Api di Bukit Menoreh (Buku 81-90)

New Picture

Api di Bukit Menoreh

(Buku 81-90)

Karya: SH. Mintardja

 BUKU 81

KIAI GRINGSING memandang Ki Sumangkar sejenak. Seolah-olah ia minta pertimbangannya. Tetapi Ki Sumangkar tidak memberikan tanggapan apa pun juga. Bahkan orang tua itu sedang menundukkan kepalanya sambil merenungi persoalan yang sedang berlaku itu. Baca lebih lanjut

Api di Bukit Menoreh (Buku 71-80)

New Picture (3)njj

Api di Bukit Menoreh (Buku 71-80)

Karya : SH. Mintardja

BUKU 71

PANDAN WANGI yang juga mendengar rencana Rudita itu menjadi gelisah. Tetapi ia berterima kasih di dalam hati, bahwa anak-anak muda yang lain seakan-akan tidak berkeberatan atas keputusan yang telah diambil oleh Rudita itu, sehingga dengan demikian tidak timbul persoalan yang tegang di antara mereka. Baca lebih lanjut

Api di Bukit Menoreh (Buku 41 – 50)

New Picture (3)njj

Api di Bukit Menoreh (Buku 41 – 50)

Karya : SH. Mintardja

BUKU 41

SEMENTARA itu, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mencari orang yang telah mengganggunya. Tetapi seperti hantu, orang itu menghilang tanpa meninggalkan bekas apa pun.

“Pasti bukan orang kebanyakan,” desisnya. Dan tiba-tiba saja diingatnya orang yang telah mengintainya, ketika ia menunggu orang-orang berkuda itu. Baca lebih lanjut

Api di Bukit Menoreh (Buku 31-40)

New Picture (3)njj

Api di Bukit Menoreh

(Buku 31-40)

Karya : SH Mintardja

BUKU 31

SIDANTI masih saja diam mematung, dengan tanpa memandanginya Pandan Wangi mengulangi, “Marilah Kakang. Bilikmu telah tersedia. Aku juga telah menyediakan pakaian dan perlengkapan lainnya di dalam gledeg. Aku juga telah menyediakan pakaian untuk gurumu, Ki Tambak Wedi.” Baca lebih lanjut