Giok-long tidak ikut hadir.”

Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Masa bangsat cilik itu tidak berani menongol lagi di

depan umum? Padahal menghadapi tokoh pujaan semacam Lamkiong Liu dan Cin Kiam itu

mustahil ayahnya tidak menyuruh dia mendekati mereka?”

“Bisa jadi bangsat cilik itu sudah pecah nyalinya menghadapi saudara,” ujar Lo Kiu.

Siau-hi-ji melirik sekejap ke loteng, lalu berkata dengan tertawa, “Ya, melihat seorang

yang pernah dipukul mati olehnya tahu-tahu hidup kembali di depannya, tak peduli siapa

pun pasti juga akan ketakutan hingga kehilangan ingatan sehat dan tidak berani lagi

menemui orang.”

Ucapan ini dengan sendirinya mengandung arti lain, hanya saja kedua Lo bersaudara itu

tidak pernah menyangka kalau Siau-hi-ji ada sangkut-pautnya dengan anak perempuan

yang linglung dan sembunyi di atas loteng itu, malahan mereka lebih-lebih tidak

menyangka bahwa anak perempuan yang kehilangan ingatan itu justru adalah Buyung Kiu.

Karena melihat Siau-hi-ji melirik ke arah loteng, kedua Lo bersaudara lantas berbangkit

sambil tertawa, kata mereka, “Sudah larut malam mungkin saudara perlu istirahat.”

“Betul, memang aku perlu istirahat,” ucap Siau-hi-ji tertawa sambil berdiri dan lantas

melangkah keluar.

Keruan kedua Lo bersaudara melengak, Lo Kiu menuding ke atas loteng, katanya, “Apakah

malam ini saudara tidak tidur saja di atas sana?”

Siau-hi-ji sudah melangkah keluar pintu, ia menjawab sambil menoleh, “Di atas sana

banyak sarang labah-labah, aku tak dapat tidur, biarlah kudatang lagi besok pagi … jika

ada kabar beritanya Kang Giok-long, jangan lupa, harap kalian suka menyampaikan

keterangan padaku.”

Melihat kepergian Siau-hi-ji itu Lo Kiu bergumam, “Sarang labah-labah, labah-labah

apa?…. Eh, kaukira bocah ini waras atau tidak?”

“Tidak waras apa persetan dengan dia,” jawah Lo Sam. “Dia cuma pura-pura bodoh dan

berlagak sinting saja, sebaiknya kita harus waspada, jangan sampai kapal terbalik di

selokan, tidak berhasil memperalat dia, sebaliknya malah diperalat olehnya.”

Lo Kiu terkekeh-kekeh, katanya, “Biarpun isi perut anak ini penuh akal busuk, tapi

seberapa hebat kalau dibandingkan kita?”

“Hehe, betapa pun banyak orang busuk di dunia ini, tapi siapa yang dapat membandingi

kita?” sambung Lo Sam.

Malam sudah larut, tempat kediaman Lo bersaudara itu sudah sepi, Siau-hi-ji berputar

melintasi dua jalanan di sekitar situ. Dilihatnya perumahan sekitarnya rata-rata rumah

biasa, selain rumah berloteng kecil tempat Lo Kiu itu, hanya tidak jauh di sebelah timur

sana ada sebuah gedung berloteng yang jauh lebih tinggi daripada rumah sekelilingnya.

Perlahan Siau-hi-ji menuju ke sana, setelah memutar ke ujung tembok sana dan berputar

pula sekeliling, setelah cahaya lampu di gedung itu sudah padam, dengan enteng ia lantas

melompat ke atas rumah, ia mendekam dibalik wuwungan yang gelap.

Bulan terang dan bintang jarang-jarang, suasana sunyi senyap, dipandang dari jauh

jendela loteng kecil itu telah terbuka dengan sinar lampu yang remang-remang, tampak

Buyung Kiu bertopang dagu menghadapi lampu, agaknya sedang melamun.

Sekonyong-konyong terdengar angin berkesiur, sesosok bayangan hitam bagai hantu saja

melayang ke atas wuwungan, lalu mendekam juga di situ serta memandang jauh ke loteng

kecil sana.

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli, pikirnya “Ternyata cocok dengan dugaanku, dia benarbenar

datang.”

Di sebelah sana Buyung Kiu tampak termangu-mangu sehingga tidak mengetahui bahwa di

sebelahnya masih mendekam seorang. Hanya sepasang biji matanya tampak gemerlap

dalam kegelapan, sekujur badannya seakan-akan tenggelam juga di tengah kegelapan.

Bayangan hitam ini bukan lain daripada Oh-ti-tu, si labah-labah hitam. Sinar mata yang

biasanya tajam itu kini seperti buram dan memandang jauh ke sana dengan kesima tanpa

peduli bajunya sudah basah oleh embun.

Mendadak Siau-hi-ji mengikik tawa dan berkata, “Malam sunyi senyap, termenung-menung

untuk siapa gerangan?”

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Oh-ti-tu sudah berada di depannya sambil membentak

tertahan, “Siapa?”

“Selain aku siapa lagi?” sahut Siau-hi-ji.

Sinar mata Oh-ti-tu gemerdep seperti cahaya kilat, tapi akhirnya tidak jadi mengumbar

marah, katanya pula, “Kau lagi?”

“Jarak dari sini ke sana kan tidak jauh, mengapa kau tidak melayang ke sana saja?” tanya

Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Memangnya kudatang untuk … untuk dia?!” jawab Oh-ti-tu, meski wajahnya tidak

kelihatan, namun suaranya terdengar rada-rada kikuk.

Namun Siau-hi-ji tidak berolok-olok lagi, ia tanya, “Bukan untuk dia, habis untuk siapa?”

“Dengan sendirinya kedua Lo bersaudara itulah sasaranku.”

“O, begitukah?” Siau-hi-ji tertawa.

“Asal-usul kedua orang itu penuh tanda tanya, tindak tanduknya mencurigakan, sudah duatiga

bulan kuintai mereka dengan tujuan membongkar rahasia mereka itulah.”

“Dan apa pula hubungannya dengan dirimu?”

“Siapa gerangan di dunia ini yang tidak tahu diriku Oh-ti-tu ini paling suka ikut campur

urusan orang lain?”

“Tapi urusan kedua Lo bersaudara ini apakah berharga untuk kau ikut mengurusnya?”

“Betapa pun besar ambisi kedua orang ini, kalau kukatakan mungkin kau pun akan kaget.”

“O, ya?!” Siau-hi-ji heran.

“Kutahu rencana keji mereka, biar orang baik maupun jahat, baik golongan hitam atau

kalangan putih, semuanya adalah sasaran mereka. Tampaknya mereka sengaja hendak

memecah belah dan mengadu domba agar setiap orang persilatan saling gontok-gontokan,

saling bunuh membunuh, dengan demikian mereka yang akan menarik keuntungannya.

Sampai sekarang entah berapa banyak korban telah jatuh akibat muslihat mereka itu.

Tahukah kau gontokan antara Put-hay-pang dan Ui-hay-pang yang terjadi dua bulan yang

lalu serta pertarungan sengit antara Lo-san-pang dan Gway-to-bun sebulan yang lampau?

Banjir darah yang terjadi itu justru akibat hasutan kedua Lo bersaudara ini.”

“Jika kau tahu sejelas itu, mengapa kau tidak tampil ke muka?” tanya Siau-hi-ji.

“Pertama aku belum memegang buktinya, kedua orang-orang yang menjadi sasaran mereka

itu pun bukan manusia baik-baik. Ketiga, aku ingin membongkar seluk-beluk perbuatan keji

mereka baru akhirnya kulabrak mereka.”

“Menurut dugaanmu, siapakah mereka?”

“Semula kusangka mereka adalah anggota Cap-toa-ok-jin, tapi kemudian ….”

“Kemudian bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Setelah kuselidiki baru diketahui bahwa di antara Cap-toa-ok-jin itu tiada terdapat dua

orang seperti mereka ini.”

“Bisa jadi tidak ada, tapi ….” Siau-hi-ji tertawa, lalu menyambung, “Jadi tujuanmu bukan

untuk nona itu?”

Oh-ti-tu terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Memang juga ada.”

“Tahukah kau siapa dia?”

“Aku cuma tahu dia adalah anak perempuan yang harus dikasihani dan malang terjatuh ke

dalam cengkeraman orang jahat ini.”

“Makanya kau ingin melindungi dia?”

“Ya, setiap orang yang harus dikasihani di dunia tentu akan kulindungi.”

“Jika begitu, mengapa kau tidak menyelamatkan dia dan membawanya pergi?”

Sinar mata Oh-ti-tu yang gemerlap itu mendadak berubah buram, namun di mulut justru

tertawa dan berkata, “Jika sudah kutolong dia, lalu apakah dia harus mengikuti aku?”

“Apa jeleknya ikut kau?”

“Tapi apakah kau tahu bagaimana kehidupanku?” kata Oh-ti-tu dengan suara bengis.

“Sepanjang tahun hdupku terlunta-lunta tiada menentu, makan pagi belum tentu makan

siang, malamnya masih hidup belum pasti besoknya apakah masih hidup. Hidupku tidak

punya rumah, kalau mati juga tidak tahu mati di mana?!”

“Dengan kepandaianmu, sebenarnya kau kan dapat hidup enak?”

“Tapi aku sudah memilih kehidupan begini, terpaksa harus tetap berlangsung terus, ingin

mengubahnya juga sukar lagi. Seumpama aku sendiri tidak ingin hidup cara begini, mungkin

orang lain pun takkan mengizinkan ….” Oh-ti-tu mengepal, lalu berseru dengan suara

serak, “Kehidupan begini jelas tak mungkin diikuti oleh dia.”

“Asal kau suka padanya dan dia juga suka padarnu, kehidupan yang pahit bagaimana pun

juga akan membuatnya bahagia,” ujar Siau-hi-ji.

Mendadak sinar mata Oh-ti-tu memancarkan sinar kepedihan, ucapnya dengan tersenyum

getir, “Siapa bilang aku menyukai dia?! Orang seperti diriku ini tidak pantas menyukai

siapa pun juga dan juga tidak boleh ….”

“Jadi seumpama kau suka padanya, terpaksa perasaan demikian kau simpan di dalam hati

saja, begitu?”

“Ah, omong-kosong!” mendadak Oh-ti-tu melengos.

“Tadinya kusangka kau ini berdarah dingin, tapi sekarang … sekarang dapat kuketahui

bahwa kau sesunggguhnya juga seorang yang berperasaan halus,” kata Siau-hi-ji dengan

gegetun.

Mendadak Oh-ti-tu berbangkit dan mengomel, “Ah, anak muda serupa kau ini tahu apa?

Sudahlah, jangan bicara urusan ini lagi.”

“Haha, kalau isi hatinya kena diketahui orang kan tidak perlu bersikap segalak ini, dong!”

Oh-ti-tu memandangnya sejenak. Mendadak ia bergelak tertawa, ia pegang tangan Siauhi-

ji, katanya, “Akhir-akhir ini aku mendapatkan seorang sahabat pula, hari ini dia telah

membeli dua poci arak dan memasak satu kuali daging, marilah aku pun mengundangmu

ikut hadir dan ikut makan.”

“Baiklah,” jawab Siau-hi-ji tertawa. “Orang yang dapat diterima menjadi sahabatmu

tentulah orang yang cukup menarik.”

Begitulah mereka terus berlari ke sana, Siau-hi-ji selalu mengintil rapat di belakang Ohti-

tu. “Tampaknya Ginkangmu telah maju pesat,” ucap Oh-ti-tu sambil menoleh.

“Terima kasih,” jawab Siau-hi-ji tertawa.

“Sahabatku yang baru itu pun serba pintar silat maupun surat, setelah kau kenal dia tentu

kau pun akan suka padanya.”

“O, siapakah namanya?” tanya Siau-hi-ji.

“Orang berbakat tidak perlu harus punya nama. Dia sendiri mengaku she Koh bernama

Goat-gian, meski namanya tidak terkenal, tapi jauh lebih unggul daripada tokoh-tokoh

yang termasyhur.”

Tengah bicara mereka sudah berada di luar kota, terlihat hutan membentang di depan,

samar-samar seperti ada berkelipnya sinar api, setelah dekat, tertampak sebuah

“sutheng”, yakni rumah abu leluhur keluarga, yang sudah bobrok.

Rumah bobrok demikian inilah kediaman kaum gelandangan dan cahaya api itu pun keluar

dari tempat ini. Sampai di sini sudah tercium bau sedapnya daging rebus.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berseloroh, “Tampaknya sahabatmu ini bukan cuma serba

pandai silat dan surat saja, bahkan juga koki kelas satu.”

“Memangnya hidup kaum gelandangan hanya suka makan besar sekali tempo, masakah ada

kenikmatan lainnya lagi?” ucap Oh-ti-tu.

Segera mereka melayang masuk ke rumah pemujaan yang bobrok itu, terlihat di tengah

halaman ada api unggun dan di atasnya bergantungan sebuah kuali besar, dari situlah bau

sedap daging rebus tercium. Di samping kuali sudah tersedia mangkuk dan sumpit, di

dalam mangkuk malah sudah penuh tertuang arak, cuma tiada tertampak seorang pun di

situ.

Oh-ti-tu celingukan ke sana sini sambil berseru, “Koh-laute … Koh-laute, kuberikan

seorang teman lagi, lekas keluar berkenalan.”

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli akan watak Oh-ti-tu yang tidak berubah itu, yakni suka

menjadi Toako dan orang lain dianggapnya sebagai adik.

Meski Oh-ti-tu sudah berkaok-kaok beberapa kali, tetap tiada jawaban, dia keluar untuk

mencari dan tetap tidak diketemukan, akhirnya ia terus duduk dan berkata, “Koh-laute ini

memang aneh, mungkin pantatnya lancip, tidak betah duduk dengan tenang, kini entah lari

ke mana, biarlah, kita tak perlu menunggunya, makan dulu, urusan belakang.”

“Cocok dengan pikiranku,” sambut Siau-hi-ji dengan gembira, sumpit segera dipegangnya.

Akan tetapi baru saja sepotong daging ia masukkan ke mulut, lalu sumpit ditaruh kembali,

mulut pun tidak mengunyah, agaknya daging dalam mulut itu sukar tertelan. Padahal mulut

Oh-ti-tu sudah bekerja seperti mesin pabrik, tujuh-delapan potong daging sudah masuk

perutnya.

Oh-ti-tu hanya menyingkap sedikit kedoknya, yakni bagian mulut ditarik ke atas hidung

sehingga kelihatan mulutnya yang lebar dengan bibir tipis itu, cara makannya yang rakus

itu sungguh mirip orang kelaparan.

Setelah belasan potong daging dilansir ke perut, lalu Oh-ti-tu mendorongnya dengan

semangkuk arak, habis itu barulah dia pandang Siau-hi-ji sambil menyengir, “Empuk dan

lezat daging rebus ini, kenapa kau tidak percepat sumpitmu”

Tapi Siau-hi-ji malah menumpahkan daging di mulutnya itu ke tanah, katanya, “Daging ini

tidak boleh dimakan.”

Oh-ti-tu jadi melengak, tanyanya, “Mengapa tidak boleh dimakan? Daging ini kan bukan

barang curian?”

“Apakah kau tahu daging apa ini?” tanya Siau-hi-ji mendadak sambil tertawa.

“Daging apa, memangnya daging manusia!”

“Betul, memang daging manusia!”

Oh-ti-tu menjerit kaget, sepotong daging yang sudah masuk ke mulut seketika tersembur

keluar, teriaknya “Apa katamu?”

“Kubilang ini daging manusia, tidak mungkin keliru.”

“Dari… dari mana kau tahu?” tanya Oh-ti-tu.

“Sejak umur tiga tahun aku sudah pernah merasakan daging manusia, rasanya belum

pernah kulupakan hingga sekarang.”

“Sejak umur tiga tahun kau sudah pernah makan daging manusia?” Oh-ti-tu menegas

dengan melotot.

“Bicara terus terang, sejak kecil aku ini dibesarkan di Ok-jin-kok, kalau daging ini bukan

diiris dari tubuh manusia yang mati, biarlah kumakan hidungku sendiri nanti.”

Habis berkata begitu Siau-hi-ji ingin menyaksikan Oh-ti-tu menumpahkan daging yang

telah masuk perutnya itu, di luar dugaan Oh-ti-tu malah bergelak tertawa, katanya, “Jika

demikian, yang memasak daging ini jangan-jangan Li Toa-jui adanya?”

“Bisa jadi memang dia,” kata Siau-hi-ji.

“Ehm, betul juga, Koh Goat-gian, gabungan tiga huruf ini sama artinya dengan ‘omong

kosong’,” kata Oh-ti-tu. “Ha, jadi sejak mula dia bilang padaku dia sengaja omong kosong,

tapi aku percaya saja padanya.”

“Dan kau tidak ingin tumpah?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau sudah masuk perut, tumpah juga tidak ada gunanya,” sahut Oh-ti-tu dengan

tertawa.

“Dan kau masih dapat tertawa?”

“Kenapa aku tidak boleh tertawa? Jika dapat bersahabat dengan orang macam Li Toa-jui

kan juga kejadian yang menarik, tak peduli dia orang baik atau busuk, jelek-jelek dia

tokoh terkenal dan peran penting, orang seperti dia itu tidaklah banyak di dunia

Kangouw.”

Diam-diam Siau-hi-ji memuji kebesaran jiwa Oh-ti-tu ini, suka bicara blak-blakan, tidak

pura-pura, tidak munafik. Namun di mulut ia hanya berkata, “Tapi tuan ‘omong kosong’ itu

pun belum pasti Li Toa-jui adanya.”

“Habis siapa kalau bukan Li Toa-jui?” ujar Oh-ti-tu.

“Kutahu ada seorang lagi yang sengaja menyamar sebagai Li Toa-jui dan mungkin sengaja

menyuruh kau makan daging manusia, habis itu supaya kau akan tumpah habis-habisan, dan

karena kau terjebak olehnya, maka dia lantas gembira ….” sampai di sini mendadak dia

tahan suaranya dan berbisik, “Mungkin tujuannya tidak cuma membuatmu tumpah-tumpah

saja, tapi besar kemungkinan ada intrik lain.”

Mendadak Oh-ti-tu merapikan kedoknya, lalu menjengek, “Sahabat di luar itu, kalau sudah

datang mengapa tidak masuk saja sekalian?”

Waktu menahan suaranya tadi Siau-hi-ji memang sudah mendengar sesuatu, ternyata

telinga Oh-ti-tu juga tidak kalah tajamnya.

Belum lenyap suara Oh-ti-tu, serentak sesosok bayangan orang melayang masuk ke

“sutheng” itu.

Di tengah gemerlapnya cahaya api terlihat potongan tubuh pendatang yang ramping ini

dengan baju yang merah membara, sorot matanya yang bercahaya itu penuh rasa gusar.

Ternyata pendatang ini adalah Siau-sian-li. Bahwasanya tengah malam buta Siau-sian-li

bisa muncul di sutheng ini, biarpun hal ini membuat Siau-hi-ji rada terkejut, tapi dia

tetap tenang-tenang saja duduk di tempatnya.

Agaknya Oh-ti-tu juga tidak menyangka orang yang menerobos masuk itu adalah seorang

perempuan cantik, tampaknya ia pun melenggong. Bagi Siau-sian-li tentu saja tidak

dipandang sebelah mata kedua orang yang tak menarik itu. Begitu ayun pedangnya,

seketika kuali besi tercungkit oleh ujung pedangnya terus dilemparkan sehingga daging

rebus sekuali penuh berserakan di lantai. Tertampak gemerdepnya sinar emas, di dalam

kuali ternyata ada sebuah tusuk konde emas.

Seketika Siau-sian-li menjerit kaget, segera seorang melompat masuk pula dari luar,

ternyata Koh Jin-giok adanya. Siau-sian-li terus menubruk ke bahu anak muda itu sambil

berseru parau, “Tusuk kundai … tusuk kundai Wan-ji ternyata betul berada di dalam

kuali.”

Dengan mata melotot Koh Jin-giok membentak Siau-hi-ji, “Apakah kau ini … kau ini

termasuk manusia?”

Siau-hi-ji tahu mereka tidak mengenali dirinya, dengan tertawa ia menjawab, “Aku kan

serupa denganmu, mengapa bukan manusia?”

“Coba … coba katakan, apa isi kuali ini?” bentak pula Koh Jin-giok.

Belum pernah Siau-hi-ji melihat pemuda yang mirip gadis pingitan itu bersikap segarang

ini, ia tahu orang telah benar-benar marah, ia pun tahu orang yang dagingnya digodok di

dalam kuali itu pasti ada hubungannya dengan mereka. Yang tidak bisa dimengerti olehnya

adalah cara bagaimana mereka dapat mencari ke sutheng bobrok ini dan dari mana pula

mereka mendapat tahu di dalam kuali ada tusuk kundainya?

Walaupun heran dan curiga, tapi dia sengaja tertawa dan berkata, “Coba katakan, apa isi

kuali itu menurut pendapatmu?”

Muka Koh Jin-giok menjadi merah padam dan tidak sanggup bicara pula.

Pada saat itulah terdengar seorang berkata dengan perlahan-lahan, “Di dunia ini tidak

kekurangan daging, kalian berdua mengapa lebih suka makan daging manusia? Makan

daging sejenis sendiri, masa kalian lebih rendah daripada binatang?”

Walaupun lagi mendamprat orang, tapi satu kata pun orang ini tidak menggunakan istilah

kotor, bahkan nada ucapannya tetap ramah-tamah sehingga lebih mirip orang lagi

mengobrol iseng.

Bersama dengan suaranya itu, dua orang telah melangkah masuk, meski sorot mata

mereka pun nampak gusar, tapi tetap bersikap tenang. Mereka adalah Lamkiong Liu dan

Cin Kiam.

Siau-hi-ji tetap tertawa saja, jawabnya, “Kau bilang kami sedang makan daging manusia,

tapi cara bagaimana kalian mendapat tahu? Jangan-jangan ada orang menyampaikan

laporan rahasia kepadamu?”

Belum lagi Cin Kiam menjawab, mendadak Siau-sian-li melangkah maju dan mendamprat,

“Sudah tentu ada orang yang memberi laporan, perbuatan kalian yang terkutuk ini siapa

pun tidak bisa membenarkannya.”

“Ya, Wan-ji yang pintar dan menyenangkan itu seharusnya disayang dan dikasih, tapi

kalian malah menyembelihnya dan memakan dagingnya, tindakan kalian ini sungguh tidak

lumrah dan sangat tercela,” kata Lamkiong Liu dengan perlahan. Sampai sekarang cara

bicaranya masih tetap tenang-tenang dan sopan santun.

Siau-sian-li menjadi gusar, omelnya, “Untuk apa banyak bicara dengan orang-orang begini

….”

“Setelah urusan menjadi begini, apalagi yang hendak kalian katakan?” dengan perlahanlahan

Lamkiong Liu berucap pula.

Siau-hi-ji menjawab dengan tertawa, “Urusan sudah begini, berkata apa pun tidak

menjadi soal lagi.”

Tiba-tiba Oh-ti-tu berbangkit dan berseru, “Cayhe ingin bicara juga.”

“Jangan-jangan saudara inilah Oh-ti-tu yang terkenal di dunia Kangouw itu?” tanya Cin

Kiam.

“Betul,” jawab Oh-ti-tu.

“Tampaknya desas-desus di dunia Kangouw tidak boleh dipercaya penuh, tak terduga Ohti-

tu adalah orang semacam kau ini,” ucap Cin Kiam sambil mengernyitkan dahi.

“Desas-desus Kangouw tidak boleh dipercaya, laporan palsu lebih-lebih tidak boleh

dipercaya,” teriak Oh-ti-tu. “Coba jawab, kalau bukan orang yang memotong dan memasak

daging ini, cara bagaimana pula dia mendapat tahu bahwa di dalam kuali ini ada tusuk

kundainya?”

Cin Kiam dan Lamkiong Liu saling pandang sekejap, dengan perlahan Lamkiong Liu berucap,

“Jadi maksud saudara hendak mengatakan bahwa urusan ini diperbuat oleh orang lain yang

sengaja hendak menimpakan dosa ini kepadamu?”

“Memang begitu,” jawab Oh-ti-tu.

“Ehm, masuk di akal juga,” Lamkiong Liu manggut-manggut perlahan.

“Jiko, betapa pun aku tak dapat melepaskan mereka biarpun hendak kau lepaskan

mereka,” seru Siau-sian-li. “Bukan mustahil pelapor itu secara diam-diam menyaksikan

perbuatan mereka yang terkutuk ini lalu kita diberitahu.”

“Ya, mungkin juga begitu,” kata Lamkiong Liu.

“Kalau Wan-ji jelas telah mereka sembelih dan dimakan, dengan sendirinya Kiu-moay juga

… juga ….” mendadak nada Siau-sian-li tersendat-sendat dan tidak sanggup meneruskan

lagi.

Cin Kiam menatap Siau-hi-ji dan Oh-ti-tu dengan sorot mata tajam, katanya dengan suara

berat, “Meski persoalan ini masih meragukan, tapi kalau kalian tidak mampu

memperlihatkan bukti bahwa kalian sesungguhnya tidak bersalah, terpaksa sekarang juga

kalian harus kami bawa pulang.”

“Hm, ramah juga ucapan saudara,” jengek Oh-ti-tu, “Bukan soal bila kami harus ikut

kalian, cuma saudara harus juga memperlihatkan bukti nyata berdasarkan apa kalian

hendak membawa pulang kami ini?”

“Apakah tusuk kundai ini bukan bukti nyata? Kau masih berani menyangkal?” bentak Siausian-

li.

Oh-ti-tu mendelik, tapi sebelum dia bicara Siau-hi-ji telah mendahului dengan mengikik

tawa, “Bilakah kami menyangkal?”

Pedang Siau-sian-li sudah siap untuk menyerang, ia menjadi tercengang mendengar

jawaban Siau-hi-ji, tanyanya, “Jadi kau sudah mengaku?”

“Makan daging manusia kan juga bukan sesuatu yang luar biasa,” ucap Siau-hi-ji dengan

tertawa.

Keruan Oh-ti-tu kaget seperti kena dicambuk satu kali, serunya, “He, apa katamu?”

Siau-hi-ji tidak menggubrisnya, ia berbalik bicara pula kepada Siau-sian-li dengan

tertawa, “Kiu-moay yang kau maksudkan itu apakah seorang nona yang bermata besar dan

bermuka pucat, berusia antara 18-19 tahun dan suka memakai baju hijau muda?”

“Ahh, kau … kau telah apakan dia?” tanya Siau-sian-li dengan suara gemetar.

“Telah kuapakan dia, memangnya perlu kukatakan pula?” jawah Siau-hi-ji dengan tergelak.

Oh-ti-tu menjadi kelabakan, serunya, “He, apakah kau sudah gila, ngaco-belo tak keruan?”

“Memangnya ada apa dengan soal itu, kenapa kau takut?” ucap Siau-hi-ji tertawa.

Betapa pun sabarnya Cin Kiam dan Lamkiong Liu, tidak urung air muka pun berubah kini.

Siau-sian-li juga lantas berjingkrak gusar, teriaknya, “Coba dengarkan, dia … dia sendiri

sudah mengaku.” Berbareng itu pedang terus menusuk secepat kilat.

Koh Jin-giok juga tidak tinggal diam, matanya tampak merah, sambil menggerung

sekaligus dia melancarkan tiga kali pukulan dahsyat.

Dengan sendirinya tusukan pedang dan pukulan-pukulan itu terarah ke tempat mematikan

di tubuh Siau-hi-ji, pedang berkelebat secepat kilat, pukulan sedahsyat geledek,

serangan dari kanan kiri ini sungguh lihai luar biasa.

Jika ini terjadi dua tahun yang lalu, maka jelas Siau-hi-ji akan mati di bawah pukulan

kalau tidak binasa oleh tusukan pedang. Tapi Siau-hi-ji sekarang bukan lagi Siau-hi-ji yang

ingusan. Begitu tangan kirinya bergerak tahu-tahu batang pedang Siau-sian-li terasa

diusap perlahan, pandangannya menjadi kabur, pedang terasa di tarik oleh arus tenaga

yang mahakuat, ujung pedang yang mengarah Siau-hi-ji tahu-tahu menusuk Koh Jin-giok,

keruan anak muda itu terkejut dan bergeser, “bret”, lengan bajunya toh sempat tertusuk

robek.

Gerakan “meraih dan mendorong” Siau-hi-ji yang sepele ini telah dapat dilakukannya

dengan sangat ajaib sehingga mempunyai daya guna yang sama lihainya dengan gerakan

“Ih-hoa-ciap-giok” yang terkenal dari Ih-hoa-kiong itu, tentu saja kedua lawannya

melongo kaget.

“He, apakah engkau ini anak murid Ih-hoa-kiong?” seru Cin Kiam.

Siau-hi-ji tidak menjawab, sebaliknya ia tertawa dan sembunyi di belakang Oh-ti-tu,

katanya, “Meski aku pun makan daging rebus tadi, tapi biang keladinya bukan diriku,

mengapa kalian terus mengincar aku saja?”

Koh Jin-giok dan Siau-sian-li merasa heran, sudah terang Siau-hi-ji mendapat

kesempatan untuk menyerang pula, tapi hal ini tidak dilakukannya, sebaliknya malah terus

sembunyi, saking gusarnya kedua orang itu pun tidak peduli, segera mereka menerjang

maju lagi. Sekali ini gerak serangan mereka tambah keji, tapi cara menyerangnya lebih

hati-hati, namun yang kena diterjang lebih dulu bukan lagi Siau-hi-ji melainkan Oh-ti-tu.

Kejut dan dongkol pula Oh-ti-tu, namun dalam keadaan demikian ia pun tidak sempat

memberi penjelasan lebih lanjut, sebab kalau dia mau bicara, sebelum berucap mungkin

tubuhnya sudah kena dilubangi oleh pedang lawan. Dan kalau tidak bicara, terpaksa ia

harus bertempur.

Begitulah di tengah gemerdepnya sinar pedang serta menderunya angin pukulan, sekaligus

Koh Jin-giok dan Siau-sian-li telah melancarkan belasan jurus serangan, selama itu pun

Oh-ti-tu telah balas menyerang tiga kali.

Sudah tentu di bawah serangan gencar pukulan Koh Jin-giok dan tusukan pedang Siausian-

li itu sama sekali Oh-ti-tu tidak sempat membuka mulut, sebaliknya Siau-hi-ji yang

sembunyi di belakang malah berseloroh, “Bagus, memang seharusnya begini, labrak saja

mereka, takut apa?”

Oh-ti-tu berkaok-kaok gusar, sedapatnya dia hendak melepaskan diri dari godaan Siau-hiji,

tapi anak muda itu laksana bayangan saja yang melekat pada tubuhnya, sukar ditinggal

dan tidak mungkin berpisah. Malahan anak muda itu berkeplok tertawa dan berseru,

“Bagus, tusukan pedang yang hebat …. Aha, pukulan sakti keluarga Koh memang luar biasa!

…. Ai, Oh-ti-tu, tampaknya kau tak sanggup melawan mereka!”

Dalam gusarnya tadi Siau-sian-li dan Ko Jin-giok melancarkan serangan, makanya mereka

kena didahului oleh Siau-hi-ji, tapi kini setelah pikiran mereka tenang kembali, gerak

serangan mereka menjadi mantap, apalagi pengalaman tempur Siau-sian-li sangat luas,

pedangnya menyerang dengan cepat lagi keji, sedangkan Koh Jin-giok melancarkan

pukulan dahsyat dengan teratur, keduanya dapat bekerja sama dengan rapi sekali.

Oh-ti-tu juga tokoh ternama, tapi bukan termasyhur karena ilmu silatnya melainkan

Ginkangnya, dengan sendirinya dia rada kewalahan menghadapi kerubutan dua jago yang

lihai itu, apa lagi di belakangnya ada lagi Siau-hi-ji, tampaknya saja anak muda itu

membelanya, tapi sesungguhnya mengacau baginya.

Setelah beberapa kali Oh-ti-tu menghadapi serangan maut, Siau-hi-ji sengaja menghela

napas dan berkata, “Wah celaka! Oh-ti-tu kita yang termasyhur ini tampaknya sekarang

harus keok di tangan dua anak ingusan.”

Padahal Siau-sian-li dan Koh Jin-giok juga tokoh terkenal di dunia Kangouw dan sama

sekali bukan anak ingusan, dengan ucapan ini Siau-hi-ji sengaja hendak memancing

kemarahan Oh-ti-tu.

Meski watak Oh-ti-tu memang keras, tapi juga cerdik, walaupun tahu maksud tujuan Siauhi-

ji, tidak urung ia pun terpancing murka, ia meraung gusar, “Sebenarnya apa

kehendakmu, orang gila!”

“Jangan bingung dan jangan khawatir!” ucap Siau-hi-ji dengan suara tertahan. “Kalau tidak

sanggup melawan, memangnya kau tak dapat lari?”

“Kentut!” Oh-ti-tu tambah murka. “Memangnya aku si hitam ini suka mencawat ekor?”

“Oh-ti-tu termasyhur di seluruh dunia karena gerak tubuhnya yang cepat dan ajaib,

sekarang kau justru menyampingkan kemahiran sendiri dan bertempur keras lawan keras,

caramu ini bukankah terlalu bodoh?” kata Siau-hi-ji.

Oh-ti-tu masih terus mengomel, tapi dalam hati ia pun mengakui kebenaran ucapan Siauhi-

ji. Sedikit meleng lantaran bicara dengan Siau-hi-ji, hampir saja iganya tertusuk

pedang musuh.

“Kalau sekarang kau dapat mengundurkan diri dengan selamat dan dapat sekaligus

membawa serta diriku, bila kejadian ini tersiar di Kangouw, kuyakin pasti tiada seorang

pun yang berani berolok-olok, bahkan semua akan kagum padamu,” kata Siau-hi-ji pula

dengan tenang.

Dengan mendongkol akhirnya Oh-ti-tu berkata, “Baik!”

Baru saja “baik” terucapkan sekonyong-konyong Siau-hi-ji menyelinap maju ke depan,

dengan gerakan “Toan-giok-hun-kim”, potong kemala patah emas, kedua tangannya

memukul ke kanan kiri sekaligus.

Karena tidak terduga-duga, kontan Koh Jin-giok dan Siau-sian-li dipaksa melompat

mundur.

Pada saat itulah dari lengan baju Oh-ti-tu telah menyambar keluar seutas benang perak

terus melayang keluar pintu dan tepat mengait di atas pohon cemara di luar sutheng

bobrok itu, menyusul Oh-ti-tu lantas “terbang” ke luar.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji juga sudah pegang ujung baju Oh-ti-tu dan ikut terbang

keluar, tubuhnya enteng seperti burung, biarpun menggandul pada gerakan Oh-ti-tu, tapi

sama sekali Oh-ti-tu tidak merasakan beban apa-apa.

Seperti layang-layang saja tubuh Oh-ti-tu ditarik oleh benang itu dan melayang ke atas

pohon cemara di luar, begitu kakinya menutul batang pohon, segera orangnya terbang pula

ke depan sana dan hinggap di pohon kedua, menyusul benang perak lantas menyambar ke

sana dan mengait pada pohon ketiga, dari sini Oh-ti-tu melompat lagi ke atas pohon

keempat dan begitu seterusnya.

Waktu Cin Kiam dan lain-lain mengejar keluar, bayangan Oh-ti-tu berdua sudah berada

berpuluh tombak jauhnya, sekali kelebat lantas menghilang dalam kegelapan, terdengar

pesannya berkumandang dari jauh, “Jika kalian tidak terima, besok tengah malam boleh

kalian datang lagi ke sini!”

Oh-ti-tu terus melayang dan terbang tanpa berhenti, setiba di pinggir kota barulah dia

berhenti di tempat gelap.

“Oh-ti-tu yang hebat, benar-benar pergi datang seperti kilat, ilmu benang perak labahlabah

terbang ini benar-benar tiada bandingannya di dunia Kangouw,” puji Siau-hi-ji

sambil berkeplok tertawa.

“Hm, apa gunanya biarpun kau menjilat pantatku,” jengek Oh-ti-tu.

“Kutahu kau pasti sangat mendongkol, maksudku hanya sekadar menghilangkan rasa

dongkolmu saja,” jawab Siau-hi-ji.

“Coba jawab, sudah jelas bukan perbuatanmu, mengapa kau sengaja melibatkan diri dalam

urusan ini, bahkan aku ikut dijebloskan dan kau sengaja bersembunyi di balakangku

sehingga aku yang menanggung susah?” demikian Oh-ti-tu menjadi gusar dan berteriak.

“Ini masih mendingan, yang menggemaskan, sudah jelas kau dapat melabrak mereka

secara terang-terangan, tapi kau sengaja lari malah sehingga aku pun menanggung malu,

coba jawab, apa sebabnya semua ini?”

“Sudah tentu aku mempunyai alasannya,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sambil menjambret dada anak muda itu Oh-ti-tu membentak, “Kalau tidak kau jelaskan,

segera kucekik mampus kau.”

“Masa masih perlu penjelasan pula? Dengan sendirinya karena ingin kubikin susah

padamu.”

“Membikin susah padaku?” Oh-ti-tu menegas.

“Setelah kita kabur begini, aku sendiri dapat pergi tanpa embel-embel apa pun, sebaliknya

kau Oh-ti-tu punya nama terkenal, kalau tersiar kelak, katanya Oh-ti-tu dan Li Toa-jui

sama-sama suka makan manusia, lalu dapatkah kau berkecimpung pula di dunia Kangouw?”

“Mengapa kau berbuat demikian dan membikin susah diriku?” damprat Oh-ti-tu dengan

gusar.

“Sebabnya aku ingin menjerumuskan engkau ke dalam lumpur, dengan demikian barulah

kau mau bekerja bagiku,” dengan tertawa Siau-hi-ji menjelaskan pula, “Tapi kau pun

jangan marah, justru kupandang engkau ini cukup berharga, makanya aku mau membikin

susah padamu. Ada sementara orang memohon dengan sangat dan bahkan hendak

membayar padaku agar aku membikin susah dia, malahan kutolak.”

“Setelah kau membikin susah padaku, mestinya kucekik mati kau, mana kumau bekerja lagi

bagimu,” bentak Oh-ti-tu dengan bengis.

“Jika orang lain, setelah kubikin susah dia, tentu dia akan bikin perhitungan dengan aku,

tapi engkau Oh-ti-tu lain dari pada yang lain, watakmu ini cukup kukenal dengan baik.”

Oh-ti-tu melototi anak muda itu sekian lamanya, mendadak ia lepaskan pegangannya dan

tertawa, katanya, “Bagus, kau bocah ini ternyata kenal betul watakku si hitam.

Menghadapi persoalan yang aneh ini, biarpun sudah tahu tertipu juga takkan kulepaskan

begitu saja.”

“Kalau tidak begini namamu bukan Oh-ti-tu lagi,” ucap Siau-hi-ji.

“Caramu menyeret aku masuk lumpur ini masa tiada maksud tujuan lain?”

“Sudah tentu ada,” jawab Siau-hi-ji. “Soalnya kulihat Lamkiong Liu dan Cin Kiam itu sok

meremehkan orang lain, dalam keadaan biasa jika aku mengundang mereka keluar,

memangnya mereka mau? Tapi sekarang, biarpun tengah malam buta kusuruh mereka

datang ke sini juga mereka pasti akan hadir, satu detik pun tak berani terlambat.”

“Baik, kini aku sudah telanjur terjerumus, ekor mereka pun sudah kupegang, lalu cara

bagaimana melangsungkan permainan sandiwara ini, coba jelaskan.”

“Kau tahu ‘tuan omong kosong’ itu sengaja menyembelih orang dan diam-diam kau disuruh

makan dagingnya, tapi diam-diam pula dia menyampaikan laporan rahasia kepada keluarga

Buyung untuk menangkapmu, cara licik demikian ini disebut apa?”

“Cara keji ini dapat dikatakan ‘lempar batu sembunyi tangan’,” jawab Oh-ti-tu dengan

gemas.

“Perbuatan keji begini, cara bagaimana harus kita layani menurut pendapatmu?”

“Bila berjumpa lagi dengan dia, mustahil kalau tidak kucekik mampus dia,” ucap Oh-ti-tu

dengan geregetan.

“Tahukah kau bahwa manusia jahat begitu kecuali si tuan ‘omong kosong’ masih banyak di

dunia ini, bahkan tindak tanduk mereka sesungguhnya lebih menggemaskan daripada si

tuan omong kosong itu. Lalu cara bagaimana harus kita hadapi mereka!”

“Akan kubekuk satu per satu dan kucekik mampus mereka,” ucap Oh-ti-tu.

“Masih untung bagi mereka jika cuma kau cekik mati saja, apalagi juga tidak gampang

biarpun hendak cekik mati mereka.”

“Memangnya siapa yang kau maksudkan?”

“Kang Piat-ho!” jawab Siau-hi-ji sekata demi sekata.

Hampir saja Oh-ti-tu melonjak kaget, serunya, “Apa katamu? Masa Kang-lam-tayhiap

dapat berbuat demikian?”

“Kau tidak percaya padaku?” Siau-hi-ji menatap tajam si labah-labah hitam.

Oh-ti-tu juga menatap Siau-hi-ji, katanya pula, “Kau ini selalu main sembunyi kepala

perlihatkan ekor, tindak tandukmu juga aneh-aneh dan macam-macam, di dunia ini siapa

yang mau percaya padamu?” Dia menghela napas, lalu menyambung pula dengan perlahan,

“Tapi aku Oh-ti-tu justru dapat mempercayaimu.”

“Plak”, dengan keras Siau-hi-ji tepuk pundak Oh-ti-tu, serunya dengan tergelak, “Haha,

kau memang seorang kawan, sudah lama kutahu kau ini seorang kawan baik.”

“Kupercaya padamu, soalnya kau ini meski anak busuk, tapi bukan lelaki munafik!” kata Ohti-

tu dengan tertawa.

“Betul, manusia yang paling menggemaskan adalah kaum munafik,” ucap Siau-hi-ji dengan

gegetun. “Dan kaum munafik di dunia ini justru sangat banyak. Satu di antaranya yang

paling jahat adalah Kang Piat-ho.”

“Dan cara bagaimana hendak kau hadapi dia?”

“Dengan caranya untuk digunakan terhadap dia sendiri,” kata Siau-hi-ji. “Mereka suka

‘lempar batu sembunyi tangan’, aku juga akan membayarnya dengan cara yang sama, ini

namanya ‘senjata makan tuan’.”

“Cara bagaimana akan kau bayar dia? Coba jelaskan!”

“Apakah kau tahu siapakah gerangan nona yang berada di loteng kecil itu?”

Mendadak Oh-ti-tu melengos, katanya, “Kan sudah kukatakan aku tidak tahu.”

“Biarlah sekarang kuberitahukan padamu, dia adalah nona Kiu dari keluarga Buyung.”

“Dia itu Buyung Kiu katamu?” Oh-ti-tu menegas dengan terbelalak.

“Betul, dia itulah yang kini sedang dicari ubek-ubekan oleh Cin Kiam, Lamkiong Liu, Siausian-

li dan Koh Jin-giok. Apabila mereka tahu nona linglung itu disembunyikan orang, pasti

mereka akan mencari dan melabrak orang itu.”

Bercahaya mata Oh-ti-tu, katanya, “Makanya, kau ingin menimpakan kejadian ini atas diri

Kang Piat-ho?”

“Ya, ingin kubikin dia juga merasakan betapa enaknya dikerjai orang,” Siau-hi-ji berkeplok

tertawa.

“Tapi Kang Piat-ho sangat licin lagi cerdik, masa dia akan masuk perangkapmu?”

“Biarpun Kang Piat-ho selicin belut, asalkan kau membantu, tentu dapat kujebak dia.”

“Sekarang aku sudah ikut terjerumus, seandainya tidak mau membantu juga sukar

bagiku”.

“Bagus, jika kau ingin mencuci bersih namamu yang sudah tercemar, maka kau harus

bertindak menurut rencanaku. Tapi kau pun jangan khawatir, setelah mengerjakan urusan

ini, tentu kau akan merasa tenteram dan pasti takkan menyesal,” habis berkata segera

Siau-hi-ji melompat bangun sambil menarik Oh-ti-tu, katanya, “Ayolah, sudah tiba

waktunya kita harus bekerja.”

Dengan cepat mereka lantas melayang masuk ke kota.

Sepanjang jalan Oh-ti-tu masih terus menggerundel, “Sampai saat ini aku tetap tidak

paham, si tuan ‘omong kosong’ itu sengaja menyembelih orang keluarga Buyung dan bikin

susah pula padaku, tapi apa manfaatnya bagi dia?”

Sekarang ia pun dapat menduga bahwa Wan-ji yang disembelih itu pasti ada hubungan

erat dengan keluarga Buyung, besar kemungkinan adalah pelayan pribadi nona Buyung.

“Tuan ‘omong kosong’ yang kau maksudkan itu bukanlah Li Toa-jui melainkan Pek Khaysim,”

kata Siau-hi-ji dengan tertawa, “dia mempunyai julukan ‘merugikan orang lain tanpa

menguntungkan dirinya sendiri’, tujuannya asalkan membikin orang lain tertipu dan

meringis, maka dia sendiri pun merasa puas dan gembira.”

“Masa di dunia ini ada orang macam begitu?” ucap Oh-ti-tu.

“Kau bilang tidak ada, buktinya memang ada,” kata Siau-hi-ji. “Dia tahu para anak menantu

keluarga Buyung pasti akan mencari Buyung Kiu, maka dia sengaja menyembelih pelayan

yang bernama Wan-ji itu agar para anak menantu keluarga Buyung menyangka Buyung Kiu

juga telah disembelih serta menjadi isi perut orang. Umpama mereka tak dapat

menemukan nona yang dicarinya itu dan merasa berduka serta kelabakan, maka Pek Khaysim

akan merasa ‘Khay-sim’ (senang).”

“Tapi aku kan ….”

“Sebenarnya dia sendiri hendak menyamar sebagai Li Toa-jui yang gemar makan daging

manusia itu, tapi lantaran ada orang sialan macam kau dapat ditonjolkan olehnya, dengan

sendirinya sangat kebetulan baginya,” demikian Siau-hi-ji memotong sebelum Oh-ti-tu

bicara. “Dengan demikian dia berhasil mencelakai orang keluarga Buyung dan kau pun

terkecoh, rencana kerjanya yang rapi dan bagus ini sungguh tidak malu sebagai salah

seorang Cap-toa-ok-jin yang termasyhur itu.”

“Aneh juga bahwa kau malah memuji dia,” omel Oh-ti-tu.

“Jika bukan akalnya yang rapi ini, mana bisa kubonceng tipu muslihatnya, dan bila di dunia

ini tidak ada manusia seperti Pek Khay-sim, maka sandiwara ini jelas tak dapat

dipentaskan.”

“Di dunia ini ada manusia macam Pek Khay-sim dan ditambah lagi orang seperti kau, kalian

saling menjebak dan saling mengecoh, yang konyol adalah aku si hitam ini.”

“Jika tidak ada diriku malam ini kau pasti lebih konyol lagi. Kau tertangkap tangan dengan

bukti nyata sedang makan daging manusia, biarpun kau bermulut seribu juga tidak dapat

menyangkalnya.”

“Betapa pun juga seharusnya kau jangan mengaku ….”

“Bilakah aku mengaku? Bilakah kubilang Buyung Kiu telah kau makan? Aku kan cuma

berkata, ‘Telah kuapakan dia, memangnya perlu kukatakan pula?’ Memangnya kenapa

dengan persoalan ini? Kenapa kau takut? ….”

Oh-ti-tu berpikir sejenak, ia menjadi tertawa geli sendiri, katanya, “Ya, betul, memang

begitulah ucapanmu ketika itu, cuma saja seperti tidak terucap apa-apa ….”

“Di situlah letak kehebatannya,” kata Siau-hi-ji dengan memicingkan mata. Sembari

bicara ternyata dia telah membawa Oh-ti-tu ke loteng kecil itu.

Sekitar sudah sunyi senyap, hanya sinar lampu masih kelihatan bercahaya di loteng itu.

Buyung Kiu mendekap di atas meja, mungkin terlalu lelah melamun sehingga akhirnya

tertidur di situ.

“Nona ini paling menurut pada ucapanmu,” kata Siau-hi-ji, “Kau suruh dia membawa belati,

maka belati itu pun selalu dibawanya, kau suruh dia membunuh, segera dia akan

membunuh, sekarang aku cuma minta kau suruh dia menulis secarik surat saja.”

“Dalam keadaan demikian untuk apa mendadak menulis surat segala?” tanya Oh-ti-tu.

“Ayolah suruh dia menulis: Jika ingin menebus nyawaku, harap bawa 80 laksa tahil perak

ke tempat yang telah ditentukan mereka. Mohon diusahakan sedapatnya, kalau tidak adik

pasti akan menjadi isi perut mereka.”

“80 laksa tahil perak, katamu?!” Oh-ti-tu menegas dengan melongo.

“Ya, meski angka 80 laksa tidaklah sedikit, tapi Lamkiong Liu dan Cin Kiam pasti tidak

kaget mendengar jumlah sekian mengingat kekayaan mereka yang sukar diukur, orang lain

tidak sanggup mengumpulkan jumlah sekian dalam waktu sehari, mereka pasti dapat.”

“Memangnya mereka kau kira mau?”

“Kenapa tidak? Di waktu biasa mungkin mereka tidak mau, tapi setelah kejadian semalam,

mereka tentu mengira Wan-ji yang telah disembelih orang itu sengaja kita jadikan

sebagai bukti untuk menakuti mereka, jadi tanpa sengaja kita telah mencapai sasarannya

dengan tepat, tentu mereka takkan curiga lagi,” setelah tertawa, lalu Siau-hi-ji

menyambung pula, “Apalagi surat ini jelas ditulis sendiri oleh Buyung Kiu, maka

persoalannya sekarang adalah kau, harus kau katakan kepada mereka bahwa 80 laksa tahil

perak itu semuanya harus kontan dalam bentuk perak murni, emas atau batu manikam

takkan kita terima.”

“Harus kukatakan begitu kepada mereka?” Oh-ti-tu menegas.

“Ya, dengan sendirinya harus kau bicara dengan mereka dan surat ini pun harus kau

sendiri yang mengantarkannya, Oh-ti-tu biasanya pergi datang tanpa meninggalkan bekas,

di dunia ini rasanya tiada kurir pengirim surat yang lebih mahir daripada kau ini.”

Oh-ti-tu termenung sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Baiklah … aku

hanya tidak paham, mengapa harus bentuk kontan uang perak.”

“Keajaiban urusan ini akan kau ketahui bila sudah tiba saatnya nanti,” kata Siau-hi-ji.

“Dan setelah surat ini kukirim, lalu bagaimana?” tanya Oh-ti-tu.

“Setelah mengirim surat, boleh kau tunggu dan menyaksikan tontonan menarik saja.”

“Sampai waktunya nanti apakah betul-betul kau sendiri akan menerima 80 laksa tahil

perak itu?”

“Pada waktunya nanti yang akan menerima perak itu adalah calon setan yang akan kukirim

ke sana.”

“Jika begitu … bila Cin Kiam dan Lamkiong Liu melihat yang datang itu bukan kau

melainkan orang lain, bukankah mereka akan curiga juga?”

“Memangnya Cin Kiam dan Lamkiong Liu mengetahui siapa diriku ini? Yang mereka lihat

semalam adalah wajahku yang kuning pucat serta gerakan Ih-hoa-ciap-giok yang

kumainkan, mereka pasti mengira diriku ini samaran anak murid Ih-hoa-kiong, padahal

saat ini anak murid Ih-hoa-kiong tulen justru lagi berada bersama Kang Piat-ho”.

Oh-ti-tu termenung sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, “Ai, kiranya setiap

gerak-gerikmu selalu mempunyai tujuan tertentu. Di dunia ini kalau bertambah lagi

beberapa orang macam dirimu ini tentu suasana akan kacau balau.”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Jangan khawatir, manusia seperti diriku ini tiada duanya lagi

di dunia ini.”

Pagi-pagi sekali, itu kasir Ging-ih-tong yang masih tidur nyenyak di kolong ranjangnya

telah diseret bangun oleh Siau-hi-ji dan disuruh menyampaikan sepucuk surat kepada

Samkohnio.

Jilid 3. Bakti Binal

Sementara itu Siau-hi-ji sudah berdandan kembali sebagai pegawai toko obat itu dan

tidur di kamarnya di bagian belakang toko.

Kemudian Samkohnio pun tiba, sekali ini nona gede ini tidak berkaok-kaok lagi dari balik

jendela melainkan terus menerobos masuk ke kamar dan setengah mendongkol ia

mengomeli anak muda itu, “He, selama dua hari ini kau ke mana, tahukah betapa gelisah

orang mencarimu?”

Siau-hi-ji kucek-kucek matanya yang masih mengantuk, jawabnya dengan tertawa, “Jika

kau benar gelisah lantaran aku, maka kau harus membantu sesuatu padaku.”

“Bilakah pernah kutolak permintaanmu?” omel Samkohnio dengan suara perlahan.

“Tapi urusan ini sama sekali tidak boleh kau katakan kepada orang ketiga.”

“Memangnya kau tidak percaya padaku?” ucap Samkohnio sambil menunduk.

“Baiklah, ingin kutanya lebih dulu, selama dua hari ini apakah kau lihat Kang Giok-long?”

“Tidak,” jawab si nona gede.

Siau-hi-ji memandangnya dengan terbelalak, katanya pula, “Coba ingat-ingat lagi, adakah

salah seorang yang berada di sekitar Kang Piat-ho itu mungkin adalah samaran Kang Gioklong?”

Samkohnio lantas mengingat-ingat kembali, lalu menjawab tegas, “Tidak ada, pasti tidak

ada, selama dua hari ini Kang Giok-long jelas tidak berada di sini.”

Siau-hi-ji merasa lega, katanya, “Itu dia, perasaan perempuan walau rada membingungkan,

tapi terkadang juga jitu. Jika kau sudah yakin demikian halnya, rasanya Kang Giok-long

memang betul tidak sedang di sini.”

“Kau memanggilku ke sini hanya ingin menanyakan dia?” tanya Samkohnio dengan rasa

hampa.

“Soalnya dia ada sangkut-paut yang sangat erat dengan dirimu,” ucap Siau-hi-ji dengan

tertawa.

“Jangan ngaco, memangnya ada sangkut-paut apa antara aku dengan dia?” omel si nona.

“Tahukah bahwa uang kiriman ayahmu itu justru dirampok olehnya?”

“Apa katamu? Masa begitu?” seru Samkohnio.

“Selama dua hari ini mendadak dia menghilang, pertama karena dia ingin menghindarkan

diriku, kedua, kepergiannya ini justru hendak menyembunyikan harta rampokan itu pada

suatu tempat yang baik, soalnya dia mengetahui, rahasia yang kuketahui jauh lebih banyak

daripada sangkaannya.”

Samkohnio berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Sesungguhnya kau ini siapa? Mengapa dia

begitu takut padamu?”

“Bicara sungguh-sungguh, sampai saat ini dia memang belum mengetahui siapa diriku ini.”

Samkohnio terdiam sejenak, lalu berkata pula dengan perlahan, “Tapi aku tak peduli kau

ini siapa, aku ….”

Mendadak Siau-hi-ji menyela, “Asalkan dugaanku tidak meleset, asalkan dia tidak berada

di sini, maka rencanaku pasti akan berhasil. Untuk ini kau harus bantu mengawasi dia

bagiku, begitu dia pulang hendaklah cepat kau beritahukan padaku.”

“Sesungguhnya apa rencanamu? Mengapa rencanamu baru akan berhasil bilamana Kang

Giok-long tidak berada di sini?”

Siau-hi-ji menarik tangan si nona, katanya dengan suara lembut, “Urusan ini pasti akan

kau ketahui nanti, sekarang kumohon engkau jangan bertanya.”

Di dunia ini kalau ada sesuatu yang dapat membuat perempuan tutup mulut, maka itu

adalah ucapan mesra sang kekasih.

Benar saja, Samkohnio lantas tutup mulut dan tidak tanya lebih lanjut. Dia menunduk, lalu

berucap dengan perlahan, “Tia … tiada ucapan lain lagi yang ingin kau katakan padaku?”

“Malam nanti, lewat tengah malam, harap engkau menunggu di luar pintu belakang taman

rumahmu …. “

Seketika mata Samkohnio memancarkan cahaya kegirangan, tukasnya dengan suara rada

gemetar, “Malam … malam nanti … di … di taman ….”

“Betul, jangan lupa, hendaklah menunggu tepat pada waktunya.”

“Tidak mungkin kulupakan, biarpun langit akan ambruk juga akan kutunggu di sana tepat

pada waktunya.”

Dengan tertawa genit ia lantas melangkah pergi dengan bayangan pertemuan mesra

tengah malam yang indah nanti.

Maklumlah, janji pertemuan rahasia bagi gadis yang sedang kasmaran memang gaib dan

penuh rasa bahagia, tiada urusan lain di dunia ini yang dapat menggetarkan hati mereka

kecuali janji pertemuan dengan sang kekasih.

Siangnya Siau-hi-ji terus putar kayun kian kemari ke segenap pelosok kota, banyak

restoran dan rumah minum yang dilaluinya, tapi ia tidak masuk ke situ, sebaliknya dia

mendatangi sebuah warung bakmi yang kecil dan kotor di ujung timur kota. Jelek-jelek

warung bakmi ini pun punya nama yang indah, yakni “Su-hiang-koan” atau “rindu kampung

halaman”.

Siau-hi-ji menghabiskan semangkuk besar pangsit mi serta beberapa biji siomoy, lalu

menyuruh si pemilik restoran orang Santung yang tampaknya sudah lebih dari tiga tahun

tidak pernah mandi itu memberikan alat tulis dan beberapa puluh helai kertas.

Ia memulai menulis dengan huruf sebesar kepalan, semua kertas itu ditulisnya dengan

huruf yang sama, rupanya ia menulis selebaran yang berbunyi, “Sahabat yang sok senang

(Khay-sim), malam nanti antara pukul sembilan seorang she Li menanti kedatanganmu di

Su-hiang-koan yang terletak di sudut timur kota, mau tak mau kau harus datang”.

Habis menulis, dia menyewa dua-tiga orang gelandangan agar menyebarkan pelakatpelakat

itu ke segenap penjuru kota dan ditempelkan di tempat-tempat yang mencolok

mata.

Sudah tentu orang Santung itu terheran-heran memandangi kelakuan Siau-hi-ji yang aneh

itu. Namun Siau-hi-ji tidak ambil pusing, dia mendatangi toko rombengan untuk membeli

seperangkat pakaian bekas warna hitam, lalu dibelinya di toko kelontong beberapa macam

alat rias. Akhirnya ia mendapatkan sebuah hotel yang tidak terlalu besar dan tidak

terlalu kecil, ia minta kamar yang ada cerminnya, di situlah ia telanjang bulat dan tidur

sepuasnya.

Waktu mendusin hari pun hampir magrib. Menghadapi cermin, seperti anak gadis saja

Siau-hi-ji bersolek sekian lamanya, pakaian hitam itu dipakainya, lalu dia beraksi di depan

cermin …. Hah, mana bisa orang mengenalnya lagi sebagai Kang Siau-hi melainkan mirip Li

Toa-jui yang gemar daging manusia itu.

Siau-hi-ji sendiri pun sangat puas akan hasil samarannya ini, dia tertawa dan bergumam,

“Haha, walaupun tidak persis seratus persen, tapi mengingat Pek Khay-sim itu sudah

puluhan tahun tidak pernah berjumpa dengan Li Toa-jui, apalagi di tengah malam gelap,

rasanya sudah bolehlah.”

Perawakan Siau-hi-ji memang juga tidak pendek, setelah mengalami gemblengan selama

dua tahun ini tubuhnya telah menjadi kekar, kalau membusungkan dada, bukan saja hampir

serupa dengan Li Toa-jui bahkan potongan tubuh dan tegapnya juga hampir sama, kalau

tidak di teliti dengan cermat, bahkan orang yang setiap hari bertemu dengan Li Toa-jui

juga sukar membedakannya.

Pakaian yang bekas dipakainya itu digulung menjadi satu, lalu dimasukkan ke kolong

selimut sehingga kalau dipandang dari luar kelihatan ada orang sedang tidur nyenyak.

Habis itu ia menulis pula dengan peralatan yang ada di situ sepucuk surat untuk Kang Piatho,

ia menulis dengan tangan kiri sehingga kelihatan reyat-reyot, begini bunyinya: “Kang

Piat-ho, putramu dan harta pengawalan yang kalian rampok itu telah jatuh di tangan

Tuanmu sekarang, jika kau ingin berunding dengan syarat tertentu, silakan datang tengah

malam nanti di sutheng yang berada di luar kota”.

Dia tutup sampul surat itu dan di atasnya ditulis pula, “Kepada Kang Piat-ho pribadi, orang

lain dilarang membaca”.

Setelah simpan surat itu di dalam baju, Siau-hi-ji bergumam dengan tertawa, “Kang Gioklong

tidak berada di kota, besar kemungkinan sedang mengatur penyimpanan harta

rampokannya, asalkan malam ini dia tidak pulang, tentu Kang Piat-ho akan masuk

perangkapku, biarpun dia selicin belut, seumpama dia tidak percaya penuh juga pasti akan

sangsi dan tengah malam nanti saking tak tahan dia pasti akan datang ke tempat yang

kusebut itu.”

Dia tertawa puas, lalu memberosot keluar melalui jendela.

Setiba di rumah makan Su-hiang-koan itu, sementara itu cuaca sudah mulai gelap. Inilah

saatnya orang makan malam, tapi Su-hiang-koan itu ternyata tiada pengunjungnya, bahkan

orang Santung itu pun tidak kelihatan, hanya seorang tamu tampak sedang minum arak

sendirian.

Orang ini memakai baju sutera baru, di atas kopiah yang dipakainya tersunting sebiji

mutiara yang bercahaya, dandanannya mirip saudagar kaya, tapi sikapnya ala buaya darat,

dia tidak duduk secara beraturan, tapi nongkrong di atas bangku sambil minum arak,

sepasang matanya jelilatan seperti maling khawatir konangan.

Ketika Siau-hi-ji masuk rumah makan itu dengan langkah lebar, dengan terbahak langsung

ia menegur, “Aha, anak baik, kau ternyata datang benar? Sudah sekian tahun tidak

berjumpa, kau keparat ini ternyata belum melupakan kawanmu orang she Li ini dan telah

menunggu tepat pada waktunya.”

Sejak kecil Siau-hi-ji berkumpul dengan Li Toa-jui, dengan sendirinya lagak-lagunya mirip

benar cara menirukan tokoh Cap-toa-ok-jin yang disegani itu.

Tak terduga orang itu cuma mendelik saja, jawabnya sambil menarik muka, “Memangnya

kau ini siapa? Aku tidak kenal.”

“Hah, masa ingin mengelabui aku, meski kau berdandan menyerupai manusia, tapi

bentukmu yang lebih mirip monyet ini tetap sukar diubah,” kata Siau-hi-ji dengan

tertawa.

Akhirnya orang itu bergelak tertawa, katanya, “Kau keparat yang suka makan manusia

tanpa buang tulang ini, setelah sekian tahun tidak berjumpa, caramu bicara dengan

bapakmu masih tetap kasar begini?”

Siau-hi-ji duduk di depannya, di atas meja sudah ada dua pasang sumpit dan dua cawan,

tapi masakan Ang-sio-bak hanya satu mangkuk. Siau-hi-ji mengernyitkan dahi, katanya,

“Tampaknya kau maling rudin ini semakin lama semakin bangkrut, lekas panggil si Santung

itu, biar kusuguh kau makan sepuasnya.”

“Dia takkan muncul lagi?” jawab orang itu yang bukan lain daripada Pek Khay-sim adanya.

“Mengapa? Di mana dia?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan tertawa Pek Khay-sim menunjuk Ang-sio-bak itu dan berkata, “Dia berada di

dalam mangkuk ini.”

Siau-hi-ji tidak terpengaruh oleh keterangan itu, katanya dengan terbahak, “Hahaha,

tampaknya kau pintar menjilat pantat, kau masih ingat bapakmu gemar makan apa, maka

lebih dulu sudah kau sediakan. Cuma Santung tua itu sudah bertahun-tahun tidak mandi,

mungkin dagingnya berbau apek.”

“Jangan khawatir, sebelumnya sudah kucuci bersih dari kepala hingga kakinya, habis itu

baru masuk kuali,” ucap Pek Khay-sim dengan nyekikik, segera dia angkat cawan menyuguh

Siau-hi-ji satu cawan penuh, lalu menuanginya pula satu cawan.

“Hm, kau benar-benar putra berbakti,” Siau-hi-ji berolok-olok dengan tertawa. Terpaksa

dia menyumpit sepotong Ang-sio-bak, tapi baru saja dikunyah dua kali, mendadak

ditumpahkannya, lalu berkata dengan melotot, “Huh, ini daging apa? Berani kau

palsukannya sebagai daging manusia?”

Mendadak Pek Khay-sim berkeplok gembira, katanya, “Hehe, orang she Li, kau memang

hebat, mulutmu yang kotor ini sekali coba lantas tahu daging apa, memangnya tak kau

pikirkan apakah aku sudi menyembelih orang hanya untuk memenuhi seleramu?”

Rupanya Pek Khay-sim sengaja menggunakan cara ini untuk menguji apakah yang hadir ini

benar-benar Li Toa-jui tulen atau bukan. Sudah tentu Siau-hi-ji merasa geli, ia pun tidak

membongkar persoalan ini, dengan mendelik ia berkata, “Habis kalau anak tidak berbakti

kepada bapak sendiri mau berbakti kepada siapa? Santung tua itu memang kotor, tapi

dagingnya cukup gempal, memang sudah lama aku ingin menyembelihnya untuk diolah

menjadi Ang-sio-bak, sekarang kau telah kemanakan dia?”

“Dia telah pulang kampung halamannya, rumah makan ini sudah kubeli. Haha, dia menerima

lantakan emas yang kutuang tengahnya dengan timah, malahan dia sangat senang mengira

mendapatkan pembeli yang picak dan menyangka aku yang tertipu.”

“Tapi untuk apakah kau membeli rumah makan brengsek ini? Kau memang telah berhasil

menipu dia, tapi bapakmu menjadi gagal makan Ang-sio-bak. Ai, sifat malingmu yang suka

‘merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri’ itu tampaknya selama hidup

takkan berubah.”

“Sifatku tak dapat berubah, tapi sifat malingmu apakah dapat berubah? Anjing tetap

makan tahi, sifat ini tidak mungkin berubah …. Eh, sudah sekian tahun kau mengkeret di

sarang anjingmu, untuk apa mendadak muncul di sini?”

Dengan mata melotot Siau-hi-ji berseru, “Ingin kutanya kau lebih dulu, kau memalsukan

namaku serta mengirimkan panji berdukacita atas kematian Thi Bu-siang, lalu memalsukan

namaku pula setelah menyembelih pelayan orang, sesungguhnya apa kehendakmu?”

Pek Khay-sim melengak, katanya kemudian, “Jadi kau tahu semuanya?”

“Memangnya urusan apa yang dapat mengelabui mataku?” jawab Siau-hi-ji dengan

tergelak.

“Ya, orang-orang itu terlalu iseng, maka aku sengaja mencarikan pekerjaan buat mereka,

kumasak daging manusia dan mengundang tamu untuk memakannya, tapi diam-diam aku

sendiri menyampaikan laporan rahasia kepada keluarga yang bersangkutan, dengan

demikian mereka berdua pihak akan saling labrak habis-habisan dan dengan demikian pula

aku menjadi senang …. Coba katakan secara jujur, apa yang kulaksanakan itu bagus atau

tidak?”

“Herannya kedua bocah she Cin dan Lamkiong itu mau percaya begitu saja kepada laporan

orang yang tak dikenal, jika aku yang dapat laporan, tentu akan kubekuk kau lebih dulu

untuk ditanyai dari mana kau tahu ada orang sedang makan daging manusia?”

“Untuk menyampaikan laporan itu masa aku tak dapat mengirim surat kaleng saja, buat

apa aku pergi ke sana sendiri?”

“Hanya sepucuk surat kaleng saja lantas dipercaya oleh mereka?”

“Biarpun tidak percaya, mau tak mau mereka akan melihatnya ke tempat yang kusebut

itu.”

Mendadak Siau-hi-ji menggebrak meja dan berseru, “Tepat, memang kalimat inilah yang

ingin kudengar dari mulutmu.”

Pek Khay-sim tampak heran, katanya, “Kau sedang merancang akal setan apalagi untuk

menjebak aku?”

“Kau telah memalsu nama, untuk sementara dapat kukesampingkan persoalan ini dan

takkan kuhukum, asalkan saja kau menulis lagi sepucuk surat kepada bocah she Cin dan

Lamkiong itu. Mereka sudah membuktikan bahwa isi suratmu yang pertama itu memang

tidak dusta, maka suratmu yang kedua pasti semakin dipercaya oleh mereka.”

“Lalu surat apa maksudmu?” tanya Pek Khay-sim.

“Dengan sendirinya surat untuk membikin susah orang, kalau bukan surat beginian

masakah kau mau menulisnya?”

“Hehehe, jika surat untuk membikin celaka orang memang dapat kulakukan bagimu. Entah

siapa yang menjadi sasaran perangkapmu ini?”

“Tentang siapa sasarannya kelak pasti akan kau ketahui. Yang penting harus kau

beritahukan kepada mereka agar tengah malam nanti mereka datang ke halaman belakang

rumah Toan Hap-pui, di sana mereka pasti akan melihat sesuatu yang sangat

menyenangkan mereka. Harus kau tegaskan supaya datang tengah malam tepat, tidak

boleh lebih dini dan tidak boleh lebih lambat”.

“Tapi kalau tuanmu tidak mau menulis, lalu bagaimana?” ucap Pek Khay-sim.

“Kutahu kau pasti mau menulis,” bujuk Siau-hi-ji. “Mustahil kau dapat tidur nyenyak jika

ada kesempatan mencelakai orang tapi tidak kau lakukan. Apalagi, jika kau tidak mau

menulis surat ini tetap aku ada cara lain yang dapat memaksa kau.”

Sampai di sini mendadak ia keluarkan surat yang telah disiapkan untuk Kang Piat-ho itu,

berbareng ia padamkan lampu di atas meja.

Seketika air muka Pek Khay-sim berubah dan berseru, “He, apa yang kau lakukan?”

Siau-hi-ji mendesis, “Ssst, jangan bersuara, ada orang datang hendak menangkap kita,

lekas bersiap-siap untuk lari.”

Belum lenyap suaranya, benar saja di luar jendela sudah ada sinar golok berkelebat. Lalu

seorang telah membentak, “Orang she Li dan orang she Pek, kejahatan kalian sudah

kelewat takaran, hari ini kalian jangan harap akan bisa kabur lagi. Ayolah keluar untuk

terima kematian!”

Dalam kegelapan tertampak bayangan orang berseliweran di luar, agaknya rumah makan

ini sudah terkepung rapat.

Segera terdengar suara orang membentak, “Li Toa-jui, kabarnya kau bermaksud

memperbaiki kelakuanmu dan kembali ke jalan yang baik. Jika benar-benar ada niat

demikian, lekaslah kau menyerahkan diri saja, akan kujamin jiwamu dengan kehormatan

pribadiku.”

Untuk sejenak Pek Khay-sim melenggong, gumamnya kemudian, “Aneh, dari mana orangorang

ini mendapat tahu bahwa kita berada di sini?”

“Orang ini bermulut manis, tentu Kang Piat-ho adanya,” kata Siau-hi-ji.

“Ya, memang dia,” kata Pek Khay-sim.

“Marilah kita menerjang keluar melalui arah ini,” ajak Siau-hi-ji.

“Apa katamu? Menerjang keluar dengan arah yang dijaga orang yang berkepandaian paling

kuat? Memangnya kau sudah gila?”

“Jangan khawatir, aku ada akal,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum.

Sementara itu orang di luar itu sedang membentak pula, “Jika kalian tidak memberi

jawaban, segera kami menerjang masuk.”

Padahal orang-orang sama jeri terhadap Cap-toa-ok-jin yang termasyhur itu, seketika

tiada seorang pun yang berani menerjang ke dalam rumah yang gelap gulita ini.

Mendadak Siau-hi-ji berbangkit sambil membentak, “Ini dia Li Toa-jui, tunggulah kalian.”

Berbareng ia angkat sebuah bangku terus dilemparkan keluar jendela sebelah barat.

Nama “Li Toa-jui” agaknya cukup menakutkan, begitu bangku melayang keluar, serentak di

sebelah sana terjadi kegaduhan, beberapa senjata sekaligus menyerang dan semuanya

mengenai bangku itu.

Waktu Siau-hi-ji melompat keluar jendela kontan ia pun disambut oleh bacokan dua

batang golok. Tapi sekali meraung, kaki kiri Siau-hi-ji melayang, salah satu golok itu

segera tertendang mencelat.

Menyusul mana Siau-hi-ji lantas melompat lewat di atas kepala orang kedua, sebelah

kakinya menginjak ke bawah dan tepat mengenai orang itu, seketika orang itu patah

lehernya.

Gerakan kaki menendang dan mendepak Siau-hi-ji ini sebenarnya bukan ilmu silat yang

tinggi, tapi setelah diubah sedikit olehnya, seketika-dua jagoan kena dikalahkan.

Maklumlah, kitab pusaka ilmu silat yang ditemukannya di bawah tanah bersama Kang Gioklong

tempo hari itu berisi intisari berbagai aliran silat di dunia ini, setelah dia pelajari

dan menyelami dengan baik selama dua tahun ini, setiap jurus gerakan yang sederhana bila

dimainkannya sudah dapat diubah menjadi tipu serangan yang ajaib tanpa dikenal orang

lain akan asal-usul ilmu silatnya ini.

Begitulah maka terdengar seorang menjerit kaget, “Awas, orang she Li ini benar-benar

lihai …” belum habis ucapannya, “plak”, menyusul lantas terdengar seorang bergelak

tertawa, mungkin yang bicara itu telah kena digampar sekali oleh Pek Khay-sim.

Setelah merobohkan dua orang, menyusul dengan sekali jotos Siau-hi-ji membuat seorang

mencelat lagi. Pada saat itulah sekonyong-konyong sinar pedang gemerlap, seorang telah

mengadang di depannya.

“Li Toa-jui, meski lihai kepandaianmu, tapi jangan harap bisa lolos hari ini!” demikian

jengek orang itu, berbareng pedangnya telah menusuk beberapa kali, semuanya serangan

mematikan.

Tanpa memandang juga Siau-hi-ji tahu pengadang ini adalah Kang Piat-ho, berturut-turut

ia pun mengegos beberapa kali tanpa balas menyerang, tapi dengan suara tertahan ia

berkata, “Apakah kau ingin tahu di mana beradanya putramu beserta harta rampokannya

itu?”

Pedang Kang Piat-ho menjadi agak kendur dan bertanya, “Apa katamu?”

Siau-hi-ji mencobloskan surat yang sudah disiapkan itu ke ujung pedang Kang Piat-ho

sambil berkata, “Boleh kau membacanya dulu.”

Kang Piat-ho menjadi serba repot dan ragu apakah mesti menarik kembali pedangnya

untuk membaca surat itu atau tetap ditusukkan. Pada detik itulah Siau-hi-ji telah

menyelinap lewat di sampingnya.

Sekali berteriak aneh, cepat sekali Pek Khay-sim juga melayang ke sana. Ketika beberapa

orang mengejar tiba, namun bayangan Siau-hi-ji dan Pek Khay-sim sudah menghilang.

Setelah kabur ke dalam hutan yang gelap barulah mereka berhenti. Sambil memandang

Siau-hi-ji, Pek Khay-sim mendengus, “Hm, cara bagaimana mereka mendapat tahu kita

berada di sana?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, jawabnya tertawa, “Ya, dengan sendirinya ada orang

menyampaikan laporan gelap.”

“Yang memberikan laporan gelap bukan mustahil kau sendiri,” jengek Pek Khay-sim.

“Jika aku, mengapa aku membantumu melarikan diri pula?”

“Tapi kalau bukan kau, siapa lagi yang tahu.”

“Mereka bukan orang buta, memangnya mereka tidak membaca selebaran yang berhuruf

besar itu?”

“Masa orang itu paham akan isi tulisan itu?”

“Dengan sendirinya ada yang paham,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Air muka Pek Khay-sim berubah, tanyanya cepat, “Siapa? Mungkinkah ada di antara

sahabat-sahabat lama kita juga datang ke sini?”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, lalu menjawab, “Biarlah kukatakan terus terang kepadamu,

ada dua orang, seorang bernama Lo Kiu dan seorang lagi bernama Lo Sam, mereka

berusaha mencari setori pada kita, tampaknya mereka sangat jelas terhadap seluk-beluk

urusan kita.”

“Bagaimana bentuk kedua orang itu?” tanya Pek Khay-sim sambil mengernyitkan dahi.

“Gemuk dan tinggi, keduanya serupa seperti pinang dibelah dua, mereka adalah saudara

kembar.”

“Yang kukenal adalah kembar dua kurus jangkung, tapi tidak kenal kembar dua yang

gemuk.”

“Kau tidak kenal mereka, tapi mereka cukup kenal kau.”

Pek Khay-sim menjadi gusar, dampratnya “Jika sudah kuketahui mereka paham isi surat

selebaran itu dan sudah tahu pula mereka akan menyampaikan laporan gelap, mengapa kau

justru sengaja bertindak begini?”

Dengan tertawa Siau-hi-ji menjawab, “Justru aku mengharapkan mereka menyampaikan

laporan gelap, justru pula kuminta mereka mengirim orang untuk membekuk kita, dengan

demikianlah baru aku dapat menyampaikan surat penting itu langsung kepada Kang Piatho.

Bilamana kusampaikan surat itu dengan cara lain mungkin takkan mendapat

perhatiannya, tapi kini Li Toa-jui sendiri yang menyerahkan surat kepadanya, tentu

bobotnya akan lain”.

“Dan dari mana kau tahu Kang Piat-ho pasti akan ikut datang?”

“Dia menganggap dirinya sebagai Tayhiap, kalau tersiar berita bahwa Cap-toa-ok-jin

berada di kota ini, memangnya dia dapat tinggal diam? Nah, pasti juga dia takkan

membiarkan kita pergi.”

Sejenak Pek Khay-sim termangu, akhirnya ia menghela napas, katanya, “Setiap persoalan

telah kau hitung dengan jitu, mungkin Li Toa-jui tulen juga tidak melebihi dirimu.”

Sekali ini Siau-hi-ji yang melengak, ia terkekeh kekeh, katanya, “Li Toa-jui tulen apa,

memangnya bapakmu ini palsu?”

Mendadak Pek Khay-sim terbahak-bahak, katanya, “Kau dapat menirukan lagak-lagu Li

Toa-jui dengan demikian miripnya, pada hakikatnya aku pun rada kagum padamu. Sungguh

aku merasa sayang bila menyaksikan kau mati di depanku. Tapi, ya apa boleh buat, mau tak

mau kau harus mati.”

“Harus mati?” Siau-hi-ji menegas heran.

“Ya, arak yang telah kau minum itu telah kuberi ‘Toan jong-san’ (puyer perantas usus),”

ucap Pek Khay-sim dengan tertawa aneh. “Sebenarnya kau dapat hidup lebih lama sedikit,

tapi lantaran geger-geger tadi, mungkin sebentar lagi jiwamu akan melayang.”

Dengan gusar Siau-hi-ji berteriak, “Bangsat keparat, biar kumampuskan kau lebih dulu!”

Segera dia bangun dan bermaksud menerjang lawan, tapi baru saja tubuhnya terapung,

“bluk”, mendadak dia terkulai dengan wajah pucat, ia pegang perutnya sendiri sambil

merintih, “Wah, celaka … perutku … aku … aku tidak sanggup lagi …”

Pek Khay-sim terkekeh-kekeh gembira, katanya, “Sekarang baru kau tahu Cap-toa-ok-jin

tidak mudah dilayani bukan?”

“Tapi … tapi dari mana kau tahu aku ini Li Toa-jui palsu? Aku tidak percaya kau dapat

membedakannya,” seru Siau-hi-ji dengan suara serak.

“Baik, biar kuberitahukan padamu agar kau tidak mati penasaran.”

“Ya, kumohon sudilah kau jelaskan, lekas, kalau tidak takkan kudengar lagi,” rintih Siauhi-

ji.

“Hehe, caramu menirukan gerak-gerik dan lagak-lagu Li Toa-jui memang persis sekali,

tentunya kau kenal dia bukan?”

“Ya … ya, ya,” gemetar sekujur badan Siau-hi-ji.

“Pernahkah kau dengar dia membicarakan diriku?” tanya Pek Khay-sim.

“Ti … tidak pernah,” Siau-hi-ji melengak heran.

“Soalnya dia sangat benci padaku, sedemikian bencinya padaku hingga namaku saja dia

tidak sudi menyebutnya, maka tidak mungkin dia menganggap aku sebagai sahabat dan

mengajak pula makan minum bersamaku,” Pek Khay-sim terbahak-bahak, lalu menyambung

pula, “Kau sangka kalau Cap-toa-ok-jin sama-sama Ok-jin (orang jahat), mereka pasti juga

kawan baik satu sama lainnya. Kau tidak tahu bahwa di antara Cap-toa-ok-jin juga ada

yang bermusuhan dan saling membenci. Perhitunganmu memang jitu, tapi tetap ada satu

yang meleset, dan kesalahan ini pun cukup fatal untuk membikin jiwamu melayang.”

Dengan merintih Siau-hi-ji berkata, “Jadi … jadi kau sudah tahu aku bukan Li Toa-jui

tulen, tapi mengapa ….”

“Bapakmu ini sengaja berlagak bodoh, maksudku hanya ingin tahu apa tujuanmu yang

sesungguhnya” ucap Pek Khay-sim dengan tertawa, selain itu aku pun ingin mempermalukan

kau, kini bapakmu merasa cukup menggodamu dan bolehlah kau tunggu ajalmu saja.”

“Meski sekarang kumati di tanganmu, tapi kau pun ada ses … sesuatu ….” mendadak Siauhi-

ji kejang dan jatuh telentang, sekuatnya ia ingin bicara lagi, namun cuma bibirnya saja

yang bergerak dan tak terdengar suaranya.

“Ada sesuatu apa mengenai bapakmu, coba katakan?” Pek Khay-sim menegas.

Siau-hi-ji tampak berkeringat dan berteriak-teriak, “Kau … kau ….” tapi suaranya

ternyata sangat lemah meski dia berusaha menggembor sekerasnya.

Karena ingin tahu apa yang diucapkan Siau-hi-ji, Pek Khay-sim mendekatinya, tanyanya

sambil setengah berjongkok, “Bicaralah yang keras, bapak tidak mendengar.”

Mendadak Siau-hi-ji meraung keras-keras, “Kubilang kau ini orang goblok!”

Berbareng dengan suara raungannya itu secepat kilat ia pun menutuk beberapa Hiat-to di

tubuh Pek Khay-sim.

Baru saja Pek Khay-sim berjingkat kaget karena raungan mendadak itu, tahu-tahu ia pun

roboh terkapar.

“Biarpun Cap-toa-ok-jin terkenal licin dan licik, tapi kebentur padaku juga pasti akan

terperangkap,” seru Siau-hi-ji sambil melompat bangun. “Sekarang kau baru tahu bahwa

bapakmu ini bukanlah orang yang mudah dilayani.”

Sambil menggeletak di tanah Pek Khay-sim hanya mampu memandangi anak muda itu

dengan terbelalak, sungguh tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini masih ada orang

terlebih licin daripada Cap-toa-ok-jin.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula, “Meski bapakmu ini tidak tahu persis apakah

arakmu itu beracun atau tidak, tapi menghadapi Cap-toa-ok-jin kalian betapa pun aku

harus tetap waspada. Kau kira aku telah minum arakmu, haha, padahal bapakmu cuma

mengumur arak itu di dalam mulut, lalu kutumpahkan bersama daging manusia palsu itu.”

“Meng … mengapa tak kulihat tindakanmu itu?”

“Haha, kepandaian menipu orang begitu sejak bapakmu ini berumur lima sudah berhasil

mempelajarinya. Jangankan cuma secawan arak terkumur di dalam mulut, sekalipun satu

biji telur ayam kusembunyikan di dalam mulut juga takkan kau lihat.”

Baru sekarang Pek Khay-sim benar-benar merasa ngeri dan ketakutan menghadapi Siauhi-

ji, tanyanya dengan suara gemetar, “Kau … kau sesungguhnya siapa?”

“Hehe, baru sekarang kau kenal takut ya?” jengek Siau-hi-ji. “Orang macam bapakmu

harus ditakuti oleh siapa pun. Jika kau ingin tahu siapa bapakmu ini, maka lebih dulu kau

harus bekerja baik-baik bagi bapakmu ini, habis itu mungkin bapak akan memberitahukan

padamu.”

Bahwa orang yang lebih lihai dan menakutkan daripada setan ini ternyata tiada bermaksud

membunuhnya melainkan cuma menyuruhnya bekerja sesuatu baginya, keruan hal ini

membuat Pek Khay-sim kegirangan, cepat ia berseru, “Baik, baik, segera anak akan

menuliskan surat itu.”

“Hahaha, sekarang dari bapak kau mau berubah menjadi anak …. Hahaha, kau ini memang

anak baik. Tapi kalau bapak membebaskan anak seperti kau ini begini saja tetap terasa

khawatir,” sembari bicara diam-diam sebelah tangan Siau-hi-ji menggosok-gosok kuduk

sendiri sehingga dakinya dapat menjadi satu gelincir kecil, mendadak ia pencet dagu Pek

Khay-sim dan gelintiran daki itu terus dijejalkan ke mulutnya.

Seketika Pek Khay-sim merasa satu biji barang yang asin-asin serta berbau sesuatu yang

sukar dilukiskan itu meluncur ke dalam kerongkongannya, keruan ia terkejut, serunya

khawatir, “Apa … apa ini?”

“Kau kan punya Toan-joan-san (puyer perantas usus), maka aku pun punya Jui-beng-wan

(pil pemburu nyawa) yang khas,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Apa? Jui-beng-wan? Meng … mengapa tidak pernah kudengar.”

“Sudah tentu kau tidak pernah dengar nama obat demikian ini, sebab racun ini memang

hasil buatanku sendiri belum lama berselang dan tiada obat penawarnya di dunia ini, hanya

dalam waktu tujuh jam seluruh tubuhmu akan hitam membengkak, lewat satu jam lagi

tubuhmu akan membusuk dan jiwamu segera melayang, yang tertinggal hanya air hitam

yang berbau busuk.”

Siau-hi-ji membual semaunya, namun kedengarannya seperti sungguh-sungguh dan betulbetul

akan terjadi. Keruan Pek Khay-sim tambah kelabakan, serunya dengan khawatir, “Bu

… bukankah engkau hendak menyuruh aku bekerja sesuatu?”

“Ya, sudah tentu aku sendiri mempunyai obat penawarnya,” kata Siau-hi-ji dengan

tertawa.

“Selamanya kita tiada permusuhan apa pun, kumohon engkau ….”

Siau-hi-ji sengaja mendelik dan membentak, “Jika dalam waktu tujuh jam ini kau dapat

menyelesaikan pekerjaan yang kutugaskan padamu secara memuaskan, lalu boleh kau

datang dan tunggu aku di sini, tentu akan kutolong jiwamu.”

Habis berkata ia terus membuka Hiat-to yang ditutuknya.

Namun Pek Khay-sim masih terkulai lemas di tanah seakan-akan tenaga untuk berdiri saja

sudah lenyap, katanya, “Kuharap jang … janganlah engkau melupakan diriku akan menunggu

di sini.”

“Waktu sudah mendesak, ayolah lekas berangkat agar tidak terlambat,” dengus Siau-hi-ji.

Tanpa disuruh lagi segera Pek Khay-sim melompat bangun, seperti kuda liar yang

pantatnya mendadak dibacok orang, bagai kesetanan dia terus berlari pergi.

Setelah orang pergi jauh, Siau-hi-ji tertawa geli sendiri, gumamnya, “Hihi, Cap-toa-ok-jin

yang sangat ditakuti orang itu ternyata juga mudah dikibuli.”

Menjelang tengah malam, Siau-hi-ji sudah berada di loteng kecil itu. Lo Sam dan Lo Kiu

tidak berada di situ, hanya Buyung Kiu saja yang duduk di lantai dan sedang main boneka

sambil menyanyikan lagu nina bobok. Dengan tertawa kecil Siau-hi-ji juga ikut bernyanyi

kecil.

Tapi Buyung Kiu lantas berhenti menyanyi, ia pandang Siau-hi-ji dengan bingung, sejenak

kemudian barulah ia bertanya, “Kau siapa? Aku tidak kenal padamu.”

“Masa sudah lupa?” ucap Siau-hi-ji dengan suara halus. “Bukankah aku kemarin

mengajarkanmu cara mengusir momok yang mengeram di dalam hatimu itu.”

“Oya, kiranya kau. Bentukmu tampaknya agak berubah?” kata nona itu.

Siau-hi-ji sengaja mendesis, “Ssst, jangan keras-keras, aku khawatir momok jahat itu

akan mencari diriku, makanya aku menyamar jadi begini agar tidak dikenalinya, hendaklah

kau jangan katakan kepada siapa-siapa?”

Berulang-ulang Buyung Kiu mengangguk, katanya, “Ya, aku tahu, aku paham, momok itu

sangat menakutkan, sedapatnya jangan sampai dia menemukan kau.”

“Kutahu kau pasti paham, kau memang anak perempuan pintar.”

“Apa benar aku anak perempuan pintar?” wajah yang sayu itu menampilkan senyuman

sekilas laksana mendung yang mendadak ditembus cahaya matahari dan bunga yang indah

mendadak mekar dalam sekejap ini.

Siau-hi-ji memandangnya dengan terkesima, timbul perasaan aneh dalam hatinya, tapi

segera ia menyadari tidak boleh memandangnya lebih lama, cepat ia menarik tangannya

dan berkata, “Sekarang akan kubawa kau ke suatu tempat, segera kau akan berjumpa

dengan orang yang jauh lebih sakti daripada diriku dan dapat membantumu mengusir

momok dalam tubuhmu.”

Entah mengapa, Buyung Kiu itu ternyata penurut kepada Siau-hi-ji, segera ia berdiri, tapi

baru saja dua-tiga tindak, tiba-tiba ia bertanya sambil berkedip-kedip. “Dan bag …

bagaimana dengan engkau?”

“Mungkin selanjutnya kau takkan melihat aku lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jika selanjutnya takkan melihatmu lagi, maka aku pun tak mau pergi,” demikian Buyung

Kiu lantas urung melangkah lebih lanjut.

Siau-hi-ji tercengang, sukar dikatakan bagaimana perasaannya, cepat ia berseru,

“Bilamana momok yang mengeram dalam tubuhmu sudah terusir, kau sendiri pun tidak mau

lagi menemui aku, tatkala mana tentu pula banyak orang lain akan mendampingimu setiap

hari.”

“Jika begitu biarkan saja momok ini tetap mengeram di dalam hatiku saja,” kata Buyung

Kiu setelah berpikir sejenak.

Hati Siau-hi-ji menjadi rada pilu, katanya kemudian dengan tertawa, “Anak bodoh,

memangnya kau ingin terus begini selamanya?”

Buyung Kiu menatapnya dengan tak berkedip sambil menggigit bibir, lalu berkata,

“Sebenarnya keadaan begini juga tiada jeleknya, apalagi asalkan setiap hari kau datang

menemani aku, lama-lama juga dapat mengusir momok itu, betul tidak?”

Siau-hi-ji kucek-kucek hidungnya, tiba-tiba ia menarik muka dan berkata, “Kau tidak mau

menurut perkataanku, mana aku mau menemanimu lagi.”

Buyung Kiu menunduk, ucapnya dengan rawan. “Kau mengharuskan aku pergi, segera juga

aku akan pergi, namun engkau ….”

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Asalkan kau selalu ingat pembicaraan kita hari ini,

selanjutnya aku akan tetap menyambangi dikau ….” segera ia mengenakan mantel bagi si

nona itu, waktu mereka sampai di pintu belakang taman keluarga Toan, ternyata

Samkohnio sudah menunggu di situ.

Malam ini cukup dingin, tapi Samkohnio hanya mengenakan baju sutera tipis warna jambon

seakan-akan tidak merasakan hawa yang dingin itu. Demi lelaki yang dicintainya, demi

kecantikan, anak gadis terkadang memang berani berkorban, misalnya mengikat kencang

tali pinggang dan berpuasa tiga hari tiga malam, apalagi cuma kedinginan, semua ini bukan

apa-apa.

Mata Samkohnio bercahaya, hatinya berdebar keras, meski tubuhnya rada menggigil, tapi

mukanya terasa panas. Maklumlah, untuk pertama kali inilah dalam hidupnya dia

mengadakan pertemuan rahasia dengan lelaki. Bagaimana perasaan anak gadis yang

mengadakan pertemuan gelap pertama kali dengan sang kekasih, perasaan ini hanya

diketahui oleh mereka sendiri.

Dari jauh dia melihat kedatangan Siau-hi-ji, dengan kegirangan segera ia menyongsong ke

sana, tapi setelah berhadapan baru diketahui di belakang Siau-hi-ji mengikut pula

seorang. Seketika hati Samkohnio terpukul, dengan menggigit bibir dia menegur, “Kau …

kau tidak datang sendirian saja?!”

Entah memang tidak paham ucapan si nona atau sengaja berlagak pilon, dengan perlahan

Siau-hi-ji menjawab, “Memangnya aku kan tidak menyatakan hendak datang sendirian?”

Baru sekarang Samkohnio melihat jelas wajah Siau-hi-ji, serunya terkejut, “He, sia …

siapakah kau?”

“Aneh, baru saja kau dapat mengenali diriku, mengapa sekarang pangling lagi?”

Memang Samkohnio dapat mengenali suara Siau-hi-ji, tapi masih tetap sangsi, ucapnya

ragu-ragu, “Tadi aku cuma merasakan … merasakan kedatanganmu, tapi mukamu ….”

Dengan suara tertahan Siau-hi-ji menukas, “Ada sesuatu urusan rahasia harus kukerjakan

dan terpaksa aku harus menyamar begini, hendaklah jangan kau katakan kepada siapa pun

juga, urusan ini hanya kau sendiri yang tahu.”

Meski dia sendiri tidak menguraikan apa urusan ini, tapi dia kenal watak anak gadis ini,

apalagi cuma dia sendiri yang mengetahui rahasia lelaki yang dicintainya, maka persoalan

lain tentu takkan diusut lebih lanjut.

Benar juga, Samkohnio menjadi gembira pula, betapa pun dia merasa Siau-hi-ji masih

tetap baik padanya, kalau tidak masakah cuma dia sendiri yang diberitahukan rahasianya.

Maka dengan suara tertahan ia pun balas mendesis, “Ya, jangan khawatir, pasti takkan

kukatakan pada orang lain.”

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya pula, “Tapi untuk urusan ini aku masih perlu bantuan

orang.”

“Dapatkah aku membantumu?” tanya Samkohnio cepat.

“Sebenarnya aku ingin mencari orang lain saja, tapi … tapi kalau engkau suka membantu

sudah tentu akan kuterima dengan senang hati,” kata Siau-hi-ji.

Samkohnio bertambah gembira, ucapnya, “Memang sudah kukatakan sejak dulu-dulu, tak

peduli apa permintaanmu tentu kusanggupi.”

Bahwa pemuda yang dicintainya tidak mencari bantuan pada orang lain tapi justru mencari

bantuan padanya, ini menandakan anak muda itu memang menaruh perhatian kepadanya,

keruan Samkohnio kegirangan setengah mati.

Dari air muka si nona, Siau-hi-ji yakin urusan pasti tak menjadi soal lagi, segera ia

berkata, “Sesungguhnya urusan ini pun tiada sesuatu kesukaran, asalkan kau bawa orang

ini ke rumahmu, tengah malam nanti baru kau taruh dia di suatu tempat.”

“Ah, terlalu mudah, pasti dapat kulaksanakan dengan baik,” ucap si nona gede.

“Tapi kau harus ingat dua hal. Pertama, jangan sekali-kali dia terlihat oleh siapa pun juga.

Kedua, harus kau sembunyikan dia tepat pada tengah malam nanti, tidak boleh lebih dari

dini hari dan juga tidak boleh terlambat.”

“Baik, jangan khawatir, pasti akan kukerjakan dengan betul,” jawab Samkohnio dengan

tertawa. Dan baru sekarang dia sempat memperhatikan Buyung Kiu.

Seluruh badan Buyung Kiu terbungkus oleh mantel hitam sampai kepalanya juga tertutup

rapat, dengan sendirinya Samkohnio tidak tahu bagaimana bentuknya, setelah ragu-ragu

sejenak, akhirnya ia tanya, “Siapakah orang ini?”

“Dia sangat erat hubungannya dengan urusan yang hendak aku kerjakan ini, selanjutnya

kau tentu akan tahu,” jawab Siau-hi-ji secara samar-samar.

Ia mendorong Buyung Kiu ke depan Samkohnio, lalu berkata pula, “Nah, lekas kalian pergi

sekarang!”

Buyung Kiu menoleh dan seperti ingin bicara sesuatu, tapi Siau-hi-ji telah mendahului

pergi.

Samkohnio merasa sangsi melihat sikap mereka itu, tapi akhirnya ia cuma menghela napas

dan berkata, “He, ikutlah padaku.”

*****

Sebelum tiba waktunya Siau-hi-ji sudah berada di sutheng yang dijanjikan itu, ia

memeriksa sekelilingnya, orang-orang yang diundangnya ternyata belum ada yang hadir. Ia

mengatur sekadar di sekitarnya, lalu mencari suatu tempat baik untuk bersembunyi, dari

sini ia dapat melihat setiap orang yang berada di dalam sutheng, tapi orang lain pasti

tidak melihatnya.

Habis itu ia merenung kembali persoalan ini dari awal hingga akhir. Setelah menerima

surat yang ditulis Buyung Kiu itu pasti Cin Kiam dan Lamkiong Liu akan datang. Sesudah

membaca suratnya itu, Kang Piat-ho juga pasti akan hadir.

Rombongan Cin Kiam itu tentunya akan membawa 80 laksa tahil perak kontan dan

rombongan Kang Piat-ho justru datang hendak mencari harta karun. Bila kedua kelompok

ini kepergok di sini mustahil takkan terjadi ramai-ramai.

Meski mereka tidak memakai kedok, tapi di tengah malam gelap pasti tidak jelas terlihat

oleh pihak lawan, dalam keadaan sama-sama cemas dan gelisah, sekali tidak cocok bicara

mustahil kedua pihak tidak saling labrak, bila Samkohnio telah membawa si Buyung Kiu ke

tempat tinggal Kang Piat-ho dan setelah orang-orang keluarga Buyung Kiu menerima

laporan gelap Pek Khay-sim, lalu Buyung Kiu dapat ditemukan di sana, mustahil keluarga

Buyung takkan mencari perkara kepada Kang Piat-ho? Sungguhpun Kang Piat-ho cukup

lihai, tapi keluarga Buyung juga bukan pihak yang boleh diremehkan.

Jadi rencana Siau-hi-ji tidak cuma sekali tepuk dua lalat saja, tapi beberapa lalat akan

kena ditepuknya sekaligus.

Pertama, dengan cara Kang Piat-ho sendiri dia dapat membalasnya agar orang she Kang

itu pun merasakan bagaimana pahitnya difitnah orang.

Kedua, Lamkiong Liu, Siau-sian-li dan kawan-kawannya semalam telah menuduhnya secara

semena-mena, maka ia pun ingin membikin mereka tahu rasa. Sudah diperhitungkan

setelah mereka menerima laporan gelap Pek Khay-sim, tentu mereka akan membagi diri

dengan dua kelompok, yang satu memeriksa ke taman keluarga Toan, kelompok lain datang

ke sutheng ini. Yang datang ini bisa jadi cuma Cin Kiam, Siau-sian-li dan Koh Jin-giok

bertiga, sekalipun ketiga orang ini mampu mengatasi Kang Piat-ho, tapi sedikitnya mereka

pun akan merasakan kelihaian orang she Kang itu.

Ketiga, akhirnya ia telah mengirim kembali Buyung Kiu kepada keluarga sendiri, kelak

andaikan pikirannya tetap tidak waras, tapi berada di tengah keluarga sendiri tentunya

tidak perlu khawatir lagi akan dianiaya orang. Untuk ini Siau-hi-ji merasa telah berbuat

sesuatu pahala yang melegakan hati.

Keempat, setelah Kang Piat-ho terjebak sekali ini, seumpama tidak mampus, sedikitnya

akan dapat menghajar adat padanya dan mengurangi kemunafikannya, Pek Khay-sim dan

lain-lainnya mungkin juga tidak berani mencari gara-gara lagi. Dengan demikian dunia

Kangouw untuk sementara bisa jadi aman tenteram.

Kelima, harta karun keluarga Toan yang dirampok itu bisa juga ditemukan dan kembali

kepada pemiliknya, betapa pun Toan Hap-pui dan Samkohnio selama ini cukup baik padanya

dan dengan demikian berarti dia telah membalas budi kebaikan mereka.

Keenam, kematian Thi Bu-siang yang penasaran itu juga dapat terbalas dan nama baiknya

dapat dipulihkan kembali.

Begitulah rencana Siau-hi-ji ini ternyata sekali pukul tujuh sasaran, walaupun praktiknya

harus menghadapi banyak kesukaran dan keruwetan, tapi rasanya cukup berharga dengan

jerih payahnya. Meski rencananya ini akan banyak membikin orang celaka, tapi juga

banyak membikin orang menerima manfaatnya.

Apa yang diperbuat Siau-hi-ji memang ada yang baik dan ada yang busuk, tapi kalau

ditimbang tetap lebih banyak yang baik daripada yang busuk, apalagi biarpun busuk juga

busuknya tidak rendah dan kotor, busuknya busuk menarik. Apa pula orang yang dibikin

susah olehnya justru adalah manusia busuk yang berpuluh kali lebih busuk daripada dia.

Begitulah Siau-hi-ji merenungkan kembali rencana yang diaturnya itu, semakin dipikir

terasa sempurna rencananya ini, ia yakin biarpun Kang Piat-ho yang pintar dan licin itu

juga takkan mampu merancang tipu muslihat sebagus ini.

Kang Piat-ho, Cin Kiam, Lamkiong Liu, Pek Khay-sim, Lo Kiu, Lo Sam …. Setiap orang yang

bersangkutan dengan rencana ini biarpun semua tergolong tokoh mahalihai, tapi semuanya

telah kena diperalat dan diadu domba tanpa sadar, ia tidak percaya bahwa di dunia ini ada

orang yang mampu membongkar tipu muslihatnya yang bagus ini.

Semakin dipikir semakin senang hati Siau-hi-ji, tanpa terasa ia tertawa dan bergumam,

“Nah, siapa berani bilang aku ini bukan orang pintar nomor satu di dunia ini? Siapa bilang

aku bukan jenius?”

*****

“He, ikutlah padaku!” demikian Samkohnio sedang mengulangi ucapannya dengan suara

lebih keras. Tapi Buyung Kiu masih termangu-mangu memandangi bayangan Siau-hi-ji yang

telah menghilang itu.

Samkohnio berkerut kening, ia memutar ke depan Buyung Kiu, sedikitnya ia satu kepala

lebih tinggi, dengan sendirinya ia dapat mengaling-alingi pandangan nona Buyung itu.

“Ke … kenapa kau menutupi pandanganku?” tanya Buyung Kiu.

“Dia sudah pergi, apa yang hendak kau lihat?” jengek Samkohnio.

Buyung Kiu memiringkan kepalanya dan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan rada

rawan, “Ya, betul ia sudah pergi …. Tapi tahukah bahwa selanjutnya dia akan datang pula

menjenguk aku.”

“Dia bohong padamu,” teriak Samkohnio dengan dongkol. “Setelah dia ke sini, selanjutnya

dia takkan gubris dirimu lagi.”

“Tidak, dia takkan bohong padaku, kutahu,” ucap Buyung Kiu dengan tertawa, dengan

penuh keyakinan dia angkat kepalanya sehingga cahaya bulan menyinari wajahnya yang

bening penuh rasa bahagia di kemudian hari.

Meski Samkohnio juga perempuan, tanpa terasa ia pun kesima menyaksikan sikap Buyung

Kiu itu, katanya dengan suara rada gemetar, “Dari … dari mana kau tahu dia pasti tidak

bohong padamu?”

“Sebabnya dia mengirim diriku ke sini hanya bermaksud mengusir momok yang mengeram

di dalam hatiku, habis itu dia tentu akan datang mencariku.”

“Ada momok di dalam hatimu?”

“Ya, lantaran momok yang menggoda hatiku ini, makanya aku tidak ingat kejadian masa

lampau.”

Sambil memandangi wajah yang linglung tapi cantik itu Samkohnio berkata perlahan, “Kau

tidak ingat segalanya?”

“Ehm,” Buyung Kiu mengangguk.

“Tapi kalau bukan lantaran pikiranmu kurang waras, tentunya dia takkan membawamu ke

sini begitu?”

“Kutahu dia juga tidak tega berpisah denganku.”

“Jadi setelah … setelah kau sembuh nanti, dia akan … akan datang lagi menjemputmu?”

tanya Samkohnio.

Suara bernada cemburu itu rada gemetar, cemburu yang keras cukup mendorong seorang

perempuan berbuat apa pun juga.

Akan tetapi Buyung Kiu tidak tahu sama sekali, dengan tersenyum dia menjawab, “Ya, dia

pasti akan mencariku lagi nanti.”

“Apa … apalagi yang dia katakan padamu?”

Mata Buyung Kiu yang sayu itu tiba-tiba bercahaya, jawabnya dengan tertawa, “Dia

mengatakan juga bahwa aku ini perempuan pintar, asalkan aku menurut perkataannya,

maka setiap hari dia akan mendampingiku. Dengan sendirinya aku akan menurut padanya,

aku memang harus menurut perkataannya, betul tidak?”

“Tid … tidak, tidak!” mendadak Samkohnio menjerit dengan parau.

Buyung Kiu jadi melengak, ucapnya dengan setengah bergumam, “Kenapa tidak?”

Teriak Samkohnio seperti harimau meraung, “Sebab sama sekali kau tidak pintar, sedikit

pun tidak cantik, kau cuma seorang gila yang bermuka buruk, tidak mungkin dia

menyukaimu.”

Setelah melengong sejenak, akhirnya air mata Buyung Kiu berlinang-linang, katanya

kemudian dengan terputus-putus, “Tidak, kau … kau bohong, kau dusta!”

Sorot mata Samkohnio yang sesungguhnya bijak itu tiba-tiba memancarkan sinar jahat,

teriaknya, “Coba pikir, orang baik seperti dia mana bisa menyukai orang gila macam kau?”

Akhirnya Buyung Kiu tidak tahan dan menangis keras-keras, teriaknya sambil mendekap

mukanya, “Bukan, aku bukan orang gila … aku bukan orang gila ….”

“Kalau bukan orang gila, coba jawab, tahukah siapa dirimu?”

“Aku … aku ….” sedapatnya Buyung Kiu mengingat-ingat, tapi tetap tidak ingat siapa

dirinya, dia merasa kepalanya mendadak sakit seakan-akan pecah, ia pukul kepalanya

sendiri dengan keras sambil menjerit, “O, kumohon jangan … janganlah katanya siapa

diriku, aku tidak … tidak tahu ….”

“Seorang kalau tidak tahu siapa diri sendiri, lalu apa kau bukan orang gila?” jengek

Samkohnio.

Sekonyong-konyong Buyung Kiu berteriak dengan histeris, “Aku orang gila … dia tidak

suka padaku … dia tidak suka padaku ….” di tengah teriaknya itu dia terus berlari pergi

sambil menangis.

Samkohnio tidak mencegah, dia pandang bayangan nona linglung itu menghilang di

kejauhan, habis itu dia menghela napas lega, gumamnya, “Pergilah, pergilah sejauhjauhnya

agar selamanya dia takkan menemukan dirimu….” Tanpa terasa tersembul

senyuman kemenangannya yang kejam.

Nona besar yang biasanya berhati baik itu sekarang ternyata tega berbuat sekejam itu,

soalnya dia anggap demi untuk mendapatkan lelaki yang dicintainya, apa pun yang

diperbuatnya adalah wajar, adil, tidak mungkin orang menyalahkan tindakannya itu.

Nyata, betapa pun sempurna dan rapi rencana yang telah diatur dan telah mulai

dilaksanakan Siau-hi-ji itu, akhirnya dia toh melupakan sesuatu. Dia lupa bahwa di dunia

ini mutlak tiada perempuan yang tidak cemburu.

Dia lupa bahwa hati perempuan kebanyakan mudah berubah, dia lupa bahwa janji

perempuan baru dapat bertahan apabila janji itu masih menguntungkan perempuan itu.

Kalau perempuan dapat mempertahankan janji sendiri tanpa syarat, rasanya inilah baru

keajaiban benar-benar.

Seorang lelaki kalau kebetulan melupakan pasal ini, maka biarpun apa yang diperbuatnya

tentu takkan berhasil, kecuali dia memang lagi mujur.

*****

Sementara Siau-hi-ji sedang menunggu dengan tenang di tempat yang gelap, tapi selama

itu belum terlihat seorang pun, di luar kota yang sepi dengan sendirinya tidak terdengar

tanda-tanda waktu, maka ia pun tidak tahu saat itu sudah tiba waktunya atau belum.

Namun Siau-hi-ji masih bisa bersabar, sebab dia yakin orang-orang itu mau tidak mau

pasti datang, cuma caranya menunggu tanpa mengetahui waktu memang membuatnya

kesal.

Akhirnya terdengarlah ada suara di kejauhan. Siau-hi-ji terbangkit, pikirnya, “Yang

datang lebih dulu ini entah siapa? Meski kedua kelompok ini sama-sama gelisahnya, tapi

Kang Piat-ho mungkin lebih mampu menahan perasaannya, jadi sepantasnya yang datang

lebih dulu adalah Cin Kiam.”

Terdengar di antara suara itu bercampur pula dengan suara kereta serta ringkik keledai.

“Yang datang ini ternyata betul rombongan Cin Kiam, malahan mempergunakan kereta

untuk mengangkut 80 laksa tahil perak itu,” demikian Siau-hi-ji membatin.

Tapi setelah direnungkan lagi, tiba-tiba ia merasakan gelagat tidak beres.

Cin Kiam dan Lamkiong Liu itu adalah putra keluarga bangsawan dan hartawan, kalau

menggunakan kereta pengangkut tentunya pakai kereta kuda, tidak mungkin kereta

keledai yang tidak dapat lari cepat itu.

Supaya maklum, biarpun Siau-hi-ji ini anak dugal, mbeling, tapi menghadapi suatu

persoalan dia dapat berlaku hati-hati, cermat, sedikit keganjilan saja tidak dapat

mengelabui dia.

Dengan sendirinya semua ini adalah berkat pengaruh lingkungan. Sejak dia dibesarkan di

Ok-jin-kok, setiap hari dia bergaul dengan kawanan penjahat yang tidak ada taranya dan

paling terkenal di dunia ini, tentu saja menghadapi sesuatu dia harus lebih hati-hati,

sebabnya beberapa kali dia lolos dari kematian sesungguhnya juga bukan lantaran nasib

mujur melulu.

Maklumlah, orang yang selalu berhati-hati pasti juga akan hidup lebih awet daripada

orang lain.

Dalam pada itu kereta sudah dalam jarak pandangnya. Yang datang ternyata bukan

kelompok Cin Kiam dan Lamkiong Liu, tapi juga bukan kelompok Kang Piat-ho, akan tetapi

yang muncul itu adalah beberapa orang perempuan udik yang berambut semrawut dan

berbaju seperti umumnya kalau orang berkabung. Yang termuat di atas kereta itu pun

bukan harta benda melainkan peti mati.

Siau-hi-ji melengak, sungguh sukar dimengerti bahwa mendadak bisa muncul pihak yang

tak bersangkutan ini, untuk apakah tengah malam buta kawanan perempuan desa ini

datang ke sini dengan membawa peti mati?

Terlihat beberapa perempuan itu langsung masuk ke Sutheng, semua lantas berlutut di

lantai dan menangis sedih. Salah seorang yang berada paling kiri sana sembari menyembah

sambil sesambatan, “O, Kongkong (bapak mertua) yang berada di alam baka, bilamana

arwahmu maklum, sudilah engkau memberi keadilan padaku. Aku telah menjanda puluhan

tahun bagi keluargamu, dengan susah payah akhirnya putra yatim kubesarkan dengan

harapan dia akan berbakti padaku agar hidupku selanjutnya tidak sengsara lagi, siapa

tahu putra yatim satu-satunya ini telah dicelakai orang, coba, hidupku selanjutnya lantas

bagaimana?”

Perempuan ini tampaknya berusia setengah abad, meski memakai baju berkabung, tapi

kelihatan prihatin dan terhormat, hal ini terbukti di sebelahnya seorang perempuan lain

sedang mengurut-urut punggungnya sambil membujuk, “Ih-naynay (nyonya muda, sebutan

untuk istri muda) janganlah engkau menyusahkan diri sendiri, kalau engkau terlalu

berduka dan juga meninggal, maka harta warisanmu seluruhnya akan jatuh ke tangan

orang lain, buat apa engkau menyusahkan diri sendiri dan malah membikin senang orang

lain.”

Dengan menangisnya perempuan di sebelah sini, agaknya perempuan di sebelah sana juga

tidak mau kalah, segera ia pun menangis sedih dan berseru, “O, Kongkong dan Popo yang

telah meninggal, apabila arwah kalian mengetahui maka kalian harus membantu menantumu

ini untuk merobek mulut perempuan hina itu. Meski anak itu bukan aku yang melahirkan,

tapi apa pun juga darah daging keluarga kita dan kalau mau dianggap anak keluarga kita

kan juga terhitung anakku pula. Sedang perempuan hina itu datangnya tidak terang,

bicaranya tidak jelas, terhitung keluarga apa? Dia memfitnah aku, tujuannya tidak lain

hanya ingin mengangkangi harta warisan saja.”

Perempuan sebelah kanan ini lebih tua, mukanya juga lebih jelek, badan kurus, kulit

keriput, tapi suaranya ternyata lebih nyaring daripada yang lain.

Segera seorang perempuan yang berusia lebih muda di sampingnya ikut menangis dan

membujuk, “Toa-nay-nay (nyonya besar, sebutan istri pertama), janganlah engkau

menyiksa badan sendiri, kita semua bermata, betapa pun takkan tinggal diam membiarkan

perempuan jahat itu mengangkangi harta warisan.”

Setelah mengikuti tangisan mereka, diam-diam Siau-hi-ji dapat memahami duduknya

perkara. Tampaknya kedua perempuan yang sahut menyahut itu masing-masing adalah

istri kawin dan istri muda, suami mereka sudah lama mati, hanya mempunyai seorang

putra yang dilahirkan istri muda.

Dalam masyarakat kuno yang mementingkan keturunan anak laki-laki, karena istri tua

tidak mempunyai anak, istri muda jadi ikut bahagia lantaran dapat melahirkan anak lakilaki

bagi keluarganya, bisa jadi kekuasaannya jadi lebih besar daripada istri tua.

Tapi ketika anak itu mendadak mati, rasa mendongkol istri tua segera meledak dan

bermaksud mengusir istri muda. Karena itulah lantas istri muda menuduh anaknya dibunuh

oleh istri tua dan berbalik hendak memaksa istri tua pergi dari rumah mereka. Masingmasing

pihak menganggap benar sendiri, maka tengah malam buta mereka telah datang ke

Sutheng atau rumah abu leluhur mereka ini.

Bahwa mereka akan saling labrak di Sutheng ini adalah urusan mereka, celakanya mereka

justru datang pada tengah malam buta ini. Sungguh tak pernah terpikir oleh Siau-hi-ji

bahwa kejadian ini bisa sedemikian kebetulan. Diam-diam dia merasa mendongkol tapi

juga geli sendiri, sungguh ia ingin menghalau pergi kawanan perempuan itu.

Namun jelek-jelek Sutheng itu adalah rumah abu keluarga mereka sendiri, apalagi Siauhi-

ji juga khawatir bila saja dia unjuk diri sekarang, kalau mendadak Kang Piat-ho dan

lain-lain juga muncul, kan bisa runyam?

Selagi Siau-hi-ji mengumpat di dalam hati, sekonyong-konyong dilihatnya beberapa sosok

bayangan hitam melayang tiba, semua berpakaian hitam ketat, bahkan juga berkedok

hitam.

“Itu dia Kang Piat-ho!” berdebar jantung Siau-hi-ji.

Beberapa perempuan itu masih menangis terus, dan bertengkar sendiri, sama sekali

mereka tidak tahu bahwa di dalam Sutheng itu bertambah beberapa orang. Beberapa

orang berbaju hitam itu pun berdiri saja di situ tanpa bersuara.

Terlihat Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay itu masih saling mencaci, sekarang mereka tidak lagi

bertengkar, tapi saling menuding dan memaki secara langsung.

“Kau perempuan hina dina,” demikian istri tua itu mendamprat sambil tunjuk hidung sang

istri muda, “Berkat potonganmu yang mirip siluman kau memikat suamiku sehingga mati,

sekarang anakmu juga sudah mati, itu namanya kualat, kenapa kau malah memfitnah dan

menyalahkan aku?”

Sudah tentu istri muda itu tidak mau kalah, kontan ia pun balas memaki, “Kau ini siluman

tua yang suka minum cuka, lebih baik kau bercermin dulu dengan air kencingmu, tapi kau

lebih suka cemburu dan bersaing dengan orang lain. Suamiku justru mati gemas lantaran

tingkah polahmu.”

“Memangnya siapa suamimu? Huh, tidak tahu malu, suami orang diaku-akui,” damprat istri

tua dengan gusar.

“Kau sendiri tidak tahu malu,” balas istri muda, “sudah ditiduri sekian tahun, jangankan

anak, kentut saja tidak keluar. Jika tidak ada aku, huh, yang meneruskan keturunannya

saja tidak ada.”

Nyata istri muda ini lebih tajam lidahnya, cara berolok-olok juga lebih kena, keruan istri

tua menjadi gemetar saking murkanya, sekonyong-konyong ia menubruk maju, “plak”,

kontan ia tampar muka istri muda.

Sudah tentu sang istri muda tidak terima, segera ia memaki, “Bagus, kau berani memukul

orang, biar kuadu jiwa denganmu!” Berbareng ia pun balas menjambak rambut sang istri

tua, keduanya lantas bergumul.

Beberapa perempuan yang berusia lebih muda di sebelah mereka cepat hendak melerai,

tapi akhirnya mereka pun kena digampar sana-sini, yang memisah itu jadinya ikut

berkelahi dengan lebih sengit.

Begitulah beberapa perempuan itu lantas saling jambak dan saling betot, beberapa orang

bergumul menjadi satu dan akhirnya terguling-guling di lantai, makin berguling makin

mendekat ke arah beberapa orang berbaju hitam itu, mereka seperti sudah kalap, jelas di

dekat mereka berdiri orang-orang berbaju hitam, tapi seakan tidak melihatnya.

Beberapa orang berbaju hitam itu pun aneh, mereka menyaksikan perkelahian kawanan

perempuan itu dengan acuh, dianggapnya seperti tontonan murahan saja.

Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar serentetan suara mendesing, berpuluh sinar hitam

mendadak menyambar keluar dari onggokan kawanan perempuan yang sedang bergumul

itu.

Senjata rahasia sebanyak itu menyambar dengan cepat lagi keji, seketika beberapa orang

berbaju hitam itu terkurung di bawah ancaman dan tampaknya tiada satu pun bisa

menghindarkan diri.

Sejak tadi Siau-hi-ji memang sudah merasakan gelagat tidak beres. Meski rambut

kawanan perempuan itu semrawut tak teratur, kulit muka mereka pun kasar dan keriput,

tapi tangan mereka kelihatan putih halus, jari jemari pun lentik terpelihara.

Setelah menemukan titik yang mencurigakan ini, seketika mata Siau-hi-ji terbeliak,

pikirnya, “Para nona keluarga Buyung memang lihai, tampaknya Kang Piat-ho pasti akan

terjebak sekali ini.” Dan baru saja berpikir, pada saat itulah senjata rahasia tadi lantas

dihamburkan. Di luar dugaan, ternyata orang-orang berbaju hitam itu pun sudah

memperhitungkan akan kemungkinan ini. Begitu senjata rahasia musuh menyambar tiba,

serentak mereka pun mengapung ke atas, “creng”, pedang dan golok segera mereka lolos,

dari atas segera mereka menerjang kawanan perempuan itu.

Kawanan perempuan ternyata tiada satu pun yang lemah, serentak mereka menjatuhkan

diri ke lantai dan menggelinding ke samping sehingga serangan musuh terelakkan, waktu

mereka melompat bangun, tangan masing-masing ternyata sudah bertambah sejenis

senjata.

Si baju hitam yang menjadi kepala mendengus, “Hm, perempuan konyol, berani main gila di

depanku, memangnya kalian sangka kami mudah dijebak? padahal kami sebelumnya sudah

menyelidiki Sutheng ini sudah tidak ada ahli warisnya, keturunannya sudah putus dan mati

ludes. Siapa kalian dan untuk apa kalian datang ke sini? Kalau tidak mengaku terus terang,

hm, jangan harap kalian dapat pergi dengan hidup.”

Diam-diam Siau-hi-ji mengakui kelicinan Kang Piat-ho, terhadap sesuatu persoalan,

sebelum bertindak tentu diselidikinya dengan teliti.

Maka terdengar Toa-nay-nay tadi menjengek, “Hm, untuk apa kami datang ke sini,

masakah tidak tahu?”

Jawaban ini sebenarnya wajar dan sederhana, tapi bagi si baju hitam yang banyak tipu

akalnya dan suka berpikir mendalam, ucapan yang sederhana itu baginya menjadi sangat

ruwet dan luas artinya, apalagi persoalan ini menyangkut suatu partai harta benda yang

bernilai besar serta nyawa Kang Giok-long.

Kedatangannya sendiri dengan menyerempet bahaya justru mengenai kedua persoalan

penting itu. Kalau dia datang untuk itu, mana boleh dia menyatakan “tahu”, ini sama saja

dia mengakui bahwa harta kiriman itu memang dirampas olehnya. Bilamana lawan sengaja

memasang jeratan untuk memancing pengakuannya, maka ini berarti dia telah terjebak

pula.

Melihat lawan ragu-ragu tak berani menjawab, mau tak mau para perempuan menjadi

curiga, si Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay saling memberi tanda, lalu Ih-nay-nay membuka

suara, “Siapa kau sesungguhnya? Memangnya kedatanganmu ini bukan karena surat itu?”

Si baju hitam tidak sangsi lagi kini, jengeknya, “Kalau bukan soal itu masakah aku bisa

datang ke sini?”

“Jika begitu, jadi pasti kau menghendaki harta itu?” tanya Ih-nay-nay.

Si baju hitam tambah mantap, jawabnya dengan bengis, “Bukan saja harta itu, bahkan

juga orangnya.”

Air muka Toa-nay-nay rada berubah, tukasnya dengan gusar, “Selain harta juga kau tetap

menghendaki orangnya.”

“Ya, dua-duanya, satu pun tidak boleh kurang!”

“Berdasarkan apa kau berani bersikap semena-mena begini?” damprat Ih-nay-nay gusar.

“Berdasar pedangku ini?” jengek si baju hitam.

Kini kedua pihak sama-sama yakin pihak lain adalah sasaran yang hendak dihadapinya,

mereka tidak tahu bahwa salah paham mereka semakin dalam, bagi si baju hitam “harta

rampasan” dan Kang Giok-long memang sama pentingnya dan tidak boleh berkurang satu

pun, sebaliknya kawanan perempuan itu mengira pihak lawan selain menghendaki uang

tebusan juga tetap hendak menahan Buyung Kiu.

Begitulah percakapan kedua pihak itu semakin menyenangkan Siau-hi-ji, dia berharap agar

mereka akan lekas saling labrak, makin sengit makin baik.

Terlihat Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay itu saling mengedip pula, lalu Ih-nay-nay itu

berteriak, “Bicara terus terang, harta dan orang jangan kau harapkan, pada hakikatnya

kami tidak membawa harta apa pun, tentang orang … jika kau menghendaki orangnya,

maka kami menghendaki jiwamu!”

“Kan sudah kukatakan, harta dan orang tidak boleh kurang satu di antaranya, sekarang

serahkan dulu hartanya!” jengek si baju hitam itu, diam-diam ia pun memberi tanda

kepada kawan-kawan di belakangnya.

Serentak empat orang baju hitam melompat ke sana, kontan keledai penarik kereta itu

dibacok terguling. Dua orang di antaranya lantas mengangkat peti mati di atas kereta

terus dituang ke bawah, maka terdengar suara gemerencing nyaring, tak terhitung

banyaknya potongan perak tertuang dari peti mati itu.

Meski di tengah malam gelap perak-perak itu pun kemilauan menyilaukan mata, beberapa

orang berbaju hitam itu sampai melengak kesima, maklumlah selama hidup mereka mana

pernah melihat harta sebanyak itu.

“Sudah kukatakan sejak tadi, jangan, kalian coba-coba main gila padaku, memangnya aku

mudah ditipu?” seru si baju hitam yang menjadi pemimpin itu dengan bergelak tertawa.

Setelah menyaksikan perak-perak ini, nafsu membunuhnya semakin berkobar. Pikir saja,

di dunia ini mana ada orang sengaja menyembunyikan harta benda sebanyak itu di dalam

peti mati tanpa sebab dan dibawa ke tempat ini. Jelas inilah sebagian daripada harta yang

pernah dirampasnya itu.

Dalam pada itu ia telah memberi tanda pula, beberapa orang berbaju hitam segera

hendak menerjang kawanan perempuan itu, pada saat itu juga terdengar serentetan suara

mendesing, dari dalam peti mendadak menyambar keluar berpuluh jalur sinar ke arah

orang berbaju hitam.

Kontan beberapa orang itu menjerit dan roboh terkapar. Hanya si baju hitam yang

menjadi pemimpinnya itu berdiri agak jauh, reaksinya juga cepat, sinar pedang segera

berputar sehingga senjata rahasia yang menyambar ke arahnya itu disampuk jatuh. Mau

tak mau ia pun terkejut dan gusar pula melihat anak buahnya telah menjadi korban

seluruhnya.

“Perempuan keji,” dampratnya gusar, “Kau berani ….”

“Hm, terhadap orang keji macam kau ini dengan sendirinya harus juga menggunakan cara

keji begini!” jengek si Toa-nay-nay tadi. Bersama kawan-kawannya segera mengepung

maju.

“Blang”, mendadak dasar peti mati bergetar mencelat, seorang telah melompat keluar

pula dan berdiri di belakang si baju hitam, bentaknya dengan suara bengis, “Apa lagi yang

hendak kau katakan?”

Meski terkepung di tengah, namun si baju hitam sedikit pun tidak gentar, sebaliknya ia

malah menjengek, “Hm, rapi juga tindak tanduk kalian, agaknya aku teramat menilai

rendah kemampuan kalian. Tapi masih agak terlalu pagi kalau sekarang kalian sudah

merasa senang.”

Orang yang melompat keluar dari peti mati itu berpakaian ketat, bertubuh ramping,

mukanya masih terselubung sehelai sutera tipis, tapi sekali pandang Siau-hi-ji lantas

mengenalnya sebagai Siau-sian-li.

Mungkin watak Siau-sian-li terkenal berangasan, juga tidak pintar pura-pura menangis,

maka kawan-kawannya menyuruh dia bersembunyi di dalam peti mati agar tindakan

mereka tidak diketahui musuh.

Sudah sekian lamanya dia tersekap di dalam peti mati dengan rasa mendongkol yang tak

terlampiaskan, kini sudah berhadapan dengan musuh, kontan pedang menusuk ke punggung

si baju hitam sambil membentak, “Tidak perlu membacot, serahkan nyawamu.”

Si baju hitam tidak menoleh, pedangnya menangkis ke belakang dan ditarik ke atas,

hampir saja pedang Siau-sian-li terlepas dari cekalan.

Setelah tangannya tergetar linu pegal barulah Siau-sian-li tahu si baju hitam ternyata

bukan lawan lemah, ia terkejut dan gusar, bentaknya, “Keparat, sudah dekat ajalmu masih

berani berlagak.”

Sekali putar pedangnya, si baju hitam mundur ke pojok dinding, lalu menjengek, “Hm, yang

dekat ajal itu siapa? Bolehlah kalian lihat saja nanti!”

Tanpa terasa semua orang mengikuti arah sinar mata si baju hitam, tertampak di

sekeliling Sutheng itu sudah bertambah sekawanan orang berbaju hitam, semuanya

memegang busur dan anak panah siap dibidikkan, bahkan di antara lubang dinding dan

celah-celah pintu juga kelihatan ujung anak panah yang gemerlapan.

Keruan kawanan perempuan terkejut, meski ilmu silat mereka tergolong kelas tinggi, tapi

menghadapi barisan pemanah demikian, biarpun tokoh dunia persilatan paling terkemuka

juga rada-rada gentar.

Segera si baju hitam menjengek, “Di sekitar Sutheng ini sudah siap ratusan pasang busur

yang kuat, bilamana kuhitung sampai tiga dan kalian tidak meletakkan senjata serta

menyerahkan diri, maka bagaimana akibatnya dapat kalian bayangkan sendiri.”

Barisan pemanah sebanyak itu, jika mereka terbagi dalam dua-tiga regu dan memanah

secara sambung menyambung, maka betapa pun sukar untuk ditahan biarpun jago kelas

wahid sekalipun. Dengan sendirinya kawanan perempuan itu pun tahu akan hal ini, andaikan

ada satu-dua orang dapat meloloskan diri, tapi selebihnya pasti akan terkubur di rumah

abu ini.

Maka mereka lantas berkumpul menjadi satu untuk berunding, dari sikap Siau-sian-li dan

Ih-nay-nay, tampaknya mereka berpendirian akan melabrak musuh apa pun risikonya, tapi

si Toa-nay-nay tampak mencegah mereka.

Si baju hitam mengikuti kasak-kusuk kawanan perempuan itu, tiba-tiba ia mulai

menghitung, “Satu ….”

“Bagaimana kalau kami memberikan harta dan orangnya?” tiba-tiba seru si Toa-nay-nay.

Si baju hitam menjawab dengan ketus, “Lebih dulu orangnya di ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar jeritan ramai, beberapa orang baju

hitam yang berada di luar Sutheng itu mendadak roboh terjungkal, barisan pemanah yang

mengepung dengan ketat seketika kacau balau.

Cepat si Ih-nay-nay berteriak, “Sam-moay, Cing-moay, ayolah turun tangan, tunggu apa

lagi!”

Di tengah teriakan itu, sinar pedangnya berkelebat terus menusuk ke arah si baju hitam.

Rupanya Siau-hi-ji tidak tinggal diam, setelah sekian lamanya kedua belah pihak belum

lagi saling labrak seperti ada yang diharapkannya, apalagi dilihatnya ada kecenderungan

kedua pihak akan berunding, maka ia harus cepat bertindak, kalau tidak pasti muslihatnya

akan terbongkar. Berpikir demikian, segera beberapa biji kerikil yang sudah dipersiapkan

dihamburkannya.

Betapa kuat tenaga Siau-hi-ji sekarang, biarpun sepotong batu kecil juga sukar ditahan

oleh orang-orang itu, serentak belasan orang telah tersambit batu kerikil hingga kepala

pecah dan darah bercucuran serta bergelimpangan di tanah, tapi tiada seorang pun yang

tahu dari mana datangnya senjata rahasia itu.

Sementara itu pedang Ih-nay-nay tadi dalam sekejap saja sudah melancarkan belasan kali

serangan, meski orang perempuan, tapi ilmu pedangnya ternyata sangat ganas dan tidak

kalah tangkasnya daripada jago pedang yang pernah malang melintang di dunia Kangouw.

Diam-diam si baju hitam tadi terkejut oleh serangan pedang lawan yang hebat dan tanpa

kenal ampun ini, bahkan tampaknya tidak gentar untuk gugur bersama. Apalagi si Toa-naynay

masih menunggu di samping dengan pedang terhunus, agaknya tiada maksud

mengerubutnya.

Padahal perempuan melawan lelaki betapa pun juga kalah tenaga, jika pihak perempuan

main keroyok juga takkan dicemoohkan orang Kangouw. Tapi Toa-nay-nay tetap menjaga

harga diri dan tidak sudi main kerubut, perempuan yang berwibawa sedemikian sungguh

jarang ada di dunia Kangouw.

Makin dilihat makin heran si baju hitam, makin dipikir juga makin terkejut. Yang lebih

membuatnya terkesiap adalah kedua perempuan lain yang berdandan sebagai pelayan, cara

mereka menyambitkan senjata rahasia ternyata sangat jitu, asalkan tangannya bergerak,

seketika satu-dua orang di luar sana menjerit dan roboh.

Siau-hi-ji juga sudah menerjang keluar sejak tadi, ratusan laki-laki berseragam hitam itu

kini sudah tersisa empat sampai lima puluh orang saja, untuk menjaga diri saja repot,

jangankan hendak melepaskan panah.

Sungguh senang Siau-hi-ji menyaksikan pertarungan seru ini, sudah beberapa kali dikibuli

Kang Piat-ho, baru sekarang rasa dendamnya itu sedikit terlampias.

Setelah belasan gebrak lagi, pedang si Ih-nay-nay bertambah cepat dan keji, setiap

serangannya tidak pernah meninggalkan tempat mematikan di tubuh si baju hitam,

malahan ujung pedangnya selalu mengincar tenggorokan lawan.

Melihat keadaan ini, orang lain tentu menganggap Ih-nay-nay itu sudah berada di atas

angin. Tiada yang tahu bahwa si baju hitam justru sangat licin, sambil bertahan dia justru

sedang memeras otak memikirkan sebab musabab kejadian ini.

Setelah paham duduk perkaranya, mendadak ia bergelak tertawa, dengan lurus pedangnya

terus menabas.

Seketika Ih-nay-nay itu merasakan pedang lawan yang tampaknya mengambang itu

membawa daya tekanan yang mahaberat, belum tiba pedangnya suatu arus kekuatan sudah

membanjir tiba lebih dulu, untuk menghindar ternyata tidak keburu lagi, terpaksa ia

angkat pedang menangkisnya.

Meski ilmu pedangnya cukup ganas, tapi tenaga dalamnya selisih jauh kalau dibandingkan

si baju hitam, apalagi tebasan si baju hitam itu menggunakan sepenuh tenaga.

Agaknya tadi Ih-nay-nay rada meremehkan ilmu silat si baju hitam, kini setelah

merasakan gelagat jelek, namun sudah terlambat, biarpun menyadari keadaan rada gawat,

terpaksa ia harus mengadu tenaga sebisanya.

Toa-nay-nay itu pun dapat melihat gelagat jelek, dengan khawatir cepat ia berseru,

“Awas, jangan mengadu tenaga dengan dia!”

Meski dia tidak sudi main keroyok, tapi kini keadaan sangat mendesak, tanpa pikir lagi ia

terus menubruk maju, dibarengi bentakan pedangnya terus memapak ke depan.

“Creng”, terdengar suara nyaring disertai percikan lelatu api. Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay

berdua melawan satu dan ternyata tenaga mereka tetap kalah kuat, setengah badan

mereka sama merasa kaku kesemutan, pedang mereka pun hampir terlepas dari pegangan.

Diam-diam Siau-hi-ji menggerutu, “Kawanan budak ini sungguh konyol, tidak menggunakan

kepandaian andalan sendiri, sebaliknya malah mengadu tenaga dengan lawan, kan mencari

penyakit namanya?”

Terlihat Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay itu segera melompat ke samping hingga mepet

dinding, tapi mereka tidak menjadi gugup, diam-diam sebelah tangan mereka sudah

menyiapkan senjata rahasia.

Ginkang dan Am-gi keluarga Buyung sangat terkenal di dunia persilatan, bilamana si baju

hitam kemaruk akan kemenangan dan memburu maju, bisa jadi ia akan celaka sendiri oleh

serangan Am-gi lawan. Di luar dugaan ia hanya berhenti di tempatnya, serunya dengan

tertawa lantang, “Hari ini aku tidak minta apa-apa kepada kalian, baik harta maupun

orang, sekarang juga kumohon diri!” Sembari bicara ia terus melangkah mundur.

Tindakan ini sungguh di luar dugaan Siau-hi-ji, Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay pun terheranheran,

jelas pihak lawan sudah unggul, mengapa tidak menggempur lebih lanjut, sebaliknya

malah mengundurkan diri.

“Tadi kau mendesak orang mati-matian, sekarang malah mau pergi begini saja, sebab apa

sebenarnya?” tanya Ih-nay-nay.

“Tadi aku tidak tahu kalian ini siapa, jika kupergi begitu saja tentu kelak tidak mudah

mencari kalian, dengan sendirinya tadi aku tak mau pergi secara begini,” jawab si baju

hitam dengan tertawa.

“Dan sekarang?” tanya pula si Ih-nay-nay.

“Sekarang keadaan sudah berubah,” jawab si baju hitam. “Para nona keluarga Buyung

punya nama dan alamat jelas, biarpun sekarang kugagal mendapatkan barangku,

memangnya kelak aku tak dapat berkunjung ke kediaman kalian?”

“Maksud kau telah mengetahui asal-usul kami?” tanya Ih-nay-nay dengan melengak.

“Jikohnio (nona kedua) keluarga Buyung memang terkenal dengan ilmu pedangnya yang

hebat, kalau hal ini tak dapat kukenali sama saja aku ini orang buta,” ucap si baju hitam.

Mendadak Ih-nay-nay itu menarik rambutnya dan mengeletek kedoknya, tertampaklah

wajah putih nan bersih dengan mata yang melotot gusar, jengeknya, “Biarpun kau kenal

aku, tapi aku tidak kenal kau, memangnya kau kira dapat pergi begitu saja?”

“Dia takkan dapat pergi lagi!” sambung seorang tiba-tiba, Siau-sian-li sudah mengadang di

belakang si baju hitam.

Si baju hitam terkekeh-kekeh dan berkata, “Kalau aku tak dapat pergi, buat apa aku

bicara seperti tadi?”

“Hm, ingin kulihat bagaimana caramu pergi dari sini?!” bentak Buyung Siang, si nona kedua

keluarga Buyung, yang menyamar Ih-nay-nay tadi.

Watak nona kedua keluarga Buyung ini memang berangasan, apalagi tadi dia telah

kecundang, tapi ia tidak menjadi gentar, segera ia menubruk maju pula. Tapi Toa-nay-nay

telah menahan serangannya.

Tentu saja Buyung Siang menjadi gusar, omelnya, “Sam-moay, memangnya kau hendak

melepaskan dia dan tidak ingin mencari Kiu-moay lagi?”

“Kalau dia tak dapat pergi, biarlah kita bereskan dia secara perlahan-lahan saja,” ucap

nona ketiga keluarga Buyung alias Buyung San.

Di antara kesembilan taci beradik keluarga Buyung, nona ketiga ini terkenal cerdik

pandai, biarpun watak si nona kedua biasanya kaku dan keras, tapi terhadap ucapan sang

adik ketiga ini biasanya dia suka menurut. Tapi sekarang ia rada mendongkol dan

mengomel, “Kenapa mesti perlahan-lahan, memangnya apa yang kau tunggu?”

“Kukira di balik persoalan ini ada sesuatu kejanggalan,” ujar Buyung San.

“Kejanggalan bagaimana?” tanya Buyung Siang.

“Bahwa orang ini telah berjanji menemui kita di sini, seyogianya dia sudah tahu siapa kita

ini, tapi baru sekarang dia mengetahui asal-usul kita, bukankah ini rada mengherankan?”

Melengak juga Buyung Siang, tapi ia tetap tak sependapat, katanya, “Kenapa mesti heran,

bukan mustahil dia sengaja berlagak pilon.”

“Benar, bekuk saja dia dahulu dan urusan belakang,” sambung Siau-sian-li.

Sejak tadi si baju hitam mengikuti percakapan kakak beradik Buyung itu dengan penuh

perhatian, kini mendadak ia berseru, “Nanti dulu, mungkin sekali dalam persoalan ini kita

sama-sama terjebak oleh tipu adu domba pihak lain ….”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara gedubrakan, sebuah hiolo (tempat

dupa) menggelinding jatuh dari atas belandar dengan menyeret sehelai kain putih. Di atas

kain itu tertulis, “Kang Piat-ho, kejahatanmu sudah melebihi takaran, kini biarpun kau

hendak menyangkal juga tidak bisa lagi”.

Tulisan di atas kain itu cukup besar sehingga di waktu malam juga kelihatan dengan jelas.

Tentu saja semua orang terkejut, “Jadi kau … kau ini Kang Piat-ho?” seru Buyung Siang.

Sinar mata si baju hitam menampilkan rasa terkejut dan gelisah, dia menyadari sekali ini

benar-benar telah masuk perangkap orang, tapi siapa sesungguhnya biang keladi yang

mengatur tipu muslihat ini sama sekali tidak diketahuinya. Kalau ada seorang lawan yang

diam-diam selalu mengincar setiap gerak-geriknya, maka sekalipun dia dapat meloloskan

diri nanti, selanjutnya ia pun tak dapat makan dan tidur dengan tenteram.

Dasar dia memang dapat berpikir banyak dan mendalam, kalau orang lain hanya dapat

memikirkan suatu hal, tapi sekaligus dia dapat berpikir sepuluh soal, terkadang hal ini

malah membikin susah dia, sebab kalau dia sedang merenungkan sesuatu lalu lupa memberi

jawaban.

Segera Buyung Siang menjengek pula, “Hm, Kang-lam-tayhiap yang termasyhur ternyata

bisa melakukan perbuatan begini.”

Belum lagi si baju hitam menanggapi, kembali terdengar suara gemeruduk, sebuah tutup

hiolo menggelinding jatuh pula dari atas dan menyeret juga sehelai kain putih dengan

tulisan, “Kang Piat-ho, orang yang kau sembunyikan itu sudah diketemukan.”

Kain putih bertulisan itu dengan sendirinya telah disiapkan oleh Siau-hi-ji sebelumnya,

ujung kain putih itu dipakunya di atas belandar, lalu ujung yang lain diikat pada hiolo dan

digandeng pula dengan seutas benang panjang dan halus memutar ke tempat sembunyinya,

asalkan benang ditarik, segera hiolo itu menggelinding jatuh ke bawah dan kain putih itu

pun dengan sendirinya ikut terbentang ke bawah.

Dia telah mengikuti percakapan Buyung San dengan si baju hitam tadi, makin lama terasa

makin kurang enak dan bisa jadi tipu muslihatnya akan terbongkar, maka cepat ia menarik

benang untuk memperlihatkan tulisan yang telah disiapkan lebih dulu itu. Harapannya

hanya untuk mengulur waktu saja sampai datangnya Cin Kiam dan lain-lain.

Menurut perhitungannya, saat ini Cin Kiam dan kawan-kawannya pasti sudah dapat

menemukan Buyung Kiu, maka biarpun Kang Piat-ho mempunyai seratus buah mulut juga

tidak sanggup membantah karena bukti sudah terpegang.

Rencana Siau-hi-ji sesungguhnya sangat rapi dan tidak mungkin meleset, sungguh mimpi

pun tak tersangka olehnya bahwa karena rasa cemburunya Samkohnio, maka rencana yang

telah diaturnya ini menjadi berantakan dan gagal total.

Setelah membaca tulisan pada kedua helai kain putih itu, maka Buyung San yang semula

ragu-ragu kini pun tidak sangsi lagi, apalagi Siau-sian-li dan Buyung Siang, mereka

bertambah geregetan dan ingin sekali membinasakan Kang Piat-ho.

Tapi orang berbaju hitam itu sebegitu jauh belum mengaku dirinya ialah Kang Piat-ho,

sebaliknya juga tidak menyangkal, dia hanya bungkam saja dengan mata melotot

memperhatikan senjata lawan.

Jika orang lain, menghadapi persoalan demikian tentu sudah lantas berteriak menyangkal

dan berusaha menjelaskan duduknya persoalan. Tapi orang berbaju hitam itu benar-benar

lain daripada yang lain, ia tahu dirinya kini telah masuk perangkap lawan, biarpun memberi

penjelasan juga takkan dipercaya. Bila dia mengerjai orang juga selalu diatur dengan rapi

sehingga orang lain tidak mampu membela diri, makanya menghadapi urusan begini ia

sendiri pun lebih paham daripada orang lain.

Keadaan ini memang benar-benar sangat ruwet dan pelik, di seluruh dunia ini, kecuali

Siau-hi-ji saja mungkin tiada seorang pun yang tahu jelas persoalannya dan dengan

sendirinya juga tidak tahu cara bagaimana menghadapinya.

“Nah, Sam-moay, apa abamu sekarang?” tanya Buyung Siang kepada Buyung San dengan

melotot.

Buyung San angkat bahu, jawabnya, “Baiklah, bekuk saja dia lebih dulu!”

Tanpa menunggu perintah lagi, kontan pedang Siau-sian-li lantas mendahului menusuk si

baju hitam, Buyung Siang juga tidak tinggal diam, segera ia pun melancarkan serangan

yang ganas.

Ilmu pedang Buyung San tidak secepat Siau-sian-li dan tidak seganas Buyung Siang, tapi

pikirannya selalu jernih dan pandangannya tajam, setiap serangannya selalu mengarah

tempat kelemahan musuh.

Menghadapi kerubutan tiga nona yang dapat bekerja sama dengan sangat rapat itu,

betapa pun lihai kepandaian si baju hitam juga merasa kewalahan, setelah menangkis

beberapa kali, mendadak gerak pedangnya bertambah cepat dan melancarkan serangan

balasan dengan lihai, rupanya dia bermaksud mencari peluang untuk meloloskan diri.

Tak tahunya bahwa pengalaman tempur ketiga nona lawannya juga cukup luas, begitu dia

melancarkan serangan balasan secara cepat, segera ketiga nona itu dapat menerka

maksud tujuannya. Dan maksudnya hendak kabur itu semakin meyakinkan ketiga nona itu

bahwa si baju hitam benar-benar Kang Piat-ho yang menawan Buyung Kiu, maka Siau-sianli

dan Buyung Siang semakin nekat melabraknya dengan mati-matian.

Beberapa dayang keluarga Buyung yang ikut datang itu pun sedang melayani beberapa

orang berbaju hitam lainnya, biarpun orang perempuan, tampaknya mereka cukup kuat

untuk menghadapi lawan-lawannya.

Sementara itu dahi si baju hitam tadi sudah mulai berkeringat dan membasahi kedoknya,

baru sekarang dia mengakui para nona keluarga Buyung yang terkenal di dunia persilatan

ini ternyata benar-benar sangat lihai. Ia tidak tahu bahwa ilmu pedang bukanlah

kepandaian andalan para nona keluarga Buyung, justru Ginkang dan Am-gi adalah

kepandaian khas andalan mereka. Soalnya sekarang mereka khawatir si baju hitam akan

mendapat peluang untuk lolos, makanya tidak sempat menggunakan senjata rahasia

andalan mereka.

“Sret”, dengan gerak tipu “Hun-hoa-hut-liu” atau menyiah bunga menyisihkan tangkai,

pedang Buyung San menusuk dari depan, sinar pedang gemerdep menyilaukan mata,

serangan ini entah benar-benar atau cuma pancingan belaka.

Sebenarnya serangan ini tidak bertujuan mencelakai musuh melainkan untuk mengaburkan

pandangan lawan saja sehingga kawannya sempat melancarkan serangan telak. Akan tetapi

kalau si baju hitam tidak mengelak, maka serangan pancingan ini segera diteruskan

menjadi serangan sungguhan.

Tanpa pikir si baju hitam mengegos ke samping sambil memutar pedangnya untuk

menangkis, benar saja Siau-sian-li dan Buyung Siang serentak juga menyerang, sinar

pedang mereka segera menusuk dari kanan kiri secara menyilang.

Gerak serangan ke tiga nona itu sebenarnya bukan tipu luar biasa, namun cara kerja sama

mereka sesungguhnya sangat rapi sehingga daya tekanannya bertambah lipat daripada

serangan biasa, seketika jalan mundur musuh tertutup seluruhnya, andaikan dia sempat

menghindarkan pedang yang satu tentu juga tidak dapat mengelakkan tusukan pedang

yang lain.

Di luar dugaan, begitu serangan Buyung San itu tertangkis, berbareng si baju hitam

membuang pedangnya, secepat kilat tangannya membalik dan mencengkeram pergelangan

tangan Buyung San.

Perubahan ini sebenarnya sangat berbahaya, tapi juga bagus dan sangat lihai, kalau bukan

tokoh semacam dia tentu juga takkan mampu mengeluarkan tipu serangan aneh dan

sebagus ini, sampai-sampai Siau-hi-ji juga hampir bersorak memuji menyaksikan tipu

serangan hebat itu.

Sudah tentu Buyung San juga tidak pernah menduga pihak lawan akan membuang

pedangnya terus memegang tangannya, bagaimanapun sudah terlambat baginya untuk

mengelak, tahu-tahu pergelangan tangannya terasa kesemutan, tubuh lawan segera

menubruk maju dan merangkulnya, seketika lehernya berada di bawah ancaman tangan

lain si baju hitam.

“Kalian menghendaki jiwanya tidak?” bentak si baju hitam.

Meski seluruh tubuhnya kini terbuka di bawah ancaman pedang Siau-sian-li dan Buyung

Siang dan setiap saat bisa bertambah beberapa lubang tusukan, namun jiwa Buyung San

juga berada di bawah ancamannya dan setiap saat lehernya dapat diremas patah. Dalam

keadaan demikian Siau-sian-li berdua menjadi ragu, ujung pedang mereka hanya menempel

di punggung si baju hitam dan tidak berani menusuknya. Namun dengan ancaman kedua

pedang di punggungnya itu, mau tak mau si baju hitam juga tidak berani sembarangan

bertindak.

“Lepaskan, lekas! Kalau tidak, segera kubinasakan kau!” bentak Buyung Siang.

“Jika kalian tidak tarik kembali pedangmu, segera kumampuskan dia!” si baju hitam balas

mengancam.

“Kau lepas dahulu dan segera kami tarik pedang,” kata Siau-sian-li.

“Hahaha, lelaki tidak pantas berebut dahulu dengan perempuan, kukira kalian saja lepas

tangan dahulu,” kata si baju hitam dengan tertawa.

“Mana kami dapat mempercayai kau?!” damprat si Buyung Siang.

“Tapi aku pun tak dapat mempercayai kalian,” jengek si baju hitam.

Jadi kedua pihak sama-sama tidak berani turun tangan dan juga tidak berani lepas

tangan. Kedua pihak saling ngotot sejenak, dasar watak mereka memang tidak sabaran,

Siau-sian-li dan Buyung Siang telah mandi keringat karena cemasnya.

Buyung San sendiri malah sama sekali tidak gelisah, katanya dengan tenang, “Kalian jangan

mau lepas tangan, Jici, dia pasti tidak berani mencelakai diriku.”

Tapi si baju hitam lantas menjengek, “Hm, biasanya aku dapat bersabar, kalau tetap mau

bertahan cara begini juga boleh.”

Saking gemasnya ujung pedang Buyung Siang terus ditekan sedikit ke depan, tapi

serentak Buyung San juga tercekik hingga hampir tak dapat bernapas.

“Memangnya kau ingin ngotot sampai kapan?” teriak Siau-sian-li dengan gusar.

“Sampai kalian melepas tangan,” jawab si baju hitam.

Keringat sudah membasahi dahi Siau-sian-li, tapi sama sekali tak berdaya.

Diam-diam Siau-hi-ji menggeleng, pikirnya, “Sungguh budak bodoh, kenapa mesti gelisah,

sebentar kan juga datang bala bantuanmu ….”

Benar saja, pada saat itu dari kejauhan tertampak berkelebatnya tiga sosok bayangan

orang, hanya sekejap saja sudah mendekat, ternyata memang Lamkiong Liu, Cin Kiam dan

Koh Jin-giok yang datang.

Tentu saja Siau-hi-ji dan para nona keluarga Buyung itu kegirangan, tapi si baju hitam

juga tidak gentar dan gugup karena dia sudah memegang sanderanya. Kalau Cin Kiam

datang, tentu Buyung San lebih-lebih tidak mungkin dikorbankan. Asalkan, nona ketiga

keluarga Buyung itu tetap dicengkeramnya pasti dia akan dapat lolos dengan selamat.

Cin Kiam memang terperanjat demi nampak istri tercinta tertawan musuh. Pengalaman

Kangouw Koh Jin-giok paling cetek dan hijau, dia jadi melongo melihat keadaan demikian.

“Tolol, kenapa tidak lekas kau memberi bantuan?!” omel Siau-sian-li kepada pemuda yang

lebih mirip gadis pingitan itu.

Tapi si baju hitam lantas membentak, “Siapa yang berani maju?!”

“Se … sebenarnya bagaimana persoalannya, sukalah sahabat ini bicara secara baik-baik,”

ucap Cin Kiam.

“Persoalan ini pada hakikatnya cuma salah paham belaka, tapi urusan sudah telanjur

begini, sekalipun kuberi penjelasan juga kalian takkan percaya,” seru si baju hitam dengan

suara keras. “Maka apa pun yang dibicarakan biarlah tunggu kalau aku sudah keluar dulu

dari sini.”

“Jangan kita lepaskan dia, orang ini banyak tipu akalnya, jangan kita tertipu olehnya,”

seru Buyung Siang.

Kini Lamkiong Liu sudah membaca tulisan yang terpampang di kain putih itu, serunya,

“Jangan-jangan saudara ini memang benar Kang-tayhiap adanya?”

Si baju hitam hanya, mendengus saja dan tidak menjawab.

“Tayhiap kentut anjing, orang ini memang benar Kang Piat-ho!” bentak Siau-sian-li.

“Kalian jangan urus diriku, tanyai dia dulu bagaimana dengan Kiu-moay, sudah ditemukan

belum?” seru Buyung San dengan suara serak.

Lamkiong Liu menghela napas, ucapnya, “Baru saja kami datang ke tempat Kang-tayhiap

….”

Mendengar sampai di sini hati Siau-hi-ji jadi dingin, kalau rombongan Cin Kiam dapat

menemukan Buyung Kiu di tempat Kang Piat-ho, tentunya dia takkan bersikap seramah itu

padanya dan menyebutnya “tayhiap”.

Dalam pada itu Buyung San telah bertanya pula dengan cemas, “Apakah Kiu-moay tidak

berada di sana?”

Cin Kiam berkata khawatir, “Jangan kau urus Kiu-moay, kau … kau sendiri ….”

“Kiu-moay tidak berada di tempat Kang-tayhiap sana, bisa jadi kita telah dipermainkan

orang!” ucap Lamkiong Liu dengan tersenyum getir.

Sungguh kejut Siau-hi-ji tak terperikan, hampir saja ia melompat keluar dari tempat

sembunyinya. Mustahil Buyung Kiu tidak berada di sana? Jangan-jangan mereka kesasar

ke tempat lain?

“Kami tadi sudah berjumpa dengan Hoa Bu-koat, Hoa-kongcu dan nona Thi Sim-lan di

sana, mereka pun menyatakan Kiu-moay yang hilang itu sama sekali tiada sangkut-pautnya

dengan Kang-tayhiap,” demikian tutur Cin Kiam.

Segera Lamkiong Liu menyambung, “Hoa-kongcu itu pun merasakan kejanggalan persoalan

ini dan kita diharapkan bertindak hati-hati, kalau saja nona Thi itu tidak sakit tentu Hoakongcu

akan ikut menjenguk ke sini.”

Buyung Siang jadi melengak dan tanpa terasa pedangnya melambai ke bawah.

Siau-sian-li juga bergumam, “Rasanya Thi Sim-lan takkan membela Kang Piat-ho.”

“Ya, sejak tadi aku pun merasakan urusan ini rada-rada kurang beres,” kata Buyung San.

“Coba pikir, kalau Kang-tayhiap bermaksud menghendaki uang tebusan kita, untuk apa dia

tampil ke muka sendiri? Sekalipun dia datang sendiri, mustahil ia tidak tahu siapa kita ini?

Apalagi kalau dia mau menyembunyikan Kiu-moay kenapa mesti disembunyikan di tempat

tinggalnya, tempat lain kan masih banyak?”

Memang urusan ini sangat sederhana bilamana dipecahkan, tapi apabila rombongan

Lamkiong Liu itu berhasil menemukan Buyung Kiu di tempat Kang Piat-ho, tentu persoalan

akan lain lagi jadinya.

“Jika kau sudah berpikir demikian, mengapa pula kalian bergebrak dengan Kang-tayhiap?”

kata Cin Kiam dengan gegetun. Dia melihat sang istri masih dicengkeram musuh, terpaksa

ia mengomeli istrinya lebih dulu.

Tapi Buyung Siang tetap tidak terima, katanya, “Hm, dia … Kang-tayhiap sendiri tidak

mau bicara apa-apa, dari mana kami bisa tahu?”

“Biarpun tadi kukatakan, apakah mungkin nona mau percaya?” ucap si baju hitam dengan

tertawa.

“Tapi … tapi apakah benar-benar saudara ini Kang-tayhiap?” tiba-tiba Buyung San

bertanya.

Pertanyaan ini seketika menimbulkan curiga orang banyak pula.

Maka terlihatlah si baju hitam melepaskan Buyung San dengan perlahan, katanya dengan

tersenyum, “Karena salah paham sudah dipecahkan, apakah Cayhe ini Kang Piat-ho atau

bukan kan sama saja.” Ternyata dia tetap tidak mau memperlihatkan wajah aslinya.

“Kau tidak apa-apa bukan?” tanya Cin Kiam setelah memburu ke samping istrinya.

Buyung San tersenyum sambil menggenggam tangan Cin Kiam, matanya tetap menatap

tajam ke arah si baju hitam, katanya, “Kami telah banyak melukai anak buah Kang-tayhiap,

untuk ini diharapkan Kang-tayhiap suka memberi maaf.” Dia sengaja menyebut “Kangtayhiap”

dengan tandas, bahkan berulang dua kali.

Tapi si baju hitam tetap tidak mengaku dan juga tidak menyangkal, katanya dengan

tertawa, “Bahwa dalam pertarungan sengit dengan sendirinya sukar terhindar daripada

saling melukai, mana berani kusalahkan pihak nyonya, kalau ada orang yang salah, maka dia

adalah biang keladi yang diam-diam mengatur tipu muslihat untuk menjebak kita itu.”

Bicara sampai di sini, sorot matanya yang tajam mendadak menatap ke tempat sembunyi

Siau-hi-ji dan tanpa terasa pandangan semua orang juga ikut terarah ke jurusan sana.

“Betul,” seru Buyung Siang, “Orang itu memang tidak boleh dilepaskan.”

“Kalau dapat kutemukan orang itu, lebih dulu akan kupotong lidahnya, kucungkil matanya,

lalu kutanyai mengapa dia mengatur tipu muslihat keji ini untuk membikin susah orang

lain,” teriak Siau-sian-li.

“Tanpa nyonya turun tangan juga Cayhe akan bertindak padanya,” jengek si baju hitam.

Sembari bicara, beberapa orang itu sudah lantas mengelilingi tempat sembunyi Siau-hi-ji,

bahwa seorang telah terkepung oleh tokoh-tokoh sebanyak ini betapa pun pasti sukar

meloloskan diri.

Siau-hi-ji juga berkeringat dingin, ia menyadari bilamana dirinya sampai tertawan, maka

sukar dibayangkan bagaimana akibatnya.

Sungguh runyam, ingin untung menjadi buntung. Gagal menjebak orang, ia sendiri yang

akan terkena getahnya. Sekejap itu otaknya telah bekerja keras, tapi tetap sukar

mendapatkan akal baik untuk meloloskan diri.

Pada saat itulah si baju hitam telah menjengek, “Sampai sekarang masakah saudara masih

tetap belum mau unjuk diri?”

Tiba-tiba Buyung Siang menegur dengan gusar, “Jika sejak tadi kau tahu dia berada di

sini, mengapa tidak kau katakan?”

“Waktu kulihat senjata rahasia tersambar dari sini dan melukai kawan-kawanku, semula

kusangka kawan-kawan nyonya yang telah sengaja disiapkan di sini lebih dulu,” jawab si

baju hitam.

“Mulut anjing ini ternyata tajam benar,” gerutu Siau-hi-ji. Ia tahu sekali ini dirinya pasti

sukar terhindar dari bahaya, mimpi belaka jika ingin kabur dari kepungan jago sebanyak

ini.

Didengarnya si baju hitam lagi menjengek pula, “Sahabat masih tidak mau unjuk diri,

memangnya perlu Cayhe memerintahkan lepas panah?”

Sekonyong-konyong Buyung Siang merebut sebuah busur dan berteriak, “Biar kau rasakan

kelihaian panah nona Buyung!”

Tempo hari waktu Siau-hi-ji diajak keliling rumahnya oleh Buyung Kiu, di kamar nona

Buyung kedua ini sudah dilihatnya ada busur dan panah, maka ia tahu dalam hal panahmemanah

tentu nona Buyung kedua ini memiliki kepandaian lain daripada yang lain, betapa

pun ia tidak ingin dijadikan sasaran panahan orang.

Dalam keadaan demikian mau tak mau ia harus berusaha menerjang keluar.

Syukurlah pada saat itu terdengar seorang mengekek tawa dan berseru, “Wah, ramai

benar di sini, apakah ada tontonan menarik?”

Tanpa terasa semua orang berpaling ke arah suara, tertampaklah seorang perempuan

dengan rambut terurai melangkah masuk sambil tertawa linglung seperti orang kurang

waras, siapa lagi dia kalau bukan Buyung Kiu.

Sungguh aneh, ke manakah Buyung Kiu tadi dan mengapa sekarang dia muncul di sini?

Saking herannya sampai Siau-hi-ji melongo kesima.

Sudah tentu yang paling kejut dan girang adalah kakak beradik Buyung itu, serentak

mereka berseru, “He, Kiu-moay, payah benar kami mencarimu ke mana-mana.” Di tengah

seruan itu Buyung San dan Buyung Siang lantas memburu maju untuk menarik tangan

Buyung Kiu.

Buyung Kiu memandang mereka sekejap, sorot matanya menampilkan rasa bingung,

katanya dengan tertawa, “Siapa kalian? Aku tidak kenal kalian?!”

“Kiu moay ….” sapa Buyung Siang dengan suara gemetar, “Masa kau tidak … tidak kenal

lagi pada Jici dan Samcimu?”

Dengan air mata berlinang Buyung San juga berseru. “Kiu-moay, mengapa begini?”

Tapi Buyung Kiu tetap memandangi mereka dengan melongo bingung tanpa bersuara.

Koh Jin-giok tidak tahan, ia mendekati nona linglung itu dan bertanya, “Kiu-moay, kau

kenal aku tidak?”

Segera Siau-sian-li menyela, “Pada Jici dan Samcinya saja dia tidak kenal lagi, mana bisa

dia mengenalmu?”

Koh Jin-giok menunduk, air mata pun menetes.

Cin Kiam dan Lamkiong Liu tampaknya juga sangat sedih. Dengan menghela napas Lamkiong

Liu berkata, “Mungkin Kiu-moay telah mengalami pukulan batin yang luar biasa, makanya

berubah menjadi begini. Kita harus membawanya pulang untuk merawatnya agar

kesehatannya dapat pulih perlahan-lahan.”

“Siapakah yang membuatnya jadi begini? Siapa?” teriak Buyung Siang dengan gusar.

Mendadak Siau-sian-li menangis dan berkata, “Waktu dia melihat Siau-hi-ji yang

disangkanya sudah mati itu mendadak hidup lagi, dia kaget hingga pikirannya berubah jadi

begini. Padahal Siau-hi-ji memang tidak mati, dia justru sengaja hendak menakut-nakuti

Kiu-moay saja.”

“Siapa itu Siau-hi-ji?” tanya Buyung Siang gusar.

“Siau-hi-ji se … seorang she Kang, masih … masih muda belia, tapi busuknya sudah tidak

kepalang tanggung, dia sungguh jahat,” tutur Siau-sian-li.

“Di mana dia sekarang?” teriak Buyung Siang.

“Sekarang mungkin dia sudah mampus,” kata Siau-sian-li.

Buyung Siang melengak, katanya, “Baru saja kau bilang dia tidak mati, sekarang kau

katakan pula dia sudah mampus, sesungguhnya dia sudah mati atau belum?”

“Tadinya memang dia tidak mati, tapi kemudian dia mati tergelincir ke dalam jurang,”

tutur Siau-sian-li.

Setelah berhenti sejenak, lalu menyambung pula, “Tapi isi perut orang itu penuh akal

busuk dan juga memang banyak kepandaiannya, tahu-tahu dia masih tetap hidup, kalau

tidak menyaksikan sendiri mayatnya menggeletak di situ, rasanya tiada seorang pun yang

berani menyatakan dia benar-benar sudah mati.”

Mendadak si baju hitam berkata, “Dia belum mati.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Siau-sian-li.

“Akhir-akhir ini kulihat dia lagi,” jawab si baju hitam.

“Kau melihat dia? Berada di mana dia sekarang?” teriak Buyung Siang.

“Menurut pandanganku, saat ini mungkin dia berada di ….” si baju hitam seakan-akan

sudah dapat menerka yang sembunyi di situ ialah Siau-hi-ji.

Keruan hati Siau-hi-ji kembali terkesiap.

Di luar dugaan, mendadak Buyung Kiu berteriak, “Siau-hi-ji … he, siapa menyebut Siau-hiji

tadi? Ah … Siau-hi-ji, ingatlah aku!”

Semua orang menjadi cemas-cemas girang, dengan suara parau Buyung Siang bertanya,

“Kau … kau ingat tentang apa?”

Buyung Kiu memandang kakaknya itu dengan lekat, katanya kemudian dengan perlahan,

“He, engkau ini Jici!”

Buyung Siang menjerit kegirangan terus merangkul sang adik, saking senangnya ia pun

mencucurkan air mata.

Buyung San juga kegirangan dan menangis, katanya, “O, Kiu-moay, kasihan, akhirnya kau

sembuh!”

“Samci … Samci, aku ternyata dapat bertemu pula dengan kalian? Apakah aku sedang

bermimpi?” ucap Buyung Kiu dengan tertawa dan akhirnya ia pun menangis meraung-raung.

Begitulah di antara kakak beradik itu lantas saling merangkul, ya tertawa ya menangis.

Menyaksikan itu, diam-diam Siau-hi-ji juga sangat terharu sehingga matanya ikut

berkaca-kaca dan tak keruan rasa hatinya.

Sebenarnya Buyung Kiu adalah musuhnya, kini pikirannya telah jernih dan waras kembali,

jadi rencananya semula gagal, bahkan selanjutnya ia harus berjaga-jaga menghadapi balas

dendam dari kakak beradik Buyung itu, jadi dia seharusnya merasa sial. Akan tetapi,

entah mengapa, hatinya sekarang justru merasa gembira. Maklumlah, walaupun terkadang

ia pun merasakan dirinya sendiri terlalu busuk, padahal hati nuraninya sebenarnya bajik.

Terdengar si baju hitam lagi menghela napas dan berkata, “Orang bernama Kang Siau-hi

itu telah membuat saudaramu merana begini, setiap orang Kangouw tentu takkan

mengampuni dia.”

Rupanya sebabnya dia tidak pergi begitu saja karena dia masih ingin menghadapi Siau-hiji

di sini, ia khawatir persoalan dilupakan oleh kakak beradik Buyung yang sedang

kegirangan itu, maka lekas dia mengingatkan pula urusan ini.

Benar juga, segera Buyung Siang berhenti menangis, katanya dengan gemas, “Bilamana

kutahu bangsat cilik itu berada di mana sekarang, mustahil kalau tidak kubinasakan dia.”

“Kukira saat ini dia berada di ….”

Belum habis ucapan si baju hitam, mendadak Buyung Ku memotong, “Sebenarnya urusan ini

pun tak dapat menyalahkan Siau-hi-ji.”

Keterangan ini membuat semua orang terperanjat, dan yang paling kaget adalah Siau-hi-ji

sendiri, berikutnya ialah Siau-sian-li.

Segera Siau-sian-li bertanya, “Tidak boleh menyalahkan dia, habis siapa yang salah?

Bukankah kau membencinya sampai merasuk tulang?”

Buyung Kiu tersenyum pedih, jawabnya, “Kulihat dia sudah mati tapi hidup kembali,

tatkala itu aku sangat kaget sehingga pikiranku menjadi linglung, tapi tidak lama

berselang lambat laun aku lantas sadar kembali.”

“Jika kau sudah sadar kembali, mengapa tadi tidak mengenal kami?” tanya Buyung Siang.

“Hal ini lantaran seorang telah membikin susah lagi diriku,” jawab Buyung Kiu.

“Siapa?” seru Buyung Siang.

“Kang Piat-ho!” jawab Buyung Kiu.

Keterangan ini membuat Siau-hi-ji juga terheran-heran, masakah Kang Piat-ho membikin

susah Buyung Kiu, hal ini baru didengarnya sekarang. Kalau Kang Piat-ho mencelakai dia,

begitu melihat si nona sudah sadar tentu segera akan mengeluyur pergi, mengapa saat ini

dia berada di sini seakan-akan menunggu datangnya Buyung Kiu malah.

Dalam pada itu terdengar Buyung Kiu sedang bertutur pula, “Setelah aku sadar kembali,

Kang Piat-ho telah membius pula diriku dengan obat, selagi aku tak sadarkan diri dia

bermaksud … bermaksud ‘mengawini’ aku, tujuannya juga ingin menjadi menantu keluarga

Buyung untuk membentangkan sayap pengaruhnya. Siang dan malam dia menjaga diriku,

baru tadi ketika dia keluar, diam-diam aku lantas lari ke sini!”

Meski tadi semua orang sudah percaya bahwa Kang Piat-ho telah difitnah orang, tapi

sekarang Buyung Kiu sendiri yang menuturkan semua kejadiannya, mustahil hal ini cuma

omong kosong belaka?

Dengan gusar Buyung Siang lantas membentak, “Keparat Kang Piat-ho, hampir saja kita

dikelabui dia!”

“Pantas kami mencari Kiu-moay ubek-ubekan tidak ketemu, rupanya ia sendiri sudah

meloloskan diri ke sini,” Lamkiong Liu ikut bicara dengan marah, “Syukur Thian maha

pengasih dan Kiu-moay justru lari ke sini, maka terbongkarlah kedok orang she Kang yang

dosanya tak terampunkan ini.”

Di tengah bentakan-bentakan orang banyak si baju hitam tadi kembali terkepung pula.

Sungguh kejut dan girang pula Siau-hi-ji setelah mengikuti apa yang telah diuraikan

Buyung Kiu itu, tapi ia pun merasa bingung penuh tanda tanya, bahwasanya persoalan ini

berubah menjadi begini dan Buyung Kiu bisa bercerita seperti itu, biarpun Siau-hi-ji

orang pintar nomor satu di dunia juga tidak habis paham duduk perkaranya.

Terdengar Buyung Siang sedang membentak pula, “Nah, Kang Piat-ho, apa yang hendak

kau katakan lagi sekarang?”

Di luar dugaan si baju hitam mendadak tertawa terbahak-bahak, lalu menjawab,

“Memangnya siapa bilang aku ini Kang Piat-ho?”

Berbareng itu ia terus menarik kain kedoknya sehingga kelihatan wajahnya yang penuh

berewok.

Semua orang sudah pernah melihat Kang Piat-ho dan wajah ini memang bukan wajahnya.

Keruan semua orang sama melongo.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Buyung Siang.

“Kalau kau bukan Kang Piat-ho, habis Kang Piat-ho berada di mana?” tanya Buyung San.

“Kang Piat-ho berada di sini!” bentak si baju hitam mendadak sambil menerjang ke tempat

sembunyi Siau-hi-ji dan berteriak, “Kang Piat-ho, ayo keluarlah!” Sekaligus telapak

tangannya terus menghantam secepat kilat.

Terkejut juga Siau-hi-ji melihat serangan kilat itu terpaksa ia menangkis sambil

membentak, “Kau sendiri samaran Kang Piat-ho, memangnya kau dapat membohongi

orang?”

“Kau sendiri samaran Kang Piat-ho, memangnya kau dapat membohongi orang?” si baju

hitam juga balas membentak dengan ucapan yang sama.

“Siapa kau jika bukan Kang Piat-ho?” bentak Siau-hi-ji pula.

“Siapa kau jika bukan Kang Piat-ho?” si baju hitam menirukan.

Tentu saja Siau-hi-ji sangat mendongkol, tiba-tiba ia mendapat akal, ia terus mencaci

maki, “Kang Piat-ho, kau bangsat keparat, kau setan belang, kau anak haram, maknya

dirodok!”

Jelas-jelas Kang Piat-ho sudah terkenal sebagai “pendekar besar yang berbudi”, Siau-hiji

yakin ia pasti tidak mau memaki dirinya sendiri.

Di luar dugaan, si baju hitam ternyata juga menirukan caci makinya, “Kang Piat-ho, kau

bangsat keparat, kau ….”

“Hahaha!” Siau-hi-ji bergelak tertawa geli, “Seumpama aku tak dapat mendesakmu

kembali pada wajahmu yang asli, tapi dapat mendengar kau mencaci maki dirimu sendiri,

betapa pun terlampias juga rasa dongkolku. Hahaha, maki diri sendiri sebagai anak haram,

sungguh aneh dan lucu!”

“Hahahaha, seumpama aku tak dapat mendesak ….” begitulah si baju hitam kembali

menirukan ucapan Siau-hi-ji, persis satu kata pun tidak berbeda. Siau-hi-ji bergelak

tertawa geli, ia pun terbahak-bahak tidak kalah gelinya.

Sambil mencaci maki mereka pun terus bertempur. Tentu saja adegan lucu ini membuat

semua orang melongo heran.

Kedua orang ini tiada satu pun yang mirip Kang Piat-ho, tapi rasanya salah satu di

antaranya pasti samaran Kang Piat-ho, tapi sesungguhnya yang mana? Inilah siapa pun

sukar menerkanya.

“Ilmu silat Kang Piat-ho terkenal sebagai nomor satu di daerah Kang-lam, kiranya kabar

ini pasti tidak bohong,” ucap Buyung San tiba-tiba.

“Betul, yang lebih tinggi ilmu silatnya pastilah Kang Piat-ho,” tukas Buyung San.

Mendengar ucapan kedua nona itu, meski Siau-hi-ji ada maksud merendahkan ilmu

silatnya, tapi khawatir pula kalau kena dikerjai lawan. Dengan sendirinya si baju hitam

juga berpikir sama. Karena itulah seketika ilmu silat mereka sukar dibedakan siapa yang

lebih kuat.

Terdengar suara gebrakan ramai, barang apa pun kalau tersampuk angin pukulan mereka

tentu terhantam hancur.

Diam-diam semua orang ikut kebat-kebit dan tidak berani sembarangan ikut campur.

Tertampak kedua orang itu terus bertempur menuju keluar, dari jarak dekat lambat laun

menjauh.

Maklumlah si baju hitam memang tidak suka asal usulnya diketahui orang lain, padahal

Siau-hi-ji juga begitu, jadi kedua orang berpikiran sama dan dengan sendirinya cara

bertempur mereka pun semakin menjauhi orang banyak sedapat mungkin. Tampaknya saja

gerak serangan kedua orang bertambah dahsyat, tapi sesungguhnya keduanya sama-sama

tidak ingin terlibat lebih lama.

Sekonyong-konyong kedua orang sama-sama melompat mundur, lalu yang seorang lagi lari

ke timur dan yang lain kabur ke barat.

Si baju hitam membentak, “Kang Piat-ho, percuma aku mengadu jiwa dengan kau, biarlah

hari ini kuampunimu!”

Siau-hi-ji juga membentak lebih keras, “Kang Piat-ho, yang benar akulah yang mengampuni

kau!”

Gerakan kedua orang sama cepatnya, ketika rombongan Buyung Siang memburu tiba

namun sudah terlambat, apalagi kedua orang itu kabur ke jurusan berlainan sehingga

membuat bingung yang hendak mengejar.

Pada saat itulah tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat keluar dari hutan sana dan

mengadang di depan Siau-hi-ji, sambil menuding anak muda itu terdengar ia berteriak

sambil tertawa, “Aha, inilah Kang Piat-ho, inilah Kang Piat-ho tulen!”

Di bawah cahaya bintang cukup jelas kelihatan bahwa orang ini ternyata Pek Khay-sim

adanya, si “pembuat rugi orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri”.

Keruan Siau-hi-ji terkejut dan gusar pula, bentaknya, “He, apa kau sudah gila.”

“Siapa gila? Kau Kang Piat-ho sendiri yang gila!” jawab Pek Khay-sim dengan terbahakbahak.

“Memangnya kau tidak ingin obat penawar untuk menyelamatkan jiwamu?” jengek Siau-hiji

gusar.

“Menyelamatkan jiwa siapa?” jawab Pek Khay-sim dengan terkekeh. “Kau membikin susah

aku dan aku tidak boleh membikin susah kau?”

Habis itu ia berjumpalitan dan melompat ke belakang terus menghilang pula ke dalam

hutan.

Dalam pada itu kakak beradik Buyung sudah memburu tiba, serentak Siau-hi-ji terkepung

di tengah.

“Kang Piat-ho, sekali ini kalau kubiarkan kau lolos lagi, maka aku tak mau she Buyung pula,”

teriak Buyung Siang dengan murka.

Keruan Siau-hi-ji berjingkrak, jawabnya, “Siapa Kang Piat-ho? Bangsat keparat dialah

Kang Piat-ho?!”

“Kau bukan Kang Piat-ho? Lalu kenapa kau lari?” jengek Buyung San.

Melengak juga Siau-hi-ji, pertanyaan ini benar-benar sukar dijawabnya.

Segera Buyung Siang menyambung dengan bentakan pula, “Ya, jika kau bukan Kang Piat-ho

mengapa kau tidak serahkan wajahmu untuk kami periksa.”

Karena sudah tertipu satu kali, sekarang mereka tak mau dikibuli lagi, sambil bicara

pedang mereka pun bekerja serentak, serangan-serangan maut dilancarkan tanpa ampun.

“Muka seorang lelaki mana boleh disentuh oleh perempuan, konon muka lelaki berlapis

emas, muka perempuan berlapis tahi, mana boleh mukaku ikut kena kotoran,” demikian

Siau-hi-ji sengaja mengoceh tak keruan, tujuannya cuma untuk membuat marah pihak

lawan, dengan demikian ada kemungkinan mendapatkan peluang untuk menerjang keluar.

Benar juga Buyung Siang menjadi gusar dan mendamprat, “Kentut busuk, mukamu sendiri

yang berlapis tahil”

“Hm, sebentar kalau kau tertangkap oleh nonamu baru kau tahu rasa apabila kurendam

kau di dalam jamban,” teriak Siau-sian-li.

“Sekali pun direndam di dalam jamban juga tidak sudi dipegang-pegang oleh tangan

perempuan,” seru Siau-hi-ji.

Lambat-laun semua orang pun dapat menangkap maksud tujuan Siau-hi-ji yang ingin

mengobarkan rasa gusar mereka agar perhatian mereka terpencar. Maka mereka tidak

gubris lagi kepada ocehannya dan menyerang terlebih kencang.

Koh Jin-giok berwatak polos, tiba-tiba ia berkata, “Aku bukan perempuan, bagaimana

kalau aku yang memeriksa wajahmu?”

“Kiranya kau bukan perempuan? Haha, tadinya kusangka kau ini adik perempuan mereka,”

ejek Siau-hi-ji.

Setelah berucap demikian, ia jadi merasa geli sendiri dan hampir tertawa, pada saat

itulah, “bret”, baju di bagian dadanya terobek oleh sabetan pedang lawan, untung ilmu

silatnya sudah maju pesat, kalau tidak, mungkin perut pun sudah terobek.

Namun Siau-hi-ji tetap tidak gentar dan masih mengoceh panjang pendek, soalnya ia

menyadari keadaannya yang berbahaya, untuk bisa lolos dengan selamat lebih dulu harus

membuat pihak lawan marah.

Tapi begitu jauh ternyata belum ada peluang baginya, Cin Kiam dan Lamkiong Liu belum

ikut lagi menyerangnya melainkan cuma berjaga di samping saja, segera ia berolok-olok

pula, “Haha, para menantu keluarga Buyung biasanya dikagumi orang Kangouw karena

dapat mempersunting para nona cantik keluarga Buyung, tapi menurut pandanganku

sekarang adalah lebih baik mencari istri bermuka burik atau berkaki pincang daripada

diperbudak oleh nona-nona cantik tapi galak ini.”

Meski tidak ingin menggubrisnya, tapi Buyung Siang merasa tidak tahan, segera ia

mendamprat, “Dasar mulut anjing tak mungkin keluar gadingnya. Memangnya kau anggap

kami kakak beradik keluarga Buyung ini perempuan murahan dan kurang baik dibanding

orang lain?”

“Biarpun nona-nona keluarga Buyung memang cantik, tapi menjadi menantu keluarga

Buyung tetap sial dan konyol,” teriak Siau-hi-ji. “Coba lihat, sang istri lagi berteriakteriak

di sini, tapi sang suami tetap diam saja, bahkan kentut pun tidak berani. Sang istri

lagi berkelahi dengan orang, suami malah menonton doang. Haha, apa artinya hidup di

dunia ini menjadi suami takut bini begini, jika aku, huh, sejak tadi mungkin aku sudah

membunuh diri saja.”

Di mulut dia terus mengoceh dengan riang, tapi pundaknya kembali terluka, meski tidak

parah, namun darah sudah lantas mengucur.

Terdengar Cin Kiam menjengek, “Sebenarnya orang she Cin tidak suka main kerubut, tapi

mulutmu terlalu kotor, terpaksa aku harus bertindak.” Di tengah ucapan itu sekaligus ia

menyerang tiga kali.

Rupanya ocehan Siau-hi-ji itu tidak membawa hasil yang diharapkannya, lawan tidak

menjadi marah dan kacau, sebaliknya malah menambah seorang pengeroyok yang tangguh,

keruan ia tambah kewalahan.

Walaupun di dalam hati diam-diam ia mengeluh, tapi mulutnya tetap tidak mau kalah,

dengan tertawa ia berseru, “Lamkiong Liu, kenapa kau tidak maju saja sekalian, apa

barangkali ilmu silatmu tidak ada harganya untuk dipamerkan, hidupmu hanya

mengandalkan sang istri saja?”

Air muka Lamkiong Liu rada berubah, mendadak ia berucap dengan suara berat, “Hok-kiat

… Hu-ham….”

Begitulah berturut-turut ia menyebut beberapa tempat Hiat-to dan serentak tiga pedang

terus menusuk ke tempat yang disebut itu. “Bret”, kembali lengan Siau-hi-ji tergores luka

pula.

Supaya maklum bahwa Lamkiong Liu adalah keturunan keluarga bangsawan Lamkiong yang

terkenal dengan ilmu silatnya yang khas, Lamkiong Liu sendiri berbadan lemah, ia jarang

bertempur dengan orang, tapi sebagai keturunan satu-satunya dari keluarga Lamkiong

yang bersejarah itu, dengan sendirinya pengetahuan ilmu silatnya jauh berbeda dengan

orang lain.

Kini Lamkiong Liu hanya menonton tenang saja di samping, setiap kali mulutnya menyebut,

setiap kali pula Siau-hi-ji kelabakan menghindarnya.

Terdengar Lamkiong Liu menyebut pula, “Leng-pun, Tiong-gu … Seng-hu ….”

“Sret-sret-sret”, setelah dua-tiga kali gebrak, benar juga bagian Hiat-to yang disebutnya

di tubuh Siau-hi-ji kembali tertusuk pedang.

Sebenarnya Siau-hi-ji sudah bersiap-siap untuk menghindar ketika Lamkiong Liu

menyebutkan tempat Hiat-to yang diserang, tapi begitu serangan tiba ia sendiri justru

sukar menghindarnya.

Seperti diketahui, penonton memang lebih tenang daripada pemain, apalagi Lamkiong Liu

memang dapat menguasai seluruh permainannya, setiap gerak serangan Siau-hi-ji hampir

boleh dikatakan diketahuinya dengan baik, maka petunjuknya tadi dengan sendirinya

adalah titik kelemahan Siau-hi-ji.

Terdengar Lamkiong Liu sedang berkata lain, “Yu-bun, Tong-kok … Yang-coan!”

“Yong-coan-hiat” yang disebut itu tepat berada di bawah telapak kaki, tentu saja Siau-hiji

melengak mendengar Hiat-to yang disebut itu, ia pikir masakah pedang kalian akan

dapat menusuk telapak kakiku?

Pada saat itu juga tiba-tiba pedang Buyung San lagi menusuk ke arah Yu-bun dan Tongkoh-

hiat, sebenarnya Siau-hi-ji dapat mengelak, tapi pedang lawan lain telah menutup

jalan mundurnya, dalam keadaan kepepet tanpa pikir terpaksa dia angkat sebelah kakinya

untuk menendang pergelangan tangan Buyung San yang memegang pedang itu.

Walaupun Buyung San terpaksa melompat mundur, tapi pada saat itu juga pedang Buyung

Siang lantas menusuk dan tepat mengenai Yong-coan-hiat di telapak kaki Siau-hi-ji. Meski

tusukan itu tidak mengenainya karena Siau-hi-ji bersepatu kulit, tapi tidak urung ia pun

kaget sehingga berkeringat dingin.

“Siau-hong … Wi-tong … Im-kok ….” terdengar Lamkiong Liu berkata pula dengan

perlahan.

Sekali ini Siau-hi-ji menaruh perhatian penuh untuk menjaga Im-kok-hiat, di luar dugaan

Hwe-yang-hiat di bagian punggung mendadak sudah tertusuk pedang dan pada saat yang

sama pula Lamkiong Liu sedang menyebut “Hwe-yang-hiat”.

Jadi tanpa turun tangan sendiri Lamkiong Liu tidak kalah lihainya dari pada jago kelas

wahid yang mana pun juga. Diam-diam Siau-hi-ji menghela napas dan putus asa, gumamnya,

“Ya, sudahlah ….”

Tak terduga, pada saat itu juga dari jauh tiba-tiba berkumandang suara jeritan Buyung

Kiu, “Tolong … tolong ….? Kau bangsat keparat Kang Piat-ho …. Tolong Jici, Samci, tolong

….” terdengar suaranya makin lama makin menjauh.

Buyung San terkejut, keluhnya, “Wah, celaka! Kita telah lupa meninggalkan Kiu-moay di

Sutheng sana.”

“Kenapa dia tidak ikut kemari,” ucap Buyung Siang dengan khawatir.

“Jadi Kang Piat-ho berada di sana,” tanya Siau-sian-li.

“Orang ini ternyata bukan Kang Piat-ho,” sambung Koh Jin-giok.

Beramai-ramai mereka lantas berteriak dan membentak terus memburu ke arah Buyung

Kiu, hanya Lamkiong Liu yang berangkat terakhir, sebelum melangkah pergi ia memberi

hormat dulu kepada Siau-hi-ji dan berkata, “Maaf.”

Dengan tersenyum kecut Siau-hi-ji menjawab, “Orang yang takut bini di seluruh dunia

mungkin kau nomor satu, orang macam kau ini memang setimpal memperistrikan wanita

macam apa pun juga.”

“Kepandaian saudara sesungguhnya lain daripada yang lain,” ucap Lamkiong Liu dengan

tersenyum. “Tampaknya saudara menghimpun intisari berbagai ilmu silat di dunia ini dan

menjadi suatu aliran tersendiri, cuma sayang permainanmu belum lagi lancar, tampaknya

banyak peluang dan titik kelemahannya, mungkin disebabkan saudara terlalu banyak

memikirkan hal tetek bengek dan tak dapat memusatkan perhatian untuk berlatih.

Bilamana hal ini dapat saudara perbaiki kelak, sekalipun aku memberi petunjuk di samping

seperti kulakukan tadi rasanya mereka pun bukan tandinganmu.”

Siau-hi-ji melengak, tanyanya, “Untuk apa kau bicara demikian padaku?”

“Sesungguhnya saudara memang bukan Kang Piat-ho, sebab permainan Kang Piat-ho pasti

tidak kaku begini,” ujar Lamkiong Liu.

“Kau sudah tahu, mengapa tidak kau katakan sejak tadi?” tanya Siau-hi-ji gusar.

“Meski Cayhe sudah tahu hal ini sejak tadi, tapi waktu itu aku memang ingin tahu pula

siapakah saudara ini sebenarnya, sebab itulah aku tidak bersuara, tapi sekarang Kiu-moay

menghadapi bahaya, dengan sendirinya soalnya menjadi lain.”

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Mungkin tadi aku mencemoohkan kau, maka kau

sengaja membikin susah padaku.”

“Jika bukannya hatiku rada menyesal, mana Cayhe mau berkata seperti itu padamu,” ucap

Lamkiong Liu dengan tersenyum sambil melangkah pergi.

Lamkiong Liu sudah menghilang di kejauhan, tapi Siau-hi-ji masih merenungkan ucapannya

tadi, makin dipikir makin tidak tenteram.

“… mungkin saudara terlalu banyak memikirkan urusan tetek-bengek sehingga tak dapat

memusatkan perhatian ….” demikian Siau-hi-ji mengulang ucapan Lamkiong Liu tadi, ia

merasa kata-kata itu benar-benar kena di lubuk hatinya.

Setelah tertegun sejenak, segera ia melangkah ke depan, ia ingin mencari Pek Khay-sim

yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri itu untuk membikin

perhitungan dengan dia.

Sambil berjalan ia pun bergumam sendiri, “Aneh, mengapa mendadak Pek Khay-sim tidak

takut mati sehingga obat penawar juga tidak diperlukan lagi? Dan bagaimana pula tentang

Buyung Kiu, mengapa dia bisa muncul di sini dan saat ini apakah betul telah ditawan oleh

Kang Piat-ho?”

Sungguh Siau-hi-ji tidak habis mengerti mengenai nona kesembilan keluarga Buyung itu,

waktu orang mencarinya tidak diketemukan, tahu-tahu dia muncul di sini secara aneh,

kemudian diculik lagi oleh Kang Piat-ho, semuanya ini sungguh membuatnya bingung.

Karena tetap tidak paham apa yang terjadi, Siau-hi-ji sungkan untuk memikirkannya lagi,

terasa sakit luka-luka di sekujur badannya, ia lantas duduk di bawah pohon untuk

istirahat.

Sebenarnya luka itu tiada artinya bagi tubuh Siau-hi-ji yang sudah tergembleng ibarat

otot kawat tulang besi itu, walaupun luka itu cukup sakit, tapi sama sekali tak

dihiraukannya.

Sementara itu bintang-bintang mulai jarang, ufuk timur sudah mulai remang-remang,

fajar telah tiba, kicau burung mulai ramai di tengah hutan, jagat raya ini terasa tenang

dan damai.

Siau-hi-ji memejamkan matanya dan bergumam, “Mungkin aku memang terlalu banyak

mengurusi hal tetek bengek, tapi orang kan juga harus bekerja dan tidak boleh cuma

makan melulu, apalagi kalau urusan sudah menimpa dirimu, ingin menghindar juga sukar.”

Padahal yang benar adalah dia sendiri tidak mampu hidup prihatin, asal menganggur dua

hari, sekujur badan terasa pegal linu malah, kalau tidak mencari sesuatu perkara rasanya

tidak enak.

Tapi saat ini, pada waktu fajar baru menyingsing di hutan yang damai ini ia benar-benar

ingin memejamkan mata untuk menikmati ketenangan yang sukar dicari.

Siapa tahu, pada saat demikian tiba-tiba terdengar seseorang sedang memanggilnya,

“Siau-hi-ji … Kang Siau-hi … di mana engkau?”

Siau-hi-ji melonjak bangun, gumamnya sambil menyengir, “Urusan benar-benar datang

mencari padaku. Tapi entah siapa yang memanggilku ini? Dari mana pula dia mengetahui

aku berada di sini?”

Didengarnya orang itu sedang berseru pula, “Siau-hi-ji, kutahu engkau berada di dalam

hutan, lekas keluar, ada urusan penting ingin kukatakan padamu. Ayolah lekas keluar!”

Suara itu terasa mirip suara Buyung Kiu.

Mata Siau-hi-ji terbeliak, ucapnya dengan tertawa, “Jika Buyung Kiu, kedatangannya

sungguh kebetulan, memangnya aku ingin mencari dia dan dia telah datang sendiri.”

Ia coba sembunyi di balik pohon dan mengintai ke sana. Terlihat seorang berjubah

panjang dengan rambut semampir di pundak dan sedang melangkah datang menyongsong

remangnya fajar sehingga tampaknya mirip malaikat pegunungan yang baru turun dari

langit. Siapa lagi dia kalau bukan Buyung Kiu.

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji melompat ke depan si nona sambil menjerit, “He!”

Buyung Kiu seperti berjingkat kaget, dia meraba dadanya dan mengomel, “Ai, kau ingin

membikin aku kaget dan linglung lagi?”

Siau-hi-ji memandangnya dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas, katanya kemudian

dengan tertawa, “Wah, setengah hari tidak bertemu tampaknya kau bertambah cantik.”

“Setengah hari tidak berjumpa, tampaknya kau bertambah cakap,” nona itu pun balas

menyanjung.

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, Buyung Kiu ternyata juga bisa

berucap demikian dan juga bisa merayu, sungguh aneh bin ajaib!”

“Semua perempuan dapat merayu, soalnya bergantung pihak lawan berharga untuk dirayu

atau tidak?” kata Buyung Kiu.

“Kau tidak benci lagi padaku?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Hati perempuan sering kali berubah dengan cepat, masakah kau tidak paham?” tanya si

nona.

Siau-hi-ji menghela napas, jawabnya, “Benar, cinta perempuan kepada seorang saja tak

dapat bertahan lama apalagi membenci seseorang.”

Buyung Kiu berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Hanya orang yang pernah tertipu

oleh perempuan yang dapat memahami perempuan sedalam ini. Dari ucapanmu kukira kau

pasti pernah mengalami sesuatu.”

“Ya, aku memang pernah tertipu oleh perempuan,” kata Siau-hi-ji.

“Siapa yang pernah menipumu?” tanya Buyung Kiu dengan tertawa. “O, jangan-jangan nona

Thi itu?”

Hati Siau-hi-ji terasa sakit, teriaknya mendadak, “Bukan!”

“Habis siapa?” tanya si nona.

“Buyung Kiu!” seru Siau-hi-ji sambil melotot.

“Bilakah pernah kutipu kau?” tanya si nona dengan mengikik.

Mata Siau-hi-ji bersinar, katanya sekata demi sekata, “Kau bukan Buyung Kiu!”

“Aku bukan Buyung Kiu?” si nona menegas dengan tertawa. “Hah, apa kau sinting, kau

tidak kenal aku lagi?”

Dengan terbelalak Siau-hi-ji memandangnya sejenak, mendadak ia meloncat tinggi-tinggi,

lalu jumpalitan dua kali, waktu berdiri lagi, dia kucek-kucek matanya, akhirnya ia

terbahak-bahak, katanya, “Meski kupikir tidak mungkin engkau, tapi rasanya toh pasti

engkau adanya.”

“Memangnya kau kira aku ini siapa?”

“Hahahaha!” serentak Siau-hi-ji pegang tangan si nona dan berteriak, “Engkau bibi To, To

Kiau-kiau!”

“Buyung Kiu” terbelalak memandangi Siau-hi-ji hingga sekian lamanya, akhirnya ia pun

tertawa dan berkata, “Setan cilik, betapa pun kau memang pintar dan dapat kau kenali

diriku. Di seluruh dunia ini kecuali kau mungkin tiada seorang pun dapat mengetahui

samaranku ini.”

“Bukan kukenalimu, aku cuma berpikir kalau ‘Buyung Kiu’ ini bukan Buyung Kiu, habis di

dunia ini siapakah yang dapat menyamar Buyung Kiu semirip ini?”

“Dengan sendirinya hanya bibi To saja, bukan?” tukas To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Betul, cuma … cuma aku masih ragu-ragu apakah betul bibi To dapat datang ke sini?

Sungguh mimpi pun aku tidak menyangka engkau dapat meninggalkan Ok-jin-kok.”

Tiba-tiba To Kiau-kiau menghela napas, katanya dengan perlahan, “Banyak urusan di dunia

ini sukar diduga orang.”

Terbelalak mata Siau-hi-ji, tanyanya, “Sungguh tak terpikir olehku bahwa bibi To juga

bisa menghela napas, juga tak terpikir olehku mengapa engkau dapat meninggalkan Okjin-

kok, lebih-lebih tak menyangka bahwa engkau ternyata tahu jelas urusanku sehingga

menyamar sebagai Buyung Kiu.”

Sesungguhnya memang banyak persoalan yang sukar dipahami Siau-hi-ji, maka sekaligus

telah ditanyakan seluruhnya.

“Kau memberondong diriku dengan pertanyaan sebanyak ini, lalu cara bagaimana aku harus

menjawab?” ucap To Kiau-kiau.

“Sudah beberapa lama bibi To meninggalkan Ok-jin-kok?”

“Kira-kira sudah … sudah setengah tahun.”

“Selama dua tahun ini pada hakikatnya tidak ada orang tahu aku berada di mana, lalu dari

mana bibi To mengetahui urusanku dan mengapa dapat menyaru sebagai Buyung Kiu?”

“Setelah meninggalkan Ok-jin-kok, meski sepanjang jalan telah kudengar sedikit

perbuatanmu yang gemilang, tapi benar-benar aku tidak tahu kau berada di mana. Ingin

kucari keterangan juga sukar kuperoleh.”

Siau-hi-ji merasa bangga, matanya berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Sudah

tentu engkau tak dapat memperoleh keterangan apa-apa, bilamana aku mau sembunyi,

setan juga tidak dapat menemukan diriku.”

“Tapi tanpa sengaja beberapa hari yang lalu telah kutemukan kau.”

“Hah, beberapa hari yang lalu engkau menemukan aku!? Mengapa aku tidak tahu?”

“Bukan saja aku menemukan kau, bahkan telah bicara denganmu,” tutur To Kiau-kiau

dengan tertawa.

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala yang tidak gatal, katanya dengan menyengir, “Sungguh aneh

… engkau telah bicara denganku? ….”

To Kiau-kiau terkekeh-kekeh, katanya, “Waktu itu kau bengis sekali, aku dibentak agar

enyah dengan mata melotot, sungguh aku menjadi ketakutan dan lekas-lekas enyah

menjauhimu.”

Siau-hi-ji berjingkrak sambil tertawa, “Haha, tahulah aku … engkau adalah ….”

“Aku adalah pelayan bodoh di bawah loteng tempat tinggal Lo bersaudara,” tukas To Kiaukiau.

“Wah, sungguh aku sangat kagum padamu, mirip benar penyamaranmu itu, mimpi pun tak

pernah terpikir olehku bahwa pelayan itulah samaranmu.”

“Sudah tentu tak terpikir olehmu, jika aku mau sembunyi, biar setan juga tak dapat

menemukan diriku,” ucap To Kiau-kiau dengan berkedip-kedip dan menirukan lagak-lagu

anak muda itu.

Siau-hi-ji berkeplok tertawa, “Bagus, bagus! Untung engkau tidak menyaru sebagai diriku,

kalau tidak, bisa jadi aku sendiri pun tidak dapat membedakan antara Kang Siau-hi tulen

dan palsu.”

Setelah bergelak tertawa sejenak, tiba-tiba ia bertanya pula, “Tapi sebelum itu engkau

tidak pernah melihat aku, bukan?”

“Ya, tidak,” jawab To Kiau-kiau.

“Dengan sendirinya kau pun tak pernah menyangka aku akan datang ke tempat Lo Kiu dan

Lo Sam.”

“Aku bukan malaikat dewata, dengan sendirinya tak dapat meramalkan apa yang belum

terjadi.”

“Jika begitu mengapa engkau dapat menyaru sebagai pelayan bodoh dan sembunyi di sana

untuk menunggu kedatanganku?”

“Tujuanku bukan menunggu kedatanganmu.”

“Habis untuk apa engkau sembunyi di sana?”

Tiba-tiba mata To Kiau-kiau memancarkan sinar yang buas, ucapnya sekata demi sekata,

“Tujuanku adalah kedua Lo bersaudara itu.”

“Aha, tahulah aku, mereka bersaudara tentunya ada permusuhan apa-apa denganmu.”

“Rahasia di balik persoalan ini tidaklah kau ketahui!”

“Memangnya ada rahasia apa?”

“Kepergianku dari Ok-jin-kok kali ini, selain mencari dirimu juga ingin mencari lagi dua

orang lain.”

“Jadi yang kau cari ialah mereka berdua?”

To Kiau-kiau tidak langsung menjawabnya, dengan perlahan ia menutur, “Dua puluh tahun

yang lalu, lima daripada sepuluh Ok-jin telah terpaksa kabur ke Ok-jin-kok, tatkala mana

urusannya sangat gawat, mereka kabur dengan sangat terburu-buru sehingga banyak

barang penting tidak sempat dibawa.”

“Betul, engkau dan paman Li, paman Toh dan lain-lain sudah berpuluh tahun malang

melintang di dunia Kangouw, dengan sendirinya tidak sedikit barang yang terkumpul, dan

kalau ada barang yang dapat menarik perhatian kalian tentulah barang yang cukup

berharga.”

“Memang, makanya kami pun merasa berat meninggalkan barang-barang itu. Kalau tidak

sempat lagi dibawa serta, jalan yang baik adalah menyerahkannya kepada orang lain dan

minta dia mengantarkannya ke Ok-jin-kok kelak.”

“Lalu kalian serahkan kepada siapa?”

“Kau tahu, di dunia Kangouw pada hakikatnya kami tidak punya teman, hanya lima orang

lagi dari Cap-toa-ok-jin yang sekadarnya masih dapat dikatakan kawan sehaluan.”

“Ya, ya, untuk ini aku cukup paham,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum.

“Oleh karena itu kami terpaksa menyerahkan barang-barang itu kepada mereka, cuma

Ong-say Thi Cian selalu angin-anginan, kalau lagi kumat penyakit gilanya sering kali dia

lupa daratan sehingga jiwa sendiri pun tak terpikir apalagi barang titipan orang lain.

Sedangkan Pek-Khay-sim yang sok merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri

itu lebih-lebih tak dapat dipercaya, apalagi ia musuh Li Toa-jui.”

“Dan kalau dititipkan kepada Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong, khawatir diludeskan pula di

meja judi,” sambung Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Memang begitulah,” ucap To Kiau-kiau dengan mengikik geli. “Setan judi itu boleh

dikatakan berjudi selama hidup, ia anggap kemahirannya berjudi itu jauh lebih pintar

daripada siapa pun juga, akan tetapi dia lebih sering kalah habis-habisan sehingga celana

pun digadaikan, kalau dia sudah mulai berjudi, baru akan berhenti bila sudah Thian-kong

(langit bersih alias terang tanah atau menjelang pagi), Jin-kong (orang sudah bersih,

artinya sudah pulang semua) dan Jian-kong (uang bersih). Dari sinilah dia mendapatkan

nama Sam-kong (tiga kali Kong) alias ludes sama sekali.”

“Ada pemeo yang mengatakan, ‘Malaikat juga akan kalah jika judi lama’. Apalagi dia bukan

malaikat melainkan setan judi saja. Tentu saja dia lebih sering kalah daripada

menangnya,” sambung Siau-hi-ji.

“Nah, maka waktu itu kami bermaksud menitipkan barang itu kepada Siau Mi-mi, tapi si

tukang pikat itu justru sukar ditemukan jejaknya, entah sembunyi di mana.”

“Sudah tentu kalian tak dapat menemukan dia karena dia telah sembunyi di istananya

yang berada di bawah tanah,” ucapan ini hampir tercetus dari mulut Siau-hi-ji, tapi

akhirnya urung, dia hanya membatin saja.

Maka terdengar To Kiau-kiau lagi melanjutkan, “Oleh sebab itu, setelah kami

pertimbangkan bolak-balik, akhirnya kami serahkan barang kami kepada kedua Auyang

bersaudara.”

“Apakah kedua Auyang bersaudara itu masing-masing berjuluk ‘mengadu jiwa juga ingin

untung’ dan ‘mati-matian juga tidak mau rugi’?” tanya Siau-hi-ji.

“Betul, justru karena mereka terlalu kikir dan selalu main Swipoa ‘ting-tong’, makanya

nama mereka pun disebut Auyang Ting dan Auyang Tong,” tutur To Kiau-kiau pula. “Kalau

kami menitipkan barang kepada mereka tentunya tidak perlu khawatir barang itu akan

hilang?”

“Tapi menurut pendapatku, kedua Auyang bersaudara itu justru lebih-lebih tidak dapat

dipercaya,” ujar Siau-hi-ji. “Kalau mati pun mereka ingin cari untung, maka sama saja

kambing disodorkan ke mulut harimau bilamana barang-barang itu kalian titipkan pada

mereka.”

“Waktu itu kami pun mempertimbangkan hal itu, namun ada suatu kelemahan mereka,

yakni selama hidup mereka paling takut kepada Toh Sat si tangan berdarah yang

selamanya suka membunuh orang itu. Sebab itulah kami yakin mereka pasti tidak berani

menggelapkan barang titipan itu. Siapa tahu kedua Lo bersaudara segera main Swipoa,

mereka yakin bila Toh Sat sudah kabur ke Ok-jin-kok tentu tak berani muncul lagi ke

dunia luar, lalu kenapa harus takut lagi padanya. Dengan demikian barang titipan kami

benar-benar telah dimakan oleh mereka.”

“Haha, kedua bersaudara itu sungguh hebat, mereka tidak takut perut akan kembung

sehingga barang kalian pun dimakannya,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Dengan sendirinya kami menunggu di Ok-jin-kok, tunggu punya tunggu, setelah sekian

tahun barang titipan itu tetap belum mereka antar ke sana. Maka kami lantas bersumpah

pada suatu hari pasti akan mencari mereka untuk membikin perhitungan.”

“Makanya begitu meninggalkan Ok-jin-kok segera engkau mencari mereka.”

“Betul,” kata To Kiau-kiau.

“Jangan-jangan antara kedua Auyang bersaudara itu ada hubungannya dengan kedua Lo

bersaudara?” ucap Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

“Kedua Auyang bersaudara tak-lain tak-bukan adalah kedua Lo bersaudara!” kata To Kiaukiau

sekata demi sekata.

“Pantas cara mereka begitu keji,” seru Siau-hi-ji. “Aku memang sudah mencurigai asal

usul mereka pasti tidak biasa. Cuma setahuku, bentuk kedua Lo bersaudara itu sama

sekali berbeda daripada Auyang bersaudara”

“Selama beberapa tahun ini mereka sengaja membikin tubuh mereka menjadi besar dan

gemuk sehingga lebih mirip gajah bengkak. Padahal semula mereka kurus seperti cacing,

setelah gemuk, wajah mereka pun berubah jauh sehingga sukar lagi dikenali. Kedua orang

ini sungguh pintar dan cerdik, entah dari mana mereka mendapatkan resep cara

penyamaran yang bagus ini.”

“Ya, menyamar dengan daging yang tumbuh secara wajar di tubuhnya itu sungguh cara

yang sukar dipelajari dan benar-benar cara alami yang paling bagus!” tukas Siau-hi-ji.

“Karena tak dapat menemukan kedua Auyang bersaudara, kemudian kudengar beberapa

kejadian yang diperbuat kedua Lo bersaudara akhir-akhir ini, sehingga timbul rasa

curigaku, makanya aku lantas menguntit ke sini. Tapi waktu pertama kali kulihat mereka

rasanya aku sendiri pun tidak percaya mereka adalah kedua Auyang bersaudara yang

dulunya sekurus kulit membungkus tulang itu.”

“Tapi engkau tetap curiga dan ingin menyelidiki dengan jelas, maka ….”

“Maka salah satu pelayannya lantas kuseret keluar dan kusembelih, lalu aku menyamar

menjadi pelayan itu sendiri dan mereka ternyata tidak dapat mengenaliku.”

“Orang sepintar engkau menyaru sebagai pelayan bodoh, memangnya siapa yang dapat

mengetahui?” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

“Dan akhirnya aku pun dapat melihat titik kepalsuan mereka dan ternyata mereka adalah

Auyang bersaudara, tapi kalau kubongkar rahasia mereka pada saat itu juga, kukhawatir

mereka akan sempat kabur, andaikan tertangkap juga mungkin mereka tak mau mengaku

di mana barang titipan itu disembunyikan mereka.”

“Makanya engkau ingin menyelidiki dulu berada di mana barang titipan itu baru kemudian

membekuk mereka,” tukas Siau-hi-ji.

“Ya, bilamana aku tidak sabar dan menunggu hingga kini, memangnya tadi kau kira dapat

lolos dengan selamat?”

“Memang betul,” ucap Siau-hi-ji sambil menyengir. “Tidak perlu soal lain, hanya mengenai

penyamaranmu sebagai budak bodoh itu, jika tidak setiap hari bergaul langsung dengan

Buyung Kiu, cara bagaimana dalam waktu sesingkat itu engkau dapat menyaru sebagai

Buyung Kiu dengan semirip ini?”

“Sebenarnya aku tidak tahu gadis linglung itu adalah Buyung Kiu, tapi kernudian aku

merasa kelakuannya rada aneh, maka di waktu iseng aku lantas membuat sebuah kedok

yang mirip wajah Buyung Kiu. Kalau tidak dalam waktu sesingkat ini mana aku sanggup

menyamar dia?”

Biji mata Siau-hi-ji berputar, tiba-tiba ia menjengek, “Hm, kukira kedok yang kau buat ini

bukan lantaran waktu iseng belaka.”

To Kiau-kiau tertawa, tanyanya, “Habis apa sebabnya menurut kau?”

“Pasti terpikir olehmu bilamana perlu Buyung Kiu akan kau sembelih. Lalu engkau menyaru

dia, dengan demikian kedua Lo bersaudara lebih-lebih tidak akan curiga padamu, dan

urusan yang akan kau selidiki menjadi lebih mudah pula.”

“Hihi, kau setan cilik ini memang pintar, hanya kau yang dapat menerka isi hatiku,” ucap

To Kiau-kiau sambil mengikik.

“Meski rencanamu itu sangat baik, siapa tahu Buyung Kiu telah kubawa pergi sehingga

kedokmu ini tiada gunanya lagi, maka sekaligus lantas kau gunakannya untuk menolong

diriku.”

“Huh, kau setan cilik ini benar-benar tidak tahu kebaikan orang. Kuselamatkan kau,

memangnya cuma lantaran kedok yang kau kira tak berguna lagi itu?”

Siau-hi-ji hanya tertawa dan tidak menjawab.

“Begitu kulihatmu waktu itu, segera kutahu kau pasti lagi main gila, makanya setiap saat

selalu kuperhatikanmu. Pagi tadi, waktu kau dan Oh-ti-tu menyuruh Buyung Kiu menulis

surat juga telah kudengar,” To Kiau-kiau tertawa genit, lalu menyambung pula, “Coba,

kalau aku tidak berjaga di luar bagi kalian mungkin tadi pagi kalian sudah kepergok oleh

Auyang bersaudara.”

Terkejut juga Siau-hi-ji dalam hati, tapi dia sengaja berlagak tenang, katanya dengan

tertawa, “Seumpama kepergok juga tidak jadi soal.”

“Haha, rupanya mati pun kau tidak mau terima kebaikan orang,” ucap To Kiau-kiau

tertawa.

“Agaknya kau dengar isi surat itulah, makanya kau tahu malamnya kami akan pergi ke

Sutheng itu ….”

“Ya, kecuali itu aku pun telah bertemu dengan seorang.”

“Pek Khay-sim?” tukas Siau-hi-ji.

“Hihi, kulihat dengan jelas waktu kau menggelintir pil daki dari kelekmu.”

“Aneh, jadi engkau berada di sekitar situ, mengapa aku tidak mendengar?”

“Dengan kemampuanmu sekarang sebenarnya kau dapat mendengarnya,” kata To Kiau-kiau

dengan tertawa. “Cuma waktu itu Pek Khay-sim duduk menghadap ke arahku, diam-diam

aku telah memberi isyarat padanya agar dia berteriak-teriak untuk memencarkan

perhatianmu, apa pula waktu itu kau sedang kegirangan, maka tidak memperhatikan hal

lain.”

“Tampaknya dalam keadaan bagaimanapun seseorang tidak boleh terlalu gembira dan lupa

daratan,” ucap Siau-hi-ji dengan nyengir. Mendadak ia menambahkan pula, “Hah, pantas

tadi Pek Khay-sim tidak menanyakan obat penawar lagi padaku, rupanya kau telah

memberitahukan padanya bahwa yang dimakannya itu bukan racun melainkan pil dari daki

saja, makanya dia ingin mencelakai aku untuk melampiaskan dendamnya.”

“Kejadian ini sesungguhnya sangat kebetulan, kalau tidak mana kau dapat berbuat

sesukamu?” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa. “Cuma apa pun juga yang konyol adalah

Kang Piat-ho itu.”

“Kalau mau membikin susah orang, baru ada artinya bilamana sasarannya orang macam dia

itulah,” kata Siau-hi-ji. “Jika orang baik-baik juga diganggu, maka lebih baik tidur di

rumah saja.”

To Kiau-kiau termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, ucapanmu juga betul,

mengganggu orang busuk memang jauh lebih menarik daripada membikin susah orang baikbaik.

Apalagi orang busuk pada umumnya dalam hati sendiri sudah merasa berdosa, jika

kau ganggu dia paling-paling dia anggap dirinya yang sial dan tidak berani menyiarkan apa

yang terjadi. Lagi pula seumpama orang lain mengetahui apa yang telah kau lakukan

terhadap dia, tentunya kau akan dikagumi dan takkan ada yang membela orang busuk itu.”

“Sebab itulah, sebaiknya tirulah aku, hanya mengganggu orang busuk dan tidak

mengganggu orang baik-baik, dengan demikian kegemaranmu mengganggu orang akan

terpenuhi, sebaliknya kau pun tidak perlu main sembunyi dan selalu takut dicari pihak

yang kau ganggu. Dengan demikian, perbuatanmu akan terpuji, terhormat dan memuaskan

pula.”

“Tapi semua perbuatan yang memuaskan itu hampir seluruhnya telah dikerjakan oleh kau

setan cilik ini,” ucap To Kiau-kiau dengan cekikik.

“Namun sampai saat ini tetap tak kupahami mengapa engkau meninggalkan Ok-jin-kok.”

To Kiau-kiau menghela napas, katanya kemudian, “Banyak kejadian di dunia ini sama sekali

tak terpikir oleh manusia.”

Tergerak pikiran Siau-hi-ji melihat anggota terkemuka Cap-toa-ok-jin bicara dengan

menghela napas, cepat ia tanya, “He, jangan-jangan di Ok-jin-kok sana telah terjadi

sesuatu perubahan yang tak terduga.”

“Ya, memang begitulah,” jawab To Kiau-kiau.

“Wah, kejadian itu dapat membuat engkau meninggalkan Ok-jin-kok, tentu persoalan yang

gawat.”

“Ya, memang sangat gawat.”

“Sesungguhnya urusan apakah? Lekas ceritakan!” desak Siau-hi-ji.

“Apakah kau tahu ….”

Belum habis ucapan To Kiau-kiau, tiba-tiba sesosok bayangan melayang tiba dari atas

pohon sana sambil berseru, “He, kiranya kalian berada di sini, payah benar kucari kian

kemari.”

Yang muncul ini ternyata Oh-ti-tu adanya.

“Ah, kiranya kau!” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Mengapa baru sekarang datang,

keramaian yang terjadi tadi tidak kau lihat?”

Dengan menghela napas panjang Oh-ti-tu menjawab, “Wah, hampir saja aku tak dapat

melihat kalian lagi.”

Baru sekarang Siau-hi-ji melihat pakaian Oh-ti-tu yang hitam gelap itu kini berlepotan

lumpur, rambutnya juga kusut masai, cepat ia tanya, “He, mengapa kau berubah begini?”

“Apalagi kalau bukan lantaran suratmu yang sialan itu?” jawab Oh-ti-tu.

“Aneh, kenapa dengan surat itu?”

“Waktu kuantar surat itu, di rumah Lamkiong Liu sana tiada terdapat seorang pun, diamdiam

aku masuk ke sana dan menaruh surat di atas meja ….”

Belum habis cerita Oh-ti-tu, mendadak Siau-hi-ji menyela dengan membanting kaki,

“Wah, runyam, mengapa kau masuk ke sana? Kan cukup kau lemparkan saja surat itu ke

dalam rumah? Setelah pelayan pribadi mereka disembelih dan dimakan orang, mustahil

kediaman mereka tidak dijaga dengan ketat.”

“Ya, memang akulah yang ceroboh,” tutur Oh-ti-tu sambil tersenyum kecut. “Baru saja

kutaruh surat itu di meja, mendadak seutas cambuk panjang menyambar tiba, surat itu

dililit ke sana. Aku menyadari gelagat jelek dan bermaksud kabur, namun semua jalan

keluar sudah diadang orang.”

“Mereka sengaja mengosongkan rumah itu, tujuannya justru memancing kau masuk

perangkap, kalau tidak masakan rumah tinggal Lamkiong Liu dan Buyung Siang dapat

dibuat keliaran orang sesukanya?”

“Selama hidupku tak pernah berbuat hal-hal begitu, dari mana kutahu akan tindakan

mereka yang licik itu,” ucap Oh-ti-tu dengan gusar.

“Ya, ya, engkau adalah ksatria besar yang tulus jujur, aku yang salah omong,” kata Siauhi-

ji tersenyum.

“Waktu itu aku terkejut dan segera hendak menerjang keluar,” tutur Oh-ti-tu lebih

lanjut, “siapa tahu orang-orang itu tiada satu pun yang lemah, semuanya lihai, Am-gi

mereka pun sangat ampuh, bukan saja tidak berhasil menerjang keluar, bahkan kupikir

pasti akan terluka dan tertawan.”

“Setelah mereka membaca surat itu, dengan sendirinya kau harus mereka tawan, tapi

demi mendapatkan pengakuanmu, rasanya mereka pun takkan melukaimu.”

“Aku pun tahu mereka cuma ingin menanyai asal-usulku dan tidak menghendaki jiwaku,

sebab itu Am-gi mereka tidak diarahkan ke tubuhku yang mematikan, kalau tidak, jelas

aku tak sanggup bertahan lagi.”

“Am-gi keluarga Buyung termasyhur sangat lihai, engkau dapat meloloskan diri di tengah

kepungan mereka, ini berarti kau lebih lihai daripada mereka,” kata Siau-hi-ji dengan

tertawa.

“Tapi kalau melulu mengandalkan tenagaku sendiri mana kusanggup menerjang keluar?”

“Memangnya ada orang telah membantumu?”

“Ya, pada saat aku merasa kewalahan, tiba-tiba seorang melayang tiba, pukulan sakti Koh

Jin-giok terkenal hebat, tapi hanya sekali dikebut oleh lengan baju orang itu, kontan

orang she Koh itu terlempar jatuh!”

“Hah, begitu pandai ilmu silat orang itu?” seru Siau-hi-ji kaget.

“Sungguh tinggi sekali ilmu silat orang itu dan benar-benar tak pernah kulihat selama

hidup ini,” tutur Oh-ti-tu dengan gegetun. “Pada hakikatnya mimpi pun tak terbayang

olehku bahwa di dunia ini ada orang berilmu silat selihai itu.”

“Kalau engkau saja kagum padanya, maka pasti luar biasa,” ucap Siau-hi-ji.

“Orang itu hanya mengebaskan lengan bajunya, kontan seluruh senjata rahasia kena

disampuk balik ke sana, bahkan jauh lebih kuat daripada datangnya. Tentu saja mereka

kaget dan waktu mereka berkelit itulah aku lantas ditarik kabur oleh penolongku itu,” Ohti-

tu menyengir dan melanjutkan. “Sungguh konyol, aku telah dikempit di bawah ketiaknya

dan tak bisa berkutik sama sekali. Tubuh orang itu hanya melejit enteng dan sekaligus

sudah mengapung beberapa tombak tingginya laksana orang meluncur di atas awan saja.”

“Wah, ceritamu ini semakin mendewakan orang itu, masa di dunia ini ada manusia sehebat

itu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sekarang kau tidak percaya, malahan aku yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri

juga hampir-hampir tidak percaya kepada mataku sendiri,” tutur Oh-ti-tu dengan

gegetun. “Namun boleh coba kau pikirkan, kalau ilmu silat orang itu tidak sedemikian

tingginya mana dia mampu mengempit diriku di bawah ketiaknya?”

“Betul, orang yang mampu mengempit kau di bawah ketiaknya memang tidak mungkin ada

di dunia ini,” ujar Siau-hi-ji.

“Tapi justru ada dan sudah terjadi, bukan?” tukas Oh-ti-tu.

“Dan sekarang tentunya kau sudah tahu siapa gerangannya bukan?”

Sampai di sini To Kiau-kiau lantas ikut bertanya, “Bagaimanakah bentuk orang itu?”

“Perawakan orang itu tidak tinggi besar, tapi memiliki tenaga yang sukar diukur,” jawab

Oh-ti-tu. “Hanya sebentar aku terkempit di ketiaknya dan seluruh badanku lantas terasa

kaku dan pegal, bergerak saja tidak sanggup.”

“Perawakannya tidak tinggi besar”, keterangan ini membuat To Kiau-kiau merasa lega.

Tapi Siau-hi-ji lantas tanya pula, “Dan bagaimana wajahnya?”

“Dia memakai kedok perunggu hijau yang kelihatan beringas, sepasang matanya melotot

laksana hantu, selamanya nyaliku sangat besar, tapi melihat mukanya itu tidak urung aku

pun merasa ngeri,” jawab Oh-ti-tu.

Melihat si labah-labah hitam yang misterius itu juga merasa ngeri terhadap wajah orang

yang diceritakannya itu, tanpa terasa Siau-hi-ji merinding juga.

“Lalu kau dibawa ke mana dan diapakan?” tanya To Kiau-kiau.

“Aku digondol ke atas bukit, lalu melayang pula ke atas pohon dan ditaruh di atas dahan

pohon,” tutur Oh-ti-tu. “Karena badanku kaku dan tak bisa bergerak, pada hakikatnya aku

pun tak berani bergerak, khawatir kalau terguling ke bawah pohon.”

“Dan dia bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Dia sendiri duduk di suatu dahan pohon dan memandangi aku dengan dingin tanpa bicara.

Ranting kayu itu sangat lemas dan ringkih, diduduki anak kecil saja mungkin patah, tapi

cara duduknya ternyata sangat enak.”

“Wah benar-benar orang aneh,” ujar Siau-hi-ji dengan gegetun. “Apa orang yang berilmu

silat mahatinggi biasanya memang suka berkelakuan aneh-aneh.”

Tio Kiau-kiau berpendapat sebaliknya, ia berkata, “Mungkin dia lagi menunggu ucapan

terima kasihmu atas pertolongannya.”

“Tatkala mana meski aku pun bermaksud mengucapkan terima kasih padanya, tapi selama

hidupku tidak pernah menerima kebaikan orang lain, betapa pun kata-kata ‘terima kasih’

sukar tercetus dari mulutku,” jawab Oh-ti-tu dengan menyesal.

“Wah, jika begitu mungkin kau bisa celaka,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Memang betul,” kata Oh-ti-tu. “Setelah menunggu sekian lama, akhirnya dia menutuk dua

tempat Hiat-toku dan aku ditinggalkan begitu saja di atas pohon, dia sendiri lantas

melayang pergi entah ke mana.” Sampai di sini mendadak ia seperti ingat sesuatu, katanya

sambil memandang To Kiau-kiau dengan terbelalak, “Apakah pikiran nona Buyung ini sudah

pulih kembali?”

“Hihi, apakah aku tampak sudah pulih kembali …. Aku kok tidak tahu?” jawab To Kiau-kiau

dengan nyekikik, habis berkata ia terus berlari pergi secepat terbang.

“Nanti dulu, nona Buyung!” seru Oh-ti-tu terkejut.

Namun To Kiau-kiau tetap lari tanpa berhenti, hanya sekejap saja sudah menghilang di

kejauhan.

Oh-ti-tu bermaksud menyusulnya, tapi Siau-hi-ji sempat menariknya, katanya dengan

tertawa, “Biarkan saja dia pergi.”

“Tapi dia … mengapa dia ….”

“Jangan urus dia, coba ceritakan lagi apa yang terjadi setelah kau ditinggalkan di atas

pohon?”

Sorot mata Oh-ti-tu menampilkan rasa bingung, ia termangu-mangu sejenak, akhirnya ia

menyambung ceritanya, “Waktu itu angin meniup semakin keras sehingga tubuhku ikut

bergoyang-goyang dan dahan pohon itu seakan-akan patah, dalam keadaan tak bisa

bergerak sama sekali, sungguh aku menjadi khawatir dan kelabakan.”

“Kalau dia mau menyelamatkan jiwamu, mengapa dia perlakukan kau pula secara begitu?”

ujar Siau-hi-ji.

“Cara begitu dia menolong aku, sungguh akan lebih baik kalau dia tidak menolong aku

saja,” ujar Oh-ti-tu dongkol. “Hatiku gelisah dan cemas serta gusar pula, kalau bisa akan

kupegang dia dan kugigit dia dengan geregetan. Tapi bila teringat pada ilmu silatnya yang

mahatinggi itu, selama hidup rasanya jangan kuharap akan dapat menuntut balas.”

“Kemudian cara bagaimana kau turun dari pohon itu?” tanya Siau-hi-ji.

“Selagi kupikir hendak menuntut balas padanya, tiba-tiba orang itu datang lagi, dia

seperti tahu akan jalan pikiranku, tiba-tiba ia tanya, ‘Apakah kau pikir hendak menuntut

balas padaku?’”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Apa yang kau pikirkan aku pun dapat melihatnya, sebab

meski mulutmu tidak bicara, tapi sorot matamu sudah mengatakan segalanya.”

“Karena isi hatiku dengan tepat kena dibongkar, aku tambah dongkol dan melototinya

dengan gemas,” tutur Oh-ti-tu pula. “Kupikir biarpun diriku akan ditendang ke bawah

pohon juga lebih baik daripada tersiksa di atas pohon. Siapa tahu dia malah tertawa,

katanya, ‘Sudah kutolong jiwamu, kau tidak berpikir akan balas budi, tapi malah berpikir

akan balas dendam?’”

“Lucu juga pertanyaannya,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ya, waktu itu pun aku tak bisa menjawabnya. Sakit hati harus kubalas, tapi budi juga

harus kubalas, aku si hitam ini mana boleh menjadi manusia yang lupa budi dan ingkar

kebaikan. Cuma ilmu silatnya kelihatan tinggi, jelas aku tidak mampu membalas dendam,

bahkan ingin membalas budi juga tidak tahu bagaimana jalannya. Untuk membalas budi

terkadang ternyata jauh lebih sulit daripada membalas dendam.”

“Isi hatimu ini mungkin diketahuinya pula?” ujar Siau-hi-ji.

“Persis, memang betul telah diketahuinya pula,” tukas Oh-ti-tu dengan gegetun, “Belum

lagi kubicara dia sudah mendahului bersuara pula, ‘Kau tidak tahu cara bagaimana harus

membalas budi, bukan?’ Aku hanya mendengus saja tanpa menjawab, maka ia berkata pula,

‘Jika kau dapat mengantarkan surat bagi orang lain, kenapa kau tidak boleh mengantarkan

surat bagiku?’ Tanpa terasa aku lantas tanya, ‘Setelah kuantarkan surat bagimu, apa itu

berarti aku sudah membalas budimu?’ Dia hanya mengangguk dan mengeluarkan sepucuk

surat dan menyuruh aku mengantarkan kepada … Eh, coba terka, kepada siapa surat itu

harus kuantar?”

“Wah, aku tak dapat menerkanya,” jawab Siau-hi-ji.

“Surat itu ternyata ditujukan kepada Hoa Bu-koat,” kata Oh-ti-tu.

Mata Siau-hi-ji bercahaya, katanya dengan tertawa, “Aha, cerita ini benar-benar semakin

menarik. Ada hubungan apakah antara dia dengan Hoa Bu-koat? Mengapa kau yang disuruh

mengantarkan surat itu? Bukankah dia sendiri dapat bicara langsung dengan Hoa Bukoat.”

“Bisa jadi dia tidak ingin bertemu dengan Hoa Bu-koat,” ujar Oh-ti-tu.

“Seumpama dia tidak ingin bertemu dengan Hoa Bu-koat, dengan Ginkangnya yang

mahatinggi itu sekalipun surat itu dia taruh di samping bantal Hoa Bu-koat juga takkan

diketahui oleh orang she Hoa itu.”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Oh-ti-tu tertawa geli, katanya, “Haha, jelas-jelas

suatu urusan yang sangat sederhana, tapi setelah direnungkan olehmu persoalan lantas

berubah menjadi ruwet. Tadinya kurasakan sangat gamblang persoalan ini, setelah

mendengar ucapanmu aku menjadi bingung sendiri.”

“Tapi persoalan ini sekali-kali tidak sederhana,” kata Siau-hi-ji.

“Mungkin lantaran dia merasa aku tidak sanggup membalas budi kebaikannya, maka aku

disuruh menjadi pengantar suratnya,” ujar Oh-ti-tu.

“Mungkin betul demikian, orang aneh seperti dia itu memang bisa timbul pikiran aneh

pula,” ucap Siau-hi-ji setelah berpikir sejenak. “Bahwa kau tidak sudi utang budi padanya,

mungkin juga dia tidak ingin mempunyai piutang budi pada orang lain.”

“Betul, aku tidak punya utang, dengan sendirinya juga tidak ingin memberi kredit pada

orang lain, kedua pihak sama-sama tidak berutang, hidup begini barulah aman tenteram,

bilamana kutahu ada orang ingin membalas budi padaku, tentu pula aku sendiri akan

merasa kikuk.”

“Jika demikian, jadi tabiat kalian berdua ternyata sama anehnya, pantas kalau dia mau

menolongmu. Tapi mengenai isi surat itu, apakah kau membacanya?”

“Buset, memangnya kau kira aku si hitam ini suka mengintip surat orang lain?” omel Oh-titu.

“Setelah dia membuka Hiat-toku, segera pula kuantarkan suratnya kepada Hoa Bukoat,

apa pun yang tertulis di sampul suratnya pun tak kupandang sama sekali.”

“Engkau benar-benar seorang lelaki sejati, tapi setelah membaca surat itu tentunya Hoa

Bu-koat memberi reaksi?” tanya Siau-hi-ji.

“Justru lantaran habis membaca surat itu dia lalu bicara secara aneh, makanya buru-buru

kucari kau.”

“Apa yang dia katakan?” tanya Siau-hi-ji.

“Dia bilang, meski belum lama kukenal Kang Piat-ho, tapi antara kami sudah cukup ada

saling pengertian, mana bisa hanya desas-desus orang lain, lantas kutuduh Kang Piat-ho

sebagai orang jahat, Locianpwe ini suka berpikir yang bukan-bukan.”

“He, jika begitu surat orang aneh itu ternyata menyangkut diri Kang Piat-ho, bahkan

nadanya seperti minta Hoa Bu-koat mempercayai Kang Piat-ho adalah orang baik-baik,”

seru Siau-hi-ji.

“Ya, memang begitulah,” jawab Oh-ti-tu.

“Lantas orang aneh itu pernah apanya Kang Piat-ho? Mengapa dia membela Kang Piat-ho?”

“Sesudah Hoa Bu-koat bicara begitu, selagi hendak kutanya siapakah Locianpwe yang

dimaksudkan itu, tiba-tiba ia malah tanya padaku lebih dulu, ‘Kau sungguh beruntung

dapat melihat Locianpwe itu, entah bagaimana bentuk beliau, apakah benar-benar selalu

memakai topeng perunggu?’”

“O, jadi Hoa Bu-koat sendiri tidak pernah melihat orang aneh itu?”

“Ya, begitulah,” jawab Oh-ti-tu.

“Aneh, jika Hoa Bu-koat tidak pernah melihatnya, memangnya dia mau menurut

perkataannya?”

“Aku pun merasa heran, tapi kemudian dapat kuketahui bahwa sebelum Hoa Bu-koat

berkelana di dunia Kangouw, dia telah dipesan oleh Ih-hoa-kiongcu agar kelak bila

bertemu dengan seorang Tong-siansing (tuan perunggu), maka jangan sekali-kali

membangkang perkataannya, apa pun yang dikatakan ‘Tong-siansing’ itu harus diturutnya.”

“Kiranya orang aneh itu bernama ‘Tong-siansing’, sungguh nama sama aneh dengan

orangnya!” ucap Siau-hi-ji.

“Konon Ih-hoa-kiongcu memberi pesan pula bahwa Tong-siansing ini adalah tokoh kosen

nomor satu di dunia Kangouw dan tiada bandingannya dari dulu kala hingga jaman kini, ilmu

silatnya juga sukar diukur, malahan Ih-hoa-kiongcu sendiri mengaku masih berselisih jauh

apabila dibandingkan ‘Tong-siansing’ itu.”

“Masa Ih-hoa-kiongcu yang angkuh itu pun bicara demikian?” tergerak juga hati Siau-hiji.

“Dan kalau Ih-hoa-kiongcu juga demikian tunduk padanya, maka ilmu silat Tong-siansing

itu pasti benar-benar sangat menakutkan.”

“Sebab itulah kalau Kang Piat-ho telah mendapatkan bantuan orang kosen seperti Tongsiansing

itu, maka tiada setitik harapan pun bagimu untuk mengalahkan Kang Piat-ho.”

Siau-hi-ji mengernyitkan dahi dan berpikir sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan

tertawa, “Tapi menurut pendapatku, tokoh macam Tong-siansing itu pasti takkan turun

tangan sendiri, kalau dia mau tampil ke muka tentu dia takkan menulis surat kepada Hoa

Bu-koat dan lebih-lebih takkan menyuruhmu mengantarkan suratnya.”

“Namun Hoa Bu-koat jelas sangat tunduk kepada segala kehendak Tong-siansing, maka

kelak dia juga pasti akan membela Kang Piat-ho sepenuh tenaga, dengan bantuan tokoh

seperti dia, tentu kau akan bertambah kepala pusing menghadapi Kang Piat-ho.”

“Kukira tidak menjadi soal bagiku,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum hambar.

Oh-ti-tu memandang Siau-hi-ji dengan tajam, sejenak kemudian mendadak ia berkata,

“Sampai berjumpa kelak!”

“He, hendak ke mana kau?” tanya Siau-hi-ji.

“Aku sudah membalas budi, tapi belum lagi membalas dendam!”

“Apa katamu? Maksudmu hendak mencari Tong-siansing itu untuk menuntut balas?”

“Ya, memangnya tidak boleh?”

“Tapi … tapi ilmu silatnya ….”

“Kalau ilmu silatnya lebih tinggi daripadaku lantas aku tidak berani menuntut balas

padanya? Memangnya aku si hitam ini hanya berani pada yang lemah dan takut pada yang

kuat?”

“Tapi sudah jelas kau bukan tandingannya!”

“Bukan tandingannya juga akan kuhantam dia, tidak sanggup melawannya biar aku mengadu

jiwa dengan dia. Siapa yang telah menelantarkan aku di atas pohon, betapa pun aku akan

membuatnya tidak enak tidur.”

Sambil berteriak segera pula ia lari pergi secepat terbang.

Siau-hi-ji menggeleng kepala, gumamnya, “Tabiat orang ini sungguh aneh dan kepala batu,

tapi di sini pula letak sifat menarik orang ini.”

Sekarang dalam benak Siau-hi-ji telah bertambah pula tiga tanda tanya yang belum

terjawab.

Pertama, ke manakah perginya Buyung Kiu asli itu?

Kedua, kejadian gawat apa yang timbul di Ok-jin-kok sana?

Ketiga, orang macam apakah ‘Tong-siansing’ itu sebenarnya? Apa pula hubungannya dengan

Kang Piat-ho? Mengapa dia berkeras menyatakan Kang Piat-ho adalah orang baik?

Sementara itu hari sudah terang, Siau-hi-ji menanggalkan kedoknya. Di siang hari dia

tidak suka menyaru dalam bentuk Li Toa-jui. Sambil garuk-garuk kepala ia meninggalkan

hutan itu, beberapa tanda tanya tadi membuatnya kepala pusing. Baru sekarang ia merasa

tidak mudah untuk menjadi “orang pintar nomor satu di dunia”.

Ia menggeleng kepala dan menyengir sendiri, gumamnya, “Jika ada orang yang ingin

menjadi ‘orang pintar nomor satu di dunia’, bisa jadi ia sendiri justru adalah si tolol nomor

satu di dunia.”

Orang berlalu lalang di jalanan sudah mulai banyak, tapi sembilan di antara sepuluh orang

itu dari barat menuju ke timur, bahkan tampaknya adalah kawan-kawan Kangouw, ada yang

pakai pita hitam di lengan baju, ada yang kelihatan bersemangat dan gembira sambil

bercakap sepanjang jalan dan entah apa yang dibicarakan.

Siau-hi-ji tahu orang-orang ini kebanyakan adalah kawan-kawan yang melayat ke Thianhiang-

tong, pita hitam di lengan baju adalah tanda berkabung bagi Thi Bu-siang. Tapi

sekarang mereka hendak menuju ke mana? Mengapa rata-rata kelihatan bersemangat dan

bergembira, apa pula yang dibicarakan mereka? Inilah yang membuat Siau-hi-ji terheranheran.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong ada sebuah kereta kuda berbentuk aneh dan

terpajang dengan mewah dihalau tiba terus berhenti mendadak di depan Siau-hi-ji.

Waktu pintu kereta terbuka, seorang melongok dan berseru, “Lekas naik kemari!”

Cahaya matahari menyinari wajah orang itu, mukanya cantik, tapi kulitnya kasap, kiranya

To Kiau-kiau yang telah menyamar sebagai Buyung Kiu itu. Betapa pun mahirnya orang

merias kulit badan, setelah menyamar tentu kelihatan rada kasap, cuma kalau tidak

diperhatikan dengan cermat memang tiada orang yang tahu.

Tanpa pikir Siau-hi-ji terus melompat ke atas kereta, dilihatnya kamar kereta itu

terpajang sangat mentereng, joknya tebal dan empuk serta luas pula, rasanya enak sekali

duduk di situ.

“Wah, engkau benar-benar mahasakti, entah dari mana engkau mendapatkan kereta

sebagus ini?” tanya Siau-hi-ji.

To Kiau-kiau tidak menjawab, sebaliknya ia balas tanya, “Sudah lama kutunggu kau

mengapa baru sekarang keluar dari sana, apa yang kau bicarakan dengan Oh-ti-tu itu?”

“Kami asyik membicarakan seorang yang di sebut ‘Tong-siansing’, apakah pernah kau

dengar nama ini?”

Tiba-tiba To Kiau-kiau menegas, “He, jadi orang aneh yang menolongnya itu adalah ‘Tongsiansing’

yang dimaksud?”

“Kau tahu orang aneh itu?” tanya Siau-hi-ji.

To Kiau-kiau seperti tercengang, tapi cepat ia berteriak, “Tidak, aku tidak tahu orang

aneh itu, belum pernah kudengar namanya.”

Meski tidak dapat melihat air mukanya yang asli, tapi dari nada ucapannya Siau-hi-ji yakin

To Kiau-kiau pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi kalau To Kiau-kiau tidak mau

menjelaskan sesuatu urusan, maka siapa pun jangan harap akan mampu memaksanya

bicara.

Siau-hi-ji kenal watak orang ini, ia pun tidak tanya lebih lanjut, dilihatnya kereta ini pun

dilarikan ke timur, jurusan yang sama seperti kawan-kawan Kangouw itu.

“Orang-orang ini tampaknya tergesa-gesa menuju ke sana, entah ada urusan apa?” tanya

Siau-hi-ji.

“Menonton keramaian,” jawab To Kiau-kiau.

“Wah, aku pun suka menonton keramaian, entah menarik tidak tontonan itu?”

“Kalau anak murid suatu golongan yang berilmu silat paling tinggi di dunia ini bertarung

dengan kelompok Kang Piat-ho yang berkedudukan tinggi dan berpengaruh, coba

bayangkan, bakal ramai apa tidak?”

“He, jangan-jangan Hoa Bu-koat lawan para menantu keluarga Buyung?” tanya Siau-hi-ji.

“Siapa bilang bukan?” To Kiau-kiau tertawa.

“Jangan-jangan juga lantaran urusan Kang Piat-ho?”

“Kalau bukan urusan ini, habis urusan apa lagi?” To Kiau-kiau tersenyum dan menyambung

pula, “Mula-mula Lamkiong Liu dan Cin Kiam mencari Kang Piat-ho untuk membikin

perhitungan, tapi Hoa Bu-koat berani menjamin Kang Piat-ho adalah orang baik-baik dan

bersih, karena kedua pihak sama-sama ngotot, terpaksa harus diselesaikan dengan adu

Kungfu. Manusia di mana-mana sama saja, baik dia orang terhormat atau kuli pikul di tepi

jalan, kalau sudah marah dan kalap, maka jalan penyelesaian yang terbaik adalah

berkelahi.”

“Menarik juga pertarungan ini,” terbeliak mata Siau-hi-ji, “Cuma persoalan ini baru

terjadi pagi tadi, mengapa sudah diketahui orang sebanyak ini?”

“Bisa jadi Kang Piat-ho yang sengaja menyiarkannya,” ujar To Kiau-kiau. “Lantaran yakin

pihaknya mendapat dukungan Hoa Bu-koat dan pasti akan menang, dengan sendirinya

pertarungan ini harus ditonton orang sebanyak-banyaknya.”

“Ya, meski kuat pihak keluarga Buyung, tapi kalau dibandingkan Hoa Bu-koat tetap masih

selisih sedikit …. Ai, apakah di dunia ini memang tiada orang lain lagi yang mampu melayani

Hoa Bu-koat itu?”

“Ada, hanya kau,” ucap To Kiau-kiau dengan mengulum senyum.

“Aku ….” Siau-hi-ji menyeringai. Sesungguhnya ia tidak ingin membicarakan soal ini,

syukur ada suatu hal yang lebih perlu dibicarakannya sekarang, segera ia mengalihkan

persoalan dan berkata, “Eh, percakapan kita tadi terganggu oleh kedatangan Oh-ti-tu.

Mengenai Ok-jin-kok, sesungguhnya apa yang telah terjadi di sana?”

To Kiau-kiau menghela napas, katanya kemudian, “Apakah kau masih ingat Ban Jun-liu

yang tinggal di sana?”

“Masa lupa?” jawab Siau-hi-ji tertawa. “Waktu kecilku selalu dia merendam diriku dengan

obat sehingga kepalaku pusing dan sesak napas, kini kepandaianku memukul orang memang

tidak tinggi, tapi kesanggupan tahan pukul terhitung lumayan dan semua ini adalah berkat

gemblengannya.”

“Dan apakah masih ingat di rumah Ban Jun-liu itu ada lagi seorang yang biasa dipanggil

sebagai kaleng obat?”

Siau-hi-ji terkejut, tapi lahirnya tidak memperlihatkan sesuatu, dengan tertawa ia

menjawab, “Sudah tentu ingat, obat yang dimakannya jauh lebih banyak daripadaku,

apabila Ban Jun-liu menemukan obat baru tentu suruh dia mencicipinya lebih dulu.”

“Sepuluh bulan yang lalu, Ban Jun-liu dan kaleng obat itu telah menghilang!” ucap To Kiaukiau

sekata demi sekata sambil menatap tajam Siau-hi-ji.

Jantung Siau-hi-ji serasa hendak melompat keluar dari rongga dadanya, tapi sekalipun

hidung ditempelkan ke wajahnya juga jangan harap akan dapat melihat kernyit kulit

mukanya, dia hanya tersenyum tawar saja dan berucap, “Memangnya terhitung gawat

kejadian ini, maka kalian menjadi begitu tegang?”

To Kiau-kiau juga tertawa, katanya, “Apakah kau tahu siapa si kaleng obat itu?”

“Memangnya siapa dia?” tanya Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Pernahkah kau dengar di dunia Kangouw dahulu ada seorang jago pedang, sekali

pedangnya menabas, dalam jarak beberapa tombak akan terasakan angin pedangnya yang

tajam sehingga rambut dan jenggot pun akan tercukur bersih tanpa kau sadari apa yang

telah terjadi.”

“Hah, pernah kudengar tokoh itu, kalau tidak salah dia bernama … bernama Yan Lamthian,

betul atau tidak?”

“Selain Yan Lam-thian mana ada lagi jago pedang yang lain?”

“Tapi dia kan sudah mati, kata orang?”

“Dia tidak mati, dia bukan lain adalah si kaleng obat itu!”

Siau-hi-ji berlagak heran, serunya, “He, jadi si kaleng obat itu adalah Yan Lam-thian, si

jago pedang nomor satu di dunia? Ai, sungguh tak tersangka sama sekali. Tapi bila ilmu

pedang Yan Lam-thian memang setinggi itu, mengapa dia bisa berubah menjadi ‘kaleng

obat’ yang lebih menyerupai mayat hidup itu?”

“Justru semua ini karena dirimu inilah,” ucap To Kiau-kiau dengan gegetun. “Demi

menyelamatkan kau dari tangannya, maka terpaksa kami telah melukai dia.”

Uraian To Kiau-kiau dilakukan dengan cara sewajarnya dan terdengar sungguh-sungguh,

Siau-hi-ji pasti percaya penuh apabila dahulu dia tidak diberitahu rahasia asal-usulnya

oleh Ban Jun-liu.

Diam-diam ia gegetun, pikirnya, “Biarpun Yan Lam-thian adalah tuan penolongku dan

seorang pendekar besar, tapi antara dia dan aku tidak ada kontak perasaan, sebaliknya

meski kalian ini orang jahat, tapi selama belasan tahun kalian telah membesarkan aku dan

telah mempunyai ikatan batin dengan diriku, memangnya aku tega menuntut balas kepada

kalian demi Yan Lam-thian? Mengapa sampai sekarang kalian tetap mendustai aku?”

Secara garis besar Siau-hi-ji memang tidak terhitung manusia yang sangat baik, tapi dia

berdarah panas, penuh perasaan, meski lahirnya keras, tapi batinnya lunak, hatinya lemas.

Asalkan dapat mengetuk hatinya, maka biarpun dia disuruh naik ke gunung bergolok atau

terjun ke air mendidih juga dia sukarela. Dan asalkan dia sukarela, biarpun untuk itu dia

tertipu dan telan pil pahit juga dia tidak penasaran. Sebaliknya kalau dia dibikin marah

dan sakit hati, maka apa pun akibatnya juga dia tidak mau tunduk dan pasti akan mengadu

jiwa denganmu.

Dia sendiri menganggap dirinya cukup sabar dan tenang, tapi kalau sudah terangsang,

maka meledaklah perasaannya bagai gunung api meletus.

Dia pun menganggap dirinya sangat cerdik, tapi kalau sudah berbuat ceroboh, maka

tindakannya bisa lebih kasar daripada siapa pun juga.

Justru lantaran tabiatnya inilah telah melahirkan kisah yang beraneka gayanya.

Begitulah Siau-hi-ji merasa gegetun di dalam hati, tapi mukanya tetap tersenyum,

katanya, “Demi diriku katamu? Memangnya ada sangkut-paut apa antara diriku dengan

‘kaleng obat’ itu?”

“Kisah ini terlalu panjang kalau diuraikan, biarlah kita bicara lain kali saja, asalkan kau

ingat, demi dirimulah kami rela membikin marah Yan Lam-thian, dan karena menghilangnya

Yan Lam-thian itu, maka kami pun tidak berani berdiam lagi di Ok-jin-kok.

“Memangnya kenapa?” tanya Siau-hi-ji.

Jilid 4. Bakti Binal

“Meski Ok-jin-kok dipandang sebagai daerah maut bagi orang Kangouw, tapi kalau Yan

Lam-thian mau menerjang ke sana, memangnya siapa yang mampu merintangi dia? Dulu dia

sudah terjebak satu kali, sekarang dia pasti akan bertindak lebih hati-hati,” sinar

matanya yang biasanya penuh tipu akal itu kini menampilkan rasa khawatir dan jeri, ia

menghela napas panjang, lalu menyambung pula, “Sekali ini kalau dia datang lagi, maka

kawanan Ok-jin kami ini mungkin akan berubah menjadi Ok-kui (setan jahat) semuanya ….”

“Apakah engkau yakin ilmu silatnya telah … telah pulih seluruhnya?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan gemas To Kiau-kiau menjawab, “Biarpun ilmu silatnya kini belum pulih, tapi Ban

Jun-liu itu tentu sudah berhasil menemukan obat baru yang dapat menyembuhkan

lukanya, kalau tidak masakah dia berani membawanya kabur dari Ok-jin-kok?!”

“Betul!” ucap Siau-hi-ji setelah berpikir sejenak. “Sementara ini ilmu silatnya tentu belum

pulih, kalau tidak, mungkin sekarang dia sudah mencari kalian untuk membikin perhitungan

lama. Dan kalau Ban Jun-liu berani membawanya lari, kukira dia pasti yakin dapat

menyembuhkan lukanya.”

“Cuma sukar diketahui bilakah lukanya akan dapat sembuh seluruhnya, bisa jadi tiga tahun

atau lima tahun lagi atau mungkin delapan atau sembilan tahun pula, yang kuharap hanya

semoga jangka waktu itu akan semakin lama.”

“Akan tetapi bukan mustahil saat ini juga kesehatannya sudah pulih, bukan?” Siau-hi-ji

menambahkan dengan perlahan.

Tergetar To Kiau-kiau, ia tatap Siau-hi-ji dengan tajam, katanya, “Kau berharap dia

sudah sembuh saat ini juga?”

Siau-hi-ji tenang-tenang saja, jawabnya dengan perlahan, “Meski bukan begitu harapanku,

tapi apa pun juga kita harus berpikir dulu ke arah yang buruk.”

To Kiau-kiau terdiam sejenak, katanya kemudian, “Ya, betul juga, bisa jadi saat ini ilmu

silatnya sudah pulih dan mungkin pula dia sedang mencari kami ….” pandangannya tiba-tiba

menerawang keluar kereta dan tiada minat buat bicara pula.

Kereta kuda itu semakin kencang larinya, cambuk si kusir terdengar menggelegar seakanakan

ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuan untuk ikut menonton pertarungan yang

sengit dan menarik itu.

Siau-hi-ji juga memandang keluar kereta, gumamnya, “Saat ini Yan Lam-thian entah

berada di mana? Sungguh aku sangat ingin tahu ….”

*****

Sebuah lembah kecil dikelilingi lereng dari tiga jurusan, sementara itu di lereng bukit itu

sudah penuh berdiri beratus-ratus orang, bahkan di atas pohon juga sudah penuh

bertengger penonton tanpa bayar.

Kereta kuda mereka berhenti di luar lembah sehingga Siau-hi-ji tidak dapat melihat

suasana di tengah lembah. Hanya terdengar suara ramai orang berbincang, “Suseng

(pelajar) yang kelihatan lemah lembut itu apakah betul ahli waris dari Ih-hoa-kiong?

Sama sekali tak tertampak dia memiliki ilmu silat yang tinggi.”

“Tapi kabarnya di dunia Kangouw saat ini tiada orang yang lebih lihai daripada ilmu

silatnya, bahkan Kang-tayhiap juga sangat kagum padanya, entah kabar ini dapat

dipercaya atau tidak?” demikian yang lain menanggapi.

Segera seorang lagi menukas dengan tertawa, “Jika tidak percaya, kenapa kau sendiri

tidak mencobanya?”

Orang tadi melelet lidah dan menjawab, “Buset, aku masih ingin hidup lebih lama dengan

istriku yang masih muda itu.”

Lalu seorang lagi berkata dengan gegetun, “Usianya masih muda belia, tapi ilmu silatnya

sudah nomor satu di dunia, orangnya cakap pula, di dunia ini rasanya tiada orang lain yang

dapat melebihi dia.”

Yang lain juga menanggapi dengan kagum, “Ya, ‘Putra kebanggaan Thian’, istilah ini sungguh

cocok sekali baginya. Bilamana aku dapat hidup satu hari saja seperti dia, maka puaslah

aku.”

Begitulah terdengar puji sanjung di sana sini dan yang dimaksud tentulah Hoa Bu-koat

adanya. Keruan kesal hati Siau-hi-ji mendengar semua itu.

“Hatimu tidak enak bukan setelah mendengar percakapan mereka itu?” tanya To Kiau-kiau

dengan tersenyum.

“Siapa bilang hatiku tidak enak? Hm, aku justru sangat gembira,” jawab Siau-hi-ji

mendelik.

“Ai, dia memang benar-benar ‘Putra kebanggaan Thian’, seakan-akan Thian telah

memberkahi dia dengan segala hal yang membuat kagum orang, betul tidak?” kata To

Kiau-kiau dengan gegetun.

“Betul tidak?” Siau-hi-ji menirukan logat orang sambil mencibir.

“Hahaha!” To Kiau-kiau tertawa. “Meski dia adalah ‘Putra kebanggaan Thian’, tapi Siau-hiji

kita juga tidak di bawahnya, dunia Kangouw yang akan datang mungkin adalah dunianya

kalian berdua.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji membuka pintu kereta dan berkata, “Aku akan pergi

menonton, dan engkau?”

“Pergilah kau,” jawab To Kiau-kiau. “Akan kutunggu di sini, cuma … kau harus bekerja

sesuatu bagiku.”

“Urusan apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Berusahalah membawa kedua Auyang … kedua Lo bersaudara itu ke dalam kereta ini,

sanggupkah kau?”

“Asalkan keretamu muat, biarpun seluruh penonton yang hadir di sini harus kuangkat ke

dalam kereta ini juga bukan soal bagiku,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Habis itu ia lantas melompat turun dan melangkah pergi, tiba-tiba ia menoleh memandang

si kusir. Dilihatnya kusir itu sedang mengelus-elus berewoknya dan lagi memandangnya

dengan tertawa.

Tanpa susah payah dapatlah Siau-hi-ji menyusup ke tengah-tengah orang yang berjubel

terus naik ke lereng sana. Ia lihat tempat yang paling baik adalah duduk di atas pohon,

dari situ dapat memandang sekelilingnya dengan jelas. Cuma sayang waktu itu semua

pohon sudah penuh orang.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat akal, ia menggeleng-geleng kepala dan bergumam, “Wah, di

dunia ini ternyata banyak juga manusia yang tidak takut mati sehingga berani duduk di

atas liang ular berbisa, kalau saja pantatnya kena digigit, wah ….”

Belum habis ucapannya, sebagian besar orang-orang yang nongkrong di atas pohon itu

sama melompat turun dengan ketakutan. Setelah kacau balau sejenak, akhirnya diketahui

bahwa orang yang bicara tadi kini sudah nongkrong sendiri di atas pohon dengan

tenangnya.

Dengan sendirinya orang-orang itu penasaran dan menegur, “He, sahabat itu, kau bilang

pohon ini ada liang ular, mengapa kau sendiri bertengger di situ?”

“O, apakah tadi kubilang begitu,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jelas kau yang bicara begitu,” teriak orang-orang itu.

“Tapi aku kan cuma bilang banyak orang yang tidak takut mati dan berani duduk di atas

liang ular, aku tidak pernah mengatakan pohon ini ada liang ularnya, mungkin kalian salah

dengar,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tentu saja orang-orang itu melenggong dan juga gusar, tapi terdengar Siau-hi-ji lagi

bergumam pula, “Kalau Kang-lam-tayhiap dan para nona keluarga Buyung sedang bereskan

perkara di sini, bilamana ada orang berani mengacau, maka dia pasti sudah bosan hidup.”

Seketika orang-orang itu saling pandang belaka dan terpaksa menahan perasaan murka

belaka, ada sebagian merambat lagi ke atas pohon, sebagian lain tidak dapat tempat di

atas, terpaksa mereka anggap sial.

Dengan enak Siau-hi-ji bertengger di atas pohon sehingga segala sesuatu yang terjadi di

lembah itu seluruhnya tertangkap oleh pandangannya, ia merasa tempat ini sungguh kelas

utama, diam-diam ia merasa geli, pikirnya, “Seorang kalau ingin menduduki tempat yang

baik memang perlu main-main sedikit.”

Dilihatnya di tanah lapang di tengah lembah sana terparkir sebuah kereta kuda, Hoa Bukoat

tampak bersandar pada pintu kereta dan seperti lagi mengobrol iseng dengan

menumpang di dalam kereta.

Kang Piat-ho tampak duduk di atas batu di sebelah Hoa Bu-koat serta berulang-ulang

tegur sapa dengan penonton yang mengelilingi mereka, sedikit pun tidak berlagak sebagai

“pendekar besar”.

Siau-hi-ji juga melihat Lo Kiu dan Lo Sam, kedua orang itu tinggi dan gemuk sehingga

sangat mencolok berada di tengah-tengah kerumunan orang.

Namun anggota keluarga Buyung belum nampak seorang pun yang datang, diam-diam para

kawan Kangouw yang hadir itu sama menggrundel dan menganggap mereka terlalu

sombong.

Hoa Bu-koat sendiri tidak nampak gelisah, senyum di wajahnya tetap riang gembira,

setiap kali dia memandang ke dalam kereta, sorot matanya yang tajam itu berubah

menjadi sangat halus.

Tanpa terasa Siau-hi-ji mengepal, hatinya panas, pikirnya, “Siapa yang berada di dalam

kereta? Masa Thi Sim-lan juga dibawanya kemari dan mereka sejengkal pun tak dapat

berpisah?”

Sekonyong-konyong terjadi kegaduhan di sebelah sana, dua belas lelaki berbaju hitam dan

pakai ikat pinggang berwarna-warni menggotong tiga buah tandu besar berbeludru hijau

berlari datang. Pada tiap-tiap tandu besar itu mengikut pula sebuah tandu kecil dengan

dua orang pemikul, penumpang ketiga tandu kecil ini adalah tiga pelayan molek.

Setelah tandu berhenti dan diturunkan, segera ketiga pelayan molek itu turun lebih dulu

untuk menyingkap tirai pintu tandu besar, kemudian keluarlah tiga wanita cantik yang

memesona setiap pengunjung.

Ketiga perempuan cantik ini adalah Buyung Siang, Buyung San dan Siau-sian-li Thio Cing.

Ketiganya kini berdandan secara putri keraton, semuanya berpakaian anggun, tampaknya

mereka lebih mirip nyonya keluarga bangsawan yang sedang keluar bertamu daripada jago

Kangouw yang datang hendak bertempur dengan orang.

Kebanyakan pengunjung itu hanya pernah mendengar nama kesembilan kakak beradik

Buyung dan jarang yang kenal wajah asli mereka, sekarang pandangan mereka jadi

terbeliak, hampir semuanya melenggong kesima. Bahkan Siau-hi-ji sendiri juga hampir

tidak percaya bahwa nona yang berjalan dengan lemah gemulai di bagian belakang itu

adalah Siau-sian-li yang pernah malang melintang dan membunuh orang di padang rumput

dahulu.

Dandanan Siau-sian-li sekarang juga sangat menarik, dia sudah menanggalkan sepatu

botnya dan memakai sandal bertatahkan mutiara, celana yang sempit sudah berganti

dengan gaun yang panjang sehingga gaya berjalannya tampak meliak-liuk, tidak lagi

terjang sana sini seperti dahulu. Malahan mukanya kini sudah ditambah dengan pupur yang

tipis.

“Memang seharusnya begini baru memper seorang perempuan!” diam-diam Siau-hi-ji

tertawa geli. Aneh juga, sehari-hari biasanya ia berpakaian seperti orang yang senantiasa

hendak berkelahi, tapi ketika benar-benar hendak bertarung sekarang dia malah

berdandan serapi ini, apakah maksud tujuannya? Jangan-jangan dia sengaja hendak

membuat Hoa Bu-koat terpesona sehingga lupa daratan dan tidak sanggup berkelahi lagi.”

Pandangan Hoa Bu-koat telah beralih dari dalam kereta ke arah para nona keluarga

Buyung ini. Tapi sorot matanya itu daripada dikatakan terpesona akan lebih tepat bila

dikatakan terkejut dan tercengang.

Dengan berlenggang Buyung San berjalan paling depan, ia memberi hormat, lalu berkata

dengan tertawa, “Maaf bila kedatangan kami ini rada terlambat sehingga Kongcu telah

lama menunggu.”

Dia bicara dengan lemah lembut, mana Hoa Bu-koat mau kurang sopan di depan kaum

wanita, cepat ia menjura dan menjawab dengan tersenyum, “Ah, kukira bukan nyonya yang

datang terlambat, tapi Cayhe yang datang terlalu dini.”

“Kongcu benar-benar ramah, rendah hati dan halus budi, entah putri keluarga siapa yang

kelak beruntung mendampingi Kongcu,” ucap Buyung San dengan tertawa.

Kedua orang bicara dengan ramah tamah seperti dua orang kenalan lama yang kebetulan

bertemu di tempat pesiar, mana ada tanda-tanda bahwa maksud kedatangan mereka ini

sebenarnya hendak berkelahi.

Tentu saja semua orang melongo heran, kalau melihat gelagat begini, apakah mungkin bisa

terjadi pertarungan sengit? Demikian mereka sama bertanya-tanya di dalam batin.

Terdengar Hoa Bu-koat lagi berkata, “Lamkiong-kongcu dan Cin-kongcu mungkin sebentar

juga akan tiba?”

“Tidak, karena di rumah ada urusan, mereka sudah pulang dulu,” jawab Buyung San.

Hoa Bu-koat melengak, katanya, “Jika mereka tidak datang, lalu cara bagaimana

menyelesaikan urusan ini?”

“Urusan ini kan persoalan antara kami kakak beradik dengan Kongcu,” kata Buyung San.

Segera Buyung Siang menyambung, “Urusan keluarga Buyung selamanya tidak

memperbolehkan orang luar ikut campur.”

Bu-koat jadi melengak pula, katanya, “Tapi … tapi mereka kan ….”

“Betul, mereka adalah suami kami, tapi urusan istri sebagian juga tiada sangkut-pautnya

dengan suami,” ucap Buyung Siang dengan tertawa, “Kami kakak beradik dari keluarga

Buyung masakah mau mendapatkan suami yang suka ikut campur urusan istrinya?”

“Ya, mungkin Kongcu sendiri juga tidak suka mendapatkan istri yang suka ikut campur

urusan suami,” sambung Buyung San dengan tertawa.

Begitulah kakak beradik itu bicara sambung menyambung sehingga Hoa Bu-koat berdiri

terkesima tak dapat bersuara.

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli, pikirnya, “Lelaki yang memperistrikan nona dari

keluarga Buyung sungguh beruntung. Sudah jelas Lamkiong Liu dan Cin Kiam sendiri tidak

berani bertarung melawan Hoa Bu-koat, tapi oleh istri mereka telah diputar balik seakanakan

suami mereka itu tidak boleh mencampuri urusan sang istri, dengan demikian nama

baik mereka tidak rusak sedikit pun, bahkan orang luar akan memuji mereka memang

sayang istri.”

Supaya maklum bahwa dengan kedudukan Lamkiong Liu dan Cin Kiam betapa pun mereka

tidak boleh kalah bila bertarung dengan orang, tapi menghadapi Hoa Bu-koat mereka

menyadari pasti kalah. Oleh sebab itulah mereka sengaja tidak hadir, cara ini benarbenar

sangat cerdik.

Tapi kalau mereka mau membiarkan sang istri menghadapi Hoa Bu-koat, tentu mereka pun

yakin sang istri akan menang. Hal ini pun membuat Siau-hi-ji heran, diam-diam ia merabaraba

pula tipu daya apa yang tersembunyi di balik persoalan ini.

Kang Piat-ho itu benar-benar bisa menahan perasaan, baru sekarang dia menyela dengan

tersenyum. “Jika Lamkiong-kongcu dan Cin-kongcu tidak hadir, bukankah urusan ini

menjadi sulit diselesaikan.”

Pandangan Buyung Siang beralih ke arah Kang Piat-ho, senyumnya mendadak lenyap,

jawabnya dengan mendelik, “Siapa bilang sulit diselesaikan?”

Hoa Bu-koat berdehem, katanya dengan tersenyum, “Tapi Cayhe masakah boleh

bergebrak dengan para nyonya?”

“Kenapa kau tidak boleh bergebrak dengan kami? Memangnya kami ini bukan manusia?”

teriak Siau-sian-li.

Dengan tertawa Buyung San juga berkata, “Apabila Kongcu tidak sudi bergebrak dengan

kami, maka diharap Kongcu jangan ikut campur urusan kami dengan Kang Piat-ho. Betapa

pun Kang Piat-ho juga bukan anak kecil, masa tidak bisa membereskan urusannya sendiri?”

Dia tertawa dengan lembut, tapi ucapannya setajam sembilu. Para pengunjung sama

melengak, mereka menduga Kang Piat-ho pasti tidak dapat menerima olok-olok begitu.

Siapa tahu Kang Piat-ho tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum, “Setiap

kawan Kangouw tahu bahwa selama hidupku tidak suka melukai orang lain, apalagi

terhadap para nyonya? Lebih-lebih hanya karena sedikit salah paham saja?”

“Kang Piat-ho,” teriak Buyung Siang, “Coba dengarkan! Pertama, ini sama sekali bukan

salah paham segala, kedua, kau pun belum pasti melukai kami, boleh silakan maju saja.”

Kang Piat-ho tersenyum jawabnya, “Salah paham ini sementara ini sukar dibereskan, tapi

lama-lama tentu akan jelas duduk perkaranya. Kini Cayhe mana boleh berlaku kasar

kepada nyonya, sekalipun nyonya akan membunuh Cayhe juga tetap takkan kubalas

menyerang.”

Ucapan ini bertambah gemilang sehingga banyak di antara pengunjung itu sama bersorak

memuji, bahkan Siau-hi-ji diam-diam juga gegetun, “Di seluruh dunia ini, mengenai

kepandaian menghadapi orang mungkin tiada seorang pun yang mampu menandingi

kelicinan Kang Piat-ho, bahkan di lapangan begini terlebih menonjol pula kepandaiannya.”

Dengan gusar Buyung Siang lantas membentak, “Huh, sudah jelas kau tahu Hoa-kongcu

takkan tinggal diam membiarkan kami membinasakan kau, makanya kau bicara seenak

mulutmu!”

“Jika Cayhe sendiri tidak berani bertanggung jawab, tentu sekarang takkan hadir di sini,”

jawab Kang Piat-ho acuh.

Mendadak Siau-sian-li menjengek, “Hm, kalau orang lain, bilamana dia minta perlindungan

seseorang tentu dia sendiri akan merasa malu, tapi kau masih mampu bicara terangterangan

tanpa tedeng aling-aling, huh, mukamu yang tebal ini sungguh jarang ada

tandingannya.”

“Hahahaha!” Kang Piat-ho bergelak tertawa. “Untunglah para kawan Kangouw tiada yang

mau percaya bahwa orang she Kang ini adalah orang yang suka minta perlindungan ….”

“Ya, paling sedikit Kang-tayhiap pasti takkan mengeluyur pulang dan menonjolkan istrinya

untuk bertengkar dengan orang!” demikian tiba-tiba seorang berteriak.

Dari tempat nongkrongnya Siau-hi-ji dapat melihat dengan jelas yang berteriak itu ialah

Auyang Ting yang berganti nama menjadi Lo Kiu itu, dengan sendirinya Buyung Siang dan

lain-lain tak dapat melihat dan juga tak tahu siapa yang berteriak itu.

Terpaksa mereka pura-pura tidak tahu, tapi dalam hati mereka menyadari tidak boleh

bicara lebih lama lagi dengan Kang Piat-ho, kalau kekuatan kedua pihak selisih tidak

banyak, ada lebih baik mundur teratur saja.

Sebaliknya Hoa Bu-koat tetap tersenyum simpul, teriakan tadi entah didengarnya atau

tidak, bila tak perlu bicara dia memang tidak suka buka suara.

Tiba-tiba Siau-sian-li berseru, “Bicara kian kemari sekian lama tetap sukar menentukan

salah dan benar, kukira lebih baik turun tangan saja, biarlah aku belajar kenal dulu

dengan kepandaian Hoa-kongcu.”

Bu-koat memandang Siau-sian-li dari atas ke bawah, lalu menjawab dengan tersenyum,

“Kau pikir aku dapat bergebrak denganmu?”

“Mengapa tidak?” teriak Siau-sian-li dengan mendelik. “Meski dahulu kita pernah

bersahabat, tapi sekarang adalah musuh.”

Hoa Bu-koat hanya tersenyum tanpa menjawab.

Segera Buyung San berseru dan tertawa, “Rasanya Hoa-kongcu pasti tidak sudi

bergebrak dengan kaum wanita.”

“Bila kurang hati-hati hingga Cayhe membikin kusut dandanan para nyonya, ini saja

berdosa, apalagi bergebrak dengan kalian?” ucap Hoa Bu-koat dengan tertawa.

“Habis kalau menurut pendapat Kongcu, cara bagaimana urusan ini akan diselesaikan?”

tanya Buyung San.

“Menurut pikiranku,” jawab Bu-koat setelah diam sejenak, “pada hakikatnya urusan ini

tidak perlu diselesaikan mengingat pribadi Kang-heng, baik namanya maupun

kesanggupannya sudah cukup diketahui orang Kangouw, maka nyonya ….”

“Tidak, urusan ini harus diselesaikan,” teriak Buyung Siang, “Jika Hoa-kongcu tidak punya

jalan keluarnya, aku malah punya suatu cara yang baik.”

“Mohon penjelasan,” ucap Hoa Bu-koat.

“Begini, kami akan mengemukakan tiga soal, apabila Kongcu dapat melaksanakannya maka

selanjutnya kami takkan mencari setori lagi kepada Kang Piat-ho,” tutur Buyung Siang.

“Tapi kalau Kongcu tidak sanggup melakukan tiga soal ini, maka hendaklah Kongcu jangan

lagi ikut campur urusan kami dengan Kang Piat-ho.”

Sampai di sini barulah Siau-hi-ji memahami duduknya perkara, rupanya Lamkiong dan Cin

Kiam sengaja tidak ikut hadir dan kakak beradik Buyung serta Siau-sian-li sengaja

berdandan begitu anggun, tujuan mereka sengaja hendak memojokkan Hoa Bu-koat agar

tidak dapat bertarung benar-benar dengan mereka, dengan demikian barulah mereka ada

alasan untuk mengemukakan tiga soal itu untuk mempersulit Hoa Bu-koat. Jika Hoa Bukoat

terpancing, maka pertarungan ini baginya berarti sudah kalah.

Namun Hoa Bu-koat juga bukan orang dungu, setelah berpikir sejenak, kemudian ia

menjawab dengan tertawa, “Tapi ketiga soal yang akan nyonya sebut nanti bila pada

hakikatnya tak dapat dilaksanakan, lalu bagaimana?”

“Masakah kami mempersulit dengan soal yang tidak mungkin dilaksanakan olehmu?” kata

Buyung San dengan tertawa.

Mendadak Siau-sian-li menyambung, “Setelah ketiga soal itu dijelaskan dan ternyata tak

dapat kau laksanakan, maka kami akan melakukannya sebagai bukti, dengan demikian tentu

adil bukan?”

“Tapi kalau nyonya menyuruh kami menyulam, jelas Cayhe tidak sanggup,” kata Bu-koat

tertawa.

“Ketiga soal ini dengan sendiri dapat dilakukan oleh siapa pun juga, baik lelaki maupun

perempuan, tidak lain kami cuma ingin menguji kemahiran ilmu silat serta kecerdasan

Kongcu saja,” ujar Buyung San.

“Dan kalau Hoa-kongcu tidak dapat melakukan ketiga soal itu dan sebaliknya bila kami

dapat melaksanakannya, maka terbuktilah ilmu silat dan kecerdasan Kongcu memang lebih

rendah daripada kami, dengan demikian Kongcu tentu tidak akan ikut campur lagi dengan

urusan kami, begitu bukan?” sambung Buyung Siang.

“Jika betul begitu, maka selanjutnya Cayhe akan mengundurkan diri dari dunia Kangouw

dan takkan ikut campur urusan apa pun,” jawab Hoa Bu-koat.

Siau-hi-ji sudah menduga ketiga soal yang akan dikemukakan kakak beradik Buyung itu

pasti sangat aneh dan sulit dilaksanakan, maka diam-diam ia menertawakan Hoa Bu-koat,

“Wahai Hoa Bu-koat, bilamana kau terima usul mereka, maka terjebaklah kau. Soal yang

telah mereka rencanakan dengan matang, bahkan aku pun mungkin sulit melakukannya,

apalagi kau!”

Di sebelah lain para pengunjung juga lagi bisik-bisik membicarakan persoalan ini, kata

seorang, “Dalam hal Pi-bu (bertanding silat) sejak dulu hingga kini hanya dikenal dua cara,

yaitu Bun-pi atau Bu-pi (bertanding cara halus atau bertanding cara kasar). Apa yang

diusulkannya sekarang termasuk bertanding cara halus, hanya kakak beradik Buyung itu

menggunakan nama baru saja.”

Lalu seorang lagi menanggapi, “Apabila nona Buyung itu menyuruh Hoa-kongcu

berjumpalitan beberapa kali, lalu menyuruhnya pula merangkak beberapa lingkaran

seperti anjing, apakah mungkin Hoa Bu-koat mau melakukannya mengingat harga dirinya,

dan dengan demikian bukankah berarti dia akan kalah?”

Tapi segera ada yang mendebatnya, “Ah, bila begitu, caranya kan seperti bajingan tengik.

Padahal keluarga Buyung sangat termasyhur dan terhormat, rasanya mereka takkan

berbuat demikian.”

Maklumlah biarpun ucapan Hoa Bu-koat tadi seperti menyepelekan urusannya, tapi janji

akan mengundurkan diri dari dunia Kangouw cukup berbobot, sebab namanya sekarang

laksana sang surya yang gilang gemilang di tengah cakrawala dan kehidupannya di dunia

Kangouw selanjutnya pasti banyak ragam dan gayanya, tapi kalau nanti dia kalah, maka

berarti tamatlah riwayatnya.

Sebab itulah, meski Hoa Bu-koat cukup percaya pada dirinya sendiri, tapi bagi para

penonton terasa tegang dan berkhawatir baginya.

Dalam pada itu kakak beradik Buyung sedang bisik-bisik berunding sendiri. Lalu Buyung

Siang membuka suara dengan tertawa, “Nah, kita mulai dengan soal pertama, yakni

Kongcu berdiri dengan gaya ‘Kim-keh-tok-lip’ (ayam emas berdiri dengan kaki satu), lalu

orang disuruh mendorong, apabila engkau tidak roboh terdorong, maka anggap Kongcu

telah menang.”

“Tapi beberapa orang yang diharuskan mendorong?” tanya Bu-koat tertawa.

“Beberapa orang boleh sesukanya, umpamanya dua ratus orang begitu?” tanya Buyung

Siang.

Setelah merenung sejenak, akhirnya Hoa Bu-koat menjawab dengan tersenyum, “Baiklah

kuterima.”

Ucapan ini kembali menggemparkan para pengunjung. Betapa besarnya tenaga gabungan

dua ratus orang, sekalipun tenaga dua ratus lelaki biasa saja sukar ditahan oleh seorang

Hoa Bu-koat, apalagi dia harus berdiri dengan kaki satu dalam gaya ‘Kim-keh-tok-lip’

segala.

Bila ada orang mengira dengan tenaga satu kaki dapat menahan daya dorongan dua ratus

orang, maka otak orang itu pasti kurang waras. Padahal Hoa Bu-koat jelas kelihatan bukan

orang sinting, mengapa dia justru menerima syarat aneh itu dengan begitu saja.

Begitulah semua orang merasa kejut dan heran pula, diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli

melihat sikap orang-orang itu, hampir saja dia berteriak, “Huh, cuma soal begini saja

kenapa meski diherankan? Asalkan sedikit saja memeras otak, maka setiap orang pun

dapat melakukannya. Asalkan kau berdiri dengan punggung bersandar pada dinding tebing,

jangankan dua ratus orang, biarpun didorong dua ribu orang juga takkan terdorong

roboh.”

Ia tidak tahu bila soal ini sudah dipecahkan, jadinya memang begitu mudah dan sangat

sederhana, tapi dalam keadaan genting begini, otak siapa yang sempat berpikir jelimet

sejauh itu?

Ini sama mudahnya dengan telur ayam harus didirikan tegak di atas meja, asalkan telur

diketuk salah satu ujungnya dan berdiri tegaklah telur itu, tapi sebelum rahasia ini

dibeberkan, mungkin tiada satu orang pun di antara sejuta orang mampu melakukannya.

Siau-hi-ji mengira Hoa Bu-koat juga sudah mempunyai pikiran yang sama dengan dia, di

luar dugaan Hoa Bu-koat ternyata tidak berjalan menuju tebing sana, tapi di tanah lapang

itu juga dia lantas berdiri dengan kaki satu, lalu berkata dengan tersenyum, “Bila Cayhe

berhitung sampai ‘tiga’, maka bolehlah nyonya menyuruh orang mulai mendorongku.”

Buyung Siang dan Buyung San saling mengedip, sorot mata menampilkan rasa girang,

serentak mereka menyatakan baik.

Tatkala mana di lembah gunung ini hadir beberapa ratus orang, semuanya termasuk Siauhi-

ji menganggap Hoa Bu-koat pasti akan kalah. Malahan ada sementara orang yang telah

menghela napas menyesal. Habis apa mau dikatakan, Hoa Bu-koat berdiri dengan kaki satu

tanpa sandaran apa pun, tidak perlu dua ratus orang, cukup dua orang saja sudah dapat

menolaknya roboh.

Bicara tentang ilmu silat memang dua ratus orang juga bukan tandingan Hoa Bu-koat, tapi

cara dia mengadu tenaga luar begitu sama sekali tak dapat melawan dengan akal, bila

didorong dengan tenaga seribu kati, maka kau juga harus melawannya dengan tenaga yang

sama kuatnya. Kalau tidak, maka berarti kau pasti akan roboh.

Dalam hati Siau-hi-ji sungguh merasa heran, orang macam Hoa Bu-koat mengapa tidak

memahami urusan yang sederhana ini?

Terdengar Hoa Bu-koat mulai menghitung, “Satu … dua … tiga ….” dan begitu kata ‘tiga’

terucapkan, sebelah kakinya yang berdiri di tanah itu mendadak ambles setengah dim ke

bawah, tanah berbatu yang keras itu di bawah kakinya telah berubah menjadi lunak

laksana lumpur.

Keruan Buyung San dan lain-lain terkejut, cepat ia memberi tanda, “Itu dia Hoa-kongcu

sudah siap, tunggu apalagi kalian?”

Serentak kedelapan belas penggotong tandu yang kekar itu berlari maju, agaknya mereka

sudah terlatih dengan baik, di tengah berlari itu tangan orang kedua segera memegang

pundak orang pertama, orang ketiga juga lantas pegang pundak orang kedua dan begitu

seterusnya, langkah kedelapan belas orang itu semakin cepat dan mendadak menerjang

Hoa Bu-koat terus mendorongnya.

Tenaga dorongan ini tidak cuma himpunan tenaga kedelapan belas orang melulu, bahkan

ditambah lagi tenaga terjangan mereka dari tempat jauh, maka betapa dahsyatnya

dapatlah dibayangkan.

Seorang jago silat sejati yang mahir tentu tidak gentar pada tenaga kekerasan begini,

akan tetapi kini Hoa Bu-koat justru menyambut tenaga tolakan dahsyat itu dengan keras

lawan keras. Jangankan dia cuma berdiri dengan satu kaki, sekalipun berdiri dengan dua

kaki juga tak mampu menahan dorongan hebat itu. Maka semua orang yakin Hoa Bu-koat

pasti kalah.

Di luar dugaan, sekali kedelapan belas orang itu mendorong, Hoa Bu-koat tidak roboh,

tergentak mundur pun tidak, malahan tubuhnya seperti ambles beberapa dim lagi ke

bawah tanah.

Semakin keras tenaga dorongan kedelapan belas orang itu, semakin cepat pula tubuh Hoa

Bu-koat ambles ke bawah, kedelapan belas lelaki itu tampak sudah berkeringat dan telah

mengerahkan segenap tenaga mereka.

Akhirnya kaki Hoa Bu-koat itu sudah terpendam sebatas dengkul, biarpun kakinya

terbuat dari besi rasanya juga tidak mudah hendak ditancapkan ke dalam tanah berbatu

itu, namun wajahnya tetap tersenyum simpul seakan-akan tidak mengeluarkan tenaga

sama sekali dan seperti orang yang berdiri di atas pasir belaka.

Para pengunjung seperti menonton permainan sulap saja, semuanya melongo dan mengira

pandangan sendiri yang kabur. Tidak terkecuali Siau-hi-ji, ia pun melenggong menyaksikan

itu.

Cara yang digunakan Hoa Bu-koat ini meski jauh lebih bodoh daripada cara yang

dipikirnya, malahan jauh lebih sulit, tapi cara ini juga jauh lebih mengejutkan dan

membuat orang kagum.

Bilamana Hoa Bu-koat berbuat seperti jalan pikiran Siau-hi-ji, yakni dengan berdiri

bersandar dinding tebing, sekalipun kakak beradik Buyung itu tiada alasan untuk

mencelanya, namun para penonton yang berkerumun itu pasti akan berkurang.

Pertandingan yang khidmat dan menarik ini tentu juga akan berubah seperti permainan

anak kecil yang dicemoohkan.

Siau-hi-ji berpikir pula, tapi ia menjadi bingung apakah cara yang dipergunakan Hoa Bukoat

terlebih cerdik atau jalan pikirannya sendiri itu yang lebih pintar?

Dilihatnya kaki Hoa Bu-koat yang semakin ambles ke bawah itu mulai lambat, jelas karena

tenaga dorongan kedelapan belas lelaki itu pun semakin lemah. Sampai akhirnya kaki Hoa

Bu-koat tidak ambles ke bawah lagi, mendadak kedelapan belas lelaki itu terkapar,

semuanya lemas kehabisan tenaga dan tidak sanggup bangun kembali.

Nyata Hoa Bu-koat telah menggunakan ilmu “Ih-hoa-ciap-giok”, untuk mengalihkan arah

tenaga dorongan mereka, mestinya menuju ke depan, tapi oleh Hoa Bu-koat telah

dialihkan ke bawah, sebab itulah kelihatannya mereka sedang mendorong Hoa Bu-koat,

tapi sesungguhnya tiada ubahnya mereka lagi menolak permukaan bumi.

Dengan tenaga kedelapan belas lelaki itu untuk menolak bumi, maka sama halnya seperti

campung hinggap di pilar, tentu saja mereka kehabisan tenaga dan roboh dengan loyo.

Sudah tentu para penonton tidak tahu letak kehebatan ilmu Hoa Bu-koat itu, yang pasti

mereka tambah kagum terhadap kelihaian anak muda itu, maka terdengarlah sorak

memuji mereka. Sedangkan kakak beradik Buyung juga melenggong.

“Apakah nyonya perlu menyuruh orang lain mendorong pula?” demikian Hoa Bu-koat

bertanya dengan tersenyum. .

“Kepandaian Hoa-kongcu sungguh sukar dibayangkan, kami merasa sangat kagum,” jawab

Buyung San dengan tersenyum.

Siau-sian-li merasa penasaran, teriaknya, “Ini baru permulaan, biarpun dapat kau

laksanakan dengan baik, boleh coba lagi yang kedua.”

Hoa Bu-koat tersenyum sambil mengangkat sebelah kakinya, kebetulan angin meniup

sehingga sebagian kaki celananya bertebaran terbang seperti kupu-kupu. Sorak-sorai

penonton masih terus berlangsung, waktu suara sorakan berhenti, terdengar di dalam

kereta sana masih bergema suara orang berkeplok tangan. Seketika hati Siau-hi-ji

seperti diremas-remas.

Meski dia tak dapat tidak harus mengakui kehebatan ilmu silat Hoa Bu-koat dan memang

pantas mendapatkan tepuk tangan si “dia”, tapi bila teringat pada hal ini saja mau tak mau

ia bertambah keki.

Dalam pada itu terdengar Hoa Bu-koat sedang menanggapi ucapan Siau-sian-li tadi,

“Apakah soal yang kedua itu, mohon petunjuk nyonya?”

Dengan tersenyum Buyung San menjawab, “Di dalam kota Ankhing ada sebuah toko kue

yang khusus menjual kudapan, toko itu pakai merek ‘Siau-soh-siu’, entah Kongcu tahu

tidak?”

“Ya, beberapa kali Kang-heng pernah mengajak Cayhe jajan ke sana,” jawab Bu-koat.

“Nah, Siau-soh-siu itu memang terkenal menjual kudapan yang enak-enak, antara lain yang

paling kugemari adalah Pat-po-pui (nasi berkat), Jian-ceng-ko (kue bolu susun seribu,

sejenis roti tar), setahuku panganan ini boleh dikatakan sangat lezat dan tiada

bandingannya.”

Dalam keadaan demikian dia masih dapat bicara tentang makanan enak segala, karena

tidak tahu apa maksudnya, para penonton menjadi terheran-heran.

Tapi Hoa Bu-koat lantas menjawab, “Meski aku kurang berminat terhadap penganan

manis-manis begitu, tapi ada seorang sahabatku memang juga sangat memuji kedua

macam makanan yang disebut nyonya tadi.”

Sudah tentu Siau-hi-ji paham siapa “sahabat” yang dimaksud Hoa Bu-koat itu, bila

membayangkan betapa kasih mesra ketika Thi Sim-lan makan nasi berkat bersama Hoa

Bu-koat, sungguh akan meledak dada Siau-hi-ji dan hampir saja ia terjungkal ke bawah

pohon saking gemasnya.

Terdengar Buyung San lagi berkata dengan tertawa gembira, “Bagiku kedua macam

makanan itu bukan saja harus dipuji, bahkan selalu terkenang-kenang dan sukar dilupakan.

Nah, untuk itulah apakah Kongcu sudi pergi ke Ankhing agar rasa pingin makanku dapatlah

terpenuhi.”

Makin bicara makin aneh, malahan sekarang Hoa Bu-koat disuruh membelikan kudapan

segala. Apakah mungkin inilah soal kedua yang harus dilaksanakan oleh Hoa Bu-koat.

Memangnya nyonya muda ini sedang idam dan mendadak pingin makan makanan kecil khas

tadi.

Hal ini rasanya terlalu tidak pantas, tapi juga terlalu mudah apabila harus dilakukan.

Dengan sendirinya Hoa Bu-koat juga merasa heran. Tapi terhadap setiap permohonan

perempuan selamanya dia tidak suka menolak, maka setelah melengak sekejap, akhirnya ia

menjawab dengan tertawa.

“Bila Cayhe dapat bekerja sedikit bagi Nyonya, sungguh suatu kehormatan bagiku.”

“Tapi kedua macam makanan itu harus dimakan selagi masih hangat-hangat, kalau tidak

rasanya tidak enak,” kata Buyung San pula.

Setelah berpikir sejenak, lalu Hoa Bu-koat menjawab, “Setelah kubeli dan bawa ke sini,

mungkin masih hangat-hangat.”

“Namun kepergian Kongcu ini kaki tidak boleh menempel tanah, entah hal ini dapat

dilakukan Kongcu atau tidak?” Buyung San menambahkan dengan tersenyum yang lebih

manis.

Setelah mendengar ucapan ini barulah para pengunjung tahu di sinilah letak soal sulit

yang dikemukakan pihak Buyung. Bahwa kedua kaki tidak boleh menempel tanah, lalu cara

bagaimana orang dapat pergi pulang ke Ankhing untuk membelikan makanan? Padahal

jarak Ankhing tidaklah dekat walaupun juga tidak jauh, sekalipun Ginkang Hoa Bu-koat

mahatinggi juga dia tidak dapat terbang seperti burung. Akan tetapi tanpa pikir segera

Hoa Bu-koat menyanggupi pula.

Tentu saja semua orang melengak heran, soal yang tidak mungkin dilakukan ini apakah

betul dia sanggup melaksanakannya?

Namun Siau-hi-ji jadi geli dan ingin tertawa, katanya dalam hati, “Soal yang dikemukakan

para nona Buyung ini semakin ngawur tidak keruan, bahwasanya kedua kaki tidak boleh

menempel tanah, memangnya dia tidak dapat pergi dengan menumpang kereta atau naik

kuda?”

Soal ini juga tipu muslihat yang licik, kalau Hoa Bu-koat tidak sanggup melakukannya dan

Buyung San menjelaskan cara bagaimana pelaksanaannya, maka berarti kalahlah Hoa Bukoat.

Dilihatnya Hoa Bu-koat telah menanggalkan sepatunya sehingga kelihatan kaus kakinya

yang putih bersih.

“Apakah kaki Cayhe menempel tanah atau tidak dapat dibuktikan dengan kaus kakiku ini,”

katanya kemudian dengan tertawa. Belum lenyap suaranya segera ia melayang ke depan

dengan enteng.

Nyata dia tidak numpang kereta dan juga tidak naik kuda, tapi dia melayang ke atas

sebatang pohon besar, di situ ia memotes dua potong ranting kayu, begitu ranting kayu

itu menutul tanah, secepat terbang ia melayang sejauh tiga-empat tombak ke sana, waktu

ranting kayu yang lain menutul tanah pula, tahu-tahu bayangan orang sudah berada

belasan tombak jauhnya, terdengar suaranya berkumandang dari jauh, “Silakan Nyonya

menunggu sebentar, segera Cayhe akan kembali ke sini.”

Hoa Bu-koat telah perlihatkan Ginkangnya yang sempurna, andaikan orang lain juga dapat

menggunakan cara yang sama, tapi mustahil dapat pulang-pergi dalam waktu singkat dalam

jarak puluhan li jauhnya.

Semua orang menjadi gempar juga dan ramai membicarakan cara “terbang” Hoa Bu-koat

itu, mereka sangsi apakah anak muda itu dapat bertahan dengan cara begitu dalam jarak

sedemikian jauhnya. Kakak beradik Buyung juga merasa tegang sehingga senyuman yang

senantiasa menghias wajah mereka kini pun lenyap.

Sang waktu berlalu dengan cepat, selagi semua orang masih asyik membicarakan

kepandaian Hoa Bu-koat, tertampak berkelebatnya bayangan orang di kejauhan, tahutahu

Hoa Bu-koat sudah muncul, pada mulutnya terlihat menggigit sesuatu benda.

Sesudah dekat, begitu kedua ranting kayunya menutul tanah, seketika tubuhnya menegak

terbalik, kakinya menghadap ke atas, sepasang kaus kakinya ternyata masih putih bersih

tanpa berdebu setitik pun.

Serentak semua orang memuji, “Sungguh hebat. Hoa-kongcu benar-benar kaki tanpa

menyentuh tanah dan telah pergi-pulang ke Ankhing satu kali.”

Di tengah sorak-sorai orang banyak, Hoa Bu-koat berjumpalitan lagi, kedua kakinya

dengan tepat menyusup masuk sepatu yang ditinggalkannya tadi, ranting kayu dibuangnya

lalu bungkusan yang digigitnya tadi disodorkan ke hadapan Buyung San, katanya dengan

tertawa, “Syukur Cayhe tidak sampai mengecewakan kehendak nyonya, silakan dahar

mumpung masih hangat.”

Tersembul senyuman ewa di bibir Buyung San, ia mengucapkan terima kasih dan menerima

bungkusan itu. Setelah bungkusan itu dibuka, isinya memang betul nasi berkat dan kue

bolu yang masih mengepul, terpaksa ia comot sepotong kue itu dan dimakan.

Meski bolu itu sangat legit dan harum, tapi di mulut Buyung San terasa rada-rada getir.

Ya, Hoa Bu-koat telah menggunakan cara bodoh pula, tapi Siau-hi-ji tidak dapat lagi

mencemoohkan dia bodoh, malahan diam-diam ia pun merasa kagum.

Dengan cara “bodoh” yang pertama Hoa Bu-koat telah memperlihatkan tenaga dalam yang

mengejutkan, kini dia menggunakan “cara bodoh” yang kedua untuk membuktikan

Ginkangnya yang tiada bandingannya. Kalau saja dia tidak menggunakan cara bodoh begini,

bisa jadi kini para penonton telah menimpuknya dengan kulit jeruk atau telur busuk

disertai caci-maki.

Diam-diam Siau-hi-ji tersenyum kecut, pikirnya, “Agaknya seseorang terkadang lebih baik

menjadi orang bodoh saja, kakak beradik Buyung ini justu terlalu pintar sehingga akhirnya

mereka sendiri yang kecundang.”

Meski dia bicara tentang kakak beradik Buyung, padahal ia sendiri pun demikian, kalau

saja terkadang dia bisa berubah bodoh sedikit tentu hidupnya akan berlangsung lebih

gembira.

Dalam pada itu Buyung San sudah menghabiskan sepotong kue bolu, pada hakikatnya tak

terbayang olehnya bahwa bolu yang legit dan lezat itu bisa berubah begini rasanya.

Hoa Bu-koat hanya saja, setelah Buyung San menghabiskan sepotong kue itu barulah

dengan tertawa, “Dan apalagi soal ketiga itu?”

Siau-sian-li tidak sabar pula, teriaknya, “Ada sebuah pintu tertutup rapat, sekujur

badanmu dilarang menyentuh daun pintu dan juga tidak boleh ditumbuk dengan suatu alat

atau benda, nah, dapatkah kau masuk ke rumah itu?”

Ini benar-benar suatu soal yang mahasulit pula, para penonton tidak perlu khawatir lagi

bagi Hoa Bu-koat, mereka tahu betapa sulitnya sesuatu persoalan pasti dapat

dilaksanakan anak muda itu.

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli pula, pikirnya, “Soal ketiga ini lebih-lebih ngawur lagi,

dia dilarang menyentuh daun pintu, memangnya dia tidak dapat masuk ke rumah melalui

jendela?” Tapi kini ia pun tahu Hoa Bu-koat pasti takkan menggunakan cara demikian.

Dilihatnya Hoa Bu-koat berpikir sejenak, katanya kemudian, “Di sini tiada rumah, entah

kereta ini ….”

“Kereta juga boleh,” kata Buyung Siang. “Asal saja kau tidak menyentuh pintu kereta dan

dapat masuk ke situ, maka anggaplah kau menang.”

“Apakah betul demikan?” tanya Bu-koat sambil berpaling ke arah Buyung San.

Setelah berpikir, dengan tertawa Buyung San menjawab, “Ya, kereta dan rumah juga

sama saja.”

“Bilamana Cayhe sudah melaksanakan soal ini, apakah nyonya akan punya soal lain lagi?”

tanya Bu-koat dengan tersenyum.

Buyung Siang saling pandang sekejap dengan Buyung San, akhirnya yang tersebut

belakangan ini berkata, “Apabila Kongcu dapat melaksanakan soal ketiga ini, segera juga

kami akan angkat kaki dari sini.”

Hakikatnya dia tidak tahu lagi cara bagaimana harus mempersulit Hoa Bu-koat, untuk

bertempur jelas-jelas juga bukan tandingannya, lalu mau apa lagi jika tidak angkat kaki?

“Jika demikian, silakan nyonya perhatikan ….” sembari berkata Bu-koat lantas melangkah

ke arah keretanya.

Diam-diam Siau-hi-ji ragu-ragu, pikirnya, “Apakah dia mahir pukulan jarak jauh sehingga

pintu kereta akan pecah tergetar oleh tenaga pukulannya? Ini kan terhitung juga

tangannya tidak menyentuh pintu kereta?”

Di luar dugaan, setelah berada di depan keretanya, mendadak Bu-koat berkata, “Silakan

buka pintu, nona Thi!”

Terdengar suara tertawa nyaring merdu menjawab di dalam kereta, “Baiklah!”

Semula para penonton tercengang heran, tapi kemudian meledaklah tertawa mereka,

sampai-sampai Siau-hi-ji hampir ikut tertawa, tapi demi mendengar suara merdu itu,

betapa pun ia tidak sanggup tertawa.

Kedua kakak beradik Buyung juga melenggong demi menyaksikan Hoa Bu-koat melangkah

masuk ke keretanya dengan begitu saja.

Terdengar Hoa Bu-koat berkata di dalam kereta, “Sesuai syarat yang ditentukan Nyonya,

sekarang Cayhe sudah masuk ke dalam kereta tanpa menyentuh pintu, apakah nyonya

setuju bila aku dianggap menang.”

Kakak beradik Buyung sama melongo dan tak dapat menjawab, sedangkan para penonton

tertawa terpingkal-pingkal.

Cara yang digunakan Hoa Bu-koat ini ternyata jauh lebih pintar dari pada jalan pikiran

kakak beradik Buyung dan Siau-hi-ji, bahkan sukar untuk dibayangkan, tentu saja para

penonton bersorak dan menyatakan kemenangan itu pantas diperoleh Hoa Bu-koat.

Wajah kakak beradik Buyung tampak pucat, kembali. Buyung Siang saling pandang dengan

Buyung San. Betapa pun Buyung San hendak tersenyum juga terasa sukar lagi. Mendadak

ia menggentakkan kaki, lalu membalik ke sana dan naik ke tandunya, segera Buyung San

juga menyusul. Siau-sian-li melotot sekejap ke arah Kang Piat-ho, ucapnya dengan benci,

“Jangan keburu gembira dulu, kau takkan hidup tenteram seterusnya.”

Kang Piat-ho hanya tersenyum tanpa menjawab. Kedelapan belas lelaki tadi lantas

menggotong ketiga joli besar serta tiga joli kecil terus dilarikan keluar lembah.

“Kecerdikan dan ilmu silat Hoa-heng sungguh tiada bandingannya di dunia ini, sungguh

Siaute sangat kagum,” ujar Kang Piat-ho dengan tertawa.

Serentak para pengunjung bersorak memuji pula, Hoa Bu-koat membalas hormat dari

dalam kereta, lalu kereta dihela pergi di bawah sorak-sorai orang ramai.

Menyaksikan kepergian kereta itu, teringat pada Thi Sim-lan yang berada di dalam

kereta, Siau-hi-ji jadi kesima, hatinya serasa dipuntir-puntir. Selang sejenak, mendadak

ia berteriak sendiri, “Bilakah kupernah bersikap begini baik padanya? Mengapa aku harus

menderita lantaran dia? Huh, persetan!”

Pada waktu Thi Sim-lan berada di sisinya sedikit pun Siau-hi-ji tidak merasakan sesuatu,

tapi ketika nona itu berada di sisi orang lain, mendadak ia merasakan Thi Sim-lan jauh

lebih penting daripada apa pun juga.

Ia sendiri tidak paham mengapa Thi Sim-lan bisa berubah sedemikian penting baginya,

sebelum ini mimpi pun tak pernah terpikir olehnya bahwa dia akan merana lantaran si

nona.

Ia merasa dirinya benar-benar tolol, pada hakikatnya sudah gila. Tapi tak diketahuinya

bahwa orang gila dan orang tolol seperti dia ini masih banyak di dunia ini.

Manusia memang aneh, jika ada sesuatu yang tidak dapat diperolehnya akan dirasakannya

baik, tapi bila sesuatu itu sudah diperolehnya justru tidak tahu cara menyayangi dan

menghargainya. Bilamana kehilangan, ia menjadi menyesal pula.

Mungkin sebab itulah manusia selalu lebih banyak menderita daripada bahagia.

Begitulah sampai sekian lamanya Siau-hi-ji termangu-mangu ketika mendadak dilihatnya

di tengah-tengah orang banyak itu lewat dua orang tinggi besar dan gemuk, barulah dia

ingat janjinya kepada To Kiau-kiau.

Cepat ia lompat turun dari pohon dan menyusup ke sana, perlahan ia tepuk pundak “Lo Kiu”

alias Auyang Ting, dengan cepat Auyang Ting menoleh, air mukanya tampak berubah.

Nyata orang gemuk ini senantiasa berjaga jaga terhadap seseorang. Itulah kalau orang

berdosa, seperti maling yang khawatir tertangkap, betapa pun hidupnya tidak pernah

aman dan tenteram.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menegurnya, “Kenapa kau selalu tegang begini, tapi kau tetap

gemuk saja dan tidak pernah kurus, sungguh aneh.”

Setelah mengenali Siau-hi-ji barulah Auyang Ting menampilkan senyuman, jawabnya,

“Paling sulit mendapatkan kasih sayang si cantik, dan lantaran tidak pernah mendapatkan

perhatian si cantik, terpaksa Cayhe mengalihkan perhatian dalam hal makanan, karena

makan terus-menerus, dengan sendirinya badanku semakin gemuk.”

“Rupanya kalian sudah tahu bahwa nona itu telah kubawa pergi?” kata Siau-hi-ji dengan

tertawa.

“Selain saudara, memangnya dia mau pergi dengan siapa?” ujar Auyang Ting.

“Cuma tak pernah kuduga bahwa saudara ternyata juga menaruh minat terhadap pelayan

dungu itu sehingga membawanya serta,” dengan tertawa Auyang Tong menambahkan.

Kedua Auyang bersaudara ini bernama Ting dan Tong lantaran dalam segala hal mereka

selalu main Swipoa sehingga berbunyi “ting-tong-ting-tong”, makanya mereka memakai

nama yang berbunyi lantang begitu. Tapi sekali ini Swipoa mereka telah salah hitung,

tidak terpikir oleh mereka bahwa si pelayan dungu itu sesungguhnya adalah samaran To

Kiau-kiau, mereka mengira hilangnya pelayan itu pun digondol lari oleh Siau-hi-ji.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji tidak mau menjelaskan duduk perkaranya, dengan tertawa ia

menjawab, “Lebih baik ada dari pada tidak ada, dua tentunya juga lebih baik daripada

cuma satu, betul tidak?”

“Betul, betul,” seru Auyang Ting sambil berkeplok tertawa, “Ucapan saudara ini sungguh

tepat dan cengli, setiap orang perlu ingat baik-baik jalan pikiranmu ini.”

Bahwasanya Auyang Ting berjuluk “Mengadu jiwa juga ingin untung”, tentu saja ucapan

Siau-hi-ji sangat cocok dengan seleranya.

Begitulah sambil bersenda-gurau mereka terus keluar lembah dan mendekati tempat

parkir kereta kuda To Kiau-kiau.

Mendadak Siau-hi-ji berhenti dan berkata, “Silakan kalian melanjutkan perjalanan, sampai

berjumpa pula malam nanti.”

“Eh, jangan-jangan saudara hendak menemui si cantik lagi?” dengan tertawa Auyang Ting

berseloroh.

Siau-hi-ji tersenyum misterius sambil menjawab, “Mungkin begitu ….” dan seperti tidak

sengaja dia melirik sekejap ke arah kereta, lalu menambahkan, “Kenapa kalian tidak

meneruskan perjalanan.”

Auyang Ting tertawa, jawabnya “Kami iseng dan menganggur, maka ingin mengobrol

dengan saudara.”

Siau-hi-ji pura-pura gelisah, katanya, “Ah, aku masih harus pergi ke tempat lain, kalian

….”

“Haha, kukira saudara hendak pergi ke situ,” seru Auyang Tong. Pada saat itu juga Auyang

Ting sudah lari ke arah kereta dan pintu kereta terus ditariknya, serunya sambil tertawa,

“Ini dia, dugaanku ternyata tidak meleset, si cantik memang betul berada di sini.”

Dengan tertawa Auyang Tong lantas menambahkan, “Kata peribahasa, ‘Diberi buah Tho,

balaslah dengan buah Le, paling tidak saudara kan sudah merasakan Tho manis pemberian

kami, kalau sekarang engkau balas memberikan Le yang kecut kepada kami kan juga

pantas.”

Bahwa kedua Auyang bersaudara ini yang satu berjuluk “Mengadu jiwa juga ingin cari

untung” dan yang lain “Mati-matian juga tidak mau rugi”, sesuai julukan mereka, dengan

sendirinya mereka merasa dirugikan ketika si cantik yang mereka temukan dengan susah

payah itu dibawa lari orang, maka sedapatnya mereka ingin menarik kembali sedikit

keuntungan, kalau tidak rasanya mereka tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Karena itulah tanpa permisi lagi kedua Auyang bersaudara lantas menerobos ke dalam

kereta. Malahan Auyang Ting sempat berkata kepada Siau-hi-ji, “Ayolah, silakan saudara

pun naik ke sini.”

“Ya, biarpun engkau mengusir juga kami takkan pergi,” kata Auyang Tong dengan tertawa.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli, pikirnya, “Kalian yang mati pun tidak mau rugi,

tampaknya sebentar lagi pasti akan rugi habis-habisan.”

Tapi dengan lagak dongkol dan serba susah ia pun naik ke atas kereta, katanya dengan

menyesal, “Tahu begini, tentu sejak tadi kuhindari kalian. Ya, apa mau dikatakan lagi,

salahku sendiri menegur kalian, jadinya …. Ai, aku jadi keblinger sendiri.”

Begitulah kereta kuda itu lantas dilarikan ke depan dengan cepat. Semakin riang tertawa

kedua orang gemuk itu, mereka duduk dengan “santai” di atas sok yang empuk, mereka

tidak tahu bahwa orang yang duduk berhadapan itu adalah elmaut yang hendak merenggut

jiwa mereka.

To Kiau-kiau sengaja duduk dengan menunduk seperti perempuan yang malu-malu kucing,

padahal sebenarnya tidak ingin wajah aslinya dikenali kedua saudara kembar gendut itu.

Dengan tertawa Auyang Ting lantas berucap, “Wah, sehari tidak bertemu, tampaknya

nona menjadi semakin cantik.”

Auyang Tong lantas menambahkan, “Seperti tanaman yang disiram air, dengan sendirinya

kuntum bunga menjadi mekar dan tambah cantik, masakah teori begini saja kau tidak

paham?!”

Biasanya kedua orang ini selalu berjaga jaga kalau disergap orang lain, tapi kini mereka

duduk di dalam kereta, di belakang mereka adalah dinding kereta, tentunya mereka tidak

perlu khawatir.

Walaupun Siau-hi-ji sudah tahu maksud tujuan To Kiau-kiau memancing kedua Auyang

bersaudara ke dalam keretanya ini adalah untuk membikin perhitungan dengan mereka,

cuma ia tidak tahu cara bagaimana sang “bibi” akan mengerjai mereka. Untuk bisa

membekuk mereka harus sekali turun tangan dapat mengatasi mereka, kalau tidak mereka

akan lolos, sedangkan kalau To Kiau-kiau hendak membekuk kedua orang itu sekaligus

rasanya bukan pekerjaan yang mudah.

Dilihatnya To Kiau-kiau masih duduk dengan malu-malu kucing, tampaknya ia tidak

terburu-buru turun tangan dan juga tiada maksud ingin minta bantuan Siau-hi-ji, sikapnya

itu lebih mirip dia sudah mengatur sesuatu perangkap yang pasti akan berhasil dengan

baik.

Siau-hi-ji merasa apa yang akan ditontonnya sekarang jauh lebih menarik daripada tadi,

sungguh ia ingin menyaksikan dengan cara bagaimana To Kiau-kiau akan turun tangan dan

cara bagaimana pula kedua Auyang bersaudara akan melawannya.

Kini kereta itu dihela lebih cepat dan sudah jauh meninggalkan khalayak ramai, akhirnya

membelok ke tempat sepi.

“He, sarang simpananmu mengapa begini jauh?” tanya Auyang Ting tiba-tiba.

“Jika kau ingin makan buah Le, maka kau harus sabar sedikit,” jawab Siau-hi-ji tertawa.

“Betul, betul!” seru Auyang Tong dengan tertawa “Cuma ….”

Mendadak To Kiau-kiau angkat kepalanya dan berkata dengan genit, “Cuma buah Le ini

rasanya terlalu kecut, kukira kalian tidak doyan.”

Serentak kedua Auyang Ting bersaudara melengak, samar-samar mereka sudah

merasakan gelagat jelek.

Dengan terkekeh Auyang Ting menanggapi, “He, sejak kapan nona berubah menjadi pintar

bicara?”

“O, sudah lama, kira-kira sejak dua puluh tahun yang lalu,” sahut To Kiau-kiau.

Air muka kedua Auyang bersaudara berubah seketika, segera mereka bermaksud

melompat keluar kereta.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Ai, mengapa bibi To berlaku ceroboh begini, dengan

ucapannya ini, kan sama saja seperti menyikap rumput mengejutkan ular?”

Tapi pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara “bek”, dari bawah jok kereta yang

longgar dan empuk itu mendadak terjulur keluar empat buah tangan.

Mimpi pun kedua Auyang bersaudara tidak mengira akan terjadi begini, kejadian yang

tiba-tiba sukar dihadapi, apalagi perubahan ini datangnya dari bawah pantat mereka.

Seketika kedua orang merasa ketiak mereka kesemutan, tahu-tahu lengan mereka sudah

dicengkeram oleh keempat tangan itu, begitu kuat cengkeraman itu laksana belenggu

sehingga sakitnya merasuk tulang, maka tak dapat berkutiklah mereka.

Sungguh kejut Auyang Ting tidak kepalang, bahkan ia menjadi ketakutan setengah mati,

teriaknya dengan gemetar, “He, sau … saudara mengapa … mengapa begini ….”

Siau-hi-ji sendiri berkesiap dan geli pula, jawabnya dengan tertawa, “Ini bukan urusanku,

jangan kalian tanya padaku.”

Auyang Ting menoleh ke arah To Kiau-kiau, tanyanya, “Apakah ini ke … kehendak nona!”

“Habis siapa jika bukan aku?” jawab Kiau-kiau dengan tertawa. Bila ditanya orang,

selamanya dia tidak menjawab “ya” atau “tidak”, tapi selalu balas bertanya, ini memang

ciri pengenalnya.

Tentu saja air muka Auyang bersaudara menjadi pucat demi mendengar nada ucapan itu.

“Se … sesungguhnya engkau ini siapa?” tanya Auyang Tong.

“Tadi kau tidak kenal padaku, betul, tapi kalau sekarang masih juga tidak kenal aku, ini

namanya pura-pura bodoh,” ucap Kiau-kiau dengan tertawa.

“Mana … mana kami kenal nona?” ujar Auyang Ting.

“Tidak kenal aku, mengapa menjadi ketakutan?” tanya Kiau-kiau.

“Takut?” Auyang Ting berlagak heran. “Memangnya takut siapa ….”

Dengan terkekeh-kekeh Auyang Tong lantas menambahkan, “Sudah tentu kami tahu nona

cuma berkelekar saja dengan kami.”

“Ai, Auyang Ting dan Auyang Tong, apa gunanya biarpun kalian berlagak pilon?” ucap To

Kiau-kiau.

“Auyang Ting itu siapa?” tanya Auyang Ting.

“Oya, kabarnya Auyang Ting itu kurus seperti cacing, haha … haha ….” Auyang Tong

menukas.

Begitulah dia hendak tertawa pula, tapi kulit mukanya serasa kaku. Dengan dingin To Kiaukiau

menatap mereka tanpa bicara.

Setelah terkekeh beberapa kali pula, mendadak Auyang Tong menatap saudaranya dan

berseru, “He, bukankah kau ini Auyang Ting?”

“Sudah tentu aku Auyang Ting dan dengan sendirinya kau ini Auyang Tong,” jawab Auyang

Ting. “Haha, lucu, sungguh lucu,” sambung Auyang Tong.

“Haha, kiranya kita ini adalah si Ting dan Tong Auyang bersaudara ….”

“Eh, To-toaci, apakah engkau juga merasa lucu? Si kurus ternyata bisa berubah menjadi

si gendut,” tanya Auyang Ting.

“Kukira kalian terlalu banyak minum anggur kolesom,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Betul, betul, rasanya kami memang terlalu banyak minum anggur kolesom, haha !” sahut

Auyang Ting.

Mendadak To Kiau-kiau mendelik, katanya dengan ketus, “Sekarang sudah waktunya kalian

menumpahkan anggur kolesom yang kalian minum itu, bukan?”

“Ini … haha … haha ….”

“Itu … hehe … hehe ….”

Begitulah kedua orang terus “haha” dan “hehe” serta ini dan itu, tapi tidak mengucap apaapa.

Diam-diam Siau-hi-ji tahu pasti di dalam hati kedua orang ini sedang merancang akal

busuk.

Pada saat itu juga tiba-tiba di bawah jok ada orang berkata dengan tertawa, “Wah,

selama dua puluh tahun ini kedua Auyang bersaudara ini selain membesarkan tubuh

mereka menjadi putih gemuk, agaknya mereka pun berhasil belajar caramu berhaha-hihi,

kukira akan lebih tepat jika kau menerima mereka sebagai murid sekalian.”

Dari suaranya segera Siau-hi-ji dapat mengenalnya sebagai suara Pek Khay-sim.

Segera seorang menanggapi dengan tertawa ngakak, “Haha, jika benar kuterima mereka

sebagai murid, wah, bisa jadi celanaku juga akan ditipu mereka dan nasibku bisa telanjang

bulat. Haha … hehe ….”

Dari suara “haha” yang lantang dan keras ini, jelas ialah si Budha tertawa Ha-ha-ji alias si

“tertawa sambil menikam”.

Semula si Ting masih memeras otak mencari jalan buat meloloskan diri, tapi demi

mendengar yang bicara di bawah jok itu ternyata kedua teman lama mereka maka

putuslah harapan mereka untuk kabur. Kedua orang saling pandang sekejap dan segera

hendak bangkit.

“Sungguh tak tersangka kami menduduki kedua kakak di bawah pantat, benar-benar

berdosa besar,” ucap Auyang Ting sambil menyengir.

“Ah, tidak apa,” kata Pek Khay-sim di bawah jok. “To-toaci telah mengatur segalanya

dengan baik, di bawah sini rasanya lebih menyenangkan daripada tidur di ranjang rumah

sendiri, bahkan di sini tersedia pula arak dan daging segala ….”

“Tapi bila teringat pantat kalian justru berada di atas, sungguh aku menjadi muak dan

tidak doyan makan, haha!” sambung Ha-ha-ji.

“Bila kalian tidak lepas tangan, tentu kami tidak mampu berdiri,” kata Auyang Tong. “Dan

bila kami tidak berdiri, terpaksa kalian juga harus berjongkok terus di situ …. Eh,

bagaimana baiknya, To-toaci?”

“Kenapa bingung?” jawab To Kiau-kiau tertawa. “Tumpahkan saja kolesom yang kalian

makan dan segera mereka akan lepas tangan.”

“Kalau tidak biarlah kami sembelih kalian saja,” sambung Pek Khay-sim.

“Haha, boleh juga gagasan ini!” seru Ha-ha ji dengan tertawa.

Auyang Ting menghela napas, katanya, “Barang titipan To-toaci itu sebenarnya sudah lama

akan kami antarkan ke Ok-jin-kok, cuma mendadak ….”

“Hilang, begitu bukan?” jengek To Kiau-kiau.

“Dugaan To-toaci memang tidak keliru,” ucap Auyang Ting dengan wajah seperti mau

menangis. “Tahun berikutnya setelah kalian masuk Ok-jin-kok, barang titipan itu dirampas

orang seluruhnya, karena khawatir dimarahi To-toaci, terpaksa … terpaksa ….”

“Terpaksa kami sembunyi,” sambung Auyang Tong dengan menyesal.

Namun To Kiau-kiau sama sekali tidak terpengaruh oleh penuturan yang memelas itu,

bahkan berkedip mata pun tidak, katanya dengan tenang, “Alasan ini memang masuk akal,

tapi siapakah yang rebut barang itu?”

“Loh Tiong-tat,” jawab Auyang Ting dengan gegetun.

“Yaitu orang yang berjuluk Lam-thian-tayhiap, ialah yang hampir mengutungi kedua tangan

Toh-lotoa ketika baru saja Toh-lotoa muncul di Kangouw dulu,” sambung Auyang Tong.

Mendadak To Kiau-kiau terkikih-kikih genit, katanya, “Ha-heng, menurut pendapatmu

kebohongan mereka ini bagus atau tidak?”

“Haha, boleh juga,” ujar Ha-ha-ji. “Sudah jelas mereka tahu kita tidak mungkin pergi

bertanya kepada Loh Tiong-tat.”

“Ini namanya mati tanpa saksi,” tukas Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Tapi … tapi apa yang kukatakan itu semuanya benar,” seru Auyang Ting.

“Ya, bila bohong sepatah kata saja, biarlah kami dikutuk oleh langit dan bumi, biar mati

tidak enak, pada jelmaan hidup berikutnya akan menitis menjadi babi gemuk dan dijadikan

Ang-sio-bak untuk dahar Ha-heng,” sambung Auyang Tong.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli melihat cara bersumpah Auyang Tong yang gesit itu,

jelas mereka anggap sumpah sebagai pidato dan sehari entah bersumpah berapa kali,

kalau tidak masakah dapat bersumpah selancar itu.

Dilihatnya Kiau-kiau sedang menengadah tanpa menggubris ocehan kedua Auyang

bersaudara, Ha-ha-ji dan Pek Khay-sim juga tidak bicara lagi di bawah jok, malahan

terdengar suara keriat-keriut, agaknya mereka lagi asyik makan minum.

Auyang Ting dan Auyang Tong masih terus omong, tapi meski mulut mereka serasa kering

dan butir keringat sebesar kedelai memenuhi dahi mereka tetap To Kiau-kiau tidak

menggubris dan anggap tidak mendengar.

Makin menonton makin tertarik Siau-hi-ji, mestinya dia hendak tinggal pergi, tapi

sekarang ia urungkan niatnya.

Pada saat itulah mendadak kereta berhenti, menyusul di luar jendela kereta lantas

muncul seraut wajah yang putih pucat, begitu pucat sehingga hampir-hampir tembus

cahaya.

Melihat muka itu, seketika kedua Auyang bersaudara seperti kena dicambuk sekali,

sekujur badan mereka serasa kejang. Dengan suara terputus-putus Auyang Ting berkata,

“Kiranya … kiranya Toh-lotoa juga datang!”

Kalau tadi mereka masih mengoceh macam-macam, sekarang setelah melihat Toh Sat,

seketika seperti tikus melihat kucing, bicara saja tidak terang, malahan Auyang Tong

tidak sanggup bersuara lagi.

Melihat wajah dingin si tangan berdarah Toh Sat, entah mengapa timbul semacam rasa

akrab di dalam hati Siau-hi-ji, segera ia menyapa, “He, paman Toh, baik-baikkah engkau?”

“Baik?” jawab Toh Sat singkat. Dia hanya memandang Siau-hi-ji sekejap, sorot matanya

yang dingin seakan-akan rada cair, tapi ketika ia menatap pula ke arah kedua Auyang

bersaudara, hawa dingin tatapannya seketika bertambah tajam. “Cret”, mendadak sebuah

kaitan baja menancap di jendela kereta.

Kaitan baja ini adalah “tangan” Toh Sat. Dia tarik pintu kereta tanpa bicara, tangan yang

lain terus menggampar beruntun belasan kali di muka Auyang Tong, habis itu barulah

berkata dengan ketus, “Hm, kau masih kenal padaku tidak?”

Kontan muka Auyang Tong merah bengkak seperti hati babi yang baru dirogoh keluar dari

perut babi, tapi menjengek sedikit saja tidak berani, sebaliknya ia menjawab dengan

menyengir, “Mana … mana Siaute tidak … tidak kenal lagi pada Toh-lotoa?”

“Hm, bagus juga kau!” jengek Toh Sat. Mendadak telapak tangannya memotong Hiat-to di

dengkul Auyang Tong, menyusul dengan cara yang sama ia pun kerjai Auyang Ting, lalu ia

membalik tubuh dan membentak dengan suaran begis, “Turun!”

“Tapi … tapi kaki Siaute tidak dapat bergerak lagi, cara bagaimana bisa turun?” ratap

Auyang Tong.

“Kaki tidak bisa bergerak, merangkak turun dengan tangan!” jengek Toh Sat.

Kedua Auyang saling pandang sekejap, benar juga, akhirnya mereka merangkak turun

dengan munduk-munduk.

“Hihi, apa pun juga Toh-lotoa memang lebih hebat,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Sampai-sampai kedua saudara Ting-tong kita juga takut padanya seperti tikus melihat

kucing.”

“Ya, manusia yang semakin licin dan semakin buas, semakin mahir juga cara Toh-lotoa

mengerjainya,” tukas Ha-ha-ji sambil menerobos keluar dari bawah jok kereta.

Kereta kuda itu ternyata berhenti di depan sebuah rumah yang sepi dan tak berpenghuni,

kusir kereta tadi tidak kelihatan lagi.

Ha-ha-ji lantas memegangi tangan Siau-hi-ji, tanyanya dengan tertawa, “Hah, selama

beberapa tahun berpisah, entah berapa banyak anak perempuan yang terpikat olehmu?”

“Kurang lebih cuma 300,” jawab Siau-hi-ji sambil main mata.

Ha-ha-ji menggablok pundak anak muda itu, serunya sambil terbahak-bahak, “Hahahaha!

Belum cukup jumlah sekian, kau harus lebih giat lagi.”

“Tapi kalau kumain pikat terus, bisa jadi aku akan pendek umur,” kata Siau-hi-ji.

Mendadak ia menjulurkan sebelah kakinya sehingga Pek Khay-sim yang datang dari

belakang itu kena dijegalnya hingga jatuh tersungkur.

Cepat Pek Khay-sim merangkak bangun, sama sekali ia tidak marah, bahkan berkata

dengan tertawa, “Hah, agaknya kau tidak mau rugi dan tetap ingat padaku.”

“Bukan aku yang menjegalmu barusan ini, tapi Kang Piat-ho,” ucap Siau-hi-ji dengan

tertawa.

“Sudahlah, kukerjai kau satu kali, kau pun pernah mengerjai aku satu kali, ditambah lagi

sengkelitan barusan, maka bolehlah kita anggap seri saja?!” kata Pek Khay-sim.

“Hm, memangnya begitu enak? Masih ada lagi rentenya, tunggu saja nanti,” jawab Siau-hiji

tertawa.

Pek Khay-sim garuk-garuk kepala, ucapnya dengan menyengir, “Begini saja payah bagiku,

bila ada lagi, jiwaku bisa melayang?!”

“Haha, kau sendiri yang cari penyakit, orang lain tidak kau kerjai, tapi malah mengerjai

dia, akhirnya baru kau tahu rasa,” Ha-ha-ji bergelak tertawa.

Beramai-ramai mereka lantas masuk ke rumah itu, tertampak ruangan tengah yang bobrok

itu ada api unggun dan ada sebuah kuali di atas api, entah apa isinya. Selain itu ada pula

beberapa mangkuk rusak yang tertaruh serabutan di lantai, seperti berisi rempahrempah

bila orang masak sayur. Seorang berjongkok di tepi api unggun, ternyata ialah si

kusir tadi. Hawa sepanas ini, dia berjongkok lagi di dekat api unggun, tapi dahinya tidak

tampak bekeringat sedikit pun. Masuknya orang banyak seakan-akan tidak diambil pusing

olehnya.

Dengan tertawa To Kiau-kiau lantas berkata, “Siau-hi-ji, lekas menemui paman Li, selama

beberapa tahun ini dia senantiasa mengenangkan dirimu, cuma yang dirindukan dia

mungkin adalah dagingmu yang empuk untuk dimakannya.”

Siau-hi-ji tertawa dan berkata, “Tampaknya paman Li sedang marah!”

“Tapi dia bukan marah padamu,” ucap Ha-ha-ji. “Soalnya To-toaci menyuruh dia menjadi

kusir, sebaliknya membiarkan Pek Khay-sim enak-enak tidur di dalam kereta, saking

dongkolnya hampir saja perutnya meledak. Hahaha!”

Siau-hi-ji lantas mendekati Li Toa-jui dan menyapa, “Li-toasiok, janganlah engkau marah

benar-benar, kalau marah, dagingnya akan berubah menjadi kecut.”

Li Toa-jui bergelak tawa, tangan Siau-hi-ji dipegangnya dan berkata, “Sungguh tak

tersangka kau setan cilik ini masih ingat pada kalimat ini.”

“Kata-kata mutiara begini mana boleh kulupakan?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sementara kedua Auyang bersaudara telah merangkak masuk sambil merintih, tubuh

mereka sudah berlepotan debu sehingga persis dua ekor babi gemuk yang habis mandi di

kolam lumpur.

“Hahaha, selama dua puluh tahun ini untuk pertama kalinya kita berkumpul sebanyak ini,”

seru Ha-ha-ji dengan tertawa “Sungguh suatu pertemuan yang jarang terjadi, maka kita

harus merayakannya dengan baik.”

“Tapi kalau orang-orang Kangouw mengetahui gerombolan kita ini berkumpul lagi di sini,

entah bagaimana mereka akan berpikir?” ujar To Kiau-kiau.

“Haha, bisa jadi nyali mereka akan pecah semuanya,” tukas Ha-ha-ji.

“Wah, ingat, nyali (empedu) sekali-kali tidak boleh sampai pecah, kalau pecah dagingnya

akan jadi pahit,” ujar Li Toa-jui dengan sungguh-sungguh. Dasar pemakan daging manusia,

setiap bicara tidak pernah melupakan hobinya.

Biji mata Siau-hi-ji tampak mengerling kian kemari memandangi tokoh-tokoh Ok-jin-kok

ini, terbayang kembali masa kanak-kanaknya dahulu, bagaimana perasaan sekarang

sukarlah untuk dijelaskan.

Meski orang-orang ini tergolong Ok-jin atau orang jahat, tapi menurut pandangannya

setiap orang ini sedikit banyak juga ada segi yang baik dan menyenangkan, sungguh jauh

lebih baik dan menyenangkan daripada Kang Piat-ho yang munafik itu.

Kini, di antara Cap-toa-ok-jin atau sepuluh top penjahat ternyata ada tujuh orang

berkumpul di sini, rasanya jarang ada kejadian lain yang lebih asyik dan menarik daripada

adegan ini.

Sungguh Siau-hi-ji merasa sangat gembira, tapi bila melihat setiap tokoh ini serupa

malaikat elmaut, setelah muncul kembali di dunia Kangouw, entah betapa banyak orang

yang akan menjadi korban. Berpikir demikian, diam-diam ia jadi khawatir juga.

Selama beberapa tahun ini jalan pikirannya sudah berubah dibandingkan waktu dia baru

meninggalkan Ok-jin-kok, ia merasa kalau orang baik diganggu orang jahat sungguh tidak

adil. Betapa pun ia tidak dapat menyaksikan kejadian demikian, ia harus mencari akal

untuk mencegahnya.

Terdengar To Kiau-kiau lagi berkata, “Kini kita hanya menunggu Im-lokiu saja, entah ada

kejadian apa sehingga sampai saat ini belum muncul?”

“Tindak tanduk orang ini memang suka main sembunyi-sembunyi,” ujar Li Toa-jui. “Bisa

jadi dia sudah datang, tapi sengaja sembunyi di sekitar sini dan menonton belaka.”

Auyang Ting merangkak di lantai dan menimbrung, “Dapat berkumpul kembali dengan para

saudara, sungguh Siaute merasa sangat gembira.”

Cepat Auyang Tong menambahkan, “Ya, kita harus merayakannya dengan pesta besar.”

“Tapi milik kita sudah habis digelapkan oleh kalian, dari mana ada uang untuk bikin pesta

segala?” kata To Kiau-kiau.

“Asalkan To-toaci melepaskan kami, pasti kami akan mencari orang she Loh itu, biarpun

mati juga akan kami rampas kembali barang-barang itu,” kata Auyang Ting.

Belum habis ucapannya, mendadak kaitan baja Toh Sat telah menancap di pundaknya

terus di angkat ke atas, keruan Auyang Ting menjerit seperti babi hendak disembelih,

teriaknya, “Ampun! Toh-lotoa! Siaute bicara jujur, engkau mengampuni kami.”

“Di mana barang-barang itu? Katakan?” jengek Toh Sat.

“Be … benar-benar telah dirampas Loh Tiong-tat ….”

“Plok”, belum lanjut ucapannya, kontan mulutnya ditonjok oleh kepalan Toh Sat sehingga

darah tersembur dari mulutnya, bahkan berikut beberapa biji giginya.

To Kiau-kiau menjepit sepotong arang dengan capitan besi dan perlahan-lahan ditaruh di

kuduk Auyang Tong, lalu katanya dengan tertawa genit, “Aku tidak setega Toh-lotoa dan

tidak sampai hati memukul kau, tapi kalau kau tetap tidak mengaku, di sini masih banyak

arang yang membara.”

Tentu saja Auyang Tong menggelepar di lantai kereta keselomot arang panas itu, dia

berguling-guling ke dekat kaki Li Toa-jui dan berseru dengan suara serak, “Apa yang

kukatakan adalah sesungguhnya, Li-toako, sukalah mengingat per … persaudaraan kita di

masa lalu, tolonglah engkau mintakan ampun bagiku.”

“O, apakah To-toaci telah menyakitkan kau?” ucap Li Toa-jui menyesal.

“Ya, sakit … sakit sekali,” ratap Auyang Tong.

“Mana yang sakit?” tanya Li Toa-jui.

“Sekujur badan sakit semua,” jawab Auyang Tong, “lebih … lebih-lebih bagian kuduk sini

….”

“O, apakah daging ini?” tanya Li Toa-jui sambil meraba kuduknya.

“Iy … iya, di situ!” keluh Auyang Tong.

“Baiklah, akan kupotong dagingmu ini, habis itu tentu tidak sakit lagi,” kata Li Toa-jui.

“He, Li-toako … Li ….” teriak Auyang Tong ketakutan.

Tapi Li Toa-jui lantas mengeluarkan sebilah belati dari celah-celah sepatunya, “sret”,

kontan ia iris daging di kuduk Auyang Tong, lalu daging itu dipanggangnya di atas api

unggun sambil bergumam, “Meski daging panggang tidak selezat daging Ang-sio, tapi kalau

diberi sedikit merica dan garam rasanya boleh juga.”

Sembari bicara ia pun mencomot bumbu masak yang disebut itu dari kaleng-kaleng yang

tersedia di samping dan ditaburnya di atas daging, lalu dipanggang lagi sejenak, kemudian

daging itu benar-benar dimakannya dengan lahap.

Suara mencicit waktu daging itu dipanggang sudah cukup membuat Siau-hi-ji merinding,

apa lagi didengar suara mengunyah Li Toa-jui laksana orang makan bistik, sungguh hampir

saja ia tumpah. Bahkan Pek Khay-sim, To Kiau-kiau dan lain-lain juga melengos ke arah

lain, tak berani melihat cara Li Toa-jui makan daging manusia itu.

“Uwaaak,” mendadak Auyang tong menumpahkan seluruh isi perutnya yang baru saja

dimakannya semalam. Bahkan daging sendiri jelas disaksikannya lagi dimakan orang dengan

lezatnya, betapa pun perasaannya sungguh sukar dilukiskan.

Sambil mengunyah Li Toa-jui sembari bergumam, “Selama ini tampaknya kungfumu tidak

pernah kendur, buktinya dagingmu ini cukup keras dan gurih, jauh lebih enak daripada

daging orang gemuk umumnya.”

Wajah Auyang Tong berlepotan debu campur darah, mulutnya melelehkan air kecut yang

ditumpahkannya, mukanya sungguh memelas, sambil merangkak di lantai, akhirnya ia

menangis tergerung-gerung.

Seorang besar begitu menangis sambil merangkak di lantai, bentuknya sungguh

mengharukan bagi yang melihatnya. Tapi Li Toa-jui sama sekali tidak ambil pusing,

mendadak ia mendekati Auyang Ting, katanya dengan tertawa, “Apakah badanmu juga

kesakitan?”

“O, ti … tidak, sedikit … sedikit pun tidak sakit,” jawab Auyang Ting dengan gemetar.

“Kasihan, kau telah diajar Toh-lotoa sedemikian rupa, masa tidak kesakitan?” tanya Li

Toa-jui sambil meraba-raba pipi orang.

Mendadak Auyang Ting menjerit ketakutan “Sung … sungguh tidak sakit ….” tapi

mendadak Li Toa-jui menjotosnya satu kali.

“Sekarang sakit tidak?” tanya Li Toa-jui dengan tertawa.

Mulut Auyang Ting jadi penuh darah dan tidak sanggup bersuara pula.

“Kini tentu sangat kesakitan bukan? Biarlah kusembuhkan kau,” kata Li Toa-jui dengan

tertawa. “Sreet”, tiba-tiba ia iris juga sepotong daging dari pipi Auyang Ting, lalu

dipanggang pula dan dimakan sambil mengomel, “He, aneh, dagingnya tampaknya memang

seperti Ti-koa (hati babi), tapi mengapa tiada sedikit pun rasa Ti-koa? Ah, agaknya

daging yang bengkak terpukul rasanya menjadi tidak enak. Eh, Siau-hi-ji, hal ini perlu kau

ketahui juga.”

Biarpun sudah tahu kedua Auyang bersaudara itu jauh lebih busuk dari pada orang lain,

tapi melihat keadaan mereka yang mengenaskan, mau tak mau Siau-hi-ji merasa tidak

tega.

Selagi ia bermaksud menolong sekadarnya, tiba-tiba Auyang Ting berteriak, “Baiklah,

akan kukatakan, barang itu masih tersimpan dengan baik, pada hakikatnya Loh Tiong-tat

tidak pernah menjamahnya, tadi aku sengaja berdusta, harap kalian mengampuni diriku.”

Siau-hi-ji menghela napas, gumamnya, “Jelas kalian tahu akhirnya toh harus mengaku,

kenapa tidak sejak tadi kalian katakan saja, tapi kalian lebih suka tersiksa dulu?”

“Memangnya mereka adalah manusia hina, kalau tidak dipaksa dan disiksa tak mau

mengaku,” jengek To Kiau-kiau.

“Jika barangnya masih ada, di mana?” bentak Toh Sat.

“Bila … bila kukatakan, apakah kalian tetap hendak membunuh kami?” tanya Auyang Ting

dengan gemetar.

“Haha, kita kan seperti saudara sendiri, masa kami ingin membunuh kalian?” jawab Ha-ha

ji.

“Kata-kata ini harus diucapkan Toh-lotoa barulah kami mau percaya,” pinta Auyang Tong.,

Biarpun terkenal kejam dan keji, namun Toh Sat terkenal suka pegang janji, tidak pernah

dusta. Hal ini diketahui setiap orang Kangouw.

Maka terdengar Toh Sat menjengek, “Hm, bila kau katakan dengan baik, tentu kami

takkan mencelakai jiwa kalian.”

Auyang Ting menghela napas lega, ucapnya, “Barang itu kami sembunyikan di suatu gua

yang terletak di puncak Ku-san (bukit kura-kura) ….”

“Untuk itu Siaute bersedia membuatkan sebuah peta,” sambung Auyang Tong.

“Jika sejak tadi kalian menurut begini, tentu aku pun tidak perlu makan daging kalian yang

busuk,” kata Li Toa-jui dengan gegetun.

Setelah peta selesai dibuat, semua orang sama bergirang, empat pasang tangan terjulur

hendak menerima peta itu, tapi serentetan suara “plak-plok” lantas terdengar, yang ini

menampar tangan sana dan yang sana memukul tangan yang ini, segera keempat pasang

tangan itu tersurut mundur.

Hanya empat pasang tangan saja yang terjulur sebab tangan Toh Sat selain digunakan

untuk membunuh orang tidak mau sembarangan dijulurkan.

Akhirnya Li Toa-jui berteriak, “Peta ini biarlah dipegang Toh-lotoa saja, selain dia tiada

orang lain yang dapat kupercayai.”

“Benar, kecuali Toh-lotoa aku pun tidak percaya!” sambung seorang tiba-tiba dengan

suaranya yang mengambang dari jauh dan tahu-tahu di luar jendela sudah bertambah

sesosok bayangan orang.

“Haha, Im-lokiu memang cerdik, setelah kita berusaha susah payah setengah hari barulah

dia muncul untuk ikut ambil bagian,” seru Ha-ha-ji.

“Hm, kalian bersusah payah, memangnya aku tidak?” jengek Im Kiu-yu, si setengah setan

setengah manusia.

“Kau susah payah apa? Memangnya kau tergoda oleh setan dan tak dapat melepaskan

diri?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Aku memang ketemu setan,” jawab Im Kiu-yu sekata demi sekata.

“Setan apa? Setan kepala besar atau setan gantung?” tanya Ha-ha-ji.

Sinar mata Im Kiu-yu mengerling ke arah Siau-hi-ji, mendadak ia tertawa seram, katanya,

“Eh, Siau-hi-ji, coba terka, setan apa?”

“Setan yang dapat membuatmu ketakutan kukira tidak banyak, tapi manusia yang kau

takuti kurasa memang ada satu ….” ucap Siau-hi-ji.

Mendadak To Kiau-kiau melonjak dan berteriak, “He, jangan-jangan kau kepergok Yan

Lam-thian?!”

Im Kiu-yu menyeringai seram, jawabnya, “Jika aku kepergok, memangnya aku dapat

datang ke sini? Aku memang melihat dia menunggang kuda gagah perkasa, tampaknya jauh

lebih bersemangat daripada dahulu.”

Girang dan kejut Siau-hi-ji mendengar keterangan ini. Air muka To Kiau-kiau, Ha-ha-ji,

Pek Khay-sim dan Li Toa-jui juga berubah semua.

“Sekarang … sekarang dia menuju ke mana?” teriak To Kiau-kiau sambil memburu maju.

“Dari mana kutahu dia hendak pergi ke mana?” jawab Im Kiu-yu. “Bisa jadi sedang menuju

ke sini.”

Kata-kata- ini membuat tokoh-tokoh Cap-toa-ok-jin yang termasyhur di seluruh dunia ini

menjadi tidak tenteram. Li Toa-jui yang pertama berdiri, ucapnya, “Di sini memang bukan

tempat tinggal yang baik, marilah kita pergi saja.”

“Sudah tentu kita harus pergi, kukagum kepada siapa yang tidak mau pergi,” kata Ha-haji.

“Harap … harap kalian membawa serta kami,” mohon Auyang Ting dengan suara gemetar.

“Kami … kami juga tidak ingin melihat Yan Lam-thian.”

“Yan Lam-thian, hanya setan yang ingin menemui dia,” tukas Pek Khay-sim.

Nama “Yan Lam-thian” seakan-akan membawa daya pengaruh yang maha besar sehingga

tokoh-tokoh yang biasanya tidak kenal apa artinya takut ini juga ngeri mendengar

namanya.

Diam-diam Siau-hi-ji bergirang dan terkejut serta kagum pula, pikirnya, “Seorang kalau

dapat hidup seperti Yan Lam-thian barulah ada artinya …. Biasanya aku menganggap diriku

ini luar biasa, lain daripada yang lain, tapi kalau dibandingkan beliau diriku ini menjadi

bukan apa-apa lagi.”

Akan tetapi Yan Lam-thian kan juga manusia, apa yang dapat diperbuat Yan Lam-thian

mengapa tak dapat dilakukan Siau-hi-ji? Dalam hal apakah Siau-hi-ji tidak dapat

menyamai orang?

Seketika pikiran Siau-hi-ji jadi bergolak dan berontak, tiba-tiba ia merasa putus asa dan

patah semangat, tapi mendadak pula darah bergelora dan timbul semangat ksatrianya ….

Mendadak didengarnya jeritan Auyang Ting disertai mengucurnya darah segar, sebelah

lengannya dan sebuah pahanya telah ditebas mentah-mentah oleh To Kiau-kiau.

Dengan suara serak Auyang Tong berteriak, “Toh-lotoa, engkau sudah … sudah berjanji

takkan … takkan ….”

“Toh-lotoa hanya berjanji takkan mencabut nyawa kalian, tapi kan tidak pernah berjanji

lain-lainnya?” kata Kiau-kiau dengan tertawa, sambil bicara kembali sebelah lengan dan

sebuah kaki Auyang Tong ditabasnya pula, habis itu satu kaleng penuh gula pasir terus

dituang ke tubuh mereka.

Kedua Auyang bersaudara itu tahu sebentar lagi berjuta-juta semut pasti akan

terpancing tiba oleh gula pasir itu, tatkala mana mereka akan beratus kali lebih tersiksa

daripada sekarang ini.

Segera Auyang Tong berteriak, “Lebih baik kau bu … bunuh saja kami!”

Tapi To Kiau-kiau menjawab dengan tertawa “Toh-lotoa sudah berjanji takkan mencabut

nyawa kalian, mana boleh kubunuh kalian.”

“Keji benar kau, ke … kejam amat kau!” teriak Auyang Ting dengan menggereget.

To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Begini caramu bicara, tapi bila aku yang jatuh di

tangan kalian, bukan mustahil kalian akan berlaku sepuluh kali lebih kejam daripadaku.”

Habis berkata ia terus melangkah pergi tanpa menoleh pula.

Teriakan ngeri kedua Auyang bersaudara itu seakan-seakan tidak didengar oleh siapa pun

juga.

Sementara itu sang surya sudah hampir terbenam, Siau-hi-ji berdiri di bawah cahaya

senja menyaksikan kepergian rombongan To Kiau-kiau, sebelum berpisah para tokoh Captoa-

ok-jin itu sama berbicara dengan anak muda itu, tapi apa yang dikatakan mereka

tidak diperhatikan sungguh-sungguh oleh Siau-hi-ji, yang diketahui adalah mereka hendak

pergi ke Ku-san, Siau-hi-ji tidak di suruh ikut, Siau-hi-ji sendiri juga tidak ingin ikut. Ia

cuma ingat pesan mereka, “Awas terhadap Yan Lam-thian, usahakan menumbangkan

pengaruh Kang Piat-ho. Terasa kurang leluasa jika kau ikut pergi bersama kami, biarlah

kelak kami akan datang mencari kau.”

Siau-hi-ji tidak menaruh perhatian pada pesan mereka itu, soalnya hatinya sedang

bimbang, entah sejak kapan pikirannya mendadak penuh diisi oleh nama “Yan Lam-thian”.

“Yan Lam-thian, mengapa aku tidak dapat belajar seperti Yan Lam-thian? tapi malah

belajar seperti To Kiau-kiau, Li Toa-jui dan sebangsanya? Tatkala kubenci pada

seseorang, mengapa aku tak dapat meniru Yan Lam-thian, carilah orang itu dan bertempur

secara terang-terangan dengan dia, tapi malah meniru caranya To Kiau-kiau dan lain-lain,

hanya mengganggu secara diam-diam?!”

Hidup seorang lelaki sejati, seharusnya kalau benci ya benci, suka ya suka, apa yang ingin

dilakukan segera lakukan saja, siapa pun tak dapat merintanginya.

Sayup-sayup masih terdengar jeritan ngeri Auyang bersaudara yang terbawa angin lalu.

Mendadak Siau-hi-ji memutar balik menuju ke rumah bobrok yang sepi itu.

Kedua orang gemuk itu masih menggeletak di tengah genangan darah, beribu-ribu dan

berjuta-juta semut tampak merubung tiba dari segenap penjuru, penderitaan kedua orang

itu sungguh sukar untuk dilukiskan.

Ketika melihat Siau-hi-ji, dengan suara terputus-putus mereka berteriak, “To … tolong,

sudilah engkau mem … membantuku, bacoklah kami masing-masing satu kali, mati pun kami

… merasa berterima kasih padamu!”

Siau-hi-ji menghela napas, tiba-tiba ia angkat kedua orang itu keluar, ia mendapatkan

sebuah sumur, di situlah ia cuci badan mereka dari kerumunan semut.

Sungguh mimpi pun kedua Auyang bersaudara tidak pernah menyangka anak muda itu akan

menolong mereka, mereka pandang Siau-hi-ji dengan melenggong, penuh rasa kejut,

bingung dan juga terima kasih.

“Kalian tentu heran mengapa mendadak aku berubah welas asih bukan?” gumam Siau-hi-ji.

“Meski kutahu kalian ini bukan manusia baik-baik, tapi melihat cara kalian mati tersiksa

begini sungguh hatiku tidak tega.”

Auyang Ting menatapnya dengan tajam, katanya kemudian, “Jika engkau suka

menyelamatkan kami, tentu … tentu kami akan membalas budi kebaikanmu ini secara

setimpal.”

“Asalkan kalian dapat hidup, tentu akan kutolong tanpa mengharapkan balas jasa apa pun,”

ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Auyang Ting memandangnya dengan sorot mata heran seolah-olah tidak pernah kenal anak

muda ini. Mendadak ia berkata, “Harta karun itu sebenarnya tidak tersimpan di Ku-san.”

Ucapan yang tiba-tiba ini membuat Siau-hi-ji tercengang, ia menegas, “Tidak tersimpan di

Ku-san katamu?”

Wajah Auyang Ting yang tadinya membuat setiap orang merasa kasihan bila melihatnya

itu kini mendadak menggereget. “Ya, ketika kukatakan hal ini tadi tentu tiada seorang pun

yang menyangka keteranganku adalah palsu. Nah, justru kuharap mereka akan berpikir

demikian, kalau tidak masakah kawanan setan iblis itu dapat tertipu olehku?”

“Paling-paling mereka cuma kembali dengan tangan hampa saja, bukan sesuatu tipuan yang

luar biasa?” ujar Siau-hi-ji.

Walaupun Auyang Tong tadi berkelejetan di lantai saking kesakitan, tapi sekarang dia

masih dapat bergelak tawa dan berkata, “Hahaha, tipu kami masa cuma membuat mereka

pulang-pergi dengan tangan hampa belaka?”

“Hm, sekali ini biarpun mereka dapat pulang dengan hidup, sedikitnya setengah nyawa

mereka pun akan kecantol di Ku-san,” tukas Auyang Ting dengan menyeringai.

“Sebab apa?” Siau-hi-ji mengernyit kening.

Auyang Tong terkekeh-kekeh, katanya, “Sebab tempat yang kami katakan itu sebenarnya

tiada tersimpan harta karun segala, yang ada cuma seorang iblis jahat, sudah lama sekali

iblis itu tidak tampil di muka umum, mimpi pun mereka takkan menyangka iblis itu justru

sembunyi di Ku-san sana.”

“Mereka cuma tahu betapa menakutkannya Yan Lam-thian, tapi tidak tahu iblis itu

sesungguhnya berpuluh kali lebih menakutkan daripada Yan Lam-thian,” demikian tutur

Auyang Ting. “Cap-toa-ok-jin kalau dibandingkan iblis itu boleh diibaratkan anak kecil

berbanding orang tua.”

“Mengapa aku tidak tahu di dunia masih ada manusia begitu?” tanya Siau-hi-ji.

“Hal-hal yang tidak kau ketahui masih cukup banyak,” ujar Auyang Tong.

“Umpama kami harus mati, tapi mereka pun tak bisa tenang,” kata Auyang Ting. “Bila

ketemu iblis itu, penderitaan mereka mungkin berpuluh kali lebih hebat daripada kami.”

“Kalau kalian sudah akan mati, untuk apa mesti membikin susah orang lain?” Siau-hi-ji

menggeleng seraya tersenyum.

“Soalnya kutahu mereka toh takkan melepaskan kami, biarlah menderita dan bertambah

tersiksa juga akan kami seret mereka ke dalam lumpur, aku Auyang Ting biarpun mengadu

jiwa juga ingin mendapatkan untung,” kata Auyang Ting dengan tertawa.

“Ya, jiwa kami berdua mendapatkan imbalan lima jiwa mereka, jual beli ini cukup

menguntungkan, aku Auyang Tong memang mati pun tidak mau rugi,” tukas Auyang Tong

dengan terbahak.

Dalam keadaan menderita dan kesakitan, tapi suara tertawa kedua orang ini entah betapa

gembiranya, tidak saja melupakan semua siksaan, bahkan mati dan hidup juga terlupakan

seluruhnya.

Siau-hi-ji merinding sendiri melihat cara mereka bergelimpangan menahan sakit di

samping tertawa gembira pula, ia menggeleng kepala dan tersenyum getir, katanya,

“Manusia macam kalian ini sungguh jarang ada, pada hakikatnya kalian ini bukan lantaran

akan mati maka ingin membikin susah orang lain, tapi lebih suka mati demi membikin susah

orang lain.”

Dilihatnya kedua bersaudara yang lebih suka membikin susah orang ini mulai lemah suara

tertawanya, Auyang Ting menggelinding ke samping Auyang Tong dan bertanya, “Lotoa,

apakah kita benar-benar hendak beritahu bocah ini tempat penyimpanan harta karun itu?”

“Pembawaan bocah ini bukanlah orang baik-baik, setelah mendapat harta karun kita itu

pasti tidak sedikit orang yang akan dicelakainya. Biar kita sudah mati, tapi harta yang

kita tinggalkan masih dapat dimanfaatkan oleh bocah ini, bukanlah ini pun suatu hasil

karya kita yang gemilang?” ujar Auyang Ting.

“Betul, betul,” seru Auyang Tong tertawa. “Betapa pun Lotoa memang … memang lebih

pintar daripadaku ….” dia tertawa terus dengan tubuh mengejang, suara bicaranya juga

terputus-putus.

“Kata orang, manusia yang akan mati ucapnya tentu juga bajik, tapi ajal kalian sudah

dekat, nyatanya tetap tidak mau mengucapkan beberapa patah kata yang baik,” kata Siauhi-

ji dengan gegetun.

“Hidup jadi orang … jahat, setelah mati juga … juga akan menjadi setan jahat ….” kata

Auyang Tong dengan menyeringai.

“Biarpun kuberitahu, tempat penyimpanan harta karun yang sesungguhnya ialah berada di

… di kota Hankau, di gang Pat-po pada rumah nomor tiga di ujung sebelah kanan yang

berpintu warna kuning,” tutur Auyang Tong.

Dengan terkekeh-kekeh Auyang Ting menyambung, “Mereka sama mengira tempat

penyembunyian harta karun itu pasti di suatu gua sepi dan jarang didatangi manusia, tapi

tak tersangka bahwa kami justru menyimpan harta itu di suatu tempat yang ramai, di

tengah kota yang penuh penduduk sehingga mimpi pun tak terduga oleh mereka.”

Suara mereka makin lama makin lemah sehingga hampir tak jelas lagi, luka mereka pun

mulai mengering dan tidak mengalirkan darah pula.

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa dan berkata, “Baiklah, sekarang boleh kalian menjadi setan

jahat saja, cuma jangan lupa, jadi setan jahat harus masuk neraka, di sana pun kalian akan

disiksa, mungkin terlebih menderita daripada sekarang.”

Suara kedua Auyang bersaudara serentak berhenti, seketika terbayang oleh mereka

adegan di neraka yang menyeramkan itu, ada bukit bergolok dan wajan minyak mendidih

yang sedang menantikan kedatangan mereka.

Sekonyong-konyong tubuh Auyang Tong meringkal jadi satu, teriaknya dengan histeris,

“Tidak, aku bukan orang jahat … aku pun tidak ingin menjadi setan jahat … aku tidak …

tidak mau masuk neraka.”

Baru saja Auyang Ting masih bergelak tertawa, kini air mata sudah bercucuran, ratapnya,

“Ampun, kumohon pertolonganmu, ampunilah kami.”

“Aku pun ingin mengampuni kalian, cuma sayang aku bukan Giam-lo-ong (raja akhirat),”

ucap Siau-hi-ji.

“Tolong bantulah kami, gunakanlah harta karun kami itu untuk melakukan sesuatu yang

mulia bagi kami,” seru Auyang Tong.

“Betul, sudah terlalu banyak perbuatan busuk yang kami lakukan, sudilah engkau berbuat

sesuatu sekadar menebus dosa kami,” sambung Auyang Ting.

“Sungguh aneh, ada sementara orang mengira dengan uangnya yang busuk akan dapat

digunakan menebus dosanya, jalan pikiran ini bukankah teramat naif? Sebab kalau benar

demikian adanya, bukankah surga akan menjadi milik orang yang beruang dan si miskin

harus masuk neraka seluruhnya?”

Mendadak kedua Auyang bersaudara meratap, “Tolonglah, sudikah engkau membantu

kami!”

“Kalian sudah takut,” tanya Siau-hi-ji.

Sekujur badan mereka sama gemetar dan tidak sanggup bersuara pula, mereka hanya

mengangguk saja sekuatnya.

Siau-hi-ji menggeleng-geleng, katanya, “Bilamana seluruh orang jahat di dunia ini

menyaksikan keadaan kalian sekarang ini, mungkin selanjutnya akan banyak berkurang

manusia yang berani berbuat jahat.” Setelah menghela napas gegetun, lalu ia

menyambung, “Tapi apa pun juga pasti akan kucoba, biarpun kalian menyesal sesudah

terlambat, namun toh lebih baik daripada sama sekali tidak mau menyesal. Nah, kalian

boleh mangkat dengan hati lega.”

Dalam hidup ini setiap orang kebanyakan mempunyai satu hari yang khusus pantas untuk

dikenangkan. Siau-hi-ji juga mempunyai hari kenang-kenangan demikian.

Selama seharian ini mendadak Siau-hi-ji menemukan banyak persoalan yang sebelum ini

tidak pernah dipikirkan dengan mendalam walaupun juga tidak asing lagi baginya.

Sehari ini pun berharga untuk dikenang sekalipun bagi Siau-hi-ji yang banyak ragam dan

gayanya itu, dalam sehari ini ia telah mengalami rasa duka dan kecewa yang takkan terjadi

di kemudian hari, jika sebelum ini dia masih tergolong anak-anak, maka sehari ini telah

membuatnya dewasa.

Apa pun juga akhirnya hari ini telah lalu pula, kini Siau-hi-ji telah mencuci bersih

mukanya, ia membeli seperangkat pakaian warna biru langit, setelah berdandan dan

bercermin, ia merasa cukup puas akan diri sendiri.

Walaupun sudah sehari semalam tidak tidur, tapi selama ini semangat tak pernah sebaik

sekarang, hanya perutnya saja yang berkeruyukan minta diisi. Maka ia mencari sebuah

rumah makan yang terkenal enak dan dahar sekenyangnya.

Rumah makan yang besar ini ada berpuluh buah meja, semuanya sudah penuh tamu,

kebanyakan adalah tokoh-tokoh dunia persilatan, rupanya orang-orang Kangouw yang

datang kemari itu belum banyak yang meninggalkan Ankhing.

Orang-orang Kangouw ini paling gemar makan, suka makan enak, berani bayar, cara

mereka membuang uang sama seperti uang didapatkan dari mencuri atau merampok. Dan

juragan restoran mana pun paling suka pada tetamu yang demikian ini.

Dengan perasaan menikmati tontonan, Siau-hi-ji menyaksikan cara orang-orang Kangouw

itu makan dan minum, ia merasa orang-orang yang kelihatan kasar-kasar itu juga ada segisegi

yang menyenangkan.

Didengarnya seorang di meja sebelah sana sedang berkata dengan tertawa, “Wah, malam

nanti tentunya Au-heng juga akan hadir di Cong-goan-lau itu.”

Orang yang dipanggil “Au-heng” (saudara Au) itu bergelak tawa dan menjawab, “Ya,

syukur Kang-tayhiap menghargai diriku dan juga mengirim sehelai undangan padaku,

dengan sendirinya malam nanti Cayhe akan hadir di restoran ini untuk meramaikan

suasana.”

Orang she Au ini sengaja bicara dengan suara keras, benar saja sorot mata dari berbagai

arah seketika tertumpah kepadanya dengan rasa kagum dan juga iri.

Menyusul ada beberapa orang lain juga mengeluarkan kartu undangan masing-masing

untuk pamer, orang yang tidak dapat memperlihatkan kartu undangan menjadi merah

mukanya dan juga ada yang pucat. Bahwasanya Kang-lam-tayhiap menjamu tamu dan

mereka tidak diundang, tentu saja mereka merasa malu.

Geli dan dongkol juga Siau-hi-ji menyaksikan semua itu. Bahwa Kang Piat-ho masih punya

muka untuk pesta pora dan tamu yang diundang justru merasa bangga, ini benar-benar

membuat dada Siau-hi-ji hampir meledak.

Tiba-tiba seorang yang duduk dekat jendela sana berkata dengan heran, “He, katanya

malam ini Kang-tayhiap menjamu tamu untuk merayakan kemenangan Hoa-kongcu, tapi

sekarang mengapa Hoa-kongcu akan pergi? Memangnya dia tidak mau beri muka kepada

Kang-tayhiap?”

“Hoa-kongcu dan Kang-tayhiap adalah sahabat sehidup semati, Hoa-kongcu tidak segan

berkorban bagi Kang-tayhiap sekalipun harus menghadapi bahaya, masa beliau malah tidak

mau memberi muka kepada Kang-tayhiap?” demikian seorang lagi menanggapi.

“Ah, hari ini cuaca cerah dan hawa sejuk, Hoa-kongcu hanya membawa pacarnya

melancong keluar kota, masa beliau benar-benar akan pergi begitu saja?” ujar orang

ketiga.

Siau-hi-ji juga duduk dekat jendela, tanpa terasa ia pun melongok keluar. Dilihatnya

sebuah kereta kuda sedang datang dari timur sana, tirai jendela tersingkap, samar-samar

kelihatan bayangan si cantik berambut panjang gombyok.

Tertampak pula Hoa Bu-koat dengan gagahnya naik kuda dengan pelana mengkilat

mengiring di samping kereta dan kadang-kadang bersenda gurau dengan penumpang di

dalam kereta.

Siau-hi-ji jadi terkesima menyaksikan itu.

Sementara itu tetamu restoran itu sudah sama merubung di depan jendela, maka

terdengar pula suara kagum dan takjub di sana-sini, bahkan ada lagi yang menyapa,

“Selamat, Hoa-kongcu!”

Hoa Bu-koat mendongak dan membalas dengan senyuman tawar. Setiap orang si atas

loteng restoran itu khawatir dirinya tidak terlihat tokoh muda itu, maka semuanya

berusaha menjulurkan kepalanya masing-masing. Tapi Siau-hi-ji justru sebaliknya,

kepalanya mengkeret ke dalam malah, khawatir dilihat oleh Hoa Bu-koat.

Setelah kereta Hoa Bu-koat itu lewat ke sana dan semua orang kembali ke tempat duduk

masing-masing, tapi Siau-hi-ji masih temangu-mangu di tempatnya, tiba-tiba ia bergumam,

“Caraku main sembunyi-sembunyi begini menghindari dia entah harus berlangsung sampai

kapan? Memangnya selamanya aku harus menghindari dia?” berpikir sampai di sini,

mendadak ia berbangkit terus lari ke bawah.

Apabila Siau-hi-ji sudah berpikir harus mengerjakan sesuatu, maka bagaimana akibatnya

sama sekali tak terpikir lagi olehnya. Rupanya ini memang sifat keturunan ayah-ibunya.

Maklumlah, bilamana Kang Hong dan Hoa Goat-loh (ayah dan ibu Siau-hi-ji) tidak

mempunyai sifat begitu, tentunya dahulu mereka takkan melarikan diri dari Ih-hoa-kiong

tanpa memikirkan segala akibatnya! Orang she Kang kalau sudah ingin mengerjakan

sesuatu, mati pun pasti akan dilaksanakannya, bila dia sudah mencintai seseorang, mati

pun dia tetap mencintainya. Kang Hong itu tampaknya halus dan lemah, tapi wataknya

lebih keras daripada baja.

Dalam hal ini Siau-hi-ji ternyata serupa dengan sang ayah. Begitulah dia terus memburu

ke arah kereta Hoa Bu-koat.

Hakikatnya Siau-hi-ji tidak peduli bahwa dirinya sedang menjadi sasaran pandangan orang

yang berlalu-lalang dengan terheran-heran karena melihat dia berlari-lari sepanjang

jalan. Maka hanya sebentar saja dia sudah dapat menyusul kereta kuda Hoa Bu-koat tadi.

Tatkala mana kereta itu sudah hampir ke luar kota, terdengar Hoa Bu-koat lagi berkata

dengan tertawa, “Sudah beberapa hari engkau merasa masygul, maka perlu kita

melancong keluar kota untuk menghirup hawa segar ….”

Pada saat itulah tiba-tiba seorang berteriak dari belakang, “Berhenti dulu, Hoa Bu-koat!”

Tentu saja Hoa Bu-koat mengernyit kening dan menahan kudanya, baru saja kepala Thi

Sim-lan sedikit menongol keluar, dengan cepat Siau-hi-ji sudah melayang tiba.

Munculnya Siau-hi-ji secara mendadak sudah tentu membuat Thi Sim-lan melongo

terkejut, bahkan Hoa Bu-koat juga melengak dan hampir-hampir tidak percaya pada mata

sendiri.

Sedapatnya Siau-hi-ji menahan perasaannya dan sama sekali tidak memandang sekejap

pun ke arah Thi Sim-lan, ia cuma menatap Hoa Bu-koat tanpa berkedip, mendadak ia

bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, tentunya kau tidak menyangka aku akan

mencarimu bukan?”

“Ya, memang tak tersangka,” jawab Bu-koat. Ia seperti mau tertawa, tapi entah mengapa,

ternyata tidak dapat tertawa.

“Kau kira kedatanganku ini untuk mengantarkan kematian bukan?” tanya pula Siau-hi-ji.

“Betul,” jawab Bu-koat sambil menghela napas.

“Kau memang orang jujur dan suka terus terang, tapi semua ini lantaran kau menganggap

dirimu jagoan dan tidak gentar terhadap siapa pun juga, makanya kau tidak perlu purapura,

begitu bukan?”

Tampak sinar mata Hoa Bu-koat berkelebat, tapi dia tetap menjawab dengan hambar,

“Ya, betul!”

Menghadapi orang demikian, betapa pun Siau-hi-ji tidak sanggup tertawa lagi, teriaknya

pula, “Jika kau bertekad akan membunuhku, mengapa kau tidak mencari diriku, tapi malah

menunggu aku mencarimu?”

“Aku sendiri sebenarnya tidak ingin membunuhmu,” jawab Hoa Bu-koat dengan tenang,

“sebab itulah aku tidak terburu-buru mencarimu. Tapi sekarang setelah kulihat dirimu,

mau tak mau aku harus membunuhmu.”

Pada saat ini juga Thi Sim-lan baru tersadar dari kagetnya tadi, mendadak ia membuka

pintu kereta dan menerobos keluar serta mengadang di depan Siau-hi-ji sambil berseru,

“Sekali ini dia sendiri yang datang mencarimu, adalah tidak layak bila engkau

membunuhnya.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji mendorong dengan kuat sehingga Thi Sim-lan tertolak ke

sana dan hampir menumbuk pada pintu kereta.

Air muka Hoa Bu-koat tampak berubah, tapi ia tetap bisa menahan diri dan tidak mau

membuka suara.

Sambil menatap Siau-hi-ji, Thi Sim-lan berseru dengan suara gemetar, “Meng … mengapa

engkau bersikap demikian padaku?”

Tapi sama sekali Siau-hi-ji tidak memandang nona itu, ia melototi Hoa Bu-koat dan

mendengus, “Hm, kabarnya nona Thi ini adalah bakal istrimu, mengapa dia sengaja ikut

campur urusanku? Padahal sama sekali aku tidak kenal siapa dia?”

Thi Sim-lan menggigit bibir dengan kuat, meski bibirnya sampai berdarah, meski air mata

sudah meleleh, tapi dia tetap berdiri di situ.

Bagaimanapun Siau-hi-ji berbuat kasar terhadapnya, asal dia melihat anak muda itu, mau

tak mau ia ingin mendekatinya, biarpun Siau-hi-ji menghalaunya dengan cambuk juga sukar

mengusirnya.

Pedih hati Hoa Bu-koat, sedapatnya ia tidak memandang Thi Sim-lan, katanya dengan

hambar kepada Siau-hi-ji, “Apakah sekali ini kau tidak perlu bantuan orang lain lagi?”

Siau-hi-ji menengadah dan bergelak tertawa, jawabnya, “Jika kuperlu bantuan orang

mengapa kudatang mencarimu?” mendadak ia berhenti tertawa dan berteriak, “Kau

sendiri juga tahu, orang macam diriku ini tidaklah mungkin datang untuk mengantar

kematian belaka, lantas untuk apakah kudatang kemari? Soal ini tentu membuatmu heran

bukan?”

“Ya, aku memang heran,” ucap Bu-koat.

“Bahwa kau bertekad ingin membunuhku, tapi selalu gagal, sampai-sampai aku pun merasa

cemas bagimu. Apalagi yang kau pikir hanya ingin membunuhku saja, mungkin kau tidak

tahu bahwa aku pun ingin membinasakan kau.”

“Kau takkan mampu membunuhku,” kata Bu-koat.

”Kau anggap aku tidak mampu membunuhmu, tapi aku pun yakin kau tidak dapat

membunuhku, jika keadaan begitu terus berlarut-larut, setelah dua ratus tahun lagi

entah akhirnya kau yang benar atau aku yang tepat. Bahwa hatiku gelisah, mungkin kau

terlebih gelisah daripadaku. Sebab itulah sekarang kudatang ke sini, tujuanku adalah

untuk mengadakan pemberesan denganmu.”

“Kau ingin membereskannya dengan cara bagaimana?” tanya Bu-koat dengan tersenyum.

“Asalkan kau menentukan suatu tempat, tiga bulan kemudian kupasti menemui kau di sana

untuk mengadakan pertarungan menentukan, sebelum salah satu pihak kalah atau mati,

siapa pun tidak boleh lari.”

“Tentunya kau tahu tidak mungkin aku lari,” ucap Bu-koat dengan tersenyum tawar.

“Jadi kau setuju?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, setuju,” jawab Bu-koat.

Siau-hi-ji menghela napas lega, katanya pula, “Tapi sebelum janji waktu tiga bulan tiba,

biarpun bertemu dengan aku juga kau harus pura-pura tidak tahu, lebih-lebih tidak boleh

menyatroni aku lebih dulu.”

Bu-koat termenung tanpa menjawab.

Dengan suara keras Siau-hi-ji lantas menyambung, “Jika aku tidak datang mencari kau,

selama tiga bulan ini jelas kau pun tak dapat menemukan diriku. Jadi syarat yang

kukemukakan ini tidak merugikanmu, mengapa kau tidak berani menerimanya?”

“Di balik syaratmu ini kupikir pasti ada tipu muslihat lain,” kata Hoa Bu-koat perlahan.

“Jadi kau tidak … tidak setuju?” Siau-hi-ji menegas dengan melotot.

Mendadak Hoa Bu-koat memutar kudanya dan berkata, “Baik, tiga bulan kemudian aku

akan berada di Bu-han, di sana kau pasti dapat menjumpaiku.”

“Bagus, sedemikian kupercaya padaku, aku pasti takkan mengecewakanmu” seru Siau-hi-ji,

habis berkata segera ia pun membalik tubuh dan bertindak pergi dengan langkah lebar.

Thi Sim-lan berharap anak muda itu akan menoleh dan memandangnya sekejap, tapi Siauhi-

ji tetap tidak berpaling sama sekali, sampai bayangan anak muda itu sudah lenyap di

kejauhan, Thi Sim-lan masih berdiri termangu-mangu di situ.

Dengan tenang Hoa Bu-koat menunggu di atas kudanya tanpa mengusiknya. Di samping

mereka orang berlalu lalang, setiap orang sama memandang mereka dengan heran karena

penunggang kuda dan penumpang kereta berhenti di situ. Sudah tentu tiada yang tahu

bahwa meski mereka berhenti di situ, namun hati mereka telah melayang jauh ke sana.

Entah berselang berapa lama lagi, kemudian perlahan-lahan Thi Sim-lan naik ke atas

keretanya, pintu kereta ditariknya, dilihatnya Bu-koat masih tetap bertengger di atas

kudanya, bagaimana perasaannya sungguh sukar dilukiskan.

Si kusir kereta tidak tahu kedua muda-mudi itu sedang bertengkar urusan apa, setelah

menunggu sekian lama dan akhirnya si nona masuk lagi ke dalam kereta, segera ia bersuit

dan menghela keretanya keluar kota.

Maksud tujuan Hoa Bu-koat mengajak Thi Sim-lan pesiar keluar kota adalah untuk

menghibur si nona, tapi kini setelah keluar kota perasaan kedua orang menjadi kusut dan

sukar dipecahkan.

Berulang-ulang Thi Sim-lan menggulung tirai kereta, lalu diturunkan lagi, meski

pemandangan alam di luar kota seindah lukisan, namun tiada minatnya lagi buat

menikmatinya.

Sais kereta itu merasa serba susah oleh suasana dingin itu, ia bertanya mengiring

senyum, “Nona dan Kongcu hendak ke mana?”

Hoa Bu-koat tidak bersuara, sekenanya ia angkat cambuk menuding ke depan.

Di depan sana tampak semak-semak bunga beraneka warna sedang mekar semerbak,

sebuah sungai kecil mengalir di samping pepohonan berbunga, air sungai tampak

berkilauan di bawah cahaya sang surya menjelang musim rontok.

Di kejauhan sana ada seorang lelaki rudin sedang berjemur sambil berbaring di tepi

sungai, kicau burung dengan harum bunga, rumput hijau menyelimuti bumi laksana

permadani.

Bu-koat lompat turun dari kudanya dan berdiri termangu-mangu di bawah pohon yang

berbunga, angin sepoi-sepoi mengusap wajahnya yang cakap itu, pakaiannya yang serba

putih melambai perlahan tertiup angin, mengapa dia tidak melanjutkan perjalanan?

Perlahan-lahan Thi Sim-lan membuka pintu kereta dan turun, ia berjalan di atas tanah

berumput halus dan memandangi bayangan punggung Hoa Bu-koat, ia pun termangu-mangu

sejenak, tiba-tiba ia berucap, “Sudah jelas tahu di balik usulnya itu pasti ada tipu

muslihatnya, tapi mengapa engkau menerimanya?”

Hoa Bu-koat seperti menghela napas, tapi tidak menoleh dan juga tidak mau menjawab.

“Apakah karena aku?” tanya Sim-lan dengan lirih.

Hoa Bu-koat menggeleng, seperti mau bicara sesuatu tapi urung.

Thi Sim-lan melangkah lewat samping Hoa Bu-koat, ia petik setangkai bunga dari ranting

pohon yang melambai rendah, bunga yang tak diketahui apa namanya itu diremasnya

hingga hancur, mendadak ia berpaling menghadapi anak muda itu dan berkata, “Mengapa

engkau tidak bicara?”

“Bungkam bukankah terkadang lebih baik daripada bicara?” akhirnya Bu-koat berucap

dengan tersenyum hambar.

Thi Sim-lan menunduk, katanya, “Tapi kutahu dalam hatimu banyak yang hendak kau

katakan, bila kau katakan rasanya hatiku akan lega malah.”

“Apa yang hendak kukatakan bukankah sudah kau ketahui seluruhnya?” kata Bu-koat.

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan memutar tubuh ke samping, katanya, “Selama dua tahun

ini engkau senantiasa menjaga diriku, jika tiada engkau tentu sejak dulu aku telah mati,

selama hidupku tiada orang sebaik ini terhadap diriku seperti engkau.”

Bu-koat memandangi rambut di belakang leher si nona yang bergerak-gerak terusap angin

itu tanpa menjawab.

Si nona menghela napas perlahan, lalu berkata pula, “Selama hidupku ini juga tiada orang

sebusuk padaku seperti dia itu, tapi … tapi entah mengapa, bila melihat dia pikiranku

menjadi kusut dan tak berdaya.”

Bu-koat memejamkan mata, katanya, “Kata-kata ini sebenarnya tidak perlu kau katakan

padaku.”

Bahu Thi Sim-lan rada gemetar, ucapnya, “Aku pun tidak tahu apakah kata-kata ini pantas

kukatakan atau tidak, tapi bila tidak kukatakan terus terang, hatiku terasa susah dan

merasa berdosa padamu.”

“Mana dapat aku menyalahkan engkau? Mana pula engkau berdosa padaku?” ucap Bu-koat

dengan suara halus.

“Mengapa … mengapa engkau tidak marah padaku? Mengapa engkau tetap begini baik

padaku? Kau … kau ….” mendadak Thi Sim-lan mendekap batang pohon dan menangis

terisak-isak.

Akhirnya Hoa Bu-koat mementang matanya dan mendekati si nona, seperti ingin membelai

rambutnya, tapi tangan baru terjulur segera ditarik kembali, ia menengadah melihat

cuaca, setelah menghela napas perlahan, lalu berkata, “Hari sudah petang, marilah kita

pulang saja.”

Di kejauhan sana si lelaki rudin tadi tampak menggeliat kemalas-malasan, tiba-tiba ia

menggerundel, “Masih muda belia, hanya sedikit soal kecil lantas susah dan merasa

tersiksa, bila kalian sudah dewasa, tentu akan tahu di dunia ini masih banyak urusan lain

yang jauh lebih menderita.”

Sebenarnya Hoa Bu-koat tidak menaruh perhatian padanya, lebih-lebih tak terpikir

olehnya bahwa percakapannya dengan suara lirih di sini dapat didengar orang itu dari

jarak sejauh itu.

Malahan Thi Sim-lan juga melengak, ia berhenti menangis dan berpaling ke sana.

Tampak lelaki rudin itu menguap dan mendadak melompat bangun.

Mendingan kalau dia tetap berbaring di situ, begitu dia berdiri, seketika Hoa Bu-koat dan

Thi Sim-lan terkejut.

Sungguh tak tersangka orang yang berbaring seperti kelaparan itu setelah berbangkit

ternyata begini gagah dan tangkas, biji matanya memancarkan sinar tajam, kedipannya

seakan-akan kilat berkelebat.

Jelas kelihatan mukanya yang halus, alis tebal dan wajah kotor mengkilap kehijau-hijauan,

sekilas pandang sukar juga untuk diketahui berapa usianya.

Sejak tampil di Kangouw, ksatria mana pun di dunia ini hampir tiada yang terpandang oleh

Hoa Bu-koat, tapi entah mengapa, lelaki rudin yang kemalas-malasan ini seakan-akan

memiliki daya tarik yang sukar dilukiskan, meski perawakannya tidak terlalu tinggi besar,

tapi siapa pun yang berhadapan dengan dia tentu akan merasa dirinya sendiri teramat

kecil. Sinar matanya yang gemerdep juga membuat orang tak berani menatapnya.

Ketika melihat Hoa Bu-koat, agaknya lelaki itu pun terkesiap, ia bergumam perlahan,

“Jangan-jangan dia inilah? Kalau tidak masa begini mirip? Urusan orang lain boleh

kubiarkan, tapi dia … mana boleh kutinggal diam dan tidak membantu melaksanakan

keinginannya.”

Bu-koat dan Sim-lan tidak mendengar apa yang digumamkannya, dalam pada itu lelaki itu

pun melangkah ke sini dengan lamban, jalannya juga kemalas-malasan dan sangat lambat.

Tapi aneh, hanya kelihatan dia melangkah beberapa tindak saja tahu-tahu ia sudah berada

di depan Hoa Bu-koat.

Baru sekarang Bu-koat dapat melihatnya dengan jelas. Ternyata pakaian yang dipakainya

semula berwarna hitam tapi sudah luntur sehingga lebih tepat dikatakan berwarna kelabu.

Kaki memakai kasut rumput buntut, tangannya besar-besar dengan otot yang tampak

merongkol, sedemikian panjang tangannya, sehingga hampir melampaui dengkul. Pinggang

terikat seutas tali rumput, tapi pada tali pinggang itu terselip sebatang pedang yang

sudah karatan.

Lelaki itu pun mengawasi Hoa Bu-koat dengan teliti, dari kepala ke kaki, lalu dari bawah

ke atas, tiba-tiba ia tertawa dan bertanya, “Apakah hatimu sangat menyukai nona ini?”

Sudah tentu Hoa Bu-koat tidak pernah menyangka akan ditanya demikian, ia jadi

melengak dan tergegap, “Aku … aku ….”

“Kalau suka ya bilang suka, tidak suka katakan tidak suka, seorang lelaki sejati kenapa

kata-kata demikian saja tidak berani diucapkan?” bentak lelaki itu dengan berkerut

kening.

Sejak kecil hingga sebesar ini belum pernah ada orang bicara sekasar ini kepada Hoa Bukoat,

maka ia jadi melengak pula dan tidak menjawab. Dahi orang itu terkerut lebih

kencang, katanya, “Hm, kau bilang diam lebih baik daripada bicara segala, semuanya itu

kentut belaka. Coba jawab, bilamana kau tidak bicara, dari mana orang akan tahu kau

menyukai dia?”

Mau tak mau muka Hoa Bu-koat menjadi merah dan lebih-lebih tidak sanggup bersuara.

Bila orang lain bicara demikian padanya tentu akan dianggapnya sebagai kurang sopan, tapi

entah mengapa, kata-kata yang diucapkan lelaki ini baginya terasa membawa semangat

jantan dan menyentuh kalbunya.

Muka Thi Sim-lan juga merah mendengar kata-kata lelaki itu, tiba-tiba ia menimbrung,

“Ada sementara kata-kata yang tidak perlu diucapkannya, tapi kutahu isi hatinya.”

Orang itu terbahak-bahak sambil menatap Thi Sim-lan dengan sorot matanya yang tajam,

katanya, “Bagus, bagus sekali, tak tersangka kau lebih terus terang daripada dia, anak

perempuan macam begini, jangankan dia, bahkan aku pun rada-rada suka.”

Jika orang lain berkata demikian di hadapannya, bukan mustahil akan dipersen beberapa

kali gamparan kontan oleh Thi Sim-lan. Tapi kini si nona hanya menunduk saja, sedikit pun

tidak marah.

Dengan tertawa lelaki itu berkata pula, “Jika demikian, jadi kau memang tahu dia

menyukaimu?”

“Ya, kutahu,” jawab Sim-lan dengan tabahkan hati.

“Dan kau sendiri menyukai dia atau tidak?”

“Aku bukan ….” Sim-lan merandek dan memandang Hoa Bu-koat sekejap, lalu menunduk

dan melanjutkan, “… bukannya aku tidak suka, cuma ….”

Tanpa menunggu habis ucapan si nona, kembali orang itu bergelak tertawa dan berkata,

“Jika bukannya tidak suka, itu artinya suka. Dan kalau kalian sama-sama suka maka biarlah

aku yang ‘Coem-lang’ (perantara) dan sekarang juga kalian boleh menikah di sini.”

Sudah tentu ucapan ini membuat Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan terkejut.

“He, apakah tuan ini berkelakar?” seru Hoa Bu-koat dengan muka merah.

Tapi orang itu jadi mendelik, teriaknya, “Masa urusan begini boleh dibuat berkelakar?

Lihatlah tempat seindah ini, burung berkicau merdu dan bunga mekar semerbak, angin

meniup sejuk dan cuaca cerah, jika kalian kawin sekarang juga di sini bukankah jauh lebih

baik daripada di tempat lain?”

Makin omong makin gembira orang itu, kembali ia terbahak-bahak, lalu menyambung pula,

“Cahaya lilin mana bisa menandingi gemilangnya sinar sang surya, permadani apa pun di

dunia ini masa dapat melebihi rumput halus menghijau begini, kalian boleh segera

menyembah kepada langit dan bumi di bawah cahaya matahari dan di atas tanah berumput

ini, sungguh merupakan peristiwa bahagia bagi orang hidup, bahkan aku pun ikut merasa

sangat gembira.”

Bu-koat hanya mendengarkan ocehan orang itu, ia sendiri menjadi bimbang dan entah

harus girang atau mesti marah. Thi Sim-lan juga berdiri melenggong dan serba kikuk.

Meski dia hendak menolak, tapi merasa tidak tega melukai hati Hoa Bu-koat.

Melihat sikap si nona, tiba-tiba Bu-koat berkata, “Walaupun Tuan bermaksud baik, namun

sayang kami tidak dapat menurut.”

Mendadak orang itu berhenti tertawa, katanya dengan melotot, “Kau tidak mau menurut?”

“Ya,” jawab Bu-koat sambil menarik napas panjang.

Orang itu menjadi marah, dampratnya, “Jika kau suka padanya, mengapa kau tidak mau

menikahi dia?”

“Soalnya … Cayhe ….”

“Aha, tahulah aku,” mendadak orang itu bergelak tertawa pula, “Yang benar bukan tidak

mau, soalnya kau khawatir dia yang tidak mau. Tapi dia kan tidak berkata apa-apa,

mengapa kau khawatir?”

Hoa Bu-koat berpikir sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Ada juga kata-kata

yang tidak perlu kuutarakan.”

Orang itu menghela napas, katanya, “Sudah jelas kau sangat suka padanya, tapi demi dia,

kau lebih suka keraskan hatimu dan tidak mau menurut usulku. Lelaki yang berperasaan

begini sungguh tiada malu sebagai putranya ayahmu.”

Bu-koat tidak paham apa arti ucapannya ini, sedangkan orang itu lantas melototi Thi Simlan

dan berkata pula, “Lelaki seperti dia tidak kau nikahi memangnya kau pilih lelaki

mana?”

Sim-lan menunduk, jawabnya, “Aku … bukan … cuma ….”

“Kalian masih muda belia, mengapa cara kerja kalian sekonyol ini dan membuat kumarah

saja,” bentak orang itu dengan gusar. “Pokoknya kau harus menurut, aku tak peduli

bagaimana pikiran kalian, yang pasti lekas kalian berlutut dan menikah di hadapanku, jika

ada yang berani ‘tidak mau’ segera kubunuh kalian berdua agar kelak kalian tidak perlu

hidup tersiksa.”

Walaupun tahu sikap kasar orang itu timbul dari maksud baiknya, tapi Hoa Bu-koat

menjadi gusar juga, jengeknya, “Hm, sudah banyak orang aneh yang kujumpai, tapi belum

pernah ada yang memaksa orang menikah cara begini.”

“Kau berkata demikian, mungkin kau kira aku tidak mampu membunuhmu bukan?” tanya

orang itu.

Baru saja habis ucapannya, sekonyong-konyong ia lolos pedang di pinggang terus

membabat ke batang pohon di sebelahnya. Pedangnya kelihatan karatan dan lebih mirip

besi rongsokan, jangankan buat menabas pohon, buat memotong sayur saja rasanya

kurang tajam.

Siapa tahu, begitu pedangnya menyambar lewat, “cret”, tahu-tahu batang pohon

sepelukan manusia itu putus menjadi dua dan roboh bergemuruh.

Meski sudah tahu ilmu silat orang ini pasti sangat tinggi, tapi sama sekali tak terpikir oleh

Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat bahwa kekuatan pedang orang itu bisa sedahsyat ini.

“Nah, kalian sudah lihat,” jengek orang itu sambil melirik hina. “Pedang ini meski berkarat,

tapi untuk membunuh dua bocah yang tidak menurut kata kiranya tidaklah sukar. Nah,

sekarang kalian mau menurut tidak?”

Thi Sim-lan menjadi khawatir kalau-kalau Hoa Bu-koat mengucapkan kata yang

menyinggung perasaan orang pula, maklumlah ilmu silat orang aneh ini sukar diukur,

betapa pun Hoa Bu-koat pasti juga bukan tandingannya.

Pada dasarnya hati Thi Sim-lan memang bajik dan mulia, meski dia tidak ingin Siau-hi-ji

dilukai Hoa Bu-koat, tapi ia pun tidak suka melihat orang lain melukai Hoa Bu-koat. Maka

sebelum Bu-koat buka suara, cepat ia mendahului berkata, “Baiklah, aku menurut.”

Orang aneh itu terbahak-bahak, katanya, “Hahaha, memang seharusnya demikian. Kalian

yang satu cakap dan yang lain ayu, memang satu pasangan yang setimpal. Biarpun sekarang

kalian habis bertengkar, tapi setelah kawin tentu kalian akan saling cinta-mencintai,

tatkala mana kalian pasti akan berterima kasih padaku.”

“Tapi aku tidak mau,” tiba-tiba Bu-koat berucap.

“Aneh, dia sendiri sudah menurut, kenapa kau malah tidak mau?” tanya orang itu heran.

Bu-koat tahu kemauan Thi Sim-lan tidak sukarela, karena itu semakin merasuk cintanya

terhadap Thi Sim-lan, dia tidak mau memaksa kehendak si nona.

Tapi selamanya dia tidak suka mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan, makin

berpikir di dalam hati, makin dingin pula lahirnya, padahal di dalam darahnya tersembunyi

cinta yang membara, tapi setitik pun tak diperlihatkannya.

Maklumlah, soalnya dia adalah keturunan orang yang berperasaan paling hangat di dunia

ini, tapi dibesarkan di samping manusia yang berperasaan paling dingin di dunia ini.

Begitulah Hoa Bu-koat lantas menjawab pula dengan dingin, “Kalau aku tidak mau ya tetap

tidak mau, jika engkau ingin membunuhku boleh silakan turun tangan saja.”

“Apakah … apakah kau tidak suka padaku?” tiba-tiba Thi Sim-lan berseru.

Hoa Bu-koat tidak mau memandang lagi pada si nona biarpun sekejap saja. Tampaknya dia

tiada persamaan sedikit pun dengan Siau-hi-ji, tapi kalau sudah gondok, nyatanya kedua

anak muda itu serupa benar.

Dengan melotot orang itu bertanya pula, “Jadi kau lebih suka menderita selama hidup dan

tetap tidak mau menurut.”

“Ya, pasti tidak,” jawab Hoa Bu-koat tegas.

“Baik!” bentak orang itu. “Daripada hidupmu kelak merana, lebih baik sekarang juga

kubunuh kau.” Begitu pedang berkelebat, kontan dia tusuk dada Hoa Bu-koat.

Dengan sendirinya serangannya tidak menggunakan seluruh tenaganya, tapi betapa cepat

dan kuatnya, rasanya tiada seorang pun di dunia persilatan ini sanggup memadainya.

Thi Sim-lan berdiri jauh di sebelah sana, tapi merasakan napas sesak oleh getaran hawa

pedang yang kuat itu, apalagi Hoa Bu-koat yang harus menghadapi serangannya.

Terdengarlah suara “cret” sekali, meski Bu-koat sempat mengelakkan serangan itu, namun

kopiah yang mengikat rambutnya itu telah putus tergetar oleh hawa pedang, seketika

rambutnya terurai serabutan.

Betapa hebat daya tusukan pedang itu, sungguh tak terperikan. Keruan Thi Sim-lan

menjerit kaget, “He, berhenti dulu, Cianpwe. Sebabnya dia tidak mau menurut adalah

demi diriku karena dalam batin sesungguhnya aku memang tidak mau. Jika Cianpwe

hendak membunuh, harap aku saja yang kau bunuh!”

Dalam kaget dan khawatirnya tanpa terasa Thi Sim-lan telah membeberkan isi hatinya

yang sesungguhnya. Seketika hati Hoa Bu-koat terasa sakit, sekonyong-konyong ia

melancarkan tiga kali serangan, tanpa pikir akibatnya dia terus menerjang ke tengah sinar

pedang lawan.

Tak terduga orang itu berbalik menarik kembali pedangnya, katanya dengan tertawa,

“Orang she Kang memang rata-rata berwatak seperti kerbau, cuma kau terlebih bodoh

daripada ayahmu. Coba pikir, bilamana dia tidak mau menurut dan memang tidak suka

padamu, masa dia sudi mati bagimu?”

Hoa Bu-koat melengak dan menegas, “Siapa yang she Kang?”

“Kau tidak she Kang?” orang itu pun melenggong.

Thi Sim-lan juga tercengang, katanya, “Dengan sendirinya dia tidak she Kang, dia

bernama Hoa Bu-koat.”

Orang itu garuk-garuk kepala dengan penuh rasa heran, gumamnya, “Jadi kau tidak she

Kang? Ini benar-benar sangat aneh, pada hakikatnya dari kepala sampai kaki kau mirip

benar seorang she Kang, sungguh kau dan dia seperti pinang dibelah menjadi dua.”

Hoa Bu-koat jadi lupa menyerang lagi, ia merasa orang aneh ini barangkali berpenyakit

syaraf.

Tiba-tiba orang itu menghela napas, katanya sambil menyengir, “Karena kau tidak she

Kang, maka kalian mau menikah atau tidak bukan urusanku lagi, bila kalian mau pergi juga

bolehlah silakan.”

Habis berkata ia benar-benar tidak ikut campur apa-apa lagi terus membalik ke sana

sambil menggerutu.

Bu-koat saling pandang dengan Thi Sim-lan, mereka menjadi bingung.

Terdengar orang aneh itu sedang mengomel sendirian, “Anak muda itu ternyata bukan

Kang Siau-hi, sungguh aneh bin heran ….”

Kejut dan girang Thi Sim-lan, tanpa terasa ia berseru, “He, apakah Cianpwe mengira dia

ini Kang Siau-hi, maka engkau memaksa kami menikah?”

Orang itu menjawab dengan acuh tak acuh, “Walaupun aku tidak tega melihat kalian

tersiksa karena urusan cinta, tapi kalau bukan lantaran kusangka dia ini Siau-hi-ji,

sesungguhnya aku pun tidak mau ikut campur urusan orang lain.”

Thi Sim-lan jadi tertawa geli, sebenarnya ia ingin berkata, “Tahukah bahwa justru

lantaran Kang Siau-hi, makanya aku tidak mau menikah dengan dia.” Tapi dia pandang Hoa

Bu-koat sekejap, dan kata-kata itu tidak jadi diucapkannya.

Hoa Bu-koat berdiri mematung dan entah bagaimana perasaannya.

Tiba-tiba orang tadi menoleh, ia pandang Thi Sim-lan, lalu pandang Hoa Bu-koat pula,

mendadak ia tertawa dan berkata, “Haha, tahulah aku, ya tahulah aku sekarang. Kiranya

orang paling busuk yang kusebut itu ialah Kang Siau-hi. Sebenarnya kalian berdua bisa

jadi suami istri, tapi lantaran Kang Siau-hi, urusan jadinya begini.”

Thi Sim-lan menghela napas perlahan dan menunduk.

Orang itu ketuk-ketuk kepala sendiri dengan perlahan, ucapnya dengan tertawa,

“Sebenarnya maksudku hanya ingin membantu, siapa tahu berbalik membikin urusan ini

tambah runyam ….”

Maklumlah, selama hidupnya cuma tekun meyakinkan ilmu pedang, ditambah lagi sepanjang

tahun terus-menerus berkecimpung kian kemari di dunia Kangouw, selamanya tak pernah

memahami bagaimana rasanya cinta kasih antar muda-mudi.

Dia pernah malang melintang di dunia ini, betapa hebat dan tinggi ilmu silat apa pun bila

berada di depannya akan berubah menjadi sangat sederhana, sekali pandang saja segera

ia sanggup memecahkannya. Tapi ia tidak tahu tentang “cinta” yang jauh lebih ruwet

daripada ilmu pedang yang paling tinggi di dunia ini dan tidak mungkin dipecahkannya

dengan sekali pandang saja.

Hoa Bu-koat menjadi gusar dan pedih demi mendengar suara tertawa orang aneh itu,

mendadak ia berteriak, “Memangnya kau ingin pergi begitu saja?”

“Kalau tidak pergi, lalu aku bisa berbuat apa?” kata orang itu gegetun.

“Aku masih ingin belajar kenal silatmu,” kata Bu-koat ketus.

“Ya, kutahu perasaanmu tidak enak, biarlah kau pukul dua kali diriku supaya rasa marahmu

terlampias,” ujar orang itu dengan tertawa.

“Sekalipun ilmu silatmu tiada tandingannya di kolong langit ini juga tidak mungkin dapat

menahan pukulanku, jika engkau tidak menangkis, itu berarti engkau mencari mati

sendiri!” jengek Bu-koat sambil melontarkan pukulannya.

Meski pukulannya ini tampaknya halus, tapi tempat yang diarah ternyata sangat keji,

mending tenaga pukulannya tidak dikerahkan, tapi sekali dikerahkan terasa sukar ditahan

lagi.

Tajam juga pandangan orang itu, serunya tertarik, “Hebat, benar-benar pukulan lihai!”

Pembawaan orang aneh itu memang gemar ilmu silat, kini mendadak ketemu jago muda

sehebat ini, mau tak mau timbul hasratnya untuk menjajal kekuatan pihak lawan, maka

tangan kirinya lantas memapak ke depan.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong gaya pukulan Hoa Bu-koat berubah, pukulan yang lurus

ke depan tadi mendadak berputar ke kanan dengan cara yang sangat menakjubkan dan

sukar dibayangkan.

Gerakan pukulan itu adalah ‘Ih-hoa-ciap-giok’, ilmu pukulan khas dari Ih-hoa-kiong yang

termasyhur. Dengan gerakan ini Hoa Bu-koat yakin tangan lawan pasti akan memukul pada

badan sendiri.

Tak terduga orang itu mendadak berputar dengan cepat sehingga ilmu pukulan Ih-hoaciap-

giok yang tidak pernah ditandingi orang itu kini dapat dipatahkannya dengan enteng.

Baru sekarang Hoa Bu-koat benar-benar terkejut, serunya, “Siapa engkau sebenarnya?”

Untuk sekali lagi orang itu berhadapan dengan Hoa Bu-koat, air mukanya juga berubah,

bentaknya, “Jadi kau ini anak murid Ih-hoa-kiong?”

“Betul!” jawab Bu-koat.

Sekonyong-konyong orang itu menengadah dan terbahak-bahak, katanya, “Selama hidupku

terasa menyesal karena belum sempat menjajal ilmu silat dari Ih-hoa-kiong, tak

tersangka sekarang dapat bertemu dengan murid Ih-hoa-kiong di sini ….” suara

tertawanya yang nyaring itu menggema di angkasa sehingga daun pohon dan kelopak bunga

sama rontok tergetar.

“Jangan-jangan Cianpwe ada sengketa apa-apa dengan Ih-hoa-kiong?” tanya Thi Sim-lan

dengan khawatir.

Mendadak orang tadi berhenti tertawa dan membentak, “Permusuhanku dengan Ih-hoakiong

memang sedalam lautan, berpuluh tahun kuyakinkan ilmu pedang justru bertujuan

hendak membunuh habis setiap orang Ih-hoa-kiong.”

Tanpa terasa Thi Sim-lan merinding oleh nada ucapan orang.

Tiba-tiba Bu-koat berseru, “Yan Lam-thian! He, engkau Yan Lam-thian!”

Musuh Ih-hoa-kiong yang paling besar ialah Yan Lam-thian, di kolong langit ini kecuali Yan

Lam-thian memang tiada orang lain yang berani bermusuhan dengan Ih-hoa-kiong. Hal ini

teringat oleh Hoa Bu-koat, Thi Sim-lan juga lantas ingat.

Selagi kedua muda-mudi itu melenggong bingung, terlihat sinar mata orang itu mencorong

terang dan berkata, “Betul, aku memang Yan Lam-thian!”

Telinga Thi Sim-lan serasa mendenging, darah sekujur badan serasa membanjir ke

kepalanya, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa nama seseorang ternyata mempunyai

pengaruh sebesar ini.

Sejenak Hoa Bu-koat terdiam, tiba-tiba ia menanggalkan pakaian luar dengan perlahan,

dengan cermat ia melipatnya, lalu mendekati Thi Sim-lan dan menyodorkan bajunya

kepada si nona.

Caranya membuka pakaian dan melipatnya, setiap gerakannya sedemikian hati-hati dan

lambat seakan-akan baju itu adalah benda mestika yang sangat berharga. Padahal dengan

gerakan lambat itu dia sengaja hendak menenangkan perasannya yang bergolak itu.

Maklumlah, menghadapi pedang sakti Yan Lam-thian jarang ada orang yang mampu

bersikap tenang dan wajar.

Dengan sendirinya Thi Sim-lan juga paham meski yang diserahkan Hoa Bu-koat kepadanya

itu cuma sepotong baju, tapi di dalamnya entah mengandung arti betapa berat dan

ruwetnya persoalan.

Terdengar Bu-koat berkata, “Kumohon engkau suka menjaga baik-baik pakaian ini, atau

kalau bisa tolong antarkan ke Ih-hoa-kiong!”

Dari ucapan ini Thi Sim-lan tahu Hoa Bu-koat telah bertekad bila perlu akan korbankan

jiwanya. Tanpa terasa air matanya terus meleleh, katanya, “Apakah engkau ben … benarbenar

hendak menempurnya?”

“Dapat bertempur melawan Yan Lam-thian adalah cita-cita setiap insan yang belajar ilmu

silat, sekalipun anak murid Ih-hoa-kiong juga merasa bangga dapat perang tanding dengan

Yan Lam-thian,” kata Bu-koat. Walaupun dia bicara dengan tenang, namun mukanya yang

pucat tampak menampilkan semu merah karena bersemangat, napasnya juga kelihatan

rada memburu.

Dengan suara tertahan Thi Sim-lan berkata, “Apakah … apakah engkau tak dapat pergi

saja? Biar kutahan dia, kuyakin dia pasti takkan membunuhku.”

Bu-koat tersenyum, ucapnya, “Pertarungan ini bukanlah demi diriku, tapi demi Ih-hoakiong

….” mendadak ia berhenti berucap sehingga terasa betapa berat kata-kata yang

belum lagi diutarakannya itu.

Perlahan ia berputar ke sana, tiba-tiba ia menoleh dan menambahkan, “Perlu kau ketahui

pula, sebabnya aku ingin membunuh Kang Siau-hi juga bukan demi diriku, tapi demi Ihhoa-

kiong. Tiga bulan lagi bila berjumpa dengan dia bolehlah kau beritahukan padanya

bahwa meski aku berniat hendak membunuhnya, tapi terhadap pribadinya sejak awal

hingga akhir tak pernah aku merasa dendam dan benci, maka kuharap ia pun jangan …

jangan dendam padaku.”

Air mata Thi Sim-lan bercucuran, jawabnya dengan parau, “Mengapa engkau selalu

berbuat bagi orang lain? Memangnya hidupmu ini melulu demi orang lain saja? Apakah

engkau tak dapat berbuat … berbuat sesuatu bagi dirimu sendiri?”

Hoa Bu-koat telah membalik ke sana lagi, ia mendongak dan mendadak tertawa, katanya,

“Demi diriku? … Tapi siapakah diriku ini? ….”

Untuk pertama kalinya inilah dia memperlihatkan rasa sedihnya di depan umum, meski

ucapannya itu cuma dua kalimat yang sederhana, tapi kepedihan di dalam kata itu tak

terperikan beratnya.

Thi Sim-lan memandang dan berkata dengan meneteskan air mata, “Orang lain sama bilang

engkau adalah pemuda yang paling sempurna, paling beruntung dan paling mengagumkan,

tapi siapa yang tahu akan rasa dukamu? Orang lain sama mengatakan engkau sangat

tenang, sangat pendiam, tapi siapa yang tahu bahwa engkau ternyata kehilangan dirinya

sendiri. Orang lain sama ingin hidup bahagia seperti dirimu, tapi siapa pula yang tahu

engkau hanya hidup bagi orang lain?”

Yan Lam-thian berdiri diam memandangi kedua muda-mudi itu, tiba-tiba dia bergelak

tertawa dan berkata, “Hoa Bu-koat, kau memang tidak malu sebagai murid Ih-hoa-kiong.

Tak peduli pertarungan ini akan berakhir dengan menang atau kalah bagimu, yang pasti

nama Ih-hoa-kiong akan tetap terjunjung tinggi abadi.”

“Terima kasih,” jawab Bu-koat.

“Tapi aku pun ingin kau tahu bahwa selain kau, di dunia ini juga masih banyak orang yang

berbuat sesuatu juga tidak untuk dirinya sendiri. Manusia yang cuma hidup bagi dirinya

sendiri itu belum tentu hidup bahagia, bahkan bisa jadi hidupnya jauh lebih sedih dan

merana daripadamu.”

Bu-koat menatap tajam orang itu, tanyanya kemudian dengan perlahan, “Sebabnya engkau

hendak membunuhku apakah juga demi orang lain?”

Yan Lam-thian terdiam sejenak, mendadak ia menengadah dan bersiul panjang, suara

siulan melengking tajam seakan-akan penuh mengandung rasa pedih dan penasaran yang

tak terlampiaskan dan sukar dibeberkan kepada orang lain.

Bu-koat menghela napas, tiba-tiba ia keluarkan sebatang pedang perak, katanya, “Umpama

sebentar berhasil kubunuh engkau juga bukan untuk kepentinganku sendiri.”

Thi Sim-lan sudah beberapa kali melihat Hoa Bu-koat bergebrak dengan orang, tetapi tak

pernah melihat dia menggunakan senjata sehingga dia hampir berkesimpulan anak murid

Ih-hoa-kiong memang tiada yang memakai senjata.

Dilihatnya pedang perak yang dipegang Hoa Bu-koat itu berbadan sempit, tampaknya

cuma selebar jari kelingking, tapi panjangnya lebih satu meter, dari ujung sampai pangkal

tampak mengkilat seakan-akan setiap saat bisa terbang terlepas dari cekalan.

Senjata ini meski namanya pedang, tapi bisa keras dan bisa lemas, tampaknya keras

seperti lembing, tapi juga lemas seperti ruyung, nyata semacam senjata dapat digunakan

dan dimainkan berbagai gerakan senjata. Yang menakutkan justru senjata ini dapat

mengeluarkan beberapa macam jurus serangan aneh? Inilah yang tidak diketahui siapa

pun juga dan di dunia ini memang tiada yang tahu, bahkan tiada seorang pun yang pernah

melihatnya.

Sinar mata Yan Lam-thian tampak gemerlap, secara acuh dia cuma pandang sekejap

senjata dia tangan Hoa Bu-koat itu, lalu membentak, “Setelah mengeluarkan senjata

mengapa kau tidak lekas turun tangan?”

Perlahan Hoa Bu-koat menjentik batang pedangnya dengan jari kiri sehingga menerbitkan

suara mendering nyaring. Belum lenyap suara mendering itu, segera pedangnya juga

menyerang.

Mata Thi Sim-lan hampir tak dapat terpentang karena silau oleh sinar pedang yang

kemilau, baginya mungkin akan kalah sebelum bertempur bila bertemu senjata seaneh ini.

Sebab dia sama sekali tidak jelas dari mana datangnya serangan dan cara bagaimana pula

harus menghindar atau menangkis.

Akan tetapi Yan Lam-thian ternyata tenang-tenang saja, ia berdiri tegak kuat dengan

pedang terhunus, ketika pedang Hoa Bu-koat menyambar tiba, dia tetap tidak bergerak

sama sekali, hanya kelihatan sinar pedang berputar dan serangan pedang Hoa Bu-koat

mendadak berganti arah.

Kiranya serangan Bu-koat itu hanya pancingan belaka, di luar dugaannya lawan tenyata

dapat menghadapinya dengan tenang dan tak mau terpancing.

Meski Thi Sim-lan tidak dapat melihat jelas perubahan serangan itu, tapi dari suaranya

dapatlah ia mendengar tujuh kali serangan Hoa Bu-koat telah dilontarkan, namun Yan

Lam-thian masih tetap tanpa menggeser sedikit pun.

Berturut-turut Hoa Bu-koat melontarkan tujuh kali serangan pancingan, asalkan lawan

bergerak sedikit saja segera daya serangannya akan terpencar dengan dahsyat sehingga

segenap jalan mundur lawan akan tertutup.

Dengan gerakan pancingan untuk mengatasi lawan, inilah intisari ilmu silat Ih-hoa-kiong,

sama sekali berbeda dengan ilmu pedang dari aliran-aliran ternama lainnya. Namun Yan

Lam-thian ternyata tidak terpengaruh sedikit pun oleh sinar pedang yang kemilau,

kemukjizatan ketujuh kali serangan pancingan Hoa Bu-koat itu ternyata tiada berguna

sama sekali di hadapan Yan Lam-thian.

Dan begitu serangan ketujuh kalinya baru dilontarkan Hoa Bu-koat, segera pula pedang

karatan Yan Lam-thian menusuk lurus ke depan menembus cahaya pedang lawan dan

mengincar dada Hoa Bu-koat.

Serangan yang lugu dan biasa, tanpa sesuatu variasi apa-apa, namun gerakannya cepat dan

tenaganya dahsyat, inilah kegaiban dan kenaifan, kehebatan dan kekuatan asli.

Betapa pun banyak gerak perubahan ilmu pedang Hoa Bu-koat mau tak mau ia harus juga

mengelakkan dulu serangan Yan Lam-thian ini, terdengar suara pedang menyambar,

sekaligus orang sudah menusuk tiga kali.

Setiap serangan Yan Lam-thian adalah serangan sungguh-sungguh dan bukan pura-pura

atau pancingan, ilmu pedang ini sebenarnya tidak luar biasa, tapi di tangan Yan Lam-thian

telah berubah menjadi serangan maut.

Cepat Hoa Bu-koat berkelit, beruntun dia harus menghindar tiga kali baru sempat balas

menyerang satu kali.

Ilmu pedang kedua orang sebenarnya saling berlawanan, yang satu halus dan yang lain

keras, yang satu enteng dan banyak variasinya, yang lain kuat dan mantap.

Seyogianya ilmu pedang Ih-hoa-kiong ini adalah lawan mati bagi ilmu pedang Yan Lamthian,

sebab itulah meski Yan Lam-thian termasyhur sebagai jago pedang nomor satu di

dunia, tapi bagi pandangan orang-orang Bu-lim tetap tidak mengungguli Ih-hoa-kiong.

Akan tetapi latihan Yan Lam-thian lebih matang, lebih ulet, pengalaman lebih banyak,

semua ini tak dapat ditandingi oleh Hoa Bu-koat.

Tampaknya Hoa Bu-koat berada di pihak penggerak, tapi sebenarnya berada di pihak

tergerak dan terdesak di bawah angin.

Thi Sim-lan sampai bingung mengikuti pertarungan dahsyat itu dan lupa dirinya entah

berada di mana.

Di luar hutan sana pepohonan dengan bunga mekar semerbak, hawa sejuk dan

pemandangan indah, tempat yang sunyi senyap jarang didatangi manusia ini seakan-akan

tiada yang mengetahui bahwa di sini kini sedang berlangsung suatu pertarungan maut yang

jarang terjadi ….

*****

Sementara itu Siau-hi-ji telah mendapatkan sebuah hotel, niatnya ingin tidur

sekenyangnya. Tapi meski sudah gulang-guling tetap tak dapat pulas akhirnya terbangun

dan pesiar keluar.

Hotel itu semula adalah tempat menginap Cin Kiam dan Lamkiong Liu, rombongan mereka

menyewa hampir sebagian besar hotel itu, kini setelah rombongan besar itu berangkat,

hotel ini menjadi terasa sepi dan luang. Halaman seluas itu hanya sebuah kamar saja ada

penghuninya kecuali kamar yang disewa Siau-hi-ji, tampaknya tamu itu pun baru datang,

dari dalam kamar terdengar suara orang berbicara, tapi pintu dan jendela tertutup rapat.

Hawa sepanas ini orang-orang itu ternyata betah bicara di dalam kamar dengan pintu dan

jendela tertutup, yang dibicarakan rasanya pasti bukan urusan baik-baik. Maka Siau-hi-ji

jadi tertarik dan ingin mengintip.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang lelaki berbaju hijau menerobos masuk ke halaman

dalam, tangan memegang cambuk, agaknya seorang sais kereta. Begitu masuk halaman

orang itu lantas berteriak-teriak, “Kang Piat-ho, Kang-tayhiap apakah tinggal di sini?”

Siau-hi-ji terkejut, “Masa Kang Piat-ho juga berada di sini? Untuk apakah dia datang

kemari?”

Karena tidak sempat berpikir banyak, cepat Siau-hi-ji sembunyi di balik pilar sana.

Maka tertampaklah pintu kamar yang tertutup tadi dibuka separo, seorang bertanya dari

dalam, “Siapa itu?”

Sais itu menjawab, “Hamba Toan Kui, yang tadi mengantarkan Hoa-kongcu pesiar keluar

kota itu ….”

Belum habis ucapannya tertampaklah Kang Piat-ho melangkah keluar dan daun pintu

segera dirapatkan pula.

“Apakah Hoa-kongcu sudah pulang?” tanya Kang Piat-ho.

Sais yang bernama Toan Kui itu menjawab, “Belum ….”

“Dan mengapa kau pulang dan mencari ke sini?” tanya Kang Piat-ho sambil mengerut

kening.

“Hoa-kongcu seperti mengalami kesukaran di luar kota sana,” tutur Toan Kui. “Maka

hamba buru-buru pulang kemari untuk melapor, di tengah jalan kebetulan ketemu dengan

Toan Hui yang mengantar Kang-tayhiap ke sini, dari itu hamba mengetahui Kang-tayhiap

lagi menyambangi tamu di sini.”

“Meski Hoa-kongcu mengalami sesuatu kesulitan, tentu dia sendiri dapat

membereskannya, masa kau ikut cemas?” ujar Kang Piat-ho dengan tersenyum.

“Tapi orang itu tampaknya rada … rada ganjil, nona Thi Sim-lan tampaknya juga gelisah,

maka hamba pikir bila nona Thi yang cukup kenal kepandaian Hoa-kongcu juga merasa

khawatir, maka kesulitan yang dihadapi Hoa-kongcu pasti bukan main-main.”

Kang Piat-ho termenung sejenak, katanya kemudian, “Jika demikian, baiklah kupergi

melihatnya.”

Pada saat itulah mendadak seorang berseru di dalam kamar dengan suara tertahan,

“Biarlah Siaute menunggu di sini, silakan pergi saja.”

“Paling lambat malam nanti tentu Siaute akan datang lagi,” kata Kang Piat-ho sambil ikut

keluar bersama Toan Kui.

Sebenarnya Siau-hi-ji ingin tahu siapakah yang berada di dalam kamar itu, mengapa

jejaknya begitu dirahasiakan? Tapi mengingat orang ini toh akan tetap tinggal di sini

untuk menunggu datangnya Kang Piat-ho, kiranya tidak perlu terburu-buru menyelidiki dia.

Maklumlah, sesungguhnya ia pun ingin tahu siapakah gerangan yang dapat mendatangkan

kesukaran sebesar ini bagi Hoa Bu-koat.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat tiada hubungan baik apa-apa, bahkan boleh dikatakan musuh,

tapi entah mengapa, setiap persoalan yang menyangkut Hoa Bu-koat pasti menarik

perhatian Siau-hi-ji.

Terdengar sebuah kereta kuda baru saja berangkat di luar hotel, tentunya Kang Piat-ho

telah berangkat dengan menumpang kereta itu.

Segera Siau-hi-ji membuntuti kereta itu, cuma di dalam kota, tidak leluasa untuk

menggunakan Ginkang, betapa pun dua kaki tidak secepat empat kaki, maka setiba di luar

kota kereta kuda tadi sudah tidak kelihatan lagi.

Setelah kereta kuda itu berada di luar kota, dari dalam kereta Kang Piat-ho bertanya

dengan suara keras, “Apakah Hoa-kongcu telah bergebrak dengan orang itu?”

“Ya, seperti sudah bergebrak satu kali,” jawab Toan Kui.

“Hanya satu kali saja! Lalu bagaimana, siapa yang lebih unggul?”

“Tampaknya belum jelas siapa yang lebih unggul atau asor,” jawab Toan Kui.

“Orang itu mampu menyambut satu kali pukulan Hoa-kongcu, agaknya juga rada berisi.

Entah bagaimana bentuk orang itu?” tanya Kang Piat-ho.

“Tinggi besar perawakan orang itu, bajunya lebih jelek daripada pakaian hamba, tapi

sikapnya gagah dan angkuh.”

Dahi Kang Piat-ho terkerut lebih kencang, tanyanya pula, “Berapa umur orang itu?”

“Tampaknya baru empat puluhan tapi juga seperti lebih lima puluhan, namun kalau

diperhatikan rasanya juga baru tiga puluhan, pendek kata, berapa usianya menurut

penglihatan seseorang, maka setua itu pula usianya. Sungguh hamba tidak pernah melihat

manusia seaneh dia.”

Kang Piat-ho termenung-menung sambil berkerut kening, air mukanya tampak semakin

kelam.

Tiba-tiba Toan Kui menambahkan pula, “Oya, pada pinggang orang itu terselip sebatang

pedang yang kelihatan sudah karatan ….”

Belum habis ucapannya muka Kang Piat-ho menjadi pucat, setelah terkesima sejenak,

akhirnya ia berkata dengan suara berat, “Keretamu jangan dekat-dekat ke sana,

berhentilah agak jauh, tahu tidak?”

Walaupun heran kereta diharuskan berhenti di kejauhan saja, namun perintah Kangtayhiap,

betapa pun ia harus menurut. Maka ketika masih cukup jauh dari hutan bunga

sana kereta itu lantas dihentikan Toan Kui.

“Wah, Hoa-kongcu sudah bergebrak dengan orang itu!” seru Toan Kui.

Tanpa diberitahu juga Kang Piat-ho sudah melihat hawa pedang yang sambar menyambar

di dalam hutan. Di tengah sinar pedang itu tampak bayangan seorang mengitar dengan

cepatnya, sebaliknya seorang lagi tenang seperti gunung tanpa bergerak.

Gerak tubuh Hoa Bu-koat masih tetap sangat enteng dan gesit, sinar pedangnya juga

sangat gencar, sama sekali belum ada tanda-tanda akan kalah. Tapi Kang Piat-ho memang

bukan tokoh sembarangan, sekali pandang saja ia lantas tahu pada hakikatnya serangan

Hoa Bu-koat itu sama sekali tak dapat menembus sinar pedang lawan, deru angin pedang

keduanya bahkan terdengar jelas satu kuat dan yang lain lemah, bedanya sangat

mencolok.

Seketika air muka Kang Piat-ho berubah hebat, gumamnya, “Yan Lam-thian, ya, pasti Yan

Lam-thian adanya!”

Meski belum lagi melihat jelas siapa lawan Hoa Bu-koat itu, tapi dari deru angin dan hawa

pedang yang hebat itu ia yakin pasti bukan lain daripada Yan Lam-thian.

Sudah tentu Toan Kui tidak dapat membedakan di mana letak kehebatan ilmu pedang itu,

sebab itulah maka ia merasa khawatir.

Maklum, biasanya Hoa Bu-koat sopan santun dan ramah tamah terhadap siapa pun juga,

biarpun terhadap kaum budak keluarga Toan juga menghormati seperti sikapnya terhadap

Toan Hap-pui. Karena itulah setiap anggota keluarga Toan tiada satu pun yang tidak

memuji kebaikan Hoa-kongcu dan dengan sendirinya pula Toan Kui menjadi khawatir demi

melihat Hoa-kongcu lagi bertempur sesengit itu.

“Apakah Kang-tayhiap tidak ingin membantu Hoa-kongcu?” tanya Toan Kui.

“Sudah tentu akan kubantu,” jawab Kang Piat-ho.

“Ya, kutahu Kang-tayhiap pasti akan membantu Hoa-kongcu, bagaimana kalau sekarang

juga kuhela kereta ini ke sana?” tanya Toan Kui.

Tapi mendadak Kang Piat-ho berseru, “He, mengapa pintu kereta ini tidak dapat dibuka,

apakah rusak?”

Cepat Toan Kui melompat turun dan mendekati pintu kereta, hanya sekali tarik saja pintu

terpentang lebar. Dengan tertawa ia berkata, “Ah, barangkali Kang-tayhiap terburu-buru,

maka pintu kereta ini menjadi macet.”

Belum habis ucapannya tiba-tiba dilihatnya wajah Kang Piat-ho berubah menjadi kelam,

matanya melotot dengan buas. Tentu saja Toan Kui menjadi takut, serunya dengan

gemetar, “Kang-tayhiap, engkau … engkau ….”

Kang Piat-ho menyeringai, ucapnya perlahan, “Seorang paling baik tidak ikut campur

urusan tetek bengek, kalau tidak pastilah hidupmu takkan awet.”

Kaki Toan Kui menjadi lemas karena ketakutan, segera ia bermaksud lari, tapi baru saja ia

membalik badan, tahu-tahu kuduknya sudah dicengkeram dan diseret bulat-bulat ke

dalam kereta.

“Kang … Kang-tayhiap, hamba merasa tidak … tidak pernah bersalah pada … padamu ….”

demikian Toan Kui meratap dengan gigi gemertuk.

“Kutahu hidupmu sangat sengsara, maka ingin mengantarmu ke Surgaloka yang enak

bagimu,” kata Kang Piat-ho perlahan.

“Hamba ti … tidak ingin ….” belum habis ucapan Toan Kui, tahu-tahu sebilah belati telah

menancap di bawah iganya hingga sebatas gagang belati.

Anak muda yang berhati polos ini sama sekali tidak sempat menjerit dan tahu-tahu

jiwanya sudah melayang, hanya matanya tampak mendelik dengan beringas seakan-akan

ingin bertanya kepada Kang Piat-ho apa sebabnya ia dibunuh?

Perlahan-lahan Kang Piat-ho mencabut belatinya, yaitu sebuah pedang pandak, begitu

perlahan sehingga darah setitik pun tak menciprat bajunya. Setelah pedang pandak itu

dicabut, batang pedang tetap mengkilat bersih, benar-benar membunuh orang tanpa

berdarah.

Nyata itulah pedang pusaka yang dulu pernah digunakan memotong “belenggu cinta” yang

membelenggu tangan Siau-hi-ji bersama Kang Giok-long.

Selesai kerja, Kang Piat-ho menghela napas lega dan bergumam, “Sekarang tiada seorang

pun yang tahu aku pernah datang ke sini dan juga tiada yang tahu bahwa aku tidak

memberi bantuan ketika Hoa Bu-koat lagi menghadapi bahaya. Nama baikku sebagai

seorang pendekar budiman tidak boleh rusak demi bocah tolol ini. Sebaliknya kalau jiwa

bocah ini dikorbankan demi nama baik ‘Kang-lam-tayhiap’ kiranya juga tidak perlu

penasaran.”

Sambil bergumam ia terus memberosot keluar kereta. Karena pertarungan di sebelah

sana sedang berlangsung dengan sengitnya, dengan sendirinya tiada seorang pun yang

melihat jejak Kang Piat-ho itu.

Setelah menyelinap lagi agak jauh ke sana barulah Kang Piat-ho berpaling untuk melihat

gerak tubuh Hoa Bu-koat yang sudah mulai lamban itu, ucapnya dengan gegetun, “Hoa Bukoat,

kita bersahabat juga sekian lamanya, bukan tiada hasratku hendak membantu,

soalnya aku memang tidak berani merecoki Yan Lam-thian. Tapi kau pun jangan khawatir,

pada setiap hari Cengbeng kelak pasti aku akan berziarah ke kuburmu.”

*****

Sementara itu Siau-hi-ji yang kehilangan jejak kereta yang ditumpangi Kang Piat-ho juga

telah menyusul tiba. Lebih dulu ia tertarik oleh hawa pedang yang sambar menyambar di

hutan sana, menyusul barulah ia melihat kereta kuda itu. Tapi dia tidak melihat Kang Piatho.

Jangan-jangan Kang Piat-ho masih berada di dalam kereta? Untuk apakah kereta

dihentikan di sini?

Sebenarnya Siau-hi-ji tiada maksud hendak mengusut urusan ini, dia lebih tertarik untuk

menonton pertarungan seru di hutan sana, dia ingin tahu betapa hebat ilmu pedang Hoa

Bu-koat yang lain daripada yang lain itu agar kelak dapat digunakan sebagai modal untuk

menghadapinya. Dengan sendirinya ia pun ingin tahu siapakah gerangan yang dapat

menandingi Hoa Bu-koat itu?

Tapi mendadak dilihatnya dari celah-celah pintu kereta yang tertutup rapat itu

merembes keluar darah segar. Ia jadi heran, apakah Kang Piat-ho telah mati, kalau tidak,

darah siapakah ini?

Karena heran, ia jadi ingin tahu apa yang terjadi di dalam kereta itu. Ketika pintu kereta

itu ditariknya, segera dilihatnya wajah Toan Kui yang beringas, menyusul lantas dilihatnya

sepasang mata yang melotot takut dan penuh rasa penasaran itu. Namun Kang Piat-ho

sudah tidak kelihatan lagi.

Semula Siau-hi-ji melengak kaget, tapi segera ia pun paham duduknya perkara. Betapa

keji hati Kang Piat-ho rasanya tiada orang lain yang lebih paham daripada Siau-hi-ji.

Tapi segera ia pun melihat keadaan Hoa Bu-koat sedang gawat serta tertampak sikap Thi

Sim-lan yang cemas bagi keselamatan Hoa Bu-koat itu, hal ini membuat hatinya tertusuk

sakit pula.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara siulan panjang menggema angkasa. Selarik

sinar pedang melayang tinggi ke udara, Hoa Bu-koat tergetar mundur sempoyongan dan

akhirnya roboh.

Menurut teori, pedang besi Yan Lam-thian keras dan tumpul, bahkan karatan, sedangkan

pedang perak Hoa Bu-koat tajam lemas, tajam mengalahkan tumpul dan lemas mengatasi

keras, ini adalah hukum alam yang tidak dapat berubah.

Siapa tahu hukum alam di dunia ini ternyata tidak berlaku bagi Yan Lam-thian, jago

pedang tiada tandingannya ini benar-benar menghinakan segala dan menolak semua hukum

pasti ilmu silat. Dengan pedangnya yang keras dan tumpul justru menggetar pedang Hoa

Bu-koat yang tajam dan lemas itu hingga mencelat ke udara. Seketika Hoa Bu-koat

merasa darah bergolak di rongga dadanya, dia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh

tersungkur.

Sudah jelas Hoa Bu-koat bertekad hendak membunuh Siau-hi-ji, bahkan juga lawan

cintanya, kalau Hoa Bu-koat mati, inilah kejadian yang diharapkan dan paling

menggembirakan Siau-hi-ji.

Namun aneh, sesaat itu, entah mengapa, darah Siau-hi-ji serasa bergolak, dia lupa

permusuhannya dengan Hoa Bu-koat, tanpa pikir mendadak ia menerjang ke sana secepat

terbang.

Saat itu Yan Lam-thian lagi bersiul panjang, pedangnya masih bekerja, Thi Sim-lan

menjerit khawatir, syukurlah pada detik itu juga sesosok bayangan orang melayang tiba

dan mengadang di depan Hoa Bu-koat sambil berteriak, “Siapa pun tidak boleh mencelakai

dia!”

Ketika melihat orang yang datang ini ternyata Siau-hi-ji adanya, Thi Sim-lan jadi melongo

heran.

Sinar mata Yan Lam-thian laksana kilat mengerling Siau-hi-ji, bentaknya dengan bengis,

“Siapa kau? Berani kau merintangi ujung pedang orang she Yan?”

Sementara itu Thi Sim-lan telah tenang kembali, teriaknya, “Dia inilah Kang Siau-hi!”

“Kang Siau-hi?” Yan Lam-thian menegas, “Jadi kau ini Kang Siau-hi?”

Matanya yang tajam menatap Siau-hi-ji, begitu pula Siau-hi-ji juga balas menatap orang,

katanya kemudian dengan ragu-ragu, “Apakah … apakah engkau ini Yan Lam-thian, Yanpepek?”

“Dia memang Yan-locianpwe adanya,” tukas Thi Sim-lan.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, mendadak ia menubruk maju dan merangkul erat Yan Lamthian

sambil berseru, “O, paman Yan, betapa rinduku padamu ….”

Air mata berlinang di. kelopak mata Yan Lam-thian, dia bergumam, “Kang Siau-hi … Kang

Siau-hi, memangnya kau kira Yan-pepek tidak merindukan dirimu?”

Melihat Siau-hi-ji yang sebatang kara itu tiba-tiba menemukan sanak keluarganya, bahkan

inilah Yan Lam-thian yang termasyhur, sungguh hati Thi Sim-lan menjadi girang dan kejut

pula, tanpa terasa air matanya juga hampir menetes.

Dilihatnya mendadak Yan Lam-thian mendorong pergi Siau-hi-ji dan berkata dengan suara

berat, “Tahukah kau Hoa Bu-koat ini adalah murid Ih-hoa-kiong?”

“Aku tahu,” jawab Siau-hi-ji.

“Dan tahukah orang yang membunuh ayah-bundamu itu ialah Ih-hoa-kiongcu?” tanya Yan

Lam-thian pula dengan bengis.

Tubuh Siau-hi-ji bergetar, serunya, “Apakah betul?”

Waktu kecilnya memang betul pernah ada seorang misterius membawanya keluar Ok-jinkok

dan diam-diam memberitahukan hal itu padanya, tapi dia merasa tindak tanduk orang

itu penuh rahasia dan apa yang dikatakan belum tentu dapat dipercaya, sebab itulah

selama ini dia tidak pernah menganggap Ih-hoa-kiongcu benar-benar musuh besarnya yang

tak terampunkan.

Tapi kini hal ini terucap dari mulut Yan Lam-thian, mau tak mau ia harus percaya.

Thi Sim-lan juga terkejut, serunya, “O, pantas Ih-hoa-kiong mengharuskan Hoa Bu-koat

membunuhmu bilamana melihat engkau. Selama ini aku pun tidak habis mengerti sebab

musababnya, tapi sekarang … pahamlah aku.”

“Dan mengapa kau menolong dia?” tanya pula Yan Lam-thian sambil melototi Siau-hi-ji.

“Aku … aku ….” Siau-hi-ji gelagapan, sesungguhnya ia tidak tahu mengapa dia harus

menyelamatkan Hoa Bu-koat, biarpun Ih-hoa-kiong tiada permusuhan dengan dia

umpamanya, sebenarnya ia pun tidak perlu menolong Hoa Bu-koat.

Sekonyong-konyong Yan Lam-thian melemparkan pedang besinya ke tanah dan

membentak, “Nah, bunuhlah dia dengan tanganmu sendiri!”

Tubuh Siau-hi-ji kembali bergetar, tanpa terasa ia berpaling memandang Hoa Bu-koat.

Dilihatnya Hoa Bu-koat telah jatuh pingsan oleh getaran pedang Yan Lam-thian tadi,

setangkai bunga yang sudah layu jatuh di atas mukanya, bunga yang merah membuat

wajahnya yang pucat itu tambah mencolok.

Melihat muka yang pucat itu, entah mengapa timbul semacam perasaan aneh dalam hati

Siau-hi-ji, entah apa sebabnya, mendadak ia berteriak, “Tidak, aku tak boleh membunuh

dia?”

“Mengapa kau tidak boleh membunuh dia?” kata Yan Lam-thian dengan gusar. “Bukankah

kau tahu dia adalah murid musuhmu? Apalagi ia pun bertekad ingin membunuhmu?”

“Tapi aku … aku ….” sukar bagi Siau-hi-ji untuk menjelaskan. Tiba-tiba ia menghela napas

dan berteriak pula, “Aku sudah ada perjanjian dengan dia akan duel tiga bulan kemudian.

Sebab itulah Yan-pepek tidak boleh membunuhnya, lebih-lebih tidak boleh membunuhnya

ketika dia sudah terluka.”

Yan Lam-thian melengak, tapi segera ia terbahak-bahak dan berkata, “Bagus, bagus, kau

memang tidak malu sebagai Kang Siau-hi, tidak memalukan sebagai putra Kang-jiteku ….

O, Kang-jite, engkau mempunyai putra demikian, di alam baka dapatlah engkau istirahat

dengan tenang.” Suara tertawanya kemudian mendadak berubah menjadi pilu sekali.

Darah di dada Siau-hi-ji seolah-olah bergelora, mendadak ia berlutut dan berseru dengan

parau, “Yan-pepek, aku bersumpah selanjutnya pasti takkan berbuat sesuatu yang

memalukan ayah!”

Yan Lam-thian membelai-belai bahunya, katanya dengan terharu, “Apakah kau merasa

tindak tandukmu di masa lalu ada sesuatu yang memalukan ayahmu?”

Siau-hi-ji menunduk, jawabnya dengan tersendat, “Aku … aku ….”

“Kau tidak perlu sedih, juga tidak perlu mencela dirimu sendiri,” kata Yan Lam-thian.

“Siapa pun yang tumbuh di lingkungan seperti kau itu juga akan berubah menjadi jauh

lebih busuk daripadamu. Apalagi setahuku, mungkin caramu bertindak ada sesuatu yang

kurang tepat, tapi pada hakikatnya kau tidak berbuat sesuatu kebusukan.”

“Yan-pepek ….”

“Sudahlah, dapat melihat putra Kang Hong semacam kau, sungguh menggembirakan!”

kembali Yan Lam-thian terbahak-bahak, dia tertawa dengan air mata meleleh, jelas

hatinya sangat gembira tapi juga pedih dan terharu.

Melihat pertemuan mereka yang mengharukan itu, tanpa terasa Thi Sim-lan juga

menunduk dan meneteskan air mata. Hati si nona juga berkecamuk oleh rasa suka dan

duka. Kalau kedukaan Siau-hi-ji masih dapat dipahami dan dihibur oleh Yan Lam-thian,

tapi rasa duka dan sedihnya siapa yang tahu?

Mati-matian dia membela Siau-hi-ji agar tidak terbunuh oleh Hoa Bu-koat, sebaliknya

kalau Siau-hi-ji membunuh Hoa Bu-koat ia pun akan susah, karena itulah dia berharap

kedua anak muda dapat hidup berdampingan dengan damai.

Alangkah senangnya ketika menyaksikan Siau-hi-ji menyelamatkan Hoa Bu-koat, ia

berharap permusuhan mereka akan dapat diakhiri setelah kejadian ini, siapa tahu mereka

justru adalah musuh yang tidak mungkin saling mengampuni, permusuhan mereka tidak

mungkin dilerai oleh siapa pun juga, tampaknya salah seorang di antara mereka harus mati

di tangan yang lain, kalau tidak permusuhan mereka pasti takkan berakhir selamanya.

Akhir daripada drama permusuhan mereka itu kini rasanya sudah dapat dibayangkan oleh

Thi Sim-lan, yang lebih membuatnya sedih ialah, demi Siau-hi-ji ia tidak sayang

mengorbankan segalanya, akan tetapi Siau-hi-ji justru tidak sudi memandangnya barang

sekejap saja.

Sementara itu Yan Lam-thian telah menarik Siau-hi-ji duduk di bawah pohon sana, tibatiba

ia berkata, “Apakah kau tahu To Kiau-kiau, Li Toa-jui dan gerombolannya telah

meninggalkan Ok-jin-kok?”

“Kutahu,” jawab Siau-hi-ji.

“Jadi kau bertemu dengan mereka?”

Siau-hi-ji mengangguk, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Yan-pepek, maukah engkau

mengampuni mereka?”

“Mana bisa kuampuni mereka?” teriak Yan Lam-thian gusar.

“Meski mereka berniat mencelakai Yan-pepek, tapi akhirnya gagal, apalagi, betapa pun

juga mereka telah membesarkan aku, lebih-lebih lagi mereka juga sudah memperbaiki

diri.”

Yan Lam-thian termenung-menung sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Tak nyana

meski kau ini tampaknya keras, nyatanya hatimu sangat lunak.”

“Yan-pepek sendiri bukankah demikian juga?” ujar Siau-hi-ji.

Setelah berpikir lagi, akhirnya Yan Lam-thian menghela napas, katanya, “Demi kau,

asalkan selanjutnya mereka benar-benar tidak berbuat jahat lagi, bolehlah kuampuni

mereka.”

“Hahaha!” Siau-hi-ji tertawa girang. “Bila mereka mendengar kabar ini, entah betapa

gembiranya mereka dan selanjutnya masa mereka berani mengganggu orang lain.”

Yan Lam-thian memandang Thi Sim-lan sekejap, lalu katanya dengan tersenyum,

“Sekarang sepantasnya kau bicara dengan nona itu, aku kan tidak boleh mengangkangi

dirimu terus-menerus.”

Tiba-tiba Siau-hi-ji menarik muka, jawabnya, “Aku tidak kenal nona itu.”

“Kau tidak kenal dia?” Yan Lam-thian menegas dengan melengak.

“Hakikatnya aku belum pernah melihatnya sebelum ini,” ucap Siau-hi-ji.

Remuk redam hati Thi Sim-lan, ia tidak tahan lagi, mendadak ia menangis sambil memburu

ke arah Siau-hi-ji, tapi baru beberapa langkah mendadak ia membalik badan terus berlari

pergi sambil menutupi mukanya.

Sekuatnya Siau-hi-ji menggigit bibir dan tidak berusaha menahan si nona.

Melihat Thi Sim-lan sudah pergi, Yan Lam-thian menatap Siau-hi-ji dengan tajam,

tanyanya kemudian, “Bagaimana urusannya ini?”

Siau-hi-ji kuatkan hatinya, ucapnya dengan dingin, “Mungkin nona itu berpenyakit syaraf.”

Yan Lam-thian menghela napas, katanya sambil menyengir, “Urusan orang muda seperti

kalian ini sungguh membingungkan aku.”

Meski dengan sebatang pedang dia sanggup memenggal kepala sang panglima di tengah

pasukan yang berjuta prajurit, tapi menghadapi masalah cinta remaja yang ruwet begini

dia benar-benar tidak paham dan tak berdaya.

Siau-hi-ji juga termangu-mangu setelah Thi Sim-lan berlari pergi, sampai lama sekali dia

tidak sanggup bicara.

Setelah mengamat-amati pula anak muda itu, tiba-tiba Yan Lam-thian berbangkit, katanya

dengan tertawa, “Kau masih tetap ingin berjuang sendiri atau hendak ikut aku?”

Barulah Siau-hi-ji terjaga dari lamunannya, dengan tertawa ia jawab, “Ikut Yan-pepek

sudah tentu sangat baik, tapi kebanyakan orang akan lari terbirit-birit bila melihat Yanpepek,

maka aku jadi tiada pekerjaan dan lebih sering menganggur, jadi tiada artinya dan

tidak menarik.”

“Hahaha, kau memang anak yang bercita-cita tinggi!” kata Yan Lam-thian.

“Tapi aku pun ingin omong-omong lebih banyak dengan Yan-pepek ….”

“Besok saja pada saat yang sama akan kutunggu di sini, sekarang tiba-tiba aku teringat

sesuatu urusan yang harus kukerjakan dan perlu berangkat segera!” ia tepuk-tepuk

pundak Siau-hi-ji sambil tersenyum, pedangnya dijemput kembali, sekali melayang lantas

lenyap dalam waktu singkat.

Sama sekali tak terpikir oleh Siau-hi-ji bahwa sang paman sekali bilang mau pergi segera

pergi begitu saja, gumamnya dengan tertawa, “Watak Yan-pepek sungguh keras seperti

api, entah urusan apa yang perlu dikerjakannya secara terburu-buru begini?”

Ternyata tidak diperhatikannya bahwa arah yang ditempuh Yan Lam-thian itu adalah satu

jurusan dengan Thi Sim-lan.

Perlahan-lahan Siau-hi-ji ambil bunga layu yang menjatuhi muka Hoa Bu-koat, ia pegang

tangan anak muda itu dan diam-diam menyalurkan hawa murni ke tubuh orang.

Selang tak lama, sekali lompat Hoa Bu-koat telah bangun, sinar matanya jelilatan

memandang sekitarnya, ketika melihat Siau-hi-ji, ia terkejut dan bertanya, “He, mengapa

kau berada di sini?”

Siau-hi-ji memandangnya dengan tersenyum tanpa menjawab, dari suaranya ia tahu Hoa

Bu-koat tadi cuma semaput lantaran pergolakan hawa murni sendiri, tapi karena tenaga

dalamnya cukup kuat, sama sekali tiada tanda-tanda terluka dalam.

Setelah mengingat-ingat kembali, kemudian Bu-koat bertanya pula, “Kau yang

menyelamatkan aku?”

Siau-hi-ji tetap tidak menjawab.

Bu-koat terdiam dan memandangi Siau-hi-ji sekian lamanya, perlahan ia membalik tubuh

ke sana seperti tidak ingin perubahan air mukanya dilihat oleh Siau-hi-ji.

Selang sejenak pula barulah ia bertanya dengan perlahan, “Di manakah nona Thi?”

“Nona Thi siapa?” jawab Siau-hi-ji tawar.

Bu-koat menghela napas panjang, ucapnya, “Kau tidak memahami dia ….”

“Hakikatnya aku tidak kenal dia, dengan sendirinya tidak memahami dia,” jengek Siau-hiji.

Mendadak Hoa Bu-koat memutar balik lagi tubuhnya dan berteriak, “Mengapa kau

menyelamatkan aku?”

“Waktu orang lain hendak membunuhku kau pun pernah menyelamatkan aku?” jawab Siauhi-

ji tenang.

“Itu disebabkan aku harus membunuhmu dengan tanganku sendiri,” kata Bu-koat.

Sinar mata Siau-hi-ji gemerdep, katanya, “Lalu tahukah bahwa aku pun ingin membunuhmu

dengan tanganku sendiri? Jangan lupa, setelah tiga bulan berlalu kita masih ada suatu

janji pertemuan maut.”

Hoa Bu-koat termangu-mangu sejenak, kembali ia menghela napas dan bergumam,

“Pertemuan maut, tiga bulan lagi ….”

“Meski kita berdua adalah musuh taruhan mati tapi selama tiga bulan ini betapa pun kau

tak dapat membiarkan aku dibunuh orang lain, begitu pula aku tak dapat membiarkan

orang lain membunuhmu, betul tidak?”

“Betul,” jawab Bu-koat.

“Itu dia!” seru Siau-hi-ji sambil bergelak tertawa, “Makanya dalam waktu tiga bulan ini

kita bukan lagi musuh, pada hakikatnya boleh dikatakan adalah sahabat karib.”

Dia tertawa dengan suara keras tapi dalam suara tertawanya penuh rasa haru dan rawan,

ia menyambung pula, “Meski kau dan aku dilahirkan untuk menjadi lawan, tapi sedikitnya

kita masih dapat berkawan selama tiga bulan, apakah kau sudi berkawan denganku selama

tiga bulan ini?”

Hoa Bu-koat menatapnya dengan tajam, sampai lama sekali tidak menjawab dan juga tidak

bergerak, tiba-tiba ujung mulutnya menampilkan. senyuman, nyata apa yang hendak

dikatakannya sudah tersembul seluruhnya dalam senyumannya ini.

Kedua anak muda itu berjalan keluar hutan bersama, terlihat sebagian besar bunga telah

rontok tergetar oleh hawa pedang, di tanah rontokan bunga ada yang sedang menari-nari

tertiup angin.

Tanpa terasa Hoa Bu-koat menghela napas panjang, siapa tahu saat yang sama Siau-hi-ji

juga menghela napas, kedua orang saling pandang dengan tersenyum.

Padahal sebelum ini bilamana bertemu tentu kedua orang akan saling labrak dan saling

bunuh, tapi kini kedua anak muda ini jalan berendeng, baru sekarang tiba-tiba mereka

mengetahui ada persamaan jalan pikiran mereka.

Bu-koat membatin, “Dapat berkawan selama tiga bulan dengan dia, rasanya memang

bahagia.” Biasanya dia memang pendiam, karena itu dia cuma membatin saja dan tidak

diutarakan dengan mulut.

Tak tersangka Siau-hi-ji lantas berkata dengan tertawa, “Dapat berkawan denganmu

selama tiga bulan, sungguh terasa suatu kebahagiaan ….”

Tentu saja Hoa Bu-koat melengak, tapi akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. Selama

hidupnya hampir belum pernah tertawa begini.

Pada saat itulah mereka melihat sebuah kereta berhenti jauh di sana. Agaknya kuda

penarik kereta itu sudah terlatih, sebab itulah biarpun tiada saisnya, tapi masih tetap

berhenti di situ.

Siau-hi-ji membuka pintu kereta, ia menunjukkan mayat di dalamnya dan berkata,

“Apakah kau tahu kusir kereta ini di bunuh oleh siapa?”

“Siapa?” terbelalak mata Hoa Bu-koat.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Umpama kukatakan

sekarang tentu kau pun takkan percaya, tapi selanjutnya kau akan tahu dengan

sendirinya.”

*****

Sementara itu hari sudah gelap, sinar lampu sudah menyala, di restoran besar itu tampak

tamu ramai berkunjung.

Kang Piat-ho dengan baju hijau tampak berseliweran kian kemari di antara tetamu

undangannya, meski wajahnya tersenyum simpul, namun di antara mata-alisnya kelihatan

rasa cemas seperti sedang menghadapi sesuatu persoalan pelik.

Seorang jago tua bernama Peng Thian-siu berjuluk “Kim-to-bu-tek” atau golok emas tanpa

tanding, karena usianya paling tua, telah diminta duduk pada tempat utama.

Kini jago tua itu sedang mengelus jenggotnya yang sudah putih dan berkata dengan

tertawa, “Apakah Kang-tayhiap sedang mengkhawatirkan Hoa-kongcu yang belum pulang?”

Benar juga Kang Piat-ho lantas menghela napas, katanya, “Ya, sudah malam begini dia

masih belum pulang, Wanpwe memang rada khawatir.”

“Dengan ilmu silat Hoa-kongcu, pula dia adalah satu-satunya ahli warisan Ih-hoa-kiong,

siapakah di dunia Kangouw ini yang berani sembarangan main-main kumis harimau, bila

Kang-tayhiap berkhawatir baginya, kukira rada-rada berlebihan,” kata Thian-siu.

“Aku pun yakin takkan terjadi apa-apa atas dirinya,” jawab Kang Piat-ho dengan

tersenyum kecut. “Tapi entah mengapa, hatiku merasakan sesuatu alamat tidak enak ….

Ya, semoga tidak terjadi alangan apa pun, bila dia benar-benar mengalami sesuatu bahaya,

sebaliknya kita makan minum dan senang-senang di sini, lalu kelak cara bagaimana harus

kuhadapi kawan-kawan Kangouw.”

Serentak terdengarlah suara gegetun dan memuji atas budi luhur “Kang-lam-tayhiap”.

“Keluhuran Kang-tayhiap terhadap teman sungguh sukar dibandingi siapa pun, sungguh

beruntunglah bagi mereka yang dapat mengikat persahabatan dengan Kang-tayhiap,” ucap

Peng Thian-siu dengan suara lantang.

Tak terduga seorang mendadak menukas dengan tertawa, “Haha, memang betul, siapa

yang dapat bersahabat dengan Kang Piat-ho, benar-benar leluhurnya telah banyak

mengumpulkan pahala.”

Di tengah suara tawa lantang itu muncul seorang muda dengan perawakan kekar gagah,

meski mukanya ada sejalur codet panjang, namun tidak mengurangi daya pengaruhnya

yang sukar dilukiskan.

Meski usianya belum banyak, tapi lagaknya tidaklah kecil, senyumnya meski kelihatan

ramah dan menarik, tapi sorot matanya yang mengerling kian kemari seakan-akan tiada

seorang pun yang terpandang olehnya.

Di antara hadirin itu ternyata tiada seorang pun yang kenal siapakah gerangan anak muda

ini, dalam hati masing-masing sama membatin mungkin pemuda ini juga anak keluarga

ternama atau ahli waris sesuatu aliran termasyhur. Kalau tidak mustahil sikapnya begini

angkuh tapi berwibawa.

Air muka Kang Piat-ho berubah seketika demi melihat anak muda ini, serunya dengan

tergegap, “He, kenapa kau pun datang … datang ke sini?”

“Memangnya aku tidak boleh datang kemari?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Belum lagi Kang Piat-ho bersuara, terlihat orang yang datang bersama Siau-hi-ji, yaitu

Hoa Bu-koat, juga telah muncul di atas loteng dan berdiri di sisi Siau-hi-ji dengan

tersenyum.

Bahwa Siau-hi-ji mendadak bisa muncul di sini, ini sudah membuat Kang Piat-ho terkejut.

Bahwa Hoa Bu-koat ternyata masih hidup dan tidak berkurang suatu apa pun, untuk kedua

kalinya Kang Piat-ho terkejut.

Bahwa Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat ternyata datang bersama, bahkan seakan-akan dari

lawan telah menjadi kawan, untuk ketiga kalinya Kang Piat-ho terkejut. Bahkan kejut yang

ketiga ini sungguh luar biasa dan membuatnya mendelik.

Para tamu sama berdiri menyambut kedatangan Hoa Bu-koat, ada juga yang menyapa

sehingga hampir tiada yang tahu sikap Kang Piat-ho yang terkesiap dan berdiri

melenggong itu.

Sama sekali sukar dibayangkannya cara bagaimana Hoa Bu-koat bisa lolos di bawah

pedang sakti Yan Lam-thian, ia pun tak dapat membayangkan ke mana perginya Yan Lamthian

sekarang, lebih-lebih tak terbayangkan olehnya bahwa Hoa Bu-koat bisa berada

bersama Siau-hi-ji, bahwa tampaknya kedua anak muda ini seakan-akan kawan karib saja.

Dengan penuh tanda tanya di dalam benaknya itu sebenarnya ia ingin minta penjelasan

kepada Hoa Bu-koat, namun ada sementara pertanyaan yang tidak leluasa ditanyakan, ada

sebagian pula pertanyaan yang tidak dapat diajukan secara terbuka, karena itulah ia

terkesima agak lama, habis itu baru ingat seyogianya dirinya harus memperlihatkan rasa

khawatir dan perhatiannya terhadap Hoa Bu-koat.

Akan tetapi sayang, sikap perhatian apa pun yang hendak dikemukakannya semuanya

sudah terlambat kini.

Pada beberapa tempat duduk utama masih luang, sejak tadi yang satu menyilakan yang

lain dan yang lain mengalah pula kepada yang lain lagi, jadinya tetap kosong. Sekarang

Siau-hi-ji tanpa sungkan-sungkan lagi terus mendekatinya dan duduk di situ dengan lagak

seperti tuan besar, seakan-akan dia memang dilahirkan untuk duduk di tempat utama

demikian, meski orang lain melotot padanya juga tidak peduli, malahan ia lantas angkat

cawan di atas meja yang masih kosong, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “He, Kangtayhiap

menjamu tamu, masa arak saja tidak ada?!”

Dengan kikuk Kang Piat-ho berdehem, lalu berseru, “Bawakan arak!”

Siau-hi-ji tertawa dan berkata pula, “Melihat sikap Kang-tayhiap, tampaknya tidak begitu

suka kepada tamu tak diundang seperti diriku ini? Tapi perlu diketahui bahwa

kedatanganku ini bukan kehendakku sendiri melainkan atas undangan Hoa-kongcu.”

Air muka Kang Piat-ho berubah pula, tapi ia sengaja berlagak tertawa dan berkata, “Tamu

Hoa-heng kan juga tamuku!”

“Jika demikian, jadi kawan Hoa Bu-koat berarti juga kawanmu?” tanya Siau-hi-ji dengan

tertawa.

“Ya, begitulah,” jawab Piat-ho.

Mendadak Siau-hi-ji menarik muka dan menjengek, “Tapi kawan Hoa Bu-koat sekali-kali

bukanlah kawanku!”

Sejak Siau-hi-ji menduduki tempat utama dengan lagak tuan besar, sejak itu para tamu

merasa sirik, cuma orang tidak tahu apa hubungannya dengan Kang Piat-ho, maka tiada

seorang pun berani buka mulut. Kini setelah mengikuti tanya jawab antara Siau-hi-ji dan

Kang Piat-ho tadi, tahulah mereka bahwa anak muda itu tiada hubungan apa-apa dengan

Kang-tayhiap yang mereka hormati itu.

Jilid 5. Bakti Binal

Maka jago tua “Kim-to-bu-tek” Peng Thian-siu yang pertama-tama tidak tahan, segera ia

menjengek, “Hm, cara bicara sahabat cilik ini sungguh sukar dipahami.”

“Kau tidak paham bicaraku?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, tidak paham,” jawab Peng Thian-siu.

“Maksudku, jika kau anggap kawan Hoa Bu-koat juga kawanku, maka aku benar-benar

sebal dan sialan habis-habisan. Meski pribadi Hoa Bu-koat masih boleh juga, tapi

kawannya … he, hehehe!”

“Memangnya bagaimana kawannya?” Peng Thian-siu menegas pula.

“Kawannya itu sungguh manusia berhati binatang, bukan saja melihat bahaya menimpa

teman sendiri tidak memberi bantuan, bahkan ….”

“Siapa yang kau maksudkan?” damprat Peng Thian-siu gusar.

“Siapa yang mengaku kawan Hoa Bu-koat, dialah yang kumaksud,” jawab Siau-hi-ji.

“Kang-tayhiap juga kawan karib Hoa-kongcu, memangnya kau maksudkan ….”

“Yang jelas orang yang kumaksudkan pasti bukan kau,” jengek Siau-hi-ji. “Sebab nilaimu

untuk menjadi kawan Hoa Bu-koat masih belum cukup, paling-paling kau hanya mahir

menjilat pantat Kang Piat-ho saja.”

“Brak”, dengan keras Peng Thian-siu menggebrak meja dan membentak dengan bengis,

“Kurang ajar! Apakah kau tahu siapa diriku?”

“Oya, memang aku tidak tahu,” jawab Siau-hi-ji.

Belum lagi Peng Thian-siu membuka suara, di samping sudah ada yang menukas, “Huh,

nama ‘golok emas tanpa tandingan’ Peng-loenghiong saja tidak tahu, berdasar apa kau

berani berkecimpung di dunia Kangouw?”

“O, kiranya Peng-loenghiong,” kata Siau-hi-ji.

Peng Thian-siu mengira anak muda itu telah kena gertak oleh nama besarnya, dengan

tertawa yang dibuat-buat ia menatap Siau-hi-ji.

Tak terduga anak muda itu lantas menyambung pula, “Tapi julukan Peng-loenghiong kukira

harus diganti yang lebih mentereng dan tepat.”

“Ganti apa?” tanya Peng Thian-siu.

“Jika julukanmu diganti menjadi ‘penjilat pantat tanpa tandingan’, wah, jadinya tepat dan

kena pada sasarannya,” ucap Siau-hi-ji.

Di tengah perjamuan Kang Piat-ho sebenarnya Peng Thian-siu merasa rikuh untuk beraksi,

tapi sebegitu jauh tuan rumah itu ternyata tidak mencegah, bahkan seakan-akan tidak

mau tahu ada ribut-ribut ini.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Kang Piat-ho justru berharap Siau-hi-ji akan mengikat

permusuhan sebanyak-banyaknya dan ini berarti akan menguntungkan posisinya, Peng

Thian-siu mengira berdiamnya Kang Piat-ho memang sengaja memberi kesempatan

padanya untuk menghajar anak muda penyatron itu. Apalagi setelah mendengar istilah

“penjilat pantat tanpa tandingan”, tentu saja ia tidak tahan, sambil meraung, dari balik

meja sana segera ia menubruk ke arah Siau-hi-ji.

Kedatangan Siau-hi-ji ini memang sengaja hendak mencari perkara, sengaja mengacau, ia

hanya tertawa saja menghadapi tubrukan Peng Thian-siu itu, mendadak ia angkat sumpit

di depannya dan menutuk perlahan.

Seketika Peng Thian-siu merasa tubuhnya kaku kesemutan dan tak dapat mengeluarkan

tenaga. “Blang”, kontan ia jatuh terguling di atas meja, mangkuk piring menjadi

berantakan.

Dengan mengikik tawa Siau-hi-ji berseru, “Kang Piat-ho, kenapa kau begini kikir, santapan

lezat tidak suruh menghidangkan, memangnya kau gunakan si penjilat pantat ini sebagai

hidangan?”

Sudah tentu di antara hadirin itu banyak terdapat kawan Peng Thian-siu, yang duduk

berdekatan sudah sama berdiri dan siap turun tangan.

Tenang-tenang saja Hoa Bu-koat memandang Kang Piat-ho, tapi Kang Piat-ho tetap diam

saja, sama sekali tiada maksud melerai seakan-akan tiada sangkut-pautnya dengan dia.

Maklumlah, Kang Piat-ho justru berharap agar suasana ini bertambah kacau. Maka

terdengarlah suara gemuruh, Peng Thian-siu telah terguling ke bawah dan meja juga

terbalik, beberapa orang lantas menerjang maju, tapi semuanya kena dicengkeram

kuduknya oleh Siau-hi-ji dan dilempar keluar.

Pelayan restoran itu seketika kelabakan, ia menjerit-jerit sambil mengukuti perabot di

meja lain. Loteng restoran itu seketika menjadi kacau balau.

Setelah menyaksikan kelihaian ilmu silat Siau-hi-ji, tampaknya tetamu yang lain menjadi

kapok dan tidak berani maju lagi.

Baru sekarang Kang Piat-ho membuka suara dengan berkerut kening, “Hoa-heng,

persoalan ini cara bagaimana menyelesaikannya menurut pendapatmu?”

“Entah, aku pun tidak tahu,” jawab Hoa Bu-koat dengan tersenyum hambar.

Sama sekali tak terduga oleh Kang Piat-ho bahwa “kawan karib” yang diandalkan ini bisa

mengucapkan kata-kata demikian, ia jadi melengong.

Dalam pada itu terdengar deru angin menyambar tiba, kepalan Siau-hi-ji menonjok ke

arahnya sambil membentak, “Kang Piat-ho, tatkala kau tahu Hoa Bu-koat sedang

menghadapi bahaya, diam-diam kau mengeluyur pergi malah, bahkan kau khawatir kusir

kereta itu membocorkan kepengecutanmu, maka telah kau bunuh kusir itu untuk

melenyapkan saksi hidup. Tujuanku sekarang tiada lain kecuali ingin menghajar adat

padamu. Nah, sambutlah pukulanku ini!” Sambil bicara sekaligus dia melancarkan belasan

kali pukulan.

Kang Piat-ho tetap berkelit saja tanpa balas menyerang. Setelah Siau-hi-ji berhenti

bicara barulah dia mengejek, “Hm, saudara jangan suka memfitnah, betapa pun tiada

seorang pun yang mau percaya pada ocehanmu!”

“Hah, barangkali kau sangka sekali ini pun tidak mungkin ada bukti dan saksi lagi?” jengek

Siau-hi-ji.

“Mana buktimu?” bentak Kang Piat-ho.

“Supaya kau tahu bahwa kusir kereta itu meski kau tikam, tapi dia belum lagi mati,” teriak

Siau-hi-ji.

Tanpa terasa air muka Kang Piat-ho berubah juga.

Mendadak Siau-hi-ji melangkah mundur sembari berseru dan menuding ke belakang Kang

Piat-ho, “Lihatlah, dia muncul dari sebelah sana!”

Serentak para tamu menoleh ke arah yang ditunjuk itu. Tapi Kang Piat-ho justru cuma

mendengus saja, “Hm, jangan kau tipu aku, dia sudah ….” mendadak ia berhenti berucap

lebih lanjut, mukanya menjadi pucat.

“Benar, aku memang tak dapat menipumu,” tukas Siau-hi-ji dengan tertawa, “Bahwasanya

semua orang sama menoleh ke sana, hanya kau saja yang tidak percaya, soalnya kau tahu

kusir itu tidak mungkin hidup kembali, begitu bukan?” Tadi dia sengaja mengacau dan

membikin suasana menjadi berantakan, pertama dia sengaja hendak menggertak orang

lain, berbareng itu supaya hati Kang Piat-ho tidak tenteram, dengan demikian manusia

yang licik lagi licin ini dapatlah ditipu.

Kang Piat-ho menyapu pandang hadirin, dilihatnya para tamu itu sama mengunjuk rasa

heran dan sangsi padanya, diam-diam ia merasa gelisah, cepat ia melompat ke depan Hoa

Bu-koat dan bertanya, “Hoa-heng, kau percaya padanya atau lebih percaya padaku?”

Bu-koat menghela napas, katanya, “Sudahlah, urusan ini tak perlu diungkit lagi ….”

“Diungkit atau tidak urusan ini yang pasti aku ingin berkelahi dengan dia,” seru Siau-hi-ji.

“Nah, coba katakan, engkau akan bantu dia atau membantu diriku?”

“Jika kalian memang harus saling gebrak, maka siapa pun tidak boleh ikut campur,” ucap

Bu-koat.

Justru ucapan Hoa Bu-koat inilah yang ditunggu-tunggu Siau-hi-ji, segera ia berseru,

“Bagus, bilamana ada orang lain berani ikut campur, maka kau yang bertanggung jawab.”

Begitu habis kata-katanya, kontan dia menghantam Kang Piat-ho pula.

Tadi Kang Piat-ho telah dicecar belasan kali pukulan oleh Siau-hi-ji tanpa menyenggol

sedikit pun ujung bajunya, maka dia pikir kepandaian anak muda itu paling-paling juga

cuma sekian saja, kenapa mesti takut, segera ia menjengek, “Jika saudara berkeras ingin

turun tangan, ya, jangan menyalahkan lagi orang she Kang!”

Baru habis ucapannya kembali Siau-hi-ji memberondong empat-lima kali jotosan pula.

Setelah diobrak-abrik tadi, loteng restoran itu sekarang sudah terluang cukup luas, meja

kursi sudah sama tersingkir, maka kebetulan dapat digunakan sebagai arena pertarungan

mereka.

Begitulah Kang Piat-ho lantas mulai melancarkan pukulan balasan, pukulan yang dahsyat,

gerakannya sukar diraba, sama sekali berbeda daripada cara menghantam Siau-hi-ji yang

telah berlangsung berpuluh kali tadi.

Setiap menghadapi pukulan Kang Piat-ho tampaknya Siau-hi-ji rada kerepotan dan harus

berusaha sebisanya barulah dapat menghindar.

Melihat itu, hadirin lantas bersorak-sorai bagi Kang Piat-ho.

Kang Piat-ho tahu pada umumnya orang-orang Kangouw hanya memandang pihak yang kuat,

yang menanglah yang berkuasa, asalkan dirinya dapat menjatuhkan Siau-hi-ji dan

membinasakannya kalau bisa, maka urusan membunuh si kusir tadi tentu tiada orang

berani mengusut pula.

Berpikir demikian semangatnya lantas terbangkit, segera ia mengejek, “Para kawan

Kangouw yang hadir di sini dapat menjadi saksi bahwa kau sendiri yang cari perkara dan

bukan aku orang tua menghajar anak kecil.”

Siau-hi-ji masih tekun berkelahi dan menghindar kian kemari dengan kerepotan seakanakan

adu mulut saja tidak sanggup lagi, setelah berlangsung belasan jurus, berulang-ulang

ia telah menghadapi serangan berbahaya.

Semula Kang Piat-ho menyangsikan Siau-hi-ji adalah orang yang selalu main gila padanya

secara diam-diam itu, maka senantiasa dia berwaspada, tapi kini melihat ilmu silat Siauhi-

ji hanya biasa saja dan tiada sesuatu yang istimewa, rasa curiganya lantas lenyap, daya

serangnya menjadi rada kendur pula, dengan tersenyum ia berkata, “Meski kau tidak tahu

aturan dan sengaja cari setori, tapi mengingat kau masih muda belia, betapa pun aku tidak

tega membikin susah dirimu, asalkan mau mengaku salah dan minta maaf, mengingat kau

juga kenal Hoa-heng, bolehlah nanti kuampunimu.”

Cara bicaranya ini sungguh berbudi luhur dan murah hati, bahkan juga menghargai Hoa

Bu-koat, benar-benar perilaku seorang “Kang-lam-tayhiap” yang bijaksana.

Siau-hi-ji tidak menjawab, napasnya kelihatan tersengal-sengal seolah-olah bicara saja

sukar.

Padahal dia sudah mempunyai perhitungan, di depan orang banyak ia yakin Kang Piat-ho

pasti akan berlagak sebagai “pendekar besar”. Ia tahu semakin dirinya pura-pura lemah,

Kang Piat-ho semakin tidak mengeluarkan serangan maut, sebabnya mudah dimengerti, dia

harus menjaga harga diri sebagai seorang “pendekar besar” dan tidak mungkin menyerang

seorang anak muda yang bukan tandingannya.

Benar juga perhitungan Siau-hi-ji, serangan Kang Piat-ho telah mulai kendur.

Segera ada sementara hadirin yang berteriak, “Terhadap pengacau begini, buat apa Kangtayhiap

sungkan padanya?”

“Benar,” segera ada lagi yang menyokong. “Jika Kang-tayhiap tidak menghajar adat

padanya, kelak dia akan tambah kurang ajar dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya

bumi.”

Sudah barang tentu, orang-orang yang tadi kena dihajar oleh Siau-hi-ji segera pula ikut

menghasut.

Kang Piat-ho berlagak, “Usiamu masih muda, sesungguhnya aku tidak tega melukaimu, tapi

kalau kau tidak dihajar adat, tampaknya orang lain pun ikut penasaran ….” Tengah bicara

kembali Siau-hi-ji dipaksa mundur lagi beberapa tindak.

Tampaknya Siau-hi-ji telah didesak mundur ke pojok yang buntu dan sama sekali tidak

sanggup balas menyerang. Dengan tersenyum Kang Piat-ho lantas berkata pula, “Awas,

jurus seranganku ini akan menghantam dadamu, paling baik janganlah kau berbelit atau

menangkis, sebab bila pukulanku bertambah berat, bisa jadi kau akan celaka.”

“Terima kasih atas peringatanmu,” ucap Siau-hi-ji.

Dilihatnya Kang Piat-ho mengayun tangan kiri ke depan, tapi mendadak tangan kanan

menghantam dari samping langsung menuju ke dada Siau-hi-ji. Pukulan ini sebenarnya

tiada sesuatu yang aneh, cuma gerak perubahannya sangat cepat, sekalipun sebelumnya

dia telah memberitahukan tempat yang akan diserangnya, tapi arah datangnya pukulan itu

sama sekali tak tersangka oleh hadirin.

Tampaknya Siau-hi-ji tak mampu menghindarkan lagi pukulan ini, maka hadirin serentak

bersorak memuji.

Di tengah sorak-sorai itu mendadak terdengar suara “blang” yang keras, dua tangan telah

beradu, sekonyong-konyong Siau-hi-ji mengulur tangan menyambut mentah-mentah

pukulan Kang Piat-ho itu.

Seketika Kang Piat-ho merasa suatu arus tenaga mahadahsyat membanjir tiba, segera ia

bermaksud mengerahkan tenaga untuk melawan, tapi sudah terlambat, “bluk”, tubuhnya

tergetar mencelat ke belakang.

Dendam Siau-hi-ji yang tertahan sekian lamanya akhirnya terlampias pada pukulan ini.

Terlihat tubuh Kang Piat-ho menumbuk kerumunan para penonton, beberapa orang yang

berdiri paling depan sama tertumbuk oleh tubuh Kang Piat-ho dan jatuh terjungkal

semuanya.

Seketika suara sorak-sorai tadi ‘cep-klakep’, semuanya terdiam dengan melongo.

Tertampak Siau-hi-ji bertepuk tangan dan bergelak tertawa, lalu menerobos keluar

jendela dan tinggal pergi.

Biarpun belum dapat menghajar Kang Piat-ho dengan sepuas-puasnya, tapi Siau-hi-ji

sudah membuatnya kehilangan muka di depan orang banyak, rasa dendamnya kini sudah

terlampias, hatinya senang tak terkatakan.

Ia tahu bila perkelahian itu diteruskan, betapa pun dirinya belum tentu dapat

mengalahkan Kang Piat-ho, apalagi keadaan sudah begini, rasanya Hoa Bu-koat tidak boleh

tinggal diam lagi.

“Tahu batas”, inilah falsafat hidup Siau-hi-ji. Umpama para hadirin itu belum percaya

penuh Kang Piat-ho benar-benar manusia munafik, paling sedikit di dalam hati mereka

sekarang sudah mulai timbul rasa curiga. Dan asalkan semua orang sudah merasa curiga,

itu berarti maksud tujuan Siau-hi-ji sudah tercapai. Ia pun tahu nama baik Kang Piat-ho

yang dipupuknya selama ini tidak mungkin dihancurkan olehnya hanya dalam sekejap saja,

tapi harus dipapas dari sedikit demi sedikit.

Setelah berkeliling di jalan kota, kemudian dia kembali ke hotelnya, ia istirahat sebentar

di kamarnya, ketika di halaman tiada orang, diam-diam ia mengeluyur keluar lagi.

Dilihatnya kamar yang berpenghuni penuh rahasia itu masih tertutup rapat, ada cahaya

lampu di dalam kamar, tapi tidak kelihatan bayangan orang.

Setelah melongok kian kemari, kemudian Siau-hi-ji melompat ke atas rumah, diam-diam ia

merayap ke emper kamar itu dan mendekam di situ.

Di dalam tiada terdengar sesuatu suara, mungkin tokoh rahasia itu sudah tidur atau telah

berangkat pergi. Tapi Kang Piat-ho sudah berjanji akan menemuinya lagi, mana mungkin

dia pergi begitu saja? Apalagi di dalam kamar jelas ada cahaya lampu.

Dengan sabar Siau-hi-ji menunggu, ia yakin Kang Piat-ho tidak mungkin tidak datang.

Di langit bintang bertaburan, malam kelam dan hening, tunggu punya tunggu, hampir saja

Siau-hi-ji tertidur di situ.

Semula di kamar hotel bagian belakang sana sayup-sayup ada suara alat gesek dan orang

bernyanyi, agaknya ada tetamu sedang menanggap tukang nyanyi kelilingan, akhirnya suara

nyanyi juga lenyap dan tiada terdengar sesuatu suara pula.

Tiba-tiba seorang pelayan dengan membawa tenglong (lampu berkurudung kertas) serta

sebuah poci teh besar memasuki halaman tengah, dilihatnya di kamar ini masih ada cahaya

lampu, pelayan itu mendekati dan mengetuk pintu perlahan, katanya, “Apakah tuan tamu

perlu air minum?”

Tapi tiada suara jawaban di dalam kamar. Meski pelayan mengulangi lagi pertanyaan dan

tetap tiada suara jawaban, akhirnya pelayan itu melangkah pergi sambil menggerundel,

“Tuan tamu ini sungguh pelit, tidak makan dan tidak minum, sepanjang hari menutup diri

saja di dalam kamar, agaknya sedang puasa atau ingin hemat?”

Siau-hi-ji merasa heran. Tindak tanduk orang itu mengapa sedemikian aneh dan penuh

rahasia, apakah khawatir dilihat orang lain? Apa pula yang dirundingkannya dengan Kang

Piat-ho.

Tiba-tiba terdengar suara mendesir perlahan, sesosok bayangan orang melayang tiba

seenteng asap, betapa tinggi Ginkangnya sungguh tak pernah dilihat oleh Siau-hi-ji,

hakikatnya dia tidak jelas bagaimana bentuk tubuh orang itu.

Baru saja ia terkejut, terdengar suara pintu kamar di bawah menguak perlahan, orang itu

sudah melangkah masuk. Habis itu di dalam kamar tiada sesuatu suara pula.

Diam-diam Siau-hi-ji berkerut kening. Bayangan yang gesit dan enteng ini, kiranya adalah

tokoh penuh rahasia yang tinggal di kamar ini, rupanya ia keluar sejak tadi dan baru

sekarang pulang.

Ginkang orang ini ternyata sedemikian tingginya, jangankan Siau-hi-ji sendiri merasa

bukan tandingannya, bahkan Hoa Bu-koat juga kalah setingkat dibandingkan dia. Sungguh

luar biasa bahwa di dunia persilatan masih ada tokoh selihai ini.

Tokoh selihai ini berkomplotan dengan Kang Piat-ho, sungguh sangat menakutkan

akibatnya.

Selagi Siau-hi-ji berpikir, tiba-tiba dilihatnya seorang menyelinap masuk ke halaman pula,

orang ini mengenakan pakaian hitam, kepala memakai topi anyaman yang besar dan lebar

sehingga wajahnya setengah tertutup.

Orang ini celingukan kian kemari dan mendekati kamar di bawah ini, setiba di depan pintu,

dia berdehem perlahan, lalu mengetuk pintu.

“Siapa?” segera ada orang bertanya dari dalam dengan suara tertahan.

“Wanpwe,” jawab si baju hitam dengan suara perlahan.

Dari suaranya barulah Siau-hi-ji tahu Kang Piat-ho telah datang. Seketika semangatnya

terbangkit.

Sementara itu pintu kamar telah dibuka, Kang Piat-ho terus menyelinap masuk ke dalam,

kedua orang bicara beberapa patah kata, tapi tak terdengar jelas oleh Siau-hi-ji.

Tiba-tiba terdengar Kang Piat-ho berkata, “Hari ini Wanpwe melihat sesuatu yang

mengejutkan.”

“Hal apa?” tanya orang itu.

“Yan Lam-thian belum mati, malahan sudah muncul kembali!” tutur Kang Piat-ho.

Bagi orang Kangouw, tak peduli siapa pun juga bila mendengar berita ini betapa pun pasti

akan terkejut, tapi orang itu ternyata anggap sepi saja, bahkan nada ucapannya acuh tak

acuh, “Memangnya kenapa kalau Yan Lam-thian muncul kembali?”

Kang Piat-ho melengak, katanya kemudian dengan mengiring tawa, “Dengan ilmu silat

Cianpwe, dengan sendirinya Yan Lam-thian sama sekali tiada artinya.”

“Hm, lebih bagus kalau Yan Lam-thian tidak mati, kalau mati bagiku menjadi kurang

menarik malah,” kata orang itu.

Makin heran Siau-hi-ji mendengar kata-kata ini, tampaknya orang ini sedikit pun tidak

gentar terhadap Yan Lam-thian, bahkan nadanya seperti ada hasrat ingin perang tanding

dengan Yan Lam-thian.

Terdengar Kang Piat-ho berkata pula, “Tapi masih ada kejadian lain yang juga tidak

kurang mengejutkan, ilmu silat Kang Siau-hi ternyata juga telah maju pesat.”

Orang tadi seperti tersenyum dan menjawab, “Malahan kukhawatir ilmu silatnya terlalu

rendah, jika tambah maju barulah aku senang.”

Tentu saja Siau-hi-ji semakin heran, sama sekali tak terpikir olehnya mengapa orang ini

begini memperhatikan dirinya, mungkin tokoh rahasia ini mengenalnya?

Didengarnya orang itu berkata pula, “Pokoknya betapa pun tinggi ilmu silat Kang Siau-hi

itu pasti akan dilayani oleh Hoa Bu-koat, kau sendiri tak perlu khawatir.”

“Tapi … tapi sekarang Hoa Bu-koat seakan-akan bersahabat karib dengan Kang Siau-hi ….”

“Kedua anak muda itu justru dilahirkan untuk menjadi musuh, sebelum salah satu mati

belum akan tamat. Umpama bisa menjadi sahabat juga takkan langgeng, untuk ini kau pun

tidak perlu khawatir.”

Siau-hi-ji terkejut pula, ia heran mengapa orang ini bisa sedemikian jelas mengetahui

seluk-beluk Hoa Bu-koat dengan dirinya? Padahal orang yang tahu urusan ini

sesungguhnya tidaklah banyak.

Agaknya Kang Piat-ho tertawa puas, katanya, “Jika demikian, entah Cianpwe ada pesan

apa pula kepada Tecu?”

“Aku cuma minta kau ….” tiba-tiba suaranya ditekan rendah sehingga Siau-hi-ji tidak

dapat mendengar sama sekali. Hanya terdengar orang itu mengucapkan satu kalimat dan

segera Kang Piat-ho mengiakan.

Setelah orang itu bicara lagi barulah terdengar Kang Piat-ho menjawab dengan tertawa,

“Beberapa urusan ini pasti akan Wanpwe kerjakan dengan baik.”

“Beberapa urusan ini pun menyangkut kepentinganmu, dengan sendirinya kau harus

menurut dan mengerjakannya,” jengek orang itu.

Kang Piat-ho seperti termenung sejenak, lalu berkata pula, “Setiap kali Cianpwe hendak

memberi pesan apa-apa segera juga Wanpwe datang kemari, tapi sampai saat ini nama

Cianpwe yang mulia belum juga kuketahui.”

“Namaku tidak perlu kau tahu, cukup asal kau tahu bahwa di dunia ini selain aku tiada

orang lain yang dapat membantumu, tanpa aku, bukan saja kau tidak berhasil menjadi

‘tayhiap’, bahkan hidup saja menjadi tanda tanya bagimu.”

Kang Piat-ho tertegun sejenak, jawabnya kemudian, “Ya.”

“Nah, sekarang boleh kau pergi, tiba waktunya nanti tentu akan kucari kau.”

Kembali Kang Piat-ho mengiakan.

Lalu orang itu menambahkan, “Beberapa urusan yang kutugaskan padamu itu bila

mengalami kegagalan, tatkala mana tidak perlu Yan Lam-thian atau Kang Siau-hi, aku

sendiri juga akan membinasakan kau. Nah, tahu tidak?”

Kang Piat-ho mengiakan pula.

Sampai di sini barulah Siau-hi-ji tahu bahwa Kang Piat-ho sendiri pun tidak kenal asal-usul

tokoh maharahasia ini, hanya lantaran terpengaruh oleh ilmu silatnya yang mahalihai,

maka “pendekar besar” itu terpaksa tunduk kepada segala perintahnya.

Dilihatnya Kang Piat-ho keluar dari kamar dengan tunduk kepala, ia celingukan sejenak

dan tiada sesuatu bayangan, segera ia menyelinap cepat keluar halaman sana.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat ilham, diam-diam ia pun mengeluyur pergi. Kini telah

diketahui ilmu silat orang di dalam kamar itu mahatinggi, maka sedikit pun ia tidak berani

gegabah, syukur gerak-geriknya tidak sampai diketahui orang.

Setelah melintas beberapa deret rumah barulah Siau-hi-ji berani melompat turun, dari

pintu ujung dia masuk kembali ke halaman dan menuju dapur, dilihatnya api tungku masih

belum padam, di atas tungku masih ada cerek dengan airnya yang mendidih.

Ia bawa cerek itu dan balik menuju ke tempat tadi, cahaya lampu kamar itu masih

menyala, Siau-hi-ji mendekatinya dan mengetuk pintu, serunya, “Tuan tamu, apakah perlu

tambah air minum?”

Yang dituju Siau-hi-ji hanya ingin melihat wajah asli tokoh penuh rahasia ini, maka tanpa

menghiraukan bahaya ia berlagak sebagai pelayan, juga tidak terpikir olehnya apakah

dirinya takkan dikenali orang?

Tapi ternyata tiada suara jawaban di dalam kamar. Setelah Siau-hi-ji mengulangi lagi

dengan suara lebih keras dan tetap tiada reaksi apa-apa. Diam-diam ia berkerut kening,

apakah mungkin orang itu sudah pergi lagi?

Ia tabahkan hati dan mendorong daun pintu dengan perlahan. Pintu ternyata tidak

dipalang, begitu ditolak segera terbuka.

Dilihatnya di atas meja ada sebuah lampu dan di samping ada sebuah nampan dengan

sebuah poci teh serta empat buah cangkir, tapi poci dan cangkir teh itu sama sekali belum

terpakai.

Waktu dia mengawasi tempat tidur, bantal selimut komplet, tapi masih terlipat rapi,

sedikit pun belum disentuh orang.

Nyata, meski tinggal di kamar ini, tapi orang yang penuh rahasia itu sama sekali tidak

menyentuh sesuatu benda di dalam kamar, jelas dia hanya menggunakan kamar ini sebagai

tempat bicara dengan Kang Piat-ho. Bilamana Kang Piat-ho harus datang barulah ia sendiri

datang ke sini, kalau Kang Piat-ho pergi segera ia pun berangkat, sampai air teh juga

tidak diminumnya barang seceguk pun.

Siau-hi-ji sengaja bergumam, “Mungkin poci ini kosong, biarlah kutambahi agar tuan tamu

nanti tidak kehabisan air minum.” Sembari bersuara ia terus melangkah masuk kamar.

Begitu berada di dalam, segera ia mengendus semacam bau harum yang aneh, seperti bau

harum anggrek dan seperti mawar pula, rasanya seperti berada di kebun bunga saja yang

harum semerbak.

Selama hidup Siau-hi-ji tidak pernah mencium bau wangi semacam ini, seketika ia merasa

nikmat sekali dan hampir-hampir mabuk.

Selain bau harum aneh ini tiada terdapat sesuatu tanda yang mencurigakan di dalam

kamar ini, kecuali bau harum ini pada hakikatnya kamar ini seperti tidak pernah dihuni

orang.

Siau-hi-ji tahu hotel ini cukup besar, tapi kurang perawatan, pelayan juga kurang rajin,

hampir di setiap sudut terdapat sawang dan debu kotoran.

Tapi kamar ini tenyata lain daripada yang lain, tersapu bersih, bahkan lantai di kolong

tempat tidur juga resik sekali, apalagi meja kursi dan lemari, semuanya seperti habis

dicuci dan digosok hingga mengkilap.

Sungguh aneh, padahal orang yang penuh rahasia itu hanya menggunakan kamar ini sebagai

tempat bicara dengan Kang Piat-ho dan bukan tempat tinggal, apalagi semua barang di

dalam kamar sama sekali tidak disentuhnya, lalu untuk apa dia membersihkan kamar ini

sedemikian resiknya, bahkan tersebar pula bau harum seenak ini.

Ia menjadi sangsi jangan-jangan orang aneh itu mempunyai kelainan jiwa, suka kepada

sesuatu yang khas.

Tanpa terasa Siau-hi-ji mengernyitkan dahi dan bergumam, “Orang yang suka pada

kebersihan begini sungguh jarang ada ….”

“Siapa kau!? Untuk apa masuk ke sini?” tiba-tiba seorang menegurnya dengan nada dingin.

Suara ini jelas datang dari belakang Siau-hi-ji.

Keruan kejut Siau-hi-ji tak terperikan, namun dengan mengulum senyum ia menjawab, “O,

hamba datang ke sini untuk mengetahui apakah tuan tamu perlu tambah air minum atau

tidak.”

“Kau pelayan hotel?” tanya orang itu.

Siau-hi-ji mengiakan.

“Yang datang siang tadi seperti bukan kau.”

“Oya, Ci-lotoa dinas siang dan hamba Ong Sam dinas malam,” jawab Siau-hi-ji.

“Huh, Kang Siau-hi-ji ternyata pintar mengibul dan pandai melihat gelagat, mahir tanya

jawab pula,” jengek orang itu mendadak. “Cuma sayang, sejak kau brojol dari rahim ibumu

aku sudah kenal kau, maka tiada gunanya kau main sandiwara di depanku.”

Siau-hi-ji terperanjat, “Siapa engkau?”

Tapi orang itu tidak menjawabnya.

Cepat sekali Siau-hi-ji membalik tubuh, tapi kosong, tiada seorang pun terlihat, daun

pintu itu masih terpentang dan bergerak tertiup angin. Suasana di luar tetap kelam, mana

ada bayangan seorang pun?

Apakah orang itu sudah pergi? Kejut dan heran pula Siau-hi-ji, baru saja ia merasa lega,

tahu-tahu di belakangnya ada orang mendengus lagi, “Hm, kau takkan dapat melihat

diriku!” Ternyata orang itu sudah berada pula di belakangnya.

Berturut-turut Siau-hi-ji membalik badan beberapa kali, cepatnya sukar dilukiskan lagi,

tapi aneh, orang itu selalu bersuara di belakangnya seakan-akan bayangan yang melekat di

tubuhnya.

Betapa pun besar nyali Siau-hi-ji, dalam keadaan demikian ia menjadi ngeri juga dan

berkeringat dingin. Kalau Ginkang orang ini sedemikian hebatnya, maka ilmu silatnya tidak

perlu lagi diceritakan. Siau-hi-ji menyadari dirinya pasti bukan tandingan orang, bahkan

ingin kabur pun jangan harap.

Tiba-tiba ia mendapat pikiran, ia sengaja berdiri tegak tanpa bergerak, lalu katanya

dengan tertawa, “Jika engkau tidak suka dilihat olehku, baiklah aku takkan melihatmu.”

“Hm, kau memang pintar,” jengek orang itu.

“Tapi bila engkau tidak sudi dilihat olehku, mengapa engkau datang pula kemari?”

“Kau tak dapat mengerti bukan?” tanya orang itu.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, ucapnya, “Kupikir, apa pun juga engkau pasti takkan membunuh

diriku.”

“Dari mana kau tahu aku takkan membunuhmu?”

“Seorang yang akan mati segera, seumpama dapat melihat wajah aslimu kan tidak menjadi

soal. Sebab itulah jika engkau berniat membunuhku tentu engkau takkan keberatan

memperlihatkan dirimu padaku, betul tidak?”

Orang itu terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Dapat juga kau menerka

jalan pikiranku.”

“Dahulu aku selalu menganggap diriku sebagai orang pintar nomor satu di dunia, walaupun

sekarang aku sudah lebih rendah hati, tapi aku pun tidak berani terlalu meremehkan

diriku sendiri dan mengaku bodoh.”

Diam-diam Siau-hi-ji sudah merasakan orang aneh ini memang tiada bermaksud

membunuhnya, maka nyalinya menjadi besar, mulutnya bicara, sekonyong-konyong ia

melompat ke depan lemari pakaian.

Lemari itu memangnya masih baru, peliturnya masih mengkilap, apalagi habis digosok

sehingga berkilau seperti kaca, waktu Siau-hi-ji berjongkok, segera sesosok bayangan

putih muncul dengan jelas di lemari itu.

Terlihat orang itu berambut panjang, berbaju putih mulus laksana salju, gayanya seperti

badan halus dari alam lain, cuma mukanya memakai topeng perunggu yang kelihatan

beringas menakutkan.

Kembali Siau-hi-ji terkejut, tanpa terasa ia berseru, “He, kiranya engkau ini Tongsiansing!”

Mendadak orang itu tidak bersuara lagi.

Siau-hi-ji merasa sorot mata orang sedang menatapnya dengan gemas, sinar mata orang

yang memancar ke lemari lalu memantul kembali, tapi masih kelihatan dingin dan

menyeramkan.

Sorot mata orang-orang seperti Toh Sat, Im Kiu-yu, Oh-ti-tu dan sebagainya juga dingin

menakutkan, tapi di antara sinar mata mereka itu sedikit banyak masih mengandung

perasaan. Namun sorot mata “Tong-siansing” atau si tuan bertopeng perunggu ini justru

sedingin es, andai kata orang ini pun punya hati maka hatinya pasti sudah lama membeku.

Selang agak lama baru terdengar “Tong-siansing” itu membuka suara, “Ya, dengan

sendirinya kau kenal aku, tentunya Oh-ti-tu itu telah bercerita padamu.”

Siau-hi-ji menyengir, katanya, “Tempo hari Oh-ti-tu bercerita, katanya ilmu silatmu

sangat tinggi dan macam-macam lagi, aku merasa sangsi, tapi setelah bertemu sekarang

barulah kutahu dia tidak membual.”

“Kau tidak perlu menyanjung diriku,” jengek Tong-siansing. “Kalau aku tidak mau

membunuhmu, maka untuk selamanya tetap takkan kubunuh kau.”

“Selamanya?” Siau-hi-ji menegas.

“Ehm!” jawab Tong-siansing.

Siau-hi-ji menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Setelah melihat kamarmu

sebersih ini serta mengeluarkan bau harum, tadinya kukira engkau adalah perempuan.

Untunglah engkau ternyata bukan perempuan, kalau tidak, biarpun engkau sudah

menyatakan tidak akan membunuhku juga tak dapat kupercaya.”

“Kau tidak percaya pada perempuan?”

“Kata-kata perempuan sama sekali tidak dapat dipercaya. Barang siapa percaya kepada

perempuan, maka celakalah dia!”

“Sebab apa?” tanya Tong-siansing pula.

“Meski di kalangan lelaki juga ada orang jahat, tapi pasti tidak seculas dan sekeji

perempuan, lelaki yang paling busuk juga pasti lebih baik daripada perempuan yang busuk.”

Mendadak Tong-siansing menjadi gusar, dampratnya, “Apakah ibumu sendiri bukan

perempuan?! Mengapa kau menista kaum perempuan umumnya?”

“Perempuan di seluruh jagat ini mana ada yang dapat dibandingkan ibuku?” jawab Siau-hiji.

“Beliau sedemikian halus budinya, cantik lagi dan ….” Walaupun dia belum pernah

melihat wajah ibundanya, tapi di mata setiap anak di kolong langit ini ibunda sendiri pasti

dianggapnya sebagai perempuan yang paling cantik dan paling baik di dunia ini. Apalagi

anak yang tidak pernah mengenal wajah sang ibu, dalam khayalannya tentu terbayang ibu

yang cantik dan hal-hal lain yang muluk-muluk, dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tidak

terkecuali.

Begitulah omong punya omong tentang ibunya, tanpa terasa Siau-hi-ji lantas memejamkan

mata dan berucap menurut khayalannya. Dasar mulutnya memang pintar bicara, maka apa

yang dilukiskan menurut bayangannya menjadi lebih muluk-muluk, ibunya dikatakan

seolah-olah secantik bidadari dan jarang ada bandingannya di dunia.

Sorot mata Tong-siansing yang dingin itu mendadak seakan-akan membara. Tapi Siau-hi-ji

seperti mengigau, “Perempuan lain di dunia ini kalau dibandingkan ibuku, hakikatnya

seperti sampah dibanding mutiara, sedikit pun tidak berharga, aku ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong lehernya terasa kesakitan, tubuhnya menjadi

kaku, tahu-tahu ia telah diangkat ke atas oleh Tong-siansing.

Dengan ilmu silat Siau-hi-ji sekarang ternyata sama sekali tidak mampu mengadakan

perlawanan.

Dilihatnya sorot mata orang berapi-api, tangannya yang dingin mencengkeram semakin

kencang, leher Siau-hi-ji seakan-akan diremasnya hingga remuk.

Keruan anak muda itu ketakutan dan berteriak, “He, engkau sudah bilang selamanya

takkan membunuhku, apa yang sudah kau katakan mengapa tidak kau pegang?”

“Sebenarnya aku tidak mau membunuhmu, tapi sekarang pikiranku telah berubah,” teriak

Tong-siansing dengan suara parau.

“Se … sebab apa?”

“Sebab kau mengoceh tak keruan, aku menjadi geregetan.”

“Bilakah pernah kusembarangan omong?”

“Ibumu itu cantik atau jelek, baik atau busuk, pada hakikatnya kau tidak pernah

melihatnya, tapi kau sengaja membual setinggi langit baginya, ini bukan sembarangan

mengoceh, lalu apa namanya?”

“Dari … dari mana kau tahu aku tidak pernah melihat ibuku?”

“Hm, kalau aku tidak tahu, siapa lagi yang tahu?” jengek Tong-siansing alias si topeng

perunggu.

“Jika begitu, jadi engkau … engkau pernah melihat ibuku?”

Tong-siansing hanya mendengus saja tanpa menjawab.

“Bagaimana bentuk wajah ibuku?” tanya Siau-hi-ji, betapa pun ia sangat ingin tahu.

“Ibumu adalah perempuan paling jelek di dunia ini, ya bungkuk, ya pincang, ya burik, ia

botak, pendek kata, segala cacat manusia di dunia ini terkumpul seluruhnya pada ibumu,

setiap perempuan mana pun di dunia ini pasti jauh lebih cantik daripadanya.”

“Kentut, kentut busuk!” damprat Siau-hi-ji dengan gusar. “Kau sendiri yang sembarangan

mengoceh, ngaco-belo!”

Belum lenyap ucapannya, “plak-plok”, kontan ia kena gampar dua kali.

Meski dua kali tempelengan ini tidak mengeluarkan seluruh tenaga Tong-siansing, tapi

sudah cukup membuat kedua pipi Siau-hi-ji bengkak seperti kue apem, darah lantas

mengucur pula dari ujung mulutnya. Namun begitu Siau-hi-ji masih terus mencaci-maki.

Meski dia tidak pernah melihat sang ibu, tapi bilamana dia terkenang kepada ibundanya,

dalam hati lantas timbul rasa yang sukar dikatakan, ya sedih dan juga kasih sayang.

Biasanya Siau-hi-ji tidak berani sering-sering mengenangkan sang ibu, sebab kalau sudah

mulai terkenang, maka akan berlarut-larut dan tidak berhenti, makanya tadi begitu dia

menyebut ibu, dia terus menyinggungnya tanpa berhenti pula.

Biasanya meski ia pun suka mengikuti arah angin dan bisa melihat gelagat, kalau Tongsiansing

ini mencaci maki dia dan ia merasa bukan tandingannya, maka pasti dia takkan

melawan dan balas memaki. Tapi sekarang yang dicaci maki orang itu adalah ibundanya,

maka dia tidak bisa menerimanya.

Begitulah Tong-siansing masih terus menempeleng dan Siau-hi-ji juga tetap mencaci maki

tanpa berhenti. Memang beginilah watak Siau-hi-ji, kepala batu, bandel, berani mati,

kalau sudah nekat, mati hidup tak dipedulikan lagi.

“Ayo! Maki lagi, bisa kubunuh kau sekalian!” damprat Tong-siansing dengan menggereget.

Mulut Siau-hi-ji sudah penuh darah, dengan suara serak ia berteriak, “Asalkan kau

mengakui ibuku adalah perempuan paling cantik, berbudi paling halus, aku lantas tidak

memakimu lagi.”

“Asalkan kau mengakui ibumu adalah siluman paling jelek dan busuk di dunia ini dan segera

kuampuni kau,” jawab Tong-siansing.

Kembali Siau-hi-ji meraung kalap, makinya pula, “Ibumu sendiri ya bungkuk, ya pincang, ya

burik, ya gundul, ya ….”

Tapi mendadak kedua jari Tong-siansing menjepit janggutnya sehingga dagunya terkilir,

“Kau benar-benar ingin mampus?” bentaknya.

Siau-hi-ji tak dapat bersuara pula karena engsel dagunya terlepas dari tempatnya,

mulutnya menjeplak, tapi tak sanggup bicara, hanya kedua matanya saja tetap melotot

murka.

“Boleh kau mengaku dengan mengangguk, lalu akan kuampuni kau, jika menggeleng, segera

kubinasakan kau ….”

Belum habis ucapan Tong-siansing, seketika Siau-hi-ji menggeleng kepala seperti orang

sakit ayan.

“Mati pun kau tidak mau mengakui ibunya adalah perempuan paling jelek?” tanya Tongsiansing.

Seketika Siau-hi-ji mengangguk-angguk seperti anak ayam menotol nasi.

“Kau … kau rela mati baginya?” tanya Tong-siansing dengan sorot mata penuh dendam dan

benci, tapi suaranya kedengaran rada gemetar.

Siau-hi-ji menyangka orang akan segera turun tangan membunuhnya, tak terduga tangan

si topeng perunggu mendadak jadi lemas sehingga Siau-hi-ji terbanting ke lantai, cepat

dia geser dagu sendiri sehingga kembali pada kedudukannya yang tepat.

Dilihatnya Tong-siansing berdiri mematung di situ dengan tubuh gemetar, napas Siau-hi-ji

terengah-engah, ia coba melirik orang, ia merasa tidak terluka apa-apa, tapi rasanya

sudah setengah kapok dan tidak berani sembarangan bertindak pula. Selang sejenak,

saking tak tahan ia membuka suara, “Sesungguhnya ada permusuhan apa antara ibuku

dengan engkau, mengapa engkau menistanya sedemikian rupa?”

Tong-siansing seolah-olah tidak mendengar sama sekali pertanyaannya.

Tanpa ayal lagi Siau-hi-ji lantas melompat keluar kamar itu, ia coba melirik ke belakang,

rupanya Tong-siansing tidak mengejarnya. Meski di dalam hati penuh diliputi tanda tanya,

namun tidak sempat terpikir lagi olehnya, cepat ia mengeluarkan gerak tubuhnya yang

gesit, ia melayang secepat terbang ke depan, hanya sekejap saja ia sudah berada jauh di

luar hotel.

Tiba-tiba di belakang ada orang menjengek, “Kau tetap tidak mengaku?”

Tubuh Siau-hi-ji sedang mengapung, mendengar suara itu, seketika ia jatuh ke bawah. Ia

tahu bilamana orang sudah mengejarnya, maka tiada ubahnya seperti bayangan yang selalu

lengket pada tubuhnya, lari juga tiada gunanya.

“Jika mampu, ayo bunuhlah aku!” bentak Siau-hi-ji mendadak sambil memutar balik, kedua

tangan sekaligus menghantam beberapa kali. Akan tetapi bayangan orang saja tidak

kelihatan, tahu-tahu punggungnya kesemutan, “bluk”, kembali ia jatuh tersungkur.

*****

Sementara itu Hoa Bu-koat sedang minum arak di kamarnya. Biasanya anak muda ini tidak

suka minum, tapi entah mengapa, malam ini dia minum sendirian di kamarnya, bahkan

setiap cawan selalu dihabiskannya, akhirnya ia menjadi mabuk dan menjatuhkan diri di

ranjang dan tertidur.

Dalam mimpinya ia merasa ada seorang memotong tangannya dengan sebilah pisau, ia ingin

berteriak, tapi dada terasa tertindih benda yang berat sehingga napas pun sesak.

Pada saat itulah di jendela ada orang berseru padanya, “Hoa Bu-koat, bangun!” Meski lirih

suara itu, namun setiap katanya dengan tajam dan terang tersiar ke telinga Hoa Bu-koat.

Bu-koat terjaga bangun, ia pandang tangan sendiri, masih baik-baik, tapi keringat dingin

sudah membasahi bajunya. Ia merasa mimpi buruk tadi seakan-akan kejadian

sesungguhnya.

Kembali di luar jendela berkumandang suara memanggil, “Bu-koat, keluar sini!”

Setelah tenangkan diri, tanpa memakai sepatu lagi Bu-koat lantas membuka jendela,

suasana di luar remang-remang, sesosok bayangan putih seperti hantu saja berdiri jauh di

sana.

Di bawah cahaya bintang yang redup samar-samar kelihatan wajah orang itu seperti hijau

kemilau, setelah diawasi baru diketahui muka orang memakai sebuah topeng perunggu

yang menakutkan.

Bu-koat tersiap, serunya, “Apakah Tong … Tong-siansing?”

Orang itu mengangguk, katanya, “Keluar sini!”

Sekali lompat Bu-koat lantas melayang keluar, ia hanya pakai kaus kaki tanpa sepatu.

Sementara itu Tong-siansing telah melayang ke atas wuwungan rumah sana. Cepat Bu-koat

menyusul, ia pun melayang lewat deretan rumah dan melintasi jalanan yang sepi.

Tanpa menoleh tiba-tiba Tong-siansing itu mendengus, “Hm, anak murid Ih-hoa-kiong

mengapa jadi suka mabuk dan tidur begitu?”

Bu-koat menyengir, jawabnya, “Karena kesal, Wanpwe jadi ….”

“Anak murid Ih-hoa-kiong, kenapa pula kesal?” jengek Tong-siansing.

Bu-koat melengak, ia tertunduk dan tidak berani menanggapi.

Terlihat dari kepala sampai kaki Tong-siansing itu tidak bergerak sama sekali, tapi cara

melayangnya secepat terbang, orang seperti meluncur terbawa angin belaka.

Melihat Ginkang mahatinggi ini, mau tak mau Hoa Bu-koat terkejut.

Didengarnya Tong-siansing berkata pula, “Tentunya kau sudah tahu siapa aku ini?”

“Ketika Wanpwe akan meninggalkan Ih-hoa-kiong, guruku telah memberi pesan, bilamana

bertemu dengan Siansing berarti sama saja bertemu dengan guru. Apa pun yang dikatakan

Siansing harus Wanpwe turut,” jawab Bu-koat.

“Selain itu Kiongcu pernah memberi pesan apalagi?”

Bu-koat termenung, jawabnya, Ini ….”

“Memangnya tiada pesan lain?” Tong-siansing menegas dengan suara bengis.

Akhirnya Hoa Bu-koat menjawab dengan suara berat, “Guruku mengharuskan Wanpwe

membunuh seorang bernama Kang Siau-hi-ji dengan tanganku sendiri.”

“Ehm, bagus!” ucap Tong-siansing, agaknya jawaban ini cukup memuaskannya.

Ia tidak bicara lagi dan selama itu pun tidak pernah berpaling, Bu-koat memandangi

bayangan punggung orang dengan sangsi, ia tidak dapat menerka sesungguhnya untuk

apakah dirinya disuruh ikut keluar.

Jalan yang dilalui semakin sepi, akhirnya mereka sampai di suatu lereng bukit, di sini ada

pohon besar dengan daunnya yang rindang, sekonyong-konyong Tong-siansing melayang ke

atas pohon, tapi mulutnya berseru kepada Hoa Bu-koat, “Kau berdiri saja di bawah

pohon!”

Habis ucapannya, tahu-tahu dia sudah berdiri di puncak pohon, di bawah cakrawala yang

penuh bertaburan bintang, seorang berbaju putih mulus berdiri di pucuk pohon dengan

gayanya yang khas, tampaknya menjadi aneh dan juga menarik.

Bu-koat tidak paham apa kehendak orang, terpaksa ia bersabar dan menunggu.

Tiba-tiba terlihat Tong-siansing menarik keluar satu orang dari dahan pohon yang rindang

sana, serunya, “Awas, pegang ini!”

Baru lenyap suaranya sesosok tubuh telah anjlok turun dari pucuk pohon.

Tinggi pohon ini berpuluh tombak, bobot seorang meski cuma seratusan kati saja, tapi

terlempar dari atas pohon, bobotmya sedikitnya bertambah tiga kali. Hoa Bu-koat sendiri

tidak tahu siapa orang yang dijatuhkan dari atas itu, ia pun tidak yakin apakah dirinya

sanggup menangkap tubuh orang ini, seketika itu ia tidak sempat berpikir, segera ia

melompat ke atas memapak tubuh yang jatuh ke bawah itu.

Dua sosok bayangan, satu dari atas dan yang lain dari bawah, tampaknya segera akan

saling lintas. Pada saat berpapasan itulah sekonyong-konyong Hoa Bu-koat turun tangan,

ia sempat meraih pakaian orang itu, “bret”, baju orang itu terobek, Bu-koat sendiri pun

ikut terseret ke bawah oleh daya anjlok itu.

Tapi ketika hampir sampai di atas tanah, sementara daya anjlok itu sudah jauh berkurang,

sambil membentak, Bu-koat berjumpalitan selagi masih terapung sehingga tubuh orang ini

kena dilempar lagi ke atas.

Tapi waktu untuk kedua kalinya orang itu anjlok ke bawah, Bu-koat lantas dapat

menangkap tubuhnya dengan enteng. Di bawah cahaya bintang yang remang-remang

tertampak wajah orang yang pucat dengan mata terpejam.

Orang ini ternyata Siau-hi-ji adanya.

Walaupun biasanya Bu-koat sangat tenang dan sabar, tanpa terasa sekarang ia pun

menjerit kaget.

Tong-siansing itu masih berdiri di pucuk pohon, jengeknya tiba-tiba, “Siapa dia? Apakah

kau mengenalnya?”

“Ken … kenal,” jawab Bu-koat.

“Apakah dia ini Kang Siau-hi?”

“Betul.”

“Bagus, boleh kau bunuh dia!”

Tergetar hati Bu-koat, ia pandang Siau-hi-ji yang tak sadarkan diri itu, seketika ia

sendiri jadi terkesima.

Perlahan-lahan Tong-siansing berkata pula, “Jika kau tidak ingin membunuh seorang yang

tidak sanggup melawan, boleh juga kau buka Hiat-tonya.”

Dengan limbung Bu-koat menjulurkan tangannya dan membuka Hiat-to Siau-hi-ji yang

tertutuk. Tertampak tubuh Siau-hi-ji mengejang lalu jatuh ke bawah terlepas dari

pegangan Hoa Bu-koat.

Waktu membuka mata dan melihat Hoa Bu-koat berdiri di depannya, dengan berseri Siauhi-

ji bertanya, “Apakah engkau yang menyelamatkan aku?”

Bu-koat cuma melenggong saja tanpa bersuara.

“Memang sudah kuduga engkau pasti akan datang menolong aku, kita kan bersahabat?”

ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Entah mengapa, perasaan Bu-koat menjadi pedih, tiba-tiba ia melengos ke sana.

Siau-hi-ji merasa aneh, tanyanya, “He, kenapa kau ….”

Pada saat itulah tiba-tiba seorang menjengek, “Hoa Bu-koat, kenapa kau tidak turun

tangan?”

Baru sekarang Siau-hi-ji melihat Tong-siansing yang berdiri di puncak pohon itu, ia

menarik napas dingin, ia pandang Hoa Bu-koat dengan terbelalak, katanya, “Kiranya dia

menghendaki kau membunuh diriku, begitukah?”

Bu-koat menghela napas panjang.

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian dengan menyengir, “Kutahu engkau tak

berani membangkang atas perintahnya …. Baiklah silakan kau turun tangan saja!”

Bu-koat juga termenung sejenak, tiba-tiba ia berucap dengan sekata demi sekata,

“Sekarang aku tidak boleh membunuhmu!”

Siau-hi-ji melengak dan bergirang pula. Tong-siansing menjadi gusar, bentaknya, “Apa

katamu?”

“Kini, betapa pun aku tak dapat membunuh dia?” seru Bu-koat.

“Apakah kau telah melupakan pesan gurumu?” teriak Tong-siansing gusar.

“Tecu tidak berani melupakannya,” jawab Bu-koat dengan menunduk.

“Jika tidak berani melupakannya, kenapa tidak membunuhnya?”

Kembali Hoa Bu-koat menghela napas panjang, katanya, “Aku sudah mengadakan janji tiga

bulan dengan dia, sebelum tiba waktunya aku tak dapat membunuhnya.”

“Bila gurumu mengetahui hal ini, lalu bagaimana jadinya?” bentak Tong-siansing.

Mendadak Hoa Bu-koat mendongak, serunya, “Meski perintah guru tidak boleh dibantah,

tapi janji juga harus dipegang teguh. Saat ini sekalipun guruku berada di sini juga pasti

takkan menyuruh Wanpwe menjadi manusia ingkar janji.”

Dengan suara keras Siau-hi-ji lantas menyambung, “Apalagi dia kan pasti akan

membunuhku, yang menjadi soal hanya waktu saja, ini kan juga bukan membangkang

terhadap perintah gurunya.”

“Hoa Bu-koat,” bentak Tong-siansing dengan gusar, “Jangan lupa, melihat aku sama saja

seperti melihat gurumu, kau berani membangkang atas perintahku.”

“Apa pun kehendak Siansing pasti akan kulaksanakan, hanya urusan ini saja betapa pun

Tecu tidak dapat menurut,” ucap Bu-koat dengan gegetun.

“Demi melaksanakan perintah gurumu, biarpun kau tidak pegang janji juga takkan

disalahkan oleh siapa pun,” kata Tong-siansing.

“Maaf Siansing, Tecu ….”

Mendadak Tong-siansing membentak pula, “Kau tidak mau membunuh dia, mungkin bukan

lantaran ada janji melainkan ada sebab lainnya, betul tidak?”

Tergetar hati Hoa Bu-koat, sesungguhnya ia pun tidak tahu sebab apa ia pegang teguh

takkan membunuh Siau-hi-ji sekarang apakah karena ingin menepati janji atau ada sebab

lain.

Tadi ketika tanpa sadar Siau-hi-ji berada dalam pelukannya, tiba-tiba dalam hatinya

seolah-olah timbul semacam perasaan yang sukar dilukiskan, ia telah pandang wajah Siauhi-

ji, ia merasa anak muda ini bukanlah musuhnya, tapi seperti seorang sahabat lama yang

sangat akrab, meskipun sejak pertemuan pertama dengan Siau-hi-ji hingga kini juga baru

dua tahun lamanya.

Ia merasakan pernapasan Siau-hi-ji yang lemah tadi, ia merasakan pula anak muda ini

bukanlah orang yang harus dibunuhnya, tapi justru harus dilindunginya. Sampai Siau-hi-ji

terlepas dari pondongannya dan jatuh ke tanah, perasaan ajaib masih tetap membekas di

dalam sanubarinya.

Kini dilihatnya pula senyuman Siau-hi-ji yang penuh keyakinan dan percaya padanya, mana

dia sanggup turun tangan lagi membunuhnya.

Terdengar Tong-siansing sedang berteriak dengan bengis, “Hoa Bu-koat, jangan lupa

bahwa dia inilah musuhmu yang paling besar, jika kau bersahabat dengan dia, bukan saja

gurumu takkan mengampunimu, kelak bila kau teringat akan kejadian ini juga kau takkan

memaafkan dirimu sendiri.”

Bu-koat menghela napas panjang. Meski setiap orang mengatakan dia dan Siau-hi-ji adalah

musuh bebuyutan, baru tamat bila salah satu mati, meski kenyataan juga membuktikan

Siau-hi-ji memang betul musuhnya. Tapi aneh, dalam hati sedikit pun ia tidak merasakan

ada sesuatu permusuhan dengan Siau-hi-ji, ia sendiri pun tidak dapat menjelaskan bilakah

perasaan aneh ini mulai timbul.

Perasaan aneh ini seolah-olah sudah lama tersimpan dalam lubuk hatinya dan baru

berkobar setelah kulit daging Siau-hi-ji menyentuh kulit dagingnya.

Dia pandang Siau-hi-ji, gumamnya di dalam hati, “O, Kang Siau-hi-ji, apa yang sedang kau

pikirkan sekarang? Yang kau pikirkan apakah sama dengan pikiranku?”

Siau-hi-ji memang sedang menatapnya, hatinya memang sedang berpikir.

Tong-siansing memandang dari pucuk pohon. Dilihatnya kedua anak muda yang berdiri

berhadapan itu, sorot matanya yang dingin seketika berkobar-kobar pula, bentaknya

dengan bengis, “Hoa Bu-koat, tidak perlu kau tunggu lagi tiga bulan, turun tangan

sekarang saja!”

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendongak dan bergelak tertawa, teriaknya, “Hahaha, mengapa tidak

boleh menunggu lagi tiga bulan? Memangnya kau khawatir tiga bulan kemudian dia takkan

membunuhku lagi?”

“Apa yang kukhawatirkan?” teriak Tong-siansing dengan parau. “Kalian memang dilahirkan

menjadi musuh, nasib kalian sudah ditakdirkan salah seorang harus mati di tangan yang

lain.”

“Jika begitu, sekarang mengapa kau paksa dia?” seru Siau-hi-ji. “Jika kau menginginkan

kematianku sekarang juga, boleh kau turun tangan sendiri saja, mengapa kau sendiri tidak

berani membunuhku?”

Tong-siansing merasa hulu hatinya seakan-akan ditikam orang, ia bersuit nyaring terus

melayang turun.

Air muka Hoa Bu-koat menjadi pucat, disangkanya Tong-siansing alias si topeng perunggu

itu hendak membunuh Siau-hi-ji, tak tersangka orang lantas menerjang ke hutan sana,

sekali angkat tangan, kontan sebatang pohon kena ditonjoknya hingga patah dan ambruk.

Tubuh Tong-siansing masih terus berputar kian kemari, kedua tangannya bekerja susul

menyusul, batang pohon sebesar paha hanya sekali dihantamnya lantas patah dan

tumbang. Hanya sekejap saja belasan pohon di bukit itu telah ditebang olehnya dengan

pukulan yang dahsyat dan menimbulkan suara gemuruh memekak telinga.

Melihat tenaga pukulan luar biasa itu, tanpa terasa Siau-hi-ji berkecak-kecak kagum.

Ia tahu ilmu silat Tong-siansing yang mahasakti ini, kalau dirinya mau dibunuhnya boleh

dikatakan semudah menyembelih seekor ayam. Ia pun tahu si Topeng Perunggu ini sudah

teramat benci padanya, kalau bisa mungkin tubuhnya akan dicincangnya hingga luluh,

namun orang aneh ini justru tidak mau melakukannya dengan tangan sendiri dan lebih suka

melampiaskan rasa geregetan itu atas pepohonan. Apakah sebabnya dia berbuat begini?

Sungguh sukar dimengerti?

Dalam pada itu tahu-tahu Tong-siansing telah melayang ke depan Hoa Bu-koat dan

membentak pula dengan bengis, “Jadi kau sudah pasti akan menunggu tiga bulan lagi baru

mau membunuhnya?”

Bu-koat menarik napas dalam-dalam, jawabnya kemudian, “Ya!”

“Kalau sekarang kubunuh dia, lalu bagaimana kau?”

Dengan muka pucat Bu-koat memandang Siau-hi-ji sekejap, lalu menjawab dengan

tergagap, “Jika … jika Siansing membunuhnya sekarang juga, mungkin … mungkin Tecu ….”

“Memangnya kau berani merintangi aku?” bentak Tong-siansing.

Bu-koat tampak serba sulit, ia menghela napas dan menjawab, “Tecu … Tecu ….”

Tiba-tiba Tong-siansing bergelak tertawa histeris, serunya, “Jika kau memang sedemikian

mengutamakan janji setia, sebagai kaum Cianpwe masakah aku harus membikin susah

padamu. Kau ingin menunggu lagi tiga bulan, baiklah, apa alangannya kalau kuberi waktu

selama tiga bulan?”

Perubahan sikap ini kembali di luar dugaan kedua anak muda itu.

Dengan girang dan kejut Bu-koat berseru, “Terima kasih atas kebaikan Siansing ….”

“Dan sekarang bolehlah kau pergi saja,” kata Tong-siansing dan berhenti tertawa

mendadak.

Kembali Bu-koat memandang Siau-hi-ji sekejap, tanyanya, “Dan dia ….”

“Dia tinggal di sini!” bentak Tong-siansing.

Bu-koat kembali terkejut, katanya, “Apakah Siansing hendak ….”

“Bila kuingin membunuhnya sendiri, memangnya perlu kutunggu sampai sekarang?” jengek

Tong-siansing.

Bu-koat berpikir sejenak lalu menunduk dan berkata, “Kalau Siansing tidak akan

membunuh dia, kenapa tidak lepaskan dia pergi saja. Janji tiga bulan ini kukira takkan

diingkarnya.”

“Apakah dia akan ingkar atau tidak yang pasti selama tiga bulan ini aku pun akan

melindungi dia agar seujung rambutnya takkan terganggu oleh siapa pun,” ucap Tongsiansing.

“Tiga bulan kemudian, dengan utuh dan bulat akan kuserahkan dia padamu.”

“Agar aku dibunuhnya dengan utuh dan bulat-bulat, begitu bukan?” tiba-tiba Siau-hi-ji

menambahkan dengan tertawa.

“Ya, betul!” jengek Tong-siansing.

“Wah, jika begitu engkau harus mengorbankan pikiran dan tenaga untuk melindungi aku,

rasanya aku menjadi tidak enak hati,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Hanya melindungi seorang macammu ini masakah perlu banyak makan pikiran dan

tenagaku?” dengus Tong-siansing.

“Ah, engkau tentunya mengira diriku ini mudah diawasi?” kata Siau-hi-ji pula dengan

mimik wajah jenaka. “Sungguh salah besar jika begitu anggapanmu. Ketahuilah, aku ini

tiada punya penyakit lain kecuali suka mencari gara-gara pada orang lain. Lantaran itu,

orang Kangouw yang ingin membunuhku sungguh tidak sedikit.”

“Kecuali Hoa Bu-koat, siapa pun tidak boleh membunuhmu!” kata Tong-siansing.

“Betul?” Siau-hi-ji menegas.

“Setiap ucapanku adalah kata-kata emas dan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat!”

jengek Tong-siansing.

“Jika ucapanmu sudah begini bulat, bilamana dalam tiga bulan ini aku mengalami sesuatu

gangguan, wah, entah engkau masih punya muka untuk tampil di depan umum atau tidak?”

“Pokoknya selama tiga bulan ini jika kau mengalami sesuatu gangguan, akulah yang

bertanggung jawab,” bentak Tong-siansing.

“Nah, Hoa-heng, engkau juga mendengar dengan jelas ucapannya bukan?” tanya Siau-hi-ji

kepada Hoa Bu-koat.

“Ya, jelas,” jawab Bu-koat dengan mengangguk sambil mengulum senyum.

“Engkau juga harus ingat baik-baik janjinya,” kata Siau-hi-ji.

“Sudah tentu kuingat,” kata Hoa Bu-koat.

“Kalau begitu legalah hatiku,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Dalam waktu tiga bulan ini

dapatlah aku berbuat sesuatu sekehendak hatiku, toh tiada seorang pun yang berani

mengganggu aku.”

“Ya, jangan khawatir, dalam tiga bulan ini, perbuatan apa pun takkan dapat kau lakukan,”

jengek Tong-siansing pula.

“Ah, kukira belum tentu ….” Siau-hi-ji berkedip-kedip dengan senyuman penuh teka-teki.

Teringat kepada kebinalan Siau-hi-ji dengan tingkah lakunya yang aneh-aneh dan licin, Bukoat

pikir biarpun ilmu silat Tong-siansing mahatinggi, rasanya juga akan kena dikibuli

anak muda itu.

Karena pikiran ini, tanpa terasa Bu-koat tersenyum geli.

Tong-siansing menjadi gusar, bentaknya, “Tidak lekas pergi, untuk apa kau tinggal di sini?”

Seketika lenyaplah senyuman Hoa Bu-koat, katanya kemudian, “Tiga bulan kemudian ….”

“Pergilah, jangan khawatir,” sela Siau-hi-ji, “Tiga bulan kemudian akan kutunggu kau di

tempat itu!” Lalu ia berpaling kepada Tong-siansing dan berkata pula dengan tertawa,

“Sekarang aku ingin bicara berduaan dengan dia, apakah engkau tidak khawatir?”

“Tiada sesuatu urusan di dunia ini yang dapat membuat aku khawatir,” jengek Tongsiansing.

Siau-hi-ji berkerut-kerut hidung, ucapnya dengan tertawa, “Kepandaianmu memang tinggi,

tapi rasanya engkau pun suka membual.”

“Kau berani kurang ajar?” bentak Tong-siansing.

“Mengapa tidak berani? Kan di dalam tiga bulan ini tiada seorang pun yang berani

menggangguku?” jawab Siau-hi-ji dengan terbahak-bahak.

Saking dongkolnya Tong-siansing jadi melenggong, ia benar-benar mati kutu menghadapi

anak binal ini.

Siau-hi-ji mendekati Hoa Bu-koat, dengan suara lirih ia berkata, “Sayang dia memakai

topeng setan begitu, kalau tidak air mukanya sekarang tentu sangat lucu untuk ditonton.”

Meski dia bicara dengan suara tertahan, tapi dia justru sengaja membikin suaranya

sedemikian lirih hingga tiba cukup didengar juga oleh Tong-siansing.

Tentu saja Bu-koat merasa geli dan hampir-hampir mengakak, lekas ia pura-pura

berdehem, lalu berkata, “Apa yang hendak kau bicarakan padaku?”

“Petang besok, Yan Lam-thian, Yan-tayhiap akan menunggu aku di hutan bunga sana,

dapatlah engkau mewakilkan diriku ke sana, beritahukan kepada beliau bahwa aku tidak

sempat memenuhi janji menemuianya,” kata Siau-hi-ji. Sekali ini ia benar-benar menahan

suaranya sehingga tidak terdengar oleh orang lain.

“Yan Lam-thian? ….” Bu-koat berkerut dahi.

“Kutahu engkau bersengketa dengan dia, karena itu bilamana permintaanku kau tolak juga

aku takkan menyalahkanmu,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

Tiba-tiba Bu-koat tertawa, katanya, “Dalam tiga bulan ini kita adalah sahabat karib

bukan?”

“Sudah tentu,” jawab Siau-hi-ji.

“Dan permintaan sahabat dapatkah kutolak?”

Siau-hi-ji tertegun, ia pandang Bu-koat sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Ehm,

engkau sangat baik, sungguh tidak penasaran aku mempunyai sahabat seperti engkau ini.”

Bu-koat terdiam sekian lama, lalu berkata secara tak acuh, “Cuma sayang, hanya selama

tiga bulan saja.” Dia sengaja anggap tak acuh, tapi ternyata kurang mahir berlagak.

Siau-hi-ji merasa pedih, jawabnya dengan tersenyum, “Tiga bulan sama dengan sembilan

puluh hari, ini bukan waktu yang singkat.”

“Namun selama kita bersahabat ini kukira takkan berjumpa, apalagi berkumpul. Bilamana

kita berjumpa pula nanti, maka kita bukan lagi sahabat melainkan musuh!”

“Banyak kejadian di dunia ini sering kali di luar dugaan, kejadian-kejadian ini setiap hari

selalu timbul, bukan mustahil selang dua-tiga hari lagi kita juga akan berjumpa, siapa

tahu?”

“Aku tidak percaya akan keajaiban,” kata Bu-koat dengan gegetun.

“Seorang yang malang dan sedang bernasib sial, kalau tidak senantiasa mengharapkan

timbulnya keajaiban, pada hakikatnya ia tak mungkin bertahan hidup lama, betul tidak?”

“Kau percaya keajaiban?” Bu-koat balas tanya.

“Jika aku tidak percaya akan keajaiban, memangnya sekarang aku dapat tertawa?”

“Tapi keajaiban pasti takkan terjadi!” tiba-tiba Tong-siansing mendengus di belakang

mereka. “Nah, Hoa Bu-koat, pergilah kau!”

*****

Melihat Bu-koat sudah pergi jauh barulah Siau-hi-ji menghela napas dan bergumam,

“Sungguh seorang yang menyenangkan, cuma sayang dia dilahirkan di tempat yang keliru.”

“Yang terlahir di tempat yang keliru ialah kau!” jengek Tong-siansing. “Sebab kau pasti

akan mati di tangannya.”

Siau-hi-ji termenung, mendadak ia tertawa dan berkata pula, “Seorang kalau harus mati,

tentu akan jauh lebih baik mati di tangannya daripada mati di tangan orang lain.”

“Kau tidak dendam padanya?” bentak Tong-siansing.

“Mengapa aku harus dendam padanya?”

“Gurunya yang membunuh ayah-bundamu?”

“Tapi waktu ayah-ibuku meninggal, mungkin dia sendiri belum lagi dilahirkan. Apa yang

diperbuat gurunya ada sangkut-paut apa dengan dia, memangnya gurunya yang makan nasi

dan Hoa Bu-koat yang harus berak bagi gurunya?”

Bilamana ucapan Siau-hi-ji ini diutarakan di jaman kini tentu seketika akan mendapat

sorak puji orang. Akan tetapi pada jaman itu, jalan pikiran manusia tatkala itu tidaklah

terbuka seperti sekarang, lebih-lebih soal permusuhan dan bunuh-membunuh di dunia

Kangouw, hampir selalu berlangsung turun-temurun dan sukar dilerai.

Sebab itulah ucapan Siau-hi-ji itu membuat Tong-siansing melengak juga. Selang sejenak

barulah ia membentak pula dengan bengis, “Tapi dia juga telah berebut gadis yang kau

cintai, masa kau tidak dendam padanya?”

“Hati perempuan kalau sudah mau berubah, tenaga apa pun tidak mungkin dapat

menahannya, dalam hal ini mana dapat kusalahkan Hoa Bu-koat. Apalagi seorang

perempuan kalau hatinya harus berubah dan berubah hatinya itu disebabkan Hoa Bu-koat,

maka kukira akan jauh lebih baik daripada perubahan hatinya itu disebabkan orang lain.”

Kembali Tong-siansing tercengang sejenak, kemudian ia membentak pula dengan gusar,

“Dendam membunuh orang tua dan sakit hati merebut pacar, hal-hal ini bagi orang lain

pasti akan dituntut dengan taruhan nyawa, tapi kau malahan menganggap sepi saja, apakah

kau ini bisa dianggap sebagai manusia lagi?”

Siau-hi-ji menatap orang dengan terbelalak, tiba-tiba ia tertawa dan berucap “Ingin

kutanyakan padamu, sebab apakah engkau menghendaki aku dendam dan benci padanya?”

“Kau dendam atau tidak padanya memangnya ada sangkut-paut ada dengan diriku?” jawab

Tong-siansing gusar.

“Itulah dia, kalau tiada sangkut-pautnya dengan engkau, mengapa dengan susah payah

engkau menaruh perhatian sebesar ini?” kata Siau-hi-ji.

Tong-siansing menjadi bungkam.

“Kutahu maksud tujuanmu hanya satu, yakni ingin aku mengadu jiwa dengan dia, engkau

terus mengawasi diriku lantaran kau khawatir dalam tiga bulan ini persahabatan kami

terpupuk semakin erat, kau khawatir dia tidak mau lagi membunuhku, betul tidak?”

“Masa bodoh jika kau sok pintar dengan macam-macam rekaanmu,” bentak Ton-siansing.

“Bahwa dia harus membunuhku dengan tangannya sendiri dan dia tidak tahu apa sebabnya,

semula aku sudah merasa heran, sekarang aku jadi tambah heran,” ucap Siau-hi-ji dengan

tersenyum.

“Meski kau tidak benci padanya, tapi dia benci padamu, makanya ingin membunuhmu,

apanya yang perlu diherankan?”

“Kau kira dia benar-benar benci padaku?”

Tubuh Tong-siansing seperti tergetar, hardiknya dengan bengis, “Mau tak mau dia harus

benci padamu!”

“Inilah yang kuherankan,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun. “Engkau dan gurunya bisa

membunuhku dengan sangat mudah, tapi kalian tidak mau turun tangan sendiri, sebab

itulah aku merasa kalian sebenarnya tidak benar-benar menghendaki kematianku,

melainkan cuma ingin kumati di tangan Hoa Bu-koat saja, rasanya kalian merasa puas

bilamana menyaksikan dia membunuhku dengan tangan sendiri.”

“Menghendaki dia membunuhmu berarti menghendaki kematianmu, kan tidak ada

bedanya?”

“Ada, ada bedanya, bahkan sangat menarik. Kutahu di dalam hal ini tentu ada sesuatu

sebab yang aneh, cuma sayang saat ini belum dapat kupecahkan.”

Tong-siansing berdiam sejenak pula, jengeknya kemudian, “Seumpama di dalam hal ini ada

sebabnya juga takkan kau ketahui selamanya.”

“Oya? Apa betul?” Siau-hi-ji tersenyum.

“Di dunia ini hanya ada dua orang yang tahu rahasia ini dan mereka tidak mungkin

memberitahukannya padamu.”

Gemerdep mata Siau-hi-ji, ia merenung dan berkata, “Dengan sendirinya Ih-hoa-kiongcu

mengetahui ….”

“Ya, sudah tentu,” ucap Tong-siansing.

“Padahal Ih-hoa-kiongcu terdiri dari kakak beradik berdua,” teriak Siau-hi-ji, “Jika

engkau mengatakan di dunia ini hanya dua orang saja yang mengetahui rahasia ini, lalu dari

mana pula engkau mengetahuinya?”

Tubuh Tong-siansing seperti bergetar, bentaknya gusar, “Kau sudah terlalu banyak

bicara, sekarang tutup saja mulutmu!”

Mendadak ia tutuk Hiat-to anak muda itu. Siau-hi-ji hanya merasakan bayangan putih

berkelebat, sampai bentuk tangan orang saja tak terlihat jelas dan tahu-tahu dirinya

sudah tak bisa berkutik dan bersuara.

Nyata “Tong-siansing” yang penuh rahasia ini bukan saja wajah aslinya disembunyikan,

bahkan tangannya juga tak suka diperlihatkan kepada orang.

*****

Sementara Hoa Bu-koat telah berada di kamarnya, dalam benaknya juga penuh diliputi

berbagai tanda tanya, cuma isi hatinya tidak dapat dibeberkan kepada orang lain, ia

sendiri pun tidak suka berbincang dengan siapa pun.

Esok paginya, dalam keadaan layap-layap karena semalam banyak minum arak, tiba-tiba ia

terjaga bangun oleh berisik di halaman luar. Ia mengenakan baju dan membuka pintu

kamar, baru saja ia melongok keluar lantas dilihatnya Kang Piat-ho berdiri di bawah pohon

sana, begitu melihat Hoa Bu-koat sudah bangun, dengan tersenyum ia lantas

mendekatinya dan menyapa, “Semalam kakak ada janji dengan orang, terpaksa pergi

keluar, pulangnya baru tahu adik sendirian telah banyak minum arak sehingga mabuk.”

Sama sekali dia tidak mengungkap kejadian di restoran itu semalam, bahkan sebutannya

juga telah berubah menjadi ‘kakak’ dan ‘adik’ seakan-akan semua kejadian timbul karena

hasutan adu domba orang lain sehingga tiada harganya untuk disebut-sebut lagi.

Bu-koat juga lantas tertawa dan berkata, “Baru sekarang Siaute mengetahui penyakit

mabuk sesungguhnya jauh lebih tersiksa daripada penyakit apa pun di dunia ini.”

Ia memandang sekitar sana, tertampak kaum budak keluarga Toan lebih sibuk daripada

biasanya, keluar masuk bergantian tanpa berhenti dan air muka setiap orang tampak

cemas dan berduka.

Ia menjadi heran apakah keluarga hartawan ini mengalami sesuatu kejadian apa-apa. Maka

ia lantas bertanya, “Ada urusan apakah ini?”

Dengan perlahan Kang Piat-ho menghela napas, ucapnya, “Putri Toan Hap-pui telah bunuh

diri.”

“Hah, orang yang berpikiran terbuka begitu juga bisa bunuh diri?!” seru Bu-koat terkejut.

“Hiante jangan lupa, betapa pun dia adalah perempuan” ujar Kang Piat-ho dengan

menyengir, “Kebanyakan perempuan memang anggap bunuh diri adalah jalan paling baik

untuk memecahkan sesuatu kesulitan.”

“Sebab apakah dia membunuh diri?” tanya Bu-koat.

“Tiada seorang pun yang tahu sebab-sebabnya,” tutur Kang Piat-ho, “Hanya terdengar dia

mengigau dalam keadaan tidak sadar, katanya, ‘Aku bersalah padanya, dia tidak mengubris

diriku lagi’ ….”

“Dia? Siapa maksudnya?” tanya Bu-koat.

“Rahasia hati kaum gadis, siapa yang tahu?”

“Jika nona Toan masih dapat bicara, tentunya dia tidak sampai meninggal.”

“Membunuh orang sulit, membunuh diri juga tidak gampang. Setahuku, perempuan yang

benar-benar berhasil membunuh diri jumlahnya sangat sedikit.”

Tersenyum juga Hoa Bu-koat, katanya, “Lelaki yang berhasil membunuh diri memangnya

berjumlah banyak?”

“Hahaha!” Kang Piat-ho tergelak-gelak, “Hiante benar-benar pelindung kaum wanita di

dunia ini, di mana dan kapan pun engkau selalu bicara membela mereka.”

Tiba-tiba Bu-koat bertanya, “Eh, tampaknya hari sudah siang.”

“Sudah lewat lohor,” ucap Kang Piat-ho.

“Ai, rupanya aku bangun terlalu lambat ….” seru Bu-koat, cepat-cepat ia masuk kamar

untuk cuci muka.

Kang Piat-ho juga ikut masuk dan berusaha memancing sesuatu keterangan, “Tidur akibat

mabuk minum memang rada sukar mendusin, jalan paling baik harus disadarkan dengan

arak pula, apakah adik suka kalau kakak mengiringi minum barang dua cawan?”

Selesai membersihkan mukanya, Bu-koat berkata dengan tertawa, “Jangankan minum

arak, mendengar kata-kata ‘arak’ saja kepalaku lantas pusing sekarang.”

“Wah, jika begitu bagaimana kalau … kalau kakak mengiringi adik pesiar keluar?”

“Siaute sudah tinggal sekian lama di kota ini, memangnya Kang-heng masih khawatir diriku

akan kesasar?”

Setelah berdiri tertegun sejenak di dekat pintu, akhirnya Kang Piat-ho berkata, “Baiklah,

jika demikian biar kutengok nona Toan di depan sana.”

Dia seperti sudah tahu Hoa Bu-koat merahasiakan sesuatu padanya, walaupun mulut tidak

menyinggungnya, tapi di dalam hati sudah waswas. Maka setiba di pekarangan sana ia

lantas bisik-bisik memberi pesan kepada dua anak buahnya.

Kedua lelaki itu mengiakan dengan hormat kalau berlari keluar.

Sesudah anak buahnya pergi, tersembul senyuman sinis pada ujung mulut Kang Piat-ho,

gumamnya, “Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat, meski dengan sesungguh hati ingin

bersahabat denganmu, tapi kalau kau berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, maka

janganlah kau menyalahkan aku jika aku pun melakukan sesuatu tindakan padamu.”

Dia seakan-akan tidak mau tahu bahwa setiap orang tentu mempunyai sesuatu yang tak

dapat diceritakan kepada orang lain, dia menghendaki setiap orang harus berterus terang

padanya tanpa menyembunyikan sesuatu, kalau tidak lantas dianggapnya berdosa padanya.

Memang begitulah sejak dulu kala hingga kini, setiap tokoh penguasa yang lalim memang

suka memiliki penyakit ‘rasa curiga’ yang jauh melebihi orang biasa, dan ciri ini terkadang

juga merupakan penyakit fatal baginya.

*****

Pada setiap ujung kota ini sudah terpasang jaring pengintai yang ketat, orang-orang ini

ada yang pura-pura sedang minum, ada yang belanja dan ada pula yang sedang jalan-jalan

iseng.

Hoa Bu-koat sendiri juga sedang iseng saja. Dia berhenti di depan sebuah toko penjual

burung, di situ dia berhenti cukup lama untuk mendengarkan kicauan bermacam jenis

burung yang menarik. Kemudian dia masuk ke sebuah warung makan, dia minum dua

cangkir teh dan satu potong kue.

Segera ada pengintai berlari pulang memberi lapor kepada Kang Piat-ho.

“Minum teh? ….” Kang Piat-ho merasa heran. “Untuk apa dia minum di sana? Apakah dia

menemui seseorang di situ?”

Tapi pengintai itu menjawab, “Hoa-kongcu duduk cukup lama di warung minum itu dan

tiada nampak bicara dengan siapa pun juga.”

“Oo? ….” Kang Piat-ho tetap tidak mengerti.

Selang tak lama, kembali seorang pulang melapor, “Hoa-kongcu sudah meninggalkan

warung minum itu.” Menyusul datang lagi laporan, “Hoa-kongcu kini sedang menonton

akrobat Ong Thi-pi di pojok jalan sana.”

“Buset!” Kang Piat-ho mengernyitkan dahi, “Permainan anak kecil begitu masa juga

ditonton …. Apakah kalian tidak melihat di antara kerumunan orang ramai itu ada yang

bicara dengan dia?”

“Tidak,” jawab pelapor.

“Siapa yang mengawasi dia sekarang?” tanya Kang Piat-ho.

“Jalan itu adalah bagian Song Sam dan Li Acu ….” belum habis si pelapor menutur, tibatiba

Song Sam yang disebut itu tampak muncul dengan gelisah, dia menyembah di depan

Kang Piat-ho dan melapor, “Hoa-kongcu mendadak menghilang!”

Kang Piat-ho menjadi murka, bentaknya dengan menggebrak meja, “Keparat! Memangnya

kalian ini orang buta semua? Siang bolong dan terang benderang begitu, di tengah jalanan

yang ramai tidak mungkin dia kabur dengan menggunakan Ginkangnya, mengapa mendadak

bisa menghilang?”

“Waktu itu giliran anak gadis Ong Thi-pi bermain Liu-sing-tui (senjata dengan kedua

ujung berbola besi dan diberi bertali), mendadak rantai Liu-sing-tui putus, bola besi

sebesar semangka kecil itu mencelat ke udara, tentu saja para penonton menjadi

khawatir kepalanya ketiban bola besi itu dan sama berlari simpang-siur, arena

pertunjukan seketika menjadi kacau ….”

“Kau sendiri pun lari bukan?” tanya Kang Piat-ho.

“Hamba … hamba sebenarnya berdiri di kejauhan, begitu keadaan kacau, hamba lantas

mengawasi dengan lebih teliti,” tutur si Song Sam dengan takut-takut. “Tapi ketika bola

besi itu jatuh kembali ke bawah dan Ong Thi-pi menabuh tambur dan mengulang

pertunjukan lagi, namun Hoa-kongcu sudah tidak kelihatan.”

“Mengapa rantai Liu-sing-tui bisa putus mendadak?” tanya Kang Piat-ho.

“Hamba tidak tahu,” jawab Song Sam.

“Hm, kukira matamu menjadi kabur dan lupa daratan menyaksikan permainan anak gadis

Ong Thi-pi itu,” jengek Kang Piat-ho.

“Ham … hamba tidak berani,” berulang-ulang Song Sam menyembah.

“Jika kedua matamu toh tiada gunanya, lalu untuk apa dibiarkan begini?” bentak Kang

Piat-ho dengan bengis.

Baru habis ucapannya, serentak dua lelaki kekar melangkah maju dan menyeret keluar

Song Sam. Wajah Song Sam tampak pucat, saking ketakutan sehingga tidak sanggup

minta ampun sama sekali.

Selang tak lama, dari belakang berkumandang suara jeritan ngeri.

Tapi Kang Piat-ho seakan-akan tidak mendengarnya, ia bergumam sendiri, “Ke mana

perginya Hoa Bu-koat? Mengapa dia menghindari aku? Jangan-jangan mereka ada janji

dengan Kang Siau-hi untuk merancang sesuatu terhadap diriku? Apabila kedua anak muda

itu berserikat, lalu apa yang harus kulakukan?”

Dia bergumam dengan sangat lirih, sorot matanya tampak beringas, kemudian ia

mendengus, “Hm, lebih baik aku mengingkari semua orang dan jagat ini dari pada ada

seorang di dunia ini mengkhianati aku …. O, Kang Piat-ho, hendaklah camkan benar-benar

kata-kata ini!”

*****

Sementara itu Hoa Bu-koat sudah berada di luar kota dengan tersenyum puas. Kalau

sekarang ada orang bertanya padanya apa sebabnya Liu-sing-tui mendadak putus

rantainya tentu dia akan tertawa terbahak-bahak. Rantai Liu-sing-tui itu dapat ditimpuk

putus dengan sebutir batu kecil, betapa pun ia merasa bangga pada tenaga jarinya sendiri.

Dan kalau sekarang ada orang bertanya, padanya, “Mengapa kau berbuat begitu?” Maka

pasti dia akan menjawabnya dengan tertawa, “Selama ini aku pun berhasil belajar cara

bagaimana menggunakan otak dan memakai akal serta mengenal sedikit kelicikan orang

hidup. Akhirnya aku pun mulai merasakan bahwa setiap orang di dunia tidak selalu dapat

dipercaya sebagaimana kubayangkan dahulu.”

Setiba di hutan bunga sana, terlihat pemandangan yang indah itu sudah hampir seluruhnya

rusak oleh pertarungan pedang kemarin. Sinar matahari teraling awan tebal, terasa tiupan

angin rada dingin.

Teringat harus berhadapan pula dengan Yan Lam-thian, senyuman yang selalu menghiasi

bibirnya seketika tak tertampak lagi. Tapi meski tahu perjalanan ini cukup berbahaya

baginya, namun mau tak mau ia harus datang sesuai janjinya kepada Siau-hi-ji.

Bu-koat masuk ke hutan itu dengan menyusur daun bunga yang rontok. Yan Lam-thian

tidak ada di situ, hanya terlihat seorang perempuan berbaju putih mulus dengan kepala

tertunduk bersandar di pohon sana.

Karena orang berdiri membelakangi Bu-koat, maka anak muda ini hanya dapat melihat

potongan tubuhnya yang ramping serta rambutnya hitam panjang terurai di pundak.

Meski tidak nampak wajahnya, tapi sekali pandang saja Bu-koat tahu siapa dia, yaitu Thi

Sim-lan. sungguh aneh, mengapa Thi Sim-lan berada di sini?

Di bawah bunga yang bertaburan, Bu-koat berdiri melenggong di situ. Sama sekali tak

terduga olehnya akan bertemu dengan Thi Sim-lan di sini. Ia pun tidak tahu apakah

dirinya harus menegurnya? Yang jelas hatinya terasa pedih dan getir.

Thi Sim-lan juga tidak menoleh dan tidak bergerak! Pikiran si nona seperti sedang

melayang sehingga sama sekali tidak tahu datangnya Hoa Bu-koat. Angin meniup sejuk

mengusap rambutnya yang halus itu.

Lama dan lama sekali baru terdengar nona itu menghela napas panjang dan bergumam,

“Bunga mekar bunga rontok, kemudian menjadi tanah dalam waktu singkat, bukanlah

kehidupan manusia juga demikian?”

Suara yang hampa itu penuh rasa kesal dan mencela dirinya sendiri, gadis yang biasa

berhati riang itu mengapa bisa berubah gundah-gulana?

Sebenarnya Bu-koat tidak ingin mengejutkan si nona, mestinya ia ingin mengeluyur pergi

secara diam-diam, tapi kini tanpa terasa ia pun menghela napas perlahan.

Seperti terkejut dan seperti girang, sekonyong-konyong Thi Sim-lan menoleh dan berseru

“Kau ….” tapi cuma satu kata ini saja, dilihatnya yang berada di depannya ialah Hoa Bukoat,

seketika ia melengak.

Biarpun pikirannya diliputi berbagai persoalan, tapi air muka Hoa Bu-koat tetap tenangtenang

saja, katanya dengan tertawa, “Baik-baikkah engkau?”

Sekejap itu sesungguhnya ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Begitu pula Thi

Sim-lan seakan-akan juga tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya. Ia hanya

mengangguk perlahan.

Selang sejenak baru Bu-koat berkata pula dengan tersenyum, “Tentunya kau tidak

menyangka kedatanganku, bukan?”

Sim-lan menunduk, katanya dengan lirih, “Kau tidak terluka apa-apa, aku sangat senang.”

Suara si nona hampir tak terdengar sendiri, tapi Hoa Bu-koat dapat mendengar dengan

jelas, hatinya terasa sakit, tanpa terasa ia menunduk dan berkata, “Terima kasih.”

“Kemarin … kemarin kulari pergi begitu saja, engkau tidak marah padaku?” tanya Thi Simlan

dengan menggigit bibir.

“Kenapa kumarah padamu?” ujar Bu-koat dengan tertawa. Sedapatnya ia ingin

memperlihatkan tertawa yang wajar, tapi jelas dia telah gagal. Untung Thi Sim-lan tidak

memperhatikan wajah tertawanya.

Thi Sim-lan seperti tidak berani memandangnya.

Selang sejenak pula, sambil menghela napas perlahan baru si nona berkata, “Sebenarnya

banyak omongan ingin kukatakan padamu, tapi tak tahu cara bagaimana harus kuucapkan.”

“Tanpa kau ucapkan juga aku sudah tahu?”

“Kau … kau tahu?”

Tambah sepat dan getir senyuman Bu-koat, katanya dengan suara halus, “Ada sementara

orang sangat sulit dilupakan orang, terkadang meski engkau sendiri mengira sudah

melupakan dia, tapi bila melihatnya, maka setiap senyumannya, setiap suaranya, semuanya

seakan-akan bersarang pula di lubuk hatimu ….”

“Dapatkah engkau memaafkan aku?” tanya Thi Sim-lan. Mendadak ia tatap Bu-koat, air

matanya ternyata berlinang-linang.

Bu-koat tidak berani memandangnya, ia menunduk dan berkata dengan tertawa,

“Hakikatnya tiada persoalan yang perlu kau mintakan maaf, jika aku menjadi dirimu

mungkin juga akan bertindak demikian.”

“Tapi … tapi sungguh aku bersalah padamu, mengapa … mengapa engkau tidak marah

padaku, tidak mencaci diriku? Dengan begitu hatiku akan merasa lega malah, tapi rasa

simpatimu, kebesaran jiwamu, hanya akan menambah penderitanku.” Makin bicara makin

terangsang perasaannya sehingga akhirnya ia pun menangis.

Bu-koat diam saja, tiba-tiba ia menengadah dan menghela napas, katanya, “Sama sekali

aku tidak marah padamu, takkan dendam padamu, selamanya takkan dendam padamu,

sekalipun aku tidak dapat … tidak dapat berada bersamamu, tapi selama hidupku ini akan

kuanggap kau sebagai adikku.”

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan berhenti menangis, ia mendongak dan menegas,

“Sungguh?”

“Bilakah pernah kudustaimu?” jawab Bu-koat. Ia tertawa, lalu menyambung pula, “Selain

itu, ingin kukatakan padamu bahwa bukan saja aku tidak dendam padamu, tapi ia pun

sahabatku yang sejati selama hidupku ini. Engkau dapat … dapat berada bersama dia,

sungguh aku pun sangat gembira … sangat bahagia.”

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan menjerit, “O, Toako …. Betapa terima kasihku padamu,

sungguh aku sangat berterima kasih,” Dia bicara dengan tertawa dan juga mengalirkan air

mata, entah suka entah duka.

Bu-koat sendiri juga tidak tahu apakah suka atau duka. Katanya, “Banyak persoalan di

dunia ini terjadi secara terpaksa, maka kau tak dapat disalahkan dan juga tak dapat

menyalahkan siapa pun juga, untuk apa pula engkau mesti menyiksa dirinya sendiri?”

“Tapi … tapi engkau … masa engkau tidak ….” kata Thi Sim-lan dengan tersendat-sendat.

“Di dunia ini tiada penderitaan yang tak dapat disembuhkan, lama-lama, apa pun juga,

tentu akan terlupakan dengan perlahan-lahan, maka kau tidak perlu khawatir bagiku.”

“O, mengapa engkau begini … begini baik hati? Mengapa engkau tidak … tidak seperti

orang lain dan berubah sedikit kejam?” ratap Thi Sim-lan, ia menangis, tiba-tiba ia

berkata pula, “Tapi kutahu meski di mulut kau bilang begitu, tapi di dalam hati engkau

tetap benci padaku, ini … inilah yang tak dapat kutahan.”

Bu-koat tahu setelah Thi Sim-lan memanggil ‘Toako’ padanya, maka lenyaplah harapannya

yang dipupuk selama dua tahun ini. Walaupun panggilan ‘Toako’ ini masih terasa sangat

hangat dan dekat, tapi juga terasa sedemikian jauh.

Sambil menengadah Bu-koat menghela napas panjang, akhirnya ia berkata, “Semoga dia

tidak mengingkari kau ….”

Itu hanya semacam doa dan harapan saja, tapi juga semacam sumpah setia, semacam

pengimpasan perasaan sendiri. Sudah tentu betapa ruwet perasaan yang terkandung

dalam ucapannya itu sukar dipahami oleh orang lain.

Namun apa pun juga perasaan mereka sekarang sudah jauh lebih lapang, sebutan ‘Toako’

itu merupakan suatu penghalang sehingga membuat perasaan mereka tidak sampai meluap.

Akhirnya Thi Sim-lan tersenyum dan berkata, “Toako, mengapa engkau datang pula ke

sini?”

“Atas permintaan orang kudatang ke sini untuk mencari orang lain,” jawab Bu-koat

setelah berpikir sejenak. Ia ragu-ragu apakah mesti memberitahukan jejak Siau-hi-ji

kepada Thi Sim-lan atau tidak, dengan sendirinya karena tidak ingin si nona berkhawatir

bagi anak muda itu.

Segera Thi Sim-lan bertanya pula, “Jangan-jangan engkau hendak mencari Yan-tayhiap?”

Terpaksa Bu-koat mengiakan dan mengangguk.

Terbelik mata Thi Sim-lan, ucapnya, “Jangan-jangan dia yang minta kau datang ke sini?”

Kembali Bu-koat mengiakan.

“Mengapa dia tidak datang sendiri saja?”

Bu-koat tidak menjawab, sebaliknya ia balas tanya, “Mengapa Yan-tayhiap tidak kelihatan

dan kau malah berada di sini?”

Sim-lan tertunduk, katanya, “Semalam Yan-tayhiap telah bertemu denganku dan telah

banyak bicara padaku, aku disuruh menunggunya di sini. Kau tahu, apa yang dikatakan Yantayhiap

tidak mungkin ditolak oleh siapa pun juga.”

“Apa yang dia bicarakan denganmu?”

Muka Sim-lan menjadi merah, ia menggigit bibir, lalu menjawab, “Kata Yan-tayhiap, aku

disuruh meng … mengobrol dulu dengan beliau, kemudian ….”

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang berseru dengan tertawa di luar hutan sana,

“Haha, kalian berdua bocah ini bicara dengan asyik benar, kedatanganku ini mungkin

terlalu dini!”

Cepat Bu-koat berpaling, dilihatnya Yan Lam-thian sedang mendatang dengan langkah

lebar.

Melihat Bu-koat, seketika suara tertawa Yan Lam-thian berhenti, sambil menarik muka ia

membentak bengis, “Mengapa kau berada di sini? Untuk apa kau datang kemari?”

Belum lagi Hoa Bu-koat menjawab, sorot matanya yang tajam melirik ke arah Thi Sim-lan

dan bertanya pula, “Mana Siau-hi-ji?”

Kembali si nona menunduk dan menjawab, “Entahlah, katanya ….”

Segera Bu-koat menyambung, “Siau-hi-ji minta kusampaikan kepada Yan-tayhiap, katanya

mungkin dia tidak dapat datang menepati janji.”

“Mengapa dia tidak dapat datang?” bentak Yan Lam-thian gusar.

Bu-koat menghela napas, katanya “Dia telah ditahan seseorang, melangkah saja mungkin

sulit ….” Ia tahu keterangannya ini pasti akan menimbulkan akibat yang sukar

dibayangkan.

Benar juga, belum habis ucapannya, tertampak Thi Sim-lan menjadi pucat, Yan Lam-thian

juga lantas membentak, “Siapa yang berani menahan dia?”

Bu-koat ragu-ragu, akhirnya ia menjawab, “Seorang Bu-lim-cianpwe (angkatan tua dunia

persilatan) yang disebut Tong-siansing!”

“Tong-siansing?” Yan Lam-thian menegas dengan murka, “Selama berpuluh tahun aku

malang melintang di dunia Kangouw dan tidak pernah mendengar di dunia Kangouw ada

seorang Tong-siansing, jangan-jangan kau sendiri yang membuat-buat nama palsu ini.” Ia

melompat ke depan Hoa Bu-koat dan membentak pula, “Bisa jadi kau telah mencelakai

Siau-hi-ji dan sekarang pura-pura menjadi orang baik untuk mengelabui aku?!”

“Cayhe diminta menyampaikan berita ini, aku harus melakukan tugasku dengan baik, sebab

itu setiap pertanyaan Yan-tayhiap akan kujawab dengan jelas, tapi kalah Yan-tayhiap

mencurigai kepribadianku, betapa pun aku ….”

“Memangnya kau berani apa?”

“Biarpun Cayhe bukan tandingan Yan-tayhiap, betapa pun aku hendak mengukur

kepandaian pula denganmu,” jawab Bu-koat tegas.

Yan Lam-thian tergelak-gelak, katanya, “Kau masih berani berkata demikian? Sungguh

besar nyalimu.”

“Biarpun nyaliku tidak besar, tapi aku pun bukannya pengecut yang tamak hidup dan takut

mati.”

“Jika tidak takut mati baiklah sekarang juga kupenuhi kehendakmu!” bentak Yan Lamthian.

Mendadak Thi Sim-lan menerjang maju, serunya, “Yan-tayhiap, aku cukup kenal dia,

betapa pun dia bukanlah orang yang suka berdusta.”

“Siau-hi-ji sudah jatuh di tangan orang, kau masih bicara baginya?” bentak Yan Lam-thian

bengis. “Pantas Siau-hi-ji tidak mau gubris padamu lagi, kiranya kau ini perempuan yang

cepat berubah pikiran.”

Air mata Thi Sim-lan bercucuran, ucapnya dengan setengah meratap, “Bilamana Kang

Siau-hi mengalami bahaya, biarpun mengadu jiwa juga Wanpwe akan menyelamatkan dia.

Tapi Yan-tayhiap menuduh Hoa … Hoa-kongcu berdusta, mati pun Wanpwe tidak percaya.”

“Hm, sungguh aneh,” jengek Yan Lam-thian, “Kau berani mengadu jiwa demi Siau-hi-ji dan

juga bersedia mati baginya, memangnya jiwamu rangkap berapa biji?”

“Cara bagaimana Yan-tayhiap akan memaki diriku boleh terserahlah,” ucap Thi Sim-lan

dengan menangis. “Sekalipun Yan-tayhiap menganggap diriku ini perempuan yang bejat

juga takkan kubantah ….” mendadak ia menubruk ke bawah kaki Yan Lam-thian dan

meratap pula, “Wanpwe cuma memohon Yan-tayhiap suka melepaskan Hoa Bu-koat,

bilamana kelak Yan-tayhiap membuktikan dia memang berdusta, maka tubuh Wanpwe rela

dihancurleburkan.”

“Bagus, kau ternyata berani menjamin dia dengan jiwamu,” teriak Yan Lam-thian. “Namun

perempuan yang tak beriman seperti kau ini, memangnya jiwamu berharga berapa duit?”

Watak pendekar besar ini memang sangat keras, kini karena mengkhawatirkan

keselamatan Siau-hi-ji, saking gusarnya cara bicaranya menjadi sukar ditahan.

Bu-koat menjadi penasaran, serunya, “Yan Lam-thian, kuhormati dirimu sebagai seorang

Enghiong (ksatria) sejati dan selama ini aku suka mengalah padamu, sungguh tidak nyana

kau sampai hati bicara sekasar ini terhadap seorang anak perempuan yang tak berdaya.

Hehe, Enghiong macam begini bernilai berapa duit pula satu kati?”

“Engkau pun jangan bicara seperti ini,” seru Thi Sim-lan. “Yan-tayhiap pasti tiada maksud

menghina diriku, dia cuma tidak memahami aku, pula dia merasa cemas bagi keselamatan

Siau-hi-ji ….”

Meski dia berteriak dengan suara serak, namun tiada yang mendengarkan lagi seruannya,

dengan murka Yan Lam-thian melontarkan satu pukulan dahsyat, tanpa pikir Hoa Bu-koat

juga menyambut serangan itu.

Thi Sim-lan tahu bilamana kedua orang itu sudah mulai bergebrak, mungkin di dunia ini

tiada orang yang mampu melerai mereka.

Teringat tiada seorang pun yang dapat memahami pengorbanannya bagi Siau-hi-ji dan Hoa

Bu-koat, teringat jerih payahnya itu akhirnya malah dicaci-maki orang sebagai perempuan

yang tak beriman …. Saking pedih dan tak tahan, akhirnya Thi Sim-lan menangis

tergerung-gerung.

Apakah Hoa Bu-koat tidak mendengar suara tangis Thi Sim-lan?

Angin pukulan yang dahsyat membuat bunga layu rontok bertebaran.

Inilah duel antara dua jago tertinggi dari angkatan tua dan angkatan muda dunia Kangouw,

benar-benar pertarungan yang paling mendebarkan hati yang hampir tidak pernah terjadi

di dunia persilatan.

Kalau pertempuran sebelumnya mereka menggunakan pedang, sekali ini mereka mengadu

pukulan, namun dahsyatnya dan tegangnya boleh dikatakan melebihi yang dahulu.

Seperti juga ilmu pedangnya, pukulan Yan Lam-thian juga kuat dan dahsyat dan jarang ada

bandingannya.

Ilmu silat Ih-hoa-kiong sebenarnya mengutamakan ‘kelunakan mengatasi kekerasan’,

watak Hoa Bu-koat yang pendiam dan sabar itu memang juga ada sangkut-pautnya dengan

dasar ilmu silat yang dilatihnya sejak kecil. Tapi kini gaya permainan silatnya ternyata

sudah berubah sama sekali. Dia juga telah mengeluarkan permainan yang keras dan

berebut menyerang lebih dulu. Rasanya kalau tidak menggunakan permainan keras

demikian tidak cukup untuk melampiaskan perasaan pedih dan gusarnya.

Pertempuran maut ini bukan lagi demi jiwanya sendiri melainkan demi membela

kehormatan orang yang paling dikasihinya.

Meski dia sebenarnya adalah anak muda yang berbudi halus dan tenang, tapi suara tangis

Thi Sim-lan yang penuh duka merana itu telah menimbulkan semangat jantan yang

mengalir di darahnya.

Sebenarnya dia sangat menyayangi jiwanya sendiri, tapi kini pergolakan darahnya telah

membuatnya lupa daratan, ia merasa jiwanya tidak perlu disayangkan lagi, mati pun tidak

perlu ditakuti.

Jiwanya yang nekat diperoleh dari keturunan ibunya. Ibunda yang dihormatinya itu

pernah menghadapi maut dengan mengulum senyum tanpa gentar sedikit pun demi cinta.

Tanpa cadangan sang ibunda telah menurunkan jiwanya yang nekat dan darah panas serta

demi cinta itu kepada kedua putranya. Meski pendidikan Ih-hoa-kiong yang serba dingin

dan kaku itu telah membuat darah Hoa Bu-koat lambat-laun membeku, tapi kini api

asmara telah membuatnya mendidih kembali. Tiba-tiba ia merasakan soal mati dan hidup

tidak begitu penting lagi baginya. Yang penting, dia harus bertempur mati-matian dengan

Yan Lam-thian, dengan darahnya ia ingin mencuci bersih fitnah terhadap dirinya.

Begitulah angin pukulan yang dahsyatnya seakan-akan mengguncang langit dan bumi. Cuaca

tambah gelap dan seakan-akan turun hujan.

Hoa Bu-koat tidak manda diserang, ia justru berebut menyerang mati-matian, namun

angin pukulan Yan Lam-thian justru menyerupai dinding besi, sejauh ini pukulan Hoa Bukoat

sama sekali tak dapat menembus pertahanan lawan.

Rambut Bu-koat sudah kusut dan sebagian melambai pada jidatnya yang pucat itu, namun

pipinya justru bersemu merah oleh rangsangan jiwanya yang bergolak itu.

Bu-koat telah merasakan Yan Lam-thian memang mahasakti, barang siapa ingin melawan

pendekar besar itu dengan serangan keras lawan keras berarti orang itu sudah bosan

hidup dan mencari mampus sendiri.

Ia yakin setiap pukulan sendiri sangat dahsyat dan tajam seperti paku, tapi daya pukulan

Yan Lam-thian justru keras seperti palu yang tidak kenal ampun, palu yang tidak kenal

kasihan dan terus menghantam ke arahnya.

Lambat laun ia merasa paku itu hampir terpalu masuk ke tanah. Napasnya mulai sesak,

tapi pukulan godam Yan Lam-thian masih terus mendesak, makin lama makin dahsyat ….

Ia menyadari keadaan yang gawat, ia tahu sekali ini Yan Lam-thian pasti tidak kenal

ampun lagi padanya, tapi ia pun tidak putus asa, ia tidak kenal menyerah, asalkan dia masih

tetap bernapas, betapa pun ia harus bertempur sampai detik penghabisan, sebelum ajal

dia pantang mundur.

Di luar dugaan, pada detik yang menentukan mati-hidupnya itulah, sekonyong-konyong Yan

Lam-thian malah melompat mundur sambil membentak, “Berhenti!”

Padahal dengan sekali dua kali pukulan lagi Hoa Bu-koat dapat dibinasakan, tapi Yan Lamthian

mendadak malah berhenti menyerang. Tentu saja Bu-koat melengak.

“Mengapa kau minta berhenti?” tanyanya dengan napas terengah-engah.

Dengan sorot mata yang tajam Yan Lam-thian menatapnya dan menjawab dengan sekata

demi sekata, “Meski selama ini belum pernah kudengar nama ‘Tong-siansing’ dan juga

tidak percaya di dunia ini terdapat orang demikian, tapi kini kupercaya apa yang kau

katakan memang tidak berdusta.”

“Oo? ….” Bu-koat bersuara perlahan.

“Tentunya kau heran mengapa mendadak aku percaya kau tidak berdusta?”

“Ya, memang rada heran.”

“Sebab kalau kau berdusta tentu hatimu gelisah. Seorang yang berhati gelisah tidak

mungkin sanggup melancarkan daya serangan sedahsyat ini.”

Bu-koat terdiam sejenak, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa, katanya, “Baru sekarang

kau bilang percaya padaku, apakah tidak merasa terlambat?”

“Jika kau merasa ucapanku tadi merupakan penghinaan padamu, baiklah di sini kunyatakan

penyesalanku,” ucap Yan Lam-thian dengan suara berat.

Kembali Bu-koat terdiam sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Kalau salah

berani mengaku salah tanpa sangsi, Yan Lam-thian benar-benar seorang ksatria sejati,

benar-benar sukar disamai orang lain. Sekalipun Cayhe ada hasrat mengadu jiwa

denganmu kini mau tak mau harus kubatalkan.”

“Tapi ini tidak berarti kuberhenti sampai di sini saja!” bentak Yan Lam-thian.

Bu-koat melengak, tanyanya, “Mengapa?”

“Biarpun kau tidak berdusta, namun tetap tak dapat kulepaskan pergi, aku tetap hendak

menahan kau!”

“Sebab apa?” tanya Bu-koat.

“Peduli siapa dia ‘Tong-siansing’ yang kau sebut itu, yang pasti dia ada hubungannya

denganmu bukan?”

“Ya,” jawab Bu-koat setelah berpikir.

“Dia menahan Kang Siau-hi, bukankah demi kau?”

“Aku tidak pernah minta dia bertindak begitu, tapi memang begitulah maksud tujuannya!”

“Itu dia!” bentak Yan- Lam-thian. “Lantaran dia menahan Kang Siau-hi, maka aku pun

hendak menahan kau. Setiap saat ia membebaskan Kang Siau-hi, pada saat itu juga akan

kubebaskan kau.” Ia melangkah maju dan berteriak dengan beringas, “Dan bila Kang Siauhi

dibunuhnya, segera pula kau kubunuh!”

Air muka Bu-koat tampak berubah, tapi ia menghela napas pula dan berkata, “Ya,

ucapanmu ini memang juga adil.”

“Tindak tanduk orang she Yan selamanya adil,” seru Yan Lam-thian.

“Tapi ucapanmu terhadap nona Thi teramat tidak adil,” jengek Bu-koat. “Dia … dia kan ….”

sampai di sini mendadak diketahuinya si nona sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, nona

yang hatinya telah remuk redam itu entah sejak kapan sudah pergi.

“Kau mau tinggal di sini dengan sukarela atau harus kupaksa?” bentak Yan Lam-thian.

Air muka Bu-koat tampak pucat menghijau, ucapnya tegas, “Sekalipun sekarang kau suruh

aku pergi juga aku takkan pergi.”

Yan Lam-thian jadi melengak malah, tanyanya, “Sebab apa?”

“Sebab kalau terjadi apa-apa atas diri Thi Sim-lan, maka meski kau dapat membiarkan

diriku juga aku takkan melepaskanmu?”

“Hahaha, bagus, bagus!” Yan Lam-thian bergelak tertawa, “Jadi sebelum kutemukan Thi

Sim-lan dan Kang Siau-hi, agaknya kita berdua tidak boleh berpisah, begitu?”

“Ya,” jawab Bu-koat.

*****

Di tempat lain saat itu Tong-siansing telah membawa Siau-hi-ji melayang pula ke atas

pohon.

Pohon itu rada lebat dengan dedaunan, pucuk ternyata cukup ulet dan memegas sehingga

kuat untuk menahan bobot satu-dua orang.

Tong-siansing menaruh Siau-hi-ji di pucuk pohon situ, dedaunan pohon yang lebat hanya

tertekan dan ambles sedikit ke bawah, tubuh anak muda itu lantas seperti terbungkus

oleh selimut daun, kecuali burung yang terbang di udara rasanya sukar ditemukan orang

meskipun dipandang dari sudut mana pun juga.

Meski badan tak dapat bergerak, tapi wajah Siau-hi-ji masih tersenyum-senyum, katanya,

“Sungguh suatu tempat sembunyi yang sangat baik. Memangnya sudah beberapa hari aku

kurang tidur, tampaknya sebentar aku dapat tidur dengan enak dan nyaman.”

“Paling baik kalau kau tidur dengan jujur,” jengek Tong-siansing.

“Apakah engkau akan pergi?” tanya Siau-hi-ji.

Tong-siansing hanya mendengus saja.

“Engkau ini sungguh nyentrik dan juga gemar kebersihan, kutahu engkau tak mungkin

selalu menjaga diriku,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tapi kau pun jangan harap kabur,” jengek Tong-siansing. “Setiap hari akan kutengok kau

ke sini, bila urusan di sini sudah kubereskan, akan kubawa kau ke suatu tempat yang lebih

aman.”

“Satu jari saja tak dapat bergerak, sekalipun kau taruh diriku di tengah jalan juga aku

tak dapat kabur,” ujar Siau-hi-ji.

“Hm, asal tahu saja,” jengek Tong-siansing.

Bola mata Siau-hi-ji berputar, katanya pula, “Tapi kalau mendadak hujan, wah, lalu

bagaimana? Sedangkan badanku biasanya kurang sehat, bila kena air hujan akan segera

jatuh sakit. Sakit saja tidak jadi soal, celakalah jika kesehatanku jadi rusak, tentu hal ini

akan merusak nama baikmu pula. Padahal kau sudah berjanji takkan membiarkan aku

terganggu seujung rambut pun, ingat tidak?”

“Sakit apa pun yang menghinggapi dirimu pasti akan kusembuhkan,” ucap Tong-siansing.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Tapi bobot tubuhku lebih berat daripada

kerbau, bila dahan pohon ini tidak kuat dan mendadak patah, tentu aku akan terbanting

ke bawah. Kalau lenganku patah atau pahaku retak umpamanya, apakah kau pun sanggup

menyambung dan menyembuhkannya?”

“Sekalipun dahan pohon ini patah satu-dua batang juga kau takkan terjatuh ke bawah,”

ujar Tong-siansing.

Mata Siau-hi-ji terbelalak lebar, katanya, “Tapi kalau ada burung besar sebangsa elang

dan sebagainya kebetulan terbang di atas kepalaku atau hinggap di pohon ini, lalu biji

mataku disangkanya sebagai telur burung terus dipatuknya, nah, apakah kau sanggup

mengganti mataku?”

“Persetan! Mengapa kau begini cerewet dan suka membikin sebal?”

“Hihi, aku memang tidak punya kepandaian lain kecuali membikin sebal orang. Jika merasa

sebal, kenapa tidak kau bunuh saja diriku, orang mati tentu tak bisa cerewet dan bikin

sebal padamu.”

Selama hidup Tong-siansing memang tidak pernah ketemu orang yang begini menjemukan,

bila orang lain tentu sejak tadi sudah disembelihnya. Tapi Siau-hi-ji justru adalah orang

yang tidak mungkin dibunuhnya, bisa jadi satu-satunya orang yang tidak boleh dibunuh

olehnya.

Maka tantangan Siau-hi-ji tadi membuat Tong-siansing bertambah gemas, saking kekinya

sampai tubuhnya gemetar, terpaksa ia keluarkan sepotong sapu tangan dan ditutupkan

pada muka Siau-hi-ji, katanya dengan bengis, “Nah, begini saja bagaimana.”

Siau-hi-ji mengisap napas kenyang-kenyang, katanya dengan tertawa, “Ehmm, alangkah

harumnya sapu tanganmu ini, jangan-jangan benda tanda mata pemberian seseorang nona

cantik?”

“Kenapa tidak tutup mulutmu?” bentak Tong-siansing dengan gusar.

“Jika kau tutuk Hiat-to bisuku, kan segera aku tak bisa bicara lagi? Tapi tentunya kau pun

tahu bahwa Hiat-to bisu tidak boleh ditutup hingga lebih tiga jam, kalau tidak orangnya

bisa mati kaku. Andaikan kau tutuk aku hingga bisu, maka setiap tiga jam engkau harus

datang ke sini untuk menyegarkan diriku, dan ini rasanya akan membuatmu bertambah

sebal.”

“Tidak sedikit juga kau ketahui,” ucap Tong-siansing dengan gemas.

“Selain itu, ada pula suatu cara yang tidak begitu menyebalkan,” Siau-hi-ji sengaja

merandek sejenak, lalu menyambung, “Yaitu, jalan paling baik adalah pergi. Begitu engkau

tinggal pergi, maka apa pun yang kukatakan tentu tak terdengar lagi, kan cara ini paling

baik bagimu?”

Tanpa menunggu lagi segera Tong-siansing melayang turun ke bawah.

Siau-hi-ji sengaja menghela napas dan bergumam pula, “Akhirnya pergi juga dia, mudahmudahan

saudara baik hati itu tidak cepat-cepat datang agar aku dapat tidur sebentar di

sini.”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu Tong-siansing sudah melompat lagi ke atas dan menarik

sapu tangan yang menutupi muka Siau-hi-ji itu, bentaknya dengan bengis, “Siapa saudara

baik hati yang kau maksudkan itu?”

“Wah, apa yang kukatakan telah kau dengar?” Siau-hi-ji berlagak kaget.

“Dalam jarak ratusan tombak biarpun suara daun jatuh juga tak dapat mengelabui mata

telingaku,” jengek Tong-siansing.

“Kau sembunyikan diriku di tempat selebat ini, siapa pun tak dapat melihat aku, mana ada

orang yang mampu menolongku? Tadi aku cuma omong iseng saja.”

Tong-siansing juga tidak percaya ada orang akan menolongnya, tapi jawaban Siau-hi-ji ini

membuatnya curiga pula, segera ia menghardik, “Ayo, mau bicara tidak?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip jawabnya, “Kau ingin aku bicara apa?”

“Kau bilang siapa akan datang menolongmu?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Masa engkau sendiri tidak tahu?”

Tong-siansing termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, betul, bisa jadi Hoa Bu-koat

akan datang ke sini.”

Tanpa bicara lagi segera ia angkat Siau-hi-ji terus melayang turun. Ia mengira dirinya

cukup cerdik, tak tahunya diam-diam Siau-hi-ji sedang tersenyum geli.

Hakikatnya Siau-hi-ji tidak pernah berharap akan datang orang untuk menolongnya, dia

hanya tidak suka ditinggalkan di atas pohon, sebab ia tahu bilamana tertinggal di situ,

maka kesempatan buat kabur boleh dikatakan nihil, terpaksa ia berusaha menggoda Tongsiansing

hingga merasa kesal dan meleng, maka kesempatan kabur baginya tentu akan

terbuka.

Bicara tentang ilmu silat jelas Siau-hi-ji bukan tandingan Tong-siansing, tapi kalau soal

mengadu akal, biarpun dua orang Tong-siansing juga bukan lawan Siau-hi-ji.

Maklumlah, Tong-siansing ini sudah biasa memerintah dan dipuja, pada hakikatnya tiada

seorang pun yang berani cari perkara padanya, maka dalam urusan tipu akal begitu sama

sekali tak pernah dipelajarinya.

Maka ia menjadi ragu-ragu pula setelah membawa Siau-hi-ji ke bawah.

“Aku hendak kau bawa ke mana?” tanya Siau-hi-ji.

“Hm!” Tong-siansing hanya mendengus saja.

“Betapa pun engkau kan tidak dapat berdiri saja di sini dengan memondong diriku?”

“Hm!” kembali Tong-siansing mendengus.

“Sudah beberapa hari aku tidak mandi, apakah bau badanku tidak kecut?”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak Tong-siansing mengendurkan tangannya. “Bluk”,

kontan Siau-hi-ji terbanting ke tanah.

“Aduhhh! Wah, celaka, tulangku patah!” jerit Siau-hi-ji sengaja.

Mendadak sebelah kaki Tong-siansing menendang tulang paha anak muda itu sehingga

setengah badan bagian bawah dapat bergebrak, bentaknya segera, “Ayo berdiri, berjalan

ikut aku!”

Siau-hi-ji merasa kedua kakinya sudah dapat bergerak, tapi ia sengaja merintih, “Aduh,

sakitnya! Tulangku patah, mana bisa berdiri lagi? Wah, tampaknya engkau harus

memondong aku lagi.”

“Memangnya tulangmu terbuat dari apa? Sekali jatuh lantas patah?” damprat Tongsiansing

dengan gusar.

“Seumpama tidak patah lantaran jatuh, kena tendanganmu tadi pasti patah …. Aduhhh,

sakit sekali!” begitulah Siau-hi-ji sengaja menjerit jerit.

Sinar mata Tong-siansing tampak gemerdep, akhirnya ia bertanya, “Apakah benar-benar

patah?”

“Jika tidak percaya boleh engkau merabanya sendiri, aduhhh!” rintih Siau-hi-ji.

Tong-siansing jadi ragu-ragu, tapi akhirnya ia berjongkok hendak memeriksa tulang betis

anak muda itu.

“Salah, bukan di situ,” ucap Siau-hi-ji.

“Habis mana?”

“Sini, bagian atas!”

Tong-siansing lantas meraba bagian pahanya.

Tapi Siau-hi-ji berucap pula. “Bukan, bukan situ, naik lagi ke atas sedikit!”

Sekonyong-konyong tangan Tong-siansing ditarik kembali seakan-akan kena dipagut ular.

Tertampak dia berdiri mematung di situ dengan dada berombak.

“Hihi, mengapa meraba saja tidak berani, memangnya engkau ini perempuan?” Siau-hi-ji

nyap-nyap dengan tertawa.

“Tutup mulutmu!” bentak Tong-siansing.

Siau-hi-ji melelet lidah, ucapnya dengan tertawa, “Engkau menghendaki aku tutup mulut,

umpama engkau tidak suka menutuk Hiat-to bisuku, kan dapat kau sumbat mulutku dengan

kain.”

Tong-siansing jadi melengak, ia pikir memang betul juga ucapan anak muda itu. Tapi

lantaran hal itu lebih dulu dikatakan sendiri oleh Siau-hi-ji, jika dia turut melakukannya,

kan malu?

Terpaksa Tong-siansing hanya mendengus saja, katanya, “Hm, untuk apa kusumbat

mulutmu? Aku justru ingin mendengar ocehanmu.”

Siau-hi-ji mengikik tawa, katanya, “Hihi, tak tersangka ocehanku sedemikian merdu

sehingga menarik perhatianmu. Jika kau suka mendengarkan, kenapa tidak duduk saja

agar kita dapat mengobrol lebih asyik.”

Tong-siansing menatap anak muda itu dengan mendelik, ia benar-benar mati kutu.

Biasanya ia merasa tiada sesuatu urusan di dunia ini yang tak dapat dibereskan olehnya,

tapi kini dia justru menghadapi suatu urusan pelik.

Tadinya ia merasa tiada seorang pun di dunia ini yang tak dapat dilayani olehnya, siapa

tahu justru ada seorang Kang Siau-hi yang membuatnya kepala pusing. Untuk pertama kali

selama hidupnya dia merasa sakit kepala.

*****

Sementara itu Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat telah meninggalkan hutan bunga itu. Dia

tidak menutuk Hiat-to anak muda itu, dia tidak perlu sangsi, ia tahu sekali Bu-koat

menyatakan tidak akan pergi, maka pasti juga takkan pergi.

“Ke manakah perginya Thi Sim-lan?” tiba-tiba Bu-koat bertanya. “Apakah engkau tidak

melihatnya?”

“Tidak,” jawab Yan Lam-thian.

Bu-koat mendongak dan menghela napas perlahan, katanya, “Saat ini Kang Siau-hi entah

berada di mana?

“Bilakah dia terjatuh di tangan ‘Tong-siansing’ itu?”

“Semalam.”

“Jadi sudah seharian dia berada dalam cengkeramannya ….”

“Yan-tayhiap jangan khawatir, Tong-siansing pasti takkan melukai dia.”

“Dari mana kau tahu?”

“Ada ucapan sementara orang, tidak perlu pakai alasan apa pun, tapi cukup dapat

dipercaya.”

Yan Lam-thian termenung sejenak dan mengangguk perlahan, katanya kemudian, “Tapi di

dunia Kangouw ini mana ada seorang ‘Tong-siansing’ segala? Orang yang berkepandaian

setinggi itu, mengapa selama ini tak pernah kudengar? Apakah … apakah kau tahu asalusulnya?”

“Cayhe cuma tahu ilmu silatnya sangat tinggi, tapi juga tidak tahu asal-usulnya.”

“Hm, jika tidak keliru dugaanku, dia pasti penyamaran orang lain.”

“Tapi siapakah gerangan di dunia ini yang memiliki ilmu silat setinggi itu?”

“Umpamanya Ih-hoa-kiongcu ….”

Bu-koat tersenyum tak acuh, ucapnya, “Untuk apa guruku menyamar sebagai orang lain?

Untuk apa pula guruku mengelabui diriku? Apa manfaatnya bagi beliau? Memangnya Yantayhiap

dapat mengemukakan sesuatu alasannya?”

“Ya, memang tidak ….” Yan Lam-thian menghela napas panjang, sejenak kemudian ia

menyambung pula, “Eh, dapatkah kau perkirakan ke mana ‘Tong-siansing’ itu akan

membawa Siau-hi-ji?”

Bu-koat juga menghela napas panjang, kemudian menjawab, “Cayhe juga tidak dapat

memperkirakannya.”

*****

Saat itu Siau-hi-ji sudah tertidur.

Tong-siansing telah membawa Siau-hi-ji ke kamarnya di hotel itu. Selain tempat ini ke

mana lagi dia harus membawa anak muda itu?

Berbaring di tempat tidur yang nikmat, Siau-hi-ji sedang ngorok dengan nyenyaknya,

Tong-siansing terpaksa menunggunya dengan duduk di kursi dan berdiam seperti patung.

Selain ini sesungguhnya dia memang tidak tahu apakah ada cara yang lebih baik.

Dilihatnya pernapasan anak muda itu sangat teratur, tampaknya tidur dengan sangat

tenang dan amat nyenyak laksana seorang anak kecil yang tidur di sisi sang ibu, ujung

mulutnya tampak mengulum senyum pula.

Di waktu sadar wajahnya penuh daya pikat dan penuh sifat yang cerdik dan binal. Kini

dalam keadaan tidur, mukanya telah berubah menjadi polos dan suci seperti anak bayi.

Memandangi wajah yang cakap dan polos itu, memandangi bekas luka yang selamanya tak

dapat dihapuskan di mukanya itu, mendadak sekujur badan Tong-siansing jadi gemetar.

Begitu kencang tangannya mencengkeram sandaran kursinya, sorot matanya yang dingin

tadi mendadak berubah membara, seperti penuh rasa derita dan juga seperti penuh rasa

dendam dan benci.

“Prak”, mendadak sandaran kursi yang terbuat dari kayu jati itu kena diremasnya hingga

hancur.

Siau-hi-ji terjaga bangun, ia membuka mata perlahan-lahan, sambil mengucek matanya ia

tertawa kepada Tong-siansing, tanyanya, “Lamakah tidurku?”

Tong-siansing menarik napas dalam-dalam, jawabnya kemudian, “Ya, cukup … cukup lama?”

Sedapatnya dia membuat suara sendiri sewajarnya, tapi terasa rada gemetar.

“Apakah engkau duduk menjaga diriku sejak tadi?”

“Hm!” Tong -siansing mendengus.

Meski tubuh Siau-hi-ji tak dapat bergerak, tapi kaki bisa bebas berjalan, sekali melejit ia

lantas melompat turun tempat tidur, katanya dengan tertawa, “Wah, kukangkangi tempat

tidurmu, sehingga engkau tidak dapat tidur, sungguh aku sangat menyesal.”

Tong-siansing menatap kaki anak muda itu dan bertanya dengan bengis, “Kakimu tidak

cedera?”

Siau-hi-ji hanya angkat pundak tanpa menjawab, lalu hendak melangkah keluar.

“Hendak ke mana kau?” bentak Tong-siansing.

Siau-hi-ji menyengir, jawabnya, “Ada suatu kebiasaanku, begitu bangun tidur harus …

harus ke kakus.”

“Tidak boleh pergi!” bentak Tong-siansing.

“Wah, payah!” keluh Siau-hi-ji. “Kalau telanjur keluar di celana, kan bau?”

“Kau … kau berani?” teriak Tong-siansing, hampir-hampir saja ia berjingkrak.

Dengan tenang Siau-hi-ji menjawab, “Betapa pun lihai dan betapa pun buasnya seseorang,

sekalipun dia sanggup membunuh orang dan membakar rumah, tapi apa mampu membuat

orang agar tidak berak?”

Mendelik mata Tong-siansing seakan-akan berapi, saking dongkolnya.

Tapi Siau-hi-ji tetap acuh tak acuh, katanya dengan tertawa, “Jika engkau melarang aku

berak, kukira cuma ada satu jalan, yaitu segera bunuh diriku. Kalau tidak … wah, aku tidak

tahan lagi perut ini ….” sambil bicara sembari memegangi perut dan segera hendak

berjongkok di situ.

Keruan Tong-siansing serba salah, cepat ia berteriak, “Tidak … tidak boleh di situ!”

“Jadi aku boleh keluar?” tanya Siau-hi-ji.

Tong-siansing membanting kaki dan berteriak, “Ya, gelinding keluar sana!”

Tanpa disuruh lagi Siau-hi