Misteri Rumah Berdarah

New Picture (3)bb

Misteri Rumah Berdarah

Saduran : Tjan I.D

Jilid 1

PENDAHULUAN

“DISEWAKAN SEBUAH RUMAH REJEKI” Silakan periksa di gunung, Liong-san Hutan Tauw Liem. Itulah bunyi dari sebuah pengumuman penyewaan rumah yang ditempelkan diluar pintu sebelah utara kota kay Hong, bukan saja kertas warna merah tersebut sangat menarik perhatian, bahkan ada sesuatu yang jauh lebih menarik dari hal tersebut.,

banyak para pedagang berhenti

sebentar untuk membaca isi pengumuman itu.

Bagi orang-orang yang sering melakukan perjalanan

melalui jalan raya ini rasanya masih teringat oleh mereka

akan peristiwa penyewaan rumah yang sangat aneh ini.

Karena setiap tahun pengumuman tersebut selalu

muncul satu kali dan waktu pun sama, yaitu bulan tiga

tanggal tiga belas !

Gunung Liong san terletak anatara Kota kay Hong

dengan gunung Siong-san, disana terdapat sebuah hutan

Tauw yang lebat, apakah rumah yang disewakan tersebut

pernah disewa dan diadiami oleh orang ……?

Sudah tentu, persoalan ini jarang sekali diketahui orang,

tetapi bila ditinjau dari keadaan rumah tersebut, tentu sudah

pernah disewa oleh seseorang dan orang itu berdiam disana

tidak bakal melebihi satu tahun lamamnya.

Kalau tidak, tidak mungkin setiap setahun sekali

pengumuman kertas merah itu bisa muncul kembali

ditempat semula!

Pernah ada beberapa orang karena tertarik, telah

berangkat ke gunung Liong-san hutan Tauw Liem itu untuk

melihata keadan sebenarnya, tetapi setelah tiba disana,

orang-orang itu dengan hati kebat-kebit dan bulu roma pada

berdiri, hingga melarikan diri terbirit-birit dari sana.

Mengapa ?

Rumah tersebut bukankah sebuah rumah rejeki,

melainkan sebuah rumah yang memyai bentuk sangat aneh

dan menyeramkan ……..

Kiranya ritu bentuknya seperti kerangka manusia,

sehingga bagi setiap orang baru menemuinya terasa amat

menyolok.

Didepan rumah tersebut diantara semak-semak yang

lebat terdapat empat buah kuburan yang kuno dan baru tak

tentu, hal ini menambah keseraman serta kengerian suasana

disekitar sana.

Siapa yang berani mendiami rumah dalam suasana

begitu menyeramkan …?????….

Tetapi, kediaman di kolong langit memang kadangkadang

berda di luar duagaan semua orang. Rumah itu

bukan saja pernah disewa oleh seseorang, bahkan orang itu

adalah seorang jago Bu-lim yang memiliki ilmu ssangat

tinggi.

Cuma saying, orang-orang itu akhirnya harus dikubur

didepan rumah tersebut.

Mati ????? betul, mati

Tetapi, mengapa ???????

Beratus-ratus bahkan beribu-ribu pendapat pada muncul

dibalik benak para jago-jago bu-lim. Kendati begitu tak

seorangpun yang bisa memahami keadan yang sebenarnya.

Sedang pengumuman sewa rumah itupun setahun demi

setahun muncul terus didalam mayarakat ……..

Hanya didalam sekejap mata, tiga tahun sudah berlalu !

……………..

Didepan pintu rumah rejeki itupun sudah bertambah lagi

dengan tiga buah kuburan baru …..…………..

———– ooo O ooo ———-

Bab 1

MUSIM SEMI bulan ketiga telah tiba ….

Sesosok bayangan manusia yang kurus tinggi perlahanlahan

muncul didepan sebuah pintu rumah yang berada

diatas suatu bukit.

Dia adalah seorang pemuda berbaju hijau yang berusia

kurang lebih delapan, sembilan belas tahunan, badannya

kurus tinggi, sama sekali tidak kelihatan gagah, tampan

maupun kekar.

Ia berjalan bolak-balik didepan rumah itu dengan gelisah,

agaknya sedang menantikan sesuatu, sinar matanya tiada

henti-hentinya ditengokkan kearah bawah tebing yang

penuh ditutupi oleh kabut tebal.

Setiap kali ia menengok, suara helaan nafas panjangpun

mengiringi perasaan kecewa yang timbul dalam hati,

agaknya apa yang dinantikan selama ini membuat hatinya

terasa semakin gelisah …….

Tiba-tiba ……….

Sesosok bayangan hitam bagaikan kilat menyambar

datang melayang turun diatas puncak tersebut.

Semula pemuda berbaju hijau itu rada tertegun, tetapi

sebentar kemudian ia sudah tak dapat membendung rasa

girang dihatinya lagi.

“Suhu, kau sudah pulang ?” teriaknya tak tertahan.

Kiranya si orang berbaju hitam itu adalah seorang kakek

tua dengan dandanan sastrawan, terhadap sapaan dari

pemuda berbaju hijau itu Cuma mendehem perlahan.

Sekali lagi pemuda berbaju hijau itu dibuat berdiri

tertegun, karena dari suara deheman tadi, ia menemukan

nadanya berat dan paras muka suhunya kelihatan amat

sedih bercampur murung.

Agaknya selama ini pemuda berbaju hijau itu belum

pernah mengalami kejadian dimana suhunya

memperlihatkan sikap serta perubahan paras muka seperti

hari ini, akhirnya ia berkata kembali :

“Suhu, perjalananmu kali ini sudah makan waktu lima

hari …..”

“Emmmmm, aku tahu, mari kita masuk kedalam !”

Nada ucapannya masih tetap berat, singkat dan tandas,

sepasang alisnya dikerutkan sangat rapat. Setelah

menngucapkan kata-kata tadi tanpa menanti reaksi dari

muridnya, ia telah mendahului masuk kedalam rumah.

Dengan termangu-mangu si pemuda berbaju hijau itu

berdiri ditengah kalangan, matanya terus memandang

bayangan punggung suhunya dengan sayu, didalam hati

kecilnya pemuda ini mulai merasa ada sesuatu peristiwa

bakal terjadi …… atau mungkin peristiwa tersebut sudah

berlangsung.

Perubahan sikap serta paras muka suhunya yang

ditunjukkan hari ini boleh dikata sangat luar biasa, karena

selama ini belum pernah ia berubah sedemikian rupa,

apalagi kepergian suhunya kali ini sudah membuang tempo

lima hari, ini merupakan suatu kejadian yang sangat

istimewa.

Sekonyong-konyong …….

“Thian Kie, masuk !” dari balik ruangan berkumandang

suara suhunya sedang memanggil.

Si pemuda berbaju hijau – ——- atau Pek Thian Kie

kontan saja tersadar kembali dari lamunannya, dengan

terburu-buru ia segera putar badan berlari masuk kedalam

ruangan.

Tetapi sebentar kemudian ….. sewaktu sinar matanya

berkelebat, ia merasakan hatinya bergidik.

Karena tampaklah suhunya duduk diatas kursi dengan

wajah membesi, alisnya dikerutkan sedang selintas perasaan

sedih, duka dan murung menghiasi air mukannya.

“Suhu, urusan apa yang telah terjadi?” Tanya Pek Thian

Kie segera melangkah mendekat.

“Hei ….” Perlahan-lahan si sastrawan berbaju hitam itu

menghela napas panjang.

“Ada suatu urusan yang bagaimanapun juga harus

kuberitahukan kepadamu !”

“Suhu ! urusan apa ? Cepat kau beritahukan kepadaku !”

kontan saja Pek Thian Kie merasakan hatinya berdesir.

Si satrawan berbaju hitam itu mengangguk berat.

Bukankah sejak kecil sampai kau menginjak dewasa

selam ini selalu bersama-sama dengan diriku ?” tanyanya

“Benar!”

“Jika dihitung dengan jai kau sudah berdiam selama

limabelas tahun lamanya diatas tebing “Pek Wu Leng” ini,

selama ini bukankah suhumu belum pernah berpisah

dengan dirimu?”

“Benar !”

“Kepergianku kali ini yang telah menghabiskan waktu

lima hari, bukankah kau merasa terlalu lama ?”

“Benar ! Kau orang tua belum pernah pergi selama

ini….”

“Lama ?” Potong si sastrawan berbaju hitam itu tidak

menanti muridnya selesai berbicara. “Lima hari kau anggap

sangat lama ?”

“Benar ……!” Agaknya si sastrawan berbaju hitam itu

dibuat melengak juga oleh pertanyaan tersebut, tetapi

sebentar kemudian ia sudah meyambung kembali :

“Ooouw ……. Aku pergi menengok beberapa orang

sahabat karibku, karena itu aku pulang kegunung rada

terlambat. Cuma ….. kini aku punya maksud untuk

meninggalkan tempat ini !”

“Benar !”

“Kita akan pergi kemana ?”

“Tidak! Kau salah, Cuma aku seorang saja pergi, kau

tidak termasuk.”

Mendengar perkataan tersebuta itu juga Pek Thian Kie,

kontan seketika jadi tertegun, agaknya perkataan tersebut

benar-benar diluar dugaannya.

“Suhu kenapa ?” teriaknya tak kuasa lagi.

“Tidak karena pa-apa. Tetapi yang jelas, aku mau tak

mau harus pergi, sedang mengenai apa sebabnya, aku tidak

ingin memberitahukan kepadamu. Karena aku merasa hal

ini sama sekali tidak berguna dan tidak mendatangkan

keuntungan bagimu ……..”

“suhu ! Tidak, aku ingin mengetahui sebab-sebabnya.”

“Tidak perlu, kepergiaku kali ini Cuma setahun, setelah

satu tahu. Kemungkinan sekali aku masih bisa kembali, ada

banyak urusan aku tak dapat beritahukan kepadamu …..

tetapi ada pula beberapa urusan yang harus aku sampaikan

kepadamu ……………”

“Suhu ! Bila kau ada urusan, katakanalah semuanya !”

sahutnya Pek Thian Kie cepat-cepat.

“Kitab yang aku berikan kepadamu sudah selesai kau

baca ?”

“Belum, masih ada empat-lima halaman.”

“Didalam satu tahun ini, kau harus menyelesaikan

keempat, lima halaman tersebut?”

“Tecu ikuti perintah.”

Perlahan-lahan si sastrawan berbaju hitam itu

mengangguk.

“Aku piker didalam satu tahun mendatang, kau pastu

sudah bisa menyelesaikan kitab tersebut sampai halaman

yang terakhir.” Katanya.

Ia merandek sejenak, sejurus kemudian sambungnya

kembali : Sedangkan mengenai penyakitmu, sampai

sekarang aku masih belum berhasil menemukan orang yang

bisa menyembuhkannya, tentang ini terpaksa aku harus

minta maaf ……”

“Suhu! Apakah kau sudah tidak mau menggubris tecu

lagi?”

Si sastrawan berbaju hitam itu tertawa pahit.

Setelah satu tahun, kemungkinan sekali aku bisa pulang

kembali, tetapi dikalau sampai ……”

Berbicara sampai disitu mendadak ia tutup mulutnya

rapat-rapat, diatas paras mukanya terlintaslah perasan yang

murung.

“Suhu ……” jerit Pek Thian Kie dengan hati bergidik.

“Jikalau sampai aku tidak kembali, kaupun tidak usah

pergi mencari aku.”

Saat itu Pek Thian Kie benar-benar merasakan bulu

romanya pada berdiri semua.

“Suhu! Mengapa kau tidak pulang?”

“Heeeeeei ….. peristiwa yang terjadi dikolong langit

memang kadang-kadang berada diluar dugaan orang lain.”

Ujar si sastrawan berbaju hitam itu sambil tertawa pahit.

“Kemungkinan juga kepergianku kali ini tak bakal kembali

lagi untuk selamanya. Tetapi hal ini masih merupakan

suatu kemungkinan, mungkin juga tidak sampai terjadi

peristiwa semacam itu …..”

Ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar

tambahnya lagi :

“Heeeeei …… semisalnya sungguh-sungguh terjadi

peristiwa semacam ini, kau tidak usah mencari aku lagi

…..”

“Kenap ?”

“Kau tidak usah tanyakan sebabnya!”

“Ba ……. Baik ………!” dengan gugup dan ketakutan

Pek Thian Kie menyahut.

Perlahan-lahan paras muka si sastrawan berbaju hitam

itu mulai berubah jadi ramah kembali.

“Persoalan lain yang harus kau ketahui adalah asal

usulmu.” Ujarnya kembali. “Sampai sekarang aku masih

belum berhasil mendapatkan tahu persoalan ini, perempuan

itupun tak pernah ditemukan oleh orang lagi. Tetapi pada

waktu itu ia sudah harus kau cari tahukan nammu beserta

orang yang harus kau cari setelah menginjak dewasa. Aku

percaya tentunya kau masih belum melupakannya bukan?”

“Benar! Untuk selamanya tecu tak akan melupakan hal

ini ……” sahut Pek Thian Kie dengan suara yang berat.

“Aku harus pergi mencari orang yang bernama Kiang To

untuk menanyakan asal usulku.”

“Heeeeei ….. kalau begitu bagus sekali setahun

kemudian kau pergilah sendiri untuk mencari dirinya.”

“baik, suhu …… “ Agaknya Pek Thian Kie hendak

mengucapkan sesuatu lagi, tetapi untuk beberapa sat tak

sanggup untuk mengucapkannya keluar.

Kembali sastrawan berbaju hitam itu menghela nafas

panjang.

“Heeeei ….. sudahlah, perkataanku hanya sampai disini

saja” katanya perlahan.

“malam Sudah semakin kelam, kau pergilah untuk

beristirahat!”

“suhu ! Apakah kau benar-benar tidak suka

memberitahukan kepadaku tujuanmu yang sebenarnya ????”

desak sang pemuda tersebut dengn nada yang sedih.

“Benar, aku tidak akan beritahukan hal ini kepadamu

karena persoalan tersebut tidak bakal mendatangkan

keuntungan buat dirimu, sekarang kau beristirahatlah lebih

dulu.”

Pek Thian Kie mengerti. Agaknya persoalan ini sangat

besar dan maha penting bahkan mungkin juga bakal terjadi

terhadap dirinya sendiri, hal ini merupakan suatu kejadian

yang tak dapat diragukan kembali.

Iapun tidak ingin banyak bertanya lagi, karena ia

mengerti sekalipun ia bertanya bertanya lebih lanjut kecuali

memperoleh suara bentakan dari suhunya, tidak bakal

memperoleh hasil apapun. Hal ini merupakan suatu

kenyataan yang amat jelas.

“Suhu !” ujarnya kemudian setelah berpikir sebentar.

“Selama diperjalanan kau tentu sangat lelah sekali, baiknya

aku hantar kau orang tua untueristirahat terlebih dahulu !”

“Heeee …. Baiklah !”

“Selesai berkata, si sastrawan berbaju hitam itu lantas

bangun berdiri dan melangkah keruangan sebelah

belakang”

Dengan kencang Pek Thian Kie menguntil dari belakang,

sesampainya dipintu kamar sebelah belakang, tampaklah si

sastrawan berbaju hitam itu perlahan-lahan menoleh.

“Bocah, kaupun beristirahatlah!” ujarnya ramah.

Pek Thian Kie mengangguk, segera putar badan dan

bergerak keluar lambat-lambat …….

Tiba-tiba ……..

“Thian Kie !” panggil si sastrawan berbaju hitam itu.

Mendengar suara panggilan tersebut, dengan cepat Pek

Thian Kie berhenti dan putar badan.

“Suhu ! ada urusan apa ???” tanyanya cepat.

Ujung bibir si sastrawan berbaju hitam itu tampak

bergerak-gerak, tetapi tak kedengaran sedikit suarapun.

Akhirnya dengan sedih ia menghela napas panjang.

“Aaaakh ….! Tak ada urusan, kau pergilah tidur !”

Fengan melongo-longo pemuda itu memandang

suhunya, ia merasa sikap si orang tua itu hari ini sangat

aneh sekali dan hal ini merupakan suatu keistimewaan.

Akhirnya dengan perasaan apa boleh ia melanjutkan

kembali langkahnya berlalu dari sana.

Menanti bayangan punggung Pek Thian Kie lenyap dari

pandangan, si sastrawan berbaju hitam itu baru menghela

napas ringan.

“Heeeeei ….. buat apa dia orang mengetahui sejak

sekarang??? Bukannya nanti ia bakal tahu sendiri ……”

gumamnya tak terasa.

Untuk mengetahui soal apa ? ? ? ?

Agaknya hal inilah merupakan kesedihan yang sedang

terkandung di hati sastrawan berbaju hitam itu dan ia tidak

ingin memberitahukan peristiwa tersebut kepada Pek Thian

Kie karena persoalan ini sepertinya mempunyai sangkut

paut yang sangat erat dengan dirinya.

Perlahan-lahan Pek Thian Kie berjalan keluar dari dalam

kamar dan kembali kedalam ruangan tamu. Tetapi sesaat ia

berbelok keserambi yang lain pemuda itu mendadak berseru

tertahan dan menghentikan langkahnya.

Sepasang matanya memancarkan sinar tajam melototi

secarik kertas merah persegi empat yang berada diatas

tanah, lama sekali pemuda itu tampak tertegun.

Akhirnya ia tersadar kembali diam-diam pikirnya :

“Aaaakh ……! Mungkin juga barang ini terjatuh dari

saku suhu ……”

Buru-buru ia menjemput kertas tadi lalu berjalan kembali

kearah kamar suhunya.

Belum jauh ia melangkah, sekonyong-konyong didalam

benaknya terlintas suatu bayangan ………….. dengan cepat

ia menghentikan langkahnya.

“Diluar apakah Thian Kie ??” dar balik kamar tahu-tahu

berkumandang keluar suara pertanyaan dari suhunya.

“Benar suhu …..”

“Ada perkataan boleh kau sampaikan besok saja !”

Pek Thian Kie jadi tertegun.

“Baik, suhu !” sahutnya kemudian.

Selesai berkata, ia lantas putar badan dan berlalu.

Mengapa Pek Thian Kie tidak jadi serahkan itu kertas

merah bersegi empat kepada suhunya ? didalam persoalan

ini agaknya masih ada sesuatu rahasia yang tersembunyi.

Benar. Menurut dugaan Pek Thian Kie kepergian

suhunya selamaa lima hari ditambah pula sekembalinya

dari bepergian, mengucapkan kata-kata semacam itu,

kesemuanya ini tentu ada sangkut pautnya dengan kertas

merah tersebut.

Oleh karena itu, ia mulai melenyapkan maksudnya

untuk menyerahkan kembali kertas merah tadi ketangan

suhunya, dalam hati ia tahu tindakannya ini tidak patut

tetapi perasan ingin tahu yang terus mendesak dihatinya

memaksa juga ia harus mengambil tindakan tersebut untuk

mencari tahu rahasia dibalik kesemuanya itu.

Terburu-buru pemuda itu berlari kembali kedalam

kamrnya, setelah mengunci pintu kamar dengan tangan

gemetar ia mulai membaca kertas merah itu, agaknya kertas

itu mengandung suatu rahasia serta hawa pembunuhan

yang tiada taranya.

Akhirnya ia berhasil menenangkan hati yang sedang

bergolak, dengan sangat hati-hati kertas merah itu mulai

dibuka dan disapu dengan tajam.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah dibuat berdiri

tertegun ! Apa yang telah terjadi ???

Kiranya kertas merah itu hanya tercantum kata-kata :

“DISEWAKAN SEBUAH RUMAH REJEKI”

Silakan periksa di Gunung Liong San Hutan Tauw Liem.

Secarik kertas pengumuman tentang disewakannya

sebuah rumah, peristiwa ini sangat biasa dan tiada yang

aneh.

Kendati Pek Thian Kie sudah memeriksa dan

menelitinya setengah harian belum juga ditemukan letak

keistimewaan dari kertas pengumuman tersebut.

Satu-satunya persoalan yang tidak ia pahami adalah,

mengapa kertas pengumuman tersebut justeru bisa berada

disaku suhunya? ???????? Apakah suhu telah menyewa

rumah di gunung Liong San Hutan tauw Liem itu ?

Atau ungkin pengumaman tersebut didapatkan suhunya

dari tempat lain, lalu disimpan dalam sakunya ? sudah tentu

kedua persoalan ini kesemuanya ada kemungkinan.

Mendadak satu ingatan kembali berkelebat didalam

benaknya. Besok suhunya akan meninggalkan tempat ini

dan selama setahun takkan kembali lagi. Apakah mungkin

dia orang tua ada maksud untuk menyewa rumah tersebut ?

…………. Sudah tentu, hal inipun ada kemungkinan bisa

terjadi.

Lama sekali Pek Thian Kie termanggu-manggu berpikir

keras tetapi tak ia pahami juga persoalan ini.

Sangking lelahnya terakhir ia masukan kertas tersebut

kedalam saku kemudian ia jatuhkan diri tertidur diatas

pembarngan …….. tidak lama kemudian, hari sudah terang

tanah. Buru-buru pemuda tersebut bangun dari

pembaringannya.

“Thian Kie !” mendadak dari luar kamar berkumndang

dating suara panggilan dari suhunya yang sedang berjalan

mendekat.

“Oooouw ….. suhu !”

Ditengah suara sahutan, buru-buru Pek Thian Kie

meloncat kedepan membuka pintu kamar.

Tampaknya suhunya sudah berdiri didepan pintu, satusatunya

keadaan yang berbeda-beda pada hari ini adalah

diatas punggung si orang tua itu kini sudah kelebihan

sebilah pedang yang tersoren dengan amat gagah.

Menurut suhunya tempo dulu dia orang tua tak akan

menggunkan pedang lagi, tidak disangka sebelum dia

meninggalkan tempat ini, pedang yang sudah tak digunkan

hamper mendekati puluhan tahun akhirnya digunakan

kembali.

Kejadian ini diam-diam membuat Pek Thian Kie

merasakan hatinya bergidik.

“Thian Kie ! Aku mau berangkat !” terdefar terdengar si

sastrawan berbaju hitam itu memecahkan kesunyian.

“Suhu……..” seru Pek Thian Kie sedih

“Tecu akan selalu mengingat-ingat perkataan dari kau s

orang tua !” katanya.

Perlahan-lahan si sastrawan berbaju hitam itu

menganagguk

“Kalau begitu, aku akan segera pergi !”

Selesai berkata, tidak menunggu jawaban dari Pek Thian

Kie tubuhnya segera berkelebat keluar dari pintu besar.

Kemudian didalam beberapa lontaan lagi bayangan hitam

itu sudah lenyap dibalik kabut nan putih …………

Dengan terpesona pemuda itu berdiri ditempat semula,

segulung perasaan yang amat aneh mendesak naik

ketenggorokannya menbuat dia saking sedihnya hamperhampir

meneteskan air mata lagi ……..

Lama sekali ……… akhirnya ia putar badan berjalan

masuk kedalam rumah.

———– ooo O ooo ———–

Bab 2

SUASANA DIATAS PUNCAK “Pek Wu Leng”

kembali jadi hening …… sunyi …….. tak kedengaran suara

apapun.

Keadaan berubah pula seperti keaadan tempo dulu,

kabut putih yang amat tebal hampir menutupi seluruh

tempat …..

Musim semi berlalu, musim rontokpun telah tiba …..

Diikuti musim semi berlalu. Musim semi kembali

menjelang datang.

Waktu berlalu bagaikan mengalirnya air sungai, hanya

didalam sekejap mata satu tahun sudah berlalu.

Mengikuti berlalunya waktu, berita tentang si sastrawan

berbaju hitam itupun ikut lenyap tak berbekas, sejak waktu

itu ia tak pernah kembali lagi ketas gunung.

Siang malam Pek Thian Kie menanti dan mengharapkan

suhunya cepat kembali ……. Tetapi harapan ini ternyata

sia-sia belaka.

Apakah suhunya benar-benar tak akan kembali ??? Benar

! Kenyataan memang demikian untuk selamanya dia tak

bakal kembali lagi.

Ia mulai teringat sesuatu ….

Diam-diam pikirnya :“Didalam satu tahun ini aku

menyelesaikan beberapa halaman terakhir dari kitab

tersebut. Kini aku harus pergi ! Aku harus pergi mencari

suhu ……”

Iapun harus pergi mencari seseorang, dia adalah Kiang

To ! …. Suhunya pernah beritahu kepada dirinya, hanya dia

seorang yang tahu siapakah orang tuanya.

Berpikir akan persoalan ini, dengan cepat ia

membereskan sebentar barang-barang keperluannya,

kemudian lari keluar rumah dan meluncur kebawah tebing.

Gerakan tubuhnya pada saat ini cepat laksana sambaran

kilat, kecepatannya boleh dikatakan jauh lebih hebat

beberapa kali lipat jika dibandingkan dengan kecepatan si

sastrawan berbaju hitam tempo dulu sewaktu menuruni

tebing tersebut.

Hanya dalam sekejap Pek Thian Kie sudah tiba dibawah

tebing Pek Wu Leng, mendadak ia menghentikan gerakan

tubuhnya.

“Aku harus pergi kemana ?” otaknya mulai berputar

keras, “Liong-san ? benar, aku harus pergi ke Gunung

Liong-san !”

Setelah mengambil keputusan, tubuhnya kembali

berkelebat kearah depan. Sekarang ia harus mencari

seseorang untuk ditanyai arah yang benar, kemudian baru

berangkat menuju ke gunung Liong-san. Pek Thian Kie

yang melakukan perjalanan cepat hanya didalam sekejap

saja berpuluh-puluh lie sudah dilalui. Tetapi tiba-tiba ….. ia

menjerit keras, dan tubuhnya mendadak berhenti sedang

dari keningnya mengucur keluar keringat sebesar kacang

kedelei, sikapnya menunjukkan sangat menderita ……

Sepasang tangan ditekankan keras-keras ketas

lambungnya, tubuhnya berjongkok sedang dari mulutnya

terdengar suara rintihan yang menyayatkan hati …..

Mendadak …..

Sewaktu Pek Thian Kie sedang merintih kesakitan itulah,

suara langkah kaki menusia memecahkan kesunyian

bergema semakin mendekat.

“Eeeeei …. Kau kenapa ?” terdengar orang itu menegur

dengan suara agak kaget.

Mendengar suara tegur tersebut Pek Thian Kie merasa

agak terperanjat maka dengan cepat kepalanya

didongakkan.

Tampak seorang pengemis muda berusia duapuluh

tahunan dengan tenang berdiri dihadapannya.

“Kenapa kau ?” kembali orang itu bertanya, agaknya ia

menaruh rasa kuatir terhadap keadaan diri Pek Thian Kie.

“Aku ….. aku sakit hati !”

“Sakit hati ? Kau sudah kehilangan barang apa yang

berharga sehingga sakit hati?”

Menghadapi pertanyaan semacam ini Pek Thian Kie

benar-benar dibuat kalang-kabut mau marah tak dapat, mau

tertawapun sukar.

“Sakit hatiku adalah suatu penyakit, bukan sakit hati

karena kehilangan sesuatu baraang !” sahutnya kemudian.

Si pengemis muda mengiayakan beberapa kali agaknya

ketika itu ia baru paham akan apa yang sebetulnya telah

terjadi.

Dengan cepat ia mulai berjalan mendekati diri Pek Thian

Kie.

Setelah beristirahat beberapa saat, sakit hati dari Pek

Thian Kie pun perlahan-lahan mulai lenyap kembali …..

“Hiiii …..hiiii ……hiiiii……hiiiii ku sudah sedikit baikan

?” Tanya pengemis muda itu lagi sambil tertawa cekikikan.

“Baik ….. baik ……”

“Tentunya penyakitmu ini sudah kau derita sangat lama

bukan ?”

“Bagaimana kau bisa tahu ?” teriak Pek Thian Kie kaget,

hatinya merasa berdesir.

“Cukup dilihat dari beberapa kerut tulang Bay-kutmu

serta lagakmu yang lemas tak bertenaga sudah jelas sekali,

bukankah begitu ?”

“Aaaaakh …… salah, salah …… sejak lahir aku memang

sudah sekurus ini,” buru-buru Pek Thian Kie membantah.

“Sedang penyakit sakit hatiku ini baru aku derita, dua tiga

tahun yang lalu.”

“Oooow ….. oooooow ….. kalau begitu aku sudah salah

menebak !”

Pek Thian Kie pun tersenyum.

“Kawan ! Bila kau tak ada urusan, silakan berlalu,

akupun harus pergi,” ujarnya.

“Kau sedang sakit, apalagi badanmu tinggal beberapa

kerat tulang bay-kut.

…… eeeeeeei …… kau mau kemana ????” seru si

pengemis dengan kening yang dikerutkan.

“Terima kasih atas perhatianmu kawan, cayhe dapat

mengatur kesemuanya sendiri.”

“Eeeeee ….eeeeeeeei …….. tunggu sebentar ! kawan,

apakah kau punya uang ?”

Mendengar perkataan tersebut Pek Thian Kie segera

tertawa, sekarang ia baru paham kiranya pengemis ini ada

maksud ingin minta uang..

Pemuda itu segera merogoh kedalam sakunya

mengambil keluar beberapa tail perak lantas diangsurkan

ketangan pengemis tersebut.

“Di dalam saku ku Cuma tinggal ini saja, kau bawalah

perg i.” ujarnya

Paras muka pengemis tersebut kontan saja berubah

hebat.

“Siapa yang bilang aku ingin minta uang darimu ?”

teriaknya

Kontan saja Pek Thian Kie jadi melengak.

“Kau …… !”

Justeru aku yang lagi merasa kuatir apakah kau punya

uang untuk periksakan penyakitmu itu ?”

Sekali lagi pemuda itu merasakan hatinya tergetar sangat

keras, ia tidak menyangka kalau si pengemis ini ternyata

adalah seorang yang baik hati.

“Heng-thay, terima kasih atas perhatianmu.” Sahutnya

sambil tertawa pahit. “Sungguh saying penyakit siauw-te ini

tak bakal bisa sembuh …….”

“Omong kosong ! asal punya uang, siapa yang bilang

penyakit tak dapat disembuhkan ?”

Pek Thian Kie tidak ingin banyak rebut lagi, sekali lagi ia

tertawa pahit.

“Anggap saja cayhe tidak punya ung …..”

“bagaimana kalau kita pergi melakukan sesuatu

perdagangan ?” sambung sang pengemis muda dengan alis

yang dikerutkan.

“Dagang apa ?”

“Sudah tentu cari uang !”

“Aaaakh ….. ! Mau mencuri ?”

Si pengemis muda itu segera menggeleng.

“Merampas. ?”

Mendadak pengemis muda itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaa ……. Haaa …… haaa …. Haaaa …..

merampas ?” teriaknya kegelian. “Kalau hanya

mengandalkan beberapa kerat tulang Bay-kutmu, bukannya

berhasil merampas, mungkin kau sendiri yang kena

ditangkap, bahkan mungkin juga dipanggang untuk teman

arak …. Eeeei …. Bagaimna kau bisa punya pikiran untuk

merampas ??”

“lalu kau ingin melakukan jual beli macam apa ?”

sambung Pek Thian Kie tersenyum

“Kau pernah mendengar suatu tempat yang dinamakan

Cay Yen atau istana harta ?” Tanya pengemis tersebut

setengah berbisik.

“Istana harta ? belum pernah kudengar

Kalau begitu bukankah sama saja aku sudah Tanya

dengan sia-sia ? Kau bukan orang Bu-lim sudah tentu tidak

tahu soal “Istana harta” ini. Aku minta uang sudah ada dua

puluh tahun lamanya. Kali ini bagaimanapun juga aku

harus memberi bagian kepadamu.”

Menurut pertimbangan Pek Thian Kie, kepandaian silat

yang dimiliki pengemis muda ini agaknya tidak lemah,

disamping itu iapun merasa keheranan terhadap “Istana

Harta” dua perkataan tersebut.

“Eeeei …. Sebetulnya macam apakah istana harta itu?”

tak kuasa lagi ia bertanya

“Sekalipun aku beritahukan kepadamu, kaupun tak bakal

tahu. Buat apa kau orang banyak bertanya ?? apalagi

sekalipun kau sudah tahupun tiada berguna!”

“Apakah istana harta itu khusus dibuka untuk memberi

pinjaman uang kepada kalian kawan-kawan dari kalangan

Bu-lim?” Tanya Pek Thian Kie lebih lanjut.

“Boleh dikata memang demikian.”

“Lalau bagaimna carany untuk meminjam uang ?”

“Eeeeei …. ! Bagaimana kalau kau sedikit kurangi

pertanyaanmu ? Bukankah setelah sampai waktunya kau

bakal tahu sendiri ?”

Mendengar jawaban itu pemuda tersebut segera

mengerutkan dahinya.

“Dimanakah letak Istana harta itu ?”

“Didalam hutan bamboo dua lie diluar kota Kay Hong !”

Sekali lagi Pek Thian Kie mengerutkan dahinya kencangkencang.

“Bolehkah cayhe menanyakan sesuatu tempat terhadap

diri Heng-thay ?……”

“Tempat apa ?”

“Dimana letaknya gunung Liong-san ?”

“Apa ?” hampir-hampir saja pengemis muda itu

meloncat tinggi saking kagetnya.

“Kau tanyakan gunung Liong-san ?”

“benar !”

“Apa yang hendak kau lakukan disana ?”

“Aku …. Aku ingin mem …… mencari seorang kawan.”

“Mencari seorang kawan!” beberapa patah perkataan itu

segera membuat paras muka pengemis muda tadi berubah

kembali jadi sangat ramah.

“Sungguh kebetulan sekali,” serunya sambil tertawa.

“Gunung Liong-san letaknya diluar kota Kay Hong, jika

mengikuti jalan raya ini, maka kita akan tiba dulu di istana

harta, kemudian baru sampai di gunung Liong San !”

“Harus butuhkan berapa lama untuk sampai disitu ???”

“Jika dihitung sesuai dengan kekuatan kaki manusiamanusia

biasa, mungkin mungkin membutuhkan dua hari

lamanya, tetapi keadaanku sama sekali berbeda, kurang

lebih setengah hari sudah cukup untuk tiba dtempat

tujuan.”

Ia rada merendek sejenak, lalu sambungnya kembali :

“Kini aku sudah terlanjur menjadi orang baik, biarlah

aku jadi orang baik sampai akhir, mari ! Biar aku gendong

dirimu”

“Aaaakh …. Hal ini mana boleh jadi ?”

“Kau anggap pakaianku terlalu kotor ?”

“Oooouw ….. bukan, bukan karena soal itu, tolong

Tanya Heng-thay ….”

“Aku bernama Cu Tong Hoa, Heng thay boleh langsung

menyebut namaku saja.

“Aku bernama Pek Thian Kie, kalau begitu merepotkan

Cu-heng harus harus bekerja keras.”

Cu Tong Hoa tertawa

“Agaknya kau belum pernah belajar jurus-jurus ilmu

silat,” katanya

“Benar !” Pek Thian Kie tertawa tawar.

Berbohongnya pemuda tersebut tidak lain disebabkan

karena suhunya pernah memberitahu kepadanya bila

keadaan didalam dunia kangouw sangat berbahaya, banyak

jago-jago Bu-lim yang yang berhati licik, kejam dan

telengas, terhadap seorang teman yang belum dikenalnya

terlalu rapat, lebih baik jangan berbicara yang sebetulnya.

Apalagi, keadaanya pada saat ini sama sekali tak

bertenaga lagi, bahkan untuk menangkap seekor ayampun

tak sanggup.

Kiranya, setiap kali penyakit sakit hatinya kambuh,

maka satu jam kemudian tenaga dalamnya baru dapat pulih

satu bagian, dan seluruh tenaga dalam yang dimilki akan

pulih kembali dengan mengikuti bertambahnya waktu yang

berlalu.

Jikalau semisalnya ia memilki dua belas bagian tenaga

Iweekang didalam tubuhnya, maka pemuda tersebut hrus

membutuhkan waktu dua belas jam lamanya untuk

memulihkan seluruh tenaga dalam yang dimilkinya seperti

sedia kala.

Sudah tentu Cu Tong Ho tak tahu bila Pek Thian Kie

mempunyai sebab-sebab semacam itu, sehingga ia harus

berbohong terhadap kenyataannnya.

“Pek-heng, kalau begitu, biarlah aku gendong kau untuk

melakukan perjalanan kembali ujarnya memecahkan

kesunyian.”

“Eeeehmmm …… baiklah !”

Cu Tong Hoa segera menggerakkan tangan kanannya

menarik pergelangan tangan Pek Thian Kie keatas, dengan

sangat entengnya ia mengangkat badan pemuda tersebut

keats punggungnya, sedang tangannya yang sedang

mencekal diatas pergelanganntya diam-diam diperkencang.

Agaknya didalam cekalan tersebut secara diam-diam

pengemis ini sedang memeriksa apakah pemuda itu betulbetul

tak berilmu ataukah sedang pura-pura.

“Haaa ….. haaaa ….. semula aku kira kau sedang

menipu diriku, kiranya kau benar-benar tidak memiliki

kepandaian silat” ujar Cu Tong Hoa, kemudian setelah

pemuda tersebut berada diatas punggungnya.

Mendengar perkataan itu, diam-diam dalam hati Pek

Thian Kie merasa kegelian.

“Bagaimana kau bisa tahu ?” sengaja tanyanya

“Seseorang bila pernah belajar ilmu silat, maka susunan

jalan darah serta urat nadinya tentu berbeda …… aaaaach !

sekalipun aku terangkan kaupun tidak bakal paham,

baiknya tidak usah kita ungkap lagi ……….”

Ditengah pembicaraan tersebut, tubuhnya dengan

kecepatan bagaikan sambaran kilat berkelebat kerah depan.

Kepandaian silat yang dimiliki Cu Tong Hoa betul-betul

amat dasyat, kecepatan gerak larinya benar-benar membuat

hati orang merasa sangat terperanjat.

Hanya dalam beberapa kali enjotan saja mereka sudah

berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula.

……. Wah …….. Cu-heng, kau sedang terbang diatas

awan ?” sengaja Pek Thian Kie menjert keras pura-pura

merasa kaget bercampur ketakutan.

…. Huuuus …… siapa yang bilang ? inilah yang

dinamakan ilmu meringankan tubuh !”

“Ooow ….. oooow ………….”

Sebelum matahari tengelam dibalik gunung. Cu Tong

Hoa yang menggendong Pek Thian Kie telah tiba diluar

kota Kay Hong, pengemis itu segera menghentikan larinya.

….Akhirnya kita sampai juga ditempat tujuan,” katanya

kemudian sambil tertawa girang.

“Sudah sampai ?”

“Benar !” Cu Tong Hoa lantas menuding kearah sebuah

hutan dihadapannya.” Stelah melewati hutan lebat ini,

maka kita akan sampai dihutan bamboo itu, ayoh

berangkat.

“Baiklah !”

“Kalau begitu, kita segera jalan !”

Setelah berkata, tanpa banyak cakap lagi ia memimpin

jalan didepan menerobosi hutan tersebut.

Setelah menerobosi hutan lebat, sampailah mereka

didepan hutan bamboo yang luasnya ada beberapa puluh

lie.Diantara hutan bamboo itu terdapat sebuah jalanan kecil

yang langsung menembus hutan yang lebih dalam. Dengan

Cu Tong Hoa didepan Pek Thian Kie dibelakang, kurang

lebih seperminuman the kemudian sampailah mereka

didepan sebuah bangunan berloteng yang amat megah.

Istana harta ini benar-benar luar biasa sekali, bukan saja

bangunannya yang kokoh, besar dan megah, bahkan merek

kata-kata “ISTANA HARTA” yang tergantung diatas

pilarpun terbuat dari emas murni.

Cukup ditinjau dari hal tersebut, sudah bisa dibayangkan

berapa banyak emas yang tersimpan didalam istana harta

ini.

“Cu-heng !” mendadak pemuda itu seperti telah teringat

akan sesuatu. “Aku ada satu persoalan yang hendak

ditanyakan kepadamu !”

“urusan apa ?”

“Istana harta ini sudah dubuka berapa lama ?”

“Kurang lebih ada puluhan tahun lamanya”

“Darimnakah pihak istana harta ini memperoleh uang

emas yang begitu banyak ? sekalipun emas mereka banyak

bagaikan gunung, perak mereka berlimpah bagikan

samudera, tetapi kalau dipakai terus bukankah akhirny akan

habis ?”

“Pertanyaan yang kau ajukan sangat bagus sekali. Tetapi

kau jangan kuatir, walaupun Istana Harta ini sudah dibuka

selama puluhan tahun lamanya, tetapi belum pernah

mengalami kehabisan atau kekurangan uang, sedangkan

sumber uang mereka ….. seperti juga kau, aku sendiripun

tidak tahu.”

Perlahan-lahan Pek Thian Kie mengangguk.

Cu Tong Hoa segera berkelebat menuju kearah pintu

besar diatas tangga batu, lalu dengan tenangnya dia

menghampiri orang lelaki berpakaian perlente yang berdiri

didekat pintu.

Usia kedua orang perlente itu kurang lebih tiga puluh

tahunan, jalan darah”Thay Yang Hiat” diatas keningnya

menonjol tinggi-tinggi, sekali pandang dapat diraba bila

tenaga Iweekang mereka sangat luar biasa.

Ketika Cu Tong Hoa tiba didepan pintu, lelaki

berpakaian perlente yang berada disebelah kanan segera

menggerakkan pedangnya menghadang.

“Kawan tunggu sebentar,” serunya sembari menjura

“Ehmmmm ….!”

“Kau dating kemari, apakah hendak minta uang ?”

“Betul !”

“Sungguh maaf !” seru lelaki berpakaian perlente itu lagi

setelah memandang tajam keseluruh wajah Cu Tong Hoa.

Istana kami selamanya tidak suka memberi uang kepada

kum pengemis, jika kau menginginkan uang lebih baik pergi

sana minta kelain tempat saja !”

“Kenapa ?”

“Karena menurut peraturan istana kami hanya memberi

pinjaman kepada kawan-kawan Bu-lim saja”

“Air muka Cu Tong Hoa segera berubah hebat.

“Bagaimana kau bisa tahu aku bukan kawan-kawan dari

kalangan Bu-lim ?” teriaknya gusar

Lelaki berpakaian perlente itu agak melengak juga

dibuatnya, tetapi sebentar kemudian ia sudah tersenyum

kembali.

“Aaakh …. Kalau begitu maaf, hamba ada mata tak

berbiji, harap kawan jangan marah dibuatnya.”

“Hmmmmm ! lain kali jika sampai begitu lagi, akan

kutebas dulu sepasang kakimu”

“Sebelum kalian masuk kedalam ruangan, aku ingin

bertanya dulu akan sesuatu hal. Sudah tahukah kau akan

peraturan yang berlaku didalam istana harta ini ?”

“Tahu !”

“Coba kau sebutkan !”

“Bukan kawan dari kalangan Bu-lim dilarang meminjam.

Dan asal-usul perguruan tidak jelas juga dilarang

meminjam.”

“Betul, lalu tahukah kau ada beraapa macam cara untuk

meminjam uang ?”

“Sudah tentua aku tahu.”

“Coba kau sebutkan.”

“Kesemuanya dibagi menjadi lima golongan, golongan

yang pertama termasuk dalam golongan “Putih” dan bagian

ini diperuntukkan bagi kawan-kawan kangouw yang sering

berkelana jumlah uang diberikan dapat diatur oleh pihak

istana. Golongan kedua adalah “Hijau”. Dari pihak istana

kirim wakil untuk bergebrak dengan orang itu, jika menang

mendapat hadiah seratus tail perak. Golongan ketiga adalah

“Hijau tua” yang menang memperoleh hadiah seribu tail

perak. Golongan keempat adalah “Biru” yang menang

memperoleh hadiah seribu tahil emas murni. Dan golongan

yang terakhir “Merah” yang menang memperoleh hadiah

lima ribu tahil emas murni.”

“Perkataanmu sedikitpun tidak salah.” Si lelaki perlente

itu tertawa.

“Lalu kawan bersiap-siap hendak memasuki golongan

yang mana ?”

“Golongan Hijau tua !”

“Hmmmm ! dengan mengandalkan beberapa jurus cakar

ayammu apa kau merasa yakin sanggup untuk

menerobosnya ?”

“Buat apa saudara begitu memandang rendah diriku ?

berhasil atau tidak bukankah besok pagi bisa kau ketahui

sendiri ?’

“Baiklah ! Kalian ikut diriku, silakan !”

Tanpa banyak bacot lagi, dengan langkah lebar, Cu Tong

Hoa segera berjalan masuk kedalam istana, Pek Thian Kie

yang ada di belakangnya buru-buru mengikuti pula.

Mendadak ……….

“Eeeei …. Kau mau apa ?” seorang lelaki perlente yang

lain sudah meloncat kedepan menghadang jalan perginya.”

“Kawan ! kau jangan cari gara-gara dia adalah saudaraku

!” teriak Cu Tong Hoa cepat sambil putar badannya

Sinar mata lelaki tersebut berkilat ….. agaknya ia rada

ragu-ragu untuk bertindak.

“Ia tidak termasuk orang Bu-lim bukan ?” serunya

kemudian

“Betul !”

“Kalau begitu maafkan kami terpaksa tak dapat

membiarkan dia untuk ikut masuk.”

“Dia datang kemari mengikuti diriku, kau hendak suruh

dia pergi kemana untuk beristirahat ?” teriak Cu Tong Hoa

tertawa.

“Kawan ! Lebih baik kau lepaskan dirinya, besok kami

tak tak akan lupa untuk membagikan sedikit upah

untukmu.”

“Soal ini ….. heee ….heee…..heeee ……. Baiklah !

untuk kali ini biarlah aku sedikit melanggar kebiasaan.”

Demikianlah, dibawah pimpinan lelaki berbaju perlente

itu Cu Tong Hoa serta Pek Thian Kie berjalan masuk

kedalam ruangan tengah.

Didalam, sekali pandang saja Pek Thian Kie segera

dibuat melengak dan berdiri termanggu-manggu oleh

keadaan disana.

Ruangan tersebut dibangun amat kekar, kokoh dan

megah, kemewahannya jauh melebihi istana kaisar, intan

permata, barang-barang antic yang mahal harganya

berserakan dikeempat penjuru, jumlahnya sangat banyak

dan benar-benar membuat orang merasa kurang percaya.

Cukup dibicarakan dari permata-permata yang

ditaburkan dikedua belah tiang pilar batu pualam ditengah

ruangan, sudah terdiri dari berpuluh-puluh butir, sedang

kata-kata “Menolong kaum miskin” yang terpancang di

tengah ruangan tersebutpun terbuat dari deretan intan

berwarna merah yang diatur rapih menjadi bentuk huruf.

Disebelah depan ruangan tersebut terdapat sebuah

ruangan kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua berusia

enam puluh tahun.

———– ooo O ooo ———–

Bab 3

SI LELAKI berbaju perlente itu langsung membawa Cu

Tong Hoa berdua kehadapan kakek tersebut.

“Cungkwee, ada seorang kawan dating kemari untuk

pinjam sedikit uang !” lapornya.

“Ehmmmmm ……. Sudah tahu !” sahut kakek itu tanpa

mendongakkan kepalanya.

Menanti lelaki berbaju perlente itu sudah mengundurkan

diri, perlahan-lahan si kakek tua itu baru mengalihkan sinar

matanya keatas wajah Cu Tong Hoa serta Pek Thian Kie.

“Siapa diantara kalian berdua yang hendak pinjam uang

?” tanyanya kaku, nada suaranya sangat dingin seperti

berada di dalam gudang es.

“Aku !” sahut Cu Tong Hoa singkat

“Mau pinjam berapa ?”

“Seribu tahil perak!”

“Apa ?” agakmya si kakek tua tersebut merasa

terperanjat setelah mendengar jumlah tersebut, sekali lagi ia

mengulangi pertanyaan :

“Kau ingin pinjam berapa ?”

“Seribu tahil perak !”

“Bocah Sungguh besar amat kantong nasimu,

perkataanmu betul-betul berada diluar dugaanku, bagus …..

bagus sekali, bukan peraturan yang berlaku didalam istana

harta ini bila ingin mendapatkan uang sebesar seribu tahil

perak ?”

“Sedikitpun tidak salah, aku sudah menyelidiki dengan

jelas semua hal-hal yang perlu”

“bagus sekali, siapakah namamu ?”

“Cu Tong Hoa !”

“Umur ?”

“Delapan belas tahun”

“Asal perguruan ?”

“Tongcu urusan begitu luas, perkumpulan Kay-pang

diluar perbatasan !”

Air muka si kakek tua itu kelihatan sedikit berubah,

agaknya ia dibuat terperanjat oleh sepatah kata yang

diucapkan oleh Cu Tong Hoa barusan ini, karena nama dari

perkumpulan “Kay-pang” diluar perbatasan memang amat

terkenal sekali di seluruh dunia persilatan.

Kabarnya pangcu mereka Bian Ih kay-ong atau si Raja

pengemis berpakaian perlente mengutamakan kelihayannya

didalam permainan ilmu jari yang sangat lihay.

Pemuda ini kalau memang sudah mengaku sebagai

Tongcu urusan bagian luar dari perkumpulan Kay-pang,

maka kepandaian yang ia miliki tentu bukan sembarangan

lagi.

Terpaksa si kakek tua itu tersenyum.

“Tempo dulu akupun mempunyai kesempatan untuk

berkenalan dengan Pangcu kalian, entah bagaimana

keadaan dari Pangcu kalian kini ?”

“Bagus …….. bagus …… ia sangat bagus !”

“Tahun ini berapa usia Pangcu kalian ?”

Agaknya ia sedang mengecek kebenaran dari pengemis

muda itu.

“Tujuh puluh enam tahun !”

Mendengar jawaban tersebut si kakek tua itu lantas

mengangguk, sinar matanya mulai beralih keatas wajah Pek

Thian Kie.

“Dan Siapakah saudara ini ?”

“Dia adalah kawanku.”

“Berasal dari mana ?”

“Ia tak mengerti akan ilmu silat, aku piker dia orang

tentunya tak mempunyai suhu, karena perjalananku kali ini

berangkat bersama-sama dengan dia, maka iapun ikut aku

dating kemari …..”

“Tidak bisa jadi !” belum habis pengemis muda itu

menyelesaikan kata-katanya, si kakek tua tersebut sudah

memotong.

“Kenapa tidak bisa jadi ?” seru Pek Thian Kie

keheranan.

“Istana kami hanya mengizinkan kawan-kawan dari

kalangan Bu-lim saja yang boleh masuk, kalau dia bukan

orang Bu-lim …… maaf ! istana kami tak dapat melanggar

peraturan tersebut.

“Apa kau suruh dia orang beristirahat ditempat terbuka

?”

“Soal itu merupakan urusanmu sendiri, Istana kami tidak

mencampuri urusan pribadi orang lain!”

Nada ucapannya sangat tegas dan kaku, agaknya sama

sekali tiada maksud untuk memberi kesempatan kepada

pihak lawannya guna berunding.

Sebetulnya Pek Thian Kie tidak ingin berdiam disitu,

tetapi sekarang setelah dirasakan dibalik “Istana Harta” ini

agaknya masih tersembunyi suatu rahasia yang amat

mencurigakan, dalam hatinya lantas mengambil keputusan

untuk melakukan suatu penyelidikan yang teliti teka-teka

ini.

Alasannya mudah sekali, karena jikalau majikan dari

istana harta ini memang seorang hartawan yang kerjaannya

berlimpah-limpah, maka tidak seharusnya ia membagibagina

harta kekayaannya itu kepada orang lain dengan

percuma. Pastilah dibalik kesemuanya ini sudah

tersembunyi sesuatu tujuan tertentu.

Dan bilamana sunguh-sungguh dibalik kesemuanya ini

ada tujuan yang sedang dinantikan, maka peristiwa ini tidak

gampang.

Karena itu, dalam hatinya, ia lantas mengambil

keputusan untuk melakukan penyelidikan.

“Walaupun aku bukan orang asal Bu-lim,” ujarnya

kemudian dengan sangat tenang. “Tetapi suhuku adalah

seorang yang sering berkelana didalam dunia kangouw…..”

Beberapa patah kata yang diucapkan oleh Pek Thian Kie

barusan ini bukan saja membuat si kakek tua sang

Ciangkwee tersebut merasa kaget, sekalipun Cu Tong Hoa

sendiripun merasa terperanjat. Bagi si pengemis muda itu

kejadian ini benar-benar berada di luar dugaannya.

“Oooooouw …………siapakah nama suhumu ?” seru sang

kakek tua itu rada tertegun.

Menerima pertanyaan yang diajukan kepadanya ini,

sekarang gentian Pek Thian Kie yang dibuat termanggumanggu.

Bicara sesungguhnya hingga saat ini I sendiripun

tidak tahu siapakah nama suhunya.

Otaknya dengan cepat berputar keras, sejenak kemudian

ia baru memperoleh satu bayangan.

“Ia bernama “Hek Ih Kiam Khek” atau si jagoan pedang

berbaju hitam !” sahutnya.

“Jagoan pedang berbaju hitam? Agaknya didalam dunia

kangouw belum pernah didengar seorang jagoan yang

menggunakan gelar Semacam itu “

“Jagoan Bu-lim yang namanya tidak menonjol didalam

kalangan persilatan amatlah banyak jumlahnya, sekalipun

namanya terkenalpun belum tentu kau bisa mengenali dan

mengetahui seluruh jago-jago Bu-lim yang ada di kolong

langit pada saat ini.”

“Perkataan dari saudara sedikitpun tidak salah, asalkan

didalam Bu-lim ada seorang yang bernama demikian

ditanggung dalam tiga hari mendatang, kami dari pihak

istana harta pasti berhasil menyelidiki dengan jelas.”

Tetapi saudarapun harus ingat menurut peraturan istana

kami, barangsiapa yang berani berbohong, dia akan

dihukum mati.”

Diam-diam Pek Thian Kie merasakan hatinya bergidik

setelah mendengar perkataan tersebut tetapi diwadanya ia

masih tetap tenang tanpa menunjukkan sedikit perubahan

apapun.

“kalau memang tiga hari kemudian kalian dapat berhasil

mengetahui jelas gelar orang ini, lalu buat apa kau banyak

bacot lagi pada saat ini ?” sindirnya ketus.

“Bagus ….. bagus …… lalu siapakah nama saudara ?”

“Pek Thian Kie ……. !”

“Apa? Pek …. Thian ……. Kie?”

Nada suara kakek tua itu rada gemetar dan bimbang, ia

menyebutkan nama Pek Thian Kie ini dengan suara yang

keras dan panjang. Agaknya ! disuatu tempat tertentu ia

pernah mendengar nama orang ini.

Pek Thian Kie sendiripun dibuat melengak oleh sikap

sang Ciangkwee tersebut.

“Betul ….. apa yang tidak benar ?” serunya

“Aaaakh …. Tidak ada apa-apa yang tidak benar, aku

Cuma merasa disuatu tempat agaknya sudah pernah

mendengar nama orang itu …….”

“Sungguh kebetulan sekali !”

“Hmmmm ! Kemungkinan memang suatu kejadian yang

kebetulan.” Sahut sang kakek tuaitu sambil tertawa dingin

tiada hentinya.

“Tetapi kalau memang suhu saaudara adalah seorang

Bu-lim, mengapa kau tidak mengerti akan ilmu silat ?”

“Soal ini sudah tentu ada alas an-alasannya. Menurut

suhuku keadaan didalam dunia kangouw sangat berbahaya,

bilamana belajar ilmu silat maka pada suatu hari ada

kemungkinan bakal menemui ajal dibawah hantamanan

orang lain, maka beliu suruh aku belajar membacsa dan

bersyair saja, agar dikemudian hari berhasil merebut

kedudukan yang layak di Ibukota.”

“Oooooouw …… kiranya begitu, berapa usia saudara ?”

“Delapan belas!”

“Baiklah!” kata si kakek tua itu kemudian setelah

termenung dan berpikir keras beberapa sat lamanya.”

Biarlah Istana kami sekali ini melanggar kebiasan, tetapi

didalam tiga hari kemudian istana kami baru berhasil

menyelidiki asal-usul serta perguruanmu, jikalau ucapanmu

ini ada sepatah kata saja yang berbohong, hati-hati saja

badan bakal pindah tuan.”

“Soal ini kau boleh legakan hati, aku tak bakal melarikan

diri.”

“Hantar tamu kebelakang!” Teriak si kakek tua itu

kemudian setelah mendehem berat.

Diiringi suara bentakan tersebut, dari belakang ruangan

muncullah seorang lelaki berbaju perlente yang langsung

berjalan menuju kehadapan si kakek tua sang Ciang Kwee

tersebut.

“Hamba nantikan perintah.” Katanya

“Hantar kedua orang kawan ini untuk beristirahat.”

“Baik!” perlahan-lahan lelaki itu menoleh kearah Cu

Tong Hoa serta Pek Thian Kie.

“Kalian berdua silakan mengikuti diriku …..”

Selesai berkata pertama-tama ia berjalan terlebih dulu

menuju keruangan sebelah belakang.

Setelah melewati ruangan besar dan melewati sebuah

serambi yang amat panjang, sampailah mereka didepan

sebuah halaman yang penuh berisikan kamar-kamar.

Akhirnya lelaki itu memimpin kedua orang tersebut

menuju kedalam salah satu kamr lalu kepada mereka

berdua ujarnya :

“Kalian berdua silajan beristirahat, bila ada urusan

silakan perintahkan saja.”

“Ehmmm …..! Kau boleh berlalu.” Sahut Cu Tong Hoa

sambil mengangguk perlahan.

Setelah si lelaki berbaju perlente itu mengundurkan diri,

Pek Thian Kie mulai mengalihkan sinar matanya menyapu

sekejap keseluruhan ruangan kamar itu. Tampaklah

olehnya walaupun kamar ini tidak begitu besar, tetapi

sangat nyaman, bersih dan menyenangkan.

“Cu-heng, aku ada satu urusan yang hendak minta

petunjuk.” Ujarn Pek Thian Kie kemudian memecahkan

kesunyian.

“Ada urusan apa ?”

“Mengapa kita harus menanti sampai besok ?”

“Menanti dibuktikan dulu asal-usul kita yang

sebenarnya.”

Setelah memperoleh jawaban itu, Pek Thian Kie baru

mengerti keadaan yang sebenarnya, segera tanyanya

kembali : “Apakah sungguh-sungguh ada orang yang

berhasil memperoleh uang dari dalam Istana Harta ini ?”

“Ada!”

“Banyak sekali?”

“Tidak begitu banyak, tetapi juga tidak begitu sedikit.”

“Jikalau didalam pertandingan kita nanti kalah bergebrak

?” Tanya sang pemuda itu kembali sambil tertawa-tawa.

“Gampang sekali, tetap tinggal didalam Istana Harta ini,

soal ini sudah dijadikan peraturan sejak dahulu.”

“Bila semisalnya orang itu tidak mau tinggal disini?

“Oooouw …… mudah ……. Tinggalkan dulu batok

kepalanya, setelah itu kau boleh berlalu dari sini.”

“Kalau demikian adanya bukankah sama saja pihak

“Istana Harta” ini sedang mengumpulkan jago-jago lihay

dari Bu-lim dengan menggunakan harta kekayaan sebagai

umpan?”

Semula Cu Tong Hoa rada tertegun, tetapi sebentar

kemudian ia sudah tertawa.

“Aduuuuuuh sayng ……..! kiranya kau masih tidak jelek

dan mengerti juga akan soal ini.”

“Acckh ……. Mana, mana …….. Siauw-te hanya

menduga-duga saja sekenanya,” buru-buru sahut pemuda

itu sambil tertawa rikuh.

“ada satu persoalan yang bagaimanapun juga aku harus

beritahukan kepadamu,” ujar Cu Tong Hoa lebih lanjut

dengan wajah yang keren dan serius. “Kau ada seorang

manusia yang tidak mengerti akan urusan Bu-lim, lebih baik

kurangilah buka suara dan mengucapkan kata-kata yang tak

berguna sehingga jangan sampai mendatangkan banyak

kerepotan buat dirimu sendiri tentang soal ini aku percaya

tentunya kau tahu jelas bukan.”

“Siaue-te akan ingat-ingat.”

“Kalau begitu, kita harus beristirahat mulai sekarang,

besok pagi masih ada urusan lagi!”

Kembali Pek Thian Kie mengangguk tanda menyetujui

usul dari Cu Tong Hoa ini.

Didalam kamar itu terdapat dua buah tempat

pembaringan yang terpisah, demikianlah Pek Thian Kie

serta Cu Tong Hoa lantas masing-masing mengambil

sebuah tempat pembaringan yang terpisah untuk

beristirahat.

Pek Thian Kie yang didalam benaknya masih diliputi

oleh berbagai persoalan, sampai tengah malam belum juga

bisa tidur, pikirannya berputar dan melayang entah kemana

……..

Sebaliknya Cu Tong Hoa begitu berbaring sebentar

kemudian sudah tertidur pulas, suara dengkurannya

bergema memecahkan kesunyian dan memberikan irama

yang amat lucu ditengah kesunyian.

Mendekati kentongan kedua, akhirnya Pek Thian Kie

baru berhasil tidur pulas.

Sekonyong-konyong ……..

Pek Thian Kie tersadar kembali dari pulasnya oleh satu

suara yang amat perlahan sekali, suara tersebut berasal dari

pembaringan yang dibaringi oelh Cu Tong Hoa.

Buru-buru Thian-kie sedikit membuka matanya

menengok, nampaklah dengan gerakan yang sangat hatihati

Cu Tong Hoa merangkak turun dari atas

pembaringannya setelah memandang sekejap kearah Pek

Thian Kie dengan langkah yang hati-hati ia membuka

pintu, berjalan keluar …….

Menemui kejadian semacam ini, diam-diam Pek Thian

Kie merasa amat terperanjat, ia merasa asal-usul Cu Tong

Hoa rada sedikit mencurigakan. Ia menduga pula

kedatangannya kedalam Istana Harta ini sama sekali bukan

dikarenakan hendak mintakan uang but dirinya, melainkan

dibalik kesemuanya ini masih tersembunyi satu persoalan

……. Agaknya ia hendak menyelidiki sesuatu.

Lama sekali Pek Thian Kie termenung, akhirnya satu

pikiran terlintas didalam benaknya.

Dengan cepat ia bangun berdiri, turun dari pembaringan,

lalu dengan gerakan sangat berhati-hati berjalan pula kearah

luar kamar.

Baru saja tubuhnya hendak melangkah keluar, mendadak

sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan kilat

sudah menerjang kearahnya, sehingga bertumbukkan

menjadi satu.

Ditengah suara bentrokan yang amat keras tubuh Pek

Thian Kie kena terpukul mental enam, tujuh langkah

kebelakang.

“Oooooouw kau ?” serunya kemudian

Ternyata orang yang baru saja menubruk kedalam

pangkuannya bukan lain adalah Cu Tong Hoa, hal ini

seketika itu juga membuat Pek Thian Kie merasa sangat

terperanjat.

“Eeeei …… kau bangun mau apa?” tegur Cu Tong Hoa

melengak ketika dilihatnya pemuda itupun sudah bangun.

“Aku …… aku sedang mencari kau!”

“Mencari aku?”

“Sewaktu aku terbangun dan melihat kau lenyap, maka

buru-buru aku lantas bangun untuk mencari dirimu ………..

“Oooouw ……. Aku lagi pergi kencing!”

Pek Thian Kie menghembuskan napas panjang, diamdiam

pikirnya :

“Aaaakh …… ! kiranya Cu Tong Hoa lagi pergi kencing

……..Tak terasa lagi ia mulai merasa geli atas sikapnya

barusan yang banyak menaruh curiga.

“Mari kita tidur! Hari sudah hampir terang tanah.”

Terdengar Cu Tong Hoa kembali berseru.

Pagi hari sudah menjelang tiba!

Suara ketukan santar menyadarkan Pek Thian Kie serta

Cu Tong Hoa dari pulasnya.

“Siapa?” bentak Cu Tong Hoa perlahan sembari

meloncat bangun dengan kecepatan bagaikan kilat.

“Cu Tongcu, ada undangan.”

Si pengemis muda ini segera mendekati pintu dan

membukanya perlahan-lahan, tampaklah si lelaki

berpakaian perlente yang menghantar mereka berdua

kekamar kemarin malam sudah berdiri didepan pintu.

“Tongcu ruangan hijau dari istana kami ada panggilan,”

katanya

Selesai berbicara, tanpa banyak menunggu lagi, lelaki itu

segera putar badan dan memimpin Cu Tong Hoa menuju

kearah ruangan besar, lalu berputar dan masuk kedalam

sebuah ruangan lain dan masuk kedalam sebuah ruangan

lain yang jauh lebih besar dari ruangan semula.

Tampaklah didalam ruangan besar tersebut duduk

seorang kakaek tua bermata tunggal yang memakai pakaian

perlente, tidak usah ditanya lagi semua orang bisa menduga

kalau orang inilah yang merupakan Tongcu dari “Ruang

Hijau Tua”

“Tongcu ! Kau orang mengundang cayhe ada keperluan

apa ?” seru Cu Tong Hoa sambil menjura kearah kakek tua

bermata tunggal itu.

“Tidak berani, tidak berani …… Mengenai asal-usul

saudara dari Pihak Istana kami sudah berhasil

menyelidikinya dengan sangat jelas. Agaknya kedatangan

saudara kedaerah Tionggoan ini bukanlah untuk pertama

kalinya, bukan ?”

Cu Tong Hoa tertawa tawar

“Betul ! Kedatanganku kali ini adalah untuk kedua

kalinya.”

“Tempo dulu pada tanggal berapa kau dating kemari ?”

“Bulan ketiga, tiga tahun yang silam.”

“Oooouw ….” Kakek tua bermata tunggal itu tertawa.

“Entah ada keperluan apa sehingga saudara hendak

minta uang sebesar seribu tahil perak ?”

“Ini termasuk soal pribadiku”

“lalu tahukah kau bahwa untuk memperoleh seribu tahil

perak itu kau harus berhasil menangkis diriku terlebih

dahulu?”

“Soal ini cayhe tahu.”

“Bila kalah ………” seru kakek itu kembali sambil

tertawa mengejek.

“Menggabungkan diri dengan Istana Harta kalian untuk

menjabat sebagai pembantu.”

“Heeee…….heeeee……..heeeee……kalau kau sudah

tahu begitu jelas, akupun tidak usah banyak bicara lagi.”

Kembali si kakek tua bermata tunggal itu tertawa dingin

tiada hentinya. “Pertempuran kita kali ini hanya bersifat

sebagsa pi-bu saja ….”

“Sudah tentu, sudah tentu. Harap Tongcu suka turun

tangan agak ringan terhadap diriku.”

Kakek tua bermata tunggal tidak banyak bicara lagi,

sembari tertawa dingin ia bangun berdiri kemudian sedikit

menggerakkan badannya melayang kehadapan Cu Tong

Hoa.

“Silakan!” seru Cu Tong Hoa sambil menjura

Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar, tubuh si

kakek tua bermata tunggal ini dengan kecepatan laksana

anak panah yang terlepas dari busur meluncur kedepan,

telapak tangannya dengan dasyat mengirim satu pukulan

gencar membabat tubuh musuh.

Dengan amat gesit Cu Tong Hoa segera menyingkir

kesamoing, tangan kanannya buru-buru diangkat untuk

menangkis datangnya serangan lawan.

Sesaat Cu Tong Hoa menyingkir kesamping itulah,

serangan yang kedua maha dasyat dari pihak lawan kembali

sudah menyapu dating, serangan kali ini jauh lebih hebat

dari pada serangan pertama.

Agaknya Cu Tong Hoa sama sekali tidak menduga

bahwa ilmu kepandaian pihak lawan bisa sedemikian tinggi,

tubuhnya tak kuasa lagi kena tergetar mundur dua langkah

kebelakang.

Tetapi didalm waktu yang amat singkat itu pula serangan

yang kedua sudah menyapu kembali.. bayangan manusia

berkelebat simpang siur, angina pukulan menderu-deru

membuat suasana diempat penjuru jadi panas dan membuat

pernapasan menjadi sesak. Hanya didalam sekali bentrokan

saja masing-masing pihak sudah saling mengirim dua buah

pukulan kearah musuhnya, cukup ditinjau dari hal ini

sudah cukup menunjukkan bahwa tenaga dalam yang

mereka miliki ternyata seimbangn.

Mendadak Cu Tong Hoa membentak keras, tubuhnya

mencelat ketengah udara kemudian langsung menyerang

kearah depan. Didalam situasi yang amat kritis dan

berbahaya itulah berturut-turut ia telah mengirim tiga buah

serangan berantai kearah depan.

Ketiga buah jurus serangan tersebut telah menggunakan

hampir seluruh tenaga Iweekang yang dimilki Cu Tong Hoa

selama ini, kedasyatannya juga bukan alang kepalang lagi.

Tak kuasa lagi si manusia aneh bermata tunggal itu kena

terdesak mundur empat, lima langkah kebelakang, dengan

susah payah akhirnya ia baru berhasil menghindarkan diri

dari teteran pihak musuh.

Bayangan telapak taangan salaing berkelebat, hawa

Iweekang saling menghantam, menyambar dan membabat

memenuhi empat penjuru hanya didalam sekejap saja

sepuluh jurus telah berlalu.

Perlahan-lahan Pek Thian Kie yang berdiri disamping

kalangan pertempuran menarik kembali sinar matanya, ia

percaya tenaga dalam yang ia miliki sendiri masih jauh

lebih rendah satu tingkat jika dibandingkan dengan tenaga

dalam yang dimiliki oleh Cu Tong Hoa, maka itu ia percaya

ada sembilan bagian kemenangan ada ditangan pihak

pengemis muda tersebut.

Mendadak …….

Diiringi suara bentakan keras yang gegap gempita tubuh

Cu Tong Hoa berputar kencang ditengah udara, lalu

melayang mundur kearah belakang.

“Tongcu, terima kasih atas kemurahan hatimu,” serunya

sambil tertawa dingin.

Paras muka si manusia aneh bermata tunggal itu berubah

hebat, selintas senyuman paksa mulai menghiasi bibirnya.

“Ehmmmm ……. Kepandaian ilmu silat saudara betulbetul

sangat mengagumkan!” pujinya

“Terlalu memuji, kesemuanya ini bukan kah disebabkan

Tongcu suka bermurah hati …….”

“Hmmmm ! apakah uang tersebut hendak saudara ambil

sekarang juga ?”

“sedikitpun tidak salah, lebih baik diberi uang emas saja,

sehingga rada gampang untuk membawanya ?”

“Bagus sekali !”

Demikianlah, si manusia aneh bermata tunggal itu lantas

memerintahkan sang Ciangkwee untuk menyediakan uang

seribu tahil perak menjadi beberapa batang emas murni

untuk diserahkan ketangan Cu Tong Hoa.

“Pek-heng !” kata si pengemis itu kemudian sambil

melirik sekejap kearah Pek Thian Kie. “Mari kita segera

berangkat”

Mendengar ajakan tersebut agaknya Pek Thian Kie

dibuat rada tertegun, kini ia sudah tiba disini, sebelum

urusan selidikan jelas mengapa ia malah bermaksud hendak

pergi ? Peristiwa ini betul-betul rada mengherankan.

Baru saja ucapan Cu Tong Hoa selesai diutarakan,

mendadak sang Ciang Kwee yang ada disamping sudah

menimbrung :

“Cu Tongcu ! Kau hendak berlalu silakan berlalu, tetapi

saudara ini masih harus tetap tinggal disini.”

“Mengapa?”

“Asal-usulnya belum berhasil kami selidiki jelas.”

“Jika kalian tak berhasil menyelidikinya, apakah kita

diharuskan menanti setahun lamanya ?”

“Heeeee …….. heeeeeee ……….heeeee …… Cu Tongcu

! Tentunya kau mengetahui keadaan disini bukan?

Peraturan Istana harta selamanya tidak pernah menahan

tetamunya melebihi tiga hari …….”

“Heeeee …….. heeeeeee ……….heeeee ……baiklah, biar

kita tunggu dua hari lagi!” sahut Cu Tong Hoa kemudian

tertawa dingin.

Perubahan yang dilakukan oleh Cu Tong Hoa secara

mendadak ini benar-benar berada diluar dugaan Pek Thian

Kie, karena keinginan si pengemis tersebut untuk tetap

tinggal didalam “Istana harta” amat jelas sekali. Kalau

tidak, bukankah ia bisa tinggalkan emas itu, kemudian

berlalu sendiri.

———– ooo O ooo ———–

Jilid 2

Bab 4 Rasul Peronda Istana Harta

DIDALAM HATI Pek Thian Kie sendiripun paham

bahwa tujuan Cu Tong Hoa membawa serta dirinya

memasuki “Istana harta” bukanlah dikarenakan ingin

mencarikan uang buat dirinya, sebaliknya ia sengaja

mendatangkan suatu persoalan yang sukar bagi pihak

“Istana Harta” agar bisa mengambil kesempatan tersebut

tinggal lebih lama lagi di istana.

Bila dugaannya tidak meleset, lalu apa tujuan Cu Tong

Hoa datang kemari ? Agaknya asal-usul dari pengemis

inipun masih merupakan suatu tanda Tanya.

Sementara berpikir keras beberapa saat lamanya, tak

terasa lagi pemuda ini sudah berseru :

“Cu-heng, kau boleh berangkat sendiri terlebih dulu.”

“Apa maksud perkataanmu ?” teriak Cu Tong Hoa rada

tertegun lalu tertawa, paksa.

“Kau adalah seorang yang sedang menderita sakit,

bagaimana mungkin aku boleh berangkat dulu seorang diri

? Apalagi kaupun bisa masuk kesini karena aku yang

menyeret, bagaimanapun juga aku tak bisa melepaskan

dirimu sedemikian saja !”

“Aaaakh … kalau begitu, aku harus mengucapkan

banyak terima kasih atas perhatian Heng-thay!”

Sembari berkata, mereka berdua bersama-sama

berangkat menuju kepintu luar.

Ketika Pek Thian Kie serta Cu Tong Hoa sudah berlalu

dari sana, dari balik ruangan rahasia dibelakang ruangan

besar itu mendadak terbukalah sebuah pinyu kecil dan

muncullah seorang kakek tua berwajah merah.

“Tecu mengunjuk hormat buat Cong koan !” ketika

melihat munculnya orang itu. Si kakek bermata tunggal

buru-buru menjura memberi hormat.

“Hmmmm! Bagaimana?” dengus kakek berwajah merah

itu dingin, kaku.

“Tecu …… untuk beberapa waktu tecu masih belum

berhasil mendapat tahu benarkah dia orang atau bukan!”

“Lalu siapakah Cu Tong Hoa itu? Apakah dia orang

memang benar-benar menjabat sebagai Tongcu bagian

urusan luar dari perkumpulan kay-pang ……..?”

“Kemungkinan sekali bukan, menurut surat keterangan

yang dikirim dating melalui burung merpati. Katanya pada

lima hari yang lalu Cu Tong Hoa masih berada didalam

perkumpulan Kay-pang. Sekalipun ia bisa melakukan

perjalanan cepat pun masih harus membutuhkan sepuluh

hari sampai setengah bulan lamanya baru bisa tiba disini.”

“Lalu siapakah sebetulnya dia orang? Dan bagaimana

dengan asal-usulnya yang sebetulnya?”

“Saat ini tecu sedang perintahkan orang kita untuk

melakukan penyelidikan yang lebih teliti!”

“Ehmmm …..!” si kakek berwajah merah itu mendengus

berat. “Perhatikan orang yang diberitakan selama ini!”

“Baik!”

“Hmm! Aku punya cara sendiri …..”

Kita balik pada Pek Thian Kie serta Cu Tong Hoa

sekeluarnya dari ruangan hijau”, sesampainya kembali

didalam ruangan besar mendadak terdengar suara yang

amat gaduh berkumandang memenuhi seluruh angkasa.

Ketika mendongakkan kepalanya memandang, maka

taampaklah seorang nenenk tua berpakaian kembang

sedang ribu dengan si lelaki berpakaian perlente yang

berjaga didepan pintu, suara dari nenek tu itu merengek

hampir mendekati setengah menangis.

“Saudara, kau sukalah berbuat baik terhadap diriku. Aku

…..aku benar-benar tak dapat menyebutkan siapakah

namaku ….. kalau tidak, maka musuh akan turun tangan

membinasakan diriku ……”

“Tidak bisa jadi!”

“Saudara, tolonglah diriku sekali ini saja ….”

“Nenek celaka! Apa kau tuli haaaa? Aku sudah berkata

tidak bisa tetap tidak bisa …..”

“ ……………?????”

Pek Thian Kie mendengar perkataan tersebut, air

mukanya kontan berubah hebat. Ketika, ia melirik sekejap

kearah Cu Tong Hoa, maka tampaklah air mukanya sudah

berubah hijau membesi, selintas hawa nafsu membunuh

mulai menghiasi wajahnya.

Melihat hal tersebut didalam anggapan Thian Kie,

tentunya si pengemis muda ini sudah dibuat gusar oleh

sikap lelaki berpakaian perlente tersebut.

“Hmmm istana harta tidak lebih hanyalah merupakan

suatu perkumpulan kaum bajingan yang tahunya memeras

dan menghina yang lemah dan miskin ….”

“Tua bangka! Kau hendak mencari mati ….” Teriak

lelaki berpakaian perlente gusar.

“Aku si nenek tua sudah hidup tujuh puluh delapan

tahunan, sekalipun mati, apa yang patut disayangkan lagi

?????? Kalau memang kalian ada maksud membagikan

harta, kenapa orang-orang yang diberi harus ditentukan

dulu …… kalian memang manusia terkutuk …..”

“Nenek sialan! Memangnya kau sudah bosan hidup ….”

Perkataan tersebut belum selesai diucapkan, lelaki

berpakaian perlente itu sudah menggerakkan badannya

meluncur kearah si nenek tua tersebut, telapak tangannya

dengan disertai angina pukulan yang menderu-deru segera

dibabatkan kearah depan.

Pek Thian Kie yang melihat kejadian ini air mukanya

kontan saja berubah hebat.

“Heee…..heeeeee……heeee ….. Pek-heng! Mari kita

kembali kekamar saja!” seru Cu Tong Hoa ketika itu sambil

tertawa.

Pek Thian Kie yang mendengar ajakan tersebut segera

merasakan peristiwa sedikit ada diluar duagaan,

kebanyakan orang-orang yang menyebut dirinya pendekar,

seorang lelaki sejati tentu akan turun tangan membantu

mereka-mereka yang sedang menghadapi bahaya, apalagi

jika ditinjau dari selintas hawa nafsu membunuh yang

menghiasi wajahnya tadi. Tapi mengapa sekarang ia malah

batalkan maksudnya ?

Berpikir akan hal tersebut Pek Thian Kie merasakan

hatinya semakin keheranan.

“Cu-heng, daia ….”

“Lebih baik kita jangan terlalu banyak ikut campur

dengan urusan orang lain, ayoh mari masuk!”

Selesai berkata tanpa mengubris dir Pek Thian Kie lagi,

ia sudah berjalan terlebih dahulu menuju ke ruangan

belakang.

Melihat sikap kawannya ini, Pek thian Kie jadi

melengak, tetapi sebentar kemudian iapun mengikuti pula

dari belakang Cu Tong Hoa berjalan masuk kedalam.

Didepan pintu besar, si lelaki berpakaian perlente itu

masih bergebrak amat seru melawan si nenek tua

berpakaian kembang tersebut. Siapun diantara mereka

berdua tak ada yang suka mengalah.

“Berhenti!” mendadak serentetan suara bentakan dengan

amat dingin bergema memenuhi angkasa.

Tampaklah si kakek tua berusia enam puluh tahun yang

bertindak sebagai Ciang-Kwee sudah melayang keluar.

Ditengah suara bentakan yang amat keras dari si orang

tua itu kedua orang tersebut segera berhenti bergebrak.

“Kau si nenek tua betul-betul tidak tahu diri …..” bentak

kakek itu dengan gusar.

“Siapa kau?”

“Aku adalah Ciang-Kwee dari Istana Harta!”

Tangan kanan si nenek tua berpakaian kembang itu

segera diulurkan kedepan, tetapi sebentar kemudian dengan

terburu-buru ditariknya kembali kebelakang.

“Ciang-kwee, kau berbuatlah baik buat diriku untuk kali

ini!” katanya setengah merengek.

Air muka Ciang-kwee tersebut berubah hebat, wajahnya

berubah hijau membesi.

“Baik ….. baik ….. baik …” serunya gugup.

“Memandang dari usiamu yang sudah amat tua, untuk

kali ini biarlah aku melanggar kebiasaan memberi izin

kepadamu untuk masuk.”

“Aakh…! Kau sungguh seorang yang sangat baik!”

Dengan berlangsungnya kejadian ini kedua orang lelaki

berpakaian perlente itulah yang dibuat kebingungan

setengah mati, dengan ketolol-tololan mereka berdua berdiri

ditengah kalangan.

“Popo, silakan masuk!” terdengar Ciang-kwee lojin

mempersilakan perempuan tua itu masuk dengan sikap

yang sangat hormat.

Dengan langkah yang semampai dan sempoyongan

nenek tua berpakaian kembanan itu berjalan masuk

kedalam ruangan, sesampainya disuatu tempat yang sunyi,

mendadak Ciang-kwee lojin dengan nada gemetar berkata :

“Maaf, tecu ada mata tak berbiji, sehingga tidak

mengetahui ……”

“Sudah, sudahlah …. Dimana Tong Tiong-koan?’

“dalam ruangan Merah!”

Sejak Ciang-kwee lojin menemui diri nenek tua tersebut,

sikapnya jadi amat takut-takut seperti tikus menghadapi

kucing saja, sikapnya amat menghormat bahkan sampai

menghembuskan napas berat-beratpun tidak berani.

“Bawa aku menuju keruangan Merah!”

“Baik!”

Dengan cepat tanpa banyak berpikir lagi Ciang-Kwee

lojin tersebut segera membawa sang nenek tua menuju

“Ruangan merah” kiranya didalam “Istana harta”

semuanya dibagi menjadi lima buah ruangan, masingmasing

ditandai dengan warna putih, hijau, hijau tua, biru

dan merah.

Didalam setiap ruangan tersebut terdapat pula sebuah

ruangan yang sangat besar. Dan keadaan dari ruangan

merah ini mirip sekali dengan keadaan didalam “ruangan

hijau tua”

Ketika mereka berdua telah memasuki ruangan merah, si

Ang Bian Lojin, si penguasa ruangan tersebut sewaktu

melihat munculnya mereka air mukanya kontan berubah

hebat.

“Ada urusan apa?” Tanyanya sambil buru-buru meloncat

bangun.

“Lapor congkoan. Sang Rasul peronda Istana dating

berkunjung!”

“Apa?’ air muka si kakek tua berwajah merah ini

berubah semakin hebat.

“Ach …. Maaf …..maaf, cayhe tak thu atas kunjungan

kehormatan dari rasul Peronda Istana …..”

“Sudah, sudahlah ……”

“Cdayhe sudah menyambut kurang pantas, masih

mengharapkan Sin-si memaafkan dosa-dosaku.”

Paras muka nenek tua itu berubah jadi semakin tawar

dan sama sekali tidak menunjukan sedikit perubahanpun.

“Tong It San!” bentaknya dingin.

“Dari ruang Cong-tong sudah dikirim sepucuk surat

perintah melalui burung merpati, bagaimana dengan

pekerjaan yang sudah diperintahkan?”

“Maaf, tecu masih belum berhasil menemukan suatu titik

terang apapun ….”

“Kurang ajar! Jadi kau anggap kami hanya membayari

dirimu untuk makan tidur seenaknya ….”

“Benar ….. benar ….!”

“Hmmmm! Hanya sedikit urusan yang amat sepele saja,

kau sudah tak becus. Kau …..”

“Harap Sin-si suka mengampuni dosaku.”

“Kau tahu, apa maksudku dating kemari?”

“Cayhe kurang jelas, harap Sin-si suka memberi sedikit

penjelasan.”

“Terus terang aku beritahu kepadamu, dia sudah

memasuki Istana kita, bahkan sumber berita ini boleh

dipercaya, selama beberapa hari nini bukan saja dari kedua

istana yang lain, bahkan jago-jago yang sudah lama tidak

pernah munculkan diripun, kini sudah pada berdatangan

kedalam istana kita. Bilamana pihak kita tak berhasil

menghadapi mereka, bukan saja Istana kita bakal tutup

pintu untuk selamanya mungkin badan serta kepala kitapun

bakal terpisah dari tempat semula.”

“Baik ….. baik ….baik …. Tentu cayhe akan bekerja

lebih hati-hati dan waspada lagi.”

“darimakah asal-usul dari kedua orang bocah barusan

itu?” teriak si nenek tua itu lagi.

Dengan amat hormat sekali”Hiat kui So” atau si Setan

Berdarah Tong It San segera memberi penjelasan asal-usul

kedua orang itu.

“Hmmmm! Tidak salah.” Seru nenek tua tersebut

kemudian dengan sinis setelah mendengar penjelasan itu.

“Diantara mereka berdua, salah satu tentu terdapat orang

itu ….”

Ia merendek sejenak, kemudian tanyanya lagi :

“Bocah she Cu itu apa sudah berhasil mendapatkan

uang?”

“benar!’

“Ehmmmm ….” Dengan wajah murung dan mata yang

dipicingkan nenek tua itu mulai kerutkan dahinya berpikir

keras, mendadak ia mendekati Tong It san dan membisiki

sesuatu kesamping telinganya.

Tampaknya Tong It san mengangguk-angguk tidak

hentinya.

“Pengawal!” bentaknya keras

Seorang lelaki berpakaian perlente, dengan cepat

berkelebat masuk kedlam ruangan.

“Maknya.” Teriak Tong It san lagi dengan nada gusar.

“Nenek tua ini memang benar-benar tidak tahu diri,

setelah diberi seratus tahil, ia masih tidak mau puas. Dia

orang sama sekali tidak berkepandaian, tapi ingin seribu

tahil juga ….. Hmmmm? Seret dia kebelakang biar ia

berpikir duklu hingga masak!”

“Baik!”

Ditengah suara jeritan-jeritan dan makian-makian si

nenek itu, ia kena diseret lelaki berpakaian perlente tersebut

keruangan belakang.

Ruangan belakang ini merupakan kamar-kamar yang

digunakan untuk menampung para jago-jago Bu-lim yang

khusus dating untuk minta uang, pada saat ini ditengah

ruangan besar sedang berkumpul berpuluh-puluh orang

jagoan yang sedang omomg-omong sambil buang waktu.

Ketika si nenek tua itu diseret masuk kedalam ruangan

sambil berteriak-teriak dan menjerit-jerit, seketika itu juga

telah memancing perhatian dari orangorang disekitar sana.

Ketika itu …..

Pek Thian Kie serta Cu Tong Hoa yang mendengar suara

teriak-teriak itu tak urung mengalihkan sinar matanya juga.

“Hmm! Tindakan Istana Harta terhadap si nenek tua

betul-betul rada keterlaluan.” Seru Pek Thian Kie dengan

air muka berubah hebat.

Mendengar kata-kata temannya, Cu Tong Hoa tertawa

tawar.

Pada saat itulah terdengar si lelaki berpakaian perlente

itu sudah berseru kembali kepada nenek tua itu :

“Bagaimana keputusan kita terhadap dirimu, tunggu saja

sampai besok pagi”

Selesai berkata tanpa menanti jawaban dari si nenek tua

itu lagi, ia lantas putar badan berlalu.

“Hei, bajingan yang tak berperasaan …. Kalian betulbetul

tidak punya Liang-sim …. Teriak nenek tua itu kalang

kabut.

“Sungguh kejam tindakan kalian terhadap diriku.

……….”

Bicara sampai disitu ia tak dapat membendung rasa sedih

didalam hatinya lagi, mulailah nenek itu menangis tersdusedu.

Sekonyong-konyong ………

“Nenek tua, mengapa kau menangis??” suara seseorang

berkumandang dating dari belakang tubuhnya.

Si Nenek tua itu segera mengalihkan sinar matanya

menyapu sekejap kearah orang itu.

Tampaklah seorang kakek tua berbaju hitam yang

usianya sudah hampir mendekati enampuluh tahunan

berdiri dengan amat gagah disana.

“Heeeeei ….. sudah tentu lau tidak akan tahu

kesusahanku ….” Seru perempuan tua itu sedih.

“Aku ada keperluan yang mendesak dan ingin

meminjam seribu tahil perak dari Istana Harta ini ….. tetapi

ternyata ……. Ternyata mereka sudah menyusahkan diriku

….. kau bilang sungguh mangkelkan tidak …..”

“Untuk pinjam uang pada permulaan tahun rasanya

memang rada susah …. Eeei …… nenek tua, bagaimana

kalau aku ramalkan dirimu? Ciba kita lihat apakah kau

berhasil memperoleh seribu tahil perak itu atau tidak ?

“Haaaaaa …….. kau sedang melamun sampai dimana ?

jika aku punya uang untuk meramal, buat apa susah payah

datang kemari untuk minta pinjam uang?”

“Haaaaaa …….. Haaaaaa …….. Haaaaaa ……..soal ini

kau boleh legakan hati,” sahut si kakek hitam itu sambil

tertawa terbahak-bahan. “Aku tidak akab bersifat keras

kepala dan tidak punya Liang-sim. Orang-orang menyebut

diriku sebagai “Thiat Siepoa.” Bagaimana kalau aku

ramalkan dirimu tnpa membayar?”

“bagus sekali!”

“Coba sekarang kau sebutkan tanggal kelahiranmu yang

lengkap.”

“Tapi ….. cocok tidak ramalanmu itu?”

“Bagaimanapun aku tidak akan minta uang darimu,

cocok atau tidak, mengapa tidak coba terlebih dahulu?”

“Baik …… baik …..”

Demikianlah si nenek tua tersebut lantas beritahukan

tanggal kelahirannya kepada si kakek tua itu.

Selesai mendengar keterangan tadi, si kakek berbaju

hitam itu lantas pejamkan matanya berpikir.

“Aaakh ….. salah, salah …..” tiba-tiba teriaknya sengan

terperanjat.

“Apa yang tidak benar ?”

“Menurut perhitunganku, bukan saja kau orang tiada

kesulitan didalam soal keuangan, bahkan kaupun

merupakan seorang yang popular dan mempunyai

kedudukan yang sangat terhormat …..”

“Kentut bau anjingmu ! Sedikitpun tidak cocok.

Omonganmu tidak hanya omongan anjing yang lagi

berkentut” maki nenek tua itu kalang kabut.

Mendengar makian tadi, kontan saja air muka si kakek

tua berbaju hitam itu berubah menjadi merah padam.

“Benar …… benar ……. Tidak cocok, tidak cocok.”

Serunya gugup. “Cuma ada satu hal yang bagaimanapun

juga aku hendak beritahukan dulu kepadamu, kemungkinan

besar bencana sudah berada diambang pintu …….”

“Apa?” teriak nenek itu dengan mata terbelalak lebarlebar.

“Heeee…….heeee….. kemungkinan juga ramalanku itu

tidak cocok!

Selesai berkata, ia lantas putar badan berlalu, hal ini

tentu saja membuat si nenek itu dengan perasan ketakutan

berdiri termanggu-manggu ditengah kalangan.

Sebaliknya Cu Tong Hoa yang selama ini berdiri disisi

kalangan, begitu melihat jalan peristiwa tersebut, segera

tertawa dingin tiada hentinya.

“Hmmmmm! Tidak disangka didalam Istana Harta

sudah berubah menjadi suatu tempat yang ditunggangi

harimau dan ditempati naga ……”

“Apa maksudmu ?” Teriak Pek Thian Kie terperanjat.

“Kau tidak bakal memahami soal ini, lebih baik tidak

usah banyak bertanya lagi …”

Ketika itu, si kakek tua berbaju hitam itu sedang berjalan

mendekati diri Pek Thian Kie. Ketika ia tiba dihadapan

kedua orang bocah tersebut, langkahnya rada merendek,

sedang sinar matanya perlahan-lahan disapu sekejap keatas

wajah pemuda itu.

Eeeeeei ….. bocah kurus, penyakit yang kau derita

sungguh parah sekali!” serunya.

“Apa?” saking terperanjatnya Pek Thian Kie sudah

menjerit kaget.

“Aku mengatakan bila penyakitmu itu amat parah!” seru

si Kakek tua berbaju hitam kembali.

“Bagaimana kau bisa tahu ?’

“Aku sudah terbiasa memperhatikan mimic wajah setiap

orang dan pandai meramal …………… eeeeei tulang Baykut

kurus siapa namamu?”

“Aku? Aku bernama Pek Thian Kie!”

“Pek ….. Thian ….. Kie ……?”

“Sedikit tidak salah, aku memang bernama Pek Thian

Kie.”

“Heeeeei tulang bay-kut kurus, bagaimana kalau aku

ramalkan buat dirimu?”

“Ramalkan soal apa?”

“Sesukamu. Apa yang kau ingin tanyakan, apa yang kau

ingin ketahui semuanya dapat aku jawab dengan tepat.”

“Haaaaaa …….. kau sedang melamun sampai dimana ?

jika aku punya uang untuk meramal, buat apa susah payah

datang kemari untuk minta pinjam uang?”

“Haaaaaa …….. Haaaaaa …….. Haaaaaa ……..soal ini

kau boleh legakan hati,” sahut si kakek hitam itu sambil

tertawa terbahak-bahan. “Aku tidak akab bersifat keras

kepala dan tidak punya Liang-sim. Orang-orang menyebut

diriku sebagai “Thiat Siepoa.” Bagaimana kalau aku

ramalkan dirimu tnpa membayar?”

“bagus sekali!”

“Coba sekarang kau sebutkan tanggal kelahiranmu yang

lengkap.”

“Tapi ….. cocok tidak ramalanmu itu?”

“Bagaimanapun aku tidak akan minta uang darimu,

cocok atau tidak, mengapa tidak coba terlebih dahulu?”

“Baik …… baik …..”

Demikianlah si nenek tua tersebut lantas beritahukan

tanggal kelahirannya kepada si kakek tua itu.

Selesai mendengar keterangan tadi, si kakek berbaju

hitam itu lantas pejamkan matanya berpikir.

“Aaakh ….. salah, salah …..” tiba-tiba teriaknya sengan

terperanjat.

“Apa yang tidak benar ?”

“Menurut perhitunganku, bukan saja kau orang tiada

kesulitan didalam soal keuangan, bahkan kaupun

merupakan seorang yang popular dan mempunyai

kedudukan yang sangat terhormat …..”

“Kentut bau anjingmu ! Sedikitpun tidak cocok.

Omonganmu tidak hanya omongan anjing yang lagi

berkentut” maki nenek tua itu kalang kabut.

Mendengar makian tadi, kontan saja air muka si kakek

tua berbaju hitam itu berubah menjadi merah padam.

“Benar …… benar ……. Tidak cocok, tidak cocok.”

Serunya gugup. “Cuma ada satu hal yang bagaimanapun

juga aku hendak beritahukan dulu kepadamu, kemungkinan

besar bencana sudah berada diambang pintu …….”

“Apa?” teriak nenek itu dengan mata terbelalak lebarlebar.

“Heeee…….heeee….. kemungkinan juga ramalanku itu

tidak cocok!

Selesai berkata, ia lantas putar badan berlalu, hal ini

tentu saja membuat si nenek itu dengan perasan ketakutan

berdiri termanggu-manggu ditengah kalangan.

Sebaliknya Cu Tong Hoa yang selama ini berdiri disisi

kalangan, begitu melihat jalan peristiwa tersebut, segera

tertawa dingin tiada hentinya.

“Hmmmmm! Tidak disangka didalam Istana Harta

sudah berubah menjadi suatu tempat yang ditunggangi

harimau dan ditempati naga ……”

“Apa maksudmu ?” Teriak Pek Thian Kie terperanjat.

“Kau tidak bakal memahami soal ini, lebih baik tidak

usah banyak bertanya lagi …”

Ketika itu, si kakek tua berbaju hitam itu sedang berjalan

mendekati diri Pek Thian Kie. Ketika ia tiba dihadapan

kedua orang bocah tersebut, langkahnya rada merendek,

sedang sinar matanya perlahan-lahan disapu sekejap keatas

wajah pemuda itu.

Eeeeeei ….. bocah kurus, penyakit yang kau derita

sungguh parah sekali!” serunya.

“Apa?” saking terperanjatnya Pek Thian Kie sudah

menjerit kaget.

“Aku mengatakan bila penyakitmu itu amat parah!” seru

si Kakek tua berbaju hitam kembali.

“Bagaimana kau bisa tahu ?’

“Aku sudah terbiasa memperhatikan mimic wajah setiap

orang dan pandai meramal …………… eeeeei tulang Baykut

kurus siapa namamu?”

“Aku? Aku bernama Pek Thian Kie!”

“Pek ….. Thian ….. Kie ……?”

“Sedikit tidak salah, aku memang bernama Pek Thian

Kie.”

“Heeeeei tulang bay-kut kurus, bagaimana kalau aku

ramalkan buat dirimu?”

“Ramalkan soal apa?”

“Sesukamu. Apa yang kau ingin tanyakan, apa yang kau

ingin ketahui semuanya dapat aku jawab dengan tepat.”

“Bagus sekali .”

“Kalau begitu kau boleh tuliskan nama serta tanggal

kelahiranmu diatas kertas?”

“Kau tidak usah takut akan rahasiamu bocor dan

terjatuh ketangan orang lain?” kata si kakek tua berbaju

hitam itu sambil menyapu sekejap kearah Cu Tong Hoa.

Berapa patah perkataan ini seketika itu juga memaksa

Pek Thian Kie bergidik. Apakah si kakek tua berbaju hitam

ini memeang jelas akan asal-usulnya yang sebetulnya?

Berpikir hal itu, tak terasa lagi ia sudah menoleh Cu

Tong Hoa si pengemis muda tersebut.

“Cu-heng, bagaimana kalau kau menyingkir sebentar?

Pintanya

Cu Tong Hoa tersenyum, sambil mengangguk ia lantas

berjalan mendekati si nenek tua tersebut ……

Menanti si pengemis muda kawannya sudah pergi jauh.

Pek Thian Kie baru putar badan menghadap kearah si

kakek tua berbaju hitam tadi.

“Aku ternama Pek Thian Kie,” sahutnya perlahan.

“Tahun ini baru berusia delapan belas tahun lahir pada

siang hari bulan tiga belas tanggal tiga belas!”

Si kakek tua berbaju hitam itu lantas berkemak-kemik

dan bergumam beberapa sat lamanya, mendadak ……

“Tidak benar …….. tidak benar ……….!” Gumamnya

seorang diri.

“Apa yang tidak benar?” jawab Pek Thian Kie benarbenar

merasakan hatinya bergidik.

“Antara namamu serta tanggal kelahiranmu sama sekali

tidak cocok!”

“Aaaaaakh ……. Apa yang sudah terjadi ?”

“Nama yang kau gunakan sekarang bukan namamu yang

sesungguhnya!”

“Apa?” saking kagetnya hampir-hampir pemuda itu

meloncat keatas.

“Kau memang betul-betul dilahirkan pada tanggal tiga

belas bulan tiga, tetapi namamu bukan Pek Thian Kie!”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena nama Pek Thian Kie tak dapat hidup hingga

sekarang …… dia sudah mati!”

Kali ini Pek Thian Kie benar-benar dibuat terperanjat

dan ketakutan sehingga jantungnya terasa berdebar-debar

dengan sangat keras.

Jika ditinjau dari sikap serta gerak-gerik si orang tua yang

begitu serius, rasanya ia bukan lagi berbohong atau bicara

sembarangan.

“Lalu …….. lalu ……. Orang yang bernama Pek Thian

Kie seharusnya mati sejak kapan?” tanyanya rada gemetar.

“tahun yang lalu ….. tanggal tiga belas bulan tiga tahun

yang lalu, bahkan kematiannya sangat mengerikan ……….”

“Heeeeee……..heeeeee…….heee …… tetapi aku

bernama Pek Thian Kie ……. Sejak kecil aku sudah

bernama demikian!” teriak pemuda tersebut sambil tertawa

dingin tiada hentinya.

“Aaaakh …… kau sudah salah mengerti, namamu yang

sudah disembunyikan oleh orang lain, Pokoknya yang jelas

namamu yang asli bukan Pek Thian Kie ……”

“Persoalan ini dapat kau buktikan darimana?”

“Menurut perhitunganku sebagai tug ramal!”

Pek Thian Kie bukan bernama Pek Thian Kie, peristiwa

ini baru untuk pertama kali ini ia dengar, unuk sesaat

dengan perasaan setengah percaya setengah tidak, ia berdiri

termangu-mangu.

“Apakah suhumu yang beritahukan kepadamu bila kau

bernama Pek Thian Kie?”

“Sedikitpun tidak salah, dia orang tualah yang

beritahukan nama itu kepadaku …”

“Apakah suhumu memakai pedang?”

“Sedikitpun tidak salah?”

“Pakainan yang dikenakan selalu berwarna hitam dan

dandanannya mirip seorang sasterawan?”

“Betul! Kau ….. bagaimna kau bisa tahu ?” tak kuasa

lagi Pek Thian Kie berseru kaget.

“Heeeei ….. aku minta kau jangan berteriak-teriak

seenaknya, bagaimana ?”

———– ooo O ooo ———–

Bab 5 Rahasia Pek Thian Kie dan Cu Tong Hoa

DENGAN TERMANGU-MANGU Pek Thian Kie

berdiri ditengah kalangan, selama hidup belum pernah ia

merasakan terkejut seperti ini hari, si kakek tua berbaju

hitam itu benar-benar merupakan seorang yang amat lihay

lagi misterius.

“Tahukah kau siapakah nama suhumu?” Tanya si kakek

tua berbaju hitam itu lagi.

“Siapa namanya ?”

“Pek Thian Kie!”

“Aaaaaakh …..!” sekali lagi Pek Thian Kie menjerit

tertahan.

Beberapa patah kata yang diucapkan barusan benarbenar

laksana halilintar yang membelah bumi disiang hari

bolong …..

“Ia bernama “Sin Mo Kiam Khek” atau si jagoan pedang

iblis sakti Pek Thian Kie!” ujar si kakek tua berbaju hitam

itu lebih lanjut.

“Apa per ….. peeeeeeeeeee ……….. perkataanmu itu

sungguh-sungguh ?”

“Sedikitpun tidak salah !”

“Lalu ….. lalu apa ia kini sudah mati?” Tanya Pek Thian

Kie dengan nada gemetar

“Benar, ia sudah mati!”

“Bagaimana matinya? Karena apa dia orang tua

menemui ajalnya?”

“Waaaah …. Kalau soal ini aku kurang jelas !”

Mendadak didalam benak Pek Thian kie terlintas suatu

bayangan, secara tiba-tiba ia teringat kembali dengan surat

pengumuman berwarna merah itu …….. surat

pengumaman berwarna merah itu …… surat pengumuman

tentang disewakannya sebuah rumah ……..

Bukankah suhumu memerintahkan kau untuk mencari

sesorang?” Tanya si kakek tua berbaju hitam itu kembali.

“Tidak salah.”

“Bukankah orang yang kau cari itu bernama Kiang To?”

“Betul ….. tapi ….. tapi ….. bagaimana kau bisa tahu

tentang soal ini?”

“Kau tidak perlu menanyakan kepadaku, secara

bagaimana aku bisa mengetahui persoalan ini, terus terang

aku beritahukan kepadamu, tahukah kau siapakah yang

bernama Kiang To itu ?”

“Siapa ? ……” seru Pek Thian Kie melengak, “Apakah

kau yang bernama Kiang To?”

“Haaaaa …..haaaaaa…..haaaaa……. salah, salah!

Bukan Aku ……. Orang yang bernama Kiang To,

melainkan kau sendiri !”

“Apa?” sekali lagi Pek Thian Kie menjerit keras, saking

kagetnya, hampir-hampir ia meloncat keatas.

Perasaan terkejut yang diderita Pek Thian Kie kali ini

hampir-hampir luar biasa, hampir boleh dikata ia jadi amat

goblok dibuatnya. Hampir-hampir dia tidak mempercayai

lagi telinganya sendiri.

Kiang To adalah dia sendiri ? suhunya suruh dia mencari

dirinya sendiri ? Apa maksudnya ?

Dikolong langit apa betul terdapat peristiwa yang

demikian anehnya ?

Apakah suhunya yang tidak ia ketahui namanya itu

benar-benar bernama Pek Thian Kie ?”

Mengapa ia memberikan nama Pek Thian Kie kepada

dirinya?” Tentu didalam persoalan ini masih ada hal-hal

yang lebih dalam maksud serta tujuannya.

Pek Thian Kie yang dbuat terperanjat oleh peristiwa

tersebut selama ini Cuma bisa melototi si kakek tua berbaju

hitam itu dengan termanggu-manggu, beberapa patah

perkataannya itu benar-benar membuat ia merasa sangat

terperanjat.

“Heee…….heee……heee….. kau masih tidak percaya?”

seru si kakek tua berbaju hitam itu sambil tertawa dingin.

“Aku ….. aku tidak tahu !” sahut Pek Thian Kie

perlahan-lahan sambil menelan ludahnya.

“Mau percaya atau tidak, itu terserah kepada dirimu

sendiri, tetapi ada sepatah kata mau tak mau aku harus

beritahu kepadamu. Untuk sementara waktu lebih baik kau

singkirkan dulu apa yang aku beritahukan kepadamu itu

kesamping, dan aku harap kau jangan ungkap persoalan ini

kepada siapapun!”

“Mengapa?”

“Karena hal ini tidak akan mendatangkan keuntungan

buat dirimu.”

Si Kakek tua berbaju hitam itu rada merendek sejenak,

lalu tambahnya lagi :

“Tempat ini bukanlah suatu tempat yang baik, lebih baik

cepat-cepatlah kau menyingkir dari sini …..”

Belum habis perkataannya diucapkan terdengarlah suara

langkah manusia sudah berkumandang datang

memecahkan kesunyian. Tampaklah Cu Tong Hoa dengan

langkah lebar sudah berjalan mendekat.

Si kakek tua berbaju hitam itupun segera tertawa

terbahak-bahak.

“Hey bocah kurus, mau percaya atau tidak, itu terserah

kepada dirimu sendiri,” serunya.

Selesai berkata ia lantas putar badan berlalu melalui jalan

semula.

Dengan kejadian ini maka Pek Thian Kie lama sekali

dibuat berdiri termangu-mangu, ia tidak paham perkataan

yang diucapkan oleh si lelaki berbaju hitam itu sebetulnya

sungguh-sungguh atau bohong.

Jika peristiwa itu adalah nyata, maka hal ini boleh

dikataa merupakan suatu hal yang sama sekala tak diduga.

Nama suhunya adalah Pek Thian Kie tetapi mengapa ia

berikan namanya itu kepada dirinya? Apakah ia berbuat

demikian agar orang-orang kangouw tidak tahukah nama

dirinya yang sesungguhnya? Tentunya nama Kiang To

sudah terkenal sekali didalam dunia Kangow dan diketahui

oleh banyak orang, kalau tidak suhunya tidak mungkin bisa

berbuat demikian.

Apa yang dipikirkan memang cengli, tetapi apa

sesungguhnya yang telah terjadi, ia masih belum sanggup

untuk membuktikannya.

Sementara suara secara mendadak mengejutkan Pek

Thian Kie sehingga tersadar dari lamunannya.

“Siauw-hiap!” ketika itu si nenek tua sedang merengek

kepada diri Cu Tong Hoa. “Kau berbuatlah perbuatan yang

mulia. Bagaimana kalau seribu tahil perakmu itu kau

pinjamkan dulu kepadaku untuk digunakan keperluan yang

mendesak?”

“Tidak bisa jadi!”

“Kau berbuatlah pekerjaan yang mulia.”

“Heeeeeee ……….heeeeee………….heeeeeeee……kau

sungguh-sungguh hendak meminjam ?……..” akhirnya

teriak Cu Tong Hoa sambil tertawa dingin.

“Betul, tolong kau berbuat pekerjaan mulia ……”

“Baiklah, mari ikut diriku untuk ambil uang tersebut

……!”

Agaknya di nenek itu dibuat rada melengak juga oleh

tindakan si pengemis muda tersebut.

“Sungguh?” tanyannya kurang percaya.

“Aku melihat keadanmu patut dikasihani, karena itu

terpaksa aku berikan dulu uang tersebut kepadamu!”

Sekali berkata, ia lantas berjalan langsung menuju

kedalam kamar.

Mendadak Pek Thian Kie yang ada ditengah kalangan

teringat akan sesuatu, maka dengan cepat iapun meloncat

kedepan menghadang jalan perginya.

“Eeeeeeei nenek tua, bagaimana kau bisa tahu kalau dia

mempunyai seribu tahil perak?”

“Orang-orang Istana Harta yang beritahukan padaku.”

“Oooooouw ….. begitu!”

Dengan cepat Pek Thian Kie pun ikut berjalan masuk

kedalam kamar, ketika itulah si nenek tua yang berada

didalam kamar sudah berseru dengan nada cemas.

“Cu-siauw-hiap, dimanakah uangmu itu?”

Mendadak air muka Tong Hoa berubah berat.

“Pek-heng, tutup pintu kamar,” bentaknya dengan cepat

sambil melirik sekejap kearah pemuda tersebut.

“Tidak usah ……. Tidak usah, aku segera akan berlalu,”

buru-buru nenek tua itu mencegah.

“Hmmm! Kau tak bakal bisa lolos dari sini lagi!”

“Cu Siauaw-hiap! Apakah kau ingin menahan diriku?”

seru si nenek tua itu dengan wajah rada berubah.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. Cu Tong

Hoa tertawa dingin tiada hentinya. “Bukan saja aku ingin

menahan dirimu, bahkan aku inginkan pula nyawamu.”

“Kau ……kau …….. siapa kau ……..?”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. Pak Hoa

Coa atau si ular seratus bunga, kau kira aku sungguhsungguh

tidak kenali wajah aslimu?”

Si pengemis muda itu segera enjotkan badannya laksana

sambaran kilat mencelat kehadapan tubuh si nenek tua itu.

“Siiiii ………siapa kau ?” Teriak nenek tua itu lagi

dengan nada gemetar, wajahnyapun berubah menjadi pucat

pasi bagaikan mayat.

“Aku? Haaaaa………….haaaa……….haaa………kau

boleh menduga sendiri!”

Dari dalam sakunya perlahan-lahan Cu Tong Hoa

mengeluarkan sebuah kipas yang dibentangkan lebar-lebar.

Diatas kipas terlukiskan sekuntum bunga seruni yang

memancarkan cahaya keemasan.

“Perkumpulan Pak Hoa Pang!” tak terasa lagi nenek tua

itu berseru tertahan.

“Sedikitpun tidak salah, perkumpulan Pak Hoa pang!”

Kau…..”Kau….. adalah ……?”

“Hmm! Pak Hoa Coa, terhadap peraturan tentunya kau

masih mengetahui dengan sangat jelas bukan, kau sebagai

seorang Tongcu bagian hukuman mengapa berani

menghianati perguruan …….”

“Kau ….. kau adalah pangcu?” teriak nenek tua itu

kembali dengan seluruh badan gemetar sangat keras.

“Peduli aku pangcu atau bukan, kau tidak perlu banyak

menggubris, baik-baik berdiri disana dan terimalah sepuluh

jurus “Hoa kay Hoa Lok” atau bunga Mekar Bunga

rontok” ku tentu kau bakal menjadi jelas dengan sendirinya

…..”

“Pangcu!”

“Pak Hoa Coa. Yang kutunggu-tunggu selama ini adalah

ini hari ……..” Bentak Cu Tong Hoa dingin. “Kau sudah

menghianati perguruan, hal ini masih lumayan, bahkan

berani pula mencuri sebotol “Pak Hoa Lok

…….Hmmmmm!……”

“Pangcu !……”

“Sekarang aku mau bertanya kepadamu, apakah kau

sudah bertemu dengan majikan Istana harta?”

“Belum …..!”

Cu Tong Hoa tertawa dingin semakin seram.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. kalau

begitu, kau serahkan dulu nyawamu! Teriaknya.

Ditengah suara bentakan yang amat keras tubuh Cu

Tong Hoa sudah mencelat kedepan, kipas ditangannya

laksana anak panah yang terlepas dari busur meluncur

kedepan mengirim sebuah babatan yang maha dasyat.

Buru-buru pak Hoa Coa menggeserkan badannya

kesamping menghindarkan diri dari datangnya serangan

gencar Cu Tong Hoa, diantara memisahnya bayangan

manusia, iapun balas mengirim satu serangan kedepan.

“Hmmmmm! Kau cari mati …..”

Ditengah bentakan yang keras, kipas ditangan Cu Tong

Hoa berturut-turut melancarkan serangan gencar kedepan,

hanya didalam sekejap mata tiga jurus sudah berlalu. Begitu

mereka berdua saling bergebrak, maka seketika itu juga Pek

Thian Kie dibuat berdiri termangu-mangu ditengah

kalangan.

Sekarang ia baru mulai memahami akan suatu urusan,

kiranya Cu Tong Hoa ini adalah seorang gadis atau dengan

perkataan lain Pangcu dari perkumpulan seratus bunga.

Hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang tak

pernah terpikirkan olehnya.

Dan tujuannya datang kemari, sudah tentu sedang

mencari si penghianat perguruan “Pak Hoa Coa”

Mendadak ……

Ditengah suara bentakan yang sangat dingin, tampaklah

tubuh Cu Tong Hoa laksana sambaran kilat cepatnya sudah

menubruk kearah pak Hoa Coa, kipas ditangannya laksana

bayangan bunga dengan amat gencar mengirim empat buah

serangan sekaligus mencecer musuhnya.

Sebentar kemudian suara dengusan berat bergema

memenuhi angkasa, kiranya tubuh Pak Hoa Coa dengan

amat dasyat kena terpukul pental, sehingga mencelat kearah

belakang dan jatuh tepat diatas tanah tak berkutik.

“Ayoh cepat bangun, tidak perlu pura-pura mati!” bentak

Cu Tong Hoa dingin. Perlahan-lahan pak Hoa Coa bangun,

sambil mengusap darah segar yang muncrat keluar dari

ujung bibirnya, ia memandang kearah Cu Tong Hoa

dengan perasaan ketakutan.

“Aku …..!”

Belum habis perkataan tersebut diucapkan, tubuhnya

mendadak mencelat ketengah udara kemudian dengan

kecepatan laksana sambaran kilat meluncur kearah Pek

Thian Kie sambil mengirim serangan mencengkeram

tubuhnya.

Dalam anggapan pak Hoa Coa, pemuda yan bernama

Pek Thian Kie ini adalah seorang pemuda yang sama sekali

tidak mengerti akan ilmu silat, asalkan ia berhasil

menguasai pemuda tersebut bukan saja ia berhasil

meloloskan diri dari kematian bahkan asal-usulnya yang

sesungguhnya tidak akan sampai terbongkar dihadapan

jago-jago bulim lainnya.

Karena itu serangan yang baru saja ia lancarkan ini

sudah menggunakan seluruh tenaga iweekang yang

dimilikinya, sudah tentu kehebatannya sangat luar biasa

sekali.

Cu Tong Hoa yang sama sekali tidak menyangka bisa

terjadi peristiwa semacam itu, ketika dilihatnya nenek tua

tersebut menubruk kearah Pek Thian Kie hatinya terasa

amat terperanjat.

Dimana bayangan manusia berkelebat tahu-tahu ia

sudah berada dihadapan Pek Thian Kie.

Melihat dirinya diserang, pemuda ini segera menjerit

keras sambil menjatuhkan diri kebelakang.

Pada saat-saat yang amat kritis itulah Cu Tong Hoa

sudah membentak keras, tubuhnya dengan cepat meloncat

kearah Pak Hoa Coa, sedangkan kipasnya digerakkan

melanjutkan serangan-serangan gencar.

Serangan yang dilancarkan si pengemis muda barusan ini

betul-betul sangat luar biasa, bahkan keanehan serta

kelihayan dari jurus-jurus gerakannya patut dipuji.

“Tahan!” mendadak Pak Hoa Coa membentak keras.

Tetapi suara bentakan tersebut sama sekali tidak berhasil

menahan serangan yang dilancarkan oleh Cu Tong Hoa,

tahu-tahu kipas pihak lawan sudah berada diatas jalan

“Ming Bun Hiat” diatas punggung nenek tua itu.

“Kau sudah tidak mau nyawamu lagi ….” Teriak si ular

seratus bunga gusar.

Belum habis ia berkata, suara dengusan berat sudah

bergema memenuhi angkasa, tubuhnya roboh keatas tanah

tak berkutik lagi, sedang dari hidung maupun mulutnya Pek

Thian Kie muntahkan darah segar.

Kiranya peristiwa ini telah terjadi dalam waktu yang

sangat kebetulan sekali. Sewaktu Pak Hoa Coa

melancarkan tubrukan tadi, kebeulan penyakit sakit hati

dari Pek Thian Kie sedang kambuh, sehingga tak kuasa lagi

ia kena ditawan oleh pihak musuh.

Dan sewaktu Cu Tong Hoa melancarkan serangannya

tadi, mengambil kesempatan tersebut, Pak Hoa Coa lantas

turun tangan menyerang pemuda tersebut, sehingga

membuat dia jadi terluka parah.

Perlahan-lahan Cu Tong Hoa melirik sekejap kearah Pek

Thian Kie, alisnya dikerutkan rapat-rapat. Tanpa banyak

cakap lagi dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah

botol poselen dan meneteskan beberapa tetes cairan putih

kedalam mulut Pek Thian Kie, lalu diurutnya pula seluruh

tubuh pemuda tersebut dengan cermat.

Beberapa saat kemudian pemuda itu baru tersadar

kembali dari pingsannya, dengan termangu-mangu ia

memandang pengemis muda tersebut.

“Pek-heng!” ujar Cu Tong Hoa sambil tertawa perlahan.

“Kesemuanya akulah yang tidak baik, tetapi aku tidak akan

membinasakan dirinya.”

Selesai berkata ia lantas mencengkeram tubuh si ular

seratus bunga itu, kemudian diangkatnya keatas dan pada

beberapa bagian tubuhnya ditepuk pula berulang kali.

Berkat gebukan Cu Tong Hoa itulah, perlahan-lahan si

nenek tersebut tersadar kembali dari pingsannya.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee……..

Pak Hoa Coa. Kau benar-benar seorang manusia yang

banyak akal dan licik.” Seru pengemis muda tersebut sambil

tertawa dingin tiada hentinya.” Sekarang kau jawab,

mengapa kau menghianati perguruan ?”

“Aku….!”

“Cepat katakana !”

“Baik ….. baik ….. aku ….. Aduuuuuuuh…..”

Belum sempat Pak Hoa Coa mengucapkan sesuatu,

mendadak diiringi suara jeritan ngeri tubuhnya roboh

keatas tanah dengan kepala hancur berantakan dan darah

berceceran diatas tanah. Tahu-tahu ia sudah menemui ajal

dengan keadaan yang sangat mengerikan.

Menghadapi kejadian ini Cu Tong Hoa rada melengak,

ia sama sekali tidak menyangka sewaktu dirinya berada

dalam keadan tidak bersiap-siap, ternayta sudah ada orang

yang turun tangan terlebih dahulu melenyapkan Pak Hoa

Coa.

Tubuhnya dengan cepat dienjotkan melayang keluar

kamar.

Tetapi dipintu depan tengah halaman luas, dua puluh

orang jagoan lihay Bu-lim yang semula ada disana, kini

sudah berubah menjadi empat, limapuluh orang banyaknya

dan jago-jago tersebut rata-rata mempunyai raut muka yang

terasa sangat asing buat mereka.

Kedua orang pemuda yang ada didalam kamar tadi

ketika menghadapi orang yang sebegitu banyaknya tak

dapat mengetahui dengan pasti siapakah diantara mereka

yang telah turun tangan melenyapkan diri Pak Hoa Coa.

Dengan cepat Cu Tong Hoa putar badan berjalan balik,

alisnya berkerut rapat-rapat, agaknya ia sedang memikirkan

sesuatu, sebentar kemudian ia sudah tertawa dingin, lalu

langsung berjalan mendekati diri Pek Thian Kie.

“Siapa yang sudah membinasakan dirinya?” Tanya

pemuda tersebut buru-buru.

“Aku sendiri tak melihat jelas.”

“Apakah orang-orang dari Istana harta?”

“Sedikitpun tidak salah, kemungkinan sekali Majikan

Istana harta pun termasuk diantara mereka-mereka itu!”

“Karena Apa?”

Dengan nada yang dingin dan sikap yang sombong Cu

Tong Hoa tertawa tawar, dari senyuman tersebut semua

orang dapat melihat bila sepintas hawa nafsu membunuh

sudah melintas diatas wajahnya.

“Aku sendiripun tidak tahu!”

“Cu-heng, benarkah kau adalah pangcu dari

perkumpulan seratus bunga?” tiba-tiba Tanya Pek Thian

Kie.

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

Pertanyaan yang berbalik ini seketika itu juga membuat

Pek Thian Kie jadi melengak, ia merasakan bukan saja

kepandaian silat yang dimiliki Cu Tong Hoa sangat lihay,

sehingga sukar diraba bahkan kecerdikannyapun jauh lebih

tinggi satu tingkat dari dirinya.

“Aku menginginkan jawabannya!” seru pemuda tersebut

kembali.

Cu Tong Hoa tertawa tawar.

“Kemungkinan benar, kemungkinan pula bukan!”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Sekalipun sudah dijelaskan, kaupun pasti tidak akan

mengerti maksudku.”

Dalam hati diam-diam Pek Thian Kie mendengus

dingin, sampai sekarang ia masih merasakan bila asal-usul

dari Cu Tong Hoa merupakan suatu teka-teki dan tanda

Tanya yang sangat membingungkan.

Kedudukannya yang pertama adalah Tongcu Urusan

bagian luar dari perkumpulan Kay-pang, kedudukan yang

kedua adalah Pangcu dari Perkumpulan Seratus Bunga.

Tetapi jika diteliti lebih mendalam agaknya kedua buah

kedudukannya itu sama sekali bukan sungguh-sungguh.

“Pek-heng !” Tiba-tiba Cu Tong Hoa menegur dengan

alis yang dikerutkan rapat-rapat. “Tolong merepotkan

dirimu untuk melakukan sesuatu urusan, entah maukah kau

untuk melakukannya ?

“Coba kau katakana !”

“Tolong panggil si Tiang Kwee untuk datang kemari

sebentar.”

Pek Thian Kie tidak mengerti permainan setan apa lagi

yang sedang ia susun, setelah termenung berpikir keras

beberapa saat lamanya terakhir ia mengangguk juga.

“Baiklah!”

Selesai berkata ia lantas berjalan keluar dari dalam

kamar.

Setibanya diluar, dimana sinar mata Pek Thian Kie

menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ternyata apa yang

diucapkan si pengemis muda tersebut sedikitpun tidaka

salah.

Didalam halaman yang amat luas itu kini sudah

bertambah lagi dengan berpuluh-puluh orang jagoan Bulim,

ketika Pek Thian Kie lewat disisi mereka, para jago itu

hanya melirik sekejap kearahnya. Diam-diam pemuda

tersebut merasakan hatinya berdebar-debar sangat keras,

bulu kuduk pada berdiri.

Orang-orang Bu-lim itu sama sekali tidak mengenali

dirinya, tetapi selama ini selalu mengawasi terus gerak-gerik

mereka berdua, peristiwa ini hanya ada satu kemungkinan

saja yang bisa diterangkan, kedatangan mereka tentunya

dikarenakan diri Cu Tong Hoa.

Dugaan ini memang sangat cengli, Cu Tong Hoa betulbetul

seorang manusia yang sangat misterius, berasal dari

manakah orang itu? Didalam soal ini ia harus mencari tahu,

sehingga duduknya perkara menjadi lebih jelas.

Berpikir sampai disitu, dengan langkah lebar-lebar, ia

lantas berjalan menuju keruangan sebelah depan.

Siapa sangka ketika itulah mendadak ssosok bayangan

manusia dengan kerasnya menubruk diatas badannya.

“Bluuuuummmmm ……!” Didalam keadaan baru saja

sembuh dari sakit hatinya, boleh dikata tenaga dalam yang

dimiliki Pek Thian Kie pada saat ini sama sekali punah.

Tak kuasa lagi tubuhnya kena tergetar, sehingga

mundurtujuh, delapan langkah kebelakang.

Pek Thian Kie yang kena tertubruk, diam-diam

badannya terasa amat sakit, hatinya jadi mendongkol

sedang sinar matanya mulai melototi orang yang berada

dihadapannya.

Tetapi sebentar saja ia sudah menemukan bila orang

yang berdiri dihadapannya pada saat ini bukan lain adalah

seorang dara berbaju hijau yang sangat cantik dan baru

berusia kurang lebih tujuh delapan belas tahun.

Bab 6 Teka-teki yang belum terjawab ……… ?

DIA adalah seorang gadis yang mempunyai wajah amat

cantik, terutama sekali bibirnya yang kecil ungil berwarna

merah serta sepasang matanya yang jeli bersinar cerah,

hidungnya mancung benar-benar amat mempesona setiap

orang.

Pada saat itu, diatas pipi gadis tersebut terlintaslah warna

merah dadu yang dengan cepat membara menjalar

keseluruh wajah. Agaknya ia sadang merasa jengah karena

tertumbuk diatas badan seorang lelaki asing.

“Aaakh ….. maaf, maaf!” Buru-buru Pek Thian Kie

menjura sambil mohon maaf berulang kali.

Selesai menjura, dengan mengitari dari samping tubuh

dara cantik berbaju hijau itu ia melanjutkan kembali

langkahnya kedepan.

Mendadak …….

“Saudara, tunggu sebentar!” dara berbaju hijau itu

berseru menahan jalan pergi pemuda tersebut.

Pek Thian kie jadi melengak, tak kuasa lagi iapun

menghentikan langkahnya.

“Nona, kau ada urusan apa?” tanyanya sambil menoleh

dan memandang sekejap kearah dara berbaju hijau itu.

“Jangan minta maaf seharusnya aku,” kata dara tersebut

sembari tersenyum. “Karena tubrukan tadi adalah sengaja

aku lakukan.”

Sekalipun tidak diterangkan, dalam hati Pek Thian Kie

pun sudah merasa sangat paham.

Dara berbaju hijau itu adalah seorang jagoan Bu-lim

apalagi ditengah hari bolong, jika ia bisa bertubrukan

dengan orang lain, maka hal ini jelas sekali menunjukkan

bila ia sengaja melakukannya.

“Aaaakh ….. kau sedang bergurau !” seru Pek Thian Kie

tertawa.

Dijawabnya sangat tepat sekali dengan kedudukannya

pada saat ini, hal ini jelas menunjukkan bila dia benar-benar

seorang yang tidak mengerti akan ilmu silat.

“Kau bernama Pek Thian Kie?” tanyanya dara cantik

berbaju hijau itu kemudian sambil tertawa.

Agak melengak juga Pek Thian Kie dibuat oleh kejadian

ini.

“Tidak salah !”

“Lalu saudara yang satunya itu apakah juga kawanmu.”

“Sedikitpun tidak salah, dia memang kawanku.”

“Apakah kalian berkenalan sudah lama?”

“Entah apa amaksud nona untuk menanyakan persoalan

ini ?”

Dara cantik berbaju hijau itu kembali tertawa.

“Tahukah kau orang macam apa kawanmu itu?”

tanyanya

“Dia adalah manusia macam apa?” Buru-buru pemuda

itu berseru, karena hatinya rada bergerak.

“Eeeeeei …… bukankah kalian berdua adalah pasangan

sahabat karib, bagaimana kau bisa tahu macam apakah

manusia itu?”

Pek Thian Kie yang dikatai begitu, sekali lagi berdiri

tertegun dibuatnya.

“Per…..persahabatan kami tidak begitu mendalam ……

apalagi perkenalanku belum cukup lama.”

“Sudah ada berapa hari?” desak dara berbaju hijau itu

lebih lanjut

“Kami baru berkenalan selama dua hari saja!”

“Oooooow ….. kiranya kalian baru berkenalan selama

dua hari, tidak aneh kalau kau belum begitu paham

terhadap dirinya. Walaupun asal-usulnya yang benar masih

merupakan suatu teka-teki, tetapi orang-orang dunia

kangouw pada mengetahui bila ia bukan bernama Cu Tong

Hoa …..!”

“Lalu siapakah dia?”

“Kiang To!”

“Apa? Apa kau bilang ? Kiang To ?”

Tak kuasa lagi Pek Thian Kie menjerit tertahan,

beberapa patah perkataan tersebut benar-benar terasa

bagaikan aliran strom yang membuat seluruh badannya

tergetar dan gemetar keras.

Ia merasa terperanjat, kaget, bingung dan kelabakan

sendiri !

Dia bernama Kiang To ? Cu Tong Hoa adalah

sebenarnya Kiang To ?

Tetapi, bukankah si kakek tua berbaju hitam itu tadi

mengatakan bahwa Kiang To adalah dirinya sendiri !

Kiang To ………Kiang To ……….! Kiang To ………..!!

sebetulnya macam apakah Kiang To ini ?

Kejadian ini betul-betul merupakan suatu peristiwa yang

tak dapat masuk akal, bahkan urusan ini terlalu

membingungkan. Buat Pek Thian Kie, ia sama sekali tidak

paham walau barang sedikitpun. Kiang To adalah satu

orang, dan hanya seorang manusia saja yang bernama

Kiang To. Orang itu kalau bukan dirinya tentu si manusia

mesterius tersebut.

Sebenarnya siapakah orang itu ?

Agaknya peristiwa ini ada sangkut paut yang amat besar

dan erat sekali dengan dirinya, karena jika dia benar-benar

bernama Kiang To, maka kejadian suhunya telah

menyembunyikan nama aslinya tentu masih ada sebabsebab

tertentu.

Kabut mesterius, teka-teki serta tanda Tanya yang besar

mengurung Pek Thian Kie kencang-kencang dan mulai

menjerumuskan dirinya kedalam lembah lamunan.

Si dara cantik berbaju hijau yang melihat paras muka Pek

Thian Kie menunjukkan perasaan terkejut segera

menambahi lagi kata-katanaya :

“Eeeei …… sekarang tentunya kau sudah tahu bukan,

manusia macam apakah kawanmu itu ?”

“Ehmmmm ……..! benar ………..!”

Dalam hati Pek Thian Kie mengerti bahwa ia harus tetap

berpura-pura menunjukkan rasa kagetnya dikarenakan

“Kiang To” dua kata tersebut dan bukan sedang terkejut

dikarenakan persoalan lain.

Padahal, yang ida ketahui hanya angina kentut belaka

……

“Eeeeei …..kalau kau sudah tahu lebih baik cepat-cepat

pergi!” seru si dara berbaju hijau lagi. “Kalau tidak,

mungkin sekali bibit bencana bakal terjatuh keatas badanmu

juga!”

Selesai berkata dengan langkah yang menggiurkan ia

berlalu dari tempat itu.

Pek Thian Kie masih tetap berdiri tertegun ditempat

semula.

Sekarang, didalam hatinya ia sudah mengambil

keputusan, ia harus menyelidiki urusan ini sampai jelas,

siapakah sebenarnya Cu Tong Hoa ini ? Benarkah dia orang

bernama Kiang To ? Dan macam apakah manusia yang

disebut Kiang To itu ?

Mendadak, ia teringat akan suatu persoalan yang maha

penting, persoalan ini adalah suhunya menyuruh dia pergi

mencari Kiang To untuk menanyakan asal-usulnya. Dan

orang yang disebut Kiang To ini tentu adalah seorang

manusia terkenal yang sudah diketahui oleh siapapun,

maksud suhunya tentu agar ia sekali mendapat tahu, maka

mudah untuk memperoleh keterangan yang cukup. Berpikir

akan hal ini, ia merasa semakin harus menjelaskan

persoalan ini.

“Kawan Pek, kau lagi pikirkan apa?” sekonyongkonyong

serentetan suara berkumandang masuk kedalam

telinganya.

Mendengar suara tersebut diam-diam dalam hati pemuda

tersebut merasa amat terperanjat, sewaktu ia

mendongakkan kepala terlihatlah seorang lelaki berpakaian

perlente sudah berdiri dihadapannya.

Pek Thian Kie rada tertegun sejenak.

“Oooouw ….. kawanku mengundang kau untuk pergi

kesana sebentar ….!” Serunya kemudian.

“Ada urusan apa?”

“Entahlah, mari ikuti diriku!”

Selesai berkata tanpa menungu jawaban dari seorang

berbaju perlente itu lagi, ia lantas putar badan berjalan

melalui jalanan semula.

Pada mulanya si lelaki berpakaian perlente itu dibuat

agak ragu-ragu, tetapi akhirnya dengan wajah penuh rasa

curiga ia mengikuti juga dari belakang tubuh Pek Thian Kie

Sesampainya didepan kamar, pemuda itu langsung

mendorong pintu berjalan masuk. Mendadak ……. Ia

dibuat berdiri tertegun !

Kiranya didalam kamar itu kini sudah tak nampak

bayangan Cu Tong Hoa lagi, saat ini kamar tersebut kosong

melompong.

Bukan saja bayangan dari Cu Tong Hoa lenyap tak

berbekas, sekalpun mayat “Pak Hoa Coa” yang

menggeletak didepan pintunya pada saat ini sudah ikut

lenyap. Hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang

sama sekali tak ia duga.

Tak kuasa lagi Pek Thian Kie berdiri termangu-mangu

disana, tak sepatah katapun berasil diucapkan keluar.

“Eeeei …….. kawan Pek, dimana kawan Cu-mu?”

Tanya si lelaki berbaju perlente itu setelah melirik sekejap

kedalam ruangan kamar.

Pek Thian Kie yang ditanyai demikian Cuma bisa

meringis-ringis kuda dan bungkam seribu bahasa, karena

hal ini jelas membuktikan bila Cu Tong Hoa ada maksud

untuk menyingkirkan dirinya kesamping, agar ia dapat

dengan leluasa melanjutkan tindakannya menyelesaikan

suatu rencana busuk.

Tak terasa lagi hawa marahnya berkobar memenuhi

seluruh rongga dada.

“Kemungkinan sekali dia baru saja keluar….” Sahutnya

terpaksa

“Tapi, ada urusan apa dia memanggil aku kemari?

“Mungkin tiada urusan apa dia memanggil aku kemari ?

“Ooooouw ….” Tanpa banyak rewel lagi si lelaki berbaju

perlente itupun segera putar badan berlalu.

Menanti bayangan orang itu sudah lenyap dari

pandangan, dengan gerakan yang sangat cepat ia segera

menerjang masuk kedalam kamar !

Seluruh isi ruangan kamar diperiksanya dengan sangat

teliti, tetapi walaupun ia susah payah tak sedikit dijejakpun

yang berhasil ditemukan.

Untuk beberapa saat pemuda ini dibuat berdiri termangumangu,

karena peristiwa ini terjadi terlalu mendadak dan

sama sekali berada diluar dugaan, maka untuk beberapa

saat lamanya ia tak sanggup berpikir lebih panjang.

Dengan kaku ia jatuh terduduk diatas pembaringan,

pikirnya melayang, entah memikirkan urusan apa ……

Entah sudah beberapa lamanya, mendadak Pek Thian Kie

mencium bau amis yang semakin lama semakin tebal

menyerang hidungnya dari bawah pembaringan.

Hatinya terasa berdebar amat keras, buru-buru seprei

tempat tidurnya disingkap, lalu berjongkok untuk diperiksa.

Tetapi sejenak kemudian saking terperanjatnya hampirhampir

saja ia menjerit keras.

Kiranya dibawah pembaringan itu berbaringlah mayat

dari si ular seratus bunga, hanya saja pada saat ini

pakaiannnya sudah dicopot orang lain, sehingga diatas

mayat tersebut hanya tertinggal pakaian dalam saja yang

sudah amat minim.

Tetapi Pek Thian Kie tidak habis mengerti akan kejadian

yang sudah berlangsung ….. Sudah tentu, Cu Tong Hoa

bisa berbuat demikian, tidak mungkin tak ada suatu tujuan

tertentu, Cuma, saying pemuda ini tak mengerti apakah

tujuannya berbuat demikian?

Mendadak ……

Suatu ingatan sudah berkelebat didalam benaknya,

dengan cepat ia menerjang keluar dari kamar. Ketika sinar

matanya berputar, maka terlihatlah olehny ditengah luar

kini sudah bertambah lagi dengan puluhan orang jagoan

lihay Bu-lim. Sinar mata Pek Thian Kie kembali menyapu

kearah orang-orang itu, akhirnya dibawah tumbuhan bunga

ia menemukan seorang nenek tua berpakaian kembangan

berjongkok disana. Bukankah dia orang adalah Pak Hoa

Coa ?

Tetapi dalam hati Pek Thian Kie mengerti, kalau dia

bukan Pak Hoa Coa yang asli, sebaliknya seorang pak Hoa

Coa palsu, hasil penyaruhan dari si pemuda misterius Cu

Tong Hoa.

Saat inilah Pek Thian Kie mulai merasakan bila Cu Tong

Hoa rada menyeramkan, apakah tujuan sebenarnya datang

kemari ?

Apa sebabnya berpuluh-puluh orang jagoan Bu-lim

mendatangi tempat ini pula untuk mencari dirinya ?

Dalam hati Pek Thian Kie mulai mengambil keputusan

untuk bikin jelas persoalan ini, sekalipun ia harus

membocorkan rahasianya sendiri.

Diam-diam ia mulai berpikir.

“Sekarang tenaga dalamku sudah pulih enam bagian,

rasanya sudah lebih dari cukup untuk menghadapi seorang

jagoan, aku harus mulai bertindak …..”

Setelah mengambil keputusan ini, dengan langkah

tergesa-gesa ia lantas berjalan mendekati diri Cu Tong Hoa.

Sampainya disisi pengemis tersebut dengan nada mengejek

ia tertawa tawar .

Cu Tong Hoa yang melihat munculnya Pek Thian Kie

disana ia Cuma melirik sekejap kearahnya, tetapi air

mukanya masih tetap tawar tak berubah sedang

suaranyapun sangat mirip dengan suara dar Pak Hoa Coa.

“Eeeeei ….. bocah kurus, kau hendak berbuat apa

disini?”

“Kawanku yang berada dibawah pembaringan

mengundang kau untuk bertemu sejenak!” sahut Pek Thian

Kie tertawa.

Seluruh Tubuh Cu Tong Hoa kontan saja gemeatr sangat

keras.

“Aaaakh ….. ada urusan apa?” serunya sambil meloncat

bangun.

“Aku sendiripun kurang jelas, lebih baik kita bicara

didalam kamar saja.”

“Stttt….Pek-heng, kau tahu siapakah aku?” Tiba-tiba Cu

Tong Hoa berbisik.

“Sudah tentu tahu!”

“Kalau begitu, mari kita kembali kedalam kamar!”

“Sebetulnya siapakah kau? Ayoh cepat katakana!”

bentaknya.

Perubahan nada ucapan dari Pek Thian Kie ini agaknya

sama sekali berada diluar dugaan Cu Tong Hoa, maka

dengan perasaan terperanjat dan hati berdesir ia

memperhatikan pemuda itu tajam-tajam, untuk beberapa

saat lamanya pengemis muda tersebut tak sanggup untuk

mengucapkan sepatah katapun.

Lama ……lama sekali ia baru bisa menjawab.

“Pek-heng, kau benar-benar berada diluar duagaanku.

Kiranya kau bukannya tidak mengerti akan urusan ini

……!”

“Sedikitpun tidak salah, aku memang pernah tidak

mengerti akan urusan ini, tetapi sekarang aku sudah mulai

memahami. Cu-heng, siapakah sebetulnya kau ini? Ayo

cepat jawab!”

Walaupun keadaan didalam ruangan tersebut penuh

diliputi oleh suasana tegang, tetapi nada pembicaraan

mereka masih tetap ringan dan halus. Saking perlahannya,

sehingga hanya mereka berdua sajalah yang bisa

mendengarnya.

Cu Tong Hoa tertawa dingin tiada hentinya.

“Sekalipun aku katakana belum tentu, kau bisa paham.

Lebih baik tak usah aku bicarakan,” serunya

Air muka Pek Thian Kie berubah hebat.

“Jika kau tidak suka berbicara lagi, hati-hati aku akan

pecahkan rahasia penyamaranmu dihadapan para kawankawan

Bu-lim yang hadir ditengah lapangan!” ancamnya

“Heeeee………heeeeee………..heeeeeeeee……. kalau

kau berani berbuat demikian, maka hal ini akan

mendatangkan kesialan saja buat dirimu sendiri!”

“Aku sudah merasa cukup untuk jadi orang goblok, Cuheng!

Mengapa kita tidak suka bicara baik-baik. Kalau tidak

……. Siauwte pun tidak ingin menimbulkan banyak

kerepotan lagi ……..!”

Mendengar perkataan tersebut, air muka Cu Tong Hoa

segera berubah hebat, dari sepasang matanya memancarkan

cahaya tajam yang membuat setiap orang terasa bergidik.

Perlahan-lahan ia menyapu pula sekejap kearah diri Pek

Thian Kie tajam-tajam.

“Siapakah sebtulnya dirimu? Tanyanya kemudian

dengan suara seram’

Nada suaranya penuh diliputi oleh perasaan kaget dan

bergidik, hal ini sebaliknya malah membuat Pek Thian Kie

jadi tertegun.

“Aku adalah Pek Thian Kie!” serunya keheran-heranan.

“Bohong! Kau bukan Pek Thian Kie.”

“Kenapa aku harus berbohong?”

“Aaaaaakh …… sekarang aku baru teringat,

sesungguhnya Pek Thian Kie sudah mati, bagaimana

mungkin sekarang bisa muncul kembali seorang yang

bernama Pek Thian Kie ?”

“Apa kau kata? Pek Thian Kie sudah mati? Kapan dia

matinya?”

“Setahun yang lalu, dan aku berani pastikan kalau Pek

Thian Kie benar-benar sudah mati.”

Pek Thian Kie benar-benar merasakan hatinya tergetar

keras, perkataan dari Cu Tong Hoa ini ternyata mirip sekali

dengan apa yang dikatakan oleh si orang tua berbaju hitam

itu !

Bagaimana kau bisa tahu ? Siapakah dia ? tanyanya

terperanjat.

“Sin Mo Kiam Khek! Si jagoan pedang iblis sakti.”

“Aaaakh …….!” Tak kuasa lagi saking terperanjatnya

Pek Thian Kie jadi menjerit tertahan.

“Ayo jawab, siapakah kau!” kembali Cu Tong Hoa

membentak keras, suaranya amat dingin menyeramkan.

Perlahan-lahan air muka Pek Thian Kie berunah jadi

ramah kembali, ia tertawa perlahan.

“Sekarang lebih baik kau sebutkan dulu siapakah kau?

Bukankah kau bernama Kiang To!’ serunya.

“Apa?” Cu Tong Hoa menjerit kaget, “Apa kau kata

………?

“Aku bilang apakah kau orang bernama Kiang To

…….!”

Belum habis Pek Thian kie berbicara, Cu Tong Hoa

sudah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

Tetapi pada saat yang bersamaan mendadak terdengarlah

suara langkah manusia berkumandang mendekat, disusul

dengan munculnya si orang tua Tiang kwee dari Istana

harta itu dan diikuti oleh si orang tua berwajah merah yang

menjabat sebagai Cong-koan disana, si setan tangan darah.

Pek Thian kie serta Cu Tong Hoa tetap berdiri

berdampingan dengan sikap yang tenang.

“Eeeeei …..nenek tua permisi!” sapa Tiang-kwee setelah

tiba dihadapan Cu Tong Hoa.

“Ada urusan apa?”

“Mengenai uang pinjamanmu seribu tahil perak, kami

sudah siapkan buat dirimu, mari silakan ikuti diriku untuk

pergi mengambil.”

Perkataan ini sangat biasa sekali, tetapi bagi Cu Tong

Hoa serta Pek Thian Kie kedalm hati sudah merasa sangat

paham.

Agaknya pihak lawan sudah mengetahui, bila dia

bukanlah si ular seratus bunga yang asli, karena kematian

Pak Hoa Coa secara mendadak agaknya juga dilakukan

oleh orang-orang istana harta sendiri.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee……..dia tidak

menginginkan seribu tahil perak kalian lagi,” teriak Pek

Thian Kie sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Kenapa?” seru sang Ciang-kwee tak tertahan lagi air

mukanya berubah hebat.

“Kawanku sudah pinjamkan seribu tailnya buat dia

orang, karena itu dia kini sudah tidak menginginkan uang

seribu tail perak kalian lagi.”

“Siapa yang tidak suka uang?” tiba-tiba Cu Tong Hoa

berteriak keras dengan air muka berubah hebat. “Lebih

banyak uang lebih bagus, mari biar aku ikut kalian ambil

uang itu.”

Selesai berkata, ia lantas putar badan siap meninggalkan

ruangan tersebut.

“Berhenti!” mendadak Pek Thian Kie membentak keras.

Suara bentakan yang amat keras dari Pek Thian Kie ini

seketika itu juga membuat ketiga orang itu membatalkan

niatnya untuk berlalu dari sana.

Biji mata Cu Tong Hoa berputar-putar tiada hentinya,

sedang air muka berubah amat sinis.

“Kau ingin berbuat apa?” tegurnya ketus

“Cu-heng, kau adalah seorang manusia yang cerdik,

apakah kita harus saling cakar-mencakr muka masingmasing?”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. kau ingin

berbuat apa?”

“Jawab dulu pertanyaan yang aku ajukan!”

“Apa?”

“Kau tidak usah berlagak pilon lagi, tujuan kita masingmasing

tidak sama. Kau lakukanlah perbuatanmu sedang

aku akan melakukan pekerjaanku sendiri …..”

Sekali lagi Pek Thian kie dibuat tertegun dan berdiri

termangu-mangu disana.

Perkataan dari Cu Tong Hoa barusan ini jelas

menunjukkan bila dia bernama Kiang To dan perkataan ini

ternyata sama sekali cocok dengan apa yang diucapkan si

kakek tua berbaju hitam itu kepadanya.

Hal ini sudah tentu cukup membuat hatinya merasa

sangat terperanjat.

Ketika itulah ……

Cu Tong Hoa beserta kedua orang dari istana harta

sudah putar badan dan melanjutkan kembali perjalanannya

keluar dari ruangan tersebut.

“Berhenti! Kembali Pek Thian Kia membentak keras.

Mendengar suara bentakan tersebut, walau dengan hati

mendongkol mereka terpaksa berhenti juga.

“Eeeeei …. Sebetulnya kau ingin berbuat apa?” teriak Cu

Tong Hoa dengan amat gusar, hatinya benar-benar

mendongkol

“Jelaskan dulu perkataanmu kemudian baru berlalu.”

“Hei… bocah kurus, kau ingin mencari mati?” bentak

Hiat Koei So secara mendadak.

“Kenapa ?” balik Tanya Pek Thian Kie dingin

“Kalau kau memang ingin menjadi tamu dari istana

kami, ada seharusnya jangan menyusahkan kami untuk

berlalu, jika kau rebut-ribut lagi, hati-hatilah aku akan kasih

sedikit hajaran buat dirimu!”

Diatas air muka Pek Thian Kie perlahan-lahan

terlintaslah suatu perubahan yang sangat menyeramkan.

“Hmmmmm! Sekalipun kau sudah berbicara demikian,

tetapi aku tetap tidak akan mengizinkan dia berlalu.”

“Hmmm! Nenek tua ayoh ikut kami pergi, jika ada

urusan biarlah aku yang tanggung.” Seru si Hiat Kui So

dengan dingin.

“Bagus ….. bagus sekali,” Pek Thian Kiepun tidak mau

mengalah dengan begitu saja.

“Hei nenek tua, ayoh, kau oleh coba-coba berlalu dari

sini!”

“Makanya, badanmu yang kurus tinggal tulang bay-kut

apa benar-benar kepingin diputus-putus untuk makanan

anjing?”

“Haaaaaa……….haaaa…………haaaa…….. justru aku

takut kalau kau orang tidak memiliki kepandaian semacam

itu.”

“Kurang ajar, bagus sekali, aku harus kasih sedikit

hajaran dulu kepadamu.”

Baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan, tubuhnya

laksana sambaran kilat sudah meluncur menerjang diri Pek

Thian Kie, tangannya dipentangkan lebar-lebar kemudian

dengan menggunakan kelima jari tangannnya yang runcing

ia mencengkeram dada pemuda tersebut.

Serangan cengkeraman dari pihak lawan ini benar-benar

sangat luar biasa dasyatnya, tampaklah bayangan putih

berkelebat tahu-tahu Pek Thian Kie sudah menyingkir

kesamping.

“Kau benar-benar ingin mencari mati?” bentaknya keras.

“Sedikitpun tidak salah!”

Baru saja perkataan itu meluncur keluar cengkeraman

kedua sudah menyambar tiba, kecepatan dari serangan ini

jauh melebihi serangan pertama bahkan kedasyatannya

amat mengerikan.

Pada saat itu Pek Thian kie sendiripun sudah dibuat

gusar juga oleh sikap pihak lawan, menanti cengkeraman si

Hiat Kui So hampir mencapai pada sasarannya, mendadak

tangan kanannya diputar kencang lalu dibabatkan kearah

depan.

Kecepatan geraknya jauh, melebihi kecepatan pihak

lawan.

Dengan bergebraknya kedua orang ini maka cepat

memancing perhatian dari berpuluh-puluh orang jagoan Bulim

yang semula sedang berkumpul ditengah lapangan itu,

dengan perasaan heran mereka pada memperhatikan

jalananya pertempuran tersebut.

Cu Tong Hoa dengan bungkam tetap berdiri disisi

kalangan.

Sekonyong-konyong …….

Si “Hiat Kui So” berturut-turut melancarkan tiga buah

serangan gencar kearah depan, angin pukulannya menderuderu,

bayangan telapak berkelebat menyilaukan mata.

Hanya didalam sekejap mata saja ia sudah mengancam

tiga buah jalan darah penting pada tubuh pemuda tersebut.

“Tong Cong-koan, buat apa kau mengganggu orang

lain?” mendadak dari samping kalangan berkumandang

datang suara seseorang yang amat merdu.

Mendengar suara teriakan tersebut, buru-buru si “Hiat

Kui So” menarik serangannya dan segera mengundurkan

diri kebelakang.

Kiranya orang yang baru saja berteriak bukan lain si dara

cantik berbaju hijau.

“Nona Suma, bagaimana kau bisa tahu urusan ini.

Bangsat cilik ini benar-benar liar dan seperti maknya

……….” Teriak si Hiat Kui So dengan gemas.

“Tong Cong-koan! Bukankah yang pertama-tama turun

tangan terlebih dahulu adalah kau ……!”

“Sedikitpun tidak salah! Yang turun tangan terlebih

dahulu memang aku, tetapi bangsat cilik ini sendiri yang

mencari mati.”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. Bangsat

Tong Coa-koan. Jangan kau kira aku menaruh rasa jeri

terhadap dirimu,” seru Pek Thian Kie sambil tertawa dingin

tiada hentinya. “Terus terang saja aku beritahu padamu,

jika aku benar-benar kepingin membinasakan dirimu,

sebenarnya gampang sekali seperti membalikkan telapak

tangan sendiri.”

“Cuh ….. kau monyet cilik apa punya kepintaran seperti

itu.”

“Ooooouw …. Kau tak percaya ? Bagaimana kalau kita

coba-coba dulu ?”

“Bagus sekali!” Aku ingin kasih sedikit hajaran biar kau

merasa bila diatas langit masih ada langit.”

Selesai berbicara tubuhnya dengan cepat kembali

berkelebat kedepan, kecepatannya laksana sambaran petir.

Diiringi dengan terjangan tersebut, sebuah pukulan yang

maha dasyat menimbulkan deruan yang memekakkan

telingga dihantmkan keatas tubuh pemuda tersebut.

Agaknya serangan ini sudah menggunakan hampir

seluruh tenaga Iweekang yang dimiliki Tong It San,

kehebatannya benar-benar bukan alang kepalang.

Jilid 3

Bab 7 Kiang Swie Tau Tau ….?

DIDALAM DUNIA Kangouw Tong It san memiliki

julukan sebagai setan tangan berdarah yang terkenal akan

keganasan serta ketelengasannya. Sudah tentu setiap

serangan yang dilacarkan sangat kejam dan tidak

berprikemanusiaan.

Begitu Tong It san turun tangan dasyat, orang-orang lain

yang hadir disamping kalangan tak terasa lagi pada ikut

merasa kuatir buat keselamatan Pek Thian Kie.

“Oooooo…..kau ingin cari mati?” bentaknya

Bersamaan dengan itu pula sepasang telapak tangannya

perlahan-lahan didorong kedepan menyambut datangnya

serangan musuh, serangnnya ini dilancarkan sangat biasa

dan sama sekali tiada keistimewaannya.

Tampak bayangan manusia saling berkelebat

menyilaukan mata, ditengah suara bentrokan yang amat

keras tubuh si Hiat Kui So kontan kena terdesak mundur

puluhan tindak kearah belakang …..

“Siapakah kau ….. bangsat cilik?” tak kuasa lagi si Hiat

Kui So berseru dengan nada gemetar.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. Bukankah

sewaktu aku masuk kemari sudah kuberitahutentangku

kepada kalian? Hei Bangsat tua berhati-hatilah, sekarang

adalah giliranku yang akan kasih sedikit hajaran buat

dirimu?”

Telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan

mengirim sebuah babatan tajam.

Kali ini si Hiat Kui So benar-benar merasa terperanjat,

tangan kanannya buru-buru disilangkan didepan dada

menangkis datangnya serangan tersebut.

Tetapi sewaktu tangan kanannya diangkat diatas dada

dua kali suara tabokan nyaring sudah bersarang diatas

pipinya.

Sambil menjerit keras, Hiat Kui So mundur kebelakang

dengan terhuyung-huyung pipinya sembab membengkak,

sedang dari ujung bibirnya mengucur darah segar.

Kecepatan gerak dari pemuda ini benar-benar sangat

mengerikan, walaupun disamping kalangan hadir berpuluhpuluh

orang jagoan lihay tetap tak seorangpun diantara

mereka yang berhasil melihat dengan jelas secara

bagaimana pemuda tersebut memerseni beberapa tabokan

kepada pihak musuhnya.

Tak kuasa lagi bulu kuduk mereka pada berdiri, mereka

merasakan hatinya berdesir, tak disangka badan yang kurus

tinggal tulang bay-kut saja ternyata bisa memiliki

kepandaian ilmu silat yang begitu lihay.

Hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang

sama sekali tak terpikirkan oleh mereka.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. jika kau

masih tidak tahu baik buruknya, jangan salahkan aku akan

turun tangan lebih kejam.” Bentak Pek Thian Kie dingin.

Tong It san sebagai Congkoan “Istana Harta”

kedudukannya sangat tinggi, dan terhormat, boleh dikata

didalam dunia kangouw sudah mempunyai nama yang

sangat harum pula.

Siapa sangka dihadapan jagoan Bu-lim yang begitu

banyak ternyata ia kena diperseni beberapa tempelengan

oleh seorang pemuda yang kurus kering, hal ini benar-benr

merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan.

Hatinya benar-benar merasa malu bercampur gusar,

penghinaan ini dianggap jauh lebih kejam daripada

badannya ditusuk beberapa kali dengan menggunakan

golok tajam.

Ia meraung keras, tubuhnya bagaikan harimau lapar

kembali menubruk kearah pemuda tersebut, tampaklah

sepasang telpak tangannya yang sudah berubah jadi merah

darah dipentangkan lebar-lebar.

Dan hanya didalam sekejap mata saja ia sudah mengirim

tiga jurus serangan sekaligus.

“Kau cari mati …….” Teriak Pek Thian Kie gusar.

Tubuhnya segera berkelebat menghindarkan diri dari

datangnya serangan dasyat pihak lawan, mendadak iapun

membentak keras, diantra berkelebatnya cahaya tajam,

tahu-tahu ia sudah mengirim pula sebuah pukuln dasyat,

bagaikan ambruknya gunung thay-san ia balas menggencet

lawan.

Kecepatan gerak tubuhnya benar-benar luar biasa,

mengiringi menyambarnya angin pukulan kedepan suara

jeritan ngeripun berkumandang memenuhi angkasa.

Tubuh Hiat Kui So terpental sejauh dua kaki lebih roboh

keatas tanah dengan memuntahkan darah segar.

Peristiwa ini hanya terjadi dalam waktu amat singkat,

kepandaian ilmu silat dari Pek Thian Kie yang amat lihay

ini seketika itu juga membuat lima, enam puluh orang

jagoan yang hadir ditengah kalangan pada mersakan

kakinya bergidik.

“Bangsat cilik, biarlah aku adu jiwa dengan dirimu,”

teriak Ciang-kwee lojin gusar.

Tampak bayangan manusia berkelebat dengan cepat

iapun sudah menubruk keatas tubuh Pek Thian Kie, telapak

tangannya bersama-sama digerakkan mengirim beberapa

serangn dasyat menghajar musuhnya.

“Kau juga ingin cari mati?” bentak pemuda itu gusar,

badannya buru-buru berkelit kesamping.

Suara bentakannya ini ternyata membawa suatu

kekuatan yang amat besar, tak terasa lagi tubuh Ciang-kwee

lojin itu kena tertahan oleh suara bentakan tersebut.

“Hei Ciang-kwee ! Lebih baik kau orang tahu diri,”

bentak Pek Thian Kie dingin.

“Jika aku ingin membinasakan dirimu, cukup didalam

tiga jurus saja aku sudah bisa melaksanakannya, kau

percaya tidak ?……….”

Perkataan ini memang ada buktinya, orang-orang yang

hadir ditengah kalangan rata-rata sudah pada percaya akan

perkataannya ini.

Dengan perasaan ketakutan Ciang-kwee lojin buru-buru

mengundurkan diri kebelakang, ia mengerti jikalau

diharuskan mengikuti hawa nafsu untuk mencari gara-gara,

maka sekalipun tidak mau, iapun menderita luka parah.

Hiat Kui o adalah suatu contoh yang sangat nyata dan

tak terbantah !

Pek Thian kie pun tak menggubris si orang tua itu lagi,

tubuhny dengan cepat mencelat ketengah udara, lalu

melayng kehadapan Cu Tong Hoa.

“Kau suka bicara tidak?” bentaknya dingin

“Apa yang harus aku ktakan?”

“Siapakah kau?”

“Heeeee……….heeeee…… aku tidak sampai

membocorkan siapakah kau sebenarnya, bukankah sudah

cukup …..” dengus Cu Tong Hoa dingin

Sepasang mata Pek Thian Kie melotot lebar-lebar, nafsu

membunuh mulai terlintas diatas wajahnya.

“Kau suka bicra tidak?” bentaknya lagi dengan amat

kasar.

Air muka Cu Tong Hoa kontan saja berubah hebat.

“Kiang To! Orang lain tak akan mengenali dirimu, tetapi

aku mengetahui jelas akan dirimu….!

Belum habis perkataan dari Cu Tong Hoa ini diucapkan

keluar, diantara para jago-jago Bu-lim sudah timbul

kegaduhan, bahkan ada berpuluh-puluh orang yang sudah

berteriak-teriak keras.

“Aaaakh …… diakah Kiang To?”

“Sedikitpun tidak salah, ornag yang sedang kalian cari

bukan lain adalah dirinya ..” sambung Cu Tong Hoa

dengan cepat.

“Kentutmu!”

“Eeeei…..bagaimana? kau masih tidak berani

mengakui.”

“Mengaku, kaulah yang bernama Kiang To!”

“Kentut anjingmu!”

“Tidak salah, dia orang adalah Kiang Tp…..” suasana

gaduh kembali menyerang seluruh kalangan.

“ ………….. kalau bukan dia, siap lagi yang memilki

kepandaian silat yang selihay itu…?”

“……..Benar, benar …….. seratus persen dia adalah

Kiang To ……”

“………”

Berpuluh-puluh orang jagoan Bu-lim yang hadir mulai

gaduh, suasana berubah jadi amat ramai dan diliputi rasa

ketegangan.

Perlahan-lahan diatas paras muka Pek Thian Kie terlihat

hawa nafsu membunuh yang semakin tebal, ia merasa

“Kiang To” yang ada dihadapannya atau dengan nama lain

Cu Tong Hoa benar-benar bersifat kejam dan cukup

telengas.

Demi keuntungan diri sendiri, ternyata dengan tiada

sayangnya ia sudah menuduh dirinyalah orang yang

bernama Kiang To.

………. Sudah tentu, pihak lawan adalah seorang

manusia ganas yang sudah terlalu banyak melakukan

perbuatan jahat, kalau tidak, bagaimana bisa memancing

datangnya begitu banyak jago-jago lihay Bu-lim untuk

melakukan pengejaran ?

Sekarang, bagaimanapun ia tak bisa menggubris

peristiwa ini lagi!

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. tindakan

saudara ini boleh dikatakan sama dengan siapa turun

tangan terlebih dahulu dialah yang lebih kuat,” bentak Pek

Thian Kie dingin. “Cuma …… kau berhasil menipu orang

lain, tetapi tak bakal bisa menipu diriku, kaulah yang

bernama Kiang To!”

“Kentut!”

Kata-kata makian ini ganti Cu Tong Hoa yang

menghadiahkan kepada diri Pek Thian Kie.

“Bagaimana? Apa kau tidak berani mengaku?”

Suara bentakan serta nada ucapannya sama sekali mirip

satu sama lainnya, hal ini seketika itu juga membuat

berpuluh-puluh orang jagoan Bu-lim yang hadir disana jadi

kebingungan dibuatnya.

“Haaa……….haaa…………haaa……..bagus sekali,

bagus sekali, sebuah jurus serangan yang amat lihay ……!”

teriak CU Tong Hoa sambil tertawa terbahak-bahak dengan

amat seram.

“Kaulah yang sudah mengeluarkan sebuah jurus

serangan yang amat lihay!”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. Kawan!”

seru si pengemis muda ini kembali dengan nada dingin.

“Hubungan kita sama dengan air sumur tidak melanggar air

sungai, kau melakukan perjalanan Yang Kwan To mu,

sedang aku lewat jembtan To Bok Kiauw ku, buat apa kita

harus saling cakar mencakar?

Heeeee……….heeeee………apa kau anggap aku sudah

takut padamu ?”

“Jadi kau sudah mengakui kaulah yang bernama Kiang

To?”

“Apa maksud dari perkataan saudara ini?”

“Aku ingin mengetahu apakah kau adalah manusia yang

bernama Kiang To …..”

“Kentut! Kenapa kau begitu ngotot mengatakan aku

adalah Kiang To ….? Saudara tidak usah banyak bicara

lagi, kau bisa memiliki kepandaian ilmu silat yang demikian

lihaynya jelas kaulah yang bernama Kiang To, dan hal ini

sudah disaksikan oleh banyak orang …..”

“……..Tidak salah, kecuali dia tidak seorangpun yang

bisa memilki kepandaian silat yang selihay itu …..” kembali

ada orang yang berteriak.

“ ……….bangsat cilik ini benar-benar cukup ganas.”

Dari antara gerombolan jago-jago lihay Bu-lim sekali lagi

terjadi kegaduhan, suasana semakin meruncing.

“Aku ingin mengetahui apakah kau adalah manusia

yang bernama Kiang To …..”

“Kentut! Kenapa kau begitu ngotot mengatakan aku

adalah kiang To …..? saudara tidak usah banyak bertanya

lagi, kau bisa memiliki kepandaian ilmu silat yang demikian

lihaynya jelaslah kaulah yang bernama Kiang To dan hal

ini sudah disaksikan oleh banyak orang …..”

“…….. Tidak salah, kecuali dia tidak seorangpun yang

bisa memiliki kepandaian ilmu silat yang selihay itu ……”

kembali ada orang yang berteriak.

Diantara gerombolan jago-jago bu-lim sekali lagi

terdapat kegaduhan, suasana semakin meruncing.

Pek Thian Kie melihat kejadian ini saking kekinya tak

sanggup untuk mengucapkan sepatah kaatapun, ia sama

sekali tidak menyangka kalau orang lain bisa mencap

dirinya sebagai manusia yang bernama Kiang To ….”

Bagaimana sikap serta tindak tanduk Kiang To

sebenarnya terhadap orang lain ? Jikalau urusan ini benarbenar

sampai terjatuh keatas tubuhnya, bukankah getah ini

bakal ia telan dengan hati mendongkol ?

“Kawan!” serunya kemudian. “Jika kau tidak suka

mengaku, maka aku orang akan paksa kau untuk mengaku

!”

“Hmm ! Orang she Kiang, kini kau sudah merusak

urusanku, akupun tidak akan mengampuni dirimu ……”

bentak Cu Tong Hoa pula dengan dingin.

“Kau cari mati …..!”

Belum hbis perkataan diucapkan keluar bagaikan

sambaran kilat Pek Thian Kie sudah berkelebat menubruk

kearah Cu Tong Hoa diiringi sebuah pukulan yang amat

dasyat.

Serangan yang dilancarkan Pek Thian Kie ini benarbenar

lihay, sehingga ruangan seluas beberapa kaki itu

dengan cepat terbungkus didalam derunya angina pukulan.

Buru-buru Cu Tong Hoa meloncat ketengah udara

menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut, tetapi

belum sempat ia balas melancarkan serangan, Pek Thian

KIe kembali mengirim serangannya yang kedua.

Serangan tersebut dilancarkan dengan begitu mantap dan

hebatnya, hal ini membuat Cu Tong Hoa tidak berani

betrayal ditengah suara bentakan yang keras iapun

mengirim satu pukulan menerima serangan musuhnya.

“Bunuh bangsat cilik ini !” diantara gerombolan jagojago

bu-lim kedengaran ada yang berteriak.

Teriakannya ini ternyata segera memancing gusar dari

berpuluh-puluh orang lainnya.

Dasar memang tujuan kedatangan mereka kesana adalah

hendak mencari Kiang To, kini setelah mendapatkan

hasutan yang panas itu mereka tak bisa menahan diri lagi.

Tampak bayangan manusia berkelebat memenuhi

angkasa, berpuluh-puluh orang bersama-sama meluncur

kearah Pek Thian Kie dengan kecepatan penuh.

Angina pukulan datang menderu-deru bagaikan

ambruknya gunung thay-san serta tumpahnya samudera,

hal ini membuat pemuda tersebut benar-benar amat

terperanjat.

Pek Thian Kie sama sekali tidak menyangka kalau

peristiwa ini bisa berubah ja begitu, segera ia membentak

keras, sepasang telapak tangannya dengan disertai tenaga

Iweekang yang hebat bersama-sama didorong kedepan.

Kontan saja berpuluh-puluh orang jagoan Bu-lim ini

kena terdesak mundur sejauh lima, enam langkah kearah

belakang.

Tetapi keadaan dari orang-orang itu sudah seperti orangorang

gila saja, begitu terdesak mundur dengan nekad

kembali mereka menerjang maju kedepan.

Menggunakan kesempatan waktu para jago Bu-lim

menubruk kearah Pek Thian Kie itullah, dengan gesit dan

sebat Cu Tong Hoa mencelat dari tengah kalangan langsung

melayang kearah ruangan Cong-tong dari Istana Harta

tersebut.

“Kau hendak lari kemana?” bentak Pek Thian Kie gusar.

Tubuhnyapun ikut mencelat ketengah udara lalu

melayang kearah mana Cu Tong Hoa melenyapkan diri.

Siapa sangka sewaktu badannya mencelat ketengah

udara itulah, berpuluh-puluh gulung angina pukulan yang

dasyat kembali meluncur kearahnya.

Gabungan angina pukuln dari berpuluh-puluh orang ini

benar-benar luar biasa dasyatnya, sekalipun Pek Thian Kie

terbuat dari besi bajapun sulit juga untuk menahan

datangnya serangan tersebut.

Dengan cepat tangannya disilangkan kedepan, sedang

tubuhnya balik mencelat kesamping.

Loncatannya ini ternyata dengan sangat tepat berhasil

menghindarkan diri dari datangnya sambaran angina

pukulan gabungan tersebut, sinar matanya cepat menyapu

sekejap keseluruh kalangan.

“Tahan!” bentaknya keras, suaranya amat keras,

sehingga mirip seperti halilintar yang membelah bumi.

Bentakan tersebut ternyata benar-benar berhasil menahan

gerakan dari beberapa orang jagoan yang sedang menyerang

mati-matian kearahnya itu, tetapi sinar mata mereka masih

memperhatikan diri Pek Thian Kie tajam-tajam.

“Kalian ingin berbuat apa?” bentak pemuda itu lagi

dengan sinar mata yang berkilat, hawa nafsu membunuh

yang meliputi wajahnya semakin tebal.

“Hmmm! Kenapa kau harus Tanya kepada kami?

Tanyakan saja pada dirimu sendiri.” Sahut seseorang

dengan dingin.

“Dapatkah aku orang minta petunjuk tentang suatu

persoalan dari kalian?”

“Coba kau katakana!”

“Sebenarnya macam apakah manusia yang bernama

Kiang To?”

Baru saja perkatan dari Pek Thian Kie ini selesai

diucapkan, mendadak terdengar suara tertawa keras dari

seseorang berkumandang memenuhi angkasa.

“Pertanyan saudara ini bukankah terlalu lucu?”

“Apa maksudmu?” pemuda tersebut mulai kerutkan

dahinya.

“Apakah perbuatan yang kau lakukan sendiri, kaupun

tak bisa memahami?”

“Apa maksudmu?”

“Apa saudara anggap dengan mengajukan pertanyan

tersebut, lalu kita bisa percaya bila kau bukan Kiang To?”

Dengan kejadian ini maka saking kekinya hampir-hampir

saja Pek Thian Kie mencak-mencak, ia tidak mengira

bahwa urusan bisa berubah semakin ruwet. Sekalipun ada

alas an, tetapi tak bisa diterangkan, bahkan orang-orang itu

selalu saja mencap dirinya sebagai Kiang To dengan alas an

ia memiliki serangkaian ilmu silat yang lihay.

Saking keki dan mendongkolnya, sifat liarnya mulai

meliputi seluruh benaknya.

“Kalau begitu anggap saja aku bernama Kiang To, lalu

apa sangkut pautku dengan kalian?” akhirnya ia

membentak keras.

“Jadi kau sudah mengaku dirimu bernama Kiang To?”

“Anggap saja perkataanku itu benar!”

“Kalau memang begitu, kita tak usah banyak bicara lagi,

seluruh jago-jago Bu-lim yang ada dikolong langit tak akan

membiarkan kau untuk hidup dengan bebas!”

Begitu perkatan tersebut selesai diucapkan, tampak

sesosok bayanagan hitam dengan kecepatan laksana

sambaran kilat menerjang datang.

Begitu orang itu turun tangan, maka berpuluh-puluh jago

lihay lainnya bagaikan manusia-manusia kalap bersamasama

menubruk kearah pemuda tersebut.

Orang-orang ini entah mempunyai dendam apa dengan

manusia yang bernama Kiang To, ternyata tindakan mereka

telah bulat untuk membinasakan pemuda tersebut.

Sebetulnya bagi Pek Thian Kie, untuk melenyaapkan

manusia-manusia itu bukanlah suatu pekerjaan yang sulit,

tetapi karena orang-orang itu tiada ikatan sakit hati apapun

dengan dirinya, bagaimana mungkin dia orang tega turun

tangan jahat?

Diam-diam ia mulai berpikir :

“Aaaaaakh …… anggap saja kedatanganku kemari

hanya mendatangkan kesialan saja ………. Buat apa aku

harus banyak berbuatdengan manusia-manusia itu? Biarlah

aku bikin perhitungan setelah dikemudian hari bertemu

muka sendiri dengan manusia yang bernama Kiang To

…..”

Setelah berpikir sampai disini, tangan kanannya lantas

diayunkan kedepan berturut-turut mengirim tiga buah

pukulan gencar sedangkan tubuhnya bagaikan kilat

cepatnya meluncur kearah pintu sebelah belakang istana

harta dan berkelebat keluar.

Mendadak ……..

Sewaktu Pek Thian Kie meluncur keluar dari pintu

belakang itulah, suara jeritan ngeri bergema saling susul

menyusul dari dalam ruangan Conng-tong Istana harta.

Suara jeritan ngeri itu begitu mengerikan dan

menyayatkan hati, sehingga membuat setiap orang yang

mendengar suara orang tersebut bergidik dan bulu roma

pada berdiri.

Pek Thian Kie rada tertegun sejenak, tetapi dengan cepat

ia melanjutkan kembali gerakannya meluncur masuk

kedalam ruangan lain.

Sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap seluruh isi

ruangan, tetapi sebentar kemudian ia sudah berdiri tertegun

disana.

Tampaklah ditengah ruangan itu sudah menggeletak

empat sosok mayat lelaki berpakaian perlente yang

menemui ajalnya dalam keadaan sangat mengerikn.

Pek Thian Kie benar-benar merasakan hatinya bergidik,

hampir-hampir ia tak mempercayai pandangan matanya

sendiri.

Siapakah orang yang sudah turun tangan sekejam ini?

Jika ditinjau dari keadannya jelas menunjukkan perbuatan

ini sudah hasil kerja Cu Tong Hoa.

Teringat akan peristiwa ini tak terasa lagi Pek Thian Kie

merasa hatinya sangat gusar, walaupun peristiwa ini tiada

sangkut paut dengan dirinya, tetapi tindakan dari Cu Tong

Hoa ini benar-benar sedikit kelewat batas.

Ruangan besar yang terdapat didalam Istana harta ini

dibagi menjadi lima ruangan besar ….. masing-masing

ditandai dengan warna putih, hijau, hijaua tua, biru dan

merah.

Walaupun setiap ruangan besar itu saling bersambungan

dengan ruangan pusat, tetapi masing-masing ruangan

merupakan sebuah ruangan tersendiri yang berdiri

menunggal.

Saat ini Pek Thian Kie berdiri ditengah tengah ruangan

besar, pikirannya terasa amat kacau sekali setelah menemui

kejadian tersebut.

“Aaaaakh …………….. sudahlah, bagaimanapun juga

urusan ini tiada sangkut pautnya dengan aku, buat apa aku

harus mencari keonaran dan kerepotan buat diriku sendiri?”

pikirnya dalam hati.

Teringat akan hal ini, ia mulai mengeserkan kakinya

berjalan keluar ruangan tersebut.

Mendadak …..

“Kau mau bicara tidak …..” dari belakang punggungnya

berkumandang datang suara seseorang.

“Aaaa…..aku …… aku sungguh …… sungguh-sungguh

tidak tahu ……” jawab suara yang lain dengan nada

ketakutan.

“Aku akan menghitung sampai lima jika kau masih tidak

suka bicara lagi, hati-hatilah aku akan turun tangan kejam

…… satu!”

“Dua……”

Mendengar perkataan tersebut Pek Thian Kie benarbenar

merasakan hatinya tergetar sangat keras sambil

mengeretak gigi diam-diam pikirnya :

“Cu Tong Hoa, aku pasti akan membokar kedokmu yang

asli …….”

Tubuhnya dengan cepat berkelebat mendekati tempat

suara tersebut …….

“Tiga !……”

Dengan mengikuti arah munculnya suara tersebut,

akhirnya Pek Thian Kie berhasil menemukan ada suara itu

muncul dari sebuah ruangan samping didalam ruangan

kelima.

“Maka dengan cepat pemuda ini menggerakkan

badannya meluncur kesana …”

“Empat ……..!” suara hitungan tersebut tetap berjalan

dengan cepat.

Ketika itulah Pek Thian Kie sudah berada kurang lebih

sepuluh kaki dari tempat berasalnya suara tersebut.

Kini ia terdiri didepan sebuah pintu rahasia

menghubungkan tempat tersebut dengan sebuah ruangan

dibawah tanah.

Sekonyong-konyong …….

“Kawan Pek yang ada diluar, kau benar-benar bajingan

terkutuk, buat apa kau banyak ikut campur urusan orang

lain?” suara yang amat dingin itu kembali berkumandang

keluar dari ruangan tersebut.

Diam-diam Pek Thian Kie merasa sangat terperanjat atas

ketajaman serta kelihayan kepandaian silat pihak lawan.

Ketika Pek Thian Kie sedang berdiri tertegun itulah,

suara tersebut kembali berkumandang keluar :

“urusan ini tak perlu kau ikut campur, mengapa kau

harus mengetahui jelas urusan ini?”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. lalu siapa

kau?” bentak pemuda ini sambil tertawa dingin tiada

hentinya.

“Kiang To!”

“Bagus sekali, justru cayhe ingin sekali melihat wajahmu

yang asli!”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee……..aku nasihati

kau lebih baik jangan masuk kemari, karena hal ini tidak

bakal mendatangkan keuntungan bafi dirimu!”

Pek Thian kie Cuma tertawa dingin tiada hentinya,

mendadak tangan kanannya diayunkan kedepan mengirim

satu pukulan kearah pintu.

Diiringi suara bentrokan keras, suara jeritan ngeripun

berkumandang memenuhi angkasa.

Dengan cepat Pek Thian Kie meluncur masuk kedalam

ruangan itu, tetapi didalam ruangan tersebut saat itu hanya

tinggal sesosok mayat saja yang menggeletak diatas tanah,

pada bagian batok kepalanya tertancap sebuah bendera

kecil.

Dari balik ruangan tersebut ia tak berhasil menemukan

orang yang kedua.

Tak terasa lagi Pek Thian Kie berdiri termangu-mangu,

didalam ruangan tersebut tidak terdapat jalan tembus

ketempat lain, sekalipun ada, tidak lebih hanyalah sebuah

jendela yang sangat kecil.

Lalu dengan cara bagaimana pihak lawan masuk keluar

dari ruangan tersebut.

Ketika ia mengintip dari sebuah lubang, maka barulah

tertampak disebelah atas ruangan tersebut nerupakan

sebuah hutan yang lebat.

Dalam hati pemuda itu lantas mengambil kesimpulan,

tentunya si pembunuh tersebut menyambitkan panji kecil

itu dari luar jendela kecil itu.

Sudah tentu, dugaannya ini tak dapat dipastikan seratus

persen kejadian yang baru saja berlangsung tak terlihat

olehnya dengan dengan mata kepala sendiri.

Akhirnya dengan hati lemas ia putar badan, belum

sampai berjalan mendadak satu ingatan berkelebat didalam

benaknya.

Tubuhnya segera membalik lagi untuk mencabut panji

kecil yang tertancap pada batok kepala orang itu, ketika

diperhatikan lebih teliti lagi, maka tampaklah diatas panji

tersebut bertuliskan empat buah kata yang kira-kira

berbunyi :

“Kiang Swie Tau-tau.”

Bab 8 Syarat-syarat Penyewaan Rumah Rejeki

INILAH TANDA dari “Kiang To”

Cepat-cepak Pek Thian Kie membersihkan darah yang

melengket pada ujung panji, lalu disusupkan kedalam saku.

Lama sekali ia berdiri termangu-mangu didepan mayat

tersebut, akhirnya ia melirik sekejap kearah mayat itu, lalu

balik kejalan semula.

Sekembalinya di ruangan tengah, ia baru merasa seperti

sedang bermimpi saja, seluruh kejadian itu benar-benar

amat menarik hati.

“Sudah …… sudahlah” pikirnya kembali.

“Lebih baik aku langsung pergi kehutan Tauw liem saja

…… buat apa terlalu ikut campur dengan urusan orang lain

? bagaimanapun juga pada suatu hari peristiwa ini pasti

akan menjadi jelas dengan sendirinya.”

Berpikir sampai disitu, Pek Thian Kie segera

menggerakkan badannya melayang keluar pintu, sudah

tentu dia tak bakal tahu apakah didalam Istana Harta

tersebut sudah terjadi peristiwa lain.

Dia hanya tahu Kiang To sudah melakukan

pembunuhan ditempat ini. Sedang mengenai apa sebabnya

Kiang To membunuh orang, ia tidak mau tahu dan

memang ia tidak tahu.

Ketika Pek Thian Kie sedang melayang keluar dari pintu

depan Istana harta, mendadak suara seseorang yang amat

dingin berkumandang memecahkan kesunyian.

“Berhenti!”

Mendengar suara bentakan itu dengan cepat Pek Thian

Kie menghentikan langkahnya lantas menengok dimana

asal suara tersebut.

Siapa sangka sesosok bayangan manusiapun tidak

tampak, tetapi bagi pemuda itu cukup mendengar suara

tersebut, ia lantas sudah tahu kalau suara itu pasti berasal

dari mulut Kiang To.

“Kawan Pek, kau sudah mencelekai wakil majikan dari

Istana harta ini!” seru suara itu kembali.

“Aaaa …. Apa kau kata ?”

“Berkata apa? Jika bukan karena kau, aku pun tak akan

membinasakan dirinya, hal ini bukankah sama saja kau

yang sudah membinasakan dirinya?”

“Sungguh indah sekali perkataanmu.”

“Cuma, aku harus mengucapkan banyak terima kasih

karena kau sudah membantu diriku,” seru pihak lawan

kembali sambil tertawa dingin tiada hentinya. “Terus terang

saja aku katakana, jkalau bukannya kau, mungkin sekali

barusan aku orang harus menemui banyak kerepotan…….”

“Kau bernama Kiang To?”

“Mungkin benar!”

“Apa maksud dari kata-kata “Mungkin” itu?”

“Aku tak bernama Kiang TO, tetapi kawan-kawan dunia

kongouw menganggap diriku sebagai Kiang TO.”

“Mengapa?”

“Menurut pendapatmu dapatkah dia orang datang

mencari diriku?”

“Sudah tentu dapat.”

“Sedikitpun tidak salah, karena hal ini sama dengan

maksud hatiku, maka akupun sedang mencari dia.”

“Apa tujuanmu pergi mencari dirinya?”

“Bunuh mati orang itu!”

“Kau ingin membinasakan dirinya? Tapi …… ada ikatan

sakit hati apa antara kau dengan dirinya ? apakah kalian

merupakan musuh besar ?”

“Mungkin benar, Cuma perkataanku sudah selesai aku

utarakan, lebih baik kau jangan menggubris urusanku lagi,

dan aku harap perkataan yang aku ucapkan tadi janagan

kau bocorkan kepada orang lain, kalau tidak

heeee……….heeeee………… heeeee……. Sampai

waktunya aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi

terhadap dirimu.”

Kata terakhir begitu meluncur keluar, orangnya sudah

berkelebat sejauh puluhan kaki dari tempat itu.

Seketika itu juga Pek Thian Kie dibuat berdiri termangumangu

ditempat semula.

Ia benar-benar dibuat terperanjat oleh perkataan yang

bru saja diucapkan oleh pihak lawan.

Orang yang barusan munculkan diri itu adalah

sebenarnya Kiang To ! Dan ia adalah Kiang To yang asli

atau masih ada orang lain ?

Kalu ada, siapa orang itu ? apakah …… sunguh-sungguh

ia sendiri ?…..

Berpikir sampai disitu tak tertahan lagi Pek Thian Kie

merasakan hatinya semakin berdesir, ia merasa peristiwa ini

ada kemungkinannya benar …… dan delapan puluh persen

kemungkinan tersebut tetap ada.

Suhunya minta dia orang pergi mencari seorang manusia

yang bernama Kiang To untuk menanyakan asal usulnya,

tetapi didalam dunia kangouw sukar sekali untuk

menemukan orang ini, bahkan ada orang yang mengatakan

dirinyalah Kiang To ….. jika hal ini dihubung-hubungkan

maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dialah yang bernama

Kiang To.

Bila dugaan tidak salah, maka suhunya takut ia

menggunakan nama Kiang To untuk munculkan diri dalam

dunia kangouw sehingga beliau memberikan namanya

sendiri buat dia pakai.

Agaknya orang tua itu mengerti bila dia muncul dengan

nama Kiang To, maka hal ini bakal mendatangkan bencana

buat dirinya.

Apakah benar maksud suhunya dalam hal ini ?

Benarkah dia bernama Kiang To ?

Sudah tentu semua persoalan ini ada kemungkinan yang

benar.

Sekarang ia harus berusaha untuk membuat jelas

bagaimanakah bentuk orang yang bernama Kiang To itu

dan benarkah Kiang To itu adalah dirinya sendiri.

Tiba-tiba …………….

Urusan lain kembali berkelebat didalam benaknya,

hingga sat ini sudah ada dua orang yang mengatakan

suhunya Pek Thian Kie telah binasa.

Sungguhkan suhunya sudah mati? Mengapa ia mati ?

Ia teringat pula dengan kertas pengumuman penyewaan

rumah tersebut, apakah suhunya mati dalam rumah

tersebut? Kalu ia sudah tahu dirinya bakal mati jika masuk

ke rumah tersebut, kenapa ia sengaja mencari mati ?

Akhirnya ia merasa untuk mengetahui jelas persoalan

ini, ia harus berangkat sendiri ke Hutan Tauw Liem gunung

Liong-san untuk melakukan pemeriksaan sendiri.

Berpikir sampai disitu, tanpa banyak buang waktu lagi,

tubuhnya segera meluncur kedepan.

oooOOooo

Bayangan manusia bagaikan anak panah yang terlepas

dari busur bergerak ditengah kegelapan menuju kesebuah

hutan lebat yang sangat gelap.

Hutan tersebut bukan lain adalah hutan Tauw Liem.

Tiba-tiba ……………

Bayangan manusia itu menghentikan gerakannya,

kiranya orang itu buka n lain adalah Pek Thian Kie.

Diatas pohon-pohon dalam hutan tersebut, ia telah

menemukan berpuluh-puluh lembar kertas merah yang

sangat mencolok mata tertempel disana :

“DISEWAKAN SEBUAH RUMAH REJEKI”

Silakan Periksa di gunung Liong-san hutan Tauw-Liem

Munculnya pengumuman tersebut benar-benar membuat

Pek Thian Kie sangat terperanjat sehingga berdiri tertegun

disana.

Ia menemukan saja tulisan dari pengumuman tersebut

persis mirip denan kertas pengumuman yang terjatuh dari

saku suhunya.

Dengan terpesona Pek Thian Kie memperhatikan kertas

pengumuman itu, ia merasa kertas tersebut penuh diliputi

suasana pembunuhan yang sangat menyeramkan.

Mana ia tahu didalam rumah “rejeki” tersebut, pada

tahun yang lalu kembali seseorang menemuia ajalnya

sehingga hal ini menambah jumlah orang yang mati

dirumah tersebut menjadi delapan orang ? jikalau tahun ini

kembali ada orang yang jadi korban, maka jumlahnya akan

meningkat jadi sembilan orang.

Dengan perasaan amat kaget Pek Thian Kie berdiri

melengak disana, sahutnya benar-benar sudah mati? Mati

didalam rumah itu ? hal ini hampir boleh dikata suatu

kejadian yang tidak mungkin, suhunya sudah mengerti bila

masuk kerumah ini pasti akan mati ? kalau memang sudah

tahu akan mati, mengapa ia ngotot menyewa juga rumah

ini ?

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang

penuh diliputi kabut misterius, teka-teki dan tanda Tanya

yang amat membingungkan.

Setelah termangu-mangu beberapa waktu lamanya,

akhirnya ia bergerak-gerak juga menuju kedalam hutan

Tauw Liem.

Mendadak …….

Suara derapan kaki bergema memecahkan kesunyian,

diam-diam Pek Thian Kie merasa amat terperanjat.

“Mana mungkin ditengah malam buta masih ada orang

yang mendatangi hutan Tauw Liem ini ?” pikirnya diamdiam.

Dengan cepat ia memperhatikan keadaan disekelilingnya

lebih teliti lagi, memang tampaknya sesosok bayangan

manusia dengan cepatnya masuk kedalam hutan.

Dengan cepat Pek Thian Kie pun menggerakkan

badannya melayang masuk kedalam hutan itu.

Ditengah lautan aneka bunga, yang menyiarkan bau

harum semerbak, muncullah rumah “rejeki” yang berbentuk

tengkorak itu.

Didepan rumah ditengah semak belukar yang tebal

muncul delapan buah kuburan ada yang sudah kuno dan

ada juga yang masih baru.

Ketika itu Pek Thian Kie telah menemukan bayangan

manusia tersebut telah berdiri tegak didepan sebuah

kuburan.

Orang itu memakai baju warna hijau, dan bila ditinjau

dari dandanannya, mirip dengan seorang gadis.

Kuburan yang berada paling kanan agaknya berumur

paling lama sedangkan kuburan yang ada disebelah kiri

adalah yang paling baru.

Tampaklah kuburan pertama yang ada disebelah kanan

bertulislah beberapa kata diatas batu nisannya :

“Cuan Hoa Kiam Khek” atau “si Jagoan pedang

menembus bunga.”

Kuburan yang kedua bertuliskan : “To Liong Kiam

Khek” atau si jagoan pedang penjagal naga.

Kuburan yang ketiga bertuliskan “Sam Cie Kiam Khek”

atau si jagoan Pedang tiga jari.

Kuburan keempat bertuliskan : “Ha-Hauw Kiam Khek”

atau si jagoan pedang penakluk harimau …..”

Dan kuburan yang kedelapan ternyata bertuliskan “Sin

Mo Kiam Khek” atau si jagoan pedang Iblis sakti

“Aaaaaah ………. !” Pek Thian Kie merasakan dadanya

seperti dihantam dengan martil besar, kepalanya terasa

amat pening, matanya berkunang-kunag, badan gemetar

dan keringat dingin mengucur keluar dengan amat deras.

Itulah nama suhunya ! Apakah dia benar-benar mati

didalam rumah “Rejeki” itu ?

Dalam hati Pek Thian Kie terlintaslah suatu perasaan

sedih yang bukan alang-kepalang tetapi untuk beberapa saat

lamanya ia tak dapat membuktikan apakah si “Sin Mo

Kiam Khek” itu benar-benar suhunya.

Mendadak ……….

“Iiiiih ……!” suara seruan tertahan berkumandang

masuk kedalam telinganya, suara tersebut agaknya berasal

dari mulut dara cantik berbaju hijau itu.

Ternyata dara berbaju hijau yang sekarang hadir

ditengah kuburan depan rumah maut tersebut, bukan lain

adalah si dara cantik berbaju hijau yang menabrak dirinya

sewaktu masih berada dalam Istana harta, hal ini benarbenar

diluar dugaannya.

“Aaaaaaakh ……..! Kau?” Tanya dara berbaju hijau itu

rada terperanjat.

Perlahan-lahan Pek Thian Kie mengangguk, ia merasa

sedikit diluar dugaan dengan munculnya dara berbaju hijau

itu ditempat ini.

“Bagaimana bisa kau samapi disini?” belum sempat ia

mengajukan pertanyaan ini, dara cantik itu sudah keburu

bertanya terlebih dahulu.

“Dan kau sendiri?”

“Aku datang untuk menyambangi kawanku yang sudah

mati!”

Pek Thian Kie lantas mengalihkan sinar matanya

memandang batu nisan kuburan keenam orang disamping

yang ia sambangi.

Ternyata diatas batu nisan tersebut bertuliskan kata-kata

:

“Sian Hong Kiam Khek” atau si jagoan pedang angin

taupan

“Dia adalah kawan karibmu?”

“Benar! Dan kau sedang menyambangi siapa?”

“Aku sedang datang mencari seseorang.”

“Siapa ?”

Kontan saja Pek Thian Kie dibuat bungkam seribu

bahasa, untuk beberapa saat lamanya dia tidak mengerti

harus mengatakan kata-kata apa untuk menjawab

pertaanyan itu.

Bagaimana juga, ia tidak boleh memberitahukan kepada

seorang asing bahwa ia tak kenal siapakah nama suhunya

sendiri.

Sekalipun diberitahu, belum tentu pihak lawan percaya.

“Aku sedang mencari seorang sahabat karibku!”

sahutnya kemudian sambil tertawa pahit.

“Siapa dia? Laki atau perempuan?”

“Aku juga tidak tahu siapakah namanya!”

“Sudah mati atau masih hidup ?”

“Entahlah!”

“Kalau begitu, benarkah kau bernama Kiang To?”

“Tidak benar ……. Tidak benar …………” buru-buru

Pek Thian Kie menggeleng. “Dugaanmu sama sekali

meleset!”

“Kau bukan Kiang To?”

“Benar, aku bukan Kiang To, aku bernama Pek Thian

Kie!”

“Pek Thian Kie…..? Apakah kau tidak tahu siapakah

nama kawanmu itu?”

“Benar!”

“Bukankah hal ini merupakan suatu peristiwa yang

sangat aneh sekali?”

“Benar! Aku dengan dia Cuma pernah bertemu muka

sekali saja, dan peristiwa ini sudah berlangsung tahun yang

lalu, aku hanya tahu kemungkinan sekali dia hendak

menyewa rumah ditempat ini.”

“Oooooow ………orang yang tahun lalu menemui

ajalnya bukan lain adalah si jagoan pedang iblis sakti!”

“bagaimana kau bisa tahu?”

“Cukup ditinjau dari deretan kuburan ini sudah jelas

sekali tertera!”

Terhadap si dara cantik berbaju hijau ini Pek Thian Kie

mulai menaruh perasan heran, siapakah sebenarnya dia ?

Kenapa bisa muncul ditempat ini ?

Tiba-tiba …………

Agaknya Pek Thian Kie sudah menemukan sesuatu

……..

“Aaaaaakh ……….! Sungguh aneh sekali,” teriaknya

tertahan.

“Aneh? Apa yang Patut dikatakan aneh ?”

“Coba kau lihat orang yang menemui ajalnya ditempat

ini semuanya menggunakan pedang sebagai senjata

andalannya!”

“Sedikitpun tidak salah, kedelapan orang yang menemui

ajalnyaa disini bukan saja menggunakan pedang sebagai

senjata andalannya, bahkan merekapun jago-jago pedang

namanya sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan,

mereka adalah Thian He Kiu Kiam atau sembilan Jago

pedang dari kolong langit, kini diantara mereka masih

tinggal seorang saja.”

“Maksudmu diantara sembilan jagoan pedang dari

kolong langit, sekarang ini sudah ada delapan orang yang

menemui ajalnya disini?”

“Sedikitpun tidak salah !” jawab dara berbaju hijau itu

sambil mengangguk.

“Lalu sekarang tinggal siapa yang belum mati?”

“Pemimpin dari kesembilan jagoan pedang si “Ciang

Liong Kiam Khek” atau jagoan pedang penakluk naga!”

Mendengar penjelasan tersebut, Pek Thian Kie segera

merasakan hatinya berdesir, jikalau dikatakan “Sembilan

jagoan pedang dari kolong langit ini merupakan jago-jago

lihay didalam dunia persilatan pada saat kini kenapa

mereka harus mendatangi tempat ini untuk antar

kematian?”

“Jika dugaanku tidak meleset, maka orang yang

seharusnya menyewa rumah pada tahun ini adalah si

jagoan pedang penakluk naga!” ujar dara cantik berbaju

hijau itu lagi.

“Urutan tertera sangat jelas, karena kini delapan orang

dari sembilan jagoan pedang dari kolong langit sudah ada

delapan orang yang mati, dan mereka sembilan orang sudah

ditakdirkan harus mati semua disini!”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Agaknya dara cantik berbaju hijau itu dibuat tertegun

juga oleh pertanyaan ini, lama sekali ia berdiri mematung.

“Apakah kau anggap perkataanku ini tidak sesuai

dengan keadan yang berada dihadapan kita?” balik

ytanyanya.

Pek Thian Kie termenung, ia merasa perkataan dari gadis

tersebut sebenarnya memang cengli, tetapi jikalau orang

yang benar-benar hendak menyewa rumah tersebut adalah

si jagoan pedang penakluk naga, maka peristiwa ini

rasanyaa tak masuk diakal.

Apakah orang yang hendak dibunuh oleh majikan rumah

itu adalah jago-jago pedang termasuk didalam “Sembilan

jagoan pedang dari kolong langit?” macam bagaimanakah

manusia-manusia yang disebut sebagai “sembilan Jagoan

pedang dari kolong langit” itu? Berargakah manusiamanusia

itu dibunuh ?

Berpikir samapai disitu tak terasa lagi dalam hati Pek

Thian Kie merasa amat gusar.

“Nona, bolehkah aku orang minta petunjuk akan suatu

persoalan …? Tanyanya

“Silakan diutarakan!”

“Manusia-manusia yang disebut jagoan pedang dari

kolong langit ini sebetulnya termasuk masnusi-manusia dari

aliran sesat ataukah berasal dari aliran lurus?

“Jang jelas tidak termasuk aliran sesat!”

“Kalau memang berasal dari aliran lurus, mengapa

majikan rumah ini ada maksud membinasakan mereka?

“Soal ini aku sendiri tidak tahu …………… tetapi yang

jelas kita tidak ada yang melihat orang-orang itu menemui

ajalnya ditangan majikan rumah terseut, lebih baik kita tak

usah mengambil kesimpulan seenaknya sendiri.”

“Maksudmu orang-orang itu belum tentu menemui

ajalnya ditangan majikan rumah rejeki ?

“Siapa yang tahu ?”

Untuk sesaat lamanya Pek Thian Kie tak terpikirkan

dimanakah letak alasan pembunuhan ini, alisnya dikerutkan

rapat-rapat.

“Apakah rumah ini boleh juga disewa oleh siapapun ?

“Benar, tetapi syarat-syarat yang diajukan terlalu aneh!”

“Apakah syarat-syart yang diajukan?”

“Majikan rumah ini sudah menempel suatu surat

keterangan didepan pintu besar, jika kau ingin tahu

mengapa tidak pergi kesana untuk melihat sendiri ?

Pek Thian Kie segera mengalihkan sinar matanya

menurut apa yang dituding dara cantik tersebut.

Sedikitpun tidak salah diatas pintu besar terbuat dari besi

yang tertutup rapat-rapat tertempel secarik kertas warna

merah darah.

Dengan cepat, Pek Thian Kie ameloncat kedepan, lalu

berkelebat kehadapan surat keterangannya tersebut.

Ketka diamat-amati lebih teliti, maka tampaklah diatas

kertas tersebut bertuliskan beberapa kata.

Syarat-syarat untuk menyewa rumah :

Orang itu harus seorang jagoan dunia kangouw

menggunakan ilmu pedang sebagai kepandaian

Biayaa penyewaan rumah :

1. Emas Murni seribu kati.

2. Giok Hoa Lok satu botol besar

3. Gadis cantik seorang

Ketiga syarat tersebut harus diserahkan sebelum

memasuki rumah rejeki ini, barang siapa berminat harap

datang pada setiap malam kentongan yang ketiga untuk

membereskan syarat-syarat yang diminta.

Catatan : Barang siapa bisa mendiami rumah ini selama

setahun penuh akan mendapat hadiah berupa sebuah rumah

megah “Ang Wu Piat Su”

Tertanda : majikan Rumah Rejeki.

Melihat syarat yang diminta Pek Thian Kie boleh

dikatakan benar-benar tertegun, ia tidak menyangka kalau

orang itu kecuali minta uang emas murni seribu kati masih

menginginkan pula dua buah syarat lain yang aneh.

Apakah Itu “Giok Hoa Lok?”

Ia harus mencari seorang gadis cantik dari mana ?

Hal ini merupakan suatu keanehan.

Mendadak hatinya rada bergerak, ketika ia menoleh

tampaklah si dara cantik berbaju hijau itu masih tetap

berdiri termangu-mangu didepan kuburan.

Dengan cepat ia enjotkan badannya meloncat kembali

kesisinya.

“Bagaimana ? Apa kau sudah periksa syarat-syarat

tersebut ?” sapa dara cantik itu dengan cepat.

“Benar, syarat-syarat itu sudah aku periksa.”

“Bukankah syarat tersebut amat aneh?”

“Aneh …….. aneh, sungguh mengherankan sekali! Kalu

Cuma uang emas murni seribu kati masih tidak mengapa,

tahukah kau apa yang disebut “Giok Hoa Lok” itu ?”

“Entah, aku sendiripun tidak tahu.”

“Gadis cantik seorang, buat apa majikan rumah rejeki ini

minta pula seorang gadis cantik ?”

“Soal ini, aku sendiripun tidak jelas.”

Kontan saja Pek Thian Kie mengerutkan dahinya, dalam

hati ia mulai mengambil kesimpulan untuk menyewa

rumah rejeki ini, sudah tentu tujuannya yang paling utama

adalah mencari tahu apakah suhunya benar-benar bernama

Si Jagoan Pedang Iblis Sakti dan apakah sungguh-sungguh

sudah menemui ajalnya disana !

Sekonyong-konyong ………… ia teringat akan suatu

persoalan yang sulit, maka tak tertahan lagi serunya :

“Aaaaakh ………………….. mencari seorang gadis

cantik ? Aku harus pergi kemana untuk mencarinya ?

Haaaaaai ……….. hal ini benar-benar merupakan suatu

syarat yang amat sukar.”

“Tidak sukar ?’

“Benar!”

“Apa maksudmu ?”

“Sebelum memberi keterangan, aku ingin mengajukan

dulu suatu pertanyaan untukmu,” kata dara cantik berbaju

hijau itu.

“Coba kau katakana!”

“Apakah kau punya uang emas murni seberat seribu

kati?”

“Tidak punya!”

“Apa kau sudah lupa bahwa didalam Istana harta paling

mudah untuk mencari uang tersebut ?’

Mendengar perkataan itu seketika itu juga Pek Thian Kie

merasakan hatinya tergetar keras.

“Aaaaakh ……..! sedikitpun tidak salah, kenapa aku bisa

melupakan tempat itu ?”

“Menurut apa yang aku dengar “Giok Hoa Lok” adalah

semacam arak wangi !”

“Arak wangi?”

“Benar! Semacam arak terkenal yang sukar dicari kecuali

didalam Istana Arak!”

“Istana Arak?” Pek Thian Kie semakin dibuat menjadi

keheranan.

“benar Istana arak sama halnya dengan Istana Harta,

mereka termasuk sebuah perguruan yang didirikan sendiri!”

Perlahan-lahan Pek Thian Kie mengangguk.

“bagaimana dengan mencari gadis cantik ?”

“Soal ini sama sekali tidak sukar!”

“Walaupun dikolong langit tidak sedikit terdapat gadisgadis

cantik, tetapi bagaimanapun juga aku tak bisa

sembarangan menangkap salah satu orang untuk diserahkan

kepada Majikan rumah rejeki tersebut!”

“lalu bagaimana caranya?”

“didalam Istana Perempuan banyak terdapat gadis

cantik!”

“Istana Perempuan? Nama ini benar-benar tidak jelek

kedengarannya ………….”

“sedikitpun tidak salah, nama ini kedengarannya

memang tidak jelek, tetapi didalam Istana Perempuan itu

terdapat hampir seratus orang gadis-gadis cantik.”

“lalu apakah ada Istana Nafsu?” seru Pek Thian Kie

melengak.

Bab 9 Dara Baju Hijau

MENDENGAR perkataan tersebut si dara berbaju hijau

tertawa.

“Pertanyaanmu sangat bagus, “Arak, perempuan, harta

serta Nafsu.” Memang merupakan empat kebutuhan yang

terbesar dari kalian orang-orang laki, tetapi diantara

keempat buah kebutuhan tersebut justeru hanya kurang satu

yaity Nafsu !”

“Kenapa?”

“Aku lihat tiada kegunaannya.”

“Aaaakh ……..aku tidak mengerti maksudmu!”

“Bicara yang lebih jelas lagi, jikalau seorang lelaki sudah

mempunyai uang banyak bisa minum arak wangi kelas

utama ditambah lagi bisa memeluk gadis cantik, aku lihat

kebutuhan mereka sebetulnya sudah dipenuhi semua.”

“Tetapi ………….mengapa didalam Bu-lim bisa berdiri

tiga buah perguruan yang demikian anehnya>” seru

pemuda itu kembali dengan nada keheranan.

“Sudah tentu ada sebab-sebab!”

“Apa sebabnya?”

“Kau sungguh-sungguh tidak tahu?”

“Kalau aku sudah tahu buat apa bertanya lagi

kepadamu?”

“Ingin mengetahui hal ini sebetulnya tidak sulit,” si dara

cantik berbaju hijau iu tertawa lebar. “Cuma, kau harus

penuhi satu syaratku.”

“Apa syaratmu?”

“Lusa datanglah ke gunung Lui Im San!”

“Mau apa kesana ?”

“Aku beritahukan suatu persoalan kepadamu!”

Perlahan-lahan Pek Thian Kie mengangguk.

“Asal-usul dari si dara berbaju hijau ini sangat aneh dan

belum aku ketahui jelas, ia minta aku mendatangi gunung

Lui Im San. Rasanya tentu ada suatu tujuan tertentu ……..

Diam-diam pikirnya dalam hati. Setelah menimbang

beberapa saat, kemudian hatinyapun merasa mantap.

“Baiklah” sahutnya kemudian sambil tertawa. “terpaksa

cayhe harus mengabulkan syarat yang kau ajukan, tetapi

aku masih ada satu urusan yang hendak minta petunjuk

dari dirimu. Istana Arak, Istana Perempuan serta Istana

harta ini apakah ada pemiliknya ?”

“Sudah tentu ada!”

“Siapa ? Siapakah pemilik rumah-rumah Istana Harta,

Istana Perempuan serta Istana Arak.”

“Kiang Lang ?”

“Kiang Lang ? Siapa itu Kiang Lang ?”

“Ayah dari Kiang To !”

Mendengar perkatan tersebut Pek Thian Kie dibuat

bingung semakin kebingungan lagi. Dengan termangumangu

dia memandangi dara cantik berbaju hijau itu

dengan terpesona.

Sudah tentu Pek Thian kie tidak akan tahu siapakah

Kiang Lang itu, sedangkan apakah hubungannya antara dia

dengan Istana Arak, Istana harta ia sendiripun tidak tahu.

Oleh karena itu dengan termangu-mangu pemuda

tersebut memandang dara berbaju hijau dengan pandangan

terpesona.

Lama…..lama sekali, ia baru bertanya :

“Sebenarnya hal ini disebabkan apa ?”

“Kau sungguh-sungguh tidak paham?”

“Benar, aku sedikitpun tidaka paham.”

“Kalau begitu lusa datanglah ke gunung Lui Im San!”

“Kenapa harus datang ke gunung Lui Im san?”

“karena ditempat itu aku bisa beritahukan seluruh apa

yang ingin ku ketahui.”

“Bukankah berbicara pada saat ini juga sama saja?”

“Sudah tentu pada saat ini ada alasan-alasan tertentu

yang membuat aku tak boleh beritahukan hal ini kepadamu

!”

Kembali Pek Thian Kie termenung berpikir-pikir keras,

tapi walaupun ia sudah peras otak secara bagaimanapun

belum berhasil juga menemukan alasan-alasan tersebut.

“Aku lihat diantara majikan rumah Rejeki dengan ketiga

buah Istana tersebut tentu mempunyai hubungan yang

sangat erat ! Bahkan kemungkinan besar diantara mereka

sedang menjalankan suatu rencana yang keji ?”

“Suatu rencana yang keji ?”

“Sedikitpun tidak salah !” pemuda itu mengangguk.

“Coba kau piker, untuk menyewa rumah Rejeki ini orang

harus memenuhi ketiga syarat yang ia ajukan, setelah

mejikan rumah rejeki ini membinasakan orang yang

menyewa rumah ini, ia bisa mengembalikan lagi ketiga

macam barang itu kepada ketiga buah istana tersebut.

Bukankah hal ini jelas sekali menunjukkan bila diantara

mereka ada yang sangat erat dan suatu rencana keji yang

sedang mereka jalankan ?”

“Ehmmm ……… dugaanmu memang tidak salah !”

“Dan yang jelas jago-jago lihay dari kalangan dunia

persilatan yang harus menanggung kerugian ini!”

“Sedikitpun tidak salah !”

“Oleh karena itu perkataan itu rumah berbentuk

tengkorak ini tak bisa terlepas dari hubungannya dengan

Istana Arak, Istana Perempuan serta Istana Harta!”

“Walaupun perkataan yang kau ucapkan sedikitpun

tidak salah, tetapi orang-orang yang hendak menyewa

rumah itu bukankah sudah mengetahui bila mereka

memasuki rumah tersebut pasti akan menemui ajalnya,

kenapa mereka masih begitu ngotot juga pergi kesana untuk

menghantarkan kematian sendiri ?”

“Titik yang perlu kita curigai justru terletak didalam soal

ini, tetapi hal ini sudah cukup membuktikan bila antara

rumah rejeki dengan ketiga buah istana tersebut nanti ada

sangkut paut serta hubungan yang sangat erat !”

“Kemungkinan sekali dugaanmu itu memang benar.” Si

dara cantik berbaju hijau itu mengangguk. “Apakah dalam

hatimu sudah timbul perasan tertarik terhadap rumah aneh

ini?”

“Bukan Cuma tertarik saja …….” Diam-diam piker Pek

Thian Kie dalam hati. “Teka-teki yang menyelubungi

kematian suhunku sampai saat kini masih belum berhasil

aku bikin jelas, jutru rumah inilah yang bisa memberikan

jawaban atas seluruh persoalan yang masih merupakan

tanda Tanya didalam benakku.”

Walaupun didalam hati ia berpikir demikian, tetapi

diluaran ia mengangguk.

“Sedikitpun tidak salah, aku memang sudah mulai

tertarik dengan rumah berbentuk aneh ini.”

“Kau ingin menyewa rumah ini?”

“Kemungkinan besar.”

“Aku takut kau orang tidak punya bagian.”

“Kenapa?”

“Bila dugaanku tidak meleset, maka orang yang

seharusnya menyewa rumah rejeki tersebut pada tahun ini

adalah si jagoan pedang penakluk naga ……?”

“Kenapa harus dia ……..?”

“Eeeee…. Bagaimana sih kau?” Bukankah diantara

sembilan jagoan pedang dari kolong langit, kini tinggal dia

seorang ….?”

Mendengar perkataan tersebut Pek Thian Kie benarbenar

merasakan hatinya bergidik. Aaaakh ……. !

Sedikitpun tidak salah, diantara sembilan jagoan pedang

dari kolong langit kini tinggal seorang yang terakhir yaitu si

jagoan pedang penakluk naga.

Bagaimanapun juga dugaan dari dara berbaju hijau itu

tidak akan salah, tahun ini jagoaan pedang tersebut pasti

akan menyewa rumah ini.

Teringat akan hal ini, mendadak pemuda itu bertanya

kembali :

“Nona, pernahkah kau orang bertemu muka dengan

jagoan pedang penakluk naga itu ?”

Kembali Pek Thian Kie kerutkan dahinya, untuk

beberapa saat lamanya agaknya ia sedang merenungkan

sesuatu atau mungkin sedang mengambil suatu keputusan.

Lama ……… lama sekali ……… ia baru mengajukan

kembali pertanyaan.

“Apakah saat ini rumah tersebut kosong tak

berpenghuni?”

“Bagaimana aku bisa tahu?” sahut dara tersebut

tersenyum.

Kembali pemuda itu berdiri tertegun. Ia benar-benar

dibuat kebingungan oleh persoalan yang penuh diliputi

kabut misterius ini.

“Kau masih ingin mengetahui soal apa lagi? “ tiba-tiba

dara cantik berbaju hijau itumenegur memecahkan

kesunyian.

Pek Thian Kie tertawa pahit, ia menggeleng.

“Kalau begitu aku harus pergi dari sini.”

“Silakan!”

“Jangan lupa lusa aku nantikan kedatanganmu di

gunung Lui Im San ….”

Belum habis perkataan tersebut diucapkan, ia sudah

berada beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.

Dengan termangu-mangu dan pandangan terpesona Pek

Thian Kie memandang bayangan punggung gadis itu,

hingga lenyap dari pandangan, ia tidak mengerti siapakah s

dara cantik berbaju hijau itu ? Apa yang ia inginkan

sehingga memintanya untuk datang ke gunung Lui Im San

besok lusa.

Karena terpakurakhirnya ia melamun …………

Jikalau diantara majikan rumah aneh ini dengan pihak

istana arak, istana perempuan serta istana harta tiada

sangkut paut maka ia akan dibuat semakin bingung lagi

oleh peristiwa ini.

Siapakah majikan dari Istana Arak ?

Macam apakah majikan dari Istana perempuan itu ?

Walaupun Istana Harta pernah ia datangi, tetapi sampai

saat ini dia orang masih belum berhasil juga bertemu muka

dengan majikan istana tersebut.

Kini ditambah lagi dengan sebuah rumah yang berbentuk

demikian aneh, kesemuanya peristiwa ii segera tercipta

suatu cerita yang penuh kemisteriusan, penuh keseraman

dan kengerian, bagi dirinya. Demi keselamatan suhunya,

mau tak mau ia harus menyewa rmah tersebut.

Jika dugaan si dara cantik berbaju hijau itu tidak meleset,

maka tahun ini orang yang harus menyewa rumah ini

adalah si jagoan pedang penakluk naga.

Sebelum kena didahului orang, ia harus bertindak jauh

lebih pagian untuk memperoleh semua syarat-syarat

tersebut.

Bagaimana wajah si jagoan pedang penakluk naga?

……dalam soal ini ia harus melakukan penyelidikan

terlebih dahulu kemudian baru berusaha mendahului

dirinya.

Istana harta, bagaimanapun juga harus ia datangi sekali

lagi !

Istana arak serta istana perempuan bagaimana juga iapun

mendatangi pula untuk melihat keadaan disana. Ia harus

mendapatkan arak “Giok Hoa Lok” serta seorang gadis

cantik.

Berpikir sampai disini mendadak dalam hati kecil Pek

Thian Kie timbul suatu keinginan untuk melihat

bagaimanakah tampang dari si majikan rumah rejeki ini !

Tubuhnya dengan cepat dienjotkan melayang kearah

pintu besar yang tertutup rapat-rapat.

Sesampainya didepan pintu tanpa banyak cakap lagi

telapak tangannya dengan disertai tenaga dalam penuh

dihantamkan keatas besi berwarna hitam pekat itu, sehingga

menimbulkan suara dengungan yang amat keras.

“Hei, adakah orang didalam?” teriaknya keras.

Kecuali suara pantulan dari gembrongannya tadi, tak

kedengaran suara jawaban dari seseorang !

Tak terasa lagi hawa amarah mulai berkobar didalam

rongga dada Pek Thian Kie, telapak kanannya dengan

disertai tenaga yang jauh lebih dasyat sekali lagi menghajar

pintu besi tersebut.

Ditengah suara bentrokan yang amat keras, suara

dengungan kembali bergema memekakan telinga, tetapi

pintu tersebut masih tetap tertutup rapat.

Tak tertahan lagi Pek Thian Kie dibuat tertegun.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah tertawa dingin tiada

hentinya.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. aku tidak

percaya bila dengan kekuatanku tak berhasil menghajar

roboh pintu besimu ini” teriaknya keras.

Baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan, serangan

kedua kembali sudah menerjang lewat.

Mendadak …………

“Saudara, apa maksudmu datang kemari?” serentetan

suara yang amat dingin berkumandang datang.

Mendengar suara teguran tersbut Pek Thian Kie benarbenar

jadi terperanjat, tak terasa lagi angina pukulan yang

sudah dikumpulkan diats telapak tangan ditarik kembali.

Dengan cepat badannya berputar memandang suara

tersebut. Tampaklah sesosok bayangan hitam, sudah berdiri

dodepan kuburan.

“Siapa kau? Bentak pemuda tersebut dingin.

Jarak antara mereka ada tiga, empat kaki jauhnya,

sehingga hal ini membuat Pek Thian Kie tak sanggup

melihat lebih jelas lagi wajahnya.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. Majikan

rumah rejeki!” sahut orang itu sambil tertawa dingin.

“Apa?”

Tak kuasa lagi Pek Thian Kie berseru tertahan, ia sama

sekali tidak menyangka bayanagan hitam yang secara

mendadak munculkan diri adalah Majikan Rumah Rejeki,

hal ini mana mungkin tidak membuat hatinya merasa

sangat terperanjat ?

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. kau tidak

percaya?” kembali orang itu menegur

“Percaya!”

“Kau ingin merusak rumah rejekiku ini?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Kenapa kau ingin merusak rumah ini? Apa salh rumah

tersebut dengan dirimu?”

“Hmmmmmm! Mudah sekali maksudku, aku ingin

mencari kau!”

“Ada urusan apa>”

“Banyak pertanyan yang hendak aku tanyakan

kepadamu!” sahu sang pemuda dengan muka sinis.

“Cepat katakana, apa yang ingin kau tanyakan?”

“Rumah rekjekimu ini hendak kau sewakan kepada

orang lain?’

“Hmmm! …… kecuali kau bangsat cilik tidak bisa

membaca, bukankah disamping pintu sudah tertempel jelas

tulisan tersebut.”

“Lalu siapakah orang yng sudah datang menyewa rumah

ini pada tahun yang lalu?”

“Si Jagoan pedang Iblis Sakti!”

“Sekarang dimanakah orang itu?”

“Sudah mati!”

“bagaimana dia bisa mati? Ia mati ditangan siapa?

Dimanakah dia orang menemui ajalnya?” tak kuasa lagi

pemuda tersebut sudah mencecer sang majikan rumah

rejeki dengan berpuluh-puluh pertanyaan yang selama ini

mengganjal didalam hatinya.

“Maaf ……… maaf …….. tentang soal ini aku tak bisa

memberikan jawaban!”

“Kenapa?”

“karena kau bukan orang yang hendak menyewa

rumahku. Pertama tiada barang suapan, kedua tiada

hubungan persahabatan, maka dari itu aku tidak bisa

menjawab seluruh pertanyaan itu.”

“Siapakah nama si jagoan pedang iblis sakti?” kembali

Pek Thian Kie bertanya

“Tentang soal ini akupun tak bisa memberikan

jawaban!”

“Secara bagaimana kau baru suka memberikan

jawaban?”

“Kecuali orang yang menyewa rumahku ini atau orangorang

yang mempunyai hubungan persahabatan dengan

diriku.”

“Jadi pada saat ini sepatah katapun kau tidak suka

menjawab?

“Sedikitpun tidak salah!”

“Tapi saying aku menginginkan kau orang harus

memberikan jawaban!”

“Aku piker kau tak akan sanggup memaksa diriku!” ejk

orng itu dingin

“bagus sekali!” kau orang bodoh boleh coba-coba……..

Begitu ucapan tersebut meluncur keluar dari bibirnya

tanpa membuang banyak waktu lagi tubuhnya laksana

sambaran petir cepatnya sudah menubruk kearah bayangan

hitam tersebut.

Dari dua bagian tenaga dalam yang dimilki Pek Thian

Kie, pada saat ini sudah ada sembilan bagian tenaganya

yang telah pulih kembali seperti sedia kala.’

Tubrukannya ini dilancarkan secepat kilat, bahkan

gerakannya amat aneh tahu-tahu ia sudah berada didepan

kuburan tersebut.

Siapa sangka gerakan tubuh dari bayangan hitam itupun

tidak kalah cepatnya dari gerakan Pek Thian Kie,

tampaknya bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu

ia sudah melayang sejauh tiga, empat kaki jauhnya kearah

belakang.

Diam-diam Pek Thian Kie merasakan hatinyaa bergidik

juga melihat kegesitan pihak lawannya.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. Suadara !

Kau harus tahu, aku tidak ingin pamerkan kepandaian

silatku dihadapanmu.” Seru orang itu sambil tertawa dingin

tiada hentinya. “Apalagi kemungkinan sekali kaupun

merupakan calon tamu yang akan menyewa rumahku.

Daripada dikemudian hari hubungan antara pemilik rumah

dan si penyewa rada riku, dan kurang enak lebih baik aku

berlalu setindak terlebih dahulu ………”

Belum habis perkataan tersebut diucapkan keluar,

tampaklah bayangan manusia berkelbat, tahu-tahu ia sudah

meninggalkan tempat tersebut.

“Kau ingin pergi?” bentak Pek Thian Kie keras.

Ditengah berkelebatnya bayangan manusia, Pek Thian

Kie enjotkan badannya melakukan pengejaran.

Gerakan tubuh dari pemuda ini tak dapat dikatakan

lambat, siapa sangka gerakan tubuh dari si orang berbaju

hitam itu tidak lemah …..

Laksana anak panah yang terlepas dari busur, ia berputar

satu lingkaran ditengah hutan lalu jejaknya lenyap tak

berbekas. Hal ini sudah tentu membuat Pek Thian Kie

saking gemasnya menggertak giginya kencang-kencang.

Tiba-tiba ……..

Sesosok bayangan manusia kembali meluncur kearah

rumah tersebut dengan amat ringannya menggunakan

kesempatan sewaktu pemuda tersebut berdiri termangumangu.

Dengan cepat ia menoleh dan memandang tajam orang

itu, tampaklah bayangan tersebut dengan langkah yang

berhati-hati berjalan mendekati pintu, jelas kelihatan diatas

punggungnya tersoren sebilah pedang.

Hatinya diam-diam rada bergerak, dengan tidak

menimbulkan suarapun ia segera ikut melayang kedepan

dan bersembunyi kurang lebih dua kaki dari tempat orang

itu.

Tampaklah pihak lawan ternyata adalah seorang pemuda

yang berusia duapuluh tujuh, delapan tahunan, badannya

sangat kekar, hanya saja air mukanya begitu murung dan

diliputi ketegangan.

Lama sekali ia memperhatikan syarat yang tertempel

diatas pintu besi tersebut, akhirnya dengan alis yang

dikerutkan ia putar badan dan berlalu dari jalanan semula.

Aaaakh …………! Kiranya seorang manusia yang

khusus datang melihat rumah !

Pada waktu Pek Thian Kie ada maksud ikut berlalu dari

sana, mendadak ……..

Suara tindakan kaki manusia sekali lagi berkumandang

datang memecahkan kesunyian, diam-diam pemuda

tersebut merasakan hatinya tergetar keras.

Tampaklah sesosok bayangan manusia perlahan-latan

berjalan mendekat.

“Siapa!” tegurnya kemudian dengan suara keras.

Mendengar bentakan tersebut bayangan itu rada

merendek sejenak, kemudian ia putar badan dan berjalan

mendekati Pek Thian Kie. Hanya dalam sekejap saja ia

sudah berada dihadapannya.

Ternyata orang yang baru saja datang adalah pemuda

berbaju hijau yang usianya kurang lebih baru duapuluh

tahunan, wajahnya amat tampan dengan sepasang mata

memancarkan cahaya tajam, bibirnya tersungging satu

senyuman manis.

Ia memandang sekejap kearah Pek Thian Kie, lalu

tersenyum.

“Heng-thay malam-malam datang kemari apakah ada

maksud hendak melihat rumah ini juga?” … tanyanya.

“Benar!” sahut Pek Thian kie agak melengak. “Dan

Heng-thay ……”

“Akupun datang kemari karena perasaan ingin tahu …..

siapa nama Heng-thay?”

“Cayhe Pek Thian Kie?”

“Oooow …..Pek-heng! Cayhe bernama Tang Liem !”

Selesai berkata, kembali ia tersenyum dan menyapu

sekejap wajah Pek Thian Kie, lalu dengan langkah yang

lambat berjalan mendekati rumah berbentuk aneh itu.

Didalam pandangan matanya itulh, mendadak Pek

Thian Kie menemukan sinar matanya yang aneh, dan lain

dari pandangan mata orang biasa, Cuma saja ia tidak

mengerti dimanakah terletak perbedaan tersebut…..

Didalam hutan Tauw Liem berturut-turut telah terjadi

berbagai macam peristiwa yang sangat aneh, semuanya ini

membuat Pek Thian Kie semakin kebingungan dan merasa

bimbang tidak karun.

Tidak lma kemudian si pemuda berbaju hijau sudah balik

kembali.

“Bagaimana penaksiran Pek-heng, terhadap harga rumah

ini?” tanyanya sambil tertawa dan memandang wajah

pemuda itu tjam-tajam.

“Penaksiran?”

“Benar! Bukankah kau merasa rumah ini rada

misterius?”

“Ehmmm ………ada sedikit, menurut pandanganmu?”

“Akupun mempunyai perasan yang sama!” sahut

pemuda berbaju hijau itu sambil mengangguk. “Si penyewa

rumah ini belum sampai satu tahun mendiami rumah ini

mendadak menemui ajalnya, bahkan setelah mengetahui

hal ini ada juga orang yang ingin menyewa, coba kau piker

bukankah sangat aneh sekali kejadian ini?”

“Memang ada sedikit keanehan?”

“Benar, barang pusaka!”

“Barang pusaka apa?”

“Bukankah didalam keterangn diatas kertas itu tercatat

sebagai hadiah akan diberikan sebuah bangunan rumah

:Ang Wu Piat Su? Aku piker rumah merah itu pasti

merupakan sebuah mustika bu-lim. Kalau tidak siapa yang

ingin pergi kesana untuk menghantarkan nyawa ?”

Mendengar ucapan tersebut, diam-diam Pek Thian Kie

merasakan hatinya tergetar.

“Aaaaaakh ………….. sedikitpun tidak salah.”

Diam-diam pikirnya dalam hati. “Jikalau rumah merah

yang dimaksudkan bukan suatu mustika dari kalangan

dunia persilatan, mengapa jago-jago Bu-lim itu suka masuk

kedalam rumah rejeki untuk hantar kematian ?”

Berpikir akan hal ini tak terasa lagi ipun sudah bertanya

kembali.

“Tetapi masih ada suatu hal yang mencurigakan

………!”

“Apa yang patut dicurigakan ?”

“Jikalau rumah merah “Ang Wu Piat Su” ini

menunjukkan semacam mustika dunia persilatan, aku piker

orang-orang Bu-lim tentu akan berusaha untuk

mendapatkannya, tetapi mengapa prang-orang yang

menemui ajalnya hanya sembilan jagoan pedang dari

kolong langit saja?”

“Menurut duganku, kemungkinan sekali hanyaa

sembilan jagoan pedang dari kolong langit saja yang

mengetahui rahasia rumah merah “Ang Wu Piat Su”

tersebut !”

“Ehmmmm …….. dugaanmu memang cengli!”

“Aaaaakh ………. Ini Cuma dugaan siauw-te, benar atau

tidak aku rasa tak bakal bisa disimpulkan oleh kita.”

Perlahan-lahan Pek Thian Kie mengangguk, ia merasa

apa yang diucapkan pemuda berbaju hijau ini memang

benar.

“Pek-heng, apakah kau sering berkelana didalam dunia

kangouw?” Tanya Tong Liem kembali.

Pek Thian kie menggeleng.

“Siauwte baru beberapa hari berkelana didalam dunia

persilatan ………” sahutnya perlahan.

“Apakah Heng-tay pernah mendengar istana harta?”

“Pernah …….” Pemuda tersebut mengangguk, hatinya

rada kaget. “Katanya Istana harta tersebut khusus

meminjamkan uang untuk kawan-kawan Bu-lim!”

“Sedikitpun tidak salah !”

“Siauwte ada maksud hendak sedikit onglos perjalanan

dari Ist tempat ini?” kembali tanya Istana Harta tersebut,

entah beberapa jauh dari tempat ini?” kembali Tanya Tong

Liem sambil tertawa pahit.

“Haaaaaa………..haaaa…………….haaa ………..

sungguh kebetulan sekali.” “Siuwtepun ada maksud hendak

pergi ke Istana harta, bagaimana kalau kita berangkat

bersama-sama.”

“Sudah tentu sangat bagus sekali!”

Demikianlah Pek Thian Kie serta pemuda yang masih

terasa asing baginya bersama-sama mendatangi Istana

harta.

Jilid 4

Bab 10 Meminjam uang di Istana Harta

SAAT INI hari baru saja terang tanah pintu Istana harta

pun baru saja dibuka.

Kiang To telah melakukan pembunuhan didalam Istana

harta tersebut sehingga ada tujuh, delapan orang jatuh

korban, tetapi keadan didalam istana harta pada saat ini

tenang seperti sediakala, suasana sunyi-senyap seperti

belum pernah terjadi suatu peristiwapun.

Kali ini Pek Thian Kie bisa mengunjungi kembali Istana

Harta, tujuan yang terutama sudah tentu hendak mencari

tahu keadaan dari si jagoan pedang penakluk naga beserta

rahasia hubungan antara Istana Harta dengan rumah

misterius itu.

Jikalau orang yang ingin menyewa rumah tersebut pada

tahun ini benar-benar adalah si jagoan pedang penakluk

naga, pemimpin dari sembilan naga, maka urusan bisa

diketahui dengan sangat mudah, karena untuk memperoleh

emas murni seribu kati bagaimnapun juga, ia pasti akan

mendatangi Istana Harta ini.

Bersamaan itu pula ia ingin menggunakan kesempatan

ini menyelidiki siapakah majikan dari Istana Harta ini.

Ketika Pek Thian Kie tiba didepan pintu si lelaki

berpakaian perlente penjaga pintu tersebut agaknya masih

ingat dengan diri pemuda tersebut.

Air mukannya kelihatan berubah sangat hebat, buru-buru

ia menjura memberi hormat.

“Ooooouw ……. Kiranya Pek Thay-hiap ……”

Sedikitpun tidak salah, memang cayhe adanya!”

…… Tolong Tanya apa maksud Pek Thay-hiap datang

kemari?”

“Kalau tidak pinjam uang, buat apa aku harus datang

kemari? ………” seru pemuda itu ketus.

“Sungguh maaf, Istana harta kami hanya mengizinkan

satu orang pinjam uang satu kali saja dari sini !”

“Tetapi kemarin hari aku tidak pinjam uang!”

Si lelaki berpakaian perlente itu tertawa, sinar matanya

perlahan-lahan dialihkan keatas wajah Tang Liem.

“Dan apa pula maksud saudara ini datang kemari?”

tanyanya lagi.

“Cayhepun ingin pinjam sedikit uang.”

“Mau pinjam berapa?”

“Tidak banyak, Cuma seratus tahil perak saja.”

“Berasal dari perguruan mana?”

“Cayhe Tang Liem berasal dari perguruan Bu-Tong

Pay!”

“Kenapa?”

“Karena …….karena ………..” agaknya si pemuda

berbaju hijau itu merasa serba susah juga untuk mengajukan

alasannya, lama sekali baru jawabnya :

“Cayhe ingin bertemy muka dengan majikan kalian !”

“Sungguh maaf, majikan kami tak ada disini.”

“Kalau begitu aku ingin bertemu dengan Cong-Kooan

atau Ciang-kwee kalian!”

“kalau memang saudara mempunyai kesulitan, baiklah,

mari ikut aku masuk,” ujar si lelaki berpakaian perlente itu

kemudian.

Selesai berkata dengan memimpin pemuda yang

menyoren pedang itu ia berjalan masuk kedalam ruangan.

Pek Thian Kie yang dapat melihat seluruh kejadian ini,

diam-diam dalam hatinya mulai menaruh rasa curiga

…………….

Kemarin malam pemuda tersebut sudah pergi menengok

rumah aneh itu dan kini ingin pinjam uang pula kemari, ada

sepuluh bagian ia pasti hendak menyewa rumah tersebut.

Lalu siapakah dia ?

Selagi Pek Thian Kie dibuat kebingungan itulah, si lelaki

berbaju perlente itu sudah mempersilakan mereka masuk.

“Saudara berdua silakan masuk!”

Pek Thian Kie melirik sekejap kerah pemuda berbaju

hijau yang menyoren pedang itu kemudian tanpa menoleh

lagi melnjutkan perjalannya kedalam.

Ciang Kwee Istana harta masih tetap si Kakek tua

tersebut, sewaktu dia orang melihat munculnya Pek Thian

Kie disana air mukanya segera berubah hebat.

“Aaaaaakh ………… kau ……….. “ Serunya tak

tertahan.

“Benar Cayhe!” Pek Thian Kie tersenyum?

“Kan ……… apa maksudmu datang kemari?”

“Mau pinjam uang!”

“Kiang ……..”

“Cayhe bernama Pek Thian Kie, apakah kau sudah

lupa?” buru-buru pemuda itu memotong perkataannya yang

belum selesai.

“Benar…………..benar …………benar ……… Pek

Thay-hiap ingin pinjam berapa?”

“Tidak tentu, mungkin Cuma tiga, lima tahil

kemungkinan lima ribu tahil kemungkinan Cuma lima ribu

tahil emas murni!”

Didalam anggapan Ciang-kwee lijin seratus persen Pek

Thian Kie sebetulnya adalah Kiang To, ia menganggap

korban tujuh, delapan orang yang mati didalam Istana harta

adalah hasil perbuatannya.

Melihat bagaimana luar biasa dasyatnya ilmu silat

pemuda tersebut, sudah tentu bagi sang Ciang-kwee tersebut

menemui dia, seperti pula menemui musuh tangguh yang

sangat mengerikan.

“Saudara ini adalah …….” Serunya kemudian Ciangkwee

ini berhasil menenangkan hatinya.

“Cayhe Tang Liem, anak murid partas Bu-tong.

“Kau ingin pinjam berapa?”

“Seratus tahil perak sudah cukup. Bila dibicarakan

sungguh memalukan sekali Cayhe sudah kehabisan bekal

ditengah jalan, terpaksa aku harus pinjam uang dari Istana

Harta kalian ………..”

“Orang-orang yang sering melakukan perjalanan

ditempat luaran, kekurangan uang sudah merupakan suatu

kejadian yang sangat luar biasa ………” Kata ciang-kwee

lojin itu tertawa, “Hal ini bukan termasuk suatu kejadian

yang sangat memalukan, tetapi Istana kami harus

menyelidiki dulu asal-usul kalian sehingga jelas, setelah itu

baru bisa mengambil keputusan dipinjami uang atau tidak.”

“Soal ini tidak mengapa!”

“Kalau begitu, kalian berdua boleh pergi istirahat…….”

Si lelaki berbaju perlente itu dengan cepat membawa

kedua orangitu menuju keruangan belakang, sengaja Pek

Thian Kie memperlambat langkah kakinya.

Terdengar si lelaki berpakaian perlente yang ada

dibelakangnya, pada saat itu sedang berkata.

“Dialah Ciang-Kwee dari Istana harta kami,”

Buru-buru si lelaki berbaju hijau itu menjura memberi

hormat.

“Ciang kwee, terimalah penghormatanku!” serunya.

“Saudara tidak perlu sungkan-ungkan, apakah

kedatangan saudara kemaripun ingin pinjam uang?”

“Benar!”

“Siapa nama saudara?”

“Tolong Tanya Ciang-kwee, namaku serta perguruanku

apakah bisa dirahasiakan?’

“Soal ini saudara boleh berlega hati selama puluhan

tahun ini belum pernah istana kami membocorkan nama

kawan-kawan dunia kangouw yang datang pinjam uang

kemari …… bukan saja terhadap orang yang pinjam uang,

sekalipun terhadap orang-orang yang menitipkan barang

berharganya disinipun selalu pegang rahasia rapat-rapat,

inilah perturan dari Istana kami, karena itu harap saudara

boleh berlega hati.

Diam-diam Pek Thian kei merasa dangat kaget, ia tidak

menyangka kecuali Istana Harta meminjamkan uang

kepada orang lain, merekapun dapat menyimpankan harta

benda pusaka milik orang lain didalam istna tersebut,

kejadian ini benar0-benar berada diluar dugaannya.

Tak terasa lagi ia memperhatikan orang itu lebih tajam

lagi, tampaklah ketika itu si pemuda berbaju hijau tersebut

sedang membisikkan sesuatu ketelinga sang Ciang-kwee

lojin.

Selesai dibisiki, air muka Ciang-kwee lojin berubah

hebat, ia mengangguk tida hentinya.

“Kau ingin pinjam berapa?” Tanyanya kemudian.

“Seribu kati emas murni!”

“Asal-usul saudara tidak perlu diselidiki lagi. “sang

Ciang-kwee lojin itu mengangguk. “mari aku hant kau pergi

keruangan biru!”

“Terima kasih atas bantuanmu!”

Selesai berkata dengan memimpin pemuda berbaju hijau

itu, ia lantas berjalan keruangan kedua sebelah paling kiri,

tampaklah diatas pintu tertera sebuah tulisan yang

bertuliskan kata-kata :

“Ruan Biru !”

Pek Thh=ian Kie yang dapat melihat seluruh keadaan

tersebut dengan amat jelas, tidak terasa lagi mengerutkan

dahinya, langkah yang semula berjalan sangat lambat,

mendadak sama sekali terhenti.

“Eeeee……. Saudara kenapa?” tegur si lelaki berpakaian

perlente itu.

“Aku sekarang juga ingin pinjam uang!”

“Sekarang?”

“Tidak salah, agaknya asal-usulku pada saat ini tidak

perlu diselidiki lagi bukan?”

“Benar!”

“kalau begitu, kau bawa saja kawan Tang kebelakang!”

Selesai berkata ia langsung berjalan menuju keruang

yang ditempati Ciang-Kwee tersebut.

Ketika itu kebetulan sang Ciang-kwee lojin baru saja

keluar dari ruangan biru, sewaktu dilihatnya Pek Thian Kie

berjalan bali, air mukanya segera berubah hebat.

“Pek Thay-hiap, kau ada urusan apa!”

“Aku ingin pinjam uang sekarang juga!”

“Sekarang …………?” Ciang Kwee lojin itu benar-benar

merasa amat terperanjat.

“Sedikitpun tidak salah, sekarang juga aku ingin pinjam

uang tersebut.”

“Mau …….. mau pinjam berapa ?”

“Lima laksa tahil emas murni!”

“Apa? Lima laksa tahil emas murni ?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Baik……. Baik ……baik ……” dengan gugup dan

ketakutan Ciang-kwee lojin mengiakan.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. heei Ciangkwee,

aku ingin menanyakan lagi suatu persoalan!” seru

Pek Thian Kie sambil tertawa dingin tida hentinya!

“Apakah Istana kalian juga khusus menyimpan harta serta

barang pusaka milik orang lain?”

“Benar!”

“Apakah ada orang yang khusus menjaga barang-barang

tersebut!”

“Maaf …….. soal ini adalah rahasia kami,

bagaimanapun juga tak bisa aku bocorkan.”

“Kalau begitu, aku ingin pinjam uang saja,” kata

pemuda itu kemudian setelah berpikir sebentar.

“Soal ini ……..” seru Ciang-kwee lojin agak ragu-ragu.

“Ayoh, cepat bawa aku keruang merah!” Potong Pek

Thian Kie dengan mata melotot lebar-lebar.

“Baik ………. Baik ………..baik ………….”

Dengan langkah yang gugup, Ciang-kwee lojin itu segera

membawa Pek Thian Kie menuju keruangan yang terakhir,

pada saat ini dari dalam ruangan Biru kedengaran suara

bentakan-bentakan keras berkumandang keluar.

Tidak usah ditanya lagi, jelas sekali menunjukkan bila

sang pemuda berbaju hijau itu sedang bergebrak melawan

Tongcu dari ruang Biru.

Dengan cepat Pek Thian Kie elah tiba diruangan merah,

tanpa disuruh lagi Ciang-kwee lojin itu segera mengetuk

pintu dengan nada yang gencar.

“Siapa?” dari balik ruangan berkumandang keluar suara

bentakan nyaring.

“Cong-koan, tecu adalah Ciang-kwee!”

“Masuk!”

“Baik……baik…..”

Ciang-kwee lojin itu segera mendorong pintu berjalan

masuk kedalam, ketika Pek Thian Kie dapat melihat

Tongcu dari ruang merah tersebut ternyata adalah si setan

darah Tong it san, ia lantas tersenyum.

Lain halnya dengan Tong It san, sewaktu melihat orang

yang bertindak masuk kedalam ternyata Pek Thian Kie,

saking kaget dan takutnya, paras mukanya kontan saja

menjadi berubah hebat.

“Aaaaakh ………. Kau? ……….” Serunya tak tertahan.

“Sedikitpun tidak salah, memang aku!”

“Kau …..kau mau apa datang kemari?”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. sudah tentu

pinjam uang, apa kau kira aku khusus datang hendak

mencari setori?’

“Kau …… kau ingin pinjam berapa?’

“Kau pikir dari ruang merah ini bisa pinjam uang

seberapa besar untuk aku?”

“Lima ……lima laksa tahil emas murni?’

“Sedikitpun tidak salah, apakah kita harus bergebrak

kembali?……”

“Tidak perlu!!!”

“kalau begitu terima kasih atas perhatian Cong-koan

yang suka memberi muka untuk diriku, kalau begitu harap

kalian segera persiapkan emas tersebut karena sekarang juga

aku hendak pergi dari sini!”

“Ciang-kwee!” buru-buru Tong It San menoleh kearah

Ciang-kwee lojin tersebut. …… Emas murni dalam gudang

apakah cukup untuk membayar sejumlah itu?’

“Pek Thay-hiap, dapatkah kau orang memberi

kelonggaran beberapa hari untuk pihak Istana kami ?”

dengan cepat Ciang-kwee lojin berseru. “Terus terang saja

aku beritahu bahwa simpanan uang didalam gudang kami

sampai ini hari masih belum cukup untuk membayar

jumlah tersebut, tetapi didalam tiga hari ……”

“Aku orang tak bakal sanggup menunggu sedemikian

lamanya!”

“Pek Thay-hiap !” seru Ciang-kwee lojin kembali,

“Bukankah kau hendak menyusahkan pihak istana kami?

Bukannya kami tidak mau memberi uang tersebut

kepadamu. Melainkan karena jumlah uang disini masih

kurang, maka dari itu …….. harap ……….. harap Pek

Thay-hiap suka memaklimi …….”

“Tidak bisa jadi!”

Kedatangan Pek Thian Kie ketempat itu adalah

bertujuan pinjam uang, jika menurut keadaan yang

sebetulnya, jangan dikata pinjam uang, sekalipun menagih

hutangpun semisalnya orang tersebut minta waktu beberapa

hari, dia tak bisa berbuat apa-apa, apalagi Pek Thian Kie

adalah khusus oinjam uang dari tempat itu.

Sudah seharusnya ia tidak boleh mengelak permintaan

itu, siapa sangka ternyata pemuda tersebut dengan ngotot

sudah menolak.

Pemuda tersebut menolak permintaan Ciang-kwee itu

sudah tentu hatinya mempunyai alasan-alasan tertentu.

Apalagi tujuan utama dari kedatangannya kemari adalah

pinjam uang disamping hendak paksa majikn “Istana harta”

itu untuk unjukkan diri menemui dirinya.

Begitu perkataan dari Pek Thian Kie meluncur keluar

dari ujung bibir, air muka Ciang Kwee lojin serta Tong

Cong-koan segera berubah hebat.

“Kau ingin berbuat apa?” teriak Tong It San keras.

“Ingin pinjam uang!”

“Bukankah kami sudah berkata kalau uang didalam

Istana kami sedang kekurangan ?”

“Kalau begitu silakan kalian undang keluar majikan

Istana harta!”

“……….. selamanya majikan kami tidak menetap

disini!”

“kalau begitu, kalian boleh beritahu kepadanya jika ia

tidak suka serahkan uang tersebut pada saat ini juga, maka

aku akan baker habis Istana harta ini.”

“Jadi kedatangan saudara kemari sengaja hendak

mencari gara-gara dengan pihak kami ?”

“Boleh kalian anggap begitu !”

“Hmm ! Apa menurut pendapat saudara, kami orangorang

dari Istana Harta bisa dipermainkan sesuka hatimu ?”

teriak Tong It San sambil mendengus dingin. “Delapan

lembar nyawa kau bunuh kemarin hari, dari pihak majikan

kami belum melakukan perhitungan ……..”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. soal ini

belum pernah cayhe pikirkan didalam hati.”

“Mengenai uang lima laksana tahil emas tersebut, pada

saat ini Istana kami tak sanggup untuk membayarnya

sekaligus, dua hari kemudian ………”

“Tadi aku sudah bilang tidak bisa!” bentak Pek Thian

Kie dengan air muka berubah hebat.

“Kenapa tidak bisa jadi?”

“Istana kalian sendiri yang mengeluarkan syarat serta

peraturan, bila ini hari tidak kalian bayar uang itu, maka

aku akan menggunakan nyawa kalian sebagai jaminan.”

“Cara bagaimana kau ingin menggunakan jaminanmu?”

Pek Thian Kie tertawa dingin tiada hentinya.

“Bila aku ingin membinasakan kalian, soal itu

merupakan suatu pekerjaan yang sangat mudah seperti

membalik telapak tangan sendiri.

Sewaktu berbicara, selintas hawa nafsu membunuh mulai

berkelebat diatas wajahnya, nada ucapanpun kedengaran

sangat menyeramkan ……….. membuat hati siapapun

terasa bergidik.

…….. kau orang bisa diajak bicara tidak?” teriak Tong It

San dengan setengah suara menggembor air mukanya

berubah hebat.

………Yang tidak pakai aturan adalah kalian, kenapa

kamu harus salahkan diriku?”

“Kentut !” maki Tong Cong-koan amat gusar. “Aku

akan mengadu jiwa dengan dirimu bangsat cilik !”

Begitu perkataan terakhir meluncur keluar, badannya

segera berkelebat kedepan menubruk Pek Thian Kie sedang

telapak tangannya dengan disertai angina pukulan yang

menderu-deru dihajarkan kedepan.

“Jelas, Tong It San dibuat tidak sabar dan tidak tahan

lagi oleh sikap Pek Thian Kie yang ingin menang sendiri,

oleh karena itu saking tak tahannya ia melancarkan

serangan dasyat kedepan.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah Pek

Thian Kie ingin lebih memperbesar persoalan tersebut.

“Bagus sekali, kau ingin cari mati?” teriaknya gusar.

Tangan kanannya segera disilangkan didepan dada

menangkis datangnya pukulan musuh, sedang tangan

kirinya didorong kedepan mengirim serangan balasan.

Dua buah telapak tangan dengan cepat terbentur satu

sama lain diikuti suara ledakan keras, tubuh Tong It san tak

kuasa untuk menahan diri lagi seketika itu juga ia terdesak

mundur sejauh lima, enam langkah.

“Haaaaa ………… haaaa ……………haaaa………..

tidak salah, aku memang mencari mati, jauh lebih baik lagi

jika aku ditemani dirimu ………”

Sekali lagi tubuhnya bergerak kedepan menubruk tubuh

Pek Thian Kie yang sudah bersiap sedia.

Mendadak …………

“Ada urusan apa?” serentetan suara yang amat dingin

berkemandang masuk kedalam ruangan.

Mendengar suara teguran tersebut, baik Pek Thian Kie

maupun Tong It San sama-sama menarik kembali

serangannya dan mundur kebelakang.

Dengan cepat Pek Thian Kie menoleh kearah belakang

………

“Haaa …… kau ? …..” tak tertahan lagi ia menjerit.

Orang yang baru saja munculkan dirinya disana ternyata

bukan lain adalah si pengemis muda, Cu Tong Hoa adanya.

Cu Tong Hoa ternyata belum meninggalkan tempat itu,

hal ini benar-benar berada diluar dugaan Pek Thian Kie.

“Oooouw ……… aku kira siapa ….. tidak tahunya kau

orang …….” Seru Cu Tong Hoa ketika itu juga sambil

tertawa dingin.

“Sedikitpun tidak salah, memang cayhe ….”

“Apa yang lebih terjadi?”

“Cu Tongcu, kau bilang aku patut keki tidak,” seru Tong

It San dengan gemas. “Saudara ini hendak meminjam uang

dengan Istana Kita, dan uang yang diminta belum cukup

jumlahnya. Kami minta waktu tiga hari, ternyata dia orang

tidak setuju.”

“Benar-benar sudah terjadi kejadian ini ?”

“Sedikitpun tidak salah !” Pek Thian Kie tertawa dingin.

“Pek-heng, kau ingin pinjam berapa?”

“Lima laksa tahil emas murni!”

“Kalau orang lain tidak punya, lebih baik kau mengalah

dan kasih waktu beberapa hari buat mereka ………”

“Tidak bisa jadi!”

“Begini saja,” seru Cu Tong Hoa kemudian setelah

termenung sebentar. “Kalian semua lihatlah diatas

wajahku, kasihlah waktu setengah hari !”

“Waaaaah …….. tidak bisa jadi, bagaimana mungkin

dalam setengah hari kita bisa dapatkan uang sebanyak itu ?”

teriak Tong It San tidak setuju.

“Tong Cong-koan aku lebih baik kau setujui saja

keputusan ini. Kalau tidak bilamana Istana Harta sampai

dihancurkan orang, maka seluruh tanggung jawab ini harus

kau pikul sendiri …….”

“Baik …….. baik, kita undur setengah hari!”

“Jikalau aku tidak setuju? Mendadak Pek Thian Kie

tertawa dingin

“Tidak setuju?”

“Benar, aku tidak setuju.”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. Pek-heng!

Kenapa kau harus membuat orang lain susah ?” tegur Cu

Tong Hoa sambil tertawa dingin.

“Ooooouw …….. kawan Cu, agar aku setuju, tidak sukar

syaratnya. Asalkan kau suka beritahu asal-asulmu yang

benar !”

“Tetapi ……… Pek-heng ! Apa ….. apa perlumu ?”

“Jika kau tidak setuju lebih baik cepat menggelinding

pergi dari sini, menanti perhitunganku dengan Tong

Congkoan telah selesai, aku bisa pergi mencari kau dengan

sendirinya.

“Pek-heng, kau sungguh-sungguh tidak suka memberi

muka kepadaku?”

“Benar! Jikalau benar-benar tak ada uang disini, harap

kalian panggil keluar Majikan Istana Harta untuk berbicara

dengan diriku …..”

“Pek Thian Kie, tindakanmu salah besar …….” Tiba-tiba

air muka Cu Tong Hoa berubah hebat.

“Tindakanku yang mana dianggap salah ?”

“uang yang mereka miliki tidak cukup, tidak seharusnya

kau orang menggunakan cara paksaan !”

“kalau aku hendak menggunakan kekersan kau mau apa

? untuk batalkan niatku ini mundur saja …….. kalian boleh

panggil majikan Istana Harta untuk keluar dan berbicara

beberapa patah kata dengan diriku !”

“Air muka Cu Tong Hoa berubah semakin hebat.

Bab 11 Cu Tong Hoa Majikan Istana Harta

KAWAN PEK ! Mari ……… mari ……. Mari ……..

selama hidup, aku memang paling suka mencampuri urusan

orang lain, sikap serta tindakan-tindakanmu ini sangat tidak

enak dipandang, maka itu aku sudah putuskan untuk

mencampuri urusan ini, “ teriaknya keras.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. kalau

begitu sangat bagus sekali,” teriak Pek Thian Kie pula

sambil tertawa dingin. “Orang she Kiang, kedelapan lembar

nyawa yang mati didalam Istana Harta adalah kau yang

turun tangan membinasakan mereka, tidak kusangka

sekarang kau bisa memperlihatkan wajah yang begitu rmahtamah.

Hmmmm ……….. justru aku ingin mencari kau

untuk bikin perhitungan.”

“Kaulah yang bernama Kiang To!”

“Kentut !”

“Haaaaaaa ? Kau berani memaki aku ……. Bagus ! Aku

bunuh dulu kau orang bentak Cu Tong Hoa gusara.

Begitu selesai berbicara badannya segera menubruk

kedepan sambil melancarkan serangan dasyatnya.

Dalam hati Pek Thian Kie pun mengerti bila kepandaian

silat dari Cu Tong Hoa tak boleh dipandang enteng,

sewaktu Cu Tong Hoa sedang menggerakkan badannya

meloncat kedepan, telapak tangannya segera disilangkan

kedepan dada menanti datangnya serangan tersebut.

Bayangan manusia berkelebat saling menyambar untuk

kemudian berpisah kembali.

Ilmu silat yang dimiliki, Cu Tong Hoa ternyata amat

tinggi sekali, sehinggarada diluar dugaan Pek Thian KIe,

tetapi sewaktu teringat bahwa nama besar Kiang To bisa

begitu terkenal di dalam dunia kangouw sudah tentu

kepandaiannya sangat lihay.

Oleh sebab itu, ia tidak begitu merasa kaget.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. nama besar

Kiang To ternyata bukan nama kosong belaka …………”

jengek pemuda itu dingin.

“Terima kasih ……….. terima kasih …………”

Tubuhnya kembali bergerak kedepan, serangan-serangan

yang dilancarkan keluar semakin santer, agaknya ia

bermaksud menjatuhkan Pek Thian Kie dalam waktu yang

singkat.

Pek Thian Kie sendiripun tidak ingin menunjukkan

kelemahannya, iapun membentak keras, sedang telapak

tangannya dengan membuat gerakan setengah lingkaran

ditengah udara dengan cepat ditabokkan kedepan.

Hanya didalam sekejap mata kedua orang itu masingmasing

sudah mengirim tiga jurus serangan terhadap pihak

lawan aja.

“Pek Thian Kie !” Mendadak terdengar Cu Tong Hoa

membentak dengan suara yang rendah. “Kau dengarlah,

jikalau kau merasa urusan berada diluar dugaanmu, lebih

baik jangan hentikan gerakkan tanganmu !”

Mendengar perkataan tersebut, Pek Thian Kie jadi

melengak, dengar sinar mata keheranan, ia memandang si

pengemis tersebut tajam-tajam.

“Terus terang aku beritahu kepadamu,” bisik Cu Tong

Hoa kembali. “Akulah Majikan dari Istana Harta ini

………”

“Apa ?” Kali ini Pek Thian Kie tak bisa membendung

perasaan kagetnya lagi, ia berseru tertahan.

Beberapa patah perkataan tersebut terasa bagaikan

halilintar yang membelah bumi disiang hari bolong.

Kepalanya terasa pening seperti dimartil. Kejadian ini betulbetul

berada diluar dugaannya.

“Pek Thian Kie, seluruh perkataanku adalah nyata ! Aku

tahu apa sebabnya kau paksa aku keluar, bukankah kau

mengira antara Istana Harta dengan Rumah Rejeki yang

disewakan ada sangkut pautnya ? Kau benar-benar bodoh

………..”

“Apa maksudmu ?”

“Kau benar-benar terlalu tolol, jikalau antara Istana

Harta dengan Rumah Rejeki yang disewakan ada sangkut

pautnya, mengapa tulisan tersebut bisa ditulis demikian

jelas sehingga sekali pandang saja orang-orang Bu-lim

sudah memahami semua ?”

Pek Thian Kie termenung, ia merasa perkataan tersebut

sedikitpun tidak salah.

“Pada mulanya aku anggap kau adalah Kiang To,” ujar

Cu Tong Hoa lebih lanjut. “Tetapi sekarang aku baru tahu

bahwa dugaanku ternyata tidak benar. Kau bukan manusia

itu, karena kemaren sewaktu kau lagi bergebrak melawan

orang lain, ia sudah masuk dan membinasakan wakil

Majikan Istana Harta, ketika kau masih berada diruang

belakang.”

Pek Thian Kie jadi tertegun.

“Apakah antara Kiang To dengan Istana kalian ada

ikatan permusuhan yang mendalam ?” tanyanya.

“Tidak ada ……… kau tahu mengapa aku sudah turun

tangan membinasakan si ular seratus bunga ?”

“Kenapa ?”

“Eeeei …. Aku beritahu padamu, tahun yang lalu

sebelum “Sin Mo Kiam Khek” Pek Thian Kie memasuki

rumah tersebut, ia sudah titipkan sebuah benda didalam

Istana Harta ini !”

“Benda apakah itu ?” Sang Pemuda berteriak tertahan.

“Soal ini kau jangan bertanya terlebih dahulu, benda ini

kendati kelihatannya tidak berharga, tapi “Sin Mo Kiam

Khek” sudah menggunakan tiga butir permata sebagai uang

tanggungan. Karena barang tersebut mahal harganya.

Cong-koan tidak berani terima dan laporkan urusan ini

kepadaku, akhirnya aku setuju untuk menyimpan barang

itu.”

Cu Tong Hoa merandek sejenak kemudian sambil

menghembuskan napas panjang sambungnya kembali :

“Selama ini barang-barang yang disimpan dalam Istana

harta, rahasianya bisa kita pegang tegug-teguh. Tetapi

mengenai peristiwa ini tidak disangka ternyata sudah tersiar

keseantero dunia kangouw…”

“Jadi Pek Hoa Coa si ular seratus bunga itu yang

membocorkan rahasia ini ?”

“Tidak salah ! si ular seratus bunga sudah kepincut

dengan Kiang To !”

“Kau ……. Kau maksudkan itu …………. Si ular seratus

bunga ………… usia si ular seratus bunga masih sangat

muda ?

“Sedikitpun tidak salah !” kembali Cu Tong Hoa

mengangguk.” Ia baru berusia duapuluh tahun. Coba kau

bayangkan ! Setelah peristiwa ini tersiar, ternyata Kiang To

sudah bersumpah akan mendapatkan benda ini, jelas sekali

kalau benda yang disimpan oleh kami sedikit banyak punya

hubungan erat dengan Kiang To …..”

“Ehmmm …….. tidak salah, tidak salah.”

“Bila kita tinjau persoalan tersebut lalu dihubungkan

pula dengan bangunan rumah aneh yang disewakan itu, aku

rasa agaknya peristiwa inipun hasil perbuatan dari Kiang

To !”

“Dari mana kau dapatkan alasan ini ?”

Karena sebelum Sin Mo Kiam Khek menyewa rumah

tersebut, agaknya ia sudah dapat mengetahui segalagalanya,

karena itu benda tersebut baru ia simpan didalam

Istana harta kami, bukankah sudah jelas sekali bila tujuan

dari si penyewa rumah tersebut hanya bermaksud untuk

memperoleh barang itu ?” Pek Thian KIe merasa pendapat

ini sedikit tidak salah, tanyanya lagi : “Kalau sudah melihat

sendiri barang yang dititpkan Sin Mo Kiam Khek ?…….

“Belum ia minta setahun kemudian barang itu harus

diserahkan kepada seseorang!”

“Siapa ?”

“Kiang To !”

“Apa ?” Pek Thian Kie ini betul-betul tersentak kaget.

“Ia perintahkan aku untuk serahkan barang itu kepada

muridnya Kiang To.”

“Lalu kenapa kau tidak serahkan kepadanya ?”

“Terus terang, aku beritahu padamu, dia bukan Kiang

To!”

“Apa maksud dari perkataanmu itu ?”

“Jikalau dia adalah Kiang To, maka sekalipun tidak

pergi mencuripun sama saja akan peroleh barang itu !

“Ehmmmmm ….. sangat beralasan ……. Sangat

beralasan.”

“Sin Mo Kiam Khek beritahu pada kami bahwa

muridnya baru akan muncul setahun kemudian,” sahut Cu

Tong Hoa kembali. “Sedangkan Kiang To itu sudah

muncul setengah tahun yang lalu, jelas sekali kalau Kiang

To yang asli pasti bukan dia!”

Mendadak …….. agaknya Pek Thian Kie pun sudah

menyadari akan sesuatu, ia pernah bertemu dengan orang

itu dan pihak lawanpun pernah berterus terang mengatakan

bila ia bukan Kiang To yang asli. Kiang To adalah orang

lain.

Siapakah orang itu ? Apa mungkin dirinya sendiri ?

Berbagai keadaaan yang ditemui selama ini

membuktikan bila kemungkinan besar dirinyalah Kiang To.

Cma samapai kini ia masih belum bisa memastikan, jika dia

adalah anak murid dari “Sin Mo Kiam Khek:,

Berpikir akan persoalan tersebut, Pek Thian Kie kembali

memandang wajah kawannya tajam-tajam.

“Benarkah Sin Mo Kiam Khek bernama Pek Thian Kie

?”

“Tidak salah !” Bahkan kemungkinan besar kau adalah

anak muridnya.

“Bagaimana kau bisa tahu ?”

“Karena kau adalah manusia yang mendatangi Istana

Harta kami setahun kemudian. Tempo dulu kau belum

pernah munculkan diri didalam dunia kangouw, bahkan

kaupun bernama Pek Thian Kie.”

Ketika itulah Pek Thian Kie mulai memastikan jika

dialah Kiang To yang dimaksudkan ……… Cuma ia belum

berhasil membuktikan kebenaran dari dugaan tersebut.

“Bukankah rumah itu sudah sangat lama sekali disewakan

kepada orang lain ?” seru Pek Thian Kie kemudian sk

mungkin kalau peristiwa ini hasil seperti sudah menyadari

akan sesuatu. “Tidak mungkin kalau peristiwa ini hasil

kerja dari Kiang To ……”

“Mungkin ! karena dari saku Sin Mo Kiam Khek ia tidak

berhasil menemukan barang yang dicari, maka terpaksa

mau tidak mau ia harus munculkan diri kedalam dunia

kangouw. Sekarang kau sudah paham bukan ?”

“Paham !”

“Kemungkinan besar, pada saat ini Kiang To masih

berada dalam Istana Harta.” Bisik Cu Tong Hoa lirih.

“Karena itu aku terpaksa harus berada di dalam ruangan

belakang terus dan melarang anak buahku membocorkan

asal-usulku yang sebenarnya……….”

“Macam apakah Kiang To itu ?”

Kejam, ganas, licik, banyak akal. Kesemua ini

merupakan watak yang sudah melekat dihati sanubarinya.

Sekarang kau boleh pergi, kau pergilah mengurusi

pekerjaanmu, jika ada persoalan aku bisa pergi mencari

dirimu, bagaimana pun juga kita harus bikin jelas persoalan

Kiang To ini.”

“Tapi ……… banyak persoalan aku masih belum jelas!

……..” teriak Pek Thian Kie melengak.

“Soal ini aku tahu,” potong Cu Tong Hoa tidak menanti

selesai berbicara. Tapi aku bisa beritahu kepadamu,

sekarang kau tidak usah tinggal disini lagi, karena hal ini

hanya mendatangkan banyak kerepotan saja buat diriku,

dan mulai sekarang kau harus bekerjasama dengan ku.”

“Bagus ! Kapan kau akan datang mencari diriku ?”

“Beberapa hari ini!”

“Aku percaya padamu.”

Seluruh pembicaran ini mereka lakukan masih dalam

keadaan bergebrak, apa lai nada ucapannya amat perlahan

dan lirih, karena itu kecuali mereka berdua tak ada yang

mendengar lagi apa yang sedang mereka bicarakan.

Mendadak ………….

Cu Tong Hoa membentak keras, telapak tangannya

dengan gencar mengirim satu pukulan mendesak mundur

musuhnya kemudian badannya mencelat mundur sejauh

satu kaki lebih.

“Tahan !”

“Ada apa ?” sengaja Pek Thian Kie berseru ketus, sambil

menarik kembali serangannya, iapun meloncat mundur

kebelakang.

“Dengan kepandaian silat serta kesempurnaan tenaga

iweekang yang kita miliki sekalipun bergebrak selama tiga

hari tiga malampin tak ada habis-habisnya, diantara kita

tiada ikatan sakit hati maupun dendam, kenapa kau tidak

suka kasih sedikit muka untukku ?”

“Baiklah !” pura-pura Pek Thian Kie berpikir sebentar,

“Tapi didalam tiga hari mendatang aku pasti akan datang

kembali untuk ambil uang tersebut.”

Ketika Pek Thian Kie baru saja selesai berbicara,

mendadak pintu ruangan biru terbuka, dan muncullah sang

pemuda yang menggembol pedang tadi mengikuti dari

belakangnya seorang kakek berpakaian perlente.

“Ciangkwee !” terdengar si kakek tua berpakaian perlente

itu berseru. “Kepandaian ilmu pedang dari saudara ini

sangat mengagumkan sekali, berikanlah kepadanya seribu

tahil emas.”

“Baiklah,” sang Ciangkwee itu menoleh dan

memandang sekejap kearah sang pemuda tersebut, “Seribu

tahil emas ini kapan hendak kau ambil ?”

“Dalam Tiga hari kemudian.”

“Baik……. Baik ……. Kami akan persiapkan untuk

saudara, bila kau merasa buruh setiap saat boleh datang

untuk mengambil.”

“Terima kasih cayhe mohon diri terlebih dahulu.”

Melihat kejadian itu berbalik Pek Thian Kie yang dibuat

tertegun, ia tidak mengerti mengapa sang pemuda yang

menggembol pedang ini tidak sekalian membawa pergi

uang seribu tahil emasnya, malahan dititipkan untuk

sementara waktu disana ?

Sementara pemuda itu berlalu, Pek Thian Kie menoleh

kearah sang Ciang-kwee.

“Siapa orang itu ?” tanyanya perlahan.

“Maaf hamba tak berani memberi jawaban, aku orang

punya kewajiban untuk merahasiakan namanya.”

Pek Thian Kie tertawa tawar, tanpa banyak cakap lagi ia

lantas berlalu meninggalkan tempat itu dan menguntil dari

belakangnya.

Didalam hai ia ada maksud untuk mengetahui siapakah

dia dan apa maksudnya minta uang sebesar seribu tahil

emas.

Selagi Pek Thian Kie sedang melakukan penguntilan

itulah mendadak dari belakang badannya berkumandang

datang suara teguran : “Pek-heng, kau mau berangkat ?”

Terlihatlah Tong Liem, kawan yang baru saja ia kenal

tidak lama sudah muncul dari belakang tubuhnya.

Pek Thian Kie lantas mengangguk

“Tidak salah, aku mau pergi, maaf aku harus berlalu satu

langkah lebih cepat.”

“Pek-heng, kenapa kita tidak berangkat bersama-sama?”

“Bukankah kau ingin pinjam uang?”

“Benar …… benar…… Cuma …… aku takut berada

disini seorang diri. Aku lihat tempat ini bukan suatu tempat

yang aman, aku tidak jadi pinjam uang.”

Mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba Pek Thian KIe

merasakan hatinya rada bergerak.

“Ia sudah datang kemari untuk pinjam uang, tapi

sewaktu melihat aku ingin berlalu, ia lantas batalkan

maksudnya ……… dia ………. Mungkinkah ia sedang

menguntit diriku ? …… “ pikirnya didalam hati ……

baiklah ! ….. Aku ingin melihat siapakah kau orang …..”

Berpikir akan persoalan tersebut, ia balik bertanya.

“Jadi maksudmu ?”

“Aku ingin berangkat mengikuti dirimu.”

Kontan Pek Thian Kie merasakan hatinya tergetar sangat

keras. Sedikitpun tidak salah ! Terang-terangan orang ini

ada maksud hendak menguntit didinya. Tak kuasa sang

pemuda tersebut merasakan badannya merinding, bulu

roma pada bangun berdiri.

“Apa mungkin dialah si manusia yang bernama Kiang

To ?” kembali pikirnya.

Pek Thian kie merasakan hatinya samakin bergidik,

diam-diam matanya melirik sekejap.

Ketika itu Tong Liem masih beridir ditempat semula

dengan satu senyuman manis menghiasi bibirnya,

“Kalau kau ingin ikut marilah !” sahutnya kemudian.

Selesai berkata dengan cepat ia meluncur keluar dari

Istana. Sekarang, Pek Thian Kie harus mengejar pemuda

yang menggembol pedang itu dan lihat berasal dari

manakah pemuda tersebut, betulkah dia orang sunggugsungguh

berniat untuk menyewa rumah aneh itu ?

Jikalau dugaannya benar, ia harus turun tangan

menghadang atau setidak-tidaknya mendahului pemuda itu

satu tindak !

Pek Thian Kie sekeluarnya dari pintu Istana, laksana

kilat ia meluncur kurang lebih sepuluh kaki kedepan

kemudian berkelebat kearah muka, sebentar kemudian

ditemuinya pemuda misterius tersebut sedang berjalan

menerobosi sebuah hutan.

Pek Thian Kie menguntit lebih jauh.

Mendadak pemuda tersebut berhenti dan mencelat

secepat kilat menoleh kebelakang, empat mata bertemu jadi

satu tak terasa lagi Pek Thian Kie menghentikan langkah

kakinya.

Agaknya sang pemuda tersebut sudah menemukan bila

jejaknya sedang dikuntit orang lain, setelah berdiri tertegun

beberapa saat kembali melanjutkan perjalanannya kemuka.

Pek Thian Kie yang melihat jejaknya konangan alisnya

kontan dikerutkan, mulai saat ini ia tak dapat melakukan

pengintai lagi secara terang-terangan.

Ia merandek sejenak, menanti sang pemuda tersebut

sudah berlalu agak jauh ia baru melanjutkan kembali

kuntitannya kearah muka.

Siapa nyana, didalam waktu yang amat singkat itulah

bayangan tubuh dari pemuda tersebut sudah lenyap tak

berbekas.

“Aduuuuh ……. Celaka !” teriak Pek Thian Kie dalam

hati, tubuhnya menyambar lewat dan melakukan

pengejaran secepat kilat.

Gerakan tubuh dari Pek Thian Kie kali ini benar-benar

amat cepat, dimana bayangan tubuh berkelebat lewat, ia

sudah berada ditempat semula pemuda tersebut berdiri.

Matanya dengan cepat menoleh keempat penjuru,

telingga dipentang lebar-lebar dan perhatian dipusatkan jadi

satu. Tapi tak sesosok bayangan manusiapun yang nampak.

Tak terasa lagi Pek Thian Kie jadi melengak dibuatnya.

Suara tertawa dingin bergema memecahkan kesunyian,

sesosok bayangan turun dari tengah udara dan tahu-tahu

sudah berdiri dihadapan Pek Thian Kie.

Pek Thian kie merasa bergidik hatinya, buru-buru ia

mundur satu langkah kebelakang.

Terlihatlah pemuda yang menggembol pedang tadi pada

sat ini sudah berdiri dihadapannya dengan sikap dingin,

angkuh dan menyeramkan.

“Aaaaaakh ……!” Pek Thian Kie berteriak tertahan,

hatinya berdesir dan ia mengerti bila dirinya sudah kena

dijebak.

“Kawan !” Tegur sang pemuda menggembol pedang itu

dengan wajah penuh kegusaran. “Apa maksudmu

menguntit perjalanan cayhe ?”

Untuk beberapa waktu Pek Thian Kie tak sanggup

mengucapkan sepatah katapun, ia membungkam dalam

seribu bahasa.

Melihat pihak lawan tidak memberi jawaban, air muka

pemuda tersebut berubah semakin hebat.

“Cepat jawab, siapakah kau ?” bentaknya murka.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee……. dan saudara

sendiri ?” balas Pek Thian Kie sambil tertawa dingin.

“Jawab dulu siapakah kau dan apa maksudmu menguntit

perjalanan cayhe ! jika kau membandel hmm ! Jangan

salahkan cayhe segera akan turun tangan kejam.”

Beberapa patah kata ini diutarakan dengan nada yang

dingin, kaku dan ketus, sepasang matanya dengan

memancarkan cahaya dingin melototi wajah Pek Thian Kie

tak berkedip.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee……. jalanan ini

juga bukan milikmu, aku mau lewat disini atau tidak, apa

sangkut pautnya dengan dirimu ? Belum tentu aku sedang

menguntit kau orang !”

“Ooooouw ….. jadi kau masih ingin berlagak pilon ?”

“Bukannya berlagak pilon, tapi kenyataan !”

“Bangsat ! Kau mau berterus terang tidak kepadaku, apa

maksudmu menguntit diriku ?” Sekali lagi pemuda itu

membentak Pek Thian Kie dengan sepasang mata melotot

lebar-lebar.

“Jika aku tidak suka bicara ?”

“Akan kupaksa kau untuk menjawab !”

Tak kuasa lagi Pek Thian Kie mendongakkan kepala

tertawa tergelak.

“Haaaa……….haaaa…………haaaa……. kalau begitu

kau boleh coba-cba.”

“Bangsat kau cari mati …..”

Belum habissuara teriakan tersebut meluncur keluar, satu

pukulan yang dasyat sudah menerjang kearah dada Pek

Thian Kie.

Pek Thian Kie yang di serang segera mendengus dingin,

badannya miring satu langkah kesamping, tangannya

dengan gerakan dari bawah menuju keatas menunci dirinya

dari serangan musuh.

“Tahan !” teriaknya cepat

“Apa yang ingin kau ucapkan kembali ?”

“Kau benar-benar ingin paksa aku untuk turun tangan ?”

“Tidak salah, kecuali kau suka menyebutkan siapakah

kau ?”

“Aku lihat lebih baik kau urungkan saja niatmu itu

….heeeee……….heeeee…………heeeee……. karena aku

lihat yang bakal rugi adalah kau sendiri.”

“Kalau kau tak percaya …… Nih ! cobalah bagaimana

rasanya kepalanku !”

Begitu pemuda tersebut selesai berteriak, bayangan tubuh

berkelebat lewat, sekali lagi ia melanjutkan tubrukan

kedepan.

Serangan yang dilancarkan kali ini betul-betul cepat

laksana sambaran petir, bahkan kesempurnaan dari jurus

serangannya sangat luar biasa. Pek Thian Kie merasakan

hatinya bergidik, buru-buru ia menyingkir kesamping.

Baru saja ia berhasil meloloskan diri, serangan kedua

dari pihak lawan kembali sudah menggulung datang.

Bab 12 Jatuh Cinta

PEK THIAN KIE tertawa dingin telapak tangannya

disilangkan didepan dada menangkis datangnya serangan.

Kepandaian ilmu silat yang dimiliki Pek Thian Kie saat

ini sudah mencapai taraf kesempurnaan, bilamana

tangkisannya ini ia menggunakan seluruh tenaga, jangan

dikata sang pemuda yang menggembol pedang ini tak akan

sanggup untuk menerimanya, sekalipun siapapun jangan

harap bisa menahan pukulan tersebut.

Tetapi didalam tangkisannya barusan ini, ia Cuma

menggunakan enam, tujuh bagian tenaga saja.

“Braaaak …… !” ditengah suara bentrokan yang sangat

keras tubuh pemuda penggembol pedang itu tergetar

mundur tiga langkah kebelakang, sedangkan Pek Thian Kie

sendiripun tergetar mundur dua langkah kebelakang.

Belum habis mereka mengatur pernapasan, sang pemuda

penggempol pedang itu sudah menggembol keras dan sekali

lagi menubruk kearah musuhnya.

Bayangan manusia berkelebat menyilaukan mata,

berturut-turut ia sudah mengirim tiga buah pukulan

sekaligus.

Tiba-tiba …….

Seluruh tubuh Pek Thian Kie berkerut dan menyusut

diikuti gemetar sangat keras.

“Aduuuuh …… celaka !” teriakanya terperanjat.

Kiranya setiap hari setelah mendekati waktu ini, maka

penyakit sakit hatinya akan kumat kembali, dan kini

sewaktu menghadapi musuh tangguh ternyata penyakit

tersebut kembali sudah kambuh.

Diiringi suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati,

tubuhnya oboh keatas tanah.

Pemuda itu roboh bukan disebabkan terkena pukulan,

melainkan karena penyakitnya kambuh, saking sakitnya

seluruh tubuh berkerut kencang dan seperti ditusuk-tusuk

dengan beribu-ribu batang anak panah, sehingga akhirnya

saking tak tahannya, ia roboh keatas tanah.

Melihat musuhnya roboh sang pemuda penggembol

pedang tersebut dangan cepat menyambar ujung baju Pek

Thian Kie dan diangkatnya keatas.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… dengan

mengandalkan kepandaian secetek itu, kau masih ingin

menguntit diriku …… Hmm ! Sungguh tidak tahu diri,”

ejekan sambil tetawa dingin.

“Sungguh suatu lelucon ? Pemuda penggembol pedang

tersebut masih mengira Pek Thian Kie roboh disebabkan

terkena angina pukulannya.

Waktu itu, saking sakitnya hampir-hampir saja Pek

Thian KIe roboh tak sadarkan diri, merasakan dirinya

diangkat, ia tak dapat berkutik bahkan untuk berbicarapun

tak sanggup.

“Siapa kau ?” kembali pemuda itu membentak keras.

Tapi ….. dapatkah Pek Thian Kie buka suara pada

waktu itu ?

Tiba-tiba ……..

“Kawan, lepaskan orang itu !” dari balik hutan bergema

suara bentakan seseorang yang sangat dingin.

Terlihatlah Tong Liem dengan sebat sudah meluncur

masuk ketengah kalangan.

“Siapakah kau ?” tegur pemuda itu sembari tertawa

dingin.

“Soal ini kau tak perlu tahu.”

“Orang ini apakah kawanmu ?”

“Tidak salah.”

“Apa maksudnya dia menguntit diriku ?”

“Benarkah dia sedang menguntit dirimu, soal ini aku

merasa kurang jelas, pokoknya aku perintahkan sekarang

juga kau lepaskan orang itu !”

“Jika aku merasa keberatan ?’ Tong Liem tertawa dingin

semakin seram

“Jika aku kepengin membinasakan dirimu, gampang

seperti membalikkan telapak tangan sendiri, kau tidaka

percaya ?”

“Sungguh besar bacot anjingmu. Aku lihat kau hendak

gunakan cara apa untuk membinasakan diriku.”

“Jadi kau sungguh tiada maksud untuk melepaskan

dirinya ?” bentak Tong Liem dengan air muka berubah

hebat.

“Betul …… betul …… aku tidak akan lepaskan orang

ini, akan ku lihat kau punya kepandaian seberapa lihay.”

“Bangsat, kau cari mati …….”

Ditengah suara bentakan yang sangat keras, tubuh Tong

Liem sudah meluncur maju kedepan.

Ditengah berkelebatnya cahaya tajam yang menyilaukan

mata, ia sudah melancarkan satu cengkeraman kearah

punggung pemuda tersebut.

Serangan cengkeraman ini boleh dikata cepat laksana

sambaran kilat ditengah udara.

Tergopoh-gopoh pemuda tersebut berkelit kesamping,

lalu menangkis dengan tangan kanannya, setelah itu

menggunakan kesempatan yang sangat baik itu mundur

kearah belakang.

Sungguh patut disayangkan, gerakan pemuda tersebut

rada terlambat satu tindak, tahu-tahu telapak kiri pihak

lawan sudah menyambar kembali dihadapan wajahnya.

“Aduuuuuuuuuh ……. Cialat ……. !” tak kusangka lagi

pemuda itu menjerit tertahan, terburu-buru berkelit

kesebelah kiri.

Tetapi, tangan kanan dari Tong Liem sudah menyambar

lewat dan tepat menghajar diatas badannya.

Suara dengusan berat bergema memenuhi angkasa,

tubuh pemuda yang menggembol pedang itu sudah kena

tertotok sehingga berdiri kaku ditengah kalangn, sedangkan

tubuh Pek Thian Kie yang berada ditangannpun terjatuh

kembali keatas tanah.

Hanya didalam tiga jurus serangan ternyata Tong Liem

berhasil menotok roboh sang pemuda menggembol pedang

itu, kelihayan dari ilmu keoandaiannya benar-benar

mengejutkan sekali.

“Saudara!” terdengar Tong Liem menegur sambil

tertawa dingin. “Jika aku kepingin mencabut nyawamu ,

bukankah sangat gampang seperti membalik telapak tangan

sendiri ?”

Nyali pemuda tersebut benar-benar sudah dibuat pecah

oleh kelihayan ilmu silat pihak lawan. Selama hidup

rasanya belum pernah dia melihat seseorang memiliki

kepandaian silat yang sedemikian lihaynya. Kejadian ini

boleh dikata merupakan peristiwa yang belum pernah

terbayangkan selama ini.

Kembali Tong Liem tertawa manis.

“Mengingat antara kau dengan diriku tiada ikatan sakit

hati apa-apa, maka aku tidak ingin menyusahkan dir lebih

jauh.”

Tangan kanannya dengan cepat digerakkannya menepuk

bebeas jalan darah sang pemuda tersebut.

“Sekarang kau boleh berlalu !” bentaknya.

Pemuda itu tetap berdiri tertegun ditengah kalangan,

hampir-hampir ia tidak mempercayaai apa yang sedang

dilihatnya saat ini.

Kepandaian ilmu silat yang dimilki pemuda berbju hijau

ini benar-benar luar biasa tingginya, sehingga susah dijajaki.

“Hmmmmm ! saudaratidak ingin berlalu dari sini,

mungkin ingin cari mati?” bentak Tong Liem kembali.

Bagaikan baru saja terbangun dari impian buruk,

pemuda itu tertawa pahit, akhirnya putar badan dan berlalu

dari sana dengan langkah terburu-buru.

Pada waktu itu Pek Thian Kie masih berguling-guling

diatas tanah, karena kesakitan, air mukanya pucat pasi

bagaikan mayat, keringat dingin sebesar kacang kedelai

keluar tiada hentinya membasahai hampir seluruh tubuh.

“Pek-heng kenapa kau ?” tegur Tong Liem dengan hati

sangat kuatir.

“Aku …… aku ….. sakit hati.”

“Sakit hati ?”

“Benar ! …..”

Sembari berbicara, Pek Thian Kie tetap mencekali

lambungnyanya kencang-kencang.

Tong Liem tidak mengerti apa yang sedang

dimaksudkan, akhirnya dengan ali yang dikerutkan rapatrapat

ia berjongkok dan menggendong tubuh Pek Thian Kie

kedalam pelukannya.

Seluruh tubuh Pek Thian Kie gemetar sangat keras,

tubuhnya tanpa bisa dicegah lagi lantas jatuh kedalam

pelukan Tong Liem.

“Kau sudah rada baikan ?” Tanya Tong Liem rada

melengak.

“Baik …… ! sedikit baikan …..terima kasih heng-thay….

Terima kasih heng-thay suka menolong diriku….”

“Aaaaaakh …… Cuma soal kecil ini, kenapa kau harus

ucapkan terima kasih kepadaku ?”

Mendadak Pek Thian Kie merasakan bahwa

punggungnya yang menempel pada pangkuan Tong Liem

seperti sudah terganjal oleh sebuah benda empuk yang

sangat aneh dan misterius sekali bentuknya, disamping itu

tercium pula sejenis bau wangi yang merangsang melayang

masuk kedalam hidungnya …..

Pada mulanya Pek Thian Kie rada melengak, tapi

sebentar kemudian satu ingatan sudah berkelebat didalam

benaknya…..

“Aaaaaaakh …… dia adalah seorang gadis yang sedang

menyaru sebagai lelaki ……”

Tak tertahan lagi badannya segera meronta bangun,

kemudian dengan nada gemetar tanyanya :

“Kau …..”

“Aku ….. kenapa aku ? ……. “ melihat kawannya kaget,

Tong Liem jadi melengak dinuatnya.

“Kiranya kau adalah …..”

“Kenapa aku ? Aku adalah apa ?” Tong Liem semakin

kebingungan lagi.

“Kau adalah seorang gadis !”

Mendengar perkataan tersebut air muka Tong Liem

kontan saja berubah jadi merah padam, bagaikan buah

Tauw yang sudah masak.

“Benar …… benar ….. aku …… aku adalah seorang

gadis …… akhirnya ia menyahut malu-malu.

Untuk beberapa waktu lamanya Pek Thian Kie berdiri

temangu-mangu disana, matanya memandang wajah

pemuda berbaju hijau atau tepatnya gadis tersebut dengan

pandangan mendelong. Peristiwa ini benar-benar

merupakan suatu kejadian yang sama sekali tak terduga

olehnya.

“Kau tak menyangka bukan ?” tegur Tong Liem sambil

tertawa.

“Benar ! Aku tidak menyangka kalau kau adalah seorang

gadis !”

“kalau kau orang sudah tahu, tak apalah, anggap saja

kau adalah manusia yang paling beruntung. Cuma ….. kau

jangan beritahukan kepada orang lain loo ….!

“Aku …… aku tak akan memberitahukan soal ini kepada

orang lain, karena kau ….. kau sudah menolong aku lolos

dari mara bahaya !”

Kembali Tong Liem tertawa.

“Sebenarnya aku ada maksud untuk mengikuti terus, tapi

sekarang kau sudah tahu kalau aku adalah seorang gadis

rasanya jika kita harus melakukan perjalanan bersama-sama

rada kurang leluasa, maka dari itu, aku terpaksa harus pergi

satu tindak terlebih dahulu.”

Berbicara sampai disitu ia lantas berkelebat dan berlalu

dari sana.

“Nona …… tunggu sebentar !” mendadak Pek Thian Kie

berteriak keras.

“Kau masih ingin mennayakan urusan apa lagi ?”

“Aku …… bolehkah aku mengetahui namamu yang

sebenarnya ?”

“Aku ? Ooooouw …. Aku bernama Tong Ling !”

“Nona Tong! ….. “

Bibir Pek Thian Kie sudah digerakkan tetapi sebentar

kemudian ia sudah batalkan maksudnya untuk berbicara,

agaknya apa yang ingin ia ucapkan keluar serasa kurang

sesuai untuk didengarkan gadis tersebut, kendati begitu air

mukanya menunjukkan suatu sikap yang amat aneh sekali.

“Eeeeeei ….. sebetulnya kau ada urusan apa ?

Katakanlah secara terbuka …. Seru Tong Ling kembali

sambil tertawa pahit.

“Aku …… aku …… aakh ….. aku tidak apa-apa !”

“kau membutuhkan kawan lain jenis ?”

“Kemungkinan sekali ?”

Perlahan-lahan diatas wajah Tong Ling terlintas suatu

perasaan amat sedih dan murung.

“Aku memahami kesunyianmu, dan hal ini sama pula

dengan kesunyian yang aku rasakan, orang-orang muda

kebanyakan memang tak bakal terhindar dari soal cinta,

Cuma saja ………”

Ia menghela napas panjang dan menahan kembali katakata

selanjutnya yang tidak sempat diucapkan …..

Akhirnya dengan membawa wajah murung, ia berlalu dari

sana.

Melihat gadis itu berlalu, Pek Thian Kie lama sekali

berdiri melongo.

Secara tiba-tiba ia merasakan hatinya sangat kecewa,

pikirannya bagaikan kosong …… mungkin perkataan dari

Tong Ling sedikitpun tidak salah …. I membutuhkan

seorang kawan lawan jenis.

Dan kebutuhan tersebut bukan lain adalah ……. Cinta.

Tetapi jika ditinjau dari keadaan yang dihadapinya saat

ini, ia tak mungkin untuk membicarkan persoalan ini.

Masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, apalagi

raut muka serta bentuk badannya bukan suatu perawakan

yang menarik bagi kaum gadis.

Akhirnya ia tertawa pahit, pikirnya dalam hati :

“Aku harus pergi ke Istana Arak atau Istana Perempuan,

aku harus memperoleh sebotol arak “Giok Hoa Lok” serta

seorang gadis cantik setelah itu pergi menyewa rumah

tersebut …… aku tak akan membiarkan siapapun untuk

mendahului diriku …..!”

Setelah mengambil keputusan, iapun mulai

menggerakkan badan berlalu dari sana …… pikirannya

sangat bingung …… bingung bagaikan menghadapi asalusulnya

sendiri ……”

Istana Arak letaknya disebelah selatan gunung Coa san,

dari gunung Liong-san menuju gunung Coa-san kurang

lebih ada seratus lie jauhnya.

Bagi setiap orang yang mengerti minum arak, rasanya

tak bakal ada yang kenal nama dari Istana Arak tersebut.

Di dalam Istana Arak terdapat arak wangi serta arakarak

terkenal, asalkan setiap orang punya kepandaian lihay,

maka tanpa merogoh saku lagi, tentu bisa minum arak

sampai mabok …..

Seperti halnya pula dengan Istana Harta, asalkan kau

memiliki kepandaian silat tinggi, maka setiap saat bisa

datang kesana untuk minta uang.

Secara bagaimakah Istana Arak, Istana Perempuan serta

Istana Harta itu didirikan ? Mengapa ada orang yang

melakukan perbuatan yang demikian anehnya, tak seorang

jago kangouw yang tahu.

Hari itu …….

Seorang pemuda kurus kering yanag sangat lemah

muncul didepan Istana Arak dengan langkah yang amata

lambat.

Seorang kakek tua berbaju hijau menjaga didepan pintu

dengan sinar mata tajam, lantas memperhatikan pemuda

kurus tersebut, beberapa saat kemudian ia maju kedepan

menjura.

“Apakah saudarapun ada maksud untuk mengunjungi

istana kami ?” tegurnya lambat.

“Benar!”

“Tolong Tanya siapakah nama majikan saudara ?”

“Cayhe Pek Thian Kie.”

“Apa ? Pek Thian Kie ?” teriak si kakek berbaju hijau itu

hampir-hampir mencelat ketengah udara saking kagetnya

terhuyung-huyung ia mundur dua, tiga langkah kebelakang.

Melihat sikap sang kakek tua yang amat aneh, Pek Thian

Kie jadi melengak.

“Kau kenapa ? Apakah ada sesuatu yang tidak beres ?’

“Oooouw …… tidak mengapa ………. Tidak mengapa

……….. mari ………. Mari ……… silakan masuk !”

Dengan angkuh Pek Thian Kie melanjutkan kembali

langkahnya masuk kedalam.

Tampaknya ruangan Istana Arak sangat luas, didalam

sebuah ruangan tampak tiga puluh meja tersebar dimanamana,

saat ini kurang lebih ada dua puluh orang sedang

minum arak.

Ketika Pek Thian Kie hendak berjalan masuk melalui

pintu besar, seorang dara berbaju hijau menyambut

kedatangannya.

“Selamat datang kedalam istana kami, silakan duduk,

silakan duduk ! ….. serunya berulang kali.

Agaknya dara berbaju hijau tersebut adalah gadis

pelayan khusus melayani para tetamu yang mengunjungi

Istana mereka.

Dengan mengikuti dari belakang dara tersebut,

sampailah Pek Thian Kie didepan sebuah meja, ia lantas

duduk.

“Tentunya saudara baru pertama kali ini mengunjungi

istana kami bukan ? ….. tegur dara berbaju hijau itu

memecahkan kesunyian.

“Benar !”

“Untuk minum arak disini kami mempunyai beberapa

peraturan.”

“Peraturan ? Apa Peraturannnya ?”

“Untuk minum arak, kami bagi menjadi tiga kelompok !”

“Ehmmmm ….. apa saja ketiga kelompok itu ?”

“Atas, tengah dan bawah ….. Arak yang termasuk paling

atas dipersembahkan kawan-kawan Bu-lim seperti

Ciangbujin, ketua perkumpulan dan lain-lainnya. Arak yang

termasuk kelompok tengah diberikan untuk para jago-jago

kelas wahid. Sedangkan arak kelompok bawah adalah arakarak

yang diminum kawan-kawan Bu-lim tingkat biasa.

Entah sakarang kau minum arak macam apa ?”

“Didalam Arak kelompok atas dibagi pula beberapa

macam arak ?” Tanya Pek Thian Kie lagi setelah berpikir

sejenak.

“Arak “Hoa Lok”, Arak “Lok Siang” serta Arak “Sim

Mie” tiga macam.”

Mendengar hanya macam itu saja, Pek Thian Kie jadi

melengak.

“Lalu macam apa saja dalam kelompok Arah Menengah

?”

“Arak “Tan Siang” Arak “Giok Peng” serta Arak “Sam

Jie Cui” Tiga macam.”

Sekali lagi Pek Thian Kie dibuat melengak, didalam dua

kelompok arak tersebut ternyata sama sekali tidak terdapat

kata-kata arak “Giok Hoa Lok” Apakah arak tersebut

termasuk dalam arak kelompok terendah ?

“Bagaimana pula dengan arak kelompok terbaeah ?”

akhirnya ia bertanya juga.

“Arak “Cun Siang” Arak “Shia Liang” Arak “Ciu

Suang” serta arak “Tong Luan” empat macam. !!

Untuk sesaat lamanya Pek Thian Kie dibuat duduk

mematung dengan mulut melongo-longo. Arak “Giok Hoa

Lok” merupakan arak yang termahal dikolong langit pada

saat ini, dan katanya arak tersebut hanya terdapat didalam

Istana Arak saja ?

Kini, ternyata gadis berbaju hijau tersebut sama sekali

tidak mengungkap soal arak macam itu.

Lalu apa maksudnya ? dan dimanakah letak “Ceng-li

dari persoalan ini ?……

Tak terasa lagi kembali ia bertanya :

“Sudah tidak ada golongan arak lain lagi ?”

Dara berbaju hijau itu meleng.

“Sungguh tidak ada !”

“Aaaaakh ….. ! Tidak mungkin ….. masih ada yang lain

kan ?”

“Mau pecaya atau tidak terserah padamu. Sekarang kau

ingin minum arak dari tingkatan yang mana ?”

“Arak kelompok teratas !”

“Aku piker belum tentu kau orang bisa …… “ jengek

sang gadis dinginnya

“Kenapa Tidak bisa ?’

“Arak kelompok terats hanya diperuntukan para jagojago

lihay yang sudah punya nama besar dalam dunia

persilatan …..”

“jadi kau anggap aku bukan seorang jagoan lihay yang

sudah punya nama besar dalam Bu-Lim ?” teriak Pek Thian

KIe dengan air muka berubah hebat.

“Tidak berani ……. Tidak berani …….! Kalau begitu

biarlah aku laporkan dulu persoalan ini kepada Ciang-kwee

!”

Sembari berkata dengan langkah yang lemah lembut, ia

berjalan menuju kemeja sang Ciang-kwee dan membisikkan

sesuatu kepada seorang wanita cantik setengah tua.

Pek Thian Kie menarik kembali sinar matanya dan

dialihkan kearah luar pintu Istana …..

Mendadak ……

Ia menemukan seorang dara berbaju hijau dengan

memimpin seseorang berjalan massuk kedalam Istana, dua

orang itu bukan lain adalah sang pemuda yang menggembol

pedang itu.

Pek Thian Kie merasakan hatinya berdebar keras, burburu

ia melengos kesamping.

Jilid 5

Bab 13 Murid jagoan Pedang Penakluk Naga

SANG pemuda yang menggembol pedang ini pernah

munculkan dirinya didalam Istana Harta. Seratus persen

kedatangannya kedalam Istana Arak pasti disebabkan arak

“Giok Hoa Lok” tersebut.

Kini sudah jelaslah terbukti kalau pemuda menggembol

pedang itu ada maksud untuk menyewa rumah aneh

tersebut, hanya saja ia belum berhasil mengetahui asal-usul

serta keadan yang sebenarnya dari pihak lawan, serta

mengapakah ia melakukan tindak tanduk yang demikian

rahasianya ?”

Sewaktu Pek Thian Kie sedang berpikir keras didalam

hatinya, dara berbaju hijau itu sudah bertanya kepada sang

pemuda menggembol pedang :

“Saudara ingin minum arak yang macam apa ?”

“Aku dengar didalam istana kalian terdapat semacam

arak terkenal yang luar biasa wanginya ?”

“Bukan kami mengibul, arak yang terdapat dalam Istana

kami kendati dari tingkatan terendah pun jauh lebih keras

dari arak tingkatan teratas yang ada dijual dalam kota,” ujar

dara berbaju hijau itu sambil tertawa.

“Soal ini aku sih tahu, apakah ada arak yang bernama

Giok Hoa Lok ….?”

“Arak Giok Hoa Lok?”

Dara berbaju hijau itu tak dapat menahan rasa kejut

dalam hatinya sehingga ia berseru tertahan.

Pek Thian Kie sendiripun terperanjat, Aaaaakh ….!

Sedikitpun tidak salah, kedatangan pemuda menggembol

pedang ini tidak lain dikarenakan arak “Giok Hoa Lok”.

“Tidak salah ! Arak Giok Hoa Lok.” Terdengar sang

pemuda menggembol pedang itu sedang menyahut.

“Tapi arak golongan ini tidak diperuntukkan buat orangorang

bu-lim !”

“Aku tahu dan aku ingin arak macam itu !”

Dara berbaju hijau tersebut lantas tersenyum.

“Ada dua macam orang saja yang bisa minum araj ini,”

katanya

“Siapa saja! Coba nona terangkan!”

“Orang perempuan dan anak-anak!”

“Kalau begitu aku tak bisa minum arak itu?”

“Benar, bahkan walaupun arak ini hanya diperuntukan

buat kaum gadis dan anak-anak, ada syarat-syaratnya pula.

Pertama dengan tenaga Iweekang yang paling tinggi,

tumpahkan dulu arak dalam cawan keatas meja, setelah itu

menghisap kembali, sehingga masuk kedalam botol.”

Lama sekali pemuda menggembol pedang itu berdiam

diri tidak berkata, sesaat kemudian dengan suara yang

rendah bisiknya :

“Sedikit benda ini aku berikan buat nona untuk beli

bedak dan gincu, harap kau sudah sedikit memahami

kesulitanku !”

Pek Thian kie miringkan matanya melirik, tampaklah

benda yang diberikan pemuda menggembol pedang tersebut

kepada dara berbaju hijau itu bukan emas, melainkan

sebutir permata warna hijau yang memancarkan cahaya

tajam.

Setelah diberi sebutir permata sedemikian indahnya,

sikap dari dara berbaju hijaupun berubah, terdengar ia

tertawa merdu.

“Kalau begitu, akan kucarikan akal buat dirimu,”

sahutnya.

Habis berkata dengan langkah yang lemah gemulai, ia

berlalu dari sana.

Pek Thian Kie kerutkan alisnya, dalam hati ia berpikir

keras untuk mencari sebuah akal yang bagus …………

Waktu itulah, dara berbaju hijau itu sudah kembali lagi,

kepada sang pemuda uajarnya :

“Bilamana saudara ingin minum arak kelompok teratas

tidak sukar, asalkan kau suka perlihatkan sedikit

kepandaian agar aku bisa menilai apakah kau berhak untuk

minum arak kelompok teratas ini atau tidak.”

“Ooooou ….. soal itu tidak sulit !”

Sembari berkata Pek Thian Kie mengerakan tangan

kanannya menggapai kedepan, cawan arak yang berada di

tangan seorang lelaki bercambang dihadapannya tahu-tahu

sudah melayang kearah pemuda tersebut.

Melihat cawan arak yang berada ditangannya mendadak

melayang sendiri ketengah udara, lelaki bercambang itu jadi

terperanjat sekali, sepasang matanya terbelalak besar

bagaikan genta.

Ketika cawan arak itu melayang tiga depa dihadapan Pek

Thian Kie, kembali pemuda tersebut menggerakkan tangan

kanannya kebelakang, cawan arak yang semula sudah

melayang jauh kemuka saat ini melayang kembali keatas

tangan lelaki bercambang tersebut !

Demontrasi ini kecuali si dara berbaju hijau serta wanita

setengah baya yang bertindak sebagai Ciang-kwee, orang

lain tak ada yang melihat dengan jelas apa yang telah

terjadi.

Melihat kedasyatan dari pemuda tersebut, dara berbaju

hijau itu jadi terperanjat alang-kepalang.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… berdasarkan

kepandaianku ini entah dapatkah minum arak kelompok

teratas ?” seru Pek Thian Kie dingin.

“Boleh, boleh, akan kuambilkan sebotol arak !”

Terburu-buru ia berlalu dari sana.

Waktu itu sang dara berbaju hijau yang melayani

pemuda menggembol pedang itupun sudah berjalan balik,

ditangannya mencekal sebuah baki kayu yang berisikan

sebotol arak serta sebuah cawan.

Dan pada sat yang bersamaan. Dara berbaju hijau yang

melayani Pek Thian Kie pun sudah membawa arak datang

mendekat.

“Arak ini adalah “Hoa Siang Ciu” coba saudara rasakan

dulu,” kata dara berbaju hijau itu.

Habis berkata, ia lantas berlalu.

“Kurang ajar ….. maknya ….. ini hari aku sudah

bertemu dengan setan …………” Gumam si lelaki

bercambang dihadapannya secara mendadak.

Walaupun ia bergumam sendir, tapi sampai detik ini

masih belum juga ia ketahui peristiwa apa yang sudah

terjadi.

“Saudara ! Inilah arak Giok Hoa Lok …..” Dara berbaju

hijau yang berada dibelakang tubuhnya bekata

“Terima kasih ………. Terima kasih ……….”

Sesaat dara berbaju hijau itu selesai berbicara, lalu Pek

Thian Kie mengambil cawan yang ada di meja dan

disambitkan kearah lelaki bercambang tersebut.

Sang lelaki bercambang yang baru saja angkat cawan

hendak minum, mendadak terasa angina dingin menyambar

lewat disusul dengan pecahnya cawan tersebut jadi

berkeping-keping, hatinya jadi sangat terperanjat.

Tidak ampun lagi seluruh wajah serta tubuhnya basay

kuyup oleh arak yang muncrat keempat penjuru itu.

Dengan penuh kegusaran matanya segera menyapu

kesekeliling, dengan suara yang keras dan kata-kata yang

kasar, makinya kalang kabut.

“Maknya ……. Bajingan dari mana yang berani

bergurau dengan aku si orang tua ? Kurang ajar ……

kurang ajar ……. Telur busuk maknya ………….”

Suara makian tersebut keras, sehingga menggetarkan

seluruh atap, perhatian semua orang yang hadir dalam

ruangan itupun tak terasa pada terpikat semua kearahnya.

Berpuluh-puluh pasang sinar mata dengan memancarkan

perasan keheranan pada melototi lelaki bercambang

tersebut.

“Hey bajingan, siapa yang berani main-main dengan

diriku, maknya ! Ayo cepat berdiri ……..!”

Belum habis ia berkata, guci arak yang berada didepan

wajahnya mendadak mencelat ketengah udara dan langsung

menyambar masuk kedalam mulutnya.

“Pluuuuuuuk ………. !” Tidak ampun lagi, seluruh

mulutnya sudah penuh tersumbat oleh guci arak tersebut,

sehingga ia tak bisa bicara lagi. Akhirnya setelah bersusah

payah sebentar, tercabut juga guci itu dari dalam mulutnya.

Tetapi, dengan kejadian ini, diapun tidak berani memaki

lagi.

Seluruh orang yng hadir dalam ruangan itu setelah

melihat kejadian ini ikut merasa terperanjat, air muka

mereka pada berubah hebat.

Diantara mereka semua hanya Pek Thian Kie seorang

yang tetap duduk tenang, waktu ia sedang angkat cawan

hendak meneguk …… mendadak terdengar pemuda yang

menggembol pedang itu berteriak kaget.

“Aaaaakh …………… aaaa ………. Arak ……….. arakku

?”

Sedikitpun tidak salah ! Arak berharga “Giok Hoa Lok”

yang ada diatas baki pada sat itu sudah lenyap tak berbekas

hanya tinggal sebuah cawan saja.

Yang jelas sebotol arak “Giok Hoa Lok” pada saat ini

sudah berada didalam saku Pek Thian Kie.

Kiranya dengan menggunakan kesempatan sewaktu

seluruh jago yang ada dalam ruangan tersebut mengalihkan

perhatian kearah sang leleki bercambang yang sedang

berteriak-teriak keras itu, Pek Thian Kie dengan diam-diam

menggunakan Ilmu Menghisap “Lie Gong Si Wu” telah

menyedot Arak “Giok Hoa Lok” dari pemuda yang

menggembol pedang itu dan disembunyikan kedalam

sakunya.

Gerakannya ini bukan saja terlalu depat, bahkan tepat

dan hebat.

“Aaaaakh ………. Dimana arakku ?” kembali pemuda

menggembol pedang itu berteriak kaget.

Pek Thian Kie tertawa tawa ! Tapi ia tetap tidak ambil

pkomentar.

Karena teriakan yang penuh diliputi perasaan cemas,

kembali sinar mata seluruh jago dialihkan ketas wajah

pemuda yang menggembol pedang itu.

Sinar mata Cong-koan dari Istana Arak …….. nenek

setengah baya itu beserta sinar mata dari dara berbaju hijau

itu dengan perasaan tegang, lantas dialihkan kearah cawan

arak ditangan Pek Thian Kie.

Pada waktu itu Pek Thian Kie sedang angkat cawannya

siap menengak habis isi araknya.

Sekonyong-konyong ……….

Serentetan cahaya putih laksana sambaran petir

menymbar kearah pangkuannya, dengan diiringi sambaran

angina tajam, sebuah benda sudah terjatuh kedalam cawan

ditangannya.

Dan benda tersebut bukan lain adalah segumpal kertas !

Pek Thian Kie benar=benar dibuat tertegun juga oleh

kejadian ini.

Jika ditinjau dari kecepatan gerak dari orang tersebut,

jelas sekali kalau ia memiliki kepandaian silat yang luar

biasa dasyatnya, hanya saja sang pemuda tersebut tidak

mengerti siapakah diantar orang-orang tersebut tidak

mengerti siapakah orang-orang yang hadir isana yang

memilki kepandaian setinggi itu.

Air muka Pek Thian Kie mendadak berubah hebat, sinar

matanya berapi-api dan mulutnya tergigit kencang.

Terlihatlah diatas kertas tersebut vertuliskan kata-kata :

“Arak pemabok, jangan diminum. Aku nasehati dirimu

lebih baik jangan mengganggu rumah sewaan tersebut.

Kalau tidak ……….. Hmmmm ! sampai waktunya kau

salahkan aku orang akan mengambil tindakan telengas

………..”

Selesai membaca surat tersebut, kembali Pek Thian Kie

merasakan hatinya bergidik, karena manusia yang paling

menakutkan pada saat ini, Kiang To telah memperingatkan

dirinya untuk kedua kalinya.

Tapi sebentar kemudian pemuda tersebut tersenyum

kembali, karena semakin pihak lawan melarang ia berbuat

demikian, semakin sengaja ia akan ikut campur dan

menyewa rumah misterius tersebut. Karena dengan

wataknya yang keras kepala, ia tidak ingin tunduk dibawah

perkataan oran lain.

Pek Thian Kie melirik sekejap keatas cawan arak

ditangannya kemudian tertawa dingin tidak hentinya.

“Arakmu hilang ?”

“Benar …… ! Sudah Hilang ……”

“Aaaaaakh …… ! Tidak mungkin ?”

“Suuuuu ……. Suuuuuuung ……….. sungguh !”

Saking cemasnya pemuda menggembol pedang itu jadi

kalang kabut sendiri sehingga seperti semut diatas kuali

panas, keringat sebesar kacaang kedelei mengucur keluar

tiada hentinya, sedang sinar matanya perlahan-lahan

berhenti diatas wajah Pek Thian Kie kurang lebih lima depa

dihadapannya.

Dan ketika itu Pek Thian Kie sedang memikirkan perlan

lain yang memberatkan pikirannya.

Pemuda penggembol pedang yang melihat keadaan Pek

Thian Kie sangat mencurigakan, mendadak ia bangun

berdiri dan langsung mendekati diri Pek Thian Kie.

“Maaf kawan, cayhe sedikit mengganggu,” tegurnya

setibanya disisi Pek Thian Kie.

Perlahan-lahan Pek Thian Kie menoleh dan memandang

pemuda tersebut sambil tersenyum.

Begitu melihat siapakah orang yang berada disana,

kontan muka pemuda menggembol pedang itu berubah

hebat, tanpa terasa ia sduah mundur satu langkah

kebelakang.

“Aaaaaakh …. ! Kiranya kau ?” teriaknya tak tertahan.

“Sedikitpun tidak salah, memang betul cayhe !” Pek

Thian kie tersenyum dan mengangguk.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… tidak

kusangka kita bakal berjumpa lagi disini !”

Maksud dari perkataannya ini, mengapa kau selalu

menguntit diriku, hingga samapi disini.

“Tidak salah !” Pek Thian Kie tertawa “Akupun sudah

sampai disini ! Haaaa …….. haaaaaa ………. Haaaaa

…………”

Dengan pandangan yang tajam, pemuda tersebut

menyapu sekejap pada wajah Pek Thian Kie, mendadak ia

melihat kalau disaku pemuda tersebut tersendul keluar

sebuah benda yang kelihatan sangat jelas mirip sebuah guci

arak. Hatinya jadi teramat gusar.

Saudara ! Manusia budiman tak akan melakukan

pekerjaan gelap. Cepat kembalikan guci arakku!” Teriak

pemuda menggembol pedang itu dingin.

“Arak ? Arak Apa ?” seru Pek Thian Kie pura-pura

melengak.

“Hmm ! Kau jangan berlagak pilon lagi, cepat keluarkan

guci arakku yang kau sembunyikan dalam saku.”

“Arak apa toh yang sudah hilang ?”

“Arak Giok Hoa Lok !”

“Apa ? Giok Hoa Lok ?

“Tidaka salah ! Ayoh. Cepat bawa kemari. Hmmmm !

Kalau tidak, jangan salahkan aku bila bertindak tidak

sungkan lagi.”

“Tidak benar ……… tidak benar …… tidak mungkin

benar ….” Gumam Pek Thian Kie menggeleng.

“Apanya yang tidak benar, bangsat ! Cepat serahkan arak

tersebut kepadaku.”

“Didalam Istana Arak ini tidak ada arak semacam ini !

dari mana aku bisa mengambil arak Giok Hoa Lok mu itu

?”

“Bangsat !” Kau tidak usah banyak bacot lagi, ayo cepat

serahkan guci ark tersebut. Hmmmm ! Kalau tidak, aku

akan segera turun tangan !”

Diatas wajahnyapun terlintaslah suatu hawa nafsu

membunuh yang mendesak wajah Pek Thian Kie dalamdalam,

agaknya ia sudah ada maksud untuk turun tangan.

“Dalam Istana Arak ini betul-betul ada arak semacam ini

! Kembali Pek Thian Kie berteriak.

Baru saja Pek Thian Kie selesai berkata, pemuda tersebut

sudah membentak keras. Telapak tangannya laksana

sambaran kilat menyapu tubuh Pek Thian Kie keras-keras.

Dengan sebat Pek Thian Kie angkat tangan kanannya

pula menangkis.

“Tunggu sebentar !” bentaknya keras.

“Hmmm ! Apa kau sudah berubah pikiran dan hendak

mengembalikan arak ku yang sudah kau curi ?”

“Saudara, apakah kau melihat dengan mata kepalamu

sendiri, kalau arakmu itu aku yang curi ?”

“………………….Seketika itu juga pemuda tersebut

dibikin bungkam seribu bahasa oleh perkataan Pek Thian

Kie tersebut.

Pada saat itulah dara berbaju hijau tersebut tersenyum

sudah berjalan mendekat, tegurnya dengan suara yang

merdu.

“Eeeeei ….. kalian berdua ada urusan apa >”

Pek Thian Kie tertawa.

“Nona ! Tolong Tanya didalam Istana kalian apakah ada

semacam arak yang bernama Giok Hoa Lok ?”

Muka dara berbaju hijau itu kontan saja berubah hebat,

lama …… lama sekali, ia baru menjawab :

“Ada ….!”

“Tadi aku sudah tanyakan soal ini kepada nona itu

sambil menunjuk nona yang dibelakangnya, dan mengapa

ia bilang tidak ada ?”

“Ka …… karena ………… karena arak ini haaaaa

…..hanya diperuntukan buat kaum wanita dan ……. Dan

bocah cilik !”

“Oooouw ….. jadi kau sudah memberi arak “Giok Hoa

Lok” untuk saudara ini minum ?”

Walaupun tidak secara langsung, namun pertanyaan ini

bermaksud menyindir pemuda menggembol pedang itu.

Dara berbaju hijau itu rada tertegu, sebentar, tetapi

kemudian ia sudah tertawa tawar.

“Saudara suka bergurau…..”

“Tidak …… ! Cayhe tidak sedang bergurau. Aku

bersungguh-sungguh. Ada orang menuduh aku mencuri

sebotol arak “Giok Hoa Lok –nya , bukankah hal ini sangat

lucu ?’

Perkataan dari Pek Yhian Kie ini diucapkan dengan

suara yang keras, sehingga hampir semua orang dapat

mendengar perkataan tersebut dengan amat jelas.

Tidak terasa lagi, kembali sinar mata semua orang

ditujukan kepada wajah Pek Thian Kie.

Sedangkan pemuda ini sendiri dengan sinar mata yang

tajam melototi dara berbaju hijau itu tanpa berkedip, ia

menantikan jawabannya.

Dara berbaju hijau itu bagaikan orang bisu kena getah,

ada kesulitan sukar untuk diutarakan keluar. Lama … lama

sekali ia baru berkata :

“Dia menuduh kau sudah mencuri arak Giok Hoa Loknya

?”

“Benar ! maka dari itu akuingin bertanya kepadamu. Dia

bukannya seorang perempuan atau bukan pula seorang

bocah seharusnya kau tak mungkin memberi arak “Giok

Hoa Lok” kepadanya bukan ?”

Baru sajja perkatan tersebut meluncur keluar, keempat

penjuru sudah dipenuhi dengan gelak tertawa yang riuh

rendah.

Air muka pemuda menggembol pedang itu berubah

merah jengah, ia benar-benar kena dipermainkan Pek Thian

Kie sehingga tanpa bisa memberikan serangan balasan.

“Sudah tentu ….. sudah tentu dia orang tiiii ….tidak

mungkin minum arak Giok Hoa Lok……” sahut dara

berbaju hijau itu kemudian.

Agaknya pemuda menggembol pedang itu tak dapat

menahan rasa gusar dihatinya lagi, belum habis dara

berbaju hijau itu menyelesaikan kata-katanya, ia sudah

mengembor keras.

“Bangsat Cilik ! Hitung-hirung kau lebih pintar, tapi

tunggu saja pada suatu hari pasti akan ku balas sakit hati

ini.”

Buru-buru ia putar badan dan berlalu.

Dengan kepergian pemuda menggembol pedang ini,

maka suasana didalam kalangan pun kembali berubah jadi

tenang dan hening.

Dengan gemas dara berbaju hijau itu melototi sekejap

kearah Pek Thian Kie, kemudian putar badan dan berjalan

ke meja sang Ciang-kwee.

Dengan tangan kanan mencekal guci arak dan tangan

kiri mencekal cawan arak mendadak Pek Thian Kie bangun

berdiri.

Melihat tindakan pemuda tersebut, dengan perasaan

terperanjat dan penuh waspada, wanita setengah baya serta

dara berbaju hijau itu melototi diri Pek Thian Kie tajamtajam.

Bab 14 Kemurkaan Pek Thian Kie

SETELAH RADA merandek sejenak, pemuda itu

langsung berjalan kearah dara berbaju hijau itu.

Air muka gadis tersebut kontan saja berubah pucat pasi,

kakinya tanpa terasa sudah mundur satu langkah

kebelakang.

“Nona ! Siapakah namamu ?” tegur Pek Thian Kie

sembari berhenti kurang lebih satudepa dihadapannya.

“Aku bernama A Ing.” Sahut dara berbaju hijau itu rada

melengak.

“Ooooouw ……… ! Nona A Ing, berapa usiamu tahun

ini ?”

“Aku …… delapan belas …….. apa maksudmu bertanya

soal ini ?”

Diatas wajah Pek Thian Kie terlintaslah satu senyuman

yang misterius, sedang cawan araknya diangkat keatas,

kemudian tertawa.

“Nona ! Sudah berapa lama kau berada didalam Istana

Arak ini ?”

“Lima Tahun !”

“Oooooouw ……… sudah lima tahun berada disini,

Waaaaah ….. kalau begitu nona sudah tentu sangat ahli

didalam soal arak. Nona A Ing yang baik ! Mari, aku

hormati satu cawan arak uat dirimu.”

“Aku ….!”

Kontan A Ing mundur dua langkah kebelakang, air

mukanya kelihatan sangat ketakutan sehingga berubah jadi

pucat pasi bagaikan mayat.

“Benar, kau kenapa ?” seru Pek Thian Kie tersenyum.

“Aku ……. Aku tidak terbiasa minum arak !”

“Tidak terbiasa minum arak ?”

“Aaaaakh …….! Masa ? Tidak mungkin !”

“Sungguh ……. Aku …….. aku tidak terbiasa minum

…”

“Tidak mengapa ……tidak mengapa, Cuma minum

secaan arak, tak bakal bisa mabok.”

“Tidak ……… tidak ……….. tidak ………..”

Dengan penuh ketakutan, A Ing mundur terus

kebelakang, ia tetap berusaha untuk menghindarkan diri

dari desakan pemuda tersebut.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… nona A Ing,

aku lihat lebih baik kau minum saja samapai habis,” dengus

sang pemuda ketus.

“Tidak ! Aku tida terbiasa minum arak ….. “

Bagaikan sambaran kilat, Pek Thian Kie meloncat maju

kedepan, bentaknya dingin :

“Ayo, cepat minum ! Jika kau tidak mau minum sendiri,

maka aku terpaksa akan menggunakan caraku untuk pekasa

kau menghabiskan arak ini.”

Selintas hawa nafsu membunuh berkelebat diatas wajah

Pek Thian Kie, hal ini membuat A Ing nyiut nyalinya.

Jikalau ia tidak mau menghabiskan arak tersebut, maka

urusan dengan gampang akan terbentang dihadapannya dan

kemungkinan besar, Pek Thian Kie segera akan turun

tangan membinasakan dirinya.

Akhirnya ia terima juga cawan arak itu, seluruh

tubuhnya gemetar amat keras sedang air mukapun berubah

jadi pucat pasi bagaikan mayat. Nyalinya benar-benar

sudah dipukul pecah.

“Haaaaaa ……………. Haaaaaaaaaaa …………….

Haaaaaaaaaaa ……… bagus, bagus sekali. Ayoh, cepat

habiskan.” Seru Pek Thian Kie sambil tertawa seram.

Ditengah suara tertawa yang tidak sedap didengar,

secara samara-samar terlintaslah nafsu untuk membunuh.

Sambil menggertak gigi kencang-kencang, akhirnya A

Ing meneguk habis isi dari cawan tersebut.

Dari tangannya Pk Thian Kie terima kembali cawan

tersebut, lalu tertawa dingin tidak hentinya.

“Terima kasih atas kerelaaan nona untuk kasih muka

kepadaku,” serunya mengejek.

Baru saja perkataan Pek Thian Kie selesai diucapkan,

tampaklah tubuh A Ing sempoyongan keras, lalu roboh

ketas tanah dengan menimbulkan suara yang amat keras.

Melihat kejadian itu, seluruh jago yang hadir di ruangan

tersebut jadi gempar, suasana berubah sangat ramai.

Hawa nafsu membunuh yang melintasi diatas wajah Pek

Thian Kie semakin menebal, ia meloncat maju kedepan

mendekati Ciang-Kwee kemudian mendengus dingin.

Air muka wanita setengah baya itu kontan berubah

hebat, tak terasa ia sudah mundur satu langkah kebelakang.

“Kau cong-koan dari IStana Arak ?” jengek Pek Thian

Kie sambil melototi sekejap wanita setengah baya itu dan

tertawa dingin.

“Sedikitpun tidak salah !”

“Aku sudah menghormati secawan arak untuk anak

muridmu dan sekarang mari ! Akupun ingin menghormati

secawan arak pula kepadamu !”

Sembari berkata, ia memenuhi kembali cawan araknya

dan diletakkan diatas meja, sinar matanya dengan tajam

terus melototi wanita setengah baya itu tanpa berkedip.

Hal ini sudah tentu membuat perempuan tersebut jadi

merinding dan merasakan hatinya berdebar-debar.

“Ayo cepat minum !” bentak Pek Thian Kie dingin.

“Jika aku tidak mau minum ?”

“Aku punya cara untuk paksa kau minum arak tersebut,

bahkan gentong-gentong arak yang berada dibelakangpun

terpaksa akan hancur berantakan oleh satu pukulanku.”

Tanpa banyak cakap lagi wanita setengah baya tersebut

angkat cawan yang diangsurkan oleh Pek Thian Kie itu dan

siap hendak ditempelkan dekat bibir.

Mendadak …….

Terdengar wanita setengah baya itu membentak keras,

cawan ditangannya lasana sambaran kilat meluncur kearah

Pek Thian Kie. Gerakan serangan tersebut datangnya samat

cepat lagi aneh, bahkan tenaga pukulannyapun sangat luar

biasa.

“Kau berani …….! Bentak Pek Thian Kie keras.

Telapak tangannya diangkat, serangan dasyat segera

menyambar keluar menghantam wanita setengah baya itu.

Dibawah serangan sang pemuda yang amat dasyat,

wanita tersebut laksana sambaran kilat telah mencelat

ketengah udara kemudian menubruk kearah Pek Thian Kie,

seranagannya bukan alang-kepalang.

Gerakan yang sebat dan lincah ditambah pula dengan

kedasyatan angina pukulan, bagaikan ambruknya gunung

thay-san. Tubuh Pek Thian Kie tak dapat bertahan lagi

terdesak mundur dua langkag kebelakang.

Waktu itulah serangan ketiga dari wanita setengah baya

itu kembali sudah meluncur datang.

“Kau cari mati ………” bentak Pek Thian Kie dingin.

Tubuhnya berputar kemudian menerjang kedepan, iapun

balas mengirim satu pukulan dasyat kemuka.

Serangan dari Pek Thian Kie kali ini sudah

menggunakan hampir seluruh tenaga yang dimilikinya,

bagaikan ambruknya gunung dan tumpahnya air ditengah

samudera diiringi suara bentrokan dengan keras lawan

keras, wanita setengah baya itu menerima datangnya

serangan tersebut.

Tubuhnya kontan terpukul mundur sejauh sepuluh

langkah kebelakang.

Sedangka tubuh Pek Thian Kie mnecelat ketengah udara,

jurus kedua kembali telah menyambar datang.

Bayangan manusia berpisah diiringi suara dengusan

berat. Tampaklah badan wanita berusia setengah baya itu

sudah berhasil diangkat oelh Pek Thian Kie ketengah udara.

Gerakan serangan yang baru saja dilancarkan ini, betulbetul

amat cepat, sudah entu kejadian tersebut kontan saja

memancing rasa terkejut dalam hati semua jago yang hadir

didalam ruangan istana Arak tersebut.

“Hmmmmmm ! Kau juga ingin binasakan diriku ?”

Masih terpaut sangat jauh !” Bentak Pek Thian Kie dengan

wajah diliputi nafsu membunuh.

“Aaa …… apa …… apa yang hendak kau lakukan !”

seru wanita setengah baya tersebut dengan nada gemetar.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… tidak apaapa,

aku Cuma ingin menanyakan satu persoalan saja

kepadamu!”

“Urusan apa ?”

“Obat pemabok yang terdapat didalam arak ku ini,

apakah hasil dari perbuatan kau orang ?”

“Tiiii ….tidak salah !”

“Mengapa ? Diantara kita bukankah tiada ikatan dendam

sakit hati apapun? Kenapa kau hendak meracuni diriku ?

Ayo cepat jawab …!”

“Karena …….. karena ……… karena kau adalah Kiang

To !”

“Kalau aku betul Kiang To, apa yang akan kau lakukan ?

Dan apa pula hubungannya dengan dirimu ?”

“Kau tidak akan mendatangkan kebaikan buat Istana

Arak kami ….. “ jawab wanita setengah baya itu ragu-ragu.

“Karena itu, kau lantas taruh obat pemabok didalam

arak yang hendak aku minum ?”

Sedikitpun tidak salah !”

“Cuma sungguh saying …… aku bukan bernama Kiang

To. Terus terang aku beritahu kepadamu, aku bernama Pek

Thian Kie, sudah dengar belum ? Pek ….. Thian ….. Kie !

Dimana majikanmu ?”

“Majikan kami ? Dia tak ada disini.”

Suara tertawa sinis dari Pek Thian Kie segera berubah

semakin menyeramkan, bahkan secara samara-samar

terselip nafsu untuk membunuh.

Dengan badan merinding dan bulu kuduk pada bangun

berdiri, wanita setengah baya itu melototi wajah Pek Thian

Kie yang penuh dengan senyuman sinis menyeramkan.

“Tahukah kau, apa yang hendak aku lakukan untuk

menghadapi diri ?” Tanya pemuda itu tib-tiba sambil

menarik kembali senyumannya.

“Kau ! ………..”

Pek Thian Kie tertawa dingin memotong perkatannya

yang belum selesai itu.

“Istana kalian dengan diriku selama ini tiada ikatan sakit

hati apapun, tetapi secara diam-diam kau sudah taruh obat

pemabok kedalam cawan arakku. Bilama bukannya cayhe

menemukan kejadian ini dengan cepat,

heeeee……heeee………… bukankah selembar nyawaku

bakal lenyap ditanganmu ?”

“Aku ! …..”

“Kau boleh berlega hati, aku tidak ingin menolong

diriku, juga tidak ingin membinasakan dirimu. Cuma aku

ingin kau menjawab satu persoalan ini. Kejadian ini apakah

diperintahkan langsung oleh Majikan Istana Arak ?”

“Dia ……… dia tiii ………tidak ………… tidak tahu.”

“Hmmm ! Aku sudah tahu kalau diriku tak mungkin

berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Karena itu

terpaksa aku harus memaksa dia untuk munculkan diri

dengan sendirinya.”

Sembari berkata tangan kanan pemuda itu mendadak

dibabatkan keatas lemari arak yang berderet-deret

dihadapannya.

“Braaaaaak ……..” diiringi suara ledakan yang amat

keras, angina pukulan Pek Thian Kie seberat ribuan kati ini

dengan cepat menghajar diatas almari arak dibelakang meja

Ciang-Kwee.

Almari ambruk kebawah, berpuluh-pluh guci besar arak

wangi jatuh berantakan dan hancur lebur, arak berceceran

memenuhi seluruh permukaan tanah memberikan bau

sedap keempat penjuru.

Kembali Pek Thian Kie tertawa dingin tiada hentinya.

“Aku sudah katakana, aku tak akan membinasakan

dirimu. Tolong kau sampaikan kepada majikanmu bahwa

seluruh arak tersebut, aku Pek Thian Kiel ah yang

memusnahhkan, jika ia punya kepandaian carilah diriku

untuk mencari balas.”

Habis berkata ia banting tubuh wanita setengah baya itu

keatas tanah keras-keras, kemudian putar badan dan berlalu

dari sana.

Melihat peristiwa ini, hampir boleh dikata sebagian besar

jago-jago yang hadir didalam Istana Arak tersebut dibuat

tertegun dan bergidik. Rata-rata tiada yang berani pentanag

bacot cari gara-gara.

Dengan hati puas, akhirnya Pek Thian Kie berjalan

keluar dari Istana Arak itu, tetapi belum jauh ia berlalu,

mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia

menyambar datang dihadapannya.

Dengan perasaan terperanjat Pek Thian Kie dongakkan

kepalanya menengok, tampaklah pemuda menggembol

pedang itu dengan membawa hawa nafsu membunuh diatas

wajahnya, perlahan-lahan mendesak mendekat, sinar

matanya yang tidak berkedip melototi wajah pemuda

lawannya tajam-tajam.

“Oooooouw ……. Aku kira siapa, tak tahunya kau !”

sapa Pek Thian Kie kemudian sambil tertawa tawar.

“Sedikitpun tidak salah, memang aku !”

“Entah apa maksud tujuan kedatangan saudara kemari

?”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… saudara

betul-betul amat ganas ……….” Maki pemuda menggembol

pedang itu sambil tertawa dingin. “Cuma

……heeeee……….heeeee…………heeeee…… jika kau

adalah seorang yang cerdik, maka cepat-cepat kembalikan

arak Giok Hoa Lok tersebut kepadaku.”

Sekalipun sang pemuda menggembol pedang itu tidak

menyebut didalam hati Pek Thian Kie pun mengerti apa

maksud kedatangannya.

Segera ia tertawa dingin, air mukanya berubah keren ….

“Arak Giok Hoa Lok-mu ?

“Sedikitpun tidak salah, kau ambil arak tersebut dan

sekarang kau tidak usah berlagak pilon lagi.”

Sekali lagi Pek Thian Kie tertawa dingin.

“Kau melihat dengan mata kepala sendiri kalau arak

Giok Hoa LOk tersebut aku yang curi?”

“Sekalipun aku tidak melihat sendiri arak tersebut kau

yang curi, tapi aku tahu perbuatan ini pasti hasil kerjamu.”

“Apa alasannya !”

“Hmmm ! Coba jawab, barang apa yang berada sakumu

itu ?”

“Arak !”

“Arak apa ?”

“Maaf ….. maaf …..! Soal ini aku tidak kepingin

beritahukan padamu.”

“Kau tidak ingin bicara?”

“Benar!”

Air muka pemuda menggembol pedang itu berubah

hebat, melintas nafsu membunuh berkelebat diatas

wajahnya.

“Manusia she Pek,” bentaknya gusar. “Kau suka

kembalikan arak Giok Hoa Lok ku tidak ?”

Pikiran Pek Thian Kie dengan cepat berputar, mendadak

ia menyengir dingin.

“barang yang ada didalam sakuku memang sebotol arak

Giok Hoa Lok, Cuma aku boleh berikan kepadamu asal

kau suka memenuhi satu syaratku. Beritahukan kepadaku

siapakah kau ?”

“Hmmm ! Soal ini tak akan kuberitahukan kepadamu.”

“Kalau begitu, akupun tak dapat serahkan arak Giok

Hoa Lok tersebut kepada sauadara.”

“Kau paksa aku untuk turun tangan?” teriak pemuda

menggembol pedang itu dingin.

“Jika kau punya kepercayan bisa menangkan diriku,

boleh coba-cobalah turun tangan merebut !”

Baru saja perkataan Pek Thian Kie selesai diucapkan,

pemuda menggembol pedang tersebut sudah membentak

keras. Tubuhnya dengan cepat mendesak maju kedepan,

tangannya laksana sambaran petir menghajar dada Pek

Thian Kie sang pemuda tersebut.

Pemuda menggembol pedang yang berulang kali

dipermainkan dan dicemoohkan oleh Pek Thian Kie, pada

saat ini sudah tak dapat menahan sabarnya lagi, sehingga

serangan yang baru saja dilancarkan ini sudah

menggunakan hampir seluruh kekuatan yang dimilikinya

selama ini. Kehebatannya luar biasa dan laksana

ambruknya gunung thay-san dan bobolnya bendungan

besar.

Tempo dulu karena penyakit sakit hati dari Pek Thian

Kie kambuh, sehingga menyebabkan tenaga dalamnya

punah dan tidak than terhadap satu serangannya saja, maka

kali ini pemuda menggembol pedang tersebut sama sekali

tidak memandang sebelah matapun terhadap Pek Thian

Kie.

Ia mengangaap kepandaian silat yang dimiliki Pek Thian

Kie bukan merupakan tandingannya.

Melihat pihak lawan melancarkan serangan dasyat. Pek

Thian Kie tertawa dingin tiada hentinya, tubuhnya dengan

cepat mencelat kearah belakang.

Sewaktu Pek Thian Kie sedang berkelebat lewat itulah,

sang pemuda menggembol pedang dengan membawa suara

bentakkan nyaring sekali lagi menubruk kearah muka,

sehingga serangan keduanyapun menekan datang dengan

amat santar.

“Hmmmm ! cari mati …”

Dengan cepat Pek Thian Kie putar badan kemudian

langsung mengirim sebuah serangan balasan.

Didalam serangannya ini, Pek Thian Kie telah

menggunakan enam bagian tenaga pukulannya, kedasyatan

dari serangan tersebut hebat bagaikan tiupan angina taupan.

“Braaaaak ………!” Ditengah suara bentrokan yang

amat keras, tubuh pemuda menggembol pedang itu kena

terpental sejauh sepuluh kaki dengan sempoyongan. Sedang

Pek Thian Kie sendiri tetap beridir tegak dtempat semula.

“Siapa Kau ? Ayoh cepat katakana !” bentak Pek Thian

Kie keras, selintas nafsu membunuh mulai berkelebat diatas

wajahnya.

Denhan kejadian ini, air muka pemuda menggembol

pedang itupun berubah hebat. Untuk beberapa sat lamanya

ia berdiri mematung ditempat itu dan memandang kearah

Pek Thian Kie dengan pandangan mendelong.

Agaknya ia sama sekali tidak menduga kalau kepandaian

silt yang dimiliki Pek Thian Kie demikian dasyat.

“Kawan ! Cepat katakana siapakah namamu ? seru Pek

Thian Kie sambil tertawa dingin.

“Soal ini kau tidak perlu tahu.”

“Apa maksudmu mencari arak Giok Hoa Lok ini ?”

“Sioal ini pun kau tidak perlu tahu.”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… kawan !

Tadi kau minta uang seribu tahil emas di Istana Harta,

kemudian ditambah lagi dengan sebotol Arak “Giok Hoa

Lok” aku terka setelah ini kau pasti hendak mencari gadis

cantik di dalam Istana Perempuan bukan ?”

“bagaimana kau bisa tahu ?” pemuda menggembol

pedang itu tersentak kaget, air mukanya pun pucat pasi.

Pek Thian Kie yang mendengar jawaban tersebut, dalam

hatinyapun merasa agak tergetar, sedikitpun tidak salah !

Pemuda menggembol pedang ini benar-benar ada maksud

untuk menyewa rumah tersebut. Tapi …….. tidak

seharusnya ia bersikap demikian misterius !

Setelah berpikir keras, akhirnya kembali ia membentak

dingin :

“Bukankah kau orang hendak menyewa rumah aneh

didalam hutan Tauw Liem tersebut ?”

Air muka pemuda menggembol pedang itu semakin

hebat, seluruh tubuhnya kini gemetar keras ………

“Baaaaa …….. bagaimana …….. bagaimana kau bisa

tahu ?”

Setelah didalam hati Pek Thian Kie berhasil

membuktikan persoalan ini, pikirannya dengan cepat

berputar.

“Kalau begitu, kau sungguh-sungguh ingin pergi

menyewa rumah tersebut ?”

“Sedikitpun tidak salah !”

“Sekalipun benar kau ada maksud untuk menyewa

rumah itu, lalu mengapa jejak serta tindak-tandukmu amat

misterius dan mencurigakan ?”

“Tentang soal ini …….. maaf …! Aku tak bisa memberi

penjelasan.

“Eeeeeei ……. Kawan ! Siapakah kau sebetulnya ?”

“Bukankah tadi sudah aku katakana dalam hal ini maaf

aku tak bisa memberi penjelasan!”

“Jadi kau sudah bulatkan tekad untuk menyewa rumah

tersebut ?”

“Benar !”

“Mengapa ?” desak Pek Thian Kie lebih lanjut.

“Aku tidak ingin beritahukan persoalan ini kepadamu.”

“Kau sunggug-sungguh tidak ingin berbicara ?”

“Benar, aku tidak ingin berbicara.”

“Jika aku npaksa kau untuk memberitahukan persoalan

ini ?”

“Jadi kau ingin memaksa ?”

“Bilamana kau tidak suka bicara terus terang, terpaksa

aku harus mengambil jalan ini.”

Seluruh tubuh pemuda menggembol pedang itu gemetar

amat keras, matanya melotot lebar-lebar.

“Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu, buat

apa kau harus tahu rahasia ini ?”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau persoalan ini tiada

sangkut pautnya dengan diriku ……..” Mendadak Pek

Thian Kie merasa ia sudah salah berbicara, buru-buru

gantinya dengan perkataan lain :

“Apakah persoalan ini ada sangkut pautnya dengan

dirimu ?”

“Benar!”

“Apa sangkut pautnya ?”

“Maaf ! Aku tak dapat memberi penjelasan kepadamu.”

“Tapi aku rasa sekalipun kau terangkan juga, tidak

mengapa ?” Pek Thian Kie coba memaksa.

“Sudah tentu tak bisa ! Sudah, pokoknya aku tak dapat

menerangkan persoalan ini kepadamu !”

“Dan akupun sudah berkata, pokoknya kau harus bicara

!”

“Jadi …….. jadi kau ingin paksa diriku ?’

“Kemungkinan benar.”

“Hmmm! Aku sudah berkata, persoalan ini tak mungkin

aku katakana,” seru pemuda menggembol pedang itu

dingin.

Air muka Pek Thian Kie berubah hebat.

“Kau sungguh-sungguh tidak ingin bicara ?” bentaknya

keras.

Sembari berkata tangan kanannya diangkat keatas

lambat-lambat, jika pemuda menggembol pedang itu tidak

suka boicara, mungkin ia benar-benar akan turun tangan

ganas.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… Benar, aku

tak akan bicara !”

“Hmmm ! Akan aku lihat kau benar-benar suka bicara

atau tidak ………….!”

Bab 15 Ilmu “Ciang Liong Kiam Hoat”

BAYANGAN MANUSIA berkelebat lewat, kiranya ia

sudah menubruk kearah pemuda menggembol pedang ini

dan melancarkan satu serangan dasyat.

Didalam hati Pek Thian Kie sadar, bilamana ia tidak

menggunakan kekerasan pada pemuda menggembol pedang

ini pasti tak akan menceritakan rahasianya mengapa

hendak menyewa rumah aneh tersebut.

Oleh sebab itu, serangan yang dilancarkan Pek Thian Kie

barusan ini luar biasa dasyatnya, begitu tubuh pemuda

mengembol pedang itu tersapu oleh serangan tersebut,

tubuhnya kontan mencelat sejauh satu kaki dari tempat

semula.

Belum sempat pemuda menggembol pedang itu

melakukan gerakan serangan kedua dari Pek Thian Kie

kembali sudah menghajar datang.

Serangan yang dilancarkan kali ini jauh lebih cepat jika

dibandingkan dengan serangan yang pertama, dimana

bayangan manusia berkelebat lewat tahu-tahu ia sudah

mencelat kebelakang punggung pemuda menggembol

pedang itu, hal ini membuat pemuda tersebut tidak sempat

untuk berkelit lagi.

“Braaaaaaak ……… !”

Ditengah suara gebukan keras, tubuh pemuda

menggembol pedang itu sudah dipukul pental sejauh

sepuluh langkah lebih dan pada saat yang bersamaan

serangan cengkeraman dari Pek Thian Kie kembali sudah

menyambar datang. Terdengar suara dengusan berat

memenuhi angkasa, tangan kanan dari pemuda

menggembol pedang itu kena dicengkeram oleh Pek Thian

Kie.

Air mukanya kontan berubah jadi pucat bagaikan mayat,

keringat dingin sebesar kacang kedelai mengucur

membasahi seluruh tubuhnya.

“Kau suka bicra tidak ?” Bentak Pek Thian Kie keras.

“Hmmm! Apa yang harus aku bicarakan?”

“Mengapa kau begitu ngotot hendak menyewa rumah

tersebut?”

“Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu ?”

“Kawan ! Aku lihat lebih baik kau bicara terus terang

saja daripada harus menjadi siksaan buat diri sendiri !”

“Heeeeee ……….heeeeeee………….heeeee …………

apa kau kira ancaman tersebut membuat aku bergidik ?”

“Baiklah ! Jika kau tidak ingin bicara, maka aku akan

menggunakan ilmu memisah otot menggeser urat untuk

menotok jalan darahmu, aku akan biarkan kau dalam

keadaan mati tak dapat hidup pun tersiksa. Akan kulihat

seberapa kuat daya tahanmu !”

Bangsat ! Kau manusia terutuk. Sekalipun kau siksa, aku

tetap[ tak akan berbicara !”

Pek Thian Kie tertawa seram. Air mukanya berubah

beringas kejam, sinar matanya berapi-api.

“Sebenarnya kau suka bicara tidak ?”

“Mengapa kau ingin mengetahui persoalan oaring lain ?”

Akhirnya pemuda menggembol pedang itu mengubah

sikapnya.”

“Karena aku ingin menyelidiki jejak suhuku.

Kemungkinan sekali ia sudah menemui ajalnya dalam

rumah aneh itu.”

“Siapa suhumu ?”

“Sin Mo Kiam Khek atau si jagoan pedang iblis sakti !”

“Apa ? Sin Mo Kiam Khek adalah suhumu ?” teriak

pemuda menggembol pedang itu tersentak kaget.

Melihat pemuda tersebut memperlihatkan sikap terharu

dan kegirangan, tak terasa Pek Thian Kie pin merasa

hatinya bergidik.

“Ehmm ………hanya saja aku belum berani memastikan

benarkah dia adalah nama suhuku.”

“Apa maksudmu? Aku tidak paham perkataanmu itu !”

“Aku katakana. Sin Mo Kiam khek belum tentu nama

suhuku.”

“Jadi kau sedang ngaco belo ?”

“Apa kau sendiripun tidak tahu siapakah nama suhumu

?” teriak sang pemuda menggembol pedang dengan mata

terbelalak lebar-lebar.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Mengapa ?”

“Selama ini dia belum pernah memberitahukan namanya

kepadaku.”

Agaknya pemuda menggembol pedang tersebut dibuat

tertegun oleh perkatan itu.

“Aaaaaakh ……. Tidak mungkin ?”

“Mau percaya atu tidak itu terserah pendapatmu

sendiri.”

“Lalu apakah gurumu menggunakan pedang sebagai

senjata?”

“Tidak salah.”

“Kau tidak punya senjata ? Kalau begitu sudah tentu kau

bukan anak muridnya.”

“Aaaaaaakh ….. kau salah, suhuku tidak ajari aku

menggunakan pedang, ia Cuma memberi aku sejilid kitab

aneh dan seluruh kepandaian silat yang kumiliki saat ini

hasil belajarku dar kitab aneh tersebut !”

“Oooooouw …..”

“Padahal tenaga dalam suhuku paling banter hanya

seperti dari tenaga dalamku.”

Mendengar perkatan tersebut Pemuda menggembol

edang itu dibuat setengah percaya setengah tidak, lama

sekali ia tidak bersuara.

Kurang lebih seperminuman teh kemudian, agaknya

secara tiba-tiba ia sudah teringat akan sesuatu.

“Aaaaaakh benar !” teriaknya tertahan.

“Kau benar-benar bernama Pek Thian Kie ?”

“Sedikitpun tidak salah, aku bernama Pek Thian Kie.”

“Aku dengar suhuku pernah berkata bahwa “Sin Mo

Kiam Khek” juga bernama Pek Thian Kie.”

Mendengar perkataan itu, tidak ampun lagi Pek Thian

Kie merasakan hatinya tergetar keras. Sekarang persoalan

sudah dibuktikan dengan nyata bahwa ia serta “Sin Mo

Kiam Khek” memiliki nama yang sama, jelas dibalik

kesemuanya ini tak akan lolos dari suatu hubungan yang

sangat erat.

“Siapakah suhumu ?” Tanyanya kemudian sesudah

termenung sejenak.

“Soal ini …..”

Agaknya pemuda menggembol pedang itu merasa serba

salah untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Sebetulnya kesulitan apa tokh yang membuat kau jadi

seba salah dan merasa sulit untuk menjawab persoalan ini?”

“Aku …….. heeeiiiii ……… !”

Kembali pemuda menggembol pedang itu menghela

napas panjang.

“Kawan ! Pada saat ini aku sedang menyelidiki suatu

urusan, diterangkan juga rasanya tidak mengapa bukan ?”

desak Pek Thian Kie lebih lanjut.

“Kau ……. Kau tak akan tahu !”

“Sebenarnya apa tokh yang telah terjadi ?”

Agaknya pemuda menggembol pedang itu ingin

mengutarakan isi hatinya, tapi iapun tidak tahu apa yang

harus dibicarakan terlebih dahulu.

“Kau ingin pergi menyewa rumah aneh tersebut, aku

rasa dibalik kesemuanya ini tentu ada sebab-sebabnya.

Apalagi seharusnya kau sudah mengerti jelas bukan, setiap

jago lihay yang pergi menyewa rumah aneh tersebut,

akhirnya sudah menemui ahalnya semua ?”

“Aaa ….. aaaku ……. Aku tahu.”

“Lalu, apa kau sudah bulatkan tekad untuk menghantar

kematian sendiri ?”

“Benar!”

“Mengapa ?”

“Aku …..”

Hampir setengah harian lamanya ia mengucapkan katakata

“Aku “ tapi kata-kata selanjutnya tak diutarakan

kembali.

“Kalau memang kau ada maksud untuk menghantar

kematian sendiri, seharusnya pula kau memberikan suatu

alasan terlebih dahulu !”

“Kau anggap aku sungguh-sungguh ada maksud untuk

memamsuki rumah aneh itu untuk menghantar kematian

sendiri ?” seru pemuda menggembol pedang itu sambil

tertawa sedih.

“Kalau memang kau tak ada maksud untuk hantar

kematian sendiri, mengapa kau harus berbuat begini ?”

“Karena aku sedang menjalankan tugas !”

“Menjalankan tugas ? Tugas dari siapa ?”

“Heeeeei ……….. !” Pemuda menggembol pedang itu

menghela napas panjang. “Sekalipun aku utarakan kaupun

belum tentu paham, Cuma yang jelas aku sedang

menjalankan tugas suhuku.”

“Siapakah sebenarnya suhumu itu ?”

“Baiklah ……… beritahu padamu pun tak ada

halangan.” Akhirnya pemuda menggembol pedang itu

berseru ……… apa kau sudah pergi melihat kedaan rumah

aneh tersebut ?”

“Benar !”

“Siapa saja yang mati dirumah tersebut ?”

“Delapan orang jagoan pedang dari sembilan jagoan

pedang dari kolong langit.”

“Sedikitpun tidak salah, seharusnya kau tahu bukan,

kalau diantara kesembilan orang jagoan pedang tersebut

pada saat ini masih tersisa seorang …..”

“Apa ? Suhumu adalah “Ciang Liong Kiam Khek.” Atau

si jagoan pedang penakluk naga ?” seru Pek Thian Kie tak

tertahan.

“Sedikitpun tidak salah !”

Pek Thian Kie rada bergidik, didalam sekejap mata

itulah dengan perasan terperanjat ia telah melototi pemuda

menggembol pedang itu, karena ia merasa peristiwa ini

benar-benar ada diluar dugaannya.

Kedelapan orang yang sudah menemui ajalnya semua itu

adalah kedelapan orang jagoan pedang dari “Sembilan

jagoan pedang dari kolong langit.”

Dan kini orang yang hendak pergi menyewa rumah aneh

tersebut adalah anak murid dari pentolan sembilan jagoan

pedang, “Ciang Liong Kiam Khek” atau si jagoan pedang

penakluk naga. Karena si jagoan “Ciang Liong Kiam

Khek” sudah mati, sekarang muridnyalah yang mewakili.

Apakah orang-orang itu menerima perintah untuk

menyewa rumah tersebut ?”

Kalau benar, lalu mereka telah menerima perintah siapa

?

Kejadian ini benar-benar merupakan suatu teka-teki yang

mengejutkan dan menggetarkan hati semua orang.

“Jadi ….. jadi karena suhumu sudah mati, maka kau

menerima tugas untuk menyewa rumah tersebut ?” Tanya

Pek Thian Kie dengan perasaan amat terperanjat.

“Sedikitpun tidak salah !”

“Menjalankan tugas serta menjalankan perintah suhumu

apakah tidak sama ?”

“Benar tidak salah!”

“Dimana letak alasannya?”

“Yang menerima tugas adalah suhuku. Dan aku sedang

menjalankan perintah dari suhuku.”

“Jadi sebelum suhumu meninggal sudah beritahu

kepadamu untuk pergi menyewa rumah aneh itu ?”

“Benar ! Ia meninggalkan pesan tersebut kepadaku”

Pek Thian KIe yang mendengar perkataan tersebut

dijadikan keheranan.

“Apakah suhu mengiginkan kau pergi mengantar

kematian ?” tanyanya ragu-ragu.

“Tidak ! Sebelum suhuku meninggal, rumah aneh itupun

belum pernah munculkan diri”

“Jadi ia tak tahu tentang peristiwa munculnya rumah

aneh yang disewakan ini ?”

“Bukan …… bukan ! Ia tahu jika setiap orang yang pergi

menyewa rumah tersebut bakal memperoleh kematian.:”

Lama sekali Pek Thian Kie kerutkan keningnya berpikir.

“Aku masih tidak mengerti,” ia menggeleng setelah lama

tidak berbicara.

“Benar ! Kau tidak mengerti dan aku sendiripun kurang

mengerti. Cuma aku tidak rela pergi menyewa rumah

tersebut karena aku sudah punya istri dan punya anak.”

Mendengar perkataan tersebut dalam hati Pek Thian Kie

pun ikut merasa hatinya sedih.

“Sedikitpun tidak salah, ia sudah mempunyai isteri dan

punya anak pula, sudah tentu ia tidak ingin menyewa

rumah aneh tersebut untuk menghantar kematian sendiri.”

Pikirnya dihati.

Hal ini tidak aneh, manusia mana yang rela nyawa

sendiri direnggut orang setelah mengetahui jika menyewa

rumah tersebut pasti mati ?

………. Inilah suara hatinya ! ……………..

Suara hatinya yang pedih. Bilamana ia Cuma seorang

diri, sebatang kara, sudah tentu tak akan merisaukan soal

mati.

Tapi, keadaan pada saat ini tidaklah sama.

Karena itu, dari dasar hati kecil Pek Thian Kie muncul

perasaan sedih bercampur kasihan dan simpatik, ia ikut

merasa berduka bagi seseorang yang mendekati ajalnya ini.

“Lalu, kau sudah bulatkan tekad untuk menyewa rumah

tersebut?” kata Pek Thian Kie sedih !

“Benar !”

“Jika akupun pergi menyewa rumah tersebut ?”

“Kau tak mungki bisa, karena syaratnya tidak cukup.”

“Syaratnya tidak cukup?”

“Benar, karena tujuan mereka dalam penyewaan rumah

kali ini adalah diriku.”

“Tidak, Suhumu,” sambung Pek Thian KIe cepat

“Tapi, suhuku sudah mati, maka tujuan si penyewa

rumah tersebut adalah diriku.”

“Begini saja ……….” Setelah berpikir sangat lama, Pek

Thian Kie mengajukan usulnya. Bagaimana kalau aku pergi

mewakili dirimu untuk menyewa rumah tersebut ?”

“Tidak bisa !”

“Mengapa tidak bisa ?”

“Kau tidak dapat menggunakan kepandaian silat

suhuku.”

“Cuma itu saja yang kau risaukan ?”

“Benar.”

“Haaaaa ………… haaa …………… haaaa ………….

Soal itu gampang sekali untuk diatasi. Bukankah aku bisa

belajar ilmu silat tersebut dari dirimu ?”

“Belajar ? Belajar kepandaian silat suhuku dari aku orang

?”

“Benar, apakah tidak bisa ?”

Sinar mata pemuda menggembol pedang itu berkilat.

“Kau ingin wakili diriku untuk hantar kematian ?”

“Boleh dikata begitulah !”

“Tapi ingin belajar ilmu silat bukanlah suatu pekerjaan

yang bisa diselesaikan didalam dua tidga hari saja ……….”

“Bukannya cayhe bicara besar, ilmu silat semua partai

yang ada diseantero dunia asalakan dapat aku latih satu kali

saja selamanya pasti tak akan dapat cayhe lupakan

kembali.”

“Kau sungguh-sungguh memiliki kepandaian semacam

ini ?” teriak pemuda menggembol pedang itu terkejut

bercampur girang.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Aaaaaakh ……… aku rasa masih tak bisa dijalankan,”

sahut pemuda tersebut dengan sedih sambil menggeleng.

“Bagaimanapun aku tidak dapat melihat kau orang pergi

mewakili aku mati dengan hati lega.”

“Haaaaa ………… haaaaaaa …………… haaaa

…………. Soal ini kau boleh legakan hati. Karena soal ini

adalah atas dasar kemauanku sendiri, apakah akhirnya aku

akan mati atau tidak, soal ini tidak bisa diputuskan

sedemikian paginya !”

Saking terharunya pemuda menggembol pedang itu,

sampai mengucurkan air mata mendadak ia jatuhkan diri

berlutut kemudian menyembah dengan penuh rasa

berterima kasih.

“Terima kasih tuan penolong yang suka membantu

diriku !”

“Eeeeeeeei ………… ! eeei …………. Kenapa kau harus

menjalankan penghormatan sedemikian besarnya ? Pek

Thian Kie tak sanggup untuk memikulnya,” seru Pek Thian

KIe dengan gugup dan buru-buru membimbing ia bangun.

“Keselamatan seluruh keluargaku telah mendapat budi

bantuan yang amat besar dari Heng-thay ……”

“Soal ini aku tidak usah sungkan-sungkan lagi, karena

persoalan inipun ada sangkut pautnya dengan diriku !……

Ooooouw yaa, bnar siapakah nama besar Heng-thay ?”

“Aku bernama Tong Yong. Ini tahun berusia duapuluh

sembilan tahun !”

“Oooouw ……… kiranya Tong-heng. Kawan, saat ini

kau boleh mainkan satu kali ilmu pedang suhumu agar aku

bisa memperhatikan dengan cermat.”

“Suhuku dengan mengandalkan ilmu pedang “Ciang

Liong Kiam Hoat” atau ilmu pedang Penakluk naga

memimpin delapan pedang lainnya, maka dari itu

kepandaian silat yang sudah suhu ajarkan kepadaku adalah

kesembilan jurus ilmu pedang penakluk naga itu saja.

Sekarang kau perhatikanlah baik-baik, aku akan mainkan

satu kali dihadapanmu.”

Sembari berkata, dari punggungnya ia mencabut keluar

sebilah pedang panjang, terasalah cahaya pedang berkilauan

menyilaukan mata, secara samara-samar terasalah hawa

dingin menusuk tulang. Pedang tersebut benar-benar

merupakan sebilah pedang mustika.

“Pek-heng, harap kau mulai ambil perhatian.” Seru Tong

Yong seraya menggerakkan pedangnya. “Aku akan mulai

berlatih.”

“Ehmmm …….. silakan !”

Demikianlah, Tong Yong lantas gerakan pedangnya dan

mulai memainkan ilmu pedang “Ciang Liong Kiam Hoat”

nya.

Kiranya ilmu pedang penakluk naga ini mengutamakan

kecepatan untuk mendesak musuh, perubahan pedang

tersebut amat banyak sukar diraba bahkan memiliki pula

suatu daya kekuatan yang mata hebat. Benar-benar tidak

malu kalau disebut ilmu pedang seorang jagoan kenamaan.

Sembilan jurus dengan cepat berlalu Tong Yong pun

sambil menarik pedangnya mengundurkan diri kebelakang.

“Pek-heng. Coba kau lihat bagaimana ?”

“Haaaaa ………… haaaaaaa …………… haaaa

…………. Aku rasa berlatih dua kali sudah lebih dari

cukup.”

….. Tong Yong menganggk, iapun berturut-turut

memainkan ilmu pedang tersebut sebanyak dua kali,

kemudian tanyanya lagi kepada Pek Thian Kie.

“Coba kau lihat bagaimana ?”

“Bagus, sudah cukup ! Coba kau serahkan pedang itu

kepadaku adan akan aku mainkan satu kali dihadapanmu.

Bilamana ada kesalahan harap kau suka memberi banyak

petunjuk kepadaku.”

Tong Yong lantas memberikan pedang itu kepadanya,

kendati begitu didalam hatinya masih belum percaya penuh

jika Pek Thian Kie bisa memainkan ilmu pedangnya cukup

hanya dengan menonton dirinya berlatih tiga kali saja.

Tetapi Pek Thian Kie pribadi agaknya mempunyai

perhitungan yang masak, sambil tertawa ia menerima

pedang tersebut kemudian, sambil silangkan pedangnya

didepan dada.

“Tong-heng harap memberi petunjuk.

””Pek-heng, silakan !”

Pek Thian Kie tak banyak bicara lagi, pedangnya

disilangkan kedepan dada sebagai jurus pembukaan, setelah

itu sejurus demi sejurus ia mainkan ilmu pedang “Ciang

Liong Kiam Hoat” tersebut dengan penuh kekuatan.

Tampak cahaya dengan berkilauan memenuhi seluruh

angkasa, angina dingin menekan empat penjuru, hanya

didalam sekejap mata, jurus-jurus ilmu pedang penakluk

naga tersebut sudah selesai dilatih.

“Bagaimana ?” tanyanya kemudaian sambil tersenyum.

Dengan hati terperanjat dan bergidik Tong Yong berdiri

termangu-mangu disamping kalangan, hampir boleh dikata

ia tidak mempercayai pada sepasang matanya.

Bukan saja Pek Thian Kie berhasil memainkan “jurusjurus

ilmu pedang “Ciang Liong Kiam Hoat” tersebut

dengan amat sempurna, bahkan jauh lebih sempurna dari

permainan sendiri. Inilah disebabkan karena tenaga dalam

yang dimiliki Pek Thian Kie jauh lebih sempurna.

“Coba kau lihat bagaimana dengan hasil latihanku?”

kembali Pek Thian Kie menegur sambil tertawa

“Suuuuung ……. Sungguh ………. Sungguh hebat

………. Jauh berada diluar dugaanku.” Sahut Tong Yong

dengan gelgapan saking terkejutnya.

“Apakah ada kesalahan?”

“Sedikitpun tak ada yang salah, bahkan jauh lebih

sempurna daripada permainan siuwte sendiri.”

“Aaaaakh ….. kau terlalu memuji.”

“Bukannya memuji, tapi benar-benar !

“Kalau begitu kita putuskan demikian saja, aku akan

segera pergi mewakili dirimu untuk menyewa rumah aneh

tersebut.”

“Terima kasih atas budi pertolongan dari Heng-thay !”

“Eeeeeei ….. Tong-heng, kenapa harus mengucapkan

kata-kata semacam itu ? Apakah aku sudah cukup

sempurna untuk pergi menyewa rumah aneh itu ?”

“Belum ! Masih ada beberapa urusan harus kau

selesaikan dulu.”

“Masih ada ? Coba kau sebutkan urusan apa saja ?”

“Aku sendiripun tidak tahu jelas siapakah majikan dari

rumah aneh itu Cuma sebelum suhu meninggal, ia pernah

memberitahu kepadaku bahwa semisalnya didunia

persilatan muncul sebuah rumah aneh yang hendak

disewakan maka kau harus pergi menyewanya, dan diatas

pintu bangunan tersebut ada tertepel sebuah plakat yang

berisi tentang syarat-syarat menyewa rumah tersebut, yaitu :

Uang emas seribu tahil

Arak Giok Hoa Lok

Dan yang ketiga, seorang gadis cantik.”

“Dan rumah yang muncul saat ini adalah rumah aneh

yang dimaksudkan suhumu bukan ?”

“Sedikitpun tidak salah, sewaktu suhu menjelang ajalnya

ia berkata tiada larangan untuk menyewa rumah tersebut

seorang diri. Tapi nyatanya setiap tahun rumah tersebut

hanya boleh disewa oleh seorang saja, ia masih berkata pula

bahwa semua sembilan jagoan pedang dari kolong langit

mengetahui jelas persoalan ini.”

“Betul, mereka semua tahu persoalan ini, kalau tidak

mana mungkin mereka dapat dibunuh mati semua.”

“Pek-heng ! Kau harus ingat betul-betul, sewaktu kau

berhasil menemui majikan dari rumah tersebut maka benda

ini harus kau serahkan kepadanya !”

Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengambil keluar

sebuah bungkusan sutera dan diserahkan ketangan Pek

Thian Kie.

Sang pemuda she Pek juga menerima bungkusan sutera

tersebut, mendadak hatinya bergerak kemudian bergetar

keras, karena suatu ingatan sudah berkelbat didalam

benaknya.

“Apakah isi didalam buntalan sutera ini ?” tak terasa

tanyanya.

“Aku sendiripun tidak tahu,” perlahan-lahan Tong ong

menggeleng.

“Jadi kau sendiripun tidak apa isi dari benda yang ada

didalam kantong sutera ini ?”

“Benar!”

“Mengapa?’ Bukankah barang ini sudah lama ada

disakumu? Apakah belum pernah memeriksa isi kantong

tersebut ?”

Sekali lagi Tong Yong menggeleng.

“Waktu itu, ketika suhu menyerahkan kantong sutera ini

kepadaku beliau tidak mengucapkan sesuatu dan tidak pula

beritahu kepadaku apa isi dari kantong ini. Ia hanya berkata

setelah bertemu muka dengan majikan rumah aneh tersebut

maka kantong ini harus diserahkan kepadanya.”

Mendengar perkataan itu Pek Thian Kie merasa hatinya

semakin terperanjat, ia merasa benda yang berada didalam

kantong sutera ini pasti suatu benda yang amat penting !

……. Kalau tidak tak mungkin urusan dirahasiakan

sedemikian rapat.

Mendadak ………..

Agaknya Pek Thian Kie teringat akan sesuatu hal, air

mukanya berubah hebat, ia teringat akan diri “Sin Mo

Kiam Khek”

Si jagoan pedang inipun pernah menyimpan semacam

barang didalam istana harta ………. Apakah orang yang

dititipkan itupun merupakan benda semacam kantong

sutera ini ?

Sudah tentu hal ini mempunyai kemungkinan yang

sangat besar !

“Kau maksdukan kantong sutera ini harus diserahkan

kepada majikan rumah aneh itu ?’ Tanya Pek Thian Kie

kemudian.

“Benar “

“Kanng sutera itu hanya diserahkan kepadanya begitu

saja tanpa bicara apa-apa lagi ?”

“Benar-benar ! …… oooouw yaa ….. sewaktu kau

bertemu dengan dirinya, ia akan berkata kepadamu.

Serahkan seperembembilanmu itu ! ….”

“Apa katamu ? Sepersembilan ? Jadi sembilan jagoan

pedang dari Kolong Langit memiliki benda ini ?”

“Tidak salah ! Jikalau pihak lawan tidak mengucapkan

kata-kata tersebut kepadamu, maka kaupun tidak perlu

serahkan barang ini kepadanya.”

“Ehmmmm …..! Aku sudah tahu.” Pek Thian Kie

mengangguk.

“Disamping itu, untuk membuktikan asal-usulmu yang

benar dalam penyamaranmu sebagai anak murid suhuku.

Terpaksa pedang penakluk naga “Ciang Liong Kiam” ini

harus aku serahkan padamu.”

Pek Thian Kie lantas menerima pedang penakluk naga

itu sambil ucapnya :

“Masih ada urusan lain lagi yang belum kau sebutkan ?”

“Sudah tak ada lagi, seluruh persoalan aku serahkan

kepada Heng-thay untuk Menyelesaikannya.”

“Haaaa ……… haaaa …….. haaaa …… kau tidak perlu

sungkan-sungkan lagi.”

“Jika dilihat dari tindak-tanduk heng-thay, agaknya baru

pertama kali kau orang terjun diri dalam dunia persilatan?”

“Benar!”

“Tidak aneh kalau kau masih merasa asing terhadap

seluruh peristiwa yang terjadi didalam dunia kangouw……”

———– ooo O ooo ———–

Jilid 6

Bab 16 Perkampungan Lui Im San Cung

MENDENGAR perkataan itu Pek Thian Kie tertawa.

“Dugaan Tong-heng sedikitpun tidak salah,” jawabnya

sambil mengangguk.

“Terhadap persoalan yang terjadi didalam dunia

kangouw siaute memang merasa rasa asing, aku ada

beberapa persoalan yang ingin minta petunjuk dari hengthay!”

“Oooouw ….! Urusan apa? Coba kau sebutkan!”

“Tahukah kau orang tentang seorang manusia yang

bernama Kiang To?”

Mendengar disebutnya nama Kiang To, Tong yong

lantas kerutkan dahinya.

“Soal orang itu aku hanya mengetahui sedikit sekali.”

“Bagaimana kalau kau beritahukan apa yang kau ketahui

itu kepada diriku?”

“Sudah tentu boleh saja.”

Ia merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian

katanya kembali :

“Pertama, dia adalah seorang bajingan cabul yang paling

terkutuk. Katanya didalam beberapa hari yang lalu

sekaligus ada empat gadis yang sudah diperkosa

olehnya…..!”

“Sungguh-sungguhkah peristiwa semacam ini?” teriak

Pek Thian Kie dengan air muka berubah hebat.

“Sedikitpun tidak salah! Keempat orang gadis tersebut

sama-sama diperkosa dalam waktu hampir bersamaan.

Bangsat itu memasuki kamar gadis-gadis tersebut menjelang

kentongan ketiga tengah malam buta. Dan pada hari kedua

mereka ditemukan tergeletak diatas pembaringan dalam

keadaan telanjang bulat dan mabok oleh obat bius. Serta

disisi pembaringannya pasti tertancap sebuah panji kecil!”

“Sungguh cabul dan buas tindakan bangsat itu,” tak

kuasa lagi Pek Thian Kie ikut berteriak gusar.

“Tidak salah, ia memang amat cabul, dan buas didalam

soal perkosaan kaum gadis. Sedang mengenai keganasan

tindak tanduknya, selama ini sudah beratus-ratus jagoan

kangouw yang menemui ajalnya di tangan bangsat

tersebut.”

“Sungguhkan perkataanmu itu ?”

“Sedikitpun tidak salah.”

Mendengar perkataan itu Pek Thian Kie ikut merasakan

hatinya bergidik, tindak-tanduk yang demikian kejam dan

buasnya memang betul-betul membuat hati setiap orang

pasti merasa gemas, benci dan marah. Tidak aneh kalau

orang-orang Bu-lim begitu membenci manusia yang

bernama Kiang To itu.

Setelah berpikir beberapa saat lamanya, kembali Pek

Thian Kie bertanya : “Lalu dengan alasan apa ia hendak

menjagali jago-jago lihay begitu banyak ?”

“Mana aku bisa tahu?”

Pek Thian Kie mengangguk, sesudah berdiam beberapa

saat lamanya, kembali ia bertanya :

“Heng-thay ! Selain Istana Harta serta Istana Arak, aku

dengar masih ada sebuah tempat yang disebut Istana

Perempuan. Untuk dapatkan syarat yang terakhir yaitu

gadis cantik, apakah ada seharusnya aku harus berkunjung

kesana. Tahukah kau dimanakah letak “Istana Perempuan”

tersebut ?”

“Siaute tahu letak Istana Perempuan tersebut !”

“Kalau begitu, tolong heng-thay suka menjelaskan letak

Istana Perempuan tersebut lebih jelas, aku segera akan

berangkat kesana.”

“Istana Perempuan terletak ditengah hutan Hong Siauw

Liem gunung Kun Kauw-san. Dari tempat ini kau boleh

berjalan menuju kearah timur, kemudian setelah melewati

enam, tujuh lie akan tiba disebuah bangunan besar yang

megah, itulah letaknya Istana Perempuan.”

“Terima kasih atas petunjuk dari heng-thay,” kata Pek

Thian Kie kemudian sambil tertawa. “Untuk mempercepat

selesainya tugas ini, maka aku segera akan berangkat

kesana, kitapun berpisah dulu sampai disini!”

Saking terharu dan terima kasihnya, lama sekali Tong

Yong tak dapat mengucapkan sepatah katapun, lama ……..

lama sekali ia baru berkata :

“Heng-te akan pulang dulu ke rumah, guna menjenguk

isteri serta puteraku kemudian aku akan berangkat lagi

untuk menemui dirimu.”

“Emmm …… silakan!”

Belum jauh ia berlalu, mendadak kembali Tong Yong

menghentikan langkahnya dan menoleh.

“Pek-heng, aku tahu kalau kau orang belum pernah

mengunjungi Istana Perempuan, sebelum kau pergi kesana,

aku ada sebuah urusan hendak kusampaikan kepadamu.”

“Urusan apa ?”

“Didalam Istana perempuan tersebut berpenghuni

ratusan orang gadis-gadis berwajah cantik. Dan setiap orang

mempunyai daya tarik yang mempesonakan. Tetapi

diantara ratusan orang gadis cantik tersebut hanya seorang

gadis yang bernama “It Peng Hong” sebagai gadis yang

tercantik dan paling mempesonakan ….”

“It Peng Hong? Apakah It Peng Hong ini nama seorang

gadis cantik …?”

“Benar!” Tong Yong mengangguk.

“It Peng Hong adalah nama samarannya. Dan ia

memiliki kecantikan wajah yang sangat luar biasa. Tapi

…… aku nasehati dirimu lebih baik jangan mencari

dirinya.”

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mencari gadis yang

bernama It Peng Hong itu ? Bukankah seperti apa yang kau

katakana, dia merupakan gadis yang paling cantik diantara

seluruh penghuni istana perempuan ?”

“Heeiiiiiii …… “ kembali Tong Yong menghela napas

panjang. “Kendati begitu, tapi menurut apa yang aku

dengar dari pembicaraan orang, gadis It Peng Hong tersebut

sudah di borong oleh Kiang To si bangsat cabul dan ganas

itu. Ada beberapa orang jagoan lihay dari bu-lim tidak suka

mendengarkan peringatan yang diberikan kepada mereka,

dan banyak diantaranya hampir-hampir saja menemui

ajalnya di tangan Kiang To.”

Pek thian kie yang mendapatkan keterangan tersebut

diluaran, tidak ingin benyak membantah, maka ia

tersenyum dan mengangguk saja.

“Kau boleh berlega hati u akan ingat keteranganmu ini

..”

“Kalau begitu kaupun harus baik-baik berjaga diri.”

“Heng-thay, silakan berlalu …”

Setelah merangkap tangannya menjura, Tong Yong

segera menggerakkan badannya berkelebat meninggalkan

tempat itu.

Menanti bayangan punggung dari Tong Yong sudah

lenyap dari pendangan. Pek thian kie baru menghembuskan

napas panjang, iapun putar badan dan berlari menuju

kearah sebelah timur.

Kini diantara ketiga buah istana, yaitu Istana Harta,

Istana Perempuan serta Istana Arak, tinggal sebuah saja

yang belum dikunjungi.

Ia harus mendapatkan seorang gadis cantik dari istana

perempuan tersebut guna melengkapi syarat-syarat untuk

menyewa rumah aneh itu, maka bila setelah komplit ia

segera akan pergi ke rumah aneh tersebut dan menemui

majikan rumah itu.

Tanpa banyak membuang waktu lagi pek thian kie segera

mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya meluncur

kesebelah timur.

Ketika sang surya kembali muncul diufuk sebelah timur,

Pek Thian Kie sudah dapat menemukan Istana perempuan

yang merupakan banguanan besar, megah dan menempati

tanah seluas berpuluh-puluh hektar itu.

Mungkin karena kedatangan Pek Thian Kie terlalu pagi,

maka pintu Istana Perempuan tersebut masih tertutup rapatrapat.

Diatas pelataran pintu depan, berdirilah seorang kakek

tua berbaju kuning.

Dam sewaktu melihat munculnya Pek Thian Kie disana,

ia sudah lantas maju mendekat dan rangkap tangannya

menjura :

“Bocah sungguh pagi benar kau sudah tiba disini?”

tegurnya sembari tertawa.

Air muka Pek Thian Kie kontan berubah jadi merah

padam saking jengahnya mendapatkan teguran tersebut.

Bab 17

“Loo-tiang, tolong tanya apakah bangunan ini benar2

adalah istana Perempuan?” Akhirnya dengan menahan rasa

malu ia bertanya.

“Benar! Inilah Istana Perempuan, saudara! Apakah

maksud kedatanganmu sepagi ini hendak mencari gadis

untuk ber-senang2?”

“Sedikitpun tidak salah!. . .”

Kembali siorang tua berbaju kuning itu tertawa.

“Saudara! Kedatanganmu terlalu pagi!”

“Terlalu pagi? Ini sudah jam berapa? Bagaimana

mungkin kau katakan terlalu pagi?”

“Benar, memang sekarang sudah tidak pagi lagi, tapi

Istana perempuan ini baru mulai dibuka melayani para

tamu setelah sore hari hingga pagi, sehingga pada

kentongan kelima, Sekarang mereka sudah tidur pulas,

untuk merangkak bangunpun tak mungkin bisa.”

“Jadi maksudmu aku harus balik lagi nanti sore?”

“Benar!”

Mendengar jawaban tersebut, Pek Thian Ki lantas

berpikir keras, ia merasa jikalau pihak lawan sudah

mengatakan kalau Istana Perempuan baru akan dibuka dan

melayani tamu setelah sore hari, maka sudah tentu

bagaimanapun juga ia harus menunggu hingga sore hari

menjelang datang, Berpikir sampai disitu, ia lantas menoleh

lagi kearah siorang tua berbaju kuning itu.

“Loo-tiang! Baiklah, terima kasih atas petunjukmu, nanti

sore aku akan balik lagi.”

“Tidak usah berterima kasih, tidak usah berterima kasih,

nanti sore kau boleh datang lagi.”

Setelah berjalan keluar dari Pintu depan Istana

Perempuan, Pek Thian Ki berjalan lambat2 tanpa arah

tujuan dan untuk beberapa waktu pemuda ini benar2

merasa kebingungan kemana ia harus pergi.

Akhirnya ia berjalan mendekati sebuah pohon besar dan

tertidur pulas dibawah dedaunan yang rindang itu, Entah

lewat beberapa waktu lamanya. . . .mendadak ia dikejutkan

oleh suara langkah kaki manusia yang berjalan mendekati

arahnya, Kontan membuat pemuda itu tersentak bangun

dari tidurnya.

Sinar mata dengan tajam menyapu empat penjuru,

dengan amat mudah sekali ia berhasil menemukan sesosok

bayangan manusia berwarna hijau dengan langkah cepat

berjalan menuju kearahnya, Dan orang itu pasti bukan lain

adalah Tong Ling yang sedang menyaru jadi seorang pria.

Ditempat dan keadaan semacam ini, mendadak Tong

Ling bisa munculkan dirinya ditempat itu, Hal ini sedikit

banyak berada diluar dugaan Pek Thian Ki. Lama sekali ia

berdiri tertegun tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

Per-lahan2 Tong Ling berjalan kesisi tubuh Pek Thian

Ki, setelah melirik sekejap kearahnya sambil tertawa,

ujarnya; “Sebegini pagi, kau sudah tiba di istana Perempuan

untuk mencari kesenangan?”

“Tidak. . .tidak. . .” buru2 Pek Thian Ki membantah

dengan air muka berubah menjadi merah padam, “Aku ada

urusan untuk diselesaikan ditempat ini!”

Tong Ling tersenyum, ia melirik sekejap kearah pintu

besar Istana Perempuan yang tertutup rapat2, kemudian

godanya lagi; “Kemungkinan sekali nona-nona cantik itu

baru saja tertidur pulas bukan?”

“Benar, Cayhe. . .kedatangan cayhe rada terlalu pagi. .

.Nona Tong. . . .”

“Pada saat ini aku sedang memakai pakaian pria, lebih

baik kau sebut diriku dengan sebutan Tong-te saja.”

“Tapi. . .hal ini mana bisa jadi?” Seru Pek Thian Ki

sambil tertawa pahit.

“Kenapa tidak bisa jadi?”

“Karena kau adalah seorang gadis, mana boleh aku

orang memanggil dirimu dengan sebutan Tong Loo-te?”

“Tapi, bukankah pada saat ini aku sedang menyaru

sebagai seorang pria? Sungguh amat lucu juka seorang pria

kau panggil dengan sebutan nona. . .”

“Heeeei. . .baik, baiklah, aku akan panggil dirimu dengan

sebutan Tong Loo-te!” Ia merandek sejenak dan tertawa.

“Tong-te! Kau adalah seorang nona, apalagi gadis suci,

tidak seharusnya datang kemari hanya untuk mencari gadis

ber-senang2 bukan?”

“Benar, secara kebetulan saja aku lewat ditempat ini.”

“Tolong tanya Nooo. . .Tong Loo-te, hendak kemana?”

“Aku? Oooooouw. . .aku hendak kegunung Lui Im San!”

“Gunung Lui Im San?”

“Benar!”

Mendengar perkataan itu, Pek Thian Ki merasakan

hatinya sangat terperanjat, secara mendadak ia teringat

akan sesuatu, Bukankah dara cantik berbaju hijau yang

ditemuinya sewaktu berada di Istana Harta juga mengajak

dia orang untuk bertemu digunung Lui Im San?

Teringat akan persoalan ini, tak terasa lagi tanyanya;

Tong Loo-te! Tolong tanya, apa maksudmu pergi kegunung

Lui Im San?”

“Melihat keramaian!”

“Melihat keramaian?”

“Benar!”

“Keramaian apa?”

“Ini hari adalah ulung tahun kelima puluh dari Hu Toa

Kan itu Cung-cu dari perkampungan Lui Im San Cung,

Berbagai jagoan lihay dari semua daerah pada berdatangan

untuk memberi selamat kepadanya!”

“Hu Toa Kan? Macam apakah orang itu?” tanya Pek

Thain Ki rada melengak.

“Sejak Sam Ciat Sin-cun meninggal, boleh dikata

dikolong langit pada saat ini kepandaian silatnya terhitung

menduduki kursi pertama.”

“Siapakah itu Sam Ciat Sin-cun?”

“Ayah dari Kiang To. . .Kiang Lang!”

Pek Thian Ki merasakan hatinya tergetar sangat keras, ia

tidak menyangka kalau Hu Toa Kan adalah seorang jagoan

yang angkat nama sejajar dengan Kiang Lang ayah dari

Kiang To.

“Lalu kau tahu urusan apa yang menyangkut orang ini?”

tanyanya lebih lanjut.

“Kurang jelas!”

“Dia dengan Kiang Lang apakah kawan baik ?”

“Penah bersahabat karib, tapi saat ini Kiang Lang sudah

mati.”

Pek Thian Ki mengerutkan dahinya, belum sempat ia

mengucapkan sesuatu, kembali Tong Ling sudah berkata:

“Tetapi, diantara dia dengan Kiang Lang agaknya masih

ada sedikit ikatan dendam, Didalam ulang tahunnya yang

kelima puluh ini ada kemungkinan Kiang to pun bakal

munculkan diri.”

“Apa? Kiang To bisa munculkan dirinya didalam pesta

ulang tahun tersebut.”

“Benar, bahkan kelihatannya hendak mencari kerepotan

terhadap diri Hu Toa Kan.”

“Apa kira2 yang hendak ia lakukan?”

“Soal ini rada sulit untuk dibicarakan, dahulu Hu Toa

Kan dengan Sam Ciat Sin-cun adalah merupakan sepasang

sahabat karib, Menurut apa yang aku ketahui, Hu Toa Kan

sudah menjodohkan putrinya kepada diri Kiang To.”

“Oooouw. . .” Tak kuasa lagi Pek Thian Ki berseru

tertahan.

“Tapi, terhadap tindak tanduk dari Kiang To

kedengarannya Hu Toa Kan sudah membenci hingga

merasuk kedalam tulang sumsum.” Ujar Tong Ling

kembali. “Maka dari itu, dengan menggunakan kesempatan

diadakannya pesta ulang tahun ini, ada kemungkinan

dihadapan para tamu Hu Toa Kan akan membatalkan

ikatan perkawinan tersebut.”

Pek Thian Ki mengangguk.

“Cuma aku duga Kiang To pasti tak akan

menyetujuinya,” tambah Tong Ling lebih lanjut.

“Soal ini sudah tentu bakal terjadi, lalu entah bagaimana

dengan pendapat putrinya?”

“Putrinya entah setuju atau tidak dengan keputusan ini,

aku duga sampai waktunya tentu ada suatu keramaian

bakal terjadi, oleh sebab itu aku ingin pergi kesana untuk

menonton keramaian.

“Kapan pesta ini akan dilangsungkan?”

“Nanti sore?”

“Aku ingin ikut pergi kesana untuk menambah

pengetahuan.” seru Pek Thian Ki tiba2 sambil tertawa.

“Kau ingin pergi?”

“Benar!”

“Waaah. . .kebetulan sekali, mari kita berangkat

bersama-sama.” Demikianlah, kedua orang itupun bersama2

lantas lari menuju kearah gunung Lui Im San.

Perkampungan Lui Im San Cung terletak disebelah

selatan gunung Lui Im San, Bangunan perkampungan

tersebut mencapai ratusan hektar luasnya dengan bangunan

rumah yang ber-deret2, Bukan saja megah, bahkan

memperlihatkan keseraman dan keangkeran yang bukan

kepalang.

Siang hari itu Pek Thian Ki serta Tong Ling sudah tiba

diatas gunung Lui Im San. Tampaklah ber-puluh2 orang

Bu-lim saling susul menyusul memasuki perkampungan Lui

Im San Cung, kebanyakan orang2 ini merupakan jago2

yang datang untuk memberi selamat, Tetapi ada pula

sebagian besar yang datang hanya hendak menonton

keramaian saja.

Pek Thian Ki serta Tong Ling pun membaurkan diri

mereka kedalam gerombolan orang2 itu, sewaktu tiba

didepan pintu halaman perkampungan Lui Im San Cung

yang dikelilingi dengan tembok tinggi, tampaklah beberapa

orang kakek tua berbaju merah secara terpisah menyambut

dan melayani kawan2 Bu-lim itu.

Setelah masuk halaman luas, terlihatlah didepan pintu

besar sebuah loteng besar lampu teng-tengan

bergelantungan dengan tulisan “So”. Suasana amat meriah

dan ramai.

Dibawah pimpinan seorang kakek tua berbaju merah,

Pek Thian Ki pun dipersilahkan memasuki sebuah ruangan

besar, Suasana hiruk pikuk ramai dengan pembicaraan

manusia, kurang lebih ada ratusan orang banyaknya para

jago yang datang memberi selamat.

Sinar mata Pek Thian Ki menyapu sekejap kesekeliling

tempat itu, ia merasa kedudukan Hu Toa Kan jelas tidaklah

rendah, hal ini terbukti dari banyaknya para tamu yang

datang memberi selamat.

Didalam desakan2 serta ruangan yang sumpek

kebanyakan tamu, lama kelamaan Pek Thian Ki tak bisa

menahan hawa panasnya lagi, ia melirik sekejap kearah

Tong Ling, lalu katanya;

“Tong-te! Sungguh udara panas, mari kita jalan2 saja

ketempat luaran. . .”

Dengan penuh kegembiraan Tong Ling mengangguk,

demikianlah mereka berdua lantas berjalan keluar ruangan,

Ketika itu, masih banyak jago yang saling susul menyusul

memasuki perkampungan Lui Im San Cung.

“Tong-te!” mendadak Pek Thian Ki berseru, agaknya ia

sudah teringat akan suatu urusan. “Aku ingin menanyakan

suatu urusan kepadamu!”

“Urusan apa?”

“Apa kau pernah berjumpa dengan putrinya Hu Toa Kan

itu?”

“Belum. . .” Tong Ling menggeleng, sepasang matanya

yang jeli ber-kedip2, “Mengapa dia?”

“Aku ingin tahu bagaimanakah wajahnya?” seru Pek

Thian Ki sambil tertawa.

“Aku dengar kecantikan wajahnya tiada bandingan

diseantero kolong langit pada saat ini.”

“Oooouw yaaa. . .? waaaah. . .kalau cantik sekali

wajahnya, aku ada maksud ingin melihat sekejap

wajahnya.”

“Eeeeei. . . .Pek-heng, kau jangan membawa maksud

tidak baik loh terhadap gadis tersebut,” goda Tong Ling

sembari tertawa.

“Mana. . .mana. . .cayhe tak akan berani berniat jahat.”

Pada waktu itulah mereka berdua sudah tiba disebuah

kebun bunga dibelakang ruangan besar itu, dimana tumbuh

beraneka warna bunga yang memancarkan bau harum

semerbak, ditengah kebun itu terdapat kolam dibalik kota

tersusun gunung2an, Pemandangannya sangat indah dan

mempesona.

“Waaah. . .sungguh indah pemandangan ditempat ini. .

.” Tak terasa lagi pemuda itu berguman.

“Pek-heng, coba kau lihat siapakah itu?” mendadak Tong

Ling berteriak tertahan.

“Dimana?” seru Pek Thian Ki melengak.

“Itu diatas loteng depan kita.”

Mengikuti arah yang ditunjuk Pek Thian Ki alihkan sinar

matanya, tampaklah disamping jendela bangunan loteng

dihadapannya berdiri seorang gadis cantik berbaju warna

merah.

Usianya kurang lebih tujuh, delapan belas tahunan,

boleh dikata wajahnya amat cantik dan mempesonakan

setiap orang yang memandang. Untuk beberapa saat

lamanya perhatian Pek Thian Ki benar2 terpesona atau

lebih tepatnya terpikat oleh kecantikan wajah gadis tersebut.

Lama sekali ia memandang dara berbaju merah itu

dengan pandangan mendelong. “Sungguh amat cantik!”

Pujinya tanpa terasa.

“Ehmmm. . .ia memang seorang gadis yang amat

cantik,” sambung Tong Ling dengan cepat.

Air muka Pek Thian Ki langsung saja berubah merah

jengah, ia terpaksa tertawa jengah, “Benar, dara tersebut

betul2 amat cantik, entah siapakah dia orang. . . .?”

“Kemungkinan besar adalah putri dari Hu Toa Kan!”

“Tidak salah! Ada kemungkinan besar. . .” Teriak Pek

Thian Ki tak tertahan, Hatinya merasa bergetar sangat

keras.

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata2nya,

mendadak dari belakang punggung mereka berkumandang

datang suara langkah manusia yang memecahkan

kesunyian, Seorang kakek tua berbaju merah tahu2 sudah

tiba dibelakang tubuh mereka berdua.

“Kongcu berdua, maaf aku orang mengganggu sebentar

ketenangan kalian,” seru orang tua itu sambil tertawa.

“Ada urusan apa?”

“Tolong tanya apakah kalian berdua datang kemari

hendak menyampaikan ucapan selamat buat Loo-ya kami?”

“Benar!”

“Kawan-kawan Bu-lim kini sudah mulai menyampaikan

ucapan selamat mereka, kalian berdua mari ikuti diriku.”

Pek Thian Ki tersenyum dan mengangguk, tapi tidak

urung ia melirik kembali sekejap kearah dara cantik diatas

loteng tersebut, kemudian baru berlalu dari sana. Pek Thian

Ki serta Tong Ling dengan mengikuti dari belakang kakek

tua berbaju merah itu berjalan masuk kedalam ruangan

pesta, Tampaklah ditengah ruangan yang besar itu teratur

empat, lima puluh buah meja perjamuan, Diatas dinding

sembahyang terpancang sebuah kata ‘So’ yang amat besar

dan terbuat dari kertas warna emas.

Disamping tulisan besar itu tergantung pula beberapa

deret tulisan yang kira2 berbunyi sebagai berikut “Panjang

Usia bagaikan tingginya gunung Lam San, Banyak rejeki

bagaikan Lautan Tong Hay.”

Lampu lilin warna merah memancarkan cahaya terang

benterang menerangi seluruh ruangan yang penuh diliputi

rasa kegembiraan.

Diatas kursi kebesaran duduklah seorang kakek tua

berusia limapuluh tahunan dengan wajah memancarkan

cahaya merah pula, tubuhnya memakai jubah warna merah

yang terukirkan kata2 ‘So’ dari benang emas. Pada saat itu

ia sedang mengangguk menerima ucapan selamat dari para

jago Bu-lim yang hadir diruangan tersebut.

“Orang inikah yang bernama Hu Toa Kan?” Bisik sang

pemuda dengan suara yang lirih.

“Benar!”

Suasana kembali berubah jadi hening, sunyi dan tidak

kedengaran sedikit suarapun.

Pada waktu itulah. . . .

Ucapan selamat sudah selesai, dan Hu Toa Kan sambil

tersenyum bangun berdiri, ujarnya lantang;

“Didalam merayakan ulang tahunku, kawan2 sekalian

tiada kenal lelah, jauh2 dari ujung dunia datang mengikuti

perayaan ini, dalam hati aku orang she Hu benar2

mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dari

saudara-saudara sekalian.”

Sinar matanya per-lahan2 menyapu sekejap keseluruh

ruangan.

“Dari tempat jauh saudara sudah datang kemari, aku

orang she Hu tiada barang yang berharga untuk dijamukan,

biarlah aku gunakan air arak sebagai tanda terima kasihku.”

ooo O ooo

Ditengah suara teriakan ‘Hidangkan Arak’, tampaklah

pelayan2 mulai mengatur sayur serta arak diatas meja

perjamuan.

“Saudara-saudara sekalian, aku orang she Hu

akanmenghormati kalian dengan secawan arak sebagai

tanda terima kasihku,” Seru Hu Toa Kan kemudian dengan

cawan arak diangkat keatas.

Semua hadirin sama-sama pula angkat cawan dan

meneguk habis isinya. Seorang kakek tua yang duduk

dimeja depan mendadak bangun berdiri.

“Kitapun sudah seharusnya balas menghormati secawan

arak buat Hu-heng!” serunya keras.

Kembali para hadirin bangun berdiri dan balas

menghormati secawan arak buat Hu Toa Kan. Mengambil

kesempatan tersebut Tong Ling ikut angkat cawan keatas,

kepada Pek Thian Ki serunya;

“Pek-heng, menggunakan kesempatan ini, akupun ungin

menghormati secawan arak kepadamu.”

“Tidak bisa jadi!” Pemuda itu tertawa dan menggeleng.

“Mungkinkah Pek-heng ada maksud menampik?”

“Bukan. . . bukannya begitu, karena ditengah jalan tadi

sakit hati dari siauwte sudah kumat satu kali, maka aku

tidak berani minum arak.”

“Mengapa kau tidak berani?”

“Sebelum tenaga dalamku puluh enam bagian, siauwte

benar2 tidak berani ikut minum arak.”

“Baiklah, kalau memang begitu sesukamulah!”

Pek Thian Ki tersenyum, ia angkat cawan dan

ditempelkan saja keatas bibirnya.

“Tong-te, terima kasih!”

Tong Ling tersenyum, senyuman tersebut amat menarik,

mempesonakan dan menggairahkan, hal ini membuat Pek

Thian Ki jadi kepincut dan merasakan hatinya berdebar

amat keras, Terutama sekali dari tubuhnya melayang keluar

segulung bau harum yang sangat aneh sekali, hal ini

semakin membuat Pek Thian Ki jadi mabok. Melihat sikap

sang pemuda yang me-longo2 seperti kehilangan nyawa,

Tong Ling jadi melengak.

“Pek-heng, mengapa kau memandang diriku terus

menerus?”

“Kau. . .kau sangat cantik?”

“Ngaco belo!. . .”

“Bukan ngaco belo. tapi. . .suuung. .sungguh. . .sungguh!

Kau benar2 amat cantik,”

“Bagaimana jika dibandingkan dengan nona tadi?”

Bila kau berganti dengan pakaian perempuan,

kecantikanmu tak akan kalah dari kecantikan gadis tadi?”

“Eeeei. . .kau jangan pakaikan topi kebesaran diatas

kepalaku. Pek Thian Ki tertawa riku, Mendadak terdengar

suara bentakan keras bergema memecahkan kesunyian.

“Kawan2 sekalian, tunggu sebentar, maaf aku akan

menganggu kalian sebantar.”

Para tamu yang sedang minum arak dengan ramainya

sama2 meletakkan cawannya kembali keatas meja dan

alihkan sinar matanya kearah mana berasalnya suara

tersebut.

Tampaklah Hu Toa Kan dengan wajah yang keren sudah

bangun berdiri, sinar matanya berkilat dan dari ujung

bibirnya tersungging satu senyuman tawar.

“Terpaksa cayhe harus mengganggu ketenangan kalian

untuk minum arak, aku ada suatu urusan yang mau tak

mau harus diberitahukan kepada saudara2 sekalian.”

“Hu Cungcu, ada urusan apa? Silahkan kau orang

utarakan keluar,” jawab seorang kakek berbaju kuning

dengan suara lantang.

“Tolong tanya, diantara kalian pernahkah mendengar

seorang jagoan yang bernama Kiang To?”

Mendengar disebutkannya nama orang itu, rata2 air

muka semua hadirin berubah hebat, agaknya mereka

menaruh rasa jeri dan takut terhadap manusia ganas yang

amat lihay itu, Seketika itu juga suasana ditangah ruangan

besar jadi sunyi senyap, tak kedengaran sedikit suara

apapun! Air muka Pek Thian Ki sendiripun rada berubah

setelah mendengar disebutnya nama orang itu.

“Hu Cungcu! Tolong tanya, mengapa dengan dirinya?”

tanya seseorang yang tidak dapat menahan sabar lagi.

“Heee. . . . .heeee. . . .heeee. . . . . ia sudah datang!”

“Apa? Ia sudah datang? Dimanakah sekarang orangnya?”

Dengan diiringi suara teriakan tertahan, para jagoan berseru

keras, rata2 semua hadirin sudah dibuat bergidik hatinya

oleh berita ini.

Sinar mata Pek Thian Ki pun dengan tajam

memperhatikan wajah Hu Toa Kan tanpa berkedip,

Suasana ditengah ruangan jadi hening, tapi dibalik itu

terlintas napsu membunuh yang amat menyeramkan.

“Kiang To!” Terdengar Hu Toa Kan membentak keras,

“Kau ingin keluar sendiri ataukah memaksa aku orang yang

menarik kau keluar dari ruangan ini?”

Para hadirin mulai saling bertukar pandangan dengan

pikiran penuh tanda tanya, agaknya orang yang duduk

dihadapannya merupakan Kiang To yang sedang disebut

itu, suasana berubah semakin sunyi lagi.

“Tong Loo-te! Apakah dia orang benar2 sudah datang?”

bisik Pek Thian Ki dengan suara yang amat lirih.

“Kemungkinan besar!”

Hu Toa Kan yang melihat lama sekali Kiang To tidak

suka unjukkan diri, air mukanya segera berubah hebat;

“Kiang To! Kau sungguh2 tidak mau keluar? Apakah kau

ingin paksa aku orang turun tangan sendiri?” kembali

bentaknya.

Ruangan tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit

suarapun. Sinar mata Pek Thian Ki pun melototi diri Hu

Toa Kan semakin tajam.

“Heee. . . .heee. . .heee. . .Kiang To! Kalau memang kau

tiada maksud untuk keluar sendiri, terpaksa aku harus turun

tangan sendiri untuk mengundang kau keluar.” seru Hu Toa

Kan sambil tertawa dingin.

Para jago Bu-lim yang ada didalam dunia Kangouw ratarata

mulai mengalihkan sinar matanya keatas wajah Hu

Toa Kan, tampaklah siorang tua itu selangkah demi

selangkah mulai berjalan diantara meja2 perjamuan.

Suasana didalam ruangan amat sunyi, hening dan tidak

kedengaran sedikit suarapun, Kecuali suaar langkah kaki

Hu Toa Kan yang teratur, hampir2 membuat jarum yang

jatuh keatas tanahpun kedengaran.

Mendadak. . . Hu Toa Kan berbelok dan langsung

menuju kearah meja yang ditempati oleh Pek Thian Ki serta

Tong Ling, hal ini membuat kedua orang itu jadi terkejut

dan saling bertukar pandangan.

Waktu itu Hu Toa Kan telah tiba disisi tubuh Pek Thian

Ki, Air muka pemuda itu langsung saja berubah hebat,

jantungnya terasa berdebar keras.

“Heee. . .heee. . .heeee. . . Kiang To! Kalau memang

sudah datang kemari, mengapa kau orang tidak langsung

menyambangi diriku secara terang2an dan blak2an?” tegur

siorang tua itu sambil tertawa seram.

“Apa? Dia adalah Kiang To?” terdengar suara jeritan

tertahan dari para jago yang hadir didalam ruangan.

“Kiang To adalah pemuda kurus itu?”

“. . . .Apakah betul mereka?”

Suasana berubah jadi gaduh, teriakan-teriakan tidak

percaya mulai tersebar simpang siur, rata-rata air muka para

jagoan pun mulai berubah hebat.

“Apa kata kau?” terdengar Pek Thian Ki pun berseru

tertahan.

“Hmmmm! Kau adalah Kiang To!”

“Kau sedang ngaco belo!”

“Ngaco belo?”

“Benar, kau sedang ngaco belo, aku bukan Kiang To, aku

bernama Pek Thian Ki.”

“Heeee. . . heeee. . . heeee. . . aku tahu kalau kau

bernama Pek Thian Ki,” seru Hu Toa kan sambil tertaw

dingin. . .Tetapi nama tersebut nama samaranmu, dan

namamu yang sebenarnya adalah Kiang To.”

“Kurang ajar, aku harap kau jangan ngaco belo lagi!”

Saking gusarnya Pek Thian Ki membentak keras.

“Hmmm! Kalau memang tujuanmu datang kemari untuk

menyatroni diriku, mengapa tidak berani pula untuk

mengakui?”

Mendadak Pek Thian Ki pun tertawa dingin, “Jadi kau

suruh aku mengakui kalau aku adalah Kiang To?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Tapi, aku kan sudah berkata kalau aku bukan orang

itu.”

“Aku punya cara untuk membuktikan.”

“Heeee. . . .heeee. . . heeee. . . aku ingin tahu dengan

menggunakan cara apa kau ingin membuktikan diriku

adalah Kiang To,” Tantang Pek Thian Ki sambil tertawa

dingin.

“Mari silahkan!”

Ditengah suara seruan tersebut, dengan langkah lebar Hu

Toa Kan sudah melangkah keluar ketengah ruangan. Pek

Thian Ki tertawa dingin, ia pun dengan mengikuti dari

belakang tubuh Hu Toa Kan berjalan keluar dari meja

perjamuan langsung menuju ketengah ruangan.

Sinar mata semua orangpun mulai dialihkan keatas

tubuh kedua orang itu, mereka mulai memperhatikan

dengan cermat dan penuh perhatian. Setibanya ditengah

ruangan, mereka berdua ber-sama2 menghentikan langkah

kakinya dan putar badan saling ber-hadap2an.

“Hu Cungcu, kau hendak menggunakan cara apa untuk

membuktikan kalau aku adalah Kiang To?”

“Hmmm! Semua jago diseantero dunia pada tahu kalau

kau Kiang To setelah melakukan kejahatan tentu akan

meninggalkan sebuah panji kecil disamping korban,

Sekarang aku perintahkan kau untuk copot pakaian luarmu

untuk aku periksa, Dan akan kulihat apakah didalam

sakumu terdapat panji kecil itu atau tidak!”

Air muka Pek Thian Ki kontan berubah hebat. Pada saat

ini didalam sakunya memang ada subuah panji kecil yang

didapatkan disamping korban Kiang To sewaktu berada di

Istana harta, sudah tentu ia tak dapat melepaskan pakaian

luarnya dihadapan orang banyak.

Bukankah jika ia berbuat demikian sama halnya dengan

telah membuktikan jika ia betul-betul adalah Kiang To?

Dan pemuda ini sama sekali tidak mengira, kalau panji

kecil yang disimpan dalam sakunya bakal mendatangkan

banyak kerepotan buat dirinya, Untuk beberapa saat

lamanya ia berdiri tertegun ditengah kalangan.

“Heee. . .heeee. . .heee. . . bagaimana? Kenapa pakaian

luarmu tidak kau lepaskan?” jengek siorang tua itu sambil

tertaw dingin.

Didalam hati Pek Thian Ki tahu bahwa persoalan ini tak

bakal disa dibikin jelas, maka air mukanya tambah berubah

hebat.

“Tidak salah, aku tak akan melepaskan pakaian luarku,”

sahutnya tegas.

“Mengapa?”

“Karena tiada kepentingannya!”

“Jadi kau sudah mengakui kalau dirimu adalah Kiang

To?” teriak Hu Toa Kan dengan air muka berubah hebat.

“Tidak!”

Air muka Hu Toa Kan berubah semakin hebat. “Kau

akan paksa aku untuk turun tangan sendiri melepaskan

pakaian luarmu itu? teriaknya semakin murka.

Suara bentakan dari Hu Toa Kan ini penuh mengandung

napsu membunuh, sepasang matanya berkilat dan

memancarkan cahaya tajam melototi wajah Pek Thian Ki,

dengan tidak berkedip.

Air muka pemuda tersebut berubah semakin hebat pula,

hatipun terasa berdebar semakin keras, Pada saat ini apabila

ia membuka pakaian luarnya, maka seketika itu juga

dihadapan para jago yang sedemikian banyaknya akan

terbukti bila ia adalah Kiang To.

Pada saat itu. . . .

“Bangsat! Kau suka melepaskan pakaian luarmu tidak?”

bentak Hu Toa Kan ketus.

“Bagaimana jika aku orang tidak mau lepaskan?” jengek

pemuda itu dingin.

“Aku sudah berkata bahwa aku bisa turun tangan

sendiri!”

“Oooouw. . . begitu? Hu Cungcu, bolehkah aku orang

menanyakan satu persoalan dulu kepadamu?”

“Cepat kau katakan!”

“Kenalkah kau orang dengan Kiang To?” Mendapat

pertanyaan ini Hu Toa Kan jadi melengak.

“Aku tidak kenal dengan dirinya!”

“Hmm! Lalu apakah diantara dirimu dengan diri Kiang

To ada ikatan dendam?”

“Ikatan dendam?”

“Benar!”

“Tidak ada. . .”

“Heee. . .heeee. . .heee. . . Hu Cungcu! Jika demikian

adanya, kaulah yang salah!” potong Pek Thian Ki dengan

cepat sambil memperdengarkan suara tertawa sinis yang

tidak sedap didengar. “Kalau memang kau orang tidak

kenal dengan Kiang To, lalu secara bagaimana kau bisa

menuduh akulah Kiang To?”

Menerima pertanyaan yang amat diluar dugaan ini, Hu

Toa Kan jadi tertegun dan berdiri ter-mangu2. Sedikitpun

tidak salah! Kalau ia sendiripun belum pernah bertemu

dengan Kiang To, bagaimana mungkin bisa menuduh Pek

Thian Ki sebagai Kiang To?. . . .

Tetapi, bagaimanapun juga Hu Toa Kan tidak malu

kalau disebut sebagai seorang jago Kangouw yang punya

nama, maka segera dia orang tertawa dingin.

“Kiang To, bukankah perkataanmu itu kau ucapkan siasia

belaka?”

“Sia-sia belaka?”

“Benar! Padahal hingga sampai saat serta detik ini, mana

ada jagoan Bu-lim yang pernah berjumpa dengan manusia

yang bernama Kiang To?. . . .”

“Kalau begitu, Mengapa kau menuduh aku adalah Kiang

To?”

“Karena wajahnya amat mirip. . .”

Baru saja Pek Thian Ki hendak menjawab, Tong Ling

yang duduk disisinya dengan suara yang dingin sudah

menyambung; “Hu Cungcu, apakah kau tidak mirip?”

“Kau?”

“Benar! Apakah aku tidak mirip dengan Kiang To?”

Hu Toa Kan kontan dibuat cep kelakep untuk beberapa

saat lamanya tak sanggup untuk mengucapkan sepatah

katapun. Sedikitpun tidak salah, Bagaimana pun ia tak

dapat menuduh sembarangan orang sebagai Kiang To!

Akhirnya ia tertawa paksa.

“Kau. . .kaupun mirip.”

“Kalau memang aku mirip Kiang To, lalu bagaimana

dengan dia itu?”

“Ia pun mirip!”

“Perkataan macam begini mana bisa diutarakan dari

mulut seorang manusia semacam Hu Cungcu?” teriak Tong

Ling dengan air muka berubah hebat.

“Apa salahnya?”

“Kau sebagai seorang Cungcu dari suatu perkampungan

besar, betapa mulia dan terhormatnya kedudukanmu, tetapi

sebelum suatu persoalan kau selidiki sampai jelas kenapa

berani sembarangan membuat tuduhan kepada orang lain?

Apakah kau tidak takut dibuat lelucon oleh para kawan2

Bu-lim sehingga lepas giginya saking kegelian?”

Beberapa patah perkataan ini diucapkan amat cengli tak

terbantahkan, memang tidak salah, sebagai seorang Cungcu

yang terhormat, mana boleh sembarangan menuduh orang

lain tanpa mempunyai suatu bukti yang cukup?

Tetapi, agaknya ia merasa amat yakin kalau Pek Thian

Ki adalah penyaruan dari Kiang To. Tak terasa lagi siorang

tua itu tertawa dingin tiada hentinya.

“Kalau begitu kalian berdua sama2 tidak mengakui kalau

kalian adalah Kiang To?”

“Kami tidak mengakui juga tidak akan mungkir, hanya

saja harapan kami Cungcu suka memberikan suatu alasan

yang tepat.”

Sinar mata Hu Toa Kan dengan tajam dialihkan keatas

wajah Pek Thian Ki, kemudian sambil tersenyum sinis

ujarnya;

“Aku mau tanya, mengapa kau tidak berani untuk

melepaskan pakaian luarmu?. . .”

“Kenapa aku harus lepaskan pakaian luarku?”

“Aku ingin membuktikan!”

“Membuktikan? Membuktikan apa? Kau ingin

membuktikan aku adalah Kiang To?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Menggunakan cara apa kau hendak membuktikan hal

ini?”

“Bila kau adalah Kiang To, maka disakumu pasti ada

panji tanda pengenalmu.”

“Heee. . .heee. . .heee. . .Hu Cungcu! Mengapa kau tidak

suruh semua kawan2 Bu-lim yang hadir didalam kalangan

pada saat ini sama2 pada melepaskan pakaian luarnya

untuk diperiksa?” jengek Pek Thian Ki sambil tertawa

dingin, “Jikalau mereka pada setuju, sudah tentu aku Pek

Thian Ki akan mengiringi.”

Pek Thian Ki bukan saja memiliki nyali serta kecerdikan

yang melebihi orang, bahkan ucapannyapun tajam sekali,

Jikalau bukannya disebabkan karena baru saja sakit hatinya

kumat, iapun tak bakal suka berbicara demikian baik

dengan dirinya.

Pada saat ini tenaga dalamnya baru saja pulih

sepertiganya, sudah tentu ia mengetahui jelas bila dirinya

bukanlah tandingan dari Hu Toa Kan, Oleh sebab itu untuk

sementara waktu mau tak mau ia harus menahan rasa

mangkelnya ini.

Hu Toa Kan sendiripun sadar kalau perkataannya amat

cengli, tetapi bagaimanapun juga, ia tak dapat turun dari

panggung dengan demikian saja. Pada hari2 biasa ia sangat

memandang kosong siapapun dan terlalu anggap

kedudukannya sangat tinggi, sudah tentu ia tak akan

memandang sebelah matapun terhadap diri Pek Thian Ki.

“Heee. . .heee. . .heee. . . aku suruh kau lepas pakaian,

maka kau harus tetap lepas pakaian!” teriaknya dingin.

Air muka Pek Thian Ki berubah hebat, mendadak ia

meloncat bangun. “Hu Cungcu! Sungguh besar benar

lagakmu!” teriaknya.

Keadaan Hu Toa Kan pada saat ini mirip dengan

menunggang diatas punggung harimau, bagaimanapun juga

ia harus keraskan kepala untuk menyelesaikannya.

“Bocah!” Aku sedang bicara sungguh-sungguh.”

teriaknya sambil tertawa tawar.

“Kau hendak mengandalkan apa? Kepandaian ilmu

silat?”

“Anggap saja perkataanmu itu benar.”

“Heee. . .heee. . .heee. . .Hu Cungcu, ini hari adalah hari

apa? Membuat ruangan perayaan ulang tahun jadi

berceceran darah, rasanya tidak akan mendatangkan

kebaikan buat dirimu,” jengek pemuda itu ketus.

“Haaa. . . .haaa. . .haaa. . . aku tak akan memperdulikan

soal itu, jikalau kau tidak suka mengakui kalau kau adalah

Kiang To, terpaksa aku harus menggunakan cara ini.”

Tong Ling pun mendadak meloncat bangun. “Hu

Cungcu, apa kau anggap kepandaian ilmu silatmu tiada

bandingnya dikolong langit?” teriaknya.

“Aku tidak pernah mengucapkan kata2 seperti itu.”

“Kalau memang demikian, kenapa kau tantang orang

untuk bertempur pada saat diadakannya perayaan hari

ulang tahun?” Kembali ia tertawa dingin tiada hentinya,

“Jikalau kau kepingin men-coba2 kepandaian silat orang

lain, mari! Cayhe pun ingin minta beberapa petunjuk dari

dirimu.”

“Kau?. . .” jengek Hu Toa Kan dingin, Diatas wajahnya

terlintaslah suatu senyuman menghina.

“Tidak salah, cayhe pernah dengar orang berkata,

katanya kepandaian silat Hu Cungcu luar biasa dahsyatnya,

Kini cayhe ingin minta beberapa petunjuk dari dirimu. . .”

“Sangat bagus sekali. . . .”

“Tapi, aku masih ada satu syarat lagi bagi dirimu.”

“Syarat apa lagi?”

“Kita bertaruh dalam tiga jurus jika aku kalah, maka aku

akan segera bantu kau orang untuk menemukan kembali

Kiang To tersebut. . .”

“Bila aku yang kalah?”

“Pertama, jangan menaruh curiga kalau dia adalah Kiang

To, dan kedua, suruh puterimu keluar untuk melayani kami

minum arak.”

“Apa kau kata?” teriak Hu Toa Kan teramat gusar, air

mukanyapun berubah sangat hebat.

“Aku minta puterimu keluar melayani kami minum arak?

Bagaimana. . . .”

“Kentut!. . .”

“Eeeei. . .Hu Cungcu! Kau takut kalah?”

Selebar wajah Hu Toa Kan saking khekinya berubah jadi

merah padam, ia anggap Tong Ling terlalu tidak pandang

sebelah mata terhadap dirinya. Dia adalah seorang jagoan

kenamaan didalam dunia persilatan, bukan saja nama

besarnya serta kedudukannya, bahkan kepandaian silat

yang ia milikipun terhitung sebagai seorang jagoan

kenamaan, Maka rasa mangkel tersebut mana sanggup

ditelan begitu saja kedalam hati? Padahal, ia sendiripun

tidak pandang sebelah mata terhadap diri Tong Ling!

“Baik!” sahutnya kemudian sambil tertawa dingin.

“Hu Cungcu, apa kau tidak menyesal?”

“Selama melakukan pekerjaan Hu Toa Kan belum

pernah ingkar janji barang satu kalipun.”

“Bagus. . . .bagus. . . .” seru Tong Ling lantang, sinar

matanya per-lahan2 menyapu sekejap keseluruh hadirin,

“Para cianpwee sekalian, atas kebaikan hati Hu Cungcu

yang suka pandang tinggi diri cayhe Tong Ling, sehingga

mau bertaruh dengan diriku dalam tiga jurus aku merasa

sangat berterima kasih sekali, Bilamana aku kalah, maka

aku akan segera menyeret keluar Kiang To, dan bila ia yang

kalah, maka aku larang dia orang menuduh kawan Pek

adalah Kiang To, bahkan mengundang putri

kesayangannya untuk melayani kami minum arak, entah

siapa diantara kalian yang suka bertindak sebagai saksi?”

Begitu perkataan tersebut berkumandang keluar suasana

didalam ruangan jadi teramat gaduh.

Bab 18

Lama. . . lama sekali baru tampaklah seorang kakek tua

berbaju hijau bangun berdiri dan berkata;

“Hu Cungcu paling memegang teguh ucapan sendiri, aku

rasa dia orang tak bakal salah janji.”

“Jadi kalian suka menjadi saksi?”

“Tidak salah kami suka menjadi saksi. . .”

“Kami sanggup. . . ”

“Kami tanggung. . .” Suara teriakan para hadirin segera

meledak dan membuat suasana didalam ruangan tersebut

jadi amat gaduh.

Sudah tentu ada sebagian diantara mereka yang hanya

bertujuan menonton keramaian dan ada sebagian lagi yang

menginginkan pemuda ini bisa dikalahkan oleh Hu Toa

Kan sehingga ia harus menyeret keluar Kiang To simanusia

yang mendatangkan keseraman bagi siapapun juga.

Pek Thian Ki sendiripun jadi melengak dibuatnya.

Alisnya dikerutkan rapat2, agaknya ada sesuatu urusan

sedang dipikirkan, tetapi seperti pula sedang mengambil

suatu keputusan tentang suatu hal yang tidak dipahami

olehnya dan terjadi disekeliling tubuhnya sendiri.

Siapakah Tong Ling itu? Kepandaian silat yang ia miliki

tidak berada dibawah kepandaian sendiri, dan mungkinkah

gadis ini dapat berhasil merobohkan Hu Toa Kan didalam

tiga jurus seperti halnya tempo dulu ia sendiri merobohkan

Tong Jong itu anak murid dari sijagoan pedang penakluk

naga dalam tiga jurus pula?

Jikalau ia kalah, apakah gadis tersebut sanggup

menemukan Kiang To yang amat misterius itu? Sudah tentu

peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang tidak

mungkin, jadi ia mempunyai kepercayaan seratus persen

bahwa dirinya mempunyai kepandaian untuk merobohkan

Hu Toa Kan?

Pada saat inilah didasar hati Pek Thian Ki mendadak

terlintas suatu ingatan yang sangat aneh, Ia sangat

mengharapkan agar Tong Ling menderita kalah, sehingga ia

akan menarik keluar manusia yang bernama Kiang To itu.

Sudah tentu pikiran aneh ini bisa muncul, karena memang

didasar hatinya sejak semula sudah ada maksud untuk

menemui manusia yang bernama Kiang To itu.

Pada saat itu. . . .

“Heee. . .heee. . .heee. . .hampir2 saja saja aku lupa

menanyakan nama besar dari Tong Siauw-hiap?” Seru Hu

Toa Kan dingin.

“Cayhe she Tong bernama Ling!”

“Oooouw, kiranya Tong Siauw-hiap, mari kita keluar

rumah.”

Tanpa banyak bicara Tong Ling putar badan dan

langsung menuju keluar rumah. Ketika itulah semua

hadirin pada ikut bangun berdiri dan berjalan keluar dari

ruangan tersebut untuk menonton jalannya suatu

pertarungan yang sengit.

Sambil bergendong tangan, dan dongakkan kepala

keatas, Pek Thian Ki pun ikut berjalan keluar menuju

ruangan depan, Sepasang matanya dengan tajam

memperhatikan wajah kedua orang itu.

Per-lahan2 Hu Toa Kan melepaskan jubah panjangnya,

sehingga kelihatan pakaiannya yang ringkas, dengan sinar

mata ber-api2, ia melototi diri Tong Ling tajam2.

“Tong Siauw-hiap, silahkan.” serunya dingin.

“Lebih baik Hu Cungcu turun tangan terlebih dahulu.”

“Tidak bisa jadi, terhadap seorang angkatan muda

semacam kau, bagaimana aku orang boleh turun tangan

terlebih dahulu?”

“Kalau memang begitu, cayhe pun terpaksa menurut

perintah saja!” Begitu perkataan terakhir meluncur keluar

dari bibirnya, tangan kanannya dengan cepat diayunkan

kemuka melancarkan satu cengkeraman dahsyat.

Serangan cengkeraman ini kelihatannya sangat biasa

tanpa ada variasi yang aneh, sehingga Hu Toa Kan tertawa

dingin, tangan kanannya pun dengan sebat menangkis

keatas sedang tangan kirinya dengan gencar balas mengirim

satu serangan.

Serangan yang dilancarkan oleh Hu Toa Kan ini boleh

dikata amat cepat laksana sambaran kilat, ada sebagian jago

yang tak dapat menahan rasa kaget lagi, mereka pada

berteriak tertahan dan mengucurkan keringat dingin.

Tetapi bagi Tong Ling sendiri, agaknya ia sudah

menduga kalau bakal datangnya serangan tersebut, maka

pada waktu Hu Toa Kan mengirim serangan tangan kiri

kedepan itulah tangan kiri gadis itupun ikut menerobos

kearah luar.

Bayangan jari berkelebat bagaikan petir, tahu2 ia sudah

berhasil menggagalkan serangan dari Hu Toa Kan dan

disusul bayangan manusia berkelebat lewat tangan kiri

Tong Ling sekali lagi mengirim satu pukulan gencar.

Kecepatan gerak betul2 membuat orang sukar untuk

melihat jelas, diantara berputarnya bayangan manusia

masing2 pihak saling memencar dan mengundurkan diri

kebelakang.

Siapa menang, siapa kalah, tak ada yang berhasil melihat

jelas, kecuali Pek Thian Ki seorang yang berdiri disisi

kalangan. Per-lahan2 Pek Thian Ki menghembus napas

ringan. . .

Suara helaan napas itu kedengaran amat jelas sekali

ditengah kesunyian yang mencekam seluruh ruangan,

bahkan sangat menusuk telinga. Hanya saja disebabkan,

perhatian semua pada orang waktu itu sedang tertumpah

ketengah kalangan, maka tak seorangpun diantara mereka

yang menoleh melihat kearah Pek Thian Ki.

“Hu Cungcu! Kepandaian silatmu benar2 sangat

mengagumkan,” seru Tong Ling sambil tertawa tawar.

Hu Toa Kan berdiri mematung ditengah kalangan,

lagaknya mirip seperti seorang yang kehilangan nyawa.

Melihat kejadian tersebut, semua orang jadi berdiri

tertegun, pikiran mereka pada dibuat kebingungan apa yang

baru saja terjadi.

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi?. . .” terdengar suara

seseorang berteriak keras.

“Siapa yang menang?. . .”

“Siapa yang kalah?. . .”

Suara manusia bergema memenuhi angkasa membuat

suasana jadi gaduh, mendadak terdengar seorang berteriak

keras; “Aaaah. . . Hu Cungcu kalah setengah jurus. . .”

“Apa?. . .” Tak terasa lagi semua jago yang hadir disana

pada menjerit kaget.

“Ia kalah?. . .”

Seketika itu juga semua orang dibuat terperanjat oleh

hasil pertandingan tersebut. Ketika Pek Thian Ki

mengalihkan sinar matanya kearah orang tersebut, maka

tampaklah orang yang baru saja berteriak bukan lain adalah

seorang kakek tua bercambang yang memakai jubah warna

kuning.

Ditengah suara gaduh yang memenuhi empat penjuru,

dengan perasaan amat malu Hu Toa Kan menundukkan

kepalanya rendah2, Ia sama sekali tidak mengira kalau

nama baik dirinya selama ini ternyata hancur ditangan

seorang Boanpwee yang tidak bernama dan tiada

berpengalaman.

Bukan saja ia sudah kalah, bahkan menderita kekalahan

yang amat mengenaskan. . . walaupun selama hidup ia

sudah pernah jatuh kecundang beberapa kali ditangan orang

lain, tetapi selama ini belum pernah ia menderita kekalahan

sehebat dan mengenaskan seperti kali ini.

Didalam tiga jurus menderita kalah ditangan seorang

Boanpwee tak ternama, peristiwa ini benar2 sangat

memalukan, hendak dilemparkan kemanakah wajahnya?

“Hu Cungcu, terima kasih atas bantuanmu yang suka

mengalah, disini Boanpwee ucapkan banyak terima kasih.”

kata Tong Ling sambil tersenyum. Selesai berkata, ia lantas

merangkap tangannya menjura.

Terang sudah perkataan tersebut bernadakan mengejek,

hal ini mana mungkin tidak membuat Hu Toa Kan jadi

kheki, sehingga tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak. . .

“Sudah. . . .sudahlah. . .” mendadak siorang tua itu

berteriak keras. Telapak tangannya segera diangkat keatas,

kemudian dihajarkan keatas batok kepalanya sendiri.

Pada saat itu Hu Toa Kan benar2 ada maksud untuk

bunuh diri, karena nama baiknya yang dipupuk selama ini

ternyata sudah hancur ditengah jalan, ia mana punya muka

lagi untuk tancapkan kakinya didalam dunia persilatan?

Daripada menerima malu, lebih baik menemui ajal. . . .

Maksud Hu Toa kan yang ingin bunuh diri ini benar2

berada diluar dugaan semua orang, Tetapi, sekonyongkonyong.

. . .

Sesosok bayangan manusia dengan sebat mencelat

kehadapan Hu Toa Kan, kemudian tangannya berkelebat

mencengkeram tangan siorang tua itu yang sudah siap

hendak dihajarkan keatas ubun2 sendiri itu.

“Kau cari mati?” bentak Hu Toa Kan keras, saat ini ia

tidak ingin ada orang yang menghalangi maksudnya untuk

bunuh diri.

Tanpa banyak perhitungan lagi, pukulan yang

mengandung hawa pukulan seberat ribuan kati ini

dihantamkan keatas tubuh orang tersebut dengan gerakan

yang cepat dan aneh. Pihak lawan dengan gesit menyingkir

kesamping meloloskan diri dari datangnya serangan

tersebut.

“Hu Cungcu! Apa maksudmu?” bentak orang itu keras.

Hu Toa Kan yang melihat serangannya tidak mencapai

hasil, ia rada melengak, sinar matanya dengan cepat

dialihkan kearah orang itu. Kiranya orang yang sedang

mencengkeram pergelangan tangannya bukan lain adalah

seorang kakek tua bercambang.

Gerakan tubuh dari kakek tua bercambang itu amat gesit

dan sebat, hal ini membuat Pek Thian Ki rada bergidik juga

dibuatnya.

“Siapa kau?” bentak Hu Toa Kan gusar.

“Hu Cungcu, siapakah diriku, untuk sementara kau tidak

perlu tahu,” jawab sikakek bercambang itu sambil tertawa,

“Cuma ada sepatah dua patah kata aku ingin beritahu

kepadamu, Menang kalah dalam suatu pertarungan

merupakan suatu kejadian yang biasa, Buat apa kau orang

ambil keputusan untuk bunuh diri, hanya disebabkan

karena kalah setengah jurus?”

“Heeee. . .heeee. . .heeee. . . Hu Cungcu! Bilamana kau

tidak suka menerima kekalahanmu itu, akupun tidak ingin

menang lagi,” sambung Tong Ling sambil tertawa dingin.

Beberapa patah perkataan ini langsung membuat wajah

Hu Toa Kan diliputi kegusaran, dia adalah seorang jagoan

yang paling mengutamakan muka sendiri, Dan kini bukan

saja sudah jatuh kecundang ditangan orang lain, bahkan

diejek dan dihina pula, hal ini betul2 membuat hatinya

amat mendongkol.

Tetapi. . . kendati ia mendongkol perasaan tersebut sukar

untuk dilampiaskan keluar, oleh sebab itu siorang tua itu

segera memperdengarkan suara tertawa yang amat

menyeramkan.

“Saudara aku orang she Hu benar2 kagum terhadap

dirimu. . .”

“Saudara terlalu memuji!”

“Dan kaulah satu2nya orang yang membuat aku orang

she Hu menderita kekalahan dengan demikian

mengenaskan. . .”

“Haaaa. . .haaaa. . .haaaa. . . saudara tidak usah

sungkan-sungkan lagi.”

“Hmm! Apa yang kau inginkan pada saat ini?”

“Melaksanakan sesuai dengan syarat yang kita janjikan

tadi.”

Air muka Hu Toa Kan berubah jadi serba salah, ia

kelihatan kikuk dan jengah, Baginya untuk menjalankan

syarat yang pertama sangat gampang sekali, tetapi syarat

yang kedua. . . hal ini bukan suatu urusan yang boleh

dilaksanakan.

“Heee. . .heeee. . .heee. . . Hu Cungcu bagaimana?”

Kembali Tong Ling mengejek.

“Sejak kapan aku pernah mengingkari janji?” teriak Hu

Toa Kan amat murka.

“Yaaa. . .yaaa. . . kalau kau suka melaksanakan hal ini

amatlah bagus.”

“Kalau begitu kau tidak usah banyak bicara lagi!”

Tanpa banyak bicata ia putar badan dan langsung

menuju keruangan tengah. Para hadirin lainnya pun dengan

cepat mengikuti dari belakang tuan rumah berjalan masuk

kedalam ruangan.

Kini ditengah kalangan tinggal Pek Thian Ki seorang diri

yang berdiri mematung disana, melihat hal tersebut, Tong

Ling segera berjalan mendekati sisinya.

“Eeeeei. . . kau kenapa?” tegurnya dingin.

“Tidak mengapa!” pemuda tersebut hanya menggelaeng

sambil tertawa pahit.

“Lalu mengapa tadi kau orang menghela napas panjang?”

“Oooouw. . . .tiii. . .tidak mengapa.”

“Bagaimana? Kau kecewa?”

“Kecewa?” seru Pek Thian Ki kaget hatinya berdebar

keras.

“Tidak salah, aku tahu kalau hatimu merasa amat

kecewa, bukan begitu?”

“Apa yang perlu aku kecewakan?”

“Kau kecewa kenapa aku tidak dapat dikalahkan oleh Hu

Cungcu!”

Dengan perasaan terperanjat Pek Thian Ki memandang

sekejap kearah Tong Ling, agaknya ia merasa bergidik oleh

ucapan yang diutarakan oleh gadis tersebut, karena ia tidak

menyangka kalau pihak lawan bisa mengetahui jelas apa

sebabnya ia menghela napas panjang.

“Pek-heng, aku tidak menyangka kalau watakmu busuk

dan berpikiran sangat licik!” kembali Tong Ling memaki.

“Apa yang kau katakan?”

“Heeee. . . .heeee. . . heeee. . .Pek-heng, walaupun

persahabatan diantara kita tidak terlalu erat, tetapi aku

sudah bantu kau orang membebaskan diri dari kesulitan,

tahukah kau bahwa perytarunganku melawan Hu Toa Kan

kali ini tidak lain hanya disebabkan karena dirimu?. . .”

“Aaaaa. . .aku. . . aku tahu!”

“Sebaliknya kau mengharapkan aku menderita kalah,

sehingga terpaksa Kiang To harus aku seret keluar,

Tahukah kau orang bahkan bilamana aku kalah, kecuali

mati, maka tak mungkin bagiku untuk menemukan Kiang

To. . .”

“Kau. . .kaupun tidak tahu dimana Kiang To berada?”

“Tidak salah, sedang kau ternyata meng-harap2kan agar

aku bisa menderita kalah, bahkan kau. . .” Berbicara sampai

disini, ia tak dapat menahan diri lagi, sepasang matanya

jadi merah, bahkan hampir2 saja membuat air mata jatuh

berlinang, air mukanya jelas kelihatan amat murung.

Pek Thian Ki sendiripun merasa amat menyesal didalam

hatinya atas perasaan yang sudah ia tunjukkan tadi.

“Terhadap dirimu, aku benar-benar merasa kecewa,”

kembali Tong Ling berseru dengan suara yang amat

menyedihkan. “Aku Tong Ling tidak ingin bergaul dan

bersatu dengan orang yang serakah dan terlalu

mementingkan diri sendiri, baiklah kita berpisah saja

sampai disini. . .” Habis berkata dengan langkah yang

gontai ia hendak berlalu dari tempat itu.

Melihat tindakan yang diambil gadis tersebut Pek Thian Ki

jadi sedih bercampur menyesal. Dengan uring-uringan Tong

Ling berhenti dan menoleh.

“Ada urusan apa?”

“Ha. . . hara. . . harap kau jangan. . . jangan salah

paham.”

“Salah paham? Hmmm! Raba dulu hatimu sendiri,

pernahkah aku orang menaruh rasa salah paham terhadap

dirimu?”

“Heeei. . . kalau begitu katakan saja kau suka

memaafkan kesalahanku!” seru Pek Thian Ki rada

merengek.

Perkataan yang diucapkan oleh pemuda tersebut agaknya

jauh berada diluar dugaan Tong Ling, ia rada tertegun

dibuatnya.

“Aku bisa memaafkan dirimu,” sahutnya kemudian

sambil memandang diri pemuda itu setelah termenung

sejenak,” tapi bukan pada saat ini, aku harus baik2 berpikir

keras. . .” Kembali ia putar badan dan melangkah pergi dari

sana.

Dengan perasaan menyesal, gegetun dan sayang, Pek

Thian Ki memandang bayangan punggungnya, Selama

hidupnya belum pernah dia orang pernah menaruh rasa

cinta pada seseorang. . . terutama seorang gadis semacam

dia. . . .

Sewaktu Pek Thian Ki sedang berdiri termangu-mangu,

tiba-tiba. . . .

“Pek-heng, tahan dirinya!” Serentetan suara yang lembut

seperti suara nyamuk berkumandang masuk ketelinganya.

Mendengar perkataan tersebut, Pek Thian Ki jadi

terperanjat, karena ia merasa suara tersebut rasanya pernah

dikenal olehnya. Setelah lama sekali berpikir, akhirnya ia

berhasil menemukan kalau suara tersebut kiranya berasal

dari sang pemuda miterius Cu Tong Hoa.

Sekali lagi Pek Thian Ki merasakan hatinya berdesir. Cu

Tong Hoa minta dia orang mencegah jalan pergi dari Tong

Ling, tapi apa alasannya? Agaknya dibalik segala persoalan

ini masih tersembunyi suatu rahasia yang tidak gampang.

Cukup meninjau dari adal usul Cu Tong Hoa sudah

amat mencurigakan pertama, dia adalah Tong-cu urusan

bagian luar dari kaum pengemis didaerah luar perbatasan.

Kedua, dia adalah Pangcu dari perkumpulan Pek Hoa

Pang. Dan yang ketiga, dia adalah majikan dari Istana

Harta. Lalu diantara ketiga buah kedudukannya ini, mana

yang benar2 merupakan jabatannya?

Selagi Pek Thian Ki dibuat tertegun Cu Tong Hoa

dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara,

kembali mengirim berita; “Eeeei. . . kenapa kau masih termangu2?

Kenapa tidak cepat-cepat cegat jalan perginya?”

Kontan Pek Thian Ki merasakan hatinya berdesir.

Mendadak. . . agaknya ia memahami sesuatu, Apakah

mungkin Cu Tong Hoa sudah menaruh curiga kalau Tong

Ling adalah hasil panyaruan dari Kiang To?

Teringat akan diri Kiang To, sang pemuda tersebut

kembali merinding sehingga bul kuduknya pada berdiri

semua. Urusan ini tak bisa dikatakan tiada

kemungkinan2nya, Tong Ling adalah seorang gadis yang

menyaru sebagai kaum pria tak dapat diketahui orang,

sedang kepandaian silat yang ia milikpun sangat luar biasa

dahsyatnya, tidak dapat disalahkan kalau ia menaruh curiga

kalau Tong Ling adalah Kiang To. Teringat akan hal

tersebut, tak terasa lagi Pek Thian Ki berguman;

“Ehmmm. . . . sedikitpun tidak salah, kemungkinan besar

dia adalah penyamaran dari Kiang To. . .” Teringat akan

persoalan itu, tubuhnya dengan cepat berkelebat dan

melakukan pengejaran kearah depan.

“Tong-te!” teriaknya keras.

Tong Ling yang melihat jalan perginya secara mendadak

dihadang oleh pemuda tersebut, alisnya segera dikerutkan.

“Kau hendak berbuat apa?”

“Tong-te!” seru Pek Thian Ki sambil tertawa pahit,

“Sekalipun aku sudah berbuat salah, seharusnya kaupun

jangan marah seperti macam begini.”

“Kapan aku memperlihatkan rasa marahku

dihadapanmu?”

“Lalu mengapa kau tidak suka ikut bersama-sama

diriku!”

“Tidak! Aku tidak ingin bersama-sama dirimu.”

“Mengapa? Apa salahnya kalau kita berkumpul jadi satu

sebagai kawan?”

“Aku tahu siapakah dirimu!”

“Kau tahu siapakah aku? Coba kau sebut siapakah

diriku?”

“Kiang To!”

“Apa?” saking kagetnya Pek Thian Ki berteriak tertahan,

tubuhnya tanpa terasa sudah mundur beberapa langkah

kebelakang. “Kau mengatakan aku adalah Kiang To?”

“Sedikitpun tidak salah.”

Mendadak Pek Thian Ki tertawa tergelak, ia baru

menyadari kalau Tong Ling bukanlah seorang manusia

yang gampang, Ada kemungkinan besar bila gadis tersebut

sudah merasa bila dirinya telah menaruh curiga, bahwa

sigadis adalah Kiang To, oleh karena itu sengaja

mengucapkan kata2 tersebut.

“Apa yang kau tertawakan?” terdengar gadis itu

mendadak menegur sambil memperhatikan senyuman Pek

Thian Ki tajam-tajam.

“Bagaimana kau bisa mengetahui kalau aku adalah

Kiang To,” balik tanya Pek Thian Ki dengan wajah keren.

“Kecuali kau, rasanya dikolong langit pada saat ini tak

ada manusia lain yang memiliki watak sebuas seganas dan

sekejam dirinya,”

“Heeeei. . . .” Perlahan-lahan Pek Thian Ki menghela

napas panjang dan tertawa pahit, “Haruslah kau ketahui,

aku bukan menghela napas panjang karena persoalan ini,

tapi aku menghela napas karena ada suatu persoalan lain

yang mengganjel hatiku.”

“Urusan apa?”

“Karena kau adalah seorang gadis, Ternyata dapat

memiliki kepandaian ilmu silat yang demikian tingginya,

oleh sebab itu aku menghela napas panjang saking

kagumnya,”

“Hmmm! Aku tahu apa yang kau ucapkan ini

sebenarnya sama sekali berlainan dengan apa yang kau

pikirkan dalam hatimu tadi.”

“Kalau memang kau berpikiran demikian, akupun tak

dapat berbuat apa-apa lagi, mau percaya atau tidak terserah

pada pendapatmu sendiri.”

“Sebetulnya kaulah satu2nya orang yang paling aku

percaya, tetapi sekarang. . . . aku tak dapat mempercayai

dirimu lagi, ayoh cepat minggir, kalau tidak, aku tak akan

perduli siapakah dirimu dan akan bertindak tegas terhadap

kau orang.”

Berbicara sampai disitu, suatu hawa napsu membunuh

tampak melintas diatas wajahnya. Pek Thian Ki kontan

merasakan hatinya bergidik, alisnya dikerutkan sedang

matanya terbelalak lebar-lebar.

Setelah lewat beberapa saat lamanya, mendadak pemuda

itu tertawa dingin bahkan tawa tersebut begitu misterius

mengandung maksud pandang rendah pihak lawannya.

“Apa yang sedang kau tertawakan?” tegur Tong Ling

agak melengak.

“Aku kini tahu siapakah dirimu!”

“Siapa?”

“Kiang To!”

“Apa?” Tak terasa lagi Tong Ling berseru tertahan. “Kau

mengatakan aku adalah Kiang To?”

“Benar! Kau adalah Kiang To.”

“Ngaco belo. . .”

“Aku bukan sedang ngaco belo, tapi nyata.

“Hmmm! Kau bisa mengatakan begitu, tentu punya

alasan yang kuat bukan? Coba katakan apa alasanmu.”

“Alasannya amat jelas sekali, kau adalah Kiang To,

karena orang lain tidak mengenal wajahmu maka kau lantas

ikut aku datang kemari. . . .”

“Hmmm! Siapa yang sedang ikut dirimu? Apa kau kira

aku tak dapat datang kemari seorang diri?”

“Sudah tentu dapat, hanya saja dikarenakan kau tidak

ingin berada dalam keadaan seorang diri untuk waktu yang

panjang, maka kau mencari seorang kawan untuk diajak

melakukan perjalanan bersama-sama, dan kini kau hendak

melaksanakan rencanamu itu, maka menggunakan

kesempatan ini kau lantas ingin berlalu dan meninggalkan

diriku. . . .”

“Kau. . . kau. . . kau ngaco belo!”

“Biarpun kau anggap aku sedang ngaco belo, tapi aku

merasa urusan ini seratus persen ada kemungkinan benar.”

“Saking khekinya air muka Tong Ling berubah hebat.

“Jadi kau hendak menghasut aku, sehingga hatiku menjadi

panas?” teriaknya keras.

“Anggap saja tuduhanmu itu benar.”

“Baiklah, aku akan membuktikan dihadapanmu bahwa

aku bukanlah Kiang To seperti yang kau tuduhkan.”

“Jadi kau suka tetap tinggal disini?”

“Sedikitpun tidak salah.”

Baru saja Tong Ling selesai berbicara, mendadak dari

belakang punggung mereka berkumandang suara teguran

dari seseorang;

“Kongcu berdua, Cung-cu kami mengundang kalian!”

Dengan pandangan dingin Tong Ling melirik sekejap

kearah pelayan tersebut, akhirnya ia menoleh kearah

pemuda tersebut.

“Mari kita masuk kedalam!” ajaknya.

Tidak menunggu jawaban dari pemuda itu lagi, ia sudah

melangkah terlebih dahulu untuk masuk kedalam ruangan

pesta dengan langkah lebar.

Pek Thian Ki sedikit mengerutkan alisnya, kemudian

sambil tertawa paksa dia mengikuti dari dari belakang Tong

Ling berjalan masuk kedalam ruangan besar. Teka-teki yang

menyelubungi Kiang To tetap tak berhasil dipecahkan.

Dan diantara berpuluh-puluh jago lihay angkatan muda

yang hadir didalam ruangan tersebut, mulai pada saling

menebak dan saling menerka satu sama lainnya.

Jilid 7

Bab 19

SUASANA ditengah ruangan tengah masih tetap saja

seperti sedia kala, hanya sewaktu Pek Thian Ki serta Tong

Ling berjalan masuk, rata2 para jago yang hadir disana

pada memandang mereka dengan sinar mata penuh

perqasaan terperanjat bergidik dan kagum.

Senyuman Tong Ling masih tetap menghiasi bibirnya

seperti sedia kala, setibanya dihadapan Hu Toa Kan

langsung tegurnya;

“Hu Cung-cu, entah dimanakah putri kesayanganmu?”

“Heee. . .heee. . .heee. . .Saudara! Kau boleh berlega

hati, aku sudah kirim orang untuk mengundang ia datang

kemari.”

“Kalau begitu, aku harus mengucapkan banyak terima

kasih atas perhatian Hu Cung-cu.”

“Hmmm! Kalian berdua silahkan minum arak.”

Tong Ling tanpa banyak rewel angkat cawan sendiri

lantas diangsurkan kehadapan wajah Pek Thian Ki.

“Pek-heng!” serunya sambil tertawa. “Aku menghormati

secawan arak buat kecurigaanmu.”

“Terima kasih. . . .terima kasih. . .” sahut Pek Thian Ki

sambil tertawa dan angkat cawannya pula.

“Pek Heng, aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya

Kiang To itu seorang pria atau seorang gadis?”

“Mana aku bisa tahu? sampai detik inipun aku belum

pernah berjumpa dengan Kiang To, bagaimana aku bisa

menjawab pertanyaanmu itu?”

“Bagaimana? jadi kaupun tidak tahu kalau Kiang To itu

seorang pria ataukah seorang gadis?”

“Kemungkinan sekali dia adalah seorang pria, tapi, ada

kemungkinan besar pula dia adalah seorang gadis yang

sedang menyaru seorang pria.”

Mendengar jawaban tersebut, air muka Tong Ling

kontan berubah hebat, Ia menggertak giginya kencang2

Agaknya saking gemasnya kepingin sekali dia orang

memerseni sebuah tempelengan keatas wajah Pek- Thian

Ki.

“Tong-te, kau jangan terlalu keburu marah dulu,

perkataanku ini adalah perkataan sungguh-sungguh,” ujar

pemuda itu sambil tertawa.

“Baik. . .baiklah, anggap saja aku sangat lihay. . .” Belum

habis Tong Ling berkata, mendadak. . .

“Sauw-hiap benar-benar memiliki kepandaian silat yang

amat lihay, biarlah loohu hormati secawan arak

kepadamu.” ujar seseorang dengan suara yang nyaring.

Mendengar suara itu, baik Pek Thian Ki maupun Tong

Ling sama-sama merasa amat terperanjat dan segera

menoleh kearah mana berasalnya suara tersebut. Maka

tampaklah seorang kakek tua bercambang dengan keren dan

bibir penuh senyuman sudah berdiri disisi kedua orang itu.

“Aaaaaach. . . . kiranya orang ini adalah Cu Tong Hoa!”

pikir pemuda tersebut didalam hatinya.

Belum sempat ia mengambil suatu tindakan, Tong Ling

sambil tersenyum sudah mengangkat cawannya

ditangannya.

“Terima kasih atas perhatian loocianpwee kepada diri

cayhe, hal ini benar-benar membuat aku merasa amat

bangga.”

Sekali teguk ia menghabiskan isi cawannya. Sedang Pek

Thian Ki sendiri diam2 merasa amat terperanjat,

munculnya Cu Tong Hoa ditempat itu tanpa ditanya lagi

sudah jelas tertera, bahwa maksud tujuannya tidak meleset

dari diri Tong Ling. Dengan demikian, rasanya ada

kemungkinan besar Tong Ling yang berada dihadapannya

ini bukan lain adalah Kiang To.

“Teriam kasih Tong sauw-hiap suka memberi muka

kepadaku.” ketika itu terdengarlah sikakek tua bercambang

sudah berseru.

“Aaaaach. . . . loocianpwee terlalu memuji.”

“Dan siapakah dia orang?” Sinar mata Cu Tong Hoa perlahan2

beralih keatas wajah Pek Thian Ki dan sengaja

mengajukan pertanyaan tersebut.

“Cayhe bernama Pek Thian Ki.” sahut pemuda itu buruburu.

“Oooou. . . .kiranya Pek sauw-hiap, Heeeei. . . .agaknya

saue-hiap sedang menderita sakit?

“Ehmmmmm! Benar!”

“Penyakit apa? Bukan sakit rindu khan?”

Mendengar perkataan itu, Pek Thian Ki hanya tertawa

pahit. “Sudah tentu bukan!”

“Kalau kau memang sedang sakit, akupun tidak paksa

untuk menghormati secawan arak kepadamu.”

“Loocianpwee tidak perlu sungkan-sungkan.”

Sampai detik ini juga Pek Thian Ki masih belum tahu

jelas Cu Tong Hoa yang ada dihadapannya ini sebenarnya

adalah seorang pria ataukah seorang gadis. Apalagi ia

pandai sekali didalam menyaru, Rasanya sulit untuk

membedakan jenis kelamin yang sebenarnya.

Pada waktu itulah. Cu Tong Hoa sudah berjalan balik

keasal tempat duduknya. Setelah Cu Tong Hoa berlalu,

dengan suara setengah berbisik Tong Ling lantas menoleh

kearah Pek Thian Ki.

“Heeeei. . . .siapakah sebetulnya orang itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu?” teriak pemuda itu kaget,

hatinya berdebar keras.

“Aku lihat jejaknya amat mencurigakan, ilmu menyamar

dari orang ini amat lihay sekali, Tetapi tak bakal bisa lolos

dari sepasang mataku, aku tahu dia orang paling banter

berusia duapuluh tahun.”

Setelah bergaul beberapa waktu lamanya, terhadap diri

Tong Ling sang pemuda tersebut sudah menaruh was-was,

hatinya bergidik juga menghadapi dara ini, Karena bukan

saja ia memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, bahkan

sepasang matanya terlalu lihay untuk memecahkan

penyamaran orang lain.

“Oooouw. . .sungguh?” Sengaja teriaknya dengan nada

kaget.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Menurut penglihatanmu, dia orang adalah seorang pria

ataukah seorang gadis?”

“Kelihatannya mirip seperti seorang pria, gerak-gerik

orang ini sangat mencurigakan, Kemungkinan sekali adalah

orang itu!”

“Siapa?”

“Kiang To.”

“Apa? Kau katakan. . .dia. . .dia. . .dia adalah Kiang

To?” Kata Pek Thian Ki tak dapat menahan rasa kagetnya

lagi setelah mendengar perkataan tersebut, sehingga ia

berseru tertahan.

“Sedikitpun tidak salah, kemungkinan besar ia adalah

orang she Kiang tersebut.”

Kini, urusan semakin lama berubah jadi semakin kacau,

Cu Tong Hoa menaruh curiga kalau Tong Ling adalah

Kiang To, sebaliknya Tong Ling menaruh curiga pula kalau

Cu Tong Hoa adalah Kiang To.

Sebenarnya siapakah Kiang To itu? Pek Thian Ki betulbetul

dibuat pusing tujuh keliling oleh persoalan ini!

“Heee. . heee. .heee. . .perduli dia orang benar Kiang To

atau bukan, aku tetap akan menyelidiki keadaannya.” seru

Tong Ling sambil tertawa dingin.

Sinar mata Pek Thian Ki perlahan-lahan menyapu

sekejap kearah Tong Ling, tampaklah air muka gadis

tersebut pada saat ini sudah terlintas suatu kebulatan tekad

serta hawa napsu membunuh yang tebal. Hal ini seketika itu

juga membuat Pek Thian Ki merasakan hatinya bergidik.

Disebabkan Kiang To, sebuah ruangan pesta ulang tahun

yang semula sangat meriah itu kini penuh diliputi

kecemasan dan ketegangan, diam-diam pemuda she Pek ini

memuji kecakapan serta kelihayan dari manusia yang

bernama Kiang To itu.

Kiang To yang asli apakah dapat munculkan dirinya?

Sudah tentu, hal ini pasti akan terjadi, hanya sekarang

tergantung kapankah waktunya ia akan muncul.

Pada waktu itu. . . .

Suara langkah yang lambat bergema memecahkan

kesunyian, tampaklah seorang dara cantik berbaju merah

dengan langkah yang mengiurkan sudah muncul diruangan

besar itu. Melihat munculnya gadis cantik itu, Pek Thian Ki

rada tertegun juga dibuatnya.

Dara cantik berbaju merah yang muncul ditengah

ruangan pesta ini bukan lain adalah gadis yang ditemuinya

sewaktu berada diloteng tadi, wajahnya benar2 amat cantik

jelita tiada tandingan. . . Bibirnya kecil, hidungnya yang

mancung, serta biji matanya yang jeli. . .benar2 amat

mempesonakan.

“Tia! Entah ada urusan apa kau orang tua memanggil Inji?”

sapa gadis tersebut sambil memberi hormat kepada

ayahnya Hu Toa Kan.

“In-ji!” kata Hu Toa Kan setelah tertawa tawar,

“Ayahmu sudah kalah bertaruh dengan orang lain, maka

dari itu harap kau suka melayani kedua orang itu minum

arak.”

“Perintah dari Tia, siauw-li mana boleh membangkang?

Entah kedua orang manakah yang harus aku layani?”

“Kedua orang itu.” ujar Hu Toa Kan sambil menuding

kearah Pek Thian Ki serta Tong Ling. “Kau pergilah layani

mereka minum arak.”

“Tia! Kau tidak usah risau, aku akan melaksanakan

perintahmu itu.”

“Ehhmmm. . kalau begitu pergilah.”

Dengan langkah yang menggairahkan gadis cantik itu

mendekati meja perjamuan dari Pek Thian Ki serta Tong

Ling, waktu itu diatas bibir Tong Ling kelihatan tersungging

suatu senyuman yang amat dingin.

Gadis tersebut setibanya didepan meja perjamuan kedua

orang muda itu, dengan sangat hormat lantas menjura,

ujarnya; “Kalian berdua suka datang kemari mengucapkan

selamat buat Tia, aku Hu Siauw In mewakili Tia

mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian kalian.”

“Haaa. . .haaa. . .haaa. . .Nona Hu! Bukan saja wajahmu

amat cantik, kiranya pembicaraanmu pun amat manis,”

Goda Tong Ling sembari tertawa.

“Aaarch. . .sauw-hiap terlalu memuji.”

“Ehmmm! Sungguh, sungguh kau amat cantik, Nona

Hu, silahkan duduk.”

“Terima kasih.”

Walaupun Hu Siauw In adalah seorang gadis perawan

yang jarang sekali keluar rumah, tetapi bagaimanapun juga

dia adalah putri seorang jagoan Bu-lim yang tidak terlalu

mengikat diri dengan adat istiadat kuno yang terlalu

menjirat kebebasan seseorang.

Dengan tiada rasa jengah atau rikuh lagi, gadis tersebut

sudah duduk disamping kedua orang muda tersebut.

Dalam hati Pek Thian Ki mengerti, Tong Ling memaksa

agar Hu Siauw In suka munculkan dirinya pasti bukan

dikarenakan untuk melayani mereka minum arak saja,

Dibalik kesemuanya ini pasti ada sesuatu persoalan yang

hendak dilakukan.

Karena itu pemuda tersebut selama ini tetap bungkam

dalam seribu bahasa, ia ingin melihat apa yang hendak

dilakukan Tong Ling terhadap gadis cantik itu. Hu Siauw

In angkat poci arak untuk penuhi cawan Tong Ling serta

Pek Thian Ki, kemudian memenuhi pula cawannya sendiri,

setelah itu ujarnya sambil angkat cawan;

“Mari, aku hormati kalian berdua dengan secawan arak.”

Sekali teguk ia habiskan isi cawannya.

“Nona Hu, sungguh hebat kekuatan minum arakmu.”

seru Tong Ling sambil tersenyum.

“Inilah yang dinamakan mempertaruhkan nyawa

malayani lelaki sejati.” sahut Hu Siauw In sambil tertawa

manis. “Kalian berdua silahkan menikmati arak, aku

hendak mengundurkan diri.”

“Eeeei. . .eeeeei. . . nona Hu! Kenapa kau harus tergesa2?

Aku masih ada perkataan yang hendak ditanyakan

kepadamu.”

Mendengar perkataan dari Tong Ling ini, kelihatan Hu

Siauw In rada melengak, badannya yang sudah bangun

berdiri kembali duduk dikursi.”

“Entah ada urusan apa yang hendak saudara tanyakan?”

“Aku ada satu persoalan penting yang hendak

kutanyakan kepadamu.”

“Silahkan saudara mengutarakan secara terus terang.”

“Menurut berita yang aku dengar, agaknya antara nona

Hu dengan Kiang To mempunyai ikatan perkawinan?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Pernahkah kau orang berjumpa dengan Kiang To?”

Gadis cantik itu menggeleng lalu menghela napas.

“Walaupun aku dengan dirinya ada ikatan perkawinan

tetapi selama ini belum pernah kujumpai dirinya barang

sekalipun.”

“Lalu tahukah kau bagaimana watak dari Kiang To itu?”

“Tahu sedikit. Tia pernah beritahu kepadaku tentang soal

ini.”

“Ehmmm. . . Dan tahukah kau akan hubungan antara

Kiang To dengan ayahmu?”

“Kiang To adalah putra dari Sam Ciat Sin-cun adalah

sahabat karib dari ayahku dan sejak Sam Ciat Sin-cun

meninggal. . .”

“Sam Ciat Sin-cun mati karena apa?” tiba-tiba Pek Thian

Ki menimbrung.

“Soal ini akupun tidak tahu.”

“Lalu bagaimana selanjutnya?”

“Setelah Sam Ciat Sin-cun meninggal dunia, Tia pernah

melakukan pencarian terhadap putranya Kiang To, tetapi

susah payah tidak mendatangkan hasil apapun, Sampai

pada setahun yang lalu, mendadak Kiang To munculkan

dirinya dalam dunia kangoue. . .”

“Karenanya, ayahmu lantas merasa tidak puas dengan

tindak-tanduk serta kelakuan dari Kiang To?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Bagaimana menurut perasaanmu terhadap tindak

tanduk serta kelakuan Kiang To ini?. . .”

Biji matanya yang jeli itu mendadak memperlihatkan

perasaan sedih, ia menghela napas perlahan. “Heeeei. . .

aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Tapi aku

percaya bahwa ia tak akan sejahat seperti apa yang

disiarkan oleh orang-orang Bu-lim.”

“Aku dengar orang berkata bahwa ayahmu hendak

membatalkan ikatan perkawinanmu dengan Kiang To.

Bagaimana menurut pendapatmu menghadapi persoalan

ini?”

“Aku tidak setuju, perkawinan sudah ditetapkan dan

selama hidup tak akan kusesali.”

Beberapa patah perkataan ini langsung menimbulkan

perasaan kagum didasar hati Pek Thian Ki serta Tong Ling,

Tidak malulah dara berbaju merah ini disebut seorang gadis

suci yang pegang teguh janji.”

“Bilamana ayahmu bersikeras hendak batalkan ikatan

perkawinan? Apa yang hendak kau lakukan?” tanya Tong

Ling lebih lanjut sambil tertawa pahit.

“Aku bisa menunggu dirinya. . .”

“Menunggu Kiang To?”

“Benar aku bisa menunggu dirinya dan selama hidup tak

akan kawin dengan orang lain.”

“Bila aku adalah Kiang To, hatiku akan ikut terharu oleh

pernyataan nona yang begitu mempesonakan.

Hu Siauw In hanya bisa tertaw pahit, setelah bungkam

beberapa saat akhirnya kembali ia berkata; “Entah masih

ada urusan apalagi yang hendak kau tanyakan?”

“Sudah tak ada lagi.”

“Kalau begitu aku mohon diri dulu.”

“Nona Hu. . . . silahkan, terima kasih. . . .terima kasih. .

.”

Perlahan-lahan Hu Siauw In bangun berdiri, tetapi selagi

hendak melangkah pergi, mendadak. . . seperti ia sudah

teringat akan sesuatu, Sambil putar badan tanyanya;

“Aaarch. . .! Hampir-hampir saja aku sudah lupa

menanyakan nama besar dari kalian berdua.”

“Aku bernama Tong Ling dan ia bernama Pek Thian

Ki.”

Hu Siauw In mengangguk perlahan iapun putar badan

dan berlalu.

Menanti gadis tersebut sudah berlalu, sinar mata Tong

Ling dialihkan keatas wajah Pek Thian Ki, Tampaklah

diatas wajahnya yang kurus kering penuh diliputi

kemurungan, Alisnya berkerut seperti sedang memikirkan

sesuatu persoalan:

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tegur Tong Ling

perlahan.

“Aaach. . . tidak mengapa. . .” Pek thian Ki tertawa.

“Peristiwa ini benar-benar meruoakan suatu peristiwa yang

sangat membingungkan, sebenarnya siapakah Kiang To

itu?”

“Aku pikir sebentar lagi ia pasti dapat munculkan dirinya

disini.”

“Bagaimanapun pada saat ini aku tak ada urusan lain”

diam-diam pikir Pek thian Ki dalam hatinya. “Lebih baik

aku tetap tinggal disini untuk melihat perubahan

selanjutnya dalam peristiwa ini.”

Perduli apapun yang akan terjadi, agaknya peristiwa ini

ada sangkut pautnya dengan dia pribadi, karena itu ia harus

membuat jelas persoalan ini.

“Pek Thian Ki kau duduklah disini sebentar, aku hendak

keluar sebentar.” seru Tong Ling mendadak sambil bangun

berdiri.

“Apa yang hendak kau lakukan?” Pemuda itu rada

melengak.

Jelas sekali menunjukkan urusan sedikit diluar dugaan

sewaktu melihat Tong Ling hendak berlalu dan hal ini

segera menyeret pikirannya untuk menduga siapakah gadis

itu. Sudah tentu Tong Ling sendiripun mengerti maksud

dari Pek Thian Ki tersebut.

“Bukankah aku sudah berkata bahwa aku ingin keluar

sebentar.” serunya cepat.

“Apa yang hendak kau lakukan?”

Dengan wajah riku Tong Ling menunduk, lalu sambil

menjatuhkan diri kedalam peluknya Pek Thian Ki bisiknya

lirih.

“Urusan dari kami kaum gadis amat banyak sekali,

hanya soal-soal itu tak dapat aku ucapkan keluar.”

Akhirnya Pek thian Ki dapat dibuat mengerti, dengan

perasaan apa boleh buat, ia mengangguk.

“Sewaktu aku pergi nanti, perhatikanlah kakek

bercambang yang amat misterius itu dan amati juga semua

orang yang patut dicurigai.” ujar Tong Ling kembali.

Demikianlah Tong Ling, sigadis misterius ini lalu berlalu

dari dalam ruangan. Dengan berlalunya Tong Ling secara

mendadak ini, sudah tentu memancing perhatian banyak

orang, sinar mata semua hadirin yang ada didalam ruangan

bersama-sama dialihkan keatas tubuhnya. Sebaliknya Tong

Ling dengan tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu,

tetap melanjutkan perjalanannya keluar ruangan.

Sinar mata Pek Thian Ki perlahan-lahan menyapu

sekejap keseluruh ruangan, mendadak hatinya merasa

terperanjat karena didalam sekejap mata itulah Cu Tong

Hoa yang menyaru sebagai seorang kakek tua bercambang

pun sudah lenyap tak berbekas.

Pemuda she Pek ini merasakan hatinya bergidik, ia mulai

menduga diantara kedua orang itu pasti salah satu adalah

Kiang To, Kalau tidak tak mungkin dalam waktu yang

bersamaan kedua orang itu bersama-sama melenyapkan diri

dari pandangan.

Agaknya suatu pertarungan yang mengerikan sekali

bakal berlangsung, suasana terasa berubah semakin tegang,

Sekarang, Pek Thian Ki dapat menarik kesimpulan, bahwa

diantara Cu Tong Hoa serta Tong Ling, salah satu

diantaranya kemungkinan besar adalah Kiang To simanusia

misterius itu.

Mendadak. . . Suara bentakan nyaring menyadarkan

dirinya dari lamunan, terdengar Hu Toa Kan dengan

lantang sedang berseru:

“Kawan-kawan sekalian, silahkan meneguk secawan

arak!”

Sinar mata semua orang tak terasa pada dialihkan kearah

Hu Toa Kan, suasana ditengah ruangan jadi sunyi senyap,

kembali tak kedengaran sedikit suarapun.

“Kawan-kawan sekalian!” ujar Hu Toa Kan kembali.

“Menggunakan kesempatan didalam merayakan ulang

tahun Loolap ini, ada suatu urusan hendak aku sampaikan

kepada saudara-saudara sekalian.”

Suasana didalam ruangan tersebut semakin sunyi lagi,

sampai jarum yang terjatuh keatas lantaipun pasti

kedengaran.

“Tempo dulu, loolap dengan Sam Ciat Sin-cun sebagai

jagoan yang paling lihay, waktu itu adalah sepasang sahabat

karib, Kiang Lang ada menaruh sedikit budi pertolongan

kepaad diri Loolap, rasanya didalam peristiwa ini kawan2

sudah pernah mengetahuinya bukan. . .” ujar siorang tua itu

kembali.

“Sedikitpun tidak salah, urusan ini pernah kami dengar.”

sahut seseorang dengan lantang.

“Waktu itu, aku sudah menjodohkan putriku kepada

Kiang To putra dari Kiang Lang.” sambung Hu Toa Kan

sambil tertawa. “Hanya saja setelah Kiang To munculkan

dirinya didalam dunia kangouw ternyata sudah berubah

jadi seorang bajingan iblis cabul yang ganas dan iblis

pembunuh manusia berdarah dingin, maka dari itu setelah

aku berpikir keras tiga kali, Loolap merasa bahwa

kebahagiaan siauw-li tak dapat dihancurkan ditangan Kiang

To. . .”

“Cara berpikir dari Hu Cung-cu sedikitpun tidak salah. .

.” teriak para hadirin dengan gaduh.

“Tidak salah, putrimu tak dapat dijodohkan dengan iblis

terkutuk itu. . .”

“Tindakan dari Hu Cung-cu sangat tepat. . .”

Kiranya para hadirin yang ada didalam ruangan tersebut

rata-rata pada memuji tindakan dari Hu Toa Kan ini.

“Oleh karena itu.” sambung Hu Toa Kan sambil ulapkan

tangannya. “Dihadapan saudara2 sekalian aku orang she

Hu hendak mengumumkan, bahwa sejak hari ini ikatan

perkawinan antara Siauw-li Hu Siauw In dengan Kiang To

dengan resmi diputuskan. . .”

Baru saja Hu Toa Kan berbicara sampai disitu,

mendadak. . .

“Tunggu sebentar!” Serentetan suara bentakan yang amat

dingin bergema memenuhi angkasa.

Suara bentakan tersebut amat dingin, kaku dan penuh

mengandung hawa napsu membunuh, Sehingga rata2

semua hadirin dibuat bergidik oleh kejadian tersebut.

Sewaktu semua orang dongakkan kepalanya, tampaklah

didepan pintu ruangan itu secara mendadak sudah muncul

seorang manusia berkurudung. Sekali lagi para jago dibuat

bergidik melihat kejadian itu.

Sinar mata Pek Thian Ki berkilat, hatinya berdebar

keras, Sedang suasana dalam ruangan itu, berubah jadi

sunyi senyap bagaikan ditengah kuburan saja.

Tak seorangpun diantara para jago yang meneriakkan

siapakah orang itu, tapi dalam hati mereka sudah pasti

merasa sangat jelas kalau orang ini tak usah diragukan

pastilah sang iblis yang paling menakutkan pada saat ini,

KIang To adanya!

Suasana dalam ruangan begitu sunyi, hening,

menyeramkan dan amat mengerikan. . .

Dengan langkah yang lebar dan menimbulkan suara

detakan nyaring, orang berkerudung itu selangkah demi

selangkah berjalan masuk kedalam ruangan, setiaplangkah

kakinya meninggalkan suara yang amat menyeramkan. . .

Sudah tentu Hu Toa Kan sendiripun tahu kalau siapakah

orang tersebut. Sambil tertawa dingin tiada hentinya, ia

membentak keras:

“Siapa?”

Orang berkerudung itu sama sekali tidak menghentikan

langkah kakinya, ia tetap melanjutkan langkahnya setindak

demi setindak mendekati siorang tua itu.

“Heee. . .heee. . .heee apakah kau orang ingin tahu

siapakah diriku?” serunya kaku.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Buat apa kau tanyakan lagi? Aku pikir kawan2 yang ada

dikalangan ini rata-rata sudah pada mengerti semua,

siapakah diriku,”

“Aku minta kau yang jelaskan sendiri siapakah dirimu!”

“Kiang To!”

“Apa?”

“Haaa. . .!”

“Kiang To. . .”

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh ruangan

mendadak meledak suara jeritan kaget yang gegap gempita,

air muka setiap hadirin tak terasa sudah berubah terlintas

suatu perasaan terperanjat dan ketakutan. Pek Thian Ki

sendiripun dibuat terperanjat oleh kejadian ini, sinar

matanya tanpa berkedip segera dialihkan keatas tubuh

simanusia misterius Kiang To.

“Heee. . . heee. . . heee. . . kiranya kaulah yang bernama

Kiang To, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu. . .”

Jengek Hu Toa Kan sambil tertawa dingin.

“Benar, aku memang ada maksud untuk munculkan diri

pada saat seperti ini.”

“Kiang To! Aku sudah pergi kemana-mana untuk

mencari jejakmu, ternyata kau sembunyi tidak mau

munculkan diri. . .”

“Hmmm! Aku tidak ingin menemui manusia semacam

kau, karena itu aku menghindari setiap perjumpaan dengan

dirimu, kau sudahmengerti?”

“Perduli kau ingin menghindari aku atau tidak, aku tidak

mau ambil perduli, Bagaimanapun juga akhirnya pada saat

ini kita berjumpa satu sama lainnya, Kiang To, antara

ayahmu dengan diriku pernah mempunyai suatu ikatan

persahabatan yang sangat erat.”

“Soal ini aku tahu.”

Sewaktu Kiang To sedang menyahut tadi, ia sudah

meloncat kehadapan Hu Toa Kan kurang lebih satu kaki

jauhnya, kemudian beru berhenti, kejadian ini sudah tentu

membuat suasana didalam ruangan tersebut berubah

semakin tegang dan penuh diliputi hawa membunuh.

“Kiang To! Hatiku benar2 terluka terhadap semua tindak

tandukmu setelah kau orang munculkan diri didalam dunia

persilatan.” seru Hu Toa Kan kembali dengan nada yang

amat dingin.

“Soal ini, aku sih tak akan ambil perduli.”

“Karena perbuatan dan tindak-tandukmu sangat kurang

ajar, cabul dan ganas, maka aku putuskan mulai detik ini

hubungan antara puteriku dengan dirimu putus sampai

disini saja. . .”

“Heee. . .heee. . .heeee. . . tidak bisa jadi. ‘ teriak Kiang

To dingin.

“Tidak bisa jadi?”

“Benar, tidak bisa jadi!” bentak Kiang To lagi dengan

suara yan kasar.

Nada suara tersebut penuh diliputi hawa napsu

membunuh, hal ini membuat setiap orang merasakan bulu

kuduknya pada berdiri.

“Sungguh aneh. . .!” Tak terasa lagi Pek thian Ki berseru

tertahan setelah melihat kejadian itu.

Kiranya ia dapat berseru aneh ini, karena ia mengerti

kalau Kiang To yang ada dihadapannya pada saat ini

bukanlah Kiang To yang asli, lalu apa sangkut pautnya

dengan dibatalkannya perkawinannya ini?

Tetapi Kiang To palsu ini ternyata tidak menerima

keputusan dibatalkannya perkawinan itu dengan senang

hati, jadi jelas dibalik kesemuanya ini pasti masih tersimpan

alasan2 yang lain. Bukankah kejadian ini sangat

membingungkan hatinya?

“Hmmm! Perkataan yang aku katakan selamanya berat

bagaikan gunung dan tak akan berubah kembali,” teriak Hu

Toa Kan tegas.

“Heee. . . heeee. . . .heeee. . . Hu Toa Kan! Aku mau

bertanya kepadamu, Ide untuk membatalkan perkawinan

ini datangnya dari dirimu sendiri ataukah dari putrimu?”

“Keputusanku sendiri.”

“Apakah puterimu setuju!”

“Aku putuskan sendiri persoalan ini.”

“Hu Toa Kan!” Teriak Kiang To dengan keras. “Tidak

salah puterimu adalah seorang gadis yang berwajah amat

cantik, tetapi aku Kiang To pun bukanlah manusia yang

belum pernah menemui gadis cantik, Jikalau putrimu suka

berbicara sendiri bahwa secara tulus ia ingin putuskan

hubungan perkawinan ini, maka cayhepun dengan senang

hati akan menerima keputusan tersebut.”

“Bangsat.” bukankah tadi sudah kukatakan bahwa

urusan ini dapat aku putuskan sendiri.”

“Jadi dengan demikian, kau tidak ingin mengundang

putrimu untuk keluar dan menjawab sendiri keputusan ini?”

jengek Kiang To dengan ketus.

“Tak ada perlunya. . .”

“Kurang ajar.” potong jagoan she Kiang itu dengan suara

gemboran yang keras, “Kau harus undang dia keluar,

karena yang akan kawin dengan aku bukan dirimu, tapi dia,

putrimu.”

Suara bentakan ini penuh mengandung napsu

membunuh, hal ini membuat para jago yang ada didalam

ruangan jadi merindik dan bergidik, keganasan serta

kebuasan dari Kiang To ini benar-benar bukan kabar

bohong belaka.

“Aku sudah bilang, tidak perlu!” potong Hu Toa Kan

tetap dingin.

Bab 20

Mendadak Kiang To memperdengarkan suara tawanya

yang amat menyeramkan, suara tertawatersebut bukan saja

amat sombong, seram bahkan mengandung hawa napsu

membunuh yang amat tebal. Suara tertawa sangat

menyeramkan ini dapat membuat hati orang ketakutan

sehingga ter-kencing2.

“Hu Toa Kan, aku ingin bertanya kepadamu,” kembali ia

membentak keras sambil memperdengarkan suara tertawa

sinisnya, “Mengapa Kiang Lang dapat disebut orang

sebagai Sam Ciat Sin-cun?”

“Karena ia ternama dengan ‘Perempuan, arak serta

hartanya!”

“Sedikitpun tidak salah, lalu siapa pula yang mendirikan

Istana Harta, Istana Perempuan serta Istana Arak itu?”

“Sam Ciat Sin-cun.”

Beberapa patah perkataan itu segera membuat Pek Thian

Ki jadi amat terperanjat karena persoalan ini sedikit banyak

ada diluar dugaan pemuad tersebut, Ia sama sekali tidak

menyangka kalau Istana Harta Istana Arak serta Istana

Perempuan yang merupakan perguruan aneh didalam Bulim

pada saat ini ternyata didirikan oleh Sam Ciat Sin Cun.

Bagaimanakah watak dari Sam Ciat Sin-cun itu?

Bagaimana hasil yang sudah ia lakukan? Selagi Pek Thian

Ki sedang berpikir keras, Kiang To sudah berkata kembali

dengan suara yang amat dingin;

“Hu Toa Kan, kalau memang Istana Harta, Istana

Perempuan serat Istana Arak didirikan oleh Sam Ciat Sincun,

lalu aku mau bertanya lagi kepadamu secara

bagaimana Sam Ciat Sin-cun bisa menemui ajalnya?”

“Aku tidak tahu.”

“Apa? Kau tidak tahu. . .”

Nada ucapan dari Kiang To in penuh berisikan hawa

napsu membunuh yang amat menyeramkan, agaknya

jawaban dari Hu Toa Kan ini sudah menggusarkan hatinya.

“Tidak salah!” sahut Hu Toa Kan dingin. “Aku tidak

mengetahui apa sebabnya ia mati.”

“Bagaimana dengan moy-moayamu?”

“Apa. .?”

“Hu Cung-cu masih mempunyai seorang moy-moy

bukan. . .?”

“Kenapa kami belum pernah dengar orang mengatakan

soal ini?. . ”

“. . . .”

“. . . .”

Para jago Bu-lim yang ada didalam ruangan tersebut

rata2 dibuat terperanjat oleh perkataan dari Kiang To ini.

Mereka benar-benar tidak nyana kalu Hu Toa Kan

ternyata masih mempunyai seorang moy-moy, bahkan

berita ini baru untuk pertama kali ini mereka dengar.

“Hmmm! Aku sama sekali tidak punya adik perempuan.

. .”

“Apa?. . .” bentak Kiang To semakin gusar. “Kau tidak

punya adik perempuan?”

“Sedikitpun Tidak salah!”

“Lalu siapakah Hu Bei Sin?”

“Selama hidup aku orang she Hu baru untuk pertama

kali ini mendengar nama orang itu.”

“Hu Toa Kan! Perbuatanmu sungguh keterlaluan, kau

tak akan lolos dari tanggung jawab atas kematian dari Sam

Ciat Sin-cun, sedang adik perempuanmu kebahagiaannya

pun hancur ditanganmu, sekarang kaupun ingin

menghancurkan hidup putrimu, Hu Toa Kan, kau betulbetul

seorang manusia yang patut dibunuh mati. .”

Tubuhnya bagaikan sambaran kilat segera mencelat

kedepan melakukan serangan.

Agaknya pada siang ini Kiang To sudah dibuat teramat

gusar, didalam perputaran badannya itulah laksana elang, ia

telah menyambar tubuh Hu Toa Kan.

Serangan yang dilancarkan Jiang To ini benar2 dahsyat

sekali, tetapi se-konyong2. . . . Bayangan manusia

berkelebat lewat, sesosok bayangan manusia tahu2 sudah

menerjang pula kearah Kiang To sesaat ia mencelat

kedepan.

Muncul bayangan manusia secara mendadak ini sama

sekali tidak membuat Kiang To jadi jeri, ia malah tertawa

dingin dan bertarung jadi satu dengan pihak lawannya.

Beberapa saat kemudian diiringi suara bentrokan keras

kedua sosok bayangan manusia itu berpencar satu dengan

lainnya.

Ketika semua orang mendongakkan kepalanya,

tampaklah bayangan manusia yang menubruk kearah Kiang

To itu mendadak berkelebat kembali kearah luar jendela

dan didalam sekejab mata lenyap dari pandangan.

Kecepatan gerak orang itu benar-benar luar biasa sekali,

sehingga membuat semua orang merasa rada tertegun.

Terdengar Kiang To tertawa dingin tiada hentinya, entah

sejak kapan diatas genggamannya kini sudah bertambah

dengan secarik kertas.

Apakah isi dari kertas tersebut tak seorangpun yang tahu,

tapi yang jelas tulisan dari bayangan manusia tadi.

Tiba-tiba. . . .

“Hu Toa Kan! Biarlah kali ini aku ampuni satu kali

jiwamu.” terdengar Kiang To berseru dengan suara yang

amat dingin. “Tetapi kau jangan keburu bergirang hati dulu,

aku hanya satu kali ini saja mengampuni jiwamu, lain kali

aku tak akan melepaskan dirimu lagi, Dan satu hal harus

kau ingat tersu, bahwa putrimu masih tetap merupakan

istriku. . .”

Tidak menanti jawaban lagi, ia sudah putar badan lantas

berlalu dari dalam ruangan tersebut. Mendadak. . .

Bayangan manusia berkelebat lewat, sesosok bayangan

manusia mendadak sudah menghadang dihadapan Kiang

To dengan sikap yang gagah.

Ketika semua mata memperhatikan orang itu lebih

cermat lagi, maka tampaklah dia bukan lain adalah

sipemuda kurus tinggal tulang Bay-kut, Pek Thian Ki

adanya.

Kontan saja Kiang To jadi melengak dibuatnya.

“Heee. . .heee. . .heeee. . . kawan! Kau orangkah yang

bernama Kiang To?. . .” tegur Pek thian Ki sambil tertawa.

Pada awalnya Kiang To rada melengak, tapi dengan

cepat ia sudah tertawa. “Pertanyaan saudara ini bukankah

sama saja sudah pura2 bertanya?”

“Jadi kalau demikian adanya kita pernah berjumpa,

bukan?”

“Pernah berjumpa?”

Pek Yhian Ki tersenyum, senyuman tersebut begitu halus

dan begitu mempesonakan, ia mengangguk.

“Kemungkinan sekali kita memang pernah berjumpa,

tentunya saudara bernam Pek thian Ki, bukan?” jawab

Kiang To dingin.

“Benar!”

“Kawan Pek, kau menghadang perjalananku, entah ada

urusan apa yang hendak kau sampaikan kepadaku?”

“Aku ingin melihat wajahmu yang sebenarnya. .”

Kata terakhir begitu meloncat keluar dari ujung bibirnya,

Pek thian Ki sudah menggerakkan tangan kanannya,

laksana sambaran kilat mencengkeram kerudung hitam

diatas wajah Kiang To.

Perlu diketahui, tenaga dalam yang dimiliki Pek thian Ki

pada saat ini sudah pulih empat bagian, sudah tentu saja

serangan cengkeraman ini luar biasa cepatnya. Didalam

keadaan tidak bersiap sedia ini, hampir2 saja membuat

kerudung hitam diatas wajah Kiang To kena tersambar

robek.

Tetapi, bagaimanapun juga, ia adalah seorang jagoan

yang memiliki kepandaian ilmu silat amat tinggi, sewaktu

Pek Thian Ki melancarkan serangan tadi, tubuhnya sudah

berkelit lantas menangkis, setelah itu buru-buru meloncat

kebelakang.

“Kau mencari mati?” bentaknya gusar.

Pek thian Ki tetap tersenyum dikulum. “Saudara Kiang,

ternyata kepandaian silatmu bukanlah nama kosong belaka.

. .” pujinya ringan.

Senyuman yang menghiasi bibir Pek thian Ki ini bukan

saja berada diluar dugaan semua orang, sekalipun Kiang To

sendiripun dibuat melengak oleh kejadian ini.

Untuk beberapa saat lamanya Kiang To tidak berhasil

memahami apa yang sedang dilakukan oleh Pek Thian Ki,

karena senyuman itu benar-benar sangat aneh dan

misterius, sehingga sukar untuk diketahui artinya.

Sudah tentu Pek thian Ki sendiripun paham, dengan

tenaga dalam yang dimiliki pada saat ini tidak mungkin dia

orang bisa berhasil menangkan pihak lawan, apalagi tenaga

murninya baru pulih tiga, empat bagian saja.

“Apa maksud perkataanmu itu?” tegur Kiang To dengan

nada yang amat dingin.

“Sudah lama cayhe menaruh rasa kagum terhadap

kepandaian silat yang kau miliki, dan kini aku ada maksud

untuk menjajal apakah berita yang aku dengar itu benar2

ataukah cuma berita angin belaka. .”

“Kurang ajar! Nyalimu benar-benar amat besar.”

“Akupun percaya kalau kau tak bakal dapat sampai

berhasil mencabut nyawaku. . .”

“Hmmm! Memandang diatas nyalimu ada diluar dugaan

untuk kali ini, biarlah aku ampuni nyawamu, tapi lain kali. .

.heee. . .heee. . . akan kusuruh kau orang merasakan

kelihayanku.”

Habis berkata tubuhnya berkelebat dan melayang keluar

dari pintu depan. Pek Thian Ki yang melihat orang itu

berkelebat leawt, hatinya mendadak bergerak, iapun ikut

melayang dari ruangan.

Pada waktu itu. . . Hari sudah mendekati petang, tubuh

Pek thian Ki yang mencelat keluar dari pintu depan dengan

tidak mengeluarkan sedikit suarapun melakukan

penguntitan dibelakang punggung Kiang- To.

Didalam anggapan Pek thian Ki, Kiang To

menyelubungi wajahnya dengan kerudung ia pasti akan

melepaskan juga kain kerudung itu, maka sampai pada

saatnya, bukankah dia orang dengan sangat mudah dapat

melihat jelas bagaimanakah wajahnya yang asli? Bagaikan

terbang, Pek Thian Ki melakukan pengejaran kedepan.

Tiba-tiba. . .

Suara bentakan keras bergema datang, tampaklah

dihadapannya terlihat dua sosok bayangan manusia sedang

berkelebat, lalu saling berpisah dan mundur kearah

belakang.

Melihat kejadian itu tak urung Pek thian Ki merasa

hatinya amat terperanjat. Didalam sekejap mata itu, ia

sudah tiba dikalangan pula.

Sewaktu ia memperhatikan suasana ditengah kalangan

lebih cermat lagi, seketika itu juga Pek thian Ki jadi

melongo, matanya mendelong dan badannya mematung.

Kiranya kedua orang yang sedang berdiri saling berhadap2an

itu bukan lain adalah Cu Tong Hoa serta Tong

Ling.

Oooouw Thian! Apakah yang sudah terjadi?

“Kiang To! Akhirnya aku berhasil menjumpai dirimu.”

seru Tong Ling dengan suara yang amat dingin.

Cu Tong Hoa pun tertawa dingin tiada hentinya.

“Akupun tidak menyangka kalau Kiang To adalah

saudara.” sambungnya tidak mau kalah.

“Kiang To. . .! Pintar benar kau berlagak pilon.”

“Bangsat! Kaulah yang pandai berlagak pilon.”

Untuk beberapa saat lamanya Pek thian Ki jadi melengak

dibuatnya ditengah kalangan, ia tak tahu apa sebenarnya

yang sudah terjadi disana. Maka buru-buru badannya

meloncat kedepan melerai.

“Eeeei. . .eeei. . . kenapa kalian berdua? Apa yang sudah

terjadi?”

“Dia adalah Kiang To!”

“Omong kosong!” bantah Cu Tong Hoa dingin. “Dialah

bangsat Kiang To yang menjadi incaran semua jago-jago

Bu-lim dikolon langit, Sebelum terjadinya peristiwa ini aku

sudah menanti dirinya diluar dan sekarang aku berhasil

mencegat jalan perginya. . .”

“Pek Thian Ki! Kau jangan suka mempercayai katakatanya

yang ngaco belo, dialah si Kiang To yang asli,

Karena sejak tadi aku sudah menunggu ditempat luaran

untuk menghadang jalan perginya, Sewaktu dia meluncur

keluar, maka aku segera malakukan pengejaran kemari dan

akhirnya berjumpa dengan dirinya.”

Pek thian Ki jadi me-longo2, ia berdiri melengak tak bisa

berbicara. Sepasang alisnya berkerut, agaknya sedang

memikirkan sesuatu, seperti pula sedang mengambil suatu

kesimpulan.

Sedikitpun tidak salah! Ia memang sedang berpikir dan

mengambil suatu kesimpulan, Kesimpulan dari suatu

peristiwa yang maha penting.

Tadi, pada saat yang bersamaan mereka berdua keluar

berbareng. . . dan setelah mereka berdua berlalu, Kiang To

simanusia misterius yang menyeramkan itu segera

munculkan dirinya. Jadi secara kasarnya saja diantara

kedua orang itu pasti salah satu tentu hasil penyaruan dari

Kiang To.

Tetapi siapakah diantara mereka berdua yang jauh lebih

mencurigakan? Kepandaian silat yang dimiliki Cu Tong

Hoa tidaklemah, ilmu menyamarpun merajai Bu-lim, Jika

dia adalah Kiang To, maka ada kemungkinannya sangat

besar.

Tetapi ia pernah mengakui bahwa dirinya adalah

majikan Istana Harta, mana mungkin kalau seorang

majikan Istana Harta adalah Kiang To? Apalagi kedelapan

lembar jiwa anggota Istana Hartapun mati ditangan Kiang

To, jadi tidak mungkin hal ini bisa terjadi.

Masih ada satu hal lagi yang menguatkan, menurut

keadaan pada waktu itu sewaktu Kiang To turun tangan

keji, Cu Tong Hoa pun sedang dikerubuti oleh ber-puluh2

orang jagoan Bu-lim didalam Istana Harta. . . . Jadi Cu

Tong Hoa tetap ada kemungkinan, hanya kemungkinan

tidak besar.

Sebaliknya Tong Ling pun mempunyai kemungkinan

yang besar. Umpama saja kepandaian silatnya, nada

ucapannya dan tingkah laku yang sangat aneh

kemungkinan besar dia adalah Kiang To. . . . Tetapi

menurut berita yang tersiar, ia pernah memperkosa kaum

gadis? Lalu bagaimana penjelasannya. . .

Sewaktu Pek Thian Ki sedang termenung berpikir keras

itulah. Tong Ling kembali sudah membentak keras;

“Bangsat kau tidak mau mengaku? Baik akan kupaksa kau

orang untuk mengaku sendiri.”

Tubuhnya langsung mencelat ketengah udara dan

menubruk tubuh Cu Tong Hoa, tangan kanannya

diayunkan mengirim satu pukulan dahsyat. Serangan yang

dilancarkan Tong Ling ini benar-benar amat cepat dan

mengerikan.

Ter-buru2 Cu Tong Hoa berkelit kesamping meloloskan

diri dari datangnya pukulan tersebut, kemudian tubuhnya

menerjang maju kedepan balas melancarkan satu pukulan.

Bayangan manusia saling menyambar, diiringi dengan

bentrokan2 keras, masing-masing pihak mundur beberapa

langkah kebelakang.

Didalam bentrokan yang hanya menghabiskan waktu

sedetik ini kedua orang tersebut sama-sama sudah

melancarkan tiga jurus serangan, jika dibicarakan dari

kecepatan gerak serta kemantapan jurus-jurus serangan

maka Cu Tong Hoa rasanya masih bukan tandingan dari

Tong Ling.

Heeee. . .heee. . .heee. . . kawan, sungguh hebat

kepandaian silatmu. . . .” Jengek Cu Tong Hoa sambil

tertawa dingin.

“Hmmmm! Kaupun tidak jelek. . .”

“Kawan terlalu memuji.”

“Tutup bacotmu! Nih, rasakan lagi sutu pukulan.”

Telapak tangan kanannya kembali menyambar lewat

menghajar jalan darah ‘Ciang-thay’ diaras tubuh Cu Tong

Hoa.

Kebutan dari Tong Ling ini dalam satu gerakan sudah

menggunakan tiga buah perubahan yang berbeda,

kecepatan serta kedahsyatannya pun luar biasa sekali.

Dengan sebat Cu Tong oa menangkis serangan tersebut

dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya balas

mengirim satu serangan totokan pula.

Jurus-jurus serangan yang dilancarkan kedua orang itu

sama2 dilakukan dengan amat cepat, hanya didalam

sekejab mata, lima jurus sudah berlalu.

Cu Tong Hoa yang rada kalah satu tingkat didalam

perubahan jurus serangan ini, ditengah gencetan Tong Ling

yang amat gencar ia kena dipaksa mundur sejauh tiga

empat langkah jauhnya.

“Mendadak. . .

“Tahan!” bentak Pek Thian ki keras.

Begitu suara bentakan dari pemuda tersebut bergema

memenuhi angkasa, dua orang itupun sama-sama

menghentikan serangannya dan mundur kebelakang.

Mengambil kesempatan itu, Pek Thian Ki menerjang

maju kedepan, tegurnya sembari tertawa. “Heeei. . . .apa

sebabnya kalian berdua saling bergebrak?”

“Karena Kiang To!” sahut Cu Tong Hoa dingin.

“Kau anggap saudara ini adalah Kiang To?”

“Benar!”

Pemuda itu lantas menoleh kearah Tong Ling dan

tanyanya pula: “Dan kau anggap dia Kiang To?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Aku rasa agaknya sama sekali tiada berharga apabila

kalian berdua saling bergebrak hanya dikarenakan masingmasing

pihak menaruh curiga kalau pihak lawannya adalah

Kiang To, Sekarang perduli siapakah Kiang To diantara

kalian berdua, bukankah urusan ini tiada sangkut pautnya

dengan diri kita? Buat apa kita orang menjadi kesusahan

dan kemurungan hanya disebabkan persoalan ini?”

“Hmm! Aku mencari dirinya karena ingin menuntut

balas!” seru Cu Tong Hoa dingin.

Bila perkataan dari Cu Tong Hoa adalah perkataan yang

benar maka dendam yang hendak dibalas tentunya adalah

dendam kedelapan lembar nyawa anggota Istana Harta

yang menemui ajalnya ditangan Kiang To.

“Tidak! Akupun sedang mencari dirinya.” sambung Tong

Ling pula.

“Jadi dengan demikian kalian berdua sama-sama hendak

mencari Kiang To sampai ketemu?”

“Benar!” jawab kedua orang itu hampir berbareng.

Pek Thian Ki tak dapat menahan rasa gelinya lagi,

terpaksa ia tertawa ter-bahak2, “Haaa. . .haaa. . . haaa. . .

padahal aku sendiripun punya perasaan bahwa satu

diantara kalian berdua pasti adalah Kiang To. . .”

“Siapa?”

Ditengah suara teriakan tersebut sinar mata mereka

berdua sama-sama dialihkan keatas wajah Pek thian Ki,

Agaknya didalam anggapan mereka pemuda itu sebenarnya

sudah tahu siapakah Kiang To sebenarnya diantara mereka

berdua.

Sekali lagi Pek Thian Ki tertawa. “Soal ini sih harus

menunggu pembuktian dulu.”

“Kau hendak membuktikan dengan cara apa?”

“Sebelum aku memberi jawaban, akan kutanya dulu

kepada kalian berdua, sebenarnya Kiang To adalah seorang

lelaki ataukah seorang gadis?” kata Pek Thian Ki setelah

berpikir sebentar.

“Sudah tentu seorang laki!” jawab Cu Tong Hoa dengan

cepat.

“Hmmm! Bagaimana kau begitu merasa yakin?” sela

Tong Ling dingin.

“Sudah tentu! Karena ia telah memperkosa dan menodai

beberapa gadis, juga buat apa memborong nona It Peng

Hong dari Istana Perempuan, jika bukan seorang lelaki buat

apa ia lakukan kesemuanya ini?”

“Perkataanmu sedikitpun tidak salah, tetapi gadis-gadis

yang diperkosa itu hanya pakaiannya saja yang dicopoti dan

sama sekali tak ada pemerkosaan secara sungguh2, Sedang

mengenai nona It Peng Hong yang diborong dari Istana

Perempuan, apakah dia tak dapat menyaru sebagai seorang

pria untuk memborong dirinya?”

Mendengar bantahan tersebut, Cu Tong Hoa jadi

bungkam dalam seribu bahasa. Pek thian Ki sendiripun

dibuat tertegun.

Perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, gadis2 tersebut

hanya pakaiannya saja yang dicopoti dan sama sekali tak

dapat dibuktikan kalau mereka benar-benar sudah diperkosa

atau belum, Apalagi setiap gadispun bisa menyaru sebagai

pria untuk memborong nona It Peng Hong tersebut dari

Istana Perempuan.

Akhirnya Cu Tong Hoa tertawa.

“Sedikitpun tidak salah!” katanya pula lambat-lambat.

“Kiang To memang ada kemungkinan juga seorang gadis

yang menyaru sebagai pria, tapi aku sekarang ingin

bertanya satu persoalan dari kalian berdua, Setiap kali

Kiang To selesai melakukan kejahatan tentu akan

meninggalkan sebuah panji kecil bukan?. . .”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Jadi dengan begitu panji kecil tersebut merupakan

barang bawaan yang selalu ada disakunya bukan?”

“Benar!”

“Kalau begitu. . .” sengaja Pek thian Ki menghentikan

pertanyaannya ditengah jalan, lama. . . .lama sekali ia baru

menyambung kembali, katanya lebih lanjut: “Ada satu cara

yang bisa kita ketahui siapakah diantara kalian berdua

sebenarnya adalah Kiang To?”

“Cara apa?”

“Geledah seluruh badan setiap orang!”

“Apa?”

Bab 21

Kedua orang itu sama2 berteriak tertahan, agaknya

perkataan yang diucapkan oleh Pek Thian Ki ini ada diluar

dugaan mereka.

“Kecuali cara ini rasanya tak ada cara lain lagi yang bisa

ditempuh. .” sambung pemuda itu serius.

“Tidak bisa jadi!” seru Tong Ling dengan cepat.

“Hmmm! Siapa yang tidak setuju dialah Kiang To

sibangsat tersebut. .” Sambung Cu Tong Hoa cepat.

Tong Ling jadi tertegun, dia adalah seorang gadis

perawan yang masih suci. Bagaimana mungkin boleh

membiarkan seorang lelaki asing meraba dan

menggerayangi seluruh badannya?

Tapi, jika ia tidak setuju bukankah hal ini sama saja

kalau ia sudah mengaku kalau dirinya adalah Kiang To?

Dengan hati berat, akhirnya ia menyapu sekejap kedua

orang itu.

“Siapa yang akan turun tangan menggeledah?” bentaknya

keras.

“Sudah tentu suruh Pek Sauw-hiap yang turun tangan

menggeledah, karena rasanya dia seoranglah yang paling

adil.”

“Jadi dengan demikian kaupun sudah setuju untuk

digeledah badan?. . .”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Baiklah! Kalau memang rasanya cuma cara ini saja

yang bisa dilaksanakan, aku orang she Tong pun akan

mengiringi dengan senang hati.”

“Hmmm! Pek Sauw-hiap, kau geledah dulu badannya!”

perintah Cu Tong Hoa kemudian dengan dingin.

“Harus menggeledah siapa dulu?” seru pemuda itu agak

ragu-ragu.

“Geledah dulu badannya.”

“Eeeei. . .kenapa harus menggeledah diriku terlebih

dahulu?” teriak Tong Ling gusar.

“Menggeledah siapa dulu pun sama saja, bagaimana?

Kau takut?”

“Baik kalau begitu, geledah dulu badanku?”

Kini Pek thian Ki-lah yang dibuat tertegun dan serba

salah, ia merasa bingung apa yang harus dilakukan untuk

mengatasi persoalan ini.

Usul untuk menggeledah badan setiap orang adalah

muncul dari pikirannya, sudah tentu tugas ini harus ia

lakukan, Tapi. . . ia pun tahu kalau Tong Ling adalah

seorang gadis!? Untuk beberapa saat ia jadi gelagapan

sendiri dibuatnya.

“Eeee. . . kau kenapa?” tegur Tong Ling keras.

“Aku. . .”

“Ayoh, cepat kemari dan geledah badanku!”

“Baik!” Akhirnya dengan keraskan hati Pek Thian Ki

maju kedepan, pada saat ini keadaannya mirip dengan

menunggang diatas punggung harimau, mau menampik

pun tak dapat.

Akhirnya ia tiba dihadapan Tong Ling dan memandang

kearahnya dengan termangu-mangu.

“Ayoh cepat!” kembali Tong Ling membentak keras.

Pek Thian Ki menggigit kencang bibirnya, dengan

menggunakan ilmu menyampaikan suara serunya: “Nona

Tong, maaf aku harus bertindak kasar.” Ditengah suara

ucapan tersebut, tangannya sudah lantas merogoh kedalam

saku Tong Ling dan mengadakan pemeriksaan, tapi

didalam saku gadis tersebut ternyata tidak ditemui panji

kecil tanda dari Kiang To tersebut.

“Dia tak ada. . .” serunya sambil buru-buru menarik

kembali tangannya.

“Hmmm! Kau cuma merogoh sakunya saja, badan

bagian atas serta badan bagian bawahnya tidak kau periksa,

bagaimana bisa membuktikan kalau benda tersebut tidak

ada didalam badannya?” Kembali Cu Tong Hoa berteriak.

“Soal ini. . .”

“Pek-heng, kau geledah!” ujar Tong Ling perlahan.

Dengan kejadian ini maka Pek thian Ki semakin serba

salah, dia bukanlah seorang jayhoacat (penjahat pemetik

bunga), mana boleh secara terang2an menggerayangi tubuh

bagian ‘Atas’ serta tubuh bagian ‘Bawah’ dari seorang gadis

suci?

Tetapi, bagaimanapun juga ia harus melakukan

penggeledahan, sehingga akhirnya tangan pemuda tersebut

dengan sedikit gemetar mulai menggerayangi tubuh bagian

== MISSING PAGE (Halaman ROBEK)

======================================

====================

“Benar!”

Sungguh suatu omongan kosong yang ngaco belo, mari

kemari! Coba kalian periksa dulu badanku.”

“Apa perlunya repot-repot lagi?”

“Jikalau didalam badanku pun tiada terdapat panji tanda

pembunuhan tersebut, bukankah hal ini sama artinya kalau

aku bukan Kiang To?”

Perkataan ini agaknya membuat kedua orang itu jadi

kaget, sedikitpun tidak berhasil ditemukan panji tanda

pembunuhan tersebut, bukankah hal ini juga membuktikan

kalau iapun bukanlah si Kiang To tersebut?

“Maksudmu didalam badanmupun tidak terdapat panji

tanda pembunuhan?. . .” tanya Tong Ling melengak.

“Ada atau tidak ada, bukankah sesudah digeledah segera

akan ketahuan?. . .”

Sekali lagi Tong Ling melengak.

“Pek Thian Ki! Coba kau geledah badannya,”

perintahnya kemudian.

Pek Thian Ki mengangguk, untuk beberapa saat ia

sendiripun dibuat bimbang, bingung dan ragu-ragu untuk

menghadapi persoalan ini, Apakah mungkin Cu Tong Hoa

benar2 bukan Kiang To?

Agaknya persoalan ini tidak mungkin terjadi. . . . karena

salah satu diantara mereka berdua pasti adalah seorang

yang bernama Kiang To, Tetapi jika ditinjau dari perubahan

sikap yan diperlihatkan Cu Tong Hoa, agaknya didalam

badannya pun sungguh2 tidak terdapat panji tanda

pembunuhan tersebut, menghadapi persoalan ini

bagaimana mungkin Pek thian Ki tidak jadi kebingungan?

Tetapi, bagaimana juga ia harus mengadakan

penggeledahan juga disaku Cu Tong Hoa. Dengan besarkan

nnyali pemuda itu berjalan kearah Cu Tong Hoa, kemudian

setelah tiba dihadapannya lantas mulai menggerayangi

badan orang itu.

Mendadak. . .

Sewaktu Pek Thian Ki merogoh kedalam saku Cu Tong

Hoa itulah, dari belakang tubuhnya berkumandang datang

suara teguran yang merdu:

“Pek Sauw-hiap, apa yang sedang kau lakukan?”

Mendengar teguran tersebut dengan hati terperanjat Pek

Thian Ki putar badan, maka tampaklah dibelakang

dibelakang tubuhnya entah sejak kapan sudah berdiri sidara

cantik berbaju hijau yang ditemuinya sewaktu berada

didalam Istana Harta serta diluar rumah aneh tersebut.

Pek Thian Ki jadi melengak dibuatnya. . . . Kedatangan

dari dara berbaju hijau ini benar2 sangat mendadak sekali

karena ia pernah juga memberitahukan kepadanya jika

ingin mengetahui persoalan Rumah aneh serta Istana Arak,

Istana Harta dan Istana Perempuan datanglah Kegunung

Lui Im-san.

Ia berkata bahwa seluruh persoalan yang ingin diketahui

olehnya harus pergi dulu kegunung Lui Im-san baru bisa

diketahui, dan sekarang ia sudah datang kemari, tetapi tak

berjumpa dengan dara tersebut.

Siapa tahu didalam keadaan seperti ini tahu-tahu dara

cantik berbaju hijau itu sudah munculkan dirinya. Ketika

dara cantik berbaju hijau itu melihat Pek Thian Ki

memandang kearahnya dengan ter-mangu2, kembali ia

menegur dengan suara yang merdu:

Pek Sauw-hiap! Apakah kau sudah lupa siapakah

diriku?”

Dari perasaan ragu-ragu dan keheranannya Pek Thian Ki

segera tersadar kembali.

“Ooow. . . kiranya kau!” Jawabnya ter-buru2. “Mana

mungkin cayhe bisa melupakan diri nona? Tentunya kau

barusan saja datang bukan?”

Emmm. . . Apa yang sedang kau lakukan?”

Tong Ling yang berada disisi kalangan sewaktu melihat

munculnya seorang gadis cantik disana dan langsung

menegur pemuda tersebut, air mukanya segera berubah

hebat, Tetapi sebentar kemudian, ia sudah mengatasinya.

“Tolong tanya siapakah nama nona?” tanyanya

kemudian kearah dara berbaju hijau itu.

“Aku bernama Suma Hun!”

“Oooow! Kiranya nona Suma.”

Pada waktu itu. . .

Tangan Pek Thian Ki yang sudah berada didalam balik

pakaian Cu Tong Hoa sudah mulai menggerayangi badan

orang itu, sedang sinar mata Tong Ling pun dengan tajam

dan tanpa berkedip memperhatikan terus wajah Pek Thian

Ki.

Sang pemuda yang akhirnya tidak berhasil juga

menemukan tanda panji apapun didalam saku Cu Tong

Hoa, lantas mengalihkan tangannya untuk menggerayangi

tubuh bagian ‘Atas’

Tiba-tiba. . .

“Aaaaach. . .!” Pek Thian Ki berteriak kaget, tubuhnya

ber-turut2 mundur sejauh empat lima langkah kebelakang.

Pada saat Pek Thian Ki menjerit kaget itulah tubuh Tong

Ling bagaikan sambaran kilat sudah menubruk kearah Cu

Tong Hoa.

“Kiranya kaulah iblis cabul. . . .iblis ganas tersebut. . .”

bentaknya keras.

Bayangan manusia segera berkelebat lewat laksana

sambaran kilat, dengan menggunakan satu serangan yang

dahsyat, gadis tersebut menerjang kearah Cu Tong Hoa.

Jelas sekali Pek Thian Ki menjerit kaget karena

tangannya berhasil meraba panji tanda pembunuhan

tersebut, kalau tidak, iapun tidak seharusnya menunjukkan

perasaan kaget yang bukan alang-kepalang.

Terjangan yang dilancarkan Tong Ling kali ini benarbenar

luar biasa cepatnya, diam2 Pek thian Ki yang melihat

terjangan itupun merasakan hatinya sangat terperanjat.

Belum habis ia berpikir, serangan yang demikian gencarnya

dari Tong Ling sudah berada dihadapan tubuh Cu Tong

Hoa.

Dalam keadaan tidak bersiap sedia, hampir saja Cu Tong

Hoa kena tersapu oleh datangnya serangan dari gadis itu,

Beruntung sekali ilmu silat yang ia milikipun tidak lemah,

maka dengan bersusah payah akhirnya ia berhasil juga

meloloskan diri dari ancaman bahaya.

Dengan kejadian ini maka mau tak mau terpaksa Cu

Tong Hoa harus menerima juga datangnya serangan dari

Tong Ling ini dengan keras lawan keras.

“Tahan!” bentaknya keras. Sembari berteriak, telapak

tangannya pun digetarkan mengunci seluruh lubang

kelemahan dibadannya.

“Blaaam. . .!” diiringi suara ledakan yan amat keras,

angin taupan menggulung dan memecah keempat penjuru

diiringi pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa.

Oleh serangan yang amat gencar dari Tong Ling ini, Cu

Tong Hoa kena terdesak mundur sepuluh langkah lebih

kebelakang, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat.

Sedang air muka Tong Ling pun mulai terlintas hawa napsu

membunuh yang amat tebal, bentaknya dingin:

“Kiang To, kau masih ada perkataan apa lagi?”

“Apa maksud dari perkataanmu itu?”

“Bukankah Pek Thian Ki sudah berhasil menemukan

panji tanda pembunuhan tersebut didalam badanmu?”

bentak Tong Ling sesudah melengak sejenak.

“Omong kosong!”

“Omong kosong?. . .”

Sinar mata Tong Ling dengan cepat dialihkan dengan

tepat keatas wajah Pek Thian Ki, pada waktu itu pemuda

tersebut masih tetap berdiri termangu ditengah kalangan

tanpa berkutik, ia seperti sudah kehilangan semangat saja.

“Pek Thian Ki!” kembali Tong Ling membentak dingin.

Kau kenapa? “Bukankah kau sudah berhasil meraba panji

tanda pembunuhan tersebut?”

Begitu mendengar teguran tersebut bagaikan baru saja

bangun dari impiannya, Pek Thian Ki menelan ludah,

sedang sinar matanya lantas dialihkan kearah gadis

tersebut.

“Apa yang sedang kau katakan?” tanyanya kebingungan.

“Aku sedang bertanya kepadamu, apakah kau

menemukan panji tanda pembunuhan tersebut. . .?”

Baru saja Tong Ling selesai berbicara, Cu Tong Hoa

sudah menyambung dengan bentakan yang dingin: “Pek

sauw-hiap, katakanlah? Benar atau tidak?”

Pek Thian Ki tetap membungkam dalam seribu bahasa,

ia merasa bingung untuk memberikan jawaban. Sedangkan

didalam anggapan Tong Ling, pada saat ini Pek thian Ki

tidak berani berbicara karena kaget, dan takut terhadap

keganasan dari Kiang To, maka air mukanya segera

berubah hebat.

“Kiang To! Kau tak usah jual lagak lagi disini!”

bentaknya keras. Tubuhnya dengan cepat menerjang maju

kedepan, telapak tangannya dengan diiringi angin pukulan

tajam menghajar keatas tubuh Cu Tong Hoa.

“Apa yang hendak kau lakukan?” teriak Cu Tong Hoa

keras.

Ditengah suara bentakan yang sangat keras, tubuhnya

mencelat kesamping sehingga angin pukulan yang

dilancarkan oleh Tong Ling kali ini tak bisa dihindarkan

lagi menghajar sebuah pohon besar dihadapannya yang

langsung terpukul patah jadi dua bagian.

“Aduh. . . maknya. . . apa yang sudah terjadi?”

mendadak dari atas pohon yang tumbang itu

berkumandang keluar suatu jeritan kaget.

Sesosok bayangan hitam dengan cepatnya jatuh

terjungkal dari atas pohon dan tidak menceng tidak melesat

persis terjatuh dihadapan Suma Hun. Dengan sebat nona

Suma gerakkan tangannya menyambar badan orang itu.

Masih beruntung Suma Hun berhasil menerima jatuhnya

badan orang itu, kalau tidak, maka orang itu kalau

bukannya patah tulang, sedikit2nya pasti akan jatuh

pingsan tak sadarkan diri. Begitu sampai diatas tanah,

kembali orang itu meloncat bangun dan memaki kalangkabut.

“Cucu kura-kura mana yang berani membokong diriku?

Kurang ajar! Maknya! Kalau ingin membunuh mati diriku,

janganlah menggunakan kesempatan sewaktu aku masih

tidur nyenyak.

Munculnya suatu peristiwa secara mendadak ini, kontan

saja membuat semua orang yang ada disana jadi amat kaget

setengah mati, sinar mata mereka ber-sama2 dialihkan

kearah orang itu.

Pek Thian Ki yang melihat munculnya orang itu, hatinya

pun terasa amat terperanjat karena ia segera mengenali

kalau siorang tua berbaju hitam bukan lain adalah ‘Sin Si

Poa’ yang ditemuinya sewaktu berada didalam Istana

Harta.

Dan dia pula orang yang memberitahukan kepadanya

kalau Kiang To adalah dirinya sendiri. Dan sekarang pada

saat dan keadaan seperti ini mendadak sikakek tua yang

amat misterius ini kembali munculkan dirinya, sekarang

kemunculannya ini disengajakah, atau tidak sengaja. . .?

Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya Pek Thian Ki

tersenyum. “Oooouw. . . . kiranya kau Loocianpwee!”

sapanya.

Sinar mata ‘Sin Si-poa’ dengan tajam dialihkan keatas

wajah Pek Thian Ki.

“Hmmm, bangsat cilik, kiranya kaupun berada disini,”

tegurnya pula lantang. “Eeeei. . .bocah! Sewaktu aku

tertidur pulas diatas pohon tadi, cucu kura2 serta bangsat

dari manakah yang membabat putus pohonku itu?”

“Aku!” jawab Tong Ling dingin.

Sinar mata Sin Si-poa pun segera dialihkan keatas wajah

Tong Ling. “Kau yang melakukan?” teriaknya gusar.

“Sedikitpun tidak salah, cayhe yang lakukan!”

“Apakah perbuatanmu itu disengaja ataukah tidak

disengaja?”

“Sudah tentu tidak disengaja. . .”

“Kalau memang tidak sengaja, akupun akan ampuni

jiwamu!”

“Tolong tanya siapakah nama besar dari Loocianpwee?”

“Sin si=poa!” Habis berkata ia putar badan dan berlalu

dari tempat itu.

“Loocianpwee! Tunggu sebantar!” mendadak Pek Thian

Ki berteriak keras.

Mendengar teriakan tersebut, Sin Si-poa langsung

menghentikan langkahnya dan menoleh memandang

sekejap kearah pemuda tersebut.

“Ada urusan apa?” “Ada urusan apa?”

“Cayhe ada beberapa urusan hendak kutanyakan

padamu!”

“Sekarang kau tak ada waktu yang luang sedangkan akupun

tak ada waktu, lain kali saja kalau bertemu kembali,

biarlah kita bicarakan lagi.” Dengan langkah lebah, siorang

tua itu lantas berlalu.

Sedang Pek thian Ki yang ditinggal seorang diri jadi

melengak dibuatnya, Menanti siorang tua itu sudah berlalu,

kembali sinar mata Tong Ling menyapu sekejap keatas

wajah Cu Tong Hoa, bentaknya dingin;

“Kiang To! Sekarang kita orang boleh bergebrak kembali.

. .”

Bayangan manusia tampak berkelebat, sekali lagi ia

menerjang kearah tubuh Cu Tong Hoa, Dimana tangan

kanannya mengayun, ber-turut2 ia sudah mengirim tiga

buah jurus serangan sekaligus dengan serangan-serangan

yang dahsyat dan mematikan.

“Hmmm! Apa kau kira aku benar-benar jeri

terhadapmu?” bentak Cu Tong Hoa ketus.

Bayangan manusia kembali berpencar, ia membalik

badan balas melancarkan tubrukan kedepan menggagalkan

setiap serangan dahsyat, dari Tong Ling.

Mendadak. . . Terdengar Suma Hun berseru tertahan,

tiba-tiba tubuhnya melayang pergi dengan melalui jalan

semula.

Kedatangan dari Suma Hun sudah amat mengherankan,

kepergiannya kali ini sangat mendadak, hal ini membuat

Pek Thian Ki tidak ambil perhatian, sedang Tong Ling serta

Cu Tong Hoa yang sedang bergebrakpun semakin tidak

ambil perhatian lagi.

Ditengah kalangan pertarungan antara Cu Tong Hoa

melawan Tong Ling berlangsung semakin lama semakin

hebat.

Suara bentakan-bentakan keras yang memecahkan

kesunyian, dengan cepat menyadarkan kembali pemuda

tersebut dari lamunannya.

“Kalian semua berhenti bergebrak!” teriaknya keras.

Dengan bergemanya suara bentakan tersebut, kedua

orang yang sedang melangsungkan pertarungan sengit

ditengah kalanganpun segera berpisah dan menghentikan

serangannya, sinar matapun bersama dialihkan keatas

wajah Pek thian Ki.

“Mengapa kalian berdua jadi bergebrak sendiri?” tegur

pemuda she Pek ini tertegun.

“Bukankah dia orang adalah Kiang To?” teriak Tong

Ling melengak.

“Ngaco belo!” sambung Cu Tong Hoa cepat.

“Pek Thian Ki! Cepat kau jawab, apa yang baru saja

berhasil kau raba?”

Aku. . .” untuk beberapa waktu Pek thian Ki merasa sulit

untuk mengutarakan kelar maksud hatinya.

“Ayoh cepat jawab! Bukankah kau menjerit kaget karena

tanganmu yang ada dibalik bajunya berhasil meraba panji

tanda pembunuhan yang disembunyikan olehnya bakan?”

“Buuu. . .bkan!”

“Apa? Bukan?” Agaknya Tong Ling merasakan jawaban

dari pemuda tersebut jauh berada diluar dugaannya,

sehingga sepasang mata yang jeli dengan penuh rasa

terperanjat melototi wajah Pek thian Ki tak berkedip, Untuk

beberapa saat iapun dibuat melengak dan kebingungan.

Lama. . . lama sekali ia baru bertanya kembali: “Lalu apa

yang berhasil kau raba?”

“Aku. . .aku sudah meraba. . .sudah meraba. . .”

Jawabannya tetap tidak karuan, gelagapan, ragu2 dan

bingung.

Coba saudara2 terka apa sebenarnya yang berhasil diraba

oleh Pek Thian Ki?

Kiranya sepasang tangan pemuda tersebut telah menyentuh

dua gumpal daging kenyal yang panas, dan empuk-empuk

merangsang didada Cu Tong Hoa. . . itulah sepasang

payudara mungil dari seorang gadis perawan!

Ternyata Cu Tong Hoa adalah seorang gadis perawan,

hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang ada

diluar dugaan Pek Thian Ki, oleh karena itu saking

terkejutnya ia menjerit kaget.

Tetapi justru disebabkan suara jeritan kagetnya itulah,

Tong Ling sudah salah menganggap kalau pemuda itu

berhasil menemukan panji tanda pembunuhan didada

lawan, oleh sebab itu tanpa banyak cakap lagi ia mengirim

serangan-serangan gencar untuk berusaha merobohkan

pihak lawannya.

Melihat pemuda itu tetap gelagapan, Tong Ling jadi

tidak sabaran: “Eeeei. . . sebenarnya apa yang berhasil kau

raba didada orang itu? Ayoh, cepat jawab! Kenapa harus

ragu-ragu dan gelagapan tidak karuan macam begitu?”

“Ia. . .ia seperti dirimu. . . maksudku dadanya. .dadanya

seperti juga dada milik nona. . .”

“Dia. . .dia adalah seorang gadis?”

“Benar! Oleh karena itu cayhe merasa sangat

terperanjat!”

“Heee. . .heee. . .heee. . . ilmu menyaru dari nona ini

benar-benar sangat lihay.” dengus Tong Ling dingin.

“Wajahmu sikakek bercambang benar-benar sangat

sempurna!”

“Pek Sauw-hiap!” ujar Cu Tong Hoa lagi dingin.” Coba

kau kemari dan periksa lagi seluruh badanku, apakah ada

panji kecil yang aku sembunyikan dibadan!”

Dengan adanya kejadian ini, maka Pek Thian Ki jadi

serba salah, keadaan yang dihadapinya pada saat ini mirip

sekali dengan keadaannya sewaktu hendak melakukan

pemeriksaan dibadan Tong Ling.

Tetapi, bagaimanapun juga, ia harus turun tangan untuk

melakukan penggeledahan, sambik menggertak giginya

kencang2 ia berjalan kehadapan tubuh Cu Tong Hua,

kemudian kembali melakukan pemeriksaan yang sangat

teliti sekali diseluruh tubuh gadis she Cu ini baik badan

bagian ‘Atas’nya maupun tubuh bagian ‘Terbawah’nya.

Tetapi hasil yang didapat tetap nihil, panji yang dicari

tetap tidak ditemukan. “Tidak ada!” seru Pek Thian Ki

kemudian melengak.

Dengan adanya kejadian ini, maka Tong Ling pun dibuat

tertegun ditengah kalangan, Benar! Bukti terakhir yang

mereka dapatkan ini benar-benar berada diluar dugaan

mereka bertiga.

Karena didalam saku bahkan seluruh tubuh dari Tong

Ling serta Cu Tong Hoa, tidak berhasil diketemukan panji

tersebut, Hal ini sudah tentu, jelas membuktikan kalau

mereka berdua sama2 bukan Kiang To!

Heeee. . . kalian berdua sama-sama bukan Kiang To.”

seru Pek thian Ki sambil tertawa pahit.

Tong Ling juga tertawa pahit; “Kemungkinan sekali kita

sama-sama mengejar Kiang To dan kebetulan berjumpa

satu dengan lainnya, sehingga masing2 lawannya adalah

Kiang To.”

“Sedikitpun tidak salah.” sambung Cu Tong Hoa dengan

cepat.

“Tidak kusangka bukan saja Kiang To tak berhasil kita

temukan, bahkan kitalah yang harus menelan kerugian

besar,” kembali Tong Ling bereru sambil tertawa. “Pek

Thian Ki! Kali ini kau orang benar2 lagi untung besar.”

“Cayhe tidak ada maksud untuk berbuat cabul. . .”

Tapi. . .heeeei!”

Jilid 8

Bab 22

Akhirnya Tong Ling menghela napas panjang, agaknya

didalam hati ia merasa amat murung, setelah lewat

beberapa saat, ia baru berkata tawar;

“Aku mohon diri dula!” Tidak menanti jawaban lagi, ia

sudah putar badan dan berlalu.

Sebenarnya Pek Thian Ki ada maksud untuk memanggil

dirinya sewaktu melihat gadis tersebut berlalu, tetapi iapun

merasa bingung apa yang harus ia ucapkan setelah

memanggil gadis itu kembali, Terpaksa dengan pandangan

mendelong, ia memandang bayangan punggung gadis

tersebut, hingga lenyap dari pandangan. . . .

Aku pun hendak pergi!” tiba-tiba Cu Tong Hua tertawa

tawar pula.

“Kau. . . .kau jangan pergi dulu!”

“Ada urusan apa? cepat katakan!”

“Per-tama2, aku minta maaf atas perbuatanku tadi. . .”

“Soal ini aku tak akan menyalahkan dirimu, soal kedua

bukankah kau ingin bertanya kepadaku siapakah aku orang,

dan darimanakah asal-usulku yang sebenarnya bukan?

Disamping itu kau ingin bertanya pula apakah Sin Mo

Kiam Khek benar-benar bernama Pek Thian Ki?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Beberapa persoalan ini untuk sementara waktu aku

tidak ingin beritahukan kepadamu, dan waktunyapun

belum tiba untuk memberitahukan seluruh persoalan ini

kepadamu, akau mau pergi!”

Tubuhnya dengan gesit segera berkelebat dan meluncur

kemuka. Dengan terpesona Pek Thian Ki memandang

bayangan punggung dari Cu Tong Hoa yang makin lama

berlalu semakain jauh, Dan ia. . tetap meninggalkan suatu

teka-teki yang membuat setiap orang mulai menduga.

Pek Thian Ki menarik napas panjang2, ia sudah puas

mencicipi tahu empuk, seluruh tubuh kedua orang gadis

itupun sudah cukup digerayangi merata, Tetapi hal tersebut

hanya meninggalkan suatu kenangan indah yang kosong. . .

.

Cinta itu adalah suatu benda yang tak berujud, kejadian

yang tak dapat dilihat dengan mata, Selama hidup belum

pernah dia orang mencintai seorang gadispun. . . dan tak

pernah pula ada seorang gadispun yang menaruh rasa

simpatik atau cinta terhadap dirinya.

Pernah beberapa kali ia berusaha mendapatkannya, tapi

hasilnya tetap nihil, ia selalu gagal. Hal ini membuat

hatinya jadi tawar dan tidak percaya pada diri sendiri. . .

Disamping itu iapun mengerti bahwa dirinya tidak

memiliki perawakan serta tindak-tanduk yang dapat

menyenangkan hati kaum gadis, badannya hanya tinggal

sekerat tulang Bay-kut, ia percaya setiap gadis pasti tak

mungkin akan mencintai dirinya.

Teringat akan persoalan tersebut, sekali lagi pemuda itu

menghembuskan napas panjang, suara helaan napas

tersebut penuh dengan perasaan sedih, duka dan murung.

Mendadak. . . .agaknya ia sudah teringat akan sesuatu,

maka buru-buru menoleh tapi sebentar kemudian ia sudah

berdiri tertegun lagi.

“Eeeeei. . .sejak kapan Suma Hun berlalu?” diam-diam

pikirnya.

Pada waktu itulah tiba-tiba ia teringat pula akan teka-teki

yang menyelubungi mati hidup suhunya, Apakah benar

suhunya adalah Sin Mo Kiam Khek? Apakah benar2 Kiang

To adalah dirinya sendiri?

Agaknya persoalan ini ada kemungkinannya benar, tapi

ia tak dapat membuktikan kebenaran tersebut, Teringat

persoalan itu, akhirnya ia menghela napas panjang. . . .

“Aku harus pergi menyewa rumah aneh tersebut,”

gumamnya.

Benar, memang seharusnya ia pergi untuk menyewa

rumah aneh itu.

. . . .Syarat yang diajukan untuk menyewa rumah aneh

tersebut, pada saat ini sudah ada dua yang berhasil

dipenuhi. . . Uang emas seribu tail serta sebotol arak Giok

Hoa Lok, Satu2nya syarat yang belum berhasil ia penuhi

adalah seorang gadis cantik.

Gadis cantik hanya ada di Istana Perempuan, iapun

teringat pula perkataan dari Tong Yong itu, anak murid dari

Ciang Liong Kiam Khek;

“Didalam Istana Perempuan terdapat ratusan orang gadis

cantik, setiap orang memiliki wajah yang rupawan dan

mempesonakan, tapi diantara beratus orang gadis cantik itu

hanya ‘It Peng Hong’ seorang yang memiliki kecantikan

melebihi orang lain. . .”

Teringat sampai disini tak terasa lagi Pek Thian Ki

tertawa, ia teringat pula dengan perkataan Tong Yong yong

mengatakan ‘It Peng Hong’ sudah diborong oleh Kiang To. .

.

“Heeee. . .heee. . .heeee. . . aku sih kepingin benar

menggoda kau si Kiang To!” gumannya sambil tertawa

dingin.

Pemuda itu tertawa, dan dibalaik suara tertawa itu penuh

mengandung perasaan percaya pada diri sendiri. Tubuhnya

dengan cepat mencelat kedepan langsung menuju kehutan

Hong Siauw Lim gunung In Hauw San. . . .

Ketika kentongan ketiga sudah tiba, Pek Thian Ki pun

sudah berada didepan Istana Perempuan.

Pada waktu itu. . . .

Keadaan didalam Istana Perempuan tersebut sama sekali

berbeda keadaannya dengan apa yang dilihatnya pagi tadi,

Pintu besar terbentang lebar-lebar dengan sinar lampu yang

redup.

Suara tertawa cekikikan dari perempuan tiada hentinya

berkumandang keluar memecahkan kesunyian malam. . . .

Didalam Istana Perempuan tersebut penuh dengan suasana

yang menggiurkan dan mempesonakan, membuat hati

setiap orang terasa terikat.

Perlahan-lahan Pek Thian Ki melangkah masuk kedalam

pintu, si kakek tua berbaju kuning yang pernah ditemuinya

tadi pagi segera maju menyongsong kedatangan pemuda

tersebut sambil menjura.

“Saudara, agaknya pagi tadi kau sudah datang bukan?”

“Benar!”

Kembali siorang tua itu tertawa. “Aku lihat tentunya

saudara baru pertama kali ini mendatangi sini?. . . ‘

“Sedikitpun tidak salah, kedatangan chayhe ketempat

macam begini baru untuk pertama kalinya.”

“Jadi maksud saudara hendak bermain-main saja?”

“Betul!”

“Untuk bermain nona didalam Istana kami ada

peraturan2nya, tahukah kau orang?”

“Chayhe kurang jelas, harap Loo-tiang suka memberi

petunjuk.”

“Didalam Istana kami terdapat ratusan orang nona yang

masing-masing memiliki kecantikan wajah melebihi

siapapun. . .”

“Soal ini sih chayhe pernah dengar orang berkata. . . .”

“Diantara ratusan orang gadis cantik cantik itu, kami

bagi pula menjadi empat golongan, Golongan pertama

adalah berbicara, golongan kedua bermain, golongan ketiga

memeluk dan golongan keempat menginap, Yang termasuk

golongan berbicara sudah tentu hanya terbatas menemani

dirimu untuk kongkow kongkow saja. . . .”

“Kalau yang termasuk golngan bermain?”

“Menemani kau main catur, main Khim, membuat syair

dan melukis.”

“Kalau golongan memeluk?”

“Kau boleh memeluk dirinya dan mencium bibirnya,

sedang golongan menginap? Kau boleh menemani dirinya

satu malam penuh dan selama satu malam ini dia adalah

isterimu!”

“Harus membayar untuk main dengan perempuanperempuan

itu?” tanya Pek thian Ki kembali sambil tertawa.

“Uang? Sauw-hiap; Kau sudah salah menduga, yang

diarah paling utama oleh Istana Perempuan kami adalah

kawan-kawan Bu-lim dan tujuan kitapun bukan untuk

mencari keuntungan uang, Tapi untuk menentukan

golongan manakah yang bisa kau dapat harus dicoba dulu

seberapa tinggi kepandaian silat yang kau miliki.”

“Lalu bagaimanakah caranya?”

“Pertama, setiap orang yang hendak memasuki Istana,

dari pihak kami akan mengirim seseorang untuk menjajal

kepandaian silat pihak lawan.”

“Dan aku boleh memilih gadis yang manapun untuk

menemani aku orang menginap semalam disini?” seru

pemuda itu sambil tertawa.

“Sudah tentu boleh!”

“Diantara ratusan orang gadis cantik yang ada dalam

Istana Perempuan ini, menurut Loo-tiang siapakah yang

tercantik.”

“Waaah. . .soal ini sukar untuk ditentukan! Untuk

mengikuti selera setiap orang bukan suatu soal yang

gampang, apalagi setiap orang mempunyai cara berpikir

sendiri-sendiri, Ada orang yang suka dengan kepala tinggi,

muka lebar seperti kuda, ada pula yang suka sedangan,

dengan wajah yang mengiurkan, ada pula yang suka gadis

berwajah cantik, ada yang ingin pinggul montok. . .”

“Tetapi rasanya tidak mungkin kalau tak ada seorang

gadispun yang dianggap umum paling cantik bukan?”

potong sang pemuda sambil menyengir.

“Sudah tentu ada!”

“Siapa?”

“Giok Kong Su Kiauw (empat gadis cantik dari Istana

Pualam), Keempat orang gadis ini merupakan gadis-gadis

yang memiliki raut wajah paling mempesonakan, Pertama

adalah ‘It Peng Hong’ yang kedua, ‘Ting Siang’ ketiga ‘Giok

Lian Hoa, dan terakhir ‘Siauw Tauw Hong’. . .”

“Kalau begitu ‘It Peng Hong’ merupakan gadis yang

kecantikan wajahnya melebihi siapapun?”

“Betul. . . cuma ia sudah tidak termasuk dalam

hitungan!”

“kenapa?” sengaja Pek Thian Ki bertanya.

“Ia sudah diborong oleh Kiang To.”

“Loo-tiang!” Kalau begitu adanya urusan kan salah

besar, kalau memangnya Istana kalian tidak melayani

perbuatan2 seperti tempat diluaran, lalu menggunakan cara

apa Kiang To memborong ‘It Peng Hong’?”

“Sudah tentu ilmu silat.”

“Oooow. . . Sekarang aku paham sudah, Majikan kalian

tentu jeri terhadap kepandaian silat yang dimiliki Kiang To,

maka dari itu kalian lantas persembahkan ‘It Peng Hong’

kepada Kiang To!”

“Salah. . . salah besar, bukan demikian urusannya!

Sebetulnya beginilah kejadiannya, untuk bisa memborong

seorang nona, maka pihak tamu harus meninggalkan

setengah jurus ilmu silat, bilamana Cong-koan kami tak

berhasil memecahkannya, maka pihak lawan boleh

memborong seorang nona diantara ratusan nona yang ada.”

“Kalau begitu! Kiang To pun sudah meninggalkan

sejurus ilmu silat yang tak berhasil dipecahkan oleh Congkoan

kalian?”

“Benar!”

“Adakah orang lain yang berusaha untuk mendapatkan It

Peng Hong?”

“Sudah tentu ada! Orang2 ini hampir-hampir saja

menemui ajalnya ditangan Kiang To, Walaupun Cong-koan

kami sudah memberi peringatan sebelum mereka bertindak,

tapi mereka tidak suka mendengarkan nasehat itu, bahkan

begitu ngotot hendak mencari nona ‘It Peng Hong’.”

Pek thian Ki tersenyum, ketika itu kembali ada beberapa

orang Bu-lim yang berjalan masuk kedalam Istana

Perempuan.

Pemuda itupun lantas mengucapkan terima kasihnya

kepada siorang tua itu, dengan mengikuti dari belakang

jago-jago Bu-lim tersebut pemuda itu masuk kedalam pintu

Istana.

Tempat itu merupakan sebuah ruangan besar yang

lebarnya bukan main, baru saja pemuda she Pek itu berjalan

masuk, seorang gadis berbaju kuning sudah maju

menyongsong kedatangannya.

“Kongcu, apakah kau mendatangi Istana kami untuk

mencari nona?

“Benar!”

“Entah gadis mana yang paling kongcu sukai?”

“Golongan yang terakhir?”

Mendengar perkataan tersebut, sidara berbaju kuning itu

rada melengak dibuatnya, sebentar kemudian ia sudah

tertawa cekikikan.

“Kau ingini seorang nona untuk menemani kau tidur

satu malam?”

“Sedikitpun tidak salah!”

Dengan sinar mata yang tajam dara berbaju kuning itu

memperhatikan diri Pek Thian Ki dari atas hingga

kebawah, Agaknya gadis tersebut sedang berkata; “Usia

masih muda, badan sudah tinggal sebaris Bay-kut, delapan

bagian tentu habis dikarenakan main perempuan terlalu

banyak. . .”

“Eeee. . . bagaimana? Tidak boleh?” tegur Pek Thian Ki

rada melengak.

“Boleh. . . boleh! Sudah tentu boleh, cuma saja rada tidak

gampang. . . /’

“Tidak gampang?”

“Benar! Untuk mendapatkan seorang nona yang

menemani kau semalam, maka kepandaian silat yang kau

miliki harus bisa menangkan dulu kepandaian dari Congkoan

kami, sedangkan kau kelihatannya lemah-lembut tidak

bertenaga, Aku lihat tak mungkin bisa jadi!”

Pek Thian Ki tertawa;

“Cayhe ada maksud untuk men-coba2, kemungkinan

sekali ketika Cong-koan kalian melihat badanku tinggal

sebaris Bay-kut saja lantas memberi satu kesempatan baik

buatku, Bukankah hal ini ada kemungkinannya?”

“Hmmm! Kau jangan bermimpi disiang hari bolong,

cuma kalau memang kau minta seorang nona untuk

menemani dirimu, terpaksa akupun akan laporkan urusan

ini kepada Cong-koan.”

“Nona silahkan. . .”

Sambil menanti datangnya gadis itu kembali Pek Thian

Ki jalan mondar-mandir didalam ruangan besar.

Mendadak. . . . Dari pintu luar Istana berkumandang

datang suara teriakan yang amat keras!

“Kawan-kawan sekalian, Diatas kata-kata wanita ada

pisaunya, sejak dahulu kala perempuan disebut orang

sebagai bibit bencana, banyak enghiong hoohan yang mati

didalam pelukan kaum perempuan. Mari. . . mari. . . .mari.

. . untuk mengetahui apakah akhirnya kalian akan mati

karena perempuan atau tidak, silahkan datang untuk

menanyakan nasib, kemungkinan sekali urusan berat

diselesaikan, mari silahkan mencoba, tidak dipungut

bayaran.”

Suara gemboran tersebut amat keras bagaikan sambaran

geledek, terasa ditelinga mendengung tiada hentinya.

Mendengar suara tersebut, Pek Thian Ki merasa hatinya

tergetar sangat keras, ia merasa suara orang itu sangat

dikenal olehnya.

Mendadak ia teringat kembali, suara tersebut agaknya

berasal dari mulut si Sin Si-poa, yang sudah pernah

ditemuinya beberapa kali. Tubuhnya dengan cepat mencelat

kedepan, dan melayang keluar dari pintu Istana.

“Kawan, siapakah namamu, ingin tanya apa,” Waktu itu

terdengar Sin Si-poa sedang berseru.

“Cayhe she Lim bernama Cun Seng, lahir tanggal tiga

bulan lima tengah malam, aku ingin menanyakan nasibku.

“Tanya nasib?” Baik. . .baik. . .”

Pek thian Ki yang sudah tiba didepan pintu, segera dapat

melihat dibawah sebuah pohon liu yang lebat tergantung

sebuah lampu teng-tengan yang memancar cahaya tajam,

dibawah pohon terdapat sebuah meja dan dibelakang meja

berdirilah seorang tua yang berbaju hitam yang bukan lain

adalah Sin Si-poa.

Secarik kain putih dengan lima buah tulisan besar

tergantung didepan meja tersebut. “Ahli Ramal dari Kolong

Langit!” Disamping tulisan besar itu tertera pula beberapa

tulisan dengan kata-kata yang lebih kecil.

“Melihatkan nasib orang-orang Bu-lim, Membacakan

takdir tamu-tamu Kang-ouw.” Ditengah tulisan tersebut

tertera pula sebuah tulisan yang sangat menyolok;

“Bilamana tidak cocok batok kepala dihadiahkan sebagai

pengganti. . . .”

Sungguh bualan seorang sinting! Sekalipun Sin SI-poa

adalah seorang dewa, iapun tidak mungkin bisa mengetahui

nasib manusia dikolong langit dengan demikian jelasnya.

Tetapi bukan saja pihak lawan mengarahkan

pekerjaannyan ini terutama bagi orang2 Bu-lim, bahkan

syarat yang diajukan sangat mengejutkan pula. Bila tidak

cocok, batok kepala akan dihadiahkan, suatu syarat yang

sangat mengejutkan.

Pada waktu itu ada seorang lelaki berusia pertengahan

sedang menanyakan nasibnya, Terdengar Sin Si-poa

tertawa terbahak-bahak.

“Ha. . .haaa. . .haaa. . . kawan, bolehkah aku orang

langsung membicarakan persoalan ini?”

“Sudah tentu.”

“Jika ditinjau dari nasibmu, agaknya nama maupun

kekayaanmu hanya termasuk golongan biasa saja,” ujar Sin

Si-poa dengan wajah serius. “Sejak kecil kau sudah

kehilangan ayahmu, ibumu kawin lagi dengan orang lain,

sedang kau sendiri hidup sebatang kara, sehingga akhirnya

angkat guru dan berkelana didalam dunia kangouw,

Sesudah menikah dan beristeri tidak beruntung, Hujin kena

penyakit aneh, sehingga harus berbaring terus dirumah,

karena itu sering sekali kau orang mencari kesenangan

ditempat luaran, Tapi aku lihat nasibmu biasa-biasa saja. . ”

Mendengar sampai disitu, silelaki yang bernama Lim

Cun Seng itu tak dapat menahan gejolak hatinya lagi, ia

berteriak keras; “Kau sungguh2 seorang dewa, tepat. .

.tepat. . .tepat. .terlalu tepat!”

“Aaaach. . kawan! Kau terlalu memuji.”

“Berapa ongkosnya?”

“Tidak perlu, aku hanya bekerja menurut kemauan hati

saja!”

“Terima kasih. . .terima kasih. .”

Dengan langkah lebar Lim Cun Seng segera putar badan

dan langsung menuju kedalam ruangan Istana Perempuan.

Sewaktu Lim Cun Seng menjerit kaget tadi, dari dalam

Istana Perempuan kebetulan sekali muncul pula lima enam

orang lelaki kekar.

Agaknya orang2 itupun mendengar pembicaraan dari Sin

Si-poa serta teriakan Lim Cun Seng, kelihatan beberapa

orang itu berdiri ter-mangu2.

“Eeeee. . . kawan!” akhirnya seorang lelaki berusia

pertengahan menegur diri Lim Cun Seng, ” Apakah siorang

tua itu bisa meramal tepat?”

“Tepat. . .tepat. . .terlalu tepat!” Sembari berkata, ia

langsung menuju kedalam ruangan Istana.

“Mari kita pergi lihat kesana.” ajak siorang berusia

pertengahan itu kepada kawan2nya, “Kita buktikan apakah

orang tua itu benar-benar seorang dewa hidup.”

Tidak menanti jawaban dari kawannya lagi, ia langsung

menerjang kehadapan Sin Si-poa diikuti kawan- kawannya

dari belakang.

Pek Thian Ki yang menonton jalannya peristiwa itu dari

samping, mendadak merasakan keadaan sedikit kurang

beres, kedatangan Sin Si-poa ditempat ini pasti membawa

hal-hal yang luar biasa, apalagi ditengah malam buta ia

meramalkan nasib orang, dibalik kesemuanya ini tentu

mengandung suatu latar belakang yang misterius. Perlahanlahan

iapun berjalan mendekati si Sin Sipoa.

Ketika itu. . . .

“Kawan! Apakah kalian beberapa orang pun hendak

melihat nasib?” tegur si Sin Si-poa sambil mendengakkan

kepalanya memperhatikan silelaki berusia pertengahan itu

sekejap.

“Benar!”

“Kalau begitu kalian harus berbaris dan antri satu demi

satu.”

Keenam orang itu tidak banyak cakap lagi, mereka

berbaris dan antri memanjang kebelakang dengan silelaki

berusia pertengahan itu berada dipaling depan.

“Kawan! Coba beritahu siapakah namamu? Dan beritahu

pula kapan kau dilahirkan apa yang ingin kau tanyakan?”

ujar Sin Si-poa tertawa.

“Aku she Nyioo bernama Hong dilahirkan pada tanggal

delapan bulan delapan siang. . .”

Sinar mata Sin Si-poa per-lahan2 dialihkan keatas wajah

Nyioo Hong, lama sekali ia baru menggeleng. “Tidak

benar!”

“Apa yang tidak benar?”

“Namamu tidak benar, jika ditinjau dari hari

kelahiranmu serta namamu rasanya tidak ada persesuaian

kawan! Bagaimanapun kau tidak boleh mencari nama palsu

seenaknya!”

Air muka Nyioo Hong langsung berubah hebat.

“Loocianpwee, perkataanmu tepat sekali, aku bukan

bernama Nyioo Hong. . . aku tidak jadi melihat nasib. . .”

Tubuhnya segera diputar dan berlalu dengan ter-gesa2 dari

sana.

Tiba-tiba. . .

“Kawan! Apakah hitunganmu cocok?” Suara seseorang

yang nyaring bergema datang.

Saking nyaring dan kerasnya suara tersebut, semua orang

yang ada disana termasuk juga Pek thian Ki merasa amat

terperanjat, karena mereka merasa bahwa nada suara orang

itu kuat bertenaga, jelas bukan seorang sembarangan.

Ketika ia mendongakkan kepalanya, tampaklah ditengah

kalangan sudah bertambah lagi dengan seorang kakek tua

berbaju hitam yang mempunyai raut muka buas dan jelek.

Sin Si-poa alihkan sinar matanya memandang sekejap

kearah orang itu kemudian ia melengos dan tidak lagi

memnggubris siorang tua berbaju hitam itu.

Kepada seorang lelaki yang berada dihadapannya ia

berseru; “Sekarang ada seharusnya giliranmu.”

Sikakek tua berbaju hitam yang melihat Sin Si-poa tidak

ambil gubris terhadap dirinya, air mukanya kontan berubah

hebat, hawa gusarpun melintasi wajahnya.

“Kawan!” bentaknya sambil menerjang maju kedepan,

Perkataan yang aku tanyakan padamu sudah kau dengar

belum?”

“Emmm! Memang aku dengar sangat jelas!”

“Mengapa kau tidak menjawab?”

“Aku lihat sepasang matamu masih utuh dan normal,

tidak seharusnya buta terhadap tulisan diatas kain itu?”

Beberapa patah perkataan ini terang2an terlalu tidak

pandang mata terhadap siorangt tua berbaju hitam itu, air

muka siorang tua tersebut sudah tentu berubah semakin

hebat lagi.

“Baik. . .baik. . .baik. . . akan kubiarkan kau menghitung

nasibku, jika tidak tepat, hmmm! Akan kujagal dirimu.”

Sembari berkata tubuhnya menerjang maju kedepan meja.

“Eeeei kawan! Sekarang bukan giliranmu, sana antri

dulu,” tegur Sin Si-poa dingin.

Siorang tua berbaju hitam itu semakin gusar lagi, tetapi

ia tak dapat berbuat apa-apa terhadap diri Sin Si-poa,

terpaksa badannya mundur kembali kebelakang untuk antri.

Pada waktu itu Sin Si-poa sudah mulai membanyol

dengan orang kedua.

“Pek sauw-hiap kau pun sudah tiba disini?” Pek thian Ki

yang sedang melamun seorang diri, mendadak ditegur

seseorang dari belakang tubuhnya.

Mendengar teguran tersebut pada mulanya Pek Thian Ki

rada melengak, buru-buru ia menoleh kebelakang,

tampaklah si dara berbaju hijau Suma Hun dengan gaya

sangat menggiurkan sudah berada dibelakangnya.

“Nona Suma! Kebetulan sekali akupun sedang mencari

dirimu.” teriak Pek Thian Ki rada melengak. “Sewaktu

berada digunung Lui Im-san mengapa secara mendadak kau

berlalu?”

“Ooooouw. . . aku ada urusan,” Suma Hun tersenyum.

Ia merandek sejenak, sinar matanya lantas dialihkan keatas

wajah Sin Sin-poa, kemudian sekali lagi tersenyum;

“Akupun kepingin melihat-lihat apakah ramalannya

tepat atau tidak. . .” Sembari berkata, ia langsung berjalan

mendekati diri Sin Si-poa tersebut.

Melihat seorang gadis berjalan mendekati kearahnya,

situkang ramal itu lantas menoleh;

“Oooouw. . kiranya kau orang!” sapanya tersenyum.

“Beruntung sekali tempo hari kau suka menahan badanku,

sehingga tidak sampai mati terbanting, Nona, kaupun ingin

diramal?”

“Sedikitpun tidak salah!”

Diantara biji mata Suma Hun yang jeli terlintaslah suatu

hawa membunuh yang sangat menyeramkan, tapi sebentar

kemudian sudah pulih kembali seperti sedia kala.

“Kalau begitu, kaupun harus antri.” ujar situkang ramal

itu lagi.

“Tidak, tidak bisa jadi, perempuan harus nomor satu.”

potong Suma Hun dingin.

“Oooh, yaa. . benar. .benar. . Perempuan harus nomor

satu, perempuan harus nomor satu!”

Suma Hun tersenyum, ia berjalan mendekati Sin Si-poa

tanpa banyak berpikir panjang lagi.

“Nona, apa yang ingin kau tanyakan?”

“Aku ingin kau orang suka meramalkan diriku, coba kau

hitung siapakah diriku dan bagaimana nasibku tempo dulu,

Loocianpwee! Kau harus berhati-hati, salah sedikit, batok

kepalamu akan pindah rumah.

“Soal ini kau boleh berlega hati, sekarang kau harus

sebutkan nama serta tanggal kelahiranmu.”

Suma Hun menyebutkan nama serta tanggal

kelahirannya tanpa banyak rewel-rewel lagi. Lama sekali

Sin Si-poa memperhatikan wajah Suma Hun, sidara berbaju

hijau itu akhirnya berkata lagi;

“Coba kau keluarkan tangan kananmu agar bisa aku

periksa.”

Suma Hun menurut dan keluarkan tangannya kehadapan

Sin Si-poa. Sesudah diperiksa lama sekali, mendadak

situkang ramal itu kerutkan alisnya.

“Nona, hal ini sedikit tidak benar!”

“Apanya yang tidak benar?”

“Agaknya kau bukan bernama Suma Hun?”

“Omong kosong!” bentak Suma Hun dengan air muka

berubah hebat. “Apa kau kira aku bisa mencari nama palsu

untuk membohongi dirimu?”

“Jadi, namamu itu adalah yang asli?”

“Benar.”

“Waah. . . ! Kalau begitu urusan jadi sangat aneh.” seru

situkang ramal sambil manggut2. “Jika ditinjau dari garis

nyawamu, seharusnya kau orang tidak seramah dan sehalus

ini, sebaliknya nona merupakan seorang manusia yang

berhati ganas dan kejam, karena ditanganmu banyak

terdapat garis- garis melintang. . . .”

Mengikuti perkataan dari Sin Si-poa, air muka Suma

Hun pun ikut berubah tiada hentinya. . . .

“Walaupun garis jelek sangat banyak, tapi akhirnya

terputus oleh garis Liang-sim, oleh sebab itu hingga sampai

saat ini semua orang yang sudah roboh ditanganmu hanya

terluka saja, tidak sampai terbunuh. . . . sedangkan

mengenai basibmu, sejak ayahmu mati lantas. . . .

Munggkin sekali nasibmu akan berubah jauh lebih baikan,

sedangkan didalam soal cinta, tidak begitu sukses. . . .

karena watakmu terlalu cemburuan, Soal ini asalkan kau

bisa berubah, tentu tidak sukar untuk banyak menolong

dirimu.

“Sungguh tepat sekali.”

“Kalau tidak cocok mana aku berani bergurau dengan

taruhan batok kepalaku sendiri?”

“Sekarang aku ingin menemukan sebuah benda. coba

kau lihat aku berhasil menemukan atau tidak?”

“Coba kau ambil sebuah ciam-si!” Dari dalam sakunya ia

mengambil keluar delapan lembar kertas persegi delapan,

kemudian sambil berkemak-kemik, ia suruh Suma Hun

memilih satu.

Setelah gadis itu memilih dan diperiksa sebentar olehnya,

siorang tua itu menggeleng.

“Sukar!”

“Bagaimana? Sukar ditemukan?”

“Benar! Sulit untuk ditemukan kembali, Tetapi

kemungkinan sekali pihak lawan bisa bermurah hati dan

mengembalikan barang itu kepadamu!”

“Hmmm. . .hmmm. . . ilmu meramal dari Loocianpwee

benar-benar sangat tepat, entah bagaimana dengan ilmu

silat?”

“Lohu sendiri pernah belajar beberapa jurus, cuma

kurang bagus, nona, apa maksudmu menanyakan soal ini?”

“Jikalau kepandaian silatmu sama-sama lihaynya dengan

ilmu meramalmu, maka keadaannya akan jauh lebih bagus.

Bab 23

Pek Thian Ki mendengar perkataan tersebut, agaknya

secara mendadak menemukan kalau dibalik perkataan

Suma Hun masih terselip juga maksud yang lebih

mendalam, hanya saja untuk beberapa waktu ia tak

mengerti apakah arti dari perkataannya itu.

“Masing-masing orang mempunyai keahlian yang

berbeda-beda, jika seseorang bisa menguasai segalanya. . .

wah. . . itu baru hebat.” sambung Sin Si-poa sambil tertawa.

“Entah aku harus membayar berapa untuk ramalanmu

ini?”

“Tempo hari nona sudah menerima badanku, sehingga

tidak sampai jatuh terbanting, kali ini bagaimanapun, aku

tak bisa menerima uang pemberianmu itu.”

“Tidak! Lebih baik aku beri sedikit uang untukmu.” Dari

dalam sakunya ia mengambil keluar setahil perak, dan

dilemparkan kearah situkang ramal tersebut.

“Setahil perak ini aku hadiahkan semua untukmu!”

serunya.

Dimana tangan kanan Sin Si-poa menyambar lewat,

uang tersebut tahu-tahu sudah berada didalam

genggamannya, tetapi sebentar kemudian air mukanya

sudah berubah hebat, tangan yang digunakan untuk

menerima uang perak itupun kelihatan gemetar keras.

Cukup ditinjau dari hal ini, jelas membuktikan kalau

Suma Hun telah menggunakan tenaga lweekang tingkat

teratas untuk melemparkan uang perak tersebut kearah Sin

Si-poa.

Meninjau dari keadaan ini, diam-diam Pek Thian Ki

merasa sangat terperanjat dan pada saat yang bersamaan

pula Suma Hun sudah putar badan berlalu.

Pada waktu itu. . .

Terdengar Sin Si-poa tertawa ter-bahak2 dengan amat

kerasnya. “Haaaa. . . . haaa. . . haaa. . . kalau memang nona

paksa juga diriku untuk menerima uang ini, rasanya kurang

enak kalau aku tidak menerima hadiah kebaikan hatimu itu,

tapi tidak usah sebegini banyaknya, Nah, nona boleh ambil

kembali separuh bagian.”

Dimana cahaya putih berkelebat lewat dengan

memancarkan cahaya tajam uang perak tersebut sudah

meluncur kembali kearah Suma Hun.

Dengan sebat Suma Hun putar badan menerima uang

perak tersebut, ketika ia memperhatikan lebih teliti lagi

benda yang berada ditangannya, mendadak sang air muka

berubah hebat, Kiranya uang perak yang berada

ditangannya kini sudah tinggal separuh bagian.

Kesempurnaan dari tenaga dalam yang dimiliki Sin Sipoa,

benar2 luar biasa tingginya, Dia ternyata bisa

memutuskan uang perak tersebut jadi dua bagian hanya

didalam sekali gerak tangan saja, hal ini membuktikan

kalau kepandaian silatnya benar-benar sangat lihay.

“Loocianpwee! Kepandaianmu ternyata kuar biasa!” seru

Suma Hun sambil tertawa tawar. Tubuhnya segera

berkelebat kesisi Pek Thian Ki dan melemparkan satu

senyuman manis kearahnya.

“Eeeeei. . . . si Bay-kut kurus, kau orang hendak melihat

nasib tidak?” tegur situkang ramal dengan suara keras.

“Melihat nasib? Tapi cayhe tidak punya waktu. . .”

Baru saja Pek Thian Ki berbicara sampai disitu,

mendadak terdengar suara langkah manusia bergerak

mendekat memecahkan kesunyian, Tampaklah sidara

berbaju kuning yang dijumpainya sewaktu ada didalam

Istana Perempuan sudah berjalan mendekati dirinya.

Kepada pemuda tersebut, ia menjura, lalu ujarnya;

“Kongcu, cong-koan kami ada undangan.”

“Terima kasih.”

Tanpa banyak cakap lagi, ia mengikuti dari belakang

tubuh dara berbaju kuning itu masuk kedalam ruangan

Istana Perempuan.

“Pek Sauw-hiap, tunggu sebentar,” teriak Suma Hun

mendadak.

“Nona Suma, kau masih ada urusan yang lain?” jawab

sang pemuda sambil berhenti dan menoleh.

“Kau. . . apa yang hendak kau lakukan disini?”

“Aku?. . . aku sudah datang kemari sudah tentu untuk

bermain dengan nona-nona.”

“Kau. . . lelaki busuk!”

Setelah memaki Suma Hun segera putar badan dan

berlalu dari sana. Melihat gadis itu berlalu Pek Thian Ki

tertawa ter-bahak2, air mukapun menunjukkan sikap yang

sombong dan memandang tinggi diri sendiri.

Belum jauh pemuda itu berjalan kedalam istana,

mendadak Sin Si-poa kembali berteriak;

“Eeee. . . . baykut kurus kau benar-benar seorang

manusia gemar main perempuan, badanmu sudah sekurus

itu masih juga kau orang ingin main perempuan, kau harus

hati-hati. . . main perempuan kebanyakan akan berbahaya

bagi dirimu.”

Pek Thian Ki bergidik mendengar peringatan tersebut.

“Hey Baykut-kut kurus, hati-hati, wanita adalah racun

dunia, berhati-hatilah mengdahapi segala kejadian.” teriak

Sin Si-poa kembali.

Terutama sekali beberapa patah kata terakhir dari

situkang ramal itu, bagaikan kena strom seluruh tubuh Pek

Thian Ki gemetar keras.

Justeru karena kedatangannya ke Istana Perempuan

inilah ia merasa keadaan sangat berbahaya apa lagi sesudah

mendengar peringatan tersebut.

Kedatangannya untuk mencari It Peng Hong

bagaimanapun jelas pasti akan dihalangi oleh Kiang To.

“Baiklah aku akan menanyakan pula nasibku.” akhirnya

tanpa sadar ia sudah putar badan dan mendekati meja

situkang ramal tersebut.

“Haaa. . .haaa. . .haaa. . .suatu dagangan yang amat

besar. . .”

Ketika itu kembali si Sin Si-poa meramalkan nasib dari

kelima orang yang terdepan, dan setiap orang merasa

ramalannya sangat tepat. Kini adalah gilirang dari siorang

tua berbaju hitam itu.

“Saudara, siapakah namamu?” tanya Sin Si-poa sambil

memandang pihak lawannya.

“Bun Tong Yen, aku ingin mencari seseorang.”

“Cari orang? Siapa yang sedang kau cari?”

“Soal ini kau tidak perlu tahu, aku ingin bertanya apakah

aku bisa menemukan orang itu atau tidak?”

“Coba ambil Ciam-si.”

Kembali ia mengeluarkan beberapa lembar kartu,

kemudian sambil membaca mantera, ia suruh Bun Tong

Yen pilih satu lembar kartu. Setelah itu dengan perlahanlahan,

situkang ramal itu baru berkata;

“Kawan sebelum aku membebaskan dirimu dari

persoalan yang sulit ini, terlebih dahulu ada satu persoalan

hendak kusampaikan kepadamu, cuma aku takut kau tidak

kuat untuk membayarnya.”

“Berapa?”

“Sebenarnya tidak banyak, juga tidak sedikit hanya

seratus tahil uang emas!”

“Apa? Seratus tahil uang emas!” Kau. . .kau. . .bukankah

kau sedang memeras?”

“Waaaah. . .waaah. . . dugaanmu salah besar, kawan!

Mau atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri, jika kau

tidak kuat untuk bayar, kitapun tak usah berunding lebih

lanjut.”

“Hmmm! Mana ada ongkos meramal yang demikian

mahalnya?”

“Soalnya keadaan saudara sangat teristimewa!”

Beberapa patah perkataan dari Sin Si-poa ini segera

membuat wajah siorang tua berbaju hitam itu berubah

hebat, dengan perasaan kaget, ia melototi situkang ramal itu

tajam-tajam.

“Apa keistimewaannya?”

“Aku tidak perlu terangkan rasanya kau sendiripun jelas

bukan?” Bagaimana mau diteruskan atau tidak?”

Agaknya siorang tua berbaju hitam itu sudah terjebak

didalam siasat Sin Si-poa, ujarnya dingin;

“Dalam sakuku tinggal beberapa puluh tahil perak saja,

bagaimana kalau aku berikan semua kepadamu?”

“Tidak bisa jadi!”

Siorang tua berbaju hitam itu mengerutkan alisnya,

secara samar-samar hawa membunuh mulai melintas diatas

wajahnya, akhirnya dari dalam saku ia mengambil keluar

sebutir mutiara berwarna merah dan dilemparkan keatas

meja.

“Bagaimana kalau aku membayar dengan sebutir mutiara

tersebut?” teriaknya.

Dengan hati-hati dipungutnya mutiara tersebut, lalu

diperiksa dengan teliti, setelah itu situkang ramal baru

mengangguk;

“Boleh. . . boleh. . .”

“Tapi kau harus ingat, jika tidak tepat ramalanmu hatihati

kepalamu akan pindah rumah.”

“Boleh. . .boleh. . . aku lihat saudara sedang menerima

perintah untuk mencari orang, tapi orang yang sedang kau

cari agaknya sukar untuk ditemukan dan saudara sudah

sangat lama mencarinya. . ”

“Teruskan. . .!”

“Tapi, malam nanti kau dapat menemui orang yang

sedang kau cari itu!”

“Apakah perkataanmu itu sungguh-sungguh?”

“Kawan, coba kau pikir, apakah aku orang bisa

menggunakan batok kepalaku sendiri sebagai bahan

banyolan?”

“Heeee. . .heeee. . .heeee, baik. .baik!” seru siorang tua

berbaju hitam itu kemudian. “Bilamana aku tak berhasil

menemukan orang itu, Hmmm! Aku bisa datang kemari

untuk menuntut kerugian.”

Tanpa ambil pusing lagi keadaan disana, ia lantas putar

badan dan berlalu.

Pek Thian Ki yang menonton jalannya peristiwa tersebut

dari samping kalangan rada tertegun juga dibuatnya, Ia

merasa siorang tua berbaju hitam itu terlalu misterius dan

membuat orang men-duga2 asal-usulnya.

“Bangsat cilik, apa yang membuat kau tertegun?” Tibatiba

tegur situkang ramal dengan suara yang keras.

“Loocianpwee, siapakah orang itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu?”

“Kalau begitu, tolong loocianpwee ramalkan nasibku.”

Air muka Sin Si-poa berubah jadi memberat ujarnya

tegas; “Bocah kurus lebih baik jangan punya ingatan untuk

menggoda It Peng Hong kalau tidak, hal ini akan

mendatangkan ketidak beruntungan buat dirimu.”

Beberapa patah perkataan ini penuh mengandung nada

yang seram, membuat setiap orang yang mendengar ikut

merasa bergidik.

Dengan tanpa sadar, Pek Thian Ki mundur selangkah

kebelakang, teriaknya keras; “Si i. . .siapa kau?”

“Soal ini kau tidak perlu bertanya. . .”

“Tapi It Peng Hong pasti akan kudapatkan.”

“Aku pikir tidak semudah itu. . .”

“Cayhe akan coba-coba.”

Dalam pembicaraan tersebut, tanpa terasa Pek thian Ki

sudah timbul perasaan curiga terhadap Sin Si-poa ini,

sebenarnya darimanakah asal-usul orang ini?

Agaknya pemuda tersebut tidak ingin banyak ribut lagi

disitu, tubuhnya mendadak berputar dan langsung

berkelebat kearah ruangan Istana Perempuan.

“Bocah kurus, tunggu dulu!” kembali situkang ramal itu

membentak dingin.

“Loocianpwee, kau masih ada pesan apa lagi?”

“Aku bermaksud menasehati dirimu dengan baik-baik,

mau percaya atau tidak, itu terserah dirimu sendiri, kau

jangan pergi dulu, ada sebuah urusan hendak kutitipkan

kepadamu dan hampir saja aku lupa.”

“Urusan apa?”

Dari dalam sakunya Sin Si-poa mengambil keluar secarik

kertas diserahkan kepada Pek Thian Ki. Tolong kau

serahkan kertas ini buat nona Suma itu. . .” pesannya.

“Mengapa tidak kau sampaikan sendiri, sewaktu

berjumpa tadi?. . .” tanya pemuda tersebut melengak.

“Hal ini tidak mungkin terjadi, kalau tidak, kenapa tidak

aku serahkan sendiri? Maukah kau orang membantu diriku?

Jika kau setuju, maka sewaktu berjumpa dengan dirinya

lebih baik jangan sekali-kali menyebutkan kalau kertas ini

akulah yang berikan kepadamu.”

Secara mendadak, Pek Thian Ki mulai merasakan bahwa

Sin Si-poa penuh mengandung misteri. Ia mulai

memperingatkan dirinya untuk berwaspada, karena ia

belum tahu maksudnya baik ataukah bermaksud jelek?

Tiba-tiba, seperti pemuda itu sudah teringat akan sesuatu,

tubuhnya kelihatan merinding dan suatu bayangan yang

sangat menakutkan mendadak berkelebat didalam

benaknya.

“Apa mungkin dialah Kiang To?. . .” pikirnya dihati.

Sudah tentu hal inipun ada kemungkinannya, sebelum

Kiang To munculkan dirinya didepan umam setiap orang

bisa dicurigai dialah samaran dari Manusia yang bernama

Kiang To itu.

“Baiklah!” sahut Pek Thian Ki kemudian setelah berpikir

sebentar. “Akan kubantu serahkan benda ini kepadanya.”

“Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasihku

kepadamu.” seru situkang ramal sambil serahkan kertas

tersebut ketangannya.

Didalam benak Pek thian Ki pun mulai bertambah lagi

dengan beberapa persoalan yang mencurigakan hatinya.

Sebenarnya berasal darimanakah Suma Hun serta Sin Sipoa

ini? Dan siapa pula siorang tua berbaju hitam tadi?

Teka-teki ini sulit untuk dipecahkan oleh Pek thian Ki.

Benar, didalam benak Pek Thian Ki dasarnya memang

sudah dipenuhi dengan berbagai persoalan yang

mencurigakan hatinya, dan kini ditambah pula dengan

beberapa persoalan yang demikian banyaknya, sudah tentu

tak akan terjawabkan olehnya persoalan-persoalan tersebut.

Ia menarik napas panjang-panjang dan berguman

seorang diri. “Buat apa aku turut campur didalam persoalan

sampingan ini? Lebih baik cepat-cepat aku mencari seorang

gadis, lalu menyewa rumah tersebut dan menyelidiki jejak

dari suhu. . .”

Kepada sidara berbaju kuning itu ia lantas mengangguk.

“Mari kita pergi!”

Demikianlah, dibawah bimbingan dara berbaju kuning

itu, Pek Thian Ki berjalan masuk kedalam pintu istana,

melewati ruangan besar dan menuju kesebuah ruangan

disebelah belakang. Setelah masuk kedalam ruangan

belakang suara tertawa cekikikan dari gadis2pun mulai

kedengaran sangat ramai, Dan dara berbaju kuning itupun

telah mengetuk pintu kamar belakang tersebut.

“Siapa?” Dari dalam ruangan berkumandang datang

suara pertanyaan dari seorang perempuan.

“Aku! Lapor Cong-koan, ada orang hendak mencari

nona untuk menemani dirinya satu malam.”

“Ehmmm. . .! Suruh dia masuk!”

“Baik!” Dara berbaju kuning itu lantas menoleh kearah

Pek Thian Ki dan serunya; “Kawan, silahkan masuk

kedalam.”

Pek Thian Ki mengangguk, per-lahan2 ia mendorong

pintu tersebut dan dengan sombong melangkah masuk

kedalam. Ruangan yang berada dihadapannya pada saat ini

merupakan sebuah ruangan yang sangat indah sekali dan

mewah, seorang wanita setengah baya sedang berjalan

mendekati kearahnya.

Wanita setengah baya itu amat cantik, walaupun usianya

sudah lanjut, tapi kecantikan wajahnya masih belum luntur,

Setelah tiba dihadapan Pek Thian Ki, ujarnya sambil

tersenyum;

“Aku dengar mereka berkata bahwa saudara kesepian

dan ingin mencari seorang nona untuk menemani dirimu

satu malam?”

“Betul!”

“Entah siapakah namamu?”

“Cayhe she Pek bernama Pek Thian Ki.”

“Apa? Pek Thian Ki?”

Ketika mendengar disebutnya nama tersebut, sang Congkoan

berubah muka, agaknya ia sangat terperanjat,

tubuhnya ber-turut2 mundur dua tiga langkah kebelakang,

dan memandang kearah pemuda tersebut dengan mata

melotot.

“Apanya yang salah?” tegur pemuda she Pek sambil

tertawa.

Sikap yang gugup dari Cong-koan itupun perlahan-lahan

jadi tenang kembali, “Kau. . .kau bernama Pek Thian Ki?”

“Benar, bagaimana? Apakah tidak mirip?”

“Hmmm! Bukan saja tidak mirip, bahkan aku tidak

percaya dengan sekerat tulang bay-kutnya yang amat kurus

ternyata bisa mengacau diistana Arak serta Istana Harta.”

pikir Cong-koan tersebut.

Dilain pihak, iapun mendengar orang berkata bahwa Pek

thian Ki adalah Kiang To.

Walaupun It Peng Hong sudah diborong oleh Kiang To,

tapi kecuali It Peng Hong sendiri belum ada seorang

manusiapun yang pernah menemui wajah Kiang To yang

asli.

Setelah pikirannya berputar, siwanita setengah baya sang

cong-koan dari Istana Perempuan itupun tersenyum,

bagaimanapun juga sebagai pekerjaan sehari-harinya, ia

sudah sering menemui tamu macam begini.

“Oooouw. . . kiranya saudara sudi mengunjungi istana

kami, hal ini benar2 ada diluar dugaanku, dan inipun

merupakan suatu kehormatan buat istana kami.” serunya

serius.

“Cong-koan terlalu memuji, kau boleh mulai menjajal

kepandaian silatku.”

“Bagus sekali, aku tahu kepandaian silat yang saudara

milki sangat lihay, tapi terpaksa aku harus bergebrak juga

dengan dirimu, harap saudara suka memaafkan kelakuanku

ini.”

“Silahkan Cong-koan beri petunjuk,”

“Baiklah, terimalah seranganku ini.”

Selesai berkata, tubuhnya laksana sambaran kilat

mencelat kedepan mengirim beberapa pukulan yang maha

dahsyat keatas tubuh Pek thian Ki, kecepatan geraknya

sangat luar biasa.

Pada saat ini, tenaga dalam yang dimiliki Pek thian Ki

pun sudah pulih delapan bagian, menanti serangan wanita

setengah baya itu, hampir mengenai tubuhnya, dengan

sebat ia mencelat kesamping.

Baru saja Pek thian Ki mencelat kesamping serangan

berikut dari wanita itu kembali sudah menggulung datang.

Melihat datangnya serangan tersebut, bukannya mundur

sebaliknya Pek thian Ki malah maju kedepan, gerakan

tubuhnya jauh lebih cepat beberapa bagian daripada

gerakan sang Cong-koan tersebut.

Hanya didalam sekejap mata iapun sudah mengirim dua

buah serangan balasan. Walaupun wanita setengah baya itu

mengerti bila kepandaian silat yang dimiliki Pek thian Ki

sangat tinggi, tetapi ia tidak menduga bisa setinggi begini,

sewaktu pemuda tersebut melancarkan dua buah serangan

itulah tubuhnya tahu-tahu sudah menjadi kaku, sedang Pek

thian Ki sendiripun telah melayang mundur kebelakang.

Seketika itu juga wanita setengah baya itu berdiri

mematung ditempatnya semula.

“Cong-koan terima kasih atas petunjukmu.” seru Pek

Thian Ki sambil tertawa ringan.

Seperti baru saja bangun dari impian, wanita setengah

baya itu tertawa pahit. “Kepandaian sakti yang saudara

miliki benar2 sangat mengejutkan, aku merasa sangat

kagum.”

“Kalau begitu aku sudah boleh mencari nona untuk

menemani aku tidur bukan?”

“Sudah tentu boleh, saudara baru pertama kali ini

mengunjungi Istana kami, bagaimana kalau aku pilihkan

seorang nona buat saudara?”

“Tidak perlu, walaupun cayhe baru pertama kali

mengunjungi Istana ini, tetapi terhadap empat orang gadis

cantik. . .’Giok Kong Su Kiauw’ sudah lama merasa kagum.

. .”

“Lalu saudara hendak cari yang mana?” sambung wanita

setengah baya itu dengan cepat. “Ting Siang Giok Lian

Hoa? ataukah Siauw Tauw Hong?”

“Cong-koan, agaknya kau sudah lupa menyebutkan

nama seorang nona diantaranya. . .?” tegur pemuda tersebut

sambil tertawa.

“Kau. . .kau maksudkan It Peng Hong?” tanya wanita

setengah baya itu dengan wajah berubah.

“Tidak salah. . .”

“Tapi. . .”

“Tapi It Peng Hong telah diborong oleh Kiang To?”

“Benar!”

“Tapi aku tetap menginginkan dirinya!”

“Tidak bisa jadi!”

Air muka Pek thian Ki berubah, bentaknya dingin; “Aku

sudah bulatkan tekad untuk minta nona It Peng Hong,

sekalipun tidak bisa, juga harus bisa!”

“Kawan kau hendak menggunakan kekerasan? Giok

Kong Su Kiauw rata-rata memiliki wajah yang cantik jelita,

mengapa kau harus mengingini dirinya?”

Pek Thian Ki begitu ngotot menginginkan It Peng Hong,

sudah tentu dalam hatinya memiliki alasan sendiri, justru ia

ada maksud untuk mencari gara-gara dengan Kiang To

sibangsat cabul tersebut.

“Heee. . . heeee. . . heeee. . .banyak orang berkata

kecantikan It Peng Hong melebihi siapapun, karena itu

cayhe baru ada maksud mencicipi dirinya, kalau tidak buat

apa aku datang kemari. . .” Jengek pemuda itu sambil

tertawa dingin.

“Tapi Kiang To. . .”

“Kau takut dengan Kiang To?”

“Tidak salah, aku takut pada dirinya, orang lainpun takut

pada dirinya. . .”

“Hmmm! Dugaanmu salah, ak Pek Thian Ki tak akan

menaruh rasa jeri terhadap dirinya.”

“Walaupun kau tidak takut dengan Kiang To, tapi

jikalau seluruh akibat ini ia jatuhkan ketangan istana kami

bukankah hal ini berarti pula kalau kamilah yang harus

bertanggung jawab?”

“Cukup omonganmu!” teriak Pek Thian Ki sangat gusar.

“Aku sudah pastikan untuk mendapatkan It Peng Hong,

jika kau tidak setuju maka akan kuhancurkan Istana

Perempuan ini, Jika kau tidak percaya, tunggu saja

akibatnya.”

Beberapa patah perkataan dari Pek thian Ki ini penuh

mengandung napsu membunuh, hal ini sudah tentu

membuat Cong-koan itu pun jadi bergidik dibuatnya.

Dengan sinar mata ketakutan, ia melototi diri Pek Thian Ki

tak berkedip, lama sekali ia baru berkata;

“Jikalau saudara benar-benar menginginkan It Peng

Hong, aku pikir masih ada satu cara yang bisa ditempuh. .

.”

“Apa caramu itu?”

“Punahkan dulu sebuah jurus serangan Kiang To yang

ditinggalkan didalam istana kami, jikalau kau berhasil

memunahkan jurus serangannya itu, maka kau boleh

mendapatkan It Peng Hong. . . Jurus serangan yang ia

tinggalkan bernama ‘Pauw Yu Hwie Hoa'(Hujan Badai

Bunga Berguguran)!”

“Hujan Badai Bunga Berguguran?”

“Benar!”

Bab 24

Dengan alis yang dikerutkan, Pek Thian Ki mulai

memikirkan jurus-jurus serangan yang dipahaminya untuk

memecahkan serangan tersebut, ia merasa jurus yang

ditinggalkan oleh Kiang To tersebut benar-benar merupakan

suatu jurus serangan yang amat lihay.

Untuk beberapa saat lamanya, Pek Thian Ki tak berhasil

mendapatkan cara untuk memecahkan jurus serangan yang

maha lihay itu, lama. . . .sekali. . . akhirnya ia menghela

napas panjang.

“Suatu jurus serangan yang benar-benar amat lihay.”

“Bila saudara tak dapat memecahkan jurus serangan ini,

lebih baik kau jangan punya niat untuk mengingini It Peng

Hong.”

“Soal ini aku tahu. . .” pemuda itu manggut perlahan.

Kembali Pek thian Ki berjalan mondar-mandir ditengah

kalangan, mendadak ia berhenti dan tertawa hambar;

“Hujan Badai Bunga Berguguran. . . . aaach! Sudah ada. .”

“Entah jurus apakah bisa pecahkan serangan tersebut?”

“Jurus Hujan Badai Bunga Berguguran hanya bisa

dipunahkan dengan Jurus ‘Hoa Lok Hoa Kay’! (Bunga

Rontok Bunga Mekar).

“Bunga Rontok Bunga Mekar?”

“Sedikitpun tidak salah, jika Kiang To datang lagi, maka

katakan saja kepadanya bahwa jurus serangannya ‘Hujan

Badai Bunga Berguguran’ telah dipunahkan dengan

menggunakan jurus ‘Bunga Rontok Bunga Mekar!”

“Saudara ingin memborongnya juga ataukah hanya

memakai satu malam saja?” tanya wanita setengah baya itu

kemudian.

“Akupun ingin memborong dirinya.”

“Bila saudarapun ingin memborong It Peng Hong, maka

ada seharusnya kaupun tinggalkan satu jurus serangan

untuk aku punahkan, bila akupun tak bisa maka It Peng

Hong sejak hari ini merupakan orangmu!”

“Boleh aku bawa pergi?”

“Tidak salah!”

“Kalau begitu sangat bagus sekali.” seru Pek thian Ki

sambil tertawa tawar. “Aku mengeluarkan jurus ‘Thian Hoa

Luan Swi'(Bunga Langit jatuh Berantakan), dapatkah kau

pecahkan?”

Jurus ‘Thian Hoa Luan Swi’ ini jangan dikata Cong-koan

tersebut tak dapat menjawab, sekalipun Pek Thian Ki

sendiripun tak bisa memecahkannya.

Jurus serangan ini adalah jurus terakhir yang didapatkan

dari kitab pusaka pemberian suhunya, dan hingga ini hari

Pek Thian Ki sendiripun masih belum dapat memecahkan

jurus serangan tersebut.

Mendengar disebutkannya nama jurus itu, wanita

setengah baya tersebut kelihatan tertegun. “Biar aku pikir2

dulu dan besok pagi akan kuberi jawabannya, sekarang aku

akan kirim orang untuk antar kau pergi kekamar tinggal It

Peng Hong.”

“Terima kasih atas kemurahan Cong-koan.”

“Hey pelayan!” teriak wanita itu kemudian lantang.

Dari pintu luar bergema datang suara sahutan sidara

berbaju kuning itu, sang wanita setengah baya tersebut

lantas memerintahkan dara itu untuk mengantarkan Pek

Thian Hong kekamar It Peng Hong.

Demikianlah dengan mengikuti dari belakang tubuh dara

berbaju kuning itu, Pek Thian Ki keluar dari ruangan dan

berbelok masuk kedalam sebuah lorong panjang. Dan

dalam sekejap mata mereka sudah tiba dihalaman belakang.

Halaman belakang bersambung dengan sebuah

bangunan loteng yang mungil dan indah, sidara berbaju

kuning itu langsung membawa pemuda tersebut menuju

kearah loteng tadi.

Mendadak. . .

“Berhenti!” bentak seseorang memecahkan kesunyian

disekitar tempat itu.

Begitu suara tersebut berkumandang keluar, Pek thian Ki

merasakan hatinya tergetar sangat keras, dengan cepat ia

putar badannya kebelakang.

Tampaklah sesosok bayangan manusia tahu-tahu sudah

berdiri dibelakang tubuhnya, Tanpa sadar pemuda she Pek

ini mundur satu langkah, ketika ia mendongakkan

kepalanya, maka segera mengenali kembali kalau siorang

berbaju hitam itu bukan lain adalah Bun Tong Yen yang

baru saja ditemuinya diluar istana.

Hal ini membuat Pek Thian Ki jadi melengak; “Apa

maksudmu memanggil diri cayhe?” tegurnya.

Selintas senyuman yang amat menyeramkan menghiasi

wajahnya.

“Saudarakah yang bernama Pek Thian Ki?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Juga yang bernama Kiang To?”

“Bukan, aku tidak bernama Kiang To!”

“Barusan saja aku dengar orang berkata bahwa kau Pek

thian Ki adalah Kiang To. Kawan, kau tidak usah mungkir

lagi sudah amat lama aku mencari dirimu. . .”

“Apa maksudmu mencari diriku?”

“Mendapat perintah untuk sampaikan sepucuk surat

kepadamu!”

“Tapi cayhe adalah Pek Thian Ki dan bukan Kiang To,

lebih baik kau pergi mencari Kiang To saja.”

Tanpa menanti jawaban lagi, pemuda itu putar badan dan

berlalu.

“Berhenti!” kembali Bun Tong Yen membentak keras,

tubuhnya meloncat kedepan menghalangi jalan pergi dari

Pek Thian Ki, sedang diatas wajahpun terlintas hawa napsu

membunuh yang sangat menyeramkan.

“Apa yang hendak kau lakukan?” teriak Pek thian Ki

mulai panas hatinya.

“Kau mempunyai nyali untuk membunuh orang,

mengapa tidak berani mengakui dirimu sendiri?”

“Haaaa. . .haaaa. . . kawan, kau salah.” seru Pek Thian

Ki tertawa lantang, “Selama ini aku Pek thian Ki

merupakan seorang manusia yang tidak ternama, sudah. . .

susahlah, kau tak usah banyak rewel lagi, kalau usil terus. . .

Hmmm! Jangan salahkan kalau aku tidak sungkan2 lagi.”

“Apa yang hendak kau lakukan?”

“Perintahkan kau orang segera menyingkir.”

“Kawan, aku hanya menerima tugas untuk

menyampaikan sepucuk surat kepadamu, mengapa tidak

berani kau terima?”

“Sudah kukatakan, bahwa aku bukan Kiang To.”

“Kau tidak mau mengaku? Hmmm! Akan kupaksa untuk

mengaku.”

Tubuhnya segera melesat ketengah udara laksana

sambaran kilat cepatnya langsung menerjang kearah Pek

thian Ki, Kelima jari tangannya dipentangkan dan

mencengkeram wajah pemuda tersebut.

Serangan cengkeraman yang dilancarkan olehnya ini

boleh dikata dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa,

Tak urung Pek thian Ki dibuat terperanjat juga melihat

kedahsyatan pihak lawan, Terburu-buru ia mencelat

kesamping.

Baru saja pemuda itu berkelit, serangan dahsyat pihak

lawan kembali menubruk datang. Lama-lama Pek Thian Ki

dibuat gusar juga oleh sikap serta tingkah laku pihak lawan,

ia membentak keras diantara berkelebatnya bayangan

manusia, dengan menggunakan satu jurus serangan yang

amat dahsyat, ia tangkis datangnya serangan lawan.

Telapak tangan kanannya menangkis, tangan kirinya

menggulung keluar. Dua buah serangan yang dilancarkan

oleh Pek Thian Ki ini hampir dilakukan dalam waktu yang

bersamaan, tetapi kepandaian silat yang dimiliki siorang tua

berbaju hitam itupun agaknya tidak lemah.

Tubuhnya berputar keras meloloskan diri dari dua buah

serangan tersebut, kemudian meluncur kebelakang dengan

gerakan tubuh yang sangat cepat.

“Kawan, sungguh mengagumkan sekali kepandaian silat

yang kau miliki. . .” jengek Bun Tong Yen sambil tertawa

dingin.

Kembali dua jurus serangan mematikan dengan

mengambil arah dari sebelah kiri serta sebelah kanan

langsung mengencet diri Pek Thian Ki ditengah kalangan.

“Kurang ajar, kubunuh dirimu. . .” bentak pemuda

tersebut gusar.

Tubuhnya berkelebat lewat, bayangan tangan

menyambar silih berganti memunahkan setiap serangan

yang meluncur datang. Dari dua belas bagian tenaga dalam

yang dimiliki Pek Thian Ki, pada saat ini sudah ada

delapan bagian yang sudah pulih seperti sedia kala,

melancarkan serangan dalam keadaan gusar kehebatannya

ber-puluh2 lipat mengerikan.

Mendadak. . . “Braaaaak!” Ditengah suara bentrokan

keras yang diiringi abu, pasir beterbangan memenuhi

angkasa, tampak dua sosok bayangan manusia berpisah dan

mundur kearah belakang.

Siorang tua berbaju hitam itu mundur sempoyongan

beberapa puluh langkah kebelakang dan muntah darah

segar, agaknya ia sudah berhasil dilukai oleh pemuda

tersebut.

“Kawan kau masih menganggap aku adalah Kiang To?”

bentak Pek Thian Ki sambil mengangkat tubuh pihak

lawannya keatas.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Saudara berasal dari mana?”

“Dalam surat tertulis sangat jelas, kau boleh membaca

dari surat tersebut.”

“Cepat serahkan surat itu kepadaku.” Ternyata Pek

Thian Ki minta sendiri surat tersebut, hal ini jauh berada

diluar dugaan Bun Tong Yen, ia rada melengak kemudian

buru-buru mengambil keluar sepucuk surat dan diangsurkan

kedepan.

“Cepat pulang dan beritahukan kepada majikanmu,

bahwa surat ini aku Pek Thian Ki akan menyimpannya

sementara dan akan kuserahkan sendiri kepada Kiang To,

cepat menggelinding pergi.” bentak sang pemuda setelah

menerima surat tersebut.

Tangannya langsung diayunkan kedepan melemparkan

tubuh siorang tua berbaju hitam itu beberapa kaki jauhnya

dari kalangan. Bagaikan anjing kena gebuk, Bun Tong Yen

sipat kuping dan lari terbirit-birit dari sana.

Menanti bayangan orang itu sudah lenyap dari

pandangan, Pek Thian Ki baru mengalihkan sinar matanya

keatas surat tersebut.

“Dipersembahkan kepada; Kiang Tayhiap. Kiang To.”

Pek Thian Ki tertawa dingin tiada hentinya, dalam hati

diam-diam pikirnya; “Entah apa isi dari surat tersebut?”

Sudah tentu iapun bisa menduga kalau didalam surat itu

penuh berisikan hawa pembunuhan.

Pek Thian Ki suka menerima suka tersebut, ia punya

perhitungan bahwa Kiang To pasti akan munculkan dirinya

sewaktu ia mencari It Peng Hong, dan sampai waktunya ia

akan serahkan sendiri surat itu kepadanya.

Hanya saja ia tidak tahu berasal darimanakah surat

tersebut. Sinar matanya per-han2 dialihkan kearah dara

berbaju kuning itu, kemudian manggut.

“Nona, silahkan tunjuk jalan!”

“Oooouw. . . hampir-hampir saja saya lupa dengan

sebuah urusan,” teriak dara berbaju kuning itu seperti

terbangun dari impian, “Tadi ada seorang menitipkan

sepucuk surat untukmu.”

“Sepucuk surat?”

“Benar!” Dari dalam sakunya gadis itupun mengambil

keluar sepucuk surat dan langsung diserahkan ketangan Pek

thian Ki.

“Surat ini siapa yang berikan kepadamu?” tanya pemuda

tersebut tertegun.

“Entah, aku tidak berhasil melihat wajahnya dengan

jelas.”

Karena tidak berhasil mendapatkan keterangan yang

berarti, Pek thian Ki mengalihkan sinar matanya keatas

surat tersebut. Tampaklah diatas sampul surat bertuliskan

beberapa patah kata;

Dipersembahkan kepada: “Pek Thian Ki pribadi.”

Pemuda itu langsung merobek sampulnya dan membaca

isi surat tersebut; “Pek Thayhiap, Jangan coba-coba punya

maksud mengganggu It Peng Hong, kalau tidak jangan

salahkan aku orang akan ambil tindakan ganas terhadap

kau orang!”

Habis membaca surat tersebut, Pek Thian Ki rada

tertegun, akhirnya simanusia paling menakutkan Kiang To

munculkan dirinya juga, bahkan mengirim peringatan

untuk yang kedua kalinya kepada dirinya. Tempo dulu

sewaktu berada didalam Istana Arak, pihak lawan sudah

memberikan satu kali peringatan agar dirinya jangan

mengganggu rumah aneh tersebut.

Teringat akan persoalan ini, pemuda tersebut lantas

mengambil keluar surat yang diberikan Kiang To tempo

dulu. Tapi sebentar kemudian, ia sudah menjerit kaget, air

mukanya berubah hebat, sedang matanya kelihatan

melongo.

Ternyata gaya tulisan dari dua pucuk surat peringatan

tersebut sangat berlainan sekali! Untuk beberapa waktu

pemuda itu merasa kebingungan, jika dilihat dari nada

peringatan kedua pucuk surat tersebut, jelas hasil perbuatan

dari Kiang To, Tetapi gaya tulisannya berbeda, apakah

mungkin Kiang To ada dua orang?

Peristiwa yang terjadi secara mendadak ini benar-benar

membuat Pek Thian Ki jadi seperti orang bodoh, persoalan

yang mencurigakan hatinya semakin menumpuk didalam

benak, tapi tak sebuahpun yang berhasil ia pecahkan.

“Kongcu, mari ikut aku!” tegur dara berbaju kuning itu

tiba-tiba.

Pek Thian Ki manggut, dengan mengikuti dari belakang

tubuh dara berbaju kuning itu, mereka naik keatas loteng.

“Heeee. . . sudah, sudahlah, pikir pemuda tersebut sambil

menghela napas panjang. Bagaimanapun sekarang aku

harus mencari seorang gadis cantik untuk menyewa rumah

aneh itu.”

Pada waktu itu. . .

Sementara irama lagu yang sangat sedih diiringi

tetabuhan Pie-pa bergema dari atas loteng tersebut, irama

lagu itu sangat sendu dan mempesonakan. Walaupun Pek

thian Ki tidak kenal irama lagu, tetapi hatinyapun ikut

tergerak oleh suara alat Pie-pa yang dimainkan dengan ahli,

dalam hati ia ikut merasa berduka.

Setelah memasuki sebuah ruangan kecil, suara bunyi2an

Pie-pa kedengaran semakin jelas lagi dari atas loteng.

“Kongcu, mari ikut aku naik keatas loteng.” kata sidara

berbaju kuning perlahan.

Mereka naik keloteng dan tiba didepan subuah ruangan

kamar, suara irama Pie-pa masih ditabuh tiada hentinya. . .

.

“Nona It Peng Hong!” sapa sang gadis berbaju kuning itu

sambil mengetuk pintu.

Suara Pie-pa berhenti, kemudian bergema keluar suara

yang amat merdu;

“Siapa?”

“Aku, Ah Mie!”

“Ada urusan apa?”

“Nona It Peng Hong, Cong-koan suruh aku mengantar

seorang Pek Kongcu kemari, kau harus melayani satu

malam buat dirinya.”

“Tapi, bukankah aku sudah diborong oleh Kiang

Kongcu?”

“Benar, tapi kongcu ini sudah berhasil menghancurkan

persoalan sulit yang diajukan oleh Kiang Kongcu, sekarang

kau bukan milik Kiang Kongcu lagi.”

“Kalau begitu, suruh dia masuk, dan kau sendiri boleh

mengundurkan diri.”

“Baik!” jawab sigadis itu dengan hormat, kepada Pek

Thian Ki lantas serunya; “Pek Kongcu, kau masuklah

sendiri.”

Untuk beberapa saat lamanya Pek Thian Ki berdiri

termangu-mangu didepan pintu, perbuatan macam ini boleh

dikata baru untuk pertama kalinya hendak ia lakukan.

Lama. . . lama sekali, ia baru mendorong pintu dan

melangkah masuk kedalam kamar, sinar matanya menyapu

sekejap keseluruh isi ruangan.

Tampaklah kamar tersebut benar-benar merupakan

sebuah kamar yang sangat mewah, dengan segala perhiasan

yang mahal harganya, didepan jendela duduklah seorang

gadis berbaju merah.

Tak usah ditanya lagi, gadis tersebut tentunya nona yang

bernama It Peng Hong itu. Untuk beberapa waktu Pek thian

Ki kebingungan, ia cuma bisa berdiri termangu-mangu

sambil memandang bayangan punggungnya dengan

terpesona. . .

“Pek Kongcu, silahkan duduk!” ujar It Peng Hong tibatiba

memecahkan kesunyian.

Nada suaranya amat mempesonakan, pemuda itupun

tersadar kembali dari lamunannya, kemudian tertawa;

“Nona, kau bernam It Peng Hong?”

“Benar!”

“Ini hari cayhe dapat berkenalan dengan nona, kejadian

ini benar-benar merupakan suatu rejeki buat diriku!”

“Aaaach. . . Pek Kongcu terlalu sungkan, apakah

Kongcu sering sekali bercanda ditempat luaran?”

“Cayhe. . . memang sering sekali mencari kesenangan

ditempat luaran. . .!”

“Berapakah usia Kongcu tahun ini?”

“Delapan belas, dan nona. . .”

“Akupun baru delapan belas!”

“Nona memainkan Pie-pa mu tadi benar-benar amat

mempesonakan!”

“Pek Kongcu terlalu memuji!”

Perlahan-lahan gadis itu putar badannya, sehingga

kelihatanlah selembar wajah yang amat cantik jelita dengan

bibir yang kecil mungil merah merekah, hidung yang

mancung, sepasang sujen menghiasi pipinya terutama sekali

sepasang biji matanya yang jeli.

“Waaaduhhh. . .! seorang gadis yang benar-benar amat

cantik. . .” pikir Pek thian Ki didalam hatinya.

Beberapa saat lamanya, ia hanya bisa memandang It

Peng Hong dengan termangu-mangu, apalagi senyumannya

sangat mengiurkan, benar-benar membuat hatinya berdebardebar

keras.

“Eeeei. . . Pek Kongcu! Kau kenapa?” Tiba-tiba It Peng

Hong menegur sambil tersenyum.

“Kecantikan wajah nona benar-benar bagaikan bidadari

yang baru turun dari kahyangan. . .”

“Pek Kongcu, kau betul-betul pintar membuat kaum

gadis gembira!” Akhirnya ia tertawa. . . . senyumannya itu

benar2 amat cantik, amat mempesonakan dan membuat

birahi per-lahan2 memuncak. .

Mendadak. . .

“Aaaaaach. . .! Pek Thian Ki berseru tertahan dan

memandang kearah It Peng Hong dengan mata terbelalak.

“Pek Kongcu, kenapa kau?” teriak gadis tersebut kaget.

“Kau. . . aku seperti pernah berjumpa dengan dirimu. . .”

Sedikitpun tidak salah, kecantikan wajah dari It Peng

Hong yang tiada tandingannya ini seperti pernah ditemui

Pek thian Ki disuatu tempat, hanya saja untuk beberapa

waktu ia tidak teringat.

“Tidak, aku pernah menemui dirimu. . . . biar aku

berpikir sebentar. . .” Pek Thian Ki mulai berguman dan

untuk beberapa saat lamanya ia duduk tepekur dan berpikir

keras.

Mendadak. . .

Akhirnya Pek thian Ki berteriak tertahan; “Ooooo. . .

kau ?. . .” Diatas air muka pemuda itu terlintaslah suatu

perasaan terperanjat yang belum pernah dijumpainya

selama ini.

Jeritan tertahan dari Pek Thian Ki segera membuat It

Peng Hong itupun merasa ikut terperanjat, air mukanya

kelihatan berubah hebat.

“Kau katakan aku mirip siapa?” tanyanya rada gemetar.

“Kau adalah Tong Ling!?”

Sedikitpun tidak salah, kecantikan wajah dari It Peng

Hong mirip dengan wajah Tong Ling, Oleh karena itu

sewaktu untuk pertama kalinya Pek thain Ki bertemu muka

dengan gadis It Peng Hong tersebut, ia lantas merasa

pernah mengenalinya. Tetapi sewaktu It Peng Hong

mendengar disebutkannya kata-kata Tong Ling, sikapnya

kelihatan rada melengak.

“Siapakah Tong Ling?”

“Kau!”

Agaknya It Peng Hong dibuat keheranan dan sedikit ada

diluar dugaan melihat perbuatan serta perkataan dari

pemuda tersebut.

“Siapakah Tong Ling? Kekasihmu?” tanyanya kemudian

sambil tertawa tawar.

“Bukan, kawanku. . . Kau bukan Tong Ling?”

“Bukan, kau salah! Aku bukan Tong Ling, aku bernama

It Peng Hong dan semua orang mengetahui jelas urusan ini.

. .”

Walaupun pemuda tersebut juga mendengar perkataan

ini dengan jelas, tapi ia merasa bahkan hal tersebut tidaklah

mungkin, Walaupun ia belum pernah melihat Tong Ling

dengan memakai pakaian perempuan, tetapi wajahnya

seratus persen adalah wajah dari Tong Ling.

Tetapi apakah mungkin Tong Ling bisa berada disini?

Agaknya persoalan inipun tidak mungkin terjadi, ia tidak

seharusnya memandang Tong Ling sebagai perempuan

macam begitu, Kalau tidak maka ini berarti pula ia sedang

menghina dan merusak nama baik dari Tong Ling, gadis

tersebut.

Akhirnya ia tertawa pahit; “Kemungkinan sekali

wajahmu rada mirip dengan wajahnya.” ia mendusta.

“Benar!” Sahut It Peng Hong tertawa, “Dikolong langit

memang banyak sekali terdapat manusia dengan wajah

yang hampir sama, kemungkinan besar saudara sudah salah

melihat orang.”

“Nona It Peng Hong, bolehkah aku bertanya satu urusan

kepadamu?”

“Silahkan kau utarakan!”

“Pernahkah kau orang berjumpa dengan Kiang To?”

“Kau maksudkan Kiang Kongcu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

Agaknya It Peng Hong dibuat melengak oleh pertanyaan

yang mendadak ini, lama sekali ia baru mengangguk. “Aku

pernah bertemu. . .”

“Bagaimana wajahnya?”

“Amat tampan sekali.”

“Dan berapa besar usianya?”

“Kelihatannya hampir sama dengan usiamu, hanya saja

ia tidak semurung dirimu!”

“Dia. . . seorang lelaki atau perempuan?”

“Eeeei. . . Pek Kongcu.” tegur It Peng Hong sambil

memandang pemuda itu dengan pandangan keheranan,

“Pertanyaanmu ini benar-benar membingungkan sekali.”

“Maksudku Kiang To sebenarnya seorang lelaki atau

seorang gadis?. .”

“Pek Kongcu! Pandai benar kau bercanda, coba kau

pikirkan dengan wajar, apakah dikolong langit ada seorang

perempuan yang memborong seorang gadis untuk

bersenang-senang?”

“Jadi maksudmu Kiang To adalah seorang lelaki?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Pernahkah kau orang. . .”

“Maksudmu pernahkah dia orang tidur seranjang dengan

diriku?”

“Benar. . . benar. . . aku memang bermaksud demikian.”

“Hal ini sudah tentu, karena pekerjaan tersebut

merupakan pekerjaannya serta pekerjaanku yang rutin. . .”

Alis Pek Thian Ki berkerut semakin rapat, jika perkataan

dari It Peng Hong ini tidak bohong, maka Kiang To benar2

seorang lelaki tulen, dan hal ini tak ada hal2 yang patut

dicurigai lagi.

“Pek Kongcu, apakah kau kenal dengan Kiang Kongcu?”

tanya It Peng Hong lagi.

“Ehmmmm!”

Setelah mengiyakan Pek Thian Ki membungkam dalam

seribu bahasa, agaknya dia sedang mencari sebab akibat

dari persoalan ini, hanya saja jawabannya tak kunjung

datang.

Akhirnya pemuda itu disadarkan kembali oleh suara

tawa cekikikan dari It Peng Hong.

“Pek Siangkong, malam hari semakin kelam, kentongan

keempat hampir berlalu. . . mari kita tidur, membuang

waktu dengan percuma sungguh patut disayangkan, mari

aku bantu lepaskan bajumu!”

“Melepaskan pakaian?” teriak Pek Thian Ki terperanjat.

“Benar, bukankah kita akan tidur bersama? Kalau tidak

buka pakaian bagaimana mungkin. . .”

“Aku. . .”

“Pek Kongcu, untuk menghilangkan kemurungan

dimalam yang panjang, mari biarlah aku melayani semalam

buat dirimu!”

“Aku. . .”

“Pek Kongcu, kau sebagai seorang yang sering cari

mangsa ditempat luaran tentunya sudah memahami bukan,

permainan ini!”

Akhirnya Pek Thian Ki tertawa. . . senyumannya penuh

kesunyian, penuh kemurungan, Selama hidup belum pernah

dia orang disukai orang dan tak ada seorang gadispun yang

pernah menyukai dirinya.

Ia mempunyai napsu yang matang, napsu yang besar,

hanya saja sukar untuk dipersembahkan buat gadis pujaan

hatinya. . . karena wajahnya tidak cakap, raut mukanya

tidak ganteng, dan tak seorang gadispun yang suka

kepadanya.

Keadaannya mirip pula dengan para pemuda lainnya

yang tidak berhasil mendapatkan cinta kasih dari gadisgadis

pujaannya, sehingga akhirnya mempersembahkan

cintanya itu kepada ‘Bidadari’.

Dan kini, ia sedang berada dalam keadaan murung,

dalam keadaan sedih, kemudian secara mendadak menaruh

simpati pada seorang gadis, sudah tentu ia sendiripun tidak

tahu perasaan ini sebetulnya normal atau tidak.

“Pek Kongcu apakah kau melihat aku kurang cantik?”

terdengar It Peng Hong menegur dengan suara yang lirih.

“Tidak, wajah nona cantik jelita dan tiada bandingan. . .

.”

—oodwoo—

Jilid 9

Bab 25

“Kalau begitu apakah aku kurang menggairahkan?”

“Tidak!”

“Jikalau bukan, mengapa tuan kelihatan tidak gembira?”

Dengan termangu-mangu Pek thian Ki memandang

alisnya yang berkerut, serentetan rasa cinta, kasihan,

mengalir keluar melalui sepasang matanya yang jeli.

Akhirnya pemuda ini tertawa pahit; “Kau jangan banyak

curiga, aku sama sekali tidak murung. . .”

“Berlalunya waktu sangat berharga, cepat lepas pakaian

dan tidur!”

Belum sempat pemuda she Pek ini memberikan jawaban,

It Peng Hong telah mengulur sepasang tangannya yang

halus dan putih bersih untuk bantu sang perjaka lepas

pakaian.

“Nona. . . aku sudah biasa tidur dengan berpakaian, kini

lebih baik aku tidur dalam keadaan begini saja,” buru-buru

Pek Thian Ki berseru.

It Peng Hong melirik sekejap kearahnya kemudian tertawa,

agaknya tindakannya ini sedikit ada diluar dugaannya;

“Ternyata kau benar-benar seorang tamu pencari bunga

yang lain dari pada yang lain, Kalau begitu tidurlah.”

Ia membereskan pembaringan dan mempersilahkan Pek

Thian Ki berbaring diatas tempat tidur yang empuk dan

menyiarkan bau semerbak itu, hal ini membuat pemuda she

Pek ini sedikit merasa terangsang.

Ia melihat It Peng Hong melepaskan pakaian merahnya

yang tebal, sehingga hanya tertinggal selapis kain sutera

yang sangat tipis dan tembus pandangan, kecuali itu

ternyata gadis ini sama sekali tidak memakai sehelai benang

penutuppun.

Sepasang payudaranya yang tinggi menjulang, kulitnya

yang putih bersih bagaikan salju, serta lekukan-lekukan

yang menggairahkan satu per-satu tertera dengan amat

jelas.

Kapankah perjaka ini pernah melihat seluruh lekukan

tubuh seorang dara dalam keadaan telanjang bulat macam

begini?

Dan kapan pernah ia sentuh lekukan-lekukan yang

menggairahkan itu?. . . apalagi It Peng Hong adalah

seorang gadis yang sangat cantik melebihi kecantikan

bidadari yang turun dari kahyangan, sekalipun iman Pek

Thian Ki sangat tebalpun, lama kelamaan tak bisa

menghindarkan diri dari pengaruh keadaan yang

terpancang didepan mata.

Perlahan-lahan It Peng Hong jatuhkan diri berbaring

disisi Pek thian Ki, Ia melihat sekejap air muka perjaka

tersebut, lalu tegurnya;

“Pek Kongcu, kenapa kau?”

“Aku. . .”

Tangannya yang halus dan putih bersih bagaikan salju

itu perlahan-lahan dieluskan keatas dada Pek Thian Ki yang

kurus, lalu dengan nada bergantian serunya;

“Pek Kongcu, apa yang sedang kau pikirkan?” Ayo, coba

beritahukan kepadaku.”

Pemuda itu alihkan sinar matanya memandang wajah

gadis tersebut, sepasang matanya yang jeli membawa

kegairahan sungguh membuat hati manusia berdebar keras,

tidak terkecuali pula diri Pek Thian Ki, darah panas dalam

rongga dada mulai bergolak sangat keras.

Akhirnya ia balikkan badan, bagaikan binatang buas

ditubruknya tubuh perempuan tersebut, lalu diciumi

bibirnya yang kecil mungil. . . seluruh lekukan badannya

yang menggairahkan dengan penuh napsu. . . . gadis itu

kelihatan merinding, desisnya lirih; “Pek Kongcu. . . . .”

Desisnya semakin lama semakin pendek, semakin lirih

dan akhirnya sunyi senyap, suasana begitu hening. . . .sepi. .

. bibirnya yang kecil mungil, kena disumpeli oleh bibir Pek

Thian Ki yang jauh lebih besar, ia merinding, gemetar dan

akhirnya lemas.

Agaknya peristiwa ini tak dapat dihindarkan lagi, sudah

tentu Pek Thian Ki bukan seorang jagoan main perempuan

dan sembarangan cari hiburan di-mana2, tapi, saat ini ia

sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia mulai kalap,

mulai dipengaruhi oleh napsu birahi. . . .

Ditengah kekalapan, pemuda itu mulai melupakan segala

sesuatu, termasuk dirinya yang berada dalam keadaan

bahaya. . . .

Dalam detik ini yang dipikirkan adalah mengalirkan

napsu birahinya kepada pihak lawan jenis, perduli siapakah

lawan mainnya ini.

Sehingga akhirnya ia terpengaruh, kesadarannya mulai

penuh. . . Tangannya menggerayangi seluruh lekkan tubuh

gadis itu, meraba sepasang payudaranya yang montok. . .

Gadis itu kembali gemetar keras, seluruh tubuhnya

tergetar oleh rabaan tersebut. “Pek Kongcu. .” jeritnya

kaget.

Tapi, Pek Thian Ki tetap membungkam, ia meneruskan

pekerjaannya.

Tiba-tiba. . . . Pada waktu itulah sesosok bayangan

manusia berbaju hitam bagaikan kilat menyambar masuk

melalui jendela.

“Eeei! orang she Pek, kau mencari mati. . .” bentaknya

keras.

Diam-diam Pek Thian Ki merasa terperanjat, dengan

cepat ia meloncat bangun dan turun dari atas pembaringan,

sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap simanusia

berkerudung yang telah berdiri dihadapannya.

“Kau. . . kau adalah Kiang To?” bentaknya keras.

“Kemungkinan besar dugaanmu tidak salah.”

“Kawan Kiang, akhirnya kau suka munculkan diri juga. .

.”

“Hmm! Kaulah yang paksa aku muncul.”

“Sedikitpun tidak salah, memang aku yang paksa kau

orang, sehingga suka perlihatkan bentuk badanmu.”

“Heee. . . heee heee. . . tapi, orang she Pek, karena

perbuatanmu ini, maka yang rugi adalah kau sendiri!”

“Kiang To! Ada satu persoalan hendak aku tanyakan

kepadamu!”

“Bicaralah!”

“Apa sangkut pautmu dengan sipemilik rumah yang

disewakan itu?”

“Apa perlunya kau menanyakan persoalan ini?” jengek

orang itu ketus.

“Aku ingin tahu.”

“Maaf, dalam soal ini aku orang tak dapat memberikan

jawaban.”

“Delapan jago pedang dari kolong langit apakah mati

ditanganmu semua?. . .” kembali tanya Pek Thian Ki.

“Aku tak akan berbicara, dan karena saudara tidak suka

mendengarkan peringatanku, maka sekarang aku tak akan

berlaku sungkan lagi terhadap dirimu.”

Begitu ucapan selesai diutarakan, sesosok bayangan

manusia berkelebat lewat diiringi segulung angin pukulan

yang dahsyat menghajar seluruh tubuh Pek Thian Ki.

Melihat datangnya serangan begitu dahsyat, pemuda she

Pek ini tak urung merasa bergidik juga dibuatnya.

“Apa kau anggap aku takut menerima seranganmu ini?”

teriaknya gemas.

Dengan cepat bayangan manusia saling menyambar,

dalam sekejap mata masing-masing pihak sudah saling

melancarkan tiga buah serangan dahsyat, Saat ini tenaga

dalam Pek Thian Ki belum pulih kembali seperti sedia kala,

oleh sebab itu untuk beberapa saat ia bukan tandingan dari

Kiang To simanusia misterius itu.

Dalam serangan tiga jurus beruntun itu, ia sudah kena

terdesak mundur satu langkah kebelakang. It Peng Hong

sewaktu melihat kedua orang itu saling melancarkan

serangan dengan begitu mengerikan, saking kagetnya

seluruh air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat,

seraya menyambar pakaiannya, ia mencoba melarikan diri

melalui pintu samping.

Pada waktu itu. . . Antara Pek Thian Ki dengan Kiang

To sudah saling bergebrak sebanyak lima enam jurus

banyaknya.

“Tahan!” tiba-tiba Pek Thian Ki membentak keras.

Ditengah suara bentakan yang amat keras ia mengunci

sebuah serangan lawan, lalu melayang mundur kebelakang.

“Heee. . .heeee. . .heeee. . . orang she Pek, ada ucapan

apa lagi yang hendak kau utarakan?” bentak Kiang To sinis.

“Lebih baik kita selesaikan dulu pembicaraan kita,

kemudian baru bergebrak kembali!”

“Ada ucapan cepat utarakan, jangan buang waktu

dengan percuma.”

“Ada seseorang memerintahkan diriku untuk

menyampaikan sepucuk surat untukmu, Nih! ambillah!”

Tangannya diayun kedepan, ia melemparkan surat yang

diterimanya dari sikakek tua berbaju hitam Bun Tong Yen

itu kearah Kiang To.

Sang manusia misterius dengan sebat menerima surat

tadi, lalu disambit kembali kearah pemuda tersebut.

“Kaupun tahu kalau aku bukan Kiang To yang asli, apa

gunanya surat itu kau serahkan kepadaku, lebih baik

serahkan saja kepada si Kiang To yang benar-benar tulen. . .

.”

“Bagaimana? Jadi kau tidak suka menerima surat ini?”

seru Pek Thian Ki melengak.

“Benar, aku tak mau terima!”

“Bagaimana? Kau. . . !”

“Aku sudah berulang kali memberi keterangan

kepadamu, aku bukan Kiang To yang tulen. . . .”

“Lalu dimanakah Kiang To yang asli?”

“Kemungkinan sekali sudah mati, kemungkinan juga

belum munculkan dirinya dalam dunia persilatan.”

“Tapi orang lain sedang mencari dirimu.”

“Kau berani memastikan kalau orang yang dicari itu

adalah diriku?”

Untuk beberapa waktu Pek Thian Ki tak dapat

memberikan jawaban yang memuaskan hati, lama. . lama

sekali ia baru berkata;

“Tidak mau terima ya. . .tidak mau terima, tapi. .aku

mau bertanya kepadamu lagi, kau berani menyaru sebagai

Kiang To seharusnya tahu bukan, akan asal-usulnya pada

masa yang lalu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Cepat kau terangkan padaku. . .!”

“Heee. . . heee. . .heee. . . aku rasa soal ini sih tidak

penting untuk diberitahukan kepadamu.”

Sepasang alis Pek Thian Ki melentik, bentaknya gusar;

“Sungguh kau orang tidak mau bicara?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Akan kupaksa dirimu sampai suka bicara dengan

sendirinya!”

Bayangan manusia kembali berkelebat lewat, laksana

seekor elang raksasa yang mencari mangsa dengan dahsyat

ia tubruk badan Kiang To, telapak tangannya dibabat

kemuka melancarkan satu serangan yang aneh dan dahsyat.

“Kau tidak suka mendengarkan peringatanku, akan

kubunuh dirimu sampai mati,” bentak Kiang To pula

dengan nada yang dingin.

Ditengah suara bentakan keras telapak tangannya

disilangkan didepan dada memunahkan datangnya

serangan lawan, telapak kiri menggurat ditengah angkasa

balas mengirim satu pukulan gencar.

Jikalau misalnya tenaga dalam dari Pek Thian Ki sudah

pulih kembali seperti sedia kal, maka kepandaian silat yang

ia miliki tidak berada dibawah kepandaian dari Kiang To

ini, cuma saja keadaannya pada saat ini sangat merugikan

dirinya.

Tenaga dalam yang dimiliki pada saat ini betul-betul

masih bukan tandingan dari Kiang To. Waktu itu puluhan

jurus sudah berlalu dengan cepatnya.

Ber-turut2 Pek Thian Ki kena terdesak mundur lima

enam langkah kebelakang, akhirnya perjaka ini bulatkan

tekad untuk mengadu jiwa.

Ia meraung keras, bayangan manusia berkelebat lewat

berturut-turut ia mengirim tiga buah serangan dahsyat

mendahului serangan dengan pihak lawan.

Tiba-tiba. . . Kiang To berkelebat, lalu mencelat ketengah

udara dengan gerakan lincah, telapak tangannya mengebut

berulang kali, dengan gerakan yang sangat aneh tapi

lihaynya luar biasa, mengirim tiga buah serangan

mematikan yang maha hebat.

Ketika itu Pek Thian Ki sudah ada maksud untuk adu

jiwa, sekalipun begitu, ia tidak berani berlaku ayal.

Tubuhnya dengan sebat menyingkir kesamping, Tapi belum

sempat pemuda she Pek itu benar-benar berkelit kesamping,

serangan dahsyat dari Kiang To sudah menerjang datang.

Dengan demikian mau tak mau ia harus menerima

serangan tersebut dengan keras lawan keras, Telapak

tangannya diayun kemuka dengan menyalurkan seluruh

tenaga lweekang yang dimilikinya, ia menyambut

datangnya serangan tersebut.

“Braaaaaak!” angin pusaran berhembus melanda empat

penjuru, debu pasir beterbangan memenuhi angkasa,

berpuluh-puluh rentetan angin desiran memecahkan seluruh

kalangan bagaikan ombak besar membentur tepian.

Didalam bentrokan kali ini, Pek Thian Ki merasa

hatinya tergetar keras, darah segar bergolak dalam rongga

dadanya, berturut-turut ia kena terdesak mundur sejauh

berpuluh-puluh langkah kebelakang, akhirnya setelah

bersusah payah, ia berhasil juga mempertahankan

keseimbangannya.

Tiba-tiba. . .

Pada waktu itulah sesosok bayangan manusia

menyambar lewat, bagaikan kilat orang itu langsung

menerjang kearah Kiang To.

“Kiang To bangsat, tidak tahu malu, lihat serangan!”

bentaknya keras.

Datangnya terjangan orang ini benar-benar sangat cepat,

hal ini memaksa Kiang To dalam keadaan tidak

mempersiapkan diri segera melesat kesamping untuk

berkelit.

“Tahan!” Seraya membentak Kiang To meloncat mundur

beberapa langkah.

Orang itupun segera menghentikan badannya ditengah

angkasa, lalu berjumpalitan beberapa kali dan melayang

turun keatas tanah.

“Aaaach! Tong-te, kiranya kau!” Pek Thian Ki yang ada

disisi kalangan segera menjerit tertahan.

Kiranya orang yang baru saja datang memang Tong Ling

adanya. Belum sempat Tong Ling mengucapkan sesuatu,

Kiang To telah menegur dengan suara dingin;

“Siapa kau?”

“Kawan karib Pek Thian Ki!”

“Maksudmu datang kemari ingin mencampuri urusan

sampingan ini?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Jadi kau sudah bulatkan tidak untuk cari mati?”

“Heee. . .heee. . .heee. . . sungguh besar bacotmu, belum

tentu kau bisa membinasakan diriku dengan begitu

gampang.”

Ooou, kau tidak percaya, baik! Silahkan kau orang

mencoba-coba bagaimanakah dahsyatnya seranganku ini.”

Diiringi suara bentakan keras Kiang To meluncur

kedepan menubruk kearah Tong Ling, dimana tangannya

diayun berturut-turut mengirim dua buah serangan gencar.

Gerakan serangan dari Kiang To amat cepat, tapi Tong

Ling jauh lebih cepat lagi, tampak bayangan manusia

berkelebat lewat, iapun mengirim sebuah serangan kedepan.

Suara bentrokan bergema memenuhi angkasa diikuti

berpisahnya kedua sososk bayangan manusia tersebut.

“Hmm! Hebat juga kepandaiaan silat yang kau miliki,”

seru Tong Ling dingin.

“Kaupun berada diluar dugaanku. . .” Perkataan terakhir

baru saja meluncur keluar, badannya sekali lagi meluncur

kearah Tong Ling, melancarkan dua buah serangan

dahsyat.

Tong Ling tidak mau kalah, melihat datang serangan

amat dahsyat ia berkelit lantas menubruk maju pula

kedepan.

Dalam sekejap mata terjadilah suatu pertarungan sengit

yang sangat ramai, masing-masing pihak dengan

mengandalkan gerakan yang tercepat, berusaha

merubuhkan pihak lawannya.

Lima jurus sudah lewat, tapi keadaan masih kelihatan

berimbang, agaknya untuk beberapa saat lamanya susah

bagi kedua orang itu untuk menentukan siapa menang siapa

kalah.

Sekonyong-konyong. . . .

“Kiang To!” bentak Pek Thian Ki keras. “Ini hari akan

kulihat siapakah sebenarnya dirimu!”

Ketika itu pemuda tersebut tidak mengindahkan

peraturan Bu-lim lagi, ditengah suara bentakan penuh

kegusaran tubuhnya melesat kedepan menerjang tubuh

Kiang To, tangannya dengan lima jari terpentang lebarlebar

mencengkeram dadanya.

Diam-diam Kiang To merasa amat terperanjat. Tapi

akhirnya ia tidak malu kalau disebut sebagai seorang jagoan

berilmu tinggi, perubahan jurusnya dilakukan diluar

dugaan, tahu-tahu tangan kanannya dibabat kearah Pek

Thian Ki, sedang tangan kirinya menyambut datangnya

serangan dari Tong Ling, kemudian menggunakan

kesempatan itu mencelat kesamping.

Tapi dengan terjunnya Pek Thian Ki kedalam

pertarungan ini, maka posisi Kiang To semakin tergencet.

Untuk menghadapi seorang Tong Ling saja sudah

kepayahan, apalagi bertambah pula dengan seorang Pek

Thian Ki, Sekalipun kepandaian silat yang ia miliki jauh

lebih lihaypun jangan harap bisa menahan serangan dari

dua orang yang bergabung menjadi satu.

Setelah menyingkir kesamping, segera tegurnya sinis;

“Hmmmm! Kalian semua tidak tahu malu beraninya

turun tangan berbareng mengeroyok seorang.”

“Hmm! Terhadap dirimu, rasanya kita orang tak perlu

mengindahkan kata-kata memalukan atau tidak, yang jelas

kau harus mati!” teriak Pek Thian Ki gusar.

Baru saja perkataan selesai diucapkan, badannya kembali

meluncur kedepan. Pada saat Pek Thian Ki menerjang

kemuka tadi, Tong Ling pun ikut mencelat kearah pihak

lawan dengan mengirim satu serangan dahsyat menghajar

tubuh Kiang To.

Agaknya simanusia she Kiang itu mulai merasa bahwa

keadaan sangat tidak menguntungkan posisinya, melihat

datangnya serangan dahsyat dari Tong Ling, iapun

kumpulkan seluruh tenaga yang dimilikinya lantas balas

mengirim sebuah pukulan.

“Pek Thian Ki, aku bisa balik mencari dirimu,”

bentaknya keras.

Bayangan manusia berkelebat lewat, ia menerjang keluar

melalui jendela. Agaknya baik Pek Thian Ki maupun Tong

Ling tidak menduga kalau Kiang To bisa melarikan diri dari

sana, ketika mereka sadar tubuh orang itupun sudah

meluncur keluar melalui jendela.

“Kiang To, kau anggap dirimu bisa lolos dari tanganku?”

bentak Tong Ling gusar.

Bayangan manusia berkelebat lewat, iapun mencelat

keluar melakukan pengejaran. Pek Thian Ki ikut menyusul

dari belakang, tapi dalam waktu singkat itulah ia sudah

ketinggalan puluhan kaki jauhnya dari Kiang To maupun

Tong Ling, dan akhirnya kedua orang itu lenyap dibalik

hutan. . .

Saking khekinya Pek Thian Ki cuma bisa menggertak

giginya rapat-rapat, hingga saat ini ia masih belum tahu

siapakah sebenarnya Kiang To itu. . .

Sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap kearah

seluruh ruangan, ketika dilihatnya gadis It Peng Hong tak

ada disana, ia jatuhkan diri duduk diatas kursi, Lama. . .

lama sekali ia baru menghela napas, agaknya pemuda ini

sedang memikirkan suatu persoalan.

Mendadak. . .

“Aaaach. . .!” Pemuda she Pek ini menjerit tertahan. . .

dalam keadaan tidak sengaja sinar matanya telah terbentur

dengan sebuah lengan kanan dari perempuan yang sedikit

muncul dari bawah pembaringan.

Rasa terkejut yang dialami Pek Thian Ki kali ini bukan

alang kepalang lagi, dengan cepat ia melompat maju dan

berjongkok untuk memeriksa siapakah orang itu.

Tapi sebentar kemudian sekali lagi ia merasa terperanjat.

Dilihatnya seorang perempuan yang sangat cantik dengan

lekukan badan yang mempesonakan menggeletak dibawah

ranjang, sekali pandang dapat diketahui kalau ia

menggeletak karena tertotok jalan darahnya.

Sepintas berkelebat. . . secara mendadak Pek Thian Ki

teringat akan sesuatu, pikirnya;

“Tidak salah! Perempuan yang menggeletak diatas tanah

ini tentu nona It Peng Hong dan nona tadi pasti bukan

dirinya, Ada seseorang yang sengaja menyaru sebagai nona

It Peng Hong. . . Tapi apa maksudnya berbuat begitu. . . .?”

Akhirnya pikiranpun teringat kembali akan diri Tong

Ling. Gadis yang menyaru sebagai It Peng Hong tadi, jelas

adalah Tong Ling, tapi apa tujuannya menyaru sebagai

orang lain?

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang

susah untuk dipahami keadaannya!

Tapi ada satu hal yang nyata dan tak bisa dibantah lagi,

yaitu Tong Ling benar-benar telah menyaru sebagai It Peng

Hong, bahkan samarannya sangat mirip. . . dan gadis itu

berusaha keras untuk bertindak persis.

Pada waktu itu. . . . Dari luar pintu berkumandang

datang suara langkah kaki seseorang yang memecahkan

kesunyian.

“Siapa?” bentak pemuda itu keras.

“Pek Kongcu. . . aku!”

Inilah suara nona It Peng Hong yang telah dijumpainya

tadi.

“Eeehmmm! Tidak salah lagi.” pikir Pek Thian Ki diamdiam;

“Pada mulanya kau keluar dulu untuk menyaru

sebagai orang laki dan pergi mengejar Kiang To, kemudian

sekarang balik lagi kemari menyaru sebagai It Peng Hong. .

. .”

Waktu itu suara gadis tersebut kedengaran gemetar, jelas

ia sengaja memperdengarkan suaranya dalam keadaan

ketakutan.

Selintas senyuman dingin berkelebat diatas wajah Pek

Thian Ki, agaknya ia sudah teringat akan sesuatu. . . .

“Nona It Peng Hong, kau kenapa. . .?” tegurnya halus.

“Aku. . . aku takut?”

“Apa yang kau takuti?”

“Aku takut melihat kalian. . . . kalian berkelahi!”

“Kau masuklah kedalam kamar sekarang sudah tak ada

pertempuran lagi.”

“Oooouw. . . .!”

Perlahan-lahan It Peng Hong berjalan masuk kedalam

kamar, wajahnya masih terlintas perasaan ketakutan yang

luar biasa, sinar matanya memandang Pek Thian Ki dengan

mendelong.

“Nona It Peng Hong, aku minta maaf. . .” sengaja ujar

Pek Thian Ki dengan nada menyesal.

“Kiang. . . Kiang Kongcu sudah pergi?”

“Benar! Ia sudah pergi!”

“Mungkinkah ia kembali lagi?”

“Mungkin tidak akan kembali lagi! Kentongan keempat

hampir lewat, marilah kita tidur!”

Ia mengangguk, sikapnya kelihatan rada ragu-ragu tapi

sebentar kemudian ia sudah melangkah mendekat. Waktu

itu Pek Thian Ki sudah menjatuhkan diri berbaring diatas

pembaringan.

Perlahan-lahan It Peng Hong melepaskan baju merahnya

kembali, sehingga tinggal selembar kain sutera yang tipis

menempel diatas badannya, setelah itu ia menjatuhkan diri

berbaring disisi pemuda tersebut, keadaannya persis seperti

keadaan semula.

Hanya saja perasaan dihati Pek Thian Ki pada saat ini

jauh berbeda dengan perasaannya semula.

“Nona It Peng Hong, bolehkah aku orang menanyakan

satu urusan kepadamu?. . .” sengaja tanyanya.

“Silahkan bertanya!”

“Kau sudah pernah terima berapa orang tamu?”

“Aku. . . aku. . . ach! aku tidak mau beritahu. . .”

mendadak ia tertawa, senyumannya begitu mempesonakan,

begitu menggairahkan. . ., “Pek Kongcu, mengapa kau

tanyakan soal ini?”

“Aku hanya ingin tahu.”

Gadis itu kembali tertawa. . . Ia tertawa begitu manis,

begitu menarik hati, kiranya gadis itu berusaha untuk

menunjukkan sikap seorang perempuan nakal, dengan

paksakan diri ia berusaha untuk menyesuaikan keadaan

sebenarnya.

Mendadak Pek Thian Ki membalikkan badannya dan

memeluk tubuh gadis itu kencang-kencang. . . seperti pula

keadaan tadi, dengan buas dan penuh napsu diciumnya

seluruh tubuh dara manis ini.

Beberapa kali It Peng Hong kelihatan gemetar keras. . .!

“Pek. . . Pek Kongcu. . . .!

Ia mendesis berulang kali, suaranya penuh mengandung

daya rangsang yang membangkitkan hawa napsu.

Perlahan-lahan tangan kanan Pek Thian Ki yang semula

memeluk pinggang lalu naik ke atas depan, menyentuh

sebentuk dada padat menggelembung yang masih tertutup

kain tipis. Diremasnya dengan lembut dada kenyal-padat

sebelah kanan.

“Ughh … ” It Peng Hong mendesah merasakan nikmat

saat ujung-ujung jari tangan Pek Thian Ki mempermainkan

sebentuk benda bulat kecil yang ada di atas gumpalan padat

menggelembung dari luar. Bersamaan dengan itu, It Peng

Hong makin liar membalas ciuman Pek Thian Ki ke arah

telinga pemuda itu.

Melihat sinona membalas perlakuannya dengan tidak

kalah liar, kembali pemuda itu menyerang leher hingga

membuat merinding bulu tengkuk sang gadis.

“Iiih … ” Bahkan, saat tangan kanan pemuda itu mulai

menyusup ke balik kain atas It Peng Hong yang entah

kapan, ikat pinggang gadis itu sudah luruh dan jatuh ke

lantai, mungkin saat ia menarik sinona dalam pelukan, ia

melepas ikat pinggang. Tangan Pek Thian Ki meraba-raba

dada montok itu dengan lembut dan penuh perasaan kasih.

Kembali tubuh gadis itu berkelejat liar saat jemari Pemuda

itu mempermainkan tonjolan dada kanan dari dalam.

“Oooh … ssshh … ” It Peng Hong hanya bisa

mendongakkan kepala ke atas, menikmati lumatan dan

remasan yang dilakukan oleh sipemuda.

“Nona, kainnya kulepas saja, ya?”

Pelukan Pek Thian Ki sedikit merenggang, diikuti

dengan Pek Thian Ki membuka kain yang melekat ditubuh

sinona, bahkan It Peng Hong sendiri turut membantu apa

yang dilakukan sipemuda.

Setelah semua kain tipis gadis terbebas, kemudian dilepas

dari tubuh langsing It Peng Hong hingga sepasang payudara

putih mulus padat kencang yang masih segar terpampang

jelas.

“Dadamu indah sekali, Nona!” ujarnya begitu sebentuk

benda bulat besar yang tadi sempat diremas-remas.

“Kongcu, jangan dipandangi begitu! Aku kan malu,”

ucap sinona sambil menutupi dadanya dengan dua tangan

bersilangan.

“Kenapa harus malu? Lihat … aku saja sudah tidak

memakai apa-apa sedang Nona masih setengah komplit,”

kata Pek Thian Ki dengan kedua tangan direntangkan,

kemudian memeluk It Peng Hong yang malu-malu kucing

sambil bibirnya menghujani leher, pipi, dan bibir gadis itu

dengan ciuman menggelora.

“Ooouchh … ”

Di antara hisapan dan gigitan mesra, sukma gadis itu

bagai melayang ringan di awan saat tangan kiri sipemuda

mengelus-elus pada bagian paha, melingkar-lingkar

membentuk bulatan tak beraturan, sehingga napas gadis itu

semakin memburu, pelukan semakin kuat dan ia mulai

merasakan bagian gerbang istana kenikmatannya mulai

basah.

“Oooch … Kongcu … ”

It Peng Hong hanya pasrah dan membiarkan bibir dan

tangan Pek Thian Ki menjelajahi setiap lekuk dari tubuh

sintalnya. Sesukanya, karena memang gadis itu sangat

menikmati sentuhan lembut si pemuda. Bahkan tanpa sadar

tangan sinona memegang tangan Pek Thian Ki seolah-olah

membantunya untuk memuaskan dahaga birahi yang

semakin meninggi. Ia semakin menggelinjang kegelian!

Halaman 27-28 robek

Bab 26

Haripun telah terang tanah.

Sinar sang surya menyoroti wajah It Peng Hong yang

cantik jelita, titik air mata jatuh berlinang membasahi

wajahnya. . .

Ia menangis, menangis dengan begitu sedihnya.

Akhirnya meluncurlah suara sesenggukan yang lirih

dimana makin lama semakin keras. .dan akhirnya

meledaklah suara tangisan yang memilukan hati.

“Eeeeei. . . kau . . . kenapa kau?” tanya Pek Thian Ki

melengak.

“Aku. . .”

Baru sepatah kata meluncur keluar, kembali dara tersebut

menangis. Pek Thian Ki semakin melengak lagi dibuatnya,

ia bangun berdiri dan dan dipandangnya gadis itu tajamtajam.

Mendadak. . . . sinar matanya tertuju pada segumpal

noda darah yang membekas diatas sprei nan putih.

Benar! Sekarang Pek Thian Ki baru paham kalau gadis

cantik ini pasti bukan It Peng Hong, melainkan Tong Ling.

Tapi ia tidak ingin memecahkan rahasia ini. . . .sudah

tentu sebelum ia melakukan perbuatan ini pemuda kita

telah berpikir sampai disana, dan sekarang apa gunanya

memecahkan rahasia?

“Nona, kenapa kau?” sengaja tanyanya.

“Aku. . . .”

“Perbuatanku terlalu kasar, sehingga menyakiti dirimu?”

“Tidak. . .” “Lalu, mengapa kau menangis?”

Mendadak It Peng Hong menarik kembali suara

sesenggukan tangisannya, ia berkata; “Suami isteri

semalaman, buat apa kita bicarakan soal ini lagi?”

“Kalau begitu, tidurlah! Hari sudah terang tanah!”

Dengan halus penuh mesra diciumnya gadis tersebut,

lalu dipeluknya tubuh yang kecil dan dengan membawa

perasaan hati yang berbeda, akhirnya mereka tertidur juga

dengan pulasnya. . .

Ketika ia terbangun kembali, sinar matahari sudah

berada tepat diatas kepala. Ketika Pek Thian Ki membuka

matanya, waktu itu It Peng Hong sedang berdiri didepan

jendela seorang diri.

“Nona, kau sudah bangun?” segera tegur pemuda itu.

Gadis itu menoleh, bibirnya kelihatan bergerak tapi tak

sepatah katapun yang meluncur keluar dari mulutnya.

Perlahan-lahan Pek Thian Ki berjalan menghampirinya.

“Nona It Peng Hong, suami isteri semalaman tak akan

aku lupakan walau terpaut ratusan tahun, aku memohon

diri terlebih dahulu.”

“Kau hendak pergi kemana?”

“Aku? Pergi mencari seorang nona, aku mau pergi

menyewa sebuah rumah!” Tanpa menoleh lagi, ia lantas

berjalan keluar melalui pintu kamar dan menuju kebawah

loteng.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba It Peng Hong berteriak

keras.

Mendengar teriakan tersebut, Pek Thian Ki berhenti.

“Nona! Terima kasih atas pelayananmu malam tadi, juga

terima kasih untuk semua hal, Lain waktu kita berjumpa

lagi didunia kangouw!” Ia dorong pintu dan melangkah

keluar.

“Kau. . .! jerit It Peng Hong sangat terperanjat.

“Perkataanku adalah sesungguhnya, cayhe mohon diri

terlebih dulu.” demikianlah pemuda itupun berlalu!

“Pek Kongcu, bila ada waktu luang, datanglah

berkunjung kemari. . ” kembali teriak It Peng Hong.

Pek Thian Ki tertawa pahit, mendadak suara langkah

manusia memecahkan kesunyian, sipelayan berbaju kuning

yang kemarin menghantar pemuda itu kekamar dengan

langkah lambat berjalan mendekati. Ia memandang sekejap

kearah sang pemuda, lalu tersenyum;

“Pek Kongcu, pagi sekali kau sudah bangun, aku

memang lagi siap mengundang dirimu!”

“Ada urusan apa?”

“Kau diundang oleh Cong-koan kami.”

Pek Thian Ki mengangguk, dan mengikuti dibelakang

dara berbaju kuning itu, ia berjalan menuju keruang tengah.

Mendadak. . . .

“Berhenti!” Bentak seorang dengan suara yang amat

dingin.

Mendengar suara bentakan itu, Pek Thian Ki rada

tercengang dibuatnya, dengan cepat ia menoleh, Dilihatnya

seorang dara cantik berbaju hijau telah berdiri

dibelakangnya.

Gadis itu bukan lain adalah Suma Hun. Tampak

sepasang matanya memancarkan cahaya buas, sambil

melototi diri sang pemuda, tegurnya dingin;

“Sungguh menyenangkan sekali bukan semalaman ini?”

“Haaa. . . haaa. . .haaaa. . . sudah tentu menyenangkan

sekali!”

“Hmmm! Kau lelaki bangsat!”

“Setiap ada kesempatan, main-main perempuanpun

merupakan olah raga yang baik, apa salahnya?”

Saking gusarnya, Suma Hun melototkan sepasang

matanya bulat-bulat, agaknya ia hendak mengumbar hawa

amarahnya.

Tiba-tiba Pek Thian Ki teringat akan sesuatu, ia merogoh

kedalam sakunya seraya berkata;

“Nona Suma, ada satu urusan hampir-hampir saja aku

lupa untuk disampaikan kepadamu, ada orang titipkan

sepucuk surat untukmu!”

“Apa?” teriak Suma Hun tersentak kaget, air mukanya

kontan saja berubah sangat hebat.

“Nih, ambillah!” seru Pek Thian Ki kembali seraya

sodorkan surat tadi ketangan Suma Hun.

Diterimanya surat itu, lalu sinar matanya memeriksa

isinya, tapi sebentar kemudian air muka gadis ini sudah

berubah sangat hebat, tanpa sadar ia mundur satu langkah

kebelakang.

Kelihatannya Pek thian Ki sama sekali tidak menemukan

perubahan wajah dari Suma Hun ini, ia tertawa hambar.

“Nona Suma, aku mohon diri terlebih dahulu.” Habis

berkata, ia putar badan dan berlalu.

“Berhenti!” tiba-tiba gadis she Suma ini membentak

keras.

“Nona Suma, kau masih ada pesan-pesan apa lagi?”

“Siapa yang menyerahkan surat ini kepadamu?”

“Pihak lawan melarang aku untuk memberitahukan

persoalan ini, maaf aku tak mengutarakannya keluar.”

“Pek Thian Ki, sebenarnya kau suka berbicara tidak?”

bentak Suma HUn teramat gusar, serentetan napsu

membunuh melintasi wajahnya.

“Bukannya tidak mau berbicara, tapi titipan orang lain

harus aku sampaikan sebagaimana mestinya, dan janji

dengan orang lain tak boleh diingkari, kau suruh aku secara

bagaimana memberi jawaban?”

“Jadi kau mencari mati?”

Secara tiba-tiba Pek thian Ki mulai merasa tidak paham,

sebenarnya apa yang ditulis dalam surat yang diberikan Sin

Si-poa kepadanya ini sehingga mengakibatkan wajah Suma

Hun penuh dilintasi napsu membunuh?

“Sebenarnya apa yang ditulis diatas surat tersebut?”

tanyanya agak tertegun.

“Soal ini sih kau tidak perlu tahu, ayo jawab! Siapa yang

serahkan surat ini kepadamu? Jikalau kau tidak suka

berbicara lagi, aku akan menggunakan kekerasan untuk

memaksa dirimu buka mulut.”

Air muka Pek thian Ki sedikit berubah mendengar

perkataan tersebut. Urusan sudah jelas tertera didepan

mata, diatas surat itu tentu tertuliskan sesuatu yang

menyangkut suatu urusan besar, Kalau tidak, maka sikap

gadis itu tak akan berubah semacam begini.

Hanya saja untuk beberapa saat ia tak mengerti apa

sebenarnya urusan itu!

“Nona Suma, mana boleh kau orang memaksa orang lain

dengan menggunakan kekerasan?” katanya tertawa.

“Kau suka bicara tidak?”

“Tidak!”

“Akan kupaksa dirimu untuk buka suara berbicara terus

terang!”

Tubuhnya berputar kencang, laksana sambaran petir

meluncur kearah Pek Thian Ki, telapak tangannya dengan

disertai suara desiran tajam langsung menghantam tubuh

Pek Thian Ki.

Serangan yang dilancarkan Suma Hun kali ini lebih

mirip serangan mengadu jiwa, kecepatannya sangat

mengejutkan hati. Pek Thian Ki merasakan hatinya

bergidik, buru-buru ia gerakkan tangannya menangkis.

“Nona Suma, kau sungguh-sungguh hendak turun

tangan?” bentaknya gusar.

“Sedikitpun tidak salah!”

Ditengah suara bentakan keras, berturut-turut ia

melancarkan dua buah serangan mengancam tubuh pemuda

she Pek itu, kecepatannya jauh lebih hebat dari serangan

yang pertama tadi.

Rasa kejut yang dialami Pek thian Ki kali ini bukan

alang kepalang lagi.

Ketika itu. . . .

Didalam sekejap mata Suma Hun sudah melancarkan

tiga buah serangan gencar yang memaksa sang perjaka

berturut-turut terdesak mundur sejauh tiga empat langkah

lebih.

Jikalau dibicarakan dari tenaga lweekang yang dimiliki

Pek Thian Ki pada saat ini, ternyata kena didesak mundur

sejauh tiga empat langkah oleh Suma Hun, kejadian ini

benar-benar merupakan suatu peristiwa yang tidak mungkin

terjadi.

“Nona Suma, jikalau demikian, kau jangan salahkan aku

orang akan turun tangan kejam,” bentak sang pemuda

teramat gusar.

Bayangan manusia berkelebat lewat, ia menghalau

datangnya sebuah serangan lawan yang gencar.

Tangkisannya barusan ini ia telah gunakan dua belas bagian

tenaga lweekangnya, apalagi seranganpun datangnya cepat

dan ganas, kontan Suma Hun kena didesak balik ketempat

semula.

“Nona Suma, kau sungguh-sungguh ingin cari mati?”

bentaknya keras.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Jikalau demikian adanya, terpaksa aku Pek Thian Ki

harus berlaku tidak sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu.”

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah

melancarkan serangan dahsyat kedepan. Begitu Pek thian

Ki turun tangan, Suma Hun pun tidak ingin menunjukkan

kelemahannya, ia ikut melancarkan serangan kearah

musuhnya, dan masing-masing saling menyerang dengan

kecepatan laksana petir menyambar, Dalam beberapa kali

kelebatan saja kedua orang itu sudah saling menyerang

sebanyak puluhan jurus.

Kepandaian silat yang dimiliki Suma Hun jelas bukan

tandingan dari Pek thian Ki, karena tenaga lweekang yang

dimiliki Pek thian Ki saat ini telah mencapai titik puncak

yan teratas.

Sekonyong-konyong. . . .

Pek Thian Ki membentak keras, telapak tangannya

didorong kemuka menghajar dada gadis tersebut. Kekuatan

dari pukulan kali ini telah diikuti oleh segulung tenaga

lweekang yang luar biasa dahsyatnya, bagaikan guntur

membelah bumi dengan gencar menghantam tubuh Suma

Hun.

Dengan adanya kejadian ini, mau tak mau Suma Hun

terpaksa harus menggerakkan tangannya menangkis ia

menggigit bibirnya rapat-rapat, tangan kanan digetarkan

keras lantas dibabat kedepan menangkis datangnya

serangan musuh dengan keras lawan keras.

“Braaaak!. . . .” Suara bentrokan keras meledak

memenuhi angkasa, desiran angin tajam menyebar keempat

penjuru, ranting, dedaunan, pasir maupun debu

beterbangan memenuhi angkasa.

Kena terhantam oleh serangan yang maha dahsyat dari

pemuda tersebut, Suma Hun terdesak mundur sepuluh

langkah lebih kebelakang.

Cahaya putih berkelebat lewat, tahu-tahu diatas tangan

Pek Thian Ki telah bertambah dengan sebilah pedang

‘Ciang Liong Kiam’, tegurnya seraya tertawa dingin tiada

hentinya.

“Nona Suma, aku Pek Thian Ki sama sekali tidak ingin

mengikat permusuhan dengan dirimu, buat apa kau paksa

kita berdua untuk saling mengadu jiwa?”

“Lalu apa mau-mu?”

“Jawab! Siapakah sebenarnya dirimu?” bentak Pek Thian

Ki gusar, selintas napsu membunuh berkelebat diatas

wajahnya.

“Aku bernama Suma Hun!” jawab gadis itu keras.

“Dari mana asal-usulmu?”

“Hmm! Aku rasa didalam soal ini kau tidak berhak untuk

mengetahuinya dan akupun tiada berkepentingan untuk

memberikan jawaban yang benar.”

“Sekalipun kau tidak suka berbicara terus terang, akupun

tahu siapakah kau orang.”

“Siapa?”

“Kiang To!”

Baru saja kata-kata itu meluncur keluar dari mulutnya,

ujung pedang dari Pek Thian Ki sudah dicukilkan keatas

baju Suma Hun.

Diiringi suara robeknya pakaian, kain sebelah depan dari

nona itu sudah kena tergurat robek, sehingga kelihatan

kutangnya yang berwarna merah.

“Kau. . .!” teriak Suma Hun amat gusar.

“Aku sedang mencari tanda membunuh yang berada

disakumu.”

“Pek Thian Ki, mengandalkan apa kau bisa menuduh

aku adalah Kiang To?. . .”

“Heee. . . heee. . . heee. . . Suma Hun, samaranmu benarbenar

terlalu mirip.” seru Pek Thian Ki sambil tertawa

dingin tiada hentinya. “Kemarin malam Kiang To

memasuki kamar kediaman dari It Peng Hong dan pernah

pula bergebrak melawan diriku, jurus serangan yang ia

gunakan persis seperti apa yang kau gunakan saat ini. . . .”

“Jadi kau mengandalkan soal ini saja lantas menuduh

aku adalah Kiang To. . .”

“Masih ada lagi, sewaktu berada diatas gunung Lui Im

San, aku sudah menaruh curiga bahwa kau adalah Kiang

To, seharusnya kau belum lupa bukan kehadiranku

digunung Lui Im San adalah atas ajakanmu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Tapi sejak mulai, hingga berakhir, aku tidak pernah

menemui kau barang sekejappun, dan kebetulan sekali

sewaktu kedua orang kawanku sedang saling bergebrak kau

munculkan diri, ditengah persoalan ini kau masih punya

cukup waktu untuk mengembalikan wajah aslimu.”

“Masih ada yang lain?”

“Mengandalkan beberapa hal ini rasanya sudah cukup

untuk membuktikan kau adalah Kiang To.”

“Anggap saja benar aku adalah Kiang to, lalu kau mau

apa?” bentak Suma Hun dingin.

“Baik, cukup menjawab beberapa buah pertanyaanku,

tahukah kau asal-usul dari Kiang To?”

“Tidak tahu!”

“Apa sangkut pautmu dengan rumah yang disewakan

itu?” “Tidak tahu!”

“Mengapa kau menyaru sebagai Kiang To? Dan

dimanakah Kiang To yang asli?”

“Tidak tahu!”

Ternyata beberapa kali gadis tersebut hanya menjawab

setiap pertanyaan dengan kata-kata tidak tahu belaka. Lama

kelamaan Pek Thian Ki tak dapat menahan kegusaran yang

berkobar dalam hatinya lagi.

“Sungguh-sungguhkah kau orang tidak mau berbicara

barang sekejappun?. . .” teriaknya melengking.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Kau jangan lupa, asalkan pedangku ini aku tusukkan

lebih kedalam, maka nyawamu akan segera melaporkan diri

keakhirat.”

“Asalkan kau Pek Thian Ki punya kemampuan, ayoh!

Turun tanganlah, bila kau jago, silahkan cepat2 tusukkan

pedang itu keperutku.”

“Buat apa kau paksa aku untuk turun tangan keji?” seru

pemuda itu lagi sambil tertawa dingin.

Suma Hun pejamkan matanya rapat-rapat dan tidak

menjawab lagi pertanyaan dari pihak lawannya. Bicara

sesungguhnya, asalkan Pek Thian Ki sedikit kerahkan

tenaga, maka seketika itu juga Suma Hun akan menemui

ajalnya disana.

“Nona Suma! Baiklah, aku tak akan membinasakan

dirimu,” bentak Pek Thian Ki kemudian sambil menggertak

gigi. “Tapi pada suatu hari aku bisa tahu siapakah kau

orang, dan sekarang sana menggelinding pergilah jauhjauh.”

“Pek Thian Ki!” teriak Suma Hun pula sambil meloncat

bangun, “Selamanya aku tak akan melupakan

penghinaanmu semacam ini hari, lain waktu akupun akan

merobek pakaianmu dihadapan umum.”

Habis berkata, tubuhnya melejit dan mencelat pergi dari

sana, dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan.

Pek Thian Ki tertawa dingin tiada hentinya, ia masukkan

kembali pedangnya kedalam sarung dan melangkah pergi.

Ketika itulah mendadak serentetan suara berkumandang

datang memecahkan kesunyian.

“Eeeeei bocah cilik, sungguh bagus sekali tindakanmu!

Ternyata kaupun mengerti juga tentang menyayangi kaum

gadis!”

Munculnya suara tersebut secara mendadak langsung

membuat Pek Thian Ki jadi tersentak kaget, buru-buru ia

putar badannya.

Terlihatlah kurang lebih satu tombak dibelakang

punggungnya entah sejak kapan sudah berdiri seorang lelaki

setengah baya berdandan seorang sastrawan. Melihat

munculnya sastrawan berusia setengah baya itu Pek Thian

Ki rada tertegun dibuatnya.

“Siapa kau?” tegurnya cepat.

“Sin Hoa Khek atau si tetamu pencari bunga!”

“Apa? Si tetamu pencari bunga?”

“Ehmmm! Apakah kau merasa namaku lucu?”

Kena ditanya oleh pihak lawan hampir-hampir saja Pek

Thian Ki tertawa ter-bahak2, sudah tentu setiap orang yang

mendatangi Istana Perempuan boleh disebut sebagai si

tetamu pencari bunga!

Pek Thian Ki tertawa, senyuman yang membawa

kejumawaan, sedang langkah kakipun meneruskan

perjalanannya kedepan.

Tiba-tiba. . . .!

Sreet! Sreet!. . . berturut-turut muncul delapan sosok

bayangan manusia yang langsung menghadang perjalanan

pergi dari sang pemuda tersebut.

Pek Thian Ki rada tertegun dibuatnya, sinar mata yang

tajam perlahan-lahan menyapu sekejap kearah orang2 itu,

dilihatnya dari kedelapan orang berbaju hijau yang baru

saja munculkan dirinya itu, masing-masing orang

menggembol sebilah pedang diatas punggungnya. Orang

yang pertama adalah seorang kakek tua, dengan sangat

cepat ia menghadang dihadapan Pek Thian Ki.

“Tolong tanya apakah saudara adalah Pek Thian Ki?”

tegurnya seraya menjura.

“Sedikitpun tidak salah, siapakah kalian?”

“Loohu, San Hoa Kiam Khek (Jagoan pedang penyebar

bunga), sebagai anak murid dari Kiam Kok, atau Lembah

Pedang, saat ini memperoleh perintah dari Kokcu sengaja

datang mengundang saudara untuk mengunjungi lembah

kami sebentar.”

“Apa keperluannya?”

“Soal ini Loohu sendiripun tidak tahu, setelah saudara

tiba disana rasanya segera akan jadi paham kembali.”

“Heee. . .heee. .heee cayhe tidak saling kenal mengenal

dengan Kokcu kalian, apa kepentingannya untuk pergi

kesana?” seru Pek Thian Ki sambil tertawa dingin tiada

hentinya. “Tolong sampaikan kepada Kokcu kalian,

katakan saja aku Pek Thian Ki tiada waktu luang untuk

menyambangi dirinya.”

“Saudara pastikan diri tidak mau pergi?”

“Kenapa aku harus pergi?” jengek sang pemuda lagi

sambil tertawa hambar.

“Kau harus pergi kelembah kami!”

“Mengapa aku harus pergi kelembah kalian?”

“Karena Kokcu kami ada urusan penting. . .”

“Itukan urusan pribadi ia sendiri!” potong sang pemuda

tidak menanti siorang tua itu menyelesaikan kata2nya.

“Apa sangkut pautnya antara urusan pribadinya dengan

urusanku?”

Melihat keketusan sang pemuda she Pek ini, si jagoan

pedang penyebar bunga langsung kerutkan alisnya rapatrapat.

“Loohu harap kau suka memandang diatas wajahku. . .”

“Cukup! Antara kau dan aku tidak saling mengenal,

Mengapa aku harus memandang diatas wajahmu lantas

mengabulkan permintaanmu itu,” sela Pek Thian Ki

kembali.

Merah padam selambar wajah San Hoa Kiam Khek.

“Jadi kau sungguh-sungguh tidak suka mengikuti kami

untuk mengunjungi Lembah Kiam Kok?

“Sedikitpun tidak salah!”

“Saudara, apakah kau menaruh minat untuk

menyusahkan diri Loohu karena persoalan ini?” desak San

Hoa Kiam Khek lebih lanjut.

“Sudah aku katakan bahwa aku tak ada waktu.” teriak

Pek Thian Ki sangat mendongkol. “Bagaimana? Apakah

kalian tidak dengar?”

“Dengar sih Loohu sudah dengar.”

“Kalau begitu cepat enyah dari sini!”

“Tapi. . . ”

Air muka Pek Thian Ki berubah semakin menghebat,

bentaknya keras; “Aku suruh kalian enyah dari sini, sudah

dengar belum? Congek!”

Air muka San Hoa Kiam Khek pun kelihatan rada

berubah.

“Jikalau saudara keraskan kepala tidak mau ikut kami

pergi, terpaksa kami akan mengundang dengan

menggunakan kekerasan!”

“Hmmmm! Kau berani?”

“Adalah saudara yang terlalu memaksa, sehingga kami

harus turun tangan menggunakan kekerasan. .”

“Kentutmu, Jikalau kalian tahu diri, lebih baik cepatcepat

enyah dari sini, kalau tidak. . Hmm! Aku sungguhsungguh

tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepada

kalian.”

“Menurut berita kangouw yang aku dengar, para jago

mengatakan kau memiliki kepandaian silat yang luar biasa,

terpaksa Loohu beberapa orang menanti beberapa petunjuk

darimu.” seru San Hoa Kiam Khek akhirnya sambil tertawa

dingin.

Begitu ia membungkam, serentetan cahaya tajam laksana

sambaran petir sudah meluncur kedepan mengancam tubuh

Pek Thian Ki. Serangan ini dilancarkan bagaikan seekor

naga sakti ditengah awan, cepat dan dahsyat sangat

mengejutkan, bersamaan dengan turun tangannya si jagoan

pedang penyebar bunga ini, sisanya pun ber-turut2 turun

tangan melancarkan serangan.

Delapan bilah pedang dengan membentuk delapan

kuntum bunga-bunga pedang mengancam datang dari

delapan penjuru yang berlainan, sungguh luar biasa sekali.

Melihat datangnya serangan itu, Pek Thian Ki jadi

sangat terperanjat. Dalam keadaan kaget, ia mengirim satu

pukulan dahsyat kedepan, tubuhpun mengiringi serangan

tersebut mencelat kesamping.

Delapan bilah bayangan pedang bersama-sama mencapai

sasaran yang kosong dan menyebabkan diatas tanah

muncul delapan buah lubang kecil yang cukup dalam.

“Tahan!” bentak pemuda itu keras.

Suara bentakan tersebut keras bagaikan guntur

membelah bumi, delapan orang jagoan lihay bersama-sama

menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang.

Si jagoan pedang penyebar bunga maju kedepan seraya

tertawa dingin tiada hentinya; “Apakah saudara sudah

berubah pikiran?” tegurnya.

“Aku hanya ingin bertanya, apakah kalian benar-benar

ada maksud hendak membinasakan aku orang she Pek?”

teriak Pek Thian Ki dengan air muka berubah hebat.

“Tidak pernah terjadi urusan semacam ini.”

“Kalau begitu, apa maksud kalian delapan orang

bersama-sama melancarkan serangan. . .”

“Tujuan kami hanya ingin mempersilahkan saudara suka

mengikuti kami mengunjungi Lembah Kiam Kok.”

“Sudah aku katakan kalau aku tak ada waktu.”

“Maka dari itu terpaksa kami mengundang dengan

kekerasan.”

“Jadi kalian hendak paksa aku untuk turun tangan. . .”

jengek Pek Thian Ki dengan wajah penuh diliputi napsu

membunuh.

Baru saja ia bicara sampai disitu pedang Ciang Liong

Kiam sudah dicabut ditangan, sedang sang wajahpun

dilintasi oleh selapis napsu membunuh yang belum pernah

diperlihatkan selama ini.

Benar! Pek Thian Ki sudah dibuat gusar pula, ia sama

sekali tidak saling mengenal dengan Kiam Kok Kokcu,

Tindakan dari anak murid orang-orang Lembah Kiam Kok

ini jelas hendak mencari sengketa dengan dirinya.

“Saudara, aku lihat lebih baik ikuti kami saja berangkat

ke Lembah Kiam Kok. . .” seru si San Hoa Kiam Khek lagi

sambil tertawa hambar.

“Tidak dapat!”

“Kalau begitu, akan kulihat sebenarnya saudara

mempunyai kepandaian andalan seberapa lihay. . .”

Belum habis ia berkata bayangan manusia sudah berkelebat

lewat, pedangnya langsung menusuk dada Pek Thian Ki.

Setelah San Hoa Kiam Khek turun tangan, ketujuh orang

jago pedang lainnya pun laksana kilat masing-masing

mengirim sebuah serangan kedepan.

Bab 27

Tiba-tiba. . .

Pek Thian Ki membentak keras, pedang Ciang Liong

Kiam-nya disapu keluar, terlihatlah cahaya tajam

menyambar lewat, Ia sudah melancarkan jurus pertama dari

ilmu pedang ‘Ciang Liong Kiam Hoat’.

Ilmu pedang ‘Ciang Liong Kiam Hoat’ ini merupakan

kepandaian andalan dari pemimpin sembilan jagoan pedang

dari kolong langit, kedahsyatannya luar biasa, hanya

didalam sekali kelebatan saja ia sudah berhasil menghalau

datangnya kedelapan buah serangan tersebut.

Suara bentakan itu muncul dari balik ruangan, dan

Cong-koan dari Istana Perempuan pun tahu-tahu sudah

munculkan dirinya ditengah kalangan, seraya menyapu

semua orang yang sedang bergebrak tegurnya;

“Apa yang hendak kalian lakukan disini?”

“Heeee. . .heeee. . .heeee. . . lebih baik kau bertanya

langsung dengan mereka saja.” sahut Pek Thian Ki dingin.

“Kawan, sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Kokcu dari Lembah kami ada urusan hendak mencari

saudara ini, tapi ia tidak suka mengikuti kami untuk

menghadap, terpaksa kami harus menggunakan kekerasan

untuk mengundang dirinya.”

“Urusan ini menyangkut persoalan pribadi kalian kawan!

Tindakanmu salah besar, haruslah kau ketahui setiap

kawan-kawan Kang-ouw dilarang melakukan pertarungan

dalam lingkungan Istana kami!”

“Kecuali kawan ini suka mengikuti kami berangkat ke

Lembah Kiam Kok!” kata San Hoa Kiam Khek kembali.

“Apakah kawan tidak pandang sebelah mata terhadap

Istana kami?”

“Soal ini bukan menyangkut soal memandang sebelah

mata atau tidak terhadap Istana kalian, sekalipun kawan ini

berada didalam Istana terlarang dari Maha Kaisar pun kami

juga sama saja akan menemui dirinya.”

“Heee. . .heee. . .heeee. . .sungguh besar lagak kalian,

entah kamu semua berasal dari perguruan mana?”

“Lembah Kiam Kok!”

“Apa? Lembah Kiam Kok?”

Tampaklah air muka sang Cong-koan tersebut berubah

hebat, kelihatan sekali ia merasa sangat jeri terhadap nama

besar dari Lembah Kiam Kok.

Keadaan tersebut langsung saja membuat hati Pek Thian

Ki merasa bergidik, diikuti dari atas wajahnya, terlintaslah

serentetan rasa gusar yang sukar dibendung. Cara paksaan

yang digunakan orang-orang ini, benar2 membangkitkan

hawa amarah dihati pemuda she Pek.

Setelah berhasil menenangkan hatinya, Ujar Cong-koan

dari Istana Perempuan itu lagi;

“Kiranya kawan-kawan dari Kiam Kok, selamat

bertemu, selamat bertemu, cuma. . .Kawan! Maukah kalian

memandang diatas wajah kami dan jangan bergebrak

didalam Istana Perempuan?”

“Kecuali saudara ini suka mengikuti kami pergi!”

“Jadi dengan demikian, kalian paksa aku harus turun

tangan?” bentak Pek Thian Ki teramat gusar.

“Sedikitpun tidak salah!”

“heeee. . .heeee. . . jangan dikata cuma sebuah lembah

Kiam Kok saja, sekalipun Kaisar sendiripun setelah aku Pek

Thian Ki bilang tidak pergi, tetap tidak pergi, bilamana

kalian tidak tahu diri, dan memaksa terus. . . Hee. . .heee. .

.hati-hati, aku orang she Pek akan melakukan

pembunuhan.”

“Kalau begitu kau boleh coba-coba!”

Tubuh si jagoan pedang Penyebar Bunga ini segera

menerjang maju kedepan, laksana sambaran kilat, ia

mengirim sebuah serangan dahsyat kearah pinggang Pek

Thian Ki.

Serangan tersebut segera disusul oleh tujuh orang lainnya

yang bersama2 menggerakkan pedangnya mengirim sebuah

serangan.

“Bagus sekali! Jadi kalian sungguh-sungguh mau cari

gara-gara dengan aku orang, akan kubunuh kalian semua!”

teriak Pek Thian Ki.

Bayangan manusia berkelebat lewat, pedang tahu-tahu

sedah berkelebat laksana seekor naga sakti. Pada saat ini

Pek Thian Ki ada maksud untuk melakukan serangan

mengadu jiwa, serangannya ini telah disisipkan pula tenaga

lweekang yang dimilikinya selama ini, sungguh amat luar

biasa.

“Criiiiing!” suara bentrokan keras memecahkan

kesunyian disusul percikan bunga api menyebar keempat

penjuru.

Delapan bilah pedang bersama-sama kena tersapu pental

oleh datangnya serangan dari Pek Thian Ki ini, sedang

pemuda tersebut mengambil kesempatan itu melanjutkan

kembali terjangannya kemuka.

Suara jeritan ngeri bergema memenuhi angkasa, seorang

jagoan pedang yang tidak keburu menyingkir kena terbabat

pedang lawan, sehingga rubuh binasa dengan bermandikan

darah.

“Ayooh! Siapa lagi yang tidak takut mati, boleh maju

coba-coba ketajaman pedangku!” teriak pemuda tersebut

dengan sepasang mata memancarkan cahaya penuh napsu

membunuh.

“Bangsat cilik, aku adu jiwa dengan kau orang!” teriak

San Hoa Kiam Khek pula dengan kalap ketika dilihatnya

seorang jagoan pedang yang ia bawa mati terbunuh.

Cahaya pedang berkelebat bagaikan pelangi, dengan

jurus ‘Man Thian Hoa Im'(Seluruh Angkasa Bayangan

Bunga), ia serang tubuh pemuda she Pek ini.

Dengan munculnya maksud untuk mengadu jiwa dari

sang pemimpin, sisanya beberapa orangpun bagaikan

banteng terluka bersama-sama menubruk maju kedepan.

Seketika itu juga bayangan manusia saling menyambar,

bayangan pedang berkelebat memenuhi angkasa. Suara

jeritan ngeri kembali berkumandang menembusi awan, tiga

orang jagoan pedang dari Lembah Kiam Kok menemui

ajalnya dengan sangat mengerikan ditangan Pek Thian Ki.

Seluruh peristiwa ini hanya terjadi dalam waktu yang

amat singkat, Pek Thian Ki yang sudah terpengaruh oleh

napsu membunuh, tidak kepalang tanggung lagi, segera

membuka suatu kalangan penjagalan secara besar-besaran.

Yang mati pada menggeletak diatas tanah, sedang yang

masih hidup bagaikan kalap menerjang maju terus kedepan.

“Kalian cari mati?” bentak sang perjaka teramat gusar.

Pedangnya digetarkan keras, dimana bayangan pedang

berkelebat lewat beruntun, ia mengirim tiga buah serangan

gencar, Tiga rentetan jeritan kesakitan berkumandang lagi

diangkasa diikuti robohnya tiga orang menggeletak ditanah.

Melihat anak buahnya banyak yang sudah roboh

bermandikan darah, San Hoa Kiam Khek menjerit aneh,

seranganya dipertingkat, tubrukannya kearah Pek Thian Ki

pun semakin ganas.

Seraya menangkis datangnya serangan gencar dari San

Hoa Kiam Khek, pemuda ini kembali menegur; “Kau betulbetul

cari mati?”

“Tidak salah. . .”

Baru saja perkataan terakhir meluncur keluar, serangan

pedang dari pemuda itu sudah menyambar datang. Suara

jeritan kesakitan langsung meluncur keluar dari bibirnya,

tidak ampun lagi lengan kanannya tertembus oleh tusukan

pedang lawan.

Seketika itu juga darah segar mengucur keluar sangat

deras, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat sedang

keringat dingin sebesar kacang kedelai mengucur keluar

membasahi bajunya.

“Ayoh cepat enyah dari sini dan beritahu kepada Kokcu

kalian!” bentak Pek Thian Ki keras, “Katakan aku orang she

Pek tidak suka menerima perintah maupun petunjuk dari

siapapun, Jika ada waktu luang lebih baik ia sendiri yang

keluar untuk menemui diriku.” Sehabis berkata, ia

masukkan pedangnya kedalam sarung.

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu penghinaan

bagi San Hoa Kiam Khek, saking khekinya, hampir-hampir

saja ia jatuh semaput.

Bukan saja orang yang dimaksud tak berhasil datang,

bahkan keenam orang anak buahnya sama-sama menemui

ajal ditangan orang itu, Saking tak tahan menyimpan rasa

dongkolnya, ia tertawa seram;

“Kokcu kami tentu akan mencari saudara untuk

menuntut balas hutang2 berdarah kita kali ini.” Selesai

bicara bagaikan anjing kena digebuk, dengan sipat kucing ia

melarikan diri terbirit2 dari sana diikuti seorang anak

buahnya yang beruntung lolos dari cengkeraman elmaut.

“Waaduuh. . .waaduh. . . ilmu pedang yang saudara

mainkan barusan ini jauh lebih sempurna dari pada

permainan Ciang Liong Kiam Khek sendiri,” tiba2 si tamu

pencari bunga itu berseru memuji.

Mendengar perkataan tersebut, Pek Thian Ki merasa

sangat terperanjat, karena cukup ditinjau dari perkataannya

ini jelas menunjukkan bila si tamu pencari bunga itu bukan

manusia sembarangan.

Pemuda she Pek ini rada tertegun dibuatnya; “Cianpwee,

apakah kau kenal dengan Ciang Liong Kiam Khek?”

“Tidak kenal. . .?”

“Lalu, secara bagaimana kau bisa tahu kalau ilmu

pedang yang aku mainkan adalah ilmu pedang Ciang Liong

Kiam Hoat?”

“Pedang itu adalah sebilah pedang Ciang Liong Kiam,

sudah tentu ilmu pedang yang kau mainkan adalah ilmu

pedang Ciang Liong Kiam Hoat!”

Jawaban ini walaupun tidak sesuai, tapi untuk beberapa

waktupun Pek Thian Ki tidak berhasil mencari alasan yang

lain untuk membantah jawabannya itu.

Pek Thian Ki tertawa dingin, ia tidak menggubris diri si

tamu pencari bunga itu lagi, kepalanya berpaling kearah

sang Cong-koan dari Istana Perempuan.

“Apakah kau sudah berhasil pecahkan jurus seranganku

itu?” tanyanya.

“Tidak!”

“Kalau begitu kau harus serahkan It Peng Hong

kepadaku!”

“Soal ini. . .”

“Aku hendak bawa ia pergi dari sini!”

“Apa? Saudara hendak membawa pergi nona It Peng

Hong?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Tidak bisa jadi, dalam Istana kami tiada peraturan

semacam ini.”

“Sekalipun tidak bisa jadi, kali ini harus dibisa-bisakan.”

teriak sang pemuda dengan air muka berubah hebat.

“Kau. . .kau. . . apa yang hendak kau lakukan?”

“Congek! Bukankah tadi sudah aku katakan, nona

tersebut hendak aku bawa pergi?”

“Jika kami tidak mengijinkan?”

“Tidak mengijinkan?” tak kuasa lagi Pek Thian Ki

tertawa dingin tiada hentinya. “Aku takut Istana

Perempuan ini tak bisa meloloskan diri dari kehancuran.”

Air muka siwanita setengah baya yang bertindak sebagai

Cong-koan itu langsung berubah hebat, jelas sekali maksud

dari pemuda itu, jikalau ia tidak suka menyerahkan It Peng

Hong kepadanya, maka pemuda tersebut akan turun tangan

menghancurkan Istana itu.

“Giok Mo Hoa! Jikalau orang ini sudah mengucapkan

kata-katanya, kenapa kau tidak pikir2 dulu, dengan masak.”

Tiba-tiba si tamu pencari bunga itu berseru.

Dengan perasaan bergidik, sang Cong-koan Giok Mo

Hoa melirik sekejap kearah Pek Thian Ki; “Kapan kau

hendak minta nona It Peng Hong?”

“Ini hari juga!”

“Baiklah! Biar aku laporkan dulu urusan ini kepada

Pemilik Istana, kemudian baru memberi jawaban kepada

saudara.” Habis berkata, ia lantas berlalu dari sana.

Menanti wanita setengah baya itu sudah lenyap dari

pandangan, si tamu pencari bunga kembali buka suara;

“Eeeei. . . bocah cilik, apakah kau benar2 bernama Pek

Thian Ki?. . .” tegurnya.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Aku rasa hal ini tidak mungkin. . .”

“Apa maksud perkataanmu itu?” Seketika itu juga air

muka Pek Thian Ki berubah hebat.

Si tamu pencari bunga itu tersenyum;

“Saudara, kau jangan menyalah artikan maksudku,

maksudku namamu yang sebenarnya pasti bukan Pek Thian

Ki!”

“Apa alasanmu?” seru perjaka itu kembali dengan hati

dak dik duk.

“Pertama, Pek Thian Ki adalah si Sin Mo Kiam Khek,

salah satu dari Sembilan jago pedang dari kolong langit. . .”

Mendengar perkataan tersebut sekali lagi Pek Thian Ki

merasakan hatinya berdesir, Sekarang, agaknya ia mulai

merasa bahwa namanya yang sesungguhnya bukan Pek

Thian Ki, dan orang yang benar-benar bernama Pek Thian

Ki adalah si Sin Mo Kiam Khek itu. Lalu apakah dirinya

sungguh-sungguh bernama Kiang To?

“Lalu apa alasanmu yang kedua?” desaknya lebih lanjut.

“Kedua, watak maupun wajahmu mirip seseorang?”

“Siapa?”

“Kiang Lang. . .”

“Aaaach! Beberapa patah kata ini tidak akan terlepas

bagaikan godam berat yang menghajar hatinya, membuat

seluruh badan pemuda ini kelihatan gemetar keras.

“Kau pernah berjumpa dengan ‘Sam Ciat Sin Cun’ Kiang

Lang?. . .” tanyanya tercenggang.

“Hmm! Pernah berjumpa beberapa kali.”

“Bagaimanakah macam orang itu?”

“Kau ingin tahu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

Si tamu pencari bunga itu segera tertawa; “Kalau begitu,

kau boleh pergi mencari Sin Si-poa, kemungkinan besar ia

bisa memberitahukan kesemuanya ini kepadamu dengan

sangat jelas.”

“Dia?”

“Tidak salah! Kau harus pergi mencari dirinya!”

Bicara sampai disitu, mendadak si tamu pencari bunga

itu mencelat ketengah udara, kemudian dalam beberapa kali

kelebatan saja sudah lenyap dari pandangan.

Dengan hati terperanjat Pek Thian Ki berdiri mematung

ditengah kalangan. Hatinya pada saat ini mulai bergolak

keras, ia mulai berpikir, apakah ‘Sam Ciat Sin Cun’ Kiang

Lang benar2 ayahnya? Benarkah dirinya bernama Kiang

To?

Tubuhnya dengan cepat mencelat kemuka, kemudian

meluncur keluar dari pintu besar, saat itu juga ia ingin

mencari tahu urusan ini sehingga jadi sejelas-jelasnya.

Ketika ia tiba didepan pintu Istana Perempuan,

ditemuinya si Sin Si-poa masih duduk2 dibawah pohon Liu,

pemuda ini tertawa dingin, sekali loncatan, ia melayang

kehadapannya.

“Eeeei. . . si kurus Bay-kut, apa maksudmu datang

kemari?” tegur si Sin Si-poa sambil melirik sekejap kearah

Pek Thian Ki.

“Cari kau orang!”

“Mau apa? ooouw. . . mau meramalkan nasibmu?”

Pek Thian Ki mendengus dingin.

“Sin Si-poa, kau jangan berlagak pilon lagi, aku mau

bertanya kepadamu, macam apakah manusia yang bernama

‘Sam Ciat Sin Cun’ itu? Apa hubungannya antara dia

dengan aku orang?”

“Bagaimana aku bisa tahu?”

“Jadi kau tidak suka berbicara terus terang?”

“Aku tidak tahu tentang urusan ini, Kau suruh aku

menjawab secara bagaimana?”

“Jikalau kau orang tidak suka bicara terus terang, aku

segera akan berlaku tidak sungkan-sungkan lagi terhadap

dirimu.” teriak sang perjaka dengan air muka berubah

hebat.

Mendadak Sin Si-poa mengambil pit-nya dan menulis

beberapa patah kata diatas kertas.

“Besok pagi datanglah keperkampungan Lui Im Sancung!”

Ditangannya ia menulis sedang diluar bibir ujarnya:

“Bangsat cilik, kau benar-benar mengajak aku bergurau,

bagaimana aku bisa berbicara jikalau aku tidak tahu?”

Pek Thian Ki yang bisa membaca surat tersebut, air

mukanya berubah semakin menghebat, karena ketidak suka

bicaranya Sin Si-poa tentu ada sebab-sebab tertentu!

Bahkan urusan ini kemungkinan besar menyangkut pula

tentang diri Hu Toa Kan itu, cungcu dari Lui Im San-cung.

Sudah tentu Pek Thian Ki mengetahui maksud pihak

lawan, ia lantas manggut.

“Baiklah. . .”

“Begitulah baru benar!”

Mendadak sepertinya Pek Thian Ki telah teringat akan

sesuatu urusan, tiba-tiba tanyanya;

“Eeeei. . . kertas yang kau suruh aku sampaikan kepada

Suma Hun sebenarnya berisikan tulisan apa saja?”

“Besol lusa siang hari berjumpa ditelaga Hiat Swi Thau.

Kecuali itu tak ada tulisan lainnya lagi.”

“Tulisan itu kau orangkah yang menulis?”

“Bukan!”

“Siapa?”

“Seseorang! Jika kau ada minat untuk melihat keramaian

datang saja kesana, Bukankah dengan jelas sekali kau bisa

melihat siapakah orang itu?. . .”

“Bagus sekali, ada kesempatan aku pasti akan pergi

kesana.”

“Bilamana tak ada urusan, kau boleh berlalu. . . aku

sedang menantikan kedatangan seseorang. .”

Belum habis Sin Si-poa berbicara, tiba-tiba serentetan

suara yang amat dingin sudah berkumandang datang; “Sin

Si-poa, seperti apa yang kau tulis diatas kain ini, jika benar2

tidak cocok apakah batok kepalamu sungguh-sungguh

hendak kau hadiahkan?. . .”

Suara itu muncul secara mendadak, sehingga membuat

sang pemuda she Pek ini merasa amat terperanjat, dengan

cepat ia menoleh.

Dilihatnya seorang pemuda berpakaian perlente dengan

langkah yang lambat sedang berjalan mendekat.

Sin Si-poa tertawa; “Sedikitpun tidak salah.”

“Kalau begitu bagus sekali,” seru sang pemuda sambil

tertawa hambar. “Sekarang kau boleh hitungkan nasibku.

Jika tidak benar. . .heee. . heeee. . heee. . .akan kutabas

batok kepalamu.”

“Tak ada persoalan, siapakah namamu?”

NYioo It Hong, tahun ini berusia dua puluh tahun, lahir

tanggal tiga bulan lima, aku ingin kau bacakan

pengalamanku semasa yang lalu.”

“Coba keluarkan tangan kirimu.”

Si pemuda berpakaian perlente itu keluarkan tangan

kirinya, Sin Si-poa segera mencekal dan diperiksanya

guratan-guratan yang ada ditangan pemuda tersebut.

Melihat munculnya sang pemuda berbaju perlente itu

sangat aneh, tak terasa lagi Pek Thian Ki berpikir dalam

hatinya;

“Apakah orang yang sedang ditunggu Sin Si-poa adalah

orang ini?” Belum habis berpikir, terdengar Sin Si-poa

sedang berkata;

“Saudara, bolehkah aku orang bicara secara terus

terang?”

“Sudah tentu!”

“Baik. . baik. . saudara adalah seorang anak tunggal,

sejak umur dua tahun sudah angkat guru. .”

“Aku angkat guru dengan siapa?”

“Soal ini sih susah dihitung, pada usia sembilan belas

tahun kau munculkan diri didalam dunia kang-ouw dan

tindakanmu ini memperoleh tantangan keras dari sang ibu,

watakmu sangat kasar, bahkan mendekati buas dan keji. . .”

“Lantas bagaimana selanjutnya?”

“Dengan watakmu ini sekalipun kau merupakan seorang

jagoan Bu-lim yang berbakat, tapi tidak begitu bagus, lain

kali kemungkinan besar akan mendatangkan bencana

kematian ditangan orang. .”

“Sudah selesai kau berbicara?”

“Ehmmm! Selesai sudah!”

“Heee. . .heee. . .heee. . .sungguh sayang apa yang kau

hitung sedikitpun tidak tepat.”

“Bagaimana yang kau anggap tidak tepat?”

“Ayah ibuku sudah dibunuh mati oleh musuh!”

“Siapakah musuh besarmu?”

“Soal ini kau tidak perlu tahu!” ia merandek sejenak,

kemudian bentaknya keras.

“Sekarang serahkan batok kepalamu!”

“Aku katakan apa yang aku ramalkan adalah cocok, tapi

kau ngotot bilang tidak cocok, urusan ini adalah suatu

peristiwa yang tak bisa diselesaikan dengan baik!”

“Omong kosong, aku yang alami, sudah tentu aku tahu

cocok atau tidak cocok, ayoh serahkan batok kepalamu.”

“Heeei. . .soal ini terpaksa harus terserah kepada dirimu

sendiri, suka percaya atau tidak!”

Air muka Nyioo It Hong berubah hebat, “Jadi kau paksa

aku harus turun tangan sendiri untuk tabas batol kepalamu

itu?” teriaknya.

Ditengah suara bentakan keras, tubuhnya meloncat

kedepan seraya melancarkan satu serangan gencar, Melihat

datangnya serangan si Sin Si-poa tertawa.

“Saudara, apa yang kau kehendaki?”

“Menginginkan batok kepalamu! Sebagaimana yang

telah kau janjikan.”

“Jikalau demikian adanya, mari! Ambillah sendiri batok

kepalaku!”

Jawaban dari Sin Si-poa ini jauh berada diluar dugaan

orang lain, Nyioo It Hong tertawa dingin;

“Heee. . .heee. . .heee. . bagus sekali! Apa kau anggap

aku tidak becus untuk turun tangan tabas sendiri batok

kepalamu?”

Badannya mencelat dua kaki tingginya ketengah

angkasa, diikuti tangan kanannya diayun kemuka

melancarkan satu serangan dahsyat kearah Sin Si-poa

dengan gerakan yang aneh tapi cepat.

“Hmm! Bangsat cilik, kau cari mati?” teriak Sin Si-poa

ketus sewaktu dilihatnya orang itu melancarkan serangan

dahsyat.

Bayangan manusia berkelebat lewat, iapun sudah

mengirim satu pukulan mengunci datangnya serangan

lawan. Masing2 melancarkan serangannya dengan

kecepatan laksana sambaran petir, begitu Nyioo It Hong

menyerang, angin pukulan Sin Si-poa-pun sudah

menyambar datang.

“Brak. .!” suara bentrokan keras memecah kesunyian

sehingga menimbulkan ber-puluh2 buah desiran tajam

menyebar kesamping, sebuah meja yang ada disisi

kalangan, langsung terhajar hancur berantakan berkepingkeping.

Terlihat Nyioo It Hong tergetar mundur sejauh satu

tombak, sedangkan Sin Si-poa terpukul mundur sejauh tiga

empat langkah kebelakang.

Diam-diam Nyioo It Hong merasa sangat terperanjat, tak

terasa lagi, ia berseru; “Oooouw. . .! Sungguh dahsyat

kepandaian silat yang kau miliki!”

“Heee. . .heeee. . .heee. . .kepandaianmu-pun lumayan

juga hebatnya!” seru situkang ramal pula dengan cepat.

“Mana. . .mana. . .”

Begitu ucapan selesai diutarakan, sekali lagi Nyioo It

Hong mencelat keangkasa kemudian melancarkan sebuah

serangan yang dahsyat kearah siorang tua itu.

Sin Si-poa pun tidak mau menunjukkan kelemahannya,

ia segera menggerakkan tangan menangkis, dengan

demikian terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit

ditengah kalangan tersebut.

Mendadak. . . Suara bentakan nyaring bergema datang

disusul munculnya sesosok bayangan hitam langsung

menubruk kearah tubuh Sin Si-poa.

“Braaaaak!. . . . Aduuuuuh. . . .” Ditengah berpisahnya

bayangan manusia, tubuh Sin Si-poa mencelat ketengah

angkasa, kemudian terbanting sangat keras diatas tanah,

darah segar memuncrat keluar dari mulutnya.

Sedangkan siorang berbaju hitam itu sendiri setelah

berhasil menghajar luka si Sin Si-poa, dengan gerakan yang

cepat, segera melayang pergi dari sana. dalam sekejap mata

telah lenyap dari pandangan.

Kecepatan gerak dari siorang berbaju hitam itu benarbenar

membuat orang menjulurkan lidah, sehingga

bagaimanakah wajah dari orang itu, tak seorangpun yang

dapat melihat jelas.

Pada saat Sin Si-poa muntah darah dan roboh keatas

tanah itulah. . . Tiba-tiba Nyioo It Hong majukan diri

mengirim satu pukulan menghajar tubuh Sin Si-poa.

Serangannya ganas dan telengas sedikitpun tidak

meninggalkan perasaan peri kemanusiaan.

Belum sampai telapak tangannya menempel diatas badan

mangsanya, bayangan manusia kembali berkelebat lewat,

Pek Thian Ki tahu-tahu sudah menerjang datang sambil

mengirim satu serangan dahsyat kearah Nyioo It Hong.

“Tahan!” bentaknya keras.

–oodwoo–

Jilid 10

Bab 28

SANG TELAPAK dibabat kemuka, lalu mengunci

datangnya pukulan lawan, dengan sangat tepat ia berhasil

menolong Sin Si-poa, lolos dari lubang jarum.

Melihat pemuda she Pek itu ikut campur, air muka

Nyioo It Hong langsung berubah hebat, “Apa yang kau

kehendaki?” bentaknya gusar.

“Heeee. . .heeee. . .heeee. . .saudara, ia sudah menderita

luka parah, mengapa kau begitu pengecut, beraninya turun

tangan terhadap seseorang yang berada dalam keadaan

bahaya?” jengek Pek Thian Ki sambil tertawa dingin.

“Hmmm! Itu urusanku dan kau tidak berhak untuk ikut

campur, ayoh, enyah dari sini! Kalau tidak. . . heee. . .heee.

. . aku orangpun tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi

terhadap dirimu.

“Oooouw. . . jika begitu, mari kita coba-coba dulu.”

Nyioo It Hong betul-betul merasa teramat gusar

badannya melayang kemuka, telapak kanan dibalik

mengirim segulung angin pukulan yang men-deru2 kearah

Pek Thian Ki.

Pemuda she Pek dengan sebat menangkis datangnya

pukulan, telapak tangan kiripun mengambil kesempatan itu

balas melancarkan satu pukulan dahsyat.

Gerakan dari kedua orang ini sama-sama dilakukan

dalam kecepatan laksana sambaran kilat, hanya dalam

sekejap mata, puluhan jurus sudah berlalu tanpa berhasil

menentukan siapa menang dan siapa yang kalah.

Tiba-tiba Pek Thian Ki membentak keras, dengan

gencarnya, ia mendesak dua pukulan dahsyat kearah

musuhnya. Kedua buah serangan ini langsung memaksa

Nyioo It Hong terdesak mundur beberapa puluh langkah

kebelakang.

“Sebetulnya siapakah kau?” bentaknya keras.

“Siapakah aku, rasanya kau tidak berhak untuk

mengetahuinya, buat apa kau orang banyak bacot yang tak

berguna?”

“Apakah diantara kau dengan situkang ramal itu ada

terikat dendam sedalam lautan?”

Nyioo It Hong menggeleng.

“Siapakah siorang berbaju hitam yang munculkan diri

dengan kecepatan luar biasa itu?”

“Aku tidak kenal dengan orang itu, bagaimana bisa tahu

siapakah dirinya?. . .”

“Baiklah! Aku orang she Pek katakan dulu, jikalau kau

berani membokong dia orang dengan mengambil

kesempatan sewaktu ia sedang menderita luka dalam, maka

aku Pek Thian Ki tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi

terhadap dirimu.”

Diatas selembar wajah sang pemuda berbaju perlente itu

terlintaslah suatu senyuman dingin yang menggidikkan.

“Baiklah! Untuk sementara kita sudahi dulu urusan kita

sampai disini, lain kesempatan kita berjumpa kembali.”

Habis berkata, ia putar badan dan berlalu.

Tindakan dari sang pemuda berpakaian perlente itu

kontan saja membuat Pek Thian Ki jadi berdiri melengak.

Waktu itu Sin Si-poa yang menggeletak diatas tanah

sedikitpun tidak bergerak, air mukanya pucat pasi bagaikan

mayat, sepasang mata terpejam rapat-rapat dan darah segar

meleleh keluar dari ujung bibirnya.

Pek Thian Ki kertak gigi kencang-kencang, ia salurkan

tenaga lweekangnya kesepasang telapak kemudian bagaikan

sambaran kilat mencengkeram urat nadi dari si Sin Si-poa

tersebut, tapi belum sempat tangannya menempel ditangan

pihak lawan, mendadak serentetan suara bentakan yang

dingin berkumandang datang;

“Tahan!”

Mendengar bentakan tersebut, Pek Thian Ki merasakan

hatinya bergidik, buru-buru ia tarik kembali tangannya

kebelakang.

“Siapa?” bentaknya tak terasa.

Suara senyuman dingin bergema kembali dari arah

belakang, dengan sebat pemuda ini putar badan. Dilihatnya

kurang lebih tiga tombak dibelakang dirinya telah berdiri si

bayangan hitam yang baru saja munculkan dirinya itu

dengan sikap keren dan menyeramkan. Tanpa terasa Pek

Thian Ki merasakan seluruh badannya merinding.

Kembali orang itu memperdengarkan suara tertawa

dinginnya yang sangat menyeramkan; “Heee. . .hee . .heeee.

.saudara! Hampir-hampir saja aku melupakan dirimu,

bukankah kau bernama Pek Thian Ki?”

“Sedikitpun tidak salah, entah siapakah kau orang?”

“Siapakah aku, rasanya kau tidak perlu tahu, sekarang

aku mau bertanya, apakah kau bermaksud pergi menyewa

rumah tersebut?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Kalau begitu, akan kubunuh kau orang. . .” Sembari

berbicara selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati

Pek Thian Ki.

Walaupun dirinya didesak, sang perjaka ini sedikitpun

tidak menunjukkan sikap jeri.

“Tadi Sin Si-poa pernah berkata bahwa ia sedang

menunggu kehadiaran seseorang, mungkin kau orangkah

yang ia tunggu?” balik tanyanya.

“Dugaanmu sedikitpun tidak salah!”

“Mengapa?”

“Heee. . . heee. . . heee. . . soal ini tiada sangkut paut

dengan dirimu, dan kaupun tak ada kepentingan untuk

mengetahui persoalan ini.”

“Tapi aku harus mengetahuinya. . . aku ingin kau sendiri

yang memberi keterangan kepadaku.”

“Kalau begitu, kau boleh coba-coba saja. . .” Belum habis

ia berkata, sang badan sudah menubruk kedepan, dimana

bayangan manusia berkelebat lewat, ia sudah mengirim satu

pukulan yang dahsyat kedepan.

Pek Thian Ki pun membentak keras, telapak tangannya

membentuk gerakan setengah lingkaran ditengah udara,

kemudian diayun kedepan menyambut datangnya serangan

tersebut.

Pada saat kedua orang itu sedang melangsungkan suatu

pertarungan yang maha sengit tiba-tiba sesosok bayangan

manusia laksana sambaran petir meluncur kearah Sin Sipoa

dan didalam sekali kelebatan, ia sudah berhasil

mencengkeram tubuh siorang tua tersebut.

Ketika itu antara Pek Thian Ki dengan si bayangan

hitam tersebut sudah saling mengirim satu pukulan dan

masing-masing pihak terpental mundur kebelakang.

Air muka Pek Thian Ki berubah pucat pasi bagaikan

mayat, sedang orang itupun kedengaran ngos2an, Jelas

masing-masing pihak tidak berhasil memperoleh

keuntungan dalam bentrokan barusan ini.

Tapi ketika mereka lihat disisi kalangan telah bertambah

lagi dengan kehadiran seseorang, baik Pek Thian Ki

maupun siorang berbaju hitam itu, sama-sama menjerit

keras.

Pertama-tama Pek Thian Ki yang mengenali dahulu

siapakah orang itu, karena ia sudah sering ditemuinya, yaitu

sang pemuda misterius Cu Tong Hoa adanya.

Cu Tong Hoa yang penuh diliputi kemisteriusan,

kambali munculkan diri disana. Diatas selembar wajahnya

penuh diliputi napsu membunuh.

“Saudara, jika tahu diri, aku nasehati dirimu lebih baik

letakkan kembali orang itu keatas tanah.” bentak siorang

berbaju hitam itu dengan suara yang dingin menyeramkan.

“Heee. . .heee. . . kau anggap aku suka mendengarkan

perintahmu dengan begitu gampang? Jangan mimpi disiang

hari bolong!”

“Bangsat! Sungguh besar nyalimu, siapakah kau? Mau

cari mati haah?”

“Oooouw. . . kau ingin tahu siapakah aku orang?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Bagus sekali.” seru Cu Tong Hoa sinis, ia berpaling

kearah pemuda she Pek itu, lalu katanya;

“Thian Ki, coba kau jaga dulu orang ini, akan

kuberitahukan kepadanya siapakah aku orang sebenarnya!”

Seraya berkata, ia lemparkan tubuh Sin Si-poa kearah sang

pemuda, kemudian dari sakunya mengambil keluar tiga

batang seruling perak.

Salah! Bukan seruling perak, karena benda tersebut tidak

bertulang!

Tampak Cu Tong Hoa menggetarkan tangan kanannya,

tabung perak tersebut mendadak menekuk dan akhirnya

membelah jadi tiga bagian yang saling sambung

menyambung.

“Aaaaach! Kau. . .” Tiba-tiba siorang berbaju hitam itu

menjerit keras, Berturut-turut ia mundur tiga empat langkah

kebelakang dengan sempoyongan, seluruh tubuhnya seperti

kena stroom bertegangan tinggi, gemetar keras sekali.

Melihat kejadian itu, Pek Thian Ki jadi dibuat

tercengang dan berdiri me-longo2 ditempat semula, lama. . .

lama sekali, ia baru berguman seorang diri: “Thian!

Siapakah sebenarnya dia orang? Gadis ini betul-betul sangat

misterius!”

“Rasanya kau sudah tahu siapakah aku bukan?” bentak

Cu Tong Hoa dengan dingin.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Siapakah dia?” Tiba-tiba Pek Thian Ki ikut menimbrung

dari samping kalangan.

Pada saat sang pemuda she Pek menimbrung itulah Cu

Tong Hoa sudah mengayunkan senjata Sam Ciat Tong-nya

kedepan; “Siapa yang mengetahui asal-usulku, dia tak boleh

dibiarkan hidup,” teriaknya seram.

Bayangan tubuh berputar gencar, diikuti oleh

berkelebatnya cahaya putih yang menyilaukan mata, Tubuh

Cu Tong Hoa laksana kilat menubruk kearah siorang

berbaju hitam itu.

Bukan saja asal-usul dari pemuda she Cu ini merupakan

suatu misteri, bahkan belum tahu siapakah sebenarnya

orang ini.

Apalagi kepandaian silatnya sangat lihay, soal ini

semakin merupakan suatu teka-teki yang tak terpecahkan

lagi.

Gerak serangan yang ia lancarkan barusan ini benarbenar

dahsyat dan lebih cepat beberapa kali lipat daripada

gerakan tubuh dari Pek Thian Ki sendiri.

Senjata Sam Ciat Tong laksana kilat dengan

memancarkan cahaya keputih-putihan berturut-turut

mengirim tiga buah serangan gencar kemuka.

Entah disebabkan kepandaian silat yang dimiliki siorang

berbaju hitam ini sungguh-sungguh bukan tandingan dari

Cu Tong Hoa, ataukah karena ia merasa terkejut dan

ketakutan, sehingga susah gerakkan badan, yang nyata

dibawah desakan tiga buah serangan manusia she Cu ini

siorang tua berbaju hitam itu ber-turut2 terdesak mundur

sepuluh langkah lebih kebelakang.

Pek Thian Ki yang melihat kejadian ini, kontan saja

merasakan hatinya bergidik. Ketika itulah. .

Diiringi suara bentakan keras, bayangan tubuh Cu Tong

Hoa bagaikan lintasan listrik kembali mengirim lima buah

serangan berantai. Jurus serangannya cepat dan aneh, setiap

tindakannya telengas, keji dan buas.

Agaknya siorang berbaju hitam itupun sudah timbul

maksud untuk mengadu jiwa, membarengi gerakan dari Cu

Tong Hoa, ia sendiripun balas melancarkan dua buah

serangan dahsyat.

Suatu pertempuran sengit yang mempertaruhkan

jiwapun segera berlangsung. . . siapa menang, dia yang

hidup dan siapa yang kalah, dialah yang bakal menemui

ajal seketika itu juga.

Sekonyong-konyng. . . .

Serentetan suara bentakan keras bergema memecahkan

kesunyian, tampak bayangan putih berkelebat lewat disusul

jeritan ngeri bergema mendirikan bulu roma, siorang

berbaju hitam itu dengan sempoyongan mundur berpuluhpuluh

langkah kebelakang, kemudian roboh keatas tanah

dengan napas kembang-kempis.

Dengan sebat, Cu Tong Hoa meloncat kedepan

memapah badannya yang hampir mencium tanah itu.

“Siapakah kau? Ayoh jawab!” bentaknya keras.

“Tiii. . .tidak tahu!”

“Bangsat! Kau orang sungguh-sungguh tidak mau buka

suara?”

“Dugaanmu sedikitpun tidak salah.”

Perlahan-lahan diatas selembar wajah Cu Tong Hoa

terlintaslah napsu membunuh yang menggidikkan hati,

kembali bentaknya keras; “Berasal dari perguruan manakah

kau orang?”

“Maaf! Soal inipun tak bisa aku terangkan.”

“Heee. . .heeee. . .heeee. . . sungguh-sungguh kau tidak

mau bicara?” teriak Cu Tong Hoa sambil tertawa dingin.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Bangsat. Kurang ajar, kau sungguh2 ingin cari mati?”

Begitu ucapan selesai diutarakan, senjata Sam Ciat Tong

ditangannya sudah membabat kearah bawah.

Suara jeritan ngeri berkumandang keluar, tubuh siorang

berbaju hitam itu dengan disertai muncratan darah segar

mengotori empat penjuru menggeletak mati diatas tanah

dalam keadaan yang sangat menyeramkan.

Pek Thian Ki yang melihat kejadian ini segera

merasakan seluruh badannya merinding, bulu kuduk pada

bangun berdiri, Perlahan-lahan Cu Tong Hoa mengalihkan

sinar matanya keatas tubuh pemuda she Pek itu, lalu

tegurnya dingin;

“Serahkan kembali orang itu kepadaku.”

Dari tengah keterkejutannya, Pek Thian Ki tersadar

kembali dari lamunan, air mukanya langsung ikut berubah

sedikit.

“Tunggu sebentar!”

“Apa yang kau kehendaki?”

“Cu Tong Hoa! Kau betul-betul mempunyai kemampuan

untuk pergi datang bagaikan angin puyuh! Ayoh bicara,

siapakah sebenarnya kau orang?”

“Sekarang bukan waktunya untuk membicarakan soal

ini, cepat serahkan orang itu ketanganku, agar aku bisa

memeriksa lukanya.” seru Cu Tong Hoa dengan air muka

berubah hebat.

“Jikalau kau tidak suka mengatakan siapakah dirimu,

Hmm! Jangan harap aku suka serahkan orang ini

ketanganmu.”

“Ooouw. . . kau tidak menginginkan nyawanya lagi?”

bentak manusia she Cu ini dingin. “Baiklah! Jikalau kau

tidak menginginkan lagi nyawanya, itupun tidak tersangkut

urusan pribadiku, terserah kau sendiri.” Tiba2 ia putar

badan dan berlalu dari sana.

“Berhenti!” bentak Pek Thian Ki mendadak.

“Ada apa lagi?”

Sekali loncat Pek Thian Ki sudah menghadang kembali

dihadapan Cu Tong Hoa.

“Jikalau kau tidak mengatakan siapakah kau orang.

Hmm! Jangan harap bisa lolos dari tanganku.”

“Apa yang kau inginkan?” Cu Ton Hoa tertawa hambar.

“Aku hanya ingin memaksa kau orang suka

memberitahukan kepadaku siapakah sebetulnya kau?”

“Seingatku, aku pernah memberitahukan urusan ini

kepadamu, bukan begitu?”

“Tidak salah, kau pernah memberitahukan kepadaku

siapakah dirimu, cuma aku rasa Majikan Istana Harta

bukan kedudukanmu yang sebenarnya.”

“Heeeee. . .heeee. . .heeee. . .soal ini mau percaya atau

tidak, itu terserah kepadamu.”

“Sewaktu masih berada didalam Istana Harta bukankah

kau pernah berkata bahwa kau ingin mencari aku dan

memberitahukan apa yang ingin aku ketahui. . .? Nah!

Sekarang bicaralah,” kata Pek Thian Ki kembali dingin.

Air muka Cu Tong Hoa perlahan-lahan mulai diliputi

napsu gusar, agaknya ia hendak mengumbar hawa

amarahnya. “Apakah kau sungguh-sungguh ingin

mengetahui urusan ini?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Baiklah!” kata Cu Tong Hoa kemudian seraya tertawa

dingin. “Jika kau ingin tahu, datangilah lembah Bu Cing

Kok digunung Pak Giok San besok pagi.”

“Mengapa harus tunggu sampai besok?”

“Karena tempat ini bukan tempat yang layak untuk

berbicara.”

“Heeee. . .heeee. . .heeee. . .kau jangan coba2

menggunakan siasat kepompong kosong melepaskan kulit,

aku Pek Thian Ki tak bakal terpancing oleh jebakanmu!”

Air muka Cu Tong Hoa langsung berubah hebat, napsu

membunuh mulai melintasi wajahnya, jelas gadis ini sudah

dibuat gusar oleh sikap Pek Thian Ki.

“Pek THian Ki, jikalau semisalnya aku berterus terang

memberitahukan keadaanku, siapakah sebetulnya diriku

apakah kau dapat percaya?”

Pek Thian Ki melengak, sedikitpun tidak salah, jikalau

semisalnya Cu Tong Hoa benar-benar memberitahukan

asal-usulnya, apakah ia bisa mempercayai kebenaran

tersebut sepenuhnya? Bagaimanapun juga ia pasti akan

menganggap perkataan dari gadis ini merupakan suatu tekateki

yang susah dipecahkan, Pertama, dia adalah pangcu

dari perkumpulan Pak Hoa Pang, Dan kedua, dia menyebut

dirinya sebagai Majikan Istana Harta.

Sekarang ia hendak memberitahukan lagi sebuah

kedudukannya, apakah ia bisa percaya? Teringat akan

persoalan ini, Pek Thian Ki menghela napas panjang.

“Heeei. . .! Sudahlah, aku tahu sekalipun aku ingin

mengetahui asal-usulmu juga percuma saja, karena dibalik

kesemuanya ini kau bisa menipu diriku dan aku tak bakal

mengetahui. Tapi ada satu hal yang tak dapat kau bohongi

lagi, yaitu kau adalah seorang gadis!”

“Sedikitpun tidak salah, aku memang seorang gadis.”

“Baiklah, asalkan aku Pek Thian Ki bisa mengingat-ingat

hal tersebut, cukuplah sudah.” Habis berkata, ia serahkan

Sin Si-poa ketangan Cu Tong Hoa kemudian putar badan

dan berlalu.

Kepergian Pek Thian Ki secara mendadak ini jauh

berada diluar dugaan Cu Tong Hoa, gadis tersebut

keliahatn rada melengak, lama sekali akhirnya ia berseru;

“Pek Thian Ki!”

Dengan cepat si pemuda menghentikan langkahnya, lalu

putar badan dan sinar matanya dialihkan keatas wajah Cu

Tong Hoa yang penuh diliputi kemurungan, kesal dan

kecewa.

Ia jadi melengak. “Kau masih ada urusan apa lagi?”

“Heeeee1. . . sebetulnya aku punya banyak urusan yang

tidak ingin mengelabui dirimu,” katanya seraya menghela

napas panjang, “Tapi, aku tak bisa tidak harus membohongi

kau orang, banyak urusan yang belum kau pahami,

demikian pula aku. . .”

“Maksudmu?”

“Pertama, aku tidak bernama Cu Tong Hoa, aku bukan

Tongcu urusan bagian luar dari perkumpulan pengemis

diluar perbatasan, juga bukan Pangcu dari Pak Hoa Pang,

aku bernama Cu Hoa, sedangkan mengenai kedudukanku

yang sebetulnya saat ini belum bisa kuberitahukan.”

“Mengapa?”

“Karena aku punya alasan untuk menjaga rapat2 rahasia

ini, karena hal ini mempunyai sangkut-paut yang sangat

penting dengan dirimu, cuma ada satu urusan aku beritahu

dulu kepadamu, yaitu antara Istana Arak, Istana Harta serta

Istana Perempuan sama sekali tiada sangkut-pautnya

dengan rumah yang hendak disewakan itu. . .”

“Siapakah majikan dari rumah tersebut?”

“Aku tidak tahu, sedang mengenai syarat-syarat yang

diajukan untuk menyewa rumah tersebut, mengapa sampai

menggandeng erat Istana Harta, Istana Arak serta Istana

Perempuan, hal inipun benar-benar merupakan suatu

persoalan yang sangat rumit.” Ia merandek sejenak untuk

mengambil napas, lalu sambungnya. “Disamping itu, aku

masih ada satu urusan lagi yang tak dapat membohongi

dirimu, yaitu sebelum Sin Mo Kiam Khek pergi menyewa

rumah tersebut pada bulan tiga tanggal tiga belas yang lalu,

ia memang benar2 pernah mendatangi Istana Harta untuk

menitipkan suatu barang.”

“Sebenarnya benda apakah itu?”

“Sudah aku katakan bahwa barang itu belum pernah

kulihat, dan sekarang urusan sudah jadi nyata sekali,

kemungkinan besar, kau adalah anak muridnya yang

dimaksudkan.”

“Dimanakah letak alasan-alasan tersebut?”

“Pertama, kau adalah satu-satunya pemuda yang muncul

didalam dunia kang-ouw satu tahun kemudian, Kedua,

namamu adalah Pek Thian Ki yang sebenarnya nama dari

Sin Mo Kiam Khek, agaknya didalam persoalan ini masih

tersembunyi suatu rahasia, sehingga ia harus

menyembunyikan nama aslimu dan memberikan namanya

kepadamu.”

“Apa tujuannya?”

“Inilah merupakan suatu persoalan yang susah

dijelaskan, cuma namamu yang sebenarnya adalah Kiang

To dan hal ini sudah pasti benar, karena pertama, sembilan

jagoan pedang dari kolong langit adalah kawan karib dari

Sam Ciat Sin Cun, Sin Mo Kiam Khek suruh kau mencari

orang yang bernama Kiang To itu sama saja suruh kau

mencari dirimu sendiri. . .”

“Walaupun soal ini ada kemungkinan yang benar, tapi

mengapa ia tidak memberitahukan kepadaku bahwa aku

adalah Kiang To? Mengapa ia perintahkan aku orang harus

pergi mencari, asal-usul seseorang yang bernama Kiang

To?”

“Karena asal-usulmu penuh dinodai oleh air mata dan

darah!”

“Air mata dan darah?”

“Benar, air mata dan darah, dan kisahnya sangat panjang

sekali, keadaan dari Sam Ciat Sin-cun memang penuh

diliputi oleh keanehan serta kemisteriusan, bagaimanakah

ia bisa mati atau benarkah ia belum mati, hingga saat ini

masih merupakan suatu teka-teki.”

“Siapakah nama isterinya?”

“Isteri dari Kiang Lang tidak hanya seorang saja.” sahut

Cu Tong Hoa dingin.

“Tidak cuma seorang saja? Lalu berapa?”

“Jikalau ditotal, semua kurang lebih ada lima orang!”

“Apa? Ia punya lima orang isteri?”

“Sedikitpun tidak salah, isteri pertamanya bernama Hu

Bei San, kedua adalah seorang perempuan misterius yang

bernama ‘Tiap Hoa Sianci'(Si Bidadari Kupu2 dan Bunga),

sedang sisanya tiga orang. . .”

“Siapakah ketiga orang itu?” potong sang pemuda cepat.

“Majikan dari Istana Harta Giok Mey Jin, Majikan

Istana Arak Cui Mey Jin serta Majikan Istana Perempuan,

Hoa Mey Jin.”

Pek Thian Ki betul-betul melengak dibuatnya. “Menurut

apa yang kau ketahui diantara kelima orang perempuan itu,

ia paling suka perempuan yang mana?”

“Menurut apa yang aku ketahui, tak seorangpun diantara

mereka yang dicintai benar-benar.”

Pek Thian Ki semakin dibuat bingung lagi oleh kejadian

ini, tampak ia berguman seorang diri; “Sebenarnya apa yang

telah terjadi?”

“Selama hidupnya Sam Ciat Sin-cun hanya pernah

mencintai seorang gadis saja, dan gadis tersebut dalam

hidupnya merupakan gadis yang dicintainya untuk yang

pertama kali. . .”

“Siapakah dia?”

“Kecuali Sam Ciat Sin-cun seorang, tak ada yang tahu,

tapi akhirnya entah karena apa, gadis ini telah

meninggalkan Kiang Lang tanpa sebab, sehingga karena

kejadian ini, maka setelah Sam Ciat Sin-cun berhasil

dengan ilmu silatnya, ia tidak pandang sebelah matapun

terhadap semua perempuan. . . .”

“Jadi, dia adalah seorang jahat?”

“Tidak jahat! Tidak jahat, ia cuma berwatak ku-koay saja

dan suka menyendiri, kepandaian silatnya sangat

menggetarkan seluruh dunia persilatan, sehingga akhirnya

dalam keadaan sedih, ia mendirikan tiga buah istana dan

setiap hari bergaul, bersenang-senang dibawah dekapan

perempuan, minum arak paling wangi. . .”

“Akhirnya?”

“Akhirnya ia lenyap tak berbekas.”

“Lenyap tak berbekas? Mana mungkin bisa terjadi

peristiwa semacam ini?”

“Benar. . . ia sungguh-sungguh lenyap tak berbekas, dan

karena hilangnya orang ini pernah menimbulkan

gelombang yang sangat dahsyat dalam Bu-lim, tak seorang

manusiapun yang tahu apa sebabnya ia bisa lenyap tak

berbekas.” Cu Tong Hoa berhenti sejenak untuk tukar

napas, lalu sambungnya kembali. “Setelah Kiang Lang

lenyap tak berbekas, tiba2 Giok Mey Jin, Cui Mey Jin serta

Hoa Mey Jin pun ikut lenyap dari penglihatan.”

“Apa? Merekapun lenyap tak berbekas?”

“Benar!”

“Apakah mereka masih hidup atau sudah mati?”

“Sampai kini persoalan masih merupakan suatu teka-teki!

Cuma menurut berita yang terdengar katanya mereka sudah

mati semua, rumah yang mereka tempati terbakar habis dan

semua perempuan yang ada tak seorangpun yang berhasil

meloloskan diri dari kobaran api.”

Bab 29

MENDENGAR sampai disitu, Pek Thian Ki termenung

berpikir sebentar, kemudian katanya kembali; “Peristiwa ini

bukankah sedikit rada aneh?”

“Benar, peristiwa ini memang sangat aneh sekali.”

“Lalu, siapakah Kiang To yang sering kali munculkan

diri itu?”

“Entahlah, karena orang yang menyaru sebagai Kiang To

tidak cuma seorang saja. . .”

“Maksudmu ada dua orang yang menyaru sebagai Kiang

To?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Aaaach! Sekarang aku paham sudah.” tiba2 Pek Thian

Ki menjerit tertahan. “Dua orang yang menyaru sebagai

Kiang To ini tentu salah seorang adalah sipemilik rumah

yang disewakan itu. .”

“Kemungkinan ini memang tetap ada.”

“Tidak, bukan kemungkinan lagi, tapi pasti benar.”

“Benar, salah seorang yang menyaru sebagai Kiang To

tentu mempunyai hubungan dengan siorang pemilik rumah

tersebut, dan dua orang diantaranya satu rada lurus yang

lain rada sesat, kedua orang ini munculkan diri karena

hendak menanti munculnya Kiang To yang asli.”

“Jikalau aku benar-benar adalah Kiang To yang asli, lalu

bagaimana menurut pendapatmu?” tanya Pek Thian Ki

melengak.

“Mungkin seperti halnya dengan maksud Sin Mo Kiam

Khek menyembunyikan nama serta asal-usulmu, karena ia

tidak ingin kau tahu keadaan sesungguhnya dan

dikarenakan kepandaian silatmu belum berhasil mencapai

taraf yang diinginkan.”

“Aku masih belum mengerti maksudmu.” kembali sang

pemuda menggeleng.

“Bagaimanakah sebetulnya kejadian yang telah

berlangsung, aku sendiri juga kurang paham, jikalau Kiang

To yang asli munculkan diri, maka ia tentu bakal

memancing kedatangan banyak orang untuk melakukan

pembunuhan, atau dengan perkataan lagi asal-usul dari

Kiang To penuh diliputi oleh napsu membunuh, sekarang

seharusnya kau sudah mengerti bukan?”

“Aku sudah paham, tapi, benarkah aku putra dari Kiang

Lang dan bernama Kiang To?”

“Bukankah sudah aku orang katakan bahwa hal ini ada

kemungkinan besar benar?”

“Menurut pandanganmu, siapakah yang bisa

memecahkan teka-teki ini?”

“Sembilan jagoan pedang dari kolong langit. . . tetapi

mereka sudah mati semua.”

“Benar mereka sudah mati semua. . .?” Tiba-tiba agaknya

Pek Thian Ki teringat akan sesuatu. . “Siapakah si lelaki

berbaju hitam tadi?”

“Entahlah, aku sendiripun tidak tahu.”

“Mengapa setelah ia melihat senjata Sam Ciat Tong-mu,

lantas memperlihatkan sikap begitu ketakutan?”

“Karena senjata ini melambangkan seseorang!”

“Siapa?”

“Sam Ciat Sin Cun!”

“Kau. . . .kau katakan bahwa senjata Sam Ciat Tong ini

adalah barang peninggalan dari Sam Ciat Sin-cun?”

“Sedikitpun tidak salah. . .”

“Lalu kau. . .”

“Banyak urusan aku merasa kurang leluasa untuk

beritahukan kepadamu, tapi pada suatu hari, kau bakal

mengerti sendiri segala seluk-beluknya peristiwa ini, dan

bila aku katakan saat ini malah tidak mendatangkan

kebaikan untukmu, senjata ini bernama Sam Ciat Tong dan

dapat diubah menjadi tiga macam senjata yang berbeda,

Pertama dapat digunakan sebagai pedang, kedua dapat

digunakan sebagai toya dan ketiga bisa digunakan sebagai

senjata rahasia, tadi si lelaki berbaju hitam itu justru

menemui ajalnya dibawah serangan senjata rahasiaku.”

“Kalau begitu, apa hubunganmu dengan Sam Ciat Sincun?

Apakah mungkin kau ada sangkut-paut dengan

dirinya?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Dan kau tak dapat memberikan alasan-alasan yang

sebenarnya?”

“Benar!”

Perlahan-lahan Pek Thian Ki menghela napas panjang.

“Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu peristiwa

yang penuh diliputi teka-teki, siapa yang bisa memecahkan

teka-teki ini?”

“Kemungkinan sekali Sin Si-poa bisa memberikan

penjelasan, menurut apa yang aku lihat tadi, jelas

kepandaian silat yang dimiliki situkang ramal ini tidak

berada dibawah kepandaian dari si orang berbaju hitam itu,

dan ia sengaja membiarkan dirinya kena dihantam. . .”

“Sengaja membiarkan dirinya kena dihantam? Sungguh

lucu sekali, apa mungkin bisa terjadi peristiwa semacam

ini?”

“Benar. . .”

“Lalu, apa sebabnya ia berbuat demikian?”

“Justeru inilah merupakan suatu persoalan yang susah

dipecahkan.”

“Mungkinkah Sin Si-poa mengetahui urusan yang

menyangkut diriku?”

“Sedikitpun tidak salah, mungkin hanya dia seorang

yang bisa memberikan jawaban atas pertanyaanmu, cuma

sekarang ia sedang menderita luka dalam yang parah dan

mungkin tak bisa berbicara lagi.”

Sepasang mata Pek Thian Ki mendadak memancarkan

serentetan sinar yang sangat tajam, “Nona Cu, aku merasa

sangat berterima kasih sekali kepadamu, karena kau sudah

memberitahukan banyak urusan kepadaku.”

“Kemungkinan sekali kita adalah sama-sama orang yang

tidak beruntung. . .” seru Cu Hoa menghela napas panjang.

. . “Pek Siauw-hiap, pada suatu waktu dapatkah kau mengingat2

diriku?”

“Aku dapat meng-ingat2 dirimu. . . cuma. . .cuma aku

tidak berani. . .” kata Pek Thian Ki dengan hati berdebar.

“Selama hidup ini, Pek Thian Ki belum pernah mendapat

rasa cinta dari orang lain. . .dan tidak berani mencintai

seseorang.” Nadanya amat sedih dan memilukan hati.

“Pek Siauw-hiap, kau salah besar, banyak orang

mencintai dirimu. . . hanya saja mereka tidak mengucapkan

secara terus terang kepadamu dan Cu Hoa adalah salah satu

diantaranya, semoga saja kau suka mengingat baik-baik

urusan ini,” seru Cu Hoa kembali.

Habis berkata dengan mengempit tubuh Sin Si-poa, ia

berlalu cepat2 dari sana. Pek Thian Ki jadi tertegun

dibuatnya.

Dengan ter-mangu2 pemuda itu memandang bayangan

punggung gadis itu lenyap dari pandangan, selama hidup

baru pertama kali ia mendengar ucapan tersebut dan ia

merasa hatinya rada tergetar. . . .

Perlahan-lahan ia mulai bergeser pergi dari sana. . .

Langkahnya limbung tak ada arah tujuan, ia tidak mengerti

harus pergi kemana baiknya, benar, ia merasa

penghidupannya seperti berada ditengah sebuah samudra

yang sangat luas. . . .

Selama hidup Pek Thian Ki hanya penuh mengalami halhal

yang tidak menguntungkan, sekarang satu-satunya hal

yang harus segera dikerjakan adalah pergi menyewa rumah

tersebut untuk kemudian menyelidiki asal-usul sendiri.

Benar, teka-teki ini sudah lama tersimpan didalam

benaknya, ia harus menyelidiki jelas asal usulnya beserta

apakah ia benar merupakan anak murid dari Sin Mo Kiam

Khek.

Teringat akan persoalan ini, Pek Thian Ki segera putar

badan dan berjalan menuju kearah Istana Perempuan.

Siorang tua berbaju kuning yang berdiri didepan pintu

sewaktu melihat munculnya Pek Thian Ki disana, air

mukanya lantas berubah hebat, ia menunjukkan sikap

ketakutan.

“Pek Kongcu, kau. . .”

“Aku ada urusan hendak mencari Cong-koan kalian!”

“Baik. . . baik. . .”

Pek Thian Ki pun tidak berbicara banyak lagi, ia

langsung melangkah masuk kedalam ruangan belakang.

Belum jauh ia masuk, suara langkah manusia tiba-tiba

memecahkan kesunyian, terdengar seseorang menegur

dengan suara yang halus.

“Pek Kongcu, apa maksudmu mencari Cong-koan

kami?”

Dengan sebat Pek Thian Ki menengok, dilihatnya sidara

berbaju kuning itu dengan langkah lambat sedang berjalan

mendekat.

“Aku punya urusan hendak menemui dirinya. . .”

“Sekarang?”

“Sedikitpun tidak salah, sekarang juga.”

“Kalau begitu, mari ikutilah diriku.”

Demikianlah kedua orang itu segera berjalan menuju

keruang belakang, setibanya didepan sebuah ruangan yang

tertutup tidak menanti sidara berbaju kuning itu mengetuk

pintu lagi, ia langsung mendorong pintu dan mencelat

masuk kedalam.

Sang pintu terpentang lebar-lebar diikuti munculnya

Giok Mo Hoa sambil memandang kearah Pek Thian Ki

dengan sinar mata penuh ketakutan.

“Pek Kongcu, kau. . .”

“Tidak salah, memang aku orang.”

“Apa maksudmu datang kemari?”

“Bagaimana dengan persoalan yang aku beritahukan

kepadamu?”

“Kau hendak membawa pergi nona It Peng Hong?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Dan hendak kau bawa pergi sekarang juga?”

“Benar?”

“Tidak bisa jadi, selamanya Istana kami melarang orang

membawa pergi perempuan yang ada disini.”

Heee. . .heee. . .heee. . . Giok Mo Hoa, kau cari mati

Haa?. . . teriak Pek Thian Ki sembari tertawa dingin.

“Bukannya aku mencari mati, tapi bila kau ingin

membinasakan diriku, nah, silahkan turun tangan.”

“Aku tidak ingin membunuh dirimu, tapi aku ingin kau

suka menyerahkan nona It Peng Hong kepadaku.”

“Sudah aku katakan bahwa urusan ini tak bisa

dilaksanakan. . . .”

“Bangsat, jadi kau cari mati. . . .” Pek Thian Ki

membentak keras, tubuhnya dengan sebat meluncur

kedepan, melancarkan suatu tubrukan.

Pada saat pemuda itu menggerakkan badannya, Giok

Mo Hoa pun mencelat kesamping seraya mengirim satu

pukulan dahsyat kemuka. Tapi serangannya ini berhasil

ditangkis oleh tangan kanan Pek Thian Ki, dan belum

sempat Giok Mo Hoa melakukan sesuatu, tangan kiri

pemuda tersebut sudah mencengkeram datang.

Bayangan manusia berkelebat lewat disusul dengusan

berat bergema memenuhi angkasa, tampak tubuh Giok Mo

Hoa sudah berhasil dicengkeram oleh Pek Thian Ki dengan

menggunakan satu gerakan yang sangat cepat.

“Kau suka serahkan nona itu tidak?” teriak sang pemuda

dengan wajah penuh diliputi napsu membunuh.

“Bila aku tidak suka memenuhi permintaanmu itu?”

“Akan kubunuh dirimu terlebih dahulu, kemudian

kuhancurkan pula seluruh Istana Perempuan ini.”

Dengan ketakutan Giok Mo Hoa merinding, ia percaya

tindakan semacam ini dapat dilakukan oleh Pek Thian Ki,

akhirnya ia tertawa sedih.

“A Mey! Bawa kemari nona It Peng Hong.” jeritnya

kemudian.

“Baik!” sahut sidara berbaju kuning itu dari luar pintu.

Setelah dara tersebut berlalu, Pek Thian Ki pun

melepaskan cengkeramannya dari atas tubuh Giok Mo

Hoa.

“Hmm! Aku masih mengira kau betul-betul tidak takut

mati!” jengeknya sinis.

Tidak lama kemudian suara langkah kaki berkumandang

datang memecahkan kesunyian, tampaklah It Peng Hong

yang ditemuinya kemarin malam mengikuti dari belakang

dara berbaju kuning itu berjalan mendekat. Melihat

kejadian tersebut, Pek Thian Ki jadi melengak dibuatnya,

diam-diam ia berpikir:

“Mungkinkah dia orang benar-benar adalah nona It Peng

Hong?”

Setibanya dihadapan pemuda tersebut, sang nona

menunjuk hormat dengan lagak lagu yang luwes. “Pek

Kongcu, kau panggil diri siauw-li, entah ada urusan apa?”

Kali ini Pek Thian Ki yang dibuat melengak;

“Kau. . .”

“Pek Kongcu, aku adalah It Peng Hong, apa yang

sebenarnya kau kehendaki?”

“Ia hendak membawa kau pergi,” sela Giok Mo Hoa dari

samping.

“Aaaach. . .! Pek Kongcu, kau hendak membawa aku

pergi kemana?”

Air mukanya memperlihatkan rasa terkejut bercampur

penuh permohonan, hal ini membuat Pek Thian Ki

merasakan jantungnya berdebar-debar keras.

“Soal ini rasanya kau tidak perlu tahu.” sahutnya

kemudian setelah berpikir beberapa waktu.

“Pek Kongcu, kau. . . kau tak bakal membinasakan

diriku, bukan?”

Pek Thian Ki tertawa pahit, sudah tentu ia hendak

membawa gadis ini untuk pergi menyewa rumah tersebut,

dan kemungkinan besar kepergiannya kali ini bisa

menghantarkan nyawa gadis ini ditangan sipemilik rumah

tersebut. Tapi diluaran ia tetap mempertahankan

ketenangannya.

“Sudah tentu aku orang tak akan membinasakan seorang

gadis secantik dirimu, apalagi diantara kita tidak terikat

dendam sakit hati.”

“Kalau begitu kau hendak membawa aku pergi kemana?

Dan apa maksudmu membawa aku meninggalkan tempat

ini.”

“Soal ini kau tidak perlu tahu.”

Dengan pandangan bergidik, gadis itu memandangi sang

perjaka, alisnya melentik dan penuh diliputi perasaan

curiga, ragu-ragu dan gelisah.

“Pek Kongcu, bagaimana kalau aku pergi membereskan

sedikit pakaian?. . .” katanya kemudian.

“Hmmm! Apa perlunya pergi membereskan buntalan,

kepergianmu kali ini mungkin untuk selamanya, tak akan

balik lagi. . .” Berpikir sampai disitu, ia lantas menggeleng;

“Aku rasa tidak perlu!”

“Kita berangkat dengan tangan kosong belaka?”

“Benar!”

“Baiklah, Pek Kongcu. . .”

Demikianlah Pek Thian Ki dengan membawa serta It

Peng Hong berjalan meninggalkan pintu besar Istana

Perempuan menuju kearah depan, selama ini gadis tersebut

berjalan lenggak lenggok dengan gaya yang sangat

menggiurkan membuat setiap orang merasa terpesona

dibuatnya.

“Nona It Peng Hong, pernahkah kau orang belajar ilmu

silat?” tanya Pek Thian Ki ditengah jalan memecahkan

kesunyian.

“Aku hanya pernah belajar beberapa jurus dari Congkoan.

. . Oooo! Pek Kongcu, tadi pagi setelah kau pergi, aku

telah menemukan suatu peristiwa yang sangat menakutkan

sekali.”

“Urusan apa?”

“Dibawah ranjangku ternyata menggeletak sesosok

mayat perempuan!”

“Apa?” Tak terasa lagi Pek Thian Ki menjerit tertahan

dan ia segera menghentikan langkah kakinya, karena

perkataan yang diucapkan oleh It Peng Hong ini benar2

berada diluar dugaan Pek Thian Ki.

“Aku katakan bahwa dibawah pembaringanku ada

sesosok mayat perempuan, seorang perempuan yang amat

cantik sekali, hampir2 saja aku jatuh semaput saking

takutnya. . .” kata It Peng Hong ketakutan.

“Bukankah perempuan itu adalah It Peng Hong?”

Mendengar perkataan tersebut, nona It Peng Hong jadi

melengak, “Pek Kongcu, kemana jantrungnya kau bicara?

Bagaimana mungkin perempuan itu adalah diriku?”

Kali ini saking terperanjatnya, lama sekali Pek Thian Ki

tak dapat mengucapkan sepatah katapun, karena It Peng

Hong mengatakan bahwa dibawah pembaringannya

tergeletak sesosok mayat perempuan, hal ini bukankah jelas

mengatakan bahwa dia benar-benar adalah It Peng Hong?

Jikalau dia adalah seorang yang menyaru sebagai It Peng

Hong maka tidak mungkin gadis ini suka memberitahukan

persoalan ini kepada diri Pek Thian Ki.

Lama. . . lama sekali ia baru bertanya; “Sungguh2kah

kau orang adalah It Peng Hong?”

“Sudah tentu benar, Pek Kongcu! Apakah kau menaruh

curiga? Kemarin malam. . .Heeei. . . .” Suara helaan

napasnya sangat menyedihkan hati. . . .

Pek Thian Ki tidak ingin membicarakan persoalan itu

lagi, karena ia tahu banyak bicara hanya menambah

kepiluan hatinya saja, demikianlah mereka berdua kembali

melanjutkan perjalanan menuju kearah Istana Harta dengan

mulut membungkam.

Pek Thian Ki harus memperoleh seribu tahil uang emas

dahulu untuk pergi menyewa rumah aneh tersebut, kepada

It Peng Hong katanya;

“Nona It Peng, kau tunggulah sebentar disini, aku akan

masuk sebentar, kemudian keluar.”

Tidak menanti jawaban dari It Peng Hong lagi ia

mencelat kearah Istana Harta dan langsung menerobos

masuk kedalam ruangan. Silelaki berbaju perlente yang

melihat munculnya Pek Thian Ki disana dengan rasa

ketakutan segera menjerit;

“Aaaach! Pek Thian Ki. . . .”

Pek Thian Ki pun tidak menjawab pertanyaan pihak

lawan, tubuhnya langsung meluncur masuk kedalam

ruangan.

“Aaaaach! Pek Tayhiap, kau. . . .” teriak sang Ciangkwee

Lojin pula ketika melihat munculnya sang pemuda.

“Aku datang hendak mengambil seribu tahil emas murni,

sisanya empat ribu untuk sementara aku titipkan dulu

disini.”

“Baik. . . baik. . .” Dengan cepat, sang Ciang-kwee

mengeluarkan seribu tahil emas murni dan dibungkus jadi

satu buntalan besar, lalu diserahkan kepada sang pemuda

tersebut.

Pek Thian Ki tidak banyak berbicara lagi, setelah

menerima buntalan tersebut, ia segera berkelebat keluar dari

Istana Harta.

Sekarang ketiga buah syarat untuk menyewa rumah aneh

tersebut sudah terpenuhi semua, yaitu; Seribu tahil emas

murni, Perempuan cantik serta arak Giok Hoa Lok.

Ia harus berusaha keras untuk pergi menyewa rumah

aneh itu, karena kecuali berbuat demikian, pemuda she Pek

ini tidak berhasil memperoleh cara lain untuk membuktikan

apakah suhunya benar2 adalah Sin Mo Kiam Khek dan

apakah beliau betul-betul mati didalam rumah aneh

tersebut.

Sudah tentu ia pun harus menyelidiki sampai jelas

siapakah majikan dari rumah aneh itu, karena inipun

merupakan salah satu tujuannya.

Ketika Pek Thian Ki berlari keluar dari pintu besar Istana

Harta, tampaklah nona It Peng Hong masih berdiri

ditempat semula. Ketika melihat pemuda itu munculkan

dirinya kembali, buru-buru tanyanya;

“Eeeei. . . kau sedang berbuat apa?”

“Aaaach! Tidak ada apa-apa. . . .”

“Lalu, apa isi buntalan tersebut?”

“Soal ini kau pun tidak perlu tahu, mari kita pergi!”

Diatas selembar pipinya yang cantik jelita terlintaslah

suatu perasaan takut yang bukan alang kepalang, sinar

matanya dengan mendelong memperhatikan pemuda

tersebut, lama sekali. . .akhirnya ia ikut berlalu juga

mengikuti dari belakang.

“Pek Kongcu, boleh aku mengetahui sebenarnya kau

hendak membawa aku pergi kemana?” tanya gadis itu tibatiba

memecahkan kesunyian.

Mendengar suaranya sangat mengenaskan. Pek Thian Ki

merasakan hatinya bergetar, ia tertawa pahit;

“Kita hendak pergi menyewa rumah!”

“Kau hendak menyewa rumah untukku?”

“Benar. . .” ia menyahut terpaksa.

Sudah tentu ia menyewa rumah tersebut bukan untuk

diberikan kepada gadis itu, kemungkinan sekali setelah

rumah itu disewa, maka selama hidup tak ada harapan lagi

baginya untuk hidup. Dan Pek Thian Ki hendak

menyerahkan nona It Peng Hong ini kepada Majikan

rumah bagaikan sebuah benda, mati hidupnya ia tidak mau

ikut ambil pusing memikirkan.

“Pek Kongcu, kau. . . sungguh baik sekali terhadap

diriku. . .” gadis itu tersenyum kegirangan. . “Kau telah

membawa aku keluar dari neraka, bahkan mau sewakan

pula rumah untuk aku diami. . . heei. . .” Ia menghela napas

dengan penuh rasa terharu. . . .

Mendadak. . . .

Seluruh tubuh Pek Thian Ki berkerut, lalu gemetar keras,

wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat, ia menjerit

ngeri lantas roboh terjengkang keatas tanah. Penyakit sakit

hatinya secara mendadak kambuh kembali.

“Pek Kongcu. . . .” jerit It Peng Hong ketakutan.

Saking sakitnya Pek Thian Ki berguling-guling diatas

tanah, keringat dingin sebesar kacang kedele mengucur

keluar tidak hentinya membasahi seluruh badan.

“Pek Kongcu. . .” kembali It Peng Hong menjerit. Suara

jeritannya ini penuh diliputi rasa khawatir. . . .

Bab 30

LAMA. . . LAMA sekali, penyakit sakit hati tersebut

baru reda kembali, dengan badan lemas sedikitpun tak

bertenaga, Pek Thian Ki rebah terlentang diatas tanah.

Melihat kejadian itu, gadis tersebut dengan cepat menubruk

keatas tubuh pemuda tersebut dan mendekapi badannya

sambil berseru;

“Pek Kongcu, kenapa kau?”

Dari sepasang matanya mengucurkan air mata yang

setetes demi setetes membasahi wajah Pek Thian Ki,

lagaknya mirip seorang isteri setia yang mengkhawatirkan

keselamatan suaminya.

Perasaan serta sikapnya ini benar-benar mengharukan,

dan jelas muncul dari dasar lubuk hatinya, Melihat kejadian

itu, Pek Thian Ki merasa sangat terharu.

“Penyakit hatiku mendadak kambuh kembali. . .”

katanya lirih.

Gadis itu tampak terbelalak lebar-lebar, mulutnya melongo2

tak bisa berbuat apa2, Lama sekali, mendadak

sepertinya teringat akan sesuatu, dari dalam sakunya gadis

itu mengeluarkan sebuah kotak kumala dan mengambil

keluar dua lembar bahan obat, katanya;

“Pek Kongcu, dahulu ada seorang tetamu pernah

menghadiahkan sebuah barang kepadaku, katanya bernama

apa. . .eeeeh. . .Jinsom seribu tahun. . . .coba kau telanlah

dulu!”

Mendengar perkataan tersebut, Pek Thian Ki merasakan

hatinya sangat kaget; “Apa? Aaaaa. . . apa kau kata?”

teriaknya.

Hampir-hampir saja Pek Thian Ki tidak mempercayai

telinga sendiri, Jinsom seribu tahun adalah sebuah bahan

obat yang dirindukan oleh seluruh jagoan Bu-lim dikolong

langit, bagaimana mungkin It Peng Hong bisa memiliki

obat semujarab tersebut?

“Tempo dulu akupun pernah menderita penyakit sakit

hati,” kata It Peng Hong menjelaskan, “Lalu ada seorang

tamu menghadiahkan barang tersebut kepadaku yang

seluruhnya berjumlah duapuluh empat lembar, setelah aku

telan sepuluh lembar, ternyata penyakit tersebut hilang

lenyap sama sekali, coba kau telanlah obat ini.”

Ia masukkan dua lembar jinsom tersebut kedalam mulut

Pek Thian Ki. Jinsom itu merupakan semacam obat yang

sangat mujarab sekali, setelah Pek Thian Ki menelan dua

lembar, bukan saja penyakitnya sembuh bahkan semangat

maupun ilmu silatnya sudah pulih kembali seperti sedia

kala.

Dalam waktu singkat itulah, perasaan Pek Thian Ki

bercampur aduk tidak karuan, dengan sinar mata penuh

rasa terima kasih dipandangnya gadis tersebut tajam-tajam.

“Kau sudah sedikit baikan bukan?” tanya It Peng Hong

dengan air mata masih mengucur keluar membasahi

pipinya.

“Aku. . . aku sudah baikan, entah aku Pek Thian Ki

harus berbuat bagaimana untuk menyatakan terima kasihku

ini padamu.”

“Pek Kongcu, kau bicara begitu bukankah sama saja

memandang rendah diriku?”

“Tidak, aku berbicara sesuai dengan isi hatiku?”

“Pek Kongcu, ada satu urusan tak bisa tidak harus

kuberitahukan kepadamu, walaupun aku berada di Istana

Perempuan, tapi aku hanya menjual muka, tidak menjual

tubuh, aku percaya, tentu kau tahu bukan.”

“Eeehmm! Aku tahu!”

“Aku telah menyerahkan kesucianku kepadamu. . . .kau

tahu bukan?”

“Aku tahu!”

“Seorang gadis hanya dapat menyintai seorang lelaki

yaitu sang pria yang telah merenggut keperawanannya,

walaupun aku bukan seorang gadis baik-baik, tapi aku

sudah menganggap kau adalah suamiku. . . .”

Setiap perkataan yang diutarakan penuh disertai

perasaan, hal ini membuat seorang lelaki yang berhati

keraspun akan leleh dibuatnya.

Pek Thian Ki pun tergerak juga hatinya oleh kejadian ini,

Mendadak ia peluk gadis tersebut, kemudian menciumnya

dengan penuh napsu, ia hendak menggunakan seluruh cinta

kasihnya untuk menyayangi gadis yang berada

dihadapannya ini.

Cinta. . . suatu cinta yang suci bersih, benar-benar

muncul dari lubuk hatinya pada detik ini. Dan ia telah

menyerahkan seluruh kasih sayangnya kepada gadis

tersebut. . . .ia mulai melupakan segala sesuatu. . . bahkan

lupa pula siapakah gadis itu.

Kena dipeluk oleh sang pemuda, gadis itupun

memberikan reaksi yang cukup hangat pula; “Pek Kongcu .

. .selama hidup aku tidak pernah mendapatkan apa-apa. .

.tapi detik ini, kau sudah memberikan kebutuhan bagi

penghidupanku. . . .Pek Kongcu. . . .”

Mungkin beberapa patah kata ini adalah kata-kata yang

paling jujur, kata-kat yang paling murni tercetus keluar

melalui bibirnya. Pemuda itu hanya menciumi terus gadis

tersebut, banyak bicara baginya hanya membuang waktu

belaka.

“Pek Kongcu. . . kau. . .kau sungguh-sungguh mencintai

diriku?. . .” tanya gadis itu lirih.

“Benar! Aku sangat mencintai dirimu, cintaku tak akan

padam selama hidup. . . dan tak bakal kering bagaikan

samudra. . . .”

“Selama hidup, kau tak akan melupakan diriku?”

“Benar. . .”

“Aaaaaach! Pek Kongcu. . .” Ia balas memeluk pemuda

tersebut. . . . agaknya didalam hati gadis itu telah

menemukan sesuatu dan secara tiba-tiba takut kehilangan

dirinya, sehingga ia memeluk kekasihnya ini erat-erat. . . .

Mendadak. . . .

Serentetan suara tertawa dingin yang menggidikkan

bergema memecahkan lamunan, seketika itu juga Pek Thian

Ki serta It Peng Hong tersadar kembali dari impian yang

indah.

“Ooooouw. . . . . sungguh suatu pertunjukan yang panas,

suatu pemandangan yang menggairahkan!” teriak orang itu

lagi.

Buru-buru Pek Thian Ki mendororng It Peng Hong

kesamping, lalu bangun berdiri, sinar matanya dengan

tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu. Tampaklah

kurang lebih tiga tombak dari mereka berada, berdiri

seorang bayangan hitam.

“Siapa?” bentak Pek Thian Ki dingin.

“Aku!”

“Kiang To?”

“Mungkin! Eeeeei orang she Pek, kau sungguh-sungguh

hendak pergi menyewa rumah tersebut?”

“Benar!”

“Kau benar-benar seorang yang kejam, jikalau kau sudah

mencintai dirinya, mengapa begitu tega untuk

membinasakannya pula? Lebih baik kau jangan hantar dia

orang menghadapi maut!” Begitu selesai berkata, orang itu

kembali melayang pergi.

Pek Thian Ki segera tertawa dingin tiada hentinya,

gumamnya; “Akan kulihat apakah aku orang benar-benar

bisa mati. . .”

“Pek Kongcu, apakah dia adalah Kiang Kongcu?” tibatiba

It Peng Hong bertanya.

Mendengar pertanyaan itu, mendadak sang perjaka ini

teringat kembali akan satu persoalan. “Ooouw . . . aku ingin

menanyakan suatu urusan kepadamu. . .”

“Silahkan kau utarakan!”

“Benarkah kau pernah berjumpa dengan Kiang To?”

“Benar!”

“Kalau begitu. . .”

“Pek Kongcu, aku pernah berjumpa dengan orang itu,

tapi diantara kami adalah suci bersih, ia cuma datang

menjenguk diriku saja, dan tempo hari, aku sudah menipu

dirimu. . .” Ia merandek sejenak, lalu sambungnya; “Itupun

karena Cong-koan kami yang perintahkan aku untuk

menjawab secara demikian.”

Pek Thian Ki manggut. “Ehmmm! Marilah kita pergi!”

Mereka berjalan kedepan dan tidak sampai menjelang

kentongan kedua, kedua orang itu telah tiba didalam hutan

Touw tersebut. Mereka melanjutkan perjalanan memasuki

hutan Touw dan rumah aneh berbentuk tengkorak itupun

sudah muncul dihadapan mereka dari tempat kejauhan.

“Pek Kongcu, kita akan tinggal disini?” tanya It Peng

Hong memecahkan kesunyian.

“Benar.”

“Aaaaach. . . tempat ini sangat menakutkan sekali!”

Pek Thian Ki berpaling memandang kearah gadis itu,

tampaklah diatas wajahnya yang cantik terlintas suatu

perasaan ketakutan yang luar biasa, keadaannya sangat

mengenaskan sekali.

Dalam beberapa saat itulah dari dalam hati Pek Thian Ki

muncul perasaan iba hati, ia tak dapat serahkan It Peng

Hong yang demikian cantik dan setianya ini kepada

majikan rumah tersebut. Selama hidup ia tidak pernah

mencintai seseorang, kecuali It Peng Hong ini.

“Pek Kongcu, sungguh menakutkan sekali rumah itu,”

kembali gadis tersebut berseru.

“Tapi, kita harus menyewa rumah itu, kita akan

mendiami rumah tersebut. . .”

“Apa? Kita akan menyewa rumah itu?”

“Benar!”

Mendadak gadis itu tertawa. “Dapat bersama-sama

dirimu, aku tak akan takut!”

Senyumannya begitu manis, begitu menarik. . .ia

demikian polos dan mempesonakan, hal ini membuat Pek

Thian Ki mulai ragu-ragu, Antara cinta dan tujuan

bertempur satu sama lainnya didalam hati.

Jikalau ia dapat menyerahkan ketiga buah syarat ini,

maka ia bisa menyewa rumah tersebut dan dapat pula

menyelidiki siapakah majikan dari rumah aneh tersebut.

Tapi, benarkah tindakannya karena ingin mengetahui

rahasia rumah ia harus korbankan kekasihnya untuk

memuaskan napsu majikan rumah itu?

Tidak! Hal ini tidak mungkin.

Akhirnya pemuda itu gertak giginya kencang-kencang.

“Nona It Peng Hong, kau pergilah!” ujarnya kemudian.

“Aaaaa. . . apa. . .apa kau kata?” teriak gadis itu

melengak.

Hatinya bergolak keras membuat suaranya serak dan

kasar menyeramkan, dengan perasaan ketakutan It Peng

Hong mundur selangkah kebelakang.

“Heeeei. . .! Nona It Peng Hong, pergilah! Dan tidak

usah bertanya apa sebabnya!” kembali Pek Thian Ki berseru

seraya menghela napas panjang.

“Tidak, Pek Kongcu, aku ingin tahu apa sebabnya kau

suruh aku pergi. . . . Pek Kongcu, beritahukanlah kepadaku.

. . .”

“Aku ingin menyewa rumah ini, karena kau ingin

mengetahui suatu urusan,” bentak Pek Thian Ki keras.

“Majikan rumah tersebut mengajukan tiga buah syarat yang

harus aku penuhi dan salah satu diantaranya adalah

menginginkan dirimu, Sekarang aku merasa tidak tega

untuk menyerahkan kau orang kepadanya, karena

kemungkinan sekali ia bisa mencabut nyawamu, sekarang

kau sudah tahu, bukan?” Dengan hati penuh rasa haru ia

mendongak, tambahnya; “Maka dari itu, kau pergilah, aku

tidak tega melihat kau mati karena aku, Kau pergilah. . .dan

jangan menggubris diriku lagi.”

Dengan perasan ketakutan gadis itu memandang sang

perjaka dengan mata mendelong. Sepertinya dalam

beberapa waktu ini, ia masih belum mengerti maksud yang

sebenarnya dari Pek Thian Ki, padahal yang benar ia sudah

mengerti maksudnya dan memahami pula perasaan hati

pemuda tersebut.

“Kau. . . kau sungguh-sungguh menyuruh aku pergi?”

tanyanya sedih.

“Benar!”

“Lalu dengan cara apa kau hendak mencari perempuan

lain?”

“Aku bisa mencari cara lain.”

“Pek Kongcu, jikalau kau betul-betul mencintai diriku,

akupun rela pergi melakukan suatu pekerjaan untukmu, ada

pepatah mengatakan bahwa isteri berkorban untuk

suaminya adalah suatu pekerjaan yang mulia, Akupun

merasa rela untuk berkorban demi suksesnya tujuanmu.”

Beberapa patah perkataan ini benar-benar menghantam

lubuk hati Pek Thian Ki, membuat ia jadi meringis dan

tertawa getir.

“Tidak, kau pergilah!”

“Pek Kongcu, apa yang aku ucapkan adalah sungguhsungguh,

asalkan kau suka, akupun rela.”

“Tidak. . . aku tidak suka melihat kau berkorban karena

diriku. . . Kau pergilah. . . apakah kau tidak mendengar

bahwa aku perintahkan kau pergi dari sini?” Suara pemuda

tersebut makin lama semakin keras, dan akhirnya menjadi

suara bentakan.

Dengan sedih gadis itu menunduk rendah-rendah,

katanya lirih; “Selama hidup aku bisa meng-ingat2 terus

cinta suci dari kau Pek Kongcu, baiklah! Jikalau kau suruh

aku pergi, akupun mohon diri sampai disini. . .”

Perlahan-lahan ia putar badan dan berlalu dengan kepala

tertunduk rendah-rendah, jelas kelihatan gadis itu merasa

hatinya sangat pilu.

Lama sekali Pek Thian Ki berdiri termangu-mangu

ditempat semula, menanti bayangan punggung gadis itu

lenyap dari pandangan, ia baru menghela napas panjang.

Ketika It Peng Hong lenyap dibalik pepohonan yang

lebat itulah mendadak sesosok bayangan hitam berkelebat

keluar dari tempat persembunyiannya menghadang

perjalanan gadis tersebut.

Dengan cepat It Peng Hong menghentikan langkahnya;

“Siapa?” bentaknya dingin.

“Lapor Tongcu, tecu adanya!”

“Ehmmmm!. . .”

“Lapor Tongcu, dari Cong-koan ada perintah

menanyakan apakah orang she Pek itu benar-benar Kiang

To atau bukan?”

“Kau boleh balas memberi laporan, katakan saja Pek

Thian Ki benar-benar adalah Kiang To atau bukan, sampai

saat ini masih belum dapat dipastikan,” kata It Peng Hong

dingin, “Jika ia benar-benar adalah Kiang To, aku bisa

turun tangan sendiri untuk membinasakan dirinya,”

“Baik, Tongcu!”

“Kalau begitu, kau pergilah!”

“Baik, Tongcu!” Bayangan hitam itu berkelebat lewat,

dan dalam beberapa kali loncatan, ia sudah lenyap dari

pandangan.

Sedangkan It Peng Hong tetap berdiri termangu-mangu

ditempat semula. . . .

Sudah tentu ia bukan It Peng Hong yang asli, melainkan

seseorang yang menyaru sebagai nona It Peng Hong.

Lalu siapakah orang itu?

Ketika itu. . . .Dengan termangu-mangu Pek Thian Ki

berdiri didepan rumah aneh tersebut, ia sudah lepaskan

salah satu syaratnya untuk menyewa rumah itu, dan kini

kecuali berhasil memperoleh seorang gadis lagi, kalau tidak

jangan harap bisa menyewa rumah itu lagi.

Mendadak. . . Agaknya ia teringat akan sesuatu,

tubuhnya dengan cepat berkelebat kearah mana lenyapnya

bayangan It Peng Hong tadi, Tapi belum sampai ia berlari

beberapa tombak kembali ada sesososk bayangan manusia

berkelebat keluar menghadang jalan perginya.

Buru-buru sang pemuda she Pek ini menghentikan

langkahnya seraya menyilangkan tangan didepan dada siap

menghadapi sesuatu.

“Pek Thian Ki, berhenti!” bentak bayangan tersebut

dengan suara yang amat dingin.

Sinar mata Pek Thian Ki berkilat, ia menemukan orang

itu bukan lain adalah Suma Hun yang telah ditemuinya

beberapa kali.

“Ooooouw. . . kau?” teriaknya tak tertahan.

“Sedikitpun tidak salah, memang aku, Pek Thian Ki apa

maksudmu datang kemari?”

“Pergi menyewa rumah tersebut.”

“Orang she Pek, lebih baik cepat-cepatlah kau orang

meninggalkan tempat ini.” seru gadis she Suma ini tiba-tiba.

“Mengapa?”

“Terus terang kuberitahukan kepadamu, tempat ini

bukan suatu tempat yang baik, kau anggap nona It Peng

Hong yang kau bawa datang itu adalah nona It Peng Hong

yang asli?”

“Apakah dia adalah It Peng Hong palsu?” teriak sang

pemuda dengan hati bergidik.

“Sedikitpun tidak salah! Nona It Peng Hong yang asli

sekarang masih berada di Istana Perempuan, urusan ini

sudah aku selidiki sangat jelas sekali, hanya saja siapakah

perempuan yang menyaru sebagai nona It Peng Hong, aku

sendiripun tidak tahu, sekalipun begitu, aku bisa beritahu

satu hal lagi kepadamu, Kemarin malam gadis yang

memuaskan napsumu bukan It Peng Hong yang asli, nona

It Peng Hong yang sebenarnya telah dikuasai dan

disembunyikan dibawah kolong ranjang, sewaktu kau

keluar dari Istana Perempuan untuk mencari Sin Si-poa, ia

telah bicara langsung dengan diri Giok Mo Hoa, bahwa ia

akan mewakili It Peng Hong untuk pergi ber-sama2 dirimu,

sudah tentu Giok Mo Hoa menerima tawaran ini dengan

segala senang hati.”

“Apa sungguh2kah perkataanmu ini?” tanya Pek Thian

Ki terperanjat.

“Sedikitpun tidak salah, bahkan aku tahu pula, bahwa

orang yang menyaru sebagai It Peng Hong menaruh

maksud tidak baik terhadap dirimu!”

Dari sepasang matanya, Pek Thian Ki memancarkan

cahaya berkilat, selama hidup belum pernah ia tertipu

macam begini, ternyata It Peng Hong adalah palsu dan ia

masih belum merasa jikalau ia sedang ditipu.

Lalu siapakah It Peng Hong? Tak terasa pemuda ini

teringat kembali akan diri Tong Ling.

“Heeeee. . .heeee. . .heeee. . .urusan ini bisa aku selidiki

sampai jelas. . ” teriak sang pemuda kembali sambil tertawa

dingin. “Jikalau ia sedang menipu diriku, maka aku Pek

Thian Ki tak akan mengampuni dirinya.”

“Sekarang marilah kita pergi dari sini!”

“Tidak!”

“Kau sungguh-sungguh hendak menyewa rumah

tersebut?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Tapi kau masih kekurangan sebuah syarat!”

“Aku bisa pergi menemukannya.”

Diatas wajah Suma Hun tiba-tiba terlintas suatu perasaan

kebulatan tekadnya. “Pek Thian Ki, tahukah kau siapakah

aku sebenarnya?”

“Tidak tahu.”

“Pek Thian Ki, bagaimana kalau aku menemanimu pergi

menyewa rumah tersebut, jikalau kau sungguh2 hendak

pergi menyewanya. . .”

“Aku sudah pastikan diri untuk menyewa rumah ini. . . .”

“Sekalipun mati juga tidak menyesal?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Kalau begitu, bagaimana kalau aku akan memenuhi

kekurangan syaratmu yang ketiga itu? Jikalau kita bisa lolos

dari sana dalam keadaan hidup, maka akan keberitahukan

kepadamu, siapakah sebenarnya diriku, bagaimana?”

Mendengar perkataan tersebut, timbullah rasa terima

kasih dihati pemuda itu. “Bukankah kau membenci diriku?”

serunya tanpa terasa.

“Dahulu memang begitu. . .”

“Lalu mengapa kau suka membantu diriku?”

“Karena akun tahu urusan ini sangat penting bagi

dirimu.”

“Aku bisa berterima kasih kepadanu. . . selama hidup

aku bisa berterima kasih kepadamu. . .” seru Pek Thian Ki

berulang kali.

“Kalau begitu, mari kita pergi!”

Munculnya Suma Hun secara mendadak serta

kerelaannya untuk membantu Pek Thian Ki pergi menyewa

rumah benar-benar jauh berada diluar dugaan pemuda

tersebut. Hingga saat ini pemuda she Pek ini pun masih

belum mengetahui asal-usul yang sebenarnya dari Suma

Hun, tapi agaknya saat ini, tidak penting lagi baginya untuk

memikirkan persoalan tersebut, yang terutama saat ini

adalah berusaha untuk menyewa rumah tersebut.

Tubuhnya dengan cepat berkelebat kearah rumah aneh

tadi, sekalipun hatinya kebat-kebit tapi ia berusaha untuk

menenangkan diri. Sebentar kemudian mereka berdua

sudah tiba didepan pintu bangunan rumah itu.

Ketika itulah tiba-tiba. . . .

Dari sisi sebelah kiri laksana sambaran kilat muncul pula

dua sosok bayangan manusia yang langsung meluncur

kedepan pintu bangunan, orang itu adalah seorang kakek

tua berbaju hijau serta seorang gadis cantik.

Pek Thian Ki jadi melengak dibuatnya. Suma Hun pun

berdiri tertegun oleh munculnya kejadian tersebut. Lama

sekali Pek Thian Ki baru mengalihkan sinar matanya keatas

tubuh siorang tua berbaju hijau itu.

“Tolong tanya apa maksud Loocianpwee datang

kemari?” tegurnya.

“Menyewa rumah!”

“Apa?” Saking kagetnya pemuda itu tersentak

kebelakang. “Kaupun datang kemari hendak menyewa

rumah?”

“Sedikitpun tidak salah, dan apa pula maksudmu?”

“Akupun datang kemari hendak menyewa rumah!”

“Aaaaah. . . .! Kaupun hendak menyewa rumah?”

“Sedikitpun tidak salah! Bahkan aku harus berhasil

menyewa rumah ini.”

“Siapakah kau?”

“Pek Thian Ki! Dan siapa pula dirimu?”

“Thian Mo Kiam Khek (si Jagoan Pedang Iblis Langit),

adik dari To Liong Kiam Khek, saudara tak ada sangkutpautnya

dengan urusan ini, apa gunanya datang kemari

untuk menyewa rumah ini?”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku tak ada urusan atau

sangkut-paut dengan urusan ini?”

“Apa mungkin kau punya sanak keluarga yang menemui

ajalnya didalam rumah ini?”

“Sukar untuk dibicarakan dan rasanya saudara tak

berhak untuk menyelidiki rahasiaku sampai jelas!”

Air muka Thian Mo Kiam Khek, langsung saja berubah

hebat; “Aku sudah pastikan diri untuk menyewa rumah

ini!” teriaknya keras.

“Cayhepun punya jalan pikiran yang sama!” teriak sang

pemuda pula tidak mau kalah.

Secara mendadak ditempat itu muncul pula seseorang

yang hendak menyewa rumah dalam waktu yang

bersamaan, sudah tentu Pek Thian Ki tak bakal suka

mengalah dengan begitu saja, dan rasanya pihak lawanpun

sama halnya dengan apa yang ia pikirkan.

Jelas suatu pertarungan sengit ta dapat dihindarkan lagi

untuk menentukan siapakah yang lebih berhak untuk

menyewa rumah tersebut terlebih dahulu.

“Menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan?”

seru Thian Mo Kiam Khek kembali.

“Lebih baik kau orang cepat2 mengundurkan diri dan

enyah dari sini!”

“Jika aku membangkang?”

“Heeee. . . heeee. . . heee. . . jika aku sudah mengatakan

kau harus mundur, maka kau orang harus menurut, sudah

dengar belum?. . .” teriak pemuda she Pek ketus.

“Ooooouw. . . sungguh besar lagakmu!”

“Bukannya aku suka bicara ngibul, tapi ini kenyatan.”

“Baik. . . . baiklah, lebih baik kita melangsungkan suatu

pertarungan dan siapakah yang keluar sebagai pemenang

diantara kita, dialah yang berhak untuk menyewa rumah

ini.”

“Bagus sekali usulmu ini.”

Begitu Pek Thian Ki mengutarakan persetujuannya,

Thian Mo Kiam Khek dengan cepat menubruk datang

disertai pedangnya dicabut keluar dari dalam sarung.

“Mari. . . .mari. . .kau boleh coba dulu bagaimanakah

rasa pedasnya pedangku. . .” ejek Pek Thian Ki sinis.

Belum habis ia berkata, pedang Ciang Liong Kiam-nya

sudah dicabut keluar, dan suatu pertarungan sengit yang

menentukan mati hidup pun secara mendadak akan

berlangsung didepan mata.

“Saudara, silahkan kau orang turun tangan terlebih

dahulu,” bentak Thian Mo Kiam Khek ketus.

“Lebih baik kau saja yang duluan!”

Baru saja Pek Thian Ki menyelesaikan kata2nya,

terlihatlah serentetan cahaya tajam laksana kilat sudah

menyambar kearah pemuda tersebut, Kiranya

menggunakan kesempatan baik itu Thian Mo Kiam Khek

sudah melakukan pembokongan.

Ditengah merentetnya cahaya pedang, Pek Thian Ki pun

menyabetkan pedangnya kedepan menghalau datangnya

serangan lawan.

“Traaaaaaang. . . .! Masing-masing pedang saling

bentrok diatas udara menimbulkan percikan bunga api,

serangan Thian Mo Kiam Khek kena tercukil lewat oleh

serangan pemuda she Pek itu.

Setelah berhasil menghalau datangnya serangan Thian

Mo Kiam Khek, Pek Thian Ki tidak ambil diam sampai

disitu saja, tangan kanannya digetarkan berturut-turut

dengan menggunakan tiga macam serangan yang berbeda

menggencet pihak lawan.

Sekonyong-konyong. . . .

Ketika Pek Thian Ki mengirim serangan mematikan

itulah, serentetan suara bentakan yang amat dingin bergema

datang;

“Tahan!!”

Suara bentakan ini datangnya sangat mendadak lagipula

bernada dingin menyeramkan, tanpa terasa Pek Thian Ki

serta Thian Mo Kiam Khek sama-sama menarik kembali

badannya dan mundur kebelakang.

Ketika ditengok, dilihatnya didepan pintu rumah aneh

yang terbuka lebar-lebar berdiri sesosok bayangan hitam

munculkan dirinya disana. Karena jaraknya sangat jauh

ditambah pula suasana didalam rumah aneh itu gelap

gulita, maka Pek Thian Ki tak berhasil melihat jelas

bagaimanakah raut mukanya. . . .Tapi, yang jelas, orang itu

pasti adalah si Majikan rumah aneh tersebut.

“Kau orangkah si Majikan rumah aneh ini?” tegur Thian

Mo Kiam Khek setengah membentak.

“Sedikitpun tidak salah, kalian berdua apakah samasama

ingin menyewa runah ini?”

“Dugaanmu tidak meleset!”

-0odwo0-

Jilid 11

Bab 31

“Jika demikian adanya urusan jadi rada sulit, rumah ini

didalam setahun hanya boleh disewakan untuk satu orang

saja, jikalau kalian berdua sama-sama ada maksud

menyewa rumah ini dalam waktu yang bersamaan, maka

sulitlah untuk ditentukan siapakah yang lebih berhak untuk

menyewa terlebih dahulu,” seru pihak lawan sambil tertawa

dingin.

“Engkohku To Liong Kiam Khek apakah mati

ditanganmu?” bentak Thian Mo Kiam Khek, dingin.

“Sebelum kau berhasil menjadi tamu sipenyewa

rumahku, mengikuti aturan tak dapat kujawab

pertanyaanmu itu, Apa betul To Liong Kiam Khek adalah

engkohmu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Lalu siapakah saudara ini? Agaknya tempo dulu kita

pernah berjumpa bukan?”

“Tidak salah!” Pek Thian Ki manggut.

“Kaupun ingin menyewa rumah ini?”

“Sudah tentu!”

“Siapakah yang kau wakili?”

“Ciang Liong Kiam Khek!”

“Apa? si Jagoan Pedang Penakluk Naga?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Dimana ia sekarang berada?”

“Mati!”

Saat ini Pek Thian Ki mempunyai pegangan seratus

persen bahwa ia bakal berhasil menyewa rumah aneh ini,

karena diantara sembilan jagoan pedang dari kolong langit

hanya tinggal si Ciang Liong Kiam Khek seorang yang

belum hadir disana.

“Heeeee. . . heeee. . .heeeee. . . lalu kalian berdua sudah

bawa sekalian syarat-syarat yang dibutuhkan?” seru sang

Majikan Rumah aneh seraya tertawa dingin.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Jika kutinjau keadaan kalian berdua agaknya mirip

orang-orang jujur, Dan rumah ini memang khusus

disewakan untuk orang jujur, sehingga dikemudian hari tak

bakal timbul banyak persoalan, Satu tahun penuh bila aku

tidak berhasil minta kembali rumah ini, bukankah akan jadi

repot. . .”

“Lalu, rumah ini akan kau sewakan kepada siapa?”

bentak pemuda she Pek dingin.

“Tempo dulu aku pernah beritahu kepadam bahwa

kemungkinan besar kau adalah tamu si penyewa rumahku,

sudah tentu setelah ucapan tersebut diutarakan,

bagaimanapun juga rumah ini harus kuserahkan kepadamu

untuk disewa setahun. . .”

“Apa? Kau hendak sewakan rumah ini kepadanya?”

bentak Thian Mo Kiam Khek teramat gusar.

“Dugaanmu tidak meleset!”

“Aku harus berhasil menyewa rumah ini. . .”

“Tapi rumah ini adalah milikku, sudah tentu aku berhak

untuk ambil keputusan, coba kau bilang betul tidak?” jengek

pihak lawan dingin.

“Mengapa kau sewakan rumah ini kepadanya?”

“Aku suka dengan orang muda. . . .apalagi orang muda

tak akan berbuat selicik orang tua, maka dari itu, aku

putuskan hendak sewakan rumah ini kepadanya, apakah

tidak boleh?”

“Kalau begitu, apakah engkohku menemui ajalnya

ditanganmu?” teriak Thian Mo Kiam Khek lagi teramat

gusar.

“Aku tidak ada kepentingan untuk menjawab

pertanyaanmu itu!”

Si jagoan Pedang Iblis Langit tak dapat menahan sabar

lagi, teriaknya; “Akan kulihat, kau adalah manusia macam

bagaimana? Sombong betul lagakmu. . .”

Diiringi suara bentakan keras, tubuhnya melesat kedepan

langsung melayang kearah si Majikan rumah aneh itu.

Tindakan dari Thian Mo Kiam Khek ini benar-benar berada

diluar dugaan Pek Thian Ki.

“Mundur. . . .” bentak si Majikan rumah aneh keraskeras.

Tangan kanan diayun kedepan, segulung angin pukulan

yang amat keras kontan memaksa tubuh Thian Mo Kiam

Khek terpental balik.

“Jikalau saudara mengerti keadaan, lebih baik cepatcepat

enyah dari sini, kalau tebal muka lagi. . . . .heee. . .

heeee. . . heeee. . . jangan salahkan aku orang tak akan

berlaku sungkan lagi terhadapmu.” ancam sang Majikan

rumah aneh tersebut.

Nada suaranya dingin penuh mengandung napsu

membunuh, membuat setiap orang yang mendengar ikut

merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

“Kurang ajar! Kau berani usir aku? Ini hari jika bukan

kau yang mati, adalah aku yang hancur,” teriak si jagoan

pedang itu gusar.

Pada saat ini Thian Mo Kiam Khek sudah diliputi

maksud untuk adu jiwa, ditengah suara bentakan keras

sekali lagi, ia menubruk kearah si Majikan rumah aneh itu

dengan kalap.

Mendadak. . . .

Pada waktu Thian Mo Kiam Khek mencelat ketengah

udara dan siap menubruk kearah si Majikan rumah aneh

itu, Pek Thian Ki pun enjotkan badannya menghadang

jalan pergi dari si jagoan pedang tersebut.

“Tahan!” bentaknya dingin.

“Apa yang kau inginkan?” teriak Thian Mo Kiam Khek

murka, dari sepanjang matanya memancarkan cahaya

berapi-api.

“Ada pepatah mengatakan; “Siapa yang tahu keadan

dialah orang pintar, aku lihat lebih baik kau pulang saja. . .”

kata pemuda itu seraya tertawa hambar.

“Kentutmu!”

Rasa bencinya terhadap diri Pek Thian Ki pun sudah

meresap kedalam tulang sumsum, jikalau ini hari bukannya

muncul sang pemuda tersebut, ia pasti telah berhasil

menyewa rumah itu.

Ditengah kegusaran yang berkobar-kobar ia membentak

keras, pedangnya dengan membawa suara desiran tajam

langsung menerjang diri sang perjaka dengan serangan yang

tajam, dahsyat dan gencar.

Seraya mengebaskan pedang Ciang Liong Kiam-nya,

memunahkan datangnya serangan lawan, Pek Thian Ki

berkelit kesamping.

“Kata-kata yang jujur kau tidak suka mendengar, akupun

tak akan menggubris dirimu lagi.” serunya dingin.

Thian Mo Kiam Khek yang melihat serangannya tidak

mencapai pada sasaran, tubuhnya bagaikan sambaran petir

langsung menerjang kearah Majikan rumah aneh itu. Suara

dengusan berat berkumandang memecahkan kesunyian,

tubuh Thian Mo Kiam Khek dengan sempoyongan mundur

sepuluh langkah kebelakang, setelah beberapa kali muntah

darah segar, ia jatuh terjengkang keatas tanah.

“Hmmm! Heee. . .heee. . . dengan mengandalakn

sejumpit kepandaian, kau sudah berani cari gara2 . . . .

manusia yang tidak tahu diri!. . .” seru Majikan rumah aneh

itu sambil tertawa dingin.

Suara tawaannya kaku, ketus dan penuh mengandung

hawa napsu membunuh, membuat setiap orang yang

mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Kekejaman serta keganasan pihak lawan membuat Pek

Thian Ki pun ikut merasakan hatinya berdesir, Sehingga

tanpa terasa pemuda ini sudah mundur selangkah

kebelakang.

“Heee. . .heee. . .heee. . .kepandaian silat yang kau miliki

sungguh mengagumkan sekali,” seru Pek Thian Ki dingin.

“Kau orang terlalu memuji.”

“Sekarang aku boleh menyewa rumahmu itu bukan?”

“Boleh. . . boleh. . . Uang Emas, Wanita cantik serta arak

wangi apakah semuanya sudah siap?”

“Sedikitpun tidak salah,” Pek Thian Ki manggut dingin.

“Setelah syarat-syarat diserahkan, kapan aku baru boleh

menempatinya?”

“Setiap saat kau boleh menempati!”

“Malam ini juga?”

“Benar, malam ini juga!”

“Bagus sekali, Nih! Terimalah uang emas seribu tahil!”

Sembari berseru, ia lemparkan uang seribu tahil emas murni

itu kearah si Majikan rumah aneh tersebut, kemudian

bentaknya lagi; “Dan ini adalah arak Giok Hoa Lok !”

Kembali ia lemparkan botol berisikan arak Giok Hoa Lok

itu kearah pihak lawan.

Setelah Majikan rumah aneh itu menerima uang emas

seribu tahil dan arak wangi Giok Hoa Lok sebotol, kembali

ujarnya dingin; “Wanita cantik. . . apakah sang gadis yang

berada disisimu itu?”

“Dugaanmu tidak meleset!”

“Kalau begitu, suruh saja ia datang sendiri kemari!”

Pek Thian Ki melirik sekejap kearah Suma Hun,

dilihatnya wajah gadis itu diliputi ketawaran yang susah

dibedakan bagaimanakah reaksinya, selangkah demi

selangkah ia berjalan maju kedepan.

“Kau tetap berdiri ditempat!” Mendadak Majikan rumah

aneh itu membentak keras.

“Mengapa?” tanya Pek Thian Ki seraya menghentikan

langkah kakinya kembali.

“Sebelum aku beru ijin kepadamu untuk maju, kau

dilarang melangkahi rumah ini.”

Pada waktu itu Suma Hun telah berada didalam rumah

aneh tersebut, hal ini membuat sang perjaka merasakan

dadanya berdebar keras. Menanti Suma Hun telah berada

tiga depa dihadapan Majikan rumah aneh itu, mendadak

gadis tersebut membentak keras, tubuhnya laksana kilat

menyerbu kedalam seraya mengirim satu pukulan dahsyat

kearah dadanya.

Gerakan yang dilancarkan Suma Hun ini benar-benar

luar biasa cepatnya, terasa bayangan manusia berkelebat

lewat, tahu-tahu serangannya sudah bersarang didada

Majikan rumah aneh itu.

Agaknya sang Majikan rumah aneh tersebut sama sekali

tidak menduga Suma Hun bisa melakukan tindakan macam

ini, ia tidak malu disebut sebagai seorang jagoan yang

berkepandaian tinggi, walaupun menghadapi musuh

tangguh pikiran tidak sampai jadi gugup.

Tangan kanan buru-buru dikebaskan kedepan menerima

datangnya serangan itu. “Braaaak!” diiringi suara bentrokan

keras, angin pusaran menghembus lewat dan memecah

keempat penjuru, debu pasir beterbangan menyilaukan

mata, tubuh masing-masing pun terpental mundur kearah

belakang.

Dalam saat-saat yang sangat kritis itulah Pek Thian Ki

berkelebat maju kedepan, serangannya secara tiba-tiba

manyapu tubuh lawan. Serangan yang dilancarkan sang

perjaka ini lebih mirip daripada sebuah serangan mengadu

jiwa. . .

“Plaaaak!” sekali lagi pukulannya bersarang ditubuh

Majikan rumah aneh tersebut. Tubuhnya langsung terpukul

mencelat sejauah satu tombak, Pek Thian Ki sudah tentu

tak akan melepaskan kesempatan yang sangat baik ini,

tubuhnya berkelebat lewat dan sekali lagi menubruk

kedepan.

Walaupun gerakan sang pemuda cepat, tapi gerakan

pihak lawanpun tidak berani berayal, begitu tubuhnya

terbanting keatas tanah, buru-buru menggelinding pergi

beberapa tombak jauhnya.

Cengkeraman dari Pek Thian Ki jadi mencapai pada

sasaran yang kosong. Dalam keadaan gusar, pemuda itu

segera menggerakkan pedang Ciang Liong Kiam-nya

melancarkan tusukan.

Cahaya tajam berkelebat lewat, pedangnya dengan

menimbulkan bunga-bunga pedang mengurung tubuh

lawan. Ketika itulah, ditengah suara bentakan keras

serentetan cahaya tajam secara mendadak meluncur kearah

tubuh Pek Thian Ki.

Untuk menghindarkan diri, pemuda itu tidak sempat

lagi. Lengannya langsung merasakan sakit, tahu2 sebatang

senjata rahasia sudah bersarang dibadannya.

Karena kejadian ini hawa membunuh dihati Pek Thian

Ki meledak, ia membentak keras, pedang Ciang Liong

Kiam-nya dengan digunakan sebagai senjata rahasia

disambitkan kearah Majikan rumah aneh tersebut.

“Adduuuuuh!” suara jeritan ngeri berkumandang

memenuhi angkasa, darah segar muncrat keempat penjuru,

dada si Majikan rumah aneh tersebut telah ditembusi

pedang Ciang Liong Kiam, sehingga darah segar muncrat

semakin deras lagi, orang itupun roboh menemui ajalnya.

Melihat peristiwa ini Pek Thian Ki berdiri tertegun. Sinar

mata sang pemuda dengan cepat menyapu lewat, dilihatnya

orang yang menggeletak mati itu adalah seorang kakek tua

kecil pendek yang berkerudung.

Agaknya Pek Thian Ki merasa sedikit ada diluar dugaan

dengan kejadian ini, maka itulah ia merasa lengannya mulai

sakit sekali, sehingga merasuk kedalam tulang, sinar

matanya perlahan-lahan dialihkan keatas lengan sendiri.

Dengan sekali sambaran pemuda itu cabut keluar senjata

rahasia tersebut, kemudian memandang Suma Hun sang

gadis yang berdiri tertegun ditangah kalangan.

“Akan kulihat siapakah sebenarnya si Majikan rumah

aneh ini.” seru sang perjaka sambil tertawa dingin.

Tubuhnya mendadak berkelebat lewat dan langsung

meluncur kearah Majikan rumah aneh itu. Tapi, belum

sampai tubuhnya mencapai sasaran, suara bentakan

kembali berkumandang datang, sesosok bayangan hitam

dengan membawa segulung angin pukulan yang maha

dahsyat secara tiba-tiba membokong diri pemuda itu.

Serangan tersebut datangnya amat cepat membuat Pek

Thian Ki dalam keadaan tidak bersiap sedia hampir-hampir

saja kena tersapu roboh. Tangan kanannya dengan cepat

disilangkan kedepan dada, lalu mengundurkan diri

kebelakang.

Dengan mundurnya sang pemuda, bayangan hitam itu

mendesak lebih jauh, serangan keduapun kembali

menyambar datang. Seketika itu juga keadaan sang pemuda

jadi terjepit, ia tak bisa berkutik lagi dari tengah kepungan.

Kelihatan Pek Thian Ki bakal terhajar oleh serangan

lawan, tiba-tiba Suma Hun membentak keras, dari samping

ia mengirim satu pukulan kemuka. Serangan dari gadis ini

cepat, aneh dan kuat.

“Braaak!” Ditengah suara bentrokan keras, Suma Hun

mendengus berat dan terpukul pental keluar dari pintu

besar, sedangkan siorang berbaju hitam itu sendiri mundur

tujuh, delapan langkah kebelakang.

“Aku hancurkan dirimu,” bentak Pek Thian Ki gusar.

Bayangan manusia berkelebat lewat, bagaikan seekor

burung elang ia menyambar badan siorang berbaju hitam

itu, sedang angin pukulanpun membarengi menyapu keluar.

. . .

Tiba-tiba. . . .

Pada saat Pek Thian Ki sedang melancarkan pukulan

dahsyat kedepan itulah, siorang berbaju hitam melejit

kesamping lalu balas mengirim satu pukulan pula kearah

muka.

Kepandaian silat yang dimiliki siorang berbaju hitam ini

benar-benar sangat lihay, perubahan jurus yang dilakukan

pun luar biasa, kontan Pek Thian Ki kena terdesak mundur

kebelakang.

Waktu itu siorang berbaju hitam tersebut masih

melanjutkan mengirim tiga buah serangan sekaligus. Dalam

beberapa detik saja pemuda itu kena dipaksa mundur keluar

dari pintu besar.

“Braaaak!” dengan disertai suara bentrokan keras,

mendadak pihak lawan menutup rapat-rapat pintu besar

tersebut.

“Eeeeei. . . kalau punya kepandaian, ayoh menggelinding

keluar. . .” bentak sang perjaka dengan suara yang keras.

Diiringi suara pekikan nyaring, ia mengirim satu pukulan

gencar keatas pintu besi tersebut. Dengan menimbulkan

suara yang keras, kedua pintu besi tadi bergetar keras, tapi

sedikitpun tidak kelihatan rusak atau terbuka.

Pek Thian Ki semakin gusar lagi, ia persiapkan serangan

yang kedua, tapi belum sempat dihantamkan keluar,

pandangannya jadi gelap, seluruh tubuh bergidik dan mulai

sempoyongan.

“Aduuuuh celaka. . . senjata rahasia tersebut beracun!”

teriaknya didalam hati.

Adanya racun diatas senjata rahasia yang menghajar

dibadannya tadi benar-benar ada diluar dugaan Pek Thian

Ki. Buru-buru ia salurkan hawa murninya mengelilingi

seluruh tubuh dan bermaksud memaksanya keluar dari dari

badan, jika ia berdiam diri, mungkin masih mendingan

karena saluran hawa murni, maka pandangan matapun jadi

gelap dan badannya lemas tak bertenaga.

Pek Thian Ki mengerti jika ia sudah terkena racun yang

amat ganas, dengan badan lemas tak bertenaga ia bangun

berdiri. Tiba-tiba sinar matanya terbentur dengan Suma

Hun yang menggeletak diatas tanah sambil muntahkan

darah segar berulang kali.

Kejadian ini membuat sang perjaka semakin gertak

giginya tajam-tajam, Belum sampai rahasia rumah aneh ini

terbongkar, ia serta Suma Hun berturut-turut menderita

luka parah, bahkan pedang Ciang Liong Kiam-nya pun

tertinggal didalam rumah.

Dengan sedikitpun tak bertenaga, pemuda itu bangkit

lalu berjalan kesisi Suma Hun.

“Nona Suma. . .” tegurnya.

Tapi gadis itu bungkam dalam seribu bahasa. Pada ujung

bibirnya masih mengucurkan darah segar, menanti pemuda

itu bantu menotokan beberapa buah jalan darahnya, Suma

Hun baru perlahan-lahan membuka mata. . . .

“Nona Suma. . . .” kembali Pek Thian Ki menyapu.

“Kau. . . kau. . .lukamu. . .” seru sang gadis sambil

memandang perjaka itu dengan pandangan penuh rasa

khawatir.

“Aku masih bisa bertahan diri, tapi. . .kau. . kau. .

.karena urusanku, kau jadi ikut terluka. .”

Dari sepasang matanya, mendadak memancar keluar

serentetan cahaya yang menggidikkan, serunya kembali;

“Sekalipun aku Pek Thian Ki menemui ajalpun, harus bikin

terang dulu urusan yang menyangkut rumah aneh ini. . . .”

“Lu. . .lukamu. . Mungkin. . .mungkin tak akan tahan. . ”

seru Suma Hun lagi penuh rasa khawatir.

Jikalau semisalnya Pek Thian Ki tidak pernah menelan

dua lembar Jinsom seribu tahun jangan dikata tenaga

lweekangnya tak bakal bisa pulih kembali, mungkin daya

pengaruh racun tersebut sudah mulai bekerja.

“Aku masih bisa tahan, tapi kau. . .”

“Aku telah terhajar satu pukulan beracun. . . .”

“Nona Suma. . .”

“Kau orang jangan merasa dirimu bersalah karena

peristiwaku, aku. . . rela begini. . . sekalipun. . . . haaa. .

harus mati, aku juga. . . .juga rela.”

Saking terharunya Pek Thian Ki mengucurkan air mata,

selama hidupnya belum penah ia merasa berduka seperti

ini, karena seorang gadis cantik ternyata rela berkorban

demi kepentingan dirinya. “Nona Suma, aku orang she Pek

entah harus menggunakan apa untuk membalas rasa terima

kasihku ini. . . .”

“Aku. . .aku tidak ingin. . .kau. . . kau membalas budi

tersebut. . . aku. . . aku tak akan mengharapkan. . . sooo. . .

soal semacam itu. . .”

“Aku. . . aku tahu!”

“Ada. . . ada kalanya aku. . .aku merasa sangat benci

kepadamu. . . karena. . . karena. . . aku. . . . cinta padamu. .

.”

“Cinta padaku?”

“Benar. . . sebelum mati, aku. . .aku tak bisa tidak harus

kuucapkan secara terus terang. . .”

“Kau. . . kau tak akan mati!. . .”

“Tidak! Kemungkinan besar aku bakal mati. . .”

“Tidak!”

“Sebelum aku mati banyak perkataan yang hendak aku

bicarakan. . . perkataan ini tak boleh tidak harus kukatakan

dan inipun apa yang kau ingin ketahui. . .”

“Kau. . . katakanlah!” Baru saja Pek Thian Ki

menyelesaikan perkataannya,

Mendadak. . . .

Serentetan suara bentakan dingin bergema memecahkan

kesunyian, sreet! sreet! ber-turut2 melayang turun empat

sosok bayangan manusia yang segera mengepung sang

pemuda ditengah kalangan.

Pek Thian Ki rada melengak dibuatnya, dengan raguragu

ia menyapu sekejap kearah orang-orang itu, yang

terdiri dari tiga orang lelaki tua serta seorang perempuan.

Orang yang berada disisi kanan menggembol pedang,

yang kedua mencekal cambuk, yang perempuan membawa

pedang dan orang terakhir adalah seorang kakek tua yang

kurus kering. Begitu keempat orang itu munculkan diri, air

muka merekapun sama-sama memperlihatkan napsu

membunuh.

Pek Thian Ki berdiri melengak. Ketika itu Suma Hun

dengan paksakan diri sudah bangun berdiri, biji matanya

yang jeli dengan tiada bertenaga berputaran, lalu serunya

lirih;

“Aduuuuh celaka. . .”

Mendengar jeritan tersebut, Pek Thian Ki ikut merasakan

hatinya berdesir. Sikakek tua menggembol pedang itu maju

selangkah kedepan seraya membentak keras;

“Rasanya saudara telah menerima surat dari kami

bukan?”

“Surat? Surat apa?”

“Tidak salah,” sahut siorang tua bersenjatakan cambuk

itu dengan suara yang amat dingin, “Aku telah

memerintahkan orangku untuk mengirim sepucuk surat

kepada saudara sewaktu berada di Istana Perempuan. . . .

apakah mungkin saudara tidak menerimanya?”

“Siapakah kalian berempat?”

“Aku adalah Kokcu dari lembah Hong Yu Kok dengan

gelar ‘Hong Yu Sin Pian Khek'(Cambuk Sakti Hujan dan

Angin), sedang dia adalah ‘Thian Lui It Kiam (Pedang Sakti

Guntur Langit), dan dia adalah ‘Ciang Hong Kiam Li’

(Pendekar Pedang Burung Hong Hijau), terakhir ‘Ngo Tok

Mo Cun’ ( Iblis Sakti Lima Racun), bukankah didalam surat

tersebut telah disebutkan amat jelas?”

“Kalian berempat kira siapakah aku?”

“Kiang To!”

“Heeeee. . . heeeee. . . heeee. . . kalau begitu dugaan

kalian salah besar, cayhe bukan Kiang To, aku bernama

Pek Thian Ki dan Kiang To yang sebetulnya tidak suka

menerima surat ini, lebih baik kalian terima kembali

suratmu ini.” Habis berkata ia lemparkan surat tadi kearah

sicambuk sakti hujan dan angin.

“Kiang To!” teriak Hong Yu Sin Pian Khek setelah

menerima kembali surat tersebut. ” Kau tidak berani

mendatangi lembah Hong Yu Kok kami, terpaksa kami

datang sendiri mencari dirimu. . .”

“Sudah aku katakan bahwa aku bukan Kiang To!”

“Dalam dunia kangouw, saat ini sudah terbukti bahwa

Kiang To seluruhnya berjumlah dua orang, seorang lelaki

dan seorang perempuan, sewaktu berada diperkampungan

Lui Im San-cung, kau tidak berani munculkan diri, sedang

Kiang To sang gadis sudah munculkan dirinya. . . .”

“Saudara berempat, tolong tanya ada ikatan dendam

apakah antara Kiang To dengan kalian?” ujar Pek Thian Ki

kemudian sambil tertawa.

“Saudara, apa gunanya setelah tahu pura-pura bertanya

kembali? Kau sudah memperkosa keempat orang putri

kami!”

“Apa? Kiang To telah memperkosa empat orang gadis,

keempat orang puteri kalian?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Apakah kalian benar-benar yakin jika keempat orang

gadis tersebut kena diperkosa?”

“Soal ini apa perlunya ditanyakan kembali?”

Pek Thian Ki langsung merasakan hatinya bergidik. “Jika

demikian, kalian sudah yakin betul2 ?” serunya.

“Karena peristiwa ini, putriku serta putri dari Ngo Tok

Mo-cun telah bunuh diri. Kau yang terkutuk, kembalikan

nyawa putri-ku!” Pedang Cing Hong Kiam-nya dengan

menimbulkan beribu-ribu bintik cahaya tajam laksana kilat

menyapu kearah pinggang pemuda tersebut.

“Tahan!” bentak Pek Thian Ki keras-keras.

Cing Hong Kiam Li segera tarik kembali pedangnya

seraya menegur dingin; “Kiang To, masih ada perkataan

apa lagi yang hendak kau sampaikan?”

“Sudah aku katakan, bahwa aku bukan Kiang To, kalian

janganlah salah paham, Apalagi cayhe-pun sedang mencari

Kiang To. . . .”

“Bangsat! Kau tidak usah berlagak pilon lagi!” teriak

perempuan tua itu memotong perkataannya yang belum

selesai.

Kembali Pek Thian Ki tertawa dingin. “Aku harus

berbuat bagaimana agar kalian bisa percaya bila aku bukan

manusia yang bernama Kiang To?”

“Kecuali aku tabas batok kepalamu!”

Mendengar perkataan tersebut, air muka Pek Thian Ki

kontan saja berubah sangat hebat.

“Apa yang kalian kehendaki?”

“Bunuh mati kau orang!”

“Bagus sekali, aku Pek Thian Ki ingin coba-coba minta

petunjuk dari kalian berempat!” seru sang pemuda,

kemudian seraya kertak gigi.

“Pek Siauw-hiap, kau. . . badanmu terkena racun. . . .”

bisik Suma Hun lirih.

“Aku tahu dan rasanya merekapun sudah melihat semua,

tapi, aku Pek Thian Ki lebih baik mati keracunan daripada

harus minta ampun kepada mereka, Kau mengerti bukan?”

Perlahan-lahan ia melangkah maju kedepan. Sebetulnya

Pek Thian Ki tak dapat bergebrak kembali, jikalau ia turun

tangan lagi, maka racun yang bersarang dalam badannya

tentu akan bekerja dan mengakibatkan kematian bagi

dirinya.

Tapi, situasi yang dihadapi saat ini bagaimanapun juga

memaksa ia harus turun tangan. Setelah berdiri tegak,

ujarnya dingin;

“Kalian sudah tahu bahwa aku Pek Thian Ki telah

terluka parah, cuma rasanya untuk menerima beberapa

buah jurus serangan dari kalian masih belum termasuk

suatu persoalan yang penting, lebih baik kalian berempat

turun tangan bersama-sama saja!”

Dengan perasaan bergidik Suma Hun melototi beberapa

orang itu dengan mata terbelalak lebar-lebar.

Bab 32

MENDADAK…..

Suara bentakan keras berkumandang memevahkan

kesunyian, pangcu dari perkumpulan Cing Hong Pang, si

Pendekar Pedang Burung Hong Hijau meloncat maju

kedepan seraya mengirim satu serangan dahsyat menyapu

pinggang Pek Thian Ki.

Begitu si Pendekar Pedang Burung Hong Hijau turun

tangan, maka kawan-kawannya si Pedang Sakti Guntur

Langit serta si Iblis Sakti Lima Racun-pun sama-sama

melancarkan serangan menerjang diri pemuda tersebut.

Bayangan manusia berkelebat lewat, setelah Pek Thian

Ki berhasil meloloskan diri dari beberapa buah serangan

tersebut, dengan sebat ia mengirim sebuah serangan

balasan. Tapi begitu serangan tadi didorong keluar,

pandangan matanya jadi berkunang-kunang dan akhirnya

menggelap.

Serangan tersebut berhasil mengunci datangnya tubrukan

dari ketiga orang itu, tapi dalam sekejap mata mereka

kembali menerjang kemuka sambil mengirim pukulanpukulan

yang mematikan. Dengan paksakan diri, Pek Thian

Ki mencelat ketengah udara kemudian berjumpalitan

beberapa kali ditengah udara dan melesat kesisi tubuh

mereka bertiga.

Suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa,

dua sosok bayangan manusia roboh keatas tanah, kiranya

Thian Lui It Kiam serta Ngo Tok Mo-cun sama-sama telah

menggeletak mati dengan batok kepala terbabat hancur

berantakan.

Tubuh sang pemuda she Pek itu sendiri pun terhuyunghuyung

mundur kebelakang. Setelah Pek Thian Ki berhasil

membinasakan si Pedang Sakti Guntur Langit serta si Iblis

Sakti Lima Racun dengan kepandaian Sing-kang-nya, racun

yang mengeram didalam badanpun mulai bekerja,

badannya bergoyang dan mundur kebelakang dengan

sempoyongan. . . .

Suma Hun segera menjerit kaget melihat kejadian itu. . . .

Pada saat gadis tadi menjerit kaget, pedang Cing Hong

Kiam Li kembali menyambar, ditengah udara dengan

gerakan yang teramat kihay menerjang dada Pek Thian Ki.

Serangan yang digunakan perempuan tua pada saat ini luar

biasa cepatnya, ditambah pula racun yang sedang bekerja

ditubuh Pek Thian Ki membuat sang pemuda tersebut tiada

bertenaga untuk menghindar lagi.

Sekonyong-konyong. . . .

“Tahan!” suara bentakan yang sangat dingin

berkumandang memecahkan kesunyian. Suara bentakan

tersebut mengandung suatu tenaga pengaruh yang sangat

besar, membuat si Pendekar Pedang Burung Hong Hijau

dengan hati berdesir menarik kembali serangannya.

Ketika semua mengalihkan sinar matanya dilihatnya

seorang gadis berbaju hitam dengan angkernya berdiri disisi

kalangan, dibelakang gadis tersebut mengikuti delapan

orang kakek tua yang sama2 menggembol pedang.

Melihat munculnya orang-orang itu, air muka Cing

Hong Kiam Li, berubah sangat hebat. “Ooouw. . . kiranya

Kiam Mo Li (si Perempuan Iblis), entah apa maksudmu

datang kemari?” serunya sambil tertawa paksa.

Air muka gadis berbaju hitam itu sama sekali tidak

menunjukkan reaksi, wajahnya hambar sedang sinar

matanya langsung dialihkan keatas wajah Pek Thian Ki.

Lama sekali ia baru buka suara menegur; “Kau orangkah

yang bernama Pek Thian Ki?”

“Sedikitpun tidak salah!” sahut pemuda tersebut setelah

menenangkan pikirannya sebentar.

“Kau orangkah yang membinasakan keenam orang anak

murud dari lembah pedang kami sewaktu berada didalam

Istana Perempuan?”

Mendengar pertanyaan itu, Pek Thian Ki merasakan

hatinya berdesir, pikirnya: “Aaaach! Kiranya si gadis

berbaju hitam yang bernama Kiam Mo Li ini adalah Kokcu

dari Lembah Pedang. . . .”

Ia lantas tertawa hambar, dan mengangguk.

“Tidak salah! Keenam orang itu memang menemui

ajalnya ditanganku, lalu siapakah nona? Kau orang Kokcu

dari Lembah Pedang?”

“Bukan!”

“Jadi nona adalah. . . .”

“Siapakah aku sebetulnya untuk sementara waktu kau

tidak perlu tahu, sekarang aku hanya ingin bertanya, apa

sebabnya kau orang membinasakan keenam orang anak

murid kami?”

“Karena kalian terus menerus memaksa dan situasi

mendesak diriku, apakah aku disuruh peluk tangan mandah

dibelenggu?”

“Heeee. . .heee. . .heee. . . bagaimanakah situasi pada

waktu itu?” dengus Kiam Mo Li sinis.

“Anak muridmu memaksa cayhe untuk ikut pergi

kelembah pedang, cayhe sudah berulang kali menanyakan

siapakah Kokcu kalian, dan apa maksudnya mengundang

cayhe, tapi anak buahmu itu sepatah katapun tidak mau

berbicara. . . .”

“Lalu kau turun tangan membinasakan dirinya?”

“Tidak, bahkan cayhe sudah berulang kali mengatakan

bahwa saat ini belum ada waktu, dikemudian hari, bila ada

waktu luang tentu akan datang berkunjung, tapi anak buah

kalian mengandalkan jumlah yang banyak memaksa cayhe

harus turun tangan. . . .”

“Oleh sebab itu kau orang lantas membinasakan keenam

orang anak buah kami?”

“Jikalau pada waktu itu kedudukanku diganti oleh nona,

apa yang hendak kau lakukan?”

Oleh pertanyaan tersebut Kiam Mo Li berdiri tertegun,

tapi sebentar kemudian ia sudah menyahut; “Sekalipun

begitu dosa mereka, tidak sepantasnya memperoleh

hukuman mati, tindakan kau orang terlalu telengas!”

“Apakah kedatangan nona pada hari ini disebabkan oleh

persoalan tersebut?. . .” tanya Pek Thian Ki sambil tertawa

getir.

“Sedikitpun tidak salah, disamping itu masih ada satu

persoalan yang ingin minta penjelasan dari saudara.”

“Silakan kau utarakan.”

“Benarkah kau orang bernama Pek thian Ki?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Tahukah kau orang bahwa Sin Mo Kiam Khek pun

bernama Pek Thian Ki. . .”

“Cayhe memang pernah mendengar akan persoalan ini!”

sahut sang pemuda dengan hati tergetar!

“Jikalau begitu, mengapa kau bernama Pek Thian Ki

pula?”

“Kemungkinan sekali hanya suatu peristiwa kebetulan

saja, bagaimana? Apakah tidak boleh?”

“Sudah tentu boleh, siapakah gurumu?”

“Hingga saat ini aku masih belum jelas siapakah nama

guruku itu.”

“Bagaimana? Kau tidak tahu?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Omong kosong, dikolong langit mana, ada sang murid

tidak tahu siapakah gurunya?”

“Tapi suhuku memang belum pernah memberitahukan

kepadaku siapakah namanya, soal ini mau percaya atau

tidak, itu terserah kepadamu sendiri.”

“Kecuali kau bernama Pek Thian Ki, apakah namamu

yang lain adalah Kiang To?” desak Kiam Mo Li lebih

lanjut.

“Dugaanmu salah besar.”

Sekali lagi Kiam Mo Li tertawa dingin. “Kau telah

membinasakan keenam orang anak buah kami, aku tak

akan bisa melepaskan dirimu begitu saja. . .”

“Jikalau demikian adanya, silahkan nona turun tangan!”

“Sekarang badanmu sedang menderita luka dalam yang

sangat parah, apalagi masih ada orang yang hendak

mencari balas dengan dirimu, maka dari itu kau orang lebih

baik hadapi mereka terlebih dahulu.” Selesai berkata Kiam

Mo Li mengundurkan diri kesisi kalangan.

Dalam hati Pek Thian Ki memahami sangat jelas, ini

hari bilamana ia tidak mati, karena keracunan, maka ia

pasti mati dibunuh oleh orang-orang yang mencari balas

terhadap dirinya.

Tapi, agaknya ia sudah tidak memikirkan soal mati

hidupnya didalam hati. . .ia harus menggunakan seluruh

tenaga lweekang yang dimilikinya melakukan suatu

pertarungan mati hidup sebelum menemui ajal. Sinar

matanya perlahan-lahan menyapu sekejap kearah si Hong

Yu Sin Pian Khek serta Cing Hong Kiam Li.

“Sekarang kalian berdua boleh mulai turun tangan,”

katanya dingin. Suaranya dingin, kaku dan membuat hati

orang bergidik.

Tiba-tiba. . . .

“Bangsat cilik! Terimalah sebuah serangan cambukku!”

bentak Hong Yu Sin Pian Khek dengan keras.

Sreeet! Bayangan cambuk dengan membentuk serentetan

bayangan hitam dihajarkan keatas badan Pek Thian Ki, dan

bersamaan waktunya pula, ketika Hong Yu Sin Pian Khek

melancarkan serangan, si Cing Hong Kiam Li pun

mengirim sebuah tusukan mematikan.

Serangan cambuk serta serangan pedang bersama-sama

menyambar datang dalam waktu yang bersamaan. Pada

saat ini bagaimanapun juga Pek Thian Ki harus mengadu

jiwa, telapak tangannya dengan disertai hawa pukulan yang

maha dahsyat langsung didorong kedepan menghajar tubuh

Hong Yu Sin Pian Khek, kekuatannya sungguh luar biasa.

Dengan hati bergidik, buru-buru si Cambuk Sakti Hujan

dan Angin mengundurkan diri kebelakang. Serangan yang

dilancarkan Pek Thian Ki barusan ini ternyata hanya

sebuah serangan kosong belaka, sewaktu Hong Yu Sin Pian

Khek mengundurkan diri kebelakang itulah tiba-tiba angin

pukulan menyapu kearah Cing Hong Kiam Li yang ada

disisinya. Serangan yang digunakan sang pemuda ini

ternyata sangat aneh, lihay dan mengherankan.

“Braaak. . .!” Pukulan dengan telak bersarang didada

muduh diikuti suara dengusan berat bergema memenuhi

angkasa, tubuh Cing Hong Kiam Li kena tersapu keras,

darah segar muncrat keluar dari mulutnya dan tubuh

perempuan tua itupun roboh keatas tanah.

Tubuh Pek Thian Ki sendiri terdesak mundur beberapa

langkah dengan sempoyongan. Laksana sambaran kilat

sekali lagi si cambuk sakti Hong Yu Sin Pian Khek

mengirim sebuah babatan kearah pemuda tersebut.

Dimana bayangan cambuk menyambar lewat, dengan

tepat berhasil menghajar punggung Pek Thian Ki, membuat

tubuh pemuda tersebut terpukul mencelat satu tombak

ketengah angkasa. “Braaaaak!” Ia terbanting keras-keras

diatas tanah. Darah segar mengucur keluar dengan

derasnya dari punggung yang terhajar oleh cambuk tadi. . . .

Sedang tubuhnya menggeletak tak bergerak diatas tanah.

Sinar mata si cambuk sakti Hong Yu Sin Pian Khek penuh

diliputi oleh napsu membunuh, bentaknya keras;

“Kiang To! Serahkan nyawamu!”

Bayangan cambuk kembali menggulung lewat, sebuah

serangan dahsyat sekali lagi menyapu datang dan tepat

menghajar diatas batok kepala pemuda she Pek ini.

Sekonyong-konyong. . . .

Pada saat cambuk Hong Yu Sin Pian Khek menghajar

dengan tepat diatas batok kepala Pek Thian Ki itulah suara

bentakan nyaring tiba-tiba berkumandang memecahkan

kesunyian, Suma Hun bagaikan orang kalap menubruk

maju kedepan, Serangannya dengan disertai hawa pukulan

yang dahsyat, dihajarkan kepada atas tubuh si cambuk sakti

Hong Yu Sin Pian Khek.

Kejadian ini agaknya jauh berada diluar dugaan si

cambuk sakti Hong Yu Sin Pian Khek siorang tua ini tidak

sempat menghindarkan diri lagi. . . . . “Braaaak!” dengan

telak serangan tadi bersarang didadanya, Ia muntah darah

segar, tubuhnya mencelat ketengah udara dan terbanting

keras-keras diatas tanah.

Sedangkan tubuh Suma Hun pun terdorong mundur

kebelakang dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh

tertindih diatas badan Pek Thian Ki. Ketika badannya

roboh diatas tanah , gadis tersebut berseru dengan amat

lirih;

“Pek. . Siauw. . hiap. . ” Suaranya begitu memilukan hati

dan penuh mengandung perasaan khawatir.

Tapi, Pek Thian Ki tidak menjawab. si Kiam Mo Li yang

melihat jalannya peristiwa ini dari sisi kalangan segera

mengerutkan alisnya rapat-rapat, pemandangan yang sangat

mengerikan ini cukup membuat hati setiap orang merasa

terharu.

Lama. . . lama sekali, ia baru bangun berdiri. . . suara

perkataannya seperti merambat saja perlahan-lahan

merangkak naik keatas bibirnya, ia memandang Suma Hun

yang menggeletak lemas diatas tanah, gadis berbaju hitam

ini kepingin berteriak, tapi tak sepatah katapun yang bisa

diutarakan keluar.

Pek Thian Ki pun mulai menggerakkan badannya,

pemandangan yang ada dihadapan mata masih terasa

buram. . . badannya hampir-hampir saja tak dapat berdiri

tegak.

“Nona. . . kau. . .kau boleh mulai. . .tuuu. . . turun

tangan. . .” serunya kemudian. Suaranya lemah sedikitpun

tak bertenaga.

Kiam Mo Li ragu-ragu sejenak, akhirnya ia cabut keluar

pedangnya, cahaya pedang berkelebat lewat dan tahu-tahu

ujung pedangnya sudah menempel diatas dada Pek Thian

Ki yang kerempeng itu.

Agaknya pemuda tersebut masih belum merasakan

adanya bahaya. . . ia tetap masih berkata; “Ayooooh . . . .

tuuuu. . . turun tanganlah. . . ”

“Hmm! Kau sendiri sudah tiada bertenaga untuk turun

tangan,” jengek Kiam Mo Li dingin.

“Oooo. . .omong. . .omong kosong. . . ayo cepat

keluarkan pedangmu. . .”

Hampir2 saja Kiam Mo Li tertawa kegelian, ternyata Pek

Thian Ki masih belum sadar bila ujung pedangnya sudah

menempel diatas dada sendiri, setelah badannya terluka

parah, omongannya masih sombong saja, sungguh seorang

pemuda yang tidak tahu diri.

Senyuman yang semula menghiasi bibir gadis berbaju

hitam itu, perlahan2 lenyap dari pandangan. “Kau sudah

menderita luka yang sangat parah!” katanya perlahan.

“Tapi. . . tapi. . .aa. . .aku. . . aku be. . .belum mati. . .”

“Sekalipun sekarang belum mati, aku rasa sudah hampir

mati.”

“Mau. . .mau. . .bunuh aku. . .ayoh. . .cepat. . .tuuu. .

.turun tangan. . .”

“Heeee. . .heeee. . .heeee. . .aku tidak dapat

membinasakan dirimu, karena kau sama sekali tiada

bertenaga untuk melakukan perlawanan. . .” kata Kiam Mo

Li sambil tertawa dingin.

“. . . . .” Pek Thian Ki ingin mengucapkan sesuatu, tapi

tak sepatah katapun yang berhasil diutarakan keluar.

“Pek Thian Ki, jikalau kau tidak sampai mati, bagaimana

kalau kita berjanji untuk melakukan suatu pertarungan

disebuah tempat tertentu?”

“Di. . .dimana. . .dimana?”

“Datanglah kelembah pedang kami!”

“Baik. . .!”

“Kalau begitu aku pergi dulu. . .” Dengan membawa

keibaan hati, Kiam Mo Li, akhirnya menggeserkan kakinya

berlalu dari sana.

Walaupun gadis ini ada maksud untuk membinasakan

pemuda she Pek ini, tapi keadaan yang terpapar

dihadapannya membuat hatinya tidak tega untuk turun

tangan, ia tak dapat membinasakan seseorang yang sama

sekali tiada bertenaga untuk melancarkan serangan balasan,

dan jauh lebih jujur bila ia menantang dirinya untuk

bertanding pada suatu hari setelah tenaganya pulih kembali

seperti sedia kala.

Setelah Kiam Mo Li berlalu, tubuh Pek Thian Ki pun

kembali roboh keatas tanah. . . tepat disisi tubuh Suma

Hun.

“Nooooo. . .na. . . .nona. . . .nona Suma. . .” serunya

perlahan.

“Pek. . .sau-hiap. . .” Gadis itu nyeletuk, tapi suaranya

perlahan sedikitpun tak bertenaga dan kedengarannya amat

memilukan hati.

“Aku. . . aku merasa. . .telah berbuat salah padamu. . .”

ujar pemuda itu lagi dengan ngotot.

“Tidak. . .”

“Nona. . .nona Suma. . .mungkin aku. . .aku tiada

harapan. . .harapan lagi un. . .untuk hidup. .”

“Jikalau kita. . .bisa. . .bisa mati bersama. . .jauh lebih. .

.baaa. . .bagus lagi.”

“Aku. . .”

“Pek. . .Siauw-hiap. . .tahu. . .tahukah. . .kau. . .siapa. .

.siapakah aku?”

“Aku. . .aku tidak tahu. . .”

“Aku. . .aku ada. . . adalah Kiang To.”

“Apa?. . .”

“Aku. . .aku adalah orang. . .orang. . .yang menyaru

seee. . .sebagai Kiang To. . .”

Perkataannya ini jauh berbeda diluar dugaan Pek Thian

Ki semula, karena ia mimpipun tidak pernah mengira kalau

Suma Hun adalah salah seorang yang menyaru sebagai

Kiang To.

“Kau. . .kau tidak percaya?” tanya gadis itu kembali

dengan suara yang setengah dipaksa.

“Aku. . .”

“Perrr. . .perkataan ini sungguh-sungguh. . .betul. . .

Kiang To. . . Kiang To. . . yang muncul see. . . sewaktu ada

digunung Lui Im San adalah. . .aku. . .”

“Kaaaaa. . .kau?”

“Benar. . . buu. . .bukankah. . .kau. . .kau melihat dengan

ma. . .mata kepala sendiri? akhirnya. . . .muncul. . .sese. . .

sesosok bayangan. . . bayangan hitam.”

“Benar. . .”

“Dia. . . dia adalah Kiang To. . .yang. . .yang lain. . .buu.

. .bukankah ia. . .ia memberikan. . .see. . .secarik kertas. . .

keee. . .kepadaku?”

“Benar!”

“Itu. . . itulah secarik kertas. . .yang. .yang menantang

aku un. . .untuk melakukan pertarungan. . .tapi, tiba-tiba. .

.kerr. . .kertas itu lenyap. . .dan akhirnya. . .kau kembalikan

lagi keee. . . .kepadaku. . . .”

“Aaaaach!” Pek Thian Ki menjerit kaget.

Kiranya sewaktu berada diperkampungan Lui Im Sancung,

tiba-tiba Sin Si-poa menubruk badan Suma Hun

adalah bertujuan hendak mencuri kertasnya itu.

Jadi dengan demikian jelas Sin Si-poa telah mengerti bila

Suma Hun adalah orang yang menyaru sebagai Kiang To.

“Paaaaa. . . padahal. . . aku. . .aku tidak berr. . . bernama

Su. . . Suma Hun!”

“Lalu. . . lalu siapakah nama. . . namamu?”

“Aku bernama. . . Hu Li Hun. . .” Ketika kata-kata

terakhir itu meluncur keluar dari bibirnya hampir boleh

dikata tidak kedengaran jelas lagi, akhirnya gadis itu

pejamkan matanya dan jatuh tidak sadarkan diri.

“Nona. . . nona Hu. . . mengapa. . .mengapa kau

menyaru sebagai Kiang To?” teriak Pek Thian Ki tiada

bertenaga.

Tapi gadis itu tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Pikiran Pek Thian Ki mulai berdengung. . . akhirnya

dengan tiada bertenaga iapun pejamkan sepasang matanya.

Suasana dalam hutan Touw itupun pulih kembali seperti

sedia kala, sunyi senyap sedikitpun tidak kedengaran suara.

. . .

Kecuali delapan buah kuburan didepan rumah aneh

tersebut saat ini menggeletak pula enam sosok tubuh. . . Pek

Thian Ki, Hu Li Hun, si Pedang Sakti Guntur Langit, si

Cambuk Sakti Hujan dan Angin, si Pedang Burung Hong

Hijau serta si Iblis Sakti Lima Racun.

Apakah Pek thian Ki menemui ajalnya dengan begitu

saja?. . . . .Seharusnya ia tidak begitu gampang menemui

ajalnya, masih ada banyak persoalan yang belum ia

kerjakan hingga selesai, jika ia mati, bukankah sama saja

mati dengan tidak jelas. . . .dan kematiannya sama sekali

tidak berharga. Mungkinkah muncul sebuah penemuan

aneh yang ada diluar dugaan?

Bab 33

PADA WAKTU itulah muncul setolok bayangan bitam

laksana kilat meluncur masuk ketengah kalangan, dan

orang itu bukan lain adalah Tong Ling.

Setelah tiba ditengah kalangan, sinar matanya perlahanlahan

menyapu sekejap kearah Pek Thian Kie serta Hu Lie

Hun, air mukanya menunjukkan suatu perubahan yang

sangat aneh.

Perubahan tersebut menunjukkan perasaan sedih dan

berduka dihatinya.

Akhirnya ia merogoh keialam sakunya mengambil keluar

sebutir pil yang secara terpisah dimasukkan kedalam mulut

Pek Thian Kie maupun Hu Lie Hun, setelah itu sepasang

telapak tanaannya ditempelkan kepunggung pemuda Itu

dan salurkan hawa murniya untuk menyembuhkan luka

yang sedang diderita

Setelah memperoleh bantuan dari tenaga murni

ditambah pula pengaruh obat perlahan lahan penuda she

Pek itu sadar kembali dari pingsannya.

Ketika sinar matanya terbentur dengan wajah Tong Ling,

tiba-tiba saja ia menjerit tertahan.

„Aaaaakh . . Kau ?”

“Tidak salah, aku, cepatlah salurkan bawa murnimu

untuk menyembuhkan luka racun yang kau derita.”

Diatas wajah Pek Thian Kie terlintaslah suatu cahaya

yang sangat aneh, dalam waktu singkat itulah secara tiba

tiba teringat kembali olehnya akan diri It Peng Hong

Peristiwa tersebut dengan amat jelas terpapar kembali

dihadapan matanya, kemungkinan besar Tong Ling adalah

nona It Peng Hong, sudah tentu harus ia bikin jelas

persoalan mi.

”Siapakah kau ?” tegurnya dingin.

”Aku adalah Tong Ling.”

”Benar, kau memang Tong Ling ”

Dalam bati Pek Thian Kie paham, sebelum tenaga

lweekangnya pulih kembali seperti sedia kala, ia tak boleh

turun tangan secara gegabah, diam-diam hawa murninya

segera disalurkan bergabung dengan tenaga dalam dan

Tong Ling mendesak. keluar hawa racun yang masih

mengeram didalam badannya.

Kurang lebih setengah jam kemudian, hawa racun yang

terkandung dalam tubuh Pek Thian Kie telah berhasil

didesak keluar dari dalam badan, Tong Ling sendiri-pun

kelelahan. keringat mengncur keluar membasahi seluruh

tubuhnya

”Nona Tong. terima kasih atas pertolonganmu kepadaku

,” kata sang pemuda itu kemudian seraya bangun duduk

”Mana. . . ”

Belum habis gadis itu berkata, mendadak tangan kanan

Pek Tinan Kie melancarkan satu cengkersman kearah jalan

darah ‘Wan Meh Hiat’ dalam ksadaan Tong Ling tidak

bersiap sedia

Kejadian ini kontan saja membuat gadis sheTong itu jadi

terperanjat setengah mati.

”Siapa kau”” bentak Pek Thiah Kie dingin

”Apa yang kau kehendaki” balas teriak Tong Ling sambil

nismandaag kearah pemuda itu dengan pandangan

bergidik,

“Aku ingin tahu siapakah kau?”

“Bukaakah iudah kuberitahukan kepadamu bahwa iiku

bamama Tong Ling !”

”Danmaaaksh aial usulmu ?”

“Apa maksudmu benanya tentang soal im ?”

“Aku ingin tahu ”

“Aku tidak mempunyai asal usul yang penting untuk

diberitahukan kepadamu ”

“Kau sungguh-sungguh tidak ingin ber-bicara ?” bentak

pemuda she Pek itu lagi, dingin

”Pek Thian Kie ! Tindakanmu jauh berada diluar

dugaanku.”

”Tidak salah! Aku orang she Pek tidak boleh selama

hidup jadi seorang manusia yang tolol.”

”Cepat lepas tangan !” jent gadis tersebut keras-keras.

”Tong Ling, Aku ingin bertanya kepadamu, benarkah

kau adalah It Peng Hong ?” desak sang perjaka seraya

tertawa dingin.

”Apa maksudmu bertanya tentang soal ini ?”

”Kau tidak perlu tahu apa maksudnya, ayo cepat jawab

pertanyaanku Itu.”

”Mana boleh kau orang samakan aku dengan lainnya ?”

“Jadi kau mungkir ?”

”Betul?”

Sekali lagi Pek Thian Kie tertawa dingin tiada hentinya.

”Terpaksa aku harus turun tangan sendiri untuk

membuktikan siapakah kau sebenarnya.’

Tangan kirinya langsung merogoh saku Tong Ling dan

mulai menggerayanginya dengan seksama.

“Apa yang kau inginkan ?’ teriak gadis she Tong itu

cemas.

”Mencari sesuatu ”

Saking khekinya, seluruh tubuh Tong Ling gemetar

keras, tapi ia sudah kena dikuasai oleh Pek Thian Kie,

apalagi jalan darahnya tercengkeram, hal ini membuat ia

tak bisa berkutik.

Dan saat itu tangan pemuda tersebut telah meraba dari

atas dadanya hingga ke-arah bawah. .

”Pek Thian Kie, aku tak akan mengampuni dirimu !”

jerit Tong Ling deagan suara yang kalap.

Pada waktu itu.

Tangan kiri sang perjska tersebut mendadak telah meraba

sesuatu barang dan sewaktu diambil keluar, air mukanya

tiba-tiba saja berubah sangat hebat

Kiranya barang yang diambil keluar adalah sebuah kotak

yang terbuat dari kumala.

Akhirnya pemuda she Pek itu tertawa dingin

”Nona Tong, barang apakah ini ?”

Air muka Tong Ling berubah jadi pucat pati bagaiman

mayat, mulutuya terkancing rapat-rapat.

Air muka Pek Thian Kte pun berubah hebat, selintas

napsu membunuh mulai berkelebat diatas wajahnya.

”Barang apa yang berada didalam kotak tersebut ?”

bentaknya keras.

”Apakah kau sendiri tak dapat memeriksanya ‘.’

”Aku ingin kau menjawab!”

”Hrnmm! Aku tak bakal menjawab”

”Bukankah berisikan jinsom seribu tahun?” jengek sang

pemuda itu lagi sambil tertawa sinis.

Seluruh tubuh Tong Ling gemetar sangat keras.

”Apakah kau tak dapat melihat sendiri ?” bentaknya.

Pek Thian Kie gertak gigi, tangannya mulai meraba

kotak tersebut dan dibukanya

Sebentar kemudian ia telah berdiri dengan mata

terbelalak dan mulut melongo benda yang ada didalam

kotak itu benar-benar membuat hatiuya terperanjat.

Kiranya dugaannya sedikitpun tidak ialah, isi dan kotak

itu adalah beberapa lembar jimsom seribu tahun.

Dan teka-teki yang selama ini menyelimuti hatinya telah

terbongkar.

Tong Ling adalah dara yang menyaru sebagai lt Peng

Hong, hawa gusar karena dirinya tertipu mulai berkobar

didada pemuda tersebut.

Akhirnya ia tertawa. . . suara tertawa-nya seram,

menakutkan dan penuh mengandung hawa membunuh.

Sedangkan air muka Tong Ling berubah pucat pasi

bagaikan mayat-

”Bagus sekali . , . kiranya kaulah It Peng Hong, aku Pek

Thian Kie bisa memperoleh perhatianmu selama tiga

turunan merasa amat bangga . ” jengek Pek Thsan Kie sinis

“Apa yang kau kehendaki? Cepat katakan ”

”Mana aku berani melakukan sesuatu kepadamu, ada

pepatah mengatakan. Suami isteri semalaman melebihi budi

ribuan hari, perkataan ini bukankah pernah aku utarakan

kepadamu ‘”

Gadis itu membungkam.

”Kehangatan yang kau berikan kepadaku semalaman

cukup membuat aku merasa tidak tega untuk berbuat

sesuatu kepadamu !”

Ia tertawa sinis, diatas wajahnya terlintaslah suatu

perubanan yang sangat menyeramkan, sangat menakutkan,

jelas hati-nya sudah terpengaruh oleh keadaan.

”Tidak salah, akulah yang menyaru sebagai It Peng

Peng. . .” kata Tong Ling kemudian dingin.

„Mengapa ?”

”Cinta ”

”Menyintai diriku ?”

”Sedikitpun tidak salah !”

”Heeee . . . heeeee . . . heeeee benarkah itu ?” kembali

Pek Thian Kie tertawa sinis

”Tidak salah ! pek Thian Kie, jika aku tidak.cinta

padamu, mana mungkin aku suka menyerahkan badanku

kepadamu ? . .”

Berbicara sampai disitu. ia tertunduk dan mengucurkan

air mata kesedihan

Kemungkinan sekali perkataan ini adalah ucapan yang

jujur, jika ia tidak menyintai Pek Thian Kie mana mungkin

gadis tesebut suka menyerahkan keperawanannya

kepadanya . . menyerahkan kepada seorang lelaki asing ? . .

Beberapa patah perkataan tersebut langsung membuat

bati Pek Thian Kie merasa tergetar, tapi ia tetap

memperlihat-kan senyuman sinis.

”Tentang soal itu, aku merasa sangat berterima kasih

sekali, cuma aku merasa rada kecewa “‘

”Aaaaa . . apa kau kata ?”

”Aku bilang hatiku merasa sangat kecewa, karena ysng

aku inginkan adalah It Peng Hong.”

”Kau. .”

”Apa yang aku ucapkan adalah kata-kata sesungguhnya,

It Peng Hong adalah seorang perempuan yang sangat cantik

rupawan tiada bandingannya dikolong langit. Bahkan

bidadari yang turun dari kahyang-anpun tidak dapat

menandingi dirinya. terutama sekali permainan diatas

ranjangnya jauh lebih piniar dan pada permainan

ranjangmu . ”

Beberapa buah perkataan ini sungguh-sungguh

keterlaluan.

Tapi ia memang sengaja ada maksud untuk menghina

gadis tersebut, karena dengan demikian Pek Thian Kie

hendak melenyapkan rasa mengkal yang terkandung didalam

hatinya.

”Pek Thian Kie . . kau . . kau terlalu keji . . ” teriak

Tong Ling hampir saja menangis menjerit

”Oooouw , benarkah ?”

”Selama hidup aku akan membenci dirimu terus

menerus. . . ”

“Kau mau benci boleh bencilah diriku terus menerus

Tong Ling! Aku mau bertanya lagi padamu, apa

maksudmu menguntit diriku terus menerus? Dan apa pula

tujuanmu memancmg daya rangsangku dengan

menggunakan badanmu yang kempot dan kisut itu. . ”

”Kau….”

Kali ini Tong Ling tak dapat menahan penghinaan yang

dilontarkan Pek Thian Kie terhadap dmnya, ia bertekad

hendak mengadu nyawa

Tangan kanannya mendadak disabet kebelakang

berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pemuda

tersebut.

Rontaannya ini berhasil melepaskan diri dari

cengkeraman, tapi justru karena gerak ini, maka jalan aarah

‘Wan Meh Hiat’nya terbentur, tidak ampun lagi Tong Ling

muntahkan darah segar yang langsung mengotori seluruh

tubuh sang pemuda she-Pek yang berada dihadapannya,

Pek Thian Kie tertegun. Mendadak.

”kau cari mati ?” bentaknya keras

Tangannya langsung diayun memerseni beberapa buah

tabokan nyaring keatas wajah gadis tersebut,

Kena ditabok, sepasang pipi Tong Ling jadi sembab

membengkak, darah segera mengucur keluar semakin deras

lagi.

“Orang she-Pek, jika kau punya kepandaian, ayoh bunuh

sekalian diriku, buat apa kau hina seorang gadis yang lemah

? Kau manusia pengecut! …”

”Heeeee , . , heeeee . , , heeeee . . ‘ boleh, boleh saja kau

maki aku sebagai pengecut,” kembali sang pemuda berseru

sinis, tiba-tiba ia membentak kasar “Ayoh, jawab!

Siapakah kau?”

Tong Ling tidak mau menjawab. se-baliknya balik

bertanya ;

”Pek Thian Kie, aku ingin bertanya kepadamu. , .”

”Apa yang ingin kau tanyakan?” ,

”Aku Tong Ling dalam bagian mana yang telah berbuat

tidak baik kepadamu??

Pertanyaan tersebut kontan saja membuat Pek Thian Kie

jadi melengak. sedikitpun tidak salah, dibagian yang mana

Tong Ling pernah berbuat tidak baik kepadanya ? Ia telah

serahkan keperawanannya kepada dia orang cukup dengan

hal ini saja sudah seharusnya memuaskan hatinya.

Akhirnya – ? pemuda itu tertawa getir.

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa kau pernah

berbuat salah kepadaku.”

“lalu, mengapa kau menghina diriku? Mengapa kau

mencemooh dan menganiaya

diriku ?”

”Aku tidak ingin ada orang yang berani membohong dan

menipu diriku !”

“Kapan aku pernah menipu dirimu ?’

“Kau menipu diriku dan mengatakan kaulah It Peng

Hong”

”Pek Thian Kie ! Apakah cinta kasih yang kuberikan

kepadamu adalah palsu semua ?” kata Tong Ling setelah

menghembuskan napas panjang

”Bagaimana aku bisa tahu?”

”Baiklah! Kau boleh anggap semua yang pernah aku

berikan kepadamu adalah palsu !” seru gadis itu sambil

gertak gigi „Lalu. apakah aku berikan jinsom seribu tahun

kepadamu adalah perbuatan yang palsu pula?

”Bukankah kau punya sesuatu tuju-an?”

”Apa tujuanku'”‘ Air muka Tong Ling berubah hebat.

”Bagaimana aku bisa tahu 7″

Saking sedihnya gadis she-Tong ini menangis terisak

lama sekali ia baru ber kata.

”Baik! Baiklah! Kesemuanya adalah palsu sekarang apa

yang kau inginkan cepat katakan!”

”Aku ingin tahu siapakah kau? Mengapa kau selalu

menguntit diriku?”

”Sebenarnya aku ingin berbicara, tapi sekarang aku tidak

ingin berb cara lagi ”

”Mengapa ?”

”Penghinaanmu serta penganiayaanmu terhadap aku

sudah keliwat betas, jika kau orang she Pek masih punya

tindakan yang lebih telengas lagi, boleh kau keluarkan

semua terhadap diriku.”

”Sungguh sungguh kau tidak ingin bicara terus terang'”‘

ancam Pek Thian Kie dingin.

”Sedikitpun tidak salah l”

”Tong Ling, aku beri tahu kepadamu, aku adalah

seorang yang keji, seorang yang buas dan telengas.”

”Sudah kucoba kesemuanya, juga sudah kusedihkan,

sekalipun kau punya tindakan yang lebih kejipun, tak akan

kutakuti l’*

”Jadi kau mau coba ?” bentak sang pemuda jengkel

Ditengah suara bentakan yang sangat keras, sepasang jari

Pek Thian Kie bagaikan senjata trisula laksana kilat

disadukkan keatas perut Tong Ling sigadis malang itu

Mendadak. . .

Sebelum jari tangan pemuda itu bersarang di atas

lambung Tong Ling, serentetan suara bentakan bergema

memecahkan kesunyian.

”Bangsat ciltk, kau cari mati . .”

Sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, disusul

menggulung datangnya sebuah pukulan dahsyat menghajar

tubuh pemuda tersebut.

Datangnya angin pukulan itu amat aneh dan luar biasa

dahsyatnya memaksa Pek Thian Kie buru buru harus

menarik kembali serangannya dan meloncat mundur kebelakang.

Ketika sinar matanya dialihkan, maka dilihatnya seorang

kakek tua berbaju hitam lelah berdiri dihadapannya.

Sinar mata si orang tua berbaju hitam itu dengan tajam

meniapu sekejap kearah Tong Ling, kemudian serunya

dingin ;

”Kau orangkah yang melukai dirinya ?”

”Sedikitpun tidak salah, siapakah kau ?*’

Diatas wajah si orang tua berbaju kitam itu perlahan

lahan terlintas selapis hawa napsu membunuh

”Orang she pek, nyalimu sungguh tidak kecil. . .”

bentaknya.

Kembali segalung angin pukulan menyambar datang

menghajar tubuh pemuda

Dengan sebat Pek Thian Kie angkat tangan kanannya

menangis datangnya serangan itu.

”Siapakah kau ? Ayoh jawab ” teriaknya.

”Hmmmmm ! Kau tidak berhak untuk mengetahui

siapakah aku.”

”Apakah dia adalah satu komplotan dengan dirimu ?”

”Sedikiipun tidak salah !”

”Dari perguruan manakah kamu semua T’

”Soal ini kaupun tidak berhak untuk menanyakan !”

”Kau orang sungguh-sungguh tidak mau bicara ?” teriak

Pek Thian Kie kembali, selapis hawa uapsu membunuh

melintasi seluruh waiyahnya

”Sedikitpun tidak galah !”

”Kau cari mau 1 ‘

Diiringi suara bentakan keras yang menggidikkan hati,

pemuda itu mencelas ketengah udara kemudian bagaikan

seekor burung elang yang mencari mangsa menyambar

kearah si orang tua berbaju hitam itu, seraya melancarkan

satu pukulan dahsyat.

Serangan yang dilancarkan Pek Thian Kie ini telah

menggunakan seluruh tenaga lweekang yang dimilikinya

selama ini. ke kuatannya bagaikan ambruknya gunung

Thay-san dan menggulungnya ombak ditengah samudera.

sungguh sungguh luar biasa.

Tenaga Iwsekang yang dimiliki si orang Yua berbaju

hitam itupun sangat luar biasa, di bawah hujan pukulan dari

pemuda lawannya, ia masih bisa melesat kesamping untuk

menggulung datangnya hajaran-hajaran, tersebut

”Braaak’ diiringi suara bentrokan keras, kedua sosok

bayangan manusia itu mencelat kesamping dan melayang

mundur dua kaki jauhnya kebelakang.

Sewaktu tubuh si orang tua berbaju hitam itu melayang

mundur kebelakang itulah, mendadak. ia berayumpalitan

dan sekalian mcnyambar tubuh Tong Ling yang

menggeletak diatas tanah kemudian melayang pergi dari

sana.

Tindakan dari si orang tua berbaju hitam ini jauh berada

diluar dugaan Pek Thian Kie, ia tersadar kembali akan

peristiwa tersebut, bayangngaa si orang tua itu «udah

berada puluhan tombak jauhnya.

Dalam hati Pek Thian Kie merasa gusar bercampur

gemas, tapi dalam sekejap mata itulah berbagai bayangan

berkelebat dalam benaknya Tong Ling pernah memberikan

segala sesuatu kepadanya, iapun pernah menolong dirinya,

dan sekarang ia memberlakukan gadis tersebut dengan

begitu kejam, begitu keji dan telengas, sedikit banyak

perbuatannya ini memang rada keterlaluan.

Tapi, ia sudah kena ditipu oleh gadis tersebut.

Ia tidak ingin dirinya kena tertipu, terutama sekali oleh

seorang gadis muda yang cantik.

Teringat sampai disini, tanpa terasa laia, ia

menghembuskan napas panjang, ia mulai merasa sedih dan

berduka oleh seluruh kejadian tersebut.

”Pek Sauw-hiap!” tiba-tiba dari bela-kang tubuhnya

berkumandang datang suara sapaan yang halus.

Mendengar suara itu, Pek Thian Kie merasa hatinya

berdesir, buru-buru ia putar badan

Dilihatnya Hu Lie Hun telah berdiri dibelakangnya

sembari memanaaug kearah-nya dengan termangu-mangu.

Teringat dirinya serta Hu Lie Hun sama-sama menderita

luka parah, kemudian mereka bisa pulih kembali

kesehatannya, jelaa kesemuanya int adalah berkat jinsom

seribu tahun yang diberikan Tong Ling kepada mereka

”Pek Thian Kie, ternyata kita kita masih hidup?”

terdengar Hu Lie Hun bergumam seorang diri sambi1

memandang kearab pemuda tersebut.

”Benar ”

”Mungkinkah kita sedang bermimpi ?”

”Tidak 1 Seluruh kejadian adanya nyata”

”Siapa yang telah menolong kita?”

”Si lt Peng Hong palsu”

”Apa? Doa ?”

”Sedikitpun tidak salah!”

”Aku. . . aku tidak ingin ditolong olehnya ”

„Mengapa ?”

„Karena aku benci kepadanya?”

”Benci kepadanya ? Apa alasanmu?”

„Karena dia. . dia telah . . . telah bukankah ia sudah ada

hubungan dengan dirimu.”

Akhirnya ia telan kembali kata-katanya, sudah tentu Pek

Thian Kie pun mengerti apa yang hendak ia ucapkan.

“Benar, kami. . . ” akhirnya pemuda itu tertawa getir

”Maka dari itu, aku benci kepadanya, karena telah

merebut dirimu ”

”Ia sudah merebut diriku ? . . . .kau salah besar, aku

sama sekali tidak direbut olehnya.”

”Tapi, kau sudah menjadi miliknya..”

Berbicara sampai disitu. air mata jstuh berlinang, jelas

kelihatan sebagai mana sedih dan cintanya gadis tersebut

kepaca sang perjaka ini

Ia menyintai Pek Thian Kie .. bahkan cintanya begitu

mendalam .

Cinta gadisnya yang pertama telah ia serahkan kepada

seorang lelaki. tapi lapun tidak ingin kekasibnya direbut

oleh gadis yang lain maupun kakasinnya merebut perawan

gadis lain .

Saat ini hatinya amat kacau. pikirannya butek tdak

mengerti apa yang harus ia lakukan.

Disampmg itu, iapun tak ingin bersama-sama menyintai

seorang lelaki dengan gadis yang lain, ia menginginkan

seorang lelaki yang hanya menyintai ia sendiri dan cintanya

itu tiada cacadnya

“Kau anggap aku sudah menjadi miliknya?” tanya Pek

Thian Kie lagi sembari tertawa geli

”Apakah kau anggap tidak ?’

”Benar aku tidak merasa diriku sudah menjadi miliknya,

aku adalah milikku sendiri !”

”Tapi dalam soal cinta asmara laki perempuan, kau

sudah menjadi mihknya”

”Kemungkinan sekali pendapat mu benar . . ” kata

pemuda itu mengangguk Ia menghela napas panjang.

”Nona Hu. mari aku bantu kau untuk paksa keluar hawa

racun yang bersarang dibadanmu, setelah itu masih banyak

persoalan yang ingin kutanyakan kepadamu.”

”Urusan apa ?”

”Menanti setelah kau sembuh dari pengaruh racun, kita

bicarakan lagi, . .”

Ia menengok dan memandang pemuda itu dengan penuh

arti, akhirnya meuundukkan dan memejamkan matanya.

Sang pemuaa sne-Pek itupun segera menyalurkan hawa

murninya untuk mengobati luka yang sedang ia derita.

Lama . . lama sekali, akhirnya gadis itu menjerit.

”Pck Sauw-hiap !”

”Ehmmm , . ‘. Ada apa ?”

”Selania hidup ini kemungkinan sekali aku sudah

berbuat sesuatu yang salah.”

”Perbuatan apa yang kau anggap salah ?”

”Aku telah salah mencintai seseorang!’

Pek Thian Kie menghela napas panjang ”Mungkin

pendapatmu itu memang benar…”

Air mata mengembang pada kelopak matanya dan

butiran air matapun mengucur keluar sangat deras, hatinya

terasa amat tertekan.

Pada saat itulah, tiba-tiba. . .

Pintu besar dari Rumah Aneh tersebut perlahan-lahan

terbuka kembali lebar lebar. . .

Pintu besar terpentang lebar-lebar, sesosok bayangan

hitam segera melesat keluar, setelah memandang iskejap

kearah Pek Thian Kie yang sedang menyembuhkan luka Hu

Lie Hun, ia tertawa seram, lalu menerjang kearah pemuda

tersebut

Pada waktu itu Pemuda she Pek sedang pusatkan seluruh

perhattannya untuk paksa keluar racun. yang bersarang

dibadan gadis she Hu tersebut, walaupun ia merasakan

datangnya serangan bayangan hitam tersebut, tapi sukar

baginya untuk menghindarkan diri.

Tiba-tiba. . .

Suara bentakan keras berkumanaatig di-tengah angkasa,

bersamaan waktu, si bayangan hitam itu menubruk kearah

Pek Thian Kie, sesosok bayangan manusia yang lain

dengan menerobos angkasa menerjang kearah bayangan

hitam itu,

Gerakan dari bayangan manusia tersebut cepatnya bukan

kepalang, tak kuasa bayangan hitam tadi kena keterjang

sehingga mencelat kebelakang

Setelah tenangkan hati, ia baru melihat dihadapannya

islah berdiri seorang pemuda pengemis yaug berwajah keren

Orang itu bukan lain adalah Coe Hoa, si manusia

misterius.

Diatas selembar wajah Coe Hoa penuh diliputi napsu

membunuh, bentakuya keras :

”Kau orangkah sang Majikan Rumah Aneh ini ?”

”Tidak salah . . ”

”Heeeee. . . heeeee. heeeee tidak kusangka perbuatan

membokong yang paling rendahpun bisa kau lakukan

terhadap seorang pemuda?. . .”

”Siapa kau ? Berani betul banyak bacot disini ” teriak

pihak lawan sambil tertawa seram

”Siapakah aku, kau tidak perlu tahu, karena manusia

rendah macam kau masih belum berhak untuk

mengetahuinya,”

”Apakah kaupun ingin mencampuri urusan sampingan

yang tiada sangkut paut-nya dengan dirimu ?”

„Sedikitpun tidak salah. . .”

”Jikalau begitu, itu namanya kau manusia tidak tahu

diri, nih! Cobalah rasakan bogem mentahku.”

Si manusia berbaju hitam itu berkelebat kedepan dengan

gerakan bagaikan kilat langsung menyerbu Coe Hoa,

serangannya tandas, ganas dan keji.

Ilmu silat yang dimiliki si bayangan hitam ini benar

benar mengejurkan hatiya melayang, menerjang dan

melancarken serangan keseluruhannya dilakukan dalam

hanya sekejap mata belaka

”Bangsat ! Kau orang cari gara gara ” bentak Coe Hoa

teramat gusar melihat dirinya diserang.

-0odwo0-

Jilid 12

Bab 34

TUBUHNYA melesat, meloloskan diri dari datangnya

serangan siorang berbaju hitam, kemudian maju selangkah

kedepan, sepasang telapaknya didorong kedepan bergantian

mengirim tiga buah serangan mematikan. Serangannya

dilaksanakan dengan berat dan penuh tenaga.

Agaknya tenaga dalam yang dimiliki Cu Hoa bukan

tandingan dari pihak lawan, setelah lewat tiga jurus, ia

mulai kena terdesak sehingga mundur terus sejauh satu

tombak lebih dari tempat semula.

Cu Hoa membentak keras, senjata Sam Ciat Tong-nya

digetarkan mengirim satu babatan gencar kearah

musuhnya. Sinar mata sibayangan hitam itu berkelebat lalu

buru-buru mundur beberapa langkah kebelakang, teriaknya

tertahan;

“Aaaaaaaach! Senjata Sam Ciat Tong. . . .”

“Sedikitpun tidak salah. . . .”

“Siii. . .siii. . . siapa kau?” Nadanya gemetar dan lirih

penuh rasa ketakutan membuat hati orang bergidik.

“Siapakah aku rasanya, kau masih belum berhak

mengetahuinya, tapi ada satu urusan yang rasanya kaupun

tentu paham. . .”

“Urusan apa?”

“Barang siapa yang telah melihat senjata Sam Ciat Tong

berarti dia harus mati. . .”

Kata ‘Mati’ begitu meluncur keluar dari bibirnya, sang

tubuhpun meluncur maju kedepan, senjata Sam Ciat Tong

digetarkan dimana cahaya putih berkelebat lewat, ia sudah

mengirim sebuah serangan yang luar biasa hebatnya kearah

siorang bayangan hitam itu.

Bayangan hitam tersebut merasa sangat terperanjat,

tangan kanannya didorong kedepan memunahkan

datangnya serangan lawan, sedang sang tubuh mencelat

balik kedalam Rumah Aneh itu.

“Hmmmmm! Kau anggap masih bisa melarikan diri???”

bentak Cu Hoa dengan nada dingin.

Cahaya tajam berkelebat lewat, suara jeritan ngeri

berkumandang memenuhi angkasa, tampak tubuh

sibayangan hitam tersebut berkejit-kejit, akhirnya roboh

keatas tanah.

Sekalipun kepandaian silat yang dimiliki siorang

bayangan hitam itu sangat lihay, tapi baginya masih terasa

amat sukar untuk meloloskan diri dari serangan senjata

rahasia yang dilepaskan dari balik senjata Sam Ciat Tong

tersebut, begitu terhajar badannya lantas roboh dan seketika

itu juga menemui ajalnya.

Cu Hoa tertawa dingin, sembari tarik balik senjatanya ia

menyimpan kembali Sam Ciat Tong tersebut kedalam saku.

Pada waktu itu. . . .

Pek Thian Ki baru saja selesai menyembuhkan luka yang

diderita Hu Li Hun, dan membuka kembali matanya, tepat

bersamaan sewaktu Cu Hoa turun tangan membinasakan

sibayangan hitam itu.

Ia rada melengak dibuatnya. “Cu Hoa, kau! Apa yang

telah terjadi?” tanyanya.

“Ayo, cepat pergi dari sini! Aku lihat tempat ini bukan

tempat yang bagus bagi dirimu.”

“Apa ???? Pergi dari sini ????”

“Sedikitpun tidak salah, tempat ini bukan tempat yang

baik bagimu, lebih baik kita cepat-cepat pergi dari sini.

“Tidak. . . . .” potong Pek Thian Ki dingin, “Untuk

sementara aku masih tidak ingin pergi dari sini.”

“Kau harus pergi dari sini!” bentak Cu Hoa lirih.

“Pertama, jika dibicarakan dari tenaga lweekang yang kau

miliki saat ini rasanya masih belum mampu untuk

menyelidiki rumah aneh ini, apalagi mengandalkan

keberanian serta kejantanan saja, hanya mendatangkan

kematian yang mengerikan buat dirimu, Dan kedua, si Sin

Si-poa ingin menemui dirimu!”

“Apa ???? si Tukang ramal itu ingin menemui diriku ???”

“Benar, ia berhasil menyelidiki tahu, bahwa tahun yang

lalu sebelum Sin Mo Kiam Khek pergi menyewa rumah ini,

ia telah pergi menemui seseorang terlebih dahulu. . .”

“Siapa???” teriak sang pemuda tak terasa, hatinya tergetar

sangat keras.

“Persoalan ini akan menjadi jelas setelah kau pergi

kesana, kemungkinan sekali orang ini mengetahui asalusulmu

yang sebenarnya, sudah tentu rumah aneh yang

misterius ini harus kita selidiki sampai jelas, tapi rasanya

jauh lebih jelas kita selidiki kembali rumah ini setelah

mengetahui dahulu asal-usulmu.”

“Apakah orang itu sungguh-sungguh dapat membuktikan

asal-usulku?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Baiklah, aku akan pergi mengikuti dirimu!”

“Kepada nona Suma ini, si Sin Si-poa pun ada undangan

untuknya.”

“Sin Si-poa mengundang diriku? Apa yang ia inginkan?”

seru Hu Li Hun tercengang.

“Soal ini kau bakal tahu sendiri setelah pergi kesana.”

“Tapi aku tak ingin pergi kesana!”

“Mengapa?”

“Persoalan yang kalian kerjakan sama sekali tiada

sangkut pautnya dengan diriku, maka aku tidak ingin

pergi.”

“Nona! Kau harus pergi kesana karena ada suatu urusan

yang punya sangkut paut dengan dirimu, semisalnya saja

hubungan yang erat antara ibumu Hu Bei San dengan Sam

Ciat Sin Cun. . .”

“Apa? Ibunya adalah Hu Bei San, adik dari Hu Toa

Kan?” teriak Pek Thian Ki tertahan.

“Sedikitpun tidak salah!”

Kali ini Pek Thian Ki betul-betul dibuat berdiri

mematung ditengah kalangan, karena ia merasa peristiwa

yang barusan terjadi benar-benar berada diluar dugaannya.

“Kau. . . . bagaimana kau bisa tahu kalau ibuku adalah

Hu Bei San ???. . .” Hu Li Hun pun dibuat kaget sehingga

melengak.

“Dugaan dari Sin Si-poa.”

“Dasar apa si tukang ramal itu bisa mengatakan

demikian???”

“Soal ini aku merasa kurang jelas, ia hanya beritahu

kepadaku bahwa nona Suma Hun tersebut ada

kemungkinan adalah putri dari Hu Bei San. . .”

“Nona Hu, benarkah ibumu adalah Hu Bei San?” tanya

pemuda she Pek kaget.

“Sedikitpun tidak salah!” Ia merandek sejenak kemudian

tambahnya. “Cukup berdasarkan perkataanmu barusan ini

sudah seharusnya aku ikut kalian pergi menemui si tukan

ramal Sin Si-poa itu.

“Kalau begitu, mari kita berangkat!” kata Cu Hoa.

Pertama-tama ia yang berkelebat dulu kedepan melakukan

perjalanan.

Pada saat ini pikiran Pek Thian Ki penuh diliputi oleh

persoalan2 baru, ia berpikir keras sebenarnya apa hubungan

antara Hu Bei San ibu dari Hu Li Hun dengan Sam Ciat Sin

Cun Kiang Lang. . . Karena semakin dipikir semakin

bingung, akhirnya ia enjotkan tubuhnya mengejar

kebelakang punggung Cu Hoa.

Tiba-tiba. . . . Sewaktu Pek Thian Ki melesat kearah

depan itulah, ditengah kesunyian yang mencekam sekeliling

tempat itu berkumandang datang suara bentakan yang amat

keras;

“Berhenti!” Suara bentakan tersebut keras dan

berwibawa, tanpa terasa lagi, Pek Thian Ki serta Hu Li Hun

bersama-sama menghentikan langkah kakinya.

Ketika menoleh dari balik hutan Touw muncullah

seorang sastrawan berusia pertengahan, orang itu bukan

orang lain adalah simanusia yang menyebut dirinya sebagai

si-tamu pencari bunga yang pernah ditemuinya sewaktu

berada didalam Istana Perempuan.

Pek Thian Ki berdiri tercengang, Si-tamu pencari bunga

itu memandang sekejap kearah Pek Thian Ki, lalu

tanyanya;

“Bocah cilik, kau masih teringat dengan diriku bukan?”

“Ooooouw. . .! Cianpwee kiranya kau orang.” seru Pek

Thian Ki sambil tertawa hambar.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Tolong tanya apa maksud cianpwee datang kemari?”

“Aku? Oooouw. . . aku sedang mencari kau!”

“mencari aku?”

“Sedikitpun tidak salah, bocah cilik, aku mau bertanya

kepadamu, apa maksudmu datang kemari.”

Pek Thian Ki rada tertegun mendengar pertanyaan itu,

lama sekali ia termenung, kemudian baru sahutnya;

“Menyewa runah aneh itu!”

“Sudah berhasil kau sewa?”

“Belum!”

“Apa tujuanmu dengan menyewa rumah aneh itu?”

Oleh pertanyaan yang diajukan oleh pihak lawan ini Pek

Thian Ki jadi berdiri membodoh ditengah kalangan, untuk

beberapa saat lamanya, ia tak dapat menjawab pertanyaan

tersebut.

“Baiklah, biar aku yang wakili kau untuk menjawab!”

kata si-tamu pencari bunga, “Kau menyewa Rumah Aneh

ini bukankah hanya ingin melihat rahasia apa yang

sebenarnya terkandung didalam rumah aneh tersebut?

Bukankah begitu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Lalu apa yang telah berhasil kau lihat dan rahasia apa

yang berhasil kau dengar?”

“Tidak ada?”

“Jikalau tidak ada yang kau peroleh, mengapa kau

hendak pergi? Apakah tiada bernyali untuk menyelidiki

rahasia rumah aneh tersebut?”

Air muka Pek Thian Ki berubah hebat. Cu Hoa

sendiripun berubah muka, tanyanya lirih;

“Siapakah dia?”

“Aku sendiripun tidak kenal!”

Cu Hoa mengangguk, mendadak katanya kepada si

sastrawan berusia pertengahan itu; “Tapi kita harus pergi

dari sini!”

“Mengapa?”

“Karena kami ada urusan penting yang harus

dikerjakan!”

“Pergi mencari Sin Si-poa?”

Mendengar pertanyaan itu, air muka mereka berdua

sama-sama berubah hebat, setelah lama sekali berdiri raguragu,

akhirnya mengangguk juga;

“Sedikitpun tidak salah!”

“Pek Thian Ki!” ujar si-tamu pencari bunga lagi sambil

tertawa ringan. “Punya nyalikah kau orang untuk pergi

menyelidiki runah aneh yang misterius itu ???”

“Siapa yang bilang aku tidak punya nyali ???” sahut

pemuda tersebut dengan air muka berubah hebat.

“Kalau begitu, kau tidak seharusnya berlalu dari sini

dengan tidak membawa sesuatu hasilpun!”

Selagi Pek Thian Ki hendak memberikan jawaban, Cu

Hoa yang ada disisinya kembali sudah berbisik;

“Pek Thian Ki, orang ini sangat mencurigakan, biarlah aku

selidiki dulu siapakah dia!” Sembari berkata, ia melangkah

kedepan mendekati si-tamu pencari bunga itu.

Air muka Pek Thian Ki rada bergerak, tapi ia tetap

berdiri ditempat semula. Sinar mata si-tamu pencari bunga

itu dengan tajam menyapu sekejap diri Cu Hoa, lalu

tegurnya dingin;

“Bocah perempuan, apa yang kau kehendaki ???”

kata-kata ‘Bocah perempuan’ tersebut langsung membuat

seluruh tubuh Cu Hoa gemetar sangat keras, karena hinga

saat ini belum ada seorang jagoan dunia kangouw pun yang

tahu jika dia adalah seorang gadis yang menyaru sebagai

seorang pria.

“Hmmm! Ternyata kau lihay juga.” dengus Cu Hoa

dingin. “Aku ingin tahu siapakah sebenarnya dirimu?”

“Sekalipun kau sudah tahu juga percuma!”

“Mengapa kau paksa Pek Thian Ki masuk kedalam

rumah aneh itu untuk antar kematiannya?”

“Siapakah yang bilang Pek Thian Ki pasti mati setelah

memasuki rumah aneh itu?” Si-tamu pencari bunga itu

tertawa ringan.

“Aku!”

“Ooooouwu. . . . jadi kau adalah Majikan rumah aneh

tersebut?”

“Bukankah perkataanmu itu hanya ngaco-belo belaka?”

seru Cu Hoa melengak.

“Kalau memang, demikian, dari titik apa kau bisa

mengambil kesimpulan bahwa Pek Thian Ki pasti mati

setelah memasuki rumah aneh tersebut?”

“Saudara, aku mau bertanya, siapakah yang berhasil

keluar dalam keadaan hidup setelah memasuki rumah itu?”

“Tapi bagaimanapun juga tak mungkin bisa dikatakan

tiada pengecualian bukan?”

“Asal-usul saudara bukan saja misterius bahkan

pembicaraanpun diliputi kemisteriusan, jikalau engkau

tidak ingin memberitahukan siapakah dirimu, aku masih

punya cara untuk paksa kau bicara!”

“Apa caramu itu ???? Ilmu silat!”

“Sedikitpun tidak salah.”

Kembali si-tamu pencari bunga itu tertawa. “Pek Thian

Ki, jikalau kau punya nyali, bagaimana kalau aku temani

dirimu memasuki rumah tersebut untuk mengadakan

penyelidikan ????”

“Bagus sekali!” sahut Pek Thian Ki dengan air muka

berubah hebat.

Tiba-tiba Cu Hoa tertawa dingin tiada hentinya; “Aku

bisa menduga siapa saudara!”

“Siapa ???”

“Majikan dari rumah itu.”

Si-tamu pencari bunga segera tertawa terbahak-bahak.

“Perkataanmu itu kedengarannya cukup membuat orang

jadi kebingungan setengah mati, dari kesimpulan mana kau

bisa mengatakan kalau aku majikan dari rumah itu ????”

“Karena kau menggunakan kata-kata menghasut Pek

Thian Ki, agar suka memasuki rumah itu, kemudian

membinasakan dirinya disana, Sehingga peristiwa berdarah

yang pernah terjadi selama puluhan tahun ini, selamanya

tidak berhasil memperoleh penyelesaian.”

Dugaan yang diucapkan Cu Hoa memang sangat

beralasan sekali dengan kenyataan yang terbentang didepan

mata, tak urung Pek Thian Ki kena digerakkan juga

hatinya.

Si-tamu pencari bunga tertawa. “Kau bocah perempuan

sungguh tidak jelek, lebih baik kau jangan anggap dirimu

terlalu pintar sehingga jadi keblinger!” Ia tersenyum ramah

lalu tambahnya; “Pek Thian Ki, jika kau tidak ingin masuk,

aku akan segera berangkat seorang diri.” Habis berkata, ia

melangkah kearah rumah aneh tersebut.

Cu Hoa berkelebat lewat menghadang didepan orang itu,

teriaknya dingin; “Tungu sebentar!”

“Apa yang kau inginkan lagi?”

“Aku ingin tahu siapakah kau?”

“Aku rasa pertanyaanmu itu tak mungkin aku jawab!”

“Kau sungguh-sungguh tidak ingin berbicara?”

“Sudah tentu sungguh-sungguh, apa kau anggap hanya

pura-pura, ya?”

“Kalau begitu, rasakanlah kelihayanku!” Badan sang

gadis yang menyaru sebagai pria ini mencelat ketengah

udara, kemudian meluncur kedepan, tangan kanannya

diayun melancarkan satu babatan dahsyat kearah si-tamu

pencari bunga.

Serangan yang dilancarkan Cu Hoa sangat dahsyat

bagaikan kilat, Dengan tenang si-tamu pencari bunga

berputar, lantas berkelit kesamping, gerakannya luwes dan

sama sekali tidak menggunakan banyak tenaga.

Pada waktu itu serangan kedua dari Cu Hoa sudah

beruntun menggencet datang. Si-tamu pencari bunga

tertawa dingin, tangan kanannya dibabat mengunci

serangan lawan, sedang tangan kirinya mendadak didorong

kemuka.

Daya kekuatan serangan tersebut sangat cepat dan aneh

sekali, seketika itu juga Cu Hoa kena didesak mundur

sejauh satu tombak lebih kebelakang.

“Bocah perempuan dengan mengandalkan kepandaian

yang kau miliki masih belum merupakan tandingan dari

aku orang!” seru si-tamu pencari bunga dingin.

“Kalau begitu, kau boleh coba-coba saja nanti!”

Mendadak sang gadis she Cu ini mengeluarkan senjata Sam

Ciat Tong-nya, lalu dimana tangannya sedikit digetarkan

muncullah sebilah anak panah yang pendek.

“Haaaa. . . senjata Sam Ciat Tong?” si-tamu pencari

bunga itu berseru tertahan.

“Sedikitpun tidak salah!”

Berturut-turut si sastrawan berusia setengah baya itu

mundur tiga, empat langkah kebelakang. “Kau. . .

.darimana kau dapatkan senjata tersebut?” tanyanya dengan

hati bergidig.

“Soal ini kau tidak perlu tahu.”

“Aku tahu siapakah dirimu. . .”

“Siapa?”

“Aku tidak ingin mengucapkannya keluar.”

“Jikalau sudah tahu senjata Sam Ciat Tong ini, maka

seharusnya tahu bukan, barang siapa yang melihat senjata

ini berarti mati!”

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya,

cahaya putih berkelebat lewat, ujung yang tajam dari

senjata Sam Ciat Tong itu dengan dahsyat menyerang

tubuh si-tamu pencari bunga tersebut. Begitu Cu Hoa

melancarkan serangan, si sastrawan berusia setengah baya

itupun tertawa dingin tiada hentinya.

“Senjata Sam Ciat Tong ini tak bakal bisa menakutnakuti

diriku!”

Bayangan manusia berkelebat lewat, ia bukan saja

berhasil menghindarkan diri dari datangnya serangan

lawan, bahkan balas melancarkan satu serangan dengan

kecepatan tidak berada dibawah kecepatan Cu Hoa.

Kejadian ini langsung saja membuat gadis she Cu itu

merasa sangat terperanjat.

Ia tidak malu disebut sebagai seorang jagoan yang

memiliki kepandaian silat sangat tinggi, sewaktu merasa

sasarannya yang kosong pedangnya digurat berulang kali,

hanya dalam sekejap mata beruntun telah mengirim tiga

buah serangan sekaligus.

Kepandaian silat yang dimiliki Cu Hoa bukan termasuk

golongan yang biasa, dibawah serangan beruntunnya

ternyata keadaannya masih tetap seperti sediakala,

sedikitpun tidak terjadi perubahan.

Mendadak. . . .

Mengiringi suara bentakan dari si-tamu pencari bunga itu

tampaklah tangan kanannya dipentangkan lebar2, lantas

mencengkeram wajah Cu Hoa. Diam2 gadis itu merasa

sangat terperanjat, pedangnya digetarkan membabat

pinggang lawan untuk berusaha memaksa dia orang

menarik kembali serangannya.

Pada saat itu Cu Hoa mengirim satu babatan kearah

lawan, itulah si-tamu pencari bunga dengan serangan

kosong jadi kenyataan tangan kirinya menotok kemuka.

Kedua buah serangan yang dilancarkan si sastrawan berusia

setengah baya ini kesemuanya dilancarkan dengan

kecepatan laksana sambaran kilat.

Agaknya Cu Hoa tidak sempat untuk menghindarkan

diri lagi, dengan niat mengadu jiwa bukannya menghindar,

ia malah menerjang maju kedepan, tangan kanannya

menekan tombol senjata rahasia.

Cahaya tajam berkelebat lewat, senjata rahasia meluncur

kedepan bagaikan hujan gerimis. Bersama dengan

melncurnya senjata rahasia tersebut menghajar tubuh

lawan, suara dengusan berat bergema memenuhi angkasa,

Cu Hoa telah kena tertotok dan roboh tak berkutik diatas

tanah. Kejadian ini langsung membuat Pek Thian Ki jadi

sangat terperanjat.

Pada waktu itu. . . .

Si-tamu pencari bunga sudah melayang mundur

kebelakang, terlihatlah diatas baju bagian dadanya

tertancap tiga batang jarum perak sepanjang dua cun.

Melihat kejadian itu, sekali lagi pemuda itu merasakan

hatinya bergidik.

Ia sama sekali tidak menduga kalau kepandaian silat

yang dimiliki si-tamu pencari bunga ini sangat tinggi dan

telah mencapai taraf kesempurnaan, dengan mengerahkan

hawa khi-kangnya, ternyata ia berhasil menahan datangnya

ketiga batang senjata rahasia tersebut.

“Bocah perempuan, sungguh ganas seranganmu ini!”

tegur si sastrawan berusia tengah baya ini dengan suara

yang dingin.

Ia cabut keluar ketiga batang jarum perak itu, lalu

dilemparkan keatas tanah, setelah itu dipungutnya senjata

Sam Ciat Tong tersebut. Air mukanya hambar, sedikitpun

tidak menunjukkan reaksi apapun, dengan teliti

diperiksanya sebentar senjata Sam Ciat Tong itu, lalu

digetarkan jadi tegak dan memasukkan kembali sang

pedang kecil kedalam tabung.

Setelah itu, seraya memandang sekejap kearah Pek Thian

Ki ujarnya; “Pek Thian Ki, menurut pandanganmu

seharusnya aku beri sedikit hajaran atau tidak kepadanya.

“Beri sedikit pelajaran kepadanya?”

“Benar, bukankah tindakannya terlalu keji?”

“Menurut pandangan cayhe lebih baik sudahi saja urusan

ini sampai disini!”

“Demikianpun baik. . .” akhirnya si-tamu pencari bunga

itu mengangguk dengan alis dikerutkan.

“Cianpwee, menurut pandanganmu, mungkinkah dia

adalah anak murid dari Sam Ciat Sin Cun tersebut?”

“Aku tidak tahu, cuma senjata Sam Ciat Tong ini

memang merupakan tanda dari si Sam Ciat Sin Cun,

sudahlah, kita tidak usah gubris dia lagi, aku cuma menotok

jalan darah tidurnya saja, sebentar lagi ia bakal tersadar

dengan sendirinya, mari kita pergi!”

“Pergi? Kemana?”

“Menyelidiki rumah aneh tersebut.”

“Kau sungguh-sungguh hendak menyelidiki rumah itu?”

tanya Pek Thian Ki melengak.

“Sedikitpun tidak salah, apa mungkin kau takut? Atau

mungkin tidak ingin masuk kesana?”

“Apa yang aku takuti? Kau berani, sudah tentu akupun

berani!” seru Pek Thian Ki dingin.

“Apakah kau tidak takut aku adalah Majikan yang

sesungguhnya dari Rumah Aneh itu? Dan sekarang sedang

memancing untuk kau masuk kedalam kemudian

membinasakan dirimu?”

“Soal ini sih aku Pek Thian Ki boleh berlega hati!”

“Berlega hati?”

“Benar, jikalau kau ingin membunuh mati aku, rasanya

tidak perlu memancing masuk kedalam rumah, sekalipun

disini kau masih sanggup untuk membunuh aku.”

“Tidak salah, tidak salah ternyata kau bocah cilik

mengerti juga akan persoalan ini, kalau begitu, mari kita

berangkat!” Per-tama2 ia yang berlalu terlebih dahulu dari

sana.

Pek Thian Ki mengikuti dari belakang tubuh si-tamu

pencari bunga, ia melakukan perjalanan kearah depan.

“Pek Siauw-hiap!” Tiba-tiba Hu Li Hun berseru.

Mendengar teriakan itu, Pek Thian Ki berhenti dan

menoleh; “Ada urusan apa?”

“Aku tidak ingin ikut masuk kesana!”

“Mengapa?”

“Aku tidak ingin mengetahui rahasia yang menyangkut

soal rumah ini, aku mau pergi dari sini!”

“Tidak bisa jadi, kau harus ikut masuk kesana.” sela si

Sastrawan berusia setengah baya itu tiba-tiba.

“Mengapa?”

“Karena kami masih ingin mengetahui berbagai urusan

yang menyangkut dirimu, mari jalan! Ada aku disini, kau

boleh berlega hati, aku rasa kalian tak bakalan menemui

ajal ditangan mereka.”

Hu Li Hun ragu-ragu sejenak, akhirnya dengan alis

berkerut ia mengiakan juga.

“Baiklah!”

Bab 35

MENGIKUTI dari belakang orang-orang itu, iapun

melangkah pergi.

“Nona Hu! Mengapa kau menyaru sebagai Kiang To???”

tiba-tiba Pek Thian Ki bertanya.

“Sudah tentu ada sebab2nya, asalkan kita berhasil keluar

dari rumah ini, pasti akan kuberi tahu, dan inipun

merupakan urusan yang pernah kusanggupi.”

Dengan hati berat Pek Thian Ki mengangguk. Pada

waktu itu. . . .Si-tamu pencari bunga telah tiba didepan

pintu masuk, dengan tanpa sebab, mendadak ia berhenti

berjalan dan mengalihkan sinar matanya keatas selembar

kertas merah yang tertempel disisi pintu.

Ia berpaling memandang sekejap kearah Pek Thian Ki,

kemudian tertawa dingin tiada hentinya; “Pek Thian Ki!

Coba kau lihat, bukankah pengumuman ini sangat aneh

sekali?”

“Aneh? ? ?” Tanpa terasa Pek Thian Ki pun ikut

mengalihkan sinar matanya keatas lembaran kertas merah

tadi.

Diatas kertas merah tersebut bertuliskan beberapa patah

kata-kata sebagai berikut:

“RUMAH INI DISEWAKAN.”

Langganan yang diutamakan: Orang-orang kangouw,

terutama yang mengandalkan pedang.

Ongkos-ongkos sewa rumah:

Pertama: Uang emas murni seribu kati.

Kedua : Giok Hoa Lok sebotol besar.

Ketiga : Wanita cantik seorang.

Ketiga syarat tersebut harus dibayar lunas sebelum

memasuki rumah ini, barang siapa yang berminat harap

datang setiap tengah malam kentongan ketiga untuk

menyerahkan syarat-syarat tersebut dan menempati rumah

ini.

Catatan:

Jikalau ada yang bisa tahan mendiami rumah ini selama

setahun, maka disamping itu akan diberi hadiah sebuah

bangunan rumah merah yang indah.

Tertanda: “Majikan Rumah ini.”

Pek Thian Ki yang melihat pengumuman tersebut cuma

bisa berdiri tertegun saja, sembari memandang si-tamu

pencari bunga katanya;

“Aku tidak berhasil menemukan sesuatu hal yang aneh.”

“Benar, kau tidak bakal paham. . . .kau tidak bakal

paham. . . .”

“Apanya yang tidak paham ???”

“Coba kau lihat ketiga buah syarat untuk menyewa

rumah ini, jikalau setiap patah kata yang pertama

disambung jadi satu akan jadi kata-kata apa. . . .”

“Ui Giok Mey. . .”

“Ehmmm. . .! Coba mirip apa ???”

“Aaaaaah! Menyerupai nama dari seorang perempuan!”

tiba-tiba Pek Thian Ki berseru tertahan.

“Sedikitpun tidak salah, memang nama seorang

perempuan, tahukah kau bahwa Sam Ciat Sin-cun

mempunyai seorang isteri yang bernama Tiap Hoa Sianci

atau si Bidadari Kupu2 dan Bunga ???”

“Apakah Ui Giok Mey adalah nama dari Tiap Hoa

Sianci tersebut ??? tanya sang pemuda dengan hati dak dik

duk. . .

“Bukan!”

“Lalu siapakah sebenarnya ???” kembali Pek Thian Ki

berdiri melengak.

“Tiap Hoa Sianci bernama Ui Mey Giok dan bukan Ui

Giok Mey. . . .”

“Maksudmu namanya terbalik ???”

“Benar! Nama bisa terbalik hal ini sudah tentu

merupakan peristiwa yang tidak mungkin bisa terjadi.

Syarat=syarat yang diajukan untuk menyewa rumah ini

hanya memberi tahukan kepada Sembilan Jago Pedang dari

kolong langit, bahwa orang yang mendiami rumah ini

adalah Ui Mey Giok. . . . karena kesembilan orang jago dari

kolong langit mengetahui akan sesuatu persoalan. . . .”

“Persoalan apa ?????”

“Letak dari Rumah Berdarah.”

“Rumah Berdarah ????”

“Sedikitpun tidak salah, cacatan terakhir yang tercantum

dipaling ujung dari pengumuman ini bukankah mengatakan

bahwa siapa saja yang bisa mendiami rumah ini selama

setahun ia bakal menerima hadiah sebuah rumah merah

yang indah ????”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Yang dimaksud Rumah Merah adalah Rumah

Berdarah, sekarang kau sudah paham?”

“Aku paham. . . .aku paham, orang yang mendiami

rumah ini adalah si Tiap Hoa Sianci Ui Mey Giok, ia ingin

memancing kedatangan Sembilan Orang Jago dari kolong

langit dengan tujuan ingin memperoleh Rumah Berdarah

tersebut?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Kalau begitu, mengapa namanya bisa salah tulis?”

“Justeru persoalan terletak disini, menurut pendapatku,

orang yang mendiami rumah ini pasti adalah Tiap Hoa

Sianci Ui Mey Giok!”

“Lalu, mengapa ia bunuhi sembilan jagoan dari kolong

langit?”

“Persoalan ini masih membingungkan, cuma kita harus

selidiki rahasia rumah ini sampai jadi jelas kembali.”

“Tidak salah.” seru Pek Thian Ki sambil kertak gigi.

“Kita harus selidiki urusan ini sampai menjadi jelas.”

“Kalau begitu, mari kita masuk!”

“Cianpwee, sebenarnya siapakah kau?” tiba-tiba pemuda

she Pek ini bertanya.

“Sebaliknya pada saat ini aku beritahu kepadamu tiada

berguna, akhirnya kau bisa tahu sendiri!”

“Cianpwee, aku dibuat kebingungan setengah mati oleh

asal-usulku sendiri, tentang Sam Ciat Sin-cun, Kiang To

serta rumah aneh ini. . . .”

“Ada satu persoalan aku bisa buktikan kepadamu yaitu

kau adalah putra dari Sam Ciat Sin-cun dan merupakan

Kiang To asli. . . .”

“Berdasarkan apa kau bisa membuktikan bila aku adalah

putra dari Sam Ciat Sin-cun dan bernama Kiang To ????”

“Ui Mey Giok yang berada dalam rumah ini bisa

membuktikan persoalan ini dengan jelas.”

“Kau. . . . apa kau kata ???”

“Sekarang banyak urusan yang tidak perlu kau tanyakan,

karena aku sendiripun masih kurang jelas, untung saja

peristiwa berdarah yang terjadi puluhan tahun yang lalu

dengan misterius segera akan menjadi jelas kembali.”

Sekali lagi Pek Thian Ki dibuat bingung oleh persoalan

ini.

“Aku semakin bingung dibuatnya.” ujar sang pemuda

sambil memandang si-tamu pencari bunga itu.

“Jikalau begitu kau boleh bingung terus-menerus,

mengerti lebih banyak malah tidak baik buat dirimu dan

lebih baik untuk sementara kau tetap gunakan nama Pek

Thian Ki saja.”

“Mengapa?”

“Asalkan Kiang To yang asli munculkan diri, maka

seluruh dunia persilatan bakal dinodai dengan ceceran

darah, karena itu untuk sementara. . . . sebelum peristiwa

yang sebenarnya terungkap, kau masih bernama Pek Thian

Ki.”

Pemuda she Pek ini makin lama semakin terlempar

seperti berada di-awang2, ia tidak mengerti peristiwa apa

sebenarnya yang telah terjadi. . . . Ia tetap merasa tidak

paham. Persoalan yang mencurigakan hatinya makin lama

bertumpuk semakin banyak lagi.

“Sekarang kau tidak perlu terlalu banyak memikirkan

persoalan yang tiada berguna,” kata si-tamu pencari bunga

itu menasehati, “Satu-satunya persoalan yang sedang kita

hadapi saat ini adalah selidiki dahulu apakah orang yang

menghuni rumah ini betul2 adalah Ui Mey Giok!”

Pek Thian Ki manggut. Ketika itu si-tamu pencari bunga

sudah melangkah masuk kebalik pintu besar kemudian

masuk keruangan dalam, sedang Pek Thian Ki pun dengan

cepat mengikuti dari belakang.

Mendadak. . . .

“Berhenti!” Suara bentakan yang sangat dingin

berkumandang memecahkan kesunyian. Membarengi suara

bentakan tadi muncul sesosok bayangan manusia dengan

kecepatan laksana kilat berkelebat kearah Pek Thian Ki,

kemudian berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan

pemuda tersebut.

Sinar mata pemuda she Pek ini berkelebat lewat, air

mukanya tiba-tiba berubah hebat karena ia menemukan

orang itu adalah seorang dara cantik yang memakai baju

warna hitam dengan rambutnya yang panjang terurai

sepanjang pundak.

“Aaaaach! Kau. . . .Tong Ling?” seru Pek Thian Ki

tertahan.

“Heeeee. . . heeeee. . .heeee. . . sedikitpun tidak salah,

juga bernama It Peng Hong!”

Diatas wajah Tong Ling terlintas hawa napsu

membunuh yang sangat hebat, sembari mendekati pemuda

itu selangkah demi selangkah, ia tertawa seram tiada

hentinya. “Pek Thian Ki, bukankah aku pernah berkata

kepadamu bahwa aku bisa balik kemari mencari dirimu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Pek Thian Ki, aku bisa menolong kau, bisa pula

membinasakan dirimu. . .”

Pek Thian Ki tertawa hambar. “Bagaimanapun selembar

nyawaku adalah kau yang tolong, dikembalikan lagi

kepadamu juga bukan suatu persoalan yang patut

disayangkan. . .”

Belum habis pemuda itu berkata, tiba-tiba Hu Li Hun

menjerit tertahan; “Kau. . . kau adalah Hek Mo Li atau si

Iblis perempuan Hitam?. . .”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Aaaaaach!. . .” Hu Li Hun menjerit tertahan kemudian

berturut-turut mundur tiga empat langkah kebelakang.

Pek Thian Ki yang melihat kejadian ini segera

merasakan hatinya merinding, sudah tentu ia masih belum

mengerti bagaimana macam manusia yang disebut sebagai

si Iblis Perempuan Hitam ini.

Terdengar Hek Mo Li Tong Ling tertawa dingin tiada

hentinya; “Pek Thian Ki, selama hidupku belum pernah

kubersikap baik kepada siapapun, tapi terhadap kau, aku

sudah keluarkan seluruh kemampuanku untuk menyayangi

dirimu, tetapi apa yang aku dapat dari dirimu? Pek Thian

Ki, kaulah manusia pertama yang membuat aku berduka,

aku hendak bunuh mati dirimu. . .”

“Apa yang kau inginkan, ucapkanlah secara terangterangan.”

“Tidak berat, aku hanya inginkan batok kepalamu.”

“Kalau begitu, kemarilah untuk ambil sendiri!”

“Hmmm! Aku bisa melakukannya sendiri!”

Pada waktu Tong Ling sudah berada kurang lebih lima

depa dihadapan Pek Thian Ki, hal ini membuat si-tamu

pencari bunga kerutkan alisnya, Tiba-tiba ia mencelat

kedepan menghadang diantara kedua orang itu, Tong Liong

disebut orang-orang kangouw sebagai si Iblis Perempuan

berhati hitam, hal ini disebabkan tindakannya keji, ganas,

buas dan telengas, membunuh orang tak berkedip, bahkan

munculnya kedalam dunia kangouw pun sangat misterius

sekali, jarang ada orang yang tahu berasal dari manakah

perguruannya.

Setelah gadis itu kena dihina habis oleh pemuda she Pek,

kali ini ia munculkan dirinya kembali dengan tujuan untuk

membalas penghinaan yang diterimanya tempo dulu. Tong

Ling yang melihat si tamu pencari bunga menghadang

didepannya, alisnya lantas dikerutkan rapat-rapat, tegurnya

dingin;

“Apa yang hendak kau lakukan?”

“Buat apa nona mengumbar hawa marah disini? Jikalau

diantara kalian berdua pernah mengadakan hubungan

suami isteri, apa perlunya berbuat ribut-ribut karena suatu

persoalan yang kecil? Sudahlah, anggap saja urusan selesai

sampai disini.”

“Kentut makmu yang busuk!”

Walaupun si-tamu pencari bunga ketanggor batunya,

tapi ia tetap senyum dikulum, kembali ujarnya;

“Begini saja, aku suruh Pek Thian Ki minta maaf

kepadamu, bagaimana?. . . .”

“Minta maaf? Aku Pek Thian Ki tak bakal

melakukannya!” teriak sang pemuda dengan cepat.

“Akupun tidak butuh minta maafmu, ayoh cepat

menyingkir!” teriak Tong Ling sambil tertawa dingin.

“Jikalau demikian adanya, kalian pasti hendak bertempur

sampai salah satu menemui ajalnya?” sela si sastrawan

berusia setengah baya itu dengan nada serius.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Ada aku disini kalian tak bakal bisa bertarung

semuanya.”

“Kalau bigitu, kau boleh coba-coba.” Begitu selesai

berbicara, Tong Ling segera mencelat kedepan bagaikan

sambaran kilat, telapak tangannya dengan disertai tenaga

dalam yang luar biasa hebatnya dihajarkan kearah si-tamu

pencari bunga.

Serangan yang dilancarkan sigadis she Tong ini luar

biasa cepatnya, dengan sebat orang itu menangkis dengan

tangan kanannya.

“Tunggu sebentar!” bentaknya gusar.

“Kau masih ada pertanyaan apa lagi yang hendak

disampaikan?”

“Kau orangkah yang bernama Tong Ling?”

“Sedkitpun tidak salah.”

“Siapakah majikanmu?”

“Soal ini kau tidak perlu tahu. . .”

“Padahal sekalipun kau tidak suka bicara akupun bisa

menduga separuh bagian, aku ada semacam barang, tolong

kau sampaikan kepada majikanmu, beritahu kepadanya

bahwa didalam sepuluh hari mendatang aku pasti pergi

mencari dirinya!”

Dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebilah pedang

kecil yang panjangnya hanya lima cun dengan luas satu

cun, lalu diangsurkan ketangan gadis tersebut.

Tong Ling menerima pedang kecil itu dan diperiksanya

sebentar, mendadak air mukanya berubah hebat, karena ia

dapat melihat diatas tubuh pedang tersebut berukirkan

ombak air sungai yang menggulung-gulung berwarna biru

serta seekor burung mementang sayap terbang diatasnya.

“Aaaaaach. . .! Kau?” Tiba-tiba saja gadis itu berseru

tertahan.

“Emmmmm. . . .! Mengapa?”

“Tiiii. . . . tidak mungkin?”

“Apanya yang tidak mungkin?”

“Tidak mungkin kau masih hidup dikolong langit!”

“Bocah perempuan, apakah kau sudah tahu siapakah

aku?” seru si sastrawan berusia pertengahan itu sambil

tertawa dingin.

“Tidak salah, aku pernah dengar orang membicarakan

soalmu. . .Dan ada pula orang yang mengatakan kau sudah

mati!”

“Kalau begitu, cepat pulang dan beritahu kepada

majikanmu, aku bisa pergi mencari dirinya, sedang

urusanmu dengan Pek Thian Ki, memandang diatas

wajahku untuk sementara jangan diungkap kembali.”

Air muka Tong Ling pada saat ini sudah berubah pucatpasi

bagaikan mayat, setelah berhasil menenangkan

hatinya, ia berkata;

“Baiklah, aku akan sampaikan tandamu ini kepada

majikanku.” Habis berkata ia putar badan siap berlalu.

“Tong Ling!” tiba-tiba Pek Thian Ki menegur dingin.

“Jangan pergi dulu, coba kau sebutkan siapakah dia?”

Mendengar suara bentakan tersebut, Tong Ling segera

menghentikan langkahnya dan berpaling.

“Bagaimana? Apakah kau masih belum tahu siapakah

kawanmu itu. . .?” tegurnya dingin.

“Jika aku sudah tahu, buat apa bertanya lagi kepadamu?”

“Kalau begitu, tanyakan saja sendiri kepadanya apakah

kau tidak bisa bertanya?” Selesai berkata, tubuhnya

mencelat ketengah udara dan berlalu dari sana dengan

cepat.

Si Hek Mo Li ini adalah seorang iblis perempuan yang

berhati ganas, dan keji, ternyata kali ini bisa merasa begitu

takut kepada diri si-tamu pencari bunga, jelas hal ini

menunjukkan bila orang itu adalah seorang yang sangat luar

biasa sekali.

Sinar mata Pek Thian Ki perlahan-lahan dialihkan keatas

wajah si sastrawan tersebut, tanyanya seraya tersenyum;

“Cianpwee siapakah sebenarnya kau?”

Si-tamu pencari bunga pun tertawa; “Soal ini sekalipun

sudah kau ketahui juga percuma saja, mari kita masuk!”

“Cianpwee, apakah kau tak bisa memberikan jawaban

tersebut kepadaku. . .?”

“Mungkin!”

“Si Iblis Hek Mo Li ini sebetulnya termasuk perguruan

yang mana ???”

“Hingga saat ini sukar ditentukan, kau tidak usah

bertanya lagi, mari kita masuk.”

“Baiklah.”

Setelah menyahut, Pek thian Ki pun dengan mengikuti

dari belakang si-tamu pencari bunga itu berjalan masuk

kedalam ruangan rumah aneh tersebut.

Sudah tentu, didalam pikiran pemuda itu kembali

bertambah dengan suatu persoalan yang ia tidak pahami,

siapakah sebenarnya si-tamu pencari bunga yang sangat

misterius ini ????

Pada waktu itu mereka bertiga telah memasuki ruangan

rumah aneh tersebut yang ternyata merupakan sebuah

ruangan tamu yang indah dan megah sekali, Diatas lantai

ruangan masih menggeletak pedang Ciang Liong Kiam, Pek

Thian Ki segera memungutnya kembali.

Tiba-tiba. . . .

“Aaaaach! Delapan bilah pedang!” Teriak Hu Li Hun

tertahan.

Buru-buru pemuda tersebut mengalihkan sinar matanya

mengikuti arah yang dilihat Hu Li Hun, Sedikitpun tidak

salah diatas dinding ruangan tertancaplah delapan bilah

pedang. Ketika sinar mata pemuda tersebut bertemu dengan

pedang yang terakhir, tiba-tiba air mukanya berubah hebat.

“Buuu. . . bukankah pedang itu adalah pedang Sin Mo

Kiam. . .senjata. . .senjata guruku?” serunya tersendatsendat.

“Tidak salah, pedang itu memang pedang Sin Mo Kiam!”

Air muka Pek Thian Ki berubah semakin pucat lagi.

“Jadi guruku benar2 adalah Sin Mo Kiam Khek?”

“Tidak salah!”

“Ia sudah mati?. . . ia benar-benar sudah mati?”

“Benarkah ia sudah mati, hingga ini hari masih susah

untuk ditentukan karena banyak persoalan kadang-kadang

berada diluar dugaan.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku benarkah Sin Mo Kiam Khek sudah mati

masih susah untuk dibicarakan.”

“Dia. . .”

“Pek Thian Ki kau anggap diantara kuburan-kuburan

yang berada didepan rumah itu sungguh-sungguh dikubur

delapan jagoan pedang dari antara sembilan jagoan kolong

langit?”

“Apakah itu palsu?”

“Palsu atau tidak, aku tidak berani memastikan, cuma

diantara kedelapan buah kuburan tersebut, benar-benar

terkubur manusia rasanya sukar untuk dipercaya.”

“Jadi maksudmu kuburan itu hanya kosong belaka?”

“Menurut pendapatmu apakah ada kemnungkinannya?”

Pertanyaan yang balik ditanyakan ini kontan membuat

Pek Thian Ki berdiri tertegun, sedikitpun tidak salah urusan

memang ada kemungkinannya, karena ia belum pernah

membongkar kuburan tersebut untuk dibuktikan apakah

benar didalam liang sungguh-sungguh terkuburkan

kedelapan orang jagoan pedang dari antara sembilan jagoan

pedang dari kolong langit.

Lama sekali Pek thian Ki berdiri tertegun. “Aaaaaach. . .

.makin lama aku dibuat semakin bingung saja.” serunya.

“Tapi sebentar lagi kau bakal menjadi jelas dengan

sendirinya.” Sambil berbicara si-tamu pencari bunga itu

berjalan terlebih dahulu memasuki ruangan belakang.

Sedangkan Pek Thain Ki mengikuti dari belakangnya

dengan hati berduka, pikirannya kacau-balau tidak karuan.

Suhunya benar-benar telah mati. Bersamaan itu pula

kenyataan telah membuktikan jika suhunya bernama Sin

Mo Kiam Khek Pek Thian Ki. . . . dan ia sendiri tidak

bernama itu karena untuk sementara gurunya telah

pinjamkan namanya itu untuk dia orang.

Lalu, apakah ia benar-benar bernama Kiang To?

Agaknya persoalan ini sudah pasti benar, hanya belum

memperoleh bukti yang nyata.

Mendadak. . . . Si-tamu pencari bunga yang berjalan

didepan dibuat terkejut oleh suara tertawa dingin yang

berkumandang keluar dari balik ruangan.

“Siapakah kalian bertiga? Apa maksud kalian

sembarangan memasuki rumah orang lain?” Suara tersebut

datangnya mendadak, kontan membuat mereka bertiga jadi

terperanjat.

“Kawan, siapakah kau?” tegur si sastrawan tersebut

dingin.

“Majikan rumah ini.”

“Sesungguhnya ada berapa banyak majikan rumah ini?”

tegur sang sastrawan lagi dingin.

“Soal itu kau tidak perlu tahu, pokoknya yang jelas,

rumah ini adalah milik bersama.”

“Sesungguhnya ada berapa orang?” kembali si sastrawan

mendesak lebih lanjut.

“Soal ini susah untuk dibicarakan, apa yang kalian

bertiga inginkan?”

“Menyewa rumah ini!”

“Siapa diantara kalian yang ingin menyewa?”

“Kami bertiga?”

Pihak lawan segera tertawa dingin tiada hentinya. “Maaf!

Rumah kami hanya bisa disewakan setiap tahunnya satu

orang, jikalau kalian bertiga ingin menempatinya bersamasama,

hal ini tidak bisa jadi!”

“Aku mau sewa rumah ini.” bentak Pek Thian Ki dingin.

“Kau?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Tadi ada seorang membinasakan dua orang kawan

kami, siapa diantara kalian yang melakukan?”

“Aku!”

“Kalau begitu rumah ini tak dapat disewakan kepadamu,

setiap orang yang ingin menyewa rumah ini harus

mempunyai asal-usul yang suci bersih, rumah ini tidak akan

disewakan kepada seorang pembunuh!”

“Tapi aku sudah bulatkan tekad untuk menyewa rumah

ini.”

“Bolehkah aku yang sewa???” Tiba-tiba si-tamu pencari

bunga berseru dingin.

“Kau bisa menggunakan pedang ???”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Ketiga syarat tersebut ???”

“Tidak ada. . . . cuma aku bisa menyusulkan barangbarang

tersebut.”

“Tidak bisa jadi!”

“Tidak Bisa jadi ?????”

“Benar, harap kalian bertiga cepat-cepat mengundurkan

diri dari rumah ini!”

“Mengundurkan diri dari sini ????”

“Benar! Kalau tidak, setelah sampai waktunya jika

diantara kalian bertiga sampai tertimpa kemalangan, jangan

salahkan kami tidak menerangkan terlebih dahulu.”

“Kawan, aku ingin menanyakan satu persoalan

kepadamu.” ujar Pek Thian Ki dingin.

“Katakan!”

“Benarkah Sin Mo Kiam Khek sudah menemui ajalnya

???”

“Persoalan ini tak dapat aku jawab, karena kau bukan

tamu penyewa rumah kami, sehingga tak dapat dikatakan

punya hubungan, apalagi barang timbal balikpun tak ada,

maka dari itu aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu itu.”

Si-tamu pencari bunga segera tertawa.

Bab 36

“Kawan, kau tidak berani menjawab ataukah tidak bisa

menjawab?” Ejeknya. Setelah merandek sejenak, kemudian

ujarnya seraya tertawa dingin; “Kawan, mengapa kau tidak

suka unjukkan diri untuk berjumpa dengan kami?”

“Aku tidak ingin menemui kalian.”

“Tapi aku justeru ingin sekali berjumpa dengan dirimu. .

.”

oo (d)O(w) oo

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya

bayangan manusia berkelebat lewat, badannya sudah

mencelat kearah dimana berasalnya suara tersebut,

gerakannya benar-benar luar biasa cepatnya.

Ketika si-tamu pencari bunga ini tiba dibelakang ruang

tersebut, ternyata telah menubruk tempat kosong, sesosok

bayangan menusiapun tidak tampak.

Ia jadi melengak.

Pada waktu itu Pek Thian Ki sudah menyusul dari

belakang.

“Woooooouw. . . .! Cepat benar gerakan badannya. . . .”

seru si-tamu pencari bunga kesal.

Suasana diruangan besar sunyi senyap, tak kedengaran

sedikit suarapun. Pada waktu itu tiba-tiba sepasang mata si

sastrawan berusia setengah baya yang sangat tajam telah

terbentur dengan sebuah pintu kecil dibelakang ruangan

tersebut, alisnya langsung dikerutkan, kaki kanan

diayunkan melancarkan satu tendangan kilat keatas pintu

tersebut.

Kena terhajar oleh tendangan tadi, pintu terpentang

lebar, suasana didalam ruangan tersebut gelap gulita dan

sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Pertama-tama si sastrawan berusia setengah baya itu

berjalan masuk terlebih dahulu kedalam ruangan kecil,

disusul oleh Pek Thian Ki dibelakang, pintu rahasia tersebut

sempit lagi panjang.

Kurang lebih setelah berjalan sejauh tiga kaki sampailah

mereka disebuah ruangan yang gelap, sukar melihat lima

jari sendiri, hening, sunyi secara samar-samar menimbulkan

rasa seram dihati semua orang.

Tiba-tiba, suara bentakan keras berkumandang

memecahkan kesunyian disusul munculnya sesosok

bayangan manusia melayang turun kurang lebih tiga

tombak ditengah ruangan tersebut.

“Kawan, akhirnya kau munculkan diri juga,” seru sitamu

pencari bunga dingin.

“Sedikitpun tidak salah, kalian sudah tiba disini, sudah

seharusnya kami adakan sedikit penyambutan buat

kedatangan kalian!”

Baru saja ia membungkam, mendadak dari balik ruang

rahasia tersebut kembali muncul enam orang lelaki berbaju

hitam yang segera mengepung ketiga orang itu ditengah

kalangan.

Suasana mulai diliputi ketegangan, hawa napsu

membunuh melintas memenuhi ruangan. Kembali si-tamu

pencari bunga itu tertawa hambar.

“Ooooooouw. . . . . penyambutan kalian ternyata betulbetul

luar biasa!” jengeknya sinis.

“Sudah tentu, karena kalian bertiga hanya manusia biasabiasa

saja!”

Sinar mata Pek Thian Ki dengan tajam menyapu sekejap

keseluruh ruangan, ditemuinya wajah orang2 berbaju hitam

itu rata2 berkerudung sehingga sulit untuk melihat wajah

mereka yang sebenarnya.

“Siapakah sebetulnya kalian!” seru pemuda itu sambil

tertawa dingin.

“Bukankah kami sudah pernah memberi tahu kepada

kalian bahwa kami adalah Majikan Rumah ini?”

“Apakah diantara kalian masih ada orang lain?”

“Tidak ada!”

“Lalu siapakah diantara kalian yang merupakan majikan

sebenarnya?”

“Aku!” sahut siorang berbaju hitam yang berada dipaling

depan.

“Kalian bertujuh siap hendak melakukan apa?”

“Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa rumah ini tidak

akan kami sewakan kepada kalian bertiga, tapi sekarang

kamu semua dengan maju paksa telah menerjang masuk

kemari, maka akupun tidak perlu sungkan-sungkan untuk

menghadapi kalian lagi.”

“Haaaaa. . . .haaaaa. . .haaaaa. . . jadi kalian ingin

menggunakan jumlah yang banyak untuk mengalahkan

jumlah yang sedikit?” ejek si-tamu pencari bunga seraya

tertawa.

“Terhadap kalian manusia-manusia yang tidak pakai

aturan, terpaksa kami harus menggunakan cara begini

untuk menghadapai kamu semua!”

Habis berkata tampak bayangan manusia berkelebat

lewat, siorang berbaju hitam itu pertama-tama bergerak

terlebih dahulu dengan gerakan yang aneh dan cepat

langsung mengancam tubuh si-tamu pencari bunga.

“Setelah datang rasanya tidak perlu sungkan-sungkan

lagi, Nih! Lihat serangan!” Bentak si-tamu pencari bunga

pula.

Pada waktu si lelaki berkerudung tadi melancarkan

serangan kearahnya dengan cepat ia putar badan, lalu

mencelat kesamping, kemudian diikuti oleh serangan

dahsyat menggulung keluar.

Dengan sebat si-tamu pencari bunga silangkan sepasang

tangan memmunahkan datangnya serangan lawan sedang

waktu itu keenam orang berbaju hitam lainnya sudah

bergerak menyerang Pek Thian Ki serta Hu Li Hun berdua.

Gerak-gerik keenam orang berbaju hitam itu laksana

banteng luka, serangan yang dilancarkan rata2 cepat

bagaikan kilat, tenaga pukulanpun luar biasa dahsyatnya,

seketika itu juga Pek Thian Ki serta Hu Li Hun kena

terdesak mundur sejauh tujuh delapan langkah lebih.

Pek Thian Ki membentak keras, pedangnya digetarkan

dengan membentuk serentetan cahaya tajam berturut-turut

mengirim dua serangan sekaligus.

Hu Li Hun pun membentak keras seraya mengirim satu

hajaran dahsyat. Seketika itu juga seluruh kalangan

dipenuhi dengan napsu membunuh yang menggidikkan

hati, sepuluh orang bertarung jadi satu dengan ramainya,

untuk beberapa saat sukar bagi masing2 pihak untuk

merebut kemenangan.

Kepandaian silat yang dimiliki Pek Thian Ki bertiga

betul2luar biasa sekali. Bayangan manusia menyambar

lewat, angin pukulan menderu-deru, suasana diliputi

dengan ketegangan.

Tiba-tiba. . . .

Suara jeritan ngeri berkumandang memecahkan

kesunyian, seorang lelaki berkerudung menemui ajalnya

dengan sangat mengerikan dibawah tusukan pedang Ciang

Liong Kiam dari Pek Thian Ki.

Waktu itu si lelaki berkerudung yang menyerang diri

sastrawan berusia setengah baya pun telah digencet oleh

lawannya, sehingga berada dalam keadaan berbahaya.

Tiba-tiba, si sastrawan setengah baya melancarkan suatu

serangan dengan tangan kanannya membabat wajah lelaki

berkerudung tersebut, serangannya cepat dan anehnya luar

biasa.

Agaknya si lelaki berkerudung itu sama sekali tidak

menduga kalau lawannya mempunyai kepandaian sebegitu

dahsyat dan lihaynya, melihat si sastrawan setengah baya

menyerang badannya, iapun mengirim satu serangan pula

menerima datangnya serangan lawan dengan keras lawan

keras.

Pada saat siorang berbaju hitam itu menerima datangnya

serangan lawan dengan keras lawan keras itulah, tangan kiri

dari si-tam pencari bunga sudah disapu kedepan.

“Braaaaak! Diikuti suara bentrokan keras, suara

dengusan berat bergema saling susul menyusul, terlihatlah

siorang berbaju hitam itu sambil muntahkan darah segar,

badannya mencelat ketengah udara kemudian terbanting

keatas tanah keras-keras.

Sekali terjang si-tamu pencari bunga itu sudah

mencengkeram tubuh lelaki berkerudung tersebut,

kemudian diangkat tinggi-tinggi keatas. Ketika itu juga

jeritan ngeri kembali berkumandang memenuhi ruangan,

seorang lelaki berkerudung kembali menemui ajalnya

dengan sangat mengerikan ditangan Pek Thain Ki.

Sedang pemuda itu sendiri juga terkena hajaran,

sehingga badannya mundur kebelakang dengan

sempoyongan.

Pada waktu itulah. . . .

Tiga sosok tubuh bayangan manusia berkelebat lewat,

dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari

busur menubruk kearah Pek Thian Ki, sedang angin

pukulan ber-sama2 menyapu keluar. Melihat kejadian itu,

si-tamu pencari bunga segera membentak keras.

“Tahan!”

Suara bentakan dari si-tamu pencari bunga ini keras

bagaikan ledakan halilintar disiang bolong, membuat

seluruh ruangan jadi berdengung dan orang-oran pada

mundur kebelakang dengan hati terperanjat.

“Siapa yang berani turun tangan terhadap dirinya, akan

kubunuh terlebih dahulu!” bentak si-tamu pencari bunga

dengan wajah penuh hawa napsu membunuh.

Beberapa patah perkataan yang diucapkan si-tamu

pencari bunga ini penuh diliputi hawa napsu membunuh,

membuat setiap orang yang mendengar merasakan hatinya

bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.

Sisanya empat orang berbaju hitam yang mendengar

perkataan tersebut sama-sama merasakan badannya

merinding dan memandang kearah si-tamu pencari bunga

itu dengan mata mendelong, ternyata tak seorangpun

diantara mereka yang berani turun tangan lagi.

Si sastrawan berusia setengah baya itu tertawa dingin,

sinar matanya perlahan-lahan dialihkan keatas wajah

simanusia berkerudung yang berada didalam

cengkeramannya.

“Siapakah sebenarnya kau orang ???” tanyanya dingin.

Pihak lawan cuma tertawa sinis, mulutnya tetap

membungkam dalam seribu bahasa. Diatas wajah si-tamu

pencari bunga perlahan-lahan terlintaslah hawa napsu

membunuh.

“Kau benar-benar tidak ingin berbicara?” bentaknya

dingin.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Kau tidak suka bicara, apakah kau anggap aku tidak

punya cara untuk paksa kau buka suara?” Habis berkata

tangan kanan si-tamu pencari bunga itu ditotokkan keatas

tujuh buah jalan darah kematian ditubuh lelaki berkerudung

tersebut dengan ilmu peretak tulang pembotot otot.

Begitu jalan darah kena ditotok, si lelaki berkerudung

hitam itu menjerit-jerit kesakitan seperti babi disembelih,

seluruh tubuhnya gemetar keras dan makin lama semakin

menyusut kecil. . . .

“Kau suka bicara tidak?” kembali si-tamu pencari bunga

membentak keras.

“Aku. . . . aku bicara!”

“Heeeee. . . .heeeee. . . heeeee. . . , aku masih

menganggap badanmu itu terbentuk dari besi baja.” seru sitam

pencari bunga seraya tertawa congkak.

Tangannya segera berkelebat membebaskan orang itu

dari totokan jalan darahnya, kemudian bentaknya; “Siapa

kau? Ayoh jawab!”

Orang itu terengah-engah, setelah sedikit mengatur

pernapasan jawabnya;

“Aku. . .aku adalah Tiong. . . .Aduuuuuuhh. . . .” Belum

habis ia berkata, mendadak suara jeritan ngeri

berkumandang memenuhi seluruh ruangan, darah segar

muncrat keempat penjuru dan tahu-tahu siorang berbaju

hitam itu sudah menemui ajalnya.

Kejadian itu kontan saja menimbulkan rasa terkejut

didalam hati semua orang. Tiba-tiba. . . . .

“Heeee. . . .heeee. . . .heeee. . . barang siapa yang berani

membocorkan rahasia perguruan harus mati!” Serentetan

suara tertawa dingin berkumandang datang.

Suara tersebut jelas berasal dari seorang perempuan,

terlihat bayangan hitam berkelebat lewat ditengah ditengah

ruangan rahasia yang sunyi senyap muncul kembali sesosok

bayangan hitam.

Semua orang mendongak, dilihatnya seorang perempuan

berusia tiga puluh tahunan dengan wajah kaku, dingin dan

menyeramkan telah berdiri tegak disana.

“Heeee. . . heeee. . . heeee. . . .tidak kusangka ditempat

yang seram bagaikan dineraka ini masih ada seorang gadis

secantik kau, kejadian ini benar-benar merupakan suatu

peristiwa yang sukar dipercaya,” seru si-tamu pencari bunga

sambil tertawa dingin.

“Siapa kau!”

“Si-tamu pencari bunga?”

“Ooooouw. . . .sungguh indah sekali gelarmu itu.”

“Sedikitpun tidak salah, tolong tanya, siapakah dirimu?”

“Soal ini aku tidak ingin memberitahukan kepadamu,

justeru aku ingin minta pertanggungan jawab dari kalian

bertiga yang berturut-turut telah membinasakan empat

orang anak buah kami dalam ruangan ini.”

“Siapa kau? Jikalau kau tidak menjawab bagaimana kami

bisa mempertanggung jawabkan persoalan ini?”

“Aku adalah salah seorang majikan dari rumah ini!”

“Apakah disamping itu masih ada majikan-majikan yang

lain?”

“Kemungkinan sekali ada!”

“Mengapa tidak suruh saja majikan kalian untuk keluar?”

“Karena kalian belum setimpal untuk menemui dirinya!”

“Jadi aku cocok jikalau berjumpa dengan kau?”

Perkataan yang bergandeng erat ini seketika itu juga

membuat perempuan berbaju hitam itu jadi malu, dan dari

rasa malu jadi gusar, air mukanya berubah hebat.

“Apakah kalian bertiga sudah tahu barang siapa yang

berani memasuki rumah ini, maka ia harus mati?”

“Tidak tahu!”

“Kalau begitu akan aku suruh kalian mengetahuinya.”

Sembari berkata selangkah demi selangkah, ia berjalan

mendekati si-tamu pencari bunga.

Peristiwa dengan jelas sudah terbentang didepan mata,

rumah yang berbentuk aneh dan penuh diliputi

kemisteriusan ini tentu milik diri suatu perguruan tertentu.

Sedang perguruan tersebut dengan menggunakan rumah

aneh ini telah membunuhi habis jago-jago lihay dari dunia

kangouw termasuk sembilan jagoan pedang dari kolong

langit.

Pada waktu itu. . . .

Si perempuan berbaju hitam itu telah tiba kurang lebih

lima depa dihadapan si-tamu pencari bunga, mendadak ia

memandang sembari bertanya dengan nada suara yang

dingin;

“Kalian bertiga, hendak turun tangan bersama-sama,

ataukah satu persatu ???”

Si-tamu pencari bunga kembali tertawa dingin; “Begini

saja, mari kita orang mengadakan suatu pertaruhan!”

“Taruhan apa? Taruhan jurus serangan?”

“Benar, kita tetapkan hanya terbatas sampai sepuluh

jurus saja, jika aku kalah, maka kami bertiga rela menerima

hukuman darimu, sebaliknya jika kau yang kalah, maka kau

harus manjawab tiga buah pertanyaan yang aku ajukan.”

“Apa pertanyaanmu?”

“Soal ini kau tidak perlu tahu, cuma seharusna kau tahu

tiga lembar nyawa kami hanya diganti dengan tiga buah

pertanyaan, sepatutnya kaulah yang beruntung.”

“Sungguh-sungguhkah perkataanmu itu.” tanya si

perempuan berbaju hitam itu dengan air muka berubah

hebat.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Apakah mereka berdua sama-sama setuju?”

“Aku rasa mereka bisa menyetujuinya.” Sinar matapun

perlahan-lahan dialihkan keatas wajah Pek Thian Ki serta

Hu Li Hun, tanyanya; “Bagaimana menurut pendapat

kalian berdua?”

Dengan air muka berat Pek Thian Ki serta Hu Li Hun

mengangguk, mereka percaya kepandaian silat yang

dimiliki si-tamu pencari bunga ini jauh berada diatas

lawannya.

Setelah memperoleh persetujuan, Sasatrawan berusia

setengah baya itu, kembali menoleh kearah perempuan

berbaju hitam itu, tegurnya dingin;

“Mereka sudah menyetujui, kau boleh berlega hati.”

“Bagus sekali, jikalau didalam sepuluh jurus kau berhasil

menemui kekalahan ditanganku, maka kalian bertiga harus

menurut hukuman yang aku jatuhkan tanpa membantah.”

“Benar!”

“Kalau begitu, kita boleh segera bergerak?”

“Silahkan kau orang mulai turun tangan.”

Sekali lagi siperempuan berbaju hitam itu melangkah

maju kedepan, sinar matanya memancarkan cahaya penuh

berhawa napsu membunuh melototi diri si-tamu pencari

bunga itu tanpa berkedip.

“Cabut keluar senjatamu!” bentaknya dingin.

“Tidak perlu.”

“Kalau begitu, bagus sekali, silahkan saudara mulai turun

tangan!”

“Terhadap seorang perempuan secantik dirimu, aku

merasa sangat tidak tega untuk turun tangan jahat, lebih

baik. . . .”

“Bangsat! Kau sudah bosan hidup.” Belum habis

perempuan berbaju hitam itu selesai berbicara, bayangan

hitam sudah menyambar lewat bagaikan anak panah yang

terlepas dari busurnya, menerjang diri si-tamu pencari

bunga itu, sebuah serangan dahsyat sudah menggulung

keluar.

Si perempuan berbaju hitam ini benar-benar merupakan

seorang jagoan yang memiliki kepandaian yang sangat

lihay, cukup ditinjau dari badannya yang mencelat kedepan,

sudah cukup mengejutkan hati setiap orang yang

melihatnya.

Buru-buru si-tamu pencari bunga angkat tangan kirinya

menghalau datangnya serangan tersebut, sedang tangan

kanan balas mengirim satu pukulan kemuka.

Bayangan manusia saling menyambar, masing-masing

pihak dalam waktu yang amat singkat telah saling bertukar

serangan sebanyak dua jurus, kecepatan geraknya membuat

orang lain susah untuk melihat jelas bagaimanakah jurus

serangan yang digunakan kedua orang itu.

Tangan kiri si sastrawan berusia setengah baya itu begitu

menyerang, siperempuan berbaju hitam itupun menangkis

dengan tangannya, dengan sebuah jurus bertahan yang

indah. Jelas mereka berdua telah menggunakan cara

bertempur adu jiwa untuk berusaha mengalahkan pihak

lawannya dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Pek Thian Ki menoleh dan memandang sekejap kearah

Hu Li Hun, dilihatnya wajah gadis itu hambar sedikitpun

tidak menunjukkan reaksi apapun, sinar matanya dengan

tajam memperhatikan ketengah kalangan dimana telah

berlangsung suatu pertarungan yang maha seru.

“Nona Hu !” tegur Pek Thian Ki lirih.

Suara teguran dari pemuda itu agaknya telah

menggetarkan hatinya, ia tersentak kaget kemudian alihkan

sinar matanya kearah sang perjaka.

“Ada urusan apa?” balik tanyanya.

“Aku ada satu persoalan yang saat ini hendak

kutanyakan kepadamu.”

“Katakanlah!”

“Antara ibumu dengan Sam Ciat Sin-cun apakah benarbenar

ada hubungan yang erat?”

“Sudah tentu, dia adalah salah seorang isterinya!”

“Ibumu sudah mati?”

“Soal ini aku tidak bisa menjawab, Cuma aku boleh

beritahu kepadamu bahwa aku bukan dilahirkan oleh Sam

Ciat Sin-cun.”

“Mengapa?”

“Menanti sepeninggal dari rumah aneh ini, aku bisa

memberitahukan persoalan ini kepadamu.”

“Jadi saat ini kau tidak ingin menjawab seluruh

pertanyaanku?”

“Benar.”

Agaknya Pek Thain Ki dibuat kecewa oleh jawabannya

itu, benar, hingga saat ini ia masih belum mengetahui halhal

yang pernah dialami Sam Ciat Sin-cun pada masa yang

lalu. Sebenarnya macam apakah orang itu?. . . .

Tiba-tiba. . . .

Suara bentakan keras berkumandang memenuhi

angkasa, tampak bayangan manusia saling berkelebat,

kedua orang itu kembali saling menyerang sebanyak

delapan jurus. Ditengah suara bentakan keras itulah tubuh

si-tamu pencari bunga itu kena dipaksa mundur lima enam

langkah kebelakang oleh serangan dari siperempuan berbaju

hitam itu, kejadian ini kontan saja membuat Pek Thian Ki

serta Hu Li Hun merasa sangat terperanjat.

Tiba-tiba, pada saat si-tamu pencari bunga itu

mengundurkan diri kebelakang itulah, tiba-tiba tubuh

siperempuan berbaju hitam itu berputar kencang, kemudian

laksana sambaran kilat menerjang maju kedepan.

Tapi si-tamu pencari bunga tidak ingin menunjukkan

kelemahannya, melihat perempuan itu berputar kencang

tangan kanannya dengan gerakan yang aneh tiba-tiba

menotok kedepan.

Agaknya siperempuan berbaju hitam itu sama sekali

tidak menduga kalau kepandaian silat yang dimiliki si-tamu

pencari bunga itu bisa sedemikian lihaynya, buru-buru ia

mengundurkan diri kebelakang.

Suara bentakan bergema memenuhi angkasa, kembali sitamu

pencari bunga tersebut mengirim satu pukulan

kemuka. Kepandaian silat yang dimiliki si-tamu pencari

bunga ini sekalipun digunakan untuk menghadapi tiga

orang perempuan berbaju hitam macam itupun mungkin

masih sanggup, apalagi hanya seorang, sudah tentu

kemenangan pasti berada ditangannya.

Dalam serangannya yang terakhir ini ia telah

menggunakan suatu serangan maut yang mematikan. Si

perempuan berbaju hitam itu mana mungkin bisa berhasil

menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut. . . .

“Breeeet. . .!” Pakaian dibagian dada dari siperempuan

berbaju hitam itu telah kena tersambar robek satu depa

lebih. Kain berwarna hitam hancur berkeping-keping dan

rontok keatas tanah, sehingga kelihatan kutangnya yang

berwarna merah.

“Maaaaf. . . maaf. . . terima kasih atas bantuanmu. . .

terima kasih! Terima kasih!”

Air muka perempuan berbaju hitam itu berubah pucat

pasi bagaikan mayat, keringat sebesar kacang kedelai

mengucur keluar membasahi keningnya, ternyata saking

kagetnya ia sudah lupa mengenakan kembali pakaiannya

yang hampir terbuka itu.

“Haaaaa. . . .haaaaa. . . haaaaa. . . apakah kau sudah

mengaku kalah?” ujar si-tamu pencari bunga sambil tertawa

terbahak-bahak.

Seluruh tubuh perempuan cantik berbaju hitam itu

gemetar keras bagaikan kena stroom bertegangan tinggi,

wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.

“Tidak salah, aku sudah kalah, apa yang kau inginkan?”

“Ooooouw. . . mudah, mudah sekali, jawablah tiga

pertanyaan yang akan aku ajukan kepadamu!”

Perempuan cantik berbaju hitam itu kelihatan rada raguragu,

lama sekali ia baru bertanya;

“Pertanyaan apakah itu?”

“Pertama, siapakah majikan kalian.”

“Kedua?” potong sang perempuan dengan cepat.

“Tahukah kalian rumah berbentuk aneh ini adalah

rumah kediaman dari Tiap Hoa Siancu?”

“Dan persoalan yang ketiga?”

“Dimana letaknya Loteng Genta?”

Ucapan ‘Loteng Genta’ yang diutarakan paling belakang

ini bukan saja membuat air muka siperempuan cantik

berbaju hitam berubah hebat, sekalipun Pek Thian Ki yang

ada disisi orang itupun ikut berubah wajah karena

kata2’Loteng Genta’ baru untuk pertama kali ini ia dengar

disebut orang.

Apa kata-kata ‘Genta’ yang diucapkan siorang berbaju

hitam tadi sesaat menemui ajalnya adalah mengartikan

‘Loteng Genta’ ini? Tapi macam pengurung apakah Loteng

Genta itu?

Dengan perasaan hati bergidik siperempuan cantik

berbaju hitam itu berdiri mematung ditempat semula.

Melihat perempuan cantik tersebut belum juga memberi

jawaban barang sepatah katapun, si-tamu pencari bunga

kembali menegur dengan nada yang dingin.

“Cepat jawab ketiga buah pertanyaanku!”

“Heeee. . . .heeeee. . . heeee. . . sayang, sayang. . .

.sungguh sayang sekali diantara ketiga buah pertanyaanmu

tak sebuahpun bisa kujawab. . . .” sahut siperempuan cantik

berbaju hitam itu seraya tertawa hambar.

-0odwo0-

-0odwo0-

-0odwo0-

Jilid 13

Bab 37

BELUM selesai ia berkata, tangan kanannya mendadak

diangkat keatas kemudian dihajarkan keatas ubun-ubun

sendiri dengan suatu serangan yang dahsyat.

Kiranya perempuan berbaju hitam ini tidak ingin

memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang

diajukan, maka ia mengambil keputusan dengan kematian

coba meloloskan diri dari penderitaan, Tidak aneh kalau

serangan yang barusan ia lancarkan dilakukan dengan

kecepatan laksana sambaran petir.

“Aaaaaaach. . .!” Pek Thian Ki sama sekali tidak

menduga akan perbuatan yang bakal dilakukan oleh

perempuan itu, saking kagetnya ia menjerit tertahan.

Lain halnya dengan si-tamu pencari bunga, agaknya ia

sudah menduga kesitu, selagi perempuan cantik berbaju

hitam ayunkan tangannya keatas tadi, tubuhnya dengan

kecepatan penuh telah berputar kemudian meluncur

kedepan.

Suara dengusan berat bergema memecahkan kesunyian

disusul dengan jeritan kaget yang melengking. Sewaktu

semua orang alihkan sinar matanya kembali ketengah

kalangan, tampak si-tamu pencari bunga masih tetap berdiri

ditempat semula dengan muka yang wajar, Lagak lagunya

mirip seseorang yang sama sekali belum pernah

menggerakkan badannya.

Sebaliknya, siperempuan cantik berbaju hitam itu berdiri

dalam sikap yang aneh tangan kanannya berhenti kaku

kurang lebih tiga cun diatas batok kepalanya sendiri. Ia

berdiri kaku disana dengan sepasang mata memandang

kearah si-tamu pencari bunga dengan penuh rasa kaget dan

bergidik.

“Heee. . . .heeeee. . . .heeeee. . . eeeei perempuan cantik,

tidak segampang itu manusia mencari kematian buat diri

sendiri. . .! jengek si-tamu pencari bunga dengan suara

dingin.

“Sebenarnya apa yang kalian inginkan?” teriak

perempuan cantik itu kemudian. Nada ucapannya penuh

mengandung rasa jeri dan takut.

“Gampang, gampang. . . .jawab dulu ketiga buah

pertanyaan yang aku ajukan tadi! Eeeei. . .gimana?

Bukankah kita sudah saling berjanji sebelum bergebrak

tadi?”

“Sayang aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu.”

“Apa? Apakah dengan nama besarmu Hek Mey Kwi

(Bunga Mawar Hitam) juga ingin ingkari janji sendiri?”

“Bagaimana kau bisa tahu, aku bernama si Bunga Mawar

Hitam? Siapa yang beritahu kepadamu?”

Perempuan cantik berbaju hitam itu sama sekali tidak

menyangka apabila pihak lawan bisa mengetahui nama

sebutannya, ia merasa terperanjat sehingga kentara diatas

wajahnya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan.

“Apa yang perlu diherankan untuk mencari tahu

siapakah dirimu? Bukankah tebakanku tidak meleset?”

Dalam keadaan begini bukan saja peristiwa tersebut

membuat siperempuan cantik berbaju hitam itu jadi

terperanjat, bahkan Pek Thian Ki sendiripun merasa sedikit

heran dan tercengang, Ia tidak mengerti secara bagaimana

si-tamu pencari bunga ini bisa menebak dengan begitu

tepat.

Agaknya manusia ini mengetahui segala persoalan. . . .

tapi mirip pula seseorang yang apapun tidak mengerti, dia

betul-betul seoran manusia paling misterius.

Ketika itu. . . .

“Heeeee. . . .heeee. . . heeee. . . Kau suka menjawab

ketiga pertanyaanku tidak?” teriak si-tamu pencari bunga

diiringi suara tertawa dingin yang menyeramkan. “Apakah

kau benar-benar tidak suka dengan arak penghormatan dan

justeru mencari arak hukuman? Baik, baiklah! Bilamana itu

permintaanmu sendiri, terpaksa aku akan turun tangan keji

terhadap dirimu.”

“Bangsat! Jangan banyak ngoceh lagi, jika kau punya

keberanian, ayoh cepat keluarkan tindakanmu yang keji!”

“Heee. . . heeee. . . heee. . . tindakanku sangat gampang

sekali dan aku rasa tidak perlu sampai mencabut nyawa.”

seru si-tamu pencari bunga dengan dihiasi senyuman

misterius pada bibirnya, “Aku tidak ingin menyiksa

badanmu, tapi aku ingini dirimu. . .”

“Apa? Kau ingini diriku?”

“Benar, benar, benar eeeei. . .! Apakah kau lupa namaku

adalah si-tamu pencari bunga?”

Ucapan ini langsung memaksa air muka si bunga mawar

hitam berubah hebat, dengan perasaan terkejut ngeri, seram

dan takut ia pandangi wajah simanusia misterius ini tajamtajam.

Sebaliknya si-tamu pencari bunga mulai memperlihatkan

senyuman cabulnya, sembari selangkah demi selangkah

mendekati tubuh si bunga mawar hitam, ia cengar-cengir

kuda.

“Ooooo. . . .sungguh indah dan montok buah dadamu!

ehmmm. . .! Tentu padat dan kencang sekali. . . .akan

kucoba pegang dan meremas-remasnya. . . .”

Bagaikan perbuatan seorang penjahat pemetik bunga

yang kotor dan cabul, ia mulai menggerayangi tubuh si

bunga mawar hitam, terutama sekali yang dituju adalah

sepasang buah dadanya serta gerbang kenikmatan

perempuan tersebut.

“Tindakan apa yang kau hendak lakukan padaku?” teriak

si bunga mawar hitam penuh ketakutan.

“Aku. . . oooouw. . . bila dibicarakan sebetulnya terlalu

kasar, aku ingin melepaskan pakaianmu satu demi satu

sehingga akhirnya kau telanjang bulat. . .”

“Kau berani?” Jeritan perempuan itu makin histeris.

“Kenapa tidak berani? Eeee. . . heeee. . .heee. . .bila kau

ingin lihat beranikah diriku berbuat begitu, nah! Buktikan

sendiri saja nanti, setelah kutelanjangi dirimu sehingga tak

sehelai benangpun yang melekat dibadan. . .heee. . .heeee. .

.heeee. . . aku rasa sekalipun tak usah kuberitahukan, kau

sudah tahu sendiri bukan permainan serius apakah

selanjutnya bakal terjadi.”

Beberapa patah kata ini sungguh membuat si bunga

mawar hitam bergidik dan gemetar keras, keringat dingin

mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dari

perubahan wajah si-tamu pencari bunga, ia dapat menduga

apabila ancaman tersebut benar-benar bisa ia lakukan.

Pek Thian Ki pun mulai tertawa dingin tiada hentinya.

“Hey bunga mawar hitam, aku lihat lebih baik cepatcepatlah

kau mengaku terus terang, kalau tidak, maka yang

menderita rugi bakalnya kau sendiri. . . .”

Belum habis Pek Thian Ki berkata, mendadak suara

bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian;

“Bangsat terkutuk, benar-benar banyolanmu! Aku akan

adu jiwa dengan kalian.” Diiringi suara bentakan keras,

bayangan hitam saling menyambar dengan kecepatan

penuh.

Tiga orang dari antara keempat orang lelaki berbaju

hitam yang ada disisi kalangan secara mendadak

melancarkan serangan berbareng mengancam si-tamu

pencari bunga.

Serangan yang dilancarkan ketiga orang itu benar-benar

dahsyat bagaikan menyambarnya guntur membelah bumi,

tiga orang dengan tiga gulung angin pukulan berhawa

sinkang yang luar biasa dahsyatnya bersama-sama

menghajar tubuh si-tamu pencari bunga.

“Kalian cari mati. . .” bentak si-tamu pencari bunga

penuh kegusaran.

Tubuhnya berputar kencang, dimana cahaya putih

menyambar lewat, tiga buah jeritan ngeri yang

menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa,

ketiga orang lelaki berkerudung hitam yang barusan

melancarkan serangan kini pada roboh binasa semua diatas

tanah dalam keadaan sangat mengerikan.

Si-tamu pencari bunga masih tetap berdiri ditempat

semula dengan sikap yang tenang, wajahnya dingin kecut.

Melihat kelihayan ilmu silat yang dimiliki si-tamu pencari

bunga ini, Pek Thian Ki serta Hu Li Hun sama2

menyangka, bila orang itu sudah berhasil melatih ilmunya

hingga mencapai ketaraf yang tak terbayangkan.

Si-tamu pencari bunga tertawa ringan, perlahan-lahan ia

putar badan seraya berkata; “Kalian sendiri yang cari

kematian, apabila kamu semua tidak terlalu mendesak,

akupun belum tentu suka mencabut nyawa kalian. . .”

Rasa terkejut yang menimpa si bunga mawar hitam kali

ini membuat dia jadi bodoh, keringat dingin mengucur

keluar membasahi seluruh tubuhnya, nyalinya benar-benar

dibikin pecah oleh kedahsyatan ilmu silat yang dimiliki sitamu

pencari bunga simanusia misterius ini.

“Bunga Mawar Hitam, sebenarnya kau suka bicara atau

tidak?” bentak orang itu lagi dingin.

Seluruh tubuh si bunga mawar hitam gemetar keras,

akhirnya ia ambil keputusan. “Aku tak akan menjawab

pertanyaanmu itu!”

“Heee. . . .heee. . . .heee. . . .tidak mau menjawab ???”

seru si-tamu pencari bunga sambil tertawa dingin, tiada

hentinya, ia segera berpaling kearah Pek Thian Ki serta Hu

Li Hun. “Jikalau memang ia ngotot tidak mau menjawab,

terpaksa kalian berdua harus keluar sebentar dari sini!”

“Baik!”

Pertama-tama Pek Thian Ki berlalu terlebih dahulu

keluar pintu diikuti Hu Li Hun dibelakangnya. Setibanya

diluar ruangan, mendadak Hu Li Hun bertanya kepada diri

Pek Thian Ki;

“Pek Siauw-hiap, siapakah sebenarnya si-tamu pencari

bunga itu?”

“Entah! Aku sendiri juga tidak tahu.”

“Kepandaian silat yang dimilikinya sangat mengejutkan

hati, sekalipun kepandaian silat Sam Ciat Sin-cun yang

didengungkan sebagai manusia paling lihay waktu itupun,

aku lihat hanya begitu saja.”

Pek Thian Ki mengangguk.

“Eeeeei. . .!” tiba-tiba Hu Li Hun berpekik nyaring.

“Mungkinkah dia adalah. . . .”

“Siapa?”

“Sam Ciat Sin Cun?”

Hati Pek Thian Ki bergidik mendengar disebutnya nama

jago tersebut, serunya; “Kau maksudkan dia adalah si Sam

Ciat Sin Cun Kiang Lang ???”

“Maksudku mungkin dia adalah Kiang Lang ??”

“Tapi. . .bukankah dia sudah mati ??”

“Mati ?? Siapa yang membuktikan Kiang Lang sudah

mati ?? Apakah ada orang yang melihat dengan mata kepala

sendiri ??” bantah sigadis cepat.

Pek Thian Ki jadi melengak, lama sekali ia baru

menggeleng. “Aku rasa tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin ??”

“Jika dia adalah Sam Ciat Sin Cun, simanusia tersohor

itu tidak seharusnya Cu Hoa tidak mengenali dirinya,

karena senjata yang digunakan Cu Hoa yaitu tabung Sam

Ciat Tong adalah senjata andalan si Sam Ciat Sin Cun sejak

masa yang silam.”

“Kau hanya berdasarkan hal tersebut lantas menganggap

hal ini tidak mungkin?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Kalau begitu kau salah besar!” ujar Hu Li Hun cepat.

“Kau tahu Cu Hoa tahun ini baru berusia berapa ?? Sedang

Sam Ciat Sin Cun sudah lenyap hampir delapan belas tahun

lamanya, secara bagaimana Cu Hoa bisa kenal dengan

dirinya ??? Mungkinkah semasa ia baru keluar dari

kandungan ibunya lantas kenal dengan simanusia kesohor

itu ??”

“Lalu dari manakah ia dapatkan senjata Sam Ciat Tong

itu ???”

“Mungkin sekali tempo dulu Sam Ciat Sin-cun telah

menghadiahkan senjata ini kepada seseorang, dan kebetulan

Cu Hoa adalah anak murid orang itu, kalau tidak orang ini

sebagai Sam Ciat Sin-cun kenapa tidak menarik kembali

senjata Sam Ciat Tong-nya ???”

Mendengar uraian tersebut, Pek Thian Ki mulai bisa

menangkap kebenaran dari ucapannya itu.

Sam Ciat Sin Cun adalah seorang jago yang memiliki

kepandaian silat amat lihay, kecuali dia, jagoan dari

manakah yang bisa memiliki ilmu silat sedahsyat itu ???

“Ada satu cara yang bisa kita gunakan untuk

membuktikan benarkah dia Sam Ciat Sin-cun atau bukan,”

ujar Hu Li Hun kembali.

“Apa caramu itu ??”

“Bawa orang itu pergi menemui ibuku!”

“Ooooouw. . . .ibumu Hu Bei San masih hidup ??”

Ketika Hu Li Hun merasa ucapannya terlanjur keluar

dan untuk menarik kembali sudah tidak sempat lagi,

terpaksa ia manggut. “Tidak salah, ibuku masih hidup.”

Pek Thian Ki mulai berpikir keras, akhirnya iapun

mengangguk. “Ehmmm. . .benar, bila ia sungguh2 Sam Ciat

Sin-cun aku rasa ibumu tentu mengenali dirinya.”

Pada saat itulah, riba-tiba. . . .

Suara jeritan kaget berkumandang keluar dari balik

ruangan rahasia, suara tersebut keras lagi tinggi melengking.

Kemudian disusul dengan suara bentakan keras dari si-tamu

pencari bunga;

“Kau suka bicara tidak ???”

“Baik, baik, aku. . . .aku bicara!” Suara sibunga mawar

hitam kedengaran gemetar, jelas ia telah dibuat ketakutan.

“Nah! Cepat katakan. . . pertanyaan pertama, siapakah

majikanmu ???. . .”

“Cong Loo Mo Li atau si Iblis Wanita dari Loteng

Genta!”

“Siapa namanya ???”

“Aku tidak tahu.”

Suasana hening beberapa saat, kurang lebih seperminum

teh, kemudian terdengar suara si-tamu pencari bunga

berkata kembali;

“Baiklah, sekarang pertanyaan yang kedua, apakah

kalian tahu rumah yang kalian diami ini adalah tempat

tinggal Ui Mey Giok ???”

“Sedikitpun tidak salah, kita sudah tahu!”

“Dan ia masih berada didalam rumah ini ???”

“Benar, ia masih berada disini, Bangunan rumah ini

walaupun keliahatnnya tidak besar, tetapi dibangun sangat

kokoh dan sempurna.”

“Siapa yang membangun rumah ini ???”

“Pertanyaan ini tidak termasuk didalam syarat yang telah

kita janjikan, aku tidak bisa menjawab.”

Si-tamu pencari bunga berdiam sejenak, kemudia

bertanya lagi;

“Kau berani memastikan apabila dia masih berada dalam

rumah ini ???. . .”

“Benar!”

“Lalu dimanakah letak Loteng Genta tersebut ???”

“Puncak Gouw Cio Hong gunung Ciang Gouw San. . .”

Belum habis si Bunga Mawar Hitam berbicara, mendadak. .

.

Suara kaki yang ramai memecahkan kesunyian dan

makin lama bergerak semakin dekat. Mendengar suara itu

Pek Thian Ki merasa terperanjat, dengan sebat ia berpaling

kebelakang. Dilihatnya dua sosok bayangan hitam tahutahu

sudah muncul dibelakang tubuhnya.

“Siapa?” bentak sang pemuda keras-keras.

“Aku! Eeeeii, Pek Siauw-hiap dimanakah si-tamu pencari

bunga itu?”

Dengan pandangan tajam Pek Thian Ki alihkan sinar

matanya kearah mana berasalnya suara tersebut, tiba-tiba

hatinya tergetar keras.

Kiranya orang yang barusan datang bukan lain adalah

Cu Hoa serta si Sin Si-poa dua orang. Munculnya Sin Sipoa

secara mendadak disana jauh berada diluar dugaan Pek

Thian Ki, untuk sesaat ia berdiri tertegun ditengah

kalangan.

“Kemana orang itu?” terdengar Cu Hoa menegur dengan

nada cemas.

“Ada apa?”

“Cari balas dengan dirinya, jikalau bukan Sin Si-poa

loocianpwee keburu datang, bukankah aku harus berbaring

entah sampai kapan ditempat luaran?”

Pek Thian Ki tertawa, ia segera maju kedepan untuk

memberi hormat kepada diri Sin Si-poa, ujarnya;

“Aku dengar Cu-heng mengatakan bahwa loocianpwee

mengundang diriku. . .”

“Benar!” Belum habis pemuda itu menyelesaikan katakatanya

si Sin Si-poa sakti sudah memotong, “Setelah aku

mengundang dirimu, lantas terpikir didalam benakku

apabila kau tak mungkin datang menemui diriku karena

ingin menyelidiki keadaan dari bangunan rumah ini, maka

dari itu terpaksa aku datang sendiri kemari.”

Ia merandek sejenak, lalu berpaling kearah Hu Li Hun dan

sambungnya lebih lanjut: “Nona Hun, barang yang pernah

kau minta ramalkan apakah sudah ketemu?”

Hu Li Hun kelihatan agak tertegun.

“Tidak salah, sudah kutemukan. . .” Mendadak air

mukanya berubah hebat, sambungnya: “Oooouw. . .

sekarang aku paham sudah, sewaktu kau jatuh dari atas

pohon digunung Lui Im San tempo dulu dan kuterima

dengan tangan, menggunakan kesempatan tersebut kau

telah curi suratku, bukankah begitu?”

“Sedikitpun tidak salah, oleh karena itu sengaja aku

datang kemari untuk minta maaf!”

“Siapakah sebenarnya kau?” teriak Hu Li Hun dengan air

muka berubah hebat.

“Eeeei. . . lucu sekali, aku adalah Sin Si-poa!”

“Loocianpwee!” ketika itulah Pek Thian Ki menyela dari

samping setelah sinar matanya menyapu sekejap seluruh

ruangan. “Kau mencari diriku entah ada urusan apa?”

“Bukankah kau ingin mengetahui asal-usulmu?”

“Tidak salah. . .” Belum lagi Pek Thian Ki

menyelesaikan kata-katanya, mendadak suara jeritan ngeri

berkumandang keluar dari balik ruangan rahasia.

Mendengar jeritan yang menyayatkan hati tersebut, air

muka semua orang yang hadir didalam kalangan pada

berubah hebat.

Pek Thian Ki segera enjotkan badannya mencelat masuk

kedalam ruangan rahasia, sinar matanya dengan tajam

menyapu sekejap suasana diseluruh ruangan. Dilihatnya si

Bunga Mawar Hitam tergeletak diatas tanah dengan

benaknya hancur berantakan, darah menggenangi

permukaan lantai.

Air muka Pek Thian Ki kontan berubah hebat.

“Mengapa kau bunuh perempuan ini?” bentaknya keras.

Dengan termangu-mangu si-tamu pencari bunga alihkan

sinar matanya keatas wajah Pek Thian ki, sedangkan

mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

“Cianpwee! apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu

barusan terlalu keji dan telengas?” kembali Pek Thian Ki

membentak keras. “Setelah ia menjawab kedua

pertanyaanmu, tidak seharusnya kau turun tangan sekeji ini

untuk mencabut nyawanya!”

“Siapa yang bilang perempuan ini mati ditanganku ???”

seru si-tamu pencari bunga dingin.

Oleh pertanyaan ini gantian Pek Thian Ki yang dibikin

melengak.

“Apakah ia bunuh diri dengan menghajar batok

kepalanya sendiri?” tanyanya setelah ragu2 sejenak.

“Tidak salah!”

Bab 38

SINAR MATA si-tamu pencari bunga segera diarahkan

keatas wajah silelaki berkerudung hitam yang tinggal satusatunya

hidup itu, bentaknya dingin;

“Kau masih belum mau menggelinding pergi?” Suara

bentakan yang nyaring dan keras kontan menyadarkan

kembali lelaki berbaju hitam itu dari rasa kaget serta

takutnya, belum sempat ia lari terdengar si-tamu pencari

bunga kembali membentak;

“Cepat enyah dari sini dan beritahu kepada majikanmu,

katakan saja dalam satu bulan kemudian aku si-tamu

pencari bunga pasti akan datang mencari dirinya, Sekarang

cepat gelinding pergi!”

Bagaikan seekor anjing yang kena digebuk, dengan sipat

kucing lelaki berkerudung itu melarikan diri terbirit-birit

dari sana. Menanti orang itu sudah berlalu, Pek Thian Ki

maju kedepan siap minta maaf atas kekasarannya tadi, tapi

belum sempat ia berbuat sesuatu, Cu Hoa sudah meluncur

kedepan.

“Oooouw. . . .saudara, sungguh keren benar gayamu!”

jengeknya dingin.

Sinar mata si-tamu pencari bunga dengan tajam

menyapu sekejap keatas wajah Cu Hoa, kemudian

dialihkan keatas wajah Sin Si-poa. Melihat munculnya

orang terakhir inilah, mendadak air mukanya berubah

hebat;

“Oooouw. . . kiranya kau!”

“Tidak salah, memang aku adanya, Sekarang kau boleh

kembalikan senjata Sam Ciat Tong kepadaku.” seru Cu Hoa

penuh kegusaran.

“Haaa. . . .haaa. . . .haaa. . . .kiranya kau datang hanya

bermaksud minta kembali senjata Sam Ciat Tong tersebut. .

. .” si-tamu pencari bunga tertawa dingin.

“Tidak salah, cepat serahkan senjata Sam Ciat Tong itu

kepadaku.”

“Tunggu sebentar!”

“Bagaimana? Kau tidak suka serahkan kembali senjata

itu kepadaku? Heee. . .heee. . .heee. . .aku rasa sejak jaman

dahulu kala belum pernah ada orang yang sengaja

merampas senjata milik orang lain. . .”

“Perkataanmu memang merupakan kenyataan, cuma

keadaan sedikit teristimewa, aku ingin periksa dulu apakah

senjata Sam Ciat Tong ini sungguh-sungguh asli atau palsu

belaka. . . .”

“Apa kau kata?”

“Akan kuperiksa senjata Sam Ciat Tong ini asli atau

palsu.”

“Apa mungkin senjata Sam Ciat Tong ada yang palsu?”

“Soal ini sih susah dikatakan.”

“Kentut makmu!” Cu Hoa tak dapat menahan diri lagi, ia

mulai naik pitam.

“Oooooouw. . . .oooouw. . . .usia masih muda, kalau

bicara tahulah sedikit kesopanan, hati-hati nanti aku perseni

beberapa tamparan buat pipimu yang licin itu,” seru si-tamu

pencari bunga tersebut tertawa.

“Bangsat, Sebenarnya kau suka mengembalikan senjata

Sam Ciat Tong-ku atau tidak?”

“Sudah tentu akan kukembalikan senjata ini padamu,

tapi bukan sekarang.”

Air muka Cu Hoa berubah semakin hebat, Bentaknya;

“Kau sungguh-sungguh tidak mau mengembalikan

senjataku, kurang ajar, bangsat, aku adu jiwa dengan

dirimu. . .”

Dalam keadaan amat gusar sehingga sukar dikendalikan,

tidak menanti ucapannya selesai diucapkan, telapak tangan

dengan disertai suatu hawa pukulan yang dahsyat segera

menyapu kearah tengkuk si-tamu pencari bunga.

“Tahan!” teriak si-tamu pencari bunga cepat, tangan

kanannya diayun keatas mengunci datangnya serangan

lawan.

Tangkisan tersebut benar-benar luar biasa akibatnya,

tubuh Cu Hoa kena terpukul mental, sehingga mundur

tujuh delapan langkah kebelakang dengan sempoyongan.

“Apa yang kau kehendaki?” teriak Cu Hoa sambil kertak

gigi kencang-kencang.

Belum lagi si-tamu pencari bunga berbicara, Pek Thian

Ki keburu sudah maju melerai, kepada si manusia misterius

itu, ujarnya;

“Cianpwee, kembalikan senjata Sam Ciat Tong tersebut

kepadanya. . .!”

Si-tamu pencari bunga kerutkan alisnya rapat-rapat, ia

berpikir sejenak, kemudian mengangguk;

“Baiklah, aku akan serahkan kembali senjata ini

ketanganmu, Cuma aku harus berbicara terlebih dahulu,

lain kali lebih baik kau jangan secara sembarangan

menggunakan senjata lihay Sam Ciat Tong Ini.” Sembari

berkata ia serahkan kembali senjata Sam Ciat Tong tersebut

ketangan Cu Hoa.

Tindakan yang dilakukan si-tamu pencari bunga ini

agaknya jauh diluar dugaan Cu Hoa, hal ini membuat ia

jadi berdiri tertegun, Lama sekali gadis ini angsurkan

tangannya untuk menerima senjata Sam Ciat Tong tersebut.

Setelah si-tamu pencari bunga mengembalikan senjata

Sam Ciat Tong itu ketangan Cu Hoa, sinar matanya lantas

dialihkan keatas wajah Sin Si-poa.

“Saudarakah yang disebut Sin Si-poa?” tanyanya diiringi

suatu senyuman.

“Benar. . . akulah Sin si-poa!”

“Sebenarnya aku ingin pergi menjumpai dirimu. . .”

Tetapi belum selesai si manusia misterius ini

menyelesaikan kata-katanya, Pek Thian Ki tiba-tiba

menimbrung dari samping. “Cianpwee Sin Si-poa, aku ingin

menanyakan satu urusan dengan dirimu!”

“Urusan apa?”

“Pernahkah kau berjumpa dengan Sam Ciat Sin Cun?”

Maksud Pek Thian Ki bertanya demikian, sudah tentu

dikarenakan ia menaruh curiga si-tamu pencari bunga

bukan lain adalah Sam Ciat Sin Cun. Semisalnya Sin Si-poa

pernah berjumpa dengan Sam Ciat Sin-cun, ini berarti ia

dapat pula membuktikan si-tamu pencari bunga sebenarnya

adalah Sam Ciat Sin-cun atau bukan.

Oleh datangnya pertanyaan tersebut, Sin Si-poa dibuat

agak melengak. “Benar, aku pernah berjumpa beberapa kali

dengan Sam Ciat Sin-cun. . .” sahutnya seraya mengangguk.

“Peristiwa itu sudah terjadi berapa lama?”

“Ehmm. . .!” si Sin Si-poa sakti berpikir sejenak untuk

mengingat-ingat kembali peristiwa yang telah terjadi dimasa

lampau. “Kurang lebih delapan belas tahun berselang!”

“Dimana?”

“Istana Perempuan!”

“Kau mengetahui asal-usul serta kejadian yang

menyangkut diri Sam Ciat Sin-cun pada masa yang lalu?”

timbrung si-tamu pencari bunga tiba-tiba dari samping.

“Sedikitnya banyak juga tahu!”

“Lalu tahukah kau sebelum Sin Mo Kiam Khek datang

menyewa rumah ini, ia telah pergi menemui siapa?”

“Soal ini sudah tentu aku tahu.”

“Siapa? Siapa yang telah ditemui Sin Mo Kiam Khek?”

“Hu Bei San!”

Pek Thian Ki kontan melengak setelah mendengar

disebutkannya nama orang itu, karena Hu Bei San adalah

ibu kandung dari Hu Li Hun.

“Ia pergi menjumpai Hu Bei San?” serunya tercengang.

“Tidak salah!”

“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” seru Pek Thian Ki

rada melengak. “Kau anggap aku dengan Sam Ciat Sin-cun

bisa mempunyai hubungan apa?”

“Menganggap kau sebagai murid Sin Mo Kiam Khek

juga merupakan putra dari Kiang Lang.”

Hati Pek Thian Ki tergetar keras, dengan hati bergidik ia

melototi wajah Sin Si-poa tajam-tajam, lalu dengan nada

gemetar ujarnya;

“Aku sudah membuktikan apabila aku adalah murid Sin

Mo Kiam Khek.”

“Kalau begitu kau adalah Kiang To.”

Dalam keadaan seperti ini jantung Pek Thian Ki bergetar

keras, ia merasa tegang dan tercengang, Karena Sin Si-poa

sudah membuktikan apabila dia adalah putra dari Sam Ciat

Sin-cun Kiang Lang yang bernama Kiang To. Lalu,

bagaimana keadaan yang sebenarnya dari peristiwa ini ??”

“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” Tak tahan lagi

dengan badan gemetar ia bertanya.

“Peristiwa ini amat panjang kalau diceritakan.”

“Sekarang kita mempunyai banyak waktu untuk

berbicara, kau berceritalah lambat-lambat.” sela Si tamu

pencari bunga.

Sebelum mulai berbicara Sin Si-poa berpaling dahulu

kearah si-tamu pencari bunga, lalu bertanya; “Bolehkah aku

mengetahui dahulu siapakah nama saudara ??”

“Soal ini aku rasa tidak penting, lebih baik tak usah kita

ungkap-ungkap lagi.”

Sin Si-poa langsung kerutkan dahinya, melihat orang tua

itu tak mau mengaku siapakah namanya, tetapi ia tidak

mendesak lebih jauh.

“Menurut berita yang kudengar, sejak kecil Kiang lang

telah kehilangan kedua orang tuanya. . . Kecuali dia, Kiang

Lang masih mempunyai seorang adik yang bernama Kiang

Ing, Cuma hal ini hanya kabar dan berita belaka,

sebenarnya adakah manusia yang bernama Kiang Ing,

orang tak ada yang pernah menjumpainya. Hanya. . ada

beberapa orang yang membuktikan apabila Kiang Ing

sebetulnya ada, bahkan yang memberitahu urusan ini

kepadaku pun orang kepercayaan Kiang Lang sendiri yang

bernama Sah Hoa So (Tangan Pencabut Bunga). . .”

“Apakah antara lenyapnya Sam Ciat Sin-cun mempunyai

sangkut paut yang erat dengan Kiang Ing?” tak tertahan Pek

Thian Ki menimbrung ditengah jalan.

“Tidak salah peristiwa ini justeru punya sangkut paut

yang erat dengan orang ini.” sahutnya, ia merandek

sebentar lalu sambungnya lebih jauh; “Kiang Ing lebih kecil

dua tahun dari Kiang Lang, menurut apa yang kudengar,

Kiang Ing mempunyai potongan badan yang menarik

dengan wajah yang ganteng, kedahsyatan ilmu silatnya

tidak berada dibawah kelihayan Kiang Lang, bahkan

mungkin jauh lebih tinggi dari kepandaian kakaknya. Tetapi

selama ini Kiang Ing sangat jeri terhadap kakaknya Sam

Ciat Sin-cun. . . saking takutnya sehingga kekasih yang

dicintaipun rela diberikan buat engkohnya, Sam Ciat Sin

Cun Kiang Lang.”

“Oooouw. . . ada kejadian seperti ini?” kembali Pek Thian

Ki berseru tertahan.

“Tidak salah!”

“Hmmm! Teruskan,” ujar si-tamu pencari bunga dingin.

Sin Si-poa berpikir sebentar, lalu lanjutnya;

“Katanya peristiwa tersebut terjadi karena Kiang Ing

mempunyai dua orang kekasih, yang satu adalah seorang

perempuan misterius dan merupakan pula kekasih Kiang

Lang dalam pandangan pertama. Siapakah perempuan itu,

hingga detik ini tak ada yang tahu, yang jelas dia adalah

kekasih Kiang Ing, tapi dicintai pula oleh Kiang Lang,

engkohnya. . . .”

“Dan akhirnya Kiang Ing serahkan kekasihnya buat

Kiang Lang?” sela Pek Thian Ki kembali.

“Benar, ia berikan kekasihnya buat Kiang Lang, tetapi

sejak peristiwa itu pula, Kiang Ing lenyap dari peredaran

dunia persilatan. . . sudah tentu hal ini hanya kudengar dari

desas-desus belaka. Tetapi, Kiang Lang pun akhirnya tidak

berhasil mendapatkan siperempuan misterius itu,

perempuan itu telah meninggalkan dirinya entah pergi

kemana karena yang dicintai perempuan misterius tersebut

sebenarnya adalah Kiang Ing, bukan engkonya Kiang Lang.

Kepergian siperempuan misterius itu memberikan pukulan

bathin yang sangat berat bagi diri Kiang Lang, hal ini

membuat ia patah hati dan selalu bersedih.

Sejak saat itulah dalam penghidupannya telah terjadi

perubahan yang sangat besar, hampir boleh dikata ia tidak

pandang sebelah matapun terhadap kaum wanita, dengan

kelihayan serta kegagahannya pada waktu itu, ia berhasil

membangun Istana Arak, Istana Perempuan serta Istana

Harta.

Tetapi wataknya yang suka menyendiri itu tidak bisa

terhindar, sering menyalahi banyak orang pula.

Sebelum ketiga buah Istana itu selesai dibangun, kembali

Kiang Lang jatuh cinta pada perempuan kedua yang benarbenar

menarik hatinya, perempuan tersebut adalah Tiap

Hoa Sian Cu Ui Mey Giok.

Sungguh sayang Ui Mey Giok juga tidak mencintai dirinya.

. . .didalam lautan cinta, agaknya Sam Ciat Sin-cun adalah

seorang yang tidak beruntung, karena perempuan kedua

yang dicintainya ini kebetulan sekali merupakan kekasih

dari adiknya Kiang Ing pula. . . .”

“Ooooouw. . . . demikian kebetulan?” seru Pek Thian Ki

tertegun.

“Benar, justeru dikolong langit ada kejadian sedemikian

kebetulan, dua orang kakak beradaik pada saat yang

bersamaan berbareng mencintai dua orang perempuan yang

sama, Untuk kedua kalinya Kiang Ing menyerahkan Tiap

Hoa Sian Cu Ui Mey Giok untuk Kiang Lang!”

“Mengapa Kiang ing bisa berbuat pekerjaan setolol itu?

Apakah ia tidak mencintai kedua orang gadis tersebut?”

tanya si pemuda.

“Tidak, ia mencintai kedua orang gadis tersebut, hanya

saja ia jeri terhadap engkohnya, maka apa yang diminta

engkohnya, lantas diberikan semua kepadanya, bahkan

termasuk nyawanya sendiri.

Tetapi sewaktu Tiap Hoa Sian-cu kawin dengan Kiang

Lang, didalam perutnya telah mengandung darah daging

dari Kiang Ing, tentang soal ini agaknya sepanjang masa

Kiang Lang tak bakal tahu.

Ketiga orang isteri lainnya adalah Giok, Cui, Hoa, tiga

orang wanita cantik yang rata-rata merupakan jago lihay

dari kalangan Bu-lim, asal-usul dari ketiga orang gadis ini

jarang sekali ada orang yang tahu. . . .”

“Lalu secara bagaimana pula Hu Bei san bisa kawin

dengan Kiang Lang. . . .” tanya Pek Thian Ki mendadak.”

“Kena dipaksa.”

“Dipaksa? Siapa yang paksa dia untuk kawin dengan

Kiang Lang?”

“Hu Bei San adalah adik perempuan dari Hu Toa Kan,

sedangkan Hu Toa Kan dengan Sam Ciat Sin-cun agaknya

merupakan sepasang sahabat karib. . . .”

“Bagaimana dengan penyelesaian ucapanmu ini?”

“Hu Toa Kan bisa tersohor diseluruh dunia persilatan hal

ini dikarenakan memperoleh bimbingan serta bantuan dari

Kiang Lang, atau dengan perkataan lain, dia adalah orang

kepercayaan dari Sam Ciat Sin-cun, tetapi Hu Toa Kan

berpandangan lain terhadap diri Kiang Lang.

Mungkin kepandaian silat yang lihay dari Kiang Lang

membuat ia dengki, iri dan takut.

Waktu itu menurut kabar selentingan mengatakan Sam Ciat

Sin-cun Kiang Lang telah memperoleh sebuah peta mustika

‘Hiat Wu Toh'(Peta Rumah Berdarah), itulah sebuah peta

dari sebuah rumah kecil berwarna merah, didalam rumah

mustika tadi tersimpan seluruh kitab pusaka hasil jeri payah

‘Hiat Mo Hoa’ semasa hidupnya.

Oleh karena itu Hu Toa Kan paksa adiknya kawin dengan

Kiang Lang, kemudian mencari kesempatan untuk mencuri

peta mustika tersebut. Tapi, sebelum Hu Bei San

dikawinkan dengan Kiang Lang, ia sudah punya kekasih

terlebih dahulu, akhirnya kekasihnya ini lenyap tak

berbekas dan hingga kini tidak ketahui kemana ia telah

pergi!

Pada waktu itu sipemilik Istana Harta, Giok Mey Jin telah

mengandung dan sembilan bulan kemudian lahirlah

seorang bayi lelaki yang diberi nama Kiang To!

Tidak lama setelah Kiang To dilahirkan, mendadak Kiang

Ing munculkan dirinya datang mencari Kiang Lang. . . .”

“Apa maksudnya ia datang mencari Kiang Lang?”

kembali Pek Thian Ki bertanya.

“Tentang soal ini aku sih kurang tahu, cuma, sejak Kiang

Ing meninggalkan tempat itu mendadak perasaan Kiang

Lang tidak tenang, ia mengumpulkan kesembilan orang

kawan akrabnya ‘Sembilan Jago Pedang dari Kolong Langit’

untuk merundingkan sesuatu, kemudian jejaknya lenyap tak

berbekas. . ”

Ia sudah pergi kemana?”

“Tak seorang manusiapun yang tahu ia pergi kemana,

mulai detik itulah Kiang Lang tak pernah munculkan

dirinya lagi didalam dunia persilatan, Sejak lenyapnya

Kiang Lang, tiga hari kemudian rumah kediaman mereka

‘Im San Piat Yen’ mendadak kebakaran dan memusnahkan

seluruh bangunan tersebut dalam sekejap mata.

Waktu itu sembilan jago pedang dari kolong langit sedang

bertamu didalam perkampungan Im San Piat Yen, ditengah

kobaran api yang sangat dahsyat, beruntung sembilan

jagoan pedang tidak mati, tetapi Giok, Cui serta Hoa tiga

orang wanita cantik sama2 terkubur dalam puing2 yang

berserakan.”

“Mereka mati semua?” seru Pek Thian Ki dengan hati

bergidik.

“Benarkah mereka mati semua, rasanya tak seorangpun

yang berani memastikan, tetapi kecuali sembilan jago

pedang dari kolong langit, tak seorang manusiapun yang

berhasil meloloskan diri dari kobaran api tersebut.”

“Tapi, secara bagaimana Tiap Hoa Sian-cu Ui Mey Giok

bisa tetap hidup dikolong langit?”

“Siapa yang bilang Ui Mey Giok masih hidup?”

Ditempat suara bentakan tersebut sinar mata Sin Si-poa

dengan penuh mengandung rasa curiga dialihkan keatas

wajah Pek Thian Ki, agaknya ia dibikin terperanjat oleh

ucapan tersebut.

“Kami juga dengar orang berkata bahwa si Tiap Hoa

Sian-cu masih hidup dikolong langit.” sambung si-tamu

pencari bunga buru-buru.

“Hal ini tidak mungkin terjadi, menurut apa yang

kudengar tempo dulu, kecuali Hu Bei San telah kembali

kegunung Lui Im San terlebih dahulu keempat orang

perempuan yang berada didalam perkampungan tersebut

tak seorang pun yang berhasil meloloskan diri dari

kematian, diantara keempat orang perempuan itu termasuk

Tiap Hoa Sian-cu juga.”

“Siapa yang melepaskan api untuk membakar

perkampungan tersebut?” tanya Pek Thian Ki.

“Seseorang. . . .”

“Kiang Ing?”

“Bukan, Kiang Lang. . .”

“Apa? Kiang Lang yang melepaskan api untuk

membakar perkampungan Im San Piat Yen-nya? Hal ini

mana mungkin?”

“Mungkin, mungkin. . . segala sesuatu ada kemungkinan,

karena lenyapnya Kiang Lang justeru sedang

mempersiapkan rencana busuk ini, karena pada waktu itu

ada orang yang mendengar seseorang berteriak keras. . .

Kiang Lang, kau sungguh berhati keji. . .”

“Jika demikian adanya, aku adalah dilahirkan oleh Giok

Mey Jin ??. . .” desak Pek Thian Ki lebih jauh.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Secara bagaimana aku bisa lolos dari kematian ??”

“Kau ditolong oleh Sin Mo Kiam Khek Pek Thian Ki

dari atas pembaringan.”

Pek Thian Ki berdiam diri untuk berpikir beberapa saat

lamanya, sejurus kemudian ia berkata kembali; “Jika begitu,

aku benar keturunan dari Kiang Lang ??”

“Tidak salah!”

“Setelah ayahku membinasakan mereka dengan tindakan

yang keji, apa yang terjadi selanjutnya ??”

“Ayahmu Kiang Lang dibunuh oleh Kiang Ing.”

“Apa kau kata ??”

“Berita ini hanya kudengar dari cerita orang, katanya

setelah peristiwa berdarah tersebut Kiang Ing berhasil

menemukan Kiang Lang, diantara mereka berdua segera

terjadilah suatu pertarungan berdarah yang amat seru, sejak

itulah mereka berdua sama-sama lenyap dari keramaian

dunia persilatan.”

“Kalau begitu mereka sudah mati semua?”

“Benar, mungkin mereka berdua sama-sama menderita

luka parah didalam pertarungan tersebut.”

Pada saat itu. . . .

“Loocianpwee!” tiba-tiba Hu Li Hun menimbrung. “Tadi

kau mengatakan bahwa pada tahun yang lalu sebelum Sin

Mo Kiam Khek datang kemari untuk menyewa rumah ini,

ia telah pergi menjumpai ibuku?”

“Benar.”

“Tapi, agaknya aku tidak melihat seorang manusiapun

yang datang mencari ibuku. . .”

“Bagaimana kau bisa tahu? Mungkin sekali, waktu ia

datang mengunjungi ibumu kebetulan kau sedang tidak ada

dirumah?”

“Ehmm. . . memang ada kemungkinan.”

Suasana untuk sesaat jadi sunyi senyap, saking sepinya

hingga hanya terdengar suara detakan jantung masingmasing

orang.

Lama sekali, Pek Thian Ki sesudah termenung sebentar

mendadak bertanya; “Cianpwee, kenapa Sembilan Jago

Pedang dari Kolong Langit secara beruntun datang

menyewa rumah ini?”

“Tentang soal ini aku sih kurang tahu.”

Kisah yang terjadi pada masa yang silam telah selesai

dibicarakan, akhirnya Pek thian Ki berhasil membuktikan

bahwa dia punya hubungan yang sangat erat dengan Sam

Ciat Sin-cun Kiang Lang.

Dia adalah putranya. KIANG TO !!!

Suatu peristiwa yang mengerikan telah berakhir. . . kedua

orang tuanya sudah mati semua, si pembunuh ayahnya

Kiang Ing pun sudah mati.

Ia mulai merasa sedih, pedih dan berpilu hati buat asal-usul

yang mengenaskan ini. . . .

Sekonyong-konyong. . . .

“Pek Thian Ki,” seru Cu Hoa memecahkan kesunyian.

“Setelah aku berhasil membuktikan bahwa kau adalah anak

murid Sin Mo Kiam Khek, seharusnya aku pun

menyerahkan semacam benda kepadamu. . .”

“Benda apa ???”

“Barang yang dititipkan ayahmu kepada kami!”

“Jadi kau sungguh-sungguh adalah majikan Istana

Harta?” Tidak kuasa lagi Pek Thian Ki berseru.

“Benar, Nah! Ambillah barang ini.”

Sinar mata Pek Thian Ki dengan tajam menyapu sekejap

benda yang berada ditangan Cu Hoa, sebentar kemudian ia

sudah berseru tertahan, hatinya bergetar sangat keras.

Kiranya benda yang diserahkan Cu Hoa kepadanya

adalah sebuah kantong sutera, kantong sutera itu mirip

bahkan tiada bedanya dengan kantong yang diberikan Tong

Yong anak murid Ciang Liong Kiam Khek kepadanya

tempo dulu.

Setelah menerima kantong sutera itu, Pek Thian Ki

segera membuka dan melihat isinya. Ternyata isi dari

kantong itu hanya sehelai kertas yang disulami dengan

benang merah serta benang hitam.

“Inilah salah satu bagian dari peta Rumah Berdarah!”

seru pemuda itu tak tertahan lagi.

“Tidak salah, itulah salah satu bagian dari peta rumah

berdarah!” ujar Sin Si-poa membenarkan.

Pada saat itu. . . .

Mendadak si-tamu pencari bunga mendongak dan

tertawa terbahak-bahak. “Haaaaa. . . .haaaaa. . . .haaaaa. . .

.Sin Si-poa, aku dengar ramalanmu sangat cocok sekali!”

“Aaaach. . . saudara terlalu memuji!”

“Dapatkah aku minta petunjuk tentang satu urusan

dengan diri saudara. . . .?”

“Urusan apa?”

“Mengapa kau mengetahui begitu jelas persoalan yang

menyangkut diri Sam Ciat Sin-cun?”

“Aku mencari tahu dari mulut kawan-kawanku.”

“Sin Si-poa!” Kembali si-tamu pencari bunga tertawa.

“Apa yang kau ceriterakan hanyalah kisah secara garis

besarnya saja.”

“Secara garis besar saja?”

“Ehmmm. . . bukan saja secara garis besarnya saja,

bahkan ada banyak perkataan yang tidak cocok dengan

kenyataan.”

“Apakah kau mengetahui peristiwa ini jauh lebih jelas

lagi?”

“Benar!”

Sin Si-poa langsung saja dibuat melengak, lama sekali ia

berdiri tertegun. “Kalau begitu coba kau ceritakan.”

Kini, semua sinar mata para jago yang hadir diruangan

tersebut bersama-sama dialihkan keatas wajah si-tamu

pencari bunga, agaknya peristiwa ini sangat menarik dan

mempesonakan hati mereka.

Si-tam pencari bunga tertawa dingin tiada hentinya,

selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati si Sin Sipoa

sakti. Melihat tindakan yang diluar garis dari orang ini,

para jago lainnya sama-sama dibikin melengak.

Ketika itu. . . .

Si-tamu pencari bunga telah tiba kurang lebih tiga depa

dihadapan Sin Si-poa sakti, ia berhenti dan memandang

pihak lawan dengan sinar mata tajam.

“Saudara minta aku untuk menceritakan kisah

pembunuhan yang paling keji dalam Bu-lim ini?” ujarnya

dingin.

“Tidak salah!”

“Heeee. . . .heeee. . .heeeeee. . . .soal itu sih gampang

sekali,” kembali si-tamu pencari bunga tertawa dingin.

Barang siapapun juga yang hadir disana, rata-rata dapat

menangkap didalam senyumannya barusan, wajah maupun

bibirnya penuh mengandung hawa membunuh yang

menggidikkan hati.

Hati kecil Pek Thian Ki rada bergerak, buru-buru

serunya; “Cianpwee cepat kau ceritakan!”

Senyuman semula yang menghias bibir si-tamu pencari

bunga, kini lenyap tak berbekas. “Sin Si-poa, tahukah kau

siapakah aku sebenarnya?”

“Loohu tidak tahu!”

Kembali si-tamu pencari bunga tertawa dingin tiada

hentinya, dari dalam saku ia mengambil keluar sebilah

pedang pendek.

“Sin Si-poa, coba kau lihat benda apakah ini?” Ia

lemparkan pedang pendek sepanjang lima cun itu ketangan

Sin Si-poa yang berdiri dihadapannya.

Sin Si-poa segera menerima lemparan pedang itu. . . .

mendadak. . . air mukanya berubah hebat, berturut-turut ia

mundur tiga langkah lebar kebelakang, wajahnya pucat pasi

bagaikan mayat, sedang keringat dingin mengucur keluar

membasahi seluruh badannya.

“Kau adalah Kiang. . .”

Kata-kata selanjutnya belum sampai diutarakan, si-tamu

pencari bunga sudah membentak keras;

“Setelah tahu siapa aku, kenapa tidak cepat-cepat

beberkan seluruh peristiwa keji yang telah berlangsung pada

waktu itu?” Bentakan dari si-tamu pencari bunga ini penuh

mengandung hawa napsu membunuh yang hebat,

mendatangkan rasa bergidik bagi setiap orang yang

mendengar.

Pek Thian Ki terperanjat, segera serunya; “Siapa

namanya ??? Ia bernama Kiang apa ???”

Sin Si-poa ketakutan, tak sepatah katapun berhasil

diutarakan keluar, ia bungkam dalan seribu bahasa.

Suasana dalam ruangan mulai membeku dan penuh

ketegangan, ditengah kesunyian yang mencekam hawa

napsu membunuh makin menebal disetiap benak para jago.

“Mo Hong So (si Iblis Sinting), kau paksa aku untuk

turun tangan membunuh dirimu ???” Kembali si-tamu

pencari bunga membentak dingin.

Bab 39

AIR MUKA Sin Si-poa berubah menghebat, dengan

ketakutan ia mundur satu langkah kebelakang.

“Kau. . . . kau. . . .”

“Kau anggap aku sudah mati ???” potong si-tamu pencari

bunga kembali dengan mata melotot.

“Kau. . . kau. . . kau tidak mungkin masih hidup!”

“Heeeee. . . heeeee. . . heeee. . . dan amat sayang sekali

sekarang aku masih hidup!”

“Kau. . . . kau. . . .”

“Aku adalah adik dari Kiang Lang, Kiang Ing adanya. . .

.”

“Apa?” Saking kagetnya Pek Thian Ki berseru tertahan,

berturut-turut ia mundur tiga empat langkah kebelakang

dengan sempoyongan.

Ia tidak menyangka si-tamu pencari bunga sebetulnya

adalah adik dari Sam Ciat Sin-cun Kiang Lang yang

bernama Kiang Ing. Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba

ini boleh dikata jauh diluar dugaan setiap orang yang ada

disana.

“Eeeei. . . Iblis Sinting, urusan ini agak sedikit diluar

dugaanmu bukan ??. . .” Jengek si-tamu pencari bunga

dengan nada dingin. “Delapan belas tahun kemudian aku

masih hidup segar bugar, rencana yang kalian susun tak

bakal berlangsung lagi bukan?”

Dengan ketakutan si Iblis Sinting munduru selangkah.

Mendadak. . . .si Iblis Sinting membentak keras, pedang

pendek sepanjang tiga cun yang berada ditangan kanannya

dengan meninggalkan serentetan cahaya tajam yang

menyilaukan mata meluncur kearah dada Kiang Ing.

Serangan yang dilancarkan si Iblis Sinting ini dilakukan

dengan kecepatan laksana sambaran kilat, suara jeritan

kaget bergema memenuhi angkasa.

“Bangsat, kurang ajar! Kau cari mati!” teriak Kiang Ing

penuh kegusaran.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah

berhasil meloloskan diri dari serangan lawan, tangan

kananpun dengan menggunakan satu jurus serangan yang

hebat balas menghajar tubuh si Iblis Sinting tersebut.

Si Iblis Sinting yang melihat serangannya tidak berhasil

mencapai sasaran, badannya bagaikan sambaran petir

segera berkelebat keluar pintu. Ia bermaksud menggunakan

kesempatan itu untuk melarikan diri dari kepungan lawan.

Mendadak. . . .

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Pek

Thian Ki telah menghadang jalan perginya.

“Jangan pergi, tunggu sebentar!” bentaknya keras.

“Menyingkir!” Bukannya berhenti, si Iblis Sinting malah

menerjang maju lebih kedepan.

Diiringi suara bentakan yang dahsyat, satu pukulan

melayang kearah diri Pek Thian Ki. Serangan ini

dilancarkan tidak kalah cepatnya dengan serangan yang

diarahkan kepada diri Kiang Ing tadi.

Pada saat ini si Iblis Sinting sudah punya maksud

mengadu jiwa, serangan yang barusan ia lancarkan telah

disertai dengan seluruh tenaga sinkang yang dimiliki hingga

saat ini, ia bermaksud mencabut nyawa Pek Thian Ki

didalam sebuah serangannya ini.

“Hmmm! Kau jangan harap bisa lolos dari sini.” teriak

Pek Thian Ki penuh kegusaran.

Telapak tangannya disilang kedepan mengunci

datangnya serangan lawan, sedang tangan kanannya

laksana kilat mencabut keluar pedang Ciang Liong Kiam

kemudian disapu keluar.

Kepandaian silat yang dimiliki Pek Thian Ki saat ini

sudah pulih hampir mencapai duabelas bagian, serangan

yang dilancarkan jauh lebih cepat daripada kecepatan si

Iblis Sinting. Cahaya tajam yang menyilaukan mata

berkelebat lewat, si Iblis Sinting tahu-tahu sudah kena

didesak mundur kebelakang.

“Iblis Sinting! Kau masih tidak ingin menceritakan kisah

yang sebenarnya telah terjadi?” Sekali lagi Kiang Ing

membentak.”

“Urusan apa lagi yang bisa kita bicarakan ???” seru si Iblis

Sinting pula tidak kalah dinginnya.

“Heee. . . heee. . . heee. . . eeei Iblis Sinting, tidak salah!

Didalam pandangan kalian semua menganggap aku Kiang

Ing sudah mati, tapi bukan saja aku masih hidup bahkan si

Giok Mey Jin pun masih hidup. . .” ujar Kiang Ing seraya

tertawa dingin tiada hentinya.

“Apa?” Rasa kejut yang dialami si Iblis Sinting kali ini

susah dikendalikan lagi.

“Kecuali Giok Mey Jin, si Tiap Hoa Siancu pun masih

hidup dikolong langit. . .”

“Aaaaaach. . .”

“Kau, Sin Mo Kiam Khek serta si Tangan Pencabut

Bunga telah memusnahkan perkampungan Im San Piat

Yen, mengatur barisan aneh untuk menjebak kami semua. .

. . Hmmm! Iblis Sinting, rasa-rasanya sikap Kiang Lang

terhadap dirimu tidak jelak juga. . . .”

“Tutup mulut anjingmu. . .”

“Hmmm! Kau, si Tangan Pencabut Bunga serta Sin Mo

Kiam Khek masing-masing orang merebut ketiga orang

isterinya, bahkan mencelakai pula dirinya, Perbuatan kalian

benar-benar terlalu keji. . .”

“Kiang Ing!” mendadak si Iblis Sinting membentak keras.

“Aku akan mengadu jiwa dengan dirimu!” Begitu ucapan

selesai diutarakan, tubuhnya laksana anak panah yang lepas

dari busur, meluncur kedepan menubruk diri Kiang Ing.

“Tahan!” kembali Kiang Ing membentak keras.

“Apa yang hendak kau ingini?” teriak si Iblis Sinting

dengan air muka berubah pucat pasi bagaikan mayat.

“Siapa yang memerintahkan kalian berbuat begitu? Siapa

orang yang berdiri dibelakang layar?”

“Tidak ada orang yang memerintah kami, tak ada orang

yang berdiri dibelakang.”

“Kau sungguh-sungguh tidak mau bicara?” hilang sudah

kesabaran Kiang Ing.

Air muka Kiang Ing ini sudah dipenuhi dengan hawa

napsu membunuh yang menggidikkan hati, sepasang

matanya dengan tajam melototi wajah si Iblis Sinting.

“Diakah salah seorang pembunuh orang tuaku?” pada

saat itulah Pek Thian Ki bertanya.

“Tidak salah!”

“Kau sungguh-sungguh adalah adik ayahku?”

“Benar!”

“Paman, sebenarnya apa yang telah terjadi?” seru Pek

Thian Ki dengan hati tergetar keras.

“Kau boleh secara langsung bertanya kepadanya!”

Pek Thian Ki. . . . Sekarang ia seharusnya dipanggil

dengan ‘KIANG TO’.

Kiang To dengan suara berat segera membentak; “Sin Sipoa,

sungguh mirip sekali penyaruanmu, aku masih

menganggap kau adalah seorang manusia baik-baik. . . .! ini

hari aku baru tahu bila kau sebenarnya adalah pembunuh

ayahku, ayoh, cepat ceritakan kisah yang sebenarnya

kepadaku!”

Wajah Kiang TO penuh diliputi hawa napsu membunuh,

semisalnya si Iblis Sinting benar-benar tidak mau buka

suara mungkin ia segera akan turun tangan membinasakan

dirinya.

Air muka si Iblis Sinting berubah jadi pucat pasi

bagaikan mayat. “Apa yang harus aku bicarakan lagi?”

serunya.

“Kurang ajar! Jadi kau cari mati?”

Diiringi suara bentakan keras, Kiang To meluncur

kedepan dengan kecepatan laksana kilat, pedangnya diputar

sedemikian rupa mengancam seluruh tubuh si Iblis Sinting.

Serangan yang dilancarkan Kiang To kali ini luar biasa

hebatnya, tampak bayangan manusia berkelebat lewat,

Diantara meluncurnya berjuta-juta cahaya tajam ia sudah

mengirim dua jurus serangan kedepan.

Keadaan si Iblis Sinting waktu itu lebih mirip burung

yang ketakutan karena ancaman anak panah, sewaktu

serangan pedang Kiang To meluncur datang, mau tak mau,

ia harus keluarkan semua tenaganya untuk melawan.

Bayangan telapak cahaya pedang berkelebat memenuhi

angkasa, dalam sekejap mata ia sudah mengirim dua buah

serangan balasan. Kini, masing-masing pihak mulai

mengubah posisinya dalam suatu pertarungan mengadu

jiwa, siapa kalah ia segera akan menggeletak binasa

ditengah kalangan. . . . siapa lengah ia akan roboh ditangan

lawan.

Sekonyong-konyong. . . .

Tangan kanan Kiang To yang mencekal pedang

melancarkan satu babatan dahsyat diiringi tangan kirinya

mengirim sebuah babatan kilat mengancam pinggang

lawan, dalam sekejap mata bayangan telapak cahaya

pedang berkelebat menyilaukan mata, suasana diliputi

keseraman.

Ketika kedua orang itu sedang melangsungkan suatu

pertarungan yang maha sengit, mendadak dari dalam

ruangan berkumandang keluar suara gelak tertawa yang

sangat menyeramkan. Suara itu amat menyeramkan

membuat bulu kuduk semua orang pada bangun berdiri.

Mendengar suara tersebut Kiang To berubah air mukanya.

Tiba-tiba. . . .

Suara bentakan keras bergema memecahkan

kesunyiannya, Kiang To kena didesak mundur, tiga empat

langkah kebelakang oleh serangan-serangan yang

mematikan dari si Iblis Sinting.

“Hey Iblis Sinting, hingga detik ini masih berani

melawan?” bentak Kiang Ing.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat, bagaikan

kilat ia meluncur kearah si Iblis Sinting diiringi sebuah

serangan totokan yang cepat. Suara dengusan berat

memecahkan kesunyian, si Iblis Sinting tak sempat

menghindarkan diri lagi, ia segera roboh keatas tanah dari

mulutnya muntahkan darah segar.

“Kubunuh dirimu!” teriak Kiang To setelah melihat

musuhnya berhasil dibikin roboh, pedangnya diangkat siap

ditusuk kedalam perutnya.

“Jangan dibunuh mati!” tiba-tiba Kiang Ing membentak.

Kiang To bergidik, buru-buru ia tarik kembali

serangannya dan alihkan sinar matanya keatas wajah Kiang

Ing.

“Kenapa?” tanyanya tercengang.

“Aku punya cara untuk paksa ia berbicara!”

Kiang To berdiri melengak, ia tidak mengerti apa

sebenarnya yang telah terjadi, karena ia masih tidak tahu

keseluruhan dari peristiwa tersebut. Ditengah kepedihan,

wajahnya kelihatan makin bingung makin terharu.

“Paman, apa sebenarnya yang telah terjadi?” kembali

pemuda itu bertanya.

“Bukankah kau sudah tahu?”

“Aku. . . aku sudah tahu? Maksudmu apa yang

diceritakan olehnya adalah palsu? Lalu bagaimana yang

sebenarnya?”

‘Kita bisa tanyakan hal tersebut pada seseorang!”

“Siapa?” rasa ingin tahu yang bergelora didada Kiang To

susah dipertahankan lagi.

“Tiap Hoa Siancu atau si Bidadari Kupu dan Bunga!”

“Paman, antara kau. . . .kau dengan dia benar-benar

punya hubungan?. . .” seru Kiang To kembali ragu-ragu.

“Benar. . . kami adalah sepasang kekasih yang saling

mencintai. . . .selama hidup aku merasa menyesal terhadap

dirinya. . . .aku tidak seharusnya memberikan tubuhnya

buat engkohku, cinta tak bisa diberikan ataupun diserahkan

kepada siapapun. . . ia membenci diriku, selama hidup ia

benci kepadaku, kecuali dia aku telah mencelakai pula

Siang Hwi Giok Li. . .”

“Siang Hwi Giok Li?. . .Siapa itu Siang Hwi Giok Li?”

“Kekasihku yang pertama!”

“Juga merupakan gadis yang dicintai ayahku?”

“Benar. . .” Dengan bergumam ia menjawab, wajahnya

kelihatan begitu terharu, sedih dan murung. .

Barang siapapun juga rasanya dapat memahami

bagaimana perasaan Kiang Ing selama ini, sepanjang

hidupnya ia pernah mencintai dua orang gadis, tetapi ia

telah memberikan kekasihnya itu buat engkohnya, apa

sebabnya ia berbuat begitu ???

“Paman, apa sebabnya kau berbuat demikian?” seru

Kiang To dengan nada cemas. “Kenapa kau berikan mereka

buat ayahku ??”

“Karena aku hormat dan jeri kepadanya, selembar

jiwaku pernah diselamatkan oleh ayahmu, kejadian itu

sudah berlangsung lama sekali, waktu itu aku masih kecil,

bila bukan dia yang turun tangan menolong, mungkin sejak

dulu aku sudah mati tenggelam didalam air. . . oleh karena

itu, sejak saat itu, hatiku menaruh rasa berhutang budi

terhadapnya, setiap kali apa yang ia minta, aku pasti

berikan kepadanya. . . .bahkan sampai kekasihku-pun

kuberikan kepadanya!”

“Tapi paman cinta tak boleh diberikan kepada orang lain

semaunya!” seru Kiang To membantah.

“Benar, dan akhirnya aku tinggalkan kedua orang gadis

yang paling kucintai semasa hidupku ini, hanya sayang. . .

.aaaaai! Iapun tidak berhasil mendapatkan mereka berdua. .

. .”

“Hal ini sudah tentu karena mereka berdua sama sekali

tidak mencintai ayahku!” kembali Kiang To menimbrung.

“Mungkin memang begitu, aku masih ingat sewaktu aku

tinggalkan diri Siang Hwi Giok Li, waktu itu air muka gadis

tersebut penuh diliputi dengan hawa napsu membunuh,

bahkan memaki aku dengan kata-kata demikian; ‘Kiang Ing,

kau bukan Burung yang ada diatas sungai, kau adalah

seekor anjing, anjing yang tak bertulang. . .’ makiannya ini

selama hidup tak pernah kulupakan kembali. . . .ia paling

mencintai diriku, dan paling membenci pula diriku, aku tak

bisa melupakan dirinya tak dapat melupakan apabila

sepanjang hidupku telah mencelakai dan menghancurkan

harapan dua orang perempuan!” Butiran air mata perlahan2

membasahi kelopak matanya. . . . .

Kiang to pun ikut terharu oleh suasana yang dihadapinya

didepan mata, dengan nada menghibur ujarnya; “Paman,

kita jangan mengungkap lagi peristiwa yang telah terjadi

pada masa silam. . . . benarkah si Iblis Sinting, si Tangan

Pencabut Bunga serta Sin Mo Kiam Khek membinasakan

ayahku?”

“Benar!”

Pada waktu itu. . .

“si Iblis Sinting inikah yang menyaru sebagai Kiang To?”

tiba2 Cu Hoa menimbrung dari samping.

“Benar!”

“Salah, salah. . . salah besar, jikalau si Iblis Sinting

bersekongkol dengan Pek Thian Ki, apakah ia tidak tahu

jika Pek Thian Ki sebenarnya adalah Kiang To?”

“Pertanyaanmu sangat bagus sekali, justru inilah

jebakan-jebakan licik yang mereka susun, terang-terangan si

Iblis Sinting tahu Pek Thian Ki adalah Kiang To. . . .”

“Benar!” sambung Kiang To memotong ucapan Kiang

Ing yang belum selesai, “Sewaktu si Iblis Sinting untuk

pertama kalinya berjumpa dengan diriku, ia telah

memberitahukan kepadaku bahwa aku bernama Kiang To!”

“Itulah dia, justru si Iblis Sinting beritahu kepadamu bila

kau bernama Kiang To adalah bertujuan untuk pancing kau

mencari tahu asal-usulmu lebih lanjut, mengambil

kesempatan yang sangat baik itulah ia lantas karangkan satu

cerita bohong untukmu. . . yaitu apa yang diucapkannya

tadi. . .”

“Dengan demikian aku akan menganggap orang tuaku

sudah meninggal, sipembunuh pun sudah mati, hal ini

membuat aku tak dapat menemukan musuh besar lagi

untuk menuntut balas. Dengan begitu peristiwa berdarah

inipun selama hidup tak akan ada saatnya untuk dibikin

terang?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Oooouw. . . sungguh keji perbuatan-perbuatan mereka. .

.”

“Benar, keji dan telengas, tapi mereka tidak menyangka

kalau aku masih hidup didunia ini. . . .”

“Tapi mengapa mereka anggap kau sudah mati?” tanya

Kiang To lebih jauh.

“Karena aku pernah bergebrak melawan Sin Mo Kiam

Khek Pek Thian Ki, dan si Tangan Pencabut Bunga telah

membokong diriku serta menotok empat buah jalan darah

kematianku, kemudian melemparkan tubuhku kedalam

jurang yang dalam. . . .”

“Paman jelaskanlah peristiwa itu se-terang2nya.”

“Baiklah!” Kiang Ing tertawa sedih seraya mengangguk.

“Pertama, orang yang membakar perkampungan Im San

Piat Yen bukan Kiang Lang, api itu berkobar dari arah

Timur dan Barat dalam waktu yang bersamaan. . .”

“Kalau begitu api ini dilepas oleh dua orang dalam waktu

yang berbareng, sebelum kejadian tersebut aku memang

pergi menjumpai ayahmu, tapi aku hanya memberi nasehat

kepadanya agar jangan terlalu tegang menghadapi setiap

peristiwa, terutama sekali perhatikan ketiga orang isterinya.

.”

“Siapa saja diantar ketiga orang itu?”

“Cui Mey Jin, Hoa Mey Jin serta Tiap Hoa Siancu. . . .

terutama sekali si Bidadari Kupu dan Bunga ini, sejak aku

tinggalkan ia pergi karena ia punya anak, maka akhirnya ia

kawin dengan Kiang Lang, ia ada maksud mencelakai

engkohku. . .”

“Lalu secara bagaimana ayahku bisa lenyap ??” tanya

sang pemuda penuh perhatian.

“Hingga kini kematian ayahmu masih merupakan tekateki,

tanda tanya ini aku masih belum berhasil pecahkan,

cuma ayahmu terbukti benar-benar sudah mati.”

“Mati ??” kembali Kiang To menyela. “Secara bagaimana

kau bisa membuktikan apabila ia sudah mati ??”

“Aku temukan jenazah ayahmu menggeletak ditengah

sebuah tebing dibelakang gunung, kematiannya sangat

mengerikan!”

“Bukankah kepandaian silat yang dimilki ayahku sangat

lihay? Secara bagaimana ia bisa dibunuh orang dengan

begitu gampang ??”

“Banar memang diakui kepandaian silat yang dimilki

ayahmu tidak lemah, tetapi dikolong langit masih banyak

terdapat jagoan yang memiliki kepandaian silat jauh lebih

tinggi dari kepandaiannya, Sin Mo Kiam Khek Pek Thian

Ki adalah salah satu diantaranya.”

“Apa?? Kepandaian silat Pek Thian Ki jauh diatas

kepandaian ayahku ??” seru Kiang To sangat terperanjat.

“Benar. . . .”

“Tapi, dalam urutan Sembilan Jago Pedang dari Kolong

Langit, bukankah ia hanya menduduki urutan kedua. . . .”

“Kau salah, kepandaian silat yang dimiliki Pek Thian Ki

jauh lebih lihay dari kepandaian ayahmu, kepandaianku

pun hanya lebih tinggi sedikit dari kepandaiannya, sedang

dia bukan lain adalah kekasih dari Hu Bei san. . .”

“Apa ??” Kiang To dan Hu Li Hun hampir bersamaan

waktunya berseru tertahan.

“Apa yang kuutarakan adalah kenyataan, kalian mau

percaya atau tidak, itu terserah pada kalian sendiri. . .”

“Loocianpwee, maksudmu Pek Thian Ki adalah ayahku

??” seru Hu Li Hun dengan nada gemetar.

“benar!”

Hu Li Hun membelalakkan sepasang matanya bulatbulat,

dengan rasa takut dipandangnya wajah Kiang Ing,

jelas gadis ini dibuat terperanjat oleh berita tersebut.

“Setelah ayahmu mati tiga hari.” sambung Kiang Ing

lebih lanjut, “Giok Mey Jin lantas mengajak Sembilan Jago

Pedang dari Kolong Langit untuk berkumpul

diperkampungan Im San Piat Yen, kecuali mengundang

kesembilan jago pedang dari kolong langit itu, iapun

mengundang pula tiga orang yaitu; si Tangan Pencabut

Bunga, si Iblis Sinting serta Hiat Loo Kiam Khek. . . .”

“Siapa itu Hiat Loo Kiam Khek ??”

“Guru dari Cu Hoa!”

Mendengar ucapan tersebut, air muka Cu Hoa berubah

hebat. “Bagaimana kau bisa tahu guruku adalah Hiat Loo

Kiam Khek ??”

“Karena kau membawa senjata lihay Sam Ciat Tong,

sejak Kiang Lang berhasil angkat nama dan tersohor

dikolong langit, ia jarang sekali menggunakan senjata Sam

Ciat Tong-nya kembali, pada hari biasa ia serahkan

senjatanya untuk disimpan oleh Hiat Loo Kiam Khek,

maka dari itu setelah Kiang Lang mati, senjata Sam Ciat

Tong tersebut masih berada ditangan Hiat Loo Kiam Khek.

. .” Ia merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian

sambungnya lebih jauh; ” Orang yang diundang datang

waktu itu, kecuali Hiat Loo Kiam Khek hanya Pek Thian

Ki seorang yang sempat hadir, sedang sisanya kedelapan

orang jago tak seorangpun yang muncul. . . .”

“Kenapa ??” tanya Kiang To tercengang.

“Sebelum mereka tiba ditempat yang telah dijanjikan,

perkampungan Im San Piat Yen telah terjadi peristiwa yang

mengerikan, dalam kenyataannya memang tidak salah,

waktu itu ada orang yang berteriak; ‘Kiang Lang, kau keji

benar. . . .’ tetapi ucapan ini hanyalah siasat licin yang

sengaja diatur, oleh para pembunuh. . . .”

“Oooouw. . . sekarang aku paham sudah, mereka berbuat

demikian tentunya agar orang percaya apabila perbuatan

terkutuk itu dilakukan oleh ayahku!”

“Benar!”

“Kemudian secara bagaimana paman bisa dibawa keluar

dari ruangan api?. . . .”

“Sewaktu terjadi kebakaran besar, sumua orang jadi

panik, mereka terkejut, gugup dan gelagapan, ketika itulah

si Tangan Pencabut Bunga serta si Iblis Sinting turun tangan

membinasakan Cui Mey Jin, Hoa Mey Jin serta Tiap Hoa

Siancu. . . .”

“Bukankah ketiga orang perempuan tersebut punya

hubungan gelap dengan mereka?” sela Kiang to tercengang.

“Benar, demi terbabatnya rumput keakar-akarnya,

terpaksa mereka berbuat demikian.”

“Sungguh keji perbuatan mereka!” teriak sang pemuda

gemas.

“Benar, tapi beruntung sekali, waktu itu Tiap Hoa Siancu

berhasil meloloskan diri dari kematian, sedang Giok Mey

Jin pun berhasil melarikan diri. . . .hanya sayang akhirnya

ia kena dicegat oleh Pek Thian Ki. . . .”

“Aaaach. . . .lalu bagaimana selanjutnya?”

“Sudah tentu Pek Thian Ki tak bakal suka melepaskan

ibumu, waktu itu ibumu memohon kepadanya agar suka

melepaskan dirimu. . . .”

“Pek thian Ki setuju?”

“Sudah tentu tidak, sedangkan ibumu lantas

mengimbangi permintaannya ini dengan satu nilai yang tak

terhingga besarnya.”

“Nilai yang tiada terhingga besarnya?. . .”

“Benar!” Kiang Ing mengangguk. “Siapapun tahu

ayahmu telah memperoleh peta Rumah Berdarah,

dimanakah letak peta Rumah Berdarah itu, hanya Giok

Mey Jin seorang yang tahu, demikianlah Giok Mey Jin

lantas memberitahukan rahasia tersebut kepadanya.”

“Ayahku hanya beritahu rahasia itu pada Giok Mey Jin

seorang?”

“Karena ayahmu ingin meninggalkan mustika tersebut

untukmu, sebab ia hanya punya kau seorang putra saja,

sedangkan kedua orang anak dari Hu Bei San serta Tiap

Hoa Siancu, ia tahu bahwa mereka bukan anaknya, karena

belum sampai setengah tahun, kedua orang perempuan itu

kawin dengannya, masing-masing orang telah melahirkan

semua!”

“Setelah ibuku beritahukan rahasia tersebut kepadanya,

apakah Pek Thian Ki memberikan jalan hidup bagiku?”

tanya Kiang To penuh kecemasan.

“Benar!” Kiang Ing mengangguk, “Tapi sekali tusuk, ia

bunuh ibumu kemudian menendangnya, sehingga jatuh

kedalam jurang, ketika itulah kebetulan aku mengejar

datang dan langsung bergebrak melawan dirinya. . . .

Setelah mengalami suatu pertarungan berdarah yang sengit

sepanjang setengah harian lamanya, terakhir Pek Thian Ki

menderita kekalahan ditanganku, tapi pada saat itulah

secara tiba-tiba si Tangan Pencabut Bunga munculkan diri

disana, ia melancarkan tangan telengas kearahku dan

menotok empat buah jalan darah kematian diseluruh

tubuhku lantas menendang aku masuk kedalam jurang pula,

beruntung aku kena ditolong orang kalau tidak. . . .aaaai. . .

sejak dulu aku sudah mati. . .”

“Dan bagaimana dengan Giok Mey Jin ??”

“Menurut dugaanku, kemungkinan besar ia tidak mati,

karena walaupun sudah kucari diseluruh dasar lembah,

tidak berhasil juga kudapatkan mayatnya.”

“Akhirnya?”

“Waktu itu aku ingin datang mencari Pek Thian Ki lagi,

sayang tak berhasil kutemukan manusia terkutuk itu!”

Kiang To mengangguk, setelah berpikir sejenak,

tanyanya lagi; “Lalu, mengapa Pek Thian Ki

menghadiahkan namanya kepadaku ??”

“Inilah siasatnya yang keji, ia mengharapkan ada orang

lain yang turun tangan membinasakan dirimu. . . .karena

menurut dugaannya jikalau diantara kelima orang

perempuan itu kecuali Hu Bei San yang tempo dulu pulang

keperkampungan Lui San-cung terlebih dahulu ada seorang

saja yang masih hidup, maka perempuan ini tentu pergi

membinasakan dirimu, kemudian baru pergi mencari Pek

Thian Ki yang asli, sekarang kau paham bukan ??”

“Huuu. . . .sungguh keji rencana ini!” teriak Kiang To tak

tertahan lagi.

“Benar rencana ini amat keji dan telengas!”

“Paman, justeru yang kuherankan selama ini, ia bersikap

sangat baik kepadaku!”

“Benar, akupun percaya ia akan bersikap sangat baik

kepadamu, ia tidak ingin membinasakan dirimu. . . . tapi ia

ingin kau setapak demi setapak mendekati sendiri

kematianmu, tahukah kau mengapa kau bisa menderita

penyakit hati?”

Kiang To menggeleng.

))>>odwo<<((

Jilid 14 Tamat

Bab 40

“Itulah disebabkan semacam obat racun yang luar biasa

ganasnya,” sambung Kiang Ing lebih lanjut, “Sewaktu kau

tidak ambil perhatian. . . .mungkin ketika minum teh atau

bersantap, secara diam2 ia campurkan racun tersebut

kedalam makanan atau minumanmu. . . .”

“Benar, benar, benar. . . . pada tiga tahun berselang,

waktu aku bersantap, secara tiba-tiba kedapatan suatu bau

yang aneh dalam santapanku, aku lantas tanyakan hal ini

pada suhu, tapi ia bilang tidak apa-apa, lewat tiga empat

hari kemudian, aku mulai menderita sakit hati,” teriak sang

pemuda tersentak kaget.

“Nah, itulah dia!”

“Tapi mengapa ia hadiahkan sejilid kitab kepadaku, agar

aku melatih ilmu silatku?”

“Semuanya ini bertujuan agar kau terkenal dan tersohor

dalam dunia kang-ouw, memperoleh perhatian banyak

orang, dengan demikian barulah salah seorang perempuan

yang belum sampai mati, bisa mengetahui akan dirimu, dan

akan datang mencari kau, coba bayangkan setelah ilmu

silatmu berhasil mencapai puncak kesempurnaan, siapa

yang tidak ambil perhatian kepadamu? bukankah begitu?”

“Benar, memang beralasan!”

“Tujuh delapan tahun setelah peristiwa itu, agaknya para

jago kang-ouw sebagian besar sudah melupakan kejadian

ini, dan saat itulah mulai timbul peristiwa penyewaan

rumah. Sudah tentu Sin Mo Kiam Khek Pek Thian Ki tak

dapat meminta peta rumah berdarah tersebut setelah

membinasakan Sam Ciat Sin-cun serta menghancurkan

perkampungan Im San Piat Yen-nya, Kalau tidak maka

seluruh jago Bu-lim dikolong langit akan menaruh curiga

kepadanya, bukankah begitu. . . ??”

“Tidak salah.”

“Maka dari itu setelah peristiwa tersebut lewat delapan

tahun, ia baru mengumumkan soal penyewaan rumah,

disamping ia hendak mencari peta rumah berdarah, ia

berbuat demikian karena juga diriku..”

“Kau??” seru Kiang To keheranan.

“Benar!” Perlahan-lahan Kiang Ing mengangguk,

“Tempo dulu rumah ini hasil rancanganku, aku serta Tiap

Hoa Siancu pernah melewati beberapa waktu yang indah

dan menyenangkan didalam rumah ini. . . dan hal tersebut

memang diketahui si Tangan Pencabut Bunga, maka dari

itulah setelah rumah ini disewakan dalam anggapannya asal

aku masih hidup, tentu masih bisa datang kemari, Tetapi. . .

. berhubung aku harus melatih semacam ilmu sinkang telah

mengasingkan diri hampir sepuluh tahun lamanya, inilah

sebabnya kenapa Pek Thian Ki menganggap aku betul-betul

sudah mati.”

“Rahasia peta rumah berdarah itu berada dalam rumah

yang disewakan ini?” tanya Kiang To kembali.

“Benar, hanya saja alasan yang sebenarnya aku

sendiripun tidak tahu, tentang perjumpaan Pek Thian Ki

dengan Hu Bei San sebelum pergi menyewa rumah ini pun

merupakan berita palsu. . . .”

“Palsu?”

“Benar, ia sama sekali tidak tahu Hu Bei San berada

dimana, sedang ia sendiri ingin pergi mencari Hu Bei san,

dan persoalan ini diketahui perempuan she Hu ini dengan

sangat jelas, justeru bersembunyinya Hu Bei San selama ini

dikarenakan adanya alasan yang tidak kita mengerti. . . .”

“Tapi Pek Thian Ki telah pergi ke Istana Harta untuk

menitipkan peta rumah berdarah itu!” mendadak Cu Hoa

menimbrung.

“Peta rumah berdarah itu adalah palsu yang asli tak

mungkin Pek Thian Ki suka menitipkan kepada orang lain,

ini pun merupakan satu siasat untuk mengelabui mata

orang lain, setelah itu ia suruh si Iblis Sinting munculkan

diri untuk beritahu kepada Kiang To bahwa Pek Thian Ki

sudah mati, dengan sendirinya oleh berita ini semua orang

akan tahu apabila Sin Mo Kiam Khek sebenarnya bernama

Pek Thian Ki.”

“Sungguh hebat siasat yang mereka susun!” seru Kiang

To kagum.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Lalu apa tujuan si Iblis Sinting sengaja menyaru sebagai

Kiang To. . .”

“Agar kau pergi mencari dirinya, sedang ia tak suka

menemui dirimu dengan wajah aslinya, Dengan begitu ia

baru bisa merencanakan siasat selanjutnya, seluruh

perbuatan jahatnya yang dilakukan selama ini akan kau

pikul dosa-dosanya!”

“Ooooouw. . . .sekarang aku sudah paham. . . .” teriak

Kiang To sambil kertak gigi! “Orang ini betul-betul sangat

keji, aku Kiang To sebelum berhasil melumat badan

mereka, aku bersumpah tak akan berhenti. . . .”

“Semoga saja kau bisa hidup lebih lama lagi. . .”

“Apa? Aku hampir mati?” Pemuda ini betul-betul

terperanjat mendengar ucapan tersebut.

“Ehmmm. . . sudah hampir, paling banter tinggal

sebulan. . . .”

“Aku hanya bisa hidup satu bulan lagi?”

“Satu bulan hanya merupakan dugaanku secara kasaran

saja,” kata Kiang Ing dengan nada berat, “Yang jelas paling

sedikit kau hanya bisa hidup setengah bulan lagi.”

Air muka Kiang To langsung berubah pucat pasi

bagaikan mayat sehabis mendengar ucapan tersebut.

“Aaaaa. . . . kau tidak usah khawatir.” kata Kiang Ing

sambil menghela napas panjang, “Nasib manusia ada

ditangan Tuhan, kemungkinan sekali sampai waktunya

akan muncul suatu penemuan yang aneh bagimu.”

Ia tertawa pedih, setelah merandek sebentar, ia berpaling

seraya berkata kembali; “Nona Hu, aku ada urusan hendak

ditanyakan kepadamu. . .”

“Urusan apa?” seru Hu Li Hun tercengang, ia berpaling

dan memandang sekejap wajah Kiang Ing ini.

“Mengapa kau menyaru sebagai Kiang To?”

“Karena ibuku sedang mencari dirinya!”

“Ooooouw. . . ibumu mencari aku?” ujar Kiang To

keheranan.

“Benar!”

“Ada urusan apa?”

“Aku tidak tahu!” perlahan-lahan gadis itu menggeleng.

“Kiang To yang per-tama2 kujumpai dan bergebrak

melawan dirinya sewaktu berada dalam Istana Perempuan,

apakah hasil penyaruanmu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Mengapa?”

“Karena aku benci kau main cinta dengan perempuan

lain!” seru Hu Li Hun tanpa tedeng aling-aling, Ia merandek

untuk tukar napas, lalu tambahnya; “Jikalau si Iblis Sinting

ini benar-benar adalah simanusia yang menyaru sebagai

Kiang To, maka semua tindakannya amat bagus! Ia tantang

aku berduel ditepi telaga Hiat Suw Than, lalu mencuri balik

kertas tantangan tersebut, agar kau yang berikan kembali

kepadaku, dengan berbuat demikian siapa yang akan

menduga kalau dia adalah Kiang to?”

“Nona Cu, suhumu masih hidup?” sela Kiang Ing seraya

berpaling kearah Cu Hoa.

“Benar, beliau masih hidup, hanya kini dia orang tua

sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan,

ia memberi pelajaran ilmu silat kepadaku bahkan

memberikan pula dua pertiga dari tenaga sinkangnya

untukku, Sekarang beliau sudah kehilangan tenaga

sinkangnya, beliau memerintahkan aku secara misterius

muncul diketiga Istana dan perintah aku jadi majikan ketiga

buah istana tersebut, Hingga kini si penguasa ketiga istana

tersebut masih belum mengetahui wajah asliku, karena

setiap kali berjumpa, aku selalu munculdengan wajah yang

berlainan, inilah perintah dari suhuku dan kini kuketahui

maksudnya!”

“Lalu bagaimana dengan dua buah kedududkanmu yang

lain. . . .” tanya Kiang To rada tercengang.

“Tongcu dari perkumpulan pengemis yang bermaskas

diluar perbatasan Cu Tong Hoa adalah sahabat karibku,

sedangkan mengenai Pangcu dari Pek Hoa Pang sesaat

Pangcu tersebut menemui ajalnya aku telah berjumpa

dengan dirinya, ia beritahu kepadaku tentang

pengkhianatan Pek Hoa Coa yang kini telah

menggabungkan diri dengan pihak Istana Harta. . .”

“Siapakah penguasa ketiga Istana tersebut?”

“Setelah ketiga penguasa istana-istana tersebut menerima

perintahku, mereka sangat jarang berkelana didalam dunia

persilatan, bahkan anak murid mereka sendiripun belum

tentu tahu siapakah mereka!”

“Waktu itu kau membinasakan diri Pek Hoa Coa,

tindakanmu tersebut disebabkan hendak membalaskan

dendam bagi Pangcu Pek Hoa Pang? Ataukah karena ia

telah membocorkan barang yang dititipkan Pek thian Ki

kedalam istana kalian?”

“Keduanya sama-sama penting, karena ia membinasakan

Pangcu dari Pek Hoa Pang, maka aku harus membunuh

dirinya, sedangkan soal membocorkan rahasia Pek Thian

Ki yang titip barang berharaga dengan istana kami, pada

mulanya aku mengira tindakan tersebut karena ingin

memancing datangnya Kian To, sekarang aku baru tahu

kiranya Pek Hoa Coa sudah dibeli pihak mereka untuk

memancing datangnya para jago kang-ouw, kemudian

membiarkan si Iblis Sinting dengan menyaru sebagai Kiang

To membinasakan delapan orang jago, orang yang tidak

tahu tentu saja akan menjatuhkan hutang berdarah ini atas

nama Kiang To, ini berarti mereka hendak mencelakai

dirimu. . .”

“Tidak salah!”

Ketika Kiang To menyelesaikan kata-katanya, si Iblis

Sinting telah tersadar kembali dari pingsannya, pemuda ini

segera memburu kedepan sembari membentak dengan suara

yang dingin;

“Eeeeei. .Iblis Sinting, sungguh keji perbuatan kalian,

bukan saja kau sudah membinasakan orang tuaku, bahkan

ingin mencelakai pula diriku dengan menggunakan siasat

yang keji, Aku ingin bertanya, Ayahku mati ditangan

siapa?”

“Tidak tahu!”

“Siapa yang memerintah kalian dari balik layar?” bentak

Kiang Ing pula dengan suara dingin.

“Tidak tahu!”

“Kau sungguh-sungguh tidak mau bicara?”

“Tidak ada ucapan yang harus kuutarakan!”

“Bagus sekali, kalau begitu, terpaksa kau harus kubawa

untuk menemui Ui Mey Giok, bukankah iapun termasuk

salah seorang pembunuh dalam peristiwa keji tersebut?. . .

.”

“Dia. . .”

“Ada orang berkata, bahwa ia masih ada disini!”

sambung Kiang Ing dengan cepat tidak menanti orang itu

menyambung kata-katanya.

“Aku tidak ingin berjumpa dengan dirinya!”

“Tidak ingin berjumpa? Kau takut?” seru Kiang Ing

dengan nada mengejek.

“Apa yang harus aku takuti. . . .” Kata-kata terakhir baru

saja meluncur keluar dari ujung bibirnya, memdadak

laksana sambaran petir ia menerjang kearah Kiang To

sembari melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Untuk kesekian kalinya si Iblis Sinting melancarkan

serangan tanpa memperdulikan keadaan luka dalamnya

yang parah, satu-satunya yang ia tuju hanyalah meloloskan

diri dari cengkeraman orang2 itu.

Dalam keadaan tidak bersiap sedia hampir-hampir saja

tubuh Kiang To tersapu serangan lawan, buru-buru ia

berkelit dan menyingkir kesamping. . . . Bersamaan dengan

gerakan Kiang To berkelit kesamping, tubuh si Iblis Sinting

langsung menerjang keluar.

Melihat orang itu mau melarikan diri, Kiang To

membentak keras; “Kau kira begitu gampang bisa pergi dari

sini?”

Bayangan manusia berkelebat lewat, ia mengirim sebuah

serangan kearah pihak musuhnya. Serangan yang

dilancarkan Kiang To barusan dilakukan dengan kecepatan

bagaikan sambaran petir, tetapi tindakannya ini jauh kalah

dengan gerakan dari Cu Hoa.

Tahu-tahu orang she Cu ini sudah meluncur kemuka

seraya membentak keras;

“Iblis Sinting, kau tak akan berhasil lolos dari sini.”

Tangan kanannya diayun kedepan mengirim sebuah

serangan totokan yang gencar.

Luka parah yang diderita si Iblis Sinting belum sembuh

betul, mana ia sanggup untuk menerima serangan dari dua

orang musuh sekaligus? Suara dengusan berat bergema

memenuhi angkasa Tahu-tahu jalan darahnya sudah kena

ditotok oleh serangan Cu Hoa.

“Kiranya saudara adalah sipembunuh yang ku-cari2

selama ini.” teriaknya gusar. “Tidak aneh sewaktu berada

didepan pintu Istana Perempuan kau bisa pura-pura

terpukul, siapakah orang yang menghajar dirimu itu?. . .”

“Tidak tahu!”

“Maksudmu terkena pukulan lawan, bukankah ingin

menyelidiki rahasiaku?. . .”

“Tidak tahu!”

“Kiang To, kuserahkan dirinya kepadamu!” Hilanglah

rasa sabar Cu Hoa sehingga ia berseru dingin.

Kiang To pun tertawa dingin tiada hentinya. “Iblis

Sinting, apakah rumah ini kau yang sewakan?”

“Bukan!”

“Heeeee. . .heeee. . .heeeee. . . .aku rasa tidak demikian

gampang. . . .baik2lah kau beritahu urusan ini kepadaku

maka aku Kiang To akan memberikan sebuah jenazah yang

utuh bagimu, kalau tidak. . . .”

“Hmmm! Kau anggap aku takut dengan ancamanmu,

silahkan mulai turun tangan!”

Air muka Kiang To berubah hebat, hawa napsu

membunuh memenuhi seluruh wajahnya “Lalu dimanakah

Pek thian Ki sekarang berada?” tanyanya kembali.

“Tidak tahu.”

“Kau sungguh-sungguh tidak mau bicara apapun?”

“Aku rasa tak ada yang bisa dibicarakan!”

“Heee. . .heee. . . cuma sayang aku tidak percaya kalau

kau tak bisa bicara,” jengek sang pemuda she Kiang sambil

tertawa dingin.

Sepasang jari tangan kanannya dengan menggunakan

ilmu pelepasan tulang secara ber-turut2 menotok empat

buah jalan darah kematian disekitar badan Iblis Sinting.

Dimana ujung jari Kiang To menyambar lewat, mendadak

si Iblis Sinting merintih kesakitan, dari jidatnya mengucur

keluar keringat sebesar kacang kedelai, wajahnya kelihatan

amat menderita.

Setelah jalan darah si Iblis Sinting kena ditotok oleh

Kiang To dengan ilmu totok manunggal, setiap bagian otot

maupun tulangnya terasa sakit susah ditahan, air mata

mulai jatuh berlinang.

“Iblis Sinting, kau suka bicara tidak?” teriak Kiang To

sambil kertak gigi.

Si Iblis Sinting hanya menggertak gigi kencang-kencang

dan bungkam dalam seribu bahasa, akhirnya ia pentang

mulut muntahkan darah darah segar, dan jatuh tidak

sadarkan diri.

“Sungguh keras kepala orang ini!” seru Kiang Ing dingin.

“Paman, bagaimana kalau kita bunuh saja orang ini?”

teriak Kiang To gemas.

“Jangan, kita bawa dia pergi menjumppai Tiap Hoa

Siancu!”

“Baiklah. . .” pemuda she Kiang ini segera mengangkat

tubuh Iblis Sinting untuk dibawa pergi, “Paman, mari kita

berangkat!”

Kiang Ing mengangguk dan bergeser terlebih dahulu dari

sana disusul Kiang To dari belakang.

“Kiang Siauw-hiap!” tiba-tiba Hu Li Hun yang ada

dibelakang berseru.

Mendengar seruan tersebut Kiang To berhenti dan

berpaling memandang sekejap wajah Hu Li Hun, tampak

wajahnya penuh diliputi oleh kesedihan.

Ia jadi melengak, “Ada urusan apa ??” tanyanya halus.

“Aku. . . aku mau pergi!”

“Kenapa?”

“Aku rasa lebih baik aku pergi dari sini, jangan lupa aku

adalah puteri musuh besarmu. . .”

Hu Li Hun tak dapat menahan diri lagi air mata jatuh

bercucuran membasahi seluruh wajahnya, sedangkan Kiang

To marasa hatinya berdebar keras, Bilamana kenyataan

memang demikian dan Hu Li Hun adalah hasil hubungan

Hu Bei San dengan Pek Thian Ki, maka dia adalah musuh

besarnya.

“Nona Hu, kau tak boleh pergi, kami masih ingin pergi

menjumpai ibumu. . .” kata Kiang Ing.

“Kalian pergilah sendiri kesana, aku akan beritahu

tempatnya!”

“Tentang soal ini. . .” Kiang Ing termenung sebentar,

akhirnya ia manggut, “Demikian baiklah!”

“Ibuku tinggal ditebing Thiat Ki Yen diatas gunung Thiat

San, kami akan menanti kedatangan kalian!” Sehabis

berkata, ia putar badan dan berlalu, langkahnya berat dan

gontai, hal ini menunjukkan betapa hancur dan sedih

hatinya saat ini.

Ia telah pergi. . . pergi dengan membawa hati yang

pedih, hancur dan putus harapan. . . .

Dengan termangu-mangu Kiang To memandang bayangan

punggungnya, Akhirnya Cu Hoa menghela napas panjang

memecahkan kesunyian yang mencekam.

“Aaaai. . . orang ini patut dikasihani.”

Kiang To berpaling memandang sekejap kearah gadis itu,

lalu tertawa getir, ia dapat menangkap maksud dibalik

ucapan Cu Hoa ini.

“Kiang Siauw-hiap!” kembali gadis she Cu itu berkata.

“Jikalau ia benar-benar puteri Pek Thian Ki, Apa yang

hendak kau lakukan?”

“Aku sendiripun tidak tahu!”

Ketika itulah Kiang Ing menghela napas panjang seraya

menyela; “Urusan selanjutnya kita bicarakan lagi

perkembangan dikemudian hari, mari kita masuk kedalam!”

Dari sebuah pintu rahasia Kiang Ing menerobos masuk

terlebih dulu disusul oleh Kiang To serta Cu Hoa dari

belakang.

Didalam pandangan Kiang Ing, rumah aneh ini

meninggalkan kenangan-kenangan lama yang pahit dan

getir bagi dirinya, Ia bangun sendiri bangunan rumah ini

beserta alat-alat rahasianya, tapi justeru hidupnya hancur

pula dari sini. . . .

Setelah masuk kedalam ruangan rahasia kurang lebih

tiga tombak, kembali Kiang Ing meraba keatas dinding.

“Krak. . .!” dari atas tanah mendadak muncul sebuah jalan

rahasia dibawah tanah.

Bab 41

Kiang Ing segera memimpin jago yang lain memasuki

lorong tersebut, Lorong rahasia itu panjang sekali, kurang

lebih ada sepuluh tombak lebih, pada ujung lorong muncul

enam buah pintu kecil.

Dari pintu yang ada ditengah Kiang Ing melanjutkan

langkahnya masuk kedalam. Setelah berjalan ber-liku2

entah berapa jauhnya, sampailah mereka didalam sebuah

ruangan berbatu.

“Paman, sudah sampai?” tanya Kiang To.

“Belum, kita harus berjalan beberapa saat lagi.”

“Ooouw. . . belum sampai?”

“Benar!”

“Tampak bangunan ruangan dibawah tanah ini amat luas

dan megah, barang-barang perabot yang disini rata-rata

indah, dan menarik hati.

“Loocianpwee, bangunan ruangan ini adalah hasil

kerjamu sendiri?” tanya Cu Hoa.

“Benar!”

“Aaaaach! Tidak kusangka kecuali loocianpwee

mempunyai kepandaian silat yang sangat lihay, bahkan

kecerdikanpun luar biasa.”

Mendengar pujian tersebut, Kiang Ing hanya tertawa

hambar, dari wajahnya dapat dilihat ia begitu sedih, dan

hambar. Seperti ia sedang mengenang kembali kejadian

lama. . . .

Teringat kembali olehnya akan seorang perempuan yang

mencintai dirinya, tapi akhirnya ia telah mencelakai

perempuan tersebut, sama halnya ia sudah membinasakan

kekasihnya sendiri. . . .

Ia menghela napas panjang. . . . hatinya pedih tak

terhingga. . . .

Kembali beberapa orang itu melanjutkan perjalanannya

memasuki ruangan besar dan menuju keruang belakang.

Diruang itu berdiri sebuah patung perempuan berwajah

cantik sekali. Arca tersebut terbuat dari batu, tetapi

ukirannya hidup, sehingga terlihat betapa cantiknya wajah

perempuan itu.

“Ehmmm. . . sebuah patung perempuan yang amat

cantik,” tak kuasa lagi Kiang To memuji.

“Dia cantik?” seru orang itu sedikit berguman.

“Benar sangat cantik. . .” mendadak Kiang To teringat

akan sesuatu. “Apakah dia. . . dia adalah Tiap Hoa Siancu?”

“Benar, dia. . .”

Kiang To tertegun, wajah patung ini amat

mempesonakan, apalagi wajah orang yang sebenarnya,

tentu jauh lebih menggiurkan lagi.

“Ooouw. . . seorang perempuan yang memiliki

kecantikan tiada bandingan dikolong langit.” puji Cu Hoa

pula.

“Mungkin kau lebih cantik! goda Kiang Ing tertawa.”

Oleh pujian itu Cu Hoa malah dibuat tertegun.

“Loocianpwee, kau sedang bergurau, kecantikanku mana

bisa menandingi dirinya?”

“Padahal kau pun amat cantik, aku pernah menjumpai

wajah aslimu!”

Merah padam selembar wajah Cu Hoa saking jengahnya,

tak sepatah katapun bisa ia ucapkan. Perlahan Kiang Ing

alihkan kembali sinar matanya keatas wajah patung

tersebut, ia mulai dibuat terpesona dan berdiri melamun. . .

Setelah berpisah sepuluh tahun lamanya, ia merasa agak

asing dengan wajah bekas kekasihnya ini. Tempo dulu ia

pernah jatuh cinta kepadanya, pernah angkat sumpah untuk

sehidup semati, tapi beberapa waktu kemudian ia

meninggalkan perempuan ini, ia telah memberikan semua

penderitaan serta kesedihan kepadanya.

Kenangan manis berlalu, dendam kebencian mengalir

bagaikan sungai Yang Tze. . . .

Cinta ada awalnya. . . ada pula akhirnya. . . .

Tapi selembar wajahnya yang cantik selalu tak terhapus

dari benaknya, ia selalu merindukan, mencintai dirinya. . . .

.

“Loocianpwee, patung arca inipun hasil karyamu?” tanya

Cu Hoa memecahkan kesunyian.

“Benar!”

“Sungguh indah pembuatannya, hidup bagaikan manusia

biasa!”

Kiang Ing tertawa getir, ia menghela napas panjangpanjang.

. . .

“Loocianpwee, kau sungguh pandai mencari simpati

perempuan, kau buatkan patung untuk memuji dan

menyanjung dirinya, entah berapa lama harus kau buang

waktu untuk menyelesaikan hasil karyamu ini?”

“Setahun!”

“Sungguh patut dikagumi semangatmu!”

“Aaaai. . . ia dibuat oleh tenagaku, dan kini seharusnya

hancur dengan tenagaku pula!” Mendadak tangan kanannya

diayun keatas kemudian laksana kilat dihajarkan keatas

patung tersebut.

“Braaaaak. . . .!” dengan menimbulkan suara ledakan

yang keras, arca ‘Tiap Hoa Siancu’ hancur berantakan diatas

tanah.

Kiang to serta Cu Hoa sama-sama dibuat tertegun oleh

sikap orang tua ini.

Kiang Ing benar-benar dibikin terharu oleh kejadian yang

tertera dihadapannya, air mata jatuh berlinang membasahi

wajahnya, ia merasa pedih dan perih. . . . .

Agaknya Jiang To memahami perasaan pamannya, ia

tidak ingin Kiang Ing terlalu lama mengumbar kesedihan

disana.

Segera ajaknya; “Paman, mari kita pergi!”

Dengan wajah berat Kiang Ing mengangguk, ia

menggeser sebuah meja batu kesamping dan muncullah

sebuah pintu rahasia dari atas dinding. Tanpa banyak bicara

lagi Kiang Ing melangkah masuk kedalam ruangan rahasia

tersebut.

“Loocianpwee, bangunan ruangan rahasia ini amat

sempurna dan indah sekali.”

“Kau suka?”

“Sudah tentu!”

“Bila kau sungguh suka, biarlah dikemudian hari

kuhadiahkan rumah ini sebagai hadiah perkawinanmu!”

ujar Kiang Ing tertawa.

“Loocianpwee, kau seorang yang amat menarik hati,

dalam keadaan bersedih hati masih tidak lupa untuk

menggoda orang.”

“Apa yang aku ucapkan adalah sungguh-sungguh,

apakah kau tidak ingin kawin dengan orang lain?”

“Sudah tentu aku akan kawin dengan orang, hanya

orangnya hingga kini belum berhasil kudapatkan..”

“Eeei. . . .bukankah kau sudah berhasil menemukannya?”

“Orang lain tidak tertarik padaku, ia sudah punya calon

isteri sendiri. . . .”

Melihat kedua orang itu kasak-kusuk, Kiang to kelihatan

agak melengak. “Eeeeei. . . . sebenarnya apa yang sedang

kalian bicarakan?”

“Membicarakan soal dirimu,” seru Kiang Ing sambil

tertawa. “Nona Cu mengatakan kau sudah mempunyai

calon isteri.”

“Aku. . .” nada suaranya gemetar dan bergidik, secara

mendadak ia teringat kembali akan Hu Siauw In putri Hu

Toa Kan yang memiliki kecantikan wajah melebihi

siapapun.

Dengan termangu-mangu ia memandang sekejap wajah

pamannya Kiang Ing, lalu jawabnya;

“Paman, sebenarnya Hu Toa Kan adalah seorang baik

atau jahat?”

“Baik pun tidak akan baik sampai begitu rupa.”

“Kalau begitu bisa menemukan dirinya berarti kita bisa

memperoleh kabar berita tentang diri Pek Thian Ki serta si

Tangan Pencabut Bunga.”

“Ada kemungkinan?”

“Sudah tentu ada kemungkinannya.”

Perlahan-lahan Kiang To menghela napas panjang.

“Putrinya adalah seorang gadis yang baik hati. . . . ia sangat

ramah dan mulia.”

“Tidak salah, dia memang ramah dan mulia.”

“Paman, hampir-hampir saja aku lupa untuk

menanyakan dua macam urusan. . .” seru Kiang To secara

tiba-tiba.

“Urusan apa?”

“Pertama, anak murid siapakah si Hek Mo Li atau si Iblis

Perempuan Hitam itu?”

“Mungkin dia adalah anak murid dari Pek Thian Ki.”

“Siapa pula si Iblis Perempuan Loteng Genta?”

“Mungki. . . .mungkin. . . .mungkin adalah. . . .”

“Siang Hwi Giok Li!”

“Aaaaa. . .!” tidak kuasa lagi Kiang To bereru tertahan

setelah mendengar ucapan tersebut, ia tidak menyangka

apabila si Tiong Loo Mo Li kemungkinan besar adalah

Siang Hwi Giok Li.

Ia merasa urusan ini memang ada kemungkinannya,

hanya saja mimpipun belum pernah ia berpikir sampai

kesitu.

Saat itu, mendadak terdengar Cu Hoa menghela napas

panjang.

“Eeeei. . .” tegur Kiang Ing agak tercengang.

“Aaach. .” tidak apa-apa!”

“Keponakanku!” perlahan-lahan Kiang Ing alihkan sinar

matanya memandang sekejap wajah pemuda she Kiang.

“Bagaimanakah perasaanmu terhadap diri nona Cu?”

“Aku. . .”

“Orang lain sudah memiliki seorang calon isteri yang

mempunyai kecantikan wajah melebihi bidadari, sudah

tentu tak akan memandang sebelah matapun terhadap

diriku.”

Oleh ucapan tersebut, Kiang To tertawa getir. “Selama

hidup belum pernah aku mencintai orang, Aaaai. . .belum

pernah pula orang mencintai diriku, apalagi. . . .mungkin

aku tak bisa mencintai orang lain lagi, jikalau aku tidak

mati ditangan musuh besarku, paling juga umurku tinggal

satu bulan saja.”

“Ooooouw. . . sungguh halus penolakanmu!” seru Cu

Hoa tak tertahan lagi sambil tertawa getir.

“Apakah kau. . . kau sungguh-sungguh bisa mencintai

diriku?”

“Kenapa? Tidak boleh?” sahut Cu Hoa dengan sepasang

mata terbelalak besar.

“Aku takut diriku tidak mencukupi syaratnya. . . .”

“Kau tidak buta, tidak kekurangan sesuatu apapun, tidaj

cacad, syarat apa yan tidak cukup? Walaupun kau kurus

tetapi sepasang matamu sangat mempesonakan, mungkin

aku tertarik karena pandangan matamu yang tajam. . . .”

“Nona Cu, aku sangat berterima kasih kepadamu, selama

hidup tak akan kulupakan cinta kasihmu kepadaku,” seru

Kiang To dengan terharu, “Tetapi aku Kiang To sudah

hancur ditangan Hek Mo Li Tong Ling. . . .”

“Antara kau dan dia. . . .”

“Eeeeehmmm. . .!” Kiang To mengangguk, “Antara aku

dengan dia sudah melakukan hubungan!”

“Aaaaakh. . . .kenapa?” agaknya Cu Hoa rada sedikit

kecewa oleh berita tersebut.

“Ia menyaru sebagai It Peng Hong. . .”

“Ooooouw. . . lantas kalian. . . .”

“Benar!”

“Cuma, menurut apa yang aku ketahui, ia sungguhsungguh

mencintai dirimu, kalau tidak, ia tak akan berbuat

demikian! Hanya saja apa akibat yang bakal terjadi dengan

peristiwa ini masih belum bisa diduga mulai sekarang, hal

ini membuat orang merasa cemas. . .”

Kiang To hanya tertawa getir. Tong Ling adalah

perempuan pertama yang pernah ia cintai, ia sudah

memperkosa dirinya, merenggut perawannya, tetapi

kesedihan yang ia berikan pun cukup banyak, cukup

menderita bagi ia sendiri.

Bagaimanakah hubungan mereka selanjutnya? Apakah

sungguh-sungguh selesai sampai disini saja? sudah tentu

tidak! mereka belum menyelesaikan sandiwara babak yang

paling menyedihkan ini.

Terdengan Kiang ing menghela napas panjang. “Aaaai. .

. mari kita maju kedepan!”

Kedua orang muda-mudi itu dengan mengikuti dari

belakang Kiang Ing berjalan masuk kedalam ruangan

rahasia tersebut.

Lorong itu ber-liku2 dan panjangnya ada lima tombak

lebih, beberapa saat kemudian sampailah mereka disebuah

tempat yang bercahaya terang, hal ini membuat Kiang To

serta Cu Hoa sama-sama dibuat berdiri tertegun.

Tampak sebuah lembah yang indah dan tertutup oleh

tebing yang tinggi menjulang keangkasa muncul dihadapan

mata, tempat ini amat indah dan tidak mudah ditemukan

orang dari atas puncak.

Berbagai macam bunga tumbuh memenuhi seluruh

lembah, bau harum semerbak memencar menusuk hidung,

pemandangan indah merasuk hati dengan sebuah kolam

ditengah-tengah aneka bunga, sebuah bangunan loteng yang

megah dan menarik berdiri disisi kolam.

“Paman, dia berdiam didalam loteng tersebut ??” tanya

Kiang To tercengang.

“Jikalau ia masih berada disana, seharusnya ada diatas

loteng!”

Dalam pembicaraan tersebut Kiang Ing serta kedua

orang muda-mudi itu sudah berada didepan loteng tersebut.

Pintu loteng tertutup rapat-rapat, diatas pintu tertera papan

nama yang bertuliskan:

“LOTENG KUPU-KUPU dan BUNGA”

Nama tersebut sangat cocok sekali dengan pemandangan

disekitarnya dimana bunga bertaburan

dimana-mana dengan kupu-kupu yang terbang kian kemari

menambah kesemarakannya pemandangan.

Kiang Ing berjalan mendekati pintu, lama sekali ia

berdiri termangu-mangu dan akhirnya mendorong pintu,

lalu berjalan masuk kedalam.

Sesaat Kiang Ing melangkah kedalam, serentetan suara

bentakan yang amat dingin bergema memenuhi angkasa.

“Siapa?” Suara tersebut keras dan dingin membuat

seluruh badan Kiang Ing gemetar kencang, bahkan Kiang

To serta Cu Hoa pun ikut merasakan badannya tergetar

keras.

Kiang Ing tertegun dan tak bisa menjawab barang

sepatah katapun. Buru-buru Kiang To maju kedepan.

“Siapa yang ada diatas loteng?” Balik bentaknya keras.

Uvapan Kiang To ini sama halnya dengan kata-kata

yang mengatakan’Setelah tahu buru-buru bertanya’ kecuali

Tiap Hoa Siancu yang mendiami loteng tersebut masih ada

siapa lagi?

Suara jawaban dari perempuan itu tidak kalah dinginnya

bergema datang, “Pertanyaan saudara bukankah diutarakan

terlalu aneh? Pertanyaan adalah aku ajukan terlebih dahulu,

kini balik kalian yang bertanya kepadaku. . .?”

Air muka Kiang To berubah hebat. “Kaukah yang

bernama Ui Mey Giok?”

Agaknya pihak lawan merasa kaget dengan ucapan

tersebut, lama sekali tak kedengaran suara jawaban.

Seperminum teh kemudian baru terdengar suara itu

bergema kembali.

“Bagaimana kau bisa tahu? Apakah saudara datang

kemari karena hendak mencari diriku?”

“Tidak salah.”

“Siapa kau?”

Kiang To tidak menjawab, sekali loncat ia menerjang

masuk kedalam ruangan, sinar matanya dengan tajam

menyapu sekejap suasana didalam ruangan tersebut. Suara

langkah kaki manusia turun dari tangga bergema

memecahkan kesunyian, seorang perempuan cantik berbaju

hijau perlahan-lahan turun dari atas loteng.

Wajah perempuan itu boleh dikata amat cantik sekali

melebihi kecantikan bidadari, walaupun usianya sudah

lanjut tetapi ke-ayuannya sama sekali tidak berkurang.

Dengan termangu-mangu perempuan itu melototi wajah

Kiang To, wajahnya kelihatan agak tertegun.

“Siapa kau?”

Perasaan Kiang To saat ini benar-benar bergolak, hawa

napsu membunuh memenuhi seluruh benaknya.

“Kaukah yang bernama Ui Mey Giok!” bentaknya

dingin.

“Tidak salah, dan siapakah saudara?”

“Kiang To!”

“Apa?” perempuan cantik berbaju hijau itu tersentak

kaget, air mukanya berubah hebat.

Agaknya ucapan ini jauh berbeda diluar dugaannya

semula. Dengan badan gemetar dan sinar mata bergidik,

dipandangnya wajah pemuda itu tajam-tajam.

Bagaikan menemui suatu peristiwa yang mengerikan

saja, badannya gemetar keras, keringat dingin mengucur

keluar membasahi seluruh badannya. . . .

Pada waktu itu. . . . Kiang Ing melangkah masuk

kedalam ruangan, melihat munculnya orang itu mendadak

si perempuan cantik berbaju hijau itu menjerit tertahan

bagaikan orang histeris. . .

“Kau. . . kau. . .”

Wajah Kiang Ing penuh diliputi rasa jengah, kikuk,

sedih, berduka dan perasaan lain yang susah dilukiskan

dengan kata-kata. . .

Kembali mereka berjumpa muka.

Tujuh belas tahun berselang ia pergi meninggalkan

dirinya, ia berikan rasa kecewa dan sedih buat dirinya,

Seluruh penghidupannya telah musnah semua.

Dan kini tujuh belas tahun kemudian, kembali mereka

berjumpa muka. . .Pertemuan ini bagaikan tidak disengaja,

peristiwa ini lebih mirip Kiang Ing pulang kembali untuk

mencari dirinya dan menyambung kenangan manis yang

telah lama terputus.

“Kau? Benar-benar kau?. . .” sekali lagi perempuan itu

menjerit.

Kiang Ing gigit bibir sendiri, ia telan mentah air mata

yang mengucur keluar membasahi pipinya.

“Benar aku. . . .aku. . . .” desisnya lirih.

“Aaaaaach. . .!” suatu jeritan yang mengenaskan

memecahkan kesunyian diruangan tersebut.

Mendadak air mata mengucur keluar membasahi

pipinya, air mata yang mengenaskan akhirnya membasahi

pula pipinya serta wajahnya yang cantik jelita.

Ia merasa terkejut, gembira dan terharu. . . karena orang

yang dinanti-nantikan selama ini akhirnya kembali juga, ia

sudah lupa lelaki ini pernah mencelakai dirinya, ia lupa

seluruh hidupnya telah musnah dan hancur ditangan orang

ini.

Mendadak. . . .

“Ing-ko, benar-benar kau?” desisnya dengan nada

gemetar.

“Benar!”

“Ooooouw. . . .engko Ing, akhirnya kau kembali juga. . .”

Jeritnya penuh rasa haru.

Saking tak kuat menahan gejolak dalam hatinya,

bagaikan kalap dan histeris ia lari turun dari loteng dan

menubruk masuk kedalam pelukan Kiang Ing.

Tindakan yang mendadak dan tak terduga ini membuat

kesadaran Kiang Ing jadi p