Satria Gunung Kidul

 New Picturecc

Satria Gunung Kidul

Karya : Kho Ping Hoo

 

Raja wanita atau Ratu di Majapahit yang bernama Sri Gitarja atau Tribuwana Tungga Dewi, yang disebut juga Bhre Kahuripan (1328 – 1359), lebih dikenal dalam dongeng “Minakjinggo Damarwulan” sebagai Prabu Kenya (Raja Wanita) Diah Kencana Wungu. Baca lebih lanjut

Dyah Ratnawulan

New Picture

Dyah Ratnawulan

Karya : Kho Ping Hoo

Majapahit, abad ke empat belas.

Setelah Sang Prabu Kertarajasa mangkat pada tahun 1309, putera mahkota, Raden Kalagement naik tahta Kerajaan Majapahit menggantikan kedudukan ayahnya, dan bergelar Sang Parbu Jayanagara. Akan tetapi, raja muda ini banyak menimbulkan perasaan kecewa dan tidak senang di kalangan para panglima tua, yaitu panglima-panglima mendiang Prabu Kertarajasa.  Baca lebih lanjut

Keris Pusaka Sang Megatantra (Seri I Sang Megatantra)

New Picture (1)

Keris Pusaka Sang Megatantra (Seri I Sang Megatantra)

Karya : Asmaraman Kho Ping Hoo

Djvu oleh Syaugy_ar

Convert/edit dan Ebook oleh : Dewi KZ

Jilid 1

Bulan Purnama memancarkan cahayanya yang gilanggemilang. Bulan purnama kalangan (ada garis bundar mengelilinginya). Kata para pinisepuh, bulan purnama kalangan seperti itu merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang amat penting. Pantai segara laut kidul itu putih berkilauan tertimpa sinar bulan. Pasir putih yang bersih halus terhampar luas. Laut tampak tenang. Baca lebih lanjut

Sejengkal Tanah Sepercik Darah

New Picture

Sejengkal Tanah Sepercik Darah

Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01~23 Tamat

Jilid   1

MALAM JUMAT KLIWON. Langit hitam pekat bagaikan beludu hitam terhampar luas ditaburi ratna mutu manikan bintang-bintang gemerlapan di angkasa Tiada segupialpun awan putih. Jutaan bintang berkedip penuh rahasia, saling bercengkerama membicara­kan rahasia alam dalam bahasa yang bisu. Baca lebih lanjut

Keris Pusaka Nogopasung

New Picture (2)

Keris Pusaka Nogopasung

Kho Ping Hoo

Dusun pangkur di kaki Gunung Kawi merupakan sebuah dusun yang cukup besar dengan penghuninya yang hidup tenteram. Sawah ladang menghasilkan panen yang baik, hujan turun tepat pada waktunya dan sudah bertahun-tahun tidak ada gangguan hama.

Penghuni dusun itu merasa makmur hidup mereka, walaupun tentu saja kalau diukur dari pandang mata orang kadipaten atau kerajaan, kehidupan para petani di Dusun Pangkur itu terlalu sederhana dan miskin. Baca lebih lanjut

Bajak Laut Kertapati

Kho Ping Hoo - Badjak Laut Kertapati_CV Gema Sala_C2_1965_B68

Bajak Laut Kertapati

Kho Ping Hoo

 Jilid 1

Semenjak orang Belanda untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bumi Indonesia , yakni dalam tahun 1596, mulailah timbul kekacauan-kekacauan yang tadinya tidak di kenal oleh bangsa Indonesia . Demi keuntungan dan kepentingan kongsi-kongsi perkapalan Belanda yang mulai dengan pengisapannya pada kekayaan bumi Indonesia, maka mereka terbentuklah Kompeni India Timur Belanda atau Verengde Oost-Indische Compagnie ( V.O.C ) pada tahun 1602 dan selanjutnay tahun demi tahun mereka menjelajah di seluruh Indonesia dan memperluas kekuasaan mereka.

Bagikan penyakit kangker menyerang tubuh atau anjing makan tulang,

sedikit demi sedikit Belanda menggerogoti kepulauan Indonesia sehingga akhirnay

seluruh daerah lenyap ditelan oleh kekuasaan mereka. Dan untuk dapat mencapai

maksud ini, Belanda tidak segan-segan menjalankan politik yang sekotor-kotornya

dan melakukan tipu muslihat serndah-rendahnya.

Akan tetapi jangan dikira bahwa Indonesia merupakan roti kiju yang empuk bagi

Belanda, oleh karena semenjak kedatangan mereka, terutaa setelah rakyat mengetahui

akan maksud buruk Belanda, di mana-mana mereka mendapat tantangan hebat. Tiada

hentinay pemberontakan-pemberontakan meletus terhadap Belanda. Bangsawanbangsawan

berjiwa patriot, pahlawan-pahlawan bangsa yang gagh perkasa dan sakti

mendraguna, memimpin rakyat untuk mengusir Belanda dari tanah air.

Dimana-mana Belanda menghadapi keris-keris telanjang di tangan rakyat, dimulai

semenjak mereka berhasil merebut Jakarta yang mereka jadikan bandar dan diberi

nama Batavia . Bahkan semenjak pertama kali Belanda mendarat di Banten pada

tahun 1596, dibawah pimpinan Cornelis Houtman dan De Keyzer, karena rakyat

mengalami penderitaan yang pertama kali yang timbul dari kekasaran dan kekejaman

mereka, telah terjadi perlawanan-perlawanan terhadap Belanda.

Namun harus diakui bahwa sesungguhnya rakyat Indonesia pada umumnya, dan

khususnya di pulau Jawa, takusah merasa takut dan kalah dalam hal kegagalan dan

kepandaian bertempur dengan Belanda, akan tetapi, dalam menjalankan tipu muslihat

dan kecerdikan, ternyata Belanda lebih unggul. Perlawanan-perlawanan yang gagah

berani dan pantang mundur dari rakyat membuat Belanda menjadi kuwalahan dan

mereka merobah taktik dan siasat mereka. Bujukan-bunjukan halus dan siasat adu

domba dengan umpan berupa suap dan sogok, mulai mereka jalankan. Apabila

bujukan mereka berhasil dan mulai terjadi perpecahan dan kekalutan di antara

pangeran dan para pengikut mereka, yakni memancing ikan di air keruh, mendekati

fihak yang kurang waspada dengan siasat “ membantu “ yang disertai syarat-syarat

menguntungkan fihak Belanda belaka !

Dengan siasat yang licin dan tipu muslihat rendah ini, Belanda berhasil menipu

banyak pemimpin-pemimpin rakyat dan berhasil membuat mereka dipandang sebagai

sahabat baik oleh para pangeran dan pemimpin yang kurang wasapada.

Ketika Mataram berada dibawah pimpinan sunan Amangkurat I, Belanda mulai

mengulur kukunya yang panjang dan runcing, mempergunakan kelicinannya untuk

menarik keuntngan dari keadaan Mataram yang di masa itu sedang kalut. Pangeranpagenran

satu dengan yang lain berselisih, sedangkan Sunan yang sudah tua itu sakit

keras.

Belanda menghadapi pemberontakan hebat yang dipimpin oleh Trunajaya terhadap

Mataram dan hal ini digunakan oleh Belanda untuk mendekati Mataram. Oleh karena

pemberontakan yang dipimpin oleh Trunajaya ini amat kuat, maka di batavia

Kompeni Belanda mulai menjadi gelisah. Akhirnya dipilih seorang jago tua di fihak

mereka, yakni Cornelis Speelman, seorang ahli siasat yang amat licin dan cerdik.

Dengan muka manis, urusan-urusan Speelman mendatangi Mataram dan pertemuan

yang disertai janji bantuan ini menghasilkan keuntungan yan besar sekali bagi

Belanda, karena mereka dapat memperluas dan menambah perjanjian-perjanjian

dengan kerajaan Mataram

Akhirnya, Belanda mengirim tentaranya menyerbu pusat pertahanan Trunajaya,

yakni di Surabaya. Setelah berperang sengit sehari penuh, jatuhlah benteng

pertahanan Trunajaya yang didirikan di dekat Jembatan Merah ( Surabaya ) kepada

tangan Belanda.

Peristiwa ini terjadi para tanggal 13 April 1677, dan Trunajaya melarikan diri ke

Kediri di mana ia mendirikan keraton yang megah dan indah.

Speelman tidak pernah menyangka bahwa Trunajaya akan dapat mengumpulkan

kembali kekuatan pasukannya dengan amat cepatnya, maka Belanda tidak terus

mengejar Trunajaya, bahkan lalu menyerang Madura. Kesempatan ini dipergunaka

oleh Trunajaya untuk meluruk ke Mataram dan pada tanggal 12 Juli 1677, dua bulan

setengah semenjak kekalahan, ia berhasil merebut keraton Mataram.

Demikianlah, dengan siasatnya yang licik dan dengan jalan mengadu domba, pada

tahun 1680, jajahan kompeni Belanda di Pulau Jawa telah makin meluas. Dari

Batavia, jajahan mereka ke timur dan setelah sampai ke Laut Hindia, sehingga boleh

di bilang bahwa seluruh Jawa Barat, ada sepertiganya berada dalam jajahan dan

kekuatan Belanda. Juga Semarang dan sekitarnya telah pula menjadi bandar dari

kapal-kapal Belanda, Batavia dan Semarang merupakan pintu-pintu lebar dari mana

mengalir keluar kekayaan bumi Indonesia ! Dan pada sekitar waktu itulah cerita ini

terjadi. Cerita menarik yang sungguhpun bukan merupakan kisah tercatat dalam buku

sejarah, namun cukup menjadi bukti bahwa semenjak dahulu, banyak terdapat

pahlawan-pahlawan bangsa tak terkenal, pahlawan bangsa dan kesatria-kesatria utama

yang berjasa besar, yang telah mengurbankan nyawa demi nusa dan bangsa , akan

tetapi yang sama sekali tak mengharapkan balas dan jasa, bahkan nama merekapun

sama sekali tak pernah didengar oleh rakyat. Betapapun juga, mereka itu, pahlawanpahlawan

bangsa sejak jaman dahulu sampai sekarang, pahlawan-pahlawan yang tak

terkenal, maklum bahwa perjuangan dan pengorbanan mereka takkan sia-sia, akan

berbunga dan berbuah demi kebahagiaan bangsa mereka ! Hal dan pengertian ini saja

sudah merupakan balas dan jasa yang cukup mulia bagi mereka !

Sebelum Sunan Amangkurat I mangkat, ia mengangkat Putera Mahkota sebagai

penggantinya, dan Sunan baru ini bernama Sunan Amangkurat II.

Fihak Belanda lalu mempergunakan siasatnya dan mendekati Sunan Amangkurat II

untuk “ membantunya “ melenyapkan Trunajaya dan sekutunya, Cornelis Sepeelma

lalu mengadakan pertemuan dengan Amnagkurat II di Jepara. Dengan amat

pandainya, Sepeelman dapat mempermainkan lidahnya terhadap Sunan yang masih

hijau itu sehingga diantara mereka lalu dibuat perjanjian yang amat berat sebelah.

Perjanjian ini berisi seperti berikut.

1. Fihak kompeni mengakui Amangkurat II sebagai Sunan yang sah di Mataram.

2. Kompeni memperoleh kemerdekaan berniaga di seluruh kerajaan Mataram, dan

boleh mendirikan tempat pembuatan kapal di Rembang.

3. Kompeni dibebaskan daripada membayar bea pemasukan barang-barang ke

seluruh pelabuhan di Mataram.

4. Daerah jajahan Kompeni diperluas dengan Krawang dan sebagian Priagan, sebagai

batas antara Mataram dan jajahan Belanda ialah Sungai Cimanuk.

5. Semarang dan daerah sekitarnya diserahkan kepada Kompeni.

6. Kompeni memiliki daerah pantai Jawa sebagai barang gadaian, hingga Sunan

dapat melunasi biaya peperangan yang akan dilakukan untuk melenyapkan Trunajaya.

Perjanjian macam ini sesungguhnya bukan merupakan perjanjian lagi, lebih pantas

disebut pengisapan yang amat kurang ajar. Akan tetapi Belanda mencapai maksudnya.

Malam terang bulan di Jepara. Di kota itu berkumpul banyak pasukan, yakni pasukan

pengawal Cornelis Speelman, dan pasukan-pasukan pengiring Sunan Amangkurat II

yang sedang mengadakan pertemuan dengan pemimpin Belanda itu. Kalau di kota

kelihatan ramai dengan gatangnya orang-orang agung dengan sekalian pengiringnya

itu, adalah di pantai Jepara nampak sunyi sekali. Hawa udara sejuk dan laut nampak

tenang, seakan-akan semua penghuninya telah tidur nyenyak. Angin bersilir perlahan,

tak cukup kuat menggerakkan ketenangan laut sehingga hanya pada permukaan air

saja yang bergoyang sedikit, tak sampai menimbulkan ombak.

Bulan bercahaya penuh, membuat air laut nampak kemerah-merahan dan

mendatangkan bayang-bayang yang amat indahnya. Di tepi laut tampak sunyi,

perahu-perahu nelayan berderet-deret di pantai, siap untuk diberangkatkan besok

pagi-pagi sebelum fajar menyingsing. Para nelayan telah mengaso karena besok pagipagi

mereka sudah harus mulai dengan pekerjaan mereka. Di ujung barat nampak

sebuah perahu besar dengan layar terguling. Tali-telami layar nampak jelas di bawah

sinar bulan pernama. Diantara jendela-jendela perahu itu, nampak tersembul keluar

beberapa buah laras merlam.

Inilah sebuah kapal layar Belanda yang biasanya digunakan untuk, mengangkut hasil

bumi, atau juga untuk, berperang menyerang pantai ! Bendera Belanda berkibar di

puncak tilang. Akan tetapi, perahu inipun diam tak bergerak dan nampak sunyi sekali,

seakan-akan tidak ada mahluk hidup di atasnya. Memang, sebagian besar anak kapal

telah turun dan mencari kesenangan di darat, dan hanya ada beberapa orang penjaga

saja yang mendapat giliran menjaga kapal, akan tetapi orang-orang inipun lebih

senang tidur mendengar setelah kenyang minuman keras.

Seluruh permukaan laut Jepara bagaikan mati tak bergerak, keculi setitik hitam kecil

yang nampak bergerak maju dan makin lama membesar. Kemudian kelihatanlah titik

hitam itu yang ternyata adalah sebuah perahu kecil berujung runcing dan didayung

dari jurusan timur menuju ke barat.

Perahu ini berwarna hitam seluruhnya, bahkan dayung yang dipegang oleh seorang

penumpangnya juga berwarna hitam. Perahu ini hanya mempunyai seorang

penumpang saja, seorang laki-laki muda belia yang bertubuh tegap. Sepasang

lengannya yang memegang dayung nampak kuat sekali, akan tetapi ia mendayung

perahunya dengan seenaknya. Emat lima kaki dayungnya digerakkan sehingga perahu

meluncur cepat, kemudian ia menunda gerakkan dayungnya dan membiarkan perahu

meluncur dengan halus dan tenang.

Dengan pandang mata tajam ia melihat ke arah pantat yang snyi kemudian

pandangannya dialihkan ke arah kapal Belanda yang besar itu penuh perhatian.

Pakaian orang itu sederhana, berbaju hitam dengan lengan baju panjang, tak berleher.

Celananya panjang warna hitam pula, dengan sehelai sarung tenun dikalungkan pada

lehernya. Gagang keris tersembul dari ikat pinggangnya di bawah dada. Melihat

wajah yang masih halus tak berkumis itu, dapat ditaksir bahwa usianya baru dua

puluhan, akan tetapi garis-garis pada mukanya menunjukkan bahwa sudah banyak

pengalaman pahit ia derita, sedangkan sepasang matanya bersinar tajam.

Inilah Kertapati, bajak laut muda yang namanya telah menggemparkan pantai laut

jawa, mulai dari pantai laut tegal sampai jepara ! Ia amat terkenal karena

keberaniannya yang luar biasa, karena kecerdikan dan kegagahannya. Dengan

sekelompok kawan-kawannya yang hanya terdiri dari belasan orang muda saja, ia

berani melakukan pembajakan pada perahu-perahu besar, tak peduli siapa yang amat

sia-sia, bahkan merugikan, karena pernah terjadi anak buah perahu besar yang terdiri

dari dua puluh orang lebih, semuanya dilemparkan ke dalam laut oleh Kertapati dan

lima orang kawannya !

Nelayan ? Lebih takut kepada bajak laut Kertapati daripada kepada ikan-ikan cucut

yang ganas dan liar. Setiap kali perahu-perahu nelayan mendapat hasil ikan yang

banyak, mereka tentu akan melakukan pelayaran pulang secara berkelompok, tidak

berani memisahkan diri, untuk menjaga kalau-kalau di tengah laut bertemu dengan

bajak laut Kertapati dengan perahu-perahu kecilnya ayang cepat, dan berwarna hitam

itu !

Baiknya bahwa bajak-bajak laut ini tidak selalu berada di daerah tertentu, akan tetapi

bergerak dan berpindah-pindah sepanjang daerah pantai Tegal sampai Jepara.

Keberanian bajak laut Kertapati memang mengumumkan. Pernah tiga buah

perahunya yang kecil-kecil dengan ditumpangi oleh lima belas orang anak buahnya,

menyerbu sebuah kapal Belanda yang besar dan sedang berlabuh di pelabuhan

Semarang. Hal ini benar-benar melewati batas dan kini nama bajak laut Kertapati

tidak hanya terkenal di kalangan nelayan dan pemerintah Mataram, akan tetapi juga

dikenal oleh Kompeni. Namun, tiap kali Kompeni mengadakan ekspedisi dengan

kapal-kapal perangnya untuk mencari rombongan bajak laut yang menganggu lalu

lintas di lautan itu, tiba-tiba saja perahu-perahu kecil berwarna hitam dan dengan

layar hitam pula itu lenyap tanpa meninggalkan bekas, seakan-akan disembunyikan di

dasar lautan !

Kertapati yang sedang melakukan penyelidikan seorang diri di dalam perahunya,

sama sekali tidak tahu bahwa di dalam bayangan jala-jala ikan yang digantung di

pinggir pantai dan di balik-balik perahu yang berada di tepi laut itu, terdapat lima

orang yang berbisik-bisik dan mengikuti gerak-geriknya ketika seorang diantara

mereka dapat melihat perahu hitam itu dari balik teropongnya. Orang yang memegang

teropong ini adalah seorang serdadu Belanda berpangkat sersan, sedangkan empat

orang yang lain adalah ponggawa-ponggawa Sunan.

Empat orang ponggawa ini telah mendengar bahwa Kertapati berada di daerah

Jepara, maka mereka mempergunakan kesempatan pertemuan dengan para tentara

Belanda untuk membujuk seorang sersan Belanda agar suka bersama mereka

mengadakan penyelidikan dan kalau mungkin penangkapan atas diri kepala bajak

yang terkenal itu. Mereka berempat tak kan berani melakukan pekerjaan berbahaya ini

apabila tidak dapat bantuan seorang sersan yang bersenjata api dan memiliki teropong

yang dapat melihat sesuatu dari jarak amat jauh.

“ Lihat …… ! “ kata sersan itu dalam bahasa daerah yang amat kaku, “ aku melihat

sebuh perahu hitam dengan seorang baju hitam di dalamnya ! Siapakah dia ? “

Seorang ponggawa menghampirinya dan setelah dan setelah diberitahu cara

mempergunakan teropong itu, ia lalu mengintai ke arah perahu kecil yang terapungapung

di tempat jauh. Setelah memandang beberapa lamanya, ia berseru perlahan.

“ Benar ! Dialah Kertapati, bajak laut itu ! Aku kenal bentuk tubuhnya, dan mukanya

licin tak berkumis ! “

Ponggawa-ponggawa lainnya berebutan meminjam teropong dan mereka inipun

mendapatkan bahwa orang di dalam perahu kecil itu memang Kertapati, bajak muda

yang membuat mereka merasa gentar !

Bagus, bagus ! “ Sersan belanda itu berkata girang, sambil mempersiapkan

senapannya.

“ Kita tangkap dia, mati atau hidup dan membagi hadiah yang dijanjikan oleh Sunan !

Akan tetapi, tuan sersan, “ bantah seorang ponggawa, “ bukankah Kompeni juga

menjanjikan hadiah bagi siapa yang dapat menangkap atau menewasakan bajak laut

Kertapati ? Kalau kita berhasil, kau boleh ambil semua hadiah dari Kompeni,

sedangkan hadiah dari Gusti Sunan adalah hak kami berempat ! Bukankah ini adil

namanya ? “

Sersan itu menyumpah dalam bahasanya yang tak dimengerti oleh empat orang

ponggawa itu, lalu katanya sombong, “ Kalian hanya ikut saja dan yang akan berhasil

membunuhnya adalah aku dengan, senapanku ini ! “ Ia mengangkat senapannya

tinggi-tinggi. “ Akan tetapi, biarlah kalian ambil hadiah dari Sunan, aku tidak

membutuhkannya, asal saja kalian memberitahu bahwa seorang sersan Kompenilah

yang telah berhasil membunuh bajak laut itu ! Tanpa bantuan kompeni, mana kalian

orang-orang Mataram menangkap atau membunuhnya ? “

Biarpun merasa mendongkol, empat orang ponggawa itu tidak mau membantah

dengan sersan itu, oleh karena memang mereka telah tahu akan kegagahan Kertapati

dan mereka hanya mengandalkan bantuan sersan ini untuk dapat menangkap atau

menewaskan bajak itu.

“ Sekarang tidak ada angin, dia tidak mungkin mempergnakan layar ! “ kata seorang

ponggawa yang faham akan kepandaian mengemudikan perahu.

“ Dengan hanya tenaga seorang saja, tak mungkin dia dapat mendayung perahunya

pergi dari kejaran kita. Kita tunggu sampai perahunya pergi dari kejaran kita. Kita

tunggu sampai perahunya mendekati pantai, lalu kita serbu dia dengan mendayung

perahu yang laju. Kalau kita berlima atau berempat mengayuh, mustahil takkan dapat

menyusulnya ? Kau yang bertugas mempergunakan senapanmu, tuan sersan. “

Jangan kuatir, dengan sekali ledakan senapanku saja, kepalanya akan hancur ! “

sersan itu menyombong.

Kertapati mendayung perahunya dan kini ia menunjukan perahunya ke arah kapal

Belanda yang terapung di pinggir pantai dengan megahnya Kesunyian di atas kapal

itu membuat ia merasa girang karena mklum bahwa anak kapal itu tentu banyak yang

mendarat dan yang menjaga kapal tidak banyak. Dengan berani ia mengambil

keputusan untuk menghampiri dan kalau mungkin naik ke kapal itu !

Akan tetapi, tiba-tiba ia melihat sebuah perahu meluncur cepat dari pantai dan

mengejarnya ! Matanya yang tajam dapat menksir bahwa perahu itu sedikitnya

ditumpangi oleh empat atau lima orang, dan karena perahu itu menuju ke arah

perahunya, ia maklum bahwa mereka itu memang sengaja mengejarnya. Tak mungkin

kalau ada nelayan pergi mencari ikan pada waktu seperti itu, dan juga tidak mungkin

pula perahu itu ditumpangi oleh lebih dari tiga orang nelayan.

Apakah mereka anak buah kapal Belanda itu ? Demikian pikirnya sambil mendayung

pergi perahunya, menjauhi kapal, akan tetapi tidak terlalu cepat, karena ia masih raguragu

apakah benar mereka itu anak buah kapal. Kalau bukan, ia tak usah melarikan

diri, karena kalau baru menghadapi lima orang lawan saja, tak sudi ia melarikan diri !

Ia pernah dikepung oleh belasan orang ponggawa Mataram di darat dan dapat

meloloskan diri setelah merobohkan lebih dari dari setengah jumlah lawannya,

apalagi kini hanya lima orang dan yang mengejarnya di atas air pula ! Kalau di darat

Kertapati merupakan seorang yang amat tangguh dan gagah perkasa, di air ia

merupakan dewa laut yang mentakjubkan. Kepandaiannya bermain di air membuat ia

sanggup menghadapi musuh yang banyak jumlahnya.

Akan tetapi setelah perahu yang ditumpangi oleh lima orang itu datang dekat dan

hampir dapat menyusulnya, tiba-tiba terdengar letusan keras dan dari perahu itu

nampak bunag api memancar. Air di dekat perahunya memercik ke atas, tanda bahwa

ada sesuatu yang keras menyambar air itu. Senapan, pikirnya. Akan tetapi Kertapati

tidak menjadi gugup dan dengan tenang lalu melepaskan bajunya yang hitam.

“ Sayang tidak kena ! “ kata seorang ponggawa ketika melihat betapa tembakan

pertama sersan Belanda itu tidak mengenai sasaran.

Sersan itu menjadi penasaran dan marah. “ Jangan mendayung dulu, perahu menjadi

bergerak dan aku tak dapat membidik tepat ! “

Keempat orang ponggawa lalu menahan dayung mereka dan perahu meluncur dengan

tenang. Mereka tidak bergerak untuk memberi kesempatan kepada si sersan

menembak lagi. Kini di atas perahu kecil itu nampak jelas betapa orang berbaju hitam

yang mendayung perahu itu berdiri dengan tegak, seakan-akan menantang untuk

menerima peluru senapan sersan itu !

Sersan itu membidik, dan tiba-tiba terdengar letusan keras untuk kedua kalinya.

“ Mampus kau ! “ sersan itu berseru keras dan empat orang ponggawa melihat betapa

tubuh yang berdiri di atas perahu kecil itu roboh di dalam perahunya ! Mereka berseru

girang,

“ Kena …… ! Kena …… ! “ Dan serentak mereka mendayung perahu menyusul

perahu kecil itu.

“ Jangan lupa melaporkan kepada Sunan bahwa Sersan Zeerot yang menembak

mampus bajak laut itu ! “ kata sersan tadi sambil tersenyum-senyum puas.

Kini mereka berada dekat sekali dengan perahu kecil tadi sehingga mereka dapat

melihat dengan jelas ke dalam perahu. Alagkah kaget hati mereka ketika melihat

bahwa “ orang “ yang mereka lihat roboh tertembak tadi tidak lain hanya sebatang

dayung yang diberi batu hitam !

“ Celaka …… ! seorang ponggawa berseru, akan tetapi pada saat itu juga, perahu

mereka terguncang keras tanpa dapat ditahan lagi perahu itu miring lalu terbalik,

membuat kelima orang itu terlempar ke dalam air !

Sebenarnya yang ditembak itu memang bukan Kertapati, akan tetapi bajak laut muda

yang cerdik itu setelah meninggalkan pakaiannay lalu mengenakan pakaian itu pada

dayungnya dan memegangi dayung sambil bertiarap di dalam perahunya ! Setelah

sersan itu menembak, ia lalu menggerakkan dayungnya yang “ menyamar “ dan

menggantikan dirinya itu seakan-akan orang terkena tembak dan menjatuhkan di

dalam perahu, sedangkan ia sendiri diam-diam lalu meluncur ke dalam air dan

berpegang pada pinggir perahu sambil mengintai ! Ketika perahu lawan itu sudah

datang dekat, ia menyelam dan berenang di bawah permukaan air menyambut

kedatangan mereka. Ia pegang perahu yang sudah tak didayung lagi itu dengan kedua

tangan dan dengan tenaga yang luas biasa ia berhasil menggulingkan perahu dan

membuat kelima orang penumpangnya jatuh ke dalam air !

Dua orang ponggawa yang tak pandai berenang, segera megap-megap dan sebentar

saja perut mereka menjadi besar dan kembung, penuh air laut yang asin ! Yang dua

orang lagi hendak berenang ke perahu, akan tetapi tiba-tiba setelah kaki mereka

ditangkap oleh kedua tangan Kertapati dan tubuh mereka diseret ke bawah ! Seketika

lamanya mereka bergulat dengan air karena tak mampu menyerang orang yang

memegang kaki mereka sampai mereka tidak kuat lagi dan menjadi pingsan perut

kembung !

Sersan Zeerot yang juga pandai berenang, lalu berenang dan berhasil memegang

pinggir perahu, akan tetapi tiba-tiba ia merasa perutnya perih seakan-akan ditusuk

oleh tombak ikan cucut. Tubuhnya menjadi lemas dan pegangannya terlepas. Ia

menjerit kesakitan dan tenggelam tanpa bardaya lagi !

Peristiwa hebat itu terjadi tanpa banyak ribut, hanya disaksikan oleh bulan yang

bergurau dengan mega-mega ditas laut. Peristiwa berikutnya yang terjadi lebih hebat

lagi, membuat nama bajak laut Kertapati makin terkenal dan ditakuti orang dari segala

fihak.

Kapal layar Belanda yang berlabuh di tempat itu memang telah ditinggalkan oleg

sebagian besar anak kepalnya yang mendarat dan mencari hiburan di kota Jepara.

Yang diwajibkan menjaga hanya sebanyak sepuluh orang yang rendah kedudukannya,

hanya serdadu-serdadu biasa yang kasar. Serdadu-serdadu ini menghilangkan

kekesalan hatinya, menghibur diri dengan minuman keras, dan ada pula yang bermain

kartu mempertaruhkan uang belanja mereka yang tiada gunanya di dalam kapal itu.

Sambil bersenda-gurau mempercakapkan pengalaman mereka dengan perempuanperempuan

di tiap pelabuhan yang mereka darati, mereka menghibur diri, dama sekali

tidak melihat adanya bayangan seorang berpakaian hitam yang dengan cekatan sekali

memanjat ke atas kapal melalui rantai jangkar kapal. Bayangan ini adalah Kertapati

yang setelah “ membereskan “ lima orang pengejarnya tadi, msih melanjutkan

kehendaknya menyelidiki kapal asing itu.

Setelah naik ke tas kapal, ia mengintai dari balik tiang layar dan memandang ke arah

orang-orang kulit putih itu dengan senyum menghina. Ingin ia menerjang dan

meyerang mereka, akan tetapi tentu saja ia tidak mau bertindak demikian sembrono

ketika melihat betapa sepuluh orang itu bersenjata api dan senapan-senapan mereka

terletak dekat.

Hanya berarti pembunuhan diri yang bodoh apabila ia menyerang, pikirnya.

Dilihatnya tiga orang telah mabok dan tidur mendengkur di atas geladak kapal,

sedangkan yang tujuh orang masih mengelilingi meja sambil main kartu dan bersenda

gurau.

Dengan amat berani dan tabah, Kertapati lalu menyelinap dan cepat memasuki anak

tangga yang membawanya turun ke dalam kapal itu. Telah beberapa kali ia dan

kawan-kawannya menyerbu kapal Belanda dan kini ia mencari kamar yang menjadi

tujuan pemeriksaannya, yakni kamar senjata. Girang sekali hatinya ketika ia dapat

menemukan kamar itu dan melihat banyak senapan berada di tempat itu berikut obat

pasang dan peluru-pelurunya.

Kertapati sendiri amat benci melihat senjata api ini dan tidak sudi

mempergunakannya, akan tetapi banyak kawan-kawannya ingin memilikinya, maka

kini timbul keinginannya untuk mencuri senapan-senapan ini ! Kamar itu diterangi

dengan sebuah lampu minyak yang tergantung di dinding.

Pemuda itu cepat mengumpulkan tujuh pucuk senapan yang kelihatan masih baru,

diikatnya senapan-senapan itu menjadi satu dengan sebuah tambang yang terdapat di

situ, dan ketika ia sedang mengumpulkan obat pasang dan peluru, tiba-tiba pintu di

belakangnya dibuka orang dan tiba-tiba terdengar bentakan keras dalam bahasa

Belanda yang tak dimengertinya. Ketika ia menoleh dengan cepat, ia melihat seorang

opsir Belanda yang bermuka merah sekali telah berdiri di ditu dengan senapan

ditodongkan ke arahnya ! Kembali Belanda itu membentaknya dan biarpun Kertapati

tidak mengerti bahasanya, akan tetapi pemuda ini naklum bahwa ia diperintahkan

untuk mengangkat kedua tangannya.

Akan tetapi, ia berpura-pura bodoh dan tersenyum manis ! Wajahnya menjadi

menarik sekali kalau tersenyum, lenyap sama sekali kekerasan yang tergaris pada

mukanya. Bibir tersenyum mata berseri-seri dan sikap ini selalu mendatangkan

kemenangan padanya. Menurut nasihat gurunya dulu, dalam menghadapi bahaya yang

bagaimana besarpun, ia harus dapat menenangkan hati dan memperlihatkan sikap

gembira, oleh karena selain hal ini dapat membuat ia berkata waspada dan membuat

pikiran dapat berjalan terang untuk mengusahakan sesuatu yang tepat, juga jarang

sekali terdapat orang yang tepat, juga jarang sekali terdapat orang yang mau

membunuh orang tersenyum gembira !

Memang benar, opsir itu yang belum tahu siapa adanya pemuda yang berada di

kamar senjata itu, tadinya masih agak ragu-ragu untuk segera menembak, apalagi

setelah melihat betapa muka itu tersenyum ramah dan gembira, ia tertipu dan tekanan

jarinya pada pelatuk senapan mengendur.

Kamu …… pencuri …… ? “ tanyanya dengan bahasa yang amat kaku. Akan tetapi,

saat yang hanay sedetik itu tak dilewatkan oleh Kertapati yang semenjak tadi menjadi

perisai pertama untuk menyelamatkan diri dan setelah melihat betapa ketegangan

pada lawannya mengendur, tangannya diam-diam menggenggam erat beberapa butir

peluru yang tadinya sedang diperiksa dan dikumpulkannya. Senyumnya melebar an

pada saat opsir Belanda itu membuka mulut bertanya, secepat kilat tangannya

bergerak ke arah lampu dan otomatis tubuhnya menubruk maju ke arah kaki opsir itu !

Terjadi tiga kali dalam detik yang sama. Pecahaya kaca lampu yang memadamkan

penerangan itu. Meletusnya obat psang dalam senapan di tangan opsir Belanda, dan

berteriaknya opsir itu ketika tiba-tiba sepasang lengan yang amat kuat merangkul

kedua kakinay dan yang membuat ia terpelanting jatuh ! Saat berikutnya, keris di

tangan Kertapati telah mendapat kurban lagi dan lawannya mati dalam gelap tanpa

dapat mengeluarkan suara lagi.

Dengan kecepatan yang luar biasa, Kertapati telah dapat menyambar senapan dan

peluru berikut obat pasang yang tadi dikumpulkan, lalu tubuhnya melompat dan

menaiki anak tangga. Ia telah dapat keluar dari lubang di atas dan bersembunyi di

belakang tiang sebelum kawan-kawan opsir yang bersenda-gurau di atas geladak

mengejar ke tempat itu.

Tiga orang serdadu dengan lampu di tangan dan senapan disiapkan, berlari-lari

menuruni anak tangga untuk melihat kawannya yang tadi turun untuk mengambil

tambahan minuman keras.

Kawan-kawannya yang lain lalu bersiap pula dengan senapan di tangan. Tiba-tiba

seorang diantara mereka melihat berkelebatnya tubuh Kertapati, maka sambil berseru

ia menembak ke arah pemuda itu !

Kertapati cepat melompat dan berlindung dibalik tiang. Lalu sambil merangkak dan

berlindung di balik tali temali tiang, ia menghampiri pinggir kapal dan melongok ke

bawah di mana ia melihat perahunya menempel dekat rantai jangkar. Ia mengira-ngira

dan segera melemparkan senapan-senapan itu ke bawah, tepat masuk ke dalam

perahunya yang bergoyang-goyang. Suara senapan jatuh di perahunya terdengar oleh

orang-orang Belanda itu, maka mereka lalu mengejarnya. Kalau ia mau, dengan

mudah Kertapati dapat melompat ke air dan meyelamatkan diri, akan tetapi ia tidak

menyerah kalah begitu saja sebelum menimbulkan kerugian di fihak lawan dan

berdaya upaya untuk menyelamatkan perahu dan bedil-bedil yang yang rampasnya.

Maka kembali ia merangkak-rangkak menjauhi mereka dengan gerakan yang cepat

bagaikan seekor tikus. Ia mengambil dua butir peluru yang tadi tercecer, lalu

menyambit ke arah yang berlawanan. Peluru-peluru itu membentur papan dan

menerbitkan bunyi keras. Serentak terdengar senapan-senapan ditembakkan ke arah

suara itu !

Kertapati tersenyum ketika melihat betapa orang-orang itu dengan berendang lalu

berlari memburu ke tempat yang disambit tadi, maka ia cepat melompat ke arah meja

di mana mereka tadi main kartu, mengambil lampu minyak yang berada di atas meja

dan segera melemparkan lampu itu ke atas, ke tempat gulungan layar ! Lampu itu

membentur layar dan minyaknya tumpah, disambar oleh api dan segera layar itu

terbakar !

Orang-orang Belanda tadi segera membalikkan tubuh dan melihat betapa layar telah

berkobar besar, mereka menjadi ribut dan sibuk berusaha memadamkan kebakaran.

Kegaduhan itu dipergunakan untuk lari oleh Kertapati yang dengan enaknya lalu

memanjat turun dari rantai jangkar. Ketika kebakaran pada layar itu dapat

dipadamkan dan orang-orang di atas kapal dengan menyumpah-nyumpah dan marah

sekali mencari-cari pengacau dan pembunuh opsir kawan mereka, Kertapati telah

mendayung perahunya dengan cepat, jauh dari kapal itu !

Dan pada waktu keesokan harinya, pada waktu fajar menyingsing, para nelayan yang

berangkat menuju ke tengah laut untuk mulai pekerjaan mereka menangkap ikan,

menjadi ribut ketika mereka mendapatkan sebuah perahu itu terapung-apung di atas

air san di dalam perahu itu terdapat empat orang ponggawa Sunan yang pingsan

dengan perut kembung ! Selain ini, merekapun mendapatkan mayat seorang sersan

Belanda yang terapung pula dengan perut terluka bekas tusukan keris !

Mereka segera menolong empat orang ponggawa itu, juga membawa mayat itu ke

pantai. Ketika para ponggawa telah ditolong dan air telah dikeluarkan dari perut

mereka sehingga mereka siuman kembali, mereka menceritakan bahwa semua itu

adalah perbuatan bajak laut Kertapati. Maka gemparlah semua orang dan para nelayan

melanjutkan pekerjaan mereka dengan hati kebat-kebit !

Beberapa pekan kemudian. Tepi pantai laut jepara ramai sekali dikunjungi orang.

Gamelan berbunyi semenjak pagi sekali, mengiringi suara tambang yang merdu,

meramaikan suasana dan menggembirakan semua pengunjung. Di sepanjang pantai

didirikan panggung dan tarup dari bambu. Sebagaian besar penduduk Jepara

mengunjungi pantai laut, bahkan para nelayan hari itu senjata tidak pergi mencari ikan

untuk dapat menyaksikan keramaian luar biasa ini.

Keramaian apakah yang seang berlangsung ? ternyata bahwa hari ini diadakan

perlombaan dan pemilihan anak-anak kapal yang cakap. Belanda telah bermufakat

dengan para pembesar setempat untuk mencari anak-anak kapal sebagai pelayan dan

pembantu pada kapal-kapal mereka dan untuk mengadakan pemilihan, maka diadakan

perlombaan berenang, bermain di air dan kecakapan mengemudikan perahu berlayar.

Selain itu, juga dalam kesempatan ini, para pembesar hendak berpesta, merayakan

perjanjian perdamaian dan persetujuan yang tercapai antara pembesar Belanda

Speelman dan Sunan Amangkurat II !

Dalam kesempatan ini, para puteri jelita dari gedung-gedung pembesar, mendapat

alasan untuk keluar dari gedung dan kamarnya, untuk ikut menyaksikan keramaian

ini. Mereka ini bersama ayah buda mereka, ikut naik ke atas panggung dan

menyaksikan perlombaan-perlombaan itu, juga memberi kesempatan kepada para

pemuda yang jarang dapat memandang wajah mereka untuk kali ini memandang

sepuasnya dan mengaguminya dengan diam-diam !

Hiburan yang paling ramai, bahkan melebihi ramainya perlombaan-perlombaan itu,

adalah acara bebas yang tidak direncanakan lebih dulu. Seorang isteri tumenggung,

tanpa disengaja telah menjatuhkan tempolongnya ( tempat ludah sirih ) ke dalam air

di depan panggung. Air ini dalam dan jernih sehingga tempolong itu kelihatan dari

atas, menggelinding ke atas dasar pantai. Melihat hal ini, seorang nelayan muda lalu

melompat ke dalam air dan menyelam untuk mengambilkan tempolong kuningan itu.

Tubuhnya yang bergerak-gerak bagaikan ikan besar itu nampak dari atas dan semua

pembesar, terutama para isteri dan puteri memuji dengan kagum dan girang. Memang

hal ini mendatangkan pemandangan yang amat mengagumkan, jauh lebih menarik

daripada melihat perlombaan perahu atau berenang dari tempat itu. Maka, setelah

nalayan muda itu timbul dari air sambil membawa tempolong dan menyerahkan

kepada penjaga, ia disambut dengan tepuk sorak.

Melihat kegembiraan semua tamu, maka tumenggung itu lalu mengusulkan untuk

membauat permainan sebagai penambah acara, yakni mereka melempar-lemparkan

benda dengan sengaja ke dalam air dan para penonton diperbolehkan terjun dan

mendapatkan benda-benda itu kembali ! Tentu saja untuk ini diadakan hadiah-hadiah,

bahkan karena gembiranya, lalu ditetapkan bahwa benda yang dilemparkan itu boleh

dimiliki oleh para penyelam !

Hal ini mendatangkan kegembiraan besar sekali. Para pemuda lalu memperlihatkan

kesigapan dan kepandaiannya. Dan ternyata bahwa yang paling suka melemparlemparkan

benda ke dalam air adalah para puteri dan wanita ! Yang dilemparkan ke

dalam air sebagaian besar adalah mata-mata uang. Memang menyenangkan sekali

melihat para pemuda nelayan itu menyelam dan berenang di atas dasar laut, hilir

mudik bagaikan ikan-ikan besar berebut makanan.

Diantara sekian banyakknya penonton yang melihat pertunjukan ini, terdapat seorang

pemuda yang berwajah tampan dan berpotongan tubuh kekar dan tegap. Kulitnya

bersih dan halus, membuat ia kelihatan seperti Arjuna diantara sekian banyak nelayan

yang berkulit haitam terbakar matahari setiap hari. Semenjak tadi pemuda ini berdiri

di dekat panggung, akan tetapi berbeda denagn semua orang yang menonton para

penyelam memperebutkan uang, ia menunjukan pandang matanya kepada seorang

gadis yang duduk di atas panggung.

Gadis ini cantik jelita seperti kebanyakan puteri yang berada di situ, akan tetapi

dalam pandangan pemuda itu, dia adalah gadis yang tercantik diantara sekian semua

wanita yang pernah dijumpainya ! Dara itu bertubuh lagsing, berkulit kuning lagsat,

dan wajahnay manis sekali. Bibirnya seperti gendewa terpentang, tipis dan merah

basah menggairahkan hati, dan yang terindah dari semua itu adalah sepasang

matanya. Inilah mata yang disebut damarkanginan, atau bagaikandian tertiup angin.

Sinar matanay bagaikan mengandung pengaruh yang menjatuhkan hati pria manapun

juga. Bentuknay lebar agak meruncing di ujung membuat lirikannya tajam sekali.

Dihias bulu mata yang panjang dan lentik, melengkung ke atas membuat mata itu

nampak berseri bergerak-gerak dengan lincah.

Dara juita ini adalah Roro Santi, puteri dari Dipati Wiguna, seorang bangsawan dari

demak yang kini menjadi pembesar di Jepara. Roro Santi terkenal sebagai bunga

Jepara dan kecantikannya telah terkenal diantara semua penduduk Jepara. Telah tiga

bulan ia dipertunagkan dengan Raden Suseno, putera Bupati Randupati dari

Rembang. Akan tetapi, tiap kali orang tuanya hendak melangsungkan pernikahannya,

juita itu selalu menolak dan sambil menagis minat agar supaya pernikahannay

diundurkan karena ia tidka sampai hati meminggalkan dan berpisah dari orang tuanya.

Sebagai puteri tunggal yang amat dimanja dan dicinta, tentu saja kedua orang tuanya

tak mau memaksanya dan demikianlah, telah tiga bulan lebih ia bertunangan, akan

tetapi belum juga pernikahan dilangsungkan. Raen Suseno menjadi tidak sabar, akan

tetapi ia tidak berani terlalu mendesak, hanay merasa cukup puas apabila beberapa

hari sekali ia diperbolehkan datang ke Jepara dan memandang tunagannya dengan

dendam birahi yang menggelora di dalam dadanya.

Roro Santi bukannya tidak tahu bahwa pemuda tampan itu telah semenjak tadi

memandangnay dengan mata menyatakan kekagumannya, akan tetapi siapakah

diantara sekian banyaknya laki-laki yang tidak memandangkanya dengan kagum ?

Oleh karena itu, ia tidak mengambil perduli, hanya diam-diam ia merasa heran

mengapa diantara nelayan-nelayan yang sederhana itu terdapat seorang pemuda yang

demikian cakapnya. Kegembiraannya bertambah ketika mengetahui bahwa pemuda

itupun mengagumi kecantikannya. Perempuan manakah yang tidak merasa gembira

dan bangga apabila ada mata laki-laki memandangnya dengan kagum ? Segalakgalaknya

wanita, biarpun di luar ia mungkin akan marah apabila ada laki-laki lain

memandangnya dengan tajam, akan tetapi tak salah lagi di dalam hatinya ia pasti

merasa amat gembira dan bangga ! Dengan adanya kekaguman yang terpancar keluar

dari mata orang-orang lelaki yang ditunjukan kepadanya, maka tak pecumalah segala

jerih payahnya merawat dan menjaga diri serta bersolek setiap hari !

I luar sangkaan semua orang, pemuda ini bukan lain ialah Kertapati, bajak laut yang

menggemparkan itu ! Dengan menyamar seperti seorang nelayan biasa, ia

mencampurkan dirinya dengan orang banyak untuk ikut menonton keramaian itu dan

sekalian melakuan penyelidiakan untuk keperluan “ pekerjaannya “ . Ia merasa heran

dan benci kepada matanya sendiri mengapa mata itu tidak mau menurut kehendaknya.

Selama ini, diantara kawan-kawannya, yakni anak buahnya yang membantu

pekerjaannay sebagai bajak laut, ia terkenal sebagai seorang pemuda yang “ alim “

dan sama sekali tidak suka membicarakan tentang perempuan-perempuan cantik.

Apabila kawan-kawannya bercakap-cakap soal perempuan, ia menjatuhkan dirinya

tanpa mencurahkan sedikitpun perhatian sungguhpun ia tidak melarang mereka. Akan

tetapi, para anak buah bajak laut itu jangan sekali-kali berani emncoba untuk

menganggu wanita di depannya ! Pernah ia menghajar seorang anak buahnay sampai

setengah mati ketika anak buahnya itu menculik seorang gadis dari perahu yang

mereka rampok.

Kini, melihat Roro Santi, menurut kehendaknya, ia tidak mau mengambil perduli

sama sekali dan bahkan tidak ingin melihatnya, akan tetapi aneh, matanay seperti

terkena pesona dan ia tidak dapat menguasainya pula ! Oleh karena itu aia merasa

benci kepaa matanya, kepada hatinya, dan kepada diri sendiri.

“ Bodoh ! “ bisiknya kepada diri sendiri. “ Mata keranjang ! “ Ia memaki-maki diri

sendiri seakan-akan yang berbuat itu adalah seorang yag menjadi orang kedua.

Melihat betapa juita itu agaknya tidak mengacuhkan, ia menjadi makin gemas kepada

diri sendiri dan merasa direndahkan. Saking gemasnya, untuk menghukum diri

sendiri, ia lalu terjun ke dalam air, ikut menyelam dan mengejar uang yang dilempar

ke dalam air ! Ia sampai lupa untuk, membuka bajunya dan terjun ke dalam air dengan

pakaian masih lengkap !

Melihat seorang pemuda terjun ke dalam air dengan pakaian lengkap, pecahlah suara

ketawa dari para penonton. Diluar kehendaknya, Kertapati menarik perhatian semua

orang. Apalagi ketika ia memperlihatkan kesigapan dan kecepatannyadi dalam air

yang tiada ubahnya laksana seekor ikan belut itu. Para penyelam lainnya merasa

terkejut sekali karena tiap kali mereka hendak menangkap sebuah mata uang yang

dilemparkan dan tenggelam di depan mereka, tahu-tahu berkelebat bayang-bayang

hitam bagaikan seekor ikan menyambar dan uang itu telah dihahului dan disaut oleh

bayangan hitam yang cepat gerakannya itu. Yang telah mengherankan lagi ialah

kekuatan menyeam pemuda ini, karena lin penyelam setelah menyelam sekali dan

mendapatkan sepotong uang logam itu, dan muncul kembaliuntuk mengambil napas,

akan tetapi Kertapati bermain-main di dalam air bagaikan ikan dan seakan-akan ia

tidak membutuhkan pergantian napas ! Penyelam lain telah tiga kali mengambil napas

di permukaan air, akan tetapi ia masih saja berada di dalam air !

Akhirnya, setelah kedua tangannya penuh dengan uang logam, Kertapati mncul di

permukaan air. Tepuk-sorak menyambutnya sebagai tanda memuji dan ketika

Kertapati melihat betapa tepuk tangan dan sorakan itu diberikan untuknya, ia menjadi

merasa malu dan sebal. Dilemparkannya kembali semua uang di tangannya itu ke

dalam air sambil tertawa bergelak ! Tentu saja semua orang merasa heran melihat ini,

akan tetapi para nelayan yang melihat demikian banyaknya uang dilempar ke air,

segera ikut menyelam dan sebentar saja uang yang dilempar oleh Kertapati itu

menjadi rebutan di dasar air !

Kertapati kembali memandang ke arah Roro Santi dan kebetulan sekali gadis inipun

sedang memandang ke arahnay dengan mata kagum. Biarpun Kertapati tidak

membuka pakaiannya ketika menyelam, akan tetapi oleh karena kini bajunya basah

kuyup, maka baju itu melekat pada kulit tubuhnya, membuat potongan tubuhnya

nampak nyata.

Bahu yang bidang, dada yang menonjol ke depan, lengan yang kuat pinggang yang

kecil itu memang amat mengagumkan, terutama karena tubuh yang gagah ini dimiliki

oleh wajah yang demikian tampan.

Diam-diam Roro Santi memuji ketampanan dan kegagahan pemuda ini dan melihat

betapa pemuda itu melemparkan kembali semua uang yang tadi melemparkan kembali

semua uang yang tadi diambilnya ketika ia menyelam, ia dapat menduga bahwa

pemuda ini pasti bukan seorang nelayan atau petani biasa ! Ksatria dari manakah dia ?

Melihat betapa pandang mata pemuda itu ditujukan kepadanya, Roro Santi menjadi

gugup dan merasa betapa mukanya menjadi panas. Ia segera menundukkan mukanya

yang menjadi merah itu dan dengan tangan gemetar ia mencabut tusuk kondenya yang

terbuat daripada emas dihias permata intan. Ia lalu mengerling ke arah Kertapati yang

masih memandangnya, kemudian sengaja melepaskan tusuk konde itu ke dalam air !

Kertapati melihat geraan ini, juga banyak penyelam yang telah timbul di permukaan

air melihat benda berharga ini terjatuh ke dalam air, maka cepat mereka menyelam

untuk memperebutkannya. Kertapati memandang dengan dada berdebar aneh, dan ia

merasa seakan-akan bahwa tusuk konde itu sengaja dilempar di dalam air untuknya !

Sebelum ia dapat menekan debar jantugnya, ia telah melompat kembali ke dalam air !

Kertapati melihat gerakan ini, juga banyak penyelm yang telah timbul di permukaan

air melihat benda berharga ini terjatuh ke dalam air, maka cepat mereka menyelam

untuk memperebutkannya. Kertapati memandang dengan dada berdebar aneh, dan ia

merasa seakan-akan bahwa tusuk konde itu sengaja dilempar di dalam air untuknya !

Sebelum ia dapat menekan debar jantungnya, ia telah melompat kembali ke dalam air

!

Tiga orang penyelam yang terpandai telah meluncur dekat benda itu, akan tetapi tibatiba

tubuh mereka terdorong ke kanan dan kiri oleh sepasang lengan yang luar biasa

kuatnya dan sebelum mereka dapat mempertahankannya, tusuk konde itu telah

disambar oleh tangan penyelam baju hitam yang aneh tadi !

Kertapati lalu timbul lagi di permukaan air dan berenang cepat sekali ke darat, lalu

melompat dengan sigapnya ke tas batu karang. Dari situ ia lalu melompat ke arah

panggung dengan tangan kanan dan sekali ia ayun tubuhnya, ia telah naik ke atas

panggung itu, tepat dihadapan Roro Santi yang menjenguk ke bawah untuk melihat

siapa yang berhasil mendapatkan tusuk kondenya !

Untuk sejenak, Roro Santi tertegun dan memandang dengan matanya yang indah itu

terbelalak kepada pemuda yang kini berada dihadapannya. Kertapati tersenyum dan

mengulurkan tangannya yang memegang tusuk konde itu sambil berkata perlahan,

“ Terimalah kembali tusuk kondemu …… kau telah menjatuhkannya ke dalam air

…… “ Pemuda itu merasa terheran sendiri mengapa ia merasa begitu gugup sehingga

bicaranyapun terputus-putus dan napasnya tersengal.

Dengan muka merah Roro Santi mengulur tangannya, akan tetapi ia segera

menariknya kembali dan berkata dengan muka tetap tunduk, “ Kau …… ambillah

…… itu menjadi hakmu ! “

Semua orang-orang bagsawan yang duduk ditarup itu, merasa marah dan penasaran

melihat betapa seorang penyelam berani naik ke panggung dan menghadapi Roro

Santi dengan berdiri saja, sedangkan puteri itu duduk di kursi. Alangkah berani dan

kurang ajarnya ! Bahkan andaikata Kertapati naik ke panggung dan menghadapi

puteri itu dengan menyembah dan berlututpun sudah merupakan perbuatan yang

kurang ajar karena tanpa mendapat perkenan mereka, tak seorang nelayan atau

penonton boleh naik ke panggung begitu saja, apalagi mengajak bicara seorang puteri

dipati !

Yang paling marah adalah Raden Suseno yang duduknay tak jauh dari tempat itu.

Dengan hati penuh cemburu dan marah, pemuda ini melihat betapa sinar mata

kertapati menatap wajah tunangannya dengan berani, kurang ajar, dan penuh

perasaan. Ia berdiri dari kursinya dan segera melompat ke depan Kertapati.

“ bangsat rendah 1 “ ia memaki samnil memandang dengan mata melotot. “ Jangan

berlaku kurang ajar ! “

Kertapati memandangnya dengan senyum simpul, seperti seorang dewasa

memandang seoranga nak kecil yang nakal. “ Puteri ini menjatuhkan perhiasan

rambutnya dan aku menolong mengambilkannya lalu mengembalikan benda ini

kepadanya, mengapa kurang ajar ? “

“ Tutup mulut ! Lekas kembalika perhiasan itu kepadaku dan segera enyah dari sini !

“ bentak Raden Suseno marah.

Akan tetapi Kertapati tetap tersenyum dengan wajah tenang. Para bangsawan yang

berada di situ makin tertarik melihat pertengkaran ini, bahkan beberapa orang opsir

Belanda yang menjadi tamu juga memandang dengan tertarik. Mereka semua kini

berdiri dari kursinya dan semua mata, baik yang berada di tas panggung maupun yang

berada di bawah, yakni para nelayan dan penonton, ditujukan ke arah atas panggung

di mana pemuda baju hitam yang aneh itu sedang berdiri berhadapan dengan Raden

Suseno yang sedang marah.

“ Benda ini bukan milikmu, enak saja kau memintanya ! “

Raden Suseno makin marah. “ Bangsat kurang ajar ! Tidak tahukah kau sedang

berhadapan dengan siapa ? Aku adalah Raden Suseno putera bupati dari Rembang,

dan puteri ini adalah tunanganku, Raden Roro Santi ! “

Kertapati segera memotong pembicaraannya dengan membongkokkan tubuh dan

berkata. “ Terima kasih atas pemberitahuan nama itu, bukan namamu, akan tetapi

nama puteri ini Roro Santi, alangkah indah nama ini, sesuai benar dengan orangnya

…… “

“ Keparat ! Lekas berikan barang itu kepadaku ! Atau barangkali kau minta dihajar

dulu ? “ Raden Suseno sudah menjadi marah sekali maka ia lalu mengayun tangan

kanannya, menempiling ke arah kepala Kertapati. Akan tetapi, dengan tenang sekali

Kertapati merendahkan tubuhnya sehingga tamparan itu lewat di atas kepalanya,

mengenai tempat kosong.

“ Pemiliknya telah memberikan kepadaku, kau perduli apa ? “ katanya, “ Kalau kau

menghendaki benda ini, mengapa tadi kau tidak melompat ke dalam air ? “

Akan tetapi Raden Suseno taidak mau banyak cakap lagi, wajahnya menjadi pucat

saking marahnya dan ia merasa penasaran sekali betapa tamparannya dihindarkan

dengan mudah oleh pemuda itu. Ia menyerang lagi dengan tonjokan keras ke arah

dada lawannya, dan menyusul dengan tendangan keras dan cepat untuk menendang

tubuh pemda bulu hitam itu agar terlempar ke bawah panggung !

Raden Suseno adalah seorang pemua ahli pencak, maka gerakannya cepat dan

tenaganya kuat. Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan

seorang pendekar yang tinggi ilmu kepandaiannya. Kertapati miringkan tubuh ke kiri

untuk mengelak dari tonjokan ke arah dadanya, kemudian ketika kaki kanan lawannya

yang menendang menyambut dekat, tiba-tiba ia ulur tangan kirinya dan mendorong

tubuh Raden Suseno ke kanan ! Karena tenaga tendangan sendiri ditambah denagn

dorongan lawan, tak dapat tertahan lagi tubuh Raden Suseno terlempar ke kanan dan

jatuh ke bawah panggung ! Terdengar suara “ jeburr ! “ ketika tubuhnya menimpa air,

disusul suara tertawa yang ditahan-tahan dari para penonton di bawah panggung !

Pada saat itu, terdengar teriakan orang dari bawah panggung,

“ Dia Kertapati …… ! Dia yang dulu kami kejar-kejar ! Dia Kertapati ! Tangkap

…… ! “ Yang berteriak-teriak ini adalah seorang diantara empat ponggawa yang dulu

hendak menangkap Kertapati dengan bantuan seorang sersan Belanda. Ponggawa itu

lupa bahwa kalau bajak laut itu berlaku kejam dan tidak menolong dia dan tiga orang

kawannya ke dalam perahu, tentu mereka berempat telah mati seperti sersan Belanda

itu pula ! Kini ia berteriak-teriak dan berlari menuju ke panggung itu.

Roro Santi terkejut sekali mendengar ini dan ia memandang kepada Kertapati dengan

mata terbelalak dan muka pucat. Jadi inilah bajak laut Kertapati yang telah

menggemparkan seluruh negeri selama beberapa bulan ini ?

“ Terima kasih atas pemberian benda yang akan kusimpan selama hidupku ini …… “

Kertapati masih sempat berbisik perlahan sebelum mempersiapkan diri amenghadapi

musuh-musuhnya.

Memang, teriakan yang dikeluarkan oleh ponggawa tadi, untuk sejenak membuat

semua orang merasa seakan-akan tubuh mereka menjadi kaku. Mereka berdiri

bagaikan patung memandang kearah pemuda baju hitam yang msih berdiri di depan

Roro Santi, bahkan kini tidka ada orang yang memandang ke dalam air di mana

Raden Suseno sedang berenang ke tepi sambil menyumpah-nyumpah !

Kemudian, serentak timbullah keributan besar ketika para penjaga dan ponggawa,

engan tombak di tangan lalu mengurung punggung di mana Kertapati mengeluarkan

suara ketawa bergelak dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah terjun ke dalam air!

Terdengar tembakan yang dilepas dari senjata api di tangan seorang opsir tamu

Belanda, akan tetapi dengan menyelamkan diri ke dalam air, Kertapati dapat

menyelamatkan diri dari peluru yang menyambarnya itu. Opsir-opsir Belanda lain

ketika mendengar bahwa pemua itu adalah bajak laut yang mereka benci, juga sudah

mengeluarkan senjata api masing-masing dan kini dengan membabi-buta mereka

menembak ke dalam air sambil mengira-ngira saja !

Kertapati terus berenang di bawah permukaam air dan ketika ia muncul kembali,

ternyata ia telah berada di tepi yang jauh dari terup itu, lalu melompat ke darat di

mana terdapat banyak penonton. Akan tetapi, apra opsir itu masih menembakkan

senjata api mereka ke arah tempat itu dan dua orang penonton roboh terkena peluru,

sedangkan Kertapati lenyap diantara penonton yang banyak !

Tentu saja hal ini menimbulkan keributan dan geger. Semua penonton berlari ceraiberai,

takut terkena tembakan yang nyasar dan yang lepas dengan ngawur itu. Ketika

tempat itu sudah bersih dari para penonton, ternyata Kertapati telah lenyap pula tanpa

meninggalkan bekas ! Para pnggawa masih mencari ke sana ke mari dengan hati

kebat-kebit karena ketakutan, akan tetapi yang dicari telah lenyap, entah ke mana

perginya !

Perbuatan Kertapati yang amat berani ini mendatangkan kesan mendalam pada

semua orang. Para opsir Belanda makin membencinya dan menggangapnay sebagai

pengacau yang kurang ajar, terutama sekali Raden suseno merasa amat marah dan

juga cemburu sekali. Ia tidak puas akan sikap tunangannya yang memberikan tusuk

kondenya kepada bajak laut jahat itu ! Hanya di dalam dada seorang saja kertapati

menimbulkan kesan yang luar biasa, yakni dalam dada Roro Santi sendiri ! Gadis ini

merasa demikian tertarik kepada pemuda baju hitam itu. Ia menganggap pemuda itu

gagah berani, jujur, dan juga tidak menjilat-jilat seperti Raden Suseno atau lain-lain

pemuda dihadapannya. Kekurangajaran dan kekasaran bajak laut itu menarik hatinya.

Biarpun berkali-kali ia mengerahkan tenaga batinnya untuk menganggap Kertapati

sebagai seorang bajak laut yang kejam, pengacau yang penuh dosa, akan tetapi

perasaan wanitanya berpendapat lain dan anehnya, bayangan pemuda dengan

senyumnya yang manis dan tenang itu sukar sekali diusir dari alam pikirannya !

Opsir Belanda yang pertama-tama melepaskan tembakan ketika Kertapati muncul

dalam keramaian di pantai Jepara itu, adalah seorang berusia kurang dari tiga puluh

tahun, berwajah tampan dan gagah, berambut kekuning-kuningan dan matanya biru

serta tajam sekali. Dia bukanlah seorang opsir biasa, karena sesunguhnya opsir ini

yang namanya Dolleman, adalah seorang kepala pasukan rahasia atau mata-mata

Belanda yang banyak disebar untuk menyelidiki keadaan dan pergerakan para

pengeran di Mataram berhubung dengan pemberontakan-pemberontakan Trnajaya.

Dolleman amat cerdik dan ia telah mempelajari bahasa daerah sehingga dapat

bercakap-cakap alam bahasa itu cukup fasih, sungguhpun lidahnya masih terasa kaku

untuk dapat mengucapkan kata-kata daerah yang sing baginya itu.

Telah banyak jasa yang diperbuat selama ia datang dari negerinya sehingga di

kalangan Kompeni, ia mendapat kepercayaan penuh, bahkan ia mempunyai surat

kuasa untuk menggerakkan semua pasukan Kompeni yang terdapat di mana saja,

menurut perintahnya apabila terjadi sesuatu yang penting.

Selain mendapat tugas untuk mengawal Speelman yang mengunjungi Jepara dan

mengadakan perteuan dengan Sunan, iapun mendapat tugas pula untuk menyelidiki

dan mencari sarang bajak laut Kertapati yang mengacau disepanjang tepi Tegal

sampai Jepara. Maka ketika Kertapati dengan beraninya muncul dalam keramaian di

pantai itu, Dolleman segera mengerahkan seluruh pembantunya untuk disebar an

melakukan penyelidikan di sekitar daerah Jepara. Ia merasa yakin bahwa bajak laut

itu tentu berada di sekitar daerah itu dan bersembunyi di sebuah desa.

Dolleman mempunyai banyak sekali kaki tangan yang terdiri dari penduduk pribumi

yang tela makan uang sogokannya, akan tetapi, ia tidak kenal betul kecerdikan

Kertapati, dan tanpa disadarinya seorang diantara kaki tangannya adalah seorang anak

buah bajak laut sendiri ! Oleh karena itu, tentu saja kaki tangannya melakukan

pengejaran dan penyelidikan, mereka tak berhasil menemukan bajak laut itu,

Di dalam rumah penginapan. Dolleman duduk di kamar, sudut bibirnay menjepit

sebatang serutu dan kedua tanagnnya mempermain-mainkan sebatang tangkai pena.

Pikirannay bekerja keras dan ia benar-benar merasa bingung menghadapi bajak laut

kertapati yang amat cerdik itu. Peristiwa terbunuhnya sersan Zeerot dan keadaan

empat kawan ponggawa yang pingsan di dalam perahu, membuat ia dapat menduga

bahwa betapapun juga, sebagai seorang bajak laut, Kertapati masih melindungi orangorang

sebangsanya. Siapa lagi kalau bukan Kertapatiyang menolong empat orang

ponggawa itu sehingga mereka tidak mati tenggelam ? Perbedaan nasib sersan Zserot

dan empat orang ponggawa itu menimbulkan dugaannay bahwa Kertapati bukanlah

bajak laut biasa dan Dolleman mulai menghubungkan keadaan bajak laut itu dengan

pemberontakan Trunajaya. Adakah hubungan antara Kertapati dan Trunajaya ?

Untuk mencari sesuatu yangmerupakan titik terang guna mencari jejak untuk

penyelidikan, ia mulai mengenangkan lagi semua peristiwa yang terjadi di dekat

pantai pada waktu keramaian itu.

Terbayanglah di depan matanya yang biru tajam itu ajah Roro Santi yang cantik

jelita, pandang matanya yang amat manis itu.

Terbayang pula betapa Kertapati memandang puteri itu dengan mata penuh perasaan

dan teringatlah ia akan pemberian tusuk konde itu. Tiba-tiba Dolleman menancapkan

penanya di atas meja dan berseru.

“ Bagus …… !! akal inilah yang harus kugunakan !! “

Wajahnya yang cakap menjadi berseri gembira, matanya yang tajam bercahaya

terang ia segera menukar pakaiannya dengan pakaian yang indah dan baru. Kemudian

denagn langkah lebar dan bersiul-siul, ia berjalan keluar dari rumah penginapannya

dan lagsung menuju ke gedung Adipati Wiguna.

Adipati Wiguna menyambutnya dengan ramah tamah dan tamunya duduk di ruang

tengah. Diperintahnay pelayan untuk mengeluarkan hidangan bagi tamu itu, akan

tetapi Dolleman lalu berkata sambil tersenyum.

“ Jangan merepotkan diri, tuan Adipati ! Saya hanya ingin bercakap-cakap sebentar

dan karena yang akan saya bicarakan ini adalah suatu hak yang amat penting, harap

tuan Adipati suka menyuruh semua pelayan mengundurkan diri agar percakapan kita

takkan terganggu. “

Biarpun merasa agak heran, Adipati Wiguna lalu memerintahkan semua pelayannya

mundur, kemudian ia menghadapi Dolleman yang duduk di depannay sambil

bertanya,

“ Perkara apakah gerangan yang hendak kau bicarakan ? “

Sebelum mulai bicara, Dolleman mengeluarkan sebungkus cerutu dan

menawarkannya kepada tuan rumah, akan tetapi dengan halus Adipati Wiguna

menampiknya sambil mengucapkan terima kasih. Dolleman mencabut sebatang

cerutu dan menyalakannya, lalau menghisap asap cerutu itu dalam-dalam ke dadanya.

“ Tuan Adipati Wiguna, “ katanya setelah menghembuskan asap itu keluar dari mulut

dan hidungnya, “ telah lama saya mendengar nama tuan Adipati dan kalau tidak salah

tuan Adipati berasal dari Demak, bukan ? “

Adipati Wiguna mengganguk dan bangsawan ini cukup mklum bahwa ia sedang

berhadapan dengan seorang opsir penyelidik yang terkenal sekali, maka ia menanti

dengan hati berebar akan kelanjutan dari percakapan ini. Karena tidak mungkin opsir

ini datang sekedar untuk bercakap-cakap angin belaka.

“ Memang saya sekeluarga berasal dari Demak tuan Dolleman, “ jawabnya menekan

debar jantungnya “ belum la asaya dipindahkan ke Jepara dan menjabat pangkat di

sini. “

Dolleman mengangguk-angguk dan menyentil-nyentil cerutunya dengan jari

sehingga abunya yang putih jatuh ke atas lantai. “ Tuan Adipati, saya telah banyak

mengalami pertempuran-pertempuran, diantaranya pertempura melawan Trunajaya di

Surabaya. Pertemuan saya dengan tuan Adipati mengingatkan saya akan seorang

pemimpin pemberontak pembantu Trunajaya, oleh karena wajahnya mirip sekali

dengan tuan Adipati. “

Biarpun Adipati Wiguna berusaha menetapkan hatinya, namun wajahnay tetap saja

berubah pucat mendengar uapan ini. Ia tersenyum menutupi kegelisahannya dan

berkata, “ Kau aneh sekali, tuan letnan ! Tentu saja diantara ribuan manusia di dunia,

banyak yang mirip mukanya, apakah anehnya hal ini ? “

Dolleman mengangguk-angguka kepalanya yang berambut kuning keemasan itu. “

Saya tahu, saya tahu …… akan tetapi anehnya pula, orang inipun berasal dari Demak

! “ Kemudian letnan itu mendekatka kepalanya kepada tuan rumah danmatanya

memandang tajam sekai, seakan-akan berusaha hendak menembus mata Adipati

Wiguna an menjenguk ke dalam hatinya. “ Dia itu bernama Wiratman, kenalkah kau

kepadanya, tuan adipati ?? “

Wajah Adipati Wiguna makin pucat dan ia tidak dapat menjawab untuk beebrapa

lama. Ia maklum bahwa letnan Belanda itu telah mengetahui hal ini dan iamerasa

seakan-akan ia berada dalam cengkraman tangan tamunya ini.

Melihat kebimbangan tuan rumah, letnan Dolleman tersenyum dan menarik napas

panjang tanda kepuasan hatinya. “ Tuan adipati, jangan kau gelisah. Sesungguhnya

saya sudah tahu belaka bahwa Wirataman itu adalah adik kandungmu ! Akan tetapi,

sekali saja janagn kau berkuatir, tuan Adipati. Biarpun hal ini apabila diketahui oleh

Sunan akan merupakan hal yang hebat dan bahaya akan mengancam keluargamu,

akan tetapi hal ini yang mengetahui hanay saya seorang, dan saya tah betul bahwa

tuan Adipati tidak sama dengan adik kandung yang menjadi pemberontak itu ! “

Kembali Dollemon menghisap cerutunya dan menyadarkan tubuhnya pada kursinya.

“ Tuan letnan Dolleman, terima kasih atas kepercayaanmu. Dan …… dan apakah

kiranya yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan budimu ini ? “

Melihat sikap dan mendengar ucapan Adipati Wiguna yang langsung itu, Dolleman

tertawa bergelak, memperlihatkan giginya yang besar dan putih.

“ Ha, ha, tuan Adipati. Saya suka melihat tuan yang bersikap terus terang dan

langsung ini ! Memang harus begini laki-laki menyelesaikan sesuatu persoalan. Terus

terang pula saya menyatakan kepadamu bahwa setelah bertemu dengan puterimu Roro

Santi pada keramaian di pantai kemarin dulu, saya merasa suka kepadanya. Dengan

setulus hati aya, saya mengajukan pinangan untuk puteri tuan adipati itu ! “ Sambil

berkata demikian, kembali sepasang mata Dolleman memandang tajam.

Bukan main terkejutnya hati Adipati Wiguna mendengar pinangan yang pernah

diduga-duganya itu. Dia adalah seorang Islam demikianpun semua keluarganya, dan

sungguhpun ia berselisih faham dengan Wiratman yang membela Trunajaya

sedangkan ia tetap bersetia kepada sunan Amangkurat II, namun ia tetap seorang umat

islam yang beribadat dan teguh iman. Bagaimana ia dapat menikahkan puterinya

kepada seorang Belanda, seorang kafir ? lagipula, puterinya itu telah dipertunangkan

dengan Raden Suseno, putera bupati di Rembang.

“ Tuan letnan, hal ini tak mungkin dapat kuterima ! Puteriku telah bertunangan

dengan putera Bupati Randupati di Rembang dan pula, sebagai seorang Islam, kami

tak mungkin menikahkan puteri kami kepada seorang yan bukan umat Islam ! Harap

kaumengerti akan hal ini dan mintalah saja yang lain. “

Dolleman tertawa lagi dan sikapnya masih tenang. “ Kalau begitu tiada jalan lain

bagi saya selain membuka rahasiamu kepada Sunan, biarkan Sunan sendiri yang

menetapkan akibatnya ! “

Tiba-tiba Dolleman tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak memperlihatkan sikap

melawan atau meraba senjata apinya.

“ Adipati Wiguna, simpan kembali kerismu itu. Aku hanya main-main saja.

Ketahuilah, di negeri Belanda akupun telah mempunyai seorang isteri yang manis dan

seorang anak, apa kaukira aku benar-benar hendak menikah lagi ! Ha, ha, ha,!

Adipati Wiguna memanang heran, menyimpan kembali kerisnya dan duduk sambil

berkata. “ Tuan letnan Dolleman, jangan kau main-main. Apakah maksudmu yang

sesungguhnya ? aku sudah tua, jangan kau memprmainkan perasaanku. “

Dolleman membuang putung cerutunyake alam tempolong yang berada di bawah

meja, lalu berkata dengan wajah sungguh-sungguh.

“ Tuan Adipati Wiguna, pinaganku ini hanya merupakan siasat untuk memancing

bajak laut Kertapati, agar aku mendapat jaln untuk menangkapnya ! “

“ Saya tidka mengerti mksudmu, bentangkanlah yang jelas. “

“ Begini tuan Adipati. Pada waktu bajak laut itu muncul di panggung dan berhadapan

dengan puterimu, saya dapat melihat dengan jelas bahwa bajak itu jatuh cinta kepada

puterimu ! Hal ini kuketahui baik-baik dan sungguhpun saya berani menyatakan

bahwa puterimu juga tertarik kepadanya, akan tetapi aku yakin betul bahwa penjahat

itu suka kepada Roro Santi ! Oleh karena itu saya mendapat akal. Kalau dia

mendengar bahwa Roro Santi akan menjadi isteri saya, tentu ia akan marah dan akan

menghalanginay dan demikian, kita mendapat kesempatan untuk menawan atau

membunuhnya ! “

“ Jadi …… tuan hendak menggunakan puteri saya sebagai umpan untuk memancing

dia keluar …… ?? “ tanya Adipati Wiguna dengan muka pucat.

“ Benar ! Akan tetapi jangan kuatir, kami akan menjaga keras agar puterimu itu tidak

mengalami sesuatu. Juga dengan pengurbanan ini, berarti Adipati dan puterinya telah

emnunjukkan jasa besar terhadap Mataram. Bukankah bajak laut itu selain musuh

Kompeni, juga merupakan musuh Mataram yang selalu mengacau dan menggangu

lalu lintas di laut ? “

Adipati wiguna mengerutkan kening dan berpikir, kemudian berkata ragu-ragu. “

Akan tetapi …… bagaimana dengan Bupati Randupati dan puterinya ? Saya rasa

mereka akan keberatan ! “

Dolleman tersenyum. “ Kalau kita jelaskan bahwa pinangan dan penyerahan

puterimu kepada saya ini hanya sandiwara belaka, mengapa mereka berkeberatan ?

Saya akan memberitahukan hal ini kepadaatasan saya, juga kepada Sunan, tidak mau

membantu, bukankah berarti bahwa dia membela dan melindungi bajak laut ?

kertapati ? Apakah dia berani menolak ? “

“ Akhirnya, karena berada di dalam kekuasaan Dolleman yang cerdik itu. Adipati

Wiguna ! Sekali-kali jangan kau ceritakan kepada Roro Santi, karena hal ini amat

berbahaya. Kalau sampai rahasia ini bocor, maka tentu bajak laut Kertapati akan

mendengar dan taidak mau membiarkan dirinya masuk perangkap ! “

Adipati Wiguna mengangguk-angguk mklum dan mereka berdua lalu pergi ke

Rembang guna berunding denga Bupati Randupati di Rembang. Juga Bupati ini

terpaksa menurut, sedangkan Raden Suseno yang tadinya merasa keberatan, ketika

mendengar bahwa hal ini dilakukan untuk memancing keluar bajak laut Kertapati

yang amat dibencinya, lalu menyatakan persetujuannya !

“ sekarang harap tuan Adipati Wiguna suka menyiarkan berita bahwa pertunaga

antara puterimu dan Raden Suseno dibatalkan dan kemudian menyiarkan berita bahwa

puterimu telah ditunangkan dengan seorang letnan Kompeni. Kita sama-sama lihat

apakah hal ini belum cukup kuat untuk memancing keluar Kertapati. Kalau belum

cukup kuat, barulah kita bertindak lebih jauh, yakni mengirimkan puterimu dengan

perahu Kompeni ke Semarang ! Sementara itu, aku akan berusaha menyelidiki di

mana sebenarnya sarang Kertapati itu ! “

Demikian Letnan Dolleman membari pesan terakhir kepada Adpipati wiguna.

***

Dua hari kemudian, seorang laki-laki berkumis panjang melarikan kudanya menuju

ke barat. Laki-laki ini datang dari Jepara dan ketika ia tiba di batas kota, ia ditahan

oleh beberapa orang penjaga. Akan tetapi laki-laki itu mengeluarkan sehelai kartu

yang ada tanda cap dua singa. Membaca kartu keterangan itu, para penjaga

membiarkan ia pergi tanpa berani menganggu, oleh karena kartu ini adalah tanda

bahwa orang ini adalah seorang mata-mata kaki tanagn Kompeni ! Memang benar,

orang ini bernama Jiman, seorang kaki tangan dari Letnan Dolleman. Akan ettapi,

sebenarnya Jiman adalah seorang anak buah bajak laut Kertapati yang dengan

cerdiknya telah mendapat kepercayaan dari Letnan Dolleman, bahkan telah dijadikan

mata-mata dari letnan itu !

Setelah melalui pos penjagaan dengan selamat, Jiman terus membalapkan kudanya

menuju ke barat an akhirnya ia memasuki sebuah dusun di pantai laut, kurang lebih

empat puluh kilometer dari Jepara. Di luar dusun nampak beberapa orang pemuda

nelayan yang menjaga an melihat kedatangan Jiman, mereka lalu mengantarkan matamata

itu ke sebuah rumah bambu besar. Di dalam rumah itu nampak kurang lebih dua

puluh orang laki-laki sedang duduk di atas tikar, agaknya sedang mengadakan rapat.

Inilah tempat berkumpulnya kawanan bajak laut yang dikepalai oleh Kertapati

memang mempunyai banyak tempat-tempat pertemuan di sepanjang pantai, dan ia

mendapat dukungan sepenuhnya ari penduduk dusun yang tahu akan perjuangan !

Perlu diketahui bahwa sebenarnya, Kertapati adalah seorang lejuang yang aktip dari

pemberontakan Trunajaya ! Sungguhpun ia bukan langsung menjadi anak buah

Trunajaya, akan tetapi sebagai seorang yang bersempati kepada pemberontakan

Tunajaya, ia merupakan pembantu sukarela yang telah banyak berjasa. Semenjak

Trunajaya masih bertahan di Surabaya, Kertapati telah banyak membantunay dengan

pengiriman-pengiriman senjata yang dapat dirampasnya dari perahu-perahu Belanda,

atau harta benda yang dapat dirampoknya dari perahu-perahu yang menjadi

kurbannya.

Melihat kedatangan Jiman, Kertapati berdiri menyambutnya dan mempersilakan

orang itu duduk.

“ Jiman, kau membawa berita apakah ? “ tanyanya dan semua mata dari mereka yang

duduk disitu ditujukan kepada pendatang itu.

“ Kertapati, “ kata jiman yang telah kenal baik kepada bajak itu, “ tidak ada berita

yang penting. Dolleman agaknay telah berputus asa dan tidka mengirim orangorangnya

untuk mencari jejakmu lagi. Akan tetapi ada sebuah berita aneh yang

membuat aku masih binggung memikirkannya. “

“ Apakah itu ? “

“ Aku mendengar berita bahwa Adipti Wiguna telah membatalkan pertunangan

puterinya dengan putera Bupati Randupati ! Hal ini memang tak ada gunanya

kuberitahukan kepadamu, karena mungkin sekali ini terjadi karena peristiwa dengan

kau dulu itu. Akan tetapi ada berita yang amat aneh mengejutkan, yaitu Adipati

Wiguna setelah membatalkan pertunangan puterinya itu, lalu mempertunangkan

anaknya dengan Dolleman ! “

“ Apa …… ?? “ Kertapati terkejut sekali sehingga ia bangkit dari tempat duduknya,

akan tetapi, ketika melihat betapa semua kawannya memandangnya dengan heran, ia

lalu menekan perasaannya dengan muka merah.

“ Ah, biarlah, Hal itu apakah sangkut pautnya dengan kita ? “ Akan tetapi, sambil

berkata demikian, di luar tahuany semua orag, diam-diam ia meraba saku bajunya di

mana tersimpan tusuk konde emas yang pada malam hari sering dikeluarkan dan

dikaguminya itu.

“ Semenjak pertunangan itu diumumkan, Dolleman nampak tenang-tenang saja dan

seakan-akan lupa kepada perkerjaannya. Jarang ia keluar pintu dan berdiam saja di

rumah tempat ia menginap “ , Jiman melanjutkan ceritanya. “ Oleh karena itu, kami

yang menjadi pembantunya, tidak mempunyai pekerjaan sesuatu dan aku

berkesempatan datang kemari. Selain itu, ada sebuah berita lagi. Rombongan

Tumenggung Basirudin akan datang besok pagi dengan perahu dari Semarang.

Kabarnya selain membawa isteri dan anaknya, tumenggung ini membawa banyak

barang-barang berharga. “

Berita ini disambut denagn girang oleh kawan-kawan Kertapati, sungguhpun kepala

bajak itu sendiri nampak tidak begitu gembira, karena hatinya masih penuh dengan

berita tentang pertunagan Roro Santi dengan Dolleman tadi.

“Aku tak dapat lama berdiam di sini, kuatir kalau-kalau menimbulkan kecurigaan.“

“Baik, kau kembalilah ke Jepara, Jiman, dan perhatikan kalau-kalau ada perubahan

dari fihak Dolleman, “ kata Kertapati. Jiman lalu keluar dan menunggang kudanya

kembali, lalu melarikan kudanya pulang ke Jepara.

“ Saudara-saudara, “ kata Kertapati kemudian kepada kawan-kawannya, “ seperti

telah kuceritakan tadi, sungguhpun Raden Trunajaya dan semua pegikutnya yang

gagah berani telah dikalahkan oleh Kompeni, akan tetapi, berkat bantuan para saudara

yang bersatu hati, kini Raden Trunajaya berhasil menduduki Mataram. Betapapun

juga, hal ini belum berarti bahwa bencana telah lenyap sama sekali. Saudara semua

tahu bahwa kedatangan Kompeni yang mengaakan perundingan dengan Sunan

bukanlah hal yang tidak ada artinya.

Tentu mereka bersepakat untuk sama-sama menggempur Mataram dan merampasnya

kembali dari Raden Trunajaya. Oleh karena itu, kita harus mengumpulkan sebanyak

senjata api dari Belanda, dan juga mengumpulkan harta benda untuk membiayai

pertahanan Raden Trunajaya. “

“ Hasil-hsil kita di laut tidak berapa besar, apakah artinya bagi Raden Trunajaya ? “

kata seorang anggota.

“Karena inilah maka kita harus bekerja keras, dan kalau perlu kita akan serang Jepara

dan merampas harta benda dari para hartawan an bagsawan di sana ! “

“ Itu berbahaya sekali ! “ seru seorang anak buahnya.

Kertapati tersenyum. “ Apakah artinya bahaya ? “

Orang yang ebrseru tadi tertawa geli. “ Bahaya artinya gembira ! “ katanya karena

memang ucapan ini merupakan semboyan mereka sejak dulu !

“ Kalau kita atur sebaliknya, apakah susahnya menyerbu kota seperti Jepara ? “

Demikianlah, dibawah pimpinan Kertapati yang cerdik itu, mereka mengatur siasat

untuk menyerbu Jepara, kemudian ditetapkan bahwa sebelum penyerbuan itu, mereka

lebih dulu akan merampok perahu yang adatang dari Semarang, yakni perahu yang

membawa keluarga Tumenggung Basirudin.

***

Menjelang senjakala, sebuah perahu yang cukup besar berlayar maju menuju ke

timur. Perahu ini datang dari Semarang, membawa penumapang-penumpang untuk

Jepara, yakni keluarga Tumenggung Basirudin berserta anak isteri, para pelayan, dan

beberapa orang saudagar. Karena mklum akan bahaya yang mengancam pada waktu

itu, yakni bajak laut Kertapati, Basirudin dikawal oleh sepasukan penjaga yang

membawa tombak, bahkan tiga orang pemimpin pasukan membawa senapan.

Mereka merasa lega bahwa selama pelayaran itu tidak terdapat gangguan sesuatu dan

kini pelabuhan Jepara telah nampak dari jauh. Ingin mereka lekas-lekas tiba di kota

itu karena sebelum melangkahkan kaki di ambang pintu rumah masing-masing,

mereka belum merasa aman.

Perahu maju perlahan karena angin tak berapa besar. Tiba-tiba seorang penjaga

berseru, “ Ada dua perahu di depan ! “

Semua orang menjadi pucat mendengar seruan ini dan memandang ke arah yang

ditnjuk. Benar saja, di depan mereka nampak dua buah perahu melintang dan

terapung-apung di atas air. Akan tetapi perahu-perahu yang berbentuk kecil akan

tetapi panjang itu tidak ada penumpangnya. Dua perahu itu kosong !

Tadinya pengemudi hendak membelokkan perahu, siap untuk menjauhi perahuperahu

itu, akan tetapi setelah memandang dengan jelas dan mendapat kenyataan

bahwa perahu-perahu itu memang kosong, mereka menjadi lega dan melanjutkan

perjalanan, makin mendekati perahu-perahu tadi.

“ Mungkin terlepas dari ikatan! “ kata seorang.

“ Nelayan-nelayan menakah yang demikian lalai sehingga perahu-perahu mereka

terlepas dan terapung-apung di sini? “ tanya orang kedua.

Jilid 2

Perahu-perahu itu bercat hitam ! “ terdengar seruan orang lain dengan kaget dan ngeri

karena warna hitam adalah warna yang selalu dipergunakan oleh bajak-bajak laut

Kertapati !

“ Perahu-perahu macam itu bukanlah perahu nelayan ! “ kata pula orang lain dengan

kaget dan gelisah.

Dan ketika perahu yang mereka tumpangi telah datang dekat dengan perahu-perahu

yang kosong itu, tiba-tiba mereka melihat banyak kepala orang bersembunyi di balik

perahu-perahu itu !

“ Bajak ……. ! Bajak laut Kertapati …… ! “ seru seorang penjaga yang segera

menyiapkan tombaknya. Gegerlah dalam perahu besar itu dan tiga orang pemimpin

pasukan yang membawa senapan segera berlari ke depan.

Kini para anak buah bajak yang tadi bersembunyi di belakang perahu, muncul dan

berenang dengan cepat bagaikan serombongan ikan cucut menuju ke perahu yang

hendak dirampok. Tiga orang pemimpin bersenapan lalu menembak ke arah mereka,

akan tetapi tiba-tiba dari balik perahu kecil itu melayang anak panah yang dengan

cepat dan jitu sekali menancap di leher seorang diantara para pemegang senapan itu.

Orang itu menjerit dan senapannya terlepas dari tangannya, jatuh keluar perahu, ke

dalam air ! Dua orang kawanya menjadi terkejut sekali melihat orang ini roboh denga

leher tertancap sebatang anak panah hitam, sehingga mereka menjadi gugup dan

tembakan-tembakan mereka ngawur. Kembali meluncur anak panah dari pasukan

pelindung yang terdiri dari lima orang dan yang bersembunyi di balik perahu sambil

mementang busur dan ributlah orang-orang di atas perahu. Mereka segera mencari

perlindungan dan menjauhi pinggiran perahu.

Hal ini memudahkan rombongan bajak yang dipimpin oleh Kertapati untuk

melemparkan besi-besi pengait ke atas. Besi-nesi itu diikat dengan tambang sehingga

kini banyak tambang tergantung di pinggir perahu. Bagaikan kera-kera yang gesit

para bajak itu naik ke tas melalui tambang dikepalai oleh Kertapati.

Maka terjdilah perang tanding yang hebat di tas perahu itu diantara ponggawa dan

anak buah bajak. Para ponggawa menggunakan tombak dan tameng, sedangkan para

bajak menggunakan parang atau keris. Teriakan-teriakan bercampur denagn suara

senjata gaduh. Anak buah bajak laut itu terdiri dari dua belas orang, sedangkan para

pengawal berjumlah dua puluh orang lebih, akan tetapi para bajak itu berkelahi

dengan hebat sekali.

Terutama Kertapati, pemuda yang sigap ini sama sekali tidak memegang senjata,

kaan tetapi di mana saja ia berada dan tiap kali kaki tangannya bergerak,

bergelimpanglah tubuh para ponggawa kena tendang atau pukul. Dua orang pemimpin

penjaga dengan senapannay tidak berani menembak karena dalam pertempuran kacau

balau itu, sukarlah untuk melepaskan tembakan tanpa membahayakan kawan sendiri,

maka mereka lalu berlari mendekati Kertapati dengan senapan ditodongkan !

Kertapati dapat melihat kedatangan dua orang itu yang menanti sat baik untuk

melepaskan tembakan kepadanya. Dengan cepat, pemuda itu lalu menangkap tanagn

seorang penyerang yang memegang tombak, meninju perutnya sehingga orang itu

mengeluh dan pingsan, kemudian dengan memutar tubuh orang ini di depannya,

Kertapati melangkah maju menyambut kedatangan dua orang pemegang senapan.

Dua orang pemimpin pengawal itu terkejut sekali, akan tetapi mereka tidak berani

menembak karena tembakan mereka tentu akan bersarang ke dalam tubuh kawan

sendiri yang diputar-putar di depan kepala bajak itu, dan selagi mereka masih raguragu

tiba-tiba tubuh ponggawa itu dilontarkan oleh Kertapati ke arah seorang

pemegang senapan ! Dan berbareng dengan melayangnya tubuh itu, ia sendiri lalu

melompat mengikuti dan menubruk pemegang senapan yang satu lagi ! Senapan

ditembakkan, akan tetapi karena Kertapati telah memperhitungkan hal ini dan

menubruk dengan gerakan dari samping, maka tembakan itu tidak mengenainya dan

sebelum orang itu dapat menembak lagi, tangan kiri Kertapati telah menangkap

pergelangan tangannya dan tangan kanan pemuda ini melayang ke arah dagu lawan. !

Akan tetapi, ternyata bahwa pemimpin pasukan itu pandai pula bersilat. Dengan

cepat ia dapat mengelak ke samping, akan tetapi terpaksa ia harus melepaskan

senapannya yang oleh Kertapati lalu dirampas dan dipegang larasnya. Pada saat itu,

pemegang senapan tang tadi tertimpa tubuh kawannya yang dilemparkan sehingga ia

jatuh tunggang langgang di atas papan geladak, telah berdiri lagi. Secepat kilat

senapan di tangan Kertapati diayun dan “ brak “, senapan lawannya itu kena dihantam

oleh gagang senapan Kertapati sehingga pecah berantakan ! Kertapati tertawa dan

melemparkan senapan rampasannya tadi ke laut !

Kini kedua orang pemimpin pasukan itu telah berdiri dan mencabut klewang mereka

! Dengan muka beringas dan kumis berdiri saking marahnya, mereka lalu melangkah

maju dengan tangan kanan yang memegang klewang diangkat tinggi-tinggi sedangkan

tangan kiri dikepal dan dirapatkan di atas pinggang. Inilah sikap atau kuda-kuda

seorang ahli pencak yang pandai !

Kertapati yang bertangan kosong menanti dengan tenang, tubuhnya berdiri dengan

kaki kiri di depan kaki kanan di belakang, agak membungkuk dan sepasang matanya

dengan tajam menatap dua orang lawannya. Seluruh urat-urat dalam tubuhnya

menegang, siap menghadapi serbuan lawan-lawan itu !

Pemimpin pasukan yang berkumis tebal tiba-tiba berseru keras an klewang di

tangannya diayun an dibacokkan ke arah kepala Kertapati dengan kecepatan luar

biasa sehingga bacokan itu mengeluarkan suara bersiutan ! Kertapati tidak tergesagesa

mengelak. Dengan tubuh tak bergerak dan mata waspada ia menanti datangnya

klewang yang menyambar kepalanya dan setelah klewang it hampir mengenai kepala,

barulah ia mengelak dengan sedikit gerakan saja.

Ia miringkan tubuh dengan tiba-tiba dan mengerakkan kepalanya, maka senjata lawan

itu menyambar di samping kepalanya mengenai angin. Pada detik berikutnya, tangan

kiri Kertapati yang dibuka dan dimiringkan telaha menyambar ke arah siku lengan

lawan yang memagang klewang !

Akan tetapi ternyata si kumis tebal itu benar-benar pandai silat karena ketika

membacok tadi, tangan kirinya sudah siap sedia melindungi tangan kanan maka

begitu melihat tangan kiri Kertapati menyambar siku kanannya, ia telah dapat

menangkis dengan tangan kiri melalui bawah siku itu ! “ Duk …… ! “ ketika dua

lengan beradu dengan keras, si kumis tebal berseru kesakitan dan tubuhnya terdorong

oleh tenaga pukulan Kertapati sehingga terhuyung-huyung ke belakang !

Ia menjadi terkejut sekali karena merasa betapa lengannya seakan-akan beradu

dengan kayu asam yang keras sehingga lengan kirinya terasa sakit sekali. Gerakan

mengelak dari pemuda itu tadi membuat ia mklum bahwa lawannya adalah seorang

ahli silat yang tinggi ilmunya, karena menurut gurunya dulu, makin tinggi ilmu silat

seseorang makin tenang dan cepat gerakannya dan hanya mengelak apabila serangan

lawan telah datang dekat untuk kemudian dibarengi dengan pukulan balasan yang

tiba-tiba dan mematikan !

Kalau saja tadi ia tak berlaku cepat dengan tangkisannya, tentu siku kanannya telah

terpukul dan kalau sikunya tidak terlepas sambungannya, sedikitnya klewangnya tentu

akan terlepas dari pegangan !

Sementara itu, orang kedua yang bermuka bopeng bekas dimakan penyakit cacar,

ketika melihat gagalnya serangan kawannya, lalu menerjang maju dan kali ini

menyerang dengan menusukkan klewangnya yang tajam dan runcing itu ke arah

lambung Kertapati ! Maksudnya hendak menyate tubuh pemuda itu dengan sekali

tusukan. Kembali Kertapati memperlihatkan kesigapannya. Ia melihat berkelebatan

ujung klewang mengarah lambungnya, maka dengan gerakan kakinya, hanya tubuh

atasnya saja yang mendoyong ke kanan sehingga klewang lawan menusuk

pinggangnya sebelah kiri. Saat itu, si kumis tebal telah melompat pula dan

menggunakan kesempatan itu untuk membacok pula dengan klewangnya pada leher

Kertapati yang tubuhnya masih miring ! Agaknya ia ingin memengal leher pemuda itu

bagaikan memenggal leher ayam saja.

Namun Kertapati tidak menjadi gugup. Oleh karena ketika mengelak diri ke kanan

tadi, ia tidak merobah kedudukan kakinya yang masih berada dalam pasangan kudakuda

cawang, yaitu kedua kaki terpentang ke kanan kiri dengan betis tegak lurus,

maka ketika klewang si kumis tebal membacok lehernya, ia dapat menggerakkan

kembali tubuhnya kepada kedudukan semula sebelum dibuang ke kanan dan secepat

kilat tangan kirinya yang tadi diangkat ke atas mengelak dari tusukan klewang si

muka bopeng, kini diturunkan dan dengan gerakan yang luar biasa dan berani sekali ia

mengempit klewang si bopeng di bawah ketiaknya ! Si muka bopeng melihat betapa

lawan muda itu berani mengempit klewang yang tajam dan runcing, cepat membetot

senjatanya.

Akan tetapi, kalau tadi ia telah merasa girang dan hendak membuat kulit iga an

lengan yang menegmpit klewangnya menjadi robek dengan betotan klwangnya yang

tajam, kini ia merasa terheran-heran sekali karena klewangnya itu seakan-akan

tercapit oleh catut besi yang kuat. Jangankan dengan satu tangan, bahkan ketika ia

membetot dengan kedua tangannyapun, klewangnya ama sekali tak bergerak !

Kertapati tertawa bergelak dan kaki kirinya menyabar ke arah dua tangan si muka

bopeng yang terpaksa melepaskan kedua tangannya dan melompat mundur ! Si kumis

tebal yang tadi tak berhasil membacok leher, ketika melihat betapa klewang lawannya

telah dapat dirampas, segera menyerang lagi dengan mambabi-buta. Klewangnya

diobat-abitkan bagaikan kitiran angin cepatnya, menyerang bagian atas dan bawah

tubuh Kertapati denagn tubuh jongkok berdiri. Dengan gerakan ini ia hendak

membuat lawanya tiada berkesempatan mengelak lagi. Akan tetapi kini Kertapati

telah mengambil klewang yang tadi dikempitnya.

Ia menanti sampai berkelebat klewang si kumis tebal mendekati tubuhnya, kemudian

ia menggerakkan klewang rampasan tadi sambil berseru keras,

“ Lepas senjata !! “ Dua batang senjata tajam bertemu. “ Traang ! “ dan meluncurkan

klewang dari tangan si kumis tebal bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.

Kebetulan sekali klewang itu meluncur ke arah Tumenggung Basirudin yang berdiri

denagn penuh kegelisahan di depan pintu kamar perahu itu. Agaknya klewang yang

terbang itu sebentar lagi akan menancap di dadanay tanpa dapat dicegah pula.

Akan tetapi, tiba-tiba Kertapati yang melihat hal ini segera melontarkan klewang di

tangannya yang secepat kilat menyambar menyusul klewang si kumis tebal tadi dan

sebelum klewang itu mengenai tubuh Tumenggung Basirudin, telah tersusul dan

terpukul kesamping oleh klewang yang dilontarkan oleh Kertapati ! Tumenggung

Basirudin menjadi pucat sekali dan segera menyerukan kepada semua ponggawanya

yang telah terdesak hebat,

“ Berhenti …… ! Tahan semua senjata …… ! Kami menyerah !! “

Mendengar seruan ini, Kertapati juga berseru kepada anak buahnya. “ Tahan serbuan

! “

Akan tetapi , kedua orang pemimpin ponggawa yang telah kena dirampas

klewangnya itu, ternyata masih merasa penasaran. Mereka adalh ahli-ahli pencak silat

yang terkenal di Semarang dan mereka bertubuh tinggi besar dan bertenaga kerbau,

masa mereka harus menyerah terhadap seorang pemuda yang tak berapa besar

tubuhnya dan nampak lemah lembut ini ?

Di semarang nama Kertapati telah amat terkenal pula dan tadinya kedua orang inipun

merasa gentar mendengar nama itu, akan tetapi kini setelah melihat orangnya, mereka

merasa penasaran kalau sampai dikalahkan. Maka mereka lalu mempergunakan

kesempatan pada waktu Kertapati sedang menengok ke arah anak buahnya untuk

memberi perintah itu, dengan cepat keduanya lalu menubruk maju dan sepasang

lengan mereka yang berurat bagaikan tambang dan panjang serta besar itu mmeluk

tubuh Kertapati ! Si kumis tebal dari kiri memeluk leher dan dada, sedangkan si muka

bopeng dari kanan memeluk pinggang Kertapati.

Jepitan dua pasang lengan ini kuat sekali, melebihi kuatnya belenggu besi, karena

keduanya telah menggunakan pitingan yang mereka sebut “ talipati “ yakni yang

maksudnya bahwa siapa yang telah terjepit kedua lengan ini pasti takkan terlepas lagi

!

Kami telah dapat menangkapnya ! “ si kumis tebal berseru girang.

“ Nah, berontaklah kau kalau mampu ! “ teriak si muka bopeng denagn sombong.

Sisa para pengawal menjadi girang melihat hal ini, sebaliknya siantara para anak

buah bajak ada yang memanang dengan kuatir. Mereka ini belum mengenal betul

pemimpin mereka, akan tetapi sebagain besar anggota bajak hanya memandang

sambil tersenyum dan menggunakan tangan untuk mencegah mereka yang agaknya

henak membantu Kertapati. Mereka memandang seakan-akan sedang menyaksikan

pertandingan gumul yang menarik !

Nampaknya Kertapati memang tak berdaya, Pemuda ini meronta ke kanan kiri

mencoba untuk meloloskan diri, akan tetapi ia hanya merupakan seekor lalat kecil

yang coba meloloskan diri dari sarang laba-laba yang menangkapnya ! Terdengar

suara gelak tertawa dari beberapa orang ponggawa yang melihat hal ini. Tak

seorangpun menyangka, juga kedua orang kepala ponggawa yang memiting Kertapati

itu, bahwa gerakan Kertapati tadi hanyalah untuk mengacaukan pengeraghan tenaga

kedua lawannya saja. Dengan meronta-ronta itu tenaga lawannya terbagi dan kacau

balau tak dapat di dipusatkan, kemudian terdengar pemuda itu menarik nyaring sekali

dan ia bergerak ambil mengerahkan Aji Belut Putih. Aji Belut Putih inilah yang

membuat Dursasana tokoh pewayangan dari para senopati Kurawa, terkenal sekali

karena kelincahannya.

Kedua orang pemimpin ponggawa yang menangkap tubuh kertapati itu tiba-tiba

merasa betapa tubuh pemuda itu menjadi licin bagaikan belut an sebelum mereka tahu

bagaimana pemuda itu bergerak, orang yang mereka piting itu telah merosot ke bawah

dan terlepas dari pegangan dan kempitan mereka ! Kertapati taidak mau berhenti

sampai di situ saja, kedua tangannya bergerak dan “ plal ! plak ! “ telapak kedua

tangannya telah menampar muka kedua orang itu sehingga membuat mereka merasa

pedas mkanya dan mata mereka menjadi gelap yang membuat mereka terpaksa

menutup kedua mata ! Mereka lalu mengulur tangan ke depan dan menangkap

sekenanya sehingga tanpa disadari mereka saling terkam dan saling piting !

“ Aduh, aduh ! kau mencekik leherku ! “ teriak si muka bopeng sambil terengahengah

dan sepuluh kuku jarinya mencengkeram ke depan.

“ Aduh …… ! Kumisku …… ! jangan tarik-tarik kumisku …… ! Teriak si kumis

tebal karena si muka bopeng dalam kebingunannya dicekik lehernya itu telah

mencengkeram ke depan dan membetot apa saja yang kena ditangkapnya !

Terdengar gelak tertawa dan kali ini yang tertawa adalah kawan-kawan Kertapati.

Sebelum kedua orang kepala ponggawa itu insaf bahwa mereka telah saling jambak,

tiba-tiba tangan Kertapati memegang dan mencengkeram rambut kepala yang

berdekatan dan kedua kepala itu lalu dibenturkan satu kepala yang lain dengan

kerasnya !

Biarpun hidung merupakan anggota muka yang lunak, akan tetapi kalau saling

dibenturkan dengan kuat-kuat, akan terasa sekali sakitnya. Apalagi kalau yang

membenturkannya Kertapati, maka setelah terdengar suara “ blek ! “ yang bagi telinga

kedua orang itu terdengar bagaikan letusan gunung Merapi, kedua orang itu setelah

dilepas lalu roboh pingsan dengan hidung mengeluarkan darah !

Kini semua sisa ponggawa baru melihat dengan mata kepala sendiri kehebatan

Kertapati, maka mereka berdiri dengan kaki mengigil, sedangkan Tumenggung

Basirudin lalu berlari masuk ke dalam bilik perahu itu !

“ Rampas semua senjata. Jangan menggangu mereka yang tak menyerang ! “

Dia sendiri dengan sigapnya lalu melompat ke dalam bilik, menyusul Tumenggung

tadi. Di dalam kamar itu nampak Tumenggung Basirudin, isterinya, dan anaknya,

yakni seorang gadis cantik yang ebrdiri denagn tegak dan membelalak kedua matanya

tanpa memperlihatkan rsa takut sama sekali.

Inilah Dyah Winarti puteri Tumenggung Basirudin. Ia telah mendengar ribut-ribut

tadi dan mendengar pula bahwa bajak laut Kertapati datang menyerbu, maka gadis

yang tabah ini menghibur ibunya yang menangis ketakutan.

Kini, melihat datangnya seorang pemuda baju hitam, gadis ini dengan heran berseru,

“ Ah, dia ini yang mendapat tusuk konde Roro Santi dulu ! “

“ Sst, dialah Kertapati …… “ bisik ayahnya yang berdiri menghadang di depan

isterinya untuk melindungi mereka. Kemudian berkata kepada pemuda itu.

“ Kertapati, kau boleh ambil semua barang-barang kami, akan tetapi janganlah kau

mengganggu anak isterilu ! “

“ Siapa yang hendak mengganggu ? “ kata Kertapati sambil tersenyum mengejek,

akan tetapi tiba-tiba ia mendapatkan sebuah akal yang amat baik yang timbul dari

seruan gadis itu. Gadis ini telah kenal kepada Roro Santi, dan selain itu, iapun

memerlukan seorang yang dapat membawanya masuk ke Jepara pada saat penyerbuan

kota itu. Maka ia lalu berkata, “ Tumenggung Basirudin, aku tidak mau mengganggu

anakmu, akan tetapi aku hendak meminjam sebentar. “

Apa maksudmu ? “

Kertapati tertawa. Tentu saja ia tidak dapat memberitahu apa maksudnya dengan

gadis itu.

“ Tumenggung Basirudin, kami datang untuk mengambil barang-barang berharga di

perahu ini, dan anakmu akan kami jadikan tawanan agar kami dapat pergi dengan

aman. Jangan kuatir, aku yang tanggung bahwa puterimu takkan terganggu oleh

siapapun juga ! “

“ Keparat, jangan ganggu anakku ! “ Tumenggung Basirudin berseru dan melangkah

maju hendak menerjang. Akan tetapi sebuah dorongan tangan Kertapati membuat

Tumenggung yang lemah itu jatuh tersungkur ! Kemudian Kertapati hendak

menendang tubuh itu, akan tetapi terdengar teriakan Winarti, “ Jangan pukul ! Aku

akan ikut padamu ! “

Kertapati tersenyum lega ketika Tumenggung Basirudin hendak mencegah anaknya,

Winarti berkata.

“ Rama, Kertapati bukanlah bajak laut sembarangan yang mau mengganggu wanita.

Aku percaya kepadanya ! “

Demikianlah setelah perahu iti dirampok habis, para bajak laut lalu turun dan kembali

ke dalam perahu. Mereka tak perlu takut untuk diserang dari atas perahu besar, oleh

karena kini mereka mempunyai seorang tawanan yang menjadi tanggungan atau

penjaga keamanan ! Perahu-perahu kcil cat hitam itu lalu meluncur cepat, menghilang

di dalam kegelapan malam mulai mendatang, membawa semua barang berharga dan

juga Winarti yang duduk di dekat Kertapati tanpa takut-takut, bahkan menggunaka

matanya untuk memandang kepada bajak laut muda itu dengan penuh kekaguman !

“ Siapakah namamu, manis ? “ tanya Kertapati kepada gadis itu tanpa memandang

wajahnya.

“ Diah Winarti, “ jawab gadis itu singkat.

“ Tadi kau menyebut nama Roro Santi, kenalkah kau kepada gadis itu ? “ Kini mata

Kertapati menatapnya dengan tajam, dan heranlah pemuda itu melihat betapa sinar

mata gadis itu memandangnya dengan halus dan mesra !

“ Tentu saja kukenal dia, akan tetapi kalau boleh kunasihatkan, tiada gunanya kau

memikirkan dia ! “

“ Apa maksudmu ? “ Kertapati bertanya sambil mengerutkan kening.

Maksudku …… sia-sia saja kau jatuh cinta kepadanya dan …… “

“ Hai mengapa kau berani berkata selancang itu ? “ Kertapati membentaknya. “ Siapa

bilang bahwa aku …… mencinta ……. “

Winarti tersenyum memperlihatkan sebaris gigi yang kecil dan putih bersih. “

Kaukira aku tidak melihatmu ketika kau hendak mengembalikan tusuk konde dulu itu

? Aku duduk di dekat Roro Santi ! Kau cinta kepadanya, hal ini mudah diterka, akan

tetapi apakah kehendakmu itu akan tercapai, inlah soal yang sukar sekali !

Pertama, Roro Santi adalah puteri Adipati Wiguna yang berpangkat tinggi, kedua

gadis itu sekarang telah dipertunangkan denagn seorang Letnan Kompeni, ketiga, kau

adalah seorang bajak laut yang dibenci. Maka kunasehatkan kau tadi bahwa tiada

gunanya kau memikirkan dia ! “

Ucapan ini benar-benar menikam ulu hati Kertapati, sungguhpun ia merasa heran

mengapa ia merasa hatinay sakit mendengar ucapan seperti itu. Winarti adalah

seorang gadis yang berpemandangan tajam dan berperasaan halus, maka melihat kerut

di kening Kertapati serta kemuraman yang menyelimuti sinar matanya, ia lalu berkata

sengan suara menghibur,

“ Seorang tampan dan gagah seperti aku, msih muda pula, tak perlu merasa putus asa

dan patah hati. Di dunia masih banyak puteri-puteri bangsawan yang cantik jelita ! “

Kertapati mau-tak-mau tersenyum juga mendengar ucapan ini. Alangkah tabahnya

gadis ini. Sebagai seorang tawanan yang ebrada di tangan bajak-bajak laut, baukannya

merasa takut, bahkan kini menjadi penasihat dan pengiburnya dalam hal asmara.

Keberanian gadis itu membuat Kertapati menjadi agak gembira, maka sengaja ia

melayani percakapan itu dan berkata,

“ Bukankah tadi aku bilang bahwa aku adalah seorang bajak laut yang dibenci ?

Puteri bagsawan mana yang sudi kepadaku ? “

Kini jawaban Winarti yang disertai pandang mata lembut dan penuh perasaan, benarbenar

membuat Kertapati terkejut. Gadis itu berkata. “ Banyak terdapat puteri-puteri

bangsawan cantik jelita yang lebih menyinta seorang bajak laut yang muda, rupawan

an gagah perkasa, daripada seorang teruna bagsawan atau pangeran yang bertubuh

lemah, berpenyakitan, dan biasanay hanya mengumpulkan selir, sebanyaknya aja !

Aku sendiri …… akupun tidak suka dan benci sekali melihat pemuda bangsawan

macam itu !

Dan …… bajak laut hanyalah merupakan nama saja, merupakan sebutan seperti

halnay pakaian yang dipakai. Kalau pakaian itu ditinggalkan dibuang jauh-jauh di laut

dan kemudian diganti dengan pakaian lain yang bersih, siapa yang akan tahu kalau

Kertapati adalah bekas seorang bajak laut yang ditakuti ? Dan aku …… kiranya aku

akan dapat menolongmu dalam hal ini , yakni ….. kalau kau kehendaki …… “

Tiba-tiba Kertapati tertawa bergelak. “ Minggirkan perahu ! “ katanya kepada anak

buahnya yang mendayung perahunya. Para anak buahnya merasa heran mendengar

perintah ini karena mereka msih jauh dari perkampungan yang makam hari ini akan

dijadikan tempat persembunyian. Tapi mereka merasa girang melihat betapa Kertapati

yang biasanya “ alim “ terhadap wanita itu, kini bahkan dengan tangan sendiri

menculik seorang gadis. Dan melihat kecantikan puteri ini, diam-diam mereka

mengharapkan agak kali ini Kertapati benar-benar akan memilih jodohnya !

Maka, bukan main kecewa dan keheranan mereka ketika melihat bahwa setelah

perahu menempel di tepi pantai, Kertapati lalu menarik tanagn gadis itu turun dari

perahu dan berkata, “ Nah, sampai di sini saja. Winarti ! Dan tetang nasihatmu tadi

…… akan kupikir-pikirkan baik-baik. Terima kasih ! “ Sambil tertawa Kertapati lalu

melompat ke atas perahunya lagi dan menyuruh anak buahnya mendayung pergi.

“ Kertapati ! Jangan tinggalkan aku seorang diri di sini …… aku takut ! “ Winarti

berteriak-teriak sambil memandang ke sekelilingnay yang sunyi dan gelap,

“ Ha, ha, ha, ! Kau tidak takut kepada bajak laut Kertapati, masa sekarang kau takut

kepada malam gelap ? Ha, ha, ha ! “ Terdengar suara ketawa Kertapati dan kawannya

makin menjauh dan melenyap berbareng dengan lenyapnya bayangan perahu mereka.

Winarti menjadi binggung. Kembali ia memandang ke sekelilingnya yang gelap.

Sinar bulan yang suram muram mebuat pohon-pohon besar nampak bagaikan raksasa

hitam tinggi besar dan angin laut yang tertiup membuat raksasa-raksasa itu bergerakgerak

seakan-akan handak menerkamnya. Winarti berlutut di atas pasir pantai dan

menutupi kedua matanya dengan tangan, lalu menangis !

“ Dengar, kawan-kawan. Kalian harap lekas membawa barang-barang ini ke tempat

kawan-kawan kita yang lain. Adakah persiapan untuk penyerbuan kota jepara yang

akan kulalukakn pada besok malam ! Kerahkan semua kawan-kawan, bahkan

tambahan balabantuan dari kampung-kampung yang ebrdekatan. Kita harus memberi

pukulan keras dan mendatangkan hasil yang besar kali ini agar cepat dapat kita

kirimkan ke Mataram ! Kalian boleh berkumpul di gerbang berat, menanti tiada yang

akan kuberi dengan panah api. “

“ Kau sendiri bagaiamana akan dapat masuk ke Jepara ? Wajahmu telah dikenal dan

setelah perahu Tumenggung Basirudin itu tiba di Jepara, tentu penjagaan akan

diperkuat ! “ kata seorang kawannya.

“ Mudah saja, aku sudah mempunyai “ kunci masuk “ yang merupakan seorang gadis

cantik. “

Kawan-kawannya memandang heran, akan tetapi kemudian mereka dapat menduga,

maka terdengar suara ketawa disana-sini. Kertapati lalu mengatur siasat penyerbuan

itu dan memberi pesan kepada semua kawannya bagaimana harus menyerbu Jepara

pada besok malam. Kemudian ia berkata.

“ Jangan lupa, kawan-kawan, karena mungkin aku tidak akan mempunyai

kesempatan untuk mengulang pesanan ini. Kelima ahli panah kita, Harjo, Wiro

Mangun, Dibyo dan Kartiko, harus menyerang rumah penginapan Dolleman untuk

menarik pertahanan kota di tempat itu. Serang sambil berpencar, tipu mereka dengan

panah-panah kembar, dan jangan lupa bawa karung-karung pasir untuk tempat

berlindung mereka. “

Setelah memberi pesan dengan teliti sekali, ia lalu berpaling kepaad seorang anggota

bajak yang sudah agak tua, bertanya, “ Dirun, kau bawa perabot-perabotmu ? “

“ Ada, ada dalam saku bajuku, “ jawab orang itu.

“ Nah, maro kaurobah mukaku, jangan terlalu muda, juag jangan terlalu tua, cukup

saja untuk menarik kepercayaan seorang gadis tanpa menimbulkan jijik. Ia duduk di

atas pasir dan Dirun mulai “ merobah “ muka kepala bajak muda itu dengan jari-jari

yang amat cekatan. Pekerjaan ini dilakukan hanya dibawah penerangan beberapa

batang obor yang mereka nyalakan.

Winarti masih duduk ditepi laut seorang diri, kadang-kadang menangis, kadangkadang

mengibur diri sambil menarik napas panjang. Tak lama lagi, hari akan terang

kembali dan aku bisa mencari jalan pulang atau minta tolong kepada orang kampung

yang kujumpai di jalan, demikian ia menghibur diri sendiri dan menekan rasa

takutnya. Akan tetapi kalau ia teringat kepada Kertapati, tak terasa air matanya

mengalir turun kembali. Ia merasa amat kecewa, karena pemuda yang luar biasa,

tampan dan gagah perkasa itu agaknya sama sekali tidak tertarik kepadanya. Yang

menyakitkan perasaannya ialah bahwa pemuda itu tidak menaruh kasian kepadanya !

Alangkah kejamnya, meninggalkan aku seorang diri di tempat seperti ini.

Ah, dia tidak berjantung, tidak berperasaan, tak kenal perikemanusiaan ! Winarti

mengomel panjang-pendek di dalam hatinya dan mencoba untuk menanam rasa benci

di dalam hatinya. Akan tetapi, diam-diam ia harus akui bahwa tak mungkin baginya

untuk membenci pemuda itu. Ia kagumi kegagahannya, dan wajah itu ….. terutama

matanya yang tajam tak mau hilang saja dari bayang-bayang lamunannya !

Ah, pikirnya sambil mengigit bibir, kalau dia berganti pakaian, berganti nama, dan

menjadi …… mantu ayahku, siapa yang akan menyangka bahwa ayahku, siapa yang

akan meyangka bahwa dia adalah bajak laut Kertapati ? Alangkah bahagianya

bersuamikan seorang gagah perkasa ….. ah, akan tetapi ia sombong, sombong dan

kejam ! Aku benci padanya ….. benci ! Ia menangis lagi.

Tengah malam telah lewat dan keadaan makin sunyi membuat hati Winarti makin

gelisah dan takut. Sebetulnya bukan tak ada orang sama sekali di sekitar tempat itu,

karena semenjak tadi, di luar tahunya Winarti, ada sepasang mata yang tajam dan

bersembunyi di balik bulu mata yang sudah keputih-putihan dan pelupuk mata yang

agak sipit dan berkeriput.

Ini adalah mata seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai seorang

petani, baju biru panjang penuh tambalan, celana panjang samapi bawah lutut, jga

penuh tambalan, rambutnya yang telah banyak uban itu tertutup oleh sehelai ikat

hitam dan sarungnya diselempangkan pada pundak kirinya.

Kakek ini berdehem perlahan dan muncul dari tempat persembunyiannya. Winarti

yang sedang menangis terkejut sekali hingga serentak ia bangun berdiri. Akan tetapi,

ketika ia melihat seorang setengah tua berdiri tak jauh dari situ, ia menjadi setengah

tua berdiri bertindak menghampiri ia berkata.

“ Pak tua ….. kau tolonglah aku ….. “

Kakek itu melihat di bawah sinar bulan yang suram betapa seorang gadis cantik

berlari kepadanya, maka ia segera membelalakkan matanya dan nampak terkejut

sekali.

“ Ya Jagat Dewa Patara ….. ! “ ia memuji. “ Bagaimana di tempat seperti ini muncul

seorang kuntilanak ? Hai iblis ! Pergilah dan jangan ganggu Pak Sumpil ! Aku sudah

tua dan takkan tertarik oleh kecantikanmu ! “ Sambil berkata demikian, kakek itu

mengangkat kedua tangannya seakan-akan ia berdoa !

Sungguhpun ia tadi baru saja menangis, akan tetapi melihat kelakuan kakek itu,

Winarti tertawa terkekeh-kekeh sehingga kakek itu makin ketakutan dan mundur dua

langkah.

“ Pak tua …… atau Pak Sumpil kalau memang itu namamu. Aku bukan kuntilanak !

Lihatlah, apakah punggungku bolong ? “ Sambil berkata demikian, Winarti lalu

memutar tubuhnya memperlihatkan punggungnya yang halus, bersih dan sama sekali

tidak bolong.

“ Bukan kuntilanak …… ? Maaf …… kalau begitu, siapakah den ajeng ini ?

Mengapa seorang wanita muda seperti den ajeng berada di tempat ini pada saat seperti

ini ? “ Kakek itu menghampiri dengan membungkuk-nungkuk memberi hormat.

“ Saya adalah puteri Tumenggung Basirudin di Jepara. Siapakah kau , pak ? Apakah

namamu Pak Sumpil? “

Kakek itu nampak tertegun mendengar bahwa puteri ini adalah anak seorang

tumenggung, maka ia segera memberi hormat dan berkata. “ Memang benar nama

hamba Pak Sumpil, karena selain menjadi petani, hamba suka mencari dan

mengumpulkan sumpil ( keong kecil ), maka hamba disebut Pak Sumpil. Mengapa

den ajeng berada di tempat ini seorang diri ? “

Dengan girang karena telah bertemu dengan seorang dusun, Winarti lalu

menceritakan bahwa ia telah diculik oleh bajak laut Kertapati dan diturunkan di situ.

“ Maka, harap kau suka tolong aku, Pak Sumpil. Antarkan aku ke Jepara, ayah tentu

akan memberi hadiah besar kepadamu ! “

Pak Sumpil segera menyanggupi dan berkata, “ Karena malam gelap. Lebih baik kita

berangkat besok pagi-pagi, den ajeng, lebih baik kita berangkat besok pagi-pagi, den

ajeng. Kalau den ajeng suka, dan den ajeng boleh mengaso atau tidur, hamba yang

menjaga. “

Akan tetapi Winarti tak dapat tidur, dan setelah Pak Sumpil membuat api unggun

untuk mengusir dingin dan nyamuk , ia malah mengajak kakek itu bercakap-cakap.

“ Telah lama hamba dan sekalian saudara-saudara di kampung mendengar nama

bajak laut Kertapati. Bahkan belakangan ini orang-orang mengabarkan bahwa bajak

laut itu hendak menikah dengan seorang puteri Jepara yang ebrnama Roro Santi !

Betulkah berita ini, den ajeng ? “

“ Bohong ! Bagaimana seorang bajak laut yang jahat bisa menikah denagn seorang

puteri Adipati ? Menggelikan ! Andaikata Roro Santi sendiri setuju, tak mungkin

ayahnya memberi ijin. Pula, Adipati Wiguna telah memberikan puterinay itu kepada

letnan Kompeni, mereka sudah bertunangan ! “

Kakek itu nampak kaget. “Apa ?? Menikahkan puterinya dengan seorang Kompeni ?

Aneh benar !! Belum pernah hamba mendengar berita seaneh ini selama hamba

hidup.“

“ Ini kehendak Adipati Wiguna, siapa bisa menghalanginya ? “

“ Apakah den ajeng Roro Santi juga sudah setuju dinikahkan dengan seorang

Belanda yang bermata biru dan berambut kuning ? “

Winarti menggeleng kepalanya. “ Jangankan kepada seorang letnan Kompeni,

bahkan pada tunangannya yang dulupun, Roro Santi tidak pernah merasa suka.

Padahal tunangannya yang dulu, Raden Suseno, adalah seorang pemuda yang cukup

tampan dan gagah ! “

“ Seorang gadis yang keras hati dan tak mudah jatuh cinta …… “ kakek itu berkata

perlahan, “ diwaktu hamba masih muda dulu, pernah hamba bertemu dengan seorang

gadis seperti itu. “

“ Benarkah, Pak Sumpil ? Tentu pengalamanmu banyak sekali tentang watak-watak

wanita, bukan ? Kau agaknya bukan seorang alim di waktu mudamu, pak ! “

Kakek itu tertawa bergelak. “ Ah, hamba hanyalah seorang dusun, dan wanita-wanita

yang hamba kenalpun hanya perempuan-perempuan tani dan nelayan. “

“ Menurut pendapatku, pak, seorang gadus seperti Roro Santi itu kalau sudah

menjatuhkan hatinya kepada seseorang, akan dibelanya sapai mati ! “

Setelah mendengar ucapan Winarti yang terakhir ini, kakek itu nampak tak ingin

banyak bicara lagi dan Winarti yang kini tidak merasa takut lagi lalu menyandarkan

tubuhnya pada batang pohon dan tertidur.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Winarti diantar oleh Pak Sumpil menuju ke

Jepara. Akan tetapi, oleh karena perjalanan melalui hutan dan jalan yang amat sukar,

sedangkan sebagai puteri bangsawan Winarti tak biasa berjalan jauh, maka perjalanan

itu makan waktu sampai sehari ! Gadis itu sama sekali tidka tahu bahwa kalau

sekiranya mereka mengambil jalan langsung dan tidak berputar-putar dulu, tak sampai

setengah hari mereka akan sampai di Jepara.

Menjelang senja mereka memasuki gerbang pintu Jepara dan para penjaga ketika

melihat Winarti diantar pulang oleh seorang petani itu, menjadi girang sekali. Segera

mereka memberitahukan hal ini kepada Tumenggung Basirudin yang segera datang

menjemput puterinya Winarti bertangis-tangisan dengan ayah-ibunya dan ketika

kedua orang tuanya itu mendengar bahwa puteri mereka selamat dan tidak terganggu

oleh bajak laut kertapati, mereka merasa bersukur sekali.

Winarti menuturkan jasa Pak Sumpit yang mengantarkan sampai ke kota Jepara,

maka dengan berterima kasih sekali Tumenggung Basirudin lalu memberi hadiah

uang dan pakaian.

Pak Sumpit mengucapkan banyak terima kasih, kemudian ia diperkenankan untuk

bermalam di situ, mendapat tempat di bagian para nelayan. Akan tetapi Pak Sumpit

menyembah dan mengajukan permohonan.

“ Gusti Tumenggung, banyak terima kasih hamba haturkan atas segala kurnia paduka

kepada hamba yang sesungguhnya tidak melakukan sesuatu yang patut diberi jasa.

Hamba adalah seorang dusun yang baru pertama kali semenjak puluhan tahun yang

lalu melihat kota Jepara yang demikian indah. Oleh karena itu, karena besok pagi-pagi

hamba harus kembali ke pondok hamba karena kuatir kalau-kalau anak cucu hamba

mencari-cari, apabila diperkenankan, malam hari ini hamba tak hendak tidur. Hamba

ingin menikmati keindahan kota Jepara dan berjalan-jalan di kota. “

Semua orang tertawa mendengar ini. “ Tentu saja boleh, Pak Sumpil. Bahkan pintu

samping akan kusuruh buka saja sehingga sewaktu-waktu kau datang, kau dapat terus

masuk ke belakang, “ jawab Tumenggung Basirudin ramah.

Pak Sumpil lalu minta diri dan keluar dari gedung tumenggung.

Dengan langkah perlahan dan memandang ke kanan kiri dengan penuh kekaguman,

berjalan-jalan seorang diri di kota Jepara.

Seorang penunggang kuda lewat cepat di dekatnya. Pak Sumpil menengok memberi

isarat dengan tangan kirinya. Penunggang kuda itu lewat terus seakan-akan tidka

melihatnya, akan tetapi tak lama kemudian ia datang kembali dan melemparkan

segulung kertas yang jatuh dekat kaki Pak Sumpil. Kakek ini berhenti berjalan,

mengeluarkan slepai tembakaunya. Ketika ia menyalakan sebatang rokok klobot, tibatiba

slepainya terlepas dari tangan. Ia mengambilnya dan kertas gulungan itupun

terbawa oleh jarinya. Lalu ia melanjutkan perjalanannya sambil tunduk membaca

tulisan di kertas gulungan itu, yang hanya sebaris.

Kawan-kawan siap, gerbang selatan lemah. Kita serbu di sana.

“ Bagus, Jiman ! “ Kertapati tersenyum, karena kakek atau Pak Sumpil itu

sebenarnya memang Kertapati sendiri yang menyamar dan mempergunakan Winarti

sebagai “ perisai “ atau “ kunci masuk “ sehingga ia dapat memasuki Jepara tanpa

banyak menimbulkan kecurigaan.

Jiman sendiri tadi tidak mengenalnya, demikian sempurna samaran yang dilakukan

oleh Kertapati itu, akan tetapi ketika melihat tanda isarat yang diberikan oleh

Kertapati, barulah Jiman mengenalnya. Pembantu ini memang semenjak tadi telah

merasa gelisah karena tidak melihat Kertapati yang menurut kata kawan-kawan

berada di dalam kota.

Setelah membaca surat itu yang lalu disobek-sobek dan dimasukkan ke saku bajunya

untuk disebar di sepanjang jalan sedikit demi sedikit. Kertapati lalu melanjutkan

perjalanannya dengan langkah perlahan dan lemah menuju ke selatan. Memang benar

sebagaimana laporan Jiman, yang menjaga di gerbang ini hanya tiga orang penjaga.

Pada saat Kertapati tiba di situ, Jiman telah mendahuluinya dan kini pembantunya itu

nampak sedang bercakap-cakap dengan mereka. Jiman adalah seorang pembantu

Letnan Dolleman yang banyak dikenal oleh para penjaga.

“ He, pak tua ! “ Jiman menegur ketika Kertapati berjalan dekat pintu gerbang. “ Kau

hendak pergi ke mana ? “

Sambil terbatuk-batuk seperti seorang kakek yang menderita penyakit mengguk,

Kertapati berjalan terseok-seok menghampiri mereka, kemudian berkata.

“ Aku …….. adalah Pak Sumpil yang tadi mengantarkan pulang puteri Gusti

Tumenggung. Waah, aku mendapat hadiah banyak sekali, coba lihat hadiah ini,

alagkah indahnya …… “ sambil berkata demikian ia mengeluarkan sesuatu dari

sakunya dan menggenggam dengan kedua tangan.

Tiga orang penjaga menjadi tertarik hatinya dan karena hadiah yang dikeluarkan dari

saku itu agaknya kecil sekali sehingga tidak nampak dari tempat mereka, mereka

bertiga lalu melangkah maju untuk melihat benda di dalam kedua tangan kakek itu.

Akan tetapi, alagkah kaget mereka ketika melihat bahwa kedua tanagn itu kosong tak

terisi apa-apa ! Selagi mereka hendak menegur, secepat kilat kedua lengan Pak

Sumpil bergerak dan tahu-tahu leher dua orang penjaga telah dijepit dengan

lengannya sedemikian kerasnya sehingga tak dapat mengeluarkan teriakan sama

sekali.

Pada saat itu juga, Jiman telah memukul kepala penjaga ketiga dengan gagang

kerisnya sehingga penjaga itu roboh pingsan. Setelah membuat ketiga orang penjaga

itu tak berdaya dan menyeret tubuh mereka ke dalam semak-semak di dekat gardu,

Kertapati dan Jiman lalu membuka pintu gerbang. Jiman lari ke kudanya dan

mengambil busur dan anak panah. Tak lama kemudian, dari gerbang itu meluncurlah

anak panah yang dipasangi api keluar dari pintu gerbang.

Mereka menanti sebentar dan tak lama kemudian berserabutanlah kawan-kawan

mereka berlari datang dari balik-balik pohon. Tanpa banyak ribut karena memang

telah diatur terlebih dahulu, mereka memecah rombongan menjadi beberapa bagian,

mendatangi gedung-gedung besar yang telah menjadi bagian masing-masing !

Suasana sunyi senyap, akan tetapi tak lama kemudian, ributlah seluruh Jepara oleh

bunyi kentungan yang dipukul bertalu-talu dan bersaut-sautan. Titir ! Tanda ada

perampok menyerang kota. Akan tetapi rumah manakah yang dirampok ? Demikian

banyaknya kentungan berbunyi pada saat yang sama ! Para penjaga menjadi panik dan

tiba-tiba terdengar tembakan-tembakan senjata api di gedung tempat para Kompeni

bermalam ! Berlari-larilah para penjaga ke tempat itu dan hanya beberapa orang

penjaga saja yang mendatangi rumah-rumah yang didatangi perampok, karena

sebagaian besar berlari menuju ke arah datangnya suara senjata api. Mereka merasa

lebih aman berlindung di belakang Kompeni yang bersenjata api !

Para penjaga dan Kompeni menjadi panik ketika rumah itu diserang dengan anakanak

panah yang meluncur itu, dapat diguga bahwa fihak penyerang sedikitnya tentu

ada dua puluh orang. Kompeni yang berada di dalam rumah itu hanya ada dua belas

orang, termasuk Dolleman yang memaki kalang kabut. Letnan ini lalu memimpin

kawan-kawannya untuk menembak ke arah penyerbu, akan tetapi para penyerbu itu

selain berlindung di balik batang-batang pohon, juga ternyata membawa karungkarung

pasir yang ditumpuk-tumpuk di dekat pohon itu !

“ Setan jahanam ! “ seru Dolleman marah sekali. “ Bagaimana mereka dapat masuk

ke kota ? “

Ketika mendengar bahwa mereka datang dari pintu selatan, Dolleman makin marah.

Telah lama ia mencurigai Jiman dan malam hari ini adalah giliran Jiman untuk

melakukan pengawasan terhadap para penjaga !

Sementara itu, para anak buah bajak laut dengan mudah telah dapat memasuki

gedung-gedung bagian mereka dan mengambil harta benda yang dapat mereka bawa.

Kertapati sendiri dengan dikawani oleh empat orang kawannya, menyerbu ke gedung

Wiguna dan beberapa orang penjaga yang masih berada di situ dengan mudah saja

dapat mereka bikin tak berdaya. Adipati Wiguna sekeluarga bersembunyi di dalam

kamar mereka karena ketika Adipati Wiguna hendak ikut menghadapi perampok, ia

dipegang oleh isterinya yang mencegahnya.

“ Biarlah mereka membawa semua harta benda, apakah artinya itu bagi kita ? Kalau

kau sampai terkena bencana, bagaimanakah dengan kami ? “ isterinya mencegah, juga

Roro Santi mencegah ayahnya.

Kertapati setelah berhasil mengabil barang-barang berharga yang terbuat daripada

emas, lalu memimpin kawan-kawannya untuk meninggalkan gedung itu, akan tetapi

ia bertemu dengan seorang kawannya yang terluka pada pundaknya.

“ Wiji ! Kau terluka ? Bagaimana kawan-kawan ? “

“ Celaka, Kertapati ! Lima orang kawan kita yang menyerburumah Kompeni telah

tertawan ! “ Kagetlah Kertapati mendengar ini. Lima orang ahli panahnya tertawan ?

Dengan depat Wiji menuturkan bahwa kelima orang itu telah kena tipu oleh

Dolleman. Ketika Jiman datang ke tempat itu, tiba-tiba ia ditodong oleh Dolleman dan

dipaksa untuk mengambil jalan memutar, menghampiri lima orang ahli panah itu.

Mereka tidak mau memanah melihat Jiman, tidak tahunya di belakang Jiman ini

terdapat Dolleman dan seorang lain yang memegang senjata api ! Untuk menyerang

Kompeni itu, tentu tubuh Jiman yang dijadikan perisai akan terkena, maka terpaksa di

bawah todongan Dolleman dan kawannya, kelima orang ahli panah itu mengangkat

tangan dan tertawan !

“ Keparat ! “ seru Kertapati. “ Beri tanda agar semua segera berlari keluar ! “ Setelah

Wiji berlari pergi untuk menjalankan perintah ini. Kertapati sendiri lalu berlari masuk

kembali ke gedung Adipati Wiguna !

Alangkah kagetnya hati Adipati Wiguna sekeluarga ketika tiba-tiba pintu kamar itu

tertendang dari luar dan masuklah seorang pemuda baju hitam dengan keris di tangan

!

“ Kertapati ! “ terdengar Adipati Wiguna dan Roro Santi berseru hampir berbareng.

“ Diam dan jangan bergerak ! “ Kertapati mengancam. “ Kawan-kawanku tertawan,

dan Roro Santi kujadikan tawananku untuk kelak ditukar ! “ Sebelum semua orang

sadar, ia telah menubruk maju dan cepat sekali tubuh gadis itu telah berada dalan

penodongannya. Adipati Wiguna hendak menyerang, akan tetapi Kertapati

membentak.

“ Kau tidak sayangi jiwa anakmu sendiri ? “ Kerisnya diangkat dan ditempelkan ke

arah dada Roro Santi, sehingga Adipati Wiguna melangkah mundur lagi denagn

pucat. Kertapati lalu melompat dan menghilang ke dalam gelap, gadis itu merontaronta

dalam pondongannya !

Geger dan ributlah kota Jepara dengan adanya serangan itu. Setelah para penyerang

itu melarikan diri jauhm barulah para penjaga itu mencari-cari dan memburu ke sana

ke mari !

Ketika Kertapati berkumpul dengan anak buahnya, ternyata bahwa dua orang kawan

mereka tewas, tiga dengan Jiman yang ditembak mati oleh Dolleman, empat orang

luka-luka dan lima orang ahli panah tertawan ! Akan tetapi hasil rampasan mereka

amat banyak dan mereka membayangkan betapa akan gembiranya Trunajaya

menerima bantuan ini !

***

“ Kau …… pemuda yang berahlak rendah ! Kau ksatria yang sesat dan membikin

malu nama keluargamu sendiri ! “ Di dalam gubuk tempat ia ditahan, Roro Santi

berdiri dan menudingkan, jari telunjuknya ke arah muka Kertapati yang telah

meninggalkan samarannya, Wajah gadis itu merah dan matanya bersinar-sinar,

memandang dengan penuh kemarahan.

Kertapati duduk di atas sebuah bangku, menatap wajah Roro Santi dengan penuh

kekaguman, Alangkah indahnya mata itu kalau sedang marah, memancarkan cahaya

berapi-api. Alis yang kecil panjang menghitam itu lebih manis lagi ketika dikerutkan.

Bagaikan terpesona Kertapati menatap bibir yang bergerak-gerak, mencela dan

memakinya itu.

“ Sudah cukupkah ? atau masih ada lagi ? Kalau masih ada, teruskan, nanti datang

giliranku ! “ jawabnya sambil tersenyum dan Roro Santi merasa agak binggung

melihat senyum itu. Senyum itu nampak demikian manis dan manarik hatinya

sehingga diam-diam ia merasa kemarahannya memuncak.

“ Kau pemuda tidka tahu malu ! Orang gagah perkasa yang rendah budi membikin

malu bangsa sendiri ! Kau menbajak, merampok, bahkan berani menculik puteriputeri

bangsawan ! Pekerjaan apakah yang lebih rendah daripada semua kejahatan

yang kaulakukan itu ? “

Kertapati mendengarkan sambil tersenyum dan mengangguk-angguk.

Kau menculik Winarti dan menghinanya ! Sekarang kau tidak hanya merampok

penduduk Jepara termasuk atahku, akan tetapi juga berani menculik aku ! Kau

mencemarkan nama dan kehormatan keluarga kami, sekarang aku sudah kau tawan,

mau bunuh lekas bunuhlah ! “ Sambil mengangkat dadanya Roro Santi memandang

dengan menantang, akan tetapi dari dua matanya melompat keluar dua titik air mata !

“ Sudah cukupkah ? “ kata Kertapati dengan suara halus dan tenang. Sekarang

giliranku. Kau tadi bertanya apakah ada kejahatan yang lebih rendah daripada

perbuatanku ? Banyak ! Perbuatan orang tuamu, perbuatan para bangsawan di Jepara,

bahkan perbuatanmu sendiri jauh lebih rendah ! “

“ Apa katamu ?? Perbuatanku yang mana yang kau anggap rendah ? “

“ Sebagai seorang puteri bangsawan, seorang imat Islam pula, kau telah menyediakan

dirimu untuk menjadi jodoh seorang kafir, seorang Belanda yang banyak

mendatangkan malapetaka bagi bangsa kita sendiri ! “

“ Keparat ! Jangan sembarangan membuka mulut ! Siapa sudi menjadi jodohnya ?

Aku …… aku tidak sudi ! “

“ Akan tetepai kau tidka melawan kehendak ayahmu. Pertunaganmu dengan

Dolleman bukan rahasia lagi ! “

“ Aku …… aku terpaksa, harus tunduk kepada ayahku, dan …… dan hal ini sama

sekali bukan urusanmu, kau perduli apa ? “ kembali dara itu memandang marah

dengan mata menantang.

“ Tentu saja aku perduli ! Orang lain yang manapun kalau hendak dijodohkan dengan

mata-mata Kompeni musuh kita itu, tentu membuat hatiku tak seneng. Apalagi ……

kau ! “

“ Kalau aku mengapa ! “

“ Kau …… kau …… aku harus melarang hal ini terjadi, biarpun akan kuhalangi

dengan nyawaku. Aku rela kau menjadi jodoh keparat Kompeni itu atau …… jodoh

siapa saja !! “

“ Kau gila ! Ada hak apakah kau atas diriku maka kau berani berkata demikian ? “

“ Hal yang timbul karena perasaan kita, perasaanku dan perasaanmu. Santi, ikatan

hati kita tak akan putus sedemikian mudahnya ! “

Roro Santi memandang denagn mata terbelalak. “ Apa maksudmu …… ?”

Kini wajah Kertapati nampak bersungguh-sungguh. Lenyaplah senyum mengejek

tadi dari bibirnya dan matanya yang tadi berseri jenaka kini berubah sayu dan

pandang matanay mesra ditujukan ke arah wajah gadis itu. “ Santi, semenjak kau

memberi tusuk konde itu …… kita saling mencintai. Kau tahu akan hal ini sama

baiknya dengan aku, dan jangan kau menipu hatimu sendiri ! “

“ Tidak ……. ! Bohong …… Tak mungkin aku menyita seorang bajak, seorang

perampok, lebih-lebih …… seorang penghianat yang mencelakakan bangsa sendiri ! “

“ Diam ! “ Kertapati membentak marah dan melompat lalu memegang kedua pundak

Roro Santi. “ Dengarlah, gadis …… ! Kau boleh menyebut aku apa saja akan tetapi

jangan sekali-kali menyebutku penghianat. Aku tidak mau ! Apalagi kalau keluar dari

mulutmu dan mulut orang-orang yang bersekutu dengan Belanda ! Kau mau

dipertunagkan dengan Kompeni, ayahmu bersetia kepada Sunan yang untuk

mempertahankan gelar dan singgasana, rela membuat kita diperbudak oleh orangorang

kafir ! Apakah orang-orang macam kalian itu patut menyebutku seorang

penghianat ? “

Sambil berkata demikian, dalam kemarahannya Kertapati mengguncang-ngguncang

kedua pundak Roro Santi yang tak berdaya dalam pegangan sepasang tangan yang

kuat itu sehingga gadis ini mulai menangis !

Melihat air amata yang membanjir keluar dari kedua mata Roro Santi, lemaslah tubuh

Kertapati dan kekerasan hatinya hancur luluh sama sekali. Tanpa disadarinya,

tangannya masih memegang pundak gadis itu, menarik tubuh itu ke dadanya dan

sesaat kemudian ia mendekap kepala dan dada orang yang dikasihinya itu ke dada !

Bagaikan terkena pesona dan hilang ingatan, untuk beberapa lamanya Roro Danti

menangis sambil menyandar keningnya pada dada yang bidang dan kuat itu. Hal ini

mendatangkan rasa damai dan tentram kepadanya.

“ Kalau saja …… kau bukan bajak laut Kertapati …… dan aku ……. Aku bukan

Roro Santi puteri seorang Adipati …… “ bisiknya perlahan.

Kertapati tidak menjawab, hanya mempererat dekapananya.

Akan tetapi, tiba-tiba Roro Santi merenggutkan tubuhnya dari pelukan itu dan

berkata dengan wajah pucat, “ Tidak …… tidak !! Ini tidak mungkin ! Kertapati

kaudengarlah baik-baik karena kurasa kau mesih mempunyai cukup kebijaksanaan

untuk menimbang dengan adil. Jangan kaukira bahwa aku demikian gila dan suka

kepada Kompeni juga mendengar percakapan-percakapan antara ayah dan ibu,

mereka juga tidak suka kepada Kompeni ! akan tetapi, ayah adalah seorang ponggawa

kerajaan yang harus setia kepada junjungan. Dan aku…… aku adalah puteri tunggal

dari orang tuaku, maka aku betapapun juga harus berbakti dan tunduk. Aku tahu

bahwa ayah dan ibu tidak begitu gila untuk mempertunangkan aku dengan Kompeni

itu apabila tidak ada hal yang amat memaksa mereka. Dan kalau menolak …… pasti

ayah akan mendapat bencana ! Sebagai seorang anak yang berbakti, tentu saja aku

harus membela orang tuaku, biarpun untuk itu aku harus berkorban nyawa ! “

“ Lebih baik berkorban nyawa daripada mengurbankan kesucianmu sebagai gadis

bangsawan yang beribadat kepada seorang Kompeni ! “ kata Kertapati gemas.

“ Apa kaukira aku akan tunduk begitu saja, Kertapati ? Aku tunduk hanay untuk

membela orang tuaku, akan tetapi, Dolleman hanya akan dapat menjamah mayatku ! “

Sambil berkata demikian Roro Santi berdiri tegak dengan kepala dikedikan.

Wajahnya ang masih basah air mata itu nampak pucat, akan tetapi membayangkan

kegagahan dan ketabahan hati

“ Santi, alangkah gagahnya kau ! Hatiku tidak rela melepasmu untuk menjadi korban

keganasan Kompeni dan ketamakan ayahmu ! Jangan kau pergi meninggalkan aku,

Santi ! “

“ Akan tetapi ayahku …… “

“ Ayamu membela fihak yang sesat, jangan dipikirkan lagi ! “

Roro Santi memandang marah. “ Kertapati ! Tentu saja kau tidka mengerti tentang

cintakasih antara orang tua dna anak, tidak kenal akan rasa bakti terhadap orang tua di

dalam hati anak ! Agaknya kau …… kau tak pernah berbakti kepada orang tuamu !

Oleh karen aitu agaknya maka kau tersesat dan menjadi seorang bajak, seorang

perampok ! “

Tiba-tiba pucatlah wajah Kertapati. Bibirnya gemetar, ternyata bahwa ia sedang

menderita pukulan batin dan menahan keperihan hati yang hebat mendengar ucapan

itu. Kemudian katanya perlahan,

“ Santi, ayah, ibu, semua saudaraku telah tewas karena peluru senapan Kompeni di

banten. Kebaktian apalagi yang dapat kulakukan selain memusuhi Kompeni dan kaki

tangan serta sekutunya ? “

“ Oh …… maafkan aku, Kertapati, “ kata Roro Santi dengan suara perlahan dan

terharu, dan kini pandangannya terhadap pemuda itu sama sekali berobah.

“ Jangan kaukira bahwa semua hasil rampokan dan rampasan yang kulakukan

bersama anak buahku itu kami pakai untuk kepentingan sendiri. Tidak ! Semua harta

benda yang kami dapatkan, kami kirim untuk mambantu pemberontakkanpemberontakan

para pemimpin rakyat terhadap Kompeni. Maka, janganlah kau

memandang terlampau rendah dan hina kepadaku, Santi …… “ Suara Kertapati bukan

bersifat menyombong, bahkan terdengar sebagai seorang terdakwa yang membela diri

dan minta dikasihani.

“ Kertapati ……. Kertapati …… “ kata Roro Santi perlahan sambil memandang

dengan air mata berlinang. “ Sekarang aku merasa menyesal mengapa aku dilahirkan

sebagai seorang puteri bangsawan, ……. Aku ingin menjadi seorang gadis dusun agar

dapat …… membantumu ……. ! “

“ Santi …… ! “ Kertapati melangkah maju dan kembali memeluk dara itu yang kini

telah menyerahkan hatiku bulat-bulat terhdap pemuda yang memang semenjak

pertemuan pertama kali telah menarik hatinya itu.

Pada saat itu, dari luar pintu rumah terdengar panggilan, “ Kertapati ! “

Sepasang teruna remaja itu cepat-cepat memisahkan diri dan melepaskan pelukan.

“ Masuklah, Karim ! “ kata Kertapati yang mengenali suara kawannya itu.

Seorang pemuda bertubuh kecil masuk dan matanya mengerling ke arah Roro Santi

yang memandangnya dengan tenang. Kalau Karim memiliki mata tajam, tentu ia akan

melihat betapa mata gadis itu berbeda sekali dengan kemarin nampak sedih dan

amrah, kini nampak berseri-seri dan seakan-akan cahaya baru timbul dari manik

matanya !

“ Kompeni mengumumkan bahwa kelima orang kawan kita yang tertawan, akan

dibebaskan apabila kita megembalikan puteri Adipati ini. Kompeni mengajak bertukar

tawanan, satu lawan lima ! “

“ Baik. “ Kertapati mengangguk. “ Siapkan kudaku ! “

Karim keluar lagi dengan muka girang karena kawan-kawannya yang tertawan akan

dibebaskan kembali. Setelah Karim pergi Kertapati duduk dengan muka muram dan

kening dikerutkan, sikap yang belum pernah nampak pada diri anak muda ini sebelum

Roro Santi masuk ke lubuk hatinya ! Pemuda ini biasanya berani, tabah, gembira dan

tak pernah menyusahkan sesuatu, akan tetapi sekarang, baru saja ia bertukar kasih

dengan Roro Santi, ia sudah menderita kekawatiran, kesedihan dan kebingungan

karena perpisahan dari kekasihnya ini !

Dalam hal ini, ada betulnya juga kata setengah orang bahwa penderitaan laki-laki

datang dari wanita ! Akan tetapi, tak dapat disangkal pula bahwa segala kebahagiaan

laki-laki timbul dari wanita pula !

Roro Santi mklum akan jalan pikiran Kertapati, maka ia lalu mendekat dan

menaruhkan tangannya ke atas pundak kepala bajak yang duduk di atas bangku itu.

“ Kertapati, kedudukan dan kebaktian kira merupakan jurang yang lebar dan dalam

yang memisahkan kita. Akan tetapi, jangan kau gelisah. Sebagaimana yang telah kau

katakan tadi, orang macam Dolleman atau laki-laki yang manapun juga, hanya akan

dapat menjamah tubuhku yang sudah menjadi mayat ! “

Kertapati berdiri dan memegang tangan gadis itu. Sepuluh jari tangan mereka saling

genggam erat-erat merupakan sumpah atau janji bisu yang tak terdengar oleh telinga

akan tetapi telah mengukir di dalam hati masing-masing.

“ Santi, kau memberi kekuatan kepadaku untuk melanjutkan tugasku, bahkau kau

menjadi penambah semangat bagiku ! Karena aku tahu bahwa sungguhpun kau berdiri

di seberang sana, akan tetapi hatimu berada di dekatku selalu. Jangan kuatir,

kekasihku, siapapun orangnya yang berani mengganggumu, akan berhadapan dengan

Kertapati, dan akan merasakan pembalasan tangan Kertapati ! Kita pasti akan,

bertemu kembali Santi ! “

Sambil menekan tangan pemuda itu Roro Santi berkata dengan air mata berlinang. “

Pasti Kertapati, akupun yakin akan hal ini ! “

Kuda telah dipersiapkan dan Kertapati berkata kepada kawan-kawannya yang berada

di depan rumah itu.

“ Kawan-kawan, aku sendiri akan mengantarkan puteri ini kembali ke Jepara, untuk

ditukar dengan lima orang kawan-kawan kita ! “

“ Akan tetapi, baagaimana kalau ini merupakan suatu perangkap untukmu, Kertapati

? “ kata seorang kawannya.

Pemuda itu tersenyum. “ Mereka takkan mencelakakan [uteri ini, dan kalian tahu

bahwa aku tak begitu bodoh untuk mudah saja masuk dalam perangkap seperti seekor

tikus ! “ Dengan sigapnya, ia lalu membantu Roro Santi naik ke atas kudanya yang

ebrbulu dawuk ( kelabu ) kemudian ia melompat di belakang gadis itu dan

membalapkan kudanya yang berlari congklang.

“ Alangkah senengnya hidupku apabila setiap hari aku dapat bersama kau

menunggang kuda seperti sekarang ini ! “ kata Kertapati sambil menghela napas.

Mendengar ucapan ini, Roro Santi juga menarik napas panjang.

Setelah tiba di luar pintu gerbang, Kertapati menahan kudanya.

“ Hati-hati Kertapati, aku kuatir kalau-kalau Kompeni akan menipumu, “ berkata

Roro Santi engan tubuh gemetar.

Akan tetapi pada saat itu, dari pintu gerbang muncul sepasukan penjaga dan beberapa

orang serdadu yang dikepalai oleh Dolleman sendiri. Mereka mengiringkan lima

orang kawan-kawan Kertapati yang dibelenggu dengan rantai panjang pada lengan

mereka.

“ Kertapati ! “ Dolleman berseru dari jauh. “ Kau lepaskan tunanganku dan aku akan

membebaskan lima orang kawan-kawanmu ! “

Bukan main mendongkolnya hati Kertapati mendengar Dolleman menyebut Roro

Santi sebagai tunangannya. Akan tetapi ia menahan marahnya dan tertawa menghina.

“ Siapakah yang sudi mempercayai omongan palsu yang keluar dari mulut Kompeni

? Kaukira aku tidak tahu bahwa begitu puteri ini tiba ditempatmu, kau dan kaki

tanganmu akan menembak kami berenam ? Ha, mukamu menjadi makin merah ! Tak

perlu kau merasa malu karena rahasia hatimu telah kuketahui. Lebih baik kau lekas

pergi, aku tak sudi berurusan dengan Kompeni. Puteri ini adalah anak dari Adipati

Wiguna, maka biarlah Adipati Wiguna sendiri yang berurusan dengan aku dan

mengadakan pertukaran tawanan ini ! “

Marahlah Dolleman mendengar ini “ Kertapati, kau menghina Kompeni ! Akan tiba

masanya kau dan seluruh gerombolanmu mampus ditangan Kompeni ! “ kata

Dolleman.

“ Ha, ha, Dolleman, bagi kami, ancaman-ancaman dan bujukan-bujukan Kompeni tak

berharga sedikitpun juga. Lekas kau pergi dan biar Adipati Wiguna sendiri

menjemput puetrinya ! “ Kertapati mengusir pula.

Setelah menyumpah-nyumpah karena merasa terhina sekali, akhirnya Dolleman

mengalah dan menarik mundur pasukannya. Tak lama kemudian, Wiguna sendiri

datang dan mengiringkan lima orang anggota bajak laut itu. Adipati Wiguna merasa

terharu sekali melihat puterinya, maka ia lalu berlari-lari menghampiri Kertapati dan

puterinya.

“ Santi …… ! “ ayah yang merasa bahagia ini lalu memeluk puterinya dan menatap

wajahnya seperti orang menyelidik. “ Bagaimana, Santi ? Kau tak apa-apa, nak ?“

Roro Santi atersenyum dan menggelengkan kepalanya. “ Kertapati bukanlah penjahat

yang suka mengganggu wanita seperti para pangeran muda ayah. Saya diperlakukan

baik sekali. …… “

“ Syukur ….. dan terima kasih, Kertapati. “ Akan tetapi kertapati tak memperhatikan

mereka, karena sedang sibuk untuk melepaskan belenggu yang mengikat tangan

kelima kawannya setelah menerima kuncinya dari tangan Wiguna.

“ Kertapati, kau hati-hatilah, “ kemudian terdengar Adipati Wiguna berbisik, “

mungkin sekali perjalananmu pulang akan dicegat oleh Dolleman ! “

Mendengar ini, pucatlah wajah Roro Santi, dan Kertapati memandang dengan tajam

kepada Adipati Wiguna seakan-akan hendak menjenguk isi hati orang tua itu.

“ Pernah kau mendengar nama Wirataman yang membantu Trunajaya ? Dia adalah

adik kandungku ! Kau berlaku baik terhadap anakku ! “ Setelah mengeluarkan ucapan

singkat ini kepada Kertapati yang mendengar dengan muka terheran, Adipati Wiguna

lalu manrik tangan anaknya, diajak kembali ke dalam kota. Beberapa kali Roro Santi

menengok, akan tetapi Kertapati yang merasa kuatir kalau-kalau terdahului oleh

Dolleman, telah memberi perintah kilat kepada lima orang kawannya. Mereka

berunding sebentar, lalu enam orang itu berlari cepat memasuki hutan dengan

terpencar ! Oleh karena ini, biarpun Dolleman dan pasukannay telah mencegat

perjalanan kertapati, mereka tidak menjumpai enam orang itu, hanya melihat seekor

kuda tanpa penunggang yang berlari cepat bagaikan setan ! sekali lagi Dolleman

menympah-nyumpah karena merasa telah dipermainkan oleh Kertapati.

Semenjak pertemuannya dengan Roro Santi, kawanan bajak laut Kertapati makin

mengganas, dan kini sasaran penyerbuan mereka semata-mata hanyalah perahuperahu

Kompeni. Perahu-perahu kecil panjang yangberwarna hitam dan berlayar

hitam pula itu, muncul di mana-mana bagaikan setan-setan laut. Memang, Kertapati

mendapat benyak pengikut yang setia dan kini ia melakukan operasi dengan

berpencar menjadi tiga kelompok. Dan tiga kelompok inilah yang selalu mengganggu

di sepanjang pantai, dan kini daerah mereka diperpanjang sampai Tuban.

Pada waktu itu, semenjak mengadakan janjian dengan Sunan Amangkurat II untuk

membantu usaha Sunan itu merampas kembali Mataram dari tangan Trunajaya,

Kompeni lalu mengumpulkan kekuatan balatentaranya. Sudah menjadi siasat dan

kelicikan Kompeni untuk mempergunakan tenaga orang lain, mengadu domba

penduduk pribumi sendiri, mengadakan pengaruh “ uang sogokan “ yangebrasal dari

perasan bumi Indonesia sendiri ! Demikianlah, maka mereka mendatangkan pasukanpasukan

yang besar jumlahnya yang terdiri dari bermacam-macam bangsa yakni

diantaranya orang-orang Mardika, Melayu, Makasar, Ambon, dan sebagainya. Orangorang

Belanda sendiri yang ikut dalam pasukan itu tentu saja menjadi opsir-opsirnya !

Pasukan-pasukan ini didatangkan dari luar Pulau Jawa untuk disatukan dengan

pasukan-pasukan dari Amangkurat II sendiri dan kemudian untuk dipimpin

melakukan penyerbuan besar-besaran ke Mataram !

Pada waktu itulah maka Kertapati menjalankan perjuangan yang hebat. Perahuperahu

Kompeni yang membawa pasyukan-pasukan ini, seringkali mendapat

gangguan hebat. Penyerangan para bajak laut itu memang dahsyat dan mengerikan.

Pada waktu malam gelap, perahu Kompeni itu tiba-tiba waktu malam gelap, perahu

Kompeni itu tiba-tiba diserang oleh panah-panah api yang meluncur dari

sekelilingnya. Mereka sukar sekali membalas oleh karena perahu-perahu bajak itu

hitam dan tidak memakai api penerangan.

Pada saat tembakan ditujukan ke arah tempat dari mana meluncur panah api, perahu

itu dengan cepatnya telah pergi ke lain bagian. Tiap kali panah api dilepas, perahu

bajak yang ringan, runcing dan panjang itu bergerak maju cepat-cepat sehingga

peluru-peluru Kompeni hanya mengenai air kosong apabila perahu Kompeni itu telah

mulai terbakar layar-layarnya dan semua anak perahu terpaksa melompat ke dalam air

!

Dengan cara demikian, tidak kurang dari enam buah perahu kena dihancurkan oleh

anak buah bajak laut. Kertapati, dan entah berapa banyak pasukan yang mampus

karena terbakar atau tenggelam !

Dalam penyerangan-penyerangan ini. Kertapati selalu berada di depan dan serngkali

pemuda ini melakukan perbuatan-perbuatan berani luar biasa yang amat

menggumkan. Pernah ia menyamar sebagai seorang nelayan tua yang menjala ikan

dan ketika perahu Kompeni lewat, ia memberi tanda bahwa ia melihat adanya bajak

laut ! Tentu saja ia lalu dinaikkan ke perahu untuk ditanya lebih jelas.

“ Tadi hamba melihat lima buah perahu berlayar ke barat, “ demikian katanya dengan

tubuh gemetar dan bibirnya yang keriputan menggigil. “ perahu-perahu kecil panjang

berwarna hitam …… “

Dan ketika kapten belanda datang mendekatinya secepat kilat Kertapati

menangkapnya, mengancam dengan keris di lambung kapten itu dan menyeretnya ke

kamar mesin ! Tak seorangpun diantara penumpang perahu berani menyerang atau

menembak, kuatir kalau-kalau akan mencelakai kapen Belanda itu. Kemudian, sambil

mempergunakan kapten itu sebagai perisai, kertapati membakar kamar mesin lalu

menyeret kapten itu ke geladak dan bersama-sama melempar diri ke dalam air !

Ketika anak buah kapten itu sibuk hendak menolong kaptennya, tiba-tiba api yang

dilepas oleh Kertapati telah menjalar menyabar bahan bakar sehingga perahu itu

meledak dan terbakar hebat ! Kertapati sendiri telah selamat dan di angkat oleh

kawan-kawannya yang telah menanti-nanti dengan hati berdebar menyaksikan

perbuatan pemimpin mereka itu dari jauh !

Masih banyak hal-hal yang luar biasa dan penuh keberanian dilakukan oleh Kertapati

dan anak buahnya. Bahkan mereka pernah mencoba untuk membakar sebuah kapal

Kompeni yang amat besar dan diperlengkapi dengan meriam-meriam. Kapal itu

sedang berlabuh di pelabuhan Semarang yang besar dan terdapat banyak penjaga,

nemun bajak laut Kertapati tak kenal takut dan berani mencobanya !

Biarpun mereka hanya berhasil membakar layarnya saja dengan api karen akeburu

datang serbuan dari para penjaga sehingga seorang anak buah Kertapati tewas kena

tembak, namun perbuatan ini membuat nama bajak laut itu makin ditakuti.

Dolleman makin merasa benci dan marah kepada Kertapai oleh karena kegagalannya

untuk menangkap atau membunuh bajak laut itu membuat ia mendapat teguran hebat

dari atasannya di Semarang.

“ Percuma saja kau menyebut dirimu sebagai mata-mata dan penyelidik yang

terpandai an tercakap di seluruh Hindia, “ atasannya itu menegurnya “ Baru

menghadapi seorang bajak laut kecil seperti Kertapati saja kau tidak berdaya ! Tahutahu

kau bahwa Dewan Hindia telah menegurku karena gangguan-gangguan Kertapati

itu ? Mulai sekarang kau harus kembali ke Semarang, tiada gunanya kau tinggal

berbulan-bulan di Jepara kalau tidak mampu membekuk Kertapati. Biar aku

menugaskan kepada lain orang ! “

Marah, malu, dan mendongkol mengaduk-aduk pikiran dan hati Doleman ketika ia

mendengar teguran ini.

“ Berilah aku ketika barang sebulan lagi, “ katanya memohon, “ kalau dalam sebulan

aku tidak dapat menangkapnya, lebih baik aku dikirim kembali ke Negeri Belanda ! “

Akhirnya atasannya memberi waktu sebulan kepadanya dan dengan hati mendongkol

lalu kembali ke Jepara. Ia maklum bahwa biarpun pada waktu itu Kertapati tidka

berada disekitar Jepara karena seringkali bajak laut itu muncul di daerah Semarang,

akan tetapi ia tahu bahwa di daerah Jepara banyak terdapat mata-mata dan anak buah

bajak laut sendiri bukan kawan-kawan atau anak buahnya ? Buktinya Jiman yang

ditembaknya dulu, yang menjadi orang kepercayaannya, ternyata juga menjadi anak

buah bajak laut Kertapati !

Sehari semalam Dolleman tidka keluar dari kamarnya, memeras otak dan mencari

siasat. Ia teringat kepada Adipati Wiguna. Dapatkah adipati itu dipercaya ? Ia mulai

merasa curiga kepada Adipati Wiguna semenjak Roro Santi dikirim kembali oleh

Kertapati. Siapa lagi kalau bukan Adipati Wiguna yang membuat Kertapati dan

kawan-kawannay tahu bahwa ia dan pasukannya mencegat jalan pulangnya ? akan

tetapi masih ada kemungkinan –kemungkinan lain, misalnya memang mungkin bajak

laut yang cerdik itu sengaja berpencar karena merasa curiga dan berlaku hati-hati,

atau boleh jadi yang emmbocorkannya adalah orang lain, seorang diantaranya para

penjaga sendiri misalnya ! Ah, ia menjadi binggung dan mulai merasa curiga kepada

semua orang ! Bahkan kepada Roro Santi ia menaruh curiga ! Setidak-tidaknya gadis

itu pernah berdua dengan kepala bajak itu dan ia tahu pula betapa gagah dan

tampannya Kertapati sehingga melihat pandang mata mereka ketika duduk diatas

kuda berdua, ah …… siapa tahu ?

Akhirnya ia mengambil keputusan. “ Tidak ada jalan lain yang cukup

menguntungkan aku ! katanya kepada diri sendiri. “ Dengan akal ini, seandainya aku

tak berhasil menangkap Kertapati sebagai gantinya aku akan mendapatkan Roro Santi

…… “ ia meramkan matanya dan membayangkan bentuk tubuh yang menggairahkan

dan wajah yang cantik jelita itu, “ cukup menarik untuk menghibur kedukaanku

apabila aku gagal dalam pekerjaan ini ! “

Setelah mengambil keputusan yang agaknya memuaskan, hatinya ini, Dolleman lalu

melempar tubuhnya di atas tempat tidur dan mendengkurlah dia seperti babi

disembelih.

“ Dia terlalu jahat ! Sukar sekali untuk menangkapnya, maka tidak ada jalan lain,

tuan Adipati, akal ini harus dijalankan ! “ Dolleman mendesak.

Adipati Wiguna mengerutkan kening dan sebetulnya ia tidak setuju sekali. “ Akan

tetapi, tuan Letnan, kalau mereka menyerbu perahumu, anakku akan berada dalam

bahaya. Pula, bukankah pertunangan itu hanya sekadar memancing kertapati belaka ?

Bagaimana dengan pertunagan anakku dengan putera Bupati Randupati ? Juga,

anakku tentu akan merasa keberatan, karena namanya akan cemar, menjadi ejekan

orang …… “

“ Mengapa, tuan Adipati ? Aku tidak bermaksud buruk. Hanya pura-pura saja

puterimu ikut aku ke Semarang untuk menjalankan upacara pernikahan. Kau dan yang

lain-lain boleh mendahului ke Semarang dengan jalan darat dan menjemput puterimu

di pelabuhan Semarang. Aku hanya membutuhkan puterimu di atas perahu saja,

sepanjang pelayaran dari Jepara ke Semarang. Muncul atau tidaknya ertapati, pasti

puterimu akan tiba di Semarang dengan selamat. Aku menjamin ! “

Tetap saja Adipati Wiguna ragu-ragu. Perjalanan perahu dari Jepara ke Semarang

makan waktu sehari, apalagi kalau angin kecil. Dan ia tidak percaya kepada Letnan

yang bermata biru tajam ini. Telah beberapa kali letnan Belanda ini memperlihatkan

tingkah laku yang kurang sopan, yakni ia menanyakan keadaan Roro Santi, seringkali

minta supaya gadis itu keluar ikut bercakap-cakap dan membawa hadiah-hadiah untuk

Roro Santi. Pendeknya, sikap seorang laki-laki yang suka kepada seorang gadis.

Bahkan, ketika Roro Santi pernah menegur sikapnya yang gak terlalu berani itu, ia

menjawab sambil tertawa. “ Bukankah kita sudah bertunangan ? “

Sikap-sikap yang diperlihatkan oleh Dolleman itulah yang membuat Adipati Wiguna

merasa kuwatir dan tidak percaya akan keselamatan anaknya apabila ikut dengan

perahu Dolleman.

“ Namun, betapa juga aku masih tidak rela apabila anakku ikut dengan perahumu,

tuan letnan. Kalau bajak laut itu muncul dan menyerang, bagimana nasib Roro Santi

anakku ? “

“ Jangan kuatir, kalau mereka muncul, Kertapati dan kawan-kawannay pasti akan

kutangkap atau kubinasakan di laut ! “

Adipati Wiguna mempertawakannya di dalam hati, akan tetapi ia menarik napas

panjang dan berkata. “ Sudah banyak kali ucapan seperti ini dikeluarkan, akan tetapi

kenyatannya sehingga kini Kertapati masih belum tertangkap ! “

“ Sekarang ini lain lagi, tuan Adipati ! “ kata Dolleman penasaran. “ Saya sengaja

memperlengkapi kapal ini dengan meriam-meriam baik dan juga sepasukan Kompeni

bersenjata api. Kalau pancingan ini berhasil dan Kertapai berani mennampakkan diri,

pasti dia dan kaki tangannya akan hancur lebur ! “

“ Akan tetapi ….. “

Dolleman menjadi habis sabar. Ia berdiri dari kursinya dan berkata. “ Tuan Adipati,

apakah kau tidak percaya kepada aku, Letnan Dolleman dari Kompeni ? Tak perlu

kita berpanjang cerita, tuan Adipati tinggal piliha satu antara dua.

Setuju dan mengijinkan Roro Santi ikut dengan kapalku ke Semarang atau, kau

sekeluarga kutangkap dengan tuduhan membantu dan melindungi bajak laut Kertapati

! “

Adipati Wiguna juga berdiri dengan muka pucat. “ Kompeni takkan percaya

kepadamu, apa buktinya ? “

Dolleman menyeringai. “ Buktinya ? Ha, ha, ha ! Masih ingatkah kau kepada adik

kandungmu Wiratman ? Aku bisa mendakwa kau sebagai pelindung Kertapati dan

pembantu pemberontak Trunajaya ! “

Lemaslah tubuh Adipati Wiguna. Semenjak dulu memang ia merasa berada di dalam

cengkaraman kekuasaan Belanda ini dan ia tahu bahwa kalau hal itu dilakukan oleh

Dolleman, berarti dai sekeluarga tidak saja akan menderita bencana hebat, akan tetapi

juga nama keluarganya akan rusak !

“ Dolleman, “ katanya perlahan, “ biarkan aku berpikir dan mempertimbangkan soal

ini sebaik-baiknya dulu. “

Senyum kemenangan membayang di bibir letnan itu, dan ia bergerak hendak

meninggalkan tuan rumah sambil berkata. “ Kapalku akan berangkat sore-sore untuk

memberi kesempatan kepada bajak-bajak laut itu melakukan serangannya di malam

hari. Ingat, tuan Adipati, anakmu kauperbantukan untuk memancing keluar Kertapati,

atau sekeluarga akan kutangkap dan dibawa ke Semarang sebagai orang-orang

tangkapan, atau ditahan di penjara sini ! “ Lalu ia pergi meninggalkan Adipati Wiguna

yang duduk dengan muka pucat di tas kursinya.

Jilid 3

Ketika Adipati Wiguna menceritakan hal ini kepada istrinya dan kepada Roro Santi,

kedua orang wanita itu menangis tersedu-sedu. Akan tetapi Roro Santi lalu

menghapus air matanya dan menghibur ibunya dengan kata-kata penuh kepercayaan.

“Ibu, sudahlah jangan ibu bersedih. Aku percaya bahwa Kertapati tentu akan muncul

dan takkan membiarkan kita diperhina oleh Kompeni!”

Kepada Adipati Wiguna dan istrinya telah diceritakan oleh gadis itu tentang keadaan

bajak laut Kertapati yang sebenarnya adalah seorang pembantu Trunajaya dan seorang

yang benci kepada Kompeni, karena selain Kompeni telah membunuh keluarga

pemuda itu, juga dianggapnya bahwa Kompeni menimbulkan malapetaka di tanah air.

Maka mereka kini tidak benci lagi kepada Kertapati, bahkan atas bujukan dan

pandangan-pandangan Roro Santi, kini Adipati Wiguna seakan-akan terbuka matanya

dan diam-diam ia membenarkan perjuangan adik kandungnya yang membantu

Trunajaya!

Kemudian, antara anak, ibu, dan ayah ini terjadi perundingan rahasia untuk mengatur

siasat, dan kalau mungkin bahkan membantu Kertapati untuk menghancurkan

Kompeni yang sekarang telah terasa oleh mereka akan kejahatan dan penindasannya.

Adipati Wiguna lalu mengumumkan bahwa puterinya hendak “diboyong, oleh

tunangannya, yakni Letnan Dolleman, ke Semarang dan akan merayakan upacara

pernikahan di Semarang! Biarpun berita ini diterima dengan hati mendongkol oleh

semua penduduk, akan tetapi mereka merasa tidak heran, oleh karena mereka telah

tahu bahwa puteri Adipati itu telah bertunangan dengan seorang Kompeni, dan

keheranan mereka telah dihabiskan ketika mendengar berita pertunangan itu.

Betapapun juga, banyak orang yang segera mengirim “sumbangan” kepada keluarga

pengantin. Tidak ketinggalan para lurah-lurah dusun mengirimkan sumbangansumbangan

berupa barang-barang berharga besar kecil, dari perhiasan rambut dari

emas yang kecil sampai sumbangan-sumbangan berupa lemari-lemari pakaian

berkaca, peti pakaian berukir, dan lain-lain. Orang-orang yang datang mengantarkan

barang-barang sumbangan ini keluar masuk tiada habisnya!

Diam-diam Dolleman yang amat cerdik itu lalu menyebar puluhan orang matamatanya

untuk menyelidiki kalau-kalau diantara orang-orang yang mengantarkan

barang-barang sumbangan itu terdapat bajak laut Kertapati yang pandai menyamar,

atau orang-orang yang mencurigakan. Pintu gerbang juga dijaga keras dan setiap

penyumbang yang datang dari luar kota diamat-amati.

Bupati Randupati dari Rembang ketika mendengar berita ini menjadi marah sekali.

“Adipati Wiguna sungguh kurang ajar! Apakah dia hendak mempermainkan aku?”

Raden Suseno dengan muka merah berkata, “Ayah, biar anak pergi ke Jepara

sekarang juga dan bicara dengan hati terbuka dengan paman Adipati!”

Pemuda itu lalu menunggang kudanya dan membalap ke Jepara dengan hati yang

amat panas. Ketika ia tiba di Jepara, orang-orang yang melihat pemuda ini memasuki

kota dengan muka merah dan membalapkan kudanya, diam-diam memperhatikan dan

maklum akan kemarahan bekas tunangan Roro Santi ini. Akan hebat sekarang,

mereka berkata dan sebagaimana sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang suka

sekali melihat terjadinya hal-hal yang menghebohkan, maka sebentar saja, setelah

Raden Suseno turun dari kudanya dan berlari memasuki pendopo gedung Adipati

Wiguna, di depan pendopo banyak berkumpul orang-orang yang ingin melihat

kelanjutan peristiwa itu.

Para penjaga yang telah mengenal pemuda itu, tidak berani menghalangi ketika

Raden Suseno mengeluarkan kata-kata tegurnya.

“Paman Adipati! Apakah artinya semua ini? Benarkah berita yang sampai di

Rembang bahwa Roro Santi hendak diboyong ke Semarang oleh Letnan Dolleman?”

Oleh karena di situ terdapat banyak pelayan, maka Adipati Wiguna lalu berkata

sabar,

“Raden Suseno, marilah kita masuk ke dalam dan bicara dengan baik-baik dan jelas.

Mereka masuk ke dalam dan bicara dengan baik-baik dan jelas.

Mereka masuk ke perdalaman dan di situ Raden Suseno disambut oleh isteri Adipati

Wiguna dan juga Roro Santi terdapat pula di situ. Setelah berada di tempat yang tidak

ada orang luar ini, Raden Suseno berkata lagi.

“Saya diutus oleh rama untuk menanyakan hal ini kepada paman. Kami menghendaki

penjelasan dan keterangan yang adil! Paman tentu maklum bahwa dengan

membiarkan Roro Santi pura-pura bertunangan dengan Letnan Dolleman, fihak kami

telah memberi pengertian dan kesabaran luar biasa, akan tetapi mengapa agaknya

orang tidak menaruh perindahan kepada kami?” Apakah sengaja keluarga Bupati

Randupati hendak dipermaikan orang semau-maunya?”

“Tenang, tenang, Raden Suseno!” berkata Adipati Wiguna sambil menarik napas

panjang.

“Tenang dan sabarlah. Kami sama sekali tidak hendak mempermainkan kau atau

ramamu, karena sesungguhnya kami melakukan hal ini dengan terpaksa benar?”

Kemudian ia lalu menceritakan tentang maksud Dolleman hendak mempergunakan

Roro Santi sebagai umpan untuk yang penghabisan kali, dengan ancaman-ancaman

hendak menangkap atas tuduhan membantu pemberontakan dan bajak apabila ia

menolak.

Apakah yang dapat kami lakukan, Raden? Menolak berarti kami sekeluarga akan

mengalami bencana yang lebih hebat lagi. Oleh karena itu, terpaksa kami menurut,

bukankah hal ini hanya sebagai pura-pura saja!”

Sementara itu, Roro Santi yang mendengarkan percakapan itu, melihat sikap-sikap

kasar dan keras dari Raden Suseno terhadap ayahnya, merasa marah dan mendongkol

dan marah sekali Keluarganya sedang mengalami bencana, pemuda yang

dipertunangkan kepadanya ini bukannya datang menghibur atau memberi

pertolongan, malahan datang-datang marah dan menuntut!

Raden Suseno, ”tiba-tiba Roro Santi berkata sambil memandang tajam, ”kalau kau

memang laki-laki, bangsawan dan ksatria utama, mengapa kau tidak segera pergi

mencari Dolleman itu dan membunuhnya atau menantangnya berkelahi ? Apa artinya

kau datang mendesak-desak kami yang sudah terdesak dan terjepit? Untuk berlaku

marah-marah kepada orang yang sudah tidak berdaya, bukankah laku seorang ksatria,

tiap orangpun bisa!”

Muka Raden Suseno yang tadinya merah karena marah itu, kini menjadi pucat. “Tapi

……tapi …… “ ia tak dapat melanjutkan katanya, dan Adipati Wiguna yang merasa

kasihan kepadanya dan menganggap ucapan Roro Santi tadi keterlaluan berkata

menghibur.

“Sudahlah, Raden Suseno, apakah yang dapat kami lakukan terhadap mereka?

Kekuasaan Kompeni amat besar, terutama semenjak mereka mengadakan pertemuan

dengan Gusti Sunan dulu. Kita menentang berarti bencana. Kita harus bersabar,

karena kau sendiri tahu betapa besarnya kekuasaan Letnan Dolleman.”

Raden Suseno menarik napas dan menggertakan giginya. “Sudah bosan saya terhadap

kekuasaan asing ini! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Roro Santi, aku takkan

tinggal diam! Dolleman harus bertanggung jawab!” Setelah mengucapkan kata keras

ini, dengan muka marah Raden Suseno lalu pergi meninggalkan gedung itu tanpa

pamit.

Dengan disaksikan oleh banyak orang-orang bangsawan dan penduduk Jepara, juga

Raden Suseno yang berdiri di tempat agak jauh sambil menggigit bibirnya, Roro Santi

naik ke atas kapal, dijemput oleh Letnan Dolleman yang mengenakan pakaian prajurit

yang mewah dan indah.

Sesuai dengan kehendak Dolleman, tak seorangpun pelayan dan pengiring boleh ikut,

dan Roro Santi hanya dikawani oleh barang-barangnya yang sebagian besar didapat

dari sumbangan orang. Sebuah tandu, sebuah peti pakaian berukir indah, dan beberapa

kopor kayu ikut diangkut naik ke atas perahu besar itu dan diletakkan di dalam kamar

Roro Santi yang telah disediakan di situ, sebuah kamar yang cukup mewah, indah,

dan besar. Roro Santi merasa dirinya asing ketika masuk ke dalam kamar ini akan

tetapi hatinya tenang dan sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut gelisah.

Kapal itu mulai bergerak menengah, diikuti oleh sorak-sorai para pengantar di pantai.

Dianatara sorak-sorai ini terdengar isak tangis isteri Adipati dan suaminya berdiri

diam dengan muka pucat dan bibir bergerak-gerak. Adipati Wiguna sedang berdoa

untuk keselamatan puteri tunggalnya.

“Semoga segala usaha yang direncanakan takkan gagal dan Tuhan akan membantu

Kertapati …………. “ demikian berkali-kali Adipati Wiguna berdoa.

Tanpa diketahui oleh siapapun juga, bahkan isterinya sendiripun tidak diberitahu,

Adipati Wiguna dalam keadaan terdesak itu telah mengadakan hubungan dengan

Kertapati. Ia mengirim sepucuk surat kepada bajak laut itu dengan perantaran seorang

pembantu bajak laut yang banyak terdapat di Jepara dan yang telah dikenalnya. Hari

itu juga, yakni hari kemarin ia menerima surat balasan dari Kertapati yang

menyatakan bahwa ia boleh membiarkan Roro Santi ikut naik ke kapal Dolleman, dan

menyerahkan keselamatan gadis itu dalam tangan Kertapati. Surat selengkapnya

berbunyi seperti berikut:

Paman Adipati Wiguna,

Biarkan Roro Santi ikut dengan Dolleman, jangan khawatir, hamba akan menjaga

keselamatannya. Lebih baik jangan suruh anak paman membawa seorang pelayan

pun, kecuali peti pakaian yang akan paman Adipati terima sebagai sumbangan. Peti

itu jangan dibuka-buka dan taruhkan di kamar Roro Santi, berikut barang-barang lain,

Hamba sendiri akan menjaganya dan kawan-kawan hamba akan menyusul.

Selanjutnya marilah kita mohon doa semoga Tuhan Yang Maha Kuasa membantu

kita!

Kertapati

Dengan bunyi surat Kertapati ini selalu bergema di dalam hatinya Adipati Wiguna

tiada hentinya berdoa untuk keselamatan puterinya. Ia menaruh kepercayaan

sepenuhnya kepada Kertapati, karena ia maklum bahwa pemuda itu benar-benar luar

biasa. Bahkan dari penuturan dan sikap Roro Santi setelah dibebaskan dari tawanan

bajak laut itu, ia dapat menduga bahwa antara puterinya dan Kertapati terdapat ikatan

cinta kasih yang mendalam! Belum pernah ada nama laki-laki yang dapat membuat

wajah puterinya berseri apabila nama itu disebutnya. Bahkan nama Raden Susenopun

hanya mendatangkan kerut sebal pada wajahnya.

Hal inipun diketahui oleh isterinya karena isterinya pernah menyatakan

kekawatirannya. Namun Adipati Wiguna tidak sependapat dengan isterinya dan ia

bukannya khawatir, bahkan diam-diam merasa girang. Setelah mendengar penuturan

Roro Santi tentang keadaan dan perjuangan Kertapati, barulah pendirian dan

pandangannya terhadap bajak laut itu. Apalagi setelah kemudian mendengar betapa

bajak laut Kertapati berkali-kali menyerang dan menghancurkan perahu-perahu

Kompeni di Laut Jawa, kekagumannya makin meningkat.

Kita ikuti perahu yang membawa Roro Santi menuju ke Semarang itu. Perahu besar

atau kapal layar itu diperlengkapi dengan empat buah meriam di kanan kiri dan mulut

meriam yang menonjol keluar dari lubang-lubang di kanan kiri kapal itu merupakan

ancaman bagi bajak-bajak laut yang berani datang menggangu. Selain ini, kapal itu

membawa sepasukan Kompeni yang terdiri dari penembak-penembak ulung yang

sengaja didatangkan oleh Dolleman dari Semarang. Jumlah pasukan ini empat puluh

orang, semuanya ahli tembak dan bersenjata senapan.

Dolleman sengaja menyuruh juru mudi untuk melayarkan kapal itu agak ke tengah

laut. Ia sendiri dengan sebuah teropong (kiyker) di tangan, berdiri di geladak dan

mengintai ke sana ke mari. Sebentar lagi, hari menjadi gelap dan matahari yang tadi

masih nampak terapung di titik pertemuan antara air dan langit, kini telah lenyap

sehingga terpaksa lampu-lampu di kapal itu di nyalakan sehingga keadaan menjadi

terang. Dolleman lalu menyerahkan teropongnya kepada seorang penjaga dan ia

sendiri pergi ke kamar minum untuk membasahi kerongkongannya dengan bir. Ia

perlu minum bir untuk menghentikan goncangan-goncangan hatinya yang berdebardebar.

Siapa yang takkan merasa gelisah ? Malam ini adalah malam penentuan

baginya, yakni gagal atau berhasil! Soalnya sekarang hanyalah: munculnya bajak laut

Kertapati atau tidak. Kalau muncul, ia pasti akan berhasil. Untuk ini ia telah mengatur

penjagaan sebaik-baiknya. Ia sengaja tidak membawa terlalu banyak pengawal agar

tidak menakutkan Kertapati, akan tetapi ia maklum bahwa tak jauh dari situ, sepaukan

yang amat kuat berada di lain kapal, mengintai dan mengawal kapalnya dengan diamdiam

dan siap menyerbu apabila ada bajak laut meyerang kapalnya! Yang ia

khawatirkan hanyalah kalau-kalau pancingannya takkan berhasil dan Kertapati tidak

muncul! Ia teringat kepada Roro Santi. Pantas saja Kertapati menyintainya! Laki-laki

manakah yang tidak akan kagum melihatnya dan jatuh cinta kepadanya?

Dolleman meninggalkan kamar minum dan melangkah menuju ke kamar Roro Santi.

Kasihan gadis manis itu seorang diri saja di kamarnya, demikian ia berpikir sambil

tersenyum menyeringai . Gadis cantik seperti itu tidak seharusnya berdiam seorang

diri di dalam kamar. Daripada menjadi kurban serangan angin di atas geladak yang

amat dingin, lebih baik duduk bercakap-cakap dengan dara jelita itu di dalam kamar

yang hangat!

Ketika ia mendorong daun pintu, ia melihat Roro Santi sedang duduk di atas dipan

sambil bertopang dagu, Dolleman tertegun dan berdiri di ambang pintu, memandang

kagum. Alangkah manisnya dagu itu, berlekuk indah di bagian bawahnya. Kalah dagu

patung Venus yang pernah dilihatnya di museum di negerinya! Dan rambut itu! Hitam

panjang berikal mayang, terurai di atas pundak dan punggung! Alangkah hebatnya

kulit tubuh itu, luar biasa! Gadis-gadis dinegerinya tidak ada yang berkulit demikian

halusnya, berwarna campuran putih kuning gelap, halus dan bersih!

Dolleman melangkah maju, menatap wajah manis itu dengan pandang mata kagum.

“Letnan Doleman, apakah keperluanmu maka kau masuk ke dalam kamarku tanpa

ijin?” tanya Roro Santi. Sikapnya agung seakan-akan seorang permaisuri raja

menegur hamba sahayanya.

Dolleman tersenyum menyeringai lalu duduk di atas sebuah bangku di depan gadis

itu.

“Roro Santi, perlukah bagi seorang pria untuk minta ijin lebih dahulu apabila ia

memasuki kamar tunangannya, bahkan yang boleh disebut sudah menjadi isterinya?”

Merah wajah Roro Santi mendengar ini. Ia marah sekali, akan tetapi dalam

pandangan Dolleman, ia menjadi makin cantik saja.

“Dolleman, kau mabok dan jangan kau berani berlaku kurang sopan!” tegurnya.

Akan tetapi Dolleman tertwa bergelak lalu berdiri dan melangkah maju, duduk di atas

dipan di dekat Roro Santi. “Ha, ha, manis, memang aku mabok! Mabok melihat kau

sedemikian cantik jelita. Seperti kau ini agaknya dewi-dewi kahyangan yang

diceritakan dalam dongeng-dongeng bangsamu!” Ia mengulur tangan hendak

memegang pundak Roro Santi, akan tetapi gadis itu mengelak dan berdiri dari tempat

duduknya.

“Dolleman, jangan kau kurang ajar! Lupakah kau akan janjimu kepada ayah?”

“Ha, ha, ha! Manisnya kalau marah! Santi …… aku ……..aku hampir menahan

rinduku kepadamu. Marilah, manis beri ciuman kepadaku, kepada tunanganmu!”

“Keparat!” Roro Santi memaki sambil mencbut kerisnya yang kecil. “Kau majulah

kalau sudah bosan hidup! Awas, kalau kau berlaku tidak sopan, keris inilah yang akan

menamatkan riwayatmu atau akan melenyapkan nyawaku! Kulit tubuhku yang

tersentuh tanganmu akan kubeset, aku tak sudi tersentuh oleh tanganmu yang kotor!

Pergi!!”

Untuk sejenak Dolleman tertegun, akan tetapi pengaruh bir telah naik di kepalanya

dan sikap Roro Santi yang gagah itu dalam pandangan matanya menambah

kecantikan gadis itu. Ia melangkah maju. Akan tetapi pada saat itu, dari luar pintu

kamar terdengar seruan dalam bahasa Belanda yang berarti, “Perahu-perahu bajak

sudah tampak!”

Dolleman menoleh ke pintu lalu menjawab, “Jangan turun tangan dulu, biarkan

mereka datang dekat!” Setelah berkata demikian, kembali dia menghadapi Roro Santi

dan berkata, “Berlakulah manis kepadaku, Santi! Mari kita merayakan saat

kemenangan kita!” Wajah Dolleman menjadi berkilat karena peluh mulai membasahi

mukanya. “Kertapati telah muncul dan sebentar lagi ia dan kawan-kawannya akan

dihancurkan! Mari, mari kau datang dekat ………….. !”

“Keparat jahanam! Jangan datang dekat!” seru Roro Santi dengan marah, akan tetapi

tiba-tiba Dolleman melompat cepat. Gerakan ini sama sekali tak disangka oleh Roro

Santi. Gadis itu mengangkat kerisnya, akan tetapi sekali menyampok dengan

tangannya, keris itu terlepas dari pegangan Roro Santi dan menimpa peti kayu besar

yang berada di sudut kamar.

Keris kecil yang menimpa peti besar itu bagaikan pembuka sumbat botol wasiat

dalam cerita kuno tentang jin, karena pada saat itu juga tiba-tiba tutup peti besar itu

terbuka dari dalam dan dari dalam peti itu melompat keluar dua tubuh orang yang

dengan sigapnya lalu berlompatan menerkam Dolleman!

Dolleman yang telah memegang tangan Roro Santi yang meronta-ronta, menjadi

terkejut sekali ketika melihat betapa tiba-tiba saja dua orang laki-laki berdiri di

hadapannya. Ketika ia memandang, matanya terbelalak dan mulutnya celangap karena

seorang diantara dua laki-laki itu bukan lain ialah …….. Kertapati sendiri! Ketika

masuk ke dalam kamar itu, Dolleman tidak membawa senapannya, maka kini ia

mencabut pedangnya dan membuka mulut hendak berteriak memanggil penjaga.

Akan tetapi, secepat kilat Kertapati menubruknya dengan seruan geram.

“Dolleman bangsat rendah! Bersiaplah untuk binasa!” Dolleman mengangkat

pedangnya, akan tetapi dengan kecepatan dan kesigapan luar biasa tangan Kertapati

menangkap pergelangan tangan kanannya dan tangan kanan mengirim pukulan ke

arah ulu hati Dolleman! Tubuh yang tinggi besar itu terlempar dan pedangnya terlepas

dari pegangan, sedangkan kerongkongannya yang tadinya hendak mengeluarkan

teriakan memanggil kawan, hanya dapat mengeluarkan keluhan karena sakit saja.

Sebelum ia dapat berdiri lagi, keris di tangan Kertapati telah menembus jantungnya

dan matilah Letnan Dolleman pada saat itu juga!

Roro Santi juga merasa amat terkejut. Sementara ia melihat Kertapati dan seorang

laki-laki lain keluar dari peti itu, ia hanya berdiri mepet dinding dengan mata

terbelalak, seakan-akan tidak percaya kepada kedua matanya sendiri.

Ia hanya diberitahu oleh ayahnya bahwa Kertapati telah diberitahu dan ia diminta

supaya percaya akan pertolongan Kertapati. Sama sekali tak pernah disangkanya

bahwa Kertapati bersama seorang kawannya telah bersembunyi di dalam peti besar

itu! Sebelum Dolleman datang ia telah memikir dengan heran apa gerangan isi peti

yang besar itu, dan ketika ia mencoba untuk mencoba untuk membuka tutupnya,

ternyata bahwa peti itu tertutup dari dalam dan tak dapat dibuka! Tidak tahunya

bahwa di dalamnya adalah Kertapati dengan seorang anak buahnya.

Pada saat Kertapati menancapkan kerisnya di dada Dolleman, dari luar terdengar

suara mendatangi. Kawan Kertapati segera memadamkan lampu kamar itu dan ketika

dari luar terdengar suara orang bertanya. “Letnan, mereka kini telah datang dekat!”

maka kawan Kertapati yang bertubuh tinggi besar itu mengeluarkan jawaban yang

membuat Roro Santi tertegun dan terheran-heran. Jawaban itu dikeluarkan dalam

bahasa Belanda yang lancar dan suaranya benar-benar tiada bedanya dengan suara

Dolleman tadi! Orang tinggi besar ini memang sengaja dibawa oleh Kertapati, karena

ia adalah seorang bekas anggauta Kompeni Belanda yang telah menjadi anak buahnya

dan pandai bicara bahasa Belanda. Memang hal ini telah direncanakan semula oleh

Kertapati yang cerdik. Orang itu yang bernama Bandi, menjawab suara di luar itu

dengan sebuah perintah.

“Jangan tembak dulu. Padamkan semua lampu di bawah, biarkan lampu di puncak

tiang saja yang menyala agar mereka tidak melihat berapa banyak adanya pasukan

kita!”

Di dalam gelap, Roro Santi dan Kertapati saling bertemu dan ketika Roro Santi

merasa betapa ia dipeluk oleh kekasihnya itu, barulah ia maklum bahwa peristiwa

yang dilihatnya tadi bukanlah impian semata. Mereka lalu keluar dari kamar itu dan

karena penerangan di bawah dipadamkan sesuai dengan dengan perintah Dolleman

palsu itu, maka mudahlah bagi Kertapati untuk menyelinap ke bagian belakang kapal

itu.

Di atas kapal itu, yakni di pinggir sebelah belakang, memang disediakan beberapa

buah perahu kecil yang disediakan untuk pertolongan-pertolongan darurat sewaktuwaktu

terjadi bahaya.

Kertapati meraba-raba dan di dalam gelap ia melepaskan ikatan sebuah perahu kecil

itu.

Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul dari dalam gelap dan membentak.

“Siapa??”

Kertapati menjawab dengan sebuah tusukan kerisnya ke arah dada orang itu, akan

tetapi ternyata orang itu cukup gesit karena dapat mengelak sambil membalas dengan

serangan pedangnya dan berteriak. “Ada penjahat ……. !” Akan tetapi teriakannya

kandas dan tubuhnya terlempar keluar ke dalam laut ketika Kertapati cepat menyerbu

dan melemparkannya!

“Cepat, mari ikut, Santi! Pegang tangan kiriku erat-erat!” bisik Kertapati yang

berhasil melepaskan ikatan perahu kecil tadi. Perahu itu jatuh ke air dan Kertapati

sambil memegang tangan Roro Santi, lalu melompat ke dalam air pula!

Orang-orang yang mendengar seruan tadi, segera memburu ke tempat itu seorang

diantaranya membawa sebuah lentera, akan tetapi ketika tiba di situ, mereka tidak

berhasil melihat sesuatu. Seorang diantaranya melihat bahwa sebuah perahu kecil

lenyap, maka ia memberitahukan hal ini kepada kawan-kawannya. Semua orang

terkejut dan segera berlari mencari Dolleman. Akan tetapi yang dicarinya tidak

nampak, maka tak kemudian terdengarlah ribut-ribut di atas kapal itu.

“Mana Letnan Dolleman ??” terdengar pertanyaan.

“Aduh, ini ada seorang kawan kita rebah mandi darah !” seru seorang.

“Di sini juga! Seorang kawan kita sudah mati!”

“Mana Letnan Dolleman ?” seru yang lain.

Ribut dan paniklah semua orang dalam kegelapan itu. Tiba-tiba terdengar perintah

yang keluar dengan kerasnya dari atas. Suara Dolleman memerintah, “Lekas putar

kapal ke kiri dan maju perlahan ! Jangan menembak dulu, tunggu perintahku !”

Semua orang memandang ke atas dan melihat bayangan Dolleman yang tinggi besar

itu telah berdiri di tempat penjaga dekat puncak tiang menara. Jurumudi menurut

perintah ini dengan hati terheran-heran karena dengan memutar kapal seperti ini,

mereka kini berada di depan para perahu-perahu bajak laut yang kian berada di

belakang mereka!

Tiba-tiba, dari arah perahu-perahu bajak yang hitam itu, mulai meluncur panah-panah

api yang beterbangan bagaikan bintang berpindah tempat! Semua anak panah dapat

mengenai kapal dengan tepat berkat cahaya penerangan yang masih dipasang di

puncak tiang !

“Celaka, mereka menyerang ! Padamkan lampu di atas !” Terdengar seorang di

geladak berseru dan cepat-cepat ia menggunakan sepatunya untuk memadamkan yang

membakar ketika sebatang anak panah menancap di atas geladak dekat tempat ia

berdiri.

“Mana Letnan ? Mengapa tidak memberi aba-aba balas menembak ?” tanya seorang

dengan bingung.

“Kapal seharusnya diputar lagi ke kanan agar kita bisa mempergunakan meriam!”

seru pula seorang. Akan tetapi Letnan Dolleman yang berada di atas itu ternyata

bungkam saja.

Tiba-tiba seorang berlari-lari dari bawah melalui anak tangga. Orang ini membawa

sebuah lentera dan napasnya terengah-engah ketika ia berseru, “Celaka …! Letnan

Dolleman telah tewas …… ! Puteri telah lenyap …… !”

Semua orang terkejut. “Kau gila?” seru seorang sambil menuding ke atas. “Itu Letnan

Dolleman ! Siapa bilang dia tewas ?”

Beberapa orang berlari ke dalam kantor ke dalam kamar Roro Santi dan segera

mereka keluar sambil berteriak-teriak. “Benar, Dolleman telah mati ! Yang di atas itu

Dolleman palsu ! Tembak dia ! Seret dia turun !”

Memang yang di atas tempat penjaga itu adalah Bandi. Tadi di dalam gelap, ia telah

membunuh dua orang penjaga dengan kerisnya dan ia sendiri lalu memanjat naik

untuk melihat gerakan kawan-kawannya. Maka ia lalu memberi perintah untuk

memutar kapal ke kiri agar kedudukan kawannya itu tidak terancam oleh meriammeriam

di kanan kiri kapal !

Kini mendengar bahwa rahasianya telah terbuka, ia tertawa bergelak-gelak dan

segera ia memegang sebuah tali dan mengayun tubuhnya ke bawah ! Beberapa orang

serdadu menembakkan tetapi meleset dan setelah Bandi berada di bawah, mereka

tidak berani menembak, takut kalau-kalau pelurunya akan mengenai kawan sendiri.

“Tangkap ! Bunuh !” mereka berseru dan menyerbu Bandi yang telah mencabut

kelewangnya. Bajak laut yang tinggi besar ini dikurung dan dikeroyok. Ia mengamuk

dan setelah merobohkan tiga orang lawan dengan kelewangnya, akhirnya ia kena

tertusuk juga pada pundaknya. Ia melompat dan menerjang keluar dari kepungan, lalu

berlari ke pinggir kapal. Akan tetapi malang, sebelum bajak yang gagah berani dan

cerdik ini dapat melompat ke air, terdengar tembakan dan peluru menembus dadanya

dan tubuhnya lalu terjungkal ke dalam air dalam keadaan tak bernyawa pula !

Pada saat itu, panah-panah api makin hebat dan deras datangnya sehingga sebagian

kapal itu telah mulai terkena api. Para serdadu yang kehilangan pemimpin iti menjadi

panik. Sebagian orang memadamkan api dan sebagian pula menembakkan senapan

mereka ke arah perahu-perahu kecil. Beberapa orang telah terkena anak panah dengan

tepat sehingga di sana-sini sudah nampak mayat-mayat bergelimpangan. Akan tetapi

mereka dapat mengusai keadaan dan setelah kapal diputar ke kanan, maka mulai

berdentumlah meriam-meriam kapal itu.

Para bajak laut menjadi kewalahan. Beberapa buah mereka hancur atau terbalik.

Terpaksa yang masih ada lalu melarikan perahu merek menjahui kapal itu dengan

terpencar.

Sementara itu, setelah melompat ke dalam air, pertama-tama Kertapati menolong

Roro Santi yang dipeluknya dan dibawa berenang mengejar perahu yang dijatuhkan

tadi. Setelah membalikkan perahu itu, ia lalu membantu Roro Santi naik ke dalam

perahu dan segera mendayung perahu itu menghilang di dalam gelap menuju ke

tempat perahu-perahu anak buahnya yang berada di belakang kapal. Di atas geladak

kapal Kompeni itu sedang terjadi keributan, maka tak seorangpun memperhatikan

gerakan Kertapati ini.

Biarpun Kertapati berada di tengah-tengah mereka, akan tetapi para bajak laut itu tak

berdaya menghadapi semburan peluru meriam yang hebat dari kapal musuh itu.

Kertapati lalu memberi perintah untuk mundur dan melarikan diri. Akan tetapi, tak

pernah disangkanya bahwa Dolleman benar-benar hebat dan cerdik. Baru saja mereka

berhasil menjauhkan diri dari kapal Kompeni itu, tiba-tiba sebuah kapal lain yang

lebih besar dan lebih lengkap menghadang perjalanan mereka !

Suara senapan memberondong dari atas kapal itu dan hampir seluruh anak buah bajak

laut Kertapati yang melakukan perlawanan mati-matian dengan anak-anak panah

mereka, habis disapu oleh peluru senapan para sedadu. Musuh terlalu banyak, dan

senjata mereka lebih baik, ditambah pula kedudukan mereka yang terlindung di atas

kapal yang besar itu.

Setelah Kertapati kena tembak pundaknya dan pingsan di atas pangkuan Roro Santi,

maka pertempuran berhenti. Hanya beberapa orang anak buah Kertapati yang berhasil

menyelamatkan diri dengan jalan terjun ke air dan menyelam lalu menjatuhkan diri

mempergunakan kepandaian renang mereka.

Kertapati sendiri tertawan. Orang-orang di atas kapal ketika mendapat kenyataan

bahwa dua orang yang berada di perahu kecil itu adalah Kertapati sendiri yang sedang

pingsan dan Roro Santi yang duduk menangis di dalam perahu, lalu menolong dan

mengangkat mereka ke dalam kapal. Setelah berada di kapal dan melihat betapa

kedua tangan Kertapati yang sudah pingsan dan penuh darah dadanya itu dibelenggu,

Roro Santi menjerit dan roboh pingsan pula !

Bajak laut Kertapati dibawa ka Jepara, oleh karena Kompeni berpendapat bahwa

lebih baik bajak laut yang terkenal itu menjalankan hukum tembak di kota Jepara agar

umum dapat menyaksikannya dan menjadi takut untuk mencontoh perbuatannya yang

merugikan Kompeni.

Roro Santi telah dijemput oleh ayahnya dan kembali ke gedungnya. Setiap hari gadis

ini hanya menangis dan sedih.

Kompeni mengumumkan bahwa bajak laut Kertapati akan ditembak mati pada hari

Jumat Kliwon di pinggir laut, di bagian yang dalam. Di situ telah dibuat sebuah

jembatan sampai ke bagian air yang dalam, di mana bajak laut itu akan menjalankan

hukumannya. Semua penduduk dipersilahkan menyaksikan hukuman bajak laut ini.

Hari Jumat Kliwon. Di tepi pantai telah penuh orang. Para bangsawan keluar dari

gedung masing-masing dan ikut pula menyaksikan penyelenggaraan hukuman besar

itu, bahkan orang-orang dari dusun-dusun yang jauh pada datang berbondongbondong

untuk menyaksikan hukuman yang hendak dijatuhkan kepada bajak laut

yang ternama itu, bajak laut muda yang mempunyai banyak pengikut dan pencinta,

akan tetapi juga mempunyai banyak pembenci itu !

Adipati Wiguna juga hadir, bersama Roro Santi yang berwajah pucat. Mereka

mendapatkan tempat yang terdepan, oleh karena Kompeni menganggap bahwa

keluarga inilah yang mendapat gangguan paling besar dari Kertapati sehingga tentu

ingin menyaksikan dari dekat betapa musuh besarnya tewas ! Juga para Kompeni

menganggap bahwa Roro Santi adalah tunangan Letnan Dolleman yang dibunuh oleh

Kertapati, maka tentu saja gadis ini merasa sakit hati terhadap bajak laut itu !

Di dekat gadis itu nampak Raden Suseno, tunangan yang menjaga gadis itu dengan

penuh perhatian dan ia merasa amat kasihan melihat gadis tunangannya ini yang telah

mengalami banyak penderitaan.

Jam sembilan tepat, serombongan Kompeni datang berbaris mengiringkan Kertapati.

Bajak laut ini nampak pucat sekali oleh karena luka di pundaknya mengeluarkan

banyak darah dan ia tidak dirawat sama sekali, bahkan menerima banyak pukulan

siksaan dalam penahanannya itu. Akan tetapi ia berjalan menuju ke tepi pantai, ia

tersenyum-senyum dan sepasang matanya bercahaya, sama sekali tidak kelihatan

takut.

Air mata banyak mengucur keluar ketika orang-orang menyaksikan pemuda teruna

yang tampan ini berjalan dengan gagah dan bersemangat, seakan-akan maut yang

menantinya merupakan jantung hatinya yang berdiri tersenyum melambaikan tangan

kepadanya.

Kertapati lalu diikat di ujung jembatan itu pada sebatang tiang yang sudah

disediakan, dan para serdadu lalu mengundurkan diri untuk memberi ketika kepada

seorang pembesar Kompeni dari Semarang yang akan mengucapkan pidato !

Pembesar itu adalah seorang Belanda yang berkepala botak, yang maju dan berdiri

menghadapi semua penonton, membelakangi Kertapati dan berkata dalam bahasa

daerah yang kaku.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian. Hari ini akan dilangsungkan hukum tembak

kepada Kertapati, seorang penjahat besar, seorang bajak laut, perampok yang amat

jahat dan berbahaya. Dengan dihukumnya penjahat ini, maka sekali lagi Kompeni

telah menolong tuan-tanah dan nyonya-nyonya dari gangguan seorang penjahat yang

berbahaya !”

“Bohong …… !” tiba-tiba terdengar teriakan dari tengah-tengah penonton yang

berdesak-desakan. “Kompenilah perampok dan bajak yang sejahat-jahatnya !”

Para penjaga lalu mengejar ke arah suara itu, akan tetapi mereka menjadi bingung

karena siapakah yang harus ditangkap ? Di situ terdapat banyak sekali orang, laki-laki

dan wanita, tua dan muda, bahkan ada pula anak-anak. Maka pemimpinnya

mengangkat pundak, dan tertawa suara menyeramkan. Yang tertawa adalah Kertapati.

“Ha, ha, ha ! Kompeni Belanda !! Baru saja kamu mendengar teriakan rakyat ! Kau

boleh membunuh aku, akan tetapi kamu takkan kuasa membunuh teriakan itu ! Pekik

dan teriak perlawanan terhadap kamu akan berkumandang sepanjang masa. Seorang

Kertapati boleh ditembak, akan tetapi ribuan, laksaan, ya bahkan seluruh rakyat akan

bangkit dan berontak mengusirmu dari tanah air kami !

Ya sekarang kamu boleh berlaku sewenang-wenang, boleh memaksa rakyat datang

menyaksikan pembunuhan yang kamu lakukan seorang keluarga mereka, akan tetapi

tunggulah saja …… tunggulah datangnya pembalasan rakyat !”

Belanda botak itu menjadi pucat dan gugup, lalu memberi dengan tangannya.

“Penembakan segera dilakukan !” teriaknya.

Pada saat itu, tiba-tiba Roro Santi melompat turun dari kursinya dan berlari-lari di

sepanjang jembatan kecil itu menghampiri Kertapati. Sambil menangis tersedu-sedu

ia memeluk tubuh Kertapati.

“Kertapati …….. “ bisiknya dan ia tak dapat menahan membanjirnya air mata.

“Santi ……. Santi …… kekasihku ! Jangan kau memberatkan pengurbananku

dengan air matamu, jiwa hatiku …… Tenanglah dan berlakulah tabah ……. Kematian

bukan apa-apa bagi Kertapati !”

Roro Santi mendekap kepala pemuda itu, dipeluknya, diciuminya diantara hujan air

mata, kemudian ia mencabut kerisnya dan dibukanya ikatan tangan dan kaki

Kertapati. Ketika beberapa orang serdadu memburu ke arahnya, ia lalu membalikkan

tubuh dengan keris di tangan, memandang bagaikan seekor harimau betina

melindungi anaknya.

“Majulah ! Kerisku akan membedah perutmu ! Keparat kejam ! Bajingan hinadina!

Kertapati bukan pengecut, ia takkan lari ! Tak usah dibelenggu, ia tidak takut mati !”

Para penjaga itu mundur kembali dengan ragu-ragu dan Roro Santi kembali

menghampiri Kertapati yang segera memeluk dan mencium keningnya.

“Roro Santi, kekasihku. Pergilah kau kembali ke tempatmu dan relakanlah aku mati.

Hanya pesanku, kau dan keluargamu, kau dan putera-puteramua kelak, jangan sekalikali

kena bujuk Kompeni yang bermulut manis ! Kompeni hanya akan mendatangkan

malapetaka dan sengsara bagi keturunanmu …….. ingatlah hal ini baik-baik, Santi

………. .”

Dengan air mata mengalir Roro Santi hanya memandang dan menggangguk-angguk.

Pada saat itu, Raden Suseno yang memburu ke situ telah tiba dengan sambil menariknarik

tangan Roro Santi, ia membujuk gadis itu untuk kembali ke tempatnya.

Pemandangan yang amat mengharukan tadi telah membuat para penonton menangis

tersedu-sedu. Bahkan Raden Suseno sendiri, ketika melihat betapa Roro Santi

berpeluk-pelukan dengan Kertapati, tidak merasa cemburu, bahkan seakan-akan ada

sesuatu yang naik ke kerongkongannya yang membuat ia menggigit bibir menahan

runtuhnya air mata dari kedua pelupuk matanya ! Adipati Wiguna menutup muka

dengan kedua tangannya dan air mata mengalir dari celah-celah jari tangannya !

Setengah memaksa, Raden Suseno menarik Roro Santi mundur dari jembatan itu.

Pemimpin Kompeni memberi tanda dengan tangan dan tiba-tiba.

“Dar ! Dar ……. !! Dar !!!” Lebih dari tujuh pucuk senapan memuntahkan cahaya

api dan peluru yang semua menyambar ke tubuh Kertapati. Tubuh itu terkulai,

terhuyung-huyung di atas jembatan, kedua tangan memegang dada …….

“Kertapati ….. !” Roro Santi menjerit dan Raden Suseno tak kuasa menahannya

ketika ia memberontak dan berlari cepat sekali memburu kepada Kertapati.

“San …….. ti ……… “ Kertapati berbisik dan memandang dengan senyum dan

matanya mulai kabur.

“Kertapati ……. !” Santi menubruk tubuh yang hendak roboh itu dan memeluknya

erat-erat hingga darah yang keluar dari lubang-lubang di tubuh pemuda itu

membasahi tubuhnya pula. Raden Suseno diikuti oleh para penjaga mengejar, akan

tetapi tiba-tiba Roro Santi menghardik.

“Jangan dekat !” Ia menarik kerisnya dan mengancam, akan tetapi karena amat

kuatir, Raden Suseno tetap melangkah maju. Melihat ini, Roro Santi lalu memeluk

tubuh Kertapati lebih erat lagi lalu melempar dirinya ke bawah jembatan bersamasama

Kertapati ! Yang nampak di atas papan jembatan kini hanyalah ceceran darah

yang tadi mengucur keluar dari dada dan lambung Kertapati.

“Santi ……. !” Raden Suseno memekik dan ikut pula melompat ke dalam air, akan

tetapi terlambat ! Ia hanya mendapatkan dua tubuh yang sudah tak bernyawa lagi

dalam keadaan berpelukan mulai tenggelam di dalam laut. Tubuh Kertapati penuh

luka peluru, sedangkan keris yang tadi dipegang oleh Roro Santi menancap di dada

kiri gadis itu !

Semua orang menangis ketika kedua jenazah itu dikeluarkan. Dan para anggauta

Kompeni yang berada di situ hanya dapat memandang marah ketika melihat betapa

semua orang menghormati kedua jenazah itu seakan-akan yang mati adalah orangorang

agung ! Akan tetapi mereka tidak berani menentang rakyat yang demikian

banyaknya dan yang mulai memandang kepada mereka dengan mata merah !

Terpaksa mereka lalu meninggalkan tempat itu dengan kepala tunduk.

Beberapa hari kemudian, setelah jenazah Kertapati dan Roro Santi dimakamkan,

Jepara kehilangan beberapa orang lagi, yakni Adipati Wiguna, Bupati Randupati,

Raden Suseno dan Tumenggung Basirudin yang kesemuanya melarikan diri

menyeberang ke Mataram untuk membantu pemberontakan Trunajaya ! Mereka

semua ini diilhami oleh perjuangan dan kegagahan Kertapati, maka diam-diam

Kompeni mencatat bahwa pembunuhan yang dilakukan atas diri bajak laut Kertapati

itu sama sekali tak dapat disebut sebuah kemenangan, karena selain anak buah bajak

Kertapati masih banyak yang mendatangkan gangguan bagi mereka, juga banyak para

bangsawan dan rakyat Jepara menyeberang kepada Trunajaya !

Demikianlah, kisah ini ditutup dengan catatan bahwa ucapan-ucapan terakhir yang

keluar dari mulut pahlawan teruna Kertapati itu ternyata terbukti karena sungguhpun

tak lama kemudian Trunajaya gagal dan tewas, selanjutnya tiada hentinya rakyat

berusaha untuk mengusir musuh besarnya, yaitu Kompeni Belanda !

Tamat