Sepasang Naga Lembah Iblis (Seri I)

New Picture

 Sepasang Naga Lembah Iblis

Karya : Asmaraman S Kho Ping hoo

Ebook by Muk San & Dewi KZ

Jilid 1

Setelah mengalami perang saudara yang terkenal dengan sebutan jaman Sam-Kok ( Tiga Negeri ) antara tahun 221 – 265 , akhirnya Tiongkok dapat dikuasai oleh Kerajaan Wei dan dapat dipersatukan kembali. Namun kedamaian itu tidak lama dinikmati rakyat karena segera di susul oleh kekacauan terjadi terus menerus, perang perebutan kekuasaan di tambah lagi oleh penyerbuan bangsa Suku Nomad dari utara dan barat , maka kehidupan rakyat jelata menjadi amat sengsara .

Bahkan sampai pada abad ke lima , bangsa Tiongkok masih belum dapat menikmati kehidupan yang tentram . Hukum rimba berlaku dimana-mana , siapa kuat dia menang dan siapa menang dia kuasa dan yang berkuasa selalu benar . Kesengsaraan memuncak dan kekacauan menghebat ketika bangsa-bangsa Nomad , yaitu suku Hsiung-nu , Turki , Tibet dan Bangsa Toba mempersatukan diri dan menyerbu ke selatan . Akhirnya seluruh Tiongkok utara dapat dikuasai oleh suku bangsa Toba yang mendirikan Kerajaan Toba ( Mongol ) . Tiongkok kembali terpecah belah dan kekacauan berlangsung terus .

Kisah ini dimulai dalam jaman yang kacau itu , sekitar tahun 545 Masehi . Pada suatu hari , seorang wanita menggendong anaknya yang baru berusia setahun , berlari-lari mendaki bukit dan dengan nekat memasuki daerah Lembah Iblis . Padahal , lembah ini merupakan daerah yang amat di takuti . Bahkan para pemburu yang paling gagah sekalipun tidak berani memasuki lembah ini . walaupun berkawan banyak . Mereka semua percaya bahwa lembah ini di huni oleh iblis-iblis yang jahat .

Akan tetapi wanita itu nekat , lari memasuki lembah sambil menggendong anaknya dan sambil menangis . Ia seorang wanita berusia duapuluh tahun lebih , cantik manis walaupun pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang desa . Anak yang di gendongnya adalah seorang anak laki-laki yang tidak menangis karena ia di dekap di dada ibunya dan mulutnya di sumbat putting buah dada yang penuh air susu . Beberapa kali wanita itu menengok dan ketika melihat bahwa laki-laki itu masih terus mengejarnya , ia berlari semakin cepat memasuki hutan pertama di lembah itu .

Laki-laki yang mengejarnya itu berusia empat puluh tahun , tinggi besar bermuka hitam , di punggungnya terselip sebatang golok yang masih merah karena berlepotan darah . 3

Dia baru saja membunuh suami wanita itu dan kini mengejar si wanita .

Pada masa itu kejadian seperti ini seringkali berlangsung . Perampokan , perkosaan , pembunuhan terjadi dimana-mana tanpa ada pihak penguasa yang dapat menanggulanginya . Suami wanita itu bernama Cian Kim , seorang petani yang tinggi besar dan termasuk jagoan di dusunnya . Akan tetapi hari itu dusun di datangi segerombolan orang kasar dipimpin orang tinggi besar bermuka hitam itu . Mereka merampok dusun dan ketika melihat isteri Cian Kim , kepala perampok itu terpesona dan segera mengejarnya . Suaminya segera turun tangan menghalanginya , akan tetapi kepala perampok itu lalu menyerangnya dengan golok . Terjadi perkelahian tidak seimbang . Karena kepala perampok itu pandai bermain silat dan tak lama kemudian Cian Kim roboh mandi darah dan tewas . Isterinya , Lan Si , lari sambil menggendong puteranya , di kejar oleh kepala perampok itu .

Dan kini mereka memasuki Lembah Iblis . Agaknya nafsu berahi telah naik ke otak kepala perampok itu yang tergila-gila melihat Lan Si yang montok dan manis itu . Maka diapun lupa bahwa dia telah memasuki daerah yang amat di takuti itu .

“ Berhenti , manis , ha-ha-ha . Engkau hendak lari kemana lagi ? Menyerahlah dan aku tidak akan mengganggu anakmu . ha-ha !” kepala perampok itu tertawa melihat betapa wanita itu sudah mulai kendur larinya .

Mereka tiba di bagian yang banyak pohon-pohon besarnya . Dan wanita yang sudah kelelahan itu akhirnya tersandung akar pohon dan terjerembab jatuh , dan terdengarlah puteranya menangis menjerit-jerit .

“ Ha-ha-ha , engkau tak dapat lari lagi …….. ! “ Si muka hitam tertawa bergelak dan menubruk kea rah wanita yang masih rebah miring itu .

Akan tetapi tiba-tiba semua pohon sekeliling tempat itu 4

bergoyang-goyang dan terdengar suara cecowetan riuh rendah , lalu banyak sekali kera yang besar berlompatan dari atas pohon , ada yang langsung menubruk kea rah laki-laki bermuka hitam itu . Banyak sekali kera itu , puluhan banyaknya dan tinggi mereka kalau berdiri ada yang mencapai satu meter ! .

Laki-laki muka hitam itu terkejut sekali karena selagi dia membungkuk , sebelum tangannya dapat menyentuh tubuh wanita itu , punggungnya di timpa beberapa ekor kera yang langsung menggigit tengkuknya .

Dia berteriak dan menggunakan kedua tangan untuk memukul , kemudian dia mencabut goloknya dan mengamuk . Akan tetapi kera-kera itu gesit sekali dan pandai mengelak . Akhirnya , biarpun goloknya mampu merobohkan empat ekor kera , ada kera besar yang menggigit lengan kanannya , ada pula yang memeluk dari belakang menggigit tengkuk , ada yang memegangi kaki dan menggigit kedua kakinya . Tidak kurang dari sepuluh ekor kera mengeroyok dan menggigitnya dan akhirnya si muka hitam itu hanya mampu berteriak melolong-lolong . Akan tetapi teriakannya makin melemah dan ketika ada kera menggigit kerongkongannya , diapun berkelojotan dan tak lama kemudian mati dalam keadaan tubuh penuh luka terkoyak .

Sementara itu , setiap ekor kera yang menjamah wanita itu , menarik kembali tangannya . Kiranya wanita itu telah mati . Ketika tadi jatuh terjerembab , kepalanya terbentur batu demikian kerasnya sehingga kepala itu retak dan wanita itu tewas tak lama kemudian .

Seekor kera betina , yang buah dadanya menggembung karena baru dua hari yang lalu ia melahirkan anak yang mati katika lahir , ketika melihat bayi yang menangis menjerit-jerit membuat kera yang lain ketakutan , segera menyambar bayi itu dan secara naluriah ia mendekap bayi itu , membiarkan mulut bayi bertemu putting susunya yang besar . Seketika 5

bayi itu berhenti tangisnya dan dia sudah menyusu dengan enaknya lalu tertidur dalam pondongan kera betina , jauh tinggi di atas pohon besar . Setiap kali ada monyet lain mendekat , betina yang besar itu menyerengai , memperlihatkan gigi dengan sikap mengancam dan sejak saat itu ia menjadi ibu dari bayi itu . Ia telah memperoleh pengganti anaknya yang mati ketika lahir karena beberapa hari sebelumnya ia terjatuh katika dahan yang diinjaknya patah .

Mayat si muka hitam dan mayat ibu muda itu tak lama kemudian juga menjadi mangsa-mangsa hewan-hewan hutan yang liar sehingga beberapa hari kemudian yang tinggal hanyalah tulang belulangnya saja .

Kematian datang begitu tiba-tiba , kepada siapa saya yang sudah tiba saatnya . Akan tetapi bocah itu , secara aneh sekali dan tidak wajar telah terhindar dari kematian . Siapakah yang mengatur semua ini ? Yang mesti mati , matilah . Yang mesti hidup , dengan cara aneh dapat hidup . Sungguh besar sekali kekuasaan yang mengatur segala sesuatu di jagat raya ini . Biarpun dalam pandangan manusia peristiwa yang terjadi di Lembah Iblis itu nampak aneh , namun sesungguhnya hanya merupakan peristiwa kecil tak berarti apa bila di bandingkan dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi setiap saat di alam semesta ini . Kekuasaan yang mengatur semua itu , dari peristiwa terkecil sampai peristiwa terbesar , adalah tunggal . Kekuasaan Tuhan menyusup dan mengatur dimana saja , tak terkecuali di manapun juga mendahului yang terdahulu dan mengakhiri yang terakhir .

Sejak anak bayi berusia setahun itu di sambar dari dekapan ibu kandungnya yang tewas oleh sepasang lengan panjang seekor kera betina , maka mulailah riwayat hidup seorang anak manusia yang luar biasa . Keadaan dan cara kehidupan monyet yang serba keras dan sukar , menggemblengnya menjadi seorang mahluk setengah manusia setengah kera . 6

Jalannya , caranya meloncat , caranya menyerengai , berkelahi , makan apa saja yang biasa dimakan orang-orang hutan itu , persis kera besar . Akan tetapi ada suatu kelebihan padanya yang tidak ada pada kera itu , yaitu akal budi . Dalam hal pertumbuhan jasmani , induk kera itu seringkali merasa tak sabar karena anaknya itu tak kunjung besar dan tidak kunjung kuat . Masih saja lemah dan memerlukan penjagaannya selalu . Kalau tidak , tentu anaknya itu sudah terjatuh dari atas pohon atau kena gigit kera-kera temannya karena gigi anaknya tidak tumbuh kuat runcing seperti kera-kera lain . Namun , setelah anak itu berusia lima enam tahun , ternyata dia dapat mengalahkan semua teman bermainnya .

Dia pandai sekali bagi ukuran kera , naluri dan kepekaannya sama dengan kera , akan tetapi akal budinya seperti manusia . Dia dapat mempergunakan batu , kayu dan benda apa saja yang keras untuk senjata , sedangkan kera-kera lain tidak mampu . Dia juga bukan hanya pandai berayun-ayun dan berlompatan seperti kera , walaupun kalah gesit , akan tetapi dapat pula berlari secepat kijang , hal yang tidak dapat dilakukan kera lain .

Pada suatu hari , selagi anak itu bersama kera-kera lainnya bermain dan bergelut di atas pohon , dibawah sana terdapat sebuah telaga kecil , tiba-tiba anak itu terpeleset dan terjatuh ke dalam air yang dalam . Semua kera kebingungan , juga induk kera menjerit-jerit . Jatuh ke dalam air itu berarti mati , kematian yang menyedihkan .

Akan tetapi , biarpun amat ketakutan , anak itu menggerakkan kaki tangannya , meronta dari pelukan air dan …….. tubuhnya tidak jadi tenggelam , melainkan mengapung ke permukaan airnya . Hanya akal budinya sebagai manusia yang memberitahu kepadanya bahwa dengan menggerakkan kaki tangannya , dia tidak tenggelam dan demikianlah , dia malah bermain-main di air itu dan merasa tubuhnya segar dan nyaman sekali . 7

Semenjak peristiwa itu anak itu sering kali terjun ke air dan berenang kian kemari , membuat para kera itu tertegun kagum dan juga kuatir .

Namun , setiap mahluk , setiap tumbuh-tumbuhan , semua bertumbuh sesuai dengan kodratnya . Walaupun lingkungan mempengaruhi dan membentuk wataknya , seperti anak itu yang wataknya menjadi mirip watak kera , namun dia tetap saja seorang manusia . Oleh teman-temannya kera-kera muda , anak itu di “ panggil “ dengan nama kercak . Kercak si kera putih tanpa bulu ini tetap saja seorang manusia yang lain sama sekali daripada kera itu . Dia menyadari hal ini , kadang dia merasa malu melihat keadaan tubuhnya yang tidak berbulu itu . Pernah dia melumuri dirinya dengan Lumpur agar agak sama dengan kawan-kawannya . Akan tetapi setelah Lumpur itu mongering , dia merasa tidak enak sekali dan pergi berenang untuk membersihkan dirinya lagi .

Selain itu , Kercak juga memiliki rasa keadilan yang tidak dimiliki teman-temannya . Kalau ada kera nakal merebut makanan dari kera lain , dia tentu membela kera yang makanannya di rebut itu dan dalam setiap pergulatan , dia selalu keluar sebagai pemenang . Kalau kera-kera itu hanya bisa mencakar dan menggigit , maka kercak dapat memukul dan menendang , juga menggigit .

Pada suatu pagi , dia melihat seekor kera besar mengejar-ngejar para kera muda dan merampas buah-buahan mereka . Kercak melihat ini menjadi marah dan dia menggereng seperti kera marah .

Kera besar itu membalik dan menyerangnya .

Kercak agaknya maklum bahwa kalau berkelahi di pohon , dia akan kalah karena gerakannya tidaklah segesit kera , maka dia lalu mengayun dirinya turun , dikejar oleh kera besar . Setelah keduanya berpijak di tanah , barulah Kercak melakukan perlawanan . 8

Kera besar itu kuat bukan main . Beberapa kali Kercak melawan terus , memukul dan menendangi dan akhirnya kera besar itu berhasil di usirnya dan kera itu berteriak-teriak sambil lari terpincang-pincang . Sejak itu , Kercak di anggap jagoan dan pemimpin para kera muda . Biarpun dia menang , akan tetapi Kercak harus rebah sampai dua hari karena menderita sakit-sakit oleh gigitan dan bantingan kera besar itu .

Dalam usia sepuluh tahun Kercak telah menjadi pemimpin para kera yang ditakuti . Tidak seperti para pemimpin kera lainnnya , biarpun dia di anggap jagoan , Kercak tidak pernah merampas makanan kera lain , juga tidakpernah mengganggu kera-kera kecil atau kera-kera betina . Hal ini bahkan membuat kera itu tunduk kepadanya .

Pada suatu pagi , rombongan kera yang di kepalai Kercak tiba di tempat dimana dulu Lan Si dan si muka hitam tewas . Kini tinggal tulang belulang saja yang masih ada . Dengan heran Kercak menghampiri kerangka itu dan tertarik melihat benda yang berkilauan . Benda itu adalah sebuah kalung emas yang tergantung di leher kerangka yang lebih kecil . Diambilnya kalung emas itu dan seperti nalurinya memberitahu , kalung itu dia pakai di lehernya , dikalungkan dikepalanya dan tergantung dileher .

Dia senang sekali . Kemudian , dia melihat benda lain yang berkilauan , yaitu sebatang golong milik si muka hitam . Kalau kera lain tidak berani menyentuhnya , Kercak mengambilnya dan bermain-main dengan golok itu sampai golok itu menggores lengan kirinya . Dia menjerit dan melepaskan golok itu , lalu melarikan diri dengan lengan kiri berdarah .

Cepat di hisapnya luka pada lengannya , seperti yang biasa dilakukan pada kera kalau menderita luka dan segera dia mencari getah pohon Liu liar di dalam hutan untuk mengobati lukanya . Dalam beberapa hari saja luka itu sembuh .

Mula-mula , dia takut melihat golok itu . Akan tetapi akal 9

budinya sebagai sebagai manusia membuat dia memberanikan diri mendekat , dan menyentuh sambil ancang-ancang untuk lari apabila benda itu “ menggigitnya “ lagi . Akan tetapi benda itu diam tidak bergerak . Lalu di ambil , di pegang pada gagangnya . Diayunnya benda itu kea rah sebatang pohon dan batang pohon itu terbacok , terbelah dan tumbang ! Dia terkejut akan tetapi juga girang sekali .

Pada saat itu , terdengar kera-kera menjerit-jerit . Kercak terkejut dan cepat berlari kea rah suara . Dan dia melihat seekor kera dibelit seekor ular sebesar pahanya . Kera itu tidak berdaya , mencicit-cicit dank era-kera lain hanya dapat menjerit-jerit ketakutan .

Melihat seorang kawannya dalam bahaya , Kercak segera melompat dekat dan dia teringat akan golok yang masih terpegang di tangannya dan batang pohon yang terpotong oleh goloknya . Maka , cepat diangkatnya golok itu . Ular yang melihat Kercak berani mendekati , lalu mengangkat kepalanya dan hendak menyerang . Akan tetapi Kercak menggerakkan goloknya dengan kekuatan penuh dan leher itupun putus ! Libatannya terhadap kera tadipun melonggar sehingga kera itu dapat melompat dan melarikan diri sambil menjerit-jerit . Kercak sendiri melompat menjauhi , akan tetapi dia memandang dengan hati gembira melihat hasil babatan goloknya . Ular itu mati seketika dengan leher putus ! .

Semenjak peristiwa itu , Kercak makin di takuti semua kera , apalagi kemana-mana dia membawa goloknya yang tajam . Dan kini seolah menjadi raja tak bermahkota . Raja Kera ! .

*****

Seperti diceritakan dibagian depan , pada waktu itu keadaan Negara amat kacau balau . Banyak raja muda berdiri sendiri dan terjadilah perebutan kekuasaan yang tak kunjung henti . Di tambah lagi dengan penyerbuan Bangsa Toba dan sekutunya dari barat dan utara sehingga pemerintah yang berkuasa di daerah-daerah tidak sempat melakukan penjagaan 10

keamanan terhadap kehidupan rakyatnya . Karena itu , maka rakyat berusaha sendiri untuk melindungi diri dan hamper setiap orang belajar silat untuk menjada dan melindungi keluarga masing-masing . Partai-partai dan kelompok-kelompok persilatan berdiri untuk melindungi anggota masing-masing . Perusahaan – perusahaan pengawalan barang dan orang juga didirikan kaum persilatan di kota besar . Hukum rimba berlaku dimana-mana dan orang mengandalkan kekuatan sendiri untuk hidup .

Pemerintah daerah tidak dapat diandalkan karena pemerintah sibuk dengan urusan sendiri , perebutan kekuasaan dengan daerah-daerah lain .

Pada suatu pagi , serombongan terdiri dari selusin orang memasuki Lembah iblis dengan membawa bermacam barang , buntalan kain-kain dan peti-peti barang . Mereka adalah sekelompok perampok yang baru saja berhasil menghadang serombongan pedagang yang dikawal membawa barang-barang dagangan dan merampas barang dagangan itu , lalu mengerahkan kawan-kawan mereka melakukan pengejaran sehingga para perampok itu nekat memasuki Lembah Iblis untuk menyelamatkan diri dari pengejaran banyak orang .

Akan tetapi pihak pengejar , para piauwsu ( pengawal barang ) itu , yang bertanggung jawab atas kehilangan barang-barang , melakukan pengejaran terus memasuki lembah yang di takuti itu . Jumlah mereka ada tigapuluh orang maka mereka menjadi berani .

Ketika rombongan perampok itu tiba di tengah hutan lebat , para pengejar dapat menyusul mereka dan karena tidak mungkin melarikan diri lagi , kepala perampok itu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk melakukan perlawanan mati-matian . Terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara dua belas orang perampok melawan tigapuluh orang piauwsu yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan itu . Para perampok itu mencoba untuk melakukan perlawanan 11

mati-matian, bukan untuk mempertahankan barang rampokan lagi , melainkan untuk mempertahankan nyawa . Namun , terjadilah pembantaian ketika tigapuluh orang piauwsu itu mengepung dan mengeroyok dan seorang demi seorang para perampok itu terbantai , roboh bergelimpangan dan berlumuran darah .

Para piauwsu yang marah itu membunuh semua perampok dan setelah mengambil semua barang rampokan itu , mereka lalu meninggalkan tempat itu dengan girang , penuh kemenangan .

Banyak pasang mata menonton pertempuran itu . Mereka adalah para kera yang ketakutan dan menonton dari pohon-pohon yang tinggi . Diantara mereka adalah Kercak . Anak sepuluh tahun ini menonton dengan penuh perhatian , dengan jantung berdebar tegang dan aneh , tangan memegang golok dan matanya tidak pernah berkedip . Dia melihat mahluk yang seperti dia , kera-kera yang tidak berbulu , bertempur , menggunakan bermacam senjata , banyak pula yang memakai senjata seperti miliknya , saling bunuh memperebutkan barang-barang aneh . Dan semua kera berkulit halus itu menutupi tubuh mereka dengan semacam pembungkus ! Setelah pertempuran selesai , semua orang yang menang bertempur pergi meninggalkan sepuluh orang yang sudah menggeletak mandi darah , Kercak turun dari atas pohon , diikuti beberapa ekor kera besar yang masih takut-takut .

Yang menarik perhatian Kercak adalah senjata-senjata itu . Dia berganti-ganti memungut pedang , tombak , ruyung , akan tetapi semua di buangnya kembali dan dia merasa bahwa semua barang itu tidak ada yang lebih baik daripada golok yang dipegangnya . Lalu dia meraba-raba pakaian mereka . Ketika dia meraba seorang yang bertubuh tinggi kurus , orang itu bergerak sehingga dia terkejut , melompat jauh ke belakang dan siap dengan golok di tangan .

Orang itu ternyata belum mati , dan di sangka mati oleh 12

para lawannya . Kini dia bangkit duduk dan melihat Kercak , bocah berumur sepuluh tahun yang telanjang bulat dan memegang golok , rambutnya panjang terurai di punggung , orang itu terbelalak dan menggosok kedua mata dengan tangan untuk mengusirmimpi buruk itu . Akan tetapi , bocah itu masih berada di situ memandang kepadanya dengan aneh , berdirinya agak membungkuk seperti kera .

“ Sobat kecil , kau tolonglah aku …”

Orang itu menjulurkan kedua tangannya , lalu terkulai pingsan . Dia adalah kepala perampok yang bernama Boan Ki .

Ketika Boan Ki sadar dari pingsannya , dia mendapatkan dirinya sudah berada di bawah pohon besar tak jauh dari tempat terbunuhnya semua anak buahnya .

Dia membuka mata dan bangkit duduk , melihat bahwa luka di pundaknya sudah di obati dengan semacam getah yang membuat luka itu terasa dingin . Baru saja dia membuka mata dan bangkit , ada orang mengguyur kepalanya dengan air . Dia terkejut dan melihat bahwa yang melakukannya adalah bocah yang di lihatnya tadi . Ternyata anak itu membawa air dalam daun yang amat lebar dan air itu di guyurkan kepadanya .

Kepala dan mukanya basah kutup , akan tetapi dia berterima kasih karena siraman air itu membuat dia merasa sejuk dan nyaman .

“ Anak yang baik , engkau siapakah ?”

Boan Ki bertanya sambil duduk bersandar batang pohon . Mendengar suara ini . Kercak nampak bingung dan dia mengeluarkan suara kera yang cecowetan , sambil tangannya bergerak-gerak ke kanan kiri .

Kini Boan Ki yang menjadi bingung . Di ulanginya pertanyaannya namun bocah itu hanya dapat mengeluarkan suara seperti kera dan berloncat-loncatan . Dia menghela 13

napas panjang . Selama hidupnya mendengarpun belum dia akan seorang anak manusia yang bersikap seperti kera , telanjang bulat namun telah menyelamatan nyawanya .

Dia lalu menuding ke arah dadanya sendiri dan berkata berulang-ulang , “ Boan Ki , Boan Ki , Boan Ki …. “ Maksudnya hendak memperkenalkan namanya kepada anak itu .

Kercak mendengarkan penuh perhatian . Karena suara itu berulang-ulang , dia lalu berusaha menirukan , “ Aki … Aki …. !” .

Boan Ki tertawa bergelak mendengar namanya di sebut Aki , karena begitulah orang tuanya dulu menyebutnya . Dan melihat Boan Ki tertawa , Kercak juga ikut-ikutan tertawa , walaupun suara tawanya kak-kak-kek-kek seperti suara monyet .

Setelah agak lancer mengucapkan kata Aki , Boan Ki lalu menuding kea rah dada Kercak dan berkata , “ Kauw-Cu , Kauw Cu …. ! “ berulang-ulang . Kembali Kercak menirukan , akan tetapi yang terdengar adalah “ Akauw , Akauw , Akauw … “ .

“ Kauw Cu “ menunjukkan bahwa anak itu adalah seekor kera , dan kembali Boan Ki tertawa . Agaknya inilah pelajaran pertama bagi Kercak atau Akauw , yaitu bahwa tawa berarti baik dan benar .

Demikianlah , setelah kesehatannya pulih kembali , Boan Ki yang tidak berani keluar dari Lembah itu mulai hidup dengan Akauw yang mencarikan buah-buahan untuknya . Boan Ki mulai mengajarkan beberapa patah kata , dan mengajak Akauw untuk melemparkan semua mayat ke dalam jurang setelah melucuti pakaian mereka . Juga dia mengajarkan cara berpakaian kepada Akauw !

Karena semua pakaian itu semua kebesaran , maka Akauw memakai pakaian menjadi kedodoran , akan tetapi setelah mengenakan pakaian , dia nampak lebih sebagai manusia 14

daripada sebagai kera .

Agaknya , naluri dalam diri Kercak atau Akauw memberitahu kepadanya melalui perasaannya bahwa dia telah bertemu dengan bangsanya , maka dia pun menurut saja segala yang di ajarkan Boan Ki kepadanya .

Boan Ki mengajarkan membuat api , menangkap binatang hutan dan memanggang dagingnya dan segala macam cara hidup manusia biasa , walau pun cara itu amat sederhana karena keadaan mereka hidup di lembah yang penuh hutan liar itu .

Boan Ki adalah seorang kepala perampok berusia empat puluh lima tahun yang biasa hidup keras dan tidak mengenal perikemanusiaan . Entah sudah berapa banyak orang di bunuhnya , perempuan di perkosanya . Akan tetapi sekarang dia bersikap baik , seperti seorang guru yang tekun , sabar bagi Akauw . Hal ini bukan saja karena dia merasa telah diselamatkan nyawanya oleh anak itu , melainkan juga dia membutuhkan seorang kawan di tempat yang menyeramkan itu .

Dengan bantuan Akauw , diapun kini membuat sebuah rumah dari daun-daun dan kayu ranting jauh di atas pohon sehingga diwaktu malam dia dapat tidup nyenyak tidak khawatir diganggu binantang buas .

*****

Sang waktu berlalu amat cepatnya dan tahu-tahu tiga tahun telah lewat sejak Boan Ki hidup bersama Akauw di dalam hutan di Lembah Iblis . Selama itu , Boan Ki tidak berani beranjak terlalu jauh dari rumahnya diatas pohon karena beberapa kali dia nyaris celaka di serang binatang buas kalau saja tidak ada Akauw yang membelanya dan menyelamatkannya .

Suatu hari , ketika dia sedang berjalan seorang diri , seekor biruang besar menghadangnya dan menyerangnya . 15

Boan Ki juga seorang yang kuat dan biasa menghadapi kekerasan , bahkan pernah belajar ilmu silat . Dengan pedang di tangan dia melakukan perlawanan mati-matian . Namun biruang itu menggereng-gereng dan menyerangnya dengan ganas sekali . Bacokan pedangnya dapat di tangkis dan pedangnya di renggut lepas oleh kaki depan biruang yang bercakar itu . Kemudian sebuah tamparan dari kaki depan biruang itu membuatnya terpelanting . Dalam keadaan gawat dia menjadi panic dan berteriak-teriak .

“ Akauw … toloooongg !” .

Pada saat itu , Akauw muncul . Pemuda remaja berusia empat belas tahun ini memang sudah tertarik oleh gerengan-gerengan biruang yang menjadi musuh utama para kera , maka dia sudah berlompatan dari dahan ke dahan , berayun-ayun menuju ke tempat itu . Dia melihat Boan Ki sudah menggeletak dan biruang itu siap untuk menerkamnya .

“ Aki , diamlah , pura-pura mati !” kata Akauw yang kini sudah pandai bicara , lalu dia mengeluarkan teriakan melengking panjang , teriakan tantangan sebangsa kera seperti teman-temannya .

Biruang itu melihat lawannya rebah tak berkutik , menjadi sangsi , apalagi mendengar tantangan kera , dia membalik dengan marah . Pada saat itu , Akauw sudah melompat dari atas dan membacokkan goloknya dengan sekuat tenaga kea rah kepala biruang itu .

Biruang raksasa itu menangkis dengan sapokan lengannya , akan tetapi karena bacokan itu kuat sekali , lengannya menjadi tergores dan kulitnya robek . BIruang itu menggereng marah dan kesakitan , lalu menerkam kedepan . Namun dengan tangkas dan gesit sekali Akauw sudah mengelak dengan lompatan ke kiri , kemudian goloknya membacok lagi , sekali ini melukai kaki belakang biruang itu . Setelah berulang kali menerima bacokan yang membuat kulitnya yang tebal tergores luka , biruang itu menjadi ketakutan dan melarikan 16

diri .

Boan Ki bangkit berdiri dan memandang kagum . Anak berusia empat belas tahun yang tubuhnya sudah hamper sama tingginya dengan dia itu , kembali telah menyelamatkan nyawanya . Padahal anak itu sama sekali tidak pandai bersilat . Hanya gerakannya itu demikian ringan dan gesit seperti monyet , namun monyet yang banyak akalnya .

“ Aki , lain kali jangan pergi sendiri jauh-jauh , bisa berbahaya “ , kata Akauw yang biarpun masih agak kaku , namun setelah selama tiga tahun setiap hari belajar bercakap-cakap dengan Boan Ki , dia sudah cukup pandai mengutarakan perasaan hati dan pikirannya .

“ Akauw , aku bosan berdiam di atas pohon atau di bawahnya setiap hari . Sudah tiga tahun aku berada di sini dan tidak pernah pergi lebih dari satu li jauhnya dari rumah kita . Aku bosan , Akauw “

“ Kalau begitu , mari ku ajak kau jalan-jalan , Aki . Aku mempunyai sebuah tempat yang amat indah , guha-guha yang penuh dengan benda bercahaya “ .

Wajah Boan Ki menjadi berseri . “ Benarkah , Akauw ? Mari kita pergi bermain-main ke sana !” .

“ Perjalanan itu cukup jauh menyusup lembah , kita harus berangkat pagi-pagi benar agar dapat sampai di sana dan dapat kembali lagi “ .

Demikianlah , pada keesokan harinya , sebelum terang tanah , baru saja sinar matahari menerangi angkasa , mereka sudah berangkat menuju kea rah mata hari , ke timur . Boan Ki merasa gembira sekali . Karena dia memang sudah bosan setengah mati setiap hari harus tinggal saja di situ . Bahkan berburu binatang untuk dimakanpun dilakukan oleh Akauw , dan dia tidak diperbolehkan meninggalkan tempat itu jauh-jauh . Kini dia melangkah lebar di samping Akauw , seorang tua berusia empat puluh delapan tahun dan seorang pemuda 17

remaja berusia empat belas tahun .

Beberapa ekor kera hendak ikut , akan tetapi Akauw mengusir mereka . Dahulu , sebelum bertemu dengan Boan Ki , dalam perantauannya menjelajahi lembah , dia menemukan tempat itu dan di rahasiakannya . Dia tidak ingin tempat itu dijadikan tempat tinggal para kera dan menjadi kotor .

Setelah matahari naik tinggi , tibalah mereka di lereng yang penuh batu-batu . “ Itu di sana tempatnya !” Akauw menuding . Boan Ki memandang gembira . Perjalanan tadi saja sudah cukup mendebarkan hati . Mereka bertemu dengan binatang-binatang buas . Kalau saja tidak bersama Akauw , entah bagaimana jadinya . Tak mungkin dia dapat melewati binatang-binatang buas seperti biruang , harimau dan ular-ular besar itu . Akauw membawanya naik ke pohon dan melompat dari dahan ke dahan , bergantungan pada akar gantung dan melewati binatang-binatang itu dengan selamat . Kini mereka tiba di bagian yang penuh batu-batuan , dan dari jauh dia melihat bahwa yang di tunjuk Akauw itu adalah sederetan guha-guha besar .

“ Mari kita ke sana !” kata Akauw dan mereka berlari-lari menuju ke tempat itu . Ada guha yang penuh dengan arca-arca , sebagian dari arca itu belum sempurna benar , belum selesai dibuatnya . Dan Akauw menarik tangannya di ajak ke sebuah guha yang kecil di sudut .

“ Disini tempat batu-batu berkilauan itu !” katanya gembira melihat kawannya gembira .

Dan begitu memasuki guha itu Boan Ki terbelalak dan cepat lari memasuki guha , meraba dinding guha yang berkilauan .

“ Emas … ! Emass … ! Kita kaya raya …. !!! Ahh , banyak emas di sini , Akauw !” .

“ Emas ? Kaya Raya ? Apa itu ?” Akauw bingung karena belum pernah dia mendengar sebutan emas dan kaya raya . 18

Boan Ki menjadi diam . Bodoh dia kalau sampai memberitahu Akauw . Mungkin saja pada suatu hari Akauw akan bertemu orang lain dan kalau dia bicara kepada orang itu tentang guha ini , dan tentang emas … ah , dia harus cerdik .

“ Tidak apa-apa , Akauw . Ini adalah batu biasa , hanya berkilauan . Dan kita gembira . Aku gembira karena di sini indah sekali . Aku ingin tinggal di sini , Akauw “ .

“ Tidak , Aki . Kita harus pulang ke tempat kita . Di sini kita akan kelaparan , tidak ada buah-buahan , juga jarang ada binatang buruan . mari kita pulang sebelum malam tiba , Aki “ .

“ Tidak , aku tinggal di sini …..!” .

Kemudian dia melihat betapa Akauw mengerutkan alisnya . Ah , dia tidak boleh membuat Akauw curiga , maka Boan Ki lalu tertawa . “ Ah , baiklah Akauw , mari kita pulang “ .

Akauw nampak gembira kembali setelah Boan Kim au di ajak pulang . Malam itu , di atas pohon , Boan Ki gelisah tak dapat tidur . Dia tahu bahwa Akauw tadinya putera manusia biasa , bahkan dari kalung yang di pakainya , yang ada huruf Cian , agaknya orang tuanya bermarga Cian . Kalau sampai ada orang lain yang tahu bahwa tak jauh dari situ , hanya perjalanan setengah hari , terdapat guha penuh dengan emas , tentu akan ada saingan baginya . Tidak boleh , dia harus mendapatkan semua emas itu , lalu berusaha keluar dari lembah ini dan menjadi seorang yang kaya raya . Akan tetapi Akauw menjadi penghalang baginya . Selain mungkin Akauw akan menghalangi dia mengambil emas , juga Akauw perlu di singkirkan , karena dapat memberitahu orang lain .

Benda memiliki daya pengaruh yang amat kuat bagi manusia . Karena dari benda-benda ini manusia memperoleh berbagai kesenangan , maka kalau tadinya manusia mempergunakan benda bagi keperluan hidupnya , kemudian keadaannya malah berbalik . Benda menguasai batin manusia 19

saling bunuh karena benda , bahkan di antara saudara sendiri timbul pertengkaran dan permusuhan karena saling memperebutkan benda . Namanya saja benda mati , akan tetapi daya pengaruhnya sungguh besar , melebihi pengaruh daya lain .

Demikian pula dengan Boan Ki . Tadinya dia menganggap Akauw sebagai teman hidupnya di tempat terpencil itu , selain sebagai penolongnya dalam segala hal . Akan tetapi begitu dia melihat emas , semua itu terlupa . Daya pengaruh emas yang berkilauan itu mempengaruhi dan mencengkramnya , dan untuk mendapatkan emas itu , dia bersedia melakukan apa saja , yang sejahat-jahatnya sekalipun .

Mendapatkan emas itu berarti kesenangan , kemuliaan , karena kaya raya dan untuk mendapatkan itu , jangankan hanya Akauw yang bukan apa-apanya , bahkan andaikata Akauw itu saudaranya sendiri sekalipun , mungkin akan di dikorbankannya juga .

Kalau kita tergesa mengatakan bahwa Boan Ki seorang yang kejam , tidak berperikemanusiaan , maka sebaiknya kita menengok kepada diri sendiri , apakah kita tidak pernah bertengkar karena uang dengan sahabat baik kita , saudara kita , keluarga kita , bahkan isteri atau anak kita sendiri ?

Kalau sudah begitu , baru kita tahu betapa hebat dan kuat daya pengaruh benda itu mencengkram batin kita .

Pada keesokan harinya Boan Ki bangun kesiangan karena semalam dia hamper tidak tidur . Ketika dia membuka matanya , Akauw tidak berada di sampingnya . Dia tahu bahwa Akauw pagi-pagi sekali tentu sudah bangun dan kini tentu sedang mencari buah atau berburu kelinci , karena dia sudah melihat api unggun di bawah pohon . Dia lalu merayap turun dan membuat minuman air dengan mencampurkan semacam daun pengganti the yang cukup sedap di dalam air yang sudah mendidih itu . Selama ini dia sudah membuat semacam periuk dari tanah untuk memasak air dan membuat 20

masakan dari daging buruan dan sayuran yang dapat di temukan di hutan itu .

Tak lama kemudian , benar saja Akauw datang membawa buah-buahan dan seekor kelinci yang dapat di tangkap dengan melemparnya dengan batu .

“ Aki , aku berhasil menangkap seekor kelinci gemuk !” katanya gembira ketika melihat Aki sedang membuat minuman .

” Bagus , Akauw , “ kata Aki sambil tertawa . Akauw yang tidak mencurigai sesuatu segera mengguliti kelinci seperti yang di ajarkan kepadanya oleh Boan Ki . Dengan sangat asyik die mengerjakan ini , menggunakan goloknya , tidak tahu bahwa Boan Ki mendekatinya dari belakang . Tiba-tiba saja Boan Ki mengerahkan tenaganya dan menghantam tengkuk anak itu dari belakang .

“ Dukk !” tanpa dapat mengeluarkan suara Akauw terpelanting dan tak sadarkan diri lagi . Hantaman itu keras sekali , dilakukan dengan tangan terbuka miring . Kalau tengkuk orang lain yang dihantam Boan Ki seperti itu , tentu tulangnya akan patah . Akan tetapi , hantaman itu tidak mematahkan tulang tengkuknya , akan tetapi guncangan hebat pada kepalanya membuat ia roboh pingsan .

Boan Ki mengambil pedangnya dan hendak mengayun pedang itu memenggal batang leher Akauw . Akan tetapi perbuatan ini tidak jadi dilakukan . Akan mengotori tempat ini dan merepotkan harus mengurus mayatnya , pikirnya . Lebih baik dia dikirim ke dalam jurang menyusul mayat-mayat temannya dulu . Maka , diapun tenang-tenang saja mengikat kedua tangan Akauw ke belakang tubuhnya , lalu melanjutkan mengguliti kelinci dengan golok milik Akauw .

Boan Ki adalah bekas penjahat besar yang entah sudah berapa puluh kali membunuh manusia . maka apa yang dilakukannya terhadap Akauw merupakan perbuatan yang 21

baginya kecil artinya .

Tak lama kemudian Akauw mengeluarkan suara rintihan . Kepalanya bagian belakang terasa nyeri sekali , mengentak-entak rasanya dan pening .

Ketika dia membuka matanya , dia melihat Boan Ki sedang memandangnya dengan senyum aneh . Akauw berusaha untuk bangkit akan tetapi terguling kembali . Dia tidak mampu menggerakkan kedua tangannya yang di telikung ke belakang dan di ikat ! .

“ Aki …. ! Kenapa tanganku ini ? Lepaskan …! Katanya .

Boan Ki tersenyum menyerengai . “ Akauw , engkau harus pergi dari sini . Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu “ .

“ Pergi ? Kemana ? “ Tanya Akauw heran dan kini , setelah tahu kedua tangannya terikat , dia mampu bangkit dan berdiri .

“ Ke neraka !” kata pula Boan Ki sambil tertawa .

“ Neraka ? Dimana itu ?”

“ Ha-ha-ha , mari ku tunjukkan engkau dimana neraka itu . Hayo jalan ! “ . Dengan golok yang berlumuran darah kelinci di tangan , Boan Ki menodong dan mendorong Akauw untuk berjalan . Akauw tidak dapat membantah karena golok itu menusuk punggungnya . Terpaksa dia melangkah maju dengan penuh keheranan . Dia masih belum mengerti apa yang di maukan oleh kawannya itu .

“ Hayo , terus maju , jangan menengok ke belakang !” hardik Boan Ki .

Akauw maju terus sampai di tepi jurang yang amat dalam itu . Dia berhenti .

“ Hayo terus jalan , di bawah sana itulah neraka . Engkau harus pergi ke sana !” . 22

Lebih banyak nalurinya daripada pikirannya yang memberitahu Akauw apa yang sesungguhnya terjadi . Aki hendak membunuhnya ! Dia membalik dan terdengar gerengan di kerongkongannya .

“ Engkau … engkau jahat !” katanya berkali-kali dan kini dia meronta-ronta dan kedua kakinya menendang-nendang kea rah Boan Ki .

Boan Ki tidak tahu bahwa kalau tadinya Akauw menurut saja , bukan karena Akauw takut , melainkan karena dia tidak tahu apa yang dikehendaki Boan Ki , bahkan belum menyangka jelek . Baru sekarang dia tahu bahwa Boan Ki hendak membunuhnya , maka dia melawan .

Hal ini tentu dilakukan sejak tadi kalau dia sudahmengetahuinya . Dia mengeluarkan teriakna-teriakan seperti kera marah ketika menendang – nendang .

Boan Ki terkejut dan cepat menggerakkan goloknya menangkis tendangan itu .

“ Craackk !” kaki kanan Akauw terkena golok dan terluka pahanya berdarah-darah dan diapun roboh terpelanting . Namun dia bangkit berdiri lagi dengan loncatan sigap . Kalau hanya luka kecil itu saja , tidak mungkin dapat membuat Akauw menyerah .

Kembali golok menyambar .

“ Trangg …!” golok itu di tangkis sebatang pedang di tangan seseorang kakek tua yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahunan . Namun , ketika pedang menangkis , golok terpental dan Boan Ki merasa tangannya tergetar .

“ Eh , siapa engkau ? Jangan mencampuri urusanku !” bentak Boan Ki marah .

Sementara itu , seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima belas tahun , cepat melepaskan ikatan tangan Akauw yang terluka paha kirinya . 23

Kakek itu berkata , “ Sobat , engkau hendak membunuh anak itu , bagaimana kami tidak akan mencampuri ?” .

“ Kalau begitu , aku akan membunuhmu lebih dulu !” Dia menyabitkan golok yang berlumuran darah kelinci itu kepada si kakek yang cepat menangkis dengan pedangnya . Kemudian Boan Ki mencabut pedangnya dan menyerang kakek itu dengan ganasnya .

Kakek itu berpakaian seperti sastrawan , dan walaupun gerakan pedangnya amat indah , namun dia sudah terlalu tua , gerakannya sudah amat lambat sehingga Boan Ki yang keras dan kasar itu menyerang bertubi-tubi , kakek itu mulai terdesak .

Sementara Akauw yang sudah bebas tangannya , menjadi marah sekali kepada Boan Ki . Dia mengeluarkan gerengan seperti kera kalau marah , mendesisi – desis danmelihat goloknya terlempar ketika di sabitkan Boan Kid an di tangkis kakek itu , dia lalu melompat , menyambar goloknya dan melompat ke atas pohon dengan kecepatan seekor kera . Kemudian dari atas pohon itu dia terjun dengan cepat menukik ke bawah , menyerang Boan Ki yang sedang mendesak kakek itu .

Ketika mendengar gerengan yang menakutkan dari atas , Boan Ki mengangkat pedangnya menangkis . Golok itu dengan amat kerasnya bertemu pedang , akibatnya pedang dan golok menjadi patah-patah dan Akauw sudah menerkam kepala Boan Ki .

Boan Ki terkejut sekali ketika tahu-tahu tubuh Akauw sudah berada di atas punggungnya dan dia menronta-ronta , akan tetapi tiba-tiba dia merasa ada gigitan dilehernya dan kepalanya di putar sekuatnya oleh Akauw .

Terdengar bunyi “ kreek-krekk !” tulang leher itu patah . Setelah Akauw melepaskannya , tubuh Boan Ki terpelanting dengan kepala miring dan leher terobek gigi Akauw . 24

Akauw berdiri di atas dada Boan Kid an menepuk-nepuk dadanya sambil menggereng-gereng seperti lagak kera yang menang dalam pertandingan .

Kakek dan pemuda remaja itu memandang dengan bengong , juga ngeri . Setelah melampiaskan kemarahannya seperti seekor kera , Akauw melihat dua orang itu dan baru ia teringat bahwa dia adalah seorang manusia , bukan seekor kera .

Maka dia lalu turun dari dada mayat Boan Kid an menghampiri kakek itu .

“ Kalian telah menolongku . Kalian orang-orang baik , tidak jahat seperti Aki “ . Dia menuding kea rah mayat itu .

“ Siapakah dia ? Dan mengapa dia hendak membunuhmu dan siapakah engkau ?” kakek itu bertanya dengan suaranya yang lembut .

“ Dia Aki dan aku Akauw . Dia orang jahat , dulu kuselamatkan sekarang dia malah hendak membunuhku . Jahat …. Jahat ….. seperti ular !” Akauw menuding-nuding mayat itu .

Kakek itu menghampiri Akauw . “ Mari kita kuburkan dulu Aki itu , baru kita bicara . Yang Cien , mari bantu aku menggali lubang “ .

“ Nanti dulu , apa yang akan kau lakukan ? Menggali lubang ? Untuk apa ? “ Tanya Akauw heran , dan penuh curiga .

Setelah apa yang dia alami dari Aki , dia menjadi curiga pada manusia .

“ Dia telah mati , Akauw . Kita harus mengubur mayatnya “ .

“ Mengubur ? Apa itu , dana bagaimana ?”

“ Mengubur mayar adalah menanam mayat itu dibawah 25

tanah , memasukkan kedalam galian dan menimbuni dengan tanah agar tidak membusuk dan tidak di makan binatang buas “ .

Akauw mengangguk-angguk . “ Akan tetapi , Aki dahulu menyuruh aku membuang mayat-mayat itu ke dalam jurang . Dan dia tadi menyuruhku melompat ke dalam jurang pula “ .

“ Itu jahat sekali , Akauw . Kalau orang mati haruslah dikubur , kalau tidak mayatnya akan dimakan oleh binatang buas dan membusuk , mendatangkan penyakit disekitarnya “ .

Akauw mengangguk-angguk mengerti lalu dengan tekun dia membantu mereka menggali lubang . Setelah cukup dalam , jenazah itu dimasukkan dalam lubang dan di timbuni tanah , barulah kakek itu mengajak cucunya dan Akauw duduk dibawah pohon tempat tinggal Akauw .

“ Akauw , perkenalkanlah . Aku adalah Yang Kok It dan ini cucuku bernama Yang Cien . Kami kakek dan cucu baru saja memasuki daerah ini dan tidak mengenal jalan di tempat yang amat liar ini .

Tadi kami melihat betapa orang yang kau sebut Aki itu hendak membunuhmu , maka kami turun tangan menolongmu .

Sebetulnya siapakah engkau ? Dimana rumahmu dan siapa pula orang tuamu ?” kakek itu dan cucunya memandang penuh perhatian .

Sebelum menjawab Akauw memperhatikan kedua orang itu . Yang Kok It seorang kakek tua sekali dengan pakaian sastrawan , kurus tinggi dan nampak lemah , sedangkan Yang Cien adalah seorang pemuda remaja yang sebaya dengannya , bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan . Pakaiannya juga seperti seorang sastrawan , dan pandang matanya tajam sekali .

“ Namaku Akauw , dan rumahku di sana “ . Dia menunjuk 26

ke atas pohon besar itu dimana terdapat sebuah gubuk dari ranting dan daun kering , seperti sarang burung yang besar sekali . “ Orang tuaku ? Aku tidak tahu siapa orang tuaku . Aku di besarkan di sini , di antara kera-kera itu dan setelah Aki tiba di sini , barulah aku di ajari bicara oleh Aki , memakai pakaian dan banyak hal lain “ .

Kakek dan cucunya itu saling pandang , merasa aneh bahwa ada anak hidup di antara kera dan sekarang gerak-geriknya , kegesitannya , masih seperti kera .

“ Siapa yang memberi nama Akauw itu ?” .

“ Juga Aki , sebelum dia datang , kera-kera itu menyebut namaku Kercak “ .

Ketika mengucapkan kata Kercak itu , dia persis monyet mengeluarkan suara mirip suara Kercak .

Kakek itu melihat kalung di leher Akauw , dan melihat betapa kalung itu terukir dengan huruf Cian . “ Ku kira orang tuamu bermarga Cian , Akauw dan tentu namamu yang lengkap Cian Kauw “ .

Dia tidak mengatakan bahwa Aki menyebutnya Akauw karena dia di anggap monyet atau sebangsa kera . Kauw berarti kera .

“ Aku tidak tahu , aku menemukan benda ini di antara tulang-tulang manusia “ .

“ Dan bagaimana datangnya Aki itu ke sini ? Apakah dia mengatakan siapa dirinya dan darimana dia datang ?”

“ Tidakpernah . Dia datang bersama belasan orang , lalu diserang oleh puluhan orang . Semua temannya mati dan dia terluka berat . Aku merawatnya sampai dia sembuh dan selanjutnya dia tinggal di sini bersamaku “ .

“ Kapan terjadinya itu ?”

“ Kurang lebih tiga empat tahun yang lalu “ . 27

Biarpun cara bicara Akauw kagok dan tidak beraturan , namun cukup jelas dan dapat dimengerti .

“ Dan kau bilang tadi mayat-mayat semua temannya itu tidak di kubur melainkan dibuang ke dalam jurang ?” .

“ Ya , Aki yang menyuruh demikian “ .

Dari penuturan ini saja kakek itu sudah dapat menduga bahwa Aki itu bukan orang baik-baik , seperti kemudian ternyata betapa dia hendak membunuh Akauw yang pernah merawatnya ketika dia terluka .

“ Akauw ,kami berdua ingin tinggal di tempat ini bersamamu . Apakah engkau menyetujui ?” .

Akauw memandang kepada kakek itu , lalu kepada Yang Cien .

“ Apakah engkau tidak akan berbuat jahat seperti Aki ?” tanyanya meragu .

“ Tentu saja tidak , Akauw . Ketahuilah bahwa di dunia ini memang banyak sekali orang jahat , akan tetapi kami selalu menentang kejahatan . Bahkan kami sembunyi dan hendak tinggal di sini adalah karena kami dikejar-kejar orang jahat . Kami akan tinggal di sini bersamamu , menjadi sahabatmu , bahkan kalau kau suka , engkau boleh memanggil aku kakek dan engkau menjadi cucuku , menjadi saudara Yang Cien . Maukah engkau ?” .

Akauw tersenyum . Dari wajah kedua orang ini saja , nalurinya mengatakan bahwa wajah mereka sama sekali berbeda dari wajah Aki . Sinar mata Aki liar dank eras , sedangkan kedua orang ini bersinar mata lembut dan tajam . “ Aku mau ,kakek . Dan Yang Cien menjadi kakakku “ .

Demikianlah , sejak hari itu , kakek Yang Kok It dan cucunya , Yang Cien , tinggal di situ bersama Akauw yang nama lengkapnya Cian Kauw Cu atau nama monyetnya Kercak . Kakek itu merasa tidak ada gunanya menceritakan tentang 28

riwayat dia dan cucunya kepada Akauw , karena pemuda yang peradabannya sangat terbelakang itu tentu tidak akan mengerti .

Sesungguhnya Yang Kok It adalah bekas jendral yang sudah mengundurkan diri karena sudah tua . Puteranya yang bernama Yang Koan mewarisi kepandaiannya , baik kepandaian silat , ilmu pedang maupun kesusastraaan dan seperti juga ayahnya , Yang Koan ikut membela Negara dari serbuan para suku Toba dari barat dan utara . Sebagai seorang panglima , Yang Koan amat tangguh dan besar jasanya . Akan tetapi diapun seorang pemberani jujur dan adil . Seringkali , kalau dia melihat rekannya menyeleweng , berkoropsi atau melakukan penindasan terhadap rakyat mengandalkan kekuasaanya , dia akan menentangnya .

Dengan ilmunya yang tinggi dan kedudukannya yang cukup berwibawa , dia merobohkan banyak pejabat tinggi yang menyalah-gunakan kewenangan dan kekuasaannya . Dengan demikian , dia mempunyai banyak musuh .

Pada suatu hari , rumah penglima Yang Koan di kepung orang-orang berkedok yang berilmu tinggi dan mereka itu mengahncurkan rumah , membakar dan membunuh .

Yang Koan dan isterinya melawan mati-matian namun karena banyaknya pihak pengeroyok , akhirnya setelah merobohkan banyak pengeroyok , suami isteri inipun roboh dan tewas .

Untung sekali bagi Yang Cien yang berusia sepuluh tahun , ketika penyerbuan terjadi , dia sedang berada di rumah kakeknya . Seorang anak buah ayahnya berlari memberi kabar tentang penyerbuan itu dan Yang Kok It maklum bahwa nyawa cucunya berada di dalam bahaya . Maka , diapun mengajak cucunya untuk melarikan diri .

Memang benar dugaanya , pihak musuh , yaitu mereka yang bekas pejabat dan mendendam kepada Yang Koan , 29

melakukan pengejaran dan pencarian . Banyak jagoan di sebar untuk mencari dimana adanya kakek dan cucunya itu sehingga kakek Yang Kok It yang sudah tua itu terpaksa harus lari ke sana kemari , berpindah-pindah tempat dan berganti nama untuk menyingkir dari pengejaran musuh-musuhnya . Sementara itu , tak lupa kakek itu melatih Yang Cien dengan ilmu silat dan ilmu sastra . Dalam kedua ilmu ini , ternyata Yang Cien berbakat sekali sehingga dia memperoleh banyak kemajuan “ .

“ Kong-kong “ , kata Yang Cien ketika dia berusia empat belas tahun dan sudah tahu akan keadaan mereka yang dikejar-kejar musuh . “ Sungguh tidak enak kalau kita harus berpindah-pindah dan melarikan diri . Hidup ini rasanya tidak tenang selalu . Kenapa kita berdua tidak menanti sampai mereka datang dan melawan merwka saja , kong-kong ?” .

Kakeknya menghela napas panjang . “ Semangatmu untuk melawan itu memang baik sekali , Yang Cien . Akan tetapi kalau hanya dengan semangat dan keberanian saja , maka akhirnya akan mati konyol . Tidak , engkau harus tetap hidup untuk melanjutkan cita-cita ayahmu yang ingin mempersatukan seluruh negeri dan mengusir bangsa Toba dari tanah air “ .

“ Hemmm , engkau tidak tahu . Musuh ayahmu banyak sekali dan musuh utamanya adalah Bong Ji Kun , bekas menteri yang dipecat oleh Raja karena koropsinya di bongkar ayahmu . Bong Ji Kun itu kaya raya dan mampu membayar jagoan yang berilmu tinggi dengan upah besar . Menurut kabar terakhir , dia telah berhasil membujuk Toat Beng Giam Ong untuk melakukan pengejaran terhadap kita dan untuk melawan Toat-beng Giam Ong , tenaga kita tidak akan mampu . Dahulupun ketika aku masih kuat dan muda , belum tentu aku mampu menandingi Toat-beng Giam-ong ( Malaikat Maut pencabut nyawa ) , apalagi sekarang aku sudah tua “ .

“ Kalau kita berdua mengeroyoknya , apakah kita tidak 30

akan mampu mengalahkannya , kek ?” .

“ Aih , kita berdua juga tidak akan menang . Apalagi , datuk sesat itu tentu memiliki banyak anak buah . Sudahlah , hilangkan pikiranmu yang hendak melakukan perlawanan kepada para pengejar dan pencari kita “ .

“ Akan tetapi aku sudah bosan berlari-lari seperti ini . Bagaimana kalau kita mencari tempat yang sepi , yang rahasia , yang tidak akan lagi di datangi orang ? Disana kita dapat hidup tenang dan aku dapat mempelajari dan memperdalam ilmu silatku tanpa gangguan “ .

“ Tempat tersembunyi dan rahasia yang tidak akan di datangi orang ? Ahhh , aku jadi teringat akan sebuah tempat yang ku rasa cocok dengan yang kau maksuditu , Yang Cien . Akan tetapi kurasa tempat itu juga mengandung bahaya , walaupun bahayanya lain dari bahaya pengejaran musuh-musuh kita “ .

“ Dimana tempat itu , kong-kong ?”

“ Sebetulnya sudah tidak jauh lagi dari sini , di sebuah puncak di antara puncak-puncak yang banyak terdapat di Thaisan , yang berada dibawah puncak itu dan di sebut Lembah Iblis “ .

“ Lembah Iblis ? “ Yang Cien bertanya heran . “ Kenapa disebut Lembah Iblis ?” .

“ Entahlah , sudah ratusan tahun lamanya lembah itu di sebut Lembah Iblis dan menurut kepercayaan orang di situ , memang tempat tinggal iblis dan setan sehingga tidak pernah ada orang berani naik ke sana . Bahkan seorang kangouw sekalipun akan berpikir seratus kali lebih dulu sebelum berani naik ke sana . Hutannya lebat , binatang hutannya banyak dan buas “ .

“ Ah , agaknya baik sekali untuk kita bersembunyi , Kek . Aku lebih senang menghadapi ancaman binatang buas atau 31

iblis sekalipun dari pada ancaman pengejaran yang tidak ada hentinya selama empat tahun ini “ .

Demikianlah , untuk menghindari pengejaran Toat-beng Giam-ong Lui Tat dan anak buahnya , kakek Yang kok It akhirnya menuruti permintaan Yang Cien dan mereka masuk ke Lembah Iblis . Dan ketika mereka menyusup-nyusup ke dalam hutan lebat itulah mereka melihat betapa Akauw akan di bunuh oleh Boan Ki .

Akan tetapi , semua ini tidak diceritakannya kepada Akauw . Dan sejak hari itu , kakek dan cucunya menjadi pengganti Boan Ki , tinggal bersama Akauw .

Sungguh hal ini amat menguntungkan Akauw , karena barulah dia tahu bahwa bangsanya ada yang berwatak baik sekali seperti kakek dan cucunya ini .

Mereka mengajarkan dia sehingga bahasanya menjadi semakin teratur dan semakin lengkap . Bahkan kakek Yang Kok It yang melihat tenaga alam yang ada pada tubuh Akauw , cekatan dan kuat seperti kera besar , lalu dia mulai mengajarkan ilmu silat kepada Akauw . Dan ketika dia mengajarkan Kauw-kun ( Silat Monyet ) kepadanya , Akauw dapat melakukan nya dengan baik sekali , bahkan lebih baik dari kakek itu sendiri ! Dan memang gerakan-gerakan silat ini inti sarinya atau dasarnya di ambil dari gerakan seekor monyet , sudah dimiliki oleh Akauw . Bahkan Yang Cien sendiri yang sudah belajar sejak kecil , tidak mungkin dapat menandingi Akauw dalam hal kegesitan dan tenaga otot .

Setelah hidup bersama kakek dan cucu ini , Akauw mempelajari banyak tata cara kehidupan manusia dan sopan santun . Banyak pula tahu tentang kesusilaan . Hanya satu hal yang tidak di sukai Akauw , yaitu belajar membaca . Dia merasa sukar sekali dan akhirnya dia menolak untuk belajar membaca dan menulis . Dianggapnya pelajaran itu terlalu mengikat dan memaksa dia mengingat-ingat terus sampai kepalanya terasa puyeng ! . 32

Dari Yang Cien , dia dapat mendengar banyak tentang kehidupan bangsanya , bangsa manusia , di kota-kota besar . Di gambarkan oleh Yang Cien tentang rumah-rumah , tentang pakaian yang indah-indah dan lain-lain dan semua itu amat menarik perhatian Akauw . Biarpun dia lebih banyak bergaul dengan Yang Cien , namun dia tidak pernah melupakan kawan-kawan keranya .

Yang Cien sampai melongo terheran-heran melihat Akauw bergelut dan bermain-main dengan para kera itu jauh tinggi di atas pohon , berayun-ayun , berlompatan , bahkan cecowetan bercakap-cakap !

Dari keterangan Akauw bahwa empat lima tahun yang lalu dia bertemu dengan Boan Ki sebagai manusia pertama yang di jumpainya , maka Yang Cien dapat menduga bahwa Akauw hidup sejak bayi diantara kera sampai berusia kurang lebih sepuluh tahun . Sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali . Dan Yang Cien yang dekat dengan Akauw ini mulai berkenalan dengan kera-kera besar itu dan suka ikut bermain-main pula .

Kalau sedang melakukan latihan ilmu silat dengan Akauw , biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi , namun dia merasa betapa cepatnya gerakan pemuda yang kini di sebut sue ( adik seperguruan ) itu . Akauw juga di ajari untuk menyebut suheng ( kakak seperguruan ) kepadanya . Bahkan agak sukar baginya untuk mengalahkan Akauw saking cekatannya sutenya itu , kecuali kalau dia mengerahkan sin-kang , barulah dia mampu mengatasi tenaga otot adiknya itu .

Di samping ilmu silat , yang kebanyakan dilatih oleh Yang Cien , kakek Yang Kok It juga mengajari Akauw untuk menghimpun siu-lan ( bermeditasi ) . Akan tetapi , Akauw juga tidak sabar dengan latihan Samadhi itu , maka dia sukar memperoleh kemajuan dalam hal ini .

Tanpa terasa , mereka tinggal di dalam lembah itu selama lima tahun ! Dan tak pernah sekalipun ada orang yang 33

melakukan pencarian sampai ke tempat itu . Mereka benar-benar hidup tentram dan penuh damai , akan tetapi juga terasing , tidak pernah bergaul dengan manusia lain .

Pada suati pagi , ketika Yang Cien dan Kauw Cu terbangun dari tidurnya , mereka terheran melihat kakek Yang Kok It masih belum bangun . Biasanya , kakek itu pagi-pagi sekali sudah bangun .

-ooo0dw0ooo-

Jilid 2

Melihat Yang Cien menangis , Akauw tidak kuat menahan dan diapun mengalirkan air mata , akan tetapi dia belum tahu mengapa suhengnya menangis , dan apa artinya meninggalkan mereka itu . Kakeknya akan pergi kemana ?

“ Kong-kong , engkau hendak pergi kemanakah , kong-kong ?” .

“ Cucu-cucuku , bahkan para Nabi pun mengalami sakit dan kematian . Aku tidak menyesal , telah mendidik kalian dan ku rasa kalian sekarang sudah memiliki bekal untuk menjaga diri .

Yang Cien sutemu masih belum berpengalaman , juga ilmunya tidak sematang engkau . Jangan membiarkan dia seorang diri , akan tetapi biarkan dia bersamamu . Anggaplah dia itu adikmu sendiri , Yang Cien “ .

“ Baik , kong-kong ….. “ .

“ Kauw Cu , engkau harus memenuhi pesanku ini . Engkau jangan memisahkan diri dari kakakmu , dalam segala hal engkau harus menaati kata-kata kakakmu .

Kalau aku sudah tidak ada , maka anggaplah suhengmu sebagai penggantimu “ . 34

“ Ah , engkau belum mengerti , Akauw ? . Agaknya … sudah tiba saatnya aku meninggalkan kalian , meninggalkan dunia ini …. Sudah tiba saatnya aku … mati …. “

“ Kong-kong …. ! “ Kini baru Akauw mengerti dan dia berteriak sambil menubruk kakeknya , merangkul dan menangis .

“ Jangan mati , kong , jangan mati ……… !”

Melihat ini , Yang Cien memegang pundak sutenya . “ Tenanglah , sute dan kita biarkan kong-kong beristirahat “ , mereka lalu membantu kakek itu merebahkan diri .

Kakek itu mendapat serangan penyakit mendadak , penyakit tua dan pada malam hari itu juga meninggal dunia dengan tenang .

Yang Ciean menangis dan Akauw keluar dari gubuk , berayun-ayun dari dahan ke dahan sambil menjerit-jerit seperti kera yang sedang marah .

Sebelum menghembuskan napas terakhir , kakek itu berpesan kepada Yang Cien , “ sekarang sudah tiba saatnya engkau meninggalkan tempat ini , Yang Cien . Ajaklah Kauw Cu memasuki dunia ramai .

Musuh tentu sudah melupakan engkau yang kini telah dewasa , dan usahakan agar cita-cita ayahmu menyatukan seluruh Negara menjadi kenyataan “ .

Semalam itu mereka berdua tidak tidur , menunggui jenazah kakek Yang Kok It sambil menangis tanpa suara . Keduanya merasa kehilangan sekali . Kehilangan kakek , kehilangan guru , juga pengganti orang tua yang baik sekali .

Pada keesokan harinya , barulah mereka menggali sebuah lubang yang cukup dalam untuk mengubur jenazah kakek Yang Kok It . Setelah selesai , Yang Cien mengangkat sebuah batu besar sebagai nisan kuburan yang berada di bawah pohon tempat tinggal mereka itu . 35

Setelah itu , Yang Cien lalu berkemas . “ Kita pergi sekarang saja , sute “

“ Kemana , suheng ?” .

“ Memenuhi pesan kakek . Kita harus kembali ke dunia ramai dan melanjutkan cita-cita mendiang ayahku untuk menyatukan seluruh negeri agar dapat menentang gangguan bangsa mongol yang datang dari barat dan utara “ .

Kauw Cu tidak menjawab , akan tetapi memandang penuh perhatian ketika Yang Cien mengambil sebuah kantung dari tumpukan pakaian kakeknya dan membuka , lalu mengeluarkan isi kantung itu . Ternyata berisi perak dan emas potongan yang amat diperlukan untuk bekal perjalanan .

“ Itu apakah , suheng ? Itu yang berkilauan kuning …. “

“ Ah , inikah , sute ? Ini yang dinamakan emas , dan ini perak . Kita membutuhkan sekali emas ini untuk bekal diperjalanan “ .

“ Untuk apakah emas itu , suheng ?” .

“ Untuk segala keperluan . Membeli pakaian , membeli makanan dan menyewa rumah penginapan atau membeli kuda atau perahu “ .

“ Kalau begitu kita perlu membawa yang banyak , suheng “ .

“ aih , darimana membawa banyak ? Benda ini sukar sekali di dapatkan , dan amat berharga . Dikota segalanya harus dibeli , bahkan makanan . Engkau tak dapat mencari makanan seperti di sini . Semua pohon buah ada yang memilikinya , kalau membutuhkan harus dibeli “ .

“ Aku tahu sebuah tempat yang penuh dengan emas ini , suheng “ .

“ Ahhh ? Yang Cien memandang heran . 36

“ Benarkah , sute ? Dimana itu ?” .

“ Aku tidak mau memberitahukan atau menunjukkan kepadamu dimana tempatnya “ .

“ Kenapa , sute ?” .

“ Aku takut engkau menjadi jahat seperti Aki . Diapun menjadi jahat dan hendak membunuhku setelah kuperlihatkan tempat itu kepadanya “ .

“ Ahhh …. Engkau kira aku ini orang macam apakah , sute ? Apakah sampai sekarang engkau belum juga percaya kepadaku ? Kalau begitu , tidak usah kau tunjukkan tempatnya kepadaku . Aku pun tidak ingin memperoleh banyak emas . Ini saja sudah cukup , dan kalau habis , kita dapat bekerja untuk mendapatkan penghasilan “ .

Akauw diam sejenak dan menatap wajah suhengnya . Kemudian , dia memegang tangan suhengnya . “ Maafkan aku , suheng . Mari , mari kutunjukkan tempatnya . Perjalanan dari sini cukup jauh , akan tetapi kalau engkau mempergunakan ilmu berlari cepat dan aku melakukan perjalanan melalui pohon-pohon , dalam waktu seperempat hari saja tentu akan sampai .

Timbul kegembiraan di hati Yang Cien yang dilanda duka karena kematian kakeknya itu . Bukan karena dijanjikan memperoleh banyak emas , melainkan akan melihat tempat lain daripada hutan yang selama lima tahun di huni bersama Akauw dan kakeknya . Dan dia ingin tahu sekali tempat apa itu yang dikatakan mengandung banyak emas oleh Akauw .

Disebutnya Lembah Iblis , mengapa ada tempatnya yang mengandung emas ? Maka diapun berangkat . Akauw sebagai penunjuk jalan melakukan perjalanan dari pohon ke pohon , gerakannya cepat sekali berayun-ayun dan Yang Cien harus menggunakan gin-kangnya agar dapat berlari cepat menyusul sutenya yang berada di atas . 37

*****

Setelah tiba di tempat yang penuh guha itu , Yang Cien terbelalak , terheran-heran dan terkagum-kagum . Pada guha pertama , melihat patung-patung batu yang terukir indah itu , dia mengeluarkan pujian .

“ Luar biasa sekali , betapa indahnya ukiran arca-arca ini . Sayang sebagian besar belum selesai , dan sudah di tinggalkan pemahatnya .

Sute , semua ini menunjukkan bahwa di tempat ini dahulu tinggal satu atau beberapa orang-orang pandai sekali .

Baru Akauw tahu bahwa arca-arca itu merupakan buatan orang yang pandai dan menganggumkan . Dahulu Aki sama sekali tidak mengangumi arca-arca itu .

Kini , melihat suhengnya meneliti patung itu satu demi satu , diapun ikut meneliti dan ikut terkagum .Baru sekarang dia melihat betapa arca itu dibuat bagus sekali , ada yang nampak urat-urat menontol di bawah permukaan kulit .

Ketika agak memasuki guha itu , terdengan Yang Cien berseru kagum . Akauw cepat menghampiri dan die melihat bahwa suhengnya telah menemukan sebuah arca yang tingginya hanya satu meter , akan tetapi arca itu luar biasa indahnya . Menggambarkan seorang wanita yang cantik jelita . Begitu bagus buatannya sehingga kalau dilihat dari tempat agak jauh arca itu seolah hidup dan tersenyum manis ! .

“ Bukan main ! Sute , selama hidupku belum pernah aku melihat arca seindah ini ! “ keduanya mengamati arca itu dengan kagum . Sampai lama Yang Cien melihat-lihat kumpulan arca dalam guha itu .

“ Mari , suheng ketempat yang kumaksudkan “ .

“ Ah , sampai lupa aku , sute . Arca-arca ini demikian menarik perhatianku . Kenapa baru sekarang kauberitahu , sute ? Kalau dulu kakek mengetahui dan dapat melihat arca-38

arca ini , tentu kong-kong akan senang sekali dan barangkali saja kong-kong dapat menduga siapa pembuat arca-arca ini di sini “ .

“ aku selalu khawatir kalau kong-kong dan engkau akan menjadi sejahat Aki , suheng . Maafkan aku “ .

“ Sudahlah , mari kita pergi ke guha tempat emas itu “ .

Akauw lalu mengajak Yang Cien pergi ke guha lain , yang berada di tengah-tengah antara guha-guha yang banyak terdapat di situ . Akan tetapi baru saja tiba di pintu guha , dari dalam guha terdengar gerengan dahsyat dan muncullah seekor biruang hitam yang besar sekali .

“ Awas , sute !” kata Yang Cien .

“ Biar aku melawannya , suheng . Dia ini berbahaya akan tetapi aku tahu bagaimana harus melawannya . Biruang merupakan musuh utamaku sejak aku kecil “ .

Akauw menghampiri biruang itu , dan Yang Cien yang berada di pinggiran hanya menonton , akan tetapi siap siaga membantu kalau sutenya terancam bahaya . Akauw menghampiri dengan tenang dan diapun mengeluarkan gerengan kera marah . Biruang itu tiba-tiba saja menerkam , akan tetapi Akauw menghindar dengan lebih cepat lagi sehingga terkaman itu luput . Dan sebelum biruang yang besar dan lamban itu dapat membalikkan tubuhnya , Akauw sudah merangkul lehernya dari belakang dan mencekik leher itu dengan kedua tangannya ,lengannya menyusup dibawah kaki depan biruang itu .

Dan terjadilah adu tenaga yang menegangkan . Biruang itu meronta , menggoyang tubuhnya , menggereng , akan tetapi tubuh Akauw tak pernah melepaskan , seperti seekor lintah melekat pada kaki seseorang . Biruang itu semakin marah dan juga ketakutan karena dia mulai sesak bernapas , lalu menjatuhkan diri bergulingan . 39

Yang Cien menjadi cemas melihat betapa tubuh biruang yang besar itu menggilas dan menindih tubuh Akauw , akan tetapi dia merasa lega melihat Akauw tidak apa-apa , dan ternyata memang tubuh sutenya itu kuat bukan main . Akhirnya , biruang itu menjadi semakin lemah dan lidahnya terjulur keluar , keempat kakinya hanya dapat bergerak-gerak lemah .

“ Sute , jangan bunuh dia !” kata Yang Cien dan mendengar ucapan suhengnya ini , Akauw lalu melepaskan jepitan kedua tangannya dari leher biruang itu , dan dia lupa diri , menginjak dada biruang itu dan mengeluarkan pekik kemenangan , pekik kera yang menggetarkan jantung . Lalu dia menendang biruang itu yang dapat bangkit lagi lalu biruang itu melarikan diri dengan terhuyung-huyung .

“ suheng , kenapa engkau melarang aku membunuhnya ?” .

“ Sute , untuk kepentingan apa engkau membunuhnya ?”

“ Kepentingan apa ? Tidak ada , karena dia menyerangku , maka sepatutnya aku membunuhnya “ .

“ nah , mulai sekarang , kebiasaan seperti itu haruslah kau buang jauh-jauh , sute . Ketahuilah , dalam kehidupan antara manusia , membunuh adalah perbuatan yang jahat sekali dan dilarang . Kalau tidak terpaksa sekali dan jangan engkau sekali-kali melakukan pembunuhan .

Juga terhadap binatang , boleh saja engkau membunuhnya kalau memang kau memerlukannya untuk dimakan . Misalnya membunuh kijang , kelinci , ayam dan lain-lain . Akan tetapi kalau tidak memerlukannya , jangan membunuh apalagi membunuh manusia , kecuali dalam perang karena membunuh dalam perang tidaklah sama dengan membunuh seseorang dalam perkelahian dan urusan pribadi . membunuh itu hanya dilakukan orang yang kejam dan jahat , sute “ .

Akauw mengangguk-angguk . “ Aku mengerti , suheng . 40

Nah , mari kita memasuki guha , dan lihat itu , yang berkilauan itu , bukankah itu sama dengan yang berada di kantungmu tadi ?” .

Dan Yang Cien masuk , dan dia terbelalak kagum . Tak salah lagi , yang terdapat banyak di dinding itu adalah bongkahan batu-batu yang ternyata adalah emas murni bercampur batu karang .

Tak ternilai harganya . Dia mengambil beberapa potong dan menimbang-nimbang di telapak tangannya . Baru beberapa potong kecil ini saja sudah jauh lebih berharga dari pada milik gurunya yang ditemukan dalam kantung kecil itu .

Dia memandang sutenya , Akauw yang bajunya robek-robek karena perkelahian tadi sudah melepaskan baju atasnya dan kini nampak tubuhnya yang kekar , otot-otot melingkar di lengan dan dadanya , tubuhnya yang tinggi besar itu setengah kepala lebih tinggi dari tubuh Yang Cien yang sudah terhitung tinggi tegap . Yang Cien memandang kagum , lalu menghampiri dan menepuk pundak sutenya .

“ Sute , engkau sungguh seorang laki-laki jantan yang gagah perkasa , aku bangga mempunyai seorang adik seperti engkau !” .

“ aih , suheng , kenapa mendadak memujiku . Engkau lebih hebat , aku tahu bahwa aku tidak akan berdaya , aku tahu bahwa aku tidak akan berdaya kalau bertanding melawanmu “ .

Mereka saling pandang dengan kagum . Yang Cien kini menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun yang tinggi tegap , wajahnya berbentuk persegi dengan dagu yang membayangkan kekuatan dan keteguhan hati , namun sinar matanya yang tajam itu lembut tanda bahwa dia berakal budi dan bijaksana . Hidungnya yang mancung dan mulutnya yang berbentu indah itu membuat wajahnya kelihatan tampan menarik sekali . Sedangkan Kauw Cu memiliki wajah yang 41

bulat terlur , akan tetapi matanya yang lebar , sampai hidungnya yang besar dan bibirnya yang tebal memberi kesan kokoh , kuat , jujur , adil dan kaku .

Namun sinar matanya juga mengandung kelembutan , ini sebagai hasil pendidikan selama lima tahun oleh mendiang kakek Yang Kok It . Dia jauh nampak lebih jantan dari pada Yang Cien dan sukar mengatakan mana yang lebih menarik sebagai seorang pemuda di antara keduanya .

“ Bagaimana, suheng ? Benarkah semua ini emas ?”

“ Tidak salah , sute . memang ini adalah emas yang tidak ternilai harganya “ .

“ Apakah engkau tidak girang melihatnya , suheng ? Dahulu , Aki demikian girang sampai dia menari-nari dan berteriak-teriak bahwa dia menjadi kaya raya “ .

Yang Cien dengan tenang berkata sambil tersenyum . “ Adikku , emas merupakan harta benda yang dapat bermanfaat besar sekali kalau terjatuh ke tangan orang bijaksana . Dapat menolong rakyat keluar dari bahaya kelaparan , dapat memperkuat Negara , pendeknya dapat mengangkat rakyat keluat dari penderitaan . Akan tetapi kalau terjatuh ke tangan orang jahat , harta kekayaan dapat mendatangkan bencana kepada orang lain . Tentu aku girang menemukan semua ini , sute . Akan tetapi sat ini aku sama sekali tidakmembutuhkan . Entah kelak kalau cita-citaku berhasil , yaitu menyatukan seluruh negeri menjadi persatuan yang kokoh untuk mengusir bangsa-bangsa liar yang mengganggu keamanan rakyat . Mari , sute , kita periksa guha-guha yang lain , apakah engkau pernah memeriksa guha yang lain ?” .

“ Sudah semua , suheng . Guha-guha yang lain semuanya kosong kecuali sebuah guha terbesar dimana kudapatkan hanya sebuah arca di dalam guha , tidak ada apa-apanya lagi “ .

“ Mari kita periksa guha besar itu “ , ajak Yang Cien dan 42

mereka lalu menuju ke guha itu .

Ketika menuju ke guha itu , Yang Cien terkejut . Nampak dari jauh , guha itu seperti wajah seorang raksasa . Guha itu menjadi mulutnya yang terbuka , dengan taring-taring berupa batu-batu yang bergantung runcing , dan di atas guha itu merupakan tebing yang terhias batu-batu besar yang menjadi sebuah hidung dan sepasang matanya . Sungguh merupakan wajah yang mengerikan dan sepatutnya kalau itu wajah iblis . Sekarang dia mengerti mengapa lembah itu dinamakan Lembah Iblis . Selain tempatnya amat berbahaya , banyak terdapat binatang buas dan tempat-tempat aneh , juga guha-guha ini memang menyeramkan sekali , terutama yang besar itu .

“ Kenapa , suheng ?”

“ Kau lihat , sute . Bukankah itu seperti muka iblis yang menakutkan ?” kata Yang Cien sambil menunjuk . “ Guha itu mulutnya dan penuh taring , batu besar di atasnya itu hidungnya dan yang sepasang mulut itu matanya “ .

“ Ihh , benar ! Kenapa dulu kau tidak memperhatikannya ? Barangkali itu yang pantas di sebut Guha Iblis dan agaknya di jadikan tempat tinggal para iblis !” , kata Akauw yang tidak memperlihatkan rasa takut karena di kalangan kera tidak ada istilah tahyul takut setan dan pengertiannya tentang setan sedikit sekali dari penuturan mendiang kakek Yang Kok It dan Yang Cien .

“ Mari kita selidiki , sute “ .

Keduanya lalu berloncatan menuju ke guha itu . Dan benar saja seperti yang dikatakan Kauw Cu , guha besar itu kosong , hanya di dalam ruangan itu terdapat sebuah arca besar , sebesar manusia , arca seorang kakek tua yang sedang duduk bertopang dagu . Yang Cien memperhatikan arca itu . Jelas bahwa ukirannya serupa dengan arca-arca di guha pertama . Kenapa arca tunggal ini berada di sini ? Tentu ada maksudnya 43

, pikirnya . Ada sesuatu yang ganjil . Muka patung itu bukan menghadap ke kiri , akan tetapi seperti kepala yang di putar ke kiri , juga jari tangan kiri yang menopang dagu itu telunjuknya menunjuk ke kiri .

Yang Cien lalu pergi ke bagian dinding kiri guha itu , meraba-raba , akan tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan . Apa artinya kepala dan jari yang terputar ke kiri itu ? .

“ Engkau mencari apa , suheng ?” .

“ Mencari barangkali ada rahasia tersembunyi di guha ini , sute . Tempat ini sungguh menarik sekali “ .

Dia memperhatikan lantai . Lantai dari batu itu terdapat jejak kaki manusia . Bukan main ! Manusia macam apa yang dapat membuat jejak kaki pada lantai batu ? Dan jejak kaki itu miring ke sana sini , dan ketika Yang Cien mengikuti jejak kaki itu menginjak dan melangkah dengan kakinya , maka terbentuklah langkah-langkah seperti orang bersilat !

Pernah ada orang berlatih silat di sini , dan kaki nya meninggalkan bekas di lantai batu ! Bukan main . Hanya sinking yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali saja yang dapat membuat kaki meninggalkan jejak seperti itu di atas batu keras , seolah-olah lantai itu terbuat dari tanah liat yang lunak saja .

“ Rahasia apa , suheng ? Arca ini tidak menunjukkan sesuatu . Barangkali rahasianya terletak dibawahnya , coba ku angkat !” berkata demikian , raksasa muda itu memeluk arca lalu dicobanya untuk di angkat . Akan tetapi arca itu tidak dapat di angkatnya . Padahal menurut besarnya patung , sudah pasti Kauw Cu dapat mengangkatnya . Akan tetapi arca ini seolah-olah ada sesuatu yang menahannya dari bawah sehingga tidak dapat terangkat .

“ Ah , arca ini berakar di bawahnya , suheng !” kata Akauw penasaran . 44

Yang Cien mendekati . “ Hentikan usahamu , sute . Kalau arca ini tidak dapat kau angkat , berarti memang dibawahnya terkait sesuatu . Ah , mungkin itulah rahasia yang akan ditunjukkan kepada kita “ . Dia lalu memegang arca itu , dan meutarnya ke kiri . Untuk itu dia harus mengerahkan seluruh tenaganya dan tiba-tiba arca itu dapat d putar ke kiri . Saat itu terdengar suara gemuruh seperti ada banyak batu runtuh dan di dinding kiri guha itu tiba-tiba saja runtuh berlubang besar ! .

Yang Cien dan Akauw melompat keluar guha agar jangan sampai tertimpa batu-batu yang runtuh . Debu mengepul tebal dari reruntuhan itu dan setelah batu berhenti berjatuhan , debu juga mulai menipis , Yang Cien memasuki guha , diikuti Akauw yang agak takut karena merasa ngeri melihat kejadian yang aneh itu .

Nalurinya seolah memberitahu kepadanya bahwa dibalik reruntuhan itu terdapat bahaya besar mengancamnya ! .

“ Hati-hati , suheng …. ! “ bisiknya dan dia berjalan dekat sekali di belakang suhengnya .

“ Kita harus waspada , sute “ , bisik Yang Cien .

Keduanya memasuki lubang dari dinding yang runtuh tadi , dan ternyata di balik dinding itu terdapat sebuah tangga batu menuju ke bawah yang gelap sekali ! .

“ Wah , gelap sekali , suheng ………. “

“ Tidak apa , sute . Kita meraba-raba dan tetap waspada ….. “ .

Keduanya setengah merangkak mengikuti lorong itu dan seratus langkah kemudian nampaklah sinar didepan . Ternyata lorong itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang lebih luas daripada guha di depan dan penerangan itu datang dari atas , dimana terdapat celah-celah batu yang berbentuk segi delapan dari mana sinar matahari dapat menerobos masuk !. 45

Dan di tengah-tengah ruangan itu terdapat meja sembahyang daripada batu , tempat lilin batu dimana masih ada lilinnya yang tidak menyala , tinggal sepotong lilin itu . Di kanan kiri meja sembahyang terdapat dua buah patung , patung seorang pria dan patung seorang wanita yang merupakan arca batu yang sama besarnya dengan arca wanita di guha yang lain itu . Dua buah arca ini sama bagusnya dengan arca wanita itu , ukirannya demikian indah dan halusnya sehingga garis-garis telinga dari arca itu nampak jelas . Yang pria berusia kurang lebih tigapuluh tahun , tampan dan berwibawa , yang wanita cantik sekali , sama cantiknya dengan arca wanita di guha yang lain , akan tetapi alisnya berkerut dan tarikan wajah cantik ini membayangkan kekerasan hati dan kekejaman ! Di seluruh dinding tempat itu terdapat ukir-ukiran yang membentuk gambar-gambar dari orang yang bersilat , demikian jelas gambar-gambar itu dan demikian teratur sehingga tanpa penerangan sekalipun orang dapat mempelajari silat dengan meniru kedudukan jurus-jurus dalam gambar itu .

Seluruhnya ada tigapuluh enam jurus yang terbagi dalam banyak perkembangan sehingga untuk menggambarkan satu jurus saja terdapat lebih dari lima gerakan dalam gambar . Begitu jelasnya sehingga Akauw yang melihatnya segera mulai bergerak-gerak menirukan gambar itu .

“ Akauw , jangan lancing “ .

“ Maaf , suheng “ . Dan diapun mengikuti suhengnya yang sudah menjatuhkan dirinya berlutut di depan meja sembahyang , sekaligus menghadap dua arca itu .

“ Teecu berdua Yang Cien dan Ciang Kauw Cu , secara kebetulan saja memasuki tempat ini tanpa ijin lo-cian-pwe , harap lo-cian-pwe sudi memberi maaf yang sebesarnya “ , kata Yang Cien dengan sikap dan suara menghormat .

Hampir saja Akauw tertawa . Apakah suhengnya mendadak menjadi gila “ suheng “ , bisiknya . 46

“ Itu hanya arca batu …… “

“ Hushhhh , sute , lihatlah di belakang meja sembahyang itu “ , bisik kembali Yang Cien .

Akauw mengangkat kepalanya dan menjenguk . Matanya terbelalak dan wajahnya berubah agak pucat . Di sana , dibelakang meja , di atas kursi , duduk sebuah kerangka manusia lengkap dengan tengkoraknya , telunjuk kanannya menuding kepadanya dan telunjuk kirinya menuding ke atas , matanya yang berlubang itu seperti melotot kepadanya .

“ Ampun , ampunkan saya , lo-cian-pwe “ , katanya dengan suara gemetar sehingga kini Yang Cien yang ingin tertawa .

Yang Cien melakukan penghormatan itu untuk menghormati arwah orang yang telah mati dan telah menjadi kerangka di balik meja sembahyang itu . Ketika dia melihat lagi , di atas meja sembahyang itu terdapat sebuah kitab dan sebuah sarung pedang yang terisi dua batang pedang . Sema-ciang dan siang-kiam ( pedang pasangan ) . Tentu saja ingin sekali dia mengambil kitab dan pedang untuk memeriksanya , akan tetapi dia tidak berani lancing .

“ Sute , engkau membawa alat pembuat api ?” .

“ Ada , suheng “ .

“ Buatlah api untuk menyalakan lilin di atas meja sembahyang ini , kita perlu mohon ijin dulu “ .

Akauw dengan kedua tangan gemetar lalu membuat api dan menyalakan lilin itu yang masih dapat menyala dengan baik . Kemudian Yang Cien , di turut oleh sutenya , lalu memberi hormat sambil berlutut , dan berkata “ Saya Yang Cien mohon ijin kepada lo-cianpwe untuk membaca kitab dan melihat pedang itu “ .

Setelah berkali-kali berkata demikian , dia lalu bangkit berdiri dan dengan sikap hormat , dia menjulurkan tangannya mengambil kitab yang tidak berapa besar itu . Akan tetapi , 47

begitu dia mengangkat kitab itu dari atas meja , tiba-tiba dia berseru kesakitan , lalu terhuyung-huyung dan roboh di depan meja sembahyang , pingsan ! .

“ Suheng ….. ! Ah , suheng ……. Jangan mati , suheng ….. “ Akauw berteriak – teriak karena baru saja dia kematian kakek Yang Kok It , merasa takut melihat Yang Cien jatuh pingsan . Kemudian , dia bangkit berdiri dan mengepal tinju , mengamangkan tinjunya kepada kerangka itu dan memaki .

“ Iblis busuk , bangkitlah dan lawan aku kalau berani ! Kami telah bersikap sopan , akan tetapi malah engkau membunuh suhengku ! Hayo bangkit dan lawan aku atau akan kuhancurkan meja dan arca-arca ini !” .

Untuk sebelum dia menghancurkan segalanya , Yang Cien siuman dan membuka matanya . “ Sute ……… ! Dia mencegah sutenya ketika mendengar sutenya menantang-nantang kerangka itu dan akan menghancurkan meja dan arca . “ Jangan , sute ….. “ .

Mendengar seruan suhengnya , Akauw lalu berlutut dan membantu kakaknya bangkit duduk , hatinya lega karena melihat Yang Cien tidak mati .

“ Engkau tidak mati , suheng ? Aku takut engkau mati ……… “ .

Yang Cien menggigit bibir menahan sakit , lalu memeriksa tangan kanannya , yang ternyata tertusuk sebatang jarum dan telapan tangannya itu menghitam . Dengan jari dia mencabut jarum itu dan merasa tangannya seperti di baker .

“ Sute , ambilkan buku itu “ . Kitab itu terlepas dari pegangannya dan terlempar . sutenya mengambil kitab kesil itu dan menyerahkannya kepadanya . Dengan tangan kirinya Yang Cien membuka lembar pertama dan di situ ada tulisan tangan yang jelas sekali .

Muridku , 48

Engkau telah keracunan Ban-tok-ciam ( jarum selaksa racun ) dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawamu , engkau harus tekun berlatih dari kitab ini selama lima tahun di sini “

Thian Beng Lojin .

Yang Cien tertegun . Dari kakeknya , dia pernah mendengar nama Thian Beng Lojin ( Kakek Anugerah Tuhan ) ini , seorang kakek sakti luar biasa yang tidak diketahui dimana tinggalnya atau matinya , beberapa abad yang lalu . Dia di angkat murid ! Akan tetapi diapun keracunan Ban-tok-ciam dan harus tekun berlatih selama lima tahun di tempat itu !

Dia di lukai ketika mengambil kitab , yang dipasangi alat yang membuat jarum itu menyebar , dilukai untuk “dipaksa “ menjadi murid ! Lima tahun ! Bukan waktu yang pendek . Dan bagaimana dengan sutenya ? .

“ Bagaimana , suheng ? Apa yang terdapat dalam kitab ini ?” .

“ Sute , aku telah keracunan Ban-tok-ciam , dan tidak dapat disembuhkan oleh obat apapun juga “ .

“ Jangan khawatir , suheng . Aku mengenal daun obat yang dapat dipergunakan mengobati gigitan ular berbisa “ .

“ Sute , jarum ini mengandung selaksa racun . Jalan satu-satunya untuk mengobati , menurut kitab ini selama lima tahun , aku harus berlatih dari kitab ini selama lima tahun di sini “ .

“ Lima tahun ! Gila ! Lima tahun itu sama dengan ketika kakek mengajar kita ! “

“ Apa boleh buat , sute . Kalau aku masih ingin hidup , aku harus menaati pesan dalam kitab itu .

Dan engkau boleh merantau dulu seorang diri , sute . Bekal 49

ilmu sudah cukup ada padamu , dan bekal uang juga cukup . Carilah pengalaman di luar , akan tetapi ingat , jangan mencari perkara , jangan suka berkelahi dan terutama sekali jangan membunuh orang “ .

“ Tidak , suheng . Kalau aku pergi , siapa yang menemanimu ? Aku akan menemanimu ? Aku menemanimu di sini , jangan khawatir “ .

“ Akan tetapi , sute , lima tahun … “

“ Kalau lima tahun mengapa ? Jangankan lima tahun , biar selamanya aku manu menemanimu di sini . Aku tidak punya siapa-siapa lagi , dan aku takut memasuki dunia manusia tanpa engkau …. “ .

“ Sute …… !” Yang Cien merangkul sutenya dengan hati penuh keharuan . Anak ini , biarkan di besarkan oleh kera , akan tetapi memiliki watah yang amat baik . “ Kalau begitu , sesukamulah . Aku harus mulai membaca kitab itu sekarang “ .

“ Aku akan mencari bahan makanan dan mengambil semua perabot kita untuk memasak air , untuk memasak makanan dan lain-lain . Nanti sore aku sudah kembali lagi , suheng “ .

“ baiklah , sute “ .

Setelah Akauw pergi , Yang Cien juga membuka lembaran kedua dan di situ tertulis bahwa untuk mempelajari ilmu menghimpun tenaga dalam kitab itu dia tidak boleh tergesa-gesa , tidak boleh membuka lembaran berikutnya sebelum mengerti benar dan melatih lembaran pertama . Kalau hal itu di langgar , kalau cara melatihnya tidak menurut aturan yang ditentukan , maka mempelajari ilmu itu dapat membuat dia menjadi gila ! .

Yang Cien bergidik ngeri . Begitu hebatkah ilmu ini ? Di lembar ke tiga di tulis nama dari ilmu itu .

Bu Tek Cin Keng ! Dan lembar berikutnya barulah pelajaran 50

pertama , yaitu pelajaran cara melatih pernapasan dan bermeditasi . Seketika itu juga Yang Cien mulai berlatih diri menurut petunjuk kitab itu .

Sorenya Akauw datang membawa semua perabot masak , juga pakaian mereka , dan sejak itu , dengan tekunnya Yang Cien berlatih dari Kitab itu dan Akauw melayaninya dengan rajin . dan benar saja baru sebulan dia berlatih diri , dan baru dapat tiga lembar saja , warna hitam di telapak tangannya sudah mulai menipis .

****

Kalau Yang Cien sangat tekun melatih diri dengan pernapasan dan siulan begitu tekun sampai setahun lewat tanpa dia rasakan , adalah Akauw yang mulai uring-uringan karena bosan . Setiap hari dia hanya melihat suhengnya duduk bersila dan melakukan pernapasan yang aneh-aneh , kadang-kadang napasnya bersuara seperti orang mengorok , kadang-kadang seperti kuda meringkik , kadang tidak bersuara sama sekali .

Karena bosan dan iseng , mulailah dia memperhatikan gambar-gambar orang bersilat yang terdapat di dalam dinding itu . maka mulailah dia berlatih silat melalui gambar-gambar , menirukan setiap gerakan . Dasar dia memang berbakat baik sekali , telah memiliki kesigapan alami , maka tidak berapa sukar baginya untuk menirukan jurus-jurus itu . Yang Cien melihat ini dan dia diam saja , dia tahu betapa jemunya sutenya itu berdiam diri saja di tempat itu , setiap hari hanya mempersiapkan segala keperluan untuk dirinya . Dia amat berterima kasih kepada sutenya yang setia , maka melihat sutenya giat berlatih silat , dia mendiamkan saja . Dan ternyata Akauw mendapatkan kesibukan tersendiri dan dia tekun sekali berlatih .

Setelah mempelajari siu-lan selama dua tahun , pada lembar-lembar berikutnya barulah ternyata olehnya bahwa latihannya itu adalah untuk persiapan mempelajari ilmu silat 51

yang gambarnya terdapat pada dinding . Ilmu silat yang dilatih oleh sutenya itu ilmu Bu Tek Cin Keng . dan sutenya telah mempelajarinya begitu saja , tanpa petunjuk kitab . Padahal , sutenya sudah melatihnya selama dua tahun , dan agaknya sudah menguasai semua jurus dari Bu Tek Cin Keng .

“ Sute , tahan …. !” Dia berseru ketika membaca lembaran kitabnya pada bagian itu . “ Sute , engkau tidak boleh melatih ilmu silat itu begitu saja . Harus menurut peraturan yang terdapat dalam kitab ini . Mari ku bacakan . Dimulai dari jurus pertama dulu , sute . Ketika berdiri tegak dan merangkap kedua tangan depan dada , seluruh hati akan pikiran haruslah di tundukkan kea rah kepasrahan kepada Thian , haruslah kosong dan biar terisi oleh kekuasaan Thian . Selaras dengan bunyi ujar-ujar Thian-beng-ci wi-seng ( Anugerah Tuhan adalah yang dinamakan Aseng ) . Nah , kita mengosongkan hati akal pikiran itu , agar Seng ( watak asli ) kita bangkit , terbebas dari pengaruh segala nafsu , kembali murni seperti aslinya . Setelah itu , barulah kedua tangan yang di rangkap depan dada itu berpisah , yang kanan menuding keatas , yang kiri ke bawah , yang ini yang dinamakan pisah akan tetapi kumpul , seperti pisahnya bumi dan langit yang sebetulnya tidak pernah berpisah karena memang menjadi satu rangkaian .

Gerakan pertama dari jurus pertama ini dilakukan dengan tarikan napas panjang , menyimpan di perut , baru pada gerakan kedua dihembuskan keluar dan bersuara aaahhhhh , kemudian pada gerakan ke tiga ….. “ .

“ Wah , sudah , sudah . aku menjadi pening , suheng . Kau saja yang mempelajari dari kitab . Aku hanya ingin mempelajari segala gerakannya saja , tidak ingin mempelajari segala artinya . baru satu jurus saja sudah begitu panjang lebar belum juga selesai kau terangkan , bagaimana aku dapat mengerti dan ingat ? Padahal semua ada tiga puluh enam jurus dank au tahu suheng ? Semua jurus itu sudah hafal 52

olehku . Nah , kau lihat ini ! “ Akauw lalu mulai bersilat , dari jurus pertama sampai selesai tegapuluh enam jurus . Gerakannya gesit bukan main dan ilmu silat itu memang indah sekali seperti orang menari-nari . akan tetapi setelah selesai bersilat , napas Akauw agak memburu dan dia tertawa bergelak-gelak saking girangnya .

Yang Cien mengerutkan alisnya . Dari suara ketawa sutenya itu saja tahulah dia bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sikap Akauw .

“ Sute , engkau harus taat kepadaku , ingat ? Aku katakana , engkau mulai sekarang tidak boleh memainkan ilmu silat itu , kecuali kalau engkau mau mempelajari dari semual menurut petunjuk kitab ini . Mari kita mempelajari berdua , sute “ .

“ Ah , sudah hafal di mulai lagi dari pertama , untuk apa ? Aha , suheng , agaknya engkau iri kepadaku . Aku sudah hafal semua dan engkau baru mulai dari jurus satu . Suheng , aku sudah jemu di sini . Sekarang setelah tanganmu sembuh , marilah kita pergi dari sini , melanjutkan perjalanan kita “ .

“ Sute , aku ingin mempelajari ilmu silat ini lebih dulu seperti pesan suhu “ .

“ Suhu siapa ?”

“ Suhu Thian Beng Lojin . seperti yang tertulis di dalam kitabnya . Aku harus menaati pesannya , kalau tidak berarti aku bukan seorang murid yang baik . Kalau kakek masih hidup , tentu demikian pula pesannya kepadaku dan kepadamu . Tunggulah sampai aku selesai mempelajari kitab ini , baru kita pergi melanjutkan perjalanan kita , sute “ .

“ Sampai kapan , suheng ?” .

“ Sampai tiga tahun lagi , karena menurut kitab ini , aku harus berlatih selama lima tahun dan ini baru lewat dua tahun “ .

“ Tiga tahun ? Wah , terlalu lama , suheng . Kita pergi 53

sekarang , kalau engkau tidak mau , biar aku pergi sendiri “ .

Jelas bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Akauw , pikir Yang Cien . Apakah ini ada hubungannya dengan melatih ilmu Bu Tek Cin Keng tanpa tuntunan ? Kalau dulu dia pernah menganjurkan sutenya untuk merantau dulu seorang diri , kini dia berbalik malah khawatir .

“ Sute , jangan pergi dulu , tunggu sampai aku selesai melatih ilmu “ .

“ Suheng , aku bukan anak kecil lagi . Suheng juga seringkali mengatakan bahwa aku telah dewasa , usiaku sudah dua puluh satu tahun . Aku sudah mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk menjaga diri , dan juga bekal emas yang cukup untuk biaya hidup . Suheng biarlah aku merantau dulu , dan paling lama tiga tahun , sebelum engkau selesai melatih ilmu di sini , aku pasti akan datang menjemputmu “ .

Yang Cien menghela napas panjang . Kalau dia mencegah terus , sutenya bisa menduga bahwa dia terlalu memikirkan diri sendiri . Kini lukanya sudah sembuh , tinggal melatih ilmu saja untuk membuat semua racun lenyap dari tubuhnya . Dia dapat mencari makan sendiri , dapat mengatur keperluan dan memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan sutenya .

“ Baiklah kalau engkau berkeras , sute . Hanya jangan lupa , di dunia banyak sekali terdapat orang jahat . Engkau tentu masih ingat akan semua pelajaran yang kau terima dari kakek atau dariku , dapat membedakan mana baik dan mana jahat . Dan sekali lagi , jangan engkau mudah melibatkan diri dalam perkelahian , dan terutama sekali , jangan membunuh orang tanpa sebab “ .

“ Aku mengerti , suheng . Akan tetapi tentu engkau tidak keberatan kalau aku membunuh orang yang jahat sekali dan yang suka mencelakakan orang , bukan ?” .

Yang Cien menghela napas panjang , teringat akan dasar watak sutenya yang keras . “ Engkau tentu dapat memilih , 54

pendeknya , jangan terlalu mudah membunuh orang , kecuali kalau engkau menjadi seorang prajurit yang bekerja untuk sebuah kerajaan . Akan tetapi engkau harus dapat memilih kerajaan macam apa , dibawah raja macam apa engkau mengabdi “ .

“ Jangan khawatir , suheng . Aku tidak akan menjadi seorang prajurit kalau tidak bersama engkau . Nah , aku sudah mempersiapkan segalanya malam tadi , selamat tinggal , suheng , aku berangkat “ .

“ Sute , selamat jalan , jaga dirimu baik-baik , sute “ .

“ Suheng …. !” Akauw menghampiri suhengnya dan merangkulnya . Yang Cien balas merangkul dan saat itu dia merasa betapa sayangnya dia kepada sutenya ini yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri dan betapa besar dan kokoh tubuh sutenya sehingga tidak pantas kalau dia selalu menahan dan menjaganya “ .

“ Sute , pergilah “ .

Dia mengikuti sutenya yang berloncatan dengan sigap sekali di antara batu-batu besar di luar guha . Setelah sutenya pergi , baru dia merasa betapa sepinya hidup ini . Dia merasa kehilangan sekali dan merasa kesepian .

Dalam setiap perpisahan , selalu pihak yang di tinggalkan merasa lebih berat dan kehilangan , seolah-olah dalam hidupnya menjadi tidak lengkap lagi .

Sebaliknya , yang meninggalkan tidaklah begitu merasa berat karena pikirannya penuh dengan hal-hal baru , yang akan dihadapinya dalam perjalanan .

Setelah dapat menentramkan batinnya yang terguncang dan merasa nelangsa di tinggalkan sutenya dan hidup sendiri di tempat terasing itu , mulailah Yang Cien melatih diri dengan ilmu silat yang gambarnya memenuhi dinding , menurut petunjuk dalam kitab . Dan bukan main kagumnya karena dia 55

menemukan ilmu silat yang luar biasa sekali hebatnya . Dan juga menurut petunjuk kitab itu , setiap jurus haruslah digerakkan sesuai dengan peraturan pernapasan dan pencurahan perhatian di tujukan kepada suatu tertentu . Sehingga untuk melatih setiap jurus membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan ! Dan untuk melatih dan menguasai semua tigapuluh enam jurus itu di butuhkan waktu tiga tahun ! Akan tetapi sutenya telah menghafal dan melatih seluruh jurus itu hanya dalam waktu dua tahun .

Ketika sutenya pergi jauh dan dia memeriksa pedang yang berada di atas meja sembahyang , baru dia tahu bahwa sebatang di antara dua batang pedang itu telah lenyap . Sarung pedang itu kini hanya tinggal berisi sebatang pedang saja , yati pedang yang bersinar putih . Sedangkan pedang yang bersinar hitam tidak ada . Pasti sutenya yang membawanya . Pedang hitam itu memang biasa di pakai sutenya untuk berlatih silat .

Ketika dia menemukan kitab Bu-tek Cin-keng , di dekat kitab itu terdapat sepasang pedang itu . Ketika dia dan sutenya memeriksanya , ternyata sepasang pedang itu adalah pedang sinarnya berlainan sama sekali , bahkan berlawanan .

Yang satu bersinar putih dan yang lain bersinar hitam . Namun bentuknya , panjangnya , beratnya sama benar . Dan karena pedang itu di hias ukiran naga , maka mereka berdua sepakat untuk menamakan pedang itu Pek-liong-kiam ( Pedang Naga Putih ) dan Hek-liong-kiam ( Pedang Naga Hitam ) . Ternyata pedang itu terbuat dari logam yang aneh dan kuat bukan main . Batu karang saja dengan mudah terbelah oleh pedang-pedang itu .

Begitu melihat pedang itu , Akauw sudah merasa sangat suka kepada pedang yang hitam . Warna hitamnya seperti arang dan kalau di gerakkan dengan pengerahan tenaga sin-kang , pedang itu mengeluarkan suara mengaum seperti singa . Akauw selalu berlatih dengan pedang ini dan seringkali 56

membawanya kalau dia keluar guha untuk melindungi dirinya .

Yang Cien tidak merasa aneh kalau sutenya membawa pedang Naga Hitam itu pergi . Bahkan dia tadi lupa , kalau tidak tentu diapun mengusulkan agar sutenya membawa pedang hitam itu . akan tetapi yang membuat dia merasa sayang , kenapa sutenya tidak bilang kepadanya . Padahal kalau mengatakan , tentu saja dia membolehkannya .

Bagi Yang Cien , dia merasa lebih cocok dengan pedang Naga Putih . Pedang itu kalau di gerakkan mengeluarkan suara nyaring melengking seperti suara burung hong betina . Dan ilmu Bu-tek Cin-keng ternyata merupakan ilmu silat yang serba cocok untuk memainkannya dengan atau tanpa senjata . memang pada gambar-gambar itu , orangnya bersilat dengan tangan kosong , namun bagi orang yang sudah menguasai dasar-dasar ilmu pedang , maka dengan sedikit perkembangan , ilmu silat itu cocok sekali untuk di jadikan ilmu silat pedang . Maka , sambil melatih ilmu tangan kosong dari Bu-tek Cin-keng , Yang Cien kadang juga melakukan gerakan-gerakan itu dengan Pedang Naga Putih dan merangkai sebuah ilmu silat Pedang yang dia namakan Pek Liong Kiam-sut ( Ilmu Pedang Naga Putih ) ! .

****

Keadaan di Cina utara pada waktu itu memang baru saja di landa perang saudara yang hebat . Seperti tercatat dalam sejarah , pada tahun 221 – 265 , Cina di kuasai oleh tiga kerajaan dan masa itu di kenal sebagai Zaman Sam Kok ( Tiga Negara ) . Sam Kok ini menyusul runtuhnya Kerajaan Han Timur . Negara Cina terpecah-pecah menjadi tiga kelompok .

Kerajaan Wei berkuasa di utara , yaitu di Shan-si , Shan-si utara dan daerah lain di utara . Kemudian di Barat daya berkuasa Kerajaan Shu yang kekuasaannya meliputi daerah Hupei , Huna , Se-cuan dan Yunan . Adapun di Tenggara berkuasa Kerajaan Wu . Dengan demikian , selama 221 – 265 , Cina memiliki tiga orang Kaisar . 57

Tiga Kerajaan ini tiada hentinya berperang , saling bermusuhan sehingga rakyat menderita sengsara karena perang segi tiga yang tiada henti-hentinya . Akan tetapi akhirnya pada tahun 265 , Kerajaan Wei keluar sebagai pemenangnya , menaklukan dua kerajaan yang lain dan Cina di kuasai dan dipersatukan oleh Kerajaan atau Dinasti Wei .

Namun apakah ini berarti bahwa keadaan Negara menjadi tentram ? Jauh daripada itu ! Keadaan Kerajaan Wei tetap saja lemah , Kesatuan tidak dapat dipelihara dengan baik . Para tuan tanah , pejabat daerah , jendral-jendral silih berganti berperang memperebutkan kekuasaan di daerah-daerah . Pertempuran kecil dan besar timbul di seluruh Cina , dari bagian utara sampai selatan . Kekuasaan berganti-ganti jatuh ke tangan pemenangnya , dari jendral ini di rebut kembali oleh jendral itu .

Wangsa-wangsa baru berdiri jatuh-bangun , timbul – tenggelam .

Itu semua masih belum hebat . Masih di tambah lagi penyerbuan suku-suku Nomad yang berebutan menduduki daerah-daerah luas di pinggiran . Suku Hsiung nu , Suku Tibet , Turki dan Bangsa Toba yang paling berpengaruh itu menyerbu dari utara dan barat , bahkan Bangsa Toba akhirnya mendirikan Kerajaan Toba yang berkuasa di seluruh Tiongkok utara . Tiongkok terpecah-belah dan kekacauan ini berlangsung terus sejak tahun 265 sampai sekarang , hamper tiga abad lamanya .

Di selatan juga banyak sekali raja-raja kecil timbul sebagai akibat dikuasainya daerah utara oleh Bangsa Toba dan di antara raja-raja kecil inipun selalu timbul perang memperebutkan wilayah .

Bangsa Toba adalah suatu suku dari bangsa Mongol yang termasuk suku yang gagah perkasa , pandai menunggang kuda dan pandai menggunakan anak panah yang pada waktu itu merupakan senjata paling ampuh dalam perang . Juga 58

Bangsa ini sejak dari kampong halamannya si utara , sudah suka sekali akan kekerasan dan olah keperwiraan . Mereka itu ahli gulat dan juga memiliki semacam ilmu bela diri yang cukup ampuh karena mereka mendapatkannya dari bangsa India dan juga banyak orang Han yang mengajarkan ilmu silat mereka kepada bangsa ini .

Bagaimanapun juga , Kerajaan Toba ini tak dapat di bilang kuat . Kerajaan ini membagi-bagi daerah kepada sekutunya , yaitu kepada Bangsa Hsiung-nu , bangsa Tibet , Turki dan lain-lain . Karena daerah itu terpecah-pecah dan dibagi-bagikan , maka tentu saja kekuasaannya terbatas . Apalagi pada masa kisah ini terjadi , Kaisar Bangsa Toba yang terakhir adalah seorang pemabok dan yukang pelesir yang tidak ketulungan lagi . Dia berjuluk Julan Khan , berusia limapuluh tahun dan biarpun dia seorang yang memiliki ilmu silat dan ilmu perang yang ampuh , namun karena dia hanya bersenag-senang saja , maka dia dapat dibilang seorang kaisar yang lemah . Untuk mendapatkan seorang wanita saja , dia tidak segan untuk mengerahkan pasukannya menyerang daerah dimana wanita yang digandrunginya itu tinggal .

Kalau wanita itu dengan baik-baik di serahkan , dia tidak akan sayang untuk menghujani hadiah kepada keluarganya atau kepada kepala daerahnya , akan tetapi kalau sampai di tolak , tentu daerah itu di gempur , banyak orang tewas dan akhirnya wanita itu dibawanya sebagai hasil menang perang ! .

Raja Julan Khan memilih Tiang-an sebagai kota raja dan di sini dia hidup serba mewah dan berenang dalam lautan kesenangan , tidak memperdulikan bahwa semua pejabat , dari pusat ke daerah , semua melakukan koropsi dan penindasan kepada rakyat jelata .

Mendiang kakek Yang Kok It adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Han dan Wei , maka dia tidak mau bekerja lagi ketika Kerajaan Toba berdiri , apalagi dia sudah tua . Akan 59

tetapi puteranya , Yang Koan , bekerja kepada Kerajaan Toba yang ketika itu masih di pimpin oleh ayah kaisar yang sekarang . Akan tetapi , mendiang Yang Koan paling membenci rekan-rekannya yang melakukan penindasan kepada rakyat . Dan akhirnya karena berselisih paham , Yang Koan dan istrinya tewas ditangan saingannya , yaitu para pembesar yang korup , yang menggunakan seorang sakti untuk membunuhnya , bahkan lalu orang sakti yang bernama Toang-beng Kiam-ong Lui Tat itu mendapat tugas untuk mengejar dan mencari kakek Yang Kok It yang melarikan diri bersama cucunya yang bernama Yang Cien . Akhirnya pengejaran dihentikan karena tidak terdengar lagi berita tentang kedua orang itu .

Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang berjasa membunuh Yang Koan sekeluarga , oleh para pejabat lalu dihadapkan kaisar dan diberi pujian sehingga kakek ini lalu di angkat menjadi penasehat militer yang tentu saja memiliki kedudukan yang tinggi di kota raja .

Pada suatu siang udara sangat panas karena musim panas sedang berada di tengah-tengah . Panasnya udara membuat orang segan keluar dan kedai-kedai minuman di penuhi tamu yang akan melepas dahaga .

Seorang pemuda memasuki kedai minuman itu . Dia seorang pemuda tinggi besar , mukanya agak gelap seperti muka yang banyak terbakar matahari , pakaiannya seperti pakaian orang dusun namun bersih . Rambutnya yang panjang dibiarkan terjurai ke belakang punggung , di ikat dengan sehelai kain putih dan punggungnya yang lebar menggendong sebuah buntalan panjang . Orang ini mendatangkan kesan kokoh kuat sehingga tidak ada yang berani untuk mencoba mengganggunya . baru kedua lengannya saja yang nampak tersembul keluar dari lengan bajunya yang di gulung , nampak kekar berotot sebesar jari tangan . Usianya sekitar duapuluh satu tahun dan begitu memasuki kedai minuman itu dia 60

langsung memesan minuman kepada pelayan . Suaranya besar dan dalam , kata-katanya singkat saja . Pemuda ini bukan lain adalah Cian Kauw Cu atau Akauw .

Perantauannya membawa dia ke kota raja Tiang-an di siang hari itu dan biarpun dia amat menganggumi besarnya dan indahnya rumah-rumah di sepanjang jalan yang dilaluinya , namun dia tidak memperlihatkan kekaguman dan keheranannya .

Kini dia sudah terbiasa melihat banyak orang , sungguh pada waktu pertama kali memasuki sebuah dusun dan melihat begitu banyaknya manusia , dia menjadi panic dan gentar juga . Apalagi ketika pertama kali melihat wanita muda , dia sampai melotot memandanginya dan wanita itu menjadi ketakutan lalu melarikan diri . Tak di sangkanya bahwa bangsanya ada juga betinanya , dan begitu mempesona ! Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah banyak mendengar keterangan Yang Cien , maka keheranannya tidaklah begitu mengubah sikap dan wataknya . Dia harus sopan terhadap wanita , demikian ajaran suhengnya . Sopan itu berarti tidak menegur mereka kalau tidak kenal , tidak memandang terlalu lama , dan tidak mendekati mereka . Kecuali kalau sudah berkenalan .

“ Pelayan , cepat sediakan the dingin untukku ! Aihh , panasnya !” suara nyaring ini menarik perhatian Cian Kauw Cu . Dia segera menengok dan hamper saja dia tertawa . Seorang pemuda , melihat bentuk tubuhnya yang ceking tentu masih remaja , akan tetapi sikapnya seperti seorang yang sudah dewasa saja , memasuki kedai itu lalu memilih tempat kosong , tak jauh dari tempat duduk Kauw Cu . Dan begitu the yang dipesannya tiba , dia lalu mengangkat sebelah kakinya ke atas bangku dan minum dengan lahapnya . Kauw Cu tersenyum dan kebetulan pemuda remaja itu juga memandang kepadanya . Mereka saling pandang dan Kauw Cu melihat betapa sepasang mata itu memiliki senar tajam penuh selidik dan manik matanya bergerak gerak amat cepatnya , 61

menunjukkan kecerdasan otaknya .

“ Hemm , kalau orang tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab itu namanya orang gila . Ku harap engkau masih waras , sobat . Kenapa engkau tersenyum-senyum sendiri yang menatap aku seperti itu ?” .

Pertanyaan inipun di anggap lucu oleh Kauw Cu . “ Aku tersenyum melihat engkau minum begitu lahapnya , sobat . Agaknya engkau sudah haus sekali “ .

“ Siapa tidak haus dalam hawa sepanas ini ?” kata pemuda itu dan selanjutnya dia tidak memperdulikan lagi kepada Kauw Cu yang juga sudah mengalihkan perhatiannya kepada minumannya . Yang Cien menasehati bahwa dia tidak boleh usil , tidak boleh mencampuri urusan orang lain . Inipun demi menjaga kesopanan dan menjauhkan percekcokan .

Dan melihat bahwa di meja lain duduk seorang yang melihat pakaiannya seperti seorang pembesar , bersama tiga orang yang berpakaian seperti ahli silat , mungkin tukang-tukang pukulnya . Pembesar itu dengan alis berkerut melirik kea rah pemuda yang nongkrong mengangkat sebelah kakinya sambil minum the dengan suara berseruputan dan agaknya dia tidak senang sekali . Lalu dia berbisik kepada seorang pengawalnya yang bertubuh tinggi besar bermuka bopeng . Biarpun dia berbisik , namun Kauw Cu dapat mendengar bisikan itu . Telinganya sudah terlatih baik , bersatu dengan nalurinya .

“ Beri hajaran kepada anak muda kurang ajar itu dan lempar dia keluar !” . kata sang pembesar kepada tukang pukulnya yang bertubuh tinggi besar .

Tukang pukul ini lalu bangkit . Tubuhnya memang tinggi besar , lebih tinggi dibandingkan tubuh Kauw Cu sehingga mengingatkan Kauw Cu akan seekor biruang , musuh utamanya di hutan . Si Biruang itu lalu menghampiri pemuda tadi dan menghardik . 62

“ bocah liar ! Di sini terdapat seorang pembesar , dan engkau duduk nongkrong mengangkat kaki seperti monyet , minum berseruputan seperti babi !” .

Pemuda itu sama sekali tidak nampak ketakutan di hardik dan dimaki seperti itu , malah membelalakkan matanya dan nampak keheranan .

“ Aih , aih …. Engkau ini mabok ,ya ? Di sini tempat umum , aku boleh nongkrong , boleh duduk sesukaku , aku tidak merugikan orang lain kenapa rebut-ribut ?” .

Si muka bopeng menggerakkan tangannya , memegang leher baju bagian belakang pemuda remaja itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi , sehingga tubuh pemuda itu tergantung . “ Engkau banyak membantah , ya ? Hayo pergi dari sini …. !” .

Dia membawanya keluar dan hendak melemparkan tubuh pemuda itu ketika Akauw sudah datang menghadangnya .

“ Sobat , anak ini tidak bersalah apa-apa , tidak merugikan siapa-siapa , harap jangan di ganggu “ .

Menghadapi pemuda yang membela anak itu , si muka bopeng menjadi marah sekali . Dia melepaskan anak muda itu yang segera lari ke belakang meja untuk berlindung .

“ Jahanan busuk , engkau tidak tahu aku siapa , ya ? Aku pengawal Gu-taijin , jaksa di sini tahu ?” .

“ Maaf , aku memang tidak mengenalmu , sobat . Dan aku tidak mencari keributan . Aku hanya minta agar engkau jangan memukul anak yang tidak bersalah itu “ .

“ Baik , kalau aku tidak boleh memukul dia , aku akan memukulmu ! “ .

Setelah berkata demikian , si muka bopeng menggerakkan tangan kanannya yang dikepal sebesar kepala anak-anak itu meluncur dan menghantam kea rah muka Akauw . Dengan 63

tenang Akauw menggerakkan tangan kirinya , menyambut kepalan tangan kanan lawan itu dan mencengkramnya .

“ Auuwww …. !” si muka bopeng berteriak kesakitan , akan tetapi dasar dia tidak tahu diri , kini tangan kirinya melayang kea rah kepala Akauw .

Akauw menggunakan tangan kanannya menyambut dan menangkap kepalan kiri itu dan kini kedua tangan lawan itu berada dalam genggamannya dan si muka bopeng mengaduh-aduh karena dia merasa kedua kepalan tangannya remuk . Akauw lalu mendorongnya ke belakang karena pada saat itu , dua orang pengawal yang lain sudah menerjangnya . Akan tetapi kedua orang itu terbelalak ketika tiba-tiba saja orang yang mereka serang itu menghilang . Kiranya Akauw melompat dengan cepat sekali ke atas dan bergantung kepada tiang , kemudian selagi kedua orang tukang pukul itu kebingungan , dia pun meloncat turun ke belakang mereka , kedua tangannya menjambak rambut kepala mereka dan mengadukan dua buah kepala itu , tidak terlalu keras akan tetapi cukup membuat kepala itu benjol dan bermunculan ribuan bintang yang membuat kedua orang itu pening dan terkulai . Untung Akauw masih ingat untuk tidak membunuh orang . Kalau terlalu keras dia mengadukan kepala itu sudah pecah dan tentu saja orangnya mati .

Geger di kedai minuman itu . Melihat ketiga tukang pukulnya sudah roboh , si tinggi besar masih berjingkrak karena kedua tangannya terasa nyeri , kiut miut rasanya dan kedua orang yang masih duduk memegangi kepala yang rasanya seperti berputar-putar . Jaksa itu pun tahu diri dan bangkit keluar dari kedai meinuman . Akan tetapi sebelum keluar , sesosok bayangan menyelinap dan pemuda remaja itu sudah berdiri di depannya .

“ Heii , jaksa . mau kemana kau ? sudah membikin kacau hendak menghina orang , kini mau pergi begitu saja ?” .

Jaksa yang gendut itu menjadi marah . Dia memang gentar 64

menghadapi Akauw , akan tetapi bocah kurang ajar yang ceking ini tentu saja tidak membuatnya takut .

“ Minggir , bocah setan atau ku pukul kepalamu !” bentaknya .

“ Wah , malah mau pukul ? Kepalan tahumu itu bisa memukul . Coba hendak ku rasakan kepalan tahumu itu . Jangan – jangan untuk memukul kepalaku malah remuk !” .

Di ejek begitu sang jaksa lalu mengerahkan seluruh tenaganya mengayun kepalan tangan kanannya memukul kepala anak itu , akan tetapi tiba-tiba bocah itu merendahkan tubuhnya sehingga pukulan itu luput dan tubuhnya terbawa oleh tenaga pukulan terhuyung ke depan . Tubuh yang perutnya gendut itu terhuyung , maka ketika kaki pemuda itu mengganjal kakinya , tanpa dapat di cegah lagi tubuhnya jatuh menubruk meja di depannya . Celakanya , tamu meja depan itu memesan semangkok besar bubur ayam yang masih panas dan ketika roboh menelungkup , muka si jaksa masuk ke dalam mangkok besar bubur ayam sehingga berlepotan bubur panas . Dia mengaduh-aduh dan menjerit-jerit seperti babi di sembelih .

Akauw merasa tangannya di pegang orang dan ternyata pemuda remaja itu yang memegang tangannya , “ Hayo cepat , kenapa bengong melulu ? Apa engkau kepingin mati ?” .

“ Kepengin mati ? Tentu saja tidak !”

“ Kalau tidak , hayo cepat ikut aku !” .

Pemuda remaja itu lalu menggandeng tangannya dan menariknya berlari keluar dari kedai minuman itu . “ Nanti dulu “ , Akauw membantah . “ Aku belum membayar harga minumanku “ .

“ Alaa , biarkan pembesar gendut itu yang membayarnya . Hayo cepat kita lari “ .

Akauw membiarkan saja dirinya ditarik dan dibawa lari . 65

Mereka pergi keluar kota dan memasuki sebuah kuil tua kosong yang berada diluar kota raja . Barulah pemuda remaja itu melepaskan tangannya dan dia terengah-engah , duduk di lantai bersandarkan dinding tua .

Akauw juga ikut duduk di depannya , bersila . “ Eh , sobat cilik , kenapa kau bilang aku tadi kepengin mati ? Apa yang kau maksudkan ? Dan kenapa pula engkau mengajakku lari-lari seperti ini dan bersembunyi di tempat ini ?” .

“ Wah , engkau tidak mengerti , ya ? Kok Tolo benar sih kau ini ? Tubuhmu saja besar akan tetapi engkau bodoh sekali “ .

Heran . Akauw tidak marah bahkan merasa geli . Biarpun dimaki , akan tetapi cara memaki pemuda itu terdengar lucu , karena sikapnya bukan seperti orang yang menghina atau merendahkan , melainkan seperti seorang nenek memarahi cucunya !.

“ Memang aku bodoh . Nah , katakana mengapa ? “.

“ Kau tahu ? Orang gendut tadi seorang jaksa ! Kau tahu apa itu jaksa ?” .

Akauw mengingat-ingat . Setahunya , jaksa itu seorang pembesar yang bekerja di pengadilan . “ Seorang jaksa itu orang yang menuntut seseorang penjahat agar di adili dan di hukum . Seorang jaksa menentang kejahatan “ .

-oo0dw0ooo-

Jilid 3

“ Itu jaksa yang baik . Akan tetapi Gu-taijin itu bukan seorang jaksa yang baik . Dia malah menghukum orang baik-baik yang tidak bersalah , membenarkan orang jahat asal orang jahat itu memberinya uang . Dia sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya , memaksakan kehendaknya 66

seperti kaulihat tadi di kedai minuman . Dia mempunyai banyak tukang pukul untuk menyiksa orang , untuk memaksa orang yang tidak bersalah membuat pengakuan palsu .

“ Hemmm , kalau begitu dia jahat sekali , sudah pantas diberi hajaran . Akan tetapi mengapa engkau membawa aku pergi melarikan diri ?” .

“ Karena , seperti kataku tadi , dia berkuasa dan mempunyai banyak pengawal . Dia tentu tidak akan tinggal diam dan kalau kita tidak cepat lari , sampai dia memanggil banyak pengawalnya , kita dapat saja di fitnah sebagai pemberontak dan di hokum mati “ .

“ Wah , kalau begitu kita tidak semestinya lari dari sana . Kita bahkan harus menghukum jaksa jahat itu sampai dia jera berbuat kejahatan lagi . “ Berkata demikian , Akauw mengepal kedua tinju tangannya dan mengamangkan tinjunya .

Pemuda remaja itu memandang kagum , lalu dengan kedua tangannya dia memegang dan menekan untuk mencoba kekerasan lengan Akauw yang berotot itu .

“ Hemm , engkau memang kuat . Bukan main , lenganmu seperti besi baja saja . Akan tetapi , engkau tadi mampu merobohkan tiga orang tukang pukul , apakah engkau mampu mengalahkan tiga puluh orang , atau bahkan tiga ratus orang ? Engkau akanmenghadapi ribuan atau puluhan ribu pasukan dan hendak ku lihat engkau akan bisa berbuat apa “ .

“ Apakah ada pemberontak-pemberontak seperti itu , sobat ?” .

“ Kenapa tidak ada ? Banyak sekali ! “

“ Kenapa ? Tentu untuk merebut kekuasaan . Dan satu antara lain sebabnya adalah pembesar-pembesar tidak becus seperti jaksa itu . Mereka berbuat tidak adil sehingga membuat orang menjadi penasaran dan memberontak . 67

Pemberontakan seperti itu harus di basmi karena menimbulkan perang yang akan menyusahkan rakyat saja “ .

“ Sobat , engkau ini masih kecil akan tetapi otakmu cerdas sekali , mengetahui banyak hal !” kata Akauw kagum .

“ Dan engkau ini besar , kuat dan pandai silat akan tetapi lagakmu begini bodoh . Siapa sih namamu ?”.

“ Namaku Cian Kauw Cu , akan tetapi engkau boleh menyebutku Akauw saja , seperti di sebut oleh orang-orang yang baik kepadaku . Dan siapa namamu ?”

“ Aku bermarga Bi namaku Soan “ .

“ Bi Soan ? Namamu indah , memang engkau tampan seperti bulan “ , puji Akauw .

“ Tampan seperti bulan ? Mana ada seorang laki-laki tampan seperti bulan ?” .

“ Tapi engkau memang tampan , aku suka sekali padamu , Bi Soan “ , kata Akauw .

“ Engkau pintar , tidak seperti aku yang bodoh “ .

“ Hem , aku juga suka padamu , engkau kuat , pandai bersilat , dan juga jujur sekali . Terlalu jujur sehingga nampak bodoh . Akan tetapi aku tidak mengatakan engkau bodoh , engkau seperti orang yang berpura-pura bodoh saja “ .

“ Sudahlah , Bi Soan . Sekarang aku harus pergi . Kalau kau anggap berbahaya kembali ke kota ,aku akan pergi meninggalkan Tiang-an , aku tidak suka tempat itu karena terlalu ramai , terlalu bising “ .

“ Engkau hendak kemana , Akauw ?” .

“ Melanjutkan perantauanku . Sudah setahun aku merantau dan baru hari ini aku bertemu dengan seorang yang baik seperti engkau . Selamat tinggal “ .

“ Selamat jalan , Akauw . Sampai berjumpa kembali …. “ . 68

Akauw sudah meninggalkan kuil itu dan tidak kembali ke Tiang-an , melainkan melanjutkan perjalanan ke timur . Dia tidak tahu bahwa dari belakang kuil itu berkelebat bayangan hitam yang membayanginya dari jauh . Juga dia tidak tahu bahwa Bi Soan nampak melamun setelah dia pergi .

“ Bukan main ! Orang yang kuat dan mengagumkan sekali , sayang dia bodoh , kalau tidak …. Hemmmm …. “

Bi Soan lalu pergi dari kuil itu , kembali ke kota Tiang-an dengan sikap seenaknya , seolah dia sama sekali tidak takut kalau-kalau akan bertemu dengan tukang pukulnya Jaksa Gu .

****

Ketika Akauw berjalan sampai di tepi hutan yang sunyi , dia melihat seekor kijang . Timbul nalurinya untuk berburu , apalagi perutnya memang sudah lapar dan di tempat sunyi seperti itu tentu saja tidak mungkin dapat membeli makanan .

Dia lalu melompat jauh dan melakukan pengejaran . Kijang itupun mendengar suara orang mengejar , diapun melompat jauh ke depan memasuki hutan , Akauw lalu meloncat ke atas pohon dan melakukan pengejaran melalui pohon-pohon . Dengan cara ini , kijang tidak dapat mencium baunya dan tidak tahu bahwa pemburunya sudah berada di atasnya .

Semua ini tidak lepas dari pengamatan orang yang membayangi Akauw . Orang itu seperti kakek yang usianya tentu lebih dari enampuluh tahun , bertubuh pendek kecil akan tetapi mempunyai gerakan yang ringan sekali sehingga Akauw tidak tahu bahwa sejak dari kuil tadi orang itu membayanginya . Bahkan ketika dia melakukan pengejaran terhadap kijang , orang itu tetap membayanginya , walaupun tidak seperti dia meluncur dari pohon ke pohon . Orang itu berlari seperti terbang saja , menyelinap dari pohon ke pohon lain dan terus membayangi kemana saja Akauw pergi .

Setelah tiba di atas kijang itu , Akauw mengeluarkan pekik seperti ketika dia masih hidup di antara kera-kera itu dan 69

tubuhnya meluncur dari atas pohon , tepat menimpa punggung kijang itu . Kijang itu kaget ,meronta , namun lehernya telah di pegang oleh sepasang tangan yang amat kuat dan kepalanya di punter , maka robohlah kijang itu , tidak bergerak lagi , mati seketika .

Akauw mengeluarkan suara penuh kemenangan yang terdengar seperti lengking panjang , kemudian dia membuat api unggun dan tak lama kemudian dia sudah memanggang daging kijang muda yang sedap dan lunak .

Sepasang mata yang mengintainya kini berkedip-kedip dan mulut kakek kecil itu berliur ketika bau sedap daging kijang panggang itu menyerang hidungnya .

Dia lalu keluar dari tempat sembunyi sambil terkekh . Akauw terkejut bukan main . Dia melompat berdiri saking kagetnya . Bagaimana dia tidak dapat mendengar ada orang yang berada begitu dekat dengannya ? .

“ He-he-he , anak muda , bolehkan aku mendapatkan sedikit daging kijang yang kau panggang itu ?”.

“ Ah , tentu saja , paman , tentu saja . Mari , silahkan duduk , paman danmari silahkan makan bersamaku “ , Akauw sudah hilang kagetnya dan dengan ramah dia menyilakan orang itu duduk menghadapi api unggun .

“ Terima kasih “ , orang itu memandang Akauw yang membolak-balik daging kijang yang sedang di panggangnya . “ Engkau siapakah , anak muda ?” .

“ Namaku Cian Kauw Cu , paman . Dan paman siapakah dan bagaimana dapat berada di hutan yang amat lebat ini ?” .

“ Aku ? ha-ha-ha , aku memang seringkali berkeliaran di hutan ini dan kebetulan melihat engkau memanggang daging kijang . Wah , , sudah masak rupanya “ .

Akauw lalu mematahkan sebagian paha kijang dan menyerahkannya kepada tamunya yang memakan dengan 70

lahapnya . Mereka makan daging panggang rusa itu tanpa berkata-kata . Setelah kenyang , kakek itu mengeluarkan seguci arak , lalu minum dari guci itu dengan suara menggelogok . Lalu dia menyerahkan guci itu kepada Akauw . “ Nah , sebagai pengganti pemberianmu daging rusa , minumlah arak ini , orang muda “ .

“ Terima kasih ,paman . Akan tetapi , aku tidak pernah minum arak . Aku hanya minum air the atau air putih saja “ .

Mendengar jawaban ini , kakek itu bangkit berdiri dan tertawa terkekeh-kekeh . “ He-he-he , orang begini gagah perkasa , minumnya hanya air the atau air putih saja , seperti seorang gadis pingitan . Ho-he-heh-he , engkau menolak arak pemberian Thian-te Ciu-kwi ( Setan Arak Langit Bumi ) , itu berarti penghinaan . Orang muda , hayo kau harus mampu melawanku sebanyak sepuluh jurus . Kalau tidak mampu , engkau mampus karena berani menghina aku !” .

Akauw juga bangkit berdiri dan sepasang alis yang tebal itu berkerut .

“ Paman , siapa yang menghina ? Aku menolak karena memang tidak suka minum arak “ .

“ He-he-he , suka tidak suka harus minum kalau sudah ku beri . Engkau akan mampus kalau tidak dapat bertahan lebih dari sepuluh jurus “ . Setelah berkata demikian , kakek itu sudah menyerangnya dengan guci araknya yang terbuat dari pada baja .

Akauw terkejut karena serangan itu hebat sekali . Dari angina suara serangan itu saja dia tahu bahwa kakek itu menggunakan tenaga yang luar biasa besarnya . Cepat dia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri .

“ Kakek , engkau jahat sekali ! Engkau hendak membunuh orang yang tidak berdosa ? Engkau jahat dan patut di hajar !” kata-kata terakhir ini di dapatnya dari suhengnya yang mengharuskan dia menghajar orang yang jahat . Setelah 71

berkata demikian , diapun membalas dengan pukulan tangannya dan otomatis ia menggerakkan pukulan dari ilmu Bu-tek Cin-keng .

“ Siiuuttt ….. ! “ Angin besar melanda kakek itu dan membuat si kakek berjungkir balik dan mengeluarkan seruan kaget .

“ Ehhh , ilmu apa ini ? Engkau hebat juga , orang muda ! “ katanya dan kembali dia menyerang . Hebat memang serangan kakek kecil itu . Bukan saja tenaganya amat besar , akan tetapi juga kecepatan gerakannya mengangumkan . Kembali Akauw mengelak dengan lompatan ke belakang dan untuk kedua kalinya dia menyerang dengan menggunakan jurus dari Bu-tek Cin-keng . Terdengar lagi suara berciutan yang amat dahsyat dan biarpun kakek itu sempat menghindar , namun dia semakin kagum .

“ Berhenti dulu , orang muda !” kata kakek itu .

Dengan girang Akauw berhenti . “ Paman , engkau tidak boleh jahat begitu karena kulihat engkau seorang yang pandai , kenapa menggunakan kepandaian untuk membunuh orang ?” .

“ He-ho-ho-ho , baiklah aku tidak membunuh orang . Sekarang kita ganti taruhannya . Bukan nyawa lagi , akan tetapi dengan perjanjian bahwa kalau engkau mampu bertahan seranganku selama dua puluh lima jurus , aku akan membebaskanmu , akan tetapi kalau engkau kalah sebelum dua puluh lima jurus , engkau harus menjadi muridku selama beberapa tahun . Bagaimana ?” .

Akauw juga bukan orang bodoh , akan tetapi jalan pikirannya memang sederhana sekali . Kalau dalam dua puluh lima jurus kakek ini mampu mengalahkannya , berarti dia lihai sekali dan apa salahnya menjadi murid seorang lihai selama beberapa tahun ? Dia tidak akan rugi malah untung ! .

“ Baiklah , paman . Mari kita mulai !” . 72

“ Lihat pukulan jurus pertama !” bentak kakek itu dan kini dia menyerang dengan loncatan bagaikan burung wallet .

Mula-mula tubuhnya melayang ke atas , kemudian dia menukik dan menyerang dengan kedua tangannya kea rah kepala Akauw .

Akauw bersikap tenang , dia tetap menggunakan Bu-tek Cin-keng untuk menyambut serangan , kedua tangannya membuat gerakan menggunting ke atas untuk menyambut serangan yang dahsyat itu .

“ Desss …. !” Dua pasang tangan bertemu di udara . kakek itu berjungkir balik beberapa kali dan tubuh Akauw terhuyung , merasa nyeri pada kedua pundaknya karena tadi dirasakan seolah dia telah menahan benda yang beratnya ribuan kati ! .

“ He-he-he , ilmu yang hebat ! Sungguh … hebat … !” kakek itu memuji dan diapun mulai menyerang lagi . Akauw juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan perlawanan , juga kalau sempat dia balas menyerang dengan tak kalah hebatnya . Berkali-kali kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan heran , akan tetapi bagaimanapun juga , kakek ini adalah seorang datuk dari daerah timur , maka tentu dibandingkan dengan Akauw , dia menang banyak dalam hal pengalaman bertandaing . Setelah beberapa kali mengadu tenaga , tahulah dia bahwa biarpun ilmu silat yang dimainkan pemuda itu amat aneh dan hebat bukan main , namun pemuda itu masih belum dapat mengimbangi kehebatan ilmu itu dengan tenaga . Tenaga sinking pemuda itu tidak berapa hebat , dia lebih mengandalkan tenaga otot .

Pada jurus ke duapuluh dua , tiba-tiba kakek itu menyerang dengan bergulingan di atas tanah . Hal ini membingungkan Akauw dan begitu kakek itu mengerahkan tenaga menarik , tanpa dapat di cegah lagi , Akauw roboh terpelanting ! .

“ He-he-he , baru duapuluh dua jurus engkau sudah roboh 73

. Engkau harus mengaku kalah , orang muda “ .

Akauw adalah seorang yang jujur . Biarpun tidak menderita nyeri , akan tetapi dia sudah roboh dan dalam adu kepandaian itu berarti kalah . Maka dia lalu merangkap kedua tangan memberi hormat .

“ Aku mengaku kalah , paman “ .

“ Husshhh , kenapa menyebut paman ? Engkah kalah dan engkau mulai saat ini harus menjadi muridku , tahu ? Nah , engkau harus menyebut suhu kepadaku dan menaati semua perintahku “ .

“ Baik , suhu “ , kata Akau taat karena dia harus memegang janjinya .

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan merasa girang sekali . Bukan girang karena mendapatkan murid saja , melainkan terutama sekali dia mendapatkan sebuah ilmu silat aneh melalui muridnya ini . Bagus , bagus ! Siapa namamu , muridku ?” .

“ Suhu , namaku Cian Kauw Cu dan biasa di sebut Akauw saja “ .

“ Ha-ha-ha , aku sudah melihatmu tadi . Cocok nama itu dengan sepak terjangmu , he-he . Akauw mulai sekarang , engkau harus ikut denganku untuk memperdalam ilmu silatmu . Sebelum ku nyatakan tamat belajar , engkau tidak boleh meninggalkan aku , mengerti ?” .

“ Baik , suhu “ .

“ Buntalanmu itu , apa isinya ?”

“ Pakaian dan pedang , suhu “ .

“ Hem , coba ku lihat engkau bermain pedang “ , katanya lagi .

Akau menurut dan dia mengeluarkan sebatang pedang dari 74

buntalan pakaiannya . Sarung pedang itu sederhana sekali dan si kakek sudah menganggap rendah pedang itu . Akan tetapi ketika Akauw mencabutnya , kakek itu terbelalak karena ada sinar hitam yang membuatnya bergidik ! .

“ Tahan dulu , pedangmukah itu ? Apa nama pedang itu , Akauw ?” Sungguh pemuda ini mempunyai banyak kejutan , pikirnya .

“ Namanya Hek-liong-kiam , suhu “ .

“ Coba , aku ingin melihatnya “ .

Ketika menerima pedang itu dari tangan Akauw , Thian-te Ciu-kwi merasakan jantungnya berdebar tegang . Dia pernah mendengar dongeng tentang sepasang pedang putih dan hitam yang di sebut Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam . Akan tetapi selama ratusan tahun pedang-pedang itu tidak pernah keluar dari dunia kang-ouw dan sekarang tahu-tahu berada di tangan pemuda yang seperti monyet ini ! .

“ Akauw , darimana engkau memperoleh pedang ini ?” tanyanya , sambil memandang penuh selidik .

Akauw teringat akan pesan suhengnya . “ Sampai bagaimanapun , jangan sekali-sekali membuka rahasia tempat ini kepada orang lain , sute . Baru emas itu saja dapat menimbulkan malapetaka kalau terjatuh ke tangan orang jahat “ .

“ Akan tetapi , aku harus bilang apa , suheng ? Aku tidak dapat berbohong “ , bantahnya .

“ Katakan saja engkau mendapatkan disebuah guha dank au sudah lupa lagi tempatnya . Sekali waktu berbohong boleh asal bukan untuk menipu orang , sute “ .

Demikianlah , teringat akan pesan suhengnya , Akauw lalu berkata , “ Aku mendapatkannya dari guruku , suhu “ .

“ Juga ilmu silatmu yang aneh itu ?” 75

“ Benar , suhu “ .

“ Dan siapa gurumu itu ?”

“ Guruku sudah mati , namanya adalah Yang Kok It “ .

Kakek kecil itu membelalakan matanya yang kecil . “ Yang Kok It , bekas Panglima itu ? Tahukah engkau bahwa dia adalah seorang bekas panglima yang buron dan menjadi kejaran orang . Dan tahukah engkau bahwa dia mempunyai seorang cucu pula ? Apakah engkau cucunya itu ?” .

“ Ah , bukan suhu . Aku tidak tahu tentang cucunya . Suhu sudah meninggal dunia , dan aku sudah tidak mempunyai ayah ibu atau saudara lagi “ .

Kakek kecil itu berpikir . Agaknya tidak mungkin kalau bocah ini cucu Yang Kok It . Bocah ini lagaknya seperti orang hutan saja , walaupun ilmu silatnya hebat dan pedangnya lebih hebat pula .

“ Nah , kau mainkan pedang itu !” katanya .

Akauw segera bermain pedang . Akan tetapi berbeda dengan Yang Cien yang dapat mengubah ilmu pedang dari ilmu Bu-tek Cin-keng , Akauw hanya dapat memainkan ilmu pedang yang pernah dia pelajari dari Yang Kok It , yaitu ilmu pedang Gobi-pai . Yang Kok It adalah seorang murid Gobi-pai .

Melihat ini , kakek itu kecewa . Dibandingkan ilmu silat tangan kosongnya , ilmu pedang pemuda ini tidak ada artinya , dan permainan pedang dengan ilmu pedang Gobi-pai itu membenarkan keterangannya bahwa dia murid Yang Kok It .

“ Cukup , simpan pedangmu baik-baik . Pedang itu amat berharga dan jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain , Akauw “ , katanya .

“ Mari kita berangkat , tempat tinggalku di puncak bukit sana itu “ .

Datuk sesat seperti Thian-te Ciu-kwi tentu saja tidak 76

bersungguh-sungguh ingin mengambil murid seperti Akauw . Dia ingin mengambil murid Akauw karena ingin mempelajari ilmu silat tangan kosong yang dimainkan Akauw tadi . Harus dia akui , bahwa kalau Akauw lebih matang ilmunya , agaknya akan sukar baginya untuk dapat mengalahkan ilmu pemuda itu . Apalagi setelah melihat Hek-liong-kiam . Tentu saja kini tidak hanya ilmu silat pemuda itu yang ingin dia peroleh , akan tetapi juga pedang hitam itu ! Akan tetapi dia harus bersabar karena ilmu silat itu harus dia pelajari satu jurus demi satu jurus . Dan untuk membuat pemuda itu tidak curiga kepadanya , dia harus benar-benar mengajarkan sin-kang dan ilmu lain kepadanya . Kalau pemuda itu kelak menyenangkan hatinya , bukan hanya ilmu pedang dan pedang itu yang dapat menjadi miliknya , akan tetapi pemuda pemuda itupun dapat dijadikan pembantu yang amat berguna .

Demikianlah , mulai hari itu Akauw menjadi murid Thian-te Ciu-kwi , dia tidak tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk sesat yang amat jahat dan kejam .

*****

Baru setahun Akauw tinggal bersama Thian-te Ciu-kwi di puncak bukit itu , dia sudah merasa tidak betah sama sekali . Watak kakek itu mulai kelihatan . Setiap harinya hanya minum arak sampai mabok dan kalau sudah begitu dia memaksa Akauw untuk berulang-ulang melakukan jurus ilmu silat dari Bu-tek Cin-keng , mengulang dan mengulanginya lagi . Kakek itu merasa mendapatkan ilmu yang aneh dan sukar bukan main . Rasanya ada sesuatu yang salah dalam ilmu silat itu , akan tetapi harus diakuinya bahwa ilmu itu amat dahsyat . Maka agak sukarlah baginya untuk dapat mengerti inti sari ilmu itu .

Dia juga mengajarkan Samadhi kepada Akauw dan justeru Akauw paling tidak suka pelajaran ini yang di anggapnya tidak berguna dan membuang-buang waktu saja .

Pada suatu hari datanglah seorang tamu di puncak itu . 77

Tamu ini seorang kakek berusia enampuluh tahun , tinggi besar , raksasa hitam karena kulitnya amat hitam . Dia membawa sebatang golok yang punggungnya seperti bentuk gergaji , pakaiannya mewah dan agaknya dia seorang pejabat tinggi , karena kedatangannya di iringkan selusin pasukan pengawal .

Begitu melihat orang ini , Thian-te Ciu-kwi bersorak gembira .

“ Haiii , sahabatku yang baik , Toat-beng Giam-ong Lui Tat , angina apa yang meniupmu ke sini ? “ .

“ Thian-te Ciu-kwi , angin baik yang membawaku ke sini , dan ku lihat engkau masih menjadi setan arak seperti dulu “ .

“ He-he-he , dan engkau menjadi seorang pejabat tinggi yang dimuliakan orang agaknya . Amboiii !” .

“ Dan kedatangku ini untuk memberi bagian kemuliaan yang sama kepadamu , Ciu-kwi . Aku menawarkan kedudukan yang baik bagimu kalau engkau mau ikut bersamaku ke kota raja menghadap Sri baginda Kaisar “ .

“ Hemm , mari kita duduk dan bicara di dalam , Giam-ong “ . Kedua sahabat itu bergandeng tangan , seorang raksasa tinggi besar dan seorang yang pendek kecil , lalu memasuki pondok Ciu-kwi . Raksasa itu berteriak menyuruh anak buahnya beristirahat agak jauh dari situ agar jangan mengganggu percakapan mereka .

Ketika berada di dalam dan melihat Akauw , Giam-ong mengerutkan alisnya . “ Siapa dia , Ciu-kwi ?” .

“ Ha-ha , dia muridku yang baik , Giam-ong . Eeh , Akauw , cepat memberi hormat kepada sahabatku ini . Engkau harus menyebutnya taijin karena dia pejabat tinggi dari kota raja “ .

“ Heh , kalau dia muridmu tidak perlu memakai banyak peraturan , Ciu-kwi . 78

Orang muda , sebut saja aku locianpwe “ .

“ Selamat datang , locianpwe “ , kata Akauw sambil memberi hormat .

“ Hei , Akauw . Cepat engkau menyuguhkan arak kepada dua belah orang pasukan pengawal sahabatku ini dan jangan engkau masuk ke sini kalau tidak kupanggil “ .

“ Baik , suhu “ , Akauw yang segera melaksanakan perintah itu karena suhunya memang menyimpan banyak sekali arak , berguci-guci banyaknya .

“ Sejak kapan engkau menjadi antek orang Mongol , Giam-ong ?” Tanya Ciu-kwi dengan nada suara mengejek .

“ Hush , jangan berkata demikian . Kaisar-kaisar bangsa kita tidak becus memerintah . Buktinya , selama berabad mereka itu hanya saling serang , tiada henti-hentinya . Sekarang , Orang Toba memerintah , dan kalau itu menguntungkan kita , apa salahnya ? Hidup satu kali haruslah dapat memetik manfaat dari keadaan , bukan ? Nah , Kaisar Julan Khan ini dapat menggunakan tenaga kita , dan dia amat royal memberi pahala . Kalau engkau bersedia , asalkan datang bersamaku , engkau segera akan mendapatkan pangkat dan memiliki kemuliaan yang belum pernah kau impikan sebelumnya . daripada engkau di sini hidup bersama muridmu yang nampak ketololan itu “ .

“ Aih , aih , jangan memandang rendah kepada muridku , Giam-ong . Dia merupakan sumber kebesaran yang tidak kalah oleh kedudukanmu yang mulia sekarang ini “ . ” Hem , apa maksudmu ?”

“ Engkau tentu tidak menyangka sama sekali bahwa dia adalah murid Yang Kok It sebelum menjadi muridku “ .

Toat-beng Giam-ong Lui Tat nampak terkejut mendengar ini . “ Ah , kalau begitu aku harus menangkapnya untuk di Tanya , dimana adanya Yang Kok It dan cucunya , putera 79

pemberontak Yang Koan itu !” .

“ Tenang , tenang dan bersabarlah , sobat . Kakek Yang Kok It telah meninggal dunia dan dia sama sekali tidak tahu dimana adanya cucunya . Dia adalah seorang yang lugu , akan tetapi tentang Yang Kok It itu tidak penting . Ada yang lebih penting lagi dan engkau pasti akan tertarik sekali mendengarnya “ .

“ Hem , apa lagi yang penting itu ?” .

“ Dia mempunyai suatu ilmu yang amat hebat , dan aku sedang mempelajarinya . Orang ini dapat amat berguna kelak untuk membantu kita dalam segala hal “ .

“ Hemm , kalau dia masih mau menjadi muridmu , ilmu hebat apakah yang dia kuasai ? “ Tanya Toat-beng Giam-ong , tentu saja tidak percaya karena kalau pemuda itu memiliki ilmu hebat tentu tidak mau menjadi murid orang lain .

“ Giam-ong , untuk membuktikan omonganku tadi , mari coba kita main-main sebentar dank au boleh menyerangku dalam tiga jurus !” .

Giam-ong adalag seorang ahli silat dan dia mengerti benar bahwa rekannya itu tidak memiliki kepandaian silat yang terlalu istimewa akan tetapi paling hebat hanya dapat mengimbanginya saja . Tingkat kepandaian mereka tidak berselisih jauh , maka mendengar dia di tantang bertanding selama tiga jurus , hatinya tertarik sekali .

“ Baik , hendak ku buktikan omonganmu “ , katanya dan mereka berdua segera memasang kuda-kuda . “ Ciu-kwi , lihat seranganku !” katanya kemudian dan dia menyerang dengan dahsyat , dengan kedua tangannya yang panjang besar .

Akan tetapi Thian-te Ciu-kwi tidak mengelak , melainkan meluruskan kedua tangan menyambut dan dari kedua tangannya itu menyambar angina yang aneh , membuat Giam-ong terkejut dan mengelak , lalu melanjutkan dengan 80

serangan jurus kedua . Kembali Ciu-kwi membuat gerakan aneh dan daya pukulan Giam-ong meleset dengan sendirinya . Jurus ketiga dipergunakan oleh giam-ong untuk menyerang dengan seluruh tenaganya , menggunakan pukulan jarak jauh dengan kedua tangan terbuka . Ciu-kwi menyambut dengan kedua tangan terbuka pula dan akibatnya . Giam-ong terdorong mundur sampai terhuyung ! .

“ Wah , ilmumu meningkat hebat , Ciu-kwi !” seru Giam-ong terkejut dan kagum , juga penasaran .

“ Inilah berkat aku mempelajari ilmu aneh dari muridku , Giam-ong . Ini baru beberapa jurus saja dan amat sukar di pelajari . Nah , apakah murid seperti ini hendak dimusnakan begitu saja ? Masih ada lagi hal penting lain kecuali ilmu ini . Dia memiliki Hek-liong-kiam “ .

“ Hek-liong-kiam ….. “ . Kaumaksudkan pek-hek-liong-kiam sepasang pedang kembar dalam dongeng itu ?” .

“ Tidak salah . Dia memiliki Hek-liong-kiam yang katanya dia terima dari mendiang Yang Kok It . Nah , karena itulah dia ku ambil murid dan orang macam ini dapat kita pergunakan . Sebagai muridku tentu dia akan menaati semua perintahku “ .

“ Ha-ha-ha , engkau cerdik sekali , Ciu-kwi . Bagus , kalau begitu engkau dan muridmu itu ku minta untuk bekerja di istana . Kaisar tentu akan senang sekali memberi kedudukan tinggi kepadamu “ .

“ Eh , Giam-ong , ada apa ini ? Tiada hujan tiada angina engkau bersikap begitu baik padaku ? Aku menjadi curiga “ .

“ Ha-ha-ha , kawan , siapa yang berbuat baik kepadamu . Aku berbuat baik bukan untukmu , melainkan untuk diriku sendiri . Sekarang banyak gejala timbulnya pemberontakan di sana sini dan dengan sendirinya sebagai seorang penasehat militer kaisar , aku mempunyai banyak tugas , mempunyai banyak musuh . Aku membutuhkan kawan yang dapat di andalkan , dapat di percaya dan aku memutuskan bahwa 81

engkaulah orangnya yang tepat . Ciu-kwi , kita sudah semakin tua . Kalau tidak sekarang menggunakan kesempatan untuk hidup berkecukupan dan terhormat , mau kapan lagi ?” .

Thian-te Ciu-kwi mengangguk-angguk “ Engkau benar juga , kawan . Baiklah , aku akan membicarakan dengan muridku , dan sebaiknya kalau engkau pulang lebih dulu . Dalam bulan ini juga kami tentu akan pergi ke Tiang-an dan mengadap Kaisar di sana . Ku harap saja semua akan berjalan lancer “ .

“ Cari saja aku lebih dulu , mudah mencari rumah Lui-koksu ( Guru Negara Lui ) di sana aku akan membawamu menghadap Sri Baginda Kaisar “ .

‘ Baik , Giam-ong , eh Kok-su !” kata Ciu-kwi gembira .

Setelah para tamunya pergi , Ciu-kwi memanggil Akauw . “ Muridku yang baik , peruntunganmu memang bagus sekali . Kau tahu siapa yang datang berkunjung tadi ?” .

Akauw menggeleng kepalanya . “ Nampaknya seorang pembesar “ .

“ Memang benar . Akan tetapi pembesar yang bagaimana ? Dia penasehat Kaisar ! Dia pejabat yang kedudukannya tinggi sekali . Dan kau tahu apa keperluannya datang ke sini tadi ?” .

“ Tidak tahu , suhu . Agak dia berkunjung karena suhu adalah sahabatnya “ .

“ Memang benar , akan tetapi dia datang menawarkan kedudukan kepada kita “ .

“ Kita , suhu ?”

“ Ya , engkau dan aku . Kita akan berangkat ke kota raja , Akauw dan di sana kita akan menjabat kedudukan tinggi , menjadi orang-orang terhormat dan mulia , hidup serba kecukupan “ .

Akan tetapi di dalam hatinya , Akauw tidak begitu suka mendengar ini . Dia akan memasuki kehidupan baru dan dia 82

teringat akan pengalamannya di Kota Raja . Teringat kepada jaksa yang sombong itu . Kalau para pejabat seperti itu wataknya , tentu kehidupan di kota raja akan menjadi tidak amat menyenangkan . Akan tetapi dia teringat kepada Bi Soan , pemuda remaja yang lucu dan menyenangkan itu ! Dan mendadak saja wajahnya berubah berseri gembira ! .

“ Suhu , aku senang sekali pergi ke kota raja . Di Sini sudah kurang lebih setahun , membosankan karena sepi sekali “ .

“ Bagus , kalau begitu kita berkemas , besok pagi-pagi kita melakukan perjalanan ke kota raja , Akauw “ .

****

“ Ayah , aku telah di hina orang , ayah !” kata gadis itu dengan sikap manja sekali .

Perdana Menteri Ji Sun Cai mengerutkan alisnya . Gadis itu adalah puteri tunggalnya yang amat di sayangnya . “ Siapa berani menghinamu ?” tanyanya marah .

“ Seorang jaksa di rumah minum , dia telah menghinaku !” .

“ Di kedai minum ? Ahhh , engkau tentu telah pergi dalam penyamaranmu lagi , Goat-ji ( Anak Goat ) !” kata ayahnya mencela dan kemarahannya mereda . Kalau ada orang menghina anaknya dalam penyamaran , hal itu tidak aneh karena tentu orang itu tidak tahu bahwa Ji Goat adalah puterinya .

Puterinya ini suka sekali keluyuran menyamar sebagai seorang pria , nakalnya bukan main .

“ Akan tetapi , Jaksa Gu itu memang kurang ajar sekali . Biarpun dia tidak mengenalku , dia tidak boleh menghina orang seenaknya saja . Aku dan seorang teman sudah memberi hajaran kepada dia dan anak buahnya , akan tetapi aku khawatir dia akan mencariku dan kalau bertemu tentu anak buahnya akan menyerangku “ . 83

“ Hemmm , lalu apa yang harus kulakukan ? Jaksa Gu cukup berpengaruh di kalangan rakyat , dia seorang Jaksa yang keras “ .

“ Keras terhadap rakyat miskin , akan tetapi lunak terhadap orang kaya , bukan begitu , ayah ? Jangan mengira aku tidak tahu , ayah ? Kelakuan sebagian besar para pejabat di Kota Raja sudah berada di tanganku . Tidak sia-sia aku suka berkeluyuran menyamar sebagai pria karena banyak hal yang ku ketahui “ .

“ Sudahlah , jangan macam-macam . Lalu apa yang kau ingin lakukan ?” .

“ Undang Jaksa Gu ke sini ayah ?”

“ He ? Kalau sudah datang lalu bagaimana ? Menegurnya ?” .

“ Tidak usah . Aku yang akan menghadapinya kelak “ .

Saking cintanya kepada anaknya , dan kadang suka memanjakan , Perdana menteri Ji Sun Cai tidak menolak dan segera mengirim utusan menyampaikan surat mengundang datang Jaksa Gu .

Jaksa Gu terkejut juga menerima undangan Perdana menteri Ji , maka bergegas dia datang berkunjung dalam pakaian kebesarannya yang mewah . Akan tetapi ketika tiba di rumah itu , penjaga mempersilahkan langsung ke kamar tamu di sebelah kiri dan kata penjaga Perdana menteri sudah tahu akan kedatangannya .

Ketika dia memasuki ruangan tamu yang pintunya terbuka itu , dia tertegun melihat siapa yang menyambutnya . Anak muda kurang ajar yang tempo hari dijumpainya di kedai minum dan yang bersama pemuda tinggi besar yang telah menghajar dia dan para anak buahnya , pemuda ini sudah berhari – hari dia cari tak juga berhasil .

“ Engkau …. ! Setan cilik , mau apa engkau di sini . Aku 84

memang sedang mencarimu , kebetulan engkau berada di sini !” Jaksa itu membuat gerakan seperti hendak menerkamnya .

“ Jaksa Gu , coba kau maki aku sekali lagi . Yang keras , yang lengkap begitu !” .

“ Setan cilik kurang ajar , jahanan keparang anjing babi !” Jaksa itu memaki sambil menudingkan telunjuknya kepada Ji Goat yang berpakaian seperti seorang pemuda miskin dengan kepala di tutupi topi butut .

Pada saat itu , sang perdana menteri muncul dari dalam . Melihat pembesar ini , Jaksa Gu cepat membungkuk memberi hormat .

“ Eeh , Jaksa Gu . Kenapa engkau marah-marah ? Aku mendengar engkau memaki-maki , siapa yang kau maki itu ?” .

“ Maaf , yang mulia . Yang saya maki adalah setan cilik ini !” katanya sambil menudingkan telunjuknya kepada Ji Goat dengan mata mendelik .

“ Kenapa engkau memaki dia ?” .

“ Tempo hari , di kedai minum , dia telah menghina saya dan anak buah saya . Mungkin dia itu pemberontak , Yang Mulia . Harus di tangkap dan di hokum berat !” .

“ Ah , begitukah ? Goat-ji , lepaskan pakaian dan topimu itu ! “ .

Ji Goat lalu melepaskan topi penutup kepalanya dan baju laki-laki seperti jubah butut itu , dan kini nampaklah ia seorang gadis cantik dengan rambut terurai dan pakaian puteri yang indah .

Jaksa Gu Terbelalak , lalu dia mengerti karena dia tahu bahwa Perdana Menteri mempunyai seorang anak perempuan . Bocah setan itu ternyata puteri Perdana Menteri . Mukanya seketika menjadi pucat sekali . Dengan tubuh gemetar ia 85

berkata gugup . “ Aahh … paduka … ahh , jadi ini adalah puteri paduka ……. ?” .

“ Hemm Jaksa Gu , engkau hendak memaki lagi puteriku ? Boleh , silahkan maki lagi sepuasmu “ .

Tiba-tiba Jaksa Gu merasa lututnya lemas dan dia menjatuhkan diri berlutut di depan Perdana Menteri , “ Yang Mulia , hamba mohon ampun … karena tidak tahu maka hamba ……… “

“ Engkau memaki aku sebagai setan cilik kurang ajar , jahanam keparat dan anjing babi , ya ?” kini Ji Goat bertanya sambil tersenyum mengejek .

“ Saya …. Saya tidak berani ……. Mohon maaf sebanyaknya …… “ kata Jaksa Gu dengan muka pucat dan berulang kali dia menganggukan kepalanya .

“ Ah , begitu ? Jelas sekarang macam apa adanya engkau , Jaksa Gu . Dalam kedudukanmu dan tugasmu , engkau tentu bersikap seperti ini juga . Berhadapan dengan orang melarat , dengan rakyat jelata , engkau memaki-maki , bersikap kasar , mudah menjatuhkan hukuman dan melakukan penindasan semena-mena . Akan tetapi terhadap atasan dan orang kaya , engkau menunduk-nunduk dan membela , tentu karena menerima sogokan dari orang kaya , begitukah ?” .

“ Tidak , tidak berani …….. “ Hanya itu yang dapat di ucapkan Jaksa Gu yang sudah tidak berdaya itu karena dia seorang telah tertangkap basah memaki-maki seenak perutnya kepada “ setan cilik “ tadi .

“ Kau memaki aku setan cilik , jahanam keparat dan anjing babi , hukuman apa yang harus ku balaskan kepadamu ? Hayo kau pukul sendiri mukamu sebanyak sepuluh kali !” kata Ji Goat dengan marah .

Karena sudah merasa bersalah dan mengharapkan pengampunan , Jaksa itu lalu menampari mukanya sendiri 86

dengan kedua tangan sebanyak sepuluh kali sambil memaki diri sendiri , “ Anjing kau , babi kau , jahanam keparat kau … !”

“ nah , sekarang kau harus berjanji , kalau engkau masih melanjutkan sikapmu seperti itu , menindas orang kecil dan menjilat orang besar , memeras orang dan koropsi , ayah pasti akan melaporkannya kepada Sri Baginda !” .

“ Ampun , saya tidak berani lagi …. “ Jaksa itu meratap , mukanya pucat , hanya kedua pipinya yang membengkak merah karena di tampari sendiri tadi .

“ Pergilah !” Ji Goat membentak dan Jaksa yang gendut itu setengah merangkak meninggalkan ruangan itu .

Setelah dia pergi , Ji Goat tertawa terkekeh-kekeh . Ayahnya mengerutkan alisnya . “ Ji Goat , engkau agak keterlaluan . Biarpun di depan kita dia tidak berani apa-apa , akan tetapi aku khawatir dia mendendam kepadamu “ .

“ Takut apa , ayah ? Kalau baru dia dan selusin pengawalnya saja , mampu berbuat apa kepadaku ? Dan juga nama besar ayah tentu membuat dia ketakutan , lebih lagi kalau aku melapor kepada suhu , tentu dia akan di hajar “ .

“ Sudahlah , jangan membawa-bawa gurumu dalam urusan kecil itu . Jangan urusan ini di besar-besarkan karena ku rasa Jaksa Gu sudah jera dan tidak akan berani bermain gila lagi “ .

“ Aku akan tetap mengawasi orang-orang macam dia , ayah “ .

“ Engkau akan kekurangan tenaga dan kelelahan , anakku . Di jaman ini , hamper semua pejabat tidak jujur . Akan tetapi sudahlah , lebih baik engkau membantu usaha gurumu yang menentang gerakan mereka yang hendak memberontak “ .

“ Justeru pemberontak itu tidak akan terjadi kalau para pejabatnya bertindak adil dan jujur , memperhatikan kepentingan rakyat , ayah “ . 87

“ Aih , engkau anak kecil tahu apa . Yang penting , kita bekerja untuk Kerajaan dan kita harus melaksanakan tugas dengan baik . Kalau tidak demikian , sebaiknya jangan menjadi seorang pejabat pemerintah “ .

“ Ayah , aku akan pergi dulu “ , gadis itu mengenakan kembali pakaian dan topinya . Ayahnya menghela napas .

“ Ji Goat , aku khawatir sekali sekali waktu engkau akan mengalami malapetaka dengan ulahmu ini . Apakah engkau tidak dapat tinggal di rumah saja seperti puteri-puteri lain ?” .

“ Dan untuk apa sejak kecil aku mempelajari ilmu silat , ayah ? Aku dapat menjaga diri , dan kalaupun kekuatanku tidak mampu untuk menjaga diri , masih ada nama suhu dan nama ayah yang akan melindungiku !” .

Tanpa menanti jawaban ayahnya , Ji Goat sudah berlari keluar . Ayahnya hanya menggeleng kepalanya . Anak itu terlalu manja , pikirnya . Anaknya memang hanya satu itu dan dia amat menyayanginya . dan anak itu boleh dibuat kagum .

Menurut Kok-su , yang menjadi guru anaknya , Ji Goat memiliki bakat yang besar sekali sehingga Koksu sendiri amat sayang kepada murid itu . Beberapa bulan yang lalu , seorang diri saja , Ji Goat sudah berhasil membongkar pencurian-pencurian di istana kaisar yang ternyata dilakukan oleh orang dalam , beberapa pengawal istana . Dengan ilmu silatnya yang tinggi , Ji Goat berhasil menangkap lima orang pencurinya yang kesemuanya juga lihai karena mereka adalah pengawal istana . Semenjak saat itu , nama Ji Goat dikenal orang sebagai puteri perdana menteri yang lihai ilmu silatnya . Akan tetapi kalau dia sudahmenyamar pria , tidak ada yang mengenalnya kecuali ayahnya sendiri dan orang kepercayaan ayahnya . Bahkan para penjaga tidak mengenalnya , maka ia selalu keluar masuk rumah itu melalui sebuah jalan rahasia .

Perdana Menteri Ji Sun Cai bukan seorang koruptor . Bagi dia , tidak perlu melakukan korupsi , karena kaisar amat 88

percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai tangan kanan sehingga kaisar amat royal dengan hadiah-hadiah untuknya . Dia mendapatkannya pembagian tanah yang cukup luas , rumah seperti istana serba lengkap . Dan Menteri Ji ini amat setia terhadap Kaisar . Dalam tugasnya ini , dia amat dekat dengan Koksu dankedua pejabat inilah yang merupakan tenaga terpenting bagi kaisar . Semua pejabat yang lain hanya akan mengekor saja apa yang di usulkan dua pejabat ini kepada kaisar yang telah mempercayai mereka berdua .

Karena itu , hubungan antara perdana menteri Ji dan Lui Koksu amatlah akrabnya , demikian akrabnya sehingga Perdana menteri Ji mempercayakan puteri tunggalnya untuk menjadi murid Lui Koksu . Dalam segala hal menyangkut tugas kenegaraan , mereka selalu mengadakan perundingan .

Ketika itu , terdapat perasaan permusuhan antara Perdana Menteri Ji berdua Lui Koksu terhadap seorang Panglima yang bertugas di selatan . Panglima ini menjaga keamanan di selatan dan Panglima Coa ini yang menjadi benteng Negara , menghalau semua kerusuhan dan musuh-musuh dari selatan , yaitu para raja muda di selatan yang berdiri sendiri di wilayah masing-masing .

Mula-mula adalah suatu Kerajaan Sun yang cukup kuat di selatan . Menurut Perdana Menteri dan Koksu , Kerajaan Sun ini perlu di dekati dan di ajak bersahabat , karena memiliki pasukan yang kuat . Akan tetapi tidak demikian dengan sikap yang di ambil oleh Coa-ciangkun . Panglima ini tidak memandang bulu . Penguasa di selatan yang tidak mau tunduk , pasti akan di serbunya dan di tundukkan dengan kekerasan .

Akhirnya , karena bujukan Ji-Sin-Siang ( Perdana Menteri Ji ) dan Lui Koksu , kaisar mengutus penguasa untuk pergi ke selatan , menyerahkan surat perintah Kaisar agar Coa-ciangkun tidak melanjutkan penyerbuannya terhadap Kerajaan Sun . Hal ini amat mengecewakan hati Coa-ciangkun yang 89

menjadi marah sekali . Pasukan Sun selalu mengganggu perbatasan , melakukan perampokan dan perkosaan , mengapa dia tidak boleh di serbu ? Dan dia mendengar akan usaha Sin-Siang dan Koksu yang hendak melakukan pendekatan kepada Kerajaan Sun . Hal ini membuatnya marah sekali . Apakah Sin-siang dan Koksu hendak menjual Negara ? Timbul kecurigaannya dan dia mengira bahwa kedua pejabat tinggi itu agaknya hendak mengadakan persekutuan rahasia dengan Kerajaan Sun . Padahal , bukan itu yang dikehendaki mereka . Mereka hanya maklum akan kekuatan Kerajaan Sun dan kalau sampai Kerajaan Toba dapat bersekutu dengan mereka , tentu seluruh wilayah selatan akan dapat dikuasai dengan kerjasama dengan Kerajaan Sun .

Permusuhan atau persaingan ini secara diam-diam masih dirasakan kedua pihak . Hanya mereka tidak berani bertindak lancing , karena selain kaisar juga mempercayai Coa-ciangkun , panglima ini memiliki pasukan besar yang kuat .

Karena adanya permusuhan inilah maka Koksu lalu berkunjung kepada Im Yang Ciu-kwi , karena dia hendak menarik orang-orang pandai sebanyaknya agar dia dapat menyingkirkan para musuhnya yang hanya akan menjadi penghalang bagi kemajuan kedudukannya .

Im Yang Ciu-kwi dan Akauw melakukan perjalanan seenaknya ke kota raja . Akauw merasa gembira karena dia membayangkan Bi Soan . Dia rindu sekali kepada sahabatnya ini dan mengharapkan akan dapat bertemu dengan Bi Soan di kota raja .

Selama tinggal dengan Ciu-kwi , Akauw tidak pernah mengeluarkan uang , dan hanya karena kebetulan saja pada suatu hari gurunya itu melihat kantung uang berisi potongan-potongan emas mentah itu .

Suhunya memeriksa potongan emas itu dan bertanya , “ Akauw , dari mana engkau mendapatkan potongan-potongan emas ini ?” . 90

Akauw masih ingat akan pesan suhengnya , maka diapun berkata , “ Ini adalah pemberian mendiang suhu Yang Kok It “ .

Tentu saja Im Yang Ciu-kwi tidak menaruh curiga lagi dan hanya merasa heran darimana Yang Kok It mendapatkan potongan emas yang masih bercampur batu karang itu .

Ketika mereka tiba di sebuah padang rumput di luar hutan yang tandus , mereka melihat sebuah kedai arak di tempat sunyi itu . Ciu-kwi yang mencium bau arak ingin mencoba arak dari kedai itu , maka dia mengajak muridnya berhenti . Ada lima orang penjaga kedai , dan karena lalu lalang di situ sedang sepi , maka tidak nampak ada tamu seorangpun kecuali mereka .

Seorang pelayan segera menghampiri mereka . “ Bawa seguci arak terbaik ke sini “ , kata Ciu-kwi .

“ Dan sepoci air the untukku “ , kata Akauw yang biarpun sudah pernah merasakan minum arak , tetap saja dia memilih air the daripada arak .

Ketika pelayan itu mengambilkan pesanan , sepasang mata Ciu-kwi yang berpengalaman melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan . Oleh karena itu ketika arak dan air the datang , dia mencegah muridnya untuk minum air tehnya dan dia menangkap lengan pelayan itu .

“ Hayo kau minum dulu arak ini !” .

Dia menuangkan sedikit arak dari guci ke dalam cawan kosong .

Pelayan itu menjadi pucat wajahnya . Dia meronta dan menggeleng kepalanya . “ Tidak aku … tidak biasa minum arak ….. “ .

“ Kalau begitu , engkau cicipi air the ini !” bentak Ciu-kwi dan ketika orang itu pun menggeleng kepala , Ciu-kwi memaksa mulutnya terbuka dengan tangan kirinya dan tangan 91

kanannya menuangkan air teh ke dalam mulutnya . Lalu dia melepaskan orang itu yang nampak terhuyung-huyung lalu roboh pingsan ! .

Empat penjaga lain sudah mencabut golok masing-masing .

“ Kenapa dia suhu ?”

“ Mereka orang jahat , Akauw . Minuman kita diberi racun !” kata Im-yang Ciu-kwi .

Seorang di antara empat orang itu mengeluarkan sempritan yang di tiupnya nyaring dan dari belakang kedai bermunculan belasan orang yang kesemuanya memegang golok .

Im-yang Ciu-kwi duduk menghadapi meja , mengeluarkan arak dari gucinya sendiri dan sambil menghadapi guci dan cawan arak , dia berkata , “ Akauw , keluarkan pedangmu dan kau lawanlah penjahat-penjahat itu !” .

“ Baik , suhu “ , kata Akauw dan dia sudah mencabut pedang Hek-liong-kiam dari sarungnya . Begitu dia menggerakkan pedangnya , nampak gulungan sinar hitam berkelebat kian kemari dan menyambut pengeroyokan belasan orang itu . Terdengar suara berkerontangan nyaring dan banyak golok menjadi patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam . Akauw yang hendak menyenangkan gurunya , menggunakan ilmu pedang yang dia pelajari dari gurunya , memainkan pedangnya sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung merobohkan belasan orang itu dalam waktu singkat saja . Penjahat harus di hajar , dia teringat pesan suhengnya , akan tetapi jangan mudah membunuh orang kalau tidak terpaksa sekali . Maka diapun hanya merobohkan para pengeroyok nya tanpa membunuh , hanya melukai paha atau pundak mereka saja . Dalam waktu beberapa menit saja , semua orang yang mengeroyoknya telah di robohkan , dan cepat pula pedang itu sudah memasuki sarung kembali .

“ Ihh , Akauw , mengapa begitu engkau memainkan pedangmu ? Coba beri aku pinjam sebentar “ , kata Ciu-kwi . 92

Karena tidak mengerti maksud suhunya dan mengira suhunya itu hendak memperlihatkan jurus yang mungkin kurang benar dia menggerakkannya , maka dia mencabut pedangnya dan menyerahkannya kepada suhunya .

“ Seharusnya begini engkau menggunakan pedang !” Gurunya bergerak berloncatan ke sana sini dan Akauw terbelalak , karena gurunya telah membabati pengeroyoknya tadi , di tebasnya semua leher orang-orang itu termasuk pelayan yang tadi terbius sehingga dalam waktu singkat saja semua kepala terpisah dari badannya .

“ Suhu … mengapa suhu ….?” Akauw berseru heran ketika gurunya mengembalikan pedang itu kepadanya . Memang gurunya hebat . Memenggal belasan batang leher itu pedangnya sama sekali tidak ternoda darah ! Hal ini hanya dapat terjadi saking kuat dan cepatnya pedangnya itu membabati leher belasan orang itu .

“ Mengapa apa ? Mereka menghendaki kematian kita , kenapa kita tidak mendahului saja mereka ? Hayo kita pergi dari sini !” .

“ Tapi , mereka itu , suhu ….. “ , Akauw teringat akan pelajaran dari kakek Yang Kok It bahwa mayat manusia haruslah di kubur sebagaimana mestinya .

“ Mereka sudah mampus , tidak perlu di pikirkan lagi . Mereka hendak mencelakakan kita , berarti mereka itu musuh yang pantas di bunuh . hayolah , Akauw !” bentak Ciu-kwi agak kecewa melihat sikap muridnya yang di anggapnya lemah itu . Terpaksa Akauw mengikuti gurunya dan beberapa kali dia menoleh memandang kea rah belasan mayat manusia yang berserakan itu .

Sejak sat itu Akauw mulai menaruh hati syak wasangka terhadap gurunya . Tak dapat dia melupakan betapa gurunya itu memenggal kepala belasan orang yang sudah tidak berdaya itu secara kejam sekali . Padahal menurut ajaran 93

Yang Kok It dan juga suhengnya , seorang gagah tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya dan tidak dapat melawan . Dan lebih lagi , gurunya meninggalkan belasan mayat itu begitu saja tanpa mau menguburkannya .

Ketika mereka memasuki kota raja Tiang-an , tiba di dekat pasar dimana terdapat banyak orang berlalu lalang , tiba-tiba Akauw melihat seorang pemuda bertopi butut .

“ Bi Soan ….. !” Dia memanggil dan mengejar , akan tetapi Bi Soan menyelinap di antara orang banyak dan memasuki pasar . Akauw mencari beberapa lamanya , akan tetapi dia tidak melihat lagi Bi Soan . Dia tidak mungkin salah lihat . Jelas yang dilihatnya tadi Bi Soan , pemuda remaja yang di rindukannya itu . Dia merasa menyesal sekali mengapa Bi Soan tidak mau menemuinya . Padahal dahulu pemuda remaja itu amat baik terhadap dirinya .

“ Akauw , engkau mencari siapakah ?” gurunya menegur setelah dapat mencari pemuda itu di dalam pasar .

“ Suhu , aku mencari seorang kenalan yang tadi ku lihat berada di sini . Akan tetapi dia menghilang di antara orang banyak “ .

“ Kenalan ? Siapa dia ?” Tanya gurunya heran dan curiga .

Tentu saja Akauw tidak ingin menceritakan pengalamannya bentrok dengan seorang jaksa , maka dia menjawab singkat . “ Dahulu aku pernah bertemu dan berkenalan dengannya dalam perjalananku , akan tetapi perkenalan itu hanya sepintas saja . Mungkin dia sudah lupa kepadaku , suhu “ .

“ Sudahlah , jangan pedulikan sembarang orang . Kita akan menjadi tamu Koksu dan bahkan akan mendapatkan jabatan tinggi yang terhormat , jangan bergaul dengan segala macam orang . Mari kita lanjutkan perjalanan kita “ .

Akauw mengikuti suhunya , akan tetapi dia masih memandang ke sana sini mencari-cari dan hatinya merasa 94

kecewa sekali . Bi Soan merupakan orang yang selalu teringat olehnya , kenapa sekarang tidak lagi mau mengenalnya ? Apa barangkali Bi Soan sudah lupa kepadanya ? Dia sungguh kecewa karena tadinya dia mengira bahwa Bi Soan amat baik kepadanya , seperti halnya suhengnya .

Sangat mudah bagi Thian-te Ciu-kwi untuk mencari tahu dimana rumah Koksu Lui . Semua orang juga mengetahui dimana istana tempat tinggal penasehat Kaisar itu .

Rumah besar seperti istana itu di jaga oleh belasan orang prajurit yang menghadang guru dan murid itu . “ Berhenti , siapa kalian dan ada keperluan apa datang ke sini ?” bentak perwira jaga dengan keren .

Ciu Kwi tertawa dan berkata , “ Heii , perwira , jangan bersikap kasar terhadap kami . Kalau Koksu mengetahui , pangkatmu tentu akan di turunkan . Cepat laporkan kepada Koksu bahwa Thian-te Ciu-kwi dan muridku sudah datang untuk bertemu dengan dia “ .

Melihat lagak dan mendengar ucapan kakek itu , si perwira menjadi ragu dan gentar juga . Dia tahu bahwa Koksu adalah bekas seorang datuk persilatan dan tentu mengenal segala macam orang aneh dari dunia kangouw . Kalau dia bersikap kasar dan kemudian ternyata bahwa mereka ini memang sahabat baik Koksu , tentu setidaknya dia akan mendapat teguran dari atasannya . Akan tetapi untuk bersikap hormat kepada kakek dan pemuda yang pakaiannya seperti petanimiskin ini dia merasa enggan juga .

“ Baiklah , harap kalian menanti si sini , aku hendak melapor ke dalam lebih dulu “ , katanya dan perwira itu sendiri lalu melapor ke dalam . Benar saja seperti di khawatirkan perwira itu , begitu mendengar di sebutnya nama Thian-te Ciu-kwi , Kok-su Lui menjadi gembira dan wajahnya berseri-seri .

“ Cepat persilahkan mereka duduk di ruangan tamu , dan 95

bersikaplah hormat kepada mereka !” .

Tentu saja perwira itu menjadi takut dan begitu berhadapan dengan Ciu-kwi dan Akauw , dia cepat memberi hormat dengan sikap merendah .

“ harap lo-cianpwe berdua suka memberi maaf atas sambutan kami yang kurang hormat karena tidak mengenal lo-cianpwe . Lui-kosu mempersilahkan lo-cianpwe berdua menanti di kamar tamu . Silahkan !” .

Sambil tersenyum dan mengangkat dadanya yang kerempeng , Ciu-kwi mengikuti perwira itu bersama Akauw yang memandang bangunan seperti istana itu dengan penuh kagum . Belum pernah dia memasuki rumah semewah dan sebesar ini . Mereka duduk di kursi-kursi berukir yang berada di ruangan tamu itu dan perwira itu dengan hormat mempersilahkan mereka menunggu , lalu dia memberi hormat dan keluar dengan hati lega .

Taklama mereka duduk menanti , Koksu itu memasuki ruangan tamu dari dalam , mengenakan pakaian yang mewah gemerlapan . “ Ha , Ciu-kwi , engkau datang juga !” tegurnya girang .

“ Tentu saja , Giam-ong . Sekali berjanji kepadamu , tentu ku penuhi . Hanya tinggal menagih janjimu saja kepadaku untuk memberi kedudukan kepada aku dan muridku “ .

“ Kebetulan aku memang hendak menghadap Sri Baginda Kaisar , mari kalian ikut aku menghadap dan kuperkenalkan kepada Sri Baginda . kami hendak membicarakan sikap Gubernur Gak yang agaknya condong melakukan hubungan dengan Coa-ciangkun , yang ku maksudkan dengan kami adalah aku dan Ji-taijin . Menteri Ji Sun Cai mendengar dari penyelidikan bahwa hubungan antara Gubernur Gak di perbatasan selatan amat dekat dengan Coa-ciangkun , orang keras kepala yang agaknya akan menjadi penghalang besar bagi kemajuan kami . Marilah sebelum ku ajak singgah di 96

kediaman Perdana Menteri Ji Sun Cai untuk kuperkenalkan . Engkau harus tahu , Ciu-kwi , bahwa Perdana Menteri adalah rekan kerjaku yang baik dan di antara kami ada kerja sama yang cocok sekali

“ Baiklah , Giam-ong . Aku menurut saja apa katamu , yang penting kami berdua memperoleh kedudukan yang baik di kota raja ini “ .

Mereka bertiga lalu memasuki sebuah kereta yang sudah dipersiapkan oleh para penjaga di luar , dan berangkatlah mereka menuju ke kediaman Perdana Menteri , di kawal oleh beberapa orang yang mengiringkan kereta .

Benar saja , ketika tiba di gedung Perdana Menteri yang juga amat indah bagi Akauw , Lui-Koksu di terima dengan hormat oleh para penjaga dan langsung di antar ke kamar tamu .

Tak lama mereka duduk , muncullah Perdana Menteri Ji Sun Cai bersama seorang gadis yang cantik jelita . Akauw terbelalak memandang gadis itu , bukan saja karena cantik jelitanya , melainkan karena dia merasa sudah sering melihat wajah itu dalam mimpi ! Setiap kali dia membayangkan wajah bidadari seperti itulah bentuk wajahnya ! Ketika gadis itu memandang kepadanya , Akauw tersipu dan cepat menundukkan mukanya karena menurut ajaran yang diterima dari suhengnya , sikap seperti itu , memandang langsung wajah seorang gadis yang tidak dikenalnya , apalagi dengan pandangan kagum , adalah sikap yang tidak sopan ! .

Lui-Koksu Toat-beng Giam-ong segera memberi hormat kepada Perdana Menteri dan puterinya . “ Maafkan kalau kami mengganggu Ji-taijin dan Ji-siocia “ .

“ ah , sama sekali tidak , suhu “ , kata gadis itu yang bukan lain adalah Ji Goat . “ Akan tetapi suhu datang bersama … siapakah mereka ini , suhu ?” .

“ Koksu , siapakah kedua orang ini yang kau ajak datang 97

berkunjung ?” Perdana Menteri Ji juga bertanya .

“ Taijin , inilah yang pernah saya bicarakan tempo hari . Ini adalah Thian-te Ciu-kwi “ .

“ Ah , datuk kang-ouw itu ? Siapakah nama lo-cianpwe yang mulia ?” kata pula Perdana Menteri Ji dengan sikap cukup hormat . Agaknya Perdana Menteri ini dapat menghargai orang-orang pandai di dunia kang-ouw .

“ He-he-he , Yang Mulia Perdana Menteri Ji , saya sendiri sudah lupa siapa nama saya pemberian orang tua . Harap sebut saja saya Ciu-kwi ( Setan Arak ) , karena itu sudah menjadi nama saya , he-he-he “ .

“ Begitukah ? Dan siapakah orang muda yang gagah ini , Ciu-kwi ?” Tanya Perdana Menteri itu dengan ramah .

“ Akauw , hayo perkenalkan dirimu “ .

“ Tai-jin , nama saya Cian Kauw Cu , biasa di sebut Akauw “ , berkata demikian die mengerling kea rah wajah gadis jelita itu yang kelihatan tersenyum manis .

“ Dia murid saya , taijin “ kata Ciu-kwi dengan bangga .

“ Aih , dia muridmu , Ciu-kwi ?” Ji Goat berseru . Gadis ini tidak ragu lagi menyebut Ciu-kwi begitu saja , sesuai dengan perkenalan diri Thian-te Ciu-kwi kepada ayahnya tadi . “ Aku sudah pernah mendengar namamu di puji-puji suhu , akan tetapi belum pernah mendengar engkau mempunyai seorang murid . Menilai kelihaian gurunya dapat di lihat dari kepandaian muridnya , maka aku ingin sekali bertanding ilmu silat dengan Akauw ini !” .

“ Hsss , Ji Goat , jangan kurang ajar !” tegur ayahnya .

“ Ha-ha-ha , apa salahnya , taijin ? Ji Sio-cia adalah murid saya dan Akauw ini adalah murid Ciu-kwi . Kami berdua adalah sahabat sejak lama dan saya sudah pula menguji ilmunya . Apa salahnya kalau Ji Siocia menguji ilmu murid Ciu-kwi ? Mari 98

kita sama menonton !” .

Karena ruangan tamu itu cukup luas , maka Ji Goat yang ingin sekali menguji kepandaian Akauw sudah memasang kuda-kuda menghadapi pemuda tinggi besar itu dan berkata , “ Akauw , aku sudah siap , keluarkan ilmumu agar ayah dan aku dapat melihatnya “ .

“ Akauw , kita hendak mencari pekerjaan di kota raja , maka perlihatkanlah kemampuanmu “ , kata pula Thian-te Ciu-kwi kepada muridnya .

Sebetulnya Akauw merasa enggan sekali untuk bertanding melawan gadis itu . Gadis yang demikian cantiknya lemah gemulai sehingga tertiup angina keras saja agaknya akan roboh , kulitnya begitu halus , bagaimana dia dapat memukul seorang gadis seperti itu ? Dia meragu , dan berdiri biasa saja , tidak memasang kuda-kuda seperti nona itu .

-oo0dw0ooo-

Jilid 4

“ Ha-ha-ha-ha , Akauw , jangan engkau memandang rendah nona ini . Ia adalah murid Toat-beng Giam-ong , tahukah engkau ? Dan tingkat kepandaian Lui Koksu ini tidak berada di bawah tingkatku . Hati-hatilah jangan sampai engkau kena di robohkan !” Ciu-kwi menegur muridnya yang kelihatan tidak bersungguh-sungguh .

“ Lihat serangan !” tiba-tiba gadis itu menyerang dan Akauw betul-betul terkejut ketika matanya nyaris tertusuk jari tangan gadis itu yang menyambar sedemikian cepat dan kuatnya . Baru angina pukulan tangan itu saja dapat dia rasakan dan ketahui bahwa gadis ini memiliki tenaga sakti yang amat kuat dan juga gerakannya tadi amatlah cepatnya . Kalau dia tidak membuang diri ke belakang sebagai gerakan 99

terdorong naluri sebagai gerakan terdorong naluri sebagai gerakan kera , tentu dia akan terkena totokan itu ! Diapun cepat membuat gerakan silat dan otomatis karena bertangan kosong dia lalu bergerak menurut ilmu silat yang di latihnya di dalam guha itu . Dia tidak tahu bahwa ilmu silat itu adalah ilmu dari Bu-tek Cin-keng .

Sekarang Ji Goat yang terkejut karena dari gerakan tangan Akauw menyambar angina yang lembut namun dahsyat sekali , yang membuat serangannya berikutnya membalik . Cepat ia lalu mengerahkan gin-kangnya dan dengan mengandalkan kecepatan gerakannya di lancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Akauw .

Pemuda ini bersikap tenang saja . Memang gadis itu memiliki gerakan yang cepat , akan tetapi gerakan gadis itu cepat karena latihan gin-kang sedangkan dia sendiri memiliki gerakan cepat alami dan juga karena naluri .

Dia mampu mengimbangi gerakan gadis itu dan semua serangan dapat di hindarkan dengan elakan atau tangkisan .

Sebetulnya kalau Akauw menghendaki dan mau menggunakan tenaganya , tentu gadis itu akan dapat di robohkannya . Akan tetapi tentu saja dia tidak mau merobohkan gadis sejelita itu . Namanya keterlaluan kalau dia melakukan itu , dan suhengnya tentu akanmerasa tidak senang sekali . Gadis itu menyerangnya hanya untuk menguji kepandaian , bukan berkelahi sungguh-sungguh maka tentu saja dia tidak ingin membuat malu dengan merobohkannya .

Akan tetapi hal ini amat merugikannya karena dia hanya mengelak dan menangkis saja . dan tidak pernah membalas ! dan betapa pun rapat pertahanannya karena ilmu silat gadis itu yang di warisi dari datuk Toat-beng Giam-ong juga merupakan ilmu silat tinggi , akhirnya pundaknya terkena pukulan tangan kiri gadis itu .

“ Dukkk …… !” Akibatnya , tubuh Akauw terdorong ke 100

belakang , akan tetapi sebaliknya Ji Goat juga terhuyung dan dia memegangi kepalan kirinya yang terasa nyeri . Dia merasa seolah memukul pundak yang terbuat dari baja , bukan dari kulit daging ! .

“ Siocia amat lihai , saya mengaku kalah ! “ kata Akauw cepat-cepat agar gadis itu menyudahi pertandingan .

Wajah Ji Goat berubah merah karena penasaran . Memang kelihatannya saja dia menang karena dia dapat memukul pundak itu , akan tetapi dia sendiri terhuyung dan tangannya sakit sedangkan yang dipukulnya tidak apa-apa !.

“ Kepandaianmu hebat , tidak percuma menjadi murid Thian-te Ciu-kwi !” katanya sambil membalas penghormatan Akauw yang mengangkat kedua tangan depan dada . Sementara itu , Ciu-kwi mengerutkan alisnya dan tidak merasa puas dengan pertandingan yang dilakukan muridnya itu . Menurut dia , kalau Akauw bersungguh-sungguh tentu dia akan mampu mengalahkan gadis itu . Baginya , tidak ada perasaan sungkan atau tenggang rasa seperti yang dirasakan Akauw terhadap seorang gadis .

Perdana Ji Girang sekali . Dari pengamatannya tadi dia pun dapat menduga bahwa pemuda itu cukup gagah perkasa dan akan menjadi seorang pembantu yang amat baik . Dia lalu mempersilahkan tamu-tamu duduk , sedangkan Ji Goat berpamit untuk masuk ke dalam .

Setelah kini duduk berempat saja , Perdana Menteri itu lalu berkata , “ Memang sebaiknya kalau lo-cianpwe ini dan muridnya di hadapkan kepada Sri Baginda dan sedapat mungkin diperbantukan padamu , Koksu . Dengan demikian kita dapat bekerjasama . aku ingin sekali agar Akauw atau gurunya melakukan penyelidikan kepada Gubernur Gak . Mereka belum di kenal dan akan mudah sekali melakukan penyelidikan ke sana tanpa khawatir diketahui orang “ .

“ Tepat sekali , taijin . Memang saya pun berpendapat 101

demikian , maka sebelum membawa mereka menghadap Sri Baginda , saya membawa mereka ke sini lebih dulu untuk mendapatkan persetujuan taijin “ .

“ Tentu saja saya setuju sekali , Koksu . dan sebaiknya kalau koksu membawa mereka menghadap Kaisar , lebih cepat lebih baik . Jangan lupa untuk membujuk agar Sri Baginda suka memanggil pulang Coa-ciangkun dari garis depan agar penyerangan terhadap Kerajaan Sun dapat dihentikan .

Tanpa di panggilnya pulang Coa-ciangkun , saya kira usaha kita tidak akan berhasil . Sementara itu , saya akan bertugas membujuk Sri Baginda agar bersikap lunak kepada Kerajaan Sun , menariknya sebagai sekutu agar lebih mudah bagi kita menguasai daerah selatan pada umumnya “ .

“ Baiklah , taijin . Kita membagi tugas dan sebaiknya kalau taijin menghubungi para thaikam kepala agar ikut membujuk kaisar “ .

“ Jangan khawatir , Koksu . Mereka semua sudah berada di tanganku “ .

Setelah berunding sebentar , Lui Koksu berpamit dan bersama Ciu-kwi dan Akauw mereka lalu naik kereta menuju ke istana . kalau tadi melihat istana Kok-su dan Perdana Menteri yang mewah itu Akauw sudah merasa terkagum-kagum , kini begitu dibawa masuk istana , dia benar-benar terpesona . Tak pernah dibayangkan semula ada rumah manusia seperti itu mewah dan megahnya . Semuanya serba besar , serba indah dan serba mewah . baru pintunya saja sudah begitu besar dan tinggi , agaknya pintu itu dibuat untuk masuk seekor gajah ! .

Dan dimana-mana penuh tanaman buatan , taman-taman kecil , air pancuran , batu-batu karang beraneka bentuk , ukiran-ukiran , lukisan-lukisan ,pendeknya , tidak habis-habisnya dia kagumi . Sampai nanar dia di buatnya 102

memandangi semua keindahan itu .

Para prajurit pengawal yang berjaga di setiap lorong dan tikungan istana itu memberi hormat kepada Koksu , dan setelah mereka tiba di bagian dalam , para pengawal yang berjaga adalah orang-orang sida-sida atau Thaikam .

Akhirnya mereka dibawa menghadap kaisar di sebuah ruangan yang amat indahnya . Karena saat itu bukan waktu persidangan , maka Koksu di terima oleh kaisar diperpustakaan , dimana Sri Baginda sedang memilih buku untuk di bacanya . Biarpun dia Kaisar bangsa Mongol ( Toba ) , namun kaisar Julan Khan suka akan kesusastraan , di samping lihai pula ilmu silatnya . Para pengawal thaikam itu segera di suruh keluar dari ruangan setelah kaisar melihat bahwa yang menghadapnya adalah Lui Koksu yang dipercaya penuh , bersama seorang kakek kecil kurus dan seorang pemuda yang gagah perkasa . Mereka bertiga segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kaisar . Hal ini di lakukan oleh Akauw setelah lebih dulu dia diberitahu dan di ajari bagaimana harus bersikap kalau berhadapan dengan kaisar , akan tetapi ketika menjatuhkan dirinya berlutut , tetap saja caranya kasar karena memadang di dalam hatinya dia masih meragu mengapa dia harus berlutut seperti itu di depan seorang yang baru saja di jumpainya dan belum di kenalnya sama sekali .

“ Oh , engkau , Koksu . Bangkit dan duduklah dan juga kalian berdua yang datang bersama Kok-su “ .

“ Terima kasih Yang Mulia “ , kata mereka hamper berbarengan .

Kini mereka menghadap Kaisar yang duduk di atas kursi berukir indah itu dengan berdiri saja , berdiri dengan kepala di tundukkan dan sama sekali tidak boleh kepala itu di angkat kalau tidak sedang di ajak bicara oleh Kaisar . Juga setiap kali bicara , kedua tangan harus di rangkap di depan dada sebagai tanda penghormatan . 103

“ Lui-koksu , siapakah yang kau bawa menghadap ini ? Tadi pengawal memberitahu akan tetapi kami kurang memperhatikan “ .

“ Yang Mulia , ini adalah seorang sahabat hamba di waktu muda . Julukannya adalah Thian-te Ciu-kwi , dan dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi . Yang muda ini adalah muridnya , bernama Cian Kauw Cu yang biasa di sebut Akauw . Mereka berdua ini menawarkan tenaga mereka untuk membantu paduka , untuk bekerja dengan hamba . Mengingat bahwa kepandaian mereka boleh di andalkan , maka hamba sengaja mengajak mereka untuk menghadap paduka , untuk mohon perkenan paduka agar mereka di perbolehkan membantu hamba dan di angkat sebagai panglima “ .

“ Hemmm , kami percaya dengan semua keteranganmu , Koksu . Akan tetapi kau tahu tidak mudah begitu saja mengangkat seseorang menjadi panglima sebelum kami melihat sendiri kemampuan mereka “ . Kaisar lalu bertepuk tangan dan bermunculan pengawal thaikam dari pintu dalam . Agaknya para pengawal itu biarpun tidak diperbolehkan memasuki kamar , namun selalu mereka siap diluar pintu sehingga sekali di panggil mereka akan bermunculan dalam waktu cepat sekali .

“ Coba panggil Ngo-heng Kiam-tin ( Barisan Pedang Lima unsur ) dan suruh mereka bersiap di lian-bu-thia ( tempat berlatih silat ) !” kata kaisar memerintah kepada para pengawal . Mereka memberi hormat dan pergi .

“ Koksu , kami hendak melihat apakah guru dan murid ini akan mampu menghadapi Ngo-heng Kiam-tin !” kata Kaisar kepada Lui-Koksu . Tentu saja Toat-beng Giam-ong sudah tahu siapa itu Barisan Pedang Lima Unsur , maka dia menjawab .

“ Hamba kira sobat Ciu-kwi akan mempu menghadapi mereka , Yang Mulia “ . 104

Mereka semua lalu mengikuti Kaisar pergi ke ruangan yang amat luas . Ruangan yang memang biasanya dipergunakan untuk berlatih silat . Seperti di ketahui , Kaisar Julan Khan sendiri adalah seorang yang kuat , ahli gulat dan ahli silat .

Ketika mereka tiba di sana , sudah menanti lima orang yang berpakaian aneh . Pakaian mereka itu saling berbeda warnanya . Ada yang serba merah , serba biru , serba kuning , hitam dan putih . Lima macam warna ! Kaisar muncul , mereka berlima lalu menjatuhkan diri berlutut .

“ Bangkitlah !” perintah kaisar dan setelah mereka semua bangkit berdiri , kaisar berkata , “ kalian harus menguji kemampuan dua orang guru dan murid ini yang mencalonkan diri sebagai panglima pembantu Koksu “ , katanya dan seorang thaikam segera mengangkat kursi kaisar ke belakang kaisar yang segera duduk dengan wajah gembira . Kaisar ini memang suka sekali menonton orang bertanding mengadu ilmu silat .

Sementara itu , Lui Koksu sudah membisiki Ciu-kwi bahwa biarpun kepandaian lima orang itu tidak berapa hebat , akan tetapi karena merupakan barisan pedang yang bekerja sama dengan baik sekali , maka cukup berbahaya . Akan tetapi dia percaya bahwa dengan tangan kosong saja dia atau Akauw mampu mengatasi mereka ! .

Mendengar bisikan sahabatnya itu , Thian-te Ciu-kwi lalu berkata kepada Kaisar , “ Yang Mulia , kalau paduka mengijinkan , hamba akan lebih dahulu maju menghadapi Ngo-heng Kiam-tin ini dengan tangan kosong , baru sesudah hamba murid hamba akan menandingi mereka “ .

Mendengar ini , Kaisar mengerutkan alisnya . Dia tahu akan kemampuan Ngo-heng Kiam-tin , dan kakek kecil kurus seperti orang pemadatan ini hendak menandingi dengan tangan kosong saja . Ini hanya ada dua kemungkinan . Kakek itu memang sakti atau sombong . Kalau sombong , biarlah mendapat hajaran keras dari Ngo-heng Kiam-tin . 105

“ Dengan tangan kosong , Ciu-kwi . Ingat , lima batang pedang itu dapat melukaimu !” .

“ Kalau memang demikian , sudah nasib hamba , Yang Mulia “ .

“ Baiklah , kalau begitu Ngo-heng Kiam-tin , kalian siap menandingi Thian-te Ciu-kwi yang bertangan kosong !” .

Lima orang itu lalu berloncatan membentuk lingkaran segi lima . Tubuh mereka rata-rata tinggi besar dan dengan pakaian mereka yang saling berbeda warna itu , gerakan mereka tadi kelihatan indah sekali seperti lima orang penari . tahu-tahu mereka telah mencabut pedang mereka dan siap dengan bermacam pasangan kuda-kuda . Ada yang melintangkan pedang di depan dada , ada yang mengacungkan pedang di atas kepala , ada yang menyembunyikan pedang di bawah lengan . Mereka semua sudah siap untuk menyerang kakek yang berdiri seenaknya itu . Akan tetapi ,lima orang ini tidak berani memandang rendah . Nama besar Thian-te Ciu-kwi sudah pernah mereka dengar sebagai datuk kang-ouw dari pantai timur dan kabarnya lihai bukan main .

“ Apakah engkau sudah siap , Ciu-kwi ?” Tanya kaisar .

“ Sejak tadi hamba sudah siap , Yang Mulia “ .

“ Kalau begitu , mulailah !” kata kaisar , di tujukan kepada lima orang itu . Mereka adalah jagoan-jagoan istana , merupakan anggota pasukan pengawal pribadi kaisar .

Mendengar seruan kaisar ini , lima orang itu mulai bergerak melangkah dengan teratur mengelilingi Ciu-kwi yang kelihatan masih berdiri dengan santai saja . Tiba-tiba seorang di antara mereka , yang berpakaian putih dan agaknya menjadi pemimpin Ngo-heng Kiam-tim , mengeluarkan bentakan nyaring .

“ Thian-te Ciu-kwi , lihat pedang !” . 106

Dan diapun sudah menyerang dari depan dengan gerakan dahsyat . Dua orang lain menggerakkan pedang mereka memperkuat serangan baju putih dan dua orang lagi menggerakkan pedang menjaga kalau lawan membalas serangan .

Ciu Kwi mengeluarkan kecepatan gerakannya . Dengan mudah saja dia mampu menerobos di antara sambaran tiga batang pedang itu , berloncatan ke sana sini seperti orang mabok dan tahu-tahu kedua kakinya yang kecil itu mengirim tendangan , bukan membalas serangan tiga orang itu melainkan menyerang dua orang orang yang tadi berjaga-jaga . Dua orang itu terkejut , maklum lihainya tendangan itu dan berlompatan ke belakang . Mereka mengepung lagi dan dengan bergantian pedang mereka menyerang bertubi-tubi , namun tidak ada pedang yang mampu melukai Ciu-kwi . Dia mengelak , berloncatan dan kadang dengan tangannya menyapok pedang dari samping . Ciu-kwi memperlihatkan ilmu yang menjadi andalannya , yaitu Thian-te Sin-kun ( Silat Sakti Langit Bumi ) dan mencampurnya dengan gerakan Dewa Mabok untuk mengelak dan mengacaukan lawan .

Ngo-heng Kiam-tin memang kuat sekali . Mereka itu saling tunjuang , saling bantu dan saling melindungi . Mereka dapat bekerja sama dengan rapid an teratur sehingga Ciu-kwi seperti melawan lima orang dengan satu hati dan pikiran . Namun , karena memang tingkatnya jauh lebih tinggi dari mereka , dia dapat selalu menghindarkan diri dan balasan serangannya beberapa kali membuat barisan pedang menjadi kacau .

Setelah lewat tiga puluh jurus , Ciu-kwi mengeluarkan bentakan melengking dan begitu kedua tangannya berputar dan memukul ke depan angina pukulan dahsyat menyambar dan lima orang itu terhuyung ke belakang , bahkan dua di antara mereka terjengkang .

Ciu-kwi cepat melangkah mundur dan memberi hormat kepada Sri Baginda .” Harap paduka maafkan hamba “ . 107

Sri Baginda bertepuk tangan memuji . “ Bagus , bagus sekali , Ciu-kwi . Engkau memang pantas menjadi sahabat dan pembantu Kok-su ! Dan bagaimana dengan muridmu itu ? “ .

“ Hamba kira dengan menggunakan pedangnya , Akauw akan mampu menandingi Ngo-heng Kiam-tin “ .

Mendengar ucapan Ciu-kwi , Sri Baginda menjadi gembira sekali . Orang yang mampu mengalahkan Ngo-heng Kiam-tin merupakan orang yang sakti dan tentu saja dia dapat mempergunakan tenaga orang-orang seperti itu . Akan tetapi Lui-Koksu tidak heran karena dia sudah mendengar dari Ciu-kwi bahwa Akauw memiliki ilmu aneh dan juga memiliki Hek-liong-kiam yang ampuh .

“ Akauw , lawanlah mereka dengan pedangmu . Akan tetapi jangan sekali-sekali melukai mereka “ , pesan Ciu-kwi kepada muridnya .

“ Baik , suhu “ , kata Akauw yang telah melihat gerakan lima orang itu dan merasa dapat mengatasi mereka dengan pedangnya . Dia lalu memberi hormat kepada Kaisar , “ Mohon perkenan paduka , Yang Mulia “ .

“ Baik , bangkit dan lawanlah Ngo-heng Kiam-tin dengan pedangmu , orang muda “ , kata kaisar gembira .

Akauw lalu bangkit berdiri , mencabut Hek-liong Po-kiam dari sarungnya dan nampaklah sinar hitam yang menyeramkan . Bahkan kaisar sendiri berseru kagum . “ Po-kiam yang hebat !” .

Ngo-heng Kiam-tin kini sudah maju lagi mengepung . Dalam pertandingan melawan Ciu-kwi tadi , jelas mereka telah kalah , akan tetapi tak seorang pun dari mereka mengalami luka sehingga kini mereka dapat maju dengan lengkap dan tenaga mereka masih tidak berkurang . Hanya mereka agak gentar menghadapi pedang hitam di tangan pemuda tinggi besar itu . Mereka pun dapat menduga bahwa pemuda itu memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh . 108

Lima orang itu , seperti tadi mengepung Akauw dengan berbagai macam kuda-kuda . Akauw sendiri dengan tenang berdiri dengan pedang melintang di depan dada , seluruh saraf di tubuhnya menengang dalam keadaan siap siaga .

Kembali si baju putih mengeluarkan bentakan . “ Lihat pedang !” Dan dia mulai menyerang , di susul teman-temannya Kadang mereka menyerang bertubi-tubi , susul menyusul , kadang mereka menyerang berbarengan dan menyatukan tenaga dalam pedang mereka .

Namun Akauw telah maklum akan gerakan mereka . Kalau mereka menyerang bertubi-tubi , dia pun mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menghindar , kalau mereka menyatukan pedang mereka , diapun menangkis dengan pengerahan tenaga . Memang agak repot juga baginya kalau mengadu dengan tenaga lima orang yang menggabungkan tenaga mereka itu . Di keroyok oleh lima orang , tenaganya tidak kuat bertahan dan beberapa kali dia terpaksa melangkah mundur . Akan tetapi , setelah lewat dua puluh lima jurus , Akauw mengubah gerakan pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang membelit dan memutar .

“ Kraakk !” terdengar suara keras dan pedang si baju putih patah menjadi dua ketika dia berani menangkis dengan langsung sambaran sinar hitam yang bergulung-gulung itu . Kepatahan pedang baju putih sebagai pemimpin ini mengacaukan yang lain dan Akauw menggunakan kesempatan ini untuk menyambar pedangnya dan empat batang pedang yang lain juga patah semua ! Tentu saja Ngo-heng Kiam-tin menjadi rusak dan mereka berlima terpaksa berlompatan ke belakang karena sudah tidak ada senjata di tangan mereka .

Sri Baginda Kaisar Julan Khan bertepuk tangan memuji . “ Bagus , Kiam-sut ( ilmu pedang ) yang bagus ! “ dia memuji lalu berkata kepada Lui-koksu , kami telah melihat ilmu Ciu-kwi dan Akauw . Mereka boleh kau terima menjadi panglima untuk membantu pekerjaanmu “ . 109

Ciu-kwi dan Akauw segera menjatuhkan diri berlutut dan menghaturkan terima kasih . Mereka bertiga meninggalkan istana dengan gembira dan semenjak hari itu , Ciu-kwi menjadi pembantu Koksu dan Akauw menjadi seorang panglima muda yang di perbantukan pula kepada Kok-su . Mereka berdua untuk sementara tinggal di tempat kediaman Kok-su .

*****

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Yang Cien . Seperti telah diceritakan di bagian depan . Yang Cien tinggal seorang diri di dalam guha besar bawah tanah itu setelah di tinggal pergi oleh Akauw . Dia segera dapat menghilangkan perasaan kesepiannya di tinggalkan sutenya itu , dan dengan tekun dia melanjutkan latihannya , mempelajari ilmu Bu-tek Cin-keng yang ternyata amat sulit di latih itu . Dia tahu bahwa sutenya telah hafal akan semua gerakan ilmu silat itu , akan tetapi tanpa petunjuk kitab , ilmu yang di miliki sutenya itu hanyalah kulitnya saja , tanpa isi . Dia berjanji pada diri sendiri bahwa kelak kalau dia bertemu kembali dengan sutenya , dia akan mengajarkan ilmu itu secara yang semestinya agar sutenya juga menguasai Bu-tek Cin-keng secara benar .

Setiap hari Yang Cien tekun berlatih , hidup secara sederhana sekali , tidak pernah berhubungan dengan manusia lain . Dia seolah menjadi seorang pertapa yang hidup menyendiri di tempat sunyi itu , di Lembah Iblis .

Tiga tahun telah lewat tanpa terasa . Yang Cien telah menyelesaikan pelajaran ilmu itu dan kini akibat racun jarum di kitab itu sudah hilang sama sekali . Tanpa di sadarinya sendiri , dia telah menguasai ilmu yang amat dahsyat , yang di pelajari dan di latihnya selama lima tahun di tempat itu ! Juga dia tidak menyadari bahwa kini dia telah menjadi seorang pemuda yang sudah dewasa benar , pemuda yang berusia dua puluh lima tahun ! .

Pada halaman terakhir kitab Bu-tek Cin-keng itu terdapat 110

tulisan yang mengharuskan murid yang mempelajari kitab itu sampai habis , agar menutup guha itu .

“ Gulingkan batu yang berada di atas tebing dan hujan batu besar akan menutup guha ini untuk selamanya “ , demikian bunyi pesan itu . Yang Cien melangkah keluar guha . Biasanya , hanya untuk mencari makan saja dia keluar dari guha itu, paling banyak sekali dua kali dia keluar guha dalam sehari . Dia tidak begitu memperhatikan di atas tebing dan baru sekarang dia berdongak memperhatikan keadaan di atas tebing . Tebing itu tinggi dan permukaan dinding tebing memang penuh dengan batu besar yang kalau tertimpa batu dari atas tentu akan dapat terlepas dan runtuh ke bawah . Tentu itu yang di maksudkan pesan dalam halaman terakhir kitab itu . Dia masuk kembali lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang , menghadap kerangka yang berada di kursi itu. Kedudukan kerangka yang berada di kursi itu pun ternyata membantunya memecahkan rahasia dari jurus terakhir sebagai penutup kitab pelajaran itu . Tadinya , sampai berhari-hari dia bingung , tidak dapat mengerti dengan baik gerakan jurus penutup . Baru setelah dia melihat kedudukan kerangka itu , memperhatikan kedudukan kedua tangan dan kakinya , dia mengerti . Kerangka itu justeru berkedudukan seperti yang di kehendaki dalam jurus terakhir tadi .

“ Suhu , siapapun adanya suhu , teccu ( murid ) menghaturkan banyak terima kasih atas semua petunjuk suhu sehingga teecu dapat menyelesaikan pelajaran Bu-tek Cin-keng ini . Karena khawatir kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat , kitab ini teecu tinggalkan di sini bersama suhu , dan pedang Pek-liong-Po-kiam teecu bawa sedangkan Hek-liong-Po-kiam di bawa sute Akauw . “ Setelah berlutut dan memberi hormat delapan kali , di atas meja dan dia membawa Pedang Naga Putih keluar , bersama buntalan pakaiannya .

Kemudian dia mendaki tebing itu ke atas dan baru dia mengetahui betapa mudahnya hal itu dilakukannya . Padahal , 111

tadinya dia mengira bahwa memanjat tebing itu akan sukar sekali karena tebing itu terjal . Namun setelah kakinya memanjat , dia merasa ringan dan mudah saja ! Dia sendiri tidak menyadari bahwa latihan-latihan itu telah meningkatkan sinking dan ginkangnya sehingga dia mampu bergerak seperti seekor cecak merayap dinding ! .

Setelah tiba di atas tebing , dia lalu mencari batu yang terbesar . Di temukan batu itu , sebesar gajah . Tadinya diapun meragukan apakah dia akan mampu , menggulingkan batu sebesar gajah itu , apakah tidak lebih baik memilih yang lebih kecil . Akan tetapi , begitu dia mencoba untuk menggerakkan batu itu , ternyata terasa tidak terlalu berat baginya dan dengan mudah dia mampu mendorong dan menggelindingkan batu ke tepi tebing , tepat di atas guha besar yang selama lima tahun menjadi tempat tinggalnya itu .

Begitu batu terguling , terdengar suara gemuruh dan ketika dia melongok ke bawah , benar saja , batu itu menghantam batu-batu di bawah sehingga terlepas dari dinding tebing dan hujan batu besar terjadi di depan guha sehingga guha itu tertutup sama sekali oleh ratusan , bahkan mungkin ribuan batu besar ! Tidak mungkin lagi bagi seorang atau beberapa orang manusia untuk membongkar batu-batu itu . Guha itu benar-benar telah menjadi kuburan bagi gurunya yang tak di kenal namanya itu .

Kemudian , dia menuruni tebing kembali dan memasuki guha yang penuh emas . Sampai lama dia mengamati emas-emas yang menempel di dinding guha . Sekali waktu benda berharga ini akan berguna juga , entah kapan dan untuk apa , dia belum mampu membayangkan . Dia lalu mengambil secukupnya untuk bekal . kemudian mencari batu besar dan menggulingkan batu itu menutupi guha kecil itu sehingga tidak nampak sama sekali dari luar . Hanya dia yang tahu bahwa di balik batu besar itu terdapat sebuah guha penuh emas . Dalam guha-guha lain yang berjajar di daerah itu tidak 112

terdapat apa-apa lagi , kecuali guha pertama yang penuh dengan arca yang tidak begitu penting untuk di sembunyikan .

Setelah selesai menutup kedua guha yang di rahasiakannya itu , Yang Cien lalu pergi meninggalkan tempat itu . Beberapa kali dia menoleh untuk memandang tempat yang di jadikan tempat tinggalnya selama lima tahun itu . Menduga-duga kapan kiranya dia akan dapat kembali ke tempat itu . Lembah Iblis ! Dia tidak mengerti mengapa rakyat di wilayah itu menamakannya Lembah Iblis . Padahal baginya , lembah itu amat indah dan menjadi tempat dia menghabiskan waktunya bertahun-tahun . Sejak dia memasuki lembah itu bersama kakek nya , tidak kurang lebih sepuluh tahun dia tinggal di sana , lima tahun tinggal di gubuk atas pohon seperti kera , dan lima tahun tinggal di guha seperti pertapa . Dan kini , dia memasuki dunia ramai . Apakah yang menanti dia di depan ? Dia tidak tahu , dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan .

Nasib ? Menurut pelajaran tentang kehidupan yang dia dapatkan dari kakeknya , dia tidak mau menggantungkan diri kepada nasib . Nasib tidak datang bagitu saja , nasib hanya merupakan mata rantai dari sebab akibat . Kalau orang menanam bibit baik lalu menuai hasil panen baik , itu bukan nasib namanya ! Juga kalau menyebar bibit baik , itu juga dapat memetik panen baik , itu juga bukan nasib karena pasti ada penyebabnya ! Entah karena pemupukannya kurang baik , atau penjagaannya kurang baik sehingga terusak oleh hujan atau oleh burung-burung atau hama lainnya . Jelas bukan karena nasib buruk dan sebagainya ! .

Kekuasaan Tuhan memang mutlak . Akan tetapi Kekuasaan Tuhan juga adil ! Jadi tidak ada yang di sebut nasib baik atau nasib buruk karena semua yang terjadi sudah semestinya demikian , sesuai dengan hokum karma masing-masing . Dan karma itu siapa penyebabnya , siapa pembuatnya ? Kita sendiri ! Karena itu , setiap perbuatan adalah menyebar benih 113

, setiap peristiwa yang terjadi menimpa diri adalah penuaian dari penyebaran benih tadi , atau akibat dari perbuatan kita . Maka orang bijaksana tidak mengeluh kalau sesuatu menimpa dirinya karena sadar bahwa itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri , lama atau baru , sedangkan kalau melakukan sesuatu , maka pekerjaan itu dilakukan tanpa pamrih imbalan apapun . Demikianlah apa yang telah dipelajari Yang Cien dari kakek nya , oleh karena itu , dia pun tidak gentar menghadapi apapun karena maklum bahwa segalanya tergantung dari padanya sendiri .

*****

Pemandangan di Telaga Tai-hu amatlah indah . Di tengah telaga yang besar itu terdapat beberapa pulau kecil dan banyak orang yang berpesiar naik perahu di telaga di samping perahu-perahu nelayan penangkap ikan . Ada pula orang-orang berpakaian sastrawan yang naik perahu kecil , menghadapi kitab sambil minum arak atau sambil memancing ikan .

Seorang pemuda berpakaian sederhana naik sebuah perahu kecil dan mandayungnya mendekati sebuah pulau . Dia tertarik sekali kepada seorang laki-laki yang juga berperahu seorang diri sambil membaca sajak . Pemuda ini selain pakaiannya yang sederhana , juga gerak-geriknya amat sederhana . Rambutnya yang di gelung ke atas itu tertutup sebuah caping lebar , bajunya dari kain kasar berwarna biru dan potongannya seperti yang biasa di pakai para petani . Wajahnya yang terlindung caping itu tampan , berbentuk persegi dan berkulit putih . Alisnya tebal melindungi sepasang mata yang mencorong seperti mata naga , hidungnya mancung dan mulutnya selalu mengembangkan senyum yang ramah . Wajah yang menyenangkan , akan tetapi juga mengandung wibawa yang kuat .

Pemuda itu adalah Yang Cien . Dia menyembunyikan Pedang Pusaka Naga Putih di dalam buntalan pakaian yang di 114

gendongnya . Pemuda ini dalam perjalanannya merantau telah membeli beberapa potong pakaian baru yang di gendongnya dalam buntalan kain kuning .

Ketika melakukan perjalanan merantau karena sampai selesai melatih diri dengan Kitab Bu-tek Cin-keng sutenya belum juga pulang , dia tiba di Telaga Tai-hu dan menyewa sebuah perahu . Tertarik oleh pemandangan yang amat indah itu . Ketika tadi mendengar orang membaca sajak , dia tertarik oleh kata-kata dalam sajak itu .

“ Pohonku dikuasai burung gagak

Sarangku terancam musnah

Namun apa dayaku ?

Semua burung dara pergi ketakutan

Tidak ada yang berani melawan gagak

Tiada harapan kecuali menanti munculnya

Sang Garuda

Pengusir burung gagak dari pohonku “

Dia tertarik sekali karena dia dapat menangkap inti dari sajak atau nyanyian itu . Pohon dikuasai burung gagak , yaitu termasuk burung liar seperti yang terjadi sekarang . Cina bagian utara sepenuhnya di kuasai bangsa Mongol ( Toba ) dan semua burung dara pergi ketakutan . Bukan hanya ketakutan bahkan banyak penduduk pribumi yang menghambakan dirinya kepada kekuatan asing itu . Bahkan mendiang ayahnya juga menghambakan dirinya kepada kaisar Toba . Hal ini sebetulnya tidak di setujui kakeknya . Kakeknya seringkali menyesalkan hal itu .

Bagaimanapun juga , seorang patriot haruslah menentang penjajahan , bukannya membantu kaum penjajah untuk memakmurkan rakyat “ , kata kakek nya . 115

Di dalam sajak di sebutkan bahwa semua burung dara tidak ada yang berani melawan gagak , maka di harapkan munculnya sang garuda untuk mengusir burung gagak . Mengusir Bangsa Toba dari tanah air ? Bukan pekerjaan mudah !.

“ Ayahmu salah langkah “ , kata kakeknya dahulu , “ sepatutnya dia membantu mereka yang menentang Kaisar Toba , bukan menghambakan diri kepadanya . Di bawah kekuasaan Kaisar Toba , para pejabat melakukan koropsi dan penindasan terhadap rakyat . Mereka tidak memperdulikan nasib rakyat jelata karena menganggap tidak perlu bekerja dengan sungguh-sungguh mengingat bahwa pemerintahan itu adalah Kerajaan Mongol . Semua pejabat berlomba untuk menggendutkan diri , menebalkan kantung sendiri dan berlomba untuk mewah-mewahan .

Para pendekar yang berjiwa patriot melihat penindasan oleh Bangsa Mongol merasa prihatin sekali . Namun pasukan Kerajaan Toba amat kuat sehingga setiap pemberontakan mengalami kegagalan . Para pejabat yang bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kesejahteraan rakayt , seperti mendiang ayahmu , malah di musuhi oleh pejabat-pejabat tinggi yang berkuasa . Nah , mendiang ayahmu telah salah langkah , dan tidak seharusnya engkau mengikuti jejaknya itu “ .

“ Kakek pernah mengatakan bahwa yang membunuh ayah ibu adalah Koksu “ .

“ Benar . Anak buah Toat-beng Giamh-ong Lui Tat yang kini menjadi Koksu itu yang telah mengeroyok dan membunuh ayah ibumu . Dia tidak senang melihat ayahmu membela rakyat yang terindas dan berani memprotes kenaikan pajak dan kerja paksa . Pemeritah penjajah memang sifatnya menindas dan memeras , dan ayahmu telah berani menentang arus . Akan tetapi , singkirkan dendammu pribadi itu , Yang Cien . Engkau harus mempergunakan segala daya dan 116

kepandaianmu untuk mempersatukan rakyat , mempersatukan semua kekuatan agar tidak terpecah-belah dan hanya dengan persatuan saja kiranya penjajah Mongol akan dapat di halau dari negeri kita “ .

Demikianlah , percakapan itu mengiang di telinga Yang Cien ketika dia tertarik mendengar bunyi sajak yang mengandung semangat menantang penjajah itu . Dia lalu mendayung perahunya mendekat perahu orang itu . Ternyata yang membaca sajak tadi adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun yang berpakaian seperti pengemis ! Kakek itu menghadapi seguci arak dan dia tadi membaca sajak sambil di seling minum arak. Yang Cien dapat menduga bahwa kakek itu tentulah bukan seorang pengemis biasa saja . Mana ada seorang pengemis berperahu , menikmati arak sambil membaca sajak ?

“ Lo-cianpwe , sajakmu tadi sungguh indah !” katanya memuji .

Kakek itu menoleh dan melihat bahwa yang memujinya seorang pemuda tampan gagah berpakaian sederhana dan bercaping lebar , dia tersenyum ramah .

“ Orang muda , kalau engkau suka sajak dan minum arak , naiklah ke perahuku . Berdua lebih menggembirakan daripada seorang diri saja “ .

“ Baik , lo-cianpwe dan terima kasih “ , kata Yang Cien gembira .

Akan tetapi pada saat dia mengikatkan tali perahunya pada perahu kakek pengemis itu , tiba-tiba saja datang sebuah perahu besar . Perahu itu sudah dekat sekali dan dari perahu besar itu meluncur banyak anak panah kea rah mereka ! .

Kakek itu cepat menangkis dengan kedua tangannya sambil berseru “ Jahanam penjilat Mongol yang busuk !” dan tubuhnya sudah melompat ke atas perahu besar . Melihat kegagahan kakek itu , Yang Cien khawatir kalau kakek itu 117

akan menghadapi pengeroyokkan , maka diapun ikut pula melompat ke atas perahu besar .

Benar seperti yang di khawatirkannya , kakek itu telah di kepung dan di keroyok oleh belasan orang yang memegang golok . Kakek pengemis itu menggerakkan tongkat bambunya dan mengamuk .

Yang Cien kagum karena kakek itu ternyata lihai sekali . Biarpun dia hanya bersenjatakan sebatang tongkat bamboo sedangkan para pengeroyoknya menggunakan golok tajam , namun dia dapat menghindarkan semua serangan dengan elakkan atau tangkisan , bahkan sebentar saja sudah merobohkan empat orang pengeroyok dengan tendangan atau totokan tongkat bambunya .

Pada saat itu , tiba-tiba terdengar bentakan nyaring , “ Kam-lokai , mata-mata busuk , kalau engkau tidak menyerah , akan mampus di tangan kami !” Dan seorang laki-laki jangkung kurus meloncat ke depan lalu menggerakkan senjatanya yang menyeramkan , yaitu sepasang kapak yang besar dan berkilauan saking tajamnya .

“ Gu-Mo-ko , kiranya engkau sudah menjual dirimu kepada orang Mongol !” Bentak kakek itu dan diapun menerjang kea rah orang kurus yang bersenjatakan sepasang kapak itu . Entah bagaimana orang tinggi kurus begitu mendapat julukan Gu Mo-ko ( Setan Kerbau ) , mungkin sekali karena matanya yang besar seperti mata kerbau itu , atau sepasang kapaknya itu dapat di umpamakan sepasang tanduk kerbau . Akan tetapi ternyata Gu Mo-ko in ilihai sekali . Begitu dia menyerang dengan sepasang kapaknya yang berat, kakek itu segera terdesak karena Gu Mo-ko masih di bantu belasan orang anak buahnya .

Melihat itu , sekarang Yang Cien tidak meragu lagi untuk membantu . Tadi dia melihat kakek itu tidak terdesak , maka dia pun tidak membantu dan hanya menonton . Akan tetapi sekarang , kakek itu sungguh terdesak hebat , maka diapun 118

sudah mengambil pedangnya dari buntalan pakaiannya dan meloncat ke depan . Dia segera dihadang lima orang anak buah Gu Mo-ko yang menyerangnya dengan golok . Akan tetapi begitu memutar Pek-liong-Po-Kiam , terdengar suara nyaring berturut-turut dan lima batang golok patah menjadi dua ! Tentu saja lima orang itu terkejut bukan main , dan Yang Cien hendak melompat maju .

Pada saat itu terdengar kakek Kam Lo-kai ( Pengemis Tua Kam ) mengeluh dan dia terhuyung ke belakang , pundaknya terbabat sebatang kapak dan dia terluka parah .

Kapak kedua menyusul membabat ke arah lehernya , akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan biru dan “ tranggg …… “ kapak yang menyambar leher Kam Lo-kai itu pun patah menjadi dua ! Tentu saja Gu Mo-ko terkejut dan meloncat ke belakang . Kesempatan itu dipergunakan Yang Cien untuk menyambar tubuh Kam Lo-kai dan membawanya meloncat ke bawah , ke perahunya sendiri , merebahkan kakek itu di dalam perahu dan dia cepat mendayung perahunya meninggalkan perahu besar .

Beberapa batang anak panah menyambar dari perahu besar . Yang Cien menyampok dengan tangannya dan menangkap sebatang anak panah , kemudian melontarkan ke atas perahu dan terdengarlah seorang pemanah menjerit dan roboh terkena anak panahyang di lemparkan Yang Cien . Melihat kehebatan anak muda itu , semua orang di atas perahu besar menjadi gentar dan mereka tidak melakukan pengejaran , membiarkan Yang Cien pergi membawa kakek yang sudah terluka parah itu .

Setibanya di darat , Yang Cien menalikan perahunya dan terdengar kakek itu merintih . Yang Cien berlutut di perahu .

“ Bagaimana , lo-cianpwe , keadaanmu ?”

Kakek itu menggeleng kepala dan ketika Yang Cien memeriksa dia terkejut . Pundah itu putus terbabat kapak dan 119

lukanya parah sekali sampai ke dada . Keselamatan orang yang terluka seperti itu sukar di pertahanankannya .

“ Orang muda …. Siapapun adanya engkau …. Bantulah kami yang berusaha mengusir penjajah dari tanah air …. Kausampaikan suratku … ambil surat itu dari saku bajuku …. “ Yang Cien mengambil sepucuk surat itu dari saku dalam baju pengemis itu .

“ Untuk apa surat ini , lo-cianpwe ?” .

“ Kauberikan …. Surat … kepada ….. Gubernur Gak di Nam-kiang ……….. “ kakek itu terkulai dan tewas .

Yang Cien menghela napas panjang dan menutupkan kedua mata yang masih terbuka itu . Kemudian dia memondong jenazah itu dan membawanya ke darat .

Dia merebahkan mayat itu di atas tanah di tepi danau , lalu menggali lubang sambil termenung . kakek itu , walaupun melihat namanya memang seorang tokoh pengemis kang-ouw , ternyata mempunyai jiwa patriot . Agaknya dia menjadi mata-mata untuk memata-matai pemerintah . Dan agaknya Gubernur Gak di Nam-kiang juga seorang pejuang . Dia sendiri , seorang yang tadinya tidak mempunyai sangkut paut dengan perjuangan , kini tiba-tiba saja menjadi seorang yang membantu para pejuang ! Akan tetapi dia belum mengambil keputusan untuk membantu Gubernur Gak karena dia belum mengerti dan belum tahu apa yang diperjuangkan oleh Gubernur Gak . Pada saat ini dia hanya membantu Kam Lo-kai yang di anggapnya seorang sahabat yang kebetulan bertemu di Tai-hu dan yang hanya mengharapkan pertolongannya menyampaikan sepucuk surat kepada Gubernur Gak .

Setelah selesai mengubur jenazah itu dan memberi hormat sekadarnya dengan sederhana tanpa upacara sembahyang , Yang Cien lalu meninggalkan tempat itu , menuju ke selatan .

***** 120

Ketika Yang Cien berjalan tiba di lereng sebuah bukit , tiba-tiba saja dari balik semak belukar berloncatan banyak orang dan nampak tiga orang tinggi besar bersama dua belas orang anak buahnya telah menghadang perjalanannya ! .

Yang Cien sudah menduga bahwa mereka itu memang menghadangnya , akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan hendak melangkah terus . Akan tetapi tiga orang tinggi besar itu menghalangi jalannya dan berseru keras , “ Orang muda , berhenti kau !”

Yang Ciean berhenti dan memandang mereka penuh perhatian . Tiga orang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu seperti tiga orang raksasa , sekepala lebih tinggi darinya dan wajah mereka nampak bengis . Seorang yang tertua memegang sebatang golok , orang kedua memegang sebatang pedang dan orang ketiga memegang sebatang ruyung besi .

Mereka nampak kuat sekali dan orang pertama yang memegang golok maju ke depan . Mereka bertiga itu terkenal dengan julukan Huang-ho Sam-how ( Tiga Harimau Sunagi Kuning ) , terdiri dari tiga orang kakak beradik bernama Ceng Hauw , Ceng Kiat dan Ceng Lung .

Ceng Hauw orang tertua berkata dengan suaranya yang parau kasar , “ Orang muda , engkaukah yang telah membantu Kam Lo-kai dan mengubur mayatnya ?” .

“ Benar , aku yang mengubur jenazah Kam Lo-kai “ , jawab Yang Cien .

“ Hemmm , siapakah namamu , orang muda ?”

“ Namaku Yang Cien “ .

“ Kami masih menyayangi usia mudamu . Yang Cien , sebaiknya engkau cepat menyerahkan surat yang kau terima dari Kam Lo-kai itu kepada kami !” .

“ Mendiang Kam Lo-kai tidak pernah menitipkan surat 121

kepadaku untuk di serahkan kepada kalian !” kata Yang Cien dengan suara sungguh-sungguh .

“ Memang bukan untuk kami . Surat itu untuk Gubernur Gak , bukan ? Nah , serahkan kepada kami , cepat !” .

“ Kalau kalian tahu bahwa surat itu bukan untuk kalian , mengapa kalian memintanya ? Itu tidak sopan dan tidak benar “ .

Tiga orang Huang-ho Sam-houw itu menjadi marah . “ Toako , bunuh saja bocah ini dan rampas suratnya !” kata Ceng Kiat .

“ Benar , hajar saja dia !’ kata pula Ceng Lung

“ Hem , aku merasa sayang karena sebetulnya dia tidak tersangkut hanya kebetulan saja menerima surat dari Kam Lo-kai . Orang muda , ku harap engkau menyerahkan surat itu . Kalau tidak , tubuhmu akan menjadi seperti ini !” Berkata demikian , Ceng Houw mengayun goloknya membabat sebatang pohon dan batang pohon itu roboh seketika , terpotong oleh golok tajam yang di gerakkan dengan tenaga amat kuatnya itu .

“ Atau seperti ini !” kata pula Ceng Kiat dan sebatang pohon lain tumbang oleh sabetan pedangnya .

“ Atau ini ?” bentak Ceng Lun dan terdengar suara keras , batu gunung sebesar kepala kerbau itu remuk di hantam ruyungnya . Melihat ini , Yang Cien tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki tenaga besar dan merupakan lawan cukup tangguh . Namun , tentu saja dia tidak takut dan tidak ingin menyerahkan surat yang seolah baginya merupakan wasiat seorang yang telah meninggal dunia .

“ Maaf , sam-wi tidak berhak menerima surat itu , terpaksa saya tidak dapat menyerahkan “ .

“ Engkau mencari mampus !” bentak tiga orang tinggi besar itu dan mereka sudah menggerakkan senjata untuk 122

menyerang . Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan dua orang dan muncullah seorang to-kouw ( Pendeta perempuan ) dan seorang gadis cantik berdiri di situ . Tokouw itu memegang sebuah kebutan yang bulunya putih .

“ Tahan senjata !” seru Tokouw itu dengan suara nyaring . “ Kalian ini orang-orang banyak hendak memaksa seorang pemuda ? Kalau dia tidak mau menyerahkan sesuatu , tidak semestinya kalau kalian memaksanya “ .

Huang-ho Sam-houw mengerutkan alisnya . “ Tokouw , harap engkau jangan mencampuri urusan kami !” bentak Ceng Hauw marah . “ Pergilah dan jangan usil “ .

“ Kami tidak usil , dan tentu saja kami akan campur tangan kalau melihat kejahatan dilakukan orang . Kalian tidak boleh memaksa pemuda ini melakukan sesuatu yang tidak dia sukai “ .

Ceng Haouw memberi aba-aba kepada anak buahnya . “ Serang ………! “

Dua belas orang anak buahnya mengepung sambil menghunus senjata golok atau pedang mereka . Akan tetapi , nampak dua sianr berkilat ketika To-kouw dan gadis itu mencabut pedang mereka dan segera terjadi pertempuran yang berat sebelah . Dalam waktu singkat saja , gadis dan tokouw itu sudah merobohkan enam orang . Melihat ini , Huang-ho Sam-houw menjadi marah . Dengan teriakan ganas mereka menerjang dengan senjata mereka . Ceng Haouw yang bergolok dan Ceng Kiat yang berpedang menyerang tokouw itu , sedangkan Ceng Lun menggunakan rutungnya untuk menerjang gadis yang memegang pedang dengan ronce merah . Sisa enam orang anak buah gerombolan itu pun ikut pula mengeroyok , akan tetapi dari jarak jauh karena mereka gentar menghadapi pedang tokouw dan nona itu .

Yang Cien yang berdiri di pinggiran memandang dengan kagum . Dia melihat betapa tokouw dan nona itu amat lihai 123

sehingga tidak perlu di bantu . Maka dia pun hanya menonton saja . Tokouw itu amat lihainya , bukan saja pedangnya mampu menahan golok dan pedang lawan , akan tetapi juga kebutan di tangan kiri nya merupakan senjata yang ampuh sekali . Bulu-bulu hudtim ( kebutan pendeta ) itu kadang dapat menjadi tegang dan keras oleh kekuatan sinking yang terkandung di dalamnya . Dapat pula dipakai melibat , dapat pula di pakai menotok .

Baru belasan jurus saja , Ceng Haouw dan Ceng Kiat terdesak hebat . Tiga orang anak buah yang mencoba-coba untuk membantu , sudah lebih dulu roboh .

Pertandingan antara Ceng Lund an gadis itu pun tidak seimbang . Ruyung di tangan Ceng Lun itu memang berat dan di gerakkan dengan tenaga gajah sehingga berbunyibersiutan ketika menyambar . Batu saja remuk kena hantaman ruyung ini , apalagi tubuh gadis cantik itu . Akan tetapi nyatanya , gerakan gadis itu cepat seperti seekor burung wallet sehingga semua sambaran ruyung tidak pernah mengenai sasaran dan sebaliknya . Serangan balik dari pedang di tangan gadis itu beberapa kali hampir saja mengenai leher dan dada Ceng Lun .

Juga tiga orang anak buah yang membantunya sudah lebih dulu roboh di sambar sinar pedang gadis itu .

Akhirnya , Huang-ho Sam-houw maklum bahwa kalau di lanjutkan , mereka tidak akan menang . Mereka lalu berteriak memberi aba-aba dan semua anak buahnya melarikan diri secepatnya , ada yang terpincang , ada yang berloncat-loncatan , bahkan ada yang merangkak pergi . Huang-ho Sam-houw sendiri sudah melarikan diri dengan cepat meninggalkan tokouw dan gadis yang berbahaya itu .

Tokouw dan gadis itu tidak mengejar , hanya mengikuti mereka yang melarikan diri sambil tersenyum . Kalau mereka mengejar , tentu semua anak buah itu dapat mereka bantai karena lari mereka tidak cepat . 124

Yang Cien cepat memberi hormat kepada mereka . “ Ji-wi telah menolong saya . Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih “ .

“ Orang muda , siapakah engkau ? Siapa namamu ?”

“ Nama saya Yang Cien , Sian-kouw “

“ Perkenalkan , pin-ni ( aku yang bodoh ) di sebut Im-yang Tokouw dan aku adalah wakil ketua dari Thian-li-pang , dan ini adalah murid pin-ni bernama Kwe Sun Nio .

Yang Cien , kami melihat engkau tadi menguburkan jenazah Kam Lo-kai , engkau mempunyai hubungan apakah dengan Kam Lo-kai ?” .

“ Tidak ada hubungan apapun , Sian-kouw . Kami hanya bertemu ketika kami berdua berperahu di Tai-hu , kemudian dia tewas di keroyok orang jahat dank arena dia tidak mempunyai siapa-siapa aku lalu menguburkan jenazahnya . Tentu sangat sederhana , di tepi telaga “ .

“ Bagus , engkau seorang yang berperikemanusiaan , Yang Cien . Dan sebelum Kam Lo-kai meninggal dunia , dia memesan apa kepadamu ?” .

Yang Cien mengerutkan alisnya . “ Sian-kouw , maafkan aku . Pesanan seorang mati merupakan wasiat , apalagi dia berpesan agar aku tidak memberitahukan siapapun , oleh karena itu terpaksa aku juga tidak dapat memberitahukan kepadamu “ .

“ Begini , Yang Cien , engkau harus dapat membedakan mana orang baik dan mana orang jahat . Kami yakin engkau menerima pesan penting dari mendiang Kam Lo-kai dan kalau kau pertahankan pesan itu untukmu sendiri , bagaimana kalau nanti bermunculan orang jahat seperti tadi ? Tidak aman kalau berada padamu . Oleh karena itu , berikan saja kepada pin-ni yang tentu pesan itu akan di sampaikan dengan selamat kepada yang berhak menerimanya . 125

“ Sekali lagi maaf , Sian-kow . Aku tidak dapat memberitahukan apa-apa atau memberikan kepadamu . Apa yang terjadi antara Kam Lo-kai dan aku merupakan rahasia yang tidak akan ku katakana kepada siapa pun juga “ .

“ Yang Cien , engkau sungguh keras kepala , Bagaimana kalau aku memaksamu ?”

“ Terserah kepadamu , Sian-kouw . Tetap tidak akan ku berikan “ .

“ Engkau berani menentangku ?” .

“ Apa boleh buat , engkau yang memaksaku “ .

“ Bocah sombong , rasakan ini !” Tokouw itu lalu menggerakkan kebutannya . Bulu kebutan menjadi tegang dan meluncur dengan totokan kea rah pundak Yang Cien .

Yang Cien merasa penasaran juga . Ternyata tokouw ini juga menghendaki surat dari Kam Lo-kai itu . Akan tetapi , bagaimana pun , tokouw dan nona ini tadi sudah membantunya , bagaimana kini akan menjadi lawannya . Totokan kebutan itu di elakkannya dengan mudah , akan tetapi agaknya tokouw itu ingin mengujinya atau memang marah . Kebutannya sudah bergerak lagi , berputaran dan mendatangkan gulungan sinar putih melakukan totokan berulang-ulang . Yang Cien terpaksa mengerahkan tenaga dan sekali tangannya menangkis dengan sentilan jari tangannya , kebutan itu membalik dan beberapa helai bulunya rontok ! .

“ Ihhh ….. ! “ Sian-kouw itu terkejut bukan main , hampir tidak percaya bahwa sentilan jari tangan itu dapat membuat kebutannya membalik dan merontokkan bulu kebutannya . Akan tetapi ketika di lihatnya , pemuda itu telah melompat jauh dan gerakannya sedemikian cepatnya sehingga dengan beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah lenyap .

Im Yang Sian-kouw menarik napas panjang dan berkata kepada muridnya , “ Hebat ……. ! Tak ku sangka pemuda itu 126

demikian hebatnya . Kalau begitu , kita tidak perlu khawatir surat itu akan dapat terampas orang , hanya siapa tahu pemuda itu tidak akan menyampaikannya kepada Gubernur Gak ?”

Yang Cien memang mempergunakan ilmunya berlari secepat terbang meninggalkan Im Yang Sian-kouw dan Kwe Sun Nio karena dia tidak ingin berkelahi melawan kdeua orang itu .

Ketika tiba di Nam-kiang dengan mudah saja dia dapat menemukan rumah Gubernur Gak , akan tetapi seperti biasanya , tidak mungkin setiap orang dapat menemui orang yang tertinggi kedudukannya di daerah itu . Yang Cien di tahan oleh para penjaga di depan pintu gerbang gedung tempat tinggal Gubernur Gak .

“ Tidak mungkin menghadap Gubernur Gak . Lebih dulu daftarkan nama dan keperluannya , baru kami laporkan ke dalam dan kalau Gubernur berkenan menerimamu , baru engkau boleh pergi menghadap “ , kata kepala jaga . Yang Cien menghela napas panjang . Betapa sulitnya bertemu orang besar , pikirnya . Dia lalu mendaftarkan namanya dan untuk keperluannya dia menerangkan bahwa dia mohon menghadap Gubernur Gak untuk menyampaikan pesan dari Kam Lo-kai .

Ternyata nama Kam Lo-kai itu amat berpengaruh . Kepala jaga yang melihat nama ini di sebut , segera membawa daftar itu ke dalam untuk melapor kepada Gubernur Gak dan tak lama kemudian dia keluar lagi dan sikapnya berubah ketika dia mempersilahkan Yang Cien masuk dan menunggu di kamar tamu .

Terdengar langkah kaki dari dalam , akan tetapi bukan hanya satu orang . Muncullah seorang laki-laki setengah tua d\yang dari pakaiannya saja Yang Cien dapat menduga bahwa orang inilah gubernurnya . Akan tetapi yang membuat dia kaget dan bengong adalah dua orang yang ikut datang 127

bersama gubernur itu . Im Yang Sian-kouw dan Kwee Sun Nio ! Dengan sendirinya semua urat syaraf di tubuh Yang Cien menegang dan alisnya berkerut , matanya dengan tajam menatap kedua orang wanita itu .

“ Engkaukah yang bernama Yang Cien dan membawa pesan dari Kam Lo-kai untuk kami ?” Tanya Gubernur itu .

Yang Cien baru menyadari sikapnya dan dia cepat memberi hormat kepada gubernur itu . “ Benar , taijin . Saya bernama Yang Cien dan hendak menyampaikan pesan dari mendiang Kam Lo-kai , akan tetapi ……… “ dia memandang kepada dua orang wanita itu .

“ Jangan heran , Yang Cien . Ketahuilah bahwa Im Yang Sian-kouw hanya hendak mengujimu , hendak mengetahui apakah engkau setia kepada mendiang Kam Lokai dan apakah engkau memiliki kemampuan untuk mempertahankan surat pesanan itu . Iam Yang Sian Kouw adalah utusan kami untuk menjemput Kam Lokai akan tetapi dia dan muridnya terlambat “ .

Barulah Yang Cien mengerti dan dia pun menceritakan pertemuannya dengan Kam Lokai sampai terlukanya Kam Lokai dan tewasnya pengemis tua itu , juga tentang pesan yang diberikan kepadanya . Lalu dia mengeluarkan surat itu dan menyerahkannya kepada Gubernur Gak .

Gubernur membuka surat itu dan membacanya . Dia mengerutkan alisnya dan nampak gelisah , kemudian dia memandang kepada Yang Cien .

“ Yang Cien , kami berterima kasih sekali atas bantuanmu ini . Engkau telah berjasa dan kami akan memberi hadiah besar kepadamu “ .

“ Ah , bukan hadiah yang saya harapkan , taijin . Saya melakukan ini untuk mendiang Kam Lokai , bukan untuk taijin . OLeh karena itu saya tidak mengharapkan hadiah sama sekali . 128

Nah , sesudah saya menyampaikan surat ini kepada yang berhak menerimanya , perkenankan saya berpamit , taijin “ .

“ Engkau benar tidak ingin menerima hadiah , Yang Cien ?” .

“ Terima kasih , taijin . Saya tidak menghendaki apapun . Selamat tinggal “ .

Yang Cien lalu mengundurkan diri , keluar dari ruangan tamu itu .

Setelah Yang Cien pergi , Gubernur Gak memuji . “ Seorang pemuda yang baik . Akan tetapi kita tidak boleh membiarkan dia mengetahui urusan kita , karena siapa tahu dia berdiri di pihak mana . Dia tentu seorang yang berwatak pendekar , akan tetapi mungkin saja dia tidak setuju dengan pendirian kita “ .

“ Benar , taijin . Kalau belum yakin betul tentang watak dan sikapnya , tentu saja tidak semestinya kita memberitahu kepadanya . Taijin maaf , apakah pesan yang di bawa Kam Lokai itu ?” .

“ Penting sekali . Ternyata kini Koksu telah menghimpun tenaga , bahkan Kaisar Julan Khan telah menerima seorang yang lihai dan mengangkatnya menjadi pembantu Koksu “ .

“ Siapakah dia , taijin ?”

“ Dia seorang datuk dari timur , julukannya Thian-te Ciu-kwi “ .

“ Ah , dia ? Kalau begitu , kedudukan Koksu kini menjadi semakin kuat . Kalau dia mengumpulkan datuk-datuk persilatan untuk memperkuat kedudukannya , maka pengaruhnya akan menjadi semakin besar “ .

“ Koksu dan Perdana Menteri Ji memang merupakan penghalang besar dari gerakan kita , taijin . Sebelum menghancurkan kedua orang itu dan para pembantunya , 129

kiranya akan sukar untuk mengusir penjajah Toba dari tanah air “ .

“ Dan lebih celaka lagi , Kaisar telah memanggil pulang Coa-ciangkun dan menarik mundur pasukan . Aku heran , mengapa kaisar tiba-tiba saja melakukan sesuatu hal ini ? Apakah dia sudah mendengar sesuatu yang membuat dia sudah mendengar sesuatu yang membuat dia curiga kepada Coa-ciangkun ?” .

“ Pin-ni khawatir bahwa ini adalah ulah Perdana Menteri Ji dan Koksu Lui . Sejak dahulu mereka berdua ini tidak akur dengan Coa-ciangkun . Bahkan Coa-ciangkun sampai di kirim ke selatan adalah karena kaisar makan bujukan mereka berdua agar Coa-ciangkun jauh dari kota raja dimana Coa-ciangkun suka menentang peraturan yang menindas rakyat . Akan tetapi kenapa sekarang tiba-tiba Panglima Coa di panggil pulang ?” .

“ memang mencurigakan sekali . Sekarang harap tokouw suka pergi ke perbatasan menemui Panglima Coa , juga melaporkan tentang masuknya datuk sesat Thian-te Ciu-kwi menjadi pembantu Koksu . Kalau mungkin , harap bujuk agar Panglima Coa tidak kembali ke kota raja karena aku khawatir sekali bahwa panggilan ini merupakan jebakan bagi Panglima Coa “ .

“ Baik , taijin . Mari Sun Nio , kita berangkat sekarang juga “ .

Guru dan murid itu lalu meninggalkan gedung Gubernur Gak untuk melaksanakan tugas mereka mendatangi Panglima Coa di garis depan , perbatasan dengan Kerajaan Sun .

*****

Yang Cien berjalan-jalan seorang diri di kota Nam-kiang . Ketika melihat sebuah rumah makan , dia pun merasa lapar dan memasuki rumah makan itu . Begitu dia memasuki rumah makan , bukan pelayan yang menghampirinya , melainkan 130

seorang berpakaian satrawan yang usianya sekitar tiga puluh tahun .

“ Selamat siang , sobat . Apakah engkau ingin makan minum ?” .

“ Benar “ , jawab Yang Cien dengan heran , karena tidak mungkin kalau orang ini pelayannya . Pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar .

“ Aku melihat engkau datang seorang diri , dan kebetulan sekali akupun seorang diri sedang makan minum di sini .

Sejak tadi aku mencari-cari seorang kawan untuk makan minum karena aku merasa kesepian sekali . Kebetulan engkau muncul , maka kalau engkau tidak berkeberatan , aku mengundangmu untuk makan minum bersamaku sambil mengobrol . Maukah engkau , sobat ?” .

-oo0dw0ooo-

Jilid 5

Ajakan itu sungguh ramah dan orang itupun kelihatan sopan terpelajar . Yang Cien menjadi tertarik sekali dan diapun mengangguk sambil tersenyum .

“ Terima kasih , sobat . Tentu saja aku merasa senang sekali “ .

Orang itu lalu membawa Yang Cien ke sebuah meja yang penuh makanan dan belum di jamah . “ Nah , silahkan makan minum bersamaku , saudara …….. “ .

“ Yang Cien , namaku Yang Cien “ .

“ Bagus , saudara Yang Cien . Namaku Thio Swi “ , orang itu memperkenalkan dirinya . Dia lalu menuangkan arak ke dalam cawan di depan Yang Cien , juga di depannya sendiri . 131

Pada saat itu , masuklah seorang berpakaian pengemis yang membawa tongkat dan mangkok retak , meminta-minta sedekah dari para tamu . Dan dia mendekati Yang Cien menadahkan tangannya kepada pemuda itu . Gerakan tangan itu menarik perhatian Yang Cien karena seperti gerakan silat dan ketika dia memandang dia melihat dua buah . Dan huruf-huruf itu mengejutkan hatinya karena tertulis ARAK BERACUN .

Akan tetapi Yang Cien telah melatih diri sehingga dia mampu menguasai dirinya . Pengemis setengah tua itu sudah pergi lagi tanpa satrawan itu mengetahui bahwa diam-diam pengemis ini memberi peringatan kepada Yang Cien .

“ Saudara Yang Cien , mari kita minum untuk pertemuan dan persahabatan “ .

“ Maafkan , saudara Thio Swi . Aku sedang berpantang minum arak . Aku baru saja bersumpah kepada ibuku untuk tidak minum arak setetespun . Aku tidak berani , biar aku minum the saja “ .

“ Eh , kenapa begitu ? Kenapa engkau bersumpah kepada ibumu tidak akan minum arak setetespun ?” .

Yang Cien tersipu , “ Aku pulang dalam keadaan mabok keras . Ibuku marah dan menyuruh aku bersumpah bahwa selama tiga bulan aku tidak akan menyentuh arak dan tidak minum setetespun . Baru berjalan satu bulan , masih dua bulan lagi aku berpantang minum arak “ .

Sastrawan itu kelihatan mengerutkan alisnya dan sekarang berubahlah sikapnya yang tadinya sopan . “ Aih , saudara Yang Cien . Kalau engkau minum secawan ibumu juga tidak akan tahu . Asal engkau tidak minum sampai mabok . Ini hanya untuk merayakan pertemuan kita ….. “ kata Thio Swi sambil mengangkat cawannya , mengajak Yang Cien minum .

“ Maaf , saudara Thio Wi . Aku tidak berani “ . 132

“ Yang Cien , kalau engkau tidak mau minum , berarti engkau tidak menghormatiku , tidak menerima maksud baikku , bahkan menghinaku !” .

Yang Cien bangkit berdiri . “ Kalau begitu , biarlah aku duduk di meja lain dan tidak akan mengganggumu , saudara Thio Wi “ .

Thio Swi mendadak bangkit berdiri dan menggebrak meja . “ Engkau bahkan berani menolak undanganku yang bermaksud baik ? Sungguh engkau menghinaku , engkau menantangku !” .

Dan Thio Swi melemparkan arak dalam cawannya kea rah muka Yang Cien . Namun Yang Cien telah waspada dan dengan mudah dia miringkan kepalanya mengelak .

Akan tetapi Thio Swi semakin marah . Dia melompati meja dan menyerang dengan pukulan tangan kanan . Gerakannya gesit dan ringan , pukulannya juga mengandung tenaga yang kuat . Yang Cien menggerakkan tangan menangkis .

“ Dukkk !” Kedua lengan bertemu dan akibatnya Thio Swi menyerengai karena merasa lengannya nyeri seolah tulangnya akan patah . Dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang dengan dahsyat .

Kiranya dia menyembunyikan pedang di balik jubah sastrawan yang longgar itu . Kembali Yang Cien mengelak dan dia di serang secara bertubi-tubi oleh sebuah bangku dan melontarkan bangku itu ke depan . Thio Swi membacok bangku itu sehingga terpotong menjadi dua , akan tetapi pada saat itu kaki Yang Cien telah mencuat dan mengenai pahanya .

“ Desssss ! Tubuh Thio Swi terlempar ke belakang dan menimpa meja . Thio Swi terbelalak , agaknya sama sekali tidak dapat mengerti bagaimana dia yang berpedang dapat di robohkan demikian mudah nya oleh lawan . Sementara itu , perkelahian telah menarik perhatian banyak orang dan para 133

pelayan dan pemilik rumah makan berteriak-teriak membujuk agar mereka jangan berkelahi di tempat itu . Thio Swi yang maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat berbahaya , setelah dapat bangkit berdiri lalu mengambil langkah panjang meninggalkan rumah makan itu .

Yang Cien dengan tenang memanggil pemilik rumah makan dan berkata , “ Harap paman hitung semua kerugian yang di akibatkan keributan ini . Aku akan mengganti semua kerugian ini . Aku akan mengganti semua kerugian itu !” Dan dia pun mengambil secawan arak yang di suguhkan kepadanya , lalu mencelupkan telunjuknya lalu menjilat telunjuk itu .

Dia dapat merasakan sesuatu yang keras pada lidahnya dan tahulah dia bahwa pengemis tadi tidak berbohong . Arak itu beracun ! Dia menuangkan arak ke atas lantai dan setelah kerugiannya di hitung , Yang Cien mengeluarkan sepotong emas dan membayar kerugian yang di derita rumah makan itu . Kemudian dia keluar dari rumah makan tanpa memesan makanan apa-apa karena dia tidak ingin menjadi perhatian orang .

Ketika tiba di sebuah tikungan , dia melihat pengemis yang tadi memberi peringatan kepadanya berdiri di tepi jalan sambil menadahkan tangannya yang memegang mangkok retak . Di dalam mangkok itu telah terdapat beberapa uang receh . Yang Cien menghampirinya dan dia berkata , “ Sobat , banyak terima kasih atas peringatanmu tadi “ .

Pengemis itu berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun , dia memandang ke kanan kiri setelah mendapat kenyataan tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka , dia lalu berbisik , “ Taihap kami semua ingin berkenalan dan menghaturkan terima kasih kepada taihap atas apa yang taihiap lakukan terhadap mendiang Kam Lokai . Karena itu , apabila taihiap tidak merasa rendah mari ikuti aku ke tempat kami , taihiap “ .

Yang Cien terkejut . Dia heran sekali melihat apa yang telah 134

di alami selama ini di daerah selatan ini . Agaknya di tempat ini tersebar banyak mata-mata yang tahu belaka akan gerak-geriknya . Huang-ho Sam-houw , kemudian mereka yang menghadangnya di hutan , dan tokouw bersama muridnya itu , selanjutnya pemuda sastrawan bernama Thio Swi dan yang terakhir pengemis ini . Mereka itu semua telah mengetahui apa yang telah dia lakukan tanpa dia tahu sama sekali mengenai mereka . Agaknya dia akan mendapat keterangan yang jelas dari pengemis ini . Mengingat bahwa semua peristiwa itu berawal dari pertemuannya dengan seorang kakek pengemis , maka sebaiknya di akhiri dengan pertemuannya dengan pertemuannya dengan para pengemis , agas emua persoalannya menjadi jelas

“ Baiklah “ , katanya dan diapun mengikuti pengemis itu yang keluar dari kota Nam-kiang . Pengemis itu tanpa menoleh terus berjalan di ikuti dari jarak jauh oleh Yang Cien agar tidak menarik perhatian orang lain . Ketika tiba di kaki sebuah bukit , pengemis itu berbelok ke kiri dan mendaki sebuah bukit itu . Bukit yang penuh dengan hutan bamboo dan akhirnya mereka tiba di sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi di lereng bukit itu . Dan di situ nampak banyak sekali pengemis , semua tinggal di gubuk-gubuk yang di dirikan di sekitar lereng bukit itu .

Yang Cien di terima di ruangan kuil yang luas dan sudah kosong . Mereka semua duduk di atas lantai bertilamkan jerami kering . Seorang pengemis berusia lima puluh tahun , berjenggot panjang dan memegang sebatang tongkat hitam , diperkenalkan sebagai ketua mereka . Pengemis itu nampak berwibawa sekali walaupun pakaiannya dari kain hitam yang penuh tambalan .

“ Selamat datang di tempat kami , Yang Taihiap . “ Kembali orang ini sudah mengenal namanya , pikir Yang Cien , tidak heran lagi .

“ Engkau siapakah , paman ?” tanyanya karena tadi 135

diperkenalkan tanpa menyebut nama .

“ Aku bernama Song Pa , ketua dari perkumpulan pengemis di sini . Perkumpulan kami memakai nama Hek I Kai-pang ( Perkumpulan Pengemis Pakaian Hitam ) dan aku adalah ketua cabang Nam-kiang . Pusat kami berada di Nan-king . Dan Kam Lo-kai yang tewas itu adalah seorang tokoh dari pusat “ .

“ Ahhhh ………! “ Kini mengertilah Yang Cien mengapa dia menjadi pusat perhatian . Kiranya kakek pengemis yang di tolongnya itu merupakan tokoh besar di antara mereka .

“ Duduklah , taihiap “ , kata Song Pa , dan Yang Cien ikut bersama mereka duduk di lantai , bersila . “ Kami semua menghaturkan terima kasih atas semua kebaikan yang taihiap lakukan kepada Kam Lokai !” Dan tiba-tiba ketua cabang itu berlutut di turut oleh semua anak buah nya .

Tentu saja Yang Cien menjadi gugup sekali . “ Ah , jangan begitu , pangcu . Yang ku lakukan itu adalah secara kebetulan saja karena aku merasa kagum kepada Kam Lokai yang pandai bersajak . Harap jangan bersikap begini , atau aku akan meninggalkan tempat ini !” .

Semua orang bangkit dari berlutut dan duduk kembali . “ Semenjak taihiap menguburkan jenazah Kam Lokai , anak buah kami selalu membayangi taihiap sehingga sempat menolong taihiap ketika taihiap terancam oleh Thio Swi itu “ .

“ Akan tetapi , aku menjadi bingung dengan semua rentetan peristiwa yang ku alami , pangcu . Maukah engkau memberi penjelasan kepadaku ? Siapakah Kam Lokai dan apa pekerjaannya yang berhubungan dengan surat yang di sampaikan kepada Gubernur Gak itu . Dan siapa pula orang-orang yang membunuhnya , dan orang-orang yang menghadangku untuk merampas surat ? Kemudian , siapa pula Thio Swi dan apa hubungan kalian dengan Gubernur Gak ? Apa artinya surat itu dan apakah yang sesungguhnya sedang terjadi ?” . 136

Ketua pengemis itu mengelus jenggot panjangnya dan berkata . “ Agaknya taihiap adalah seorang pendekar yang baru saja memasuki dunia kang-ouw dan yang secara kebetulan dan tidak di sengaja terlibat dalam urusan ini . Ketahuilah bahwa Kam Lokai seperti kami katakan tadi adalah seorang tokoh Hek I Kaipang , dan perkumpulan kami adalah perkumpulan yang mendukung usaha para pendekar patriot yang hendak membebaskan tanah air dari penjajahan bangsa Toba . Karena itu , Kam Lokai tidak menolak ketika di mintai bantuan oleh Coa-ciangkun , seorang yang menjadi Panglima bangsa Toba , untuk menyelidiki keadaan di kota raja , terutama keadaan Koksu dan Perdana Menteri . Ketahuilah , taihiap , bahwa sebetulnya kaisar Julan Khan adalah seorang kaisar yang tidak becus dan berenang dalam kemewahan . Bahwa sebetulnya yang berkuasa penuh adalah Perdana Menteri Ji Sun Cai dan Koksu Lui Tat .

Terutama Koksu Lui Tat adalah seorang yang besar kekuasaan nya dan dia pun seorang yang amat pandai dan lihai , dengan julukan Toat-beng Giam-ong” .

Diam-diam Yang Cien terkejut bukan main mendengar nama julukan ini karena yang membunuh orang tuanya adalah Toat-beng Giam-Ong dan yang mengejar-ngejar dia dan kakeknya dahulu juga adalah orang ini , atau tentu saja anak buahnya .

“ Hemmm , nama Toat-beng Giam-ong itu pernah ku dengar , pangcu . Lalu bagaimana ?” .

“ Nah , Kam Lokai mendapat tugas itu lalu melakukan penyelidikan . Tentu saja dengan bantuan anak buah Hek I Kaipang yang banyak pula berada di kota raja karena perkumpulan kita memiliki cabang hamper di seluruh negeri . Dia mendengar bahwa Koksu telah memperoleh bantuan seorang yang juga amat lihai bernama Thian-te Ciu-kwi bersama seorang muridnya . Dengan demikian , maka tentu saja kekuatan Koksu itu semakin besar dan inilah yang di 137

sampaikan dalam surat itu oleh Kam Lokai . Kebetulan dia bertemu taihiap ketika di serang oleh anak buah Koksu dan dapat menitipkan surat itu kepadamu “ .

“ Hem jadi pembunuh Kam Lokai adalah anak buah Toat-beng Giam-ong ?”

“ Benar , taihiap . Juga mereka yang menghadang taihiap untuk minta surat itu adalah anak buahnya . Dia memiliki mata-mata dan anak buah di mana-mana dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi . Juga Thio Swi itu adalah seorang di antara kaki tangannya , seorang anak buah kami melihat taihiap di undang makan minum , dia segera memberi peringatan kepada taihiap tentang arak beracun “ .

Yang Cien mengangguk-angguk maklum . “ Dan siapa pula Im Yang Tokouw dan muridnya itu ?” .

“ Mereka ? Mereka adalah tokoh-tokoh Thian-li-pang , sebuah perkumpulan yang berjiwa patriot yang sedang mempersiapkan kekuatan untuk menumbangkan kekuasaan Toba “ .

Yang Cien tertarik sekali . Memang mendiang kakeknya juga berulang kali berpesan agar dia berusaha untuk mempersatukan semua kekuatan untuk mengusir Bangsa Toba dari tanah air .

“ Kapan akan di adakan gerakan perjuangan itu ?” tanyanya .

Song Pancu menghela napas dan mengepal tinju . “ Tidak mudah , sama sekali tidak mudah , taihiap . Memang bangsa kita banyak yang masih bodoh . mudah tergiur oleh harta dan kemuliaan , banyak pula yang berambisi ingin mencari kesenangan sendiri . banyak sekali panglima dan pasukan yang bahkan membantu bangsa Toba , seperti halnya Perdana Menteri Ji dan Kok su Lui itu . Hanya sedikit saja yang seperti Coa-ciangkun . Maka kekuatan masih jauh tak berimbang . Selain banyak bangsa kita rela di perbudak oleh bangsa Toba 138

dengan mendapatkan kedudukan dan harta benda , juga masih terdapat banyak sekali orang keras kepala yang tidak mau bersatu , bahkan merajalela berdiri sendiri . Bukan saja gubernur-gubernur dan raja-raja muda berdiri sendiri , tidak mau bersatu untuk mengusir bangsa asing , bahkan juga perkumpulan-perkumpulan dijadikan rebutan karena ingin memperoleh kekuasaan . Ahhh , kalau di pikirkan sungguh menyedihkan sekali “ .

Yang Cien teringat akan sajak yang di nyanyikan Kam Lokai . Semua burung dara pergi ketakutan tidak berani melawan burung gagak , dan menanti munculnya sang garuda untuk mengusir burung gagak ! .

“ Kenapa mereka saling berebutan kekuasaan ?” .

“ Inipun merupakan siasat yang dilakukan Koksu yang licik itu . Dia sengaja melempar fitnah ke sana sini , mengadu domba antar golongan dan antar perorangan di antara tokoh kangouw . Bahkan diapun menggunakan kaki tangannya untuk menyusup ke dalam tubuh Hek I Kaipang kami . Baru saja ketahuan seorang diantara tokoh yang di calonkan untuk menggantikan aku menjadi ketua cabang di sini karena aku hendak di tarik ke pusat , ternyata adalah seorang mata-mata pemerintah , anak buah Koksu . Dia sempat melarikan diri , oleh karena itu hari ini kami hendak mengadakan pemilihan ketua baru untuk cabang Nam-kiang . Kebetulan sekali taihiap dapat hadir dan menjadi saksi “ .

Pertemuan untuk mengadakan pemilihan pangcu cabang itu di lakukan di halaman belakang yang lebih luas , dimana di dirikan sebuah panggung darurat . Semua anggota cabang Nam-kiang yang jumlahnya seratus lebih orang itu sudah terkumpul di situ . Di panggung kehormatan duduk Song Pangcu dan para pembantunya , yaitu calon-calon yang akan di angkat menjadi penggantinya . Juga Yang Cien mendapat kehormatan di atas panggung . Pemilihan itu di lakukan atas dasar suara para anggota , jadi bukan ketua yang menentukan 139

. Ketua hanya menunjuk calon-calonnya , di ukur dari ilmu kepandaian silat dan juga ilmu pengetahuan dan kecerdikannya . Yang di pilih menjadi calon di antara para pembantu Song Pancu itu ada tiga orang , yaitu Kiang Si Gun , Phang Kim dan Ciok Kui .

Setelah Song pangcu melihat semua orang berkumpul , dia lalu bangkit berdiri dan mengangkat tangan ke atas minta agar semua anggota tidak rebut .

“ Saudara – saudara sekalian , hari ini kita tentukan pemilihan pangcu yang baru . Seperti kalian sudah mengetahui , oleh ketua pusat aku akan di tarik ke sana untuk tugas-tugas yang lebih penting . Oleh karena itu haruslah diadakan pemilihan pangcu baru untuk menggantikan aku . Dan menurut wawasanku , di pandang dari sudut ilmu kepandaian , pengalaman dan kebijaksanaan , aku menunjuk tiga orang calon yang sudah kalian ketahui baik sifat baik buruknya . Mereka itu adalah Kiang Si Gun , Phang Kim dan Ciok Kui . Sekarang terserah kepada kalian untuk menentukan pilihan , siapa di antara tiga calon itu yang di angkat menjadi pangcu baru . Sekarang kami minta agar kalian memberikan suaranya . kami mulai dengan Kiang Si Gun lebih dulu . Siapa yang memilih dia menjadi ketua ?” .

Banyak tangan di acungkan dan Song-Pangcu sendiri menghitung suara itu . Dari banyak tangan yang di acungkan itu , setelah di hitung jumlah nya ada empat puluh dua .

“ Sekarang , siapa yang memilih Phang Kim menjadi ketua ?” Kembali banyak tangan mengacung dan ketika di hitung jumlahnya ada empat puluh .

“ Dan siapa memilih Ciok Kui menjadi ketua ?” Kembali tangan yang mengacung di hitung dan jumlahnya ada tiga puluh tujuh .

“ Kiang Si Gun mendapatkan empat puluh dua suara , Phang Kim mendapatkan empat puluh dan Ciok Kui 140

mendapatkan tiga puluh tujuh . Berarti bahwa pemilihan terbanyak jatuh kepada Kiang Si Gun . Kalian sendiri yang menentukan , maka hari ini Kiang Si Gun …… “ .

“ Maaf , pangcu !” terdengar teriakan dan yang berdiri di antara semua orang yang duduk di atas tanah itu adalah seorang pengemis muda yang usianya sekitar

Dua puluh tiga tahun . “ Saya ingin mengajukan protes !” .

Song-pangcu memandang penuh perhatian . “ Siapa engkau ? Anggota baru ?”

“ Saya bernama Lai Seng , pangcu . Memang saya anggota baru , baru sekitar enam bulan menjadi anggota Hek I Kai-pang . Akan tetapi , saya sudah mempelajari peraturan di Hek I Kai-pang bahwa seorang ketua baru haruslah memiliki kelihaian yang melebihi semua anggota kalau tidak , bagaimana kalau ada anggota yang bertindak salah ? Apakah pangcu itu akan mampu menghukumnya ? Juga , menurut peraturan , semua orang dapat saja di angkat menjadi ketua asalkan dia anggota Hek I Kaipang . Sekarang pangcu mengangkat tiga calon tanpa memberi kesempatan kepada para anggota , apakah ini adil ? Bagaimana kalau ada anggota yang ternyata lebih lihai dan pandai dari pada calon itu ?” .

Semua orang terkejut dan heran mendengar ini , akan tetapi juga banyak mengangguk gembira karena ucapan itu memang tepat sekali . Orang merasa heran karena Lai Seng itu biasanya pendiam , dan baru beberapa bulan menjadi anggota dan jarang sekali bicara dengan rekan-rekannya . Kini , tahu-tahu pemuda itu berani memrotes kepada ketua ! Benar-benar merupakan kejutan yang menegangkan .

“ Ucapanmu memang benar , Lai Seng . Akan tetapi ketahuilah bahwa ketika kami mengangkat mereka bertiga menjadi calon , kami telah mengetahui dengan baik kepandaian mereka masing-masing , dan kami rasa kepandaian mereka lebih tinggi tingkatnya dari semua anggota 141

kaipang “ .

“ Bagaimana hal itu dapat di pastikan tanpa di uji lebih dahulu , pangcu ?”

“ Di uji bagaimana maksudmu ?” Tanya Song-pangcu penasaran bahwa ada seorang muda begini cerewet .

“ Di uji oleh para anggota , yaitu apa bila ada anggota yang merasa mampu , maka dia boleh menguji calon ketuanya . Kalau calon ketua itu kalah oleh seorang anggota , maka anggota itulah yang lebih pantas di calonkan menjadi Ketua , bukan ?”

“ Hemmm , memang sepantasnya begitu . Akan tetapi siapa di antara anggota yang hendak menguji Kiang Si Gun ? Silahkan kalau ada yang berani “ .

“ Saya akan mengujinya , pangcu . Biar hati ini tidak menjadi penasaran , dapat mengetahui sampai dimana kelihaian ketuanya yang baru “ .

“ Baik , aku perkenankan engkau maju untuk menguji kepandaian Kian Si Gun !” .

“ Kiang Si Gun , engkau di tantang oleh Lai Seng , seorang anggota baru , berilah dia bukti bahwa engkau mampu menjadi ketua !” .

Kiang Si Gun juga sudah menjadi merah mukanya . Kalau yang mengajukan protes itu seorang anggota Hek I Kaipang yang lama dan sudah berpengalaman , dia masih akan dapat mengerti . Akan tetapi , bocah ini , anggota baru , berani mengujinya ? Dia harus memberi hajaran kepada pemuda itu ! .

“ Lai Seng , aku di calonkan oleh Song-pangcu dan di pilih oleh para anggota , dan engkau masih tidak percaya kepadaku ? Kalau engkau hendak mengujiku , majulah dan coba keluarkan kepandaianmu !” . 142

Kini Kiang Si Gun sudah berdiri di tengah panggung , tongkat hitamnya di tangan . Orang ini berusia empat puluhan tahun , tubuhnya kurus namun tubuhnya nampak kuat dengan otot-otot yang menonjol . Dia merupakan sute dari Song Pang-cu , maka semua orang tidak meragukan lagi kepandaiannya . Semua orang menduga bahwa Kiang Si Gun , seperti juga Song Pang-cu , tentu mahir sekali dengan ilmu Hek tung hoat ( Ilmu Tongkat Hitam ) yang amat lihai .

Lai Seng dengan sikap tenang lalu naik ke atas panggung , dan dia memberi hormat kepada Kiang Si Gun . “ Kiang-twako harap tidak tersinggung . Saya melakukan ini justru untuk membuktikan bahwa twako memang pantas menjadi ketua . Coab bayangkan kalau melawan aku saja twako tidak mampu menang , apakah mungkin twako di jadikan ketua cabang yang memimpin seratus orang anggota lebih ?” .

“ Lai Seng tidak perlu banyak cakap lagi . Kami semua sudah mendengar omonganmu dan mengerti akan maksudmu . Nah , keluarkan tongkatmu dan mari kita mengadu kepandaian !” .

“ Kiang-twako , engkau sudah memegang tongkat , akan tetapi biarlah aku bertangan kosong saja , hendak ku lihat sampai dimana tingkatmu dalam ilmu Hek-tung-hoat !” kata pemuda itu dan diapun sudah berdiri di depan Kiang Si Gun dengan sikap yang sigap , namun tenang sekali .

Kiang Si Gun menjadi merah mukanya . Dia di tantang oleh seorang anggota biasa yang hendak melawan tongkatnya dengan tangan kosong saja ! .

“ Bagus , semua orang mendengar dan menjadi saksi akan kesombonganmu . Nah sambutlah tongkatku ini ! “ Kiang Si Gun sudah menggerakkan tongkatnya menghantam ke arah kepala pemuda itu . Namun dengan lincahnya pemuda yang bernama Lai Seng itu telah dapat mengelak dengan mudahnya . Melihat serangannya luput , Kiang Si Gun menyusulkan serampangan tongkatnya kea rah kedua kaki lawan , akan 143

tetapi kembali Lai Seng dapat menghindar dengan lompatan tinggi ke atas . Tubuhnya naik dan menukik sambil kedua tangannya menyerang kepala Kiang Si Gun yang menjadi terkejut bukan main melihat gerakan yang seperti seekor burung saja cepatnya itu . Terpaksa dia melempar tongkatnya untuk melindungi kepala sehingga serangan Lai Seng juga gagal .

Karena merasa penasaran Kiang Si Gun lalu mainkan Hek-tung-hoat dengan gencar , melakukan gerakan Hek-tung-ta-kouw ( Tongkat Hitam Pemukul Anjing ) , gerakannya cepat dan tongkat itu mengeluarkan suara berdesir ketika menyambar-nyambar secara bertubi-tubi . Akan tetapi dia menjadi semakin terkejut ketika pemuda itu menangkis tongkat dengan kedua lengannya . Terdengar suara dak-duk yang keras seolah kedua lengan pemuda itu berubah menjadi baja dan Kiang Si Gun merasa betapa kedua tangannya tergetar ketika tongkatnya bertemu lengan pemuda itu . Dia terkejut lalu memutar kembali tongkatnya , melanjutkan serangannya dengan jurus Hek-liong-hoan-bwe ( Naga Hitam mengubah ekor ) , tongkatnya menyambar dengan pukulan kea rah pinggang lawan .

Kembali Lai Seng melompat tinggi dan kembali dia menukik untuk menyerang kepala sehingga Kiang Si Gun terdesak dan harus berlompatan mundur .

Lai Seng menyerang terus dengan pukulan dan tendangannya yang dahsyat . Biar pun Kiang Si Gun berusaha untuk menangkis namun tetap saja dia terkena tendangan sehingga tubuhnya terpental dari atas panggung ! Baru belasan jurus saja calon ketua ini telah di kalahkan oleh seorang anggota muda.

“ Ah , Cuma sebegitu saja kemampuan seorang calon ketua ?” Lai Seng mengejek .

Yang Cien merasa tidak senang . Pemuda ini sombong sekali . Memang dia melihat tadi bahwa ilmu silat pemuda itu 144

lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Kiang Si Gun , suatu hal yang amat mengherankan . Kiang Si Gun adalah sute dari ketua Song Pa , dan pemuda itu hanyalah anggota atau anak buah yang kepandaiannya tentu hanya setingkat dengan murid sang ketua .

“ Lai Seng !” Kini Song Pangcu melompat ke atas panggung . “ Darimana engkau mempelajari ilmu silat yang kau pakai mengalahkan Kiang Si Gun tadi ?”

“ Song-pangcu , sebelum menjadi anggota Hek I Kaipang , saya sudah mempelajari banyak ilmu silat . Apakah hal ini tidak boleh !” .

Song-pangcu marah sekali . “ Boleh , boleh , dan aku sendiri ingin menguji kepandaianmu !” .

“ Aih , pangcu , lebih baik jangan . Kalau sampai pangcu kalah , tentu pangcu akan kehilangan muka dan …….. “

Pada saat itu , Yang Cien yang maklum bahwa pemuda itu lihai dan memang tidak semestinya seorang ketua melawan anak buahnya sendiri , telah maju dan berdiri dekat Song-pangcu .

“ Pangcu , apa yang di katakana Lai Seng ini benar . Dia hanya seorang anggota biasa , bagaimana akan melawan ketuanya ? Kalau pangcu menghajarnya , tentu pangcu hanya akan menjadi buah tertawaan karena melawan seorang anggota muda . Aku bukan anggota , akan tetapi sahabat Hek I Kaipang , biarlah aku yang menghadapinya . Eh , orang she Lai , kalau aku mewakili Song-pangcu maju untuk menandingimu , apakah engkau berani ?” .

Yang Cien bersikap cerdik . Dia sengaja bertanya apakah Lai Seng berani karena dengan pertanyaan seperti itu , tentu Lai Seng tidak dapat mengajukan alasan apapun dan akan merasa malu kalau menolak , di sangka tidak berani .

“ Baik , akan tetapi karena engkau mewakili Song-pangcu , 145

kalau engkau kalah berarti aku telah mengalahkan Song-pangcu dan dengan begitu , akulah yang berhak menggantikan dia menjadi pangcu di cabang Nam-kiang ini kalau dia pergi ke pusat “ .

Song-pangcu sudah maklum atau setidaknya dapat menduga bahwa tamunya itu lihai sekali , maka tanpa banyak pikir lagi dia menjawab , “ Baik , Lai Seng kalau engkau mampu mengalahkan Yang-Taihiap , biarlah engkau yang menjadi ketua cabang menggantikan aku . Engkau memang pantas untuk kedudukan itu “ .

Wajah Lai Seng berseri dan dia lalu menantang Yang Cien . “ Orang asing , engkau bukan anggota Hek I Kaipang , sebelum kita bertanding , aku ingin lebih dulu mengenal namamu . Dalam pertandingan , mungkin saja orang roboh dan tewas , maka jangan sampai ada yang tewas tanpa nama “ .

Bukan main sombongnya , pikir Yang Cien . Akan tetapi pemuda ini pandai mengatur kata-kata sehingga ucapannya yang memandang rendah itu tidak terdengar kasar .

“ Dengarlah Lai Seng , namaku Yang Cien . Nah engkau majulah !” .

“ Engkau yang menantangku , engkau yang maju lebih dulu , Yang Cien !” kata Lai Seng . Sikap ini saja menunjukkan bahwa pemuda ini memang lihai , tahu bahwa dalam suatu pertandingan antara orang setingkat kepandaiannya , siapa maju lebih dulu berarti rugi karena setiap penyerangan berarti pula membuka diri untuk dapat di serang lawan .

Yang Cien tersenyum dan dengan sembarangan saja dia maju dan berseru . “ Lihat pukulan !” tangan kirinya meluncur dan menampar kea rah pipi kanan lawan . Melihat pukulan yang sederhana ini , Lai Seng mengeluarkan suara dengus mengejek . Dia menarik mukanya ke belakang dan tiba-tiba saja dari bawah , kaki nya sudah mencuat dan mengirim 146

tendangan kilat kea rah pusar Yang Cien .

Semua orang terkejut karena serangan pertama ini benar-benar amat berbahaya sekali .

Namun hati mereka lega melihat betapa Yang Cien juga dapat menghindarkan diri dengan amat mudah . kakinya melangkah ke kiri dan dengan sedikit miringkan tubuh , tendangan itu hanya mengenai angina belaka .

“ Wuuuttt …. !” kaki itu melayang cepat dan di ikuti pula oleh kaki kedua yang juga melayang dan mengejar ke mana tubuh Yang Cien bergerak . Kiranya pemuda itu melakukan tendangan berantai dan tubuhnya seperti terbang saja ketika kedua kakinya melakukan tendangan bertubi .

“ Plak ! Plak ! “ Tangan Yang Cien menangkis dan tubuh Lai Seng agak terhuyung karena kedua kakinya terdorong dengan amat kuat . Dia terkejut dan kini senyum mengejek itu hilang dari mukanya karena dia tidak lagi berani memandang rendah lawannya .

“ Bagus , engkau berisi juga !” bentaknya dan kini dia sudah menyerang kalang kabut dengan kedua tangan dan kedua kakinya . memukul dan menendang seperti singa mengamuk .

Namun , dengan tenang Yang Cien melayani dengan elakan dan tangkisan , bahkan sempat pula membalas dan dapat di tangkis pula oleh lawannya .

“ Haaiiiitttttt …!” Tiba-tiba pemuda itu mengubah gerakannya dan kini tubuhnya bergerak ke sana sini dalam bentuk pat-kwa ( segi delapan ) dan pukulannya mengeluarkan angina yang dahsyat .

Itulah ilmu Pat-hong-hong-I ( Pukulan delapan angina hujan ) yang amat dahsyat .

Namun dengan ilmunya Bu-tek Cin-keng Yang Cien dengan mudah dan tenang dapat menghalau semua serangan itu . 147

Bahkan dengan dorongan kedua telapak tangannya dia sempat membuat Lai Seng bertolak ke belakang dan terhuyung dua kali .

Lai Seng menjadi semakin penasaran . Selama ini memang dia yang mengambil peran sebagai penyerangn namun selalu gagal . Tiba-tiba dia melompat dan menubruk sambil menggereng seperti seekor harimau . Itulah jurus Go-houw-poksit ( Macan kelaparan sambar makanan ) yang dahsyat sekali . Tubuhnya melayang di udara , kaki tangannya seperti kaki harimau yang mencengkram . Kedua tangannya membentuk cakar dan kedua kakinya siap untuk menendang .

“ Bagus …. ! “ kata Yang Cien dan ia pun dengan jurus Kong-ciak khay-peng ( Merak membuka sayap ) dia menghadapi serangan itu , lalu menyambut kedua tangan itu dengan tangkisan ke kanan kiri sedangkan tubuhnya bergeser ke kanan dan dari arah itu dia membalas dengan dorongan jurus Te-tiu-kim-ciang ( Mendorong roboh lonceng emas ) . Kembali tubuh Lai Seng tidak kuat menerima hawa dorongan itu dan diapun terhuyung ke samping .

Dia menjadi marah , begitu tubuhnya sudah dapat memulihkan keseimbangannya , dia menyerang dengan gerakan Siauw-cu-twi ( Tendangan berantai ) . Kedua kakinya seperti kitiran , kanan kiri terus menendang tanpa dapat di hentikan .

Yang Cien menjadi gemas juga . Sudah beberapa kali dia membuat lawan ini terdorong dan terhuyung , akan tetapi Lai Seng tetap tidak mau mengaku kalah dan bahkan menyerang lebih dahsyat . Dia lalu mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng , menangkis kedua kaki itu sambil mendorong .

“ Brukkk …… !” Tubuh Lai Seng terpelanting dan terdorong roboh terjengkang . Sorak-sorak dan tepuk tangan riuh rendah menyambut kemenangan Yang Cien ini . Akan tetapi agaknya Lai Seng adalah seorang pemuda yang tinggi hati dan selama ini tidak pernah menemui tanding . Juga dia kecewa karena 148

dia sudah memperhitungkan bahwa kalau Song-pangcu yang maju , dia pasti menang . Kini , tanpa di sangka-sangka , muncul seorang pemuda asing yang mengalahkannya . Dia meloncat lagi dan ketika tangannya bergerak ke bawah bajunya , dia telah mencabut sebatang suling perak yang berkilauan putih .

“ Yang Cien , dalam hal ilmu tangan kosong , aku kalah setingkat . Akan tetapi aku menantangmu untuk menggunakan senjata . Engkau boleh memilih senjata apa saja !” tantangnya dengan sikap congkak , agaknya suling perak itu merupakan senjata yang amat di andalkan dan ampuh .

Yang Cien juga maklum bahwa sebetulnya pemuda ini memiliki ilmu yang tinggi . Kalau dia tidak mempelajari Bu-tek Cin-keng , tentu diapun akan kalah . Kini , pemuda itu mengeluarkan senjata suling , tentu senjata itupun ampuh sekali .

Maka , tanpa ragu dia mengeluarkan pedangnya dari buntalan pakaian yang di tinggalkan di atas meja . Begitu dia mencabut pedangnya , semua orang berseru kagum . Sinar putih berkelebat dan pedang putih berkilauan , bahkan lebih menyilaukan dibandingkan suling perak di tangan Lai Seng .

“ Nah , Lai Seng , aku sudah siap !” kata Yang Cien sambil melintangkan pedangnya di depan dada dan mengangkat tangan kirinya ke atas menunjuk langit .

“ Lihat senjata !” bentak Lai Seng dan dia mulai memainkan sulingnya yang panjangnya sama dengan pedang itu . Terdengar suara melengking nyaring ketika suling itu bergerak dan berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung . Akan tetapi sinar putih kedua juga bergulung-gulung dan kini beberapa kali terdengar suara berdentingan dan nampaklah bara api berpijar-pijar menyilaukan mata . Kedua orang pemuda itu sudah saling serang dengan hebat . Sebetulnya , kalau Yang Cien menghendaki , dengan tangan kosong pun 149

dia akan mampu mengalahkan lawannya yang memegang suling . Akan tetapi dia tidakmau kelihatan congkak seperti lawannya , maka dia melayaninya dengan Pek-liong Po-kiam di tangan . Setelah lewat belasan jurus , Yang Cien mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng dan menggerakkan pedangnya . Pedang menyambar dahsyat bertemu dengan suling dan terdengar suara keras .

“ Traaanngggg …. Traakkk ….!” Lai Seng memekik , melompat mundur dan terhuyung , tangannya berdarah karena terluka dan sulingnya patah menjadi dua potong . Ternyata dia hanya mampu bertahan sampai belasan jurus saja . Dengan mata mencorong dia memandang Yang Cien kemudian dia melompat dari atas panggung , melompat jauh dan melarikan diri dari tempat itu .

“ Haiii , tunggu ….. !!” Teriak Song Pangcu yang hendak mengejar , akan tetapi Yang Cien berkata .

“ Tak usah di kejar , pangcu . Ku rasa dia itu bukan anggota Hek I Kaipang yang sesungguhnya “ .

“ Ahh …. Benar katamu itu taihiap ! Ilmunya begitu hebat , dan sekarang aku baru menyadari bahwa dia tentulah seorang mata-mata dari Kok-su yang menyeludup . Lima bulan yang lalu dia di bawa seorang anggota yang mengatakan bahwa pengemis muda itu menyatakan hendak bergabung dan masuk menjadi anggota Hek I Kaipang . Karena sikapnya amat baik dan sopan , kami pun merasa tidak berkeberatan untuk menerimanya sebagai anggota dan selama ini diapun nampak baik dan tidak mencurigakan . Siapa tahu , agaknya dia mengincar kedudukan ketua cabang dan hanya menanti kesempatan saja . Aku yakin bahwa dia tentulah seorang anak buah Koksu yang memang banyak tersebar di mana-mana “ .

“ Hemm , kalau di cabangKok-su mengirim orang untuk menguasai kedudukan ketua , apalagi di pusat . Bagaimana kau pikir , Song-pangcu ?” . 150

Song-pangcu menjadi berubah air mukanya . “ Aah , aku belum berpikir sejauh itu , taihiap . Akan tetapi Cu Lokai , yaitu pangcu dari Hek I Kaipang pusat di kota raja , memanggil aku untuk membantunya , aku merasa heran juga . Entah apa maksud Cu Lokai memanggil aku . Sekarang , mendengar pendapatmu tadi , aku merasa khawatir juga “ .

“ Song-pangcu , kapan engkau akan berangkat ke kota raja ?” .

“ Sekarang juga dan sudah ku putuskan bahwa Kiang Si Gun menjadi ketua cabang , di bantu oleh Phang Kim dan Ciok Kui , agar kedudukannya lebih kuat “ .

“ Kalau begitu , aku akan menyertaimu , pangcu . Aku juga ingin melihat-lihat keadaan di kota raja “ .

“ Bagus sekali kalau begitu , taihiap . Kekhawatiranku jadi lenyap seketika dan aku yakin bahwa engkau yang akan dapat membantu apa bila terjadi kesulitan menimpa Hek I Kaipang “ .

Demikianlah , setelah mengatur perkumpulan itu dan meninggalkan pesan-pesan , Song-pangcu lalu berangkat bersama Yang Cien meninggalkan Nam-kiang menuju ke kota raja .

****

Lui Koksu duduk di ruangan dalam bersama Thian-te Ciu-kwi dan Cian Kauw Cu . “ Aku baru saja kembali dari istana dank arena tugas kita sekali ini berat , maka aku memanggil kalian untuk ku ajak berunding “ .

“ tugas apakah itu , Giam-ong ?” Tanya Thian-te Ciu-kwi yang biasa menyebut Koksu itu Giam-ong begitu saja kalau sedang berada berdua saja . Kalau di depan umum , tentu saja dia menyebut Koksu untuk menjaga martabat dan kehormatan sang Koksu .

“ Kami mendengar bahwa Gubernur Yen di timur sedang 151

mengumpulkan kekuatan secara diam-diam dan hal ini amat mencurigakan . Kalau sampai Gubernur Yen memberontak , maka amatlah berbahaya . Karena itu sebelum hal ini terjadi , kita harus lebih dahulu menyelidiki sampai dimana kebenaran berita itu . Kalau sudah yakin benar barulah kita akan menggempurnya sebelum dia sempat bertindak lebih jauh . Dan untuk tugas ini sebaiknya ku serahkan kepada Kauw Cu . Kalau engkau yang pergi , Ciu-kwi , engkau di timur sudah di kenal sebagai datuk dan gerak-gerikmu tidaklah leluasa lagi . Aku sudah berunding dengan Perdana Menteri Ji dan beliau juga sudah menyetujui kalau aku mengutus Kauw Cu yang melakukan penyelidikan “ .

“ Hemm , muridku ini dalam hal ilmu silat memang sudah boleh sekali di andalkan , akan tetapi dalam urusan menyelidik , dia kurang pengalaman “ .

“ Justeru sekarang dia memperoleh pengalaman . Kauw Cu , beranikah engkau melaksanakan tugas ini ? Engkau menyelidiki keadaan Gubernur Yen , apa betul die mempersiapkan pasukan besar dan apa betul dia memiliki rencana untuk memberontak terhadap kerajaan “ .

“ Tentu saja saya berani , taijin . Suhu , saya akan melaksanakan tugas dengan baik dan saya akan berhati-hati “ , kata Akauw gembira karena dia merasa bosan kalau harus menganggur saja di kota raja . Dengan tugas itu , dia akan memperoleh pengalaman yang menarik . Apa sih cukarnya melakukan penyelidikan ? Bertanya-tanya , mendengar dan melihat !

“ Baiklah , kalau memang engkau merasa sanggup . Akan tetapi berhati-hatilah , Akauw . Karena di Timur banyak terdapat orang pandai . Kalau kalau sewaktu engkau mengalami kesukaran , asalkan engkau menyebut namaku sebagai guru , kiranya tidak sembarang orang akan berani mengganggumu “ .

“ Baik , suhu “ . 152

Demikianlah , setelah berkemas , membawa pakaian , Pedang Naga Hitam , sejumlah uang untuk bekal di perjalanan dan berpakaian biasa bukan sebagai panglima melainkan sebagai petani biasa , berangkatlah Akauw meninggalkan kota raja .

Pemuda ini tidak menarik perhatian orang . Seorang pemuda tinggi besar yang bertubuh kokoh kekar , kulit mukanya kecoklatan gelap , menggendong buntalan pakaian warna kuning ! Alisnya tebal dan hitam melindungi sepasang mata yang lebar dan sinarnya tajam mencorong , hidungnya mancung dan besar , dengan mulut dan bibirnya menunjukkan kekerasan hatinya . Dagunya berlekuk dan tulang pipinya menonjol . Wajahnya jantan , daya tariknya terletak kepada kejantanan dan kekerasannya . Pakaiannya seperti seorang petani biasa . dan pedangnya dia sembunyikan di dalam buntalan pakaian itu . Langkahnya tegap , seperti langkah harimau dan sikapnya membuat orang jahat berpikir dua kali sebelum berani mengganggunya .

Belum dua li meninggalkan pintu gerbang timur kota raja , melalui jalan yang sunyi , terdengar orang memanggilnya , “ Akauw …. Berhenti dulu , Akauw …. !” .

Akau berhenti dan menengok , wajahnya berseri karena dia mengenal suara itu . Suara yang sudah lama dia rindukan , suara seorang sahabat baiknya yang hanya sempat dikenalnya dalam waktu singkat saja .

“ Bi Soan …… !” teriaknya dengan girang ketika dia melihat pemuda remaja itu berlari-lari mendatangi . Pemuda remaja itu nampak sehat , akan tetapi pakaiannya lebih bersih daripada biasanya , walaupun masih penuh tambalan . Wajahnya berseri ketika dia memandang kepada Akauw .

“ Hei , Akauw , engkau hendak kemanakah ?” .

“ Aku ? Aku hendak pergi ke Lok-yang dan engkau kemana saja selama ini , Bi Soan ? Kenapa ketika aku melihatmu dulu , 153

ku panggil-panggil engkau malah melarikan diri ?” .

“ Benarkah engkau memanggilku ? Aku tidak mendengarnya . Mau apa engkau ke Lok-yang , Akauw ?” .

“ Merantau , mau apa lagi ? Aku memang perantau dan senang berpesiar “ .

“ Akauw , aku ikut denganmu !” .

Wajah Akauw berseri tanda bahwa dia merasa gembira sekali . “ Betulkah ? Baik , aku senang sekali kalau engkau mau pergi bersamaku , Bi Soan . Ada temanku dalam perjalanan “ .

“ Akauw , aku kau anggap sebagai teman ?” .

“ Ya , tentu saja . Temanku yang paling baik , sahabatku yang selama ini ku kenang dank u rindukan “ .

“ Eh ? Kenapa ?”

“ Kenapa apa ?” .

“ Kenapa seorang pemuda merindukan pemuda lain ?” .

“ Apa tidak boleh ? Aku senang sekali bergaul denganmu , maka aku rindu kepadamu . Dan sekarang , engkau ingin melakukan perantauan bersamaku , tentu saja aku senang sekali “ .

“ Akauw , engkau percaya kepadaku ?”

“ Tentu saja , engkau sahabat baik , ingat ketika kita di kejar-kejar orangnya jaksa gendut itu ?” .

Bi Soan tertawa dan Akauw menganggumi sederetan gigi yang seperti mutiara itu . Pemuda remaja yang pakaiannya tambal-tambalan dan mukanya kusut dengan rambut awut-awutan itu ternyata memiliki wajah yang tampan sekali .

“ kalau engkau percaya , ku harap engkau menceritakan riwayat dirimu . Engkau darimana , asal mana , siapa orang 154

tuamu dan bagaimana bisa sampai ke Tiang-an ? Ayo ceritakan semua , kalau tidak berarti engkau tidak percaya padaku dan aku akan marah “ .

“ Eh , jangan marah Bi Soan . Tentu saja aku mau bercerita . Akan tetapi aku takut engkau tidak percaya dan marah kepadaku . Aku khawatir engkau tidak percaya kepadaku “ .

“ Ah , mengapa begitu ? Orang seperti engkau ini pasti jujur dan tidak suka berbohong “ .

“ Bagaimana kalau kita berteduh di bahwa pohon sana itu ? Dengan duduk berteduh , akan lebih enak aku bercerita , tidak sambil berjalan begini “ .

“ Baiklah , mari kita duduk di sana . matahari telah naik tinggi dan panasnya bukanmain “ .

Mereka duduk di bawah pohon dan Akauw mengeluarkan sebuah guci dari dalam buntalannya . “ Engkau haus ? Minumlah !” Dia menawarkan .

“ Ah , aku tidak begitu suka minum arak , apalagi dalam keadaan cuaca panas begini “ .

“ bukan arak , biarpun gucinya guci arak , isinya air the !” kata Akauw sambil tertawa dan Bi Soan juga tertawa lalu minum dari mulut guci . Setelah Bi Soan minum , Akauw juga minum , barulah dia bercerita .

“ Pertama-tama , namaku Cian Kauw Cu , biasa di sebut Akauw saja , dan orang tuaku …. Aku tidak pernah mengenalnya “ .

“ Ah , masa ? Engkau bohong …….. !”

“ Nah , nah . Apa kataku tadi , aku khawatir engkau menganggap aku berbohong , baru satu kalimat ku keluarkan engkau sudah menuduhku bohong !” kata Akauw sedih . Melihat wajah yang gagah itu tiba-tiba berubah sedih , Bi Soan lalu memegang tangan Akauw . 155

“ Maafkan , bukan makduku menuduh , tapi ……… bagaimana mungkin orang tidak pernah mengenal ayah ibunya sendiri ?

“ Sungguh mati , aku tidak pernah mengetahui siapa ayah ibuku , tidak pernah melihat mereka dan tidak tahu mereka itu siapa “ .

“ Lalu , kenapa engkau mempunyai nama dan mempunyai nama keluarga Cian ?” .

“ Oh , itu ? Nama keluargaku di ambil dari kalung yang ku pakai ini . Aku menemukan kalung ini , ku pakai dan selanjutnya oleh Aki aku di sebut Cian Kauw Cu “ .

“ Aki , siapa pula itu ?” .

“ Namanya Boan Ki , akan tetapi aku biasanya memanggilnya Aki . Dialah manusia pertama yang ku jumpai dan yang mengajarku bicara “ .

“ Eh ? Apa pula ini ? Manusia pertama ….. mengajarmu bicara … apa sih artinya ?” .

“ Dengarkan sajalah Bi Soan , dan engkau akan mengerti . Kalau selalu kau potong-potong begini , takkan ada habisnya ceritaku nanti . nah sebenarnya begini , sejak kecil sekali , sejak aku dapat ingat , aku adalah anak seekor kera besar ………. “

“ Waahhh , mana mungkin !” Bi Soan berteriak , sedemikian kerasnya sampai Akauw sendiri kaget mendengarnya .

“ Nah , nah , mulai lagi !” .

“ ya , sudahlah , berceritalah . Seperti dongeng saja riwayatmu , Akauw ! Akauw …. ? Namamu ini …. Akauw …. “

“ memang , namaku juga Kauw-cu ( monyet ) , sesuai dengan keadaanku waktu itu . Ku lanjutkan ceritaku . Aku tidak tahu apakah aku ini anak monyet , yang jelas , sejak 156

kecil aku hidup di antara kera-kera besar . Aku tentu saja mempunyai kebiasaan seperti kera , dalam hal makan , berloncatan ke pohon-pohon , bahkan bicara dank era-kera itu memberi nama aku … Kercak “ .

“ Apa ?”

“ Kercak !” ketika mengeluarkan kata atau nama itu , suara Akauw memang suara monyet sehingga sukar di tangkap oleh Bi Soan .

“ Ya sudahlah , lalu bagaimana ?”

“ Sejak kecil sekali sampai berusia kurang lebih sepuluh tahun aku hidup seperti monyet . Aku menemukan kalung ini pada tulang kerangka manusia dan ku pakai kalung ini , juga aku menemukan sebatang golok . Setelah aku berusia sepuluh tahun , aku melihat dua rombongan manusia masuk ke Lembah Iblis dan mereka bertempur saling serang . Banyak orang tewas dan setelah mereka yang menang pergi , ada seorang di antara mayat-mayat itu yang tidak mati . Dia adalah Aki dan sejak itu , Aki yang mengajarku bicara seperti manusia , bahkan memberi nama Cian Kauw Cu kepadaku “ .

“ Ahhh , luar biasa sekali ! Kisahmu ini seperti dongeng dan kalau bukan aku , tentu orang tidak akan percaya kepadamu “ .

“ Jadi , kau percaya padaku , Bi Soan ?”

“ Percaya sekali !” .

Tiba-tiba sepasang lengan yang panjang dan besar itu memeluk tubuh Bi Soan yang kecil sehingga tubuh itu tenggelam ke dalam rangkulan dan di tekan-tekan seperti akan remuk rasanya . Akan tetapi sekali meronta , Bi Soan dapar terlepas dari rangkulan itu dan mukanya berubah merah sekali matanya mencorong ketika dia bangkit berdiri .

“ Akauw , aku larang engkau memeluk aku seperti itu lagi ! Kalau sekalai lagi kau lakukan itu , aku akan pergi 157

meninggalkanmu !” .

Akauw terbelalak . “ Ah , tidak …. Tidak akan ku lakukan lagi . Akan tetapi kenapa , Bi Soan ? Aku memelukmu karena kegirangan bahwa engkau percaya kepadaku “ .

“ Girang ya girang , akan tetapi jangan memeluk seperti itu . Di rangkul dan di tekan seperti itu , bisa remuk semua tulangku , tahu ? Sudah , lanjutkan ceritamu yang menarik tadi “ .

“ Sampai tiga tahun lamanya Aki tinggal bersamaku di hutan , akan tetapi aku semakin tahu setelah dia mengajari aku bicara dan tentang segala kehidupan manusia , bahwa dia seorang yang jahat . Malah suatu hari , dia bermaksud untuk membunuhku !” .

“ Ihhh , engkau yang menolong sehingga dia tetap hidup , lalu dia hendak membunuhmu ? “ Bi Soan berseru kaget .

“ Betapa jahatnya ? Akan tetapi kenapa dia hendak membunuhmu Akauw ? “ .

Hampir saja Akauw bercerita tentang emas , akan tetapi dia teringat akan pesan suhengnya agar tidak bercerita kepada siapapun juga tentang guha-guha itu , maka dia lalu menjawab , “ Mungkin dia bosan dengan aku dan hendak hidup sendiri . Akan tetapi untung sekali pada saat yang gawat itu muncul lah suhu dan suheng “ .

“ Kau punya suhu dan suheng ? Siapa mereka ?”

“ Tadinya tidak punya . Seorang kakek tua dan seorang pemuda muncul menolongku dari ancaman Aki yang kemudian tewas terjatuh ke dalam jurang . Aku lalu berguru kepada kakek itu dan si pemuda menjadi suhengku . Guruku itu bernama Yang Kok It dan suhengku itu cucunya , bernama Yang Cien “ .

“ yang Kok It ? Hemmm , rasanya nama itu tidak asing bagiku , seperti pernah aku mendengarnya . Lalu bagaimana , 158

Akauw ? Ceritamu semakin menarik saja “ .

Karena menerima pujian dari sahabatnya yang amat di sayangnya itu , Akauw menjadi semakin bersemangat untuk bercerita . “ Aku dan suheng belajar ilmu silat dari Suhu Yang Kok It sampai suhu meninggal dunia karena usia tua . Kemudian , aku masih tinggal lagi berdua saja dengan suheng di Lembah Iblis , kemudan aku pergi merantau sampai di sini “ .

“ Dan di sini engkau bekerja membantu Koksu , ya ?” .

Akauw terkejut . Dia sedang bertugas dalam penyelidikan , maka dia harus merahasiakan pekerjaannya . Tak di sangka bahwa sahabatnya ini telah mengetahuinya .

“ Eh , bagaimana engkau dapat tahu ?” .

Bi Soan tersenyum mengejek . “ Tentu saja aku tahu segalanya , aku mempunyai banyak sahabat di antara kaum pengemis . Akauw , belum lama ini kita bicara tentang para pembesar dan pejabat yang korup dan menindas rakyat dan sekarang engkau menjadi seorang pembesar !” suaranya terdengar mencela .

” Aku tidak menjadi pembesar ! Aku .. aku hanya terpaksa ikut dengan suhu dan di perbantukan kepada Koksu Lui . Aku bersumpah tidak akan melakukan kejahatan , tidak akan membantu kalau Koksu menindas rakyat “ .

“ Hem , engkau agaknya belum tahu orang macam apa Koksu Lui itu . Dan sekarang ini , engkau melaksanakan tugas apakah ?” .

“ Bi Soan , sahabatku , jangan bertanya tentang tugasku , ini tugas rahasia . Tak boleh seorangpun boleh mengenal bahwa aku bekerja untuk Koksu Lui , apalagi nanti di Lok-yang “ .

“ Hemm , aku sudah tahu tanpa kau beritahu . Dan kita 159

akan melakukan perjalanan bersama ke Lok-yang , bukan ? Bagaimana aku dapat membantumu kalau aku tidak mengetahui apa tugasmu ? Aku harus tahu karena kalau tugas itu untuk menindas rakyat aku tidak sudi bekerjasama denganmu !” .

“ Tidak , tidak , Bi Soan-te ( adik Bi Soan ) . Aku hanya mendapat tugas untuk melakukan penyelidikan terhadap Gubernur Yen di Lok-yang karena menurut para penyelidik , Gubernur Liu itu bermaksud untuk menyusun kekuatasn dan memberontak terhadap pemerintah “ .

“ Benarkah itu , Akauw ?” Kini sikap Bi Soan nampak sungguh-sungguh .

“ Begitulah yang di katakana oleh Koksu . Oleh karena itu Koksu dan suhu mengutus aku pergi ke Lok-yang dan melakukan penyelidikan seksama akan kebenaran berita itu . Kalau memang benar gubernur itu hendak memberontak , sebelum dia bergerak , akan lebih dulu di serbu dan di gagalkan pemberontakannya “ .

Bi Soan mengangguk-angguk . “ Wah , kalau begitu tugasmu itu penting sekali , Akauw . Apakah engkau pernah ke Lok-yang ? Sudahkah engkau mengenal keadaan dan daerah itu ?” .

Akauw memandang bodoh dan menggeleng kepalanya . Bi Soan menarik napas panjang . “ Aih , kenapa Lui Koksu begitu bodoh menyuruh seseorang yang sama sekali belum mengenal medannya ? Sudahlah , biar aku menyertai dan membantumu Akauw . Aku sudah hafal betul keadaan di Lok-yang “ .

Bukan main girangnya hati Akauw . “ Terima kasih , Bi Soan . Aku tahu sejak semula bahwa engkau adalah seorang sahabat sejati yang amat baik kepadaku .

“ Nah , sekarang engkau yang mendapat giliran menceritakan riwayat hidupmu kepadaku , agar akupun dapat mengenal dirimu dengan baik “ . 160

“ Aku ? Ah , tidak ada apa-apanya yang menarik mengenai diriku . Aku hidup sebatangkara , seorang gelandangan yang tidak tentu tempat tinggalnya , hidup bebas lepas seperti seekor burung gereja . “ Bi Soan bangkit berdiri , mengembangkan kedua tangannya seperti seekor burung yang mengepakkan kedua sayapnya . “ Mari kita lanjutkan perjalanan , Akauw “ .

“ Eh , nanti dulu , Bi Soan . Engkau belum menceritakan siapa orang tuamu dan dimana mereka tinggal !” kata Akauw yang ikut pula berdiri .

“ Aku Bi Soan tidak mempunyai orang tua , tidak mempunyai siapapun di dunia ini kecuali mempunyai seorang sahabat yang bernama Akauw ! Nah , itulah Bi Soan yang kau kenal , Akauw dan jangan Tanya apa-apa lagi karena engkau hanya membuat hatiku menjadi sedih saja “ .

Akauw merasa terharu . “ Aih , kasihan sekali engkau , Bi Soan “ .

“ Karena engkau tidak mempunyai orang tua lagi “ .

“ Dan engkau ? Engkaupun tidak mempunyai orang tua . Sudahlah , jangan merasa iba kepada orang lain kalau keadaan mu sendiri sama . Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan agar jangan terlalu lama membuang waktu di sini “ .

Akauw terpaksa melepaskan kedua tangan Bi Soan yang dipegangnya tadi karena dia merasa iba kepada kawan ini , karena Bi Soan kini merenggutkan kedua tangannya dan pemuda remaja itu sudah berjalan meninggalkannya .

“ Heeiii , tunggu Bi Soan “ , kata Akauw yang terpaksa mengerahkan tenaganya karena ternyata Bi Soan dapat berlari cepat sekali . Dia terkejut juga dan menduga bahwa kawannya itu agaknya mengerti pula ilmu silat dan belum menceritakan tentang ilmunya itu , dan siapa pula gurunya . 161

*****

Akauw merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan Bi Soan dan melakukan tugasnya di bantu oleh pemuda remaja itu . Karena andaikata tidak di bantu Bi Soan , tentu dia akan mengalami banyak kesukaran . Bi Soan mengenal baik kota Lok-yang dan ternyata pemuda remaja yang mengaku gelandangan ini cerdik bukan main . Bahkan setelah mereka berada di Lok-yang , Bi Soan lah yang seolah menjadi pemimpin . Karena kepandaian Bi Soan yang cerdik , maka Akauw dapat melakukan penyelidikan dengan baik . dan benar saja , dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa banyaknya pemuda-pemuda dusun yang berbondong-bondong datang untuk mendaftarkan dirii sebagai prajurit . Gubernur Yen benar-benar hendak memperkuat pasukannya di Lok-yang , tentu saja dengan bekerjasama dengan para panglima di Lok-yang .

Akan tetapi , ini saja belum menjadi bukti bahwa gubernur itu hendak memberontak . Padahal inti tugas Akauw adalah untuk menyelidiki apakah benar gubernur itu akan memberontak dan dia harus dapat memperoleh buktinya .

“ Jangan khawatir , kita harus tekun dan sabar menanti dan mengintai , siapa tahu akan tiba saatnya kita dapat peroleh bukti itu “ , kata Bi Soan ketika Akauw menyatakan kekesalannya karena dia tidak melihat suatu cara untuk mendapatkan bukti itu . Tadinya dia bermaksud memasuki rumah gubernur itu sebagai pencuri dan memeriksa ke kamarnya untuk mencari bukti , akan tetapi keinginannya ini di larang oleh Bi Soan .

“ Kau gila ? Memasuki rumah gubernur sedangkan rumah itu di jaga ketat ! Selain amatlah sukar untuk dapat memasuki kamarnya , juga besar sekali kemungkinan engkau akan di tangkap dan kalau hal itu terjadi , bahkan baru dipergoki saja , maka gagallah semua usahamu “ .

“ Habis , bagaimana kita dapat memperoleh bukti itu , 162

Soan-te ?”

“ Kauw-ko ( Kakak Kauw ) , kiranya ada satu jalan saja yang memungkinkan engkau berhasil . Kita mendaftarkan diri sebagai prajurit !” .

“ Ahhh …??? Bukankah itu malah berbahaya sekali ?”

“ apa bahayanya ? Kau lihat , banyak pemuda mendaftarkan diri , dari segala golongan bahkan terbanyak dari dusun , Kita mengaku dari dusun dan mendaftarkan diri , kalau di uji kau jangan menonjolkan kekuatan atau kepandaianmu , biasa-biasa saja . Nah , kalau kita sudah menjadi calon prajurit , tentu akan mudah bagi kita untuk melihat dan memperoleh bukti “ .

“ Wah , kalau begitu bagus sekali , Soan-te ( Adik Soan ) . Mari kita mendaftarkan diri sekarang juga “

“ Akan tetapi janji , kita tidak boleh berpisah dan kalau memperoleh kamar di barak , kita harus sekamar “ .

“ Tentu, tentu “ .

“ Dan seperti biasa , engkau tidur di bawah dan aku di atas “ .

“ Engkau ini memang aneh . Di rumah penginapan pun engkau selalu mengusir aku dari pembaringan . Engkau ini pemuda remaja yang amat aneh “ .

“ Tidak aneh . Engkau tahu sendiri bahwa aku tidak bisa tidur kalau ada teman di dekatku . Kalau engkau tidak mau turun dari pembaringan , biar aku yang tidur di bawah dan pembaringannya boleh kau pakai sendiri “ .

“ Wah , jangan nagmbek , Soan-te . Engkau ini kadang membuat aku tidak mengerti . Tidur tidak mau di dekati , bahkan kalau mandi engkau minta terpisah “ .

“ Engkau yang tidak tahu malu . Kita bukan kanak-kanak lagi , bagaimana mungkin mandi bersama ? Ih , memalukan !” 163

Bi Soan kelihatan marah .

“ Sudahlah , maafkan aku , Soan-te . Aku tidak akan memaksamu mandi dan tidur bersama . Nah , mari kita mendaftarkan “

Keduanya lalu ikut dengan rombongan pemuda yang berbondong itu menuju ke benteng untuk mendaftarkan diri . Mereka ikut berdiri dalam antrian panjang dan setelah mereka di daftar sebagai Cian Kauw Cu dan Bi Soan , mereka memperoleh sebungkus pakaian tentara dan mendapatkan petunjuk dimana letak kamar di barak . Ternyata tidak di adakan ujian sama sekali dan ini berarti bahwa siapa saja dapat di terima sebagai prajurit dan agaknya Gubernur Yen benar-benar membutuhkan pasukan yang sebesar-besarnya .

Baru setelah mereka tinggal di barak , mereka memperoleh latihan dari seorang perwira . Latihan berbaris ,latihan gerakan silat dalam pertempuran .

Akauw memandang kagum ketika temannya mengenakan pakaian tentara . Memang kecil tubuhnya , akan tetapi dia nampak tampan sekali ! Dan dalam latihan pertempuran , juga Bi Soan kelihatan lincah dan tidak kalah oleh yang lain .

-oo0dw0ooo-

Jilid 6

Setelah berada di benteng , mulailah mereka bertanya-tanya tentang maksud dikumpulkannya banyak tentara suka rela itu . Akan tetapi semua rekan mereka juga tidak tahu . Mereka semua tertarik untuk masuk tentara karena dengan demikian akan terjamin makan dan pakaian mereka , juga mereka memperoleh gaji . Sedangkan kehidupan di luar sedemikian sukarnya . Rakyat kecil di himpit pajak , lintah darat dan tuan tanah , di tambah lagi dengan kerja paksa 164

membangun tembok besar . Hidup di luar membuat mereka sukar sekali mengisi perut dengan teratur , sedangkan di benteng itu mereka dapat makan kenyang dan pakaian mereka tidak robek dan butut .

Pada suatu malam , selagi Bi Soan dan Akauw bersama rekan-rekan lain melakukan penjagaan mereka melihat gubernur datang ke benteng langsung masuk ke bangunan yang besar yang menjadi tempat tinggal panglimanya . Gubernur Yen berusian lima puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar gagah . Panglima menyambutnya di luar rumah dan mengiringkannya masuk ke dalam rumah besar itu .

Yang menarik perhatian Akauw dan Bi Soan adalah munculnya beberapa orang tamu aneh . Tamu-tamu ini , yang jumlahnya ada tujuh orang , mengenakan pakaian pengemis dan ternyata mereka di terima dengan hormat pula oleh panglima-panglima yang keluar untuk menyambut dalam suasana yang bersahabat .

Tentu saja melihat ini Akauw dan Bi Soan tertarik sekali . Akan tetapi mereka sedang bertugas jaga . “ Kauw-ko , dengar baik-baik . Engkau menyelinap pergi dari sini dan menyelidik mereka itu , kalau ada yang bertanya akan ku katakana bahwa engkau sakit perut dan pergi ke belakang . Aku yang akan melakukan penjagaan di sini “ .

“ Baik , Soan-te “ .

“ Berhati-hatilah , Kauw-ko “ .

“ Engkau juga , Bi Soan . Tunggu aku kembali membawa berita “ .

Setelah keadaan memungkinkan , yaitu para penjaga lain sedang meronda , Akauw lalu meloncat dan menyelinap lenyap ke dalam kegelapan malam . Dengan kepandaiannya yang tinggi dan nalurinya yang peka mudah saja baginya untuk menyusup-nyusup menghampiri bangunan induk itu , kemudian dia meloncat ke atas genteng dan berhasil masuk ke 165

dalam . Tak lama kemudian dia sudah mengintai mereka yang berada di ruangan itu . Gubernur Yen , beberapa orang panglima dan tujuh orang berpakaian pengemis itu .

“ Benarkah para pimpinan Hek I Kaipang dari seluruh penjuru di panggil ke kota raja dan banyak di antara mereka yang hilang tidak kembali ?” Tanya Gubernur Yen .

“ Benar , taijin . Kami semua mencurigai bahwa ini adalah perbuatan Koksu Lui yang hendak memperlemah Hek I Kaipang karena dia tahu bahwa kami adalah perkumpulan yang menentang pemerintah Mongol “ .

“ Ah , dan kita belum dapat bergerak . Kita sedang menghimpun tenaga dan tenaga bantuan itu belum terlatih baik , belum dapat di andalkan dalam pertempuran . Bersabarlah , saudara-saudara Kaipang , kalau sudah tiba saatnya , kita mempersatukan tenaga yang ada dan menggempur kota raja !” .

“ Kami sudah tidak sabar lagi , taijin . Yang kami prihatinkan bukan para anggota kami karena hanyalah pengemis-pengemis yang hidup dari belas kasihan orang . Yang kami prihatinkan adalah kehidupan rakyat jelata di pedusunan . Mereka terhimpit oleh para pejabat daerah yang memeras mereka dengan kerja paksa , dengan pajak . Kalau pemerintah Mongol yang kejam ini tidak segera di robohkan , rakyat akan hidup sengsara “ .

“ Kami mengerti , saudara . Akan tetapi harus di ketahui bahwa kekuatan pasukan pemerintah besar sekali . Apalagi di sana terdapat Koksu yang licik dan lihai , juga Perdana Menteri Ji amat pandai mengatur siasat . Kalau tergesa-gesa , dapat gagal seluruhnya . Jangan khawatir , kami sedang memperkuat diri dan kalau saatnya tiba , pasti kami akan mengajak kalian semua dan para pendukung lain untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan dari tangan penjajah Toba “ . 166

Akauw sudah merasa cukup mendengarkan percakapan itu . Jelas sudah , bahwa Gubernur Yen memang ingin memberontak dan sedang mengumpulkan kekuatan , bahkan bersekutu dengan perkumpulan pengemis Hek I Kaipang . Dia harus cepat memberitahu Bi Soan . Maka dengan hati-hati diapun meninggalkan tempat itu . Selagi dia berjalan di atas genteng , tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan terdengar bentakan seorang perwira yang kebetuln mengadakan perondaan di atas atap .

“ Siapa di situ !”

Akauw terkejut sekali , akan tetapi dengan cekatan tubuhnya sudah melompat dan melayang ke atas pohon besar , kemudian dari pohon di taman itu dia melompat ke pohon lain dan sebentar saja tubuhnya sudah lenyap di telan kegelapan malam . Sang perwira mencoba untuk mengejar , akan tetapi segera kehilangan jejak sehingga perwira itu meragu apakah benar dia melihat ada orang , ataukah hanya bayangan burung atau pohon saja . Kalau memang orang , tidak mungkin bergerak sedemikian cepatnya dan menghilang .

Akauw sudah kembali kepada Bi Soan yang sudah khawatir kenapa kawannya lama benar . Dia sudah tiga kali di Tanya penjaga lain tentang Akauw yang dikatakannya sakit mencret dan berulang kali pergi ke belakang .

“ Bagaimana , Kauw-ko ?” bisiknya ketika pemuda itu berada di dekatnya .

“ Wah , gawat , Soan-te . memang benar akan terjadi pemberontakan “ . Dengan berbisik-bisik , Akauw lalu menceritakan semua yang di lihat dan di dengarnya , di dengarkan penuh perhatian oleh Bi Soan .

“ Hemmm , gubernur tak tahu diri itu hendak memberontak , ya ? Kita harus menghalanginya , Kauw-ko . Pemberontakan sama sekali tidak akan membebaskan rakyat dari pada 167

kesengsaraan , bahkan menambahnya . Perang hanya akan mencelakakan rakyat “ .

“ Soan-te , jadi menurut engkau , lebih baik kalau tanah air ini di perintah oleh Bangsa Mongol ?” .

“ Bukan begitu maksudku . Akan tetapi , sudah menjadi kenyataan bahwa setelah di pegang bangsa Toba , barulah Negara ini menjadi kuat . Kalau memang ingin membahagiakan rakyat , banyak jalannya . Jadilah pejabat yang adil dan bijaksana , dan rakyat akan berbahagia . Biarpun Kaisarnya bangsa Toba , akan tetapi kalau para pejabatnya berbangsa Han dan bertindak adil dan bijaksana bukankah rakyat juga dapat hidup Makmur ? Biarpun kaisarnya bangsa Han sendiri , akan tetapi kalau para pejabatnya brengsek , kaisarnya lalim , rakyat juga menderita “ .

Akau sendiri merasa asing dengan urusan pemerintahan . Baginya pegangannya hanya satu , yaitu yang ditekankan oleh kakek Yang Kok It dan suhengnya , jangan melakukan kejahatan dan harus selalu membela keadilan dan kebenaran . Dia tidak mengerti tentang pemberontakan , dan dia mau membantu Koksu asal jangan di suruh melakukan perbuatan jahat . Kini mendengar ucapan Bi Soan , die mengangguk-angguk dan menganggap ucapan Bi Soan itu benar .

Pada keesokan harinya , karena tugasnya sudah selesai , Akauw dan Bi Soan menggunakan kesempatan selagi mendapat waktu luang , mereka keluar dari benteng dan melarikan diri kembali ke kota raja . Dalam perjalanan itu , Bi Soan memancing pendapat Akauw tentang ayahnya yaitu tentang Perdana Menteri Ji Sun Cai .

“ Kauw-ko , pernahkan engkau bertemu dengan Perdana Menteri Ji Sun Cai yang ku tahu adalah seorang sahabat baik Lui Koksu ?”

“ Ah , pernah aku sekali di ajak ke sana oleh Lui-Koksu , 168

bersama suhuku “ .

“ Hemm , bagaimana pendapatmu tentang dia ?” .

“ Dia ? Biasa saja . Karena aku tidak mengenalnya dengan baik . Hanya puterinya ….. “

“ Puterinya ? Ah , ya , puterinya ? Siapa nama puterinya itu ? “

“ Namanya Ji Goat “ .

“ Bagaimana pendapatmu tentang ia ?” .

“ Ia seorang gadis yang luar biasa . Ilmu silatnya tinggi …… “ .

“ Bagaimana engkau tahu bahwa ia memiliki ilmu silat yang tinggi ?” .

“ Ia mengajakku latihan silat dan ternyata ia memang lihai sekali , dan selain itu …. Hemmm , ia cantik jelita “ .

Akauw tidak tahu betapa senangnya hati Bi Soan mendengar pujian itu . Gadis mana yang tidak akan senang hatinya mendengar dirinya di puji pandai dan cantik , apalagi pujian itu keluar dari mulut seorang pemuda yang menarik hatinya ?

“ Ah , masa ? Aku mendengar puteri Perdana Menteri Ji itu orangnya buruk , galak dan tidak menyenangkan hati “ .

“ Siapa bilang ? Yang berkata demikian itu belum pernah melihatnya atau matanya buta , atau memang sinting . Ji-siocia itu seorang gadis yang luar biasa cantik menariknya dan ilmu silatnya juga lihai sekali . Ia tidak galak dan amat menyenangkan hati “ .

“ Senangkah engkau kepadanya , Kauw-ko ?” .

“ Senang ? Tentu saja senang !” .

“ Hemmm , engkau tentu mencintanya , ya ?” . 169

“ Wahh , mana aku berani ? Aku memang senang melihatnya , akan tetapi aku ini siapa berani mencinta puteri Perdana Menteri ?”

“ Kenapa ? Apa salahnya ? Engkau seorang pemuda dan ia seorang gadis , apa salahnya kalau engkau mencintanya ?” .

“ Aku tidak berani . Tentu ia akan merasa terhina sekali kalau mendengar bahwa aku mencintanya . Sudahlah , Soan-te , jangan bicarakan hal itu , hal yang tidak akan mungkin terjadi . Soan-te , apa jadinya kalau kita lapor kepada Kok-su tentang Gubernur Yen itu ?” .

“ Engkau yang lapor , bukan aku “ .

“ Oya , aku sampai lupa . Aku akan melapor apa yang telah ku lihat dan ku dengar ,lalu apa akibatnya ?”

“ Mungkin Koksu akan mengirim pasukan untuk menangkap gubernur itu . dan mungkin saja engkau pula yang di utus untuk memimpin pasukan dan menangkapnya . Tentu akan terjadi sedikit pertempuran , akan tetapi karena gubernur itu belum siap dengan pasukannya tentu dia dapat di hancurkan “ .

Setelah tiba di kota raja , Bi Soan berkata “ Nah engkau pergilah menghadap Koksu ,Kauw-ko . Aku harus pergi “ .

“ Nanti dulu , Soan-te . bagaimana kalau aku ingin berjumpa denganmu ? kemana aku harus mencarimu ?” .

“ Kau tahu kuil tua di luar kota itu ? Nah , ke sanalah kau cari aku “ .

“ kalau engkau tidak berada di sana ?” .

“ Pergilah di waktu malam hari kalau bulan sedang purnama , aku pasti berada di sana . Nah , selamat berpisah Kauw-ko . Perjalanan ke Lok-yang itu sungguh menyenangkan “ .

“ Selamat berpisah , Soan-te . Banyak terima kasih atas 170

bantuan-bantuanmu “ .

Mereka berpisah dan Akauw segera pergi ke rumah Kok-su . Kok-su Lui dan gurunya , Thian-te Ciu-kwi , merasa gembira sekali mendengar laporannya .

“ Sudah ku duga memang benar gubernur itu hendak memberontak . Dan bersekutu dengan Hek I Kaipang , memang perkumpulan itu sudah lama ku incar , bahkan banyak pemimpin mereka sudah ku jebloskan dalam tahanan , tinggal menanti pelaksanaan hukuman saja “ , kata Toat-beng Giam-ong Lui Tat .

“ Sekarang juga aku akan menghadap kaisar dan mari kalian ikut . Akauw harus melapor sendiri kepada Kaisar agar kaisar yakin benar dan dapat memberi perkenan kalau kita mengirim pasukan untuk menangkap Gubernur Yen “ .

Mereka bertiga lalu bergegas pergi ke istana menghadap kaisar Julan Khan . Kaisar merasa girang mendengar laporan Akauw , lalu berkata kepada Koksu . “ Koksu , kalau begitu sudah jelas bahwa Gubernur Yen hendak memberontak , bagaimana baiknya sekarang menurutmu ?” .

“ yang Mulia , usaha pemberontakan harus cepat di tindas sebelum mereka menjadi kuat . Sebaiknya kalau paduka memberi ijin kepada hamba untuk mengerahkan pasukan dan mengutus panglima untuk menyerbu ke Lok-yang dan menangkap gubernur pemberontak itu “ .

Perdana menteri Ji yang sudah diberitahu dan hadir pula dalam persidangan itu lalu berkata , “ Yang Mulia , karena belum dapat dibuktikan bahwa Gubernur Yen memberontak , maka tidak baik kiranya kalau secara mendadak kita menyerbu . Sebaiknya paduka mengirim panggilan kepadanya , baru kalau dia tidak mau datang , itu sudah berarti pemberontakan dan dapat segera di atur untuk menangkapnya . Sebaliknya , kalau dia mau datang , maka segalanya dapat di atur secara halus . Ini semua untuk menghindarkan pertempuran dan 171

pertumpahan darah yang akan mengorbankan banyak prajurit dan rakyat “ .

Kaisar Julan Khan mengangguk-angguk . “ Bagaimana , Kok-su menurut pendapatmu , tepatkah apa yang di usulkan Perdana Menteri Ji itu ?”

“ Hamba setuju sekali , Yang Mulia . Akan tetapi sebaiknya kepergian utusan itu di sertai pasukan yang kuat sehingga begitu Gubernur Yen menolak panggilan paduka , segera dapat dilakukan penyergapan . Dengan membawa leng-ki ( bendera utusan ) tentu tidak ada yang berani membangkang , kecuali kalau dia memang berusaha memberontak “ .

“ Dan menurutmu , panglima manakah yang sepatutnya melaksanakan tugas sebagai utusan itu ?”

“ Hamba usulkan agar mengangkat Cian Kauw Cu sebagai panglima yang menjadi utusan dan di belakangya di kawal oleh Thian-te Ciu-kwi . Dengan demikian , maka tidak akan gagal perintah paduka “ .

Kaisar setuju dan seketika mengangkat Kauw Cu sebagai panglima yang akan membawa pasukan memanggil Gubernur Yen dan kalau panggilan itu di tolak , dia diberi kuasa untuk menggempur dan menangkap gubernur itu sekeluarganya .

“ Kita lakukan itu lebih dulu terhadap Gubernur Yen sebagai percobaan . Kalau berhasil , maka harus dilakukan siasat demikian pula terhadap Gak di Nam-kiang , juga terhadap Coa-ciangkun “ , demikian kata Koksu kepada Perdana Menteri Ji setelah mereka mengundurkan diri .

Yang merasa sibuk adalah kauw Cu . Dia merasa betapa tugasnya itu berat sekali . Sebagai utusan untuk memanggil gubernur tidaklah berat karena hanya menyampaikan perintah dan surat perintah , akan tetapi kalau sampai gubernur itu menolak , maka tugasnya menjadi berat . Dia harus menyerbu Lok-yang dan menangkap gubernurnya ! Akan tetapi hatinya lega ketika gurunya membawa pasukan kecil mengawalnya 172

dari belakang .

****

Dengan pakaian sebagai seorang panglima muda , Akauw yang emnunggang seekor kuda nampak gagah bukan main . Tubuhnya yang tinggi besar itu memang pantas sekali mengenakan pakaian panglima perang yang gemerlapan . Sebatang pedang yang kini di beri sarung amat indah , tergantung di pinggangnya dan itulah Hek-liong Po-kiam yang ampuh itu .

Dia memimpin pasukan yang seribu orang besarnya , di bantu oleh beberapa orang perwira tua yang berpengalaman . Dan agak jauh membayangi pasukan ini adalah Thian-te Ciu-kwi yang memimpin tiga losin orang prajurit pengawal ! .

Tentu saja pasukan ini menjadi tontonan orang di sepanjang jalan dan ketika keluar dari kota raja , dan terutama sekali orang-orang memandang kagum kepada panglimanya yang demikian gagah perkasa , menunggang seekor kuda putih .

Dekat pintu gerbang kota raja , tiba-tiba Akauw melihat Bi Soan melintas di depan . Cepat dia menghentikan kudanya dan mengangkat tangan untuk menghentikan pasukannya ,lalu dia melompat turun dari atas kudanya dan memanggil , “ Soan-te ….. !” Tentu saja semua perwira dan prajurit yang berada di bagian depan terheran-heran melihat panglima mereka menghentikan pasukan dan turun dari atas kuda hanya untuk berbicara dengan seorang pemuda remaja yang berpakaian sebagai seorang gelandangan ! Akan tetapi , Bi Soan tidak berani lama-lama bicara . Setelah menghampiri dia lalu berkata , dengan suara lirih pula .

“ Kauw-ko , jagalah dirimu baik-baik dan berhati-hatilah melaksanakan tugas “ .

Setelah berkata demikian Bi Soan lalu berlari meninggalkan panglima itu menyelinap di antara banyak orang yang 173

menonton pasukan itu .

Akauw menghela napas panjang . Dia sendiri merasa aneh mengapa dia amat tertarik dan sayang kepada Bi Soan , sahabat yang sudah di anggap sebagai adiknya sendiri itu . dia lalu melompat lagi ke atas kudanya dan memberi isyarat dengan tangan agar pasukannya bergerak kembali .

Sebelum pasukan itu tiba di Lok-yang , lebih dahulu Gubernur Yen di Lok-yang telah mendengar dari mata-mata yang bertugas di kota raja bahwa kaisar mengirim pasukan untuk memanggil dia ke kota raja . Tentu saja Gubernur Yen terkejut dan segera mengadakan rapat kilat dengan para rekannya .

Gubernur Yen adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang tinggi besar dan gagah . Dari isteri-isteri nya yang tiga orang jumlahnya dia mempunyai hanya dua orang anak saja , seorang laki-laki yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun bernama Yen Gun dan seorang anak perempuan berusian sembilan belas tahun bernama Yen Sian . Kedua orang anaknya itu merupakan pendekar-pendekar gagah yang berkepandaian silat tinggi karena mereka berdua menerima gemblengan dari ayahnya sendiri . Gubernur Yen sebelum menjadi Gubernur adalah seorang ahli silat aliran Gobi-pai yang tangguh . Keluarga Yen ini berjiwa patriot dan biarpun Yen Kan menjadi seorang gubernur yang tunduk di bawah kekuasaan Kaisar Toba ,namun dia memimpin daerahnya dengan bijaksana bahkan seringkali berani mengebiri perintah dari kota raja . dia amat prihatin melihat kekuasaan Kaisar Toba dan ingin sekali membebaskan tanah airnya dari kekuasaan penjajah , maka diam-diam dia bersekutu dengan para panglima yang bertugas di Lok-yang , bahkan mengadakan hubungan pula dengan perkumpulan-perkumpulan kang-ouw untuk memperoleh dukungan dan menghimpun tenaga untuk kelak kalau waktunya tiba dipergunakan untuk menggulingkan pemerintah penjajah . 174

Dengan rencana yang di rahasiakan ini , Gubernur Yen sudah berlaku hati-hati sekali dan pada luarnya , dia merupakan seorang pejabat yang patuh kepada kaisar dan menjaga jangan sampai dia melakukan kesalahan sedikitpun . Maka , ketika para mata-matanya melaporkan kepadanya bahwa ada pasukan seribu orang dari kota raja menuju ke Lok-yang membawa perintah kaisar untuk memanggilnya , dia terkejut dan mengumpulkan semua rekannya dan keluarganya untuk berunding .

“ Saya khawatir ini merupakan panggilan yang mengandung kekerasan , taijin “ , kata seorang panglima yang paling tua , yaitu Panglima Kwee . “ Kalau hanya mengundang taijin ,kenapa harus membawa pasukan seribu orang jumlahnya ?” .

“ Ayah , aku khawatir undangan inipun merupakan jebakan atau perangkap , kalau ayah menaati dan datang ke kota raja , mungkin saja ayah akan di tangkap !” kata Yen Gun , puteranya .

“ Sebaiknya tolak saja panggilan itu , ayah , dan kita melawan kalau di gempur . Bukankah ayah memang bermaksud pada suatu hari akan menggempur Kerajaan Toba itu ? Nah , sekaranglah saatnya ! “ kata puterinya , Yen Sian .

“ Kami setuju dengan pendapat nona Yen “ , kata seorang tokoh Hek I Kaipang yang juga hadir . “ Kalau perlu kita hancurkan seribu orang pasukan itu dan berarti suatu kemenangan pertama bagi kita “ .

Gubernur Yen Kan mengangkat kedua tangan minta kepada semua orang untuk diam mendengarkan , lalu dia berkata , “ Semua yang kalian ucapkan itu memang baik , akan tetapi bodoh . Kalau aku bertindak menuruti kehendak kalian , berarti cita-cita kita akan hancur dan kandas di tengah jalan , atau roboh sebelum jadi . Aku tahu bahwa Toat-beng Giam-ong , Koksu Lui itu adalah seorang yang amat cerdik . Kalau kerajaan sudah tahu bahwa kita bermaksud memberontak dan 175

tinggal tunggu waktu saja , tentu mereka sudah mengirim pasukan besar untuk menyerang kita . Akan tetapi mereka tidak melakukan itu dan hanya memanggilku dengan pasukan yang sebesar hanya seribu orang . Mengapa begitu ? Kurasa mereka tidak mempunyai bukti bahwa kita hendak memberontak dan bagaimana menghukum orang yang belum terbukti kesalahannya . Karena itu mereka mengirim pasukan itu . Kalau aku menolak panggilan Kaisar dan melakukan perlawanan , maka akan jelaslah bahwa aku memberontak dan mereka mempunyai bukti untuk menindak kita , menyerang Lok-yang . Nah , mengertikah kalian ? Mereka itu sengaja memancing agar aku menolak sehingga ada buktinya “ .

“ Lalu bagaimana baiknya , ayah ?” Tanya Yen Sian gelisah .

“ Tidak ada jalan lain . Aku akan memenuhi panggilan itu , menghadap kaisar “ .

“ Tapi ayah , itu berbahaya sekali !” seru Yen Gun . “ Kalau ayah tiba di kota raja lalu di tahan , kami dapat berbuat apa ?” .

“ Mereka tidak mempunyai alasan untuk menahanku , tidak ada bukti apapun , kalian tidak usah khawatir “ .

“ Akan tetapi , ayah . Koksu amat licik dan curang , dapat saja dia melakukan fitnah dan ayah tetap akan di tangkap . Dan kaisar selalu mendengarkan apa yang dikemukakan Koksu “ , kata pula Yen Sian .

“ Nona Yen berkata benar “ , kata Panglima Kwee . “ Saya kira panggilan itu merupakan jebakan , selain untuk melihat apakah taijin berani membangkang , juga kalau taijin mematuhi dan pergi ,maka di kota raja taijin tentu akan di tangkap dengan berbagai alasan yang dibuat-buat . Sebaiknya kalau taijin tidak pergi dan kita melakukan perlawanan mati-matian !” . 176

“ Dan kita dihancurkan , sehingga semua cita-cita kita kandas di tengah jalan . Kedudukan kita belum kuat , pasukan kita pun jauh kalah dibandingkan pasukan Kerajaan . Kalau sampai aku di tangkap dan di fitnah sekalipun , bahkan sampai mati , hal itu tidak mengapa asalkan perjuangan ini dapat dilanjutkan . Aku rela mati demi perjuangan ini bersama Kwee-ciangkun , di bantu oleh kawan-kawan dari Hek I Kaipang !” .

Ketika mengeluarkan ucapan itu , Gubernur Yen Kan berdiri dengan gagah dan ucapannya tidak dapat dibantah pula . Semua orang berdiam diri dan kedua orang anaknya menjadi pucat wajahnya ketika mereka memandang kepada ayah mereka dengan gelisah .

“ Nah , masih ada lagi yang meragukan kebenaran apa yang telah kuputuskan ?” Tanya Gubernur Yen sambil memandang kepada semua orang yang hadir .

“ Kami tidak dapat membantah ayah , akan tetapi kalau ayah nanti hendak menghadap kaisar , perkenankan saya ikut untuk membantu dan menjaga keselamatan ayah “ .

“ Perkenankan saya yang mengawal taijin !” kata Kwee-ciangkun .

Gubernur Yen mengankat tangannya . “ Tidak cukup jelaskah apa yang ku katakana tadi ? Kalau memang aku harus berkorban , biarlah aku saja . Yang lain harus tinggal di sini untuk melanjutkan perjuangan . Kalian boleh mati demi perjuangan , tidak boleh hancur karena kekoyolan kalian . Mengertikah semua ? Aku tidak memerlukan pengawal atau pengantar . Biarkan aku pergi sendiri !”

Tidak ada orang yang berani membantahnya lagi . Bahkan cucuran air mata tiga orang istrinya ketika mendengar akan tekad gubernur ini tidak dapat mencegah keputusannya .

Pada keesokan harinya , pasukan yang di pimpin Akauw atau menurut laporan di sebut sebagai Cian-ciangkun itu telah 177

tiba di Lok-yang dan langsung menghadap Gubernur . Pasukan itu berhenti diluar pintu gerbang dan hanya Akauw dan dua orang pembantunya yang memasuki kota Lok-yang membawa leng-ki ( bendera utusan kaisar ) sehingga di sepanjang jalan Akauw dan dua orang pembantunya dihormati orang .

“ Utusan Kaisar telah tiba !” terdengar teriakan ke dalam ketika mereka telah tiba di pintu depan gedung tempat tinggal gubernur . nampak Gubernur Yen tergopoh keluar lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Akauw . Memang setiap orang yang menerima utusan kaisar harus bersikap hormat seolah yang datang itu kaisar sendiri .

Akauw lalu mengeluarkan gulungan surat perintah dan menyerahkan kepada pembantunya . Dia sendiri tidak pandai membaca , maka dia menyerahkan kepada pembantunya yang segera membacanya dengan suara nyaring .

“ Sribaginda Kaisar yang mulia memanggil dan memerintahkan Gubernur Yen Kan untuk segera datang menghadap istana kerajaan !”

Setelah membacanya , pembantu itu menyerahkan gulungan kertas itu kepada Akauw dan Akauw juga menyerahkannya kepada Gubernur Yen . Gubernur menerima gulungan perintah itu dengan sikap hormat , setelah itu barulah dia bangkit berdiri dan kini yang dihadapinya adalah seorang panglima biasa .

“ Cian-ciangkun telah melakukan perjalanan jauh , tentu lelah . Silahkan masuk dan melepas lelah sambil makan minum yang akan kami hidangkan “ , kata Gubernur Yen dengan ramah sambil memandang tajam panglima yang tinggi besar dan gagah itu .

Cian Kauw Cu memberi hormat dengan mengangkat tangan di depan dada . “ Banyak terima kasih , taijin . Akan tetapi tugas kami hanyalah menyampaikan surat perintah , kemudian 178

mengawal taijin sekarang juga untuk berangkat ke kota raja “ .

Gubernur Yen dapat merasakan bahwa dalam ucapan itu terkandung kepastian yang tak dapat dibantah lagi dan tahu bahwa panglima seperti ini amat tegas dan jujur , tidak akan mudah untuk “ di sogok “ .

“ Baiklah , ciangkun . Akan tetapi setidaknya berilah waktu kepada saya untuk berpamit dari keluarga saya “ .

“ Silahkan , taijin . Kami bertiga akan menanti diluar pintu gerbang “ .

Akauw dan dua orang pembantunya lalu meninggalkan gedung itu , menunggu bersama pasukannya diluar pintu gerbang sebelah barat . Ketika gubernur memasuki ruangan dalam , dia di sambut oleh tangisan tiga orang istrinya . Bahkan Yen Sian yang biasanya gagah perkasa dan tabah , kini merangkul pundak ayahnya sambil menangis sedangkan Yen Gun berdiri mondar mandir dengan wajah keruh . Semua orang tenggelam ke dalam kedukaan dan kekhawatiran .

Khawatir , kecewa , sedih sebagai kebalikan dari sejahtera , puas dan gembira adalah perasaan yang melanda setiap orang manusia di dunia ini , orang akan tenggelam dan merasa bahwa di seluruh dunia ini dirinyalah yang paling menderita , paling sengsara , paling celaka . Sebaliknya kalau sedang bergembira dia lupa segalanya , yang ada hanya kegembiraan itulah . Orang tenggelam ke dalam suka duka , susah senang , sedih gembira , seperti sebuah biduk yang di ombang ambingkan gelombang samudera . Barulah kalau kita dapat melihat diri sebagai orang luar , kita dapat melihat bahwa semua itu sudahlah wajar . Gelombang kehidupan menghempas dari kanan kiri , terombang ambing . Semua perasaan susah senang dalam kehidupan ini adalah wajar , sudahmerupakan romantika kehidupan . Kalau tidak ada susah mana ada senang dan kalau tidak ada duka mana ada suka ? Romantika kehidupan ini justeru merupakan nikmat hidup . 179

bagaikan makanan , kalau yang ada hanya manis saja , tanpa mengenal rasa asam pahir getir dan asin , mana mungkin kita dapat menikmati rasa manis ? Bahkan rasa manis itu akan menjadi memuakkan . Demikian pula dalam kehidupan ini . rasa senang yang terus menerus tanpa di selingi perasaan lain seperti kecewa dan susah , akan menjadi perasaan yang menjemukan . Tidak ada kesenangan abadi di dunia ini karena sesuatu yang di anggap menyenangkan itu kalu diberikan terus menerus tanpa ada perubahan , akan kehilangan anggapan menyenangkan itu . Sebuah pantai laut dengan desir ombaknya akan terasa indah dan menyenangkan bagi pendatang dari kota , akan tetapi tanyakan kepada mereka yang tinggal di pantai , maka mereka akan mengatakan bahwa pemandangan itu membosankan dan mereka merindukan untuk pergi dan melihat kota dan gunung ! . Sebaliknya orang kota ingin ke pantai , orang gunung ingin ke kota dan orang kota ingin ke gunung . Hiduo ini membutuhkan perubahan ,perubahan pemandangan , penglihatan dan pendengaran .

Bahkan penciuman dan rasa di mulut juga selalu menghendaki perubahan . Karena itu , tenggelam ke dalam satu macam perasaan saja adalah tidak bijaksana . Terimalah susah senang sebagai sesuatu yang wajar dan nyata , sebagai bumbu – bumbu kehidupan . Bukan tidak mungkin bahwa diujung sesuatu yang menyedihkan itu menanti sesuatu yang menggembirakan , dan sebaliknya di ujung jalan penuh kesenangan itu menanti kesusahan ! Ada hikmah tersembunyi dibalik setiap peristiwa dan kalau kita menyerahkannya kepada Tuhan sambil tidak lupa berusaha sekuat tenaga , maka apapun yang terjadi menimpa diri tidak akan mendatangkan batin yang terlalu merasa gembira .

“ Sudahlah , cukup semua ini . Ingatlah kalian semua bahwa andaikata terjadi sesuatu dengan diriku , andaikata kematian menantiku di sana , maka kematianku adalah merupakan pupuk bagi perjuangan kalian . Juga andaikata 180

kalian gagal pula , itu semua merupakan pupuk bagi perjuangan selanjutnya yang akan dilakukan rakyat terhadap penjajah Toba . Penjajahan harus lenyap dari tanah air kita !” .

Kata-kata yang penuh semangat dar Gubernur Yen ini agaknya merupakan obat yang manjur karena semua orang berhenti menangis , bahkan tiga orang istri itu segera mempersiapkan segala yang perlu di bawa suami mereka . Mereka berkemas dan tak lama kemudian Gubernur Yen Kan keluar dari gedung , masuk ke dalam keretanya yang sudah menanti diluar rumah . Kereta segera berangkat dan mereka semua mengantarkan gubernur sampai tiba diluar pintu gerbang sebelah barat dimana pasukan kerajaan sudah menanti .

Biarpun Gubernur Yen berangkat seorang diri saja , namun para pembantunya telah menyebar mata-mata untuk mengikuti perjalanan gubernur itu dan untuk mengetahui bagaimana nasibnya kelak setelah tiba di kota raja .

Diam-diam Akauw merasa kecelik . Tadinya dia menganggap bahwa Gubernur pemberontak ini seorang yang keras dan yang sudah mengambil keputusan untuk memberontak , tentu akan membangkang terhadap panggilan kaisar . Dia sudah siap untuk menggunakan kekerasan seandainya sang gubernur menolak . Akan tetapi sama sekali tidak si sangkanya bahwa gubernur itu menaati perintah kaisar dan segera berangkat , bahkan tanpa membawa pengawal . Diapun merasa kagum karena gubernur itu di anggapnya seorang yang gagah berani .

Bagi Akauw yang kurang begitu mengerti tentang perjuangan atau pemberontakan , hanya menganggap bahwa seorang bawahan yang menentang atasannya itu adalah perbuatan yang tidak benar dan wajib di tentang .

Oleh karena itu , betapa kecewa hati Akauw ketika mereka tiba di kota raja , Gubernur Yen Kan di hadapkan kepada 181

Kaisar ,langsung saja dia dibentak oleh kaisar dan di tuduh pemberontak . Bagaimanapun juga , belum ada bukti bahwa gubernur itu memberontak , biarpun dia sudah mendengar sendiri rapat yang diadakan gubernur itu dengan para sekutunya .

“ Gubernur Yen Kan , kami mendengar bahwa engkau telah mengumpulkan banyak pemuda untuk di jadikan prajurit , bahwa engkau telah memperkuat barisanmu . Engkau sudah membuat persiapan untuk memberontak ? “

“ yang Mulia , berita yang dikabarkan orang itu memang benar . Hamba memang memperkuat barisan , akan tetapi hal itu hamba lakukan untuk menjaga keselamatan perbatasan dengan Negara lek-kok ( Korea ) dan juga untuk menjaga keamanan di sepanjang pantai timur karena terdapat banyak gangguna oleh bajak laut “ .

“ Bohong ! Engkau memperkuat barisan untuk mengadakan pemberontakan . Engkau bergabung dengan berbagai golongan , juga dengan Hek I Kaipang . Engkau tidak perlu menyangkal lagi karena kami telah mengetahui segalanya ! Pengawal , tangkap dia dan jebloskan ke penjara menanti pengadilan !” .

Gubernur itu tanpa di beri kesempatan membela diri lagi lalu di seret oleh para pengawal . Gubernur itu nampak tenang saja , sama sekali tidak kelihatan takut , bahkan mengangkat dadanya dan menegakkan kepalanya . Sikap yang gagah perkasa ini membuat Akauw merasa kagum dan penasaran . Melihat kegagahan gubernur itu saja telah mendatangkan perasaan suka didalam hatinya .

“ Koksu , setelah dia di tangkap , lalu bagaimana sekarang ? Ternyata dia sama sekali tidak mau mengaku , bahkan ketika di panggil juga tidak melawan atau membangkang “ .

“ Biarpun begitu , Yang Mulia , Kita tidak boleh bertindak lemah . Hamba kira ini semua adalah siasat belaka dari 182

Gubernur Yen . Dia bersikap demikian agar tidak ada alasan bagi paduka untuk menyerbu Lok-yang . Dia agaknya hendak mengorbankan diri demi kelanjutan penghimpunan kekuartan di Lok-yang . Sebaiknya kalau paduka mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Lok-yang , menangkapi para panglimanya dan mengangkat seorang gubernur baru di sana , juga panglima-panglima baru “ .

Kaisar mengangguk-angguk , akan tetapi pada saat itu Perdana Menteri Ji menghadap Kaisar dengan kata-katanya yang tegas dan jelas .

“ ampun , Yang Mulia . Hamba kira bahwa tindakan itu tidaklah bijaksana . Kalau paduka menyerang Lok-yang tanpa ada bukti pemberontakan , berarti paduka menyerang tanpa alasan . Kita belum dapat menuduh Lok-yang akan memberontak , maka kalau tiba-tiba kita menyerang dan hal itu terdengar oleh para gubernur lain , tentu akan menimbulkan keresahan dan penasaran . Kita harus mendapatkan buktinya dulu . Sebaiknya kalau kita mengirim penyelidik lagi ke sana , untuk mendapatkan bukti-bukti , dan kalau perlu menyelidiki Hek I Kaipang yang kabarnya dijadikan sekutu oleh Gubernur Yen . Baru setelah mendapat bukti , paduka turun tangan menyerang dan tidak akan ada gubernur yang menyalahkan tindakan itu “ .

Kaisar mengangguk-angguk , mengerutkan alisnya dan menoleh kepada koksu . “ bagaimana , Lui Koksu , apakah engkau sependapat dengan apa yang dikemukakan Perdana Menteri Ji ?”

Koksu saling pandang dengan Perdana Menteri Ji dan diapun mengangguk .

“ memang tadi hamba telah terburu nafsu , Yang Mulia . Hamba setuju dengan pendapat Perdana Menteri Ji , karena kita masih menghadapi sikap membangkang dari Gubernur Gak dan Coa-ciangkun . Sebaiknya kalau paduka mengirim penyelidik yang boleh dipercaya , dan hamba kira Cian-183

ciangkun untuk kedua kalinya dapat paduka utus untuk menjadi penyelidik di Lok-yang “ .

“ Bagus , akupun sependapat dengan kalian . Cian-ciangkun , engkau telah berjasa besar dalam penangkapan Gubernur Yen . Kini kami mengangkat engkau setingkat lebih tinggi dari kedudukan mu sekarang , dan memerintahkan kepadamu untuk melakukan penyelidikan ke Lok-yang . Sekali ini untuk mencari bukti-bukti pemberontakan , dan carilah di kalangan Hek I Lo-kai . Entah siasat apa yang akan kau lakukan , terserah . Yang penting , engkau mendapatkan bukti itu . Sanggupkah engkau ?”

“ Hamba sanggup dan kapan hamba diharuskan berangkat ?”

“ Engkau boleh berisitirahat sepekan lamanya , kemudian engkau berangkatlah dan boleh membawa perlengkapan apa saja dan kalau perlu boleh pula membawa anak buah untuk membantumu di sana “ .

“ Terima kasih Yang Mulia , akan tetapi hamba tidak akan membawa seorangpun pembantu karena hal itu bahkan akan menghambat dan menjadi penghalang gerakan hamba “ . Akan tetapi di dalam hatinya Akauw ingin sekali membawa sahabatnya , Bi Soan dalam penyelidikan barunya itu . Hatinya akan merasa besar kalau saja Bi Soan dapat ikut dengannya karena dia tahu bahwa sahabatnya itu , biarpun kecil , memiliki kecerdikan luar biasa .

Setelah meninggalkan istana , kebetulan tiga hari kemudian bulan purnama maka diapun bergegas pergi seorang diri di waktu bulan purnama itu , menuju ke kuil di luar kota . Baru saja dia tiba di halaman kuil kosong itu , terdengar suara orang memanggil , “ kauw-ko …. !”

Dengan girang dia menoleh dan ternyata yang memanggil itu adalah sahabatnya , Bi Soan .

“ Eh , Soan-te , engkau sudah tiba di sini pula ? Betapa 184

girang hatiku karena aku memang sedang mencarimu “ .

“ Aku tahu , engkau mencariku untuk mengajak aku kembali ke Lok-yang , bukan ?”

“ Eh , bagaimana engkau bisa tahu ?”

“ Hemm , aku mempunyai banyak kawan di sini dan aku mendengar betapa engkau telah naik pangkat karena pergi menangkap Gubernur Yen , dan engkau lalu menerima tugas untuk mencari bukti pemberontakan Jendral Yen di Lok-yang “ .

“ Wah-wah , agaknya engkau mengetahui segalanya , adik Soan ! Memang demikianlah , aku ingin sekali engkau membantu aku melakukan penyelidikan ke Lok-yang . Engkau tentu mau , bukan ?” .

“ Hemm , kalau engkau membutuhkanku , baru engkau ingat kepadaku . Kalau sudah tidak dibutuhkan lagi , aku yakin engkau akan sama sekali lupa kepada Bi Soan !” Pemuda remaja itu cemberut , masih dapat kelihatan cemberutnya karena bulan purnama sedang terang sekali saat itu .

“ Aih , jangan begitu , Soan-te . Aku selalu ingat kepadamu , bukan kalau sedang membutuhkan bantuanmu . Kalau andaikata engkau tidak mau membantuku sekalipun , aku akan tetap ingat kepadamu . Engkaulah satu-satunya sahabatku yang ku sayang “ .

“ Hem , merayu , ya ? Sudahlah , apa yang kau bawa dalam buntalan itu ?”

“ Ini ku bawakan engkau bebek panggang dan nasi , juga air the sedap !” .

“ Wah , engkau bawa oleh-oleh ? Hayo cepat buka selagi masih hangat dan kita makan dibawah sinar bulan purnama , tentu lezat sekali ! “ dengan gembira Bi Soan merampas buntalan itu , membukanya dan keduanya lalu makan minum dibawah sinar bulan , di halaman kuil kosong itu . 185

Baru saja mereka selesai makan , tiba-tiba Akauw memegang tangan sahabatnya yang tengah minum air teh . Bi Soan memandang heran dan Akauw mengedipkan matanya . Bi Soan memperhatikan dan kini diapun mendengar gerakan-gerakan yang tidak wajar .

“ Kalian siapa yang mengintai ? Keluarlah !” bentak Akauw sambil melompat berdiri . Tiba-tiba dari segala penjuru terdengar angina bersiutan dan beberapa batang senjata piauw ( pisau terbang ) menyambar kea rah mereka . Akauw terkejut dan khawatir kalau-kalau sahabatnya terluka . Dia menarik tangan Bi Soan dan menyembunyikan pemuda itu di belakangnya , lalu kaki tangannya bergerak menangkis runtuh semua piauw yang menyambar itu . Bi Soan bersembunyi di balik tubuh Akauw dan bertanya .

“ Siapakah mereka ?”

Setelah senjata piauw mereda tidak ada yang mengenai sasaran , kini berloncatan tujuh orang yang berpakaian hitam dari balik semak dan pohon , dan mereka semua bersenjata tongkat hitam , lalu menyerang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun . Yang mereka serang adalah Akauw dan agaknya mereka sama sekali tidak menyerang Bi Soan . Pemuda cilik ini cepat berlari ke belakang sebatang pohon dan mengintai perkelahian itu .

Akauw merasa penasaran sekali , “ Hei , berhenti dulu ! Siapa kalian dan mengapa menyerangku ?” .

Akan tetapi jawabannya hanyalah menyambarnya tongkat-tongkat itu dengan dahsyat sekali . Tahulah Akauw bahwa tujuh orang yang berpakaian serba hitam dan semua memegang tongkat itu merupakan lawan yang tangguh . Dia masih mencoba menggunakan kecepatan gerakannya menghindar ke sana sini sambil berloncatan . Akan tetapi gerakan tongkat yang menyerang dengan bertubi-tubi sehingga kemanapun tubuh Akauw bergerak , dia selalu disambut tongkat lain . Ketika dia menangkis dengan 186

tangannya , diapun dapat merasakan bahwa tenaga merekapun rata-rata kuat .

“ Syuuuuuuttt ….. !” Dua batang tongkat menyambar dari kanan kiri dan ketika dia menangkis dengan kedua tangannya , dua tongkat lagi menyambar kea rah kedua kakinya .

“ Haiiihh …. ! Akauw mengeluarkan teriakan dan tubuhnya mencelat ke atas sekaligus menghindarkan dua tongkat yang menyerang kaki dan tiga batang tongkat lain yang menyerang dari atas .

Demikian cepat gerakannya sehingga tiba-tiba tujuh orang itu telah kehilangan orang yang mereka keroyok . Akhirnya mereka tahu bahwa Akauw telah meloncat ke atas pohon . Maka , kini merekapun berloncatan dan menyerang kea rah tubuh Akauw yang kembali melompat turun . Dia menjadi repot juga karena tidak diberi kesempatan membalas . Selain itu , dia juga belum melawan sungguh-sungguh karena belum tahu mereka itu siapa dan mengapa menyerangnya .

“ Tahan senjata !” bentaknya . “ Katakan siapa kalian dan apa salahku maka kalian menyerangku !”

“ Engkau telah mengambil alih tempat kami , karena itu harus kami pukul mampus !” bentak seorang diantara mereka sambil menyerang lagi . Kini Akauw mengerti . Kiranya kuil itu adalah tempat mereka dan mereka mengira dia dan Bi Soan mengambil kuil kosong itu .

“ Kami tidak mengambil alih , hanya berhenti di sini sebentar ! Kami tidak bermalam di tempat ini !”

“ mampuslah !” bentak mereka dan tongkat-tongkat itu kembali menyerangnya dari semua jurusan . Melihat ini Akauw kehilangan kesabarannya . Dia sudah banyak mengalah . Kalaupun dia bersalah telah mengganggu ketentraman mereka , tidak semestinya mereka bertindak begini kejam , mengeroyok dengan serangan yang berbahaya , dapat mematikannya . Sepatutnya hanya menegur saja . 187

“ Singgg …. !” nampak sinar hitam berkilat menyilaukan mata dimalam terang bulan purnama itu . “ Sekali lagi , harap kalian mundur . Aku bersedia minta maaf kalau memang dianggap bersalah !” katanya untuk terakhir kalinya . Akan tetapi , tujuh orang itu bukannya mundur , bahkan mendesak maju dengan serangan mereka .

“ Kalian keterlaluan !” Akauw lalu menggerakkan pedangnya . Demikian kuat dan cepatnya gerakan itu sehingga yang nampak hanya sinar hitam bergulung panjang bagaikan seekor naga hitam mengamuk . Akan tetapi , dia tetap tidak ingin membunuh orang , dan sinar pedangnya hanya menyambar ke arah tongkat-tongkat para pengeroyok itu .

“ Trakk-trak-trak …. !” berturut-turut tongkat mereka itu di babat Hek-liong Po-kiam dan patah menjadu dua potong . Tujuh orang itu terbelalak ketakutan dan mereka melarikan diri tanpa menoleh lagi . Akauw tersenyum dan menyimpan lagi pedangnya , tidak melakukan pengejaran .

Bi Soan muncul dari balik pohon . “ Wah , engkau memang hebat sekali , Kauw-ko . dan pedangmu itu , waahhh , seperti seekor naga saja . Pedang apakah itu , kauw-ko ?”

“ Memang kata-katamu itu tepat seakli , Bi Soan . Pedangku ini namanya Hek-Liong Po-kiam ( Pedang Naga Hitam ) “ .

“ Benarkah ? Bagus sekali . Bolehkah aku melihatnya sebentar , Kauw-ko ?” .

“ Tentu saja boleh “ , Akauw lalu menghunus pedangnya dan menyerahkannya kepada Bi Soan . Ketika menerima pedang itu , Bi Soan menerima dengan kedua tangannya memegang gagang , seolah pedang itu teramat berat baginya . Dan dia memandangi pedang itu dengan penuh kagum .

“ Po-kiam ( Pedang pusaka ) yang baik …. “ katanya memuji . 188

“ Bagaimana engkau tahu bahwa ini merupakan po-kiam yang baik , Soan-te ?”

“ Mudah saja . Po-kiam ini tadi telah mematahkan semua tongkat mereka . Kalau tidak baik sekali mana mungkin begitu ?” .

“ Aku merasa heran mengapa orang-orang tadi begitu galak . Kalau Cuma kita mengganggu tempat tinggal mereka saja , tidak semestinya mereka hendak membunuh kita “ .

“ Aku tidak merasa heran , kauw-ko . Mereka itu adalah orang-orang dari Hek I Kaipang “ .

“ Ahhh ….? Bagaimana engkau bisa tahu ?”

“ Ingat saja pakaian mereka tadi serba hitam , bukan ? Dan penuh tambalan . Juga mereka semua bersenjata tongkat . Mereka itu adalah para anggota Hek I Kaipang yang kabarnya bersekutu dengan pihak pemberontak . Jadi mereka tadi menyerangmu bukan karena tempat ini , melainkan karena memang mereka memusuhimu . Mereka agaknya tahu bahwa yang membawa Gubernur Yen ke sini adalah engkau , maka mereka hendak membalas dendam dan membunuhmu “ .

“ Aih , Soan-te , engkau sungguh hebat . Engkau agaknya mengetahui segalanya !” .

“ Sudahlah , jangan terlalu memuji . Kita harus lebih berhati-hati . Engkau di utus ke Lok-yang untuk mencari bukti pemberontakan , bukan ? Dan untuk itu engkau harus menyelidiki Hek I Kaipang . Akan tetapi agaknya mereka telah mengenalmu , maka engkau harus berhati-hati sekali “ .

Akauw mengangguk-angguk . “ Akan tetapi dengan adanya engkau yang begini cerdik dan tahu segala berada di sampingku , aku tidak takut , Soan-te “ .

Tiga hari kemudian , berangkatlah mereka ke Lok-yang . Untuk keperluan ini , kembali Akauw mengenakan pakaian biasa , hanya saja dia membawa surat perintah dari Kok-su 189

sebagai bekal , kalau-kalau dia akan berurusan dengan pejabat setempat .

****

Malam itu masih terang bulan . Dua sosok tubuh orang yang berpakaian serba hitam , membawa tongkat , berjalan menuju ke sebuah rumah besar kuno . Rumah ini sejak dulu menjadi pusat dari Perkumpulan Hek I Kaipang di kota raja .

Dua orang itu bukan lain adalah Song-pangcu , ketua cabang Hek I Kaipang di Nam-kiang dan yang kedua adalah Yang Cien yang menyamar sebagai seorang anggota Hek I Kaipang . Seperti diketahui , Song Pang-cu pergi ke kota raja karena undangan dari Cu-lokai , pangcu pusat Hek I Kaipang di Tiang-an .

Tidak seperti biasanya , dibangunan kuno itu nampak sepi . Ketika mereka memasuki pekarangan yang sepi , dari dalam bangunan itu muncul belasan orang anggota Hek I Kaipang .

Song-pangcu memandang penuh perhatian . Di beranda itu terdapat pula lampu gantung sehingga penerangan di situ cukup , dan dia dapat melihat bahwa para anggota Hek I Kaipang itu biarpun mengenakan pakaian serba hitam , namun pakaian mereka itu terbuat dari kain yang baru , dan sepatu mereka juga baru ! Padahal , anggota Hek I Kaipang hanya mengenakan sepatu butut , bahkan banyak yang bertelanjang kaki .

Lima belas orang itu lalu memberi hormat dengan membungkuk kepada Song-pangcu , cara penghormatan yang lajim dipergunakan oleh para anggota Hek I Kaipang .

“ Selamat datang , Song Pangcu …. “ teriak mereka serentak .

“Hemm , kalian ini para anggota Hek I Kaipang , ataukah pengantin pria yang hendak dipertemukan ? Belum pernah aku melihat anggota Hek I Kaipang menjadi pesolek seperti 190

kalian . Dimana Cu Lokai ?” kata Song Pangcu dengan nada teguran .

Cu Pangcu menanti di ruangan belakang . Harap Song-pangcu langsung saja masuk kedalam “ , kata seorang di antara mereka yang tidak memperdulikan teguran dalam soal pakaian itu .

Cu-pangcu mengangguk dan bersama Yang Cien dia memasuki bangunan kuno yang besar itu . Baru masuk saja dia sudah merasa heran . Biasanya , pusat Hek I Kaipang ini mempunyai banyak sekali anggotanya . Apalagi di waktu malam , para anggotanya pasti berkumpul di sini . Kenapa sekarang kelihatan sepi saja ? “ Mereka terus masuk ke ruangan belakang yang luas sekali . Ruangan ini dipakai untuk mengadakan rapat anggota , juga dipergunakan sebagai tempat latihan silat . Kini ruangan inipun kosong dan begitu mereka masuk , terdengar suara orang tertawa dan tempat itu sudah di kepung oleh belasan orang prajurit dan belasan orang berpakaian hitam yang menyambut mereka tadi . dan di depan sendiri berdiri Thian-te Ciu-kwi sambil tertawa-tawa . kakek yang kecil kurus ini menuangkan arak dari guci ke dalam mulutnya , lalu tertawa lagi .

“ Song-pangcu , engkau baru muncul ?”

Song-pangcu terkejut bukan main melihat munculnya belasan orang prajurit itu dan terutama sekali melihat kakek kecil kurus itu yang dikenalnya dengan baik . Siapa tidak mengenal Thian-te Ciu-kwi , dari timur itu . Dan hebatnya , kakek itu kini mengenakan pakaian seorang panglima ! .

“ Thian-te Ciu-kwi , apa artinya ini ? Dimana Cu-pangcu ?” tanyanya dengan heran dan juga khawatir

“ Ha-ha-ha , engkau hendak bertemu dengan Cu Lokai ? Tunggu sebentar !”

Thian-te Ciu-kwi memberi tanda dan beberapa orang prajurit masuk sambil menggiring tujuh orang yang tangannya 191

tereblenggu masuk ke tempat itu . Paling depan adalah Cu Lokai dan enam orang lain adalah para ketua cabang yang agaknya sudah menjadi tawanan pemerintah . Jelas sekarang bagi Song-pangcu bahwa undangan itu adalah palsu dan merupakan jebakan . Dia di undang ke situ hanya untuk di tangkap seperti mereka .

“ Ha-ha-ha , engkau melihat sendiri , semua telah tertangkap . Kami minta agar engkau menyerah saja , Song-pangcu sehingga kami tidak perlu melakukan kekerasan ! “ .

“ Thian-te Ciu-kwi , aku tidak akan sudi menyerah !” Bentak Song-pangcu dengan marah sekali dan dengan tongkat hitamnya dia sudah menyerang Thian-te Ciu-kwi dengan dahsyatnya .

Kepandaian Song-pangcu sudah cukup tinggi sebagai ketua cabang Hek I Kaipang , akan tetapi tentu saja jauh kalau dibandingkan dengan Ciu-kwi . Sambil terkekeh Ciu-kwi menyambut serangan itu dengan dorongan kedua tangannya dan akibatnya tubuh Song-pangcu terjengkang roboh ! .

Melihat ini , Yang Cien berseru , “ Song-pangcu , bebaskan semua rekan “ . dan diapun sudah mencabut pedangnya lalu menerjang kea rah Thian-te Ciu-kwi . Si Setan Arak ini terkejut sekali melihat sinar putih bergulung-gulung bagaikan seekor naga putih itu . Para prajurit dan orang-orang yang menyamar sebagai anggota Hek I Kaipang sudah menyamar sebagai anggota Hek I Kaipang sudah menyambut pedang Yang Cien , akan tetapi mereka segera mundur dan terkejut karena senjata di tangan mereka patah-patah begitu bertemu dengan sinar putih bergulung-gulung itu .

Thian-te Ciu-kwi maklum bahwa pemuda itu lihai dan memiliki pedang ampuh , maka diapun segera mencabut pedangnya di punggungnya dan menyerang dengan ganasnya . Yang Cien mengelak dan membalas dan segera pemuda ini di keroyok banyak orang . 192

Sementara itu , Song-pangcu sudah melompat kea rah para tawanan . Beberapa orang prajurit menyambutnya , akan tetapi dengan gerakan tongkatnya , Song-pangcu merobohkan dua orang prajurit , merampas sebatang golok dan dengan golok itu dia membikin patah borgol yang mengikat tangan enam orang rekannya . Setelah para pimpinan kai-pang itu terlepas tangannya , mereka segera mengamuk dan membuat para prajurit dan anggota Hek I Kaipang palsu kocar kacir .

Sementara itu , perkelahian antara Yang Cien melawan Thian-te Ciu-kwi berlangsung dengan serunya . Thian-te Ciu-kwi juga memiliki pedang yang ampuh dan tidak patah ketika bertemu Pek-liong Po-kiam , dan gerakan kakek ini cukup gesit , sehingga dapat mengimbangi amukan Yang Cien . Anak buahnya yang tadi ikut mengeroyok , kini sudah mundur dengan jerih karena setiap kali senjata mereka bertemu dengan Pek-liong Po-kiam , senjata mereka tentu patah-patah . Dan mereka kini ikut mengeroyok delapan orang pimpinan Hek I Kaipang yang mengamuk itu .

Yang Cien harus mengakui bahwa kakek kecil kurus yang dilawannya itu lihai sekali dan agaknya tidak akan mudah baginya untuk mengalahkannya dalam waktu singkat . Kalau sampai datang bantuan berupa pasukan , tentu dia dan para pimpinan Hek I Kaipang akan terkepung ketat dan tidak akan lolos lagi . Maka dia segera berseru kepada Song-pangcu agar melarikan diri .

“ Cepat pergi sebelum terlambat !” Demikian dia mengeluarkan seruan nyaring dan Song-pangcu, juga yang lain-lain . Maklum apa yang dimaksudkan pemuda gagah perkasa itu . maka setelah merobohkan para penghalang mereka segera melarikan .

Yang Cien mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng menyerang dengan dahsyat dan biarpun Thian-te Ciu-kwi dapat menangkisnya , namun tubuhnya terdorong jauh ke belakang oleh hebatnya tenaga Bu-tek Cin-keng itu . Dia 193

terkejut bukan main , maka ketika Yang Cien meloncat jauh ke belakang untuk menyusul teman-temannya . Dia tidak berani mengejar sendirian saja . Dia lalu meneriaki anak buahnya untuk melakukan pengejaran sementara Thian-te Ciu-kwi cepat melapor kepada Koksu akan adanya seorang pemuda yang amat lihai , yang memiliki sebatang pedang bersinar putih yang ampuh sekali , juga diam-diam dia terkejut ketika tadi Yang Cien menggerakkan tangan kiri mendorong ke depan . Gerakan itu persis dengan sebuah jurus dari ilmu silat yang dikuasai muridnya , namun tenaga yang keluar dari tangan pemuda berpakaian hitam itu jauh lebih dahsyat dibandingkan tenaga muridnya . Dia sendiri juga sudah mempelajari ilmu dari muridnya itu , akan tetapi dia menganggap ilmu itu amat aneh , bahkan pernah ketika mempelajari sebauh jurus , dia merasa dadanya sesak dan sakit seolah tenaga sinkangnya membalik dan memukul dirinya sendiri . Dia tidak tahu bahwa muridnya mempelajari ilmu itu secara ngawur , tidak menurut teori yang benar . Maka ketika dia mempelajari jurus itu , tenaganya membalik dan hampir saja dia terluka parah . Kalau muridnya tidak mengalami hal seperti yang di alaminya itu . Hal itu adalah karena Akauw memiliki tenaga murni yang wajar , bukan tenaga karena terlatih melalu Samadhi , melainkan tenaga yang timbul karena cara hidupnya seperti kera . maka , Akauw tidak mengalami guncangan . Akauw dapat memainkan guncangan . Akauw dapat memainkan semua jurus Bu-tek Cin-keng tanpa membahayakan dirinya . Walaupun dia tidak memiliki tenaga yang ampuh dari ilmu itu . seolah dia hanya menguasai kulitnya saja tanpa mengenal isinya . Itulah sebabnya ketika bertemu dengan Yang Cien yang memiliki dan menguasai ilmu itu seutuhnya , sekali dorong saja Thian-te Ciu-kwi hamper terjengkang ! .

Para pimpinan Hek I Kaipang yang delapan orang itu maklum bahwa kalau mereka tidak cepat keluar dari kota raja , pada keesokan harinya mereka akan terlambat karena tentu 194

Koksu akan mengerahkan pasukan untuk mencari mereka . Maka , dengan bantuan Yang Cien , mereka lalu menyerbu pintu gerbang utara dan akhirnya setelah terjadi pertempuran kecil melawan para penjaga pintu gerbang yang hendak mencegah mereka lari , mereka akhirnya dapat keluar dari kota raja dengan selamat .

Cu Lokai mengajak mereka memasuki sebuah hutan yang menjadi pusat dan tempat tinggal para anggota Hek I Kaipang untuk sementara . Setelah tiba di situ , kedelapan orang pimpinan Hek I Kaipang itu lalu menjatuhkan diri berlutut ke depan kaki Yang Cien menghaturkan terima kasih .

Dengan gugup Yang Cien mengangkat mereka satu demi satu , dimintanya agar mereka bangkit dan jangan memberi hormat secara berlebihan .

“ yang kulakukan ini bukanlah pertolongan , melainkan suatu kewajiban . Harap cu-wi ( Kalian ) tidak bersikap sungkan “ .

Song-pangcu lalu berkata kepada Cu Lokai dan yang lain-lain . “ Harap para pangcu mengenalnya . Taihiap ini adalah taihiap Yang Cien yang telah menolong dan menguburkan jenazah mendiang Kam Lokai “ .

“ Ahhh …. !” Semua orang berseru dan Cu Lokai yang menjadi ketua pusat cepat memberi hormat . “ Kiranya Yang Taihiap yang telah menguburkan jenazah sute kami . Untuk kami kami merasa bersukur dan berterima kasih sekali “ .

Mereka duduk mengelilingi meja dan kini mereka membicarakan urusan perjuangan mereka . Yang Cien yang sudah di anggap orang sendiri itu hanya mendengarkan . Dari cerita mereka Yang Cien tahu bahwa mereka semua telah di jebak oleh Koksu dan di tangkap setelah mereka semua di kalahkan oleh Koksu atau oleh pembantunya , yaitu Thian-te Ciu-kwi yang lihai “ .

“ Pemerintah telah mengetahui akan hubungan kita dengan 195

para gubernur yang mengusahakan pemberontakan “ , kata Cu Lokai . “ Bahkan dari dalam penjara kami mendengar bahwa Gubernur Yen juga sudah di tangkap “ .

“ Aahhhh …. !” Song-lokai berseru kaget . “ Kalau begitu gerakan di timur gagal ?”

“ Mungkin saja . Gubernur belum berhasil menyusun kekuatan akan tetapi telah di dahului , di panggil kaisar dan setelah sampai di sini langsung di tahan . Semua ini tentu akal dari Koksu Lui yang lihai sekali itu “ .

“ Akan tetapi , kenapa Gubernur Yen mau saja di panggil seperti seekor sapi masuk ke jagal ?” Tanya Song-pangcu penasaran .

-oo0dw0ooo-

Jilid 7

“ Tentu Gubernur Yen adalah seorang patriot sejati . Kalau dia membangkang berarti ada bukti akan pemberontakan di Lok-yang . Tentu Gubernur Yen mengorbankan diri demi perjuangan . Biarpun dia di tangkap , bahkan di bunuh sekalipun , perjuangan tidak boleh hancur sebelum di mulai . Tentu diam-diam ada yang menggantikannya , melanjutkan penghimpunan kekuatan di sana . Kita sudah tidak dapat lagi tinggal di kota raja , oleh karena itu semua anak buah harus di pindahkan . Aku akan membawa anak buah dari kota raja pindah ke sekitar Lok-yang , untuk membantu sewaktu-waktu Lok-yang menentang pemerintah “ .

“ Sebaiknya sebagian pula pindah ke Nam-kiang “ , kata Song-Pangcu . “ di Nam-kiang juga terjadi pergolakan . Terjadi pertentangan antara Koksu dan Coa-ciangkun . kabarnya Coa-ciangkun telah menerima perintah dari kaisar untuk mengundurkan tentaranya akan tetapi dia masih 196

menangguhkannya . Dan Gubernur Gak di Nam-kiang bersimpati kepada Coa-ciangkun . Ada gejalanya bahwa merekapun hendak menentang pemerintah penjajah “ .

“ Akan tetapi kenapa Kaisar memerintahkan Coa-ciangkun mundur ? Bukankah pasukan Coa-ciangkun yang menjaga tapal batas di selatan ?” .

“ Entahlah , gerakan itu kalau benar dilakukan dan pasukan di tarik mundur , hanya akan menguntungkan Kerajaan Sun . Padahal kami mendengar bahwa Kerajaan Sun yang diperintah Sun Huang-te kini semakin kuat karena di bantu oleh banyak golongan kang-ouw . Kini di Nam-kiang itupun timbul desas-desus bahwa pemerintah Kerajaan Sun akan segera melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Toba “ .

“ Bagus !” kata Coa Lokai . “ makin banyak yang memberontak semakin baik , tanda keruntuhan Kerajaan Toba sudah mendekati saatnya dan kita akan segera terbebas dari cengkraman penjajah “ .

Yang Cien yang sejak tadi hanya mendengarkan saja , segera ikut bicara . “ Menurut pendapat saya yang bodoh , pemberontakan-pemberontakan kecil itu tidak ada artinya sama sekali . Satu demi satu akan di hancurkan oleh kekuatan Toba , tentu akan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka yang tak kunjung henti . dan rakyat tetap saja tidak dapat mengecam kedamaian dan ketentraman “ .

“ Hemmm , ada benarnya juga ucapan Yang-taihiap “ , kata Cu Lokai . “ Akan tetapi , kalau kita semua tidak melakukan usaha perjuangan ini , lalu sampai kapan penjajah Toba dapat di usir keluar dari tanah air ?”

“ Memang sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk mengusir penjajah dari tanah air , akan tetapi yang paling penting kita harus dapat bersatu padu menghimpun kekuatan . Dengan cara demikian , barulah kita memang tidak akan berhasil dan kalaupun kita memang tidak akan terjadi 197

perebutan kekuasaan dan perang saudara yang tidak henti-hentinya . Lupakah cu-wi akan sejarah bangsa kita sebelum bangsa Toba menjajah tanah air kita ? Mengapa sampai dapat terjajah ? Karena kita saling hantam sendiri , karena perang saudara yang tiada henti-hentinya . Bangsa Toba menggunakan kesempatan itu untuk memukul dan menguasai tanah air . Coba andaikata kita bersatu padu , tak mungkin bangsa lain menjajah kita “ .

Ucapan penuh semangat dari yang Cien ini di sambut gembira sekali oleh para pimpinan kaipang itu . Bahkan Song-pangcu saking gembiranya lalu mengusulkan .” Dalam pemilihan pangcu yang akan di adakan dalam tahun depan , kami mengusulkan agar Yang-taihiap di pilih menjadi bengcu !” .

“ Akur ! Setuju !” Semua orang berseru dan Cu Lokai mengangkat tangan agar mereka diam . Setelah semua orang diam , Co Lokai berkata dengan suara nyaring .

“ Usul Song-pangcu itu memang tepat , akan tetapi bagi kami yang sudah mengenal baik Yang-Taihiap . Sedangkan golongan kaipang ada amat banyak . Mereka pun harus di yakinkan dulu akan kemampuan Yang-taihiap . Pertemua para kaipang akan di adakan di lereng Hoa-san dalam waktu tiga bulan lagi . Nah , dalam pertemuan itulah kita akan mengusulkan agar Yang-taihiap dijadikan calon tunggal dari pihak seluruh kaipang sebagai calaon bengcu “ .

Semua orang menyatakan setuju dan kini Yang Cien yang bicara . “ Maksud hati cu-wi amat baik dan saya mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan itu . Akan tetapi harap di ingat bahwa saya tidak mau memperebutkan kedudukan bengcu . Saya hanya mau menjadi bengcu kalau semua pihak menghendakinya . Memang sudah menjadi tekad saya untuk mempersatukan semua golongan dan mengusir penjajah Toba dari Tanah air . kalau perebutan kedudukan bengcu itu berarti sudah mengarah kepada perpecahan , justeru saya 198

menghendaki persatuan semua pihak demi kepentingan perjuangan mengusir penjajah “ .

Semua orang menyatakan setuju dan demikianlah , para anggota kaipang kini tidak diperbolehkan berkeliaran di kota raja . Sebagian dari mereka berangkat ke Lok-yang untuk bergabung dengan Hek I Kaipang di sana . dan sebagian lagi ada yang ke selatan . Yang tinggal di hutan itu menerima latihan ilmu silat dari Yang Cien untuk melewatkan waktu menanti datangnya pertemuan besar antara para kaipang di Hoa-san .

****

Ciang Kauw Cu dan Bi Soan melakukan perjalanan dengan santai ke kota Lok-yang kembali . akan tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa perjalanan mereka sekali ini tidaklah sama dengan perjalanan pertama dahulu . Ketika itu , tidak ada orang mengenal mereka , maka perjalanan mereka tidak menemui banyak rintangan . Sekarang keadaannya lain lagi . Akauw sudah dikenal oleh orang-orang Hek I Kaipang , bahkan di kenal sebagai musuh karena mereka tahu bahwa Akauw adalah seorang panglima yang di tugaskan memanggil Gubernur Yen yang kemudian di tangkap . Bahkan ketika mengadakan pertemuan dengan Bi Soan di kuil tua dia sudah di serang oleh orang-orang Hek I Kaipang yang kini mengetahui bahwa dia adalah seorang jagoan yang amat lihai .

Kini , perjalanan mereka di bayangi orang Hek I Kaipang dari jauh , bahkan orang-orang Hek I Kaipang sudah mengatur siasat untuk menghadangnya dan telah mendatangkan dua orang jagoan dari dunia kang-ouw untuk membantu mereka menaklukkan panglima tinggi besar itu . Mereka itu adalah ketua cabang di Lok-yang dan wakilnya , dua orang kakak beradik seperguruan yang ahli dalam hal penggunaan racun atau senjata beracun .

Jauh di luar kota Lok-yang , di sebelah barat terdapat 199

hutan yang di seling padang rumput yang luas . Ketika mereka tiba di padang rumput yang luas itulah muncul banyak orang . sedikitnya ada tiga puluh orang berpakaian hitam , berloncatan keluar dari balik rumput dan alang-alang , mengepung Akauw dan Bi Soan . Akauw merasa khawatir sekali akan keselamatan Bi Soan dan mulailah dia merasa menyesal mengapa dia mengajak Bi Soan karena kalau menghadapi bahaya begini Bi Soan tidak dapat membela diri dan terpaksa dialah yang harus melindunginya .

“ Soan-te , cepat kalu lari , aku yang akan melindungimu “ , kata Akauw yang melihat banyaknya orang yang mengepung mereka . Kalau Bi Soan sudah melarikan diri , maka dia akan lebih tenang menghadapi pengeroyokan mereka . Baru dari pakaian mereka saja dia dapat menduga bahwa tentulah mereka anggota Hek I Kaipang .

“ Heiii , siapakah kalian dan mengapa menghadang perjalanan kami ?” Akauw membentak dengan sikap gagah .

Dua orang pemimpin mereka , yaitu Thio Ci Ketua Hek I Kaipang cabang Lok-yang dan Thio Kui , adiknya atau wakil ketua , segera berteriak , “ Antek Mongol , lebih baik kalian menyerah daripada harus mampus di tangan kami !” .

Akauw marah sekali mendengar dirinya di maki antek Mongol . Dia bekerja kepada Koksu dan kaisar hanya untuk membantu gurunya , Thian-te Ciu-kwi dan selama dia tidak melakukan pekerjaan yang kotor , dia tidak merasa menjadi antek Mongol .

“ Kalian orang-orang Hek I Kaipang pemberontak jahat ! Cepat pergi atau aku akan menghajar kalian dan kalau ada yang tewas di antara kalian jangan salahkan aku !” Akauw selama ini memang selalu menjaga agar jangan sampai membunuh orang . Akan tetapi sekarang , ketika keselamatan Bi Soan terancam , dia tidak akan segan untuk membunuh semua orang itu , demi keselamatan Bi Soan ! . 200

“ Jangan khawatir , Kauw-ko , aku dapat melindungi diri sendiri !” bisik Bi Soan dan ketika dia mengerling kea rah kawannya itu , ternyata Bi Soan telah memegang sepasang pedang pendek seperti belati , entah darimana dia mendapatkan itu , tentu di sembunyikan di bawah pakaiannya . Melihat ini , Akauw merasa agak lega . Pada saat itu , kedua saudara Thio sudah memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju menyerang .

Bi Soan berdiri beradu punggung dengan Akauw dan ketika pemuda remaja ini mulai bergerak menyambut serangan para pengeroyok , hati Akauw menjadi kagum . Ternayat gerakan pemuda itu cukup hebat , bahkan terlalu hebat karena dalam beberapa gebrakan saja Bi Soan telah dapat merobohkan dua orang pengeroyok yang berada di depannya dengan sepasang pedangnya itu . Dia pun menjadi gembira dan dengan Hek-liong-kiam di tangan Akauw mengamuk . Begitu pedang nya berkelebat , beberapa batang tongkat terpotong menjadi dua dan tiga orang roboh oleh tendangan dan tamparan tangan kirinya . Akan tetapi para pengeroyok mendesak terus . Karena jumlah mereka memang banyak .

Yang menganggumkan adalah Bi Soan . Pemuda remaja ini bergerak dengan cepat bagaikan seekor burung wallet saja dan dia berloncatan ke sana sini dengan gulungan sinar kedua pedangnya . Para pengeroyok menjadi panic ketika dua orang pemuda itu merobohkan banyak teman mereka .

Tiba-tiba terdengar sambaran angina yang berciutan . Akauw maklum akan datangnya senjata rahasia maka dia memutar pedangnya sehingga beberapa batang jarum dan juga pisau terbang runtuh . Akan tetapi dia mendengar kawannya mengeluh lirih . Tahulah dia bahwa Bi Soan terkena senjata rahasia , maka dia lalu mengamuk . melihat betapa Bi Soan terhuyung-huyung , hati Akauw menjadi gelisah sekali dan timbullah sifatnya yang liar . Dia mengeluarkan gerengan seperti kera yang marah dan gerakannya menjadi luar biasa 201

sekali . Enam orang roboh mandi darah oleh gulungan sinar pedangnya yang hitam dan melihat ini , kedua saudara Thio menjadi gentar . Kalau di lanjutkan bisa habis anak buah mereka . dan penyerangan mereka menggunakan senjata rahasia terhadap pemuda tinggi besar itupun sia-sia saja , bahkan tangkisan pemuda itu membuat senjata rahasia mereka menyeleweng dan mengenai kawan-kawan sendiri . Karena maklum bahwa pemuda tinggi besar itu sakti , Thio Ci memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk melarikan diri sambilmembawa kawan-kawan yang terluka . Mereka lari cerai berai akan tetapi Akauw tidak mengejar karena dia sudah merangkul Bi Soan yang roboh terguling .

Akauw memondong tubuh Bi Soan setelah menyimpan sepasang pedangnya yang masih di pegangi Bi Soan , lalu membawanya lari pergi dari tempat itu , khawatir kalau-kalau para musuh tadi datang kembali .

Setelah memasuki sebuah hutan , dia berhenti . Keadaan di hutan itu cukup sunyi dan aman . Dia merebahkan Bi Soan di bawah sebatang pohon dan dilihatnya Bi Soan dalam keadaan pingsan ! Cepat diperiksanya dan di pundak pemuda remaja itu nampak sebatang paku besar yang masuk sampai hamper seluruhnya . dan sekitar luka itu nampak menghitam . Racun ! Tahulah dia bahwa paku itu beracun . Maka cepat dia mencabut paku itu dan mengalirkan darah yang kehitaman .

“ Breeettt …. ! “ Akauw tanpa ragu-ragu lagi membuka baju temannya di bagian dada dan pundak dan tiba-tiba dia terbelalak ! Matanya menatap kea rah dada itu dan tiba-tiba mukanya berubah merah sekali . Kawannya itu adalah seorang wanita ! Sejenak Akauw tidak dapat berpikir , seperti patung dia menatap dada itu , kemudian barulah dia teringat akan ajaran suhengnya tentang tata susila , maka cepat-cepat dia menutupkan kembali baju itu , hanya meninggalkan bagian pundak saja yang terbuka . Kemudian dengan agak gemetar karena masih terguncang oleh kenyataan bahwa kawannya itu 202

adalah seorang gadis , dia lalu mendekatkan mulutnya pada luka di pundak itu dan mengisapnya . Darah terisap olehnya lalu di ludahkan , lalu mengisap lagi . Sampai tiga kali dia mengisap , mempergunakan tenaganya sehingga darah beracun itu terisap keluar semua .

Ketika dia mengisap untuk keempat kalinya , gadis itu siuman . Ia merintih dan melihat ada orang menempelkan mulut di pundaknya , ia menjerit . Akauw lalu mengangkat mukanya dan meludahkan darah yang merah , tidak menghitam lagi dan pada saat itu Bi Soan atau sekarang lebih baik mengenalnya sebagai Ji Goat menampar pipinya .

“ Plakk , plakk !” Dua kali tangan itu menampar pipi Akauw dan Ji Goat kembali roboh dengan lemas dan ia pingsan lagi .

“ Soan-te … eh … Bi Soan , kenapa engkau memukul aku ? Aku mengobati lukamu … “ Akan tetapi Akauw segera tahu bahwa gadis itu tak sadarkan diri lagi maka dia memodong tubuhnya dan membawanya lari . Dia harus mendapatkan rumah orang agar gadis ini dapat beristirahat dan dapat dia titipkan karena dia harus cepat dapat mencari daun dan getah obat .

Tak lama kemudian dia melihat sebuah dusun dan di rumah pertama dia melihat seorang wanita setengah tua di depan pintu . maka dia segera menghampiri wanita itu yang memandangnya dengan heran dan khawatir .

“ Maafkan , bibi . Sahabatku ini terluka parah , bolehkah kami mendapatkan pertolongan bibi agar sahabatku ini dapat sekedar mengaso di dalam rumah bibi ?” .

“ Ah , dia kenapa …. ?” Tanya wanita itu dengan khawatir .

“ Dia terluka dan keracunan “ .

“ Baik , bawa dia masuk …. Di sini , masuklah di kamar ini , ini kamarku …. “

Akauw merasa senang sekali dan membawa Ji Goat masuk 203

kamar dan merebahkannya di pembaringan . “ Bibi , sahabatku ini seorang gadis yang menyamar pria karena itu harap bibi tidak khawatir . Ia pingsan dan aku akan pergi sebentar mencarikan obat untuknya . Kalau sebentar ia siuman dan menanyakan aku , katakana bahwa aku akan mencari obat “ .

Pada saat itu muncul seorang gadis dari dalam . “ ini Giok Hwa , puteriku “ , wanita itu memperkenalkan .

“ Kebetulan sekali , biarkan puterimu menemani sahabatku . Nah , aku pergi dulu , bibi “ . Dan Akauw lalu cepat berlari keluar untuk mencarikan daun-daun obat di dalam hutan . Dia teringat akan kebiasaannya ketika masih hidup sebagai kera dan dia tahu betul mana daun obat yang dapat memunahkan racun seperti racun gigitan ular , dan mana getah pohon yang dapat mengeringkan luka.

Ketika dia kembali ke rumah itu , ternyata Ji Goat sudah sadar dan ketika gadis itu memandang kepadanya , wajahnya berubah kemerahan .

“ Kauw-ko , engkau ……… “ . Ia tidak melanjutkan ucapannya karena di situ duduk Giok Hwa , gadis puteri nyonya rumah . Tadi Giok Hwa sudah bercakap-cakap dengan Ji Goat , menceritakan bahwa ibunya sudah menjadi janda dan mereka hanya hidup berdua saja di rumah itu .

Giok Hwa agaknya tahu diri , maka ia lalu meninggalkan mereka berdua .

“ Aku membawa daun obat untukmu “ kata Kauw cu dengan suara agak gemetar . Ji Goat memandang kea rah pipi pemuda itu dan pipi yang tadi di tamparinya itu masih kemerahan bekas tangannya . Ia tersipu .

“ Kauw-ko , engkau ….. tadi aku menamparmu …. “ .

“ Ah , engkau masih ingat itu ? Maafkan aku , karena melihat engkau terluka dan lukamu itu penuh racun 204

menghitam , sedangkan engkau masih pingsan sehingga tidak dapat ku mintai ijin , aku terpaksa mengisap keluar racun itu dari lukamu . Maafkan …. “ .

Kauw-ko , engkau …. Engkau sudah tahu … eh , keadaanku ? “ . Ia teringat akan bajunya yang sudah terlepas kancingnya dan tentu dadanya nampak oleh pemuda itu .

Akauw tidak berani mengangkat mukanya , akan tetapi dia mengangguk . “ Maafkan , aku … aku tidak sengaja … aku tidak tahu engkau seorang wanita …. “ .

“ Engkau tidak salah , Kauw-ko . Dan memang agaknya sudah tiba waktunya bagiku untuk mengakui terus terang “ .

“ Nanti dulu , biar aku obati dulu lukamu . Aku khawatir masih ada sisa racun di dalamnya . Ini aku membawa obat daun pemunah racun ular , ku rasa cocok untuk mengobati lukamu dan ini getah untuk mengeringkan luka “ .

Melihat pemuda itu ragu-ragu untuk mengobati pundaknya , Ji Goat miringkan mukanya dan menyerahkan pundaknya . “ Silahkan , kauw-ko “ .

Barulah Akauw berani menaruh daun pengisap racun pada luka itu . Setelah itu dia duduk di atas kursi dekat pembaringan .

“ Sekali lagi kau maafkanlah kelakuanku tadi , karena aku sama sekali tidak dapat menduga bahwa engkau seorang wanita “ .

“ Kauw-ko , engkau sungguh jujur dan bodoh sekali . Kita pernah bertemu , maksudku aku sebagai wanita pernah bertemu denganmu , bahkan aku pernah menguji kepandaian silatmu “ .

Akauw terbelalak . Teringat dia akan Ji Goat , puteri Perdana Menteri Ji yang pernah menguji ilmu silatnya . Hampir saja dia melompat dari atas kursinya karena kaget . Dia bangkit berdiri dan mukanya berubah merah . 205

“ Jadi …. Engkau … Nona Ji Goat , puteri Perdana Menteri Ji ….. ? Ah , kini aku ingat . Pantas saja aku merasa seperti pernah melihatmu ketika untuk pertama kalinya kita bertemu di rumah Perdana Menteri Ji “ .

“ Ssstttt , jangan keras-keras , Kauw-ko …. “ Akan tetapi peringatan itu tidak ada gunanya karena tadi Akauw bicara keras sekali sehingga terdengar oleh janda dan puterinya itu , yang berada diluar kamar .

“ Tapi … tapi kenapa engkau memakai pakaian seperti ini , Ji-siocia ?”

“ Aih , Kauw-ko , apakah engkau sudah tidak mau menganggap aku sebagai sahabatmu lagi ? Kalau masih kau anggap sahabat , jangan sebut aku Ji-Siocia !” .

“ Habis , aku harus menyebut apa ? Tidak mungkin menyebut Soan-te …. “ .

“ Kalau aku menyamar sebagai pria engkau tetap menyebut aku adik Bi Soan , kalau aku berpakaian wanita barulah engkau menyebut ….. “

“ Ji-siocia “

“ Bukan , aku tidak senang kalau engkau menyebutku begitu . Apakah engkau akan senang kalau aku menyebutmu Cian-ciangkun atau Cian-kongcu ? Nah , sebut saja namaku . namaku Ji Goat , engkau boleh menyebutku Goat-moi kalau engkau suka “ .

“ Kalau aku suka ? Aih , Goat-moi tentu saja aku suka sekali , terima kasih !” Kata Akauw dengan gembira sekali . Entah mengapa , dia sendiri tidak tahu mengapa kini dia merasa begitu gembira setelah mendapat kenyataan bahwa sahabat yang di sayangnya itu adalah Ji Goat !.

“ Akan tetapi sekarang aku masih menyamar , sebaiknya engkau menyebut aku Soan-te seperti biasa” 206

“ Akan tetapi janda itu dan puterinya sudah mengetahui bahwa engkau wanita “

“ Tidak mengapa . Mereka tidak berbahaya “ . Ji Goat lalu bangkit duduk . “ Mari kita keluar , perutku terasa lapar dan tadi enci Giok Hwa sudah berjanji akan memasakkan sayur untukku “ .

Mereka lalu keluar dan janda itu bersama puterinya girang melihat bahwa Ji Goat sudah dapat turun dan ternyata tidak sakit parah seperti yang mereka khawatirkan .

“ Nona , engkau terluka oleh senjata ? Tentu prajurit-prajurit biadab itu yang melukaimu , bukan ?” , Tanya nyonya janda itu .

“ Prajurit-prajurit biadab ? Maksudmu siapa , bibi ?” Tanya Ji Goat .

“ Siapa lagi kalau bukan pasukan bangsa liar itu . Bangsa Toba adalah bangsa liar dan mereka selalu menindas kita . Memang sebaiknya kalau engkau menyamar sebagai laki-laki karena mereka itu tidak pernah mau melepaskan wanita cantik “ .

Ji Goat menjadi tertarik sekali . “ Bibi , apakah prajurit itu pernah mengganggu dusun ini ?” .

“ Sudah tak terhitung banyaknya . Kambing dan ayam kita selalu di rampas . Dan kalau Giok Hwa ini ketahuan mereka , celakalah kita . Selama ini Giok Hwa ku titipkan pada pamannya di kota , dan baru beberapa hari ini pulang karena kami saling merindukan . Mudah-mudahan saja perampok-perampok berpakaian prajurit itu tidak akan datang malam ini “ .

Biarpun luka yang di derita oleh Ji Goat sudah tidak berbahaya lagi , akan tetapi karena gadis itu perlu beristirahat , Akauw menganjurkan untuk mereka bermalam satu malam di rumah itu dan baru pada keesokan paginya melanjutkan 207

perjalanan ke Lok-yang .

Malam itu Ji Goat tidur bersama Giok Hwa dan Akauw tidur di ruangan depan dan dia mendapat kesempatan untuk bicara dengan nyonya janda itu .

“ Sudah lamakah suami bibi meninggal ?” Tanya Akauw .

Wanita itu mengela napas . “ Baru setahun yang lalu . Suamiku tewas karena mempertahankan tanahnya yang hendak di beli oleh tuan tanah . Dia rebut dengan para tukang pukul dan di pukuli . Dia menderita sakit karena itu dan meninggal sepekan kemudian . Kami orang dusun sungguh tersiksa hidup kami . Bukan saja dari parapemeras , akan tetapi juga dari pemerintah kami di kenakan pajak besar . Belum lagi kerja paksa yang membawa banyak pemuda dusun ini untuk di suruh bekerja membangun Tembok Besar . Masih ada lagi gangguan para pasukan Bangsa Toba yang ganas itu . Aihhh kehidupan sungguh merupakan serentetan kesengsaraan yang tiada henti-hentinya . Kami tadinya hendak pindah saja ke dekat Lok-yang karena di sana keadaan lebih aman . Akan tetapi belum sempat lagi “ .

“ Kenapa di dekat Lok-yang lebih aman , bibi ?” .

“ Karena Gubernur Lok-yang seorang yang amat bijaksana . Dia memerintah dengan adil dan pasukan Lok-yang juga merupakan pasukan yang tidak pernah bertindak liar dan buas seperti pasukan Toba .

Bahkan Gubernur di Lok-yang amat baik kepada rakyat kecil . Ketika musim panas yang berkepanjangan tahun lalu , beliau yang membagikan ransom kepada rakyat , bahkan juga uang untuk modal menanam pada musim hujan berikutnya . Ah , benar . Kalau saja yang memegang pemerintah itu Gubernur Yen di Lok-yang , kehidupan tentu akan lebih tenteram “ .

Akauw menjadi tertatik sekali . “ Akan tetapi aku mendengar bahwa Gubernur Lok-yang hendak memberontak 208

kepada Kerajaan , Bibi . benarkah berita itu ?” .

“ Aku tidak tahu . Akan tetapi kalau benar begitu , tentu kami semua mendukungnya ! Rakyat sudah bosan dengan pemerintah penjajah yang menindas dan menyengsarakan ini . Biarpun aku seorang wanita kalau bisa aku akan membantunya pula , untuk menebus kematian suamiku “ .

Sekarang jelaslah bagi Akauw . Pemerintah Toba itu di benci rakyat , dan kalau Gubernur Yen hendak memberontak , tentu akan mendapat dukungan rakyat jelata . Dia mulai menjadi bingung . Kalau dia kini membantu yang lalim yang di benci oleh rakyat , benarkah perbuatannya ? Apakah suhengnya tidak akan menyalahkannya ? Akan tetapi Ji Goat adalah puteri Perdana Menteri . bagaimanapun juga dia harus berpihak kepada Ji Goat ! Tidak peduli dengan yang lain-lain , akan tetapi dia sudah yakin bahwa Ji Goat adalah seorang yang baik dan benar . Dan karenanya , dia akan membelanya , kalau perlu dengan taruhan nyawanya ! Dia sudah jatuh cinta kepada Ji Goat sejak lama , sejak dia belum tahu bahwa Bi Soan adalah Ji Goat , seorang wanita . Dia sudah jatuh cinta sejak Ji Goat di anggapnya pemuda remaja .

Tiba-tiba terdengar canang di pukul bertubi-tubi , dan janda itu melompat berdiri , wajahnya berubah pucat dan tubuhnya gemetaran .

“ Celaka …….! Mereka datang ………!”

Pada saat itu , pintu kamar terbuka dan dua orang gadis itu muncul pula .

“ Apa yang terjadi ?”

Sementara itu , giok Hwa sudah saling rangkul dengan ibunya dan menangis . “ Apa yang terjadi ?” Ji Goat dan Akauw bertanya kepada mereka .

“ Mereka , perampok-perampok itu datang …….. !” Giok Hwa dengan suara menggigil . 209

Ji Goat dan Akauw saling pandang . “ Mari , Kauw-ko !” Ji Goat dan ia sudah lari memasuki kamarnya untuk mengambil sepasang pedangnya dan Akauw segera mengikutinya pergi keluar .

Terjadi perubahan hebat di dusun yang tadinya sunyi dan tentram itu . Dimana-mana terdengar jeritan wanita dan teriakan-teriakan orang yang di pukuli .

Nampak seorang laki-laki menyeret seorang gadis keluar dari rumah , dan dari rumah lain dua orang laki-laki menuntun kambing dan membawa ayam . Mereka itu adalah orang-orang berpakaian prajurit dan agaknya mereka itu mabok atau setengah mabok , merampoki ayam dan kambing sambil tertawa-tawa .

Ji Goat sudah tidak dapat menahan sabar lagi . Sekali loncat ia sudah mendekati prajurit yang menyeret-nyeret gadis yang menjerit-jerit ketakutan itu . Tangannya melayang dan menampar .

“ Plaakkk !” Laki-laki itu berseru kesakitan dan terpelanting . Akan tetapi dia cukup kuat karena sudah dapat meloncat bangun kembali dan ketika melihat bahwa yang menamparnya adalah seorang pemuda remaja , dia lalu mencabut goloknya dan membacok dengan cepat dan kuat . Kemarahan membuat dia ingin sekali membunuh pemuda yang menghalanginya membawa gadis itu . Gadis itupun lari sambil menangis , kembali ke rumahnya .

Di bacok dengan golok itu , Ji Goat menghindar cepat . namun penyerangnya terus mengejar dengan golok . Ji Goat lalu menggerakkan sepasang pedangnya yang kiri menangkis yang kanan menusuk dan orang itupun roboh mandi darah , sambil mengeluarkan teriakan keras .

Kini bermunculan banyak prajurit . Tidak kurang dari dua puluh orang banyaknya . Ada yang memondong tubuh seorang wanita , ada pula yang membawa barang atau 210

menuntun hewan ternak . Akauw juga sudah mengamuk dan kini dia sudah dikeroyok banyak prajurit yang menggunakan golok . Akauw mengamuk dengan pedangnya dan sebentar saja sudah ada enam orang yang roboh oleh pedangnya .

Ji Goat juga membantunya dan lebih banyak lagi pengeroyok roboh . Akan tetapi yang di serang oleh Ji Goat hanya mereka yang memondong wanita dan setiap penculik wanita itu pasti di bunuhnya tanpa ampun lagi . Tiba-tiba terdengar jeritan dari rumah dimana mereka bermalam . Mendengar ini Ji Goat meninggalkan Akauw dan lari kea rah rumah itu . Ketika masuk , ia mendengar pergumulan dikamar dan terdengar jeritan Giok Hwa . Cepat di tendangnya daun pintu kamar terbuka dan mukanya berubah merah saking marahnya melihat seorang prajurit tinggi besar bermuka hitam yang sedang berusaha memperkosa Giok Hwa .

“ Jahanam busuk !” Ji Goat berseru dan karena tidak mau membunuh orang dalam kamar itu , ia menjambak rambut si prajurit dan menariknya keluar . Prajurit itu kaget dan hendak meronta , akan tetapi dia tidak dapat melepaskan jambakan itu . Tubuhnya terseret keluar dan ketika tiba di luar rumah baru dia di lepaskan .

“ Kurang ajar !” bentaknya sambil mencabut goloknya . Ternyata dia berpakaian opsir , mungkin dia pemimpin gerombolan itu . Goloknya menyambar-nyambar dengan cepatnya dan ilmu silatnya lebih baik daripada yang lain . Akan tetapi dia berhadapan dengan murid Toat-beng Giam-ong , Koksu dari Kerajaan Toba ! Biarpun dia sudah mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga , tetap saja dalam waktu belasan jurus , dia roboh dengan leher hamper putus terbabat pedang di tangan Ji Goat yang sudah marah sekali !.

Para prajurit yang melihat betapa opsirnya tewas , juga setengah jumlah mereka sudah roboh , segera melarikan diri di tengan malam itu , meninggalkan semua barang rampokannya . 211

Orang-orang dusun keluar dari rumah mereka dan semua orang menjadi ketakutan . Kepala dusun itu segera menjatuhkan diri berlutut di dapan Akauw dan Ji Goat .

Taihiap , bagaimana dengan kami ini ? Mereka tentu akan datang dengan jumlah lebih banyak dan kami yang akan menerima hukuman karena banyak tentara tewas di dusun kami “ , katanya dengan suara hamper menangis . Orang-orang dusun lainnya juga menjatuhkan diri berlutut .

“ Kalian bangkitlah dan jangan khawatir . Kami berdua akan tinggal di sini dan kami yang akan bertanggung jawab . Kami akan menanti sampai mereka datang dan sementara itu , kalian urus jenazah semua perampok ini , kuburkan baik-baik . Ini untuk biayanya “ , Ji Goat mengeluarkan beberapa potong uang emas untuk biaya penguburan .

Setelah Ji Goat berkata demikian , barulah kepala dusun merasa agak lega dan beramai-ramai mereka mengurus mayat sembilan orang prajurit itu . Yang belum mati sudah lebih dulu melarikan diri sedapatnya dari tempat itu .

*****

Pada keesokan harinya tengah hari , penduduk dusun itu kembali menjadi panic karena benar seperti mereka khawatirkan , datang pasukan yang sedikitnya seratus orang ke dusun itu . Pasukan ini di pimpin oleh seorang perwira gendut yang nampak bengis sekali dan begitu tiba di luar rumah kepala dusun , pasukan itu berhenti dan si perwira membentak dengan suara nyaring .

“ Dimana pemberontak yang semalam membunuh prajurit-prajurit kami ? keluarlah kalau tidak kami akan membakar semua rumah di dusun ini untuk memaksa kalian keluar !” .

Ketika semua orang gemetaran dan tidak berani keluar , terdengar suara nyaring menjawab , “ Akulah yang membunuh mereka !” dan Akauw sudah berdiri dengan tegak di depan perwira itu . 212

“ Dan aku juga !” terdengar bentakan lain dan munculah seorang gadis cantik yang berdiri di dekat Akauw .

Perwira itu memandang dan dia begitu terkejut dan heran sehingga hamper dia terjatuh dari kudanya . Cepat dia melompat turun dan menghampiri Akauw dan Ji Goat .

“ Ahhh , bukankah engkau Cian-ciangkun dan Ji-Siocia ?” .

“ Benar dan kamilah yang telah membunuh perampok-perampok itu . Jadi mereka itu adalah anak buahmu kau suruh merampoki penduduk dusun , merampok hewan ternak mereka dan memperkosa dan menculik anak gadis mereka ? Begitukah ?” .

Pertanyaan yang di ajukan oleh Ji Goat ini membuat perwira itu kelihatan bingung dan gugup . “ Ah , sama sekali tidak , Ji-Siocia . Mereka itu hanya iseng dan maklumlah , karena tugas mereka berat maka sekali waktu mereka ingin bersenang-senang “ .

“ Bersenang-senang dengan menculik dan memperkosa gadis-gadis orang dusun ? Dan berpesta pora menyembelih hewan ternak penduduk ?” Ji Goat mendesak dengan kata-katanya dan perwira itu menjadi kehabisan akal untuk menjawab .

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara orang tertawa , “ Akauw , engkau sungguh mengecewakan gurumu !” dan muncullah Thian-te Ciu-kwi di antara para pasukan itu . Melihat gurunya , Akauw terkejut dan berkata sambil memberi hormat .

“ Suhu …. !”

“ Bagus , beginikah engkau melaksanakan tugasmu ? Hayo kau ikut pulang ke kota raja “ .

“ Lo-cian-pwe , Kauw-ko sama sekali tidak bersalah . Dia melaksanakan tugas dengan baik . Ketahuilah , aku telah terluka oleh gerombolan pengacau , dan Kauw-ko 213

membawaku ke sini untuk berobat . Kami telah menumpang tinggal di dusun ini kemudian malam tadi , dusun ini di serbu perampok yang merampas kambing dan ayam , bahkan menculik dan memperkosa wanita . Kami berdua turun tangan dan akibatnya beberapa orang perampok tewas . Sama sekali kami tidak menduga bahwa perampok itu adalah tentara anak buah perwira ini . Salahkah kami ? Harap kau jangan menyalahkan muridmu “ .

“ Ji-siocia , tunggu sampai aku melaporkan kepada gurumu dan ayahmu . Akauw , mari kita pulang ke kota raja dan engkau harus membuat laporan kepada Sri Baginda “ .

Akauw tidak berani membantah perintah gurunya . “ Baiklah , suhu “ .

Pada hari itu juga , Akauw dan Ji Goat pulang bersama pasukan itu . Mereka mendapatkanmasing-masing seekor kuda dan dengan cepat mereka kembali ke kota raja .

Akauw lalu di bawa oleh gurunya dan oleh Koksu menghadap Sri baginda Kaisar untuk membuat laporan . Dengan terus terang dia melaporkan tentang apa yang di dengarnya dari janda itu .

“ yang Mulia , menurut apa yang hamba dengar , Gubernur Yen akan di dukung oleh seluruh rakyat dan melihat betapa orang-orang Hek I Kaipang menyerang hamba , jelaslah bahwa Hek I Kaipang mendukung Gubernur Yen “ .

“ Hemmm , kalau begitu , Koksu . Kerahkan pasukan dan cepat serbu Lok-yang sebelum mereka sempat memberontak . Ganti semua panglimanya dan tangkap seluruh keluarga Gubernur Yen , hukum mati semuanya , tidak boleh seorangpun lolos ! “

Persidangan itu di bubarkan dan Akauw segera di omeli gurunya .

“ Akauw , apa yang kau lakukan di dusun itu suatu 214

kesalahan besar . mana ada panglima membunuhi anak buahnya sendiri ? “

“ Akan tetapi suhu , mereka adalah orang-orang jahat yang melakukan perbuatan keji . Sudah sepatutnya kalau mereka di basmi !” .

“ Huushh , enak saja engkau bicara . Engkau adalah atasan mereka , kalau mereka melakukan kesalahan , berarti engkau yang paling bersalah di antara mereka . Sebaiknya engkau melaporkan kalau melihat mereka melakukan pelanggaran , agar mereka di hokum , bukannya engkau turun tangan sendiri membunuhi mereka . Pula , apa yang mereka lakukan itu tidak dapat terlalu di salahkan . Mengambili ayam dan kambing rakyat sudah semestinya , mereka berjaga dengan keras demi keamanan rakyat , apa salahnya kalau rakyat menyumbang mereka dengan sedikit makanan ?” .

“ Tapi mereka juga menculik dan memperkosa wanita !” .

“ Ha-ha-ha itu sudah biasa . Mereka jauh dari keluarga . Mereka sudah lama di jauhkan dari wanita , maka sekali-sekali boleh saja mereka bersenang-senang , ha-ha-ha !” .

Akauw merasa muak sekali mendengar pendapat gurunya ini . Pelajaran tentang susila yang di dapat dari kakekk Yang Kok It , terutama dari suhengnya , masih membekas di hatinya dan apa yang di ucapkan gurunya ini benar-benar membuatnya merasa penasaran dan muak .

“ Suhu , sekarang juga aku keluar dari pekerjaanku sebagai panglima !” .

Thian-te Ciu-kwi yang sedang tertawa itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan dia menoleh ke kanan kiri . Mereka berada di taman ruang gedung koksu dan tidak ada yang mendengar ucapan muridnya itu .

“ Akauw , apakah engkau sudah gila ? Engkau mendapatkan kedudukan terhormat di sini , dan engkau 215

hendak keluar ?” .

“ Benar , suhu . Sebetulnya sejak lama aku hendak keluar . Aku berada di sini hanya mengikuti suhu dan pernah aku mengatakan kepada suhu bahwa aku mau bekerja asalkan tidak di suruh melakukan perbuatan jahat . Aku telah melaksanakan tugas dengan baik . Akan tetapi sekarang suhu membenarkan perbuatan yang amat jahat , dan aku tidak ingin terlibat “ .

“ Lalu engkau hendak pergi kemana ?” sepasang mata itu memandang penuh selidik dan kecurigaan .

“ Aku hendak melanjutkan perantauan ku dan aku tidak mau lagi kut suhu “ .

“ Hemm , engkau murid murtad ! Kalau engkau pergi , serahkan Hek-liong Po-kiam kepadaku !” .

“ Tidak suhu . Ini adalah pedangku sendiri , aku tidak mendapatkannya dari siapapun juga . Tidak akan ku berikan kepada siapapun “ .

“ Akauw , engkau tidak menaati perintahku ! Berikan pedang itu kepadaku dan aku akan mengampunimu , dan membiarkan engkau pergi . Semestinya aku menghukum mu karena engkau tidak taat , akan tetapi kalau kau berikan pedang itu , ku ijinkan engkau pergi “ .

“ Tidak , suhu . Pedang ini bukan pemberian suhu , tidak akan kuberikan kepadamu “ .

“ Eh , berani engkau membantah perintahku ? Berikan , atau aku hendak menggunakan kekerasan untuk mendapatkannya !” .

Setelah berkata demikian , Thian-te Ciu-kwi mencabut pedangnya dengan sikap mengancam .

“ Suhu , terlalu mendesak . Apa boleh buat , kalau suhu hendak merampas Hek-liong Po-kiam , aku akan 216

mempertahankan !” kata Akauw yang kini yakin benar bahwa dia telah keliru memilih guru , dia mengambil keputusan untuk melawan . Selama ini dia memang memperoleh petunjuk untuk memperdalam ilmu silatnya dari Thian-te Ciu-kwi , akan tetapi sebaliknya gurunya itu juga mempelajari ilmu silat yang di latihnya dari lukisan-lukisan dinding dalam guha . Hanya suhunya tidak dapat melatih ilmu itu karena setiap kali suhunya mencoba untuk berlatih , selalu suhunya merasa tenaganya membalik . Melihat betapa suhunya hendak memaksanya menyerahkan Hek-liong po-kiam , dia bertekad untuk mempertahankannya .

“ Singggg …….. ! “ Diapun mencabut pedang itu dari sarungnya dan bersiap siaga untuk melawan gurunya .

Pada saat itu terdengar suara tawa yang aneh , akan tetapi suara tawa itu mengandung getaran hebat sekali sehingga Akauw merasa jantungnya berdebar dan tubuhnya gemetar ! Dan nampak bayangan hitam berkelebat menerjangnya . Karena dia masih terpengaruh suara ketawa tadi , gerakan Akauw kurang cepat dan tiba-tiba dia merasa lengannya yang memegang pedang menjadi lemas dan pedang itu tahu-tahu sudah berpindah tangan ! Dia terkejut sekali dan memandang .

Seorang kakek raksasa yang berkulit hitam telah memegang pedangnya dan mengamati pedang itu sambil tertawa bergelak . “ Bagus ! Bagus sekali ! Inilah pedang yang tepat untuk aku , ha-ha-ha-ha !”

Ketika Thian-te Ciu-kwi melihat orang hitam itu , dia pun terbelalak . Hek-liong-ong ( Raja Naga Hitam ) ….. !” .

“ Ha-ha-ha , Ciu-kwi engkau masih mengenal aku ? Bagus , bagus , ini membuktikan bahwa ingatanmu masih kuat . Belasan tahun telah lewat dan engkau masih ingat kepadaku !” .

“ Hek-liong-ong , engkau tidak boleh mengambil pedang 217

itu !” kata Thian-te Ciu-kwi , akan tetapi ucapannya bernada lemah seolah dia takut kepada kakek raksasa hitam itu .

“ Hemmm , pedang inipun bukan milikmu , melainkan milik orang muda ini . Engkau berani menghalangi aku ! Boleh kau coba untuk merebutnya dari tanganku kalau berani !” .

“ Hek-liong-ong , pemuda ini adalah muridku . Lihatlah mukaku dan kembalikan pedang ini kepadanya “ .

“ Ha-ha-ha , untuk kemudian engkau rampas darinya ? Tidak , Ciu-kwi , tidak ada orang yang dapat mengambil pedang ini dariku !” kembali dia mengamati pedang itu dan melihat gambar ukiran naga di pedang hitam itu dan huruf-huruf kecil yang mengukir nama pedang . “ Hek-liong Po-kiam ! Hek-liong Po-kiam menjadi milik Hek-liong-ong , sudah tepat sekali , bukan ? Ha-ha-ha !” .

“ Kembalikan pedangku !” Bentak Akauw dan dengan nekad dia menubruk maju , menggunakan jurus dari Bu-tek Cin-keng , tangan kanan membuat gerakan mendorong , tangan kiri membuat gerakan menarik kea rah pedang .

Kakek hitam itu terkejut bukan main . Dia dapat merasakan tenaga yang berlawanan itu , dan membuatnya terpaksa melangkah ke depan . Akan tetapi sebelum Akauw dapat merampas pedangnya , dia menggerakkan tangan kiri dan hawa pukulan yang dahsyat menyambar kea rah Akauw , sehingga serangan Akauw dengan sendirinya gagal , kakek raksasa hitam itu memandang heran kepada Akauw dan dengan terkejut pula dia melirik ke arah Thian-te Ciu-kwi . Kalau muridnya memiliki pukulan yang begini aneh dan ampuh , apalagi gurunya . Agaknya pukulan Akauw tadi membuatnya jerih terhadap Thian-te Ciu-kwi , maka diapun lalu melompat jauh meninggalkan tempat itu .

“ Jangan lari …….. !” Akauw melompat , mengejar akan tetapi kakek itu telah lenyap dari situ .

Terpaksa Akauw kembali kepada gurunya . “ Suhu , aku 218

harus merebut kembali pedangku itu . Siapakah kakek itu dan dimana tinggalnya ?” .

Thian-te Ciu-kwi mengenal kesaktian Hek-liong-ong dan dia merasa tidak sanggup menandinginya . Apalagi dia , bahkan Toat-beng Giam-ong sendiri pernah tunduk kepada raksasa hitam itu , maka setelah kini Hek-liong Po-kiam terampas , biarlah Akauw yang berusaha mendapatkan kembali . Kalau sudah di tangan pemuda ini , mudah baginya untuk merampasnya kelak .

“ Dia berjuluk Hek-liong-ong dan tempat tinggalnya di Pulau Naga di Laut Timur “ .

“ Selamat tinggal , suhu . Aku akan pergi mencarinya ! Harap pamitkan kepada keluarga Ji , terutama sekali nona Ji Goat . “ Setelah berkata demikian . Akauw segera lari meninggalkan gurunya , menuju ke timur untuk mengejar kakek yang telah merampas Hek-liong Po-kiam .

*****

“ Apa kau bilang …..?” Perdana Menteri Ji membentak putrinya .

“ Ayah , aku melihat dengan mata kepala sendiri . Rakyat amat membenci pemerintah penjajah Mongol . Kalau kita orang han mengabdi kepada pemerintah penjajah , rakyatpun akan membenci kita . Apakah ayah suka kalau rakyat mengatakan bahwa kita adalah pengkhianat bangsa yang membantu orang asing menjajah dan menyengsarakan mereka , bangsa kita sendiri ?” .

“ Anak bodoh , mendengar ucapan rakyat yang bodoh pula ! Kau kira untuk siapa aku ini bekerja kepada kerajaan ini sampai memperoleh kedudukan tinggi dan mulia ? Justeru aku bekerja ini untuk rakyat . Dengan kedudukanku , aku dapat mengendalikan pemerintahan agar jangan sampai menyengsarakan rakyat jelata . Dan kau berani mengatakan bahwa aku membantu pemerintah yang menyengsarakan 219

rakyat ?” .

“ Akan tetapi buktinya , ayah . Sudah banyak aku melihat betapa para pembesar melakukan korup , menindas rakyat bahkan para serdadu biasa saja berani merampok dan membunuh semena-mena . Nama keluarga kita akan ikut di kutuk rakyat , ayah “ .

“ Hemmm , kalau para pejabat korupsi , salahkukah itu ? Dan kalau ada tentara yang berbuat jahat , salahkah itu ? Itu semua hanya pelanggaran dan di jaman apa pun kejahatan selalu ada . Akan tetapi pemerintah tidak menyuruh anak buahnya bertindak begitu “ .

“ Ayah , ini berarti bahwa pemerintahnya buruk . Dan ayah sebagai seorang yang duduk di atas , kenapa tidak mampu mencegah semua perbuatan itu ? Karena kaisar juga tidak bertindak apa-apa .

Selama ini ku lihat kaisar hanya bersenang-senang , sama sekali tidak memperdulikan rakyat . bahkan sekarang aku menyangsikan Gubernur Yen . Gubernur itu di cinta rakyat , ayah dan kalau dia memberontak , tentu akan di dukung oleh seluruh rakyat . Oleh karena itu , sebelum terlambat , sebaiknya kalau ayah mengundurkan diri ….. “ .

“ Plaakkk !” Perdana Menteri Ji menampar muka anaknya dan Ji Goat tidak mengelak maupun menangkis . Pipinya menjadi merah oleh tamparan itu .

“ Apakah engkau sudah menjadi gila ? Dengan susah payah selama bertahun-tahun , sejak engkau belum lahir , aku merangkak sampai akhirnya mencapai kedudukan ini dan engkau , anakku yang durhaka , malah minta aku untuk mengundurkan diri ? Aih , ini tentu gara-gara engkau bergaul dengan murid Thian-te Ciu-kwi itu maka pikiranmu menjadi kotor . Mulai sekarang , engkau tidak boleh bergaul dengan pemuda kasar itu dan tahun depan kita rayakan pernikahanmu dengan Lai Seng , suhengmu itu yang sekarang mulai 220

memegang jabatan “ .

Ji Goat mengerutkan alisnya . Ayahnya pernah membicarakan urusan perjodohannya dengan Lai Seng , murid gurunya atau suhengya yang jarang di temuinya itu karena Lai Seng selama ini tidak tinggal di kota raja . Akan tetapi dia tidak suka kepada suhengnya itu . Biarpun wajahnya tampan dan sikapnya halus seperti sastrawan , juga ilmu silatnya tinggi dengan senjata suling peraknya , akan tetapi ia tidak suka kepada pemuda itu , terutama sekali tidak menyukai pandangan mata yang berani dan kurang ajar itu .

“ Ayah , aku tidak mau menikah dengan suheng Lai Seng . Aku tidak sudi !” .

Setelah berkata demikian , Ji Goat meninggalkan ayahnya dan lari ke dalam kamarnya .

Perdana Menteri Ji Menghela napas dan menggeleng kepalanya . Kini baru dia tahu bahwa dia selama ini terlalu memanjakan anak tunggalnya ini sehingga berani menentang dan membantahnya .

Perdana Menteri Ji dengan jengkel lalu memanggil kepala pengawalnya . Setelah kepala pengawal itu datang , dia memberi perintahnya . “ Sejak saat ini , awasi nona , jangan sampai ia keluar dari rumah . Kalau ia memaksa , beritahukan aku !” .

“ Baik tai-jin “ . Kepala pengawal itu mundur dan alisnya berkerut . Tugas yang amat berat , pikirnya . Nona nya itu galak dan memiliki ilmu kepandaian tinggi , bagaimana mungkin melarangnya meninggalkan rumah . Seperti mengurung seekor harimau betina dengan kurungan rumput saja , pikirnya . Akan tetapi dia pun cepat memanggil semua anak buahnya dan menyampaikan perintah itu kepada mereka , dan mulailah saat itu semua pengawal mengamati dan menjaga kalau-kalau gadis itu pergi meninggalkan rumah .

Sementara itu , Ji Taijin berjalan hilir mudik di dalam 221

ruangan itu . Apa yang di ucapkan puterinya masih terngiang di telinganya . Anaknya itu dapat menjadi berbahaya sekali , pikirnya . Bayangkan kalau apa yang di ucapkan anaknya itu terdengar orang lain , kemudian menyampaikannya kepada Koksu atau kepada kaisar . Kedudukannya dapat terancam . Dia harus segera menikahkan puterinya itu agar tidak lagi menjadi binal seperti sekarang . Selama ini , puterinya sering mengenakan pakaian pria untuk mebantunya menyelidiki para pemberontak , siapa tahu hari ini menyatakan sukanya kepada pemberontak dan menasehati dia untuk mengundurkan diri . Mengundurkan diri ? Setelah menjadi perdana menteri ? Gila ! .

Kedudukan mendatangkan kekuasaan . dan setiap orang manusia mendambakan kekuasaan ini ! Seorang pejabat ingin berkuasa terhadap bawahannya , seorang ayah ingin berkuasa terhadap anak-anaknya , seorang ibupun demikian bahkan kalau mungkin ingin berkuasa terhadap suaminya , seorang anak ingin berkuasa terhadap adik-adiknya atau teman-temannya . Kekuasaan mendatangkan nikmat karena dengan kekuasaan itu orang bisa mendapatkan segala yang di kehendakinya . Oleh karena itu , wajar jika seseorang memegangi kedudukannya kuat-kuat , dan akan melakukan segala daya untuk tetap menguasainya . Kalau perlu dengan taruhan nyawa . Orang-orang saling berebutan sehingga terjadi bentrokan , bahkan perang . Ketika sedang memperebutkan kekuasaan , orang mencari pendukung dengan sumpah bahwa kalau ia mendapatkan kekuasaan itu , dia akan menjadi penguasa yang adil dan yang melindungi kepentingan orang terbanyak . Akan tetapi sungguh sayang sekali , hanya dapat di hitung dengan jari saja penguasa yang benar-benar memegang janjinya itu . Biasanya , kalau kekuasaan sudah berada di tangannya , maka kekuasaan itu akan dipergunakan demi kepentingan diri sendiri , lalu kepentingan keluarganya , lalu kepentingan kelompoknya dan melupakan kepentingan orang terbanyak , yaitu rakyat jelata . 222

Dan kekuasaannya di perebutkan kembali , demikian seterusnya .

Alangkah baiknya kalau penguasa mendapatkan kekuasaanya bukan karena memperebutkannya , kalau penguasa tetap memegang kekuasannya bukan karena menang berebut , melainkan dikehendaki oleh orang terbanyak atau rakyat jelata !.

Ji Goat ingin menangis , ingin berteriak-teriak sekuatnya . Karena perasaan jengkel terhadap ayahnya . Biarpun ia sudah menduga lebih dahulu bahwa tidak mungkin ayahnya mau mendengar nasehatnya , akan tetapi setelah benar-benar ayahnya marah besar mendengar nasehatnya , ia menjadi jengkel . Apalagi ayahnya memaksanya harus menikah dengan Lai Seng ! Berhari-hari ia tidak mau keluar dari kamarnya , bahkan makan pun minta di antar ke kamarnya .

Akan tetapi ia mempunyai seorang pelayan yang amat sayang dan setia kepadanya dan kepada pelayannya inilah ia minta agar suka mendengarkan segala berita dan menyampaikan kepadanya . Dan pada suatu hari ia mendengar berita bahwa Cian-ciangkun telah mengundurkan diri dari jabatannya dan meninggalkan kota raja !

Tentu saja Ji Goat menjadi terkejut bukan main . Ia telah mempunyai hubungan yang akrab dengan Akauw , maka mendengar bahwa Akauw pergi meninggalkan kota raja , hatinya menjadi semakin gelisah . Ia tahu bahwa Akauw mencintanya . Ia sendiri tidak tahu apakah ia juga mencinta pemuda yang jujur itu , akan tetapi yang jelas , tak dapat di ragukan lagi bahwa ia suka dan kagum kepada pemuda yang katanya dahulu hidup di antara kera itu .

Selagi ia merasa gelisah , tiba-tiba pelayan mengumumkan bahwa Lai Seng datang berkunjung .

“ Apa-apaan dia datang berkunjung ? Beritahukan kepada ayah , bukan kepadaku !” katanya tegas kepadapelayan . 223

Ketika itu dara ini sedang melamun di taman , gelisah memikirkan berita tentang kepergian Akauw dari kota raja . Ia tidak tahu bahwa selama ini gerak-geriknya selalu di intai oleh para pengawal , bahkan ketika ida duduk di taman , para pengawalpun mengintai dari jauh , menjaga kalau-kalau gadis itu akan pergi meninggalkan rumah .

“ Sumoi , aku datang bukan untuk ayahmu , bahkan oleh ayahmu aku di suruh menemuimu di sini “ , tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dan muncullah Lai Seng . Pemuda ini adalah pemuda yang pernah menyeludup ke dalam Hek I Kaipang dan yang senjatanya suling perak . Akan tetapi sekali ini dia tidak menyamar . Dia memang seorang yang telah di angkat panglima oleh gurunya , yaitu oleh Koksu , jauh sebelum Akauw datang ke kota raja . Dia mendapat tugas untuk menyeludup di Hek I Kaipang namun usahanya itu gagal . Dan sekarang dia kembali ke kota raja dan kini pakaiannya gagah sekali , pakaian panglima dengan pedang panjang di pinggangnya . Pemuda ini memang cukup tampan , dan sebagai murid Lui Koksu tentu saja ilmunya lihai .

“ Mau apa engkau datang ke sini , suheng ? Aku tidak mengundangmu !” kata Ji Goat dengan suara yang angkuh .

“ Aih , sumoi . Kita adalah saudara seperguruan , bukan ? Mengapa engkau bersikap tidak ramah kepadaku ? Apa salahku kepadamu , sumoi ?” .

“ Apa salahmu , aku tidak peduli . Aku sedang pusing , pergilah tinggalkan aku seorang diri , suheng !” .

“ Kalau engkau sedang pusing , biarlah aku menjadi obatnya , kalau engkau sedang berduka , biarlah aku menjadi penghiburnya , sumoi . Aku akan meniupkan lagu untuk menggembirakan hatimu !” .

Dan pemuda itu lalu mencabut suling peraknya dan meniup suling , melagukan sebuah lagu asmara yang sedang popular di saat itu . 224

Ji Goat menjadi semakin gemas . Di tutupinya kedua telinganya dan ia berteriak-teriak , “ Cukup , cukup , aku tidak mau mendengarkan lagi ………. !”

Lai Seng menghentikan tiupan sulingnya . “ Aih , engkau sedang risau , sumoi ? Biarlah ku bacakan sajak untukmu …. “ . Dia lalu membaca sajak dengan suara seperti orang bernyanyi .

“ Andaikan engkau menjadi air , adinda

Biarlah aku menjadi telaganya

Andaikan engkau menjadi api , adinda

Biarlah aku menjadi bahan bakarnya .

Andaikan engkau menjadi bunga , adinda

Biarlah aku menjadi tangkainya !

Betapa hati ini ingin menyentuh

Betapa hati ini ingin membelai

Betapa ……….. “

“ Sudah cukup ! Suheng , kalau engkau tidak lekas pergi dari sini , aku akan memanggil pengawal untuk mengusirmu !” .

“ Tapi , sumoi , pengawal-pengawalmu tidak akan berani mengusirku , karena aku memang di suruh ayahmu untuk menghiburmu “ .

Ji Goat membanting kaki kanannya tanda bahwa ia marah sekali . “ Kalau begitu , biar aku yang mengusirmu !” .

“ Aihh , sumoi . Tidak tahukah engkau bahwa aku amat menyayangmu ? Biarpun kita jarang sekali berjumpa , akan tetapi sejak pertama kali melihatmu , wajahmu selalu terukir di hatiku dan ………. “ .

“ Cukup , aku tidak mau mendengarnya lagi !” . 225

“ Akan tetapi , sumoi . Ayahmu telah menjodohkan engkau dengan aku . Kalau kita sudah menjadi suami istri , bagaimana engkau tidak akan mendengarkan ucapanku . Sumoiku yang terkasih , tahun depan kita menikah …….. “ .

“ Singgggg !” Ji Goat mencabut pedangnya . “ Kalau engkau tidak menutup mulutmu dan pergi dari sini , aku akan melupakan bahwa engkau murid suhu dan aku akan menyerangmu “ .

“ Aihhh , sumoi . Kita ini tunangan , calon suami istri “ .

“ Aku bukan tunanganmu , aku tidak sudi berjodoh dengan engkau ! “

“ Akan tetapi ayahmu dan suhu sudah setuju , tinggal menentukan hari perkawinan kita ….. “ .

“ Pergi atau tidak kau !” Ji Goat menodongkan pedangnya .

“ Ha-ha , engkau mengajakku bermain-main ? Mari kita latihan sebentar kalau itu yang kau hendaki , kekasihku !” Suling di tangan Lai Seng bergerak menangkis .

“ Traannggg …… !” Bunga api berpijar ketika suling bertemu pedang . Hal ini membuat Ji Goat sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan iapun menyerang kalang kabut dengan marah sekali .

Berulang kali terdengar bunyi nyaring ketika pedang bertemu suling dan kedua orang ini memang memiliki ilmu silat yang sama , bahkan tingkat mereka juga tidak berselisih jauh . Mungkin Lai Seng menang tenaga , akan tetapi sebaliknya Ji Goat menang cepat , maka terjadilah pertandingan yang seru . Mereka bukan lagi main-main atau berlatih karena desakan Ji Goat amat berbahaya dan membuat Lai Seng harus melindungi dirinya benar-benar .

Semua itu nampak oleh pengawal yang segera melapor kepada Perdana Menteri Ji . Orang tua ini lalu tergopoh-gopoh lari memasuki taman dan berteriak . 226

“ Ji Goat , hentikan ini …….. !” Dia membentak . Mendengar bentakan ayahnya ini , Ji Goat menghentikan serangannya dan ia berdiri membelakangi ayahnya dengan wajah cemberut . Lai Seng cepat memberi hormat kepada Perdana Menteri itu .

“ Ada apa ini , Lai Seng ?” Tanya sang perdana menteri , sambil memandang kepada pemuda itu .

“ Tidak apa-apa , paman . Sumoi mengajak berlatih dan kami hanya berlatih silat “ .

“ Tidak , ayah . Aku memang hendak membunuhnya !” Ji Goat berkata ketus .

Ayahnya terkejut dan berkata kepada Lai Seng dengan suara halus .

“ Lai Seng , engkau tinggalkan dulu kami berdua “ .

“ Baik , paman . Sampai berjumpa kembali , sumoi “ . Biarpun tidak mendapat jawaban , namun pemuda itu tetap tersenyum dan pergi meninggalkan mereka .

Setelah pemuda itu pergi , Menteri Ji marah kepada puterinya .

“ Ji Goat , sikapmu ini sudah keterlaluan ,apa kesalahan Lai Seng sehingga engkau bersikap seburuk ini ?” .

“ Dia mengganggu ketenanganku di sini ayah . Tidak mau ku usir pergi . Ayah , aku tidak sudi menikah dengan orang itu “ .

“ Ji Goat , pertunanganmu sudah kami bicarakan dengan matang . Aku dan gurumu sudah setuju . Apakah engkau hendak membantah ayahmu dan juga gurumu . Anak dan murid macam apa engkau ini ? Kalau Koksu mendengat tentang sikapmu kepada muridnya yang sudah di anggap puteranya itu , tentu aku menjadi tidak enak kepadanya “ .

“ Aku tidak peduli , ayah . Juga kepada suhu akan ku katakana bahwa aku tidak sudi menikah dengan suheng !” . 227

“ Anak durhaka ! Engkau yang selama ini ku sayang . Kini , berani membantah kehendak orang tua ?” Perdana Menteri Ji yang biasanya amat memanjakan Ji Goat , kini marah benar-benar dan lari ke kamarnya .

Perdana Menteri Ji memanggil para pengawalnya dan sekali lagi menekankan agar menjaga dengan hati-hati . Siang malam puterinya yang tinggal di kamarnya itu harus di awasi secara diam-diam . “ kalau sampai ia melarikan diri , kalian harus mencegahnya , kalau perlu dengan kekerasan mengepungnya . Awas , kalau sampai ia lolos dan lari , kalian akan mendapat hukuman berat “ .

Tentu saja para pengawal menjadi khawatir sekali . Bagaimana mungkin menghalangi kalau puteri itu hendak melarikan diri ? Mereka lalu memasang penjagaan siang malam dengan bergilir , bahkan komandan pengawal tidak pernah pulang ke rumahnya , melainkan terus ikut menjaga . Semua orang menjadi sibuk dengan urusan itu .

Sementara itu di dalam kamarnya Ji Goat menangis . gadis ini jarang menangis . Ia adalah seorang yang sejak kecil mempelajari ilmu silat dan menjunjung tinggi kegagahan , maka sejak kecil ia pantang untuk menjadi cengeng seperti anak-anak perempuan lainnya . Akan tetapi sekali ini ia menangis terisak – isak . Ia marah sekali dan yang membuatnya bersedih adalah karena ia memikirkan ayahnya . Ia amat sayang kepada ayahnya , lebih sayang daripada kepada ibunya . Ayahnya sejak kecil amat memanjakannya dan sekarang ayahnya berubah sikap menjadi galak dan hendak memaksanya menikah dengan seorang pria yang tidak di sukainya . Ia mengambil keputusan untuk minggat , akan tetapi kalau teringat kepada ayahnya yang sudah tua , ia menangis sedih . Ayahnya tidak mau mengundurkan diri , berarti akan tetap menjadi Perdana Menteri . Bagaimana kalau sampai terjadi pemberontakan dan ayahnya menjadi korban kemarahan rakyat ? Ia menjadi sedih sekali . 228

-oo0dw0ooo-

Jilid 8

Ji Goat mengambil keputusan untuk minggat saja kalau ayahnya memaksa ia menikah dengan Lai Seng . Di cobanya untuk menghubungi ibunya malam itu .

“ Ibu , engkau harus menolongku , ibu “ , tangisnya di pangkuan ibunya .

Ibunya mengelus rambut puterinya . “ Ji Goat , ayahmu tentu tahu apa yang terbaik untukmu . Dia tidak akan sembarangan saja memilih suami untukmu . Aku mendengar bahwa pemuda she Lai itu kakak seperguruanmu sendiri dan kabarnya dia cukup tampan dan baik . Ayahmu tidak akan mencelakakan hidupmu , Ji Goat “ .

“ Ah , ibu , mengapa malah membenarkan ayah ? Aku minta agar ibu membujuk ayah supaya pertunangan itu di batalkan !” .

“ Akan tetapi kenapa , Ji Goat ? Kenapa harus di batalkan ?” .

“ Tidak mengertikah ibu , aku belum ingin menikah . Aku ingin tinggal bersama ayah dan ibu !” .

“ Ji Goat , usiamu sudah hamper sembilan belas tahun ! Engkau tidak bisa selamanya tinggal bersama ayah dan ibumu “ .

“ Ibu , haruskah ku jelaskan lagi ? Aku tidak suka padanya , aku tidak mencintanya . Haruskah aku menikah dengan pria yang tidak ku cinta ? Lebih baik selama hidup aku tidak menikah ! “

Gadis itu menangis lagi dan kini tangisnya lebih sedih karena ia tahu bahwa dari ibunya ia tidak dapat mengharapkan bantuan . Ibunya sependapat dengan ayahnya 229

pula , andaikata tidak begitu , ibunya juga tidak berani membantah kehendak ayahnya . Satu-satunya jalan hanya minggat ! .

Ji Goat diam-diam mempersiapkan segalanya . Ia berkemas dan hanya pelayan yang dipercayainya itu saja yang mengetahui bahwa nonanya berkemas untuk pergi . Membawa buntalan pakaian , membawa perhiasan . Akan tetapi nonanya menanti saat baik . Darinya nonanya tahu bahwa penjagaan kini diperketat , dan agaknya para pengawal akan menghalangi kepergiannya .

Ji Goat menanti setelah malam gelap . Mendung di luar dan langit gelap tidak nampak sebauhpun bintang , apalagi bulan . Ia berpakaian ringkas , pakaian wanita biasa , bukan seperti pakaian pria seperti biasanya . Lalu ia keluar dari kamarnya , menggendong buntalan pakaiannya dan membawa pedang di punggungnya .

Baru beberapa langkah keluar dari kamarnya saja , sudah muncul beberapa orang pengawal dengan tombak di tangan . Mereka melintangkan tombak menghadang dan seorang di antara mereka berkata , “ Atas perintah Perdana Menteri , tak seorangpun di perbolehkan meninggalkan rumah “ .

“ Tahan , tidak lihat engkau dengan siapa engkau bicara ?” bentak Ji Goat marah .

“ Maaf , nona . Kami tahu bahwa kami berhadapan dengan Ji-siocia , puteri Perdana Menteri , akan tetapi ayah nona yang memerintahkan kami melarang nona keluar “ .

“ Kalian berani ?”

“ Kami hanya menaati perintah !” kata seorang di antara mereka dan yang seorang lagi sudah meniup sempritan tanda bahaya .

“ Haiitttt ….. !” Ji Goat bergerak di antara tombak mereka dan dua kali tangannya menampar , dua orang pengawal itu 230

pun roboh . Akan tetapi kini datang banyak pengawal , dua puluh orang banyaknya dan mereka semua mengepung Ji Goat ! .

“ Nona , di larang pergi , kalau memaksa , kami menggunakan kekerasan !” .

Ji Goat maklum bahwa tidak dapat di bujuk orang-orang ini yang tentu saja takut kepada ayahnya , maka iapun sudah mencabut sepadang pedang pendeknya lalu mengamuk . Kasihan sekali para pasukan pengawal itu . Tentu saja mereka bukan lawan Ji Goat dan biarpun mereka berusaha melawan dan menangkis , tetap saja gulungan dua sinar pedang di tangan Ji Goat merobohkan mereka satu demi satu . Ada yang terluka ringan , akan tetapi ada pula yang parah sehingga tidak mampu bangkit kembali . Seorang pengawal cepat lari untuk melapor kepada Perdana Menteri Ji Sun Cai .

Akan tetapi ketika pembesar ini berlari ke tempat itu dia hanya melihat para pengawalnya rebah malang melintang dalam keadaan luka-luka , sedangkan Ji Goat sudah lama menghilang di kegelapan malam .

Bukan main marah nya Perdana Menteri Ji . Malam itu juga dia mengundang Koksu Lui dan minta bantuannya agar menangkap kembali puterinya yang melarikan diri . Mendengar permintaan itu , Koksu Lui tersenyum . Sepantasnya dia marah karena malam-malam begini Perdana Menteri Ji mengundangnya hanya untuk mengurus hal yang sekecil itu . Akan tetapi dia dapat mengerti betapa khawatir perdana menteri itu atas puterinya yna menjadi anak tunggal . Tentu saja dia tidak mau merendahkan diri untuk melakukan pengejaran terhadap muridnya dengan turun tangan sendiri .

“ Harap taijin tidak khawatir “ , katanya menghibur . “ Saya akan menyuruh murid saya Lai Seng untuk melakukan pengejaran . Pemuda itu cukup cerdik dan tentu akan dapat melacaknya dan mengajaknya pulang “ . 231

“ Kalau Lai Seng dapat mengajaknya pulang , saya akan langsung saja menikahkan mereka “ , kata Ji- taijin sambil mengepal tinju .

“ Itu baik sekali , taijin . Akan saya sampaikan kepada Lai Seng dan saya percaya janji itu akan membuat dia lebih bersemangat dalam usahanya mencari puterimu “ .

Lui-Koksu berpamit pulang dan malam itu juga dia memberitahu kepada Lai Seng dan menyuruh murid itu melacak jejak ji Goat . “ Perdana Menteri sudah berjanji kepadaku bahwa kalau engkau dapat membawa pulang puterinya , engkau akan langsung saja di nikahkan dengan puterinya itu “ .

“ Baik , suhu , malam ini juga teecu akan berangkat menacri sumoi Ji Goat !” kata pemuda itu penuh semangat . Memang dia sudah tergila-gila kepada gadis yang di tunangkan padanya itu , bukan saja tergila-gila atas kecantikannya , akan tetapi juga atas kedudukannya . Kalau dia menjadi mantu Perdana Menteri , tentu saja martabatnya akan terangkat naik tinggi sekali ! .

****

Ji Goat melarikan diri ke selatan . Ia sudah mendengar beritanya akan Coa-ciangkun yang gagah perkasa , yang selama ini menjaga perbatasan selatan dengan gigih dari serangan Kerajaan Sun di selatan . Dan ia sudah mendengar pula bahwa Kaisar memerintahkan bahwa panglima itu harus mengundurkan pasukannya , bahkan ada berita panglima itu di panggil pulang ke kota raja . Juga dia mendengar bahwa Gubernur Gak di Nam-kiang mempunyai hubungan baik dengan panglima itu , karenanya gubernur inipun menjadi perhatian ayahnya dan Koksu . Ia ingin pergi ke daerah itu , ingin menyelidiki apa sebetulnya yang telah terjadi disana . Ayahnya tidak menyimpan rahasia terhadap dirinya . Pernah ayahnya menceritakan bahwa satu-satunya jalan untuk menguasai raja-raja muda di selatan , adalah mengajak damai 232

dan bersatu dengan Kerajaan Sun yang selama ini menjadi saingan dan musuh besar . Karena itu , ayahnya dan Koksu mengusulkan kepada kaisar untuk memperbaiki hubungan dengan Kerajaan Sun dank arena itulah maka Panglima Coa di minta untuk menarik mundur pasukannya .

Perbatasan antara wilayah Kerajaan Toba dan Kerajaan Sun terdapat di sepanjang Sungai Huai . Seberang utara termasuk wilayah Kerajaan Toba , dan Kerajaan Sun wilayahnya berada di sebelah selatan sungai itu . Seringkali terjadi perang dan pertempuran di sungai itu , dimana perahu-perahu mereka kadang menyeberang untuk melakukan penyerangan . Akan tetapi semenjak Panglima Coa menerima perintah untuk mengundurkan pasukannya , tidak pernah lagi terjadi bentrokan . Akan tetapi ini bukan berarti bahwa Panglima Coa menarik mundur pasukannya . Dia tetap mempertahankan perbentengan di sebelah utara Sungai Huai . Wilayah ini termasuk wilayah daerah Nam-kiang yang di pimpin oleh Gubernur Gak .

Pada suatu hari , seorang gadis yang berpakaian sederhana namun bersih , berjalan seorang diri menuju ke kota Tiong-ho-koan yang berada kurang lebih tiga puluh li dari perbatasan . Gadis ini sederhana saja pakaiannya , namun wajahnya amat manis dan jelita sehingga agak janggal juga melihat sepasang pedang pendek yang tergantung di punggung , orangpun akan mengerti bahwa gadis ini tentu seorang gadis kang-ouw yang ahli silat sehingga ia memiliki kepandaian dan mampu menjaga diri sendiri .

Kalau orang mengenal siapa gadis itu , dia tentu tidak merasa heran lagi karena gadis itu adalah Ji Goat , puteri Perdana Menteri Ji , murid Toat-beng Giam Ong atau Liu Kok-su yang sakti .

Gadis ini memiliki ilmu kepandaian tinggi maka pantaslah kalau ia berani melakukan perjalanan sampai sedemikian jauhnya dari kota raja . 233

Pada masa itu , karena pemerintahan lemah , maka para penjahat bermunculan , banyak sekali gerombolan perampok merajalela dimana-mana . Ada perampok-perampok biasa yang memang terdiri dari orang jahat yang enggan bekerja melainkan hendak mencari kesenangan dengan mudah , yaitu mencuri dan merampok . Ada pula perampok berpakaian seragam , yaitu para anak buah pasukan yang suka meliar dan merampok , mengandalkan pakaian dan gerombolan mereka .

Ketika Ji Goat berjalan seorang diri di lereng bukit itu , tiba-tiba bermunculan belasan orang yang kelihatan kasar dan bengis . Ini adalah gerombolan perampok yang biasa menghadang orang lewat di daerah itu , terkenal sebagai gerombolan perampok ganas , di kepalai oleh seorang yang bermuka bopeng dan bertubuh tinggi besar . Melihat bahwa yang mereka hadang seorang gadis yang demikian cantik jelita , kepala perampok itu berkata sambil tertawa bergelak , “ Aduh cantiknya . Kawan-kawan , bagaimana kalau gadis ini menjadi isteriku , apakah sudah cocok ?” .

“ Cocok sekali , twako !” seru para anak buahnya yang enam belas orang itu serentak dan mereka tertawa-tawa gembira .

Si muka bopeng itu lalu melangkah maju menghadapi Ji Goat . “ Nona manis , engkau sudah mendengar sendiri kata kawan-kawanku . Engkau cocok untuk menjadi isteriku . Siapakah namamu , nona ?”

Sebetulnya hati Ji Goat sudah panas sekali dan ia marah , akan tetapi ia tersenyum mengejek , lalu berkata , “ mau tahu namaku ? Namaku adalah Pemukul Anjing bopeng “ .

“ Hehhh …. ?” Kepala perampok itu mendengus heran .

“ Dan karena engkau ini anjing besar yang bopeng , sebaiknya cepat menggelinding pergi dari sini sebelum ku pukul kepalamu !” tambah lagi Ji Goat .

“ Bangsat kurang ajar !” Kepala perampok itu memaki 234

berang . Dia dimaki anjing bopeng di depan semua anak buahnya . Biarpun dia tergila-gila kepada gadis cantik itu , akan tetapi makian itu membuat gilanya berubah menjadi marah sekali .

“ Tangkap ia hidup-hidup !” bentaknya kepada anak buahnya .

Para perampok itu tidak usah di perintah dua kali , sudah biasa bagi mereka untuk menangkapi kambing , sapi , kerbau atau ayam , menggotong barang-barang rampasan , dan menangkap memanggul seorang gadis untuk diperkosa . Maka , mendengar bahwa mereka di suruh menangkap gadis cantik itu , mereka seperti berlomba untuk lebih dulu dapat meringkus dan merangkul gadis itu .

Akan tetapi , siapa yang lebih dulu menerjang gadis itu , dialah yang lebih dulu terjengkang atau terpelanting roboh dan sekarat , karena pedang Ji Goat telah menyambar . Begitu cepatnya gadis itu mencabut sepasang pedangnya sehingga tidak nampak oleh orang-orang itu dan begitu dia mengelebatkan pedangnya , mereka yang berada paling depan roboh bergelimpangan . Dalam waktu beberapa menit saja empat orang sudah roboh dan sekarat . Melihat ini , yang lain mundur dan kepala perampok menjadi semakin marah .

“ Serang dengan senjata !” .

Semua perampok mencabut golok masing-masing dan kepala perampok itupun sudah memainkan golok besarnya mengeroyok Ji Goat . Namun gadis itu tidak menjadi gentar , ia mengamuk dengan sepasang pedangnya dan tidak mudah bagi para perampok itu untuk mendekatinya . Siapa terdekat tentu akan di sambar sinar pedang dan roboh ! .

Akan tetapi kepala perampok itu cukup lihai . Dia dapat menangkis sambaran pedang Ji Goat dan dapat membalas pula , di bantu oleh para anak buahnya . Sudah tujuh orang anak buahnya roboh , akan tetapi masih ada sepuluh orang 235

lagi dan kini mereka mengeroyok Ji Goat dengan hati-hati karena maklum bahwa gadis itu sama sekali tidak boleh di pandang ringan .

Ji Goat menjadi semakin marah sekali . Dengan pedangnya ia mengamuk , mengeluarkan suara melengking panjang dan kembali tiga orang anak buah perampok menjerit dan roboh bergelimpangan mandi darah . Pada saat itu muncul seorang pemuda yang bukan lain adalah Lai Seng , murid Lui Koksu atau suheng dari Ji Goat sendiri . Tanpa banyak cakap lagi Lai Seng lalu menyerbu dan sulingnya mengeluarkan cahaya gemerlapan putih ketika menyambar-nyambar . Pertama kali adalah kepala perampok muka bopeng itu yang menjadi korban hantaman sulingnya . Ketika Ji Goat melihat datangnya pemuda ini , pedangnya juga merobohkan dua orang pengeroyok lagi . Melihat kepala perampok sudah roboh maka sisa anak buahnya yang hanya tinggal lima orang itu lalu melarikan diri cerai berai meninggalkan belasan orang rekannya yang sudah rebah malang melintang dengan mandi darah .

Ji Goat berdiri saling pandang dengan Lai Seng . Biarpun mereka kakak beradik seperguruan , namun mereka tidak pernah bergaul karena Lui Koksu melatih silat gadis itu di rumah Perdana Menteri . maka antara mereka hanya saling mengenal saja akan tetapi tidak bergaul akrab . Ji Goat memang tidak begitu suka kepada suhengnya ini yang mempunyai pandang mata kurang ajar , apalagi setelah ia mendengar dari ayahnya bahwa ia hendak di jodohkan dengan suhengnya itu , rasa tidak suka itu berkembang menjadi kebencian . Kini , biarpun baru saja ia mendapat bantuan , ia memandang kepada suhengnya itu dengan alis berkerut .

“ Kenapa kau membantu aku ! Aku tidak membutuhkan bantuan dan aku sendiri saja masih sanggup membasmi mereka ! “ katanya ketus .

Lai Seng juga tidak begitu akrab dengan sumoinya ini 236

karena selain mereka jarang bertemu , juga dia tentu saja harus tahu diri . Sumoinya adalah puteri Perdana Menteri , sedangkan dia hanyalah seorang perwira biasa saja murid Koksu . Akan tetapi , setelah dia oleh suhunya hendak di jodohkan dengan gadis ini , tentu saja dia menjadi lebih berani . Bukankah gadis ini telah di tunangkan padanya dan menjadi calon isterinya ? .

“ Sumoi , bukankah kita ini kakak dan adik seperguruan ? Tentu saja kita harus saling bantu “ .

“ Aku tidak butuh bantuanmu . Suheng , kenapa engkau mengikuti aku ? Pergilah dan jangan mengikuti aku lagi !” .

“ Sumoi , aku tidak mengikutimu , aku memang mencarimu untuk mengajakmu pulang . Marilah , sumoi , mari kita pulang ke kota raja “ .

“ Aku akan pulang sendiri kalau aku menghendaki . Aku tidak mau pulang sekarang . Pulanglah sendiri dan jangan mengganggu aku “ .

“ Tidak bisa sumoi . Aku harus pulang bersamamu . Ketahuilah , aku di utus oleh ayahmu untuk mencarimu dan membawamu pulang “ .

“ Aku tidak peduli siapa yang mengutusmu , pendeknya aku tidak mau pulang dan aku tidak mau pulang bersamamu , pergilah !” .

“ Kalau engkau belum mau pulang , terpaksa aku harus menemanimu . Aku tidak ingin melihat tunanganku terancam bahaya dalam perjalanan “ .

“ Tunangan ? Siapa tunanganmu ?” .

“ Sumoi , tentu engkau juga sudah tahu bahwa kita telah di tunangkan satu sama lain oleh suhu dan ayahmu “ .

“ Tidak sudi ! Aku tidak sudi bertunangan dengan mu , pergilah !” . 237

“ Aku tidak mau pergi kalau tidak bersamamu “ .

“ Keparat , kalau begitu aku akan terpaksa mengusirmu !” teriak Ji Goat dan iapun sudah menyerang dengan sepasang pedangnya . Lai Seng cepat menyambut dengan sulingnya dan dua orang ini lalu bertanding dengan seru . Akan tetapi betapa hebatnya Ji Goat memainkan pedangnya , tentu saja Lai Seng yang seperguruan dengannya itu sudah hafal akan gerakan sepasang pedang Ji Goat sehingga dia mampu menandingi dan mengimbangi dengan suling peraknya .

Tempat yang masih penuh dengan tubuh para perampok itu , dimana para perampok masih merintih-rintih , kini menjadi tempat pertandingan antara Ji Goat dan Lai Seng . Gerakan mereka cepat sekali dan berkali-kali terdengar suara berdecing nyaring di susul berpijar nya bunga api ketika pedang bertemu suling .

“ Hyyaatttt ….. !” Pedang kiri Ji Goat menyambar dan ketika di tangkis suling , pedang kanan menyusul sehingga suling itu tergunting . Akan tetapi Lai Seng sudah mengirim tendangan sehingga terpaksa Ji Goat meloncat ke belakang dan senjata mereka tidak lagi beradu .

Lai Seng lebih banyak menangkis karena tentu saja dia tidak ingin menyerang gadis yang membuatnya tergila-gila dan yang sudah di anggapnya sebagai calon isterinya itu . Tingkat kepandaian mereka berimbang akan tetapi Ji Goat harus mengakui bahwa ia masih kalah dalam hal tenaga .

Sudah lima puluh jurus lewat dan belum juga Ji Goat mampu mendesak Lai Seng yang hanya mempertahankan diri . Selagi seru-serunya mereka berkelahi , tiba-tiba muncul banyak orang berpakaian hitam dan mereka itu adalah orang-orang Hek I Kaipang yang di pimpin oleh Cu Lokai . Ketika Cu Lokai melihat Lai Seng , tentu saja dia marah sekali .

Cu Lokai sedang memimpin rombongan pengemis baju hitam yang dari kota raja mengungsi ke selatan . Melihat Lai 238

Seng orang yang menyeludup ke Hek I Kaipang dan pernah hendak merebut kedudukan ketua cabang , Cu Lokai menjadi marah dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggerakkan tongkatnya maju ke gelanggang perkelahian dan menyerang Lai Seng dengan dahsyatnya ! .

Lai Seng terkejut , mengenal pangcu pusat Hek I Kaipang yang amat lihai , maka tahulah dia bahwa kalau dia melanjutkan , tentu dia akan celaka . Maka dengan sebuah lompatan jauh , diapun melarikan diri dari tempat itu dan memasuki hutan di sebelah . Cu Lokai tidak mengejar , melainkan menghampiri Ji Goat yang merasa lega melihat Lai Seng melarikan diri . ia tadi sudah kehabisan akal untuk dapat menang melawan suhengnya itu . Maka ia pun memberi hormat kepada kakek berpakaian itu .

“ Terima kasih atas bantuan lo-cianpwe “ .

Cu Lokai memandang kepada gadis itu , lalu memandang kepada para perampok yang bergelimpangan di situ dengan heran . “ Nona , kalau tidak salah , mereka ini adalah perampok-perampok ganas , apa yang telah terjadi dan siapakah nona ?” .

“ Aku adalah seorang yang sedang merantau dan tadi di sini aku bertemu dengan para perampok ini . Mereka dapat ku hajar , akan tetapi lalu datang laki-laki itu menyerangku “ , kata Ji Goat yang tidak ingin memperkenalkan diri , juga tidak mengaku bahwa yang menyerangnya tadi adalah suhengnya .

“ Heiiii …. ! Ia adalah puteri Perdana Menteri Ji ! “ tiba-tiba seorang di antara para pengemis itu berteriak .

“ A-cin , yang benar kau bicara !” tegus yang lain . “ Jangan ngawur saja kau ! Puteri Perdana Menteri bagaimana dapat berada di sini seorang diri ?” .

“ Aku tidak ngawur ! Pernah di kuil dulu ia memberi sedekah kepadaku dan kabarnya puteri Perdana menteri memang lihai , murid Lui Kok-su !” kata pula pengemis itu 239

dengan tegas .

Cu Lokai memandang kepada Ji Goat dan kini dia bertanya dengan penuh selidik , “ Nona , benarkah nona ini puteri Perdana Menteri ? Murid Lui Koksu ?” .

Ji Goat tidak mengenal mereka siapa . Pakaiannya seperti pengemis dan seorang di antara mereka telah mengenalnya . Sebaiknya ia mengaku saja agar mereka takut mengganggunya dan akan membiarkan ia pergi dengan aman .

“ Benar , aku adalah puteri Perdana Menteri Ji dan murid Lui Koksu . Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian dan sekarang aku hendak pergi melanjutkan perjalanan “ . Berkata demikian , Ji Goat sudah melangkah hendak pergi .

“ Tahan dulu !” sekali meloncat Cu Lokai sudah berada di depannya dan juga tiga puluh lebih orang pengemis telah mengepungnya sehingga Ji Goat merasa tidak berdaya . Ketua pengemis ini lihai sekali . Buktinya Lai Seng juga lari ketakutan . Apalagi di situ masih terdapat puluhan anak buahnya . Melawan akan tidak ada artinya sama sekali .

“ Heiii , kalian mau apa ?” bentaknya .

Cu Lokai berkata hormat . “ Nona kami tidak akan mengganggumu , akan tetapi karena nona adalah Puteri Perdana Menteri , maka terpaksa nona akan kami hadapkan kepada pimpinan kami . Kemudian terserah kepada pimpinan kami apa yang akan di lakukan terhadap nona “ .

“ Kiranya kalian tidak lebih baik dari pada perampok ini , suka mengganggu wanita . Tak tahu malu !”

“ Harap jangan salah mengerti , nona . Kami tidak pernah mengganggu orang , apalagi merampok . Juga pimpinan kami tidak suka berbuat jahat . Kami adalah orang-orang Hek I Kaipang , pejuang sejati yang tidak suka mengganggu , malah melindungi rakyat . Akan tetapi karena nona adalah Puteri 240

Perdana Menteri , terpaksa kami hadapkan dulu kepada ketua kami !” .

Ji Goat terkejut . Kiranya mereka adalah orang-orang Hek I Kaipang yang bersekutu dengan parapemberontak . Akan tetapi karena untuk melawan ia tidak mungkin dapat dan pula ia ingin sekali tahu macam apa pimpinan para pemberontak itu , ia pun mengikuti mereka pergi tanpa banyak membantah lagi .

“ Baik , bawa aku kepada pimpinan mu , hendak ku lihat apa yang akan dia lakukan kepadaku !” Katanya dengan sikap amat gagah sehingga diam-diam Cu Lokai merasa kagum . Bagaimana mungkin Perdana Menteri Ji , si penjilat antek Mongol itu , mempunyai puteri yang sedemikian gagah ? .

*****

Perkumpulan Hek I Kaipang yang tadinya berpusat di Tiang-an , kini terpecah dua . Sebagian pindah ke Lok-yang dan sebagian pula pergi ke selatan . Yang berada di selatan ini sekarang menjadi pusat , dan Yang Cien bahkan telah mendahului ke sana untuk memilih tempat yang baik untuk di jadikan pusat . Dan dia memilih sebuah bukit di tepi sungai Huai sebelah utara , tepat diperbatasan untuk di jadikan tempat tinggal para anak buah yang tidak kurang dari tiga ratus orang jumlahnya .

Bahkan di tempat itu telah di bangun pondok-pondok darurat untuk tempat tinggal mereka . daerah ini adalah perbatasan , maka amat baik untuk dijadikan pusat karena tempatnya sepi . Penduduk dusun sudah lama mengungsi meninggalkan dusun mereka karena takut akan terjadi perang di situ antara pasukan Toba dengan pasukan Kerajaan Sun sehingga keadaan di bukit itu sunyi sekali . Karena itu tempat ini di anggap cukup memenuhi syarat untuk menerima kunjungan para pimpinan kaipang sebagai tempat di selenggarakannya rapat besar memilih pimpinan para pangcu di seluruh negeri . Di sini akan di pilih seseorang yang 241

mewakili para kaipang dalam pemilihan sebagai bengcu ( pemimpin rakyat ) kelak .

Ketika Ji Goat di bawa naik ke bukit dan tiba di perkampungan yang menjadi pusat Hek I Kaipang itu , diam-diam ia kagum . Perkampungan yang baru itu cukup bersih , sama sekali tidak pantas menjadi tempat tinggal para pengemis jembel . Dan di situ terdapat banyak sekali anggota Hek I Kaipang yang semua berpakaian hitam membawa tongkat hitam . Mereka semua itu memberi hormat setiap kali bertemu dengan Cu Lokai .

“ Dimana Yang-taihiap ?” Tanya Cu Lokai kepada seorang anggota pengemis karena melihat pondok yang di peruntukkan Yang Cien itu kosong .

“ Yang-taihiap sedang melatih para anggota di lapangan “ .

“ Katakan bahwa aku dapat membawa seorang tamu ingin menghadap Yang-taihiap “ , kata Cu Lokai

“ Aku ingin menonton latihan para anggota kaipang “ , kata Ji Goat yang merasa tertarik .

Cu Lokai mengajaknya ke lapangan dan di lapangan itu terdapat pemandangan yang menganggumkan hati Ji Goat . Ratusan orang pengemis dengan tongkat di tangan sedang berlatih silat , di pimpin oleh seorang pemuda yang berdiri di tempat tinggi dan pemuda inipun memegang tongkat , Ketika pemuda itu melihat Cu Lokai datang bersama seorang gadis , dia kelihatan heran dan berseru kepada para pengemis agar melanjutkan berlatih jurus yang baru saja di ajarkan . Kemudian dia menghampiri Cu Lokai .

Ji Goat memandang dan jantungnya berdebar . Tak di sangkanya bahwa pimpinan pengemis itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah , walaupun pakaiannya sederhana sekali . “ Paman sudah datang ? Apa kabarnya , dan siapa pula nona ini , Paman Cu ?” . 242

“ Semua kawan telah tiba dengan selamat dan baik saja , taihiap . Dan tentang nona ini , marilah kita bicara di dalam saja “ .

Mereka lalu memasuki pondok tempat tinggal Yang Cien dan tak lama kemudian mereka sudah duduk menghadapi meja yang buatannya kasar dan bentuknya persegi empat .

“ Nah , ceritakanlah siapa nona ini , paman !” kata Yang Cien dan diam-diam dia merasa kagum karena gadis di depannya itu memang cantik jelita dan nampak betapa sikapnya gagah dan berani , tidak pemalu seperti gadis-gadis biasanya .

“ Mula-mula kami melihat nona ini di serang oleh Lai Seng ….. “

“ Lai Seng ?” Tanya Yang Cien .

“ Benar , taihiap , Lai Seng yang dahulu pernah menyeludup ke dalam Hek I Kaipang . Kami lalu membantu nona ini sehingga Lai Seng melarikan diri . Ternyata nona ini tadinya di hadang perampok yang banyak di robohkan olehnya sampai kemudian datang Lai Seng itu . Tentu saja tadinya kami tidak berani mengganggu nona ini lebih jauh , akan tetapi seorang anggota kita mengenalnya sebagai puteri Perdana Menteri Ji Sun Cai . Setelah mendengar bahwa ia puteri Perdana Menteri , terpaksa kami menawannya dan menghadapkannya kepada taihiap untuk di beri keputusan .

Yang Cien diam-diam merasa heran sekali , karena bagaimana mungkin seorang puteri Perdana Menteri yang berkuasa besar sekali , mendadak berkeliaran seorang diri ? .

“ Dan ketahuilah , Yang-taihiap bahwa nona ini adalah murid dari Toat-beng Giam-ong “ .

“ Murid Lui Koksu ?” Yang Cien semakin heran . Perdana Menteri Ji dan Lui Koksu merupakan dua orang yang besar kekuasaannya , yang mengabdi kepada kaisar Toba dan 243

dengan adanya dua orang itulah maka semua usaha untuk menjatuhkan Kerajaan Mongol itu gagal . Dan sekarang , puteri Perdana menteri itu berkeliaran sampai ke perbatasan selatan . Tentu untuk menjadi mata-mata pikirnya .

“ Nona , engkau adalah puteri Perdana Menteri , kenapa sampai ke tempat sejauh ini ?” tanyanya sambil memandang penuh perhatian .

Ji Goat balas memandang sedikitpun tidak kelihatan jerih . “ Apakah tidak boleh kalau aku sampai ke tempat ini ?” ia balas bertanya dengan sikap menantang .

“ tentu saja tidak ada yang melarang mu , nona . Akan tetapi rasanya janggal dan juga luar biasa kalau puteri Perdana Menteri berkeliaran di tempat ini tanpa pengawal ? Apakah yang kau cari nona ?” .

Sepasang mata itu bernyala marah ketika ia di katakana “ berkeliaran” .

“ Apakah hanya orang-orang macam kalian saja yang boleh berkeliaran di tempat ini ? Aku juga mempunyai dua buah kaki , dan kemana saja aku pergi , peduli apakah dengan engkau ?” .

Yang Cien tersenyum , tidak menjadi marah . Dia tahu bahwa gadis puteri bangsawan ini agaknya terlalu di manja sehingga apapun yang di kehendakinya harus kesampaian . Namun ia kagum akan keberaniannya , dan mengingat bahwa ia murid Toat-beng Giam-ong , maka sudah pantaslah kalau ia pemberani karena tentu ilmunya cukup hebat .

“ Ayahmu dan gurumu dan semua pejabat yang menghambakan diri kepada Kerajaan Toba , melakukan penindasan kepada rakyat jelata . Banyak pejabat melakukan korupsi , dan pasukan Toba juga bersikap amat kejam menindas rakyat . Karena itu , tidak mengherankan kalau di sana sini rakyat melakukan perlawanan yang kalian namakan pemberontakan . Sekarang engkau berada di sini , agaknya 244

hendak memata-matai gerakan rakyat , bukan ?” .

“ Ku akui bahwa aku memang ingin sekali mengetahui sampai dimana kebenaran berita yang ku terima bahwa para pemberontak adalah pejuang-pejuang yang membela rakyat jelata . Yang ku temui adalah perampok-perampok jahat . Apakah engkau termasuk perampok-perampok itu ? Aku tidak bertugas sebagai mata-mata oleh siapapun juga , akan tetapi aku hendak melihat keadaan di selatan ini , benarkah penguasa bertindak kejam dan benarkah rakyat mendukung para pemberontak ? Aku mendengar di sepanjang jalan bahwa Gubernur Gak amat di sukai rakyat , dan bahwa Panglima Coa juga di anggap sebagai pahlawan oleh rakyat . Akan tetapi aku masih sangsi apakah mereka yang di anggap pahlawan itu kelak akan dapat memberi kemakmuran dan ketentraman kepada rakyat , ataukah rakyat akan menjadi lebih menderita lagi kalau terjadi perang pemberontakan “ .

Diam-diam Yang Cien kagum kepada gadis itu . Masih muda akan tetapi telah memiliki pandangan yang luas .

“ Nona , apakah nona berpikir bahwa di bawah pemerintah penjajah Mongol rakyat hidup tenteram dan Makmur ?”

“ Justeru karena menghendaki kemakmuran rakyat maka kami bekerja kepada pemerintah , sehingga kami dapat menggunakan kekuasaan untuk mengeluarkan peraturan yang meringankan rakyat jelata “ .

“ hemmm , nona . Mungkin ada seorang dua orang pejabat yang berpendirian seperti itu . Akan tetapi apa artinya seorang dua orang saja ? Buktinya , hamper semua pejabat menjadi lintah darat , memeras dan menindas rakyat dan Kiasar Toba sama sekali tidak berbuat apa-apa . Pemerintahan itu kuat dan baik tergantung sepenuhnya kepada kaisarnya .

Kalau kaisarnya baik dan jujur , mencintai rakyat jelata , tentu dia akan bertindak keras terhadap para pejabat yang tidak jujur dan menindas rakyat . Akan tetapi bagaimana 245

mungkin mengharapkan kaisar bangsa asing untuk bertindak bijaksana terhadap rakyat jajahannya ? Itulah sebabnya maka banyak rakyat hendak memberontak , untuk menjatuhkan Kerajaan Toba dan menggantikan kaisarnya dengan kaisar bangsa sendiri yang lebih dapat di harapkan bertindak bijaksana dan adil “ .

Ji Goat mendengarkan dengan kagum . Sebagai seorang wanita bangsa pribumi , ia dapat mengerti dan merasakan apa yang dimaksudkan Yang Cien . Ayahnya pun mencinta rakyat dan dengan cara sendiri bermaksud menolong rakyat , yaitu dengan menggunakan kedudukannya menentang peraturan yang membertakan rakyat . Akan tetapi , ayahnya juga tidak berdaya kalau bawahanya tidak melaksanakan peraturan , kalau bawahannya menjadi pejabat yang korup dan menindas rakyat . Yang berwenang menindak pejabat yang korup hanya kaisar , akan tetapi kalau kaisarnya acuh dan hanya mengejar kesenangan sendiri , maka tetap saja keadaan rakyat tertindas dan sengsara , bagaikan tumbuh-tumbuhan , kaisar merupakan batangnya . Kalau batangnya sakit , maka cabang ranting dan daunnya juga sakit dan tidak akan mendatangkan bunga dan buah . Mengobati cabang dan ranting saja tidak ada gunanya . Kalau menurut pemuda ini , cara satu-satunya hanyalah menebang pohon itu dan menanam pohon yang baru , dengan batang pohon yang sehat sehingga semua bagian pohon itu akan menjadi sehat dan menghasilkan bunga dan buah yang baik .

“ Akan tetapi , bukankah kalau terjadi pemberontakan berarti perang yang akan menewaskan banyak prajurit pejuang dan juga kalau terjadi perang , rakyatlah yang akan menderita karenanya ?” .

“ Tidak mungkin ada perbaikan tanpa pengorbanan , Kalau hendak menebang pohon yang berpenyakitan , tentu kita akan kehilangan pohon , berarti mengorbankan pohon beserta seluruh cabang ranting dan daunnya . Kalau hendak 246

membangun rumah baru , haruslah meruntuhkan yang lama terlebih dahulu . Kalau hendak menanam sesuatu , haruslah lading itu di cangkul dan di bajak lebih dulu . Semua pembaruan haruslah mengorbankan yang lama , kalau tidak begitu , mana ada pembaharuan ?” .

Ji Goat tidak dapat membantah lagi , lalu memandang tajam kepada Yang Cien . “ Orang muda , aku melihat engkau tidak berpakaian sebagai anggota Kaipang , bagaimana engkau menjadi pemimpin mereka ?”

Yang Cien tersenyum geli mendengar disebut orang muda , seolah-olah gadis itu sudah berusia tua sekali .

“ Untuk memilih seorang pemimpin , tidak perlu melihat pakaiannya , bukan ? Pula , aku tidak menjadi ketua kaipang , melainkan di calonkan untuk menjadi pemimpin seluruh pangcu dan di ajukan sebagai calon bengcu “

“ Hebat sekali . dan sekarang , apa yang akan kau lakukan terhadap diriku ? Akan menghukum aku karena aku puteri Perdana Menteri yang membantu pemerintahan Toba , penjajah asing ?” .

“ tidak nona . Ayahmu juga seorang pejuang , walaupun dengan cara salah . Pula , andaikata ayahmu bersalah terhadap rakyat jelata , engkau tidak tersangkut sama sekali . Bahkan kami menilai nona seorang yang gagah perkasa dan berjiwa patriot . Nona boleh pergi kemana nona suka , kami tidak akan mengganggu lagi “ .

Ji Goat tertegun . Dan ia menjadi semakin kagum . “ sudah seringkali aku mendengar dari ayah maupun dari suhu bahwa para pemberontak adalah penjahat-penjahat yang kejam , akan tetapi apa yang ku lihat sekarang berbeda sama sekali . Apakah para pejuang yang di anggap pemberontak ini semua seperti engkau ?” .

“ Kalau memang dia seorang pejuang sejati , tentu akan bertindak dengan bijaksana dan sama sekali tidak kejam . 247

Akan tetapi , tentu saja ada penjahat yang mengaku pejuang hanya untuk di pakai sebagai kedok kejahatannya . Engkau mempunyai seorang guru yang terkenal sebagai seorang datuk sesat yang amat jahat , nona . Akan tetapi sungguh mengagumkan , sedikitpun watak yang sesat itu tidak menurun padamu !” .

“ Ah , aku senang sekali bertemu dan bersahabat denganmu . Engkau di sebut Yang-taihiap , dan agaknya engkau memang seorang pendekar besar . Bolehkah aku menguji kepandaianmu agar semakin terbuka mataku begaimana keadaan seorang pejuang sejati ?” .

Yang Cien tersenyum . Dia dapat menduga bahwa nona ini tentu lihai , karena murid Toat-beng Giam-ong bagaimana tidak akan lihai ? Dia sendiri sebetulnya kalau menurut kata hatinya mendendam kepada Toat-beng Giam-ong . karena ayah bundanya tewas oleh datuk itu . Bahkan ketika masih kecil , dia dan kakeknya di kejar-kejar oleh Toat-beng Giam-ong . Akan tetapi demi perjuangan , dia melupakan semua dendam pribadi . Apalagi gadis ini , biarpun murid musuh besarnya itu , sama sekali tidak ada tanda-tanda sebagai seorang yang jahat .

“ Aku tahu bahwa nona adalah seorang ahli silat yang pandai dan agaknya sudah menjadi penyakit semua ahli silat , kalau bertemu orang selalu ingin menguji kepandaian . Baiklah nona , mari kita keluar ke halaman depan dan kita berlatih bersama , bukan menguji kepandaian .

Ji Goat mendahului pemuda itu keluar dan setibanya di halaman luar , ia lalu mencabut sepasang pedang pendeknya dan siap memasang kuda-kuda . Sebetulnya Yang Cien merasa enggan menghadapi gadis itu dengan senjata di tangan , akan tetapi kalau dia menggunakan tangan kosong , tentu gadis itu akan menganggap dia memandang rendah , maka terpaksa diapun mencabut pedangnya . Sinar putih menyilaukan mata ketika Pek-liong Po-kiam dia cabut . Melihat 248

sinar pedang berkilat itu Ji Goat terkejut sekali dan teringat ia kepada Hek-liong Po-kiam milik Akauw , hanya bedanya kalau pedang milik Akauw itu bersinar hitam , pedang di tangan pimpinan kaipang ini bersinar putih .

Melihat gadis itu seperti menanti , Yang Cien lalu berkata , “ Nona , aku telah bersiap , silahkan mulai !” .

“ Lihat pedang !” teriak Ji Goat dan ia pun mulai menyerang dengan menggerakkan pedangnya dari kanan kiri dengan gerakan menggunting . Inilah jurus Kim-peng-tiauw-ci ( Garuda Emas Sabetkan Sayap ) yang dilakukan dengan cepat dan kuat sekali . Sepasang pedangnya mengeluarkan suara berdesing dan nampak kilat dari kanan kiri menyambar dahsyat . Yang Cien melangkah mundur dengan cepat sambil menarik tubuh atas ke belakang sehingga sambaran sepasang pedang itu luput . Ji Goat mengayun pedangnya dan menyerang lagi , tubuhnya membalik dan pedang kanannya sudah menyambar . Inilah gerakan jurus Kong-ciak-tiauw-li ( Burung Merak Sabetkan Ekor ) , juga dilakukan dengan sepenuh tenaga , karena ia menduga bahwa lawannya lihai sekali .

“ Traannggg …….. ! “ Yang Cien menangkis , akan tetapi tidak menggunakan mata pedangnya dan mengendalikan tenaganya sehingga dia tidak merusak pedang ji Goat , hanya membuat pedang yang menyerangnya itu terpental saja .

Ji Goat merasa betapa tangannya tergetar hebat , dan ini membuatnya penasaran . Ia lalu mengerahkan sin-kangnya dan mulailah ia menyerang kalang kabut , bertubi-tubi dengan pedang-pedangnya . Sepasang pedang itu membentuk gulungan dua sinar yang berdesingan menyambar-nyambar . Diam-diam Yang Cien kagum dan dia dapat menduga bahwa tentu ilmu kepandaian guru silat ini amat hebat . Dia tetap saja mengelak dan kalaupun menangkis dia menjaga agar jangan merusak pedang gadis itu . Terjadilah pertandingan yang seru dan menarik sehingga kini tempat itu sudah penuh 249

dengan para anggota Hek I Kaipang yang menonton pertandingan adu ilmu silat itu . Ji Goat bukan seorang gadis bodoh . Sudah tiga puluh jurus lewat dan belum pernah satu kalipun Yang Cien membalas serangannya , namun semua serangannya terhadap pemuda itu sama sekali gagal . Kalau tidak di elakkan , tentu di tangkis , bahkan beberapa kali pedangnya terpental dan dalam keadaan demikian , kalau pemuda itu balas menyerang tentu ia akan kalah . Ia tahu bahwa pemuda itu memang lihai sekali . Gurunya sendiri saja belum tentu akan dapat bertahan kalau hanya mengelak dan menangkis terhadap serangan-serangannya selama tiga puluh jurus lebih ! .

Yang Cien sedang mencari akal bagaimana dia akan mampu mengalahkan gadis ini tanpa merusak pedang-pedangnya dan tanpa kemenangan yang menyolok . Di situ sudah berkumpul banyak saksi sehingga kalau dia menang secara menyolok tentu akan membuat gadis itu merasa malu . Tiba-tiba dia teringat akan tenaga dari Bu-tek Cin-keng yang dapat menyedot tenaga lawan . Ketika sepasang pedang lawan itu menyerang lagi dengan berbarengan , dia lalu menangkis dengan pedangnya , mengerahkan tenaganya menempel dan menyedot sehingga sepasang pedang itu tidak dapat di tarik lepas lagi . Dalam keadaan demikian , tangan kirinya menangkap sepasang pedang dan sekali tarik dia berhasil merampas sepasang pedang itu yang tak dapat di pertahankan lagi oleh pemiliknya .

Yang Cien lalu memberi hormat dan mengembalikan pedang sambil berkata “ ilmu pedang nona sungguh lihai , aku merasa kagum sekali !” .

Dengan muka merah Ji Goat menerima sepasang pedangnya . Ia tahu bahwa lawan telah banyak mengalah , bahkan tadi mengalahkannya dengan cara halus . Hal ini membuatnya kagum dan takluk .

“ Yang-taihiap terlalu mengalah , membuat aku merasa 250

tidak enak . Aku sama sekali bukanlah lawan seimbang dari yaihiap “ .

“ Nona , mari kita bicara di dalam “ , ajak Yang Cien . Semua penonton bubaran dan merekapun memuji ilmu pedang nona muda itu . Dapat menandingi pemimpin mereka sampai tiga puluh jurus sudah di katakan hebat ! .

“ Yang-taihiap , apalagi yang akan kita bicarakan ? Aku sudah mengaku kalah olehmu “ , kata Ji Goat sambil memandang tajam penuh selidik .

“ Pertama-tama , aku bernama Yang Cien . Jangan nona ikut-ikutan memanggil taihiap kepadaku . Engkau adalah puteri bangsawan tinggi , jangan terlalu merendahkan diri , nona . Dan aku dapat mengerti bahwa nona bukanlah seperti para puteri bangsawan yang angkuh dan memandang rendah rakyat miskin . Aku ingin bersahabat denganmu , karena itu jangan memanggil aku taihiap “ .

“ Hem , lalu harus memanggil apa ? Bagaimana kalau aku menyebutmu twako ( kakak ) saja ?” .

“ Itu yang ku inginkan , nona “ .

“ Wah , kalau aku menyebutmu twako , engkaupun sepatutnya tidak menyebut nona kepadaku , melainkan adik . Namaku Ji Goat , dan engkau boleh memanggil adik Goat saja “ .

“ Baiklah , Goat-moi “ .

“ Nah , sekarang katakana , apa yang hendak kau bicarakan selain soal panggilan ini , cien-ko ?” .

Lega hatiku dengan sebutan ini , karena hubungan kita sebagai sahabat menjadi lebih akrab . Goat-moi , sesungguhnya , apa yang membawamu ke sini ? Benarkah dugaan mereka bahwa engkau memang di suruh gurumu atau ayahmu untuk memata-matai kami ?” . 251

“ Tidak sama sekali . Aku lari meninggalkan rumah “ .

“ Ehhhh ! Maaf , aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu , akan tetapi sungguh aneh kalau seorang anak perempuan lari meninggalkan rumah orang tuanya !” .

“ Aku marah kepada ayahku . Aku menasehatkan kepadanya bahwa kaisar brengsek dan tidak memperhatikan pemerintahan , tidak memperdulikan para pejabat yang korup . Aku nasehatkan ayah untuk mundur saja melepaskan jabatannya . Ayah malah marah sekali kepadaku . Aku memang mulai tidak suka dengan pemerintah penjajah , akan tetapi ayah berpendapat lain , katanya dengan menjadi Perdana Menteri diapun dapat berbuat banyak untuk kebaikan rakyat . Aku mulai merasa senasib dengan para pejuang yang bermaksud membebaskan rakyat dari cengkraman penjajah Mongol “ .

“ Goat-moi , cita-citamu mulia sekali . Akan tetapi untuk itu engkau harus berkorban berat sekali . Sebetulnya perlahan-lahan engkau membujuk ayahmu , bukan melarikan diri karena hal itu amat tidak baik . Betapa pun juga , seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya dan kalau engkau melihat orang tua bertindak salah , sudah menjadi kewajibanmu untuk membujuk dan mengingatkannya perlahan-lahan , bukan lalu minggat dari rumah “ .

“ Cian-ko , enak saja engkau berkata demikian . Akan tetapi aku yang mengalaminya sendiri ! Kau tahu , bukan karena hanya itu aku lari dari rumah , akan tetapi karena hal lain lagi yang membuat aku marah dan tak betah tinggal di rumah lagi “ .

“ Eh , urusan apalagikah itu ?” .

“ Di luar persetujuanku , ayah telah mengikatkan perjodohanku dengan pria yang tidak ku sukai , bahkan ku benci . Dia adalah Lai Seng , suhengku sendiri “ .

Yang Cien terkejut . “ Kau maksudkan Lai Seng yang kata 252

Cu-pangcu telah menyerangmu dan dia membantumu mengusirnya ? Yang pernah menyeludup ke dalam Hek I Kaipang ? Dan dia itu murid Koksu ?” .

“ Benar , toako . Dialah orangnya “ .

“ Tapi , bukankah dia itu suhengmu sendiri ?” .

“ Benar , akan tetapi kami tidak pernah bergaul . Suhu mengajarkan silat kepadaku di rumah ayah , kami jarang sekali berjumpa . Dan aku sungguh tidak suka kepadanya , akan tetapi ayah malah menjodohkan aku dengan dia . Hati siapa tidak akan kesal ?” .

“ Aihhh , kalau ada urusan itu , aku tidak tahu lagi harus berkata apa . Terserah kepadamu , Goat-moi . Akan tetapi engkau hendak pergi kemanakah ?” .

“ Kemana saja hati dan kaki ini membawaku . Aku ingin meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu pengetahuanku , sambil melupakan keadaan di rumah yang menjengkelkan “ .

“ Kalau saja aku dapat membantumu , Goat-moi . Katakanlah , apakah ada sesuatu yang dapat aku membantumu ?” .

“ Terima kasih , toako . Engkau sudah banyak membantu sekali . Pertama , anak buahmu telah membantuku dari ancaman Lai Seng . Kedua , engkau telah membuka mataku untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang perjuangan para patriot “ .

“ Kalau engkau hendak bergabung dengan kami , aku akan merasa senang sekali , Goat-moi “ .

“ Terima kasih , belum saatnya , toako . Bagaimanapun juga , hati ini masih tidak tega untuk menghadapi ayahku sendiri sebagai lawan . Nah , selamat tinggal , toako , aku akan melanjutkan perjalananku “ . 253

“ Selamat jalan , Goat-moi “ .

Yang Cien mengantar Ji Goat sampai keluar dari perkampungan itu dan ketika bayangan gadis itu sudah mengecil dan kabur , dia masih berdiri memandangnya . “ Gadis yang hebat !” pikirnya kagum . Akan tetapi dia segera mengusir bayangan gadis itu dari pikirannya . Banyak tugas menanti dan belum saatnya bagi dia untuk memikirkan dan mengenang seorang wanita .

*****

Lai Seng berlari dengan hati mengkal sekali . Dia sudah berhasil menemukan tunangannya , akan tetapi kembali ada saja penghalang yang membuat gadis itu lolos lagi dari tangannya . Bagaimana dia dapat pulang ke kota raja kalau tidak bersama Ji Goat ? Dia semakin sakit hati terhadap Hek I Kaipang yang selalu menghalanginya , tentu dia sudah dapat menawan Ji Goat dan di bawa pulang ke kota raja , dimana menurut janji Perdana Menteri akan segera menikahkan dia dengan gadis itu kalau dia mampu membawanya pulang . Sekarang , dia harus mulai dari pertama lagi , mencari jejak gadis itu .

Lai Seng adalah murid pertama dari Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang sekarang menjadi Koksu Kerajaan Toba . Sejak kecil dia sudah menjadi murid Toat-beng Giam-ong ketika tokoh ini masih menjadi seorang datuk persilatan golongan sesat . Sebetulnya Lai Seng adalah putera seorang anak buah datuk itu yang tewas ketika melakukan perampokan , tewas di tangan para pendekar dari Gobi pai . Dia bru berusia enam tahun ketika ayahnya tewas dan ibunya mengikuti laki-laki lain dan meninggalkannya . Melihat bakat baik kepada anak yang dapat di bilang sudah yatim piatu ini , Toat-beng Giam-ong lalu mengambilnya sebagai murid .

Ketika Toat-beng Giam-ong menjadi Koksu , Lai Seng sudah berusia delapan belas tahun dan diapun mendapat tugas dari gurunya untuk membantu pekerjaan nya , kadang 254

menjadi penyelidik . Karena itu ketika Ji Goat belajar silat kepada Koksu itu lima tahun yang lalu , dia jarang bertemu dengan Ji Goat yang belajar di rumahnya sendiri . Kini , Lai Seng telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang gagah dan berkepandaian tinggi . Dia seorang mata keranjang dan suka pelesir . Hal ini di ketahui oleh Koksu sendiri , akan tetapi karena Koksu sendiri bekas datuk sesat , maka dia tidak pernah menegurnya .

Ketika untuk pertama kalinya bertemu dengan Ji Goat , sudah terkandung keinginan di hati Lai Seng agar dia dapat di jodohkan dengan Puteri Perdana Menteri ini , bukan hanya karena Ji Goat cantik jelita , akan tetapi terutama sekali karena kalau hal itu dapat terjadi , dia akan mendapatkan banyak kesempatan untuk naik pangkat dan setidaknya , sebagai menantu Perdana Menteri , dia tentu akan terpandang dan di hormati para bangsawan lain . Maka , alangkah girangnya ketika Perdana Menteri dan gurunya menghendaki perjodohan itu berlangsung .

Akan tetapi , Ji Goat melarikan diri dan dia gagal untuk menawannya di bawa pulang . Dia berpikir dan mencari akal . Andaikata dia mampu menawan Ji Goat , kalau dia membawanya pulang sebagai seorang tawanan , hal itu akan amat merugikannya . Ji Goat tentu akan membencinya dan alangkah tidak enaknya di benci isteri sendiri kelak . Akan tetapi andaikata Ji Goat pulang bersamanya secara suka rela , tentu akan senang sekali hidupnya . Beristrikan wanita cantik , dan menjadi menantu Perdana Menteri ! Hanya saja , bagaimana akalnya agar Ji Goat menjadi suka kepadanya dan mau di bawanya pulang dengan suka rela ? .

Senja telah menjelang tiba dan Lai Seng mempercepat langkahnya . Dia harus dapat menemukan dusun sebelum malam tiba sehingga dia bisa mendapatkan tempat bermalam . Akan tetapi ketika dia naik ke atas pohon untuk mencari arah sebuah dusun , ternyata di sekitar tempat itu tidak nampak 255

ada dusun . Tiba-tiba dia melihat sebuah bangunan di lereng sebuah bukit di depan . Dia tidak tahu bangunan apa itu , hanya nampak gentengnya dan sebagian temboknya saja . Cepat dia turun dan menuju ke bukit itu . Ternyata jaraknya cukup jauh dan sebelum tiba di kaki bukit itu , malam telah tiba dan cuaca menjadi remang-remang gelap .

Dia menggunakan ilmu berlari cepat dan berhasil tiba di depan sebuah bangunan besar yang sudah tua sekali , dan tidak terawatt . Keadaan amat sunyi seolah bangunan itu kosong tidak ada penghuninya . Dia membuka pintu depan dan tiba di ruangan depan yang amat luas dan kosong . Di sudut ada api unggun , entah di buat oleh siapa karena di situ tidak nampak ada orangnya .

“ Ada siapa di dalam ?” tanyanya dengan suara nyaring . Suaranya bergema dari ruangan dalam yang luas dan panjang , tersambung melalui lorong di pinggir . Tidak ada jawaban . Dia melihat lantai cukup bersih dan ada jerami kering di lantai ruangan depan itu , seolah di jadikan tilam .

“ Heiii , kalau ada orang di dalam , harap keluar !” kembali dia berseru ke dalam karena dia yakin bahwa apin unggun itu tentu ada yang membuatnya .

Tiba-tiba ada suatu benda mengkilap meluncur dari balik pintu sebelah dalam . Di bawah sinar api unggun itu dia dapat melihat bahwa benda yang terbang menyambar ke arahnya itu sebuah golok yang berkilauan saking tajamnya . Golok itu menyambar kea rah lehernya dengan kecepatan seperti sebatang anak panah .

“ Singggg ……. !! “ Golok itu mengeluarkan suara berdesing ketika Lai Seng mengelak dan golok terbang di dekat telinganya . Dan dia terbelalak kagum ketika golok itu terbang kembali kea rah pintu dan lenyap . Sebatang golok terbang yang agaknya di sambitkan sedemikian rupa sehingga rupa sehingga golok itu dapat terbang kembali kalau tidak mengenai sasaran . Penyambitnya tentu seorang yang berilmu 256

tinggi .

Akan tetapi tidak ada orang keluar . Padahal dia sudah siap dengan seruling peraknya . Untuk menyerbu ke dalam berbahaya sekali karena ruangan di balik pintu itu gelap . Selagi dia menanti dengan hati tegang , dia terkejut sekali mendengar suara tawa di atas !” .

“ Hua-ha-ha-ha-he-he-he !”

Dia sampai terloncat ke belakang saking kagetnya , apa lagi ketika dia mengangkat muka ke atas . Hatinya penuh ketegangan dan seram . Di atas sana di tiang yang melintang , dia melihat seorang menggantung dengan kaki di atas kepala di bawah , tertawa-tawa kepadanya . Wajahnya ketika bersinar api unggun yang bergerak-gerak nampak menyeramkan sekali . Kepalanya tergantung ke bawah dan rambutnya riap-riapan .

“ Siapa kau !” bentak Lai Seng , memberanikan diri . “ Manusia atau setan ?” .

“ Ha-ha-hah-heh-he , aku memang setan , Raja Setan ha-ha-ha kembali orang itu tertawa . Kini Lai Seng tidak begitu ngeri lagi setelah melihat bahwa yang bergantung di atas itu adalah seorang manusia , tubuhnya tinggi besar dan kepalanya besar pula , dengan rambut riap-riapan . Dengan gerakan seperti seekor kera saja . Tubuh yang menggantung membalik itu kini terayun dan kini dia sudah duduk di atas tiang melintang itu , kakinya terayun-ayun ke bawah .

“ Turunlah dan mari kita bicara !” kata pula Lai Seng .

“ Turun ? Bicara ? Ha-ha-ha . mudah asal engkau dapat menandingi anak buahku . Ngo Kwi ( Lima Iblis ) , tangkap bocah lancing yang memasuki tempat kita ini !” .

Dari balik pintu sebelah dalam berloncatan lima orang yang wajahnya seram-seram dan mereka berlima itu masing-masing memegang sebatang golok besar yang berkilauan . Mereka 257

segera membentuk suatu barisan segi lima . Dan entah dari mana munculnya , tahu-tahu nampak seorang gadis menambahkan kayu bakar pada api unggun dan selanjutnya di dia duduk dekat api unggun , agaknya untuk menjaga api unggun agar api unggun itu tidak padam . Gadis yang cukup cantik dengan mata yang bersinar – sinar dan mulut tersenyum-senyum . Tentu ia memiliki gerakan yang cepat sekali karena tahu-tahu ia sudah berada dekat pada api unggun itu . Sementara kakek yang tinggi besar masih nongkrong di atas balok melintang sambil tertawa-tawa .

Lai Seng maklum bahwa dia harus membela diri , maka diapun sudah siap siaga dengan suling peraknya . Sebetulnya , oleh gurunya , Toat-beng Giam-ong , Lai Seng juga di latih ilmu dengan senjata lain . Bahkan gurunya seorang yang ahli memainkan senjata golok atau pedang akan tetapi dia lebih suka menggunakan sulingnya sebagai senjata dan sulingnya ini merupakan senjata yang ampuh .

Ujung suling itu meruncing dan dapat dipergunakan untuk meniupkan jarum beracun . Juga , biarpun di luarnya di selaputi perak , akan tetapi di sebelah dalamnya , suling itu terbuat dari baja yang baik sehingga tidak takut untuk menangkis senjata tajam yang manapun .

Kini , menghadapi pengepungan lima orang itu , Lai Seng berpendapat bahwa menyerang lebih dulu yang terbaik agar dirinya jangan terkepung . Maka , tanpa banyak cakap lagi dia lalu memutar sulingnya dan menerjang orang yang berada di sebelah kirinya . Orang itu menangkis dengan golok , akan tetapi goloknya terpental ketika bertemu suling sehingga dia terkejut sekali dan melompat ke belakang . Teman-temannya segera menyerang dari belakang . Lai Seng membalikkan tubuhnya menghadapi mereka dan pemuda itu mengamuk . Lai Seng adalah murid pertama Toat-beng Giam-ong , maka tentu saja dia lihai sekali . Pengeroyokan lima orang itu tidak 258

membuatnya menjadi gentar bahkan setelah menendang roboh seorang pengeroyok dan memukul pengeroyok lain dengan sulingnya yang mengenai pundak , membuat golok yang di pegangnya terlepas ! .

“ Mundur ….. !” teriak kakek yang nongkrong di atas balok melintang dan lima orang itu lalu berloncatan menghilang di balik pintu sebelah dalam .

“ Kui Hwa , maju !” kata kakek di atas dan kini gadis yang duduk dekat api unggun , tiba-tiba saja meloncat dan pedang sudah berada di tangannya . Berbeda dengan Ngo-kwi tadi , gadis yang bernama Kui Hwa itu berdiri berhadapan dengan Lai Seng , memandang Lai Seng dari kepala sampai ke kaki seperti orang sedang menaksir seekor kuda yang hendak di belinya , mulutnya tersenyum menantang dan mataknya lirak – lirik dengan sikap genit . memang gadis ini cukup cantik sehingga sikapnya itu menarik perhatian Lai Seng yang mata keranjang .

“ Sobat , siapakah namamu ?” Tanya gadis itu .

“ Namaku Lai Seng “ .

“ Kenapa engkau lancing memasuki tempat tinggal kami ?” .

“ Aku tidak mengira bahwa rumah besar ini ada yang menempati . Ku kira rumah kosong dan aku seorang pejalan kaki yang sedang kemalaman , bermaksud untuk bermalam di bangunan ini . Tidak tahu bahwa bangunan ini tempat tinggal kalian , harap membolehkan aku melewatkan malam di sini “

“ Boleh asal memenuhi syaratnya “ .

“ Apa syaratnya ?” .

“ Engkau harus dapat mengalahkan aku !” kata gadis itu dan ia melintangkan pedangnya di depan dada .

“ Ah , engkau juga ingin main-main dengan aku , nona . 259

Baik , mari kulayani !” kata Lai Seng gembira . Kemenangan tadi membesarkan hatinya dan membuat keangkuhannya bangkit dan dia memandang ringan kepada gadis itu .

“ Awas , sambut seranganku !” bentak gadis yang bernama Kui Hwa itu dan ketika menyerang , terkejutlah Lai Seng . Serangan gadis itu hebat sekali , cepat dan mengandung tenaga dahsyat sehingga pedang itu berdesing mengeluarkan angina . Diapun cepat menangkis dengan sulingnya .

“ Traanggg ….. !! “ Bunga api berpijar dan Lai Seng merasa betapa kuatnya tangan yang memegang pedang itu sehingga suling peraknya tergetar hebat bertemu dengan pedang . Namun dia pun melihat betapa gadis itu terkejut melihat kekuatan sulingnya . Dalam hal tenaga , dalam adu tenaga pertama ini ternyata mereka seimbang . Tahulah Lai Seng bahwa dia sama sekali salah perhitungan .

Gadis ini tidak bisa di samakan dengan kelima Ngo-kwi tadi . maka , diapun berhati-hati dan memutar sulingnya sehingga terbentuk gulungan sinar perak .

Gadis itu tidak mau kalah , pedangnya berkelebatan dan nampak sinar bergulung-gulung mengimbangi gulungan sinar suling . Mereka sudah saling menyerang dengan seru dan ternyata ilmu pedang gadis itu hebat bukan main . Lai Seng harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya untuk mempu menandinginya .

Kakek yang duduk di atas tertawa-tawa senang dan memuji-muji ilmu suling yang dimainkan Lai Seng . Ketika Lai Seng yang hendak mendesak lawannya memainkan Lo-hai Kiam-sut ( Ilmu Pedang Pengacau Lautan ) dengan sulingnya , kakek itu berhenti tawanya dan tubuhnya melayang turun , tiba-tiba saja tangannya sudah menangkis suling Lai Seng dan hamper saja dapat merampasnya kalau saja Lai Seng tidak cepat-cepat menariknya kembali dan meloncat ke belakang . Kakek itu ternyata tinggi besar sekali , sekepala lebih tinggi darinya dan Lai Seng memandang dengan agak jerih . Dari 260

gerakan tangkisan kakek itu tadi saja yang hamper dapat merampas sulingnya , dia tahu bahwa kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tingkatnya jauh lebih tinggi darinya .

-oo0dw0ooo-

Jilid 9

“ Orang muda , darimana engkau mempelajari Lo-hai Kiam-sut ? Hayo katakana , dari siapa ?” suaranya membentak-bentak seperti orang marah . kakek ini memang menyeramkan . Tidak saja tubuhnya tinggi besar , juga wajahnya menyeramkan dengan rambut riap-riapan , matanya besar dan mulutnya menyerengai dengan gigi yang besar-besar .

Lai Seng yang cerdik maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti , maka cepat dia memberi hormat dan menjawab , “ Saya mempelajarinya dari suhu , lo-cian-pwe “ .

“ Siapa suhumu ? Apakah Toat-beng Giam-ong itu suhumu ?” .

“ Benar , lo-cian-pwe . Suhu sekarang telah menjadi Koksu Lui Tat “ , kata Lai Seng bangga .

“ Hoa-ha-ha-ha-ha , kau kira aku belum tahu ? Si Raja Maut itu telah memiliki kedudukan tinggi dan engkau muridnya tentu memiliki kedudukan tinggi pula ? Kenapa berkeliaran di sini ?” .

“ Saya hanya menjadi seorang panglima muda , lo-cian-pwe dan sekarang saya bertugas untuk mencari puteri Perdana Menteri Ji yang melarikan diri , sekalian menyelidiki keadaan para pejabat yang hendak memberontak terhadap Kerajaan “ .

“ Ho-ho-ha-ha-ha , Kui Hwa yang begini pantas menjadi suamimu . Dengar , Lai Seng , antara aku Sin-to Kwi-ong ( 261

Raja Iblis Golok Sakti ) dan gurumu Toat-beng Giam-ong terdapat hubungan baik sebelum gurumu menjadi Koksu . Aku setuju untuk menjodohkan puteriku ini denganmu , bagaimana pendapatmu ? Kui Hwa , bagaimana dengan engkau ? Setujukah ?” .

Kui Hwa melirik dan tersenyum genit . “Aku setuju , ayah “.

“ Nah , Lai Seng , engkau dengar sendiri , anakku Bong Kwi Hwa ini sudah banyak yang minta , akan tetapi ia tidak mau dan sekarang melihat engkau , ia agaknya sudah setuju untuk berjodoh dengan mu . Bagaimana jawabanmu ?” .

Lai Seng adalah seorang mata keranjang . Melihat Kui Hwa cukup cantik menarik dan genit , dia sudah merasa suka . Sebetulnya dia belum ingin menikah dan agak keberatan kalau harus menikah , akan tetapi dia tahu bahwa menolak akan menimbulkan bahaya . Orang seperti kakek ini agaknya tidak boleh di tolak keinginannya . Dia harus cerdik , menarik keuntungan sebanyaknya dari setiap peristiwa yang terjadi .

“ Lo-cianpwe , suhu tentu akan marah kalau saya menerima sebelum memberitahu suhu . Akan tetapi tentu suhu akan senang kalau saja Lo-cianpwe suka berjanji bahwa lo-cianpwe dan semua anak buah lo-cianpwe bersedia membantu suhu , membantu Kerajaan Mongol di Tang-an . Kalau lo-cianpwe bersedia membantu , tentu suhu tidak berkeberatan untuk menikahkan saya dengan puteri lo-cianpwe “ .

“ Ha-ha-ha , bagus , bagus ! Engkau seorang panglima yang baik sekali . Orang macam engkau ini tentu akan cepat naik pangkat dan menduduki jabatan tinggi . Engkau selalu mengingat kepentingan kerajaan . Ha-ha-ha , aku setuju sekali ! Memang aku ingin membonceng kemakmuran Koksu Toat-beng Giam-ong , ha-ha-ha !” .

Demikianlah , Lai Seng tiba-tiba saja memperoleh isteri ! Mereka di nikahkan pada beberapa hari kemudian dan setelah 262

semua anak buah berkumpul , ternyata jumlah mereka hamper dua ratus orang . Ini adalah anak buah dari perkumpulan Kwi-to-pang ( Perkumpulan Golok Setan ) yang tersebar di daerah perbatasan di sepanjang Sungai Huai itu . Diam-diam Lai Seng merasa girang bahwa ayah mertuanya memiliki anak buah yang banyak juga , apalagi semua anak buahnya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian .

Setelah menikah , Lai Seng lalu minta bantuan anak buah ayah mertuanya untuk mencari-cari Ji Goat . Dia menggambarkan seorang gadis cantik yang membawa sepasang pedang pendek yang berpakaian sederhana .

****

Dapat dibayangkan betapa girang rasa hati Lai Seng ketika beberapa hari kemudian anak buah ayah mertuanya telah dapat menemukan gadis yang di carinya . Dia lalu mengajak isterinya berunding .

“ Sumoiku itu lihai bukan main ilmu pedangnya . Aku seorang diri saja akan sukar untuk menawannya . Bagaimana kalau engkau membantuku ?” .

“ Hemm , engkau hendak membujuk adik seperguruanmu itu mau pulang dan bukankah engkau pernah mengatakan bahwa ia akan di jodohkan denganmu ?” .

“ Kau cemburu ?”

“ Sama sekali tidak . Engkau boleh menikah seratus kali , akan tetapi aku harus menjadi yang nomor satu . Kalau satu kali saja engkau mengesampingkan aku dan mengalahkan aku memilih lain wanita , maka wanita itu dan engkau akan ku bunuh ! Ayah tentu akan membantuku !”.

Diam-diam Lai Seng bergidik . Dia percaya sepenuhnya ancaman itu karena isterinya adalah seorang yang sadis dan galak sekali . Juga dia mendapatkan kenyataan bahwa ketika menikah dengan dia , isterinya bukan perawan lagi . Akan 263

tetapi dia tidak mau ribut-ribut karena agaknya bagi golongan sesat ini perawan atau bukan , bukan masalah lagi . Bahkan kini isterinya itu mengatakan bahwa dia boleh kawin lagi sampai seratus kali ! Agaknya isterinya tidak akan cemburu melihat dia mencinta gadis lain dan ini tentu ada imbalannya , yaitu diapun tidak boleh cemburu kalau melihat Bong Kwi mencinta pria lain ! .

“ Benar , ayahnya , Perdana Menteri Ji , sudah berjanji akan menikahkan aku dengan sumoi kalau aku mampu membawanya pulang . Akan tetapi bagaimana ia mau ? Malah ia agaknya membenciku ! Jangankan menikah dengan aku , pulang bersamaku pun ia tidak mau “ .

Isterinya tersenyum . “ Jangan pergunakan kekerasan . Kalau aku membantumu dan kemudian gadis itu tahu bahwa yang membantumu adalah isterimu , tentu ia semakin membencimu “ .

“ Lalu bagaimana aku harus menangkapnya ?”

“ Menurut keterangan anak buahku , dimana gadis itu sekarang ?” .

“ Ia kelihatan di dalam sebuah kuil tua yang kosong “ .

“ Bagus . Tepat sekali untuk menggunakan siasat ini “ .

Ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam saku bajunya dan menyerahkan bungkusan itu kepada suaminya . “ kau dekati ia dan bakar kertas pembungkus obat bius ini di dekat jendela atau pintu kuil . Pendeknya , sekali saja ia menghisap asap dari bakaran obat ini, tentu ia akan pingsan “.

“ Akan tetapi kalau ia siuman kembali , ia tetap tidak mau dan aku harus mengunakan kekerasan . Ia akan semakin benci kepadaku “ .

“ Bodoh ! Setelah ia pingsan , engkau tundukkan ia . Sekali ia telah menjadi milikmu , setelah sadar ia pasti bahkan memaksamu untuk mengawininya “ . 264

Lai Seng terbelalak , hamper tidak percaya . “ Kau menganjurkan aku untuk …. Memperkosanya ….? Mana ada isteri menyuruh suaminya memperkosa seorang gadis kalau bukan puteri si Raja Iblis ! .”

Kwi Hwa terkekeh dan mengangguk . “ Itu satu-satunya jalan . Kalau ia siuman dan mengetahui bahwa ia akan menebus aib itu dengan memaksa engkau menikahinya “ .

“ Ah , bagus sekali . Engkau seorang isteri yang baik , Kwi Hwa . Aku cinta padamu ! “ Lai Seng merangkul dan menciumi isterinya itu dengan girang bukan main .

“ Hemm , aku sudah membantumu , ada upahnya “ .

“ Apa upahnya ? Mintalah , pasti akan ku penuhi permintaanmu “ .

“ Tidak banyak . Aku hanya ingin menonton kalau engkau melakukannya “ .

Diam-diam Lai Seng menggeleng kepalanya . Dia sendiri murid Koksu yang dulunya juga seorang datuk sesat , akan tetapi kesesatan yang di dengarnya dari isterinya ini sungguh melampaui batas , membuatnya diam-diam merasa tidak senang kepada isterinya ini . Isterinya ternyata seorang perempuan yang tidak tahu malu sama sekali , di samping kekejaman dan kegalakannya . Isterinya adalah seorang perempuan cabul yang tentu tidak pantang untuk berjina dengan siapapun juga . Tidak pantas menjadi isterinya . Dia , seorang panglima dan calon mantu Perdana Menteri ! .

“ Apa ? Engkau menggeleng kepala ? Tidak boleh ?” Kwi Hwa berkata dengan nada mengancam .

“ Siapa yang tidak boleh ? Tentu saja boleh , aku menggeleng kepala hanya karena heran mendengar permintaanmu yang aneh-aneh “ .

Demikian , malam itu juga Lai Seng pergi ke kuil tua dimana anak buah isterinya melihat Ji Goat . Malam telah larut 265

dan cuaca hanya di terangi jutaan bintang di langit . Setelah melakukan pengintaian , benar saja Lai Seng melihat gadis itu tidur di ruangan kecil di sudut ruangan itu masih menyala . Cepat dia membakar bungkusan obat bius itu dan nampak banyak asap keluar . Dia sendiri sudah menutupi hidungnya dengan sapu tangan yang dipergunakan sebagai kedok dan cepat meninggalkan tempat itu , mengintai dari jauh betapa bungkusan yang terbakar dan yang dia lemparkan ke dalam ruangan itu mengeluarkan banyak asap . Terdengar suara gadis itu terbatuk-batuk dan nampak bayangannya bangkit berdiri , terhuyung ke dekat pintu lalu roboh ! Asap beracun itu telah hasil baik ! .

Setelah asap membuyar , Lai Seng segera menghampiri dan melihat gadis itu menggeletak dalam keadaan seperti orang tidur pulas . Dia tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas , akan tetapi tidak salah lagi , dari bentuk tubuhnya saja dia yakin bahwa gadis itu adalah Ji Goat .

“ Hayo cepat ….. bawa masuk ke dalam ruangan itu ….. “ bisik isterinya yang ikut mengintai . Jantungnya berdebar penuh ketegangan ketika Lai Seng memondong tubuh gadis itu ke dalam ruangan yang remang-remang itu dan selanjutnya terjadilah dua macam perbuatan terkutuk . Yang pertama di lakukan oleh Lai Seng yang memperkosa gadis yang sedang pingsan itu dan yang kedua dilakukan oleh Bong Kwi Hwa yang mengintai dan menonton adengan itu dengan muka kemerahan dan mata bersinar-sinar penuh nafsu .

Semua orang memperebutkan kekuasaan dan dalam perebutan ini manusia menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan . Karena ingin sekali menjadi mantu Perdana Menteri dan mendapatkan kekuasaan , Lai Seng tidak segan-segan melakukan perbuatan yang keji terhadap seorang gadis. bahkan manusia tidak segan untuk membunuh sesamanya demi mendapatkan kekuasaan itu . Mengapa kekuasaan diperebutkan sampai sedemikan oleh manusia ? Kekuasaan 266

menjamin kehidupan yang penuh dengan kesenangan dan kemenangan . Siapa berkuasa dia akan menang dan akan dibenarkan dalam segala hal , dan siapa berkuasa diapun dapat hidup berenang di dalam kemuliaan , kekayaan dan juga kehormatan .

Semua itu sebenarnya hanya mempunyai satu tujuan , yaitu kesenangan ! . Makanan nafsu , karena nafsu haus akan kesenangan . Maka , nafsu menguasai manusia untuk mengejar kesenangan sebanyak mungkin . Makin banyak yang di reguk , nafsu menjadi semakin haus . Dan untuk mendapatkan kesenangan yang di reguknya , nafsu membuat manusia lupa akan kemanusiaannya , lupa diri dan lupa bahwa sebetulnya hidup yang diberikan kepadanya bukanlah untuk menjadi budak nafsu .

Manusia tidak lagi menggunakan perikemanusiaan sebagai penuntun jalan hidup , melainkan menggunakan perikebinatangan atau hokum rimba . Bagi binatang , siapa kuat dia menang dan siapa menang dia berkuasa dan siapa berkuasa dia berhak melakukan apa saja dan tidak bisa di salahkan . Yang menyalahkan akan di hantam dengan kekuasaannya . Sebetulnya , perikebinatangan atau hokum rimba ini hanya berlaku bagi binantang yang tidak memiliki akal budi seperti manusia . Akan tetapi ternyata perekebinatangan telah dipergunakan oleh manusia di seluruh dunia sebagai jalan hidupnya . Kalau kita mau membuka mata melihat kehidupan di kanan kiri kita , maka akan nampaklah bahwa hokum rimba berlaku di mana-mana . Baik di dalam rumah sendiri maupun di luar rumah . Yang lebih tinggi kedudukannya , lebih besar kekuasaannya . Siapakah yang mampu menyalahkan seorang kaisar ? Kaisar tidak pernah bersalah dan kaisar tempat kebenaran , tempat penentu hokum . Seorang pembesar akan di himpit dan di kalahkan oleh atasannya dan demikian seterusnya . Persis keadaan seperti di dalam rumah sendiri . Ayah paling berkuasa , menghardik ibu . Ibu menjewer anaknya yang sulung dan si 267

sulung menampar adiknya yang melampiaskan kejengkelannya kepada adiknya lagi sampai kepada si bungsu. Dan si bungsu mempergunakan kekuasaannya memaki pembantu rumah tangga yang karena tidak mempunyai sasaran kemarahan lalu memukul anjing peliharaan keluarga . Demikianlah , yang atas menghimpit ke bawah sesuai dengan hukum rimba .

Perbuatan Lai Seng yang terkutuk itu bahkan di restui oleh isterinya . Suatu kesesatan yang tiada taranya . Namun , karena mereka berdua adalah murid dari datuk-datuk sesat , maka peristiwa terkutuk itu sudah biasa saja bagi mereka .

Baru pada keesokan harinya Lai Seng melepaskan korbannya . Dan ketika gadis itu sadar dan mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya , dunia bagaikan kiamat baginya. Ia menangis dan menggenakan pakaian secepatnya , kemudian menyambar pedangnya yang berada di sudut ruangan dan ia mencari-cari pelakunya . Pada saat itu , Lai Seng yang baru saja harus melayani isterinya memasuki ruangan .

“ Jahanam keparat !” Gadis itu menyerangnya dengan pedang , serangannya di lakukan dengan penuh kebencian dan sakit hati . Akan tetapi , Lai Seng menangkis dengan sulingnya membuat pedang itu terpental . Akan tetapi diapun kaget setengah mati ketika melihat gadis yang semalam telah menjadi korban keganasannya . Gadis itu memang cantik dan ramping seperti Ji Goat , akan tetapi sama sekali bukan Ji Goat !.

“ Kau … kau siapakah , nona ? “ tanyanya , penuh keheranan dan kekecewaan karena ternyata yang diperkosanya semalam sama sekali bukan Ji Goat melainkan gadis lain . Walaupun dia tidak merasa menyesal karena gadis ini cantik juga , namun semua usahanya untuk menguasai Ji Goat menjadi sia-sia . Gadis itu adalah Kwee Sun Nio , murid Im Yang Tokouw ketua Thian-li-pang . 268

“ Dan engkau siapa ? Engkau jahanam busuk , apa yang telah kau lakukan terhadap diriku ?” Sun Nio menangis . Tadi ketika pemuda itu menangkis dengan suling peraknya , dara ini merasakan betapa besar tenaga pemuda itu dan baru sekarang ia melihat bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah .

Akan tetapi , begitu melihat bahwa gadis itu bukan Ji Goat , Lai Seng yang cerdik sudah mendapat akal untuk membersihkan diri . “ Ah , apa yang kau maksudkan , nona ? Aku baru saja lewat di sini dan tadi aku melihat pemimpin para pengemis itu meninggalkan tempat ini dengan tergesa-gesa . Aku lalu masuk dan tahu-tahu engkau menyerangku ! Aku tidak mengenalmu dan baru sekarang melihatmu , maka apa yang telah ku lakukan terhadap dirimu , nona ?” .

Sun Nio terbelalak dan menjadi bimbang . Sudah jelas , ia telah di perkosa orang , akan tetapi ia tidak tahu siapa pelakunya , karena ketika di perkosa ia berada dalam keadaan tidak sadar atau setengah pingsan . Ia hanya teringat bahwa ada laki-laki menggaulinya , akan tetapi tidak tahu siapa .

“ Pemimpin para pengemis ? Benarkah engkau melihat dia meninggalkan tempat ini ?” .

“ Benar , baru saja aku melihatnya dia melompat dari sini . Aku hendak menegurnya akan tetapi dia melompat jauh dan pergi . Orang itu memang lihai sekali , dan jahat . Yang nona katakana melakukan sesuatu , tentulah orang itu , bukan aku !” .

Kini jelaslah bagi Sun Nio . Ia telah salah sangka . Bukan pemuda tampan bersuling ini yang memperkosanya , melainkan pemimpin para pengemis ! .

“ Siapa namanya dan dimana aku dapat menemukan orang itu ?” tanyanya sambil menahan kemarahannya dan dengan sepasang mata yang berlinang air mata .

“ Nanti dulu , nona . Aku lebih dulu ingin mengetahui 269

siapakah nona ? Aku sendiri bernama Lai Seng , seorang panglima kerajaan yang sedang mengadakan perjalanan ke daerah ini . Siapa nona , dan mengapa pula berada di sini seorang diri ?” .

Sun Nio menjadi tidak sabar , akan tetapi karena ia membutuhkan keterangan tentang pemerkosanya dari orang ini , terpaksa ia menjawab , “ namaku Kwee Sun Nio dan aku adalah seorang murid Thian-li-pang . Lai-ciangkun , harap kau katakana , siapa pemimpin pengemis itu dan dimana aku dapat menemukannya “ .

“ Ah , dia seorang yang bernama Yang Cien , pemimpin para pengemis Hek I Kaipang “ .

“ Dimana dia ?” .

“ Aku tidak tahu , nona . Hek I Kaipang adalah perkumpulan pengemis liar yang berkeliaran di daerah ini . Nona , engkau membutuhkan bantuan untuk menghadapi Yang Cien dan Hek I Kaipang . Bukankah Thian-li-pang merupakan perkumpulan besar ? Laporkan saja kepada ketua Thian-li-pang kalau Yang Cien melakukan sesuatu yang tidak baik , dan dengan kekuatan Thian-li-pang maka barulah engkau akan dapat menghadapi Hek I Kaipang . Akan tetapi , apakah yang telah di lakukan Yang Cien terhadap dirimu , nona ?” .

Wajah Sun Nio berubah merah sekali . “ Tidak ada hubungannya denganmu , ciangkun . Terima kasih atas keteranganmu dan selamat tinggal , aku akan mencari Yang Cien !” Berkata demikian Sun Nio lalu melompat pergi dari tempat itu , menghilang dalam keremangan fajar .

Lai Seng tersenyum dan muncullah isterinya dari balik kuil itu .

“ Apa yang terjadi ? Nona itu bukan Ji Goat yang kau maksudkan ?” . 270

Lai Seng menghela napas panjang . “ Ahhh , anak buahmu telah salah sangka . Gadis itu sama sekali bukan Ji Goat , melainkan murid Thian-li-pang !” .

“ Ahhh …. ! Kenapa engkau tidak mengetahuinya semalam ?” .

“ Bagaimana aku bisa tahu ? Keadaannya gelap , mana dapat membedakan antara ia dengan Ji Goat yang juga belum pernah aku mendekatinya ?” .

“ Celaka , kita mendapatkan musuh baru , dan Thian-li-pang tidak boleh di buat main-main !” seru Kwi Hwa .

“ Jangan khawatir . Aku telah mengalihkan permusuhan mereka itu kepada musuh kita , kepada Hek I Kaipang . Aku membuat ia menduga bahwa yang memperkosanya adalah Yang Cien , sahabat para pimpinan Hek I Kaipang “ .

“ Dan ia percaya ?” .

“ Tentu saja . Dalam keadaan setengah sadar itu , mana ia mengenal siapa yang telah melakukannya ? Ia marah dan kini sudah pergi mencari orang yang bernama Yang Cien . Kita bahkan untung , dapat mengadu domba antara Thian-li-pang dan Hek I Kaipang “ .

“ Bagus sekali . Engkau memang pandai , suamiku ! Padahal , Thian-li-pang juga perkumpulan yang terkenal keras dan bersikap tidak bersahabat terhadap pemerintah , sama dengan Hek I Kaipang “ .

“ Benar , dan kalau kita dapat mengadu domba di antara mereka , itu merupakan keuntungan besar bagi pemerintah “ .

Suami isteri ini lalu meninggalkan tempat itu dengan hati senang dan terutama sekali Lai Seng tidak jadi kecewa . Pertama , dia telah bersenang-senang semalam , kedua , dia telah berhasil mengadu domba antara Hek I Kaipang dan Thian Li Pang . 271

****

Akauw terombang-ambing di dalam perahunya . Dia merasa tidak berdaya dengan dayungnya karena ombak semakin membesar . Sebetulnya , tukang-tukang perahu yang menjual sebuah perahu kecil kepadanya sudah mengatakan bahwa Pulau Naga tidak mudah di datangi dengan perahu kecil yang hanya di dayung karena seringkali di situ terjadi badai dan ombaknya besar . Akan tetapi dengan semangat bernyala-nyala ingin mendapatkan kembali Hek-liong Po-kiam , Akauw yang pemberani itu tidak mundur . Setelah tidak ada tukang perahu yang berani mengantarnya , bukan hanya takut badai akan tetapi juga takut karena di perairan itu terkenal adanya bajak laut yang ganas , Akauw lalu mendayung sendiri perahunya dengan penuh semangat Tenaganya besar dan perahunya meluncur cepat ke tengah samudera , kea rah Pulau Naga yang hanya nampak seperti titik hitam kecil dari pantai , di antara titik-titik hitam kecil lain . Ternyata daerah itu merupakan gugusan pulau-pulau kecil dan satu di antaranya adalah Pulau Naga yang menjadi tempat tinggal Hek-liong-ong Poa Yok Su .

Kini , di serang badai dengan ombak-ombak besar , Akauw mulai merasa pening . Biarpun dia memiliki tubuh yang kuat , akan tetapi dia tidak biasa dengan kehidupan di laut , maka begitu di serang badai , dia menjadi mabok laut dan merasa mual lalu muntah-muntah .

Kini dia tidak lagi dapat menguasai perahunya . Padahal Pulau Naga sudah mulai kelihatan sebagai benda hitam yang besar ,bukan lagi titik hitam . Perahunya terbawa ombak dan dia tidak lagi dapat mengarahkan perahunya ke Pulau Naga . Dayungnya sama sekali tidak ada artinya lagi dalam menghadapi gelombang dan terpaksa dia membiarkan perahunya di bawa ombak . Dia merasa betapa dirinya kecil sekali , kecil tidak ada artinya di tengan gelombang lautan yang dahsyat itu . Segala macam kepandaian , kekuatan dan 272

pengetahuannya seolah lenyap di telan gelombang dan dia menjadi seorang mahluk yang tidak berdaya dan hanya dapat menyerahkan nasibnya ke Tangan Yang Maha Kuasa , yang menciptakan gelombang lautan itu .

Dalam keadaan setengah pingsan karena mabok laut , akhirnya perahu yang di tumpanginya dilemparkan ombak dan terdampar ke sebuah pulau ! Akauw berusaha keluar sebelum perahunya di sambar dan di seret ombak lagi . Dia berjalan terhuyung-huyung di atas pasir danakhirnya dengan lemas dia jatuh dan rebah miring dalam keadaan pingsan di atas pasir yang panas .

Dia tidak sadar ketika banyak tangan yang berkulit putih halus namun berotot kuat mengangkatnya dan menggotongnya pergi dari pantai menuju ke pedalaman pulau.

Ketika Akauw siumanan , dia mendapat dirinya berada dalam sebuah ruangan yang penuh wanita . Wanita-wanita itu berusia antara dua puluh sampai empatpuluh tahun , rata-rata bertubuh kuat dan berpakaian seperti wanita kangouw dan diantara mereka terdapat juga yang berwajah manis . Dan yang duduk di dipan , dan agaknya sedang merawatnya adalah seorang wanita berusia kurang lebih limapuluh tahun , memegang sebuah mangkok berisi air yang berbau sedap obat.

“ Minumlah ini , orang muda , engkau akan sehat kembali “ , kata wanita itu dengan lembut .

Karena dapat menduga bahwa wanita tua itu menolongnya , Akauw tidak membantah . Dia bangkit duduk dan baru dia mengetahui bahwa tubuhnya telah memakai pakaian kering , bukan pakaiannya sendiri . Dia bergidik . Siapa yang telah menggantikan pakaiannya ? Perempuan-perempuan itu ? Dan heran dia mengapa di antara hamper dua puluh orang wanita itu dia tidak melihat seorangpun pria . Dia minum cairan obat itu lalu bertanya . 273

“ Bibi , aku berada dimana dan siapakah kalian ?” .

“ Orang muda yang gagah , engkau berada di Pulau Hiu dan kami semua adalah anak buah dari siocia” .

“ Siaocia adalah yang memimpin kami di Pulau Hiu ini , Engkau akan melihatnya sendiri nanti .

“ Keluar dari ruangan ini , semuanya !” terdengar bentakan halus dan para wanita itu sambil terkekeh genit meninggalkan ruangan itu , hanya tinggal wanita setengah tua yang merawat Akauw saja yang tinggal dan wanita inipun cepat-cepat bangkit berdiri ketika semua wanita sudah keluar dan ada seorang wanita muda memasuki ruangan itu . Begitu ia masuk , tercium bau yang harum sekali dan Akauw segera membalikkan tubuh untuk memandangnya . Dan dia ternganga heran . Wanita itu sungguh tidak pantas berada di tengah-tengah para wanita yang kasar tadi . Wanita ini masih muda , paling banyak dua puluh satu tahun usianya , dan wajahnya cantik jelita , pakaiannya indah dan tidak nampak berotot seperti para wanita tadi , akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong dan di situlah terletak kewibawaannya dan menunjukkan bahwa ia bukan seorang biasa dan patut menjadi pemimpin .

“ Bagaimana keadaanya , bibi ?” Tanya wanita itu , suaranya lembut namun di balik kelembutan itu terdapat ketegasan sikap yang membaja .

“ Keadaannya sudah baik , Siocia “ .

“ Kalau begitu , engkau keluarlah , bibi dan tinggalkan kami“ .

“ Baik , siocia “ , wanita setengah tua itu lalu pergi dari ruangan itu dan suasana menjadi sunyi . Agaknya para wanita tadi tidak ada yang berani mendekati ruangan itu setelah di suruh pergi , dan ini menunjukkan pula betapa besar wibawa gadis ini . 274

Mereka saling pandang dan Akauw melihat sinar kagum terpancar dari sepasang mata yang indah tajam itu . “ Siapa namamu ?” Tanya wanita itu , nada suaranya adalah nada orang yang biasa memerintah dan menuntut keterangan .

“ Namaku Cian Kauw Cu “ , jawab Akauw dengan tegas pula . Dia sudah sembuh dan tidak pusing lagi , hanya perutnya terasa amat lapar . Dia melihat bahwa buntalan pakaiannya , yang juga ada sekantung emasnya , berada di situ pula , di atas meja .

“ Darimana engkau datang ?” .

“ Dari pantai seberang sana “ .

“ Hendak kemana ?”

Akauw merasa seperti seorang pesakitan menghadapi hakim , akan tetapi pertanyaan itu dijawabnya juga , “ Aku hendak pergi ke Pulau Naga “ .

Wanita itu mengerutkan alisnya. “ Mau apa ke Pulau Naga?”

“ Mau mencari Hek-liong-ong “ .

Kerut di alis itu makin mendalam . “ Apa ? Engkau mencari Hek-liong-ong ? Mau apa mencarinya ?” .

“ Mau minta kembali pedangku yang di rampasnya dariku “.

Kini sepasang mata itu memandangnya dengan mencorong penuh selidik .

“ Hek-liong-ong merampas pedangmu dan kini engkau hendak menemuinya untuk minta kembali pedangmu itu ?” .

“ Benar “ .

“ Kalau dia tidak mau mengembalikan ?”

“ Akan ku paksa dia mengembalikan pedangku “ .

“ Kau berani melawannya ?” 275

“ Kenapa mesti takut ? Aku tidak bersalah “ .

Kini gadis itu terbelalak dan matanya yang mencorong itu memandangi Akauw dari kepala sampai kaki . “ Hendak ku lihat sampai dimana kepandaianmu maka engkau berani hendak melawan Hek-liong-ong !” .

Berkata demikian , tiba-tiba gadis cantik itu sudah menyerang Akauw dengan sebuah tamparan kilat yang kuat sekali sehingga mengeluarkan angina pukulan besiutan . Akauw tidak terkejut dan dia sudah mengelak sambil melangkah mundur . Ketika gadis itu mengejar dan menyerangnya lagi , diapun menangkis sambil mengerahkan tenaganya .

“ Duukkk !” keduanya terdorong ke belakang oleh beradunya kedua lengan itu . Gadis itu mengeluarkan seruan heran dan kini dengan cepat sekali ia mengirim serangan bertubi-tubi .

Akauw dapat menangkap pergelangan tangan kanan gadisi itu . “ Tahan ! Aku tidak ingin berkelahi dengan orang yang telah menyelamatkan aku dari air laut “ .

“ Siapa berkelahi ? Aku ingin mengujimu !” kata gadis itu dan tangan kirinya menyambar kearah dada Akauw yang terpaksa melepaskan pegangannya dan kembali mereka sudah saling serang karena kini Akauw juga membalas serangan gadis itu . Dia dapat merasakan bahwa gadis itu lihai sekali , maka diapun harus mengeluarkan kepandaiannya . Kalau gadis itu hendak mengujinya , dia harus tidak sampai kalah . Kegesitan gadis itu mengingatkan dia akan Ji Goat , gadis yang di cintainya . Diapun tidak tega untuk melukai , maka dalam pertandingan itu , dia lebih banyak mengalah .

Betapapun juga , karena makin lama serangan gadis itu semakin berbahaya , Akauw lalu mengeluarkan jurus-jurus yang dipelajarinya dari dalam gua , yang dia tidak tahu adalah Bu-tek Cin-keng . Dan benar saja , begitu dia mainkan ilmu ini 276

, gadis itu terdesak hebat dan akhirnya meloncat ke belakang karena hamper saja pundaknya terkena tamparan tangan yang kuat dan besar dari Akauw .

“ Tahan !” katanya sambil memandang kagum .

“ Maaf , nona . Ilmu kepandaianmu hebat , membuat aku kagum “ .

“ Cian Kauw Cu , ilmu silatmu tangguh , akan tetapi ku kira masih tidak akan dapat menandingi ilmu silat dari guruku “ .

“ Gurumu ?” .

“ Ya , Guruku adalah Hek-liong-ong Poa Yok Su “ .

“ Ahhh ……… !! “ Akauw terkejut dan menjadi curiga dan waspada .

“ Akan tetapi kalau kita berdua menghadapinya , kurasa kita akan mampu mengalahkannya . Apalagi kita bersenjata “ .

“ Eehh ! Engkau mengaku muridnya dan sekarang hendak menghadapinya sebagai musuh ? Apa artinya ini , nona ?” .

“ Duduklah , dan aku akan memberi keterangan sejelasnya “ . Mereka duduk menghadapi meja dan gadis itu bertepuk tangan memanggil anak buahnya . Dua orang anak buahnya masuk dan ia memerintahkan untuk mengambilkan minuman . “ Ambilkan arak yang baik “ , katanya kepada dua orang perempuan yang menjadi anak buahnya itu .

“ Jangan , nona . Aku tidak pernah minum arak “ , kata Akauw cepat .

“ Ah , kalau begitu ambilkan air the untuk kami “ .

Setelah anak buah itu datang mengantarkan the dan di suruh pergi lagi , gadis itu lalu mulai bercerita , “ Namaku Cia Bi Kiok dan sejak kecil aku telah menjadi murid Hek-liong-ong . Aku telah tidak mempunyai orang tua lagi , maka guruku itu juga sebagai pengganti orang tuaku . Tadinya aku tinggal di 277

Pulau Naga bersama suhu , akan tetapi dua tahun yang lalu , ketika isteri suhu meninggal dunia , suhu hendak mengambil aku sebagai pengganti isterinya “ .

“ Hemmm …. “ Akauw terkejut akan tetapi tidak berkata apa-apa .” Aku tidak mau karena dia sudah ku anggap sebagai ayahku sendiri . Dia marah-marah dan aku di usirnya . Aku melarikan diri ke pulau ini dan membentuk kelompok yang terdiri dari wanita semua , ku latih ilmu silat dan aku menjadi bajak laut di sini “ .

“ Ahhhh ….. !”

“ Tidak perlu terkejut dan heran . Kalau tidak menjadi bajak laut , habis kami sebanyak lima puluh orang wanita mau bekerja apa ? Pulau ini gersang , tidak dapat di tanami apapun untuk menjadi nelayan , kami kurang keahlian . Juga , aku perlu dengan kekuatan para anak buahku untuk menahan serangan yang kadang dilakukan oleh suhu ke sini “ .

“ Hek-liong-ong menyerang ke sini ?” .

“ Ya , kadang dia masih penasaran dan hendak memaksa aku untuk menjadi isterinya . Akan tetapi kalau dia datang , dia menghadapi kami lima puluh orang dengan anak panah kami dapat mengusirnya sebelum dia sempat mendarat “ .

“ Lalu sekarang engkau hendak mengajak aku untuk mengeroyoknya , mengeroyok suhumu sendiri ?” .

“ Benar . Dan lebih dari itu , Cian Kauw Cu , aku juga telah memutuskan untuk mengambil engkau menjadi suamiku !” .

“ Hahhh ….? Akauw merasa heran bukan main . Mana ada wanita menentukan pilihannya atas diri seorang suami ?

“ Tidak perlu heran , Cian Kauw Cu . Untuk menolak kehendak suhu agar tidak melanjutkan paksaannya , terpaksa aku harus mendapatkan seorang suami yang cocok . Kalau engkau sudah menjadi suamiku , suhu tentu tidak akan memaksaku lagi dan andaikata dia masih hendak memaksaku 278

lagi , kita berdua dapat melawannya dan mengalahkannya . Sudah banyak pemuda yang ingin menikah denganku , akan tetapi aku tidak merasa cocok dan baru sekarang aku bertemu denganmu . Cian Kauw Cu , maukah engkau menjadi suamiku ? Kau akan menjadi raja di pulau ini dan kita dapat berbahagia di sini “ .

“ Kalau aku tidak mau ?” .

“ Hemmm , hanya laki-laki gila yang menolak untuk menjadi suamiku dan engkau akan menjadi tawanan kami . Mungkin kami kelak akan membunuhmu “ . Suara yang tadinya lembut itu kini berubah menjadi suara yang mendesis mengandung ancaman yang mengerikan . Akauw dapat merasakan bahwa di balik kelembutan ini tersembunyi watak yang kejam . Pantas kalau gadis ini menjadi anak asuhan dan murid seorang datuk sesat ! .

“ Bagaimana , Cian Kauw Cu ? Engkau memilih menjadi raja di pulau ini atau menjadi tawanan yang akan mati konyol ?” .

“ Nona Cia Bi Kiok , urusan perjodohan adalah urusan penting , hanya satu kali seumur hidup . Karena itu harap jangan mendesakku untuk terburu-buru . Berilah aku waktu untuk memikirkannya “ .

“ Baik , akan ku beri waktu sehari semalam untukmu . Besok pagi engkau sudah harus dapat memberi jawaban yang pasti “ , setelah berkata demikian , Cia Bi Kiok kembali bertepuk tangan . Sekali ini ia bertepuk tangan tiga kali dan yang muncul adalah wanita yang tadi merawat Akauw bersama tujuh orang anak buah yang lain .

“ Jaga dia di sini , jangan sampai dia melarikan diri . Kalau dia pergi , pukul tanda bahaya “ , pesan pemimpin bajak laut wanita itu dan ia lalu pergi meninggalkan ruangan itu .

Akauw lalu pergi berbaring lagi di pembaringan yang tadi dan dia tidak memperdulikan delapan orang wanita yang 279

berjaga-jaga di situ . Otaknya bekerja keras . Jelas dia tidak mau menjadi suami gadis tadi . Biarpun cantik dan kadang dapat bersikap lembut , namun gadis itu sebenarnya memiliki watak yang keji . Tiba-tiba dia mendengar suara rebut-ribut diluar .

“ Ada kejadian apakah ?” tanyanya kepada wanita yang tadi merawatnya .

“ Ah , tidak apa-apa , hanya memberi hukuman kepada para pelaut yang tertawan karena melakukan perlawanan ketika di bajak “ , kata wanita setengah tua itu , suaranya biasa saja seolah yang di ceritakan itu soal kecil yang sudah seringkali terjadi di situ .

“ Apa yang dilakukan terhadap mereka ?” tanyanya lagi .

“ Engkau hendak menonton ? Mari kami antar “ , kata wanita setengah tua itu dengan tenang .

Akauw mengangguk dan diapun di antar keluar oleh delapan orang wanita itu . Di luar Akauw melihat empat orang laki-laki di belenggu tangannya ke belakang dan mereka di giring oleh belasan orang anggota bajak laut wanita itu menuju ke bukit karang . Karena ingin tahu dia lalu mengikuti dari belakang , dan tetap di kawal oleh delapan orang wanita itu .

Mereka telah tiba di tepi bukit karang , di tebing yang terjal . Setelah tiba di sana , para wanita itu lalu membabat tali yang membelenggu tangan ke empat orang itu dengan golok sehingga tali-tali itu putus dan tangan mereka bebas . Akan tetapi setelah itu mereka lalu mendorong ke bawah tebing .

“ Nah , pergilah kalian berempat . Kalian bebas !” Dan para wanita itu tertawa-tawa .

Segera terdengar jerit-jerit memilukan dari bawah tebing . Akauw ingin tahu dan menjenguk ke bawah . Dia melihat pemandangan yang mengerikan sekali . Empat orang itu 280

dikeroyok oleh ikan-ikan hiu sebesar paha orang dan betapapun mereka meronta dan hendak berenang menjauh , tetap saja mereka terkejar dan segera mereka menjadi rebutan .

Air menjadi merah dan teriakan-teriakan itupun lenyap , berikut tubuh mereka yang di tarik ke bawah oleh ikan-ikan liar itu . Kiranya itulah sebabnya maka pulau ini dinamakan Pulau Hiu , karena banyak hiu nya itulah . Akauw bergidik . Akan tetapi diapun melihat hal yang menarik . Tebing itu di tumbuhi pohon yang akarnya nampak menonjol di antara tebing karang . Biarpun bagi orang lain tebing ini tidak mungkin di panjat , akan tetapi bagi dia yang sudah biasa dengan panjat memanjat , tebing itu akan dapat dia turuni tanpa mengandung bahaya terlalu besar . Kalau dia dapat melarikan diri dari tebing ini , tentu mereka akan dapat mengejar dan mengira dia mati pula .

Malam itu gelap , namun udara bersih , langit biru dan nampak jutaan bintang yang memberi sinar remang-remang . Akauw memandang kea rah delapan orang wanita yang melakukan penjagaan dengan ketat . Dia baru saja di beri makan dan tubuhnya terasa kuat dan sehat . Inilah saatnya untuk melarikan diri , pikirnya . Dia bangkit berdiri dan delapan orang wanita itu ikut pula berdiri .

“ Jangan mencoba untuk melarikan diri “ , kata wanita setengah tua itu .

“ Engkau tidak akan dapat lolos dari pulau ini dan kalau siocia mendengar engkau melarikan diri , tentu siocia akan marah sekali dan mungkin engkau akan di jatuhi hukuman seperti yang dilakukan kepada empat orang laki-laki tadi “ .

“ Apa kesalahan empat orang tadi “ , tanyanya .

“ Kami membajak sebuah perahu dan mereka berempat melakukan perlawanan , maka kami tawan dan bawa ke pulau ini . Adapun yang lain , yang tidak melawan , kami biarkan 281

pergi berlayar “ .

“ Apakah Siocia tidak minta mereka menjadi suaminya ?” .

Wanita setengah tua itu bangkit dan marah sekali . “ Tutup mulutmu ! Kau kira siocia itu orang apa ? Siocia hanya mau menikah dengan laki-laki yang gagah perkasa , bukan dengan sembarangan lelaki seperti mereka tadi !” .

“ Maaf …. !” kata Akauw dan tiba-tiba saja dia menyerang wanita setengah tua itu . Sekali tampar saja wanita yang tidak pernah menyangka itu terpelanting . Akauw melanjutkan serangannya dan tujuh orang wanita itupun semua terpelanting roboh dan dia cepat melarikan diri keluar dari ruangan itu .

Para wanita itu bangkit , ada yang mengejar dan ada yang memukul tanda bahaya sehingga sebentar saja di Pulau itu terjadi kesibukan yang hebat . Semua anggotanya yang berjumlah lima puluh orang itu berlarian keluar . Cia Bi Kiok juga sudah keluar membawa pedangnya dan ketika mendengar bahwa tawanan nya lari iapun ikut pula mengejar .

Akauw sudah lebih dulu tiba di tebing dan cepat dia merayap ke bawah . Hanya berpegang pada akar dan batu menonjol , di dalam kegelapan malam itu . Akan tetapi jari-jari tangannya sudah terlatih , bahkan jari-jari tangan itu seperti dapat melihat saja . Dia merayap dengan cepatnya sehingga ketika para pengejarnya tiba di tepi tebing , dia sudah merayap sampai ke bawah dan dekat dengan air , tidak nampak lagi dari atas .

“ Dia sudah hilang “ .

“ Akan tetapi tadi jelas dia berdiri di sini “ .

“ Akan tetapi tidak terdengar teriakannya “ .

“ Dia tentu sudah dimakan ikan hiu “ .

“ Tapi mana teriakannya ? Tak mungkin disambar hiu tidak 282

menjerit “ .

Cia Bi Kiok berkata , “ Sudahlah , jangan rebut . Dia memang bukan orang biasa . Agaknya pantang baginya untuk menjerit-jerit . Dia seorang laki-laki sejati . Sayang dia harus mati seperti itu “ .

Akan tetapi Bi Kiok memerintahkan anak buahnya untuk mencari-cari di lain tempat malam itu dan ia sendiri lalu kembali ke tempat tinggalnya dengan hati kecewa . Sebetulnya , ia suka sekali kepada Cian Kauw Cu yang di anggapnya seorang laki-laki sejati , yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula . Dengan suami seperti itu , ia tidak takut lagi menghadapi gurunya dan ia akan dapat melang melintang sebagai bajak laut di perairan itu , di sepanjang gugusan pulau-pulau itu sampai ke daratan.

Akauw bergantung pada akar pohon sampai menjelang pagi . Setelah itu , dengan merayap dia dapat keluar dari tebing itu melalui jalan samping dan dari jauh melihat banyak perahu yang di tinggalkan . Dengan hati-hati , dalam kegelapan fajar , dia menghampiri sebuah perahu dan menariknya ke air lalu mendayungnya . Para wanita itu tidak ada yang mengira bahwa buronan mereka masih hidup , apalagi dapat mencuri perahu maka tidak ada yang mencari ke situ .

Setelah matahari naik tinggi , Akauw sudah jauh meninggalkan pulau itu dan tak seorangpun di antara wanita itu yang tahu , bahkan tidak ada yang merasa kehilangan perahu karena banyak nya perahu kecil di situ . Kelak , kalau pemiliknya akan menggunakan perahunya , mungkin baru akan ketahuan bahwa perahu itu lenyap .

*****

Dari bentuk pulaunya , Akauw dapat mengetahui bahwa yang kini di hampiri perahunya adalah Pulau Naga . Bentuk pulau itu memanjang dan di bagian kiri seperti bentuk kepala 283

naga atau kepala raksasa sedangkan ekornya memanjang dan makin mengecil . Nampaknya pulai itu kosong karena setelah perahunya mendekat dan menempel di daratan , tidak nampak seorangpun manusia . Akauw merasa heran . Kelirukah dia ? Apakah dia terdampar di pulau yang lain lagi ? Nampaknya pulau ini tidak berpenghuni .

Akan tetapi baru saja mengikatkan perahunya dan melangkah belum ada seratus langkah , tiba-tiba bermunculan belasan orang dari balik semak belukar dan pohon-pohon . Pulau ini tidak gersang seperti Pulau Hiu , terdapat banyak tanaman yang bukan liar , melainikan di tanam orang . Melihat mereka bermunculan itu , Akauw segera berhenti melangkah dan waspada , siap menghadapi segala kemungkinan .

Akan tetapi , orang-orang itu tidak mengepung dan mengeroyoknya . Seorang yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun , melangkah maju dan menegurnya , “ Orang muda , siapakah engkau ? Ketahuilah bahwa tanpa ijin orang luar tidak boleh memasuki pulau kami ini , . Hayo cepat mengaku engkau siapa dan apa keperluanmu ke sini , atau cepat engkau tinggalkan pulau kami ini !” .

“ Sobat , apakah ini yang namanya Pulau Naga ?” Akauw bertanya .

“ Benar , ini adalah Pulau Naga , pulau kami !” .

“ Dan apakah benar bahwa Hek-liong-ong tinggal di pulau ini ?” .

Mereka nampak mengerutkan alis mereka . “ Beliau adalah Majikan pulau ini , pemimpin kami !” .

“ Bagus sekali kalau begitu . Aku bernama Cian Kauw Cu dan aku sengaja datang ke pulau ini untuk mencari Hek-liong-ong karena aku mempunyai urusan yang penting sekali dengan dia “ .

“ Kalau begitu , mari kami hadapkan engkau kepada 284

majikan kami !” kata orang setengah tua itu dan Akauw lalu di giring oleh mereka menuju ke tengah pulau dimana terdapat semacam perkampungan dari beberapa puluh rumah yang kokoh . Agaknya Hek-liong-ong juga mempunyai anak buah seperti halnya Cia Bi Kiok , ketua Pulau Hiu itu . Akan tetapi anak buahnya tidak sebanyak anak buah Pulau Hiu , karena Akauw hanya melihat belasan orang itu saja dan ketika mereka tiba di perkampungan , dia melihat banyak wanita dan kanak-kanak , tentu keluarga dari para anggota gerombolan di Pulau Naga itu .

Hek-liong-ong , kakek raksasa hitam berusia enam puluh tahun itu tertawa bergelak dan juga terheran-heran melihat munculnya Akauw . Tadinya dia hamper lupa siapa pemuda yang menghadapnya itu . Baru dia teringat ketika Akauw mengaku siapa dirinya .

“ Aku bernama Cian Kauw Cu dan aku datang untuk minta kembali Hek-liong Po-kiam yang dahulu kau rampas dari tanganku !” ucapan pemuda itu dikeluarkan dengan nada berani sekali , sedikitpun tidak nampak keraguan pada pandang mata itu . Hek-liong-ong adalah seorang datuk sesat yang menghargai kegagahan , maka sikap Akauw ini sungguh menimbulkan kekaguman di dalam hatinya . Dia tertawa bergelak .

“ Ha-ha-ha , orang muda . Engkau datang untuk minta kembali pedangmu ? Aku telah merampas pedang itu dengan kepandaian , apakah engkau juga hendak memintanya kembali mengandalkan kepandaianmu dan berani melawan aku ?” .

“ Hek-liong-ong , pedang itu adalah pedangku . Karena dasar itulah aku datang memintanya kembali , karena pedang itu sudah menjadi hakku . Sungguh bukan merupakan perbuatan gagah darimu kalau engkau merampas benda yang menjadi hakku . Karena itu , kembalikan pedangku . Kalau engkau menghendaki aku mengambilnya dengan kepandaian , 285

baik , akan ku lakukan itu !” .

“ Ha-ha-ha , orang muda , kepandaianmu masih terlalu jauh untuk dapat mengalahkan aku . Melawanku berarti mencari kematian . Apakah engkau tidak sayang kepada nyawamu ?” .

“ Untuk mempertahankan apa yang menjadi hakku , aku tidak takut mati , Hek-liong-ong . Lebih baik mati dengan gagah daripada hidup sebagai pengecut !” Ucapan terakhir ini merupakan pelajaran yang diterimanya dari suhengnya ! .

“ Ha-ha-ha , belum pernah aku bertemu dengan orang senekat engkau . Engkau menggunakan perahu kecil untuk mencari aku di sini , itu sudah luar biasa . Dan engkau menantangku untuk mengadu kepandaian memperebutkan pedang , itu lebih luar biasa lagi . Engkau memiliki nyali naga ! Kauw Cu , beranikah engkau menghadapi pengeroyokan lima belas orang pembantuku ?” .

“ Sudah kukatakan , Hek-liong-ong , untuk mendapatkan kembali pedang yang menjadi hakku itu , aku tidak akan mundur melawan siapapun juga , termasuk pengeroyokan anak buahmu !” .

“ Ha-ha-ha , jangan tekebur , anak muda . Aku hendak menyuruh anak buahku yang lima belas orang mengeroyokmu untuk mengujinya , karena kalau aku yang maju , engkau bukanlah tandinganku . Nah , keluarkan senjatamu menghadapi pengeroyokan lima belas orang anak buahku !” .

Akauw memperlihatkan dua tangan dan dua kakinya . “ Karena pedangku sudah kau rampas , maka senjataku tinggal kaki dan tangan inilah . Orang-orangmu boleh maju , aku tidak takut !” .

Hek-liong-ong menjadi semakin kagum . Dia sendiri seorang pemberani , namun agaknya dia kalah nekat dibandingkan pemuda yang tinggi besar ini . Dia lalu berseru kepada lima belas orang pembantunya atau anak buahnya . “ 286

Kalian keroyok pemuda ini , akan tetapi karena dia bertangan kosong , kalian juga harus bertangan kosong . Robohkan dia dengan cara apa saja , asal tidak dengan senjata “ .

Lima belas orang itu tentu saja memandang ringan seorang pemuda seperti Akauw . Mereka adalah lima belas orang anak buah Pulau Naga yang sudah menerima latihan ilmu silat dari majikan mereka , rata-rata memiliki ketangguhan . Kini , mereka yang berjumlah lima belas orang di suruh mengeroyok seorang pemuda yang masih hijau ? Akan tetapi karena itu merupakan perintah , mereka tidak berani membantah walaupun dalam hati merasa enggan untuk mengeroyok seorang pemuda karena perbuatan ini mereka anggap tidak gagah dan memalukan .

Kini mereka maju mengepung Akauw dalam ruangan yang luas itu . Sikap mereka seperti sekumpulan orang hendak menangkap seekor ayam yang terlepas , dengan kedua tangan di buka dan di kembangkan di depan tubuh mereka , tubuh agak membungkuk . Mereka agaknya hendak meringkus pemuda itu agar tidak berdaya lagi .

Akauw juga sudah siap-siaga . Dia berdiri biasa saja , namun seluruh urat syarafnya siap menegang . Bukan saja matanya yang waspada , juga pendengarannya karena dia di kepung dari depan belakang , kanan dan kiri .

Tiba-tiba dua orang menubruk dari belakang untuk meringkusnya , akan tetapi dengan sigapnya , dengan gerakan yang cepat seperti gerakan seekor kera , dia cepat menyelinap ke kiri dan tubrukan itu mengenai tempat kosong . Dari sebelah kiri dia di sambut dengan sebuah tamparan dan sebuah tendangan yang bermaksud merobohkannya . Akan tetapi kembali tubuhnya bergerak dan dua serangan itupun luput .

Kini , para pengeroyok itu menyadari bahwa pemuda ini memiliki gerakan yang cepat sekali . Mereka lalu menubruk bersama-sama dalam waktu yang hamper berbareng sehingga 287

agaknya tidak ada lagi jalan keluar bagi Akauw . Akan tetapi , tiba-tiba tubuh Akauw meluncur ke atas , dengan cepatnya dan ketika dia membalik , tubuhnya sudah menukik , dua tangannya bergerak dan dua orang pengeroyok terpelanting !.

Para pengeroyok mulai penasaran dan marah . Kini mereka semua menyerang dengan pukulan , bukan lagi hanya sekedar ingin meringkus melainkan ingin merobohkan pemuda yang bandel ini . Akan tetapi , kini Akauw melayaninya , menangkis dan balas memukul . Dia menerima beberapa kali pukulan , namun tubuhnya yang kuat dank eras itu agaknya tidak merasakan nya , sebaliknya setiap kali pukulan atau tamparannya mengenai tubuh lawan , lawan itu pasti terpelanting keras ! Akauw mengamuk , menggunakan ilmu silat monyet yang membuat tubuhnya berloncatan ke sana kemari dan kalau ada yang mengejarnya , maka pengejar itu dirobohkan dengan tendangan atau tamparan . Dalawn waktu tidak lama , lima belas orang itu sudah jatuh bangun ! Tidak ada seorangpun yang tidak kebagian tamparan atau tendangan kaki Akauw .

Melihat amukan pemuda itu , Hek-liong-ong mengelus jenggotnya yang pendek . Dia semakin kagum dan mengangguk-anggukkan kepalanya .

“ Cukup !” teriaknya melihat anak buahnya jatuh bangun di hajar oleh Akauw . Para anak buahnya berhenti menyerang dan mereka merasa malu karena dengan lima belas orang mereka tidak mampu mengalahkan pemuda itu . Hek-liong-ong memberi isyarat kepada mereka semua untuk keluar dari ruangan itu dan kini tinggal dia dan Akauw sendiri yang tinggal .

“ Kauw Cu , aku melihat engkau memang gagah perkasa dan berbakat baik sekali . Aku ingin mengambilmu sebagai murid , bagaimana pendapatmu ?” .

Akauw mengerutkan alisnya , “ Hek lion gong , aku datang untuk minta kembali pedangku , bukan untuk menjadi 288

muridmu . Kembalikan pedang itu kepadaku dan aku akan meninggalkan pulau ini “ .

“ Hemmm , tidak semudah itu , orang muda . Engkau memang telah mengalahkan lima belas orang pembantuku . Akan tetapi itu hanya merupakan ujian pertama saja . Kau lihat , ini pedangmu Hek-liong Po-kiam . Apa kira-kira akan dapat merampasnya dari tangangku ?” Dia mengangkat pedang itu dengan sarungnya tinggi-tinggi di atas kepalanya . “ Ada dua jalan bagimu untuk dapat memperolehnya kembali . Pertama , engkau harus merampasnya dari tanganku , dan kedua , yang lebih mudah engkau harus menjadi muridku selama setahun . mana yang kau pilih ?” .

“ Aku akan mencoba untuk merampasnya dari tanganmu , Hek-liong-ong !” kata Akauw dengan gagah .

“ Bagus , engkau memang tidak pernah mau putus asa . Aku senang sekali melihat keberanian dan semangatmu yang besar . Nah , coba engkau rampas kembali pedang ini dari tanganku , Kauw Cu !” .

Raksasa hitam itu turun dari kursinya dan berdiri di depan Akauw sambil mengacungkan pedangnya kea rah Akauw . Akauw lalu menyambar dengan tangannya untuk merampas , akan tetapi pedang itu sudah di tarik kembali . Akauw meloncat dengan gerakan yang cepat sekali , kedua tangannya menyambar-nyambar untuk merampas pedang itu . Kemanapun pedang itu di elakkan , selalu di kejar oleh tangannya untuk merampasnya . Akan tetapi sebuah dorongan telapak tangan mengenai pundaknya , membuatnya terjengkang dan jatuh bergulingan . Akauw meloncat bangun dan sekali ini dia tidak hendak merampas begitu saja . Dia maklum bahwa dengan cara demikian dia tidak akan berhasil malah akan terkena pukulan yang amat kuat . Dia lalu mulai bersilat dengan Bu-tek Cin-keng dan menyerang raksasa hitam itu dengan pukulan kilat .

Hek-liong-ong untuk kedua kalinya dibuat terkejut oleh 289

serangan pemuda ini . Serangan itu demikian aneh gerakannya dan mendatangkan angina bersiutan . Dia mengelak dan membalas . Terjadilah serang menyerang antara mereka . Akan tetapi karena Akauw tidak memiliki tenaga sinking dari Bu-tek Cinkeng , maka serangannya itu tidak mengandung tenaga yang tepat sehingga selalu dapat tertangkis dan tak pernah dia berhasil merampas pedang . Bahkan berulang kali dia terkena hantaman tangan si raksasa hitam sehingga dia jatuh terjengkang dan terpelanting . Akan tetapi , setiap kali bangkit kembali dan menyerang dengan ganas . Melihat ini , kembali Hek-liong-ong merasa kagum dan senang . Bocah ini selain berbakat , juga memiliki semangat yang membaja . Dia memperkuat pukulannya dan membuat Akauw jatuh bangun dan babak belur . Akhirnya Akauw tidak mampu menyerang lagi , tubuhnya sakit-sakit dan lemas kehabisan tenaga . Namun , dia masih bangkit juga dan berdiri dengan lemas terengah-engah dan mandi keringat .

“ Nah , kau lihat bahwa tidak mungkin engkau mendapatkan pedangmu kembali dengan kekerasan , Kauw Cu . Jadilah muridku dan engkau akan mendapatkan kembali pedangmu berikut ilmu pedang yang akan ku ajarkan kepadamu . Aku suka sekali mempunyai murid seperti engkau“.

Kini Akauw yakin bahwa sampai matipun tidak akan dapat merampas pedang dan jalan satu-satunya hanya suka menjadi murid . Dan pula , setelah bertanding , dia tahu bahwa kakek ini memang lihai luar biasa , maka kalau menjadi muridnya , dia tidak akan rugi . Mendapatkan kembali pedang berikut ilmu baru yang hebat ! .

Dia lalu menjatuhkan dirinya yang sudah lemas itu , berlutut dan memberi hormat .” Suhu ….. !” .

Hek-liong-ong tertawa bergelak . “ Hua-ha-ha-ha , bagus , bagus sekali , muridku !” Dan dia lalu berteriak-teriak memanggil semua anak buahnya . Ketika mereka 290

berserabutan masuk , dia segera mengumumkan , “ Lihat baik-baik , Cian Kauw Cu ini mulai sekarang menjadi muridku . Kalian harus bersikap baik kepadanya , bahkan kalian dapat memperoleh latihan ilmu silat darinya “ .

Semua pembantu itu memandang dengan wajah berseri dan mereka kelihatan girang sekali . Mereka sudah melihat betapa lihainya pemuda itu dan kalau pemuda itu mau melatih silat kepada mereka , tentu hal itu akan menguntungkan sekali.

Demikianlah , mulai hari itu Akauw tinggal di Pulau Naga dan dia menerima pelajaran ilmu pedang dari gurunya yang baru . Hek-liong-ong sengaja merangkai ilmu pedang yang disesuaikan dengan pedang pusaka itu dan di beri nama ilmu pedang Hek-liong-kiam-sut . Di ambil dari inti sari ilmu silatnya . Di waktu senggang , Akauw juga melatih ilmu silat kepada para anak buah pulau Naga .

Selain berlatih ilmu silat , seringkali Hek-liong-ong mengajak muridnya bercakap-cakap . Dia sudah mendengar akan riwayat Akauw yang aneh dan dia mendengar pula dari Akauw tentang Kerajaan penjajah yang membikin sengsara rakyat jelata .

“ Tadinya akupun membantu Koksu sebagai seorang panglima , suhu . Akan tetapi aku melihat bahwa Koksu bukan manusia yang baik , dan kebanyakan pejabat adalah orang-orang yang menekan rakyat demi kepentingan diri pribadi . Kalau tidak ada orang-orang gagah yang bangkit melawan penjajah , ku kira rakyat akan semakin sengsara hidupnya “ .

“ Hemm , maksudmu untuk memberontak terhadap pemerintah ?” .

“ Suhu , pemerintah ini adalah pemerintah penjajah , maka memberontak terhadap penjajah adalah perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraaan .

Suhu adalah seorang yang berkepandaian tinggi , kalau 291

hanya tinggal di Pulau ini , tidak melakukan sesuatu , alangkah sayangnya . Coba andaikata suhu mau berjuang membela rakyat , nama suhu kelak akan di puja-puja dan di sanjung , biarpun suhu tidak berada di dunia ini lagi , suhu tetap akan di kenang sebagai seorang pahlawan !” .

Demikianlah , seringkali guru dan murid ini berbincang-bincang tentang keadaan Kerajaan Toba , tentang kesengsaraan rakyatnya , dan perlahan-lahan tanpa di sengaja , percakapan dengan Akauw itu mulai membakar semangat kepahlawanan dalam hati Hek-liong-ong . Dia merasa bahwa dirinya semakin tua dan bahwa selama ini dia tidak pernah melakukan sesuatu yang penting , sesuatu yang akan mengangkat namanya . Kalau saja dia dapat melakukan sesuatu yang hebat , sesuatu yang akan membuat namanya kelak di kenal dan di puja sebagai seorang pahlawan , alangkah akan senangnya !

Hek-liong-ong , seperti juga kita , selalu lupa bahwa stiap perbuatan itu tidak akan meninggalkan pamrihnya . Perbuatan yang di anggap baik , kalau itu dilakukan dengan pamrih tertentu , maka perbuatan itu adalah palsu karena yang menjadi tujuan adalah pamrihnya dan perbuatan itu hanya sekedar cara untuk mendapatkan pamrih tadi . Pamrih itu adalah keinginan , dan keinginan ini adalah dorongan nafsu dan betapapun baiknya cara yang dipergunakan , kalau itu di tujukan untuk mendapatkan sesuatu , maka cara itupun palsu adanya , tidak wajar . Misalnya kita menolong seseorang , kalau pamrihnya agar orang itu dapat melakukan sesuatu untuk kepentingan kita , maka pertolongan kita kepada orang itu adalah palsu , tidak wajar dan tidak dapat dinamakan suatu kebaikan . Perbuatan barulah wajar kalau kita tidak menjenguk ke depan atau ke belakang sebagai sebab dan akibat perbuatan itu . Kita berbuat karena sudah semestinya berbuat , karena dorongan perasaan pada saat itu . Misalnya , kita melihat seseorang kelaparan dan kita merasa iba , lalu kita mengulurkan tangan menolongnya . Habis ! tidak ada 292

kelanjutannya lagi , dan hanya perbuatan beginilah yang wajar . Misalnya Hek-liong-ong melihat kesengsaraan rakyat dan penyebabnya , lalu dia berjuang untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan , tanpa pamrih apapun untuk diri sendiri , maka dia benar seorang pahlawan . Akan tetapi kalau dia ingin berjuang agar di cap sebagai pahlawan , agar di puja-puja kelak , maka perjuangan nya itu adalah palsu , hanya merupakan suatu cara untuk mendapatkan suatu cara untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan bagi dirinya sendiri . Seorang pahlawan adalah seorang pejuang yang tidak ternama , seorang pejuang yang tidak mengharapkan imbalan apapun juga . Hasil yang di capai atau di akibatkan oleh perjuangannya untuk rakyat jelata , itulah imbalan yang cukup membahagiakan baginya . Hasil yang dinikmati rakyat , bukan di nikmati dirinya sendiri . Sayang , kebanyakan pejuang menuntut agar perjuangannya di hargai dan di beri imbalan . Ini menodai perjuangan ! .

-00odwo00-

Jilid 10

“ Kauw Cu , aku sudah mengambil keputusan !” kata Hek-liong-ong pada suatu hari kepada muridnya . Sudah setahun Akauw belajar ilmu pedang kepada suhunya dan Hek-liong-ong makin merasa suka kepada muridnya ini yang sungguh menggambarkan kegagahan seorang pendekar .

“ Apa yang suhu maksudkan ?”

“ Aku hendak menghadiri pemilihan bengcu dan mencoba untuk merebut kedudukan sebagai bengcu baru ! Aku mendengar bahwa pemilihan bengcu di Thai-san akan diadakan dua bulan mendatang .

Kita akan menghadiri , kau harus membantuku . Aku harus menjadi bengcu baru !” . 293

“ Suhu , mengapa suhu ingin menjadi bengcu ? Bukankah bengcu itu merupakan pemimpin seluruh golongan kangouw ?”

“ Ha-ha-ha , anak bodoh . Lupakah engkau akan percakapan kita tentang perjuangan ? Aku ingin menjadi bengcu karena kalau sudah menjadi bengcu aku akan dapat menghimpun seluruh kekuatan dunia kangouw dan akan ku bawa mereka itu berjuang meruntuhkan Kerajaan penjajah Mongol dari tanah air !” .

Akauw mengangguk-angguk . Diam-diam dia merasa gembira bahwa gurunya , seorang datuk sesat . Kini mempunyai pendapat seperti itu . Alangkah bedanya dengan gurunya yang lain , yaitu Thian-te Ciu-kwi yang demi kemuliaan dan kesenangan rela menjadi antek Mongol , bahkan membantu pemerintah penjajah untuk menindas rakyat jelata . Sejak meninggalkan kota raja , dia mulai melihat betapa jahatnya Koksu Lui Tat , Thian-te Ciu-kwi , bahkan juga Perdana menteri Ji yang hendak mengusahakan hal yang langka , yaitu memberi kesejahteraan kepada rakyat di bawah pemerintah penjajah ! Dan kini , gurunya yang baru ini bercita-cita menjadi bengcu agar dapat memimpin dunia kang-ouw memberontak terhadap pemerintah Toba .

“ Aku akan membantu suhu dengan sekuat tenagaku !” katanya dengan penuh semangat dan tentu saja gurunya merasa gembira sekali .

Beberapa hari kemudian , guru dan murid ini meninggalkan Pulau Naga untuk pergi ke Thai-san dimana akan diadakan pemilihan bengcu yang tentu akan di hadiri oleh seluruh tokoh dan jagoan di dunia kangouw .

*****

Lai Seng merasa penasaran sekali karena anak buah Kwi-to-pang tidak berhasil menemukan jejak Ji Goat . Bahkan mereka telah salah memberi keterangan dan dia telah 294

memperkosa Kwee Sun Nio , murid Thian-li-pang yang di sangka Ji Goat . Untung dia bersikap cerdik sekali dan dapat menjatuhkan fitnah kepada Yang Cien sehingga kini Sun Nio akan mencari dan membalas dendam atau minta pertanggungan jawab kepada Yang Cien ! Dia yang makan nangkanya Yang Cien yang akan terkena getahnya ! .

Kini Lai Seng mengerahkan anggota Kwi-to-pang untuk mencari para anggota Hek I Kaipang dan kalau bertemu mereka , langsung di bunuhnya ! Banyak sudah anak buah Hek I Kaipang terbunuh oleh para anggota Kwi-to-pang itu .

Akhirnya Yang Cien mendengar laporan Cu Lokai , ketua Hek I Kaipang tentang perbuatan Kwi-to-pang yang membunuhi anggota Hek I Kaipang tanpa alasan .

“ Entah mengapa secara tiba-tiba saja orang-orang Kwi-to-pang mengadakan aksi pembunuhan terhadap orang-orang kita “ , kata Cu-Lokai . “ Selama ini tidak terdapat permusuhan di antara kami dengan mereka “ .

“ Dan anak buah kita tidak membalas ?” Tanya Yang Cien .

“ Orang-orang Kwi-to-pang amat lihai dan rata-rata memiliki kelebihan dibandingkan orang-orang kita . Dan Kwi-to-pang di pimpin oleh seorang Raja Iblis …….. “ .

“ Raja Iblis ?”

“ Julukan adalah Sin-to Kwi-ong ( Raja Iblis Golok Sakti ) , seorang datuk yang sakti dan kejam . Apalagi puterinya yang bernama Bong Kwi Hwa dan di juluki Siauw Kwi , jahatnya bukan kepalang . Apalagi setelah wanita itu menikah dengan Lai Seng …… “

“ Lai Seng lagi ! Apakah pemuda murid Toat-beng Giam-ong itu kini menjadi mantu Sin-to Kwi-pang ?” .

“ Tidak salah , dan ku kira dialah yang menjadi gara-gara mengapa sekarang kwi-to-pang memusuhi Hek I Kaipang . Agaknya Lai Seng hendak membalas dendam kepada kita dan 295

dia menggunakan anak buah mertuanya untuk membunuhi anak buah kita “ .

Yang Cien mengerutkan alisnya . Dia teringat akan cerita Ji Goat . Bukankah gadis itu oleh ayahnya yang Perdana Menteri juga ditunangkan dengan Lai Seng ? Dan sekarang tahu-tahu Lai Seng telah menikah dengan puteri Sin-to Kwi-ong ! .

“ Kalau begitu sudah jelas . Ini gara-gara Lai Seng yang hendak membalas dendam . Kita harus hadapi dengan kekerasan pula . Tidak semestinya kalau Kwi-to-pang membunuhi anak buah kita tanpa alasan . Mari kita mendatangi Kwi-to-pang dan biarkan aku yang bicara dengan Sin-to Kwi-ong “ .

“ Akan tetapi , dia itu berbahaya dan lihai sekali , Yang-taihiap . Juga anak buah mereka ada dua ratus orang lebih , semuanya jahat dan berbahaya “ .

“ Paman , dalam saat seperti ini kita harus berani menghadapi lawan yang bagaimanapun . Kita pun memiliki anak buah yang banyak . Berapa orang yang kiranya dapat kau kumpulkan ?” .

“ Karena sekarang telah berpencar , yang berada di sini kurang lebih ada dua ratus lima puluh orang “

“ Sudah lebih dari cukup . Kita kabari Kiang-pangcu dari nan-king , Phang Kim dan Ciok Kui ,minta bantuan mereka agar membawa anak buah sedikitnya seratus orang . Setelah itu kita baru menyerbu Kwi-to-pang . Aku yang akan menghadapi Sin-to Kwi-ong !” kata Yang Cien .

Cepat Cu-Lokai mengirim kabar ke Nan-king dan dalam waktu belasan hari saja sudah muncul Kiang Si Gun , Phang Kim dan Ciok Kwi bersama seratus orang anak buah Hek I Kaipang dari Nanking .

Bahkan diantara mereka itu terdapat seorang yang berjenggot panjang dan melihat orang ini , Cu-Lokai gembira 296

sekali . Kiranya dia adalah Song Pa yang pernah menjadi ketua di Nanking sebelum Kiang Si Gun menggantikannya karena Song Pa di undang ke kota raja oleh Cu-Lokai dan kemudian ternyata undangan itu palsu dan merupakan jebakan .

Song Pa kini kembali ke Nanking dan membantu para pimpinan baru . Mendengar bahwa Cu-Lokai minta bala bantuan , Song Pa tidak mau ketinggalan dan ikut pula .

Dengan membawa anak buah tigaratus orang lebih , Yang Cien dan Cu-Lokai memimpin mereka menuju ke bukit di tepi Sungai Huai itu , yang menjadi pusat perkumpulan Golok Setan . Berbondong-bondong tiga ratus lebih anak buah Hek I Kaipang dengan pakaian mereka yang hitam-hitam menuju ke bukit itu dan mendaki lereng bukit dimana terdapat sebuah bangunan tua yang besar sekali . Tentu saja kedatangan mereka sudah diketahui oleh anak buah Kwi-to-pang yang cepat melapor ke dalam .

Sin-to Kwi-pang adalah seorang datuk yang sombong dan tinggi hati , merasa diri paling pandai . Mendengar bahwa Hek I Kaipang datang menyerbu dengan tenang dia menyuruh semua anak buahnya bersiap-siap . Lai Seng dan isterinya , Bong Kwi Hwa juga sudah bersiap-siap .

Rombongan Hek I Kaipang sudah tiba di depan bangunan dan Cu-Lokai lalu berteriak dengan nyaring , “ Sin-to Kwi-ong harap keluar kami ingin bicara !” .

Dari dalam bangunan itu keluar semua anak buah Kwi-to-pang yang berjumlah dua ratus orang lebih itu , mengiringkan tiga orang pimpinan mereka , yaitu Sin-to Kwi-tong , Lai Seng dan Siauw-kwi atau Bong Kwi Hwa . Dengan angkuhnya mereka bertiga menyambut rombongan Hek I Kaipang .

“ Kalian ini golongan jembel ada keperluan apa berani datang berkunjung ke tempat kami ?” bentak Sin-to Kwi-ong dengan suaranya yang lantang .

“ Sin-to Kwi-ong , sejak dahulu antara Kwi-to-pang dan 297

kami Hek I Kaipang tidak pernah terjadi bentrokan . Akan tetapi selama beberapa pekan ini orang-orangmu mengeroyok dan membunuhi beberapa orang anggota kami . Kami minta pertanggung-jawabmu atas kejadian itu , Kwi-ong !” .

“ Ha-ha-ha-ha , tanggung jawab apa , Lokai ? Kalian adalah jembel-jembel busuk yang menjadi pemberontak , sudah kewajiban kami untuk membasmi kalian . Baru membunuh beberapa orang pengemis busuk pemberontak saja , apa salahnya ?” .

“ Sin-to Kwi-ong , ucapanmu yang kotor itu hanya menunjukkan orang macam apa engkau adanya ! Dengarlah baik-baik , menjadi pengemis miskin bukanlah suatu kejahatan , akan tetapi menjadi penjahat macam kalian merupakan dosa yang besar sekali . Kami rakyat miskin berjuang untuk mengusir penjajah , menunjukkan bahwa kami adalah anak bangsa yang baik . Akan tetapi kalian bahkan membela penjajah dan menjadi antek Mongol , apakah engkau tidak malu kepada nenek moyangmu ?” kata Yang Cien dengan suara marah .

Mendengar ucapan yang pedas ini , Sin-to Kwi-ong menjadi merah mukanya . Matanya melotot marah dan dia memandang kepada Yang Cien seolah hendak menelannya bulat-bulat . “ Bocah kurang ajar , siapakah engkau ?” .

“ Namaku Yang Cien dan akulah yang memimpin para saudara ini . Sebetulnya kami datang untuk minta pertanggungan-jawabmu dan untuk menyadarkanmu bahwa menjadi antek Mongol adalah memalukan dan hina sekali . Akan tetapi kalau engkau membandel , bahkan menghina kami , terpaksa kami akan menghancurkan Kwi-to-pang dari muka bumi !” .

“ Tutup mulutmu , keparat ! Engkau sudah bosan hidup berani menghinaku “ . Datuk tinggi besar yang bermuka bengis dan rambutnya riap-riapan ini segera menerjang maju dengan pukulan tangannya yang besar kea rah kepala Yang 298

Cien . Dia mengira bahwa sekali pukul saja kepala pemuda itu akan hancur berantakan . Tenaga gajahnya membuat pukulan itu mendatangkan angina yang bersiutan menyambar . Yang Cien maklum akan kelihaian orang . Maka dengan ringan dia melangkah mundur sehingga sambaran pukulan itu luput .

Melihat betapa pemuda itu dengan amat mudahnya menghindarkan pukulannya , raja Iblis itu menjadi penasaran dan diapun mengirimkan serangkaian pukulan yang susul menyusul dan bertubi-tubi kepada pemuda itu . Namun Yang Cien telah siap sedia dan pemuda inipun memainkan Bu-tek Cin-keng karena dia tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang datuk sakti yang berkepandaian tinggi dan memiliki tenaga gajah .

“ Duk-dukkk …….. !!” Ketika kedua lengan bertemu , tubuh Sin-to Kwi-ong terpental ke belakang , membuat kakek ini mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas terluka . Dia kaget bukan main karena hamper tidak dapat percaya bahwa pemuda seperti orang yang lemah itu mampu membuatnya terpental ke belakang seperti di hanyutkan gelombang yang amat kuat . Tahulah dia bahwa pemuda ini sama sekali tidak boleh di pandang ringan , maka dia lalu mencabut goloknya yang besar dan berat .

Melihat ini , Yang Cien juga mencabut Pek-liong Po-kiam nya dan nampak sinar putih berkelebat ketika pedang yang mencorong itu di cabut . Biarpun dapat menduga bahwa lawannya memiliki pedang pusaka ampuh , Sin-to Kwi-ong tidak perduli dan dia sudah memainkan goloknya dengan gerakan dahsyat sekali , menyerang dengan jurus Elang Emas Menyambar Kelinci . Golok itu berdesing nyaring ketika menyambar dan nampak gulungan sinar menyambar ke arah leher Yang Cien . Pemuda ini dengan tenang saja mengelak lalu membalas dengan tusukan pedangnya kea rah perut lawan .

“ Traannggg ……. !” Golok itu menangkis pedang dan 299

bunga api berhamburan menyilaukan mata . Sin-ti Kwi-ong lalu memutar-mutar goloknya dan tidak percuma dia berjuluk Sin-to ( Golok Sakti ) karena memang ilmu goloknya amat hebat . Namun sekali ini dia berhadapan dengan Yang Cien yang memiliki pedang pusaka dan memiliki ilmu pedang Pek-liong Kiam-sut ( Ilmu Pedang Naga Putih ) yang di gubahnya sendiri berdasarkan ilmu Bu-tek Cin-keng .

Sementara itu , Cu-Lokai juga sudah memberi aba-aba kepada anak buahnya dan para anggota Hek I Kaipang menyerbu sehingga terjadi pertempuran seru antara mereka dengan para anggota Kwi-to-pang .

Lai Seng dan isterinya , Bong Kwi Hwa , juga sudah menerjang maju untuk membantu Sin-to Kwi-ong , akan tetapi Cu Lokai menghadang dan menyambut di bantu oleh para pangcu yang lain seperti Song Pa , Kiang Si Gun , Phang Kim dan Ciok Kui . Terjadilah pertempuran seru antara sepasang suami istri yang lihai itu melawan lima orang ketua kaipang itu . Pedang dan suling suami isteri itu lihai sekali , akan tetapi lima orang pengeroyoknya juga memiliki ilmu tongkat yang lihai sehingga pertempuran itu seimbang .

Para anak buah Sin-to Kwi-ong menggunakan golok , dan semua pengemis menggunakan tongkat sehingga pertempuran yang seru itu terjadi dengan hebat , bentrokan antara ratusan batang golok melawan ratusan batang tongkat . Suaranya gaduh dan mulailah ada yang roboh dan suara jerit kesakitan dan pekik kemenangan bercampur dengan berdentingan suara senjata yang saling beradu . Biarpun para anggota Kwi-to-pang rata-rata memiliki ilmu silat yang lebih lihai akan tetapi karena jumlah mereka kalah banyak , maka pertempuran itu makin lama makin merepotkan pihak Kwi-to-pang dan pihak mereka menderita kerugian yang lebih banyak.

Yang paling seru adalah pertandingan antara Sin-to Kwi-ong melawan Yang Cien . Setelah lewat lima puluh jurus saling 300

menyerang , mulai lah Sin-to Kwi-ong terdesak oleh pukulan-pukulan tangan kiri Yang Cien yang memainkan jurus-jurus dari Bu-tek Cin-keng . Dia tidak mengenal ilmu silat aneh itu dan tangan kiri pemuda yang di gunakan untuk selingan pedangnya , sungguh amat dahsyat . Sudah dua kali pundak dan dadanya terkena dorongan tangan kiri itu dan dia terhuyung-huyung merasa dadanya sesak . Sin-to Kwi-ong meloncat ke belakang untuk melihat keadaan teman-temannya . Sungguh tidak menguntungkan . Puteri dan mantunya yang di keroyok lima orang ketua kaipang itu nampak kelelahan , dan anak buahnya juga kelihatan terdesak oleh lawan yang jumlahnya amat banyak . Sekali pandang saja tahulah Sin-ti Kwi-ong bahwa kalau dilanjutkan pertempuran itu , pihaknya tentu akan kalah , bahkan keselamatan diri sendiri , puterinya dan mantunya terancam . Pemuda yang bernama Yang Cien itu sungguh merupakan lawan yang amat tangguh . Maka , diapun segera memberi aba-aba kepada puteri dan mantunya , juga para anak buahnya untuk mundur .

Mendengar aba-aba ini , Lai Seng dan Bong Kwi Hwa memutar pedang dan sulingnya dengan cepat sehingga para pengeroyoknya berlompatan ke belakang dan kesempatan itu mereka pergunakan untuk meloncat dan menyelinap ke dalam rombongan anak buahnya yang sedang bertempur . Demikian pula dilakukan oleh Sin-to Kwi-ong , meninggalkan Yang Cien dan menyelinap di antara anak buahnya .

Anak buah Kwi-to-pang juga sudah kewalahan , maka perintah mundur ini mereka lakukan dengan cepat dan tak lama kemudian mereka yang masih hidup itu melarikan diri cerai berai . Yang Cien melarang anak buahnya untuk mengejar . Sebaliknya mereka lalu merawat yang terluka . Pihak musuh yang terluka dan tertawan di ampuni dan di lepaskan . Sedangkan yang mati di kubur bersama para anggota kaipang yang tewas . Peraturan ini di pegang teguh oleh Yang Cien yang tidak ingin mengotori tempat itu dengan 301

mayat yang dibiarkan membusuk sehingga akan amat merugikan penduduk di sekitar tempat itu . Bekas tempat tinggal Kwi-to-pang di bakar dan para anak buah kaipang itu pulang membawa kemenangan . Semangat mereka semakin tinggi dan mereka semua menganggap Yang Cien sebagai pemimpin besar mereka .

Kemenangan Hek I Kaipang atas Kwi-to-pang ini segera tersiar luas di dunia para kaipang sehingga ketika di adakan pemilihan bengcu yang dicalonkan para kaipang , maka semua ketua kaipang tanpa ragu lagi memilih Yang Cien . Dari mereka semua yang hadir , hanya ada dua orang kai-pangcu saja yang masih penasaran . Mereka adalah ketua dari Sin-tung Kai-pang ( Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti ) dan Hwa I Kaipang ( Perkumpulan Pengemis Baju Kembang ) . Akan tetapi , setelah dia orang ketua ini maju bersama untuk menguji kepandaian calon bengcu itu , dengan mudah saja Yang Cien mamu mengalahkan mereka dan merekapun menjadi tunduk dan takluk . Dengan suara bulat , seluruh kai-pang yang terdiri dari puluhan perkumpulan yang tersebar di empat penjuru , menyatakan pilihan mereka kepada Yang Cien sebagai calon beng-cu .

Pemuda ini maklum bahwa tanpa adanya persatuan yang kuat dari semua kekuatan rakyat , tidak mungkin kiranya menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah . Dan biarlah para perkumpulan pengemis ini menjadi pelopor , dan kemudian dia akan menarik kekuatan golongan lain . Kalau dia berhasil menjadi bengcu , agaknya hal itu akan mudah dilakukan dan kalau semua kekuatan sudah bersatu , dia akan mulai dengan perjuangannya menumbangkan kekuasaan penjajah seperti yang dipesankan mendiang kakeknya . Dia tidak menganjurkan Hek I Kaipang membasmi Kwi-to-pang ,bahkan membiarkan mereka yang masih hidup melarikan diri dan membebaskan tawanan yang terluka . Hal ini juga termasuk siasatnya . Kalau dia sudah benar-benar hendak mengadakan gerakan perjuangan mengusir penjajah , dia 302

harus mampu mengumpulkan tenaga semua pihak , tidak perduli dari golongan hitam atau putih . Dan untuk pembiayaan perjuangannya , dia sudah memiliki harta karun , yaitu gumpalan-gumpalan emas yang berada di dalam guha , di Lembah Iblis . Hanya dia dan Akauw yang mengetahui tempat yang kini telah di tutupnya dengan batu besar itu .

Akan tetapi dimana Akauw ? Sudah bertahun-tahun dia tidak tahu kemana perginya sutenya itu dan hatinya mulai merasa khawatir . Mulailah dia menyuruh para anak buah Hek I Kaipang untuk mencari seorang pemuda bernama Cian Kauw Cu atau Akauw .

Demikianlah , Yang Cien yang berambisi besar itu mulai menyusun tenaga melalui perkumpulan-perkumpulan pengemis yang pada waktu itu merupakan tenaga besar yang patut diperhitungkan karena dimana-mana terdapat perkumpulan itu dan para pengemis ini merupakan penyelidik-penyelidik yang pandai dan tidak di curigai orang . Hal ini memudahkan mereka untuk menyelidiki keadaan musuh dan keadaan di kota-kota yang ingin di selidiki . Akan tetapi yang terutama adalah menghimpun tenaga seluruh golongan kang-ouw . Dan nanti , tiga bulan lagi . Pada pertemuan di Puncak Thai-san , akan diadakan pemilihan bengcu itu . Dia akan mencoba untuk meraih kedudukan itu , atau setidaknya , kalau dia gagal , dia harus dapat mendekati bengcu baru untuk mengajaknya berjuang menggulingkan Pemerintah Toba.

*****

Sambil menanti datangnya saat pemilihan beng-cu , Yang Cien tetap melatih para anggota kaipang dengan ilmu silat agar kelak mereka menjadi prajurit yang tangguh . Juga dia diperkenalkan dengan pimpinan Hek I Kaipang yang lain . Pada suatu hari datang berkunjung ketua Hek I Kaipang di Lok-yang bersama wakil ketua , yaitu Thio Cid an Thio Kui . Kedua orang ini datang berkunjung ketika mendengar bahwa 303

Yang Cien menyebar anak buah mencari keterangan tentang Cian Kauw Cu atau Akauw pemuda yang tinggi besar dan gagah .

“ Yang taihiap “ , kata Thio Ci yang sudah pernah bertemu dengan Yang Cien ketika pemuda ini di pilih sebagai calon bengcu oleh semua ketua kaipang . “ Kalau tidak salah , kami dapat menemukan pemuda yang taihiap cari-cari itu “ .

“ Kamu maksudkan Cian Kauw Cu , pangcu ? Dimana dia dan bagaimana engkau dapat bertemu dengan dia ?” .

Wajah Thio Ci agak muram mendengar pertanyaan itu . “ Bukankah taihiap mengatakan bahwa yang bernama Akauw itu memiliki sebuah pedang pusaka yang bersinar hitam ?” .

“ Hek-liong Po-kiam ! Betul ! Betul itu , pangcu !” kata Yang Cien gembira . “ Dimana dia sekarang ?” .

Wajah Thio Ci masih murung ketika menjawab , “ Tentu saja di kota raja , dimana lagi , taihiap ? Seorang panglima muda tentu tinggalnya di kota raja . Bahkan kami mendengar bahwa dia adalah panglima pembantu Koksu Lui ! Dia pula yang di utus oleh kaisar untuk menangkap Gubernur Yen Kan dari Lok-yang yang berjiwa patriot . Sekarang Gubernur Yen Kan dijadikan orang tahanan di kota raja “ .

“ Ah , tidak mungkin !” seru Yang Cien dengan penasaran .

“ Apa yang tidak mungkin taihiap ?” Tanya Thio Kui karena mengira bahwa Yang Cien tidak mempercayai laporan kakaknya .

“ Tidak mungkin Akauw menjadi antek Koksu !” .

“ Akan tetapi yang jelas , nama komandan itu adalah Cian Kauw Cu dan dia memiliki pedang bersinar hitam , juga ilmu kepandaiannya tinggi sekali . Kami berdua sudah membuktikannya sendiri “ .

“ Ceritakan yang jelas “ . 304

“ Ketika kami melihat panglima itu menyamar sebagai seorang biasa , bersama seorang pemuda remaja , kami langsung mengenalnya sebagai komandan yang menangkap Jendral Yen . Tentu kedatangannya dengan menyamar itu untuk menyelidiki keadaan di Lok-yang . Bersama kurang lebih tiga puluh orang anggota Hek I Kaipang di Lok-yang , kami berdua menyergapnya . Akan tetapi dia lihai bukan main , Pedang sinar hitam itu sukar di tembus bahkan kami kehilangan banyak anak buah . Akhirnya dia dapat meloloskan diri membawa temannya yang terluka . Kami berkata sebenarnya , taihiap , entah dia itu sahabat yang taihiap cari atau bukan , akan tetapi yang bernama Cian Kauw Cu berpedang sinar hitam adalah seorang panglima antek Raja Toba !” .

Setelah mendengar laporan itu , wajah Yang Cien selalu murung karena dia gelisah dan penasaran sekali mendengar bahwa sutenya telah menjadi komandan Kerajaan Toba . Sungguh aneh sekali . Dia mengenal betul watak sutenya yang gagah perkasa , tidak mungkin kiranya mau di peralat oleh Kaisar Toba , tidak mungkin gila harta atau gila kedudukan . Kalau benar orang yang di ceritakan ketua Hek I Kaipang di Lok-yang itu benar Akauw , tentu ada sebab-sebab tertentu yang membuatnya menjadi komandan !” .

Malam itu terang bulan dan Yang Cien keluar dari perkampungan Hek I Kaipang , berjalan-jalan seorang diri di lereng pantai Sungai Huai . Dia melamun karena pikirannya penuh dengan Akauw . Dia harus menyelidiki sendiri keadaan sutenya itu di kota raja dan kalau benar Akauw telah menjadi komandan , dia harus menyadarkan sutenya itu dari kekeliruannya . Sutenya tidak boleh menjadi antek Mongol ! .

Tiba-tiba ada suara tidak wajar di belakangnya dan kesadaran Yang Cien kembali membuatnya waspada . Dia membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan seorang wanita muda yang cantik . Di bawah sinar bulan yang remang-305

remamng , dia tidak mengenal siapa gadis itu .

“ Yang-taihiap …. “ terdengar suara gadis itu memanggil lirih .

“ Eh , siapakah nona ?”

“ Hemm , benarkah taihiap telah lupa kepadaku ?” Tanya gadis itu dengan suara mengandung penasaran . “ Kita sudah pernah saling bertemu di rumah Gubernur Gak di Nam-kiang dan malam itu ….. “ Ia tidak melanjutkan kata-katanya .

“ Ah , sekarang aku ingat . Nona tentulah Nona Kwee Sun Nio , murid dari Iam Yang To-kouw dari Thian-li-pang itu , bukan ? Selamat malam , nona . Apa yang membawa nona datang ke sini ?” .

“ Taihiap , aku sengaja datang mencarimu dan beruntung sekali aku mendapatkan engkau seorang diri di tempat ini “ .

“ Maafkan kalau aku menyambut dalam cara begini , nona . Marilah kita pergi ke tempat tinggal kami dan di sana kita dapat berbincang-bincang ….” .

“ Tidak perlu . Aku justeru ingin bicara di tempat sunyi denganmu , empat mata saja “ .

“ Terserah kepadamu , nona . Apakah nona di suruh oleh guru nona menemuiku ?” .

“ Yang Cien , jangan berpura-pura terus !” Tiba-tiba suara Sun Nio berubah penasaran dan ketus . “ Aku datang menemuimu untuk minta pertanggung jawabmu !” .

Yang Cien tentu saja terkejut sekali mendengar ini . Minta pertanggung-jawab ? Seingatnya , tidak pernah ada terjadi sesuatu dengan nona ini atau gurunya , kecuali ketika guru nona ini dahulu meminta surat peninggalan Kam Lo-kai dan di tolaknya sehingga terjadi pertempuran antara dia dan Im Yang To-kouw . Dan itupun ternyata hanya merupakan ujian saja dari tokouw itu untuk melihat apakah dia memang setia 306

akan mempertahankan surat wasiat dari Kam Lokai , seperti di ketahuinya ketika ia sudah menghadap Gubernur Gak . Ternyata Thian-li-pang juga merupakan perkumpulan yang condong membantu pergerakan pejuang melawan penjajah . Ada urusan apa lagi antara dia dengan gadis Thian-li-pang ini ?” .

“ Nona , apa artinya semua ini ? pertanggung-jawab apakah yang nona minta dariku ?” .

“ Yang Cien , ketika pertama kali aku mengenalmu bersama subo , kukira engkau seorang pendekar budiman yang bijaksana dan bertanggung jawab . Tak ku sangka sekarang ini ternyata engkau seorang pengecut yang tidak segan untuk pura-pura tidak tahu apa yang telah kau perbuat terhadap diriku !” Gadis ini sudah demikian kecewa dan marahnya sehingga suaranya tercampur isak yang di tahan-tahannya .

“ Sungguh mati , nona . Aku tidak mengerti apa yang nona maksudkan ! Aku bukanlah seorang pengecut dan aku Yang Cien pasti akan mempertanggung-jawabkan semua perbuatanku sampai yang sekecil-kecilnya . Nah , jelaskan , perbuatan apakah yang telah ku lakukan terhadap dirimu , nona Kwee Sun Nio ?” .

Sun Nio menjadi merah sekali mukanya .

“ Apakah benar engkau sudah lupa atau pura-pura lupa apa yang kau lakukan di kuil tua itu pada waktu malam hari beberapa pekan yang lalu ?” .

“ Di kuil tua ? Malam hari beberapa pekan yang lalu ? Aku tidak pernah berkunjung ke kuil tua , nona “ .

“ Bohong ! Ada orang yang melihatmu meninggalkan kuil dengan tergesa-gesa “ .

“ Sungguh heran , aku benar tidak pernah ke kuil . Orang itu pasti telah salah lihat . Dan apa katanya yang ku lakukan di dalam kuil itu ?” 307

“ Dia tidak berkata apa-apa , akan tetapi akulah yang menjadi korban kebiadabanmu . Yang Cien , sebagai laki-laki gagah tidak pelu kau ingkari lagi . Engkau telah memperkosa aku selagi aku pingsan !”

Seperti di sambar ular Yang Cien melangkah dua tindak , akan tetapi lalu maju lagi mendekati Kwee Sun Nio dengan mata terbelalak . “ Apa …… ? Apa yang kau katakana ini ? Sungguh fitnah keji sekali !” .

“ Fitnah ? Aku yang menderita ! Aku yang kehilangan kehormatan , kehilangan yang lebih daripada nyawa . Aku yang terkena aib . Apakah aku akan melakukan fitnah kalau tidak terjadi benar atas diriku ?” .

“ Nanti dulu , nona . Coba ceritakan yang lebih jelas . Engkau berada didalam kuil tua , lalu datang memperkosamu ….. “ .

“ Kau lebih dulu melepaskan asap pembius sehingga aku menjadi pingsan , dan kau lalu …. “

“ Hemmm , kau jatuh pingsan di dalam kuil tua lalu aku datang memperkosamu ? Bagaimana kau tahu bahwa aku yang memperkosamu kelau engkau pingsan ?” .

“ Aku memang tidak melihat dengan mataku sendiri . Setelah sadar , aku melompat keluar kuil dan bertemu seseorang yang mengatakan bahwa dia melihat engkau pergi dari kuil dengan tergesa-gesa “

“ Fitnah keji ! Kalau dia mengatakan bahwa ada laki-laki berlari dari kuil , bagaimana engkau bisa tahu bahwa laki-laki itu aku orangnya ?” .

“ Yang Cien , tidak perlu engkau mengelak lagi . Orang itu telah mengenalmu , maka tahu siapa engkau dan dia yang menceritakan kepadaku “ .

“ Nona Kwe , siapakah orang itu ? Siapakah orang yang mengatakan bahwa dia melihat aku lari meninggalkan kuil ?” . 308

Melihat gadis itu meragu , dia menyambung . “ Aku perlu mengetahui untuk dapat meyakinkan hatiku tentang ceritamu“.

“ Orang itu bernama Lai Seng ! Nah , engkau tidak boleh pungkir sekarang , Yang Cien , engkau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu yang terkutuk kepadaku “ .

“ Mempertanggung-jawabkan bagaimana ?” .

“ Engkau harus menikahi aku atau engkau harus mati di tanganku “ .

“ Keduanya tidak dapat ku terima . Aku tidak mau mempertanggung-jawabkan perbuatan yang tidak kulakukan . Nona , pertimbangkan baik-baik . Aku tidak melakukan itu , apakah engkau tidak percaya kepadaku dan lebih percaya kepada keterangan laki-laki jahanam itu ? Ingat , Lai Seng adalah seorang penjahat besar yang menjadi mata-mata Kerajaan Mongol , dia pernah hendak menyeludup ke dalam Hek I Kaipang dan ketahuan , lalu di usir . Apakah laki-laki penjilat Mongol itu lebih kau percaya dari pada aku ? Aku bersumpah tidak melakukan perbuatan itu !” .

Kwe Sun Nio mencabut pedangnya . Ia sudah nekat . Kalau bukan Yang Cien yang melakukan , lebih celaka lagi baginya . Kalau Yang Cien , ia menuntut dinikahi dan ia akan suka menjadi isteri pemuda ini . Kalau orang lain bagaimana ? Mungkin ia memilih mati ! Kekecewaan dan penasaran membuatnya nekat .

“ Yang Cien , aku adalah murid Thian-li-pang yang sejak kecil di latih dengan peraturan keras . Aku telah kehilangan kesucianku sebagai seorang gadis dan hukumnya hanyalah menikah atau mati ternoda aib . Kalau engkau tidak mau menikahiku , biarlah aku mati di tanganmu atau engkau mati di tanganku !” Setelah berkata demikian , gadis itu lalu menyerang dengan dahsyatnya , menusukkan pedangnya kea 309

rah dada Yang Cien .

Pemuda ini cepat mengelak dan meloncat ke belakang , “ Bersabarlah , nona . Aku tidak ingin bermusuhan denganmu , bahkan aku merasa iba sekali kepadamu , dan aku bersedia membantumu untuk menyelidiki siapa yang melakukan perbuatan terkutuk itu !” .

Makin nyeri rasa hati Kwe Sun Nio . Pemuda ini tetap menyangkal , mengecewakan hatinya dan mematahkan semua harapannya agar pemuda yang dikaguminya ini mau menikahinya . “ Kalau bukan engkau siapa lagi !” Bentaknya dan kembali ia menyerang dengan nekad bahwa kalau ia tidak dapat membunuh pemuda itu , biarlah ia tewas di tangannya untuk menubus aib .

Kembali Yang Cien mengelak dan dia tahu bahwa dengan bujukan kata-kata saja , gadis ini yang agaknya sudah nekat dan penasaran tidak akan reda kemarahannya . Diam-diam , mendengar nama Lai Seng di sebut , dia sudah curiga bahwa pemuda ini tentu melempar fitnah dan sangat boleh jadi bahwa perbuatan terkutuk itu di lakukan oleh sendiri .

Biarpun ilmu pendang yang dimainkan Sun Nio cukup hebat , namun berhadapan dengan Yang Cien , sama sekali tidak ada artinya . Setelah mengelak selama belasan jurus , akhirnya dia menangkap pedang itu dalam jempitan antara kedua jarinya dan pedang itu seperti melekat di situ , tidak dapat di tarik kembali oleh Sun Nio .

“ Nona , engkau salah sangka , hentikanlah !” kata Yang Cien dan dia melepaskan jepitannya . Akan tetapi , Yang Cien tidak menduga sama sekali bahwa gadis itu sudah nekat benar , begitu pedangnya di lepas sudah menyerang lagi dengan tusukan yang cepat dan mengandung tenaga . Yang Cien memiringkan tubuhnya dan tangannya menyambar dari atas ke bawah . Tangan yang miring itu menghantam pedang yang menyambar di dekat perutnya . 310

“ Traakkk …. ! “ Pedang itu patah menjadi dua potong seperti di hantam palu godam yang berat .

Sun Nio terbelalak pucat , membuang sisa pedangnya dan menyerang dengan pukulan tangan kosong . Yang Cien meloncat ke belakang lalu menghilang . “ Nona , engkau salah sangka …. “ terdengar suaranya dari jauh , suara yang mengandung penasaran dan juga iba hati .

Sun Nio menangis . Ia menjatuhkan diri menutupi mukanya dengan kedua tangan , menangis sesungukan dengan hati hancur . Satu-satunya harapan telah pudar dan ia meraba-raba dalam kegelapan tidak tahu kepada siapa ia akan minta pertanggungjawabnya .

“ Subo …. Ah , subo …… “ Tangisnya dan ia lalu bangkit berdiri melangkah terhuyung untuk pergi melapor kepada subonya . Ia akan minta bantuan subonya untuk membujuk Yang Cien agar mempertanggung-jawabnya . Mengingat akan kemungkinan ini , timbul pula sedikit harapan di hati Sun Nio . Mungkin subonya akan berhasil .

****

Gubernur Yen di bebaskan dari tahanan di kota raja ! Dia diperbolehkan pulang ke Lok-yang . Hal ini adalah karena nasehat dan siasat Koksu dan Perdana menteri yang di ajukan kepada kaisar . Pertama , untuk meredakan ketegangan kedua , agar pasukan di Lok-yang terkecoh dan tidak siap siaga . Padahal , beberapa hari setelah dia dipulangkan ke Lok-yang , puluhan ribu pasukan yang di pimpin oleh Koksu sendiri menyerbu Lok-yang ! Hanya terjadi sedikit perlawanan dari para penjaga pintu gerbang , karena memang Gubernur Yen melarang pasukan di wilayahnya mengadakan perlawanan terhadap pasukan kerajaan . Pemberontakan belum waktunya dimulai karena perimbangan kekuatan masih jauh selisihnya . Dia memerintahkan kedua orang anaknya , Yen Gun dan Yen Sian , untuk melarikan diri dan bergabung dengan Hek I Kaipang melarikan diri meninggalkan Lok-yang , dan 311

menyusun kekuatan bersama perkumpulan-perkumpulan lain yang condong memberontak terhadap pemerintah Toba .

Tanpa melakukan perlawanan Gubernur Yen kembali di tawan , kini berikut seluruh keluarganya , kecuali Yen Gun dan Yen Sian yang sudah lebih dulu melarikan diri .

Juga para panglima di tawan dan seketika di ganti oleh panglima-panglima yang di tunjuk oleh Koksu . Penyerbuan sehari itu selesai dan hamper semua pejabat di Lok-yang di tangkap dan dig anti , kecuali beberapa orang yang memang sebelumnya sudah ada kontak dengan kerajaan dan bahkan merupakan mata-mata yang mengawasi gerak-gerik mereka yang condong memberontak .

Ketika pasukan menyerbu , Yen Gun dan Yen Sian , dengan mengenakan pakaian biasa , menyelinap diantara orang-orang yang mengungsi karena takut akan peperangan , dan melarikan diri keluar kota . Akan tetapi baru saja tiba di luar kota , serombongan prajurit kerajaan menghentikan mereka yang lari mengungsi . Jumlah prajurit ini tidak kurang dari seratus orang dan jumlah pengungsi sedikitnya lima puluh orang .

“ Berhenti ! Kalian hendak lari kemana ?”

Semua orang ketakutan dan Yen Gun mewakili mereka menjawab , “ kami hendak lari mengungsi karena takut akan adanya perang . Mengungsi keluar kota agar jangan ikut terlanda perang “ .

“ Hemm , kami harus menggeledah dulu kalian . Hayo berkumpul di sini !” kata pemimpin rombongan prajurit itu dengan sikap angkuh dan memerintah .

Semua orang menaati perintah itu dan mulailah diadakan penggeledahan . Dan penggeledahan itu bukan lain hanyalah perampokan dan perampasan . Setiap menemukan benda berharga , lalu di sita begitu saja oleh para penggeledahnya . 312

Dan yang lebih memuakkan hati lagi , kalau yang di geledah seorang wanita muda , tangan-tangan para penggeledah lalu mulai berbuat kurang ajar dan tidak sopan , meraba sana sini sehingga mulai terdengar jerit tangis mereka yang dipermainkan dan mereka yang barang-barangnya di rampas .

“ Heekkk , kalian ini menggeledah atau merampok ?” bentak Yen Gun dengan marah .

“ Dan lepaskan perempuan itu !” bentak pula Yen Sian ketika seorang menggeledah hamper menelanjangi seorang wanita muda yang manis .

“ Kau mau melawan , ya ? Kamu pemberontak , ya ? “ bentak orang yang sedang mengantungi kalung emas dari seorang wanita yang di geledahnya dan langsung saja dia mengangkat tangannya untuk menampar muka Yen Gun .

“ Dukkk !” Yen Gun menangkis dan sekali tangannya bergerak , orang itu terpelanting roboh .

Seorang prajurit lain yang melihat kecantikan Yen Sian , juga sudah menubruk dan memeluk pinggangnya dari belakang . Yen Sian menjerit karena jijik , kakinya menendang ke belakang dan pemeluknya jatuh tersungkur , bergulingan memegangi bawah perut yang mendadak terasa seperti akan hancur .

Tentu saja keadaan menjadi geger melihat Yen Gun dan Yen Sian merobohkan dua orang prajurit . Komandan pasukan itu lalu memberi aba-aba untuk mengeroyok . Yen Gun dan Yen Sian yang sudah di pesan oleh ayahnya untuk tidak melakukan perlawanan dan lari bergabung dengan Hek I Kaipang , tidak kuat menahan hati mereka melihat tindakan sewenang-wenang dari para prajurit Toba , maka kini mereka menghadapi pengeroyokan itu dengan pedang di tangan ! .

Dua orang kakak beradik ini adalah murid dari ayah mereka sendiri . Gubernur Yen Kan adalah seorang pewaris ilmu silat 313

keluarga Yen yang sudah turun temurun memiliki ilmu silat dari Gobi-pai . Dan Gubernur Yen Kan dahulunya di kala muda pernah menjadi pendekar Gobi-pai yang di segani orang karena ilmu silatnya yang tinggi .

Bagaikan sepasang rajawali mengamuk , Yen Gun dan Yen Sian membabati para prajurit Mongol itu dan puluhan orang prajurit sudah menjadi korban pedang mereka . Para pengungsi lain menggunakan kesempatan itu untuk lari cerai berai , ada yang kehilangan suaminya kehilangan anaknya karena mereka berpencaran saking takutnya .

“ Sian-moi , lari …. !” Mereka lari memutar pedang , menjatuhkan para pengeroyok terdepan , kemudian berloncatan jauh dan menggunakan ilmu berlari cepat meninggalkan tempat itu . Untung bagi mereka bahwa peristiwa itu terjadi di luar kota . Andaikata terjadi di sebelah dalam kota , akan sulitlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri .

Biarpun demikian , para prajurit segera melakukan pengejaran dan mereka yang mengejar dengan menunggang kuda dapat menyusul mereka dan kembali mereka terkepung . Akan tetapi pengepungnya hanya dua-tigapuluh orang yang memiliki kepandaian lebih tangguh dibandingkan para pengeroyok pertama . Inilah para prajurit yang membantu dari kota dan mereka adalah prajurit pilihan , di pimpin oleh Lai Seng dan Bong Kwi Hwa .

Begitu Lai Seng dan Bong Kwi Hwa berloncatan turun dari atas kuda mereka dengan berjungkir balik di udara beberapa kali dan berhadapan dengan Yen Gun dan Yen Sian , tahulah kedua kakak beradik ini bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang pandai .

Dan Lai Seng segera mengenal kedua orang itu . “ Ha-ha-ha , kiranya putera dan puteri Gubernur sendiri yang melakukan pemberontakan di sini ! Menyerahlah kalian untuk kami tawan , kalau kalian tidak menghendaki mati di tempat 314

ini “ .

“ Kami tidak akan menyerah selama nyawa masih di kandung badan ! “ kata Yan Gun dengan gagah .

“ Gun-ko , kita hajar saja antek-antek Mongol ini !” seru pula Yen Sian .

“ Ha-ha-ha , nona yang cantik bernyali besar , Kwi Hwa , kau tangkap yang laki-laki , biar aku hadapi nona ini !” kata Lai Seng yang segera menggerakkan suling peraknya menyerang Yen Sian .

“ Trangg-tranngg-criingg … !” Bunga api berhamburan ketika suling itu di tangkis pedang Yen Sian . Gadis ini segera memainkan ilmu pedang Gobi-kiam-hoat untuk menandingi Lai Seng dan terjadilah perkelahian seru sekali antara mereka .

Sementara itu Bong Kwi Hwa juga menggerakkan pedangnya menyerang Yen Gun . Ia tahu bahwa suaminya sudah tergila-gila kepada gadis jelita itu , akan tetapi ia tidak peduli karena ia pun akan senang sekali untuk dapat menawan pemuda yang jangkung tampan ini . Yen Gun menangkis pedang lawan dan keduanya juga segera bertanding dengan serunya .

Ternyata tingkat ilmu pedang mereka semua seimbang sehingga perkelahian itu terjadi sengit dan melihat ini , Lai Seng merasa khawatir kalau sampai mereka lolos . Maka dia lalu meneriakan aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok dan mengepung . Setelah di kepung puluhan orang prajurit , sementara harus melawan Lai Seng dan Kwi Hwa yang tangguh , maka kedua orang putera dan puteri Gubernur Yen itu merasa kewalahan juga . Pada saat keadaan mereka sudah gawat dan peluh sudah membasahi seluruh badan walaupun mereka belum terluka , tiba-tiba dengan tak terduga juga datang serombongan orang berpakaian hitam dan menggunakan tongkat . Mereka menyerbu dari luar kepungan dan para prajurit itu jatuh bergelimpangan ! . 315

Hek I Kaipang muncul , sebanyak tidak kurang dari lima puluh orang , di pimpin oleh Thio Cid an Thio Kui , ketua dan wakil ketua Hek I Kaipang wilayah Lok-yang .

Ketika terjadi penyerbuan ke kota Lok-yang , Hek I Kaipang juga merasa gelisah . Akan tetapi mereka mendengar akan perintah Gubernur Yen agar jangan mengadakan perlawanan , melainkan mengundurkan diri untuk menyusun kekuatan . Maka , Thio Ci lalu memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di luar kota dan membantu para pengungsi melarikan diri . Hanya itu yang dapat mereka lakukan karena andaikata mereka akan menyerbu masuk kota , tentu pasukan kerajaan yang besar jumlahnya itu bukan merupakan tandingan mereka yang hanya berjumlah ratusan orang .

Thio Cid an Thio Kui menggunakan jarum-jarum , pisau dan paku beracun merobohkan banyak prajurit . Dan ketika mereka terjun ke dalam perkelahian , Thio Ci membantu Yen Gun dan adiknya Yen Sian , pihak pasukan kerajaan segera terdesak . Betul ada pula datang bala bantuan yang jumlahnya hanya tigapuluh orang . Namun Lai Seng maklum bahwa orang-orang berpakaian hitam ini berbahaya sekali maka dia segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri dan hanya melakukan perlawanan sambil mundur . Kesempatan ini dipergunakan oleh Thio Ci untuk mengajak kedua putera Gubernur Yen ini melarikan diri .

“ Terima kasih atas pertolongan ji-wo pangcu “ , kata Yen Gun dan Yen Sian yang sudah mengenal baik mereka .

“ Tidak perlu berterima kasih , kongcu dan sio-cia . Bagaimana dengan Yen-taijin ? Sungguh kami tidak mengerti mengapa taijin tidak melakukan perlawanan ……. “

“ Ayah kami tahu akan kekuatan sendiri . Kalau melakukan perlawanan berarti menghancurkan kekuatan pasukan sendiri dan hal ini dapat melemahkan semangat . Sekarang belum saatnya melakukan perlawanan . Ayah memerintahkan kami untuk melarikan diri dan bergabung dengan Hek I Kaipang , 316

lalu menyusun kekuatan untuk kelak melakukan pemberontakan “ .

Thio Ci menghela napas panjang . “ Yen-taijin terlalu mengkhawatirkan keadaan , terlalu menyayang rakyat dan pasukan , sehingga rela mengorbankan diri sendiri di tangkap.

“ Koko , bagaimana dengan ayah dan ibu dan semua keluarga ? Ah , aku khawatir sekali , koko “ , kata Yen Sian dan suaranya terdengar bergetar .

“ Harap Yen-siocia tenangkan diri . Kami kira Yen-taijin dapat menjaga diri sindiri dan keluarganya . Bagaimanapun semua ini tentu telah masuk perhitungan beliau , karena bagaimana beliau akan dapat di tuntut sebagai pemberontak kalau tidak ada bukti pemberontakan ? Kini kami mengerti . Justeru inilah sebabnya maka beliau melarang diadakannya perlawanan , agar jangan ada bukti bahwa beliau pemberontak “ .

“ Akan tetapi hatiku khawatir sekali “ , kata Yen Sian . “ kaisar Kerajaan Toba memiliki banyak penjilat dan kabarnya para penjilat inilah yang berbahaya suka membujuk kaisar untuk menghukum siapa saja yang mereka anggap tidak dapat di jadikan sahabat atau sekutu “ .

“ Jangan khawatir , nona . Kami akan mengirim mata-mata ke kota raja untuk mendengarkan berita tentang ayah nona kalau sudah di bawa ke kota raja “ , Thio Ci menghiburnya . “ Sekarang , sebaiknya ji-wi ikut dengan kami untuk mengadakan perundingan lebih jauh . Kebetulan sekali pemimpin besar kami akan datang berkunjung “ .

“ Siapakah pemimpin besar kalian ? Apakah bukan Cu-Lokai yang dahulu menjadi ketua pusat Hek I Kaipang di Tiang-an ? “ Tanya Yen Gun .

“ Dia juga akan datang , akan tetapi kami sekarang mempunyai pemimpin besar , bahkan yang kami calonkan sebagai bengcu , dia adalah taihiap Yang Cien . Mari , kongcu 317

dan sioci , kita cepat pergi agar jangan sampai ada pasukan datang mencari lagi “ .

Mereka segera pergi dengan cepat menuju ke tempat persembunyian Hek I Kaipang di bukit dekat Sungai Huai .

Sementara itu , dengan sikap gagah dan tegak Gubernur Yen duduk di kursinya di ruangan besar , di kelilingi keluarganya kecuali kedua orang puteranya , dan sikapnya berwibawa sekali ketika Panglima Su yang menjadi pemimpin pasukan yang di suruh Koksu menghadap Gubernur menyampaikan perintah kaisar untuk menangkapnya . Koksu hanya ikut untuk menjaga kalau-kalau Lok-yang melakukan perlawanan dan bukanlah menjadi tugas seorang Guru Negara untuk memimpin pasukan . maka begitu melihat bahwa tidak ada perlawanan , Koksu lalu lebih dulu kembali ke Tiang-an dan yang memasuki gedung gubernuran adalah Su-ciang kun .

“ Gubernur Yen , atas perintah Yang Mulia Kaisar , kami datang untuk menangkapmu , berlututlah dan menyerahlah untuk kami tangkap !” .

“ Apakah alasannya aku akan di tangkap ?” Tanya Gubernur itu dengan wajah tenang sekali .

“ Alasannya sudah jelas . Mengadakan usaha pemberontakan !” kata Su-Ciangkun .

“ Fitnah keji . Mana buktinya ? Apakah ketika ciang-kun memasuki tempat ini ada yang menentangmu ?” .

Su-ciangkun nampak bingung . Memang dia tidak melihat perlawanan berarti atau pemberontakan , hanya kesalahpahaman saja antara pasukannya dengan para penjaga keamanan yang berhak mempertahankan tempat yang mereka jaga . Akan tetapi tidak ada tanda-tanda pemberontakan .

“ Aku tidak tahu , pendeknya aku datang perintah kaisar untuk menangkapmu “ . 318

“ Jangan harap aku akan menyerahkan diri kalau perintah tidak ada buktinya !” .

“ Gubernur Yen , kami membawa perintah Kaisar itu . Lihat ini ! “ Su-ciangkun mengeluarkan segulung surat dan setelah surat itu di baca oleh Gubernur Yen , dia segera bangkit berdiri .

“ Baik , kami menaati perintah Sri Baginda Kaisar untuk di bawa ke kota raja !” katanya gagah .

Dua orang prajurit segera menghampiri atas isyarat Su-ciangkun dan akan memborgol kedua tangan Gubernur itu . Akan tetapi sekali menggerakkan kaki tanganya , dua orang prajurit itu telah di tendang dan di tampar roboh oleh Gubernur Yen .

“ Aku tidak perlu di borgol , aku bukan penjahat dan tuduhan pemberontakan itu tidak ada buktinya . Aku akan menghadap kaisar dengan keadaan seperti seorang bawahan menghadap atasan , bukan sebagai seorang pemberontak atau penjahat . Juga keluargaku kalau hendak di bawa , harus menggunakan keretaku sendiri . kalau semua ini tidak di penuhi sampai mati aku tidak akan menyerah !” .

Sikap dan ucapan gubernur itu berwibawa sekali sehingga Su-ciangkun sendiri merasa gentar . Terpaksa dia memenuhi permintaan gubernur itu agar tidak menimbulkan kesulitan . Demikianlah , gubernur dan keluarganya dibawa ke kota raja bukan sebagai tawanan perang , bukan sebagai pemberontak , melainkan sebagai tamu saja yang dikawal pasukan besar Kerajaan ! Suatu kehormatan yang besar dan yang hanya mungkin terjadi karena keberanian Gubernur Yen .

Akan tetapi , setelah menghadap Kaisar , Gubernur Yen dimarahi oleh Kaisar , “ Biarpun belum ada bukti bahwa engkau melakukan pemberontakan , akan tetapi menurut penyelidikan , engkau mengumpulkan para pengemis dan melakukan hubungan baik dengan Hek I Kaipang , padahal 319

Hek I Kaipang jelas berusaha memberontak . Ada gejalanya engkau berpihak kepada pemberontak , karena itu kamu di tahan sambil menanti sidang pengadilan . Demikian pula keluarga akan di tahan di penjara !” Keputusan kaisar tidak dapat dibantah dan demikianlah , Gubernur Yen Kan dan tiga orang isterinya lalu lalu di masukkan ke dalam tahanan . Gubernur itu tidak kelihatan sedih , bahkan merasa bersukur bahwa kedua orang anaknya berhasil lolos dari tangkapan dan dia percaya bahwa mereka berdua tentu akan melanjutkan perjuangannya untuk menumbangkan kekuasaan Kerajaan Toba dari tanah air . Dia tidak akan menyesal andaikata dia harus mati sekalipun ! .

*****

Penangkapan atas diri Gubernur Gak di Nam-kiang kemudian di susul penangkapan atas diri Gubernur Yen di Lok-yang menimbulkan kegemparan . Banyak pejabat tinggi menjadi khawatir . Bagaimanapun juga , belum ada bukti-bukti bahwa kedua Gubernur itu melakukan pemberontakan . Juga di terima kabar bahwa Coa-ciangkun tidak jadi berangkat ke kota raja atau jelasnya mengabaikan panggilan kaisar untuk menarik pasukan dan kembali ke kota raja ! Memang panggilan itu di anggap tidak masuk akal oleh para pejabat tinggi . Coa-ciangkun adalah seorang panglima yang berjasa besar , panglima yang selama ini telah menahan serangan Kerajaan Sun di perbatasan . Kalau tidak karena kehebatan Coa-ciangkun mengatur pasukan , tentu sudah lama musuh di selatan itu memasuki wilayah Toba karena pasukan Sun di kabarkan amat kuat . Hanya berkat kegagahan Coa-ciangkun saja maka Kerajaan Sun dapat di tahan . Dan sekarang kaisar menyuruhnya mundur dan menarik pasukan . Tidak masuk di akal ! Penangkapan atas diri kedua Gubernur itu menimbulkan perasaan tidak puas di kalangan pejabat tinggi , apalagi penagkapan itu menjalar dengan di tangkapinya dan digantinya para panglima yang tadinya berkedudukan di Lok-yang . Semua pejabat khawatir kalau-kalau pada suatu hari 320

mereka akan mengalami nasib yang sama . Dan mereka semua juga tahu bahwa semua ini adalah hasil ulah Koksu Lui Tat dan juga Perdana Menteri Ji .

Dunia kang-ouw juga geger . Mereka semua seperti sudah dapat merasakan mulainya api pemberontakan berkobar di mana-mana , ledakan-ledakan pemberontakan hanya tinggal menanti saatnya saja . Akan tetapi para tokoh kang-ouw sendiri masih bingung harus berpihak siapa . Dan untuk melegakan hati mereka , untuk mendapatkan pegangan , mereka memandang kepada pemilihan beng-cu yang segera akan tiba dan di adakan di Thai-san . Kalau sudah ada seorang beng-cu yang bijaksana dan pandai , tentu beng-cu itu akan dapat mengambil keputusan melalui musyawarah , tindakan apa yang sebaiknya harus di ambil oleh dunia kang-ouw menghadapi peristiwa dalam negeri itu .

Jauh hari sebelum hari pertemuan besar pemilihan beng-cu , Thai-san sudah mulai di banjiri pengunjung . Mereka terdiri dari banyak macam orang , ada yang aneh-aneh , ada pengemis , pendeta hwe-sio , to-su , ada pendeta wanita , dan ada pula yang berpakaian seperti petani , ada pula yang seperti sastrawan , dan seperti orang kalangan persilatan . Mereka ada yang datang berkelompok , ada pula yang perorangan . Karena pertemuan itu adalah pertemuan yang dikehendaki semua orang , tanpa ada tuan rumah , akan tetapi undangan dilakukan oleh Hek I Kaipang , maka juga mereka tidak menerima penyambutan seperti biasa . Mereka mendirikan sendiri gubuk-gubuk darurat untuk tempat itnggal sambil menanti datangnya hari yang di tentukan .

Yang Cien yang mewakili golongan pengemis sudah tiba lebih dulu di ditu bersama Cu Lokai yang mewakili Hek I Kaipang yang lain . Mereka pun mendirikan gubuk-gubuk di dalam hutan di puncak pegunungan yang dingin itu karena pemilihan bengcu baru akan di adakan tiga hari kemudian .

Tempat untuk melakukan pemilihan sudah dipersiapkan 321

oleh Hek I Kaipang , yang menebangi pohon dan membuka sesuatu dataran yang cukup luas , dengan mendirikan panggung yang besar .

Pada hari itu , pagi-pagi sekali , seorang anggota pengemis memberitahu kepada Yang Cien bahwa ada seorang tokouw ( Pendeta To ) dan seorang gadis minta berjumpa dengannya . Yang Cien mengerti bahwa itu tentulah Kwe Sun Nio yang menuduhnya memperkosa dan gurunya . Maka dia bergegas keluar , menerima mereka di depan gubuk di bawah pohon besar dan dia memberi isyarat kepada semua pengemis untuk menjauhkan diri karena maklum bahwa apa yang di bicarakan tidak boleh terdengar orang lain .

“ Selamat pagi , lo-cian-pwe “ , kata Yang Cien sambil memberi hormat . “ Dan Nona Kwe “ .

Kedua orang wanita itu membalas penghormatannya dan wajah Sun Nio kemerahan , bahkan matanya juga menunjukkan bahwa gadis ini banyak menangis dan dalam keadaan bersedih sekali sehingga dia merasa kasihan .

“ Selamat pagi , Yang-taihiap . Kami kira engkau sudah tahu apa maksud kunjungan kami ini “ , kata Im-yang To-kouw dengan suara tajam dan pandang mata penuh selidik .

Yang Cien bersikap serius . “ Kalau tidak salah , tentu ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa diri nona Kwe?”.

“ Yang-taihiap , kami bukan hendak mencari keributan . Antara engkau dan kami ada hubungan baik , yaitu sama-sama mendukung perjuangan untuk mengusir penjajah Mongol dari tanah air . Bahkan kita bersama menghadapi peristiwa besar pemilihan beng-cu dan kami pun mendukung kalau engkau yang dapat menjadi beng-cu untuk memimpin kita semua . Akan tetapi , peristiwa yang menimpa diri murid kami menjadi ganjalan dan kami harap agar taihiap suka mempertanggung-jawabnya . Ketahuilah , kehidupan kami 322

sebagai pendeta mempunyai peraturan yang amat keras . Apa yang menimpa diri Sun Nio yang malang ini hanya dapat dibersihkan dengan dua jalan , yaitu ia menikah dengan yang bertanggung-jawab atau ia menghabisi nyawa sendiri untuk menebus aib dan tidak menodai nama perkumpulan kami . Nah , tegakah taihiap bersikap tidak adil dan membiarkannya menghabiskan nyawa sendiri ?” .

“ Aduh , lo-cian-pwe , apa yang dapat saya katakana ? Sungguh mati , saya berani bersumpah bahwa saya bukanlah pelakunya . Bukan saya yang melakukannya dan saya tidak tahu menahu sama sekali , bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan nona Kwe sejak kami saling jumpa di rumah Gubernur Gak dulu itu . Lalu bagaimana saya harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak saya lakukan?”

“ Akan tetapi muridku ini mengatakan bahwa ada orang yang melihatmu !” desak Im-Yang To-kouw karena pertapa ini juga setuju sepenuhnya kalau muridnya menjadi isteri pemuda yang dikaguminya ini .

“ Lo-cian-pwe , saya bukanlah orang macam itu . Saya tidak mungkin dapat melakukan perbuatan sekeji dan terkutuk itu , dan sayapun seorang yang bertanggung-jawab sepenuhnya atas segala perbuatan saya . Menurut keterangan nona Kwe , ketika peristiwa itu berlangsung ia sedang dalam keadaan pingsan . Berarti ia tidak melihat siapa pelakunya , artinya , boleh jadi saya , boleh jadi pula orang lain ! Kemudian , ia bertemu seseorang yang mengatakan bahwa orang itu melihat saya melarikan diri ! Ketahuilah , lo-cian-pwe , orang yang mengatakan itu adalah Lai Seng , dia kabarnya murid Toat-beng Giam-ong , Koksu Lui Tat dan dia seorang yang jahat sekali . Dia pernah menyusup ke dalam Hek I Kaipang dan membikin kacau sehingga terusir keluar . Orang macam dialah yang besar kemungkinan melakukan perbuatan terkutuk itu dank arena ia memang mendendam kepadaku 323

karena kukalahkan dan kuusir dari Hek I Kaipang maka dia lalu menyebut namaku . Mungkin ini juga lalu menyebut namaku . Mungkin ini juga suatu cara untuk mengadu domba antara Thian-li-pang dengan Hek I Kaipang . Pertimbangkanlah baik-baik , lo-cian-pwe dan engkau , Nona Kwe Sun Nio . Aku bersumpah tidak melakukan perbuatan itu!”.

Terdengar isak tangis Sun Nio dan Im-Yang To-kouw termenung . Ia dapat menerima alasan-alasan Yang Cien dan menjadi ragu . “ Aihhh , Sun Nio , jangan-jangan anjing keparat Lai Seng itu yang justru melakukannya ! Kita harus menyelidiki dulu sebelum menjatuhkan suatu keputusan “ .

“ Aihhhh , subo … bagaimana teecu ini …. ?” Sun Nio tersedu-sedu .

“ Kwee-siocia , saya berjanji akan membantumu menyelidikinya !” kata Yang Cien dengan gemas . “ Karena ini menyangkut fitnah atas nama saya pula . Tunggulah saja sampai pemilihan beng-cu ini selesai , aku akan menemui Lai Seng dan kalau perlu akan ku paksa dia mengaku bahwa semua itu fitnah belaka !” .

Sun Nio tidak menjawab lalu lari meninggalkan tempat itu sambil menangis . Hatinya hancur karena dengan hadirnya subonya tetap saja tidak dapat membujuk Yang Cien untuk mengawininya . Dan kalau benar Lai Seng yang melakukannya , ah , ia lebih baik mati daripada harus menikah dengan orang sejahat itu , melakukan fitnah kepada orang lain ! Ia harus mengetahui yang sebenarnya dan kalau sudah yakin bahwa Lai Seng yang melakukannya , ia harus membunuh jahanam itu . Kalau pelaku itu sudah dibunuhnya , maka baru impas dan ia sudah terlepas dari ada hukuman yang menjadi peraturan Thian-li-pang . Kalau ia melakukan perjinaan ia memang harus mati , akan tetapi ia tidak berdaya dan diperkosa orang selagi pingsan . Kalau ia sudah dapat membunuh pelakunya , maka impaslah sudah . 324

“ Maafkan kami , taihiap . Pin-ni percaya akan semua keteranganmu dan hal ini akan kami selidiki lebih lanjut “ , kata Im-Yang To-kouw .

-0oodwoo0-

Jilid 11

Yang Cien menjadi girang sekali dan dia cepat memberi hormat .

“ Lo-cian-pwe adalah seorang bijaksana yang dapat mempertimbangkan dengan adil . Sayapun berjanji akan membantu sekuat tenaga , lo-cian-pwe “ .

Pendeta wanita itu lalu pergi meninggalkan Yang Cien dan mengejar muridnya . Akan tetapi , sampai di tempat tinggal para anggota Thian-li-pang , ia tidak menemukan muridnya . Di cari kemanapun tidak ada dan tidak ada seorangpun murid yang mengetahui . Ketika akhirnya ada yang memberitahu bahwa muridnya itu pergi menuju ke perkemahan yang kabarnya menjadi tempat tinggal sementara dari rombongan dari kota raja yang di hadiri pula oleh Koksu Lui , ia merasa khawatir sekali . Tahulah ia bahwa muridnya itu agaknya hendak mencari Lai Seng ! Maka tergesa-gesa ia kembali k etempat tinggal Yang Cien .

“ Ada apakah lo-cian-pwe kembali ke sini ?” Tanya Yang Cien khawatir .

“ Yang-taihiap , tolonglah kami . Sun Nio pergi ke tempat tinggal Lai Seng dan gurunya . Aku khawatir sekali ….. “ .

“ Mari kita susul ke sana , lo-cianpwe !” kata Yang Cien yang mengkhawatirkan keselamatan gadis itu

Sementara itu , Sun Nio memang sudah mendengar bahwa rombongan Koksu juga menghadiri pemilihan bengcu itu , dank arena ia mendengar bahwa Lai Seng adalah murid Koksu 325

, maka ia tidak pulang ke perkemahan Thian-li-pang melainkan langsung saja menuju ke perkemahan Koksu dengan semua pengikutnya ! Ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan urusannya hari itu juga , tidak menanti sampai pemilihan bengcu . Ia harus menemui Lai Seng .

Tak jauh dari perkemahan itu , bertemulah ia dengan seorang wanita cantik yang pesolek . Wanita itu bukan lain adalah Bong Kwi Hwa , isteri Lai Seng yang juga ikut datang ke tempat itu . Begitu melihat Kwe Sun Nio , Kwi Hwa segera teringat bahwa inilah gadis yang dulu di sangka Ji Goat dan menjadi korban perkosaan suaminya ! Maka ia menyambut dengan senyum mengejek di mulutnya .

“ Ada urusan apa engkau datang mendekati perkemahan kami ? Tanpa ijin engkau tidak boleh memasuki daerah perkemahan kami !” bentaknya ketus . ia tidak cemburu karena gadis ini pernah di gauli suaminya , akan tetapi mendongkol karena ternyata gadis ini bukan Ji Goat seperti yang di kehendaki suaminya . Kalau suaminya menjadi mantu Perdana Menteri , setidaknya iapun akan terangkat derajatnya . Akan tetapi gadis ini bukan Ji Goat dan hal itu menyebalkan hatinya .

Sun Nio sedang marah dan sedih , melotot ketika di sambut ucapan kasar itu . “ Aku tidak memasuki daerah perkemahan siapa-siapa , aku datang untuk mencari orang yang namanya Lai Seng !” .

“ Hemm , orang yang namanya Lai Seng itu suamiku , tahu ? Mau apa engkau mencari-cari suamiku dan apa yang engkau harapkan darinya ? Hayo katakana !” .

Hampir meledak dada Sun Nio menghadapi wanita yang mengaku isteri Lai Seng itu . Jadi Lai Seng sudah beristeri . Hal ini membikin ia semakin marah kalau membayangkan bahwa mungkin sekali pelakunya adalah Lai Seng .

“ Suamimu telah melakukan fitnah keji terhadap taihiap 326

Yang Cien dan aku akan menanyainya tentang fitnah itu . Panggil dia ke sini !” .

Kwi Hwa mengerutkan alisnya . Hem , jadi akal suaminya untuk mengadu domba antara Thian-li-pang dan Hek I Kaipang agaknya juga gagal . Gadis ini agaknya tidak percaya bahwa pemerkosanya adalah Yang Cien . Kalau begitu percuma saja mereka mempergunakan siasat melakukan fitnah itu ! .

“ Tidak perlu engkau bertemu suamiku , kalau ada urusan , cukup dengan aku ! “ .

“ Aku tidak mempunyai urusan denganmu , panggil dia keluar !” .

“ Tidak sudi !” .

“ Kalau begitu , biar aku mencarinya sendiri !” .

“ Perempuan tak tahu malu , lupakah engkau bahwa Lai Seng sudah mempunyai isteri ? Engkau minta di gauli lagi ya ?

Sun Nio tersentak kaget . Di gauli lagi ? Matanya terbelalak memandang wajah wanita yang pesolek itu . “ Ahhh …. Jadi …. Jadi …. Dia yang menggauliku waktu itu ? Dia yang memperkosaku waktu itu ….. ?”

Kwi Hwa merasa sudah kesalahan bicara , akan tetapi karena siasat mengadu domba itu tidak berhasil , tidak mengapalah ia berterus terang untuk menghina gadis ini . “ Benar , suamiku yang dulu menikmati tubuhmu . Dan engkau datang mencarinya untuk minta lagi , ya ? Tak tahu malu !” .

Sun Nio menjerit dan pedangnya berkelebat menyerang . Ia marah dan benci sekali , kepada Lai Seng , kepada wanita yang menjadi isterinya , kepada siapa saja ! Sekarang telah terbongkar rahasia itu dan ternyata benar Lai Seng yang telah memperkosanya . Lai Seng yang jahat , yang sudah memiliki isteri yang juga bukan manusia baik-baik ini . Ia menyerang dengan sengit sehingga mengejutkan Kwi Hwa yang segera 327

mengelak dengan loncatan ke belakang , lalu ia pun mencabut pedangnya . Terjadilah perkelahian yang seru antara murid Thian-li-pang dan puteri Sin-ti Kwi-ong ini . Bunyi pedang mereka berkerontangan dan teriakan-teriakan mereka penuh kebencian .

Sampai sepuluh jurus mereka berkelahi , belum juga ada yang terdesak , akan tetapi tiba-tiba muncul Lai Seng , “ Haiii , ada apa ini ?” teriaknya .

“ Ini ia perempuan itu , perempuan tak tahu malu , sekarang datang mencarimu “ , kata Kwi Hwa sambil melompat ke belakang .

Sun Nio menahan pedangnya dan memandang kepada Lai Seng dengan penuh kebencian . Lai Seng juga segera mengenal gadis yang dulu di sangka Ji Goat dan di perkosanya dengan bantuan isterinya itu .

“ Hei , nona , ada apakah engkau mencari aku ?” .

“ Aku hendak bertanya tentang fitnahmu terhadap Yang Cien taihiap . Dia bukan pelakunya dan engkau melakukan fitnah terhadap dirinya . Hayo mengaku terus terang bahwa engkaulah yang melakukan perbuatan biadab atas diriku itu dan bukan Yang Cien !” .

Lai Seng menjadi gugup , karena tidak menyangka gadis itu akan menuduhnya demikian . “ Sudahlah , siasat mengadu domba tidak berhasil , aku telah mengakuinya “ , kata Kwi Hwa .

Lai Seng tersenyum , “ memang benar , dan karena sudah terlanjur , bagaimana kalau engkau menjadi selirku , sayang ?” .

Kemarahan Sun Nio memuncak . “ Kalian harus mati di tanganku !” bentaknya dan kini ia menyerang dengan sengit . Pedangnya berkelebat membacok kea rah leher pria itu , akan tetapi Lai Seng menggerakkan sulingnya untuk menangkis . 328

“ Trannggg …. ! “ Bunga api berhamburan dan Sun Nio agak terhuyung ke belakang . Biarpun ia tahu bahwa Lai Seng lihai sekali apa lagi di situ terdapat isterinya yang juga amat lihai , akan tetapi dendam sakit hati dan kebenciannya yang sudah memuncak membuat ia lupa diri dan lupa bahaya . Ia menyerang terus dan kini ia di keroyok dua oleh suami isteri itu ! .

Keadaan menjadi berat sebelah dan suatu saat suling di tangan Lai Seng menghantam pundaknya , membuat ia terhuyung dan pedang di tangan Kwi Hwa menusuk lambungnya . Sun Nio berteriak , pedangnya terlepas dan ia meloncat lari sambil mendekap lambungnya yang terluka parah .

“ Sudahlah , jangan kejar , ia sudah terluka parah “ , kata Lai Seng kepada isterinya dan mereka lalu kembali ke perkemahan rombongan Koksu . Rombongan Koksu terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi karena Koksu bermaksud menguasai dunia kang-ouw dan kalau mungkin akan menanamkan seorang pembantu agar dapat menjadi bengcu menguasai Kang-ouw . Diantara mereka terdapat Lai Seng dan isterinya , Sin-to Kwi-ong dan Thian-te Ciu-kwi , Gu Moko si tinggi kurus muka kerbau yang bersenjata sepasang kapak , dan Huang-ho Sam-kouw yang terdiri dari tiga orang bersaudara yang tinggi besar dan lihai .

Sun Nio menahan rasa nyeri di lambungnya dan ia melarikan diri secepatnya menuju ke perkemahan Thian-li-pang . Akan tetapi di tengah perjalanan , ia bertemu dengan Im-Yang To-kouw dan Yang Cien yang berlari hendak mengejarnya .

“ Sun Nio …. !”

“ Subo …. Ah , subo … teecu …. !” Sun Nio terhuyung dan segera di rangkul oleh gurunya . Im-Yang To-kouw terkejut melihat lambung itu bercucuran darah . Cepat ia menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah , 329

akan tetapi ia melihat bahwa luka yang di derita muridnya itu parah bukan main .

“ Sun Nio , apa yang terjadi …..?”

“ Subo … teecu bertemu Lai Seng …. Ternyata dia … dia yang dulu … memperkosa teecu … Yang taihiap … maafkan aku …. Subo …. Aku tidak kuat lagi ….dia … dan isterinya … membunuhku … subo …. “ Ia terkulai dan tewas dalam rangkulan subonya .

“ Sun Nio …. Ah , Sun Nio …. “ Im-Yang To-kouw menghela napas berulang-ulang , “ betapa buruk nasibmu …..“.

“ Kwee-siocia , tenangkan arwahmu , aku berjanji kelak akan membalaskan sakit hati ini !” kata Yang Cien mengepal tinju .

“ Sekarangpun pin-ni akan menuntut kepada Koksu !” kata Im-yang To-kouw setelah merebahkan tubuh muridnya yang sudah menjadi mayat dan ia bangkit berdiri .

“ Maaf , lo-cian-pwe , saya kira tidak ada manfaatnya , bahkan akan merugikan . Mereka itu licik sekali . Kalau lo-cian-pwe menuntut dan marah di sana , mereka akan menuduh lo-cian-pwe mencari keributan atau akan memberontak terhadap orang pemerintah “ .

“ Akan tetapi ini buktinya mereka telah membunuh muridku !” .

“ Mereka dapat saja mengatakan bahwa murid lo-cian-pwe yang menyerbu ke sana dan menyerang lebih dulu dan hal itu mungkin terjadi . Lalu apa yang hendak lo-cian-pwe katakan ? Lo-cian-pwe tentu tidak tega untuk membeberkan aib yang telah menimpa diri nona Kwe , bukan ? Sudahlah , kita rawat jenazah ini dan kita terpaksa bersabar sampai pemilihan bengcu selesai . Masih banyak waktu untuk membalas dendam . Ingat , urusan perjuangan jauh lebih penting dari pada 330

urusan pribadi bukan ?” .

Im-yang To-kouw merangkap kedua tangannya . “ Sian-cai … engkau memang seorang muda yang bijaksana sekali , taihiap . Engkau telah menyadarkan pin-ni dari perbuatan bodoh yang terburu nafsu . Mari kita rawat jenazah ini .

Yang Cien lalu memondong jenazah itu dan membawanya kembali ke perkemahan Thian-li-pang , di sambut dengan kesedihan oleh para murid Thian-li-pang . Pemakaman di lakukan secara sederhana di perkemahan itu juga .

-oo0dw0oo-

Saat yang din anti-nanti oleh semua orang itu pun tiba . Kini tempat itu sudah penuh tamu yang membuat perkemahan di sekitar panggung itu . Tepat pada hari itu setelah matahari naik , Cu Lokai sebagai pihak yang mengirim undangan naik ke atas panggung . Setelah memberi hormat kepada semua tamu yang sudah memenuhi sekitar panggung itu , bermacam-macam , Cu Lokai lalu berkata dengan suara lantang .

“ Cu-wi yang terhormat , sayalah mewakili Hek I Kaipang yang mengambil kehormatan mengundang cu-wi sekalian ke tempat ini untuk mengadakan pemilihan beng-cu . Karena ini kepentingan kita semua , maka kami bukanlah penyelenggara , hanya pengundang saja dan selanjutnya biarlah lebih dahulu kita semua memilih seorang untuk dijadikan pengatur pemilihan beng-cu . Harap saudara sekalian memilih wakil masing-masing agar dapat dibentuk suatu kelompok yang akan mengatur jalannya pemilihan bengcu dan menjaga tata-tertib “ .

Segera terdengar sambutan suara-suara yang mengajukan calon wakil masing-masing . Cu Lokai mengangkat tangannya minta agar semua orang tenang . “ Harap mengajukannya satu demi satu agar kami di sini dapat mencatat dan mendengarnya dengan baik “ . 331

Pihak para ketua perkumpulan pengemis segera berteriak menyebut nama Cu Lokai .

“ Ah , ada yang mengusulkan agar saya sendiri menjadi wakil mereka . Baiklah , saya terima pengangkatan ini , dan siapa lagi yang di usulkan ?” .

“ Toat-beng Giam-ong Lui Tat !” Terdengar suara dan di ikuti pula oleh suara banyak orang yang mendukungnya .

“ Yang dimaksud tentu Lui Koksu yang berkenan hadir pula di sini ?” kata Cu Lokai . “ Silahkan lo-cian-pwe Toat-beng Giam-ong untuk naik ke panggung untuk bersama kami memimpin pemilihan bengcu ini !” .

Terdengar suara tawa dan sesosok tubuh melayang naik ke atas panggung dan ketika tiba di atas panggung sama sekali tidak terdengar suara injakan kakinya , menunjukkan betapa lihainya orang itu yang bertubuh tinggi besar , tubuhnya tinggi besar kulit mukanya hitam dan sikapnya angkuh . Semua orang memandang , terutama mereka yang sudah lama mendengar nama besar tokoh ini , baik sebagai datuk Toat-beng Giam-ong maupun sebagai Koksu Lui Tat yang tersohor . Sambil tersenyum Giam-ong mengangguk ke empat penjuru , di sambut tepuk tangan mereka yang mendukungnya .

“ Masih ada lagi ? Kami kira boleh seorang lagi untuk menjadi anggota pimpinan rapat besar ini . Sesudah itu , barulah kita semua mengajukan nama calon bengcu masing-masing yang di pilih !” kata Cu Lokai dengan suara lantang .

Terdengar teriakan wanita , “ Kami usulkan Im Yang To Kouw!” .

“ Bagus , kami sudah mendengar nama Im Yang To Kouw sebagai tokoh besar ketua Thian-li-pang . Silahkan Im Yang To Kouw maju ke atas panggung !” .

Im-Yang To-kouw yang masih berduka atas kematian muridnya tidak dapat menolak , juga ia pikir dengan menjadi 332

anggota pimpinan yang memimpin pemiluhan bengcu , ia dapat ikut mengawasi agar jangan terjadi kecurangan di pihak Koksu dan rekan-rekannya . Maka , ia pun meloncat dan nampak berkelebatnya sesosok tubuh dan tahu-tahu tokouw yang berusia lima puluh tahun membawa kebutan putih , sudah berdiri di atas panggung .

“ Sian-cai , terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada pin-ni “ , katanya .

“ Nah , cu-wi yang terhormat . Sekarang kami bertiga di sini sudah siap untuk melakukan pendaftaran para calon yang akan di ajukan sebagai calon bengcu . Siapakah yang akan mendaftar nama agar kami catat “ .

Dari pihak pengikut Koksu segera terdengar seruan , kami mengajukan Thian-te Ciu-kwi sebagai calon bengcu !” .

Cu Lokai mengerutkan alisnya . Dia tahu bahwa Thian-te Ciu-kwi adalah pembantu Koksu , maka dengan di ajukannya orang itu jelas ada maksud dari Koksu agar kedudukan bengcu di pegang oleh orangnya sendiri . Akan tetapi karena pemilihan bengcu itu bebas dan Thian-te Ciu-kwi juga seorang tokoh kang-ouw yang terkenal , dia tentu saja tidak dapat berkata apa-apa .

“ Kami mendaftar nama Thian-te Ciu Kwi sebagai pendaftar pertama !” seru Cu Lokai . “ Siapa lagi yang akan di ajukan sebagai calon beng-cu ?” .

Tiba-tiba terdengar suara yang parau dan nyaring . “ Aku Hek-liong-ong mengajukan diri sebagai calon bengcu !” .

Suara itu menggeledek dan mengejutkan orang , terutama sekali Lui Koksu terkejut . Dia tahu siapa Hek-liong-ong , majikan Pulau Naga yang lihai bukan main . Kalau kakek itu mengajukan diri sebagai calon bengcu , akan sukarlah bagi orang lain untuk dapat mengalahkannya , Kalau sampai terjadi pertandingan adu kesaktian . Maka diapun segera membisikkan kepada Lai Seng . 333

“ Pendaftar kedua adalah Hek-liong-ong ! Kami sudah mencatatnya !” teriak pula Cu Lokai yang diam-diam juga mengkhawatirkan , karena diapun sudah mendengar akan kesaktian kakek raksasa hitam itu .

“ Kami mengusulkan Sin-to Kwi-ong menjadi calon bengcu !” kini Lai Seng berteriak memenuhi bisikan Koksu tadi . Sin-to Kwi-ong , mertua Lai Seng kini sudah dia ajukan untuk memperkuat pencalonan Thian-te Ciu-kwi . Dengan adanya dua calon dari mereka yang maju , maka kesempatan untuk meraih kedudukan bengcu lebih banyak lagi .

Munculnya tiga orang datuk ini saja sebagai calon bengcu sudah membuat orang-orang lain menjadi gentar . Partai-parta besar seperti Kun-lun-pai , Gobi-pai , Kong-thong-pai dan lainnya tidak berambisi untuk menguasai dunia kang-ouw , maka mereka datang hanya sebagai penonton dan sebagai saksi saja . Mereka semua itu merasa tidak suka melihat bahwa orang-orang yang menjadi calon bengcu sepatutnya seorang pendekar yang bijaksana dan budiman . Kalau bengcunya seorang datuk sesat , salah-salah dunia kang-ouw akan di seret ke dalam kesesatan ! .

“ Cu-wi yang terhormat . Apakah masih ada lain calon lagi untuk di ajukan ?” Tanya Cu Lokai lantang .

Kini dari kelompok pengemis terdengar suara nyaring , “ Kami dari seluruh kai-pang yang berada di sini mengajukan seorang calon beng-cu , yaitu taihiap Yang Cien !” .

Terdengar tepuk tangan dan sorak sorai menggegap gempita dari seluruh anggota kaipang yang hadir untuk menyambut nama ini .

Cu Lokai lalu mengangkat tangan meminta agar suasana menjadi tenang , lalu dia berteriak , “ Calon ke empat adalah taihiap Yang Cien ! Mungkin banyak yang belum mengenalnya , akan tetapi di kalangan para kaipang namanya sudah amat di kenal . Apakah masih ada lagi calon yang akan di ajukan ?”. 334

Ternyata tidak ada lagi calon yang di ajukan . Yang tadinya mempunyai niat menjadi mundur teratur ketika melihat sederetan nama para datuk tadi , karena mereka menjadi gentar .

“ Kalau sudah tidak ada lagi calon yang di ajukan , kami minta kepada para calon untuk maju seorang demi seorang . Sekarang peserta atau calon pertama , kami minta agar Thian-te Ciu-kwi maju ke atas panggung !” .

“ Ha-ha-ha-ha ….. !” terdengar suara tawa bergerak dan nampak sesosok tubuh berjungkir balik di udara dan turun ke atas panggung . Di atas panggung itu nampak seorang tua berusia enam puluh tahun bertubuh kecil kurus dan dia begitu tiba di situ meminum araknya dari sebuah guci arak .

“ Thian-te Ciu-kwi sebagai calon pertama di persilahkan berbicara kepada semua peserta rapat pemilihan beng-cu , silahkan !” kata Cu Lokai .

Thian-te Ciu-kwi kembali meminum araknya , kemudian dia memandang ke sekeliling dan berseru dengan suaranya yang tinggi , “ Aku sudah berdiri di sini . Apalagi yang akan di bicarakan ? Aku ingin menjadi bengcu untuk memimpin kalian semua menjadi warga Negara yang baik , membantu Kerajaan dan mencari kedudukan dan kemuliaan . Kita kaum kang-ouw sudah sepatutnya membantu kerajaan , menyumbangkan tenaga dan menuntut imbalan jasa !” .

Ucapan ini di sambut sorak sorai para anak buah Koksu , akan tetapi mereka mendengar apa yang akan dilakukan calon itu kalau sudah menjadi beng-cu .

Jelas bahwa calon ini berpihak kepada Kerajaan Toba yang menjajah , dan tentu saja sesuai dengan kedudukan Koksu yang menjadi seorang di antara pimpinan pemilihan beng-cu itu .

“ Apakah sudah selesai pembicaraan peserta calon pertama ?” Tanya Cu Lokai . 335

“ Sudah “ , jawab Thian-te Ciu-kwi . “ Aku tidak mempunyai ucapan apa-apa lagi “ .

“ Kalau begitu anda dipersilahkan untuk mundur dan kami memberi kesempatan kepada calon kedua untuk maju memperkenalkan diri dan bicara . Silahkan calon kedua , Hek-liong-ong !” .

Raksasa hitam itu muncul di atas panggung dengan suatu lompatan yang membuat jubahnya berkibar seperti sayap burung rajawali , dan kedua kakinya hinggap di panggung tanpa suara . Kakek berusia enam puluh tahun ini berdiri tegak dan kokoh seperti bukit karang dan suaranya juga terdengar keras.

“ Aku adalah Hek-liong-ong Poa Yok Su Majikan Pulau Naga di Laut Timur . Aku mengajukan diri sebagai calon bengcu karena aku melihat kekacauan terjadi di mana-mana . Kalau aku di pilih menjadi bengcu , aku akan memimpin kalian semua untuk menantang kelaliman pemerintah , dan untuk menghancurkan mereka yang mendatangkan kekacauan di antara rakyat . Kini sudah tiba saatnya kita bangkit , mengandalkan kepandaian kita untuk mendatangkan ketentraman dan menghalau semua pengacau dari permukaan bumi !” ucapan itu gagah sekali dan terdengar penuh dengan kekerasan .

Sementara itu , Akauw yang ikut datang bersama Hek-liong-ong , tadi merasa terkejut bukan main mendengar disebutnya nama Yang Cien . Akan tetapi dia belum tahu apakah yang di sebut itu benar Yang Cien suhengnya ataukah bukan . Namun , dia menjadi tegang sekali , juga gembira karena mungkin dia akan bertemu dengan suhengnya yang sudah bertahun-tahun tidak dijumpainya . Ketika gurunya , Hek-liong-ong menyatakan diri menjadi calon , dia merasa senang dan siap untuk membantu gurunya . Dia telah berhasil membujuk gurunya agar menyadari akan buruknya pemerintahan penjajah sehingga gurunya kini ingin menjadi 336

bengcu dan memimpin para kang-ouw untuk memberontak .

Ucapan Hek-liong-ong juga mendapat sambutan sorak-sorai dari mereka yang setuju . Kemudian dia diminta mundur untuk memberi kesempatan bicara kepada calon ketiga , yaitu Sin-to Kwi-ong . Sin-to Kwi-ong yang bertubuh tinggi besar , mukanya bengis , rambutnya riap-riapan itupun melompat ke atas panggung .

“ Cu-wi yang terhormat , aku tidak mempunyai banyak cakap lagi , dan tidak menjanjikan yang muluk-muluk . Akan tetapi pada dasarnya aku setuju dengan apa yang di utarakan calon pertama tadi. Kita harus membantu pemerintah untuk mendatangkan suasana yang tentram dan Makmur . Kita hancurkan semua pemberontak , karena merekalah yang mendatangkan kekacauan yang membuat kehidupan rakyat tidak tentram . Kita orang kang-ouw harus menggunakan kepandaian untuk membuat jasa dan menjadi pembantu-pembantu pemerintah yang tangguh . Aku akan memeloporinya dan kalau aku menjadi bengcu , aku akan mintakan pekerjaan kepada pemerintah untuk semua tokoh kang-ouw !” .

Kembali anak buah Koksu yang menyambut dengan tepuk sorak . Cu Lokai diam-diam maklum bahwa dua orang itu memang anak buah Koksu dan tentu akan bersekongkol untuk memenangkan pemilihan bengcu ini .

Kemudian dia mempersilahkan calon ke empat , yaitu Yang Cien , untuk naik ke atas panggung . Semua orang memperhatikan karena banyak di antara mereka yang belum mengenal siapa Yang Cien. Para utusan partai-partai besar juga ingin sekali tahu siapa orangnya . Terutama sekali Akauw sudah lebih dulu mencurahkan perhatian untuk melihat apakah benar orang itu suhengnya .

Yang Cien melompat ke atas panggung dengan sikap biasa saja . Sederhana dan tidak mengesankan . Semua orang melihat seorang pemuda yang usianya sekitar dua puluh enam 337

tahun , wajahnya berbentuk persegi , gagah dan tampan namun sederhana sekali , matanya mencorong seperti mata naga , mulutnya tersenyum ramah dan sabar . Rambutnya di gelung ke atas dan kepalanya memakai penutup kepala , semacam caping lebar . Bajunya biru potongan baju petani . Kulitnya putih dan nampak kemerahan dan sehat . Alisnya tebal menambah ketajaman matanya , hidung mancung dan dagunya berlekuk . Biarpun pakaiannya sederhana sekali namun sikap dan pembawaannya mengandung wibawa yang kuat . Di punggungnya tergantung sebatang pedang .

Melihat ini Akauw menahan seruannya . Benar , orang itu adalah suhengnya ! Tentu saja dia menjadi girang bukan main . Suhengnya ! Orang yang selama ini paling dekat dengannya .

Yang Cien mengangkat kedua tangan ke depan dadanya , lalu memberi hormat ke empat penjuru , sambil tersenyum dan bersikap tenang saja . Akan tetapi ketika dia sudah mengeluarkan suara , suaranya lantang dan penuh semangat sehingga menarik perhatian semua orang .

“ Cu-wi yang terhormat . Saya di tunjuk oleh para kaipang-cu untuk mencalonkan diri menjadi bengcu . Saya menerimanya dengan rela karena memang perlu sekali adanya seorang bengcu yang akan mempersatukan semua golongan . Seperti cu-wi telah mengetahui , tanah air kita dijajah oleh bangsa lain semenjak puluhan tahun , dan kalau kita semua tidak bersatu dan bertindak , siapa lagi yang akan mampu membebaskan kita ? Kita harus bersatu padu . Tidak peduli dari golongan apa , demi kekuatan bangsa . Karena itulah saya menerima menjadi calon bengcu , dan sekiranya cu-wi nanti memilih saya menjadi bengcu , saya akan berusaha sekuat tenaga saya untuk mempersatukan untuk berjuang bersama , membebaskan rakyat jelata dari pada cengkraman penjajah ! .

Semua anggota kaipang dan juga mereka yang merasa suka mendengar ucapan Yang Cien ini bertepuk tangan , 338

termasuk Akauw .

“ He , Akauw , kenapa engkau bertepuk tangan untuk dia ?” Tanya Hek-liong-ong dalam hatinya katika melihat murid itu bertepuk tangan mendengar pidato Yang Cien . Dia tidak mengerti mengapa muridnya ikut bertepuk tangan dan hal ini mengherankan hatinya . Memang benar bahwa pemuda itu juga bermaksud menggalang persatuan untuk berjuang melawan penjajah seperti juga yang menjadi maksudnya , akan tetapi bagaimanapun juga , pemuda itu adalah saingannya dalam memperebutkan kedudukan bengcu .

Sementara itu , Koksu yang mendengar ucapan itu , lalu mengangkat tangan ke atas minta semua orang tenang . Sebagai anggota pimpinan pemilihan bengcu , dia memang berhak bicara dan dia berkata kepada Yang Cien dengan suara nyaring .

“ Tiga calaon terdahulu sudah dikenal semua orang karena mereka memang merupakan tokoh-tokoh besar . Akan tetapi , engkau adalah seorang pemuda yang sama sekali belum di kenal , maka sebaiknya kalau engkau memperkenalkan diri tentang keadaan dirimu kepada kita semua “ .

Yang Cien memandang kepada Koksu itu . Inilah musuh besarnya . Inilah orang yang menyebabkan kematian ayaj ibunya , dan yang membuat dia dan kakeknya melarikan diri terlunta-lunta . Akan tetapi dia melupakan semua kenangan itu dan menghadapi semua orang . “ Nama saya Yang Cien dan saya di pilih oleh para kaipang untuk menjadi pemimpin dan menjadi wakil mereka dalam pemilihan bengcu “ .

Semua orang membicarakan pemuda yang tidak terkenal itu , dan banyak wakil pimpinan para perkumpulan besar yang masih meragukan kemampuan Yang Cien yang masih muda sebagai seorang beng-cu . Kalau kemampuan tiga orang yang lain mereka sudah tidak meragukannya lagi . Kini pihak pemilih terbagi menjadi dua golongan . Yang segolongan condong memilih Thian-te Ciu-kwi atau Sin-to Kwi-ong yang 339

akan membawa mereka membantu pemerintah dan memperoleh kedudukan . Akan tetapi mereka yang berjiwa patriot dan membenci penjajah , condong memilih Hek-liong-ong . Akan tetapi karena mereka mengetahui bahwa Hek-liong-ong juga seorang datuk sesat , maka mereka banyak pula yang menoleh kepada Yang Cien . Bagaimanapun juga , tidak enak kalau perjuangan menentang penjajah di pimpin oleh seorang datuk sesat .

Kini Cu Lokai yang maju dan bicara . “ Semua ada empat orang calon dan cuwi sudah mendengarkan suara mereka ketika mereka berbicara tadi , mengetahui isi hati mereka . Sekarang , seperti lajimnya dalam pemilihan bengcu , harus dilakukan ujian kepandaian . Siapa yang lebih tangguh dan lebih berhak untuk menjadi bengcu . Kita mengadakan undian siapa yang harus melawan siapa lebih dulu , untuk kemudian pemenang dari dua pertandingan itu di pertandingkan lagi , dan pemenangnya itulah yang berhak mendapat penilaian dan pertimbangan lebih dahulu untuk menjadi bengcu . Dapatkah peraturan ini di setujui ?”

Semua orang berteriak setuju karena di anggap peraturan itu sudah cukup adil . Undian lalu di lakukan dan ternyata hasil undian adalah bahwa peserta pertama , Thian-te Ciu-kwi harus bertanding melawan Hek-liong-ong dan peserta ke tiga , Sin-to Kwi-ong bertanding melawan Yang Cien . Kemudian pemenang dari kedua pertandingan ini akan di pertandingkan untuk merebut kejuaraan dan keluar sebagai pemenang .

Mendengar ini , Hek-liong-ong tertawa bergelak . “ Akauw , pinjamkan pedangmu sebentar !” katanya dan Akauw tidak membantah , memberikan pedangnya kepada suhunya yang memegang pedang itu lalu menghadapi Thian-te Ciu-kwi di atas panggung .

Ketika melihat Hek-liong-ong menggerakkan pedang yang mengeluarkan sinar hitam itu , Yang Cien terkejut bukan main . “ Hek-liong Po-kiam ….. !” katanya dalam hati dan dia 340

merasa heran . bagaimana pedang itu dapat terjatuh ke tangan Hek-liong-ong ? Dia sudah mengambil keputusan untuk menarik Hek-liong-ong menjadi rekan seperjuangan karena tujuan mereka adalah sama , akan tetapi begitu melihat Hek-liong Po-kiam , hatinya menjadi ragu . Apa yang terjadi dengan Akauw maka pedangnya terjatuh ke tangan raksasa hitam itu ?

Melihat lawannya sudah maju dengan pedang hitam di tangan , Thian-te Ciu-kwi juga mencabut pedangnya dan diapun meloncat ke depan Hek-liong-ong dengan marah .

“ Hek-liong-ong , engkau telah mencuri pedang muridku , kembalikan pedang itu kepadaku atau pertempuran ini akan ku buat menjadi pertempuran mati-matian memperebutkan pedang “ .

“ ha-ha-ha , Ciu-kwi , jangan tekebur . Pedang ini sekarang milik muridku dan bukan milikmu , maka engkau tidak berhak memiliki . Kita memperebutkan kedudukan bengcu , bukan pedang . Hayo , mulailah memperlihatkan kepandaianmu !” .

“ Bagus , jangan di kira aku takut menghadapimu , Hek-liong-ong ! Haaiiittt … yaahhhh …. ! “ Thian-te Ciu-kwi mulai menyerang dengan dahsyat , menggunakan pedangnya yang juga merupakan sebatang pedang pusaka untuk menusuk ke arah perut lawan , Hek-liong-ong mengelak dan membalikkan tubuh , membalas serangan itu dengan bacokan kea rah leher . Bacokan ini di lakukan sambil membalikkan tubuh sehingga cepat sekali datangnya , akan tetapi Thian-te Ciu-kwi tidak menjadi gugup . Dengan tenang dan kuat pedangnya menangkis dari samping .

“ Crringgg …. !” Bunga api berhamburan ketika ke dua senjata bertemu dan keduanya merasa betapa tangan mereka bergetar . Akan tetapi , getaran pada tangan Thian-te Ciu-kwi lebih keras dari pada getaran yang di rasakan Hek-liong-ong dan hal ini membuktikan bahwa dalam hal tenaga , Hek-liong-ong masih lebih unggul sedikit dibandingkan lawannya . 341

“ Hyaatttttt ….. !” Thian-te Ciu-kwi kini memainkan Thian-te Sin-kiam ( Pedang Sakti Langit Bumi ) yang dilakukan dengan gerakan cepat bukan main . Pedang di tangannya menyambar-nyambar kadang-kadang dari atas kadang-kadang dari bawah dan pedang itu telah lenyap bentuknya berubah menjadi gulungan sinar kebiruan yang amat hebat , mengeluarkan suara berdesingan dan mendatangkan angina bersiutan .

Akan tetapi , dengan tenang Hek-liong-ong mengimbangi permainan pedang lawannya dengan ilmu pedang Hai-liong-kiamsut ( Ilmu Pedang Naga Laut ) . Juga pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar hitam yang bergelombang pasang yang dahsyat .

Semua orang memandang dengan penuh kagum . Pertandingan antara dua orang datuk ini memang hebat sekali . Kedua memiliki gerakan cepat dan memang sepasang pedang yang ampuh . Maka , dapat dibayangkan betapa hebatnya pertandingan itu . Akan tetapi , setelah lewat lima puluh jurus , nampaklah bahwa dalam hal tenaga , Hek-liong-ong lebih unggul . Beberapa kali , setelah kedua pedang yang mengandung tenaga sinking bertemu , nampak Thian-te Ciu-kwi terhuyung . Dan semakin lama , ayunan pedang hitam Hek-liong-ong semakin kuat saja . Hal ini adalah karena Thian-te Ciu-kwi memiliki kebiasaan minum arak yang secara berlebihan sehingga hal ini sedikit banyak merusak kesehatan tubuhnya .

“ Heeiiittttt …. !” Dengan penasaran Thian-te Ciu-kwi menusukkan lambung kanan lawan .

“ Hyeeehhhh … !” Hek-liong-ong Poa Yok Su mengelak dan pedang terayun cepat sekali menyambar kea rah leher Ciu-kwi . Ciu-kwi terkejut sekali dan terpaksa dia melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang lawan yang hitam . Baru sinar pedang yang hitam itu saja sudah amat berbahaya , apalagi kalau pedang itu mengenai 342

lehernya . Dia terjengkang dan menggulingkan diri , bergulingan mendekati lawan dan pedangnya membabat kea rah kaki Hek-liong-ong .

Hek-liong-ong melompat ke atas lalu meluncur turun menusukkan Hek-liong Po-kiam kea rah leher Ciu-kwi . Ciu-kwi tidak dapat mengelak lagi dan menangkis pedangnya .

“ Traaannggg …. !” pedang itu tertangkis , melewat dan masih menyerempet pundak Ciu-kwi sehingga pundak itu berdarah . Ciu-kwi terhuyung ke belakang dan mukanya berubah merah sekali . Bagaimanapun juga , sudah jelas bahwa pundaknya terluka . Walaupun tidak berat luka itu , namun cukup mengeluarkan banyak darah dan terpaksa dia harus mengakui keunggulan lawan .

“ Hek-liong-ong , engkau memang semakin lihai saja !” katanya dan diapun melompat turun dari atas panggung itu agar jangan menderita malu .

Sorak-sorai dari mereka yang mendukung Hek-liong-ong menyambut kemenangan itu ketika Cu Lokai yang juga diam-diam merasa girang itu mengumumkan bahwa dalam adu ilmu itu Hek-liong-ong telah keluar sebagai pemenang .

“ Sekarang tiba giliran calon ketiga dank e empat untuk menguji kepandaian masing-masing !” kata Cu Lokai dengan suara lantang . Semua orang kini memandang penuh perhatian . Mereka sudah mendengar tentang kehebatan Sin-to Kwi-ong , ketua dari Perkumpulan Golok Setan itu , yang terkenal sekali dengan ilmu goloknya yang lihai dan tenaganya yang amat kuat . Apakah pemuda yang tidak terkenal itu akan mampu menandingi datuk yang namanya terkenal di sepanjang Sungai Huai itu ? .

Akan tetapi , Sin–to Kwi-ong sendiri tidak kelihatan gembiara mendapatkan lawan pemuda itu . Dia pernah bertanding melawan pemuda itu dan dia tidak dapat menganggap pemuda itu sebagai lawan yang ringan . Sama 343

sekali tidak , bahkan dia pernah di desak oleh pemuda yang memiliki gerakan pukulan aneh yang mendatangkan nagin bergelombang amat dahsyatnya . Dan kini dia harus berhadapan lagi dengan pemuda itu ! Akan tetapi , di situ terdapat kawan-kawannya , terutama sekali terdapat Koksu , maka dia tidak takut dan cepat dia mencabut goloknya menghadapi Yang Cien .

“ Bocah she Yang ! Kembali kita berhadapan dan sekali ini aku tidak akan melepaskanmu !” bentaknya.

“ Kwi-ong , kita berdua adalah calon-calon bengcu yang hendak menguji kepandaian masing-masing . Tidak perlu banyak cakap lagi dan silahkan mulai !” jawab Yang Cien . Dia tahu bahwa Raja Iblis ini adalah antek penjajah pula , dan dia sudah pernah merasakan betapa lihainya golok setan di tangan kakek tinggi besar yang berwajah bengis itu .

“ Lihat golok , hyaattt …. !” Sin-to Kwi-ong sudah menerjang dan memutar goloknya . Begitu menyerang dia langsung saja mengeluarkan jurus-jurunya yang paling ampuh karena dia sudah tahu bahwa lawannya lihai .

Yang Cien bergerak cepat , mengelak dari sambaran-sambaran golok itu dan ketika dia menangkis , terdengar suara lantang nyaring bertemunya pedang putihnya dan golok , menimbulkan suara berdentingan dan mendatangkan bunga api berhamburan . Mereka lalu saling serang dengan sengitnya . Pertandingan beberapa bulan yang lalu di ulangi , akan tetapi sekarang pertandingan dilakukan satu lawan satu , tidak seperti dahulu yang terjadi dalam sebuah pertempuran keroyokan yang kacau balau . Apalagi pertandingan kali ini adalah merupakan saling uji kepandaian , terjadi di atas saling uji kepandaian , terjadi di atas panggung di saksikan ratusan pasang mata orang kang-ouw sehingga mereka tidak mungkin dapat melakukan kecurangan .

“ Tring-tring-traanggg …. !” Untuk kesekian kalinya golok itu bertemu dengan pedang dan kini Yang Cien mulai 344

menggunakan pukulan-pukulan jarak jauh dengan tangan kirinya , yaitu pukulan dari ilmu Bu-tek Cin-keng . Biarpun Sin-to Kwi-ong sudah siap menghadapi pukulan aneh itu , dan menangkis , tetap saja dia terhuyung oleh gelombang hawa pukulan yang amat dahsyat itu . Dia terkejut sekali dan berusaha untuk memutar goloknya sambil bergulingan untuk menghindarkan pukulan dan mendesak lawan sambil berguling goloknya membuat bacokan-bacokan dari bawah seperti seekor ular menyerang lawannya . Yang Cien terkejut dan cepat dia berlompatan untuk menghindarkan diri dan ketika mendapat kesempatan , selagi dia menangkis dan pedangnya menempel ketat dengan golok lawan , dia pun membarengi dengan dorongan tangan kirinya . Itulah jurus ampuh sekali dari Bu-tek Cin-keng yang di sebut Tangan Dewa Keluarkan Kilat .

Hawa pukulan sinkang yang amat kuat mencuat dari telapak tangan itu . Kwi-ong masih berusaha untuk menyambut dengan tangan kirinya , akan tetapi dia mengeluh dan tubuhnya terjengkang ke belakang dan diapun roboh dan muntah darah ! .

Yang Cien tidak melanjutkan serangannya , melainkan berdiri menunggu dengan pedang di tangan . Sin-to Kwi-ong merangkak bangun dan Lai Seng sudah meloncat ke atas panggung untuk membantu mertuanya bangkit berdiri lalu keduanya meninggalkan panggung . Sorak sorai bergemuruh menyambut kemenangan ini yang di umumkan oleh Cu Lokai .

Diam-diam Cu Lokai dan para pejuang yang menentang penjajahan merasa gembira bukan main . Yang menang adalah Hek-liong-ong dan Yang Cien , justeru dua orang calon yang berpihak kepada pejuang dan menentang penjajahan , Koksu berdiri dengan muka sebentar merah sebentar pucat . Dia merasa terpukul sekali karena dua orang jagoannya telah kalah . Dia sendiri sebagai Koksu tentu saja tidak dapat mengajukan diri sebagai calon bengcu dan yang menang 345

adalah dua orang yang berjiwa pemberontak .

Sementara itu , Hek-liong-ong yang haus kemenangan itu , melihat betapa Yang Cien keluar sebagai pemenang , langsung tanpa menanti pengumuman Cu Lokai lagi lalu menantang Yang Cien , “ Orang muda , pemenangnya adalah engkau dan aku . Marilah kita berdua mengadu kepandaian untuk menentukan siapa di antara kita yang berhak menjadi bengcu !” Setelah berkata demikian , dia mengangkat Pedang Pusaka Naga Hitam yang di pinjamnya dari muridnya .

“ Suhu , jangan !” Tiba-tiba Akauw meloncat ke atas panggung dan melihat pemuda ini , Yang Cien kaget dan heran , juga girang bukan main .

“ Sute ….. !”

“ Suhu , dia adalah suhengku sendiri . Harap suhu suka mengalah dan menyerahkan kedudukan bengcu kepada suheng ! “ kata Akauw kepada suhunya .

“ Ha-ha , dia harus mengalahkan aku lebih dulu kalau mau menjadi bengcu “ , bentak Hek-liong-ong .

Yang Cien girang melihat kenyataan bahwa sutenya bukan menjadi antek Kerajaan Mongol seperti yang pernah di dengarnya dari Thio Cid an Thio Kui , melainkan sutenya menjadi murid seorang datuk yang juga berjiwa pejuang ! .

Pada saat itu , terdengar teriakan panjang dan nyaring , “ Hek-liong-ong dan Yang Cien , kalian hendak menggerakkan dunia kang-ouw untuk memberontak kepada pemerintah . Atas nama kaisar kami akan menangkap kalian . Menyerahlah , tempat ini sudah di kepung !” Ternyata yang berteriak itu adalah Koksu dan benar saja , tempat itu kini telah dikepung pasukan yang agaknya telah dipersiapkan secara diam-diam oleh Koksu .

“ Curang !” teriak Hek-liong-ong melihat ini .

“ Toat-beng Giam-ong , urusan pemilihan bengsu tidak ada 346

hubungan dengan pemerintah !” kata pula Cu Lokai dengan marah melihat kecurangan Koksu yang menggunakan kesempatan itu untuk mengerahkan pasukan , bukan saja mencampuri pemilihan bengcu di dunia kangouw , bahkan hendak melakukan penangkapan .

“ Saudara-saudara sekali , siapa yang membantu kami menangkapi pemberontak , akan mendapat pahala , sebaliknya yang membantu pemberontak akan di tangkap dan di hokum berat !” berulang-ulang Koksu berteriak dan pasukan mulai mengepung tempat itu dengan ketat .

Dengan sendiri nya Lai Seng , Bong Kwi Hwa , Sin-to Kwi-ong , Thian-te Ciu-kwi , Gu Moko , Huangho Sam-houw dan para anak buah Koksu sudah siap dengan senjatanya masing-masing untuk melakukan pengeroyokan dan penangkapan .

Melihat ini , Hek-liong-ong marah sekali . Dia menyerahkan pedangnya kepada muridnya dan sebagai gantinya Pedang Pusaka Naga Hitam , dia menggunakan pedangnya sendiri yang panjang besar . “ Kauw Cu , mari kita hajar antek-antek Mongol ini !” .

Akauw mengeluarkan suara gerengan dahsyat dan dia sudah menerjang ke arah Koksu dengan keberanian luar biasa . Akan tetapi Thian-te Ciu-kwi , bekas gurunya . menghadangnya dengan pedang di tangan sehingga terpaksa Akauw menyerangnya . Bekas guru dan murid ini bertanding sendiri , akan tetapi sebentar saja Akauw sudah di keroyok banyak orang . Hek-liong-ong juga sudah di keroyok oleh Sin-to Kwi-ong yang di bantu puterinya , Bong Kwi Hwa . Para pasukan juga mulai bergerak hendak menangkap Yang Cien .

Melihat keadaan ini , banyak wakil para perkumpulan besar yang tidak mau melibatkan diri lalu meninggalkan tempat itu . Akan tetapi banyak pula yang mebela kaum pemberontak sehingga terjadilah pertempuran sengit di tempat itu .

Im-yang To-kouw melihat kesempatan ini , sudah 347

menggerakkan kebutan dan pedangnya , menyerang Lai Seng dengan kemarahan meluap-luap karena ia teringat akan muridnya yang menjadi korban kejahatan pemuda ini sehingga tewas .

“ Jahanam busuk , engkau harus menebus dosamu terhadap murid pin-ni Kwe Sun Nio !” bentaknya dan kebutan serta pedangnya menyerang dengan dahsyat sehingga Lai Seng terdesak mundur . Akan tetapi isterinya yang tadinya membantu ayah mertuanya , sudah meninggalkan orang tua itu untuk membantunya sehingga To-kouw itu di keroyok dua , Sin-to Kwi-ong yang di tinggalkan puterinya , terdesak oleh Hek-liong-ong , akan tetapi segera dia di bantu oleh Huang-ho Sam-houw sehingga keadaan mereka berimbang lagi .

Lui Koksu sendiri tidak mau melepaskan Yang Cien . Dia melihat bahwa pemuda itu amat berbahaya , agaknya mendapatkan banyak sekali pendukung , oleh karena itu harus lebih dulu di tangkap atau di bunuh . Maka dia sendiri yang meloncat dan dia sudah memainkan golok gergajinya dengan hebat sekali menyerang Yang Cien . Yang Cien menggunakan Pek-liong Po-kiam menyambut dan terjadilah pertandingan yang paling hebat di antara mereka .

Biarpun semua anggota Hek I Kaipang juga bangkit dan melakukan perlawanan , namun jumlah pasukan jauh lebih banyak sehingga Yang Cien maklum bahwa pertempuran itu tidak akan menguntungkan pihaknya kalau di lanjutkan .

“ Kwan-kawan , munduuuurrrr ………. !” bentaknya berulang-ulang dan dia sendiri sudah meloncat meninggalkan Koksu , mengamuk di antara pasukan musuh , merobohkan banyak orang . Perbuatannya ini di turu pula oleh Akauw , Hek-liong-ong , Im-yang To-kouw , para kai-pangcu dan semua yang membela pihak pejuang sehingga pasukan yang tadinya mendesak terpaksa mundur . Kesempatan ini dipergunakan mereka untuk melarikan diri dan pasukan tidak berani mengejarnya . Juga Koksu tidak berani mengejar 348

sendiri-sendiri karena di pihak musuh terdapat banyak sekali orang pandai . Pengejaran hanya di lakukan oleh pasukan yang terpimpin dan ini sukar sekali karena para pemberontak itu melarikan diri cerai berai .

Jauh dari tempat itu , para pejuang berkumpul kembali . Hek-liong-ong sudah lenyap seleranya untuk menjadi beng-cu . Dia memang tadinya terbakar semangatnya oleh sikap muridnya saja , setelah melihat betapa sukarnya mengurus dan memimpin dunia kang-ouw menghadapi pemerintah penjajah , dengan rela dia mengalah dan menyerahkan kedudukan beng-cu kepada Yang Cien , sesuai dengan permintaan muridnya .

“ Orang muda , engkau cukup gagah dan bijaksana untuk menjadi bengcu . Baiklah , aku mengundurkan diri dari kedudukan bengcu dan ku serahkan kepadamu . Kalau kelak usahamu sudah berhasil , menghimpun kekuatan untuk mengusir penjajah dari tanah air , aku Hek-liong-ong akan membantumu sekuat tenaga “ .

“ Terima kasih lo-cian-pwe . Saya harap lo-cian-pwe merelakan sute Cian Kauw Cu menjadi pembantuku “ .

“ Baik , dia memang sudah selesai belajar dariku . Kauw Cu , jangan mengecewakan aku yang pernah menjadi gurumu . Jadilah pejuang yang gagah perkasa dan kelak mengangkat pula namaku yang menjadi gurumu “ .

“ Harap suhu jangan khawatir . Di samping suheng Yang Cien , aku akan berkerja sebaik mungkin “ , jawab Akauw yang merasa gembira sekali dapat berkumpul kembali dengan suhengnya .

Im-yang To-kouw juga menyatakan mendukung Yang Cien dan siap dengan anak buahnya kalau saat perjuangan sudah tiba , kemudian To-kowu ini meninggalkan tempat itu sambil berpesan , “ Yang-taihiap , harap engkau cari kesempatan untuk membunuh Lai Seng demi muridku . Aku telah gagal 349

membunuhnya karena dia di bantu banyak orang “ .

“ Jangan khawatir , lo-cian-pwe , Tanpa adanya urusan penasaran dari nona Kwe , orang yang bernama Lai Seng itu memang pantas untuk di lenyapkan dari permukaan bumi dimana dia hanya membuat kotor dengan kejahatannya saja “ , jawab Yang Cien .

Para tokoh lain yang tadi ikut membela para pejuang juga pamit dan mereka semua menyatakan mendukung Yang Cien sebagai beng-cu dan berjanji akan membantu kalau saat perjuangan tiba . Yang tinggal hanyalah para kaipang-cu , termasuk Akauw tidak mau berpisah lagi dari suhengnya .

Sementara itu , Koksu membuat beng-cu tandingan . Dia mengangkat Thian-te Ciu-kwi sebagai bengcu dari golongan orang kang-ouw yang memihak pemerintah . Dan terutama para tokoh kang-ouw golongan sesat banyak yang mengakui Thian-te Ciu-kwi sebagai bengcu dan mereka merupakan segolongan orang kang-ouw yang siap melakukan tugas yang diberikan Koksu melalui Thian-te Ciu-kwi .

Dan mulailah Koksu menyebar pasukan dengan di bantu orang-orang kangouw untuk mengejar mereka yang berpihak kepada pejuang untuk di tangkapi atau di bunuh . Terjadilah perpecahan di dunia kang-ouw karena ulah Koksu ini . Akan tetapi , para pimpinan perkumpulan-perkumpulan silat yang besar tidak mau terseret dalam permusuhan antara dua kelompok orang kang-ouw ini . Mereka hanya menanti dan diam-diam di antara mereka banyak yang siap kalau tiba waktunya mengadakan perlawanan terhadap penjajah . Mereka pun sebagian besar tidak rela melihat tanah air di jajah oleh bangsa Toba .

-oo0dw0oo-

“ Sute , sudah lama sekali aku mencarimu dan beruntung kita bisa bertemu di pemilihan beng-cu itu . Kemana saja engkau selama ini , sute ?” Tanya Yang Cien ketika dia sempat 350

bicara berdua saja dengan Akauw .

“ Ah , panjang sekali ceritanya , suheng . Aku telah mengalami banyak sekali peristiwa yang aneh-aneh . Bahkan aku pernah berguru kepada dua orang , yang pertama adalah Thian-te Ciu-kwi , dan yang kedua adalah Hek-liong-ong itulah . “ Lalu dengan panjang lebar Akauw menceritakan semua pengalamannya sejak dia meninggalkan Lembah Iblis .

“ Dan engkau pernah menjadi panglima yang membantu kaisar Kerajaan Toba ?” .

“ Itulah , Suheng . Karena aku menjadi murid Thian-te Ciu-kwi , maka aku di ajak ke kota raja dan menghadap Koksu dan Perdana Menteri Ji . Disana aku diangkat menjadi panglima . Akan tetapi sama sekali aku tidak melupakan pesanmu , juga tidak pernah melakukan kejahatan , juga tidak sewenang-wenang . Memang ketika aku melakukan penyelidikan atas gerakan para pemberontak . Akan tetapi kemudian aku menyadari bahwa yang di sebut para pemberontak itu bukanlah penjahat , melainkan mereka yang hendak berjuang membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkraman penjajah .

Karena itu , aku lalu meninggalkan Thian-te Ciu-kwi , meninggalkan kedudukanku . Ketika itu , Thian-te Ciu-kwi tidak keberatan aku mengundurkan diri akan tetapi dia minta agar aku menyerahkan Hek-liong Po-kiam kepadanya . Tentu saja aku menolak permintaannya itu dan pada saat itu , po-kiam itu terampas dari tanganku oleh Hek-liong-ong yang amat lihai . Aku lalu mengejarnya sampai ke Pulau Naga , tempat tinggalnya setelah mengalami banyak hal yang luar biasa . Ternyata dia bukanlah orang yang terlalu jahat , bahkan dia suka kepadaku dan mengangkatku sebagai muridnya . Pedang itu pun dia kembalikan kepadaku dan akhirnya aku berhasil membujuknya untuk menjadi seorang pejuang yang menentang pemerintah penjajah “ .

“ Ah , begitukah ? Tadinya aku sudah heran sekali bahkan 351

tidak percaya kalau engkau menjadi panglima , menjadi antek penjajah . Sungguh melegakan hati mendengar ceritamu , sute . Sekarang kau bentulah aku menyusun kekuatan . Kita tidak boleh tergesa-gesa memimpin mereka untuk berjuang menentang pemerintah . Pasukan pemerintah terlalu kuat untuk dapat di kalahkan begitu saja , kita harus menyusun kekuatan , mempersatukan segenap kekuatan dari empat penjuru . Aku sudah mempunyai kekuatan yang mendukungku , dan kekuatan itu cukup besar , terdiri dari semua kaipang ( perkumpulan pengemis ) di empat penjuru . Kalau mereka itu di latih berperang , tentu akan merupakan kekuatan yang hebat . Dan kita pun di dukung oleh partai-partai persilatan besar yang sudah menjanjikan bantuan kalau saat perjuangan tiba .

“ Dan bagaimana dengan engkau sendiri , suheng ? Apa saja yang terjadi denganmu setelah kita berpisah ?” .

Yang Cien menceritakan pengalamannya . Dia belum lama meninggalkan Lembah Iblis dan begitu tiba di dunia ramai langsung saja dia bertemu dengan para kaipang yang kemudian mendukungnya , bahkan meilih dia menjadi calon beng-cu , mengangkatnya menjadi pemimpin besar para kai-pang .

“ Aku mempunyai tugas penting untukmu , sute “ .

“ Katakanlah , tugas apa itu ? Aku akan senang sekali melakukannya untukmu , suheng “ .

“ Aku minta engkau menyeberang ke selatan dan menyelidiki keadaan kerajaan Sun di selatan . Kerajaan itu kecil saja akan tetapi aku mendengar bahwa Kerajaan Sun memiliki pasukan yang cukup kuat . Ku rasa , di selatan itu dapat kita jadikan pangkalan pertama yang amat baik untuk menghimpun kekuatan “ .

“ Akan tetapi , apakah Raja Kerajaan itu akan membolehkannya ?” . 352

“ Karena itulah , kita harus mengadakan kontak dengannya dan aku mempercayakan kepadamu , sute . Aku akan menulis sepucuk surat untuk Sun Huangte , atas nama seluruh kai-pang . Dan coba kau hubungi kai-pang yang berada di sana , tentu mereka sudah mendengar tentang diriku yang di angkat oleh semua kai-pang menjadi pemimpin besar . Kalau sikap para kai-pang mendukung , tentu mereka akan dapat membantumu di selatan sana “ .

Akauw memaklumi betapa penting tugas yang dibawanya , maka dia lalu membuat persiapan . “ Berhati-hatilah , sute , dan jangan mudah terseret oleh perasaanmu , jangan mudah terpancing ke dalam perkelahian yang tidak ada gunanya . Engkau harus dapat menunjukkan kepada Sun Huang-te bahwa kedatanganmu mengajak kerjasama menentang pemerintah penjajah Toba “ .

“ Aku mengerti , suheng “ .

Beberapa hari kemudian , berangkatlah Akauw seorang diri , membawa bekal surat dari Yang Cien , menyeberang Sungai Huai memasuki daerah Kerajaan Sun yang berada di sebelah selatan sungai itu .

Setelah sutenya pergi , Yang Cien yang duduk seorang diri di pondoknya sambil memutar otak , tiba-tiba kedatangan dua orang yang pernah di temui beberapa bulan yang lalu . Mereka adalah kakak beradik Yen , yaitu Yen Gun dan Yen Sian , putera dan puteri Gubernur Yen Kan dari Lok-yang yang di tangkap kaisar .

“ Silahkan , kongcu , siocia . Silahkan duduk “ , kata Yang Cien mempersilahkan . Pernah ketika dia berkunjung ke tempat tinggal Thio Cid an Thio Kui , dia di pertemukan dengan putera puteri Gubernur yang gagah perkasa itu dan dia menghibur mereka untuk bersabar .

“ Perjuangan memang membutuhkan korban , “ katanya pada waktu itu . “ Dan kebetulan ayah ji-wi yang menjadi 353

korban . Akan tetapi karena belum terdapat bukti-bukti bahwa ayah ji-wi melakukan pemberontakan kukira beliau tidak akan di hokum , hanya di tahan saja sambil mereka mencari bukti-buktinya dulu . Sekarang hendaknya ji-wi tinggal bersama para anggota kai-pang agar tidak sampai tertangkap , karena tentu kaki tangan Koksu akan mencari ji-wi kemana-mana “ .

Demikianlah , kakak beradik itu bersembunyi di dalam perkumpulan pengemis Baju Hitam . Bahkan ketika terjadi pemilihan bengcu di Thai-san , mereka tidak berani muncul karena kalau mereka ketahuan , mereka pasti di tangkap . Mereka di anggap sebagai pelarian , sebagai keluarga Gubernur Yen terdekat .

“ Apa yang membawa ji-wi pagi ini datang ke sini ?” Tanya Yang Cien sambil memandang mereka dengan penuh selidik . Dia kagum sekali kepada kakak beradik yang gagah perkasa ini , sebagai pemuda pemudi bangsawan dapat menyesuaikan diri dan hidup di antara para pengemis tanpa merasa risih .

“ Yang-taihiap , kami sudah tidak bersabar lagi !” kata Yen Sian sambil menatap tajam wajah Yang Cien . “ Kami tidak mungkin dapat membiarkan saja ayah dan ibu merana dalam tahanan . Akan tetapi Thio-pangcu selalu melarang kami untuk bertindak . Karena itu kini kami menghadap tai-hiap untuk mohon pertimbangan . Bagaimana baiknya , apakah kita harus mendiamkan saja ayah dan para ibu meringkuk dalam tahanan tanpa keputusan ?” .

“ Kalau menurut kehendakmu , apa yang akan kau lakukan , Yen-siocia ?” , Tanya Yang Cien dengan ramah .

“ Kami minta persetujuanmu untuk bertindak , taihiap . Kalau mungkin , kami akan senang sekali apabila mendapat bantuan beberapa orang teman dari Hek I Kaipang , akan tetapi kalau tidak , kami ingin bertindak sendiri membebaskan ayah dan ibu dari dalam tahanan !” .

“ Akan tetapi , tindakan itu berbahaya sekali dan juga tidak 354

ada gunanya , nona . Kalian pasti akan gagal karena penjagaan pada rumah tahanan di kota raja ketat sekali . Katakanlah ji-wi akan berhasil meloloskan Gubernur Yen dari rumah tahanan , akan tetapi bagaimana akan mampu lolos keluar dari kota raja ? Usaha itu akan sia-sia bahkan amat membahayakan ji-wi sendiri “ .

“ Kami tidak takut mati !” kata Yen Sian .

“ Aku percaya , nona , dan aku kagum melihat kebaktian nona dan keberanian , akan tetapi ingatlah bahwa mungkin sekali membahayakan orang tuamu sendiri kalau berusaha lari lalu tertangkap di sana.

Banyak nasehat diberikan Yang Cien kepada Yen Gun dan Yen Sian , akan tetapi agaknya kakak beradik ini tidak merasa puas . Terutama sekali Yen Sian yang tidak dapat tinggal diam melihat orang tuanya menjadi tawanan di kota raja .

Akhirnya , seperti yang di khawatirkan Yang Cien , pada suatu pagi , kakak beradik itu pergi tanpa pamit ! Yang Cien merasa khawatir sekali . Sebetulnya , hal ini bukanlah urusannya . Dia sudah lebih dari cukup memberi nasehat dan saran , akan tetapi kalau kakak beradik itu bersikeras untuk mencoba melepaskan ayah ibunya dari tahanan , apa yang dapat dia lakukan ? Bagaimanapun juga , tidak kuat hatinya membayangkan Yen Sian tertangkap orang-orangnya Koksu . Tak mungkin dia membiarkan saja gadis itu di tawan dan dalam bahaya maut .

Maka dia pun segera berangkat mengejar .

Yen Gun dan Yen Sian memang sudah nekat . kakak beradik ini tidak suka makan dan tidak dapat tidur setiap kali mereka teringat kepada ayah dan ibu dan seluruh keluarga yang menjadi tawanan di kota raja . Mereka nekat untuk mencoba membebaskan ayah dan ibu mereka dari tahanan musuh , tidak peduli bahwa kota raja merupakan tempat yang berbahaya sekali bagi mereka . Dengan mengenakan pakaian 355

ringkas mereka berangkat berdua , menggendong buntalan pakaian dan membawa pedang , menuju ke utara .

-oo0dw0oo-

Jilid 12

Akan tetapi , baru dua hari mereka melakukan perjalanan , mereka sudah menghadapi ancaman bahaya . Pada suatu pagi selagi mereka berjalan mendaki lereng sebuah bukit , tiba-tiba saja di sebuah tikungan muncul belasan orang dan mereka tidak sempat lagi menghindar . Dapat di bayangkan betapa kaget hati mereka melihat bahwa mereka adalah sepasukan perajurit pemerintah yang di pimpin oleh seorang panglima muda dan seorang wanita cantik . Panglima itu adalah Lai Seng bersama isterinya , Bong Kwi Hwa . Betapa girang hati Lai Seng ketika melihat bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang pelarian , putera dan puteri Gubernur Yen . Dia sendiri tidak segera mengenal mereka , akan tetapi seorang pembantunya mengenal kedua orang muda itu dengan baik .

“ Lai-ciangkun , merekalah kong-cu dan sio-cia Yen , putera – puteri Gubernur Yen yang di cari-cari “ .

“ Bagus , kita tangkap mereka !” .

Isterinya yang melihat betapa tampannya Yen Gun , segera berbisik kepada suaminya , “ Yang laki-laki untuk aku dan yang wanita untukmu , malam ini kita bersenang-senang “ .

Lai Seng mengerti apa yang di kehendaki isterinya yang cabul itu . Dia mengerutkan alisnya . “ Jangan main-main , isteriku . Mereka adalah orang-orang penting dan kalau kita berhasil menangkapnya , hidup atau mati , kita akan mendapatkan pahala besar dari Sri Baginda !” .

Bong Kwi Hwa agak cemberut mendengar penolakan ini , akan tetapi ia tidak lagi membantah . Yen Gun dan Yen Sian tidak sempat menyingkir lagi dan terpaksa mereka 356

menghadapi Lai Seng dan anak buahnya .

“ Dua saudara Yen , kalian memang kami cari-cari , hayo menyerah menjadi tawanan kami sebelum kami menggunakan kekerasan ! “ kata Lai Seng sambil mencabut pedangnya .

Yen Gun dan Yen Sian juga mencabut pedang mereka . “ Sebelum mati pantang menyerah !” bentak mereka dan keduanya sudah menerjang kea rah Lai Seng dan Bong Kwi Hwa . Mereka berdua segera di kepung dan di keroyok . Terjadi lah perkelahian yang seru . Sebetulnya , tingkat kepandaian kakak beradik Yen itu sudah cukup tinggi dan seimbang dengan kepandaian Lai Seng maupun Bong Kwi Hwa , akan tetapi karena Lai Seng dibantu oleh tujuh belas orang anak buahnya , maka dua orang kakak beradik itu menjadi terdesak hebat . Mereka berdua memainkan ilmu pedang Gobi-pai yang indah dan cepat gerakannya . Akan tetapi karena suling perak Lai Seng amat lihai , di tambah lagi permainan pedang Bong Kwi Hwa yang berbahaya sekali dengan Kwi-kiam-sut ( Pedang Setan ) maka kedua orang kakak beradik itu mulai terdesak dan mereka terus mundur .

Bong Kwi Hwa yang tidak diperbolehkan mempermainkan Yen Gun menjadi marah dan ialah yang mendesak pemuda itu , sedangkan Lai Seng mendesak Yn Sian , di bantu oleh anak buahnya . Yen Sian , mempertahankan diri dengan memutar pedangnya , akan tetapi pada suatu saat , setelah ia bertahan lebih dari lima puluh jurus , suling perak itu menghantam pundaknya dan tubuh gadis itu terhuyung ke belakang . Kesempatan ini dipergunakan oleh Lai Seng untuk menendang dan robohlah Yen Sian ! .

Melihat ini , Yen Gun mengamuk untuk melindungi adiknya yang sudah roboh . Akan tetapi dia sendiri di serang habis-habisan oleh wanita cantik itu sehingga dia tidak berdaya untuk melindungi Yen Sian . Pada saat yang amat berbahaya bagi kedua orang kakak beradik itu , tiba-tiba terdengar suara teriakan melengking dan nampak gulungan sinar putih yang 357

datang menyambar-nyambar . Lai Seng dan Bong Kwi Hwa yang menangkis dengan pedang mereka terdorong mundur ke belakang . Mereka terkejut dan melihat bahwa yang muncul adalah Yang Cien , pemuda yang di pilih menjadi beng-cu oleh kaum pemberontak itu ! .

Yang Cien cepat memanggul tubuh Yen Sian yang pingsan dan berkata kepada Yen Gun , “ Yen-kongcu , pergilah !”

Yen Gun tahu diri . Pihak lawan terlalu banyak , maka diapun melompat pergi dari situ . Yang Cien yang memanggul tubuh Yen Sian mengikuti dari belakang dan tidak ada yang berani mengejarnya . Lai Seng dan juga Bong Kwi Hwa maklum bahwa mereka berdua bukan tandingan bengcu itu yang sudah pernah mengalahkan ayah Bong Kwi Hwa , yaitu Sin-to Kwi-ong . Apalagi di samping pemuda perkasa itu masih ada Yen Gun yang tidak boleh di pandang ringan . Karena itu , biarpun dengan hati mendongkol sekali , Lai Seng dan isterinya tidak berani melakukan pengejaran dan terpaksa membiarkan Yang Cien membawa pergi gadis yang sudah terluka itu .

Dua orang penting , putera dan puteri Gubernur Yen dari Lok-yang tidak dapat di tangkap .

Sementara itu dengan cepat Yang Cien mengajak Yen Gun mencari tempat sunyi di dalam sebuah hutan . Setelah mendapatkan sebuah kuil kosong , dia membawa masuk tubuh Yen Sian yang masih lemah ke dalamnya , lalu dia menyuruh Yen Gun untuk berjaga di depan kuil dan dia sendiri lalu mengobati luka di pundak Yen Sian . Untuk itu , perlu dikerahkan sin-kang karena luka oleh suling perak itu mengandung racun . Dia menurunkan Yen Sian rebah menelungkup .

Kedua tangannya lalu di letakkan di punggung dan pundak , dan dengan pengerahan sin-kangnya , dia mendorong keluar hawa beracun dari pundak yang terkena pukulan suling itu . 358

Akhirnya luka itu dapat disembuhkan , hanya tubuh Yen Sian masih lemah dan ia menangis sesunggukan setelah sembuh kembali . Yang Cien menghiburnya .

“ Untung engkau dan kakakmu tidak tertawan , nona “ .

“ Akan tetapi kami gagal …………. “ .

Gadis itu menangis . “ Bahkan kami hamper celaka . Kalau tidak engkau yang menolong , taihiap ……… kami juga menjadi tawanan . Ah , sampai kapan aku akan dapat menolong ayah ibu ?” .

“ Nona , hal itu jangan di pikirkan dulu . Tidak mungkin menyelidiki ke sana membebaskan tawanan . Sama saja dengan membunuh diri . Di Lok-yang , selama tidak ada gerakan pemberontakan , maka semua tuduhan atas diri ayahmu belum terbukti , maka kurasa Kaisar juga tidak akan menjatuhkan hukuman . Aku juga sudah memerintahkan semua saudara kang-ouw di daerah Lok-yang agar jangan memperlihatkan gerakan apapun . Kita perlu menyusun kekuatan lebih dulu sebelum bergerak . Nona ,perjuangan memang menghendaki pengorbanan . Percayalah , pengorbanan keluarga nona tidak akan sia-sia . Ayah nona adalah seorang pahlawan besar bagi perjuangan bangsa kita . Kerajaan Wei yang sesungguhnya adalah Kerajaan Bangsa Toba dan Mongol itu , satu waktu pasti akan dapat kita hancurkan !” Yang Cien mengepal tinju penuh semangat .

“ Tapi , melihat ayah dan ibu menderita di penjara dan aku sebagai anaknya tidak berdaya menolong mereka , sungguh merupakan siksaan batin yang hebat , taihiap …. “ Gadis itu menangis lagi .

Yang Cien merasa kasihan sekali . Bayangkan saja , seorang gadis puteri gubernur yang biasanya hidup mewah , terhormat , kini tiba-tiba di tinggalkan semua itu , bahkan di tinggalkan ayah ibu dan seluruh keluarga yang menjadi orang tahanan yang sewaktu-waktu nyawanya terancam bahaya 359

maut . Betapa tidak hancur hatinya .

“ Nona “ , ia menyentuh pundak gadis itu dengan hati yang terharu . “ Besarkan hatimu , tabahkan hatimu , ini semua nasib dan kita harus mengubah nasib itu dengan perjuangan “ .

Yen Sian yang merasa betapa hatinya hancur itu terisak-isak dan entah bagaimana ia sudah jatuh ke dalam rangkulan Yang Cien . Pemuda ini merasa iba sekali dan Yen Sian merasa mendapatkan tempat berlindung dan tempat menyandarkan diri .

“ Sian-moi , jangan bersedih , jangan menangis …. “ Yang Cien tiba-tiba menyebutnya adik , tidak dapat menyebut nona lagi .

“ Cien-ko … bantulah … bantulah aku agar aku dapat menahan semua ini …. “ Yen Sian menangis sambil bersandar ke dada pemuda itu . Dalam keadaan seperti itu , keduanya seperti membuka rahasia hati mereka bahwa mereka itu saling mencinta , cinta yang mungkin dinyalakan melalui rasa iba di satu pihak dan terima kasih di lian pihak . Jalan menuju cinta memang berliku-liku . Dari rasa iba yang mendalam dapat saja timbul cinta . Dari budi kebaikan juga dapat timbul rasa cinta .

Setelah kedukaannya mereda , mereka lalu keluar dari dalam kuil dan Yen Gun merasa lega melihat adiknya tidak apa-apa .

“ Sukurlah kalau adikku sudah tidak apa-apa , lukanya sudah sembuh . Banyak terima kasih atas pertolonganmu , Yang-taihiap , kalau tidak ada taihiap datang menolong , tentu kami berdua sudah tertangkap musuh “ , katanya .

“ Koko , sudah bukan waktunya lagi bagi kita untuk bersungkan-sungkan dan menyebut taihiap kepada Cien-ko . Bukankah kita sekarang sudah seperti keluarga sendiri ? Bukankah begitu , Cien-ko ?” . 360

Yang Cien mengangguk dan tersenyum . “ Benar apa yang di katakana oleh Sian-moi , Gun-twako “ .

Pernyataan ini membuat wajah Yen Gun berseri gembira dan sedikit banyak dia sudah dapat menduga bahwa ada hubungan yang lebih mendalam antara adiknya dan pendekar sakti itu .

“ Ah , banyak terima kasih , Cien-te ( adik Cien ) atas kehormatan yang diberikan kepada kami . Sekarang kita akan kemana ?” .

“ Tidak ada lain jalan , kita harus kembali . Aku bermaksud untuk menemui Gubernur Gak dan Coa-ciangkun , melihat bagaimana sikap mereka dalam menghadapi penangkapan Gubernur Yen di Lok-yang , sekalian memperkenalkan diri “ .

“ Cien-ko , biarkan aku ikut membantumu . Membantu perjuanganmu bagiku sama dengan membantu pelepasan ayah ibuku , karena mereka itu di tangkap demi perjuangan melawan pemerintah penjajah pula “ .

“ Baik , Sian-moi , engkau boleh ikut denganku agar Gubernur Gak percaya . Dan ku harap Gun-ko suka menyusul Akauw ke selatan , melakukan penyelidikan terhadap Kerajaan Sun . Nanti sehabis menemui Jendral Gak dan Coa-ciangkun , kamipun akan menyusul ke selatan “ .

Yen Gun menyanggupi dan berangkatlah mereka ke selatan . Sejak saat itu , hubungan antara Yen Sian dan Yang Cien semakin akrab dan keduanya tidak syak lagi bahwa mereka saling mencinta . bagi Yang Cien , Yen Sian adalah seorang gadis yang bangsawan , gagah perkasa , berbudi dan juga berjiwa pahlawan sehingga pantas untuk menjadi kekasih dan pasangannya .

-oo0dw0oo-

Kita tengok keadaan di Kerajaan Sun . Kerajaan ini berada di selatan dengan Sungai Huai , dan kota rajanya adalah Nan 361

king . Sebuah Kerajaan kecil , sisa dari kerajaan yang dulu dikalahkan oleh Kerajaan Wei di jaman Sam-kok Kerajaan Toba masih menggunakan nama Kerajaan Wei , walaupun sesungguhnya yang berkuasa adalah orang-orang bersuku Bangsa Toba , sebuah suku Bangsa Mongol yang besar . Kerajaan Sun dipimpin oleh Sun Huang-te yang sudah berusia limapuluh tahun . Kerajaan ini kecil saja , namun cukup kuat dan telah mengerahkan pasukannya di perbatasan utara untuk membendung gerakan kerajaan Wei atau Toba yang hendak menundukkannya .

Musuh besar pasukan Sun Huang-te ini adalah pasukan yang di pimpin oleh Coa-ciangkun yang berada di sepanjang Sungai Huai . Coa-ciangkun dengan pasukannya itu selalu menyerang pasukan Sun di sepanjang perbatasan , akan tetapi mendadak saja Sun Huang-te menerima kontak dari Koksu Kerajaan Toba yang aganya menawarkan perdamaian ! Bahkan pasukan Coa-ciangkun , walaupun tidak di tarik mundur dari perbatasan , mulai menghentikan serangannya .

Sun Huang-te adalah seorang kaisar yang lemah pula . Pekerjaan sehari-hari hanya mengejar kesenangan pribadi , pelesir dan mengumpulkan selir yang cantik-cantik sebanyak mungkin . Bagian atau daerah selatan memang terkenal dengan wanita-wanitanya yang lembut dan cantik . Pengejaran kesenangan ini tentu saja membuat pemerintahannya menjadi lemah dan kekuasaan terjatuh ke tangan para thaikam dan para pejabat tinggi . Terutama sekali Ouw-yang Koksu , dia boleh di bilang menjadi penguasa tertinggi karena urusan pemerintahan hamper sebagian besar berada di tangannya ! Kaisar yang malas mengurus urusan Negara itu menyerahkannya kepada Ouw-yang Kok-su sehingga kekuasaan Koksu ini amat besar untuk Kerajaan Sun.

Setelah mendapat kontak dari utusan Lui Koksu dari Kerajaan Wei atau Toba , kaisar segera mengundang Koksu Ouw-yang untuk berbicara tentang hal itu . 362

“ Harap paduka tidak terkecoh oleh penawaran damai dari pihak mereka “ , kata Ouw-yang Koksu . “ Kalau Kerajaan Wei mengajak damai , hal ini tentu dilakukan karena mereka melihat suatu keuntungan dari perdamaian itu . Apa keuntungannya bagi mereka kalau berdamai dengan kita ? Sudah jelas , Yang Mulia . Kalau mereka berdamai dengan kita , mereka akan lebih mudah menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di seluruh selatan . Dan kalau semua kerajaan sudah di tundukkan , baru mereka akan menghantam kita kembali ! Di lain pihak , apakah keuntungan kita ? Kita tidak mempunyai keperluan ke utara , seperti mereka mempunyai keperluan menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di barat dan selatan .

Tidak , Sri Baginda , penawaran damai ini hanya merupakan jebakan belaka !” Demikian Ouw-yang Koksu memberi nasehatnya .

“ Akan tetapi kalau kita menolak begitu saja , mereka tentu akan memperkuat pasukan di perbatasan dan menyerang kita. Bagaimanapun juga , kekuatan mereka lebih besar dibandingkan kekuatan kita “.

“ Kita tidakmenolak secara keras , juga tidak menerima , kita mengulur waktu sambil mencari siasat untuk mengatasi keadaan ini , Sri Baginda . Bahkan hamba mendengar bahwa pemerintahan Kerajaan Wei mulai ada bentrokan dengan para pejabat di Nam-kiang . Kalau keadaan ini dikembangkan , baik sekali untuk kita . Hamba mendengar bahwa Coa-ciangkun pemimpin pasukan di perbatasan enggan untuk menarik mundur pasukannya , juga Gubernur Gak condong untuk bersekutu dengan Coa-ciangkun . Agaknya para pejabat daerah itu mulai membangkang kepada perintah Kerajaan Wei yang sepenuhnya di pegang oleh Bangsa Toba itu “ .

Sun Huang-te mengangguk-angguk . “ Kalau begitu benar kata-katamu tadi . Kita mengulur waktu sambil melihat keadaan agar dapat bertindak sesuai dengan keadaan “ .

Demikianlah , Kerajaan Sun di sebelah selatan Sungai Huai 363

mulai mengatur siasat mereka . Di selatan dan barat memang banyak terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang dulunya dikuasai oleh para gubernur yang kemudian memberontak dan berdiri sendiri-sendiri setelah perang Sam-kok dan Kerajaan Wei keluar sebagai pemenang . Namun , karena kemudian Kerajaan Wei di kuasai oleh Bangsa Toba , maka banyak pejabat memisahkan diri dan mendirikan kerajaan-kerajaan kecil di daerah-daerah , menyusun pasukan sendiri untuk menjaga kedaulatan kerajaan kecilnya . Kerajaan Wei atau Toba menjadi semakin lemah dan tidak berdaya . Cina yang dulunya sudah di persatukan ketika jaman Kerajaan Chin , setelah perang Sam-kok menjadi terpecah belah menjadi ratusan atau puluhan Kerajaan kecil yang berdiri sendiri sendiri .

Pada suatu hari , di Nan-king muncul seorang pemuda . Dia adalah Can Kauw Cu , atau Akauw . Seperti telah kita ketahui , Akauw ini menerima tugas penting dari suhengnya , yaitu untuk menyelidiki keadaan di Negara atau Kerajaan Sun , bahkan membawa sepucuk surat dari Yang Cien sebagai bengcu dunia kangouw untuk diserahkan kepada kaisar Sun Huang te kalau saatnya tiba .

Kehadiran pemuda tinggi besar yang agak kehitaman namun nampak gagah perkasa itu tidak mendatangkan banyak perhatian . Akauw memasuki sebuah rumah makan dan memesan makanan dengan kata-kata pendek . Bagaimanapun juga , kalau dia terlalu banyak bicara , tentu logat bicaranya akan di ketahui orang bahwa dia datang dari utara , walaupun di situ terdapat pula tidak sedikit orang yang berasal dari utara .

Setelah makan minum , Akauw lalu keluar dari rumah makan dan pergi melihat-lihat . Dari jauh dia melihat serombongan pengemis sedang menuju ke sebuah pasar , tentu untuk minta sedekah . Para pengemis ini jelas dari satu kelompok karena memiliki kesamaan yaitu tongkat mereka . 364

Tongkat itu pada ujungnya di pasangi besi dan dia sudah mendengar dari suhengnya bahwa di selatan terdapat sebuah perkumpulan pengemis yang terkenal dengan nama Tiat-tung kai-pang ( Perkumpulan Pengemis Tongkat Besi ) . Agaknya mereka ini adalah para anggota Tiat-tung Kai-pang . Maka , Akauw mempercepat langkahnya untuk mengejar .

Akan tetapi , ternyata para pengemis yang jumlahnya sembilan orang itu tidak pergi ke pasar , melainkan menghampiri sebuah rumah penginapan . Mereka mendatangi pengurus rumah penginapan dan Akauw dapat mendengar seorang di antara mereka yang agaknya menjadi pimpinan , orangnya tinggi kurus , berkata dengan suara keras .

“ Cepat panggil keluar nona berpakaian hijau yang kemarin malam telah menghajar tiga orang kawan kami , atau kami akan mengobrak-abrik tempat ini !” .

Nada suara nya mengancam dan pengurus rumah penginapan itu menjadi ketakutan .

“ Baik , baik , bersabarlah , akan ku panggilkan nona itu !” .

Akauw pura-pura duduk agak menjauh dan melihat apa yang akan terjadi . Tak lama kemudian , pengurus itu ke luar lagi di ikuti seorang gadis yang membuat Akauw melonjak karena kaget . Ji Goat ! Tak salah lagi . Ji Goat lah gadis yang baru muncul itu , dan karena perhatian Ji Goat tertuju kepada para pengemis , maka gadis itu pun tidak melihatnya .

Gadis itu memang Ji Goat . Dalam perantauannya untuk meluaskan pengalaman , ia telah menyeberangi sungai setelah meninggalkan Yang Cien dan memasuki daerah Kerajaan Sun sampai ke kota raja , yaitu Nan-king . Setelah berhari-hari berada di situ , pada suatu hari ia melihat tiga orang pengemis sedang berbuat kurang sopan terhadap dua orang wanita kakak beradik . Tiga orang pengemis itu minta-minta sambil meraba-raba tubuh orang . Melihat ini Ji Goat menjadi marah dan menegur para pengemis . Akan tetapi tiga orang 365

pengemis itu menjadi marah dan menyerangnya dengan tongkat besi mereka . Ji Goat tentu saja menjadi semakin berang dan ia menghajar mereka sehingga tiga orang pengemis muda kurang ajar itu lari tunggang langgang .

Itulah sebabnya pagi hari ini sembilan orang pengemis tongkat besi mendatangi rumah penginapan dimana Ji Goat bermalam . Tadi , pengurus rumah penginapan memberitahu bahwa datang banyak pengemis minta bertemu dengannya . Tahulah Ji Goat bahwa hal ini tentu ada hubungannya dengan peristiwa kemarin , maka ia pun sudah siap siaga , keluar sambil membawa pedang di punggungnya . Dan benar saja , di luar rumah penginapan telah menanti sembilan orang pengemis yang wajahnya bengis , di pimpin oleh seorang pengemis jangkung kurus .

Tanpa ragu-ragu Ji Goat melangkah lebar menghampiri sembilan orang pengemis yang berada di halaman depan itu dan bertanyalah ia dengan suara lantang , “ Kalian mencari aku ?” .

Suara pertanyaannya mengandung tantangan dan memang gadis itu seperti biasanya , pemberani . Si jangkung lalu melangkah maju menghadapinya dengan alis berkerut .

“ Nona , kami mendengar laporan bahwa nona telah memukuli tiga orang anggota kami . Benarkah itu dan mengapa nona melakukan pemukulan ?”

“ Ah , itukah ? Memang benar . Aku melihat tiga orang pengemis muda berbuat kurang ajar kepada dua orang nona . Mereka itu minta sedekah dengan cara yang tidak wajar , tangan mereka meraba-raba dan mencolek-colek tubuh kedua orang nona itu . Hal ini membuat aku marah dan menegur tiga orang pemngemis muda itu . Eh , mereka tidak menerima kesalahan , malah mereka menyerangku . Siapa tidak menjadi marah ? Maka aku lalu menghajarnya . Kalian ini tentu golongan lebih tua dan lebih tahu sopan santun . Mengapa tidak kalian tegur perbuatan saudara muda kalian itu ?” . 366

Si jangkung mengerutkan alisnya . “ Nona , untuk menyelesaikan urusan ini , nona di panggil oleh pimpinan kami . Marilah nona ikut bersama kami untuk menghadap pemimpin kami sehingga di sana akan di urus siapa yang bersalah dalam hal ini “ .

“ Hemmm , aku tidak bersalah . Mengapa aku harus menghadap pimpinan kalian ? Kalau dia perlu denganku , dialah yang harus datang menemuiku di sini . Aku tidak mau menghadap dia !” kata Ji Goat yang bukan saja merasa tidak enak di panggil seperti itu , akan tetapi juga dara ini menganggap bahwa mendatangi sarang kaipang itu merupakan bahaya besar , berbeda kalau ia menemui pemimpinnya di tempat umum .

“ Nona , pemimpin kami sudah memerintahkan demikian , dan nona tidak boleh menolak “ .

“ Hemmm , perintah itu untuk kalian . Untukku dia tidak berhak memerintah apapun . Aku tidak bersalah , sebaliknya anak buahnya yang bersalah , maka kalau dia hendak bicara denganku tentang urusan itu , sudah sepatutnya kalau dia yang datang mencariku ke sini , bukan aku yang menghadapnya “ .

“ Nona , engkau berani membantah kehendak pang-cu kami ?” kini si jangkung menjadi marah dan sudah melintangkan tongkat besinya di depan dada .

“ Kenapa tidak berani ? Ia bukan pang-cu ku “ , bantah Ji Goat , nampak tenang dan sedikitpun tidak nampak takut .

“ Kawan-kawan , kita tangkap gadis sombong ini !” si jangkung membentak marah . Pada saat itu Akauw merasa bahwa sudah tiba saatnya dia harus campur karena kalau dibiarkan Ji Goat pasti akan menghadapi pengeroyokan . Bukan dia khawatir , karena gadis itu memiliki kepandaian tinggi pula , akan tetapi sungguh tidak enak kalau terjadi perkelahian di negeri orang ! . 367

“ Tahan dulu ….. !” dia berteriak dan lari menghampiri .

“ Akauw …..!” Ji Goat berseru girang sekali melihat pemuda ini , girang dan juga heran karena sama sekali tidak mengira akan bertemu dengan pemuda itu di Negeri Sun .

“ Ji Goat , tahan dulu , jangan berkelahi !” Akauw yang juga girang bertemu dengan gadis yang telah merebut cinta di hatinya itu . “ Biar aku bicara dengan mereka “ .

Sementara itu , si jangkung yang melihat Akauw yang tubuhnya tinggi besar , mengerutkan alisnya dan membentak , “ Orang muda , harap engkau jangan mencari penyakit dan mencampuri urusan kami dengan gadis muda ini !” .

“ Sobat , gadis ini adalah seorang sahabatku , tidak mungkin aku tidak mencampuri . Akan tetapi aku mencampuri . Akan tetapi aku mencampuri untuk mendamaikan . Ketahuilah , kami adalah sahabat-sahabat baik dari Hek I Kaipang di utara , maka dengan memandang para sahabat dari Hek I Kaipang , kami berdua mengharappengertian kalian dan tidak menganggap kami sebagai musuh “ .

Si Jangkung nampak ragu ketika mendengar disebutnya Hek I Kaipang , perkumpulan pengemis terbesar di saat itu . “ Akan tetapi , nona ini tidak mau menerima panggilan pang-cu kami untuk membicarakan urusan ia memukuli tiga orang anak buah kami “ .

“ Karena ia menaruh curiga kepada kalian . Akan tetapi dengan adanya aku di sini , biarlah kami berdua menghadap pang-cu kalian , karena kebetulan sekali akupun menerima pesan dari beng-cu kami untuk menghubungi kalian “ .

“ Beng-cu ….? “ si jangkung semakin ragu . “ Baiklah , mari kita pergi menghadap pang-cu “ .

Ji Goat dan Akauw mengikuti mereka . Ji Goat berjalan di samping Akauw dan gadis itu sudah sibuk menghujaninya dengan pertanyaan kenapa Akauw berada di tempat itu . 368

“ Aku merasa seperti mimpi bertemu dengan mu di tempat ini , Akauw ada apakah engkau ke sini dan kapan engkau tiba ?” .

“ Baru beberapa hari yang lalu dan nanti saja ku ceritakan sejelasnya , Ji Goat . Akan tetapi aku sendiripun merasa seperti mimpi bertemu denganmu di sini . Sungguh pertemuan yang tidak di sangka-sangka namun amat membahagiakan hatiku “ , ucapan Akauw ini demikian bersungguh-sungguh sehingga Ji Goat tersenyum dan tersipu .

Mereka tiba di sarang Tiat-tung Kai-pang yang berada di perkampungan miskin . Mereka segera dihadapkan seorang pengemis berusia lima puluh tahun lebih yang tubuhnya kekar dan berotot , tidak pantas menjadi pengemis . Pengemis yang menjadi ketua Tiat-tung Kai-pang ini memang seorang yang bertubuh kuat sekali , dan dia terkenal dengan permainan tongkatnya . Namanya Cai Kui dan sebutannya Cai-pangcu . Dia hidup seorang diri , tidakmenikah dan sejak belasan tahun menjadi ketua Tiat-tung Kai-pang dan di segani oleh semua anak buahnya .

Pengemis jangkung setelah menghadap ketuanya lalu memberi laporan bahwa nona itulah yang kemarin telah menghajar tiga orang anak buah mereka .

“ Dan siapakah orang muda ini ? Mengapa dia turut datang ?” Tanya Cai pang-cu dengan suaranya yang lantang .

“ Menurut pengakuannya , dia sahabat gadis itu dan dia adalah sahabat dari Hek I Kaipang di utara , pangcu “ .

Cai Pang-cu kini memandang kepada Ji Goat dan Akauw , matanya memandang penuh selidik . “ Benarkah , orang muda , engkau sahabat baik Hek I Kaipang ?”

“ Benar , pang-cu . Aku mengenal Cu Lokai , Song Lokai dan banyak pemimpin Hek I Kaipang yang lain . Juga aku adalah sute dari beng-cu kita yang baru “ . 369

“ Hemmm , beng-cu yang mana kau maksudkan ?” .

“ Beng-cu Yang Cien , yang baru saja di pilih di Thai-san , tentu pangcu juga sudah mendengarnya “ .

“ Hemmm , kami tidak mengikuti pilihan itu , walaupun beritanya sampai ke sini . Siapakah namamu , orang muda ? Dan siapakah pula nama nona ini ?” .

“ Namaku Cian Kauw Cu , dan nona ini bernama Ji Goat . Kami sungguh tidak pernah mempunyai rasa permusuhan dengan para kai-pang “ .

“ Nona , engkau telah menghajar tiga orang anak buah kami dan engkau berani mengatakan bahwa engkau tidak memusuhi kami ? Kami adalah orang-orang miskin yang mengandalkan nafkah dari minta-minta sedekah , kenapa engkau begitu tega untuk memukuli tiga orang anggota kami ?” .

“ Pang-cu , aku tidak bersalah . Seyogyanya pang-cu menegur tiga orang pengemis muda itu . Mereka bukan mengemis , akan tetapi mereka berbuat kurang ajar terhadap dua orang nona . Mereka minta sedekah sambil meraba dan mencolek tubuh dua orang gadis itu , tentu saja aku lalu menegur mereka . Akan tetapi , tiga orang pengemis muda itu malah menyerangku , maka terpaksa ku hajar mereka . Apakah pang-cu hendak menyalahkan aku dalam urusan ini ?” Ji Goat berkata dengan sikap menegur dan menantang .

Wajah pang-cu itu penuh kerut merut . “ Panggil ketiga orang anggota kita itu ke sini !” bentaknya kepada si jangkung . Si Jangkung pergi dan tak lama lagi kembali dengan tiga orang pengemis muda yang nampak ketakutan .

“ Hayo kalian katakan , apa benar kalian kemarin ketika minta sedekah , kalian meraba-raba dan mencolek-colek tubuh dua orang gadis ? Hayo jawab yang benar !” bentak Cai pang-cu . 370

“ Kalau perlu , aku dapat mengajak dua orang gadis itu ke sini menjadi saksi !” cepat Ji Goat yang cerdik berkata untuk menakuti tiga orang pengemis itu .

Tiga orang pengemis muda itu saling pandang dan seorang di antara mereka berkata , “ maaf , pangcu , kami ….. kami hanya main-main saja …. “ .

“ Main-main dan mencolek-colek tubuh gadis-gadis itu ?” bentak sang ketua .

“ Ya… ya … ya …. Tapi … hanya main-main …. “ .

“ Jahanam ! Kalian melanggar pantangan kita . Hayo beri hukuman masing-masing dua puluh kali ! Seret mereka keluar !” .

Tiga orang pengemis muda itu di seret keluar dan terdengarlah suara berdebuk ketika mereka di pukuli , di susul teriakan-teriakan kesakitan mereka .

Akauw mengangkat kedua tangan memberi hormat . “ Pang-cu telah bertindak tepat , tahu bahwa yang bersalah haruslah diberi hukuman agar lain kali tidak mengulang kembali kesalahannya . Kami mengucapkan terima kasih “ .

“ Nanti dulu , orang muda . Aku Cai Kui tidak suka melihat anak buah dihina orang luar . Nona ini sudah memperlihatkan kepandaiannya , maka setelah tiba di sini , kami ingin menguji , apakah sudah sepatutnya kalau ia memberi hajaran kepada anak buah kami sebagai golongan yang lebih tinggi “ .

“ Akan tetapi , pangcu …… “ kata Akauw .

“ Akauw , biarlah kalau Cai Pang-cu hendak mengujiku . Jangan di kira bahwa aku takut menghadapi ujian itu !” kata Ji Goat dengan suara menantang .

“ Kami tidak berniat bermusuhan . Apalagi karena kalian menyatakan menjadi sahabat dari Hek I Kaipang yang kami pandang tinggi . Akan tetapi sebelum menguji kalian , 371

bagaimana kami dapat menghargai kalian ? Sebelum kita membicarakan hal-hal penting , lebih dulu kami harus berkenalan dengan ilmu kalian agar mata kami lebih terbuka lagi “ . Dia memberi isyarat kepada seorang yang usianya sekitar empat puluh tahun dan berkedudukan wakil ketua . Nama wakil ketua itu adalah Bi Tun Bo , seorang yang juga ahli memainkan tongkat besi dan dalam hal ilmu silat hanya kalah sedikit dibandingkan sang ketua .

“ Tun Bo , engkau yang menguji kepada nona Ji Goat ini !” .

“ Baik , pang-cu . Silahkan nona “ , kata Bi Tun Bo yang bertubuh sedang dan mukanya penuh brewok itu . Dia sudah melintangkan tongkat berujung besi di depan dadanya .

Ji Goat melihat tempat itu cukup luas untuk bertanding silat . Melihat cara pengemis itu memegang tongkat , tahulah ia bahwa lawan ini tentu memiliki ilmu tongkat yang cukup lihai , oleh karena itu iapun menghunus pedangnya , yaitu sepasang pedang pendek yang sarungnya menjadi satu . Nampak sinar berkilauan ketika sepasang pedang pendek di cabut .

“ Aku sudah siap , silahkan “ , kata Ji Goat yang memasang kuda-kuda yang manis di depan Bi Tun Bo.

Pengemis ini segera menggerakkan tongkatnya , memainkan ilmu tongkat besinya dengan gerakan yang tangkas , cepat dan mengandung tenaga . Namun , gerakannya itu sama sekali tidak cepat bagi Ji Goat bahkan lamban sekali sehingga dengan mudah gadis ini dapat menghindarkan serangan pertama , lalu membalas dengan pedang pendeknya , yang melakukan gerakan menggunting dari kanan kiri .

Ji Goat adalah murid Toat-beng Giam-ong Lui Tat dan ia sudah mempelajari ilmu pedang yang hebat dari Koksu itu , ialah Lo-hai Kiam-sut ( Ilmu Pedang Pengacau Lautan ) . Maka begitu ia memainkan sepasang pedangnya dengan ilmu itu , Bi 372

Tun Bo menjadi pening kepalanya . Dia hanya melihat dua gulungan sinar pedang yang melingkar-lingkar dan menggulungnya sehingga tongkatnya menjadi kacau gerakannya , dia hanya mampu memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya dari sambaran kedua pedang yang mengamuk bagaikan dua ekor naga bermain di angkasa itu . Jelas bahwa tingkat kepandaian wakil ketua Tiat-tung Kai-pang itu jauh berada di bawah tingkat Ji Goat .

Akan tetapi Ji Goat juga maklum bahwa mereka berada di daerah orang dan amat tidak baik kalau sampai mendatangkan perasaan dendam . Maka ia pun tidak terlalu mendesak dengan sepasang pedangnya , dan ketika mendapat kesempatan ia tidak mau melukai lawan dengan pedangnya , hanya mengirim tendangan yang membuat tubuh lawan terhuyung ke belakang . Melihat lawan tertendang dan terhuyung , ia pun menahan sepasang pedangnya dan berdiri tegak , tidak mengejar .

Bi Tun Bo juga bukan seorang yang tidak tahu diri . Dia sudah sejak tadi maklum bahwa dia pun bukan lawan seimbang nona ini yang amat lihai . Bahkan dia mengerti pula bahwa lawannya sengaja tidak ingin melukai , maka diam-diam dia berterima kasih . Melihat nona itu tidak mengejar , Bi Yun Bo lalu melompat ke belakang , memberi hormat kepada Ji Goat sambil berkata , “ Ilmu pedang Ji-siocia memang hebat , aku mengaku kalah !” .

“ Ah , engkau terlalu mengalah “ , kata Ji Goat sambil tersenyum .

Cai Pangcu mengangguk-angguk . “ Dengan ilmu kepandaianmu itu nona , engkau memang pantas mewakili kami memberi hajaran kepada anak buah kami yang menyeleweng . Sekarang , kami ingin sekali mengenal ilmu silat dari saudara Cian Kauw Cu “ . 373

“ Silahkan , pangcu “ , kata Akauw dengan sikap sederhana namun tegak , dan diapun sudah siap .

Ketua Cai berdiri di depan pemuda itu . Ketua itu tubuhnya memang kokoh , akan tetapi berhadapan dengan Akauw dia kelihatan agak pendek . Kedua lengannya yang nampak itu begitu penuh otot yang melingkar-lingkar , nampak kuat sekali .

“ Orang muda , karena engkau adalah tamu kami dan engkau datang dari Hek I Kaipang , maka marilah kita mengadu ilmu dengan tangan kosong saja . Sungguh tidak enak kalau kita menggunakan senjata kemudian di antara kita ada yang terluka . Tadi , wakilku tidak terluka hanya karena kebijaksanaan nona Ji saja . Mari kita bertanding mengadu kepandaian dan tenaga “ .

Cian Kauw Cu maklum bahwa agaknya ketua kaipang ini hendak mengambil keuntungan dari tenaganya yang agaknya besar . Diam-diam dia pun girang karena tidak harus menggunakan Hek-liong Po-kiam yang tentu akan menarik perhatian sekali karena po-kiamnya itu amat tajam dan ampuh .

“ Baiklah , pangcu , aku sudah siap “ , katanya sambil berdiri tegak di depan ketua itu .

“ Orang muda , lihat seranganku !” . Tiba-tiba Cai Kui membentak dan dia sudah melompat ke dapan dan menghantamkan tangannya yang kokoh kuat itu kea rah dada Akauw . Akauw mengelak dengan mudah , akan tetapi tangan yang luput memukul itu lalu menggunakan gerakan mencengkram untuk menangkap lengan Akauw . Kembali Akauw mengelak dari cengkraman sambil menggeser kakinya ke belakang . Cai Pang-cu mendesak dengan mengayun kakinya menendang kea rah pusar . Sekali ini Akauw menangkis dengan tangannya .

“ Duukkk !” kaki itu terpental akan tetapi Akauw merasa 374

betapa tangannya pun tergetar . Tahulah dia bahwa tenaga tendangan lawan cukup kuat akan tetapi tidaklah terlalu kuat baginya .

Ketika Cai Pangcu memukul lagi , kembali dia mengerahkan tenaganya menangkis . Dan sekali ini pertemuan kedua lengan membuat Cai Pangcu menyerengai kesakitan dan cepat melompat ke belakang , memutar tubuh dan dengan gerakan memutar itu kakinya terayun cepat sekali menuju kea rah dada Akauw .

Akauw mengelak lagi dan kini mulai membalas dan terjadilah pertandingan tangan kosong yang seru . Saling serang , saling elak , dan kadang mereka beradu lengan , sehingga beberapa kali tubuh mereka tergetar saking kerasnya lengan atau kaki beradu . Setelah lewat tiga puluh jurus , Cai Kui mulai terengah dan kedua tangan dan kakinya terasa nyeri-nyeri . Dan ketika Akauw mempercepat gerakannya , dia pun terdesak hebat , hanya mampu mengelak dan menangkis saja , sama sekali tidak mampu lagi balas menyerang . Suatu saat , Akauw yang sudah menguasai pertandingan itu , melompat-lompat dengan cekatan sekali seperti monyet dan Cai Kui menjadi bingung karena beberapa kali dia kehilangan lawan dan tahu-tahu lawan itu sudah berada di belakangnya sambil menepuk punggungnya . Kalau Akauw mau tentu saja tepukan itu dapat di ubah menjadi hantaman yang tentu akan membuatnya roboh . Setelah beberapa kali di sentuh seperti itu , akhirnya Cai Pang-cu melompat ke belakang dan tubuhnya basah oleh keringat .

“ Cian-taihiap sungguh hebat , aku mengaku kalah !” katanya tanpa malu lagi . Memang dia tahu bahwa dia kalah jauh .

“ Pang-cu yang terlalu mengalah “ , kata Akauw dengan hati girang karena dia tahu bahwa dia dan Ji Goat telah dapat menundukkan hati orang-orang Tiat-tung Kai-pang ini .

Mereka lalu di jamu . Biarpun hanya perkumpulan 375

pengemis , akan tetapi ketuanya dapat menjamu dengan hidangan yang lumayan , di belikan dari rumah makan terbesar .

Dalam makan bersama inilah , para pimpinan kai-pang itu mengadakan pembicaraan dengan Akauw dan Ji Goat . Karena Ji Goat dalam perjalanannya ke Kerajaan Sun hanya untuk berpetualang , maka ia lebih banyak diam dan menyerahkan percakapan kepada Akauw yang membawa tugas dari yang Cien .

Akauw menceritakan tentang keadaan Hek I Kaipang dan tentang pemilihan beng-cu dimana Yang Cien terpilih sebagai beng-cu , akan tetapi betapa dalam pemilihan bengcu itu , Koksu Kerajaan Wei telah bertindak licik hendak melakukan penangkapan kepada mereka yang tidak mau memihak pemerintah penjajah .

“Sekarang , agaknya pemerintah Toba telah membentuk suatu keadaan tandingan dalam dunia kang-ouw “ , kata Akauw . “ Mereka memilih seorang pembantu Koksu sebagai beng-cu , dia adalah Thian-te Ciu-kwi ….” .

“ Ah , datuk sesat itu !” kata Cai Pang-cu .

“ Benar , sebagian besar yang mengikuti jejak Thian-te Ciu-kwi adalah para tokoh kang-ouw yang sesat . Semua kai-pang di utara memihak Yang-bengcu , bahkan semua perkumpulan dan partai silat besar biarpun tidak secara terang agar tidak dimusuhi pemerintah , diam-diam menyatakan mendukungnya , hanya tinggal menanti dimulainya perjuangan melawan penjajah . Sekarang Yang-bengcu mengutus aku untuk menghadap Sun Huang-te , untuk mengajak kerja sama , tidak tahu bagaimana pendapat pangcu dalam hal ini “ .

Ketua kai-pang itu menghela napas panjang . “ Aaahhh , kalau bicara tentang kaisar kami , tidak jauh bedanya dengan raja-raja yang lain . Kerjanya hanya mengejar kesenangan belaka dan semua kekuasaan berada di tangan para pejabat 376

tinggi dan thai-kam , terutama di tangan Ouw-yang Kok-su . Kami rasa , lebih baik kalau taihiap berhubungan dengan Ouw-yang Kok-su , karena dialah yang akan menentukan apakah taihiap dapat menghadap kaisar atau tidak . Akan tetapi , taihiap juga harus berhati-hati , karena Ouw-yang Kok-su adalah seorang yang amat licik dan cerdik bukan main “.

“ Kami mengharapkan bantuan pangcu dalam hal ini agar kami dapat berhubungan dengan Ouw-yang Kok-su dan dapat menghadap kaisar Kerajaan Sun “ .

“ Jangan khawatir , taihiap . Bagaimanapun juga kami merasa bersatu dengan Hek I Kaipang , apalagi kalau Yang-pangcu sudah di akui oleh seluruh kai-pang di utara , dengan sendirinya kamipun siap untuk mengakuinya dan menaati pesannya . Sebetulnya apa yang hendak dilakukan oleh Yang-bengcu , taihiap ?” .

“ Tentu saja berjuang mengusir penjajah Mongol dari tanah air . Dan untuk itu , Beng-cu akan menghimpun semua kekuatan dari berbagai pihak untuk bersatu , karena tanpa persatuan yang kokoh , tidak mungkin dapat mengusir penjajah yang masih memiliki pasukan yang amat kuat “ .

“ Akan tetapi untuk menghimpun semua itu , membutuhkan biaya yang amat besar , taihiap “ .

“ Untuk itu sudah di atur pula oleh beng-cu . Kalau masanya tiba , maka soal biaya tidak menjadi masalah . Beng-cu sudah mempunyai sumber dana yang cukup untuk membiayai suatu angkatan perang yang jumlahnya besar “ .

“ Bagus , kalau begitu mari ji-wi kami antar untuk menghadap Ouw-yang Kok-su karena hanya dia yang dapat memungkinkan ji-wi menghadap kaisar . Akan tetapi berhati-hatilah , Ouw-yang Kok-su amat cerdik dan dia memiliki banyak jagoan silat yang lihai “ .

“ Terima kasih , pang-cu . Kami akan bersikap hati-hati sekali “ , jawab Akauw girang karena tak di sangkanya akan 377

demikian mudah dia melaksanakan tugas yang diberikan Yang Cien kepadanya .

-oo0dw0oo-

Dengan perantaraan Cai Pang-cu , Akauw dan Ji Goat pada suatu pagi mendapat kesempatan menghadap Ouw-yang Kok-su . Akauw dan Ji Goat menghadap pejabat tinggi itu di tempat tinggalnya , dan mereka melihat bahwa Koksu itu adalah seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun yang pendek gendut , wajahnya bulat dan sepasang mata yang sipit itu berderak-gerak lincah dan nampak cerdik sekali .

Ketika kedua orang muda itu memberi hormat kepadanya , Ouw-yang Koksu menyambut dengan sikap dingin . Di kanan kirinya terdapat enam orang pengawal pribadi , di antaranya terdapat dua jagoan berilmu tinggi , yaitu dua saudara yang terkenal dengan sebutan Bu-tek Siang-kui ( Sepasang Iblis Tanpa Tanding ) ! Cai-pangcu juga setelah memberi hormat di persilahkan duduk dan ketua kai-pang ini nampaknya gentar menghadapi Koksu itu .

“ Cai-pangcu , inikah kedua orang muda yang kau maksudkan itu ?” .

“ Benar , Taijin “ , jawab Cai Pangcu dengan sikap hormat .

“ Nah , setelah sekarang mereka datang menghadapku , biarlah kami yang berurusan dengan mereka , engkau boleh meninggalkan tempat ini “ , kata pula Ouw-yang Kok-su dengan suaranya yang mengandung perintah .

Perintah ini agaknya melegakan hati Cai Kui , karena dia sendiri merasa tidak tenang berada di depan Koksu itu . Dia lalu memberi hormat , melirik kea rah Akauw dan Ji Goat , lalu keluar dari tempat persidangan di rumah Koksu itu .

“ Nah , sekarang , kalian berdua boleh menceritakan apa maksud kunjungan kalian ke sini seperti yang telah kami dengar dari Cai-pangcu itu . Ceritakan dengan sejelasnya !” 378

perintah Koksu itu kepada Akauw dan Ji Goat . Bagi Ji Goat , seorang puteri Perdana Menteri , tentu saja ia memiliki wibawa dan tidak merasa gentar sedikit pun juga menghadapi pejabat tinggi . Akan tetapi karena ia hanya ikut Akauw , maka ia berdiam diri saja dan menyerahkan kepada Akauw untuk menjawabnya .

“ Nama saya Cian Kauw Cu , Tai-jin , dan ini adalah sahabat saya bernama Ji Goat . Kami berdua sengaja menghadap Taijin atas usul Cai Pangcu sebelum kami menghadap Yang Mulia Kaisar di sini , kami membawa pesan dari Yang-bengcu yang mengepalai dunia kang-ouw di sebelah utara Sungai Huai “ .

“ Hem , lancing benar beng-cu kalian itu , berani mengadakan hubungan dengan kaisar kami . Dia itu orang apakah berani hendak menghubungi kami ?” .

“ Dia adalah bengcu yang baru saja di angkat atas pemilihan para tokoh kang-ouw “ .

“ Dan sekarang , dia berani menghubungi kami atas dasar apakah ? Apa kepentingannya untuk Kerajaan kami ?” .

“ Atas dasar saling menguntungkan dan dengan kepentingan yang sama , Taijin . Kita sama-sama menghadapi Kerajaan Wei di utara , sama-sama bercita-cita mengusir penjajah dari tanah air , itulah kepentingannya bersama dan karena itu pula maka bengcu kami berani menyuruh kami untuk menghadap Sri Baginda Kaisar Kerajaan Sun “ .

“ Hemmm , kalian memang untung kalau bekerjasama dengan kami , akan tetapi sebaliknya , apa keuntungannya bagi kami ? Kalian hanya sekelompok orang yang tidak puas , mana ada kekuatan ?” .

Akauw merasa penasaran sekali karena di anggap rendah . Dia sudah mendengar penjelasan dari suhengnya tentang rencana besar suhengnya tentang tenaga dari semua pihak . Maka dengan lancer diapun berkata , “ Tai-jin kamipun bukan 379

tidak bermodalkan kekuatan maka berani mengajak bekerja sama dengan Kerajaan Sun . Di belakang kami berdiri seluruh perkumpulan pengemis . Itu saja jumlahnya sampai puluhan ribu . Belum lagi partai-partai persilatan besar yang telah menyatakan mendukung sehingga kalau gerakan perjuangan dimulai , beribu-ribu ahli silat dari seluruh aliran di belakang kami karena rakyat bersimpati kalau kami berjuang membebaskan mereka dari pada penjajahan , dan kalau rakyat sudah berbondong datang membantu , maka dengan mudah akan dapat dikumpulkan ratusan ribu orang perajurit . Itulah modal yang ada pada kami , Tai-jin “ .

Diam-diam Ji Goat merasa heran dan kagum . Akauw yang biasanya pendiam dan kalau bicara hanya satu-satu itu kini begitu pandai bicara ! Dan semua ini karena pengalamannya selama beberapa tahun ini .

“ Hemmmm , bagaimana kami dapat percaya keterangan yang muluk-muluk itu ? Macam apakah bengcu kalian ? Kalau melihat namanya , dia bukan seorang tokoh yang terkenal di dunia kang-ouw . Bahkan kami juga baru sekarang mendengar di sebutnya nama Yang Cien . Kenapa bukan para datuk besar atau ketua-ketua partai persilatan besar yang menjadi beng-cu , melainkan sorang yang tidak terkenal . Apakah dia sudah tua ?” .

“ Dia hanya beberapa tahun lebih tua dari pada saya , Taijin , karena sesungguhnya dia adalah suheng saya sendiri “ .

“ Ahhh , seorang pemuda , ya ? Mana mungkin seorang pemuda akan memimpin pergerakan besar ? Jangan-jangan hanya sombongnya saja . Engkau sutenya , ya ? Baiklah , dari kepandaian sutenya kami akan dapat menilai kepandaian suhengnya . Bersediakah engkau kami uji kepandaian sebelum kami mengambil keputusan apakah engkau pantas menghadap Sri baginda atau apakah bengcu itu pantas berhubungan dengan kami ?” . 380

“ Terserah kepada Taijin . Kami telah berani menjadi utusan , tentu berani pula menghadapi segala kesulitan yang kami hadapi . Kami siap untuk di uji , walaupun kami tidak dapat yakin akan menang , karena kepandaian manusia di dunia ini tidak ada batasnya , ada yang kuat tentu ada yang lebih kuat lagi , ada yang pandai tentu ada yang lebih pandai lagi . Dan dalam hal kekuatan dan kepandaian , saya masih jauh kalau di bandingkan dengan tingkat bengcu kami !” .

“ Kami juga sekedar ingin mengetahui orang macam apa yang diutus oleh beng-cu menghadap ke sini , Siang-kui , bersiap-siaplah kalian untuk menandingi pemuda dan gadis ini !” .

Akauw tidak ingin Ji Goat terlibat atau terancam bahaya , maka cepat dia berkata , “ Taijin , karena nona Ji Goat ini hanya merupakan seorang pengikut saja , biarlah saya yang akan menghadapi penguji kepandaian itu , biar saya maju seorang diri saja melawan mereka !” .

Ucapan ini tentu saja di anggap sebagai suatu kesombongan oleh Koksu . “ Baik , kalau demikian yang kau kehendaki . Siang-kui , kalian maju bersama menghadapi pemuda ini , tanpa senjata karena kami hanya ingin mengujinya “ .

Yang berjuluk Bu-tek Siang-kui ( Sepasang Iblis Tanpa Tanding ) adalah dua orang saudara kakak beradik yang tubuhnya tinggi besar dan tubuh mereka jelas memperlihatkan bahwa mereka itu bertubuh kokoh kuat dan bertenaga besar . Mereka berdua menggulung lengan baju dan menghadapi Akauw yang juga sudah bangkit berdiri . Ruangan itu cukup luas untuk mengadu ilmu dan Koksu tersenyum mengangguk memberi tanda setuju .

“ Mulailah kalian bertiga !” katanya kepada Siang-kui juga kepada Akauw yang sudah siap menghadapi kedua orang lawannya . Dia sudah menduga bahwa dua orang lawannya tentu merupakan pesilat tangguh , dan terutama sekali 381

mereka berdua itu agaknya mengandalkan kekuatan tenaga mereka . Maka , dia pun bersikap hati-hati sekali dan lebih mengandalkan kecepatan gerakannya yang jarang keduanya . Sepasang Iblis Tanpa Tanding itu keduanya tinggi besar dan wajah mereka pun mirip satu sama lain , hanya bedanya kakaknya bermuka kehitaman sedangkan adiknya bermuka kuning .

“ Awas serangan kami !” tiba-tiba si muka hitam berseru memberi peringatan dan dengan cepat dia lalu menerkam dari kanan . Akauw melihat betapa gerakan serangan itu mengandung angin pukulan yang kuat , akan tetapi baginya terlihat lamban . Dengan mudah saja diapun mengelak dan terkaman itu mengenai tempat kosong . Akan tetapi dari sebelah kiri , orang kedua sudah mengayun tangannya yang besar itu mengirim tamparan kea rah kepalanya . Kembali dia mengelak dengan miringkan tubuhnya .

Dua orang itu menyerang bertubi-tubi , silih berganti , namun gerakan mereka yang kuat itu dengan amat mudah di elakkan oleh Akauw yang berloncatan ke sana sini sambil memainkan ilmu silat monyet . Sampai belasan jurus dia tidak membalas menyerang , ingin melihat sampai dimana berbahayanya serangan mereka . Setelah mengenal benar kemampuan mereka , barulah Akauw menggunakan kesempatan luang untuk balas menyerang . Bahkan dia kini berani mengadu tenaga setelah yakin bahwa dalam hal tenaga otot , dia tidak kalah kuat . Dua orang itu memang hebat , namun tenaga mereka belum mampu menandingi tenaga Akauw yang terdapat dari alam kehidupannya ketika hidup di antara kera dahulu . Juga dalam hal kecepatan mereka kalah jauh .

Beberapa kali Bu-tek Siang-kui di buat terhuyung oleh gempuran tangan dan kaki Akauw dan melihat ini , Koksu lalu melerai . “ Sudah cukup , Siang-kui . Mundurlah

Kalian !” . 382

Ouw-yang Kok-su menghadapi Akauw dan memuji . “ kepandaian saudara Cian cukup lihai , membuat kami merasa kagum “ .

“ Ah , Taijin terlalu memuji . Kami hanya memiliki sedikit kemampuan untuk membela diri kalau menghadapi halangan di dalam perjalanan “ .

“ Sudahlah , tidak perlu lagi merendahkan diri . Saudara Cian yang masih muda memang sudah pantas menjadi utusan Beng-cu untuk menghadap Sri Baginda . Kerajaan Chen ( Sun ) adalah Kerajaan besar dan Sri Baginda tidak dapat menerima sembarang orang . Akan tetapi agaknya Yang-bengcu dapat membuktikan bahwa dia dapat menyuruh seorang utusan yang baik untuk menyampaikan suratnya . Mari , bersiaplah untuk kalian ku bawa menghadap kepada Yang Mulia “ .

Pada masa itu , Cina telah terpecah-pecah dan terbagi-bagi menjadi banyak sekali Kerajaan kecil . Perpecahan ini di mulai sejak jaman Sam-kok ( 221 – 265 ) . Jaman Sam-kok ( Tiga Negara ) memunculkan tiga Negara yang saling berebutan . Sesudah kerajaan Han Timur runtuh , maka yang menjadi kaisar adalah Tsau Pei yang memerintah di utara dengan mendirikan Wangsa Wei . Pada masa itu , di Barat daya berdiri pula Liu Pei yang mengangkat diri menjadi Kaisar Kerajaan Shu dan di tenggara ada pula Kerajaan Wu . Terjadi pertikaian yang terus menerus dan perebutan kekuaasan antara tiga Negara atau tiga kerajaan ini . Berkali-kali perang berkobar di antara mereka , akan tetapi akhirnya Kerajaan Wei berturut-turut mengalahkan Kerajaan Wu sehingga Cina dapat dipersatukan kembali oleh bangsa atau Dinasti Wei . Namun , kerajaan ini tetap saja lemah , kesatuan dan persatuan tidak dapat dipelihara dengan sentosa . Banyak pembesar , jendral , gubernur , bahkan tuan tanah berdiri sendiri , memiliki pasukan dan mereka saling bertempur memperebutkan kekuasaan dan pengaruh . Kekuasaan silih berganti jatuh ke tangan penguasa baru . hal ini memudahkan masuknya suku 383

Bangsa Hsiung-nu , Turki , Tibet dan kemudian Bangsa Toba yang akhirnya dapat merampas kekuasaan atas Kerajaan Wei dan di seluruh Cina Utara di Kerajaan Wei atau kerajaan Toba ini . Sampai berabad lamanya bangsa ini berkuasa , masih mengakui bahwa kerajaan mereka adalah Kerajaan Wei sesungguhpun para pejuang menyebutnya kerajaan Toba Mongol .

Pada masa itu , di selatan juga berdiri banyak Kerajaan kecil-kecil . namun yang terbesar adalah Kerajaan Chen atau Kerajaan Sun yang di pimpin oleh Sun Huang-te . Kerajaan Chen inipun hanya merupakan kerajaan kecil saja yang ibu kotanya berada di Nan-king , karena daerah selatan juga sudah terpecah-pecah dan terdapat banyak sekali Kerajaan kecil .

Sun Haung-te mengaku masih keturunan Co Cho , seorang perdana menteri dari tiga kerajaan yang pernah memiliki nama besar di jaman Sam-kok , bukan saja karena kecerdikannya melainkan juga karena siasat-siasatnya dan kejahatannya ! Karena merasa bahwa dia keturunan seorang ternama , maka Sun Huang-te tidak mau bersikap lunak terhadap Kerajaan Wei Toba , dan selalu memasang pasukan yang kuat di sepanjang perbatasan , tidak pernah mau mengakui kedaulatan Kerajaan Toba .

Ketika Akauw dan Ji Goat di hadapkan Kaisar Sun Huang-te , mereka di terima dengan baik . Akauw segera menghaturkan surat yang dibawanya , titipan suhengnya dan surat itu dibacakan oleh seorang pejabat untuk kaisar . Pada dasarnya , dalam surat itu Yang Cien memperkenalkan diri sebagai beng-cu baru dan mengajak Kerajaan Chen atau Sun untuk bekerja sama menentang Kerajaan Wei Toba , mengusir penjajah asing dari tanah air .

Ketika pejabat yang bertugas itu membacakan surat Yang Cien , Kaisar Sun Huang-te yang berusia lima puluh tahun itu tertegun memandang kepada Ji Goat ! Dia sama sekali tidak 384

memperhatikan bunyi surat , melainkan memperhatikan gadis jelita yang menghadapnya dengan sikap gagah itu . Betapa cantiknya gadis utara itu ! Tinggi semampai dan memiliki sepasang pipi kemerahan yang segar dan sehat .

Setelah surat selesai di baca , pejabat yang membacanya berkata kepada Kaisar , “ Demikianlah , Yang Mulia , bunyi surat dari Yang-bengcu , mohon keputusan Yang Mulia !” .

Barulah kaisar itu menjadi bingung karena tadi dia sama sekali tidak mendengar isi surat itu ! “ Nanti saja akan kami putuskan , kami ingin membicarakan isi surat dengan lebih terperinci bersama nona utusan ini !” . Dia menudingkan telunjuknya kea rah Ji Goat sambil tersenyum memikat . Ji Goat terkejut sekali dan wajahnya berubah kemerahan .

“ Yang Mulia , sebaiknya kalau Yang Mulia mempertimbangkan isi surat dan kalau belum dapat memberi keputusan sekarang , biarlah keputusan diberikan besok pagi . Sementara hamba yang akan minta penjelasan lebih lanjut kepada dua orang utusan “ , kata Koksu dengan suara lembut . Di dalam suaranya ini , biarpun Koksu tidak menegur , akan tetapi jelas di situ terdapat keputusan dan sekaligus teguran kepada kaisar yang hanya mengangguk-angguk saja dan melihat ketika gadis yang membuatnya tergila-gila itu memberi hormat dan keluar bersama Akauw dan di antar oleh Koksu .

Setelah tiba di luar istana , Koksu berkata kepada Akauw . “ Lebih baik ji-wi sekarang juga kembali ke utara . Pesan yang di sampaikan kepada kaisar telah di terima dan percayalah , dalam waktu dekat kami akan mengirim surat balasan “ .

“ Akan tetapi mengapa kami tidak mendapatkan jawaban secara langsung “ , Tanya Akauw .

Kok-su Ou-yang menghela napas . “ Aih , salahnya engkau mengajak Nona Ji . Kaisar kami memang begitu , tidak boleh melihat wajah baru yang cantik . Akan tetapi , usul kerja-sama 385

yang di tawarkan Yang-bengcu cukup menarik . Kalau memang kami pertimbangkan akan menguntungkan , tentu kami menyambut baik kerja-sama itu “ .

Demikianlah , setelah mengerti bahwa kaisar Sun Huang-te tergila-gila kepada Ji Goat dan mempunyai niat tidak baik terhadap gadis itu , Akauw lalu mengajak Ji Goat untuk meninggalkan Na-king dan kembali ke utara .

-oo0dw0oo-

Dalam perjalanan pulang ke utara ini , hubungan antara Akauw dan Ji Goat menjadi semakin akrab . Mereka kini tidak ragu lagi bahwa keduanya saling mencinta . Hal ini dapat mereka lihat dari gerak-gerik mereka , ucapan mereka dan pandang mata mereka kepada masing-masing dan kadang Ji Goat yang tersipu kalau Akauw memandangnya dengan sinar mata penuh kasih sayang .

Mereka menyeberangi Sungai Huai untuk kembali ke utara , akan tetapi karena mereka tidak mengenal jalan , maka mereka tersesat dan yang mereka seberangi adalah daerah Nam-kiang , yaitu daerah kekuasaan Gubernur Nam-kiang .

Pada suatu hari , perahu mereka berhasil menyeberang , dan begitu mereka tiba di daratan sebelah utara sungai , mereka di sambut oleh tiga puluh orang lebih perajurit yang mengepung mereka . Dan ketika mereka memandang , ternyata pasukan itu adalah pasukan pengawal yang sedang mengawal Panglima Coa sendiri yang sedang mengadakan pengawasan dan pengamatan di daerah itu ! Dari para pembantunya , Panglima Coa mendengar bahwa dua orang muda itu bukanlah sembarangan orang . Ada pembantunya yang mengenal Akauw sebagai seorang panglima yang pernah menangkap Gubernur Yen di Lok-yang dan bahwa gadis cantik yang datang bersamanya itu adalah puteri dari Perdana Menteri Ji .

Bahkan Coa-ciangkun sudah mendengar bahwa Ji-Siocia 386

adalah murid Koksu Lui Tat , sedangkan yang bernama Cian Kauw Cu adalah murid Thian-te Ciu-kwi . Dua orang muda yang berbahaya sekali dan kini tiba-tiba muncul di tepi sungai , tentu mengandung maksud tertentu yang rahasia .

“ Heiiii , berhenti kalian !” Bentak Coa-ciangkun sendiri setelah mereka berhasil menghadang kedua orang muda itu . “ Siapakah kalian berkeliaran di daerah perbatasan ini dan apa yang hendak kalian lakukan ?” .

Akauw terkejut sekali ketika melihat panglima besar itu menghadang sendiri .” Aih , ciangkun , harap di maafkan . Kami dua orang yang sesat dalam perjalanan …..” . katanya memberi alasan .

“ Hemmm , kalian dua orang muda tentu sedang memata-matai kami , ya ?” .

“ Ah , tidak sama sekali ciangkun ?”

“ kau kira aku tidak mengenal siapa kamu ? Bukankah kamu mata-mata yang bernama Cian Kauw Cu , yang pernah menangkap Gubernur Yen di Lok-yang ?” .

Akauw kembali terkejut , tak di sangkanya bahwa panglima besar itu mengenalnya , pada hal tidak pernah bertemu . “ Saya …….. saya sudah tidak menjadi panglima lagi , ciangkun , saya sudah menjadi seorang rakyat biasa . Harap lepaskan hamba , karena hamba tidak bersalah apa-apa “ .

“ Enak saja . Engkau berkeliaran di sini tanpa ijin , tentu ada sebabnya . Dan nona ini , bukankah nona ini puteri Perdana Menteri Ji Sun Cai ? Mengapa berkeliaran pula di tempat ini ? Hendak memata-matai kami , ya ?” .

Ji Goat tidak perlu berpura-pura lagi karena panglima itu sudah tahu tentang ayahnya . “ Bagus sekali kalau engkau sudah mengenalku , panglima . Melihat muka ayah , harap engkau tidak menggangguku dan membiarkan kami lewat “ .

“ Tidak , Enak saja , setelah melanggar wilayah 387

kekuasaanku begitu saja , minta di bebaskan . Aku harus menahan kalian dan sebelum ada penjelasan resmi dari Perdana Menteri Ji dan Koksu Lui kami tidak akan melepaskan kalian !” .

“ Coa-ciangkun !” kata Ji Goat yang kini sudah tahu dengan siapa ia berhadapan . “ Engkau hendak menangkap aku , puteri Perdana Menteri ?” .

“ Kalau engkau datang berterang dan minta ijin , tentu kami tidak berani menangkapmu , akan tetapi engkau datang seperti seorang penjahat , seperti seorang penyeludup dan mata-mata yang patut di curigai . Aku harus mendapat kepastian dan Perdana Menteri harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini !”

“ Pengawal , tangkap kedua orang ini !” .

“ Tahan ….. !” Terdengar seruan seorang dan muncullah seorang pemuda yang bukan lain adalah Yen Gun . Pemuda ini mendapat tugas dari Yang Cien untuk menyusul Akauw dan kalau perlu membantunya . Kebetulan sekali Yen Gun juga mengambil jalan itu sehingga dia dapat melihat betapa Akauw dan Ji Goat akan di tangkap oleh Panglima Coa . Dia sendiri sudah pernah berkunjung bersama ayahnya ke rumah Panglima Coa sehingga mengenal baik panglima ini .

“ Ah , bukankah Yen-kongcu ? Kenapa Yen-kongcu berada pula di tempat ini ?”

“ Coa-ciangkun , saya harap ciangkun tidak menangkap mereka . Mereka bukan musuh dan mereka tentu tidak sengaja datang ke tempat ini , seperti juga aku . Kami orang-orang muda memang merantau dan hendak meluaskan pengalaman , maka datang kemana saja tanpa maksud tertentu . Harap Coa-ciangkun suka memaafkan mereka “ .

“ Hemmm , Yen-kongcu menjadi pelarian karena ayahmu di tawan dan engkau melarikan diri . Hal ini kami sudah mengetahui . Kini muncul di sini , jangan-jangan membuat 388

kami akan di anggap menyebunyikan kongcu . Sekarang , apa boleh buat kami terpaksa menahan kongcu pula sebagai tawanan . Tangkap mereka bertiga !” .

Tiga orang muda itu tidak melakukan perlawan . Apa gunanya melakukan perlawanan kalau di tangkap oleh Coa-ciangkun yang memiliki puluhan ribu orang perajurit di daerah itu . Melawan pun tidak akan ada gunanya . Maka , merekapun menurut saja ketika di giring ke tempat tahanan .

Dalam tahanan ini barulah Yen Gun berkenalan lebih dekat dengan Akauw dan Ji Goat yang sudah dikenalnya lebih dulu sebagai sesame putera pejabat . Dan mereka hanya mengharapkan agar Yang Cien dengan cepat datang membebaskan mereka . Menurut keterangan Yen Gun , Yang Cien memang bermaksud menemui Coa-ciangkun dan Gubernur Gak , dan mereka yakin bahwa apabila Yang Cien dan Yen Sian sudag bertemu dengan kedua pejabat tinggi ini , mereka akan segera di beri kebebasan . Mereka di tahan di dalam benteng yang kokoh kuat , namun diperlakukan dengan baik .

-oo0dw0oo-

Beberapa hari kemudian datanglah Yang Cien bersama Yen Sian menghadap Gubernur Gak . Tentu saja ia di terima dengan baik oleh Gubernur itu , yang pernah menerima Yang Cien ketika pemuda ini menyerahkan surat dari mendiang Kam Lokai . dan kebetulan sekali ketika Yang Cien datang menghadap , Gubernur Gak sedang mengadakan perundingan dengan Coa-ciangkun tentang tangkapan Coa-ciangkun .

Ketika Gubernur Gak bertanya tentang maksud kunjungan Yang Cien , pemuda ini dengan terus terang berkata , “ gak-taijin , sekali ini saya datang menghadap sebagai seorang beng-cu . Hendaknya paduka ketahui bahwa saya telah di angkat dan di pilih sebagai bengcu oleh seluruh kai-pang dan beberapa perkumpulan silat yang besar , walaupun hal itu tidak di akui oleh pemerintah yang mengadakan pemilihan 389

beng-cu tandingan dan mengangkat Thian-te Ciu-kwi pembantu Lui Kok-su , sebagai bengcu . Sekarang saya datang menghadap Taijin untuk berembuk bagaimana sebaiknya untuk memulai perjuangan kita bersama “ .

“ Maksud taihiap , bagaimana ? Harap diketahui bahwa kami belum memiliki niat untuk melakukan pemberontakan ! Kami tetap akan setia kepada Kerajaan Wei selama Kerajaan Wei melakukan usaha perbaikan …… “ .

“ Gak-taijin , sudah bukan rahasia lagi bahwa pemerintah Kerajaan Wei Toba semakin buruk memperlakukan rakyat . Korupsi terjadi dimana-mana . Pejabat yang baik dan jujur bahkan di tangkapi . Gubernur Yen dan para pejabat di Lok-yang sudah di tangkapi , dan agaknya para pejabat di Nam-kiang tinggal menanti giliran . Terus terang saja , Taijin , kami sudah melakukan penyelidikan dengan tekun dan rakyat akan berdiri di belakang kita kalau kita hendak merombak pemerintah penjajajh ini “ .

“ Orang muda !” bentak Coa-ciangkun . “ Lancang benar engkau mengajak kami untuk memberontak !” .

“ maaf , Panglima . Bukankah panglima sendiri beberapa kali membangkang atas kehendak kaisar untuk menarik mundur pasukan ? Tarikan mundur pasukan itu hanya siasat Kok-su Lui untuk menjatuhkan paduka dan Gubernur Gak . Mereka hendak bersekutu dengan Kerajaan Chen atau Sun untuk memperluas pengaruh mereka di selatan . Dan saya sendiri sudah menghubungi Kerajaan Chen untuk menawarkan kerja sama . Kalau kita semua bekerja sama , menggulingkan pemerintah penjajah Mongol itu , maka barulah seluruh Cina dapat dipersatukan “ .

“ Hemm , orang muda . Engkau memiliki apakah maka berani membual untuk berjuang ? Apa engkau memiliki pasukan ?” Tanya sang jenderal .

“ Panglima , saya adalah beng-cu dan di belakang saya 390

terdapat puluhan ribu orang kang-ouw yang akan mendukung saya . Bukan saja seluruh anggota kai-pang di empat penjuru tunduk kepada saya karena saya adalah bengcu pilihan mereka , akan tetapi juga puluhan perkumpulan dan partai persilatan besar mendukung saya . Sudah kami selidiki bahwa kalau perjuangan dimulai , maka rakyat akan sepenuhnya mendukung penghancuran penjajahan dari tanah air . Kalau pasukan di Nam-kiang mau bergabung dengan kami , dan juga dengan pasukan Kerajaan Chen , tentu kita akan menjadi kuat dan dapat menjadi penghantam utara bagi pasukan pemerintah penjajah “ .

“ Enak saja engkau bicara . Apa kau kira untuk menghimpun pasukan besar itu tidak dibutuhkan biaya ? Biaya yang besar , darimana engkau akan mendapatkannya ? Tanya Coa ciangkun .

“ harap ji-wi tidak khawatir . Saya telah memikirkan dan memperhitungkan segalanya . Kami telah mempunyai sumber dana yang besar sekali , yang sanggup untuk memelihara ratusan ribu orang perajurit dalam waktu lama . Bahkan saya sudah mengutus sute saya sendiri yang bernama Cian Kauw Cu untuk menemui Kaisar Sun Huang te dari Kerajaan Chen dan saya hamper yakin bahwa Sun Huang-te akan menerima uluran tangan kami untuk bekerjasama “ .

“ Apa ? Coa-ciangkun berseru . “ Jadi Cian Kauw Cu itu utusanmu ? Kami telah menawannya , bersama puteri Perdana Menteri Ji dan putera Gubernur Yen !” .

“ Ah , panglima , harap paduka cepat membebaskan mereka . Mereka itu bukanlah musuh , sama sekali tidak bersalah terhadap paduka “ , kata Yang Cien kaget dan juga girang .

“ Akan tetapi mengapa terdapat pula puteri Perdana Menteri Ji ?”

“ Hendak nya diketahui bahwa nona Ji Goat adalah sahabat 391

suteku dan ia tidak dapat disamakan dengan ayahnya . Ia bahkan membujuk ayahnya untuk mengundurkan diri akan tetapi ayahnya yang tidak mau malah marah dan hendak menahan puterinya sendiri . Nona Ji Goat adalah seorang gadis yang berjiwa patriot . harap ciangkun membebaskannya sekarang juga “ .

“ Juga kakakku Yen Gun adalah seorang patriot sejati , dan kami mendendam kepada pemerintah penjajah karena ayah kami di tangkap !” kata pula Yen Sian .

Tiga orang tawanan itu lalu di ambil dan di bawa ke tempat itu . Tentu saja mereka merasa gembira sekali bertemu dengan Yang Cien dan Yen Sian di rumah Gubernur Gak .

Perundingan lalu dilakukan dengan serius sekali dan akhirnya , baik Gubernur Gak maupun Jenderal Coa sepakat untuk bekerjasama dengan Yang Cien ! .

Nam-kiang benar-benar dijadikan perbentengan utama oleh Yang Cien dalam memulai perjuangan itu . Dia segera bersama Akauw pergi ke Lembah Iblis dan mengangkuti emas yang bergumpal-gumpal itu , dan dari hartu karun ini mereka mampu untuk membiayai penghimpunan pasukan yang besar jumlahnya . Para anggota kai-pang di seluruh negeri di latih menjadi pasukan , dan rakyatpun berbondong-bondong datang untuk menjadi perajurit sukarela .

Kerajaan Wei Toba mendengar tentang pergerakan di Nam-kiang ini dan mereka segera mengirim pasukan untuk memadamkan pemberontakan . Akan tetapi yang mereka dapatkan bukan sekedar pemberontakan para anggota kai-pang , melainkan pemberontakan besar yang melibatkan pasukan di bawah komandan Coa dan Gubernur Gak , bahkan pasukan itu juga bergabung dengan pasukan dari Kerajaan Chen atau Sun ! Pasukan dari kota raja di pukul mundur dalam perang pertama itu ! .

Perang berkobar dimana-mana setelah dimulai dari Nam-392

kiang . Yang Cien terus menghimpun pasukannya dan kekuasaannya semakin besar saja . Orang-orang mulai menaruh kepercayaan kepada beng-cu muda yang kini menjadi pemimpin perjuangan memberontak terhadap Kerajaan Wei Toba .

Kimana saja Yang Cien dan Akauw memimpin pasukan mereka , kedua orang pendekar ini pasti memperoleh kemenangan . Yang Cien dan Akauw selalu turun ke lapangan sendiri , sepasang pendekar ini bagaikan sepasang naga hitam dan putih dari Lembah Iblis , mengamuk dengan pedang pusaka mereka dan gerakan pasukan mereka sukar dibendung , selalu menghancurkan siapa saja yang menghalang di depan .

Dalam waktu yang tidak terlalu lama , Yang Cien yang pandai memilih tempat , menyerbu Lok-yang dan Lok-yang jatuh ke tangannya . Setelah Lok-yang jatuh dan menjadi pusat darimana dia mengatur pasukannya bergerak , maka tidak ada yang dapat menghentikannya lagi . Satu demi satu raja-raja kecil yang tidak mau bergabung dengannya di jatuhkan dan akhirnya , seperti terdapat dalam catatan sejarah yang gemilang dari perjuangan Yang Cien , kota Raja Tiang-an jatuh pula ke tangannya .

Perang hebat terjadi ketika Tiang-an di serbu . Tidak kurang dari Koksu Lui Tat sendiri yang memimpin pasukan ini , dan pasukan ini bentrok dan perang campur melawan pasukan inti yang di pimpin Yang Cien dan Akauw . Perang pun terjadilah dan Toat-beng Giam-ong Lui Tat atau Koksu mengamuk dengan senjata golok gergajinya yang ampuh . Namun dia bertemu dengan Yang Cien dan terjadilah pertandingan yang amat hebat . Golok gergaji dilawan Pek-liong Po-kiam . Bagaikan pertarungan harimau dan naga saja layaknya . Semua perajurit yang berdekatan memandang kagum dan tidak berani mencampuri karena siapa berani berdekatan saja , baru terkena sinar kedua senjata itu sudah 393

cukup untuk merobohkan mereka . Yang Cien harus memeras seluruh tenaga dan memainkan Bu-tek Cin-keng di samping ilmu pedang Pek-liong Kiam-sut , dan setelah lewat seratus jurus lebih barulah pedangnya berhasil membabat patah golok gergaji , menembus pakaian perang Koksu dan robohlah Toat-beng Giam-ong Lui Tat dengan leher terpenggal ! Terdengar sorak sorai pasukan pemberontak dan mulahlah kekalahan pasukan kerajaan yang terakhir mempertahankan Tiang-an .

Pasukan lain dari kota raja juga kocar kacir . Sebuah pasukan yang di pimpin oleh Lai Seng bersama Bong Kwi Hwa juga rusak binasa . Bong Kwi Hwa sendiri sudah roboh tewas , tinggal Lai Seng yang kemudian meninggalkan pasukannya dan melarikan diri . Orang yang pengecut ini memang selalu memikirkan keselamatan dirinya sendiri saja . Setelah melihat isterinya tewas dan pasukannya tidak ada harapan untuk menang , dia lalu membalapkan kudanya dan melarikan diri keluar dari medan pertempuran terus membedal kudanya melarikan diri ke barat .

Akan tetapi ketika kudanya tiba di sebuah tikungan , dia bertemu dengan sebuah pasukan istimewa . Pasukan yang terdiri dari wanita semua ! Dan ternyata pasukan ini adalah pasukan dari Thian-li-pang yang seperti juga perkumpulan kang-ouw lainnya , membantu perjuangan beng-cu yang Cien . Dan pasukan Thian-li-pang itu di pimpin sendiri oleh Im-yang To-kouw .

Dapat di bayangkan betapa gemas dan marahnya Im-yang To-kouw ketika melihat siapa penunggang kuda yang melarikan diri . Ia memerintahkan para murid untuk mengepung , akan tetapi membiarkan ia sendiri untuk menghadapi musuh besar itu .

“ Lai Seng , keparat terkutuk engkau . Tibalah saatmu menebus dosamu terhadap muridku Sun Nio !” teriak Im-yang To-kouw sambil mengelebatkan pedangnya dan kebutannya yang berbulu putih . 394

Wajah Lai Seng menjadi pucat . Maklum bahwa tidak mungkin dia keluar dari kepungan itu , dia lalu melompat turun dari kudanya dan menyerang Im-yang To-kouw dengan sengit . Terjadilah pertempuran mati-matian antara Im-yang To-kouw dan Lai Seng . Akan tetapi , hati Lai Seng sudah kehilangan nyalinya , dalam keadaan panik dan ketakutan itu permainan pedangnya ngawur dan biarpun dia berusaha untuk menang , namun belum sampai seratus jurus , kebutan di tangan Im-yang To-kouw telah dapat mengenai matanya . Dia terjengkang dan sebelum sempat menangkis ,lehernya sudah terbabat oleh pedang to-kouw itu dan tewaslah Lai Seng .

Gubernur Yen belum terhukum mati dan gubernur ini dapat dibebaskan sehingga dia masih dapat memberi restu atas pernikahan puterinya , Yen Sian , dengan pemimpin besar Yang Cien . Perdana Menteri Ji membunuh diri setelah dianpun merestui pernikahan Ji Goat dengan Cian Kauw Cu . Perdana Menteri ini merasa menyesal mengapa dia tidak mengikuti nasehat puterinya , namun penyesalannya telah datang terlambat . Dia harus membunuh diri agar terbebas dari hukuman .

Demikianlah riwayat berdirinya Kerajaan Sui ( 581 – 618 ) yang di dirikan oleh Yang Cien sebagai kaisar pertamanya . Dalam pimpinannya , Cina mendapatkan kembali kebesarannya . Keamanan kembali terpelihara , keadaan dalam negeri di perkuat , semua kekuatan dapat di persatukan . Pemerintah di selenggarakan dengan kebijaksanaan , pajak di ringankan , hokum di tertibkan dan dilaksanakan dengan baik dan bahkan untuk kepentingan pertanian dan perdagangan , Yang Cien memerintahkan penggalian terusan-terusan yang menghubungkan kedua sungai induk , Huang-ho dan Yang-ce-kiang .

Rakyat hidup Makmur dan tentram berkat pemerintahan yang di pegang tangan yang adil dan bijaksana . Agama berkembang dengan suburnya , kebudayaan maju dengan 395

pesatnya . Sampai di sini selesailah kisah ini dan sampai jumpa di kisah yang lain .

TAMAT

Lereng Lawu , akhir Oktober 1986

 Sepasang Naga Lembah Iblis

Karya : Asmaraman S Kho Ping hoo

Ebook by Muk San & Dewi KZ

Jilid 1

Setelah mengalami perang saudara yang terkenal dengan sebutan jaman Sam-Kok ( Tiga Negeri ) antara tahun 221 – 265 , akhirnya Tiongkok dapat dikuasai oleh Kerajaan Wei dan dapat dipersatukan kembali. Namun kedamaian itu tidak lama dinikmati rakyat karena segera di susul oleh kekacauan terjadi terus menerus , perang perebutan kekuasaan di tambah lagi oleh penyerbuan bangsa Suku Nomad dari utara dan barat ,

maka kehidupan rakyat jelata menjadi amat sengsara .

Bahkan sampai pada abad ke lima , bangsa Tiongkok masih belum dapat menikmati kehidupan yang tentram . Hukum rimba berlaku dimana-mana , siapa kuat dia menang dan siapa menang dia kuasa dan yang berkuasa selalu benar . Kesengsaraan memuncak dan kekacauan menghebat ketika bangsa-bangsa Nomad , yaitu suku Hsiung-nu , Turki , Tibet dan Bangsa Toba mempersatukan diri dan menyerbu ke selatan . Akhirnya seluruh Tiongkok utara dapat dikuasai oleh suku bangsa Toba yang mendirikan Kerajaan Toba ( Mongol ) . Tiongkok kembali terpecah belah dan kekacauan berlangsung terus .

Kisah ini dimulai dalam jaman yang kacau itu , sekitar tahun 545 Masehi . Pada suatu hari , seorang wanita menggendong anaknya yang baru berusia setahun , berlari-lari mendaki bukit dan dengan nekat memasuki daerah Lembah Iblis . Padahal , lembah ini merupakan daerah yang amat di takuti . Bahkan para pemburu yang paling gagah sekalipun tidak berani memasuki lembah ini . walaupun berkawan banyak . Mereka semua percaya bahwa lembah ini di huni oleh iblis-iblis yang jahat .

Akan tetapi wanita itu nekat , lari memasuki lembah sambil menggendong anaknya dan sambil menangis . Ia seorang wanita berusia duapuluh tahun lebih , cantik manis walaupun pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang desa . Anak yang di gendongnya adalah seorang anak laki-laki yang tidak menangis karena ia di dekap di dada ibunya dan mulutnya di sumbat putting buah dada yang penuh air susu . Beberapa kali wanita itu menengok dan ketika melihat bahwa laki-laki itu masih terus mengejarnya , ia berlari semakin cepat memasuki hutan pertama di lembah itu .

Laki-laki yang mengejarnya itu berusia empat puluh tahun , tinggi besar bermuka hitam , di punggungnya terselip sebatang golok yang masih merah karena berlepotan darah . 3

Dia baru saja membunuh suami wanita itu dan kini mengejar si wanita .

Pada masa itu kejadian seperti ini seringkali berlangsung . Perampokan , perkosaan , pembunuhan terjadi dimana-mana tanpa ada pihak penguasa yang dapat menanggulanginya . Suami wanita itu bernama Cian Kim , seorang petani yang tinggi besar dan termasuk jagoan di dusunnya . Akan tetapi hari itu dusun di datangi segerombolan orang kasar dipimpin orang tinggi besar bermuka hitam itu . Mereka merampok dusun dan ketika melihat isteri Cian Kim , kepala perampok itu terpesona dan segera mengejarnya . Suaminya segera turun tangan menghalanginya , akan tetapi kepala perampok itu lalu menyerangnya dengan golok . Terjadi perkelahian tidak seimbang . Karena kepala perampok itu pandai bermain silat dan tak lama kemudian Cian Kim roboh mandi darah dan tewas . Isterinya , Lan Si , lari sambil menggendong puteranya , di kejar oleh kepala perampok itu .

Dan kini mereka memasuki Lembah Iblis . Agaknya nafsu berahi telah naik ke otak kepala perampok itu yang tergila-gila melihat Lan Si yang montok dan manis itu . Maka diapun lupa bahwa dia telah memasuki daerah yang amat di takuti itu .

“ Berhenti , manis , ha-ha-ha . Engkau hendak lari kemana lagi ? Menyerahlah dan aku tidak akan mengganggu anakmu . ha-ha !” kepala perampok itu tertawa melihat betapa wanita itu sudah mulai kendur larinya .

Mereka tiba di bagian yang banyak pohon-pohon besarnya . Dan wanita yang sudah kelelahan itu akhirnya tersandung akar pohon dan terjerembab jatuh , dan terdengarlah puteranya menangis menjerit-jerit .

“ Ha-ha-ha , engkau tak dapat lari lagi …….. ! “ Si muka hitam tertawa bergelak dan menubruk kea rah wanita yang masih rebah miring itu .

Akan tetapi tiba-tiba semua pohon sekeliling tempat itu 4

bergoyang-goyang dan terdengar suara cecowetan riuh rendah , lalu banyak sekali kera yang besar berlompatan dari atas pohon , ada yang langsung menubruk kea rah laki-laki bermuka hitam itu . Banyak sekali kera itu , puluhan banyaknya dan tinggi mereka kalau berdiri ada yang mencapai satu meter ! .

Laki-laki muka hitam itu terkejut sekali karena selagi dia membungkuk , sebelum tangannya dapat menyentuh tubuh wanita itu , punggungnya di timpa beberapa ekor kera yang langsung menggigit tengkuknya .

Dia berteriak dan menggunakan kedua tangan untuk memukul , kemudian dia mencabut goloknya dan mengamuk . Akan tetapi kera-kera itu gesit sekali dan pandai mengelak . Akhirnya , biarpun goloknya mampu merobohkan empat ekor kera , ada kera besar yang menggigit lengan kanannya , ada pula yang memeluk dari belakang menggigit tengkuk , ada yang memegangi kaki dan menggigit kedua kakinya . Tidak kurang dari sepuluh ekor kera mengeroyok dan menggigitnya dan akhirnya si muka hitam itu hanya mampu berteriak melolong-lolong . Akan tetapi teriakannya makin melemah dan ketika ada kera menggigit kerongkongannya , diapun berkelojotan dan tak lama kemudian mati dalam keadaan tubuh penuh luka terkoyak .

Sementara itu , setiap ekor kera yang menjamah wanita itu , menarik kembali tangannya . Kiranya wanita itu telah mati . Ketika tadi jatuh terjerembab , kepalanya terbentur batu demikian kerasnya sehingga kepala itu retak dan wanita itu tewas tak lama kemudian .

Seekor kera betina , yang buah dadanya menggembung karena baru dua hari yang lalu ia melahirkan anak yang mati katika lahir , ketika melihat bayi yang menangis menjerit-jerit membuat kera yang lain ketakutan , segera menyambar bayi itu dan secara naluriah ia mendekap bayi itu , membiarkan mulut bayi bertemu putting susunya yang besar . Seketika 5

bayi itu berhenti tangisnya dan dia sudah menyusu dengan enaknya lalu tertidur dalam pondongan kera betina , jauh tinggi di atas pohon besar . Setiap kali ada monyet lain mendekat , betina yang besar itu menyerengai , memperlihatkan gigi dengan sikap mengancam dan sejak saat itu ia menjadi ibu dari bayi itu . Ia telah memperoleh pengganti anaknya yang mati ketika lahir karena beberapa hari sebelumnya ia terjatuh katika dahan yang diinjaknya patah .

Mayat si muka hitam dan mayat ibu muda itu tak lama kemudian juga menjadi mangsa-mangsa hewan-hewan hutan yang liar sehingga beberapa hari kemudian yang tinggal hanyalah tulang belulangnya saja .

Kematian datang begitu tiba-tiba , kepada siapa saya yang sudah tiba saatnya . Akan tetapi bocah itu , secara aneh sekali dan tidak wajar telah terhindar dari kematian . Siapakah yang mengatur semua ini ? Yang mesti mati , matilah . Yang mesti hidup , dengan cara aneh dapat hidup . Sungguh besar sekali kekuasaan yang mengatur segala sesuatu di jagat raya ini . Biarpun dalam pandangan manusia peristiwa yang terjadi di Lembah Iblis itu nampak aneh , namun sesungguhnya hanya merupakan peristiwa kecil tak berarti apa bila di bandingkan dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi setiap saat di alam semesta ini . Kekuasaan yang mengatur semua itu , dari peristiwa terkecil sampai peristiwa terbesar , adalah tunggal . Kekuasaan Tuhan menyusup dan mengatur dimana saja , tak terkecuali di manapun juga mendahului yang terdahulu dan mengakhiri yang terakhir .

Sejak anak bayi berusia setahun itu di sambar dari dekapan ibu kandungnya yang tewas oleh sepasang lengan panjang seekor kera betina , maka mulailah riwayat hidup seorang anak manusia yang luar biasa . Keadaan dan cara kehidupan monyet yang serba keras dan sukar , menggemblengnya menjadi seorang mahluk setengah manusia setengah kera . 6

Jalannya , caranya meloncat , caranya menyerengai , berkelahi , makan apa saja yang biasa dimakan orang-orang hutan itu , persis kera besar . Akan tetapi ada suatu kelebihan padanya yang tidak ada pada kera itu , yaitu akal budi . Dalam hal pertumbuhan jasmani , induk kera itu seringkali merasa tak sabar karena anaknya itu tak kunjung besar dan tidak kunjung kuat . Masih saja lemah dan memerlukan penjagaannya selalu . Kalau tidak , tentu anaknya itu sudah terjatuh dari atas pohon atau kena gigit kera-kera temannya karena gigi anaknya tidak tumbuh kuat runcing seperti kera-kera lain . Namun , setelah anak itu berusia lima enam tahun , ternyata dia dapat mengalahkan semua teman bermainnya .

Dia pandai sekali bagi ukuran kera , naluri dan kepekaannya sama dengan kera , akan tetapi akal budinya seperti manusia . Dia dapat mempergunakan batu , kayu dan benda apa saja yang keras untuk senjata , sedangkan kera-kera lain tidak mampu . Dia juga bukan hanya pandai berayun-ayun dan berlompatan seperti kera , walaupun kalah gesit , akan tetapi dapat pula berlari secepat kijang , hal yang tidak dapat dilakukan kera lain .

Pada suatu hari , selagi anak itu bersama kera-kera lainnya bermain dan bergelut di atas pohon , dibawah sana terdapat sebuah telaga kecil , tiba-tiba anak itu terpeleset dan terjatuh ke dalam air yang dalam . Semua kera kebingungan , juga induk kera menjerit-jerit . Jatuh ke dalam air itu berarti mati , kematian yang menyedihkan .

Akan tetapi , biarpun amat ketakutan , anak itu menggerakkan kaki tangannya , meronta dari pelukan air dan …….. tubuhnya tidak jadi tenggelam , melainkan mengapung ke permukaan airnya . Hanya akal budinya sebagai manusia yang memberitahu kepadanya bahwa dengan menggerakkan kaki tangannya , dia tidak tenggelam dan demikianlah , dia malah bermain-main di air itu dan merasa tubuhnya segar dan nyaman sekali . 7

Semenjak peristiwa itu anak itu sering kali terjun ke air dan berenang kian kemari , membuat para kera itu tertegun kagum dan juga kuatir .

Namun , setiap mahluk , setiap tumbuh-tumbuhan , semua bertumbuh sesuai dengan kodratnya . Walaupun lingkungan mempengaruhi dan membentuk wataknya , seperti anak itu yang wataknya menjadi mirip watak kera , namun dia tetap saja seorang manusia . Oleh teman-temannya kera-kera muda , anak itu di “ panggil “ dengan nama kercak . Kercak si kera putih tanpa bulu ini tetap saja seorang manusia yang lain sama sekali daripada kera itu . Dia menyadari hal ini , kadang dia merasa malu melihat keadaan tubuhnya yang tidak berbulu itu . Pernah dia melumuri dirinya dengan Lumpur agar agak sama dengan kawan-kawannya . Akan tetapi setelah Lumpur itu mongering , dia merasa tidak enak sekali dan pergi berenang untuk membersihkan dirinya lagi .

Selain itu , Kercak juga memiliki rasa keadilan yang tidak dimiliki teman-temannya . Kalau ada kera nakal merebut makanan dari kera lain , dia tentu membela kera yang makanannya di rebut itu dan dalam setiap pergulatan , dia selalu keluar sebagai pemenang . Kalau kera-kera itu hanya bisa mencakar dan menggigit , maka kercak dapat memukul dan menendang , juga menggigit .

Pada suatu pagi , dia melihat seekor kera besar mengejar-ngejar para kera muda dan merampas buah-buahan mereka . Kercak melihat ini menjadi marah dan dia menggereng seperti kera marah .

Kera besar itu membalik dan menyerangnya .

Kercak agaknya maklum bahwa kalau berkelahi di pohon , dia akan kalah karena gerakannya tidaklah segesit kera , maka dia lalu mengayun dirinya turun , dikejar oleh kera besar . Setelah keduanya berpijak di tanah , barulah Kercak melakukan perlawanan . 8

Kera besar itu kuat bukan main . Beberapa kali Kercak melawan terus , memukul dan menendangi dan akhirnya kera besar itu berhasil di usirnya dan kera itu berteriak-teriak sambil lari terpincang-pincang . Sejak itu , Kercak di anggap jagoan dan pemimpin para kera muda . Biarpun dia menang , akan tetapi Kercak harus rebah sampai dua hari karena menderita sakit-sakit oleh gigitan dan bantingan kera besar itu .

Dalam usia sepuluh tahun Kercak telah menjadi pemimpin para kera yang ditakuti . Tidak seperti para pemimpin kera lainnnya , biarpun dia di anggap jagoan , Kercak tidak pernah merampas makanan kera lain , juga tidakpernah mengganggu kera-kera kecil atau kera-kera betina . Hal ini bahkan membuat kera itu tunduk kepadanya .

Pada suatu pagi , rombongan kera yang di kepalai Kercak tiba di tempat dimana dulu Lan Si dan si muka hitam tewas . Kini tinggal tulang belulang saja yang masih ada . Dengan heran Kercak menghampiri kerangka itu dan tertarik melihat benda yang berkilauan . Benda itu adalah sebuah kalung emas yang tergantung di leher kerangka yang lebih kecil . Diambilnya kalung emas itu dan seperti nalurinya memberitahu , kalung itu dia pakai di lehernya , dikalungkan dikepalanya dan tergantung dileher .

Dia senang sekali . Kemudian , dia melihat benda lain yang berkilauan , yaitu sebatang golong milik si muka hitam . Kalau kera lain tidak berani menyentuhnya , Kercak mengambilnya dan bermain-main dengan golok itu sampai golok itu menggores lengan kirinya . Dia menjerit dan melepaskan golok itu , lalu melarikan diri dengan lengan kiri berdarah .

Cepat di hisapnya luka pada lengannya , seperti yang biasa dilakukan pada kera kalau menderita luka dan segera dia mencari getah pohon Liu liar di dalam hutan untuk mengobati lukanya . Dalam beberapa hari saja luka itu sembuh .

Mula-mula , dia takut melihat golok itu . Akan tetapi akal 9

budinya sebagai sebagai manusia membuat dia memberanikan diri mendekat , dan menyentuh sambil ancang-ancang untuk lari apabila benda itu “ menggigitnya “ lagi . Akan tetapi benda itu diam tidak bergerak . Lalu di ambil , di pegang pada gagangnya . Diayunnya benda itu kea rah sebatang pohon dan batang pohon itu terbacok , terbelah dan tumbang ! Dia terkejut akan tetapi juga girang sekali .

Pada saat itu , terdengar kera-kera menjerit-jerit . Kercak terkejut dan cepat berlari kea rah suara . Dan dia melihat seekor kera dibelit seekor ular sebesar pahanya . Kera itu tidak berdaya , mencicit-cicit dank era-kera lain hanya dapat menjerit-jerit ketakutan .

Melihat seorang kawannya dalam bahaya , Kercak segera melompat dekat dan dia teringat akan golok yang masih terpegang di tangannya dan batang pohon yang terpotong oleh goloknya . Maka , cepat diangkatnya golok itu . Ular yang melihat Kercak berani mendekati , lalu mengangkat kepalanya dan hendak menyerang . Akan tetapi Kercak menggerakkan goloknya dengan kekuatan penuh dan leher itupun putus ! Libatannya terhadap kera tadipun melonggar sehingga kera itu dapat melompat dan melarikan diri sambil menjerit-jerit . Kercak sendiri melompat menjauhi , akan tetapi dia memandang dengan hati gembira melihat hasil babatan goloknya . Ular itu mati seketika dengan leher putus ! .

Semenjak peristiwa itu , Kercak makin di takuti semua kera , apalagi kemana-mana dia membawa goloknya yang tajam . Dan kini seolah menjadi raja tak bermahkota . Raja Kera ! .

*****

Seperti diceritakan dibagian depan , pada waktu itu keadaan Negara amat kacau balau . Banyak raja muda berdiri sendiri dan terjadilah perebutan kekuasaan yang tak kunjung henti . Di tambah lagi dengan penyerbuan Bangsa Toba dan sekutunya dari barat dan utara sehingga pemerintah yang berkuasa di daerah-daerah tidak sempat melakukan penjagaan 10

keamanan terhadap kehidupan rakyatnya . Karena itu , maka rakyat berusaha sendiri untuk melindungi diri dan hamper setiap orang belajar silat untuk menjada dan melindungi keluarga masing-masing . Partai-partai dan kelompok-kelompok persilatan berdiri untuk melindungi anggota masing-masing . Perusahaan – perusahaan pengawalan barang dan orang juga didirikan kaum persilatan di kota besar . Hukum rimba berlaku dimana-mana dan orang mengandalkan kekuatan sendiri untuk hidup .

Pemerintah daerah tidak dapat diandalkan karena pemerintah sibuk dengan urusan sendiri , perebutan kekuasaan dengan daerah-daerah lain .

Pada suatu pagi , serombongan terdiri dari selusin orang memasuki Lembah iblis dengan membawa bermacam barang , buntalan kain-kain dan peti-peti barang . Mereka adalah sekelompok perampok yang baru saja berhasil menghadang serombongan pedagang yang dikawal membawa barang-barang dagangan dan merampas barang dagangan itu , lalu mengerahkan kawan-kawan mereka melakukan pengejaran sehingga para perampok itu nekat memasuki Lembah Iblis untuk menyelamatkan diri dari pengejaran banyak orang .

Akan tetapi pihak pengejar , para piauwsu ( pengawal barang ) itu , yang bertanggung jawab atas kehilangan barang-barang , melakukan pengejaran terus memasuki lembah yang di takuti itu . Jumlah mereka ada tigapuluh orang maka mereka menjadi berani .

Ketika rombongan perampok itu tiba di tengah hutan lebat , para pengejar dapat menyusul mereka dan karena tidak mungkin melarikan diri lagi , kepala perampok itu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk melakukan perlawanan mati-matian . Terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara dua belas orang perampok melawan tigapuluh orang piauwsu yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan itu . Para perampok itu mencoba untuk melakukan perlawanan 11

mati-matian, bukan untuk mempertahankan barang rampokan lagi , melainkan untuk mempertahankan nyawa . Namun , terjadilah pembantaian ketika tigapuluh orang piauwsu itu mengepung dan mengeroyok dan seorang demi seorang para perampok itu terbantai , roboh bergelimpangan dan berlumuran darah .

Para piauwsu yang marah itu membunuh semua perampok dan setelah mengambil semua barang rampokan itu , mereka lalu meninggalkan tempat itu dengan girang , penuh kemenangan .

Banyak pasang mata menonton pertempuran itu . Mereka adalah para kera yang ketakutan dan menonton dari pohon-pohon yang tinggi . Diantara mereka adalah Kercak . Anak sepuluh tahun ini menonton dengan penuh perhatian , dengan jantung berdebar tegang dan aneh , tangan memegang golok dan matanya tidak pernah berkedip . Dia melihat mahluk yang seperti dia , kera-kera yang tidak berbulu , bertempur , menggunakan bermacam senjata , banyak pula yang memakai senjata seperti miliknya , saling bunuh memperebutkan barang-barang aneh . Dan semua kera berkulit halus itu menutupi tubuh mereka dengan semacam pembungkus ! Setelah pertempuran selesai , semua orang yang menang bertempur pergi meninggalkan sepuluh orang yang sudah menggeletak mandi darah , Kercak turun dari atas pohon , diikuti beberapa ekor kera besar yang masih takut-takut .

Yang menarik perhatian Kercak adalah senjata-senjata itu . Dia berganti-ganti memungut pedang , tombak , ruyung , akan tetapi semua di buangnya kembali dan dia merasa bahwa semua barang itu tidak ada yang lebih baik daripada golok yang dipegangnya . Lalu dia meraba-raba pakaian mereka . Ketika dia meraba seorang yang bertubuh tinggi kurus , orang itu bergerak sehingga dia terkejut , melompat jauh ke belakang dan siap dengan golok di tangan .

Orang itu ternyata belum mati , dan di sangka mati oleh 12

para lawannya . Kini dia bangkit duduk dan melihat Kercak , bocah berumur sepuluh tahun yang telanjang bulat dan memegang golok , rambutnya panjang terurai di punggung , orang itu terbelalak dan menggosok kedua mata dengan tangan untuk mengusirmimpi buruk itu . Akan tetapi , bocah itu masih berada di situ memandang kepadanya dengan aneh , berdirinya agak membungkuk seperti kera .

“ Sobat kecil , kau tolonglah aku …”

Orang itu menjulurkan kedua tangannya , lalu terkulai pingsan . Dia adalah kepala perampok yang bernama Boan Ki .

Ketika Boan Ki sadar dari pingsannya , dia mendapatkan dirinya sudah berada di bawah pohon besar tak jauh dari tempat terbunuhnya semua anak buahnya .

Dia membuka mata dan bangkit duduk , melihat bahwa luka di pundaknya sudah di obati dengan semacam getah yang membuat luka itu terasa dingin . Baru saja dia membuka mata dan bangkit , ada orang mengguyur kepalanya dengan air . Dia terkejut dan melihat bahwa yang melakukannya adalah bocah yang di lihatnya tadi . Ternyata anak itu membawa air dalam daun yang amat lebar dan air itu di guyurkan kepadanya .

Kepala dan mukanya basah kutup , akan tetapi dia berterima kasih karena siraman air itu membuat dia merasa sejuk dan nyaman .

“ Anak yang baik , engkau siapakah ?”

Boan Ki bertanya sambil duduk bersandar batang pohon . Mendengar suara ini . Kercak nampak bingung dan dia mengeluarkan suara kera yang cecowetan , sambil tangannya bergerak-gerak ke kanan kiri .

Kini Boan Ki yang menjadi bingung . Di ulanginya pertanyaannya namun bocah itu hanya dapat mengeluarkan suara seperti kera dan berloncat-loncatan . Dia menghela 13

napas panjang . Selama hidupnya mendengarpun belum dia akan seorang anak manusia yang bersikap seperti kera , telanjang bulat namun telah menyelamatan nyawanya .

Dia lalu menuding ke arah dadanya sendiri dan berkata berulang-ulang , “ Boan Ki , Boan Ki , Boan Ki …. “ Maksudnya hendak memperkenalkan namanya kepada anak itu .

Kercak mendengarkan penuh perhatian . Karena suara itu berulang-ulang , dia lalu berusaha menirukan , “ Aki … Aki …. !” .

Boan Ki tertawa bergelak mendengar namanya di sebut Aki , karena begitulah orang tuanya dulu menyebutnya . Dan melihat Boan Ki tertawa , Kercak juga ikut-ikutan tertawa , walaupun suara tawanya kak-kak-kek-kek seperti suara monyet .

Setelah agak lancer mengucapkan kata Aki , Boan Ki lalu menuding kea rah dada Kercak dan berkata , “ Kauw-Cu , Kauw Cu …. ! “ berulang-ulang . Kembali Kercak menirukan , akan tetapi yang terdengar adalah “ Akauw , Akauw , Akauw … “ .

“ Kauw Cu “ menunjukkan bahwa anak itu adalah seekor kera , dan kembali Boan Ki tertawa . Agaknya inilah pelajaran pertama bagi Kercak atau Akauw , yaitu bahwa tawa berarti baik dan benar .

Demikianlah , setelah kesehatannya pulih kembali , Boan Ki yang tidak berani keluar dari Lembah itu mulai hidup dengan Akauw yang mencarikan buah-buahan untuknya . Boan Ki mulai mengajarkan beberapa patah kata , dan mengajak Akauw untuk melemparkan semua mayat ke dalam jurang setelah melucuti pakaian mereka . Juga dia mengajarkan cara berpakaian kepada Akauw !

Karena semua pakaian itu semua kebesaran , maka Akauw memakai pakaian menjadi kedodoran , akan tetapi setelah mengenakan pakaian , dia nampak lebih sebagai manusia 14

daripada sebagai kera .

Agaknya , naluri dalam diri Kercak atau Akauw memberitahu kepadanya melalui perasaannya bahwa dia telah bertemu dengan bangsanya , maka dia pun menurut saja segala yang di ajarkan Boan Ki kepadanya .

Boan Ki mengajarkan membuat api , menangkap binatang hutan dan memanggang dagingnya dan segala macam cara hidup manusia biasa , walau pun cara itu amat sederhana karena keadaan mereka hidup di lembah yang penuh hutan liar itu .

Boan Ki adalah seorang kepala perampok berusia empat puluh lima tahun yang biasa hidup keras dan tidak mengenal perikemanusiaan . Entah sudah berapa banyak orang di bunuhnya , perempuan di perkosanya . Akan tetapi sekarang dia bersikap baik , seperti seorang guru yang tekun , sabar bagi Akauw . Hal ini bukan saja karena dia merasa telah diselamatkan nyawanya oleh anak itu , melainkan juga dia membutuhkan seorang kawan di tempat yang menyeramkan itu .

Dengan bantuan Akauw , diapun kini membuat sebuah rumah dari daun-daun dan kayu ranting jauh di atas pohon sehingga diwaktu malam dia dapat tidup nyenyak tidak khawatir diganggu binantang buas .

*****

Sang waktu berlalu amat cepatnya dan tahu-tahu tiga tahun telah lewat sejak Boan Ki hidup bersama Akauw di dalam hutan di Lembah Iblis . Selama itu , Boan Ki tidak berani beranjak terlalu jauh dari rumahnya diatas pohon karena beberapa kali dia nyaris celaka di serang binatang buas kalau saja tidak ada Akauw yang membelanya dan menyelamatkannya .

Suatu hari , ketika dia sedang berjalan seorang diri , seekor biruang besar menghadangnya dan menyerangnya . 15

Boan Ki juga seorang yang kuat dan biasa menghadapi kekerasan , bahkan pernah belajar ilmu silat . Dengan pedang di tangan dia melakukan perlawanan mati-matian . Namun biruang itu menggereng-gereng dan menyerangnya dengan ganas sekali . Bacokan pedangnya dapat di tangkis dan pedangnya di renggut lepas oleh kaki depan biruang yang bercakar itu . Kemudian sebuah tamparan dari kaki depan biruang itu membuatnya terpelanting . Dalam keadaan gawat dia menjadi panic dan berteriak-teriak .

“ Akauw … toloooongg !” .

Pada saat itu , Akauw muncul . Pemuda remaja berusia empat belas tahun ini memang sudah tertarik oleh gerengan-gerengan biruang yang menjadi musuh utama para kera , maka dia sudah berlompatan dari dahan ke dahan , berayun-ayun menuju ke tempat itu . Dia melihat Boan Ki sudah menggeletak dan biruang itu siap untuk menerkamnya .

“ Aki , diamlah , pura-pura mati !” kata Akauw yang kini sudah pandai bicara , lalu dia mengeluarkan teriakan melengking panjang , teriakan tantangan sebangsa kera seperti teman-temannya .

Biruang itu melihat lawannya rebah tak berkutik , menjadi sangsi , apalagi mendengar tantangan kera , dia membalik dengan marah . Pada saat itu , Akauw sudah melompat dari atas dan membacokkan goloknya dengan sekuat tenaga kea rah kepala biruang itu .

Biruang raksasa itu menangkis dengan sapokan lengannya , akan tetapi karena bacokan itu kuat sekali , lengannya menjadi tergores dan kulitnya robek . BIruang itu menggereng marah dan kesakitan , lalu menerkam kedepan . Namun dengan tangkas dan gesit sekali Akauw sudah mengelak dengan lompatan ke kiri , kemudian goloknya membacok lagi , sekali ini melukai kaki belakang biruang itu . Setelah berulang kali menerima bacokan yang membuat kulitnya yang tebal tergores luka , biruang itu menjadi ketakutan dan melarikan 16

diri .

Boan Ki bangkit berdiri dan memandang kagum . Anak berusia empat belas tahun yang tubuhnya sudah hamper sama tingginya dengan dia itu , kembali telah menyelamatkan nyawanya . Padahal anak itu sama sekali tidak pandai bersilat . Hanya gerakannya itu demikian ringan dan gesit seperti monyet , namun monyet yang banyak akalnya .

“ Aki , lain kali jangan pergi sendiri jauh-jauh , bisa berbahaya “ , kata Akauw yang biarpun masih agak kaku , namun setelah selama tiga tahun setiap hari belajar bercakap-cakap dengan Boan Ki , dia sudah cukup pandai mengutarakan perasaan hati dan pikirannya .

“ Akauw , aku bosan berdiam di atas pohon atau di bawahnya setiap hari . Sudah tiga tahun aku berada di sini dan tidak pernah pergi lebih dari satu li jauhnya dari rumah kita . Aku bosan , Akauw “

“ Kalau begitu , mari ku ajak kau jalan-jalan , Aki . Aku mempunyai sebuah tempat yang amat indah , guha-guha yang penuh dengan benda bercahaya “ .

Wajah Boan Ki menjadi berseri . “ Benarkah , Akauw ? Mari kita pergi bermain-main ke sana !” .

“ Perjalanan itu cukup jauh menyusup lembah , kita harus berangkat pagi-pagi benar agar dapat sampai di sana dan dapat kembali lagi “ .

Demikianlah , pada keesokan harinya , sebelum terang tanah , baru saja sinar matahari menerangi angkasa , mereka sudah berangkat menuju kea rah mata hari , ke timur . Boan Ki merasa gembira sekali . Karena dia memang sudah bosan setengah mati setiap hari harus tinggal saja di situ . Bahkan berburu binatang untuk dimakanpun dilakukan oleh Akauw , dan dia tidak diperbolehkan meninggalkan tempat itu jauh-jauh . Kini dia melangkah lebar di samping Akauw , seorang tua berusia empat puluh delapan tahun dan seorang pemuda 17

remaja berusia empat belas tahun .

Beberapa ekor kera hendak ikut , akan tetapi Akauw mengusir mereka . Dahulu , sebelum bertemu dengan Boan Ki , dalam perantauannya menjelajahi lembah , dia menemukan tempat itu dan di rahasiakannya . Dia tidak ingin tempat itu dijadikan tempat tinggal para kera dan menjadi kotor .

Setelah matahari naik tinggi , tibalah mereka di lereng yang penuh batu-batu . “ Itu di sana tempatnya !” Akauw menuding . Boan Ki memandang gembira . Perjalanan tadi saja sudah cukup mendebarkan hati . Mereka bertemu dengan binatang-binatang buas . Kalau saja tidak bersama Akauw , entah bagaimana jadinya . Tak mungkin dia dapat melewati binatang-binatang buas seperti biruang , harimau dan ular-ular besar itu . Akauw membawanya naik ke pohon dan melompat dari dahan ke dahan , bergantungan pada akar gantung dan melewati binatang-binatang itu dengan selamat . Kini mereka tiba di bagian yang penuh batu-batuan , dan dari jauh dia melihat bahwa yang di tunjuk Akauw itu adalah sederetan guha-guha besar .

“ Mari kita ke sana !” kata Akauw dan mereka berlari-lari menuju ke tempat itu . Ada guha yang penuh dengan arca-arca , sebagian dari arca itu belum sempurna benar , belum selesai dibuatnya . Dan Akauw menarik tangannya di ajak ke sebuah guha yang kecil di sudut .

“ Disini tempat batu-batu berkilauan itu !” katanya gembira melihat kawannya gembira .

Dan begitu memasuki guha itu Boan Ki terbelalak dan cepat lari memasuki guha , meraba dinding guha yang berkilauan .

“ Emas … ! Emass … ! Kita kaya raya …. !!! Ahh , banyak emas di sini , Akauw !” .

“ Emas ? Kaya Raya ? Apa itu ?” Akauw bingung karena belum pernah dia mendengar sebutan emas dan kaya raya . 18

Boan Ki menjadi diam . Bodoh dia kalau sampai memberitahu Akauw . Mungkin saja pada suatu hari Akauw akan bertemu orang lain dan kalau dia bicara kepada orang itu tentang guha ini , dan tentang emas … ah , dia harus cerdik .

“ Tidak apa-apa , Akauw . Ini adalah batu biasa , hanya berkilauan . Dan kita gembira . Aku gembira karena di sini indah sekali . Aku ingin tinggal di sini , Akauw “ .

“ Tidak , Aki . Kita harus pulang ke tempat kita . Di sini kita akan kelaparan , tidak ada buah-buahan , juga jarang ada binatang buruan . mari kita pulang sebelum malam tiba , Aki “ .

“ Tidak , aku tinggal di sini …..!” .

Kemudian dia melihat betapa Akauw mengerutkan alisnya . Ah , dia tidak boleh membuat Akauw curiga , maka Boan Ki lalu tertawa . “ Ah , baiklah Akauw , mari kita pulang “ .

Akauw nampak gembira kembali setelah Boan Kim au di ajak pulang . Malam itu , di atas pohon , Boan Ki gelisah tak dapat tidur . Dia tahu bahwa Akauw tadinya putera manusia biasa , bahkan dari kalung yang di pakainya , yang ada huruf Cian , agaknya orang tuanya bermarga Cian . Kalau sampai ada orang lain yang tahu bahwa tak jauh dari situ , hanya perjalanan setengah hari , terdapat guha penuh dengan emas , tentu akan ada saingan baginya . Tidak boleh , dia harus mendapatkan semua emas itu , lalu berusaha keluar dari lembah ini dan menjadi seorang yang kaya raya . Akan tetapi Akauw menjadi penghalang baginya . Selain mungkin Akauw akan menghalangi dia mengambil emas , juga Akauw perlu di singkirkan , karena dapat memberitahu orang lain .

Benda memiliki daya pengaruh yang amat kuat bagi manusia . Karena dari benda-benda ini manusia memperoleh berbagai kesenangan , maka kalau tadinya manusia mempergunakan benda bagi keperluan hidupnya , kemudian keadaannya malah berbalik . Benda menguasai batin manusia 19

saling bunuh karena benda , bahkan di antara saudara sendiri timbul pertengkaran dan permusuhan karena saling memperebutkan benda . Namanya saja benda mati , akan tetapi daya pengaruhnya sungguh besar , melebihi pengaruh daya lain .

Demikian pula dengan Boan Ki . Tadinya dia menganggap Akauw sebagai teman hidupnya di tempat terpencil itu , selain sebagai penolongnya dalam segala hal . Akan tetapi begitu dia melihat emas , semua itu terlupa . Daya pengaruh emas yang berkilauan itu mempengaruhi dan mencengkramnya , dan untuk mendapatkan emas itu , dia bersedia melakukan apa saja , yang sejahat-jahatnya sekalipun .

Mendapatkan emas itu berarti kesenangan , kemuliaan , karena kaya raya dan untuk mendapatkan itu , jangankan hanya Akauw yang bukan apa-apanya , bahkan andaikata Akauw itu saudaranya sendiri sekalipun , mungkin akan di dikorbankannya juga .

Kalau kita tergesa mengatakan bahwa Boan Ki seorang yang kejam , tidak berperikemanusiaan , maka sebaiknya kita menengok kepada diri sendiri , apakah kita tidak pernah bertengkar karena uang dengan sahabat baik kita , saudara kita , keluarga kita , bahkan isteri atau anak kita sendiri ?

Kalau sudah begitu , baru kita tahu betapa hebat dan kuat daya pengaruh benda itu mencengkram batin kita .

Pada keesokan harinya Boan Ki bangun kesiangan karena semalam dia hamper tidak tidur . Ketika dia membuka matanya , Akauw tidak berada di sampingnya . Dia tahu bahwa Akauw pagi-pagi sekali tentu sudah bangun dan kini tentu sedang mencari buah atau berburu kelinci , karena dia sudah melihat api unggun di bawah pohon . Dia lalu merayap turun dan membuat minuman air dengan mencampurkan semacam daun pengganti the yang cukup sedap di dalam air yang sudah mendidih itu . Selama ini dia sudah membuat semacam periuk dari tanah untuk memasak air dan membuat 20

masakan dari daging buruan dan sayuran yang dapat di temukan di hutan itu .

Tak lama kemudian , benar saja Akauw datang membawa buah-buahan dan seekor kelinci yang dapat di tangkap dengan melemparnya dengan batu .

“ Aki , aku berhasil menangkap seekor kelinci gemuk !” katanya gembira ketika melihat Aki sedang membuat minuman .

” Bagus , Akauw , “ kata Aki sambil tertawa . Akauw yang tidak mencurigai sesuatu segera mengguliti kelinci seperti yang di ajarkan kepadanya oleh Boan Ki . Dengan sangat asyik die mengerjakan ini , menggunakan goloknya , tidak tahu bahwa Boan Ki mendekatinya dari belakang . Tiba-tiba saja Boan Ki mengerahkan tenaganya dan menghantam tengkuk anak itu dari belakang .

“ Dukk !” tanpa dapat mengeluarkan suara Akauw terpelanting dan tak sadarkan diri lagi . Hantaman itu keras sekali , dilakukan dengan tangan terbuka miring . Kalau tengkuk orang lain yang dihantam Boan Ki seperti itu , tentu tulangnya akan patah . Akan tetapi , hantaman itu tidak mematahkan tulang tengkuknya , akan tetapi guncangan hebat pada kepalanya membuat ia roboh pingsan .

Boan Ki mengambil pedangnya dan hendak mengayun pedang itu memenggal batang leher Akauw . Akan tetapi perbuatan ini tidak jadi dilakukan . Akan mengotori tempat ini dan merepotkan harus mengurus mayatnya , pikirnya . Lebih baik dia dikirim ke dalam jurang menyusul mayat-mayat temannya dulu . Maka , diapun tenang-tenang saja mengikat kedua tangan Akauw ke belakang tubuhnya , lalu melanjutkan mengguliti kelinci dengan golok milik Akauw .

Boan Ki adalah bekas penjahat besar yang entah sudah berapa puluh kali membunuh manusia . maka apa yang dilakukannya terhadap Akauw merupakan perbuatan yang 21

baginya kecil artinya .

Tak lama kemudian Akauw mengeluarkan suara rintihan . Kepalanya bagian belakang terasa nyeri sekali , mengentak-entak rasanya dan pening .

Ketika dia membuka matanya , dia melihat Boan Ki sedang memandangnya dengan senyum aneh . Akauw berusaha untuk bangkit akan tetapi terguling kembali . Dia tidak mampu menggerakkan kedua tangannya yang di telikung ke belakang dan di ikat ! .

“ Aki …. ! Kenapa tanganku ini ? Lepaskan …! Katanya .

Boan Ki tersenyum menyerengai . “ Akauw , engkau harus pergi dari sini . Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu “ .

“ Pergi ? Kemana ? “ Tanya Akauw heran dan kini , setelah tahu kedua tangannya terikat , dia mampu bangkit dan berdiri .

“ Ke neraka !” kata pula Boan Ki sambil tertawa .

“ Neraka ? Dimana itu ?”

“ Ha-ha-ha , mari ku tunjukkan engkau dimana neraka itu . Hayo jalan ! “ . Dengan golok yang berlumuran darah kelinci di tangan , Boan Ki menodong dan mendorong Akauw untuk berjalan . Akauw tidak dapat membantah karena golok itu menusuk punggungnya . Terpaksa dia melangkah maju dengan penuh keheranan . Dia masih belum mengerti apa yang di maukan oleh kawannya itu .

“ Hayo , terus maju , jangan menengok ke belakang !” hardik Boan Ki .

Akauw maju terus sampai di tepi jurang yang amat dalam itu . Dia berhenti .

“ Hayo terus jalan , di bawah sana itulah neraka . Engkau harus pergi ke sana !” . 22

Lebih banyak nalurinya daripada pikirannya yang memberitahu Akauw apa yang sesungguhnya terjadi . Aki hendak membunuhnya ! Dia membalik dan terdengar gerengan di kerongkongannya .

“ Engkau … engkau jahat !” katanya berkali-kali dan kini dia meronta-ronta dan kedua kakinya menendang-nendang kea rah Boan Ki .

Boan Ki tidak tahu bahwa kalau tadinya Akauw menurut saja , bukan karena Akauw takut , melainkan karena dia tidak tahu apa yang dikehendaki Boan Ki , bahkan belum menyangka jelek . Baru sekarang dia tahu bahwa Boan Ki hendak membunuhnya , maka dia melawan .

Hal ini tentu dilakukan sejak tadi kalau dia sudahmengetahuinya . Dia mengeluarkan teriakna-teriakan seperti kera marah ketika menendang – nendang .

Boan Ki terkejut dan cepat menggerakkan goloknya menangkis tendangan itu .

“ Craackk !” kaki kanan Akauw terkena golok dan terluka pahanya berdarah-darah dan diapun roboh terpelanting . Namun dia bangkit berdiri lagi dengan loncatan sigap . Kalau hanya luka kecil itu saja , tidak mungkin dapat membuat Akauw menyerah .

Kembali golok menyambar .

“ Trangg …!” golok itu di tangkis sebatang pedang di tangan seseorang kakek tua yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahunan . Namun , ketika pedang menangkis , golok terpental dan Boan Ki merasa tangannya tergetar .

“ Eh , siapa engkau ? Jangan mencampuri urusanku !” bentak Boan Ki marah .

Sementara itu , seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima belas tahun , cepat melepaskan ikatan tangan Akauw yang terluka paha kirinya . 23

Kakek itu berkata , “ Sobat , engkau hendak membunuh anak itu , bagaimana kami tidak akan mencampuri ?” .

“ Kalau begitu , aku akan membunuhmu lebih dulu !” Dia menyabitkan golok yang berlumuran darah kelinci itu kepada si kakek yang cepat menangkis dengan pedangnya . Kemudian Boan Ki mencabut pedangnya dan menyerang kakek itu dengan ganasnya .

Kakek itu berpakaian seperti sastrawan , dan walaupun gerakan pedangnya amat indah , namun dia sudah terlalu tua , gerakannya sudah amat lambat sehingga Boan Ki yang keras dan kasar itu menyerang bertubi-tubi , kakek itu mulai terdesak .

Sementara Akauw yang sudah bebas tangannya , menjadi marah sekali kepada Boan Ki . Dia mengeluarkan gerengan seperti kera kalau marah , mendesisi – desis danmelihat goloknya terlempar ketika di sabitkan Boan Kid an di tangkis kakek itu , dia lalu melompat , menyambar goloknya dan melompat ke atas pohon dengan kecepatan seekor kera . Kemudian dari atas pohon itu dia terjun dengan cepat menukik ke bawah , menyerang Boan Ki yang sedang mendesak kakek itu .

Ketika mendengar gerengan yang menakutkan dari atas , Boan Ki mengangkat pedangnya menangkis . Golok itu dengan amat kerasnya bertemu pedang , akibatnya pedang dan golok menjadi patah-patah dan Akauw sudah menerkam kepala Boan Ki .

Boan Ki terkejut sekali ketika tahu-tahu tubuh Akauw sudah berada di atas punggungnya dan dia menronta-ronta , akan tetapi tiba-tiba dia merasa ada gigitan dilehernya dan kepalanya di putar sekuatnya oleh Akauw .

Terdengar bunyi “ kreek-krekk !” tulang leher itu patah . Setelah Akauw melepaskannya , tubuh Boan Ki terpelanting dengan kepala miring dan leher terobek gigi Akauw . 24

Akauw berdiri di atas dada Boan Kid an menepuk-nepuk dadanya sambil menggereng-gereng seperti lagak kera yang menang dalam pertandingan .

Kakek dan pemuda remaja itu memandang dengan bengong , juga ngeri . Setelah melampiaskan kemarahannya seperti seekor kera , Akauw melihat dua orang itu dan baru ia teringat bahwa dia adalah seorang manusia , bukan seekor kera .

Maka dia lalu turun dari dada mayat Boan Kid an menghampiri kakek itu .

“ Kalian telah menolongku . Kalian orang-orang baik , tidak jahat seperti Aki “ . Dia menuding kea rah mayat itu .

“ Siapakah dia ? Dan mengapa dia hendak membunuhmu dan siapakah engkau ?” kakek itu bertanya dengan suaranya yang lembut .

“ Dia Aki dan aku Akauw . Dia orang jahat , dulu kuselamatkan sekarang dia malah hendak membunuhku . Jahat …. Jahat ….. seperti ular !” Akauw menuding-nuding mayat itu .

Kakek itu menghampiri Akauw . “ Mari kita kuburkan dulu Aki itu , baru kita bicara . Yang Cien , mari bantu aku menggali lubang “ .

“ Nanti dulu , apa yang akan kau lakukan ? Menggali lubang ? Untuk apa ? “ Tanya Akauw heran , dan penuh curiga .

Setelah apa yang dia alami dari Aki , dia menjadi curiga pada manusia .

“ Dia telah mati , Akauw . Kita harus mengubur mayatnya “ .

“ Mengubur ? Apa itu , dana bagaimana ?”

“ Mengubur mayar adalah menanam mayat itu dibawah 25

tanah , memasukkan kedalam galian dan menimbuni dengan tanah agar tidak membusuk dan tidak di makan binatang buas “ .

Akauw mengangguk-angguk . “ Akan tetapi , Aki dahulu menyuruh aku membuang mayat-mayat itu ke dalam jurang . Dan dia tadi menyuruhku melompat ke dalam jurang pula “ .

“ Itu jahat sekali , Akauw . Kalau orang mati haruslah dikubur , kalau tidak mayatnya akan dimakan oleh binatang buas dan membusuk , mendatangkan penyakit disekitarnya “ .

Akauw mengangguk-angguk mengerti lalu dengan tekun dia membantu mereka menggali lubang . Setelah cukup dalam , jenazah itu dimasukkan dalam lubang dan di timbuni tanah , barulah kakek itu mengajak cucunya dan Akauw duduk dibawah pohon tempat tinggal Akauw .

“ Akauw , perkenalkanlah . Aku adalah Yang Kok It dan ini cucuku bernama Yang Cien . Kami kakek dan cucu baru saja memasuki daerah ini dan tidak mengenal jalan di tempat yang amat liar ini .

Tadi kami melihat betapa orang yang kau sebut Aki itu hendak membunuhmu , maka kami turun tangan menolongmu .

Sebetulnya siapakah engkau ? Dimana rumahmu dan siapa pula orang tuamu ?” kakek itu dan cucunya memandang penuh perhatian .

Sebelum menjawab Akauw memperhatikan kedua orang itu . Yang Kok It seorang kakek tua sekali dengan pakaian sastrawan , kurus tinggi dan nampak lemah , sedangkan Yang Cien adalah seorang pemuda remaja yang sebaya dengannya , bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan . Pakaiannya juga seperti seorang sastrawan , dan pandang matanya tajam sekali .

“ Namaku Akauw , dan rumahku di sana “ . Dia menunjuk 26

ke atas pohon besar itu dimana terdapat sebuah gubuk dari ranting dan daun kering , seperti sarang burung yang besar sekali . “ Orang tuaku ? Aku tidak tahu siapa orang tuaku . Aku di besarkan di sini , di antara kera-kera itu dan setelah Aki tiba di sini , barulah aku di ajari bicara oleh Aki , memakai pakaian dan banyak hal lain “ .

Kakek dan cucunya itu saling pandang , merasa aneh bahwa ada anak hidup di antara kera dan sekarang gerak-geriknya , kegesitannya , masih seperti kera .

“ Siapa yang memberi nama Akauw itu ?” .

“ Juga Aki , sebelum dia datang , kera-kera itu menyebut namaku Kercak “ .

Ketika mengucapkan kata Kercak itu , dia persis monyet mengeluarkan suara mirip suara Kercak .

Kakek itu melihat kalung di leher Akauw , dan melihat betapa kalung itu terukir dengan huruf Cian . “ Ku kira orang tuamu bermarga Cian , Akauw dan tentu namamu yang lengkap Cian Kauw “ .

Dia tidak mengatakan bahwa Aki menyebutnya Akauw karena dia di anggap monyet atau sebangsa kera . Kauw berarti kera .

“ Aku tidak tahu , aku menemukan benda ini di antara tulang-tulang manusia “ .

“ Dan bagaimana datangnya Aki itu ke sini ? Apakah dia mengatakan siapa dirinya dan darimana dia datang ?”

“ Tidakpernah . Dia datang bersama belasan orang , lalu diserang oleh puluhan orang . Semua temannya mati dan dia terluka berat . Aku merawatnya sampai dia sembuh dan selanjutnya dia tinggal di sini bersamaku “ .

“ Kapan terjadinya itu ?”

“ Kurang lebih tiga empat tahun yang lalu “ . 27

Biarpun cara bicara Akauw kagok dan tidak beraturan , namun cukup jelas dan dapat dimengerti .

“ Dan kau bilang tadi mayat-mayat semua temannya itu tidak di kubur melainkan dibuang ke dalam jurang ?” .

“ Ya , Aki yang menyuruh demikian “ .

Dari penuturan ini saja kakek itu sudah dapat menduga bahwa Aki itu bukan orang baik-baik , seperti kemudian ternyata betapa dia hendak membunuh Akauw yang pernah merawatnya ketika dia terluka .

“ Akauw ,kami berdua ingin tinggal di tempat ini bersamamu . Apakah engkau menyetujui ?” .

Akauw memandang kepada kakek itu , lalu kepada Yang Cien .

“ Apakah engkau tidak akan berbuat jahat seperti Aki ?” tanyanya meragu .

“ Tentu saja tidak , Akauw . Ketahuilah bahwa di dunia ini memang banyak sekali orang jahat , akan tetapi kami selalu menentang kejahatan . Bahkan kami sembunyi dan hendak tinggal di sini adalah karena kami dikejar-kejar orang jahat . Kami akan tinggal di sini bersamamu , menjadi sahabatmu , bahkan kalau kau suka , engkau boleh memanggil aku kakek dan engkau menjadi cucuku , menjadi saudara Yang Cien . Maukah engkau ?” .

Akauw tersenyum . Dari wajah kedua orang ini saja , nalurinya mengatakan bahwa wajah mereka sama sekali berbeda dari wajah Aki . Sinar mata Aki liar dank eras , sedangkan kedua orang ini bersinar mata lembut dan tajam . “ Aku mau ,kakek . Dan Yang Cien menjadi kakakku “ .

Demikianlah , sejak hari itu , kakek Yang Kok It dan cucunya , Yang Cien , tinggal di situ bersama Akauw yang nama lengkapnya Cian Kauw Cu atau nama monyetnya Kercak . Kakek itu merasa tidak ada gunanya menceritakan tentang 28

riwayat dia dan cucunya kepada Akauw , karena pemuda yang peradabannya sangat terbelakang itu tentu tidak akan mengerti .

Sesungguhnya Yang Kok It adalah bekas jendral yang sudah mengundurkan diri karena sudah tua . Puteranya yang bernama Yang Koan mewarisi kepandaiannya , baik kepandaian silat , ilmu pedang maupun kesusastraaan dan seperti juga ayahnya , Yang Koan ikut membela Negara dari serbuan para suku Toba dari barat dan utara . Sebagai seorang panglima , Yang Koan amat tangguh dan besar jasanya . Akan tetapi diapun seorang pemberani jujur dan adil . Seringkali , kalau dia melihat rekannya menyeleweng , berkoropsi atau melakukan penindasan terhadap rakyat mengandalkan kekuasaanya , dia akan menentangnya .

Dengan ilmunya yang tinggi dan kedudukannya yang cukup berwibawa , dia merobohkan banyak pejabat tinggi yang menyalah-gunakan kewenangan dan kekuasaannya . Dengan demikian , dia mempunyai banyak musuh .

Pada suatu hari , rumah penglima Yang Koan di kepung orang-orang berkedok yang berilmu tinggi dan mereka itu mengahncurkan rumah , membakar dan membunuh .

Yang Koan dan isterinya melawan mati-matian namun karena banyaknya pihak pengeroyok , akhirnya setelah merobohkan banyak pengeroyok , suami isteri inipun roboh dan tewas .

Untung sekali bagi Yang Cien yang berusia sepuluh tahun , ketika penyerbuan terjadi , dia sedang berada di rumah kakeknya . Seorang anak buah ayahnya berlari memberi kabar tentang penyerbuan itu dan Yang Kok It maklum bahwa nyawa cucunya berada di dalam bahaya . Maka , diapun mengajak cucunya untuk melarikan diri .

Memang benar dugaanya , pihak musuh , yaitu mereka yang bekas pejabat dan mendendam kepada Yang Koan , 29

melakukan pengejaran dan pencarian . Banyak jagoan di sebar untuk mencari dimana adanya kakek dan cucunya itu sehingga kakek Yang Kok It yang sudah tua itu terpaksa harus lari ke sana kemari , berpindah-pindah tempat dan berganti nama untuk menyingkir dari pengejaran musuh-musuhnya . Sementara itu , tak lupa kakek itu melatih Yang Cien dengan ilmu silat dan ilmu sastra . Dalam kedua ilmu ini , ternyata Yang Cien berbakat sekali sehingga dia memperoleh banyak kemajuan “ .

“ Kong-kong “ , kata Yang Cien ketika dia berusia empat belas tahun dan sudah tahu akan keadaan mereka yang dikejar-kejar musuh . “ Sungguh tidak enak kalau kita harus berpindah-pindah dan melarikan diri . Hidup ini rasanya tidak tenang selalu . Kenapa kita berdua tidak menanti sampai mereka datang dan melawan merwka saja , kong-kong ?” .

Kakeknya menghela napas panjang . “ Semangatmu untuk melawan itu memang baik sekali , Yang Cien . Akan tetapi kalau hanya dengan semangat dan keberanian saja , maka akhirnya akan mati konyol . Tidak , engkau harus tetap hidup untuk melanjutkan cita-cita ayahmu yang ingin mempersatukan seluruh negeri dan mengusir bangsa Toba dari tanah air “ .

“ Hemmm , engkau tidak tahu . Musuh ayahmu banyak sekali dan musuh utamanya adalah Bong Ji Kun , bekas menteri yang dipecat oleh Raja karena koropsinya di bongkar ayahmu . Bong Ji Kun itu kaya raya dan mampu membayar jagoan yang berilmu tinggi dengan upah besar . Menurut kabar terakhir , dia telah berhasil membujuk Toat Beng Giam Ong untuk melakukan pengejaran terhadap kita dan untuk melawan Toat-beng Giam Ong , tenaga kita tidak akan mampu . Dahulupun ketika aku masih kuat dan muda , belum tentu aku mampu menandingi Toat-beng Giam-ong ( Malaikat Maut pencabut nyawa ) , apalagi sekarang aku sudah tua “ .

“ Kalau kita berdua mengeroyoknya , apakah kita tidak 30

akan mampu mengalahkannya , kek ?” .

“ Aih , kita berdua juga tidak akan menang . Apalagi , datuk sesat itu tentu memiliki banyak anak buah . Sudahlah , hilangkan pikiranmu yang hendak melakukan perlawanan kepada para pengejar dan pencari kita “ .

“ Akan tetapi aku sudah bosan berlari-lari seperti ini . Bagaimana kalau kita mencari tempat yang sepi , yang rahasia , yang tidak akan lagi di datangi orang ? Disana kita dapat hidup tenang dan aku dapat mempelajari dan memperdalam ilmu silatku tanpa gangguan “ .

“ Tempat tersembunyi dan rahasia yang tidak akan di datangi orang ? Ahhh , aku jadi teringat akan sebuah tempat yang ku rasa cocok dengan yang kau maksuditu , Yang Cien . Akan tetapi kurasa tempat itu juga mengandung bahaya , walaupun bahayanya lain dari bahaya pengejaran musuh-musuh kita “ .

“ Dimana tempat itu , kong-kong ?”

“ Sebetulnya sudah tidak jauh lagi dari sini , di sebuah puncak di antara puncak-puncak yang banyak terdapat di Thaisan , yang berada dibawah puncak itu dan di sebut Lembah Iblis “ .

“ Lembah Iblis ? “ Yang Cien bertanya heran . “ Kenapa disebut Lembah Iblis ?” .

“ Entahlah , sudah ratusan tahun lamanya lembah itu di sebut Lembah Iblis dan menurut kepercayaan orang di situ , memang tempat tinggal iblis dan setan sehingga tidak pernah ada orang berani naik ke sana . Bahkan seorang kangouw sekalipun akan berpikir seratus kali lebih dulu sebelum berani naik ke sana . Hutannya lebat , binatang hutannya banyak dan buas “ .

“ Ah , agaknya baik sekali untuk kita bersembunyi , Kek . Aku lebih senang menghadapi ancaman binatang buas atau 31

iblis sekalipun dari pada ancaman pengejaran yang tidak ada hentinya selama empat tahun ini “ .

Demikianlah , untuk menghindari pengejaran Toat-beng Giam-ong Lui Tat dan anak buahnya , kakek Yang kok It akhirnya menuruti permintaan Yang Cien dan mereka masuk ke Lembah Iblis . Dan ketika mereka menyusup-nyusup ke dalam hutan lebat itulah mereka melihat betapa Akauw akan di bunuh oleh Boan Ki .

Akan tetapi , semua ini tidak diceritakannya kepada Akauw . Dan sejak hari itu , kakek dan cucunya menjadi pengganti Boan Ki , tinggal bersama Akauw .

Sungguh hal ini amat menguntungkan Akauw , karena barulah dia tahu bahwa bangsanya ada yang berwatak baik sekali seperti kakek dan cucunya ini .

Mereka mengajarkan dia sehingga bahasanya menjadi semakin teratur dan semakin lengkap . Bahkan kakek Yang Kok It yang melihat tenaga alam yang ada pada tubuh Akauw , cekatan dan kuat seperti kera besar , lalu dia mulai mengajarkan ilmu silat kepada Akauw . Dan ketika dia mengajarkan Kauw-kun ( Silat Monyet ) kepadanya , Akauw dapat melakukan nya dengan baik sekali , bahkan lebih baik dari kakek itu sendiri ! Dan memang gerakan-gerakan silat ini inti sarinya atau dasarnya di ambil dari gerakan seekor monyet , sudah dimiliki oleh Akauw . Bahkan Yang Cien sendiri yang sudah belajar sejak kecil , tidak mungkin dapat menandingi Akauw dalam hal kegesitan dan tenaga otot .

Setelah hidup bersama kakek dan cucu ini , Akauw mempelajari banyak tata cara kehidupan manusia dan sopan santun . Banyak pula tahu tentang kesusilaan . Hanya satu hal yang tidak di sukai Akauw , yaitu belajar membaca . Dia merasa sukar sekali dan akhirnya dia menolak untuk belajar membaca dan menulis . Dianggapnya pelajaran itu terlalu mengikat dan memaksa dia mengingat-ingat terus sampai kepalanya terasa puyeng ! . 32

Dari Yang Cien , dia dapat mendengar banyak tentang kehidupan bangsanya , bangsa manusia , di kota-kota besar . Di gambarkan oleh Yang Cien tentang rumah-rumah , tentang pakaian yang indah-indah dan lain-lain dan semua itu amat menarik perhatian Akauw . Biarpun dia lebih banyak bergaul dengan Yang Cien , namun dia tidak pernah melupakan kawan-kawan keranya .

Yang Cien sampai melongo terheran-heran melihat Akauw bergelut dan bermain-main dengan para kera itu jauh tinggi di atas pohon , berayun-ayun , berlompatan , bahkan cecowetan bercakap-cakap !

Dari keterangan Akauw bahwa empat lima tahun yang lalu dia bertemu dengan Boan Ki sebagai manusia pertama yang di jumpainya , maka Yang Cien dapat menduga bahwa Akauw hidup sejak bayi diantara kera sampai berusia kurang lebih sepuluh tahun . Sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali . Dan Yang Cien yang dekat dengan Akauw ini mulai berkenalan dengan kera-kera besar itu dan suka ikut bermain-main pula .

Kalau sedang melakukan latihan ilmu silat dengan Akauw , biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi , namun dia merasa betapa cepatnya gerakan pemuda yang kini di sebut sue ( adik seperguruan ) itu . Akauw juga di ajari untuk menyebut suheng ( kakak seperguruan ) kepadanya . Bahkan agak sukar baginya untuk mengalahkan Akauw saking cekatannya sutenya itu , kecuali kalau dia mengerahkan sin-kang , barulah dia mampu mengatasi tenaga otot adiknya itu .

Di samping ilmu silat , yang kebanyakan dilatih oleh Yang Cien , kakek Yang Kok It juga mengajari Akauw untuk menghimpun siu-lan ( bermeditasi ) . Akan tetapi , Akauw juga tidak sabar dengan latihan Samadhi itu , maka dia sukar memperoleh kemajuan dalam hal ini .

Tanpa terasa , mereka tinggal di dalam lembah itu selama lima tahun ! Dan tak pernah sekalipun ada orang yang 33

melakukan pencarian sampai ke tempat itu . Mereka benar-benar hidup tentram dan penuh damai , akan tetapi juga terasing , tidak pernah bergaul dengan manusia lain .

Pada suati pagi , ketika Yang Cien dan Kauw Cu terbangun dari tidurnya , mereka terheran melihat kakek Yang Kok It masih belum bangun . Biasanya , kakek itu pagi-pagi sekali sudah bangun .

-ooo0dw0ooo-

Jilid 2

Melihat Yang Cien menangis , Akauw tidak kuat menahan dan diapun mengalirkan air mata , akan tetapi dia belum tahu mengapa suhengnya menangis , dan apa artinya meninggalkan mereka itu . Kakeknya akan pergi kemana ?

“ Kong-kong , engkau hendak pergi kemanakah , kong-kong ?” .

“ Cucu-cucuku , bahkan para Nabi pun mengalami sakit dan kematian . Aku tidak menyesal , telah mendidik kalian dan ku rasa kalian sekarang sudah memiliki bekal untuk menjaga diri .

Yang Cien sutemu masih belum berpengalaman , juga ilmunya tidak sematang engkau . Jangan membiarkan dia seorang diri , akan tetapi biarkan dia bersamamu . Anggaplah dia itu adikmu sendiri , Yang Cien “ .

“ Baik , kong-kong ….. “ .

“ Kauw Cu , engkau harus memenuhi pesanku ini . Engkau jangan memisahkan diri dari kakakmu , dalam segala hal engkau harus menaati kata-kata kakakmu .

Kalau aku sudah tidak ada , maka anggaplah suhengmu sebagai penggantimu “ . 34

“ Ah , engkau belum mengerti , Akauw ? . Agaknya … sudah tiba saatnya aku meninggalkan kalian , meninggalkan dunia ini …. Sudah tiba saatnya aku … mati …. “

“ Kong-kong …. ! “ Kini baru Akauw mengerti dan dia berteriak sambil menubruk kakeknya , merangkul dan menangis .

“ Jangan mati , kong , jangan mati ……… !”

Melihat ini , Yang Cien memegang pundak sutenya . “ Tenanglah , sute dan kita biarkan kong-kong beristirahat “ , mereka lalu membantu kakek itu merebahkan diri .

Kakek itu mendapat serangan penyakit mendadak , penyakit tua dan pada malam hari itu juga meninggal dunia dengan tenang .

Yang Ciean menangis dan Akauw keluar dari gubuk , berayun-ayun dari dahan ke dahan sambil menjerit-jerit seperti kera yang sedang marah .

Sebelum menghembuskan napas terakhir , kakek itu berpesan kepada Yang Cien , “ sekarang sudah tiba saatnya engkau meninggalkan tempat ini , Yang Cien . Ajaklah Kauw Cu memasuki dunia ramai .

Musuh tentu sudah melupakan engkau yang kini telah dewasa , dan usahakan agar cita-cita ayahmu menyatukan seluruh Negara menjadi kenyataan “ .

Semalam itu mereka berdua tidak tidur , menunggui jenazah kakek Yang Kok It sambil menangis tanpa suara . Keduanya merasa kehilangan sekali . Kehilangan kakek , kehilangan guru , juga pengganti orang tua yang baik sekali .

Pada keesokan harinya , barulah mereka menggali sebuah lubang yang cukup dalam untuk mengubur jenazah kakek Yang Kok It . Setelah selesai , Yang Cien mengangkat sebuah batu besar sebagai nisan kuburan yang berada di bawah pohon tempat tinggal mereka itu . 35

Setelah itu , Yang Cien lalu berkemas . “ Kita pergi sekarang saja , sute “

“ Kemana , suheng ?” .

“ Memenuhi pesan kakek . Kita harus kembali ke dunia ramai dan melanjutkan cita-cita mendiang ayahku untuk menyatukan seluruh negeri agar dapat menentang gangguan bangsa mongol yang datang dari barat dan utara “ .

Kauw Cu tidak menjawab , akan tetapi memandang penuh perhatian ketika Yang Cien mengambil sebuah kantung dari tumpukan pakaian kakeknya dan membuka , lalu mengeluarkan isi kantung itu . Ternyata berisi perak dan emas potongan yang amat diperlukan untuk bekal perjalanan .

“ Itu apakah , suheng ? Itu yang berkilauan kuning …. “

“ Ah , inikah , sute ? Ini yang dinamakan emas , dan ini perak . Kita membutuhkan sekali emas ini untuk bekal diperjalanan “ .

“ Untuk apakah emas itu , suheng ?” .

“ Untuk segala keperluan . Membeli pakaian , membeli makanan dan menyewa rumah penginapan atau membeli kuda atau perahu “ .

“ Kalau begitu kita perlu membawa yang banyak , suheng “ .

“ aih , darimana membawa banyak ? Benda ini sukar sekali di dapatkan , dan amat berharga . Dikota segalanya harus dibeli , bahkan makanan . Engkau tak dapat mencari makanan seperti di sini . Semua pohon buah ada yang memilikinya , kalau membutuhkan harus dibeli “ .

“ Aku tahu sebuah tempat yang penuh dengan emas ini , suheng “ .

“ Ahhh ? Yang Cien memandang heran . 36

“ Benarkah , sute ? Dimana itu ?” .

“ Aku tidak mau memberitahukan atau menunjukkan kepadamu dimana tempatnya “ .

“ Kenapa , sute ?” .

“ Aku takut engkau menjadi jahat seperti Aki . Diapun menjadi jahat dan hendak membunuhku setelah kuperlihatkan tempat itu kepadanya “ .

“ Ahhh …. Engkau kira aku ini orang macam apakah , sute ? Apakah sampai sekarang engkau belum juga percaya kepadaku ? Kalau begitu , tidak usah kau tunjukkan tempatnya kepadaku . Aku pun tidak ingin memperoleh banyak emas . Ini saja sudah cukup , dan kalau habis , kita dapat bekerja untuk mendapatkan penghasilan “ .

Akauw diam sejenak dan menatap wajah suhengnya . Kemudian , dia memegang tangan suhengnya . “ Maafkan aku , suheng . Mari , mari kutunjukkan tempatnya . Perjalanan dari sini cukup jauh , akan tetapi kalau engkau mempergunakan ilmu berlari cepat dan aku melakukan perjalanan melalui pohon-pohon , dalam waktu seperempat hari saja tentu akan sampai .

Timbul kegembiraan di hati Yang Cien yang dilanda duka karena kematian kakeknya itu . Bukan karena dijanjikan memperoleh banyak emas , melainkan akan melihat tempat lain daripada hutan yang selama lima tahun di huni bersama Akauw dan kakeknya . Dan dia ingin tahu sekali tempat apa itu yang dikatakan mengandung banyak emas oleh Akauw .

Disebutnya Lembah Iblis , mengapa ada tempatnya yang mengandung emas ? Maka diapun berangkat . Akauw sebagai penunjuk jalan melakukan perjalanan dari pohon ke pohon , gerakannya cepat sekali berayun-ayun dan Yang Cien harus menggunakan gin-kangnya agar dapat berlari cepat menyusul sutenya yang berada di atas . 37

*****

Setelah tiba di tempat yang penuh guha itu , Yang Cien terbelalak , terheran-heran dan terkagum-kagum . Pada guha pertama , melihat patung-patung batu yang terukir indah itu , dia mengeluarkan pujian .

“ Luar biasa sekali , betapa indahnya ukiran arca-arca ini . Sayang sebagian besar belum selesai , dan sudah di tinggalkan pemahatnya .

Sute , semua ini menunjukkan bahwa di tempat ini dahulu tinggal satu atau beberapa orang-orang pandai sekali .

Baru Akauw tahu bahwa arca-arca itu merupakan buatan orang yang pandai dan menganggumkan . Dahulu Aki sama sekali tidak mengangumi arca-arca itu .

Kini , melihat suhengnya meneliti patung itu satu demi satu , diapun ikut meneliti dan ikut terkagum .Baru sekarang dia melihat betapa arca itu dibuat bagus sekali , ada yang nampak urat-urat menontol di bawah permukaan kulit .

Ketika agak memasuki guha itu , terdengan Yang Cien berseru kagum . Akauw cepat menghampiri dan die melihat bahwa suhengnya telah menemukan sebuah arca yang tingginya hanya satu meter , akan tetapi arca itu luar biasa indahnya . Menggambarkan seorang wanita yang cantik jelita . Begitu bagus buatannya sehingga kalau dilihat dari tempat agak jauh arca itu seolah hidup dan tersenyum manis ! .

“ Bukan main ! Sute , selama hidupku belum pernah aku melihat arca seindah ini ! “ keduanya mengamati arca itu dengan kagum . Sampai lama Yang Cien melihat-lihat kumpulan arca dalam guha itu .

“ Mari , suheng ketempat yang kumaksudkan “ .

“ Ah , sampai lupa aku , sute . Arca-arca ini demikian menarik perhatianku . Kenapa baru sekarang kauberitahu , sute ? Kalau dulu kakek mengetahui dan dapat melihat arca-38

arca ini , tentu kong-kong akan senang sekali dan barangkali saja kong-kong dapat menduga siapa pembuat arca-arca ini di sini “ .

“ aku selalu khawatir kalau kong-kong dan engkau akan menjadi sejahat Aki , suheng . Maafkan aku “ .

“ Sudahlah , mari kita pergi ke guha tempat emas itu “ .

Akauw lalu mengajak Yang Cien pergi ke guha lain , yang berada di tengah-tengah antara guha-guha yang banyak terdapat di situ . Akan tetapi baru saja tiba di pintu guha , dari dalam guha terdengar gerengan dahsyat dan muncullah seekor biruang hitam yang besar sekali .

“ Awas , sute !” kata Yang Cien .

“ Biar aku melawannya , suheng . Dia ini berbahaya akan tetapi aku tahu bagaimana harus melawannya . Biruang merupakan musuh utamaku sejak aku kecil “ .

Akauw menghampiri biruang itu , dan Yang Cien yang berada di pinggiran hanya menonton , akan tetapi siap siaga membantu kalau sutenya terancam bahaya . Akauw menghampiri dengan tenang dan diapun mengeluarkan gerengan kera marah . Biruang itu tiba-tiba saja menerkam , akan tetapi Akauw menghindar dengan lebih cepat lagi sehingga terkaman itu luput . Dan sebelum biruang yang besar dan lamban itu dapat membalikkan tubuhnya , Akauw sudah merangkul lehernya dari belakang dan mencekik leher itu dengan kedua tangannya ,lengannya menyusup dibawah kaki depan biruang itu .

Dan terjadilah adu tenaga yang menegangkan . Biruang itu meronta , menggoyang tubuhnya , menggereng , akan tetapi tubuh Akauw tak pernah melepaskan , seperti seekor lintah melekat pada kaki seseorang . Biruang itu semakin marah dan juga ketakutan karena dia mulai sesak bernapas , lalu menjatuhkan diri bergulingan . 39

Yang Cien menjadi cemas melihat betapa tubuh biruang yang besar itu menggilas dan menindih tubuh Akauw , akan tetapi dia merasa lega melihat Akauw tidak apa-apa , dan ternyata memang tubuh sutenya itu kuat bukan main . Akhirnya , biruang itu menjadi semakin lemah dan lidahnya terjulur keluar , keempat kakinya hanya dapat bergerak-gerak lemah .

“ Sute , jangan bunuh dia !” kata Yang Cien dan mendengar ucapan suhengnya ini , Akauw lalu melepaskan jepitan kedua tangannya dari leher biruang itu , dan dia lupa diri , menginjak dada biruang itu dan mengeluarkan pekik kemenangan , pekik kera yang menggetarkan jantung . Lalu dia menendang biruang itu yang dapat bangkit lagi lalu biruang itu melarikan diri dengan terhuyung-huyung .

“ suheng , kenapa engkau melarang aku membunuhnya ?” .

“ Sute , untuk kepentingan apa engkau membunuhnya ?”

“ Kepentingan apa ? Tidak ada , karena dia menyerangku , maka sepatutnya aku membunuhnya “ .

“ nah , mulai sekarang , kebiasaan seperti itu haruslah kau buang jauh-jauh , sute . Ketahuilah , dalam kehidupan antara manusia , membunuh adalah perbuatan yang jahat sekali dan dilarang . Kalau tidak terpaksa sekali dan jangan engkau sekali-kali melakukan pembunuhan .

Juga terhadap binatang , boleh saja engkau membunuhnya kalau memang kau memerlukannya untuk dimakan . Misalnya membunuh kijang , kelinci , ayam dan lain-lain . Akan tetapi kalau tidak memerlukannya , jangan membunuh apalagi membunuh manusia , kecuali dalam perang karena membunuh dalam perang tidaklah sama dengan membunuh seseorang dalam perkelahian dan urusan pribadi . membunuh itu hanya dilakukan orang yang kejam dan jahat , sute “ .

Akauw mengangguk-angguk . “ Aku mengerti , suheng . 40

Nah , mari kita memasuki guha , dan lihat itu , yang berkilauan itu , bukankah itu sama dengan yang berada di kantungmu tadi ?” .

Dan Yang Cien masuk , dan dia terbelalak kagum . Tak salah lagi , yang terdapat banyak di dinding itu adalah bongkahan batu-batu yang ternyata adalah emas murni bercampur batu karang .

Tak ternilai harganya . Dia mengambil beberapa potong dan menimbang-nimbang di telapak tangannya . Baru beberapa potong kecil ini saja sudah jauh lebih berharga dari pada milik gurunya yang ditemukan dalam kantung kecil itu .

Dia memandang sutenya , Akauw yang bajunya robek-robek karena perkelahian tadi sudah melepaskan baju atasnya dan kini nampak tubuhnya yang kekar , otot-otot melingkar di lengan dan dadanya , tubuhnya yang tinggi besar itu setengah kepala lebih tinggi dari tubuh Yang Cien yang sudah terhitung tinggi tegap . Yang Cien memandang kagum , lalu menghampiri dan menepuk pundak sutenya .

“ Sute , engkau sungguh seorang laki-laki jantan yang gagah perkasa , aku bangga mempunyai seorang adik seperti engkau !” .

“ aih , suheng , kenapa mendadak memujiku . Engkau lebih hebat , aku tahu bahwa aku tidak akan berdaya , aku tahu bahwa aku tidak akan berdaya kalau bertanding melawanmu “ .

Mereka saling pandang dengan kagum . Yang Cien kini menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun yang tinggi tegap , wajahnya berbentuk persegi dengan dagu yang membayangkan kekuatan dan keteguhan hati , namun sinar matanya yang tajam itu lembut tanda bahwa dia berakal budi dan bijaksana . Hidungnya yang mancung dan mulutnya yang berbentu indah itu membuat wajahnya kelihatan tampan menarik sekali . Sedangkan Kauw Cu memiliki wajah yang 41

bulat terlur , akan tetapi matanya yang lebar , sampai hidungnya yang besar dan bibirnya yang tebal memberi kesan kokoh , kuat , jujur , adil dan kaku .

Namun sinar matanya juga mengandung kelembutan , ini sebagai hasil pendidikan selama lima tahun oleh mendiang kakek Yang Kok It . Dia jauh nampak lebih jantan dari pada Yang Cien dan sukar mengatakan mana yang lebih menarik sebagai seorang pemuda di antara keduanya .

“ Bagaimana, suheng ? Benarkah semua ini emas ?”

“ Tidak salah , sute . memang ini adalah emas yang tidak ternilai harganya “ .

“ Apakah engkau tidak girang melihatnya , suheng ? Dahulu , Aki demikian girang sampai dia menari-nari dan berteriak-teriak bahwa dia menjadi kaya raya “ .

Yang Cien dengan tenang berkata sambil tersenyum . “ Adikku , emas merupakan harta benda yang dapat bermanfaat besar sekali kalau terjatuh ke tangan orang bijaksana . Dapat menolong rakyat keluar dari bahaya kelaparan , dapat memperkuat Negara , pendeknya dapat mengangkat rakyat keluat dari penderitaan . Akan tetapi kalau terjatuh ke tangan orang jahat , harta kekayaan dapat mendatangkan bencana kepada orang lain . Tentu aku girang menemukan semua ini , sute . Akan tetapi sat ini aku sama sekali tidakmembutuhkan . Entah kelak kalau cita-citaku berhasil , yaitu menyatukan seluruh negeri menjadi persatuan yang kokoh untuk mengusir bangsa-bangsa liar yang mengganggu keamanan rakyat . Mari , sute , kita periksa guha-guha yang lain , apakah engkau pernah memeriksa guha yang lain ?” .

“ Sudah semua , suheng . Guha-guha yang lain semuanya kosong kecuali sebuah guha terbesar dimana kudapatkan hanya sebuah arca di dalam guha , tidak ada apa-apanya lagi “ .

“ Mari kita periksa guha besar itu “ , ajak Yang Cien dan 42

mereka lalu menuju ke guha itu .

Ketika menuju ke guha itu , Yang Cien terkejut . Nampak dari jauh , guha itu seperti wajah seorang raksasa . Guha itu menjadi mulutnya yang terbuka , dengan taring-taring berupa batu-batu yang bergantung runcing , dan di atas guha itu merupakan tebing yang terhias batu-batu besar yang menjadi sebuah hidung dan sepasang matanya . Sungguh merupakan wajah yang mengerikan dan sepatutnya kalau itu wajah iblis . Sekarang dia mengerti mengapa lembah itu dinamakan Lembah Iblis . Selain tempatnya amat berbahaya , banyak terdapat binatang buas dan tempat-tempat aneh , juga guha-guha ini memang menyeramkan sekali , terutama yang besar itu .

“ Kenapa , suheng ?”

“ Kau lihat , sute . Bukankah itu seperti muka iblis yang menakutkan ?” kata Yang Cien sambil menunjuk . “ Guha itu mulutnya dan penuh taring , batu besar di atasnya itu hidungnya dan yang sepasang mulut itu matanya “ .

“ Ihh , benar ! Kenapa dulu kau tidak memperhatikannya ? Barangkali itu yang pantas di sebut Guha Iblis dan agaknya di jadikan tempat tinggal para iblis !” , kata Akauw yang tidak memperlihatkan rasa takut karena di kalangan kera tidak ada istilah tahyul takut setan dan pengertiannya tentang setan sedikit sekali dari penuturan mendiang kakek Yang Kok It dan Yang Cien .

“ Mari kita selidiki , sute “ .

Keduanya lalu berloncatan menuju ke guha itu . Dan benar saja seperti yang dikatakan Kauw Cu , guha besar itu kosong , hanya di dalam ruangan itu terdapat sebuah arca besar , sebesar manusia , arca seorang kakek tua yang sedang duduk bertopang dagu . Yang Cien memperhatikan arca itu . Jelas bahwa ukirannya serupa dengan arca-arca di guha pertama . Kenapa arca tunggal ini berada di sini ? Tentu ada maksudnya 43

, pikirnya . Ada sesuatu yang ganjil . Muka patung itu bukan menghadap ke kiri , akan tetapi seperti kepala yang di putar ke kiri , juga jari tangan kiri yang menopang dagu itu telunjuknya menunjuk ke kiri .

Yang Cien lalu pergi ke bagian dinding kiri guha itu , meraba-raba , akan tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan . Apa artinya kepala dan jari yang terputar ke kiri itu ? .

“ Engkau mencari apa , suheng ?” .

“ Mencari barangkali ada rahasia tersembunyi di guha ini , sute . Tempat ini sungguh menarik sekali “ .

Dia memperhatikan lantai . Lantai dari batu itu terdapat jejak kaki manusia . Bukan main ! Manusia macam apa yang dapat membuat jejak kaki pada lantai batu ? Dan jejak kaki itu miring ke sana sini , dan ketika Yang Cien mengikuti jejak kaki itu menginjak dan melangkah dengan kakinya , maka terbentuklah langkah-langkah seperti orang bersilat !

Pernah ada orang berlatih silat di sini , dan kaki nya meninggalkan bekas di lantai batu ! Bukan main . Hanya sinking yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali saja yang dapat membuat kaki meninggalkan jejak seperti itu di atas batu keras , seolah-olah lantai itu terbuat dari tanah liat yang lunak saja .

“ Rahasia apa , suheng ? Arca ini tidak menunjukkan sesuatu . Barangkali rahasianya terletak dibawahnya , coba ku angkat !” berkata demikian , raksasa muda itu memeluk arca lalu dicobanya untuk di angkat . Akan tetapi arca itu tidak dapat di angkatnya . Padahal menurut besarnya patung , sudah pasti Kauw Cu dapat mengangkatnya . Akan tetapi arca ini seolah-olah ada sesuatu yang menahannya dari bawah sehingga tidak dapat terangkat .

“ Ah , arca ini berakar di bawahnya , suheng !” kata Akauw penasaran . 44

Yang Cien mendekati . “ Hentikan usahamu , sute . Kalau arca ini tidak dapat kau angkat , berarti memang dibawahnya terkait sesuatu . Ah , mungkin itulah rahasia yang akan ditunjukkan kepada kita “ . Dia lalu memegang arca itu , dan meutarnya ke kiri . Untuk itu dia harus mengerahkan seluruh tenaganya dan tiba-tiba arca itu dapat d putar ke kiri . Saat itu terdengar suara gemuruh seperti ada banyak batu runtuh dan di dinding kiri guha itu tiba-tiba saja runtuh berlubang besar ! .

Yang Cien dan Akauw melompat keluar guha agar jangan sampai tertimpa batu-batu yang runtuh . Debu mengepul tebal dari reruntuhan itu dan setelah batu berhenti berjatuhan , debu juga mulai menipis , Yang Cien memasuki guha , diikuti Akauw yang agak takut karena merasa ngeri melihat kejadian yang aneh itu .

Nalurinya seolah memberitahu kepadanya bahwa dibalik reruntuhan itu terdapat bahaya besar mengancamnya ! .

“ Hati-hati , suheng …. ! “ bisiknya dan dia berjalan dekat sekali di belakang suhengnya .

“ Kita harus waspada , sute “ , bisik Yang Cien .

Keduanya memasuki lubang dari dinding yang runtuh tadi , dan ternyata di balik dinding itu terdapat sebuah tangga batu menuju ke bawah yang gelap sekali ! .

“ Wah , gelap sekali , suheng ………. “

“ Tidak apa , sute . Kita meraba-raba dan tetap waspada ….. “ .

Keduanya setengah merangkak mengikuti lorong itu dan seratus langkah kemudian nampaklah sinar didepan . Ternyata lorong itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang lebih luas daripada guha di depan dan penerangan itu datang dari atas , dimana terdapat celah-celah batu yang berbentuk segi delapan dari mana sinar matahari dapat menerobos masuk !. 45

Dan di tengah-tengah ruangan itu terdapat meja sembahyang daripada batu , tempat lilin batu dimana masih ada lilinnya yang tidak menyala , tinggal sepotong lilin itu . Di kanan kiri meja sembahyang terdapat dua buah patung , patung seorang pria dan patung seorang wanita yang merupakan arca batu yang sama besarnya dengan arca wanita di guha yang lain itu . Dua buah arca ini sama bagusnya dengan arca wanita itu , ukirannya demikian indah dan halusnya sehingga garis-garis telinga dari arca itu nampak jelas . Yang pria berusia kurang lebih tigapuluh tahun , tampan dan berwibawa , yang wanita cantik sekali , sama cantiknya dengan arca wanita di guha yang lain , akan tetapi alisnya berkerut dan tarikan wajah cantik ini membayangkan kekerasan hati dan kekejaman ! Di seluruh dinding tempat itu terdapat ukir-ukiran yang membentuk gambar-gambar dari orang yang bersilat , demikian jelas gambar-gambar itu dan demikian teratur sehingga tanpa penerangan sekalipun orang dapat mempelajari silat dengan meniru kedudukan jurus-jurus dalam gambar itu .

Seluruhnya ada tigapuluh enam jurus yang terbagi dalam banyak perkembangan sehingga untuk menggambarkan satu jurus saja terdapat lebih dari lima gerakan dalam gambar . Begitu jelasnya sehingga Akauw yang melihatnya segera mulai bergerak-gerak menirukan gambar itu .

“ Akauw , jangan lancing “ .

“ Maaf , suheng “ . Dan diapun mengikuti suhengnya yang sudah menjatuhkan dirinya berlutut di depan meja sembahyang , sekaligus menghadap dua arca itu .

“ Teecu berdua Yang Cien dan Ciang Kauw Cu , secara kebetulan saja memasuki tempat ini tanpa ijin lo-cian-pwe , harap lo-cian-pwe sudi memberi maaf yang sebesarnya “ , kata Yang Cien dengan sikap dan suara menghormat .

Hampir saja Akauw tertawa . Apakah suhengnya mendadak menjadi gila “ suheng “ , bisiknya . 46

“ Itu hanya arca batu …… “

“ Hushhhh , sute , lihatlah di belakang meja sembahyang itu “ , bisik kembali Yang Cien .

Akauw mengangkat kepalanya dan menjenguk . Matanya terbelalak dan wajahnya berubah agak pucat . Di sana , dibelakang meja , di atas kursi , duduk sebuah kerangka manusia lengkap dengan tengkoraknya , telunjuk kanannya menuding kepadanya dan telunjuk kirinya menuding ke atas , matanya yang berlubang itu seperti melotot kepadanya .

“ Ampun , ampunkan saya , lo-cian-pwe “ , katanya dengan suara gemetar sehingga kini Yang Cien yang ingin tertawa .

Yang Cien melakukan penghormatan itu untuk menghormati arwah orang yang telah mati dan telah menjadi kerangka di balik meja sembahyang itu . Ketika dia melihat lagi , di atas meja sembahyang itu terdapat sebuah kitab dan sebuah sarung pedang yang terisi dua batang pedang . Sema-ciang dan siang-kiam ( pedang pasangan ) . Tentu saja ingin sekali dia mengambil kitab dan pedang untuk memeriksanya , akan tetapi dia tidak berani lancing .

“ Sute , engkau membawa alat pembuat api ?” .

“ Ada , suheng “ .

“ Buatlah api untuk menyalakan lilin di atas meja sembahyang ini , kita perlu mohon ijin dulu “ .

Akauw dengan kedua tangan gemetar lalu membuat api dan menyalakan lilin itu yang masih dapat menyala dengan baik . Kemudian Yang Cien , di turut oleh sutenya , lalu memberi hormat sambil berlutut , dan berkata “ Saya Yang Cien mohon ijin kepada lo-cianpwe untuk membaca kitab dan melihat pedang itu “ .

Setelah berkali-kali berkata demikian , dia lalu bangkit berdiri dan dengan sikap hormat , dia menjulurkan tangannya mengambil kitab yang tidak berapa besar itu . Akan tetapi , 47

begitu dia mengangkat kitab itu dari atas meja , tiba-tiba dia berseru kesakitan , lalu terhuyung-huyung dan roboh di depan meja sembahyang , pingsan ! .

“ Suheng ….. ! Ah , suheng ……. Jangan mati , suheng ….. “ Akauw berteriak – teriak karena baru saja dia kematian kakek Yang Kok It , merasa takut melihat Yang Cien jatuh pingsan . Kemudian , dia bangkit berdiri dan mengepal tinju , mengamangkan tinjunya kepada kerangka itu dan memaki .

“ Iblis busuk , bangkitlah dan lawan aku kalau berani ! Kami telah bersikap sopan , akan tetapi malah engkau membunuh suhengku ! Hayo bangkit dan lawan aku atau akan kuhancurkan meja dan arca-arca ini !” .

Untuk sebelum dia menghancurkan segalanya , Yang Cien siuman dan membuka matanya . “ Sute ……… ! Dia mencegah sutenya ketika mendengar sutenya menantang-nantang kerangka itu dan akan menghancurkan meja dan arca . “ Jangan , sute ….. “ .

Mendengar seruan suhengnya , Akauw lalu berlutut dan membantu kakaknya bangkit duduk , hatinya lega karena melihat Yang Cien tidak mati .

“ Engkau tidak mati , suheng ? Aku takut engkau mati ……… “ .

Yang Cien menggigit bibir menahan sakit , lalu memeriksa tangan kanannya , yang ternyata tertusuk sebatang jarum dan telapan tangannya itu menghitam . Dengan jari dia mencabut jarum itu dan merasa tangannya seperti di baker .

“ Sute , ambilkan buku itu “ . Kitab itu terlepas dari pegangannya dan terlempar . sutenya mengambil kitab kesil itu dan menyerahkannya kepadanya . Dengan tangan kirinya Yang Cien membuka lembar pertama dan di situ ada tulisan tangan yang jelas sekali .

Muridku , 48

Engkau telah keracunan Ban-tok-ciam ( jarum selaksa racun ) dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawamu , engkau harus tekun berlatih dari kitab ini selama lima tahun di sini “

Thian Beng Lojin .

Yang Cien tertegun . Dari kakeknya , dia pernah mendengar nama Thian Beng Lojin ( Kakek Anugerah Tuhan ) ini , seorang kakek sakti luar biasa yang tidak diketahui dimana tinggalnya atau matinya , beberapa abad yang lalu . Dia di angkat murid ! Akan tetapi diapun keracunan Ban-tok-ciam dan harus tekun berlatih selama lima tahun di tempat itu !

Dia di lukai ketika mengambil kitab , yang dipasangi alat yang membuat jarum itu menyebar , dilukai untuk “dipaksa “ menjadi murid ! Lima tahun ! Bukan waktu yang pendek . Dan bagaimana dengan sutenya ? .

“ Bagaimana , suheng ? Apa yang terdapat dalam kitab ini ?” .

“ Sute , aku telah keracunan Ban-tok-ciam , dan tidak dapat disembuhkan oleh obat apapun juga “ .

“ Jangan khawatir , suheng . Aku mengenal daun obat yang dapat dipergunakan mengobati gigitan ular berbisa “ .

“ Sute , jarum ini mengandung selaksa racun . Jalan satu-satunya untuk mengobati , menurut kitab ini selama lima tahun , aku harus berlatih dari kitab ini selama lima tahun di sini “ .

“ Lima tahun ! Gila ! Lima tahun itu sama dengan ketika kakek mengajar kita ! “

“ Apa boleh buat , sute . Kalau aku masih ingin hidup , aku harus menaati pesan dalam kitab itu .

Dan engkau boleh merantau dulu seorang diri , sute . Bekal 49

ilmu sudah cukup ada padamu , dan bekal uang juga cukup . Carilah pengalaman di luar , akan tetapi ingat , jangan mencari perkara , jangan suka berkelahi dan terutama sekali jangan membunuh orang “ .

“ Tidak , suheng . Kalau aku pergi , siapa yang menemanimu ? Aku akan menemanimu ? Aku menemanimu di sini , jangan khawatir “ .

“ Akan tetapi , sute , lima tahun … “

“ Kalau lima tahun mengapa ? Jangankan lima tahun , biar selamanya aku manu menemanimu di sini . Aku tidak punya siapa-siapa lagi , dan aku takut memasuki dunia manusia tanpa engkau …. “ .

“ Sute …… !” Yang Cien merangkul sutenya dengan hati penuh keharuan . Anak ini , biarkan di besarkan oleh kera , akan tetapi memiliki watah yang amat baik . “ Kalau begitu , sesukamulah . Aku harus mulai membaca kitab itu sekarang “ .

“ Aku akan mencari bahan makanan dan mengambil semua perabot kita untuk memasak air , untuk memasak makanan dan lain-lain . Nanti sore aku sudah kembali lagi , suheng “ .

“ baiklah , sute “ .

Setelah Akauw pergi , Yang Cien juga membuka lembaran kedua dan di situ tertulis bahwa untuk mempelajari ilmu menghimpun tenaga dalam kitab itu dia tidak boleh tergesa-gesa , tidak boleh membuka lembaran berikutnya sebelum mengerti benar dan melatih lembaran pertama . Kalau hal itu di langgar , kalau cara melatihnya tidak menurut aturan yang ditentukan , maka mempelajari ilmu itu dapat membuat dia menjadi gila ! .

Yang Cien bergidik ngeri . Begitu hebatkah ilmu ini ? Di lembar ke tiga di tulis nama dari ilmu itu .

Bu Tek Cin Keng ! Dan lembar berikutnya barulah pelajaran 50

pertama , yaitu pelajaran cara melatih pernapasan dan bermeditasi . Seketika itu juga Yang Cien mulai berlatih diri menurut petunjuk kitab itu .

Sorenya Akauw datang membawa semua perabot masak , juga pakaian mereka , dan sejak itu , dengan tekunnya Yang Cien berlatih dari Kitab itu dan Akauw melayaninya dengan rajin . dan benar saja baru sebulan dia berlatih diri , dan baru dapat tiga lembar saja , warna hitam di telapak tangannya sudah mulai menipis .

****

Kalau Yang Cien sangat tekun melatih diri dengan pernapasan dan siulan begitu tekun sampai setahun lewat tanpa dia rasakan , adalah Akauw yang mulai uring-uringan karena bosan . Setiap hari dia hanya melihat suhengnya duduk bersila dan melakukan pernapasan yang aneh-aneh , kadang-kadang napasnya bersuara seperti orang mengorok , kadang-kadang seperti kuda meringkik , kadang tidak bersuara sama sekali .

Karena bosan dan iseng , mulailah dia memperhatikan gambar-gambar orang bersilat yang terdapat di dalam dinding itu . maka mulailah dia berlatih silat melalui gambar-gambar , menirukan setiap gerakan . Dasar dia memang berbakat baik sekali , telah memiliki kesigapan alami , maka tidak berapa sukar baginya untuk menirukan jurus-jurus itu . Yang Cien melihat ini dan dia diam saja , dia tahu betapa jemunya sutenya itu berdiam diri saja di tempat itu , setiap hari hanya mempersiapkan segala keperluan untuk dirinya . Dia amat berterima kasih kepada sutenya yang setia , maka melihat sutenya giat berlatih silat , dia mendiamkan saja . Dan ternyata Akauw mendapatkan kesibukan tersendiri dan dia tekun sekali berlatih .

Setelah mempelajari siu-lan selama dua tahun , pada lembar-lembar berikutnya barulah ternyata olehnya bahwa latihannya itu adalah untuk persiapan mempelajari ilmu silat 51

yang gambarnya terdapat pada dinding . Ilmu silat yang dilatih oleh sutenya itu ilmu Bu Tek Cin Keng . dan sutenya telah mempelajarinya begitu saja , tanpa petunjuk kitab . Padahal , sutenya sudah melatihnya selama dua tahun , dan agaknya sudah menguasai semua jurus dari Bu Tek Cin Keng .

“ Sute , tahan …. !” Dia berseru ketika membaca lembaran kitabnya pada bagian itu . “ Sute , engkau tidak boleh melatih ilmu silat itu begitu saja . Harus menurut peraturan yang terdapat dalam kitab ini . Mari ku bacakan . Dimulai dari jurus pertama dulu , sute . Ketika berdiri tegak dan merangkap kedua tangan depan dada , seluruh hati akan pikiran haruslah di tundukkan kea rah kepasrahan kepada Thian , haruslah kosong dan biar terisi oleh kekuasaan Thian . Selaras dengan bunyi ujar-ujar Thian-beng-ci wi-seng ( Anugerah Tuhan adalah yang dinamakan Aseng ) . Nah , kita mengosongkan hati akal pikiran itu , agar Seng ( watak asli ) kita bangkit , terbebas dari pengaruh segala nafsu , kembali murni seperti aslinya . Setelah itu , barulah kedua tangan yang di rangkap depan dada itu berpisah , yang kanan menuding keatas , yang kiri ke bawah , yang ini yang dinamakan pisah akan tetapi kumpul , seperti pisahnya bumi dan langit yang sebetulnya tidak pernah berpisah karena memang menjadi satu rangkaian .

Gerakan pertama dari jurus pertama ini dilakukan dengan tarikan napas panjang , menyimpan di perut , baru pada gerakan kedua dihembuskan keluar dan bersuara aaahhhhh , kemudian pada gerakan ke tiga ….. “ .

“ Wah , sudah , sudah . aku menjadi pening , suheng . Kau saja yang mempelajari dari kitab . Aku hanya ingin mempelajari segala gerakannya saja , tidak ingin mempelajari segala artinya . baru satu jurus saja sudah begitu panjang lebar belum juga selesai kau terangkan , bagaimana aku dapat mengerti dan ingat ? Padahal semua ada tiga puluh enam jurus dank au tahu suheng ? Semua jurus itu sudah hafal 52

olehku . Nah , kau lihat ini ! “ Akauw lalu mulai bersilat , dari jurus pertama sampai selesai tegapuluh enam jurus . Gerakannya gesit bukan main dan ilmu silat itu memang indah sekali seperti orang menari-nari . akan tetapi setelah selesai bersilat , napas Akauw agak memburu dan dia tertawa bergelak-gelak saking girangnya .

Yang Cien mengerutkan alisnya . Dari suara ketawa sutenya itu saja tahulah dia bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sikap Akauw .

“ Sute , engkau harus taat kepadaku , ingat ? Aku katakana , engkau mulai sekarang tidak boleh memainkan ilmu silat itu , kecuali kalau engkau mau mempelajari dari semual menurut petunjuk kitab ini . Mari kita mempelajari berdua , sute “ .

“ Ah , sudah hafal di mulai lagi dari pertama , untuk apa ? Aha , suheng , agaknya engkau iri kepadaku . Aku sudah hafal semua dan engkau baru mulai dari jurus satu . Suheng , aku sudah jemu di sini . Sekarang setelah tanganmu sembuh , marilah kita pergi dari sini , melanjutkan perjalanan kita “ .

“ Sute , aku ingin mempelajari ilmu silat ini lebih dulu seperti pesan suhu “ .

“ Suhu siapa ?”

“ Suhu Thian Beng Lojin . seperti yang tertulis di dalam kitabnya . Aku harus menaati pesannya , kalau tidak berarti aku bukan seorang murid yang baik . Kalau kakek masih hidup , tentu demikian pula pesannya kepadaku dan kepadamu . Tunggulah sampai aku selesai mempelajari kitab ini , baru kita pergi melanjutkan perjalanan kita , sute “ .

“ Sampai kapan , suheng ?” .

“ Sampai tiga tahun lagi , karena menurut kitab ini , aku harus berlatih selama lima tahun dan ini baru lewat dua tahun “ .

“ Tiga tahun ? Wah , terlalu lama , suheng . Kita pergi 53

sekarang , kalau engkau tidak mau , biar aku pergi sendiri “ .

Jelas bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Akauw , pikir Yang Cien . Apakah ini ada hubungannya dengan melatih ilmu Bu Tek Cin Keng tanpa tuntunan ? Kalau dulu dia pernah menganjurkan sutenya untuk merantau dulu seorang diri , kini dia berbalik malah khawatir .

“ Sute , jangan pergi dulu , tunggu sampai aku selesai melatih ilmu “ .

“ Suheng , aku bukan anak kecil lagi . Suheng juga seringkali mengatakan bahwa aku telah dewasa , usiaku sudah dua puluh satu tahun . Aku sudah mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk menjaga diri , dan juga bekal emas yang cukup untuk biaya hidup . Suheng biarlah aku merantau dulu , dan paling lama tiga tahun , sebelum engkau selesai melatih ilmu di sini , aku pasti akan datang menjemputmu “ .

Yang Cien menghela napas panjang . Kalau dia mencegah terus , sutenya bisa menduga bahwa dia terlalu memikirkan diri sendiri . Kini lukanya sudah sembuh , tinggal melatih ilmu saja untuk membuat semua racun lenyap dari tubuhnya . Dia dapat mencari makan sendiri , dapat mengatur keperluan dan memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan sutenya .

“ Baiklah kalau engkau berkeras , sute . Hanya jangan lupa , di dunia banyak sekali terdapat orang jahat . Engkau tentu masih ingat akan semua pelajaran yang kau terima dari kakek atau dariku , dapat membedakan mana baik dan mana jahat . Dan sekali lagi , jangan engkau mudah melibatkan diri dalam perkelahian , dan terutama sekali , jangan membunuh orang tanpa sebab “ .

“ Aku mengerti , suheng . Akan tetapi tentu engkau tidak keberatan kalau aku membunuh orang yang jahat sekali dan yang suka mencelakakan orang , bukan ?” .

Yang Cien menghela napas panjang , teringat akan dasar watak sutenya yang keras . “ Engkau tentu dapat memilih , 54

pendeknya , jangan terlalu mudah membunuh orang , kecuali kalau engkau menjadi seorang prajurit yang bekerja untuk sebuah kerajaan . Akan tetapi engkau harus dapat memilih kerajaan macam apa , dibawah raja macam apa engkau mengabdi “ .

“ Jangan khawatir , suheng . Aku tidak akan menjadi seorang prajurit kalau tidak bersama engkau . Nah , aku sudah mempersiapkan segalanya malam tadi , selamat tinggal , suheng , aku berangkat “ .

“ Sute , selamat jalan , jaga dirimu baik-baik , sute “ .

“ Suheng …. !” Akauw menghampiri suhengnya dan merangkulnya . Yang Cien balas merangkul dan saat itu dia merasa betapa sayangnya dia kepada sutenya ini yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri dan betapa besar dan kokoh tubuh sutenya sehingga tidak pantas kalau dia selalu menahan dan menjaganya “ .

“ Sute , pergilah “ .

Dia mengikuti sutenya yang berloncatan dengan sigap sekali di antara batu-batu besar di luar guha . Setelah sutenya pergi , baru dia merasa betapa sepinya hidup ini . Dia merasa kehilangan sekali dan merasa kesepian .

Dalam setiap perpisahan , selalu pihak yang di tinggalkan merasa lebih berat dan kehilangan , seolah-olah dalam hidupnya menjadi tidak lengkap lagi .

Sebaliknya , yang meninggalkan tidaklah begitu merasa berat karena pikirannya penuh dengan hal-hal baru , yang akan dihadapinya dalam perjalanan .

Setelah dapat menentramkan batinnya yang terguncang dan merasa nelangsa di tinggalkan sutenya dan hidup sendiri di tempat terasing itu , mulailah Yang Cien melatih diri dengan ilmu silat yang gambarnya memenuhi dinding , menurut petunjuk dalam kitab . Dan bukan main kagumnya karena dia 55

menemukan ilmu silat yang luar biasa sekali hebatnya . Dan juga menurut petunjuk kitab itu , setiap jurus haruslah digerakkan sesuai dengan peraturan pernapasan dan pencurahan perhatian di tujukan kepada suatu tertentu . Sehingga untuk melatih setiap jurus membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan ! Dan untuk melatih dan menguasai semua tigapuluh enam jurus itu di butuhkan waktu tiga tahun ! Akan tetapi sutenya telah menghafal dan melatih seluruh jurus itu hanya dalam waktu dua tahun .

Ketika sutenya pergi jauh dan dia memeriksa pedang yang berada di atas meja sembahyang , baru dia tahu bahwa sebatang di antara dua batang pedang itu telah lenyap . Sarung pedang itu kini hanya tinggal berisi sebatang pedang saja , yati pedang yang bersinar putih . Sedangkan pedang yang bersinar hitam tidak ada . Pasti sutenya yang membawanya . Pedang hitam itu memang biasa di pakai sutenya untuk berlatih silat .

Ketika dia menemukan kitab Bu-tek Cin-keng , di dekat kitab itu terdapat sepasang pedang itu . Ketika dia dan sutenya memeriksanya , ternyata sepasang pedang itu adalah pedang sinarnya berlainan sama sekali , bahkan berlawanan .

Yang satu bersinar putih dan yang lain bersinar hitam . Namun bentuknya , panjangnya , beratnya sama benar . Dan karena pedang itu di hias ukiran naga , maka mereka berdua sepakat untuk menamakan pedang itu Pek-liong-kiam ( Pedang Naga Putih ) dan Hek-liong-kiam ( Pedang Naga Hitam ) . Ternyata pedang itu terbuat dari logam yang aneh dan kuat bukan main . Batu karang saja dengan mudah terbelah oleh pedang-pedang itu .

Begitu melihat pedang itu , Akauw sudah merasa sangat suka kepada pedang yang hitam . Warna hitamnya seperti arang dan kalau di gerakkan dengan pengerahan tenaga sin-kang , pedang itu mengeluarkan suara mengaum seperti singa . Akauw selalu berlatih dengan pedang ini dan seringkali 56

membawanya kalau dia keluar guha untuk melindungi dirinya .

Yang Cien tidak merasa aneh kalau sutenya membawa pedang Naga Hitam itu pergi . Bahkan dia tadi lupa , kalau tidak tentu diapun mengusulkan agar sutenya membawa pedang hitam itu . akan tetapi yang membuat dia merasa sayang , kenapa sutenya tidak bilang kepadanya . Padahal kalau mengatakan , tentu saja dia membolehkannya .

Bagi Yang Cien , dia merasa lebih cocok dengan pedang Naga Putih . Pedang itu kalau di gerakkan mengeluarkan suara nyaring melengking seperti suara burung hong betina . Dan ilmu Bu-tek Cin-keng ternyata merupakan ilmu silat yang serba cocok untuk memainkannya dengan atau tanpa senjata . memang pada gambar-gambar itu , orangnya bersilat dengan tangan kosong , namun bagi orang yang sudah menguasai dasar-dasar ilmu pedang , maka dengan sedikit perkembangan , ilmu silat itu cocok sekali untuk di jadikan ilmu silat pedang . Maka , sambil melatih ilmu tangan kosong dari Bu-tek Cin-keng , Yang Cien kadang juga melakukan gerakan-gerakan itu dengan Pedang Naga Putih dan merangkai sebuah ilmu silat Pedang yang dia namakan Pek Liong Kiam-sut ( Ilmu Pedang Naga Putih ) ! .

****

Keadaan di Cina utara pada waktu itu memang baru saja di landa perang saudara yang hebat . Seperti tercatat dalam sejarah , pada tahun 221 – 265 , Cina di kuasai oleh tiga kerajaan dan masa itu di kenal sebagai Zaman Sam Kok ( Tiga Negara ) . Sam Kok ini menyusul runtuhnya Kerajaan Han Timur . Negara Cina terpecah-pecah menjadi tiga kelompok .

Kerajaan Wei berkuasa di utara , yaitu di Shan-si , Shan-si utara dan daerah lain di utara . Kemudian di Barat daya berkuasa Kerajaan Shu yang kekuasaannya meliputi daerah Hupei , Huna , Se-cuan dan Yunan . Adapun di Tenggara berkuasa Kerajaan Wu . Dengan demikian , selama 221 – 265 , Cina memiliki tiga orang Kaisar . 57

Tiga Kerajaan ini tiada hentinya berperang , saling bermusuhan sehingga rakyat menderita sengsara karena perang segi tiga yang tiada henti-hentinya . Akan tetapi akhirnya pada tahun 265 , Kerajaan Wei keluar sebagai pemenangnya , menaklukan dua kerajaan yang lain dan Cina di kuasai dan dipersatukan oleh Kerajaan atau Dinasti Wei .

Namun apakah ini berarti bahwa keadaan Negara menjadi tentram ? Jauh daripada itu ! Keadaan Kerajaan Wei tetap saja lemah , Kesatuan tidak dapat dipelihara dengan baik . Para tuan tanah , pejabat daerah , jendral-jendral silih berganti berperang memperebutkan kekuasaan di daerah-daerah . Pertempuran kecil dan besar timbul di seluruh Cina , dari bagian utara sampai selatan . Kekuasaan berganti-ganti jatuh ke tangan pemenangnya , dari jendral ini di rebut kembali oleh jendral itu .

Wangsa-wangsa baru berdiri jatuh-bangun , timbul – tenggelam .

Itu semua masih belum hebat . Masih di tambah lagi penyerbuan suku-suku Nomad yang berebutan menduduki daerah-daerah luas di pinggiran . Suku Hsiung nu , Suku Tibet , Turki dan Bangsa Toba yang paling berpengaruh itu menyerbu dari utara dan barat , bahkan Bangsa Toba akhirnya mendirikan Kerajaan Toba yang berkuasa di seluruh Tiongkok utara . Tiongkok terpecah-belah dan kekacauan ini berlangsung terus sejak tahun 265 sampai sekarang , hamper tiga abad lamanya .

Di selatan juga banyak sekali raja-raja kecil timbul sebagai akibat dikuasainya daerah utara oleh Bangsa Toba dan di antara raja-raja kecil inipun selalu timbul perang memperebutkan wilayah .

Bangsa Toba adalah suatu suku dari bangsa Mongol yang termasuk suku yang gagah perkasa , pandai menunggang kuda dan pandai menggunakan anak panah yang pada waktu itu merupakan senjata paling ampuh dalam perang . Juga 58

Bangsa ini sejak dari kampong halamannya si utara , sudah suka sekali akan kekerasan dan olah keperwiraan . Mereka itu ahli gulat dan juga memiliki semacam ilmu bela diri yang cukup ampuh karena mereka mendapatkannya dari bangsa India dan juga banyak orang Han yang mengajarkan ilmu silat mereka kepada bangsa ini .

Bagaimanapun juga , Kerajaan Toba ini tak dapat di bilang kuat . Kerajaan ini membagi-bagi daerah kepada sekutunya , yaitu kepada Bangsa Hsiung-nu , bangsa Tibet , Turki dan lain-lain . Karena daerah itu terpecah-pecah dan dibagi-bagikan , maka tentu saja kekuasaannya terbatas . Apalagi pada masa kisah ini terjadi , Kaisar Bangsa Toba yang terakhir adalah seorang pemabok dan yukang pelesir yang tidak ketulungan lagi . Dia berjuluk Julan Khan , berusia limapuluh tahun dan biarpun dia seorang yang memiliki ilmu silat dan ilmu perang yang ampuh , namun karena dia hanya bersenag-senang saja , maka dia dapat dibilang seorang kaisar yang lemah . Untuk mendapatkan seorang wanita saja , dia tidak segan untuk mengerahkan pasukannya menyerang daerah dimana wanita yang digandrunginya itu tinggal .

Kalau wanita itu dengan baik-baik di serahkan , dia tidak akan sayang untuk menghujani hadiah kepada keluarganya atau kepada kepala daerahnya , akan tetapi kalau sampai di tolak , tentu daerah itu di gempur , banyak orang tewas dan akhirnya wanita itu dibawanya sebagai hasil menang perang ! .

Raja Julan Khan memilih Tiang-an sebagai kota raja dan di sini dia hidup serba mewah dan berenang dalam lautan kesenangan , tidak memperdulikan bahwa semua pejabat , dari pusat ke daerah , semua melakukan koropsi dan penindasan kepada rakyat jelata .

Mendiang kakek Yang Kok It adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Han dan Wei , maka dia tidak mau bekerja lagi ketika Kerajaan Toba berdiri , apalagi dia sudah tua . Akan 59

tetapi puteranya , Yang Koan , bekerja kepada Kerajaan Toba yang ketika itu masih di pimpin oleh ayah kaisar yang sekarang . Akan tetapi , mendiang Yang Koan paling membenci rekan-rekannya yang melakukan penindasan kepada rakyat . Dan akhirnya karena berselisih paham , Yang Koan dan istrinya tewas ditangan saingannya , yaitu para pembesar yang korup , yang menggunakan seorang sakti untuk membunuhnya , bahkan lalu orang sakti yang bernama Toang-beng Kiam-ong Lui Tat itu mendapat tugas untuk mengejar dan mencari kakek Yang Kok It yang melarikan diri bersama cucunya yang bernama Yang Cien . Akhirnya pengejaran dihentikan karena tidak terdengar lagi berita tentang kedua orang itu .

Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang berjasa membunuh Yang Koan sekeluarga , oleh para pejabat lalu dihadapkan kaisar dan diberi pujian sehingga kakek ini lalu di angkat menjadi penasehat militer yang tentu saja memiliki kedudukan yang tinggi di kota raja .

Pada suatu siang udara sangat panas karena musim panas sedang berada di tengah-tengah . Panasnya udara membuat orang segan keluar dan kedai-kedai minuman di penuhi tamu yang akan melepas dahaga .

Seorang pemuda memasuki kedai minuman itu . Dia seorang pemuda tinggi besar , mukanya agak gelap seperti muka yang banyak terbakar matahari , pakaiannya seperti pakaian orang dusun namun bersih . Rambutnya yang panjang dibiarkan terjurai ke belakang punggung , di ikat dengan sehelai kain putih dan punggungnya yang lebar menggendong sebuah buntalan panjang . Orang ini mendatangkan kesan kokoh kuat sehingga tidak ada yang berani untuk mencoba mengganggunya . baru kedua lengannya saja yang nampak tersembul keluar dari lengan bajunya yang di gulung , nampak kekar berotot sebesar jari tangan . Usianya sekitar duapuluh satu tahun dan begitu memasuki kedai minuman itu dia 60

langsung memesan minuman kepada pelayan . Suaranya besar dan dalam , kata-katanya singkat saja . Pemuda ini bukan lain adalah Cian Kauw Cu atau Akauw .

Perantauannya membawa dia ke kota raja Tiang-an di siang hari itu dan biarpun dia amat menganggumi besarnya dan indahnya rumah-rumah di sepanjang jalan yang dilaluinya , namun dia tidak memperlihatkan kekaguman dan keheranannya .

Kini dia sudah terbiasa melihat banyak orang , sungguh pada waktu pertama kali memasuki sebuah dusun dan melihat begitu banyaknya manusia , dia menjadi panic dan gentar juga . Apalagi ketika pertama kali melihat wanita muda , dia sampai melotot memandanginya dan wanita itu menjadi ketakutan lalu melarikan diri . Tak di sangkanya bahwa bangsanya ada juga betinanya , dan begitu mempesona ! Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah banyak mendengar keterangan Yang Cien , maka keheranannya tidaklah begitu mengubah sikap dan wataknya . Dia harus sopan terhadap wanita , demikian ajaran suhengnya . Sopan itu berarti tidak menegur mereka kalau tidak kenal , tidak memandang terlalu lama , dan tidak mendekati mereka . Kecuali kalau sudah berkenalan .

“ Pelayan , cepat sediakan the dingin untukku ! Aihh , panasnya !” suara nyaring ini menarik perhatian Cian Kauw Cu . Dia segera menengok dan hamper saja dia tertawa . Seorang pemuda , melihat bentuk tubuhnya yang ceking tentu masih remaja , akan tetapi sikapnya seperti seorang yang sudah dewasa saja , memasuki kedai itu lalu memilih tempat kosong , tak jauh dari tempat duduk Kauw Cu . Dan begitu the yang dipesannya tiba , dia lalu mengangkat sebelah kakinya ke atas bangku dan minum dengan lahapnya . Kauw Cu tersenyum dan kebetulan pemuda remaja itu juga memandang kepadanya . Mereka saling pandang dan Kauw Cu melihat betapa sepasang mata itu memiliki senar tajam penuh selidik dan manik matanya bergerak gerak amat cepatnya , 61

menunjukkan kecerdasan otaknya .

“ Hemm , kalau orang tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab itu namanya orang gila . Ku harap engkau masih waras , sobat . Kenapa engkau tersenyum-senyum sendiri yang menatap aku seperti itu ?” .

Pertanyaan inipun di anggap lucu oleh Kauw Cu . “ Aku tersenyum melihat engkau minum begitu lahapnya , sobat . Agaknya engkau sudah haus sekali “ .

“ Siapa tidak haus dalam hawa sepanas ini ?” kata pemuda itu dan selanjutnya dia tidak memperdulikan lagi kepada Kauw Cu yang juga sudah mengalihkan perhatiannya kepada minumannya . Yang Cien menasehati bahwa dia tidak boleh usil , tidak boleh mencampuri urusan orang lain . Inipun demi menjaga kesopanan dan menjauhkan percekcokan .

Dan melihat bahwa di meja lain duduk seorang yang melihat pakaiannya seperti seorang pembesar , bersama tiga orang yang berpakaian seperti ahli silat , mungkin tukang-tukang pukulnya . Pembesar itu dengan alis berkerut melirik kea rah pemuda yang nongkrong mengangkat sebelah kakinya sambil minum the dengan suara berseruputan dan agaknya dia tidak senang sekali . Lalu dia berbisik kepada seorang pengawalnya yang bertubuh tinggi besar bermuka bopeng . Biarpun dia berbisik , namun Kauw Cu dapat mendengar bisikan itu . Telinganya sudah terlatih baik , bersatu dengan nalurinya .

“ Beri hajaran kepada anak muda kurang ajar itu dan lempar dia keluar !” . kata sang pembesar kepada tukang pukulnya yang bertubuh tinggi besar .

Tukang pukul ini lalu bangkit . Tubuhnya memang tinggi besar , lebih tinggi dibandingkan tubuh Kauw Cu sehingga mengingatkan Kauw Cu akan seekor biruang , musuh utamanya di hutan . Si Biruang itu lalu menghampiri pemuda tadi dan menghardik . 62

“ bocah liar ! Di sini terdapat seorang pembesar , dan engkau duduk nongkrong mengangkat kaki seperti monyet , minum berseruputan seperti babi !” .

Pemuda itu sama sekali tidak nampak ketakutan di hardik dan dimaki seperti itu , malah membelalakkan matanya dan nampak keheranan .

“ Aih , aih …. Engkau ini mabok ,ya ? Di sini tempat umum , aku boleh nongkrong , boleh duduk sesukaku , aku tidak merugikan orang lain kenapa rebut-ribut ?” .

Si muka bopeng menggerakkan tangannya , memegang leher baju bagian belakang pemuda remaja itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi , sehingga tubuh pemuda itu tergantung . “ Engkau banyak membantah , ya ? Hayo pergi dari sini …. !” .

Dia membawanya keluar dan hendak melemparkan tubuh pemuda itu ketika Akauw sudah datang menghadangnya .

“ Sobat , anak ini tidak bersalah apa-apa , tidak merugikan siapa-siapa , harap jangan di ganggu “ .

Menghadapi pemuda yang membela anak itu , si muka bopeng menjadi marah sekali . Dia melepaskan anak muda itu yang segera lari ke belakang meja untuk berlindung .

“ Jahanan busuk , engkau tidak tahu aku siapa , ya ? Aku pengawal Gu-taijin , jaksa di sini tahu ?” .

“ Maaf , aku memang tidak mengenalmu , sobat . Dan aku tidak mencari keributan . Aku hanya minta agar engkau jangan memukul anak yang tidak bersalah itu “ .

“ Baik , kalau aku tidak boleh memukul dia , aku akan memukulmu ! “ .

Setelah berkata demikian , si muka bopeng menggerakkan tangan kanannya yang dikepal sebesar kepala anak-anak itu meluncur dan menghantam kea rah muka Akauw . Dengan 63

tenang Akauw menggerakkan tangan kirinya , menyambut kepalan tangan kanan lawan itu dan mencengkramnya .

“ Auuwww …. !” si muka bopeng berteriak kesakitan , akan tetapi dasar dia tidak tahu diri , kini tangan kirinya melayang kea rah kepala Akauw .

Akauw menggunakan tangan kanannya menyambut dan menangkap kepalan kiri itu dan kini kedua tangan lawan itu berada dalam genggamannya dan si muka bopeng mengaduh-aduh karena dia merasa kedua kepalan tangannya remuk . Akauw lalu mendorongnya ke belakang karena pada saat itu , dua orang pengawal yang lain sudah menerjangnya . Akan tetapi kedua orang itu terbelalak ketika tiba-tiba saja orang yang mereka serang itu menghilang . Kiranya Akauw melompat dengan cepat sekali ke atas dan bergantung kepada tiang , kemudian selagi kedua orang tukang pukul itu kebingungan , dia pun meloncat turun ke belakang mereka , kedua tangannya menjambak rambut kepala mereka dan mengadukan dua buah kepala itu , tidak terlalu keras akan tetapi cukup membuat kepala itu benjol dan bermunculan ribuan bintang yang membuat kedua orang itu pening dan terkulai . Untung Akauw masih ingat untuk tidak membunuh orang . Kalau terlalu keras dia mengadukan kepala itu sudah pecah dan tentu saja orangnya mati .

Geger di kedai minuman itu . Melihat ketiga tukang pukulnya sudah roboh , si tinggi besar masih berjingkrak karena kedua tangannya terasa nyeri , kiut miut rasanya dan kedua orang yang masih duduk memegangi kepala yang rasanya seperti berputar-putar . Jaksa itu pun tahu diri dan bangkit keluar dari kedai meinuman . Akan tetapi sebelum keluar , sesosok bayangan menyelinap dan pemuda remaja itu sudah berdiri di depannya .

“ Heii , jaksa . mau kemana kau ? sudah membikin kacau hendak menghina orang , kini mau pergi begitu saja ?” .

Jaksa yang gendut itu menjadi marah . Dia memang gentar 64

menghadapi Akauw , akan tetapi bocah kurang ajar yang ceking ini tentu saja tidak membuatnya takut .

“ Minggir , bocah setan atau ku pukul kepalamu !” bentaknya .

“ Wah , malah mau pukul ? Kepalan tahumu itu bisa memukul . Coba hendak ku rasakan kepalan tahumu itu . Jangan – jangan untuk memukul kepalaku malah remuk !” .

Di ejek begitu sang jaksa lalu mengerahkan seluruh tenaganya mengayun kepalan tangan kanannya memukul kepala anak itu , akan tetapi tiba-tiba bocah itu merendahkan tubuhnya sehingga pukulan itu luput dan tubuhnya terbawa oleh tenaga pukulan terhuyung ke depan . Tubuh yang perutnya gendut itu terhuyung , maka ketika kaki pemuda itu mengganjal kakinya , tanpa dapat di cegah lagi tubuhnya jatuh menubruk meja di depannya . Celakanya , tamu meja depan itu memesan semangkok besar bubur ayam yang masih panas dan ketika roboh menelungkup , muka si jaksa masuk ke dalam mangkok besar bubur ayam sehingga berlepotan bubur panas . Dia mengaduh-aduh dan menjerit-jerit seperti babi di sembelih .

Akauw merasa tangannya di pegang orang dan ternyata pemuda remaja itu yang memegang tangannya , “ Hayo cepat , kenapa bengong melulu ? Apa engkau kepingin mati ?” .

“ Kepengin mati ? Tentu saja tidak !”

“ Kalau tidak , hayo cepat ikut aku !” .

Pemuda remaja itu lalu menggandeng tangannya dan menariknya berlari keluar dari kedai minuman itu . “ Nanti dulu “ , Akauw membantah . “ Aku belum membayar harga minumanku “ .

“ Alaa , biarkan pembesar gendut itu yang membayarnya . Hayo cepat kita lari “ .

Akauw membiarkan saja dirinya ditarik dan dibawa lari . 65

Mereka pergi keluar kota dan memasuki sebuah kuil tua kosong yang berada diluar kota raja . Barulah pemuda remaja itu melepaskan tangannya dan dia terengah-engah , duduk di lantai bersandarkan dinding tua .

Akauw juga ikut duduk di depannya , bersila . “ Eh , sobat cilik , kenapa kau bilang aku tadi kepengin mati ? Apa yang kau maksudkan ? Dan kenapa pula engkau mengajakku lari-lari seperti ini dan bersembunyi di tempat ini ?” .

“ Wah , engkau tidak mengerti , ya ? Kok Tolo benar sih kau ini ? Tubuhmu saja besar akan tetapi engkau bodoh sekali “ .

Heran . Akauw tidak marah bahkan merasa geli . Biarpun dimaki , akan tetapi cara memaki pemuda itu terdengar lucu , karena sikapnya bukan seperti orang yang menghina atau merendahkan , melainkan seperti seorang nenek memarahi cucunya !.

“ Memang aku bodoh . Nah , katakana mengapa ? “.

“ Kau tahu ? Orang gendut tadi seorang jaksa ! Kau tahu apa itu jaksa ?” .

Akauw mengingat-ingat . Setahunya , jaksa itu seorang pembesar yang bekerja di pengadilan . “ Seorang jaksa itu orang yang menuntut seseorang penjahat agar di adili dan di hukum . Seorang jaksa menentang kejahatan “ .

-oo0dw0ooo-

Jilid 3

“ Itu jaksa yang baik . Akan tetapi Gu-taijin itu bukan seorang jaksa yang baik . Dia malah menghukum orang baik-baik yang tidak bersalah , membenarkan orang jahat asal orang jahat itu memberinya uang . Dia sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya , memaksakan kehendaknya 66

seperti kaulihat tadi di kedai minuman . Dia mempunyai banyak tukang pukul untuk menyiksa orang , untuk memaksa orang yang tidak bersalah membuat pengakuan palsu .

“ Hemmm , kalau begitu dia jahat sekali , sudah pantas diberi hajaran . Akan tetapi mengapa engkau membawa aku pergi melarikan diri ?” .

“ Karena , seperti kataku tadi , dia berkuasa dan mempunyai banyak pengawal . Dia tentu tidak akan tinggal diam dan kalau kita tidak cepat lari , sampai dia memanggil banyak pengawalnya , kita dapat saja di fitnah sebagai pemberontak dan di hokum mati “ .

“ Wah , kalau begitu kita tidak semestinya lari dari sana . Kita bahkan harus menghukum jaksa jahat itu sampai dia jera berbuat kejahatan lagi . “ Berkata demikian , Akauw mengepal kedua tinju tangannya dan mengamangkan tinjunya .

Pemuda remaja itu memandang kagum , lalu dengan kedua tangannya dia memegang dan menekan untuk mencoba kekerasan lengan Akauw yang berotot itu .

“ Hemm , engkau memang kuat . Bukan main , lenganmu seperti besi baja saja . Akan tetapi , engkau tadi mampu merobohkan tiga orang tukang pukul , apakah engkau mampu mengalahkan tiga puluh orang , atau bahkan tiga ratus orang ? Engkau akanmenghadapi ribuan atau puluhan ribu pasukan dan hendak ku lihat engkau akan bisa berbuat apa “ .

“ Apakah ada pemberontak-pemberontak seperti itu , sobat ?” .

“ Kenapa tidak ada ? Banyak sekali ! “

“ Kenapa ? Tentu untuk merebut kekuasaan . Dan satu antara lain sebabnya adalah pembesar-pembesar tidak becus seperti jaksa itu . Mereka berbuat tidak adil sehingga membuat orang menjadi penasaran dan memberontak . 67

Pemberontakan seperti itu harus di basmi karena menimbulkan perang yang akan menyusahkan rakyat saja “ .

“ Sobat , engkau ini masih kecil akan tetapi otakmu cerdas sekali , mengetahui banyak hal !” kata Akauw kagum .

“ Dan engkau ini besar , kuat dan pandai silat akan tetapi lagakmu begini bodoh . Siapa sih namamu ?”.

“ Namaku Cian Kauw Cu , akan tetapi engkau boleh menyebutku Akauw saja , seperti di sebut oleh orang-orang yang baik kepadaku . Dan siapa namamu ?”

“ Aku bermarga Bi namaku Soan “ .

“ Bi Soan ? Namamu indah , memang engkau tampan seperti bulan “ , puji Akauw .

“ Tampan seperti bulan ? Mana ada seorang laki-laki tampan seperti bulan ?” .

“ Tapi engkau memang tampan , aku suka sekali padamu , Bi Soan “ , kata Akauw .

“ Engkau pintar , tidak seperti aku yang bodoh “ .

“ Hem , aku juga suka padamu , engkau kuat , pandai bersilat , dan juga jujur sekali . Terlalu jujur sehingga nampak bodoh . Akan tetapi aku tidak mengatakan engkau bodoh , engkau seperti orang yang berpura-pura bodoh saja “ .

“ Sudahlah , Bi Soan . Sekarang aku harus pergi . Kalau kau anggap berbahaya kembali ke kota ,aku akan pergi meninggalkan Tiang-an , aku tidak suka tempat itu karena terlalu ramai , terlalu bising “ .

“ Engkau hendak kemana , Akauw ?” .

“ Melanjutkan perantauanku . Sudah setahun aku merantau dan baru hari ini aku bertemu dengan seorang yang baik seperti engkau . Selamat tinggal “ .

“ Selamat jalan , Akauw . Sampai berjumpa kembali …. “ . 68

Akauw sudah meninggalkan kuil itu dan tidak kembali ke Tiang-an , melainkan melanjutkan perjalanan ke timur . Dia tidak tahu bahwa dari belakang kuil itu berkelebat bayangan hitam yang membayanginya dari jauh . Juga dia tidak tahu bahwa Bi Soan nampak melamun setelah dia pergi .

“ Bukan main ! Orang yang kuat dan mengagumkan sekali , sayang dia bodoh , kalau tidak …. Hemmmm …. “

Bi Soan lalu pergi dari kuil itu , kembali ke kota Tiang-an dengan sikap seenaknya , seolah dia sama sekali tidak takut kalau-kalau akan bertemu dengan tukang pukulnya Jaksa Gu .

****

Ketika Akauw berjalan sampai di tepi hutan yang sunyi , dia melihat seekor kijang . Timbul nalurinya untuk berburu , apalagi perutnya memang sudah lapar dan di tempat sunyi seperti itu tentu saja tidak mungkin dapat membeli makanan .

Dia lalu melompat jauh dan melakukan pengejaran . Kijang itupun mendengar suara orang mengejar , diapun melompat jauh ke depan memasuki hutan , Akauw lalu meloncat ke atas pohon dan melakukan pengejaran melalui pohon-pohon . Dengan cara ini , kijang tidak dapat mencium baunya dan tidak tahu bahwa pemburunya sudah berada di atasnya .

Semua ini tidak lepas dari pengamatan orang yang membayangi Akauw . Orang itu seperti kakek yang usianya tentu lebih dari enampuluh tahun , bertubuh pendek kecil akan tetapi mempunyai gerakan yang ringan sekali sehingga Akauw tidak tahu bahwa sejak dari kuil tadi orang itu membayanginya . Bahkan ketika dia melakukan pengejaran terhadap kijang , orang itu tetap membayanginya , walaupun tidak seperti dia meluncur dari pohon ke pohon . Orang itu berlari seperti terbang saja , menyelinap dari pohon ke pohon lain dan terus membayangi kemana saja Akauw pergi .

Setelah tiba di atas kijang itu , Akauw mengeluarkan pekik seperti ketika dia masih hidup di antara kera-kera itu dan 69

tubuhnya meluncur dari atas pohon , tepat menimpa punggung kijang itu . Kijang itu kaget ,meronta , namun lehernya telah di pegang oleh sepasang tangan yang amat kuat dan kepalanya di punter , maka robohlah kijang itu , tidak bergerak lagi , mati seketika .

Akauw mengeluarkan suara penuh kemenangan yang terdengar seperti lengking panjang , kemudian dia membuat api unggun dan tak lama kemudian dia sudah memanggang daging kijang muda yang sedap dan lunak .

Sepasang mata yang mengintainya kini berkedip-kedip dan mulut kakek kecil itu berliur ketika bau sedap daging kijang panggang itu menyerang hidungnya .

Dia lalu keluar dari tempat sembunyi sambil terkekh . Akauw terkejut bukan main . Dia melompat berdiri saking kagetnya . Bagaimana dia tidak dapat mendengar ada orang yang berada begitu dekat dengannya ? .

“ He-he-he , anak muda , bolehkan aku mendapatkan sedikit daging kijang yang kau panggang itu ?”.

“ Ah , tentu saja , paman , tentu saja . Mari , silahkan duduk , paman danmari silahkan makan bersamaku “ , Akauw sudah hilang kagetnya dan dengan ramah dia menyilakan orang itu duduk menghadapi api unggun .

“ Terima kasih “ , orang itu memandang Akauw yang membolak-balik daging kijang yang sedang di panggangnya . “ Engkau siapakah , anak muda ?” .

“ Namaku Cian Kauw Cu , paman . Dan paman siapakah dan bagaimana dapat berada di hutan yang amat lebat ini ?” .

“ Aku ? ha-ha-ha , aku memang seringkali berkeliaran di hutan ini dan kebetulan melihat engkau memanggang daging kijang . Wah , , sudah masak rupanya “ .

Akauw lalu mematahkan sebagian paha kijang dan menyerahkannya kepada tamunya yang memakan dengan 70

lahapnya . Mereka makan daging panggang rusa itu tanpa berkata-kata . Setelah kenyang , kakek itu mengeluarkan seguci arak , lalu minum dari guci itu dengan suara menggelogok . Lalu dia menyerahkan guci itu kepada Akauw . “ Nah , sebagai pengganti pemberianmu daging rusa , minumlah arak ini , orang muda “ .

“ Terima kasih ,paman . Akan tetapi , aku tidak pernah minum arak . Aku hanya minum air the atau air putih saja “ .

Mendengar jawaban ini , kakek itu bangkit berdiri dan tertawa terkekeh-kekeh . “ He-he-he , orang begini gagah perkasa , minumnya hanya air the atau air putih saja , seperti seorang gadis pingitan . Ho-he-heh-he , engkau menolak arak pemberian Thian-te Ciu-kwi ( Setan Arak Langit Bumi ) , itu berarti penghinaan . Orang muda , hayo kau harus mampu melawanku sebanyak sepuluh jurus . Kalau tidak mampu , engkau mampus karena berani menghina aku !” .

Akauw juga bangkit berdiri dan sepasang alis yang tebal itu berkerut .

“ Paman , siapa yang menghina ? Aku menolak karena memang tidak suka minum arak “ .

“ He-he-he , suka tidak suka harus minum kalau sudah ku beri . Engkau akan mampus kalau tidak dapat bertahan lebih dari sepuluh jurus “ . Setelah berkata demikian , kakek itu sudah menyerangnya dengan guci araknya yang terbuat dari pada baja .

Akauw terkejut karena serangan itu hebat sekali . Dari angina suara serangan itu saja dia tahu bahwa kakek itu menggunakan tenaga yang luar biasa besarnya . Cepat dia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri .

“ Kakek , engkau jahat sekali ! Engkau hendak membunuh orang yang tidak berdosa ? Engkau jahat dan patut di hajar !” kata-kata terakhir ini di dapatnya dari suhengnya yang mengharuskan dia menghajar orang yang jahat . Setelah 71

berkata demikian , diapun membalas dengan pukulan tangannya dan otomatis ia menggerakkan pukulan dari ilmu Bu-tek Cin-keng .

“ Siiuuttt ….. ! “ Angin besar melanda kakek itu dan membuat si kakek berjungkir balik dan mengeluarkan seruan kaget .

“ Ehhh , ilmu apa ini ? Engkau hebat juga , orang muda ! “ katanya dan kembali dia menyerang . Hebat memang serangan kakek kecil itu . Bukan saja tenaganya amat besar , akan tetapi juga kecepatan gerakannya mengangumkan . Kembali Akauw mengelak dengan lompatan ke belakang dan untuk kedua kalinya dia menyerang dengan menggunakan jurus dari Bu-tek Cin-keng . Terdengar lagi suara berciutan yang amat dahsyat dan biarpun kakek itu sempat menghindar , namun dia semakin kagum .

“ Berhenti dulu , orang muda !” kata kakek itu .

Dengan girang Akauw berhenti . “ Paman , engkau tidak boleh jahat begitu karena kulihat engkau seorang yang pandai , kenapa menggunakan kepandaian untuk membunuh orang ?” .

“ He-ho-ho-ho , baiklah aku tidak membunuh orang . Sekarang kita ganti taruhannya . Bukan nyawa lagi , akan tetapi dengan perjanjian bahwa kalau engkau mampu bertahan seranganku selama dua puluh lima jurus , aku akan membebaskanmu , akan tetapi kalau engkau kalah sebelum dua puluh lima jurus , engkau harus menjadi muridku selama beberapa tahun . Bagaimana ?” .

Akauw juga bukan orang bodoh , akan tetapi jalan pikirannya memang sederhana sekali . Kalau dalam dua puluh lima jurus kakek ini mampu mengalahkannya , berarti dia lihai sekali dan apa salahnya menjadi murid seorang lihai selama beberapa tahun ? Dia tidak akan rugi malah untung ! .

“ Baiklah , paman . Mari kita mulai !” . 72

“ Lihat pukulan jurus pertama !” bentak kakek itu dan kini dia menyerang dengan loncatan bagaikan burung wallet .

Mula-mula tubuhnya melayang ke atas , kemudian dia menukik dan menyerang dengan kedua tangannya kea rah kepala Akauw .

Akauw bersikap tenang , dia tetap menggunakan Bu-tek Cin-keng untuk menyambut serangan , kedua tangannya membuat gerakan menggunting ke atas untuk menyambut serangan yang dahsyat itu .

“ Desss …. !” Dua pasang tangan bertemu di udara . kakek itu berjungkir balik beberapa kali dan tubuh Akauw terhuyung , merasa nyeri pada kedua pundaknya karena tadi dirasakan seolah dia telah menahan benda yang beratnya ribuan kati ! .

“ He-he-he , ilmu yang hebat ! Sungguh … hebat … !” kakek itu memuji dan diapun mulai menyerang lagi . Akauw juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan perlawanan , juga kalau sempat dia balas menyerang dengan tak kalah hebatnya . Berkali-kali kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan heran , akan tetapi bagaimanapun juga , kakek ini adalah seorang datuk dari daerah timur , maka tentu dibandingkan dengan Akauw , dia menang banyak dalam hal pengalaman bertandaing . Setelah beberapa kali mengadu tenaga , tahulah dia bahwa biarpun ilmu silat yang dimainkan pemuda itu amat aneh dan hebat bukan main , namun pemuda itu masih belum dapat mengimbangi kehebatan ilmu itu dengan tenaga . Tenaga sinking pemuda itu tidak berapa hebat , dia lebih mengandalkan tenaga otot .

Pada jurus ke duapuluh dua , tiba-tiba kakek itu menyerang dengan bergulingan di atas tanah . Hal ini membingungkan Akauw dan begitu kakek itu mengerahkan tenaga menarik , tanpa dapat di cegah lagi , Akauw roboh terpelanting ! .

“ He-he-he , baru duapuluh dua jurus engkau sudah roboh 73

. Engkau harus mengaku kalah , orang muda “ .

Akauw adalah seorang yang jujur . Biarpun tidak menderita nyeri , akan tetapi dia sudah roboh dan dalam adu kepandaian itu berarti kalah . Maka dia lalu merangkap kedua tangan memberi hormat .

“ Aku mengaku kalah , paman “ .

“ Husshhh , kenapa menyebut paman ? Engkah kalah dan engkau mulai saat ini harus menjadi muridku , tahu ? Nah , engkau harus menyebut suhu kepadaku dan menaati semua perintahku “ .

“ Baik , suhu “ , kata Akau taat karena dia harus memegang janjinya .

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan merasa girang sekali . Bukan girang karena mendapatkan murid saja , melainkan terutama sekali dia mendapatkan sebuah ilmu silat aneh melalui muridnya ini . Bagus , bagus ! Siapa namamu , muridku ?” .

“ Suhu , namaku Cian Kauw Cu dan biasa di sebut Akauw saja “ .

“ Ha-ha-ha , aku sudah melihatmu tadi . Cocok nama itu dengan sepak terjangmu , he-he . Akauw mulai sekarang , engkau harus ikut denganku untuk memperdalam ilmu silatmu . Sebelum ku nyatakan tamat belajar , engkau tidak boleh meninggalkan aku , mengerti ?” .

“ Baik , suhu “ .

“ Buntalanmu itu , apa isinya ?”

“ Pakaian dan pedang , suhu “ .

“ Hem , coba ku lihat engkau bermain pedang “ , katanya lagi .

Akau menurut dan dia mengeluarkan sebatang pedang dari 74

buntalan pakaiannya . Sarung pedang itu sederhana sekali dan si kakek sudah menganggap rendah pedang itu . Akan tetapi ketika Akauw mencabutnya , kakek itu terbelalak karena ada sinar hitam yang membuatnya bergidik ! .

“ Tahan dulu , pedangmukah itu ? Apa nama pedang itu , Akauw ?” Sungguh pemuda ini mempunyai banyak kejutan , pikirnya .

“ Namanya Hek-liong-kiam , suhu “ .

“ Coba , aku ingin melihatnya “ .

Ketika menerima pedang itu dari tangan Akauw , Thian-te Ciu-kwi merasakan jantungnya berdebar tegang . Dia pernah mendengar dongeng tentang sepasang pedang putih dan hitam yang di sebut Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam . Akan tetapi selama ratusan tahun pedang-pedang itu tidak pernah keluar dari dunia kang-ouw dan sekarang tahu-tahu berada di tangan pemuda yang seperti monyet ini ! .

“ Akauw , darimana engkau memperoleh pedang ini ?” tanyanya , sambil memandang penuh selidik .

Akauw teringat akan pesan suhengnya . “ Sampai bagaimanapun , jangan sekali-sekali membuka rahasia tempat ini kepada orang lain , sute . Baru emas itu saja dapat menimbulkan malapetaka kalau terjatuh ke tangan orang jahat “ .

“ Akan tetapi , aku harus bilang apa , suheng ? Aku tidak dapat berbohong “ , bantahnya .

“ Katakan saja engkau mendapatkan disebuah guha dank au sudah lupa lagi tempatnya . Sekali waktu berbohong boleh asal bukan untuk menipu orang , sute “ .

Demikianlah , teringat akan pesan suhengnya , Akauw lalu berkata , “ Aku mendapatkannya dari guruku , suhu “ .

“ Juga ilmu silatmu yang aneh itu ?” 75

“ Benar , suhu “ .

“ Dan siapa gurumu itu ?”

“ Guruku sudah mati , namanya adalah Yang Kok It “ .

Kakek kecil itu membelalakan matanya yang kecil . “ Yang Kok It , bekas Panglima itu ? Tahukah engkau bahwa dia adalah seorang bekas panglima yang buron dan menjadi kejaran orang . Dan tahukah engkau bahwa dia mempunyai seorang cucu pula ? Apakah engkau cucunya itu ?” .

“ Ah , bukan suhu . Aku tidak tahu tentang cucunya . Suhu sudah meninggal dunia , dan aku sudah tidak mempunyai ayah ibu atau saudara lagi “ .

Kakek kecil itu berpikir . Agaknya tidak mungkin kalau bocah ini cucu Yang Kok It . Bocah ini lagaknya seperti orang hutan saja , walaupun ilmu silatnya hebat dan pedangnya lebih hebat pula .

“ Nah , kau mainkan pedang itu !” katanya .

Akauw segera bermain pedang . Akan tetapi berbeda dengan Yang Cien yang dapat mengubah ilmu pedang dari ilmu Bu-tek Cin-keng , Akauw hanya dapat memainkan ilmu pedang yang pernah dia pelajari dari Yang Kok It , yaitu ilmu pedang Gobi-pai . Yang Kok It adalah seorang murid Gobi-pai .

Melihat ini , kakek itu kecewa . Dibandingkan ilmu silat tangan kosongnya , ilmu pedang pemuda ini tidak ada artinya , dan permainan pedang dengan ilmu pedang Gobi-pai itu membenarkan keterangannya bahwa dia murid Yang Kok It .

“ Cukup , simpan pedangmu baik-baik . Pedang itu amat berharga dan jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain , Akauw “ , katanya .

“ Mari kita berangkat , tempat tinggalku di puncak bukit sana itu “ .

Datuk sesat seperti Thian-te Ciu-kwi tentu saja tidak 76

bersungguh-sungguh ingin mengambil murid seperti Akauw . Dia ingin mengambil murid Akauw karena ingin mempelajari ilmu silat tangan kosong yang dimainkan Akauw tadi . Harus dia akui , bahwa kalau Akauw lebih matang ilmunya , agaknya akan sukar baginya untuk dapat mengalahkan ilmu pemuda itu . Apalagi setelah melihat Hek-liong-kiam . Tentu saja kini tidak hanya ilmu silat pemuda itu yang ingin dia peroleh , akan tetapi juga pedang hitam itu ! Akan tetapi dia harus bersabar karena ilmu silat itu harus dia pelajari satu jurus demi satu jurus . Dan untuk membuat pemuda itu tidak curiga kepadanya , dia harus benar-benar mengajarkan sin-kang dan ilmu lain kepadanya . Kalau pemuda itu kelak menyenangkan hatinya , bukan hanya ilmu pedang dan pedang itu yang dapat menjadi miliknya , akan tetapi pemuda pemuda itupun dapat dijadikan pembantu yang amat berguna .

Demikianlah , mulai hari itu Akauw menjadi murid Thian-te Ciu-kwi , dia tidak tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk sesat yang amat jahat dan kejam .

*****

Baru setahun Akauw tinggal bersama Thian-te Ciu-kwi di puncak bukit itu , dia sudah merasa tidak betah sama sekali . Watak kakek itu mulai kelihatan . Setiap harinya hanya minum arak sampai mabok dan kalau sudah begitu dia memaksa Akauw untuk berulang-ulang melakukan jurus ilmu silat dari Bu-tek Cin-keng , mengulang dan mengulanginya lagi . Kakek itu merasa mendapatkan ilmu yang aneh dan sukar bukan main . Rasanya ada sesuatu yang salah dalam ilmu silat itu , akan tetapi harus diakuinya bahwa ilmu itu amat dahsyat . Maka agak sukarlah baginya untuk dapat mengerti inti sari ilmu itu .

Dia juga mengajarkan Samadhi kepada Akauw dan justeru Akauw paling tidak suka pelajaran ini yang di anggapnya tidak berguna dan membuang-buang waktu saja .

Pada suatu hari datanglah seorang tamu di puncak itu . 77

Tamu ini seorang kakek berusia enampuluh tahun , tinggi besar , raksasa hitam karena kulitnya amat hitam . Dia membawa sebatang golok yang punggungnya seperti bentuk gergaji , pakaiannya mewah dan agaknya dia seorang pejabat tinggi , karena kedatangannya di iringkan selusin pasukan pengawal .

Begitu melihat orang ini , Thian-te Ciu-kwi bersorak gembira .

“ Haiii , sahabatku yang baik , Toat-beng Giam-ong Lui Tat , angina apa yang meniupmu ke sini ? “ .

“ Thian-te Ciu-kwi , angin baik yang membawaku ke sini , dan ku lihat engkau masih menjadi setan arak seperti dulu “ .

“ He-he-he , dan engkau menjadi seorang pejabat tinggi yang dimuliakan orang agaknya . Amboiii !” .

“ Dan kedatangku ini untuk memberi bagian kemuliaan yang sama kepadamu , Ciu-kwi . Aku menawarkan kedudukan yang baik bagimu kalau engkau mau ikut bersamaku ke kota raja menghadap Sri baginda Kaisar “ .

“ Hemm , mari kita duduk dan bicara di dalam , Giam-ong “ . Kedua sahabat itu bergandeng tangan , seorang raksasa tinggi besar dan seorang yang pendek kecil , lalu memasuki pondok Ciu-kwi . Raksasa itu berteriak menyuruh anak buahnya beristirahat agak jauh dari situ agar jangan mengganggu percakapan mereka .

Ketika berada di dalam dan melihat Akauw , Giam-ong mengerutkan alisnya . “ Siapa dia , Ciu-kwi ?” .

“ Ha-ha , dia muridku yang baik , Giam-ong . Eeh , Akauw , cepat memberi hormat kepada sahabatku ini . Engkau harus menyebutnya taijin karena dia pejabat tinggi dari kota raja “ .

“ Heh , kalau dia muridmu tidak perlu memakai banyak peraturan , Ciu-kwi . 78

Orang muda , sebut saja aku locianpwe “ .

“ Selamat datang , locianpwe “ , kata Akauw sambil memberi hormat .

“ Hei , Akauw . Cepat engkau menyuguhkan arak kepada dua belah orang pasukan pengawal sahabatku ini dan jangan engkau masuk ke sini kalau tidak kupanggil “ .

“ Baik , suhu “ , Akauw yang segera melaksanakan perintah itu karena suhunya memang menyimpan banyak sekali arak , berguci-guci banyaknya .

“ Sejak kapan engkau menjadi antek orang Mongol , Giam-ong ?” Tanya Ciu-kwi dengan nada suara mengejek .

“ Hush , jangan berkata demikian . Kaisar-kaisar bangsa kita tidak becus memerintah . Buktinya , selama berabad mereka itu hanya saling serang , tiada henti-hentinya . Sekarang , Orang Toba memerintah , dan kalau itu menguntungkan kita , apa salahnya ? Hidup satu kali haruslah dapat memetik manfaat dari keadaan , bukan ? Nah , Kaisar Julan Khan ini dapat menggunakan tenaga kita , dan dia amat royal memberi pahala . Kalau engkau bersedia , asalkan datang bersamaku , engkau segera akan mendapatkan pangkat dan memiliki kemuliaan yang belum pernah kau impikan sebelumnya . daripada engkau di sini hidup bersama muridmu yang nampak ketololan itu “ .

“ Aih , aih , jangan memandang rendah kepada muridku , Giam-ong . Dia merupakan sumber kebesaran yang tidak kalah oleh kedudukanmu yang mulia sekarang ini “ . ” Hem , apa maksudmu ?”

“ Engkau tentu tidak menyangka sama sekali bahwa dia adalah murid Yang Kok It sebelum menjadi muridku “ .

Toat-beng Giam-ong Lui Tat nampak terkejut mendengar ini . “ Ah , kalau begitu aku harus menangkapnya untuk di Tanya , dimana adanya Yang Kok It dan cucunya , putera 79

pemberontak Yang Koan itu !” .

“ Tenang , tenang dan bersabarlah , sobat . Kakek Yang Kok It telah meninggal dunia dan dia sama sekali tidak tahu dimana adanya cucunya . Dia adalah seorang yang lugu , akan tetapi tentang Yang Kok It itu tidak penting . Ada yang lebih penting lagi dan engkau pasti akan tertarik sekali mendengarnya “ .

“ Hem , apa lagi yang penting itu ?” .

“ Dia mempunyai suatu ilmu yang amat hebat , dan aku sedang mempelajarinya . Orang ini dapat amat berguna kelak untuk membantu kita dalam segala hal “ .

“ Hemm , kalau dia masih mau menjadi muridmu , ilmu hebat apakah yang dia kuasai ? “ Tanya Toat-beng Giam-ong , tentu saja tidak percaya karena kalau pemuda itu memiliki ilmu hebat tentu tidak mau menjadi murid orang lain .

“ Giam-ong , untuk membuktikan omonganku tadi , mari coba kita main-main sebentar dank au boleh menyerangku dalam tiga jurus !” .

Giam-ong adalag seorang ahli silat dan dia mengerti benar bahwa rekannya itu tidak memiliki kepandaian silat yang terlalu istimewa akan tetapi paling hebat hanya dapat mengimbanginya saja . Tingkat kepandaian mereka tidak berselisih jauh , maka mendengar dia di tantang bertanding selama tiga jurus , hatinya tertarik sekali .

“ Baik , hendak ku buktikan omonganmu “ , katanya dan mereka berdua segera memasang kuda-kuda . “ Ciu-kwi , lihat seranganku !” katanya kemudian dan dia menyerang dengan dahsyat , dengan kedua tangannya yang panjang besar .

Akan tetapi Thian-te Ciu-kwi tidak mengelak , melainkan meluruskan kedua tangan menyambut dan dari kedua tangannya itu menyambar angina yang aneh , membuat Giam-ong terkejut dan mengelak , lalu melanjutkan dengan 80

serangan jurus kedua . Kembali Ciu-kwi membuat gerakan aneh dan daya pukulan Giam-ong meleset dengan sendirinya . Jurus ketiga dipergunakan oleh giam-ong untuk menyerang dengan seluruh tenaganya , menggunakan pukulan jarak jauh dengan kedua tangan terbuka . Ciu-kwi menyambut dengan kedua tangan terbuka pula dan akibatnya . Giam-ong terdorong mundur sampai terhuyung ! .

“ Wah , ilmumu meningkat hebat , Ciu-kwi !” seru Giam-ong terkejut dan kagum , juga penasaran .

“ Inilah berkat aku mempelajari ilmu aneh dari muridku , Giam-ong . Ini baru beberapa jurus saja dan amat sukar di pelajari . Nah , apakah murid seperti ini hendak dimusnakan begitu saja ? Masih ada lagi hal penting lain kecuali ilmu ini . Dia memiliki Hek-liong-kiam “ .

“ Hek-liong-kiam ….. “ . Kaumaksudkan pek-hek-liong-kiam sepasang pedang kembar dalam dongeng itu ?” .

“ Tidak salah . Dia memiliki Hek-liong-kiam yang katanya dia terima dari mendiang Yang Kok It . Nah , karena itulah dia ku ambil murid dan orang macam ini dapat kita pergunakan . Sebagai muridku tentu dia akan menaati semua perintahku “ .

“ Ha-ha-ha , engkau cerdik sekali , Ciu-kwi . Bagus , kalau begitu engkau dan muridmu itu ku minta untuk bekerja di istana . Kaisar tentu akan senang sekali memberi kedudukan tinggi kepadamu “ .

“ Eh , Giam-ong , ada apa ini ? Tiada hujan tiada angina engkau bersikap begitu baik padaku ? Aku menjadi curiga “ .

“ Ha-ha-ha , kawan , siapa yang berbuat baik kepadamu . Aku berbuat baik bukan untukmu , melainkan untuk diriku sendiri . Sekarang banyak gejala timbulnya pemberontakan di sana sini dan dengan sendirinya sebagai seorang penasehat militer kaisar , aku mempunyai banyak tugas , mempunyai banyak musuh . Aku membutuhkan kawan yang dapat di andalkan , dapat di percaya dan aku memutuskan bahwa 81

engkaulah orangnya yang tepat . Ciu-kwi , kita sudah semakin tua . Kalau tidak sekarang menggunakan kesempatan untuk hidup berkecukupan dan terhormat , mau kapan lagi ?” .

Thian-te Ciu-kwi mengangguk-angguk “ Engkau benar juga , kawan . Baiklah , aku akan membicarakan dengan muridku , dan sebaiknya kalau engkau pulang lebih dulu . Dalam bulan ini juga kami tentu akan pergi ke Tiang-an dan mengadap Kaisar di sana . Ku harap saja semua akan berjalan lancer “ .

“ Cari saja aku lebih dulu , mudah mencari rumah Lui-koksu ( Guru Negara Lui ) di sana aku akan membawamu menghadap Sri Baginda Kaisar “ .

‘ Baik , Giam-ong , eh Kok-su !” kata Ciu-kwi gembira .

Setelah para tamunya pergi , Ciu-kwi memanggil Akauw . “ Muridku yang baik , peruntunganmu memang bagus sekali . Kau tahu siapa yang datang berkunjung tadi ?” .

Akauw menggeleng kepalanya . “ Nampaknya seorang pembesar “ .

“ Memang benar . Akan tetapi pembesar yang bagaimana ? Dia penasehat Kaisar ! Dia pejabat yang kedudukannya tinggi sekali . Dan kau tahu apa keperluannya datang ke sini tadi ?” .

“ Tidak tahu , suhu . Agak dia berkunjung karena suhu adalah sahabatnya “ .

“ Memang benar , akan tetapi dia datang menawarkan kedudukan kepada kita “ .

“ Kita , suhu ?”

“ Ya , engkau dan aku . Kita akan berangkat ke kota raja , Akauw dan di sana kita akan menjabat kedudukan tinggi , menjadi orang-orang terhormat dan mulia , hidup serba kecukupan “ .

Akan tetapi di dalam hatinya , Akauw tidak begitu suka mendengar ini . Dia akan memasuki kehidupan baru dan dia 82

teringat akan pengalamannya di Kota Raja . Teringat kepada jaksa yang sombong itu . Kalau para pejabat seperti itu wataknya , tentu kehidupan di kota raja akan menjadi tidak amat menyenangkan . Akan tetapi dia teringat kepada Bi Soan , pemuda remaja yang lucu dan menyenangkan itu ! Dan mendadak saja wajahnya berubah berseri gembira ! .

“ Suhu , aku senang sekali pergi ke kota raja . Di Sini sudah kurang lebih setahun , membosankan karena sepi sekali “ .

“ Bagus , kalau begitu kita berkemas , besok pagi-pagi kita melakukan perjalanan ke kota raja , Akauw “ .

****

“ Ayah , aku telah di hina orang , ayah !” kata gadis itu dengan sikap manja sekali .

Perdana Menteri Ji Sun Cai mengerutkan alisnya . Gadis itu adalah puteri tunggalnya yang amat di sayangnya . “ Siapa berani menghinamu ?” tanyanya marah .

“ Seorang jaksa di rumah minum , dia telah menghinaku !” .

“ Di kedai minum ? Ahhh , engkau tentu telah pergi dalam penyamaranmu lagi , Goat-ji ( Anak Goat ) !” kata ayahnya mencela dan kemarahannya mereda . Kalau ada orang menghina anaknya dalam penyamaran , hal itu tidak aneh karena tentu orang itu tidak tahu bahwa Ji Goat adalah puterinya .

Puterinya ini suka sekali keluyuran menyamar sebagai seorang pria , nakalnya bukan main .

“ Akan tetapi , Jaksa Gu itu memang kurang ajar sekali . Biarpun dia tidak mengenalku , dia tidak boleh menghina orang seenaknya saja . Aku dan seorang teman sudah memberi hajaran kepada dia dan anak buahnya , akan tetapi aku khawatir dia akan mencariku dan kalau bertemu tentu anak buahnya akan menyerangku “ . 83

“ Hemmm , lalu apa yang harus kulakukan ? Jaksa Gu cukup berpengaruh di kalangan rakyat , dia seorang Jaksa yang keras “ .

“ Keras terhadap rakyat miskin , akan tetapi lunak terhadap orang kaya , bukan begitu , ayah ? Jangan mengira aku tidak tahu , ayah ? Kelakuan sebagian besar para pejabat di Kota Raja sudah berada di tanganku . Tidak sia-sia aku suka berkeluyuran menyamar sebagai pria karena banyak hal yang ku ketahui “ .

“ Sudahlah , jangan macam-macam . Lalu apa yang kau ingin lakukan ?” .

“ Undang Jaksa Gu ke sini ayah ?”

“ He ? Kalau sudah datang lalu bagaimana ? Menegurnya ?” .

“ Tidak usah . Aku yang akan menghadapinya kelak “ .

Saking cintanya kepada anaknya , dan kadang suka memanjakan , Perdana menteri Ji Sun Cai tidak menolak dan segera mengirim utusan menyampaikan surat mengundang datang Jaksa Gu .

Jaksa Gu terkejut juga menerima undangan Perdana menteri Ji , maka bergegas dia datang berkunjung dalam pakaian kebesarannya yang mewah . Akan tetapi ketika tiba di rumah itu , penjaga mempersilahkan langsung ke kamar tamu di sebelah kiri dan kata penjaga Perdana menteri sudah tahu akan kedatangannya .

Ketika dia memasuki ruangan tamu yang pintunya terbuka itu , dia tertegun melihat siapa yang menyambutnya . Anak muda kurang ajar yang tempo hari dijumpainya di kedai minum dan yang bersama pemuda tinggi besar yang telah menghajar dia dan para anak buahnya , pemuda ini sudah berhari – hari dia cari tak juga berhasil .

“ Engkau …. ! Setan cilik , mau apa engkau di sini . Aku 84

memang sedang mencarimu , kebetulan engkau berada di sini !” Jaksa itu membuat gerakan seperti hendak menerkamnya .

“ Jaksa Gu , coba kau maki aku sekali lagi . Yang keras , yang lengkap begitu !” .

“ Setan cilik kurang ajar , jahanan keparang anjing babi !” Jaksa itu memaki sambil menudingkan telunjuknya kepada Ji Goat yang berpakaian seperti seorang pemuda miskin dengan kepala di tutupi topi butut .

Pada saat itu , sang perdana menteri muncul dari dalam . Melihat pembesar ini , Jaksa Gu cepat membungkuk memberi hormat .

“ Eeh , Jaksa Gu . Kenapa engkau marah-marah ? Aku mendengar engkau memaki-maki , siapa yang kau maki itu ?” .

“ Maaf , yang mulia . Yang saya maki adalah setan cilik ini !” katanya sambil menudingkan telunjuknya kepada Ji Goat dengan mata mendelik .

“ Kenapa engkau memaki dia ?” .

“ Tempo hari , di kedai minum , dia telah menghina saya dan anak buah saya . Mungkin dia itu pemberontak , Yang Mulia . Harus di tangkap dan di hokum berat !” .

“ Ah , begitukah ? Goat-ji , lepaskan pakaian dan topimu itu ! “ .

Ji Goat lalu melepaskan topi penutup kepalanya dan baju laki-laki seperti jubah butut itu , dan kini nampaklah ia seorang gadis cantik dengan rambut terurai dan pakaian puteri yang indah .

Jaksa Gu Terbelalak , lalu dia mengerti karena dia tahu bahwa Perdana Menteri mempunyai seorang anak perempuan . Bocah setan itu ternyata puteri Perdana Menteri . Mukanya seketika menjadi pucat sekali . Dengan tubuh gemetar ia 85

berkata gugup . “ Aahh … paduka … ahh , jadi ini adalah puteri paduka ……. ?” .

“ Hemm Jaksa Gu , engkau hendak memaki lagi puteriku ? Boleh , silahkan maki lagi sepuasmu “ .

Tiba-tiba Jaksa Gu merasa lututnya lemas dan dia menjatuhkan diri berlutut di depan Perdana Menteri , “ Yang Mulia , hamba mohon ampun … karena tidak tahu maka hamba ……… “

“ Engkau memaki aku sebagai setan cilik kurang ajar , jahanam keparat dan anjing babi , ya ?” kini Ji Goat bertanya sambil tersenyum mengejek .

“ Saya …. Saya tidak berani ……. Mohon maaf sebanyaknya …… “ kata Jaksa Gu dengan muka pucat dan berulang kali dia menganggukan kepalanya .

“ Ah , begitu ? Jelas sekarang macam apa adanya engkau , Jaksa Gu . Dalam kedudukanmu dan tugasmu , engkau tentu bersikap seperti ini juga . Berhadapan dengan orang melarat , dengan rakyat jelata , engkau memaki-maki , bersikap kasar , mudah menjatuhkan hukuman dan melakukan penindasan semena-mena . Akan tetapi terhadap atasan dan orang kaya , engkau menunduk-nunduk dan membela , tentu karena menerima sogokan dari orang kaya , begitukah ?” .

“ Tidak , tidak berani …….. “ Hanya itu yang dapat di ucapkan Jaksa Gu yang sudah tidak berdaya itu karena dia seorang telah tertangkap basah memaki-maki seenak perutnya kepada “ setan cilik “ tadi .

“ Kau memaki aku setan cilik , jahanam keparat dan anjing babi , hukuman apa yang harus ku balaskan kepadamu ? Hayo kau pukul sendiri mukamu sebanyak sepuluh kali !” kata Ji Goat dengan marah .

Karena sudah merasa bersalah dan mengharapkan pengampunan , Jaksa itu lalu menampari mukanya sendiri 86

dengan kedua tangan sebanyak sepuluh kali sambil memaki diri sendiri , “ Anjing kau , babi kau , jahanam keparat kau … !”

“ nah , sekarang kau harus berjanji , kalau engkau masih melanjutkan sikapmu seperti itu , menindas orang kecil dan menjilat orang besar , memeras orang dan koropsi , ayah pasti akan melaporkannya kepada Sri Baginda !” .

“ Ampun , saya tidak berani lagi …. “ Jaksa itu meratap , mukanya pucat , hanya kedua pipinya yang membengkak merah karena di tampari sendiri tadi .

“ Pergilah !” Ji Goat membentak dan Jaksa yang gendut itu setengah merangkak meninggalkan ruangan itu .

Setelah dia pergi , Ji Goat tertawa terkekeh-kekeh . Ayahnya mengerutkan alisnya . “ Ji Goat , engkau agak keterlaluan . Biarpun di depan kita dia tidak berani apa-apa , akan tetapi aku khawatir dia mendendam kepadamu “ .

“ Takut apa , ayah ? Kalau baru dia dan selusin pengawalnya saja , mampu berbuat apa kepadaku ? Dan juga nama besar ayah tentu membuat dia ketakutan , lebih lagi kalau aku melapor kepada suhu , tentu dia akan di hajar “ .

“ Sudahlah , jangan membawa-bawa gurumu dalam urusan kecil itu . Jangan urusan ini di besar-besarkan karena ku rasa Jaksa Gu sudah jera dan tidak akan berani bermain gila lagi “ .

“ Aku akan tetap mengawasi orang-orang macam dia , ayah “ .

“ Engkau akan kekurangan tenaga dan kelelahan , anakku . Di jaman ini , hamper semua pejabat tidak jujur . Akan tetapi sudahlah , lebih baik engkau membantu usaha gurumu yang menentang gerakan mereka yang hendak memberontak “ .

“ Justeru pemberontak itu tidak akan terjadi kalau para pejabatnya bertindak adil dan jujur , memperhatikan kepentingan rakyat , ayah “ . 87

“ Aih , engkau anak kecil tahu apa . Yang penting , kita bekerja untuk Kerajaan dan kita harus melaksanakan tugas dengan baik . Kalau tidak demikian , sebaiknya jangan menjadi seorang pejabat pemerintah “ .

“ Ayah , aku akan pergi dulu “ , gadis itu mengenakan kembali pakaian dan topinya . Ayahnya menghela napas .

“ Ji Goat , aku khawatir sekali sekali waktu engkau akan mengalami malapetaka dengan ulahmu ini . Apakah engkau tidak dapat tinggal di rumah saja seperti puteri-puteri lain ?” .

“ Dan untuk apa sejak kecil aku mempelajari ilmu silat , ayah ? Aku dapat menjaga diri , dan kalaupun kekuatanku tidak mampu untuk menjaga diri , masih ada nama suhu dan nama ayah yang akan melindungiku !” .

Tanpa menanti jawaban ayahnya , Ji Goat sudah berlari keluar . Ayahnya hanya menggeleng kepalanya . Anak itu terlalu manja , pikirnya . Anaknya memang hanya satu itu dan dia amat menyayanginya . dan anak itu boleh dibuat kagum .

Menurut Kok-su , yang menjadi guru anaknya , Ji Goat memiliki bakat yang besar sekali sehingga Koksu sendiri amat sayang kepada murid itu . Beberapa bulan yang lalu , seorang diri saja , Ji Goat sudah berhasil membongkar pencurian-pencurian di istana kaisar yang ternyata dilakukan oleh orang dalam , beberapa pengawal istana . Dengan ilmu silatnya yang tinggi , Ji Goat berhasil menangkap lima orang pencurinya yang kesemuanya juga lihai karena mereka adalah pengawal istana . Semenjak saat itu , nama Ji Goat dikenal orang sebagai puteri perdana menteri yang lihai ilmu silatnya . Akan tetapi kalau dia sudahmenyamar pria , tidak ada yang mengenalnya kecuali ayahnya sendiri dan orang kepercayaan ayahnya . Bahkan para penjaga tidak mengenalnya , maka ia selalu keluar masuk rumah itu melalui sebuah jalan rahasia .

Perdana Menteri Ji Sun Cai bukan seorang koruptor . Bagi dia , tidak perlu melakukan korupsi , karena kaisar amat 88

percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai tangan kanan sehingga kaisar amat royal dengan hadiah-hadiah untuknya . Dia mendapatkannya pembagian tanah yang cukup luas , rumah seperti istana serba lengkap . Dan Menteri Ji ini amat setia terhadap Kaisar . Dalam tugasnya ini , dia amat dekat dengan Koksu dankedua pejabat inilah yang merupakan tenaga terpenting bagi kaisar . Semua pejabat yang lain hanya akan mengekor saja apa yang di usulkan dua pejabat ini kepada kaisar yang telah mempercayai mereka berdua .

Karena itu , hubungan antara perdana menteri Ji dan Lui Koksu amatlah akrabnya , demikian akrabnya sehingga Perdana menteri Ji mempercayakan puteri tunggalnya untuk menjadi murid Lui Koksu . Dalam segala hal menyangkut tugas kenegaraan , mereka selalu mengadakan perundingan .

Ketika itu , terdapat perasaan permusuhan antara Perdana Menteri Ji berdua Lui Koksu terhadap seorang Panglima yang bertugas di selatan . Panglima ini menjaga keamanan di selatan dan Panglima Coa ini yang menjadi benteng Negara , menghalau semua kerusuhan dan musuh-musuh dari selatan , yaitu para raja muda di selatan yang berdiri sendiri di wilayah masing-masing .

Mula-mula adalah suatu Kerajaan Sun yang cukup kuat di selatan . Menurut Perdana Menteri dan Koksu , Kerajaan Sun ini perlu di dekati dan di ajak bersahabat , karena memiliki pasukan yang kuat . Akan tetapi tidak demikian dengan sikap yang di ambil oleh Coa-ciangkun . Panglima ini tidak memandang bulu . Penguasa di selatan yang tidak mau tunduk , pasti akan di serbunya dan di tundukkan dengan kekerasan .

Akhirnya , karena bujukan Ji-Sin-Siang ( Perdana Menteri Ji ) dan Lui Koksu , kaisar mengutus penguasa untuk pergi ke selatan , menyerahkan surat perintah Kaisar agar Coa-ciangkun tidak melanjutkan penyerbuannya terhadap Kerajaan Sun . Hal ini amat mengecewakan hati Coa-ciangkun yang 89

menjadi marah sekali . Pasukan Sun selalu mengganggu perbatasan , melakukan perampokan dan perkosaan , mengapa dia tidak boleh di serbu ? Dan dia mendengar akan usaha Sin-Siang dan Koksu yang hendak melakukan pendekatan kepada Kerajaan Sun . Hal ini membuatnya marah sekali . Apakah Sin-siang dan Koksu hendak menjual Negara ? Timbul kecurigaannya dan dia mengira bahwa kedua pejabat tinggi itu agaknya hendak mengadakan persekutuan rahasia dengan Kerajaan Sun . Padahal , bukan itu yang dikehendaki mereka . Mereka hanya maklum akan kekuatan Kerajaan Sun dan kalau sampai Kerajaan Toba dapat bersekutu dengan mereka , tentu seluruh wilayah selatan akan dapat dikuasai dengan kerjasama dengan Kerajaan Sun .

Permusuhan atau persaingan ini secara diam-diam masih dirasakan kedua pihak . Hanya mereka tidak berani bertindak lancing , karena selain kaisar juga mempercayai Coa-ciangkun , panglima ini memiliki pasukan besar yang kuat .

Karena adanya permusuhan inilah maka Koksu lalu berkunjung kepada Im Yang Ciu-kwi , karena dia hendak menarik orang-orang pandai sebanyaknya agar dia dapat menyingkirkan para musuhnya yang hanya akan menjadi penghalang bagi kemajuan kedudukannya .

Im Yang Ciu-kwi dan Akauw melakukan perjalanan seenaknya ke kota raja . Akauw merasa gembira karena dia membayangkan Bi Soan . Dia rindu sekali kepada sahabatnya ini dan mengharapkan akan dapat bertemu dengan Bi Soan di kota raja .

Selama tinggal dengan Ciu-kwi , Akauw tidak pernah mengeluarkan uang , dan hanya karena kebetulan saja pada suatu hari gurunya itu melihat kantung uang berisi potongan-potongan emas mentah itu .

Suhunya memeriksa potongan emas itu dan bertanya , “ Akauw , dari mana engkau mendapatkan potongan-potongan emas ini ?” . 90

Akauw masih ingat akan pesan suhengnya , maka diapun berkata , “ Ini adalah pemberian mendiang suhu Yang Kok It “ .

Tentu saja Im Yang Ciu-kwi tidak menaruh curiga lagi dan hanya merasa heran darimana Yang Kok It mendapatkan potongan emas yang masih bercampur batu karang itu .

Ketika mereka tiba di sebuah padang rumput di luar hutan yang tandus , mereka melihat sebuah kedai arak di tempat sunyi itu . Ciu-kwi yang mencium bau arak ingin mencoba arak dari kedai itu , maka dia mengajak muridnya berhenti . Ada lima orang penjaga kedai , dan karena lalu lalang di situ sedang sepi , maka tidak nampak ada tamu seorangpun kecuali mereka .

Seorang pelayan segera menghampiri mereka . “ Bawa seguci arak terbaik ke sini “ , kata Ciu-kwi .

“ Dan sepoci air the untukku “ , kata Akauw yang biarpun sudah pernah merasakan minum arak , tetap saja dia memilih air the daripada arak .

Ketika pelayan itu mengambilkan pesanan , sepasang mata Ciu-kwi yang berpengalaman melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan . Oleh karena itu ketika arak dan air the datang , dia mencegah muridnya untuk minum air tehnya dan dia menangkap lengan pelayan itu .

“ Hayo kau minum dulu arak ini !” .

Dia menuangkan sedikit arak dari guci ke dalam cawan kosong .

Pelayan itu menjadi pucat wajahnya . Dia meronta dan menggeleng kepalanya . “ Tidak aku … tidak biasa minum arak ….. “ .

“ Kalau begitu , engkau cicipi air the ini !” bentak Ciu-kwi dan ketika orang itu pun menggeleng kepala , Ciu-kwi memaksa mulutnya terbuka dengan tangan kirinya dan tangan 91

kanannya menuangkan air teh ke dalam mulutnya . Lalu dia melepaskan orang itu yang nampak terhuyung-huyung lalu roboh pingsan ! .

Empat penjaga lain sudah mencabut golok masing-masing .

“ Kenapa dia suhu ?”

“ Mereka orang jahat , Akauw . Minuman kita diberi racun !” kata Im-yang Ciu-kwi .

Seorang di antara empat orang itu mengeluarkan sempritan yang di tiupnya nyaring dan dari belakang kedai bermunculan belasan orang yang kesemuanya memegang golok .

Im-yang Ciu-kwi duduk menghadapi meja , mengeluarkan arak dari gucinya sendiri dan sambil menghadapi guci dan cawan arak , dia berkata , “ Akauw , keluarkan pedangmu dan kau lawanlah penjahat-penjahat itu !” .

“ Baik , suhu “ , kata Akauw dan dia sudah mencabut pedang Hek-liong-kiam dari sarungnya . Begitu dia menggerakkan pedangnya , nampak gulungan sinar hitam berkelebat kian kemari dan menyambut pengeroyokan belasan orang itu . Terdengar suara berkerontangan nyaring dan banyak golok menjadi patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam . Akauw yang hendak menyenangkan gurunya , menggunakan ilmu pedang yang dia pelajari dari gurunya , memainkan pedangnya sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung merobohkan belasan orang itu dalam waktu singkat saja . Penjahat harus di hajar , dia teringat pesan suhengnya , akan tetapi jangan mudah membunuh orang kalau tidak terpaksa sekali . Maka diapun hanya merobohkan para pengeroyok nya tanpa membunuh , hanya melukai paha atau pundak mereka saja . Dalam waktu beberapa menit saja , semua orang yang mengeroyoknya telah di robohkan , dan cepat pula pedang itu sudah memasuki sarung kembali .

“ Ihh , Akauw , mengapa begitu engkau memainkan pedangmu ? Coba beri aku pinjam sebentar “ , kata Ciu-kwi . 92

Karena tidak mengerti maksud suhunya dan mengira suhunya itu hendak memperlihatkan jurus yang mungkin kurang benar dia menggerakkannya , maka dia mencabut pedangnya dan menyerahkannya kepada suhunya .

“ Seharusnya begini engkau menggunakan pedang !” Gurunya bergerak berloncatan ke sana sini dan Akauw terbelalak , karena gurunya telah membabati pengeroyoknya tadi , di tebasnya semua leher orang-orang itu termasuk pelayan yang tadi terbius sehingga dalam waktu singkat saja semua kepala terpisah dari badannya .

“ Suhu … mengapa suhu ….?” Akauw berseru heran ketika gurunya mengembalikan pedang itu kepadanya . Memang gurunya hebat . Memenggal belasan batang leher itu pedangnya sama sekali tidak ternoda darah ! Hal ini hanya dapat terjadi saking kuat dan cepatnya pedangnya itu membabati leher belasan orang itu .

“ Mengapa apa ? Mereka menghendaki kematian kita , kenapa kita tidak mendahului saja mereka ? Hayo kita pergi dari sini !” .

“ Tapi , mereka itu , suhu ….. “ , Akauw teringat akan pelajaran dari kakek Yang Kok It bahwa mayat manusia haruslah di kubur sebagaimana mestinya .

“ Mereka sudah mampus , tidak perlu di pikirkan lagi . Mereka hendak mencelakakan kita , berarti mereka itu musuh yang pantas di bunuh . hayolah , Akauw !” bentak Ciu-kwi agak kecewa melihat sikap muridnya yang di anggapnya lemah itu . Terpaksa Akauw mengikuti gurunya dan beberapa kali dia menoleh memandang kea rah belasan mayat manusia yang berserakan itu .

Sejak sat itu Akauw mulai menaruh hati syak wasangka terhadap gurunya . Tak dapat dia melupakan betapa gurunya itu memenggal kepala belasan orang yang sudah tidak berdaya itu secara kejam sekali . Padahal menurut ajaran 93

Yang Kok It dan juga suhengnya , seorang gagah tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya dan tidak dapat melawan . Dan lebih lagi , gurunya meninggalkan belasan mayat itu begitu saja tanpa mau menguburkannya .

Ketika mereka memasuki kota raja Tiang-an , tiba di dekat pasar dimana terdapat banyak orang berlalu lalang , tiba-tiba Akauw melihat seorang pemuda bertopi butut .

“ Bi Soan ….. !” Dia memanggil dan mengejar , akan tetapi Bi Soan menyelinap di antara orang banyak dan memasuki pasar . Akauw mencari beberapa lamanya , akan tetapi dia tidak melihat lagi Bi Soan . Dia tidak mungkin salah lihat . Jelas yang dilihatnya tadi Bi Soan , pemuda remaja yang di rindukannya itu . Dia merasa menyesal sekali mengapa Bi Soan tidak mau menemuinya . Padahal dahulu pemuda remaja itu amat baik terhadap dirinya .

“ Akauw , engkau mencari siapakah ?” gurunya menegur setelah dapat mencari pemuda itu di dalam pasar .

“ Suhu , aku mencari seorang kenalan yang tadi ku lihat berada di sini . Akan tetapi dia menghilang di antara orang banyak “ .

“ Kenalan ? Siapa dia ?” Tanya gurunya heran dan curiga .

Tentu saja Akauw tidak ingin menceritakan pengalamannya bentrok dengan seorang jaksa , maka dia menjawab singkat . “ Dahulu aku pernah bertemu dan berkenalan dengannya dalam perjalananku , akan tetapi perkenalan itu hanya sepintas saja . Mungkin dia sudah lupa kepadaku , suhu “ .

“ Sudahlah , jangan pedulikan sembarang orang . Kita akan menjadi tamu Koksu dan bahkan akan mendapatkan jabatan tinggi yang terhormat , jangan bergaul dengan segala macam orang . Mari kita lanjutkan perjalanan kita “ .

Akauw mengikuti suhunya , akan tetapi dia masih memandang ke sana sini mencari-cari dan hatinya merasa 94

kecewa sekali . Bi Soan merupakan orang yang selalu teringat olehnya , kenapa sekarang tidak lagi mau mengenalnya ? Apa barangkali Bi Soan sudah lupa kepadanya ? Dia sungguh kecewa karena tadinya dia mengira bahwa Bi Soan amat baik kepadanya , seperti halnya suhengnya .

Sangat mudah bagi Thian-te Ciu-kwi untuk mencari tahu dimana rumah Koksu Lui . Semua orang juga mengetahui dimana istana tempat tinggal penasehat Kaisar itu .

Rumah besar seperti istana itu di jaga oleh belasan orang prajurit yang menghadang guru dan murid itu . “ Berhenti , siapa kalian dan ada keperluan apa datang ke sini ?” bentak perwira jaga dengan keren .

Ciu Kwi tertawa dan berkata , “ Heii , perwira , jangan bersikap kasar terhadap kami . Kalau Koksu mengetahui , pangkatmu tentu akan di turunkan . Cepat laporkan kepada Koksu bahwa Thian-te Ciu-kwi dan muridku sudah datang untuk bertemu dengan dia “ .

Melihat lagak dan mendengar ucapan kakek itu , si perwira menjadi ragu dan gentar juga . Dia tahu bahwa Koksu adalah bekas seorang datuk persilatan dan tentu mengenal segala macam orang aneh dari dunia kangouw . Kalau dia bersikap kasar dan kemudian ternyata bahwa mereka ini memang sahabat baik Koksu , tentu setidaknya dia akan mendapat teguran dari atasannya . Akan tetapi untuk bersikap hormat kepada kakek dan pemuda yang pakaiannya seperti petanimiskin ini dia merasa enggan juga .

“ Baiklah , harap kalian menanti si sini , aku hendak melapor ke dalam lebih dulu “ , katanya dan perwira itu sendiri lalu melapor ke dalam . Benar saja seperti di khawatirkan perwira itu , begitu mendengar di sebutnya nama Thian-te Ciu-kwi , Kok-su Lui menjadi gembira dan wajahnya berseri-seri .

“ Cepat persilahkan mereka duduk di ruangan tamu , dan 95

bersikaplah hormat kepada mereka !” .

Tentu saja perwira itu menjadi takut dan begitu berhadapan dengan Ciu-kwi dan Akauw , dia cepat memberi hormat dengan sikap merendah .

“ harap lo-cianpwe berdua suka memberi maaf atas sambutan kami yang kurang hormat karena tidak mengenal lo-cianpwe . Lui-kosu mempersilahkan lo-cianpwe berdua menanti di kamar tamu . Silahkan !” .

Sambil tersenyum dan mengangkat dadanya yang kerempeng , Ciu-kwi mengikuti perwira itu bersama Akauw yang memandang bangunan seperti istana itu dengan penuh kagum . Belum pernah dia memasuki rumah semewah dan sebesar ini . Mereka duduk di kursi-kursi berukir yang berada di ruangan tamu itu dan perwira itu dengan hormat mempersilahkan mereka menunggu , lalu dia memberi hormat dan keluar dengan hati lega .

Taklama mereka duduk menanti , Koksu itu memasuki ruangan tamu dari dalam , mengenakan pakaian yang mewah gemerlapan . “ Ha , Ciu-kwi , engkau datang juga !” tegurnya girang .

“ Tentu saja , Giam-ong . Sekali berjanji kepadamu , tentu ku penuhi . Hanya tinggal menagih janjimu saja kepadaku untuk memberi kedudukan kepada aku dan muridku “ .

“ Kebetulan aku memang hendak menghadap Sri Baginda Kaisar , mari kalian ikut aku menghadap dan kuperkenalkan kepada Sri Baginda . kami hendak membicarakan sikap Gubernur Gak yang agaknya condong melakukan hubungan dengan Coa-ciangkun , yang ku maksudkan dengan kami adalah aku dan Ji-taijin . Menteri Ji Sun Cai mendengar dari penyelidikan bahwa hubungan antara Gubernur Gak di perbatasan selatan amat dekat dengan Coa-ciangkun , orang keras kepala yang agaknya akan menjadi penghalang besar bagi kemajuan kami . Marilah sebelum ku ajak singgah di 96

kediaman Perdana Menteri Ji Sun Cai untuk kuperkenalkan . Engkau harus tahu , Ciu-kwi , bahwa Perdana Menteri adalah rekan kerjaku yang baik dan di antara kami ada kerja sama yang cocok sekali

“ Baiklah , Giam-ong . Aku menurut saja apa katamu , yang penting kami berdua memperoleh kedudukan yang baik di kota raja ini “ .

Mereka bertiga lalu memasuki sebuah kereta yang sudah dipersiapkan oleh para penjaga di luar , dan berangkatlah mereka menuju ke kediaman Perdana Menteri , di kawal oleh beberapa orang yang mengiringkan kereta .

Benar saja , ketika tiba di gedung Perdana Menteri yang juga amat indah bagi Akauw , Lui-Koksu di terima dengan hormat oleh para penjaga dan langsung di antar ke kamar tamu .

Tak lama mereka duduk , muncullah Perdana Menteri Ji Sun Cai bersama seorang gadis yang cantik jelita . Akauw terbelalak memandang gadis itu , bukan saja karena cantik jelitanya , melainkan karena dia merasa sudah sering melihat wajah itu dalam mimpi ! Setiap kali dia membayangkan wajah bidadari seperti itulah bentuk wajahnya ! Ketika gadis itu memandang kepadanya , Akauw tersipu dan cepat menundukkan mukanya karena menurut ajaran yang diterima dari suhengnya , sikap seperti itu , memandang langsung wajah seorang gadis yang tidak dikenalnya , apalagi dengan pandangan kagum , adalah sikap yang tidak sopan ! .

Lui-Koksu Toat-beng Giam-ong segera memberi hormat kepada Perdana Menteri dan puterinya . “ Maafkan kalau kami mengganggu Ji-taijin dan Ji-siocia “ .

“ ah , sama sekali tidak , suhu “ , kata gadis itu yang bukan lain adalah Ji Goat . “ Akan tetapi suhu datang bersama … siapakah mereka ini , suhu ?” .

“ Koksu , siapakah kedua orang ini yang kau ajak datang 97

berkunjung ?” Perdana Menteri Ji juga bertanya .

“ Taijin , inilah yang pernah saya bicarakan tempo hari . Ini adalah Thian-te Ciu-kwi “ .

“ Ah , datuk kang-ouw itu ? Siapakah nama lo-cianpwe yang mulia ?” kata pula Perdana Menteri Ji dengan sikap cukup hormat . Agaknya Perdana Menteri ini dapat menghargai orang-orang pandai di dunia kang-ouw .

“ He-he-he , Yang Mulia Perdana Menteri Ji , saya sendiri sudah lupa siapa nama saya pemberian orang tua . Harap sebut saja saya Ciu-kwi ( Setan Arak ) , karena itu sudah menjadi nama saya , he-he-he “ .

“ Begitukah ? Dan siapakah orang muda yang gagah ini , Ciu-kwi ?” Tanya Perdana Menteri itu dengan ramah .

“ Akauw , hayo perkenalkan dirimu “ .

“ Tai-jin , nama saya Cian Kauw Cu , biasa di sebut Akauw “ , berkata demikian die mengerling kea rah wajah gadis jelita itu yang kelihatan tersenyum manis .

“ Dia murid saya , taijin “ kata Ciu-kwi dengan bangga .

“ Aih , dia muridmu , Ciu-kwi ?” Ji Goat berseru . Gadis ini tidak ragu lagi menyebut Ciu-kwi begitu saja , sesuai dengan perkenalan diri Thian-te Ciu-kwi kepada ayahnya tadi . “ Aku sudah pernah mendengar namamu di puji-puji suhu , akan tetapi belum pernah mendengar engkau mempunyai seorang murid . Menilai kelihaian gurunya dapat di lihat dari kepandaian muridnya , maka aku ingin sekali bertanding ilmu silat dengan Akauw ini !” .

“ Hsss , Ji Goat , jangan kurang ajar !” tegur ayahnya .

“ Ha-ha-ha , apa salahnya , taijin ? Ji Sio-cia adalah murid saya dan Akauw ini adalah murid Ciu-kwi . Kami berdua adalah sahabat sejak lama dan saya sudah pula menguji ilmunya . Apa salahnya kalau Ji Siocia menguji ilmu murid Ciu-kwi ? Mari 98

kita sama menonton !” .

Karena ruangan tamu itu cukup luas , maka Ji Goat yang ingin sekali menguji kepandaian Akauw sudah memasang kuda-kuda menghadapi pemuda tinggi besar itu dan berkata , “ Akauw , aku sudah siap , keluarkan ilmumu agar ayah dan aku dapat melihatnya “ .

“ Akauw , kita hendak mencari pekerjaan di kota raja , maka perlihatkanlah kemampuanmu “ , kata pula Thian-te Ciu-kwi kepada muridnya .

Sebetulnya Akauw merasa enggan sekali untuk bertanding melawan gadis itu . Gadis yang demikian cantiknya lemah gemulai sehingga tertiup angina keras saja agaknya akan roboh , kulitnya begitu halus , bagaimana dia dapat memukul seorang gadis seperti itu ? Dia meragu , dan berdiri biasa saja , tidak memasang kuda-kuda seperti nona itu .

-oo0dw0ooo-

Jilid 4

“ Ha-ha-ha-ha , Akauw , jangan engkau memandang rendah nona ini . Ia adalah murid Toat-beng Giam-ong , tahukah engkau ? Dan tingkat kepandaian Lui Koksu ini tidak berada di bawah tingkatku . Hati-hatilah jangan sampai engkau kena di robohkan !” Ciu-kwi menegur muridnya yang kelihatan tidak bersungguh-sungguh .

“ Lihat serangan !” tiba-tiba gadis itu menyerang dan Akauw betul-betul terkejut ketika matanya nyaris tertusuk jari tangan gadis itu yang menyambar sedemikian cepat dan kuatnya . Baru angina pukulan tangan itu saja dapat dia rasakan dan ketahui bahwa gadis ini memiliki tenaga sakti yang amat kuat dan juga gerakannya tadi amatlah cepatnya . Kalau dia tidak membuang diri ke belakang sebagai gerakan 99

terdorong naluri sebagai gerakan terdorong naluri sebagai gerakan kera , tentu dia akan terkena totokan itu ! Diapun cepat membuat gerakan silat dan otomatis karena bertangan kosong dia lalu bergerak menurut ilmu silat yang di latihnya di dalam guha itu . Dia tidak tahu bahwa ilmu silat itu adalah ilmu dari Bu-tek Cin-keng .

Sekarang Ji Goat yang terkejut karena dari gerakan tangan Akauw menyambar angina yang lembut namun dahsyat sekali , yang membuat serangannya berikutnya membalik . Cepat ia lalu mengerahkan gin-kangnya dan dengan mengandalkan kecepatan gerakannya di lancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Akauw .

Pemuda ini bersikap tenang saja . Memang gadis itu memiliki gerakan yang cepat , akan tetapi gerakan gadis itu cepat karena latihan gin-kang sedangkan dia sendiri memiliki gerakan cepat alami dan juga karena naluri .

Dia mampu mengimbangi gerakan gadis itu dan semua serangan dapat di hindarkan dengan elakan atau tangkisan .

Sebetulnya kalau Akauw menghendaki dan mau menggunakan tenaganya , tentu gadis itu akan dapat di robohkannya . Akan tetapi tentu saja dia tidak mau merobohkan gadis sejelita itu . Namanya keterlaluan kalau dia melakukan itu , dan suhengnya tentu akanmerasa tidak senang sekali . Gadis itu menyerangnya hanya untuk menguji kepandaian , bukan berkelahi sungguh-sungguh maka tentu saja dia tidak ingin membuat malu dengan merobohkannya .

Akan tetapi hal ini amat merugikannya karena dia hanya mengelak dan menangkis saja . dan tidak pernah membalas ! dan betapa pun rapat pertahanannya karena ilmu silat gadis itu yang di warisi dari datuk Toat-beng Giam-ong juga merupakan ilmu silat tinggi , akhirnya pundaknya terkena pukulan tangan kiri gadis itu .

“ Dukkk …… !” Akibatnya , tubuh Akauw terdorong ke 100

belakang , akan tetapi sebaliknya Ji Goat juga terhuyung dan dia memegangi kepalan kirinya yang terasa nyeri . Dia merasa seolah memukul pundak yang terbuat dari baja , bukan dari kulit daging ! .

“ Siocia amat lihai , saya mengaku kalah ! “ kata Akauw cepat-cepat agar gadis itu menyudahi pertandingan .

Wajah Ji Goat berubah merah karena penasaran . Memang kelihatannya saja dia menang karena dia dapat memukul pundak itu , akan tetapi dia sendiri terhuyung dan tangannya sakit sedangkan yang dipukulnya tidak apa-apa !.

“ Kepandaianmu hebat , tidak percuma menjadi murid Thian-te Ciu-kwi !” katanya sambil membalas penghormatan Akauw yang mengangkat kedua tangan depan dada . Sementara itu , Ciu-kwi mengerutkan alisnya dan tidak merasa puas dengan pertandingan yang dilakukan muridnya itu . Menurut dia , kalau Akauw bersungguh-sungguh tentu dia akan mampu mengalahkan gadis itu . Baginya , tidak ada perasaan sungkan atau tenggang rasa seperti yang dirasakan Akauw terhadap seorang gadis .

Perdana Ji Girang sekali . Dari pengamatannya tadi dia pun dapat menduga bahwa pemuda itu cukup gagah perkasa dan akan menjadi seorang pembantu yang amat baik . Dia lalu mempersilahkan tamu-tamu duduk , sedangkan Ji Goat berpamit untuk masuk ke dalam .

Setelah kini duduk berempat saja , Perdana Menteri itu lalu berkata , “ Memang sebaiknya kalau lo-cianpwe ini dan muridnya di hadapkan kepada Sri Baginda dan sedapat mungkin diperbantukan padamu , Koksu . Dengan demikian kita dapat bekerjasama . aku ingin sekali agar Akauw atau gurunya melakukan penyelidikan kepada Gubernur Gak . Mereka belum di kenal dan akan mudah sekali melakukan penyelidikan ke sana tanpa khawatir diketahui orang “ .

“ Tepat sekali , taijin . Memang saya pun berpendapat 101

demikian , maka sebelum membawa mereka menghadap Sri Baginda , saya membawa mereka ke sini lebih dulu untuk mendapatkan persetujuan taijin “ .

“ Tentu saja saya setuju sekali , Koksu . dan sebaiknya kalau koksu membawa mereka menghadap Kaisar , lebih cepat lebih baik . Jangan lupa untuk membujuk agar Sri Baginda suka memanggil pulang Coa-ciangkun dari garis depan agar penyerangan terhadap Kerajaan Sun dapat dihentikan .

Tanpa di panggilnya pulang Coa-ciangkun , saya kira usaha kita tidak akan berhasil . Sementara itu , saya akan bertugas membujuk Sri Baginda agar bersikap lunak kepada Kerajaan Sun , menariknya sebagai sekutu agar lebih mudah bagi kita menguasai daerah selatan pada umumnya “ .

“ Baiklah , taijin . Kita membagi tugas dan sebaiknya kalau taijin menghubungi para thaikam kepala agar ikut membujuk kaisar “ .

“ Jangan khawatir , Koksu . Mereka semua sudah berada di tanganku “ .

Setelah berunding sebentar , Lui Koksu berpamit dan bersama Ciu-kwi dan Akauw mereka lalu naik kereta menuju ke istana . kalau tadi melihat istana Kok-su dan Perdana Menteri yang mewah itu Akauw sudah merasa terkagum-kagum , kini begitu dibawa masuk istana , dia benar-benar terpesona . Tak pernah dibayangkan semula ada rumah manusia seperti itu mewah dan megahnya . Semuanya serba besar , serba indah dan serba mewah . baru pintunya saja sudah begitu besar dan tinggi , agaknya pintu itu dibuat untuk masuk seekor gajah ! .

Dan dimana-mana penuh tanaman buatan , taman-taman kecil , air pancuran , batu-batu karang beraneka bentuk , ukiran-ukiran , lukisan-lukisan ,pendeknya , tidak habis-habisnya dia kagumi . Sampai nanar dia di buatnya 102

memandangi semua keindahan itu .

Para prajurit pengawal yang berjaga di setiap lorong dan tikungan istana itu memberi hormat kepada Koksu , dan setelah mereka tiba di bagian dalam , para pengawal yang berjaga adalah orang-orang sida-sida atau Thaikam .

Akhirnya mereka dibawa menghadap kaisar di sebuah ruangan yang amat indahnya . Karena saat itu bukan waktu persidangan , maka Koksu di terima oleh kaisar diperpustakaan , dimana Sri Baginda sedang memilih buku untuk di bacanya . Biarpun dia Kaisar bangsa Mongol ( Toba ) , namun kaisar Julan Khan suka akan kesusastraan , di samping lihai pula ilmu silatnya . Para pengawal thaikam itu segera di suruh keluar dari ruangan setelah kaisar melihat bahwa yang menghadapnya adalah Lui Koksu yang dipercaya penuh , bersama seorang kakek kecil kurus dan seorang pemuda yang gagah perkasa . Mereka bertiga segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kaisar . Hal ini di lakukan oleh Akauw setelah lebih dulu dia diberitahu dan di ajari bagaimana harus bersikap kalau berhadapan dengan kaisar , akan tetapi ketika menjatuhkan dirinya berlutut , tetap saja caranya kasar karena memadang di dalam hatinya dia masih meragu mengapa dia harus berlutut seperti itu di depan seorang yang baru saja di jumpainya dan belum di kenalnya sama sekali .

“ Oh , engkau , Koksu . Bangkit dan duduklah dan juga kalian berdua yang datang bersama Kok-su “ .

“ Terima kasih Yang Mulia “ , kata mereka hamper berbarengan .

Kini mereka menghadap Kaisar yang duduk di atas kursi berukir indah itu dengan berdiri saja , berdiri dengan kepala di tundukkan dan sama sekali tidak boleh kepala itu di angkat kalau tidak sedang di ajak bicara oleh Kaisar . Juga setiap kali bicara , kedua tangan harus di rangkap di depan dada sebagai tanda penghormatan . 103

“ Lui-koksu , siapakah yang kau bawa menghadap ini ? Tadi pengawal memberitahu akan tetapi kami kurang memperhatikan “ .

“ Yang Mulia , ini adalah seorang sahabat hamba di waktu muda . Julukannya adalah Thian-te Ciu-kwi , dan dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi . Yang muda ini adalah muridnya , bernama Cian Kauw Cu yang biasa di sebut Akauw . Mereka berdua ini menawarkan tenaga mereka untuk membantu paduka , untuk bekerja dengan hamba . Mengingat bahwa kepandaian mereka boleh di andalkan , maka hamba sengaja mengajak mereka untuk menghadap paduka , untuk mohon perkenan paduka agar mereka di perbolehkan membantu hamba dan di angkat sebagai panglima “ .

“ Hemmm , kami percaya dengan semua keteranganmu , Koksu . Akan tetapi kau tahu tidak mudah begitu saja mengangkat seseorang menjadi panglima sebelum kami melihat sendiri kemampuan mereka “ . Kaisar lalu bertepuk tangan dan bermunculan pengawal thaikam dari pintu dalam . Agaknya para pengawal itu biarpun tidak diperbolehkan memasuki kamar , namun selalu mereka siap diluar pintu sehingga sekali di panggil mereka akan bermunculan dalam waktu cepat sekali .

“ Coba panggil Ngo-heng Kiam-tin ( Barisan Pedang Lima unsur ) dan suruh mereka bersiap di lian-bu-thia ( tempat berlatih silat ) !” kata kaisar memerintah kepada para pengawal . Mereka memberi hormat dan pergi .

“ Koksu , kami hendak melihat apakah guru dan murid ini akan mampu menghadapi Ngo-heng Kiam-tin !” kata Kaisar kepada Lui-Koksu . Tentu saja Toat-beng Giam-ong sudah tahu siapa itu Barisan Pedang Lima Unsur , maka dia menjawab .

“ Hamba kira sobat Ciu-kwi akan mempu menghadapi mereka , Yang Mulia “ . 104

Mereka semua lalu mengikuti Kaisar pergi ke ruangan yang amat luas . Ruangan yang memang biasanya dipergunakan untuk berlatih silat . Seperti di ketahui , Kaisar Julan Khan sendiri adalah seorang yang kuat , ahli gulat dan ahli silat .

Ketika mereka tiba di sana , sudah menanti lima orang yang berpakaian aneh . Pakaian mereka itu saling berbeda warnanya . Ada yang serba merah , serba biru , serba kuning , hitam dan putih . Lima macam warna ! Kaisar muncul , mereka berlima lalu menjatuhkan diri berlutut .

“ Bangkitlah !” perintah kaisar dan setelah mereka semua bangkit berdiri , kaisar berkata , “ kalian harus menguji kemampuan dua orang guru dan murid ini yang mencalonkan diri sebagai panglima pembantu Koksu “ , katanya dan seorang thaikam segera mengangkat kursi kaisar ke belakang kaisar yang segera duduk dengan wajah gembira . Kaisar ini memang suka sekali menonton orang bertanding mengadu ilmu silat .

Sementara itu , Lui Koksu sudah membisiki Ciu-kwi bahwa biarpun kepandaian lima orang itu tidak berapa hebat , akan tetapi karena merupakan barisan pedang yang bekerja sama dengan baik sekali , maka cukup berbahaya . Akan tetapi dia percaya bahwa dengan tangan kosong saja dia atau Akauw mampu mengatasi mereka ! .

Mendengar bisikan sahabatnya itu , Thian-te Ciu-kwi lalu berkata kepada Kaisar , “ Yang Mulia , kalau paduka mengijinkan , hamba akan lebih dahulu maju menghadapi Ngo-heng Kiam-tin ini dengan tangan kosong , baru sesudah hamba murid hamba akan menandingi mereka “ .

Mendengar ini , Kaisar mengerutkan alisnya . Dia tahu akan kemampuan Ngo-heng Kiam-tin , dan kakek kecil kurus seperti orang pemadatan ini hendak menandingi dengan tangan kosong saja . Ini hanya ada dua kemungkinan . Kakek itu memang sakti atau sombong . Kalau sombong , biarlah mendapat hajaran keras dari Ngo-heng Kiam-tin . 105

“ Dengan tangan kosong , Ciu-kwi . Ingat , lima batang pedang itu dapat melukaimu !” .

“ Kalau memang demikian , sudah nasib hamba , Yang Mulia “ .

“ Baiklah , kalau begitu Ngo-heng Kiam-tin , kalian siap menandingi Thian-te Ciu-kwi yang bertangan kosong !” .

Lima orang itu lalu berloncatan membentuk lingkaran segi lima . Tubuh mereka rata-rata tinggi besar dan dengan pakaian mereka yang saling berbeda warna itu , gerakan mereka tadi kelihatan indah sekali seperti lima orang penari . tahu-tahu mereka telah mencabut pedang mereka dan siap dengan bermacam pasangan kuda-kuda . Ada yang melintangkan pedang di depan dada , ada yang mengacungkan pedang di atas kepala , ada yang menyembunyikan pedang di bawah lengan . Mereka semua sudah siap untuk menyerang kakek yang berdiri seenaknya itu . Akan tetapi ,lima orang ini tidak berani memandang rendah . Nama besar Thian-te Ciu-kwi sudah pernah mereka dengar sebagai datuk kang-ouw dari pantai timur dan kabarnya lihai bukan main .

“ Apakah engkau sudah siap , Ciu-kwi ?” Tanya kaisar .

“ Sejak tadi hamba sudah siap , Yang Mulia “ .

“ Kalau begitu , mulailah !” kata kaisar , di tujukan kepada lima orang itu . Mereka adalah jagoan-jagoan istana , merupakan anggota pasukan pengawal pribadi kaisar .

Mendengar seruan kaisar ini , lima orang itu mulai bergerak melangkah dengan teratur mengelilingi Ciu-kwi yang kelihatan masih berdiri dengan santai saja . Tiba-tiba seorang di antara mereka , yang berpakaian putih dan agaknya menjadi pemimpin Ngo-heng Kiam-tim , mengeluarkan bentakan nyaring .

“ Thian-te Ciu-kwi , lihat pedang !” . 106

Dan diapun sudah menyerang dari depan dengan gerakan dahsyat . Dua orang lain menggerakkan pedang mereka memperkuat serangan baju putih dan dua orang lagi menggerakkan pedang menjaga kalau lawan membalas serangan .

Ciu Kwi mengeluarkan kecepatan gerakannya . Dengan mudah saja dia mampu menerobos di antara sambaran tiga batang pedang itu , berloncatan ke sana sini seperti orang mabok dan tahu-tahu kedua kakinya yang kecil itu mengirim tendangan , bukan membalas serangan tiga orang itu melainkan menyerang dua orang orang yang tadi berjaga-jaga . Dua orang itu terkejut , maklum lihainya tendangan itu dan berlompatan ke belakang . Mereka mengepung lagi dan dengan bergantian pedang mereka menyerang bertubi-tubi , namun tidak ada pedang yang mampu melukai Ciu-kwi . Dia mengelak , berloncatan dan kadang dengan tangannya menyapok pedang dari samping . Ciu-kwi memperlihatkan ilmu yang menjadi andalannya , yaitu Thian-te Sin-kun ( Silat Sakti Langit Bumi ) dan mencampurnya dengan gerakan Dewa Mabok untuk mengelak dan mengacaukan lawan .

Ngo-heng Kiam-tin memang kuat sekali . Mereka itu saling tunjuang , saling bantu dan saling melindungi . Mereka dapat bekerja sama dengan rapid an teratur sehingga Ciu-kwi seperti melawan lima orang dengan satu hati dan pikiran . Namun , karena memang tingkatnya jauh lebih tinggi dari mereka , dia dapat selalu menghindarkan diri dan balasan serangannya beberapa kali membuat barisan pedang menjadi kacau .

Setelah lewat tiga puluh jurus , Ciu-kwi mengeluarkan bentakan melengking dan begitu kedua tangannya berputar dan memukul ke depan angina pukulan dahsyat menyambar dan lima orang itu terhuyung ke belakang , bahkan dua di antara mereka terjengkang .

Ciu-kwi cepat melangkah mundur dan memberi hormat kepada Sri Baginda .” Harap paduka maafkan hamba “ . 107

Sri Baginda bertepuk tangan memuji . “ Bagus , bagus sekali , Ciu-kwi . Engkau memang pantas menjadi sahabat dan pembantu Kok-su ! Dan bagaimana dengan muridmu itu ? “ .

“ Hamba kira dengan menggunakan pedangnya , Akauw akan mampu menandingi Ngo-heng Kiam-tin “ .

Mendengar ucapan Ciu-kwi , Sri Baginda menjadi gembira sekali . Orang yang mampu mengalahkan Ngo-heng Kiam-tin merupakan orang yang sakti dan tentu saja dia dapat mempergunakan tenaga orang-orang seperti itu . Akan tetapi Lui-Koksu tidak heran karena dia sudah mendengar dari Ciu-kwi bahwa Akauw memiliki ilmu aneh dan juga memiliki Hek-liong-kiam yang ampuh .

“ Akauw , lawanlah mereka dengan pedangmu . Akan tetapi jangan sekali-sekali melukai mereka “ , pesan Ciu-kwi kepada muridnya .

“ Baik , suhu “ , kata Akauw yang telah melihat gerakan lima orang itu dan merasa dapat mengatasi mereka dengan pedangnya . Dia lalu memberi hormat kepada Kaisar , “ Mohon perkenan paduka , Yang Mulia “ .

“ Baik , bangkit dan lawanlah Ngo-heng Kiam-tin dengan pedangmu , orang muda “ , kata kaisar gembira .

Akauw lalu bangkit berdiri , mencabut Hek-liong Po-kiam dari sarungnya dan nampaklah sinar hitam yang menyeramkan . Bahkan kaisar sendiri berseru kagum . “ Po-kiam yang hebat !” .

Ngo-heng Kiam-tin kini sudah maju lagi mengepung . Dalam pertandingan melawan Ciu-kwi tadi , jelas mereka telah kalah , akan tetapi tak seorang pun dari mereka mengalami luka sehingga kini mereka dapat maju dengan lengkap dan tenaga mereka masih tidak berkurang . Hanya mereka agak gentar menghadapi pedang hitam di tangan pemuda tinggi besar itu . Mereka pun dapat menduga bahwa pemuda itu memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh . 108

Lima orang itu , seperti tadi mengepung Akauw dengan berbagai macam kuda-kuda . Akauw sendiri dengan tenang berdiri dengan pedang melintang di depan dada , seluruh saraf di tubuhnya menengang dalam keadaan siap siaga .

Kembali si baju putih mengeluarkan bentakan . “ Lihat pedang !” Dan dia mulai menyerang , di susul teman-temannya Kadang mereka menyerang bertubi-tubi , susul menyusul , kadang mereka menyerang berbarengan dan menyatukan tenaga dalam pedang mereka .

Namun Akauw telah maklum akan gerakan mereka . Kalau mereka menyerang bertubi-tubi , dia pun mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menghindar , kalau mereka menyatukan pedang mereka , diapun menangkis dengan pengerahan tenaga . Memang agak repot juga baginya kalau mengadu dengan tenaga lima orang yang menggabungkan tenaga mereka itu . Di keroyok oleh lima orang , tenaganya tidak kuat bertahan dan beberapa kali dia terpaksa melangkah mundur . Akan tetapi , setelah lewat dua puluh lima jurus , Akauw mengubah gerakan pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang membelit dan memutar .

“ Kraakk !” terdengar suara keras dan pedang si baju putih patah menjadi dua ketika dia berani menangkis dengan langsung sambaran sinar hitam yang bergulung-gulung itu . Kepatahan pedang baju putih sebagai pemimpin ini mengacaukan yang lain dan Akauw menggunakan kesempatan ini untuk menyambar pedangnya dan empat batang pedang yang lain juga patah semua ! Tentu saja Ngo-heng Kiam-tin menjadi rusak dan mereka berlima terpaksa berlompatan ke belakang karena sudah tidak ada senjata di tangan mereka .

Sri Baginda Kaisar Julan Khan bertepuk tangan memuji . “ Bagus , Kiam-sut ( ilmu pedang ) yang bagus ! “ dia memuji lalu berkata kepada Lui-koksu , kami telah melihat ilmu Ciu-kwi dan Akauw . Mereka boleh kau terima menjadi panglima untuk membantu pekerjaanmu “ . 109

Ciu-kwi dan Akauw segera menjatuhkan diri berlutut dan menghaturkan terima kasih . Mereka bertiga meninggalkan istana dengan gembira dan semenjak hari itu , Ciu-kwi menjadi pembantu Koksu dan Akauw menjadi seorang panglima muda yang di perbantukan pula kepada Kok-su . Mereka berdua untuk sementara tinggal di tempat kediaman Kok-su .

*****

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Yang Cien . Seperti telah diceritakan di bagian depan . Yang Cien tinggal seorang diri di dalam guha besar bawah tanah itu setelah di tinggal pergi oleh Akauw . Dia segera dapat menghilangkan perasaan kesepiannya di tinggalkan sutenya itu , dan dengan tekun dia melanjutkan latihannya , mempelajari ilmu Bu-tek Cin-keng yang ternyata amat sulit di latih itu . Dia tahu bahwa sutenya telah hafal akan semua gerakan ilmu silat itu , akan tetapi tanpa petunjuk kitab , ilmu yang di miliki sutenya itu hanyalah kulitnya saja , tanpa isi . Dia berjanji pada diri sendiri bahwa kelak kalau dia bertemu kembali dengan sutenya , dia akan mengajarkan ilmu itu secara yang semestinya agar sutenya juga menguasai Bu-tek Cin-keng secara benar .

Setiap hari Yang Cien tekun berlatih , hidup secara sederhana sekali , tidak pernah berhubungan dengan manusia lain . Dia seolah menjadi seorang pertapa yang hidup menyendiri di tempat sunyi itu , di Lembah Iblis .

Tiga tahun telah lewat tanpa terasa . Yang Cien telah menyelesaikan pelajaran ilmu itu dan kini akibat racun jarum di kitab itu sudah hilang sama sekali . Tanpa di sadarinya sendiri , dia telah menguasai ilmu yang amat dahsyat , yang di pelajari dan di latihnya selama lima tahun di tempat itu ! Juga dia tidak menyadari bahwa kini dia telah menjadi seorang pemuda yang sudah dewasa benar , pemuda yang berusia dua puluh lima tahun ! .

Pada halaman terakhir kitab Bu-tek Cin-keng itu terdapat 110

tulisan yang mengharuskan murid yang mempelajari kitab itu sampai habis , agar menutup guha itu .

“ Gulingkan batu yang berada di atas tebing dan hujan batu besar akan menutup guha ini untuk selamanya “ , demikian bunyi pesan itu . Yang Cien melangkah keluar guha . Biasanya , hanya untuk mencari makan saja dia keluar dari guha itu, paling banyak sekali dua kali dia keluar guha dalam sehari . Dia tidak begitu memperhatikan di atas tebing dan baru sekarang dia berdongak memperhatikan keadaan di atas tebing . Tebing itu tinggi dan permukaan dinding tebing memang penuh dengan batu besar yang kalau tertimpa batu dari atas tentu akan dapat terlepas dan runtuh ke bawah . Tentu itu yang di maksudkan pesan dalam halaman terakhir kitab itu . Dia masuk kembali lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang , menghadap kerangka yang berada di kursi itu. Kedudukan kerangka yang berada di kursi itu pun ternyata membantunya memecahkan rahasia dari jurus terakhir sebagai penutup kitab pelajaran itu . Tadinya , sampai berhari-hari dia bingung , tidak dapat mengerti dengan baik gerakan jurus penutup . Baru setelah dia melihat kedudukan kerangka itu , memperhatikan kedudukan kedua tangan dan kakinya , dia mengerti . Kerangka itu justeru berkedudukan seperti yang di kehendaki dalam jurus terakhir tadi .

“ Suhu , siapapun adanya suhu , teccu ( murid ) menghaturkan banyak terima kasih atas semua petunjuk suhu sehingga teecu dapat menyelesaikan pelajaran Bu-tek Cin-keng ini . Karena khawatir kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat , kitab ini teecu tinggalkan di sini bersama suhu , dan pedang Pek-liong-Po-kiam teecu bawa sedangkan Hek-liong-Po-kiam di bawa sute Akauw . “ Setelah berlutut dan memberi hormat delapan kali , di atas meja dan dia membawa Pedang Naga Putih keluar , bersama buntalan pakaiannya .

Kemudian dia mendaki tebing itu ke atas dan baru dia mengetahui betapa mudahnya hal itu dilakukannya . Padahal , 111

tadinya dia mengira bahwa memanjat tebing itu akan sukar sekali karena tebing itu terjal . Namun setelah kakinya memanjat , dia merasa ringan dan mudah saja ! Dia sendiri tidak menyadari bahwa latihan-latihan itu telah meningkatkan sinking dan ginkangnya sehingga dia mampu bergerak seperti seekor cecak merayap dinding ! .

Setelah tiba di atas tebing , dia lalu mencari batu yang terbesar . Di temukan batu itu , sebesar gajah . Tadinya diapun meragukan apakah dia akan mampu , menggulingkan batu sebesar gajah itu , apakah tidak lebih baik memilih yang lebih kecil . Akan tetapi , begitu dia mencoba untuk menggerakkan batu itu , ternyata terasa tidak terlalu berat baginya dan dengan mudah dia mampu mendorong dan menggelindingkan batu ke tepi tebing , tepat di atas guha besar yang selama lima tahun menjadi tempat tinggalnya itu .

Begitu batu terguling , terdengar suara gemuruh dan ketika dia melongok ke bawah , benar saja , batu itu menghantam batu-batu di bawah sehingga terlepas dari dinding tebing dan hujan batu besar terjadi di depan guha sehingga guha itu tertutup sama sekali oleh ratusan , bahkan mungkin ribuan batu besar ! Tidak mungkin lagi bagi seorang atau beberapa orang manusia untuk membongkar batu-batu itu . Guha itu benar-benar telah menjadi kuburan bagi gurunya yang tak di kenal namanya itu .

Kemudian , dia menuruni tebing kembali dan memasuki guha yang penuh emas . Sampai lama dia mengamati emas-emas yang menempel di dinding guha . Sekali waktu benda berharga ini akan berguna juga , entah kapan dan untuk apa , dia belum mampu membayangkan . Dia lalu mengambil secukupnya untuk bekal . kemudian mencari batu besar dan menggulingkan batu itu menutupi guha kecil itu sehingga tidak nampak sama sekali dari luar . Hanya dia yang tahu bahwa di balik batu besar itu terdapat sebuah guha penuh emas . Dalam guha-guha lain yang berjajar di daerah itu tidak 112

terdapat apa-apa lagi , kecuali guha pertama yang penuh dengan arca yang tidak begitu penting untuk di sembunyikan .

Setelah selesai menutup kedua guha yang di rahasiakannya itu , Yang Cien lalu pergi meninggalkan tempat itu . Beberapa kali dia menoleh untuk memandang tempat yang di jadikan tempat tinggalnya selama lima tahun itu . Menduga-duga kapan kiranya dia akan dapat kembali ke tempat itu . Lembah Iblis ! Dia tidak mengerti mengapa rakyat di wilayah itu menamakannya Lembah Iblis . Padahal baginya , lembah itu amat indah dan menjadi tempat dia menghabiskan waktunya bertahun-tahun . Sejak dia memasuki lembah itu bersama kakek nya , tidak kurang lebih sepuluh tahun dia tinggal di sana , lima tahun tinggal di gubuk atas pohon seperti kera , dan lima tahun tinggal di guha seperti pertapa . Dan kini , dia memasuki dunia ramai . Apakah yang menanti dia di depan ? Dia tidak tahu , dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan .

Nasib ? Menurut pelajaran tentang kehidupan yang dia dapatkan dari kakeknya , dia tidak mau menggantungkan diri kepada nasib . Nasib tidak datang bagitu saja , nasib hanya merupakan mata rantai dari sebab akibat . Kalau orang menanam bibit baik lalu menuai hasil panen baik , itu bukan nasib namanya ! Juga kalau menyebar bibit baik , itu juga dapat memetik panen baik , itu juga bukan nasib karena pasti ada penyebabnya ! Entah karena pemupukannya kurang baik , atau penjagaannya kurang baik sehingga terusak oleh hujan atau oleh burung-burung atau hama lainnya . Jelas bukan karena nasib buruk dan sebagainya ! .

Kekuasaan Tuhan memang mutlak . Akan tetapi Kekuasaan Tuhan juga adil ! Jadi tidak ada yang di sebut nasib baik atau nasib buruk karena semua yang terjadi sudah semestinya demikian , sesuai dengan hokum karma masing-masing . Dan karma itu siapa penyebabnya , siapa pembuatnya ? Kita sendiri ! Karena itu , setiap perbuatan adalah menyebar benih 113

, setiap peristiwa yang terjadi menimpa diri adalah penuaian dari penyebaran benih tadi , atau akibat dari perbuatan kita . Maka orang bijaksana tidak mengeluh kalau sesuatu menimpa dirinya karena sadar bahwa itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri , lama atau baru , sedangkan kalau melakukan sesuatu , maka pekerjaan itu dilakukan tanpa pamrih imbalan apapun . Demikianlah apa yang telah dipelajari Yang Cien dari kakek nya , oleh karena itu , dia pun tidak gentar menghadapi apapun karena maklum bahwa segalanya tergantung dari padanya sendiri .

*****

Pemandangan di Telaga Tai-hu amatlah indah . Di tengah telaga yang besar itu terdapat beberapa pulau kecil dan banyak orang yang berpesiar naik perahu di telaga di samping perahu-perahu nelayan penangkap ikan . Ada pula orang-orang berpakaian sastrawan yang naik perahu kecil , menghadapi kitab sambil minum arak atau sambil memancing ikan .

Seorang pemuda berpakaian sederhana naik sebuah perahu kecil dan mandayungnya mendekati sebuah pulau . Dia tertarik sekali kepada seorang laki-laki yang juga berperahu seorang diri sambil membaca sajak . Pemuda ini selain pakaiannya yang sederhana , juga gerak-geriknya amat sederhana . Rambutnya yang di gelung ke atas itu tertutup sebuah caping lebar , bajunya dari kain kasar berwarna biru dan potongannya seperti yang biasa di pakai para petani . Wajahnya yang terlindung caping itu tampan , berbentuk persegi dan berkulit putih . Alisnya tebal melindungi sepasang mata yang mencorong seperti mata naga , hidungnya mancung dan mulutnya selalu mengembangkan senyum yang ramah . Wajah yang menyenangkan , akan tetapi juga mengandung wibawa yang kuat .

Pemuda itu adalah Yang Cien . Dia menyembunyikan Pedang Pusaka Naga Putih di dalam buntalan pakaian yang di 114

gendongnya . Pemuda ini dalam perjalanannya merantau telah membeli beberapa potong pakaian baru yang di gendongnya dalam buntalan kain kuning .

Ketika melakukan perjalanan merantau karena sampai selesai melatih diri dengan Kitab Bu-tek Cin-keng sutenya belum juga pulang , dia tiba di Telaga Tai-hu dan menyewa sebuah perahu . Tertarik oleh pemandangan yang amat indah itu . Ketika tadi mendengar orang membaca sajak , dia tertarik oleh kata-kata dalam sajak itu .

“ Pohonku dikuasai burung gagak

Sarangku terancam musnah

Namun apa dayaku ?

Semua burung dara pergi ketakutan

Tidak ada yang berani melawan gagak

Tiada harapan kecuali menanti munculnya

Sang Garuda

Pengusir burung gagak dari pohonku “

Dia tertarik sekali karena dia dapat menangkap inti dari sajak atau nyanyian itu . Pohon dikuasai burung gagak , yaitu termasuk burung liar seperti yang terjadi sekarang . Cina bagian utara sepenuhnya di kuasai bangsa Mongol ( Toba ) dan semua burung dara pergi ketakutan . Bukan hanya ketakutan bahkan banyak penduduk pribumi yang menghambakan dirinya kepada kekuatan asing itu . Bahkan mendiang ayahnya juga menghambakan dirinya kepada kaisar Toba . Hal ini sebetulnya tidak di setujui kakeknya . Kakeknya seringkali menyesalkan hal itu .

Bagaimanapun juga , seorang patriot haruslah menentang penjajahan , bukannya membantu kaum penjajah untuk memakmurkan rakyat “ , kata kakek nya . 115

Di dalam sajak di sebutkan bahwa semua burung dara tidak ada yang berani melawan gagak , maka di harapkan munculnya sang garuda untuk mengusir burung gagak . Mengusir Bangsa Toba dari tanah air ? Bukan pekerjaan mudah !.

“ Ayahmu salah langkah “ , kata kakeknya dahulu , “ sepatutnya dia membantu mereka yang menentang Kaisar Toba , bukan menghambakan diri kepadanya . Di bawah kekuasaan Kaisar Toba , para pejabat melakukan koropsi dan penindasan terhadap rakyat . Mereka tidak memperdulikan nasib rakyat jelata karena menganggap tidak perlu bekerja dengan sungguh-sungguh mengingat bahwa pemerintahan itu adalah Kerajaan Mongol . Semua pejabat berlomba untuk menggendutkan diri , menebalkan kantung sendiri dan berlomba untuk mewah-mewahan .

Para pendekar yang berjiwa patriot melihat penindasan oleh Bangsa Mongol merasa prihatin sekali . Namun pasukan Kerajaan Toba amat kuat sehingga setiap pemberontakan mengalami kegagalan . Para pejabat yang bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kesejahteraan rakayt , seperti mendiang ayahmu , malah di musuhi oleh pejabat-pejabat tinggi yang berkuasa . Nah , mendiang ayahmu telah salah langkah , dan tidak seharusnya engkau mengikuti jejaknya itu “ .

“ Kakek pernah mengatakan bahwa yang membunuh ayah ibu adalah Koksu “ .

“ Benar . Anak buah Toat-beng Giamh-ong Lui Tat yang kini menjadi Koksu itu yang telah mengeroyok dan membunuh ayah ibumu . Dia tidak senang melihat ayahmu membela rakyat yang terindas dan berani memprotes kenaikan pajak dan kerja paksa . Pemeritah penjajah memang sifatnya menindas dan memeras , dan ayahmu telah berani menentang arus . Akan tetapi , singkirkan dendammu pribadi itu , Yang Cien . Engkau harus mempergunakan segala daya dan 116

kepandaianmu untuk mempersatukan rakyat , mempersatukan semua kekuatan agar tidak terpecah-belah dan hanya dengan persatuan saja kiranya penjajah Mongol akan dapat di halau dari negeri kita “ .

Demikianlah , percakapan itu mengiang di telinga Yang Cien ketika dia tertarik mendengar bunyi sajak yang mengandung semangat menantang penjajah itu . Dia lalu mendayung perahunya mendekat perahu orang itu . Ternyata yang membaca sajak tadi adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun yang berpakaian seperti pengemis ! Kakek itu menghadapi seguci arak dan dia tadi membaca sajak sambil di seling minum arak. Yang Cien dapat menduga bahwa kakek itu tentulah bukan seorang pengemis biasa saja . Mana ada seorang pengemis berperahu , menikmati arak sambil membaca sajak ?

“ Lo-cianpwe , sajakmu tadi sungguh indah !” katanya memuji .

Kakek itu menoleh dan melihat bahwa yang memujinya seorang pemuda tampan gagah berpakaian sederhana dan bercaping lebar , dia tersenyum ramah .

“ Orang muda , kalau engkau suka sajak dan minum arak , naiklah ke perahuku . Berdua lebih menggembirakan daripada seorang diri saja “ .

“ Baik , lo-cianpwe dan terima kasih “ , kata Yang Cien gembira .

Akan tetapi pada saat dia mengikatkan tali perahunya pada perahu kakek pengemis itu , tiba-tiba saja datang sebuah perahu besar . Perahu itu sudah dekat sekali dan dari perahu besar itu meluncur banyak anak panah kea rah mereka ! .

Kakek itu cepat menangkis dengan kedua tangannya sambil berseru “ Jahanam penjilat Mongol yang busuk !” dan tubuhnya sudah melompat ke atas perahu besar . Melihat kegagahan kakek itu , Yang Cien khawatir kalau kakek itu 117

akan menghadapi pengeroyokkan , maka diapun ikut pula melompat ke atas perahu besar .

Benar seperti yang di khawatirkannya , kakek itu telah di kepung dan di keroyok oleh belasan orang yang memegang golok . Kakek pengemis itu menggerakkan tongkat bambunya dan mengamuk .

Yang Cien kagum karena kakek itu ternyata lihai sekali . Biarpun dia hanya bersenjatakan sebatang tongkat bamboo sedangkan para pengeroyoknya menggunakan golok tajam , namun dia dapat menghindarkan semua serangan dengan elakkan atau tangkisan , bahkan sebentar saja sudah merobohkan empat orang pengeroyok dengan tendangan atau totokan tongkat bambunya .

Pada saat itu , tiba-tiba terdengar bentakan nyaring , “ Kam-lokai , mata-mata busuk , kalau engkau tidak menyerah , akan mampus di tangan kami !” Dan seorang laki-laki jangkung kurus meloncat ke depan lalu menggerakkan senjatanya yang menyeramkan , yaitu sepasang kapak yang besar dan berkilauan saking tajamnya .

“ Gu-Mo-ko , kiranya engkau sudah menjual dirimu kepada orang Mongol !” Bentak kakek itu dan diapun menerjang kea rah orang kurus yang bersenjatakan sepasang kapak itu . Entah bagaimana orang tinggi kurus begitu mendapat julukan Gu Mo-ko ( Setan Kerbau ) , mungkin sekali karena matanya yang besar seperti mata kerbau itu , atau sepasang kapaknya itu dapat di umpamakan sepasang tanduk kerbau . Akan tetapi ternyata Gu Mo-ko in ilihai sekali . Begitu dia menyerang dengan sepasang kapaknya yang berat, kakek itu segera terdesak karena Gu Mo-ko masih di bantu belasan orang anak buahnya .

Melihat itu , sekarang Yang Cien tidak meragu lagi untuk membantu . Tadi dia melihat kakek itu tidak terdesak , maka dia pun tidak membantu dan hanya menonton . Akan tetapi sekarang , kakek itu sungguh terdesak hebat , maka diapun 118

sudah mengambil pedangnya dari buntalan pakaiannya dan meloncat ke depan . Dia segera dihadang lima orang anak buah Gu Mo-ko yang menyerangnya dengan golok . Akan tetapi begitu memutar Pek-liong-Po-Kiam , terdengar suara nyaring berturut-turut dan lima batang golok patah menjadi dua ! Tentu saja lima orang itu terkejut bukan main , dan Yang Cien hendak melompat maju .

Pada saat itu terdengar kakek Kam Lo-kai ( Pengemis Tua Kam ) mengeluh dan dia terhuyung ke belakang , pundaknya terbabat sebatang kapak dan dia terluka parah .

Kapak kedua menyusul membabat ke arah lehernya , akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan biru dan “ tranggg …… “ kapak yang menyambar leher Kam Lo-kai itu pun patah menjadi dua ! Tentu saja Gu Mo-ko terkejut dan meloncat ke belakang . Kesempatan itu dipergunakan Yang Cien untuk menyambar tubuh Kam Lo-kai dan membawanya meloncat ke bawah , ke perahunya sendiri , merebahkan kakek itu di dalam perahu dan dia cepat mendayung perahunya meninggalkan perahu besar .

Beberapa batang anak panah menyambar dari perahu besar . Yang Cien menyampok dengan tangannya dan menangkap sebatang anak panah , kemudian melontarkan ke atas perahu dan terdengarlah seorang pemanah menjerit dan roboh terkena anak panahyang di lemparkan Yang Cien . Melihat kehebatan anak muda itu , semua orang di atas perahu besar menjadi gentar dan mereka tidak melakukan pengejaran , membiarkan Yang Cien pergi membawa kakek yang sudah terluka parah itu .

Setibanya di darat , Yang Cien menalikan perahunya dan terdengar kakek itu merintih . Yang Cien berlutut di perahu .

“ Bagaimana , lo-cianpwe , keadaanmu ?”

Kakek itu menggeleng kepala dan ketika Yang Cien memeriksa dia terkejut . Pundah itu putus terbabat kapak dan 119

lukanya parah sekali sampai ke dada . Keselamatan orang yang terluka seperti itu sukar di pertahanankannya .

“ Orang muda …. Siapapun adanya engkau …. Bantulah kami yang berusaha mengusir penjajah dari tanah air …. Kausampaikan suratku … ambil surat itu dari saku bajuku …. “ Yang Cien mengambil sepucuk surat itu dari saku dalam baju pengemis itu .

“ Untuk apa surat ini , lo-cianpwe ?” .

“ Kauberikan …. Surat … kepada ….. Gubernur Gak di Nam-kiang ……….. “ kakek itu terkulai dan tewas .

Yang Cien menghela napas panjang dan menutupkan kedua mata yang masih terbuka itu . Kemudian dia memondong jenazah itu dan membawanya ke darat .

Dia merebahkan mayat itu di atas tanah di tepi danau , lalu menggali lubang sambil termenung . kakek itu , walaupun melihat namanya memang seorang tokoh pengemis kang-ouw , ternyata mempunyai jiwa patriot . Agaknya dia menjadi mata-mata untuk memata-matai pemerintah . Dan agaknya Gubernur Gak di Nam-kiang juga seorang pejuang . Dia sendiri , seorang yang tadinya tidak mempunyai sangkut paut dengan perjuangan , kini tiba-tiba saja menjadi seorang yang membantu para pejuang ! Akan tetapi dia belum mengambil keputusan untuk membantu Gubernur Gak karena dia belum mengerti dan belum tahu apa yang diperjuangkan oleh Gubernur Gak . Pada saat ini dia hanya membantu Kam Lo-kai yang di anggapnya seorang sahabat yang kebetulan bertemu di Tai-hu dan yang hanya mengharapkan pertolongannya menyampaikan sepucuk surat kepada Gubernur Gak .

Setelah selesai mengubur jenazah itu dan memberi hormat sekadarnya dengan sederhana tanpa upacara sembahyang , Yang Cien lalu meninggalkan tempat itu , menuju ke selatan .

***** 120

Ketika Yang Cien berjalan tiba di lereng sebuah bukit , tiba-tiba saja dari balik semak belukar berloncatan banyak orang dan nampak tiga orang tinggi besar bersama dua belas orang anak buahnya telah menghadang perjalanannya ! .

Yang Cien sudah menduga bahwa mereka itu memang menghadangnya , akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan hendak melangkah terus . Akan tetapi tiga orang tinggi besar itu menghalangi jalannya dan berseru keras , “ Orang muda , berhenti kau !”

Yang Ciean berhenti dan memandang mereka penuh perhatian . Tiga orang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu seperti tiga orang raksasa , sekepala lebih tinggi darinya dan wajah mereka nampak bengis . Seorang yang tertua memegang sebatang golok , orang kedua memegang sebatang pedang dan orang ketiga memegang sebatang ruyung besi .

Mereka nampak kuat sekali dan orang pertama yang memegang golok maju ke depan . Mereka bertiga itu terkenal dengan julukan Huang-ho Sam-how ( Tiga Harimau Sunagi Kuning ) , terdiri dari tiga orang kakak beradik bernama Ceng Hauw , Ceng Kiat dan Ceng Lung .

Ceng Hauw orang tertua berkata dengan suaranya yang parau kasar , “ Orang muda , engkaukah yang telah membantu Kam Lo-kai dan mengubur mayatnya ?” .

“ Benar , aku yang mengubur jenazah Kam Lo-kai “ , jawab Yang Cien .

“ Hemmm , siapakah namamu , orang muda ?”

“ Namaku Yang Cien “ .

“ Kami masih menyayangi usia mudamu . Yang Cien , sebaiknya engkau cepat menyerahkan surat yang kau terima dari Kam Lo-kai itu kepada kami !” .

“ Mendiang Kam Lo-kai tidak pernah menitipkan surat 121

kepadaku untuk di serahkan kepada kalian !” kata Yang Cien dengan suara sungguh-sungguh .

“ Memang bukan untuk kami . Surat itu untuk Gubernur Gak , bukan ? Nah , serahkan kepada kami , cepat !” .

“ Kalau kalian tahu bahwa surat itu bukan untuk kalian , mengapa kalian memintanya ? Itu tidak sopan dan tidak benar “ .

Tiga orang Huang-ho Sam-houw itu menjadi marah . “ Toako , bunuh saja bocah ini dan rampas suratnya !” kata Ceng Kiat .

“ Benar , hajar saja dia !’ kata pula Ceng Lung

“ Hem , aku merasa sayang karena sebetulnya dia tidak tersangkut hanya kebetulan saja menerima surat dari Kam Lo-kai . Orang muda , ku harap engkau menyerahkan surat itu . Kalau tidak , tubuhmu akan menjadi seperti ini !” Berkata demikian , Ceng Houw mengayun goloknya membabat sebatang pohon dan batang pohon itu roboh seketika , terpotong oleh golok tajam yang di gerakkan dengan tenaga amat kuatnya itu .

“ Atau seperti ini !” kata pula Ceng Kiat dan sebatang pohon lain tumbang oleh sabetan pedangnya .

“ Atau ini ?” bentak Ceng Lun dan terdengar suara keras , batu gunung sebesar kepala kerbau itu remuk di hantam ruyungnya . Melihat ini , Yang Cien tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki tenaga besar dan merupakan lawan cukup tangguh . Namun , tentu saja dia tidak takut dan tidak ingin menyerahkan surat yang seolah baginya merupakan wasiat seorang yang telah meninggal dunia .

“ Maaf , sam-wi tidak berhak menerima surat itu , terpaksa saya tidak dapat menyerahkan “ .

“ Engkau mencari mampus !” bentak tiga orang tinggi besar itu dan mereka sudah menggerakkan senjata untuk 122

menyerang . Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan dua orang dan muncullah seorang to-kouw ( Pendeta perempuan ) dan seorang gadis cantik berdiri di situ . Tokouw itu memegang sebuah kebutan yang bulunya putih .

“ Tahan senjata !” seru Tokouw itu dengan suara nyaring . “ Kalian ini orang-orang banyak hendak memaksa seorang pemuda ? Kalau dia tidak mau menyerahkan sesuatu , tidak semestinya kalau kalian memaksanya “ .

Huang-ho Sam-houw mengerutkan alisnya . “ Tokouw , harap engkau jangan mencampuri urusan kami !” bentak Ceng Hauw marah . “ Pergilah dan jangan usil “ .

“ Kami tidak usil , dan tentu saja kami akan campur tangan kalau melihat kejahatan dilakukan orang . Kalian tidak boleh memaksa pemuda ini melakukan sesuatu yang tidak dia sukai “ .

Ceng Haouw memberi aba-aba kepada anak buahnya . “ Serang ………! “

Dua belas orang anak buahnya mengepung sambil menghunus senjata golok atau pedang mereka . Akan tetapi , nampak dua sianr berkilat ketika To-kouw dan gadis itu mencabut pedang mereka dan segera terjadi pertempuran yang berat sebelah . Dalam waktu singkat saja , gadis dan tokouw itu sudah merobohkan enam orang . Melihat ini , Huang-ho Sam-houw menjadi marah . Dengan teriakan ganas mereka menerjang dengan senjata mereka . Ceng Haouw yang bergolok dan Ceng Kiat yang berpedang menyerang tokouw itu , sedangkan Ceng Lun menggunakan rutungnya untuk menerjang gadis yang memegang pedang dengan ronce merah . Sisa enam orang anak buah gerombolan itu pun ikut pula mengeroyok , akan tetapi dari jarak jauh karena mereka gentar menghadapi pedang tokouw dan nona itu .

Yang Cien yang berdiri di pinggiran memandang dengan kagum . Dia melihat betapa tokouw dan nona itu amat lihai 123

sehingga tidak perlu di bantu . Maka dia pun hanya menonton saja . Tokouw itu amat lihainya , bukan saja pedangnya mampu menahan golok dan pedang lawan , akan tetapi juga kebutan di tangan kiri nya merupakan senjata yang ampuh sekali . Bulu-bulu hudtim ( kebutan pendeta ) itu kadang dapat menjadi tegang dan keras oleh kekuatan sinking yang terkandung di dalamnya . Dapat pula dipakai melibat , dapat pula di pakai menotok .

Baru belasan jurus saja , Ceng Haouw dan Ceng Kiat terdesak hebat . Tiga orang anak buah yang mencoba-coba untuk membantu , sudah lebih dulu roboh .

Pertandingan antara Ceng Lund an gadis itu pun tidak seimbang . Ruyung di tangan Ceng Lun itu memang berat dan di gerakkan dengan tenaga gajah sehingga berbunyibersiutan ketika menyambar . Batu saja remuk kena hantaman ruyung ini , apalagi tubuh gadis cantik itu . Akan tetapi nyatanya , gerakan gadis itu cepat seperti seekor burung wallet sehingga semua sambaran ruyung tidak pernah mengenai sasaran dan sebaliknya . Serangan balik dari pedang di tangan gadis itu beberapa kali hampir saja mengenai leher dan dada Ceng Lun .

Juga tiga orang anak buah yang membantunya sudah lebih dulu roboh di sambar sinar pedang gadis itu .

Akhirnya , Huang-ho Sam-houw maklum bahwa kalau di lanjutkan , mereka tidak akan menang . Mereka lalu berteriak memberi aba-aba dan semua anak buahnya melarikan diri secepatnya , ada yang terpincang , ada yang berloncat-loncatan , bahkan ada yang merangkak pergi . Huang-ho Sam-houw sendiri sudah melarikan diri dengan cepat meninggalkan tokouw dan gadis yang berbahaya itu .

Tokouw dan gadis itu tidak mengejar , hanya mengikuti mereka yang melarikan diri sambil tersenyum . Kalau mereka mengejar , tentu semua anak buah itu dapat mereka bantai karena lari mereka tidak cepat . 124

Yang Cien cepat memberi hormat kepada mereka . “ Ji-wi telah menolong saya . Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih “ .

“ Orang muda , siapakah engkau ? Siapa namamu ?”

“ Nama saya Yang Cien , Sian-kouw “

“ Perkenalkan , pin-ni ( aku yang bodoh ) di sebut Im-yang Tokouw dan aku adalah wakil ketua dari Thian-li-pang , dan ini adalah murid pin-ni bernama Kwe Sun Nio .

Yang Cien , kami melihat engkau tadi menguburkan jenazah Kam Lo-kai , engkau mempunyai hubungan apakah dengan Kam Lo-kai ?” .

“ Tidak ada hubungan apapun , Sian-kouw . Kami hanya bertemu ketika kami berdua berperahu di Tai-hu , kemudian dia tewas di keroyok orang jahat dank arena dia tidak mempunyai siapa-siapa aku lalu menguburkan jenazahnya . Tentu sangat sederhana , di tepi telaga “ .

“ Bagus , engkau seorang yang berperikemanusiaan , Yang Cien . Dan sebelum Kam Lo-kai meninggal dunia , dia memesan apa kepadamu ?” .

Yang Cien mengerutkan alisnya . “ Sian-kouw , maafkan aku . Pesanan seorang mati merupakan wasiat , apalagi dia berpesan agar aku tidak memberitahukan siapapun , oleh karena itu terpaksa aku juga tidak dapat memberitahukan kepadamu “ .

“ Begini , Yang Cien , engkau harus dapat membedakan mana orang baik dan mana orang jahat . Kami yakin engkau menerima pesan penting dari mendiang Kam Lo-kai dan kalau kau pertahankan pesan itu untukmu sendiri , bagaimana kalau nanti bermunculan orang jahat seperti tadi ? Tidak aman kalau berada padamu . Oleh karena itu , berikan saja kepada pin-ni yang tentu pesan itu akan di sampaikan dengan selamat kepada yang berhak menerimanya . 125

“ Sekali lagi maaf , Sian-kow . Aku tidak dapat memberitahukan apa-apa atau memberikan kepadamu . Apa yang terjadi antara Kam Lo-kai dan aku merupakan rahasia yang tidak akan ku katakana kepada siapa pun juga “ .

“ Yang Cien , engkau sungguh keras kepala , Bagaimana kalau aku memaksamu ?”

“ Terserah kepadamu , Sian-kouw . Tetap tidak akan ku berikan “ .

“ Engkau berani menentangku ?” .

“ Apa boleh buat , engkau yang memaksaku “ .

“ Bocah sombong , rasakan ini !” Tokouw itu lalu menggerakkan kebutannya . Bulu kebutan menjadi tegang dan meluncur dengan totokan kea rah pundak Yang Cien .

Yang Cien merasa penasaran juga . Ternyata tokouw ini juga menghendaki surat dari Kam Lo-kai itu . Akan tetapi , bagaimana pun , tokouw dan nona ini tadi sudah membantunya , bagaimana kini akan menjadi lawannya . Totokan kebutan itu di elakkannya dengan mudah , akan tetapi agaknya tokouw itu ingin mengujinya atau memang marah . Kebutannya sudah bergerak lagi , berputaran dan mendatangkan gulungan sinar putih melakukan totokan berulang-ulang . Yang Cien terpaksa mengerahkan tenaga dan sekali tangannya menangkis dengan sentilan jari tangannya , kebutan itu membalik dan beberapa helai bulunya rontok ! .

“ Ihhh ….. ! “ Sian-kouw itu terkejut bukan main , hampir tidak percaya bahwa sentilan jari tangan itu dapat membuat kebutannya membalik dan merontokkan bulu kebutannya . Akan tetapi ketika di lihatnya , pemuda itu telah melompat jauh dan gerakannya sedemikian cepatnya sehingga dengan beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah lenyap .

Im Yang Sian-kouw menarik napas panjang dan berkata kepada muridnya , “ Hebat ……. ! Tak ku sangka pemuda itu 126

demikian hebatnya . Kalau begitu , kita tidak perlu khawatir surat itu akan dapat terampas orang , hanya siapa tahu pemuda itu tidak akan menyampaikannya kepada Gubernur Gak ?”

Yang Cien memang mempergunakan ilmunya berlari secepat terbang meninggalkan Im Yang Sian-kouw dan Kwe Sun Nio karena dia tidak ingin berkelahi melawan kdeua orang itu .

Ketika tiba di Nam-kiang dengan mudah saja dia dapat menemukan rumah Gubernur Gak , akan tetapi seperti biasanya , tidak mungkin setiap orang dapat menemui orang yang tertinggi kedudukannya di daerah itu . Yang Cien di tahan oleh para penjaga di depan pintu gerbang gedung tempat tinggal Gubernur Gak .

“ Tidak mungkin menghadap Gubernur Gak . Lebih dulu daftarkan nama dan keperluannya , baru kami laporkan ke dalam dan kalau Gubernur berkenan menerimamu , baru engkau boleh pergi menghadap “ , kata kepala jaga . Yang Cien menghela napas panjang . Betapa sulitnya bertemu orang besar , pikirnya . Dia lalu mendaftarkan namanya dan untuk keperluannya dia menerangkan bahwa dia mohon menghadap Gubernur Gak untuk menyampaikan pesan dari Kam Lo-kai .

Ternyata nama Kam Lo-kai itu amat berpengaruh . Kepala jaga yang melihat nama ini di sebut , segera membawa daftar itu ke dalam untuk melapor kepada Gubernur Gak dan tak lama kemudian dia keluar lagi dan sikapnya berubah ketika dia mempersilahkan Yang Cien masuk dan menunggu di kamar tamu .

Terdengar langkah kaki dari dalam , akan tetapi bukan hanya satu orang . Muncullah seorang laki-laki setengah tua d\yang dari pakaiannya saja Yang Cien dapat menduga bahwa orang inilah gubernurnya . Akan tetapi yang membuat dia kaget dan bengong adalah dua orang yang ikut datang 127

bersama gubernur itu . Im Yang Sian-kouw dan Kwee Sun Nio ! Dengan sendirinya semua urat syaraf di tubuh Yang Cien menegang dan alisnya berkerut , matanya dengan tajam menatap kedua orang wanita itu .

“ Engkaukah yang bernama Yang Cien dan membawa pesan dari Kam Lo-kai untuk kami ?” Tanya Gubernur itu .

Yang Cien baru menyadari sikapnya dan dia cepat memberi hormat kepada gubernur itu . “ Benar , taijin . Saya bernama Yang Cien dan hendak menyampaikan pesan dari mendiang Kam Lo-kai , akan tetapi ……… “ dia memandang kepada dua orang wanita itu .

“ Jangan heran , Yang Cien . Ketahuilah bahwa Im Yang Sian-kouw hanya hendak mengujimu , hendak mengetahui apakah engkau setia kepada mendiang Kam Lokai dan apakah engkau memiliki kemampuan untuk mempertahankan surat pesanan itu . Iam Yang Sian Kouw adalah utusan kami untuk menjemput Kam Lokai akan tetapi dia dan muridnya terlambat “ .

Barulah Yang Cien mengerti dan dia pun menceritakan pertemuannya dengan Kam Lokai sampai terlukanya Kam Lokai dan tewasnya pengemis tua itu , juga tentang pesan yang diberikan kepadanya . Lalu dia mengeluarkan surat itu dan menyerahkannya kepada Gubernur Gak .

Gubernur membuka surat itu dan membacanya . Dia mengerutkan alisnya dan nampak gelisah , kemudian dia memandang kepada Yang Cien .

“ Yang Cien , kami berterima kasih sekali atas bantuanmu ini . Engkau telah berjasa dan kami akan memberi hadiah besar kepadamu “ .

“ Ah , bukan hadiah yang saya harapkan , taijin . Saya melakukan ini untuk mendiang Kam Lokai , bukan untuk taijin . OLeh karena itu saya tidak mengharapkan hadiah sama sekali . 128

Nah , sesudah saya menyampaikan surat ini kepada yang berhak menerimanya , perkenankan saya berpamit , taijin “ .

“ Engkau benar tidak ingin menerima hadiah , Yang Cien ?” .

“ Terima kasih , taijin . Saya tidak menghendaki apapun . Selamat tinggal “ .

Yang Cien lalu mengundurkan diri , keluar dari ruangan tamu itu .

Setelah Yang Cien pergi , Gubernur Gak memuji . “ Seorang pemuda yang baik . Akan tetapi kita tidak boleh membiarkan dia mengetahui urusan kita , karena siapa tahu dia berdiri di pihak mana . Dia tentu seorang yang berwatak pendekar , akan tetapi mungkin saja dia tidak setuju dengan pendirian kita “ .

“ Benar , taijin . Kalau belum yakin betul tentang watak dan sikapnya , tentu saja tidak semestinya kita memberitahu kepadanya . Taijin maaf , apakah pesan yang di bawa Kam Lokai itu ?” .

“ Penting sekali . Ternyata kini Koksu telah menghimpun tenaga , bahkan Kaisar Julan Khan telah menerima seorang yang lihai dan mengangkatnya menjadi pembantu Koksu “ .

“ Siapakah dia , taijin ?”

“ Dia seorang datuk dari timur , julukannya Thian-te Ciu-kwi “ .

“ Ah , dia ? Kalau begitu , kedudukan Koksu kini menjadi semakin kuat . Kalau dia mengumpulkan datuk-datuk persilatan untuk memperkuat kedudukannya , maka pengaruhnya akan menjadi semakin besar “ .

“ Koksu dan Perdana Menteri Ji memang merupakan penghalang besar dari gerakan kita , taijin . Sebelum menghancurkan kedua orang itu dan para pembantunya , 129

kiranya akan sukar untuk mengusir penjajah Toba dari tanah air “ .

“ Dan lebih celaka lagi , Kaisar telah memanggil pulang Coa-ciangkun dan menarik mundur pasukan . Aku heran , mengapa kaisar tiba-tiba saja melakukan sesuatu hal ini ? Apakah dia sudah mendengar sesuatu yang membuat dia sudah mendengar sesuatu yang membuat dia curiga kepada Coa-ciangkun ?” .

“ Pin-ni khawatir bahwa ini adalah ulah Perdana Menteri Ji dan Koksu Lui . Sejak dahulu mereka berdua ini tidak akur dengan Coa-ciangkun . Bahkan Coa-ciangkun sampai di kirim ke selatan adalah karena kaisar makan bujukan mereka berdua agar Coa-ciangkun jauh dari kota raja dimana Coa-ciangkun suka menentang peraturan yang menindas rakyat . Akan tetapi kenapa sekarang tiba-tiba Panglima Coa di panggil pulang ?” .

“ memang mencurigakan sekali . Sekarang harap tokouw suka pergi ke perbatasan menemui Panglima Coa , juga melaporkan tentang masuknya datuk sesat Thian-te Ciu-kwi menjadi pembantu Koksu . Kalau mungkin , harap bujuk agar Panglima Coa tidak kembali ke kota raja karena aku khawatir sekali bahwa panggilan ini merupakan jebakan bagi Panglima Coa “ .

“ Baik , taijin . Mari Sun Nio , kita berangkat sekarang juga “ .

Guru dan murid itu lalu meninggalkan gedung Gubernur Gak untuk melaksanakan tugas mereka mendatangi Panglima Coa di garis depan , perbatasan dengan Kerajaan Sun .

*****

Yang Cien berjalan-jalan seorang diri di kota Nam-kiang . Ketika melihat sebuah rumah makan , dia pun merasa lapar dan memasuki rumah makan itu . Begitu dia memasuki rumah makan , bukan pelayan yang menghampirinya , melainkan 130

seorang berpakaian satrawan yang usianya sekitar tiga puluh tahun .

“ Selamat siang , sobat . Apakah engkau ingin makan minum ?” .

“ Benar “ , jawab Yang Cien dengan heran , karena tidak mungkin kalau orang ini pelayannya . Pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar .

“ Aku melihat engkau datang seorang diri , dan kebetulan sekali akupun seorang diri sedang makan minum di sini .

Sejak tadi aku mencari-cari seorang kawan untuk makan minum karena aku merasa kesepian sekali . Kebetulan engkau muncul , maka kalau engkau tidak berkeberatan , aku mengundangmu untuk makan minum bersamaku sambil mengobrol . Maukah engkau , sobat ?” .

-oo0dw0ooo-

Jilid 5

Ajakan itu sungguh ramah dan orang itupun kelihatan sopan terpelajar . Yang Cien menjadi tertarik sekali dan diapun mengangguk sambil tersenyum .

“ Terima kasih , sobat . Tentu saja aku merasa senang sekali “ .

Orang itu lalu membawa Yang Cien ke sebuah meja yang penuh makanan dan belum di jamah . “ Nah , silahkan makan minum bersamaku , saudara …….. “ .

“ Yang Cien , namaku Yang Cien “ .

“ Bagus , saudara Yang Cien . Namaku Thio Swi “ , orang itu memperkenalkan dirinya . Dia lalu menuangkan arak ke dalam cawan di depan Yang Cien , juga di depannya sendiri . 131

Pada saat itu , masuklah seorang berpakaian pengemis yang membawa tongkat dan mangkok retak , meminta-minta sedekah dari para tamu . Dan dia mendekati Yang Cien menadahkan tangannya kepada pemuda itu . Gerakan tangan itu menarik perhatian Yang Cien karena seperti gerakan silat dan ketika dia memandang dia melihat dua buah . Dan huruf-huruf itu mengejutkan hatinya karena tertulis ARAK BERACUN .

Akan tetapi Yang Cien telah melatih diri sehingga dia mampu menguasai dirinya . Pengemis setengah tua itu sudah pergi lagi tanpa satrawan itu mengetahui bahwa diam-diam pengemis ini memberi peringatan kepada Yang Cien .

“ Saudara Yang Cien , mari kita minum untuk pertemuan dan persahabatan “ .

“ Maafkan , saudara Thio Swi . Aku sedang berpantang minum arak . Aku baru saja bersumpah kepada ibuku untuk tidak minum arak setetespun . Aku tidak berani , biar aku minum the saja “ .

“ Eh , kenapa begitu ? Kenapa engkau bersumpah kepada ibumu tidak akan minum arak setetespun ?” .

Yang Cien tersipu , “ Aku pulang dalam keadaan mabok keras . Ibuku marah dan menyuruh aku bersumpah bahwa selama tiga bulan aku tidak akan menyentuh arak dan tidak minum setetespun . Baru berjalan satu bulan , masih dua bulan lagi aku berpantang minum arak “ .

Sastrawan itu kelihatan mengerutkan alisnya dan sekarang berubahlah sikapnya yang tadinya sopan . “ Aih , saudara Yang Cien . Kalau engkau minum secawan ibumu juga tidak akan tahu . Asal engkau tidak minum sampai mabok . Ini hanya untuk merayakan pertemuan kita ….. “ kata Thio Swi sambil mengangkat cawannya , mengajak Yang Cien minum .

“ Maaf , saudara Thio Wi . Aku tidak berani “ . 132

“ Yang Cien , kalau engkau tidak mau minum , berarti engkau tidak menghormatiku , tidak menerima maksud baikku , bahkan menghinaku !” .

Yang Cien bangkit berdiri . “ Kalau begitu , biarlah aku duduk di meja lain dan tidak akan mengganggumu , saudara Thio Wi “ .

Thio Swi mendadak bangkit berdiri dan menggebrak meja . “ Engkau bahkan berani menolak undanganku yang bermaksud baik ? Sungguh engkau menghinaku , engkau menantangku !” .

Dan Thio Swi melemparkan arak dalam cawannya kea rah muka Yang Cien . Namun Yang Cien telah waspada dan dengan mudah dia miringkan kepalanya mengelak .

Akan tetapi Thio Swi semakin marah . Dia melompati meja dan menyerang dengan pukulan tangan kanan . Gerakannya gesit dan ringan , pukulannya juga mengandung tenaga yang kuat . Yang Cien menggerakkan tangan menangkis .

“ Dukkk !” Kedua lengan bertemu dan akibatnya Thio Swi menyerengai karena merasa lengannya nyeri seolah tulangnya akan patah . Dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang dengan dahsyat .

Kiranya dia menyembunyikan pedang di balik jubah sastrawan yang longgar itu . Kembali Yang Cien mengelak dan dia di serang secara bertubi-tubi oleh sebuah bangku dan melontarkan bangku itu ke depan . Thio Swi membacok bangku itu sehingga terpotong menjadi dua , akan tetapi pada saat itu kaki Yang Cien telah mencuat dan mengenai pahanya .

“ Desssss ! Tubuh Thio Swi terlempar ke belakang dan menimpa meja . Thio Swi terbelalak , agaknya sama sekali tidak dapat mengerti bagaimana dia yang berpedang dapat di robohkan demikian mudah nya oleh lawan . Sementara itu , perkelahian telah menarik perhatian banyak orang dan para 133

pelayan dan pemilik rumah makan berteriak-teriak membujuk agar mereka jangan berkelahi di tempat itu . Thio Swi yang maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat berbahaya , setelah dapat bangkit berdiri lalu mengambil langkah panjang meninggalkan rumah makan itu .

Yang Cien dengan tenang memanggil pemilik rumah makan dan berkata , “ Harap paman hitung semua kerugian yang di akibatkan keributan ini . Aku akan mengganti semua kerugian ini . Aku akan mengganti semua kerugian itu !” Dan dia pun mengambil secawan arak yang di suguhkan kepadanya , lalu mencelupkan telunjuknya lalu menjilat telunjuk itu .

Dia dapat merasakan sesuatu yang keras pada lidahnya dan tahulah dia bahwa pengemis tadi tidak berbohong . Arak itu beracun ! Dia menuangkan arak ke atas lantai dan setelah kerugiannya di hitung , Yang Cien mengeluarkan sepotong emas dan membayar kerugian yang di derita rumah makan itu . Kemudian dia keluar dari rumah makan tanpa memesan makanan apa-apa karena dia tidak ingin menjadi perhatian orang .

Ketika tiba di sebuah tikungan , dia melihat pengemis yang tadi memberi peringatan kepadanya berdiri di tepi jalan sambil menadahkan tangannya yang memegang mangkok retak . Di dalam mangkok itu telah terdapat beberapa uang receh . Yang Cien menghampirinya dan dia berkata , “ Sobat , banyak terima kasih atas peringatanmu tadi “ .

Pengemis itu berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun , dia memandang ke kanan kiri setelah mendapat kenyataan tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka , dia lalu berbisik , “ Taihap kami semua ingin berkenalan dan menghaturkan terima kasih kepada taihap atas apa yang taihiap lakukan terhadap mendiang Kam Lokai . Karena itu , apabila taihiap tidak merasa rendah mari ikuti aku ke tempat kami , taihiap “ .

Yang Cien terkejut . Dia heran sekali melihat apa yang telah 134

di alami selama ini di daerah selatan ini . Agaknya di tempat ini tersebar banyak mata-mata yang tahu belaka akan gerak-geriknya . Huang-ho Sam-houw , kemudian mereka yang menghadangnya di hutan , dan tokouw bersama muridnya itu , selanjutnya pemuda sastrawan bernama Thio Swi dan yang terakhir pengemis ini . Mereka itu semua telah mengetahui apa yang telah dia lakukan tanpa dia tahu sama sekali mengenai mereka . Agaknya dia akan mendapat keterangan yang jelas dari pengemis ini . Mengingat bahwa semua peristiwa itu berawal dari pertemuannya dengan seorang kakek pengemis , maka sebaiknya di akhiri dengan pertemuannya dengan pertemuannya dengan para pengemis , agas emua persoalannya menjadi jelas

“ Baiklah “ , katanya dan diapun mengikuti pengemis itu yang keluar dari kota Nam-kiang . Pengemis itu tanpa menoleh terus berjalan di ikuti dari jarak jauh oleh Yang Cien agar tidak menarik perhatian orang lain . Ketika tiba di kaki sebuah bukit , pengemis itu berbelok ke kiri dan mendaki sebuah bukit itu . Bukit yang penuh dengan hutan bamboo dan akhirnya mereka tiba di sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi di lereng bukit itu . Dan di situ nampak banyak sekali pengemis , semua tinggal di gubuk-gubuk yang di dirikan di sekitar lereng bukit itu .

Yang Cien di terima di ruangan kuil yang luas dan sudah kosong . Mereka semua duduk di atas lantai bertilamkan jerami kering . Seorang pengemis berusia lima puluh tahun , berjenggot panjang dan memegang sebatang tongkat hitam , diperkenalkan sebagai ketua mereka . Pengemis itu nampak berwibawa sekali walaupun pakaiannya dari kain hitam yang penuh tambalan .

“ Selamat datang di tempat kami , Yang Taihiap . “ Kembali orang ini sudah mengenal namanya , pikir Yang Cien , tidak heran lagi .

“ Engkau siapakah , paman ?” tanyanya karena tadi 135

diperkenalkan tanpa menyebut nama .

“ Aku bernama Song Pa , ketua dari perkumpulan pengemis di sini . Perkumpulan kami memakai nama Hek I Kai-pang ( Perkumpulan Pengemis Pakaian Hitam ) dan aku adalah ketua cabang Nam-kiang . Pusat kami berada di Nan-king . Dan Kam Lo-kai yang tewas itu adalah seorang tokoh dari pusat “ .

“ Ahhhh ………! “ Kini mengertilah Yang Cien mengapa dia menjadi pusat perhatian . Kiranya kakek pengemis yang di tolongnya itu merupakan tokoh besar di antara mereka .

“ Duduklah , taihiap “ , kata Song Pa , dan Yang Cien ikut bersama mereka duduk di lantai , bersila . “ Kami semua menghaturkan terima kasih atas semua kebaikan yang taihiap lakukan kepada Kam Lokai !” Dan tiba-tiba ketua cabang itu berlutut di turut oleh semua anak buah nya .

Tentu saja Yang Cien menjadi gugup sekali . “ Ah , jangan begitu , pangcu . Yang ku lakukan itu adalah secara kebetulan saja karena aku merasa kagum kepada Kam Lokai yang pandai bersajak . Harap jangan bersikap begini , atau aku akan meninggalkan tempat ini !” .

Semua orang bangkit dari berlutut dan duduk kembali . “ Semenjak taihiap menguburkan jenazah Kam Lokai , anak buah kami selalu membayangi taihiap sehingga sempat menolong taihiap ketika taihiap terancam oleh Thio Swi itu “ .

“ Akan tetapi , aku menjadi bingung dengan semua rentetan peristiwa yang ku alami , pangcu . Maukah engkau memberi penjelasan kepadaku ? Siapakah Kam Lokai dan apa pekerjaannya yang berhubungan dengan surat yang di sampaikan kepada Gubernur Gak itu . Dan siapa pula orang-orang yang membunuhnya , dan orang-orang yang menghadangku untuk merampas surat ? Kemudian , siapa pula Thio Swi dan apa hubungan kalian dengan Gubernur Gak ? Apa artinya surat itu dan apakah yang sesungguhnya sedang terjadi ?” . 136

Ketua pengemis itu mengelus jenggot panjangnya dan berkata . “ Agaknya taihiap adalah seorang pendekar yang baru saja memasuki dunia kang-ouw dan yang secara kebetulan dan tidak di sengaja terlibat dalam urusan ini . Ketahuilah bahwa Kam Lokai seperti kami katakan tadi adalah seorang tokoh Hek I Kaipang , dan perkumpulan kami adalah perkumpulan yang mendukung usaha para pendekar patriot yang hendak membebaskan tanah air dari penjajahan bangsa Toba . Karena itu , Kam Lokai tidak menolak ketika di mintai bantuan oleh Coa-ciangkun , seorang yang menjadi Panglima bangsa Toba , untuk menyelidiki keadaan di kota raja , terutama keadaan Koksu dan Perdana Menteri . Ketahuilah , taihiap , bahwa sebetulnya kaisar Julan Khan adalah seorang kaisar yang tidak becus dan berenang dalam kemewahan . Bahwa sebetulnya yang berkuasa penuh adalah Perdana Menteri Ji Sun Cai dan Koksu Lui Tat .

Terutama Koksu Lui Tat adalah seorang yang besar kekuasaan nya dan dia pun seorang yang amat pandai dan lihai , dengan julukan Toat-beng Giam-ong” .

Diam-diam Yang Cien terkejut bukan main mendengar nama julukan ini karena yang membunuh orang tuanya adalah Toat-beng Giam-Ong dan yang mengejar-ngejar dia dan kakeknya dahulu juga adalah orang ini , atau tentu saja anak buahnya .

“ Hemmm , nama Toat-beng Giam-ong itu pernah ku dengar , pangcu . Lalu bagaimana ?” .

“ Nah , Kam Lokai mendapat tugas itu lalu melakukan penyelidikan . Tentu saja dengan bantuan anak buah Hek I Kaipang yang banyak pula berada di kota raja karena perkumpulan kita memiliki cabang hamper di seluruh negeri . Dia mendengar bahwa Koksu telah memperoleh bantuan seorang yang juga amat lihai bernama Thian-te Ciu-kwi bersama seorang muridnya . Dengan demikian , maka tentu saja kekuatan Koksu itu semakin besar dan inilah yang di 137

sampaikan dalam surat itu oleh Kam Lokai . Kebetulan dia bertemu taihiap ketika di serang oleh anak buah Koksu dan dapat menitipkan surat itu kepadamu “ .

“ Hem jadi pembunuh Kam Lokai adalah anak buah Toat-beng Giam-ong ?”

“ Benar , taihiap . Juga mereka yang menghadang taihiap untuk minta surat itu adalah anak buahnya . Dia memiliki mata-mata dan anak buah di mana-mana dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi . Juga Thio Swi itu adalah seorang di antara kaki tangannya , seorang anak buah kami melihat taihiap di undang makan minum , dia segera memberi peringatan kepada taihiap tentang arak beracun “ .

Yang Cien mengangguk-angguk maklum . “ Dan siapa pula Im Yang Tokouw dan muridnya itu ?” .

“ Mereka ? Mereka adalah tokoh-tokoh Thian-li-pang , sebuah perkumpulan yang berjiwa patriot yang sedang mempersiapkan kekuatan untuk menumbangkan kekuasaan Toba “ .

Yang Cien tertarik sekali . Memang mendiang kakeknya juga berulang kali berpesan agar dia berusaha untuk mempersatukan semua kekuatan untuk mengusir Bangsa Toba dari tanah air .

“ Kapan akan di adakan gerakan perjuangan itu ?” tanyanya .

Song Pancu menghela napas dan mengepal tinju . “ Tidak mudah , sama sekali tidak mudah , taihiap . Memang bangsa kita banyak yang masih bodoh . mudah tergiur oleh harta dan kemuliaan , banyak pula yang berambisi ingin mencari kesenangan sendiri . banyak sekali panglima dan pasukan yang bahkan membantu bangsa Toba , seperti halnya Perdana Menteri Ji dan Kok su Lui itu . Hanya sedikit saja yang seperti Coa-ciangkun . Maka kekuatan masih jauh tak berimbang . Selain banyak bangsa kita rela di perbudak oleh bangsa Toba 138

dengan mendapatkan kedudukan dan harta benda , juga masih terdapat banyak sekali orang keras kepala yang tidak mau bersatu , bahkan merajalela berdiri sendiri . Bukan saja gubernur-gubernur dan raja-raja muda berdiri sendiri , tidak mau bersatu untuk mengusir bangsa asing , bahkan juga perkumpulan-perkumpulan dijadikan rebutan karena ingin memperoleh kekuasaan . Ahhh , kalau di pikirkan sungguh menyedihkan sekali “ .

Yang Cien teringat akan sajak yang di nyanyikan Kam Lokai . Semua burung dara pergi ketakutan tidak berani melawan burung gagak , dan menanti munculnya sang garuda untuk mengusir burung gagak ! .

“ Kenapa mereka saling berebutan kekuasaan ?” .

“ Inipun merupakan siasat yang dilakukan Koksu yang licik itu . Dia sengaja melempar fitnah ke sana sini , mengadu domba antar golongan dan antar perorangan di antara tokoh kangouw . Bahkan diapun menggunakan kaki tangannya untuk menyusup ke dalam tubuh Hek I Kaipang kami . Baru saja ketahuan seorang diantara tokoh yang di calonkan untuk menggantikan aku menjadi ketua cabang di sini karena aku hendak di tarik ke pusat , ternyata adalah seorang mata-mata pemerintah , anak buah Koksu . Dia sempat melarikan diri , oleh karena itu hari ini kami hendak mengadakan pemilihan ketua baru untuk cabang Nam-kiang . Kebetulan sekali taihiap dapat hadir dan menjadi saksi “ .

Pertemuan untuk mengadakan pemilihan pangcu cabang itu di lakukan di halaman belakang yang lebih luas , dimana di dirikan sebuah panggung darurat . Semua anggota cabang Nam-kiang yang jumlahnya seratus lebih orang itu sudah terkumpul di situ . Di panggung kehormatan duduk Song Pangcu dan para pembantunya , yaitu calon-calon yang akan di angkat menjadi penggantinya . Juga Yang Cien mendapat kehormatan di atas panggung . Pemilihan itu di lakukan atas dasar suara para anggota , jadi bukan ketua yang menentukan 139

. Ketua hanya menunjuk calon-calonnya , di ukur dari ilmu kepandaian silat dan juga ilmu pengetahuan dan kecerdikannya . Yang di pilih menjadi calon di antara para pembantu Song Pancu itu ada tiga orang , yaitu Kiang Si Gun , Phang Kim dan Ciok Kui .

Setelah Song pangcu melihat semua orang berkumpul , dia lalu bangkit berdiri dan mengangkat tangan ke atas minta agar semua anggota tidak rebut .

“ Saudara – saudara sekalian , hari ini kita tentukan pemilihan pangcu yang baru . Seperti kalian sudah mengetahui , oleh ketua pusat aku akan di tarik ke sana untuk tugas-tugas yang lebih penting . Oleh karena itu haruslah diadakan pemilihan pangcu baru untuk menggantikan aku . Dan menurut wawasanku , di pandang dari sudut ilmu kepandaian , pengalaman dan kebijaksanaan , aku menunjuk tiga orang calon yang sudah kalian ketahui baik sifat baik buruknya . Mereka itu adalah Kiang Si Gun , Phang Kim dan Ciok Kui . Sekarang terserah kepada kalian untuk menentukan pilihan , siapa di antara tiga calon itu yang di angkat menjadi pangcu baru . Sekarang kami minta agar kalian memberikan suaranya . kami mulai dengan Kiang Si Gun lebih dulu . Siapa yang memilih dia menjadi ketua ?” .

Banyak tangan di acungkan dan Song-Pangcu sendiri menghitung suara itu . Dari banyak tangan yang di acungkan itu , setelah di hitung jumlah nya ada empat puluh dua .

“ Sekarang , siapa yang memilih Phang Kim menjadi ketua ?” Kembali banyak tangan mengacung dan ketika di hitung jumlahnya ada empat puluh .

“ Dan siapa memilih Ciok Kui menjadi ketua ?” Kembali tangan yang mengacung di hitung dan jumlahnya ada tiga puluh tujuh .

“ Kiang Si Gun mendapatkan empat puluh dua suara , Phang Kim mendapatkan empat puluh dan Ciok Kui 140

mendapatkan tiga puluh tujuh . Berarti bahwa pemilihan terbanyak jatuh kepada Kiang Si Gun . Kalian sendiri yang menentukan , maka hari ini Kiang Si Gun …… “ .

“ Maaf , pangcu !” terdengar teriakan dan yang berdiri di antara semua orang yang duduk di atas tanah itu adalah seorang pengemis muda yang usianya sekitar

Dua puluh tiga tahun . “ Saya ingin mengajukan protes !” .

Song-pangcu memandang penuh perhatian . “ Siapa engkau ? Anggota baru ?”

“ Saya bernama Lai Seng , pangcu . Memang saya anggota baru , baru sekitar enam bulan menjadi anggota Hek I Kai-pang . Akan tetapi , saya sudah mempelajari peraturan di Hek I Kai-pang bahwa seorang ketua baru haruslah memiliki kelihaian yang melebihi semua anggota kalau tidak , bagaimana kalau ada anggota yang bertindak salah ? Apakah pangcu itu akan mampu menghukumnya ? Juga , menurut peraturan , semua orang dapat saja di angkat menjadi ketua asalkan dia anggota Hek I Kaipang . Sekarang pangcu mengangkat tiga calon tanpa memberi kesempatan kepada para anggota , apakah ini adil ? Bagaimana kalau ada anggota yang ternyata lebih lihai dan pandai dari pada calon itu ?” .

Semua orang terkejut dan heran mendengar ini , akan tetapi juga banyak mengangguk gembira karena ucapan itu memang tepat sekali . Orang merasa heran karena Lai Seng itu biasanya pendiam , dan baru beberapa bulan menjadi anggota dan jarang sekali bicara dengan rekan-rekannya . Kini , tahu-tahu pemuda itu berani memrotes kepada ketua ! Benar-benar merupakan kejutan yang menegangkan .

“ Ucapanmu memang benar , Lai Seng . Akan tetapi ketahuilah bahwa ketika kami mengangkat mereka bertiga menjadi calon , kami telah mengetahui dengan baik kepandaian mereka masing-masing , dan kami rasa kepandaian mereka lebih tinggi tingkatnya dari semua anggota 141

kaipang “ .

“ Bagaimana hal itu dapat di pastikan tanpa di uji lebih dahulu , pangcu ?”

“ Di uji bagaimana maksudmu ?” Tanya Song-pangcu penasaran bahwa ada seorang muda begini cerewet .

“ Di uji oleh para anggota , yaitu apa bila ada anggota yang merasa mampu , maka dia boleh menguji calon ketuanya . Kalau calon ketua itu kalah oleh seorang anggota , maka anggota itulah yang lebih pantas di calonkan menjadi Ketua , bukan ?”

“ Hemmm , memang sepantasnya begitu . Akan tetapi siapa di antara anggota yang hendak menguji Kiang Si Gun ? Silahkan kalau ada yang berani “ .

“ Saya akan mengujinya , pangcu . Biar hati ini tidak menjadi penasaran , dapat mengetahui sampai dimana kelihaian ketuanya yang baru “ .

“ Baik , aku perkenankan engkau maju untuk menguji kepandaian Kian Si Gun !” .

“ Kiang Si Gun , engkau di tantang oleh Lai Seng , seorang anggota baru , berilah dia bukti bahwa engkau mampu menjadi ketua !” .

Kiang Si Gun juga sudah menjadi merah mukanya . Kalau yang mengajukan protes itu seorang anggota Hek I Kaipang yang lama dan sudah berpengalaman , dia masih akan dapat mengerti . Akan tetapi , bocah ini , anggota baru , berani mengujinya ? Dia harus memberi hajaran kepada pemuda itu ! .

“ Lai Seng , aku di calonkan oleh Song-pangcu dan di pilih oleh para anggota , dan engkau masih tidak percaya kepadaku ? Kalau engkau hendak mengujiku , majulah dan coba keluarkan kepandaianmu !” . 142

Kini Kiang Si Gun sudah berdiri di tengah panggung , tongkat hitamnya di tangan . Orang ini berusia empat puluhan tahun , tubuhnya kurus namun tubuhnya nampak kuat dengan otot-otot yang menonjol . Dia merupakan sute dari Song Pang-cu , maka semua orang tidak meragukan lagi kepandaiannya . Semua orang menduga bahwa Kiang Si Gun , seperti juga Song Pang-cu , tentu mahir sekali dengan ilmu Hek tung hoat ( Ilmu Tongkat Hitam ) yang amat lihai .

Lai Seng dengan sikap tenang lalu naik ke atas panggung , dan dia memberi hormat kepada Kiang Si Gun . “ Kiang-twako harap tidak tersinggung . Saya melakukan ini justru untuk membuktikan bahwa twako memang pantas menjadi ketua . Coab bayangkan kalau melawan aku saja twako tidak mampu menang , apakah mungkin twako di jadikan ketua cabang yang memimpin seratus orang anggota lebih ?” .

“ Lai Seng tidak perlu banyak cakap lagi . Kami semua sudah mendengar omonganmu dan mengerti akan maksudmu . Nah , keluarkan tongkatmu dan mari kita mengadu kepandaian !” .

“ Kiang-twako , engkau sudah memegang tongkat , akan tetapi biarlah aku bertangan kosong saja , hendak ku lihat sampai dimana tingkatmu dalam ilmu Hek-tung-hoat !” kata pemuda itu dan diapun sudah berdiri di depan Kiang Si Gun dengan sikap yang sigap , namun tenang sekali .

Kiang Si Gun menjadi merah mukanya . Dia di tantang oleh seorang anggota biasa yang hendak melawan tongkatnya dengan tangan kosong saja ! .

“ Bagus , semua orang mendengar dan menjadi saksi akan kesombonganmu . Nah sambutlah tongkatku ini ! “ Kiang Si Gun sudah menggerakkan tongkatnya menghantam ke arah kepala pemuda itu . Namun dengan lincahnya pemuda yang bernama Lai Seng itu telah dapat mengelak dengan mudahnya . Melihat serangannya luput , Kiang Si Gun menyusulkan serampangan tongkatnya kea rah kedua kaki lawan , akan 143

tetapi kembali Lai Seng dapat menghindar dengan lompatan tinggi ke atas . Tubuhnya naik dan menukik sambil kedua tangannya menyerang kepala Kiang Si Gun yang menjadi terkejut bukan main melihat gerakan yang seperti seekor burung saja cepatnya itu . Terpaksa dia melempar tongkatnya untuk melindungi kepala sehingga serangan Lai Seng juga gagal .

Karena merasa penasaran Kiang Si Gun lalu mainkan Hek-tung-hoat dengan gencar , melakukan gerakan Hek-tung-ta-kouw ( Tongkat Hitam Pemukul Anjing ) , gerakannya cepat dan tongkat itu mengeluarkan suara berdesir ketika menyambar-nyambar secara bertubi-tubi . Akan tetapi dia menjadi semakin terkejut ketika pemuda itu menangkis tongkat dengan kedua lengannya . Terdengar suara dak-duk yang keras seolah kedua lengan pemuda itu berubah menjadi baja dan Kiang Si Gun merasa betapa kedua tangannya tergetar ketika tongkatnya bertemu lengan pemuda itu . Dia terkejut lalu memutar kembali tongkatnya , melanjutkan serangannya dengan jurus Hek-liong-hoan-bwe ( Naga Hitam mengubah ekor ) , tongkatnya menyambar dengan pukulan kea rah pinggang lawan .

Kembali Lai Seng melompat tinggi dan kembali dia menukik untuk menyerang kepala sehingga Kiang Si Gun terdesak dan harus berlompatan mundur .

Lai Seng menyerang terus dengan pukulan dan tendangannya yang dahsyat . Biar pun Kiang Si Gun berusaha untuk menangkis namun tetap saja dia terkena tendangan sehingga tubuhnya terpental dari atas panggung ! Baru belasan jurus saja calon ketua ini telah di kalahkan oleh seorang anggota muda.

“ Ah , Cuma sebegitu saja kemampuan seorang calon ketua ?” Lai Seng mengejek .

Yang Cien merasa tidak senang . Pemuda ini sombong sekali . Memang dia melihat tadi bahwa ilmu silat pemuda itu 144

lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Kiang Si Gun , suatu hal yang amat mengherankan . Kiang Si Gun adalah sute dari ketua Song Pa , dan pemuda itu hanyalah anggota atau anak buah yang kepandaiannya tentu hanya setingkat dengan murid sang ketua .

“ Lai Seng !” Kini Song Pangcu melompat ke atas panggung . “ Darimana engkau mempelajari ilmu silat yang kau pakai mengalahkan Kiang Si Gun tadi ?”

“ Song-pangcu , sebelum menjadi anggota Hek I Kaipang , saya sudah mempelajari banyak ilmu silat . Apakah hal ini tidak boleh !” .

Song-pangcu marah sekali . “ Boleh , boleh , dan aku sendiri ingin menguji kepandaianmu !” .

“ Aih , pangcu , lebih baik jangan . Kalau sampai pangcu kalah , tentu pangcu akan kehilangan muka dan …….. “

Pada saat itu , Yang Cien yang maklum bahwa pemuda itu lihai dan memang tidak semestinya seorang ketua melawan anak buahnya sendiri , telah maju dan berdiri dekat Song-pangcu .

“ Pangcu , apa yang di katakana Lai Seng ini benar . Dia hanya seorang anggota biasa , bagaimana akan melawan ketuanya ? Kalau pangcu menghajarnya , tentu pangcu hanya akan menjadi buah tertawaan karena melawan seorang anggota muda . Aku bukan anggota , akan tetapi sahabat Hek I Kaipang , biarlah aku yang menghadapinya . Eh , orang she Lai , kalau aku mewakili Song-pangcu maju untuk menandingimu , apakah engkau berani ?” .

Yang Cien bersikap cerdik . Dia sengaja bertanya apakah Lai Seng berani karena dengan pertanyaan seperti itu , tentu Lai Seng tidak dapat mengajukan alasan apapun dan akan merasa malu kalau menolak , di sangka tidak berani .

“ Baik , akan tetapi karena engkau mewakili Song-pangcu , 145

kalau engkau kalah berarti aku telah mengalahkan Song-pangcu dan dengan begitu , akulah yang berhak menggantikan dia menjadi pangcu di cabang Nam-kiang ini kalau dia pergi ke pusat “ .

Song-pangcu sudah maklum atau setidaknya dapat menduga bahwa tamunya itu lihai sekali , maka tanpa banyak pikir lagi dia menjawab , “ Baik , Lai Seng kalau engkau mampu mengalahkan Yang-Taihiap , biarlah engkau yang menjadi ketua cabang menggantikan aku . Engkau memang pantas untuk kedudukan itu “ .

Wajah Lai Seng berseri dan dia lalu menantang Yang Cien . “ Orang asing , engkau bukan anggota Hek I Kaipang , sebelum kita bertanding , aku ingin lebih dulu mengenal namamu . Dalam pertandingan , mungkin saja orang roboh dan tewas , maka jangan sampai ada yang tewas tanpa nama “ .

Bukan main sombongnya , pikir Yang Cien . Akan tetapi pemuda ini pandai mengatur kata-kata sehingga ucapannya yang memandang rendah itu tidak terdengar kasar .

“ Dengarlah Lai Seng , namaku Yang Cien . Nah engkau majulah !” .

“ Engkau yang menantangku , engkau yang maju lebih dulu , Yang Cien !” kata Lai Seng . Sikap ini saja menunjukkan bahwa pemuda ini memang lihai , tahu bahwa dalam suatu pertandingan antara orang setingkat kepandaiannya , siapa maju lebih dulu berarti rugi karena setiap penyerangan berarti pula membuka diri untuk dapat di serang lawan .

Yang Cien tersenyum dan dengan sembarangan saja dia maju dan berseru . “ Lihat pukulan !” tangan kirinya meluncur dan menampar kea rah pipi kanan lawan . Melihat pukulan yang sederhana ini , Lai Seng mengeluarkan suara dengus mengejek . Dia menarik mukanya ke belakang dan tiba-tiba saja dari bawah , kaki nya sudah mencuat dan mengirim 146

tendangan kilat kea rah pusar Yang Cien .

Semua orang terkejut karena serangan pertama ini benar-benar amat berbahaya sekali .

Namun hati mereka lega melihat betapa Yang Cien juga dapat menghindarkan diri dengan amat mudah . kakinya melangkah ke kiri dan dengan sedikit miringkan tubuh , tendangan itu hanya mengenai angina belaka .

“ Wuuuttt …. !” kaki itu melayang cepat dan di ikuti pula oleh kaki kedua yang juga melayang dan mengejar ke mana tubuh Yang Cien bergerak . Kiranya pemuda itu melakukan tendangan berantai dan tubuhnya seperti terbang saja ketika kedua kakinya melakukan tendangan bertubi .

“ Plak ! Plak ! “ Tangan Yang Cien menangkis dan tubuh Lai Seng agak terhuyung karena kedua kakinya terdorong dengan amat kuat . Dia terkejut dan kini senyum mengejek itu hilang dari mukanya karena dia tidak lagi berani memandang rendah lawannya .

“ Bagus , engkau berisi juga !” bentaknya dan kini dia sudah menyerang kalang kabut dengan kedua tangan dan kedua kakinya . memukul dan menendang seperti singa mengamuk .

Namun , dengan tenang Yang Cien melayani dengan elakan dan tangkisan , bahkan sempat pula membalas dan dapat di tangkis pula oleh lawannya .

“ Haaiiiitttttt …!” Tiba-tiba pemuda itu mengubah gerakannya dan kini tubuhnya bergerak ke sana sini dalam bentuk pat-kwa ( segi delapan ) dan pukulannya mengeluarkan angina yang dahsyat .

Itulah ilmu Pat-hong-hong-I ( Pukulan delapan angina hujan ) yang amat dahsyat .

Namun dengan ilmunya Bu-tek Cin-keng Yang Cien dengan mudah dan tenang dapat menghalau semua serangan itu . 147

Bahkan dengan dorongan kedua telapak tangannya dia sempat membuat Lai Seng bertolak ke belakang dan terhuyung dua kali .

Lai Seng menjadi semakin penasaran . Selama ini memang dia yang mengambil peran sebagai penyerangn namun selalu gagal . Tiba-tiba dia melompat dan menubruk sambil menggereng seperti seekor harimau . Itulah jurus Go-houw-poksit ( Macan kelaparan sambar makanan ) yang dahsyat sekali . Tubuhnya melayang di udara , kaki tangannya seperti kaki harimau yang mencengkram . Kedua tangannya membentuk cakar dan kedua kakinya siap untuk menendang .

“ Bagus …. ! “ kata Yang Cien dan ia pun dengan jurus Kong-ciak khay-peng ( Merak membuka sayap ) dia menghadapi serangan itu , lalu menyambut kedua tangan itu dengan tangkisan ke kanan kiri sedangkan tubuhnya bergeser ke kanan dan dari arah itu dia membalas dengan dorongan jurus Te-tiu-kim-ciang ( Mendorong roboh lonceng emas ) . Kembali tubuh Lai Seng tidak kuat menerima hawa dorongan itu dan diapun terhuyung ke samping .

Dia menjadi marah , begitu tubuhnya sudah dapat memulihkan keseimbangannya , dia menyerang dengan gerakan Siauw-cu-twi ( Tendangan berantai ) . Kedua kakinya seperti kitiran , kanan kiri terus menendang tanpa dapat di hentikan .

Yang Cien menjadi gemas juga . Sudah beberapa kali dia membuat lawan ini terdorong dan terhuyung , akan tetapi Lai Seng tetap tidak mau mengaku kalah dan bahkan menyerang lebih dahsyat . Dia lalu mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng , menangkis kedua kaki itu sambil mendorong .

“ Brukkk …… !” Tubuh Lai Seng terpelanting dan terdorong roboh terjengkang . Sorak-sorak dan tepuk tangan riuh rendah menyambut kemenangan Yang Cien ini . Akan tetapi agaknya Lai Seng adalah seorang pemuda yang tinggi hati dan selama ini tidak pernah menemui tanding . Juga dia kecewa karena 148

dia sudah memperhitungkan bahwa kalau Song-pangcu yang maju , dia pasti menang . Kini , tanpa di sangka-sangka , muncul seorang pemuda asing yang mengalahkannya . Dia meloncat lagi dan ketika tangannya bergerak ke bawah bajunya , dia telah mencabut sebatang suling perak yang berkilauan putih .

“ Yang Cien , dalam hal ilmu tangan kosong , aku kalah setingkat . Akan tetapi aku menantangmu untuk menggunakan senjata . Engkau boleh memilih senjata apa saja !” tantangnya dengan sikap congkak , agaknya suling perak itu merupakan senjata yang amat di andalkan dan ampuh .

Yang Cien juga maklum bahwa sebetulnya pemuda ini memiliki ilmu yang tinggi . Kalau dia tidak mempelajari Bu-tek Cin-keng , tentu diapun akan kalah . Kini , pemuda itu mengeluarkan senjata suling , tentu senjata itupun ampuh sekali .

Maka , tanpa ragu dia mengeluarkan pedangnya dari buntalan pakaian yang di tinggalkan di atas meja . Begitu dia mencabut pedangnya , semua orang berseru kagum . Sinar putih berkelebat dan pedang putih berkilauan , bahkan lebih menyilaukan dibandingkan suling perak di tangan Lai Seng .

“ Nah , Lai Seng , aku sudah siap !” kata Yang Cien sambil melintangkan pedangnya di depan dada dan mengangkat tangan kirinya ke atas menunjuk langit .

“ Lihat senjata !” bentak Lai Seng dan dia mulai memainkan sulingnya yang panjangnya sama dengan pedang itu . Terdengar suara melengking nyaring ketika suling itu bergerak dan berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung . Akan tetapi sinar putih kedua juga bergulung-gulung dan kini beberapa kali terdengar suara berdentingan dan nampaklah bara api berpijar-pijar menyilaukan mata . Kedua orang pemuda itu sudah saling serang dengan hebat . Sebetulnya , kalau Yang Cien menghendaki , dengan tangan kosong pun 149

dia akan mampu mengalahkan lawannya yang memegang suling . Akan tetapi dia tidakmau kelihatan congkak seperti lawannya , maka dia melayaninya dengan Pek-liong Po-kiam di tangan . Setelah lewat belasan jurus , Yang Cien mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng dan menggerakkan pedangnya . Pedang menyambar dahsyat bertemu dengan suling dan terdengar suara keras .

“ Traaanngggg …. Traakkk ….!” Lai Seng memekik , melompat mundur dan terhuyung , tangannya berdarah karena terluka dan sulingnya patah menjadi dua potong . Ternyata dia hanya mampu bertahan sampai belasan jurus saja . Dengan mata mencorong dia memandang Yang Cien kemudian dia melompat dari atas panggung , melompat jauh dan melarikan diri dari tempat itu .

“ Haiii , tunggu ….. !!” Teriak Song Pangcu yang hendak mengejar , akan tetapi Yang Cien berkata .

“ Tak usah di kejar , pangcu . Ku rasa dia itu bukan anggota Hek I Kaipang yang sesungguhnya “ .

“ Ahh …. Benar katamu itu taihiap ! Ilmunya begitu hebat , dan sekarang aku baru menyadari bahwa dia tentulah seorang mata-mata dari Kok-su yang menyeludup . Lima bulan yang lalu dia di bawa seorang anggota yang mengatakan bahwa pengemis muda itu menyatakan hendak bergabung dan masuk menjadi anggota Hek I Kaipang . Karena sikapnya amat baik dan sopan , kami pun merasa tidak berkeberatan untuk menerimanya sebagai anggota dan selama ini diapun nampak baik dan tidak mencurigakan . Siapa tahu , agaknya dia mengincar kedudukan ketua cabang dan hanya menanti kesempatan saja . Aku yakin bahwa dia tentulah seorang anak buah Koksu yang memang banyak tersebar di mana-mana “ .

“ Hemm , kalau di cabangKok-su mengirim orang untuk menguasai kedudukan ketua , apalagi di pusat . Bagaimana kau pikir , Song-pangcu ?” . 150

Song-pangcu menjadi berubah air mukanya . “ Aah , aku belum berpikir sejauh itu , taihiap . Akan tetapi Cu Lokai , yaitu pangcu dari Hek I Kaipang pusat di kota raja , memanggil aku untuk membantunya , aku merasa heran juga . Entah apa maksud Cu Lokai memanggil aku . Sekarang , mendengar pendapatmu tadi , aku merasa khawatir juga “ .

“ Song-pangcu , kapan engkau akan berangkat ke kota raja ?” .

“ Sekarang juga dan sudah ku putuskan bahwa Kiang Si Gun menjadi ketua cabang , di bantu oleh Phang Kim dan Ciok Kui , agar kedudukannya lebih kuat “ .

“ Kalau begitu , aku akan menyertaimu , pangcu . Aku juga ingin melihat-lihat keadaan di kota raja “ .

“ Bagus sekali kalau begitu , taihiap . Kekhawatiranku jadi lenyap seketika dan aku yakin bahwa engkau yang akan dapat membantu apa bila terjadi kesulitan menimpa Hek I Kaipang “ .

Demikianlah , setelah mengatur perkumpulan itu dan meninggalkan pesan-pesan , Song-pangcu lalu berangkat bersama Yang Cien meninggalkan Nam-kiang menuju ke kota raja .

****

Lui Koksu duduk di ruangan dalam bersama Thian-te Ciu-kwi dan Cian Kauw Cu . “ Aku baru saja kembali dari istana dank arena tugas kita sekali ini berat , maka aku memanggil kalian untuk ku ajak berunding “ .

“ tugas apakah itu , Giam-ong ?” Tanya Thian-te Ciu-kwi yang biasa menyebut Koksu itu Giam-ong begitu saja kalau sedang berada berdua saja . Kalau di depan umum , tentu saja dia menyebut Koksu untuk menjaga martabat dan kehormatan sang Koksu .

“ Kami mendengar bahwa Gubernur Yen di timur sedang 151

mengumpulkan kekuatan secara diam-diam dan hal ini amat mencurigakan . Kalau sampai Gubernur Yen memberontak , maka amatlah berbahaya . Karena itu sebelum hal ini terjadi , kita harus lebih dahulu menyelidiki sampai dimana kebenaran berita itu . Kalau sudah yakin benar barulah kita akan menggempurnya sebelum dia sempat bertindak lebih jauh . Dan untuk tugas ini sebaiknya ku serahkan kepada Kauw Cu . Kalau engkau yang pergi , Ciu-kwi , engkau di timur sudah di kenal sebagai datuk dan gerak-gerikmu tidaklah leluasa lagi . Aku sudah berunding dengan Perdana Menteri Ji dan beliau juga sudah menyetujui kalau aku mengutus Kauw Cu yang melakukan penyelidikan “ .

“ Hemm , muridku ini dalam hal ilmu silat memang sudah boleh sekali di andalkan , akan tetapi dalam urusan menyelidik , dia kurang pengalaman “ .

“ Justeru sekarang dia memperoleh pengalaman . Kauw Cu , beranikah engkau melaksanakan tugas ini ? Engkau menyelidiki keadaan Gubernur Yen , apa betul die mempersiapkan pasukan besar dan apa betul dia memiliki rencana untuk memberontak terhadap kerajaan “ .

“ Tentu saja saya berani , taijin . Suhu , saya akan melaksanakan tugas dengan baik dan saya akan berhati-hati “ , kata Akauw gembira karena dia merasa bosan kalau harus menganggur saja di kota raja . Dengan tugas itu , dia akan memperoleh pengalaman yang menarik . Apa sih cukarnya melakukan penyelidikan ? Bertanya-tanya , mendengar dan melihat !

“ Baiklah , kalau memang engkau merasa sanggup . Akan tetapi berhati-hatilah , Akauw . Karena di Timur banyak terdapat orang pandai . Kalau kalau sewaktu engkau mengalami kesukaran , asalkan engkau menyebut namaku sebagai guru , kiranya tidak sembarang orang akan berani mengganggumu “ .

“ Baik , suhu “ . 152

Demikianlah , setelah berkemas , membawa pakaian , Pedang Naga Hitam , sejumlah uang untuk bekal di perjalanan dan berpakaian biasa bukan sebagai panglima melainkan sebagai petani biasa , berangkatlah Akauw meninggalkan kota raja .

Pemuda ini tidak menarik perhatian orang . Seorang pemuda tinggi besar yang bertubuh kokoh kekar , kulit mukanya kecoklatan gelap , menggendong buntalan pakaian warna kuning ! Alisnya tebal dan hitam melindungi sepasang mata yang lebar dan sinarnya tajam mencorong , hidungnya mancung dan besar , dengan mulut dan bibirnya menunjukkan kekerasan hatinya . Dagunya berlekuk dan tulang pipinya menonjol . Wajahnya jantan , daya tariknya terletak kepada kejantanan dan kekerasannya . Pakaiannya seperti seorang petani biasa . dan pedangnya dia sembunyikan di dalam buntalan pakaian itu . Langkahnya tegap , seperti langkah harimau dan sikapnya membuat orang jahat berpikir dua kali sebelum berani mengganggunya .

Belum dua li meninggalkan pintu gerbang timur kota raja , melalui jalan yang sunyi , terdengar orang memanggilnya , “ Akauw …. Berhenti dulu , Akauw …. !” .

Akau berhenti dan menengok , wajahnya berseri karena dia mengenal suara itu . Suara yang sudah lama dia rindukan , suara seorang sahabat baiknya yang hanya sempat dikenalnya dalam waktu singkat saja .

“ Bi Soan …… !” teriaknya dengan girang ketika dia melihat pemuda remaja itu berlari-lari mendatangi . Pemuda remaja itu nampak sehat , akan tetapi pakaiannya lebih bersih daripada biasanya , walaupun masih penuh tambalan . Wajahnya berseri ketika dia memandang kepada Akauw .

“ Hei , Akauw , engkau hendak kemanakah ?” .

“ Aku ? Aku hendak pergi ke Lok-yang dan engkau kemana saja selama ini , Bi Soan ? Kenapa ketika aku melihatmu dulu , 153

ku panggil-panggil engkau malah melarikan diri ?” .

“ Benarkah engkau memanggilku ? Aku tidak mendengarnya . Mau apa engkau ke Lok-yang , Akauw ?” .

“ Merantau , mau apa lagi ? Aku memang perantau dan senang berpesiar “ .

“ Akauw , aku ikut denganmu !” .

Wajah Akauw berseri tanda bahwa dia merasa gembira sekali . “ Betulkah ? Baik , aku senang sekali kalau engkau mau pergi bersamaku , Bi Soan . Ada temanku dalam perjalanan “ .

“ Akauw , aku kau anggap sebagai teman ?” .

“ Ya , tentu saja . Temanku yang paling baik , sahabatku yang selama ini ku kenang dank u rindukan “ .

“ Eh ? Kenapa ?”

“ Kenapa apa ?” .

“ Kenapa seorang pemuda merindukan pemuda lain ?” .

“ Apa tidak boleh ? Aku senang sekali bergaul denganmu , maka aku rindu kepadamu . Dan sekarang , engkau ingin melakukan perantauan bersamaku , tentu saja aku senang sekali “ .

“ Akauw , engkau percaya kepadaku ?”

“ Tentu saja , engkau sahabat baik , ingat ketika kita di kejar-kejar orangnya jaksa gendut itu ?” .

Bi Soan tertawa dan Akauw menganggumi sederetan gigi yang seperti mutiara itu . Pemuda remaja yang pakaiannya tambal-tambalan dan mukanya kusut dengan rambut awut-awutan itu ternyata memiliki wajah yang tampan sekali .

“ kalau engkau percaya , ku harap engkau menceritakan riwayat dirimu . Engkau darimana , asal mana , siapa orang 154

tuamu dan bagaimana bisa sampai ke Tiang-an ? Ayo ceritakan semua , kalau tidak berarti engkau tidak percaya padaku dan aku akan marah “ .

“ Eh , jangan marah Bi Soan . Tentu saja aku mau bercerita . Akan tetapi aku takut engkau tidak percaya dan marah kepadaku . Aku khawatir engkau tidak percaya kepadaku “ .

“ Ah , mengapa begitu ? Orang seperti engkau ini pasti jujur dan tidak suka berbohong “ .

“ Bagaimana kalau kita berteduh di bahwa pohon sana itu ? Dengan duduk berteduh , akan lebih enak aku bercerita , tidak sambil berjalan begini “ .

“ Baiklah , mari kita duduk di sana . matahari telah naik tinggi dan panasnya bukanmain “ .

Mereka duduk di bawah pohon dan Akauw mengeluarkan sebuah guci dari dalam buntalannya . “ Engkau haus ? Minumlah !” Dia menawarkan .

“ Ah , aku tidak begitu suka minum arak , apalagi dalam keadaan cuaca panas begini “ .

“ bukan arak , biarpun gucinya guci arak , isinya air the !” kata Akauw sambil tertawa dan Bi Soan juga tertawa lalu minum dari mulut guci . Setelah Bi Soan minum , Akauw juga minum , barulah dia bercerita .

“ Pertama-tama , namaku Cian Kauw Cu , biasa di sebut Akauw saja , dan orang tuaku …. Aku tidak pernah mengenalnya “ .

“ Ah , masa ? Engkau bohong …….. !”

“ Nah , nah . Apa kataku tadi , aku khawatir engkau menganggap aku berbohong , baru satu kalimat ku keluarkan engkau sudah menuduhku bohong !” kata Akauw sedih . Melihat wajah yang gagah itu tiba-tiba berubah sedih , Bi Soan lalu memegang tangan Akauw . 155

“ Maafkan , bukan makduku menuduh , tapi ……… bagaimana mungkin orang tidak pernah mengenal ayah ibunya sendiri ?

“ Sungguh mati , aku tidak pernah mengetahui siapa ayah ibuku , tidak pernah melihat mereka dan tidak tahu mereka itu siapa “ .

“ Lalu , kenapa engkau mempunyai nama dan mempunyai nama keluarga Cian ?” .

“ Oh , itu ? Nama keluargaku di ambil dari kalung yang ku pakai ini . Aku menemukan kalung ini , ku pakai dan selanjutnya oleh Aki aku di sebut Cian Kauw Cu “ .

“ Aki , siapa pula itu ?” .

“ Namanya Boan Ki , akan tetapi aku biasanya memanggilnya Aki . Dialah manusia pertama yang ku jumpai dan yang mengajarku bicara “ .

“ Eh ? Apa pula ini ? Manusia pertama ….. mengajarmu bicara … apa sih artinya ?” .

“ Dengarkan sajalah Bi Soan , dan engkau akan mengerti . Kalau selalu kau potong-potong begini , takkan ada habisnya ceritaku nanti . nah sebenarnya begini , sejak kecil sekali , sejak aku dapat ingat , aku adalah anak seekor kera besar ………. “

“ Waahhh , mana mungkin !” Bi Soan berteriak , sedemikian kerasnya sampai Akauw sendiri kaget mendengarnya .

“ Nah , nah , mulai lagi !” .

“ ya , sudahlah , berceritalah . Seperti dongeng saja riwayatmu , Akauw ! Akauw …. ? Namamu ini …. Akauw …. “

“ memang , namaku juga Kauw-cu ( monyet ) , sesuai dengan keadaanku waktu itu . Ku lanjutkan ceritaku . Aku tidak tahu apakah aku ini anak monyet , yang jelas , sejak 156

kecil aku hidup di antara kera-kera besar . Aku tentu saja mempunyai kebiasaan seperti kera , dalam hal makan , berloncatan ke pohon-pohon , bahkan bicara dank era-kera itu memberi nama aku … Kercak “ .

“ Apa ?”

“ Kercak !” ketika mengeluarkan kata atau nama itu , suara Akauw memang suara monyet sehingga sukar di tangkap oleh Bi Soan .

“ Ya sudahlah , lalu bagaimana ?”

“ Sejak kecil sekali sampai berusia kurang lebih sepuluh tahun aku hidup seperti monyet . Aku menemukan kalung ini pada tulang kerangka manusia dan ku pakai kalung ini , juga aku menemukan sebatang golok . Setelah aku berusia sepuluh tahun , aku melihat dua rombongan manusia masuk ke Lembah Iblis dan mereka bertempur saling serang . Banyak orang tewas dan setelah mereka yang menang pergi , ada seorang di antara mayat-mayat itu yang tidak mati . Dia adalah Aki dan sejak itu , Aki yang mengajarku bicara seperti manusia , bahkan memberi nama Cian Kauw Cu kepadaku “ .

“ Ahhh , luar biasa sekali ! Kisahmu ini seperti dongeng dan kalau bukan aku , tentu orang tidak akan percaya kepadamu “ .

“ Jadi , kau percaya padaku , Bi Soan ?”

“ Percaya sekali !” .

Tiba-tiba sepasang lengan yang panjang dan besar itu memeluk tubuh Bi Soan yang kecil sehingga tubuh itu tenggelam ke dalam rangkulan dan di tekan-tekan seperti akan remuk rasanya . Akan tetapi sekali meronta , Bi Soan dapar terlepas dari rangkulan itu dan mukanya berubah merah sekali matanya mencorong ketika dia bangkit berdiri .

“ Akauw , aku larang engkau memeluk aku seperti itu lagi ! Kalau sekalai lagi kau lakukan itu , aku akan pergi 157

meninggalkanmu !” .

Akauw terbelalak . “ Ah , tidak …. Tidak akan ku lakukan lagi . Akan tetapi kenapa , Bi Soan ? Aku memelukmu karena kegirangan bahwa engkau percaya kepadaku “ .

“ Girang ya girang , akan tetapi jangan memeluk seperti itu . Di rangkul dan di tekan seperti itu , bisa remuk semua tulangku , tahu ? Sudah , lanjutkan ceritamu yang menarik tadi “ .

“ Sampai tiga tahun lamanya Aki tinggal bersamaku di hutan , akan tetapi aku semakin tahu setelah dia mengajari aku bicara dan tentang segala kehidupan manusia , bahwa dia seorang yang jahat . Malah suatu hari , dia bermaksud untuk membunuhku !” .

“ Ihhh , engkau yang menolong sehingga dia tetap hidup , lalu dia hendak membunuhmu ? “ Bi Soan berseru kaget .

“ Betapa jahatnya ? Akan tetapi kenapa dia hendak membunuhmu Akauw ? “ .

Hampir saja Akauw bercerita tentang emas , akan tetapi dia teringat akan pesan suhengnya agar tidak bercerita kepada siapapun juga tentang guha-guha itu , maka dia lalu menjawab , “ Mungkin dia bosan dengan aku dan hendak hidup sendiri . Akan tetapi untung sekali pada saat yang gawat itu muncul lah suhu dan suheng “ .

“ Kau punya suhu dan suheng ? Siapa mereka ?”

“ Tadinya tidak punya . Seorang kakek tua dan seorang pemuda muncul menolongku dari ancaman Aki yang kemudian tewas terjatuh ke dalam jurang . Aku lalu berguru kepada kakek itu dan si pemuda menjadi suhengku . Guruku itu bernama Yang Kok It dan suhengku itu cucunya , bernama Yang Cien “ .

“ yang Kok It ? Hemmm , rasanya nama itu tidak asing bagiku , seperti pernah aku mendengarnya . Lalu bagaimana , 158

Akauw ? Ceritamu semakin menarik saja “ .

Karena menerima pujian dari sahabatnya yang amat di sayangnya itu , Akauw menjadi semakin bersemangat untuk bercerita . “ Aku dan suheng belajar ilmu silat dari Suhu Yang Kok It sampai suhu meninggal dunia karena usia tua . Kemudian , aku masih tinggal lagi berdua saja dengan suheng di Lembah Iblis , kemudan aku pergi merantau sampai di sini “ .

“ Dan di sini engkau bekerja membantu Koksu , ya ?” .

Akauw terkejut . Dia sedang bertugas dalam penyelidikan , maka dia harus merahasiakan pekerjaannya . Tak di sangka bahwa sahabatnya ini telah mengetahuinya .

“ Eh , bagaimana engkau dapat tahu ?” .

Bi Soan tersenyum mengejek . “ Tentu saja aku tahu segalanya , aku mempunyai banyak sahabat di antara kaum pengemis . Akauw , belum lama ini kita bicara tentang para pembesar dan pejabat yang korup dan menindas rakyat dan sekarang engkau menjadi seorang pembesar !” suaranya terdengar mencela .

” Aku tidak menjadi pembesar ! Aku .. aku hanya terpaksa ikut dengan suhu dan di perbantukan kepada Koksu Lui . Aku bersumpah tidak akan melakukan kejahatan , tidak akan membantu kalau Koksu menindas rakyat “ .

“ Hem , engkau agaknya belum tahu orang macam apa Koksu Lui itu . Dan sekarang ini , engkau melaksanakan tugas apakah ?” .

“ Bi Soan , sahabatku , jangan bertanya tentang tugasku , ini tugas rahasia . Tak boleh seorangpun boleh mengenal bahwa aku bekerja untuk Koksu Lui , apalagi nanti di Lok-yang “ .

“ Hemm , aku sudah tahu tanpa kau beritahu . Dan kita 159

akan melakukan perjalanan bersama ke Lok-yang , bukan ? Bagaimana aku dapat membantumu kalau aku tidak mengetahui apa tugasmu ? Aku harus tahu karena kalau tugas itu untuk menindas rakyat aku tidak sudi bekerjasama denganmu !” .

“ Tidak , tidak , Bi Soan-te ( adik Bi Soan ) . Aku hanya mendapat tugas untuk melakukan penyelidikan terhadap Gubernur Yen di Lok-yang karena menurut para penyelidik , Gubernur Liu itu bermaksud untuk menyusun kekuatasn dan memberontak terhadap pemerintah “ .

“ Benarkah itu , Akauw ?” Kini sikap Bi Soan nampak sungguh-sungguh .

“ Begitulah yang di katakana oleh Koksu . Oleh karena itu Koksu dan suhu mengutus aku pergi ke Lok-yang dan melakukan penyelidikan seksama akan kebenaran berita itu . Kalau memang benar gubernur itu hendak memberontak , sebelum dia bergerak , akan lebih dulu di serbu dan di gagalkan pemberontakannya “ .

Bi Soan mengangguk-angguk . “ Wah , kalau begitu tugasmu itu penting sekali , Akauw . Apakah engkau pernah ke Lok-yang ? Sudahkah engkau mengenal keadaan dan daerah itu ?” .

Akauw memandang bodoh dan menggeleng kepalanya . Bi Soan menarik napas panjang . “ Aih , kenapa Lui Koksu begitu bodoh menyuruh seseorang yang sama sekali belum mengenal medannya ? Sudahlah , biar aku menyertai dan membantumu Akauw . Aku sudah hafal betul keadaan di Lok-yang “ .

Bukan main girangnya hati Akauw . “ Terima kasih , Bi Soan . Aku tahu sejak semula bahwa engkau adalah seorang sahabat sejati yang amat baik kepadaku .

“ Nah , sekarang engkau yang mendapat giliran menceritakan riwayat hidupmu kepadaku , agar akupun dapat mengenal dirimu dengan baik “ . 160

“ Aku ? Ah , tidak ada apa-apanya yang menarik mengenai diriku . Aku hidup sebatangkara , seorang gelandangan yang tidak tentu tempat tinggalnya , hidup bebas lepas seperti seekor burung gereja . “ Bi Soan bangkit berdiri , mengembangkan kedua tangannya seperti seekor burung yang mengepakkan kedua sayapnya . “ Mari kita lanjutkan perjalanan , Akauw “ .

“ Eh , nanti dulu , Bi Soan . Engkau belum menceritakan siapa orang tuamu dan dimana mereka tinggal !” kata Akauw yang ikut pula berdiri .

“ Aku Bi Soan tidak mempunyai orang tua , tidak mempunyai siapapun di dunia ini kecuali mempunyai seorang sahabat yang bernama Akauw ! Nah , itulah Bi Soan yang kau kenal , Akauw dan jangan Tanya apa-apa lagi karena engkau hanya membuat hatiku menjadi sedih saja “ .

Akauw merasa terharu . “ Aih , kasihan sekali engkau , Bi Soan “ .

“ Karena engkau tidak mempunyai orang tua lagi “ .

“ Dan engkau ? Engkaupun tidak mempunyai orang tua . Sudahlah , jangan merasa iba kepada orang lain kalau keadaan mu sendiri sama . Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan agar jangan terlalu lama membuang waktu di sini “ .

Akauw terpaksa melepaskan kedua tangan Bi Soan yang dipegangnya tadi karena dia merasa iba kepada kawan ini , karena Bi Soan kini merenggutkan kedua tangannya dan pemuda remaja itu sudah berjalan meninggalkannya .

“ Heeiii , tunggu Bi Soan “ , kata Akauw yang terpaksa mengerahkan tenaganya karena ternyata Bi Soan dapat berlari cepat sekali . Dia terkejut juga dan menduga bahwa kawannya itu agaknya mengerti pula ilmu silat dan belum menceritakan tentang ilmunya itu , dan siapa pula gurunya . 161

*****

Akauw merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan Bi Soan dan melakukan tugasnya di bantu oleh pemuda remaja itu . Karena andaikata tidak di bantu Bi Soan , tentu dia akan mengalami banyak kesukaran . Bi Soan mengenal baik kota Lok-yang dan ternyata pemuda remaja yang mengaku gelandangan ini cerdik bukan main . Bahkan setelah mereka berada di Lok-yang , Bi Soan lah yang seolah menjadi pemimpin . Karena kepandaian Bi Soan yang cerdik , maka Akauw dapat melakukan penyelidikan dengan baik . dan benar saja , dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa banyaknya pemuda-pemuda dusun yang berbondong-bondong datang untuk mendaftarkan dirii sebagai prajurit . Gubernur Yen benar-benar hendak memperkuat pasukannya di Lok-yang , tentu saja dengan bekerjasama dengan para panglima di Lok-yang .

Akan tetapi , ini saja belum menjadi bukti bahwa gubernur itu hendak memberontak . Padahal inti tugas Akauw adalah untuk menyelidiki apakah benar gubernur itu akan memberontak dan dia harus dapat memperoleh buktinya .

“ Jangan khawatir , kita harus tekun dan sabar menanti dan mengintai , siapa tahu akan tiba saatnya kita dapat peroleh bukti itu “ , kata Bi Soan ketika Akauw menyatakan kekesalannya karena dia tidak melihat suatu cara untuk mendapatkan bukti itu . Tadinya dia bermaksud memasuki rumah gubernur itu sebagai pencuri dan memeriksa ke kamarnya untuk mencari bukti , akan tetapi keinginannya ini di larang oleh Bi Soan .

“ Kau gila ? Memasuki rumah gubernur sedangkan rumah itu di jaga ketat ! Selain amatlah sukar untuk dapat memasuki kamarnya , juga besar sekali kemungkinan engkau akan di tangkap dan kalau hal itu terjadi , bahkan baru dipergoki saja , maka gagallah semua usahamu “ .

“ Habis , bagaimana kita dapat memperoleh bukti itu , 162

Soan-te ?”

“ Kauw-ko ( Kakak Kauw ) , kiranya ada satu jalan saja yang memungkinkan engkau berhasil . Kita mendaftarkan diri sebagai prajurit !” .

“ Ahhh …??? Bukankah itu malah berbahaya sekali ?”

“ apa bahayanya ? Kau lihat , banyak pemuda mendaftarkan diri , dari segala golongan bahkan terbanyak dari dusun , Kita mengaku dari dusun dan mendaftarkan diri , kalau di uji kau jangan menonjolkan kekuatan atau kepandaianmu , biasa-biasa saja . Nah , kalau kita sudah menjadi calon prajurit , tentu akan mudah bagi kita untuk melihat dan memperoleh bukti “ .

“ Wah , kalau begitu bagus sekali , Soan-te ( Adik Soan ) . Mari kita mendaftarkan diri sekarang juga “

“ Akan tetapi janji , kita tidak boleh berpisah dan kalau memperoleh kamar di barak , kita harus sekamar “ .

“ Tentu, tentu “ .

“ Dan seperti biasa , engkau tidur di bawah dan aku di atas “ .

“ Engkau ini memang aneh . Di rumah penginapan pun engkau selalu mengusir aku dari pembaringan . Engkau ini pemuda remaja yang amat aneh “ .

“ Tidak aneh . Engkau tahu sendiri bahwa aku tidak bisa tidur kalau ada teman di dekatku . Kalau engkau tidak mau turun dari pembaringan , biar aku yang tidur di bawah dan pembaringannya boleh kau pakai sendiri “ .

“ Wah , jangan nagmbek , Soan-te . Engkau ini kadang membuat aku tidak mengerti . Tidur tidak mau di dekati , bahkan kalau mandi engkau minta terpisah “ .

“ Engkau yang tidak tahu malu . Kita bukan kanak-kanak lagi , bagaimana mungkin mandi bersama ? Ih , memalukan !” 163

Bi Soan kelihatan marah .

“ Sudahlah , maafkan aku , Soan-te . Aku tidak akan memaksamu mandi dan tidur bersama . Nah , mari kita mendaftarkan “

Keduanya lalu ikut dengan rombongan pemuda yang berbondong itu menuju ke benteng untuk mendaftarkan diri . Mereka ikut berdiri dalam antrian panjang dan setelah mereka di daftar sebagai Cian Kauw Cu dan Bi Soan , mereka memperoleh sebungkus pakaian tentara dan mendapatkan petunjuk dimana letak kamar di barak . Ternyata tidak di adakan ujian sama sekali dan ini berarti bahwa siapa saja dapat di terima sebagai prajurit dan agaknya Gubernur Yen benar-benar membutuhkan pasukan yang sebesar-besarnya .

Baru setelah mereka tinggal di barak , mereka memperoleh latihan dari seorang perwira . Latihan berbaris ,latihan gerakan silat dalam pertempuran .

Akauw memandang kagum ketika temannya mengenakan pakaian tentara . Memang kecil tubuhnya , akan tetapi dia nampak tampan sekali ! Dan dalam latihan pertempuran , juga Bi Soan kelihatan lincah dan tidak kalah oleh yang lain .

-oo0dw0ooo-

Jilid 6

Setelah berada di benteng , mulailah mereka bertanya-tanya tentang maksud dikumpulkannya banyak tentara suka rela itu . Akan tetapi semua rekan mereka juga tidak tahu . Mereka semua tertarik untuk masuk tentara karena dengan demikian akan terjamin makan dan pakaian mereka , juga mereka memperoleh gaji . Sedangkan kehidupan di luar sedemikian sukarnya . Rakyat kecil di himpit pajak , lintah darat dan tuan tanah , di tambah lagi dengan kerja paksa 164

membangun tembok besar . Hidup di luar membuat mereka sukar sekali mengisi perut dengan teratur , sedangkan di benteng itu mereka dapat makan kenyang dan pakaian mereka tidak robek dan butut .

Pada suatu malam , selagi Bi Soan dan Akauw bersama rekan-rekan lain melakukan penjagaan mereka melihat gubernur datang ke benteng langsung masuk ke bangunan yang besar yang menjadi tempat tinggal panglimanya . Gubernur Yen berusian lima puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar gagah . Panglima menyambutnya di luar rumah dan mengiringkannya masuk ke dalam rumah besar itu .

Yang menarik perhatian Akauw dan Bi Soan adalah munculnya beberapa orang tamu aneh . Tamu-tamu ini , yang jumlahnya ada tujuh orang , mengenakan pakaian pengemis dan ternyata mereka di terima dengan hormat pula oleh panglima-panglima yang keluar untuk menyambut dalam suasana yang bersahabat .

Tentu saja melihat ini Akauw dan Bi Soan tertarik sekali . Akan tetapi mereka sedang bertugas jaga . “ Kauw-ko , dengar baik-baik . Engkau menyelinap pergi dari sini dan menyelidik mereka itu , kalau ada yang bertanya akan ku katakana bahwa engkau sakit perut dan pergi ke belakang . Aku yang akan melakukan penjagaan di sini “ .

“ Baik , Soan-te “ .

“ Berhati-hatilah , Kauw-ko “ .

“ Engkau juga , Bi Soan . Tunggu aku kembali membawa berita “ .

Setelah keadaan memungkinkan , yaitu para penjaga lain sedang meronda , Akauw lalu meloncat dan menyelinap lenyap ke dalam kegelapan malam . Dengan kepandaiannya yang tinggi dan nalurinya yang peka mudah saja baginya untuk menyusup-nyusup menghampiri bangunan induk itu , kemudian dia meloncat ke atas genteng dan berhasil masuk ke 165

dalam . Tak lama kemudian dia sudah mengintai mereka yang berada di ruangan itu . Gubernur Yen , beberapa orang panglima dan tujuh orang berpakaian pengemis itu .

“ Benarkah para pimpinan Hek I Kaipang dari seluruh penjuru di panggil ke kota raja dan banyak di antara mereka yang hilang tidak kembali ?” Tanya Gubernur Yen .

“ Benar , taijin . Kami semua mencurigai bahwa ini adalah perbuatan Koksu Lui yang hendak memperlemah Hek I Kaipang karena dia tahu bahwa kami adalah perkumpulan yang menentang pemerintah Mongol “ .

“ Ah , dan kita belum dapat bergerak . Kita sedang menghimpun tenaga dan tenaga bantuan itu belum terlatih baik , belum dapat di andalkan dalam pertempuran . Bersabarlah , saudara-saudara Kaipang , kalau sudah tiba saatnya , kita mempersatukan tenaga yang ada dan menggempur kota raja !” .

“ Kami sudah tidak sabar lagi , taijin . Yang kami prihatinkan bukan para anggota kami karena hanyalah pengemis-pengemis yang hidup dari belas kasihan orang . Yang kami prihatinkan adalah kehidupan rakyat jelata di pedusunan . Mereka terhimpit oleh para pejabat daerah yang memeras mereka dengan kerja paksa , dengan pajak . Kalau pemerintah Mongol yang kejam ini tidak segera di robohkan , rakyat akan hidup sengsara “ .

“ Kami mengerti , saudara . Akan tetapi harus di ketahui bahwa kekuatan pasukan pemerintah besar sekali . Apalagi di sana terdapat Koksu yang licik dan lihai , juga Perdana Menteri Ji amat pandai mengatur siasat . Kalau tergesa-gesa , dapat gagal seluruhnya . Jangan khawatir , kami sedang memperkuat diri dan kalau saatnya tiba , pasti kami akan mengajak kalian semua dan para pendukung lain untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan dari tangan penjajah Toba “ . 166

Akauw sudah merasa cukup mendengarkan percakapan itu . Jelas sudah , bahwa Gubernur Yen memang ingin memberontak dan sedang mengumpulkan kekuatan , bahkan bersekutu dengan perkumpulan pengemis Hek I Kaipang . Dia harus cepat memberitahu Bi Soan . Maka dengan hati-hati diapun meninggalkan tempat itu . Selagi dia berjalan di atas genteng , tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan terdengar bentakan seorang perwira yang kebetuln mengadakan perondaan di atas atap .

“ Siapa di situ !”

Akauw terkejut sekali , akan tetapi dengan cekatan tubuhnya sudah melompat dan melayang ke atas pohon besar , kemudian dari pohon di taman itu dia melompat ke pohon lain dan sebentar saja tubuhnya sudah lenyap di telan kegelapan malam . Sang perwira mencoba untuk mengejar , akan tetapi segera kehilangan jejak sehingga perwira itu meragu apakah benar dia melihat ada orang , ataukah hanya bayangan burung atau pohon saja . Kalau memang orang , tidak mungkin bergerak sedemikian cepatnya dan menghilang .

Akauw sudah kembali kepada Bi Soan yang sudah khawatir kenapa kawannya lama benar . Dia sudah tiga kali di Tanya penjaga lain tentang Akauw yang dikatakannya sakit mencret dan berulang kali pergi ke belakang .

“ Bagaimana , Kauw-ko ?” bisiknya ketika pemuda itu berada di dekatnya .

“ Wah , gawat , Soan-te . memang benar akan terjadi pemberontakan “ . Dengan berbisik-bisik , Akauw lalu menceritakan semua yang di lihat dan di dengarnya , di dengarkan penuh perhatian oleh Bi Soan .

“ Hemmm , gubernur tak tahu diri itu hendak memberontak , ya ? Kita harus menghalanginya , Kauw-ko . Pemberontakan sama sekali tidak akan membebaskan rakyat dari pada 167

kesengsaraan , bahkan menambahnya . Perang hanya akan mencelakakan rakyat “ .

“ Soan-te , jadi menurut engkau , lebih baik kalau tanah air ini di perintah oleh Bangsa Mongol ?” .

“ Bukan begitu maksudku . Akan tetapi , sudah menjadi