Pendekar Bongkok (Seri 06 Bukeksiansu)

New Picture

Pendekar Bongkok (Seri 06 Bukeksiansu)

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Ebook oleh : Dewi KZ

SIE Kauwsu (Guru Silat Sie) membaca surat itu dengan kedua tangan agak gemetar dan mukanya berubah pucat. Karena senja hari telah tiba dan cuaca tidak begitu terang lagi, dia lalu menyalakan sebuah lampu meja, kemudian dibacanya sekali lagi surat itu. Sehelai kertas yang bertuliskan beberapa buruf dengan tinta merah.

“Sie Kian, akhirnya aku dapat menemukan engkau!

Sebelum malam ini habis, seluruh keluargamu dan segala

mahluk yang hidup di dekat rumahmu, akan kubunuh semua!”

Demikianlah bunyi surat itu. Tanpa nama penulisnya. Akan

tetapi, Sie kauwsu atau Sie Kian tahu benar siapa penulisnya.

Tadi dia menemukan surat itu pada daun pintu belakang

rumahnya, tertancap pada daun pintu dengan sebatang piauw

(senjata rahasia) beronce merah. Dia mengenal benar piauw

itu. Lima tahun yang lalu, dia pernah terluka pada pundaknya

oleh piauw seperti itu. Dia tahu benar siapa pemilik piawsu,

siapa penulis surat.

Peristiwa itu terjadi lima tahun yang lalu. Ketika itu, dia

melakukan perjalanan ke daerah Hok-kian untuk mengunjungi

seorang sahabat lamanya. Juga dia ingin melancong, karena

semenjak menjadi guru silat, dia tidak pernah sempat

melancong. Kini dia mempunyai seorang murid terpandai yang

dapat mewakilinya mengajar para murid sehingga dia

mempunyai kesempatan untuk pergi. Kepergiannya

direncanakan selama satu bulan. Dia tidak dapat membawa

anak isterinya, karena anaknya yang ke dua, baru lahir

beberapa bulan yang lalu. Masih terlalu kecil untuk diajak

pergi. Anaknya yang pertama, seorang anak perempuan yang

sudah berusia lima belas tahun, juga tidak dapat diajak pergi

karena harus membantu ibunya di rumah. Maka diapun pergi

seorang diri ke timur.

Di dalam perjalanan inilah terjadinya peristiwa itu. Dia

melihat perampokan di dalam hutan terhadap sebuah keluarga

bangsawan yang melakukan perjalanan dengan kereta.

Perampok itu adalah sepasang suami isteri yang masih muda.

Kurang lebih duapuluh lima tahun usia mereka. Sie Kian turun

tangan melindungi bangsawan itu dan terjadilah perkelahian

antara dia dan suami isteri itu. Ternyata suami isteri itu lihai

juga, akan tetapi mereka masih belum mampu mengalahkan

Sie Kian yang pandai bersilat pedang. Perkelahian itu berakhir

dengan kematian isteri perampok itu, dan luka parah pada

perampok yang dengan penuh duka memanggul jenazah

isterinya dan menanyakan Sie Kian. Sie Kian sendiri juga

terluka di pundaknya, terkena sebatang senjata rahasia piauw

yang dilempar oleh perampok itu.

“Sie Kian, kalau engkau membunuhku, aku tidak akan

begini merasa sakit hati,” demikian perampok itu sebelum

pergi. “Juga kalau engkau hanya menghalangi perbuatan kami

merampok, akupun t idak perduli. Akan tetapi engkau telah

membunuh isteriku tercinta dan aku bersumpah bahwa kelak

aku akan mencarimu dan aku akan membunuh seluruh

keluargamu dan semua penghuni rumahmu!” Setelah

mengeluarkan ucapan itu, perampok muda itu pergi dengan

muka berduka. Sie Kian membiarkannya pergi dan mengira

bahwa ucapan itu tentu hanya ancaman seorang perampok

yang kecewa.

Akan tetapi, ternyata hari ini ada surat dan piauw beronce

merah! Perampok itu ternyata bukan hanya meninggalkan

ancaman kosong belaka dan hari ini, kurang lebih lima tahun

semenjak perist iwa itu, perampok itu benar-benar datang

untuk melaksanakan ancamannya dan sumpahnya! Diam-diam

Sie Kian bergidik. Ancaman dalam surat itu sungguh

menyeramkan. Akan tetapi, dia tidak takut! Selama hidupnya,

Sie Kian adalah seorang laki-laki yang jantan. Demi membela

kebenaran, dia tidak takut kehilangan nyawa! Ancaman surat

itu hanya ancaman seorang penjahat, seorang perampok, dan

dia akan menyambutnya, menandinginya dengan sikap

seorang pendekar sejati! Tidak, dia tidak akan minta bantuan

orang lain!

Setelah termenung sejenak, Sie Kian menyimpan surat dan

piauw itu ke dalam kantung bajunya, dan diapun memasuki

kamar di mana isterinya sedang berbaring menyusui anak

mereka, anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun dan

mereka beri nama Sie Liong. Dengan wajah tenang saja Sie

Kian duduk di kursi dalam kamar itu dan bertanya kepada

isterinya, di mana adanya puteri mereka yang bernama Sie

Lan Hong. Dia dan isterinya memang hanya mempunyai dua

orang anak, yaitu pertama Sie Lan Hong yang sudah berusia

lima belas tahun dan setelah lewat empat belas tahun lebih

barulah isterinya melahirkan Sie Liong.

“Ia baru saja keluar dari sini, mungkin ia berada di dalam

kamarnya,” jawab istrinya sambil bangkit duduk karena Sie

Liong sudah tidur pulas. “Ada apakah? Kelihatannya engkau

begitu pendiam.” Isteri yang sudah amat mengenal watak

suaminya itu bertanya dengan pandang mata curiga melihat

sikap suaminya begitu pendiam, tidak seperti biasanya.

“Panggil dulu Lan Hong ke sini, juga pangil Cu An yang

berada di kamarnya. Ada urusan penting sekali yang hendak

kubicarakan dengan kalian bertiga.”

Isteri Sie Kian memandang suaminya dengan heran, akan

tetapi tidak membantah dan ia lalu keluar dari kamarnya. Tak

lama kemudian ia muncul kembali bersama seorang gadis

yang manis, yaitu Lan Hong, dan seorang laki-laki muda

berusia kurang lebih duapuluh lima tahun. Pria ini adalah Kim

Cu An, murid kepala yang kini membantu Si Kian memimpin

para murid yang belajar di perguruan silat itu. Karena Kim Cu

An seorang yatim piatu yang tidak mempunyai sanak keluarga,

maka dia diterima tinggal di rumah gurunya itu, sebagai

murid, juga sebagai pembantu guru. Tentu saja Cu An merasa

terkejut dan heran ketika oleh ibu gurunya dia dipanggil

menghadap gurunya di dalam kamar gurunya itu!

Setelah isterinya, puterinya dan muridnya duduk di atas

bangku dalam kamar itu, dengan sikap masih tenang Sie Kian

lalu bicara. “Kalian tentu masih ingat akan ceritaku tentang

peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu ketika aku

mengadakan perjalanan ke Hok-kian itu, bukan?”

“Peristiwa yang mana?” tanya isterinya.

“Apakah suhu maksudkan pertemuan suhu dengan suami

isteri perampok itu?” tanya Cu An.

Gurunya mengangguk. “Benar. Seperti telah kuceritakan,

aku berhasil menyelamatkan keluarga bangsawan dari kota

raja yang dirampok oleh perampok yang terdiri dari suami

isteri itu. Dalam perkelahian itu, aku terluka senjata rahasia

piauw, akan tetapi aku berhasil membunuh isteri perampok itu

dan melukainya. Akan tetapi, ketika itu aku tidak menceritakan

kepada kalian akan sumpah dan dendam perampok yang

kematian isterinya itu. Ketika itu kuanggap tidak penting dan

semua perampok yang dikalahkan tentu akan mengeluarkan

ancaman. Akan tetapi…., hari ini ancaman perampok itu

agaknya akan dilaksanan!” Sie Kian menarik napas panjang.

“Ancaman bagimana?” tanya isterinya, nampak khawatir.

“Ketika itu, sambil memanggul jenazah isterinya dan dalam

keadaan luka dia bersumpah bahwa pada suatu hari dia akan

mencariku dan akan membasmi seluruh keluargaku. Ancaman

yang keluar dari mulut seorang perampok seperti itu, mana

ada harganya untuk diperhatikan dan dianggap serius!”

“Akan tetapi…. dia bersumpah karena kematian isterinya,

dan hal itu berbahaya sekali!” kata isterinya.

Sie Kian kembali menarik napas dan dia mengangguk.

“Benar sekali pendapatmu itu dan sekarang inilah buktinya.”

Dia mengeluarkan senjata piauw dan kertas bersurat itu. “Tadi

kutemukan surat ini tertancap piauw di daun pintu belakang.

Surat itu berbunyi begini.” Sie Kian membacakan surat itu,

didengarkan dengan muka pucat oleh isterinya. Lan Hong dan

Cua An mendengarkan dengan sikap tenang. Mereka adalah

orang-orang muda yang sejak kecil sudah belajar ilmu silat

maka memiliki ketabahan besar.

“Ayah, kalau dia muncul, kita lawan dia! Penjahat itu sudah

sepatutnya dibasmi!” kata Lan Hong dengan penuh semangat.

“Sumoi benar, suhu. Kita tidak perlu takut menghadapi

ancaman dan gertak kosong seorang penjahat seperti dia….”

“Ha-ha-ha-ha-ha…!” Pada saat itu, terdengar suara orang

tertawa yang datangnya dari atas genteng.

Sie Kian meloncat dari kursinya. “Lan Hong, Cu An, kalian

menjaga ibu dan adik kalian di sini! ” berkata demikian, tubuh

Sie Kian sudah berkelebat keluar dari dalam kamar itu dan dia

segera keluar dan meloncat ke atas genteng. Pada saat dia

meloncat ke atas genteng, terdengar suara anjing

menggonggong di belakang, akan tetapi suara

gonggongannya berubah pekik kesakitan lalu sunyi.

Sie Kian melayang turun dan lari ke belakang. Dia tidak

melihat berkelebatnya orang, hanya menemukan anjing

peliharaannya itu telah mati den sebuah ronce merah nampak

di lehernya. Anjing itu mati dengan sebatang senjata piauw

terbenam di dalam lehernya! Sie Kian mencari-cari,

memandang ke kanan kiri dengan waspada. Akan tetapi pada

saat itu, terdengar bunyi ayam-ayam berteriak, disusul ringkik

kuda.

“Celaka….!” serunya dan dia cepat lari ke kandang kuda

dan ayam yang berada agak jauh di samping rumah. Dan

seperti juga anjingnya, dia melihat belasan ekor ayam

peliharaannya, dan seekor kuda, telah menggeletak mati!

Sie Kian tidak memperdulikan lagi keadaan binatangbinatang

peliharaannya dan cepat dia lari masuk ke dalam

rumah melalui pintu belakang. Dan pada saat itu, terdengar

jerit wanita yang datangnya dari kamar para pelayan di

belakang. Sie Kian terkejut dan kembali dia melompat keluar,

menuju ke kamar pelayan. Dia merasa menyesal sekali

mengapa memandang rendah lawan dan dia lupa untuk

memanggil dua orang pelayannya agar berkumpul di dalam

rumah besar. Dan seperti yang dikhawatirkan, dua orang

pelayan wanita itu telah tewas di dalam sebuah kamar

pelayan, leher mereka, hampir putus dan kamar itu banjir

darah. Jelas bahwa leher mereka terbabat oleh pedang!

Sie Kian menjadi marah sekali. Dia meloncat masuk ke

dalam rumah dan hatinya lega melihat betapa Lan Hong dan

Cu An masih berjaga di depan kamar, sedangkan isterinya,

dengan muka pucat, duduk di atas pembaringan memangku

Sie Liong yang masih t idur nyenyak.

“Apa… apa yang terjadi…?” tanya isterinya ketika dia tiba

di kamar itu.

“Jahanam itu…., dia telah mulai melaksanakan

ancamannya! Semua binatang peliharaan kita dibunuhnya,

juga dua orang pelayan kita dibunuhnya.”

“Aihhh….!” Isterinya menangis.

“Sudah, tenanglah dan jangan menangis. Kita harus siap

siaga menghadapinya. Dia tidak main-main dan ancamannya

bukan gertak kosong. Cu An dan Lan Hong, kalian tetap

berjaga di sini, menjaga keselamatan ibumu dan adikmu. Aku

yang akan menghadapi jahanam busuk itu!”

“Baik, ayah,” kata Lan Hong dengan luka pucat walaupun ia

masih bersikap tenang. Kini tangannya memegang sebatang

pedang.

“Teecu akan menjaga subo dengan taruhan nyawa, suhu!”

kata Cu An dangan sikap gagah. Juga dia memegang

sebatang pedang.

Dengan hati penuh kemarahan, Sie Kian lalu keluar dari

dalam kamar, berdiri sejenak di ruangan tengah, memasang

telinga. Akan tetapi tidak mendengar suara apa-apa dan

malam tiba dengan sunyinya. Dia lalu keluar berindap-indap

dari dalam ruangan itu, kemudian mengelilingi rumah dan

memeriksa setiap sudut. Namun, tidak nampak bayangan

orang.

Dengan gemas dia lalu meloncat naik ke atas genteng,

berdiri di wuwungan rumahnya, lalu berteriak, “Perampok

laknat, penjahat keji, jahanam keparat! keluarlah dari tempat

persembunyianmu dan marilah kita bertanding secara jantan

untuk menentukan siapa yang lebih kuat!”

Namun, tidak ada jawaban dan suasana, sunyi saja.

Tempat tinggal keluarga Sie memang berada di sudut kota

Tiong-cin, di pinggir dan mempunyai pekarangan luas, agak

jauh dari tetangga, agak terpencil. Memang Sie Kian memilih

tempat ini di mana dia dapat membuat lapangan yang luas

untuk berlatih silat para muridnya. Sebagai seorang guru silat

bayaran, Sie Kian menerima siapa saja yang mampu

membayar, dan karena itu dia memiliki banyak sekali murid,

baik dari kota Tiong-cin sendiri maupun dari dusun-dusun

sekitarnya dan dari kota lain. Akan tetapi, semua muridnya

tidak ada yang tinggal di situ kecuali Cu An yang merupakan

murid utama dan kini bahkan menjadi guru pembantunya.

Karena usahanya mencari musuh itu sia-sia, dan

tantangnnya juga tidak mendapatkan jawaban, akhirnya

dangan hati mendongkol Sie Kian masuk lagi ke dalam rumah.

Ketika isterinya, Lan Hong, dan Cu An memandang kepadanya

dengan mata bertanya, dia hanya menggeleng kepala. “Tidak

ada bayangan si keparat itu! Dia tentu telah pergi, atau

bersembunyi, untuk menanti kelengahanku, atau

mendatangkan ketegangan dalam hati kita.”

Memang suasana menjadi tegang sekali. Bahkan Cu An

yang biasanya tenang itu kini nampak agak pucat. Siapa

orangnya yang tidak akan tegang menanti musuh yang main

kucing-kucingan dan amat kejam itu? Semua binatang

peliharaan telah dibunuhnya, juga dua orang pelayan wanita

yang sama sekali t idak berdosa dan kini dia menghilang,

membiarkan semua orang dicekam ketegangan dan

kegelisahan.

Mereka berempat duduk di dalam kamar itu. Isteri Sie Kian

merupakan orang yang paling ketakutan. Sie Kian duduk

dangan tenang, akan tetapi pendengarannya dicurahkan

keluar untuk menangkap gerakan yang tidak wajar di luar

rumah. Yang benar-benar tenang hanyalah Sie Liong, anak

berusia sepuluh bulan itu! Dia masih suci, batinnya masih

bersih dari pengetahuan sehingga rasa takut dan duka tidak

akan pernah dapat menyentuhnya.

“Suhu….!” Suara Cu An terdangar aneh ketika memecah

kesunytan itu. Bahkan suara yang hanya merupakan satu kata

panggilan itu sempat mengejutkan Lan Hong yang menoleh

kepadanya dangan kaget, juga nyonya Sie terperanjat. Hanya

Sie Kian yang dengan tenang memandang muridnya itu.

“Ada apakah, Cu An? Takutkah engkau?”

Pemuda itu menjilat bibirnya yang kering. Akan tetapi

lidahnya juga kering bahkan mulutnya terasa kering sekali,

dan dia menggeleng kepalanya.

“Suhu, teecu tidak takut, hanya tegang. Kalau musuh

sudah berada di depan teecu, biar teceu terancam mautpun

teecu tidak takut. Akan tetapi suasana tidak menentu ini

sungguh menegangkan. Bagaimana kalau kita semua pindah

saja ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat)? Di sana lebih luas.

Kalau terjadi penyerangan sewaktu-waktu, kita akan lebih

leluasa untuk menghadapi musuh.”

Setelah berpikir sejenak, Sie Kian mengangguk, “Engkau

benar, Cu An. Kita belum tahu berapa orang jumlah musuh

yang akan datang menyerbu, dan kamar ini memang terlalu

sempit sehingga membahayakan keselamatan subo-mu dan

adikmu yang kecil. Mari kita semua pindah saja ke ruangan

latihan silat.”

Sie Kian menyuruh puterinya membawa kasur agar di

ruangan yang luas itu isterinya dapat menidurkan puteranya

yang masih kecil. Mereka semua dengan penuh kewaspadaan

lalu pindah ke dalam ruangan berlatih silat, sebuah ruangan

jauh sepuluh kali lebih luas dari pada kamar itu, dan di situ

hanya ada satu pintu besar dari mana orang luar dapat

masuk. Kasur yang dibawa Lan Hong diletakkan di sudut

ruangan itu dan ibunya lalu duduk di situ sambil memangku

Sie Liong.

Setelah pindah ke ruangan yang lebih luas ini, benar saja

hati mereka bertiga yang siap menghadapi musuh menjadi

lebih tenang. Ruangan itu cukup luas dan mereka bertiga

dapat melindungi Nyonya Sie dari depan saja karena tempat

itu dikelilingi dinding sehingga lebih mudah bagi mereka untuk

mempersatukan tenaga menghadapi serbuan musuh.

Betapapun juga, suasana tegang tetap saja mencekam hati

mereka. Sie Kian sendiri berulang kali mengepal tinju, merasa

dipermainkan oleh musuhnya. Dia tahu bahwa sekali ini, dia

harus berjuang mati-matian, mempertahankan nyawa

keluarganya. Dia berjanji bahwa sekali ini, dia akan membasmi

semua musuh yang datang, tidak memberi kesempatan

seorangpun berhasil lolos agar tidak terulang pembalasan

dandam seperti ini. Kalau saja dulu dia membunuh perampok

pria itu, tentu tidak akan timbul masalah seperti sekarang.

Tiba-tiba Sie Kian terkejut dan dia meloncat keluar dari

pintu lian-bu-thia. Juga Cu An dan Lan Hong meloncat berdiri,

pedang siap di tangan kanan dan mereka berdua sudah

mengambil sikap berjaga-jaga, sedangkan nyonya Sie

mendekap puteranya dangan muka pucat, mata terbelalak dan

jantung berdebar penuh ketegangan. Tak lama kemudian

terdangar suara kucing mengeong disusul suara Sie Kian

menyumpah-nyumpah! Kiranya suara yang mencurigakan tadi

hanyalah suara seekor kucing yang kebetulan lewat! Sungguh

menggelikan sekali betapa ketegangan membuat semua orang

menjadi demikian mudah kaget. Sie Kian muncul kembali dari

pintu dan diapun menahan ketawanya, walaupun perutnya

terasa geli. Demikian Pula Cu An dan Lan Hong.

Dari jauh terdangar suara ayam jantan berkokok. Biasanya,

kalau ada ayam jantan berkokok, ayam jantan di kandang

keluarga itu akan menyambutnya. Sekali ini, kokok ayam itu

tidak ada yang menyambut, akan tetapi Sie Kian maklum

bahwa tengah malam telah lewat. Ayam jantan di sana itu

sudah biasa berkokok di waktu tengah malam, kemudian di

waktu pagi sekali. Kini tengah malam telah lewat. Betapa

cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru saja dia menerima surat

itu, di senja hari tadi, dan tahu-tahu kini telah lewat tengah

malam.

Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara ketawa

terbahak-bahak yang datangnya dari luar rumah! Kini Sie Kian

melompat berdiri dan dia membentak marah.

“Pengecut hina yang berada di luar! Masuklah, aku berada

di lian-bu-thia sudah sejak tadi menanti kedatanganmu. Mari

kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak

bernyawa lagi!” tantangnya.

Suara ketawa itu berhenti, dan kini disusul suara yang

mengandung ejekan, “Sie Kian! Aku memang memberi waktu

agar kallan dicekam ketegangan hebat. Sekarang aku datang

untuk membunuhmu. Keluarlah, aku menunggumu di

pekarangan depan rumahmu!”

“Jahanam busuk! Engkau masuklah, aku sudah menanti

dangan pedang di tangan untuk membunuhmu!” bentak Sie

Kian yang tidak ingin meninggalkan keluarganya.

“Ha-ha-ha-ha, Sie Kian kini menjadi seorang pengecut dan

penakut! Aku menantangmu di luar, dan engkau bersembunyi

di balik gaun isterimu? Ha-ha! Keluarlah dan sambut aku,

kalau tidak aku akan membakar rumahmu ini.”

“Suhu…., jangan keluar, mungkin ini suatu siasat

memancing harimau keluar sarang,” bisik Cu An gelisah.

“Tidak, di sini ada engkau dan Lan Hong, hatiku tenang

adanya kalian bardua menjaga ibumu. Aku akan keluar

menyambut tantangan anjing keparat itu!”

“Hayo, Sie Kian! Apakah engkau benar-benar takut?”

teriakan itu datang lagi dari luar.

“Jahanam busuk, siapa takut? Tunggu, aku akan

menyambut tantanganmu!” Sie Kian segera meloncat keluar,

terus menuju ke pekarangan depan rumahnya.

Orang itu sudah menanti di luar. Lampu dua buah yang

tergantung di serambi depan cukup terang, menerangi

pekarangan itu. Memang tadi dia menggantung dua buah

lampu agar tempat itu menjadi terang, tidak seperti biasanya

yang hanya diterangi sebuah lampu gantung. Dari penerangan

dua buah lampu itu, Sie Kian yang sudah berdiri berhadapan

dalam jarak empat meter dangan orang itu, dapat mengenal

wajah musuh besarnya. Wajah seorang laki-laki yang masih

muda, kurang lebih tigapuluh tahun usianya. Wajah seorang

laki-laki yang cukup tampan, halus dan tidak ditumbuhi kumis

dan jenggot lebat. Bahkan wajah itu posolek, pakaiannyapun

rapi dun bagus, sepatunya mengkilap baru. Itulah wajah

perampok yang lima tahun yang lalu berkelahi dangannya,

perampok yang kematian isterinya. Akan tetapi kini ada

sesuatu dalam sikap orang itu yang menunjukkan bahwa dia

bukanlah orang yang dahulu, bahwa kini dia telah menjadi

seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Agaknya selama

lima tahun ini dia telah menggembleng diri mati-matian, hanya

untuk melakukan balas dandam ini.

Akan tetapi Sie Kian tidak merasa gentar. Kalau

berhadapan dangan seorang lawan, betapapun kuat lawan itu,

dia tidak pernah gentar. Tidak ada lagi ketegangan seperti

tadi. Hanya ada sedikit kekhawatiran bahwa orang ini

menggunakan tipu muslihat, memancing dia keluar dan ada

temannya yang akan menyerang ke dalam. Akan tetapi

kekhawatiran inipun diusirnya dangan keyakinan bahwa murid

kepala dan puterinya cukup kuat untuk melindungi isteri dan

puteranya yang masih kecil.

“Hem, kiranya engkau perampok busuk yang dulu itu?

Sungguh perbuatanmu ini menunjukkan kecurangan dan

membuktikan bahwa engkau seorang pengecut. Kalau hendak

membalas dandam, kenapa tidak langsung saja menantangku?

Kenapa memakai jalan membunuhi binatang-binatang dan

pelayan-pelayan yang tidak berdosa?”

“Ha-ha-ha, Sie Kian, lupakah kau akan sumpahku bahwa

suatu hari aku akan membasmi engkau dan seluruh

keluargamu dan seluruh isi rumahmu? Ha-ha-ha, sekaranglah

saatnya! Tidak perlu banyak cakap, nanti kalau sudah mati

nyawamu akan bertemu dengan isteriku dan masih ada waktu

bagimu untuk minta ampun kepadanya!”

“Jahanam busuk!” Sie Kian memaki dan diapun sudah

menyerang dengan pedangnya. Serangannya dahsyat sekali

karena dalam marahnya, ingin Sie Kian segera merobohkan

musuh ini. Pedangnya berkelebat dari samping dan mengirim

bacokan ke arah leher orang itu yang kalau mengenai sasaran

tentu akan membuat leher itu terpenggal putus.

Akan tetapi, orang itu bergerak cepat sekali dan dengan

mantap pedangnya berkelebat dari samping ke atas,

menangkis bacokan pedang Sie Kian.

“Tringggg….!” Nampak bunga api berpijar dan Sie Kian

merasa betapa lengan tangannya tergetar hebat. Dia terkejut

dan meloncat ke belakang, melihat pedangnya. Ternyata

pedangnya itu patah sedikit pada mata pedangnya, hal ini

menunjukkan bahwa pedang di tangan lawannya adalah

sebuah pedang pusaka yang ampuh! Orang itu tertawa

mengejek dan langoung menyerang dengan dahsyat. Sie Kian

mengelak ke samping dan membalas serangan musuh dan

mareka segera terlibat dalam perkelahian mati-matian dan

seru sekali. Dan sekali ini, Sie Kian harus mengaku dalam

hatinya bahwa lawannya sungguh sama sekali tidak boleh

disamakan dengan dahulu, tidak boleh dipandang rendah

karena ternyata memiliki ilmu pedang yang hebat, di samping

tenaga sin-kang kuat ditambah lagi sebatang pedang pusaka

yang ampuh!

Mulailah Sie Kian merasa khawatir. Seorang lawan saja

Sudah begini lihai, apa lagi kalau dia datang berkawan. Ah,

isteri dan anaknya berada di dalam! Bagainana kalau dia

kalah? Bagaimana kalau ada kawan-kawan penjahat ini? Lebih

baik menyuruh mereka melarikan diri! Biarlah, dia akan mati di

tangan musuh, asal keluarganya selamat!

“Singgg….!” Pedang lawan meluncur dekat sekali dengan

dadanya. Sie Kian mengelak ke kanan, akan tetapi pedang itu

sudah membacok dari kiri dengan kecepatan kilat. Sie Kian

menggerakkan pedang menangkis. Terpaksa menangkis

karena sejak tadi dia tidak pernah mengadu senjata secara

langsung, maklum bahwa pedangnya akan kalah kuat. Kini,

karena tidak mungkin mengelak lagi, terpaksa dia menangkis.

“Cringgg….!” Pedang di tangan Sie Kian patah dan buntung

bagian atasnya! Lawannya tertawa bergelak dan kesempatan

ini dipergunakan oleh Sie Kian untuk mengerahkan tenaga

berteriak ke arah dalamrumah.

“Lan Hong….! Ajak ibu dan adikmu melarikan diri!

Cepaaaattt….!”

Lawannya tertawa bergelak, tertawa mengejek dan

pedangnya menyambar dengan cepatnya, menusuk ke arah

lambung Sie Kian. Guru silat ini melihat datangnya serangan

yang amat berbahaya. Dia melempar tubuhnya ke atas tanah

dan bergulingan sehingga terbebas dari tusukan tadi. Akan

tetapi lawannya mengejar dan pada saat itu muncullah Kim Cu

An. Pemuda ini mendengar teriakan gurunya, menjadi

khawatir sekali. Sejak tadi, tidak ada musuh menyerbu lianbu-

thia itu, maka dia berpendapat bahwa musuh hanya

seorang saja dan agaknya gurunya membutuhkan bantuan.

Kalau tidak begitu, tentu gurunya tidak berteriak menyuruh

puterinya membawa ibu dan adiknya melarikan diri! KimCu An

lalu berlari keluar dan di pekarangan itu dia melihat suhunya

bergulingan di atas tanah, dikejar oleh seorang laki-laki

bertubuh jangkung yang gerakannya gesit bukan main.

“Suhu, teecu datang membantumu!” teriak Cu An dan dia

lalu menggerakkan pedangnya membacok orang itu dari

belakang. Akan tetapi, orang itu memutar pedangnya

menangkis.

“Tranggg….!” Cu An mengeluarkan seruan kaget karena

pedangnya terpental dan hampir terlepas dari pegangan

saking kuatnya tenaga lawan dan ketika dia melihat,

pedangnya telah buntung ujungnya!

“Hati-hati, Cu An, dia memegang sebatang pedang

pusaka!” teriak Sie Kian yang telah terbebas dari desakan tadi

berkat bantuan muridnya. Kini guru dan murid menghadapi

lawan tangguh itu dengan pedang mereka yang sudah

buntung ujungnya!

Orang itu tertawa lagi. “Ha-ha-ha kebetulan sekali. Kalian

sudah berkumpul di sini sehingga tidak melelahkan aku harus

mencari ke sana-sini! Kalian akan mampus di tanganku!”

“Nanti dulu! Perkenalkan dulu namamu sebelum kami

menbunuhmu!” bentak Sie Kian yang ingin tahu siapa

sebenarnya musuh besarnya ini.

“Ha-ha-ha, apa artinya kalau kuperkenalkan namaku pada

kalian yang sebentar lagi akan mampus?” Tiba-tiba saja orang

itu sudah menerjang dengan dahsyatnya dan pedangnya

bergerak amat cepatnya, berubah menjadi gdlungan sinar

yang menyambar-nyambar, mengeluarkan suara berdesing

dan menimbulkan angin berpusing. Sungguh suatu ilmu

pedang yang amat dahsyat! Sie Kian dan Cu An segera

mengerahkan tenaga dan seluruh kepandaian mereka untuk

menahan serangan itu. Namun mereka segera terdesak hebat

dan tiba-tiba tangan kiri lawan itu bergerak. Tiga batang

piauw beronce merah menyambar ke arah tiga bagian tubuh

depan Cu An, abdangkan pedangnya membuat gerakan

memutar membacok ke arah tubuh Sie Kien dilanjutkan

tusukan-tusukan maut!

Guru dan murid ini menjadi repot sekali. Hampir saja Cu An

menjadi korban senjata rahasia piauw itu. Untung dia masih

dapat melempar tubuh ke atas tanah sehingga terbebas dari

renggutan maut lewat senjata piauw. Dan Sie Kian juga

terhuyung ke belakang dalam usahanya mengelak dan

menangkis gulungan sinar pedang. Pada saat itu, lawannya

kembali menggerakkan tangan kiri dan tiga sinar merah

meluncur ke arah tenggorokan, dada dan lambung Sie Kian

yang sedang terhuyung, dan orang itu meninggalkannya,

pedangnya kini menyambar-nyambar ke arah Cu An yang baru

saja meloncat bangun dari atas tanah di mana dia berguling

tadi.

Cu An berusaha menangkis, namun kembali pedangnya

patah dan pedang lawan meluncur terus memasuki dadanya.

“Cappp….!” Pedang dicabut, darah menyembur dan tubuh

Cu An terjengkang, tewas seketika karena jantungnya

ditembusi pedang lawan.

Sie Kian yang juga repot sekali mengelak dari sambaran

tiga batang piauw tadi, terkejut bukan main melihat muridnya

roboh. Akan tetapi pada saat itu, lawannya sudah datang

menerjangnya. Dia berusaha menangkis, namun seperti

keadaan muridnya, pedang yang menangkis itu patah dan

pedang lawan meluncur terus dengan kekuntan dahsyat

menyambar ke arah leher. Terdangar suara bacokan keras dan

leher Sie Kian terbabat putus. Kepalanya terlepas dari

tubuhnya dan menggelinding ke atas tanah. Tubuhnya

terbanting keras dan darah bercucuran membasahi tanah

pekerangan.

Orang itu tertawa bergelak, dengan wajah gembira dia

menyambar rambut kepala Sie Kian dengan tangan kirinya,

lalu dia berloncatan memasuki rumah itu.

Sementara itu, Lan Hong yang tadi mendengar teriakan

ayahnya, menjadi khawatir sekali. Bagaimana ia dapat

melarikan diri kalau ayahnya terancam bahaya? Apa lagi, ia

harus membawa lari ibunya dan adiknya, bagaimana mungkin

ia dapat berlari cepat, dan andaikata ia melarikan ibunya dan

adiknya, tentu akan dapat dikejar dan disusul pula oleh musuh

yang lihai. Ia merasa bimbang, apa lagi ketika melihat

suhengnya melompat keluar untuk membantu ayahnya. Lan

Hong lalu berdiri melindungi ibunya yang masih mendekap

adiknya. Melihat ibunya menggigil ketakutan, ia berkata

dengan gagah, dan mengangkat pedangnya.

“Ibu, jangan takut! Aku akan melindungi ibu dan adik

Liong.”

Melihat sikap puterinya, Nyonya Sie timbul pula

keberaniannya. Orang jahat akan mengganggu anak-anaknya?

Tidak, ia tidak boleh tinggal diam saja! Biarpun tidak sangat

mendalam, ia pernah pula belajar ilmu silat dan kini, melihat

puterinya akan menghadapi orang jahat, dan melihat bayinya

terancam, bangkit semangat dan keberanianaya. Apa lagi

mengingat betapa suaminya juga terancam bahaya maut. Ia

segera menurunkan Sie Liong yang masih tidur itu ke atas

kasur, lalu ia sendiri berlari ke arah rak senjata yang berada di

sudut ruangan belajar silat itu, memilih aenjata sebatang

golok kecil yang ringan dan ia berdiri di samping puterinya.

“Kita beroama menghadapi penjahat, Hong-ji!” katanya.

Lan Hong khawatir melihat ibunya, akan tetapi dalam keadaan

seperti itu, lebih banyak orang yang menghadang penjahat

lebih baik. Ia hanya mengharapkan ayahnya dan suhengnya

sudah cukup untuk mengusir penjahat yang menyerbu rumah

mereka.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketawa dan sebuah

benda melayang dari pintu ruangan itu masuk ke dalam.

Benda itu jatuh ke lantai lalu menggelinding ke depan dua

orang wanita itu. Lan Hong yang sudah siap siaga,

memandang benda itu. Sebuah kepala yang lehernya masih

berlepotan darah!

“Ayah….!” Ia menjerit.

Ibunya melengking dan menubruk ke depan, melempar

goloknya dan menangis menggerung-gerung. Pada saat itu

ada bayangan orang berkelebat masuk.

“Ibu mundur….!” Lan Hong berteriak, akan tetapi

terlambat. Ibunya sudah meloncat ke depan dan menubruk

kepala suaminya itu, dan pada saat itu, laki-laki jangkung

yang berkelebat masuk itu sudah menggerakkan pedangnya.

“Crakkkk!” Pedang itu menyambar cepat dan kuat sekali,

dan leher ibu yang menangisi kepala suaminya itupun terbabat

putus, kepalanya menggelinding di atas lantai dan darah

menyembur-nyembur.

“Ibuuu….!” Lan Hong hampir pingsan melihat ini, akan

tetapi kemarahan membuat ia dapat menahan diri dan dengan

kemarahan meluap, dendam sakit hati yang amat hebat, iapun

menyerang laki-laki itu dengan pedangnya, ia menusuk

dengan sekuat tenaga ke arah dada orang itu sambil

mengeluarkan suara melengking nyaring saking marahnya.

Laki-laki itu mengelak dan dia mengamati gadis yang

menyerangnya, sinar kagum terpancar dari pandang matanya.

“Ah, engkau sungguh manis sekali! Engkau puteri Sie Kian?

Sungguh tak kusangka guru silat itu mempunyai seorang

puteri yang begini cantik dan manis!” Kembali dia mengelak

ketika pedang di tangan Lan Hong menyambar ke arah

lehernya.

Lan Hong tidak memperdulikan kata-kata orang itu yang

memuji-muji kecantikannya. Hatinya penuh dandam kebencian

dan ingin ia menyayat-nyayat dan mencincang hancur tubuh

musuh besar yang telah membunuh ayah ibunya itu. Ia

melanjutkan serangannya, dan kemarahan membuat

seranggnnya itu tidak teratur lagi, akan tetapi justru serangan

seperti itu amat berbahaya.

Melihat kenekatan gadis yang menyerangnya sambil

bercucuran air mata itu, laki-laki itu segera menggerakkan

pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

Pedang yang menangkis itu mengeluarkan tenaga getaran

kuat sehingga ketika pedang bertemu, pedang di tangan Lan

Hong patah dan juga terlepas dari pegangannya! Gadis itu

berdiri dengan muka pucat akan tetapi matanya terbelalak

memandang penuh kabencian. Laki-laki di depannya itu

berusia kurang lebih tigapuluh tahun, wajahnya tampan dan

pakaiannya rapi, tubuhnya tinggi semampai. Seorang pria

yang akan menarik hati setiap orang wanita, akan tetapi pada

saat itu, Lan Hong melihatnya seperti setan jahat yang amat

dibencinya.

Laki-laki itu menodongkan pedangnya ke depan dada Lan

Hong, tersenyum dan kembali matanya memancarkan sinar

kagum dan juga heran. “Sungguh mati, kalau usiamu tidak

semuda ini, tentu kau kukira isteriku! Engkau mirip benar

dangan isteriku, bahkan engkau lebih cantik manis, lebih segar

dan lebih muda! Ahh, ayahmu telah membunuh istriku, sudah

sepatutnya kalau dia menyerahkan puterinya sebagai

pengganti isteriku. Ha-ha, benar sekali! Nona manis, engkau

akan menjadi isteriku. Aku t idak akan membunuhmu,

sebaliknya malah, aku akan mengambil engkau menjadi

isteriku, isteri yang tercinta, dan aku akan membahagiakanmu,

akan melindungimu…. engkau akan menjadi pengganti isteriku

yang telah tiada….”

“Tidak sudi! Lebih baik aku mati dari pada menjadi

isterimu, jahanam!” teriak Lan Hong dan kini gadis ini

menyerang dengan kepalan tangannya, menghantam ke arah

muka yang amat dibencinya itu.

“Plakk!” Tangan itu telah tertangkap pada pergelangannya

oleh tangan kiri pria itu.

“Nona, pikirkan baik-baik dan jangan menurutkan nafsu

amarah. Ingat bahwa aku terpaksa membunuh keluarga

ayahmu karena ayahmu pernah membunuh isteriku yang

tercinta. Sekarang, semua hutang telah lunas dan engkau….,

engkau sungguh menarik hatiku, aku jatuh cinta padamu,

nona. Engkau menjadi pengganti isteriku. Mudah saja bagiku

untuk memaksamu dan memperkosamu, nona. Akan tetapi

aku sungguh tidak menghendaki itu. Aku ingin engkau dengan

suka rela menyerahkan diri padaku, menjadi isteriku yang

kucinta.”

“Tidak! Tidak sudi! Lebih baik aku mati!” Lan Hong

meronta-ronta dan pada saat itu terdengar tangis seorang

anak kecil! Sie Liong agaknya terbangun dan dia menangis

menjerit-jerit seperti anak yang ketakutan.

Baik Lan Hong maupun orang itu terkejut. Orang itu

melepaskan Lan Hong yang tadi sudah melupakan adiknya itu,

dan dengan pedang di tangan dia menghampiri kasur

terhampar di mana anak itu rebah menangis.

“Aha! Kiranya keluarga Sie masih mempunyai seorang anak

kecil? Laki-laki pula! Ah, dia harus mampus….!”

Tiba-tiba saja Lan Hong menubruk adiknya. “Tunggu….!

Jangan…. jangan bunuh adikku….!” jeritnya sambil mendekap

adiknya, melindunginya, mukanya pucat dan matanya

terbelalak memandang pria itu. “Jangan bunuh adikku…. ah,

kumohon padamu, jangan bunuh adikku yang masih kecil

ini….!”

“Dia putera ayahmu, kelak hanya akan menjadi ancaman

bahaya bagiku. Aku harus membunuhnya. Berikan dia

padaku!” Laki-laki itu menghardik, kini suaranya berubah,

tidak seperti tadi, penuh nada manis merayu, kini terdangar

galak dan kejam.

Lan Hong membayangkan betapa orang itu akan

membunuh adiknya. Kalau ia melawan, iapun tentu akan mati.

Baginya, mati bukan apa-apa, akan tetapi kalau ia mati dan

adinya mati pula, lalu siapa kelak yang akan membalas

dendam setinggi gunung sedalam lautan ini? Satu-satunya

jalan, ia harus mengorbankan diri, menyerahkan diri, demi

adiknya agar dapat hidup, agar kelak akan ada yang

membalaskan kehancuran dan pembasmian keluarga ayahnya

ini!

“Tidak! Tunggu….! Aku…. aku akan menyerahkan diri,

dengan suka rela…. aku akan menjadi isterimu asalkan

engkau…. tidak membunuh adikku….! Kalau engkau tetap

membunuhnya, aku akan melawanmu sampai mati dan aku

tidak akan menyerahkan diri, aku akan membunuh diri!”

Sejenak pria itu tertegun, memandang kepada anak lakilaki

dalam pondongan gadis itu, lalu memandang gadis itu dari

kepala sampai ke kaki. Sungguh aneh sekali, pikirnya. Gadis

ini mirip benar dengan isterinya yang telah tiada! Dan begitu

bertemu, timbul rasa suka dan cinta kepada gadis ini. Baru

penolakannya saja sudah menyakitkan hati, kalau dia harus

memperkosanya, hatinya akan lebih kecewa lagi. Kalau gadis

itu menyerahkan diri seeara suka rela, mau menjadi isterinya,

alangkah akan bahagianya hatinya! Hidupnya akan menjadi

terang lagi setelah kegelapan bertahun-tahun yang dideritanya

karena kematian isterinya. Akan tetapi anak itu! Ah, bukahkah

janjinya hanya tidak akan membunuhnya? Baik, dia tidak akan

membunuhnya, tapi….!

“Benar engkau akan menyerahkan diri kepadaku dengan

suka rela?”

“Benar!”

“Dan engkau akan belajar mencintaku seperti aku

mencintamu setelah aku menjadi suamimu yang

mencintamu?”

Wajah gadis itu berubah merah. “Aku…. aku akan

mencoba….”

“Bagus, kalau begitu, aku tidak akan membunuh adikmu,

akan tetapi sekali engkau memperlihatkan sikap memusuhi

aku yang menjadi suamimu, adikmu akan kubunuh!”

“Tidak, engkau harus bersumpah dulu! Bersumpahlah

bahwa engkau tidak akan membunuh Sie Lionh, adikku ini.

Bagaimanapun juga aku percaya bahwa engkau masih

memilikl harga diri dan memiliki kehormatan untuk memegang

teguh sumpahmu. Bersumpahlah, baru aku akan percaya

padamu.” Gadis itu mempertahankan diri sambil mondekap

adiknya yang sudah berhenti menangis.

Pria itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Engkau

cantik, engkau manis, engkau gagah dan engkau cerdik!

Sungguh membuat aku samakin jatuh cinta saja. Engkau patut

menjadi isteriku, sungguh! Siapakah namamu? Aku akan

bersumpah.”

“Namaku Sie Lan Hong dan adikku ini Sie Liong.”

“Nah, sekarang dengarkan sumpahku!” kata pria itu dan

diapun berdiri dengan tegak, mengangkat pedangnya di depan

dahi, mengacung ke atas dan diapun berkata dengan suara

lantang. “Aku, Yauw Sun Kok, bersumpah demi nama dan

kehormatanku, disaksikan oleh padang pusakaku, Bumi dan

Langit, bahwa kalau Sie Lan Song menjadi isteriku dan

membalas cinta kasihku, menyerah dengan suka rela

kepadaku, maka aku tidak akan membunuh Sie Liong! Biar

Bumi dan Langit mengutuk aku kalau aku melanggar

sumpahku!”

Setelah bersumpah, pria yang mengaku bernama Yauw Sun

Kok itu menyimpan pedangnya ke dalam sarung pedang dan

tersenyum kepada Lan Hong. “Nah, bagaimana? Puaskah

engkau dangan sumpahku tadi?”

Lan Hong mengangguk dan Sun Kok nampak girang sekali.

“Manisku, Hong-moi, kekasihku, isteriku…. kemenangan ini

harus kita rayakan. Untuk memperkuat sumpahku, saat ini

juga engkau harus menjadi isteriku yang tercinta. Tidurkan

adikmu itu….” Dengan lembut Sun Kok lalu mengambil Sie

Liong dari dekapan Lan Hong, merebahkan anak itu di tepi

kasur, kemudian dengan lembut namun penuh gairah,

bagaikan seekor harimau, dia menerkam Lan Hong,

mendorong gadis itu rebah ke atas kasur di dekat adiknya!

Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan hati gadis itu.

Dara yang sedang remaja ini terpaksa harus menyerahkan

dirinya bulat-bulat, tanpa perlawanan sedikitpun,

menyerahkan dirinya digauli pria yang baru saja membunuh

ayahnya, ibunya, suhengnya, dua orang pelayan dan semua

binatang peliharaan di dalam rumah. Bahkan ia harus

melayani pria itu di kasur yang dihamparkan di atas lantai lianbu-

thia, dan dari tempat ia rebah terlentang itu ia dapat

melihat dua buah kepala yang berlepotan darah di atas lantai,

tak jauh dari situ. Kepala ayahnya dan Ibunya!

Sie Liong mulai menangis lagi, meraung-raung. Lan Hong

juga menangis, merintih kesakitan. Namun, Yauw Sun Kok

yang dibakar nafsu birahinya itu tidak memperdulikan semua

itu. Dia sudah merasa bangga, juga bahagia sekali karena

gadis itu benar-benar menyerahkan diri bulat-bulat tanpa

perlawanan sedikitpun! Diapun tidak perduli ketika gadis itu, di

antara isak tangis dan rintihannya, berbisik-bisik, “Ayah….

Ibu…. ampunkanlah anakmu ini…. demi keselamatan Sie

Liong…. ahhhh….”

Setelah merasa puas dengan penyerahan diri yang sama

sekali tidak mengandung perlawanan seperti dijanjikan gadis

itu, Yauw Sun Kok merasa semakin sayang kepada Lan Song.

Rasa sayang itu dibuktikan dengan diturutinya permintaan

gadis itu untuk menguburkan jenazah ayah ibu gadis itu,

suhengnya, dan dua orang pelayan. Sun Kok malam itu juga

menggali lubang-lubang di belakang rumah keluarga Sie,

menguburkan jenazah suami isteri Sie Kian dalam satu lubang,

jenazab Kin Cu An dan dua orang pelayan di lain lubang.

Kemudian, menjelang pagi, diapun memondong tubuh Lan

Song yang juga memondong Sie Liong melarikan diri

secepetnya meninggalkan tempat itu.

Gegerlah penduduk Tiong-cin ketika pada keesokan harinya

mereka mendapatkan rumah keluarga Sie sunyi senyap. Ketika

para penduduk memeriksa, mereka tidak menemukan

seorangpun penghuni di rumah itu. Di pekarangen dan di

ruangan berlatth silat nampak banyak darah, dan semua

binatang di rumah itu mati dalam kandangnya. Tentu saja

para petugas pemerintah melakukan pemeriksaan dan mereka

menemukan dua lubang kuburan baru itu. Kuburan dibongkar

dan makin gegerlah kota Tiong-cin ketika mereka menemukan

mayat-mayat Sie Kian, isterinya, muridnya, dan dua orang

pelayan wanita. Jelas mereka itu tewas karena dibunuh,

bahkan Sie Kian dan isterinya tewas dengan kepala terpisah

dari badannya. Yang membuat semua orang bingung adalah

lenyapnya Sie Lan Hong dan Sie Liong, dua orang anak

keluarga Sie itu.

Teka-teki perist iwa yang terjadi di rumah keluarga Sie itu

tetap merupakan rahasia yang tidak terpecahkan oleh semua

orang. Dan rahasia itu memang tidak mungkin dapat

dipecahkan karena dua orang yang dapat menjadi kunci

pembuka rahasia itu, yaitu Sie Lan Hong dan Sie Liong, telah

pergi jauh sekali dari tempat itu. Ratusan bahkan ribuan li

jauhnya dari kota Tiong-cin karena Yauw Sun Kok

membawanya pergi ke barat, jauh sekali, di perbatasan barat

propinsi Sin-kiang!

0odwo0

Yauw Sun Kok adalah seorang laki-laki petualang yang

sudah hidup sebatangkara sejak masih kecil. Kedua orang

tuanya telah meninggal dunia karena wabah penyakit menular

yang amat berbahaya di dusunnya dan dalam usia sepuluh

tahun dia sudah hidup sebatang kara dan yatim piatu.

Kehidupan yang keras seorang diri ini menggemblengnya

menjadi seorang pemuda yang keras. Namun, dia memang

memiliki kecerdikan sehingga biarpun ketika ayah ibunya meninggal

dia baru berusia sepuluh tahun, namun dia telah

memiliki kepandaian membaca dan menulis. Ketika dia hidup

seorang diri, merantau sebatangkara dan menemui banyak

kekerasan dan kesulitan hidup, dia mengerti bahwa dalam

kehidupan yang sulit dan serba keras itu, dia perlu menguasai

ilmu silat. Maka, ke manapun dia merantau, dia selalu

berusaha untuk mempelajari ilmu silat dari siapapun.

Akhirnya, dalam usia lima belas tahun, setelah menguasai

beberapa macam ilmu silat, dia bekerja pada seorang kepala

perampok kenamaan di sepanjang Sungai Kuning. Karena dia

setia dan pandai mengambil hati, diapun menjadi murid kepala

perampok itu dan mempelajari ilmu silat dan ilmu….

merampok! Seringkali dia mewakili gurunya memimpin anak

buah untuk merampok atau membajak perahu-perahu di

sungai dan dalam usia dua puluh tahun, dia telah menjadi

seorang perampok yang lihai dan ditakuti. Bukan saja ilmu

silatnya cukup lihai, akan tetapi juga dia masih bersikap

seperti orang terpelajar dengan modal sedikit ilmu sastra yang

pernah dipelajari di waktu ayahnya masih hidup. Pakaiannya

selalu rapi dan karena wajahnya tampan, maka banyak wanita

yang jatuh hati kepadanya.

Di antara gadis yang tergila-gila kepadanya adalah puteri

kepala perampok itu sendiri! Gadis puteri kepala perampok itu

memang cantik manis, dan segera terjadilah hubungan akrab

di antara mereka. Akan tetapi, kepala perampok itu tidak

setuju kalau puterinya berjodoh dengan Sun Kok yang menjadi

pembantunya dan muridnya pula. Biarpun dia kepala

perampok, akan tetapi dia tidak ingin melihat puterinya

menjadi isteri perampok! Dia ingin melihat puterinya menjadi

isteri seorang pejabat tinggi atau seorang hartawan, setidaknya

seorang yang hidup terhormat dan terpandang! Di sini

terbukti bahwa setiap orang yang melakukan penyelewengan

dalam hidupnya, sama sekali bukan karena dia tidak tahu,

atau dia menyukai pekerjaan maksiat atau penyelewengan itu!

Kalau dia mampu, tentu saja dia akan menjauhi perbuatan

menyeleweng itu! Kalau seorang pencuri sudah menjadi kaya

raya dan terhormat, tak mungkin dia ingin mencuri lagi!

Kepala perampok itupun tidak ingin mempunyai mantu

perampok!

Akan tetapi, hubungan antara Sun Kok dan puteri

perampok itu sudah amat jauh dan mendalam, bahkan puteri

kepala perampok itu sudah berulang kali menyerahkan diri

kepada Sun Kok. Sudah berulang kali mereka melakukan

hubungan suami isteri dengan pencurahan kasih sayang.

Karena dihalangi oleh orang tua gadis itu, jalan satu-satunya

bagi mereka hanyalah minggat! Sun Kok dan kekasihnya

meninggalkan sarang kepala perampok itu dan gadis itu ketika

lari membawa pula beberapa barang berharga. Dan mulailah

mereka berdua hidup sebagai suami isteri perampok! Mereka

jauh meninggalkan sarang kepala perampok di tepi Sungai

Kuning itu dan mereka menjadi perampok di sepanjang

perbatasan Propinsi Hok-kian di timur.

Demikianlah sedikit riwayat Yauw Sun Kok sampai lima

tahun kemudian, ketika dia berusia dua puluh lima tahun dan

menjadi perampok bersama isterinya tercinta, mereka berdua

ketika sedang merampok kereta keluarga bangsawan; mereka

bertemu dengan Sie Kian dan dalam perkelahian, isteri Yauw

Sun Kok tewas di tangan Sie Kian! Yauw Sun Kok yang

kematian isterinya, menjadi berduka sekali dan dia

mendendam sakit hati yang hebat terhadap Sie Kian. Kembali

dia hidup sebatangkara karena isterinya belum pernah

melahirkan seorang anak. Dengan dandam yang bernyala,

Yauw Sun Kok lalu merantau ke barat. Dia mendengar bahwa

Pegunungan Himalaya merupakan gudang para pertapa yang

memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka ke sanalah dia pergi,

untuk belajar ilmu silat yang lebih tinggi agar kelak dia dapat

membalas dandamnya kepada Sie Kian.

Selama lima tahun, Yau Sun Kok menghamburkan semua

hartanya yang dikumpulkan dari hasil merampok bersama

isterinya, termasuk harta bawaan isterinya, untuk belajar ilmu

silat. Bermacam guru ditemuinya dan diapun berhasil

mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi, dan mendapatkan

sebatang pedang pusaka yang disebut Pek-lian-kiam (Pedang

Teratai Putih) karena di badan pedang itu terdapat ukiran

setangkai bunga teratai putih dan pedang itu sendiri terbuat

dari baja putih sehingga kalau dimainkan menjadi gulungan

sinar putih yang menyilaukan mata.

Setelah merasa cukup memiliki ilmu silat yang boleh

diandalkan, Yauw Sun Kok lalu pergi mencari musuh besarnya.

Tidak sukar baginya untuk menemukan tempat tinggal Sie

Kian atau Sie Kauwsu yang membuka perguruan silat bayaran

di kota Tiong-cin itu. Dia melakukan penyelidikan dan merasa

girang melihat betapa rumah keluarga Sie berdiri terpencil dan

para muridnya tinggal di luar perguruan. Setelah memperhitungkan

masak-masak, dia lalu mengirim surat ancaman itu

dengan mempergunakan senjata rahasia piauwnya dan

akhirnya, dia berhasil membasmi keluarga Sie, dan melarikan

dua orang anak musuh besarnya. Sungguh di luar

perhitungannya bahwa dia dapat jatuh cinta kepada Lan

Hong, padahal dia bukahlah seorang yang mata keranjang dan

mudah tergila-gila kepada wanita cant ik. Mungkin karena ada

persamaan atau kemiripan antara wajah Lien Hong dan

mendiang isterinya, maka dia tertarik sekali.

Setelah berhasil menaklukan Lan Hong sehingga gadis

remaja itu menyerahkan diri kepadanya, Yauw Sun Kok

merasa gembira sekali. Dia maklum bahwa perbuatannya di

Tiong-cin itu akan menimbulkan kegemparan, maka dia lalu

melakukan perjalanan secepatnya menuju ke barat! Dia

membawa Lan Song yang telah menjadi isterinya itu ke Sinkiang

bersama anak kecil itu.

Di sebuah kota kecil bernama Sung-jan, di perbatasan barat

Propinsi Sin-kiang, Tauw Sun Kok telah memiliki sebuah

rumah yang lumayan. Di sinilah tempat tinggalnya yang

terakhir setelah menuntut ilmu. Dan di kota ini, namanya

sudah mulai terkenal sebagai seorang yang lihai. Namanya

mulai terkenal, karena dia mempunyai hubungan dengan

banyak tokoh kang-ouw di daerah barat. Memang Sun Kok

pandai mengambil hati orang-orang kang-ouw yang berilmu

titiggi dan dengan kepandaiannya mengambil hati ini, dia

dapat mempelajari banyak macam ilmu silat.

Setelah tiba di rumahnya, Sun Kok lalu merayakan pesta

pernikahannya dengan Sie Lan Hong! Meriah juga pesta itu

karena selain mengundang orang-orang terkemuka di kota

Sung-jan, juga dia mengundang tokoh-tokoh kang-ouw di daerah

barat yang menjadi kenalannya.

Suatu keanehan terjadi dalam hati Sie Lan Hong. Melihat

sikap bekas musuh besar yang kini menjadi suaminya itu,

sikap yang amat baik, penuh dengan kelembutan dan cinta

kasih, penuh kemesraan dan kesabaran, sedikit demi sedikit

lenyaplah kebencian di dalam hati dara remaja ini! Apalagi

melihat betapa Sun Kok bersungguh-sungguh

memperisterinya, bukan sekedar main-main dan untuk

mempermainkannya saja. Melihat betapa suaminya itu

mengadakan pesta yang meriah untuk pengesahan pernikahan

mereka, timbul perasaan suka di hati gadis ini. Sun Kok yang

berpengalaman itu memang pandai merayu, dan Lan Hong

adalah seorang gadis yang usianya baru lima belas tahun,

maka mudah saja dia terbuai dalam kemesraan dan kenikmatan

kasih sayang suaminya. Perlahan-lahan, rasa benci dan

dandam itu lenyap terganti perasaan cinta yang mesra!

Akan tetapi ada suatu hal yang menggelisahkan hati Yauw

Sun Kok. Diapun kini sudah t idak mendandam lagi kepada

keluarga Sie, dan cintanya terhadap Lan Hong yang sudah

menjadi isterinya adalah cinta yang mendalam. Bahkan diapun

tidak membenci Sie Liong, adik isterinya itu. Sebaliknya, dia

juga memiliki perasaan sayang kepada anak itu, di samping

perasaan iba mengingat betapa anak itu sudah tidak

mempunyai ayah bunda lagi. Akan tetapi, di samping perasaan

sayang dan iba ini, ada semacam kegelisahan timbul dalam

hatinya setiap kali dia memangku dan menimang Sie Liong.

Dalam diri anak ini dia melihat ancaman bahaya besar! Kalau

kelak Sie Liong sudah menjadi seorang dewasa, tentu dia akan

mendangar akan kematian ayah ibunya di tangan kakak iparnya

ini, dan tentu akan terjadi malapetaka! Besar sekali

kemungkinannya, Sie Liong kelak akan mencoba untuk

membalas dandam! Dari pihak isterinya, dia tidak khawatir

karena dia dapat merasakan kemesraan dan kasih sayang dari

isterinya kepadanya. Akan tetapi anak ini?

Setahun kemudian, ketika Sie Liong sudah pandai berjalan,

pada suatu hari Sun Kok mengajaknya ke kebun belakang.

Sementara itu Lan Hong menyusui anaknya di dalam kamar.

Satelah menikah setahun lamanya, Lan Hong melahirkan

seorang anak perempuan yang mungil dan diberi nama Yauw

Bi Sian. Ketika itu, Bi Sian baru berusia satu bulan. Sun Kok

mengajak Sie Liong ke kebun dan memang anak ini dekat

sekali dengan dia. Sun Kok seringkali menimang dan

memondongnya, seolah-olah adik isterinya itu anak

kandungnya sendiri. Dan memang dia tidak berpura-pura. Ada

rasa sayang dan iba kepada Sie Liong.

Akan tetapi, ketika dia membawa Sie Liong bermain-main di

kebun belakang, kembali dia teringat akan bahaya yang

mengangancam dari diri anak ini. Dia tahu bahwa Sie Liong

memiliki tulang yang kuat dan darah yang bersih. Anak ini

berbakat baik sekali untuk kelak menjadi seorang yang gagah

perkasa. Kalau kelak anak ini menjadi seorang pandai, tentu

keselamatan dirinya terancam! Wajah anak itu saja sudah

mulai mengingatkan dia akan wajah Sie Kian yang

dibunuhnya. Berbeda dari wajah isterinya yang mirip ibunya.

Kelak Sie Liong akan menjadi Sie Kian kedua yang mungkin

saja akan membunuhnya untuk membalas dendam! Mulailah

dia merasa menyesal mengapa dia membunuh dan membasmi

keluarga Sie tanpa mengenal ampun. Pada hari ini dia insyaf,

mendiang Sie Kian membunuh isterinya bukan karena benci

atau dendam, melainkan dalam perkelahian yang wajar. Sie

Kian sebagai seorang pendekar membela bangsawan yang

dirampoknya, dan dalam perkelahian itu Sie Kian berhasil

mengalahkan dia dan isterinya. Isterinya tewas dan dia

terluka, juga Sie Kian terluka oleh senjata rahasia piauw-nya.

Bagaimanapun juga, anak ini merupakan ancaman bahaya

besar. Betapa mudahnya melenyapkan ancaman bagiya itu.

Sekali menggerakkan tangannya, anak ini akan mati dan

lenyaplah ancaman bahaya itu. Akan tetapi, dia teringat akan

sumpahnya kepada isterinya. Dia telah bersumpah tidak akan

membunuh anak ini, dan isterinya ternyata juga memegang

teguh janjinya. Isterinya itu kini menjadi seorang isteri yang

mencinta, mesra dan bahkan telah melahirkan seorang anak

keturunannya! Bagaimana mungkin dia melanggar

sumpahnya? Isterinya benar. Bagaimanapun juga, dia masih

memiliki harga diri dan dia tidak akan melanggar sumpahnya!

Dan pula, bagaimana dia tega membunuh anak ini yang sudah

disayangnya pula?

“Ci-hu (kakak ipar)…. ci-hu…. tangkap…. tangkap….!”

Tiba-tiba Sie Liong berseru gembira sambil menunjuk ke arah

seekor kupu-kupu kuning yang beterbangan di antara

kembang-kembang yang tumbuh di kebun itu.

Yauw Sun Kok memandang anak itu. Dia tersenyum. “Kau

tangkaplah sendiri, Sie Liong! Engkau anak pandai, harus

mampu monangkap sendiri kupu-kupu itu.”

Sie Liong dengan gembira berlari-lari mengejar kupu-kupu

itu. Akan tetapi kupu-kupu itu terlampau gesit dan terbangnya

terlampau tinggi bagi Sie Liong yang mengejar terus. Karena

selalu melihat ke arah kupu-kupu di atas, ketika berlari-lari itu,

tiba-tiba kaki Sie Liong tersandung batu besar dan diapun

tergelincir dan terguling.

“Dukk!” ketika terjatuh itu, kepalanya membentur batu dan

anak itupun pingsan! Kepalanya yang kanan dekat pelipis

mengeluarkan benjolan berdarah. Sun Kok terkejut dan cepat

dia meloncat menghampiri dan memondong tubuh anak itu,

lalu duduk di atas bangku dan memangkunya. Sie Liong telah

pingsan. Ketika dia hendak menyadarkan anak itu dengan

memijat belakang kepalanya, tiba-tiba menyelinap pikiran lain

dalam banaknya. Inilah kesempatan yang amat baik! Dia tidak

akan membunuh anak ini akan tetapi dapat membuatnya

menjadi cacat dan dengan cacatnya itu, kelak dia tidak akan

dapat menjadi orang kuat dan terhindarlah dia dari ancaman

balas dandam anak ini! Membuat dia cacat tidak berarti

membunuhnya. Dia tldak melanggar sumpahnya, dan dalam

keadaan pingsan begini, anak inipun t idak merasakan apaapa!

Dan dia akan mengusahakan agar tidak ada bekas-bekas

penganiayaan, dan peristiwa jatuhnya anak ini kelak dapat

menjadi alasan mengapa dia menjadi cacat!

Tanpa ragu lagi, Sun Kok menelungkupkan tubuh Sie Liong

yang pingsan itu, membuka bajunya, kemudian dengan dua

jari tangan kanannya, dia menotok dan memuntir tiga kali di

punggung anak itu! Benar seperti dugaannya, anak yang

pingsan itu tidak kelihatan kesakitan, padahal tiga kali totokan

jari dan puntiran itu telah membuat tulang punggung itu retak

dan jaringan syaraf dan ototnya menjadi hancur!

Sun Kok memondong kembali tubuh itu setelah

membereskan pakaiannya, membawanya pulang ke rumah.

Tanda biru menghitam pada punggung itu tentu tidak

menimbulkan kecurigaan. Tak seopun akan menyangba bahwa

tanda itu adalah tanda bekas totokan dan puntiran jari

tangannya!

Melihat suaminya memasuki kamar memondong tubuh Sie

Liong yang lemas seperti anak tidur, Lan Hong terkejut. “Ah,

ada apakah?” tanyanya, memandang wajah suaminya dengan

khawatir.

“Dia mengejar kupu-kupu, tersanduag dan terjatuh,

kepalanya terbanting ke atas batu dan dia pingsan,” katanya

sambil merebahkan tubuh anak itu ke atas pembaringan.

Lan Hong sejenak memandang wajah suaminya, penuh

dengan kecurigaan dan sepasang alisnya berkerut. Melihat

isterinya memandangnya seperti itu, Sun Kok manghampiri

dan merangkul isterinya. “Isteriku yang baik, apakah sampai

kini engkau belum juga percaya padaku? Ingat, aku takkan

pernah melupakan sumpahku. Aku tidak akan membunuh Sie

Liong! Aku sudah amat sayang padanya. Bagaimana kini

engkau dapat memandang kepadaku dengan kecurigaan

seperti itu?”

Lan Hong membalas rangkulan suaminya. “Ah, maafkan

aku….” dan iapun segera memeriksa keadaan Sie Liong.

Kelihatannya hanya kepala anak itu saja yang terluka,

berdarah dan membenjol. Akan tetapi biarpun mereka berdua

telah berusaha untuk membikin sadar, anak itu tetap saja

pingsan. Hal ini membuat Lan Hong merasa khawatir sekali

dan suaminya segera pergi mengundang seorang tabib yang

terkenal pandai di kota Sung-jan itu. Tabib itu seorang

peranakan Nepal dan memamng dia pandai sekali dalam soal

pengobatan.

Orang berkulit hitam dan tinggi kurus bersorban putih itu

datang membawa keranjang obatnya, dan segera memeriksa

Sie Liong. Tabib itu sudah lama mengenal Yauw Sun Kok yang

dikenal di kota itu sebagai seorang ahli silat yang pandai

disamping pekerjaannya sebagai seorang pedagang rempahrempah

yang cukup maju.

Mula-mula dia memeriksa keadaan kepala yang benjol itu,

ditunggui dengan penuh kekhawatiran oleh Lan Hong yang

memondong puterinya dan suaminya. Tabib itu menganggukangguk.

“Hanya luka di luar, tidak berbahaya dengan kepala

ini. Hemm, kenapa dia belum juga siuman? Tentu ada luka

lain. Biar kuperiksa tubuhnya.” Dia lalu membuka pakaian

anak itu, dibantu oleh Sun Kok. Ia sama sekali tidak merasa

khawatir. Seorang tabib yang pandai seperti orang Nepal ini

tentu akan dapat menemukan luka di punggung itu, akan

tetapi tak mungkin akan tahu bahwa itu disebabkan oleh

totokan jari tangan dan akan mengira bahwa punggung itupun

terpukul benda keras.

Dugaannya memang benar. Setelah memeriksa seluruh

tubuh, akhirnya tabib itu menemukan tanda menghitam di

tulang pungung. “Ahh, inilah yang menyebabkan dia pingsan

terus! Punggungnya terluka, dan luka ini lebih hebat dari pada

luka di kepalanya!”

Dia memeriksa dengan teliti, lalu mengerutkan alisnya,

manggeleng-geleng kepalanya dan menarik napas panjang.

“Bagaimanakah keadaannya, Sin-she (Tabib)?” tanya Lan

Hong khawatir melihat muka orang Nepal itu.

“Tidak baik…. sungguh tidak baik….! Luka di punggung ini

hebat sekali. Agaknya tulang punggung ini retak, dan ototototnya

juga terluka parah….”

“Aihh! Bagaimana hal itu dapat terjadi? Dan…. dan….

apakah dia dapat disembuhkan, Sin-she?” tanya pula Lan

Hong sambil memandang suaminya.

Sun Kok mengangguk-angguk. “Aku hanya melihat ada

batu besar di bawahnya ketika dia jatuh. Karena yang nampak

hanya kepalanya yang membenjol dan berdarah, kusangka

hanya itu saja lukanya. Tentu punggunguya terbanting pada

batu yang menonjol sehingga seperti terpukul.”

Tabib itu mengangguk-angguk. “Agaknya begitulah. Akan

tetapi jangan khawatir, dia masih kecil sehingga luka parah itu

tidak akan merenggut nyawanya, walaupun aku khawatir

sekali….”

Melihat tabib itu nampak ragu, Lan Hong bertanya cemas,

“Khawatir apa, Sin-she? Katakanlah, apa yang akan terjadi

dengan adikku?”

“Dia akan dapat disembuhkan, oleh obatku dan oleh

kekuatan tubuhnya sendiri yang masih murni. Akan tetapi tulang

punggungnya itu akan tidak normal pertumbuhannya dan

aku khawatir kelak dia akan menjadi seorang yang bongkok.”

“Ahh….!” Lan Hong menutupi mukanya dengan tangan,

ngeri membayangkan adiknya menjadi seorang yang bongkok

punggungnya.

Tangan suaminya menyentuh pundaknya dengan lembut.

“Tidak perlu berduka. Biar cacat, biar bongkok asal sehat,

bukankah begitu? Yang pent ing Sie Liong dapat sembuh dan

sehat kembali.”

Sie Liong mendapat perawatan baik-baik dan tepat seperti

keterangan tabib pandai itu, Sie Liong dapat sembuh, akan

tetapi pertumbuhan tulang punggungnya tidak normal. Dua

tahun kemudian sudah nampak betapa punggungnya bongkok

dan ada punuk di punggungnya seperti punggung onta. Dan

Yauw Sun Kok diam-diam tersenyum seorang diri, merasa lega

dan aman sekarang. Seorang bocah yang bongkok

punggungnya, bagaimanapun juga tidak mungkin akan dapat

menjadi seorang yang perlu ditakuti. Rasa takut dapat

membuat orang menjadi curang dan kejam sekali. Sun Kok

melakukan kekejaman itu kepada seorang anak kecil yang

sebetulnya sudah mulai disayangnya karena dia takut

membayangkan betapa Sie Liong kelak akan mengetahui

tentang kedua orang tuanya yang dibunuhnya, kemudian anak

itu akan membalas dendam kepadanya.

Sie Lan Hong juga bukan seorang wanita yang bodoh.

Biarpun suaminya memberi keterangan bahwa Sie Liong

terjatuh menimpa batu ketika mengejar kupu-kupu, dan ketika

Sie Liong telah sadar anak itupun dapat bercerita sedikitsedikit

bahwa kupunya nakal, bahwa dia terjatuh ketika

mengejar kupu-kupu, namun diam-diam Lan Hong menaruh

perasaan curiga kepada suaminya. Ia tahu bahwa suaminya

itu, bagaimanapun juga, masih merasa khawatir kalau-kalau

Sie Liong kelak akan mengetahui akan kematian orang tuanya

lalu anak itu akan membalas dendam kepadanya. Ia meraga

curiga apakah jatuhnya adiknya itu bukan disengaja dan

dibuat oleh suaminya! Akan tetapi ia sudah terlalu mencinta

suaminya, apalagi kini mereka telah mempunyai seorang anak.

Dan andaikata benar ada unsur kesengajaan dari suaminya

yang menyebabkan adiknya terjatuh dan menjadi cacat, tetap

saja suaminya tidak melanggar sumpahnya. Suaminya pernah

bersumpah tidak akan membunuh Sie Liong! Dan

membuatnya cacat bukanlah pembunuhan. Maka, khawatir

kalau ia menuduh tanpa bukti hanya akan merenggangkan

kasih sayang antara ia dan suaminya, Lan Hong diam saja dan

menahan itu di dalamhatinya.

0odwo0

Waktu berjalan dengan amat cepatnya dan Sie Liong kini

telah menjadi seorang anak laki-lakl berusia tiga belas tahun.

Encinya tidak mempunyai anak lain kecuali Yauw Bi Sian yang

sudah berusia sebelas tahun pula. Dan Sie Liong tumbuh

besar sebagai seorang anak laki-laki yang amat cerdas, rajin

dan pendiam. Akan tetapi dia rajin sekali bekerja. Dan biarpun

punggungnya bongkok dengan punuk sebesar kepalan tangan,

namun tubuhnya sehat dan dia tidak pernah sakit. Juga

otaknya cerdas sekali sehingga ketika seorang guru sastra

didatangkan oleh Sun Kok untuk mengajar puterinya, Sie

Liong yang ikut pula belajar, dengan cepat sekali dia dapat

menghafal semua huruf sehingga guru yang mengajar itu

memujinya sebagai anak yang amat cerdas.

Sun Kok masih merasa aman melihat perkembangan Sie

Liong yang kini menjadi seorang anak yang biarpun pandai

membaca dan menulis, namun seorang anak bongkok yang

biarpun sehat bertubuh lemah. Hanya satu hal yang

mengecewakan hatinya melihat bahwa Sie Liong tidaklah

menjadi seorang anak berpenyakitan seperti yang

diharapkannya, melainkan menjadi seorang anak sehat. Seringkali

terjadi pertentangan dalam batinnya sendiri. Sepihak

dia merasa kecewa melihat anak itu sehat, di lain pihak dia

merasa girang karena betapapun juga ia merasa sayang

kepada anak itu!

Sie Liong memang seorang anak yang tahu diri. Dia merasa

bahwa hidupnya menumpang kepada cihu (kakak ipar), maka

diapun tidak bermalas-malasan. Setiap hari, pagi-pagi sekali

dia sudah bangun dan membantu pekerjaan rumah walaupun

cihu-nya mempunyai beberapa orang pelayan. Dan sejak kecil,

Bi Sian amat dekat dengannya karena dialah yang selalu

mengajak keponakan itu bermain-main. Bi Sian juga merasa

amat akrab dan sayang sekali kepada pamannya itu. Karena

usia mereka hanya berselisih dua tahun saja, maka biarpun

mereka itu paman dan keponakan, hubungan mereka amat

akrab sebagai dua orang anak yang sebaya atau sepantar.

Semenjak Bi Sian berusia enam tahun, ayahnya telah mulai

memberi pelajaran ilmu silat kepadanya. Melihat ini, Sie Liong

merasa ingin sekali untuk ikut belajar, akan tetapi selalu cihunya

melarangnya.

“Sie Liong, engkau harus tahu bahwa keadaan tubuhmu

tidak memungkinkan engkau belajar ilmu silat. Ketahuilah

bahwa syarat utama bagi orang yang ingin menguasai ilmu

silat dengan baik adalah ketegakan tubuhnya. Tulang

punggung dari tengkuk sampai pinggang haruslah tegak dan

rata, maka tidak baik kalau engkau berlatih silat. Lebih baik

engkau menekuni ilmu membaca dan menulis.” Demikian Sun

Kok pernah berkata.

Mendengar ini, Sie Liong menundukkan mukanya dan

merasa bersedih. Akan tetapi dia tahu diri dan mulai saat itu,

dia tidak pernah mengemukakan keinginannya belajar ilmu

silat.

Akan tetapi, Bi Sian amat sayang kepada paman kecilnya

itu. Anak perempuan ini tahu belaka akan isi hati kawan

bermainnya ini, maka iapun tahu benar betapa paman kecil itu

ingin sekali ikut belajar ilmu silat. Oleh karena itu, setiap kali

mereka berdua saja tanpa diketahui orang lain, Bi Sian lalu

mengajarkan semua gerakan yang dipelajarinya dari ayahnya

kepada Sie Liong. Dan si bongkok inipun menerimanya dengan

amat gembira. Memang dia ingin sekali belajar silat, maka

tentu saja dia gembira menyambut uluran tangan Bi Sian yang

mengajarnya. Dan ternyata, kecerdasannya membantunya

dengan luar biasa sekali sehingga dia mudah menghafal setiap

gerakan, bahkan karena bakatnya, dia mampu bergerak lebih

lincah dan lebih cekatan dan baik dibandingkan Bi Sian. Tentu

saja ada hambatan besar baginya, yaitu kebongkokan

tubuhnya. Maka, dalam beberapa gerakan nampak betapa

gerakannya melakukan jurus itu nampak lucu sekali. Dan

kadang-kadang Sie Liong merasa nyeri pada tengkuk dan

punggungnya setelah dia berlatih silat bersama Bi Sian.

Setelah Sie Liong berusia tiga belas tahun dan Bi Sian

berusia sebelas tahun, kedua orang anak ini telah mempelajari

banyak macam gerakan silat. Bi Sian telah menjadi seorang

gadis cilik yang pandai bersilat. Gerakannya lincah sekali dan

karena ia sejak kecil digembleng ayahnya dan mempelajari samadhi

dan latihan pernapasan, maka biarpun usianya baru

sebelas tahun, anak perempuan ini memiliki tenaga yang kuat.

Dua orang anak yang saling mengasihi dan saling membela

ini dapat menyimpan rahasia Sie Liong mempelajari ilmu silat

sehingga baik Sun Kok maupun Lan Hong sama sekali tidak

pernah menyangka bahwa Sie Liong yang sehat dan

gerakannya yang cekatan, suami isteri itu hanya mengira

bahwa itu adalah berkat rajinnya akan itu bekerja, memikul

air, menyapu dan pekerjaan lain yang dilakukannya tanpa

diperintah.

Akan tetapi akhirnya kemampuannya bersilat itu terbuka

dengan terjadinya suatu peristiwa. Semua orang di kota Sungjan

tahu belaka bahwa Yauw Sun Kok adalah seorang ahli silat

yang pandai. Pernah beberapa kali Yauw Sun Kok membantu

para petugas keamanan kota memberantas gerombolan

perampok sehingga dia dikenal sebagai seorang jagoan yang

disegani. Oleh karena itu, tidak ada penduduk yang berani

mengganggu keluarganya. Biarpun semua orang mengenal Sie

Liong sebagai si Bongkok, namun di depan Yauw Sun Kok dan

isterinya, tidak ada orang yang berani mengganggu anak

bongkok itu, karena mereka maklum bahwa anak bongkok itu

adalah adik isteri Yauw Sun Kok.

Pada suatu hari Bi Sian dan Sie Liong pergi ke Pasar untuk

berbelanja. Tadinya Sie Liong yang disuruh encinya pergi ke

pasar untuk berbelanja berbagai bumbu dapur yang sudah

hampir habis persediannya. Melihat Sie Liong pergi ke pasar,

Bi Sian ikut dan ibunya memperkenankan karena anak

perempuan itu dapat pula membantu Sie Liong membawa

barang belanjaan yang cukup banyak.

Hari itu memang ramai sekali orang pergi berbelanja. Juga

keadaan kota Sung-jan amat ramai. Maklumlah, orang

menyambut hari raya Imlek, menyambut “tahun baru” atau

munculnya musim semi yang cerah dan mendatangkan berkah

bagi para petani melalui sawah ladang mereka. Seminggu lagi

“sin-cia” tiba dan orang-orang sibuk berbelanja membeli

berbagai keperluan dapur, dan mulai ramai orang memasak

karena pada hari-hari itu biasanya mereka mengadakan

sembahyangan pada abu leluhur masing-masing.

Menyembahyangi abu leluhur merupakan suatu kebiasaan

tradisi yang amat kuno di Tiongkok. Tradisi ini mendorong

semua orang untuk selalu berbakt i setia, dan mencinta sambil

menghormat i orang tua dan nenek moyang mereka. Bagi

kebiasaan tradisi ini, ada tiga macam kebaktian yang tidak

boleh ditinggalkan manusia, kalau mereka ingin hidup benar.

Pertama, berbakti kepada Langit dan Bumi, istilah yang

kemudian dikenal sebagai Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sang

Maha Pencipta yang juga menciptakan diri kita. Kedua,

berbakti kepada ayah ibu, orang tua dan nenek moyang

sebagai orang-orang yang telah menghadirkan kita di dunia ini

dan kemudian menjadi pemelihara dan pelindung kita, dan

ketiga berbakti kepada guru sebagai orang yang telah

membimbing dan memberi petunjuk kepada kita. Pada masa

itu, kalau seseorang tidak memenuhi tiga macam kebaktian

ini, dia dianggap sebagai seorang yang murtad, seorang yang

berdosa dan jahat!

Jelaslah bahwa menyembahyangi abu leluhur berarti

menanamkan rasa hormat, cinta dan bakti kepada orang tua,

seolah-olah mengingatkan kita bahwa sampai orang tua sudah

meninggalpun kita tidak boleh melupakan cinta kasih dan jasa

mereka terhadap kita. Tindakan seperti ini tentu saja memberi

contoh yang baik kepada anak cucu kita, seperti suatu

peringatan kepada mereka bahwa merekapun wajib mencinta

dan menghormati orang tua mereka seperti kita menghormati

orang tua kita.

Namun sayang seribu sayang, tujuan yang amat bijaksana

dan baik ini seringkali diselewengkan orang. Banyak orang

bersembahyang di depan meja abu leluhur mereka dengan

suatu pamrih tertentu. Bukan semata untuk menghormat

dalam kenangan terhadap orang tua, melainkan

sembahyangan itu menyembunyikan pamrih agar mereka

yang bersembahyang itu diberkati oleh roh si mati! Ini suatu

penyelewengan besar! Bahkan sesudah matipun, orang-orang

tua itu kita minta, untuk melakukan sesuatu demi kesenangan

dan keuntungan diri pribadi kita! Memang, segala tujuan,

betapapun baiknya, akan disalahgunakan orang kalau di situ

sudah terdapat keinginan untuk menyenangkan diri sendiri,

demi kepentingan diri sendiri. Segala sesuatu akan menjadi

palsu dan kotor, karena semua perbuatan itu palsu adanya,

semata menjadi sarana untuk mencapai sesuatu yang

diinginkan, dalam hal ini tentu saja yang diinginkan adalah

demi kesenangan sendiri, demi kepentingan diri sendiri!

Adakah sembahyangan di depan abu leluhur yang dilakukan

orang demi penghormatan dan kenangan kasih sayang orangorang

tua itu semata? Tanpa adanya pamrih pribadi itu? Kalau

ada, alangkah baiknya!

Hati Sie Liong den Bi Sian gembira sekali ketika mereka

membawa keranjang kosong, pergi ke pasar. Jalan menuju ke

pasar itupun ramai, penuh orang berlalu lalang dan wajah

mereka rata-rata gembira. Banyak orang sudah mengenal Sie

Liong karena bongkoknya memang mudah membuat orang

mengingatnya. Dan banyak orang yang berjumpa di jalan

menegur dan menyapa Sie Liong. Ada yang menyebutnya Siekongcu

(Tuan muda Sie), ada yang menyebutnya dengan

“Hee, bocah bongkok!” begitu saja. Namun, Sie Liong tetap

tersenyum dan menjawab mereka semua dengan kata-kata

ramah bahwa dia akan pergi berbelanja ke pasar. Dia maklum

bahwa mereka yang menyebutnya si bongkok itupun bukan

dengan maksud menghina, melainkan dengan ramah dan

hendak bergurau. Dia sudah terbiasa mendengar sebutan si

bongkok. Dulu, ketika dia berusia sekitar enam tahun, mulai

mengerti akan harga diri, memang sebutan itu menyakitkan

hati. Apalagi kalau dia bercermin dan melihat betapa tubuhnya

melengkung ke depan, dia merasa rendah diri. Akan tetapi

karena sudah terbiasa, kini sebutan si bongkok tidak

mempengaruhi batinnya. Dia sudah menerima kenyataan

bahwa dia memang bertubuh bongkok, dan memang sepatutnya

disebut si bongkok!

Akan tetapi, setiap kali ada orang menyebut Sie Liong

dengan sebutan si Bongkok, Bi Sian mengerutkan alisnya dan

melotot marah kepada orang yang menyebut demikian. Di

dalam hatinya, Bi Sian tidak rela paman kecilnya disebut Si

Bongkok, yang dianggapnya suatu ejekan atau hinaan.

Dua orang anak yang berjalan berdampingan itu memang

merupakan pemandangan yang agak ganjil. Wajah Sie Liong

memang tidak buruk, biasa saja, dan pakaiannya juga pantas.

Akan tetapi tubuhnya yang melengkung ke depan itu, dengan

punuk pada punggungnya yang makin membesar, membuat

dia nampak pendek dan kedua lengannya kelihatan panjang

seperti lengan monyet. Pendeknya, Sie Liong bukanlah

seorang pemuda remaja yang menarik hati, melainkan

sesosok tubuh yang dapat menimbulkan rasa geli dan juga iba

dalam hati orang yang memandangnya. Sebaliknya, Yauw Bi

Sian adalah seorang anak perempuan berusia sebelas tahun

yang mungil. Wajahnya manis sekali, terutama sepasang

matanya dan mulutnya. Kulitnya putih mulus, dan bentuk

tubuh yang masih kekanak-kanakan itupun padat dan sehat,

menjanjikan bentuk tubuh seorang wanita yang indah. Kalau

dara cilik ini diumpamakan setangkai bunga yang belum

mekar, kuncup yang indah menarik, sebaliknya Sie Liong

seperti seekor kupu-kupu yang jelek dan cacat. Sungguh tidak

merupakan pasangan yang serasi.

Mereka sudah tiba di dekat pasar ketika tiga orang anak

laki-laki yang berusia antara tiga belas sampai lima belas

tahun melihat mereka. Tiga orang anak-anak itu tadinya

bermain-main di tepi jalan. Ketika mereka melihat Sie Liong

dan Bi Sian, mereka menghentikan permainan mereka dan

memandang kepada dua orang anak yang membawa

keranjang kosong itu. Mereka bertiga tahu siapa adanya Sie

Liong dan mereka tidak pernah berani mengganggu,

mengingat bahwa Si Bongkok itu adalah adik isteri Yauw Sun

Kok yang terkenal jagoan. Akan tetapi mereka melihat Bi Sian

yang dalam pandangan mereka amat manis dan menarik.

Mulailah mereka merasa iri kepada Sie Liong. Anak semanis Bi

Sian tidak cocok untuk berjalan bersama Si Bongkok. Karena

iri maka tiga orang anak itu sengaja hendak memperolok-olok

Sie Liong.

“Nona Yauw, apakah engkau hendak berbelanja ke pasar?”

tanya seorang diantara mereka.

Karena pertanyaari itu sopan dan wajar, Bi Sian

mengangguk, “Benar, aku hendak berbelanja ke pasar.”

“Kalau begitu, marilah kuantar engkau, Nona. Biar nanti

kami bertiga yang membawakan barang belanjaanmu sampai

ke rumahmu.”

“Benar, nona Yauw. Daripada engkau berjalan dengan si

Bongkok ini, menjadi buah tertawaan orang!” kata anak ke

dua.

“None Yauw,” kata orang ke tiga sambil tertawa. “Engkau

membawa monyetmu ke pasar, apakah hendak kaujual?”

Tiga orang anak itu tertawa sambil menuding kepada Sie

Liong. Sie Liong tersenyum saja, tidak marah karena dianggap

mereka bertka itu berkelakar saja. Akan tetapi Bi Sian yang

menjadi marah sekali. Mukanya berubah merah dan ia

melangkah maju dengan sikap mengancam.

“Kalian ini t ikus-tikus busuk, berani menghina orang!

Apakah kalian menantang berkelahi?” bentak Bi Sian dengan

sikap galak.

Anak yang paling besar di antara mereka, yang bertubuh

jangkung kurus dan mukanya penuh jerawat, berusia kurang

lebih lima belas tahun, lalu memberi hormat kepada Bi Sian.

“Aih, mana kami berani menghinamu, nona Yauw? Kami hanya

main-main dengan Si Bongkok ini, karena memang kami

penasaran melihat nona diantar oleh Si Bongkok. Suruh saja

dia pulang dan kami bertiga akan menjadi pengawal dan

pengantar nona agar di jalan tidak ada yang berani

mengganggu.”

“Siapa butuh kawalan kalian? Dan jangan kalian mengejek

dan menghina dia. Dia adalah pamanku, menghina dia berarti

menghina aku! Nah, enyahlah kalian!”

Dua orang anak laki-laki yang lain hendak membantah,

akan tetapi anak yang jangkung itu menarik tangan mereka.

“Mari kita pergi dari sini! ” katanya. Agaknya dia merasa

sungkan untuk berbantahan dan berkelahi dengan Bi Sian,

apalagi di situ mulai berkumpul banyak orang yang menonton.

Ketika tiga orang anak itu pergi, orang-orang tersenyum dan

memuji kegagahan sikap Bi Sian. Memang pantas sekali anak

perempuan itu menjadi puteri Yauw Sun Kok yang gagah

perkasa, kata mereka. Seorang di antara mereka, seorang

kakek penjual kuih, menghampiri Bi Sian.

“Nona Yauw, hati-hatilah, anak yang jangkung tadi adalah

putera komandan pasukan keamanan kota. Dia memang nakal

sekali dan suka main keroyokan.”

Bi Sian mengepal tinju. “Aku tidak takut!”

Sie Liong menghadapi kakek itu. “Terima kasih, lopek. Kami

tidak mencari keributan. Mereka yang tadi mengganggu kami

yang sedang berjalan menuju ke pasar.”

Orang-orang bubaran dan dua orang anak itu melanjutkan

perjalanan mereka ke pasar. Setelah berbelanja, merekapun

melakukan perjalanan pulang. Keranjang mereka sudah penuh

dengan barang belanjaan. Sie Liong sengaja memenuhi

keranjangnya yang besar sehingga Bi Sian hanya membawa

keranjang yang kecil dan tidak begitu berat. Barang-barang

yang berat dimasukkan dalam keranjang besar oleh Sie Liong

dan dia memanggul keranjang itu di pundaknya. Tangan kiri

memegang keranjang itu, dan tangan kanannya masih

membawa lima ekor ayam pada kaki mereka. Jarak antara

rumah keluarga Yauw dan pasar di tengah kota itu memang

cukup jauh, tidak kurang dari tiga li jauhnya. Ketika dua orang

anak itu tiba di jalan yang sunyi karena di kedua tepi jalan itu

adalah kebun orang yang cukup luas, tiba-tiba muncul lima

orang anak laki-laki di depan mereka. Agaknya mereka tadi

sengaja bersembunyi dan kini keluar setelah Sie Liong dan

Yauw Bi Sian tiba di situ. Yang tiga orang adalah anak-anak

yang ribut dengan mereka tadi, kini ditambah dua orang anak

laki-laki yang usianya tentu lebih dari lima belas tahun dan

sikap mereka seperti jagoan. Anak jerawatan yang menurut

kakek tadi adalah putera komandan pasukan keamanan kota,

tetap memimpin mereka karena dialah yang menghadang paling

depan.

“Monyet bongkok, berhenti dulu!” bentak anak laki-laki

jerawatan itu.

Sie Liong bersikap tenang saja dan tidak menjadi marah,

akan tetapi Bi Sian yang menjadi marah. Ia melepaskan

keranjangnya di atas tanah, lalu melangkah maju menghadapi

anak laki-laki jangkung jerawatan itu. “Engkau lagi? Kalian ini

mau apa? Masih juga hendak menghina orang?”

“Nona, kami bermaksud baik. Kami menghormati ayahmu

yang menjadi sahabat ayahku. Kami hanya tidak rela melihat

monyet bongkok ini menjadi pengiringmu. Monyet bongkok,

berikan keranjang itu kepada kami dan kau boleh merangkak

pergi dari sini, biar kami yang mengantar nona Yauw pulang!”

Kemarahan Bi Sian memuncak. “Engkau sungguh bermulut

kotor dan jahat!” katanya dan iapun sudah maju dan

menyerang dengan tamparan tangannya. Karena sejak kecil Bi

Sian sudah terlatih, maka gerakan tangannya itu cepat dan

kuat.

“Plakkk!” Pipi kiri anak jerawatan itu terkena tamparan.

“Aduhh….!” Dia terhuyung, menutupi pipi yang tertampar

dengan tangan, rasanya panas dan nyeri dan ternyata pipi itu

menjadi biru membengkak! “Nona, kenapa engkau memukul

aku yang hendak membantumu?” bentaknya marah dan

penasaran.

“Keparat, kalian ini memang kurang ajar dan perlu dihajar!”

kata Bi Sian dan ia sudah menerjang maju lagi, sekali kakinya

terayun, seorang anak laki-laki lain yang mencoba untuk menangkap

lengannya, jatuh tersungkur dan memegangi perut

sambil meringis kesakitan.

“Wah, anak perempuan ini galak dan liar!” kata dua orang

anak laki-laki yang lebih besar dan merekapun menubruk ke

depan.

“Plak-plakk!” Bi Sian membagi-bagi pukulan dan

tendangan, dan lima orang anak laki-laki itu jatuh bangun.

Akan tetapi mereka itu lebih besar dan mereka kini

melakukan perlawanan. Seorang di antara mereka meubruk

dari belakang dan berhasil menelikung kedua lengan Bi Sian

ke belakang tubuhnya. Bi Sian meronta-ronta, akan tetapi

anak-anak lain memegangi kaki dan tangannya sehingga ia

tidak lagi mampu melepaskan diri.

“A Cong, cepat kauhajar monyet bongkok itu. Biar kami

yang memegangi nona Yauw agar ia tidak dapat melindungi

monyet bongkok itu!” kata orang yang menelikung kedua

lengan Bi Sian. Biarpun kini ada tiga orang anak yang

memegangi tubuh Bi Sian, namun mereka tidak berani

menyakit i anak perempuan itu, juga tidak berani berbuat

kurang ajar. Mereka hanya memegangi Bi Sian agar anak itu

tidak dapat melepaskan diri dan tidak dapat membantu Sie

Liong yang akan dihajar oleh dua orang anak yang lain,

termasuk Lu Ki Cong, putera komandan pasukan keamanan di

Sung-jan itu.

Akan tetapi, Sie Liong sudah menurunkan keranjangnya,

juga melepaskan lima ekor ayam yang kakinya diikat itu.

Tadinya ia memang diam saja dan tidak bermaksud untuk

berkelahi dengan anak-anak itu, membiarkan saja mereka

menggoda, mengganggu bahkan menghinanya. Dia tahu diri.

Dia anak cacat, bongkok dan hal itu tidak perlu dibantahnya.

Akan tetapi, melihat betapa tiga orang anak memegangi kaki

tangan Bi Sian, mukanya berubah merah dan kedua matanya

mengeluarkan sinar berapi. Dia boleh menahan semua hinaan

yang dilontarkan kepada tubuhnya yang bongkok, akan tetapi

jelas bahwa dia tidak mungkin membiarkan mereka itu

mengeroyok dan memegangi Bi Sian.

“Anak-anak jahat! Lepaskan Bi Sian!” bentaknya sambil

menghampiri tiga orang yang masih memegangi anak perempuan

itu. Akan tetapi Lu Ki Cong dan seorang temannya yang

bertubuh tinggi besar bermuka hitam, nampaknya seperti

jagoan muda, menghadangnya. Lu Ki Cong dan anak muka

hitam itu adalah murid-murid dari guru silat bayaran terpandai

di kota itu.

“Heh, monyet bongkok, kami akan melepaskan nona Yauw

kalau sudah kenyang menghajar mukamu yang buruk!” kata

Lu Ki Cong sambil melayangkan tinjunya ke arah muka Sie

Liong.

Sie Liong belum pernah berkelahi seumur hidupnya. Akan

tetapi dia dengan tekun mempelajari ilmu silat dari Bi Sian,

dan dengan rajin sekali, lebih rajin dari Bi Sian sendiri, dia

melatih ilmu-ilmu atau gerakan silat itu di dalam kamarnya,

atau di tempat sunyi di mana tidak ada orang melihatnya.

Karena itu, dia telah memiliki kepekaan dan gerakan otomatis.

Walaupun dia belum pernah berkelahi, namun dia mengenal

gerakan-gerakan dalam latihan itu seperti gerakan mengelak,

menangkis, memukul, menendangdan sebagainya. Kini,

melihat tangan Ki Cong melayang ke arah mukanya, secara

otomatis tubuh Sie Liong bergerak ke belakang dan pukulan

itupun luput! Ki Cong menyusulkan tendangan kakinya ke arah

perut Sie Liong, akan tetapi anak inipun dengan gerakan

otomatis menggerakkan tangan kirinya menangkis ke

samping.

“Dukkk! ” Kaki yang menendang itupun tertangkis.

Melihat betapa dua kali serangannya dapat dielakkan dan

ditangkis, Lu Ki Cong menjadi penasaran sekali. Tadinya dia

mengira bahwa dengan sekali pukul saja, dia sudah akan

dapat merobohkan Si Bongkok ini. Dan tangkisan tadi pun

kuat sekali sehingga dia merasa kakinya nyeri. Temannya

yang lebih tua darinya dan memiliki ilmu silat yang lebih

pandai, segera menerjang ke depan dan menghujankan

serangan. Lu Ki Cong juga menyerang lagi, sehingga kini Sie

Liong dikeroyok dua! Dua orang itu memukul dan menendang

dengan gencar dan penuh kemarahan.

Ilmu silat yang pernah dipelajari Sie Liong hanya melalui Bi

Sian dan tidak pernah dia mendapatkan bimbingan guru.

Maka, gerakan-gerakan yang dipelajarinya itu tidak lebih

hanya gerakan kembangan saja, seperti tarian. Maka,

menghadapi serangan sungguh-sungguh yang dilakukan dua

orang anak laki-laki yang sudah biasa berkelahi, tentu saja dia

kewalahan. Tadinya dia hanya ingin menolong Bi Sian, tidak

ingin memukul orang. Akan tetapi, kini tubuhnya mulai

menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan! Untung

baginya bahwa berkat kerajinannya bekerja dan bangun pagipagi

sekali melakukan segala pekerjaan berat, tubuhnya

menjadi sehat dan kuat sekali. Pukulan dan tendangan yang

diterimanya itu hanya mendatangkan rasa nyeri, akan tetapi

tidak sampai merobohkannya.

Setelah kini tubuhnya, mukanya, menjadi sasaran pukulan

dan tendangan, merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri, Sie

Liong menjadi marah! Apa lagi dia mendengar Bi Sian

berteriak-teriak, “Jangan pukuli paman Liong! Lepaskan dia,

jangan pukuli dia! Ah, kalian anak-anak jahat, iblis siluman.

Lepaskan aku, biar aku yang melawan kalian!”

Dua orang anak laki-laki yang lain hendak membantah,

akan tetapi anak yang jangkung itu menarik tangan mereka.

“Mari kita pergi dari sini! ” katanya. Agaknya dia merasa

sungkan untuk berbantahan dan berkelahi dengan Bi Sian,

apalagi di situ mulai berkumpul banyak orang yang menonton.

Ketika tiga orang anak itu pergi, orang-orang tersenyum dan

memuji kegagahan sikap Bi Sian. Memang pantas sekali anak

perempuan itu menjadi puteri Yauw Sun Kok yang gagah

perkasa, kata mereka. Seorang di antara mereka, seorang

kakek penjual kuih, menghampiri Bi Sian.

“Nona Yauw, hati-hatilah, anak yang jangkung tadi adalah

putera komandan pasukan keamanan kota. Dia memang nakal

sekali dan suka main keroyokan.”

Bi Sian mengepal tinju. “Aku tidak takut!”

Sie Liong menghadapi kakek itu. “Terima kasih, lopek. Kami

tidak mencari keributan. Mereka yang tadi mengganggu kami

yang sedang berjalan menuju ke pasar.”

Orang-orang bubaran dan dua orang anak itu melanjutkan

perjalanan mereka ke pasar. Setelah berbelanja, merekapun

melakukan perjalanan pulang. Keranjang mereka sudah penuh

dengan barang belanjaan. Sie Liong sengaja memenuhi

keranjangnya yang besar sehingga Bi Sian hanya membawa

keranjang yang kecil dan tidak begitu berat. Barang-barang

yang berat dimasukkan dalam keranjang besar oleh Sie Liong

dan dia memanggul keranjang itu di pundaknya. Tangan kiri

memegang keranjang itu, dan tangan kanannya masih

membawa lima ekor ayam pada kaki mereka. Jarak antara

rumah keluarga Yauw dan pasar di tengah kota itu memang

cukup jauh, tidak kurang dari tiga li jauhnya. Ketika dua orang

anak itu tiba di jalan yang sunyi karena di kedua tepi jalan itu

adalah kebun orang yang cukup luas, tiba-tiba muncul lima

orang anak laki-laki di depan mereka. Agaknya mereka tadi

sengaja bersembunyi dan kini keluar setelah Sie Liong dan

Yauw Bi Sian tiba di situ. Yang tiga orang adalah anak-anak

yang ribut dengan mereka tadi, kini ditambah dua orang anak

laki-laki yang usianya tentu lebih dari lima belas tahun dan

sikap mereka seperti jagoan. Anak jerawatan yang menurut

kakek tadi adalah putera komandan pasukan keamanan kota,

tetap memimpin mereka karena dialah yang menghadang paling

depan.

“Monyet bongkok, berhenti dulu!” bentak anak laki-laki

jerawatan itu.

Sie Liong bersikap tenang saja dan tidak menjadi marah,

akan tetapi Bi Sian yang menjadi marah. Ia melepaskan

keranjangnya di atas tanah, lalu melangkah maju menghadapi

anak laki-laki jangkung jerawatan itu. “Engkau lagi? Kalian ini

mau apa? Masih juga hendak menghina orang?”

“Nona, kami bermaksud baik. Kami menghormati ayahmu

yang menjadi sahabat ayahku. Kami hanya tidak rela melihat

monyet bongkok ini menjadi pengiringmu. Monyet bongkok,

berikan keranjang itu kepada kami dan kau boleh merangkak

pergi dari sini, biar kami yang mengantar nona Yauw pulang!”

Kemarahan Bi Sian memuncak. “Engkau sungguh bermulut

kotor dan jahat!” katanya dan iapun sudah maju dan

menyerang dengan tamparan tangannya. Karena sejak kecil Bi

Sian sudah terlatih, maka gerakan tangannya itu cepat dan

kuat.

“Plakkk!” Pipi kiri anak jerawatan itu terkena tamparan.

“Aduhh….!” Dia terhuyung, menutupi pipi yang tertampar

dengan tangan, rasanya panas dan nyeri dan ternyata pipi itu

menjadi biru membengkak! “Nona, kenapa engkau memukul

aku yang hendak membantumu?” bentaknya marah dan

penasaran.

“Keparat, kalian ini memang kurang ajar dan perlu dihajar!”

kata Bi Sian dan ia sudah menerjang maju lagi, sekali kakinya

terayun, seorang anak laki-laki lain yang mencoba untuk menangkap

lengannya, jatuh tersungkur dan memegangi perut

sambil meringis kesakitan.

“Wah, anak perempuan ini galak dan liar!” kata dua orang

anak laki-laki yang lebih besar dan merekapun menubruk ke

depan.

“Plak-plakk!” Bi Sian membagi-bagi pukulan dan

tendangan, dan lima orang anak laki-laki itu jatuh bangun.

Akan tetapi mereka itu lebih besar dan mereka kini

melakukan perlawanan. Seorang di antara mereka meubruk

dari belakang dan berhasil menelikung kedua lengan Bi Sian

ke belakang tubuhnya. Bi Sian meronta-ronta, akan tetapi

anak-anak lain memegangi kaki dan tangannya sehingga ia

tidak lagi mampu melepaskan diri.

“A Cong, cepat kauhajar monyet bongkok itu. Biar kami

yang memegangi nona Yauw agar ia tidak dapat melindungi

monyet bongkok itu!” kata orang yang menelikung kedua

lengan Bi Sian. Biarpun kini ada tiga orang anak yang

memegangi tubuh Bi Sian, namun mereka tidak berani

menyakit i anak perempuan itu, juga tidak berani berbuat

kurang ajar. Mereka hanya memegangi Bi Sian agar anak itu

tidak dapat melepaskan diri dan tidak dapat membantu Sie

Liong yang akan dihajar oleh dua orang anak yang lain,

termasuk Lu Ki Cong, putera komandan pasukan keamanan di

Sung-jan itu.

Akan tetapi, Sie Liong sudah menurunkan keranjangnya,

juga melepaskan lima ekor ayam yang kakinya diikat itu.

Tadinya ia memang diam saja dan tidak bermaksud untuk

berkelahi dengan anak-anak itu, membiarkan saja mereka

menggoda, mengganggu bahkan menghinanya. Dia tahu diri.

Dia anak cacat, bongkok dan hal itu tidak perlu dibantahnya.

Akan tetapi, melihat betapa tiga orang anak memegangi kaki

tangan Bi Sian, mukanya berubah merah dan kedua matanya

mengeluarkan sinar berapi. Dia boleh menahan semua hinaan

yang dilontarkan kepada tubuhnya yang bongkok, akan tetapi

jelas bahwa dia tidak mungkin membiarkan mereka itu

mengeroyok dan memegangi Bi Sian.

“Anak-anak jahat! Lepaskan Bi Sian!” bentaknya sambil

menghampiri tiga orang yang masih memegangi anak perempuan

itu. Akan tetapi Lu Ki Cong dan seorang temannya yang

bertubuh tinggi besar bermuka hitam, nampaknya seperti

jagoan muda, menghadangnya. Lu Ki Cong dan anak muka

hitam itu adalah murid-murid dari guru silat bayaran terpandai

di kota itu.

“Heh, monyet bongkok, kami akan melepaskan nona Yauw

kalau sudah kenyang menghajar mukamu yang buruk!” kata

Lu Ki Cong sambil melayangkan tinjunya ke arah muka Sie

Liong.

Sie Liong belum pernah berkelahi seumur hidupnya. Akan

tetapi dia dengan tekun mempelajari ilmu silat dari Bi Sian,

dan dengan rajin sekali, lebih rajin dari Bi Sian sendiri, dia

melatih ilmu-ilmu atau gerakan silat itu di dalam kamarnya,

atau di tempat sunyi di mana tidak ada orang melihatnya.

Karena itu, dia telah memiliki kepekaan dan gerakan otomatis.

Walaupun dia belum pernah berkelahi, namun dia mengenal

gerakan-gerakan dalam latihan itu seperti gerakan mengelak,

menangkis, memukul, menendangdan sebagainya. Kini,

melihat tangan Ki Cong melayang ke arah mukanya, secara

otomatis tubuh Sie Liong bergerak ke belakang dan pukulan

itupun luput! Ki Cong menyusulkan tendangan kakinya ke arah

perut Sie Liong, akan tetapi anak inipun dengan gerakan

otomatis menggerakkan tangan kirinya menangkis ke

samping.

“Dukkk! ” Kaki yang menendang itupun tertangkis.

Melihat betapa dua kali serangannya dapat dielakkan dan

ditangkis, Lu Ki Cong menjadi penasaran sekali. Tadinya dia

mengira bahwa dengan sekali pukul saja, dia sudah akan

dapat merobohkan Si Bongkok ini. Dan tangkisan tadi pun

kuat sekali sehingga dia merasa kakinya nyeri. Temannya

yang lebih tua darinya dan memiliki ilmu silat yang lebih

pandai, segera menerjang ke depan dan menghujankan

serangan. Lu Ki Cong juga menyerang lagi, sehingga kini Sie

Liong dikeroyok dua! Dua orang itu memukul dan menendang

dengan gencar dan penuh kemarahan.

Ilmu silat yang pernah dipelajari Sie Liong hanya melalui Bi

Sian dan tidak pernah dia mendapatkan bimbingan guru.

Maka, gerakan-gerakan yang dipelajarinya itu tidak lebih

hanya gerakan kembangan saja, seperti tarian. Maka,

menghadapi serangan sungguh-sungguh yang dilakukan dua

orang anak laki-laki yang sudah biasa berkelahi, tentu saja dia

kewalahan. Tadinya dia hanya ingin menolong Bi Sian, tidak

ingin memukul orang. Akan tetapi, kini tubuhnya mulai

menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan! Untung

baginya bahwa berkat kerajinannya bekerja dan bangun pagipagi

sekali melakukan segala pekerjaan berat, tubuhnya

menjadi sehat dan kuat sekali. Pukulan dan tendangan yang

diterimanya itu hanya mendatangkan rasa nyeri, akan tetapi

tidak sampai merobohkannya.

Setelah kini tubuhnya, mukanya, menjadi sasaran pukulan

dan tendangan, merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri, Sie

Liong menjadi marah! Apa lagi dia mendengar Bi Sian

berteriak-teriak, “Jangan pukuli paman Liong! Lepaskan dia,

jangan pukuli dia! Ah, kalian anak-anak jahat, iblis siluman.

Lepaskan aku, biar aku yang melawan kalian!”

Sie Liong yang mulai marah itu memandang dengan mata

mencorong. “Kalian orang-orang jahat!” bentaknya dan

suaranya melengking nyaring, kemudian dia mulai membalas

dengan pukulan-pukulan seperti yang pernah dipelajarinya

dari Bi Sian.

“Plakkk!” Dia menangkis pukulan Ki Cong dan membiarkan

pukulan si muka hitam mengenai dadanya, akan tetapi dia

membalas kepada Ki Cong dengan pukulan tangan kanan ke

arah leher putera kamandan itu.

“Desss!” Tenaga Sie Liong memang besar dan pukulan itu

keras sekali, juga mengenai pangkal leher dengan tepat

sehingga tubuh Ki Cong terputar lalu dia roboh dan

mengaduh-aduh.

Si muka hitam menyerang dari samping, tangan kanannya

berhasil mencengkeram muka Sie Liong. Agaknya dia bermaksud

untuk mencengkeram mata Sie Liong, akan tetapi

terlalu rendah sehingga yang dicengkeram adalah hidung dan

mulut Sie Liong. Cengkeraman itu keras dan kalau dilanjutkan,

tentu hidung dan bibir Sie Liong dapat robek terluka.

Karena kesakitan, Sie Liong membuka mulutnya dan

menggigit jari telunjuk yang berada di mulutnya, menggigit

dengan keras mengerahkan tenaganya.

“Krekk!” Hampir saja jari itu putus oleh gigitan Sie Liong.

Setidaknya, tentu buku jarinya retak-retak. Anak bermuka

hitam itu menjerit-jerit kesakitan. Sie Liong melepaskan gigitannya

dan anak itu memegangi jari tangannya sambil

meloncat-loncat kesakitan. Rasa nyeri menusuk jantungnya.

Lu Ki Cong yang tadi terpukul pangkal lehernya, sudah

bangun lagi dan dengan kemarahan berkobar dia

menggunakan kedua tangannya memukul dari atas ke arah

ubun-ubun kepala Sie Liong. Karena tubuhnya jangkung,

maka dia dapat melakukan serangan seperti itu dan kalau

mengenai ubun-ubun kepala, mungkin saja Sie Liong akan

terluka parah atau setidaknya akan roboh pingsan.

Sie Liong yang merasa nyeri-nyeri seluruh tubuhnya itu,

tidak mau menerima lagi pukulan begitu saja. Dia mengangkat

kedua lengannya ke atas dengan jurus yang dikenalnya dari Bi

Sian. Jurus itu menurut Bi Sian bernama “Dua Tihang

Penyangga Langit”. Kedua lengannya dengan kekuatan

sepenuhnya diangkat ke atas menangkis dua tangan lawan

yang menghantamubun-ubun kepalanya.

“Dukkk! ” Kuat sekali kedua lengan Sie Liong itu. Lu Ki Cong

sampai berteriak kesakitan ketika kedua lengannya bertemu

dengan dua lengan lawan yang menangkisnya dan pada saat

itu, Sie Liong melihat betapa dada lawannya “terbuka” sampai

ke perut. Dia cepat merendahkan tubuhnya, dan kepalanya

yang memang sudah terjulur ke depan karena bongkoknya itu,

ditundukkan dan dengan sepenuh tenaga diapun menyeruduk

ke depan! Kepalanya mengenai perut Lu Ki Cong.

“Bukkk! ” Dan tubuh Lu Ki Cong terjengkang dan terbanting,

dia batuk-batuk dan muntah darah!

Sie Liong tidak melihat lagi keadaan lawan-lawannya yang

sudah roboh itu. Si muka hitam mengaduh-aduh memegangi

telunjuk kanan yang hampir putus tergigit, sedangkan Ki Cong

tidak mampu bangkit, mengerang kesakitan dan napasnya

agak terengah-engah. Sie Liong hanya memperhatikan Bi Sian

dan kini ia meloncat dan menerjang tiga orang anak yang

masih memegangi kaki dan tangan Bi Sian. Disergap dengan

penuh kemarahan oleh Sie Liong, tiga orang anak itu terpaksa

melepaskan Bi Sian dan kini Sie Liong dan Bi Sian mengamuk.

Tiga orang anak itu sama sekali tidak mampu membalas dan

mereka itu menerima hujan pukulan dan tendangan Bi Sian

sehingga akhirnya mereka minta-minta ampun, bahkan dua

orang di antaranya menangis, dan lima orang anak itu lalu

melarikan diri, ada yang terseok-seok ada yang setengah

merangkak!

Sie Liong dan Bi Sian tidak mengejar. Bi Sian memandang

Sie Liong dengan mata penuh kekaguman.

“Paman Liong, engkau hebat! Engkau mampu mengalahkan

mereka….” kata Bi Sian sambil maju dan memegangi kedua

tangan pamannya, memandang wajah paman cilik itu dengan

penuh kekaguman. “Dan engkaulah yang telah menolongku,

paman!”

Sie Liong merasa betapa hatinya girang bukan main

menerima pujian ini. Serasa lenyap semua nyeri di tubuhnya

oleh pandang mata dan ucapan keponakannya itu. Rasa

girang ini bergelimang rasa malu dan diapun dengan lembut

menarik kedua tangannya dan membuang muka.

“Ahhh…. sudahlah, Bi Sian. Di mana barang-barang kita?

Wah, wah, itu ayamnya berloncatan jauh. Mari kita

kumpulkan!”

Mereka berdua lalu mengumpulkan barang belanjaan yang

cerai berai, dan betapapun mereka mencari, ayam yang lima

ekor itu t inggal tiga ekor saja. Juga banyak barang belanjaan

menjadi rusak terinjak dan kotor. Sie Liong menarik napas

panjang.

“Ahh, aku tentu akan dimarahi enci Hong!”

“Tidak, biar aku yang bercerita bahwa kita diganggu anakanak

nakal kepada ibu!”

“Jangan, Bi Sian! Jangan ceritakan bahwa aku telah

berkelahi. Ah, cihu tentu akan marah kepadaku….!”

“Kenapa ayah harus marah? Bukankah engkau telah

menolongku, paman? Biar aku yang menceritakan dan kalau

ayah dan ibu marah kepadamu, aku yang akan membelamu!”

“Jangan, Bi Sian. Kuminta sekali lagi kepadamu, jangan

ceritakan bahwa aku telah berkelahi. Cihu sudah berkali-kali

memperingatkan agar aku tidak berkelahi. Dia tentu akan

marah dan bersedih kalau melihat aku tidak mentaati

pesannya. Ah, aku tidak ingin membikin cihu bersedih. Dia

sudah begitu baik kepadaku. Kuminta, jangan kauceritakan

bahwa aku berkelahi!”

Bi Sian memandang wajah paman cilik itu. Tangannya lalu

bergerak ke arah muka itu, dengan lembut ia meraba-raba

muka yang bengkak-bengkak dan biru itu. “Sakit-sakitkah

mukamu dan badanmu, paman Liong? Aku melihat betapa

engkau dipukuli dan ditendangi….”

Tiba-tiba rasa nyeri itu datang lagi, akan tetapi Sie Liong

menggigit bibirnya. “Tidak, tidak berapa nyeri….”

“Paman, kalau aku tidak boleh menceritakan bahwa engkau

telah menolongku dan berkelahi mengalahkan lima orang anak

nakal yang jauh lebih kuat dan lebih tua darimu, lalu apa yang

akan kita katakan kalau ayah dan ibu melihat mukamu yang

bengkak-bengkak ini dan bertanya?”

Sie Liong meraba mukanya. Dia tidak dapat melihat

mukanya yang lembam membiru, akan tetapi dapat

merasakan nyeri di tepi kedua matanya dan di pipi kirinya,

juga dapat merasakan betapa pipinya itu membengkak.

Karena itu dia tidak dapat membayangkan bahwa mukanya

akan mudah kelihatan bekas perkelahian.

“Ah, bagaimana baiknya….? Aku tidak ingin cihu bersedih

dan enci Hong marah-marah.” Dia kelihatan bingung.

Melihat kesungguhan hati Sie Liong yang tidak ingin

diketahui ayah ibunya bahwa dia telah berkelahi, Bi Sian merasa

kasihan walaupun dianggapnya sikap itu berlebihan.

“Baiklah, paman. Aku tidak akan menceritakan mereka tentang

perkelahianmu. Aku akan menerangkan bahwa mukamu

bengkak-bengkak karena ada lima orang anak nakal

menganggu kita. Engkau dipukuli, lalu aku melawan mereka

sehingga mereka kabur. Nah, dengan begitu engkau terhindar

dari sangkaan berkelahi dan karena aku yang berkelahi, maka

kehilangan ayam dan barang-barang adalah tanggungjawabku.”

“Dan engkau akan kelihatan gagah berani. Aku senang

sekali, akan tetapi kalau engkau dimarahi enci Hong tentang

kehilangan itu, biar kukatakan bahwa barang-barang itu

tadinya kubawa, dan hilang karena aku dipukuli mereka. Dan

engkau tidak dapat menjaga barang-barang itu karena engkau

dikeroyok lima.”

Bi Sian mengangguk dan mereka lalu pulang. Benar saja

seperti yang dikhawatirkan Sie Liong, mereka disambut oleh

Yauw Sun Kok dan Sie Lan Hong dengan mata terbelalak dan

penuh keheranan.

“Aih! Apa yang telah terjadi? Berantakan dan kotor semua

barang belanjaan ini! Dan ayamnya hanya tiga ekor? Eh, apa

yang telah terjadi, Sie Liong dan Bi Sian?” Sie Lan Hong

berseru dengan alis berkerut.

“Sie Liong! Engkau telah berkelahi, ya? Berani engkau

berkelahi?” Yauw Sun Kok berseru marah ketika melihat wajah

adik isterinya itu bengkak-bengkak. Sie Lion hanya

menundukkan mukanya, khawatir kalau-kalau kakak iparnya

itu akan melihat kebohongannya kalau dia membuka suara.

Bi Sian sudah melangkah maju di depan Sie Liong dan

dengan lantang juga berani ia berkata,

“Ayah! Ibu! Jangan marah kepada paman Liong! Dia sama

sekali tidak bersalah! Akulah yang bersalah sehingga barang

belanjaan berantakan dan ada yang hilang dan akulah yang

berkelahi!”

Melihat sikap puteri mereka itu, Yauw Sun Kok memandang

dengan mata bersinar bangga dan wajah berseri. “Bi Sian,

engkau berkelahi? Mengapa? Ceritakan apa yang terjadi dan

mengapa pula wajah Sie Liong bengkak-bengkak, dan

mengapa pula barang belanjaan kotor berantakan dan ada

yang hilang?”

Lan Hong yang merasa kasihan melihat adiknya yang

bongkok itu mukanya bengkak-bengkak dan kelihatan kesakitan,

lalu berkata, “Biarkan mereka duduk. Sie Liong, engkau

minumlah dulu, engkau juga Bi Sian.”

Kedua orang anak itu minum air teh yang tersedia di atas

meja, kemudian mereka berempat duduk menghadapi meja.

Bi Sian lalu mulai bercerita.

“Ketika kami pulang dari pasar, di jalan yang sepi dekat

ladang itu kami dihadang oleh lima orang anak laki-laki yang

usianya kurang lebih lima belas tahun, ayah. Mereka itu anakanak

nakal. Mereka menggoda dan memaki paman Liong,

mengataken paman monyet bongkok. Paman diam saja, akan

tetapi aku yang tidak kuat menahan. Aku balas memaki

mereka, bahkan aku lalu memukul mereka. Mereka lalu

memukuli paman Liong yang tidak melawan. Aku menjadi

marah dan aku lalu berkelahi dengan mereka, sementara

paman Liong masih dipukuli. Akhirnya, aku berhasil mengusir

mereka, ayah. Barang belanjaan menjadi kocar-kacir, lima

ekor ayam itu terlepas dan kami hanya dapat menemukan

kembali tiga ekor saja. Aku yang berkelahi, ayah, akan tetapi

lima orang anak itu jahat seperti setan. Apa lagi yang seorang,

yang jangkung dan berjerawat mukanya. Kata orang, dia itu

anak komandan keamanan di kota ini, ayah.”

“Apa? Putera Lu Ciangkun (Perwira Lu)?” Sun Kok bertanya

kaget sekali. “Kalau begitu anak itu adalah Lu Ki Cong!”

“Kami tidak tahu namanya, ayah, hanya ada seorang kakek

di jalan yang memperingatkan aku bahwa anak itu adalah

putera komandan pasukan keamanan di Sung-jan.”

“Aiih!” Yauw Sun Kok menepuk pahanya sendiri. Tentu saja

dia mengenal baik Lu Ciangkun! Perwira itu bukan saja

sahabat baiknya, bahkan di antara mereka pernah timbul

percakapan tentang memperjodohkan anak masing-masing

satu sama lain. Perwira itu hanya mempunyai seorang anak

saja, yaitu anak laki-laki bernama Lu Ki Cong. Biarpun belum

diresmikan, bahkan isterinya sendiri belum diberitahu hal itu,

di antara kedua orang itu seperti sudah ada ikatan. Dan

sekarang, mereka berkelahi! Lalu dia memandang kepada Sie

Liong, dan bertanya kepada puterinya.

“Bi Sian, coba ceritakan lagi yang jelas. Apa yang menjadi

sebab perkelahian itu? Mengapa mereka itu menggoda dan

mengganggu Sie Liong?”

Bi Sian bersungut-sungut, “Anak jerawatan itu mengatakan

bahwa tidak pantas paman Liong mengantar aku ke pasar.

Katanya dia yang mengantar, dan dia mengusir paman Liong.

Ketika aku marah dan memakinya, dia malah memukuli paman

Liong bersama teman-temannya.”

Ah, kini mengertilah Sun Kok. Anak sahabatnya itu

cemburu! Tentu saja! Agaknya anak itu telah diberitanu oleh

orang tuanya bahwa dia akan dijodohkan dengan Bi Sian,

maka begitu melihat Bi Sian berjalan dengan Sie Liong, anak

itu cemburu dan iri! Pantas kalau begitu, dan Sun Kok lalu

tertawa bergelak. Tentu saja isterinya menjadi heran, juga Bi

Sian memandang ayahnya dengan mata terbelalak.

“Mengapa ayah tertawa?” tanyanya berani.

Sun Kok masin tertawa bergelak. Mendengar pertanyaan

puterinya itu, dia berkata sambil tersenyum. “Ha-ha, dia

cemburu! Lu Ki Cong itu mencemburukan engkau dan Sie

Liong! Ha-ha, bagaimana dia bisa cemburu? Sie Liong adalah

seorang anak cacat…. eh, dia kan pamanmu sendiri! Apakah

dia tidak kauberi tahu?”

Bi Sian menjadi penasaran. “Sudah kuberitahu bahwa dia

pamanku. Akan tetapi kenapa dia cemburu, ayah? Ada hak

apa dia cemburu?”

Yauw Sun Kok masih tersenyum. “Tentu dia sudah

mendengar dari ayahnya akan rencana ayahnya dan aku

menjodohkan engkau dengan dia….”

“Ayah….!” Bi Sian berteriak, matanya terbelalak

memandang ayahnya, alisnya berkerut. Sejenak anak ini memandang

ayahnya dengan muka merah dan mata merah,

akan tetapi ia lalu lari masuk ke dalam kamarnya. Melihat ini,

Sie Liong yang sejak tadi menundukkan mukanya, lalu

mengundurkan diri ke dapur membawa barang-barang

belanjaan untuk menyerahkan kepada pelayan di dapur.

“Aih, Sian-ji masih kanak-kanak, baru juga sebelas tahun

usianya. Bagaimana kau bicara tentang perjodohan dengan ia

yang belum mengerti apa-apa itu?” Sie Lan Hong menegur

suaminya.

Suaminya hanya tersenyum. “Kalau tidak ada peristiwa

perkelahian itu, tentu aku belum akan menceritakan

kepadanya. Apa lagi, ikatan jodoh itu baru merupakan omongomong

antara kawan saja, belum resmi mereka meminang.

Karena itu, engkaupun belum kuberitahu. Bagaimana juga, Luciangkun

adalah sahabatku. Peristiwa perkelahian antara ke

dua orang anak yang kami ingin jodohkan itu sungguh

membuat hatiku tidak enak. Apa lagi kalau sampai puteranya

terluka oleh tangan Bi Sian yang galak. Biarlah aku pergi ke

sana untuk minta maaf.” Yauw Sun Kok lalu pergi dari

rumahnya, mengunjungi rumah Komandan Lu.

Sie Lan Hong lalu memasuki kamar puterinya, disambut

oleh anaknya yang matanya merah karena menangis. Melihat

ibunya, Bi Sian lalu bertanya dengan wajah bersungut-sungut.

“Ibu, aku t idak sudi dijodohkan dengan t ikus jerawatan itu!”

“Eh? Tikus Jerawatan yang mana?” ibunya bertanya heran

karena memang tidak mengerti.

“Itu, anak bengal putera Lu-ciangkun! Benarkah aku akan

dijodohkin dengan dia, ibu? Kalau benar, aku akan minggat

saja!”

“Hushhh, itu hanya kelakar ayahmu dan sahabatnya saja.

Belum ada pinangan resmi dan kalau ada pinangan, tentu

ayahmu akan mengajak aku berunding, dan engkaupun akan

kuberitahu. Sudahlah, jangan marah. Karena perkelahian itu,

ayahmu merasa tidak enak terhadap Lu-ciangkun yang

menjadi sahabat baiknya dan sekarang dia pergi ke sana

untuk minta maaf.”

“Ayah pergi ke rumahnya? Celaka….!” Akan tetapi Bi Sian

segera menutup mulut dengan tangan. Terlambat. Ibunya

sudah mendengar ucapan itu dan melihat sikap puterinya, Lan

Hong merasa curiga.

“Sian-ji, ada apakah? Mengapa engkau terkejut dan gelisah

mendengar ayahmu pergi ke rumah Lu-ciangkun? Mengapa

engkau mengatakan celaka tadi?”

Bi Sian maklum bahwa kalau ayahnya pergi ke rumah tikus

jerawatan itu, tentu ayahnya akan mendengar segalanya dan

ibunya akhirnya juga akan tahu. Lebih baik ia lebih dulu

memberitahukan ibunya dan menarik ibunya di fihaknya agar

membela ia dan pamannya.

“Ibu, aku tadi…. berbohong kepada ayah, maka aku kaget

mendengar ayah pergi ke rumah komandan itu,” katanya

mengaku.

“Bohong? Bohong bagaimana, Bi Sian?”

“Aku memang berkelahi dengan lima orang anak nakal itu,

akan tetapi aku telah mereka tangkap dan tidak berdaya.

Mereka lalu memukuli paman Sie, dan melihat aku ditangkap,

paman Sie lalu mengamuk dan lima orang itu dia hajar sampai

luka-luka dan mereka semua melarikan diri.”

“Sie Liong? Tidak mungkin!” kata Sie Lan Hong. Bagaimana

adiknya yang bongkok dan lemah itu dapat mengalahkan lima

orang anak nakal yang lebib besar?

“Benar, ibu. Aku tidak berbohong,” Bi Sian lalu

menceritakan semua yang telah terjadi. Betapa lima orang

anak nakal itu menghina Sie Liong akan tetapi pamannya itu

diam saja. Ialah yang marah-marah dan memukul, akhirnya

tiga orang anak memegangi kaki tangannya dan dua orang

anak memukuli Sie Liong. Akhirnya Sie Liong mengamuk dan

berhasil menolongnya dan mereka berdua lalu menghajar lima

orang anak itu sehingga melarikan diri.

“Paman Liong minta kepadaku, agar jangan bercerita

kepada ayah dan ibu bahwa dia ikut berkelahi, maka aku lalu

berbohong. Akan tetapi sekarang ayah pergi ke sana, tentu

tikus jerawatan itu akan mengadu dan menceritakan bahwa

paman Liong yang memukulnya.”

Sie Lan Hong masih bingung dan heran. “Tapi…. tapi…. Sie

Liong cacat dan lemah…..”

Biarpun matanya masih merah oleh tangisnya tadi, kini Bi

Sian tersenyum, senyum bangga bahwa hanya ialah satusatunya

orang yang tahu akan rahasia pribadi Sie Liong.

“Jangan ibu kira bahwa paman Liong seorang yang lemah!

Selama ini dia mempelajari semua ilmu silat yang diajarkan

ayah kepadaku, dan dia bahkan lebih lihai dari pada aku, ibu.

Ketika dia melawan anak-anak nakal itu, hebat bukan main!”

Terkejutlah hati Sie Lan Hong mendengar ini. Adiknya

mempelajari ilmu silat! Ah, jantungnya berdebar penuh

ketegangan. Hal itulah yang amat dibenci suaminya,

dikhawatirkan suaminya. Ia tahu benar bahwa suaminya ingin

melihat Sie Long sebagai seorang anak cacat yang lemah,

yang tidak mungkin untuk melakukan kekerasan. Ada alasan

yang amat kuat mengapa suaminya menginginkan Sie Liong

menjadi anak lemah. Tentu agar anak itu kelak tidak

mempunyai pikiran untuk membalas dendam! Perih rasa hati

Lan Hong. Ia sendiri seringkali termenung dan merasa

berdosa kepada ayah ibunya. Ayah ibunya dibunuh oleh Yauw

Sun Kok, biarpun dengan alasan untuk membalas kematian

isteri pertama suaminya itu. Dan ia terpaksa menyeralkan diri

kepada Sun Kok demi menyelamatkan adiknya. Akan tetapi

akhirnya ia jatuh cinta kepada suaminya ini, apa lagi setelah ia

melahirkan seorang anak. Iapun tidak menginginkan terjadi

permusuhan antara Sie Liong dan suaminya. Akan tetapi, kini

terjadi peristiwa itu dan suaminya tentu akan marah sekali

mendengar bahwa Sie Liong telah mempelajari ilmu silat.

“Sian-ji…. jangan…. jangan kauceritakan hal itu kepada

ayahmu. Ayahmu tidak suka mendengar Sie Liong belajar ilmu

silat.”

“Tapi, kenapa ibu? Kenapa ayah tidak suka kalau paman

Liong belajar ilmu silat? Paman Liong juga mengatakan begitu.

Akan tetapi kenapa? Aku, seorang anak perempuan, sejak

kecil sudah dilatih silat oleh ayah. Akan tetapi paman Liong

adalah seorang anak laki-laki, dan tubuhnya cacat, lemah

pula, maka sudah sepatutnya kalau dia belajar ilmu silat agar

sehat dan kuat. Kenapa ayah melarangnya?”

“Ayahmu…. lebih tahu, anakku. Tubuh pamanmu itu cacat,

apa lagi cacat di punggung. Berbahaya sekali kalau

mempelajari ilmu silat. Sudahlah, lebih baik kau tidak bercerita

apa-apa kepada ayahmu.”

Akan tetapi hal itu tidak ada gunanya. Mereka mendengar

kedatangan Yauw Sun Kok yang berteriak memanggil Sie

Liong. Bergegas ibu dan anak ini keluar dengap hati yang

penuh kekhawatiran. Mereka melihat Sun Kok sudah duduk di

ruangan dalamdengan muka merah.

Memang Sun Kok marah sekali. Ketika dia berkunjung ke

rumah sahabatnya, Lu-ciangkun, dia bukan saja mendengar

bahwa yang memukuli putera sahabatnya itu adalah Sie Liong,

bahkan anak laki-laki jangkung itu masih rebah di

pembaringan karena dia mengalami luka di perutnya, akibat

benturan kepala Sie Liong. Sahabatnya itu bahkan

mengatakan bahwa Sie Liong itu ganas dan berbahaya sekali.

“Bukan hanya Ki Cong yang terluka parah, bahkan kawankawannya

juga terluka parah oleh anak bongkok itu. Dia

sungguh ganas, liar dan berbahaya sekali.”

Tentu saja Sun Kok marah bukan main kepada adik

isterinya itu. Bagaimana Sie Liong dapat menjadi seorang anak

yang demikian kuat dan menurut penuturan Ki Cong, pandai

silat pula? Teringatlah dia akan keadaannya sendiri. Kalau

dibiarkan Sie Liong terus menerus mempelajari ilmu silat

sampai menjadi seorang yang pandai, keselamatan nyawanya

tentu terancam kelak! Akan tetapi, jalan satu-satunya hanya

membunuh anak itu, padahal dia tidak mau melakukan hal itu.

Bukan hanya karena dia pernah bersumpah kepada isterinya

bahwa dia tidak akan membunuh Sie Liong, akan tetapi juga

dia tidak tega kalau harus membunuhnya. Bagaimanapun

juga, harus dia akui bahwa Sie Liong adalah seorang anak

yang baik, rajin, penurut dan pendiam. Akan tetapi bagaimana

tahu-tahu dia memiliki kepandaian ilmu silat?

“Sie Liong….!” Yauw Sun Kok memanggil lagi dengan suara

nyaring.

Pada saat itu muncullah Sie Liong. Mukanya masih

bengkak-bengkak dan tangannya masih basah karena ketika

dipanggil, dia sedang membersihkan jendela-jendela rumah itu

dengan lap dan air.

“Ci-hu memanggil saya?” tanyanya kepada cihu-nya.

Dengan sikap tenang dia berdiri di depan cihunya yang duduk

dan memandang kepadanya dengan mata bernyala.

“Sie Liong, dari siapa engkau mempelajari ilmu silat?”

bentak Yauw Sun Kok.

Diam-diam Sie Liong terkejut mendengar pertanyaan yang

tiba-tiba itu, namun anak ini memang memiliki ketabahan luar

biasa sehingga wajahnya yang bengkak-bengkak itu tidak

memperlihatkan apa-apa. Ingin dia memandang kepada Bi

Sian karena hanya Bi Sian yang tahu bahwa dia mempelajari

ilmu silat. Apakah anak perempuan itu yang memberitahukan

ayahnya? Akan tetapi jelas bukan, karena kalau Bi Sian

memberitahu, tidak mungkin cihunya bertanya dari siapa dia

mempelajari ilmu silat. Lalu bagaimana baiknya? Dia tidak

ingin melibatkan Bi Sian, takut kalau-kalau anak perempuan

itu mendapatkan marah dari ayahnya.

Sie Liong menggeleng kepalanya dan memandang wajah

cihunya dengan berani.

“Saya tidak belajar silat dari siapapun, cihu.”

“Brakkk!” Yauw Sun Kok menggebrak meja di depannya

sehingga ujung meja itu retak. “Bohong kau! Aku tahu bahwa

engkaulah yang memukuli putera Lu-Ciangkun dan kawankawannya,

dan engkau mengalahkan mereka dengan ilmu

silat! Hayo katakan dari siapa engkau belajar ilmu silat!”

“Ayah, yang memukuli adalah si t ikus jerawatan itu dan

kawan-kawannya, mereka yang lebih dulu menghina dan

memukul!” Bi Sian memperotes.

“Diam kau! Kau sudah membohongi aku dan mengatakan

bahwa Sie Liong t idak berkelahi! Sie Liong, hayo katakan dari

siapa engkau belajar ilmu silat!”

Sie Liong sudah mengambil keputusan tetap untuk tidak

melibatkan keponakannya yang selalu mencoba untuk

membelanya itu. “Cihu, memang saya mempelajari ilmu silat,

akan tetapi tidak ada gurunya. Saya belajar sendiri.”

Yauw Sun Kok memandang dengan mata melotot. “Tidak

mungkin belajar silat tanpa guru! Coba kaumainkan beberapa

jurus ilmu silatmu, ingin aku melihat ilmu silatmu!” katanya,

setengah mengejek, setengah marah. “Hayo cepat, jangan

membuat aku hilang kesabaran, Sie Liong! Engkau sudah

melanggar laranganku!”

Sie Liong memandang kepada encinya. Sang enci merasa

kasihan kepada adiknya, akan tetapi ia tahu bahwa kalau

permintaan suaminya itu tidak dituruti, maka dia tentu akan

menjadi semakin marah. Bagaimanapun juga, kemarahan

suaminya itu beralasan karena larangannya telah dilanggar

oleh Sie Liong. Maka ia mengangguk kepada adiknya itu.

“Engkau mainkanlah ilmu silat yang pernah kaupelajari agar

cihumu melihatnya, Sie Liong,” katanya lembut.

Mendengar ucapan isterinya ini, diam-diam Yauw Sun Kok

mengira bahwa tentu isterinya yang telah mengajarkan ilmu

silat kepada adiknya itu, maka dia sudah merasa mendongkol

sekali.

“Baiklah, cihu. Akan tetapi harap jangan diketawai karena

permainanku tentu jelek dan tidak karuan.” Maka diapun lalu

memasang kuda-kuda dan menggerakkan kaki tangannya

seperti kalau dia berlatih silat menirukan semua gerakan yang

dilakukan Bi Sian di waktu berlatih silat. Baru beberapa jurus

Sie Liong bergerak, Sun Kok sudah terkejut sekali karena

gerakan-gerakan anak laki-laki itu adalah gerakan ilmu

silatnya sendiri! Dan gerakan itu demikian lincah dan gesit,

juga penuh tenaga, jauh lebih baik dari pada gerakan Bi Sian.

“Berhenti….!” bentaknya sambil meloncat dari atas

kursinya, berdiri di depan Sie Liong yang cepat menghentikan

gerakan kaki tangannya. “Hayo katakan, dari siapa engkau

mempelajari semua gerakan ilmu silat itu!”

“Maaf, cihu. Saya mempelajarinya dengan…. mencuri lihat

dan mengintai ketika…. Bi Sian sedang berlatih silat. Semua

gerakannya itu saya catat dan hafalkan dalam hati, kemudian

saya meniru gerakan-gerakannya itu di dalam kamar dan saya

latih terus setiap hari. Saya tidak berniat buruk, hanya ingin

sekali mempelajarinya….”

Yauw Sun Kok bernapas lega. Jadi bukan isterinya dan

bukan puterinya yang mengajar anak ini. Akan tetapi, jelas

bahwa anak ini memiliki bakat yang amat baik. Padahal dia

sudah bongkok, namun tetap saja dapat mempelajari ilmu silat

jauh lebih maju dari pada Bi Sian. Diapun mencari akal.

“Sie Liong, ketika aku melarang engkau belajar silat, hal itu

sudah kupikirkan masak-masak, demi kebaikamu sendiri.

Tubuhmu cacat, tulang pungungmu bongkok, sungguh tidak

baik bahkan berbahaya sekali kalau engkau mempelajari ilmu

silat! Engkau t idak percaya? Nah, boleh kita berlatih silat

sebentar. Keluarkan semua jurus yang sudah kaupelajari, dan

serang aku dengan sungguh-sungguh seperti akupun akan

menyerangmu dengan jurus yang sama. Engkau akan melihat

sendiri nant i. Hayo, seranglah!”

Sie Liong mengira bahwa dia akan memperoleh petunjuk

dari cihunya yang biasanya amat sayang kepadanya. Sedikitpun

dia tidak menaruh hati curiga dan diapun mentaati

perintah itu, lalu mulai menggerakkan kaki tangannya, menyerang

cihunya dengan jurus-jurus silat yang pernah

dilatihnya.

Sie Lan Hong memandang dengan jantung berdebar, masih

belum tahu apa yang dikehendaki suaminya. Ia sendiri juga

terkejut karena sama sekali tidak pernah menyangka bahwa

adiknya ternyata benar-benar telah menguasai gerakan silat

yang lebih baik dari pada puterinya. Dengan mata terbelalak,

Bi Sian juga memperhatikan gerakan Sie Liong, iapun mengira

bahwa ayahnya akan memberi petunjuk kepada pamannya itu.

Ia merasa terharu mendengar betapa pamannya itu sengaja

berbohong, mengatakan bahwa dia mengintai dan mencuri

pelajaran silat itu, tidak mau melibatkannya. Betapa

pamannya itu amat sayang kepadanya dan iapun merasa amat

sayang kepada pamannya itu.

Diam-diamYauw Sun Kok terkejut.

Ternyata gerakan Sie Liong selain baik sekali, juga anak ini

memiliki tenaga yang jauh lebih besar dibandingkan anakanak

sebayanya. Tentu saja jauh lebih menang dibandingkan

Bi Sian. Tidak mengherankan kalau lima orang anak nakal itu

kalah olehnya. Dan kalau dibiarkan terus anak ini

memperdalam ilmu silat, tidak salah lagi, dia kelak akan

menjadi orang pandai dan akan membahayakan dirinya!

Setelah menghadapi serangan-serangan Sie Liong untuk

mengujinya sampai belasan jurus, mulailah Yauw Sun Kok

menyerang! Sie Liong juga berusaha mempertahankan diri

dengan elakan dan tangkisan karena cihunya menyerang dengan

jurus-jurus yang sudah dikenalnya. Akan tetapi dia tidak

tahu apa yang tersembunyi di dalam benak cihunya. Tiba-tiba

gerakan tangan cihunya demikian cepatnya sehingga Sie Liong

tidak mampu melindungi tubuhnya.

“Plakkk! Plakkk!” Dua kali tangan Yauw Sun Kok

menyambar dan mengenai pangkal leher Sie Liong dan ketika

tubuh anak itu berputar, sekali lagi tangannya menghantam

punggung yang bongkok. Sie Liong mengeluh pendek dan dia

pun roboh terpelanting, muntah darah! Agaknya Yauw Sun

Kok masih belum puas, akan tetapi tiba-tiba Bi Sian sudah

menubruk tubuh Sie Liong dan melindunginya!

“Ayah, kenapa pukul paman Liong? Kenapa ayah memukul

paman Liong?” Anak ini hampir menangis. Lan Hong juga sudah

melompat di depan suaminya dan memandang tajam.

“Apa yang kaulakukan?” katanya dengan suara nyaring dan

mata memandang tajam.

Yauw Sun Kok menurunkan kedua tangannya. “Hemm, aku

hanya ingin memperlihatkan dia betapa berbahayanya dia

berlatih silat! Kalau pungungnya tidak cacat seperti itu,

pukulanku tadi tidak akan membuatnya muntah darah.” Untung

dia masih ingat tadi sehingga dia mengurangi tenaga

pada pukulannya, kalau tidak, tentu anak itu sudah roboh

tewas dan ini berarti dia melgnggar sumpahnya dan tentu

akan terjadi perubahan dalam hubungannya dengan isterinya

tercinta.

Bi Sian membantu Sie Liong bangkit. Anak laki-laki itu tidak

kelihatan menyesal atau marah walaupun dia menyeringai

kesakitan dan mengusap darah dari bibirnya dengan ujung

lengan bajunya. Bi Sian bangkit dan memandang ayahnya

dengan marah.

“Ayah kejam! Ayah telah menghajar paman Liong yang

tidak berdosa! Ayah, paman Liong membohong kepada ayah

karena hendak melindungi aku! Sebetulnya, dia bukan

mengintai, bukan mencuri ilmu silat, melainkan akulah yang

telah mengajarkan semua ilmu silat itu kepadanya! Kalau ayah

mau marah dan mau menghukum, hukumlah aku!” Anak itu

berdiri tegak dengan dada membusung, seperti hendak

menantang ayahnya.

“Hushh,” ibunya cepat merangkulnya, khawatir kalau

suaminya benar-benar marah dan menghajar anaknya. Akan

tetapi, Sun Kok tidak marah. Bahkan dia sudah menduga akan

hal itu.

“Ayah, paman Liong tidak bersalah. Perkelahian itu terjadi

karena kejahatan anak-anak nakal itu!”

“Hemm, kalau dia tidak pandai silat, tentu tidak akan

terjadi parkelahian,” kata Yauw Sun Kok.

“Kalau paman Liong t idak pandai berkelahi, mungkin dia

akan dipukuli sampai mat i dan aku juga! Pawan Liong sama

sekaii tidak bersalah dan tidak adil kalau menyalahkan dia,

ayah!” Kembali Bi Sian membantah biarpun ibunya sudah

mencoba untuk mencegahnya banyak bicara.

“Bi Sian, pikiranmu sungguh pendek! Coba bayangkan.

Kalau engkau pergi sendiri ke pasar tanpa Sie Liong, atau dia

pergi tanpa engkau, apakah akan terjadi perkelahian itu?

Sudahlah, mulai saat ini, aku melarang Sie Liong belajar silat

darimu! Sie Liong, maukah engkau berjanji?”

Sie Liong sudah bangkit berdiri dan menundukkan

mukanya. Dia merasa menyesal bahwa karena dia, Bi Sian

harus menjadi seorang anak yang berani menentang ayah

sendiri.

“Baik, cihu. Saya berjanji bahwa mulai hari ini, saya tidak

akan belajar silat lagi dari Bi Sian.”

Lega rasa hati Yauw Sun Kok mendengar janji ini.

Bagaimanapun juga, dia tidak pernah membenci anak itu,

bahkan dia merasa suka dan kasihan. Anak itu menjadi

bongkok karena perbuatannya. Akan tetapi dia melakukan itu

bukan karena benci, melainkan karena mengkhawatirkan

keselamatan dirinya sendiri. Kalau ada jaminan bahwa Sie

Liong kelak tidak akan membalas dendam kepadanya,

mungkin dia akan suka mewariskan seluruh kepandaiannya

kepada anak yang amat baik itu.

“Coba kuperiksa tubuhmu,” katanya dan dia segera

memeriksa keadaan tubuh Sie Liong. Anak ini mengalami luka

yang cukup parah, akan tetapi tidak sampai membahayakan

jiwanya. Dia segera memberi obat minum dan mengharap

agar Sie Liong benar-benar kapok dan tidak belajar ilmu silat

lagi yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.

0odwo0

Meja sembahyang itu penuh dengan bermacam masakan,

juga buah-buahan. Keluarga Yauw melakukan sembahyang

leluhur. Hanya setelah dia menikah dengan Sie Lan Hong saja

Yauw Sun Kok mulai mengadakan sembahyangan lagi setiap

tahun. Tadinya dia sama sekali tidak pernah sembahyang,

yaitu ketika dia masih menjadi perampok dengan isterinya

yang pertama. Seolah-olah dia telah melupakan begitu saja

kedua orang tuanya yang telah tiada, dan melupakan nenek

moyangnya. Akan tetapi semenjak dia menjadi suami Lan

Hong, isterinya ini membujuknya dan setiap tahun mereka

melakukan sembahyangan.

Sie Liong masih menderita akibat pukulan cihunya dua hari

yang lalu. Dia masih suka batuk-batuk dan biarpun kini

batuknya tidak mengeluarkan darah lagi, namun kadangkadang

masih terasa nyeri pada punggungnya yang bongkok

kalau dia batuk, dan kepalanya pusing. Selama dua malam ini

kalau sedang tidur di kamarnya, dia gelisah dan beberapa kali

bahkan dia menangis tanpa suara. Dia merasa nelangsa sekali.

Cihunya biasanya baik kepadanya, akan tetapi kini cihunya

malah memukulnya. Dan Bi Sian menjadi korban pula, ribut

dengan ayahnya gara-gara dia. Dan dia teringat pula betapa

Bi Sian akan dijodohkan dengan Lu Ki Cong putera Lu-ciangkun

itu! Hal ini menambah rasa duka di dalam hatinya. Dia

berduka untuk Bi Sian. Keponakannya yang manis itu, yang

berhati keras akan tetapi jujur, yang berbudi baik, akan

dijodohkan dengan anak yang jahat itu! Diapun teringat

kepada encinya, dan merasa kasihan kepada encinya. Dia

merasa betapa encinya amat sayang kepadanya, dan encinya

tentu menderita tekanan batin yang hebat ketika dia dipukul

oleh cihu-nya. Mungkin akan terjadi ketegangan antara cihunya

dan encinya gara-gara dia. Dan diapun seringkali

memergoki encinya itu duduk melamun dan kalau sedang

duduk seorang diri, nampak betapa pada wajah yang cantik

itu terbayang kedukaan yang mendalam. Padahal, dia tidak

melihat sesuatu yang dapat mendatangkan kesedihan di hati

encinya. Cihu-nya amat baik dan sayang kepada encinya, juga

Bi Sian seorang anak yang baik, kehidupan encinya juga sudah

serba cukup dan menyenangkan. Apa yang menyebabkan

encinya kadang-kadang melamun dan kelihatan seperti orang

berduka?

Agaknya Yauw Sun Kok masih mendongkol karena

peristiwa dua hari yang lalu. Wajahnva nampak muram dan

setelah bersembahyang dan menancapkan hio di hio-louw di

atas meja sembahyang, diapun lalu meninggalkan ruangan itu

untuk pergi ke tokonya di mana dia berdagang rempa-rempa

dibantu oleh beberapa orang pegawai. Di ruangan

sembahyang itu kini tinggal Sie Lan Hong, Sie Liong dan Yauw

Bi Sian bertiga. Sie Lan Hong tadi sudah bersembahyang

bersama suaminya.

“Bi Sian, sekarang engkau bersembahyang bersama

pamanmu Liong, beri hormat kepada kakek nenek dalam dan

kakek nenek luar.” Yang disebut kakek nenek dalam adalah

ayah ibu suaminya, dan kakek nenek luar adalah ayah ibunya

sendiri.

Dua orang anak itu menyalakan beberapa hio (dupa bit ing)

dan mulai bersembahyang. Ketika Sie Liong bersembahyang,

dia membayangkan ayah ibunya, dan hatinya terasa seperti

diremas. Dia tidak pernah tahu seperti apa wajah ayahnya dan

ibunya! Usianya belum ada setahun ketika ayahnya dan

ibunya meninggalkan dia. Encinya menjadi pengganti ayah

ibunya. Dalam keadaan berduka karena peristiwa dua hari

yang lalu, karena kepalanya masih terasa pening dan

punggungnya yang bongkok terasa nyeri-nyeri, hatinya

semakin bersedih teringat akan ayah ibunya yang telah tiada.

Tak terasa lagi, luluhlah hati Sie Liong yang biasanya keras

dan tabah itu dan diapun menangis tersedu-sedu sambil

menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang.

Bi Sian terkejut sekali melihat pamannya menangis seperti

itu. Belum pernah ia melihat pamannya menangis, pamannya

yang kuat, tabah dan selalu tenang, kini menangis tersedusedu

seperti anak kecil. Iapun menjatuhkan diri berlutut dekat

pamannya itu dan menyentuh lengannya lalu merangkulnya.

“Paman Liong, ada apakah? Apakah…. apakah engkau

sakit….?” Bi Sian merasa menyesal sekali kepada ayahnya

yang kemarin dulu pernah memukul pamannya ini, dan ia

merasa kasihan sekali kepada Sie Liong.

Sie Liong menggeleng kepala, akan tetapi tangisnya

semakin menjadi-jadi. Sikap lemah lembut dan baik dari gadis

cilik itu menambah keharuan hatinya, dan dia tidak mampu

menjawab karena lehernya tersumbat oleh tangis.

Melihat keadaan adiknya itu, dengan alis berkerut penuh

kekhawatiran Sie Lan Hong mendekati dan berlutut lalu

merangkul adiknya. “Adik Liong, engkau kenapakah? Mengapa

engkau menangis seperti ini? Belum pernah aku melihat

engkau menangis seperti ini. Apamukah yang terasa sakit?”

Sie Liong menggeleng kepala dan mengusap air matanya,

mengeraskan hatinya untuk menghentikan tangisnya. “Yang

sakit adalah hatiku, enci. Mengapa ayah dan ibu meninggalkan

aku sewaktu aku masih kecil sekali? Mengapa mereka itu

meninggal dunia, enci? Sakitkah? Ataukah ada yang

membunuh mereka?”

“Akupun merasa heran, ibu dan sering aku bertanya

kepada diri sendiri. Kenapa kakek dan nenek luar meninggal

dunia dalam usia muda? Melihat betapa usia paman Liong

tidak banyak selisihnya dengan aku, maka tentu kakek dan

nenek luar itu belum tua benar ketika meninggal dunia. Apa

yang menyebabkan kematian mereka, ibu?”

Ditanya oleh adik dan anaknya seperti itu, jantung Sie Lan

Hong berdebar penuh ketegangan! Terbayanglah semua

peristiwa yang terjadi sebelas atau dua belas tahun yang lalu!

Betapa ayahnya dan ibunya, juga suhengnya, dan dua orang

pelayan wanita, juga semua anjing, kuda dan ayam, dibunuh

orang pada malam yang menyeramkan itu! Hanya tinggal ia

dan adiknya yang belum dibunuh. Kemudian muncul si

pembunuh yang amat kejam itu! Pembunuh itu adalah Yauw

Sun Kok, suaminya sendiri, ayah kandung Bi Sian! Ketika itu,

ia baru berusia lima belas tahun! Yauw Sun Kok tergila-gila

kepadanya, dan ia terpaksa menyerahkan dirinya bulat-bulat

karena ia tidak ingin melihat adiknya, Sie Liong dibunuh oleh

musuh besar itu!

Kemudian setelah menjadi isteri Yauw Sun Kok, ia dapat

mengusir perasaan dendam dan bencinya terhadap pria itu,

bahkan menggantinya dengan perasaan cinta! Dan Yauw Sun

Kok kini telah menjadi suaminya yang tercinta dan juga amat

mencintainya, menjadi ayah kandung dari anaknya, Bi Sian.

Bagaimana mungkin ia akan menceritakan semua itu kepada

anaknya dan adiknya? Menceritakan bahwa suaminya sendiri

adalah pembunuh ayah ibunya dan musuh besar keluarganya?

Sudah lama ia menghapus permusuhan ini, kebencian berubah

menjadi kasih sayang, permusuhan berubah menjadi ikatan

suami isteri yang sudah mempunyai keturunan pula! Tidak,

sampai bagaimanapun, ia tidak akan membongkar rahasia itu

kepada adiknya atau kepada anaknya!

“Enci, kenapa enci tidak menjawab pertanyaan kami?

Mengapa enci kelihatan ragu-ragu?” Sie Liong mendesak

encinya, dan kini sepasang matanya yang masih kemerahan

karena tangis tadi mengamati wajah encinya dengan penuh

selidik.

“Ah, tidak.” Sie Lan Hong cepat menjawab, nampak agak

gugup. “Aku ragu-ragu karena mengapa hal yang

menyedihkan itu harus diceritakan lagi? Aku terkenang akan

hari-hari yang malang itu, adikku! Baiklah, kaudengarkan ceritaku,

dan engkau juga, Bi Sian. Sie Liong, ayah dan ibu kita

telah menjadi korban wabah yang amat berbahaya. Pcnyakit

menular itu mengamuk di dusun kita, dan ayah ibu kita

terserang sehingga meninggal dunia. Untuk menghindarkan

diri dari amukan wabah itu, aku membawa engkau yang baru

berusia sepuluh bulan, melarikan diri mengungsi dari dusun

kita dan akhirnya aku bertemu dengan cihu-mu dan dia

menolong kita. Akhirnya aku menikah dengan cihu-mu dan

kita semua pindah ke sini.”

Mendengarkan cerita encinya ini, Sie Liong menarik napas

panjang. “Kasihan sekali ayah dan ibu, dan kasihan pula

engkau yang begitu susah payah menyelamatkan diri kita

berdua, enci.”

Sie Lan Hong memejamkan kedua matanya karena tiba-tiba

matanya menjadi basah air mata. Betapa tepatnya ucapan Sie

Liong itu walaupun adiknya mempunyai gambaran dan

maksud yang lain dalam kata-katanya itu. Memang sungguh

kasihan. Ayah ibunya dibunuh orang! Dan ia sendiri, ia telah

mengorbankan dirinya sampai pada batas paling hebat, demi

menyelamatkan diri dan juga adiknya!

“Enci, di manakah kita tinggal?”

Sie Lan Hong memandang wajah adiknya, alisnya berkerut.

“Kenapa engkau menanyakan hal itu, adikku? Tempat itu

adalah tempat malapetaka bagi keluarga ayah ibu kita, sudah

lama kulupakan dan kita sekarang menjadi penghuni kota

Sung-jan ini.”

“Aku hanya ingin tahu, enci. Siapa tahu, kelak ada

kesempatan bagiku untuk berkunjung ke sana dan

bersembahyang di depan makam ayah dan ibu.”

Sie Lan Hong menggigit bibirnya. Tak mungkin ia

membohongi adiknya lagi dan apa salahnya kalau ia

memberitahu? Biarlah adiknya itu kelak bersembahyang di

depan makamorang tua mereka.

“Dusun kita itu jauh sekali, di perbatasan utara sebelah

barat, bernama dusun Tiong-cin.”

Sie Liong mencatat nama dusun ini dan letaknya di dalam

hatinya dan malam itu dia tidak dapat tidur, gelisah di atas

pembaringan dalam kamarnya, apalagi karena kepalanya

masih pening dan punggungnya masih terasa berdenyut nyeri.

0odwo0

Pada suatu pagi, nampak sesosok bayangan orang berjalan

perlahan di atas Tembok Besar! Tembok Besar itu merupakan

bangunan raksasa yang amat hebat, naik turun bukit dan

jurang, memanjang sampai ribuan li panjangnya sehingga

disebut Ban-li Tiang-sia (Tembok Panjang Selaksa Li). Di

beberapa bagian dari Tembok Besar ini memang dijadikan

markas bagi pasukan-pasukan penjaga perbatasan, namun

banyak pula bagian yang kosong dan sunyi sama sekali. Dan

orang yang berjalan perlahan di atas Tembok Besar itupun

berjalan seorang diri dalam kesunyian. Kemudian suara

nyanyiannya memecah kesunyian pagi hari di antara bukitbukit

dan jurang-jurang yang penuh hutan lebat itu.

“Tembok Besar memanjang

ribuan li

bekas tangan manusia

masih hidup atau sudah mati

Tembok Besar lambang kekerasan

untuk mempertahankan kekuasaan

berapa puluh laksa manusia mat i

untuk menciptakan bangunan ini?”

Nyanyian yang berakhir dengan pertanyaan ini tidak

terjawab. Angin bertiup kencang dan menimbulkan suara ketika

bertemu dinding tembok, bersiutan dan membuat rambut,

kumis, jenggot dan pakaian kuning orang itu berkibar-kibar

seperti bendera. Orang itu sudah tua sekali, jenggot dan

kumisnya juga rambutnya yang dibiarkan riap-riapan, sudah

putih semua. Namun wajahnya masih nampak merah dan

halus seperti wajah orang muda, tubuhnya yang tinggi kurus

itu tegak lurus dan jalannya santai dengan langkah

berlenggang seperti langkah seekor harimau. Usianya tentu

sedikitnya tujuh puluh tahun. Pakaiannya hanya dari kain

kuning panjang yang dilibat-libatkan di tubuhnya dari kaki

sampai ke pundak, bagian pinggang diikat dengan tali kulit

kayu, kakinya mengenakan sandal kulit kayu pula. Sambil

berjalan seenaknya di atas Tembok Besar, dia memandang ke

kanan kiri. Seluruh yang nampak di sekelilingnya agaknya

tidak terlepas dari pandang matanya yang penuh

kewaspadaan dan penuh semangat. Tangan kanannya

memegang sebatang tongkat kayu sepanjang satu meter,

akan tetapi agaknya bukan dipergunakan untuk membantu die

berjalan, melainkan dipegang seperti hanya untuk iseng-iseng

saja. Gerak-gerik kakek ini halus, sinar matanya lembut dan

mulut yang dikelilingi kumis dan jenggot itu selalu tersenyum

seolah-olah dia beramah tamah dengan alam disekelilingnya.

Matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan ketika dia

menyapu segala sesuatu di sekelilingnya dari atas tembok

yang tinggi itu dengan pandang matanya dan biarpun hanya

sekelebatan, dia telah menangkap segala yang nampak karena

pandang matanya seperti sinar lampu sorot yang amat kuat

dan terpusat. Pohon-pohon tinggi besar yang tumbuh di

sekeliling tempat itu nampak hijau dan liar. Bukit-bukit

menjulang tinggi di kanan kiri, dan jurang-jurang amat dalam

sehingga tidak nampak dasarnya. Kalau dia berjalan di bawah,

di atas tanah, tentu akan sukar melihat semua itu bahkan

melihat langitpun akan sukar saking lebatnya daun-daun

pohon. Akan tetapi, dari atas tembok yang tinggi ini, dia

seperti berdiri di puncak sebuah bukit dan dapat melihat

sekeliling dengan jelas. Beberapa ekor burung beterbangan

dan seekor burung rajawali baru saja meninggalkan cabang

sebatang pohon. Gerakannya ketika meloncat dan terbang

membuat cabang itu bergoyang keras dan beberapa helai

daun kering melayang-layang turun karena putus dari

tangkainya. Sepasang mata kakek itu mengikuti beberapa

helai daun kering yang melayang turun sambil menari-nari di

udara itu, dan diapun tersenyumpenuh bahagia.

Betapa bahagianya orang yang masih mampu menikmati

semua keindahan yang dihidangkan oleh alam di sekeliling

kita. Kalau kita mau membuka mata dan mengamati sekeliling

kita tanpa penilaian, maka kitapun akan dapat melihat segala

keindahan itu! Dalam gerak- gerik setiap orang manusia,

lambaian setiap ranting pohon, sinar matahari, tiupan angin,

cerahnya bunga dengan keharumannya, kicaunya burung,

senyum seorang muda, pandang mata seorang ibu kepada

anaknya. Betapa indah mentakjubkan kesemuanya itu!

Sayang, batin kita sudah terlampau sarat oleh segala macam

persoalan, segala macam masalah kehidupan, kepusingan,

kesusahan, ketakutan, kekhawatiran, kebencian, permusuhan,

iri hati, cemburu yang mendatangkan kesengsaraan dalam

batin. Batin yang sengsara, bagaimana mungkin dapat melihat

keindahan itu? Segala hanya akan nampak buruk dan

membosankan!

Tiba-tiba kakek itu mengangkat muka ke atas, agaknya dia

baru teringat akan urusannya. “Aih, masih amat jauh

perjalanan, dan aku tidak boleh berlambat-lambatan begini.”

Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan lenyaplah

bentuk tubuhnya. Yang nampak hanya bayangan kuning yang

berkelebat cepat dan sebentar saja bayangan itu meluncur ke

barat dan lenyap!

Kakek itu adalah seorang pertapa yang sudah puluhan

tahun tidak pernah meninggalkan guha pertapaannya di Helan-

san, yaitu di daerah Mongolia Dalam sebelah selatan.

Sudah dua puluh tahun kakek itu bertapa di He-lan-san,

semenjak dia datang dari Pegunungan Himalaya di barat. Para

penduduk perkampungan di sekitar Pegunungan He-lan-san

menganggap dia sebagai seorang kakek pertapa yang baik

hati, yang suka menolong orang dengan pengobatan, dan

karena kakek itu dikabarkan amat sakti, maka semua orang

menghormat inya dan dia disebut sebagai Pek-sim Sian-su. Sebutan

pek-sim ini mungkin dimaksudkan untuk memujinya

sebagai seorang yang berhati putih, seorang yang amat budiman.

Dan kakek itu agaknya menerima pula begitu saja

sebutan Pek-simSian-su (Guru Suci Berhati Putih).

Terjadi keanehan pada diri kakek itu. Beberapa waktu yang

lalu, pada suatu malam, dia tiba-tiba saja terbangun dari

tidurnya, lalu duduk bersila dan sampai setengah malam dia

bersamadhi. Lalu paginya, tanpa pamit kepada siapapun, dia

pergi begitu saja meninggalkan guha pertapaannya dan

melakukan perjalanan ke barat! Yang dituju adalah perbatasan

Sin-kiang dan Tibet! Malam itu, dalam t idurnya dia seperti

mendapat ilham yang mendorong dia harus melakukan

perjalanan secepatnya menuju ke tempat itu. Seorang yang

hidup suci seperti Pek-sin Sian-su, peristiwa mendapat ilham

atau isarat gaib bukanlah hal yang aneh lagi. Seorang manusia

yang hidup bersih lahir batin, yang tubuhnya tidak dikotori

makanan-makanan enak yang merusak, tidak dilemahkan oleh

kegiatan-kegiatan yang bergelimang nafsu, yang batinnya

tidak dikotori oleh segala macam kenangan, gagasan, tidak

dikotori oleh segala macam nafsu maka dia memiliki badan

dan batin yang amat peka! Kekuatan alam ini adalah kekuatan

yang memperlihatkan kebesaran dan kekuasaan Thian, dan

alam telah memberi tanda-tanda, getaran-getaran pada badan

dan batin manusia. Kalau manusia itu bersih lahir batin dan

menjadi peka, maka dia akan mampu menerima isarat-isarat

gaib ini, tanda-tanda melalui getaran atau bahkan

panglihatan, dalam sadar maupun dalam tidur. Dan Pek-sim

Sian-su sudah mencapai tingkat seperti itu, maka tidaklah

mengherankan kalau pada hari itu dia kelihataan berlari cepat

melalui Tembok Besar menuju ke barat.

Mari kita tengok apa yang sedang terjadi di perbatasan

Propinsi Sin-kiang sebelah selatan yang berbatasan dengan

Tibet. Tak jauh dari dusun Sung-jan, agak ke selatan, nampak

Pegunungan Kun-lun-san dengan bukit-bukitnya yang

berbaris-baris, melintang dari barat ke timur menjadi

perbatasan antara Sin-kiang dan Tibet. Biarpun tidak sebesar

dan seluas atau setinggi Pegunungan Himalaya, namun

Pegunungan Kun-lun-san inipun sudah tetkenal sekali dengan

puncak-puncaknya yang tinggi, jurang dan celah yang amat

lebar dan dalam, dengan hutan-hutan lebat dan liar amat

berbahaya bagi manusia yang berani memasukinya. Dan di

Kun-lun-san ini terkenal pula dengan adanya banyak pendeta

dan orang-orang menyucikan diri, pertapa-pertapa dan orangorang

yang berilmu tinggi. Bahkan satu di antata orang-orang

pandai itu membentuk Kun-lun-pai atau Partai Persilatan Kunlun

yang amat terkenal.

Kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, terjadi bentrokan

antara para pendeta Lama di Tibet dengan beberapa orang

pertapa di Himalaya. Yang menjadi sebab hanyalah

perselisihan paham dalam kepercayaan dan keagamaan

sehingga timbul bentrokan hebat! Betapa banyaknya tokoh

agama yang lupa bahwa agama diadakan sebagai tuntunan

terhadap manusia agar dapat hidup tenteram dan damai

menjauhi segala bentuk permusuhan, kebencian dan

kejahatan. Akan tetapi, tanpa disadari, diantara mereka malah

bentrok sendiri karena persaingan dan pertentangan paham

dan gagasan!

Bentrokan antara para pendeta Lama di Tibet dan para

pertapa di Himalaya itu semakin meluas. Para pendeta Lama

yang banyak jumlahnya dan di antara mereka banyak pula

yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, menyerbu Himalaya dan

mereka ini menyerang semua pertapa tanpa

memperhitungkan apakah mereka itu terlibat dalam

permusuhan ataukah tidak! Banyak di antara para pertapa

yang benar-benar sudah menjauhkan diri dari pada

permusuhan, maka mereka itu mengalah dan diam-diam

menyingkir dari Himalaya dan sebagian dari mereka “mengungsi”

ke Kun-lun-san, mencari tempat pertapaan di tempat

baru itu untuk menghindari permusuhan dan pengejaran para

pendeta Lama di Tibet. Demikianlah, pada waktu ini, banyak

terdapat pertapa di Kun-lun-san, yaitu para pelarian dari

Himalaya. Dan Pek-sim Sian-su juga merupakan seorang

pertapa di Himalaya yang kemudian melanjutkan pengungsiannya

ke timur, jauh di timur sampai dia menetap di

Pegunungan He-lan-san di daerah Mongolia Dalam.

Dan kini terjadi geger besar di Kun-lun-san karena

munculnya lima orang pendeta Lama jubah merah yang

mengamuk den menyerangi para pertapa di Kun-lun-san!

Agaknya mereka itu adalah para pendeta dari Tibet yang

masih menaruh dendam terhadap para pertapa asal Himalaya,

dan mendengar betapa para pertapa itu banyak yang

melarikan diri ke Kun-lun-san, maka lima orang pendeta Lama

Jubah merah itu lalu mengamuk ke sana! Dan menurut kabar,

lima orang pendeta Lama itu memiliki ilmu kepandaian yang

amat hebat, mereka itu sakti sekali dan sudah banyak pertapa

yang tidak berdosa menjadi korban dan terbunuh oleh

mereka!

Keributan yang terjadi di Kun-lun-san itu juga

mengguncang ketenteraman Kun-lun-san. Tembok-tembok

yang kokoh kuat dari perkumpulan silat besar ini seperti

tergetar oleh keributan itu dan biarpun Kun-lun-pai tidak

tersangkut, namun tentu saja para tokohnya merasa tidak

enak. Kun-lun-pai sudah diakui sebagai sebuah partai

persilatan yang besar, yang mengakui Pegunungan Kun-lunsan

sebagai markas atau sumber mereka. Kalau kini ada

orang-orang asing mengacau di Kun-lun-san, membunuhi para

pertapa yang tidak berdosa, berarti mereka itu memandang

rendah kepada Kun-lun-pai dan tidak menghargai Kun-lun-pai,

berani melanggar wilayahnya bahkan mendatangkan

kekacauan.

Sementara itu, serbuan lima orang pendeta Lama jubah

merah dari Tibet itu mendatangkan perpecahan di antara para

pertapa dan pendeta sendiri. Para pertapa atau pendeta yang

menganut Agama Buddha banyak yang berpihak kepada para

pendeta Lama, sebaliknya para pertapa dan pendeta yang

menganut Agama To menentang. Perpecahan ini menimbulkan

pertentangan dan perkelahian di antara mereka

sendiri dan karena para pertapa ini sebagian besar adalah

orang-orang yang amat lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya,

maka terjadilah perkelahian dan pertempuran yang amat hebat

dan yang mengguncangkan Pegunungan Kun-lun-san dan

menggetarkan tembok perkumpulan Kun-lun-pai.

Ketua Kun-lun-pai pada waktu itu berjuluk Thian Hoat

Tosu, seorang penganut Agama To yang taat. Dia memimpin

Kun-lun-pai dibantu oleh seorang sutenya yang berjuluk Thian

Khi Tosu. Dua orang tosu ini memiliki ilmu silat yang tinggi

dan di asrama Kun-lun-pai itu terdapat kurang lebih seratus

orang murid Kun-lun-pai yang terbagi dalam empat tingkat.

Murid kepala atau tingkat pertama, hanya ada belasan orang

dan mereka inilah yang mewakili dua orang guru mereka

untuk memberi latihan dan bimbingan kepada para murid

yang lebih rendah tingkatnya.

Thian Hoat Tosu dan Thian Khi Tosu merasa gelisah sekali

dengan adanya keributan di Kun-lun-san, dan pada pagi hari

itu, mereka berdua bercakap-cakap di ruangan dalam tanpa

dihadiri seorangpun murid karena mereka ingin bicara empat

mata saja.

“Suheng, keadaan ini tidak mungkin dapat dipertahankan

dan didiamkan saja. Nama Kun-lun-pai akan tercemar dan

menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw sebagai tuan rumah

yang tidak berani berkutik walaupun dihina oleh tamu-tamu

kurang ajar!” kata Thian Khi Tosu dengan sikap marah.

“Siancai-siancai-siancai….!” Thian Hoat Tosu berseru

lembut sambil merangkap kedua tangan di depan dada.

“Semoga kita dapat tahan uji menghadapi cobaan ini, sute,

Tentu engkau maksudkan gerakan yang dilakukan oleh para

Lama jubah merah itu, bukan?”

“Benar sekali, suheng! Mereka itu dengan congkak

mengaku sebagai Lima Harimau dari Tibet, dan lima orang

pendeta Lama jubah merah itu sungguh sombong sekali.

Mereka menyerang dan membunuhi para pertapa yang sudah

lemah dan tua, mereka yang tidak berdosa apa pun.

Bagaimana kita dapat memembiarkan saja mereka merajalela

di Kun-lun-san yang menjadi wilayah kedaulatan Kun-lun-pai,

suheng?”

“Aih, sute, apa yang dapat kita lakukan? Engkau tentu juga

tahu bahwa permusuhan itu hanya merupakan kelanjutan saja

dari permusuhan beberapa puluh tahun yang lalu di Himalaya.

Para pendeta Lama itu agaknya mewakili para Dalai Lama di

Tibet untuk menghukum mereka yang datang dari Himalaya.

Selama mereka itu tidak mengganggu Kun-lun-pai, apa yang

dapat kita lakukan? Mereka itu bermusuhan, dan kita tidak terlibat

apapun, bagaimana kita dapat mencampuri? Bisa

menimbulkan salah paham lebih besar, sute.”

“Tidak, suheng, pinto tidak setuju dengan pendapat itu!

Kita selalu mencoba untuk menanamkan jiwa kesatria, jiwa

kependekaran kepada para murid, agar mereka itu menentang

yang jahat sewenang-wenang dan membela kaum lemah

tertindas. Kalau sekarang kita melihat Lima Harimau Tibet itu

sewenang-wenang membunuhi orang t idak berdosa dan kita

tinggal diam, bukankah hal itu memberi contoh buruk sekali

kepada para murid?”

“Ingat, sute, selain itu kita juga mengajar mereka agar

tidak mencampuri urusan orang lain yang tidak kita ketahui

duduk perkaranya. Dalam urusan antara para Lama dan para

pertapa itupun kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi

antara mereka, tidak tahu siapa benar siapa salah. Bagaimana

mungkin kita mencampuri? Tidak, sute, sekali lagi

kuperingatkan. Jangan engkau membawa Kun-lun-pai ke

dalam permusuhan antara mereka. Kita tunggu saja

perkembangan selanjutnya.”

“Dan membiarkan pembantaian terus dilakukan oleh para

Lama yang buas itu? Ah, pinto akan bersamadhi dan mohon

kekuatan batin bagi kita semua, suheng,” berkata demikian,

dengan muka yang tidak puas dan penuh penasaran, Thian

Khi Tosu meninggalkan suhengnya untuk bersamadhi di dalam

kamarnya sendiri.

Sementara itu, beberapa li jauhnya dari asrama Kun-lunpai,

dua orang pemuda sedang berjalan sambil memanggul

belanjaan di punggung mereka. Mereka adalah Ciang Sun den

Kok Han, dua orang murid Kun-lun-pai tingkat tiga, dua orang

pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun yang sudah

lima tahun menjadi murid Kun-lun-pai. Mereka itu bertubuh

tegap dan bersikap gagah, dan biarpun sudah lima tahun

berlatih dengan tekun, mereka baru memiliki tingkat tiga. Hal

ini membuktikan betapa tingginya ilmu silat Kun-lun-pai, dan

betapa sulitnya untuk mencapai tingkat pertama. Sebagai

murid tingkat tiga, mereka sudah diperkenankan membawa

sebatang pedang di pinggang mereka, walaupun pedang itu

hanya mereka bawa sekedar untuk berjaga diri dan untuk diTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

pergunakan membela diri saja, bukan untuk menyerang orang

lain. Sangsi hukuman bagi murid Kun-lun-pai amat berat kalau

mereka melanggar peraturan perguruan.

Ciang Sun dan Kok Han berjalan memanggul barang

belanjaan sambil bercakap-cakap. Mereka baru saja pulang

dari sebuah pasar di dusun kaki pegunungan untuk membeli

rempa-rempa dan bumbu-bumbu masak karena persediaan di

asrama telah habis.

Tiba-tiba keduanya berhenti melangkah dan memandang

ke arah kiri dari mana mereka mendengar suara orang

membentak-bentak. “Engkau harus menjadi tawanan kami,

menyerah untuk kami bawa pulang ke Tibet dan menerima

keputusan pimpinan kami, atau kalau engkau tidak mau

menyerah, terpaksa akan kubunuh di sini!” demikian suara

yang membentak itu.

“Siancai….! Puluhan tahun yang lalu, ketika pinto masih

agak muda dan bertapa di Himalaya, kalian ini para Lama

sudah memburu dan membunuhi para pertapa yang tidak

berdosa. Pinto tidak mau terlibat dan pergi mengungsi ke Kunlun-

san, dan hari ini, dalam usia pinto yang sudah tua, kalian

tetap saja melakukan penangkapan dan pembunuhan

terhadap kami yang tidak berdosa,” terdengar suara yang

halus menjawab.

Ciang Sun dan Kok Han sudah menurunkan bawaan mereka

dan dengan hati-hati menyelinap di antara pohon-pohon

mendekati tempat itu, kemudian mereka mengintai. Kiranya

dua orang pendeta Lama sedang menyeret seorang tosu tua

yang kini duduk bersila di atas tanah, pakaiannya robek-robek,

dan dua orang Lama itu berdiri dengan sikap mengancam di

depannya. Dua orang Lama itu berusia sekitar limapuluh

tahun, bertubuh tinggi besar, kepala mereka gundul dan

pakaian mereka serba kuning dengan jubah luar berwarna

merah darah. Adapun tosu itu berpakaian putih, kotor dan

robek di beberapa bagian, rambutnya sudah putih semua,

panjang dan digelung ke atas. Usia tosu itu tentu sudah tujuh

puluh tahun.

“Tidak berdosa? Omitohud…. mana ada orang mengakui

kesalahannya? Kalian ini para pertapa, sejak puluhan tahun

yang lalu, di Himalaya telah mempunyai rencana jahat, berniat

memberontak dan berusaha menggulingkan kekuasaan Dalai

Lama dan merampas kekuasaan. Kalau orang-orang macam

kalian ini tidak dibasmi, kelak hanya akan mendatangkan

keributan saja!” bentak Lama yang ada codet bekas luka di

dahinya.

“Sudahlah, untuk apa bicara panjang lebar dengan dia?

Heh, tosu keparat, bukankah engkau seorang di antara

mereka yang berani memakai julukan Himalaya Sam Lojin

(Tiga Orang Kakek Himalaya) itu dan julukanmu adalah Pek In

Tosu?” teriak Lama ke dua yang mukanya bopeng.

“Siancai…., memang pinto disebut Pek In Tosu, dan kami

tiga orang kakek dari Himalaya sudah bersumpah tidak akan

membiarkan kebencian menguasai hati, apalagi

memberontak.”

“Aahh, tidak perlu banyak cakap lagi!” kata pula si codet.

“Kalau hendak membela diri, nanti saja di depan pimpinan

kami di Lhasa! Hayo ikut dengan kami!”

“Siancai….! Pinto sudah tua, tidak sanggup lagi melakukan

perjalanan ke Tibet yang amat jauh itu. Pinto tidak bersedia

ikut dengan kalian ke sana.”

“Apa? Kalau begitu, kami akan membunuhmu di sini juga!”

teriak si muka bopeng.

Dua orang murid Kun-lun-pai yang sejak tadi bersembunyi

dan mengintai, menjadi marah sekali dan kesabaran merekapun

hilang. Sebagai murid-murid Kun lun-pai yang sejak

pertama kali masuk ke asrama itu diajarkan sikap pendekar

yang menentang penindasan, tentu saja mereka marah

melihat sikap dua pendeta Lama itu. Apalagi merekapun

seperti murid Kun-lun-pai yang lain, sudah mendengar akan

tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh sekelompok

pendeta Lama sebanyak lima orang. Kabarnya, mereka itu

menangkapi dan membunuhi para pertapa, terutama para

tosu dan hal ini sudah menimbulkan perasaan tidak senang

dalam hati mereka terhadap para pendeta Lama itu. Kini

mereka melihat dan mendengar dengan mata dan telinga

sendiri, tentu saja mereka kehabisan kesabaran. Bagaikan

dikomando saja, dua orang pemuda itu melompat ke depan

dua orang pendeta Lama dengan sikap gagah.

“Kalian ini adalah orang-orang tua yang sudah mencukur

gundul rambut dan memakai jubah pendeta!” teriak Ciang

Sun, pemuda yang bertubuh tinggi besar. “Akan tetapi

tindakan kalian seperti penjahat-penjahat keji saja, hendak

memaksakan kehendak kepada orang lain dengan jalan

menjatuhkan fitnah keji!”

“Totiang, silakan mundur, biarlah kami berdua yang

menghadapi pendeta tersesat ini!” kata Kok Han.

Sementara itu, dua orang pendeta Lama itu saling

pandang, kemudian mereka menghadapi dua orang pemuda

itu dengan alis berkerut. Si codet menyapu dua orang pemuda

itu dengan pandang matanya yang liar dan tajam seperti mata

harimau, dan suaranya terdengar parau dan penuh teguran.

“Hemm, kalian ini bocah-bocah ingusan dari mana berani

mencampuri urusan orang-orang tua? Mengingat kalian masih

kanak-kanak, biarlah pinceng berdua memaafkan perbuatan

kalian yang lancang ini. Pergilah sebelum kami kehilangan

kesabaran.”

“Kami bukan orang yang suka mencampuri urusan orang

lain, akan tetapi kami juga bukan orang yang dapat

membiarkan saja terjadinya kesewenang-wenangan dan

penindasan. Sejak pertama kali menjadi murid Kun-lun-pai,

kami sudah digembleng untuk menentang kejahatan seperti

yang kalian lakukan sekarang ini!” kata pula Ciang Sun yang

tinggi besar, bertenaga raksasa dan mukanya yang persegi

membuat dia nanpak gagah sekali. Kok Han bertubuh sedang,

wajahnya bulat dan tampan, apalagi dihias brewok yang

terpelihara rapi, membuat diapun nampak gagah.

Dua orang Lama itu saling pandang dan tertawa, lalu Lama

yang mukanya bopeng berkata, “Ha-ha-ha, sejak kapankah

Thian Hwa Tosu ikut-ikutan mencampuri urusan kami dan

berani menentang para Lama dari Tibet?”

Lama yang mukanya terhias codet memandang kepada dua

orang pemuda itu dengan mata mencorong, lalu berkata,

“Kalian dua orang anak kecil cepat kembali ke Kun-lun-pai dan

sampaikan kepada ketua kalian bahwa kami, Lima Harimau

dari Tibet, tidak ingin melihat Kun-lun-pai mencampuri urusan

pribadi kami. Katakan bahwa kami berdua, Thay Ku Lama dan

Thay Si Lama, yang menyuruh kalian!”

“Kami t idak diperintah oleh Suhu! Kun-lun-pai tidak tahu

menahu akan t indakan kami ini! Kami bertindak atas nama

sendiri yang tidak rela melihat kalian mempergunakan

kekerasan bertindak sewenang-wenang. Kalau kalian

membebaskan totiang ini, baru kami mau sudah!” kata Ciang

Sun.

“Siancai….! Ji-wi kong-cu (kedua tuan muda) harap

berhati-hati dan jangan membela pinto karena hal itu

membahayakan keselamatan ji-wi sendiri,” kata tosu itu

dengan wajah khawatir.

“Biarlah totiang, kami yang bertanggung jawab,” kata Ciang

Sun, sedangkan Kok Han sudah melangkah maju menghadapi

dua orang pendeta Lama itu. “Sekali lagi, kami harap kalian

pendeta-pendeta tua yang sepatutnya mencari kebaikan dan

melaksanakan kebaikan di dunia ini, suka membebaskan

totiang ini agar kami dua orang muda tidak perlu turun tangan

mempergunakan kekerasan!” berkata demikian, Kok Han

sudah memasang kuda-kuda dan kedua tangannya dikepal.

Juga Ciang Sun sudah berdiri di sebelahnya, juga memasang

kuda-kuda, siap untuk bertanding!

Kembali dua orang Lama itu saling pandang, kemudian

mereka tertawa dan Thay Si Lama yang bermuka bopeng

berkata dengan nada mengejek, “Kami tidak akan

membebaskan dia, dan hendak kami lihat kalian ini tikun-t ikus

cilik dari Kun-lun-pai dapat melakukan apakah?”

Ini merupakan tantangan dan tentu saja dua orang pemuda

Kun-lun-pai itu menjadi marah, apalagi mereka disebut tikustikus

cilik Kun-lun-pai yang berarti menghina pula

perkumpulan mereka.

“Engkau memang Pendeta sesat yang jahat!” bentak Ciang

Sun sambil menyerang Thay Si Lama si muka bopeng.

“Kalian memang patut dihajar agar tidak membikin kacau

lagi di daerah Kun-lun-pai!” bentak Kok Han yang juga sudah

menerjang Thay Ku Lama, yaitu pendeta Lama yang bermuka

codet.

“Plak! Plak!”

Pukulan dua orang pemuda itu sama sekali tidak ditangkis

oleh dua oraag Lama itu, bahkan diterima dengan dada

terbuka. Kepalan kanan dua orang pemuda itu dengan tepat

mengenai dada mereka, akan tetapi apa yang terjadi? Dua

orang pemuda itu terpental ke belakang dan terbanting roboh

bergulingan! Ketika bangkit kembali, mereka menyeringai

kesakitan karena kepalan tangan kanan mereka telah menjadi

bengkak dan membiru! Dasar orang muda yang kurang pengalaman.

Hal itu tidak membuat mereka menjadi jera,

bahkan mereka merasa penasaran sekali. Dengan tangan kiri,

mereka mencabut pedang dari pinggang masing-masing dan

mereka berduapun menyerbu ke depan, menusukkan pedang

mereka ke arah dada dua prang pendeta Lama itu,

Kini dua orang pendeta Lama itu menggerakkan tangan,

menyambut pedang itu dengan tangan telanjang. Pedang dari

dua orang pemuda itu bertemu dengan telapak tangan

mereka yang mencengkeram.

“Krekkk! Krekkk!” Dua batang pedang itu patah dan hancur

dalam cengkeraman dua orang kakek Lama itu dan sebelum

dua orang pemuda itu hilang rasa kaget mereka, Thay Ku

Lama si muka codet sudah melangkah maju, dua kali

tangannya bergerak ke arah pundak dua orang murid Kun-lunpai

itu dan merekapun roboh terjungkal dan tidak mampu

bergerak lagi karena jalan darah mereka telah tertotok!

Mereka telentang dan hanya dapat memandang dengan mata

melotot.

Thay Si Lama yang mukanya bopeng mencela temannya.

“Suheng, kenapa tidak habiskan saja mereka ini? Dari pada

kelak menjadi penyakit, biar kuhabiskan saja nyawa mereka!”

Berkata demikian, Thay Si Lama melangkah maju dan

tangannya sudah bergerak hendak memberi pukulan maut

kepada dua orang murid Kun-lun-pai yang sudah tidak

berdaya itu.

“Siancai…., kalian terlalu kejam, tidak mungkin pinto

tinggal diam saja!” Tiba-tiba kakek yang berpakaian putih dan

rambutnya yang putih digelung ke atas itu sudah berkelebat

dan nampak bayangan putih, tahu-tahu pukulan yang

dilepaskan Thay Si Lama ke arah dua orang pemuda itu telah

tertangkis.

“Dukkk! ” Dua lengan bertemu dan akibatnya, Thay Si Lama

terdorong ke belakang dan terhuyung. Kini mereka berdua

berdiri menghadapi tosu itu dan muka Thay Si Lama yang

bopeng itu menjadi merah padam.

“Omitohud, bagus sekali! Sekarang Pek In Tosu unjuk gigi

dan melawan kami!” kata Thay Ku Lama si muka codet sambil

menyeringai mengejek. “Mengapa tadi pura-pura alim dan

sama sekali tidak melakukan perlawanan?”

“Siancai….! Sudah puluhan tahun kami para pertapa

mencoba untuk melenyapkan semua bentuk nafsu, dan kami

pantang mempergunakan kekerasan. Akan tetapi, melihat

betapa kalian hendak membunuh dua orang muda yang sama

sekali tidak berdosa, bagaimana mungkin pinto

mendiamkannya saja? Kalian telah menghajar dua orang

bocah ini untuk kelancangan mereka, akan tetapi kenapa

hendak kalian bunuh? Apakah kalian juga sudah siap untuk

menentang Kun-lun-pai?”

“Pek In Tosu, semua orang tahu bahwa engkau adalah

seorang di antara Himalaya Sam Lojin yang kabarnya memiliki

ilmu kesaktian luar biasa. Akan tetapi jangan mengira kami

Lima Harimau Tibet akan gentar menghadapimu. Nah,

keluarkanlah kesaktianmu karena kami hendak membunuh

engkau dan juga dua orang bocah ini!” kata Thay Ku Lama

dan pendeta Lama yang mukanya codet dan perutnya gendut

itu tiba-tiba memasang kuda-kuda yang aneh, yaitu seperti

orang berjongkok, kedua lengan ditekuk dengan tangan

membentuk cakar, telentang di kanan kiri dada, dan perutnya

yang gendut itu makin lama semakin menggembung ketika dia

menyedot napas sebanyaknya sampai keluar suara angin

berdesis. Lalu dari dalam perutnya terdengar suara “kok-kok!”

dan kedua tangan yang tadinya telentang itu kini

menelungkup perlahan-lahan, seluruh tubuhnya tergetar dan

seluruh syarafnya menegang karena dia siap melancarkan

pukulan maut yang amat dahsyat. Agaknya, menghadapi

seorang di antara Himalaya Sam Lojin, Lama yang mukanya

codet dan perutnya gendut ini hendak mengeluarkan ilmu

simpanannya agar dengan sekali pukul atau sekali serang dia

sudah akan mampu merobohkan lawannya yang dia duga

tentu lihai sekali.

Diam-diam Pek In Tosu terkejut. Dia sudah pernah

mendengar akan ilmu yang kini diperlihatkan lawannya itu. Itu

adalah sejenis pukulan jarak jauh yang mengandalkan sinkang

dan khi-kang, yang dinamakan Hek-in Tai-hong-ciang

(Tangan Sakti Awan Hitam dan Badai). Dari perut gendut yang

menggembung itulah datangnya dorongan tenaga sakti yang

amat ampuh. Maklum bahwa lawan telah mengeluarkan ilmu

simpanannya, siap menyerangnya, Pek In Tosu berkata

lembut.

“Siancai…., pinto melanggar pantangan, semoga mendapat

pengampunan….!” Dan kakek inipun menggerakkan kedua

lengannya, diputar seperti membentuk bulatan-bulatan yang

saling dorong, tubuhnya makin direndahkan dan kedua

kakinya dipentang lebar, lalu kedua tangannya berhenti

bergerak, saling bertemu di depan dada seperti menyembah

dan diapun sudah siap menanti serangan dahsyat dari

lawannya.

Bunyi kok-kok-kok dari perut Thay Ku Lama semakin keras

dan semakin cepat dan dari kedua telapak tangannya

mengepul uap hitam! Telapak tangan itupun berubah

kehitaman. Sungguh dahsyat bukan main ilmu ini, dahsyat dan

amat berbahaya bagi lawan. Pek In Tosu melihat ini semua,

namun dia masih tetap tenang saja, bukan tanang memandang

rendah, melainkan tenang menghedapi apapun yang

terjadi dan yang akan menimpa dirinya.

Tiba-tiba Thay Ku Lama yang membuat kuda-kuda seperti

seekor katak itu, menerjang dan tubuhnya meloncat ke atas

depan, bunyi kok-kok semakin keras dan tiba-tiba ada angin

besar sekali menyambar ke arah Pek In Tosu dan angin keras

itu membawa tenaga pukulan dahsyat dan uap hitam! Bakan

main dahsyatnya serangan ini. Angin itu saja mengandang

tenaga sakti yang amat kuat dan mampu merobohkan lawan,

asap hitam itupun mengandung racun yang berbahaya, apa

lagi kalau tubuh lawan sampai tersentuh oleh kedua telapak

tangan hitam itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dari kedua telapak tangan Pek In

Tosu keluar asap putih! Itulah ilmu kesaktian Pek In Sin-ciang

(Tangan Sakti Awan Putih) yang menyambar ke depan,

menyambut angin dan asap hitam dari pukulau lawan. Kaki

kakek tua itu bergeser ke kiri dan kedua tangannya membuat

gerakan memutar dari kiri, menangkis kedua tangan lawan

yang digerakkan lurus ke depan seperti orang mendorong

daun pintu.

“Plak! Plakk!” Dua pasang tangan bertemu, dan akibatnya,

tubuh gendut dari Thay Ku Lama terpelanting ke kiri.

Akan tetapi, kuda-kuda Pek In Tosu juga terguncang

sehingga kakek itu terpaksa melangkah mundur t iga langkah

untuk mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Pada saat itu,

dari arah kanan Thay Si Lama telah menyerangnya. Lama

bermuka bopeng ini juga lihai bukan main dan begitu

menyerang, dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya yaitu

yang disebut Sin-kun Hoat-lek (Ilmu Sihir Silat Sakt i). Bukan

saja kedua tangan itu membagi-bagi tamparan dan totokan

maut, akan tetapi juga dari kedua telapak tangan itu keluar

angin pukulan dahsyat yang mengeluarkan suara bercuitan,

dan juga mengandung tenaga mujijat dari ilmu sihir yang

membuat kedua tangan itu seolah-olah berubah menjadi

puluhan banyaknya dan menyerang dari semua sudut!

Melihat ini, Pek In Tosu memuji dan berseru, “Siancay….!”

Dilanjutkan dengan pembacaan mantram dan diapun tetap

mempergunakan ilmu pukulan sakti Pek In Sin-ciang.

Terjadilah pertandingan silat yang aneh dan seru. Semua

sambaran tangan Thay Si Lama yang disertai hawa mujijat itu

seperti tertolak mundur semua oleh awan putih yang keluar

dari kedua telapak tangan Pek In Tosu. Bahkan kini asap atau

awan putih semakin besar dan semakin tebal, mendesak Thay

Si Lama yang mulai main mundur! Melihat ini, Thay Ku Lama

mengeluarkan suara kok-kok-kok lagi dan diapun membantu

sutenya, mengeroyok Pek In Tosu!

Dikeroyok dua oleh dua orang Lama yang sakti itu, Pek In

Tosu yang sudah tua sekali itu kelihatan terdesak! Sebetulnya

dengan tenaga sin-kangnya yang setingkat lebih kuat, dan

keringanan tubuhnya yang memudahkan dia untuk berkelebat

menghindarkan diri dari pukulan-pukulan daheyat kedua orang

lawannya, Pek In Tosu tidak perlu terdesak. Namun, usianya

sudah tujuh puluh tahun dan tubuhnya sudah mulai lemah

dimakan uiia, juga selama puluhan tahun ini dia t idak pernah

bertanding, maka tentu saja dia kewalahan dan akhirnya

terdesak. Kedua orang lawannya, dua orang pendeta Lama

yang usianya baru lima puluhan tahun itu, agaknya memang

terlatih dan mereka seringkali berkelahi maka gerakan mereka

lebih lincah dan juga daya tahan mereka lebih kuat.

Tiba-tiba Pek-sin Tosu berseru, “Siancai….!” dan dia lalu

duduk bersila di atas tanah! Thay Ku Lama dan Thay Si Lama

tertegun menahan gerakan mereka, terheran-heran melihat

lawan mereka kini tiba-tiba duduk bersila dan memejamkan

mata seperti orang bersamadhi, kedua telapak kaki telentang

di atas paha, itulah duduk bersila dalam kedudukan Teratai

yang kokoh kuat. Mereka mengira bahwa kakek itu sudah

kelelahan dan pasrah mati maka keduanya lalu saling pandang

dan Thay Ku Lama menghantamkan tangan kanannya ke arah

ubun-ubun kepala Pek In Tosu. Ilmu Hek-in Tai-hong-ciang

hanya dapat dilakukan dalam keadaan berjongkok menyerang

ke atas, ke arah lawan yang berdiri. Kini lawannya duduk

bersila, maka tentu saja dia tidak dapat menggunakan tenaga

katak sakti itu! Dia menghantam dengan telapak tangan

terbuka ke arah ubun-ubun kepala dan kalau mengenai

sasaran, tak dapat diragukan lagi lawannya tentu akan tewas

seketika!

Pek In Tosu mengangkat tangan kirinya menangkis.

“Dukkk! ” Tubuh Thay Ku Lama terpental! Kiranya kakek tua

renta itu duduk bersila bukan karena putus harapan dan

menerima binasa, melainkan dia mengambil sikap bertahan

dan melindungi tubuhnya secara yang paling istimewa dan

paling kuat! Kedudukan seperti Teratai itu memang

merupakan cara bersila yang paling kokoh kuat seperti

piramida, dan seolah-olah kakek itu dapat menyedot hawa

bumi yang membuat tubuhnya kuat sekali dan tangkisannya

membuat lawan terpental! Thay Si Lama menjadi penasaran

dan diapun menyerang dari arah belakang. Akan tetapi,

kembali Pek In Tosu menangkis, tangannya diangkat ke arah

belakang dan begitu kedua tangan bertemu, tubuh Thay Si

Lama terpental dan terhuyung!

Dua orang pendeta Lama itu menjadi semakin penasaran.

Mereka adalah dua orang tokoh yang kenamaan, dua di antara

Lima Harimau Tibet yang sudah amat terkenal. Sejak belasan

tahun ini mereka adalah tulang punggung dari pemerintahan

Dalai Lama. Merekalah yang menjaga kedaulatan dan

kekuasaan Dalai Lama sehingga ditaati oleh jutaan orang manusia!

Selama ini, belum pernah Harimau Tibet bertemu

tanding. Mustahil kalau kini, menghadpi seorang pertapa tua

renta saja, mereka sampai tidak mampu merobohkan, padahal

pertapa itu kini sama tidak dapat membalas lagi, hanya duduk

bersila sambil membela diri!

Namun, berkali-kali menyerang, baik bergantian maupun

berbareng dan hasilnya sama saja. Setiap kali ditangkis,

mereka terpental dan terhuyung, bahkan pernah hampir

terjengkang. Agaknya, makin keras mereka mempergunakan

tenaga, semakin kuat pula tolakan Pek In Tosu yang

menangkis mereka. Keduanya saling pandang, memberi isarat

dengan kedipan mata dan tiba-tiba merekapun menghentikan

serangan mereka dan berdiri di depan dan belakang Pek In

Tosu dalam jarak kurang lebih tiga meter. Kemudian, mulailah

mereka berjalan mengitari kakek yang duduk bersila itu dan

keduanya mulai mengeluarkan lagu-lagu pujaan atau nyanyian

yang biasanya mereka nyanyikan di dalam kuil mereka untuk

memuja para dewa. Akan tetapi, lagu yang mereka nyanyikan

ini lain lagi, ada hubungannya dengan ilmu sihir dan nyanyian

ini bukan untuk memuja para dewa saja, melainkan juga

untuk mengundang setan dan meminjam kekuasaan setan

untuk mengalahkan musuh!

Suara nyanyian itu aneh dan menyeramkan. Suara Thay Ku

Lama parau dan besar, dan kadang-kadang di dalam suaranya

ada selingan suara kok-kok-kok seperti kalau dia mengerahkan

ilmu Hek-in Tai-hong-ciang, sedangkan suara Thay Si Lama

yang bermuka bopeng itu tinggi mencicit seperti suara seekor

tikus yang terjepit. Suara nyanyian itu bukan suara

sembarangan, melainkan dikeluarkan dengan tenaga khi-kang

dan sihir, suara itu makin lama semakin menggetar dan

berirama, dan dua orang pendeta Lama itu bernyanyi sambil

melangkah mengelilingi tubuh Pek In Tosu dan kini kepala

mereka menggeleng-geleng menurutkan irama lagu mereka!

Aneh memang! Makin lama, nyanyian mereka itu seolah-olah

terseret oleh gelombang suara nyanyian mereka.

Mula-mula, tubuh Pek In Tosu gemetar, kemudian, dari

kepalanya keluar uap putih tipis yang membubung ke atas.

Itulah tandanya bahwa dia sedang berjuang mati-matian

untuk melawan pengaruh hebat dari nyanyian itu! Pek In Tosu

bukanlah seorang yang lemah batinnya. Sebaliknya, karena

hasil samadhi yang berpuluh tahun, dia memiliki batin yang

amat kuat dan tidak mudah dia dipengaruhi kekuatan apapun

dari luar. Namun, diserang oleh kekuatan suara itu, dia harus

mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk tidak

terpengaruh. Suara itu tetap saja terdengar biarpun dia berusaha

mematikan pendengarannya, seolah-olah suara itu

mempunyai kekuatan gaib untuk menembus dirinya tanpa

melalui alat pendengaran! Dan getaran yang disebabkan suara

itu membuat tubuhnya gemetar. Diapun lalu melawan,

mengerahkan khi-kang dan dari kepalanya keluar uap putih

yang makin lama semakin menebal. Akan tetapi,

pertahanannya agaknya goyah karena perlahan-lahan akan

tetapi pasti, kepala Pek In Tosu mulai bergoyang-goyang

perlahan-lahan! Makin lama, goyangan kepala Pek In Tosu

semakin nyata dan mengarah geleng-geleng kepala seperti

yang dilakukan oleh dua orang penyerangnya!

Keadaan kakek tua renta itu kini gawat sekali. Ilmu yang

dilakukan oleh dua orang itu adalah semacam ilmu I-hu-tohoat

(hypnotism) melalui pengaruh suara yang mengandung

sihir. Kalau Pek In Tosu sudah benar-benar mengikuti irama

nyanyian itu berarti dia sudah kena dicengkeram dan tentu dia

akan mudah dirobohkan dan dibunuh karena semangatnya

seolah-olah sudah di dalam cengkeraman kekuasaan dua

orang pendeta Lama itu!

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawa

Pek In Tosu itu, tiba-tiba di dalam kesunyian tempat yang

amat sepi itu terdengar suara yang memecahkan kesunyian.

Tadinya hanya suara nyanyian aneh kedua orang pendeta

Lama itu yang terdengar, dengan irama yang semakin

mantap. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara tak-tok-tak-tok

yang nyaring, suara bambu dipukul-pukulkan pada batu!

Suara inipun nyaring sekali, tidak kalah oleh nyaringnya suara

nyanyian, dan berirama pula, akan tetapi iramanya sama

sekali t idak serasi dengan irama nyanyian dua orang pendeta

Lama! Bahkan sebaliknya, irama tak-tok-tak-tok itu menjadi

lawan dan menjadi kebalikannya dan tentu saja kini terdengar

suara yang kacau balau karena irama nyanyian itu

bertabrakan dengan irama bambu yang dipukul-pukul batu.

Siapakah yang memukuli batu dengan bambu itu?

Tak jauh dari situ nampak seorang anak laki-laki yang

menggunakan sepotong bambu memukuli batu besar di

depannya. Irama pukulan bambu itu bertolak belakang

dengan irama nyanyian dua orang pendeta Lama, maka tentu

saja hal ini mengganggu konsentrasi, bahkan mengacaukan

“paduan suara” antara mereka. Dua orang pendeta Lama itu

terkejut dan marah, dan mereka cepat-cepat menyesuaikan

irama nyanyian mereka dengan ketukan irama bambu, karena

kalau irama mereka bersatu, maka kekuatan daya serangan

dari suara mereka akan menjadi semakin mantap dan besar.

Seperti orang bernyanyi yang diiringi musik, akan menjadi

semakin enak didengar dan menghanyutkan. Sejenak mereka

berhasil dan nyanyian mereka itu menjadi semakin mantap,

dan kini Pek In Tosu makin mengikuti bunyi nyanyian itu,

mengikut i iramanya dengan geleng-geleng kepala! Akan tetapi

hanya sebentar saja karena ketukan bambu itu kini berubah

lagi iramanya, kembali menjadi berlawanan dengan irama

nyanyian dua orang pendata Lama, bahkan kini ketukannya

menjadi keras dan iramanya sengaja dibuat kacau-balau,

kadang-kadang cepat, kadang-kadang sedang dan berubah

lagi menjadi lambat, kadang-kadang iramanya satu-satu, duadua,

berubah menjadi satu-dua satu-tiga, dua-tiga dan

sebagainya. Tentu saja tidak mungkin bagi dua orang kakek

Lama untuk menyesuaikan lagi irama nyanyian mereka dan

kini bunyi-bunyian yang terdengar demikian kacau balau

sehingga daya hanyutnya menjadi kacau dan lemah sekali,

dan Pek In Tosu, seperti orang yang baru sadar bahwa tadi

dia telah hanyut, kini nampak duduk bersila dengan tegak lurus

dan sama sekali tidak bergerak! Dari kepalanya juga tidak

lagi keluar uap putih, dan kepalanya tidak lagi digelenggelengkan.

Bahkan dua orang pendeta Lama yang tadinya

mengitari Pek In Tosu sambil bernyanyi dan menggelenggeleng

kepala memantapkan irama nyanyian mereka, kini

langkah-langkah kaki mereka kacau, dan gelengan kepala

mereka ngawur dan kacau, kaku dan kadang-kadang keliru

menjadi angguk-anggukan!

Anak laki-laki itu berusia kurang lebih tiga belas tahun

dengan pakaian yang sudah kumal den robek-robek seperti

pakaian seorang gelandangan. Rambutnya panjang den tidak

terawat, awut-awutan, sebagian menutupi dahi dan mukanya.

Wajah itu tidak buruk, bahkan bentuknya tampan, matanya

lebar dan memiliki sinar terang, sepasang mata yang jernih

dan jeli seperti mata burung Hong, namun wajah itu

mendatangkan rasa iba bagi yang melihatnya. Punggungnya

bongkok dan agaknya ada daging menonjol di punggung itu.

Anak itu bukan lain adalah Sie Liong! Seperti kita ketahui,

Sie Liong merasa selalu berduka dan gelisah sejak terjadi

peristiwa perkelahian antara dia yang membantu Yauw Bi Sian

melawan Lu Ki Cong dan kawan-kawannya. Dia menerima

kemarahan dari cihu-nya, bahkan menerima pukulan yang

membuat kepalanya berdenyut nyeri dan punggungnya lebih

nyeri lagi. Dan dia mendengar bahwa Lu Ki Cong, putera Luciangkun

komandan pasukan keamanan di kota Sung-jan itu

bahkan telah disepakati akan menjadi calon jodoh Bi Sian!

Semenjak itu, hatinya selalu merasa tidak tenang, apalagi

ketika mereka melakukan sembahyangan dan dia mendengar

bahwa ayah ibunya meninggal dunia karena penyakit menular

di dusun mereka, yaitu Tiong-cin, hatinya merasa semakin

berduka dan gelisah. Pada suatu malam, ketika dia tidak dapat

pulas dan selalu gelisah, dia meninggalkan kamarnya yang

berada di ujung belakang, lalu berjalan ke kebun samping

rumah. Tiba-tiba dia mendengar suara encinya bercakapcakap

dengan cihu-nya dan dari suara cihu-nya, dia tahu

bahwa cihu-nya itu sedang marah dan suaranya keras!

Memang kamar enci dan cihu-nya itu menghadap ke kebun

dan suara itu keluar melalui celah-celah jendela mereka yang

tertutup. Kamar Bi Sian berada di sebelah lagi, dan jendela

kamar gadis cilik itu telah gelap, tanda bahwa ia tentu telah

tidur. Sebaliknya, dari jendela kamar encinya nampak cahaya

lampu belumdipadamkan.

“Jelas bahwa dia salah besar!” terdengar suara cihu-nya

membentak nyaring. “Pertama, dia mencuri belajar ilmu silat

padahal sudah kularang dia belajar silat! Ke dua, dia berani

mencari keributan dan berkelahi dengan anak-anak, bahkan

memukul dan menggigit putera Lu-ciangkun yang hendak

kujodohkan dengan Bi Sian. Anak itu memang keterlaluan, dan

engkau bahkan membela anak bongkok jelek itu!”

“Apa? Bongkok jelek katamu? Jangan kaukira aku tidak

tahu bahwa engkaulah yang membuat dia menjadi bongkok!”

“Eh? Apa yang kaukatakan itu?” cihu-nya bertanya kaget,

sama kagetnya dengan dia sendiri mendengar ucapan encinya

itu.

“Ya, engkau yang membuat dia menjadi bongkok! Karena

engkau takut kepadanya! Itu pula sebabnya engkau melarang

dia belajar silat. Engkau takut kepadanya!”

“Ssttt….! Lan Hong, apa yang kaukatakan ini?”

Terdengar encinya menangis. “Setelah…. setelah apa yang

kulakukan untukmu semua…. setelah kuserahkan badanku,

Cintaku, kesetiaanku padamu, hanya dengan harapan agar

adikku diselamatkan…., masih kurang besarkah

pengorbananku? Dia sudah menjadi bongkok, cacat, dan

engkau…. masih juga membencinya?”

“Kau keliru, Lan Hong. Engkau tahu bahwa akupun suka

padanya, hanya aku…., benarlah, aku khawatir dan kaupun

tahu betapa aku cinta padamu. Aku telah merobah hidupku,

mencari nama baik dan kedudukan yang terpandang. Semua

ini untukmu dan untuk Bi Sian. Akan tetapi adikmu itu…. dia

seakan-akan menjadi penghalang kebahagiaan kita…. aku

selalu khawatir dan kadang-kadang aku bermimpi buruk, tak

dapat tidur….”

Hening sejenak, lalu terdengar encinya berkata lirih. “Aku

dapat memaklumi perasaan hatimu, akan tetapi…. aku tetap

menuntut agar adikku yang tunggal itu tidak diganggu!”

“Lan Hong, demi kebahagiaan kita, anak itu harus

disingkirkan.”

“Apa?” Encinya setengah menjerit. “Maksud….

maksudmu….?”

“Biar kutitipkan dia di sebuah kuil besar, agar di sana dia

dapat menjadi seorang kacung, dan mudah-mudahan kelak

dia menjadi seorang hwesio. Bukankah hal itu amat baik

baginya? Menjadi seorang hwesio adalah kedudukan yang

terhormat, mulia dan disegani orang.”

“Ahhh…. tapi…. tapi….”

“Tidak ada tapi lagi, isteriku yang manis. Bukankah engkau

menghendaki agar kebahagiaan kita tidak terganggu dan

keselamatan adikmu terjamin pula?”

Setelah hening sampai lama, encinya berkata, “Baiklah,

akan tetapi aku harus tahu di kuil mana dia dititipkan, dan aku

dapat mengunjunginya dan menjenguknya sewaktu-waktu….”

Sie Liong tidak mendengarkan terus. Cepat dia kembali ke

kamarnya dan dia duduk di atas pembaringannya dengan

muka pucat dan bengong. Ingin rasanya dia menangis,

menjerit-jerit saking nyeri rasa hatinya. Akan tetapi dia

bertahan, bahkan menutupi mulutnya yang mulai terisak-isak

itu dengan bantal.

Dia hendak disingkirkan? Dititipkan dalam kuil? Tidak! Dia

tidak akan menyusahkan cihu-nya lagi! Dia tidak akan

membuat encinya cekcok dengan suami encinya.

Bagaimanapun juga, dia dapat menduga bahwa cihu-nya tidak

suka kepadanya, bahkan membencinya. Bukankah encinya

mengatakan bahwa cihu-nya yang membuat dia menjadi

bongkok? Ucapan ini mengejutkan dan juga membuat dia

terheran-heran dan tidak mengerti. Dan cihunya takut

kepadanya? Menggelikan dan mustahil! Cihunya, yang

demikian gagah perkasa, yang tinggi ilmu silatnya, takut

kepadanya, seorang anak bongkok yang lemah? Dan mengapa

pula mesti takut? Tidak, dia tidak akan menyusahkan mereka

lagi. Dia mengeraskan hatinya dan menghentikan tangisnya,

lalu dengan perlahan-lahan agar gerak-geriknya tidak

terdengar dari luar, dia mengumpulkan pakaiannya,

membungkusnya dengan kain menjadi buntalan yang cukup

besar. Kemudian dia menulis sehelai surat di atas mejanya.

Enci Lan Hong dan cihu,

Maafkan saya. Saya pergi tanpa pamit, hendak kembali ke

dusun Tiong-cin di utara, selamat t inggal.

Sie Liong.

Biarpun dia baru berusia tiga belas tahun, namun Sie Liong

yang bongkok itu memiliki otak yang cerdik. Dengan sengaja

dia meninggalkan surat, menulis bahwa dim hendak pergi ke

Tiong-cin. Padahal, setelah dia meninggalkan rumah cihu-nya

membawa buntalan di punggungnya yang bongkok, dia sama

sekali tidak pergi ke utara, melainkan ke selatan! Akan tetapi,

dia sengaja keluar dari pintu gerbang kota itu sebelah utara,

dan sengaja melalui jalan yang ramai sehingga nampak oleh

beberapa orang ketika dia pergi melalui pintu gerbang kota

sebelah utara. Begitu tiba di luar pintu gerbang, memasuki

malam yang gelap, dia lalu menyelinap dan mengambil jalan

memutar, melalui sawah yang sunyi, mengelilingi tembok kota

itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke selatan! Tidak ada

seorangpun yang melihatnya karena selain waktu sudah lewat

tengah malam, juga Sie Liong dengan hati-hati sekali

mengambil jalan sunyi yang sudah dikenalnya.

Perhitungan anak ini memang tepat sekali. Pada keesokan

harinya, ketika mendapatkan surat Sie Liong di atas meja, Lan

Hong menangis sedih dan suaminya cepat melakukan

pengejaran ke utara tentu saja! Apa lagi ketika Yauw Sun Kok

mendengar keterangan beberapa orang yang sempat melihat

Sie Liong di malam hari itu, membawa buntalan menuju ke

pintu gerbang utara. Dari para petugas jaga di pintu

gerbangpun dia mendengar bahwa memang benar anak

bongkok itu semalam lewat dan keluar dari pintu gerbang itu

menuju ke utara, melalui jalan besar.

Yauw Sun Kok melakukan perjalanan cepat, berkuda,

mengejar terus ke utara. Akan tetapi sampai sehari dia

melakukan perjalanan, belum juga dia berhasil menyusul Sie

Liong! Tadinya dia mengira bahwa tentu anak itu

mendapatkan boncengan ke utara, akan tetapi setelah sehari

dia gagal, dia kembali lagi dan kehilangan jejak anak itu. Tidak

ada orang yang melihatnya, dan dia mengira bahwa tentu

anak itu telah mengambil jalan menyimpang. Akan tetapi jalan

yang mana dan ke kanan atau kiri? Akhirnya, diapun pulang

dengan wajah lesu. Dia tidak begitu susah ditinggal pergi adik

isterinya itu, akan tetapi ada dua hal yang membuatnya gelisah.

Pertama, isterinya tentu akan berduka, dan ke dua, dan

ini yang amat mengganggunya, dia tetap mengkhawatirkan

kalau-kalau kelak Sie Liong akan membalas dendam atas

kematian kedua orang tuanya. Akan tetapi, apa yang perlu

ditakutinya? Anak itu bongkok dan cacat! Seperti telah

diduganya, isterinya menjadi berduka dan dia harus berusaha

keras untuk menghibur hati isterinya, mengatakan bahwa Sie

Liong sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri,

dan bahwa kebetulan sekali Sie Liong pergi karena kehendak

sendiri, jadi mereka tidak perlu menyuruhnya atau

membawanya pergi.

Demikianlah, Sie Liong melakukan perjalanan seorang diri,

manuju ke selatan. Dia selalu menghindarkan diri agar jangan

bertemu orang selama beberapa hari itu, agar tidak ada orang

dari kota Sung-jan yang akan melihatnya dan kemudian

melaporkannya kepada cihu-nya. Dia memilih jalan liar melalui

hutan-hutan dan pegunungan dan inilah yang mencelakakan

dia.

Kurang lebih sebulan sesudah dia meninggalkan rumah

encinya, dia berjalan melalui sebuah hutan besar pada suatu

pagi yang sejuk. Setiap harinya Sie Liong melakukan

perjalanan dan dia makan darimana saja. Kadang-kadang dia

mendapat belas kasihan orang yang memberinya makan, dan

ada kalanya dia harus menjual beberapa potong pakaiannya

untuk ditukar dengan makanan. Bahkan pernah dia hanya

makan sayur-sayur yang didapatkannya di ladang orang untuk

sekedar menahan lapar. Malam tadi, ada seorang petani yang

baik hati menerimanya di rumahnya. Sie Liong membantu

petani itu membelah kayu bakar den diapun mendapatkan

tempat tidur dan makan malam yang cukup mengenyangkan

perutnya. Bahkan pagi tadi ketika dia pergi, keluarga petani

itu memberinya sarapan dan memberinya bekal roti kering dan

sayur asin kering! Maka, pagi itu Sie Liong berjalan dengan

tegap dan kaki ringan, hatinya gembira karena semalam dia

mendapatkan bahwa masih banyak orang yang baik hati di

dunia ini. Kehangatan yang dirasakannya ketika keluarga

petani itu menerimanya membuat dia merasa bahagia di pagi

hari itu.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya lima orang yang

berloncatan dari balik batang-batang pohon. Lima orang itu

berwajah bengis menyeramkan. Kalau saja mereka itu tidak

berpakaian, tentu Sie Liong akan mengira mereka binatangbinatang

sebangsa kera besar. Tubuh dan pakaian mereka

kotor dan pandang mata mereka bengis den buas. Akan tetapi

karena mereka berpakaian, maka Sie Liong kehilangan

kekagetannya den tersenyumkepada mereka.

“Aih, paman sekalian membikin kaget saja padaku,”

katanya sambil membetulkan letak buntalan di punggungnya.

“Huh, kiranya hanya anak anjing buduk!” kata seorang.

“Anjing cilik, punggungnya bongkok lagi! ” kata orang ke

dua.

Wajah Sie Liong menjadi merah dan dia memandang

kepada dua orang itu dengan mata melotot penuh kemarahan.

“Paman-paman adalah orang-orang dewasa, kenapa suka

menghina anak-anak? Punggungku memang bongkok, apa

sangkut pautnya dengan kalian? Kurasa bongkokku tidak

merugikan orang lain termasuk kalian!”

“Wah, anjing cilik gonggongnya sudah nyaring!” teriak

seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok dan

matanya lebar kemerahan. Dia adalah pemimpin gerombolan

itu dan kini dia menghampiri Sie Liong dengan golok besar di

tangan kanan. Golok itu berkilauan saking tajamnya dan si

brewok sudah menempelkan mata golok ke leher Sie Liong.

Terasa oleh Sie Liong betapa golok itu tajam sekali menempel

di kulit lehernya. Sedikit saja digerakkan, tentu lehernya akan

putus! Akan tetapi, sedikitpun dia tidak merasa gentar, bahkah

dia molotot dengan marah, walaupun maklum bahwa dia tidak

berdaya dan melawanpun berarti hanya membunuh diri.

“Anjing galak, apakah engkau ingin mampus dengan leher

buntung?” bentak si brewok. “Hayo jawab!”

Betapapun marahnya, Sie Liong maklum bahwa orang ini

jahat dan kejam luar biasa dan kalau dia tidak menjawab,

orang ini akan marah dan bukan mustahil lehernya akan

disembelih. Maka dia menggeleng sambil berkata dengan

suara lirih, bukan karena takut melainkan karena hati-hati

agar suaranya tidak terdengar menyatakan kemarahan

hatinya. “Tidak.”

“Ha-ha-ha! Kalau begitu biarlah kepalamu masih menempel

di tubuhmu, akan tetapi buntalanmu harus kautinggalkan!”

berkata demikian, dengan tangan kirinya kepala gerombolan

itu merenggut buntalan pakaian Sie Liong lepas dari

punggungnya, lalu mondorong sehingga anak itu terjengkang

dan kepalanya terbanting ke atas tanah dengan kerasnya. Sie

Liong merasa kepalanya pening, akan tetapi dia cepat bangkit

dan berkata dengan suara yang tak dapat disembunyikan lagi

kemarahannya.

“Milikku hanya itu, pakaian-pakaian untuk pengganti.

Kembalikan, kalian orang-orang jahat!”

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan

bermuka pucat, terbelalak menghampiri Sie Liong dengan

marah. “Apa? Engkau ini masih belum cukup dihajar rupanya!”

Tangannya meralh dan terdengar suara membrebet ketika dia

merenggut pakaian yang menempel di tubuh Sie Liong.

Pakaian itu robek dan terlepas sehingga anak itu kini telanjang

bulat! Lima orang itu tertawa bergelak.

Dia hendak disingkirkan? Dititipkan dalam kuil? Tidak! Dia

tidak akan menyusahkan cihu-nya lagi! Dia tidak akan

membuat encinya cekcok dengan suami encinya.

Bagaimanapun juga, dia dapat menduga bahwa cihu-nya tidak

suka kepadanya, bahkan membencinya. Bukankah encinya

mengatakan bahwa cihu-nya yang membuat dia menjadi

bongkok? Ucapan ini mengejutkan dan juga membuat dia

terheran-heran dan tidak mengerti. Dan cihunya takut

kepadanya? Menggelikan dan mustahil! Cihunya, yang

demikian gagah perkasa, yang tinggi ilmu silatnya, takut

kepadanya, seorang anak bongkok yang lemah? Dan mengapa

pula mesti takut? Tidak, dia tidak akan menyusahkan mereka

lagi. Dia mengeraskan hatinya dan menghentikan tangisnya,

lalu dengan perlahan-lahan agar gerak-geriknya tidak

terdengar dari luar, dia mengumpulkan pakaiannya,

membungkusnya dengan kain menjadi buntalan yang cukup

besar. Kemudian dia menulis sehelai surat di atas mejanya.

Enci Lan Hong dan cihu,

Maafkan saya. Saya pergi tanpa pamit, hendak kembali ke

dusun Tiong-cin di utara, selamat t inggal.

Sie Liong.

Biarpun dia baru berusia tiga belas tahun, namun Sie Liong

yang bongkok itu memiliki otak yang cerdik. Dengan sengaja

dia meninggalkan surat, menulis bahwa dim hendak pergi ke

Tiong-cin. Padahal, setelah dia meninggalkan rumah cihu-nya

membawa buntalan di punggungnya yang bongkok, dia sama

sekali tidak pergi ke utara, melainkan ke selatan! Akan tetapi,

dia sengaja keluar dari pintu gerbang kota itu sebelah utara,

dan sengaja melalui jalan yang ramai sehingga nampak oleh

beberapa orang ketika dia pergi melalui pintu gerbang kota

sebelah utara. Begitu tiba di luar pintu gerbang, memasuki

malam yang gelap, dia lalu menyelinap dan mengambil jalan

memutar, melalui sawah yang sunyi, mengelilingi tembok kota

itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke selatan! Tidak ada

seorangpun yang melihatnya karena selain waktu sudah lewat

tengah malam, juga Sie Liong dengan hati-hati sekali

mengambil jalan sunyi yang sudah dikenalnya.

Perhitungan anak ini memang tepat sekali. Pada keesokan

harinya, ketika mendapatkan surat Sie Liong di atas meja, Lan

Hong menangis sedih dan suaminya cepat melakukan

pengejaran ke utara tentu saja! Apa lagi ketika Yauw Sun Kok

mendengar keterangan beberapa orang yang sempat melihat

Sie Liong di malam hari itu, membawa buntalan menuju ke

pintu gerbang utara. Dari para petugas jaga di pintu

gerbangpun dia mendengar bahwa memang benar anak

bongkok itu semalam lewat dan keluar dari pintu gerbang itu

menuju ke utara, melalui jalan besar.

Yauw Sun Kok melakukan perjalanan cepat, berkuda,

mengejar terus ke utara. Akan tetapi sampai sehari dia

melakukan perjalanan, belum juga dia berhasil menyusul Sie

Liong! Tadinya dia mengira bahwa tentu anak itu

mendapatkan boncengan ke utara, akan tetapi setelah sehari

dia gagal, dia kembali lagi dan kehilangan jejak anak itu. Tidak

ada orang yang melihatnya, dan dia mengira bahwa tentu

anak itu telah mengambil jalan menyimpang. Akan tetapi jalan

yang mana dan ke kanan atau kiri? Akhirnya, diapun pulang

dengan wajah lesu. Dia tidak begitu susah ditinggal pergi adik

isterinya itu, akan tetapi ada dua hal yang membuatnya gelisah.

Pertama, isterinya tentu akan berduka, dan ke dua, dan

ini yang amat mengganggunya, dia tetap mengkhawatirkan

kalau-kalau kelak Sie Liong akan membalas dendam atas

kematian kedua orang tuanya. Akan tetapi, apa yang perlu

ditakutinya? Anak itu bongkok dan cacat! Seperti telah

diduganya, isterinya menjadi berduka dan dia harus berusaha

keras untuk menghibur hati isterinya, mengatakan bahwa Sie

Liong sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri,

dan bahwa kebetulan sekali Sie Liong pergi karena kehendak

sendiri, jadi mereka tidak perlu menyuruhnya atau

membawanya pergi.

Demikianlah, Sie Liong melakukan perjalanan seorang diri,

manuju ke selatan. Dia selalu menghindarkan diri agar jangan

bertemu orang selama beberapa hari itu, agar tidak ada orang

dari kota Sung-jan yang akan melihatnya dan kemudian

melaporkannya kepada cihu-nya. Dia memilih jalan liar melalui

hutan-hutan dan pegunungan dan inilah yang mencelakakan

dia.

Kurang lebih sebulan sesudah dia meninggalkan rumah

encinya, dia berjalan melalui sebuah hutan besar pada suatu

pagi yang sejuk. Setiap harinya Sie Liong melakukan

perjalanan dan dia makan darimana saja. Kadang-kadang dia

mendapat belas kasihan orang yang memberinya makan, dan

ada kalanya dia harus menjual beberapa potong pakaiannya

untuk ditukar dengan makanan. Bahkan pernah dia hanya

makan sayur-sayur yang didapatkannya di ladang orang untuk

sekedar menahan lapar. Malam tadi, ada seorang petani yang

baik hati menerimanya di rumahnya. Sie Liong membantu

petani itu membelah kayu bakar den diapun mendapatkan

tempat tidur dan makan malam yang cukup mengenyangkan

perutnya. Bahkan pagi tadi ketika dia pergi, keluarga petani

itu memberinya sarapan dan memberinya bekal roti kering dan

sayur asin kering! Maka, pagi itu Sie Liong berjalan dengan

tegap dan kaki ringan, hatinya gembira karena semalam dia

mendapatkan bahwa masih banyak orang yang baik hati di

dunia ini. Kehangatan yang dirasakannya ketika keluarga

petani itu menerimanya membuat dia merasa bahagia di pagi

hari itu.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya lima orang yang

berloncatan dari balik batang-batang pohon. Lima orang itu

berwajah bengis menyeramkan. Kalau saja mereka itu tidak

berpakaian, tentu Sie Liong akan mengira mereka binatangbinatang

sebangsa kera besar. Tubuh dan pakaian mereka

kotor dan pandang mata mereka bengis den buas. Akan tetapi

karena mereka berpakaian, maka Sie Liong kehilangan

kekagetannya den tersenyumkepada mereka.

“Aih, paman sekalian membikin kaget saja padaku,”

katanya sambil membetulkan letak buntalan di punggungnya.

“Huh, kiranya hanya anak anjing buduk!” kata seorang.

“Anjing cilik, punggungnya bongkok lagi! ” kata orang ke

dua.

Wajah Sie Liong menjadi merah dan dia memandang

kepada dua orang itu dengan mata melotot penuh kemarahan.

“Paman-paman adalah orang-orang dewasa, kenapa suka

menghina anak-anak? Punggungku memang bongkok, apa

sangkut pautnya dengan kalian? Kurasa bongkokku tidak

merugikan orang lain termasuk kalian!”

“Wah, anjing cilik gonggongnya sudah nyaring!” teriak

seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok dan

matanya lebar kemerahan. Dia adalah pemimpin gerombolan

itu dan kini dia menghampiri Sie Liong dengan golok besar di

tangan kanan. Golok itu berkilauan saking tajamnya dan si

brewok sudah menempelkan mata golok ke leher Sie Liong.

Terasa oleh Sie Liong betapa golok itu tajam sekali menempel

di kulit lehernya. Sedikit saja digerakkan, tentu lehernya akan

putus! Akan tetapi, sedikitpun dia tidak merasa gentar, bahkah

dia molotot dengan marah, walaupun maklum bahwa dia tidak

berdaya dan melawanpun berarti hanya membunuh diri.

“Anjing galak, apakah engkau ingin mampus dengan leher

buntung?” bentak si brewok. “Hayo jawab!”

Betapapun marahnya, Sie Liong maklum bahwa orang ini

jahat dan kejam luar biasa dan kalau dia tidak menjawab,

orang ini akan marah dan bukan mustahil lehernya akan

disembelih. Maka dia menggeleng sambil berkata dengan

suara lirih, bukan karena takut melainkan karena hati-hati

agar suaranya tidak terdengar menyatakan kemarahan

hatinya. “Tidak.”

“Ha-ha-ha! Kalau begitu biarlah kepalamu masih menempel

di tubuhmu, akan tetapi buntalanmu harus kautinggalkan!”

berkata demikian, dengan tangan kirinya kepala gerombolan

itu merenggut buntalan pakaian Sie Liong lepas dari

punggungnya, lalu mondorong sehingga anak itu terjengkang

dan kepalanya terbanting ke atas tanah dengan kerasnya. Sie

Liong merasa kepalanya pening, akan tetapi dia cepat bangkit

dan berkata dengan suara yang tak dapat disembunyikan lagi

kemarahannya.

“Milikku hanya itu, pakaian-pakaian untuk pengganti.

Kembalikan, kalian orang-orang jahat!”

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan

bermuka pucat, terbelalak menghampiri Sie Liong dengan

marah. “Apa? Engkau ini masih belum cukup dihajar rupanya!”

Tangannya meraih dan terdengar suara membrebet ketika dia

merenggut pakaian yang menempel di tubuh Sie Liong.

Pakaian itu robek dan terlepas sehingga anak itu kini telanjang

bulat! Lima orang itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, anjing cilik ini biar bongkok, tubuhnya mulus

juga.”

Sie Liong yang merasa terhina itu marah sekali dan diapun

sudah menerjang ke depan dengan ngawur. Si muka pucat

menyambutnya dengan sebuah tendangan yang keras.

“Bukkk! ” Tendangan itu mengenai dada Sie Liong,

membuat anak itu jatuh terjengkang dan kepalanya kembali

terbanting menghantam batu dan diapun roboh pingsan.

Ketika dia siuman kembali, Sie Liong mendapatkan dirinya

rebah di atas tanah berumput di dalam hutan, dan lima orang

itu sudah tidak nampak lagi. Kepalanya berdenyut nyeri,

tubuhnya yang terbanting juga sakit-sakit, dan buntalan

pakaiannya tidak ada lagi. Bahkan pakaian yang tadi

menempel di tubuhnya juga sudah tidak ada. Agaknya setelah

direnggut lepas, dibawa pergi oleh lima orang tadi.

Dia bangkit duduk, memegangi kepala bagian belakang

yang berdenyut nyeri. Ah, betapa jahatnya lima orang tadi.

Jahat dan kejam sekali, tega merampas buntalan pakaiannya,

bahkan menelanjanginya dan menghajarnya! Baru saja dia

merasa betapa indahnya hidup di dunia karena adanya orangorang

yang baik hati seperti keluarga petani itu yang

memberinya tempat mondok dan makan, tiba-tiba saja kini

muncul lima orang yang demikian jahatnya! Berubah seketika

nampaknya hidup di dunia ini, betapa sengsara dan buruknya,

betapa pahit dan mengecewakan. Dia harus makin berhati-hati

karena di dalam dunia ini tidak kalah banyaknya terdapat

orang-orang jahat.

Sie Liong teringat akan keadaan dirinya. Telanjang bulat!

Tidak memiliki sepotongpun pakaian yang dapat dipakai

menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Tidak ada pula

perbekalan makan untuk mengisi perutnya, dan dia berada di

tengah hutan yang lebat!

Sie Liong mendapat keterangan dari keluarga petani

semalam bahwa kalau dia berjalan terus menembus hutan itu

ke selatan, dia akan monemui sebuah dusun yang cukup

besar, dan menurut petani itu, sebelum sore dia tentu akan

dapat tiba di dusun itu. Dia bangkit dan setelah pening di

kepalanya tidak begitu hebat lagi, mulai dia melangkahkan

kakinya. Dia merasa aneh dan lucu, berjalan dalam keadaan

telanjang bulat seperti itu. Suara berkeresekan di kanan

membuat dia terkejut dan cepat-cepat dia menggunakan

kedua tangan untuk menutupi selangkangannya, takut kalaukalau

ada orang muncul dan melihat ketelanjangannya. Akan

tetapi yang muncul adalah dua ekor monyet! Sie Liong tertawa

sendiri. Monyet-monyet itupun telanjang bulat mengapa dia

harus malu? Diapun melepaskan kedua tangannya dan

menghadapi dua ekor monyet itu sambil tersenyum. Monyetmonyet

itu semenjak lahir telanjang dan tidak pernah merasa

malu. Kenapa kalau manuasia merasa malu? Jadi kalau begitu,

malu timbul bukan karena ketelanjangannya, melainkan

karena merasa telanjang! Karena monyet-monyet itu tidak

pernah merasa telanjang, juga anak-anak bayi tidak pernah

merasa telanjang, maka mereka itu tidak menjadi malu.

Sie Liong berjalan lebih cepat. Kadang-kadang berdebar

jantungnya, penuh ketegangan dan perasaan malu kalau dia

membayangkan bagaimana nanti dia kalau bertemu dengan

orang di dusun itu? Apakah ada yang mau menolongnya den

bagaimana dia dapat menemui mereka dalam keadaan

telanjang bulat? Mungkin dia akan dianggap gila!

Benar seperti keterangan petani yang baik itu, sebelum

sore dia telah tiba di luar sebuah dusun. Pagar dusun itu

cukup tinggi, dan nampak genteng merah di atas dinding

putih.

Sie Liong merasa bingung. Tak mungkin dia memasuki

dusun itu dalam keadaan telanjang bulat seperti itu.

Bagaimanapun dia bukan anak kecil lagi, usianya sudah tiga

belas tahun, sudah menjelang dewasa. Maka diapun

bersembunyi saja di pinggir hutan sambil mengamati dusun itu

dari kejauhan. Nampak olehnya beberapa orang petani lakilaki

dan wanita keluar masuk melalui pintu gerbang dusun itu.

Bahkan ada dua orang anak penggembala kerbau menggiring

kerbau mereka pulang ke dalam dusun. Dia akan menanti

sampai keadaan cuaca menjadi gelap, baru dia akan masuk ke

dusun itu, mencari keluarga petani yang baik untuk

menolongnya. Kalau saja di dusun itu tinggal keluarga petani

seperti yang monampungnya semalam, tentu mereka akan

mau menolongnya, pikirnya.

Senja tiba dan cuaca mulai gelap. Sie Liong lalu dengan

hati-hati meayelinap memasuki dusun melalui pintu gerbang.

Dia menyelinap di antara pohon-pohon dan melihat sebuah

rumah yang menyendiri di tepi dusun, dia lalu manghampirinya.

Sampai lama dia ragu-ragu dan berdiri di belakang

sebatang pohon. Ketika dalam keremangan senja itu dia

malihat seseorang datang dari arah belakang rumah menuju

ke dapur rumah itu yang berada di belakang, dia membuat

gerakan untuk keluar dari balik pohon dan menegur. Akan

tetapi, ketika itu orang tadi sudah dekat dan ternyata orang

itu adalah seorang gadis remaja yang membawa sebuah

tempat air dari tanah bakar yang dipondongnya di atas

pinggang kiri. Melihat bahwa orang yang tadinya disangka

laki-laki itu setelah dekat baru kelihatan bahwa ia seorang

gadis remaja, dengan gugup Sie Liong menyelinap kembali ke

balik batang pohon. Namun terlambat, kakinya menginjak

ranting kering dan gadis remaja itu sudah membalikkan tubuh

menengok.

“Siapa itu?” Gadis itu menegur.

Sie Liong tidak berani berkutik. Batang pohon itu terlampau

kecil untuk menutupi seluruh tubuhnya, dia tidak berani

menjawab saking malunya.

“Hayo katakan siapa itu! Malingkah? Aku akan menjerit

memanggil orang kalau engkau tidak mau keluar dari balik

pohon itu!”

Celaka, pikir Sie Liong. Kalau dia disangka maling dan gadis

itu menjerit, mungkin dia akan dikeroyok orang sedusun!

Terpaksa dia keluar dari balik batang pohon, sedapat mungkin

menutupi selangkangnya dengan kedua tangan.

“Aku…. aku bukan maling….” katanya lirih.

Gadis itu torbelalak memandang kepada pemuda cilik yang

telanjang bulat itu, dengan tubuh yang berkulit putih bersih,

sama sekali tanpa pakaian!

“Eiiiiihhh….!” Ia menjerit dan tempat air dari tanah bakar

itu terlepas dari rangkulannya, jatuh dan pecah sehingga air

jernih itu mengalir keluar. Gadis remaja itupun berlari-lari

seperti dikejar setan memasuki rumah. “Setaaan….!

setaaaaann….!” Ia menjerit-jerit.

Sie Liong kembali memyelinap ke balik batang pohon,

tersenyum pahit dan merasa bahwa dia memang sudah menjadi

setan! Setan telanjang yang menakutkan seorang gadis

remaja. Setan bongkpk telanjang! Sungguh sial, gerutunya,

tidak tahu harus berbuat apa. Tak lama kemudian, gadis

remaja itu datang lagi dengan sikap takut-takut, bersama

seorang laki-laki setengah tua dan seorang laki-laki berusia

dua puluh tahun lebih, keduanya membawa parang dan siap

untuk berkelahi melawan setan. Di belakang gadis remaja itu

keluar pula seorang wanita yang saling berpegang tangan

dengan gadis itu, nampak ketakutan.

“Mana. dia? Mana setan itu?” tanya pemuda itu dengan

lagak pemberani akan tetapi suaranya agak gemetar.

“Tadi di sana, di belakang pohon itu! Nah, lihat! Dia masih

di sana….” gadis itu merangkul ibunya.

Dua orang laki-laki itu juga sudah melihat tubuh putih yang

sebagian tertutup batang pohon dan mereka maju baberapa

langkah, akan tetapi tetap dalam jarak yang aman.

“Setan! Keluarlah dan perlihatkan mukamu!” bentak lakilaki

muda.

“Kalau engkau benar setan, harap jangan ganggu keluarga

kami, kami adalah orang baik-baik dan suka sembahyang,”

kata pria yang setengah tua.

Sie Liong merasa bahwa bersembunyi lebih lama lagi t idak

ada gunanya juga kalau dia melarikan diri, mungkin akan

dikejar orang sedusun. Maka, diapun terpaksa keluar dari balik

pohon sambil menggunakan kedua tangan menutupi bawah

perutnya.

“Maaf, paman…. maafkan aku. Aku…. aku bukan setan,

aku manusia biasa yang mengharapkan pertolongan kalian.”

Dua orang pria itu jelas kelihatan lega mendengar ini, akan

tetapi mereka masih ragu-ragu. Kalau benar manusia,

mengapa bertelanjang bulat? Kalau manusia, tentu orang gila

dan ini sama menyeramkannya dengan setan!

“Engkau seorang manusia? Kenapa malam-malam begini

datang ke sini dan telanjang bulat? Apakah engkau gila?”

tanya pria setengah tua.

“Maafkan, paman. Aku tidak gila, aku…. aku siang tadi

lewat di hutan itu dan aku dirampok. Buntalan pakaianku, juga

pakaian yang kupakai, dirampas perampok, bahkan aku

dipukul mereka. Lihat, kepalaku masih berdarah di sini.” Untuk

membuktikan kebenaran kata-katanya, Sie Liong membalikkan

tubuh memperlihatkan luka di belakang kepalanya, juga

memperlihatkan daging menonjol di punggung yang

membuatnya bungkuk, memperlihatkan pula tanpa disadari

pinggulnya karena yang ditutupnya hanyalah bawah perut.

“Iiihhh….!” Gadis remaja itu menjerit lagi dan menutupi

muka dengan kedua tangan, hanya mengintai dari celah-celah

jari tangannya!

Kini pria setengah tua itu percaya karena dia melihat

betapa belakang kepala itu memang terluka. “Kauambilkan

satu stel pakaianmu, juga obor.” perintahnya kepada

puteranya, kakak gadis remaja tadi.

“Baik, ayah.” Diapun lari ke dalam. Ayah, ibu den anak

perempuan itu manih mengamati Sie Liong yang menjadi rikuh

sekali. Karena di situ ada dua orang wanita terutamm gadis

remaja yang menutupi muka dengan kedua tangan dia

kembali menyelinap ke balik batang pohon, menyembunyikan

tubuhnya dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.

“Maafkan aku, puman. Aku tidak tahu apa yang harus

kulakukan, maka aku sengaja menanti sampai gelap baru

berani memasuki dusun ini dengan maksud minta pertolongan

kepada siapa saja. Melihat rumah paman ini agak terpencil,

make aku lalu datang ke sini untuk minta pertolongan, takut

kalau sampai terlihat banyak orang. Dan ternyata pilihanku

tidak keliru. Aku berteau dengan keluarga yang budiman.

Harap enci di sana itu memaafkan aku, aku tidak sengaja

untuk bersikap kurang ajar dan melanggar suaila.”

Mendengar kata-kata yang halus dan teratur rapi, ayah ibu

dan anak itu dapat menduga bahwa tentu anak telanjang itu

bukan seorang dusun, melainkan seorang kota yang

terpelajar.

“Siapakah namamu, orang muda?” tanya si ayah.

“Namaku Liong, she Sie.”

Pada saat itu, pemuda tadi datang lagi membawa obor di

tangan kanan dan satu stel pakaian di tangan kiri. Kini obor

menerangi tempat itu dan gadis remaja itu tetap mengintai

dari celah-celah jari tangannya. Dengan peraaaan berterima

kasih sekali Sie Liong menerima satu stel pakaian itu, lalu

memakainya di balik batang pohon. Baju itu kebesaran,

lengannya terlalu panjang dan celana itupun kakinya terlalu

panjang. Terpaksa dia menggulung lengan dan kaki pakaian

itu, dan muncul dari balik batang pohon. Karena baju itu

kedodoran, maka bongkoknya tidak terlalu kelihatan.

Sie Liong mengangkat tangan memberi hormat kepada

mereka. “Paman, bibi, toako dan enci, aku Sie Liong menghaturkan

banyak terima kasih dan percayalah, selama hidupku

aku tidak akan melupakan budi pertolongan yang amat

berharga ini.”

Laki-laki setengah tua itu melangkah maju. Kini dia yakin

bahwa anak ini bukan setan, bukan pula orang gila, dan

dirangkulnya pundak Sie Liong, ditariknya untuk diajak masuk

ke rumah.

“Anak yang malang, mari kita masuk ke dalam. Engkau

boleh bermalam di rumah kami dan makan malam bersama

kami, akan tetapi engkau harus menceritakan semua

pengalaman dan riwayatmu kmpada kami.”

Sie Liong mengikut i mereka dan kini gadis remaja itu t idak

lagi menutupi mukanya dengan jari tangan. Gadis itu berusia

kurang lebih lima belas tahun dan mukanya manis sekali,

tubuhnya padat berisi karena ia biasa bekerja berat seperti

lajimnya gadis-gadis dusun.

Mereka bersikap ramah sekali. Sie Liong diajak makan

malam yang terdiri dari nasi dan sayur-sayuran tanpa daging.

Jarang ada petani makan daging, mungkin hanya satu dua kali

sebulan karena daging merupakan makanan atau hidangan

yang mewah bagi mereka. Akan tetapi, di antara orang-orang

yang demikian ramah dan baiknya, hidangan itu terasa lezat

sekali oleh Sie Liong yang memang sudah lelah dan lapar

sekali. Sesudah makan, mereka duduk di tengah pondok,

memutari meja dan Sie Liong lalu bercerita.

“Aku adalah seorang anak yatim piatu. Ayah ibuku telah

tidak ada, meninggal karena penyakit menular yang berjangkit

di dusun kami, jauh di utara. Semenjak itu, aku lalu hidup

seorang diri, selama beberapa tahun ini aku ikut dengan

orang, bekerja sebagai pelayan. Kemudian, karena ingin

meluaskan pengalaman, aku lalu berhenti dan melakukan

perjalanan merantau. Tak kusangka, sampai di dalam hutan

itu muncul lima orang yang demikian kejamnya, merampas

semua pakaian dalam buntalanku, bahkan melucut i pakaian

yang kupakai sehingga aku bertelanjang bulat. Untung ada

paman, bibi, toako dan enci yang baik budi sehingga aku

tertolong terhindar dari ketelanjangan dan kelaparan.”

Empat orang itu senang sekali melihat sikap Sie Liong yang

demikian sopan, kata-katanya yang rapi, sungguh berbeda

sekali dengan anak-anak di dusun yang kasar.

“Kalau engkau sebatangkara, biarlah engkau tinggal di sini

saja bersama kami, Sie Liong. Asal engkau suka hidup

sederhana dan membantu pekerjaan di sawah ladang, makan

seadanya dan pakaianpun asal bersih, kami akan suka sekali

menerimamu.” kata sang ayah.

“Benar kata ayahku, Sie Liong. Tinggallah di sini, den

engkau menjadi adikku! ” kata gadis manis itu. Ibu gadis itu,

dan kakaknya juga, menyambut dengan senyum ikhlas.

Sie Liong memandang mereka dengan mata basah karena

hatinya terharu sekali. Sungguh aneh manusia di dunia ini,

pikirnya. Dia pernah bertemu dengan keluarga petani yang

amat baik hati, memberinya tempat bermalam dan

memberinya makan dan dia sudah manganggap mereka itu

teramat baik hati. Akan tetapi, kegembiraan hatinya bertemu

dengan keluarga petani yang baik itu dihancurkan oleh

kenyataan pahit ketika dia bertemu dengan lima orang

perampok. Dan pandangannya bahwa manusia di dunia ini

banyak yang baik seketika berubah dengan kepahitan, melihat

betapa lima orang perampok itu amat jahatnya. Namun, baru

setengah hari lewat, dia bertemu lagi dengan keluarga petani

ini yang ternyata luar biasa baiknya, bukan saja memberinya

pakaian sehingga dia tidak lagi telanjang, memberinya makan,

merimanya bermalam di situ, bahkan kini menawarkan agar

dia hidup bersama mereka di rumah mereka! Adakah kebaikan

yang lebih hebat dari pada ini? Keikhlasan tanpa pamrih yang

amat mengharukan. Dia bangkit dari duduknya dan

mengangkat kedua tangan di depan dada, memberi hormat

kepada mereka.

“Sungguh paman sekalian teramat baik kepadaku, budi

yang berlimpahan dari paman sekalian ini takkan kulupakan

selama hidupku. Semoga Thian memberkahi paman sekalian

karena kebaikan dan ketulusan hati paman, bibi, toako, dan

enci. Aku Sie Liong takkan pernah melupakannya. Akan tetapi

maaf, aku masih ingin malanjutkan perantauan dan belum

ingin tinggal di suatu tempat tertentu. Kelak, kalau sudah

timbul keinginan itu, aku akan ingat kepada penawaran

paman, karena sungguh, aku akan lebih bangga dan senang

hidup serumah dengan keluarga paman yang budiman ini dari

pada dengan keluarga lain.”

Malam itu, dengan hati penuh kegembiraan Sie Liong tidur

di dalan sebuah kamar bersama putera tuan rumah yang

mengalah tidur di atas lantai bertilamkan tikar dan

memberikannya dipannya yang kecil kepada Sie Liong. Mulamula

Sie Liong monolaknya, akan tetapi pemuda itu memaksa

sehingga akhirnya Sie Liong menerima juga. Malam itu,

sebelum tidur, dia sempat rebah telentang, agak miring

karena pungungnya tidak memungkinkan dia tidur telentang

penuh, dan melamun. Bermacam-macam sudah dia

mengalami dalam kehidupan ini semenjak terjadi perkelahian

di kota Sung-jan itu. Dan semua pangalaman itu mulai

menggemblengnya dan mematangkan jiwanya. Maklumlah dia

bahwa di dunia ini terdapat banyak orang jahat, di samping

banyak pula orang baik, dan bahwa dalam kehidupan yang

serba sulit dan keras ini, dia harus pandai-pandai menjaga diri

sendiri. Baru mencari makan saja sudah tidak mudah, apa lagi

menghadapi gangguan orang-orang jahat yang amat kejam.

Agaknya, perlu memiliki kepandaian silat yang akan membuat

dia kuat dan tangguh untuk mengatesi semua gangguan

orang jahat itu, di samping dapat pula dia pergunakan untuk

melindungi orang yang dihimpit kejahatan orang lain, seperti

halnya Bi Sian ketika diganggu pemuda-pemuda remaja yang

nakal itu. Mulailah timbul tekatnya untuk mempelajari ilmu

silat tinggi dan mencari seorang guru yang pandai.

Pada keesokan harinya, Sie Liong pamit pada keluarga

yang baik itu, dan diapun melanjutkan perjalanannya terus ke

selatan. Sampai akhirnya pada pagi hari itu menjelang siang,

dia tiba di sebuah hutan dan dari jauh dia sudah mendengar

suara nyanyian dua orang pendeta Lama dengan suara dan

iramanya yang aneh. Sie Liong tertarik sekali dan cepat dia

menuju ke arah suara itu. Melihat betapa ada seorang tosu

tua renta duduk bersila dan dikelilingi oleh dua orang pendeta

berkepala gundul berjubah merah, dia merasa heran sekali

dan cepat dia duduk tak jauh dari situ. Dia memegang

sebatang bambu yang dipergunakannya sebagai tongkat, juga

sebagai semacam senjata kalau-kalau dia diserang binatang

buas atau juga orang jahat. Dia tidak tahu apa yang sedang

terjadi dan yang sedang dilakukan oleh tiga orang kakek itu,

akan tetapi mendengarkan nyanyian dan irama dua orang

pendeta Lama itu, telinganya merasa tidak enak sekali,

bahkan nyeri seperti ditusuk-tusuk rasanya. Maka, tanpa disadari,

dia lalu mengetuk-ngetukken tongkat bambu di

tangannya itu pada sebuah batu besar. Karena bambu itu barlubang,

maka menimbulkan suara nyaring dan diapun

memukul tak-tok-tak-tok berirama, akan tetapi dia sengaja

menentang irama nyanyian dua orang pendeta Lama itu agar

telinganya tidak sakit seperti ditusuk-tusuk oleh irama aneh

itu. Dan begitu dia mendengar suara tak-tok-tak-tok dari

bambunya sendiri, benar saja, telinganya tidak begitu nyeri

lagi karena tidak lagi “diserang” oleh irama nyanyian dua

orang pendeta Lama.

Akan tetapi, kembali telinganya nyeri ketika dua orang

pendeta itu menyesuaikan irama lagu mereka dengan irama

ketukan bambunya. Sie Liong menjadi penasaran dan diapun

mengubah irama ketukan bambunya, bahkan kini dia bikin

irama yang kacau balau, berganti-ganti dan berubah-ubah!

Melihat betapa ilmu yang mereka lakukan melalui pengaruh

irama dan nyanyian telah dibikin hancur dan kacau oleh suara

ketukan bambu, marahlah dua orang pendeta Lama itu.

Mereka menghentikan nyanyian mereka, dan keduanya

membalikkan tubuh menghadap ke arah suara ketukan

bambu.

“Tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok, tak-toktak-

tok, tak-tok-tak-tok!” suara ketukan bambu itu seperti

ketukan bambu peronda malam! Melihat bahwa yang

mengacaukan ilmu mereka hanya seorang bocah bongkok

berusia tiga belas tahun, dua orang pendeta Lama itu

terbelalak, merasa penasaran, malu dan terhina sekali, hanya

seorang bocah bongkok! Dan ilmu mereka telah ketahuan

rahasianya dan telah menjadi kacau! Memang rahasia

kekuatan ilmu itu berada pada iramanya yang mampu

menyeret dan mencengkeram semangat seseorang. Akan

tetapi begitu irama itu kacau oleh irama lain, seolah-olah

jantung ilmu itu ditusuk, kunci rahasianya dibuka dan ilmu

itupun tidak ada gunanya lagi.

“Bocah setan! Berani engkau mengacaukan ilmu kami?”

bentak Thay Ku Lama yang bermuka codet dan tubuhnya

sudah meloncat dengan cepat bagaikan seekor burung garuda

melayang, dan cepat sekali dia menyerang anak itu dengan

Pukulan Hek-in Tai-hong-ciang begitu kedua kakinya

menyentuh tanah dan dia sudah berjongkok! Bukan main kejinya

serangan dari Thay Ku Lama ini. Pukulan Hek-in Tai-hongciang

adalah pukulan sakti yang ampuh. Seorang dewasa yang

memiliki ilmu kepandaian tinggi sekalipun jarang ada yang

kuat menahan pukulan ini, apa lagi kini yang dipukulnya

seorang anak-anak yang lemah!

“Siancai….! Engkau terlalu keji, Lama!” terdengar seruan

halus dan tubuh Pek In Tosu sudah meluncur seperti

bayangan putih dan dari samping dia sudah menangkis

pukulan dahsyat itu sambil mengerahkan tenaga sin-kang

yang tidak kalah hebatnya, yaitu Pek In Sin-ciang yang

mengeluarkan uap putih.

“Desss….!” Tubuh Thay Ku Lama terpelanting dan

terguling-guling. Ternyata Pek In Tosu dalam usahanya

menyelamatkan anak bongkok, telah mengerahkan seluruh

tenaganya sehingga pandeta Lama itu tidak kuat bertahan.

Akan tetapi, pukulannya yang dahsyat tadipun sudah

menyerempet dada Sie Liong dan anak inipun terpelanting dan

terbanting keras!

They Ku Lama terkejut bukan main dan tahulah dia bahwa

ketika menangkis, Pek In Tosu telah mengerahkan tenaganya

dan ternyata kakek tua renta itu benar-benar amat tangguh.

Dia tidak terluka, hanya tordorong sampai terpelanting,

namun dia marasa jerih. Setelah meloncat bingun, dia lalu

berkata dengan suara marah dan muka merah.

“Tunggu saja, Pek In Tosu. Kami akan membasmi Himalaya

Sam Lojin!” Setelah berkata demikian, Thay Ku Lama

mengajak sutenya untuk pergi dari situ. Dua orang pendeta

Lama itu berkelebat dan letyap dari situ.

“Siancai….! Sungguh mereka itu orang-orang sesat yang

berbahaya sekali….” kata Pek In Tosu yang segera

menghampiri dua orang pemuda murid Kun-lun-pai. Dua kali

tangannya bergerak dan dua orang pemuda itu telah terbebas

dari totokan. Mereka tadi hanya diam tak mampu bergerak

akan tetapi dapat mengikuti apa yang telah terjadi di depan

mata mereka, perkelahian yang aneh dan hebat sekali. Mereka

tahu pula bahwa nyawa mereka diselamatkan oleh kakek sakti

itu, maka keduanya lalu berlutut dan menghaturkan terima

kasih kepada Pek In Tosu yang segera mengibaskan ujung

lengan bajunya dan berkata dengan halus.

“Sudahlah, harap ji-wi (kalian berdua) segera pulang saja

ke Kun-lun-pai dan jangan mencampuri urusan para Lama

itu.”

Dua orang itupun cepat-cepat memberi hormat lalu pergi

dari situ untuk membuat laporan tentang peristiwa itu kepada

pimpinan mereka di Kun-lun-pai. Setelah dua orang murid

Kun-lun-pai itu pergi, Pek In Tosu lalu menghampiri Sie Liong

yang menggeletak pingsan. Dia mengamati anak itu lalu

berlutut.

“Thian Yang Maha Agung…. Sungguh kasihan sekali anak

ini….” katanya ketika melihat betapa napas anak itu empas

empis, mukanya agak membiru. Tahulah dia bahwa

pertolongannya tadi agak terlambat den anak itu masih terlanggar

hawa pukulan Hek-in Tai-hong-ciang yang amat

dahsyat itu. Pek In Tosu cepat meletakkan kedua telapak

tangannya ke atas dada Sie Liong, lalu perlahan-lahan dan

dengan hati-hati sekali dia menyalurkan tenaga sakti dari

tubuhnya melalui telapak tangan ke dalam dada anak itu.

Perlahan-lahan dia mendorong dan mengusir keluar hawa

busuk beracun sebagai akibat pukulan Hek-in Tai-hong-ciang

sehingga untuk sementara ini nyawa anak itu tidak lagi

terancam bahaya, walaupun luka di dadanya masih belum

dapat disembuhkan. Untuk menyembuhkan luka akibat

getaran pukulan sakti itu, dia tidak mampu dan harus

dicarikan seorang ahli pengobatan yang pandai.

Anak itu menggerakkan kaki tangannya dan membuka

mata, meringis kesakitan akan tetapi tidak mengeluh. Melihat

betapa punggung anak itu menonjol dan bongkok, kakek itu

menarik napas panjang dan perasaan iba memenuhi batinnya.

Anak bongkok yang aneh ini, mungkin karena tidak disengaja,

tadi telah menyelamatkan nyawanya yang sudah terancam

maut di bawah pengaruh sihir dua orang pendeta Lama! Dan

sebagai akibatnya, anak yang bongkok dan miskin ini terkena

pukulan beracun. Bagaimanapun juga, dia harus

mengusahakan agar anak ini dapat disembuhkan oleh seorang

ahli. Dan dia memandang kagum. Anak itu tidak mangeluh

sama sekali, padahal dia tahu bahwa luka itu tentu mendatangkan

perasaan nyeri yang hebat. Hanya napas anak itu

masih sesak, dan ketika anak itu bangkit duduk, dia cepat

memejamkan kedua matanya karena pening. Akan tetapi, dia

tetap tidak mengeluh!

“Sakitkah dadamu?” tanya Pek In Tosu lirih.

Sie Liong membuka matanya, memandang kepada kakek

itu dan mengangguk. “Nyeri dan napasku sesak. Totiang,

kenapakah hwesio tadi memukul aku?”

Pek In Tosu menarik napas panjang dan semakin suka dan

kagum kepada anak bongkok itu. “Untuk menjawab pertanyaanmu

itu, perlu lebih dulu pinto ketahui, kenapa tadi engkau

memukuli batu dengan bambu ini?”

Sie Liong yang masih agak pening itu memejamkan mata,

mengingat-ingat dan terbayanglah semua yang tadi terjadi.

“Totiang, ketika tadi aku lewat di hutan ini, aku mendengar

suara nyanyian dan aku tertarik, lalu mendekat. Aku tidak

mengerti mengapa totiang duduk bersila dan dikelilingi dua

orang hwesio yang bernyanyi-nyanyi dan menari-nari. Akan

tetapi suara nyanyian itu, iramanya, begitu tidak enak, makin

lama semakin menyiksa telingaku. Maka, aku lalu memukulmukulkan

bambu pada batu ini, untuk menolak suara yang tidak

enak itu.”

“Siancai…. Tanpa kausadari engkau telah menentang dan

memecahkan ilmu sihir mareka. Karena suara ketukan

bambumu itu merusak kekuatan sihir dari nyanyian mereka,

maka mereka menjadi marah dan hendak membunuhmu.”

Sie Liong terkejut sekali dan saking herannya, dia bangkit

berdiri. Akan tetapi tubuhnya terhuyung dan dia tentu roboh

kalau tidak cepat pundaknya ditangkap oleh Pek In Tosu.

“Jangan banyak bergerak, engkau masih dalam keadaan luka

berat. Marilah engkau ikut denganku, akan pinto usahakan

agar engkau mendapat pengobatan yang baik.”

Karena terlalu lemah, Sie Liong hanya mengangguk pasrah

dan di lain saat dia merasa tubuhnya seperti terbang. Kiranya

dia dipondong oleh kakek itu dan kakek itu sudah berlari

dengan amat cepatnya, seperti terbang saja!

Bukit itu puncaknya merupakan padang rumput yang luas.

Di sana-sini tumbuh pohon yang tua dan besar, dengan daunTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

daun yang lebat. Dari padang rumput di puncak bukit itu,

orang dapat melihat ke seluruh penjuru, melihat sawah

ladang, melihat bukit-bukit lain di Pegunungan Kun-lun-san,

puncak-puncak tinggi yang tertutup awan, jurang-jurang yang

amat dalam dan hutan-hutan yang hijau.

Mereka duduk bersila di atas padang rumput itu, duduk

dalam bentuk segi tiga mengurung anak bongkok yang juga

duduk bersila di tengah-tengah. Seorang di antara tiga kakek

yang duduk bersila itu adalah Pek In Tosu. Orang ke dua juga

seorang tosu, bertubuh tinggi kurus seperti hanya tinggal

tulang terbungkus kulit. Namun muka kakek ini licin tanpa

rambut sedikitpun, seperti muka kanak-kanak dan mulutnya

selalu dihias senyum ramah. Usianya sebaya dengan usia Pek

In Tosu, sekitar tujuh puluh tahun dan dia berjuluk Swat Hwa

Cin-jin, dengan pakaian serba putih sederhana seperti juga

yang dipakai Pek In Tosu. Orang ke tiga bernama Hek Bin

Tosu, dan sesuai dengan namanya, muka tosu ini kehitaman

dan tubuhnya pendek besar, wajahnya nampak serius dan bengis,

pakaiannya juga putih dan usianya juga sebaya dengan

dua orang tosu lainnya. Mereka bertiga inilah yang dahulu

dikenal sebagai Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek

Himalaya). Mereka dahulu adalah para pertapa di Himalaya

yang ikut pula mengungsi ke Kun-lun-san untuk

menghindarkan bentrokan dan keributan dengan para Lama di

Tibet. Tak mereka sangka, setelah puluhan tahun, kini muncul

mereka yang menamakan dirinya Lima Harimau Tibet, lima

orang pendeta Lama yang sakti melakukan pengejaran ke

Kun-lun-san dan menyerang para pertapa yang berasal dari

Himalaya! Bahkan baru saja dua orang pendeta Lama

berusaha menangkap Pek In Tosu, dengan ancaman

membunuhnya kalau tidak mau menyerah.

“Siancai….! Sungguh mengherankan sekali sikap para Lama

itu. Mengapa mereka itu memusuhi kita?” Hek-bin Tosu yang

berwatak kasar namun jujur terbuka itu berseru. Mereka

bertiga ini bukan saudara seperguruan, akan tetapi biarpun

mereka datang dari sumber perguruan yang lain, di Himalaya

mereka bertemu dan bersatu sebagai tiga orang murid dalam

hal kerohanian, di bawah petunjuk seorang guru besar yang

kini telah tiada. Karena itu, mereka bertiga merasa seperti

saudara saja dan mereka terkenal sebagai Himalaya Sam

Lojin.

“Tidak tahukah engkau, sute?” kata Swat Hwa Cinjin.

“Ketika kita masih di Himalaya dahulu, mereka para Lama itu

sudah memusuhi para pertapa di sana dan menganggap

bahwa para pertapa itu ingin memberontak dan ingin menjatuhkan

kedudukan Dalai Lama. Rupanya, biarpun sebagian

besar para pertapa menghindarkan diri, mereka masih terus

mendendam dan kini mereka itu mengutus Lima Harimau

Tibet untuk membasmi para pertapa di pegunungan ini yang

datang dari Himalaya.”

“Benar seperti apa yang dikatakan Swat Hwa sute.

Sungguh menyedihkan sekali bagaimana orang-orang yang

sudah memiliki tingkat sedemikian tingginya, masih juga

menjadi budak dari nafsu dendam!” kata Pek In Tosu yang

dianggap paling tua di antara mereka.

“Pinto hanya ingat sedikit saja akan hal itu, akan tetapi

sampai sekarang pinto masih belum jelas persoalannya.

Mengapa para pendeta Lama itu menuduh para pertapa

Himalaya memberontak? Dan mengapa pula yang mereka musuhi

khususnya adalah kita bertiga?” Hek-bin Tosu bertanya

penuh rasa penasaran.

Pek In Tosu menarik napas panjang. “Memang mendiang

suhu berpesan kepada pinto agar urusan itu tidak perlu pinto

ceritakan kepada siapapun, sehingga engkau sendiri juga tidak

mengetahuinya. Sekarang, menghadapi nafsu balas dendam

dari para Lama, biarlah kalian dengarkan apa yang pernah

terjadi puluhan tahun yang lalu.”

Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu mendengarkan penuh

perhatian. Sie Liong, anak bongkok yang duduk bersila pula di

tengah-tengah, ikut mendengarkan walaupun dia harus

menahan perasaan nyeri yang membuat napasnya masih agak

sesak dan dadanya nyeri. Tadi, pagi-pagi sekali, tiga orang

tosu itu telah mengobatinya dengan menempelkan tangan

mereka pada tubuhnya. Hawa yang hangat panas memasuki

tubuhnya dan memang perasaan nyeri di dadanya banyak

berkurang walaupun belum lenyap sama sekali.

“Pada waktu itu, kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu,

mendiang suhu kebetulan berada di sebuah dusun di kaki

Himalaya. Suhu melihat serombongan pendeta Lama

memasuki dusun dan dengan paksa mereka hendak menculik

seorang anak laki-laki yang menurut mereka adalah seorang

calon Dalai Lama yang harus mereka bawa ke Tibet. Ayah ibu

anak itu tentu saja merasa keberatan dan tidak memberikan

putera mereka yang tunggal, apalagi karena mereka bukanlah

pemeluk Agama Buddha Tibet. Terjadi ketegangan ketika para

pendeta Lama itu memaksa. Orang-orang dusun membela

orang tua anak itu dan terjadilah pertempuran. Banyak orang

dusun itu tewas, termasuk ayah ibu anak itu. Suhu yang

melihat keributan itu turun tangan dan dalam bentrokan itu,

tiga orang pendeta Lama tewas ketika mereka bertanding

melawan suhu. Para pendeta Lama aenjadi gentar dan sambil

melarikan anak itu dan mayat kawan-kawan mereka, para

pendeta Lama itu melarikan diri. Nah, semenjak itu, terjadi

dendam di pihak pendeta Lama di Tibet dan mereka mengirim

orang-orang pandai untuk membasmi para pertapa di

Himalaya. Tentu saja yang mereka musuhi pertama-tama

adalah suhu. Karena suhu telah meninggal dunia, maka tentu

saja kita bertiga sebagai murid-murid suhu yang menjadi

sasaran mereka itu, di samping juga mereka menyerang

semua pertapa di Himalaya karena mereka menuduh bahwa

para pertapa menentang Dalai Lama di Tibet dan hendak

memberontak.”

“Akan tetapi, itu sungguh tindakan gila!” Hek-bin Tosu

berseru penuh rasa penasaran. “Kenapa hanya untuk memilih

seorang anak menjadi calon Dalai Lama, mereka bertindak

kejam dan tidak segan membunuhi manusia yang tidak

berdosa?”

“Siancai, sute. Kalau sute mau bersikap tenang, tentu akan

mudah melihat mengapa terjadi hal itu. Kepercayaan yang

membuat mereka bertindak seperti itu. Kepercayaan akan

agama mereka, secara membuta dan apapun yang dikatakan

oleh pimpinan mereka merupakan perintah yang harus mereka

taati, mereka anggap sebagai perintah dari Thian sendiri. Dan

betapapun juga, anak yang mereka culik itu adalah Dalai Lama

yang sekarang!”

“Ahh.” Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu berseru. “Kalau

anak itu yang menjadi Dalai Lama, lalu mengapa dia

menyuruh Lima Harimau Tibet menggangil kita? Bukankah

mendiang suhu bermaksud untuk menolong dia dan

keluarganya ketika para Lama hendak menculiknya?”

“Inipun suatu kejanggalan dan rahasia yang harus

dipecahkan. Kita belum mempunyai bukti bahwa penyerbuan

ke Kun-lun-san sekali ini adalah atas perintah Dalai Lama.

Sudahlah, kalau memang mereka hendak menyerang kita,

terpaksa kita hadapi dengan tenang dan tidak ada pilihan lain

kecuali membela diri. Kita tidak suka bermusuhan, tidak

membiarkan kebencian menyentuh batin, namun kita berhak

dan berkewajiban untuk melindungi diri kita dari serangan

yang datang dari luar maupun dalam.”

Tiga orang tosu itu kini berdiam diri, tenggelam ke dalam

lamunan masing-masing. Tak mereka sangka bahwa dalam

usia yang amat lanjut itu mereka masih harus menghadapi

ancaman dari luar dan terpaksa harus siap siaga untuk

bertanding.

“Suheng, lalu bagaimana dengan anak ini? Kita menghadapi

bahaya ancaman Lima Harimau Tibet, dan dia berada di

tengah-tengah antara kita,” Swat Hwa Cinjin bertanya kepada

Pek In Tosu.

“Siancai….! Agaknya, Thian yang menuntun anak ini

sehingga tanpa disadarinya sendiri dia telah menghindarkan

pinto dari ancaman maut di tangan dua orang pdndeta Lama

itu dan dia menderita luka parah yang amat berbahaya bagi

keselamatan nyawanya. Kita bertiga sudah berusaha mengusir

hawa beracun itu, namun tidak berdaya menyembuhkan

lukanya. Harus ditangani seorang ahli pengobatan yang

pandai. Karena Thian sendiri yang menuntunnya berada di

antara kita, maka sudah menjadi kewajiban kita pula untuk

melindunginya dan mencarikan seorang ahli untuk menolongnya.”

Kembali tiga orang tosu itu berdiam diri. Sie Liong sejak

tadi mendengarkan percakapan mereka. Dia tadinya juga tidak

mengerti apa yang telah terjadi. Karena keterangan Pek In

Tosu, dia hanya tahu bahwa tanpa disengaja, dia telah

mengacau permainan sihir dua orang pendeta Lama itu

sehingga mereka berusaha membunuhnya. Dia sudah tahu

bahwa dua orang pendeta Lama dari Tibet itu memusuhi

kakek tosu yang kemudian mengaku bernama Pek In Tosu.

Dan sekarang, mendengar percakapan mereka, baru dia

mengerti jelas mengapa para pendeta Lama itu hendak

membunuh para tosu ini. Ketika mendengar betapa tiga orang

kakek yang terancam oleh serangan para Lama yang sakt i ini

harus melindungi pula dirinya, diapun segera berkata.

“Harap sam-wi totiang memaafkan saya. Sam-wi sendiri

menghadapi ancaman para pendeta Lama, make tidak

semestinya kalau sam-wi harus pula bersusah payah

melindungi saya dan mencarikan ahli pengobatan. Biarlah,

saya akan pergi saja dan mencari sendiri ahli pengobatan itu

agar selanjutnya tidak membuat sam-wi repot dan semakin

terancam.” Berkata demikian, dia hendak bangkit untuk

meninggalkan tempat itu. Akan tetapi begitu dia bangkit, rasa

nyeri menusuk dadanya sehingga dia jatuh terduduk kembali.

“Duduk sajalah dengan tenang, Sie Liong. Engkau harus

terus menenangkan tubuhmu, bernapas panjang dan perlahan

seperti yang kami ajarkan tadi dan jangan memikirkan apaapa.

Engkau sama sekali tidak merepotkan kami,” kata Pek In

Tosu. Bagaimanapun juga, anak bongkok ini pernah

menyelamatkan nyawanya, maka sudah menjadi kewajiban

mereka bertiga untuk melindunginya, apalagi mereka bertiga

tadi sudah memeriksa keadaan tubuh Sie Liong dan mereka

mendapatkan kenyataan yang mentakjubkan sekali, yaitu

bahwa di dalam tubuh yang bongkok itu ternyata terkandung

tulang yang amat baik, darah yang bersih dan bakat yang

besar!

Bukit itu puncaknya merupakan padang rumput yang luas.

Di sana-sini tumbuh pohon yang tua dan besar, dengan daundaun

yang lebat. Dari padang rumput di puncak bukit itu,

orang dapat melihat ke seluruh penjuru, melihat sawah

ladang, melihat bukit-bukit lain di Pegunungan Kun-lun-san,

puncak-puncak tinggi yang tertutup awan, jurang-jurang yang

amat dalam dan hutan-hutan yang hijau.

Mereka duduk bersila di atas padang rumput itu, duduk

dalam bentuk segi tiga mengurung anak bongkok yang juga

duduk bersila di tengah-tengah. Seorang di antara tiga kakek

yang duduk bersila itu adalah Pek In Tosu. Orang ke dua juga

seorang tosu, bertubuh tinggi kurus seperti hanya tinggal

tulang terbungkus kulit. Namun muka kakek ini licin tanpa

rambut sedikitpun, seperti muka kanak-kanak dan mulutnya

selalu dihias senyum ramah. Usianya sebaya dengan usia Pek

In Tosu, sekitar tujuh puluh tahun dan dia berjuluk Swat Hwa

Cin-jin, dengan pakaian serba putih sederhana seperti juga

yang dipakai Pek In Tosu. Orang ke tiga bernama Hek Bin

Tosu, dan sesuai dengan namanya, muka tosu ini kehitaman

dan tubuhnya pendek besar, wajahnya nampak serius dan bengis,

pakaiannya juga putih dan usianya juga sebaya dengan

dua orang tosu lainnya. Mereka bertiga inilah yang dahulu

dikenal sebagai Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek

Himalaya). Mereka dahulu adalah para pertapa di Himalaya

yang ikut pula mengungsi ke Kun-lun-san untuk

menghindarkan bentrokan dan keributan dengan para Lama di

Tibet. Tak mereka sangka, setelah puluhan tahun, kini muncul

mereka yang menamakan dirinya Lima Harimau Tibet, lima

orang pendeta Lama yang sakti melakukan pengejaran ke

Kun-lun-san dan menyerang para pertapa yang berasal dari

Himalaya! Bahkan baru saja dua orang pendeta Lama

berusaha menangkap Pek In Tosu, dengan ancaman

membunuhnya kalau tidak mau menyerah.

“Siancai….! Sungguh mengherankan sekali sikap para Lama

itu. Mengapa mereka itu memusuhi kita?” Hek-bin Tosu yang

berwatak kasar namun jujur terbuka itu berseru. Mereka

bertiga ini bukan saudara seperguruan, akan tetapi biarpun

mereka datang dari sumber perguruan yang lain, di Himalaya

mereka bertemu dan bersatu sebagai tiga orang murid dalam

hal kerohanian, di bawah petunjuk seorang guru besar yang

kini telah tiada. Karena itu, mereka bertiga merasa seperti

saudara saja dan mereka terkenal sebagai Himalaya Sam

Lojin.

“Tidak tahukah engkau, sute?” kata Swat Hwa Cinjin.

“Ketika kita masih di Himalaya dahulu, mereka para Lama itu

sudah memusuhi para pertapa di sana dan menganggap

bahwa para pertapa itu ingin memberontak dan ingin menjatuhkan

kedudukan Dalai Lama. Rupanya, biarpun sebagian

besar para pertapa menghindarkan diri, mereka masih terus

mendendam dan kini mereka itu mengutus Lima Harimau

Tibet untuk membasmi para pertapa di pegunungan ini yang

datang dari Himalaya.”

“Benar seperti apa yang dikatakan Swat Hwa sute.

Sungguh menyedihkan sekali bagaimana orang-orang yang

sudah memiliki tingkat sedemikian tingginya, masih juga

menjadi budak dari nafsu dendam!” kata Pek In Tosu yang

dianggap paling tua di antara mereka.

“Pinto hanya ingat sedikit saja akan hal itu, akan tetapi

sampai sekarang pinto masih belum jelas persoalannya.

Mengapa para pendeta Lama itu menuduh para pertapa

Himalaya memberontak? Dan mengapa pula yang mereka musuhi

khususnya adalah kita bertiga?” Hek-bin Tosu bertanya

penuh rasa penasaran.

Pek In Tosu menarik napas panjang. “Memang mendiang

suhu berpesan kepada pinto agar urusan itu tidak perlu pinto

ceritakan kepada siapapun, sehingga engkau sendiri juga tidak

mengetahuinya. Sekarang, menghadapi nafsu balas dendam

dari para Lama, biarlah kalian dengarkan apa yang pernah

terjadi puluhan tahun yang lalu.”

Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu mendengarkan penuh

perhatian. Sie Liong, anak bongkok yang duduk bersila pula di

tengah-tengah, ikut mendengarkan walaupun dia harus

menahan perasaan nyeri yang membuat napasnya masih agak

sesak dan dadanya nyeri. Tadi, pagi-pagi sekali, tiga orang

tosu itu telah mengobatinya dengan menempelkan tangan

mereka pada tubuhnya. Hawa yang hangat panas memasuki

tubuhnya dan memang perasaan nyeri di dadanya banyak

berkurang walaupun belum lenyap sama sekali.

“Pada waktu itu, kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu,

mendiang suhu kebetulan berada di sebuah dusun di kaki

Himalaya. Suhu melihat serombongan pendeta Lama

memasuki dusun dan dengan paksa mereka hendak menculik

seorang anak laki-laki yang menurut mereka adalah seorang

calon Dalai Lama yang harus mereka bawa ke Tibet. Ayah ibu

anak itu tentu saja merasa keberatan dan tidak memberikan

putera mereka yang tunggal, apalagi karena mereka bukanlah

pemeluk Agama Buddha Tibet. Terjadi ketegangan ketika para

pendeta Lama itu memaksa. Orang-orang dusun membela

orang tua anak itu dan terjadilah pertempuran. Banyak orang

dusun itu tewas, termasuk ayah ibu anak itu. Suhu yang

melihat keributan itu turun tangan dan dalam bentrokan itu,

tiga orang pendeta Lama tewas ketika mereka bertanding

melawan suhu. Para pendeta Lama aenjadi gentar dan sambil

melarikan anak itu dan mayat kawan-kawan mereka, para

pendeta Lama itu melarikan diri. Nah, semenjak itu, terjadi

dendam di pihak pendeta Lama di Tibet dan mereka mengirim

orang-orang pandai untuk membasmi para pertapa di

Himalaya. Tentu saja yang mereka musuhi pertama-tama

adalah suhu. Karena suhu telah meninggal dunia, maka tentu

saja kita bertiga sebagai murid-murid suhu yang menjadi

sasaran mereka itu, di samping juga mereka menyerang

semua pertapa di Himalaya karena mereka menuduh bahwa

para pertapa menentang Dalai Lama di Tibet dan hendak

memberontak.”

“Akan tetapi, itu sungguh tindakan gila!” Hek-bin Tosu

berseru penuh rasa penasaran. “Kenapa hanya untuk memilih

seorang anak menjadi calon Dalai Lama, mereka bertindak

kejam dan tidak segan membunuhi manusia yang tidak

berdosa?”

“Siancai, sute. Kalau sute mau bersikap tenang, tentu akan

mudah melihat mengapa terjadi hal itu. Kepercayaan yang

membuat mereka bertindak seperti itu. Kepercayaan akan

agama mereka, secara membuta dan apapun yang dikatakan

oleh pimpinan mereka merupakan perintah yang harus mereka

taati, mereka anggap sebagai perintah dari Thian sendiri. Dan

betapapun juga, anak yang mereka culik itu adalah Dalai Lama

yang sekarang!”

“Ahh.” Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu berseru. “Kalau

anak itu yang menjadi Dalai Lama, lalu mengapa dia

menyuruh Lima Harimau Tibet menggangil kita? Bukankah

mendiang suhu bermaksud untuk menolong dia dan

keluarganya ketika para Lama hendak menculiknya?”

“Inipun suatu kejanggalan dan rahasia yang harus

dipecahkan. Kita belum mempunyai bukti bahwa penyerbuan

ke Kun-lun-san sekali ini adalah atas perintah Dalai Lama.

Sudahlah, kalau memang mereka hendak menyerang kita,

terpaksa kita hadapi dengan tenang dan tidak ada pilihan lain

kecuali membela diri. Kita tidak suka bermusuhan, tidak

membiarkan kebencian menyentuh batin, namun kita berhak

dan berkewajiban untuk melindungi diri kita dari serangan

yang datang dari luar maupun dalam.”

Tiga orang tosu itu kini berdiam diri, tenggelam ke dalam

lamunan masing-masing. Tak mereka sangka bahwa dalam

usia yang amat lanjut itu mereka masih harus menghadapi

ancaman dari luar dan terpaksa harus siap siaga untuk

bertanding.

“Suheng, lalu bagaimana dengan anak ini? Kita menghadapi

bahaya ancaman Lima Harimau Tibet, dan dia berada di

tengah-tengah antara kita,” Swat Hwa Cinjin bertanya kepada

Pek In Tosu.

“Siancai….! Agaknya, Thian yang menuntun anak ini

sehingga tanpa disadarinya sendiri dia telah menghindarkan

pinto dari ancaman maut di tangan dua orang pdndeta Lama

itu dan dia menderita luka parah yang amat berbahaya bagi

keselamatan nyawanya. Kita bertiga sudah berusaha mengusir

hawa beracun itu, namun tidak berdaya menyembuhkan

lukanya. Harus ditangani seorang ahli pengobatan yang

pandai. Karena Thian sendiri yang menuntunnya berada di

antara kita, maka sudah menjadi kewajiban kita pula untuk

melindunginya dan mencarikan seorang ahli untuk menolongnya.”

Kembali tiga orang tosu itu berdiam diri. Sie Liong sejak

tadi mendengarkan percakapan mereka. Dia tadinya juga tidak

mengerti apa yang telah terjadi. Karena keterangan Pek In

Tosu, dia hanya tahu bahwa tanpa disengaja, dia telah

mengacau permainan sihir dua orang pendeta Lama itu

sehingga mereka berusaha membunuhnya. Dia sudah tahu

bahwa dua orang pendeta Lama dari Tibet itu memusuhi

kakek tosu yang kemudian mengaku bernama Pek In Tosu.

Dan sekarang, mendengar percakapan mereka, baru dia

mengerti jelas mengapa para pendeta Lama itu hendak

membunuh para tosu ini. Ketika mendengar betapa tiga orang

kakek yang terancam oleh serangan para Lama yang sakt i ini

harus melindungi pula dirinya, diapun segera berkata.

“Harap sam-wi totiang memaafkan saya. Sam-wi sendiri

menghadapi ancaman para pendeta Lama, make tidak

semestinya kalau sam-wi harus pula bersusah payah

melindungi saya dan mencarikan ahli pengobatan. Biarlah,

saya akan pergi saja dan mencari sendiri ahli pengobatan itu

agar selanjutnya tidak membuat sam-wi repot dan semakin

terancam.” Berkata demikian, dia hendak bangkit untuk

meninggalkan tempat itu. Akan tetapi begitu dia bangkit, rasa

nyeri menusuk dadanya sehingga dia jatuh terduduk kembali.

“Duduk sajalah dengan tenang, Sie Liong. Engkau harus

terus menenangkan tubuhmu, bernapas panjang dan perlahan

seperti yang kami ajarkan tadi dan jangan memikirkan apaapa.

Engkau sama sekali tidak merepotkan kami,” kata Pek In

Tosu. Bagaimanapun juga, anak bongkok ini pernah

menyelamatkan nyawanya, maka sudah menjadi kewajiban

mereka bertiga untuk melindunginya, apalagi mereka bertiga

tadi sudah memeriksa keadaan tubuh Sie Liong dan mereka

mendapatkan kenyataan yang mentakjubkan sekali, yaitu

bahwa di dalam tubuh yang bongkok itu ternyata terkandung

tulang yang amat baik, darah yang bersih dan bakat yang

besar!

Sie Liong terpaksa mentaati petunjuk Pek In Tosu ini

karena dia memang merasa pening begitu bangkit berdiri tadi.

Dia sudah mendapat petunjuk untuk duduk diam, bersila dan

mengatur pernapasan seperti yang diajarkan mereka.

Tiba-tiba ada angin keras menyambar dan seperti setan

saja, muncullah lima orang pendeta Lama di tempat itu. Oleh

Sie Liong hanya kelihatan bayangan merah berkelebatan dan

tahu-tahu di situ telah berdiri lima orang pendeta Lama yang

sikapnya menyeramkan. Dua di antara mereka adalah Thay Ku

Lama si muka codet dan Thay Si Lama si muka bopeng yang

pernah dilihatnya. Tiga orang pendeta Lama yang lain juga

mempunyai ciri yang mudah dibedakan satu antara yang lain.

Orang ke tiga adalah seorang yang mukanya pucat soperti

berpenyakitan dan dia ini berjuluk Thay Pek Lama. Orang ke

empat berjuluk Thay Hok Lama, matanya yang kiri buta, terpejam

dan kosong tidak berbiji mata lagi. Orang ke lima

berjuluk Thay Bo Lama, kurus kering seperti tengkorak hidup.

Inilah Lima Harimau Tibet yang terkenal mengamuk di Kunlun-

san itu.

Melihat munculnya lima orang ini, Himalaya Sam Lojin lalu

menggeser duduk mereka. Kini mereka bersila sejajar,

membelakangi Sie Liong dan menghadapi lima orang pendeta

Lama itu, dengan sikap yang tenang sekali. Sie Liong

membuka matanya lebar-lebar, hatinya tegang akan tetapi

diapun tidak merasa takut, hanya marah kepada lima orang

pendeta Lama yang dianggapnya amat jahat dan sombong itu.

Melihat betapa tiga orang calon lawan itu duduk bersila dan

berjajar menghadapi mereka, Lima Harimau Tibet juga segera

duduk bersila berjajar menghadapi Himalaya Sam Lojin. Thay

Ku Lama, si muka codet yang menjadi pimpinan mereka itu

agaknya memberi isarat melalui gerakan tangan dan tubuh.

Mereka berlima tidak berani memandang rendah kepada tiga

orang lawan mereka. Bukan hanya karena nama Himalaya

Sam Lojin sudah terkenal sebagai orang-orang sakti, bahkan

beberapa hari yang lalu Thay Ku Lama dan Thay Si Lama

sudah merasakan kelihaian Pek In Tosu dan karenanya, kini

mereka berlima bersikap hati-hati.

Jarak antara dua pihak itu ada lima meter, dan jelas

nampak perbedaan antara sikap mereka. Kalau Himalaya Sam

Lojin bersikap tenang saja, sebaliknya sikap Lima Hartmau

Tibet itu penuh geram, sinar mata mereka mencorong penuh

tuntutan dan tubuh mereka jelas membayangkan

kesiapsiagaan untuk berkelahi.

Kedua pihak sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata,

hanya saling pandang seolah-olah hendak mengukur kekuatan

pihak lawan dengan pengamatan saja.

“Sam Lojin, sekali lagi kami tegaskan bahwa pimpinan

kami, yang mulia Dalai Lama memerintahkan kalian bertiga

untuk menghadap beliau!” t iba-tiba terdengar Thay Ku Lama

berkata, suaranya lirih namun jelas dan tajam, bahkan

mengandung perintah dan ancaman.

“Siancai! Kami bukunlah rakyat Tibet, juga bukan hamba

sahaya pemerintah Tibet, oleh karena itu menyesal sekali kami

tidak dapat memenuhi perintah itu.”

“Kalian tinggi hati! Baiklah, kami menggunakan kata-kata

yang halus. Pemimpin kami, yang mulia Dalai Lama

mengundang sam-wi untuk datang karena beliau ingin

berwawancara dengan sam-wi,” kata pula Thay Ku Lama,

biarpun kata-katanya halus dan sopan, namun mengandung

ejekan.

“Maafkan kami, kami sudah tua dan lelah, tidak mungkin

dapat memenuhi undangan itu. Kalau Sang Dalai Lama

memang berkeinginan untuk bicara dengan kami, silakan saja

datang ke Kun-lun-san dan kami akan menyambutnya.”

Marahlah Lima Hariman Tibet itu! “Kalian memang tua

bangka yang sombong sekali! Apakah kalian berani

menandingi kesaktian kami?” bentak pula Thay Ku Lama.

“Siancai….! Terserah kepada kalian. Kami tidak ingin

bermusuhan dengan siapapun juga, akan tetapi juga tidak

ingin kemerdekaan kami dilanggar,” jawab Pek In Tosu

dengan sikap tenang.

Lima orang pendeta Lama itu kini merangkap kedua tangan

di depan dada seperti orang menyembah, kedua mata mereka

dipejamkan dan mereka seperti telah pulas dalam samadhi.

Sie Liong yang sejak tadi mendengarkan sambil duduk bersila

di belakang t iga orang kakek tua renta, diam-diam merasa

mendongkol sekali kepada lima orang pendeta Lama itu.

Biarpun dia tidak mengerti betul akan urusan di antara kedua

golongan itu, namun dia melihat sikap mereka dan dapat

menilai bahwa lima orang pendeta Lama itulah yang sombong

dan hendak menggunakan kekerasan memaksakan kehendak

mereka kepada orang lain. Sebaliknya, sikap tiga orang tosu

itu dianggapnya amat mengalah, hal yang juga membuatnya

tidak puas sama sekali. Dia tahu bahwa tiga orang tosu itu

memiliki kesakt ian, mengapa harus begitu mengalah terhadap

lima orang pendeta Lama yang demikian tinggi hati dan keras?

Mengalah sebaiknya dipergunakan menghadapi orang yang

baik, sedangkan untuk menghadapi orang-orang yang jahat,

sepatutnya kalau diambil sikap yang tegas pula! Demikian

pikiran Sie Liong yang sudah banyak mengalami penderitaan

akibat perbuatan yang jahat dan mengandalkan kekerasan.

Tiba-tiba Sie Liong memandang dengan mata terbelalak. Ia

mengejap-ngejapkan kedua matanya, lalu menggosokgosoknya

dan memandang lagi. Akan tetapi tetap saja

nampak olehnya hal yang dianggapnya tidak mungkin itu. Dia

melihat betapa tubuh lima orang pendeta Lama itu perlahanlahan

naik dari atas tanah yang menjadi tempat mereka

bersila, dan dalam keadaan masih bersila, lima sosok tubuh

pendeta Lama itu naik ke atas sampai setinggi dua kaki dari

atas tanah! Mereka seperti terbang atau mengapung di udara,

seolah-olah tubuh mereka kehilangan bobot dan menjadi

seperti balon kosong berisi udara yang amat ringan!

“Sam-wi Lojin, lihat! Apakah kalian berani menandingi

kesaktian kami?” Thay Ku Lama yang sudah membuka

matanya, berseru. Tiga orang tosu itu memandang dengan

mata terbelalak. Mereka tahu bahwa memang tingkat lima

orang pendeta Lama itu sudah amat tinggi. Untuk dapat

melenyapkan bobot seperti itu dan mengapung,

membutuhkan tingkat yang sudah tinggi dari samadhi! Akan

tetapi, tiba-tiba Sie Liong yang tidak sabar melihat

kecongkakan lima orang itu dan tidak ingin melihat tiga orang

tosu itu merasa rendah diri dan dikalahkan, berseru dengan

suara nyaring.

“Uhhhh! Kalian ini lima orang pendeta Lama yang amat

congkak! Apa sih artinya mengapung di udara seperti itu saja?

Kacoa-kacoa yang kotor, lalat-lalat yang kotor itupun sanggup

mengapung lebih tinggi dan lebih lama dari pada kalian!

Kepandaian kalian itu dibandingkan dengan lalat dan nyamuk

belum ada seperseratusnya! Andaikata kalian pandai terbang

sekalipun, masih belum menandingi kemampuan terbang

burung gereja yang kecil dan lemah! Dan kalian sudah berani

menyombongkan kepandaian yang tidak ada artinya itu?

Sungguh, batok kepala kalian yang gundul itu agaknya sudah

terlampau keras sehingga tidak melihat kenyataan betapa

kalian bersikap seperti lima orang badut yang tidak lucu!”

Tiga orang tosu itu terkejut bukan main! Juga Sie Liong

terkejut karena biarpan dia mendongkol dan tidak suka

kepada lima orang pendeta Lama itu, akan tetapi semua katakata

itu keluar dari mulutnya tanpa dia sadari, seolah-olah

keluar begitu saja dan dikendalikan oleh kekuatan lain.

Seolah-olah bukan dia yang bicara seperti itu, melainkan

orang lain yang hanya “meminjam” mulut dan suaranya!

Tadinya dia memang berniat untuk mengeluarkan suara

menyatakan kedongkolan hatinya dan mengejek lima orang

pendeta Lama itu, akan tetapi baru satu kalimat, lalu mulutnya

sudah menyerocos terus tanpa dapat dia kendalikan!

Lima orang pendeta Lama itu demikian kaget, marah den

malu mendengar teguran yang keluar dari mulut kanak-kanak

itu dan sungguh luar biasa sekali. Pengaruh ucapan itu

membuat mereka goyah dan tak dapat dihindarkan lagi, tubuh

merekapun meluncur turun.

Terdengar suara berdebuk ketika pantat lima orang

pendeta Lama itu terbanting ke atas tanah! Tidak sakit memang,

namun hati mereka yang sakit dan mereka sudah

melotot, memandang kepada Sie Liong dan dari mata mereka

seolah keluar api yang akan membakar tubuh anak bongkok

itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ketawa, disusul suara

yang lembut namun cukup nyaring. “Ha-ha-ha, sungguh tepat

sekali ucapan itu! Lima Harimau Tibet bukan lain hanyalah badut-

badut belaka, macan-macan kertas yang hanya dapat

menakut-nakuti anak-anak saja!”

Dari belakang tiga orang tosu itu bermunculan banyak

orang. Mereka adalah lima belas orang murid kepala Kun-lunpai

yang dipimpin oleh dua orang ketua Kun-lun-pai sendiri,

yaitu Thian Hwat Tosu dan wakilnya, Thian Khi Tosu dan yang

tertawa dan bicara tadi adalah Thian Khi Tosu yang berwatak

keras berdisiplin dan jujur.

Lima orang pendeta Lama itu cepat memandang dan ketika

mereka melihat orang-orang Kun-lun-pai, kemarahan mereka

memuncak dan untuk sementara mereka tidak memperdulikan

tiga orang Himalaya Sam Lojin dan mereka memandang

kepada orang-orang Kun-lun-pai itu.

“Hemm, kiranya orang-orang Kun-lun-pai telah berani

lancang untuk menentang kami Lima Harimau Tibet?”

“Siancai….” Kini Thian Hwat Tosu melangkah maju,

menghadapi lima orang pendeta Lama yang sudah bangkit

berdiri itu, diikuti oleh Thian Khi Tosu dan lima belas orang

murid utama Kun-lun-pai. Thian Hwat Tosu menghadap

kepada tiga orang tosu yang masih duduk bersila dengan

tenang, memberi hormat dengan kedua tangan di dada dan

berkata dengan penuh hormat. “Mohon sam-wi locianpwe sudi

memaafkan kami kalau kami mengganggu, karena kami

mempunyai suatu urusan dengan Lima Harimau Tibet ini.”

Pek In Tosu tersenyum dan mewakili dua orang saudaranya

menjawab, “Silakan, To-yu dari Kun-lun-pai.”

Kini Thian Hwat Tosu menghadapi lagi lima orang pendeta

Lama dan dengan suara lembut dan sikap hormat dia pun

berkata, “Ngo-wi lo-suhu adalah lima orang terhormat dari

Tibet. Agaknya ngo-wi lupa bahwa di sini bukanlah daerah

Tibet, melainkan daerah Kun-lun-san. Kedatangan ngo-wi

sudah lama kami dengar, akan tetapi kami tidak ingin

mencampuri urusan orang lain. Betapapun juga, setelah

mendengar laporan dua orang murid kami yang telah ngo-wi

robohkan, kami mengambil keputusan bahwa kami tidak

mungkin mendiamkannya saja urusan ini. Kalau dilanjutkan

sepak terjang ngo-wi di daerah ini, kami khawatir kalau terjadi

bentrokan yang lebih hebat. Karena itu, Ngo-wi lo-suhu, demi

kedamaian, kami mohon dengan hormat sudilah kiranya ngowi

kembali ke Tibet dan tidak melanjutkan tindakan ngo-wi di

sini, dan kamipun akan melupakan apa yang telah terjadi di

sini selama beberapa pekan ini.”

Ucapan ketua Kun-lun-pai itu bernada halus dan juga

sopan, sama sekali tidak ada sikap menyalahkan atau menegur,

melainkan mengkhawatirkan kalau terjadi

kesalahpahaman. Karena sikapnya yang lembut ini,

kemarahan lima orang pendeta Lama itu agak mereda, dan

Thay Ku Lama lalu membalas penghormatan ketua Kun-lunpai

dan diapun berkata dengan suara yang tegas, namun tidak

kasar.

“Pai-cu (ketua), kami mengerti apa yang kaumaknudkan.

Kamipun menerima tugas untuk mencari orang-orang tertentu

dan kami sama sekali tidak ingin mengganggu, apa lagi

memusuhi Kun-lun-pai selama Kun-lun-pai t idak mencampuri

urusan kami. Kalau beberapa hari yang lalu kami terpaksa

memberi hajaran kepada dua orang murid Kun-lun-pai, hal itu

terjadi karena dua orang murid itu mencarapuri urusan kami

yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka. Namun,

kami masih memandang muka Pai-cu dan nama besar Kunlun-

pai, kalau tidak demikian, apakah kiranya dua orang murid

itu sekarang akan masih tinggal hidup?”

Dalam kalimat terakhir ini jelas sekali Thay Ku Lama

menonjolkan kepandaian mereka dan meremehkan

kepandaian murid Kun-lun-pai, juga mengandung

pandangannya yang congkak.

“Lama yang sombong!” Thian Khi Tosu berseru geram.

“Tentu saja dua orang murid kami itu bukan lawan kalian

karena mereka hanyalah murid kami tingkat tiga yang masih

hijau! Coba yang kauhadapi itu murid-murid utama Kun-lunpai

atau kami sendiri, belum tentu akan dapat mengalahkan

dengan semudah itu!”

“Omitohud….! Siapakah yang sombong, kami ataukah Kunlun-

pai? Sungguh, kamipun ingin melihat apakah benar Kunlun-

pai sedemikian tangguh dan lihainya sehingga berani

mencampuri urusan kami para utusan Tibet!”

Thian Khi Toou yang memang berwatak keras itu segera

menjawab, dengan suara keras. “Bagus! Lima Harimau Tibet

menantang kami dari Kun-lun-pai? Kami bukan mencari

permusuhan. Akan tetapi kalau ditantang, siapapun juga akan

kami hadapi!”

“Omitohud….!” Thay Si Lama, orang ke dua dari Lima

Harimau Tibet itu berseru. “Kalau begitu majulah dan mari kita

buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita!”

“Manusia sombong! Aku yang akan maju mewakili Kun-lunpai!”

Thian Khi Tosu hendak melangkah maju, akan tetapi tiba-

tiba lima belas orang murid utama dari Kun-lun-pai yang

terdiri dari pria berusia antara tiga puluh sampai lima puluh

tahun, sudah berlompatan ke depan dan seorang di antara

mereka berkata kepada Thian Khi Tosu, “Harap suhu jangan

merendahkan diri maju sendiri. Ji-wi suhu (guru berdua)

adalah tuan-tuan rumah, pimpinan Kun-lun-pai. Masih ada

teecu sekalian yang menjadi murid, perlukah ji-wi suhu maju

sendiri? Biar kami yang menghadapi lima orang Lama

sombong ini!”

Thian Khi Tosu hendak membantah, akan tetapi

suhengnya, Thian Hwat Tosu ketua Kun-lun-pai menyentuh

lengannya dan mencegah sehingga wakil ketua itu

membiarkan lima belas orang murid utama itu maju. Kalau

lima belas orang murid utama itu maju, maka mereka bahkan

lebih kuat dari pada dia atau suhengnya sekalipun. Lima belas

orang murid itu merupakan murid utama yang ilmu

kepandaiannya sudah matang dan tinggi, apalagi kalau

mereka maju bersama. Mereka itu sudah menciptakan suatu

ilmu, dibantu oleh petunjuk guru-guru mereka , yaitu ilmu

dalam bentuk barisan yans dinamakan Kun-lun Kiam-tin

(Barisan Pedang Kun-lun). Dengan barisan pedang ini, mereka

dapat menjadi suatu pasukan yang amat kuat sehingga ketika

diuji, bahkan dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu sendiri

terdesak dan tidak mampu mengatasi ketangguhan Kun-lun

Kim-tin! Inilah sebabnya mengapa Thian Hwat Tosu mencegah

sutenya turun tangan sendiri. Para murid itu cukup tangguh,

bahkan dapat dijadikan batu ujian untuk mengukur sampai di

mana kepandaian musuh!

Lima belas orang murid utama Kun-lun-pai itu lalu berlarian

menuju ke tempat terbuka, di atas padang rumput yang

lapang dan di situ mereka membentuk barisan berjajar dengan

pedang di tangan masing-masing, kelihatan gagah perkasa

dan rapi.

“Lima Harimau Tibet, kami telah siap sedia! Majulah kalau

kalian memang hendak memusuhi Kun-lun-pai!” bentak murid

tertua yang usianya sudah hampir lima puluh tahun dan

menjadi kepala barisan pedang itu, berdiri di ujung kanan.

Melihat ini, lima orang pendeta Lama tersenyum mengejek

dan merekapun melangkah maju menghadapi mereka, dengan

borjajar. Setelah mereka berhadapan, lima belas orang murid

pertama Kun-lun-pai itu lalu bergerak mengikut i aba-aba yang

dikeluarkan oleh pemimpin pasukan, dan mereka sudah

mengepung lima orang pendeta Lama. Gerakan kaki mereka

ketika melangkah amat tegap dan dengan ringan pula,

menunjukkan bahwa mereka telah berlatih matang. Melihat

ini, lima orang pandeta Lama itupun bergerak membuat suatu

bentuk sagi lima dan berdiri saling membelakangi. Bentuk

seperti ini memang paling kokoh kuat untuk pembelaan diri,

karena mereka berlima dapat menghadapi pengeroyokan

banyak lawan dengan cara saling melingungi dan t idak akan

dapat diserang dari belakang, bahkan serangan dari samping

dapat mereka hadapi bersama rekan yang berada di

sampingnya. Pendeknya, pengepungan lima belas orang murid

Kun-lun-pai itu berkurang banyak bahayanya dengan

kedudukan lima orang Lama seperti itu.

Lima belas orang murid Kun-lun-pai itu adalah ahli silat

yang sudah pandai. Mereka tidak berani memandang ringan

lima orang lawan mereka. Mereka tahu bahwa kalau

bertanding satu lawan satu, di antara mereka tidak akan ada

yang mampu menandingi pendeta-pendeta Lama itu yang

memiliki tingkat kepandaian lebih t inggi dari mereka, bahkan

mungkin lebih tinggi dari pada tingkat ilmu kepandaian guruguru

mereka, melihat demonstrasi yang mereka perlihatkan

tadi. Namun, mereka mengandalkan keampuhan barisan Kunlun

Kiam-tin dan begitu pimpinan mereka memberi aba-aba

lima belas orang itu bergerak, mulai dengan penyerangan

mereka yang serentak! Memang hebat gerakan para murid

Kun-lun-pai ini. Pedang mereka berkelebatan seperti kilat

menyambar-nyambar. Ilmu pedang Kun-lun-pai memang

terkenal hebat, dan kini mereka bukan hanya mengandalkan

ilmu pedang masing-masing, bahkan diperkuat oleh kerapian

barisan yang teratur sehingga begitu menyerang, kekuatan

mereka terpadu, bagaikan gelombang samudera yang menerjang

ke depan dengan dahsyatnya!

Lima orang pendeta Lama itu telah siap siaga. Dengan

gerakan cepat sehingga sukar diikuti pandang mata, tangan

mereka bergerak dan tahu-tahu mereka telah memegang

senjata masing-masing, Thay Ku Lama si muka codet sudah

memegang sebatang golok tipis yang tadinya

disembunyikannya di balik jubah merah yang longgar dan

panjang itu. Thay Si Lama si muka bopeng sudah memegang

sebatang cambuk hitam seperti cambuk penggembala lembu.

Thay Pek Lama si muka pucat sudah memegang sepasang

pedang yang tipis dan mengeluarkan cahaya kehijauan. Thay

Hok Lama si mata satu sudah memegang sebatang rantai baja

yang tadi dipakai sebagai sabuk, sedangkan Thay Bo Lama

sudah memegang sebatang tombak. Lama kurus kering ini

memiliki sebatang tombak yang dapat dilipat dan ditekuk

menjadi tiga bagian dan diselipkan di pinggang tertutup jubah.

Kini, tombak itu diluruskan dan menjadi sebatang tombak

yang panjangnya sama dengan tubuhnya.

Dalam penyerangan pertama yang serentak dilakukan oleh

para murid Kun-lun-pai kepada lima orang lawan mereka itu

membuat setiap orang pendeta Lama diserang oleh tiga orang

lawan. Mereka berlima tidak menjadi gugup dan mereka pun

menggerakkan senjata mereka menangkis. Terdengar suara

nyaring berdenting-denting disusul bunga-bunga api berpijar

menyilaukan mata ketika lima belas batang pedang itu

tertangkis oleh senjata lima orang pandeta Lama. Karena

memang tenaga sin-kang dari para pendeta Lama itu lebih

kuat, maka banyak di antara pedang yang menyerang itu

terpental keras dan pemegangnya merasa betapa lengan

mereka tergetar hebat! Namun, pimpinan mereka memberi

aba-aba dan mereka melanjutkan serangan sampai

bergelombang baberapa kali, namun selalu dapat ditangkis

oleh lima orang pendeta Lama, bahkan yang terakhir kalinya,

lima orang pendeta Tibet itu mengerahkan tenaga mereka,

membuat lima belas orang penyerang itu terdorong ke

belakang bahkan ada yang hampir jatuh setelah terhuyungTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

huyung. Kesempatan ini dipergunakan oleh lima Harimau Tibet

itu untuk membalas serangan pihak lawan yang jumlahnya

tiga kali lebih banyak dari jumlah mereka itu. Thay Ku Lama

yang merupakan orang pertama dari Lima Harimau Tibet,

memutar goloknya den golok itu seperti kilat menyambarnyambar,

menyerang siapa saja di antara pihak lawan

terdekat. Thay Si Lama, si muka bopeng, juga menggerakkan

cambuknya dan terdengar cambuk itu meledak-ledak di atas

kepala para murid Kun-lun-pai. Thay Pek Lama memutar

sepasang padangnya yang berubah menjadi dua gulungan

sinar terang. Thay Hok Lama juga memutar rantai baja di

tangannya dan senjata istimewa ini menyambar-nyambar ke

sekelilingnya, seperti jari-jari maut. Orang ke lima, Thay Bo

Lama yang kurus kering itu menggerakkan tombaknya dan

terdengarlah suara mendengung-dengung karena si kurus

kering ini memiliki tenaga raksasa.

Biarpun lima belas orang murid utama Kun-lun-pai dapat

pula menghindarkan diri dari cengkeraman maut yang

disebarkan oleh Tibet Ngo-houw dengan cara saling

melindungi dan saling membantu, namun mereka terdesak

hebat dan hanya mampu mempertahankan diri saja terhadap

serangan lima orang pendeta Lama yang bertubi-tubi itu

datangnya. Jelas nampak pertempuran yang tidak seimbang

sama sekali. Lewat dua puluh jurus lebih, dari lima belas

orang murid utama Kun-lun-pai itu, hanya sepuluh orang yang

masih mampu melawan, karena yang lima orang sudah

terjungkal roboh terkena sambaran senjata lawan. Sepuluh

orang ini mempertahankan diri mati-matian, namun kalau

dilanjutkan, jelas bahwa merekapun akan roboh seperti yang

dialami lima orang saudara mereka.

Tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan terdengar

bentakan nyaring.

“Tahan senjata!” Ketika sepuluh orang murid utama Kunlun-

pai melihat bahwa yang maju adalah kedua orang guru

mereka, maka merekapun berloncatan ke belakang dan

sebagian segera menolong lima orang saudara mereka yang

tadi terluka. Lima orang pendeta Lama juga menahan senjata

mereka dan kini mereka memandang dengan senyum

mengejek kepada dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu.

“Pinto Thian Khi Tosu dan suheng Thian Hwat Tosu

menantang kalian untuk mengadu kepandaian seorang lawan

seorang!” bentak Thian Khi Tosu yang bertubuh besar itu

dengan garang.

Mendengar ini, lima orang pendeta Lama itu saling

pandang lalu Thay Ku Lama tertawa sambil melangkah maju.

“Omitohud….! Dua orang tosu pimpinan Kun-lun-pai sungguh

mau menang dan mau enak sendiri saja! Tadi, mereka membiarkan

lima belas orang muridnya untuk mengeroyok kami

berlima, sekarang bicara tentang mengadu kepandaian

seorang lawan seorang!”

Wajah Thian Khi Tosu menjadi marah. “Bagus! Jangan

kalian mengira bahwa pinto takut menghadapi pengeroyokan.

Kalau kalian berlima hendak maju mengeroyok, silakan!”

“Sute, harap tenangkan hatimu!” Tiba-tiba Thian Hwat

Tosu menegur sutenya dan ketua Kun-lun-pai ini melangkah

maju dan memberi hormat kepada lima orang Lama dari Tibet

itu. “Siancai…. pinto berdua mohon maaf kepada Ngo-wi.

Maafkan para murid kami tadi yang lancang turun tangan,

mengeroyok kepada Ngo-wi. Akan tetapi, mereka itu hanyalah

orang-orang muda yang kurang pengalaman dan terima kasih

atas pelajaran yang Ngo-wi berikan kepada mereka. Pinto

berdua sute yang kebetulan menjadi pimpinan Kun-lun-pai,

bertanggung jawab terhadap semua urusan Kun-lun-pai. Agar

pertentangan antara Ngo-wi dan kami tidak berlarut-larut,

biarlah kami berdua sebagai pimpinan Kun-lun-pai mewakili

perkumpulan kami untuk menentukan apakah Kun-lun-pai

masih mampu mempertahankan kedaulatannya di daerah Kunlun-

san ini. Kalau kami ternyata tidak mampu menandingi

Ngo-wi dalam pertandingan yang adil, satu lawan satu, biarlah

kami akan mundur dan selanjutnya Kun-lun-pai tidak lagi akan

menghalangi semua sepak terjang Ngo-wi.”

Ucapan yang panjang itu terdengar halus, namun

mengandung tantangan, juga teguran, disamping janji.

“Omitohud…. Bagus sekali kalau ketua Kun-lun-pai sendiri

yang berjanji begitu. Memang cukup adil! Kita golongan

persilatan memang hanya mempunyai satu aturan, yaitu siapa

yang lebih kuat dia berhak menentukan peraturan. Kalau kami

kalah oleh ketua Kun-lun-pai, biarlah kami angkat kaki dari

sini, kecuali kalau diantara kami masih ada yang mampu

menandingi ketua Kun-lun-pai. Thay Si sute, temani aku untuk

bermain-main dengan dua orang tosu ini sebentar.”

Thay Si Lama, si muka bopeng, sambil tersenyum

melangkah maju mendampingi suhengnya, yaitu They Ku

Lama, sambil melintangkan cambuknya di depan dada. Thay

Ku Lama sendiri sudah sejak tadi mempersiapkan golok yang

dipegang terbalik dan bersembunyi di balik lengannya.

“Ha-ha-ha.” Orang ke dua dari Tibet Ngo-houw yang

mukanya bopeng ini tertawa. “Ini baru pertandingan yang

menarik, suheng, tidak main keroyok seperti tadi.”

Thian Khi Tosu menghadapi Thay Si Lama dan Thay Si

Lama yang melihat wakil ketua Kun-lun-pai ini tidak

bersenjata, segera meletakkan cambuknya di atas kepala dan

berseru, “Tosu, keluarkan senjatamu!”

Akan tetapi sebelum kedua pihak bergerak menyerang, Pek

In Tosu yang tadi masih duduk bersila bersama dua orang

kawannya, kini sudah bangkit berdiri dan sekali tubuhnya

bergerak, tubuh itu sudah melayang dan berdiri di antara dua

orang tosu dan dua orang Lama itu. Dangan sikap tenang dan

wajah ramah dia menghadapi dua orang tosu Kun-lun-pai dan

suaranya terdengar lembut.

“Toyu, pinto harap toyu dapat menjaga nama baik Kun-lunpai.

Kami pernah mendengar bahwa Kun-lun-pai adalah

perkumpulan orang-orang gagah yang tidak mencampuri

urusan orang lain. Kalau sekali ini Kun-lun-pai mencampuri

urusan para Lama dari Tibet, berarti Kun-lun-pai

membahayakan nama baiknya sendiri. Ketahuilah bahwa para

pendeta Lama dari Tibet ini datang ke Kun-lun-pai sama sekali

bukan untuk memusuhi Kun-lun-pai, melainkan untuk mencari

kami yang dulu disebut Himalaya Sam Lojin. Karena kami dari

Himalaya pindah ke Kun-lun-san ini untuk mencari tempat

sunyi dan damai, maka mereka mengejar ke sini dan sama

sekali tidak ada sangkut pautnya dangan pihak Kun-lun-pai.

Kalau sekarang Kun-lun-pai mencampuri, bukankah itu berarti

Kun-lun-pai terlalu iseng dan membahayakan nama baiknya

sendiri? Karena itu, kami bertiga minta agar Kun-lun-pai suka

mundur dan menutup semua pintu, tidak membiarkan anak

muridnya mencampuri urusan orang luar.”

Mendengar ucapan kakek berpakaian putih dan berambut

putih ini, dua orang ketua Kun-lun-pai saling pandang. Ucapan

itu memang tepat dan benar. Dua orang murid tingkat tiga

mereka memang bentrok dangan dua orang dari Lima

Harimau Tibet, akan tetapi hal itu terjadi karena murid-murid

itu mencampuri urusan para pendeta Lama. Kalau kini

pertandingan dilanjutkan dan mereka sampai kalah, suatu hal

yang amat boleh jadi mengingat saktinya lima orang pendeta

Lama itu, nama besar Kun-lun-pai akan jatuh! Sebaliknya

andaikata mereka menang, berarti mereka menanam bibit

permusuhan dangan para pendeta Lama di Tibet dan hal itu

sungguh amat berbahaya sekali! Para pendeta Lama di bawah

Dalai Lama bukan hanya merupakan sekelompok pemimpin

agama yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan juga

menjadi pucuk pimpinan negara itu sendiri! Bermusuhan

dangan para pendeta Lama sama dengan bermusuhan dangan

seluruh rakyat Tibet! Jelaslah bahwa ucapan Pek In Tosu tadi

menyadarkan mereka akan dua kemungkinan yang samaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

sama amat merugikan Kun-lun-pai itu. Menang atau kalah,

akibatnya amat buruk bagi Kun-lun-pai dan sungguh tidak sepadan

dangan sebabnya, yang pada hakekatnya juga salah

murid mereka sendiri.

“Siancai….!” kata Thian Hwa Tosu sambil menjura.

“Sungguh ucapan yang amat bijaksana, dan kami akan

menjadi orang-orang yang tidak mengenal budi kalau tidak

mentaatinya. Terima kasih atas nasihat itu, locianpwe. Dan kepada

para Lama, kami mohon maaf dan sejak saat ini, Kunlun-

pai tidak lagi mancampuri urusan kalian. Sute, ajak semua

murid untuk kembali ke asrama!” Ucapan terakhir ini

merupakan perintah dan biarpun mukanya merah karena

penasaran dan marah, Thian Khi Tosu t idak berani

membantah perintah suhengnya. Diapun mengajak semua

murid untuk pergi mengikuti ketua mereka, membawa mereka

yang terluka, pulang ke benteng Kun-lun-pai dan selanjutnya

pintu banteng atau asrama itu ditutup rapat-rapat!

Setelah semua orang Kun-lun-pai pergi, Thay Ku Lama

yang memimpin Tibet Ngo-houw itu tertawa. “Ha-ha-ha,

sungguh luar biasa! Himalaya Sam-lojin malah membantu

kami sehingga pekerjaan kami menjadi lebih ringan menyingkirkan

penghalang berupa Kun-lun-pai! Bagus sekali!

Kamipun bukan orang-orang yang tidak ingat budi. Karena

kalian telah memperlihatkan sikap baik, Sam-lojin, dengan

menyadarkan Kun-lun-pai sehingga mereka tidak menentang

kami, maka kamipun menawarkan jalan damai untuk kalian.

Marilah kalian ikut dangan kami, sebagai tamu undangan agar

kami hadapkan kepada yang mulia Dalai Lama di Tibet. Kami

tidak akan menganggap kalian sebagai tawanan, melainkan

tamu undangan. Bagaimana?”

Kini tiga orang kakek itu sudah bangkit berdiri semua dan

Pek In Tosu juga tersenyum ramah ketika menjawab,

“Siancai….! Terima kasih atas niat baik itu. Akan tetapi

sungguh sayang dan maafkan kami, Ngo-wi Lama, bahwa

terpakna sekali kami tidak dapat menerima undangan

terhormat itu.”

Wajah They Ku Lama yang tadinya tersenyum, seketika

berubah keruh dan alisnya berkerut, perutnya yang gendut itu

bergerak-gerak menggelikan. Akan tetapi siapa yang telah

mengenalnya baik-baik, maklum betapa hebatnya perut

gendut itu! Yang membuat perut gendut itu bergerak-gerak

seolah-olah di dalamnya ada bayi dalam kandungan itu,

sebetulnya adalah ilmu pukulan Hek-bin Tai-hong-ciang itu,

yang dilakukan sambil berjongkok dan perutnya mengeluarkan

bunyi kok-kok seperti seekor katak besar!

“Hem, apakah yang memaksa kalian monolak undangan

kami yang kami lakukan dengan merendahkan diri?” tanyanya

dongan suara membentak.

Pek In Tosu masih bersikap halus dan ramah, “Pertama,

kami adalah t iga orang yang sudah tua dan lemah, dan setua

ini kami hanya ingin menikmat i kehidupan yang tenang

sehingga undangan terhormat itu tidak dapat kami terima

karena kami tidak sanggup melakukan perjalanan sejauh itu

ke Tibet. Ke dua, kami merasa tidak mempunyai urusan

apapun dangan Dalai Lama, sehingga andaikata beliau

mempunyai kepentingan dengan kami, sepatutnya Dalai Lama

yang datang ke sini menemui kami, bukan kami yang

diundang ke sana karena bagaimanapun juga, kami bukanlah

anggautanya maupun rakyatnya. Nah, itulah sebabnya

mengapa kami tidak dapat menerima undengan itu.”

“Mau atau tidak, menerima atau menolak, kalian bertiga

tetap harus ikut bersama kami ke Tibet!” bentak Thay Bo

Lama, seorang di antara mereka yang tubuhnya kurus kering

dan wataknya memang keras. “Kalau perlu, kami menggunakan

kekerasan!”

Pek In Tosu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan

mengelus jenggotnya.

“Siancai…. sudah kuduga demikian. Katakan saja bahwa

kalian datang ini untuk membunuh kami, tidak perlu memakai

banyak macam alasan.”

“Benar! Kami memang hendak membunuh kalian!” bentak

Thay Ku Lama yang sudah menerjang dengan goloknya, diikuti

oleh empat orang adik seperguruannya yang

mempergunakan senjata masing-masing.

Himalaya Sam Lojin tentu saja cepat mengelak dan

terjadilah perkelahian mati-matian. Akan tetapi, tiga orang

kakek itu sama sekali tidak bersenjata. Biarpun mereka adalah

tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan dan memiliki ilmu

kepandaian tinggi, pandai mempergunakan segala macam

senjata namun sudah sejak belasan tahun mereka tidak

pernah menyentuh senjata, apalagi membawa-bawa senjata.

Memikirkan tentang perkelahian sajapun tidak pernah. Selain

itu, juga bagi seorang yang sudah ahli benar dalam ilmu silat,

menggunakan senjata ataukah tidak sama saja karena kaki

tangan mereka sudah merupakan senjata yang paling ampuh.

Tiga orang kakek Himalaya ini sudah memiliki tingkat

kepandaian yang amat tinggi, baik ilmu silatnya, maupun

tenaga sakti mereka yang sudah matang. Selain itu, juga

mereka memiliki kekuatan batin yang mampu menghadapi

sagala macam kekuatan sihir atau ilmu hitam. Akan tetapi,

mereka telah puluhan tahun tidak pernah berkelahi, tidak

pernah mempergunakan ilmu-ilmunya untuk bertentangan apa

lagi saling serang dengan orang lain. Bahkan selama ini

mereka hanya tekun memerangi semua nafsu sendiri dalam

kerinduan mereka kepada Tuhan, keinginan mereka untuk

kembali kepada “sumbernya”, bagaikan titik-tit ik air yang ingin

kembali ke lautan. Maka, kini menghadapi serangan lima

orang lawan yang sakti, mereka itu kurang gairah dan kurang

semangat, hanya lebih banyak membela atau melindungi diri

mereka sendiri saja, sama sekali tidak ada nafsu untuk

merobohkan lawan walaupun andaikata ada nafsu itupun tidak

akan mudah bagi mereka untuk merobohkan Tibet Ngo-houw.

Di lain pihak, lima orang pendeta Lama dari Tibet itupun

merupakan orang-orang yang sudah matang ilmu kepandaian

mereka. Bukan hanya keahlian ilmu silat tingkat tinggi mereka

miliki, akan tetapi juga tenaga sin-kang mereka amat kuat dan

disamping itu, merekapun pandai ilmu sihir. Thay Ku Lama

memiliki pukulan Hek-in Tai-hong-ciang yang mengeluarkan

tenaga dari pusat dasar perutnya yang gendut dan pukulannya

ini amat berbahaya, selain kuat mampu merontokkan isi perut

lawan, juga mengandung hawa beracun yang ganas. Adapun

orang ke dua, Thay Si Lama, disamping permainan cambuknya

yang dahsyat, juga memiliki ilmu Sin-kun Hoat-lek, ilmu silat

yang mengandung kekuatan sihir. Orang ke tiga, Thay Pek

Lama merupakan ahli sepasang pedang yang memiliki ginkang

(ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, membuat dia

dapat bergerak seperti terbang saja. Thay Hok Lama, orang ke

empat yang bermata tunggal itu, selain berbahaya sekali

permainan senjata rantai bajanya, juga merupakan seorang

ahli racun yang mengerikan. Kemudian orang ke lima, Thay Bo

Lama, biarpun kurus kering, namun tenaganya raksasa dan

dia pandai sekali memainkan senjata tombaknya. Dan yang

lebih daripada semua itu, ke lima orang Lama ini berkelahi

penuh semangat, penuh gairah untuk merobohkan lawan.

Inilah yang membuat mereka berbahaya sekali.

Sebetulnya kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian

masing-massing hampir seimbang, namun pihak Himalaya

Sam Lojin masih lebih tinggi. Andaikata mereka itu bertanding

satu lawan satu, kiranya tidak ada seorangpun dari para Lama

itu mampu mengalahkan kakek-kakek Himalaya itu. Akan

tetapi, mereka bertanding berkelompok, lima melawan tiga

sehingga Himalaya Sam Lojin dikeroyok, dan seperti telah

disebutkan tadi, tiga orang kakek itu kalah jauh dalam hal

gairah dan semangat untuk merobohkan lawan. Oleh karena itu,

setelah melalui pertandingan selama puluhan jurus, tiga

orang kakek Himalaya itu mulai nampak terdesak. Di antara

mereka bertiga, nampaknya hanyalah Pek Bin Tosu yang

bermuka hitam, yang berkelahi dengan semangat, membalas

setiap serangan lawan dengan serangan pula. Memang, orang

ke tiga dari Himalaya Sam Lojin ini terkenal memiliki watak

yang keras, jujur dan terbuka, tidak seperti dua orang kakek

lainnya yang lemah lembut, ramah dan halus.

Hanya Sie Liong seorang yang menyaksikan pertandingan

yang amat hebat ini. Anak berusia tiga belas tahun ini sejak

tadi masih duduk bersila dan menonton dengan bengong.

Matanya tak berkedip sejak tadi, mulutnya ternganga.

Matanya yang tidak terlatih itu sukar untuk dapat mengikuti

gerakan delapan orang kakek yang sakti itu. Seolah-olah

hanya melihat tari-tarian aneh yang dilakukan oleh delapan

bayangan, tiga bayangan putih dan lima bayangan merah.

Bahkan kadang-kadang gerakan mereka itu demikian cepat

sehingga yang nampak olehnya hanyalah warna putih dan

merah berkelebatan sehingga dia tidak tahu apakah yang

sedang mereka lakukan, dan kalau mereka itu berkelahi,

diapun tidak tahu siapa yang unggul dan siapa pula yang

terdesak. Akan tetapi satu hal dia merasa pasti bahwa tiga

orang kakek berpakaian putih itu adalah orang-orang yang

baik. Sedangkan lawan mereka, lima orang berpakaian merah

adalah orang-orang yang jahat. Otomatis hatinya condong

berpihak kepada tiga orang kakek berpakaian putih walaupun

dia tidak tahu bagaimana dia akan dapat membantu mereka.

Saking tertarik hatinya, penuh ketegangan dan

kekhawatiran kalau-kalau tiga orang kakek yang didukungnya

itu akan kalah, Sie Liong sampai lupa akan keadaan dtrinya

sendiri. Biarpun tiga orang kakek berpakaian putih itu telah

berusaha untuk mengobatinya, namun dadanya yang sebelah

kiri masih terasa nyeri dan napasnya kadang-kadang sesak.

Pukulan yang mengenai tubuhnya, sebetulnya hanya angin

pukulannya saja, amatlah hebat dan menurut percakapan

antara tiga orang kakek berpakaian putih itu dia mengerti

bahwa dia telah terkena hawa pukulan beracun yang amat

ampuh dari seorang di antara lima orang pendeta Lama itu.

Pertempuran itu kini sudah mencapai puncaknya. Delapan

orang kakek itu agaknya sudah mengerahkan seluruh tenaga

dan kepandaian mereka, yang tiga orang untuk membela diri,

yang lima orang berkeras hendak merobohkan mereka. Kalau

tadi Sie Liong dibuat pusing oleh bayangan putih dan merah

yang barkelebatan, kini dia terpaksa bangkit berdiri dan

karena dia masih lemah dan kepalanya pening, dia terhuyung.

Namun dia tetap memaksa dirinya melangkah menjauhkan diri

karena ada angin pukulan menyambar-nyambar dangan amat

dahsyatnya. Tidak urung, masih ada juga angin dahsyat

menyambar dan tak dapat dicegah lagi, tubuh Sie Liong

terkena sambaran angin dahsyat ini dan diapun terjungkal dan

terguling-guling!

Tubuhnya berhenti karena tertahan oleh sesuatu. Ketika dia

membuka matanya untuk memandang, mata yang melihat

segala sesuatu agak kabur, dia malihat bahwa dia berhenti

terguling-guling karena tertahan oleh sepasang kaki dan

sebatang tongkat butut! Dia membelalakkan matanya agar

dapat memandang lebih jelas lagi. Memang sepasang kaki,

akan tetapi kaki yang buruk sekali. Kaki telanjang, jari-jari

kakinya jelek, kotor, kasar dan merenggang seperti jari kaki

ayam. Makin ke atas, semakin jelek karena kaki itu hanya kulit

kering kerontang membungkus tulang dan sampai ke betis

mulai tertutup celana yang terbuat dari kain kasar dan penuh

tambalan pula. Ketika Sie Liong menengadah, dia melihat

bahwa sepasang kaki itu adalah milik seorang kakek

berpakaian jembel yang wajahnya buruk, yang menyeringai

dengan mulut yang tidak bergigi lagi, rambutnya riap-riapan

berwarna putih, sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh

sekali. Sie Liong terkejut dan berusaha untuk bangkit berdiri,

akan tetapi dia terguling lagi dan roboh. Maka diapun lalu

duduk saja bersila, tidak memperduilkan lagi apakah dia akan

terancamataukah tidak.

“Heh-heh-heh….!” Kakek itu terkekeh geli dan tongkat

bututnya bargerak ke sekeliling tubuh Sie Liong, membuat

guratan di atas tanah mengelilingi Sie Liong dan nampaklah

garis yang cukup dalam, lingkaran dangan garis tengah dua

meter lebih. “Engkau t inggallah saja di dalam ruangan ini dan

siapapun tidak akan mampu mengganggumu, anak bongkok!”

Sie Liong mendongkol. Agaknya dia bertemu dengan

seorang jembel tua yang gila. Akan tetapi kepalanya terlalu

pening, tubuhnya sakit-sakit karena terguling-guling tadi dan

diapun tidak menjawab, hanya membuka mata mononton

pertempuran yang masih berjalan terus. Agaknya kakek

jembel itupun kini t idak memperdulikan dia, melainkan ikut

pula menonton sambil kadang-kadang mengeluarkan suara

terkekeh aneh. Dia berdiri pula di dalam lingkaran itu, di

sebelah belakang Sie Liong. Ketika kakek itu terkekeh-kekeh

geli menonton pertempuran, tiba-tiba Sie Liong merasa

kepalanya, leher dan mukanya kejatuhan air.

Wah, hujankah? Pikiran ini membuat dia menengadah,

akan tetapi sungguh sial, pada saat itu, entah mengapa, si

kakek jembel tertawa semakin keras. Sie Liong basah semua!

Kiranya hujan itu turun dari mulut si kakek. Karena mulut itu

tidak bergigi lagi, agaknya ketika tertawa-tawa, maka air

ludahpun memercik keluar dari mulut yang tidak dilindungi

pagar gigi lagi itu!

Sie Liong makin mendongkol. Dia mengusap muka, leher

dan kepalanya, menggunakan lengan bajunya, dan biarpun

kepalanya pening, dia memaksa diri untuk bangkit dan untuk

pergi menjauhi kakek gila itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja

kepalanya diketuk dengan tongkat.

“Tokk!” Dan diapun jatuh terduduk kembali! Ketukan

dengan tongkat itu tidak mendatangkan rasa nyeri, akan

tetapi seolah-olah kepalanya ditekan oleh sesuatu yang amat

berat dan kuat, yang membuatnya jatuh lagi. Beberapa kali

dia mencoba bangun, namun setiap kali kepalanya diketuk

tongkat! Akhirnya, biar dia marah dan mendongkol, Sie Liong

duduk dan tidak lagi bangkit, apalagi karena pertempuran itu

kini mulai mendekati tempat dia duduk di atas tanah dalam

lingkaran garis itu.

Memang terjadi perubahan dalam pertempuran tingkat

tinggi itu. Akhirnya Himalaya Sam Lojin kewalahan juga

menghadapi desakan lima orang lawan mereka yang

mempergunakan segala daya, ilmu silat, sihir, bahkan racun,

untuk mengalahkan mereka. Mereka bertiga terdesak dan

sambil mengelak ke sana-sini kadang-kadang menangkis

dengan kebutan ujung lengan baju atau juga dengan tangan

mereka yang kebal, mereka terus mundur. Tiba-tiba terdangar

bentakan-bentakan nyaring keluar dari mulut para pendeta

Lama dan Sie Liong melihat betapa tiga orang kakek

berpakaian putih terhuyung dan ada tanda merah di pakaian

mereka yang putih. Darah! Tiga orang kakek itu agaknya

terluka! Akan tetapi, mereka masih terua melawan. Kini

pertempuran makin mendekati garis lingkaran dan tiba-tiba,

seorang di antara kakek berpakaian putih meloncat dan

kakinya menginjak sebelah dalam lingkaran.

Tiba-tiba tongkat butut kakek jembel itu bergerak

mendorong punggung kakek yang “melanggar” lingkaran itu

dan tubuh kakek berpakaian put ih itupun tordorong keluar!

Ketika para anggauta Tibet Ngo-houw dengan penuh

semangat dan nafsu mendesak terus, tiga orang kakek

berpakaian putih itu berlompatan dan agaknya mereka tidak

berani menginjak lingkaran! Tidak demikian dengan para pendata

Lama. Ada dua orang yang tanpa sengaja menginjak

garis lingkaran, yaitu Thay So Lama dan Thay Hok Lama.

Begitu melihat Thay So Lama, si kurus kering yang bertenaga

raksana itu memasuki lingkaran, kakek jembel lalu

menggerakkan tongkat bututnya, seperti tadi mendorong dan

tubuh pendeta Lama itupun terdorong keluar. Pada saat itu,

Thay Hok Lama juga masuk ke dalam lingkaran, kembali dia

tordorong keluar oleh tongkat butut.

Keduanya menoleh dan Thay Bo Lama marah sekali. Dia

memutar tombaknya dan karena dia mengira bahwa anak

bongkok itu yang usil tangan, tombaknya menyerang ke arah

Sie Liong. Bagaikan anak panah meluncur dari busurnya, tombak

itu menusuk ke arah leher Sie Liong. Anak ini tidak tahu

bahwa bahaya maut mengancam nyawanya.

“Trakkk!” Tombak itu terpental ketika bertemu dengan

tongkat butut. Thay Bo Lama terbelalak, tidak mengira sama

sekali bahwa ada seorang kakek jembel yang mampu

membuat tombaknya terpental dengan tangkisan tongkat butut.

Padahal, dia memiliki tenaga gajah yang sukar dilawan.

Pada saat itu, Thay Hok Lama yang juga marah, mengayun

rantai bajanya ke arah kakek jembel. Kakek jembel itu

terkekeh keras dan kembali kepala Sie Liong kehujanan dan

begitu kakek jembel itu menggerakkan tangan kiri, ujung

rantai baja itu sudah ditangkap dan ditariknya. Thay Hok Lama

tiba-tiba merasa ada tenaga dahsyat membetotnya sehingga

tertarik mendekat dan tongkat butut itu menyambar ke arah

kepalanya.

“Tokkk!” Kepala Thay Hok Lama yang gundul kena

dikemplang dan seketika muncul telur ayam di kepala yang

gundul itu! Thay Hok Lama meraba kepalanya yang

dikemplang itu dengan tangan kiri dan diapun terbelalak

keheranan. Kepalanya sudah kebal, bahkan dibacok golok saja

tidak akan terluka. Kenapa kini dikemplang sebatang tongkat

butut saja dapat menjadi bengkak dan menjendol sebesar

telur ayam? Nyeri sekali memang tidak, akan tetapi hatinya

yang amat nyeri karena dia merasa dihina. Thay Bo Lama

yang melihat rekannya dikemplang, menjadi marah dan

biarpun tadi dia terkejut oleh tangkisan tongkat butut, kini dia

menyerang lagi dengan tusukan tombaknya ke arah perut

kakek jembel.

“Waduh, jebol perut ini….” teriak kakek jembel dan tombak

itu benar-benar mengenai perutnya dan tembus! Akan tetapi,

tidak ada darah keluar, tidak ada usus keluar dan tiba-tiba

kepala Thay Bo Lama kena dikemplang tongkat butut.

“Takkk!” Dan seperti juga kepala Thay Hok Lama, kini

kepala Thay Bo Lama yang gundul muncul pula sebuah telur

ayam! Ketika Thay Bo Lama mengerahkan kekuatan batinnya

memandang, ternyata tombaknya sama sekali tidak menembus

perut kakek jembel itu, melainkan menembus baju

jembel yang kedodoran dan tadi hanya merupakan suatu permainan

sihir saja. Anehnya, kenapa dia yang ahli sihir sampai

dapat dipermainkan seperti itu?

Sementara itu, tiga orang pendeta Lama yang kini

menghadapi tiga orgng kakek Himalaya, tentu saja merasa berat

kalau melawan seorang dengan seorang. Dua orang

rekannya meninggalkan mereka dan sibuk mengurusi kakek

jembel!

“Si-sute dan Ngo-sute (adik seperguruan ke empat dan ke

lime), hayo bantu kami!” teriak Thay Ku Lama. Dua orang itu,

Thay Hok Lama dan Thay Bo La mengelus-elus kepala mereka

yang benjol, akan tetapi mereka sadar bahwa mereka

berhadapan dengan seorang jembel yang amat sakti, maka

merekapun kini hendak membantu rekan-rekan mereka yang

agaknya kewalahan juga menghadapi Himalaya Sam Lojin.

Akan tetapi pada saat itu, terdangar seruan yang halus.

“Siancai….! Tidak malukah kalian ini lima orang pendeta

yang mestinya menjahui kekerasan, kini malah

mempergunakan kekeranan untuk menyerang orang lain?”

Lima orang pendeta Lama itu terkejut karena suara yang

halus itu mengandung wibawa yang amat besar, bahkan

mengandung getaran tenaga khi-kang yang terasa

menggetarkan jantung, maka merekapun berloncatan mundur

untuk mamandang siapa yang muncul itu. Kiranya seorang

kakek tua renta, usianya tentu sudah tujuh piluh lima tahun,

rambutnya putih semua riap-riapan, kumis dan jenggotnya

juga putih, tubuhnya tinggi kurus dan tegak, wajahnya segar,

pakaiannya berwarna kuning yang hanya dilibatkan dan

dililitkan pada tubuhuya, tangan kanannya memegang

sebatang tongkat butut.

“Supek….!” Himalaya Sam Lojin cepat memberi hormat

kepada kakek itu.

“Heh-heh-heh, kalau suheng yang muncul, semua akan

menjadi beres penuh damai, heh-heh-heh!” Kakek jembel barseru

sambil terkekeh dan kembali Sie Liong kehujanan!

Himalaya San Lojin memberi hormat kepada kakek jembel itu.

“Terima kasih atas bantuan susiok! ”

“Heh-heh, siapa yang bantu siapa? Aku hanya membuat

ruangan untuk anak bongkok ini, ternyata ada Lama jubah

merah berani melanggar, tentu saja kukemplang kepalanya,

heh-heh!”

Lima Harimau Tibet terkejut bukan main. Mereka belum

mengenal Pek-sim Sian-su, kakek berpakaian kuning itu, dan

juga tidak mengenal Koay Tojin, kakek jembel yang aneh itu,

akan tetapi mendengar bahwa dua orang itu adalah supek

(uwa perguruan) dan susiok (paman perguruan) dari Himalaya

Sam Lojin, tentu saja mereka merasa gentar. Baru Himalaya

Sam Lojin saja sudah merupakan lawan yang sukar

dirobohkan, apalagi muncul paman guru dan uwa gurunya!

Apa lagi Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama yang masih

merasa bekas ketukan tongkat pada kepala mereka yang

menjadi benjol. Masih terasa berdanyutan kepala itu!

“Kalian ini para tosu sombong selalu menentang kami!”

bentak Thay Ku Lama dengan marah, akan tetapi juga gentar

untuk turun tangan.

“Siancai….!” Pek-in Tosu yang terluka pundaknya, berdarah

sedikit, berkata sambil menarik napas panjang. “Thay Ku

Lama, bukankah omonganmu itu sengaja kauputar-balikkan?

Sejak kapan kami memusuhi kalian? Siapakah yang

menyerang, membunuhi para pertapa yang tidak bersalah

apapun di Himalaya? Kami sudah mengalah, mengungsi ke

Kun-lun-san. Siapa pula yang mengundang kalian datang

untuk menangkapi bahkan mengancam untuk membunuh

kami dan para pertapa di sini pula?”

“Kami hanya menerima perintah dari Yang Mulia Dalai

Lama!” bentak Thay Ku Lama. “Kami harus menangkap

Himalaya Sam Lojin untuk mempertanggung-jawabkan

pemberontakan dan pembunuhan yang dilakukan mendiang

guru kalian!”

“Siancai….!” Pek-sim Sian-su berkata, suaranya halus

namun kembali lima orang Lama itu bergidik kareng isi dada

mereka tergetar hebat. Mereka terpaksa mencurahkan

perhatian dan mengerahkan tenaga untuk melindungi diri

sambil memandang kepada kakek t inggi kurus itu. “Sungguh

aneh sekali! Mendiang sute menentang para Lama yang hendak

memaksa seorang anak dusun dan hendak diculik. Dalam

pertempuran itu, tiga orang Lama tewas. Apa anehnya dalam

hal itu? Kalau sute kalah, tentu dia yang tewas! Dan anak

yang dilindungi mendiang sute itu adalah Dalai Lama yang

sekarang! Bagaimana mungkin dia yang menyuruh kalian

untuk menangkapi atau membunuh murid-murid sute? Sungguh

janggal!”

Mendengar ini, lima orang Lama itu saliag pandang.

Kemudian Thay Ku Lama berseru, “Kami adalah utusan Dalai

Lama akan tetapi telah gagal. Biarlah kami akan melapor

kepada beliau dan kalian tunggu saja pembalasan dari kami!”

Setelah berkata demikian, Thay Ku Lama berkelebat pergi

dikuti oleh empat orang adik seperguruannya.

“Heh-heh-heh, suheng, kenapa sampai sekarang engkau

masih menjadi seorang yang lemah? Anjing-anjing itu gila dan

membahayakan, bagaimana kalau aku mewakili suheng

mengejar dan membasmi mereka?” kata Koay Tojin. Kakek ini

adalah sute (adik seperguruan) dari Pek-sim Sian-su, akan

tetapi kalau Pek Sim Sian-su hidup sebagai seorang yang

memperdalam kemajuan jiwanya, hidup sebagai seorang yang

membersihkan diri lahir batin bahkan mengasingkan diri dari

keramaian duniawi, sebaliknya Koay Tojin suka berkeliaran

dan memang ada kelainan pada dirinya. Dia dikenal sebagai

seorang yang sinting! Pada hal dalam ilmu kepandaian silat

maupun kekuatan sihir, dia tidak kalah dibandingkan

suhengnya itu. Mungkin justeru karena dia terlampau banyak

mempelajari ilmu sihir dan gaib, terlalu dalam menjenguk ke

dalam rahasia kegaiban, dan batinnya tidak kuat, maka dia

menjadi sint ing seperti itu. Hidupnya berkeliaran seperti

jembel dan kadang-kadang melakukan hal aneh-aneh yang tidak

lumrah. Dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap,

berkeliaran sampai jauh ke empat penjuru dan muncul secara

tiba-tiba saja tanpa berita lebih dulu. Akan tetapi diapun tidak

pernah menonjolkan diri sehingga jarang ada yang

mengenalnya sebagai seorang sakti, lebih dikenal sebagai

seorang sinting.

“Sute, engkaupun sampai sekarang masih belum

menanggalkan sikapmu yang ugal-ugalan. Siapakah dirimu ini

maka engkau mempunyai niat untuk membunuh orang?

Apakah engkau tidak melihat bahwa tidak ada perbedaan

antara engkau dan mereka?”

“Heh-heh-heh, heei, anak bongkok. Engkau dengar itu?

Bukankah pendirian suheng itu aneh sekali? Tadi dia sendiri

datang, dan kalau lima ekor monyet gundul itu tidak pergi,

aku yakin dia akan turun tangan melindungi tiga orang murid

keponakan yang baik ini dan akan mengalahkan mereka

berlima. Akan tetapi sekarang, coba dangar, dia berceramah

menguliahi aku agar aku tidak membunuh lima orang Lama

itu! Heh-heh-heh, lelucon yang tidak lucu bukan?”

Biarpun jembel tua itu nampak ugal-ugalan, namun diamdiam

Sie Liong membenarkan pendapatnya. Maka diapun lupa

diri dan sambil memandang kepada kakek berpakaian kuning

itu, dia berkata, “Memang benar, kek. Lima orang pendeta itu

tadi jahat bukan main, lebih jahat karena mereka itu berjuluk

pendeta. Membasmi mereka merupakan kewajiban, karena

akan menolong manusia dari ancaman kejahatan mereka.

Andaikata aku kuat, tentu aku akan membasmi mereka!”

“Siancai…. Siapakah bocah ini?” tanya Pek-sim Sian-su

kepada Himalaya Sam Lojin. Pek In Tosu lalu menceritakan

tentang Sie Liong, seorang bocah gelandangan yang pernah

menyelamatkan dirinya secara tanpa disengaja ketika dia

diserang oleh dua orang Lama, kemudian betapa bocah itu

terkena pukulan beracun dari Thay Ku Lama dan mereka

bertiga sudah berusaha mengobatinya namun gagal ketika

tiba-tiba muncul Tibet Ngo-houw tadi.

“Kebetulan supek telah datang, maka mohon supek

menyembuhkan penderitaannya,” kata Pek In Tosu kepada

supeknya. Memang aneh hubungan antara mereka itu.

Himalaya Sam Lojin berusia kurang lebih tujuh puluh tahun,

sedangkan Pek-sim Sian-su lima tahun lebih tua, akan tetapi

dia telah menjadi uwa perguruan mereka! Hal ini adalah karena

ketika mempelajari ilmu di Himalaya, Himalaya Sam Lojin

sudah berusia tiga puluh tahun lebih dan guru mereka, yaitu

seorang sute dari Pek-sim Sian-su, berusia tiga tahun lebih tua

dari mereka.

Pek-sim Sian-su memang memiliki banyak macam

kepandaian, di antaranya ilmu pengobatan. Mendengar bahwa

anak bongkok itu telah menyelamatkan nyawa Pek Im Tosu,

dan menderita luka pukulan beracun, diapun lalu mendekati

Sie Liong dan memeriksa punggung dan dadanya. Dia

mengerutkan alisnya dan berkata. “Ah, biarpun hawa beracun

sudah bersih, akan tetapi isi perutnya mengalami guncangan

hebat dan ada racun tertinggal di dalam darahnya. Dia dapat

diobati akan tetapi akan memakan waktu yang cukup banyak.

Biarlah dia ikut dengan pinto, dan perlahan-lahan pinto

sembuhkan dia.”

“Lihat, anak bongkok. Orang tua itu menyelewengkan

percakapan dan pura-pura tidak mendengar perkataan tadi.

Menggelikan, heh-heh-heh!” kata Koay Tojin.

Biarpun di dalam hatinya Sie Liong merasa gembira bahwa

dia akan diobati oleh kakek berpakaian kuning, nanun

mendengar ucapan Koay Tojin, dia merasa tidak puas juga.

“Locianpwe, maafkan aku. Kalau locianpwe tidak mau

menjelaskan mengapa locianpwe melarang kakek jembel ini

membasmi lima orang Lama yang jahat, terpaksa aku tidak

mau ikut dengan locianpwe untuk diobati.”

“Hushh! Anak baik, kalau tidak diobati engkau akan mati,”

kata Pek-sin Tosu.

“Heh-heh-heh, kau benar, anak bongkok. Kalau dia tidak

mau menerangkan, biar engkau ikut aku saja. Kalau harus

mati, kita mati bersama dan melanjutkan perjalanan ke neraka

atau ke sorga, he-he-heh!”

Pek-sim Sian-su menarik napas panjang. “Kalian berdua ini

sama-sama ingin mengerti, itu baik sekali walaupun

sesungguhnya engkau harus malu untuk mengajukan

pertanyaan yang kekanak-kanakan itu, sute. Anak baik,

siapakah namamu?”

“Namaku Sie Liong, locianpwe.”

“Sie Liong? Nama yang baik. Nah, dangarkanlah, Sie Liong,

dan engkau juga, sute. Semua perbuatan itu dinilai dari yang

menjadi pendorongnya. Orang bertentangan, berkelahi, juga

harus dilihat dari apa yang menjadi pendorongnya. Jelas

bahwa kita tersesat jauh kalau kita berkelahi dengan orang

lain karena kemarahan, kebencian atau dandam. Engkau tadi

melihat sendiri betapa tiga orang murid keponakan kita ini

berkelahi melawan orang Lama hanya untuk membela diri

saja, tanpa sedikitpun dikuasai nafsu kebencian, kemarahan

atau keinginan membunuh lawan. Tentu saja sudah menjadi

hak mereka untuk mempertahankan diri dan melindungi

dirinya apabila terancam kesakitan atau kematian. Sebaliknya,

engkaupun melihat sendiri bagaimana keadaan batin lawanlawan

itu dalam perkelahian. Mereka itu jelas berkelahi

dengan nafsu dandam dan kebencian, keinginan untuk

membunuh. Kalau sekarang kita mengejar mereka dengan

niat hati untuk membasmi mereka, bukankah keinginan itupun

didasari oleh kebencian? Karena itu, setiap perbuatan manusia

haruslah dilihat dari pamrihnya atau dari sebab yang

mendorongnya melakukan perbuatan itu, karena biarpun

perbuatannya itu nampaknya serupa atau sama, namun

sesungguhnya berbeda, seperti buat dan langit.”

Koay Tojin terkekeh-kekeh, sedangkan Sie Liong diam-diam

mengakui kebenaran pendapat Pek-sim Sian-su. Walaupun

masih belum dewasa, namun anak itu memang memiliki

kecerdasan. Melihat betapa sutenya masih hahah-heheh, PeksimSian-

su tersenyum.

“Sute, sudah belasan tahun kita tidak saling jumpa, kulihat

engkau masih sama saja. Aku dapat membaca semua isi

hatimu. Engkau tentu masih belum puas, bukan? Nah, selagi

jodoh mempertemukan antara kita sekarang ini, kau boleh

keluarkan semua isi hatimu dan mari kita bahas bersama, biar

didengarkan juga oleh tiga orang murid keponakan kita yang

bijaksana ini, dan juga biarlah anak yang baik ini

berkesempatan mendengarnya.”

Koay Tojin bertepuk tangan tanda gembira. “Heh-heh-heh,

bagus, bagus! Memang aku belum puas, suheng. Akan

kukeluarkan semua rasa penasaran dalam hatiku ini. Selama

bertahun-tahun aku melihat kepalsuan-kepalsuan dunia dan

aku muak, suheng, aku sedih….” Dan tiba-tiba kakek itupun

menangis terisak-isak seperti anak kecil! Tentu saja Sie Liong

terkejut melihat hal ini dan dia memandang dengan mata

terbelalak. Akan tetapi, tiga orang kakek Himalaya itu yang

kini juga sudah duduk bersila seperti dua orang supek dan

susiok mereka, hanya menundukkan muka saja, sedangkan

Pek-sim Sian-su memandang sutenya sambil tersenyum.

“Lanjutkan, sute.”

Sambil menyusuti air matanya, Koay Tojin melanjutkan.

“Aku melihat semua orang mengenakan topeng pada mukanya.

Mengerikan dan menakutkan, juga membuat hati

penasaran dan mendongkol sekali. Pada lahirnya semua orang

memakai topeng yang indah dan bersih, padahal di balik

topeng itu, batin mereka busuk dan kotor! Munafik dan purapura.

Hati, kata dan perbuatan merupakan segi tiga yang

berbeda jurusan. Palsu, palsu, semua palsu! Juga para

pendeta yang pernah kujumpai berbatin palsu. Karena itu,

suheng, aku sudah membuang semua pantangan. Heh-heh,

aku makan daging, minum arak, heh-heh. Suheng sendiri

tentu tak pernah makan daging dan minum arak, bukan?

Apakah suheng bareni mengatakan bahwa suheng tidak

pernah membunuh?”

“Siancai….! Pinto tidak menyangkal, sute. Akan tetapi

dijauhkan Thian kiranya hati ini dari benci, iri, dengki dan

pementingan diri pribadi.”

“Coba jawab, suheng. Apakah kalau suheng makan sayur

dan minum air saja, berarti suheng tidak melakukan pembunuhan?

Jawab yang jujur, jangan munafik, suheng!”

“Saincai…., munafik lebih keji daripada penyelewengan itu

sendiri, sute. Tidak dapat disangkal lagi, di dalam sayuran,

tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, bahkan di dalam air jernih

itu terdapat mahluk-mahluk hidup yang bargerak dan

bernyawa dan yang tidak nampak saking kecilnya. Bahkan

sayur itu sendiri merupakan tumbuh-tumbuhan yang hidup.”

“Nah-nah-nah….!” Koay Tojin menudingkan telunjuknya,

mengamang-amangkan ke arah suhengnya. “Kalau begitu

suheng juga membunuh!”

“Memang, hal itu pinto akui, sute, akan tetapi biarpun

sama-sama membunuh namun perbedaannya bumi-langit,

Manusia hidup harus makan, demi kelangsungan hidupnya

dan sudah menjadi pembawaan sejak lahir bahwa manusia

harus makan. Dan satu-satunya bahan makanan yang baik,

menghidupkan, dan bukan sekedar menuruti nafsu lidah saja,

adalah sayur-sayuran dan buah-buahan, juga air jernih.

Biarpun semua itu mengandung mahluk hidup, akan tetapi karena

tidak kelihatan maka kita membunuh tanpa kita ketahui,

tanpa kita sengaja. Andaikata pinto melihat ada ulat pada

buah yang pinto makan, tentu ulat itu akan pinto singkirkan

agar tidak termasuk dan termakan. Semua mahluk hidup kecil

tak nampak yang ikut termakan, bukan sengaja dimakan.

Inilah bedanya, sute. Orang yang makan daging, sengaja

membunuh hewan itu dan makan dagingnya untuk

memuaskan selera, sedangkan orang yang makan sayur,

biarpun membunuh mahluk kecil-kecil, hal itu dilakukan bukan

dengan sengaja dan sama sekali tidak bermaksud menikmati

dagingnya. Demikian pula dengan sayuran, welaupun sayuran

itupun hidup, namun sayuran tidak bergerak, tidak

memperlihatkan rasa sakit seperti halnya binatang.

Demikianlah, sute. Segala perbuatan haruslah dilihat dasar

dan pendorongnya. Kalau orang membunuh sesama hidup

karena ingin memuaskan nafsu kesenangan, atau karena

kebencian, sungguh hal itu merupakan perbuatan yang amat

keji dan kejam.”

“Bagaimana kalau aku minum arak? Itu tidak

membunuh….”

“Sute, mengapa dianjurkan agar minuman arak dijauhi?

Karena dari minum arak orang menjadi mabok dan dalam mabok

dapat melakukan hal-hal yang tidak baik. Bermabokmabokan

memberi jalan kepada nafsu untuk makin merajalela

menguasai batin. Juga, bermabok-mabokan merusak

kesehatan. Kalau hal seperti ini tetap dilaksanakan, bukankah

itu merupakan kebodohan besar merusak diri sendiri? Ingat,

sute. Tubuh kita merupakan Kuil Suci yang dihuni oleh jiwa.

Sudah sepatutnya kalau kita merawat Kuil Suci ini sebaikbaiknya,

tidak dikotori dan t idak dirusak, kita pelihara

sebaiknya luar dalam.”

“Suheng, keteranganmu sudah cukup jelas. Sekarang,

kebetulan kita saling bertemu, aku minta sedikit petunjuk

tentang ilmu silat kepadamu. Nah, bersiaplah, suheng!”

Koay Tojin meloncat berdiri dan menudingkan tongkat

bututnya ke langit. Melihat ini, Pek-sim Sian-su tertawa. “Haha,

sejak dulu engkau masih saja keranjingan ilmu silat, sute.

Orang-orang tua bangka seperti kita ini, perlu apa

mementingkan ilmu kekerasan seperti itu? Akan tetapi, pinto

mendangar bahwa engkau telah memperoleh ilmu yang amat

hebat, maka pintopun ingin pula manyaksikan kehebatan

ilmumu itu, sute. Nah, perlihatkan kepada pinto!”

Pek-sin Sian-su juga bangkit berdiri dan dengan tenang dia

menghampiri kakek sint ing itu, berdiri tegak dengan tongkat

butut di tangannya. Kedua orang kakek itu sungguh amat

berbeda. Pek-sim Sian-su demikian anggun dan rapi bersih,

penuh wibawa akan tetapi juga penuh kelembutan dan

keramahan, sinar mata dan senyumnya penuh kasih sayang.

Sebaliknya, Koay Tojin berpakaian tidak karuan, butut dan

kotor, berdirinya juga sembarangan saja, dan hanya ada satu

persamaan antara mereka, yaitu bahwa keduanya memiliki

sinar mata mencorong dan keduanya sama-sama memegang

sebatang tongkat butut.

Melihat betapa supek dan susiok mereka itu saling

berhadapan dengan tongkat di tangan, Himalaya Sam Lojin

mengamati dengan wajah berseri gemblra. Sungguh

beruntung, pikir mereka. Kesempatan seperti ini sungguh

langka. Sementara itu Sie Liong yang sama sekali belum

mengenal dasar ilmu silat tinggi, hanya nonton dengan hati

ingin tahu, akan tetapi tentu saja dia tidak begitu mengerti,

karena ketika tadi terjadi perkelahian tingkat tinggi antara

para pendeta Lama dan San Lojin diapun tidak mampu

mengikut inya dengan baik. Dia hanya merasa heran mengapa

hatinya tertarik kepada si jembel yang berotak miring ini, akan

tetapi diapun kagum dan tunduk kepada kakek berpakaian

kuning yang berwibawa. Heran dia mengapa kakek itu mau

saja melayani jembel tua yang disebut sute-nya.

“Suheng, coba kausambut jurus tongkatku ini!” Tiba-tiba

Koay Tojin berseru dan tongkatnya bergerak. Anehnya,

gerakan itu lambat saja, seperti main-main akan tetapi ujung

tongkat itu mengeluarkan angin menderu dan ujungnya

menusuk secara beruntun ke arah tulang-tulang iga Pek-sim

Sian-su, sedangkan tangan kirinya dipentang dengan jari-jari

tangan terbuka, siap menyambut ke mana lawan akan

mengelak!

Semua gerakan ini dilakukan lambat sehingga Sie Liong

saja dapat mengikuti dengan pandang matanya.

“Bagus sekali!” seru Pek-sim Sian-su memuji, bukan

sekadar menyenangkan hati sutenya, melainkan memuji

karena kagum. Dia melihat betapa dahsyatnya serangan

sutenya itu yang memang amat sukar untuk dilawan, sukar

dielakkan maupun ditangkis. Dia maklum bahwa kalau

ditangkis, maka tenaga tangkisan itu justeru akan

memperkuat getaran tongkat sutenya untuk melakukan tusukan

berikutnya karena serangan itu merupakan serangkaian

tusukan ke arah tulang iga. Dia lalu mengangkat tongkatnya,

menggerakkan tongkat bututnya dengan lambat pula, dan

menyambut tongkat sutenya. Dua batang tongkat butut

bertemu, akan tetapi Pek-sim Sian-su tidak menangkis,

melainkan menggunakan sin-kang membuat tongkatnya

menempel pada tongkat sutenya dan dengan demikian,

tongkatnya terus mengikuti gerakan tongkat sutenya dan

setiap tusukan dapat didorongnya kembali sehingga ujung

tongkat sutenya itu hanya mampu mencium kain kuning yang

melibat dada saja. Karena serangan pertama gagal, Koay Tojin

melangkah mundur.

“Hemm, sungguh hebat. Bukankah itu sebuah jurus dari

ilmu tongkatmu yang baru, yang dinamakan Ta-kwi Tung-hoat

(Ilmu Tongkat Memukul Setan)?” tanya sang suheng.

“Heh-heh-heh, matamu yang sudah tua memang masih

tajam sekali, suheng. Memang benar, dan jurus tadi

kunamakan Jurus Menghitung Tulang Iga. Sayang engkau

tidak membiarkan aku menghitung tulang igamu, suheng.”

“Dan membiarkan tulang-tulang igaku yang sudah tua itu

remuk? Aih, aku berkewajiban menjaga tubuh tua ini, sute.”

“Sekarang lihatlah ini, jurus yang kunamakan Menyapu

Ribuan Setan!” katanya dan Koay Tojin sudah menyerang lagi,

kini tongkatnya itu membuat gerakan berputar lebar dan

seakan ada ratusan batang tongkat menyambar ke arah tubuh

Pek-sim Sian-su, dari kanan, kiri, depan, belakang, atas dan

bawah! Sungguh hebat tongkat itu, atau orang yang

menggerakkan tongkat itu. Bagaimana mungkin tongkat yang

hanya sebatang itu mampu menghujankan serangan seperti

itu, dari segala jurusan, dalam waktu yang berturut-turut. Dan

angin pukulan yang keluar dari tongkat itu! Untung Sie Liong

masih duduk bersila, demikian pula Sam Lojin sehingga angin

pukulan yang menyambar ke atas itu tidak mengenai mereka.

Daun-daun pohon yang berdekatan sudah rontok semua,

bahkan ada ranting yang kurang kuat patah-patah terkena

sambaran angin pukulan tongkat butut itu! Melihat keadaan

ini, berdebar rasa jantung Sie Liong. Barulah dia melihat

sendiri betapa hebatnya kakek jembel gila itu.

“Siancai….! Sungguh dahsyat….!” kata Pek-sim Sian-su dan

kakek inipun menggerakkan tongkat bututnya dan ke

manapun bayangan tongkat Koay Tojin menyambar, selalu

tongkat itu bertemu dengan tongkat lain yang menangkisnya,

seolah-olah tubuh Pek-sim Sian-su sudah dilindungi benteng

yang kokoh kuat. Berulang kali tongkat mereka saling

bertemu, mengeluarkan suara tak-tuk-tak-tuk yang

menggetarkan jantung, seperti dua buah benda yang amat

kuat dan berat saling bertemu. Akhirnya, kembali Koay Tojin

melangkah mundur menghentikan serangannya.

“Engkau memang hebat, suheng. Masih saja engkau

memiliki ilmu Benteng Tongkat Baja yang amat kokoh kuat. Akan

tetapi balaslah menyerang, suheng. Kenapa engkau hanya

menangkis saja dan tidak membalas?”

“Siancai…., sute yang baik. Bagaimana pinto mampu

menyarang kalau untuk melindungi diri saja sudah repot

sekali? Hampir saja pinto tidak kuat bertahan terhadap

seranganmu yang mengerikan tadi.”

“Biarlah sekarang yang terakhir, suheng. Sambutlah jurus

Tongkat Menghancurkan Kepala Setan ini!” Dan dia pun sudah

memegang tongkat itu dengan kedua tangannya dan langsung

menghantamkan ke arah kepala suhengnya dari atas.

Kelihatannya saja jurus ini amat sederhana bahkan kasar

seperti gerakan liar orang yang berkelahi tanpa menggunakan

ilmu silat. Akan tetapi sesungguhnya pukulan ini berbahaya

sekali karena mempunyai banyak macam perubahan yang

tidak tersangka-sangka andaikata yang dipukul mengelak.

Menghadapi pukulan dari atas seperti itu, memang mudah

saja mengelak. Akan tetapi anehnya Pek-sim Sian-su justeru

tidak mengelak melainkan mengangkat kedua tangan yang

memegangi kedua ujung tongkat untuk menangkis! Dia

mengenal ilmu yang aneh ini dan tahu bahwa di balik

kesederhanaannya tersembunyi perubahan yang amat

berbahaya. Maka dia tidak mau mengelak malah menangkis

agar jurus itu dengan tenaga sepenuhnya menimpa

tangkisannya dan diam-diam dia mengerahkan tenaga

saktinya.

Sie Liong sudah merasa ngeri, mengira bahwa tentu

pertemuan antara dua tongkat itu akan hebat dan dahsyat sekali

dan tentu ada di antara dua orang kakek itu yang akan

terluka. Dan tongkat butut yang dipukulkan oleh Koay Tojin itu

menyambar turun, amat kuatnya menimpa tongkat yang

dilintangkan di atas kepala Pek-sim Sian-su. Kedua orang

kakek itu memegangi tongkat dengan kedua tangan.

Dua batang tongkat butut itu bertemu, keras sekali akan

tetapi sungguh luar biasa. Tidak ada suara terdangar! Seolaholah

dua batang tongkat itu hanyalah benda-benda yang

lunak. Akan tetapi, Koay Tojin melompat ke belakang dan

tongkat bututnya telah patah menjadi dua potong! Sambil

terkekeh dia melemparkan tongkat itu. Dua potong tongkat itu

meluncur dan menancap pada batang sebuah pohon,

tingginya dua meter lebih dan menancap rapi berjajar atas

dan bawah dalam jarak sekepalan tangan.

“Heh-heh, engkau hebat, suheng. Biar kubantu engkau

mengobati bocah bongkok ini!” Tiba-tiba dia sudah

menangkap Sie Liong dengan mencengkeram punggung

bajunya dan tiba-tiba Sie Liong merasa tubuhnya melayang ke

atas dibawa oleh kakek itu melompat ke arah pohon itu. Dia

tidak sempat meronta karena tubuhnya sudah melayang ke

atas dan dia merasa betapa kedua kakinya dijepitkan di antara

dua potongan tongkat tadi sehingga tubuhnya tergantung

dengan kepala ke bawah, bergantung pada kedua kakinya

yang terjepit. Ternyata dua potong tongkat yang dilemparkan

tadi dan menancap di batang pohon, jaraknya demikian tepat

sehingga dapat menjepit kedua pergelangan kaki Sie Liong.

Ketika Sie Liong yang tergantung dengan kepala di bawah itu

hendak meronta karena takut jatuh, kakek jembel itu sambil

terkekeh menepuk punggung Sie Liong tiga kali, cukup keras

sehingga mengeluarkan bunyi berdebuk. Dan seketika Sie

Liong muntahkan darah dari mulutnya yang langsung keluar

dari dalam dada dan perutnya. Darah itu banyak dan agak

menghitam!

Koay Tojin lalu meloncat turun. Cara dia turun dari pohon

itu aneh karena dia hinggap di atas tanah bukan dengan

kedua kakinya, melainkan dengan kepalanya dan kini dia

melompat-lompat dengan kepala di bawah, mengeluarkan

suara dak-duk-dak-duk dan tubuhnya sudah berloncatan

secara aneh itu cepat sekali, sebentar saja lenyap dari situ.

“Siancai…. siancai…. siancai….!” Pek-sim Sian-su memuji

dengan kedua tangan dirangkap di depan dada. “Sute Koay

Tojin sungguh telah mencapai t ingkat yang sukar diukur

tingginya. Hebat.”

Hek Bin Tosu, orang ke tiga dari Himalaya Sam Lojin

membantah. “Akan tetapi masih kalah oleh supek. Buktinya

tongkatnya patah menjadi dua potong ketika bertemu dengan

tongkat supek!”

“Hemmm, begitukah pendapatmu? Lihat tongkatku ini….”

kata Pek-sim Sian-su lirih. Tiga orang kakek itu melihat dan….

begitu tongkat di tangan itu digerakkan perlahan, maka

runtuhlah tongkat itu dalam keadaan hancur berkepingkeping!

Himalaya Sam Lojin terkejut. Kiranya tenaga Koay

Tojin sedemikian hebatnya sehingga portemuan antara dua

tongkat itu membuat tongkat di tangan Pek-sim Sian-su

hancur, hanya berkat ilmu yang tinggi dari Pek-sim Sian-su,

maka tongkat itu masih dapat dipegangnya dalam keadaan

yang utuh.

“Siancai…. Bukan main hebatnya susiok….” kata Pek-in

Tosu sambil menarik napas panjang. “Dan berbahaya

sekali….!”

Pek-sim Sian-su dapat membaca isi hati murid keponakan

ini. “Engkau benar, memang berbahaya sekali kalau sampai

ilmu-ilmunya itu diwariskan kepada seorang manusia yang

menjadi budak nafsu. Orang seperti dia itu, yang tidak waras

dan memang sinting, dapat saja melakukan hal yang anehaneh,

dan mungkin juga lengah sehingga keliru menerima

murid. Bagaimanapun juga, segala sesuatu memang sudah

digariskan oleh Kekuasaan Tertinggi, dan manusia hanya

dapat memilih akan berpihak yang baik ataukah yang buruk,

yang benar ataukah yang salah.”

“Supek, kalau sampai susiok memiliki murid yang murtad

dan sesat, tentu akan lebih berbahaya dari pada Tibet Ngohouw

tadi! Dan kita sudah semakin tua. Siapakah yang akan

menahan kejahatannya kelak?” kata Swat Hwa Cinjin.

Pek-sim Sian-su tersenyum. “Di atas Puncak Himalaya

masih ada awan dan di atas awan masih ada langit!

Betapapun kuat dan tingginya kejahatan masih ada kekuasaan

lain yang lebih kuat dan lebih tinggi untuk mengatasinya! Hal

itu tidak perlu dikhawatirkan. Pula, bukankah kita masih hidup

sekarang? Dan kalau sute dapat mempunyai murid, kitapun

bisa saja memilih seorang murid yang baik, agar kelak dia

dapat menahan kejahatan yana datang dari manapun juga.”

Pada saat itu, terdengar suara memelas, “Locianpwe….

harap suka tolong saya….”

Pek-in Tosu bangkit dan hendak menghampiri pohon itu

untuk menurunkan Sie Liong, akan tetapi Pek-sim Sian-su

mencegahnya. “Jangan diturunkan dulu! Biarkan racun itu

habis seperti yang dikehendaki oleh sute tadi!”

Sie Liong maraca tersikea sekali. Dia tergantung dengan

kedua kaki terjepit tongkat, kepalanya di bawah dan dia

merasa betapa kepalanya berdenyut-denyut seperti kebanjiran

darah dan mulai merasa pening, juga isi perutnya seperti

masuk ke dalam rongga dadanya, kedua kaki terasa

kesemutan dan seperti tidak ada rasanya lagi, mukanya terasa

panas. Mendengar ucapan kakek berpakaian kuning tadi,

diapun merasa mendongkol.

“Locianpwe, kenapa begitu kejam membiarkan aku tersiksa

begini?”

Kini Pek-sim Sian-su mendekati pohon itu, berkata dengan

lembut, “Sie Liong, ketahuilah bahwa sute Koay Tojin tadi

telah membantuku mengobatimu. Dengan caranya sendiri

yang aneh dia telah membantu dan mengeluarkan racun dari

tubuhmu. Bukan untuk menyiksamu kalau dia

menggantungmu seperti ini. Sesungguhnya tergantung

dengan kepala di bawah ini merupakan suatu cara latihan

yang amat hebat hasilnya, ditambah dengan tepukannya pada

punggungmu tadi telah membuat engkau langsung

memuntahkan darah beracun dari tubuhmu. Sebagai

kelanjutannya, engkau harus bertahan selama satu jam

tergantung di situ, dan semua racun akan keluar dari tubuhmu

sehingga untuk menyembuhkanmu kembali hanya merupakan

hal mudah, hanya memulihkan tenagamu saja.”

Mendengar ini, Sie Liong merasa girang sekali. “Ah, kalau

begitu, maafkan saya, locianpwe, dan terima kasih. Jangankan

satu jam, biar sepuluh jam saya akan pertahankan sekuat

saya.”

Pek-sim Sian-su mengangguk-angguk dan diapun duduk

kembali bersila di depan tiga orang murid keponakannya.

“Supek tadi menyebut tentang betapa baiknya kalau kita

mempunyai seorang murid, apakah supek maksudkan dia itu?”

Pek-in Tosu menuding ke arah tubuh anak kecil bongkok yang

sedang tergantung dengan kepala di bawah itu. Pek-sim Siansu

tersenyum dan diam-diam dia memuji ketajaman

pandangan murid keponakan yang telah memperoleh

kemajuan pesat ini.

“Benar, dialah calon yang kulihat cocok sekali untuk

menjadi tumpuan harapan kita,” jawabnya.

“Akan tetapi…., dia cacat! Apa yang dapat diharapkan dari

seorang yang cacat, apalagi cacatnya bongkok seperti dia?”

Hek Bin Tosu mencela dengan alis berkerut.

“Hemm, agaknya engkau belum memeriksa anak itu

dengan seksama,” kata Pek-sim Sian-su. “Sute tadi sekali

melihat saja sudah tahu akan keistimewaan anak itu sehingga

dia mau turun tangan mengobatinya.”

“Supek benar, sute. Dia memang seorang anak yang

berbakat tinggi, dan baik sekali. Cacatnya itu tidak akan

menjadi penghalang besar, karena itu hanya merusak

bentuknya saja, tidak mempengaruhi dalamnya,” kata Pek In

Tosu.

Mereka lalu bercakap-cakap tentang sepak terjang lima

orang pendeta Lama dari Tibet yang mengadakan pengacauan

di Kun-lun-san, memburu para pertapa yang pindah dari

Himalaya puluhan tahun yang lalu.

“Supek, kalau dugaan teecu bertiga benar, memang tentu

ada hal-hal aneh terjadi di Tibet. Rasanya tidak masuk di akal

kalau Dalai Lama sendiri yang mengutus mereka untuk

melakukan pembunuhan dan perburuan itu, apalagi mengutus

mereka untuk menangkap atau membunuh teecu bertiga.

Bagaimanapun juga tentu Dalai Lama tahu bahwa mendiang

suhu dahulu adalah pembela dan pelindungnya,

menyelamatkan banyak penduduk dusun asalnya yang diamuk

oleh para Lama yang akan menculiknya.” kata Pek In Tosu.

“Memang agaknya bukan Dalai Lama yang mengutus

mereka. Pinto lebih condong menduga bahwa mereka itu

tentu merupakan hubungan dekat sekali dengan para Lama

yang tewas di tangan mendiang gurumu dan mereka memang

sengaja menuntut balas. Bukankah ketika terjadi keributan

dan pertentangan tiga puluh tahun yang lalu di Tibet itu, lima

orang Lama ini belum muncul? Keributan dahulu itu memang

dipimpin oleh Dalai Lama yang dahulu, yang marah oleh

perlawanan mendiang suhu kalian sehingga menjatuhkan

korban di antara para pendeta Lama yang dahulu

menganggap para pertapa, terutama para tosu di Himalaya

memberontak. Akan tetapi, Dalai Lama yang sekarang ini,

yang bahkan menjadi penyebab perkelahian antara suhu

kalian dan para Lama, tidak mempunyai permusuhan apapun

dengan kita.”

“Memang mencurigakan sekali dan teecu kira hal ini patut

untuk diselidiki, supek,” kata Hek Bin Tosu yang masih penuh

semangat.

Supeknya tersenyum. “Hek Bin Tosu, lupakah engkau

berapa sudah usiamu? Orang-orang setua kita ini, tidak

memiliki tenaga dan keuletan lagi untuk melakukan pekerjaan

besar itu. Memasuki Tibet untuk melakukan penyelidikan bukanlah

pekerjaan yang ringan. Apa lagi kita sudah mereka

kenal, bahkan mereka musuhi. Tidak, sebaiknya kalau kita

menyerahkan tugas itu kepada muridku itu.” Dia menunjuk

kepada tubuh anak bongkok yang tergantung di pohon.

“Baiklah, supek. Kalau begitu, biarlah kelak teecu bertiga

juga akan mewariskan ilmu-ilmu kami yang terbaik untuk sute

kami itu,” kata Swat Hwa Cinjin.

Hanya sampai di situ Sie Liong mampu menangkap

percakapan mereka karena selanjutnya dia tidak mendengar

apa-apa lagi, sudah pingsan dengan tubuh masih tergantung

seperti kelelawar.

Gadis cilik itu membalapkan kudanya naik ke bukit itu.

Seorang gadis mungil, berusia antara sebelas dan dua belas

tahun dengan wajah yang manis dan sepasang mata yang jeli

dan indah. Anak perempuan itu mengenakan pakaian cukup

indah dan cara dia menunggang kuda membuktikan bahwa ia

sudah biasa dengan permainan ini. Kudanya juga seekor kuda

yang baik sekali, dengan tubuh panjang dan leher panjang.

Anak perempuan itu seperti berlumba saja ketika melarikan

kudanya semakin cepat, padahal jalan itu tidak rata dan

mendaki. Namun, agaknya ia memang sudah biasa dengan

daerah ini, dan kudanyapun bukan baru sekali itu saja

membalap ke arah puncak bukit di mana terdapat banyak

rumput hijau segar yang gemuk dan yang akan dinikmatinya

sebagai hadiah kalau mereka sudah tiba di puncak.

Akhirnya tibalah mereka di puncak bukit yang merupakan

tanah datar dengan padang rumput yang luas. Gadis cilik itu

meloncat turun, ia dan kudanya bermandi keringat, dan

keduanya nampak gembira. Apalagi setelah anak perempuan

itu melepaskan kendali kuda dan membiarkan kudanya makan

rumput dan ia sendiri menjatuhkan diri duduk di atas rumput

yang tebal, keduanya sungguh meniknati keindahan alam,

hawa udara yang berbau harum itu, bau tanah dan tumbuhtumbuhan

yang segar. Kicau burung menambah semarak

suasana. Beberapa lamanya anak perempuan itu rebah

telentang di atas rumput, melepaskan lelah dan memejamkan

mata. Alangkah nikmatnya telentang di atas rumput seperti

itu! Lebih nikmat daripada rebah di atas kasur yang paling

lunak dengan tilamsutera yang paling halus.

Akan tetapi seekor semut yang agaknya tertindih olehnya,

menegigit tengkuknya. Ia bangkit dan menepuk semut itu,

membuangnya sambil bersungut-sungut. “Semut jahil kau!”

katanya dan kini ia menoleh kepada kudanya. Ketika ia

melihat betapa kuda itu makan rumput dengan lahapnya,

nampak enak sekali dengan mata yang lebar itu berkedapkedip

melirik ke arahnya, ia menelan ludah dan perutnya tibatiba

saja merasa lapar sekali.

Anak perempuan itu adalah Yauw Bi Sian. Seperti telah kita

ketahui, Bi Sian tinggal bersama ayahnya, Yaw Sun Kok, di

kota Sung-jan, di ujung barat Propinsi Sin-kiang. Di tempat

tinggalnya banyak terdapat penduduk aseli Suku Bangsa

Kirgiz, Uigur, dan Kazak yang ahli menunggang kuda. Oleh

karena keadaan lingkungan ini, sejak kecilpun Bi Sian pandai

menunggang kuda. Apalagi ia memang menerima latihan ilmu

silat dari ayahnya, maka menunggang kuda merupakan satu di

antara kepandaian yang cocok untuknya. Ayahnya yang amat

sayang kepadanya bahkan membelikan seekor kuda yang baik

untuknya dan sudah biasa Bi Sian membalapkan kudanya pergi

seorang diri ke lembah-lembah dan padang-padang rumput.

Kepergian Sie Liong membuat anak perempuan ini berduka

dan berhari-hari ia menangis dan mendesak ayah ibunya agar

mencari Sie Liong sampai dapat dan mengajaknya pulang. Ia

merasa kehilangan sekali karena ia tumbuh besar di samping

pawan kecilnya itu yang merupakan paman, juga kakak, juga

sahabat baiknya. Semua hiburan ayah ibunya tidak dapat

mengobati kesedihannya ketika ayahnya gagal menemukan

kembali Sie Liong.

Akan tetapi, lambat laun ia manpu juga melupakan Sie

Liong dan pada hari itu, setengah tahun setelah Sie Liong

pergi, ia membalapkan kuda seorang diri menaiki bukit itu.

Matahari sudah condong ke barat dan Bi Sian yang merasa

perutnya tiba-tiba menjadi lapar sekali melihat kudanya makan

rumput, bangkit dan menghampiri kudanya. Dirangkulnya

leher kudanya. Kuda itu dengan manja mengangkat kepala

dan mengusapkan pipinya ke kepala gadis cilik itu.

“Hayo kita pulang, hari telah sore,” bisik Bi Sian dan iapun

memasangkan kembali kendali kudanya. Pada saat itu, muncul

lima orang laki-laki kasar. Mereka itu berusia rata-rata tiga

puluh tahun dan mereka menghampiri Bi Sian sambil

tersenyum menyeringai. Karena tidak mengenal mereka, Bi

Sian mengerutkan alisnya dan tidak memperdulikan mereka.

Akan tetapi ketika melihat gadis cilik itu hendak meloncat naik

ke punggung kuda, tiba-tiba seorang di antara mereka

melangkah maju dan merampas kendali kuda dari tangan Bi

Sian.

“Perlahan dulu, nona. Kuda ini berikan kepada kami!”

katanya.

Bi Sian terkejut dan marah. Ia sama sekali tidak merasa

takut, sama sekali tidak ingat bahwa ia berada di tempat yang

sunyi sekali dan lima orang itu jelas bukan orang baik-baik.

Telunjuknya menuding ke arah muka orang yang merampas

kudanya.

“Siapa kalian? Berani kalian mengambil kudaku?”

bentaknya.

“Ha-ha-ha, bukan hanya kudamu, nona, akan tetapi segalagalanya

yang ada padamu. Hayo lepaskan semua pakaianmu,

kami juga minta semua pakaianmu itu.”

Bi Sian terbelalak, bukan karena takut melainkan karena

marahnya. Saking marahnya, ia tidak mengeluarkan kata-kata

lagi melainkan ia sudah meloncat ke depan dan memukul ke

arah perut orang yang bicara itu, seorang laki-laki brewokan

yang agaknya menjadi pemimpin mereka. Serangannya cepat

sekali datangnya. Maklum, biarpun usianya baru hampir dua

belas tahun, akan tetapi sejak kecil Bi Sian sudah menerima

gemblengan ayahnya yang pandai sehingga dalam usia sekecil

itu ia sudah memiliki ilmu silat yang lumayan, terutama

gerakannya cepat sekali walaupun dalam hal tenaga, ia masih

belum kuat benar. Si brewok itu sambil tertawa-tawa mencoba

untuk menangkap, akan tetapi dia kalah cepat.

“Bukkk! ” Perutnya kena dihantam tangan yang kecil itu dan

diapun terjengkang. Biarpun tidak terlalu nyeri, akan tetapi dia

terkejut dan juga merasa malu. Kawan-kawannya segera

menubruk dan tentu saja Bi Sian tidak mampu melawan lagi

ketika mereka itu meringkusnya.

“Lepaskan ia!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan

seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun lebih,

muncul di tempat itu. Bi Sian segera mengenal pemuda ini

yang bukan lain adalah Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun

komandan pasukan keamanan di Sung-jan, pemuda yang

pernah berkelahi dengan ia dan Sie Liong. Pemuda yang oleh

ayahnya dicalonkan menjadi suaminya!

Lima orang itu membalik dan memandang kepada Lu Ki

Cong tanpa melepaskan kedua lengan Bi Sian yang mereka

telikung ke belakang. “Hemm, bocah lancang, siapa kau?”

bentak si brewok sambil menghampiri Ki Cong dengan sikap

mengancam.

Akan tetapi pemuda remaja itu t idak menjadi gentar.

Diapun melangkah maju, membusungkan dada dan menjawab

dengan lantang, “Namaku Lu Ki Cong, putera dari Lu-ciangkun

komandan keamanan di Sung-jan!”

“Ahhh….!” Si brewok terkejut dan melangkah mundur

mendekati teman-temannya yang juga terkejut dan

memandang ketakutan.

“Maaf…. maafkan kami…. kongcu….” Si brewok berkata

dengan suara gemetar.

Lu Ki Cong melanpkah maju lagi. “Kalian tidak tahu siapa

gadis ini? Ia adalah puteri Yauw Taihiap, seorang pendekar

besar di Sung-jan, dan ia tunanganku, mengerti?”

“Maaf…. maaf….” Kini lima orang itu melepaskan Bi Sian

dan mereka menggigil ketakutan.

“Kalian patut dihajar!” Ki Cong lalu melangkah maju dan

tangan kakinya bergerak, menampar dan menendang. Lima

orang itu jatuh bangun lalu mereka melarikan diri tunggang

langgang, meninggalkan kuda tunggangan Bi Sian.

Sejenak dua orang muda remaja itu saling pandang dan

dalam pandang mata Bi Sian ada sinar kagum. Tak disangkanya

pemuda yang nakal itu memiliki keberanian dan

kegagahan!

“Terima kasih….” katanya lirih, agak malu-malu mengingat

bahwa tadi pemuda itu memperkenalkan ia sebagai tunangannya

kepada para penjahat.

Ki Cong tersenyum bangga, lalu mendekati gadis cilik itu.

“Sian-moi, perlu apa berterima kasih? Sudah semestinya kalau

aku membela dan melindungimu, kalau perlu dengan jiwa

ragaku, bukankah engkau ini tunanganku dan calon isteriku?”

Berkata demikian, Ki Cong mendekat dan tangannya lalu

memegang lengan Bi Sian dengan mesranya. Merasa betapa

lengannya diraba dengan mesra, meremang rasanya bulu

tengkuk Bi Sian dan iapun menarik tangannya dengan

renggutan, dan iapun melangkah mundur, alisnya berkerut.

“Aku tidak minta pertolonganmu, dan aku bukan

tunanganmu!” bentaknya marah.

“Aihh, jangan bersikap seperti itu kepadaku, calon

suamimu, Sian-moi. Ingat, antara orang tua kita sudah setuju

akan perjodohan kita….”

“Aku tidak perduli! Aku t idak sudi!” kembali Bi Sian

membentak.

“Sian-moi, jangan begitu. Mengapa engkau membenci aku?

Apakah aku tidak menang segala-galanya dibandingkan anak

bongkok itu?”

Tiba-tiba sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar

kemarahan yang seperti bernyala. “Jangan menghina paman

Sie Liong! Aku sayang padanya dan dia sepuluh kali lebih baik

dari padamu!”

Karena pertolongannya tadi agaknya tidak mendatangkan

perasaan berterima kasih dan bersukur dari gadis cilik itu, Ki

Cong menjadi penasaran dan dia berkata dengan kasar, “Sianmoi,

engkau sungguh tidak tahu budi! Kalau tidak ada aku,

apa yang terjadi padamu? Bukan saja kuda dan pakaianmu

diambil orang, mungkin juga engkau telah diperkosa! Dan

engkau sedikitpun tidak berterima kasih kepadaku!”

“Hemm, sudah kukatakan aku tidak minta pertolonganmu

dan tadi aku sudah bilang terima kasih. Mau apa lagi?”

“Setidaknya engkau harus memberi ciuman terima kasih!”

kata Ki Cong yang tiba-tiba menangkap lengan gadis cilik itu

dan hendak merangkul dan mencium. Akan tetapi Bi Sian

menggerakkan tangannya.

“Plakkk!” Pipi pemuda remaja itu kena ditampar sampai

merah. Ki Cong menjadi marah.

“Kau memang tidak tahu terima kasih!” Lalu dia

menangkap kedua pergelangan tangan Bi Sian. Gadia cilik itu

meronta-ronta, akan tetapi ia kalah tenaga dan kini Ki Cong

sudah berhasil merangkulnya, mendekap dan mencari muka

anak perempuan itu dengan hidungnya. Akan tetapi Bi Sian

meronta dan membuang muka ke kanan kiri sehingga ciuman

yang dipaksakan oleh Ki Cong itu tidak mengenai sasaran.

Tiba-tiba nampak ada tongkat bergerak ke arah kepala Ki

Cong dan memukul kepala penuda remaja itu.

“Tokk!” Seketika kepala itu menjendol sebesar telur ayam

dan Ki Cong berteriak mengaduh sambil meraba kepalanya

yang rasanya berdenyut-denyut. Dia melepaskan

rangkulannya pada Bi Sian dan membalik. Ketika dia melihat

seorang kakek jembel yang tua berdiri sambil memegang

sebatang tongkat butut, dia marah sekali.

“Kau…. kau berani nemukul aku?” bentaknya sambil

melangkah maju mendekati kakek tua renta itu dengan sikap

mengancam.

Kakek yang rambutnya putih riap-riapan dan pakaiannya

tambal-tambalan itu adalah Koay Tojin. Dia kebetulan saja

lewat di bukit itu dan sejak tadi melihat apa yang terjadi,

kemudian mengemplang kepala Ki Cong dengan tongkatnya.

Kini dia tertawa terkekeh-kekeh.

“Aku! Memukulmu? Heh-heh-heh, yang memukul adalah

tongkat ini, bukan aku!”

“Jembel tua busuk! Mana bisa tongkat memukul sendiri

kalau tidak kaupukulkan?”

“Siapa bilang tidak bisa?” Koay Tojin mengangkat

tongkatnya tinggi-tinggi dan berkata, “Tongkat, orang

menghinamu, dikatakannya engkau tidak bisa memukul

sendiri. Tunjukkan bahwa engkau bisa memukul anjing dan

orang kurang ajar, coba hajar pantatnya beberapa kali!”

Sungguh aneh sekali. Tongkat itu melayang terlepas dari

tangan Koay Tojin, melayang di udara lalu menukik turun dan

menghantampantat Ki Cong.

“Plakk!” Ki Cong berteriak kesakitan dan mencoba untuk

menangkap tongkat, akan tetapi sia-sia dan kembali tongkat

itu menghajar pantatnya. Ki Cong kini menjadi ketakutan

setengah mati dan sambil berteriak-teriak diapun lari

tunggang langgang ke bawah bukit setelah tongkat itu

menghajar pantatnya beberapa kali.

Melihat ini, Bi Sian tertawa senang sekali. Iapun terheranheran

melihat betapa ada tongkat dapat memukuli orang

kurang ajar. Kini tongkat itu sudah kembali ke tangan si kakek

jembel. Bi Sian mendekati.

“Kakek yang aneh, sungguh hebat sekali tongkatmu itu!

Apakah itu tongkat pusaka, tongkat wasiat?”

“Heh? Pusaka? Wasiat? Ini tongkat butut, heh-heh-heh!”

Bi Sian makin mendekat, sedikitpun tidak merasa takut atau

jijik kepada kakek jembel yang terkekeh-kekeh dan

menyeringai seperti orang gila itu.

“Kakek yang baik, maukah engkau memberikan tongkat itu

kepadaku?”

“Tongkat ini? Tongkat butut ini? Heh-heh, boleh saja….”

Bi Sian gembira bukan main dan menerima tongkat butut

itu dari tangan Koay Tojin. Ia menelit i tongkat itu, akan tetapi

hanya sebatang tongkat biasa saja, sebuah potongan ranting

pohon yang sudah kering dan kotor. Ia mencoba untuk

menggerak-gerakkan tongkat itu, akan tetapi biasa saja, tidak

ada keanehannya.

“Kakek yang baik, maukah engkau mengajarkan aku

caranya membuat tongkat ini terbang dan memukuli orang kurang

ajar? Aku ingin sekali belajar ilmu itu.”

Kakek itu tertawa bergelak. “Belajar ilmu memukul orang

dengan tongkat? Untuk apa?”

“Wah, banyak sekali kegunaannya, kek. Pertama, untuk

melindungi diriku sendiri. Ke dua, dapat kupergunakan untuk

melindungi paman kecilku yang bongkok.”

“Paman kecil bongkok?”

“Ya, pamanku Sie Liong itu kecil-kecil sudah bongkok dan

menjadi bahan hinaan orang. Si kurang ajar Ki Cong tadi juga

menghinanya!”

“Sie Liong…. anak…. bongkok?” Koay Tojin berkata lambat

dan seperti mengingat-ingat.

“Benar, kek! Apakah engkau pernah melihatnya? Dia

melarikan diri dari rumah ayah, sudah berbulan-bulan, entah

berada di mana, aku rindu sekali padanya. Kek, bolehkah aku

belajar ilmu itu?”

Koay Tojin mengelus jenggotnya lalu tiba-tiba menjumput

seekor kutu busuk di lipatan bajunya dan memasukkan kutu

itu ke bibirnya. “Engkau benar mau menjadi muridku? Bukan

hanya memainkan tongkat itu, bahkan menpelajari ilmu-ilmu

yang akan membuat engkau menjadi orang paling lihai di dunia

ini?”

“Mau, kek! Aku mau sekali!” kata Bi Sian girang karena ia

mendapatkan perasaan bahwa ia berhadapan dengan orang

sakti, seperti yang pernah ia dengar dari ayahnya. Ayahnya

pernah bercerita bahwa di dunia ini terdapat orang yang

memiliki ilmu tinggi sehingga kepandaiannya seperti dewa

saja.

Untuk beberapa detik Koay Tojin seperti kehilangan

kesintingannya dan sepasang matanya yang mencorong itu

menelusuri seluruh tubuh Bi Sian dengan penuh selidik.

Kemudian, sikapnya yang sinting kembali lagi.

“Kau mau? Benar-benarkah? Tidak mudah, nona cilik!

Pertama, engkau harus ikut ke manapun aku pergi, dan aku

tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai apapun, dan kau

harus bersedia hidup seperti anak jembel seperti aku!”

“Apa sukarnya? Aku bersedia!” jawab Bi Sian dengan penuh

semangat. Ia teringat kepada paman kecilnya yang tentu

hidup sebagai jembel pula. Dan tidak mungkin akan mati

kelaparan kalau menjadi murid seorang yang demikian sakti

seperti pengemis tua ini.

“Dan untuk waktu yang tidak sedikit! Sedikitnya tujuh

tahun engkau harus mengikuti aku, atau sampai aku mati!”

“Aku setuju!”

“Dan mentaati semua perintahku!”

“Setuju!”

“Ha-ha-ha-ha….” Kakek itu tertawa bergelak, berdiri sambil

memegangi perut yang terguncang, kepalanya menengadah

dan mulutiya ternganga. Melihat ini, Bi Sian ikut tertawa, akan

tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba saja kakek itu yang

tadinya menengadah kini membungkuk, dan menjatuhkan diri

di atas rumput lalu menangis. “Hu-hu huuhhh….”

Tentu saja Bi Sian tidak mau ikut nenangis, melainkan ikut

duduk di atas rumput, sejenak memandang kakek yang

menangis tersedu-sedu itu dengan bengong. Karena kakek itu

tidak juga berhenti menangis, ia menjadi tidak sabar dan

mengguncang lengan kakek itu dengan tangannya. Kakek ini

tentu gila, ia mulai curiga, akan tetapi tidak merasa takut,

melainkan geli.

“Kek, kek, kenapa menangis?”

Tiba-tiba kakek itu menghent ikan tangisnya, memandang

kepada Bi Sian dengan muka yang basah air mata, matanya

kemerahan, kemudian dia mewek lagi dan menangis terisakisak.

Tangis, seperti juga tawa, memang mempunyai daya

tular yang ampuh. Biarpun tadinya Bi Sian tidak mau ikut

menangis, kini melihat betapa tangis kakek itu tidak dibuatTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

buat, melainkan menangis sungguh-sungguh tanpa

disadarinya lagi air matanya mulai keluar dari kedua matanya,

menetes-netes menuruni kedua pipi. Bi Sian terkejut sendiri

ketika menyadari akan hal ini. Cepat ia menghapus air mata

dari kedua pipinya dan memegang lengan kakek itu,

mengguncangnya dan bertanya.

Tiba-tiba sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar

kemarahan yang seperti bernyala. “Jangan menghina paman

Sie Liong! Aku sayang padanya dan dia sepuluh kali lebih baik

dari padamu!”

Karena pertolongannya tadi agaknya tidak mendatangkan

perasaan berterima kasih dan bersukur dari gadis cilik itu, Ki

Cong menjadi penasaran dan dia berkata dengan kasar, “Sianmoi,

engkau sungguh tidak tahu budi! Kalau tidak ada aku,

apa yang terjadi padamu? Bukan saja kuda dan pakaianmu

diambil orang, mungkin juga engkau telah diperkosa! Dan

engkau sedikitpun tidak berterima kasih kepadaku!”

“Hemm, sudah kukatakan aku tidak minta pertolonganmu

dan tadi aku sudah bilang terima kasih. Mau apa lagi?”

“Setidaknya engkau harus memberi ciuman terima kasih!”

kata Ki Cong yang tiba-tiba menangkap lengan gadis cilik itu

dan hendak merangkul dan mencium. Akan tetapi Bi Sian

menggerakkan tangannya.

“Plakkk!” Pipi pemuda remaja itu kena ditampar sampai

merah. Ki Cong menjadi marah.

“Kau memang tidak tahu terima kasih!” Lalu dia

menangkap kedua pergelangan tangan Bi Sian. Gadia cilik itu

meronta-ronta, akan tetapi ia kalah tenaga dan kini Ki Cong

sudah berhasil merangkulnya, mendekap dan mencari muka

anak perempuan itu dengan hidungnya. Akan tetapi Bi Sian

meronta dan membuang muka ke kanan kiri sehingga ciuman

yang dipaksakan oleh Ki Cong itu tidak mengenai sasaran.

Tiba-tiba nampak ada tongkat bergerak ke arah kepala Ki

Cong dan memukul kepala penuda remaja itu.

“Tokk!” Seketika kepala itu menjendol sebesar telur ayam

dan Ki Cong berteriak mengaduh sambil meraba kepalanya

yang rasanya berdenyut-denyut. Dia melepaskan

rangkulannya pada Bi Sian dan membalik. Ketika dia melihat

seorang kakek jembel yang tua berdiri sambil memegang

sebatang tongkat butut, dia marah sekali.

“Kau…. kau berani nemukul aku?” bentaknya sambil

melangkah maju mendekati kakek tua renta itu dengan sikap

mengancam.

Kakek yang rambutnya putih riap-riapan dan pakaiannya

tambal-tambalan itu adalah Koay Tojin. Dia kebetulan saja

lewat di bukit itu dan sejak tadi melihat apa yang terjadi,

kemudian mengemplang kepala Ki Cong dengan tongkatnya.

Kini dia tertawa terkekeh-kekeh.

“Aku! Memukulmu? Heh-heh-heh, yang memukul adalah

tongkat ini, bukan aku!”

“Jembel tua busuk! Mana bisa tongkat memukul sendiri

kalau tidak kaupukulkan?”

“Siapa bilang tidak bisa?” Koay Tojin mengangkat

tongkatnya tinggi-tinggi dan berkata, “Tongkat, orang

menghinamu, dikatakannya engkau tidak bisa memukul

sendiri. Tunjukkan bahwa engkau bisa memukul anjing dan

orang kurang ajar, coba hajar pantatnya beberapa kali!”

Sungguh aneh sekali. Tongkat itu melayang terlepas dari

tangan Koay Tojin, melayang di udara lalu menukik turun dan

menghantampantat Ki Cong.

“Plakk!” Ki Cong berteriak kesakitan dan mencoba untuk

menangkap tongkat, akan tetapi sia-sia dan kembali tongkat

itu menghajar pantatnya. Ki Cong kini menjadi ketakutan

setengah mati dan sambil berteriak-teriak diapun lari

tunggang langgang ke bawah bukit setelah tongkat itu

menghajar pantatnya beberapa kali.

Melihat ini, Bi Sian tertawa senang sekali. Iapun terheranheran

melihat betapa ada tongkat dapat memukuli orang

kurang ajar. Kini tongkat itu sudah kembali ke tangan si kakek

jembel. Bi Sian mendekati.

“Kakek yang aneh, sungguh hebat sekali tongkatmu itu!

Apakah itu tongkat pusaka, tongkat wasiat?”

“Heh? Pusaka? Wasiat? Ini tongkat butut, heh-heh-heh!”

Bi Sian makin mendekat, sedikitpun tidak merasa takut atau

jijik kepada kakek jembel yang terkekeh-kekeh dan

menyeringai seperti orang gila itu.

“Kakek yang baik, maukah engkau memberikan tongkat itu

kepadaku?”

“Tongkat ini? Tongkat butut ini? Heh-heh, boleh saja….”

Bi Sian gembira bukan main dan menerima tongkat butut

itu dari tangan Koay Tojin. Ia menelit i tongkat itu, akan tetapi

hanya sebatang tongkat biasa saja, sebuah potongan ranting

pohon yang sudah kering dan kotor. Ia mencoba untuk

menggerak-gerakkan tongkat itu, akan tetapi biasa saja, tidak

ada keanehannya.

“Kakek yang baik, maukah engkau mengajarkan aku

caranya membuat tongkat ini terbang dan memukuli orang kurang

ajar? Aku ingin sekali belajar ilmu itu.”

Kakek itu tertawa bergelak. “Belajar ilmu memukul orang

dengan tongkat? Untuk apa?”

“Wah, banyak sekali kegunaannya, kek. Pertama, untuk

melindungi diriku sendiri. Ke dua, dapat kupergunakan untuk

melindungi paman kecilku yang bongkok.”

“Paman kecil bongkok?”

“Ya, pamanku Sie Liong itu kecil-kecil sudah bongkok dan

menjadi bahan hinaan orang. Si kurang ajar Ki Cong tadi juga

menghinanya!”

“Sie Liong…. anak…. bongkok?” Koay Tojin berkata lambat

dan seperti mengingat-ingat.

“Benar, kek! Apakah engkau pernah melihatnya? Dia

melarikan diri dari rumah ayah, sudah berbulan-bulan, entah

berada di mana, aku rindu sekali padanya. Kek, bolehkah aku

belajar ilmu itu?”

Koay Tojin mengelus jenggotnya lalu tiba-tiba menjumput

seekor kutu busuk di lipatan bajunya dan memasukkan kutu

itu ke bibirnya. “Engkau benar mau menjadi muridku? Bukan

hanya memainkan tongkat itu, bahkan menpelajari ilmu-ilmu

yang akan membuat engkau menjadi orang paling lihai di dunia

ini?”

“Mau, kek! Aku mau sekali!” kata Bi Sian girang karena ia

mendapatkan perasaan bahwa ia berhadapan dengan orang

sakti, seperti yang pernah ia dengar dari ayahnya. Ayahnya

pernah bercerita bahwa di dunia ini terdapat orang yang

memiliki ilmu tinggi sehingga kepandaiannya seperti dewa

saja.

Untuk beberapa detik Koay Tojin seperti kehilangan

kesintingannya dan sepasang matanya yang mencorong itu

menelusuri seluruh tubuh Bi Sian dengan penuh selidik.

Kemudian, sikapnya yang sinting kembali lagi.

“Kau mau? Benar-benarkah? Tidak mudah, nona cilik!

Pertama, engkau harus ikut ke manapun aku pergi, dan aku

tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai apapun, dan kau

harus bersedia hidup seperti anak jembel seperti aku!”

“Apa sukarnya? Aku bersedia!” jawab Bi Sian dengan penuh

semangat. Ia teringat kepada paman kecilnya yang tentu

hidup sebagai jembel pula. Dan tidak mungkin akan mati

kelaparan kalau menjadi murid seorang yang demikian sakti

seperti pengemis tua ini.

“Dan untuk waktu yang tidak sedikit! Sedikitnya tujuh

tahun engkau harus mengikuti aku, atau sampai aku mati!”

“Aku setuju!”

“Dan mentaati semua perintahku!”

“Setuju!”

“Ha-ha-ha-ha….” Kakek itu tertawa bergelak, berdiri sambil

memegangi perut yang terguncang, kepalanya menengadah

dan mulutiya ternganga. Melihat ini, Bi Sian ikut tertawa, akan

tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba saja kakek itu yang

tadinya menengadah kini membungkuk, dan menjatuhkan diri

di atas rumput lalu menangis. “Hu-hu huuhhh….”

Tentu saja Bi Sian tidak mau ikut nenangis, melainkan ikut

duduk di atas rumput, sejenak memandang kakek yang

menangis tersedu-sedu itu dengan bengong. Karena kakek itu

tidak juga berhenti menangis, ia menjadi tidak sabar dan

mengguncang lengan kakek itu dengan tangannya. Kakek ini

tentu gila, ia mulai curiga, akan tetapi tidak merasa takut,

melainkan geli.

“Kek, kek, kenapa menangis?”

Tiba-tiba kakek itu menghent ikan tangisnya, memandang

kepada Bi Sian dengan muka yang basah air mata, matanya

kemerahan, kemudian dia mewek lagi dan menangis terisakisak.

Tangis, seperti juga tawa, memang mempunyai daya

tular yang ampuh. Biarpun tadinya Bi Sian tidak mau ikut

menangis, kini melihat betapa tangis kakek itu tidak dibuatbuat,

melainkan menangis sungguh-sungguh tanpa

disadarinya lagi air matanya mulai keluar dari kedua matanya,

menetes-netes menuruni kedua pipi. Bi Sian terkejut sendiri

ketika menyadari akan hal ini. Cepat ia menghapus air mata

dari kedua pipinya dan memegang lengan kakek itu,

mengguncangnya dan bertanya.

“Hei, kakek, kenapa kau menangis? Kenapa? Aku jadi ikut

menangis, maka aku ingin tahu apa yang kita tangiskan

seperti ini. Orang tertawa atau menangis harus ada sebabnya,

kalau tanpa sebab kita bisa dianggap orang gila!”

Tiba-tiba saja kakek itu berhenti menangis dan kini dia

tertawa. Melihat anak perempuan itu memandangnya dengan

mata terbelalak, diapun berkata sambil mencela. “Kenapa kita

tidak boleh tertawa dan menangis tanpa sebab? Kita tertawa

atau menangis menggunakan mulut kita sendiri, tidak

meminjam mulut orang lain, apa perduli pendapat orang lain?”

“Tapi kau tertawa dan menangis tanpa memberitahu

sebabnya, sungguh membikin aku menjadi bingung, kek. Biasanya

orang yang menangis dan tertawa tanpa sebab hanya

orang-orang yang miring otaknya, dan aku yakin engkau bukan

orang sinting.”

“Ha-ha-ha-ha, kaukira orang sinting itu jelek? Di dunia ini,

mana ada orang yang tidak sinting? Aku tertawa karena hatiku

gembira mendapatkan seorang murid yang baik seperti

engkau. Dan aku menangis karena aku harus mewariskan

ilmu-ilmu kepadamu. Hu-hu-huuhhh….” Kembali dia

menangis.

Bi Sian mengerutkan alisnya. “Sudahlah, kek. Jangan

menangis. Kalau memang engkau t idak rela mewariskan ilmuilmu

kepadaku, sudah saja jangan menjadi guruku.”

“Apa?” Seketika tangis itu terhenti dan dia memandang

dengan mata terbelalak. “Bukan takut kehilangan ilmu karena

biar kuwariskan kepada seratus orangpun tidak akan habis,

hanya ingat akan mewariskan itu aku jadi ingat bahwa berarti

aku akan mat i! Dan aku takut…. aku takut mati….”

“Hemm, engkau takut mati, kek?”

Kakek itu berhenti lagi setelah tangisnya disambung

dengan wajah ketakutan, dan dia memandang wajah Bi Sian.

“Apa kau tidak takut mati?”

Anak perempuan itu menggeleng kepala, pandang matanya

jujur terbuka tidak pura-pura. “Kenapa aku harus takut, kek?

Orang takut itu kan ada yang ditakutinya. Kalau kematian, kita

kan tidak tahu apa itu kematian, bagaimana itu yang namanya

mati. Kenapa takut kepada sesuatu yang tidak kita mengerti?

Aku tidak takut mati, kek!”

Kakek itu terbelalak, memandang kepada anak perempuan

itu dengan penuh heran dan kagum. Tiba-tiba dia menjatuhkan

diri berlutut di depan Bi sian. “Kau pantas menjadi

guruku! Ajarilah aku bagaimana agar aku t idak takut mati! Aku

mau menjadi muridmu….”

Bi Sian melongo. Berabe, pikirnya. Kakek jembel yang

memiliki ilmu kesaktian ini agaknya memang benar-benar sinting!

“Wah, jangan gitu, kek. Bukankah aku yang menjadi

muridmu dan sepatutnya aku yang berlutut? Bangkitlah dan

biarkan aku yang berlutut memberi hormat kepadamu.”

“Tidak! Tidak!” Koay Tojin bersikeras. “Sebelum engkau

mengajari aku bagaimana caranya agar tidak takut mati, aku

tidak mau bangkit dan akan berlutut terus di depanmu sampai

dunia kiamat!”

Bi Sian seorang anak berusia sebelas tahun lebih,

bagaimana mungkin dapat memikirkan hal yang rumit dan

penuh rahasia seperti kematian? Ia seorang anak yang masih

belumdewasa, masih bocah. Akan tetapi justeru kepolosannya

itulah yang membuat ia berpemandangan polos dan

sederhana, tidak seperti orang dewasa yang suka mengerahkan

pikirannya sehingga muluk-muluk dan berbelit-belit. Bi

Sian hanya berpikir sebentar, mengapa ia tidak pernah takut

akan kematian.

“Gampang saja, kek. Jangan pikirkan tentang mati karena

kita tidak mengerti. Jangan pikirkan dan kau tidak akan

pusing, tidak akan takut!”

Jawaban itu memang sederhana dan sama sekali tanpa

perhitungan, akan tetapi dasar kakek itu sinting, dia

menerimanya dan “mengolahnya” di dalam benaknya.

“Jangan pikirkan…. jadi pikiran yang mendatangkan rasa

takut? Kalau aku tidur, pikiran tidak bekerja, apakah aku

pernah takut? Tidak! Orang pingsanpun tidak pernah takut,

apalagi orang mat i, sudah tidak bisa takut lagi! Jangan

pikirkan….! Ha-ha-ha, benar sekali! Tepat sekali! Itulah ilmunya!”

Dan diapun bangkit, menyambar tubuh Bi Sian dan

melempar-lemparkan tubuh itu ke atas. Ketika tubuh turun,

ditangkap dan dilemparkan lagi, makin lama semakin tinggi.

Mula-mula Bi Sian agak merasa ngeri juga, akan tetapi betapa

setiap kali meluncur turun tubuhnya disambut dengan cekatan

dan lunak, iapun tidak lagi merasa ngeri, bahkan menikmati

permainan aneh ini. Kalau tubuhnya dilempar ke atas, ia

merasa seperti menjadi seekor burung yang terbang tinggi,

maka mulailah ia mengatur keseimbangan tubuhnya agar

kalau dilempar ke atas, kepalanya berada di atas dan ketika

meluncur turun, ia dapat membalikkan tubuh sehingga terjun

dengan kepala dan tangan di bawah.

“Lebih tinggi, kek! Lebih tinggi lagi!” berkali-kali ia berteriak

dengan gembira dan kakek itu agaknya juga memperoleh

kegembiraan luar biasa melihat muridnya itu sama sekali tidak

takut, bahkan menantangnya untuk melemparkannya lebih

tinggi! Benar-benar muridnya itu tidak berbohong dan tidak

takut mati! Maka diapun melemparkan tubuh anak perempuan

itu makin lama semakin tinggi. Bi Sian memang cerdik sekali

dan juga memiliki keberanian luar biasa. Makin tinggi

lemparan itu, membuka kesempatan lebih banyak baginya

untuk berjungkir balik dan membuat bermacam gerakan di

udara sehingga ia semakin trampil dan cekatan.

Akan tetapi, betatapun saktinya, Koay Tojin adalah seorang

kakek tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih,

maka permainan yang membutuhkan pengerahan tenaga itu

membuat dia merasa lelah. Tiba-tiba dia melemparkan tubuh

murid itu jauh ke kiri, ke arah sebatang pohon besar dan dia

sendiri lalu meloncat ke bawah pohon itu, siap menerima

tubuh muridnya kalau meluncur ke bawah.

“Heiii….!” Bi Sian berteriak kaget akan tetapi tubuhnya

sudah masuk ke dalam pohon itu, disambut daun-daun dan

ranting-ranting pohon mengeluarkan bunyi berkeresakan

keras. Bi Sian dengan ngawur mengulur kedua tangannya dan

berhasil menangkap sebatang batang pohon dan memeluknya

erat-erat. Pohon itu besar dan tinggi sekali sehingga kalau

sampai ia terjatuh ke bawah, tubuhnya tentu akan remuk!

Koay Tojin yang sudah tiba di bawah pohon, menanti dan

siap menyambut tubuh muridnya, akan tetapi tubuh itu tak

kunjung jatuh! Dia merasa heran dan berteriak ke atas, tanpa

dapat melihat Bi Sian karena daun pohon itu memang lebat.

“Heiiiiii! Guruku…. eh, muridku yang tak takut mati! Di

mana kau, he?”

“Kakek nakal! Kenapa kau melempar aku ke pohon ini?”

Mendengar suara anak perempuan itu, Koay Tojin tertawa

bergelak saking lega dan gembira hatinya. “Ha-ha-ha,

bukankah engkau tadi belajar terbang seperti burung? Kalau

menjadi burung harus sekali waktu hinggap di dalam pohon!”

Kakek itu meloncat ke atas dan di lain saat dia sudah duduk di

atas sebuah cabang pohon, membantu Bi Sian terlepas dari

batang yang dipeluknya dengan erat dan mendudukkan pula

murid itu ke atas dahan pohon yang kokoh kuat.

“Suhu nakal.”

“Suhu….? Siapa suhu (guru)?”

Bi Sian memandang wajah kakek itu. “Hemm, sudah lupa

lagikah suhu bahwa aku telah menjadi muridmu? Kalau tidak

disebut suhu, apakah harus selalu disebut Pak Tua atau

Kakek?”

“O ya benar! Engkau muridku, aku suhumu. Kenapa kau

bilang aku nakal?”

“Lihat saja muka dan kulit tanganku ini. Balur-balur dan

luka berdarah terkait ranting dan daun pohon.”

Koay Tojin memeriksa kulit muka, leher dan tangan yang

baret-baret itu. “Ah, tidak apa-ana. Engkau harus biasa hidup

di atas pohon, karena seringkali kalau berada di hutan, aku

tidur di atas pohon. Lebih enak dan aman tidur di atas pohon,

selagi pulas tidak dihampiri dan dicium harimau.”

Mau tidak mau Bi Sian bergidik ngeri. “Diciumharimau?

Apakah suhu pernah diciumharimau?”

“Wah, sudah sering!”

“Bagaimana rasanya, suhu?”

“Wah, geli! Kumisnya yang kaku itu menggelitik muka dan

leher dan ketika aku terbangun…. wah, di depan mukaku

nampak moncong dengan gigi yang runcing dan mata yang

menyala, dan napasnya yang berbau amis!”

“Kenapa dia tidak langsung menerkam, pakai cium-cium

segala, suhu?”

“Ha-ha-ha, mana harimau mau langsung makan

mangsanya sebelum mencium sepuas hatinya? Dia mencium

untuk menikmati bau harum dan sedap calon mangsanya.

Untung bauku agak tidak enak, apak, sehingga ketika

mencium-cium dan hidungnya menyedot bauku yang apak,

harimau itu agak ragu-ragu, mungkin takut kalau dagingku

beracun, ha-ha-ha! Keraguan itu membuka kesempatan

bagiku untuk menghajarnya sampai dia lari terpincang-pincang

dan berkaing-kaing!” Kakek itu tertawa gembira sambil

menepuk-nepuk lututnya. Tiba-tiba dia seperti teringat

sesuatu. “Wah, aku lupa! Muridku, engkau harus mulai berlatih

mengumpulkan hawa sakti, membangkitkan tenaga sakti di

dalam tubuhmu!”

Tentu saja Bi Sian menjadi bingung. “Apa maksudmu,

suhu? Aku tidak mengerti!”

Koay Tojin lalu memegang kedua pundak muridnya itu,

mengangkatnya dan menjungkirbalikkan tubuh anak itu sehingga

kedua kaki Bi Sian kini tergantung ke dahan pohon,

bergantung pada belakang lutut yang ditekuk dan kepalanya

berada di bawah.

“Pertahankan keadaan begini sekuatmu, kedua tangan

biarkan tergantung saja dan tarikan napas sepanjang mungkin.

Kalau matamu berkunang, pejamkan mata.”

“Bagaimana kalau kakiku tidak kuat dan kaitannya pada

dahan terlepas, suhu?”

“Bodoh! Jangan boleh terlepas! Kalau terlepas kan ada aku

di sini! Nah, sambil bergantung begini kita bercakap-cakap!”

Dan dia sendiripun lalu menggantungkan kedua kakinya

seperti halnya Bi Sian pada dahan yang lebih tinggi sehingga

kepalanya berhadapan presis dengan kepala muridnya itu,

dalam jarak dua meter. Bi Sian merasa lucu sekali berhadapan

muka dengan kakek itu dalam keadaan terbalik.

“Nah, sekarang katakan siapa namamu!”

“Namaku Yaw Bi Sian, suhu.”

“Bagus, nama yang bagus. Bi Sian, gurumu ini dipanggil

Koay Tojin, datang dari Himalaya akan tetapi sekarang

menjadi gelandangan tanpa tempat t inggal tertentu.”

“Sekarang aku telah menjadi muridmu, suhu. Seorang

murid harus berlutut dan memberi hormat kepada suhunya.”

“Benar, hayo lekas berlutut di depanku!”

“Bagaimana mungkin kalau kita bergantung seperti ini?”

“Ah, benar. Aku lupa, mari kita turun dulu!” Dan sebelum Bi

Sian tahu apa yang terjadi, tubuhnya sudah meluncur turun

ditarik oleh kakek itu dan tahu-tahu mereka telah berada di

atas rumput lagi.

Bi Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Koay Tojin,

memberi hormat sampai delapan kali. Koay Tojin girang bukan

main dan tertawa bergelak sambil bertolak pinggang.

“Bagus, sekarang engkau telah menjadi muridku, Bi Sian.

Bangkit lah!”

Akan tetapi Bi Sian tidak mau bangkit. “Tidak, aku tidak

mau bangkit dan akan berlutut sampai dunia kiamat kalau

suhu tidak meluluskan tuntutanku!”

Kakek itu memandang bengong, lalu terkekeh. “Heh-hehheh,

engkau ini presis seperti aku tadi, mau berlutut sampai

kiamat! Mengapa engkau meniru-niru aku, heh?”

“Engkau lupa bahwa engkau ini guruku. Siapa lagi yang

ditiru murid kalau bukan gurunya?”

“Wah, wah, repot dah! Baiklah, katakan apa permintaanmu

itu?”

“Ada tiga permintaanku yang harus suhu penuhi, baru aku

mau bangkit. Kalau tidak, aku akan berlutut….”

“….sampai dunia kiamat!” Koay Tojin menyambut sambil

terkekeh dan Bi Sian tersenyum juga. Betapa lucunya keadaan

itu, pikir Bi Sian. Apakah kegilaan suhunya sudah menular

padanya?

“Katakan apa tuntutanmu!”

“Pertama, sebelum aku pergi dengan suhu, aku harus

pamit dulu kepada ayah ibuku.”

“Hemm, setuju! Akan tetapi sebentar saja, dari luar

jendela. Pokoknya mereka itu tahu bahwa engkau pergi dengan

aku.”

“Ke dua, aku akan menjadi murid suhu paling lama tujuh

tahun saja. Setelah tujuh tahun aku akan pulang ke rumah

orang tuaku.”

“Setuju! Tujuh tahun itu lama, mungkin sebelum tujuh

tahun aku sudah mati….! Eh, apa yang kukatakan ini? Mati….

hih, aku takut…. ah, tidak, tidak. Aku tidak takut. Mati itu apa?

Jangan dipikirkan, ha-ha-ha!”

“Dan ke tiga….”

“Banyak amat!”

“Cuma tiga, suhu. Yang ke tiga dan terakhir, aku mau

berkelana dengan suhu, hidup kekurangan. Akan tetapi aku

tidak sudi kalau disuruh mengemis!”

“Waah, heh-heh-heh, akupun memang gelandangan dan

jembel, akan tetapi tak pernah mengemis. Kalau ada orang

memberi, aku terima, akan tetapi aku tidak pernah minta.

Apapun yang kita butuhkan, aku mampu adakan, untuk apa

mengemis?”

“Benarkah? Suhu dapat mengadakan apa yang kita

butuhkan?”

“Tentu saja?”

“Hem, mana mungkin? Seperti sekarang ini. aku butub

sekali minum karena haus, dapatkah suhu mengadakan semangkuk

air jernih?”

“Heh-heh, apa sukarnya? Semangkuk air jernih? Lihat ini,

terimalah!”

Bi Sian terbelalak ketika tiba-tiba gurunya itu sudah

mengulurkan tangan kirinya yang memegang sebuah mangkuk

yang penuh dengan air jernih! Ia menerimanya dan dengan

sikap masih kurang percaya dan ragu-ragu ia mendekatkan

mangkuk itu ke bibirnya, lalu minum air itu dengan segarnya.

“Suhu, dari mana suhu memperoleh semangkuk air dingin

ini?” tanyanya, kini keraguannya lenyap karena air itu terasa

segar dan memang benar air jernih aseli! Sambil terkekeh

kakek itu menerima mangkuk kosong yang dikembalikan Bi

Sian dan bagaikan main sulap saja, tiba-tiba saja mangkok di

tangannya itupun dia lontarkan ke udara dan lenyap!

“Kuambil dari udara…. heh-heh-heh!”

Bi Sian terbelalak. “Wah, enak kalau begitu!” teriaknya.

“Kalau kita perlu makan, minum, rumah, pakaian, emas

permata, kita tinggal ambil dari udara! Suhu, ajari aku

melakukan hal itu, kita akan menjadi kaya raya!”

“Hushhh! Kau sudah gila? Tidak boleh begitu!”

“Mengapa tidak boleh?”

“Tak perlu kuberitahukan, kelak engkau akan mengerti

sendiri. Nah, sekarang kuturuti permintaanmu tadi, mari kita

kunjungi rumah keluarga orang tuamu agar engkau berpamit

dari mereka.”

“Itu kudaku di sana, suhu. Kita menunggang kuda!”

“Wah, aku tidak pernah menunggang kuda. Kalau engkau

mengikut i aku berkelana, tidak boleh menunggang kuda.”

“Tapi sayang kalau kuda itu ditinggalkan begitu saja.

Setidaknya dia harus kubawa pulang. Marilah, kita boncengan,

suhu!”

“Engkau naiklah, Bi Sian. Biar kakiku hanya dua buah, tiga

dengan tongkatku, kiranya tidak akan kalah melawan kuda

yang berkaki empat itu.”

“Mana mungkin, suhu?”

“Sudahlah, jangan cerewet, Bi Sian. Mari kita pergi!”

Mendongkol juga hati Bi Sian dimaki cerewet oleh gurunya.

Boleh kaurasakan nanti, pikirnya. Ingin berlumba dengan

kudaku yang larinya seperti angin? Bagaimanapun juga, ia

tidak percaya suhunya akan mampu menandingi kecepatan

kudanya. Iapun lalu meloncat ke atas punggung kuda dan

menoleh kepada gurunya yang masih duduk bersila di atas

tanah. “Mari kita berangkat, dan cepat, suhu. Hari sudah mulai

sore!”

Berkata demikian, Bi Sian lalu mencambuk kudanya dan

membalapkan kuda berlari menuruni bukit dengan cepat.

Setelah beberapa lamanya ia berlari, ia menoleh untuk melihat

gurunya yang ditinggalkan jauh. Tentu saja ia akan berhenti

kalau melihat suhunya tertinggal jauh. Akan tetapt betapa

kaget dan heran rasa hatinya melihat bahwa kakek itu tepat

berada di belakang kudanya, seolah-olah sedang melenggang

seenaknya saja! Ia merasa penasaran dan mencambuki

kudanya, membalapkan kudanya makin cepat lagi. Setelah

beberapa lamanya, kembali ia menoleh dan untuk ke dua

kalinya ia terbelalak melihat suhunya tetap berada di belakang

kudanya, bahkan memegang ujung ekor kuda itu sambil

tersenyum-senyum kepadanya! Kini Bi Sian t idak ragu-ragu

lagi. Suhunya memang seorang sakt i seperti yang pernah ia

dengar dari ayahnya. Hatinya merasa kagum dan juga

bangga, juga girang karena ia merasa yakin bahwa akan

banyak ilmu yang hebat dapat diterimanya dari kakek aneh ini.

Akan tetapi suhunya sudah begitu tua. Rasa iba menyelinap di

dalam hati Bi Sian dan kini ia membiarkan kudanya berlari

lambat agar gurunya yang sudah tua itu tidak terlalu

mengerahkan tenaga.

Tiba-tiba Bi Sian menghentikan kudanya. Mereka sudah tiba

di kaki bukit dan ia melihat ada enam orang berdiri

menghadang di tengah jalan. Mereka itu adalah lima orang

perampok tadi, dan di belakang mereka ia mengenal Lu Ki

Cong! Tentu saja Bi Sian terheran-heran. Bagaimana lima

orang perampok itu dapat berada di situ bersama Ki Cong dan

agaknya di antara mereka tidak terdapat permusuhan?

Bukankah tadi lima orang “perampok” itu dimaki dan dihajar

oleh Lu Ki Cong?

“Heh-heh-heh, sahabatmu yang kurang ajar itu sudah

menanti bersama lima orang anak buahnya.”

Bi Sian terkejut.

“Anak buahnya? Tidak, suhu, mereka adalah lima orang

perampOk yang tadi malah dihajar oleh Ki Cong ketika mereka

menggangguku!”

“Heh-heh-heh, dan kukatakan bahwa mereka adalah anak

buahnya!”

“Kalian mau apa menghadang perjalananku?” bentak Bi

Sian kepada lima orang itu. “Minggir!”

Akan tetapi, betapa heran rasa hati Bi Sian ketika ia melihat

Lu Ki Cong menggerakkan tangannya dan berteriak kepada

lima orang perampok itu. “Bunuh kakek gila itu dan tangkap

gadis itu untukku!”

Lima orang itu bergerak ke depan dan mengepung Bi Sian

dan Koay Tojin. Marahlah Bi Sian karena gadis yang cerdik itu

sudah dapat menduga apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia

melompat turun dari atas kudanya dan menudingkan

telunjuknya ke arah muka Lu Ki Cong sambil memaki.

“Tikus busuk Lu Ki Cong! Sekarang aku mengerti akal

busukmu. Kiranya lima orang ini adalah antek-antekmu yang

sengaja kausuruh menggangguku tadi kemudian engkau

muncul sebagai jagoan yang mengundurkan mereka untuk

menarik hatiku! Engkau memang tikus busuk yang licik,

curang, dan jahat sekali!”

Lu Ki Cong tidak menjawab, akan tetapi lima orang tukanp

pukulnya itu kini menghampiri Bi Sian dan Koay Tojin dengan

sikap mengancam. Kaoy Tojin hanya tersenyum lebar dan

berkata kepada Bi Sian, “Bi Sian, bukankah engkau ingin

menghajar tikus-tikus itu? Nah, hajarlah mereka, jangan beri

ampun seorangpun, terutama tikus cilik di belakang itu!”

Tentu saja Bi Sian menjadi ragu-ragu. Ia sudah maklum

bahwa tak mungkin ia mampu mengalahkan lima orang

tukang pukul itu. Tadipun ia tidak berdaya, bahkan

menghadapi Lu Ki Congpun ia kalah tenaga. Bagaimana kini ia

harus menghajar enamorang itu?

“Tapi, suhu, bagaimana aku mampu….”

“Hushh! Bikin malu saja! Engkau kan muridku? Hayo hajar

mereka dan kau gunakan tongkat bututku ini agar tanganmu

tidak kotor!” Kakek itu menyerahkan tongkatnya. Besar hati Bi

Sian. Ia percaya sepenuhnya akan kesaktian gurunya yang

kadang-kadang seperti sinting itu memerintahkan ia

menyerang, tentu gurunya sudah siap sedia membantunya.

Dan tongkat itu agaknya tongkat wasiat, pikirnya. Buktinya,

tadi tongkat itu dapat menghajar Ki Cong tanpa dipegang oleh

suhunya. Kini tongkat itu berada di tangannya dan entah

bagaimana, ia merasa hatinya besar dan penuh semangat

ketika tongkat itu berada di tangannya. Tanpa memperdulikan

bahaya yang mungkin mengancam dirinya lagi, Bi Sian

menerjang ke depan menggerakkan tongkat butut di

tangannya. Bagaimanapun juga, Bi Sian sejak kecil

digembleng ilmu silat oleh ayahnya, maka ia memiliki gerakan

yang gesit dan langkah yang teratur dan kuat.

Menghadapi serangan anak perempuan yang memegang

tongkat butut itu, lima orang tukang pukul itu tentu saja

memandang rendah sekali. Mereka adalah tukang-tukang

pukul yang sudah biasa mempergunakan kekerasan, dan ratarata

memiliki ilmu silat yang cukup hebat, dan tenaga yang

kuat. Kalau tadi mereka “dihajar” oleh Lu Ki Cong, hal itu

memang disengaja dan sudah diatur sebelumnya, merupakan

siasat Lu Ki Cong untuk menalukkan hati Bi Sian yang keras. Ki

Cong yang mengatur semuanya dan mempergunakan mereka.

Tadi, Lu Ki Cong lari turun dari bukit, menemui mereka dan

minta kepada mereka untuk menghajar dan membunuh kakek

jembel yang telah menghinanya, sekalian menangkapkan Bi

Sian karena dia masih merasa penasaran bahwa gadis cilik itu

tetap tidak mau tunduk kepadanya!

Sambil tersenyum mengejek, menyeringai lebar, seorang di

antara mereka yang brewok, maju dan mengulur tangannya

hendak menangkis lalu menangkap dan merampas tongkat

butut itu ketika Bi Sian memukulkan tongkat itu ke arah

mukanya. Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut bukan main karena

tangannya itu tertahan di udara, tak dapat digerakkan seperti

bertemu dengan benda yang tidak nampak, sementara itu,

tongkat butut di tangan Bi Sian sudah menyambar ke arah

mukanya. Saking herannya melihat tangannya tidak dapat

bergerak terus, si brewok itu tak sempat lagi mengelak.

“Plakkk!” Tongkat itu menghantam mukanya, tepat

mengenai hidungnya dan darah mengucur dari hidungnya

yang seketika “mimisen”. Melihat ini, dua orang temannya

menubruk maju, seorang merampas tongkat, seorang lagi

hendak meringkus Bi Sian. Akan tetapi, kembali terjadi

keanehan ketika dua orang itu mendadak terhenti gerakan

mereka dan seperti patung tak mampu melanjutkan gerakan

mereka. Bi Sian sudah mengayun tongkatnya ke arah mereka,

menyerang kepala.

“Tukkk! Tukkk!” Dua buah kepala itu masing-masing

kebagian sekali pukulan yang cukup keras dan seketika kepala

itu keluar telurnya, menjendol biru!

“Heh-heh-heh, bagus sekali! Pukul terus, Bi Sian!”

Bi Sian sendiri terheran-heran mengapa tiga orang itu sama

sekali tidak menangkis atau mengelak dan makin yakinlah

hatinya bahwa gurunya tentu mempergunakan kesaktian, atau

tongkat wasiat itu yang lihai bukan main. Iapun terus

mendesak ke depan dan dua orang tukang pukul lainnya yang

sudah menerjangnya, disambutnya dengan dua kali pukulan

ke arah muka mereka.

Seperti yang terjadi pada teman-teman mereka, dua orang

itu tertahan serangan mereka dan tak mampu menggerakkan

tangan ketika tongkat butut itu menyambar ke arah kepala

mereka. Mereka baru dapat bergerak setelah kepala mereka

terpukul dan hanya dapat menggosok-gosok kepala yang

menjadi benjol oleh pukulan tongkat itu.

Tentu saja lima orang itu menjadi marah sekali. Mereka

adalah tukang-tukang pukul yang jarang menemukan tandingan,

dan di kota Sung-jan mereka amat ditakuti orang.

Bagaimana kini menghadapi seorang anak perempuan saja

mereka sampai terkena hajaran tongkat seorang demi

seorang? Biarpun tidak sampai terluka parah namun pukulan

tongkat itu mendatangkan rasa sakit di hati yang jauh

melebihi rasa nyeri di bagian yang terpukul.

“Bocah setan berani kau memukul kami?” bentak si brewok.

“Heh-heh-heh, muridku tidak kenal takut, tidak kenal

mundur, tidak takut mati, tentu saja berani menghajar kalian,

heh-heh. Hajar terus, Bi Sian, pukul anjing-anjing itu sampai

mereka melolong-lolong!”

Dan Bi Sian yang kini sudah bersemangat dan bergembira

sekali, menerjang terus! Biarpun lima orang itu kini sudah

marah bahkan mereka mencabut golok, namun apa artinya

golok-golok itu kalau setiap kali digerakkan, selalu tertahan di

udara? Akibatnya, mereka hanya menjadi bulan-bulanan

sabetan dan pukulan tongkat di tangan Bi Sian. Biarpun yang

memukuli hanya seorang anak perempuan, akan tetapi karena

anak perempuan itu sudah terlatih silat dan memiliki tenaga

cukup kuat, dan yang dipukuli sama sekali tidak mampu

mengelak, menangkis atau membalas, akhirnya tubuh

merekapun matang biru, muka mereka berdarah dan kepala

benjol-benjol!

Melihat ini, bukan hanya lima orang tukang pukul itu yang

mulai terkejut dan gentar, juga Lu Ki Cong terbelalak matanya

dan diapun membuat gerakan untuk menyelamatkan diri dan

berlari pergi.

“Heh-heh, kau hendak lari ke mana? Bi Sian, jangan

biarkan monyet kecil itu melarikan diri!” teriak Koay Tojin dan

dia kelihatan menggapai dengan tangannya. Anehnya, kedua

kaki Ki Cong yang tadinya sudah melompat hendak berlari itu

seperti menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan maju lagi.

Sementara itu, Bi Sian yang marah sekali kepada pemuda

yang menipunya itu, cepat lari menghampirinya dan tongkatnya

lalu menghajar membabi-buta! Ki Cong yang dapat

bergerak kembali, mencoba melawan, akan tetapi hasilnya

malah pukulan-pukulan itu semakin hebat.

“Heh-heh-heh, pukul kepalanya, hantam mukanya dan

habiskan pantatnya biar tahu rasa monyet itu, heh-heh!” Koay

Tojin memberi semangat kepada muridnya. Dan Bi Sian terns

menghajar Ki Cong sampai akhirnya pemuda itu yang sudah

berdarah hidungnya dan babak bundas penuh balur dan

bengkak-bengkak membiru, menjatuhkan diri bergulingan di

atas tanah sambil menangis! Melihat ini, lima orang tukang

pukul itu mencoba untuk menolong tuan muda mereka. Akan

tetapi biarpun mereka mendesak maju dengan serentak, tibatiba

saja gerakan mereka tertahan dan Bi Sian sudah

membalik dan menghujankan pukulan tongkatnya kepada

mereka!

Lima orang tukang pukul itu bukan orang bodoh. Walaupun

tadinya mereka merasa penasaran dikalahkan oleh seerang

anak perempuan, akan tetapi kini mereka maklum bahwa

sesungguhnya bukan anak perempuan itu yang menghajar

mereka, melainkan kakek jembel yang aneh itu. Maka, mereka

menjadi gentar sekali. Kalau dilanjutkan, jangan-jangan

mereka semua akan tewas oleh pukulan-pukulan anak

perempuan yang galak itu! Mereka lalu menyambar tubuh Lu

Ki Cong yang masih menangis, dan melarikan diri dari situ

sambil terhuyung dan terpincang-pincang! Suara ketawa Koay

Tojin mengikut i mereka, menbuat mereka semakin takut dan

berusaha lari secepatnya sampai jatuh bangun! Bi Sian tidak

mengejar karena ia sudah menjatuhkan dirinya di atas tanah,

terengah-engah dan bermandi peluh, akan tetani wajahnya

berseri dan mulutnya tersenyumpuas.

Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal, bahkan lalu

menjatuhkan diri pula di atas tanah dekat Bi Sian, terus

tertawa sanbil memegangi perutnya dan menggeliat-geliat.

Melihat ini, Bi Sian kembali timbul dugaan bahwa gurunya ini

walaupun memang sakt i sekali, akan tetapi agaknya tidak

lumrah manusia dan tentu akan dianggap sint ing oleh orang

lain. Akan tetapi ia lebih tahu. Sinting atau tidak, suhunya ini

seorang manusia luar biasa! Iapun tahu benar bahwa suhunya

yang telah membantunya maka dengan begitu mudahnya ia

menghajar enam orang tadi tanpa satu kalipun mendapat

balasan pukulan dari mereka.

“Sudahlah, suhu. Apa sih yapg kau tertawakan begitu

hebat?” katanya untuk menghent ikan aksi gurunya. Benar

saja. Koay Tojin menghentikan tawanya dan diapun bangkit

berdiri.

“Wah, kau hebat, Bi Sian. Kau hebat sekali, engkau telah

menghajar anjing-anjing itu sampai berkaing-kaing, heh-hehheh!”

Bi Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki

gurunya. “Berkat pertolongan suhu! Aku berjanji akan belajar

dengan tekun dan penuh semangat agar kelak tidak

menyusahkan suhu lagi kalau bertemu dengan anjing-anjing

seperti tadi.”

Bi Sian lalu menunggangi kudanya lagi dan gurunya tetap

berjalan di belakangnya. Kini Bi Sian mulai menaruh hormat

kepada gurunya karena ia yakin akan kesaktian kakek itu,

maka iapun t idak berani membalapkan kudanya, takut kalau

membuat orang tua itu menjadi kelelahan. Oleh karena itu,

hari telah mulai gelap ketika akhirnya mereka tiba di dalam

kota Sung-jan. Atas petunjuk gurunya, Bi Sian menambatkan

kuda itu di kebun belakang, kemudian iapun menurut saja

petunjuk suhunya bagaimana harus berpamit dari ayah

bundanya.

“Kalau kita masuk ke dalam dan bertemu ayah ibumu,

tentu mereka akan menahanmu dan mungkin akan

memusuhiku. Hal itu amat tidak enak, maka sebaiknya engkau

menurut aku saja. Mari!”

Yaw Sun Kok dan isterinya berada di ruangan dalam. Sejak

tadi Sie Lan Hong merasa gelisah dan beberapa kali ia

menyuruh suaminya untuk pergi mencari dan menyusul puteri

mereka yang belum juga pulang.

“Aku mulai khawatir, kenapa sampai hari telah menjadi

gelap begini ia belum juga pulang. Sebaiknya kalau engkau

pergi mencarinya,” bujuknya untuk ke beberapa kalinya.

“Ia pergi membawa kuda dan biasanya ia memang pulang

setelah senja. Ada beberapa tempat yang biasa ia datangi dan

aku tidak tahu yang mana yang ia kunjungi kali ini. Kalau aku

mencari ke suatu tempat dan ia pergi ke lain tempat, mungkin

aku akan bersimpang jalan dengannya. Biarlah kita tunggu

sebentar. Tidak perlu khawatir.”

“Akan tetapi, aku gelisah sekali. Ia anak perempuan dan….”

“Aihh, mengapa engkau memandang rendah anak sendiri?

Biarpun perempuan dan masih kecil, akan tetapi Bi Sian sudah

memiliki kepandaian yang cukup untuk melindungi diri sendiri.

Dan iapun ahli menunggang kuda, tidak mungkin terjadi

sesuatu yang tidak baik padanya. Pula, siapa yang akan berani

mengganggunya? Semua orang di Sung-jan tahu bahwa ia

adalah anakku.”

Mendengar ucapan suaminya itu, Si Lan Hong terdiam.

Akan tetapi ia masih terus memandang ke arah pintu dengan

penuh harapan. Pada saat itu, tiba-tiba saja ada suara ketukan

pada jendela di sebelah kiri ruangan itu. Suami isteri itu cepat

menengok dan…. di balik jendela kaca itu nampaklah wajah

puteri mereka! Bi Sian tersenyum lebar dan wajahnya berseri

penuh kegembiraan ketika ayah ibunya memandang

kepadanya dengan mata terbelalak.

“Bi Sian….!” teriak ibunya, dan ayahnya cepat melangkah

ke jendela, hendak membuka jendela itu.

“Jangan dibuka, ayah! Ibu dan ayah, dengarkan baik-baik

apa yang akan kukatakan! Aku telah mendapatkan seorang

guru, guruku namanya Koay Tojin dan kedatanganku ini hanya

untuk pamit kepada ayah dan ibu. Aku akan ikut dia merantau

selama tujuh tahun dan setelah tamat belajar, aku pasti

pulang. Jangan cari aku, ayah. Tidak akan ada gunanya,

karena ayah tidak akan dapat menyusul suhu!”

“Bi Sian….!” Yauw Sun Kok berseru dan cepat sekali dia

sudah membuka daun jendela itu. Akan tetapi, wajah anaknya

itu telah hilang dan yang nampak hanya malam gelap. Dia

merasa penasaran dan cepat dia melompat keluar jendela.

Isterinya juga meloncat keluar jendela. Mereka memanggilmanggil

nama Bi Sian sambil mencari-cari, akan tetapi tidak

nampak bayangan anak itu.

Tiba-tiba terdengar suara anak mereka dari atas genteng.

“Kuda itu kutambatkan di dalam kebun, ayah. Nah, selamat

tinggal, ayah dan ibu. Tujuh tahun lagi aku pulang!”

Ketika mereka menengok, ternyata Bi Sian sudah berdiri di

wuwungan rumah mereka, tentu saja Yauw Sun Kok terkejut

bukan main dan diapun cepat molompat naik ke atas genteng

untuk mengejar. Akan tetapi, dalam sekejap mata saja

bayangan anaknya itupun lenyap. Dia merasa penasaran

sekali. Tak mungkin Bi Sian dapat melompat ke atas

wuwungan rumah seperti itu dan lebih tidak mungkin lagi

menghilang seperti setan.

Akan tetapi semua usahanya untuk mencari sia-sia belaka.

Baru sekali itu dalam hidupnya Yauw Sun Kok merasa tidak

berdaya sama sekali, seperti dipermainkan, seperti seorang

yang lemah. Diapun dapat menduga bahwa itu tentu garagara

guru anaknya itu yang bernama Koay Tojin. Tahulah dia

bahwa anaknya bertemu dengan seorang sakti yang

memilihnya untuk menjadi muridnya. Akan tetapi, dia tidak

pernah mendengar nama Koay Tojin! Dia tidak tahu ke mana

puterinya dibawa dan siapa Koay Tojin itu, orang macam apa!

Tentu saja dia gelisah bukan main dan ketika isterinya

merangkulnya sambil menangis, Yauw Sun Kok hanya dapat

menarik napas panjang berulang-ulang dan merasa berduka

sekali. “Aku akan mencarinya…., aku akan mencarinya sampai

jumpa dan membawanya pulang….” Dia menghibur isterinya

berkali-kali.

Akan tetapi, hiburan ini hanya tinggal hiburan kosong

belaka. Sampai berbulan-bulan Yauw Sun Kok mengerahkan

tenaga, bahkan minta bantuan orang namun tidak ada yang

berhasil. Tepat seperti dikatakan oleh puterinya ketika

berpamit, dia tidak berhasil menemukan jejak Koay Tojin.

Bahkan pada keesokan harinya, Lu-ciangkun datang

dengan marah-marah mencari Bi Sian sambil membawa Lu Ki

Cong yang babak bundas! Ki Cong menceritakan betapa dia

dipukuli dengan tongkat oleh Bi Sian yang dibantu seorang kakek

jembel yang gila! Tentu saja Ki Cong tidak menyebutnyebut

tentang lima orang tukang pukulnya.

Mendengar ini, makin yakinlah hati Yauw Sun Kok bahwa

puterinya memang dipilih sebagai murid oleh seorang sakti

dan bahwa Koay Tojin itu, menurut keterangan Lu Ki Cong,

adalah seorang kakek tua renta yang berpakaian jembel dan

bersikap seperti orang gila! Tentu dia sakti, pikirnya. Diapun

minta maaf kepada Lu-ciangku, mengatakan bahwa anak

perempuannya itu telah pergi dibawa oleh seorang sakti yang

mengambilnya sebagai murid.

Demikianlah, akhirnya Yauw Sun Kok dan isterinya hanya

dapat menunggu dengan hati penuh kegelisahan dan

kerinduan. Mereka harus menanti sampai tujuh tahun!

Mendung menyelimut i kehidupan keluarga ini. Yauw Bi Sian

yang tadinya seolah-olah menjadi matahari yang menyinari

kehidupan mereka, kini menghilang. Lebih-lebih lagi bagi Sie

Lan Hong! Kepergian puterinya ini merupakan pukulan berat

baginya. Baru saja ia kehilangan adik kandungnya dan dalam

keadaan masih berduka, tiba-tiba saja tanpa disangka-sangka,

puterinya pergi untuk waktu yang lama sekali. Tujuh tahun!

Kesenangan dalam bentuk apapun di dunia ini tidak abadi!

Kesenangan seperti gelembung-gelembung sabun yang setiap

saat dapat meletus dan lenyap di udara! Kesenangan datang

dari nafsu dan menimbulkan ikatan-ikatan dengan sumber

kesenangan itu. Kalau tiba saatnya kesenangan itu direnggut

dan terpisah dari kita, maka kitapun merasa kehilangan dan

berduka. Hidup ini, penuh dengan duka yang timbul dan

kekecewaan, iba diri, kemarahan, kabencian, permusuhan.

Karena hidup ini penuh dengan duka dan sengsara, maka kita

semua rindu akan kebahagiaan. Sayang sungguh sayang, kita

selalu salah mengenal kesenangan sebagai kebahagiaan!

Kesenangan hanya merupakan saudara kembar dari

kesusahan belaka, keduanya itu tak terpisahkan seperti

permukaan depan belakang dari telapak tangan. Ada susah

ada senang, ada suka ada duka, tak terpisahkan. Karena itu,

setiap kedukaan kita coba hibur dengan kesukaan, setiap

kesusahan kita tutupi atau ingin lupakan melalui kesenangan.

Padahal, kesenangan itupun akan berakhir dengan kesusahan,

seperti gelombang tidak hanya bergerak ke satu jurusun, tapi

pada saatnya membalik.

Kebahagiaan sungguh jauh berbeda. Kebahagiaan tidak

mempunyai kebalikan! Kebahagiaan berada jauh di atas jangkauan

suka dan duka. Karena suka dan duka itu hanya

merupakan permainan pikiran, maka hanya menjadi pakaian

dari si aku. Kebahagiaan tak dapat diraih oleh pikiran.

Kebahagiaan tidak dapat didatangkan dengan sengaja oleh si

aku yang ingin berbahagia. Kebahagiaan adalah Cintakasih,

Cahaya Illahi, kekuasaan Tuhan yang selalu ada, di dalam diri

kita sendiri, tak pernah sedetikpun meninggalkan kita. Hanya

pikiran dengan nafsu-nafsunya menyeret kita ke dalam

kegelapan sehingga tidak dapat melihat-Nya.

0odwo0

Terdengar suara lantang seorang anak laki-laki yang

membaca kitab dari dalam sebuah kamar di rumah gedung indah

itu. Suaranya lantang dan yang dibacanya adalah kitab

sajak para penyair jaman dahulu. Suara itu merdu dan cara

membacanya amat baik, setiap kata diucapkan dengan jelas

dan dengan nada suara yang tepat. Kalau orang mengintai ke

dalam kamar itu, dia akan kagum. Anak laki-laki itu memang

tampan, ganteng dan rapi, baik rambutnya, seluruh tubuhnya

yang terpelihara baik-baik, maupun pakaiannya. Jelas seorang

anak terpelajar dari keluarga bangsawan atau hartawan! Cara

dia duduk saja menghadapi kitab di atas meja itupun

menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang pandai

membawa diri, sopan santun.

Memang anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu sejak

kecil sudah di gembleng dengan pelajaran sastera. Yang

dimaksud pelajaran sastera pada waktu itu adalah pelajaran

membaca dan menulis huruf, juga membaca kitab-kitab kuno

dimana terdapat pelajaran filsafat, kebudayaan, sajak dan

pelajaran kebatinan yang berat-berat menjadi santapan anakanak

remaja! Tentu saja hanya sedikit yang mampu meresapi

benar akan isinya, sebagian besar hanya mampu menghafal

saja dengan lancar akan tetapi mengenai inti artinya, jarang

yang dapat mengerti secara mendalam. Apa lagi

menghayatinya!

Anak itu bernama Coa Bong Gan, berusia tiga belas tahun

dan dia adalah anak angkat dari Coa-wangwe (Hartawan Coa),

seorang yang kaya raya di kota Ye-ceng, sebuah kota di kaki

pegunungan Kun-lun-san sebelah barat. Coa Hun atau

Hartawan Coa adalah seorang pedagang besar yang

berdagang segala macam barang dengan negara-negara barat

di perbatasan barat. Kurang lebih delapan tahun yang lalu,

ketika terjadi keributan karena adanya gerombolan perampok

dari Nepal yang merusak dusun-dusun di perbatasan selatan

dan barat, rombongannya yang baru pulang dari barat

menemukan seorang anak laki-laki berusia lima tahun

berlarian seorang diri sambil menangis di antara para

pengungsi. Karena bocah itu mungil dan tampan, dan tidak

ada seorangpun mengakuinya sebagai anggauta keluarga,

maka Coa Hun lalu membawanya pulang dan semenjak itu,

anak itu diakui sebagai anak angkat. Anak berusia lima tahun

itu hanya mengenal nama sendiri sebagai Bong Gan, maka

sejak itu dia bernama Coa Bong Gan, menggunakan nama

keluarga Coa-wangwe.

Karena Coa-wangwe sendiri tidak mempunyai anak laki-laki,

hanya beberapa anak perempuan, maka Bong Gan disayang

oleh keluarga itu. Hanya Coa-wangwe tidak merahasiakan

bahwa anak itu adalah anak angkat, bukan anak kandung

karena dia masih mengharapkan untuk memperoleh seorang

keturunan anak laki-laki. Untuk itu dia berusaha dengan

mengambil beberapa orang selir yang masih muda dan sehat,

sedangkan dia sendiri ketika membawa Bong Gan pulang baru

berusia empat puluh dua tahun. Karena itu, biarpun Bong Gan

disayang, akan tetapi tetap saja semua orang menganggapnya

bukan sebagai anak kandung Coa-wangwe dan sikap hormat

para pelayan terhadapnya hanya kalau berada di depan

hartawan itu. Bahkan para selir dan juga Nyonya Coa merasa

iri dan tidak suka kepada Bong Gan yang dianggap bukan

suku bangsa Han. Melihat bentuk wajah anak itu,

ketampanannya merupakan ketampanan suku Uigur atau

Kazak dan anak itu tidak ketahuan siapa orang tuanya.

Agaknya dua hal ini, yaitu kemuliaan yang diterima seorang

anak yang tidak dikenal asal-usulnya, ketampanan dan

kecerdikannya, kecakapannya belajar ilmu kesusasteraan,

mendatangkan rasa iri hati dan banyak orang tidak suka

kepada Bong Gan. Baru namanya saja, yang diakui anak kecil

itu ketika ditemukan, Bong Gan, berbau nama suku bangsa

Uigur atau Kazak. Mungkin nama aselinya Munggan atau Boangana!

Bong Gan kini telah menjadi seorang pemuda remaja

berusia tiga belas tahun yang amat cerdik, pandai sekali

mengatur sikap dan bersikap manis dan rendah hati terhadap

yang berada di atasnya, bersikap anggun dan berwibawa

terhadap yang tidak suka kepadanya. Pakaiannya selalu baru

dan rapi sekali, tubuhnya selalu dirawat baik-baik dari

rambutnya sampai kuku kakinya. dan dalam setiap

penampilannya, dia hanya mendatangkan rasa bangga kepada

ayah angkatnya, satu-satunya orang yang dihormatinya secara

berlebihan karena dia tahu bahwa hanya seorang ini sajalah

yang memungkinkan dia mempertahankan kemuliaannya!

Biarpun usianya baru tiga belas tahun, namun Bong Gan

amat cerdik. Dia tahu pula bahwa banyak di antara anggauta

keluarga ayah angkatnya merasa iri hati dan tidak suka

kepadanya. Dia tahu pula bahwa mereka yang tidak suka

kepadanya selalu memata-matainya, menyebar banyak matamata

yang bekerja sebagai pelayan-pelayan, untuk mencari

kesalahannya agar kesalahannya itu dapat dilaporkan kepada

ayah angkatnya. Oleh karena itu, dia bersikap hati-hati sekali.

Malam itu, biarpun dia tahu bahwa ayah angkatnya sedang

berkunjung ke kota lain dan malam itu t idak akan pulang, dia

tetap saja menghafalkan pelajarannya membaca kitab kuno

dengan suara yang berirama dan merdu pada malam hari itu.

Ini berarti bahwa biarpun ayah angkatnya tidak berada di rumah,

tetap saja dia belajar dengan tekun!

Setelah dia selesai membaca, dia mendengar langkah kaki

halus memasuki kamarnya. Dia menengok dan ketika melihat

siapa yang memasuki kamarnya, jantung pemuda remaja ini

berdentam penuh ketegangan. Tentu saja dia mengenal Pek

Lan, selir termuda dan tersayang dari ayah angkatnya. Pek

Lan baru berusia tujuh belas tahun dan ia seorang peranakan

Kirgiz-Han yang amat manis. Wajahnya lonjong seperti wanita

Kirgiz umumnya, kulitnya kuning putih mulus seperti kulit

wanita Han, akan tetapi bulu-bulu halus pada lengannya

menambah daya tarik seorang wanita berdarah Kirgiz. Tentu

saja ia menjadi selir tersayang Coa-wangwe karena ia paling

muda dan paling cantik, dan ia diperoleh hartawan itu dengan

tebusan uang yang amat mahal! Karena ia amat disayang dan

dimanja oleh hartawan itu, tentu saja hal ini menimbulkan

perasaan iri kepada para selir lain, walaupun perasaan iri itu

hanya mereka simpan dalam hati saja karena pengaruh selir

muda itu terhadap Coa-wangwe amat kuat sehingga hartawan

itu pasti membela sang selir termuda kalau sampai terjadi

pertengkaran terbuka.

Perjodohan antara seorang pria dan seorang wanita harus

berdasarkan cinta di antara mereka. Tanpa perasaan ini,

sudah pasti akan terjadi pertentangan dan penyelewengan. Di

dalam hati Pek Lan, sedikitpun tidak terdapat rasa sayang

kepada suaminya yang jauh lebih tua itu, dan yang menjadi

suaminya karena ia telah dibeli dari orang tuanya yang miskin

dan banyak hutang. Ia menjadi selir Coa-wangwe bukan dengan

suka rela, melainkan karena terpaksa.

Oleh karena itu, baru saja diboyong ke dalam rumah

gedung Coa-wangwe, dan melihat betapa hampir semua isi

rumah kelihatan tidak suka kepadanya, hatinya segera tertarik

oleh pemuda remaja yang tampan itu. Ia tertarik kepada Bong

Gan bukan hanya karena pemuda remaja ini tampan, juga

karena ia mendengar bahwa pemuda ini bukan putera

kandung suaminya, dan juga ia melihat betapa orang-orang

serumah itu juga tidak suka kepada pemuda itu. Hal ini saja

mendatangkan perasaan suka dalam hatinya terhadap

pemuda itu, perasaan senasib sependeritaan. Sudah lama ia

bersikap manis kepada Bong Gan, memperlihatkan rasa

sukanya pada pandang mata dan suaranya, namun agaknya

Bong Gan masih terlalu hijau dan terlalu muda untuk

menangkap isarat dan menanggapinya.

Sesungguhnya, biarpun usianya baru tiga belas tahun,

Bong Gan bukan seorang pemuda yang dungu. Ia banyak

membaca, di antaranya ia membaca cerita-cerita percintaan

sehingga ia sudah dapat membayangkan tentang perasaan

mesra antara pria dan wanita ini. Ketika Pek Lan menjadi

keluarga ayahnya dan memasuki gedung itu, dia mengagumi

kecantikan wanita ini. Ketika Pek Lan mulai bersikap manis

kepadanya, melalui kerling mata dan senyum manisnya, Bong

Gan bukan tidak tahu dan diapun merasa suka sekali kepada

wanita itu. Hanya tentu saja, dia tidak berani bersikap tidak

hormat kepada isteri ayah angkatnya, dan dia selalu bersikap

sopan, tidak memperlihatkan tanda bahwa dia sebenarnya

sudah mengerti betapa selir muda ayahnya itu bersikap

menantang padanya. Juga dia masih terlalu muda untuk

berani memperlihatkan tanggapan.

Dan pada malam hari itu, di luar dugaan dan harapannya,

tiba-tiba saja Pek Lan memasuki kamarnya! Melihat bahwa

yang memasuki kamarnya dengan langkah halus adalah selir

ayahnya, maka Bong Gan cepat bangkit berdiri. Bong Gan

berusia tiga belas tahun dan Pek Lan tujuh belas tahun akan

tetapi tinggi badan mereka sama, bahkan Bong Gan lebih

tinggi sedikit. Pemuda remaja itu cepat merangkap kedua

tangan di depan dada memberi hormat.

“Ah, kiranya ibu yang datang malam-malambegini….”

“Hushh, jangan sebut ibu kepadaku, Bong Gan. Sungguh

tidak enak sekali mendengarnya….”

“Tapi, ibu adalah isteri ayah. Apa lagi harus saya sebut

kalau bukan ibu?”

“Usia kita hanya berselisih dua t iga tahun, janggal rasanya

kalau engkau menyebut ibu. Engkau patut menjadi adikku dan

aku enci-mu, biarpun aku menjadi isteri ayahmu. Sebut saja

enci kepadaku, kecuali…. tentu saja di depan orang lain boleh

saja engkau menyebut ibu.”

Bong Gan tersenyum, hatinya girang sekali karena wanita

cantik itu bersikap amat manis. Belum pernah mereka

berkesempatan bicara panjang dan berduaan saja seperti

sekarang ini. Ayahnya tidak berada di rumah, dan hari sudah

agak larut, semua penghuni rumah itu agaknya sudah tidur

sehingga tidak ada orang lain yang melihat ibu muda ini

memasuki kamarnya.

“Baiklah, enci. Silakan duduk, dan maaf, kursinya hanya

sebuah,” katanya menunjuk ke arah kursi yang tadi dia

duduki.

“Terima kasih,” Pek Lan tersenyum dan duduk di atas kursi

itu. Di atas meja terdapat beberapa buah buku dan diambilnya

sebuah. Kebetulan buku itu adalah buku cerita tentang

percintaan romantis. Akan tetapi, Pek Lan hanya dapat

membaca sedikit saja.

“Kau duduklah, Bong Gan,” katanya melihat pemuda itu

hanya berdiri saja.

“Biar saya berdiri saja, enci. Kursinya hanya sebuah.”

“Ahhh!” Pek Lan bangkit berdiri, membawa bukunya dan

duduk di atas pembaringan. “Biarlah ahu duduk di sini. Kau

duduklah.”

Bong Gan duduk di atas kursi, jantungnya berdebar tegang

melihat betapa wanita cantik itu duduk di atas pembaringannya.

Beberapa kali Pek Lan yang membaca buku itu melirik

kepadanya, membuat Bong Gan menjadi serba salah tingkah.

“Bong Gan, huruf apakah ini….?” Pek Lan bertanya,

menunjuk ke lembaran buku yang dipegangnya. Karena dari

tempat dia duduk t idak mungkin Bong Gan dapat melihat

huruf itu, terpaksa dia bangkit dan menghampiri, lalu membacakan

huruf itu dan kembali duduk. Akan tetapi beberapa

kali Pek Lan memanggilnya untuk menanyakan huruf yang

tidak dikenalnya sehingga beberapa kali pemuda itu

menghampiri, membacakan hurufnya dan duduk kembali.

“Ah, terlalu sukar bagiku, Bong Gan. Tolong kaubacakan

untukku. Kesinilah dan duduklah di sini, kita baca bersama.

Kauajari aku membaca, Bong Gan.”

Tentu saja Bong Gan menjadi gemetar dan tidak berani

duduk berjajar di atas pembaringan itu. Walaupun dia sudah

menghampiri dekat, namun dia berdiri saja di depan wanita

itu, tidak berani duduk bersanding. Pek Lan memegang

tangannya dan menariknya duduk di dekatnya, di tepi

pembaringan.

“Aih, mengapa engkau malu-malu dan takut?”

“Enci…. aku…. aku tidak berani…. nanti dianggap tidak

sopan….” kata Bong Gan gemetar, walaupun hatinya berdebar

girang dan tegang.

“Aih, siapa bilang tidak sopan? Aku adalah juga ibu

angkatmu, atau kita seperti enci dan adik, apa salahnya duduk

berdekatan? Hayo, jangan takut!”

Dan kini Bong Gan membiarkan dirinya ditarik dan diapun

duduk di dekat Pek Lan. Tepi pinggul dan paha mereka bersentuhan

dan Bong Gan merasakan kelembutan yang hangat,

yang membuat tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegup

keras. Ketika dia membacakan buku itu, suaranya juga

gemetar dan parau. Apalagi, ketika dia merasa betapa jari-jari

tangan yang halus itu meraba-raba tubuhnya. Jari yang

hangat lembut dengan sentuhan-sentuhan mesra. Makin lama,

suara bacaannya semakin lemah bahkan kacau dan akhirnya,

buku yang tadi dibaca Bong Gan itu sudah menggeletak di

atas lantai di depan pembaringan sedangkan di atas

pembaringan itu, Bong Gan dan Pek Lan sudah bergumul. Pek

Lan seorang guru yang penuh gairah, sedangkan Bong Gan

menjadi murid yang taat dan pandai.

Nafsu, dalam bentuk apapun juga, tak pernah mengenal

kepuasan. Kepuasan yang didapat hanya merupakan

pendorong untuk mengejar kepuasan yang lebih mendalam

lagi. Orang yang menjadi hamba nafsu tidak pernah merasa

kenyang, tak pernah merasa cukup! Kekenyangan yang

dirasakan hanya sebentar dan segera berubah menjadi

kelaparan yang makin menghebat. Baik itu yang dinamakan

nafsu seks, nafsu mengejar harta kekayaan, nafsu mengejar

kekuasaan dan sebagainya. Makin diberi, semakin merasa kurang

dan menghendaki yang lebih!

Demikian pula dengan Bong Gan dan Pek Lan. Begitu

keduanya tenggelam dalam buaian gelombang nafsu,

keduanya menjadi semakin haus. Pek Lan adalah seorang

wanita muda yang dikecewakan oleh perjodohan dengan Coawangwe

yang dilakukannya secara terpaksa, yang membuat ia

selalu merasa penasaran dan tidak puas. Kini, bertemu

dengan seorang pemuda remaja yang menjadi muridnya yang

amat patuh, pandai dan menyenangkan, tentu saja Pek Lan

menjadi lupa daratan. Sebaliknya, Bong Gan sejak kecil

memang haus akan kasih sayang, kini bertemu dengan

seorang wanita yang cantik menarik, yang menyayangnya,

dan menjadi gurunya dalam berenang di lautan kemesraan,

diapun menjadi mabok. Sebetulnya dia masih terlalu muda

sehingga diapun tidak dapat lagi melihat kenyataan betapa

perbuatannya itu amatlah berbahaya, juga amat hina karena

dia telah berjina dengan selir ayah angkatnya yang berarti

juga ibu angkatnya sendiri!

Langkah pertama dilanjutkan dengan langkah berikutnya,

ke sekian puluh kali dan mereka berdua, yang dimabok

kemesraan ini, yang dibikin buta oleh nafsu berahi, tidak tahu

bahwa banyak pasang mata dari mereka yang memang tidak

suka kepada mereka, selalu membayangi dan mengintai

mereka. Para pemilik mata inilah yang kemudian melaporkan

kepada Coa-wangwe. Tentu saja hartawan yang usianya

sudah setengah abad lebih ini menjadi terkejut, heran dan

kemudian marah. Dia terkejut mendengar bahwa selirnya

yang paling disayangnya telah bermain gila dengan putera

angkatnya, dan dia merasa heran mengingat betapa putera

angkatnya itu biasanya selalu bersikap amat baik, terpelajar,

rajin, sopan dan selalu menyenangkan hati. Bagaimana kini

tiba-tiba saja dia mendengar bahwa putera angkatnya itu

berjina dengan selirnya? Pula, Bong Gan baru berusia tiga

belas tahun, sesungguhnya masih remaja, masih kanak-kanak

dan belum dewasa! Tentu selirnya itu yang menjadi biang

keladinya, pikirnya dengan gemas dan marah. Akan tetapi dia

belum mau percaya begitu saja dan diaturlah oleh para selir

yang lain dan para pelayan agar sang hartawan dapat

menangkap basah hubungan gelap yang dilakukan selirnya

terkasih itu dengan putera tersayang pula. Diatur agar

hartawan itu meninggalkan gedung untuk bermalam di luar,

dan di waktu malam, ketika semua musuh rahasia dua orang

muda yang sedang dimabok nafsu itu tahu bahwa mereka

berdua sedang mengadakan pertemuan rahasia, di kamar

sang putera angkat, hartawan Coa lalu tiba-tiba muncul dan

daun pintu digedor dari luar!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan takutnya perasaan

Pek Lan dan Bong Gan. Mereka hanya sempat membereskan

pakaian mereka sebelum daun pintu itu jebol karena dipaksa

dari luar dan keduanya segera menjatuhkan diri berlutut di

depan kaki Coa-wangwe yang mukanya menjadi merah seperti

udang direbus saking marahnya.

Biarpun kedua orang muda yang amat disayangnya itu

berlutut sambil menangis minta ampun, tetap saja kemarahan

Coa-wangwe tidak dapat diredakan, apa lagi di sampingnya

terdapat para selir dan pelayan yang membisikkan beritaberita

yang amat menyakitkan hatinya betapa putera angkat

itu hampir setiap malam mengadakan pertemuan dengan sang

selir dan betapa mesranya hubungan di antara mereka. Diamdiam

Pek Lan melirik dan mencatat siapa-siapa yang pada

malam itu hadir bersama suaminya dan dapat ia menduga

bahwa mereka inilah yang telah menjadi mata-mata yang

melaporkannya kepada suaminya.

Coa-wangwe demikian marah sampai dia menyuruh para

pelayan memberi hukuman cambuk rotan pada punggung

kedua orang muda itu sebanyak lima belas kali kemudian

mengusir dua orang yang punggungnya berdarah karena

kulitnya pecah-pecah itu agar meninggalkan rumah tanpa

diberi bekal secuilpun pakaian pengganti atau sepotong uang

kecil. Keduanya meninggalkan rumah sambil menangis,

ditertawakan oleh mereka yang sejak lama merasa iri hati dan

membenci kedua orang muda itu. Dengan tubuh sakit-sakit,

akan tetapi hati lebih sakit lagi Bong Gan dan Pek Lan pergi

meninggalkan gedung itu, dan mereka terus pergi dengan

kepala menunduk, keluar dari dalam kota Ye-ceng. Berita

tentang diusirnya selir termuda dan putera angkat dari Coawangwe

itu lebih cepat keluar dari gedung dari pada mereka,

disebarkan oleh mereka yang membenci kedua orang itu,

sehingga Bong Gan dan Pek Lan tidak berani mengangkat

muka, karena semua orang memandang dengan mata dan

senyum mengejek.

Sampai di luar kota, malam telah menjelang pagi dan

mereka berdua masih terus berjalan di dalam keremangan

cuaca sambil menangis. Biarpun mereka tidak mempunyai

tujuan ke mana harus pergi, namun kedua orang ini tak

pernah menghentikan langkah, seolah-olah khawatir kalau ada

orang-orang yang mengejar untuk memperolokkan mereka.

Barulah mereka berhenti setelah matahari terbit dan

keduanya merasa lelah sekali. Mereka berhenti di tepi sebuah

hutan, di bawah pohon rindang. Suasananya di situ sunyi

sekali karena sudah amat jauh dari kota.

Melihat Pek Lan masih menangis sambil setengah

menelungkup di atas rumput, Bong Gan merasa kasihan juga.

Wanita muda ini biasanya hidup mulia, mewah dan manja, kini

harus menempuh perjalanan setengah malam dan tidak

mempunyai apa-apa lagi.

“Sudahlah, enci Pek Lan. Untuk apa menangis lagi?

Ditangisi sampai air mata darahpun tidak ada gunanya lagi,”

kata Bong Gan yang sudah dapat memulihkan keadaan

hatinya. Anak yang cerdik ini maklum bahwa bersedih-sedih

tidak ada gunanya dan dia harus dapat mencari jalan yang

baik dalam kehidupannya yang baru ini.

Akan tetapi, kata-kata hiburannya itu tanpa diketahuinya,

membuat wanita itu menjadi lebih berduka dan akhirnya

menjadi marah sekali kepada Bong Gan. Sejak tadi, di

samping kedukaannya, Pek Lan menganggap bahwa semua

malapetaka yang menimpa dirinya ini disebabkan oleh Bong

Gan!

“Engkau memang anak durhaka!” bentaknya sambil bangkit

duduk dan telunjuknya menuding ke arah muka Bong Gan.

“Engkaulah biang keladi semua ini, engkaulah penyebab

malapetaka yang menimpa diriku! Kalau bukan karena

engkau, aku tentu masih hidup terhormat dan mulia di rumah

keluarlga Coa! Aahh, engkau yang mencelakakan aku! Engkau

anak tak tahu diri, engkau anak durhaka, tak tahu malu….!”

Sepasang mata Bong Gan terbelalak. “Diam!” Dia

membentak marah sekali. “Engkaulah perempuan yang tidak

tahu malu! Engkau yang datang pertama kali di dalam

kamarku dan merayuku! Lupakah engkau? Engkaulah yang

tidak tahu malu, engkau mengkhianati ayah angkatku dan

engkau menyeret aku ke dalam lumpur kehinaan! Dan

sekarang engkau hendak menyalahkan aku dan menghinaku?

Perempuan tak tahu malu!”

“Apa? Kau berani memaki aku? Anak kurang ajar kau!” Pek

Lan bangkit berdiri. Bong Gan juga bangkit berdiri dan Pek Lan

segera menyerang anak laki-laki itu dengan tamparan dan

cakaran. Bong Gan tidak tinggal diam dan diapun membalas.

Dua orang itu kini bergulat, bukan di atas pembaringan dalam

kamar mewah Bong Gan, bukan bergulat memperebutkan

kemesraan, melainkan bergulat dalam perkelahian dan

memperebutkan kebenaran masing-masing, berusaha untuk

saling menyakiti!

Pek Lan lebih tua tiga empat tahun, akan tetapi Bong Gan

seorang anak laki-laki, jadi masing-masing ada kelebihan dan

kelemahan yang membuat perkelahian itu menjadi ramai dan

seimbang! Akan tetapi tiba-tiba tubuh Bong Gan terlempar dan

terguling-guling seperti disambar kilat. Kiranya di situ sudah

muncul seorang nenek yang amat menakutkan dan

mengerikan. Kalau saja Bong Gan dan Pek Lan tidak sedang

dilanda kemarahan, tentu mereka akan lari tunggang

langgang atau menggigil ketakutan, mengira bahwa di situ

muncul iblis sendiri. Pek Lan melihat dengan jelas betapa

nenek itu tadi mendorong tubuh Bong Gan dan menyebabkan

anak laki-laki itu terlempar dan jatuh terguling-guling. Hal ini

berarti bahwa nenek itu telah membantunya, maka biarpun

hatinya merasa ngeri, ia tahu bahwa nenek itu boleh ia

harapkan. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu

sambil menangis! Sementara itu Bong Gan yang sudah bangkit

duduk, merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri karena terbanting

dan terguling-guling itu dan dia tidak berani bangkit berdiri,

hanya memandang kepada nenek itu dengan mata terbelalak

dan hati dipenuhi keseraman. Nenek itu berusia tua sekali,

tentu tidak kurang dari tujuh puluh tahun, dan tubuhnya

demikian kurus kering, kecil dan membungkuk seperti udang

kering, seolah-olah usia tua sudah membuat ia mengkerut dan

kering. Muka yang kulitnya kehitaman itu berkerut-kerut

penuh garis malang-melintang, sepasang matanya sampai

hampir tertutup kelebihan kulit pada pelupuknya, tulangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

tulang pipinya menonjol, hidung dan mulutnya juga kecil

karena mulut itu mengkerut ke dalam, tak nampak lagi

bibirnya yang seperti dikulum mulut yang tidak bergigi lagi.

Rambutnya tinggal sedikit, jarang dan pendek, kusut dan

kotor. Tangan dan kaki seperti tulang-tulang terbungkus kulit

tipis. Tubuh yang membungkuk seperti udang itu ditopang

sebatang tongkat hitam yang bentuknya seperti ular kering,

ditutupi pakaian yang seluruhnya berwarna hitam. Sungguh

menyeramkan sekali keadaan nenek itu, akan tetapi sepasang

mata yang kecil dan bersembunyi itu mengeluarkan sinar

mencorong yang mengejutkan hati orang.

Nenek itu mengangguk-angguk ketika melihat Pek Lan

berlutut di depannya sambil menangis. Tiba-tiba tangannya

bergerak dan tongkatnya meluncur, tahu-tahu Pek Lan merasa

dagunya didorong sesuatu yang memaksa ia untuk

menengadah. Kiranya nenek itu sudah menggunakan ujung

tongkatnya untuk memaksa gadis itu mengangkat muka.

Melihat wajah yang manis itu, kembali si nenek menganggukangguk.

“Ceritakan, kenapa kau menangis di sini!” terdengar nenek

itu berkata, dan anehnya, biarpun jelas ia mengeluarkan

ucapan, namun mulut itu sama sekali tidak terbuka dan tidak

bergerak!

Pek Lan agaknya menyadari bahwa ia bertemu dengan

seorang manusia luar biasa atau mungkin iblis sendiri yang

memperlihatkan rupa, maka iapun menjawab sambil menahan

tangisnya. “Nenek yang mulia, saya bernama Pek Lan dan

saya diusir dari rumah suami saya hartawan Coa di kota Yeceng

karena saya difitnah bermain gila dengan bocah setan

itu. Saya tidak mempunyai rumah dan keluarga saya di dusun

pasti akan menolak saya. Semua ini gara-gara bocah setan itu,

akan tetapi dia tidak mau mengaku salah, malah menyalahkan

saya.”

Nenek itu mengangkat mukanya memandang kepada Bong

Gan yang masih mendekam di atas tanah. Sinar mata nenek

itu mencorong seperti hendak menyambar ke arahnya,

membuat Bong Gan menjadi semakin ngeri.

“Huh-huh, bocah itu mempunyai mata seperti setan.

Apakah kau ingin agar aku membunuhnya?”

Pek Lan bergidik. Nenek itu sungguh berhati kejam bukan

main. Bagaimanapun marahnya terhadap Bong Gan, tentu

saja Pek Lan tidak ingin melihat pemuda itu dibunuh. Kalau ia

teringat akan pengalamannya selama beberapa bulan ini,

masih ada sisa kemesraan dalam hatinya terhadap Bong Gan.

“Jangan, nenek yang baik, jangan dibunuh, akan tetapi beri

saja hajaran agar dia kapok dan tidak berani lagi menyalahkan

aku!” katanya.

Nenek itu terkekeh. “Heh-heh, bagus. Akan kuhajar dia biar

kapok!”

Bong Gan yang sudah merasa ngeri melihat nenek itu, kini

timbul keberaniannya. Biarpun nenek itu mengerikan, namun

ia hanya seorang nenek yang tua renta dan nampak ringkih.

Dan dia tidak mau dihajar begitu saja tanpa melawan. Maka,

Bong Gan segera bangkit berdiri dan siap untuk melawan

kalau nenek itu hendak menghajarnya.

Dengan langkah terseok-seok dibantu tongkatnya, nenek

itu menghampiri Bong Gan dan ia terkekeh melihat sikap anak

laki-laki itu yang agaknya siap untuk melawannya.

“Heh-heh-heh, bocah setan, bergulinglah engkau!” Nampak

ia menggerakkan tongkatnya dan nampak ada sinar hitam

panjang menyambar, dan tahu-tahu tubuh Bong Gan, tanpa

dapat ditahannya lagi, roboh dan tubuh itu terguling-guling!

Nenek itu tertawa terpingkal-pingkal dan hebatnya, seperti

juga tadi, mulutnya tetap tertutup. Entah melalui lubang mana

suara terpingkal-pingkal itu.

“Heh-heh-ho-ho…. sekarang terbanglah! Terbanglah!”

Kembali yang nampak hanya sinar hitam dan tiba-tiba tubuh

yang tadinya bergulingan itu, kini terlempar tinggi ke udara!

Bong Gan menjadi ketakutan. Tadi ketika tubuhnya

terpelanting dan terguling-guling, dia merasa nyeri-nyeri dan

babak-bundas dan kini tubuhnya terlempar begitu jauh ke

atas, maka diapun mengeluarkan jerit ketakutan ketika

tubuhnya meluncur ke bawah dangan cepat sekali! Tentu akan

remuk-remuk semua tulangnya, dan pecah kepalanya!

“Toloooooooong!” Dia menjerit-jerit.

“Nenek yang baik, jangan bunuh dia!” Pek Lan yang

memandang dengan mata terbelalak berseru, khawatir kalau

sampai pemuda cilik yang pernah menjadi kekasihnya itu akan

terbanting remuk dan tewas.

“Ho-ho, tidak dibunuh, tidak dibunuh!” kata nenek itu dan

benar saja, begitu tubuh Bong Gan hampir terbanting ke atas

tanah, tiba-tiba ada sinar hitam panjang menyanbutnya dan

tubuh itu kini terlempar kembali ke atas lebih tinggi daripada

tadi! Tentu saja Bong Gan dengan ketakutan menjerit-jerit

seperti seekor anjing digebuki.

Melihat kenyataan bahwa nenek itu benar-benar tidak

membunuh Bong Gan, hanya menghajarnya saja, legalah hati

Pek Lan dan iapun bertepuk tangan dan bersorak. Lupalah ia

akan kedukaannya.

“Bagus! Hi-hi-hik, bagus! Nah, tahu rasa sekarang engkau,

Bong Gan! Hayo cepat kau minta ampun padaku, baru aku

mau minta kepada nenek yang mulia ini untuk menghentikan

permainannya!”

Bong Gan boleh jadi ketakutan setengah mati, akan tetapi

dia seorang anak yang cerdik dan juga keras hati. Mendengar

ucapan Pek Lan, dia mengeraskan perasaannya dan menutup

mulutnya, tidak lagi mau menjerit ketakutan, melainkan

menutup mata rapat-rapat.

Pada saat tubuhnya meluncur turun untuk ke dua kalinya,

tiba-tiba saja tubuhnya itu berhenti di udara seperti tertahan

oleh tenaga yang tidak kelihatan, kemudian tubuh itu bukan

meluncur ke bawah melainkan ke samping dan tahu-tahu

leher bajunya sudah berada di ujung tongkat yang

mengaitnya, dan tongkat itu dipegang oleh seorang kakek

jembel!

Kakek yang muncul itu bukan lain adalah Koay Tojin, yang

kebetulan tiba di tempat itu bersama muridnya yang baru,

yaitu Yauw Bi Sian! Melihat seorang anak laki-laki menjeritjerit

dan tubuhnya dilempar-lempar ke atas oleh seorang

nenek yang menyeramkan, Bi Sian sudah merengek kepada

gurunya.

“Suhu, tolonglah anak laki-laki itu dan hajar nenek yang

jahat itu. Biar aku menghajar gadis yang kejam itu!”

Mula-mula Koay Tojin memandang ke pada nenek itu dan

nampak terkejut. “Waaahhh! Menghajar nenek itu? Mana aku

berani? Ia adalah Hek-in Kui-bo (Biang Iblis Awan Hitam)….!

Hiiiih…. aku ngeri melihatnya….” Dan kakek jembel itu

bergidik kengerian. Melihat sikap gurunya, Bi Sian cemberut.

Tentu saja ia tidak percaya kalau gurunya jerih terhadap

nenek yang kurus kering dan hampir mati itu!

“Kalau suhu tidak berani, biarlah aku yang melawannya!

Aku tidak takut!”

Berkata demikian, Bi Sian meloncat ke depan menghadapi

nenek buruk itu dangan kedua tangan terkepal. “Hei, nenek

iblis yang jahat! Kenapa engkau menyiksa orang? Hayo pergi

dari sini, kalau tidak akan kupukul engkau!”

Nenek itu menyeringai lalu menoleh kepada Pek Lan, “Hoho,

bagaimana ini? Apakah aku harus menghajarnya juga?”

Pek Lan marah sekali kepada anak perempuan yang muncul

bersama kakek jembel itu karena mereka menghentikan

hajaran nenek itu terhadap Bong Gan.

“Nenek yang mulia, bocah itu mencampuri urusan kita,

sebaiknya kaubunuh saja!” Di sini sudah nampak perwatakan

yang menguasai batin Pek Lan. Ia dapat berlaku kejam sekali

terhadap orang yang tidak disukainya, atau orang yang

mendatangkan kemarahan dalam hatinya seperti gadis cilik

itu.

“Bunuh? Heh-heh, benar sekali, memang bocah ini layak

dibunuh!” jawab nenek itu sambil terkekeh tanpa membuka

mulut dan t iba-tiba ia menggerakkan tongkat ularnya ke arah

Bi Sian. Sinar hitam meluncur ke arah gadis cilik itu,

mengeluarkan suara mendesir.

“Wirrrr…. takkkk!” Tongkat ular itu terpental, bertemu

dengan sebatang tongkat butut di tangan Koay Tojin.

Benturan antara kedua tongkat itu sedemikian kuatnya

sehingga terasa oleh Pek Lan dan Bi Sian, dan nenek itu

mengeluarkan suara menggereng marah, matanya yang

bersembunyi di lipatan kulit itu mencorong menatap kepada

kakek yang berdiri di depannya.

“Ho-ho-ho! Bukankah engkau ini kakek jembel gila dari

Himalaya?” teriaknya marah. Koay Tojin menyeringai pula. Dia

tidak berpura-pura kalau tadi kepada muridnya dia

mengatakan takut kepada nenek itu, bukan takut karena

kepandaian si nenek iblis, melainkan ngeri karena dia sudah

mengenal akan kejahatan dan kekejaman hati nenek yang

berjuluk Hek-in Kui-bo itu!

“Dan engkau Biang Iblis Awan Hitam yang sudah tidak

bergigi lagi, ha-ha-ha! Hayo buka mulutmu, perlihatkan

kepadaku, pasti tidak ada sepotongpun gigimu maka engkau

malu membuka mulutmu!”

Nenek itu semakin marah. Kata-kata “tidak bergigi lagi”

bukan hanya dimaksudkan untuk mengejek keburukan rupa,

akan tetapi juga boleh diartikan sebagai ajakan bahwa nenek

itu tidak berbahaya lagi, seperti seekor macan ompong yang

tidak bergigi lagi!

“Koay Tojin keparat! Tidak bergigi lagi, ya? Nah, rasakan

gigitanku!”

Nenek itu sudah menyerang dengan cara yang amat aneh.

Ia melontarkan tongkat ularnya ke atas dan tongkat itu

meluncur ke arah Koay Tojin dan menyerang kalang-kabut

seperti digerakkan oleh tangan yang tidak nampak!

Koay Tojin tertawa bergelak, melompat ke belakang dan

diapun melempar tongkat bututnya ke depan. Seperti tongkat

ular si nenek, maka tongkat butut Koay Tojin itu kinipun

“hidup” dan melawan tongkat ular itu dan terjadilah

pertandingan yang amat aneh antara dua batang tongkat itu!

Keduanya “bersilat” tanpa ada yang memegangnya, saling

hantam dan saling tangkis sehingga terdengar bunyi nyaring

berkali-kali, dibarengi menyambarnya angin pukulan dahsyat.

Melihat betapa tongkat ularnya tidak mampu mendesak

tongkat butut lawan melalui kekuatan sihir, nenek itu lalu

mengangkat tangannya dan tongkat ularnya terbang kembali

ke tangannya. Koay Tojin juga sudah “memanggil” kembali

tongkat bututnya dan kini Hek-in Kui-bo menyerang Koay

Tojin dengan tongkat itu, menggunakan tangannya. Koay

Tojin menangkis dan membalas sehingga terjadilah

perkelahian yang seru antara dua orang tua aneh itu.

Melihat betapa kini gurunya sudah melawan nenek iblis,

hati Bi Sian girang sekali dan melihat gadis yang menyuruh

nenek tadi membunuhnya, iapun meloncat ke depan Pek Lan

dan tanpa banyak cakap lagi Bi Sian menyerang Pek Lan

dengan pukulan dan tendangan! Biarpun Pek Lan sudah

berusia tujuh belas tahun sedangkan Bi Sian baru berusia

sebelas tahun, namun Pek Lan selamanya tidak pernah

berkelahi atau belajar silat. Sebaliknya, sejak kecil Bi Sian

digembleng dengan ilmu atau dasar ilmu silat oleh ayahnya

sendiri, maka tentu saja ketika diserang oleh anak perempuan

itu, Pek Lan menjadi repot sekali dan beberapa kali perutnya

kena dipukul dan kakinya ditendang. Ia mencoba untuk

melawan dengan cubitan, jambakan dan tamparan, akan

tetapi ia tidak berhasil dan semakin lama, serangan Bi Sian

semakin ganas dan menyakitkan. Akhirnya Pek Lan menjeritjerit

minta tolong.

“Nenek yang mulia…. tolong aku…. tolooooonggg!” Ia

terpelanting jatuh oleh sebuah tendangan Bi Sian yang

mengenai perutnya.

Sementara itu, pertandingan antara Koay Tojin melawan

Hek-in Kui-bo berlangsung dengan seru dan ramai. Mula-mula,

Koay Tojin kewalahan juga menghadapi hujan serangan dari

nenek itu yang memang lihai dan berbahaya bukan main.

Nenek itu selain memiliki ilmu silat tongkat yang aneh dan

gerakannya mirip ular, juga tongkat itu sendiri mengandung

hawa beracun, selain tenaga nenek keriputan itupun kuat dan

kecepatan gerakannya juga membingungkan. Akan tetapi

begitu Koay Tojin mengeluarkan ilmu silat tongkat ciptaannya

yang baru dan amat lihai, yang bahkan dipuji oleh suhengnya,

yaitu Pek-sim Sian-su, yaitu Ta-kwi Tung-hoat (Ilmu Tongkat

Pemukul Iblis), kini Hek-in Kui-bo menjadi repot bukan main.

Ia selalu terdesak dan beberapa kali nyaris terkena hantaman

tongkat butut, maka ketika mendengar suara Pek Lan minta

tolong, ia mempunyai alasan untuk melarikan diri. Ia meloncat

ke belakang, tongkat ularnya menyambar dan mengait baju

Pek Lan yang tiba-tiba merasa tubuhnya diterbangkan dan

nenek itu melarikan diri cepat sekali sambil membawa tubuh

Pek Lan.

Bi Sian masih mengepal kedua tangannya dan ia

mengamangkan tinjunya ke arah Pek Lan yang dilarikan nenek

itu. “Hemm, kalau tidak lari, tentu akan kupukuli sampai kapok

perempuan jahat itu!”

“Ha-ha, Bi Sian, sudallah, mari kita pergi, jangan melayani

nenek iblis yang mengerikan itu. Hihh….!” Koay Tojin bergidik.

“Hayo pergi….!”

Akan tetapi pada saat itu, Bong Gan yang sejak tadi melihat

segala yang terjadi dengan hati penuh kagum terhadap anak

perempuan itu dan kakek jembel, kini menjatuhkan diri di

depan kaki Koay Tojin.

“Locianpwe yang mulia…. mohon kemurahan hati

locianpwe untuk sudi menerima saya sebagai murid….!”

Kakek itu mengerutkan alisnya, memandang kepada anak

itu dan menyeringai. “Heh-heh, aku tidak sudi! Aku sudah

mempunyai murid yang jauh lebih baik, ha-ha! Mari Bi Sian,

kita pergi!” katanya sambil membalikkan tubuh mambelakangi

Bong Gan dan melangkah pergi.

“Suhu, nanti dulu!” Bi Sian berkata sehingga kakek itu

menahan langkah dan menoleh. Bi Sian mengamati Bong Gan

yang masih berlutut dan anak laki-laki itu menangis

sesenggukan, kelihatannya sedih bukan main.

“Siapa namamu?” Bi Sian bertanya.

“Nama saya Bong Gan….” jawab anak laki-laki itu sambil

menahan tangisnya dan memandang kepada Bi Sian dengan

mata agak kemerahan dan penuh kedukaan.

“Kenapa engkau hendak dibunuh mereka tadi?”

“Saya adalah seorang anak yatim piatu yang dipungut oleh

keluarga hartawan Coa di kota Ye-ceng,” Bong Gan bercerita

dengan suara yang memelas sekali. “Perempuan jahat tadi

adalah selir ayah angkat saya. Pada suatu hari, ayah

kehilangan barang-barang perhiasan berharga. Saya tahu

bahwa yang mencurinya adalah perempuan tadi, akan tetapi

ia berbalik menjatuhkan fitnah dan sebagian dari barang

curiannya ia sembunyikan ke dalam kamar saya. Karena itu,

ayah angkat saya marah dan kami berdua diusir. Ketika kami

tiba di sini, perempuan itu menyalahkan saya dan memukuli

saya. Saya melawan dan muncul nenek iblis tadi yang

membela perempuan jahat itu.” Bong Gan yang pandai,

membuat karangan yang masuk di akal ini secara tiba-tiba

begitu sudah membuktikan bahwa dia memang seorang anak

yang cerdik sekali. Setelah selesai bercerita, dia lalu menangis

lagi.

“Nona, mohon belas kasihan nona dan guru nona…. sudilah

menerima saya menjadi murid. Saya mau bekerja apa saja….

saya sudah tidak mempunyai seorang keluargapun, dan saya

takut kalau…. perempuan jahat dan nenek iblis tadi datang

lagi membunuh saya….”

“Sudahlah, Bi Sian. Hayo kita pergi, jangan layani anak

cengeng itu!” Koay Tojin berkata tidak sabaran lagi.

“Nanti dulu, suhu,” kata Bi Sian yang sudah tertarik sekali

akan cerita Bong Gan dan ia merasa kasihan kepada anak itu.

“Aku mau pergi kalau suhu juga nengajak dia ini!”

“Apa??” Koay Tojin terbelalak. “Untuk apa mengajak anak

cengeng ini?”

“Locianpwe, mohon maaf sebanyaknya. Kalau perlu, saya

dapat menjadi anak yang sama sekali tidak cengeng! Kalau

locianpwe sudi menerima saya menjadi murid, biar

menghadapi ancaman maut, saya tidak akan takut dan tidak

akan menangis sama sekali!”

Ucapan itu bernada menantang dan Koay Tojin yang

memiliki watak aneh itu sekali ini tertarik. “Ha-ha-ha-ha,

benarkah itu? Engkau t idak akan takut, tidak akan menangis

menghadapi ancaman maut?”

“Benar, locianpwe,” kata Bong Gan, girang bahwa kakek

jembel yang dia tahu amat lihai itu kini mau

memperdulikannya.

“Aku ingin melihat buktinya!” berkata demikian, Koay Tojin

lalu melemparkan tongkatnya dan tongkat itu kini meluncur ke

arah Bong Gan, dan mulailah tongkat itu memukuli dan

mencambuki Bong Gan.

“Plak! Plak! Plak! Bukk!” Tongkat itu mengamuk,

menghantami punggung dan pinggul Bong Gan. Anak itu

terkejut bukan main, dan juga ngeri melihat ada tongkat dapat

bergerak sendiri memukulinya. Dan pukulan-pukulan itu

mendatangkan perasaan nyeri yang cukup hebat, apalagi

kalau pukulan itu mengenai kepalanya. Dia menutupi kedua

kepalanya dan kini punggungnya, pahanya, pinggul, kaki dan

lengannya menjadi sasaran pukulan tongkat. Hampir saja

Bong Gan berteriak kesakitan dan menjerit minta tolong. Akan

tetapi, anak yang cerdik ini tahu benar bahwa dia sedang diuji,

maka diapun menggigit bibir dan biarpun perasaan nyeri

membuat dia terpelanting dan menggeliat-geliat di atas tanah

di bawah hujan pukulan tongkat, namun tidak sedikitpun

keluhan keluar dari bibir yang digigitnya sendiri itu.

Bajunya sudah robek-robek dan basah oleh keringat dan

darah. Kulit punggungnya pecah-pecah berdarah. Akan tetapi

dia tetap tidak mau mengeluh, bahkan setiap kali terpelanting,

dia tergopoh bangkit dan mencoba untuk berlutut kembali ke

arah kakek itu.

Melihat betapa tubuh Bong Gan sudah berlepotan darah,

hati Bi Sian merasa tidak tega. “Cukup, suhu, cukup! Apakah

suhu hendak memukulinya sampai mati?” teriaknya.

“Ha-ha-ha!” Koay Tojin tertawa bergelak dan di lain saat

tongkat itu sudah kembali ke tangannya. Hatinya gembira

karena melihat Bong Gan benar-benar memegang janji dan

sama sekali tidak mengeluh. Diam-diam diapun mulai suka

kepada bocah itu. “Mari kita pergi, Bi Sian!” katanya dan sekali

sambar, tangan Bi Sian sudah dipegangnya dan sekali

melompat keduanya lenyap dari situ.

Tentu saja Bong Gan menjadi terkejut dan kecewa sekali.

Dia sudah membiarkan tubuhnya dihajar babak belur dan

berdarah-darah, sakitnya tidak kepalang dan kini kakek itu

meninggalkannya begitu saja. Ingin dia menangis, ingin dia

memaki. Akan tetapi dalam kepalanya yang cerdik terdapat

dugaan dan harapan bahwa kakek aneh itu tetap masih

mengujinya! Dia tahu bahwa kakek itu aneh dan sakti, dan

anak perempuan itu manis bukan main, juga amat baik

kepadanya. Dia harus dapat menjadi murid kakek itu. Kalau

tidak, dia akan hidup sebatangkara dan selalu terancam

bahaya. Dia ingin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi agar

dapat menjaga diri. Dia harus berhasil menjadi murid kakek

itu, atau kalau perlu dia akan mengorbankan nyawanya. Dia

harus tahan uji! Dengan pikiran ini, Bong Gan terus berlutut

menghadap ke arah tempat kakek tadi berdiri, dengan nekat

dia berlutut terus sampai kedua kakinya kesemutan dan tidak

merasa apa-apa lagi, dan rasa nyeri di tubuhnya makin

menghebat karena sengatan sinar matahari. Dia bertahan

terus, bahkan ketika matahari terbenam dan tempat itu mulai

gelap dengan tibanya malam, dia tetap berlutut di tempat itu!

Memang patut dipuji kekerasan hati anak ini. Dia tersiksa

bukan main, tidak saja seluruh tubuh nyeri karena luka

pukulan tongkat, juga tersiksa oleh hawa dingin yang

menyengat tulang, dan ditambah lagi perasaan ngeri karena di

tepi hutan itu gelap dan sunyi. Kadang-kadang terdengar

suara binatang dari dalam hutan dan mau tidak mau, seluruh

bulu di tubuh Bong Gan meremang seram. Akhirnya, lewat

tengah malam, dengan kenekatan yang masih bertahan,

tubuhnya yang tidak kuat lagi dan dia terguling dan pingsan!

Ketika Bong Gan siuman, dia mendapatkan dirinya rebah di

atas tanah berumput tebal, di tepi sebuah sungai kecil yang

jernih, di dalam sebuah hutan. Bagaikan mimpi dia melihat

seorang anak perempuan yang manis sedang mengobati lukaluka

di punggungnya dengan menempelkan daun-daun hijau

yang lebar. Terasa dingin dan nyaman sekali. Agaknya anak

perempuan itu mengerjakan dengan kelembutan dan dia

melihat anak itu memilin dan menggosok daun-daun baru di

antara kedua telapak tangannya sehingga daun itu menjadi

lemas dan mengeluarkan air kehijauan. Kemudian daun-daun

itu ditempelkan di atas kulit yang terluka oleh pukulan

tongkat. Anak perempuan yang manis, anak perempuan yang

berjasa membujuk gurunya untuk menerimanya sebagai

murid!

“Terima kasih, kini sudah terasa nyaman….” katanya dan

diapun mengenakan bajunya, dan melihat kakek aneh itu

duduk pula di situ, memandang anak perempuan itu

mengobatinya dengan sikap acuh, Bong Gan cepat berlutut

dan memberi hormat kepada kakek itu.

“Suhu, teecu (murid) menghaturkan terima kasih dan

hormat….” sikapnya penuh hormat dan suaranya mantap.

Melihat suhunya masih melenggut seperti orang

mengantuk, Bi Sian berseru, “Suhu ini bagaimana sih? Ini, muridmu

yang baru menghaturkan terima kasih dan hormat,

kenapa suhu diamsaja?”

Kakek yang melenggut itu membuka mata, memandang

kepada Bong Gan dengan sikap acuh, kemudian berkata,

“Heh, karena bujukan Bi Sian engkau menjadi muridku. Akan

tetapi awas, kalau kulihat engkau malas dan t idak tekun atau

tidak taat, engkau akan kuusir. Dan kalau kelak engkau

menyeleweng, engkau akan kubunuh dengan tongkat ini! ” Dia

mengacungkan tongkatnya.

Dengan hati yang girang bukan main Bong Gan memberi

hormat dengan sembah sampai delapan kali kepada gurunya.

“Suhu, teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah

suhu.” Kemudian dia menghadap Bi Sian dan juga memberi

hormat kepada anak perempuan itu. “Suci, saya

menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan suci

kepada saya, dan saya tidak akan melupakan budi kebaikanmu

itu….”

Bi Sian terbelalak. “Eh, eh, nanti dulu! Kenapa engkau

menyebut aku suci (kakak seperguruan)?”

Bong Gan tersenyum. “Bukankah suci yang lebih dulu

menjadi murid suhu?”

“Bukan begitu! Aku tidak mau cepat tua dengan disebut

kakak! Coba sekarang kita lihat, siapa yang lebih tua di antara

kita. Berapa umurmu tahun ini?”

“Tiga belas tahun.”

“Nah, itu!” Bi Sian berteriak. “Aku baru sebelas tahun.

Engkau lebih tua dua tahun, tidak boleh menyebut suci

padaku. Aku tidak mau!”

“Habis, lalu bagaimana?”

“Karena engkau lebih tua, engkau menyebut sumoi padaku

dan aku menyebutmu suheng (kakak seperguruan).”

Wajah Bong Gan menjadi merah, akan tetapi hatinya girang

walaupun dia merasa kikuk. “Baiklah sumoi.”

“Nah, begitu baru benar, suheng! Nama keluarga siapa sih?

Apakah Bong?”

Bong Gan menggeleng kepalanya.

“Tadinya aku memakai nama keluarga Coa, akan tetapi

karena aku telah diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak, aku

tidak mau memakainya. Ketika aku ditemukan dan masih kecil,

aku hanya tahu bahwa namaku Bong Gan dan biarlah itu tetap

menjadi namaku, tanpa nama keturunan atau boleh juga

disebut nama keturunanku Bong.”

Koay Tojin kelihatannya tidak mendengarkan percakapan

mereka, dan andaikata dia mendengarkan pun, agaknya dia

hanya acuh saja. Akan tetapi, lambat laun sikapnya yang acuh

terhadap Bong Gan ini berubah saking pandainya Bong Gan

membawa diri. Dia amat rajin dan amat memperhatikan

keperluan suhunya dan sumoinya, dia ringan kaki dan tangan,

mengerjakan apa saja untuk keperluan mereka. Juga dia amat

tekun dan rajin ketika mulai diajar dasar-dasar ilmu silat.

Bahkan dia mau mengajarkan ilmu sastra yang lebih

mendalam kepada Bi Sian sehingga sikapnya yang amat baik

ini selain membuat Bi Sian menyayangnya, juga Koay Tojin

mau tidak mau mulai menyukainya.

Bahkan dengan adanya Bong Gan sebagai murid Koay

Tojin, lebih mudah bagi kakek itu untuk memegang janjinya

kepada Bi Sian, yaitu anak perempuan ini tidak mau menjadi

pengemis. Ada saja akal dari Bong Gan untuk mendapatkan

makanan bagi mereka bertiga tanpa mengemis. Dengan

menjual hasil buruan, atau rempa-rempa yang amat berharga,

Bong Gan bisa mendapatkan hasil untuk biaya hidup mereka.

0odwo0

Pek Lan menjatuhkan dirinya berlutut di depan nenek buruk

dan tua itu ketika si nenek menurunkannya dari pondongan.

Mereka berada di puncak sebuah bukit kecil yang sunyi.

“Terima kasih, nenek yang mulia. Nenek telah

menyelamatkan saya, dan selanjutnya saya mohon petunjuk

nenek apa yang harus saya lakukan karena hidup saya

sebatangkara dan tidak mempunyai harapan lagi.”

“Pek Lan, engkau berjodoh untuk menjadi muridku. Mulai

sekarang, aku adalah gurumu. Kalau engkau tidak mau

menjadi muridku, engkau akan kubunuh sekarang juga. Nah,

engkau pilih mana?”

Diam-diam Pek Lan terkejut bukan main. Ia harus menjadi

murid nenek iblis ini dan kalau ia tidak mau ia akan dibunuh!

Manusia macam apa nenek ini? Dan ia belum pernah mimpi

berguru kepada seorang nenek iblis. Mau belajar apa dari

nenek ini? Tidak sukar untuk memilih antara berguru kepada

nenek itu atau mati.

“Tentu saja saya memilih berguru, nek.”

“Hushhh! Kalau memilih berguru ke padaku, kenapa masih

menyabut nenek? Sebut aku subo (ibu guru)!”

“Baik, subo. Saya akan mentaati semua perintah subo.”

“Bagus! Memang syaratnya engkau harus mentaati semua

perintahku. Perintah apa saja harus kautaati, tahu? Kalau

tidak, engkau akan kupecat sebagai murid dan akan

kubunuh!”

Pek Lan bergidik. Nenek ini sedikit-sedikit mengancam mau

membunuhnya! Akan tetapi lalu t imbul dalam benaknya

bahwa kalau ia dapat memiliki ilmu kepandaian seperti nenek

itu, ia akan mampu menghadapi siapapun juga, termasuk

nenek ini! Ia akan dapat menghajar semua orang yang tidak

disukainya. Maka bangkitlah semangatnya.

“Apapun yang subo perintahkan kepada teecu akan teecu

laksanakan.”

“Heh-heh-heh, bagus sekali. Sekarang engkau harus

melaksanakan tugas yang amat penting. Kita membutuhkan

harta yang amat banyak agar kita dapat hidup tenteram dan

berkecukupan. Kalau sudah begitu barulah engkau akan dapat

belajar dengan baik.”

“Bagaimana kita bisa mendapatkan harta yang banyak,

subo?”

“Mari, ikut dengan aku ke kota besar Ho-tan di timur. Di

sana terdapat benteng besar pasukan dan di kota itu terdapat

seorang yang paling kaya raya yaitu Pangeran Cun Kak Ong

yang menjabat komandan atau panglima besar. Banyak

barang rampasan disimpan sendiri oleh pangeran itu dan

kalau kita dapat memasuki gudang hartanya, tentu kita akan

menjadi kaya raya!”

Pek Lan ikut bergembira dan iapun mengikuti subonya. Ia

telah melihat kesaktian nenek itu dan ia percaya bahwa nenek

itu akan mampu melaksanakan rencananya dengan baik.

Mereka akan menjadi kaya raya dan hidup berkecukupan

sehingga ia dapat mulai mempelajari ilmu-ilmu kesaktian dari

nenek itu.

Pangeran Cun Kak Ong adalah seorang laki-laki tinggi besar

berusia lima puluh tahun. Dia adalah seorang bangsawan,

masih sanak keluarga Kerajaan Beng-tiauw. Pada masa itu,

Kerajaan Beng-tiauw sudah mulai mengalami surut bukan

hanya karena pemerintahannya mendapat gangguan para

bajak laut, pemberontakan-pemberontakan dalam negeri,

ancaman gerakan orang-orang Mancu di luar Tembok Besar,

akan tetapi terutama sekali karena para pembesarnya sudah

kehilangan kesetiaan mereka terhadap tanah air dan bangsa,

melainkan mementingkan kesenangan pribadi masing-masing

sehingga sukar ditemukan seorang pembesar yang setia dan

tidak melakukan korupsi besar-besaran.

Pangeran Cun Kak Ong juga seorang di antara para

pembesar yang kegiatannya hanya membesarkan perut

sendiri. Ketika dia diangkat menjadi panglima besar dan

menjadi orang nomor satu di daerah Sin-kiang, dia menjadi

semacam raja kecil. Hanya sedikit saja bagian hasil dari

daerah itu disetorkan ke pusat. Selebihnya, yang terbanyak,

masuk ke dalam gudang hartanya sendiri. Bangsawan ini

memiliki kesukaan mengumpulkan barang-barang kuno yang

berharga, patung-patung emas, barang-barang antik dari batu

giok, perhiasan-perhiasan dari intan atau mutiara, lukisanlukisan

yang mahal harganya. Dia seorang pembesar yang

kaya raya dan hidupnya di kota besar Ho-tan seperti

kehidupan seorang raja, dengan istananya yang megah dan

siang malam dijaga oleh puluhan orang perajurit.

Bukan hanya penjagaan di rumah seperti istana itu yang

amat ketat, akan tetapi juga di istana itu terdapat banyak

rahasianya sehingga orang luar jangan harap dapat memasuki

istana tanpa terancam jebakan-jebakan rahasia. Apalagi kalau

ada maling masuk, jangan harap dia akan mampu

menemukan kamar-kamar atau gudang-gudang rahasia di bawah

tanah! Inilah sebabnya mengapa orang sakti seperti Hekin

Kui-bo ingin mempergunakan muridnya yang cantik jelita

untuk melaksanakan niatnya, yaitu mencuri harta dari

pangeran itu.

Satu di antara kelemahan-kelemahan Pangeran Cun Kak

Ong adalah wanita cantik! Di dalam istananya sudah terdapat

belasan orang selir yang muda-muda dan cantik-cantik, dari

bermacam suku bangsa. Ada gadis suku bangsa Uigur yang

manis, bangsa Uzbek yang panas, bangsa Kirgiz yang cantik

lembut, bangsa Hui yang pandai merayu, bahkan ada dari

bangsa Tajik yang bermata kebiruan dan berhidung mancung.

Namun dia masih selalu membuka mata dan hidung lebarlebar

setiap kali berjumpa dengan wanita cantik yang belum

menjadi miliknya!

Pada pagi hari itu, ketika dia berkuda dari rumahnya

menuju ke benteng, diiringkan oleh belasan orang pengawal,

tiba-tiba dia menahan kudanya dan memberi isarat kepada

pasukannya untuk berhenti. Semua perajurit ikut menengok

ke kiri ke mana panglima itu menengok dan mereka semua

menahan senyum, maklum apa yang menyebabkan panglima

itu menahan kuda dan memberi isarat mereka agar berhenti.

Kiranya di tepi jalan itu terdapat seorang wanita muda yang

sedang menangis dan wanita yang masih amat muda itu, baru

tujuh belas tahun usianya, amat cantik manis sehingga tidak

mengherankan kalau panglima yang sudah terkenal mata

keranjang itu tertarik sekali. Pangeran itu turun dari atas

kudanya dan sambil membusungkan dadanya dia melangkah

gagah menghampiri gadis cantik yang sedang memangis itu.

Akan tetapi karena sejak beberapa tahun ini perutnya

berkembang lebih cepat dari pada dadanya sehingga perutnya

amat gendut, yang membusung bukan dadanya melainkan perutnya

menjadi semakin menonjol. Akan tetapi dia melangkah

dengan lagak yang gagah, yakin akan kegagahan pakaiannya

sebagai seorang panglima yang serba gemerlapan.

Beberapa orang yang tadinya juga tertarik dan mendekati

gadis yang menangis itu, cepat mundur ketika melihat

panglima besar itu menghampiri gadis itu. Yang tinggal dekat

gadis itu hanya seorang nenek yang sudah tua sekali dan

buruk rupa.

“Nona, siapakah engkau dan kenapa menangis di sini?”

Pangeran Cun bertanya dan hatinya semakin tertarik karena

setelah dekat, dia mendapat kenyataan betapa gadis itu lebih

cantik dari pada yang diduganya. Wajahnya manis sekali,

kulitnya putih mulus dan ketika menangis, gadis itu menunduk

dan dari atas dia dapat melihat celah-celah belahan dada dan

nampaklah lereng sepasang bukit yang menantang.

Gadis itu tidak menjawab melainkan menangis lebih sedih

lagi, sampai sesenggukan dan menutupi mukanya dengan

kedua tangan dan sehelai saputangan sutera. Nenek di

dekatnya juga ikut berlutut, akan tetapi tidak mengeluarkan

suara.

“Nona ceritakanlah padaku. Jangan engkau khawatir, aku

yang akan menolongmu dan menghukum orang yang

membikin susah hatimu. Agaknya engkau bukan orang sini,

nona. Dari manakah engkau?”

“Maaf, Taijin…. karena berduka maka tadi saya sukar sekali

mengeluarkan suara…. saya memang bukan orang sini…. saya

berasal dari sebuah dusun kecil di luar kota Ye-ceng. Nama

saya Pek Lan dan saya…. saya, pengantin baru…. baru satu

bulan menikah dan ketika saya diboyong ke dusun suami

saya…. di tengah jalan kami dihadang perampok! Suami saya,

semua keluarga saya…. melakukan perlawanan dan dalam

kesempatan itu, saya berhasil melarikan diri, dibantu oleh

pelayan tua kami yang setia ini. Ia gagu dan tuli, akan tetapi

ia setia sekali…. karena itu, tolonglah kami, Taijin….”

Gadis itu bukan lain adalah Pek Lan, dan nenek yang

diakuinya sebagai pelayan setia itu bukan lain adalah gurunya,

Hek-in Kui-bo, iblis yang amat jahat dan kejam! Dan semua itu

adalah siasat dan rencana si nenek untuk menundukkan hati

dan memenangkan kepercayaan Pangeran Cun yang terkenal

mata keranjang. Tepat seperti dugaan nenek ini yang dapat

melihat betapa cantik menariknya muridnya, seketika

Pangeran Cun jatuh hati! Apa lagi mendengar bahwa gadis

jelita itu adalah seorang pengantin baru yang baru satu bulan

menikah dan kini berpisah dari suaminya! Menurut patut,

kalau dia mau menolong, tentu dia akan mengerahkan

pasukan untuk mencoba menyelamatkan sumi dan keluarga

gadis ini. Akan tetapi tidak sama sekali, dia menolong dengan

cara “menampung” Pek Lan, dan hal ini sudah pula

diperhitungkan nenek Hek-in Kui-bo!

“Aduh kasihan….!” Pangeran itu berseru sambil melihat

kemulusan gadis itu. “Jangan menangis, nona, dan jangan

bersedih. Tentu saja kami suka menolongmu. Mari, mari ikut

ke istana kami dan engkau akan segera melupakan

malapetaka yang menimpa dirimu, he-he!”

Pek Lan yang bermain sandiwara demi memenuhi perintah

gurunya, segera memberi hormat dan berkali-kali

menghaturkan terima kasih, tidak lupa untuk menghadiahkan

kerling memikat dan senyum kecil menantang, membuat hati

pangeran itu menjadi semakin tertarik dan seketika diapun

membatalkan kepergiannya ke benteng, melainkan memutar

pasukannya pulang ke istana sambil mengawal kereta yang

cepat disediakan untuk Pek Lan dan “pelayannya”!

Tepat seperti diperhitungkan oleh Hek-in Kui-bo, dalam

waktu singkat sekali Pangeran Cun bertekuk lutut dan tergilagila

kepada selir barunya ini! Hek-in Kui-bo yang

berpengalaman juga begitu bertemu dengan Pek Lan sudah

tahu bahwa gadis itu bukan perawan, melainkan seorang

wanita yang biarpun masih muda namun sudah matang, dan

bahwa dalam diri Pek Lan tersembunyi watak cabul dan

pemikat.

Pek Lan mentang amat cerdik. Tentu saja iapun t idak

punya rasa suka kepada Pangeran Cun. Biarpun dia seorang

pangeran, bangsawan tinggi yang berkedudukan tinggi dan

kaya raya, akan tetapi usianya sudah setengah abad lebih,

mukanya yang sudah keriputan itu coba ditutupi dengan

watak pesolek, pakaian indah. Akan tetapi pakaiannya yang

mewah itu tidak mampu menyembunyikan perutnya yang

gendut luar biasa. Pek Lan terpaksa memejamkan mata agar

tidak melihat perut yang seolah-olah akan meledak itu setiap

kali sang pangeran mendekatinya. Akan tetapi, dia

mempergunakan segala kecantikannya, gaya dan

kepandaiannya untuk benar-benar meruntuhkan hati sang

pangeran. Dalam keadaan terbuai kemesraan yang

memuncak, Pangeran Cun Kak Ong mencurahkan seluruh

kasih sayang dan kepercayaannya kepada selir baru ini

sehingga dalam waktu dua minggu saja dia sudah membuka

rahasia penyimpanan hartanya. Gudang di bawah tanah itu

penuh alat rahasia dan dijaga oleh jagoan-jagoan yang didatangkan

dari kota raja dan memiliki ilmu silat tinggi!

Setelah mengorek rahasia ini, cepat Pek Lan memberitahu

kepada gurunya yang menyamar sebagai pelayannya. “Subo,

cepat bertindak. Aku sudah tidak tahan lagi didekati babi itu!”

keluh Pek Lan yang terpaksa harus melayani pria yang tidak

disukainya.

Nenek itu tertawa tanpa membuka mulut. “Jangan

khawatir, malam ini kita kerjakan! Akan tetapi, pekerjaan ini

berbahaya sekali, oleh karena itu, sebaiknya kalau engkau

tinggal saja di dalam kamarmu. Aku akan memancing mereka

mengejar keluar, barulah aku akan mengambilmu dari

kamarmu.”

“Tapi…., tapi…. subo jangan lupa untuk mengajak teecu

keluar dari neraka ini!”

Kembali nenek itu tertawa, “Anak goblok, kedudukanmu

begitu baik kau bilang neraka?”

“Aih, subo. Siapa sih yang suka siang malam dalam pelukan

babi itu? Dengkurnya saja membuat kepalaku selalu pening

dan tidak dapat tidur barang sejampun. Seleranya seperti

babi, aku jijik….”

“Jangan khawatir. Aku akan bekerja cepat. Biarpun katanya

tiga orang jagoan itu berilmu tinggi, akan tetapi aku tidak

takut dan tentu aku akan dapat merobohkan mereka,” kata

nenek itu setelah mencatat dalam ingatannya tentang

jebakan-jebakan rahasia yang berhasil dikorek dari mulut

Pangeran Cun.

Malam gelap tiba dan setelah lewat tengah malam, nenek

Hek-in Kui-bo berkelebat keluar dari kamarnya sendiri di dekat

kamar Pek Lan yang ketika itu sedang merasa tersiksa

“menderita” dalampelukan Pangeran Cun.

Ketika sang pangeran yang kelelahan sudah tidur

mendengkur keras seperti dengkurnya seperti babi disembelih,

Pek Lan perlahan-lahan melepaskan diri dari pelukan, lalu

duduk di tepi pembaringan, melamun. Jantungnya berdebar

tegang karena ia tahu bahwa saat itu gurunya sedang

memasuki lorong bawah tanah untuk mengunjungi gudang

harta yang dijaga ketat itu. Bagaimana kalau gurunya gagal?

Apakah ia tidak akan tersangkut? Ia akah mempergunakan

segala rayuan dan kecantikannya untuk menyelamatkan diri,

membanjiri pangeran itu dengan segala kemesraan dan kehangatan.

Setidaknya, ia tidak tertangkap basah dan tidak ikut

dengan gurunya ke gudang harta itu! Ia berada dalampelukan

sang pangeran ketika pencurian itu terjadi! Dengan

memaksakan dirinya, Pek Lan kembali merebahkan diri dan

mendekati Pangeran Cun Kak Ong. Pangeran itu bergerak

dalam tidurnya dan lengannya yang gemuk dan berat itu merangkul,

melintang di atas dada Pek Lan! Gadis itu sampai

merasa sesak bernapas, akan tetapi ia mandah saja, hanya

miringkan tubuhnya agar tidak sampai mati terhimpit!

Bagaikan bayangan setan, Hek-in Kui-bo berhasil

menyelinap ke lorong bawah tanah. Di bawah tanah itu

terdapat banyak kamar, di antaranya kamar atau gudang

harta yang besar dan terjaga ketat. Belasan orang penjaga

berkeliaran di sekitar gudang itu, dan di depan gudang

terdapat sebuah kamar di mana tiga orang jagoan yang amat

lihai tidur dan berjaga secara bergiliran. Yang terus melakukan

perondaan adalah anak buah mereka yang jumlahnya ada

selosin orang.

Dua orang penjaga meronda dan berjalan di belakang

gudang itu, membawa sebuah lentera minyak. Tiba-tiba saja

ada bayangan hitam berkelebat dan dua orang itu terbelalak,

akan tetapi tidak mampu bergerak atau berteriak karena

mereka sudah tertotok secara aneh sekali. Tentu saja yang

menotoknya adalah Hek-in Kui-bo dan secepat kilat nenek ini

sudah merampas lentera sebelum terlepas dan terjatuh. Sekali

tiup, lentera itupun padam! Dan seperti bayangan setan, ia

kembali bersembunyi dan mengintai.

Tak lama kemudian dua orang penjaga datang lagi

membawa lentera dan tombak panjang. Mereka jelas mencaricari

dua orang kawannya tadi, dan begitu melihat dua orang

kawan itu berdiri di belakang gudang, tak bergerak, mereka

cepat lari menghampiri. Akan tetapi kembali ada bayangan

hitam berkelebat dan di lain saat, dua orang inipun berdiri

seperti patung tak bergerak, tombak dan lentera terampas

dari tangan mereka! Semua ini terjadi dengan amat cepatnya

dan kini empat orang itu dari jauh nampaknya seperti sedang

merundingkan sesuatu, berdiri seperti patung.

Dua orang berikutnya lebih curiga. Mereka melihat empat

orang kawan mereka berdiri di belakang gudang dan seperti

orang berunding, akan tetapi tanpa lentera dan tanpa tombak!

Dan mereka itu tidak bergerak-gerak. Hal ini membuat mereka

berdua bercuriga dan mereka tidak menghampiri, melainkan

berseru memanggil empat orang kawan itu. Akan tetapi tidak

ada jawaban dan selagi mereka hendak lari kembali ke depan

gudang dan melapor, tiba-tiba merekapun roboh terpelanting

dengan pelipis berlubang tertusuk ujung tongkat dan lentera

mereka, tombak mereka terampas sebelum terbanting ke atas

tanah. Kini bayangan hitam yang agak bungkuk itu, Hek-in

Kui-bo, mengambil dua lentera terdahulu, membukanya dan

menyiramkan minyak dari dua lentera itu ke tubuh empat

orang yang ditotoknya. Kemudian, sambil membuka totokan

mereka iapun membakar empat orang penjaga itu! Tentu saja

empat orang penjaga itu berteriak-teriak, menjerit-jerit dan

tubuh mereka terbakar! Mereka lari cerai berai sambil

menjerit-jerit. Hal ini tentu saja mengejutkan kawan-kawan

mereka, bahkan tiga orang jagoan itupun cepat keluar dari

kamar mereka.

Empat orang yang terbakar itu lari cerai berai dan tidak

dapat bicara kecuali menjerit-jerit, membuat tiga orang jagoan

itu menjadi bingung mengejar ke sana-sini. Mereka lalu

merobohkan empat orang yang berlarian-larian dan membakar

beberapa bagian bangunan bawah tanah itu dengan tubuh

mereka. Akan tetapi mereka tidak sempat lagi memberi

penjelasan dan tewas oleh luka-luka bakar. Kemudian, tiga

orang jagoan itu menemukan pula dua orang penjaga yang

pelipisnya berlubang. Tentu saja mereka terkejut dan maklum

bahwa ada orang jahat. Akan tetapi di mana? Mereka

memeriksa semua bagian, tidak ada jejak kaki orang luar!

Tentu saja mereka tidak memeriksa ke dalam gudang di mana

Hek-in Kui-bo dengan santai memilih benda-benda yang paling

berharga, tidak tergesa-gesa karena nenek ini maklum betapa

perbuatannya itu membuat semua penjaga mencari-cari keluar

bukan ke dalam gudang! Ia memasuki gudang itu dari jendela

belakang yang dipasangi alat rahasia, akan tetapi, berkat

kecerdikan muridnya, ia telah mengetahui rahasia alat itu dan

telah melumpuhkannya. Setelah berhasil membuka jendela

dan memasukinya tanpa tersentuh anak panah beracun yang

dipasang di sana, ia menutup kembali daun jendela dan

memasang lagi anak panah itu, kemudian ia memilih bendabenda

yang paling berharga. Patung emas murni, benda dari

batu giok, perhiasan-perhiasan kuno dari intan, mutiara dan

lain permata mulia. Dikumpulkan semua benda yang

merupakan harta yang membuat orang menjadi kaya raya itu

ke dalam sebuah kantung kain yang sudah dipersiapkannya

sebelumnya, kantung kain hitam yang tebal dan kuat, lalu

dipanggulnya kain hitam yang kini penuh barang berharga di

atas punggungnya yang agak bungkuk.

Dengan hati-hati ia mengintai keluar. Enam orang penjaga

dan tiga orang jagoan itu masih sibuk memadamkan api yang

membakar empat orang penjaga karena mereka tadi berlarlan

menabarak sana-sini, ada beberapa tempat yang kebakaran

pula. Mempergunakan kesempatan ini, Hek-in Kui-bo keluar

dari dalam kamar melalui jendela pula, menutupkan lagi

jendela itu dan iapun berkelebat menuju ke pintu lorong.

Kalau ia mau, mengandalkan gin-kangnya yang tinggi, tentu ia

dapat menyelinap keluar tanpa diketahui. Akan tetapi ia harus

membawa muridnya keluar pula, dan hal ini tidak mudah. Ia

harus memancing semua penjaga untuk mengejarnya keluar

dari gedung itu, maka ia sengaja memberatkan tubuhnya dan

langkahnyapun terdengar oleh tiga orang jago.

“Heiiii, berhenti….!” Tiga orang jagoan itu berteriak,

mencabut pedang dan mereka sudah mengejar. Memang

benar keterangan yang diperoleh Pek Lan dari mulut Pangeran

Cun. Tiga orang jagoan ini memiliki kepandaian yang hebat

dan tubuh mereka meluncur cepat sekali mengejar tubuh

berpakaian hitam yang bungkuk itu. Namun, Hek-in Kui-bo

adalah seorang datuk sesat yang seperti iblis. Ia telah keluar

dari lorong, masuk ke dalam taman gedung itu. Tiga orang

jagoan terus mengejar dan melihat betapa bayangan hitam itu

dapat bergerak amat cepatnya, merekapun berteriak memberi

tanda kepada para rekan mereka yang berjaga di atas.

Keadaan menjadi gaduh sekali ketika banyak penjaga

berlarian ke sana-sini dan cuaca menjadi terang karena semua

penjaga menyalakan lentera-lentera dan lampu-lampu

gantung. Hek-in Kui-bo sengaja berkelebatan ke sana-sini

untuk membikin kacau, kemudian ia sengaja memperlihatkan

diri dan lari ke dalam kebun di samping gedung. Kebun atau

taman ini amat luas dan semua penjaga, dipimpin oleh tiga

orang jagoan dan para perwira, mereka mengejar ke sana.

Hek-in Kui-bo sengaja menanti di tempat gelap dan ketika

mereka semua datang menyerbu, ia mengamuk dengan

tongkatnya. Beberapa orang penjaga roboh seketika, akan

tetapi tiga orang jagoan itu memang lihai. Mereka bukan saja

mampu menjaga diri dari amukan tongkat akan tetapi juga

mampu membalas, walaupun bagi Hek-in Kui-bo, mereka itu

masih belum apa-apa, merupakan lawan-lawan yang lunak

saja. Setelah merobohkan kurang lebih sepuluh orang, Hek-in

Kui-bo meloncat ke atas pagar tembok dan menghilang dalam

kegelapan malam. Tentu saja tiga orang jagoan dan para

perwira melakukan pengejaran, diikuti pula oleh pasukan

pengawal.

Mereka sama sekali tidak tahu betapa bayangan hitam itu

bersembunyi dekat tembok dan begitu mereka semua

berloncatan keluar, Hek-in Kui-bo mengambil jalan memutar

dan sudah meloncat masuk kembali!

Pangeran Cun sudah mendengar keributan di luar, bahkan

ada pengawal yang sudah melapor dari luar kamar. Pangeran

itu dengan malas mengenakan pakaian, bersungut-sungut.

“Pencuri itu minta mampus barangkali. Bagaimana mungkin

dapat melakukan pencurian di gedungku ini yang dijaga ketat?

Tentu sekarang sudah tertangkap!” Diapun membiarkan selir

tercinta itu mengenakan pakaian, bahkan dia tidak sadar

bahwa di sudut kamar terdapat buntalan pakaian yang cukup

besar, pakaian yang sejak tadi dipersiapkan oleh Pek Lan,

menggunakan saat pangeran itu mendengkur pulas.

“Brakkk!” Tiba-tiba jendela itu berantakan dan tentu saja

Pangeran Cun terkejut bukan main. Dia membalik dan melihat

dengan mata terbelalak betapa nenek buruk rupa pelayan

selirnya itu meloncat masuk, membawa buntalan hitam di

punggungnya.

“Pek Lan, mari kita pergi!” kata nenek itu.

Pangeran Cun masih belum sadar, akan tetapi mendengar

nenek itu hendak mengajak pergi selirnya, dia menjadi marah.

“Keparat, mau apa kau? Pergi dari kamar ini!” Dan dia

mencabut pedang yang tergantung di dinding kamar itu.

“Cerewet kau!” bentak nenek itu dan sekali tongkatnya

bergerak, tubuh yang gendut itu telah terbanting roboh di atas

lantai, tak mampu bergerak lagi karena tertotok oleh ujung

tongkat secara aneh.

“Subo, kenapa tidak dibunuh saja babi ini?” kata Pek Lan

sambil mengambil buntalan dari sudut kamar, bahkan ia lalu

mengumpulkan perhiasan di atas meja. Perhiasan ini

merupakan hadiah dari sang pangeran dan tadi ia harus

melepaskannya semua agar tidak “mengganggu”

pelayanannya kepada bangsawan itu.

“Ah, jangan, heh-heh! Bukankah dia yang membuat kita

kaya raya? Mari kita pergi!” Nenek itu menyambar lengan

muridnya dan membawanya “terbang” melalui jendela. Karena

para penjaga sedang sibuk sendiri melakukan pengejaran

keluar tembok pagar gedung itu, dengan mudah guru dan

murid ini meninggalkan gedung, menyelinap di kegelapan

malam membawa buntalan di punggung mesing-masing.

Biarpun Pek Lan selama dua minggu ini tersikea oleh

Pangeran Cun yang memaksanya harus bersikap manis dan

mesra, namun ia tidak merasa rugi. Pertama, ia telah

menyenangkan hati gurunya dan kedua, selain ia sendiri

mendapatkan pakaian-pakaian indah dan perhiasan mahal,

gurunya berhasil mencuri banyak sekali barang yang tak

ternilai harganya, yang membuat mereka seketika menjadi

kaya raya dan memungkinkan mereka hidup mewah dengan

harta benda itu.

Beberapa bulan kemudian, di tepi Telaga Co-sa yang indah,

berdiri sebuah rumah yang mungil dengan perkebunan yang

amat luas. Nenek Hek-in Kui-bo telah membeli tanah yang

amat luas di daerah telaga ini, membangun rumah dan hidup

sebagai seorang nenek yang kaya raya, mempunyai beberapa

orang pelayan, hidup bersama muridnya, dikagumi dan

disegani para penduduk dusun sekitarnya sebagai orang-orang

kaya raya yang hidupnya menyendiri dan tidak mau bergaul

rapat dengan para penghuni dusun. Dan mulai saat itu, Pek

Lan yang tadinya merupakan seorang gadis manis lemah

lembut, mulai digembleng untuk menjadi seorang iblis betina

seperti gurunya, dan ternyata gadis ini memiliki bakat yang

baik sekali dalam ilmu silat!

Ang-in-kok atau Lembah Awan Merah merupakan sebutan

bagi sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun-lunsan.

Bukit yang puncaknya disebut Ang-in-kok ini berada di

ujung barat dan mungkin karena pemandangan di puncak ini

waktu senja amatlah indahnya, di mana orang dapat

menikmati keindahan matahari terbenam di ufuk barat,

membuat angkasa seperti kebakaran dan kemerahan, maka

puncak ini disebut Ang-in-kok. Letaknya jauh dari pusat Kunlun-

pai yang agak ke timur dari Pegunungan Kun-lun-san.

Ang-in-kok ini sunyi, tak pernah didatangi manusia karena

untuk mendaki puncak ini tidaklah mudah. Orang harus

melalui jurang yang curam dan pendakian yang tidak mungkin

dilakukan orang biasa. Karena sunyi dan indah itulah maka

tempat ini dipilih oleh Himalaya Sam Lojin dan supek mereka,

yaitu Pek-sim Sian-su untuk menjadi tempat tinggal

sementara. Mereka berempat menggembleng Sie Liong dan

karena pemuda remaja ini menjadi murid Pek-sim Sian-su,

maka tiga orang kakek yang berasal dari Himalaya itu, tiga

orang tokoh besar yang usianya masing-masing sudah tujuh

puluh tahun lebih, terhitung sebagai para suheng (kakak

seperguruan) dari Sie Liong! Namun, adalah tiga suheng ini

yang pertama-tama mendidik dan menggemblengnya. Karena

tiga orang kakek ini yang merasa dirinya sudah amat tua dan

tidak mampu lagi melakukan tugas penting yang

membutuhkan kekuatan dan ketahanan tubuh, dan mereka

mengharapkan sute (adik seperguruan) mereka ini yang akan

menjadi wakil mereka, maka merekapun menggembleng anak

itu dengan penuh kesungguhan, bahkan mereka lalu

mengajarkan ilmu andalan dan simpanan masing-masing

kepada Sie Liong.

Pek In Tosu mengajarkan ilmu simpanannya yang disebut

Pek-in Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih), pukulan yang

menSandung tenaga sin-kang amat hebatnya sehingga kalau

pukulan ini dipergunakan, maka dari kedua telapak tangan

pemukulnya keluar uap putih. Pukulan ini bukan hanya kuat

sekali dan angin pukulannya saja mampu merobohkan lawan,

akan tetapi juga mampu menahan dan membuyarkan

pukulan-pukulan beracun yang jahat dari orang-orang

golongan hitam atau kaum sesat.

Orang ke dua dari Himalaya Sam Lojin, yaitu Swat Hwa

Cinjin yang selalu tersenyum ramah itu, mengajarkan ilmu

simpanannya yang dinamakan Swat-liong Sin-ciang (Tangan

Sakti Naga Salju). Pukulan inipun mengandung tenaga sinkang

yang amat kuat, dan kehebatan ilmu pukulan ini adalah

terkandungnya hawa yang amat dingin dalam pukulannya,

hawa dingin yang mampu membikin beku darah dalam tubuh

orang yang terpukul, sehingga pukulan itu dinamakan Naga

Salju!

Orang ke tiga dari Himalaya Sam Lojin, yaitu Hek Bin Tosu

yang bermuka hitam, juga mewariskan ilmu simpanannya

yang disebut Pay-san Sin-ciang (Tangan Sakti Menolak

Gunung)! Pukulan ini, sesuai dengan namanya, mengandung

tenaga raksasa yang seolah-olah dapat merobohkan gunung

dengan telapaknya! Dan ketika dilatih ilmu ini, Sie Liong harus

mampu merobohkan batang-batang pohon yang kecil sampai

yang besar.

Selama lima tahun Himalaya Sam Lojin menggembleng Sie

Liong dengan tekun, anak itupun rajin bukan main. Tidak saja

dia melakukan pekerjaan untuk melayani tiga orang

suhengnya dan seorang suhunya, akan tetapi setiap ada

waktu luang, dia selalu melatih diri dengan tekun. Hal ini amat

menggembirakan hati tiga orang kakek itu. Apalagi ketika

mereka mendapat kenyataan betapa Sie Liong memang

memiliki bakat yang luar biasa sekali. Tubuh bongkok itu

ternyata memiliki darah yang bersih dan tulang yang kuat.

Apa lagi otaknya. Luar biasa! Selama lima tahun itu Sie Liong

hampir tidak memikirkan hal lain kecuali latihan ilmu-ilmu silat

tinggi. Hanya kadang-kadang saja dia turun dari puncak, pergi

ke dusun untuk mencari bahan-bahan makanan yang

dibutuhkan tiga orang kakek itu, dengan menukarnya dengan

hasil-hasil yang bisa didapatkan di puncak, antara lain kulitkulit

binatang hutan, tanduk-tanduk menjangan yang

berkhasiat, akar-akar obat dan ramuan-ramuan lain yang

banyak didapatkan di tempat itu atas petunjuk Pek-sim Siansu

yang ahli dalam hal pengobatan.

Selama lima tahun itu, Pek-sim Sian-su jarang keluar dari

dalam guhanya. Dia duduk bersamadhi dan hanya kadangkadang

saja makan, atau kadang-kadang dia keluar melihat

kemajuan yang dicapai murid barunya.

Setelah lewat lima tahun, yaitu waktu yang dia berikan

kepada tiga orang murid keponakan untuk menggembleng

anak itu, mulailah Pek-sin Sian-su sendiri menggembleng Sie

Liong yang sudah berusia delapan belas tahun. Dia telah

menjadi seorang pemuda yang sebetulnya bertubuh tinggi

besar dan kokoh kuat, akan tetapi karena punggungnya

bongkok, dia kelihatan pendek. Seorang pemuda cacat,

bongkok dan agaknya hal ini membuat dia bersikap rendah

diri.

Gemblengan yang dilakukan Pek-sim Sian-su merupakan

penyempurnaan dari ilmu-ilmu yang telah dipelajari Sie Liong

dari tiga orang suhengnya. Selain menyempurnakan ilmu-ilmu

yang sudah dikuasainya, juga Pek-sim Sian-su mengajarkan

latihan siu-lian untuk menghimpun sin-kang yang menjadi

semakin kuat.

Juga kekuatan batin yang membuat pemuda ini seolah-olah

kebal terhadap serangan ilmu sihir. Dia diberi pelajaran ilmu

tongkat yang diberi nama Thian-te Sin-tung (Tongkat Sakti

Langit Bumi) dan ilmu pengobatan. Selama dua tahun lagi dia

tekun mempelajari ilmu di bawah bimbingan gurunya,

sedangkan tiga orang Himalaya Sam Lojin sudah

meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat pertapaan

masing-masing.

Setelah membimbing Sie Liong selama dua tahun, pada

suatu hari Pek-sim Sian-su berkata kepada muridnya bahwa

sudah tiba saatnya mereka untuk saling berpisah.

“Sie Liong, sekarang usiamu sudah dua puluh tahun, sudah

cukup dewasa dan sudah cakup pula ilmu-ilmu kaupelajari

untuk kaupergunakan dalam hidupmu. Engkau tentu masih

ingat apa maksud pinto dan para suhengmu mengajarkan

semua ilmu itu kepadamu. Yaitu agar engkau dapat mewakili

kami yang sudah terlalu tua ini untuk menegakkan kebenaran

dan keadilan di dalam kehidupan rakyat, membela yang benar

dan menentang yang jahat. Selain itu, pinto memberi tugas

kepadamu untuk melakukan penyelidikan ke Tibet. Engkau

tentu masih ingat akan penyerbuan Tibet Ngo-houw itu. Kami

semua merasa heran mengapa Dalai Lama mengutus mereka

untuk memusuhi kami, padahal golongan kami yang dulu

membela dia ketika dia hendak diculik oleh para Lama.

Selidikilah apa yang terjadi di sana dan kalau mungkin

usahakan agar engkau dapat menghadap Dalai Lama dan

menceritakan segala yang terjadi di sini dan minta kepada

Dalai Lama agar menghentikan sikap permusuhan para Lama

terhadap kami.”

“Baik, suhu. Semua petunjuk dan perintah suhu dan tiga

orang suheng, akan teecu taati. Dan teecu menghaturkan

terima kasih atas segala budi kebaikan suhu yang telah

memberi bimbingen kepada teecu.”

Pek-sim Sian-su lalu meninggalkan puncak itu dan kembali

ke He-lan-san yang pernah menjadi tempat pertapaannya

selama bertahun-tahun. Sie Liong juga akhirnya meninggalkan

tempat itu, menuruni puncak dan dia langsung saja menuju ke

dusun Tiong-cin, di dekat perbatasan utara yang cukup jauh.

Dia sudah mendengar keterangan dari encinya tentang dusun

tempat kelahirannya itu, di mana menurut encinya ayah ibunya

telah tewas akibat penyakit menular. Dia ingin

mengunjungi makam orang tuanya dan bersembahyang di

makam mereka.

Setelah melakukan perjalanan jauh yang susah payah,

akhirnya berhasil juga Sie Liong memasuki dusun itu. Ketika

dia mendapat keterangan yang meyakinkan bahwa dusun itu

adalah dusun Tiong-cin, jantungnya berdebar tegang. Betapa

tidak? Tempat ini adalah tanah tumpah darahnya, tempat di

mana ibunya melahirkannya! Kampung halaman ayah ibunya

yang telah meninggal dunia. Penduduk dusun itu melihat Sie

Liong dengan pandang mata heran. Jarang ada orang luar

memasuki dusun itu, dan tidak ada seorangpun yang pernah

merasa kenal dengan pemuda bongkok ini.

Sie Liong juga tidak memperlihatkan sikap yang

mencurigakan bahkan dia mencari bagian yang sunyi dari dusun

itu, lalu ketika dia melihat seorang kakek memanggul

cangkul menuju ke ladangnya, dia cepat menghampiri dan

memberi hormat kepada orang tua itu.

“Maaf, lopek (paman tua). Bolehkah saya bertanya sedikit

kepadamu?”

Biarpun pemuda yang bongkok itu tidak menarik, akan

tetapi sikapnya yang sopan dan kata-katanya yang teratur dan

halus membuat kakek itu menghentikan langkahnya dan

menghadapi pemuda bongkok itu. Setelah mengamatinya

beberapa lamanya, kakek itupun menjawab.

“Hemm, tentu saja boleh, orang muda. Apakah yang

kautanyakan?”

“Maaf, lopek. Saya ingin mengetahui di mana adanya

makam dari suami isteri Sie Kian.”

Kakek itu membelalakkan matanya dan kini memandang

kepada Sie Liong penuh selidik. “Orang muda, engkau

siapakah dan mengapa mencari makamsuami isteri Sie Kian?”

Sie Liong tidak mau membuat dirinya menjadi perhatian

orang, maka sambil lalu saja dia menjawab, “Saya masih

sanak keluarga jauh dari mereka, lopek, dan saya kebetulan

lewat di dusun ini, maka saya ingin berkunjung ke makam

mereka untuk memberi hormat.”

Kakek yang wajahnya sejak tadi nampak muram itu

bersungut-sungut. “Hem, apa perlunya mengingat orang yang

sudah mati? Paling banyak setahun sekali kuburannya

ditengok, bahkan kuburan keluarga itu sudah bertahun-tahun

tidak ada yang datang menengok! Benar kata orang bahwa

kalau hendak berbakt i kepada orang tua, berbaktilah selagi

mereka masih hidup, karena apa sih artinya berbakti kalau

orang tua sudah mati dan tidak lagi dapat merasakan nikmat

kebaktian anak?”

Sebelum Sie Liong menjawab, terdengar teriakan orang.

“Heiii, Lo Kwan, tunggu dulu….!”

Sie Liong menengok dan melihat tiga orang laki-laki tinggi

besar datang berlari-lari dan melihat mereka, kakek berusia

enam puluh tahun itu mengerutkan alisnya dan nampak

ketakutan. Sie Liong lalu melangkah ke samping, berdiri di

pinggir untuk melihat apa yang dibicarakan tiga orang itu

dengan kakek berwajah muram ini.

Setelah dekat, nampak bahwa tiga orang itu berusia kurang

lebih tiga puluh tahun, bertubuh kuat dan di pinggang masingmasing

tergantung sebatang golok. Lagak dan pakaian

mereka, juga golok itu, tidak menunjukkan bahwa mereka

adalah segolongan petani. Seorang di antara mereka yang

hidungnya besar sekali, seperti baru saja disengat

kalajengking, melangkah maju dan menudingkan telunjuknya

kepada kakek itu, tidak memperdulikan pemuda bongkok yang

berdiri di pinggiran.

“He, kakek Kwan! Apakah sudah tebal kulitmu, maka

engkau berani melarikan diri dari rumah? Bukankah hari ini

merupakan hari terakhir janjimu untuk membayar hutangmu

kepada Bouw Loya? Hayo katakan, engkau hendak minggat ke

mana?”

Kakek itu membungkuk dengan sikap takut-takut. “Aih,

mana saya berani melarikan diri? Kalian lihat sendiri, saya

membawa cangkul, hendak bekerja di ladang. Tentang hutang

itu…. ah, bagaimana lagi? Semua orang juga tahu bahwa

panen sekali ini buruk sekali hasilnya karena hujan turun

terlalu pagi, banyak merusak gandum yang belum tua benar.

Terpaksa saya tidak mampu mengembalikan hutang saya

kepada Bouw-chung-cu (kepala dusun Bouw). Harap

sampaikan maaf saya kepada beliau dan tahun depan tentu

akan saya bayar lunas.”

“Enak saja buka mulut! Kalau sedang butuh, minta hutang

merengek-rengek akan tetapi kalau disuruh mengembalikan,

ada saja alasannya! Tak tahu malu!” bentak si hidung besar.

Muka kakek yang muram itu berubah merah, agaknya dia

merana penasaran sekali akan tetapi karena takut maka tidak

leluasa mengeluarkan perasaan penasaran itu.

“Akan tetapi, selama berbulan-bulan ini saya selalu

membayar bunganya, dan kalau dikumpulkan, bunga-bunga

itu sudah hampir sama banyaknya dengan jumlah yang saya

hutang!”

“Tentu saja kau harus membayar bunga. Memangnya yang

yang kauhutang itu milik nenek moyangmu? Akan tetapi hutang

itu menurut janji harus dikembalikan selama enam bulan

dan sekarang sudah delapan bulan. Hari ini adalah hari

terakhir, engkau harus membayarnya. Harus kukatakan,

mergerti?”

Kakek itu menarik napas panjang.

“Bagaimana saya dapat membayarnya? Saya tidak

mempunyai uang dan saya tidak bisa mencari pinjaman

kepada orang lain. Sungguh mat i saya tidak bisa membayar

sekarang, bukan tidak mau…. harap saya diberi waktu.”

Si hidung besar menggeleng kepala dan hidungnya nampak

menjadi lebih besar dan kemerahan. “Tidak, majikan kami

mengharuskan engkau membayar sekarang juga. Sudahlah,

kami akan pergi ke rumahmu dan akan mengambil apa saja

yang berharga untuk kami sita!”

Kakek itu tersenyum sedih. “Barang apa lagi? Semua sudah

kami jual untuk membayar bunga kepada Bouw-chung-cu, dan

sebagian untuk makan. Di rumah tidak ada lagi sepotongpun

benda yang berharga.”

“Hemm, kukira tidak demikian, orang tua! Ada bunga yang

manis dan bunga itu cukup untuk membayar hutangmu

kepada majikan kami!” Berkata demikian si hidung besar lalu

membalikkan tubuh dan pergi bersama dua orang kawannya.

Kakek itu kelihatan pucat dan ketakutan. “Celaka….

celaka…. mereka akan membawa Siu Si! Celaka, ya Tuhan,

apa yang dapat saya lakukan untuk menyelamatkan cucuku

yang malang itu….?” Suaranya bercampur tangis

kebingungan.

“Lopek yang baik, siapakah itu Siu Si? Dan mengapa

mereka hendak membawanya?”

Ditanya oleh pemuda bongkok itu, kakek itu yang sudah

putus harapan, berkata, “Namaku Kwan Sun, hidupku hanya

dengan cucuku Siu Si, gadis berusia tujuh belas tahun yang

sudah yatim piatu. Memang sudah lama kepala dusun kami,

Bouw Kun Hok, tertarik kepada cucuku dan beberapa kali dia

ingin mengambil cucuku sebagai selir, akan tetapi selalu kami

tolak dengan halus. Dan agaknya, hutangku kepadanya yang

akan membuat Siu Si celaka! Ahh, kalau saja mendiang Sie

Kauwsu (Guru silat Sie) masih hidup, tentu tidak ada kepala

dusun yang berani menekan rakyatnya….”

Ucapan terakhir ini membangkitkan semangat dalam hati

Sie Liong. Ayahnya disebut sebagai seorang yang mencegah

terjadinya kejahatan di dusun itu. Ayahnya sudah tidak ada,

akan tetapi dia, puteranya, masih ada! Dia lalu memegang

lengan kakek itu.

“Hayo, lopek, kenapa tinggal diam saja? Cucumu t idak

boleh diganggu orang, aku akan membantumu!” Berkata

demikian, Sie Liong menarik tangan kakek itu diajak berjalan

cepat.

Kakek itu tetap ketakutan dan meragukan kemampuan

pemuda bongkok ini untuk mengajaknya menentang tukangtukang

pukul yang ganas dan kejam itu. Akan tetapi,

mengingat akan ancaman bahaya bagi cucunya, diapun

berlari-lari dan menjadi petunjuk jalan menuju ke rumahnya.

Di sepanjang jalan, banyak penduduk dusun yang hanya

berani menjenguk dari pintu dan jendela dan mereka itu

memandang dengan muka ketakutan dan gelisah sekali,

“Awas, Lo Kwan, cucumu….!”

“Mereka ke sana….”

“Hati-hatilah, Lo Kwan, kepala dusun mengincar

cucumu….!”

Dari sikap mereka itu, Sie Liong maklum bahwa semua

penduduk berpihak kepada kakek yang she Kwan ini, akan

tetapi mereka itu semua ketakutan dan tidak berani bicara

terang-terangan, bahkan agaknya tidak berani keluar dari

rumah masing-masing melihat ada tiga orang tukang pukul

kepala dusun menuju ke rumah kakek Kwan!

Akhirnya mereka tiba di depan rumah kakek itu. Kakek

Kwan Sun cepat mendekati rumahnya dan pada saat itu

terdengar jerit tangis cucunya, dan seorang di antara tiga

tukang pukul itu, yang berhidung besar, menyeret gadis itu

keluar dari rumah memegangi pergelangan tangan kirinya.

Sedangkan dua orang lagi mengobrak-abrik isi rumah. Ketika

gadis berusia tujuh belas tahun yang manis itu, walaupun

pakaiannya amat sederhana, melihat kakeknya, ia berteriak

sambil menangis.

“Kong-kong, tolonglah aku….!” Ia meronta-ronta, akan

tetapi hanya rasa nyeri pada pergelangan tangan saja yang

didapatkan karena pegangan si hidung besar itu sungguh erat

sekali.

Melihat cucunya meronta dan menaagis tanpa daya, kakek

Kwan Sun lupa akan rasa takutnya. Dia tidak marah melihat

barang-barang dalam rumahnya yang tidak berharga itu

dirusak, akan tetapi melihat cucunya yang tersayang itu

ditangkap, dia marah sekali.

“Lepaskan cucuku! Ia tidak berdosa! Mau apa engkau

menangkap cucuku? Hayo lepaskan Siu Si….!” teriaknya

sambil mendekati si hidung besar dan berusaha membebaskan

cucunya. Akan tetapi, kaki yang panjang dan besar itu

menendang dan tubuh Kwan Sun terlempar dan tergulingguling.

Si hidung besar tertawa.

“Ha-ha-ha, apakah kau bosan hidup? Gadis ini kujadikan

sandera, dan kalau engkau ingin melihat dia bebas, bayarlah

hutangmu pada majikan kami!” Dia memberi isyarat kepada

dua orang kawannya yang sudah merasa puas mengTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

hancurkan pintu dan jendela rumah kecil itu, dan menyeret

tubuh Kwan Siu Si yang meronta-ronta dan menangis melihat

kakeknya ditendang roboh.

“Kawan, perlahan dulu!” Tiba-tiba Sie Liong sudah

menghadang di depan si hidung besar. Sikapnya tenang, akan

tetapi matanya mencorong. Melihat ada orang berani

menghadangnya, si hidung benar memandang heran penuh

perhatian karena dia tidak mengenal orang yang punggungnya

bongkok ini.

“Siapa engkau dan mau apa kau menghadangku?”

bentaknya marah.

“Sobat, urusan hutang pihutang uang tidak ada sangkutpautnya

dengan nona ini. Maka, kuharap engkau suka

membebaskannya,” kata Sie Liong dengan sikap masih

tenang.

Marahlah si hidung besar. “Setan! Engkau tidak kenal siapa

aku?” Dia menunjuk ke arah hidungnya yang besar. “Apa kau

ingin mampus? Kalau aku tidak mau membebaskan gadis ini,

engkau mau apa?”

Sie Liong mengerutkan alisnya.

“Sungguh engkau telah menyeleweng dari kebenaran.

Kalau tidak kaubebaskan, terpaksa aku akan memaksamu

membebaskannya.”

“Hah??” Si hidung besar membelalakkan matanya yang

besar dan hidungnya yang lebih besar lagi itu bergerak-gerak

seperti hidung monyet mencium sesuatu yang aneh, “Kau….

kau…. setan bongkok ini sungguh lancang mulut!” Dia

menoleh kepada dua orang kawannya dan membentak. “Hajar

mampus setan bongkok ini!”

Dua orang temannya itu adalah orang yang pekerjaannya

memang tukang memukul dan menyiksa orang. Tidak ada

kesenangan yang lebih mengasikkan bagi mereka melebihi

menghajar orang lain. Hal ini mendatangkan perasaan bangga

karena mereka dapat memperlihatkan bahwa mereka lebih

kuat, lebih pandai dan lebih berkuasa dari pada yang mereka

pukuli, juga mendatangkan perasaan nikmat dalam hati

mereka yang kejam. Selain itu, mendatangkan pula uang

karena memang pekerjaan mereka sebagai tukang pukul dari

kepala dusun Tiong-cin yang amat diandalkan oleh si kepala

dusun. Apa lagi harus menghajar seorang pemuda bongkok!

Pekerjaan kecil yang amat mudah, pikir mereka.

Dengan lagak bagaikan jagoan-jagoan benar-benar, dua

orang yang sombong itu menghampiri Sie Liong sambil

menyeringai. Apalagi pemuda bongkok itu tidak bersenjata,

juga tidak memperlihatkan sikap sebagai seorang ahli

berkelahi, melainkan seorang pemuda bongkok sederhana

saja.

“Sekali pukul bongkokmu itu akan pindah ke depan!”

seorang di antara mereka mengejek.

“Tidak, biar kupukul sekali lagi, agar bongkoknya berubah

menjadi dua, seperti seekor unta dari Mongol!” Orang ke dua

memperoloknya. Namun, Sie Liong diam saja, bahkan

sikapnya seperti mengacuhkan mereka, dan memang dia tahu

bahwa dua orang itu hanyalah gentung-gentung kosong yang

nyaring bunyinya namun tidak ada isinya.

Dua orang itu agaknya hendak bersaing dan berlumba

siapa yang akan lebih dulu merobohkan Sie Liong, maka

mereka pun menerjang dengan cepat dari kanan kiri, yang

seorang menghantam ke arah kepala Sie Liong, orang ke dua

menonjok ke arah dada pemuda bongkok itu.

Sie Liong melihat datangnya dua pukulan itu yang bagi dia

tentu saja amat lambat datangnya. Dia seolah tidak melihat

atau tidak mampu menghindar, akan tetapi begitu dua orang

itu dekat dan pukulan mereka sudah hampir menyentuh

sasaran, tiba-tiba dia mengembangkan kedua lengannya

dan…. dua orang itu terlempar ke kanan kiri sampai beberapa

meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah sampai berdebuk

suaranya dan debu mengebul ketika pantat mereka rerbanting

keras ke atas tanah. Dua orang itu meringis dan tangan

mereka mengelus pantat yang amat nyeri itu, akan tetapi

perasaan malu dan marah membuat mereka segera

melupakan rasa nyeri itu. Mereka sudah meloncat bangun dan

kini dengan gemas mereka sudah mencabut golok dari

pinggang masing-masing. Sinar golok yang berkilauan

membuat Kwan Sun dan cucunya, Kwan Siu Si, memandang

dengan mata terbelalak penuh kengerian.

“Tuan-tuan…. jangan bunuh orang….!” kata Kwan Sun,

ngeri membayangkan betapa pemuda bongkok yang

menolongnya itu akan menjadi korban golok mereka. “Orang

muda, pergilah, larilah….!”

Akan tetapi, tentu saja dua orang tukang pukul yang sudah

marah sekali itu tidak memperdulikannya, dan Sie Liong

menoleh kepada Kwan Sun. “Lopek yang baik, jangan

khawatir. Mereka ini adalah orang-orang jahat yang mengandalkan

kekerasan untuk menindas orang, mereka patut

dihajar….” Baru saja dia bicara demikian, dua orang yang

mempergunakan kesempatan selagi pemuda bongkok itu

menoleh dan bicara kepada Kwan Sun, sudah menyerang

dengan golok mereka dari kanan kiri!

Kwan Sun dan cucunya memejamkan kedua mata saking

ngerinya, tidak tahan melihat betapa tubuh pemuda bongkok

itu akan menjadi korban bacokan dan roboh mandi darah.

Akan tetapi, dengan tenang saja Sie Liong menggeser kakinya

dan dua bacokan golok itu luput! Dan sebelum dua orang

penyerangnya sempat menarik kembali golok mereka, kembali

Sie Liong mengembangkan ke dua lengannya.

“Plak! Plakkk!” Kini dua tubuh itu terlempar lagi seperti tadi,

akan tetapi lebih keras sehingga mereka terpental dan

terbanting keras sampai mengeluarkan bunyi “ngek! ngek!”

dan mereka kini tidak malu-malu lagi mengaduh-aduh sambil

menggunakan kedua tangan menekan-nekan pantat mereka

yang seperti remuk rasanya. Mereka mencoba untuk bangkit

duduk akan tetapi terguling lagi dan golok mereka entah lenyap

ke mana.

Kini si hidung besar terbelalak. Agaknya baru dia tahu

bahwa pemuda bongkok itu lihai! Dia lalu menggunakan

kelicikannya. Tangan kiri memegang pergelangan tangan

Kwan Siu Si, dan tangan kanan mencabut golok lalu ditempelkan

kepada leher gadis itu!

“Setan bongkok, mundur kau! Kalau tidak, akan kubunuh

gadis ini!” bentaknya.

Sie Liong menggelengkan kepalanya dan melangkah maju

menghampiri. “Tidak, engkau tidak akan membunuh gadis

itu!” katanya dan tiba-tiba tangannya bergerak ke depan dan

biarpun jaraknya dengan orang itu masih ada dua meter,

namun sambaran angin pukulannya mengenai pundak kanan

si hidung besar dan tanpa dapat dihindarkan lagi, si hidung

besar yang tiba-tiba merasa lengannya tergetar dan

kehilangan tenaga melepaskan goloknya. Dia terbelalak dan

mukanya berubah pucat, akan tetapi pada saat itu, Sie Liong

sudah melangkah di depannya. Dia masih mencoba untuk

menggerakkan tangan kanannya menyambut Sie Liong

dangan pukulan. Akan tetapi, Sie Liong menangkap pergelangan

tangannya dan mencengkeram.

“Aduh…. aduhhh…. aughhhhh!” Si hidung besar menjeritjerit

seperti babi disembelih dan otomatis pegangannya pada

pergelangan tangan Siu Si terlepas. Demikian nyeri rasa

lengannya yang dicengkeram pemuda bongkok itu. Di lain

saat, Sie Liong sudah mandorongnya dan tubuhnya terlempar

jauh ke belakang, terbanting keras dan tidak dapat bergerak

lagi karena dia sudah roboh pingsan!

Melihat ini, dua orang temannya cepat menghampirinya,

lalu menggotongnya dan tanpa menoleh lagi, mereka berdua

lari lintang pukang menggotong si hidung besar yang pingsan.

Melihat kejadian ini, Kwan Sun dan cucunya cepat

menjatuhkan diri di depan kaki Sie Liong.

“Taihiap…. mata kami buta, harap maafkan….” kata Kwan

Sun. “Kami tidak tahu bahwa taihiap memiliki kepandaian

tinggi dan telah menyelamatkan kami, akan tetapi…. harap

taihiap cepat pergi dari sini…. kepala dusun Bouw tentu akan

datang bersama gerombolannya….”

Sie Liong tersenyum dan merasa suka kepada kakek itu.

Biarpun dirinya sendiri dan cucunya terancam, kakek itu masih

sempat mengkhawatirkan dirinya dan tadipun menganjurkan

agar dia melarikan diri agar tidak sampai celaka di tangan

orang-orang jahat itu.

“Bangkitlah, lopek,” katanya sambil menyentuh pundak itu

dan menarik orang tua itu bangun. “Engkau juga, nona.

Sekarang, harap kalian kumpulkan penduduk dusun ke sini,

terutama kaum prianya dan yang masih muda-muda, aku

ingin bicara dengan mereka. Cepat lopek, sebelum kepala

dusun jahat itu muncul!”

Tidak sukar pekerjaan ini karena tadipun, ketika pemuda

bongkok itu menghajar tiga orang tukang pukul yang amat

mereka takuti, banyak penduduk mengintai dan melihatnya.

Mereka hampir tidak percaya bahwa ada seorang pemuda,

bongkok pula, mampu mengalahkan mereka bertiga. Maka,

tanpa diperintah, mereka sudah mengabarkan kepada orangorang

lain dan kini banyak orang berdatangan ke rumah kakek

Kwan Sun. Maka, ketika kakek itu minta kepada para

penduduk agar datang ke situ karena pemuda bongkok itu

hendak bicara dengan mereka, sebentar saja tempat itu sudah

penuh dengan para penghuni dusun, terutama para prianya

yang masih muda. Bahkan yang tua-tuapun tidak ketinggalan.

Melihat mereka, diam-diam Sie Liong merasa terharu. Inilah

teman-teman dan para sahabat mendiang orang tuanya!

“Saudara-saudara,” katanya dengan suara lantang, “kalian

mempunyai seorang kepala dusun yang jahat dan yang

mempunyai kaki tangan penjahat, kenapa diam saja dan tidak

melawan?”

Semua orang saling pandang dan wajah mereka

membayangkan ketakutan.

“Mana kami berani?” akhirnya seorang laki-laki muda

menjawab.

“Andaikata Sie-kauwsu masih hidup, apakah mungkin ada

kepala dusun yang jahat seperti itu di dusun ini?” tanya pula

Sie Liong, sekali ini ditujukan kepada mereka yang tua-tua

karena tentu saja yang masih muda tidak mengenal Sie

Kauwsu.

Mendengar ini, beberapa orang tua segera menjawab.

“Tidak mungkin! Dusun ini aman ketika Sie Kauwsu masih hidup!”

“Nah, ketahuilah paman sekalian. Aku bernama Sie Liong

dan aku adalah putera Sie Kauwsu! Aku akan mewakili

mendiang ayahku untuk menghajar kepala dusun itu, dan

kuharap kalian semua mendukung dan membantuku!”

“Kami…. kami tidak berani….” beberapa orang berseru.

“Kepala dusun Bouw mempunyai banyak tukang pukul yang

lihai.”

“Hemm, kalian lihat saja. Mereka itu hanya pandai

menggertak, akan tetapi sama sekali tidak lihai. Apalagi

jumlah kalian jauh lebih banyak. Kalian tidak perlu turun

tangan, lihat saja aku akan menghajar mereka!” kata Sie Liong

tanpa nada sombong, melainkan nada penasaran mengapa

begini banyak pria di dusun orang tuanya itu mandah saja

kehidupan mereka ditindas oleh seorang kepala dusun yang

jahat.

Biarpun pemuda ini sudah berjanji akan menghajar kepala

dusun Bouw dan anak buahnya, tetap saja para penduduk dusun

itu belum yakin benar. Memang pemuda ini tadi telah

mengalahkan tiga orang tukang pukul lurah Bouw, akan tetapi

mampukah pemuda yang bongkok itu mengatasi Bouw-chungcu

dengan para jagoannya yang cukup banyak dan kejam?

Maka, mereka tidak berani menyanggupi untuk membantu

pemuda bongkok itu dan hanya berdiri bergerombol agak

jauh.

“Yang kumaksudkan bukanlah agar kalian membantuku

menghajar mereka, melainkan mendukung dan selanjutnya

bersikap berani dan bersatu menghadapi kekejaman yang

menindas kalian. Juga kalau pembesar tinggi datang, kalian

harus berani melaporkan kejahatan para pejabat di sini.”

Orang-orang itu mengangguk dan merasa lega bahwa

pemuda itu t idak minta mereka untuk membantu dengan

perkelahian. Dengan demikian, andaikata pemuda itu gagal

dan kalah, mereka tidak akan dipersalahkan oleh Bouw-chungcu.

Tak lama kemudian, terdengar suara banyak orang. Para

penduduk dusun itu segera bersembunyi di balik rumah-rumah

dan pohon-pohon, seperti kura-kura ketakutan dan

menyembunyikan kepalanya di dalam rumahnya. Nampak

lurah Bouw yang bertubuh gendut pendek itu diiringkan oleh

lima belas orang yang bersikap gagah dan kasar, di antaranya

tiga orang yang tadi dihajar oleh Sie Liong. Lurah Bouw ini

memperoleh kedudukannya sebagai lurah Tiong-cin dengan

jalan menyogok pembesar tinggi yang berwenang

menentukan siapa lurah di dusun itu, dan dengan jalan

mengancam mereka yang tidak setuju dia diangkat menjadi

lurah, dengan bantuan belasan orang tukang pukulnya. Dia

bukan orang berasal dari dusun Tiong-cin, dan baru tiga tahun

saja menjadi lurah di situ, dia telah menjadi kaya raya dan

hidupnya bagai seorang raja kecil. Ketika mendengar laporan

tiga orang tukang pukulnya bahwa di dusunnya datang

seorang pemuda bongkok yang berani menentang bahkan

menghajar t iga orang tukang pukulnya, lurah Bouw menjadi

marah bukan main. Dia sendiri adalah seorang ahli silat yang

cukup pandai, dan dia segera mengumpulkan pembantunya

yang berjumlah lima belas orang, membawa senjata lengkap

mencari pemuda bongkok itu.

Sie Liong menanti kedatangan mereka dengan sikap tenang

saja, sebaliknya, melihat pemuda itu, tiga orang jagoan yang

tadi menerima hajarannya segera menuding dan berseru,

“Itulah si setan bongkok!”

Lurah Bouw mendangkol bukan main. Pemuda itu biasa

saja, bahkan cacat, bongkok dan sama sekali tidak

mengesankan sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian.

Dan tiga orang tukang pukulnya yang ditugaskan menyandera

Kwan Siu Si yang membuatnya tergila-gila dan mengilar, dapat

digagalkan pemuda itu! Maka begitu berhadapan dengan Sie

Liong, lurah Bouw yang juga memegang sebatang golok

seperti para anak buahnya, menudingkan goloknya ke arah

muka Sie Liong dan membentak marah.

“Engkau ini orang bongkok dari mana, berani datang ke

dusun kami dan membikin kacau?”

Sie Liong mengangkat muka memandang wajah lurah itu,

sinar matanya yang mencorong mengejutkan hati lurah itu,

dan Sie Liong tersenyum. “Namaku Sie Liong dan aku adalah

orang yang dilahirkan di dusun Tiong-cin ini, dan aku datang

untuk menengok kuburan ayah ibuku. Tidak tahunya dusun ini

telah berada dalam cengkeraman seekor serigala yang kejam!

Engkau mengerahkan penjahat-penjahat untuk menindas

penduduk dusun. Engkau tidak pantas menjadi lurah, dan aku

mewakili ayahku, Sie Kian untuk menghajar kalian dan

membersihkan dusun kami ini dari srigala-srigala berwajah

manusia yang berkeliaran di sini!”

Wajah lurah Bouw menjadi merah padam saking marahnya.

Memang dia bukan orang berasal dari dusun ini, akan tetapi

dia telah berhasil menjadi lurah dan hidup makmur di situ.

“Jahanam keparat, setan bongkok yang sombong!” Dia

menoleh kepada para anak buahnya. “Pukul dia sampai mati!”

Lima belas orang itu memang sudah siap dengan senjata di

tangan. Begitu mendengar komando ini, mereka serentak

maju mengepung dan mengeroyok Sie Liong! Belasan senjata

tajam berupa golok, pedang dan tombak, datang bagaikan

hujan ke arah tubuh Sie Liong. Orang-orang dusun yang

mengintai dan menonton, menjadi pucat dan mereka merasa

ngeri. Bahkan ada yang diam-diam sudah meninggalkan

tempat itu bersembunyi di rumah sendiri saking takut terlibat.

Akan tetapi, Sie Liong yang kini telah menjadi seorang

pendekar sakti, tidak menjadi gugup menghadapi hujan

senjata tajam itu. Tubuhnya membuat gerakan memutar dan

kedua tangannya dikibaskan ke kanan kiri dan depan

belakang. Akibatnya, beberapa batang senjata tajam

terlempar karena pemegangnya merasa betapa ada tenaga

yang dahsyat menyambar tangan mereka dan membuat

lengan mereka menjadi seperti lumpuh! Akan tetapi mereka

mengandalkan pengeroyokan banyak orang, maka yang lain

masih terus menyerang, dan yang senjatanya terlepas, cepat

memungut kembali senjata mereka dan menyerang semakin

ganas. Kini, melihat betapa dalam segebrakan saja beberapa

orang anak buahnya melepaskan senjata, lurah Bouw sendiri

menjadi penasaran dan sambil mengeluarkan bentakan

nyaring, diapun menyerang dengan mengangkat goloknya

tinggi-tinggi, kemudian melakukan bacokan yang amat cepat

dan kuat.

Hanya dengan miringkan tubuh, Sie Liong membuat

bacakan itu luput dan lewat di dekat pundaknya, dan sebelum

kepala dusun itu sempat merobah posisinya, tiba-tiba saja dia

merasa tengkuknya diraba dan tubuhnya menjadi kaku! Di lain

saat, Sie Liong telah mengangkat tubuh lurah ini dan

mempergunakan sebagai perisai atau sebagai senjata yang

diputar-putar di atas kepalanya! Melihat ini, tentu saja para

tukang pukul menjadi terkejut bukan main dan mereka

menahan senjata mereka! Sie Liong terus maju dan kedua

kakinya secara bergantian menendangi mereka dan beberapa

orang pengeroyok kena ditendang sampai terlempar jauh dan

terbanting jatuh dengan kerasnya ke atas tanah! Sebelum

mereka dapat bangkit, tiba-tiba datang banyak orang yang

memukuli mereka yang terbanting jatuh itu! Mereka yang

memukuli ini adalah orang-orang dusun! Kiranya ketika para

penghuni dusun melihat betapa pemuda bongkok itu benarbenar

dapat mengatasi lurah Bouw dan anak buahnya, mereka

menjadi bersemangat sehingga melihat beberapa orang

tukang pukul yang mereka benci itu terlempar, mereka lalu

mengeroyok dan memukulinya dengan tangan mereka!

Tentu saja tukang-tukang pukul yang sudah kehilangan

senjata dan masih pening karena terbanting keras, kini hanya

mampu berkaok-kaok ketika dikeroyok dan dipukuli para

penduduk dusun! Makin keras dia memaki dan mengancam,

makin keras pula orang-orang itu memukulinya sehingga

mukanya menjadi bengkak-bengkak dan tubuhpun babak

bundas, pakaian mereka robek-robek!

Sie Liong tersenyum gembira melihat ulah para penduduk

dusun itu. Dia telah berhasil membangkitkan semangat para

penduduk dusun itu setelah semangat mereka itu lenyap

selama bertahun-tahun di bawah penindasan kepala dusun

yang jahat itu. Maka diapun segera melemparkan tubuh

kepala dusun Bouw yang jatuh berdebuk dan terguling-guling.

Kepala dusun itu hanya dapat mengeluh karena kepalanya

sudah pening sekali ketika tubuhnya diputar-putar, kini

terbanting keras pula setelah totokan pada tengkuknya

dibebaskan pemuda bongkok yang lihai itu. Dan diapun terkejut

ketika kini orang-orang dusun mengejarnya dan

memukulinya.

“Hei….! Keparat…. ini aku, lurahmu….!” teriaknya, akan

tetapi teriakannya hanya disambut dengan pukulan-pukulan

para penduduk yang sudah melihat kesempatan untuk

membalas dendam bertahun-tahun itu. Lucunya, kini banyak

pula wanita dusun yang keluar dan merekapun ikut pula

memukuli kepala dusun dan anak buahnya dengan gaganggagang

sapu!

Sie Liong mengamuk, dan dalam waktu singkat saja,

seluruh tukang pukul yang lima belas orang banyaknya sudah

dia robohkan dan kini mereka semua, juga kepala dusun

Bouw, berteriak-teriak dan mengaduh-aduh tanpa mampu

melawan ketika orang-orang dusun, tua muda, laki

perempuan, mengeroyok mereka dan memukuli mereka

sampai seluruh muka mereka bengkak-bengkak!

Sampai beberapa lamanya Sie Liong membiarkan orangorang

dusun itu melampiaskan kemarahan dan sakit hati

mereka, akan tetapi dia menjaga agar mereka tidak

melakukan pembunuhan. Akhirnya, khawatir kalau-kalau

kepala dusun Bouw dan anak buahnya akan mati konyol dia

lalu berseru dengan suara nyaring.

“Cukup, saudara-saudara, cukup dan jangan memukul

lagi!”

Teriakan yang nyaring ini ditaati seketika oleh para

penghuni dusun yang kini penuh semangat itu. Dipimpin oleh

seorang kakek yang bersemangat, mereka pun berseru,

“Hidup putera mendiang Sie Kauwsu….!”

Sie Liong mengangkat kedua tangan ke atas memberi isarat

agar mereka tenang, lalu dia memeriksa keadaan enam belas

orang musuh itu. Keadaan mereka sungguh menyedihkan, dan

lebih dari setengah mati. Muka mereka bengkak-bengkak dan

bonyok-bonyok, bahkan kepala dusun Bouw tidak mempunyai

hidung lagi. Bukit hidungnya penyok dan hancur, ada yang

matanya pecah, patah tulang dan sebagainya. Akan tetapi Sie

Liong merasa bersukur bahwa tidak ada di antara enam belas

orang itu yang tewas. Dia menghampiri lurah Bouw dan

mengguncang pundaknya. Lurah itu mengeluh dan merintih,

mencoba untuk membuka kedua matanya yang bengkakbengkak,

memandang kepada Sie Liong.

“Orang she Bouw, bagaimana sekarang? Apakah engkau

masih merasa penasaran dan hendak mempergunakan

kekuasaanmu untuk menindas rakyat dusun Tiong-cin?”

Lurah Bouw sudah ketakutan setengah mati. Ketika tadi

dipukuli rakyat, dia yang tadinya memaki-maki dan

mengancam, mulai menangis dan minta-minta ampun.

“Ampun…. ampunkan saya…. saya tidak berani lagi…. saya

akan menjadi lurah yang baik….”

Akan tetapi mendengar ucapannya itu, semua penduduk

dusun menolak keras. “Tidak! Kami tidak mau dia menjadi

lurah kami!”

Sie Liong tersenyum dan berkata kepada orang she Bouw

itu. “Nah, engkau sudah mendengar sendiri. Kalau tidak ada

aku di sini, engkau tentu telah mereka pukuli terus sampai

mati. Orang she Bouw, sekarang lebih baik kalau engkau dan

anak buahmu itu pergi dari dusun ini secepatnya. Kami penduduk

Tiong-cin tidak membutuhkan engkau dan orangorangmu,

kami dapat mengatur diri sendiri. Aku akan melapor

kepada pembesar atasanmu bahwa engkau tidak disuka rakyat

dan bahwa engkau telah pergi, dan kami akan mencari

pengganti seorang kepala dusun. Nah, sekarang engkau

pergilah dan bawalah keluargamu, juga hartamu. Akan tetapi,

gudang gandum dan padi harus kautinggalkan, karena itu

milik rakyat yang kauperas!”

Semua penghuni dusun bersorak gegap gempita

menyambut ucapan Sie Liong itu karena mereka semua

merasa setuju sekali. Menghadapi semangat rakyat yang

berkobar itu, Bouw Kun Hok, yaitu kepala dusun yang jahat

itu, menjadi ngeri. Dengan susah payah dia lalu bersama anak

buahnya, kembali ke rumahnya dan mengumpulkan keluarga

mereka, membawa harta mereka dan pada hari itu juga

mereka pergi meninggalkan dusun Tiong-cin, diantar soraksorak

para penduduk yang merasa lega sekali.

Setelah enam belas orang itu bersama keluarga mereka

pergi, dengan dipimpin seorang kakek, yaitu kakek Kwan Sun

sendiri, para penghuni dusun menjatuhkan diri berlutut di

depan Sie Liong. Kini mereka semua keluar, termasuk kanakkanak

dan wanita sehingga ratusan orang berlutut di depan

Sie Liong.

“Sie-taihiap,” kata Kwan Sun dengan suara nyaring, “kami

seluruh penghuni dusun Tiong-cin menghaturkan terima kasih

kepada taihiap yang telah membebaskan kami dari tekanan

lurah Bouw. Sekarang kami mohon agar taihiap suka menjadi

kepala dusun kami.”

“Hidup Sie-taihiap….!”

“Kami setuju!”

“Akur! Sie-taihiap menjadi lurah kami!”

Melihat mereka itu berteriak-teriak, Sie Liong mengangkat

kedua tangan ke atas dan hatinya terharu sekali. Selama ini,

orang-orang hanya memandang kepadanya dengan ejekan,

dengan olok-olok, ada yang dengan pandang mata kasihan.

Dia seorang bongkok yang dipandang rendah, membuat dia

merasa rendah diri. Akan tetapi sekarang, di dusun orang

tuanya, di tempat kelahirannya, dia seperti dipuja-puja!

“Terima kasih atas kepercayaan cu-wi (anda sekalian)!

Akan tetapi, aku masih mempunyai tugas yang amat panting

dan tidak mungkin tinggal selamanya di sini. Karena itu, aku

tidak dapat pula menjadi seorang lurah, apalagi mengingat

bahwa aku tidak berpengalaman dan tidak berpengetahuan

bagaimana memimpin rakyat dusun. Sebaiknya kalau sekarang

cu-wi memilih sendiri seorang di antara cu-wi yang dapat

dipercaya, kemudian mengangkatnya menjadi lurah baru.”

Kembali terjadi kegaduhan ketika mereka mengajukan

nama-nama calon, akan tetapi ternyata sebagian besar suara

mereka memilih kakek Kwan Sun. Melihat ini, Sie Liong juga

menyatakan persetujuannya.

“Kalian telah memilih dengan tepat. Kwan Lopek memang

tepat untuk menjadi lurah kalian yang baru. Kuharap Kwan

Lopek dapat menerimanya dan suka memimpin saudarasaudara

ini!”

Kwan Sun bangkit dan mukanya agak merah karena

merasa malu bahwa dia, seorang petani biasa, diangkat

menjadi lurah. “Sie-taihiap, bukan saya menolak, akan tetapi

bagaimana mungkin saya menjadi lurah tanpa pengangkatan

para pembesar yang berwajib di kota besar Wen-su?”

Semua orang menjadi bengong dan bingung karena apa

yang diucapkan oleh kakek itu memang benar. Sie Liong

mengangguk-angguk, karena diapun baru tahu akan hal itu

sekarang. “Harap lopek jangan khawatir. Aku sendiri yang

akan pergi ke kota Wen-su dan akan kutemui pejabat yang

berwenang untuk itu, akan kuceritakan tentang keadaan di

Tiong-cin ini, tentang kejahatan lurah Bouw dan tentang

keputusan para penduduk mengangkat lopek sebagai lurah!”

Semua orang bersorak gembira karena mereka semua yakin

bahwa kalau Pendekar Bongkok yang muda itu turun tangan,

pasti akan beres, seperti yang telah dibuktikan ketika dia

menumpas lurah Bouw dan anak buahnya.

“Akan tetapi, taihiap. Bagaimana kalau orang she Bouw itu

tidak mau menerima dan setelah taihiap pergi dari sini, dia

akan datang bersama gerombolannya dan membalas

dendam?” tanya seorang penduduk muda dan kembali semua

orang bengong dan wajah mereka berubah ketakutan.

Membayangkan balas dendam dari lurah Bouw dan

gerombolannya, selagi Pendekar Bongkok, demikian mereka

menjuluki Sie Liong, tidak berada lagi di dusun itu, membuat

mereka mengeluarkan keringat dingin.

“Jangan takut! Kalau kalian sudah bersatu padu seperti

tadi, lurah Bouw dan gerombolannya tidak akan mampu

berbuat sesuatu! Kulihat tadi di antara cu-wi banyak pula yang

kuat dan memiliki gerakan silat. Bukankah mendiang ayahku

dahulu adalah guru silat di sini dan disebut Sie Kauwsu?

Siapakah di antara cu-wi yang pernah berguru kepada

ayahku?”

Ternyata ada tujuh orang yang pernah menjadi murid Sie

Kauwsu. Mereka sudah lama tidak pernah berlatih, akan tetapi

ketika Sie Liong menyuruh mereka memperlihatkan gerakan

silat, ternyata mereka cukup mahir.

“Aku akan melatih tujuh orang saudara ini dengan

beberapa jurus silat pilihan, kemudian mereka akan melatih

para muda di sini. Jumlah kalian ada ratusan orang, kalau

bersatu padu, tentu tidak ada gerombolan penjahat yang

banani main-main.”

Semua orang setuju dan kakek Kwan Sun dipilih menjadi

lurah yang baru, menempati bekas rumah lurah Bouw yang

besar! Dan Sie Liong menjadi tamunya yang dihormati. Akan

tetapi sebelum dia pergi ke rumah baru dari lurah Kwan lebih

dahulu dia minta penjelasan dari Kwan Sun tentang orang

tuanya.

“Seperti lopek mengetahui, saya datang untuk berkunjung

ke makam ayah ibu saya di sini. Sekarang saya ingin pergi

dulu berkunjung ke makam itu. Di manakah makam mereka,

lopek?”

“Ah, mari kuantar sendiri, taihiap. Makam itu berada di

pinggir dusun sebelah timur, tempat pemakaman penduduk

kita.” Lurah baru itu lalu mengantar Sie Liong menuju ke

tanah kuburan yang sunyi itu.

Tak lama kemudian, Sie Liong sudah berlutut di depan tiga

buah makam yang berdampingan. Makam yang sederhana

sekali, den tidak terawat. Hal ini menunjukkan bahwa ayah

ibunya tidak mempunyai sanak keluarga lagi di dusun itu.

Setelah memberi hormat, diapun membersihkan rumputrumput

liar di makam itu, dibantu oleh lurah Kwan.

“Ini makam Sie Kauwsu dan ini makam isterinya. Aku

sendiri ikut mengubur jenazah mereka, dan yang ini makam

Kim Cu An, muridnya yang menjadi calon mantunya.”

Sie Liong terkejut dan heran. “Apakah suheng Kim Cu An

Inipun tewas karena penyakit menular yang ganas itu, lopek?”

Kini lurah Kwan itu yang medangnya dengan mata

terbelalak. “Penyakit menular? Apa maksudmu, taihiap?”

“Bukankah…. bukankah ayah ibu tewas karena penyakit

menular?”

“Ah, dari mana taihiap mendengar berita itu! Sama sekali

tidak begitu! Di sini memang pernah berjangkit penyakit

menular, akan tetapi tidak berapa hebat dan yang jelas, ayah

ibumu tidak tewas oleh penyakit menular, juga Kim Cu An ini

tidak pula!”

Sie Liong terkejut bukan main, akan tetapi dia mampu

menekan perasaannya sehingga tidak nampak pada wajahnya.

Dia mempersilakan kakek itu duduk di atas rumput, di depan

makam ayah ibunya dan suhengnya, lalu dengan lembut dia

berkata, “Kwan Lopek, sekarang aku minta tolong kepadamu.

Ceritakanlah dengan jelas apa yang telah terjadi pada ayah

ibuku, dan bagaimana mereka itu tewas.”

Kwan Sun mengangguk-angguk. “Mendiang ayahmu

terkenal sebagai Sie Kauwsu, guru silat di dusun ini yang gagah

perkasa dan kami semua menghormatinya. Dia

mempunyai dua orang anak, yang pertama seorang gadis

bernama Sie Lan Hong, ketika itu berusia lima belas tahun,

dan anak ke dua adalah seorang anak laki-laki yang baru

kurang lebih setahun usianya, bernama Sie Liong.”

“Akulah anak itu, lopek.”

Kakek itu mengangguk. “Ya, kami sudah menduganya,

taihiap, walaupun tadinya kami ragu-ragu….” Dia memandang

ke arah punggung Sie Liong. “Mendiang ayahmu mempunyai

beberapa orang murid, dan yang menjadi murid utamanya

adalah mendiang Kim Cu An yang ketika itu berusia kurang

lebih dua puluh tahun dan sudah ditunangkan dengan

puterinya yaitu Sie Lan Hong. Pada suatu hari, pagi-pagi

sekali, kami sedusun dikejutkan oleh keadaan di rumah orang

tuamu. Sungguh mengerikan dan menyedihkan sekali….”

Kakek itu berhenti bercerita dan termenung.

“Lalu bagaimana, lopek? Apa yang telah terjadi di rumah

orang tuaku?” Sie Liong mendesak karena dia sudah tidak

sabar lagi dan ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi

kepada ayah ibunya.

Kwan Sun menghela napas panjang. “Akulah seorang di

antara para tetangga yang pertama kali menyaksikan keadaan

itu. Kami mendapatkan ayahmu dan ibumu, juga Kim Cu An,

dalam keadaan tewas terbunuh! Bukan hanya mereka bertiga,

juga kami mendapatkan bahwa semua binatang peliharaan

orang tuamu, anjing, kucing, ayam dan kuda, juga mati

terbunuh.”

“Ahhh! Apa yang telah terjadi dengan mereka, lopek? Siapa

pembunuh mereka?”

Kakek itu manggeleng kepalanya. “Kami tidak tahu apa

yang terjadi dengan mereka dan siapa pembunuh mereka.

Tidak ada tanda-tanda sama sekali! Encimu, Sie Lan Hong dan

engkau seudiri, tidak berada di sana, taihiap. Kami tidak tahu

pula apa yang terjadi dengan taihiap dan enci taihiap itu.

Barang-barang dalam rumah Sie Kauwsu tidak dicuri orang

yang menjadi pembunuh itu. Dan barang-barang itu, rumah

itu, sudah lama dirampas oleh lurah Bouw.”

Sie Liong mengepal tinjunya. “Jangan-jangan lurah Bouw

yang melakukan itu!”

Kakek Kwan menggeleng kepala. “Saya kira bukan, taihiap.

Biarpun dia amat jahat, akan tetapi saya yakin dia tidak akan

mampu mengalahkan ayahmu yang gagah. Saya kira, yang

mengetahui siapa pembunubnya hanyalah taihiap sendiri.

Akan tetapi ketika itu taihiap baru berusia setahun, akan tetapi

encimu, Sie Lan Hong….”

“Lopek,” Sie Liong memotong, “apakah di antara para

penduduk dusun ini tidak ada yang kebetulan melihat orang

asing malam itu di dusun ini, lopek?”

Kakek itu manggeleng kepala lagi.

“Tidak ada. Kalau ada, tentu dia sudah bercerita kepada

kami. Kami semua mencinta Sie Kauwsu dan kami semua merasa

bersedih dan kehilangan.”

Sie Liong mengerutkan alisnya, termenung. “Lopek, banyak

terima kasih atas keteranganmu, dan aku tidak ingin lagi

bicara tentang hal itu.” Setelah berkata demikian, pemuda ini

bersila di depan makam dan memejamkan kedua matanya,

bersamadhi. Kakek Kwan t idak lagi berani mengganggunya.

Terjadi perang di dalam pikiran Sie Liong. Mengapa encinya

bercerita lain? Mengapa encinya seperti hendak menutupi

kematian ayah ibunya, dan mengatakan bahwa ayah ibunya

tewas karena penyakit menular? Benarkah encinya tidak tahu

akan peristiwa itu? Ataukah encinya sengaja membohonginya?

Akan tetapi, bagaimana mungkin encinya berbohong

kepadanya? Dia yakin benar betapa besar kasih sayang

encinya kepadanya. Dia tidak mau membicarakan urusan itu

lagi dengan Kwan Sun, karena khawatir kalau orang-orang

mencurigai encinya. Bagaimanapun juga, memang segalanya

menunjukkan bahwa encinya tentu tahu akan peristiwa itu dan

tahu pula siapa pembunuh ayah ibunya! Hanya encinya yang

tahu, dan dia pasti akan mendengarnya dari encinya. Dia akan

bertanya kepada Sie Lan Hong, encinya.

Setelah merasa cukup melakukan sembahyang di depan

makam itu, Sie Liong lalu mengikuti Kwan Sun yang menjadi

lurah baru untuk pulang ke rumah baru lurah itu. Dia harus

tinggal beberapa hari lamanya di dusun itu untuk melatih

beberapa jurus kepada bekas murid-murid ayahnya agar para

penduduk dapat menyusun kekuatan untuk menghadapi

ancaman orang-orang jahat seperti lurah Bouw.

Dengan penuh semangat para penduduk dusun itu,

terutama mereka yang pernah belajar silat kepada Sie Kauwsu

berlatih silat di bawah bimbingan Sie Liong selama satu

minggu. Dan pada malam terakhir, Sie Liong duduk bersila di

dalam kamarnya di rumah lurah Kwan merenungkan nasibnya.

Nasib yang lebih banyak pahitnya dari pada manisnya. Sejak

kecil dia telah menderita banyak sekali kekecewaan. Baru

setelah dia menjadi murid orang-orang sakti dan berlatih ilmu

di puncak bukit, hidupnya nampak indah dan berbahagia.

Sekarang, begitu turun, dia mendengar berita kematian orang

tuanya yang amat mengejutkan, yaitu bahwa ayah ibunya tewas

karena dibunuh orang, sama sekali bukan karena

penyakit. Ayah ibunya dan seisi rumah dibunuh, kecuali

encinya dan dia! Apa artinya ini semua den mengapakah

encinya harus berbohong kepadanya? Dia harus mendengar

penjelasan dari encinya. Pada keesokan harinya dia berpamit

meninggalkan dusun Tiong-cin, tempat kelahirannya itu. Lurah

Kwan terkejut mendengar bahwa pendekar itu hendak pergi

meninggalkan dusun mereka.

“Sie Taihiap, kenapa engkau tergesa-gesa hendak

meninggalkan kami? Harap taihiap menanti selama beberapa

hari karena kami semua bermaksud untuk menjamu taihiap

yang telah menyelamatkan semua saudara di dusun ini dari

penindasan orang jahat. Selain itu, juga saya sendiri

mempunyai urusan yang amat penting untuk diselesaikan

kepada taihiap.”

Sie Liong tersenyum. Dia memang memiliki rasa

persaudaraan dekat sakali dengan para penghuni dusun

Tiong-cin, tempat kelahirannya. Kalau para penduduk hendak

menjamunya, sebagai semacam pesta perpisahan, tidak

mungkin dia menolak. Dia tidak ingin mengecewakan hati

mereka, dan pula, menunda beberapa haripun apa salahnya?

Biarpun hatinya ingin sekali mendengar dari encinya tentang

kenatian orang tuanya, namun dia t idak tergesa-gesa.

“Baiklah, Kwan Lopek. Aku tidak berkeberatan untuk

menunda dua hari lagi, akan tetapi jangan terlalu lama.

Tentang urusanmu itu, apakah itu, lopek?”

“Sebelumnya maaf kalau pertanyaanku ini menyinggung

karena terlalu pribadi. Akan tetapi bolehkah aku mengetahui

apakah engkau sudah menikah atau bertunangan, Sie

Taihiap?”

Sie Liong tersenyumdan menggeleng kepalanya. Kalau saja

dia tidak menerima penggemblengan ilmu-ilmu yang dalam,

juga pengertian tentang kehidupan dari para gurunya, tentu

pertanyaan itu akan menyinggung perasaannya. Dia seorang

yang cacat, bagaimana berani memikirkan tentang

perjodohan? Wanita mana yang mau didekati seorang laki-laki

yang bongkok seperti dia? Yatim piatu, miskin, dan bongkok

pula!

“Tidak, lopek. Aku masih hidup seorang diri.”

Tiba-tiba wajah kakek itu berseri gembira sehingga Sie

Liong menjadi heran. Bahkan kini kakek itu tertawa. “Ha-haha,

sungguh kebetulan sekali, taihiap. Kalau Tuhan

menghendaki, dan kalau taihiap tidak merasa rendah, kami

sekeluarga, bahkan seluruh penduduk dusun ini akan merasa

berbahagia sekali kalau taihiap sudi menjadi jodoh cucuku

Kwan Siu Si. Ia juga sudah yatim piatu dan ia seorang anak

yang amat baik, taihiap.”

Wajah Sie Liong berubah merah. Siu Si? Hemm, gadis yang

manis sekali itu! Memang dia sama sekali belum pernah

berpikir tentang jodoh. Akan tetapi kalau benar gadis yang

manis itu mau dijodohkan dengan dia, sungguh hal itu

merupakan suatu anugerah baginya. Gadis itu berwajah

manis, bertubuh padat dan sehat, juga seorang gadis dari dusun

tempat kelahirannya sendiri.

“Bagaimana, Sie Taihiap? Maafkan kami kalau usulku tadi

menyinggung perasaanmu. Memang kami akui bahwa Siu Si

seorang gadis dusun bodoh dan terlalu rendah apabila

dibandingkan dengan taihiap.”

“Ah, jangan berkata demikian, lopek! Sama sekali aku tidak

mempunyai pikiran seperti itu. Bahkan aku merasa berterima

kasih sekali. Akan tetapi karena aku sudah tidak mempunyai

ayah ibu, aku harus minta keputusan enci-ku dalam hal

perjodohan. Maka, bersabarlah kalau aku belum dapat

memberi jawaban dan keputusan sekarang. Aku akan

menyampaikan kepada enci dan minta keputusan enci.”

“Tapi…. tapi, engkau sendiri tidak berkeberatan, taihiap?”

Sie Liong menggelengkan kepala.

Lurah Kwan menjadi girang bukan main. “Terima kasih,

taihiap! Aku akan memberitahu kepada kawan-kawan agar

secepatnya mempersiapkan jamuan karena engkau akan

pulang ke rumah encimu!”

Pada keesokan harinya, perjamuan makan untuk

menghormat i Sie Liong dan untuk menghaturkan selamat jalan

diadakan di rumah Lurah Kwan. Semua penghuni dusun itu

hadir, dan Sie Liong duduk semeja dengan Lurah Kwan,

dilayani oleh Siu Si sendiri. Gadis ini nampak malu-malu,

karena ia sudah diberitahu oleh kakeknya tentang usaha

kakeknya menjodohkannya dengan pendekar itu. Sie Liong

melihat betapa gadis yang manis ini kelihatan canggung dan

malu-malu, akan tetapi penglihatan Sie Liong yang tajam

dapat menangkap bekas air mata dan mata yang agak

kemerahan oleh tangis, dan bahwa sikap ramah dan senyum

di bibir yang mungil itu t idak wajar, seperti dipaksakan.

Lurah Kwan bangkit berdiri dan minta perhatian kepada

semua orang, lalu dia membuat pengumuman bahwa dia telah

menjodohkan Kwan Siu Si kepada pendekar Sie Liong! Tentu

saja berita ini amat menggembirakan para penduduk dusun itu

dan mereka menyambutnya dengan sorakan dan tepuk

tangan. Lurah Kwan mengangkat kedua lengan ke atas dan

merekapun diam, wajah mereka berseri dan mereka

mendengarkan penuh perhatian apa yang akan diucapkan

oleh kepala dusun baru itu.

“Perjodohan ini telah kami bicarakan dengan Sie-taihiap,

dan diapun tidak berkeberatan. Akan tetapi jawaban dan

keputusannya akan diberikan setelah dia menyampaikan hal

itu kepada encinya yang kini tinggal di kota Sung-jan. Karena

itu, dalam waktu dekat ini Sie-taihiap akan meninggalkan

dusun kita dan pulang ke Sung-jan untuk minta persetujuan

encinya.”

Kembali orang-orang bersorak dan bertepuk tangan. Akan

tetapi Sie Liong melihat betapa Siu Si, gadis yang tadi

melayani mereka bahkan diajak makan bersama oleh

kakeknya, diam-diam telah pergi meninggalkan meja dan

keluar dari ruangan itu. Kwan Sun yang melihat hal itu hanya

tertawa.

“Maafkan cucuku. Maklum, ia malu-malu,” katanya dan Sie

Liong juga tidak berkata sesuatu.

Malam itu, di dalam kamarnya, Sie Liong agak gelisah.

Malam terakhir dia di rumah keluarga Kwan yang menjadi

lurah baru, karena besok pagi-pagi dia akan pergi

meninggalkan dusun itu. Akan tetapi bukan hal itu yang

membuatnya tidak dapat tidur. Dia membayangkan keadaan

sendiri, tentang ikatan jodoh itu. Bagaimana kalau encinya

menyetujui ikatan jodoh itu? Kalau encinya tidak setuju, hal itu

bukan yang digelisahkan. Kalau encinya tidak setuju, tinggal

menyampaikan saja kepada Lurah Kwan dan ikatan itu tidak

jadi. Dia hanya suka saja kepada Siu Si yang manis, apalagi

gadis sedusun dengannya. Dia belum dapat merasakan, belum

tahu dan belum mengerti apa itu yang dinamakan cinta antara

pria dan wanita. Akan tetapi, bagaimana kalau encinya setuju?

Apakah dia harus menikah dengan Siu Si? Lalu apa jadinya

dengan dia? Dia tidak mempunyai rumah t inggal, tidak

mempunyai pekerjaan yang menghasilkan sesuatu. Tinggal di

rumah Lurah Kwan? Sebagai laki-laki, tentu hal ini

merendahkan harga dirinya. Ikut encinya? Inipun tidak betul,

mengingat akan sikap cihu-nya dan bahkan urusan kematian

orang tuanya masih menjadi rahasia yang harus dia tanyakan

kepada encinya. Dan Bi Sian…. Tiba-tiba Sie Liong tertegun

dan termeung. Bi Sian! Terbayanglah wajah anak perempuan

yang manis, manja dan galak itu, dan jantungnya berdebar.

Mengapa timbul parasaan yang amat aneh ketika dia teringat

kepada Bi Sian? Uhh, anak itu tentu akan menggodanya

setengah mati kalau mendengar bahwa dia hendak kawin!

Tiba-tiba saja t imbul penyesalan di dalam hatinya. Mengapa

dia tergesa-gesa menerima usul lurah Kwan? Kini dia telah

melangkah maju, tidak mungkin mundur lagi tanpa menyakiti

hati keluarga Kwan.

Tiba-tiba Sie Liong bangkit duduk, memejamkan mata dan

mengerahkan pendengarannya yang terlatih. Dia mendengar

suara isak tangis tertahan!

Karena mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang tidak

bares, apalagi dia menduga bahwa tangis itu agaknya suara

tangis Siu Si di dalam kamarnya, dengan hati-hati Sie Liong

membuka jendela kamarnya dan sekali berkelebat dia sudah

berada di luar kamarnya, kemudian meloncat naik ke atas

genteng dan mengintai ke dalam kamar gadis yang dicalonkan

menjadi isterinya itu.

Benar saja. Siu Si duduk di atas pembaringan sambil

menangis lirih. Agaknya gadis itu menahan suara tangisnya

agar tidak kedengaran orang lain. Seorang wanita setengah

tua duduk di dekat gadis itu dan menghiburnya.

“Bibi Liu, kau tidak perlu membujuk dan menghiburku!

Percuma kong-kong menyuruh engkau menemaniku dan

membujukku. Kong-kong sudah tahu bahwa aku telah lama

bersahabat akrab dengan Sui-koko, dan semua orang tahu,

engkau juga tahu bahwa kami saling mencinta dan kami

mengharapkan kelak menjadi suami isteri. Bahkan kong-kong,

biarpun tidak secara resmi, menyetujui kalau Siu-koko kelak

menjadi suamiku. Akan tetapi kenapa tiba-tiba saja kong-kong

menjodohkan aku dengan…. Si Bongkok itu?”

“Hushh, jangan berkata demikian, Siu Si. Dia adalah

seorang pendekar sakti yang budiman….”

“Aku tidak perduli! Biar dia sakti seperti dewa sekalipun,

aku tidak sudi, aku tidak suka padanya. Siapa mau dikawinkan

dengan seorang yang bongkok dan buruk?” Siu Si menangis

lagi.

“Hushh, kau tidak boleh berkata begitu, Siu Si. Sie-taihiap

memang bongkok, akan tetapi dia tidaklah buruk. Pula, dia

telah menyelamatkan kita semua, terutama engkau! Kalau

tidak ada dia, bukankah engkau telah menjadi tawanan Lurah

Bouw?”

“Tapi dia menolongku dengan pamrih! Buktinya, setelah

menolongku, kenapa dia tidak pergi saja dan bahkan ingin

menjadi suamiku? Aku tidak sudi…. tidak sudi menjadi isteri Si

Bongkok! Aihh, aku mau minggat saja dengan Siu-koko….”

“Hushhh….!”

Wajah Sie Liong menjadi pucat, lalu merah kembali dan

tanpa diketahui siapapun, dia sudah melayang turun kembali

ke dalam kamarnya. Hatinya seperti ditusuk rasanya. Dia

menyelamatkan dusun kelahirannya, menolong penduduk

dengan hati yang jujur, menghindarkan Siu Si dari bahaya

dengan sesungguhnya tanpa pamrih. Akan tetapi kini dia dituduh

yang bukan-bukan. Dan gadis yang ditolongnya itu

menyebutnya Si Bongkok dengan nada suara menghina dan

penuh kebencian! Dan gadis yang amat membencinya itu akan

menjadi isterinya? Tidak, tidak mungkin!

Dengan tubuh lemas dan jari tangan agak gemetar Sie

Liong lalu menulis sepucuk surat, pendek saja isinya.

Kwan Lopek,

Maafkan kepergianku tanpa pamit. Tentang perjodohanku

itu, sebaiknya kita batalkan saja. Aku tidak mau terikat

perjodohan dan aku bukan calon suami yang baik bagi

cucumu.

Sie Liong.

Malam itu juga Sie Liong meninggalkan rumah Lurah Kwan,

meninggalkan dusun Tiong-cin lalu keluar menuju ke barat.

Menjelang pagi, ketika matahari mulai nampak mengintai dari

balik cakrawala di timur, dia sudah tiba di puncak sebuah

bukit. Dia duduk menghadap ke arah matahari yang baru

tersembul, duduk memeluk kedua lututnya, tersenyum pahit

dan kadang-kadang meraba punggungnya yang bongkok.

Terngiang suara Siu Si di antara isaknya. “Siapa mau

dikawinkan dengan seorang yang bongkok dan buruk? Aku

tidak sudi menjadi isteri Si Bongkok….”

Senyum yang menghias wajah Sie Liong menjadi pahit

sekali. Ia mengepal tinjunya, wajahnya merah. Akan tetapi

kepalan tinjunya terbuka kembali dan kepahitan senyumnya

menipis. Kenapa dia harus marah? Memang dia bongkok,

memang dia buruk, habis mengapa? Biarlah dia berbahagia

dengan kebongkokannya, dengan keburukannya. Bongkok dan

buruk hanyalah tubuh. Dia bahkan harus berterima kasih

kepada Siu Si. Seorang gadis yang hebat! Tidak mau

menyerah begitu saja, berjiwa pemberontak dan berani

menentang kesewenang-wenangan. Kakeknya memang

sewenang-wenang! Kalau kakek Kwan itu sudah tahu bahwa

cucunya saling mencinta dengan seorang pemuda lain, kenapa

mempunyai niat hendak menjodohkan cucunya itu dengan dia!

Untuk membalas budi? Untuk mencari muka? Atau untuk

mengikat agar dia mau terus tinggal di dusun itu sehingga

menjamin keamanan dan keselamatan penduduk? Yang jelas,

niat itu sudah pasti berpamrih. Kalau tidak, tentu kakek Kwan

tidak akan memutuskan ikatan kasih sayang antara cucunya

dan pemuda lain. Ya, dia harus berterima kasih kepada Siu Si.

Kalau gadis itu seperti para gadis lain yang lemah dan tidak

berdaya, tidak menentang melainkan “terima nasib”, bukankah

dia akan memasuki sebuah perkawinan yang celaka? Isterinya

akan merupakan orang yang sama sekali t idak mencintanya,

bahkan membencinya, dan hanya mau menjadi isterinya

karena terpaksa!

“Terima kasih, Siu Si….” dia berbisik, lalu bangkit berdiri.

Pagi itu indah sekali. Matahari muncul sebagai sebuah bola

merah yang amat besar, dengan sinar redup cemerlang. Dia

tersenyum kepada matahari.

“Terima kasih, matahari, untuk pagi yang seindah ini….”

dia kembali berbisik dan memandang matahari. Tidak lama,

karena segera sinar matahari mulai menyilaukan dan tidak

baik untuk kesehatan mata. Sie Liong membalikkan tubuh, lalu

menuruni puncak bukit itu, senyumnya tidak lagi pahit,

melainkan senyum cerah, menyongsong hari yang cerah.

“Terima kasih, Thian, untuk tubuh yang bongkok ini….” dia

berbisik penuh rasa sukur. Bukankah tubuhnya itu pemberian

Tuhan? Bongkok atau tidak, pemberian Tuhan adalah

anugerah yang sempurna, dan patut disukuri. Biarlah semua

orang tidak menyukainya dan menghinanya karena tubuhnya

yang bongkok, dia tidak akan berkecil hati. Memang dia

bongkok, tinggal orang lain mau menerimanya seperti apa

adanya ataukah tidak. Dia memang bongkok dan dia tidak

ingin menjadi tidak bongkok, karena keinginan seperti itulah

yang menyengsarakan kehidupan manusia. Menginginkan

sesuatu yang tidak dimilikinya, menginginkan sesuatu yang

lain dari yang pada yang ada. Tidak, dia tidak menginginkan

apa-apa. Dia memang bongkok, seorang pemuda yang

berbahagia.

0odwo0

“Liong-te….!” Sie Lan Hong menjerit dan merangkul

pemuda bongkok yang muncul di depannya itu. Wanita itu

merangkul dan menangis di dada adiknya. “Aih, Liong-te….

betapa girangnya hatiku melihatmu….!”

Sie Liong membiarkan encinya menangis dan

menumpahkan semua peraaaan haru dan rindu, juga

kebahagiaan hati melihat bahwa adik yang telah lama menghilang

itu kini muncul dalam keadaan selamat dan telah

menjadi seorang pemuda dewasa. Setelah mereda guncangan

hatinya, Sie Lan Hong melepaskan rangkulannya.

“Enci, marilah kita duduk dan bicara,” kata Sie Liong, “dan

mana ci-hu (kakak ipar)?”

“Cihu-mu…. dia pergi, sebentar tentu akan kembali.

Marilah, Liong-te, mari kita duduk di dalam.”

Sambil bergandeng tangan mereka masuk. Diam-diam Sie

Liong memperhatikan segala yang nampak di situ. Encinya

nampak kurus dan pucat, dan garis-garis duka membuat

encinya nampak tua. Padahal kini usianya mendiri dua puluh

tahun, berarti encinya baru tiga puluh empat tahun. Belum

setua nampaknya! Tentu encinya hidup dalam kedukaan,

pikirnya. Karena dia pergi? Dan rumah ini berbeda jauh

dengan tujuh delapan tahun yang lalu. Cihu-nya yang

berdagang rempa-rempa dapat dikatakan hidup makmur

biarpun tidak terlalu kaya. Dahulu, prabot rumahmya cukup

mewah dan keluarga encinya hidup berkecukupan. Akan tetapi

sekarang sunguh berbeda sekali keadaannya. Pakaian yang

dikenakan encinya juga tidak seindah dulu. Di tububuya tidak

pula nampak perhiasan mahal. Dan prabot rumah sudah berganti

semua, terganti prabot yang murah dan buruk. Tentu

saja hati Sie Liong diliput i perasaan khawatir sekali walaupun

wajahnya tidak membayangkan sesuatu ketika dia duduk

berhadapan dengan encinya. Keduanya saling pandang dan

wajah wanita itu berseri melihat betapa adiknya, walaupun

punggungnya masih bongkok, namun telah menjadi seorang

pemuda dewasa yang wajahnya gagah dan tubuhnya nampak

sehat.

“Liong-te, selama ini engkau pergi ke mana saja?”

“Aku mempelajari ilmu silat, enci, berguru kepada orangorang

sakti dari Himalaya.” Sie Liong menceritakan secara

singkat tentang riwayatnya ketika belajar ilmu silat.

Mendengar ini, encinya girang sekali.

“Ah, sukurlah, adikku. Dengan demikian, maka engkau kini

tentu menjadi seorang pendekar yang tidak akan

mengecewakan hati ayah dan ibu di alambaka….”

Sie Liong merasa heran. Biasanya dahulu encinya paling

tidak suka membicarakan ayah dan ibu mereka yang sudah

tiada.

“Enci Hong, kedatanganku ini untuk bertanya sesuatu

kepadamu dan harap sekali ini engkau tidak berbohong

kepadaku.”

Wanita itu terbelalak memandang kepadanya, mukanya

segera berubah agak pucat dan sinar matanya

membayangkan ketakutan. “Apa…. apakah yang ingin

kautanyakan, adikku?”

“Apa yang telah terjadi dengan ayah dan ibu kita, enci?”

Wanita itu nampak semakin kaget. “Ayah dan ibu?

Mereka…. mereka meninggal dunia….”

“Tak perlu membohong lagi, enci. Aku sudah pergi ke

Tiong-cin dan di sana aku mendengar bahwa ayah dan ibu,

dan juga suheng Kim Cu An, dua orang pelayan wanita,

anjing, ayam dan kuda, semua dibunuh orang pada suatu

malam. Nah, enci tidak perlu berbohong lagi!”

Sie Lan Hong menangis, lalu mengusap air matanya dan

berkata, “Engkau maafkan aku, Liong-te. Memang dulu aku

berbohong kepadamu agar tidak membuat engkau penasaran

dan diracuni dendam. Memang pada malam jahanam itu

keluarga ayah diserbu musuh. Ayah telah mengetahuinya,

maka dia memaksa aku pergi meninggalkan rumah dan

membawa engkau yang baru berusia sepuluh bulan. Ayah

memaksaku, dan andaikata aku t idak pergi membawamu

mengungsi, tentu kita berdua sudah menjadi korban

pembunuhan pula….”

Sie Liong memandang wajah encinya dengan tajam dan

penuh selidik. “Enci, di dusun kita itu tidak ada seorangpun

mengetahui siapa pembasmi keluarga kita. Apakah engkau

tahu, enci? Siapakah musuh besar yang demikian kejam itu?”

Sie Lan Hong menangis lagi dan menggeleng kepala keraskeras.

“Tidak…. ah, aku tidak tahu…. aku tidak tahu…. aku

mengajakmu melarikan diri, adikku. Aku tidak t ihu siapa

pembunuh itu….”

Melihat encinya menangis lagi, agaknya berduka mengingat

akan kematian ayah ibu mereka yang mengerikan, Sie Liong

tidak bertanya lagi. Jadi benar ayah ibunya, suhengnya, dua

orang pelayan dan semua binatang peliharaan di rumah orang

tuanya dibunuh orang. Tentu orang itu menyimpan dendam

yang amat hebat maka melakukan perbuatan sekejam itu.

Lalu dia teringat kepada Yauw Bi Sian. “Enci, aku t idak

melihat Bi Sian. Di manakah ia?”

Encinya kembali memperlihatkan wajah duka. “Ia juga

pergi mempelajari ilmu. Ia bertemu dengan seorang sakti dan

menjadi muridnya, lalu diajak pergi oleh gurunya itu.”

“Ahhh….!” Sie Liong kagum sekali mendengar ini. Anak

yang bengal itu akhirnya belajar silat pada seorang sakti!

“Siapakah nama gurunya, enci?”

“Namanya Koay Tojin….”

Sie Liong menahan debaran jantungnya. Koay Tojin? Kakek

yang seperti gila namun yang amat sakti itu? Koay Tojin

adalah sute dari Pek-sim Sian-su, gurunya sendiri!

“Kapan ia pulang, enci?” tanyanya, hatinya masih berdebar

girang.

“Entah, menurut janjinya dahulu ketika pamit, agaknya

sewaktu-waktu ia akan pulang.”

“Enci yang baik, engkau kelihatan begini lesu, kurus dan

sengsara. Juga aku melihat perubahan dalam rumah ini. Enci,

apakah cihu gagal dalam usahanya dan menderita rugi?

Apakah engkau sakit, enci?”

Ditanya demikian, Sie Lan Hong tiba-tiba menutupi muka

dengan kedua tangannya dan menangis sesenggukan. Sedih

sekali. Sie Liong terkejut. Dia mendiamkan saja encinya

menangis tersedu-sedu. Setelah tangis itu mereda, Sie Liong

memegang tangan encinya, digenggamnya tangan itu.

“Enci, engkau hanya mempunyai aku sebagai keluargamu.

Percayalah kepadaku dan ceritakan semuanya. Siapa tahu aku

akan dapat meringankan beban penderitaan batinmu, enci.”

Wanita itu menggeleng kepalanya. “Aih, memang nasibku

buruk, adikku. Semenjak engkau pergi, lalu disusul Bi Sian

juga pergi. Semenjak itu ah, cihu-mu berubah sama sekali. Dia

dahulu begitu baik, begitu mencintaku, akan tetapi sudah

beberapa tahun ini…. dia hampir setiap malam pergi. Dia

berjudi sampai habis-habisan. Pekerjaannya tidak diurus

sehingga bangkrut…. dan dia…. dia hanya berjudi dan pelesir

saja….”

Sie Liong mengerutkan alianya. Cihu-nya itu sungguh

semakin tua t idak mencari jalan terang! Akan tetapi, bagaimana

dia dapat mcncampuri urusan rumah tangga

encinya? Bagaimanapun juga, cihu-nya telah menyeleweng,

dan hal itu perlu ditegur dan diingatkan.

Sie Liong teringat bahwa adiknya baru datang. Diusapnya

air mata dan ia pun memaksa diri tersenyum. “Aih, engkau

datang-datang kuajak bicara hal-hal yang tidak enak saja,

Liong-te. Mari, engkau beristirahatlah. Akan kubersihkan

kamarmu untukmu.”

“Biar kubersihkan sendiri, enci. Akupun tidak akan lama

sekali t inggal di sini.”

“Liong-te, jangan begitu! Engkau baru pulang dan engkau

mendatangkan kegembiraan di hatiku. Jangan tergesa-gesa

pergi. Temanilah encimu yang kesepian ini, Liong-te. Ah, kita

sudah tidak mempunyai pelayan, semua harus dikerjakan

sendiri.”

“Baiklah, enci. Aku akan tinggal selama beberapa hari

sampai hilang rasa rindu kita.” Diam-diam dia bermakasud

untuk membujuk agar cihu-nya kembali ke jalan benar. Kalau

perlu dia akan menggunakan teguran keras!

Setelah jauh malam, baru nampak Yauw Sun Kok pulang

menggedor pintu dalam keadaan mabok! Memang semenjak

Bi Sian pergi, Yauw Sun Kok telah berubah sama sekali.

Agaknya karena anaknya tidak ada dan dia merasa kesepian,

maka kambuh pula penyakit lamanya. Dia merasa bosan

dengan isterinya dan dia berpelesir di luaran, menjadi

langganan rumah pelacuran dan rumah perjudian.

Perdagangannya bangkrut karena tidak diurusnya sehingga

perabot rumahpun yang berharga telah dijualnya untuk modal

berjudi! Terhadap isterinya dia tidak perduli, bahkan pernah

beberapa kali kalau isterinya mengomelinya, dia tidak segan

turun tangan memukulinya.

Melihat encinya tergopoh-gopoh membuka pintu depan, Sie

Liong juga ke luar dari dalam kamarnya. “Brakkkkkk!” Daun

pintu didorong kuat-kuat dari luar ketika kuncinya dibuka oleh

encinya dari dalam dan tubuh Sie Lan Hong terdorong oleh

daun pintu sampai terhuyung dan hampir jatuh.

“Perempuan gila! Perempuan malas! Engkau sudah segan

membuka pintu untuk suamimu, hah? Engkau sudah bosan

melayani aku, atau engkau sudah mempunyai seorang pacar

simpanan? Awas, kubunuh kau!” bentak Yauw Sun Kok sambil

berjalan terhuyung menghampiri isterinya. Jelas bahwa dia

mabok.

Karena diperlakukan kasar dan dimaki-maki di depan

adiknya, Sie Lan Hong yang biasanya hanya menghadapi

suaminya dengan cucuran air mata, kini tak dapat menahan

kemarahannya.

“Sungguh bagus sekali sikapmu ini ya? Sejak pagi engkau

pergi meninggalkan rumah, pulang sudah malam dalam

keadaan mabok, begitu mengetuk pintu segera kubuka,

engkau malah memaki-maki aku!”

Sie Liong hampir tidak mengenal cihu-nya. Bukan hanya

wataknya yang berubah, akan tetapi juga keadaan badan

orang itu berubah! Dulu cihu-nya tampan pesolek dan

pakaiannya selalu rapi. Akan tetapi sekarang, rambutnya

awut-awutan, pakaiannya kusut, matanya seperti orang

mengantuk dan mulutnya cemberut. Cihu-nya itu seperti

orang yang tidak percaya mendengar ucapan isterinya.

“Apa? Engkau hendak melawan, ya? Siapa yang

mengajarmu melawan suami? Perempuan sial! Perempuan

terkutuk! Engkau minta dihajar, ya?”

Yauw Sun Kok mengangkat tangan ke atas, siap memukul

isterinya. Melihat betapa lengan itu terayun kuat, Sie Liong

maklum bahwa kalau encinya terkena pukulan itu, bisa celaka.

Sekali berkelebat tubuhnya sudah melompat dekat dan dia

menangkap pergelanggn tangan cihu-nya sambil berkata,

“Harap jangan memukul!”

Yauw Sun Kok menoleh ke kanan. Ketika melihat bahwa

ada seorang pemuda menangkap lengannya, kemarahannya

memuncak. Dia menarik tangannya dan memaki isterinya.

“Bagus! Sungguh perempuan tak bermalu, perempuan lacur!

Jadi engkau benar-benar menyimpan seorang laki-laki di

rumah, ya? Pantas, engkau berani melawan aku, suamimu! ”

Dia maju dan hendak menyerang isterinya. Akan tetapi Sie

Liong sudah berdiri menghalang di depannya. “Cihu, lihatlah

baik-baik siapa aku! Harap cihu jangan memukul enci dan

mendakwa yang bukan-bukan!”

“Engkau pemuda kurang ajar berani main-main dengan

isteriku? Ahh, engkau bongkok! Bongkok….?” Yauw Sun Kok

membelalakkan kedua matanya seolah-olah tidak dapat

melihat dengan jelas, lalu mendekatkan mukanya. “Engkau

bongkok….? Benarkah engkau Sie Liong?”

“Benar, cihu. Aku Sie Liong.”

“Sie Liong….? Ha-ha-ha….!” Yauw Sun Kok tertawa

bergelak sambil mengamati pemuda bongkok itu. “Engkau

sudah dewasa, akan tetapi masih cacat. Ha-ha-ha!” Dia

tertawa-tawa seperti orang gila.

“Jangan bicara sembarangan. Dia bukan Sie Liong yang

dulu lagi. Dia telah menjadi murid orang-orang sakti dan dia

datang untuk mencari pembunuh ayah dan ibu kami,” kata Sie

Lan Hong.

Seketika Yauw Sun Kok berhenti tertawa dan dia

memandang kepada Sie Liong dengan mata terbelalak. “Apa?

Engkau….? Engkau handak mencari pembunuh ayah ibumu?

Hemm, mau apa engkau mencarinya, Sie Liong? Apa kaukira

setelah beberapa tahun ini engkau belajar sedikit ilmu silat lalu

kaukira akan mampu melawan pembunuh itu? Huh, jangan

sombong engkau! Aku sendiri yang memiliki kepandaian tinggi

dan banyak pengalaman, masih tidak mampu menandingi

pembunuh itu. Apalagi engkau?”

“Hemm, jadi cihu tahu siapa pembunuh ayah dan ibuku?

Siapa dia itu, cihu?”

“Dia adalah Tibet Sin-mo (Iblis Sakt i Tibet), tokoh Tibet

yang amat sakti. Aku sendiri tidak mampu mencarinya. Apa

lagi bocah cacat seperti engkau!”

Sie Liong mengerutkan alisnya. Cihu-nya ini memang telah

berubah. Walaupun dahulu juga cihu-nya tidak suka kepadanyaa,

akan tetapi sikapnya baik dan ramah. Sekarang

sikapnya demikian kasar dan menghina. Teringat dia akan

cerita encinya dan tadipun dia melihat betapa encinya akan

dipukuli.

“Cihu! Tidak sepatutnya cihu berkata demikian. Cihu

memuji-muji musuh, dan cihu tentu tidak bersungguh hati

mencari pembunuh ayah ibu kami karena cihu tidak perduli!

Dan sekarangpun cihu memperlihatkan sikap yang amat buruk

terhadap enci!”

“Apa? Kau anak kurang ajar…. Hemm, encimu sudah

mengadu, ya….?”

“Cihu, tanpa pengaduan dari siapa pun juga, aku sudah

melihat sikapmu tadi. Engkau mabok-mabokan, pulang malam

marah-marah, bahkan mau memukul enci! Keadaan rumah

tanggamu menjadi rusak, habis-habisan, karena kauhabiskan

untuk berjudi! Cihu, engkau harus sadar bahwa engkau telah

terseret ke dalam lumpur….”

“Tutup mulutmu, keparat!” Tiba-tiba Yauw Sun Kok

menerjang dengan marah sekali, mengirim serangan kilat ke

arah dada dan leher adik isterinya. Biarpun dia sedang mabok,

akan tetapi karena memang dia seorang ahli silat yang pandai,

serangannya ini masih amat berbahaya dan kalau hanya ahli

silat biasa saja, masih akan sukar untuk dapat menghindarkan

diri dari serangan Yauw Sun Kok itu. Akan tetapi, yang

diserangnya adalah Sie Liong, biarpun seorang pemuda cacat,

punggungnya bongkok namun dia murid tersayang dari

Himalaya Sam Lojin dan Pek-sim Sian-su manusia sakti dari

He-lan-san itu.

Dengan mudah saja Sie Liong memiringkan tubuhnya dan

menggunakan lengan kirinya untuk mendorong dari samping

dan tubuh Yauw Sun Kok terpelanting!

“Cihu, aku t idak mau dihina dan dipukul lagi!”

Melihat betapa akibat serangannya membuat dirinya

terpelanting, Sun Kok marah sekali. Dia menyambar ke arah

dinding di mana tergantung sebatang pedang hiasan. Biar dia

mabok, gerakannya masih cepat sekali dan tahu-tahu pedang

itu telah berada di tangan kanannya, terlolos dari sarungnya.

“Jangan….! Jangan berkelahi! Jangan pergunakan

pedang….!” Sie Lan Hong berteriak ketakutan. Akan tetapi

suaminya tidak memperdulikan jeritannya dan sudah

menyerang Sie Liong dengan pedangnya. Pedang menyambar

ganas ke arah leher pemuda itu. Sie Liong menekuk lutut

sehingga pedang itu menyambar lewat berdesing di atas

kepalanya. Akan tetapi dengan cepat, pedang yang

menyambar itu telah membalik dan kini menusuk ke arah

dadanya.

“Cihu, engkau sedang mabok!” bentak Sie Liong dan dia

menggunakan tangannya dari samping memukul pedang

sambil mengerahkan tenaganya.

“Plakkk!” Pedang itu terpukul lepas dari tangan Yauw Sun

Kok yang menjadi terkejut bukan main. Namun dia masih

sempat menendang dengan kakinya ke arah perut Sie Liong.

Pemuda ini maklum betapa cihunya yang mabok itu harus

diberi hajaran agar sadar bahwa yang dihadapinya bukanlah

anak bongkok dan lemah yang dahulu. Maka, dia sengaja

menyambut tendangan kaki itu dengan pengerahan tenaga di

perutnya.

“Dukkk! ” keras sekali tendangan itu, namun akibatnya,

bukan tubuh Sie Liong yang terjengkang. Pemuda itu masih

berdiri tegak, akan tetapi tubuh Yauw Sun Kok yang

terjengkang dan terbanting cukup keras.

Dia bangkit duduk dengan mata terbelalak, dan pada saat

itu, isterinya yang mengkhawatirkan kejadian atau perkelahlan

yang lebih hebat, sudah berlutut di dekatnya. “Hemm,

sudahlah. Engkau sedang mabok maka engkau menyerang

adik kita sendiri. Hayo, mengasolah…. tidurlah….” Ia

membantu suaminya bangkit berdiri dan memapahnya menuju

ke kamar mereka. Sekali ini Yauw Sun Kok tidak membantah.

Biarpun mabok, sebenarnya orang ini masih cukup sadar

untuk melihat kenyataan yang membuatnya terkejut bukan

main. Si Bongkok itu kini telah memiliki ilmu kepandaian yang

tinggi! Sungguh berbahaya sekali. Dia merasa penasaran dan

juga malu, maka dia meraza lebih aman menyembunyikan diri

dan berlindung di balik kemabokannya, maka diapun purapura

tidak ingat apa-apa lagi dan menurut saja ketika dipapah

isterinya ke kamar. Setibanya di dalam kamarnya, langsung

dia melempar tubuh ke atas pembaringan dan tak lama

kemudian dia sudah tidur mendengkur.

0odwo0

Kakek jembel itu duduk di bawah pohon besar, nampak

melenggut. Memang nyaman sekali pada siang hari yang amat

panas itu duduk berteduh di bawah pohon yang rindang dan

teduh. Angin semilir sejuk dan kakek itu mengantuk. Dia

duduk bersandar batang pohon, tongkat bututnya

menggeletak di dekat kakinya yang dijulurkan. Kakek jembel

ini sudah tua sekali, hampir delapan puluh tahun usianya.

Pakaiannya butut penuh tambalan. Tiba-tiba kedua matanya

yang tadi tertutup seperti orang tidur, kini terbuka dan dia

tertawa-tawa seorang diri, lalu memejamkan kembali

matanya. Orang-orang yang melihat keadaannya ini tentu

akan menduga bahwa dia seorang jembel tua yang hidup

sengsara dan berotak miring. Akan tetapi kalau ada tokoh

kang-ouw lewat di situ dan melihat jembel tua ini, dia tentu

akan terkejut setengah mati. Kakek tua renta ini

sesungguhnya bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Koay

Tojin, seorang yang terkenal memiliki kesaktian yang

menggiriskan. Sepak terjangnya aneh dan biarpun dia jarang

bahkan hampir tidak pernah mencampuri urusan dunia ramai,

akan tetapi orang-orang kang-ouw ketakutan kalau bertemu

dengannya. Hal ini adalah karena wataknya yang aneh dan

kadang-kadang ugal-ugalan dan celakalah orang yang sampai

berhadapan dengan dia sebagai lawan!

Selagi kakek itu duduk melenggut, tiba-tiba nampak

bayangan dua orang berkelebat dan di depan kakek itu kini

nampak dua orang muda. Seorang gadis berusia delapan belas

tahun dan seorang pemuda berusia hampir dua puluh tahun.

Gadis itu cantik dan manis sekali, dengan sepasang mata yang

jeli dan tajam mencorong, sikap yang jenaka dengan wajah

selalu cerah ceria. Gadis manis inipun mengenakan pakaian

tambal-tambalan, akan tetapi bukan sembarang tambalan!

Biarpun pakaiannya tambal-tambalan, namun bersih dan

semua tambalan itu terbuat dari kain yang baru! Sepatu

kulitnya juga mengkilat baru, rambutnya bersih licin, sama

sekali t idak nampak kesan seorang pengemis! Pemuda itupun

berwajah tampan, matanya mengandung kecerdikan dan

mulutnya selalu terhias senyum yang manis sehingga

mendatangkan kesan bahwa dia adalah seorang pemuda yang

merendahkan orang lain dan memandang diri sendiri terlampau

tinggi.

Seperti telah kita ketahui, Koay Tojin mempunyai dua orang

murid dan dua orang muda itulah muridnya. Gadis itu bukan

lain adalah Yauw Bi Sian dan pemuda itu adalah Coa Bong

Gan. Biarpun Bi Sian lebih dahulu menjadi murid Koay Tojin,

akan tetapi karena ia lebih muda, ia memaksa Bong Gan untuk

menyebut sumoi (adik seperguruan wanita) kepadanya, dan ia

sendiri menyebut Bong Gan suheng (kakak seperguruan pria).

“Suhu, nih teecu (murid) bawakan oleh-oleh untuk suhu!

Bebek tim yang lunak dan bubur!” kata gadis itu sambil duduk

di atas batu dekat suhunya sambil menyerahkan bungkunan

makanan.

“Dan teecu bawakan arak Hang-ciu kesukaan suhu!” kata

pula Bong Gan gembira menyerahkan seguci arak.

Kakek itu membuka matanya dan terkekeh, lalu

menyeringai memandang kepada dua orang muridnya. “Hehheh,

kalian adalah murid-murid yang baik. Kalian tahu saja

kesukaan orang tua. Heh-heh, tidak ada yang lebih enak

untuk dimakan kecuali bubur dan bebek tim. Lunak dan gurih,

tidak perlu menggunakan gigi untuk mengunyah,

memudahkan mulutku yang sudah tak bergigi lagi, heh-heh.

Dan arak Hang-ciu memang harumdan keras! Ha-ha-ha!”

Dua orang murid itu tersenyum. Mereka tahu bahwa guru

mereka berkelakar karena mereka baru kemarin dulu

menyaksikan betapa guru mereka itu, dengan mulutnya tanpa

gigi sebuahpun, masih kuat untuk menggigit daging kering

yang amat keras dan mengunyahnya dengan mata merammelek!

Dengan kekuatan sin-kang yang amat hebat, gusi dari

guru mereka yang sudah tidak bergigi lagi itu dapat menjadi

lebih kuat daripada gigi orang-orang muda!

Kakek itu makan minum tanpa memperdulikan dua orang

muridnya yang duduk tak jauh di depannya. Akan tetapi,

diam-diam Koay Tojin kadang-kadang melirik. Dia merasa

senang sekali melihat Bi Sian. Dia amat sayang kepada

muridnya ini yang ternyata selain memiliki bakat baik, juga

gadis ini memiliki watak yang gagah perkasa dan baik.

Sebaliknya, kakek ini merasa khawatir dan sangsi kepada

muridnya yang pria. Watak Bong Gan sukar diselami walaupun

pada lahirnya, dia juga seorang murid yang berbakat dan

amat rajin, pandai mengambil hati. Akan tetapi ada sesuatu

dalam pandang mata pemuda itu yang membuat kakek itu

kadang-kadang curiga dan ragu-ragu. Pernah dia melihat

betapa pandang mata pemuda itu ditujukan kepada sumoinya

secara tidak wajar. Bukan memandang biasa, akan tetapi sinar

mata pemuda itu penuh nafsu berahi, memandangi ke seluruh

bagian tubuh Bi Sian seperti hendak melahapnya! Sungguh

seorang murid yang kadang-kadang menimbulkan rasa

khawatir di hatinya. Jangan-jangan dia telah keliru memilih

murid, pikirnya. Akan tetapi, dia sengaja sudah memberi

pelajaran lebih pada Bi Sian sehingga kalau sampai terjadi

apa-apa, gadis itu tidak akan kalah menghadapi dan melawan

Bong Gan. Pernah dia ketika berdua saja dengan Bi Sian

mengatakan bahwa ia harus berhati-hati terhadap suhengnya.

“Wataknya sukar diselami,” demikian dia berkata, akan tetapi

gadis itu hanya tersenyum saja. “Aih, suhu ini ada-ada saja.

Bukankah suheng seorang pemuda dan murid yang amat

baik?”

Setelah makan, Koay Tojin mengusap mulutnya dengan

ujung lengan baju yang sudah butut. “Kebetulan kalian

datang, memang aku bermaksud untuk memanggil kalian.”

“Suhu, ada keperluan apakah?” Bi Sian bertanya sambil

mendekati gurunya, sikapnya manja. Kakek itu tersenyum

untuk menutupi rasa nyeri di dalam hatinya. Dia merasa

heran. Mengapa mendadak saja hatinya begini aneh?

Mengapa bayangan perpisahan dengan muridnya ini

mendatangkan rasa sakit? Padahal selamanya belum pernah

dia merasakan hal seperti ini! Akan tetapi kakek yang lihai ini

segera dapat menemukan jawabannya. Sikap Bi Sian terlalu

baik, terlalu menyenangkan hatinya, sehingga gadis itu selama

tujuh tahun menjadi muridnya, hidup di sampingnya, seolaholah

menjadi matahari yang menyinari hidupnya! Kesenangan

dan keenakan memang selalu menimbulkan ikatan! Kalau

sudah terikat, maka akan datanglah duka karena kehilangan!

Kalau gadis itu pergi, dibiarkan terpisah darinya, dia seolaholah

kehilangan matahari yang menerangi hidupnya yang

sudah tua, membuat dia seperti dalam kegelapan!

Kesenangan mendatangkan ikatan, dan ikatan menciptakan

duka!

Itulah hidup. Ada suka pasti ada duka! Sudah menjadi

imbangannya. Ada nikmat tentu ada derita. Dan melihat

kenyataan ini, menghadapi kenyataan ini, menerima

kenyataan ini secara wajar merupakan seni hidup itu sendiri.

“Bi Sian, dan kau juga Bong Gan, sekarang sudah tiba

saatnya bagi kita untuk memenuhi janji. Janji antara aku dan

kau, Bi Sian. Janji bahwa kita akan berkumpul sebagai guru

dan murid selama tujuh tahun saja.”

Gadis itu nampak terkejut! Selama ikut dengan gurunya,

iapun merasakan lebih banyak senangnya dari pada susahnya.

Hidup bebas seperti burung di udara. Tanpa dirasakannya,

tahu-tahu kini sudah tujuh tahun ia mengikut i gurunya.

“Tapi, suhu….! Rasanya belum lama aku ikut suhu, dan aku

masih ingin mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi!”

bantahnya, terkejut karena tiba-tiba saja ia mendapat

kenyataan bahwa ia harus berpisah dengan suhunya dan

melihat pula kenyataan betapa beratnya hal itu kalau terjadi

karena ia merasa sayang kepada suhunya yang sudah tua itu!

Koay Tojin tertawa dan nampak mulutnya yang tanpa gigi

itu. “Ha-ha-ha, Bi Sian, janji tetap janji yang harus dipegang

teguh. Engkau bukan hanya berjanji kepadaku, akan tetapi

juga kepada ayah ibumu yang tentu telah menanti-nanti

penuh kerinduan. Tentang kepandaian, sampai berapa

tiagginya? Berapa ukurannya? Apa yang kaupelajari selama ini

sudah lebih dari pada cukup, Bi Sian. Tinggal terserah

kepadamu untuk melatih diri. Dan engkau, Bong Gan,

engkaupun sudah dewasa dan kepandaianmu sudah cukup.

Hanya berhati-hatilah, karena kepandaian silat seperti juga

pedang, dapat dipergunakan untuk berbuat kebaikan akan

tetapi juga dapat dipergunakan untuk melaktikan kejahatan.

Semua tergantung kepadamu.”

Diingatkan kepada ayah ibunya, kedukaan bayangan

berpisah dari gurunya agak menipis dari hati Bi Sian, tertutup

oleh kegembiraan bayangan akan bertemu dengan ayah dan

ibunya. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Bong Gang juga berlutut di dekat sumoinya.

“Suhu, selama tujuh tahun ini, suhu telah melimpahkan

banyak kebaikan dan kasih sayang kepada teecu. Teecu

menghaturkan terima kasih, suhu dan entah bagaimana teecu

akan dapat membalas budi kebaikan suhu. Sebaliknya, teecu

sudah banyak menjengkelkan hati suhu, maka mohon suhu

memaafkan teecu,” kata Bi Sian dengan hati terharu, akan

tetapi tidak setetespun air matanya tumpah. Ia memang

pantang menangis, apalagi setelah menjadi murid Koay Tojin.

Koay Tojin tersenyum. “Engkau anak baik. Kalau hendak

membalas budi kepadaku, pergunakanlah semua kepandaian

yang kauperoleh dariku itu dengan baik, tidak melakukan

penyelewengan. Dengan demikian berarti engkau menjunjung

tinggi nama gurumu, sedangkan kalau engkau melakukan

kejahatan dan menyeleweng, engkau akan menyeret nama

gurumu ke dalam lumpur.”

“Teecu juga menghaturkan banyak terima kasih, suhu.

Teecu berjanji akan menjunjung tinggi nama suhu,” kata Bong

Gan.

Koay Tojin tersenyum saja dan memandang wajah murid

pria ini dengan penuh keraguan. Dia tahu bahwa muridnya ini

cerdik sekali, demikian cerdiknya sehingga dia tidak dapat

menduga apa isi hatinya.

“Engkau berhati-hatilah, Bong Gan. Ingat bahwa musuh

yang paling berbahaya, paling lihai dan paling sukar ditundukkan

adalah dirimu sendiri. Karena itu, sebelum

menundukkan musuh, sebaiknya kalau menundukkan dulu diri

sendiri.”

Bong Gan tidak menjawab, hanya mengangguk-angguk.

“Sekarang, pergilah kalian sebelum t imbul kedukaan dalam

hatiku!” kata Koay Tojin, lalu tangan kanannya menyambar

tongkat di depannya dan dengan gerakan secepat kilat,

tongkatnya itu sudah melakukan serangan totokan bertubitubi

kepada dua orang muridnya yang berlutut di depannya.

Dua orang muda itu terkejut sekali. Sambaran tongkat di

tangan suhu mereka itu bukan main cepat dan dahsyatnya,

maka keduanya segera melempar tubuh ke belakang sambil

berjungkir balik beberapa kali. Mereka terhindar dari serangan

kilat itu, dan melihat betapa kakek itu masih duduk bersandar

batang pohon, memegangi tongkat sambil tertawa. Tahulah Bi

Sian bahwa suhunya memang ingin segera melihat mereka

pergi tanpa membiarkan kedukaan karena perpisahan itu

memasuki hati. Maka iapun menjura dan berkata dengan

suara dibuat nyaring gembira.

“Suhu, selamat tinggal! Mudah-mudahan suatu waktu kita

akan dapat berjumpa kembali!”

“Ha-ha-ha, selamat jalan. Kita pasti akan bertemu kembali,

kalau tidak di alam sini tentu di alamsana, heh-heh-heh!”

Bong Gan juga menjura dan kedua orang itu lalu melompat

pergi dan dalam waktu singkat mereka sudah lenyap dari

pandang mata. Kakek yang ditinggal seorang diri itu nampak

tertegun, matanya yang tua memandang ke arah lenyapnya

dua bayangan itu, lalu dia menghela napas panjang berulang

kali, lalu bangkit berdiri, dan melangkah perlahan pergi

meninggalkan tempat itu, mengambil jurusan yang

berlawanan dengan dua orang muridnya.

Dua orang itu berlari cepat, keluar dari dalam hutan itu dan

ketika mereka sudah berlari kurang lebih satu jam dan t iba di

kaki bukit, Bi Sian menghentikan larinya. Biarpun tubuhnya

terlatih baik, namun karena selama satu jam itu ia berlari

cepat sambil menahan getaran hatinya yang penuh haru, kini

wajah dan lehernya basah oleh keringat. Diambilnya

saputangannya dan diusapnya keringat dari leher dan

wajahnya. Bong Gan juga mongusap keringatnya. Tidak

seperti Bi Sian, pemuda ini mengenakan pakaian yang tidak

ada tambalannya, walaupun dari kain murah dan bentuknya

sederhana saja, tidak seperti pakaian Bi Sian yang penuh tambalan

namun semua tambalannya kain yang baru.

“Suheng, sekarang engkau hendak pergi ke manakah?”

tanya Bi Sian.

Bong Gan menghela napas panjang, lalu duduk di atas

sebuah batu besar di tepi jalan. Sebelum menjawab, dia

menatap wajah sumoinya dengan tajam, juga dengan wajah

yang membayangkan kedukaan. Betapa cantik manisnya

sumoinya ini, pikirnya penuh kagum. Apakah dia harus

berpisah dari gadis manis ini? Membayangkan perpisahannya

dengan gadis yang telah menjadi sahabatnya dan saudara

seperguruannya selama tujuh tahun, hampir tak pernah

mereka saling berpinah dan mengalami suka-duka bersamasama,

wajah yang tampan itu nampak diliput i kesedihan.

Demikian jelas kedukaan itu sehingga nampak jelas oleh Bi

Sian.

“Suheng, engkau pernah menceritakan riwayatmu

kepadaku. Engkau sudah yatim piatu, tidak mempunyai

keluarga sama sekali, tidak mempunyai handai taulan dan

tidak mempunyai tempat tinggal. Oleh karena itulah maka aku

sengaja bertanya kepadamu karena aku ingin tahu, ke mana

engkau hendak pergi?”

“Justeru pertanyaanmu itulah yang membuat aku

membungkam karena sukar bagiku untuk menjawabnya. Aku

sendiri sejak tadi bertanya-tanya di dalam hatiku kepada diriku

sendiri, sumoi. Ke mana aku harus pergi? Aku tidak

mempunyai tujuan sama sekali! Aku menjadi bingung setelah

mendengar pertanyaanmu, sumoi.”

Bi Sian memandang wajah suhenguya itu dengan hati

kasihan. Selama ini, suhengnya telah membuktikan bahwa dia

seorang pemuda yang amat baik, amat rajin dan juga bersikap

sopan kepada gurunya dan juga kepada dirinya. Tidak pernah

memperlihatkan kekurang-ajaran sama sekali. Memang

kadang-kadang suhengnya suka pergi meninggalkan ia dan

suhunya, akan tetapi kepergiannya itu tentu hanya untuk

mencari bahan makanan untuk mereka. Kalau pulang, suhengnya

tentu membawa seekor rusa, atau beberapa ekor kelinci,

ayam hutan, atau juga buah-buahan segar. Beberapa kali

suhengnya pernah berpamit kepada suhu mereka untuk

berjalan-jalan ke dusun atau kota, dan tidak pernah lancang

mengajaknya. Diam-diam Bi Sian merasa suka sekali kepada

pemuda ini, rasa suka yang bercampur rasa iba. Inikah cinta,

beberapa kali ia suka bertanya kepada diri sendiri tanpa

mendapat jawaban!

“Suheng, engkau ini bagaimanakah? Andaikata aku tidak

mengajak engkau berhenti dan bertanya, lalu ongkau hendak

ke mana?”

“Aku…. aku hanya akan mengikut imu, sumoi. Ke manapun

engkau pergi…. tentu saja kalau…. kalau aku tidak terlalu

mengganggumu.”

Bi Sian tersenyum dan menggeleng kepalanya, mendadak

mendapat sebuah pikiran yang dianggap amat bagus. “Tentu

saja engkau tidak mengganggu, suheng. Bahkan kalau engkau

suka, marilah engkau ikut bersamaku ke Sung-jan. Tempat

tinggal orang tuaku itu merupakan kota yang cukup ramai,

dan siapa tahu engkau dapat tinggal dan bekerja di sana.

Ayahku seorang pedagang, mungkin dapat membantumu

mencari pekerjaan.”

Wajah yang diliputi kedukaan itu kini menjadi cerah dan

berseri. Sepasang mata itu bersinar-sinar dan Bong Gan

segera menjura ke arah sumoinya.

“Ah, sumoi, sungguh engkau berbudi mulia sekali! Terima

kasih atas kebaikanmu, sumoi. Tentu saja aku suka sekali

pergi bersamamu!”

Bi Sian membalas penghormatan suhengnya dan tertawa.

“Ihh, suheng ini! Engkau adalah suhengku dan lebih tua,

mengapa memberi hormat kepadaku? Dan di antara kita

saudara seperguruan, perlukah bersungkan-sungkan? Sudah

sepantasnya kalau kita saling bantu, bukan?”

Demikianlah, suheng dan sumoi ini melakukan perjalanan

cepat menuju ke barat. Berkat adanya Bong Gan di sampingnya,

di sepanjang perjalanan Bi Sian tidak menemui

banyak gangguan. Andaikata ia melakukan perjalanan seorang

diri, tentu akan banyak timbul gangguan, mengingat bahwa ia

seorang gadis yang cantik manis dan melakukan perjalanan

jauh seorang diri. Akan tetapi sikap Song Gan yang gagah

membuat banyak orang menjadi jerih untuk mengganggu

mereka. Padahal, tentu saja andaikata ada gangguan, Bi Sian

sama sekali tidak akan merasa gentar bahkan hal itu

merupakan kesialan bagi si pengganggu yang tentu akan

dihajar habis-habisan!

Ketika mereka pada suatu siang memasuki kota Sung-jan,

keduanya langsung saja menuju ke rumah Bi Sian. Gadis ini

nampak gembira sekali, wajahnya cerah berseri dan matanya

berkilat-kilat ketika mereka tiba di depan rumah dan toko milik

ayahnya. Akan tetapi ia merasa heran melihat betapa toko itu

tertutup dan segera ia mengajak suhengnya memasuki

pekarangan dan langsung menuju ke pintu depan.

Dua orang yang tadinya duduk di ruangan depan, bangkit

berdiri den melihat Bi Sian, wanita itu menjerit.

“Bi Sian….!”

“Ibuuu….!” Dua orang wanita itu berlari saling tubruk dan

di lain saat mereka telah berangkulan sambil memanggil

berulang kali. Sie Lan Hong menangis dalam rangkulan

puterinya, akan tetapi Bi Sian yang juga merasa terharu dan

gembira, tidak menangis, akan tetapi menciumi kedua pipi

ibunya dengan penuh kerinduan dan kasih sayang. Ia diamdiam

merasa kasihan melihat wajah ibunya yang kurus dan

agak pucat. Tak disangkanya bahwa dalam waktu tujuh tahun

ibunya kini nampak tua sekali!

Sementara itu, ketika dua orang wanita itu berangkulan,

Bong Gan hanya berdiri menonton dengan canggung. Juga Sie

Liong, pemuda yang tadi sedang duduk bersama encinya,

berdiri dan memandang dengan wajah berseri, akan tetapi

juga berdiri canggung. Tentu saja hatinya girang bukan main

melihat keponakannya yang dulu menjadi teman bermain

yang akrab itu pulang dan kini telah menjadi seorang gadis

yang cantik jelita dan manis sekali. Diapun heran melihat

keponakannya itu pulang bersama seorang pemuda yang

tampan, yang kini juga berdiri dengan canggung. Mereka

saling pandang sebentar saja, tidak tahu harus berbuat apa

karena mereka belum diperkenalkan.

“Ibu…. ah, ibu…. kenapa ibu begini kurus? Mana ayah?”

Sie Lan Hong dapat menguasai keharuan hatinya dan

teringat akan dua orang pemuda itu. “Ayahmu tidak berada di

rumah, sedang keluar. Akan tetapi, mari kautemui dulu

pamanmu….”

Bi Sian yang melepaskan pelukan ibunya, tiba-tiba

memandang dan matanya terbelalak, mulutnya tersenyum dan

hampir ia berteriak, “Paman Liong….!”

Sie Liong juga tersenyum. “Bi Sian, engkau sudah menjadi

seorang gadis dewasa yang cantik dan gagah!”

Bi Sian melangkah maju dan memegang tangan Sie Liong.

Ia lupa bahwa ia kini telah menjadi seorang gadis dewasa dan

pamannya itupun sudah menjadi seorang pemuda dewasa.

Digenggamnya tangan pemuda itu.

“Paman Liong! Ah, tidak kusangka akan bertemu denganmu

di sini! Dan engkau…. ah, engkau juga sudah menjadi seorang

pemuda, paman! Engkau kelihatan gagah dan…. hemm….”

Gadis itu melepaskan tangannya, mundur dan mengamati Sie

Liong yang menjadi merah sekali mukanya.

“Dan…. bongkok!” sambungnya mendahului, daripada

didahului gadis itu.

“Ah, itu aku sudah tahu. Akan tetapi engkau gagah dan

tampan, paman!”

Sungguh! Bi Sian masih nakal seperti dulu, pikirnya

gembira. Masih lincah jenaka dan suka menggoda orang akan

tetapi dengan cara yang menyenangkan.

“Bi Sian, engkau masih seperti dulu! Suka menggoda

pamanmu!” Sie Lan Hong juga tertawa dan ia sendiri terkejut.

Agaknya sudah bertahun-tahun ia lupa untuk tertawa dan

baru sekarang ia dapat tertawa kembali. Anaknya telah

pulang!

“Oya, ibu, paman. Aku sampai lupa memperkenalkan. Dia

ini adalah suhengku, namanya Bong Gan. Suheng, inilah ibuku

dan ini pamanku Sie Liong.”

Sejak tadi Bong Gan hanya menonton saja dan hatinya

terasa panas dan tidak enak melihat keakraban antara

sumoinya dan pemuda bongkok itu. Biarpun disebut paman,

akan tetapi mereka itu sebaya dan juga hubungan mereka

demikian akrab, tidak seperti paman dan keponakan. Seketika,

timbul perasaan tidak suka kepada kedua orang itu. Akan

tetapi karena dia diperkenalkan maka dia cepat memberi

hormat dan bersoja dan sikapnya amat sopan santun.

“Ibu, mana ayah?”

“Sudah kukatakan, ayahmu sedang keluar rumah. Mari,

mari kita bicara di dalam….” Ibu itu merangkul anaknya dan

diajak masuk ke dalam rumah. Sie Liong mengkuti, akan tetapi

Bong Gan merasa ragu-ragu, dan dia menjadi salah tingkah.

Dia bukan anggauta keluarga, bagaimana berani ikut masuk?

Akan tetapi agaknya Bi Sian dapat memaklumi keadaannya,

maka iapun menoleh dan berkata kepadanya.

“Suheng, mari silakan masuk saja. Paman Liong, ajaklah

suheng. Dia memang pemalu.”

Sie Liong sejak tadi memperhatikan suheng dari

keponakannya itu. Seorang pemuda yang tampan dan gagah,

dan mengingat bahwa mereka berdua itu murid Koay Tojin,

tidak dapat diragukan lagi bahwa kepandaian mereka tentu

tinggi sekali. Akan tetapi, ada sesuatu pada wajah pemuda itu

yang membuatnya ragu-ragu. Entah apanya, mungkin

pandang matanya.

“Saudara Bong, silakan masuk,” katanya dan Bong Gan

menganguk.

“Terima kasih, terima kasih….!” Mereka berempatpun

memasuki rumah itu. Seperti juga ketika untuk pertama

kalinya Sie Liong masuk ke dalam rumah itu Bi Sian juga

melihat perubahan besar di dalam rumahnya. Prabot-prabot

rumahnya sudah berubah, sekarang jelek dan butut, tidak

seperti dulu. Ibunya juga tidak mengenakan perhiasan

sedikitpun, dan toko mereka sudah ditutup! Apa yang terjadi?

Ia tidak berani langsung bertanya kepada ibunya karena di

situ terdapat Bong Gan yang bagaimana juga adalah orang

luar. Ia akan bertanya kepada ibunya kalau mereka hanya

berdua, atau bertiga saja dengan pamannya.

Mereka berempat duduk menghadap meja besar di ruangan

dalam. Bi Sian segera menceritakan pengalamannya ketika ia

diambil murid Koay Tojin dan ia segera menceritakan tentang

perbuatan Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun komandan pasukan

keamanan di Sung-jan itu. “Coba ibu bayangkan, bukankah

orang itu jahat sekali? Dia mempergunakan anak buahnya

yang menyamar sebagai perampok dan menggangguku,

kemudian dia muncul sebagai penolongku. Setelah para

perampok palsu itu pergi, dia menggangguku! Untung muncul

suhu! Dan dia datang lagi membawa perampok-perampok

palsu itu dan mengeroyok suhu. Akan tetapi mereka dihajar

oleh suhu! Aih, betapa senangku pada waktu itu! Apakah

manusia jahat itu sekarang masih hidup, ibu?”

Sie Lan Hong menahan senyumnya.

“Hussssh, jangan berkata demikian, anakku. Memang dia

jahat, akan tetapi tidak perlu hal itu diperpanjang. Dia masih

hidup dan ayahmu masih mengharapkan perjodohan itu…..”

Bi Sian bangkit berdiri dan mengepal tinjunya. “Apa? Dia

masih berani melanjutkan ikatan jodoh itu? Biarlah, aku akan

ke sana dan menghajarnya sendiri sampai dia minta ampun!”

“Jangan, Bi Sian! Baru saja engkau pulang, jangan

membikin ribut di Sung-jan. Bagaimanapun juga, dia putera

kepala pasukan keamanan di sini, dan kekuasaan ayahnya

besar sekali. Kalau engkau memusuhi mereka secara terangterangan

begitu, bukankah akibatnya ayah dan ibumu yang

akan menanggung?”

“Sumoi, apa yang ibumu katakan itu benar sekali. Engkau

adalah penduduk kota ini, tidak baik memusuhi penguasa

setempat. Kalau memang engkau ingin memberi hajaran

padanya, serahkan saja kepadaku. Di sini aku tidak dikenal

orang, maka tiada halangannya kalau aku yang pergi

menemui dan menghajar orang yang berani menghinamu,”

kata Bong Gan dengan sikap gagah.

“Sudahlah Bi Sian. Aku tidak menghendaki ribut-ribut,” kata

Sie Lan Hong yang teringat akan keadaan suaminya. Baru

menghadapi suaminya saja yang kini berubah demikian jahat,

ia sudah berduka sekali. Apalagi ditambah urusan yang

ditimbulkan karena pengamukan Bi Sian terhadap keluarga Luciangkun.

“Engkau baru pulang, Bi Sian. Tidak boleh terjadi

hal-hal yang hanya akan mendatangkan keributan dan

kekacauan.”

Bi Sian masih merasa penasaran, lalu ia menoleh kepada

Sie Liong. “Coba pertimbangkan, paman Liong. Bukankah

sudah sepatutnya kalau manusia macam Lu Ki Cong itu kuberi

hajaran keras? Dahulupun dia yang menghinamu. Hal itu

masih boleh dilupakan karena engkau laki-laki. Akan tetapi

penghinaannya terhadap diriku, sungguh membuat hati ini

panas dan mendongkol saja.”

Sie Liong tersenyum, akan tetapi dia lalu bersikap sungguhsungguh

dan memandang tajam kepada keponakannya itu. “Bi

Sian, kurasa ibumu berkata benar. Tidak perlu mencari garagara

dan permusuhan. Mengenai kejahatan Lu Ki Cong

kepadamu, bukankah katamu tadi dia dan anak buahnya

sudah mendapat hajaran keras dari suhumu? Nah, dengan

demikian berarti sudah lunas, bukan? Kalau sekarang dia

melakukan perbuatan jahat lagi, barulah pantas kau turun

tangan menghajarnya. Kukira engkau cukup mengerti bahwa

kepandaian yang dipelajari bukan untuk menimbulkan

kekacauan, bahkan sebaliknya untuk memadamkan

kekacauan. Bukankah begitu?”

Gadis itu memandang dengan mata terbelalak. “Ehhh?

Kepandaian bukan untuk menimbulkan kekacauan melainkan

untuk memadamkan kekacauan? Paman, aku pernah

mendengar kalimat itu diucapkan suhu! Bukankah begitu,

suheng?”

Song Gan mengangguk, akan tetapi dia memandang

kepada Sie Liong dengan alis berkerut.

“Kalau begitu, suhumu adalah seorang yang bijaksana

sekali, Bi Sian. Memang aku pernah menyaksikan

kehebatannya dan mendengar bahwa beliau, yang berjuluk

Koay Tojin, adalah seorang yang sakti dan bijaksana!”

“Paman Liong! Engkau…. engkau mengenal suhu?”

Sie Liong tersenyum lagi. “Mengenal sih tidak, akan tetapi

aku pernah bertemu dengan beliau dan berhutang budi karena

beliau pernah mengobati aku yang terluka oleh pukulan

beracun.”

“Kalau begitu, engkau tentu murid orang sakti pula, Paman

Liong! Hayo ceritakan pengalamanmu. Siapa itu gurumu yang

sakti?” tanya Bi Sian gembira sekali membayangkan bahwa

pamannya yang disayangnya dan dikasihaninya itu kini telah

menjadi seorang yang lihai!

“Aihh, Bi Sian. Aku yang cacat ini mana bisa mempelajari

ilmu silat yang tinggi? Hanya kebetulan sekali bahwa aku

mendengar dari ibumu tentang kepergianmu dibawa oleh

seorang sakti bernama Koay Tojin, dan aku mengenal nama

itu, karena dia…. dia itu masih terhitung paman guruku juga.”

Baik Bi Sian maupun Bong Gan terkejut mendengar ini.

“Apa?” gadis itu berseru. “Suhuku masih paman gurumu?

Kalau begitu, siapakah gurumu? Ah, sekarang aku ingat….!

Pernah suhu menyebut nama seorang yang katanya paling dia

segani dan sayangi di dunia ini. Nama orang itu adalah…. PeksimSian-

su! Benarkah engkau muridnya?”

Sie Liong mengangguk. “Engkau memang cerdik dari dulu,

Bi Sian. Akan tetapi, orang cacat seperti aku ini tidak dapat

mempelajari banyak ilmu silat. Aku hanya banyak belajar

tentang hidup.”

“Ah, aku tidak percaya! Engkau tentu lihai sekali, paman!

Sekali waktu engkau harus mengajarku ilmu silat!”

“Wah, mana aku berani? Melawanmu, dalam beberapa

jurus saja aku tentu akan roboh!” kata Sie Liong dan suasana

menjadi semakin gembira karena paman dan keponakan ini

seolah-olah merasakan suasana di waktu mereka masih

kanak-kanak dahulu.

Hanya Bong Gan yang diam saja. Dia sendiri memandang

rendah dan tidak suka kepada pemuda bongkok itu. Pemuda

bongkok itu kelihatan amat disuka dan dipuji oleh Bi Sian!

Katakanlah pemuda itu sudah mempelajari ilmu dari seorang

sakti, akan tetapi dengan punggungnya yang bongkok itu,

bagaimana mungkin dia memperoleh ilmu yang tinggi?

Bagaimana mampu menghimpun tenaga sakti kalau tulang

punggungnya saja bengkok? Dia merasa tidak suka sekali,

apalagi melihat betapa kadang-kadang sepasang mata

pemuda bongkok itu mencorong dan memandang tajam

kepadanya, seolah hendak menjenguk isi hatinya sehingga dia

merasa ngeri sendiri! Masih baik bahwa pemuda bongkok itu

paman dari Bi Sian, adik ibunya sehingga bukan merupakan

seorang saingan dalam memperebutkan hati Bi Sian!

“Aih, kalian jangan main-main!” kata Sie Lan Hong. “Bi

Sian, engkau ini baru saja pulang setelah pergi selama tujuh

tahun, dan begitu datang engkau hendak menantang

pamanmu? Ketahuilah, pamanmu inipun baru dua hari tiba di

sini! Kedatangan kalian sungguh kebetulan sekali. Sekarang,

kalian harus berist irahat dan kita saling melepas rindu dengan

membicarakan pengalaman-pengalamanmu, bukan untuk

saling hantam dan gebuk! Aih, aku ini mempunyai keluarga

macam apa! Adik jagoan dan anak tukang pukul?”

Mereka tertawa, bahkan Bong Gan juga tersenyum

mendengar ucapan itu. Pada saat itu, terdengar teriakan dari

luar rumah. “Haii, mana dia isteriku yang baik dan adiknya

yang gagah? Aku sudah pulang siang-siang dan t idak mabok,

ha-ha-ha-ha!”

Laki-laki itu muncul di pintu. Mulutnya mengatakan tidak

mabok, akan tetapi keadaannya yang terhuyung-huyung itu

jelas membukt ikan keadaan yang sebaliknya.

“Ayahhhhh….!” Bi Sian berseru, bukan seruan girang

melainkan seruan kaget melihat keadaan ayahnya. Dahulu,

ayahnya seorang pria yang tampan dan rapi, akan tetapi

sekarang, nampak awut-awutan dan kotor!

Orang itu adalah Yauw Sun Kok. Mendengar panggilan itu,

lenyaplah senyum menyeringai dan mengejek tadi dari

bibirnya. Matanya terbuka lebar dan dia memandang kepada

gadis yang sudah bangkit berdiri dan melangkah maju

menghampirinya itu.

“Bi Sian…. kau…. kau Bi Sian….?”

“Ayah….!” Bi Sian lari menghampiri. “Kau kenapakah,

ayah?”

Ayahnya merangkul puteri itu dan menangis! Bi Sian

terkejut bukan main. Ayahnya menangis? Sungguh luar biasa

sekali ini! Ayahnya yang demikian gagah perkasa, ayahnya

yang jantan. Kini menangis?

“Ayah, tenanglah, ayah. Mari duduk….” Ia membimbing

ayahnya dan membawa ayahnya duduk di kursi menghadapi

meja. Hanya sebentar saja Sun Kok menangis. Dia sudah

memandang kepada puterinya dengan mata merah. Lalu dia

tertawa.

“Ha-ha-ha, engkau sudah pulang, Bi Sian? Engkau sudah

mewarisi ilmu silat tinggi dari Koay Tojin? Bagus! Engkau

harus mewakili ayahmu ini, engkau harus dapat mengalahkan

Si Bongkok ini. Dia telah mengalahkan aku, Bi Sian….”

“Hemm, engkau telah mabok lagi. Mari, engkau perlu

tidur….!” Sie Lan Hong membantu suaminya bangkit dan

memapahnya ke dalam kamar. Yauw Sun Kok tidak

membantah, hanya mengomel, “Kau harus pukul dia, Bi Sian,

demi ayahmu, kaupukul bongkoknya, biar mampus….!”

Saking heran dan bingungnya, Bi Sian menjatuhkan diri

duduk di atas kursi dan tidak dapat bicara apa-apa. Ia

memandang kepada pamannya yang juga duduk sambil

menundukkan mukanya. Pintu kamar itu tertutup setelah

ayahnya dipapah ibunya masuk ke dalamnya dan suasana

menjadi sunyi sekali, sunyi dan menegangkan.

“Paman Liong,” akhirnya Bi Sian bicara dan biarpun

suaranya perlahan, namun terdengar mengejutkan dan

memecahkan kesunyian itu. “Engkau…. engkau benar telah

mengalahkan ayah….?”

Sie Liong mengangkat mukanya, memandang kepada

keponakannya itu, kemudian melirik ke arah Bong Gan. Bi Sian

mengerti maksud lirikan itu, dan ia berkata, “Suheng adalah

seperti keluarga sendiri, paman. Tidak ada salahnya bicara di

depan dia!” Suaranya sudah terdengar kaku, tanda bahwa dia

penasaran mendengar ayahnya dikalahkan Sie Liong, dan

tentu ayahnya telah dipukul oleh pamannya itu.

Sie Liong mengangguk-angguk. “Aku tidak pernah

mengalahkah dia, Bi Sian.”

“Akan tetapi, ayah tadi mengatakan….”

“Kemarin dulu, ketika aku datang, aku melihat ayahmu

hendak memukuli ibumu, dalam keadaan mabok. Terpaksa

aku melindungi ibumu, bukan berarti melawan dan

mengalahkan ayahmu. Aku hanya mengelak dan menangkis….

dan ayahmu mabok, dan pukulan-pukulan itu…. kalau

mengenai ibumu, tentu akan berakibat parah! Kau tidak

melihat keadaan mereka? Keadaan rumah ini! Aih, Bi Sian….

kesemuanya berubah….!”

Kembali dia melirik ke arah Bong Gan. Jelas bahwa dia

merasa tidak enak sekali harus bicara lebih banyak di depan

orang lain. Melihat ini, Bong Gan yang sejak tadi sudah

merasa tidak enak dengan munculnya ayah Bi Sian yang

seperti itu, lalu bangkit berdiri.

“Maafkan aku, sumoi. Sebaiknya kalau aku mencari rumah

penginapan di kota. Besok aku akan datang berkunjung,

sampaikan maafku kepada ayah den ibumu!”

Bi Sian hanya mengangguk. Hatinya dipenuhi hal lain, yaitu

kenyataan tentang ayah dan ibunya. Dan dalam keadaan

seperti itu, memang sebaiknya kalau suhengnya bermalam di

rumah penginapan. “Baiklah, suheng. Maafkan kami.”

Bong Gan pergi meninggalkan rumah itu. Setelah pemuda

itu pergi, barulah Bi Sian duduk di dekat Sie Liong. Tadi ia

memang marah sekali membayangkan bahwa pamannya telah

memukul ayahnya, akan tetapi kini sudah hilang

kemarahannya. Ia terlalu percaya kepada Sie Liong, tidak

mungkin pamannya ini mau memukul ayahnya.

“Nah, sekarang ceritakanlah keadaan yang seaungguhnya,

paman!” Bi Sian menuntut.

Sie Liong menarik napas panjang. “Sebenarnya, ibumu

yang harus menceritakan kepadamu. Akan tetapi biarlah,

akupun berkewajiban untuk memberitahukan semua

kepadanu. Ketahuilah bahwa setelah kita berdua pergi,

ayahmu telah berubah sama sekali. Setiap hari dia bergaul

dengan orang-orang sesat, dia berjudi, mabok-mabokan,

pelesir, menghamburkan uang sampai usaha dagangnya jatuh

dan dia bangkrut. Bukan hanya itu, malah semua barang di

rumah, prabot dan perhiasan ibumu, semua dijual untuk

dihamburkan di medan perjudian dan pelesiran. Lebih lagi, dia

mulai membenci ibumu dan suka memukuli ibumu.”

“Ah, mana mungkin itu?”

“Aku sendiripun tidak akan percaya kalau tidak melihat

sendiri. Kemarin dulu, dia tidak tahu bahwa aku telah datang,

dia datang malam-malam dalam keadaan mabok dan hendak

memukuli ibumu. Aku yang melihatnya lalu melindungi ibumu.

Aku diserang, bukan main-main, diserang mati-matian dengan

pedang. Aku hanya membela diri, sama sekali tidak

memukulnya, melainkan merampas pedangnya. Engkau tentu

tahu bahwa aku tidak akan berani melakukan hal seperti itu,

Bi Sian.”

“Aih, ayah….! Kenapa begitu. Ibuu…. ah, kasihan sekali,

ibuku….” Bi Sian lalu meninggalkan Sie Liong dan iapun lari

memasuki kamar ayah dan ibunya.

Melihat ini, Sie Liong juga meninggalkan ruangan itu dan

pergi mencari hawa sejuk di belakang rumah. Hatinya lega

karena Bi Sian tidak sampai salah paham dengan dia. Diamdiam

dia merasa bangga dan kagum kepada keponakannya

itu. Bi Sian telah menjadi seorang gadis seperti yang selalu dia

bayangkan. Seorang gadis yang lincah jenaka, gagah perkasa,

berkepandaian tinggi, juga bijaksana seperti sikapnya tadi

ketika melihat ayahnya dan bertanya kepadanya. Tidak mudah

dipengaruhi emosi.

Dan teringatlah dia kepada Bong Gan. Pemuda itu suheng

Bi Sian? Sebagai suhengnya, tentu memiliki ilmu silat yang

lebih tinggi! Memang, baru melihat sinar matanya saja mudah

diduga bahwa pemuda itu tentu lihai sekali. Akan tetapi ada

sesuatu pada pandang mata pemuda itu yang membuat

hatinya merasa tidak enak.

Dia duduk di atas bangku di bawah pohon. Mengapa dia

merasa tidak enak? Karena pemuda itu suheng Bi Sian dan

kelihatan amat akrab dengan gadis itu sehingga Bi Sian

mengajak pemuda itu pulang? Hendak diperkenalkan kepada

ayah ibunya? Kalau benar begitu, mengapa dia harus merasa

tidak enak? Sudah sepantasnya kalau Bi Sian saling mencinta

dengan pemuda itu!

“Ah, tidak….!” Tiba-tiba dia bangkit dan mengepal tinju.

Akan tetapi dia teringat dan sadar lagi, duduk kembali. Ih,

engkau ini kenapa? Demikian dia memaki diri sendiri. Bi Sian

seorang gadis yang cantik manis, dan suhengnya itupun

seorang pemuda tampan. Keduanya sudah dewasa, sudah

sepatutnya kalau saling jatuh cinta. Kenapa di hatinya, harus

ikut ribut-ribut? Dia kan hanya pamannya, dan dia kan hanya

seorang bongkok? “Yang tahu dirilah kau!” demikian dia

memaki diri sendiri dan Sie Liong duduk termenung di kebun

belakang itu sampai lama sekali.

0odwo0

Seorang pemuda memasuki rumah pelesir yang mewah itu.

Pemuda itu tampan dan segera menarik perhatian para

pelacur yang hendak memperebutkan perhatian pemuda itu.

Maka, ketika pemuda itu duduk di dalam ruangan makan di

depan, segera ada lima orang gadis pelacur menghampirinya,

menyapanya dengan ramah dan tanpa diminta mereka segera

duduk mengelilingi meja itu. Pakaian mereka yang tipis, muka

mereka yang berbedak tebal, tubuh mereka yang menantang

dan disiram minyak wangi, membuat pemuda itu tersenyumsenyum

gembira. Pemuda itu bukan lain adalah Bong Gan!

Sebetulnya, tidak aneh kalau kini dia kelihatan berada di

dalam sebuah rumah pelacuran, walaupun selama ini dia amat

pandai menyimpan rahasia. Semenjak dla melakukan

perjinahan dengan Pek Lan, selir ayah angkatnya itu, dia

sudah menjadi hamba nafsu berahi yang tidak ketulungan

lagi! Akan tetapi, sebagai murid Koay Tojin dan yang selalu

dekat dengan Bi Sian, dia pandai sekali menjaga diri sehingga

di luarnya dia nampak alim bukan main, sopan dan tidak

pernah kurang ajar. Akan tetapi, apabila dia memperoleh

kesempatan, yaitu ketika melakukan perjalanan seorang diri

untuk berbelanja bumbu atau memburu binatang, dia selalu

mempergunakan kepandaiannya untuk memuaskan berahinya

yang berkobar-kobar. Di luar dugaan Bi Sian dan Koay Tojin,

setelah dewasa, Bong Gan sering sekali mengganggu wanita.

Baik melalui ketampanannya, kepandaiannya, maupun dengan

paksa! Banyak sudah isteri atau anak gadis orang menjadi

korbannya, namun selalu dapat menjaga diri,

menyembunyikan mukanya sehingga tidak ada yang

mengenalnya. Wanita yang dirobohkannya dengan modal

ketampannya, selalu adalah isteri orang yang tentu saja tidak

akan membongkar rahasia busuknya sendiri. Juga, tempat

pelacuran bukan tempat asing bagi Bong Gan karena kalau dia

tidak mendapat korban, maka tempat pelacuranlah yang

menjadi tempat dia melepaskan semua dorongan nafsu

birahinya.

Kini dia berada di rumah pelacuran karena hatinya agak

kesal. Dia terpaksa berpisah dari Bi Sian, bermalam di sebuah

rumah penginapan dan malam itu, karena iseng, diapun keluar

berjalan-jalan dan akhirhya masuk ke dalam sebuah rumah

pelesir yang besar di kota Sung-jan. Bong Gan tidak

kekurangan uang. Sebelum memasuki rumah penginapan tadi,

dia sudah mempergunakan kepandaiannya untuk memasuki

sebuah rumah gedung dan dari dalam rumah itu, tanpa

diketahui siapapun, dia telah berhasil mencuri uang emas

yang cukup banyak. Dengan kepandaian yang dia miliki,

kejahatan seperti itu mudah saja dia lakukan.

Tak lama kemudian, dia sudah masuk ke dalam kamar

ditemani oleh tiga orang gadis pelacur! Menjelang tengah

malam, baru dia keluar dari dalam kamar itu dan bermaksud

untuk kembali ke rumah penginapan. Besok pagi-pagi dia akan

berkunjung ke rumah Bi Sian dan dia tidak ingin kurang t idur.

Akan tetapi, baru saja dia keluar digandeng tiga orang gadis

pelacur yang kelihatan amat mencintanya. Siapa orangnya

takkan mencinta seorang pemuda yang tampan, jantan dan

royal dengan uangnya? Apa lagi kalau perempuan itu seorang

pelacur!

“Heiii, bukankah engkau suheng dari Bi Sian?” Tiba-tiba

terdengar suara seorang laki-laki menegurnya, Song Gan

menoleh dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia

mengenal pria yang menegurnya itu. Yauw Sun Kok, ayah Bi

Sian! Kalau ada kilat menyambar kepalanya, belum tentu Bong

Gan sekaget ketika dia bertemu dengan ayah Bi Sian di rumah

pelacuran! Celaka, pikirnya, habislah namanya. Rusaklah dia di

mata ayah Bi Sian dan tentu sumoinya itu juga akan

mendengar dari ayahnya! Tentu sumoinya itu tidak akan sudi

lagi berdekatan dengan dia kalau mendengar bahwa dia dilihat

ayahnya di rumah pelacuran, dirangkul tiga orang pelacur. Dia

cepat dapat memulihkan sikapnya, berpura-pura tidak

mengenal Yauw Sun Kok dan melepaskan diri dari gandengan

tiga orang pelacur, dia lalu keluar sambil berkata dengan

suara dirobah.

“Anda salah lihat!”

Yaw Sun Kok belum mabok pada saat itu. Dia memang

langganan rumah pelacuran ini dan kalau dia tidak berjudi,

tentu dia berada di sini, main-main dengan gadis pelacur, atau

sekedar mabok-mabokan. Ketika melihat pemuda yang

digandeng tiga orang pelacur itu, dia segera mengenalnya dan

menegurnya. Sebetulnya kekhawatiran Song Gan tidak

beralasan. Orang yang sudah menjadi langganan rumah

pelacuran seperti Yauw Sun Kok, tentu tidak akan memandang

rendah kepada pria lain yang juga datang menghibur diri di

tempat itu.

Yauw Sun Kok adalah seorang manusia yang jiwanya

lemah, tertutup oleh nafsu-nafsunya sehingga jiwanya

menjadi hamba dari nafsunya. Karena sejak kecil hidup

sebagai orang sesat, di tengah-tengah orang yang bekerja

sebagai perampok, penjudi dan penjahat-penjahat, akhirnya

isterinya terbunuh oleh Sie Kian, dia menjadi sakit hati dan

setelah memperdalam ilmu-ilmunya, dia berhasil membalas

dendam, membasmi keluarga musuh besarnya itu. Akan tetapi

dia tergila-gila kepada Sie Lan Hong dan membawa gadis

remaja itu sebagai isterinya, juga membiarkan Sie Liong hidup

atas permintaan Sie Lan Hong yang pada waktu itu amat

dicintanya. Karena cintanya terhadap isteri yang baru inilah

Yauw Sun Kok dapat merobah jalan hidupnya. Dia dapat

mengekang nafsu-nafsunya, karena semua nafsunya telah

dipuaskan oleh isteri yang dicintanya itu. Apalagi ketika Bi Sian

terlahir. Sun Kok bahkan pernah menjadi suami dan ayah yang

baik.

Akan tetapi, rasa takutnya akan menerima pembalasan dari

Sie Liong membuat sifat jahatnya timbul dan dia bahkan telah

membikin cacat adik isterinya itu. Setelah Sie Liong melarikan

diri, dan juga puterinya dibawa orang sakti sebagai murid,

dalam keadaan kesepian ini, nafsu-nafsu rendah yang tadinya

mulai dapat dikekang, bermunculan kembali dan menguasai

jiwa raga Sun Kok! Maka diapun kembali ke jalan lama

membiarkan nafsunya meraja lela dan setiap hari hanya

mengejar kesenangan belaka. Bahkan muncul pula watak

kejamnya sehingga dia tidak segan memukuli isterinya yang

dulu pernah amat disayangnya itu kalau isterinya dianggap

menghalangi kesenangannya!

Segala macam nafsu tidak terpisahkan dari manusia. Sejak

lahir memang kita sudah disertai nafsu-nafsu, karena

sesungguhnya nafsu-nafsu merupakan pendorong bagi kita

untuk dapat hidup di dunia ini. Nafsu adalah kemelekatan kita

kepada kebutuhan hidup di dunia, kebutuhan badan.

Kemelekatan pada benda, pada makanan, dan sebagainya.

Akan tetapi, nafsu-nafsu ini setelah merasakan segala macam

kesenangan melalui badan manusia, lalu ingin menguasai

manusia, mencengkeram dan memperhamba manusia

sehingga jiwa manusia yang murni terselubung oleh hawa

nafsu, menjadi lemah dan tidak berdaya. Kalau jiwa yang

menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhannya itu

terselubung, maka Kekuasaan Tuhan yang berada di dalam

diri tidak dapat bekerja dengan sempurna. Maka nafsulah

yang berkuasa, dan di dalam setiap gerak gerik kita, selalu

nafsu yang menjadi pengemudinya!

Kalau keadaan kita manusia ini dapat diumpamakan sebuah

kereta, lengkap dengan roda, kerangka, lampu, dan segala

perlengkapan sebuah kereta, maka nafsu-nafsu adalah ibarat

kuda-kuda yang menarik kereta ini! Jiwa kita seharusnya

menjadi Sang Kusir, yang mengendalikan nafsu-nafsu atau

kuda-kuda itu agar kereta dapat berjalan dengan baik. Tanpa

adanya kuda-kuda itu, kereta tidak akan dapat berjalan atau

bergerak maju. Akan tetapi kalau Sang Kusir tidak mampu

menguasai kuda-kuda itu, dan sebaliknya kuda-kuda itu yang

menguasai kereta, maka tentu kuda-kuda itu menjadi liar dan

akan kabur, mungkin saja membawa seluruh kereta berikut

Sang Kusir terjun ke dalam jurang! Demikian pula dengan

nafsu. Kalau jiwa tidak tertutup kotoran, kalau jiwa tetap

dekat dengan Tuhan, penuh penyerahan diri, penuh

ketawakalan dan penuh keikhlasan membiarkan diri dibimbing

kekuasaan Tuhan, maka jiwa akan selalu dapat menguasai

nafsu-nafsu. Bukan berarti nafsu harus dimatikan, seperti kuda

yang dibutuhkan untuk menarik kereta. Nafsu juga perlu untuk

membuat kita hidup. Kita makan karena ada nafsu, kita

berpakaian karena ada nafsu, kita melihat, mendengar dan

mempergunakan panca indera dan dapat menikmati hidup

karena ada nafsu. Nafsu bagaikan api. Kalau dikuasai, dapat

amat bermanfaat bagi hidup, akan tetapi sebaliknya kalau

menguasai kita, dapat membakar segala-galanya! Nafsu

adalah seorang hamba yang amat baik, akan tetapi seorang

majikan yang amat jahat!

Melihat Bong Gan bersikap tidak mengenalnya, hanya

sebentar Yauw Sun Kok merasa heran. Akan tetapi tak lama

kemudian dia sudah tenggelam ke dalam buaian arak dan

lewat tengah malam, diapun berjalan pulang terhuyunghuyung

dalam keadaan mabok.

Ketika Sun Kok melewati daerah yang sunyi, di mana t idak

ada rumah di kanan kiri jalan, tiba-tiba berkelebat bayangan

hitam yang langsung menyerangnya dengan kepalan tangan.

Serangan itu dahsyat sekali, mendatangkan angin pukulan

yang keras. Bagaimanapun juga, Sun Kok adalah seorang

yang sudah lama mempelajari ilmu silat dan tingkat

kepandaiannya cukup tinggi. Dia mendengar suara angin

serangan ini dan cepat dia mengelak sambil menggerakkan

tangan kiri menangkis dan tangan kanannya membalas

dengan cengkeraman ke arah pundak penyerangnya! Namun,

penyerang itu lihai bukan main karena dengan amat

mudahnya dia menghindarkan diri dari cengkeraman itu.

Saat itu dipergunakan Sun Kok yang cepat melompat ke

belakang itu untuk mengamati penyerangnya. Cuaca gelap,

akan tetapi dia melihat bayangan penyerangnya yang

berpunggung bongkok!

“Sie Liong….!” teriaknya dengan suara penuh rasa ngeri.

Memang sejak dahulu dia takut kepada adik isterinya, takut

kalau sampai anak itu mengetahui bahwa dialah pembunuh

orang tuanya. Kalau saja tidak melihat isterinya, sudah sejak

dulu dia membunuh Sie Liong. Dan kini, apa yang ditakutinya

terjadi. Sie Liong yang sudah dia bikin bongkok itu, masih

berhasil mempelajari ilmu silat tinggi dan malam ini agaknya

hendak membalas dendam dan menyerangnya! Maklum

bahwa dia terancam maut, tangan Yauw Sun Kok bergerak

dan tiga batang piauw beruntun menyambar ke arah tubuh

orang bongkok itu. Namun, dengan sigapnya, lawannya itu

berhasil mengelak dengan amat mudah. Sun Kok sudah

mencabut pedangnya, pedang pusaka Pek-lian-kiam dan

biarpun dia mabok, akan tetapi perasaan takut melenyapkan

maboknya dan dia sudan mainkan pedangnya, menyerang

dengan gesit.

Namun, sekali ini dia harus mengakui bahwa dia telah

berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh.

Biarpun lawannya bertangan kosong, namun seranganserangan

pedangnya tidak pernah mampu menyentuh

lawannya yang dapat bergerak secepat burung walet terbang.

Kemudian, ketika dengan gugup dia membalik untuk mencari

lawan yang tadi berkelebat lenyap ke arah belakangnya, tibatiba

tangan kanannya menjadi lumpuh tertotok dan

pedangnya berpindah tangan! Sebelum Sun Kok mampu

menghindar, sinar pedang berkelebat dan pedang itu telah

menembus dada dan jantungnya! Sun Kok roboh terjengkang,

seketika tewas dengan dada ditembusi pedangnya sendiri!

Bayangan berpunggung bongkok itu lalu menyambar tubuh

yang tak bernyawa lagi itu, menyeretnya menuju ke rumah

Yauw Sun Kok. Dengan amat cekatan, dia melompat ke atas

genteng dan selanjutnya berlompatan sehingga tidak ada

orang melihatnya. Setelah berlompatan dari rumah ke rumah,

dia lalu turun ke pekarangan belakang rumah Yauw Sun Kok.

Ketika tiba di dekat sebuah jendela kamar di rumah itu,

kakinya tersaruk sebuah benda yang mengeluarkan suara

keras.

“Siapa itu?” terdengar bentakan suara wanira dari balik

jendela. Bayangan itu tidak menjawab, menyeret mayat itu

menjauhi jendela. Akan tetapi dia kurang cepat karena tibatiba

daun jendela itu terbuka dari dalam dan Bi Sian masih

sempat melihat seorang laki-laki berkedok dan berpunggung

bongkok menyeret sesosok mayat ke dalam kebun.

“Paman Liong….?” Dia memanggil akan tetapi bayangan itu

sudah lenyap ke dalam kegelapan malam. Bi Sian cepat

meloncat keluar dari kamarnya dan melakukan pengejaran ke

dalam kebun. Akan tetapi bayangan orang berpunggung

bongkok itu lenyap dan ia menemukan sesosok tubuh

menggeletak di atas tanah. Pada waktu itu, kebetulan sekali

bulan sepotong yang sejak tadi tertutup awan hitam, terlepas

dari cengkeraman awan dan menyinarkan cahayanya yang

redup namun cukup terang bagi Bi Sian untuk mengenal

wajah orang itu.

“A…. ayahhhhh….!” Ia menjerit dan cepat berlutut,

memeriksa tubuh itu. Ayahnya, benar ayahnya, telah tewas

dengan dada ditembusi sebatang pedang yang dikenalnya

sebagai pedang pusaka milik ayahnya sendiri, Pek-lian-kiam!

Jeritan Bi Sian ini mengejutkan para pengnuni rumah itu.

Ibunya terkejut dan berlari keluar. “Bi Sian, apa yang

terjadi….?” tanyanya sambil berlari tersaruk-saruk ke dalam

kebun.

“Ibu….! Ayah tewas terbunuh orang….!” Bi Sian berseru

dan iapun melompat lalu berlari mencari-cari ke dalam kebun.

Akan tetapi, ia tidak menemukan jejak orang yang tadi

menyeret tubuh ayahnya, lalu ia mendexati rumah. Tiba-tiba

ia melihat sesuatu. Cepat ia berjongkok den diambilnya benda

itu. Sebuah topeng! Topeng yang tadi ia lihat dikenakan

pembunuh ayahnya. Topeng hitam!

“Bi Sian, ada apakah ribut-ribut itu?” Mendengar suara Sie

Liong, Bi Sian cepat menyimpan topeng itu ke dalam saku

dalam bajunya. Ia memandang tajam kepada wajah Sie Liong.

Biarpun remang-remang, ia melihat bahwa selarut itu

pamannya ini belum tidur!

“Paman Liong, apakah engkau tidak mendengar sesuatu?”

tanyanya sambil memandang tajam penuh selidik.

“Mendengar apa? Aku hanya mendengar teriakanmu

memanggil ayahmu, lalu suara enci Lan Hong di belakang sini.

Apakah yang telah terjadi?”

“Paman Liong, mari kaulihat sendiri!” katanya sambil

menarik lengan pamannya itu. Lengan itu tidak

memperlihatkan sesuatu, tidak gemetar, juga sikap pamannya

tenang-tenang saja. Bi Sian ingin melihat bagaimana sikap

pamannya kalau melihat cihu-nya menggeletak tewas.

Setelah tiba di tempat itu, dari jauh Sie Liong sudah

mendengar ratap tangis encinya dan melihat cihu-nya

menggeletak dengan pedang masih menancap di dada, dia

terkejut bukan main.

“Enci Hong, apa…. apa yang telah terjadi? Siapa

membunuh cihu?” Dia berlutut dan memeriksa. Tak salah lagi.

Cihunya telah tewas, tewas seketika melihat pedang itu

menembus dada. Melihat adiknya, Sie Lan Hong menangis

semakin mengguguk sambil memeluk mayat suaminya.

“Liong-te…. bagaimanapun juga…. bagaimanapun

jahatnya…. aku…. aku mencintanya….!” Wanita itu meratap

dan menangis sejadinya.

Sejak tadi Bi Sian sudah memperhatikan sikap pamannya.

Terlalu tenang, pikirnya. Terlalu tenang sehingga tidak wajar.

Akan tetapi, mengapa ia masih meragukan kenyataan itu? Ia

melihat dengan matanya sendiri. Orang yang menyeret mayat

ayahnya itu berpunggung bongkok! Siapa lagi kalau bukan

pamannya? Dan orang itu bertopeng hitam, topeng hitam

yang ia temukan di luar kamar Sie Liong pula!

“Engkau pembunuh ayahku!” Tiba-tiba Bi Sian berteriak

sambil melompat dekat Sie Liong, tangannya sudah

menyambar sebatang ranting kayu dan kini digenggam di

tangannya, telunjuk kirinya menuding ke arah muka Sie Liong.

Pemuda itu terkejut dan heran. “Apa….? Apa maksudmu, Bi

Sian?” Dia bangkit berdiri.

“Maksudku, Sie Liong, engkaulah yang membunuh ayahku!”

“Ehh? Apa kau sudah gila? Enci, bagaimana ini? Bagaimana

anakmu menuduh aku membunuh suamimu?”

Akan tetapi anehnya, Sie Lan Hong hanya menangis, tidak

membantah sedikitpun juga. Memang, di dalam hatinya, Lan

Hong juga menduga bahwa tentu adiknya itu yang telah

membunuh suaminya, untuk membalaskan sakit hati orang

tua mereka.

“Liong-te, kenapa engkau begitu kejam membunuhnya?

Bagaimanapun juga, dia ayah Bi Sian, dia suamiku dan aku….

aku cinta padanya….”

Mendengar ratap tangis encinya ini, Sie Liong terbelalak

dan merasa bagaikan disambar geledek di hari terang! Akan

tetapi, Bi Sian yang juga mendengar ucapan ibunya, sudah

mengeluarkan suara melengking panjang dan ia mengeluarkan

topeng hitam itu, melemparkannya ke arah muka Sie Liong

yang cepat menangkapnya. Melihat bahwa yang dilemparkan

itu sebuah topeng hitam tipis, Sie Liong tidak tahu

maksudnya. Akan tetapi pada saat itu, tongkat di tangan Bi

Sian sudah menyambar dengan totokan-totokan maut ke arah

muka, tenggorokan dan ulu hatinya. Tiga kali totokan bertubi

yang kesemuanya amat berbahaya!

Tanpa disadarinya, Sie Liong menyimpan topeng itu ke

dalam saku bajunya dan tubuhnya lalu dilempar ke belakang,

berjungkir balik setiap kali ada ujung tongkat menyambar dan

setelah tiga kali berjungkir balik, dia lalu memalangkan kedua

lengannya seperti hendak menggunting kalau tongkat yang

amat berbahaya itu menyambar lagi. Akan tetapi kini tongkat

itu tidak menusuknya dari depan, melainkan menghantam dari

kanan ke arah lambungnya!

Bukan main cepat dan kuatnya serangan Bi Sian. Kembali

Sie Liong menghindar diri dengan loncatan ke atas. Celaka,

pikirnya. Bi Sian, dan bahkan encinya sendiri, agaknya sudah

yakin bahwa dia pembunuh cihu-nya! Agaknya membela diri

dan menyangkal tidak ada gunanya pada saat keduanya

sedang emosi itu, dan melawan serangan Bi Sian amat

berbahaya. Gadis ini memiliki ilmu tongkat yang amat ganas

dan lihai, dan teringat dia akan ilmu tongkat yang pernah

dipertontonkan Koay Tojin.

“Kalian salah sangka….!” katanya dan ketika tongkat itu

kembali menyambar dengan totokan maut ke arah pusarnya,

Sie Liong melompat ke pinggir lalu kakinya menyambar untuk

menendang pinggang Bi Sian dari samping. Dia mengerahkan

tenaga sehingga angin tendangan itu menyambar keras. Bi

Sian terkejut dan cepat melompat ke belakang. Inilah yang

dikehendaki Sie Liong. Dia mempergunakan kesempatan selagi

gadis itu melompat ke belakang, dia pun melompat jauh dan

menghilang di dalam kegelapan malam!

“Pembunuh, hendak lari ke mana kau?” Bi Sian melompat

dan melakukan pengejaran. Akan tetapi, Sie Liong dapat

bergerak cepat sekali dan dia sudah tidak nampak

bayangannya. Setelah mengejar ke sana-sini tanpa hasil,

dengan hati kesal Bi Sian kembali ke dalam kebun. Ia

menemukan ibunya masih menangisi mayat ayahnya.

“Aku tidak berhasil menyusul pembunuh keparat itu! Akan

tetapi, ibu, aku akan mencarinya sampai dapat!”

“Sudahlah, Bi Sian. Yang terpenting sekarang mengurus

jenazah ayahmu,” kata Sie Lan Hong yang akhirnya dapat

menguasai hatinya yang terguncang.

“Tapi, ibu, yang terpenting adalah menangkap pembunuh

itu!”

“Hem, bagaimanapun juga, dia adalah pamanmu, adik

ibumu.”

“Apakah kalau adik ibu, lalu dia boleh membunuh ayah

sesukanya? Apakah ibu sudah begitu membenci ayah karena

ayah telah berubah selama ini?”

“Bi Sian….!” Sie Lan Hong menangis lagi dan Bi Sian segera

menyadari kekeliruannya. Ia berlutut dan merangkul ibunya.

“Maafkan, ibu. Maafkan aku…. ah, kedukaan membuat aku

bersikap kasar kepada ibu.” Gadis itu lalu mengangkat jenazah

ayahnya ke dalam rumah.

Para tetangga dan penduduk kota Sung-jan terkejut

mendengar berita kematian Yauw Sun Kok yang kabarnya

terbunuh orang semalam. Banyak orang menduga-duga siapa

pembunuhnya. Yauw Sun Kok mereka kenal sebagai seorang

pendekar yang gagah perkasa, walaupun akhir-akhir ini

menjadi gila judi dan suka bermain perempuan dan mabokmabokan.

Sie Lan Hong menangis perlahan di dalam kamarnya. Ia

tidak mau ditemani puterinya dan terpaksa Bi Sian duduk

bersila di ruangan di mana jenazah ayahnya dibaringkan,

ditemani beberapa orang pria tua tetangga mereka.

Ketika Lan Hong menangis lirih, tiba-tiba daun jendelanya

terbuka dari luar. Begitu perlahan jendela itu terbuka dari luar

sehingga Lan Hong tidak mendengar sesuatu. Baru ia terkejut

ketika ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu adiknya telah

berdiri di dalam kamar itu. Lan Hong memandang terbelalak

kepada adiknya.

“Mau apa…. kau datang? Engkau sudah membunuhnya,

tentu engkau sudah puas, bukan? Biarlah aku yang

menderita…. hu-huh…. sejak dulu, aku yang menderita….!”

“Enci, dengarlah baik-baik. Aku tidak membunuhnya, enci.

Aku tidak membunuh cihu….!”

Wanita itu menghentikan tangisnya lalu menarik napas

panjang. “Sudahlah, Liong-te. Akupun tidak menyalahkanmu.

Dulu akupun hendak membunuhnya dan sudah sepatutnya

kalau aku atau engkau membunuhnya….”

“Enci…. apa…. apa maksudmu?” Sie Liong bertanya,

hatinya berdebar tegang.

“Engkau tentu telah menduganya, maka engkau

membunuhnya, bukan? Nah, baiklah, karena dia sudah mati,

kuceritakan segalanya kepadamu. Memang, Yauw Sun Kok

yang menjadi pembunuh ayah dan ibu kita, membunuh

suheng Kim Cu An, dan dua orang pelayan keluarga kita dan

semua binatang peliharaan kita.”

Sedikit banyak memang sudah ada dugaan di dalam hati

Sie Liong yang selalu dibantahnya sendiri karena bagaimana

mungkin encinya menjadi isteri pembunuh ayah ibu mereka?

“Tapi…. tapi mengapa, enci?”

“Mendiang ayah kita pernah bentrok dengan Yauw Sun Kok

ketika dia dan isterinya melakukan perampokan. Dia dahulu

seorang perampok. Isterinya tewas di tangan mendiang ayah

kita dan dia terluka. Dia lalu memperdalan ilmu silat dan pada

malamhari itu, dia berhasil membasmi keluarga ayah kita.”

“Tapi…. tapi, mengapa enci dan aku sendiri t idak

dibunuhnya, dan mengapa pula enci menjadi isterinya….?”

“Itulah selalu aku yang menderita. Dia tertarik kepadaku.

Dia hendak memperkosaku dan membunuh kita berdua kalau

aku tidak mau menjadi isterinya. Terpaksa, untuk

menyelamatkan engkau yang baru berusia sepuluh bulan, dan

menyelamatkan nyawaku sendiri, aku menerima

permintaannya. Aku menjadi isterinya dan engkau tidak

dibunuhnya. Dan ternyata dia amat baik kepadaku dan

kepadamu sampai terlahir Bi Sian dan aku…. aku…. anak

durhaka dan tidak berbakti ini, aku jatuh cinta kepadanya,

kepada suamiku sendiri dan kepada pembunuh ayah ibuku….”

Sie Lan Hong tidak dapat menahan tangisnya lagi. Sie Liong

mendengarkan dengan bengong. Die merasa kasihan sekali

kepada encinya.

“Akan tetapi, aku tidak membunuhnya, enci.”

“Sudahlah, siapa mau percaya. Dan aku sekarang tidak lagi

menyalahkanmu, Liong-te. Sudah sepatutnya engkau

membunuhnya dan….”

Tiba-tiba pintu kamar itu didorong terbuka dari luar dan Bi

Sian meloncat masuk dengan mata terbelalak dan tangannya

memegang sebatang pedang yaitu pedang Pek-lian-kiam yang

telah membunuh ayahnya!

“Pembunuh keparat, berani engkau ke sini?” bentaknya dan

secepat kilat Bi Sian menyerang dengan pedang itu. Tusukan

kilat mengarah dada Sie Liong dan selain nampak kilatan

pedang, juga terdengar bunyi mendesing saking cepat dan

kuatnya pedang itu meluncur. Namun, dengan cepat Sie Liong

menyambar kursi dan melempar kursi itu sebagai perisai.

Terdengar suara nyaring dan kursi itu sudah patah-patah

berantakan. Akan tetapi tubuh Sie Liong sudah meloncat ke

jendela.

“Bi Sian, engkau keliru. Aku tidak membunuh ayahmu!”

kata Sie Liong sebelum dia meloncat ke luar dan melenyapkan

diri,

“Jahanam, jangan lari!” Bi Sian hendak mengejar, akan

tetapi ibunya sudah menubruknya dan memegangi lengannya

sambil menangis.

“Jangan, anakku. Jangan kejar dia….! Biarkan dia pergi….!”

tangisnya.

Bi Sian mengerutkan alisnya. Menghela napas panjang.

“Hemm, ibu melindungi seorang pembunuh, pembunuh suami

ibu sendiri, walaupun pembunuh itu adik kandung ibu….” Ia

melepaskan diri, akan tetapi tidak mengejar seperti yang

diminta ibunya, melainkan dengan bersungut-sungut iapun

kembali ke ruangan di mana jenazah ayahnya dibaringkan.

Ibunya melempar diri di atas pembaringan dan menangis.

Bagaimana ia tega untuk merusak hati anaknya dengan

menceritakan semua perbuatan ayahnya? Tidak, ia tidak akan

menceritakan semua perist iwa jahanam dahulu itu kepada Bi

Sian agar gadis itu tidak tahu bahwa ayahnya seorang yang

amat jahat. Tidak perlu ia tahu. Biarlah ia sendiri yang

menderita, asalkan Bi Sian tidak menderita! Seperti dulu ia

berkorban demi mempertahankan keselamatan Sie Liong, kini

ia bersedia berkorban perasaan demi menjaga agar batin

puterinya tidak sampai menderita kehancuran.

Pada keesokan harinya, para tetangga datang melayat dan

pagi-pagi sekali Bong Gan sudah tiba di situ. Maksudnya untuk

berkunjung kepada sumoinya. Tentu saja dia terkejut bukan

main melihat peti mati di ruangan depan.

Bi Sian menyambutnya dengan wajah pucat dan mata

merah, bekas tangis dan kurang tidur.

“Sumoi! Apa yang terjadi! Siapa yang meninggal dunia….?”

tanyanya dengan penuh kekhawatiran.

“Yang meninggal dunia adalah ayahku, suheng….”

“Ahh….!” Pemuda itu terbelalak memandang ke arah peti

mati. “Ayahmu? Tapi kemarin beliau masih segar bugar….!”

“Malam tadi…. dia meninggal….” Gadis itu memejamkan

matanya, menahan diri agar tidak menangis di depan pemuda

itu, apa lagi para tetangga mulai berdatangan melayat. Melihat

Ini, Bong Gan lalu menghampiri meja sembahyang, memasang

hio untuk memberi hormat kepada jenazah dalam peti.

Kemudian dia menghampiri lagi sumoinya.

“Sumoi, kenapa ayahmu meninggal? Sakit apakah?”

“Mari kita masuk, suheng, aku mau bicara denganmu.”

Bong Gan mengikuti sumoinya menuju ke ruangan dalam.

Setelah berada berdua saja, gadis itu mempersilakan

suhengnya duduk. “Suheng, ayahku malam tadi dibunuh

orang…..”

“Hah….??” Bong Gan meloncat bangkit berdiri dari

kursinya, matanya terbelalak. “Dibunuh orang? Bagaimana….

siapa….?”

“Pembunuhnya adalah…. pamanku, adik ibu sendiri….”

“Ahh! Pemuda berpunggung…. bongkok bernama Sie Liong

itu….?”

Bi Sian mengangguk, menarik napas panjang. “Benar,

dialah yang membunuh ayahku.”

“Kalau begitu, biar aku mencarinya dan menyeretnya ke

depanmu, sumoi!” Bong Gan berseru sambil mengepal t inju,

matanya terbelalak penuh kemarahan.

“Semalam aku sudah menyerang dan mengejarnya, namun

tidak berhasil. Dia tidak boleh dipandang ringan, suheng.

Agaknya dia telah memperoleh kepandaian yang hebat. Ingat,

dia itu murid supek Pek-sim Sian-su yang menurut suhu

memiliki kesaktian yang amat hebat. Karena itu, aku akan

pergi mencarinya, suheng dan harap engkau suka

membantuku. Kalau kita maju berdua, tentu dia akan dapat

kita kalahkan.”

“Aku siap siaga, sumoi! Tanpa kau minta sekalipun, aku

memang akan mencarinya untuk membalaskan sakit hatimu

ini!”

“Terima kasih, suheng. Hanya engkau seoranglah yang

dapat kumintai bantuan, yang dapat kuharapkan. Nah,

sekarang juga kita berangkat untuk mengejar dan mencari Sie

Liong!”

“Ehh? Sekarang? Tidak menanti sampai selesai pemakaman

ayahmu?”

“Tidak, kalau terlambat, dia akan pergi terlalu jauh. Aku

sudah siap sedia, lihat, ini buntalan sebagai bekal perjalanan

sudah kusiapkan. Mari, kita berangkat sekarang juga!”

Pemuda itu masih bingung karena kepergian itu demikian

mendadak, walaupun hatinya merasa girang sekali bahwa dia

akan berdua lagi dengan sumoinya, berdua melakukan

perjalanan!

“Kau…. aku tidak berpamit kepada ibumu?”

Gadis itu menggeleng kepalanya dengan wajah duka.

“Tidak, ibu melindungi adiknya, lebih baik aku tidak

menemuinya sebelum aku dapat membalas dendam kepada

pembunuh ayahku!” Berkata demikian, gadis itu lalu pergi,

diikuti Bong Gan, keluar meninggalkan rumah itu dari pintu

samping sehingga tidak kelihatan oleh para tetangga yang

datang berlayat.

Ketika Sie Lan Hong mendengar bahwa puterinya lenyap

bersama suhengnya, pergi tanpa pamit, iapun jatuh pingsan.

Tidak kuat ia menahan pukulan batin yang bertubi-tubi itu.

Yang terutama sekali memberatkan hati nyonya ini adalah

karena ia dapat menduga ke mana perginya puterinya itu.

Tentu ia hendak pergi mencari Sie Liong untuk menuntut balas

dendam! Maka iapun merasa menyesal sekali mengapa ia

tidak segera menceritakan saja sebab-sebab yang mendorong

Sie Liong membunuh Yauw Sun Kok. Kalau ia sudah

menceritakan, tentu Bi Sian akan mengerti dan dapat

memaklumi mengapa pamannya itu membunuh ayahnya,

karena memang ayahnya amatlah jahatnya!

Setelah suaminya tewas dan dimakamkan, Sie Lan Hong

hidup seorang diri dalam keadaan sederhana. Ia berdagang

dengan modal seadanya, dan setiap hari ia berprihatin,

bersembahyang dan mohon kepada Tuhan Yang Maha Kasih

untuk melindungi puterinya dan untuk mencegah agar

puterinya jangan sampai membunuh Sie Liong. Kalau hal ini

terjadi habislah hidupnya. Ia tidak akan berani melanjutkan

lagi kehidupannya penuh dengan penyesalan kalau sampai

puterinya membunuh Sie Liong. Ia tidak khawatir kalau

puterinya akan terbunuh oleh Sie Liong. Ia sudah mengenal

benar watak adiknya yang bongkok itu. Sampai bagaimanapun

juga, Sie Liong tidak akan membunuh Bi Sian. Hal ini ia yakin

sama yakinnya bahwa di dasar hatinya, adiknya itu amat

mencinta dan menyayang Bi Sian.

0odwo0

Wanita itu berusia kurang lebih dua puluh empat tahun. Ia

seorang wanita yang mempunyai daya tarik besar sekali.

Wajahnya yang berbentuk lonjong itu berkulit putih mulus

kemerahan. Matanya jeli dan kedua ujungnya meruncing dan

kerlingannya dapat menarik hati pria seperti besi semberani

menarik besi. Senyumnya manis sekali, dengan bibir yang

lembut itu pandai bergerak-gerak penuh tantangan. Tubuhnya

bagaikan bunga sedang mekar, dengan lekuk lengkung yang

indah menggairahkan, tidak begitu disembunyikan karena

pakaiannya yang ketat dengan jelas membayangkan

keindahan bentuk tubuh itu. Dadanya padat, pinggangnya

kecil, pinggulnya besar, langkahnya seperti seekor singa

kelaparan. Pada lengan, kaki dan leher nampak ditumbuhi

bulu lembut dan ini menambah daya tarik. Pakaiannya juga

indah, dari sutera yang mahal.

Ketika wanita itu memasuki pintu gerbang kota Ho-tan,

semua mata pria yang melihatnya, memandang dengan

melotot. Bahkan ada yang matanya sampai mau meloncat

keluar. Kalamenjing banyak pria bergerak naik turun, seperti

orang kehausan melihat buah yang segar, ada yang lidahnya

terjulur ke luar menjilat-jilat bibir sendiri, seperti kucing-kucing

kelaparan melihat tikus yang montok. Pendeknya, jarang ada

pria yang melewatkan penglihatan seindah itu begitu saja.

Bahkan di antara mereka yang memang berwatak ceriwis dan

nakal, tersenyum menyeringai, ada pula yang berdehem, ada

yang memuji dengan suara. Bermacam-macamlah ulah para

pria yang salah tingkah itu ketika melihat wanita yang

menggiurkan ini, dan kalau saja sinar mata dapat menusuk

seperti anak-anak panah, tentu tubuh wanita itu sudah penuh

dengan luka!

Wanita itu bukan tidak sadar bahwa dirinya dijadikan

tontonan ypng mengasikkan. Ia sadar sepenuhnya akan

kecantikannya, dan ia tidak marah, bahkan bangga dan

gembira sekali menjadi pusat perhatian dan pujian. Maka ia

sengaja membuat lenggangnya semakin menggairahkan,

pinggulnya yang montok itu seperti menari-nari, pinggangnya

meliak-liuk seperti batang pohon yang tertiup angin, matanya

mengerling ke kanan kiri dengan lembut namun tajam, dan

bibirnya yang merah membasah itu bergerak-gerak mengarah

senyum. Manis sekali!

Semua orang bertanya-tanya siapa gerangan wanita muda

yang amat cantik itu. Kalau wanita penduduk biasa dari kota

Ho-tan, kiranya tidak mungkin karena melihat pakaiannya

yang indah dan mewah, tentu ia seorang wanita kaya raya,

mungkin seorang puteri bangsawan. Kalau ia benar wanita

bangsawan dari luar kota, mengapa datang hanya berjalan

kaki saja? Tidak naik kereta? Wanita cantik itu penuh tekaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

teki, dan kalau ia lebih lama berada di kota itu, tentu segera

akan ada orang yang berani mendekatinya untuk bertanya dan

memperkenalkan diri. Terlalu cantik ia dibiarkan sendirian saja

di tempat ramai itu. Seperti setangkai bunga, yang terlalu

cantik dibiarkan tumbuh di hutan tanpa ada yang melindungi,

seperti setangkai buah yang segar dan matang, tentu takkan

lama bertahan tergantung di dahan pohon tanpa ada yang

memetiknya.

Sudah mulai banyak pria tua muda yang diam-diam

membayanginya! Senja telah mulai tua dan malam sudah

menjelang masuk. Mereka yang membayanginya, merasa

heran ketika melihat wanita cantik itu menuju ke sebuah kuil

tua di pinggir kota. Padahal kuil tua itu sudah kosong dan

tidak digunakan lagi, merupakan sebuah rumah tua yang

ditakuti penduduk karena dikabarkan bahwa kuil itu sekarang

menjadi tempat tinggal siluman-siluman! Hampir tidak ada

orang berani memasuki, apalagi memasuki kuil, bahkan masuk

ke halamannyapun jarang ada yang berani, setelah hari mulai

gelap. Banyak orang mengabarkan bahwa kalau malam gelap,

seringkali terdengar suara-suara aneh dari tempat yang

angker itu!

Ketika mereka yang membayangi wanita itu melihat betapa

si cantik itu melenggang lenggok memasuki pekarangan kuil,

sudah banyak di antara mereka yang diam-diam menahan kaki

mereka, lalu membalikkan tubuh dan pergi dengan bulu

tengkuk meremang. Sebagian masih bertahan, diliputi

keheranan mau apa seorang cantik seperti itu memasuki

pekarangan kuil yang menyeramkan itu? Ketika mereka

melihat bahwa wanita itu terus melangkah masuk ke dalam

kuil yang gelap, kotor dan tua itu, semua orang membalikkan

tubuh dan lari tunggang langgang! Tidak salah lagi, sudah

pasti siluman yang mereka bayangi itu! Siluman yang suka

menggoda pria, biasanya siluman rubah yang dapat merobah

diri menjadi wanita cantik sekali. Kalau ada pria yang tertarik

dan terpikat, akan dibawanya ke dalam kuil dan pada

keesokan harinya, tentu pria itu ditemukan dalam keadaan

mati konyol atau setidaknya tentu gila!

Kalau saja di antara mereka itu ada yang bernyali besar

dan terus membayangi wanita itu masuk ke dalam kuil tentu

dia akan menjadi semakin heran. Wanita itu setelah tiba di

dalam kuil, tiba-tiba saja bergerak cepat sekali, tubuhnya

sudah mencelat naik ke atas wuwungan rumah dan ia

mengintai dari atas ke arah jalan yang menuju ke kuil. Dari

atas, dalam cuaca yang sudah mulai gelap, ia dapat melihat

mereka yang tadi membayanginya, satu demi satu

meninggalkan jalan itu, bahkan ada yang lari pontang panting,

kembali ke tengah kota. Wanita itu tersenyum geli, bibirnya

yang menggairahkan itu berjebi mengejek, lalu tubuhnya

melayang turun lagi setelah ia merasa yakin bahwa tidak ada

seorangpun yang mengikutinya masuk ke dalam kuil.

“Hi-hik,” ia tertawa lirih dan berbisik-bisik, “biarkan mereka

mengira aku siluman. Memang aku siluman…. hi-hik, siluman

aseli….!” Ia lalu melangkah masuk ke dalamruangan belakang

kuil itu, bagian yang masih agak utuh karena banyak bagian

yang sudah rusak dan dindingnya retak-retak.

Ketika ia tiba di ruangan belakang dan membuka pintu

sebuah kamar, orang itu tentu akan berseru keheranan dan

ketakutan melihat betapa kamar yang diterangi oleh nyala api

lilin itu merupakan sebuah kamar yang bersih, berbau harum

dan sama sekali t idak pantas berada di dalam kuil tua yang

kotor itu! Kamar ini cukup besar, terdapat sebuah

pembaringan yang lebar sekali, cukup untuk tidur enam tujuh

orang! Sebuah pembaringan yang diberi kasur tebal dan

ditilami kain kapas yang berwarna merah muda, dengan

kelambu besar berwarna ungu! Bantal-bantalnya bersih,

dengan sarung yang disulam bunga-bunga dan burung, ada

pula selimutnya yang merah dan tebal. Dan di kamar itu

terdapat pula lima buah kursi dan sebuah meja dan di atas

meja itu terdapat guci arak dan cawan lengkap, juga roti

kering, manis-manisan, buah-buahan dan makanan-makanan

kering! Sebuah kamar yang menyenangkan. Dan yang lebih

mengherankan lagi dari pada semua itu adalah tiga orang

pemuda yang usianya antara dua puluh sampai dua puluh lima

tahun, kesemuanya hanya mengenakan pakaian dalam yang

minim, tiga orang pemuda yang tampan dan dengan tubuh

yang sehat dan mulus, mereka menyambut kedatangan

wanita itu dengan uluran tangan penuh gairah berahi, dan

dengan pandang mata penuh kasih sayang dan senyum

memikat!

Ketika wanita itu mendekati pembaringan, tiga orang

pemuda itu menyambutnya dengan rangkulan, ciuman-ciuman

mesra dan belaian-belaian penuh gairah. Wanita cantik itu

sampai kewalahan menghadapi penyambutan mesra tiga

orang pria muda itu, ia tertawa cekikikan lalu melepaskan diri

dan duduk di atas kursi, memandang mereka bertiga yang

duduk di atas pembaringan. Ketiganya sama-sama tampan,

ganteng, jantan dan menarik, pikirnya. Akan tetapi setelah

bermain-main dengan mereka, berenang di dalam lautan

kemesraan sampai lupa waktu dan lupa batas selama tiga hari

tiga malam, ia telah mulai bosan!

Siapakah wanita cantik yang menggairahkan akan tetapi

juga mengerikan itu? Ia bukan lain adalah Pek Lan! Tujuh

tahun yang lalu, ketika ia berusia tujuh belas tahun, Pek Lan

menjadi selir tersayang dari Coa Hun yang terkenal sebagai

Coa-wangwe (Hartawan Coa), seorang yang ketika itu berusia

sekitar lima puluh tahun dan merupakan orang terkaya di kota

Ye-ceng. Akan tetapi, Pek Lan, keturunan Kirgiz dan Han itu,

memiliki darah panari dan nafsu berahi yang besar sehingga ia

tidak puas hanya melayani seorang suami yang usianya sudah

setengah abad. Maka, melihat betapa putera angkat hartawan

itu, biarpun baru berusia tiga belas tahun namun sudah cukup

besar, ia merayu anak itu yang bukan lain adalah Bong Gan

sehingga terjadilah hubungan gelap di antara mereka. Para

selir dan pelayan yang merasa iri melihat Pek Lan menjadi selir

terkasih, melihat hubungan itu dan mereka melaporkan

kepada Coa-wangwe sehingga dua orang itu tertangkap

basah, lalu diusir dari rumah keluarga Coa.

Seperti kita ketahui, Pek Lan bertemu dengan Hek-in Kuibo,

nenek iblis yang mengambilnya sebagai murid. Nenek ini

bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu silat yang tinggi dan

amat kejam, juga mewariskan pula wataknya yang amat jahat,

kejam, licik dan tidak pantang segala macam perbuatan buruk

atau kemaksiatan apapun! Maka bagi Pek Lan, tidak ada

perbuatan jahat yang dipantangnya dan ia tumbuh semakin

dewasa dan matang menjadi seorang wanita yang berwatak

iblis! Juga nafsu berahinya semakin menjadi-jadi! Untuk

memuaskan nafsunya ini, ia memilih pria yang disukanya,

dirayu atau dipaksa untuk melayaninya sampai ia merasa puas

dan kalau ia sudah merasa bosan, pria itu lalu diusir begitu

saja, dan kalau banyak rewel bahkan dibunuhnya! Akan tetapi

perbuatan ini ia lakukan di luar rumah subonya. Subonya

memiliki sebuah rumah yang mewah di tepi telaga Go-sa dan

mereka hidup sebagai orang kaya raya. Guru dan murid ini

telah mencuri sejumlah harta dari gedung Pangeran Cun Kak

Ong di kota Ho-tan, dan selama tujuh tahun terakhir ini, kalau

mereka kekurangan uang, mudah saja bagi mereka untuk

mengisi kembali gudang harta mereka. Seluruh tokoh sesat

dari dunia hitam berlumba untuk menyerahkan sebagian dari

hasil mereka kepada Hek-in Kui-bo yang mereka anggap

sebagai datuk mereka. Dan selain itu, amat mudah bagi Pek

Lan yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi untuk

mengambil begitu saja dari gudang-gudang harta para

hartawan atau bangsawan.

Setelah lewat tujuh tahun dan merasa bahwa dirinya sudah

dibekali ilmu-ilmu yang hebat, Pek Lan teringat akan

penghinaan yang pernah dideritanya di rumah keluarga Coawangwe

di kota Ye-ceng. Oleh karena itu, ia berpamit dari

subonya dan pergi ke kota itu, dengan maksud untuk

membalas semua penghinaan yang pernah diterimanya, tentu

saja berikut bunga-bunganya! Dan ketika ia tiba di kota Yeceng,

ia melihat tiga orang pemuda yang dijumpainya dalam

perjalaran. Tiga orang pemuda yang tampan, muda dan

jantan. Perhatiannya segera tercurah kepada mereka, dan

untuk sementara itu melupakan urusannya di Ye-ceng, sibuk

memikat tiga orang pemuda itu. Tidak sukar baginya untuk

menjatuhkan hati mereka, dengan kecantikannya dan

kemontokan tubuhnya. Segera ia membawa pemuda-pemuda

itu ke dalam kuil tua, di mana ia telah membuat sebuah kamar

yang indah dan selama tiga hari tiga malam ia berenang

dalam lautan kemesraan dan kenikmatan bersama mereka

sampai ia merasa agak bosan. Dan setelah bosan, baru ia

teringat kembali akan maksudnya semula datang ke kota Yeceng

itu.

Ketika tiga orang pemuda yang sudah tergila-gila kepada

wanita cantik itu membelai dan menciuminya, Pek Lan yang

semula merasa bosan lalu melepaskan diri dan duduk di atas

kursi, memandang kepada mereka bertiga sambil tertawa

cekikikan.

“Sudahlah, aku malam ini tidak dapat main-main dengan

kalian, karena mempunyai urusan penting. Kalian makan

minum yang kenyang, istirahat baik-baik dan malam nanti,

larut tengah malam, atau besok pagi-pagi, aku akan kembali

ke sini dan kalian harus bersiap-siap untuk kita bertanding

lagi….” Ia tertawa cekikikan seperti siluman dan tiga orang

pemuda itupun tertawa gembira. Mereka tidak perduli apakah

Pek Lan seorang manusia biasa, ataukah seorang dewi atau

seorang siluman! Yang jelas, wanita itu telah menyenangkan

hati mereka, memberi mereka kenikmatan yang selama hidup

mereka belum pernah mereka rasakan.

Setelah bermain-main dan bersendau-gurau dengan tiga

orang pemuda itu dan malam mulai gelap, Pek Lan

melepaskan diri lagi dari tangan-tangan mereka, lalu sekali

berkelebat iapun sudah lenyap dari dalam kamar itu! Tiga

orang pemuda itu hanya dapat merasa heran dan kagum.

Kalau sudah ditinggalkan begitu, ketiganya baru mulai merasa

ngeri dan seram, menduga-duga siapa gerangan wanita cantik

yang selama tiga hari tiga malam mengajak mereka berenang

dalam lautan asmara itu.

Tubuh Pek Lan lenyap berubah menjadi bayangan yang

gerakannya cepat sekali dan dalam waktu singkat, bayangan

telah berada di atas genteng rumah gedung keluarga Coa.

Kemudian, beberapa kali bayangan itu berkelebat dan

melayang turun, dan ia sudah berada di dalam gedung yang

amat luas itu. Di bawah sebuah lampu dinding di dekat taman,

ia berhenti dan memandang ke sekeliling sambil tersenyum.

Selama tujuh tahun ini, tidak banyak perubahan nampak di

rumah itu masih tetap mewah dan indah. Rumah yang amat

dikenalnya. Lalu ia mengingat-ingat. Ada tiga orang selir muda

dan cantik yang menjadi saingannya dan yang dulu

melaporkannya kepada Coa-wangwe. Di samping tiga orang

selir itu, juga terdapat dua orang pelayan pria dan seorang

tukang kebun pria. Sudah lama ia merencanakan cara ia

membalas dendam, dan kini ia tersenyum sendiri. Senyum itu

membuka sepasang bibirnya yang merah basah, dan

memperlihatkan kilatan giginya yang putih berderet rapi.

Cantik memang, akan tetapi juga mengerikan, karena

sepasang matanya mencorong dan wajah yang cantik itu

seperti wajah seorang siluman tulen!

Ia masih ingat di mana adanya kamar-kamar dari para selir

dan para pelayan itu. Dengan amat mudahnya, ia membuka

daun jendela sebuah kamar dan bagaikan seekor kucing saja,

ia melompat ke dalam. Ia membuka kelambu pembaringan

yang tertutup dan melihat seorang di antara musuhmusuhnya,

yaitu selir yang tinggi semampai, tidur nyenyak

seorang diri memeluk guling. Ia mengguncang pinggul wanita

itu yang segera membuka matanya dan terbelalak melihat

seorang wanita cantik yang asing di depan pembaringannya.

“Apa…. siapa kau….?” tanyanya gagap.

Pek Lan tersenyum manis. “Benarkah engkau sudah lupa

kepadaku? Ingat tujuh tahun yang lalu….”

“Pek Lan….! Kau…. Pek Lan….?” selir itu berseru kaget

akan tetapi pada saat itu, Pek Lan menggerakkan tangannya

dan selir itu terkulai lemas dan tak mampu mengeluarkan

suara. Matanya terbelalak ketakutan ketika Pek Lan

menariknya, memanggulnya dan membawanya melompat

keluar dari kamar melalui jendela yang daunnya ia tutupkan

kembali. Ia membawa tubuh selir itu ke dalam Pondok Merah,

yaitu sebuah bangunan mungil di tengah taman di mana

biasanya Hartawan Coa menghibur diri, mendengarkan

nyanyian dan melihat tarian yang dilakukan oleh para selirnya

atau rombongan penari yang diundangnya. Karena malam itu

Pondok Merah tidak dipergunakan, maka pintunya dikunci dari

luar. Namun, dengan mudah Pek Lan mendorongnya terbuka

dan ia membawa tubuh selir itu ke sebuah kamar di pondok

itu dan melemparkan tubuh itu ke atas pembaringan. Selir itu

hanya dapat terbelalak, tidak tahu apa yang akan terjadi

dengan dirinya, akan tetapi ia ngeri melihat pandang mata Pek

Lan yang mencorong seperti bukan mata manusia biasa itu!

Selir ke dua juga diseret ke dalam Pondok Merah dalam

keadaan tertotok, lumpuh dan tidak mampu mengeluarkan

suara oleh Pek Lan dan dilempar ke dalam kamar yang lain

dalam pondok.

Ketika ia memasuki kamar selir ke tiga yang menjadi

musuhnya, ternyata selir ini tidur dengan seorang anak

perempuan berusia kurang lebih dua tahun. Kiranya selir ini

telah mempunyai anak. Akan tetapi ia tidak perduli. Ia

menotok selir ini dan juga menotok anak kecil itu agar jangan

menangis dan menggagalkan rencananya, kemudian

membawa pula selir ke tiga ini ke dalam Pondok Merah.

Kebetulan pondok itu memiliki tiga buah kamar dan kini tiga

orang selir itu telah berada di dalam kamar-kamar itu.

Kini Pek Lan menuju ke deretan kamar para pelayan. Iapun

masih ingat di mana letak kamar dari para pelayan yang

dianggapnya musuh. Seorang di antara mereka sudah

mempunyai isteri yang juga bekerja di situ sebagai tukang

cuci. Ia tidak perduli, dan seperti yang dilakukan kepada para

selir tadi, iapun dengan mudah, seperti setan saja, memasuki

kamar pelayan dan menotok mereka, lalu menyeret mereka

menuju ke pondok di taman bunga. Isteri seorang di antara

tiga pelayan pria itupun ditotoknya sehingga tidak mampu

berkutik maupun berteriak. Pek Lan melempar-lemparkan tiga

orang pelayan prla itu ke atas pembaringan di dalam tiga buah

kamar. Mereka itu tumpang tindih di atas pembaringan tanpa

dapat berterak, juga mereka hanya terbelalak saja ketakutan

ketika Pek Lan merobek-robek pakaian mereka sehingga enam

orang di dalamtiga kamar itu semua menjadi telanjang bulat.

Setelah membiarkan tiga pasang manusia itu dalam

keadaan tanpa pakaian bertumpang tindih di atas

pembaringan, Pek Lan tersenyum girang. Di bawah sinar

lampu, wajahnya yang cantik manis itu nampak amat

menyeramkan, menyeringai sepertl iblis betina. Matanya

mencorong dan giginya berkilauan. Kemudian ia menyelinap

ke belakang rumah pondok itu dan membakar bagian

belakang rumah, lalu dipukulnya kentongan bambu membuat

gaduh.

Sebentar saja, semua penghuni rumah gedung hartawan

Coa menjadi gempar mendanger kentongan bertalu-talu dari

belakang itu. Mereka cepat memasuki taman dan menjadi

semakin geger melihat pondok di taman itu.

“Pondok Merah kebakaran!” demikian teriakan mereka dan

semua orang lalu berusaha memadankan api yang membakar

bagian belakang pondok itu dengan siraman air. Tiga pasang

orang yang berada di dalam tiga kamar itu tentu saja

mendengar semua keributan ini, namun mereka tidak mampu

bergerak dan hanya menanti dengan hati tegang.

Akhirnya api itu padam dan dipimpin oleh Coa-wangwe

sendiri, semua orang memasuki pondok mengadakan

pemeriksaan dan apa yang mereka dapatkan? Tiga pasang

orang yang saling tindih di atas pembaringan dalam tiga

kamar itu, tanpa pakaian sama sekali! Tentu saja keadaan

menjadi semakin geger. Semua orang tahu bahwa tiga orang

selir Coa-wangwe secara tak tahu malu sekali telah

mengadakan perjinaan dengan tiga orang pelayan pria dan

agaknya mereka demikian asyiknya sehingga mereka tidak

tahu bahwa pondok yang menjadi tempat pertemuan mereka

itu terbakar bagian belakangnya!

Ketika tiga pasang orang itu tidak mampu bergerak, hanya

memandang dengan ketakutan. Coa-wangwe tentu saja

menganggap mereka itu pura-pura atau tidak mampu

bergerak karena ketakutan. Dia tidak perduli dan menyuruh

para pelayan menyeret enam orang itu turun dari

pembaringan, lalu dalam keadaan masih telanjang bulat itu

mereka diberi hukuman masing-masing dua puluh kali

cambukan bagi para selir dan lima puluh kali cambukan bagi

para pelayan pria.

Kulit punggung dan pinggul mereka sampai pecah-pecah

berdarah. Setelah itu, mereka diusir, hanya membawa pakaian

mereka saja, bahkan selir yang sudah mempunyai anak, tidak

diperbolehkan membawa anaknya.

Setelah melampiaskan kemarahannya, marah bukan hanya

karena selir-selirnya menyeleweng dengan para pelayan,

melainkan karena nama baiknya tercemar dan seluruh

penduduk Ye-ceng pasti akan segera mendengar peristiwa

yang amat memalukan itu, Coa-wangwe memasuki kamarnya.

Dia tidak memperbolehkan isterinya atau selir lain

menemaninya karena dia ingin mengaso dan membiarkan

hawa amarah mereda.

Akan tetapi ketika dia memasuki kamarnya yang besar dan

mewah, menutupkan pintu karena dia tidak ingin diganggu,

dan membalik hendak menuju ke pembaringannya, dia

terbelalak dan mulutnya ternganga. Di atas pembaringannya

itu telah rebah seorang wanita yang luar biasa cantiknya.

Cantik manis, kulitnya yang putih mulus itu nampak karena

pakaiannya setengah terbuka. Sepasang mata yang

mengerling tajam, senyum yang semanis madu dan sikap

yang menantang!

“Kau…. kau…. Pek Lan?” Coa-wangwe berseru heran dan

juga terkejut. Biarpun wanita itu tidak semuda dulu lagi,

namun ia telah menjadi seorang wanita yang matang, jauh

lebih menarik daripada dulu ketika masih menjadi selirnya,

ketika masih berusia tujuh belas tahun! Pek Lan yang rebah di

pembaringannya, miring menghadap kepadanya itu adalah

seorang wanita yang matang dan merangsang!

Pek Lan tersenyum. Manis! “Aih, Coa-wangwe, engkau

masih ingat kepadaku? Sungguh menggembirakan!”

“Tentu saja aku masih ingat!” Hartawan itu mendekati

pembaringan, lalu duduk di tepi pembaringan. “Siang melam

aku ingat kepadamu, Pek Lan, wajahmu selalu terbayang dan

aku amat rindu kepadamu, sayang. Setelah engkau pergi,

barulah aku tahu betapa besar cintaku kepadamu….”

Tangan hartawan tua itu hendak meraih, akan tetapi wanita

itu mengelak. “Hemm, kalau memang benar engkau begitu

cinta kepadaku, kenapa tangkau mengusir aku? Sesungguhnya

anak angkatmu itulah yang kurang ajar! Aku dipaksanya dan

karena aku takut, dia itu anak angkatmu, terpaksa aku tidak

dapat membantah. Kenapa engkau tidak melihat kenyataan

itu? Engkau telah dihasut oleh tiga orang selirmu itu. Dan apa

buktinya sekarang? Merekalah yang berjina, bahkan dengan

para pelayan. Sungguh memalukan keluarga dan

mencemarkan nama dan kehormatanmu!”

Hartawan Coa menghela napas panjang. “Salahku, aku

begitu bodoh. Tapi, sekarang mereka telah kuhukum dan

kuusir. Dan engkau, Pek Lan…. engkau begini cantik jelita….

aih, kulitmu begitu mulus, engkau lebih cantik manis daripada

dahulu. Engkau kembali, sayang? Engkau akan kujadikan selir

pertama, bukan, akan kuangkat menjadi isteri yang sah!”

Kembali hartawan itu meraih. Ketika Pek Lan membiarkan dan

tangan hartawan itu menyentuh lengannya yang berkulit

lembut dan hangat, hartawan itu segera dirangsang nafsu

berahi. Akan tetapi ketika dia hendak merangkul, Pek Lan

melompat turun dari tempat tidur. Melihat wanita itu berdiri di

lantai, Coa-wangwe menjadi semakin kagum. Tubuh itu

demikian padat, menggiurkan, tidak lagi kekanak-kanakan

seperti dahulu!

“Pek Lan….!”

“Cukup! Turunlah dan jangan merengek seperti itu. Aku

datang bukan untuk itu. Aku tidak butuh cintamu, tidak butuh

laki-laki macam engkau yang sudah tua dan berperut gendut

berkepala botak itu!”

“Pek Lan….!”

“Dengar! Aku datang untuk menagih hutang! Engkau

pernah mengusirku, tanpa memberi bekal. Padahal, aku telah

menyerahkan diri kepadamu, menyerahkan kegadisanku dan

mandah saja menjadi barang permainanmu, menjadi pemuas

nafsumu. Sekarang, engkau harus membayar untuk itu

semua! Aku akan mengambil semua hartamu yang kausimpan

di dalam almari tebal ini!” Ia sudah hafal akan hal itu dan kini

ia menghampiri sebuah almari hitam yang berdiri di sudut.

Melihat dan mendengar ini, Coa-wangwe menjadi terkejut dan

lenyaplah sudah nafsu berahinya, seperti awan tipis ditiup

angin.

“Pek Lan, apa yang kaulakukan itu?” bentaknya marah.

Tentu saja dia tidak merasa takut kepada bekas selirnya itu.

Diapun melangkah lebar menghampiri Pek Lan dan

menjulurkan tgngan untuk menangkap lengan wanita itu agar

tidak menghampiri almari besi tempat hartanya tersimpan.

“Plakk! Dukk!” Dan hartawan Coa terjungkal. Lengannya

yang tertangkis seperti patah rasanya, dan perut yang

ditendang menjadi mulas.

“Aku datang hanya untuk mengambil hartamu, bukan

mengambil nyawamu!” kata Pek Lan. “Akan tetapi kalau aku

marah, nyawamu juga akan kuambil sekalian!”

Kini hartawan itu ketakutan dan dia lari ke arah pintu

kamar. Pek Lan tidak memperdulikan dan ia sudah membuka

almari tebal itu dengan mudah walaupun almari itu dikunci.

Begitu terbuka, nampaklah bahwa almari itu dipenuhi

perhiasan-perhiasan dari emas permata, juga bongkahbongkah

emas murni yang berkilauan.

“Tolong….! Perampok…., pembunuh….!” Coa-wangwe

yang sudah keluar dari kamar itu menjerit-jerit. Pek Lan tidak

perduli, enak-enak saja mengumpulkan emas dan perhiasan

itu ke dalam sebuah kantung kain yang memang sudah

dipersiapkan sebelumnya.

Lima orang jagoan yang menjadi tukang pukul, tukang

tagih dan penjaga keamanan keluarga hartawan itu sudah

dipanggil dari luar dan kini mereka berlima lari menuju ke

kamar itu. Begitu mereka tiba di ambang pintu kamar, mereka

bengong dan menoleh kepada Coa-wangwe. Di dalam kamar

itu hanya terdapat seorang wanita cantik, sama sekali tidak

nampak ada perampok. Bahkan wanita cantik itu memasukkan

emas dari dalam almari ke dalamsebuah kantung.

“Maaf, loya, di mana perampoknya?”

“Mana ada pembunuh?”

Coo-wangwe menuding ke arah Pek Lan. “Ia itulah

perampoknya! Lihat, ia mengambil semua hartaku, dan ia

telah memukulku!” Dia meringis kesakitan, mengelus perutnya

yang masih mulas.

Lima orang penjaga itu tentu saja menjadi bengong.

Wanita cantik itu perampoknya? Dan kini, seorang di antara

mereka yang paling lama bekerja di situ mengenal Pek Lan.

“Bukankah…. bukankah engkau nona Pek Lan….?”

Pek Lan yang masih sibuk memasuk-masukkan barang

berharga itu ke dalam kantung, menoleh dan tersenyum

manis. “Hemm, engkau masih mengenalku? Bagus, untuk itu

aku tidak akan membunuhmu!”

Coa-wangwe menjadi marah. “Untuk apa bercakap-cakap

dengan wanita iblis itu? Tangkap ia dan belenggu kaki

tangannya!”

Lima orang jagoan itu memasuki kamar dan mengepung

Pek Lan dengan setengah lingkaran.

“Nona Pek Lan, lebih baik kalau engkau menyerah saja dan

tidak melawan sehingga tidak perlu kami mempergunakan

kekerasan,” kata penjaga yang sudah mengenalnya itu. Dia

merasa sayang kalau harus mempergunakan kekerasan

terhadap wanita yang luar biasa cantik manisnya itu.

Kantung itu sudah penuh dan biarpun almari itu masih

belum terkuras semua, namun sebagian besar perhiasan yang

termahal sudah berpindah tempat. Pek Lan mengikat mulut

kantong dan dengan kain sutera yang sudah dibawanya,

digendongnya kantung yang cukup berat itu di punggung, lalu

ia menghadapi lima orang penjaga sambil tersenyum.

“Majulah dan turuti majikan kalian kalau kalian ingin

merasakan kematian!”

Tentu saja lima orang penjaga itu tidak takut. Ancaman itu

hanya keluar dari mulut seorang wanita cantik yang dahulunya

adalah selir majikan mereka! Seorang wanita muda cantik

yang lemah lembut dan berkulit halus mulus seperti itu, tentu

saja tidak menakutkan! Empat orang penjaga t idak sabar lagi

dan mereka memang sudah ingin sekali segera menangkap

dan merangkul wanita cantik itu, maka merekapun menyerbu

dan seperti hendak berebut dulu menerkam Pek Lan. Wanita

ini tersenyum, tubuhnya berkelebat, kaki tangannya bergerak

dan lima orang penjaga itupun terjengkang! Entah apa yang

dilakukan, tidak dapat dilihat oleh lima orang itu saking

cepatnya gerakan kaki tangan Pek Lan. Tahu-tahu lima orang

itu merasa dada atau perut mereka terpukul atau tertendang,

keras sekali, membuat mereka terjengkang. Coa-wangwe dan

para selir dan pelayan yang berada di luar kamar, mundur

ketakutan melihat betapa lima orang penjaga itu terjengkang

dan terbanting.

“Tangkap ia! Bunuh!” Coa-wangwe memberi semangat

kepada lima orang penjaganya yang sudah bangkit kembali.

Dia merasa khawatir sekali melihat betapa hampir semua

hartanya diambil oleh Pek Lan. Lima orang penjaga itu

menjadi malu sekali. Dalam segebrakan mereka telah

dirobohkan oleh seorang wanita muda yang cantik! Mereka

kini mencabut senjata golok dari pinggang dan dengan sikap

mengancam mereka mengepung lagi dari depan.

Melihat ini, Pek Lan tersenyum. “Kalau kalian berani

menyerangku dengan golok itu, kalian akan mampus!”

Akan tetapi, lima orang penjaga itu sudah terlalu marah

dan karena mereka memegang senjata, pula mereka berlima,

tentu saja mereka tidak gentar menghadapi Pek Lan yang

bertangan kosong, walaupun mereka tahu bahwa wanita itu

lihai sekali. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring,

merekapun menerjang, golok mereka gemerlapan tertimpa

sinar lampu dan lima batang golok sudah menyambarnyambar

ke arah Pek Lan.

Akan tetapi, dengan tenang sekali Pek Lan berloncatan.

Tubuhnya bagaikan berubah menjadi bayangan yang

menyelinap di antara gulungan sinar golok. Anehnya, tak

pernah ada golok yang mampu menyentuhnya. Tiba-tiba,

penjaga yang mengenal Pek Lan tadi mengaduh dan diapun

roboh, goloknya sudah berpindah ke tangan Pek Lan!

Empat orang penjaga lain mempercepat gerakan serangan

mereka. Akan tetapi, Pek Lan menggerakkan goloknya,

dengan gerakan memutar sehingga nampak sinar panjang

golok itu menyambar ke arah empat orang lawannya dan

terdengar mereka itu menjerit dan seorang demi seorang

roboh berkelojotan dengan leher hampir putus! Darah

bercucuran membanjiri lantai. Pek Lan memandang kepada

penjaga yang mengenalnya tadi, yang dirobohkannya dengan

tendangan dan dirampas goloknya dan iapun tersenyum.

“Aku sudah berjanji tidak akan membunuhmu!” katanya,

akan tetapi goloknya bergerak dan orang itupun menjerit

karena pundaknya terbacok golok sehingga terluka parah.

Akan tetapi, betapapun parahnya, dia tidak akan mati.

Pek Lan meloncat keluar kamar. Semua selir dan pelayan

lari ketakutan. Coa-wangwe juga melarikan diri, akan tetapi

suara halus terdengar membentak di belakangnya.

“Engkau hendak mencelakai aku, maka patut dihukum!”

Goloknya menyambar dan hartawan itu menjerit-jerit sambil

memegangi kepala dengan kedua tangan.

Dua buah daun telinganya telah buntung terbabat golok.

Pek Lan tertawa, membuang goloknya lalu melompat keluar,

menghilang dalam kegelapan malam.

Peristiwa itu tentu saja cepat sekali tersiar dan dalam

waktu beberapa hari saja, hampir seluruh penduduk koto Yeceng

telah mendengar akan perist iwa hebat yang menimpa

keluarga Coa. Bukan hanya orang suka sekali membicarakan

malapetaka yang menimpa keluarga Coa, juga membicarakan

aib yang mencemarkan nama dan kehormatan hartawan itu,

dan yang paling menggegerkan orang adalah berita tentang

Pek Lan yang kini menjadi seorang wanita cantik yang

memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan juga berwatak amat

kejam.

Peristiwa lain yang amat menggemparkan adalah

ditemukannya tiga orang pria muda yang sudah menjadi

mayat di dalam sebuah kuil tua. Mereka tewas dalam keadaan

yang amat aneh, yaitu berada di atas pembaringan di dalam

kuil tua itu, hampir tanpa pakaian, dan kepala mereka retak

seperti telah dipukul dengan benda keras. Tak seorangpun

menduga bahwa mereka ini, tiga orang pemuda tampan, juga

tewas di tangan Pek Lan, dan tangan lembut halus itulah yang

telah membikin retak kepala mereka dengan tamparan yang

amat ampuh! Pek Lan membunuh t iga orang muda itu karena

mereka itu dianggap akan dapat membocorkan rahasianya!

Maka muncullah di dunia kang-ouw seorang iblis betina

yang amat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari pada Hekin

Kui-bo, guru Pek Lan di waktu masih muda. Biarpun Hek-in

Kui-bo dahulu juga seorang wanita gila laki-laki, pengumbar

nafsu jahat, namun dibandingkan Pek Lan, ia masih kalah

sedikit. Pek Lan, di samping ilmu kepandaiannya yang tinggi,

dan perasaan bencinya kepada semua orang yang dianggap

merugikan, juga memiliki kecantikan yang amat menarik.

Dengan senjata ini, mudah saja baginya untuk menjatuhkan

hati setiap orang pria yang akan dijadikan korbannya.

Wanita itu memang manis. Seorang wanita petani yang

rajin. Agaknya karena sudah terbiasa bakerja keras di sawah

ladang, maka wanita itu memiliki tubuh yang padat dan sehat

kuat, pinggangnya ramping pinggulnya besar, tubuhnya tegak.

Biarpun kulit kaki tangan, leher dan mukanya agak kecoklatan

karena sinar matahari, namun coklat yang sehat dan kulit itu

tetap halus mulus. Wajahnya yang manis tidak berkurang

karenanya, bahkan nampak lebih manis karena mengandung

kewajaran tanpa alat rias. Usianya masih muda, paling banyak

dua puluh lina tahun.

Wanita petani ini sedang sibuk mencabuti rumput dan

tumbuh-tumbuhan liar di antara tanaman gandum. Ia

menggunakan caugkul atau kadang-kadang juga sebuah arit

dan ia bekerja dengan asyik sekali. Sungguh merupakan

penglihatan yang mengagumkan. Wanita itu kadang-kadang

membungkuk, dan kedua tangannya bergerak dengan

cekatan, bantuk tubuhnya indah ketika membungkuk dan

kadang juga berdiri tegak untuk membuang segenggam

rumput keluar ladangnya. Celana kakinya digulung sampai ke

lutut dan kaki itu terbenam ke tanah berlumpur sebatas betis,

sehingga kulit kaki antara betis dan lutut nampak putih mulus,

jauh berbeda dengan kulit tubuh yang terbuka dan terbakar

matahari.

Wanita itu bekerja dengan sangat tekun dan asyik sehingga

iapun sama sekali tidak melihat bahwa seorang pria yang

tadinya berjalan di jalan raya tak jauh dari ladangnya, kini

berhenti dan sampai lama orang itu memandang kepadanya

dengan kagum. Pria itu adalah seorang pemuda yang mudah

sekali dikenal, karena punggungnya bongkok, di bawah

tengkuk terdapat sebuah daging menonjol besar. Dia adalah

Sie Liong!

Setelah beberapa saat seperti terpesona menyaksikan

pemandangan indah itu, bukan hanya kemanisan wanita

petani, melainkan keseluruhan tamasya alam yang

melatarbelakangi bentuk tubuh wanita itu, Sie Liong sadar

bahwa amat t idak sopan kalau memandangi seorang wanita

seperti itu. Akan tetapi, pemandangan itu amat indah

sehingga seolah-olah menahannya untuk tinggal lebih lama di

tempat sunyi itu. Latar belakang ladang itu merupakan

pegunungan yang hijau dan ladang di belakang wanita itu

amat luasnya, juga kehijauan dengan tanaman gandum.

Sunyi. Hanya di kejauhan nampak beberapa orang wanita atau

pria yang juga membersihkan ladang mereka seperti yang

dilakukan wanita itu. Hawa udara amat segar, matahari amat

cerah, dan duduk di bawah lindungan pohon besar itu

sungguh teduh dan nyaman. Sie Liong duduk di bawah pohon

di tepi jalan, dan kesunyian itu membuat dia melamun.

Terkenanglah dia kepada semua peristiwa yang menimpa

dirinya, yang baru lalu.

Terkenang dia akan kunjungannya kepada encinya,

pertemuannya dengan encinya, cihu-nya, kemudian dengan

Yauw Bi Sian. Kemudian betapa cihu-nya yang kini berubah

sama sekali wataknya itu dibunuh orang, dan menurut Bi Sian,

pembunuhnya adalah dia! Padahal, dia sama sekali tidak

melakukan perbuatan itu! Bahkan encinya sendiripun

menyangka dia yang menjadi pembunuh untuk membalas

dendam kematian orang tuanya. Kiranya cihu-nya itu yang

telah membunuh ayah dan ibunya, juga suhengnya dan

seorang pelayan, juga semua binatang peliharaan orang

tuanya. Jelaslah bahwa cihu-nya itu mendendam kepada

orang tuanya, amat membenci orang tuanya. Dia sendiripun

tentu telah dibunuh cihu-nya itu kalau tidak ada encinya, Sie

Lan Hong.

“Enci Hong, sungguh kasihan engkau….” Sampai di sini Sie

Liong mengeluh dalam hatinya. Dia dapat membayangkan

betapa sengsara keadaan encinya ketika pembunuhan atas

keluarga mereka itu terjadi! Untuk menyelamatkan dirinya,

seorang adik yang ketika itu masih kecil, baru berusia sepuluh

bulan, maka encinya itu telah mengorbankan dirinya! Ia

menyerahkan dirinya kepada si pembunuh kejam itu, demi

menyelamatkan diri adiknya. Dan akhirnya, encinya itu bahkan

menjadi isteri pembunuh. Mereka saling mencinta! Dan diapun

selamat, tidak ikut dibunuh!

Tidaklah aneh kalau encinya menuduh dia yang telah

membunuh Yauw Sun Kok. Bukankah sudah sepatutnya kalau

dia membunuh orang yang telah membasmi keluarga orang

tuanya itu? Apalagi di sana ada Bi Sian yang dengan sungguh

mengatakan bahwa gadis itu telah melihat dia pada malam

pembunuhan terjadi. Melihat dia, bongkoknya, bertopeng dan

kemudidn topeng itu ditemukan pula oleh Bi Sian, di luar

kamarnya.

Sungguh aneh sekali! Siapa yang membunuh Yauw Sun

Kok? Dan mengapa pula pembunuh itu agaknya menyamar

sebagai dirinya, untuk menjatuhkan fitnah kepadanya?

Padahal, dia tidak pernah mempunyai musuh di kota Sung-jan,

kecuali…. cihunya, tentu saja.

Tadinya dia merasa penasaran dan hendak melakukan

penyelidikan untuk dapat membongkar rahasia pembunuhan

itu, untuk membukt ikan bahwa dia bukan pembunuhnya. Akan

tetapi kemudian ketika dia menemui encinya, Sie Lan Hong,

encinya itu membuka rahasia yang selama itu dipedamnya,

yaitu bahwa cihu-nya itulah orang yang telah membunuh ayah

dan ibunya. Tentu saja dia terkejut bukan main, dan

mendengar bahwa cihu-nya sejahat itu, diapun kehilangan

semangat untuk mencari pembunuh cihu-nya. Biarlah dia

dibunuh orang, memang itu setimpal dengan kejahatannya.

Dan diapun tahu bahwa Bi Sian amat membencinya, sakit hati

kepadanya. Kalau dia tidak cepat-cepat melarikan diri, tentu

gadis itu akan menyerangnya dan memaksanya mengadu

nyawa. Dan dia sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi.

Dia cinta Bi Sian! Dia telah jatuh cinta kepada gadis itu,

kepada keponakannya sendiri! Bahkan dia telah mencintanya

sejak mereka masih sama-sama kecil. Kenyataan inilah yang

membuat hati pemuda bongkok itu merasa lebih ngeri lagi,

maka diapun melarikann diri, menjauhkan diri seperti orang

ketakutan.

Sie Liong menghela napas ketika lamunannya membawa

dia teringat kepada Bi Sian. Wajah yang manis dan jenaka itu

terbayang di depan matanya, dan dia pun tersenyum. Segala

yang ada pada Bi Sian menyenangkan hatinya, mendatangkan

perasaan gembira. Dia harus pergi jauh. Dia akan pergi ke

Tibet, untuk memenuhi pesan para gurunya, yaitu melakukan

penyelidikan tentang Lima Harimau Tibet yang mengaku

sebagai utusan Dalai Lama dan yang berusaha keras untuk

membasmi para pendeta, terutama para tosu yang melarikan

diri dari Himalaya, seperti Himalaya Sam Lojin yang menjadi

gurunya, juga Pek-sim Sian-su, supek dan gurunya yang juga

menjadi gurunya sendiri. Dia harus dapat menunaikan

kewajiban ini dengan berhasil, mampu menjernihkan suasana

dan mencari sebab yang mendorong para pendeta Lama di

Tibet memusuhi para tosu di Himalaya. Memang merupakan

pekerjaan yang besar dan amat sukar, bahkan amat

berbahaya, namun dia sudah mengambil keputusan untuk

melaksanakan tugas itu sampai berhasil atau dia boleh

mempertaruhkan nyawanya. Semua itu tidak ada artinya kalau

dibandingkan dengan budi besar yang telah diterimanya dari

para gurunya. Kalau tidak ada mereka, dia hanyalah seorang

pemuda bongkok yang tidak berdaya dan tidak ada

manfaatnya, tidak ada artinya hidup di dunia, hanya menjadi

bahan cemoohan belaka.

Alangkah cantiknya wanita petani itu, pikirnya. Dan

alangkah bahagianya orang yang menjadi suaminya. Pasti ia

sudah bersuami, pikirnya. Mengapa wanita itu bekerja seorang

diri? Mana suaminya? Betapa akan menyenangkan hati kalau

suaminya juga ikut pula bekerja. Pekerjaan akan terasa

ringan. Ah, betapa bahagianya wanita itu dan suaminya! Sie

Liong meraza heran mengapa hal-hal yang sekecil ini

membuat dia membuka mata bahwa kebahagiaan sebenarnya

berada dalam diri apa saja, setiap orang dapat menikmati

kebahagiaan hidupnya apabila dia tidak memikirkan hal-hal

lain, tidak menginginkan hal-hal lain. Apabila orang menyadari

betapa berlimpahnya kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih,

apabila dia menyerahkan segalanya kepada Tuhan, maka akan

naspak bahwa hidup ini sesungguhnya merupakan nikmat

pemberian dan anugerah Tuhan yang tak terlukiskan

besarnya. Babkan bernapaspun mendatangkan kenikmatan

dan kebahagiaan, belum lagi makan, minum dan segala

kegiatan lain. Duduk melamun di bawah pohon itupun

mengandung kenikmatan tersendiri!

“Ya Tuhan, terima kasih atas segala rahmat-Mu….” Sie

Liong berbisik dan wajahnya kini cerah sekali, senyum

menghias bibirnya. Pada saat itu, lupalah dia akan segala hal,

akan encinya, Bi Sian, pembunuhan atas diri cihu-nya, bahkan

dia lupa akan bongkoknya! Semua begitu indah kalau pikiran

tidak dikacaukan oleh ingatan akan hal-hal yang dianggap

tidak menguntungkan dan tidak menyenangkan “aku”.

Akan tetapi, tiba-tiba perhatiannya tertarik kepada tujuh

orang yang datang dari jauh menuju ke tempat itu. Mereka itu

tujuh orang laki-laki yang agaknya hendak pergi ke dusun

para petani, dan melihat sikap mereka, diam-diam Sie Liong

mengerutkan alisnya. Mereka itu jelas bukan petani. Cara

mereka berjalan melenggang, pakaian dan sikap mereka,

bahkan melihat gagang golok dan pedang tersembul di balik

pundak mereka. Jelas bahwa mereka itu adalah golongan

orang-orang persilatan, atau orang kang-ouw. Mungkinkah

ada orang-orang kang-ouw tinggal di dusun itu? Ataukah

mereka itu pendatang dari luar?

Kekhawatirannya terbukti ketika dia melihat beberapa

orang petani, laki-laki dan perempuan, melarikan diri

meninggalkan sawah ladang mereka. Semua petani yang tadi

bekerja di ladang, melarikan diri begitu melihat tujuh orang

laki-laki itu. Kecuali wanita yang tadi membangkitkan

kekaguman hati Sie Liong. Ia sedang asyik mencabuti rumput,

dengan membungkuk membelakangi jalan sehingga ia tidak

melihat kedatangan tujuh orang laki-laki itu.

Sie Liong siap siaga, akan tetapi dia masih duduk di bawah

pohon. Dengan duduk seperti itu, dia memang agak

terserabunyi oleh semak alang-alang yang tumbuh di tepi

selokan dekat ladang. Namun, dia memandang penuh

perhatian. Kini, tidak ada lagi petani yang bakerja di ladang

yang luas itu kecuali wanita tadi.

Tepat seperti yang dikhawatirkan, tujuh orang laki-laki itu

berhenti melangkah ketika tiba di dekat ladang di mana wanita

itu masih bekerja. Wanita itu menungging dengan pinggul ke

arah mereka, tidak menyadari bahwa cara ia berdiri dan

bekerja ini seolah memamerkan pinggulnya yang bulat dan

besar itu, tidak tahu bahwa ada tujuh orang kasar sedang

menikmati pandangan yang mengagumkan mereka itu. Dan

seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok dan

agaknya menjadi pemimpin mereka, tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, sungguh indah sekali tubuh itu! Coba kulihat

bagaimana wajahnya!”

Dia mengambil sebuah batu dan melempar batu itu dengan

keras ke arah tanah lumpur dekat wanita itu. Air lumpur

memercik dan mengotori paknian wanita itu yang agaknya

baru sadar dan iapun cepat meluruskan tubuh, membalikkan

kepala memandang. Matanya terbelalak dan mulutnya

ternganga ketika ia melihat tujuh orang itu. Ia menoleh ke

kanan kiri dan baru sekarang ia tidak melihat adanya mereka

yang tadi bekerja di ladang. Wanita itu kini terbelalak,

mukanya pucat sekali dan matanya mengingatkan Sie Liong

kepada mata seekor kelinci kalau ditangkapnya. Liar

ketakutan!

“Ha-ha-ha, cantik! Manis sekali, dan perempuan dusun

tentu sehat dan segar, ha-ha-ha!” Si brewok itu dengan

langkah lebar lalu menghampiri tepi ladang, berdiri di tepi

sambil menjulurkan tangan ke arah wanita itu.

“Manis, ke sinilah dan bersihkan kaki tanganmu. Mari

engkau ikut dengan kami, ha-ha-ha!”

Wanita itu agaknya, seperti para petani lainnya, sudah tahu

siapa adanya tujuh orang laki-laki itu. Dengan tubuh menggigil

dan muka pucat ia hanya menggeleng kepala tanda ia tidak

mau, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulut yang

gemetar itu.

“Ahh, manis, jangan malu-malu. Nanti kalau kami

mendapatkan sumbangan yang cukup banyak dari dusundusun,

tentu aku tidak akan melupakanmu dan akan memberi

hadiah yang besar kepadamu. Hayolah, senangkan dan hibur

hati kami yang sedang kesepian ini, manis. Ha-ha-ha!” Enam

orang lainnya yang menunggu di tepi jalan ikut pula tertawa.

Mereka semua senang melihat wanita petani yang berwajah

manis dan bertubuh padat itu.

Wanita itu tidak berani berkutik, berdiri menggigil dan terus

saja menggeleng kepala tanda bahwa ia tidak sudi memenuhi

permintaan si brewok itu.

Si brewok kini membelalakkan matanya lebar-lebar. “Apa?

Engkau berani menolak perintah Tiat-jiauw Jit-eng (Tujuh

Garuda Bercakar Besi)?” Dia memukulkan kepalan kanannya

pada telapak tangan kiri sehingga mengeluarkan bunyi keras.

“Apa engkau sudah bosan hidup dan memilih mampus?

Sebelum mampus pun kau tidak akan lepas dari tangan kami!

Apa kau lebih suka diperkosa sampai mati daripada melayani

kami dangan manis?”

Wanita itu menjadi semakin pucat dan tiba-tiba kakinya

yang menggigil tidak manpu lagi menahan tubuhnya. Ia jatuh

berlutut di atas lumpur! Dan ia memberi hormat kepada si

brewok itu.

“Ampunkan saya…. saya sudah bersuami…., ampunkan

saya….”

“Ha-ha-ha, lebih baik lagi! Kalau engkau sudah bersuami,

lalu apa sukarnya melayani kami? Hayo, ke sinilah!” Si brewok

kembali menjulurkan tangannya ke arah wanita itu.

“Tidak…. tidak…. tidak!” Wanita itu menjerit histeris lalu

menangis.

Marahlah si brewok. Agaknya dia tidak mau turun ke

lumpur karena sepatunya masih baru. Dia menengok dan

memerintahkan anak buahnya. “Turun dan seret ia ke mari!”

Seorang di antara mereka, yang termuda, berusia kurang

lebih tiga puluh lima tahun sedangkan yang lain antara empat

puluh lima tahun, segera melangkah maju dengan sikap

gagah. Orang ini mukanya kecil sempit dan panjang,

kepucatan seperti orang berpenyakitan, matanya sipit dan

hidungnya pesek. Dia menyeringai ketika dia turun ke ladang

menghampiri wanita itu yang bangkit berdiri dan mencoba

untuk melarikan diri menjauhi orang itu. Ia adalah seorang

wanita, akan tetapi sejak kecil ia bekerja di sawah ladang.

Tubuhnya kuat sekali dan ia sudah terbiasa di lumpur, maka ia

dapat berlari cepat. Berbeda dengan laki-laki yang

mengejarnya. Biarpun dia seorang kasar yang memiliki

kekuatan dan kepandaian, akan tetapi belum pernah dia

berjalan di dalam lumpur, apalagi dia bersepatu, tidak seperti

wanita petani itu yang bertelanjang kaki. Maka, sukarlah

baginya untuk menangkap wanita itu! Kawan-kawannya

menjadi gembira dan merekapun mengepung ladang itu,

menghadang wanita yang hendak melarikan diri.

Wanita itu menjadi semakin ketakutan. Hanya pinggir yang

dihalangi solokan itulah yang tidak dihadang penjahat, maka

iapun lari ke situ dan meloncat ke dalam solokan, terus

mendaki, dikejar oleh tujuh orang itu yang tertawa-tawa dan

membuat gerakan menakut-nakuti. Mereka itu memperoleh

hiburan, seperti tujuh ekor kucing mempermainkan seekor

tikus sebelum menerkan dan mengganyangnya. Kebetulan

sekali wanita itu melihat Sie Liong yang duduk di bawah

pohon, maka iapun lari ke arah pohon itu, lalu menubruk Sie

Liong yang masih duduk bersila. Sie Liong merasa betapa

wanita itu merangkulnya, dan karena pakaian wanita itu

penuh lumpur, maka pakaiannya sendiripun terkena lumpur.

Dia merasa betapa dada yang menempel pada pundaknya itu

berdebar dan bergelombang, dan betapa napas itu terengahengah.

“Tolonglah…. tolonglah saya…. aduh, lebih baik saya mati

daripada tertawan mereka…. tolonglah saya….”

“Enci yang baik, tenanglah dan duduklah di belakangku.

Biar aku yang akan menghadapi mereka.” kata Sie Liong.

Kini tujuh orang itu sudah tiba di bawah pohon. Si brewok

marah sekali melihat wanita itu berlutut di belakang seorang

laki-laki yang duduk barsila. Dia tidak perduli apakah pria itu

suami si wanita. Baginya, tidak perduli wanita itu bersuami

atau tidak, kalau sudah dikehendakinya, harus diserahkan

kepadanya!

“Heiii, siapa engkau?”

Mendengar bentakan yang nadanya amat congkak ini, Sie

Liong lalu bangkit berdiri. “Namaku Sie Liong. Aku melihat

betapa kalian mengganggu wanita ini. Apakah kalian tidak

malu? Kalian ini tujuh orang laki-laki pengecut yang suka

mengganggu wanita yang tak berdaya. Pergilah kalian dari sini

sebelum aku muak melihat tingkah kalian yang tidak senonoh

seperti binatang itu!” Sie Liong memang marah sekali melihat

perbuatan mereka tadi.

Tujuh orang itu terbelalak. Keheranan melampaui

kemarahan mereka sehingga mereka saling pandang. Ada

seorang pemuda biasa, bongkok pula, berani bicara seperti itu

kepada mereka? Sungguh aneh, aneh sekali sehingga mereka

lupa akan kemarahan mereka, bahkan mereka mulai tertawatawa.

“Heh-heh, apakah engkau seorang pendekar?” tanya si

brewok untuk mengejek.

“Seorang pendekar yang bongkok! Pendekar Bongkok! Haha-

ha!”

“Awas kau, Pendekar Bongkok. Kupenggal punukmu untuk

kubuat menjadi punuk panggang, baru tahu rasa kau!”

Si brewok melangkah maju selangkah. “Hei, Sie Liong,

apakah engkau sudah buta, ataukah memang tuli? Andaikata

engkau tidak mengenal kami, tentu sudah mendengar akan

nama besar Tiat-jiauw Jit-eng!”

Sie Liong tersenyum. “Tujuh Garuda Cakar Besi atau Tujuh

Garuda Cakar Tahu aku tidak perduli.”

“Wah, pemuda bongkok ini memang sudah bosan hidup!”

kata si brewok sambil memberi isarat kepada anak buahnya

yang termuda, yang tadi mengejar-ngejar wanita itu tanpa

hasil. Si mata sipit hidung pesek ini, yang tadi merasa

penasaran dan rugi karena tidak mampu menerkam si manis,

kini melangkah maju, lenggangnya dibuat-buat seperti

seorang jagoan aseli yang tidak pernah terkalahkan. Dia

melenggang seperti layangan yang tak seimbang, condang ke

kanan dan ke kiri, kepalanya ditegakkan, dadanya

dibusungkan. Akan tetapi, karena dadanya memang tipis dan

perutnya besar, maka yang menjadi busung bukan dadanya

melainkan perutnya!

“Heiii, orang muda yang tolol! Engkau ini masih muda,

lemah dan bongkok pula, apa engkau tidak tahu diri? Engkau

berani menentang kami, hanya untuk membela seorang

perempuan dusun? Apamukah perempuan itu?” tanyanya dan

suaranya dibesar-besarkan agar berwibawa, akan tetapi

karena suaranya memang kecil parau seperti suara seorang

penderita batuk kering, maka tetap saja suara yang keluar

sama sekali tidak berwibawa, malah lucu.

Biarpun di dalam hatinya Sie Liong merasa marah sekali,

namun dia tetap tenang dan sabar. “Enci ini adalah kerabat

yang paling dekat karena ia termasuk orang yang lemah

tertindas, membutuhkan bantuan. Dan kalian adalah orangorang

jahat, manusia-manusia berwatak iblis yang patut

ditentang!”

Si mata sipit hidung pesek mengerutkan alisnya dan

membentak marah.

“Wahhh, engkau ini pemuda kurang ajar, aku yang akan

menghajarmu, kusiksa sampai mampus!” Setelah berkata

demikian, diapun menyerang. Biarpun tubuhnya kerempeng

dan dia kelihatan berpenyakitan, ternyata si mata sipit hidung

pesek ini mampu bergerak dengan cepat sekali dan sambaran

tangan kanannya ketika menjotos ke arah muka Sie Liong

mengandung tenaga yang terlatih.

“Wuuuuuttt….!” Tonjokan dengan tangan terkepal itu

menyambar ke arah pipi kiri Sie Liong. Akan tetapi pemuda

bongkok ini tenang saja, seolah-olah tidak tahu bahwa dia

diserang dengan tonjokan yang akan dapat membuat pipinya

bengkak dan giginya rontok! Baru setelah kepalan itu hanya

terpisah satu sentimeter saja dari pipinya, secepat kilat dia

menarik kepala ke belakang, tangan kiri menyambar,

menangkap lengan kanan lawan dan diapun mendorong,

menambahkan tenaga dorongan pukulan itu dengan

tenaganya sendiri sehingga kepalan kanan si sipit pesek itu

meluncur terus dan melingkar ke arah pipi kirinya sendiri.

“Desss…! Aughhhh….!” Beberapa buah gigi berlompatan

keluar dari mulutnya yang terbuka, dan hidungnya berdarah

karena kepalan tangan kanannya tadi dengan kuat sekali telah

menghantam ke arah mukanya sendiri!

“Auhh…. auhh…. auhhh….!” Dia mengerang kesakitan,

tidak mampu berkata “aduh” karena mulutnya terasa seperti

remuk. Dia membungkuk-bungkuk dan kedua tangan dengan

sibuknya memegang-megang dan meraba-raba mulut dan

hidung.

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar

seperti raksasa, mukanya hitam dan kulit muka itu kaku

seperti punggung buaya, agaknya muka itu memang rusak

oleh penyakit kulit yang hebat. Di antara tujuh orang

gerombolan itu, dia terkenal sebagai seorang yang memiliki

tenaga besar, dan juga wataknya amat sombong karena

memang sulit mencari orang yang mampu mengalahkan

raksasa muka hitam ini. Agaknya dia masih terlalu

mengandalkan kehebatan diri sendiri sehingga melihat Sie

Liong mengalahkan kawannya, dia masih juga memandang

rendah pemuda bongkok itu dan agaknya dia menganggap

bahwa kekalahan si mata sipit hidung pesek itu tadi hanya

karena kebodohannya sendiri, bukan karena kelihaian pemuda

bongkok. Bahkan dia merasa terlalu tinggi untuk berkelahi

melawan seorang pemuda bongkok, maka dia ingin

mengalahkan pemuda itu dengan wibawanya saja.

“Heii, bocah ingusan! Lekas engkau berlutut dan

memanggil engkong (kakek) kepadaku, baru aku akan

mengampunimu! Cepat….!” Sepasang matanya yang hitam

dan mencorong itu melotot galak.

“Engkongku sudah mat i, dan seingatku, dia tidak seburuk

engkau.” kata Sie Liong dengan sikap tenang.

“Kalau begitu, aku akan memaksamu berlutut!” bentak si

raksasa muka hitan dan diapun sudah menyerang dengan

kedua tangannya mencengkeram ke arah kepala dan dada Sie

Liong. Ketika pemuda ini menarik diri ke belakang, tiba-tiba

kaki kanan raksasa itu menendang ke arah lututnya. Kalau

sasaran tendangan itu terkena, tentu Sie Liong akan benarbenar

diharuskan berlutut karena tendangan itu kuat bukan

main. Namun, tentu saja Sie Liong yang tingkat

kepandaiannya jauh lebih t inggi, dapat melihat gerakan

serangan ini dengan jelas, maka mudah saja baginya untuk

mendahului lawan. Sebelum kaki yang menendang itu sampai

ke tubuhnya, dia merendahkan diri, menggeser kaki ke kiri

dan dari samping tangannya monotok ke arah lutut kanan itu.

“Tukkk!” Seketika kaki yang besar itu terasa lumpuh dan

tanpa dapat dicegah lagi raksana muka hitam itu jatuh

berlutut di atas kaki kanan dan kebetulan dia jatuh berlutut di

depan Sie Liong! Pemuda itu tersenyum dan berkata dengan

suara mengejek.

“Aku bukan engkongmu, tidak perlu engkau berlutut

memberi hormat!”

Tentu saja ucapannya ini membuat raksas muka hitam itu

menjadi marah sekali. Dia melompat berdiri, akan tetapi

kembali terguling karena kakinya masih terasa lumpuh.

Melihat ini, kawan-kawannya menjadi marah akan tetapi

sekaligus maklum bahwa pemuda bongkok itu benar-benar

seorang pendekar yang amat lihai! Maka, tanpa banyak cakap

lagi mereka mencabut senjata golok atau pedang dari

punggung mereka dan di lain saat, Sie Liong telah dikepung

tujuh orang yang memegang senjata tajam. Melihat ini, wanita

itu menangis ketakutan.

“Jangan bunuh dia…. ahh, jangan bunuh dia yang tidak

berdosa….” ratapnya sambil menangis.

Mendengar ini, si brewok tertawa, “Ha-ha-ha, jadi engkau

mau ikut denganku secara sukarela kalau kami lepaskan bocah

bongkok ini?”

“Tidak, tidak…. kalian bunuhlah aku, akan tetapi…. jangan

bunuh dia yang tidak berdosa….”

“Enci, tenanglah. Mereka tidak akan mampu membunuhku

atau membunuhmu!” kata Sie Liong kepada wanita itu,

hatinya terasa gembira sekali karena ternyata wanita dusun

yang ditolongnya itu adalah seorang wanita yang hebat!

Berani mengorbankan nyawa untuk mempertahankan

kehormatan, juga amat baik budi sehingga tidak tega melihat

dia dikepung dan diancambunuh oleh para penjahat itu.

Kini tujuh orang penjahat itu sudah menggerakkan senjata

mereka dan serentak mereka menyerang. Namun, baru

mereka menyerang dua tiga jurus tubuh pemuda bongkok itu

sudah lenyap, berubah menjadi bayangan yang dengan

cepatnya menyelinap di antara sambaran senjata mereka.

Mereka merasa terkejut, akan tetapi juga penasaran dan

mereka terus mengarahkan senjata mereka, menyerang

bayangan yang amat gesit itu. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan

itu lenyap dan tahu-tahu pemuda bongkok itu sudah

menyerang dari atas, bagaikan seekor naga dari angkasa saja!

Dan sekali kaki tangannya bergerak, empat orang jatuh

tersungkur seperti disambar petir dari atas! Tiga orang

penjahat lainnya terkejut sekali, namun merekapun hanya

diberi kesempatan untuk bengong sejenak karena tiba-tiba

saja merekapun terjungkal roboh oleh tamparan tamparan

tangan Sie Liong yang ampuh bukan main itu.

Tujuh orang itu baru sekarang merasa jerih. Mereka

bertujuh, yang memegang senjata, roboh dalam beberapa

gebrakan saja melawan pemuda bongkok itu! Tamparan yang

hanya sekali itu saja sudah membuat mereka roboh dan

bagian badan yang dipukul terasa seperti remuk! Si brewok,

pimpinan mereka dan merupakan orang yang paling tangguh,

dapat lebih dulu bangkit dan dia sudah siap untuk melarikan

diri meninggalkan teman-temannya. Akan tetapi dengan

beberapa langkah saja, Sie Liong sudah dapat menangkap

pundaknya. Tekanan tangan Sie Liong pada pundak itu

membuat si brewok menggigil saking nyerinya dan diapun

jatuh berlutut. Pundak yang dicengkeram pemuda bongkok itu

seperti dibakar atau dicengkeram kaitan baja membara saja,

panas dan perih, nyeri sekali, terasa menusuk-nusuk sampai

ke tulang.

“Ampun, taihiap…. ampun, saya mengaku kalah!”

“Hemm, aku tidak membutuhkan pengakuan kalah darimu!

Aku tidak membutuhkan kemenangan. Akan tetapi aku minta

agar kalian suka sadar dari kelakuan jahat kalian dan

bertobat!”

“Ampun, taihiap,…. saya bertobat….!”

“Hemm, siapa percaya omongan orang jahat macam

engkau?”

“Saya bersumpah takkan melakukan kejahatan lagi, taihiap,

akan tetapi saya akan bekerja seperti dahulu, yaitu memburu

binatang hutan. Dahulunya kami adalah pemburu-pemburu,

karena tertarik penghasilan besar lalu mulai merampok orang

yang lewat di hutan….”

“Benar, engkau bertobat dan hendak kembali ke jalan

benar?” tanya Sie Liong. “Aku tetap tidak percaya kalau

engkau dan teman-temanmu tidak memperlihatkan buktinya.

Sumpah mulut saja tidak ada artinya.” Dia lalu menggertak,

“Atau aku akan membiarkan kalian mati tersiksa dengan

memberi pukulan mematikan?”

Kini dia melepaskan cengkeramannya dan seketika si

brewok tidak merasa nyeri lagi. Dia makin yakin bahwa

pendekar muda yang bongkok itu betul-betul lihai.

“Taihiap, kami bersumpah dan inilah buktinya!” Dia

menyambar goloknya yang tadi terlempar, membuka sepatu

kirinya dan sekali bacok, lima buah jari kaki kirinya buntung!

Darah mengalir deras dari kaki yang buntung jari-jarinya itu.

Diam-diam Sie Liong terkejut, akan tetapi juga girang karena

dia maklum bahwa si brewok itu bersungguh-sungguh!

“Hayo kalian buntungi jari kaki kiri masing-masing seperti

aku, siapa yang tidak mau, aku yang akan membuntunginya

sendiri. Mulai saat ini, kita tidak akan merampok manusia lagi,

melainkan memburu binatang seperti dulu lagi!”

Enam orang anak buahnya melihat bahwa pimpinan

mereka sungguh-sungguh dan merekapun jerih terhadap

Pendekar Bongkok, demikian mereka menyebut Sie Liong,

maka merekapun mengambil senjata masing-masing yang tadi

terlempar, lalu membabat buntung jari kaki kiri mereka.

Melihat ini, wanita dusun itu menutupi muka karena merasa

ngeri.

Sie Liong lalu menghampiri mereka seorang demi seorang,

menotok kaki kiri mereka di atas bagian yang terluka,

mengeluarkan obat bubuk putih yang ditaburkan pada luka di

kaki. Seketika, tujuh orang itu merasa betapa kenyerian jari

yang dibuntungi itu lenyap, dan luka-luka itupun cepat

menjadi kering. Mereka menjadi semakin kagum. Kiranya

Pendekar Bongkok ini selain amat lihai ilmu silatnya, juga

pandai ilmu pengobatan. Hal ini sebetulnya tidaklah

mengherankan kalau diketahui bahwa seorang di antara

orang-orang sakti yang menggembleng Sie Liong adalah Peksim

Sian-su, seorang sakti yang pandai dalam ilmu

pengobatan pula.

“Ingat akan sumpahmu sendiri,” kata Sie Liong ketika

mereka semua sudah berdiri dan siap untuk pergi. “Kalau

kelak kalian tetap menjadi penjahat dan mengganggu orang

lain, dan aku mendengarnya, pasti akan kucari kalian sampai

dapat dan bukan hanya jari kaki kalian saja yang harus

dipotong. Selain itu, aku akan membangkitkan semangat para

penduduk dusun agar mereka bersatu padu dan hendak

kulihat, kalau ratusan orang dusun itu bersatu padu melawan

kalian, apa yang dapat kalian lakukan terhadap mereka!”

Diam-diam si brewok dan teman-temannya merasa ngeri.

Bukan saja mereka ngeri terhadap kesaktian Pendekar

Bongkok, akan tetapi juga ngeri kalau benar penduduk dusun

sampai bangkit menentang mereka, maka tentu mereka akan

dikeroyok ratusan orang dan akan dihancur lumatkan oleh

mereka yang mendendam kepada mereka. Kalau biasanya

mereka itu dapat merajalela adalah karena mereka menang

gertakan dan para penduduk dusun itu belum apa-apa sudah

ketakutan lebih dulu, melarikan diri bersembunyi daripada

melakukan perlawanan berpadu.

Tujuh orang itu, dipimpin oleh Si Brewok, menghaturkan

terima kasih kepada Sie Liong, kemudian mereka pergi

meninggalkan tempat itu, tidak jadi mengganggu wanita

petani atau dusun di dekat ladang itu. Setelah mereka pergi,

Sie Liong menghampiri wanita dusun itu dan dengan senyum

kagum dia berkata sambil berlutut di dekat wanita yang masih

duduk di atas rumput dengan wajah masih diliputi ketegangan

itu.

“Untung bahwa engkau tabah sekali menghadapi mereka,

enci….” katanya.

Wanita iru mengangkat muka, memandang kepadanya dan

kembali air matanya menetes-netes turun ke atas pipinya.

Mulut wanita itu berkemak-kemik, namun tidak ada suara

yang keluar, akhirnya, ia mengeluarkan jerit kecil dan

merangkulkan kedua lengannya pada pundak dan leher Sie

Liong sambil menangis! Pemuda bongkok itu terkejut, akan

tetapi mendiamkannya saja dan tersenyum ketika dia merasa

kehangatan air mata menembus bajunya karena wanita itu

menangis di atas dadanya. Bahkan diapun lalu merangkul dan

menepuk-nepuk pundak wanita itu dengan lembut.

“Tenanglah, enci, bahaya sudah lewat sekarang,” hiburnya.

Wanita itu bahkan mempererat rangkulannya dan

terdengar bisikan dari mulut yang disembunyikan di dadanya

itu lirih. “Adik yang baik, ahh…. taihiap yang gagah perkasa,

engkau telah menyelamatkan diriku…. terima kasih, taihiap,

terima kasih….” Suaranya mengandung isak dan tubuhnya

gemetar, seolah-olah ia teringat akan peristiwa tadi dan

membayangkan betapa akan ngerinya kalau ia sampai terjatuh

ke tangan tujuh orang itu.

“Sudahlah, enci. Sudah semestinya aku melindungimu, dan

aku kagum sekali melihat ketabahanmu tadi. Lepaskanlah

rangkulanmu, lihat, di sana datang orang-orang dusun.”

Mendengar ini, wanita itu melepaskan rangkulannya dan

dengan wajah masih basah air mata, ia menoleh ke kiri dan

benar saja, dari arah dusun, datang berlari-larian banyak

sekali penduduk dusun ke tempat itu. Dan di tangan mereka

terpegang segala macam alat pertanian yang agaknya kini

hendak dijadikan senjata.

Sie Liong merasa tegang dan juga malu. Dia tahu bahwa

mereka yang berlari dan datang itu tadi melihat betapa dia

dan wanita itu berpelukan-pelukan! Untuk menghilangkan rasa

sungkan dan tidak enak itu, Sie Liong lalu bangkit dan

memuguti potongan jari-jari kaki itu, dan mengumpulkannya

di atas sehelai kain saputangan. Melihat ini, wanita dusun itu

bergidik.

“Taihiap, untuk apakah kau…. mengumpulkan benda-benda

mengerikan itu?”

“Aku akan menguburnya, enci.” kata Sie Liong sambil

memunguti terus.

Tak lama kemudian, rombongan orang dusun itu tiba di

situ. Seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun

yang memegang sebatang tongkat panjang moloncat maju

menghampiri wanita itu.

“Kui Hwa, apa yang telah terjadi?” tanyanya, suaranya

mengandung kemarahan.

Wanita dusun itu menangis dan lari menghampiri laki-laki

itu. “Aku…. aku hampir saja celaka….!” serunya sambil

menangis dan ia handak merangkul laki-laki yang ternyata

adalah suaminya itu. Akan tetapi, liki-laki itu mendorongnya

sehingga ia terpelanting.

“Jangan sentuh aku! Engkau perempuan tak tahu malu!”

Wanita dusun yang bernama Kui Hwa itu terbelalak. Saking

kaget dan herannya, ia tidak merasakan kenyerian

punggungnya ketika terpelanting oleh dorongan suaminya.

“Apa…. apa maksudmu….?” tanyanya dangan heran, dan

lebih heran lagi ia ketika melihat betapa orang-orang lain, para

pria di dusunnya, para tetangganya memandang kepadanya

dangan sinar mata mencemoohkan dan agaknya

membenarkan sikap suaminya itu!

“Maksudku kautanyakan! Maksudmulah yang ingin sekali

kuketahui! Apa yang telah terjadi di sini?” Suaminya itu

dangan berang melirik ke arah Sie Liong yang sudah selesai

mengumpulkan potongan jari-jari kaki tadi dan kini berdiri di

situ dangan muka ditundukkan, potongan jari-jari kaki tadi

berada dalam buntalan kain saputangan.

“Suamiku, apakah engkau tidak mendangar dari para

tetangga kita tadi? Mereka, Tiat-jiauw Jit-eng itu datang lagi!”

kata si isteri yang masih terheran-heran melihat sikap

suaminya.

“Tentu saja kami semua mendangar. Lalu di mana mereka

dan apa yang telah terjadi di sini?” kembali dia menoleh ke

arah Sie Liong dangan wajah merah saking marahnya.

“Mereka telah dikalahkan oleh taihiap ini, mereka telah

melarikan diri dan aku…. aku diselamatkan oleh taihiap ini!”

kata si isteri dangan suara gembira dan bangga.

“Bohong!” Tiba-tiba sang suami membentak dan isteri itu

kembali terkejut sekali, dan kini Sie Liong mengangkat

mukanya, memandang kepada suami itu dengan sinar mata

mencorong. Akan tetapi, dia bersikap sabar karena dia dapat

menduga apa yang menjadi sebab sang suami itu bersikap

seburuk itu dan mengapa pula orang-orang dusun itu berdiri

saja, agaknya membenarkan sikap suami itu.

“Suamiku, kenapa engkau mengatakan bohong? Pendekar

muda ini yang bernama Sie Liong, dia yang telah

menyelamatkan aku dari gangguan mereka, bahkan pendekar

perkasa ini yang memaksa mereka untuk meninggalkan

pekerjaan jahat mereka, dan mereka bersumpah dangan

membuntungi jari-jari kaki mereka sebelum pergi dari sini. Aih,

suamiku, pendekar muda ini sungguh perkasa dan kita

sedusun patut berterima kasih kepadanya….”

“Cukup! Kui Hwa, jangan mengira bahwa kami semua

adalah orang-orang buta dan bodoh, mudah saja kautipu

dengan kata-katamu itu! Kami melihat betapa engkau

bercumbu dan berjina dengan dia….”

“Diam….!” Kui Hwa yang lemah lembut itu kini membentak,

dan ia berdiri bagaikan seekor singa kelaparan atau seekor

betina membela anaknya. “Jangan engkau berani

mengeluarkan ucapan kotor itu! Pendekar ini menyelamatkan

aku, bahkan menyelamatkan orang sedusun dan kalian berani

menuduhnya berbuat yang bukan-bukan?”

“Phuhh!” Suami itu meludah. “Mataku belum buta, aku

melihat betapa kalian tadi berpelukan dan berciuman!”

“Engkau yang bohong! Engkau yang kotor dan memang

kalian bodoh! Aku memang merangkulnya sambil menangis,

terharu dan menghaturkan terima kasih, dan dia

menghiburku, sama sekali kami tidak berciuman…. aihh,

agaknya memang matamu telah buta! Taihiap ini

menundukkan tujuh orang gerombolan penjahat itu, membuat

mereka taluk dan bertobat, bahkan mereka telah

membuntungi jari-jari kaki sambil bersumpah dan kalian….”

“Sudah! Siapa percaya obrolanmu? Engkau memang

perempuan tak tahu malu, mungkin dia ini anggauta bahkan

pemimpin perampok! Dan engkau sudah tergila-gila kepada

laki-laki bongkok ini! Sungguh tak tahu malu!” Berkata

demikian, laki-laki yang sedang diamuk cemburu itu lalu

mengangkat tongkat kayunya dan menghantamkan tongkat

kayunya kepada Sie Liong!

Pendekar ini berdiri bengong. Sungguh tak disangkanya

sama sekali bahwa cemburu dapat membuat orang menjadi

seperti gila! Saking herannya, ketika suami itu memukul

dengan tongkat kayu, diapun diam saja, tidak bergerak seperti

patung dan pada saat kayu itu menghantam kepalanya,

barulah dia mengerahkan sin-kang untuk melindungi kepala

yang dipukul itu.

“Krakkk!” Tongkat kayu itu patah-patah ketika bertemu

dangan kepala Sie Liong.

“Ahh….!” Suami wanita dusun itu terbelalak dan mukanya

pucat memandang kepada tongkat yang tinggal sepotong

pendek di tangannya, sedangkan tongkat yang kuat itu telah

patah menjadi tiga potong! Kepala orang bongkok itu melebihi

besi kerasnya!

Sie Liong mengangkat muka memandang kepada suami itu

dangan sinar mata mencorong. “Hemm, engkau memang orang

bodoh, keras kepala, dan memang sepatutnya kalau

matamu buta! Engkau tidak patut menjadi suami dari seorang

isteri yang begini baik hati, tabah dan berani mempertaruhkan

nyawa untuk menjaga kehormatannya. Engkau pantasnya

menjadi suami seekor kambing atau seekor monyet! Huh,

menjemukan sekali!” katanya dan diapun melemparkan

buntalan itu ke atas tanah, kemudian berpaling kepada wanita

dusun sambil memberi hormat.

“Enci, maafkan kalau aku hanya membikin engkau menjadi

ribut dangan suamimu. Selamat tinggal, enci, semoga Tuhan

akan menyadarkan suamimu ini!” Dan sekali berkelebat, Sie

Liong lenyap dari depan mereka, membuat suami wanita itu

dan para penduduk dusun terkejut dan melongo.

Suami itupun terkejut dan dia menjadi ketakutan. “Apakah

dia…. dia itu tadi…. setan….?” tanyanya kepada isterinya.

Isterinya menjadi gemas sekali. Tangannya bergerak

manampar. “Plakkk!” pipi suami itu telah ditamparnya!

“Laki-laki yang tolol, gila oleh cemburu buta! Masih berani

engkau mengatakan bahwa pendekar sakti itu setan? Engkau

inilah yang setan! Kalian tidak percaya akan ceritaku tadi, ya?

Kalian semua mengira bahwa aku telah berjina dangan dia

karena kalian melihat dari jauh betapa kami saling berangkulan?

Ohhhh, memang kalian ini orang-orang bodoh!

Dangar baik-baik. Tujuh orang penjahat itu datang ke sini. Aku

tidak tahu bahwa mereka datang maka aku tidak sempat lari

seperti yang lain. Dan mereka itu mengejar-ngejarku, hendak

menangkapku dan tentu saja, dengan niat yang amat kotor

dan hina! Dan aku melihat pendekar itu duduk seorang diri di

bawah pohon. Tadinya aku tidak tahu bahwa dia pendekar,

akan tetapi dalam keadaan ketakutan setengah mati itu, aku

lari padanya dan mohon tolong. Siapa saja akan kumintai tolong

dalam keadaan hampir mati ketakutan seperti itu. Dan

dia bangkit, dia mengalahkan semua penjahat, memaksa

mereka itu bertobat, dan mereka membuntungi jari-jari kaki

kiri mereka untuk tanda bertobat. Dan kalian tidak percaya?

Dan engkau, engkau sudah gila, engkau malah mencemburui

kami dan engkau malah menghina pendekar itu? Masih untung

hanya tongkatmu yang dipatahkan, bukan lehermu! Kalau

kalian t idak percaya, lihat ini buktinya!” Dia memungut i jarijari

kaki itu untuk dikuburkan. “Nah, makanlah ini!” Wanita itu

lalu melemparkan buntalan itu ke arah suaminya, setelah

membuka ikatannya. Dan potongan-potongan jari kaki,

sebanyak tiga puluh lima potong, berhamburan mengenai

muka dan leher suaminya.

Si suami tentu saja bergidik ngeri juga para penduduk

dusun merasa ngeri ketika mereka melihat bukti itu. Jari-jari

kaki yang masih berlumuran darah! Sementara itu, Kui Hwa

sudah berlari pulang sambil menangis.

Barulah suami itu merasa menyesal dan percaya

sepenuhnya akan keterangan isterinya. Kini dia dapat

membayangkan betapa takutnya isterinya tadi ketika dikejarkejar

tujuh orang penjahat keji itu, tanpa ada orang yang

dapat menolongnya. Kemudian muncul pendekar bongkok itu

yang mengalahkan semua penjahat, yang berarti telah

menyelamatkan isterinya itu dari malapetaka yang lebih

mengerikan dari pada maut. Maka, kalau dalam keadaan

penuh rasa syukur dan keharuan itu isterinya merangkul

penolongnya dan manangis di dadanya, apakah yang aneh

dalam hal itu? Juga pendekar itu bukan golongan pemuda

yang terlalu menarik hati wanita, dan isterinya tak mungkin

tertarik kepada seorang yang tubuhnya bongkok seporti itu!

“Kui Hwa, tunggulah….!” Dia barteriak berlari-lari mengejar

isterinya, di dalam hatinya yang penuh penyesalan itu kini

penuh dangan harapan agar isterinya suka memaafkannya.

Sementara itu, para penduduk dusun yang lain segera

mengumpulkan jari-jari kaki itu dan menguburnya dengan hati

penuh rasa syukur bahwa kini Tiat-jiauw Jit-eng yang selama

beberapa bulan lalu mengganas di sekitar daerah itu, kini telah

bertobat dan berarti meraka tidak akan lagi diganggu oleh mereka

yang amat jahat itu. Dan semua ini berkat jasa Pendekar

Bongkok, nama yang takkan pernah mereka lupakan dan yang

semenjak terjadinya peristiwa itu menjadi buah bibir mereka

sehingga nama julukan pendekar baru ini mulai terkenal.

Sie Liong melarikan diri meninggalkan ladang dusun itu

dangan senyum pahit di bibirnya. Dia memang sudah

memaklumi banar-benar keadaan dirinya, sudah diterimanya

keadaan dirinya seperti apa adanya. Memang dia berpunuk,

dia bongkok dan itu merupakan sebuah kenyataan yang

takkan dapat dirobah. Titik. Dia tidak akan lagi mengeluh,

tidak lagi memperhatinkan keadaan tubuhnya yang telah

menjadi pemberian Tuhan dan yang diterimanya dangan

penuh kepasrahan dan rasa syukur. Akan tetapi, kalau terjadi

peristiwa seperti di sawah ladang tadi, bagaimanapun juga

hatinya terasa seperti ditusuk. Dia berniat baik. Dia

menyelamatkan wanita dusun itu, bahkan dia menundukkan

gerombolan jahat yang berarti juga menghindarkan dusun dari

gangguan orang jahat. Dia melakukan hal itu tanpa pamrih,

tidak minta imbalan apapun. Akan tetapi, dia malah didakwa

melakukan hal yang rendah, didakwa berjina dengan wanita

petani itu! Sungguh menyakitkan hati memang. Bongkoknya

terbawa-bawa pula, bahkan mungkin bongkoknya itulah yang

menimbulkan kecurigaan para penduduk dusun, yang

mendatangkan kesan buruk dan membuat dia condong

nampak sebagai orang yang jahat!

“Biarlah,” dia mengeluarkan kata-kata ini melalui mulutnya,

dengan agak keras untuk melunakkan hatinya yang menjadi

keras dan panas. “Biarlah mereka mengatakan apapun juga!

Yang penting, aku yakin benar bahwa aku tidak melakukan hal

yang buruk, dan Tuhan mengetahui, Tuhan melihat dan Tuhan

yang takkan dapat ditipu oleh kebongkokan tubuhku!” Pikiran

ini diucapkannya keras-keras dan akhirnya hatinya menjadi dingin

dan lunak kembali.

Si-aku adalah hasil dari akal pikiran dan rasa perasaan

bahwa “aku ada”, bahwa di dalam jasmani ini yang meliputi

juga akal pikiran dan perasaan, terdapat “sesuatu” yang

membuat jasmani ini hidup. Namun, karena rasa diri ada ini

dinyatakan melalui perasaan hati dan akal pikiran, maka rasa

diri ini terbungkus oleh nafsu. Perasaan hati dan akal pikiran

tidak pernah dapat terpisah dari pengaruh daya-daya rendah,

yaitu keduniawian yang timbul dari kebendaan yang kita

butuhkan dalam kehidupan, makanan dan hubungan antar

manusia. Daya-daya rendah inilah yang menyerap ke dalam

perasaan hati dan akal pikiran sehingga perasaan diri ada atau

si-aku inipun mengandung nafsu-nafsu. Oleh karena itu,

sesuai dangan sifatnya, nafsu yang sudah memperhamba siaku

tadi, membuat si-aku selalu ingin enak sendiri, ingin menang

sendiri, ingin bahagia sendiri, ingin benar sendiri.

Pendeknya, segala sesuatu di dunia ini, yang nampak maupun

yang tidak nampak, oleh si-aku yang penuh nafsu diharapkan

untuk kepentingan dirinya.

Betapapun pandainya manusia berusaha, dengan segala

reka usaha dan ikhtiar untuk melepaskan cengkeraman dayadaya

rendah yang membentuk nafsu, nanun jarang sekali ada

yang berhasil. Sebagian besar menemui kegagalan dan

mendapatkan bahwa semua usaha itu akhirnya hanya

membawa dirinya ke dalam alam kekosongan belaka. Hal ini

adalah karena usaha dan ikhtiar itupun merupakan pekerjaan

akal pikiran belaka, dan karenanya diboncengi pula oleh dayadaya

rendah itu! Jadi, tidak mungkin daya-daya rendah

melanyapkan dirinya sendiri, tidak mungkin mengesampingkan

pikiran dangan berpikir! Kiranya, satu-satuaya jalan bagi kita

hanyalah penyerahan kepada Yang Maha Kasih, Yang Maha

Kuasa. Tuhan pencipta segala yang ada dan tidak ada, yang

nampak dan tidak nampak. Karena kekuasaan Tuhan meliputi

di dalam dan di luar diri kita, maka kiranya hanya kekuasaan

Tuhan sajalah yang akan mampu menolong kita, yang akan

mampu mengatur agar pengaruh nafsu daya rendah tidak lagi

mencengkeram hati dan akal pikir sehingga sagala sepak

terjang kita dalam hidup, tidak lagi dikemudikan oleh nafsu

daya rendah, melainkan dikemudikan atau dibimbing oleh

kekuasaan Tuhan!

Setelah Sie Liong dangan penuh kepasrahan menyerahkan

segalanya kepada Tuhan, menerima segala keadaan dan

segala peristiwa sebagai hal-hal yang sudah dikehendaki

Tuhan, maka sedikit banyak diapun dapat mengatasi segala

penderitaan yang mungkin timbul karena keadaannya atau

karena peristiwa itu sendiri. Orang yang sudah pasrah kepada

Tuhan dangan sepenuh hatinya, dangan keikhlasan dan

kerelaan, penuh pasrah, sudah pasti takkan merasa

penasaran, tidak akan merasa kecewa dan selalu di dalam

hatinya terkandung rasa sukur dan terima kasih kepada

kekuasaan Tuhan. Makin dihayati kepasrahan ini, semakin

membuka matanya betapa kekuasaan Tuhan amatlah

hebatnya, tak terukur dan menyusur ke dalam segala benda,

bergerak tiada hentinya, nampak kadang-kadang kacau

namun sebenarnya mengandung ketertiban yang mujijat, tak

pernah keliru, dan mengandung keadilan yang setepattepatnya

walaupun kadang-kadang berada di luar

pengetahuan akal pikiran manusia.

Tentu akan timbul bantahan. Apekah kalau begitu, hidup ini

hanya diisi dengan kepasrahan belaka kepada kekuaaaan

Tuhan? Bukankah kalau begitu maka hidup akan menjadi

kosong dan mandeg, tidak ada semangat lagi untuk mencapai

apa jang dinamakan kemajuan? Salah pengetian ini harus

diperbincangkan karena memang mengandung bahaya! Arti

panrah bukan berarti kita lalu membonceng kekuasaan Tuhan

begitu saja lalu kita tertidur dan masa bodoh! Sama sekali

tidak! Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk bergerak,

beranggauta badan lengkap, berakal pikir, maka semua itu

harus kita pergunakan. Hal itu merupakan suatu kewajiban!

Kita tidak benar sama sekali kalau mempersekutu kekuasaan

Tuhan. Biar kekuasaan Tuhan bekerja dan kita enak-enakan,

bermalas-malasan. Ini merupakan akal-akalan dari si-akal pikir

yang dikuasai nafsu rendah! Kita bekerja, kita berusaha, kita

berikhtiar dalam segala bidang. Namun, harus selalu kita ingat

bahwa apapun jadinya, apapun hasilnya, apapun akibatnya

dari setiap usaha kita, berada di tangan Tuhan! Tubanlah yang

menentukan pada akhirnya dan kalau kita menerima dangan

pasrah, dengan penuh kepercayaan bahwa Tuhan tak akan

pernah keliru mengatur, maka hasil atau akibat apapun yang

kita terima, akan kita terima dangan hati terbuka, penuh

kepasrahan pula, penuh rasa sukur!

Kebahagiaan tak mungkin dicari, tak mungkin dikejar

dangan usaha akal pikiran! Akal pikiran yang digerakkan nafsu

selalu hanya membutuhkan KESENANGAN, dan kesenangan

sama sekali bukanlah kebahagiaan, karena kesenangan itu

pendek sekali umurnya. Kesenangan segera digilir dangan

kesusahan, kepuasan diikuti kekecewaan. Kebahagiaan

hanyalah suatu keadaan di mana perasaan hati dan akal

pikiran tidak lagi menguasai jiwa, kebahagiaan adalah

keadaan jiwa yang sudah bersatu dangan Tuhan, seperti

setetes air yang sudah kembali ke samudera! Tidak butuh

apa-apa lagi karena segalanya sudah tercakup di dalamnya!

Dan semua ini hanyalah kekuasaan Tuhan yang mampu

mengaturnya, dan kita, dengan segala perlengkapan kita,

termasuk nafsu-nafsu daya rendah, hanya mampu MENYEBAR

dengan PASRAH. Titik.

Sie Liong melanjutkan perjalanannya dan kini dia sudah

melupakan sama sekali perist iwa yang menimpa dirinya di

ladang itu. Memang sebaiknya kalau pikiran ini kita

pergunakan untuk bekerja, berarti untuk memikirkan apa yang

kita kerjakan sekarang dan setiap saat, bukan dipergunakan

untuk mengenang hal-hal yang sudah lalu! Dia akan pergi. ke

Tibet, dan kini dia sudah menuruni bukit terakhir dari deretan

pegunungan Kun-lun-san yang panjang itu.

Dia berhanti di atas puncak bukit terakhir tadi, dan dari situ

dia melihat ke selatan. Di sanalah terdapat propinsi Tibet! Dan

kini dia telah tiba di perbatasan tiga propinsi besar. Di utara

adalah Propinsi Sin-kiang. Di timur Propinsi Cing-hai, dan di

selatan adalah Tibet, negara yang dikuasai para pendeta Lama

itu.

Dia menuruni bukit dan menuju ke sebuah dusun yang tadi

dilihatnya dari bukit itu. Daerah itu merupakan daerah yang

tandus dan luas sekali, jarang terdapat dusun, maka kalau

melihat sebuah dusun, maka hal itu merupakan hal yang

menggembirakan bagi seorang pengelana di daerah itu.

Mungkin berhari-hari dia tidak akan bertemu dusun, dan hari

ini, matahari telah condong jauh ke barat. Sebentar lagi tentu

akan gelap dan lebih baik melewatkan malam di dalam dusun

yang hangat di mana dia dapat memperoleh makanan dan

minuman daripada bermalam di daerah terbuka yang asing

baginya.

Dusun itu cukup besar dikurung pagar tanah liat yang

dibangun seperti tembok. Di dalam dusun itu tinggal

penduduk yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus

keluarga! Pekerjaan mereka bercocok tanam dan berburu, ada

pula yang mengusahakan peternakan kambing. Dan melihat

keadaan bangunan rumah yang cukup baik itu, Sie Liong

dapat mengambil kesimpulan bahwa penghasilan penduduk itu

cukup untuk sandang pangan, bahkan berlebihan. Di situ

terdapat pula beberapa buah warung makan, bahkan terdapat

pula sebuah rumah penginapan! Kiranya dusun ini ada pula

pengunjungnya dari luar kota pikirnya. Memang demikianlah,

banyak dusun di daerah itu manyediakan rumah penginapan,

karena mereka maklum bahwa para pedagang dan pengelana

yang lewat di dusun, dan kemalaman, tentu akan mencari

rumah penginapan, mengingat bahwa dusun berikutnya

amatlah jauhnya! Dan banyak pula yang membuka tempat

menjual barang-barang keperluan sehari-hari.

Sie Liong segera menyewa sebuah kamar di rumah

penginapan itu. Beruntung bahwa dia tidak terlambat, karena

pada hari itu, banyak tamu luar kota bermalam di dusun itu.

Kepala dusun itu mengadakan perayaan pesta pernikahan

puteranya! Dan tentu saja dia mengundang relasi dan

sahabatnya dari luar dusun.

Setelah mandi dan makan malam, Sie Liong keluar dari

kamarnya yang kecil dan berjalan-jalan di dalam dusun itu.

Keadaan dusun itu tidak seperti biasanya. Kini ramai sekali.

Hal ini adalah karena adanya pesta perayaan pernikahan di

rumah kepala dusun. Boleh dibilang bahwa seluruh penduduk

dusun ikut pula berpesta, atau setidaknya, ikut bergembira

dengan memasang lampu gantung di depan rumah masingmasing

sehingga keadaan di luar rumah kini terang dan

gembira, tidak seperti biasa. Juga sebagian basar penduduk

keluar dari rumah mereka untuk menyaksikan pemboyongan

mempelai wanita yang kabarnya akan diambil malam hari itu.

Mempelai wanita adalah seorang gadis yang rumahnya di

sudut dusun, dan pengambilan mempelai itu dilakukan malam

hari, diarak dan diikuti rombongan penari dan penabuh

gamelan. Pengantinnya akan naik joli yang digotong empat orang,

sedangkan mempelai prianya akan menunggang kuda.

Sie Liong mendengar keterangan ini dari pengurus rumah penginapan

dan diapun dengan gembira kini berjalan-jalan

sebelum nanti ikut nonton arak-arakan pengantin puteri yang

diboyong ke rumah mempelai pria.

Tanpa disengaja, Sie Liong berjalan-jalan menuju ke barat

dan tak lama kemudian tibalah dia di sudut dusun itu dan

berada di luar rumah kediaman pengantin wanita! Rumah

itupun dihias meriah, penuh daun-daunan dan bunga-bunga,

di antaranya hiasan kertas dan kain berwarna-warni, dan

dipasang banyak lampu gantung yang dihias kertas-kertas

merah. Suasana di rumah itu meriah sekali, dan nampak

banyak orang sedang sibuk mempersiapkan joli dan semua

peralatan upacara pernikahan. Melihat keadaan rumah itu,

tanpa diberitahupun Sie Liong dapat menduga bahwa tentu di

situ tempat tinggal pengant in wanita. Karena di luar

pekarangan rumah itu terdapat banyak orang yang nonton,

terutama anak-anak, Sie Liong menggabung dengan mereka,

berdiri di antara para penonton. Sebagian dari para penonton

itu berpakaian jembel dan barulah Sie Liong tahu bahwa dia

berdiri di antara para pengemis dan kanak-kanak ketika dari

dalam keluar seorang yang membawa keranjang berisi

makanan lalu orang itu membagi-bagikan makanan kepada

mereka. Karena dia berada di antara mereka, diapun kebagian

sepotong kueh mangkok! Hemm, dia disangka seorang jembel

pula, pikirnya sambil tersenyum. Dia tidak merasa sakit hati.

Memang pakaiannya lusuh, apalagi punggunguya bongkok.

Bukankah di antara para pengemis terdapat banyak orang

yang cacat dan tidak sempurna keadaan tubuhnya? Disangka

pengemis bukanlah suatu hal yang buruk, asal jangan

disangka penjahat seperti dialaminya di ladang dusun itu!

Maka, seperti yang lain, diapun makan kueh mangkok itu

dengan gembira.

Tiba-tiba dia melihat seorang pemuda yang baru datang

manyelinap pula di antara para penonton. Dia merasa curiga.

Pemuda itu jelas bukan pengemis dan melihat pakaiannya,

tentu dia seorang petani. Seorang pemuda tani yang bertubuh

sehat dan berwajah jujur, akan tetapi pada saat itu wajahnya

membayangkan kemarahan dan penasaran, bahkan masih ada

bakas air mata pada kedua pipinya.

Pada saat itu, para penonton di luar halaman itu

berdesakan untuk dapat melihat lebih jelas ke dalam rumah

karena agaknya ada upacara penghormatan mempelai puteri

kepada ayah ibunya sebelum ia diboyong ke rumah calon

suaminya. Upacara itu diadakan di ruangan depan, di depan

meja sembahyang. Ketika mempelai wanita yang berpakaian

indah mariah itu muncul dari dalam, menuju ke ruangan

depan yang nampak dari luar, dituntun oleh dua orang nenek

yang agaknya menjadi pengatur upacara itu. Karena pakaian

yang longgar dan banyak hiasannya itu, juga karena muka itu

tertutup tirai, maka Sie Liong tidak dapat melihat wajah

pengantin itu, hanya dapat diduga bahwa ia seorang gadis

yang bertubuh ramping.

Ketika gadis yang menjadi pengantin itu dituntun ke depan

ayah ibunya yang sudah duduk berjajar di atas kursi,

terdangar ia terisak menangis dan menjatuhkan diri berlutut di

depan kaki mereka. Dua orang nenek itu terkejut dan hendak

menuntunnya agar ia berhati-hati dengan pakaiannya, akan

tetapi mereka tidak kuasa menahan gadis pengantin itu yang

sudah menangis tersedu-sedu. Terdengar ucapannya di antara

sedu sedannya, “Ayah…. ibu…. aku tidak mau kawin…. aku

tidak mau menikah dengan…. anak kepala dusun itu….”

Tentu saja semua orang yang berada di ruangan itu

terkejut. Ayah dan ibu mempelai saling pandang dan ibunya

lalu merangkulnya, menghiburnya dengan bisikan-bisikan

lembut. Akan tetapi, mempelai wanita itu meronta-ronta dan

tangisnya semakin menjadi-jadi.

“Lian-ji….! Hentikan tangismu itu! Jangan kau membikin

malu orang tuamu!” Ayahnya menghardik dan bentakan ini

membuat pangantin wanita itu berhenti meronta, akan tetapi

masih tetap menangis terisak-isak.

“Bawa ia masuk ke dalam kamarnya dan usahakan agar ia

tidak menangis lagi! Anak sialan….!” Sang ayah marah-marah

dan dua orang nenek itu lalu membawa pengantin wanita

bangkit berdiri untuk membawanya kembali ke kamar.

Pada saat itu, terdangar teriakan dari luar. “Penasaran….!

Sungguh tidak adil dan sewenang-wenang….!”

Dan pemuda petani yang tadi menimbulkan kecurigaan hati

Sie Liong, nampak meninggalkan kelompok penonton dan

berlari memasuki halaman, terus ke ruangan depan itu. Semua

orang terkejut dan juga ayah ibu mempelai wanita memandang

dengan mata terbelalak.

“Lian-moi….!” Pemuda itu memanggil.

Mempelai wanita itu meronta dan membalikkan tubuhnya.

Melihat pemuda itu, iapun berseru, “Kiong-koko….!”

Dan iapun menangis, masih berdirt karena dipegang eraterat

kedua lengannya oleh kedua orang nenek itu.

“Un Kiong? Mau apa engkau? Berani engkau datang ke sini

membikin kacau? Kami tidak mengundangmu!” bentak ayah

mempelai wanita itu dengan marah sekali.

“Saya datang untuk mohon keadilan! Sungguh penasaran

sekali….!” Akan tetapi, tuan rumah sudah memerintahkan

beberapa orang anggauta keluarga yang hadir dan merasa

tidak senang dengan perbuatan pemuda itu, dan mereka kini

menyerang pemuda yang tadinya sudah menjatuhkan diri

berlutut itu.

“Pergilah! Pergi dan jangan datang lagi!” bentak tuan

rumah setelah pemuda itu terjengkang dan bergulingan oleh

beberapa pukulan dan tendangan. Akan tetapi pemuda

bernama Un Kiong itu tetap bangkit dan berlutut lagi.

“Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum mendapat keadilan!

Biar kalian memukuli aku sampai mati, aku tidak akan pergi!”

teriaknya marah. Sementara itu mempelai wanita beberapa

kali memanggil namanya. “Kiong-koko….!” akan tetapi ia

sudah ditarik oleh dua orang nenek, dibantu ibu mempelai dan

diseret masuk ke dalam kamar.

Mendengar kenekatan pemuda itu, para keluarga laki-laki

itu menjadi marah, bahkan kini ayah mempelai ikut pula

memukuli pemuda yang masih nekat berlutut. Melihat ini, Sie

Liong cepat melompat ke dalam. Begitu dia bergerak

menangkis tendengan dan pukulan itu, beberapa orang

terjengkang dan roboh sendiri karena serangan mereka

tertangkis sedemikian kuatnya, dan Sie Liong sudah

mengangkat bangun tubuh pemuda itu yang sudah babak

belur dan bengkak matang biru.

Melihat munculnya seorang pemuda bongkok yang

membela Un Kiong, semua orang terkejut. Seorang di antara

mereka, yang bertubuh tinggi besar dan pandai silat, merasa

penasaran dan dia lalu menerjang ke depan, menghantam ke

arah dada Sie Liong sambil membentak, “Mau apa kau

mencampuri urusan kami?”

“Dukkk! ” Kepalan tangannya yang besar itu tepat mengenai

dada Sie Liong akan tetapi akibatnya sungguh membuat orang

terbelalak. Bukan Sie Liong yang roboh melainkan pemukulnya

sendiri yang mengaduh-aduh sambil memegangi pergelangan

tangannya yang menjadi salah urat! Dia membungkuk dan

menyeringai kesakitan, mengeluh. Melihat itu, tentu saja

semua orang menjadi jerih dan t idak ada lagi yang berani

menghalangi ketika Sie Liong memapah pemuda itu keluar

dari situ. Ketika tiba di luar rumah dan melihat betapa banyak

orang mengikut inya, yaitu mereka yang tadi nonton dan

agaknya mereka ingin tahu ke mana dia membawa pemuda

yang dipukuli itu, Sie Liong lalu memanggul pemuda itu dan

berlari cepat sehingga sebentar saja dia sudah menghilang

dari kejaran para penonton.

Sie Liong membawa pemuda itu ke luar dusun dan dia baru

berhenti setelah tiba di tempat sunyi di luar dusun itu. Mereka

berdiri di bawah sinar bulan dan berkali-kali pemuda itu

menghela napas penuh penyesalan. Dia tahu bahwa pemuda

bongkok ini bukan orang sembarangan. Dia melihat ketika

pemuda itu membawanya keluar dari dalam rumah mempelai

wanita, dan terutama sekali cara pemuda itu memanggulnya

dan membawanya lari secepat terbang.

“Taihiap, kenapa engkau monolongku? Mengapa engkau

membawaku pergi dari sana?”

Sie Liong tersenyum. Orang ini telah diselamatkan dari

keadaan yang lebih parah lagi, mungkin dia akan mati dipukuli

orang, dan pemuda ini tidak berterima kasih bahkan

menyesal!

“Akan tetapi, kenapa engkau begitu nekat, membiarkan

dirimu dipukuli orang? Kalau ttdak kularikan, mungkin engkau

akan dipukuli sampai mati!”

“Biar saja! Biar aku dipukuli sampai mati agar Lian-moi

melihat bukti cintaku kepadanya!”

“Wah, sungguh aneh. Coba caritakan, apa yang

sesungguhnya telah terjadi? Siapa tahu, mungkin saja aku

akan dapat menolongmu.”

Pemuda itu menjatuhkan diri duduk di atas tanah

berumput. Sie Liong juga duduk dan pemuda itu bercerita.

Sejak kecil Un Kiong telah ditunangkan dengan Sui Lian, gadis

itu. Bahkan Un Kiong sudah seringkali menyumbangkan tenaganya

bekerja di sawah ladang tunangannya. Pernikahan

antara mereka tinggal menanti hari, bulan dan tahun yang

baik saja. Akan tetapi, secara tiba-tiba, orang tua Sui Lian

mengumumkan bahwa pertunangan itu diputuskan, dibatalkan

dan tahu-tahu, sebulan kemudian Sui Lian dinikahkan dengan

putera kepala dusun itu!

“Kepala dusun itu orang baru, belum setahun dia diangkat

menjadi kepala dusun dan bertugas di sini. Jelaslah,

dibatalkannya pertunanganku itu disebabkan oleh kehadiran

putera kepala dusun itu. Seorang pemuda brengsek, pengejar

perempuan, sombong dan t idak ada gunanya! Tadinya aku

sudah menerima nasib, aku tidak berdaya. Tadi aku hanya

ingin melihat, bersama para penonton, ingin melihat bekas

tunanganku yang sejak diputuskannya ikatan jodoh itu tidak

pernah kulihat lagi. Akan tetapi, melihat ia menangis,

mendengar ucapannya bahwa ia tidak mau dikawinkan

dengan orang lain, aku tidak dapat menahan hatiku. Dan ia….

ah, ia masih sempat memanggilku, dan ia…. ia begitu

bersedih….! Karena itu, aku ingin mati saja, biar mereka

pukuli, biar aku mat i di depan Lian-moi untuk membuktikan

cinta kasihku kepadanya!”

Sie Liong tersenyum. “Membuktikan cinta kasih dengan

membiarkan diri mati dipukuli orang? Hemm, itu bukan cara

membuktikan cinta kasih yang baik! Kalau engkau mati

dipukuli, apakah tunanganmu itu akan merasa gembira? Apakah

perbuatanmu itu akan dapat membebaskan ia dari

cengkeraman orang yang dipaksakan menjadi suminya?”

Un Kiong menjadi bengong, lalu dia berulang-ulang

menggeleng kepala dan menghela napas. “Lalu apa yang

dapat kulakukan, taihiap?”

“Engkau pulanglah dan biar aku yang akan membantumu.

Aku akan membatalkan pernikahan paksaan itu dan akan

mengantarkan mempelai wanita ke rumahmu. Engkau bersiapsiaplah,

besok siang mempelai wanita akan kuantarkan ke

rumahmu dan harus kausambut ia sebagai mempelaimu.”

“Tapi…. tapi…. tentu mereka akan marah. Aku akan

ditangkap dan bahkan orang tuaku akan masuk tahanan dan

dihukum! ”

“Jangan khawatir. Aku yang bertanggung jawab, dan

jangan takut. Aku akan menangani urusan ini sampai tuntas

dan andaikata engkau ditawan, aku yang akan

membebaskanmu.”

Karena dia sendiri sudah tak berdaya dan hampir putus

asa, Un Kiong menaruhkan seluruh harapannya kepada

pendekar yang bongkok itu, maka dia segera menjatuhkan diri

berlutut di depan Sie Liong. “Taihiap, sebelumnya saya

menghaturkan terima kasih. Sebelum saya pulang, mohon

tahu nama besar taihiap, agar dapat kuceritakan kepada orang-

tuaku.”

Sie Liong menggelong kepala. “Namaku tidak ada artinya,

sobat. Kuberitahupun engkau tidak akan mengenalnya. Aku

hanya kebetulan lewat saja di sini, dam aku selalu gatal

tangan, ingin membereskan sesuatu yang tidak pada

tempatnya. Pulanglah dan tunggulah sampai besok.”

Un Kiong memberi hormat, lalu dia pun pergi, kembali ke

dusun dan pulang ke rumahnya. Dia disambut dengan omelan

ayah ibunya yang sudah mendengar beritanya bahwa putera

mereka membikin ribut di rumah mempelai wanita sehingga

dipukuli keluarga mempelai wanita. Ketika Un Kiong

menceritakan tentang Pendekar Bongkok yang menolongaya,

dan tentang janji pendekar itu, ayah ibunya menjadi semakin

tegang dan gelisah.

Sementara itu, Sui Lan telah dipaksa untuk menerina

rombongan pengantin pria yang malam itu datang untuk

menjemput mempelai puteri. Mempelai wanita masih

menangis terus, akan tetapi karena ia memakai kerudung, dan

karena memang sudah lajim mempelai wanita selalu menangis

ketika dinikahkan, maka ia tidak menarik banyak perhatian.

Mempelai wanita dituntun naik ke dalam joli yang dihias indah

dan dipikul empat orang, sedangkan mempelai prianya menunggang

seekor kuda yang besar. Mempelai pria ini nampak

tampan dan gagah dalam pakaiannya yang indah dan

beraneka warna. Dia tersenyum-senyum penuh lagak ketika

menaiki kudanya, dibantu oleh beberapa orang. Petasan

dibakar dan bunyi musik mengiringi pasangan mempelai yang

akan meninggalkan rumah mempelai wanita itu.

Pada saat itu, muncul seorang pemuda bongkok di depan

rombougan yang sudah siap untuk berangkat! Pemuda ini

bukan lain adalah Sie Liong, Si Pendekar Bongkok!

“Berhenti!” bentak Sie Liong yang berdiri di tengah jalan.

“Pernikahan ini salah tempat! Mempelai prianya bukan orang

itu!” Dia menuding ke arah pemuda yang menunggang kuda

dengan congkaknya.

Tujuh orang pengawal yang bertugas mengawal mempelai

pria menjemput mempelai wanita, segera berlari menghampiri

dan mereka memandang kepada Sie Liong dengan alis

berkerut dan pandang mata marah. Akan tetapi, keluarga

mempelai wanita yang mengenal pemuda bongkok itu menjadi

gelisah.

Komandan pasukan pengawal yang hanya tujuh orang itu,

seorang beruasia empat puluh tahun lebih yang kumisnya

melintang kaku, maju dan menghadapi Sie Liong.

“Heii, apakah engkau ini orang gila? Siapakah engkau dan

apa artinya perbuatanmu ini?” Kini semua orang sudah datang

ke tempat itu, menonton dari jarak yang aman sedangkan

tujuh orang pengawal itu menghadapi Sie Liong yang bersikap

tenang saja.

“Aku hanya seorang bongkok yang kebetulan lewat di

dusun ini. Aku melihat peristiva yang membuat hatiku

penasaran. Mempelai wanita yang bernama Sui Lian ini sudah

mempunyai seorang tunangan sejak kecil yang bernana Un

Kiong. Seluruh penduduk dusun ini tentu sudah mengetahui

akan hal itu. Akan tetapi, secara mendadak partunangan itu

dibatalkan sepihak dan Sui Lien dijodohkan dengan putera

kepala dusun. Sungguh tidak adil sekali, apalagi karena

mempelai wanita tidak suka menjadi isteri putera kepala

dusun!”

“Eh, sungguh engkau telah menjadi gila! Pernikahan ini

dilangsungkan secara sah dan menurut peraturan yang benar

sebagai lanjutan dari pinangan yang diterima. Hayo engkau ini

orang bongkok gila pergi dari sini daripada harus kami hajar!”

“Kalianlah yang harus pergi, juga mempelai pria itu. Pulang

saja dan katakan kepada kepala dusun bahwa pernikahan ini

dibatalkan!”

“Kurang ajar!” Tujuh orang pengawal itu dengan marah lalu

menyerang dari sekeliling Sie Liong. Akan tetapi, sekali

menggerakkan tubuhnya berputar, tujuh orang itu disapu

roboh semua seperti tujuh helai daun kering saja! Tentu saja

mereka terkejut dan mencabut senjata masing-masing.

“Sudahlah. Kalian hanya petugas dan tidak bersalah. Yang

bersalah dalam hal ini adalah orang tua mempelai wanita dan

juga kepala dusun! Sebaiknya kepala dusun itu disuruh ke sini

dan kita rundingkan bersama dengan orang tua mempelai

wanita. Urusan ini dapat diselesaikan dengan cara damai!”

kata Sie Liong yang sabetulnya tidak ingin mempergunakan

kekerasan.

“Orang gila ini sungguh kurang ajar! Tangkap dia atau

bunuh kalau melawan!” kini mempelai pria yang masih

menunggang kuda itu membentak marah. Tentu saja dia

marah dan merasa malu sekali bahwa upacara pejemputan

mempelai wanita itu diganggu oleh seorang laki-laki bongkok

yang agaknya gila!

Tujuh orang pengawal itu sudah menyerang dengan

senjata mereka. Sie Liong hanya mengelak dan langkahlangkah

dan loncatan kecil. Semua sambaran senjata tidak ada

yang mampu menyentuh tubuhnya. Dia tidak ingin melukai

mereka yang mengeroyoknya karena mereka bukanlah orangorang

jahat melainkan hanya orang-orang yang melaksanakan

tugas mengawal mempelai. Diapun mengeluarkan bentakan

nyaring, tangannya bergerak cepat dan mengeluarkan angin

pukulan yang dahsyat, dan senjata di tangan tujuh orang itu

beterbangan dan terlepas dari tangan para pemegangnya.

Tentu saja tujuh orang itu terkejut sekali, juga jerih karena

kini baru mereka maklum bahwa mereka menghadapi seorang

muda yang aneh dan sakt i.

Mempelai pria yang melihat betapa tujuh orang

pengawalnya sama sekali tidak melawan orang bongkok itu,

menjadi ketakutan dan diapun melarikan kudanya sambil

berteriak, “Mari kita lapor kepada ayah!” Para pengikutnya lalu

malarikan diri meninggalkan tempat itu.

Ayah dari mempelai wanita yang melihat terjadinya

peristiwa ini, merasa khawatir, juga penanaran sekali. Akan

tetapi diapun sudah maklum akan kehebatan orang bongkok

itu, maka dia menghampirl lalu memberi hormat.

“Taihiap, apa maksudnya taihiap melakukan semua ini?

Taihiap, hanya akan mendatangkan malapetaka kepada keluarga

kami!”

“Hmm, semua ini adalah akibat dari kesalahan keluarga

mendiri, paman, Mari kita masuk dan bicara di dalam. Akulah

yang bertanggung jawab terhadap akibat dari perbuatanku

tadi.

Joli pengantin diangkut lagi memasuki rumah itu dan para

pengiringnya juga masuk. Tidak ada yang berani membantah

Pendekar Bongkok, karena mereka kini semakin yakin bahwa

pemuda bougkok ini seorang pandekar yang sakti. Agaknya

dari dalam jolinya, Sui Lian mendengarkan semua yang terjadi

di luar. Ketika ia dituntun keluar dari joli untuk kembali ke

kamarnya, tiba-tiba ia berlutut menghadap Sie Liong dan jelas

terdangar suaranya, “Taihiap, saya berterima kasih sekali

kepadamu!” Dua orang nenek dan ibunya, mengangkatnya

bangun dan membawanya masuk ke dalam kamar.

Sementara itu, ayah Sui Lian lalu mengajak Sie Liong duduk

menghadapi meja. Keluarganya lalu keluar dan minta kepada

para penonton untuk pergi dan jangan berkerumun di depan

rumah. Para penonton bubaran dan sebentar saja peristiwa itu

telah menjadi berita baru yang menegangkan seluruh

penduduk dusun itu. Un Kiong dan orang tuanya mendengar

pula dan mereka menant i dengan jantung berdebar tegang.

Un Kiong sendiri diam-diam merasa girang dan timbul harapan

baru dalam hatinya. Ternyata Pendekar Bongkok tidak

membohonginya dan telah mencegah terjadinya pemboyongan

pengantin wanita! Tentu saja semalam itu dia sama

sekali t idak dapat tidur sekejap matapun dan kalau saja tidak

ingin mentaati perintah Pendekar Bongkok agar dia menanti

saja di rumah, ingin dia pergi untuk melihat sendiri apa yang

terjadi selanjutnya di rumah Sui Lian, bekas tunangannya.

“Paman, benarkah bahwa sejak kecil puterimu telah

dipertunangkan dengan seorang pemuda bernama Un Kiong

dari dusun ini juga?” Sie Liong bertanya dan memandang

tajamkepada tuan rumah yang kini didampingi isterinya.

Petani itu mengangguk. “Benar taihiap. Akan tetapi

pertalian jodoh itu telah diputuskan, telah dibatalkan, maka Un

Kiong tidak berhak untuk datang ke sini dan membikin

ribut….”

“Akan tetapi mengapa, paman? Apakah kenalahan Un

Kiong maka pertunangan itu dibatalkan? Padahal, pertunangan

itu telah berlangsung bertahun-tahun, sejak keduanya masih

kanak-kanak!”

Ayah dan ibu Sui Lian saling memandang dan orang tua itu

tidak mampu menjawab. Karena memang calon mantunya itu

tidak mempunyai kesalahan apapun!

“Hemm, aku tahu, paman. Tentu karena datang pinangan

dari kepala dusun. Maka engkau membatalkan ikatan

perjodohan itu agar angkau dapat menerima lamaran kepala

dusun, bukan?”

Orang tua itu mengangkat muka memandang kepada

Pendekar Bongkok, lalu mengangguk membenarkan.

“Nah, aku ingin tahu sekarang. Kenapa kaulakukan hal itu?

Kalau puterimu sudah bertunangan dengan Un Kiong,

seharusnya kautolak saja lamaran kepala dusun dan berkata

terus terang bahwa puterimu sudah mempunyai calon suami.”

“Ah, taihiap, mana kami berani melakukan hal itu? Kepala

dusun itu baru saja menjadi kepala dusun di sini. Kami tidak

berani menolak pinangan dan selain itu, tentu saja kami lebih

suka melihat anak kami menjadi mantu kepala dusun karena

ia akan dapat hidup mulia, terhormat, kaya raya dan….”

“Dan yang terpenting, paman dan bibi akan ikut pula naik

derajatnya sebagai besan kepala dusun, begitukah?” Sie Liong

menyambung dan suami isteri itu tersipu.

“Paman dan bibi, apakah ji-wi (kalian) menyayang

puterimu?”

“Tentu saja!” jawab kedua orang tua itu.

“Kalau ji-wi menyayangnya, mengapa ji-wi

memperlakukannya sebagai barang dagangan saja? Siapa

yang berani menawar lebih tinggi akan mendapatkannya? Ia

bukan benda, bukan pula binatang, melainkan seorang

manusia yang berperasaan. Ia berhak manentukan pilihannya

sendiri. Ji-wi melihat sendiri betapa ia bersedih dan tidak suka

menjadi isteri putera kepala dusun, akan tetapi ji-wi

memaksanya! Benarkah perbuatan itu?”

Dua orang tua itu menunduk. “Kami…. kami melakukan hal

itu demi kebahagiaannya, taihiap. Ia akan menjadi wanita

terhormat di dusun ini dan hidup barkecukupan….”

“Itukah ukuran bahagia? Berbahagiakah seekor burung

dalam sangkar, walaupun sangkar itu terbuat dari emas? Ji-wi

keliru, seyogianya menanyakan pendapat puteri ji-wi. Sungguh

tidak adil kalau membatalkan pertunangan itu begitu saja,

secara sepihak, sedangkan kedua orang muda itu sudah saling

menyayang.”

“Tapi, tapi kami tidak berani menolak…. dan sekarang….

perjodohan itu sudah ditentukan, dan taihiap…. ah, apa yang

harus kami lakukan sekarang? Kami takut akan tindakan

kepala dusun yang tentu akan marah sekali….” Suami isteri itu

meratap dan ketakutan.

“Itu tanggung jawabku. Yang penting, ji-wi mengakui

kesalahan ji-wi dan bersedia untuk menyambung kembali

ikatan jodoh antara Sui Lian dan Un Kiong.”

Suami isteri itu saling pandang dan mereka menarik napas

panjang. “Baiklah, taihiap. Kini kami dapat melihat kesalahan

kami yang hendak mengorbankan perasaan hati anak kami

dengan kemewahan keadaan lahiriah. Kami bersedia

menyambung kembali perjodohan itu asal taihiap dapat

membersakan urusan kemarahan dari pihak kepala dusun.”

“Jangan khawatir. Nah, itu agaknya mereka datang,” kata

Sie Liong dengan hati lega dan diapun bangkit berdiri lalu

keluar dari ruangan itu, berdiri di serambi depan. Masih

terdapat penonton, akan tetapi mereka itu berdiri agak jauh,

di tempat aman, bukan seperti tadi di luar pintu pagar. Dia

melihat munculnya dua orang laki-laki yang sikapnya gagah,

yang diiringkan oleh tujuh orang pengawal tadi. Agakaya

pihak kepala dusun telah mengutus dua orang jagoan untuk

menghadapinya.

Ketika mereka memasuki pekarangan dan langsung

menghampiri Sie Liong yang berdiri di kaki tangga serambl

depan, Sie Liong mengamati mereka dengan penuh perhatian.

Dua orang yang sikapnya gagah sekali. Yang seorang

bertubuh tinggi besar dengan muka persegi, jantan dan

gagah, sedangkan orang ke dua bertubuh sedang, mukanya

bulat dan muka itu dipenuhi brewok lebat yang rapi. Keduanya

berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, dan di balik pundak

mereka nampak gagang pedang. Dua orang yang gagah.

Sie Liong mengerutkan alisnya karena dia merasa seperti pernah

bertemu dengan mereka.

Seorang di antara dua orang gagah itu, yang tinggi besar,

setelah memandang tajam kepada Sie Liong, lalu menegur,

suaranya keras dan berwibawa, suara yang gagah. “Apakah

engkau orangnya yang tadi menghalangi pemboyongan

pengantin wanita oleh pengantin pria?”

Sie Liong menghadapi mereka dengan tenang. Dia belum

mendangar akan kejahatan kepala dusun dan pernikahan itu

berjalan seperti lajimnya. Kepala dusun sama sekali tidak

memaksakan kehendaknya, karena itu dia tahu bahwa dia

bukan menghadapi golongan yang jahat. Semua keributan itu

timbul hanya karena salah pengertian, karena kelemahan

orang tua Sui Lian.

“Benar sekali, akulah yang tadi menghalangi pemboyongan

yang tidak tepat itu.”

Dua orang gagah itu mengerutkan alisnya. “Pemboyongan

tidak tepat? Apanya yang tidak tepat? Dangar, sobat yang

sombong. Kami berdua adalah tamu dalam pasta itu dan

sudah bertahun-tahun kami mengenal kepala dusun sebagai

orang yang berwatak baik. Dia merayakan pernikahan

puteranya dengan gadis dusun di sini, apa salahnya itu?”

“Mungkin dia tidak bersalah, akan tetapi sayang, yang

dilamarnya itu adalah seorang gadis yang sudah mempunyai

calon suami dan ikatan jodoh itu sudah berjalan sejak

keduanya masih kecil. Tiba-tiba saja ikatan jodoh itu

dibatalkan karena anak perempuan itu hendak dikawinkan

dengan putera kepala daerah! Nah, bukankah hal itu

merupakan suatu paksaan yang merugikan pihak calon

suami?”

Kembali dua orang itu saling pandang dan kini si brewok

yang berkata dengan suara lantang. “Semua itu merupakan

urusan pribadi keluarga pengantin puteri, dan tidak ada

sangkut pautnya dengan keluarga kepala dusun. Pinangan

sudah diterima dan pernikahan dilangsungkan, siapapun tidak

berhak untuk menghalangi!”

“Maaf, akan tetapi aku berpihak kepada keluarga colon

suami yang disia-siakan, maka aku yang menghalangi dilanjutkannya

pernikahan paksaan ini. Harap ji-wi suka kembali

saja dan minta kepada kepala dusun untuk datang ke sini agar

urusan ini dapat kita bicarakan dengan penuh kebijakan!”

“Hemm, tidak percuma kalau sahabat kami kepala dusun

itu memberi kepercayaan kepada kami untuk menghadapi

pengacau! Engkau seorang pengacau, maka mari ikut dengan

kami menghadap kepala dusun! Kalau engkau menyerah baikbaik,

kami tidak ingin menggunakan kekerasan.” kata si tinggi

besar.

“Kalau aku t idak mau?”

“Ji-wi taihiap, biar kami keroyok saja dia!” teriak si kumis

melintang yang memimpin para pengawal tadi. Tujuh orang

itu agaknya kini berbesar hati karena hadirnya dua orang

gagah itu, lupa bahwa tadi mereka sama sekali t idak berdaya

menghadapi si bongkok. Akan tetapi, melihat mereka sudah

bergerak hendak mengeroyok, dua orang gagah itu

mengembangkan dua lengan dan mencegah mereka maju.

“Jangan kalian bergerak. Biarkan kami yang

menghadapinya!” kata si tinggi besar dan tujuh orang

pengawal itupun mundur kembali. Tadi mereka hendak maju

hanya untuk menebus rasa malu, sesungguhnya mereka jerih

maka kini dilarang maju, mereka diam-diam merasa lega.

“Sute, biarkan aku yang mencoba kelihaian orang sombong

ini!” kata si tinggi besar yang segera melangkah maju. “Sobat,

engkau sungguh tinggi hati, handak mencampuri urusan

pribadi keluarga orang lain. Agaknya engkau hendak

mempergunakan kepandaian untuk melakukan kekerasan dan

hendak merampas mempelai wanita itu!”

Sie Liong tersenyum. “Hemm, kalau aku bermaksud

demikian, apa perlunya aku berada di sini menanti datangnya

jagoan-jagoan dari kepala dusun? Tentu sudah kuculik dan

kularikan mempelai wanita. Tidak, dugaanmu itu menyeleweng

jauh, sobat. Aku hanya ingin membenarkan yang salah,

tidak ada pamrih lain.”

“Dan engkau akan mempertahankan pendirianmu itu

dengan kekuatan dan ilmu silatmu?”

“Kalau perlu….”

“Bagus! Ingin kulihat sampai di mana kelihaianmu maka

engkau sesombong ini!” bentak si tinggi besar itu dan dia

membentak nyaring, “Lihat serangan!”

Sikap itu saja membuktikan bahwa dia memang seorang

gagah, seorang pendekar yang memberi peringatan sebelum

melakukan serangan. Pukulannya amat kuat, mendatangkan

angin pukulan yang menyambar dahsyat, juga datanguya

cepat sekali. Melihat serangan ini, tahulah Sie Liong bahwa dia

berhadapan dengan lawan yang “berisi”, bukan sekedar tukang

pukul yang besar suaranya saja. Maka, diapun dengan

hati-hati mengelak ke kiri, lalu dari kiri tangannya menyambar

ke kanan depan, membalas dengan totokan ke arah lambung

kanan yang terbuka. Namun, lawannya sudah menarik tangan,

menekuk lengan dan memutar tubuh ke kanan sambil

menangkis keras. Agaknya, si tinggi besar ini hendak mencoba

tenaga lawan, maka ketika menangkis totokan itu, dia

mengerahkan sin-kang.

“Dukkk! ” Dua lengan bertemu keras sekali dan akibatnya, si

tinggi besar mengeluarkan seruan kaget. Dia merasa betapa

lengannya nyeri, tulangnya seperti akan patah dan lengan

kanan itu lumpuh dalam satu dua detik. Dia cepat meloncat

mundur dan memandang lawan dengan sinar mata tajam,

maklum bahwa si bongkok ini benar-benar hebat! Maka

diapun lalu menerjang dengan cepat, bagaikan serangan

badai, kaki tangannya bergerak cepat dan setiap pukulan dan

tamparannya dilakukan dengan pengerahan tenaga. Namun,

dengan tenang Sie Liong selalu manghindarkan diri, dengan

langkah-langkahnya yang teratur.

“Hyaattttt….!” Kini lawannya menyerang dengan lebih

dahsyat lagi. Setiap pukulan telapak tangannya mengandung

tenaga dahsyat yang panas!

Sie Liong maklum bahwa lawannya mempergunakan

semacam sin-kang yang hebat, maka diapun segera

mengerahkan sin-kangnya dan memainkan ilmu silat SwatTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

liong-ciang (Silat Naga Salju). Ketika tangan mereka bertemu

dalam benturan dahsyat, orang tinggi besar itu terhuyung ke

belakang dan dia terbelalak, tubuhnya menggigil kedinginan!

Memang, Swat-liong-ciang itu merupakan ilmu silat ampuh

yang mengeluarkan hawa dingin dan ilmu ini diperoleh Sie

Liong dari seorang di antara guru-gurunya, yaitu Swat Hwa

Cinjin, seorang di antara Himalaya Sam Lojin.

Melihat suhengnya terhuyung dengan tubuh menggigil dan

muka pucat, si brewok menerjang dahsyat sambil membentak,

“Lihat seranganku!”

Kedua tangan itu bergerak cepat, merupakan dua cakar

yang mencengkeram ke bagian-bagian lemah dari tubuh Sie

Liong. Serangannya bertubi-tubi dan ternyata sang sute ini

tidak kalah lihainya dibanding sang suheng! Sie Liong maklum

bahwa ilmu silat yang dimainkan itu semacam ilmu yang

meniru gerakan harimau, maka dahsyat sekali dan melihat

kuatnya sambaran angin pukulan tentu cakar istimewa dari

tangan orang itu, walaupun tidak berkuku panjang, tidak kalah

berbahayanya dari pada cakar seekor harimau! Diapun cepat

berloncatan mengelak dan kini dia memainkan ilmu silat Pek-in

Sin-ciang (Silat Sakti Awan Putih) dan begitu dia mengerahkan

tenaga sin-kang, dari telapak kedua tangannya berkepul uap

putih dan semua cakaran lawan dapat ditangkisnya dengan

tepat. Diapun membalas dengan dorongan-dorongan telapak

tangannya dan akhirnya, lawan yang brewok itupun

terhuyung-huyung ke belakang, tidak kuat manahan hawa

yang amat kuat menyambar dari kedua tangan Sie Liong.

Kini, dua orang gagah itu meloncat mundur dan mereka

berdua mencabut pedang dari punggung! Mereka maklum

bahwa dengan tangan kosong mereka t idak akan mampu

mengalahkan orang bongkok itu, maka mereka mencabut

senjata!

“Sobat, ternyata engkau benar amat lihai. Nah, keluarkan

senjatamu, mari kita bermain-main sebentar dengan senjata!”

tantang si tinggi besar dengan sikap gagah.

Sie Liong menjura kepada mereka. “Mana aku berani? Aku

tidak pernan bermain-main dengan senjata, dan aku tidak

akan pernah mau mangangkat senjata untuk melawan

pendekar-pendekar dari Kun-lun-pai yang gagah perkasa,

karena aku tahu benar bahwa para pendekar Kun-lun-pai

selalu membela yang benar dan tidak pernah melakukan

kejahatan!”

Dua orang itu terbelalak. “Engkau…. mengenal kami?

Siapakah engkau sebenarnya?” tanya si tinggi besar. Mereka

memang benar murid-murid Kun-lun-pai, yang tinggi basar

bernama Ciang Sun, sedangkan sutenya yang brewokan,

bernama Kok Han.

“Tentu saja aku mengenal ji-wi, bahkan kurang lebih tujuh

delapan tahun yang lalu kita pernah saling berjumpa. Ketika

itu, ji-wi berusaha menolong seorang tosu tua yang diseret

oleh dua orang pendeta Lama, akan tetapi ji-wi tertotok

roboh. Nah, di tempat itulah kita saling berjumpa!”

“Ahh….!” Dua orang pendekar Kun-lun-pai itu berseru

kemudian saling pandang. “Engkau…. engkau bocah bongkok

yang terpukul oleh pendekar Lama itu….? Tapi…. tapi kami

sangka engkau sudah mati….!”

Sie Liong tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Tidak

mati, aku tertolong oleh Himalaya Sam Lojin yang menjadi

guru-guruku….”

“Ahhh….! Kiranya saudara adalah murid lima orang kakek

sakti itu? Pantas begini lihai! Akan tetapi, mengapa…. eh,

tentang urusan pengantin itu….” Dua prang pendekar Kunlun-

pai itu menjadi gugup karena mereka tadi memandang

rendah.

“Harap ji-wi tenang-tenang saja. Sungguh, tentu ji-wi

percaya bahwa aku tidak akan melakukan perbuatan yang

jahat, bukan? Ketahuilah, aku bertemu dengan pemuda yang

sejak kecil menjadi tunangan gadis yang kini menjadi pengantin.

Sejak kecil bertunangan lalu tiba-tiba dibikin putus

dan tunangannya tahu-tahu akan dinikahkan dengan putera

kepala dusun! Bukankah hal itu sama sekali tidak adil? Juga

pengantin wanita kulihat sendiri t idak mau dijodohkan dengan

anak kepala dusun, akan tetapi kedua orang tuanya yang

agaknya mata duitan dan mata kedudukan, memaksanya.

Itulah sebabnya aku turun tangan….”

“Ah, kalau begitu, lain lagi urusannya!” kata Kok Han.

“Sungguh heran, kenapa bisa terjadi demikian? Padahal kepala

dusun itu telah lama kami kenal sebagai orang yang baik dan

bijaksana.”

“Mungkin dia tidak tahu,” kata Sie Liong. “Dia hanya tahu

meminang, diterina dan merayakan pernikahan puteranya.

Karena itu, sebaiknya kalau dia diajak berunding, sukur kalau

dia mau datang ke tempat ini agar perundingan dapat

diadakan bersama orang tua mempelai puteri. Tentu ji-wi

sekarang sudah tahu akan duduknya perkara dan suka

membantu agar peristiwa ini dapat diselesaikan dengan baik.”

Dua orang pendekar Kun-lun-pal itu tentu saja menyetujui

usul Sie Liong. “Baik, kami yang akan menjelaskan kepada

keluarga Sun, dan kami akan membujuk kepala dusun Sun

agar suka datang ke sini.”

“Terima kasih, ji-wi memang bijaksana. Aku menunggu di

sini,” kata Sie Liong. Dua orang pendekar Kun-lun-pai itu

segera pergi dan mereka merasa bersukur bahwa mereka

tidak usah kehilangan muka, tidak sampai dirobohkan oleh

Pendekar Bongkok. Mereka kini tahu bahwa kalau lawan tadi

menghendaki, mereka tentu saja sudah roboh, bahkan

mungkin tewas. Dan mereka kini tidak ragu-ragu lagi akan

kebenaran apa yang dilakukan oleh Pendekar Bongkok.

Benar saja seperti dugaan Sie Liong, kepala dusun Sun tak

lama kemudian datang ke rumah calon besan itu, ditemani

oleh dua orang pendekar Kun-lun-pai. Mereka lalu disambut

dan dipersilakan duduk di ruangan dalam di mana mereka

mengadakan pembicaraan. Yang hadir hanyalah suami isteri

orang tua Sui Lian, kepala dusun Sun, Sie Liong dan juga dua

orang pendekar itu, Ciang Sun dan Kok Han.

Dengan jelas Sie Liong lalu menceritakan tentang

pemutusan pertalian jodoh antara Sui Lian dan Un Kiong, yang

didengarkan oleh kepala dusun Sun dengan alis berkerut. Sie

Liong lalu melanjutkan ceritanya.

“Hendaknya jung-cu (lurah) ketahui bahwa pertunangan

kedua orang muda itu sudah diketahui oleh seluruh penduduk

dusun ini, dilakukan semenjak keduanya masih kanak-kanak.

Kalau tiba-tiba pertunangan itu dibikin putus secara sepihak,

kemudian gadis itu dinikahkan dengan anakmu, bukankah

penduduk akan menganggap bahwa jung-cu sewenangwenang,

mempergunakan kekuasaannya untuk merampas

tunangan orang? Kalau jung-cu ingin disuka oleh seluruh

penduduk dusun, ingin menjadi seorang kepaia dusun yang

bijaksana, kiranya tentu tidak ingin merampas tunangan orang

dan memaksa gadis itu menikah dengan puteramu.”

Kepala dusun Sun memandang kepada tuan rumah, yaitu

ayah dari Sui Lian. “Akan tetapi, kalau memang Sui Lian sudah

mempunyai tunangan, kenapa pinangan kami diterima?”

Sie Liong menoleh kepada tuan rumah dan isterinya, lalu

berkata dengan tenang, “Kiranya paman dan bibi ini akan

dapat menjawab pertanyaan itu dan sekaranglah saatnya

semua orang berterus terang dan meluruskan yang bengkok,

membenarkan yang salah!”

Wajah tuan dan nyonya rumah menjadi agak pucat dan

dengan suara gemetar, ayah Sui Lian lalu berkata, “Mohon

ampun kepada jung-cu…. ketika jung-cu mengajukan

pinangan, kami…. kami merasa terhormat dan berbahagia

sekali, kami tidak berani menolak dan tidak berani

menceritakan tentang pertunangan itu…. dan kami merasa

bangga kalau menjadi besan jung-cu, maka kami diam saja

dan….”

“Brakkk!” kepala dusun Sun menggebrak meja dengan

kedua tangannya, dan mukanya menjadi merah sekali. “Kalian

kira aku ini orang macam apa? Seorang pembesar yang

mengandalkan kekuasaannya memaksakan kehendaknya

kepada rakyat? Sungguh, itu namanya memandang rendah

kepada kami!”

“Ampunkan kami…. jung-cu….!” tuan dan nyonya rumah

menjadi ketakutan.

Kepala dusun itu menarik napas panjang. “Sudahlah, garagara

sikap kalian yang keliru, yang gila kehormatan dan

kedudukan, kalian telah membuat kami sekeluarga menjadi

malu saja. Semua tamu sudah datang dan semua peralatan

upacara pernikahan telah disiapkan, bagaimana mungkin

pernikahan dibatalkan? Kami akan menjadi buah cemoohan

dan tertawaan orang saja! Siapa nama tunangan Sui Lian itu?”

“Namanya Un Kiong….”

“Di mana dia? Panggil dia ke sini!”

Sie Liong bangkit. “Biarlah aku yang memanggil dia ke sini.”

Dan sekali berkelebat, pemuda bongkok inipun lenyap dari

situ. Tak lama kemudian dia sudah datang lagi bersama Un Kiong.

Pemuda ini agak pucat. Bagaimanapun juga, dia

ketakutan.

Akan tetapi, kepala dusun Sun bersikap tenang. “Un Kiong,

mulai saat ini, engkau kuanggap sebagai anak angkatku dan

besok engkau akan kunikahkan dengan Sui Lian. Sukakah

engkau?”

Un Kiong menjatuhkan diri berlutut di depan “ayah

angkatnya” dan hanya mampu menangis saking gembiranya.

Sie Liong bertemu pandang dengan dua orang pendekar Kunlun-

pai dan mereka tersenyum, kagum akan hasil pekerjaan

Pendekar Bongkok.

Pada keesokan harinya, pesta pernikahan tetap dirayakan

di rumah kepala dusun, hanya saja, yang menikah bukanlah

putera kandungnya, melainkan “putera angkatnya”. Puteranya

sendiri disuruhnya pergi ke kota di selatan, untuk

menghindarkan pergunjingan orang.

Ketika sepasang mempelai dipertemukan, Sie Liong dan

dua orang pendekar Kun-lun-pai mendapat kursi kehormatan.

Dan dua orang mempelai itu tanpa diperintah, langsung saja

menghampiri Sie Liong dan keduanya menjatuhkan dirinya

berlutut di depan pemuda bongkok itu.

“Wah…. jangan….! Tidak perlu begini….!” katanya den

sekali berkelebat, Pendekar Bongkok sudah lenyap dari tempat

itu, bahkan dari dusun itu yang ditinggalkannya cepat-cepat.

Peristiwa ini bukan hanya menguntungkan dua orang muda

yang sudah saling mencinta itu, akan tetapi juga

mondatangkan keuntungan benar kepada kepala dusun Sun.

Perbuatannya itu mendatangkan perasaan hormat dan suka

sekali dalam hati para penduduk dusun itu sehingga dia

menjadi seorang kepala dusun yang dihormati, disuka dan

ditaati sehingga dia selalu dipilih, menjadi kepala dusun

selama hidupnya!

Sie Liong sendiri melanjutkan perjalanan dengan wajah

cerah. Mulutnya selalu tersenyum. Girang bukan main rasa

hatinya bahwa dia telah berhasil menyambung perjodohan

yang putus itu! Dia dapat membayangkan betapa bahagianya

sepasang orang muda itu! Akan tetapi diapun melihat bahwa

kesenangan yang dinikmati sepasang orang muda itu tidaklah

kekal adanya. Seperti juga keadaan udara, kehidupan manusia

tidak selamanya diterangi sinar matahari. Banyak sekali awan

hitam berarak di angkasa, sewaktu-waktu dapat mengurangi

kecerahan matahari, bahkan menggelapkannya sama sekali.

Akan tetapi, itu soal nanti! Yang penting, sekarang mereka

berbahagia dan diapun merasa berbahagia karena

perbuatannya telah berhasil membahagiakan orang lain!

Dusun Ngomaima biasanya tenteram. Keributan hanya

kadang-kadang saja terjadi, itupun kalau dusun itu kedatangan

banyak tamu pedagang yang membawa pasukan pengawal

masing-masing. Para anggauta pasukan pengawal inilah yang

suka membikin ribut. Mereka bermabok-mabokan di dusun itu

dan seringkali terjadi pertengkaran di antara para pasukan

pengawal. Juga kadang-kadang mereka itu hendak

memaksakan kehendak mereka kalau melihat wanita cantik.

Akan tetapi, Gumo Cali selalu dapat meredakan keributan

yang timbul.

Maka, amatlah aneh rasanya bagi para pendatang ketika

selama beberapa pekan, dusun Ngomaima sama sekali

berubah keadaannya. Terutama sekali di waktu malam. Dusun

itu sunyi sekali, dan hampir semua penghuni tidak berani keluar

dari rumah mereka begitu matahari sudah menyelam. Di

sana sini para penghuni pria melakukan penjagaan dan perondaan,

dan pekerjaan inipun dilakukan dalam suasana

penuh ketakutan. Hal ini amat menarik hati para pendatang

dan beberapa orang kepala pasukan pangawal yang merasa

diri mereka kuat, bertanya. Setelah mereka mendapatkan

keterangan bahwa dusun itu sejak beberapa pekan telah

diganggu oleh munculnya siluman yang pada malam hari

menculik gadis-gadis tercantik, mereka lalu bangkit dan

mempergunakan pasukan mereka untuk mencoba menangkap

siluman. Namun usaha mereka semua gagal, seperti juga

usaha Gumo Cali sendiri. Banyak sudah anak buah Gumo Cali

roboh dan menderita luka-luka, juga kini para jagoan dari

pasukan pengawal juga banyak yang luka, bahkan ada yang

tewas ketika mereka berusaha untuk menangkap “siluman”

itu. Banyak jagoan merasa gentar karena siluman itu kabarnya

memiliki kesaktian yang luar biasa, yang tidak mungkin

dilawan dengan ilmu silat biasa saja. Maka, setelah banyak

jagoan diantara para pengawal mancoba-coba untuk mengadu

kepandaian dengan siluman itu dan gagal, bahkan banyak

yang roboh terluka, bahkan ada yang tewas, tidak ada lagi

yang berani mencoba-coba!

Sudah ada tiga orang gadis cantik yang lenyap tanpa

meninggalkan jejak, lenyap begitu saja dari kamar di rumah

orang tua mereka! Siluman itu selalu beraksi pada malam hari

dan hebatnya, sebelum malam hari dia datang, pada siang

harinya dia lebih dahulu memberi tanda cairan merah yang

dioleskan pada pintu rumah calon korbannya. Ketika Gumo

Cali sendiri melakukan pemeriksaan, ternyata cairan merah itu

adalah darah! Dan malamnya, biarpun sudah dijaga ketat,

tetap saja siluman itu datang, merobohkan siapa saja yang

mencoba untuk menghalanginya, kemudian menculik gadis

yang dipilihnya! Menurut keterangan mereka yang pernah

dirobohkannya, siluman itu datang dan pergi sebagai

bayangan saja, tidak kelihatan jelas orangnya kalau memang

dia manusia, tidak nampak jelas mukanya, dan bayangannya

selalu berwarna merah. Maka, siluman itupun terkenal dengan

sebutan siluman merah!

Keadaan dusun Ngomaima menjadi semakin geger ketika

pada suatu siang, ada lagi coretan merah pada sebuah daun

pintu. Betapa penduduk tidak akan geger kalau coretan itu

sekali ini terdapat pada daun pintu rumah Gumo Cali sendiri?

Ketua mereka, kepala dusun dan pemimpin mereka, yang

ditakuti semua orang, kini hendak diganggu oleh siluman itu!

Dan coretan itu bukan hanya satu, melainkan dua! Ini berarti

bahwa yang akan diculik adalah dua orang gadis, dan

memang Gumo Cali memiliki dua orang anak perempuan yang

cantik manis, berusia empat belas dan enambelas tahun!

Gumo Cali menjadi panik! Usaha penjagaan ketat dengan

para jagoan tidak menenteramkan hatinya karena sudah

terbukti berulang kali betapa para jagoan itu tidak ada yang

mampu menandingi kesaktian siluman itu, maka jalan

keduapun diambilnya, jalan dari mereka yang masih tebal

kepercayannya akan tahyul, yaitu mengundang seorang

dukun!

“Untuk mengusir siluman tidak mungkin dipergunakan

kekuatan otot,” demikian katanya kepada isterinya yang terus

menerus menangis, juga kedua puterinya yang menangis

ketakutan, “akan tetapi harus dengan kekuatan sihir, dan yang

akan mampu mengusirnya dan menyelamatkan dua orang

anak kita hanyalah seorang dukun.”

Di daerah Ngomaima terdapat seorang dukun yang cukup

terkenal. Dia selalu dipanggil kalau ada orang hendak

membangun rumah, kalau ada orang mati, bahkan kalau ada

yang sakit, diapun diundang untuk mangobati dengan cara

yang aneh. Dia juga seorang peranakan Tibet Han, memiliki

nama Han yaitu Bong Ciat dan selalu minta disebut Bong Sianjin,

seolah-olah dia adalah seorang manusia dewa!

Bong Sian-jin diundang dan dengan gaya seorang dukun

sejati yang penuh dengan ilmu sihir, dukun ini datang dan

penampilannya memang mengesankan sekali. Pakaiannyapun

aneh, merupakan jubah pendeta yang lebar dan lengannya

longgar, akan tetapi kalau jubah pendeta itu biasanya

sederhana berwarna polos putih atau kuning, jubah yang

dipakai dukun ini kembang-kembang dan berwarna-warni!

Juga dia pesolek sekali, karena selain pakaiannya licin dan sepatunya

baru, juga rambutnya tersisir licin berminyak, dan

hebatnya, kalau orang berada dua tiga meter saja darinya,

orang itu akan mencium bau minyak yang sangat wangi! Usia

Bong Sian-jin ini kurang lebih empat puluh tahun, dengan

kumis kecil panjang berjuntai ke bawah, bersambung dengan

jenggotnya yang juga jarang. Matanya yang amat sipit itu

sukar dikatakan melek atau meram, hidungnya besar dan

mulutnya kecil selalu tersenyum mengejek. Di punggungnya

terdapat sebatang pedang, tangan kanannya memegang

sebuah kebutan berbulu putih dan tangan kirinya memegang

sebuah kipas yang dikebut-kebutkan ke arah lehernya ketika

dia mamasuki rumah Gumo Cali dengan lenggang dibuat-buat!

Gumo Cali dan isterinya cepat menyambut dengan sikap

hormat, dan begitu melihat tuan rumah, tiba-tiba dukun itu

berhenti melangkah, hidungnya mengembang-kempis,

mendengus dan mencium-cium, matanya yang sipit itu melirik

ke kanan kiri, lalu mulutnya mengeluarkan keluhan panjang,

“Hayaaaaaaa….!” dan diapun mengangguk-angguk.

Melihat ini, Gumo Cali cepat memberi hormat dan bertanya,

“Sian-jin, apakah yang engkau ketahui? Katakan kepada

kami!”

“Aih, penuh hawa siluman di sini! Harus disingkirkan dulu

hawa siluman ini, kalau tidak, akan meracuni semua penghuni

rumah!” Diapun mengeluarkan sebungkus hioswa (dupa

biting) dari kantung jubahnya yang lebar, mengeluarkan

beberapa batang dupa dan menyalakannya. Asap yang

mengeluarkan bau harum segera memenuhi ruangan depan

itu. Mulut si dukun berkemak-kemik membaca mantram,

kemudian terdengar dia berkata sambil mengacung-acungkan

hio itu ke empat penjuru. “Yang datang dari utara, kembalilah

ke utara, yang datang dari timur, kembalilah ke timur, yang

datang dari selatan kembalilah ke selatan dan yang datang

dari barat kembalilah ke barat. Jangan ganggu rumah ini,

melainkan kumpulkan semua kawanmu untuk membantu aku

mengusir siluman merah!” Dia lalu mengeluarkan gerengangerengan

aneh yang pantasnya hanya keluar dari leher

binatang buas. Tentu saja sikap dan perbuatannya yang aneh

ini mengesankan sekali dan hati Gumo Cali dan isterinya

sudah mulai merasa lega. Tentu dukun sakti ini akan mampu

mengusir siluman merah dan menyelamatkan puteri-puteri

mereka.

Bagaikan orang yang sedang kemasukan dan bukan

kehendaknya sendiri, tanpa permisi lagi Bong Sian-jin

memasuki rumah, mengacung-acungkan hio yang masih

berasap itu, mengelilingi seluruh ruangan di rumah itu.

Kemudian dia bertanya, “Di mana kamar dua orang gadis itu?”

Diam-diam Gumo Cali menjadi semakin gembira. Kiranya

dukun ini sudah tahu bahwa dua orang gadisnya itulah yang

diancamoleh siluman merah!

“Di sana, Sian-jin, di sudut itu….” jawabnya cepat.

“Bawa aku ke sana, dan suruh dua orang gadismu itu

menemuiku, akan kulihat apakah mereka sudah terkena hawa

siluman ataukah belum! ”

Dengan senang hati ayah dan ibu itu lalu mengajak Bong

Sian-jin memasuki sebuah kamar yang cukup besar. Di situ

terdapat sebuah pembaringan yang lebar, yaitu pembaringan

dari kakak beradik itu. Mereka yang tadinya bersembunyi di

tempat lain, segera dipanggil dan dua orang gadis yang cantik

manis itu kini berdiri dengan muka pucat di depan Bong Sianjin

yang memandang kepada mereka dengan mata seperti

terpejam! Namun, di balik pelupuk mata yang tertutup itu

mengintai sepasang mata yang tajam, sinar mata yang

menjelajahi seluruh tubuh kedua orang gadis itu dari kepala

sampai ke kaki dan mata itu bersinar gairah!

Tiba-tiba Bong Sian-jin mengeluarkan seruan, “Uhhhh….!”

dan diapun terhuyung ke belakang. “Sungguh celaka….!”

“Ada apakah, Sian-jin….?” tanya Gumo Cali cepat dan

wajahnya gelisah sekali.

“Celaka, mereka ini sudah diselubungi hawa siluman yang

amat kuat!”

Ibu kedua orang anak itu menjerit ketakutan dan dua orang

anak perempuan itupun menangis dan tubuh mereka menggigil.

“Aduh…. lalu bagaimana baiknya, Sian-jin? Tolonglah anakanakku,

tolonglah kami…. apapun yang kauminta akan kami

laksanakan untuk membalas budi kebaikanmu…. tolonglah….”

kata kepala dusun itu cemas dan kelihatan ketakutan,

sungguh tidak sesuai dengan kegagahannya sebagai seorang

jagoan nomor satu di dusun Ngomaima itu. Ketahyulan dapat

membuat orang yang bagaimana perkasapun menjadi seorang

pengecut dan penakut.

“Jangan khawatir heh-heh, jangan khawatir. Selama masih

ada Bong Sian-jin, jangan khawatir….!