Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara

Karya : Langit Kresna Hariadi

Source : http://lontaremas.blogspot.com/

Sekar Kedaton, sangatlah sesuai dengan wujudnya yang memang cantik. Itulah Dyah Wiyat yang punya alasan untuk gelisah. Benda bernama cermin yang mampu memantulkan wujudnya lebih nyata dan lebih sempurna daripada permukaan jambangan yang penuh air membuat hatinya gelisah. Bukan cermin itu yang membuatnya resah, tetapi orang yang menghadiahi benda itu. Dan, emban yang bersimpuh di depannya menatap Sekar Kedaton dengan cemas. Ia layak cemas karena telah menyembunyikan sebuah keterangan yang penting. Emban itu tidak mengatakan siapa pemberi cermin itu sebenarnya.

”Sudah lama ia pergi?” Sekar Kedaton mempertegas. Emban di depannya menyembah.

”Belum lama, Tuan Putri,” jawabnya. ”Dengan berjalan kaki mungkin baru saja melintas pintu gerbang Purawaktra. Masih belum jauh.”

Sekar Kedaton mondar-mandir tak tahu bagaimana harus mengambil sikap. Namun, sebuah tindakan memang harus diambil, apakah dengan membiarkan orang itu pergi atau menyusulnya. Ke depan Sekar Kedaton dihadapkan pada kenyataan, lelaki yang kini menjadi suaminya, apakah akan dikuasainya sendiri atau dimiliki berbagi dengan orang lain.

Sekar Kedaton memutuskan mengambil salah satu di antaranya. Maka, sejenak kemudian dari halaman belakang istana berderap seekor kuda yang berlari kencang. Para prajurit tak tahu siapa orang berkuda yang berpacu bagai kekurangan waktu itu. Atau, bila prajurit itu tahu penunggang kuda itu adalah Dyah Wiyat, apalah yang bisa dilakukan.

Matahari di barat sangat benderang menyilaukan mata, namun Dyah Wiyat tak peduli. Debu mengepul tebal ketika Sekar Kedaton melintas Purawaktra. Sekar Kedaton tak peduli meski beberapa prajurit penjaga gerbang berteriak-teriak memintanya berhenti. Nun jauh di barat setelah melintas Purawaktra, Dyah Wiyat akhirnya melihat dua orang yang berjalan kaki berdampingan. Dyah Wiyat yang akhirnya berhasil menandai orang itu benar….

Duka membayang di kaki langit, duka sekali lagi membungkus

Majapahit.

Ada banyak hal yang dicatat Pancaksara, banyak sekali. Kesedihan kali ini terjadi bagai pengulangan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu, yang ditulisnya berdasar kisah yang dituturkan ayahnya, Samenaka, karena ketika peristiwa itu terjadi Pancaksara masih belum bisa dibilang dewasa.

Kala itu tahun 1309. Segenap rakyat berkumpul di alun-alun. Semua berdoa, apa pun warna agamanya, apakah Siwa, Buddha maupun Hindu. Semua arah perhatian ditujukan dalam satu pandang, ke Purawaktra yang tidak dijaga terlampau ketat. Segenap prajurit bersikap sangat ramah kepada siapa pun karena memang demikian sikap keseharian mereka. Lebih dari itu, segenap prajurit merasakan gejolak yang sama, oleh duka mendalam atas gering yang diderita Kertarajasa Jayawardhana.

1 Pancaksara, amat mungkin ia nama asli Prapanca, penulis Negarakertagama. Pada bagian pupuh 32 kakawin tersebut berbunyi, ”Tidak selalu menghadap raja, Pujangga Prapanca yang senang bermenung, giranglah melancong melepas lelah segala duka dan ulah. Rela melalaikan kewajiban tentang menganut tata tertib pendeta. Memburu nafsu menjelajah rumah berjanjar-janjar dalam deretan berjajar. Tiba di taman bertingkat, di tepi sanggrahan tempat bunga tumbuh lebat. Suka cita Prapanca membaca pahatan dengan slokanya di dalam cita. Di atas tiap atap tertulis ucapan sloka disertai nama. Pancaksara pada penghabisan tempat tertulis samar-samar, bersinar.”

2 Samenaka, ayah Pancaksara Prapanca, menjabat sebagai Darmadyaksa Ring Kasogatan, jabatan yang kemudian diwarisi Prapanca, sebagaimana tercantum dalam Negarakertagama.

3 Purawaktra, pintu gerbang utama Istana Majapahit. Pintu ini menghadap ke barat.

4 Gering, Jawa, sakit, biasanya sebutan ini ditujukan untuk raja atau kerabat inti.

5 Kertarajasa Jayawardhana, gelar Raden Wijaya setelah menjadi raja.

Segenap kawula yang mencintai rajanya memang amat berharap raja akan sembuh dan kembali memimpin negara menuju kejayaan yang lebih bercahaya dan cemerlang. Akan tetapi, Hyang Widdi mempunyai kehendak lain. Napas Sang Prabu makin tersengal, tarikannya kian tersendat, kesadarannya makin berkurang seiring sakit yang diderita yang tak tersembuhkan. Para tabib yang didatangkan untuk menyembuhkan Sang Prabu angkat tangan tanda menyerah.

Kalagemet yang ketika itu masih bocah, berdiri bersandar tiang saka dan terlihat pucat, sementara kegelisahan terbaca jelas dari wajah para ibundanya. Ibu Permaisuri Tribhuaneswari menelungkupkan wajah di sudut pembaringan dengan tangan kanan tidak henti-hentinya membusai rambut ikal Sang Prabu. Cinta Permaisuri kepada Raja

demikian besar dan mendalam sehingga bayangan perpisahan yang akan terjadi demikian menakutkan. Bagaimana tidak, perjalanan hidup yang dijalani bersama terlalu banyak menyimpan cerita. Dimulai ketika Singasari tidak bisa dipertahankan lagi akibat gempuran Kediri di bawah Jayakatwang, Sang Prabu Kertanegara yang melihat negara mustahil dipertahankan menyerahkan keselamatan anak-anaknya kepada Raden Wijaya. Pontang-panting Raden Wijaya mengatur penyelamatan meloloskan diri. Lalu, disusul perjuangan berikutnya yang tak kalah berat, mendirikan negara baru di tanah Tarik hingga akhirnya menjadi negara Majapahit yang bisa memberikan ketenteraman dan kemakmuran kepada segenap rakyatnya. Terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan. Beku di sebelahnya, Ibu Ratu Narendraduhita duduk termangu dengan tatapan mata tak beralih dari raut muka suaminya. Pandangan

6 Kalagemet, satu-satunya anak lelaki keturunan Raden Wijaya, kelak bergelar Sri Jayanegara. Sumber berita yang menyebut sosok Jayanegara ini simpang siur. Pararaton menyebut Jayanegara adalah anak yang dilahirkan Tribhuaneswari. Ada pula yang menyebut Kalagemet adalah anak yang dilahirkan Dara Petak. Informasi mengenai hal ini bisa diperoleh dari Prasasti Sukamrta, Prasasti Balawi, dan Negarakertagama.

7 Tribhuaneswari, nama lengkapnya Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari, istri pertama Raden Wijaya, anak kedua dari enam anak Sri Kertanegara, Raja Singasari terakhir. Sebagai istri pertama, ia didudukkan sebagai permaisuri. Dalam Kidung Harsa Wijaya dan Pararaton ditulis, di antara anak-anak Kertanegara bernama Puspawati dan Pusparasmi dinikahkan dengan Harsa Wijaya. Amat mungkin Puspawati adalah nama kecil Tribhuaneswari. Harsa Wijaya adalah nama Raden Wijaya menurut versi kidung itu.

8 Raden Wijaya, raja pertama Majapahit menggunakan gelar Kertarajasa Jayawardhana karena ia adalah keturunan wangsa Rajasa.

9 Narendraduhita, nama lengkapnya Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, istri kedua Raden Wijaya, atau anak ketiga Sri Kertanegara. Amat mungkin Pusparasmi adalah nama kecil Narendraduhita.

Matanya kosong tidak bercahaya, dibalut cemas membayangkan perpisahan sejati akan terjadi. Di arah kaki Sang Prabu, Ibu Ratu Pradnya Paramita10 berlinang air mata dan berulang kali menyeka pipi dalam upaya kerasnya berdamai dengan diri sendiri. Meski Ibu Ratu Pradnya Paramita telah berusaha mendamaikan diri, apa yang ia lakukan bukanlah pekerjaan yang gampang, terbaca amat jelas kecemasan itu dari komat-kamit di mulutnya dan tangannya yang selalu gemetar.

Berhadapan dengan Ibu Ratu Narendraduhita, Ibu Ratu Rajapatni Gayatri yang dalam setahun terakhir mempersiapkan diri menjadi seorang biksuni, justru terlihat amat tenang, tidak tampak kesedihan di wajahnya. Ibu Ratu Gayatri sangat sadar bahwa pada dasarnya kematian merupakan pintu gerbang menuju nirwana yang kedatangannya tidak perlu ditangisi. Pada suatu tingkat kesadaran, kematian justru harus disambut dengan kebahagiaan, toh kematian akan menimpa siapa saja, juga raja. Itu sebabnya, Ibu Ratu Gayatri selalu menampakkan raut wajah yang sangat bersih, raut muka ikhlas. Segenap abdi perempuan sangat dekat dengan Ibu Ratu Gayatri. Namun, kedekatan itu berbalut rasa amat hormat dan segan.

Duduk berseberangan dengan Permaisuri Tribhuaneswari, Stri Tinuhweng Pura13 tak bisa menghapus jejak kesedihan yang amat mendalam. Awal kisah perjalanan hidupnya yang semula berasal dari Swarna Bumi, anak dari Prabu Maulia Warma Dewa yang negaranya ditaklukkan dan menjadi perempuan boyongan untuk kemudian diperistri oleh Raja, setidaknya dari suami yang lambat laun dicintainya itu terlahir keturunan yang sangat berpeluang menjadi raja karena merupakan satusatunya anak lelaki, Kalagemet. Demikian besar cintanya kepada Sang Prabu, cinta yang tumbuh sedikit demi sedikit lalu menjadi bergumpalgumpal, Stri Tinuhweng Pura merasa amat pantas menemani Sang Prabu kembali menghadap Sang Maha Pencipta andaikata sakit yang dideritanya berujung ke kematian.

10 Pradnya Paramita, nama lengkapnya Sri Jayendradewi Dyah Dewi Pradnya Paramita, istri ketiga Raden Wijaya, atau anak keempat Sri Kertanegara.

11 Rajapatni, gelar yang diberikan Raden Wijaya kepada Gayatri.

12 Gayatri, nama lengkapnya Sri Jayendradewi Dyah Dewi Gayatri, istri keempat Raden Wijaya, atau anak kelima Sri Kertanegara, kepadanya melekat sebutan Rajapatni, juga dipanggil sebagai Ratu Biksuni.

13 Stri Tinuhweng Pura, gelar yang diberikan Raden Wijaya kepada Dara Petak, istri kelimanya karena memberi keturunan laki-laki yang berarti ”istri yang dituakan di pura”.

Pancaksara mencatat semua yang didongengkan ayahnya itu dan diguratkan ke berlembar-lembar rontal. Pancaksara juga mencatat warna kesedihan yang serupa yang terpancar dari wajah segenap kawula yang melakukan pepe15 di alun-alun. Akan tetapi, pepe kali ini dilakukan justruuntuk mendoakan kesembuhan rajanya yang sangat dikasihi bukan pepe yang dilatari unjuk rasa atas nama ketidakpuasan. Sedih itu sungguh bisa dibaca dari wajah-wajah gelisah, dari segala keluh kesah.

”Aku rela bertukar tempat,” kala itu seseorang terdengar berbicara.

”Biar aku sajalah yang menderita sakit sebagai penukar, asal Sang Prabu sembuh.”

Dan ketika bende Kiai Samudra dipukul bertalu, tangis serentak membuncah. Ayunan pada bende yang getar suaranya mampu menggapai sudut-sudut kota merupakan isyarat yang sangat dipahami. Gelegar bende dengan nada satu demi satu, namun berjarak sedikit lebih lama dari isyarat kebakaran merupakan pertanda Sang Prabu mangkat. Semua orang yang mendengar isyarat itu merasa denyut jantungnya berhenti berdetak.

Di bilik pribadinya, Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana yangketika muda sangat dikenal dengan sebutan Raden Wijaya membeku. Empat dari lima istrinya meledakkan tangis dan hanya Rajapatni Gayatri yang tidak. Ratu Gayatri masih tetap dengan wajah sejuknya, dengan lembut berusaha menenangkan kakak-kakaknya dan berusaha mengatasi Dara Petak yang pingsan kehilangan kesadaran diri. Ratu Gayatri juga menghibur Kalagemet yang terhenyak bersandar dinding dengan mulut bergetar komat-kamit tak jelas mengucapkan apa. Pancaksara mencatat semua itu! Peristiwa itu terjadi tahun saka 1231.Layon dimakamkan di dalam pura yang disebut pemakaman Antahpura. Sebagai penghormatan untuknya didirikanlah arca Jina di 14 Rontal, Jawa Kuno, berasal dari dua kata ron dan tal. Ron berarti daun, merupakan lembaran daun tal yang digunakan sebagai alat mencatat, fungsinya sama dengan kertas sekarang.

15 Pepe, Jawa, unjuk rasa

16 1231, tahun wafat Kertanegara versi Negarakertagama, tetapi Pararaton menyebut tahun saka 1257, tarikh tahun yang didapati pula di Kidung Ranggalawe dengan sengkala ”sapta pancadaci rong atus kang piyonsih”.

Dalam pura dan Siwa di Simping. Beberapa hari kemudian, Kalagemet yang telah menyandang kedudukan sebagai kumararaja dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya. 1309 dendang duka ditembangkan nglangut  karena Sang Prabu Sri Kertarajasa Jayawardhana wafat. Raja Wilwatikta itu dicandikan sebagai Siwa di Simping dan sebagai Buddha di Antahpura dengan arca perwujudan berbentuk Harihara atau Wisnu dan Siwa dalam satu arca. Hanya berselang beberapa tahun setelah itu, Kalagemet kembali menahan sesak di dada karena ibunda tercinta yang melahirkannya terkabul apa yang diinginkan. Hyang Widdi berkenan mencabut nyawanya dan memberi kesempatan kepada Dara Petak yang oleh suaminya diberi gelar Stri Tinuhweng Pura, menyusul ke alam langgeng. Setelah kematian-kematian itu, adakah kini pencandian yang sama harus disiapkan pula? Kini, 1328, hampir dua puluh tahun setelah kematian Prabu Wijaya, atau sembilan tahun setelah pemberontakan Ra Kuti pada 1319.

Berita itu masih simpang siur dan belum diketahui kejelasannya. Namun, berita itu tak kalah menyesakkan dada dibanding apa yang terjadi beberapa tahun lampau yang demikian sempurna dalam menyesakkan dada. Hal itu terjadi merupakan sisa-sisa ulah para Dharmaputra Winehsuka yang masih tertinggal jejak lukanya meski telah sembilan tahun lewat, melalui perbuatan Ra Tanca yang tidak bisa melupakan dendam lama. 1319, didorong oleh nafsunya untuk menjadi orang paling utama di Majapahit, Ra Kuti memimpin anak buahnya mengangkat senjata

17 Kumararaja, Jawa Kuno, putra mahkota atau Pangeran Pati, putra raja yang dipastikan akan menggantikan raja sebelumnya bila berhalangan atau mangkat.

18 Nglangut, Jawa, sedih, menyedihkan

19 Wilwatikta, nama lain Majapahit, artinya buah maja yang pahit.

20 Antahpura, nama kompleks makam kerabat istana. Diduga Antahpura berada di Trowulan.

21 Dharmaputra Winehsuka, gelar yang diberikan Sri Jayanegara kepada Ra Kuti dan teman-temannya,

mereka adalah Rakrian Kuti, Rakrian Tanca, Rakrian Wedeng, Rakrian Banyak, Rakrian Pangsa, dan

Rakrian Yuyu. Pemilik gelar serupa bernama Rakrian Semi lebih dulu mati di Lasem, terbunuh dalam

pemberontakan yang dilakukannya tahun 1318.

22 Ra Tanca, dalam Pararaton peristiwa pembunuhan Jayanegara yang dilakukan Ra Tanca ini disebut Patanca, menyebabkan Raja harus terusir ke Bedander, sebuah tempat yang sangat jauh dari Ibukota Majapahit, menusuk masuk ke wilayah Pegunungan Kapur Utara. Pemberontakan yang dilakukan Ra Kuti menimbulkan penderitaan luar biasa, perang menyebabkan banyak korban nyawa mati sia-sia, banyak istri yang mendadak menjadi janda, banyak anak kehilangan orang tuanya, atau orang tua kehilangan anaknya, kisah tentang perempuan diperkosa riuh terjadi di mana-mana. Beruntung keadaan kacau-balau itu berhasil diredam. Pasukan Bhayangkara memberi sumbangsih sangat besar dalam memberikan serangan balik yang sangat mematikan. Petualangan sangat berdarah itu  berakhir dengan kematian Ra Kuti dan segenap pengikutnya, Ra Wedeng, Ra Banyak, Ra Yuyu, dan Ra Pangsa tumpes tapis kecuali Ra Tanca yang pilih menyerahkan diri. Peristiwa makar ini melambungkan nama Gajah Mada yang hanya menyandang pangkat bekel, tetapi karena keberanian dan kecerdasan otaknya mampu menyelamatkan Raja dari marabahaya dan mengembalikannya ke tampuk pimpinan negara.

Istana yang dijarah telah dikembalikan, dampar kencana kembali diduduki Sri Jayanegara, yang pada namanya melekat abiseka Sri Sundarapandyadewanama Maharajabhiseka Sri Wisnuwangsa. Selama nawa surya setelah Rakrian Kuti melakukan makar, Kalagemet berjuang sekuat tenaga memulihkan luka-luka lama, bekerja keras mengembalikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

Berita itu masih simpang siur karena belum ada keterangan resmi yang diberikan istana. Semua masih kabur. Kawula yang berkerumun di alun-alun, mereka yang berteduh di bawah rindangnya pohon bramastana,28 pohon tanjung, dan kesara yang berjajar di sepanjang jalan,

23 Tumpes tapis, Jawa, ditumpas tanpa sisa

24 Dampar kencana, Jawa, kursi emas, tempat duduk raja

25 Abiseka, nama gelar

26 Sri Sundarapandyadewanama Maharajabhiseka Sri Wisnuwangsa, terbaca pada prasasti yang sangat usang dan sulit dibaca yang ditemukan di Blitar, berangka tahun 1246 saka bertepatan 5 Agustus 1324. Pada Piagam Sideteka, Jayanegara bukanlah nama abiseka, tetapi nama asli, sedang nama abisekanya adalah Maharaja Adhiraja Sri Wiralanda Gopala.

27 Nawa Surya, sembilan tahun matahari

28 Bramastana, Jawa Kuno, nama lain pohon beringin.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara atau yang sambil duduk di sudut alun-alun sibuk menduga dan dengan sabar tetap menunggu bagaimana kabar terakhir raja mereka.

Awalnya tersebar berita Kalagemet Sri Jayanegara jatuh sakit, dengan jenis sakit yang tidak luar biasa. Kasak-kusuk yang berkembang, sakit yang diderita Jayanegara hanya berupa bisul. Namun, bisul itu mengeram di pantat Sang Prabu sehingga sangat mengganggu duduk dan tidurnya.

Rakrian Tanca yang diampuni, Rakrian Tanca yang sembilan tahun terakhir menekuk wajah amat dalam, kepadanya dipercayakan tugasmengobati Sang Prabu, membebaskannya dari penderitaan yang mengganggu ketenangan duduknya, membebaskan dari sakit yang berkepanjangan.

Akan tetapi, Ra Tanca, orang yang dianggap paling mumpuni dalam olah pengobatan memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepadanya.

Oleh sebuah alasan Rakrian Tanca sangat membenci Jayanegara. Maka, ketika ia diundang ke istana diminta mengobati Raja, digunakan kesempatan itu untuk mendendangkan tembang kematian. Bukan ramuan obat yang diminumkan kepada Sri Jayanegara, tetapi racun yang amat mematikan.

Jayanegara menggeliat kesakitan, dan itu sudah menjadi alasan yang amat kuat bagi Gajah Mada untuk membenamkan senjatanya tepat ke jantung Rakrian Tanca. Terhenyak Ra Tanca yang memang dengan sengaja menunggu kematiannya, kematian yang disambutnya dengan tersenyum.

Prajurit muda yang sebenarnya menyimpan masa depan cerah itu menghadang sekarat dengan mendekap gagang keris yang membenam tepat di tengah dadanya, merobek sebagian otot-otot yang mengikat jantungnya sekaligus menebarkan kekuatan racun yang mengalir mengikuti darah. Ra Tanca memejam dengan tubuh jatuh terduduk di bawah pandangan ngeri dari mereka yang hadir di ruangan itu. Ra Tanca sekali lagi tersenyum, yang diarahkan senyum mesra itu kepada Dyah Wiyat29 yang berdiri berdampingan dengan calon suaminya. Dyah Wiyat, sangat memahami apa makna senyum dan tatapan mata yang dilontarkan

29 Dyah Wiyat, anak perempuan kedua Raden Wijaya yang terlahir dari Ratu Gayatri.

Ra Tanca kepadanya. Sebuah ungkapan perasaan yang membuatnya kebingungan, sebagaimana Dyah Wiyat tidak berhasil memahami perasaan apa sebenarnya yang bersembunyi jauh di lipatan hatinya karena terlalu sulit melupakan wajah tampan itu. Mengapa pula Rakrian Tanca selalu menyelinap di mimpi-mimpinya, mengapa pula ia sering merasa rindu kepadanya. Sekarat yang dialami laki-laki itu secara nyata menimbulkan rasa nyeri di kedalaman kalbunya. Lelaki itu, Dharmaputra Winehsuka Rakrian Tanca mulai memejam mata. Ra Tanca sadar, kematian akan segera tiba, tetapi Ra Tanca tidak telaten menunggu kedatangannya. Ra Tanca yang merasa masih menyimpan kekuatan segera memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menggoyang gagang keris di genggaman tangannya supaya mempercepat sekaratnya. Lirikan mesra kembali dilontarkan kepada kekasih pujaan hatinya, juga dilontarkan pandangan redup itu kepada Gajah Mada yang berdiri membeku di depannya.

Bagaskara manjer kawuryan,” gumam Ra Tanca berasal dari sisa tenaga yang masih ada. Rakrian Tanca ambruk terguling dan geliat tubuhnya adalah saat-saat nyawa oncat dari tubuhnya. Darah berwarna merah kehitaman yang mengucur tidak seberapa deras menggenangi lantai merupakan tanda bahwa keris penghias pinggang milik Gajah Mada itu amat beracun karena racun warangan31 yang dilulurkan ke senjatanya sangat pekat. Racun warangan itu sendiri dibuat oleh Rakrian Tanca atas permintaan Gajah Mada. Meski Rakrian Tanca kebal terhadap racun ular, ia tidak kebal terhadap racun warangan.

Apa yang diucapkan Ra Tanca menyebabkan Gajah Mada terhenyak. Gajah Mada amat terkejut karena kalimat sandi itu keluar justru dari mulut Rakrian Tanca. Sembilan tahun lamanya Gajah Mada terganggu oleh teka-teki itu. Kini rahasia itu terjawab dari mulut yang segera mengatup.

30 Bagaskara manjer kawuryan, Jawa, matahari terang benderang, adalah kalimat sandi yang digunakan

Ra Tanca dengan Gajah Mada (baca buku Gajah Mada) karangan pengarang dan penerbit sama.

31 Warangan, Jawa, arsenikum

”Jadi, kamu orangnya?” Gajah Mada melontarkan rasa kagetnya. Namun, Ra Tanca tidak mungkin menjawab pertanyaan itu karena nyawanya telah melesat melayang, membubung meninggalkan raganya yang tak bisa ditempati. Kematian Ra Tanca dengan beban rasa sakit luar biasa menyebabkan matanya membeliak. Gajah Mada segera mengusap mata itu agar memejam.

Di sudut ruang, Dyah Wiyat menundukkan wajah berusaha sekuat tenaga menguasai diri. Kematian Ra Tanca, sangat tidak dimengerti mengapa memberi guncangan luar biasa di dadanya.

Perhatian segenap yang hadir di ruangan itu segera beralih kepada Jayanegara. Racun yang diminum mulai menjalar. Gajah Mada layak merasa cemas karena ia mengenal dengan baik siapa Rakrian Tanca, bagaimana kemampuan yang dimiliki tabib berusia amat muda itu. Rakrian Tanca gemar bermain-main dengan racun paling mematikan, racun warangan yang dibalurkan ke keris dan ujung tombak maupun trisula, yang setiap goresan dijamin akan menjadi pembuka pintu gerbang kematian. Ra Tanca juga gemar bermain-main dengan racun berbagai jenis ular mematikan, mulai dari jenis bandotan sampai weling. Ra Tanca sendiri kebal terhadap racun-racun itu karena selalu menelan empedunya, sebaliknya tidak dengan Jayanegara. Racun yang diminumkan kepada Raja Majapahit itu tentu merupakan jaminan, korban tak mungkin selamat. Namun, Gajah Mada tidak mau menyerah. Meski tidak seperti Ra Tanca yang amat menguasai ilmu pengobatan, walau sedikit Gajah Mada memahami bagian-bagian paling sederhana, seperti tindakan apa yang harus dilakukan untuk menawarkan racun yang telanjur masuk ke tubuh. Perintah diberikan kepada seorang prajurit untuk segera mencari kelapa muda dari jenis degan ijo yang diyakini mampu menawarkan berbagai jenis racun dengan menyerapnya.

32 Degan Ijo, Jawa, kelapa muda hijau yang secara ilmiah terbukti mampu meredam racun yang telanjur masuk ke tubuh.

Mayat Ra Tanca yang digotong keluar itulah yang dengan segera mengagetkan para kawula yang melakukan pepe di alun-alun. Sejak senja hingga petang ratusan orang berkumpul, bersama-sama mendoakan agar raja muda anak Raden Wijaya itu segera sembuh. Akan tetapi, yang tidak terduga terjadi. Arah angin mendadak berubah.

”Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya seorang prajurit yang belum mengetahui duduk persoalannya.

”Ra Tanca diminta mengobati Baginda, tetapi Ra Tanca malah meracun Sang Prabu,” jawab prajurit yang lain.

”Ha?” beberapa prajurit yang menggerombol terkejut.

Mayat Ra Tanca yang digotong keluar memang menimbulkan kecemasan, yang tak ubahnya penyakit lalu menular, menular dan menular, menulari siapa saja, menular dari prajurit ke prajurit, menular ke para abdi dalem istana, menular kepada beberapa orang yangmenggerombol tak jauh dari Purawaktra dan dengan segera berubahmenjadi ledakan yang amat menggelisahkan siapa pun.

Berita mengejutkan itu dengan segera menjalar ke sudut-sudut kotaraja. Nyaris semua kawula yang tinggal di balik dinding batas kotaraja terhenyak.

Kawula yang tinggal di luar dinding batas kotaraja ada juga yang mendengar berita itu.

Pancaksara mencatat semua kejadian itu, sebagaimana dahulu Pancaksara mencatat lewat barisan pupuh kakawin yang ditulis berdasar tuturan Samenaka yang amat ia cintai dan hormati, tentang bagaimana kesedihan sewarna menjalar saat dulu Prabu Kertarajasa Jayawardhanamangkat. Pancaksara mencatat semua kegelisahan. Pancaksara mencatat warna langit yang berubah menjadi lembayung dan kali ini ketika kematian Jayanegara terjadi, langit pun berwarna lembayung. Pancaksara juga mencatat tembang paling menyayat yang didendangkan seorang perempuan tua di kaki Bajang Ratu. Perempuan itu timpuh.

33 Bajang Ratu, nama pintu gerbang Istana Majapahit bagian selatan. Wujud Candi Bajang Ratu seperti terlihat pada sampul buku Gajah Mada karya pengarang dan penerbit yang sama. Bajang Ratu berarti raja kecil atau raja mahkota. Pintu gerbang Bajang Ratu juga disebut wijil kapindho dalam fungsinya sebagai pintu utama kedua setelah Purawaktra.

34 Timpuh, Jawa, duduk bersimpuh

Duh Gusti kang Maha Agung, mugi paringa kawelasan dhumateng sinuwun rajaning nagari, paringana panjang yuswanira, linuputna saking dosa.”

Manakala Pancaksara, sang juru warta itu mendekat, teraduk hatinya melihat mata perempuan itu berkaca-kaca. Sungguh, itu merupakan pertanda betapa perempuan itu sangat mencintai rajanya. Lembayung langit berubah menjadi gelap malam dengan bintangbintang bertaburan di nabastala.36 Ratusan orang tetap bertahan menunggu kabar terakhir bagaimana keadaan raja mereka. Mereka tetap bertahan dengan duduk hanya beralas rerumputan atau bersandar pagar ringin kurung yang memagari pohon bramastana berukuran amat besar di tengah alun-alun. Tanpa ada yang memerintah, beberapa orang menyalakan obor untuk menerangi. Mereka yang membaca pertanda alam makin gelisah karena sepasang burung gagak hinggap di salah satu dahan, dengan suaranya yang melengking menyebabkan siapa pun yang mendengar merasa tidak nyaman. Seseorang memungut sebuah batu berniat mengusir burung itu, tetapi seorang laki-laki tua pembaca pertanda alam melarang ia melakukannya.

Di bilik pribadi Sri Jayanegara, keadaan raja muda itu makin mengenaskan. Sekujur tubuhnya berubah menjadi biru karena bulirbulir darahnya mulai pecah. Ibu Ratu Tribhuaneswari dengan penuh rasa sayang membusai rambut ikalnya, sementara duduk di sebelahnya Ibu Ratu Narendraduhita memegang tangan Jayanegara. Meski Jayanegara bukan anak kandungnya, kasih sayang yang diberikan IbuRatu Narendraduhita tak ubahnya seperti kepada anak kandung sendiri.Ibu Ratu Pradnya Paramita tak kalah berduka. Dengan pandangan mata cemas, perempuan bertubuh langsing itu menumpangkan tangan kanannya di dada Jayanegara. Sementara itu, Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang sempat terguncang oleh kematian Ra Tanca yang terjadi di depan mata kembali berusaha membersihkan hati. Ratu Gayatri berusaha

35 Duh Gusti Kang Maha Agung, mugi paringa kawelasan dhumateng sinuwun rajaning nagari, paringana panjang yuswanira, linuputna saking dedosan, Jawa, Ya Tuhan Yang Mahabesar, berilah belas asih kepada raja negeri, berilah panjang usianya, bebaskan dari dosa-dosa.

36 Nabastala, Kawi, langit mengembalikan cara pandangnya bahwa apa yang terjadi itu telah tersurat, menjadi pepesthen37 yang telah digariskan Sang Pencipta semesta jagat raya.

Wajah Dyah Wiyat dan Sri Gitarja pucat pias melihat secara langsung napas Jayanegara yang kian melemah. Gajah Mada yang merasa keadaan Kalagemet tidak akan tertolong menunggu saat itu terjadi dengan jantung yang berlarian. Demikian tegangnya Gajah Mada sehingga tidak sadar gelung keling-nya terurai. Di belakang mereka masing-masing, berdiri Cakradara dan Kudamerta Breng Pamotan dengan raut muka tak kalah pucat. Pintu yang kemudian terbuka adalah untuk memberi kesempatan kepada Arya Tadah, Mahapatih Majapahit yang ingin mengetahui bagaimana keadaan rajanya. Tadah datang di saat yang tepat. Arya Tadah tidak datang terlambat untuk sekadar menjadi saksi. Bergegas Arya Tadah yang tua itu mendekat, gemetar tangannya menyentuh kaki Sang Prabu. Dan, suara bende Kiai Samudra itu…. Suara bende itu siapa pun tahu artinya. Senyap yang memberangus adalah nestapa bagi siapa pun yang mencintai Raja. Suaranya yang menggelegar terdengar sampai ke sudut-sudut kotaraja. Bende yang dipukul satu-satu, berjarak sedikit lebih lama dari isyarat kebakaran, merupakan pengulangan apa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya manakala raja pertama Majapahit yang sangat dicintai dan dihormati mangkat.

Senyap! Udara terasa hampa dan mengiris. Isak tangis meledak di istana. Segenap emban yang tinggal di bangsal khusus yang disediakan

37 Pepesthen, Jawa, takdir

38 Sri Gitarja, anak perempuan pertama buah perkawinan Raden Wijaya dengan Gayatri, Sri Gitarja

adalah kakak kandung Dyah Wiyat.

39 Gelung keling, Jawa, rambut yang diikat (digelung) melingkar di atas kepala. Zaman Majapahit lelaki terbiasa berambut panjang yang digelung di atas kepala. Sisa kebiasaan itu masih terlihat di pedesaan pulau Lombok.

40 Cakradara, calon (kelak) suami Sri Gitarja

41 Kudamerta (Kuda Amreta) Breng Pamotan, calon (kelak) suami Dyah Wiyat, kelak ia akan bergelar Bre Wengker Wijaya Rajasa Hyang Parameswara. Kudamerta juga memiliki nama abiseka, Sri Wijaya Rajasa Sang Apanji Wahninghyun.

42 Arya Tadah, Mahapatih Mangkubumi Majapahit memiliki nama lain Empu Krewes. Arya Tadah menggantikan Mahapatih sebelumnya, Kala Yudha.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara untuk mereka mengucurkan air mata. Kematian Sri Jayanegara sungguh merupakan kematian yang tidak diduga. Sakit Sang Prabu adalah sakit biasa. Ada yang menyebut badannya diserang demam panas, ada juga yang mengatakan Sri Jayanegara sakit di saluran kencingnya, ada yang menyebut Sang Prabu menderita bisul atau wudun di pantat. Pendek kata, sakit Sang Prabu hanya sakit biasa. Siang sebelumnya Sang Prabu bahkan masih sempat berjalan-jalan mengelilingi istana memerhatikankerusakan di bangunan pendapa istana sudut utara. Kedekatan emban dengan rajanya menyebabkan sangat mungkin seorang abdi bercanda dengan rajanya. Kini petang harinya, Raja tiba-tiba tiada. Laksana petir menggelegar ketika langit benderang warta itu menyengat gendang telinga.

”Sang Prabu,… Sang Prabu,” seorang emban bertubuh gemuk menangis amat sesenggukan. Emban gemuk itu bahkan semaput merepotkan beberapa prajurit yang terpaksa harus menggotongnya menepi.

Di antara para Ibu Ratu yang terpukul hatinya, hanya Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang bisa berpikir sangat tenang. Ratu Gayatri yang terlihat masih cantik karena kebersihan hatinya itu sibuk menenteramkan kakaknya, Ibu Ratu Tribhuaneswari yang amat terpukul. Sebenarnyalah dalam mencintai Sri Jayanegara, Tribhuaneswari merasa seperti dirinya yang melahirkan Kalagemet. Ketika dahulu Dara Petak masih hidup, Tribhuaneswari menyayangi maru itu tidak ubahnya menyayangi adik-adiknya. Sama sekali tak ada rasa cemburu di hatinya, tidak merasa iri meski Dara Petak dinaikkan derajatnya setara permaisuri dengan sebutan Stri Tinuhweng Pura, yang bermakna istri yang dituakan di pura.

Gajah Mada terbangun dari bingungnya ketika Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang berdiri bersebelahan dengan Mahapatih Arya Tadah menyentuh tangannya. Gajah Mada segera mengambil sikap dan memberikan penghormatannya.

43 Maru, Jawa, perempuan lain yang diperistri suami, dimadu

”Gajah Mada,” ucap Ratu Gayatri dengan suara sangat tenang.

”Hamba, Tuan Putri Ratu,” jawab Gajah Mada.

”Janganlah kau kehilangan akal, berpikirlah dengan tenang dan bertindaklah. Janganlah kau ikut-ikutan bingung sampai tidak tahu apa yang harus dikerjakan,” ucap Gayatri sambil mengalungkan selempang samir di lehernya.

Samir itu bukanlah sembarang samir karena dengan selempangsamir itu Gajah Mada memegang kekuasaan luar biasa untuk mengatur penyelenggaraan pemakaman Raja. Selempang samir itu juga menjadi pertanda segenap prajurit apa pun pangkatnya harus tunduk pada perintahnya.

Arya Tadah tidak mau ketinggalan. Arya Tadah melepas lencana kepatihan yang dikenakan dan menyematkan lencana itu ke dada kanan Gajah Mada. Siapa pun yang berhadapan dengan Gajah Mada tak ubahnya berhadapan dengan Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah sendiri.

Gajah Mada mengangguk dan segera memberikan sembah penghormatannya. Gajah Mada mengarahkan pandangan matanya ke arah Mahapatih Tadah, barangkali ada perintah lain. Akan tetapi, Arya Tadah hanya mengangguk. Seumur-umur belum pernah Gajah Mada melihat mata Arya Tadah basah. Namun, kematian Kalagemet berhasil memaksa mata kakek tua itu membasah. Mahapatih Arya Tadah memang layak kehilangan. Di sepanjang perjalanan hidupnya, ia mendampingi

Sri Jayanegara sedari masih bocah, dimulai jauh ketika Arya Tadah belum menjabat mahapatih. Bagi Arya Tadah yang uzur, Jayanegara tak ubahnya seperti anak kandungnya sendiri. Kematian Jayanegara melalui pembunuhan itu benar-benar mengiris hatinya.

Sembilan tahun yang lalu, ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti, Gajah Mada masih berpangkat bekel ketika memimpin pasukan Bhayangkara melakukan penyelamatan atas Sri Jayanegara melalui pengawalan luar biasa dengan menempuh perjalananamat jauh menusuk ke Pegunungan Kapur Utara. Karena jasa-jasa yang luar biasa itulah Gajah Mada dibebaskan dari tugas memimpin Bhayangkara dan kepadanya dianugerahkan jabatan sebagai patih di Jiwana mendampingi Sri Gitarja sebagai pemangku wilayah Kahuripan.

Terakhir Gajah Mada menduduki jabatan patih di Daha mendampingi Breh Daha atau Dyah Wiyat yang menjadi pemangku wilayah itu. Tugas berat memimpin dan membina pasukan Bhayangkaraselanjutnya diserahkan kepada Gajah Enggon yang juga memiliki nama Gajah Pradamba. Untuk kedudukan itu, pangkat Gajah Enggon dinaikkan menjadi senopati. Melihat sejarah di belakang, pasukanBhayangkara tidak mungkin melupakan Gajah Mada. Pengaruh Gajah Mada yang sangat kuat dan mengakar di pasukan itu menyebabkan GajahEnggon serasa berada di balik bayang-bayangnya.

Gajah Pradamba terpilih menjadi pimpinan pasukan Bhayangkara karena ia tidak mempunyai cacat. Sebaliknya, Gagak Bongol yang sangat berkeinginan menjadi orang pertama di pasukan pilihan itu terpaksa hanya bisa gigit jari. Sembilan tahun yang lalu Gagak Bongol melakukan kesalahan karena telah menghukum mati seorang prajurit Bhayangkarayang tidak bersalah. Kekeliruan itulah yang harus ditebusnya hingga kurun waktu yang panjang. Gagak Bongol mestinya harus berhadapan dengan Undang-Undang Kutaramanawa, namun Jayanegara telah menyelamatkannya. Tuduhan terhadap Gagak Bongol dapat dipatahkan dengan meletakkan kesalahannya pada Bango Lumayang atau Singa Parepen. Singa Parepen yang bersalah, bukannya Gagak Bongol.

”Perintah apa yang akan kauberikan kepadaku, Kakang Gajah?”

Patih Daha Gajah Mada mengarahkan perhatiannya ke kegelapan malam yang pekat, telinganya menangkap suara burung gagak di kejauhan.

”Siagakan pasukan dan siapkan apa pun yang dibutuhkan untuk pemakaman Sri Baginda,” Gajah Mada memberikan perintahnya. ”Tandya!” jawab pimpinan pasukan Bhayangkara Gajah Enggon sigap.

44 Tandya!, Jawa Kawi, isyarat jawaban atas perintah pada pasukan yang berarti siap!

Istana berduka. Bende Kiai Samudra terus dipukul tiada henti menjadi sebuah isyarat tanpa henti, memberi tahu siapa pun dan di mana pun bahwa Baginda Sri Jayanegara telah tiada. Segenap penduduk kotaraja dari ujung ke ujung sambung-menyambungkan warta itu lewat mulut ke mulut. Mereka yang saling berpapasan di sawah, atau para lelaki yangbaru turun dari hutan mencari kayu saling bertukar warta. Sementara itu, siapa pun yang belum menerima kabar mengenai kematian Raja segera mengetahui jawabnya melalui suara gelegar bende utama yang terus dipukul tidak ada hentinya.

Seorang blandong bergegas pulang dari mencari kayu di hutan mengusung gelisah di dadanya. Kepada seorang tetangga ia bergegas menumpahkan rasa kaget dan penasarannya.

”Itu isyarat kematian?” tanya lelaki itu.

”Ya,” jawab tetangganya.

”Siapa meninggal?” lanjut petani yang baru pulang dari sawah.

”Sinuhun46 mangkat.”

Betapa tegang petani itu, wajahnya menebal.

”Sinuhun Jayanegara?”

”Ya.”

Petani itu terhenyak. Oleh alasan yang hanya ia sendiri yang mengetahui, petani itu jatuh terduduk dan menangis sesenggukan, bahkan meraung-raung.

Gelegar Kiai Samudra masih berkumandang menyapa petang, menyapa siapa saja. Tak hanya gelegar Kiai Samudra tanda isyarat yangdilepas dari istana, ketika sebuah sangkakala ditiup melengking disusulbeberapa anak panah berapi dikirim memanjat langit, segenap prajurit yang melihat isyarat itu bergegas mengartikannya.

45 Blandong, Jawa, orang yang pekerjaannya menebang kayu di hutan, di zaman modern blandong berarti pencuri kayu hutan.

46 Sinuhun, Jawa, panggilan untuk raja

Manakala lima buah panah sanderan membubung dengan membawa suara melengking memekakkan telinga maka segera dijawab oleh

melesatnya anak panah sanderan pula dari beberapa tempat sebagai

jawaban, tanda memahami perintah itu. Tambur ditabuh berderap di

belakang dinding Sentanaraja.47 Tambur juga dipukul di Jatipasar,48 orangorang

yang berniat menggiring pulang ternak gembalaannya dari

lapangan Bubat49 terhenyak.

Isyarat panah sanderan susul-menyusul berbaur sangkakala dan

tambur itu dengan segera diterjemahkan dengan tegas dan jelas. Beberapa

perintah segera disalurkan ke bangsal-bangsal kesatrian dan Sentanaraja

yang terletak di arah barat laut istana, di arah kiri lapangan depan

bersebelahan dengan parit pelindung istana sekaligus segera

menyibukkan balai pertemuan para kesatria yang bersebelahan di sisi

kanan Tatag Rambat50 Bale Manguntur. Dengan ayunan langkah lebih

lebar dari biasanya, para prajurit berpakaian menurut ciri-ciri kesatuan

masing-masing bergegas menuju alun-alun. Ketika segenap pasukan

mulai memenuhi alun-alun terdengar aba-aba yang diucapkan dan

dijawab sangat sigap.

Para wadyabala sumadya, tandya!”51 terdengar sebuah perintah.

Tandya,” terdengar jawaban serentak.

Diterangi cahaya obor dan dalam balutan kabut yang mulai turun,

Gajah Mada segera menempatkan diri siap memberikan sesorah.52 Segenap

prajurit yang berasal dari gabungan tiga kesatuan yang pernah bertikai

tidak ada yang merasa keberatan Gajah Mada menempatkan diri di

tempat yang sangat terhormat itu. Segenap pasukan siap menyimak.

Para kawula yang berdiri di luar barisan ikut mendengarkan.

47 Sentanaraja, kompleks perumahan kerabat istana, nama itu tetap ada hingga sekarang.

48 Jatipasar, nama tempat tak jauh dari lapangan Bubat, nama itu tetap ada hingga sekarang.

49 Bubat, nama tanah lapang yang di kemudian hari menggegerkan. Di tempat ini atas perintah Gajah

Mada, Raja Pajajaran dan anak perempuannya dibantai.

50 Tatag Rambat, nama lain dari Bale Manguntur atau Balairung

51 Para wadyabala sumadya, tandya, Jawa, pasukan siap, gerak!

52 Sesorah, Jawa, pidato

20 Gajah Mada

Gajah Mada yang semula hanya berpangkat bekel terbukti mampu

melakukan tindakan yang luar biasa. Melalui kecerdasannya, sembilan

tahun lalu Ra Kuti dibuat pontang-panting kebingungan dalam memburu

Jayanegara. Di puncak kemelut yang terjadi, Gajah Mada bahkan berhasil

membungkam Ra Kuti dan anak buahnya untuk selamanya.

Lebih dari itu, kini Gajah Mada sedang mengenakan selempang

samir khusus yang diterima dari Ratu Gayatri, yang merupakan pertanda

ia mempunyai hak memberikan sesorah dalam pertemuan di alun-alun

itu. Dari bentuk lencana dan warnanya yang gemerlap kekuningan, siapa

pun tahu Gajah Mada juga sedang mengemban kekuasaan Mahapatih

Arya Tadah.

Pada jarak yang sebenarnya tidak seberapa jauh, berbaur dengan

segenap kawula yang berduka, Pancaksara mempersiapkan alat tulisnya.

”Hari ini kita kehilangan besar, Baginda Prabu Sri Sundarapandyadewanama

Maharajabhiseka Sri Wisnuwangsa, mangkat!”

Bergetar alun-alun itu karena Patih Daha Gajah Mada berbicara

langsung pada pokok persoalan.

”Rasanya seperti tidak ada manfaatnya berhasil menyelamatkan

Tuanku Sri Jayanegara ke Bedander nawa surya lalu jika akhirnya tangan

jahat itu tetap berhasil menjangkau. Ra Tanca diampuni, Ra Tanca yang

selama ini dianggap kembali bersih hatinya terbukti masih ada bulubulu

yang tumbuh di jantungnya. Ra Tanca yang diminta mengobati

Tuanku Baginda justru meracunnya. Apa yang menimpa Baginda

setidaknya harus menjadi renungan bagi siapa pun untuk jangan cobacoba

melakukan tindakan makar, yang terbukti petualangan macam itu

menyengsarakan siapa saja

Kata-kata Gajah Mada itu sangat menggema, berdentang-dentang

di segenap dada yang tidak seorang pun membantah kebenarannya

”Atas nama istana, juga atas perintah Mahapatih Arya Tadah, dengan

ini aku perintahkan untuk mengibarkan bendera gula kelapa53 setengah

53 Gula kelapa, sebutan untuk bendera merah putih

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 21

tiang selama sepekan penuh sebagai pertanda berkabung. Sebarkan warta

duka pralaya54 atas mangkatnya Sang Prabu ke segenap sudut pelosok.

Terakhir, aku perintahkan untuk dilakukan langkah-langkah yang

diperlukan terkait pemakaman Sri Baginda. Perintahku cukup jelas untuk

dikerjakan.”

Sebagai sebuah negara besar dan berdaulat, Majapahit memiliki

panji-panji lambang negara, di antaranya adalah bendera gula kelapa

yang bermakna sang saka merah putih. Di samping gula kelapa, Majapahit

memiliki cihna55 yang dibatik di atas lembaran kain dengan corak gringsing

lobheng lewih laka,56 yang melatari gambar buah wilwa.57 Pembuatan

lambang berlatar corak geringsing yang demikian memiliki cerita

tersendiri. Dahulu ketika Raden Wijaya berusaha menyelamatkan diri

dari kejaran Mahisa Mundarang, pimpinan prajurit Kediri yang menyertai

rajanya, Jayakatwang, yang menyerbu Singasari, semangat Raden Wijaya

dan para pengikutnya, antara lain Lembu Sora, Gajahpagon, Mahisa

Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Wirota Wiragati, Kebo Kapetengan serta

Pamandana kembali meluap ketika mengenakan cawat bercorak

geringsing. Dengan semangat yang berkobar amat makantar-kantar,58

Raden Wijaya kembali menyerbu masuk ke Singasari. Akan halnya

lambang buah maja yang terletak di tengah-tengah, berlatar peristiwa

yang terjadi ketika dilakukan babat hutan Tarik. Dalam keadaan lapar,

lelah, dan menderita, salah seorang prajurit mendapat buah maja. Akan

tetapi, buah tersebut terasa pahit ketika dimakan, peristiwa yang

kemudian menjadi sumber gagasan penamaan negara menjadi Majapahit.

Gajah Mada tidak merasa perlu berbicara berlama-lama, apa yang

diucapkan Ratu Gayatri cukup sekali dan sudah jelas. Kepada Senopati

Gajah Enggon, pimpinan pasukan Bhayangkara yang baru, Gajah Mada

menyerahkan kendali untuk mengatur segala macam tindakan dan

langkah yang perlu diambil. Gajah Mada berbalik dan melangkah kembali

ke istana. Akan tetapi, sebuah sapa menghentikan langkahnya.

54 Pralaya, Jawa Kawi, kematian

55 Cihna, Jawa Kuno, lambang negara

56 Gringsing lobheng lewih laka, Jawa Kuno, pola geringsing merah

57 Wilwa, Jawa/Jawa Kuno, buah maja

58 Makantar-kantar, Jawa, keadaan ketika lidah api sampai menjilat-jilat.

22 Gajah Mada

”Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan kepadamu, Gajah Mada,”

suara orang itu dari jarak yang cukup jelas.

Gajah Mada amat mengenali suara itu, juga mengenali orangnya.

”Ikut aku,” jawabnya pendek.

Orang yang meminta perhatian Gajah Mada, ia adalah Pancaksara,

segera bergegas menyamakan lebar langkah kaki mengikuti Gajah Mada

masuk ke dalam lingkungan istana. Pancaksara mengira Gajah Mada

akan membawanya masuk ke istana, ternyata dugaan itu salah. Gajah

Mada justru mengajaknya naik ke atas dinding yang bersebelahan dengan

Purawaktra. Dari tempat itu alun-alun terlihat dengan jelas. Gajah Mada

menebarkan pandangan.

”Ceritakan apa yang terjadi,” kata juru warta Pancaksara.

Gajah Mada menoleh dan memandang wajah Pancaksara

menembus benaknya sampai ke lipatan-lipatan yang paling dalam.

Pancaksara tidak tersenyum. Ketika Gajah Mada masih lama terdiam,

itu bukan berarti ia harus mengulangi pertanyaan yang diajukan.

Pancaksara memilih menunggu.

”Umur berapa kamu saat Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana

mangkat?” Gajah Mada justru melontarkan pertanyaan.

”Kenapa?” balas Pancaksara.

”Jawab saja pertanyaanku,” lanjut Gajah Mada.

”Kurasa kita sebaya, ketika itu aku bocah sekali. Karena masih bocah

aku tentu belum menggagas menulis Negarakertagama, namun aku

mencatat suasananya sama seperti yang kita rasakan kali ini. Bau

udaranya, bahkan angin yang bertiup.”

Gajah Mada kembali terdiam beberapa jenak.

”Apa yang kamu tulis?” tanya Gajah Mada.

”Negarakertagama,” jawab Pancaksara. ”Aku telah menyiapkan

judulnya, tetapi penulisannya sendiri masih membutuhkan waktu

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 23

panjang. Negarakertagama bagiku merupakan mimpi yang harus

kuwujudkan. Butuh waktu dan kesabaran, saat ini aku baru memulai.”

Pandangan Gajah Mada menerawang, menggerataki wajah langit

yang bopeng-bopeng karena mendung di sana sini, sementara bintangbintang

tak tampak gemerlapnya.

”Sama, saat itu aku juga masih bocah. Berapa tahun kejadian itu

berlalu?”

Pancaksara memejamkan mata untuk membuat hitungan-hitungan.

”Sembilan belas tahun,” jawabnya tenang.

”Sembilan belas tahun. Ternyata Sang Prabu memerintah dalam

waktu yang sependek itu,” gumam Gajah Mada.

Ternyata Pancaksara tak sependapat dengan ucapan Gajah Mada.

”Salah,” balas Pancaksara, ”Tuanku Jayanegara menyelenggarakan

pemerintahan tiga tahun lebih lama. Mendiang Baginda Raden Wijaya

hanya enam belas tahun. Sri Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabumi,59

pendiri wangsa Rajasa justru hanya lima tahun.”

Gajah Mada terheran-heran.

”Prabu Ken Arok memerintah hanya lima tahun?” letupnya.

”Ya,” jawab Pancaksara. ”Umur Singasari yang perjalanannya penuh

cerita makar itu hanya tujuh puluh tahun. Hanya seumur manusia.”

Gajah Mada menghirup udara yang amat menyesakkan dadanya

dalam-dalam. Serasa masih kurang diulanginya lagi perbuatan itu. Dari

ketinggian dinding Purawaktra, Gajah Mada bisa menyaksikan kesibukan

yang terjadi di alun-alun. Jika ia berbalik ke belakang, kesibukan di

lingkungan Bale Manguntur60 terlihat dengan amat jelas. Gajah Mada

yang menyapu pandangan matanya bisa menandai pohon-pohon cemara

yang menjulang tinggi di Antahpura. Dari tempatnya berada, puncak

59 Sri Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabumi, gelar Ken Arok, Raja Singasari pertama sebagaimana

disebut Pararaton, juga Kidung Harsa Wijaya pupuh 2 dan 35b.

60 Bale Manguntur, juga disebut Tatag Rambat adalah Balairung istana.

24 Gajah Mada

gerbang Bajang Ratu terlihat dengan jelas. Sementara jika Gajah Mada

berbalik, lima batang pohon bramastana dengan daun lebat layak dicurigai

sebagai sarang hantu. Bocah-bocah meyakini itu karena bila orang tua

mereka kesulitan menidurkan anaknya, diceritakanlah tentang hantuhantu

penghuni beringin yang gemar berburu bocah yang tidak mau

tidur.

”Akan ada sebuah pertanyaan yang segera bergayut di benak siapa

pun setelah kematian ini,” Pancaksara berbicara datar, tetapi merupakan

sebuah pancingan yang menggelitik.

Pertanyaan itu sejatinya telah menggoda isi kepala Gajah Mada.

Telah terlontar beberapa saat sebelum Jayanegara menghela tarikan napas

pamungkasnya dan amat diyakini racun yang diminumkan Ra Tanca

tidak akan bisa dilawan.

”Kautahu jawabnya?” lanjut Pancaksara.

Patih Daha Gajah Mada menggeleng.

”Aku tidak tahu,” jawabnya.

Pancaksara meraba kening.

”Apakah makin jaya negeri ini dipimpin oleh seorang perempuan?”

Pancaksara menambah.

Gajah Mada menerawang. Ketika memejam mata yang segera

terbayang adalah wajah Sekar Kedaton61 Sri Gitarja dan Dyah Wiyat.

Apakah salah satu dari mereka yang akan dinobatkan menjadi raja

menggantikan saudaranya. Kemungkinan itu ada, namun bisa pula para

Ibu Ratu, orang-orang yang paling berhak mengambil keputusan punya

jawaban lain.

”Tak masalah,” jawab Gajah Mada, ”yang penting harus didampingi

oleh sosok yang memiliki tulang punggung kuat. Ke depan Majapahit

harus makin kuat, jaya, dan cemerlang.”

61 Sekar Kedaton, Jawa, kembang istana, sebutan untuk Sri Gitarja dan Dyah Wiyat.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 25

Pancaksara beberapa jenak terdiam.

”Kau benar,” ucapnya. ”Putri Shima, Ratu Kalingga, seorang

perempuan, tetapi ia memiliki ketegaran dan kekuatan tidak kalah dari

laki-laki.”

Dengan segera arah perhatian Pancaksara tertuju pada anak

perempuan mendiang Raden Wijaya yang terlahir dari Ratu Gayatri.

Dalam usianya yang masih belia, Sri Gitarja telah menyandang kedudukan

yang tidak bisa dianggap ringan. Kepadanya telah diserahkan tugas untuk

menjadi wali pemangku Istana Kahuripan. Itu sebabnya, padanya melekat

gelar Breh Kahuripan. Dengan kedudukannya sebagai anak yang lebih

tua, adakah dengan demikian Sri Gitarja harus melaksanakan tugas amat

berat mengemban kedudukan sebagai ratu menyelenggarakan

pemerintahan?

Gajah Mada melihat, Sri Gitarja terlalu rapuh untuk tugas raksasa

itu. Dalam beberapa hal, adiknya justru mempunyai sikap yang lebih

menonjol, lebih tegar, dan lebih tegas, semua sikap yang diperlukan oleh

seorang raja yang padanya melekat sifat sabda pandita ratu.62

”Sekar Kedaton Sri Gitarja mempunyai calon suami,” pancing

Pancaksara.

Patih Daha Gajah Mada berbalik dan menatap lawan bicaranya

dalam-dalam. Akan tetapi, dengan segera bayangan wajah Cakradara

bagai hadir di depan matanya. Apa yang diucapkan Pancaksara memang

harus dicermati. Apabila kekuasaan dan penyelenggaraan pemerintahan

diberikan kepada Sri Gitarja, lantas bagaimana peran Cakradara?

Mampukah Cakradara menjadi tulang punggung mendampingi istrinya

menyelenggarakan pemerintahan? Pun sebaliknya, bila Dyah Wiyat yang

dipilih menggantikan kakaknya, apakah Kudamerta mampu menjadi

tulang punggung yang kukuh sebagai sandaran istrinya?

Memang sama sekali tak ada masalah dengan Sri Gitarja maupun

Dyah Wiyat, pun tidak ada masalah dengan Cakradara yang juga dipanggil

62 Sabda pandita ratu, Jawa, sabda raja yang bermuatan hukum. Itulah sebabnya, harus benar-benar

mencerminkan kebenaran dan keadilan.

26 Gajah Mada

dengan sebutan Cakreswara Breh Singasari yang nantinya akan menjadi

suami Sri Gitarja. Demikian pula tak ada masalah dengan Kudamerta

yang kelak akan memperistri Dyah Wiyat. Yang mencemaskan Gajah

Mada justru pihak-pihak yang berada di belakang kedua kesatria itu.

Telik sandi pasukan Bhayangkara telah menemukan jejak aneh gerakan

mereka. Hal yang menyebabkan Gajah Mada dengan kedudukan sebagai

patih di Daha harus meninggalkan tempatnya kembali ke Ibukota

Majapahit. Dengan memanfaatkan telik sandi pasukan Bhayangkara yang

kini dipimpin Senopati Gajah Enggon dan saluran yang lain, Gajah Mada

berusaha mencari jawab teka-teki yang mencemaskan itu.

Setelah jasa besar yang diperbuatnya ketika melakukan penyelamatan

Raja dari makar yang dilakukan Ra Kuti, Gajah Mada memperoleh

anugerah dengan kedudukan sebagai Patih Kahuripan di Jiwana yang

dilanjutkan anugerah itu dengan menjabat patih di Daha. Pangkat yang

melekat di samirnya bukan lagi seorang bekel. Meski tugas dan jabatannya

tidak di kotaraja, nyatanya Gajah Mada lebih banyak berada di kotaraja

karena akhir-akhir ini Sri Jayanegara lebih banyak membutuhkan tenaga

prajurit muda itu. Pergerakan aneh dari sekelompok orang memaksa Sri

Jayanegara memanggil bekas pimpinan Bhayangkara yang amat didengar

pendapat dan sarannya.

Gajah Mada bergeser bersandar dinding.

”Tolong ceritakan bagaimana sebenarnya silsilah raja-raja yang

memerintah negeri ini,” ucapnya sambil memejamkan mata.

”Ahh, bukankah kau sudah tahu?” jawab Pancaksara.

”Aku ingin lebih meyakinkan, tolong,” balas Gajah Mada.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 27

2

Jika dirunut jauh ke belakang, awalnya Ken Arok yang kelak di

kemudian hari bergelar Sri Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabumi

hanyalah sampah masyarakat belaka. Namanya melekat dengan

sarangnya, Padang Karautan,63 yang berada tidak jauh dari Istana

Singasari. Ia terkenal sebagai maling, perampok, penyamun, dan

perbuatan tidak terpuji lainnya. Meski ia seorang penyamun, otaknya

jalan dan encer, bahkan jahat. Setidaknya Ken Arok, anak pasangan

suami istri Gajah Para dan Ken Endok ini bisa menggunakan akalnya

untuk menggapai sebuah tujuan yang sungguh luar biasa, menjadi raja.

Sebuah kesempatan yang ia peroleh setelah Brahmana Lohgawe64

membawanya ke Istana Pakuwon Tumapel.

Berbekal pengalaman sebagai perampok, membunuh bukan hal luar

biasa baginya. Pembunuhan pertama ia lakukan kepada pembuat keris

bernama Empu Gandring,65 yang membuatnya jengkel karena telah

sekian lama keris pesanannya belum rampung juga. Keris yang dipesan

masih belum sempurna, gagangnya masih gagang sementara yang terbuat

dari dahan cangkring.66 Dengan bengis Ken Arok membenamkan pusaka

itu ke dada pembuatnya, Empu Gandring, yang kemudian menjatuhkan

kutukan bahwa kelak keris itu akan meminta banyak nyawa, termasuk

nyawa Ken Arok.

Kebengisan berdarah dingin dan menghalalkan segala macam cara

ditimpakan pula kepada Kebo Ijo,67 yang kepadanya keris itu dipinjamkan

63 Padang Karautan, sarang persembunyian Ken Arok ketika menjadi penyamun versi SH Mintardja,

penulis Bara di Atas Singgasana.

64 Brahmana Lohgawe, nama ini sangat terkenal dalam perjalanan sejarah Singasari. Brahmana Lohgawe

membawa Ken Arok menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk diabdikan sebagai prajurit, namun

Ken Arok justru membunuh Akuwu Tunggul Ametung.

65 Empu Gandring, seorang empu pembuat keris yang mati di tangan Ken Arok, yang tidak sabar

menunggu penyelesaian pembuatan pusaka itu.

66 Cangkring, Jawa, dahan bambu

67 Kebo Ijo, nama prajurit Singasari yang menjadi korban fitnah Ken Arok.

28 Gajah Mada

sehingga kemudian banyak orang di Tumapel mengira keris yang

menancap di dada Akuwu68 Tunggul Ametung69 adalah milik Kebo Ijo

karena sebelumnya ke mana-mana Kebo Ijo selalu pamer keris itu. Tanpa

banyak bicara Ken Arok membunuh Kebo Ijo sebagai tertuduh, dengan

mengabaikan saksi yang terbungkam mulutnya, Ken Dedes, anak seorang

empu linuwih, Empu Purwa dari Panawijen.

Kemudian terjadilah perkawinan antara Ken Arok dan Ken Dedes

yang dari awal benar-benar sudah dirancang oleh Ken Arok, bukan

sekadar oleh alasan betis Ken Dedes bercahaya. Ken Arok mengawini

Ken Dedes meskipun perempuan ini sedang hamil dari suaminya

terdahulu. Dengan demikian, ia berhasil menggapai tahapan awal dari

rencana jangka panjang yang dirancangnya. Dengan mengawini Ken

Dedes, Ken Arok dengan sendirinya memperoleh kedudukan sebagai

akuwu di Tumapel. Di samping Ken Dedes, Ken Arok juga mengawini

Ken Umang.

Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok berputra antara

lain Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu.

Sementara itu, dari perkawinannya dengan Ken Umang, Ken Arok

berputra Tohjaya, Panji Sudhatu, Panji Wergola, dan Dewi Rambi.

Bahwa Ken Arok benar-benar berkeinginan menjadi raja, hal itu

bisa dilihat dari Kediri yang menyerbunya. Perang pecah di sebuah tempat

bernama Ganter. Pasukan Kediri di bawah kendali Sri Kertajaya70 yang

sering disebut sebagai Prabu Dangdang Gendhis dengan kekuatan jauh

lebih besar bisa dikalahkan. Sri Kertajaya terbunuh dalam perang itu.

Puncak kekuasaan kemudian berhasil ia peroleh, sekaligus menjadi

awal kemelut berkepanjangan dan berdarah-darah. Ken Arok menjadi

raja pertama Singasari, beribu kota di Tumapel mulai 1222 hingga 1227,

dalam waktu hanya lima tahun.

Anusapati71 yang tidak bisa menerima kematian ayahnya, atau

barangkali oleh alasan yang lain, ia merebut kekuasaan. Dengan

68 Akuwu, penguasa wilayah setara kabupaten, wilayahnya disebut pakuwon.

69 Tunggul Ametung, suami pertama Ken Dedes

70 Sri Kertajaya, raja Kediri terakhir sebelum Singasari berdiri.

71 Anusapati, anak Ken Dedes dari suami pertama, Akuwu Tunggul Ametung

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 29

meminjam tangan pengalasan dari Batil, yang kepadanya dipinjamkan keris

Empu Gandring, Ken Arok dibunuh. Anusapati naik takhta dan

memimpin negara lumayan lama, selama 21 tahun dari tahun 1227 hingga

1248 bergelar Anusanatha.

Akan tetapi, Tohjaya72 tidak bisa menerima kematian ayahnya.

Melalui tipu daya adu jago di sebuah pasar, Anusapati dibunuh. Anusapati

dicandikan di Kidal. Tohjaya menggantikan naik takhta, menjadi raja

yang ternyata tidak lebih dari setahun pada 1248.

Kematian berbalas kematian masih berlanjut. Ranggawuni73

menabuh genderang perang bahu-membahu dengan saudara sepupunya,

Mahisa Cempaka.74 Mereka melakukan serbuan hingga Tohjaya harus

melarikan diri terbirit-birit dan mati dibunuh oleh pengusung tandunya

sendiri.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, menyelenggarakan

pemerintahan atas Singasari secara bersama-sama. Ranggawuni bergelar

Sri Jayawisnuwardhana, sementara Mahisa Cempaka bergelar Ratu

Angabhaya atau juga disebut Narasinghamurti. Pemerintahan kakak

beradik ini lumayan lama dan tenteram mencapai 20 tahun, yaitu sejak

1248 hingga 1268. Sri Jayawisnuwardhana meninggal di Mandaragiri

1268 dan dicandikan sebagai Siwa di Jayaghu.

Raja Singasari berikutnya adalah Kertanegara, anak Ranggawuni

yang ngelar75 jajahan hingga ke Sumatera, Pahang, Bakalapura, dan Gurun.

Baginda Kertanegara yang memimpin negeri selama 24 tahun, yaitu sejak

1268 hingga 1292 memiliki enam orang anak,76 empat di antaranya

dikawinkan semua dengan Raden Wijaya.

Mengapa Kertanegara demikian menyayangi Raden Wijaya sampai

keempat anak perempuannya dinikahkan semua dengannya? Hal itu tidak

lain karena Raden Wijaya adalah anak dari Lembu Tal, sementara Lembu

72 Tohjaya, anak Ken Arok buah perkawinannya dengan Ken Umang

73 Ranggawuni, anak Anusapati

74 Mahisa Cempaka, anak Mahisa Wonga Teleng

75 Ngelar, Jawa, melebarkan kekuasaan

76 Dari perkawinannya dengan Bajra Dewi, Kertanegara mempunyai 6 orang anak, masing-masing Sri

Wiswarupa Kumara, Tribhuana, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Gayatri, dan anak bungsu yang

dikawinkan dengan Ardaraja.

30 Gajah Mada

Tal adalah anak Mahisa Cempaka. Mahisa Cempaka adalah sepupu

ayahanda Sri Kertanegara sendiri.

Singasari runtuh karena serbuan Raja Jayakatwang dari Gelang-

Gelang, yang rupanya masih menyimpan dendam negara leluhurnya,

Kediri, pernah dihancurkan. Serbuan Jayakatwang ini dilakukan tepat

ketika Singasari dalam keadaan kosong. Jayakatwang mampu menusuk

pada saat yang tepat karena petunjuk bekas pejabat istana, Wiraraja77

yang kecewa karena dilorot jabatannya sebagai demang78 oleh Raja

Kertanegara dan menduduki jabatan sebagai bupati di Sumenep.

Raden Wijaya yang berhasil memanfaatkan tentara dari Mongol

untuk menggilas Jayakatwang, mendadak melakukan tikaman ketika

pasukan Mongol tidak siap, dan sisanya kembali berlayar pulang ke

negerinya.

Raden Wijaya mendirikan negeri baru yang diberi nama Wilwatika,

yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Majapahit. Raden Wijaya

dinobatkan menjadi Raja Majapahit pertama pada tanggal 15 bulan

Karttika dalam sengkala Ri Purneng Karttikamasa pancadasi79 bergelar Sri

Kertarajasa Jayawardhana yang memerintah selama 16 tahun sejak 1293

hingga 1309. Sepanjang perjalanan pemerintahan itu, bukan berarti

Raden Wijaya melaluinya tanpa gejolak karena ketidakpuasan dari orangorang

yang semula mendukungnya mengemuka dalam bentuk makar.

Ranggalawe80 tercatat dalam Kidung Ranggalawe yang entah siapa

penulisnya, meneriakkan dendang pemberontakan. Ia lakukan itu akibat

merasa kecewa karena Nambi81 diangkat menjadi patih amangkubumi,

padahal Ranggalawe merasa perjuangan Nambi dan sumbangsihnya

untuk Majapahit belum ada apa-apanya dibanding apa yang ia lakukan,

sementara ia hanya diberi jabatan sebagai adipati di Tuban. Patih

77 Wiraraja, juga bernama Banyak Wide dan Arya Adikara

78 Demang, salah satu penyebab kekecewaan Arya Wiraraja kepada Raja adalah karena jabatannya dilorot

dari demang menjadi bupati. Yang demikian ini membingungkan para ahli karena pada zaman

berikutnya, misalnya zaman Mataram baru (Sutawijaya) kedudukan bupati lebih tinggi dari demang.

Dengan demikian, pada zaman Majapahit kedudukan bupati justru lebih rendah dari demang.

79 Ri Purneng Kartikkamasa Pancadasi, Jawa Kuno, tahun 1215 saka atau bertepatan 12 november

1923 sebagaimana tertera dalam Kidung Harsa Wijaya.

80 Ranggalawe, sahabat Raden Wijaya, teman seperjuangan dalam membangun Majapahit, bahumembahu

menghadapai pasukan Tartar. Ranggalawe adalah anak Arya Wiraraja atau Banyak Wide

yang di usia tua bernama Arya Adikara.

81 Nambi, dalam Kidung Pararaton dan Harsa Wijaya disebut Nambi adalah juga anak Arya Wiraraja,

sementara dalam Kidung Sorandaka disebut Nambi anak Pranaraja.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 31

amangkubumi adalah jabatan yang terhormat karena ia orang kedua

setelah raja, sementara adipati meski membawahi sebuah wilayah yang

cukup luas, kedudukan itu masih kalah bobot dari jabatan mahapatih.

Dengan pasukan berkekuatan segelar sepapan, Nambi menyerang

Tuban. Nambi yang duduk di atas kuda bernama Brahma Cikur82

dihadapi Lawe yang duduk di atas kuda kesayangannya bernama Nila

Ambara83 yang juga disebut Mega Lamat.84 Namun, kekhawatiran Nyai

Mertaraga dan Nyai Tirtawati, dua orang istri Lawe menjadi kenyataan.

Ranggalawe mati bukan oleh Nambi, namun justru Kebo Anabrang

yang memberangus nyawanya. Sementara itu, Kebo Anabrang mati di

tangan Sora,85 yang tidak bisa menerima kematian Ranggalawe86 yang

demikian besar sumbangan perjuangannya pada Majapahit. Kebo

Anabrang meninggalkan seorang anak bernama Kebo Taruna atau Kebo

Anabrang Taruna yang menurut Undang-Undang Kutaramanawa87

punya hak untuk menuntut balas kematian ayahnya. Menurut undangundang

tersebut, Lembu Sora bisa dihukum mati. Salah satu ayat Kitab

Kutaramanawa menyebut siapa yang melakukan pembunuhan, sebagai

hukumannya ia harus dibunuh. Mahapati88 memanfaatkan itu sebagai

bahan fitnahnya. Lembu Sora yang amat berpeluang menjadi pesaing

nafsunya berada di sasaran bidiknya.

Kematian Ranggalawe memang layak ditangisi setidaknya oleh Nyai

Mertaraga dan Nyai Tirtasari, yang memutuskan bunuh diri untuk

menemani suaminya. Arya Adikara atau Banyak Wide yang juga bernama

Arya Wiraraja sangat kecewa atas kematian putra kesayangannya. Ia

memutuskan menghadap Sang Prabu untuk menagih janji. Dahulu ketika

82 Brahma Cikur, kuda Nambi sebagaimana diuraikan dalam Kidung Ranggalawe.

83 Nila Ambara, kuda Ranggalawe sebagaimana diuraikan dalam Kidung Ranggalawe.

84 Mega Lamat, penyebutan nama kuda ini agak membingungkan karena tak mungkin seorang

menunggang dua kuda sekaligus, boleh jadi Mega Lamat adalah nama lain dari Nila Ambara, atau

kemungkinan lain, Mega Lamat adalah kuda yang digunakan menghadapi Nambi, sebaliknya Nila

Ambara kuda lain yang digunakan menghadapi Lembu Anabrang.

85 Sora, salah seorang sahabat Ranggalawe, pejabat penting di Majapahit.

86 Kematian Ranggalawe, terdapat hal yang saling bertentangan tentang berita ini, Pararaton menyebut

kematian Sora dibunuh oleh Lembu Anabrang. Sebaliknya, Kidung Ranggalawe menyebut Anabrang

dibunuh oleh Sora. Dari dua versi cerita itu keterangan dari Kidung Ranggalawe lebih bisa dipercaya

karena referensi pengarangnya tentu lebih akurat menilik ia memilih Ranggalawe sebagai judul

kidungnya.

87 Kutaramanawa, Kitab Undang-Undang Majapahit, sekarang semacam KUHP.

88 Mahapati, sosok pejabat penting di Majapahit, baik Pararaton maupun Kidung Sorandaka menyebut

tokoh ini. S. Tidjab, pengarang drama Tutur Tinular memberinya nama Ramapati.

32 Gajah Mada

Raden Wijaya terbirit-birit meminta perlindungan ke Sumenep, ia berjanji

kelak akan membagi dua kerajaan dengan Wiraraja. Raden Wijaya

memenuhi janji itu dengan menyerahkan wilayah negara bagian timur

ke selatan hingga pantai yang memuat tiga juru.89 Sejak itu Arya Adikara

berdiri sendiri sebagai raja di Lumajang dan tidak harus menghadap

raja.

Usai persoalan Ranggalawe, ketenangan pemerintahan Majapahit

kembali terusik. Kali ini yang melakukan makar adalah Lembu Sora,

yang terpaksa berhadapan dengan kekuatan Majapahit karena hasutan

Mahapati yang merasa Lembu Sora merupakan batu sandungan

mimpinya menggapai jabatan mahapatih. Tarikh saka 1222 atau masehi

1300, pemberontakan itu terangkai dalam Kidung Sorandaka yang

merupakan padanan kata dari Andakasora atau Lembu Sora. Dalam

peristiwa itu, Sora, Gajah Biru, dan Juru Demung90 gugur. Berhasil siasat

Mahapati dalam menggapai mimpi-mimpinya.

Tindakan makar masih akrab dengan Majapahit. Ketika

pemerintahan bergeser ke tangan Jayanegara, justru Patih Nambi, orang

yang mestinya tidak mungkin melakukan pemberontakan terpaksa

mengangkat senjata. Nambi memberontak hanyalah korban dari gelegak

nafsu Mahapati yang amat ingin menduduki jabatan mahapatih. Nambi

dihasut, raja juga dihasut, Mahapati menyebar fitnah ke sana sini,

menyudutkan Nambi yang terpaksa harus membangun benteng di

Pajarakan, memperkuat kekuatan di Ganding dan Lumajang. Namun,

tanpa ampun Sang Prabu Jayanegara yang terhasut fitnah Mahapati

menggilasnya.

Lalu Ra Kuti….

89 Tiga juru, dua kata tersebut penulis tidak memahami apa maksudnya.

90 Sora, Gajah Biru, dan Juru Demung gugur, dalam Kidung Sorandaka disebut, Juru Demung dan

Gajah Biru gugur bersama Sorandaka. Sebaliknya, dalam Pararaton disebut mereka terbunuh dalam

pemberontakan terpisah, Juru Demung gugur tahun saka 1235 atau masehi 1313, Gajah Biru tahun

saka 1236 atau masehi 1314.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 33

3

Gajah Mada tentu tidak mungkin melupakan bagaimana sepak

terjang Ra Kuti karena ia terlibat secara langsung dalam peristiwa itu

sembilan tahun yang lalu dan menjadikan dirinya salah seorang pelaku

sejarah. Ra Kuti adalah salah satu dari para pengalasan yang mendapat

gelar Dharmaputra Winehsuka di samping Rakrian Banyak, Rakrian

Wedeng, Rakrian Pangsa, Rakrian Yuyu, dan Rakrian Tanca. Seorang

dari mereka bernama Rakrian Semi mati di Lasem sebagai harga yang

pantas untuk pemberontakan yang dilakukannya pada 1318. Setahun

sebelum Ra Kuti mengambil keputusan meniru jejak sahabatnya.

Pemberontakan Ra Kuti boleh dikata merupakan pemberontakan

yang paling berdarah dari makar-makar sebelumnya. Dengan kelicikan

dan keculasannya, Ra Kuti mampu memecah belah pasukan yang ada

yang tak sadar saling dibenturkan untuk kepentingannya. Demikian parah

akibat dari tindakan makar para Dharmaputra Winehsuka itu

menyebabkan Jayanegara sampai terusir dari istana dengan pasukan

Bhayangkara di bawah pimpinan Gajah Mada harus pontang-panting

melakukan penyelamatan hingga Bedander, nun jauh di Pegunungan

Kapur Utara, di kedalaman wilayah Bojonegoro.

Meski telah disembunyikan di Bedander sekalipun bukan berarti

Jayanegara sudah berada dalam keadaan aman. Seorang telik sandi Ra

Kuti terus mengamati dan mencari kesempatan untuk menikam dari

belakang. Namun, berbekal siasat dan kecerdasannya, Gajah Mada

mampu mengendus siapa sesungguhnya telik sandi itu. Singa Parepen

yang juga disebut Bango Lumayang91 terpaksa harus menebus dengan

nyawa untuk ameng-ameng nyawa92 yang dilakukannya.

Sembilan tahun kemudian adalah masa pemulihan dari luka-luka.

Banyak hal yang dilakukan Jayanegara untuk mencegah jangan sampai

91 Bango Lumayang, pangalasan pengkhianat yang dibunuh oleh Gajah Mada versi Dr Purwadi M.M.

92 Ameng-ameng nyawa, Jawa, bermain-main dengan nyawa

34 Gajah Mada

apa yang dilakukan Ra Kuti terulang kembali. Pemerintahan yang

diselenggarakan hanyalah didasari niat menyejahterakan kehidupan

rakyatnya. Keberadaan Jayanegara di Bedander beberapa bulan lamanya

membuka mata Sang Prabu betapa kehidupan rakyatnya, terutama yang

jauh dari Ibukota Majapahit berada dalam keadaan serba kekurangan.

Di beberapa tempat bahkan mengalami paceklik, di beberapa tempat

lain beras sulit didapat, rakyat terpaksa makan umbi-umbian, busung

lapar terjadi di mana-mana.

Upaya keras Sang Prabu yang diterjemahkan oleh segenap punggawa

kerajaan mendapat buah yang manis. Hidup rakyat Majapahit boleh di

kata gemah ripah loh jinawi kerta tata raharja,93 hukum ditegakkan, keamanan

negara dijaga menjadikan siapa pun merasa tenang dan tenteram hidup

di bawah panji gula kelapa.

Pancaksara menebar tatapan mata ke depan. Di sana sebuah kolam

sedang penuh air. Blumbang itu dibangun sebagai bagian dari upaya

melindungi istana, tanpa melalui alun-alun depan Purawaktra yang

dilindungi dinding menjulang tinggi. Katak-katak penghuni blumbang itu

riuh saling sapa bersahutan tanpa peduli apa yang sedang terjadi di istana.

Di sebelahnya, Gajah Mada membeku. Kedekatan pribadinya

dengan Sang Prabu yang tercipta sejak Ra Kuti mendendangkan tembang

makar menyebabkan Gajah Mada merasa sangat kehilangan. Namun,

kesedihan lelaki bertubuh amat kekar itu tidak harus menyebabkan

meruntuhkan air mata.

”Kau belum menjawab pertanyaanku,” Pancaksara mengingatkan.

”Pertanyaan yang mana?” balas Gajah Mada tanpa menoleh.

Pancaksara tidak berniat mengulang pertanyaan yang telah

dilontarkannya. Pancaksara, salah seorang anak lelaki Samenaka, pejabat

penting kerajaan yang bertanggung jawab atas urusan agama Buddha

menempatkan diri di depannya, dengan sabar ia menunggu Gajah Mada

menjawab. Gajah Mada memberikan tatapan matanya yang paling tajam.

”Menurutku, peralihan kekuasaan selalu merupakan saat paling

gawat. Tidak berlebihan jika aku mulai merasa udara di atas Kotaraja

93 Gemah ripah lohjinawi kerta tata lan raharja, Jawa, hidup makmur aman tenteram

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 35

Majapahit kembali menghangat, yang jika tidak dikendalikan dengan

benar, udara hangat itu bisa berubah menjadi panas.”

Gajah Mada bisa memahami kilah itu, namun membiarkan

Pancaksara menuntaskan ucapannya.

”Sejak zaman Mataram, perebutan kekuasaan selalu terjadi. Setiap

peralihan kekuasaan selalu ditandai peristiwa berdarah,” Pancaksara

melanjutkan. ”Lebih-lebih zaman Singasari, wilayah paling berbahaya

bagi negara adalah saat-saat pergantian kekuasaan. Sekarang, tidak layak

cemaskah kita dengan pengalaman peralihan kekuasaan yang macam

itu?”

Gajah Mada diam, tak satu kalimat pun keluar dari mulutnya.

Pandangan matanya tertuju ke arah utara, nun di sana sebuah sungai

besar sedang deras. Pada sebuah tempat bernama Canggu yang menjadi

bagian dari sungai itu, puluhan perahu sedang sandar. Jika ditelusuri

arah sungai itu ke hulu, ratusan perahu dengan ukuran jauh lebih besar

memenuhi Pelabuhan Ujung Galuh,94 perahu-perahu itu bukan hanya

milik para nelayan dengan mata pencaharian mencari ikan, tetapi juga

milik para saudagar yang berniaga berbagai bentuk barang dagangan, di

antaranya hasil bumi dan gerabah sampai ke Tumasek.95

”Bagaimana, Gajah Mada?” tanya Pancaksara.

Patih Daha Gajah Mada bangkit dan berjalan mondar-mandir,

tangannya bertolak pinggang.

”Semoga yang kaucemaskan tidak perlu terjadi,” akhirnya Gajah

Mada membuka mulut.

Gajah Mada beranjak karena merasa banyak sekali hal mendesak

yang harus dikerjakan.

”Yakinkah kau, peralihan kekuasaan yang terjadi akan berjalan

dengan baik?”

Gajah Mada menghentikan langkahnya. Namun, tidak membalikkan

badan.

94 Ujung Galuh, kini Surabaya

95 Tumasek, kini Singapura

36 Gajah Mada

”Menurutmu, adakah yang memang layak dicemaskan?”

”Ada,” jawab Pancaksara pendek.

Gajah Mada terpaksa membatalkan niatnya kembali mengayunkan

kaki. Patih Daha itu berbalik.

”Apakah kau melihat apa yang kaucemaskan itu di wajah Tuan Putri

Sri Gitarja dan Dyah Wiyat?” bertanya Gajah Mada dengan suara

setengah berbisik, namun terdengar amat jelas.

Pancaksara terdiam, tatapan matanya tidak berkedip, namun dengan

Gajah Mada menyebut nama itu maka wajah-wajah cantik Sri Gitarja

dan Dyah Wiyat bagai hadir di depannya. Kecantikan dua putri anak

mendiang Raden Wijaya itu memang ayu gilang-gemilang menjadi buah

bibir siapa pun. Para jejaka anak negeri mengangankannya, namun selama

ini hasrat para jejaka anak negeri itu bagai terantuk dinding tebal dan

tinggi yang tidak mungkin ditembus. Hal itu terjadi karena desas-desus

yang tidak jelas bagaimana kebenarannya. Desas-desus itu terlampau

mengerikan, konon kata berita dari mulut ke mulut, Jayanegara akan

menjatuhkan hukuman kepada siapa pun yang berani berangan-angan

atas dua putri itu karena Jayanegara menginginkan adiknya sendiri sebagai

istri.

Yang mencuri perhatian kali ini bukan hanya soal desas-desus itu.

Sepeninggal Kalagemet Sri Jayanegara dengan segera muncul pertanyaan,

siapa yang akan naik takhta menggantikannya. Dua pewaris yang masingmasing

berwajah cantik itu memang bersih, tetapi apa yang terlihat tidak

sesederhana yang tampak. Pancaksara bahkan melihat persaingan amat

tajam bakal terjadi, terutama riuhnya barisan orang-orang di belakang

Kudamerta dan barisan orang-orang di belakang Cakradara. Bagaimana

dengan para yang bersangkutan, Kudamerta dan Cakradara? Karena

beristrikan ratu pewaris takhta tidak ubahnya ikut numpang mewarisi

takhta itu sendiri.

Pancaksara menyeringai, sebuah bahasa wajah yang dengan segera

Gajah Mada memahami maknanya.

”Kita serahkan semua keputusan kepada para Ratu. Mereka tentu

akan mengambil langkah amat bijaksana. Tak ada yang perlu dicemaskan

terkait peralihan kekuasaan kali ini.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 37

Gajah Mada kali ini benar-benar berniat beranjak. Namun,

pertanyaan Pancaksara itu memang mengganggunya.

”Bagaimana soal desas-desus yang beredar itu? Kaupunya jawabnya,

bukan?”

”Desas-desus yang mana?” balas Gajah Mada.

Pancaksara melangkah mendekat.

”Aku ingin memastikan jawabannya darimu. Aku yakin kautahu

apa yang kumaksud.”

Gajah Mada menggeleng ragu, nuraninya sangat terganggu. Namun,

Gajah Mada merasa mempunyai cara menjawab.

”Tanyakan saja kepada Ra Tanca. Ia punya jawabannya untukmu.

Kalau aku yang kautanya, jawabanku sekadar menerka-nerka.”

Pancaksara tersenyum kecut. Bertanya kepada Ra Tanca memang

arah yang benar karena Ra Tancalah sumber desas-desus itu. Sayang,

Dharmaputra Winehsuka terakhir itu tidak mungkin ditanyai karena telah

membeku menjadi mayat, sementara saat Ra Tanca masih hidup

Pancaksara justru tidak tergerak menanyainya.

”Aku mendengar pertama kali dari Ra Tanca, ia mengeluh kepadaku

karena istrinya diganggu Sang Prabu,” jawab Gajah Mada dengan cara

membelok dan mengagetkan.

Pancaksara terkejut, matanya terbelalak. Pancaksara melihat raut

Gajah Mada membeku. Dengan demikian, apa yang diucapkan benarbenar

bersungguh-sungguh. Gajah Mada tidak main-main dengan apa

yang dikatakannya. Lagi pula, tidak pantas menyampaikan sesuatu yang

bersifat canda manakala raja mengalami pralaya.96

”Jadi, itukah alasan Ra Tanca tega membunuh Sang Prabu?”

”Ra Tanca banyak menyimpan alasan,” jawab Gajah Mada. ”Ia

kecewa karena apa yang pernah diimpikannya terpangkas. Bukan rahasia

96 Pralaya, Jawa Kuno, mati terbunuh

38 Gajah Mada

lagi apabila Ra Tanca diam-diam menyukai Tuan Putri Dyah Wiyat. Ia

pendam perasaan itu sudah sejak lama, jauh sebelum ia akhirnya

memutuskan mengawini perempuan lain. Alasan kedua karena istrinya

diganggu. Itulah alasan yang ia miliki mengapa ia mengambil tindakan

paling gila, membunuh Sang Prabu.”

Pancaksara merasa degup jantungnya berlari kencang.

”Bisa dipastikankah hal-hal itu? Benarkah Sang Prabu mengganggu

istri Ra Tanca?”

Gajah Mada tersenyum. Raut mukanya susah ditebak.

”Tidak hanya itu,” jawabnya. ”Setidaknya Ra Tanca masih

mempunyai sebuah alasan lagi. Jangan kaulupa, Ra Tanca adalah bagian

dari Dharmaputra Winehsuka yang pernah makar. Barangkali kematian

Ra Kuti dan teman-temannya masih meninggalkan dendam di hatinya.

Alasan apa lagi yang mendorong Ra Tanca berbuat gila itu, hanya Ra

Tanca yang tahu.”

Kali selanjutnya, Pancaksara yang gelisah. Terbaca hal itu dari

langkah kakinya yang mondar-mandir maju mundur dan dua kali

memutari Gajah Mada sambil memegang ujung janggut. Pancaksara

kemudian berdiri tepat di depan pemuda berbadan kekar penuh otototot

itu. Tanpa kedip Gajah Mada membalas tatapan juru warta calon

pewaris jabatan ayahnya sebagai orang yang paling bertanggung jawab

dalam pengembangan agama Buddha itu.

”Soal Tuanku akan mengawini Tuan Putri?”

Pertanyaan itu ternyata menyebabkan Gajah Mada meradang. Ia

tersinggung.

”Kalau kamu mempunyai adik, apakah kamu akan mengawini

adikmu. Kalau kamu punya anak, apakah kamu akan mengawini anakmu?

Bila kamu lakukan itu maka kamu itu binatang.”

Dada Gajah Mada sedikit mengombak.

”Sang Prabu itu raja, ia contoh, ia bukan jenis binatang yang tak

bisa membedakan mana saudara yang tidak pantas diinginkan dan mana

yang boleh dan patut,” lanjut Gajah Mada.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 39

Pancakasara tidak menjawab, tetapi otaknya berputar deras dengan

pusaran melebihi cepat cakra manggilingan.97

”Lantas soal istri Ra Tanca,” Gajah Mada menambah, ”bagaimana

kebenarannya, apakah ia memang benar-benar diganggu Sang Prabu?

Jawabnya berupa pertanyaan yang aku berikan kepadamu. Apakah jika

orang membicarakan seseorang, apa yang dibicarakan itu pasti benar

dan mewakili kenyataan?”

Pancaksara manggut-manggut sambil mengelus janggutnya yang

dibiarkan lebat.

”Belum tentu, adakalanya malah fitnah,” jawab Pancaksara.

”Itulah!” Gajah Mada menegas. ”Tidak seorang pun yang tahu

kejadian itu, tidak seorang pun yang menyaksikan Tuanku Jayanegara

mengganggu istri Ra Tanca. Maka, tak seyogianya siapa pun gegabah

menuduh Sang Prabu melakukan perbuatan hina seperti itu, sebagaimana

betapa tak masuk akal adanya desas-desus Sang Prabu akan mengawini

adik-adiknya sendiri. Jika keinginan Sang Prabu tersebut benar,

Kudamerta dan Cakradara tentu telah habis riwayatnya.”

Pancaksara masih penasaran. Desas-desus yang beredar di luar itu

memang terlampau santer, demikian deras bahkan sederas arus Kali

Brantas ketika hujan turun membadai di bagian hulu.

”Jadi, tidak benar Tuanku Jayanegara menginginkan adik-adiknya

sebagai istri?”

”Tidak benar!” jawab Gajah Mada tegas.

”Tidak benar Tuanku Jayanegara mengganggu istri Ra Tanca?”

Gajah Mada tersenyum.

”Yang berkata demikian Ra Tanca, ia mengutip ucapan istrinya.

Sebuah cerita yang tidak bisa diterima begitu saja. Ra Tanca terlalu banyak

97 Cakra manggilingan, senjata berbentuk cakra. Bentuknya mungkin bisa dibayangkan melalui senjata

milik Kresna dalam kisah pewayangan bernama Cakra Baswara.

40 Gajah Mada

menyimpan alasan dendam untuk menghabisi hidup Sang Prabu. Sebagai

raja dengan kekuasaan nyaris tanpa batas, Sang Prabu bisa mendapatkan

perempuan yang lebih cantik dari istri Ra Tanca yang kurus tanpa daging

itu. Menurut selera pribadiku, istri Ra Tanca bukan jenis wanita yang

punya kekuatan besar dalam menarik minat lawan jenis.”

Pancaksara mencuatkan alis sambil mencatat apa yang didengar

dan dikutip dari Gajah Mada itu ke dalam lipatan benaknya.

”Menurutmu istri Tanca bukan jenis perempuan yang menarik

minat?”

”Ya,” jawab Gajah Mada tegas.

Pancaksara diam, namun beberapa jenak kemudian ia tidak mampu

menahan diri untuk tidak tertawa, derainya mengalir deras. Gajah Mada

tersenyum.

”Jangan tertawa sekeras itu, Sang Prabu saat ini mangkat.”

Dengan gerak seketika Pancaksara membungkam mulut. Gajah

Mada berjalan perlahan beranjak akan meninggalkan Pancaksara, namun

pandangannya masih tertuju ke raut muka Pancaksara.

”Masih ada pertanyaan lagi?”

Pancaksara menggeleng.

Gajah Mada mengayunkan langkah dan kemudian menuruni tangga

menuju pahoman98 yang mulai dinyalakan di beberapa tempat di sudut

alun-alun atas perintah masing-masing pemuka agama. Pahoman juga

menyala di rumah-rumah penduduk di seluruh sudut kotaraja, dinyalakan

di tempat-tempat peribadatan seiring dengan haru biru yang kian

bergolak. Namun, di tempat lain ada pula pahoman yang dinyalakan

dengan latar belakang caci maki yang ditujukan kepada Rakrian Tanca

yang dianggap sama sekali tak tahu diri. Dari bukan siapa-siapa Rakrian

Tanca diangkat derajatnya menjadi satu di antara para Dharmaputra. Ia

balas kehormatan itu dengan membunuh pemberinya. Pahoman juga

dinyalakan di sebuah tempat peribadatan yang berada di dekat bangunan

pakunjaran.99 Di dalam penjara itu terdapat beberapa penjahat yang

98 Pahoman, Jawa Kuno, perapian pemujaan

99 Pakunjaran, Jawa, penjara

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 41

menjalani hukuman, di antara mereka terdapat perampok yang terpaksa

dijebloskan ke bangunan itu akibat dari perbuatannya, di antara mereka

ada yang menjalani hukuman karena pembunuhan. Namun, penjara itu

juga dihuni oleh orang-orang yang berseberangan sikap dengan

pemerintahan Jayanegara, terutama oleh sisa-sisa kaki tangan Ra Kuti

dan pengikut Mahapati. Dari mulut orang-orang itulah kematian

Jayanegara justru disambut dengan gelak tawa, bahkan terpingkal-pingkal.

Pancaksara masih berdiri di tempatnya. Dengan tatapan mata, juru

warta yang masih muda usia itu memerhatikan suasana alam di sekitarnya.

Dengan ketajaman mata hatinya Pancaksara mencatat semuanya. Ketika

Pancaksara mengarahkan tatap matanya lurus melintas Purawaktra,

tampak di sana sekelompok orang menyalakan beberapa obor.

Lingkungan istana menjadi terang benderang bukan hanya karena

obor dinyalakan di sana sini, tetapi juga oleh setidaknya empat perapian

berukuran besar dengan kayu ditumpuk-tumpuk. Dahana100 yang

berkobar-kobar dengan asap yang membubung terlihat dengan amat

jelas dari luar dinding kota. Bau puluhan pikul kemenyan yang dibakar

sangat menyengat membawa warta duka pralaya itu benar-benar terbawa

oleh angin, sementara siapa pun yang menerima warta kemenyan yang

dibakar itu akan menggigil gemetar. Pengaruh bau kemenyan yang

disapukan secara adil oleh angin yang membawanya terbang ke empat

penjuru, bahkan bergerak lebih jauh dari suara titir yang dipukul bertalutalu

dan akan membuat penerimanya gugup ketakutan, lebih dari sekadar

rasa cemas oleh berita mangkatnya raja.

Di sudut langit belahan timur, bibit mendung mulai bergerak

menampilkan jati diri. Mendung itu kian menebal memberangus jarak

pandang terhadap bintang-bintang, bahkan juga terhadap gugusan rasi

bimasakti. Seorang lelaki tua berdebar-debar menyimak angin yang

berembus deras. Bagi orang tua itu, yang terjadi bukan sekadar angin

deras, namun sebuah peristiwa yang di sebaliknya menyimpan makna,

sebagaimana burung gagak berteriak-teriak di tengah larut malam

sebenarnya tengah menyampaikan sebuah pesan. Bahkan, warna langit

100 Dahana, Jawa/Jawa Kuno, api

42 Gajah Mada

di matanya akan tampak berbeda. Sementara itu, bagaikan tangan-tangan

hantu, bibit kabut mulai mekar beranak pinak, siap membutakan

pandangan mata siapa saja.

4

Pancaksara masih termangu di tempatnya. Ia perhatikan setiap

sudut istana101 dari ujung ke ujung dengan penuh perhatian. Pancaksara

tidak bisa menipu hatinya terhadap betapa megahnya istana itu. Dengan

petualangan dan perjalanan panjang yang pernah ia lakukan pada masa

lalu, Pancaksara melihat Istana Wilwatikta memang memiliki kemegahan

yang tiada tara. Menyeberang Laut Jawa hingga ke bumi Kutai di ranah

Kalimantan, Pancaksara melihat sisa-sisa kemegahan Kerajaan Kutai

yang mulai melumut dan bahkan dinding-dindingnya menghancur,

kemegahannya tidaklah bisa menyamai kemegahan pilar-pilar Istana

Wilwatikta. Demikian pula dengan Istana Singasari yang masih utuh

yang baru beberapa bulan sebelumnya dikunjungi, juga Istana Kediri

yang ia datangi beberapa kali termasuk pula Istana Kotaraja Majapahit

timur yang dikuasai Banyak Wide atau Aria Wiraraja yang beribukota di

Lumajang, semua istana itu tak ada yang bisa menandingi kemegahan

Istana Majapahit, baik dilihat dari kemegahan bangunannya maupun

luas wilayahnya.

Dengan tembok bata merah tebal mengelilingi keraton, tidak

memungkinkan orang bisa masuk ke dalam lingkungan istana, yang pintu

101 Setiap sudut istana, Pancaksara yang di kemudian hari diduga menggunakan nama Prapanca, atau

Prapanca yang diduga nama aslinya adalah Pancaksara menggambarkan denah istana dengan segala

bentuk bangunannya, tercantum dalam Negarakertagama pupuh 8 sampai 12.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 43

utamanya berada di sebelah barat menghadap ke lapangan luas yang

disebut Purawaktra. Membelah lapangan yang luas, mengalir sebuah

sungai yang tidak memungkinkan siapa pun melintas kecuali melalui

sebuah jembatan yang padanya melekat penjagaan. Sungai buatan itu

ditaburi ikan tombro yang dalam bulan atau waktu tertentu akan dipanen,

tetapi beberapa prajurit sering memanfaatkan waktu luangnya untuk

mengayunkan joran. Ikan bernasib sial akan menggelepar di ujung kail,

apalagi bila yang diayunkan adalah jala. Di antara para prajurit bahkan

ada yang tidak perlu merasa segan membakar ikan itu di bawah deretan

pohon tanjung yang sangat rindang. Suara seruling yang ditiup oleh

seorang prajurit menjadikan tempat itu sungguh sejuk menyenangkan.

Di tepi benteng yang melingkar, ditanami pohon bramastana

berderet-deret memanjang. Deret pohon yang tumbuh dengan daundaun

dan sulur-sulur akar yang lebat itu menjadi sarang burung kuntul

yang selalu kembali ke pohon itu pada siang hari, sementara malam hari

entah mengembara sampai di ujung dunia belahan mana. Di bawah

pohon bramastana itulah tempat berteduh para perwira yang melakukan

giliran meronda ataupun menjaga paseban. Siang hari yang terik para

prajurit bahkan memanfaatkan tempat itu untuk tidur-tiduran, atau

berlatih ngembat watang.102 Ada pula yang memanfaatkan untuk mengasah

ilmu kanuragan.103 Dari tempat itu, apabila arah pandang ditujukan ke sisi

utara dari pusat istana, di sana sebuah gapura dengan pintu terbuat dari

besi menyaring siapa pun yang akan melintas.

Alun-alun istana membujur dari utara ke selatan. Pintu masuk ke

pura istana terletak di tengah alun-alun. Di sisi timur dari pintu besi

terletak sebuah panggung tinggi dengan lantai berlapis batu putih

mengilat, yang merupakan rumah pertama dalam deretan gedung-gedung

yang berimpit membujur ke selatan. Di depan gedung itu terdapat jalan

yang membatasi dan membelah alun-alun dan gedung-gedung di

lingkungan istana. Apabila dari panggung pandangan mata di tujukan

ke selatan, tidak jauh dari tempat itu terletak bangunan megah yang

102 Ngembat watang, Jawa, membidik anak panah

103 Ilmu kanuragan, Jawa, ilmu kesaktian, ilmu bela diri

44 Gajah Mada

disebut Balai Prajurit104 yang dimanfaatkan untuk bermusyawarah para

menteri, para perwira, para pendeta dari tiga aliran agama, para pembantu

raja, para kepala wilayah dan kepala desa, baik yang berasal dari ibukota

maupun dari luar yang secara berkala melakukan pertemuan di bulan

Caitra.

Apabila dari Balai Prajurit dilangkahkan kaki ke utara akan bertemu

dengan kolam yang amat luas dan besar yang disebut Segaran105 yang

belum sempurna pembuatannya, siang malam ratusan dan bahkan ribuan

tenaga dikerahkan untuk mengeduk tanah. Demikian lebar dan panjang

kolam itu menyebabkan beberapa korban nyawa tenggelam telah terjadi

beberapa kali, di antaranya bahkan para prajurit yang berlatih menyelam.

Bila perjalanan ke utara diteruskan akan bertemu dengan sebuah pintu

gerbang yang disebut Candi Waringin Lawang. Disebut demikian karena

berupa lawang atau pintu berjumlah dua buah yang terletak berimpitan

dengan pohon beringin. Pintu gerbang ini dibuat dari susunan bata

merah. Pada jarak beberapa jengkal perjalanan arah ke utara lagi akan

bertemu dengan candi berpenampilan gemuk yang disebut Candi Brahu.

Di sebelah timur Balai Prajurit atau balai pertemuan adalah rumah

korban yang menjulang bertiga-tiga mengelilingi kuil Siwa yang tinggi.

Di sebelah selatannya adalah gedung bersusun tempat tinggal para

Wipra,106 sementara ke arah barat dari kediaman para Wipra membentang

halaman luas dan berkaki tinggi. Berdampingan dengan kuil Siwa serasa

gambaran hidup dengan rukun adalah gedung Buddha dengan atap

bertingkat tiga, puncak bangunan penuh dengan ukiran. Bangkit bulu

kuduk Pancaksara memerhatikan puncak bangunan itu di keremangan

malam, apalagi dari arah mana pun mulai dialunkan tembang mantra

puja doa menurut tata cara dan agama berbeda-beda dalam mengiring

keberangkatan Sri Jayanegara memasuki kehidupan lain setelah

kehidupan di dunia.

104 Balai Prajurit, tempat yang semula berupa reruntuhan dan hanya menyisakan umpak landasan tiang itu

dipugar oleh TNI, terletak lebih kurang satu kilometer ke arah selatan dari situs Tambak Segaran.

105 Segaran, dalam kunjungan yang secara langsung penulis lakukan, kolam ini sangat luas dengan panjang

lebih dari satu kilometar, dengan lebar lebih dari lima ratus meter, berdinding bata khusus.

106 Wipra, penulis masih belum mengetahui artinya

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 45

Di sebelah selatan balai pertemuan atau Balai Prajurit adalah Bale

Agung Manguntur yang juga disebut Bale Tatag Rambat atau Balairung

dengan berlatar lapangan luas di belakangnya. Bangunan inilah yang

disebut sebagai bangunan utama wilayah istana yang juga diberi nama

lain keraton yang berarti tempat tinggal ratu, atau juga disebut kedaton.

Dari wujudnya Tatag Rambat Bale Manguntur merupakan bangunan

yang paling megah di antara seluruh bangunan yang ada. Bangunan besar

dan luas ini didukung oleh lebih dari sepuluh pilar untuk menyangga

atap genting pilihan yang dilabur dengan warna cokelat mengilat.

Tepat di tengah-tengan Balai Manguntur terdapat rumah-rumahan

kecil yang diberi nama Balai Witana. Bangunan kecil ini digunakan sebagai

tempat duduk raja saat menggelar pasewakan agung.107 Dari dalam Balai

Witana, raja bisa melihat semua yang hadir dengan leluasa, sebaliknya

siapa pun yang hadir di pasewakan tidak akan bisa melihat raja, kecuali

ketika raja akan masuk atau keluar dari balai itu. Akan tetapi, dalam tata

kramanya ketika hal itu terjadi, tidak ada orang diperkenankan

menengadahkan kepala, semua harus menunduk.

Di depan Balai Witana atau dari tempat itu arah pandang menuju

utara yang hanya berjarak puluhan langkah kaki saja adalah tempat

panangkilan,108 tempat duduk para pujangga dan menteri. Di bagian timur

menghadap ke Balai Witana adalah tempat berkumpul para pendeta Siwa

dan Buddha ketika mengikuti pasewakan agung.

Di arah selatan dari Balai Witana dengan tersekat pintu-pintu adalah

paseban yang diatur sangat rapi, menyenangkan di pandangan mata. Dari

tempat itu manakala tatapan mata diarahkan ke selatan, di sana tampak

ruas jalan dari timur ke barat, jalan itu nantinya akan bertemu dengan

jalan dari arah utara ke selatan. Persilangan jalan itu merupakan simpang

empat di bagian selatan alun-alun. Di sepanjang jalan dari timur ke barat,

di kanan dan kirinya berjajar rumah-rumah megah dengan deretan pohon

tanjung membelah ruas jalan timur barat. Tanaman hias ditata rapi di

kiri dan kanan jalan dan akan tampak indah di musim penghujan. Namun,

107 Pasewakan agung, Jawa, sidang atau pertemuan besar

108 Panangkilan, Jawa/Jawa Kuno, berasal dari kata tangkil, nangkil, berarti menghadap

46 Gajah Mada

di musim kering semua tanaman hias itu amat meranggas. Istana Wilwatikta

tidak seperti Istana Singasari yang berada di ketinggian dan

berudara dingin menyengat. Letaknya yang berada di dataran rendah

menyebabkan udara hangat di sepanjang hari, baik siang maupun malam.

Akan tetapi, tidak jarang kabut turun di musim penghujan karena tidak

jauh di arah tenggara menjulang Gunung Anjasmoro. Dari istana pula

lamat-lamat bisa dilihat dengan mata telanjang Gunung Welirang dan

Gunung Arjuno yang puncak mereka selalu dikemuli halimun yang tebal.

Apabila mega itu menyingkir, puncak-puncak gunung itu akan menjadi

tontonan yang sangat megah.

Apabila arah pandangan mata ditujukan ke sudut barat daya dari

Istana Tatag Rambat Bale Manguntur sedikit jauh, di sana berdiri sebuah

balai tempat berkumpul para prajurit dengan ukuran jauh lebih kecil

dari Balai Prajurit. Tempat ini diperuntukkan para prajurit, khususnya

mereka yang melaksanakan tugas pengamanan istana. Bangunan itu

berhalaman luas, di tengahnya terdapat sebuah mandapa.109 Ratusan ekor

burung merpati dibiarkan hidup dengan bebas dan menjadi klangenan

segenap kerabat istana. Merpati itu dilindungi dengan sebuah aturan,

siapa pun tidak boleh mengganggunya. Berani menangkap atau

membunuh burung piaraan itu pelakunya akan berhadapan Kitab

Kutaramanawa. Perlindungan terhadap satwa tidak sekadar jenis burung

kesukaan raja, tetapi juga jenis-jenis binatang yang lain yang mulai sulit

didapat di mana pun.

Dari arah mandapa berada, di sebelah selatan ruas jalan dari timur

ke barat dan terletak di sebelah barat jalan dari ruas jalan utara ke selatan,

di sebelah timur jalan terdapat sebuah paseban membujur dari utara ke

selatan yang terhubungkan dengan pintu kedua dari istana. Arah pandang

dari pintu tersebut akan tertuju pada halaman luas dan sangat rata

bersebelahan dengan sebuah bangunan indah dan tinggi, itulah ruang

tamu baginda yang dimanfaatkan untuk menerima siapa saja yang berniat

melakukan seba.110

109 Mandapa, Jawa Kuno, tempat memelihara burung, mungkin maksudnya pagupon rumah burung dara.

110 Seba, Jawa, menghadap

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 47

Halaman dikelilingi banyak balai yang menjadi bagian tidak

terpisahkan dari kedaton, atapnya dibuat bertingkat-tingkat,

berkelompok-kelompok dengan masing-masing memiliki pintunya

sendiri-sendiri. Wilayah istana itu membentang ke timur sampai ke

tembok benteng sebelah timur, ke arah selatan mencapai tembok benteng

sebelah selatan. Sewilayah Majapahit tak ada yang bisa menandingi

bangunan yang besar dan megah itu.

Bangunan istana bagian utara tepat berada di belakang paseban adalah

tempat tinggal Sekar Kedaton Bre Kahuripan. Di tempat itulah nantinya

apabila anak Raden Wijaya itu berumah tangga akan bertempat tinggal.

Semula Breh Kahuripan atau Sri Gitarja dan adiknya, Dyah Wiyat, tinggal

bersama di lingkungan keputren dengan dilayani oleh para emban, tetapi

manakala pada diri masing-masing telah melekat kedudukan pemangku

wilayah Kahuripan dan Daha, apalagi di usia dewasa mereka telah siap

melepas kedudukan perawan dengan siap menikahi calon suaminya

masing-masing, mereka tak lagi selalu bersama dan harus tinggal di istana

terpisah. Istana paling timur yang jauh dari pintu pertama adalah istana

Sri Nata, Sang Prabu Jayanegara. Jika tatapan mata ditujukan ke arah

selatan, di sana letak bangunan yang tak kalah megah dengan milik Sekar

Kedaton Breh Kahuripan. Bangunan dengan pintu berikir memet yang

dipahat oleh orang yang sangat ahli dan didatangkan dari wilayah pesisir

utara itu adalah tempat tinggal yang disiapkan untuk Breh Daha atau

Dyah Wiyat.

Betapa megah dan indah bangunan itu karena terbuat dari bahanbahan

pilihan. Pilar-pilar kayunya atau semua bagian dari tiang saka,

belandar bahkan sampai pada usuk diraut dari kayu jati pilihan dengan

perhitungan bangunan itu sanggup melewati waktu puluhan tahun,

bahkan diharap bisa tembus lebih dari seratus tahun. Tiang saka diukir

indah warna-warni, kakinya berasal dari bahan batu merah penuh pahatan

ukir mengambil tokoh-tokoh pewayangan, atau tokoh yang pernah ada

bahkan masih hidup. Bangunan itu berbeda-beda bentuk atapnya, pun

demikian dengan bentuk wajahnya. Halaman tiga istana utama itu diatur

rapi dengan sepanjang jalan ditanami pohon tanjung, kesara, dan

cempaka. Melingkar-lingkar di halaman adalah tanaman bunga perdu

48 Gajah Mada

dari jenis semak. Di sudut-sudut halaman tumbuh beberapa pohon talok

dengan buah kecil-kecil. Jika matang warnanya merah dan menjadi alasan

utama bagi bocah-bocah untuk memanjat dan memetiknya. Jangankan

bocah-bocah, orang tua pun tak mau kalah menggapaikan tangannya

untuk bisa memetik buah itu.

Di arah barat laut berdiri beberapa bangunan, di antaranya adalah

kediaman para menteri sesepuh panangkil111 yang hanyepuhi112 siapa pun

yang berkehendak menghadap Sri Naranata.113 Di arah selatannya adalah

rumah-rumah para abdi dalem istana Dyah Wiyat. Sebaliknya, para

emban tinggal di bangsal khusus yang disediakan untuk mereka yang

melekat menjadi bagian tak terpisahkan dari istana. Demikian juga

dengan kandang berisi kuda-kuda pilihan milik raja dan para Sekar

Kedaton. Bangunan-bangunan para abdi dalem berada di antara dua ruas

jalan, yaitu ruas jalan dari timur ke barat dan dari utara ke jurusan selatan.

Di luar benteng, Pancaksara memerhatikan dengan saksama semua

bangunan, ruas jalan, dan sudut-sudut pintu gerbang dan memahatkannya

ke dalam benak untuk kelak sebagaimana telah direncanakannya,

ia akan menuliskan semua itu di atas daun-daun rontal, dengan harapan

siapa tahu kelak akan bermanfaat bagi anak keturunan.

Di sebelah timur benteng, Pancaksara mencatat tempat tinggal

pemuka agama Siwa, Hyang Brahmaraja. Ujung timur selatan benteng

berbatasan dengan istana adalah kediaman kepala mahkamah agung yang

pada dirinya melekat gelar Darmadyaksa, yang diapit dua buah candi,

sebelah timur candi Siwa sementara di sebelah baratnya adalah candi

Buddha. Para pendeta Buddha dengan pemukanya, Sang Samenaka,

menempati bagian selatan di luar benteng. Sementara itu, di bagian timur

benteng terdapat sebidang tanah dengan sebuah rumah. Itulah anugerah

yang diberikan oleh Jayanegara kepada Gajah Mada atas jasa-jasa yang

diperbuatnya ketika melakukan penyelamatan Sang Prabu dari tangantangan

makar Ra Kuti dan teman-temannya. Dalam angan-angannya,

kelak ia akan membangun istananya di tempat itu.

111 Panangkil, Jawa Kuno, menghadap

112 Hanyepuhi, Jawa, menjadi sesepuh atau yang mengatur

113 Sri Naranata, Jawa, raja

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 49

Di sebelah barat benteng bagian utara adalah tempat tinggal para

menteri dan punggawa parentah kraton.114 Di sebelah selatan adalah tempat

tinggal sentanaraja115 dan para kesatria. Di bagian luar adalah

perkampungan penduduk yang cukup padat. Sawah membentang di sana

sini yang apabila ditanami padi, warnanya seragam memberi kesan bagai

hamparan babut permadani. Nyaris ke segenap sudut kiblat, pohon nyiur

ada di mana-mana menjulang tinggi menggapai langit.

Pancaksara yang menghirup udara memenuhi semua sekat ruang

di dadanya itu mendadak merasakan pedih. Kematian memang milik

siapa saja. Kematian bisa menimpa siapa saja. Cerita kematian selalu

meninggalkan kesedihan, tetapi kematian akibat pembunuhan akan

meninggalkan jejak luka yang lebih dalam. Tidak sekadar menyedihkan,

tetapi menyakitkan. Apalagi, manakala korbannya adalah seorang raja,

sosok yang menjadi lambang negara ketiga setelah cihna dan panji gula

kelapa.

Pancaksara yang menatap jauh ke barat, menandai mulai menyalanya

sebuah titik api. Entah siapa orang berduka di seberang sana yang

kehilangan akal, sampai rela membakar rumahnya itu.

5

Malam menukik kian tajam. Kesibukan dalam istana juga kian

tajam. Semua orang, laki-laki dan perempuan telah meniatkan diri untuk

tugur semalam suntuk. Beberapa orang perempuan, dipimpin oleh

seorang perempuan tua menyiapkan sesaji terkait pemakaman Sri

114 Punggawa parentah kraton, Jawa, identik dengan pegawai pemerintahan atau pegawai negeri.

115 Sentanaraja, Jawa, sanak saudara raja, kerabat istana, nama ini hingga sekarang masih ada dan berubah

menjadi nama sebuah desa.

50 Gajah Mada

Baginda esok harinya. Bau kemenyan menyebar menyapa hidung siapa

pun tanpa kecuali. Di beberapa tempat di sudut istana, beberapa orang

prajurit masih terkesima dan serasa tak percaya pada apa yang terjadi.

Mereka duduk menggerombol di atas lincak panjang di bawah pohon

sawo. Ada pula yang hanya diam termangu sambil mengelus-elus kumis,

di sebelah orang yang mengelus-elus gagang tombak, senjata yang

menjadi andalannya.

Angin berembus cukup kencang karena langit mulai mendung. Di

beberapa tempat kilat muncrat disusul petir yang melecut gendang telinga

dengan suaranya yang keras, menggelegar dan menyentak. Angin bahkan

demikian kencang menyebabkan beberapa obor padam. Seorang prajurit

menyalakan kembali obor itu, tetapi lagi-lagi prahara memadamkannya.

Untuk menjaga agar obor tidak mati, prajurit rendahan itu bahkan

menempatkan diri untuk melindungi. Akan tetapi, angin yang beringas,

yang menimbulkan suara menderit-derit di rumpun bambu justru

menyebabkan perapian di tengah alun-alun menyala berkobar kian

menjadi.

Tidak peduli pada asap tebal yang mengarah kepadanya, seseorang

termangu diam, membeku bagai patung batu dengan tatapan mata

terarah pada lubang pintu mandapa, yang tepat di tengah-tengahnya

sepasang merpati saling menyentuhkan paruh. Orang yang menyendiri

itu bahkan tak mengalihkan pandangan matanya meski asap yang lebih

bergulung-gulung dari perapian mendatanginya. Asap itu bagai tidak

mengganggunya, tidak menyebabkan pedih matanya, juga tak

menyebabkan sesak napas. Apalagi, hanya seseorang yang datang

mendekat dan mewartakan kehadirannya dengan batuk-batuk kecil, sama

sekali tak mampu menarik perhatiannya.

Orang itu tetap mengarahkan perhatiannya pada apa yang dilakukan

pasangan merpati yang sedang kasmaran dan sibuk meletupkan

berahinya, tak peduli meski hari tengah malam, apalagi sekadar Jayanegara

mangkat. Untunglah angin berubah arah, bergerak ke arah lain.

”Kau harus memanfaatkan kesempatan ini,” orang yang datang itu

langsung berbicara.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 51

Namun, orang yang diajak bicara tetap diam, tak menoleh, juga tak

menjawab, pandangan matanya tetap tertuju ke pintu mandapa. Setelah

memerhatikan beberapa jenak, orang yang datang itu ikut mengarahkan

tatapan matanya yang kemudian jatuh di arah pandang yang sama,

pasangan merpati yang bersibuk diri.

Orang itu tidak berniat tersenyum dan tidak menganggap kegiatan

sepasang burung itu sebagai sesuatu yang lucu dan pantas memancing

tawanya. Apa yang ia lakukan justru hal yang layak dipertanyakan. Orang

itu mengambil sebutir batu yang dengan keras diarahkan ke mandapa.

Batu yang terbentur menyebabkan penghuninya terkejut. Pasangan

merpati itu terbang menjauh hinggap di ujung pagar. Suara berisik itu

juga mengagetkan beberapa orang yang sedang berkerumun di kejauhan.

Orang yang kebal asap itu akhirnya menoleh.

”Ada apa, Paman?” tanya orang itu.

Orang yang dipanggil dengan sebutan paman itu membiarkan waktu

berlalu beberapa kejap dan lebih mendahulukan batuknya. Usia yang

sudah di atas separuh abad menyebabkan daya tahannya tidak seperti

dulu ketika masih muda. Asap perapian di tengah alun-alun itu

menyebabkan batuknya terpingkal-pingkal.

”Kematian Tuanku Jayanegara,” orang itu berbicara di sela batuknya.

”Semua orang menyesalinya, semua orang menangis dilibas duka nestapa,

kesedihan cengeng yang sebenarnya tidak ada manfaatnya. Menurutku,

justru sekaranglah waktunya kau berbicara. Sekarang waktunya kau

membawakan peranmu. Jangan bilang Kudamerta bukan siapa-siapa.

Namun, berteriaklah, inilah aku, Raden Kudamerta! Selama ini kita bicara

kemungkinan-kemungkinan, kita bicara seandainya dan seandainya. Yang

seandainya itu mendadak berada di depan mata.”

Kudamerta yang dibakar semangatnya mengalihkan pandangan

matanya saat tidak menemukan jejak bayangan apa pun di pintu mandapa.

Perapian yang berkobar dengan lidahnya yang menjilat-jilat beberapa

jenak justru mencuri perhatiannya. Api sesungguhnya menyimpan

sebuah teka-teki, apakah sebenarnya api itu, tidak seorang pun yang

bisa memberi jawaban dengan jelas dan tegas.

52 Gajah Mada

”Kau bisa menjadi raja, Kudamerta. Manfaatkanlah kesempatan

yang sangat langka ini. Mulai sekarang bermainlah dengan cantik. Untuk

meraih gegayuhan116 itu memerlukan pengorbanan. Untuk sebuah tujuan

yang sangat kauyakini, kau bahkan harus menggunakan dan

membenarkan cara apa pun. Mulai menyusun rencana dari sekarang,

kau bisa memanfaatkan hubunganmu dengan Tuan Putri,” lanjut orang

itu.

Kudamerta tidak tersenyum, bahkan amat sulit menebak apa yang

ada di balik raut mukanya yang datar saja, bagai orang yang mengenakan

topeng, sulit menebak raut muka macam apa yang berada di balik topeng

itu, seperti bertopeng kelobot. Di balik kelobot masih terdapat kelobot,

di baliknya masih ada kelobot lagi. Di balik topeng masih ada topeng, di

balik tangis mungkin saja ada tawa, sebagaimana orang tertawa mungkin

karena menyembunyikan tangisnya.

”Bersikaplah, Kudamerta,” orang itu menekan.

Kudamerta berdiri dan meliukkan tubuh yang dilanjutkan dengan

menekuk-nekuk jemarinya menumbuhkan suara seperti berpatahan.

”Paman Panji Wiradapa,” Kudamerta menjawab, ”siapa yang akan

dipilih menggantikan Tuanku Baginda, kewenangannya bukan ada pada

kemauanku. Siapa aku ini, Paman? Aku ini bukan siapa-siapa, aku ini

sekadar buih.”

Panji Wiradapa, lelaki itu membuang wajah atas nama rasa

jengkelnya. Telah berulang kali Panji Wiradapa mengingatkan

keponakannya yang bernasib mujur itu. Dengan memiliki hubungan

khusus dengan Dyah Wiyat, berarti ia menggenggam sebuah peluang

yang sangat lapang. Kalagemet Jayanegara nyatanya tidak memiliki

permaisuri dan keturunan. Bila tiba saatnya Jayanegara turun takhta,

peluang itu akan terbuka lebar untuknya karena dengan menjadi suami

seorang ratu, bukankah itu berarti ia akan menjadi seorang raja?

Manakala Kudamerta berusaha jujur kepada diri sendiri, pertanyaan

itu memang mengganggu. Pertanyaan itu sudah lama menggoda, jauh

116 Gegayuhan, Jawa, cita-cita, impian

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 53

ketika Sri Jayanegara masih hidup. Siapa sangka telah terjadi percepatan

waktu, Jayanegara mati di usia muda dibunuh Rakrian Tanca.

Kematian raja itu tidak pelak memunculkan kemungkinankemungkinan

atau pertanyaan-pertanyaan. Mendiang Raden Wijaya kini

hanya memiliki dua keturunan dan dua-duanya perempuan. Seorang

raja seyogianya bertulang kuat berbahu kukuh, namun bagaimana apabila

dua-duanya berjenis perempuan yang tidak bertulang kuat berbahu

kukuh, yang larinya tidak kencang dan langkahnya tidak lebar, yang setiap

bulan sekali harus terganggu oleh kegiatan nggarapsari?117

Tentu, perempuan bukanlah alasan untuk tidak boleh menjadi raja.

Bukankah Putri Shima dari Kalingga yang termasyhur itu adalah

perempuan. Shima bahkan mampu menegakkan undang-undang dengan

begitu kukuhnya sampai-sampai biarpun adik sendiri harus kehilangan

tangannya sebagai akibat dari perbuatannya.

Salah satu dari dua anak Raden Wijaya yang perempuan semua,

apakah dia Sri Gitarja atau adiknya, Dyah Wiyat, yang akan diangkat

menjadi ratu menggantikan kedudukan kakaknya. Kalau Sri Gitarja yang

diangkat menjadi ratu maka beruntung Cakradara karena kekuasaan raja

akan berada dalam genggamannya. Sebaliknya, bila adiknya, Dyah Wiyat,

yang diangkat menjadi Rani Majapahit maka dirinya orang yang

beruntung itu. Nama Kudamerta akan mencuat menjadi buah

pembicaraan di mana-mana.

”Aku tidak pernah bermimpi,” Kudamerta menggumam bagai

tanpa sadar.

Panji Wiradapa bangkit, bergeser menempatkan diri di depan

Kudamerta.

”Kau harus bermimpi, Kudamerta,” ucap Panji Wiradapa tegas,

tetapi dalam nada bisik. ”Kau harus menggantungkan angan-anganmu

setinggi langit. Akan tetapi, tidak sekadar bermimpi, jauh lebih penting

dari itu, kau harus berusaha dengan keras mewujudkan mimpi itu menjadi

kenyataan. Kaupunya peluang itu, kau bisa menjadi raja, menjadi orang

117 Nggarapsari, Jawa, menstruasi

54 Gajah Mada

terdepan. Kini saatnya, gunakan kesempatan yang terbuka jelas di depan

matamu.”

Kudamerta tetap diam, tidak menjawab. Orang yang dipanggil

dengan sebutan Panji Wiradapa itu merasa punya alasan untuk jengkel

melihat Kudamerta begitu lembek. Panji Wiradapa kembali akan buka

mulut, tetapi terpaksa ia batalkan niatnya itu karena seseorang berlari

mendekat. Kudamerta memberikan perhatian kepadanya.

”Ada apa?” tanya Kudamerta.

”Tuan Putri Ratu Gayatri memanggil,” jawab orang itu, seorang

prajurit yang menyandang pangkat rendahan saja.

Kudamerta bergegas bangkit. Sejenak ia memberikan raut wajah

bimbangnya kepada Panji Wiradapa, tetapi langkah kakinya membawanya

meninggalkan laki-laki berkumis melintang itu. Panji Wiradapa

menghirup udara amat dalam, mengisi semua sudut dan lorong ruang

di paru-parunya sambil menengadahkan kepala memandang langit

sebelum selanjutnya memutuskan menempatkan diri menggantikan

Kudamerta mengarahkan pandangan matanya ke mandapa. Di sana

sepasang merpati merapatkan tubuh saling memberikan kehangatan dan

indahnya cinta.

Bila berkaca pada brenggala, dahulu Panji Wiradapa pernah

menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Jabatan keprajuritannya kali

ini hanyalah sebagai lurah prajurit, padahal Panji Wiradapa merasa dirinya

pantas menjadi seorang patih, orang kedua setelah raja. Karena mimpi

untuk menjadi orang penting itu ternyata tidak terwujud, cukuplah orang

lain yang mewakilinya. Asal bisa melihat Raden Kudamerta menjadi raja

maka puaslah rasanya. Ki Panji merasa cita-cita itu telah terwakili.

Pemimpi seperti itu tidaklah hanya dirinya. Panji Wiradapa tentu

tak mungkin lupa, seorang pejabat di masa lalu yang dihukum mati oleh

Jayanegara karena memiliki mimpi pula. Orang lain mungkin melihat,

mimpi Mahapati atau Ramapati yang menyebabkan Sora terbunuh, yang

menyebabkan Tuban diserbu, yang juga menyebabkan Lumajang

diserang serta menempatkan Mahapatih Nambi berwajah pemberontak,

padahal sebenarnya tidak. Yang dilakukan Mahapati ketika itu adalah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 55

memfitnah untuk sebuah cita-cita. Kini, peluang untuk menggapai mimpi

itu terlihat melalui Raden Kudamerta, pewaris kekuasaan Wengker dan

Pamotan.

Kudamerta mengayun langkah lebar dan sudah tahu ke mana harus

memenuhi panggilan Ratu Gayatri. Sebaliknya, prajurit berpangkat

rendahan itu tidak mengikuti langkahnya. Rupanya ia juga menjalankan

perintah yang sama untuk Cakradara. Di kaki candi Buddha, Cakradara

duduk bersila dengan mata terpejam. Dalam semadi yang dilakukan tidak

jauh dari pahoman, Cakradara masih terhenyak oleh kematian yang datang

demikian mendadak itu. Hubungan secara pribadi yang terjalin cukup

akrab dan pada saat-saat tertentu, mendiang Sri Baginda bahkan

mengizinkan bersikap dan berbicara lepas tanpa beban, keadaan yang

demikian yang menyebabkan Cakradara merasa sangat kehilangan oleh

kematian Kalagemet.

Prajurit rendahan itu meragu melihat apa yang dilakukan Cakradara.

Namun, prajurit itu memutuskan menyentuh pundak lelaki muda dan

tampan itu. Cakradara membuka mata. Dari tatapan matanya Cakradara

seolah bertanya.

”Tuan Putri Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri memanggil Raden

Cakradara,” ucap prajurit itu setengah berbisik.

Cakradara kembali memejamkan mata menuntaskan doanya yang

terpenggal. Perlahan Cakradara bangkit untuk memenuhi panggilan yang

tak mungkin ia tolak itu. Manakala melintas di bawah halaman Tatag

Rambat menuju wisma Maharani Gayatri, Cakradara sama sekali tidak

menyadari seseorang mengikuti gerak kakinya dengan pandangan tidak

berkedip dan isi dada yang mengombak. Orang itu Panji Wiradapa yang

semula berniat membaur dengan para perwira yang duduk

menggerombol tidak jauh dari Balai Witana. Ia bergegas menghentikan

langkah kaki dan menyembunyikan diri di bawah pohon tanjung, hal

yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan karena gelap malam

menyembunyikannya. Bahkan dalam jarak lebih dari dua puluh lima

langkah sulit untuk mengetahui siapa orang di depan sana meski tersiram

cahaya obor sekalipun.

56 Gajah Mada

Panji Wiradapa terus memerhatikan dan mengikuti gerak langkah

Cakradara hingga lenyap dari pandangan mata. Sejenak sebelum

melanjutkan langkah kakinya, Panji Wiradapa menyempatkan mengisi

paru-parunya sampai penuh, melalui tarikan napas yang sangat panjang.

Membandingkan antara Cakradara dan Kudamerta, Panji Wiradapa

memang tidak bisa menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka

karena masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda.

Cakradara memiliki tubuh yang tegap dan sangat gagah. Tubuhnya

berotot dengan dada bidang, alisnya tebal. Dalam olah kanuragan

Cakradara selalu mencuri perhatian siapa pun. Kemampuan kelahi

menggunakan berbagai jenis senjata sulit ditandingi. Yang paling

menonjol adalah kemampuannya ngembat watang. Sulit para prajurit

memahami dengan cara bagaimana Cakradara mampu mengarahkan

anak panahnya pada buah maja yang dilemparkan melayang di udara.

Demikian pula, terhadap anak panah yang melesat cepat, dengan

kemampuan bidiknya yang tajam Cakradara dapat menggapainya dengan

baik. Benturan anak panah yang dilepas untuk menjemput anak panah

yang lain, kemampuan macam itu selalu dijemput dengan tepuk sorak

gemuruh dari mereka yang menyaksikan.

Ketampanan Cakradara dan segala kelebihan yang dimilikinya

menjadikan dirinya buah gunjing siapa pun, terutama para gadis. Nyaris

tidak seorang pun gadis di Ibukota Majapahit yang tidak mengenal

namanya dan semua berangan-angan menjadi pendamping hidupnya.

Namun, mimpi para gadis itu harus pupus karena Sri Gitarja gadis yang

sangat beruntung itu atau bila dibalik Cakradara sungguh beruntung

mampu mencuri perhatian anak gadis mendiang Raja Wijaya itu. Dengan

demikian, akan membuka peluang bagi Cakradara untuk menjadi orang

terpenting di bumi Wilwatikta.

Pesaing terdekat Cakradara memang hanya Kudamerta. Dengan

usia sebaya, bentuk tubuh yang sangat mirip, tinggi dan gagah serta

tampan, Kudamerta juga menjadi perhatian siapa pun atau gadis mana

pun. Walaupun Kudamerta tak mungkin menyaingi Cakradara dalam

olah panah ngembat watang, tetapi tak seorang pun yang mampu

menandinginya dalam adu kecepatan berlari. Ketika digelar upacara

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 57

maleman118 yang dilakukan secara berkala di bulan Caitra, pada saat itu

pula berbagai lomba ketangkasan digelar, di antaranya adalah adu balap

lari, baik jarak pendek maupun jarak panjang. Selalu saja Kudamerta

pemenangnya dan selalu saja Dyah Wiyat yang mendapat tugas

mengalungkan untaian kembang untuk sang juara. Sebagaimana para

gadis yang harus patah hati karena tak mungkin berangan-angan memiliki

atau dimiliki Cakradara, demikian juga dengan Kudamerta. Kedekatannya

dengan Dyah Wiyat memupus semua angan-angan para gadis itu.

Hubungan secara pribadi antara Kudamerta dan Cakradara terjalin

dengan baik. Dalam banyak hal mereka sering bersama, satu dan lainnya

saling menghormati dan menghargai. Apabila petang datang senja

membayang, dua satria tampan itu sering berkuda menyusuri jalanan,

saling membalap beradu cepat. Masing-masing memilliki kuda pilihan

yang saling mengalahkan. Pada saat tertentu menempuh jarak tertentu,

Cakradara yang mengendarai Mega Malang mampu melesat mengalahkan

Kudamerta. Namun, di lain kesempatan Kudamerta yang membalapkan

Burat Mawut melesat bagai kilat sulit dikejar.

Kuda kesayangan Cakradara yang bergelar Mega Malang sejatinya

bukanlah kuda sembarangan. Tidak salah bila Mega Malang akan

mengingatkan para prajurit Majapahit pada kuda Mega Lamat milik

mendiang Ranggalawe. Sebenarnyalah dua ekor kuda itu memang

memiliki hubungan secara langsung, Mega Malang adalah keturunan

Nila Ambara yang juga disebut Mega Lamat. Sebaliknya, Kudamerta

juga tak salah demikian bangga pada kudanya karena Burat Mawut adalah

kuda keturunan Brahma Cikur, kuda yang pernah menjadi kebanggaan

Mahapatih Nambi yang pernah digunakan bertempur ketika menyerbu

Tuban. Brahma Cikur bahkan dimiliki Nambi sejak ia masih sangat muda,

sepermainan dengan Raden Wijaya ketika Majapahit belum ada.

Penyelanggaraan pemerintahan ketika itu masih berada di Singasari.

Persaingan di antara mereka mungkin tidak timbul dengan

sendirinya, tetapi persaingan itu kini tumbuh dan mekar menjelma

menjadi api dalam sekam. Raden Kudamerta yang mencoba ingkar

118 Maleman, Jawa, pesta pasar malam

58 Gajah Mada

sejatinya tidak bisa menolak gemuruh suara hatinya yang tidak sematamata

karena pengaruh Panji Wiradapa. Dengan Sri Jayanegara mati

terbunuh, dampar kencana menjadi kosong tidak ada yang mendudukinya.

Panji Wiradapa benar, dengan mengawini Dyah Wiyat maka terbuka

lebar kesempatan baginya untuk menjadi orang yang disembah disuyuti.119

Namun, peluang Dyah Wiyat sebagai adik memang kalah dari Sri Gitarja

yang terlahir lebih dulu. Akan tetapi, bukankah demi gegayuhan boleh

menggunakan cara apa pun? Kalau ada penghalang merintang, bukankah

penghalang itu harus disingkirkan?

Titik api dalam sekam itu juga mulai mletik di benak Cakradara.

Setidaknya hal itu mencuat ketika beberapa jenak sebelumnya Pakering

Suramurda, pekatik120 yang merangkap sebagai gamel,121 mengajaknya

berbincang. Di mata orang banyak, Pakering Suramurda hanya seorang

pekatik yang merangkap gamel, yang akan selalu menunduk penuh hormat

dengan sikap tangan ngapurancang122 di depan Cakradara. Namun, ketika

hanya berdua, oleh alasan yang hanya pekatik itu yang tahu, Cakradara

menaruh hormat demikian besar kepadanya. Sebaliknya, Pakering

Suramurda tidak perlu harus ngapurancang di depannya.

”Paman memerlukanku?” bertanya Cakradara.

Terlihat sekali saat hanya berdua, betapa besar pengaruh Pakering

Suramurda kepada Cakradara.

”Kamu membaca keadaan?” tanya lelaki bertubuh gempal itu.

”Keadaan apa yang Paman maksud?” balas Cakradara.

Pakering Suramurda melenguh, suaranya mirip lenguh salah satu

kuda yang dirawatnya, yang terlontar itu sebagai ungkapan

kejengkelannya.

”Peluang itu kini berada di tanganmu, kamu masih belum melihat?”

Cakradara tidak menjawab, ia memilih diam.

119 Disuyuti, Jawa, dihormati (ditakuti) orang banyak

120 Pekatik, Jawa, orang yang pekerjaannya merawat dan mengurusi kuda.

121 Gamel, Jawa, orang yang pekerjaannya mengurusi kandang kuda.

122 Ngapurancang, Jawa, sikap hormat dengan dua tangan saling genggam di perut.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 59

”Kamu harus pusatkan perhatianmu, Cakradara. Hubunganmu

dengan Sri Gitarja harus segera dituntaskan ke perkawinan. Sri Gitarja

akan diangkat menjadi ratu, kamulah yang kewahyon,123 penggenggam

kekuasaan yang sebenarnya. Sudah bisa dipastikan kamulah nanti yang

bakal diangkat menjadi raja. Jangan sampai kesempatan yang telah berada

dalam genggaman tanganmu itu terlepas. Sekali kesempatan itu lepas

maka kau akan menyesal untuk selamanya.”

Bila semula persoalan yang demikian tidak terpikir di benak

Cakradara, lambat laun menjelma menjadi racun yang menyita ruang di

benaknya, menyebabkan pemuda tampan itu harus memikirkannya. Tak

mungkin menganggapnya tidak ada. Benar apa yang dikatakan gamel kuda

itu, kekuasaan tertinggi atas pemerintahan Majapahit memang bisa berada

dalam genggamannya, dan kekuasaan manakah yang lebih tinggi

dibanding kekuasaan seorang raja? Tidak ada.

”Kaupaham dengan apa yang aku maksud, Cakradara?” tanya

pekatik kuda itu.

Cakradara mengangguk, ”Aku paham, Paman.”

”Aku wajib mengingatkanmu, pesaing bisa menyerobot dari arah

samping, atau muncul dari tempat yang sama sekali tidak terduga.

Firasatku mengatakan, sejak sekarang kau berada dalam bahaya karena

pihak pesaing itu menganggap tempat dan kedudukanmu sekarang bisa

menjadi batu sandungan mimpi mereka. Sejak sekarang berhati-hatilah.

Kewajibanku untuk mengamankan kepentinganmu jangan sampai ada

yang mengganggu. Sejak dini aku melihat Raden Kudamerta telah

mempersiapkan diri dan berupaya keras agar kekuasaan nanti jatuh ke

tangannya. Menghadapi hal itu, Paman tak akan tinggal diam, Paman

akan menghancurkan kekuataan itu. Paman akan menggerogoti sedikit

demi sedikit dan bila perlu anak panah atau ayunan pisau akan diarahkan

ke dadanya. Demi takhta dan kedudukan sebagai raja, kau harus bisa

mengesampingkan hubungan pribadimu dengan Kudamerta. Janganlah

kau merasa kehilangan kalau Raden Kudamerta nanti terbunuh. Untuk

keperluan itu telah aku siagakan kekuatan untuk melakukannya.”

123 Kewahyon, Jawa, dari kata dasar wahyu, berarti orang yang memperoleh anugerah wahyu.

60 Gajah Mada

Cakradara tidak menjawab, namun mengangguk pendek. Hal

macam itulah yang membayangi Cakradara yang mangayunkan kakinya

dengan gontai dan serasa tidak yakin dengan apa yang terjadi pada hari

itu. Dengan dada dan kepala terasa penuh dan sesak, Cakradara siap

menerima apa pun yang akan disampaikan Ratu Gayatri kepadanya.

Manakala Cakradara kemudian lenyap di balik dinding, adalah

bersamaan waktu dengan sebuah peristiwa yang terjadi tak jauh dari

tempatnya. Hanya beberapa jengkal langkah kaki saja darinya, di balik

bayangan pohon asoka124 yang tumbuh lebat dan bunganya sedang mekar,

sebuah anak panah yang dilepas dari gendewa direntang melesat dan

menggapai tenggorokan seseorang. Pelaku perbuatan itu segera

melenting melenyapkan diri di balik dinding, sementara orang yang

menjadi korbannya mendadak merasakan tenggorokannya amat nyeri.

Orang itu tidak bisa berteriak meletupkan kesakitan yang dideritanya,

disusul kemudian ambruk dan berkelejotan. Mata orang yang menjadi

korban pembunuhan gelap itu kemudian kehilangan cahayanya. Tempat

peristiwa itu hanya beberapa jengkal di belakang Cakradara, tetapi

sungguh Cakradara tidak menyadari.

Dengan berjalan mengendap-endap tanpa suara seperti layaknya

kucing, pelaku perbuatan itu menemui orang yang berdiri dengan tenang

yang tampaknya memang menunggu kedatangannya. Sebenarnya tempat

itu tak jauh dari Balai Prajurit. Akan tetapi, karena terlindung oleh dua

pohon bramastana berukuran sedang, apa yang terjadi di tempat itu tak

ada yang mengetahui.

”Bagaimana?” tanya orang yang berdiri tenang itu. ”Sudah kamu

kerjakan?”

Orang yang ditanya yang tangannya masih memegang langkap,

menjawab dengan tegas.

”Sudah aku kerjakan,” jawabnya dengan napas sedikit agak tersengal

dan pontang-panting orang itu berusaha menenangkan diri.

”Kamu yakin korbanmu sudah benar, kamu tidak salah orang?”

124 Asoka, Jawa/Jawa Kuno, nama lain bunga kamboja atau semboja, biasanya ditanam di kuburan.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 61

”Aku amat tahu siapa yang aku bunuh. Kuarahkan anak panahku

tepat ke tenggorokannya.”

Orang pertama yang rupanya berada pada pihak yang memberi

perintah untuk melakukan pembunuhan itu terdiam. Cukup lama orang

itu membeku sambil menatap bintang-bintang di langit, seperti mencari

sesuatu di atas sana, sesuatu yang dicari itu tidak ditemukan.

”Bagus,” ucapnya pendek setelah menoleh mengarahkan pandang

kepada lawan bicaranya.

Pemegang langkap tersenyum, ia senang hasil pekerjaannya dipuji.

”Upahnya?” tanya orang yang baru saja membunuh itu.

Dengan amat tenang, orang yang memberi perintah mengeluarkan

sebuah kampil125 berwarna hitam. Ketika digoyang kampil itu

memperdengarkan suara gemerincing, menandakan ada banyak uang

dalam kantung itu. Dengan amat bernafsu pembunuh yang dibayar itu

menerima upahnya. Untuk memastikan uang dalam kantung itu memang

banyak, ia bergegas membuka dan meraba uang itu dengan tangannya.

Ada yang tidak disadari oleh pembunuh bayaran itu. Ada sesuatu

yang kenyal melingkar di dalam kantung itu, yang punya tenaga untuk

menggeliat dan mematuk. Menyatu dalam uang yang gemerincing, seekor

ular berjenis weling, kecil saja dan hanya sepanjang dua kilan. Akan

tetapi, siapa pun tahu ular weling adalah jenis ular yang sangat mematikan.

Tidak ada yang bisa menandingi kekuatan racun ular weling kecuali jenis

ular sendok126 atau bandotan. Siapa pun yang dipatuk ular itu akan

mendapatkan jaminan terbukanya pintu kematian.

Pembunuh bayaran itu terhenyak ketika sesuatu menyengat telapak

tangannya, disusul rasa sakit yang datang sangat cepat, bergerak seiring

dengan aliran darah dan menggerataki telapak tangannya. Rasa panas

yang tajam dengan segera merambat ke arah pangkal lengan dan

menyebar siap melumpuhkan syaraf dan menghancurkan butiran

darahnya. Cepat dan pasti racun ular itu bekerja. Panas yang dirasakan

125 Kampil, Jawa, kantung tempat menyimpan uang

126 Ular sendok, Jawa, kobra

62 Gajah Mada

oleh pembunuh gelap itu melebih air yang mendidih, bahkan melebihi

jilatan lidah api dengan warna paling biru sekalipun.

”Apa yang kaulakukan?” bertanya pembunuh bayaran itu dengan

suara parau dan bergetar lengkap dengan segala kepanikannya.

Pembunuh bayaran itu sangat sadar, ia tak mungkin selamat dari

patukan ular weling yang keluar dari kampil dan merayap menjauh.

Kepanikan dan ketakutan yang terjadi memberi sumbangsih dalam

mempercepat datangnya kematian, namun tanpa itu pun, racun ular

weling memang sudah menjadi jaminan kematian pasti terjadi.

Orang yang memerintahkan pembunuhan itu tidak menjawab

pertanyaan itu dan hanya memerhatikan bagaimana gendewa yang

dipegang orang yang sekarat itu terlepas, matanya melotot serasa akan

lepas. Tahapan sekarat itu bahkan diperhatikan dan dihayatinya dengan

baik. Berkali-kali orang itu melihat peristiwa macam itu, tetapi sekarat

yang dialami orang tetap menjadi tontonan yang mendebarkan.

”Kenapa kaulakukan ini kepadaku?” tanya orang itu di sisa

tenaganya.

Pertanyaan itu rupanya punya kemampuan mengusik.

”Untuk sebuah gegayuhan. Pada saatnya kelak, Rangsang Kumuda

akan bisa dan berhasil menggapai cita-citanya,” jawabnya.

Hanya dalam hitungan tak sampai sepenginang,127 kesakitan yang

diderita oleh orang yang dipatuk ular itu berakhir. Napas yang tersisa

berhenti setelah sebuah tarikan panjang. Sambil memerhatikan raut muka

sekarat itu, orang yang memberi perintah pembunuhan itu mengambil

kampil yang memang penuh berisi uang dan sebagian di antaranya uang

emas yang besar nilainya.

Dengan melenggang seolah tidak terjadi apa-apa, orang yang

menyebut nama Rangsang Kumuda itu mengayun kaki meninggalkan

tempat itu.

127 Sepenginang, Jawa, waktu yang digunakan untuk makan sirih (kinang), maksudnya tidak terlampau

lama.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 63

6

Suara burung gagak yang berteriak di wuwungan istana itu terasa

sangat mengganggu, tetapi tak menggerakkan siapa pun untuk membungkam

mulutnya. Gajah Mada yang melintas sambil mengarahkan

pandangan matanya ke Segaran menyimaknya sebagaimana yang diyakini

banyak orang, tak lebih dari sekadar membaca pertanda alam.

Membungkam mulut burung berbulu hitam itu jelas perbuatan bodoh

yang tak ada gunanya. Dibungkam sekalipun Jayanegara telah telanjur

tak mampu bernapas, tidak mungkin bangun lagi. Jauh di ujung benaknya,

meski terganggu oleh suara yang tak nyaman itu, sama sekali tidak

menggerakkan keinginan di hati Gajah Mada untuk menghentikan

teriakan-teriakan tidak nyaman dan mengganggu telinga itu.

Suara tangis masih terdengar datang dari keputren. Seorang emban

menangis sesenggukan atas nama rasa sangat kehilangannya. Kematian

Sri Jayanegara serasa kiamat baginya. Emban-emban yang lain sudah

berusaha menghibur dan menenangkan, tetapi emban yang satu ini

rupanya menyimpan banyak cadangan air mata yang terus saja berleleran

menyebabkan pupur beras di wajahnya menjadi berlepotan, matanya

sembab menjadi sipit menyebabkan bola matanya tak kelihatan.

Berbeda terhadap suara burung gagak yang tidak seorang pun

berkeinginan membungkamnya meski suaranya yang memekakkan

telinga sangat mengganggu. Sebaliknya, terhadap suara emban itu, nyaris

segenap prajurit yang menggerombol tak jauh dari tempat itu ingin

menyumpal mulutnya dengan gumpalan kain. Tangis emban itu

terlampau berlebihan dan berlepotan. Seorang prajurit akhirnya tergerak

mendatanginya karena suara tangis itu tembus ke wisma para Ratu.

”Kalau tak mau diam, kubenamkan tombak ini ke mulutmu,” ancam

prajurit itu yang ternyata sangat mujarab.

Ancaman itu bagai obat yang menyadarkan emban cengeng itu

untuk diam. Tersadar bahwa tangisnya terlampau berlepotan, dengan

64 Gajah Mada

sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan diri, namun upaya itu

menyebabkan lehernya serasa tercekik.

”Di dalam para Ratu sedang berembuk masalah penting, tangismu

sangat mengganggu, tahu?” tambah prajurit itu dengan nada bisik.

Amat gugup emban itu dan bergegas menutup mulutnya dengan

tangan kanan dan kiri bergantian.

Sebenarnyalah empat Ibu Ratu dan Sri Gitarja serta Dyah Wiyat

tengah berada di salah satu ruang istana. Satu-satunya orang yang

diizinkan mengikuti pembicaraan hanyalah Mapatih Arya Tadah.

Pendapat orang kedua setelah raja itu sangat didengar, terutama dalam

menentukan siapa yang akan menggantikan Sri Jayanegara, sebuah

keputusan yang tidak sepele karena menyangkut masa depan negara

setelah raja sebelumnya terbunuh.

Suasana ruangan itu sangat hening, dalam keadaan yang demikian

senyap, bahkan suara benik128 yang jatuh pun pasti akan terdengar.

”Siapa?” pertanyaan yang mengoyak senyap akhirnya keluar dari

mulut Ratu Gayatri.

Ratu Gayatri tidak main-main dalam berserah diri menjadi biksuni.

Ketika masih mendampingi suaminya, Ratu Gayatri memiliki kecantikan

paling menonjol dari para saudaranya. Ratu Gayatri memiliki rambut

yang hitam, lebat, dan panjang sampai menyentuh betis. Akan tetapi,

ketika telah bulat keputusannya menyerahkan diri pada agama yang

dianutnya dengan menjadi biksuni, rambut yang panjang itu dibabat

habis. Mata hatinya yang sejuk jelas terpancar dari tatapan matanya yang

begitu bening, jernih yang menjadi gambaran kejernihan hatinya. Meski

usianya telah berada di atas lima puluhan tahun, kecantikan Ratu Gayatri

masih memancar bercahaya.

Ratu Tribhuaneswari yang semula menunduk mengangkat

kepalanya, suara yang keluar dari mulutnya amat tenang.

”Aku serahkan keputusan yang terbaik kepadamu,” ucap janda

Raden Wijaya yang rambutnya masih legam itu.

128 Benik, Jawa, kancing baju

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 65

”Mbakyu Ratu jangan begitu,” jawab Ratu Gayatri. ”Sebaiknya

Mbakyu Ratu menunjuk, siapa yang seharusnya diangkat menjadi raja

di Majapahit setelah Ananda Jayanegara tiada.”

Ratu Tribhuaneswari tersenyum dan senyuman itulah jawabnya.

Anak kedua mendiang Raja Singasari terakhir itu telah bulat pada

putusannya. Tribhuaneswari meyakini, masa depan Majapahit merupakan

hal yang amat penting. Untuk menunjuk siapa yang akan menggantikan

Jayanegara dibutuhkan kejernihan mata hati, dan itu hanya adiknya yang

seorang biksuni yang memiliki. Ketajaman mata hati Ratu Gayatri tentu

bisa mengintip jauh ke depan, ke sebuah masa yang masih berada di

wilayah akan datang. Tribhuaneswari merasa siapa yang dipilih adiknya,

tentulah ia orang yang terbaik, apalagi pilihan itu hanya berasal dari dua

orang kakak beradik, antara Sri Gitarja dan adiknya, Dyah Wiyat. Sri

Gitarja yang dipilih baik, demikian pula apabila Dyah Wiyat yang dipilih

juga baik, dua-duanya anak keturunan Raden Wijaya, bukan orang luar

yang di darahnya tidak mengalir wangsa Rajasa.

Ternyata bukan hanya Ratu Tribhuaneswari yang mempunyai

pendapat seperti itu. Ratu Pradnya Paramita yang duduk mematung

dengan mata terpejam juga menyumbang pendapatnya tanpa membuka

mata.

”Aku sependapat dengan Mbakyu Ratu Tribhuaneswari, sebaiknya

Adi Ratu Biksuni yang mengambil keputusan. Apa pun keputusan yang

akan kauambil, siapa yang akan kautunjuk menjadi ratu di bumi Majapahit

ini, aku manut. Akan aku restui dan kupagari dengan doa dan japa

mantra.”

Ratu Gayatri menghirup tarikan napas amat berat. Ratu

Narendraduhita tersenyum, senyum itulah yang berbicara. Namun, Ibu

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri belum merasa puas. Keputusan kakaknya

yang menyerahkan sepenuhnya kepada dirinya justru menjadi beban

yang sangat berat.

”Kalau Mbakyu Ratu Narendraduhita bagaimana?” perempuan

berkepala gundul itu bertanya dengan suara sangat sejuk.

”Aku sependapat dengan Mbakyu Tribhuaneswari dan Adi Ratu

Pradnya. Aku manut dengan apa pun keputusanmu, siapa pun yang

66 Gajah Mada

akan kautunjuk aku merestui. Namun, ambillah keputusan yang amat

bijaksana.”

Ambillah keputusan yang sangat bijaksana! Setidaknya Ratu

Narendraduhita memberikan rambu-rambu untuk jangan salah

mengambil langkah. Peringatan yang seperti tidak bermuatan apa-apa

itu justru membuat Ratu Gayatri merasa terbebani. Menunjuk siapa yang

akan menjadi penguasa Majapahit bukan sekadar mengarahkan telunjuk

tanpa beban perasaan sama sekali. Di antara pilihannya terdapat dua

orang yang sama-sama disayanginya, bagaimana tidak, dua-duanya adalah

anak keturunannya yang sama-sama terlahir dari gua garba-nya.129 Pada

salah satu di antara mereka, ia tidak ingin membuat kecewa. Siapa yang

dipilih? Sri Gitarja atau Dyah Wiyat? Kalau saja sepeninggal Jayanegara

masih ada anak laki-laki. Namun, tak ada anak laki-laki itu. Sri Jayanegara

sendiri tidak memiliki keturunan bahkan tak mengangkat seorang istri,

apalagi permaisuri sehingga pemilihan pengganti Sri Jayanegara menjadi

serumit itu.

Sri Gitarja sangat mungkin terpilih sebagai ratu karena dari calon

yang ada, Sri Gitarja lebih tua. Akan tetapi, apabila dilihat dari sisi

kemampuan, adiknya banyak memiliki kemampuaan yang tidak terduga.

Lebih tegar, lebih berwawasan luas, lebih jauh dalam memandang ke

depan, dan lebih berwibawa. Kelemahan Sri Gitarja adalah karena ia

sering sakit-sakitan, sebuah keadaan yang di masa silam sangat diirikan

Dyah Wiyat, sebab hanya dengan sakit ia bisa bertemu dengan Rakrian

Tanca kekasih hatinya.

Sementara dalam olah pikir, tidak jarang Dyah Wiyat melontarkan

pendapat yang mengagetkan. Ini menjadi gambaran anak bungsu

mendiang Raden Wijaya itu memiliki kecerdasan yang tak bisa

diremehkan.

Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri mengarahkan pandangan

matanya kepada Arya Tadah. Meski Patih Arya Tadah membalas

pandangan mata itu, ia tidak membuka mulut. Arya Tadah pilih

menempatkan diri menjadi pendengar yang baik. Arya Tadah merasa

129 Gua garba, Jawa, rahim, kandungan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 67

harus menempatkan diri tak ubahnya sebuah gong, yang tidak berbunyi

bila tidak ditabuh, tidak berbicara bila tidak dimintai pendapat. Arya

Tadah merasa demikian tata kramanya.

Ratu Gayatri memandang wajah kedua anak gadisnya dengan

gumpalan pertanyaan yang membingungkan. Apa yang dihadapinya kali

ini tak ubahnya makan buah malakama, buah perlambang pilihan yang

membingungkan, pilihan yang sama-sama berat, ibarat dimakan buah

itu maka bapak yang mati, apabila tidak dimakan akan menyebabkan

ibu yang mati. Apabila mungkin, Ratu Gayatri ingin meniru apa yang

pernah dilakukan Airlangga yang memutuskan membelah negara menjadi

dua untuk dua anaknya, yang kemudian menjadi Panjalu dan Kadiri.

Namun, untuk sebuah keutuhan negara Ratu Gayatri tidak akan

mengulang hal itu yang jelas merupakan kesalahan yang tak boleh terjadi.

Demikian juga ia tidak boleh mengulang kesalahan suaminya, Raden

Wijaya, yang terpaksa memberikan separuh negara kepada Banyak Wide

karena kalah janji sehingga Banyak Wide atau Aria Wiraraja menjadi

raja sendiri dengan beribu kota di Lumajang, yang di sana pernah

dibangun sebuah benteng dengan nama menggetarkan, Pajarakan, yang

meninggalkan jejak kisah perang yang juga tak kalah menggetarkan.

Mengangkat Sri Gitarja menjadi ratu tentu akan melukai adiknya.

Demikian pula memilih Dyah Wiyat, pilihan itu akan melukai perasaan

kakaknya. Apabila diurutkan dari siapa yang lebih tua maka kekuasaan

menjadi ratu itu seharusnya jatuh ke tangan Sri Gitarja. Haruskah

pemilihan ratu itu dilakukan dengan membutakan mata, dianggap seolah

tak ada masalah, tak akan ada yang keberatan dan semua pihak akan

menerima dengan ikhlas tanpa ada yang keberatan, padahal….

Bersandar dinding, Dyah Wiyat tersenyum berusaha menguatkan

hati ibundanya untuk tidak ragu dalam mengambil keputusan. Bersihnya

hati Dyah Wiyat, sebagai adik ia sadar betul bahwa kakaknyalah yang

berhak mewarisi kedudukan yang ditinggalkan Jayanegara.

…padahal di belakang Sri Gitarja ada nama Cakradara dan di

belakang Dyah Wiyat ada nama Kudamerta. Ratu Gayatri yakin dua

anaknya tidak akan saling berebut, tetapi lelaki adalah makhluk yang

memiliki keangkuhan diri dilandasi pula oleh naluri penonjolan jati diri.

68 Gajah Mada

Dua nama lelaki di belakang dua anak gadisnya itulah yang justru

dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak.

”Atau, jangan-jangan kekhawatiranku ini berlebihan,” kata hati Ratu

Gayatri.

Ratu Gayatri terpaksa menggali masa lalu, hal yang tidak pernah

dibayangkan mengingat ia juga tidak membayangkan Jayanegara akan

pralaya dengan begitu tiba-tiba, yang datangnya seperti turunnya hujan

tanpa mendung. Atau, gelegar petir di kala langit begitu bersih. Di masa

lalu, ketika negara masih berada di bawah naungan Singasari, leluhurnya,

Ranggawuni anak Anusapati dan Mahisa Cempaka anak Mahisa Wonga

Teleng bisa bekerja sama menggelar pemerintahan bersama, kenapa

tidak? Kenapa yang demikian tidak dicoba? Negara bukanlah tanah

warisan yang bisa dibelah dibagi untuk berapa orang yang mewarisinya.

Negara harus utuh, tidak boleh dibelah karena jauh ke depan keputusan

yang demikian akan memecah belah persatuan dan kesatuan.

”Tidak baik memilih keduanya,” kata hati Ratu Gayatri. ”Di belakang

Sri Gitarja ada Cakradara dan di belakang Dyah Wiyat ada Kudamerta.

Persaingan di antara mereka punya kemungkinan kuat menimbulkan

terjadinya perselisihan. Oleh karena itu, harus dibatasi secara tegas. Aku

harus memilih salah satu, Sri Gitarja atau Dyah Wiyat.”

Ratu Gayatri akhirnya memang telah sampai pada pilihan salah satu

di antara mereka. Ratu Gayatri mendadak menoleh kepada Arya Tadah.

Arya Tadah sedang menggerakkan kepala untuk menunduk.

”Paman Tadah,” ucap Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri.

Arya Tadah yang berniat menunduk itu terkejut. Panggilan itu tepat

terjadi ketika ia ikut memejamkan mata meniru apa yang dilakukan Ratu

Pradnya Paramita. Bergegas Arya Tadah membuka mata. Bergegas pula

Arya Tadah merapatkan tangan di depan dada dan membawa telapak

tangan itu ke ujung hidung dalam sikap menyembah.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Arya Tadah.

”Paman Arya Tadah telah ikut mendengar bagaimana keinginan

dan pendapat para Mbakyu Ratu. Keputusan yang akan aku sampaikan

ini nantinya merupakan pengejawantahan keinginan semua kerabat istana.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 69

Namun, barangkali Paman akan menambahi? Kalau ya, silakan, Paman.

Siapa menurut Paman yang harus mewarisi kedudukan anakku

Jayanegara?”

Arya Tadah yang tua itu menghirup udara di ruangan itu melalui

tarikan napas panjang sebelum berbicara. Arya Tadah kembali

merapatkan kedua telapak tangannya yang ditarik dan dilekatkan ke dada,

lalu secara perlahan dibawa ke ujung hidung. Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri tersenyum menerima sembah itu.

”Kalau menurut hamba pribadi, siapa pun di antara para Sekar

Kedaton yang akan didudukkan menjadi ratu, hamba akan mengikuti

keputusan itu. Siapakah yang akan menjadi ratu, sepenuhnya terserah

pada keputusan para Tuan Putri. Negeri Kalingga di bawah Putri Shima

menjadi brenggala130 buat kita bahwa pemegang kuasa atas negeri tidaklah

harus seorang raja.”

Arya Tadah ternyata tidak memberikan pendapatnya, padahal Ratu

Gayatri sangat ingin Patih Amangkubumi Majapahit itu menyebut sebuah

nama untuk menjadi pembanding dengan nama yang telah tergenggam

di telapak tangannya.

”Baiklah, Paman. Aku akan segera menyampaikan siapa yang akan

aku tunjuk menjadi pengganti Anakmas Jayanegara. Apakah Cakradara

dan Kudamerta sudah berada di luar?” bertanya Ratu Gayatri.

Pertanyaan itu bukan sekadar bertanya, namun sejatinya sebuah

perintah bagi Patih Arya Tadah untuk keluar mempersilakan Cakradara

dan Kudamerta masuk. Arya Tadah bergegas menyembah lalu beringsut

mundur tanpa berani membelakangi para Ratu. Setelah berada pada jarak

cukup, Arya Tadah kembali menyembah dan berbalik. Ketika pintu

dibuka, benar Cakradara dan Kudamerta memang berada di luar pintu,

namun pada saat bersamaan Gajah Mada juga terlihat bergegas

mendekat.

”Silakan, Anakmas Cakradara dan Kudamerta,” ucap Mahapatih

Tadah.

130 Brenggala, Jawa, cermin

70 Gajah Mada

Cakradara dan Kudamerta saling pandang dan menyempatkan

memerhatikan Gajah Mada yang melangkah mendekat. Setelah

memberikan penghormatan kepada Mahapatih Arya Tadah, Cakradara

dan Kudamerta memasuki pintu yang telah dibuka untuknya. Dengan

beriringan dua pemuda gagah itu masuk ke dalam ruangan. Karena Gajah

Mada tak termasuk orang yang dipanggil, Mahapatih Tadah segera

menghadang kedatangan Patih Daha yang berbadan kekar dengan otototot

melingkar itu.

”Sedang terjadi pembicaraan penting di dalam, sebaiknya kau jangan

minta izin masuk,” cegah Tadah.

Gajah Mada memandang Arya Tadah amat tajam.

”Pembicaraan mengenai apa, Paman Tadah?” balas Gajah Mada.

”Memutuskan siapa yang akan diangkat menjadi pucuk pimpinan

negara ini.”

Terkatup mulut Gajah Mada dengan raut muka yang amat jelas

bisa dibaca.

”Aku wajib memberikan sumbang saranku, Paman,” kata Gajah

Mada.

Arya Tadah menggeleng. Pembicaraan yang terjadi di dalam berada

di luar wilayah kewenangan Gajah Mada. Keinginan Gajah Mada

menyampaikan sumbang saran itu bahkan terasa berlebihan siapa pun

Gajah Mada, apalagi ia hanya seorang patih di wilayah Daha.

”Jangan, Gajah Mada,” jawab Arya Tadah. ”Kau berada di luar

kewenangan pembicaraan itu.”

Gajah Mada merasa jengkel. Gajah Mada merasa punya alasan untuk

merasa jengkel. Itu sebabnya, wajahnya menebal.

”Paman, aku punya alasan penting untuk menyampaikan

pendapatku kepada para Ratu. Aku sangat memahami bila kehendakku

ini dirasa berlebihan. Akan tetapi, bila pembicaraan itu menyangkat

penunjukan siapa yang akan menggantikan Tuanku Jayanegara, suaraku

wajib didengar.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 71

Arya Tadah merasa jengkel.

”Bahkan aku, Gajah Mada,” jawab Mapatih yang dengan jelas

menampakkan rasa tidak senangnya, ”aku yang Mahapatih di Majapahit,

aku merasa tidak pantas dan tidak layak untuk mencampuri pembicaraan

para Ratu. Tuan Putri Ratu Gayatri telah menanyai aku, meminta

sumbang saranku atas siapa sebaiknya yang dipilih menjadi pengganti

Anakmas Jayanegara, aku menolak dan menyerahkan sepenuhnya kepada

para Ratu.”

Namun, bukan Gajah Mada kalau terpangkas niatnya hanya oleh

jawaban itu. Gajah Mada melangkah mundur membelakangi Arya Tadah

untuk sejenak kemudian berbalik lagi.

”Dulu ketika terjadi makar yang dilakukan Ra Kuti, suaraku amat

didengar. Manakala urusannya ada hubungannya dengan perebutan

kekuasaan, suaraku sangat didengar. Dan sekarang, di luar sana titik api

dalam bara sekam itu kembali menyala, bau perebutan kekuasaan dimulai

lagi. Adakah Paman masih akan menghalangi aku menghadap para Ratu

untuk menyampaikan pendapatku? Selama ini tugasku hanya sebagai

pemadam kebakaran, orang lain yang bermain api akulah yang bertugas

memadamkan kebakaran yang terjadi. Tak bisakah kali ini dibalik, suaraku

didengar sebelum kebakaran yang sebenarnya terjadi?”

Segera mencuat sebelah alis Arya Tadah.

”Apa maksudmu?” tanya kakek tua itu. ”Di luar sana ada titik api

dalam bara sekam, apa maksudmu, Gajah Mada?”

Namun, belum lagi Gajah Mada menjelaskan apa yang dimaksud,

Kudamerta yang semula sudah masuk ke dalam ruang itu keluar lagi.

”Paman,” Kudamerta menyita perhatian, ”Paman Mahapatih Arya

Tadah dan Gajah Mada diminta menghadap.”

Arya Tadah mengangguk. Jika para Ratu memang menghendaki,

tentu tidak masalah Gajah Mada dilibatkan dalam pembicaraan yang

terjadi. Gajah Mada dengan usianya yang masih muda dan tatapan

matanya yang tajam dalam memandang jauh ke depan sangat mungkin

mempunyai sumbang saran yang akan bermanfaat bagi kepentingan

bangsa dan negara. Ke depan pula, Arya Tadah bahkan berangan-angan

72 Gajah Mada

pemuda itu yang nantinya akan menggantikan kedudukannya menjadi

Mahapatih Wilwatikta apabila ia sudah tidak mampu lagi ngemban131

jabatan itu.

Dengan waktu bersamaan, Gajah Mada dan Mahapatih

Amangkubumi Arya Tadah memberikan sembahnya. Gajah Mada

menempatkan diri duduk bersila di belakang Cakradara dan Kudamerta

yang juga bersila berdampingan, sementara Arya Tadah kembali

menempatkan diri di tempat duduk semula. Para Ratu memerhatikan

dengan cermat pembicaraan yang akan terjadi. Udara dingin yang dirasa

menggigit menyebabkan Ratu Tribhuaneswari merasa membutuhkan

selimut yang lebih tebal lagi. Udara dingin yang sama bagi Ratu Pradnya

Paramita terasa sangat mengganggu. Beberapa kali Ratu Pradnya

Paramita harus bersin-bersin.

Hening yang sangat senyap menggerataki ruangan itu. Bau

kemenyan yang menyengat dari pahoman atau perapian besar di tengah

alun-alun mewarnai seisi ruang dengan amat pekat berbaur wangi

kembang setaman, bau parutan batang cendana serta asap dupa. Hening

bahkan mungkin dirasakan oleh para jin dan setan priprayangan132 yang

amat terpengaruh oleh perbawa pralaya yang terjadi. Perbawa pralaya itu

bahkan mulai dikemuli oleh kabut yang mengalir lamat-lamat. Halimun

mulai menyapa sudut-sudut pendapa. Balai Prajurit yang terletak di

selatan Segaran bahkan dijelajahi kabut yang lebih tebal, cahaya obor

yang dipasang berpendar.

Atas perintah Gajah Mada yang disalurkan ke segenap pasukan

Bhayangkara yang mengemban tugas khusus mengamankan istana,

penjagaan benar-benar ketat. Di luar pintu dijaga oleh empat prajurit

bersenjata dengan sikap tegak siaga yang apabila dikiaskan tidak ubahnya

patung batu yang disebut gopala. Di beberapa tempat dijaga prajurit

yang berkeliling di puncak kesiagaannya.

”Gajah Mada.”

Gajah Mada yang disebut namanya segera membalas dengan

kembali bersikap sebagaimana seharusnya. Sigap Gajah Mada

131 Ngemban, Jawa, memangku

132 Priprayangan, Jawa, segala makhluk halus

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 73

merapatkan dua telapak tangannya dan membawanya melekat ke ujung

hidung.

”Hamba, Tuan Putri Ratu Gayatri,” jawabnya.

Ratu Gayatri tidak berkedip dalam arah tatapan matanya.

”Aku percayakan segala hal yang harus diambil dalam persiapan

pemakaman Anakmas Prabu Jayanegara seutuhnya kepadamu. Ambil

langkah apa pun, kuberikan kewenangan seluasnya kepadamu dalam

melakukan itu. Selanjutnya, laporan apa yang hendak kauberikan

kepadaku, Gajah Mada?”

Gajah Mada kembali merapatkan dua telapak tangannya.

”Hamba telah mengatur semuanya. Hamba telah menyalurkan

semua perintah dan semua pihak telah bekerja sesuai tugas masingmasing.

Mohon Tuan Putri tidak perlu terganggu oleh masalah itu,”

jawabnya.

Ratu Gayatri mengangguk dan mengalihkan pandangan matanya,

kali ini pada wajah-wajah calon menantunya. Cakradara mempersiapkan

diri menjawab apabila Ratu Gayatri akan bertanya, demikian pula dengan

Kudamerta yang merasa perlu merapikan sikap duduknya. Namun, apa

yang diucapkan Ratu Gayatri ternyata belum sampai pada Cakradara

maupun Kudamerta. Kembali Ratu Gayatri menatap wajah Gajah Mada,

pembicaraan masih terarah pada Patih Daha itu.

”Ada sebuah hal penting yang ingin aku tanyakan terlebih dulu,

bagaimana penangananmu terhadap mayat Ra Tanca?” tanya Ratu

Gayatri.

Gajah Mada benar-benar terperanjat. Pertanyaan macam itu sama

sekali tidak diduganya. Gajah Mada sama sekali tidak mengira Ratu

Rajapatni Biksuni Gayatri akan bertanya bagaimana penanganan mayat

Rakrian Tanca, orang yang telah melukai hati dan perasaan para Ratu

bahkan kawula se-Majapahit. Gajah Mada segera bingung dalam

mengambil pilihan jawaban paling tepat, jawaban manakah yang harus

diberikan apabila menyangkut bagaimana membuat hati para Ratu yang

terluka itu gembira.

74 Gajah Mada

Rupanya sikap Ratu Gayatri amat berseberangan dengan sikap

umum yang menghendaki jasad Ra Tanca dibuang saja ke Kali Brantas

agar nantinya menjadi santapan buaya di mulut sungai menjelang laut

lepas di daerah Panjalu, atau jika perlu mayat itu dibuang ke hutan supaya

menjadi santapan harimau dan ular. Jika binatang-binatang itu tidak sudi

memangsa mayatnya karena mungkin mengandung racun, bisa dipastikan

mayatnya akan membusuk dan menjadi santapan cacing.

”Jika aku tak salah tebak,” lanjut Ratu Gayatri, ”penanganan

terhadap jasad Ra Tanca berjalan tidak semestinya. Benar demikian,

Gajah Mada.”

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada tangkas. ”Penanganan

terhadap pemakaman Ra Tanca sudah berjalan semestinya. Jasad Ra

Tanca sudah dikembalikan kepada keluarganya. Keluarganya itulah yang

paling berhak menentukan bagaimana pemakaman Ra Tanca. Apabila

keluarganya berniat mencandikan, keputusan itu sepenuhnya ada di

tangan mereka. Sebaliknya, hamba mohon izin bertanya, apakah Tuan

Putri akan mengizinkan Ra Tanca dicandikan?”

Jawaban Gajah Mada itu menyebabkan Ratu Gayatri terpaksa

tersenyum dan para Ratu yang lain dengan segera mencuatkan alis.

Namun, dengan segera pula para Ratu itu ingat, yang suka bicara blakblakan

macam itu hanyalah Gajah Mada.

Yang tidak diduga oleh Gajah Mada adalah jawaban Ratu Gayatri.

”Kalau keluarganya berniat mencandikannya tentu tidak ada pihak

mana pun yang berhak melarang mencandikan. Bukankah demikian yang

benar, Gajah Mada?”

Gajah Mada terbungkam. Sama sekali tak diduganya ucapannya

akan berbuah jawaban seperti itu. Gajah Mada segera ingat bahwa Ratu

Gayatri itu seorang biksuni. Sebagai biksuni, Ratu Gayatri terbebas dari

mata rantai dendam. Itulah sebabnya, cara pandang Ratu Gayatri tak

seperti cara pandang orang pada umumnya. Bila mata rantai dendam

dimanjakan, tentu segenap keluarga Ra Tanca, anak istrinya yang tidak

tahu apa-apa harus ditumpas habis sampai tanpa sisa.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 75

Di tempat duduknya, Mahapatih Arya Tadah menyembunyikan

senyum dan nyaris geleng-geleng kepala. Soal pencandian, Mapatih Arya

Tadah bahkan tidak pernah berpikir kelak kematiannya akan ditandai

dengan pembuatan sebuah candi.

Di tempat masing-masing, Cakradara dan Kudamerta seperti patung

beku. Tak terbaca perubahan apa pun di wajah mereka setelah mendengar

apa yang dikatakan Gajah Mada. Apabila tatapan mata Sri Gitarja tertuju

kepada wajah calon suaminya dengan menyembunyikan rasa gembira,

sangat berbeda dengan adiknya. Tubuh Sri Jayanegara yang menggeliat

setelah minum obat yang diberikan Ra Tanca, lalu tikaman keris yang

diayunkan Gajah Mada ke tubuh Ra Tanca, rangkaian peristiwa yang

terjadi itu melekat dan menjadi hantu abadi yang tak mungkin bisa

dilupakan. Wajah Rakrian Tanca yang justru memenuhi benak gadis itu.

Bagi Dyah Wiyat, amat sulit memusatkan perhatiannya kepada

Kudamerta. Kepada diri sendiri Sekar Kedaton Dyah Wiyat pernah

berusaha jujur terhadap pertanyaan, sukakah ia kepada calon suami yang

disodorkan kepadanya itu, cintakah ia kepada Kudamerta, jawabnya

ternyata tidak. Sama sekali tidak ada perasaan macam itu.

Jauh waktu berlalu, Dyah Wiyat tahu melalui isyarat yang diterimanya

bahwa lelaki yang pernah mengobati sakit demam yang dideritanya itu

menyukainya. Dalam hatinya lalu muncul gejolak. Di usia enam belas

tahun itulah untuk pertama kalinya permukaan hatinya disentuh orang,

menyebabkan ia selalu terkenang dan memikirkan, menyebabkan

tidurnya tidak pernah nyenyak, wajah Tanca selalu menyelinap dalam

lamunan. Terhadap Kudamerta calon suaminya, ia merasa tak memiliki

getar dahsyat seperti yang dirasakan ketika Ra Tanca memberikan isyarat

cintanya, mengundang gemuruh bagai gelegak gunung di relung-relung

kalbu. Sejak itu wajah Ra Tanca selalu membayang, angan-angannya

mulai melambung, andaikata bersuamikan Ra Tanca, andaikata tak ada

hambatan baginya untuk menjalin hubungan asmara dengan laki-laki

tampan beralis tebal berkumis tipis itu, hidupnya tentu bahagia. Dyah

Wiyat yang memejamkan mata tak mengikuti secara utuh pembicaraan

yang terjadi antara ibunya dengan Gajah Mada.

”Satu lagi sebuah pekerjaan besar aku percayakan kepadamu untuk

mengatur, Gajah Mada. Meski sebuah peristiwa besar, aku ingin

76 Gajah Mada

dilaksanakan dengan cara sederhana. Malam ini juga aku satukan anakku

Sri Gitarja dengan Cakradara dan anakku Dyah Wiyat dengan

Kudamerta. Aku ingin perkawinan mereka dilakukan saat ini mumpung

masih bisa ditunggui kakaknya.”

Segenap orang dalam ruang itu kaget. Udara serasa bergetar, dua

ekor cecak yang berlarian sejenak menghentikan tingkahnya.

Sebenarnyalah dalam pembicaraan sebelumnya masalah itu sama

sekali tidak dibicarakan. Ratu Tribhuaneswari saling pandang dengan

Ratu Pradnya Paramita, Ratu Narendraduhita memandang adiknya jelasjelas

dengan memperlihatkan raut muka tidak percaya.

Sri Gitarja tidak menampakkan perubahan apa pun di wajahnya,

namun dalam hatinya menyembunyikan warna berbeda. Sri Gitarja

merasa penungguan waktu yang sangat lama itu akhirnya sampai pula di

tujuan. Berbeda dengan Sri Gitarja, Dyah Wiyat amat kaget dan terbaca

jelas dari permukaan wajahnya. Dyah Wiyat langsung merasa tidak

bahagia dengan keputusan itu. Ia merasa keputusan itu aneh, ada sebuah

hal yang sulit ia mengerti, mengapa ia harus menerima keputusan itu

tanpa hak untuk mempersoalkan. Dilatari warna perasaannya terhadap

Kudamerta yang biasa-biasa saja, tidak meluap dan menggelegak seperti

warna perasaannya kepada Ra Tanca, Dyah Wiyat merasa ada yang tidak

pada tempatnya.

Cakradara tetap dalam sikapnya yang amat tenang. Sebagaimana

Sri Gitarja, Cakradara telah siap jiwa, raga, lahir, dan batin manakala

saatnya tiba. Di hari pralaya Jayanegara keputusan yang ditunggu-tunggu

itu akhirnya datang. Namun, Cakradara menyembunyikan warna hatinya

itu dengan sebaik-baiknya, raut mukanya datar-datar saja.

Di sebelahnya, Kudamerta menunduk. Wajah yang tiba-tiba

membayang dan memenuhi benaknya bukan wajah Dyah Wiyat.

Kudamerta juga tidak menyempatkan menengadah dan menoleh ke arah

calon istrinya. Dengan mata terpejam seperti itu yang hadir justru wajah

seorang lelaki tua yang kata-katanya selalu terngiang-ngiang di telinganya.

”Kau harus bermimpi, Kudamerta. Kau harus menggantungkan

angan-angan setinggi langit. Akan tetapi, tidak sekadar bermimpi, jauh

lebih penting dari itu kau harus berusaha dengan keras mewujudkan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 77

mimpi itu menjadi kenyataan. Kaupunya peluang itu, kau bisa menjadi

raja, menjadi orang terdepan. Kini saatnya, gunakan kesempatan yang

terbuka jelas di depan matamu.”

Wajah yang membayang dan demikian menyita perhatiannya itu

adalah wajah Panji Wiradapa. Berbeda dengan Cakradara yang tetap

tenang, sebaliknya Kudamerta tak bisa menyembunyikan gelisahnya

akibat racun yang mulai menjalar di benaknya. Awalnya Kudamerta tidak

pernah berpikir menjadi raja, namun sejak Panji Wiradapa meniupkan

mantra-mantra pembuka gerbang nafsu, keinginan untuk menjadi orang

utama di Majapahit itu menyeruak tumbuh dan mekar.

Apa yang disampaikan Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri itu juga

tak kalah mengagetkan Mahapatih Arya Tadah. Arya Tadah mempunyai

hubungan yang sangat dekat dengan para Sekar Kedaton. Waktu mereka

masih bayi, Arya Tadah ikut mengasuh dan menggendong mereka. Sekar

Kedaton kembang istana Sri Gitarja dan Dyah Wiyat itu baginya tak

ubahnya anak sendiri, kebahagiaan gadis-gadis itu dengan sendirinya

adalah kebahagiannya. Maka, ketika tiba saatnya Ratu Gayatri

memutuskan mengawinkan mereka, Arya Tadah merasa amat lega.

Sebuah beban yang selama ini mengganjal segera terbuang.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada tenang. ”Hamba akan

melaksanakan semua hal yang terkait dengan kehendak Tuan Putri Ratu.

Hamba akan menyalurkan perintah untuk mempersiapkan adiupacara

dengan sebaik-baiknya.”

Gajah Mada yang sama sekali tak kaget mendengar keputusan itu

memandang perintah itu sebagai perintah yang biasa saja. Akan tetapi,

dalam melaksanakan tugas, Gajah Mada mempunyai sebuah keyakinan

yang selalu dipegang teguh bahwa jangan sampai dalam menjalankan

perintah tidak tuntas. Perintah harus dikerjakan dengan tuntas dan

sempurna, pun jangan sampai terlihat bekas-bekasnya. Pekerjaan yang

bisa diselesaikan hari ini harus diselesaikan hari ini, jangan sampai

tertunda.

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri kembali melanjutkan kata-katanya.

”Kepada anakku Sri Gitarja, atas nama negara aku anugerahkan

gelar sebagai Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani, sedang kepada

78 Gajah Mada

anakku Dyah Wiyat, aku beri gelar Rajadewi Maharajasa. Padamu

Cakradara, mulai saat sekarang melekat gelar Cakreswara Sri Kertawardhana133

Prabu Singhasari, sedang padamu Kudamerta Breng

Pamotan, aku anugerahkan abiseka Sri Wijaya Rajasa Sang Apanji

Wahninghyun. Gunakan nama itu sesuai tempat dan waktunya, sedang

nama gelar yang oleh negara dianugerahkan kepadamu adalah Bre

Wengker Wijaya Rajasa Hyang Parameswara.”

Rangkaian kata-kata yang disampaikan Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri tidak satu pun tercecer dan telah disimak dengan cermat dan

saksama. Sri Gitarja memahatkan anugerah nama itu dalam lipatan

benaknya. Jauh-jauh hari, Sri Gitarja memang sudah mendengar nama

itulah yang akan dipakainya manakala telah bersuami. Demikian pula

dengan Dyah Wiyat, jauh hari juga sudah tahu pada dirinya kelak akan

melekat sebutan sebagai Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Yang terkejut karena tak menyangka sebelumnya adalah Cakradara.

Dengan memperistri Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani padanya

harus melekat nama yang seimbang, Sri Kertawardhana. Adakah makna

atau isyarat khusus di balik nama yang diberikan Ratu Biksuni Gayatri

padanya, juga pada nama Tribhuanatunggadewi yang diberikan kepada

Sri Gitarja. Cakradara tak mungkin menanyakan makna itu, tetapi

Cakradara berharap bisa menanyakan makna pemberian anugerah nama

itu kepada pamannya, orang yang dalam sehari-hari hanya berpenampilan

sebagai gamel atau pekatik, Pakering Suramurda.

Kudamerta lain lagi. Kudamerta juga bergegas memahatkan gelar

nama dan abiseka itu baik-baik. Kepada dirinya melekat nama yang dari

panjang kata-katanya bukan nama sembarangan, Bre Wengker Wijaya

Rajasa Hyang Parameswara. Bre Wengker memang namanya sebagai

pewaris penguasa Wengker, sebagaimana sebutan Bre Pamotan adalah

karena ia menguasai Pamotan, namun sebutan tambahan Wijaya Rajasa

133 Sri Kertawardhana, gelar Cakradara berdasar catatan Pararaton, namun informasi ini diragukan oleh

para ahli karena dalam Pararaton pula disebut Kertanegara adalah anak Cakradara yang tersirat dalam

kalimat ”Hana ta patutan Raden Cakradara anjeneng Ring Tumapel, bhiseka Sri Kertawardana”.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 79

Hyang Parameswara, adakah itu berarti ia yang bakal ditunjuk menjadi

Raja Majapahit atas nama calon istrinya? Penganugerahan nama Rajasa

untuk orang luar sungguh memiliki arti luar biasa karena hanya orangorang

yang berada di jalur garis keturunan Rajasa yang boleh

menggunakan. Raden Wijaya menggunakan gelar Kertarajasa

Jayawardhana karena ia keturunan Ken Arok, Raja Singasari pertama

yang menggunakan gelar Sri Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Gajah Mada yang menyimak nama-nama itu mulai merasa gelisah.

Gajah Mada merasa penganugerahan nama-nama itu memang sarat

isyarat, bukan nama-nama yang tidak punya makna.

Melihat Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri mengarahkan pandangan

mata kepadanya, Gajah Mada segera merapatkan dua telapak tangannya.

”Gajah Mada,” Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri menyebut nama

Patih Daha itu dengan suara lirih, namun terdengar sangat jelas karena

demikian hening ruangan itu.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada.

”Selanjutnya aku perintahkan kepadamu untuk menyebar wara-wara

kepada segenap khalayak ramai atas keputusan yang kami ambil, siapa

yang menggantikan kedudukan Anakmas Sri Jayanegara.”

Gajah Mada merapatkan telapak tangannya dan mengangkat

melekat ke ujung hidung. Gajah Mada melakukan itu sedikit lebih lama,

menyebabkan Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri tercuri perhatiannya.

”Kau akan menyampaikan pendapatmu, Gajah Mada?” tanya

Gayatri,

”Hamba, Tuan Putri,” Gajah Mada menjawab. ”Hamba mohon

perkenan untuk menyampaikan sumbang saran. Semoga Tuan Putri Ratu

berkenan menerima.”

Para Ratu saling pandang. Ratu Gayatri mengangkat tangannya

memberikan sebuah isyarat agar Gajah Mada melanjutkan bicara.

Pandangan mata Sri Gitarja tak berkedip kepada sosok prajurit yang

dikaguminya itu, demikian pula dengan Dyah Wiyat tidak mengalihkan

80 Gajah Mada

perhatiannya. Cakradara dan Kudamerta yang duduk di depan Gajah

Mada tidak mungkin menoleh ke belakang, yang bisa mereka lakukan

hanya mendengar saja.

”Sebelumnya hamba mohon ampun, Tuan Putri Ratu. Hamba akan

mendahului dengan sebuah pertanyaan, apakah benar para Tuan Putri

Ratu telah mengambil keputusan, menunjuk siapa orang yang akan

menjadi raja ataupun ratu yang baru menggantikan Tuanku Sri

Jayanegara?”

Gajah Mada menurunkan dua telapak tangannya yang semula

menyembah. Pertanyaan itu memaksa Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri

bertukar pandangan dengan para saudaranya.

”Benar, Patih Daha,” Ratu Gayatri menjawab. ”Kami semua telah

berembuk, namun Mbakyu Ratu Tribhuaneswari menyerahkan

sepenuhnya kepadaku, demikian pula dengan Mbakyu Ratu

Narendraduhita dan Mbakyu Ratu Pradnya Paramita, beliau semua

menyerahkan keputusan siapa yang akan ditunjuk menjadi penguasa

negeri ini kepadaku. Atas wewenang yang kupegang itu, aku telah siapkan

sebuah nama, siapa raja atau yang akan menggantikan Anakmas Prabu

Jayanegara. Apa dengan pertanyaan yang kamu ajukan itu, kamu akan

memberikan sumbang saran, siapa sebaiknya yang akan diangkat menjadi

raja menggantikan Anakmas Jayanegara yang telah mangkat?”

Ruangan itu yang semula sangat hening menjadi bertambah hening.

Cahaya beberapa lampu ublik yang dipasang di sudut-sudut dinding

mencoba menerangi raut muka Gajah Mada. Namun, amat sulit menebak

apa isi benaknya. Cakradara dengan pesaingnya saling melirik. Kabut

tipis yang semula lamat-lamat mulai menebal.

Yang kemudian menjadi gelisah justru Patih Amangkubumi Arya

Tadah. Arya Tadah merasa sikap Patih Daha itu terlalu berlebihan. Arya

Tadah merasa, setinggi apa pun derajat ataupun pangkat Gajah Mada

sumbang suaranya belum pantas menjadi bahan pertimbangan para Ratu

dalam mengambil keputusan. Apalagi bila mengingat pilihan yang

tersedia hanya dua, tinggal memilih satu di antara Sri Gitarja atau Dyah

Wiyat.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 81

”Apa saranmu, Gajah Mada?”

Gajah Mada merasakan desir tajam di dadanya, yang bertanya itu

bukan lagi Ratu Gayatri, namun Ratu tertua, Sri Parameswari Dyah Dewi

Tribhuaneswari.

”Hamba, Tuanku. Hamba mempunyai sebuah saran. Siapa pun yang

akan para Tuan Putri Ratu tunjuk, mohon keputusan itu ditunda lebih

dulu. Menurut pendapat hamba, para Tuan Putri Ratu masih memiliki

waktu cukup lapang untuk mengambil keputusan yang menyangkut masa

depan dan kepentingan Majapahit.”

Gelegar suara meledak menyamai guntur serasa meledak di ruangan

itu. Ratu Gayatri mencuatkan alis, demikian pula dengan Ratu

Tribhuaneswari mengerutkan dahi pertanda benar-benar tercuri

perhatiannya. Patih Arya Tadah tidak kalah heran, sebaliknya Raden

Cakradara dan Kudamerta kebingungan karena tidak bisa menoleh ke

belakang untuk melihat seperti apa raut muka Gajah Mada ketika

mengutarakan isi hatinya. Di sudut ruang, Sri Gitarja dan Dyah Wiyat

tidak bergeser perhatiannya dari wajah Gajah Mada.

”Jadi, bukan soal siapa orang yang aku tunjuk?”

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada dengan sigap. ”Hamba

hanya mohon agar para Tuan Putri berkenan menunda sampai hamba

merasa yakin rasa penasaran hamba akan terjawab.”

Ratu Gayatri menjadi amat heran.

”Kenapa, Patih Daha. Berilah aku alasan yang sesuai sebagai harga

untuk menunda. Rasa penasaran terhadap apakah yang kaumaksud itu?”

Patih Daha kembali merapatkan kedua telapak tangannya dan

memberikan sembahnya.

”Hamba, para Tuan Putri Ratu. Di luar telah terjadi pembunuhan.

Hamba harus menggelar penyelidikan untuk mengetahui apa yang terjadi,

mengapa pembunuhan itu terjadi pada malam ini.”

Wajah Ratu Gayatri menegang, namun tidak untuk waktu terlalu

lama. Para Ratu yang lain amat memahami dan menerima permohonan

82 Gajah Mada

yang memang masuk akal itu. Namun, Ratu Pradnya Paramita merasa

perlu menguji.

”Apa salahnya jika Adi Ratu Gayatri tetap mengumumkan

sekarang?” tanya Ratu Pradnya Paramita.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada dengan penuh keyakinan.

”Menurut hamba, pembunuhan yang terjadi itu merupakan sebuah

pertanda kecil yang muncul ke permukaan. Kematian itu dialami oleh

seorang prajurit di lingkungan istana dan terjadi ketika Sang Prabu baru

saja mangkat. Hamba curiga tanda yang mungkin hanya berupa buih

gelombang itu menyembunyikan persoalan yang besar. Oleh sebab itu,

hamba mohon agar para Tuan Putri Ratu berkenan menunda.”

Suasana menjadi hening. Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah

akhirnya bisa memahami, mengapa Gajah Mada memaksa menghadap

para Ratu. Meski Arya Tadah amat penasaran, bobot rasa penasarannya

tidak segelisah Kudamerta. Calon suami Dyah Wiyat itu mendadak

merasa amat tidak tenang. Kakinya yang bersila mulai dirambati rasa

kesemutan. Namun, Kudamerta terpaku beku di tempat duduknya.

Kecemasannya adalah apabila pamannya melakukan tindakan tidak

terkendali karena Panji Wiradapa amat mungkin melakukan tindakan

yang tidak terkendali, bahkan melakukan tindakan yang bisa berimbas

bahaya tanpa seizinnya.

”Siapa yang terbunuh? Paman Panji Wiradapa melakukan tindakan

apa?” Raden Kudamerta bertanya-tanya.

Kudamerta layak cemas karena ia sangat mengenal Panji Wiradapa

yang amat sering melakukan tindakan mendadak tanpa melalui

pertimbangan lebih dulu.

”Padahal, pucuk pimpinan istana tidak boleh mengalami kekosongan,”

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri melanjutkan. ”Bagaimana

pendapatmu mengenai hal itu, Patih Daha Gajah Mada?”

Gajah Mada menengadah dan tanpa merasa sungkan memandang

lurus wajah Ratu Gayatri.

”Menurut hamba, untuk sementara kekuasaan itu sebaiknya berada

di tangan Tuan Putri Ratu Gayatri,” jawab Gajah Mada.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 83

Sri Gitarja memandang Gajah Mada agak sedikit larut. Apa yang

disampaikan Gajah Mada itu tak secuil pun yang membuat hatinya merasa

tidak senang. Gajah Mada bukan prajurit sembarangan dan pandangan

serta pendapatnya semata-mata adalah demi negaranya. Pun demikian

dengan Dyah Wiyat yang memiliki hati demikian jernih. Dyah Wiyat

sama sekali tidak memiliki keinginan menjadi seorang ratu yang

disembah, persoalannya bukan karena kedudukan sebagai ratu. Namun,

tanggung jawabnya yang demikian berat yang menyebabkan Dyah Wiyat

Rajadewi Maharajasa begitu ikhlas andai kakaknyalah yang ditunjuk. Lagi

pula, bukankah yang lebih tua yang harus didahulukan?

”Tegasnya, untuk sementara aku yang menjadi ratu?” tanya Ratu

Gayatri.

”Hamba, Tuanku.”

Ratu Gayatri mengarahkan pandangan matanya kepada Mapatih

Arya Tadah. Arya Tadah bergegas merapatkan dua telapak tangan dalam

sikap menyembah.

”Bagaimana menurut Paman?” tanya Ratu Gayatri.

Bagaimanapun Arya Tadah melihat, sampai pada Sri Gitarja dan

adiknya tak ada masalah. Namun, tidak demikian dengan Cakradara dan

Kudamerta yang samar-samar terbaca keinginan mereka menjadi

pendamping ratu. Padahal, Cakradara dan Kudamerta masing-masing

memiliki pendukung yang banyak jumlahnya. Rupanya usulan Gajah

Mada itu sungguh bijaksana. Dengan ditundanya pengangkatan raja baru

maka di rentang waktu yang ada akan bisa dimanfaatkan untuk menilai

sosok macam apa Raden Cakradara dan Raden Kudamerta. Menjadi

suami ratu dengan sendirinya akan menempatkan suaminya tak ubahnya

raja.

”Hamba sependapat dengan usulan Patih Daha Gajah Mada, Tuan

Putri Ratu. Dengan demikian, Tuan Putri Ratu akan memiliki kesempatan

untuk menimbang lebih teliti dan memandang peralihan kekuasaan itu

dengan lebih jelas.”

Ratu Gayatri memejamkan mata. Di keheningan mata hatinya Ratu

Gayatri bisa menerima pendapat itu.

84 Gajah Mada

”Bagaimana dengan para Mbakyu Ratu?” Gayatri bertanya.

Ratu Tribhuaneswari yang semula mengarahkan tatapan matanya

menggerataki raut muka Gajah Mada itu menoleh perlahan pada adiknya.

Ratu Tribhuaneswari segera memberikan senyumnya.

”Aku sependapat dengan Gajah Mada,” jawabnya.

Ratu Narendraduhita segera menambahi, ”Tak ada salahnya kau

mengambil alih keadaan. Sampai pada suatu ketika kelak kau bisa

menunjuk siapa yang pantas menduduki dampar.”

Ratu Pradnya Paramita juga menyumbangkan senyum.

”Aku sependapat dengan Gajah Mada. Silakan Adi Gayatri yang

duduk di atas dampar singgasana.”

”Tetapi, aku seorang biksuni,” jawab Gayatri.

”Justru dengan dipimpin oleh seorang biksuni yang terjauhkan dari

putaran karma dan nafsu, negara akan menjadi tenteram, aman, dan

damai. Adi Ratu Rajapatni tidak perlu cemas, bukankah ada Paman Arya

Tadah dan Gajah Mada yang begitu perkasa yang akan membantu Adi

Ratu?”

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri terbungkam untuk waktu lama.

Setidaknya memang diperlukan waktu untuk mengambil keputusan

menghadapi keadaan yang tidak terduga itu.

”Baiklah, aku terima usulan Gajah Mada yang didukung para

Mbakyu Ratu dan Paman Patih Arya Tadah. Sampai ketika kita kelak

melihat siapa yang pantas menduduki dampar istana, aku yang akan

menempatinya lebih dulu.”

Mendengar ucapan itu serentak Gajah Mada mengubah sikap

duduknya dari yang semula bersila, kali ini kaki kiri ditekuk bersandar

tumit dengan kaki kanan menapak di tanah. Dengan sikap itulah Gajah

Mada memberikan sembahnya, sembah yang diberikan kepada orang

dalam kedudukan sebagai ratu pimpinan negara. Sikap yang dilakukan

Gajah Mada dilakukan pula Cakradara dan Kudamerta. Arya Tadah tidak

turun dari tempat duduknya, namun dengan santun pula Patih Amangkubumi

itu merapatkan dua telapak tangannya dan membawanya ke

ujung hidung.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 85

Sri Gitarja dan adiknya merasa tidak lagi berhadapan dengan ibunya,

namun berhadapan dengan ratu penguasa Majapahit yang baru. Sri

Gitarja dan Dyah Wiyat yang semula berdiri segera duduk bersimpuh

sambil memberikan sembahnya dengan takzim.

”Gajah Mada,” ucap Ratu Gayatri.

Gajah Mada yang kembali bersila segera memberikan sembahnya.

”Hamba, Tuan Putri,” jawabnya.

”Lalu, siapa orang yang terbunuh malam ini?”

”Hamba, Tuan Putri. Orang yang terbunuh dalam sebuah

perkelahian masih kerabat Raden Kudamerta, namanya Ki Panji

Wiradapa.”

Kudamerta merasa pilar ruang itu bergoyang.

7

Mengombak wajah Raden Kudamerta memerhatikan mayat yang

masih bisa dikenalinya dari sisa pakaian dan pahatan timang134 yang

dikenakan orang yang tubuhnya terbakar hangus. Mayat itu juga bisa

dikenali dari terompah kaki yang melekat. Raden Kudamerta yang

tangannya menggenggam terasa dingin, namun panas di dadanya apabila

menyambar daun-daun kering maka akan terbakar hangus daun-daun

kering itu. Andai telur mentah berada di dalam genggaman tangannya

maka akan matang mengeras telur itu.

134 Timang, Jawa, pengait ikat pinggang, gasper

86 Gajah Mada

”Siapa yang melakukan perbuatan ini, Paman Panji Wiradapa?”

gumamnya. Isi dadanya membuncah menggelegak dan amat butuh

penyaluran.

Namun, Panji Wiradapa telah telanjur beku menjadi mayat. Panji

Wiradapa tidak mungkin menjawab pertanyaan itu. Sekujur tubuhnya

yang menjadi sumber bau daging terbakar merangsang keinginan untuk

muntah.

Raden Kudamerta Breng Pamotan yang baru saja mendapat

anugerah gelar Bre Wengker Wijaya Rajasa Hyang Parameswara

mengedarkan pandangan matanya ke arah semua orang yang

menggerombol melingkar mengelilingi mayat pamannya, seolah bertanya

apa yang telah terjadi. Perapian yang porak-poranda dan keadaan mayat

yang hangus dengan lugas bercerita betapa kejam orang yang melakukan

pembunuhan itu. Panji Wiradapa dilempar ke dalam api yang berkobar

dalam keadaan masih hidup. Panji Wiradapa yang meronta kesakitan

menyebabkan perapian porak-poranda. Api benar-benar telah

menghanguskan tubuhnya menyebabkan seorang prajurit benar-benar

muntah. Raden Kudamerta melirik prajurit itu yang dengan segera

bergegas menjauh.

”Apa yang terjadi pada pamanku?” bertanya Kudamerta.

Pertanyaan yang dilontarkan Kudamerta itu terdengar amat jelas.

Pertanyaan yang tidak hanya mengusik para prajurit yang berkeliling

bagaimana cara menjawabnya, tetapi seketika itu juga muncul rasa heran

karena Kudamerta menyebut Panji Wiradapa sebagai pamannya. Padahal,

selama ini Panji Wiradapa berada di bawah perintah Kudamerta. Di

depan banyak orang Kudamerta acap membentaknya, namun kini

dengan suara begitu serak dan bergetar Raden Kudamerta secara lugas

mengutarakan rasa geram dan amarahnya, terlihat jelas betapa penting

kedudukan Ki Panji bagi Raden Kudamerta.

Gajah Mada datang mendekat berusaha menenangkan Kudamerta.

”Percayakan kepadaku untuk menemukan siapa pembunuhnya,

Raden,” kata Gajah Mada. ”Sekarang silakan Raden kembali ke istana.

Untuk sementara, lupakan apa yang terjadi dan menimpa paman Raden.

Raden harus memusatkan perhatian ke upacara perkawinan yang harus

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 87

Raden jalani malam ini. Pusatkan pikiran Raden pada acara itu, jangan

pikirkan masalah ini karena ada aku yang mewakili mengurusnya.”

Raden Kudamerta tidak menjawab ucapan Gajah Mada. Pandangan

matanya tertuju pada timang yang tergeletak dan pakaian yang dikenakan

Panji Wiradapa yang dengan segera dipungut dan dibersihkannya. Wajah

Kudamerta benar-benar menebal dan mengalami kesulitan untuk

menerima peristiwa itu sebagai sebuah kenyataan. Ki Panji Wiradapa

mungkin sosok yang menyebalkan karena orang itu memiliki banyak

tuntutan yang merepotkan, yang sepak terjangnya sering menyudutkan

dirinya serta membuatnya bingung. Namun, ketika Ki Panji Wiradapa

itu kini terbunuh, bagaimana pun juga ada rasa tidak rela di permukaan

hatinya.

”Baiklah,” ucap Kudamerta dengan suara parau. ”Aku percayakan

kepadamu untuk menemukan pembunuhnya, Adi Gajah Mada.”

Raden Kudamerta menyimpan timang itu dan membawa ayunan

langkah kaki yang terasa sangat berat. Para prajurit yang melingkar

menyaksikan apa yang terjadi segera menyibak memberi jalan untuk

lewat. Raden Kudamerta tidak punya pilihan. Ia terpaksa menyerahkan

penanganan apa yang terjadi itu kepada Gajah Mada karena ia harus

menjalani persiapan perkawinan yang diselenggarakan beberapa saat lagi.

Peristiwa penting dalam perjalanan hidupnya yang mestinya membuatnya

bahagia itu ternyata harus terganggu oleh sebuah peristiwa yang

mengusik kemarahannya. Pusat perhatian kini tertuju kepada Gajah

Mada.

”Siapa yang menyaksikan kejadian ini?” bertanya Gajah Mada.

”Dia yang melihat,” terdengar jawaban seorang prajurit.

Gajah Mada memerhatikan arah telunjuk prajurit itu yang ditujukan

kepada prajurit yang lain. Prajurit yang menjadi sasaran arah telunjuk

berusaha menghindar, namun terlambat dari tangkapan mata Gajah

Mada.

”Kamu, ke sini,” panggil Gajah Mada.

88 Gajah Mada

Prajurit yang berpangkat paling rendah di tataran keprajuritan itu

merasa tak mungkin menghindar. Dengan agak ragu prajurit itu

mendekat. Gajah Mada memiliki wibawa yang sangat besar,

menyebabkan prajurit itu merasa gugup, tangan kirinya bahkan agak

buyutan.

”Siapa namamu?” tanya Gajah Mada.

”Wraha Kunjana, Kiai,” jawab orang itu.

Dipanggil dengan sebutan Kiai ternyata menyebabkan Gajah Mada

terdiam. Di antara beberapa prajurit ada yang tidak kuasa menahan tawa

melihat untuk pertama kalinya Gajah Mada dipanggil Kiai.

”Kamu melihat apa yang terjadi, Wraha?” tanya Gajah Mada lebih

tegas.

Prajurit berpangkat paling rendah itu terlihat gugup, namun dengan

sekuat tenaga berusaha menguasai diri.

”Ketika aku datang, mereka sedang berkelahi. Kiai Panji Wiradapa

berkelahi dengan orang yang tidak dikenal. Terjadi perkelahian dalam

bentuk gulat dan saling membanting, celaka Kiai Panji Wiradapa yang

tubuhnya kalah kuat dan kekar dari lawannya, ia berhasil diringkus

lawannya dan dilemparkan ke dalam kobaran api.”

Gajah Mada mengarahkan pandangan matanya ke kobaran api dari

tumpukan kayu dalam jumlah cukup banyak sambil membayangkan

betapa orang yang menjadi korban tentu mengalami kesakitan luar biasa.

Bila boleh memilih atas bagaimana cara kematian yang menimpa, apalagi

apabila memang hanya mati pilihannya, tentu akan banyak orang yang

memilih mati dengan cara lain, bukan mati terbakar. Mati mendadak

oleh serangan jantung merupakan pilihan yang menyenangkan daripada

mati terbakar.

”Kamu mengenal Panji Wiradapa?” tanya Gajah Mada.

”Ya,” jawab prajurit itu.

”Tetapi, kamu tidak mengenal siapa lawan berkelahinya?”

tambahnya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 89

Prajurit itu menggeleng.

”Aku tidak tahu dan waktunya cepat sekali. Orang itu melarikan

diri ke sana.”

Wraha Kunjana mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah. Siapa

pun yang lari ke sana akan terhadang oleh dinding yang tinggi. Adakah

orang yang melakukan pembunuhan melompati dinding itu dengan cara

memanjat salah satu pohon bramastana dan kemudian menyeberang ke

luar dinding. Agaknya memang itulah yang dilakukan pelakunya.

”Bagaimana perawakan orang itu?” tanya Gajah Mada.

”Tidak jelas, Kiai,” jawab prajurit itu lagi.

Gajah Mada memerhatikan orang itu dengan lebih cermat.

”Pakaian yang dikenakan, atau ciri-ciri khusus yang ia punya, gemuk

atau kurus, tinggi atau pendek, apa pun yang kauingat,” Gajah Mada

menambah.

”Mengenai soal gemuk atau kurus, orang itu lebih gemuk daripada

Ki Lurah Panji Wiradapa. Tingginya menurutku tak seberapa tinggi dan

wajahnya tidak tampak jelas,” jawab Wraha Kunjana.

Gajah Mada memerhatikan wajah orang yang melihat kejadian itu

dengan tak berkedip dan bahkan cenderung melotot menyebabkan

prajurit itu harus menyimpan arus cemas yang memaksa jantungnya

mengayun berdebar-debar. Lewat tatapan mata itu seolah Gajah Mada

sedang mengukur tingkat kejujurannya, adakah yang ia katakan benarbenar

sesuai kenyataan. Gajah Mada mendadak merasa tidak ada guna

berprasangka dan mengukur kejujuran orang itu. Keterangannya tentulah

sama dan sesuai dengan keadaan yang dilihatnya. Namun, sikap Wraha

Kunjana memang aneh. Ia tidak termasuk ke dalam mereka yang bertikai

dalam persoalan itu. Namun, mengapa sikapnya demikian gugup?

Adakah sesuatu yang ia sembunyikan?

Gajah Mada akhirnya merasa tak ada manfaatnya memeras

keterangan apa pun dari mulut prajurit bernama babi itu karena bukankah

wraha adalah nama lain dari babi sebagaimana taksaka adalah nama lain

dari para ular atau kukila nama lain dari para burung.

90 Gajah Mada

”Baiklah,” kata Gajah Mada, ”kamu boleh pergi, aku tak

membutuhkan kamu lagi.”

Gajah Mada menebar pandang ke puluhan prajurit yang wajahwajah

mereka terlihat mengombak, masing-masing mewakili warna

perasaan mereka. Sedikit agak ke sudut dua orang menepi dan berbicara

dengan saling berbisik.

”Ternyata dugaanku benar,” ucap orang pertama.

Prajurit di sebelahnya menoleh, ”Dugaan apa yang kamu maksud?”

”Pada suatu hari,” jawab prajurit pertama, ”aku memergoki

keganjilan. Kejadiannya lebih kurang tiga bulan yang lalu. Saat mereka

hanya berdua, maksudku saat Raden Kudamerta hanya berdua dengan

Ki Panji Wiradapa, aku bingung melihat Ki Panji Wiradapa memarahi

Raden Kudamerta, aku tak habis mengerti dari mana ia memperoleh

hak memarahi itu sementara dalam sikap kesehariannya aku melihat

Raden Kudamerta yang sering membentaknya. Aku merasa yakin ada

sesuatu yang disembunyikan oleh Ki Panji Wiradapa. Hubungan di antara

mereka bersimpul teka-teki aneh.”

Prajurit kedua termangu mencerna ucapan prajurit pertama.

”Padahal, pangkatnya jauh lebih rendah. Panji Wiradapa mendapat

pangkat lurah prajurit baru saja. Belum terlalu lama. Seingatku belum

setahun yang lalu.”

”Itulah,” jawab prajurit pertama. ”Hal itu memunculkan rasa

penasaran, siapa sebenarnya Ki Panji. Dalam hubungan apa ia terlihat

begitu khusus di mata Raden Kudamerta. Mengapa ia begitu penting,

setidaknya seseorang sampai harus membunuh?”

”Aku tidak tahu,” jawab prajurit yang seorang lagi.

”Juga apa alasan pembunuhan itu, yang dilakukan tepat saat

Majapahit sedang berkabung seperti ini?”

Jawaban yang dibutuhkan untuk pertanyaan itu menjadi sebuah

pertanyaan yang menggantung bagai saat butuh terang di kegelapan

malam yang tebal dan pekat. Apabila dirunut, kematian pada dasarnya

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 91

bukanlah peristiwa aneh. Kematian akan menimpa siapa saja dan kapan

saja, termasuk tumbuhan dan binatang, semua akan mati. Kematian

karena pembunuhan menjadi tak biasa karena terjadi atas campur tangan

pembunuhnya dan itu bertentangan dengan rasa keadilan, sementara

kematian yang menimpa Ki Panji Wiradapa amat mencuri perhatian

karena terjadi bersamaan dengan kalangan istana sedang berkabung

kehilangan rajanya yang juga mati akibat pembunuhan. Terjalin hubungan

apakah di antara kedua pembunuhan itu?

Senopati Gajah Enggon yang didampingi Gagak Bongol datang

mendekat.

”Kakang Gajah memanggilku?” bertanya Gajah Enggon dengan

sigap.

Gajah Mada tak menjawab pertanyaan itu karena tatapan matanya

lekat tertuju pada arah yang semula menjadi arah telunjuk Wraha Kunjana

yang menunjuk ke arah itulah pembunuh Panji Wiradapa melarikan diri.

Perlahan Gajah Mada berbalik dengan tatapan nyaris tidak berkedip

tertuju pada Gajah Enggon dan Gagak Bongol, yang masing-masing

merupakan pimpinan pasukan Bhayangkara dan wakilnya.

Oleh latihan kanuragan sebagai bekal prajurit, Gagak Bongol yang

memegang pedang khusus bercirikan Bhayangkara terlihat gagah dengan

tubuh kekar dan bagus. Akan tetapi, Gajah Enggon juga tak kalah. Meski

sedikit lebih langsing dari teman yang sekaligus pesaingnya, Gajah

Enggon atau Gajah Pradamba tampak beribawa dan tidak kalah sangar.

Pedang khusus Bhayangkara yang selalu melekat di tangan kirinya

menyebabkan siapa pun akan berpikir dua kali bila berniat berurusan

dengan prajurit yang selalu berbicara dengan nada amat tegas itu.

Akan tetapi, dibanding Gajah Enggon dan Gagak Bongol,

penampilan Gajah Mada benar-benar tak tertandingi. Kakinya adalah

kaki yang kukuh, tangannya adalah tangan yang kekar, dan otot-ototnya

paling melingkar. Gabungan kekuatan dari Gagak Bongol dan Gajah

Enggon tidak akan mampu menggoyahkan kaki Gajah Mada dalam adu

dorong, hal yang pernah dilakukan dalam sebuah latihan keprajuritan

pada sebuah hari di masa lalu yang disaksikan secara langsung oleh

92 Gajah Mada

mendiang Kalagemet. Melengkapi tubuhnya yang demikian gagah dan

kekar, Gajah Mada memiliki otak yang cerdas, pendapat dan cara

pandangnya adakalanya bahkan jauh tembus ke masa depan dan sering

mengagetkan yang menyimaknya. Jayanegara termasuk orang yang sering

terkaget-kaget mendengar gagasan yang keluar dari benak Gajah Mada.

Demikian kekar dan kuat tangan Patih Daha Gajah Mada sampaisampai

ia mampu menghantam bende Kiai Samudra dengan genggaman

tangannya. Menggelegar suara bende terdengar sampai ke batas dinding

kotaraja meski gong besar itu dipukul tidak menggunakan pemukul

semestinya.

”Kamu masih bisa mengenali prajurit yang mati itu?”

Gajah Enggon dan Gagak Bongol bersamaan mendekat dan

memerhatikan tubuh yang gosong itu.

”Siapa orang ini, Kakang Gajah?” tanya Bongol.

”Kamu tidak bisa mengenali?” balas Gajah Mada.

Gajah Pradamba dan Gagak Bongol memerhatikan mayat dalam

keadaan gosong itu dengan saksama. Dua orang pimpinan prajurit

Bhayangkara itu berusaha mengenali lebih cermat, namun keadaan mayat

itu sangat rusak untuk bisa ditandai jati dirinya. Gajah Enggon

menggeleng tanda tak tahu, Gagak Bongol menyerah dengan

membalikkan wajah ke arah Gajah Mada.

”Pernah mendengar nama Panji Wiradapa?” tanya Gajah Mada.

Gagak Bongol dan Gajah Enggon terbelalak.

”Ini mayat Ki Panji Wiradapa?” tanya Gajah Enggon dengan raut

muka sulit untuk percaya.

Sebagaimana Gajah Mada yang terkejut mengetahui orang yang

terbunuh itu adalah Panji Wiradapa, demikian pula dengan Gagak Bongol

dan Gajah Enggon. Ki Panji Wiradapa bukanlah nama yang terkenal,

bahkan tidak banyak prajurit di Majapahit yang mengenal nama itu.

Namun, kalangan telik sandi Bhayangkara tidak mungkin menganggap

nama Panji Wiradapa sebagai nama yang boleh diremehkan, lebih-lebih

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 93

setelah menyimak jejak sepak terjangnya dalam sebulan terakhir. Akan

berbeda bila waktu ditarik mundur ke belakang, nama Panji Wiradapa

sangat lekat dengan sosok Mahapati atau Ramapati yang petualangannya

menyebabkan perang amat berdarah terjadi ketika Majapahit menggebuk

Lumajang. Ketika itu, Panji Wiradapa tidak menggunakan namanya

sekarang. Panji Wiradapa menggunakan nama aslinya. Panji Wiradapa

yang sekarang justru merupakan nama palsu.

”Apa artinya ini?” tanya Gagak Bongol dengan raut muka tegang.

Gajah Mada tidak menjawab, tetapi menyerahkan pencarian

jawabnya kepada Gagak Bongol sendiri, juga Gajah Mada tidak berbicara

apa pun pada Enggon. Raut muka Gajah Enggon menegang, matanya

setengah mendelik, demikianlah kebiasaan Gajah Enggon ketika dilibas

rasa penasaran.

”Siapa yang melakukan pembunuhan ini?” tanya Senopati Gajah

Enggon.

”Aku serahkan penelusurannya kepadamu,” jawab Gajah Mada.

”Berpikirlah dengan segenap rasa penasaran, Gajah Enggon. Bahwa

malam ini Tuanku Baginda Jayanegara tewas terbunuh, ternyata pada

malam yang sama, di dalam lingkungan istana, terjadi sebuah

pembunuhan yang lain. Seseorang mati melalui pembunuhan pula.

Masalahnya yang mati adalah Ki Panji Wiradapa yang jejak jati dirinya

baru kita temukan belum sebulan yang lalu. Kesamaan hari kematian

itu, adakah hanya sebuah kebetulan atau ada kaitannya, apalagi bila

kecurigaan itu bisa mengganggu para Tuan Putri Ratu dalam sidang

menentukan siapa yang bakal ditunjuk menjadi raja menggantikan

Tuanku Baginda. Jangan sampai para Tuan Putri Ratu mengambil pilihan

yang salah. Sekali lagi, bukan anak-anaknya yang layak dipersoalkan,

namun para calon suami mereka yang harus dipelototi dengan teliti.”

Gagak Bongol terdiam dan berpikir keras, matanya terarah ke satu

titik.

”Atau…bisa pula ada kaitannya dengan kematian Ra Tanca?”

”Mungkin!” jawab Gajah Mada tangkas. ”Bisa juga berkaitan dengan

Rakrian Tanca. Sebulan yang lalu kita memperoleh keterangan atas

94 Gajah Mada

gerakan orang-orang yang berniat merebut kekuasaan. Mereka bicara

soal bagaimana menguasai dampar andai Baginda Jayanegara tidak lagi

berkuasa. Tiba-tiba sebulan kemudian Tuanku Baginda Jayanegara benarbenar

kehilangan kekuasaan, bahkan nyawanya. Bisa jadi Ra Tanca berada

di belakang permainan yang terjadi sebagaimana aku bilang, semua

kemungkinan bisa saja terjadi. Oleh karena itu, gunakan saluran sandi

yang kita miliki untuk menemukan jawab dari pertanyaan yang terasa

aneh ini.”

Senopati Gajah Enggon menatap Gajah Mada dan tak berkedip.

”Kakang Gajah Mada tadi menyebut mengganggu para Tuan Putri

Ratu dalam menentukan siapa pengganti Baginda?” tanya prajurit pilihan

itu.

Gajah Mada seperti merasa enggan menjawab pertanyaan itu.

Pertanyaan yang terasa bodoh ketika persoalannya sudah demikian jelas.

”Tentu sangat mengganggu. Gerakan orang-orang tak tahu diri ini

akan membuat suasana menjadi keruh. Pendapatku, seyogianya para Tuan

Putri Ratu jangan sampai menyerahkan kedudukan yang menyangkut

hidup dan mati serta masa depan negara kepada orang yang salah. Aku

sangat yakin, kematian Panji Wiradapa ada kaitannya dengan hal itu,”

Gajah Mada menjawab.

Wajah Gagak Bongol dan Gajah Enggon menegang. Apabila Gajah

Mada sampai mengeluarkan pendapat macam itu, tentulah karena berasal

dari pemikiran dan hitungan-hitungan yang mendalam. Dalam banyak

hal Gajah Mada bahkan sering mengemukakan pendapat-pendapat yang

tidak terduga dan membuat siapa pun yang mendengar akan terperangah,

apalagi bila Gajah Mada berada di tempat berseberangan yang melawan

arus atau pendapat umum dan ternyata Gajah Mada terbukti berada di

pihak yang benar. Akan tetapi, apa yang diucapkan Gajah Mada itu masih

belum sepenuhnya bisa dipahami. Enggon meletupkan rasa penasarannya

itu.

”Sepeninggal Tuanku Jayanegara, tinggal memilih salah satu dari

dua orang keturunan Baginda Wijaya, yaitu Sekar Kedaton Sri Gitarja

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 95

dan Sekar Kedaton Dyah Wiyat. Apa sulitnya memilih satu di antara

mereka, masing-masing tidak memiliki cacat dan kekurangan.”

Akan tetapi, dengan segera Bongol menemukan cara berpikir Gajah

Mada.

”Masalahnya bukan pada para Sekar Kedaton,” kata Bongol.

”Masalahnya ada pada para calon suami mereka dan orang-orang yang

berada di belakang mereka. Termasuk orang yang sekarang hangus

terbakar, bukankah demikian, Kakang Gajah?”

Gajah Mada tidak menjawab. Sosok berselubung teka-teki, Ki Panji

Wiradapa itulah yang kini amat menyita perhatiannya. Sesungguhnyalah

keberadaan orang bernama Panji Wiradapa itu pernah memberikan

kecemasan tersendiri. Dalam sebulan terakhir telik sandi khusus telah

dikirim untuk mengamati sepak terjangnya, tetapi manakala Panji

Wiradapa itu mati, kecemasan itu segera membias dan berubah bentuk

menjadi biang penasaran karena jawaban yang dibutuhkan belum tampil

ke permukaan. Siapa pun pembunuh Panji Wiradapa agaknya mempunyai

kepentingan yang sama meski berada di tempat yang berbeda.

”Kuberikan kewenangan sepenuhnya kepadamu, Gajah Enggon,”

Gajah Mada kembali menegaskan perintahnya. ”Telusuri kematian aneh

ini, cari latar belakangnya, temukan siapa pelakunya. Kamu boleh

memecah tugas penyelanggaran pembakaran layon dengan pasukan dari

kesatuan yang lain. Gunakan kekuatan telik sandi sepenuhnya.”

”Baik, Kakang,” Gajah Enggon menjawab dengan sigap dan tegas.

”Akan aku terjemahkan perintah Kakang Gajah dengan sebaik-baiknya.”

Gajah Mada mengalihkan perhatiannya kepada Gagak Bongol.

”Sementara apa yang harus aku kerjakan, Kakang Gajah?” tanya

Bongol.

”Ada sebuah pekerjaan besar yang harus dikerjakan dan aku

menginginkan pekerjaan besar itu bisa dikerjakan dengan sempurna

tanpa cacat. Walaupun belum ada perintah secara langsung dari para

Tuan Putri Ratu, tetapi jelas bakal ada pencandian dan pendarmaan.

Kuserahkan pengendalian pekerjaan besar ini kepadamu.”

96 Gajah Mada

Mendadak meluap dada Gagak Bongol mendapat pekerjaan yang

bukan jenis pekerjaan sembarangan itu. Memimpin pembuatan candi

yang melibatkan ratusan dan bahkan ribuan orang tentulah merupakan

sebuah kehormatan. Gagak Bongol merasa, inilah saatnya ia kembali

tampil setelah rasa bersalah berkepanjangan akibat tindakan yang keliru

yang pernah dilakukannya, yang menyebabkan seorang prajurit tak

bersalah mati tertebas kepalanya sebagai akibat tuduhan yang salah

alamat.

Ketika itu Bango Lumayang, seorang prajurit Bhayangkara

pengkhianat yang menggunakan nama sandi Singa Parepen, yang ternyata

kaki tangan Rakrian Kuti telah menebar fitnah yang keji. Akibat

permainan licik Singa Parepen itu, seorang prajurit Bhayangkara lain

harus kehilangan nyawa karena tertebas lehernya dari bilah pedang di

tangannya. Kematian Mahisa Kingkin yang semula diduga kaki tangan

Ra Kuti itu harus ditebus dan menjelma menjadi mimpi buruk

berkepanjangan. Seorang prajurit lain bernama Pradhabasu yang

membela Mahisa Kingkin menjadi demikian dendam kepadanya, bahkan

permintaan maaf tidak meluruhkan hati Bhayangkara Pradhabasu.

Pradhabasu yang merasa sangat kehilangan teman mengambil

pilihan mengundurkan diri, tidak lagi menjadi bagian pasukan

Bhayangkara. Di sebuah desa yang tak jauh dari luar dinding kotaraja,

Bhayangkara Pradhabasu menekuni pekerjaan bertani. Akibat peristiwa

yang terjadi mendekati Bedander saat itu, Bhayangkara Gagak Bongol

tidak lagi mendapat kepercayaan untuk pekerjaan-pekerjaan yang besar.

Justru Gajah Enggon yang melejit pangkatnya. Dengan pangkat senopati

ia memegang kendali sebagai pimpinan pasukan Bhayangkara, sementara

Gagak Bongol hanya ditunjuk sebagai pendampingnya.

Setelah sekian lama, baru kali inilah Gagak Bongol diserahi

pekerjaan yang amat terhormat itu. Untuk mendapat kepercayaan lagi,

Gagak Bongol harus menunggu sembilan tahun lamanya.

”Akan aku selesaikan pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya, Kakang

Gajah,” kata Bhayangkara Gagak Bongol.

”Sejak sekarang kau sudah boleh membuat rancangan yang harus

kaulakukan, Gagak Bongol. Sementara itu, di mana pencandian akan

dilakukan, aku usahakan malam ini sudah diketahui jawabnya.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 97

Banyak hal yang kemudian dibicarakan antara Gajah Mada, Gagak

Bongol, dan Gajah Enggon. Ketika sang waktu menukik sedikit lebih

tajam, mayat yang terbakar hangus itu akhirnya dipindahkan dari tempat

itu. Langit tidak lagi tampak karena kabut yang turun merata

membenamkan lembah dan ngarai di kaki Gunung Arjuno dan

Anjasmoro, menyebar membenamkan Kotaraja Majapahit ke dalam

suasana yang temaram dan serba tidak jelas. Nun jauh di selatan, di

wilayah Singasari, tempat leluhur para Raja Majapahit, tempat itu tersapu

habis oleh gelombang kabut tebal yang berderap bagai barisan lampor135

berburu bayi yang terlahir dari perselingkuhan.

8

Segenap sesaji untuk rangkaian upacara perkawinan telah disiapkan.

Dengan disaksikan oleh jasad raja yang meninggal, direstui Ibu

Ratu Tribhuaneswari, Ibu Ratu Narendraduhita, Ibu Ratu Pradnya

Paramita dan dipimpin langsung oleh Ratu Biksuni Gayatri, perkawinan

yang dilakukan dengan mendadak tanpa direncanakan itu dilaksanakan.

Perkawinan kali ini dilakukan lebih banyak diselubungi duka, jauh dari

niat untuk bergembira. Itu sebabnya, pakaian yang dikenakan mempelai

putri harus disesuaikan dengan keadaan. Pakaian yang dikenakan Raden

Cakradara dan Kudamerta juga menyesuaikan dengan keadaan yang

sedang berkabung. Di dalam perkawinan yang bakal mereka jalani,

bangsawan dari Singasari dan Pamotan itu mengenakan jubah panjang

berwarna putih dengan rambut di-gelung keling. Ikut menyaksikan

perkawinan itu Arya Tadah mengenakan pakaian cara brahmana.

135 Lampor, Jawa, barisan hantu yang berbaris dengan membawa obor

98 Gajah Mada

Tidak seorang pun yang hadir di ruangan itu yang berbicara. Para

emban dan abdi dalem yang memperoleh kesempatan untuk

menyaksikan secara langsung menyimak dan memerhatikan dengan

cermat dan saksama. Di antara yang hadir tak seorang pun tampak

keluarga Raden Cakradara maupun Raden Kudamerta karena tak

mungkin menghadirkan mereka malam itu juga. Setidaknya diperlukan

waktu lebih dari sehari untuk pergi ke Pamotan mengundang sanak

keluarga Raden Kudamerta, juga butuh waktu lebih dari sehari pulang

dan pergi untuk menghadirkan sanak kadang Raden Cakradara dari

Singasari.

Berdiri tak jauh dari Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri, Mahapatih

Arya Tadah terlihat sangat bahagia. Mahapatih Arya Tadah yang tua itu

merasa bahkan mati pun ia ikhlas manakala melihat momongannya telah

memasuki gerbang rumah tangganya. Bagi Mapatih Amangkubumi Arya

Tadah, para Sekar Kedaton telah menyita banyak ruang kasih sayangnya.

Dalam menyayangi Sri Gitarja dan Dyah Wiyat memang tak ubahnya

terhadap anak sendiri. Arya Tadah sendiri adalah orang yang tidak punya

siapa-siapa. Istrinya telah meninggalkannya lebih dari sepuluh tahun

lampau dan tidak meninggalkan keturunan. Arya Tadah tidak berniat

untuk berumah tangga lagi. Kesetiaannya kepada mendiang istrinya harus

ditebus dengan menduda sampai tua, bahkan telah diniati sampai mati.

Terhadap keadaan itu Sri Gitarja pernah menjodoh-jodohkan, misalnya

dengan seorang emban abdi dalem istana, namun Mahapatih Arya Tadah

menolak. Arya Tadah pilih menebus kesetiannya dengan tetap hidup

sendiri dengan harapan, kelak manakala pintu gerbang kematian

dibukakan untuknya, ia akan bertemu kembali dan hidup bersama di

alam abadi dengan istri yang sangat dicintai. Pertemuan di wilayah

pangrantunan136 itu sangat diyakini akan terjadi, menyebabkan Arya Tadah

adakalanya amat merindukan datangnya kematian.

Berbeda dengan wajah Cakradara dan Sri Gitarja yang berseri tak

bisa menyembunyikan rasa gembiranya menjalani perkawinan itu,

Kudamerta tak bisa memusatkan perhatiannya pada acara yang sedang

dan harus dijalaninya. Kematian Ki Panji Wiradapa mulai memunculkan

136 Pangrantunan, Jawa, penantian, alam lain setelah kematian

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 99

prasangka yang tumbuh dan mekar dengan cepat bagaikan jamur di

tumpukan jerami yang membusuk. Kematian Panji Wiradapa sangat

mengganggu pemusatan pikiran, membuat Raden Kudamerta seperti

melayang, tidak menghayati rangkaian acara perkawinannya. Siapa

pembunuh pamannya, pertanyaan itu sangat menggangu benaknya.

Demikian juga dengan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Ia merasa

dua kakinya melayang tidak berpijak di atas tanah. Dyah Wiyat merasa

apa yang harus dijalaninya kali ini benar-benar menjadi peristiwa amat

penting dalam perjalanan hidupnya, yang celakanya ia tidak punya

kemampuan untuk menghindar. Menatap calon suaminya, Dyah Wiyat

sungguh merasa gamang karena sama sekali tidak menyimpan gumpalan

asmara sebagaimana layaknya diperlukan oleh seorang gadis terhadap

jejaka. Asmara yang demikian Dyah Wiyat tidak memiliki, kecuali kepada

Ra Tanca justru ia pernah memilikinya. Kepada Kudamerta meskipun

ia merasa akrab, meskipun telah berulang kali ia ditunjuk mengalungkan

rangkaian bunga di lehernya ketika menjadi juara dalam lomba

keterampilan berkuda, tetapi hubungan yang terjalin lebih dirasakan

sebagai hubungan kakak dan adik, atau sahabat karib. Kepada lelaki itu,

Dyah Wiyat tidak memiliki gelegak jiwa sebagaimana ia pernah memiliki

terhadap Dharmaputra Winehsuka Rakrian Tanca.

Ra Tanca yang banyak memiliki masalah itu tidak bisa dijangkau.

Ra Tanca telah mengambil perempuan lain sebagai istrinya. Lebih dari

itu, Ra Tanca membunuh kakaknya. Harusnya kepada Ra Tanca ia

menyimpan dendam sundul langit. Ra Tanca telah mati, apakah yang

bisa diharap dari orang yang telah mati? Asmara pahit yang dipendamnya

harus segera dilupakan. Ra Tanca telah menjadi bagian dari masa lalu.

”Ada apa denganku?” gumam Dyah Wiyat dengan isi dada

membuncah dan menggelegak, isinya penuh dan bergumpal-gumpal.

Ketika Dyah Wiyat melirik calon suaminya, adalah sebuah kebetulan

Raden Kudamerta juga mengarahkan pandangan matanya. Dyah Wiyat

tak melihat senyum di permukaan wajah Raden Kudamerta. Kudamerta

juga sama sekali tidak melihat senyum di permukaan wajah Sekar

Kedaton yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.

100 Gajah Mada

Menjelang upacara utama yang akan dilaksanakan beberapa saat

lagi, kedua calon temanten putri dituntun oleh seorang emban tua yang

sangat paham dengan apa yang harus dilakukan. Emban tua itu

menggandeng tangan Sri Gitarja mendekat Ibu Ratu Tribhuaneswari.

Sri Gitarja segera bersimpuh sujud mencium kaki Ibu Ratu Tribhuaneswari,

yang belum apa-apa sudah berlinang air mata. Sri Gitarja

segera diraih dan dipeluknya, diciuminya pipi dan kening gadis itu,

rambutnya yang legam dan menebarkan wangi cem-ceman bunga

kenanga dibusai beberapa kali.

”Mohon restu, Ibu Ratu Tribhuaneswari,” bisik Sri Gitarja yang

terdengar jelas di telinga Ibu Ratu Tribhuaneswari.

”Aku iringi dengan doa dan puja setiap saat dan waktu, semoga

kautemukan kebahagiaan yang sejati. Meski kelak kau seorang ratu

sekalipun, berbaktilah kepada suamimu,” jawab Tribhuaneswari.

Ketika Sri Gitarja berlinang air mata, dengan ujung selendang

sewarna tanah dibasuh air mata itu yang diakhiri dengan anugerah

pelukan.

”Berbahagialah,” bisik Tribhuaneswari.

Berbinar mata Ibu Ratu Narendraduhita yang bersebelahan dampar

dengan kakak kandungnya ketika menerima sungkem dari Sri Gitarja.

Dengan ketulusan hati tanpa sisa, Ibu Ratu Narendraduhita memeluk

dan memberikan restunya. Sebagai sama-sama istri mendiang Raden

Wijaya, tak secuil pun Ratu Narendraduhita menganggap Sri Gitarja

bukan anaknya karena tidak terlahir dari kandungannya.

Menyimak apa yang terjadi, Gajah Mada menyendiri ke sudut ruang.

Prajurit muda usia yang memiliki pengaruh demikian besar di dunia

keprajuritan itu dengan saksama memerhatikan raut muka Raden

Kudamerta seolah menggerataki semua pori-pori kulitnya. Rona wajah

Raden Cakradara tidak luput pula dari perhatiannya.

Sri Gitarja masih melanjutkan meminta restu dari para Ibu Ratu.

Tangis Sri Gitarja tidak bisa dibendung ketika Ibu Ratu Pradnya Paramita

melumurinya dengan pelukan berbasah air mata bahagia. Isi dada Sri

Gitarja makin menggelegak meluap. Seorang emban bergegas

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 101

mendekatinya untuk menyerahkan selembar kain kacu.137 Namun

ternyata, Sri Gitarja membutuhkan bantuannya untuk mengusap air

matanya, dengan berjongkok sambil menyembah, emban muda itu

memenuhi permintaan bantuan itu.

”Meskipun derajatmu lebih tinggi dari suamimu,” berbisik Ibu Ratu

Pradnya, ”berbaktilah kepada suamimu dengan penuh kesetiaan dan

pengabdian.”

Sri Gitarja mengangguk.

Emban tua yang bertugas mengendalikan acara sujud sungkem itu

selanjutnya membawa Sri Gitarja ke Ratu Biksuni Gayatri, ibu kandung

yang melahirkannya. Ibu Ratu Gayatri menampakkan wajah yang bersih,

jauh dari keruh duniawi. Senyuman yang ditebar anak kelima Sri

Kertanegara itu menjanjikan ketenangan dan kedamaian kepada siapa

pun yang datang kepadanya. Bahwa Ibu Ratu Biksuni Gayatri telah

terbebas dari mata rantai karma, mata rantai sebab dan akibat, terlihat

dari warna hatinya yang tidak meluap melihat buah hati yang

dilahirkannya memasuki gerbang rumah tangga. Ratu Biksuni Gayatri

meyakini bahwa bahagia yang terlalu bahagia adalah hal yang

menyesatkan seperti orang yang terjerat duka sampai amat berduka lupa

segala, juga menyesatkan.

Di depan Ratu Biksuni Gayatri yang berdiri, Sri Gitarja duduk

bersimpuh. Emban tua itu melanjutkan tugasnya, kali ini untuk Sekar

Kedaton Dyah Wiyat yang terlihat lebih tegar dari kakaknya, atau boleh

jadi merupakan penampakan dari isi hatinya yang tidak bisa menerima

dengan tulus pernikahan itu. Ketika para Ibu Ratu menangis yang

menulari siapa pun untuk menangis, Dyah Wiyat sama sekali tidak

menitikkan air mata. Manakala menatap segenap wajah yang hadir di

ruangan itu, yang hadir dan melekat di benaknya justru wajah Rakrian

Tanca. Ayunan tangan Gajah Mada yang menggenggam keris ke dada

prajurit tampan itu masih terbayang melekat di kelopak matanya. Sri

Jayanegara yang sudah berbentuk jasad tanpa jiwa di matanya bagai masih

menggeliat meronta-ronta kesakitan karena racun mematikan yang

diminumnya, rangkaian peristiwa itu membayang dan susah dienyahkan.

137 Kacu, Jawa, sapu tangan

102 Gajah Mada

Dyah Wiyat kaget ketika tangan emban tua itu menyentuh

lengannya. Seketika lenyap terampas segenap lamunannya. Dyah Wiyat

merasa kakinya sangat ringan dan melayang ketika emban tua itu

membawanya melangkah. Bayangan wajah Raden Kudamerta dan Raden

Cakradara bergoyang ketika Dyah Wiyat melintasinya, tanah tempat

kakinya berpijak bergelombang tidak rata. Emban tua itu terkejut ketika

Dyah Wiyat sedikit terhuyung, tetapi dengan segera menguasai diri.

Apa yang terjadi itu tidak luput dari pandangan para Ibu Ratu dan

memaksa Ratu Biksuni Gayatri mencuatkan sebelah alisnya, bahkan

Gajah Mada dan Mahapatih Arya Tadah mampu menangkap kejadian

itu dan memerhatikan lebih cermat. Raden Cakradara yang juga melihat

tidak berusaha menelusuri lebih jauh, sementara Raden Kudamerta

kebetulan sedang menunduk sehingga tidak melihat apa yang terjadi.

Para Ratu memerhatikan sikap Dyah Wiyat dengan lebih cermat dan

memang terlihat perbedaan yang tegas antara kakak dan adiknya itu. Sri

Gitarja menampakkan rasa gembiranya dengan jelas, rasa bahagianya

terbaca dengan sangat lugas. Sebaliknya, Dyah Wiyat berbalikan dengan

sikap kakaknya.

Manakala sungkem itu dilakukan di hadapan Ibu Ratu Tribhuaneswari,

Dyah Wiyat tidak mengeluarkan secuil pun kata-kata, juga

tak ada basah air mata. Gadis itu hanya menunduk dan dengan sangat

santun merapatkan dua telapak tangannya dalam sikap menyembah. Ibu

Tribhuaneswari meraih dan memeluknya, diciumnya kening Sekar

Kedaton itu.

”Jalanilah hidupmu,” kata Ibu Ratu tertua. ”Jadilah seorang ratu

yang baik untuk rumah tanggamu, semoga Hyang Widdi memberimu

keturunan yang berbakti dan berguna untuk negeri ini.”

Dyah Wiyat nyaris tidak mengangguk.

”Terima kasih, Ibu Ratu,” jawabnya amat lirih, nyaris tanpa tenaga.

Emban tua yang bertugas menuntun Dyah Wiyat menjalani acara

itu merasa heran. Namun, disimpannya rasa penasaran itu dalam hati.

Bahwa dalam dada Dyah Wiyat sedang ada gumpalan sesak yang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 103

membuncah menggelegak makin terbaca dari sikap Dyah Wiyat yang

hanya diam tak berbicara apa-apa manakala melakukan sungkem di

hadapan Ibu Ratu Narendraduhita dan Ibu Ratu Pradnya Paramita. Dari

raut mukanya terbaca jelas, Dyah Wiyat sangat tidak senang menjalani

perkawinan itu.

Raut muka Dyah Wiyat itu juga tidak luput dari perhatian Ibu Ratu

Biksuni Rajapatni Gayatri. Bagaimanapun juga ratu termuda janda

mendiang Raden Wijaya itu adalah perempuan yang melahirkannya,

memberikan air susu, melengkapi rasa kasih sayang yang dilimpahkannya,

yang merasa cemas ketika anak itu sakit dan selalu berharap semoga

ketika dewasa kelak akan menemukan kebahagiaannya. Sebagai ibu,

dengan sendirinya Ratu Gayatri amat mengenali bahasa wajah ataupun

bahasa sikap anaknya. Raut muka Dyah Wiyat yang pucat dan terbebani

merupakan isyarat anaknya sedang menyimpan gumpalan masalah, hal

yang tidak akan luput dari perhatiannya.

Namun, Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa memang tidak punya

pilihan lain dan sebagian di antaranya memang merupakan kesalahannya

sendiri. Mestinya Dyah Wiyat menolak ketika ikatan perjodohan itu dulu

dirancang. Buah dari sikapnya yang demikian itu kini harus dipetik,

perkawinan itu harus dijalani sampai tuntas. Walau kakinya bagai

kehilangan tenaga untuk menopang tegak tubuhnya, walau mulutnya

terkunci kehilangan kekuatan untuk bicara mengucapkan ikrarnya, Dyah

Wiyat tidak mempunyai pilihan lain kecuali harus menerima apa yang

disodorkan itu.

Maka demikianlah, melalui rangkaian adiupacara perkawinan itu,

Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani telah menjadi

seorang istri bersuami Cakreswara Sri Kertawardhana Prabu Singhasari,

sementara Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa merasa dirinya terjebak

dalam perkawinan yang tidak bisa dihindarinya dengan bersuamikan

Kudamerta, Sri Wijaya Rajasa Sang Apanji Wahninghyun.

104 Gajah Mada

9

Malam menukik tajam bersamaan waktu dengan rangkaian

perkawinan agung di Istana Wilwatikta. Sebenarnya tempat itu tidak

jauh dari kotaraja, namun berada di luar dinding batas kotaraja. Dari

tempat itu pada siang hari Candi Brahu kelihatan puncaknya. Di dalam

sebuah rumah, seseorang terlihat amat gembira. Orang itu tertawa amat

lepas tergelak-gelak, sangat aneh karena ia lakukan itu bersebelahan

dengan seorang perempuan muda yang berlumur air mata.

”Hanya tinggal beberapa langkah lagi, apa yang aku cita-citakan

akan jadi kenyataan. Siapa bilang mimpi tidak bisa diubah menjadi sesuatu

yang nyata? Kelak aku akan menjadi mahapatih dan siapa tahu malah

bisa menjadi raja.”

Benar-benar berbalikan dengan sikap laki-laki tua itu yang demikian

gembira, meringkuk di sudut pembaringan perempuan itu menangis

sesenggukan. Meski tidak terdengar sedu sedan, air matanya yang

membanjir melunturkan pupur yang dilaburkan di permukaan wajahnya.

Tangisnya benar-benar mewakili harga kesedihan yang dialaminya. Berita

yang baru diterimanya menyebabkan perempuan itu sangat berduka,

hatinya robek retak menjadi serpihan-serpihan.

”Jangan kamu menangis, Dyah Menur,” ucap lelaki tua itu.

”Mestinya kamu gembira, akan terangkat derajatmu manakala kelak hari

yang aku angankan itu tiba.”

Berbeda dengan lelaki tua itu, perempuan yang disebut Menur itu

sama sekali tidak gembira. Berita yang baru diterimanya bukanlah jenis

berita yang membuat hatinya gembira. Apalagi, pada dasarnya Dyah

Menur bukan jenis wanita serakah. Dyah Menur hanya wanita biasa,

wanita sederhana dan bukan jenis pemimpi menggapai langit. Cita-cita

dan keinginannya hanya sederhana, tidak terlalu muluk terbang ke awangawang,

tidak ingin berderajat tinggi yang oleh karenanya harus disembah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 105

dan dilayani. Tuntutan kebahagiaannya sederhana saja. Perempuan itu,

Dyah Menur Hardiningsih nama lengkapnya, merasa kebahagiaannya

dirampok.

Dalam pelukannya, bayi laki-laki yang masih berusia setahun itu

menangis kuat. Bayi itu sangat peka. Kesedihan dan tangis ibunya

menyebabkan isi dadanya menjadi sesak dan butuh penyaluran. Tangisnya

yang meledak terkial-kial bagai mewakili tangis ibunya yang tidak

mungkin tertumpahkan.

”Kita harus segera meninggalkan tempat ini,” ucap laki-laki tua itu.

Dyah Menur terperanjat.

”Kenapa?”

”Keberadaanmu di tempat ini akan mengganggu rencana yang

kususun. Jika kamu tetap berada di sini, akan sangat mengganggu dan

bahkan bisa menggagalkan cita-citaku. Kita harus pergi. Segera

berkemaslah sekarang juga.”

Betapa remuk hati Menur yang merasa harus melakukan sesuatu

yang berlawanan dengan kata hatinya. Namun, melawan kehendak orang

itu akan berakibat buruk bagi dirinya. Laki-laki itu sangat kejam. Ancaman

akan menyakiti dirinya bukan ancaman paling kejam, ancaman terhadap

anaknyalah yang justru sangat mengerikan. Apabila tidak dituruti apa

yang menjadi kehendaknya, nyawa anaknya menjadi taruhan. Setiap kali

ia melawan, ancaman terhadap anaknya yang akan dihadapi. Laki-laki

tua itu tak segan-segan membuktikan ancamannya.

”Ayo, berkemaslah,” laki-laki tua itu menghardik.

”Kita ke mana?” balas Dyah Menur Hardiningsih.

”Jangan banyak bertanya kita akan ke mana, berkemaslah. Kita harus

pergi sejauh-jauhnya meninggalkan tempat ini,” kata laki-laki tua itu.

Dyah Menur Hardiningsih merasa tak ada gunanya bertanya. Yang

ia lakukan hanya menjalankan perintah itu tanpa hak mempersoalkan.

Dengan separuh hatinya hilang entah ke mana, Dyah Menur berkemas.

Tangis anaknya makin keras dan makin menguat, menyebabkan lelaki

106 Gajah Mada

tua itu merasa terganggu dan tidak senang. Teriakan lelaki tua itu

bukannya membuat bayi itu terdiam ketakutan, namun tangisnya malah

makin menjadi.

”Kamu bisa membungkam mulut anakmu tidak? Kalau tidak bisa

akan aku bantu mencekik lehernya, bagaimana?” ancam laki-laki tua itu.

Dyah Menur menjadi gugup. Menenangkan anaknya bukanlah

pekerjaan yang gampang. Tangis bayinya bermula dari ketidaktenangan

hatinya. Dyah Menur segera berdamai dengan diri sendiri, menenangkan

diri sendiri. Dengan berusaha berdamai dengan diri sendiri, tidak gugup,

akan membuat bayinya ikut tenang.

Tengah malam terlewati dengan udara dingin yang menggigit tulang,

udara dikemuli kabut yang makin menebal dengan jarak pandang yang

sangat terbatas. Dalam keadaan yang demikian itulah Dyah Menur harus

menuruti kehendak laki-laki tua itu, seolah harus berebut dulu dengan

waktu, takut bila kedahuluan matahari yang akan terbit, secepat-cepatnya

harus segera minggat meninggalkan tempat itu. Bahkan menunda hanya

sehari pun tidak boleh, harus sekarang juga. Hal yang amat bertentangan

dengan kehendak perempuan itu.

Beberapa langkah kaki setelah meninggalkan regol rumah, Dyah

Menur membalikkan tubuh dalam upayanya untuk melihat terakhir kali

rumah yang dalam beberapa bulan ditempatinya. Namun, laki-laki tua

itu tidak senang dan dengan segera menggelandang tangannya.

Disentakkan dengan kasar menyebabkan Dyah Menur nyaris jatuh dan

bayinya nyaris terpelanting. Dan tangis bayi itu memecah malam.

”Bungkam mulut anakmu supaya jangan menimbulkan tanda tanya

orang yang mendengar. Tangis bayimu nanti bisa dikira hantu.”

Sebenarnyalah memang ada yang mengira tangis bayi itu berasal

dari mulut hantu. Seorang istri yang sedang berada dalam pelukan

suaminya mendadak mencuat matanya, diperhatikan suara itu dengan

saksama. Bergegas ia mengguncang pundak suaminya.

”Ada apa?” tanya sang suami.

”Kaudengar suara itu?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 107

”Suara yang mana?”

”Yang itu,” jawab istrinya. ”Itu suara bayi menangis bukan?”

”Itu suara hantu, tidurlah,” jawab suaminya sekenanya.

Istrinya yang justru kebingungan karena menganggap suara bayi

menangis itu benar-benar suara hantu.

”Kang, aku takut. Apa itu benar-benar suara hantu?” tanya sang

istri.

”Ya,” jawabnya seperti sekenanya. ”Suara itu memang suara hantu.”

Jawaban itu sontak menyebabkan perempuan muda itu gelisah

ketakutan. Dengan segenap rasa cemas ia menyusup ke pelukan

suaminya. Rasa kantuk segera terusir dari benak lelaki itu. Kali ini ia

benar-benar terbangun sempurna, terusir entah ke mana rasa kantuknya.

Justru karena itu laki-laki itu terbelalak.

”Hah?” ia terkejut.

”Kaudengar suara itu?” bisik istrinya di telinganya.

”Suara bayi betul?”

”Apa aku bilang?” jawab sang istri lebih tegas.

Laki-laki itu tiba-tiba terbangun dan bergegas.

”Kang, mau ke mana?” tanya istrinya sangat ketakutan, cemas

ditinggalkan suaminya.

”Mengunci pintu, pintunya lupa diselarak.”

Nun jauh di luar sana, suara menakutkan itu makin menjauh, namun

suara gemerasak pohon bambu yang bergesekan diterjang angin deras

bagai barisan hantu yang memburu bayi malang itu.

108 Gajah Mada

10

Gajah Mada melangkah dari pendapa membawa hatinya yang

gelisah. Udara dingin menggigit dan terasa tidak wajar benar-benar

membungkus lingkungan Istana Majapahit. Kabut yang melayang

demikian tebal mengurangi jarak pandang. Semula Gajah Mada tidak

begitu memerhatikan, namun kabut yang jarang-jarang turun itu

mendadak mengingatkannya pada kejadian sembilan tahun silam.

Kabut turun tebal pula saat itu yang dirasa menguntungkan Ra

Kuti dalam menggelar makar. Ketika jarak pandang menjadi amat

terbatas karena ampak-ampak pedhut138 turun dari Gunung Arjuno dan

Gunung Anjasmoro mengepung kotaraja, pada saat yang demikian itulah

gelar perang besar dirancang oleh Ra Kuti. Untunglah rencana

pemberontakan itu berhasil diendus sehingga bisa dilakukan persiapan

penyelamatan Jayanegara. Boleh jadi karena ayunan bende Kiai Samudra,

bende perang pemberi semangat yang bergetar sangat keras mampu

menggoyang udara dan mengenyahkan kabut tebal itu membelejeti wajah

para pemberontak menjadi kamanungsan.139 Kabut tebal diyakini muncul

bersamaan dengan kejadian-kejadian besar yang lain.

Adakah kemunculan kabut itu karena kejadian besar itu, atau hanya

sebuah kebetulan belaka? Gajah Mada teringat tuturan tetangganya, lakilaki

paling tua dan paling uzur yang memiliki banyak kisah serta mengaku

sebagai pembaca pertanda alam paling ulung. Malam kematian Ken

Dedes dianggap sebagai peristiwa paling sulit dilupakan. Kabut yang

turun malam itu bahkan menyulitkan dalam memandang meski jemari

tangan di depan mata sekalipun. Di balik kabut yang tebal itulah konon

arwah Ken Arok menjemput istrinya. Dari balik kabut tebal itu pula

arwah Empu Purwa dari Panawijen juga berniat menjemput anaknya

sehingga terjadilah perselisihan di antara Ken Arok dan Empu Purwa.

138 Ampak-ampak pedhut, Jawa, barisan kabut tebal

139 Kamanungsan, Jawa, ketahuan jati dirinya

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 109

Cerita macam itu berkembang ke arah salah kaprah. Entah siapakah

yang bercerita, kabut tebal itu memang disengaja oleh para dewa di

kahyangan agar wajah cantik para bidadari yang turun dari kahyangan

melalui pelangi jangan sampai dipergoki manusia. Para bidadari itu turun

untuk memberikan penghormatan kepada satu-satunya wanita di dunia

yang terpilih sebagai Sang Ardhanareswari, yang berarti wanita utama

yang menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa ini. Maklum sebagai Sang

Ardhanareswari, Ken Dedes adalah titisan dari Pradnya Paramita, dewi

ilmu pengetahuan. Apa benar kabut tebal itu turun karena para bidadari

turun dari langit? Gajah Mada tidak bisa menyembunyikan senyumnya

dari kenangan kakek tua, yang menuturkan cerita itu dan mengaku

memergoki para bidadari itu, lalu mengambil salah seorang di antara

mereka menjadi istrinya. Gajah Mada ingat, anak kakek tua itu perempuan

semua dan jelek semua, sama sekali tidak ada pertanda titisan bidadari.

”Mirip cerita Jaka Tarup saja,” gumam Gajah Mada sekali lagi untuk

diri sendiri. ”Lagi pula, setahuku tidak pernah ada pelangi di malam hari.

Pelangi itu munculnya selalu siang dan ketika sedang turun hujan.”

Lebih jauh soal kabut tebal pula, konon ketika Calon Arang, si

perempuan penyihir dari Ghirah marah dan menebar tenung, kabut amat

tebal membawa penyakit turun tak hanya di wilayah tertentu. Namun,

merata di seluruh negara, menyebabkan Prabu Airlangga dan Patih

Narottama kebingungan dan terpaksa minta bantuan kepada Empu

Barada untuk meredam sepak terjang wanita menakutkan itu. Empu

Barada benar-benar sakti. Empu itu menebas pelepah daun keluwih yang

melayang terbang ketika dibacakan japa mantra. Beralaskan pelepah daun

itulah Empu Barada terbang membubung ke langit dan memerhatikan

seberapa luas kabut pembawa tenung dan penyakit. Empu Barada

melihat, ampak-ampak pedhut itu memang sangat luas dan menelan luas

negara dari ujung ke ujung. Untunglah cahaya Hyang Bagaskara140 yang

datang di pagi harinya mampu mengusir kabut itu menjauh tanpa tersisa

jejaknya sedikit pun.

”Hanya sebuah dongeng,” gumam Gajah Mada untuk diri sendiri.

Kabut tebal itu memang mengurangi jarak pandang dan meng-

140 Hyang Bagaskara, Jawa, matahari

110 Gajah Mada

ganggu siapa pun untuk mengetahui keadaan di sekitarnya. Ketika

sebelumnya siapa pun tak sempat memikirkan, itulah saatnya siapa pun

mendadak merasakan bagaimana menjadi orang buta yang tidak bisa

melihat apa-apa. Pada wilayah yang kabutnya benar-benar tebal, untuk

mengenali benda-benda di sekitarnya harus dengan meraba-raba.

Akan tetapi, tidak demikian dengan anjing yang menggonggong

sahut-sahutan ramai sekali. Apa yang dilakukan anjing itu laporannya

akhirnya sampai ke telinga Gajah Mada. Gajah Enggon yang meminta

izin untuk bertemu segera melepas warastra141 sanderan dengan ciri-ciri

khusus yang dibalas Gajah Mada dengan anak panah yang sama melalui

isyarat khusus pula. Dari jawaban anak panah itu Gajah Enggon dan

Gagak Bongol mengetahui di mana Gajah Mada berada. Gagak Bongol

dan Enggon segera melaporkan temuannya.

”Ditemukan mayat lagi, Kakang Gajah,” Gajah Enggon

melaporkan.

Gajah Mada memandangi wajah samar-samar di depannya.

”Mayat siapa?”

”Prajurit bernama Klabang Gendis mati dengan anak panah

menancap tepat di tenggorokannya. Tak ada jejak perkelahian apa pun,

sasaran menjadi korban tanpa menyadari arah bidikan anak panah tertuju

kepadanya.”

Gajah Mada merasa tak nyaman memperoleh laporan itu. Orang

yang mampu melepas anak panah dengan sasaran sulit pastilah orang

yang sangat mengusai sifat gendewa dan anak panahnya. Orang yang

mampu melakukan hal khusus macam itu amat terbatas dan umumnya

ada di barisan pasukan Bhayangkara. Adakah prajurit Bhayangkara yang

terlibat?

”Dan kami temukan mayat kedua,” Gagak Bongol menambahkan.

”Pelaku pembunuhan menggunakan anak panah itu mati dipatuk ular.

Mayatnya dicabik-cabik beberapa ekor anjing. Pembunuh yang terbunuh

ini, menyisakan jejak rasa kecewa di hati kita, Kakang. Aku tahu, Kakang

Gajah pasti kecewa mengetahui siapa dia?”

141 Warastra, anak panah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 111

Gajah Mada menengadah memandang langit. Namun, tak ada apa

pun yang tampak kecuali warna pedhut yang makin menghitam legam.

”Bhayangkara?”

”Ya,” jawab Gagak Bongol.

”Siapa?” lanjut Gajah Mada.

Gagak Bongol dan Senopati Gajah Enggon tidak segera menjawab

dan memberikan kesempatan kepada Patih Daha Gajah Mada untuk

menemukan sendiri jawabnya. Nama pembunuh yang mati dipatuk ular

itu tentu berada di barisan yang tersisa dari nama-nama prajurit

Bhayangkara yang pernah dipimpinnya. Nama-nama itu adalah

Bhayangkara Lembu Pulung, Panjang Sumprit, Kartika Sinumping,

Jayabaya, Pradhabasu, Lembang Laut, Riung Samudra, Gajah Geneng,

Gajah Enggon, Macan Liwung, dan Gagak Bongol. Panji Saprang yang

berkhianat dan menjadi kaki tangan Rakrian Kuti mati dibunuh Gajah

Mada di terowongan bawah tanah ketika pontang-panting

menyelamatkan Sri Jayanegara. Bhayangkara Risang Panjer Lawang gugur

di Mojoagung, dibunuh dengan cara licik oleh pengkhianat kaki tangan

Ra Kuti. Selanjutnya, Mahisa Kingkin terbunuh oleh Gagak Bongol

sebagai korban fitnah di Hangawiyat. Terakhir, Singa Parepen atau Bango

Lumayang yang berkhianat mati dibunuhnya di Bedander ketika

kamanungsan sebagai pengkhianat.

Dalam perkembangannya, Bhayangkara yang menjadi kebanggaannya

dan kebanggaan Majapahit itu telah mengalami pemekaran

dengan kekuatan besar dan daya pukul yang mematikan. Akan tetapi,

secara pribadi belum ada yang mampu menandingi kemampuan para

bekas anak buahnya itu. Apalagi, bila yang dipersoalkan adalah

kemampuan mengatur siasat dan kemampuan sandiyudha.

Dalam olah ngembat watang nama-nama itu memiliki kemampuan

yang tidak bisa diremehkan lagi. Nyaris semuanya mampu melepas lima

anak panah sekaligus dengan arah bidik yang berbeda-beda. Panji Saprang

yang memihak Ra Kuti bahkan mampu membidik sasaran amat jauh,

padahal gerakan angin sedang tidak bersahabat.

112 Gajah Mada

”Katakan siapa?” tanya Gajah Mada yang merasa tidak sabar.

”Lembang Laut.”

Terperanjat Gajah Mada mendengar jawaban itu. Disengat kelabang

dengan racun paling mematikan masih belum apa-apa, bahkan disengat

ular bandotan masih belum mengagetkan dibanding mendengar

kematian Lembang Laut.

Wajah Gajah Mada dengan segera berubah menjadi bersungguhsungguh.

”Di mana ditemukan mayat itu?” tanya Gajah Mada.

”Mari, silakan, Kakang Gajah.”

Gagak Bongol dan Senopati Gajah Enggon segera membalikkan

tubuh dan bergegas melangkah. Patih Daha Gajah Mada melangkah

dengan ayunan kaki sama lebarnya. Suara burung bence yang melengking

tinggi di langit rupanya sedang kebingungan mencari arah pulang karena

demikian tebalnya kabut yang membungkus wilayah terbangnya.

Dengan bantuan cahaya obor, Gajah Mada memang bisa mengenali

sahabat karibnya yang telah terbujur menjadi mayat itu. Tiada habisnya

Gajah Mada menyesali kematian itu. Cara mati yang agaknya melalui

pilihan yang salah. Amat disayangkan, Lembang Laut terlibat dalam

permainan aneh dengan sasaran jangka panjang akan menggusur

kekuasaan Majapahit. Tetapi, benarkah Lembang Laut terlibat dalam

permainan itu?

Senopati Gajah Enggon menyerahkan anak panah yang dipegangnya

kepada Gajah Mada, yang dengan segera membandingkan anak

panah itu dengan tumpukan anak panah dalam endong142 di punggung

mayat Lembang Laut. Meski bentuk anak panah itu bukan jenis anak

panah yang biasa dipakai oleh pasukan Bhayangkara, masih terlihat ciriciri

tertentu terutama jenis bilah bambu yang digunakan.

Dengan segera Gajah Mada menemukan hubungan antara dua

kematian itu. Mayat pertama memang dibunuh menggunakan anak panah

142 Endong, Jawa, wadah anak panah yang digendong dipunggung

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 113

berjenis sama dengan anak panah di gendongan Lembang Laut. Namun,

kematian Lembang Laut jauh lebih mengerikan karena digigit ular tepat

di telapak tangannya.

”Kematian karena ular menggigit tangan amat tak wajar,” kata Gajah

Mada. ”Dalam keadaan wajar tentu bagian kaki yang digigit. Ular itu

menggigit tangan tentu karena ada yang menyerahkan.”

”Aku juga berpendapat demikian, Kakang Gajah,” jawab Senopati

Gajah Enggon.

Gajah Mada mengangguk. Pandangan matanya beralih kepada

Bhayangkara Gagak Bongol, namun dengan segera beralih lagi ke muka

Gajah Enggon.

”Telusuri kematian Lembang Laut. Telusuri pula siapa orang yang

dibunuhnya. Aku ingin kamu sudah mendapatkan jawabnya ketika besok

pagi menemuiku,” kata Gajah Mada tegas.

”Baik, Kakang,” jawab Gajah Enggon sigap.

Gajah Mada mengalihkan pandangan matanya kepada Gagak

Bongol.

”Telah aku peroleh perintah dari para Tuan Putri Ratu. Tuanku

Baginda Jayanegara akan diperabukan dan dicandikan di dalam pura, di

Silapetak, dan di Bubat. Menurut kehendak para Ibu Ratu, di ketiga

tempat tersebut supaya ditandai dengan arca Dewa Wisnu sebagai

perwujudannya, sementara di Sukhalila dengan arca Amoghasidhi.”143

Gagak Bongol menerima perintah itu dengan cermat, saksama, dan

amat jelas. Gajah Mada tak perlu mengulangi lagi kata-katanya. Dalam

benaknya, Gagak Bongol telah memiliki rancangan langkah apa saja

yang akan diambil untuk menerjemahkan perintah itu dengan sebaikbaiknya.

”Kau boleh meninggalkan tempat ini, Gagak Bongol. Aku akan

bicara hanya berdua dengan Gajah Enggon.”

143 Di Sukhalila dengan arca Amoghasidhi, menurut Pararaton, Raja Jayanegara didarmakan di

Kapopongan, di candi Srnggapura, dan diarcakan di Antawulan.

114 Gajah Mada

Gagak Bongol segera memberikan penghormatannya dan bergegas

menjauh, pergi meninggalkan tempat itu.

Perhatian Gajah Mada segera tertuju pada tubuh Lembang Laut

yang telah membeku menjadi mayat. Dengan segera Gajah Mada teringat

pada peran apa saja yang dilakukan Bhayangkara Lembang Laut, yang

tanpa pamrih rela memberikan sumbangan jiwa dan raganya untuk

kejayaan Majapahit. Dalam berperang bela negara, Lembang Laut tidak

pernah berada di belakang. Ia selalu menempatkan diri di depan.

”Aku tidak percaya Lembang Laut mati dengan peran serendah

itu,” berkata Gajah Mada dengan suara datar dan serak. ”Telusuri

peristiwa ini sampai kautemukan jawaban yang sebenar-benarnya. Aku

tidak percaya tindakan Rakrian Tanca semata-mata karena dendam lama

di hatinya. Aku menduga Ra Tanca hanyalah golek 144 yang berada di

bawah kendali pihak lain. Sementara ini aku menduga Lembang Laut

hanya bernasib sial sedang berada di tempat yang salah dan waktu yang

salah. Untuk mencari jawabnya mungkin kauperlu memerintahkan

seseorang untuk membayang-bayangi ke mana pun atau apa pun yang

dilakukan Raden Cakradara. Selanjutnya, aku berikan kewenangan seluasluasnya

kepadamu untuk menggunakan saluran sandi yang ada seberapa

pun kaubutuhkan.”

Senopati Gajah Enggon terkejut meski sebenarnya tak perlu

terkejut.

”Raden Cakradara?” tanya Gajah Enggon.

”Ya,” balas Gajah Mada dengan tegas. ”Kau memulai dari Raden

Cakradara. Bisa jadi orang-orang di belakang Raden Cakradara yang

punya ulah, bisa pula dari pihak lain.”

”Baik, Kakang Gajah. Aku akan laksanakan perintah itu dengan

baik,” jawab Gajah Enggon sigap.

”Kamu harus bekerja dengan lebih keras lagi, Gajah Enggon.

Karena menurut dugaanku, pembunuhan-pembunuhan ini masih akan

144 Golek, Jawa, boneka

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 115

berkelanjutan. Besok, sebagaimana petunjuk Tuan Putri Ratu Rajapatni

Biksuni, sebelum diperabukan layon Sang Prabu dibawa lebih dulu ke

Balai Prajurit untuk mendapatkan penghormatan sebagaimana layaknya

seorang prajurit. Baginda layak mendapatkan penghormatan itu karena

ia adalah bagian dari pasukan Bhayangkara, lebih-lebih karena beliau

sekaligus juga panglima perang. Terkait dengan hal itu, juga berhubungan

dengan hal-hal dan keterangan aneh yang kita temukan, sebar telik sandi

sebanyak-banyaknya, amankan jangan sampai ada gangguan yang

mengusik adiupacara itu. Aku yakin besok di pekatnya lautan manusia

yang akan berdatangan memberikan penghormatan terakhir kepada Sang

Prabu, akan ada orang-orang yang memancing di air keruh. Bisa jadi

kerabat istana akan ada yang menjadi sasaran bidik anak panah atau

pisau yang dilempar melayang, siagakan pengamanan berlapis.”

”Baik, Kakang,” jawab Gajah Enggon amat sigap.

”Selanjutnya, malam ini pula kamu adakan pertemuan untuk

mengolah semua keterangan yang kaumiliki. Setidaknya untuk mendapat

gambaran siapa sebenarnya pihak yang membuat ulah aneh ini. Buatlah

dugaan dan perkiraan, apa yang akan mereka lakukan besok. Siagakan

pasukan secukupnya untuk menghadapi mereka.”

Masih banyak petunjuk yang diberikan Gajah Mada kepada prajurit

yang sebenarnya bukan lagi anak buahnya itu. Dalam melaksanakan tugas,

Gajah Mada selalu mampu menyelesaikan dengan baik. Oleh karena

itu, Jayanegara bahkan telah mempersiapkannya sebagai pengganti Patih

Amangkubumi Arya Tadah. Mapatih Arya Tadah sendiri yang merasa

dikejar umur mulai melirik siapa yang pantas mewarisi jabatannya. Arya

Tadah melihat hanya Gajah Madalah orangnya. Meski kini bukan lagi

pimpinan pasukan Bhayangkara, Gajah Mada masih tetap punya

wewenang menyalurkan perintah kepada pasukan itu.

”Aku akan mengumpulkan pasukan. Kakang Gajah akan

memberikan arahan kepada mereka?”

Gajah Mada menggeleng.

”Ada pekerjaan yang masih harus aku kerjakan. Mungkin besok

pagi ketika benar-benar diperlukan, siapkan saja,” jawab Gajah Mada.

116 Gajah Mada

Sepeninggal Gajah Mada, Senopati Gajah Enggon hanya sendirian.

Setelah menimbang beberapa jenak, Gajah Enggon mengambil beberapa

batang anak panah dari endong-nya. Bukan anak panah sebagaimana

umumnya, namun jenis anak panah sanderan berapi. Anak panah yang

telah dinyalakan itu diarahkan ke langit dan segera dilepasnya dari bilah

busur yang direntang. Anak panah sanderan itu melesat meninggalkan

suara yang amat khas, disusul dengan anak panah berikutnya dengan

nada melengking tinggi. Pelepasan warastra itu bukannya tanpa maksud

karena itulah isyarat perintah yang ditujukan kepada para prajurit

Bhayangkara untuk berkumpul.

Anak panah sanderan itu berbalas jawaban yang terdengar

melengking dari berbagai arah. Dari beberapa tempat, terdengar orang

berlarian. Mereka adalah para prajurit Bhayangkara yang telah terlatih

menghadapi keadaan macam apa pun. Kabut tebal yang menutupi

pandangan mata adalah santapan mereka sehari-hari sehingga hanya

dengan menggunakan ketajaman panggrahita145 mereka mampu mengatasi

keadaan tak ubahnya menggunakan mata telanjang dalam melihat apa

pun.

Kepada anak buahnya, Gajah Enggon menyalurkan tugas.

11

Malam menukik tajam dan bergerak mendekati datangnya pagi

yang tinggal beberapa jengkal lagi. Di sebuah tempat bernama Padas

Payung, yang letaknya tak jauh dari pintu gerbang kota bagian barat

yang dijaga oleh puluhan prajurit, sebuah perapian nyaris mati setelah

semalaman menyala melibas kayu-kayu kering yang dikumpulkan oleh

145 Panggrahita, Jawa, ketajaman mata hati, indra keenam

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 117

dua orang laki-laki yang duduk mencakung di dekatnya. Mustahil

mempertahankan perapian, yang dibuat tidak ada hubungannya dengan

kematian Sri Jayanegara sebagaimana pahoman yang menyala di manamana.

Perapian itu dibuat hanya untuk mengusir udara dingin menggigit

dan membakar ubi pengganjal perut.

Dua orang laki-laki itu ditemani oleh dua ekor kuda yang juga

berbaring. Suara kentongan yang dipukul di kejauhan menandai malam

akan segera berakhir dan akan digantikan datangnya pagi. Surya dan

kehangatan yang memancar diyakini akan mampu mengusir kabut yang

jarang-jarang turun amat pekat macam itu.

”Tadi kamu bermimpi apa?” tanya salah seorang dari dua orang

itu.

”Kenapa?” orang kedua balas bertanya.

”Tadi kamu mengigau,” jawab orang pertama sambil mengurai

cambuk panjang di tangannya.

Apabila dicermati, cambuk itu bergerigi dilengkapi dengan semacam

gelang-gelang besi. Cambuk berjuntai panjang itu rupanya tidak lagi

menempati tugas hanya sebagai sebuah cemeti, namun berubah menjadi

sebuah senjata.

”Aku tidak ingat, apakah aku benar-benar bermimpi,” jawab orang

kedua itu.

”Kamu berteriak-teriak seperti orang tercekik. Coba ingat lagi, aku

ingin tahu mimpi macam apa yang membuatmu seperti kesurupan itu.”

Orang kedua itu mengerutkan kening untuk mengenang mimpi

apa yang baru saja diperolehnya. Wajah orang itu berkerut, tetapi tidak

cukup jelas raut mukanya meski berada pada jarak cukup dekat dengan

perapian yang memangsa kayu terakhir.

”Aku bermimpi ada hantu memburuku. Aku berhasil digapai hantu

itu dan ia mencekik leherku. Apa arti mimpi macam itu?” tanya laki-laki

kedua.

118 Gajah Mada

”Mungkin mimpi daradasih146 karena mimpi itu datangnya masih di

wilayah tengah malam. Kalau sudah mendekati siang, apalagi kalau sudah

siang hari, tidak ada makna apa pun di balik sebuah mimpi, meski mimpi

seindah dan seseru apa pun.”

Orang kedua yang menyimak jawaban itu termangu.

”Kalau mimpi itu daradasih, artinya nanti akan ada orang yang

mencekikku?”

”Ya,” jawab orang pertama dengan tawa terkekeh.

”Biar saja,” jawabnya. ”Sebelum ia mencekik leherku, aku akan

mendahului mencekik lehernya.”

Dua orang itu, yang agaknya dua orang sahabat segera tertawa

berderai. Apa yang mereka bicarakan dirasa lucu dan memancing tawa

mereka.

Waktu terus bergerak menapaki kodratnya, merayap ke depan dan

tak pernah akan kembali. Waktu membawa dua orang itu mendekati

datangnya pagi. Bersamaan dengan api yang akhirnya padam, mereka

mendongak menelengkan kepala.

”Itu mereka datang,” kata orang kedua.

”Ya,” jawab orang yang pertama.

Masih jauh suara itu, namun sudah bisa ditandai. Dari arah barat

menuju kota terdengar derap kuda. Siapa pun penunggang kuda yang

datang itu, ia pasti bingung tak bisa melihat jalanan karena tebalnya

kabut. Namun, tidak demikian dengan kuda-kuda yang mereka

tunggangi. Meski kabut membutakan mata nyatanya kuda-kuda itu bisa

berderap tanpa kesulitan. Bahwa berulang kali kuda-kuda itu melewati

jalanan itu, menjadikan binatang tanpa pusar itu hafal dan tak harus

menabrak-nabrak.

Rupanya kedatangan kuda-kuda itu merupakan sebuah isyarat bagi

seorang dari dua orang di dekat perapian itu untuk bertindak melakukan

146 Daradasih, Jawa, salah satu jenis mimpi menurut primbon Jawa yang berarti mimpi menjadi kenyataan.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 119

sesuatu. Dengan mendadak dan benar-benar mengagetkan, menggunakan

cemeti yang dipegangnya, dijeratnya leher temannya dan

langsung dikuncinya dalam cekikan kuat. Lelaki kedua berusaha melawan,

namun ia kalah dulu dan seketika merasakan sakit luar biasa. Sakit karena

lehernya yang terimpit sekaligus sakit oleh pasokan napas yang terhambat.

Akhirnya, lelaki kedua itu terkulai lunglai setelah beberapa saat tubuhnya

berkelejotan.

”Maafkan aku,” bisik lelaki pertama. ”Aku hanya bertugas

mewujudkan mimpi dicekik hantu itu menjadi kenyataan. Akulah

hantunya.”

Untuk beberapa saat lelaki pertama yang melakukan pembunuhan

itu masih mempertahankan jeratan talinya sampai ia merasa yakin

korbannya benar-benar telah tidak bernapas, mati dengan membawa

kebingungan di hatinya, untuk alasan yang tak pernah dimengerti,

mengapa ia dibunuh, apa kesalahan yang diperbuatnya sehingga harus

dibunuh?

Lelaki pelaku pembunuhan itu mengendorkan jerat cematinya

setelah merasa yakin orang itu benar-benar sudah mati. Dari meraba

dadanya, ia merasa yakin tidak ada tarikan napas yang mengayun lagi

dari paru-paru korbannya. Setelah benar-benar merasa yakin, diangkatnya

tubuh lunglai itu ke atas salah satu kuda. Digiringnya kuda itu memutar

menuju arah kotaraja. Lalu dengan sentakan sendal pancing pada cematinya,

ia menghajar pantat kuda itu, menyebabkan kuda itu berlari kencang

membawa gema derapnya memasuki pintu gerbang kotaraja, juga

mengarah ke Purawaktra yang akan dicapai kuda itu sebentar saja karena

jarak menuju kotaraja tidaklah seberapa jauh.

Derap kuda membawa beban mayat itu makin menjauh, sementara

sejengkal waktu kemudian derap kuda yang datang dari arah barat telah

tiba di tempat itu. Dua orang penunggangnya melompat turun. Dua

orang itu rupanya telah menyiapkan obor yang segera dinyalakan

menerangi tempat itu.

”Bagaimana dengan Kinasten?” tanya salah seorang dari dua orang

yang baru datang itu.

120 Gajah Mada

”Sudah kukirim ke dua tempat,” jawab orang yang melakukan

pembunuhan. ”Pertama, nyawanya kukirim ke alam kematian, sementara

jasad Kinasten sekarang menuju kotaraja. Prajurit penjaga gerbang

kotaraja atau bahkan penjaga Purawaktra akan terkejut mendapatkan

kiriman mayat itu. Tugas yang Kakang Rangsang Kumuda berikan telah

kulaksanakan dengan baik. Sekarang aku siap menerima hak yang harus

aku terima.”

Lalu hening, tidak ada suara apa pun. Lelaki bernama Rangsang

Kumuda yang membungkus tubuh dengan pakaian berlapis untuk

menahan dingin itu tidak segera menjawab, misalnya dengan

mengeluarkan sejumlah uang yang dibungkus kampil sebagai upah orang

itu, yang telah melaksanakan perintahnya melakukan pembunuhan

dengan baik.

”Aku ingin memperkenalkanmu dengan teman yang sedang

bersamaku ini,” kata Rangsang Kumuda. ”Rubaya, ini orang yang tadi

aku ceritakan telah aku pilih melaksanakan tugas khusus itu. Namanya

cukup sangar, Arya Surapati.”

Hening kembali menggeratak. Lelaki yang oleh Rangsang Kumuda

disebut Rubaya tak berkata apa pun, juga tidak mendekat untuk

mengulurkan tangan. Rubaya pilih tetap berdiri di sebelah kudanya sambil

tangannya tetap memegang tali kendali. Demikian pula dengan

pembunuh Kinasten yang bernama Arya Surapati itu, memilih tetap

berdiri dalam kesiagaan tertinggi. Ia tidak datang mendekati orang yang

diperkenalkan kepadanya. Ia menatapnya dengan tatapan mata curiga.

”Jadi, sudah kamu laksanakan tugasmu?” tanya Rangsang Kumuda.

”Sudah,” jawab Arya Surapati amat tegas. ”Kubunuh Kinasten

dengan cemeti yang kujeratkan ke lehernya. Kupilih cara itu untuk

menyesuaikan diri dengan mimpi yang dialaminya. Kinasten bermimpi

dicekik hantu, supaya mimpi itu benar-benar sesuai dengan jenis daradasih

maka kuberi Kinasten cara kematian seperti itu.”

Rangsang Kumuda terdiam. Lelaki yang sebenarnya berusia lebih

dari lima puluh tahun itu tak perlu berpikir ulang ketika memutuskan

mengeluarkan kampil berisi uang dari pinggangnya. Kampil dengan suara

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 121

bergemerincing menjadi tanda betapa besar jumlah uang dalam bungkusan

itu.

”Bunuh dia,” tiba-tiba Rangsang Kumuda berkata tegas.

Arya Surapati yang semula meluap isi dadanya ketika akan menerima

jumlah uang yang lumayan banyak, yang sangat cukup untuk membiayai

kegemaran foya-foyanya, terkejut mendengar perintah yang keluar dari

mulut Rangsang Kumuda. Amat gugup Arya Surapati mempersiapkan

diri dengan mencabut senjatanya, pedang berbilah panjang sedikit

melengkung dan diasah sangat tajam. Pedang itu di pegang di tangan

kiri dan tangan kanan memegang gagang cambuk. Akan tetapi, yang

dihadapi Arya Surapati adalah orang dengan kemampuan khusus.

Perintah itu segera diterjemahkan dengan baik oleh Rubaya. Secepat

kilat Rubaya mengayunkan pisau yang turun dari lengan baju ke

genggaman tangan, dengan arah bidik yang benar-benar terukur. Pisau

dengan bentuk tak lazim karena dibuat dengan pertimbangan ketepatan

bidik itu melesat cepat menerobos mulut Arya Surapati yang terbuka.

Arya Surapati ambruk tidak bisa memperdengarkan jeritan, tenggelam

pisau itu menyobek tenggorokannya. Sejenak kemudian, Arya Surapati

pergi ke dua tempat sebagaimana diucapkannya sendiri. Nyawanya

melayang menyusul Kinasten ke alam kematian dan mayatnya yang

dinaikkan ke atas kuda diarahkan ke kotaraja untuk menggegerkan pagi

yang datang. Derap kuda yang membawa mayat itu makin menjauh dan

makin lamat-lamat, wujudnya tidak tampak karena ditelan tebalnya kabut.

”Dengan cara bagaimana kamu bisa melakukan itu?” tanya Kumuda.

”Melakukan apa?” balas Rubaya.

”Bisa membidik tepat mulutnya?”

Rubaya tertawa pendek dan tidak memberikan jawaban. Rangsang

Kumuda menjadi penasaran.

”Tentu butuh latihan yang sangat panjang untuk bisa mencapai

kemampuan bidik macam itu,” Rangsang Kumuda mengejar.

”Sebenarnya tidak,” jawab Rubaya, ”yang aku bidik bagian dadanya,

namun meleset sejengkal menerobos mulutnya yang terbuka. Hanya

kebetulan.”

122 Gajah Mada

Jawaban itu tidak membuat Rangsang Kumuda tertawa. Telah

berulang kali ia menyaksikan kemampuan Rubaya, dan selalu saja

perbuatan Rubaya itu mengagetkan dan membuatnya terheran-heran.

”Aku berharap tugasmu bisa kaulaksanakan pagi ini dengan sebaikbaiknya,”

kata Rangsang Kumuda. ”Sasaranmu Raden Kudamerta. Bidik

dadanya dengan baik. Kelak apabila semua mimpi telah tergapai, aku

tidak akan pernah melupakanmu. Apabila aku menjadi seorang patih

dan itu merupakan batu lompatanku untuk bisa menjadi raja, akan aku

bawa kau untuk selalu berada di belakangku. Kau akan aku beri wilayah

sehingga kau bisa menjadi raja kecil di tempat itu.”

Rubaya tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi bayangan wajah Raden

Kudamerta yang amat dikenalnya mengombak di kelopak matanya.

Dalam kehidupan sehari-hari Raden Kudamerta sahabat yang

menyenangkan, yang tidak menganggap dirinya lebih rendah. Namun

kali ini apa boleh buat, Raden Kudamerta harus berada di sasaran

bidiknya, padahal selama ini tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari

ayunan pisaunya. Kemampuan mengayunkan pisau macam itu pada

umumnya sangat dikuasai oleh orang-orang Bhayangkara. Sebagai bagian

dari pasukan sandiyudha, semua prajurit Bhayangkara harus terlatih dan

mengusai kemampuan melempar pisau dengan tingkat ketepatan bidikan

tak ubahnya anak panah.

”Temanten baru itu tentu tak akan menyangka, siang hari nanti,

setelah semalam berasyik masyuk dengan istrinya, akan mengalami

peristiwa yang menyakitkan,” kata hati Rubaya.

Apa yang diharapkan Rangsang Kumuda memang menjadi

kenyataan. Ketika pagi benar-benar pecah, Kotaraja Majapahit dikagetkan

oleh dua ekor kuda yang masing-masing memanggul mayat di

punggungnya. Pembunuhan aneh itu dengan segera mendapatkan

perhatian dari pasukan Bhayangkara. Gajah Enggon bergegas memeriksa

secara langsung.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 123

12

Dua ekor kuda itu menyita perhatian Gajah Enggon yang tak

berkedip dalam memandanginya. Namun, Gajah Enggon tidak

mengenali siapa pemilik kuda tegar itu. Di atas paha kanannya melekat

cap bakar bergambar bulatan dibelit ular. Selebihnya ia hanya kuda

berwarna cokelat. Sedangkan yang seekor lagi tidak memiliki tanda apa

pun, tidak ada cap punggung atau tanda khusus yang lain yang bisa

dikenali. Gajah Enggon kemudian mengarahkan perhatiannya pada dua

sosok mayat yang digeletakkan di bangunan jaga.

”Bagaimana mayat-mayat ini ditemukan?” tanya Senopati Gajah

Enggon.

Seorang prajurit melangkah mendekat. Prajurit itu adalah pimpinan

kesatuan kecil yang bertugas menjaga pintu gerbang barat saat mayat

itu ditemukan.

”Pagi sekali, masih boleh dibilang gelap gulita karena kabut amat

tebal. Kuda itu masuk dari pintu gerbang kota bagian barat dan langsung

menerobos masuk pintu yang terbuka. Aku sudah berteriak menghentikannya,

ternyata kuda itu nyelonong masuk begitu saja. Sulit

mengejarnya karena terbatasnya jarak pandang. Ketika aku berhasil

menghentikannya, ternyata kuda itu membawa mayat. Kuda itu kubawa

balik arah, tetapi malah berpapasan dengan kuda yang kedua. Dugaanku

ternyata benar, kuda yang kedua pun membawa mayat di punggungnya,”

jawab prajurit itu.

”Malam ini kamu bertugas menjaga pintu gerbang barat?” tanya

Enggon.

”Ya,” jawabnya. ”Aku yang memimpin.”

Gajah Enggon memutar otak dan memerhatikan semua wajah yang

hadir di pintu gerbang barat itu dengan penuh perhatian.

124 Gajah Mada

”Apa kau mengenal orang-orang yang terbunuh ini?” tanya Enggon.

Prajurit itu menggeleng, ”Tidak.”

”Namamu siapa?” lanjut pimpinan Bhayangkara Gajah Enggon.

”Namaku Dlapa Welah, Ki Lurah,” jawab prajurit bermata sedikit

juling itu.

Beberapa saat lamanya Gajah Enggon memandang Dlapa Welah.

Yang dipandang balas memandang, namun Gajah Enggon merasa

prajurit itu menatap ke arah lain. Gajah Enggon berbalik dan

menjatuhkan titik pandangnya jauh ke timur. Di sana ada cahaya semburat

berwarna kemerahan.

Di arah timur matahari menyembul di garis cakrawala. Ampak-ampak

kabut yang semula begitu tebal menyibak, sebagian membubung,

sebagian menguap, dan sebagian lagi tersapu terbawa angin menjauhi

kotaraja. Wajah-wajah yang semula berjarak batas kini tampak jelas.

Pandangan mata Gajah Enggon hinggap di wajah Bhayangkara Riung

Samudra yang segera tanggap dan bergegas datang mendekat. Di

samping Riung Samudra, berdiri seorang prajurit muda berbadan tegap

dan kukuh. Meski masih muda, ia memiliki kemampuan memadai

sehingga ditarik menjadi bagian dari pasukan khusus itu. Prajurit

Bhayangkara muda bernama Kendit Galih itu berasal dari Singasari.

Keinginannya menjadi prajurit Bhayangkara membawanya datang ke

Ibukota Majapahit.

”Ada perintah untukku?” tanya Riung Samudra.

Gajah Enggon ternyata masih menyimpan persoalan yang amat

mengganggu itu di mulutnya yang terbungkam. Butuh beberapa jenak

waktu untuk mengeluarkan isi pemikiran dari kedalaman benaknya.

”Kamu tahu kenapa orang ini dibunuh dan mayatnya harus

diletakkan ke atas punggung kuda dan diarahkan kuda itu ke dalam kota?”

Riung Samudra tidak segera menjawab pertanyaan yang sebenarnya

sepele itu.

”Pembunuhan dilakukan di luar kota,” jawab Riung Samudra setelah

merasa menemukan simpulan.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 125

”Pembunuhan terjadi di luar dinding kota, benar seperti katamu,”

Enggon menjawab. ”Tetapi, mengapa mayat itu harus diletakkan di

atas kuda dan diarahkannya kuda itu untuk berderap masuk kota?”

Riung Samudra berpikir keras, tetapi tidak menemukan jawabnya.

Gajah Enggon membaca raut wajah Bhayangkara Kendit Galih yang

mulutnya berkomat-kamit seperti akan mengutarakan pendapat.

Diberikan kesempatan itu kepada Kendit.

”Kamu punya pendapat, Kendit?” tanya Gajah Enggon.

Kendit mengangguk.

”Katakan bagaimana pendapatmu!” kata Enggon memberi

kesempatan.

”Menurut pendapatku, pelaku pembunuhan ini tentu bukannya

tanpa maksud. Dikirimnya mayat-mayat dengan diletakkan di atas

punggung kuda adalah untuk membawa pesan. Hanya saja aku tak tahu

siapa atau pihak mana yang ingin dibuat gentar oleh pengiriman mayat

ini serta siapa atau pihak mana yang merasa berkepentingan mengirim

pesan,” jawab Kendit dengan kalimat yang urut dan runtut.

Jawaban Kendit Galih itu membuat Riung Samudra bingung.

”Aku tidak paham maksudmu, bagaimana mayat-mayat itu bisa

dianggap tak ubahnya pesan? Aku tidak melihat pesan apa pun.”

Kendit Galih akan balas menjawab, namun Gajah Enggon

mengangkat tangan meminta Kendit tidak menanggapi.

”Kendit Galih benar, Samudra,” Gajah Enggon membalas. ”Kamu

salah bila menganggap mayat-mayat ini tak membawa pesan. Kedatangan

mayat-mayat ini sudah merupakan pesan. Jelas ada sesuatu yang tidak

main-main di balik mayat-mayat yang dikirim ini. Kematian mereka jelas

ada hubungannya dengan kematian-kematian sebelumnya, kematian Ki

Panji Wiradapa, Klabang Gendis, dan kematian sahabat kita, Lembang

Laut. Semua kematian itu, termasuk mayat-mayat yang baru datang terjadi

hanya dalam waktu semalam, pada hari yang sama Sri Baginda Prabu

Jayanegara mati terbunuh.”

126 Gajah Mada

Riung Samudra menyimak dengan cermat sebagaimana Bhayangkara

Kendit Galih memerhatikan ucapan pimpinan pasukan Bhayangkara

itu dengan sangat bersungguh-sungguh.

”Telusuri kematian ini. Segera temukan jawabnya, siapa saja mereka.

Lalu, segera berikan laporannya kepadaku, secepatnya,” ucap Gajah

Enggon.

”Baik, Kakang,” jawab Riung Samudra.

Tak lebih dari sepuluh orang prajurit yang bertugas menjaga

keamanan pintu gerbang barat itu bergegas mendekat ketika Bhayangkara

Riung Samudra melambai, meminta mereka mendekat. Riung Samudra

akan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai pendalaman ketika dari

arah Purawaktra terdengar seekor kuda membalap dengan sangat

kencang. Gajah Enggon bahkan bergegas mengangkat busur, berjagajaga

bila penunggang kuda itu membahayakan mereka atau berniat

melintas tanpa berhenti.

Akan tetapi, Gajah Enggon segera menurunkan gendewanya,

demikian pula dengan Bhayangkara Kendit yang telah menyiagakan

pisau-pisau terbangnya. Melihat siapa penunggang kuda bertubuh kekar

itu, Kendit pun mengembalikan pisau-pisaunya yang direnteng rapi di

pinggang dan punggungnya. Senopati Gajah Enggon segera memimpin

memberikan penghormatan kepada orang itu.

Gajah Mada yang melompat turun dari kuda segera mengarahkan

perhatiannya pada mayat-mayat yang ditemukan. Kematian mayat

pertama karena lehernya dijerat, sementara kematian kedua melalui

sebuah pisau belati yang melesat menerobos mulut dan tenggelam di

tenggorokan orang itu. Kematian yang masing-masing tidak memberi

kesempatan untuk menjerit.

”Sudah diketahui siapa mereka?” tanya Gajah Mada.

”Belum, Kakang,” jawab Gajah Enggon.

”Cabut pisau itu,” perintah Gajah Mada.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 127

Riung Samudra segera menjalankan perintah itu. Pisau itu pun

dicabut. Darah merah yang melekat pada pisau dibasuh dengan cara

menancapkan ke batang pohon pisang yang tumbuh tidak jauh dari

tempat itu dan dilakukannya sampai tiga kali. Pisau itu segera diserahkan

kepada Gajah Mada yang memerhatikan amat cermat ciri-ciri khusus

yang ada.

”Bukan pisau milik Bhayangkara,” kata Riung Samudra.

Gajah Mada mengarahkan pandangan matanya kepada Riung

Samudra.

”Menurutmu begitu?” tanya Gajah Mada.

”Ya,” jawab Riung Samudra.

”Bagaimana menurutmu, Enggon?” tanya Gajah Mada kepada

Gajah Enggon.

Gajah Enggon menimang pisau itu bergantian dengan tangan kanan

dan kiri dan tanpa ancang-ancang lebih dulu, pisau itu diayunkan ke

batang pohon tak jauh dari tempat itu. Pisau itu melesat dan langsung

menancap tepat di tengah dahan pohon sawo yang sedang tumbuh lebat

di pekarangan rumah orang.

”Nah, bagaimana?” tanya Gajah Mada. ”Meski bentuk dan

ukurannya berbeda, pisau itu mempunyai sifat tak ubahnya pisau milik

pasukan Bhayangkara. Bagian terberat bukan pada gagang, tetapi pada

ujungnya.”

Bhayangkara Gajah Enggon, Riung Samudra, dan Kendit Galih

menyimak apa yang diucapkan Gajah Mada dengan saksama dan penuh

perhatian. Demikian pula dengan beberapa prajurit yang bertugas

menjaga keamanan regol di sebelah barat yang berdiri pada jarak sedikit

jauh. Mereka tak ingin ada yang lolos satu kalimat pun dari pembicaraan

itu.

”Menurutmu, apa penyebab kematian yang dialami orang yang

pertama,” kata Gajah Mada.

”Dijerat lehernya,” jawab Gajah Enggon. ”Ia tak sempat melakukan

perlawanan. Orang yang membunuhnya mungkin orang yang amat

dikenalinya dan melakukan pembunuhan dengan mendadak tanpa

diduga.”

128 Gajah Mada

Gajah Mada sependapat dengan jalan pikiran Senopati Gajah

Enggon.

”Lalu orang yang kedua?” Gajah Mada menambah. ”Tenggelamnya

pisau ke mulut korbannya, melalui genggaman tangan atau diayunkan

dalam jarak jauh yang langsung tenggelam ketika mulut korbannya sedang

terbuka?”

Senopati Gajah Enggon merasa ragu untuk menjawab.

”Bagaimana, Samudra?” tanya Gajah Mada.

Riung Samudra juga tidak mempunyai jawaban. Riung Samudra

menggelengkan kepala.

”Bagaimana menurutmu, Kendit?”

Kendit Galih memandang mayat dengan luka di mulut itu dengan

cermat, saksama, dan penuh perhatian. Kendit Galih menoleh kepada

Gajah Mada.

”Orang itu mati oleh ayunan pisau belati dengan kecepatan tinggi.

Kalau dari ayunan tangan yang menggenggam pisau, ia pasti punya waktu

untuk mengelak atau pisau itu akan melukai tempat lain, pipi atau bahkan

wajah. Orang yang membunuh benar-benar memiliki kemampuan

mengayunkan pisau yang luar biasa.”

”Hanya orang Bhayangkara yang terlatih menggunakan pisau

terbang macam itu,” kata Gajah Mada terasa pahit. ”Sebelum dua orang

ini, setidaknya terjadi tiga kematian, seorang di antaranya Bhayangkara

Lembang Laut yang mati dipatuk ular. Keterlibatan Lembang Laut harus

segera diungkap. Harus segera diketahui apa peran Lembang Laut,

apakah ia melakukan tindakan yang salah yang tidak sesuai dengan cara

pandang Bhayangkara, atau karena hal lain. Jika dijebak, Lembang Laut

harus dibersihkan namanya.”

Sebuah teka-teki yang mencemaskan, apalagi bila mengingat

kematian yang terjadi beruntun itu terjadi berimpitan waktu dengan

kematian Sri Jayanegara. Lebih-lebih salah seorang yang menjadi korban

adalah Panji Wiradapa.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 129

”Gajah Enggon,” berkata Gajah Mada dengan suara datar.

”Bagaimana, Kakang?”

”Kumpulkan para pimpinan pasukan di Balai Prajurit. Aku akan

memberikan taklimat. Ada banyak masalah yang harus aku sampaikan

sebelum siang nanti akan diselenggarakan pembakaran layon Sri Baginda

Jayanegara. Sebelumnya layon akan disemayamkan lebih dulu di Balai

Prajurit untuk mendapatkan penghormatan dengan tata cara

keprajuritan.”

”Baik, Kakang. Perintah Kakang Gajah akan segera aku laksanakan.”

Gajah Mada melompat kembali ke atas kudanya dan serentak

mendapatkan penghormatan dari para prajurit yang ditinggalkan.

Dengan kecepatan tinggi, Patih Daha itu melaju kembali ke arah semula

untuk melaporkan perkembangan yang terjadi itu kepada Arya Tadah.

Mapatih Majapahit Arya Tadah semalam suntuk tak beristirahat dan

memantau perkembangan yang terjadi. Gajah Mada juga tidak tidur dan

terus menyalurkan perkembangan kepada Arya Tadah. Seharusnya Gajah

Mada juga melaporkan perkembangan yang terjadi itu kepada Ibu Ratu

Rajapatni Biksuni Gayatri, tetapi Gajah Mada menimbang, semua yang

terjadi harus diatasi tanpa harus merepotkan Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri. Atau, baru akan dilaporkan bila semua telah tuntas berhasil

diatasinya.

”Kendit Galih,” berkata pimpinan Bhayangkara Senopati Gajah

Enggon.

Kendit Galih bergegas mendekat.

”Tak banyak pandai besi di Majapahit ini, utamanya pandai besi

yang mampu membuat pisau macam itu. Telusuri di mana pisau itu

dibuat, telusuri pula siapa atau pihak mana sebagai pemesannya.”

Tandya.”

”Laksanakan segera.”

Bhayangkara berusia muda dan tangkas itu segera melompati pagar

untuk mengambil pisau yang menancap di pohon sawo. Tugas yang

baru diterimanya itu dilaksanakan dengan baik. Senopati Gajah Enggon

berbalik dan berhadapan dengan Bhayangkara Riung Samudra.

130 Gajah Mada

”Aku akan mempersiapkan taklimat yang akan diberikan Kakang

Gajah Mada. Aku tegaskan kembali tugas untukmu, temukan jati diri

orang-orang yang mati ini,” perintah Gajah Enggon kepada Riung

Samudra.

”Baik, Kakang. Akan aku laksanakan perintah yang Kakang

berikan.”

Riung Samudra mengawali pekerjaannya dengan membelejeti

pakaian yang dikenakan mayat-mayat itu untuk menemukan barangkali

terdapat titik terang jati diri yang bisa digunakan membuka selubung

kematiannya. Riung Samudra mengerutkan kening ketika menemukan

sebuah rajah, rajah yang kecil saja, dalam bentuk mirip ular yang membelit

sebuah bulatan di pangkal lengannya.

”Bagian ini mirip kepala ular. Apa ini?” desis Riung Samudra.

Riung Samudra bergegas memeriksa mayat berikutnya. Lagi-lagi

Samudra menemukan lambang rajah dalam bentuk yang sama.

”Lambang yang sama, lambang apa ini?”

13

Balai Prajurit dibersihkan dan dengan mendadak dipersiapkan

untuk sebuah upacara penghormatan menggunakan tata cara keprajuritan.

Balai Prajurit berbentuk pendapa besar menghadap ke arah timur

dengan pohon-pohon besar di sekitarnya, dikelilingi oleh pagar berlapis.

Pagar pertama di bagian dalam dan pagar ke dua di bagian luar. Tepat di

tengah halaman berdiri tegak sebuah patung laki-laki mengenakan

pakaian kebesaran raja sebagai penggambaran sosok Raden Wijaya, yang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 131

dipayungi songsong rangkap tiga. Telapak tangan kanannya dalam sikap

tegak di depan dada dan tangan kiri memegang gagang gada yang

ujungnya menyentuh tanah. Patung itu dibuat sesuai dengan ukuran

aslinya. Orang-orang tua yang masih punya kenangan atas wajah Raden

Wijaya melihat betapa mirip wajah patung itu dengan mendiang

Kertarajasa Jayawardhana di usia empat puluhan tahun. Para orang tua

masih menyimpan kenangan betapa gagah dan tampan Raden Wijaya

kala itu.

Pagar dalam dikelilingi pagar bagian luar berupa tanah lapang yang

dipayungi pohon-pohon besar, di antaranya pohon saman dengan ukuran

besar, ada pula beberapa pohon jati raksasa yang tidak cukup dipeluk

oleh dua orang yang bersama-sama menyambungkan tangan. Pada ujungujung

rantingnya penuh dengan berbagai binatang yang dibiarkan hidup

dengan bebas dan dilindungi oleh undang-undang, tak diperkenankan

siapa pun mengganggunya, baik dengan melepas anak panah, melepas

plinteng147 bahkan yang dengan sekadar mengayunkan batu. Yang berani

melakukan akan berhadapan dengan tegak tegasnya Kitab

Kutaramanawa. Jenis-jenis binatang yang bisa hidup bersama meski

mereka berbeda adalah burung blekok, burung berkulit putih yang selalu

akrab dengan para petani yang mengolak sawah. Di samping blekok,

pohon-pohon di sekitar Balai Prajurit itu juga dipenuhi kalong, mirip

kelelawar, namun dengan ukuran lebih besar. Malam hari binatangbinatang

itu pergi entah ke mana, namun siang harinya berkumpul

kembali di tempat itu.

Lapangan di depan Balai Prajurit itu tentu kalah luas dari lapangan

di balik dan di luar pintu gerbang Purawaktra, namun lapangan di

halaman luar Balai Prajurit juga dipergunakan untuk berlatih tata kelahi

olah kanuragan, mulai dari gulat sampai pencak silat, dari olah

keterampilan ngembat watang sampai ketangkasan melempar pisau.

Namun, untuk perang dalam ukuran besar, bagaimana pasang gelar

Diradameta, Cakrabyuha, Supit Urang,148 dan lain-lain dilakukan di alunalun

istana.

147 Plinteng, Jawa, katapel

148 Diradameta, Cakrabyuha, Supit Urang, Jawa Kuno, nama-nama siasat perang berskala besar, awalnya

istilah-istilah perang itu berasal dari Mahabarata terutama episode Baratayuda.

132 Gajah Mada

Pada dasarnya dari Balai Prajurit inilah semua kegiatan keprajuritan

diatur, bagaimana siasat perang atau rencana-rencana yang disusun

dikendalikan. Balai Prajurit dibangun bertumpu pada pengalaman atas

pemberontakan-pemberontakan yang terjadi, utamanya yang terakhir

dilakukan oleh para Dharmaputra Winehsuka. Pembangunan Balai

Prajurit itu digagas oleh Gajah Mada ketika ia masih berpangkat bekel,

pangkat yang masih rendah sehingga gagasannya belum bisa diwujudkan.

Barulah ketika atas jasanya Bekel Gajah Mada dianugerahi pangkat yang

lebih tinggi dengan menjabat sebagai patih di Jiwana, angan-angannya

agar Majapahit memiliki Balai Prajurit disampaikan kepada Sri Jayanegara

Sang Prabu Maharaja Adhiraja Sri Wiralanda Gopala. Gagasan itu

diterima dan dibangunlah Balai Prajurit terpisah dari lingkungan istana.

Udara dingin tak bersisa lagi. Kabut telah menyibak meski masih

ada sisanya, menjadikan garis-garis matahari yang timbul karena terhalang

oleh pohon-pohon tampak indah sekali. Puluhan orang bekerja keras

menyapu halaman yang luas dan membersihkan pekarangan. Daun-daun

kering dikumpulkan lalu dibakar, semak dan perdu dibabat habis.

Puluhan orang yang lain bekerja keras serasa diburu waktu mempersiapkan

apa pun yang dibutuhkan.

Melalui anak panah sanderan yang di lepas membubung ke langit

dilengkapi dengan suara sangkakala dan tambur dengan derap irama

tertentu, isyarat itu berhasil ditangkap oleh mereka yang dipanggil diminta

berkumpul. Panggilan itu ditujukan kepada para senopati pimpinan

satuan pasukan, masing-masing dari kesatuan Japalapati dan kesatuan

Sapu Bayu yang berasal dari leburan dua pasukan Jalayuda dan Jala

Rananggana dan orang-orang tertentu dari kelompok Bhayangkara.

Tidak butuh waktu lama, mereka yang dipanggil mulai berdatangan ke

Balai Prajurit. Tak ada wajah yang tidak bersungguh-sungguh, semua

wajah tampak tegang.

Sang waktu merambat sedikit siang ditandai dengan matahari kian

menanjak tinggi ketika mereka yang dipanggil untuk menerima taklimat

telah lengkap. Sejenak kemudian derap kuda terakhir yang memasuki

Balai Prajurit membawa sosok prajurit yang paling disegani di Majapahit,

Gajah Mada. Seorang prajurit berpangkat rendahan bergegas menerima

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 133

kendali kudanya saat mana Gajah Mada telah meloncat turun. Diikatnya

kuda itu pada palang kayu yang ditanam di halaman yang memang

disiapkan untuk keperluan itu.

”Sudah berkumpul semua?” tanya Gajah Mada.

”Sudah,” jawab Senopati Gajah Enggon.

Gajah Mada menebarkan pandangan matanya pada pasukan yang

telah pacak baris149di halaman dan dihadapkan ke selatan untuk

menghindarkan Gajah Mada dari bertatapan mata langsung dengan

matahari yang akan menyilaukannya. Pasukan itu terdiri atas para prajurit

dengan pangkat perwira dan hanya beberapa yang berpangkat bintara.

Meski dalam kelompok bintara, tetapi prajurit yang harus bergabung di

dalam taklimat itu memegang kendali tugas amat penting dan

membawahi beberapa kelompok prajurit. Hanya ada dua perwira yang

berpangkat senopati, masing-masing Senopati Haryo Teleng memimpin

pasukan Jalapati dan Senopati Panji Suryo Manduro memimpin pasukan

Sapu Bayu. Jabatan dan tugas dua orang itu sangat tinggi karena

memegang kendali atas pasukan dengan kekuatan satu bregada.150

Sejak huru-hara yang dilakukan Ra Kuti, atas perintah Raja Sri

Jayanegara dilakukan penataan kembali tatanan keprajuritan yang ada.

Satu keputusan penting adalah pangkat tertinggi adalah senopati. Pangkat

temenggung tidak lagi digunakan di keprajuritan, namun masih tetap

digunakan di luar itu. Pimpinan tertinggi disebut panglima perang atau

senopati agung yang dipegang langsung oleh Jayanegara yang mangkat.

Atas pertimbangan pengabdian luar biasa yang diberikan selama

ini dan dianggap paling berpengalaman maka meski tanpa ada serah

terima yang jelas, juga tidak dari Ratu Gayatri, Gajah Mada langsung

mengambil kendali menempatkan diri tidak ubahnya panglima perang

itu. Melihat itu, tak seorang pun yang menolak karena semua berpikir

Patih Daha Gajah Mada memang mampu dan layak berada di tempat

yang sekarang ia pegang. Tidak seorang pun yang mempersoalkan

149 Pacak baris, Jawa, berbaris

150 Bregada, Jawa, bisa diidentikkan dengan satuan berkekuatan satu korps, satu korps sendiri merupakan

gabungan dari divisi-divisi.

134 Gajah Mada

kepemimpinan Gajah Mada karena ia memegang samir khusus yang

diterimanya dari Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri. Gajah Mada juga

mengenakan lencana kepatihan yang dengan sendirinya keberadaan

Gajah Mada tak ubahnya Mahapatih Arya Tadah sendiri.

”Para wadya sumadya, tandya,” amat lantang pimpinan Bhayangkara

Gajah Enggon memberi aba-aba kepada pasukannya.

Tandya,” jawab pasukan yang disiapkan dengan serentak.

Gajah Mada mempersiapkan diri sebelum berbicara dan menebar

pandangan mata menyapu wajah semua pimpinan prajurit, pimpinan

dari satuan masing-masing. Dari apa yang terjadi itu terlihat betapa besar

wibawa Gajah Mada, bahkan beberapa prajurit harus mengakui wibawa

yang dimiliki Gajah Mada jauh lebih besar dari wibawa Jayanegara. Sri

Jayanegara masih bisa diajak bercanda, tetapi tidak dengan Patih Daha

Gajah Mada, sang pemilik wajah yang amat beku itu.

”Sebagaimana kalian semua mengetahui,” Gajah Mada akhirnya

memulai kata-katanya, ”kemarin petang telah terjadi peristiwa yang

melukai negara. Dharmaputra Winehsuka Ra Tanca telah melakukan

tindakan tak tahu diri dengan membunuh Sang Prabu melalui racunnya.

Kita semua kecolongan dengan kejadian itu. Para prajurit ditugaskan

untuk menjaga keamanan dan ketenteraman negara. Melekat dengan

tugas itu para prajurit juga berkewajiban menjaga keselamatan raja.

Kejadian kemarin itu menjadi bukti bahwa kita tidak melaksanakan tugas

dengan baik. Pengamanan raja dilakukan tidak serapat melaksanakan

tugas yang lain. Dengan amat mudah Ra Tanca membunuh Sang Prabu

dengan racunnya. Letak kesalahan peristiwa ini adalah pada langkanya

orang-orang yang menguasai ilmu pengobatan sehingga tak ada yang

bisa mengawasi dan menjadi pembanding ketika Ra Tanca dengan ilmu

pengobatannya justru meracun Sri Baginda. Oleh karena itu, untuk

selanjutnya harus dikaji ulang bagaimana seharusnya menjaga

keselamatan raja karena bahaya ternyata bisa datang dari mana saja,

bahkan dari orang yang sangat dekat sekalipun.”

Ucapan Gajah Mada itu disimak dengan amat cermat. Tidak seorang

pun yang menanggapi. Satu-satunya orang yang berbeda sikap, tetapi

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 135

hanya menyimpan di dalam hati adalah Ra Kembar. Ra Kembar meski

menyandang gelar Rakrian, ia hanya seorang lurah yang membawahi

sekitar lima puluh prajurit. Ra Kembar yang berasal dari kesatuan Sapu

Bayu tersenyum sinis. Ra Kembar punya alasan untuk tidak senang

kepada Gajah Mada karena ia bersahabat akrab dengan segenap Dharmaputra

Winehsuka.

”Gajah Mada bisanya hanya menyalahkan orang lain,” kata hati Ra

Kembar. ”Saat Ra Tanca membunuh Sang Prabu di biliknya, bukankah

ia berada di ruangan itu. Ia yang mengawasi Ra Tanca melakukan

pengobatan. Artinya, ia mestinya bertanggung jawab terhadap

keselamatan rajanya, mengapa orang lain yang tidak bersalah harus

menanggung akibatnya. Lucu Gajah Mada.”

Meski berpendapat demikian, Ra Kembar tidak melontarkan

pendapatnya itu. Ra Kembar menyimpan pendapat itu dalam hati.

”Kita tahu Ra Tanca mempunyai banyak alasan untuk membunuh

Sri Baginda Jayanegara,” Gajah Mada menambahkan. ”Alasan itu

berkaitan dengan peristiwa sembilan tahun silam yang rupanya masih

meninggalkan dendam di hati Ra Tanca. Alasan yang lain adalah alasan

yang dibuat-buat dan tak masuk akal. Desas-desus Sri Baginda

mengganggu istrinya adalah tidak benar karena kita semua mengenal

siapa Sang Prabu. Sri Baginda tak mungkin mengganggu istri Rakrian

Tanca itu, secantik apa pun ia. Justru amat masuk akal perbuatan Rakrian

Tanca itu karena ada pihak yang mendalangi atau memanfaatkannya.

Terbukti hanya beberapa jengkal waktu setelah Sri Baginda meninggal

karena pembunuhan, telah terjadi pembunuhan lain susul-menyusul.

Senopati Gajah Enggon akan menjelaskan siapa mereka yang mati

beruntun itu.”

Senopati Gajah Enggon melangkah menempatkan diri di sebelah

Gajah Mada.

”Setelah kematian Sri Baginda, semalam seorang prajurit berasal

dari kesatuan Jalapati bernama Panji Wiradapa mati,” berkata Gajah

Enggon. ”Ki Lurah Panji Wiradapa dibunuh orang dengan cara

dilemparkan tubuhnya ke kobaran perapian dan nyaris tubuhnya tidak

136 Gajah Mada

bisa dikenali. Kematian Panji Wiradapa ini menarik perhatian, atau

tepatnya justru sosok Ki Panji Wiradapa yang menarik perhatian, dan

Kakang Patih Daha nanti yang akan menjelaskan siapa sebenarnya Ki

Panji Wiradapa. Nyaris bersamaan waktu dari kematian Ki Panji

Wiradapa yang terbakar dan masih bisa dikenali jati dirinya oleh Raden

Kudamerta, disusul oleh dua kematian berikutnya. Seorang prajurit

bernama Klabang Gendis yang biasanya bertugas mengawal Raden

Kudamerta menyusul terbunuh, sebuah panah melesat tembus ke

tenggorokannya. Pada jarak yang tak seberapa jauh, ditemukan lagi

sesosok mayat yang kali ini cukup mengagetkan, ia bagian dari pasukan

Bhayangkara. Bahkan, sepak terjangnya sangat terpuji ketika ikut

melakukan penyelamatan Sri Baginda ke Bedander. Bhayangkara

Lembang Laut tewas dengan jejak telapak tangan digigit ular. Kematian

prajurit bernama Klabang Gendis adalah dibunuh Lembang Laut,

kematian Lembang Laut dipatuk ular pada tangannya, bukan pada

kakinya dan itu diyakini sebagai pembunuhan.”

Amat hening halaman Balai Prajurit itu, tak seorang pun yang

menyela ucapan Gajah Enggon. Hal yang sebelumnya masih merupakan

berita yang simpang siur maka kali ini berita kematian itu menjadi jelas,

terutama berita tentang kematian Bhayangkara Lembang Laut yang

mengagetkan.

”Berikutnya, pagi ini kita dikirimi dua sosok mayat tak dikenal yang

dibunuh di luar dinding kotaraja entah tempat itu di mana. Mayat yang

pertama diletakkan di punggung kuda dengan kematian akibat leher

tercekik, sementara mayat berikutnya mati dengan mulut diterobos pisau

terbang. Dua mayat itu belum kita ketahui jati dirinya dan sedang

dilakukan penyelidikan untuk menguak siapa mereka. Yang jelas,

kematian-kematian yang terjadi itu merupakan peringatan bagi kita bahwa

sangat mungkin siang ini, bersamaan dengan upacara yang dilakukan

untuk menghormati Sri Baginda akan terjadi sesuatu.”

Para pimpinan satuan dan kesatuan yang berkumpul di halaman

Balai Prajurit memamerkan wajah bersungguh-sungguh. Tak seorang

pun menyela bahkan tidak seorang pun berniat memalingkan wajah dari

raut muka Gajah Enggon.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 137

”Selanjutnya, apa yang diperkirakan akan terjadi dan apa yang harus

diperbuat, Kakang Gajah Mada akan melanjutkan taklimatnya. Aku minta

supaya disimak dengan baik,” lanjut Senopati Gajah Enggon.

Semua perhatian selanjutnya ditujukan kepada Gajah Mada.

”Masih ingat nama Mahapati?”

Pertanyaan yang dilontarkan Gajah Mada itu langsung menyengat,

seperti ular yang mematuk kaki dengan mendadak dan menyentak.

Beberapa di antara perwira saling pandang, sebagian di antaranya tidak

mengalihkan perhatian dari Gajah Mada.

”Masih ingat Ramapati?” tanya Gajah Mada.

”Masih,” semua menjawab serentak, hanya Kembar yang tidak

menjawab.

Tentu para perwira tak akan pernah lupa nama Mahapati yang sekitar

sepuluh tahun lebih sangat menggegerkan Majapahit. Mahapati juga

bernama Ramapati, ia memiliki hati yang amat berbulu dan raut muka

yang amat culas, demikian setidaknya para kawula meyakini betapa

Ramapati adalah penjahat paling berbahaya di Majapahit yang hanya

sekadar mulut culasnya saja telah cukup untuk membuat kekacauan luar

biasa. Perang yang terjadi ketika Majapahit menyerbu Tuban adalah

karena hasutan Mahapati. Majapahit menyerang Lumajang adalah karena

orang ini pula. Mahapati pula yang mengipasi Sora supaya melakukan

makar, yang kemudian digilas Majapahit. Selanjutnya, Mahapati adalah

guru para Rakrian Dharmaputra Winehsuka yang semuanya menjadi

pemberontak, seolah makar adalah warisan nyata dari guru kepada para

muridnya.

Dalam Kitab Mahabarata terdapat tokoh jahat yang ke mana pun

dan di mana pun ia berada selalu mengadu domba, memfitnah sana

memfitnah sini. Sosok bernama Sangkuni menebar finah sampai pada

kadar berlepotan sehingga sesama darah Barata harus berperang dan

saling berbunuh di hamparan padang luas bernama Kurusetra. Segenap

rakyat Majapahit yang ingat sepak terjang Mahapati tentu menghubungkan

perilakunya dengan tokoh Sangkuni. Semua itu ia lakukan

138 Gajah Mada

karena nafsu yang tidak terkendalikan. Ramapati atau Mahapati amat

ingin menjadi patih amangkubumi. Nafsu itu yang mendorongnya

membalik kalimat ketika berhadapan dengan raja maupun ketika

berhadapan dengan Mahapatih Amangkubumi Nambi yang pulang ke

Lumajang karena ayahnya meninggal.

Kepada raja dilaporkan, Nambi tidak ingin pulang ke Majapahit

karena tak lagi mengakui Majapahit. Sementara kepada Nambi, Mahapati

menyarankan untuk tidak usah buru-buru pulang karena masih berada

dalam masa berkabung.

Perang saat itu terjadi dengan korban manusia ribuan jumlahnya.

Benteng Pajarakan digempur habis-habisan, sementara Nambi yang

sangat marah dan kecewa mempertahankan benteng itu habis-habisan.

Nambi gugur dalam pertempuran itu.

Gajah Mada mengedarkan pandangan mata menjelajah wajah ke

wajah tanpa seorang pun terlewat. Ketika singgah di wajah Ra Kembar,

Gajah Mada berhenti sedikit lebih lama. Namun, Gajah Mada tidak

membiarkan dirinya terpaku pada raut muka Ra Kembar yang ia tahu

secara pribadi Ra Kembar tidak suka padanya. Yang ia tak tahu adalah

oleh alasan apa Ra Kembar tidak menyukainya.

”Kalian semua tentu masih ingat siapa Ramapati yang juga bernama

Mahapati itu,” Gajah Mada menegaskan.

Beberapa perwira mengangguk.

”Tentu kalian ingat. Lantas siapakah orang yang demikian setia

mendampingi Mahapati, yang ketika Mahapati dihukum mati atas

perintah dan keputusan Baginda Jayanegara, orang itu menghilang tak

ada kabar jejaknya. Ada yang ingat siapa orang itu?”

Para perwira itu saling pandang, mereka tak perlu berpikir keras.

”Ki Brama Ratbumi Rajasa?” seseorang menjawab ragu.

”Ya benar,” jawab yang lain.

Kembali semua wajah terarah ke muka Gajah Mada.

”Brama Ratbumi Rajasa bukan namanya. Orang bernama Brama

Ratbumi itu hanya menambahi sendiri untuk gagah-gagahan. Ia

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 139

pengagum Rajasa atau supaya dianggap trah Rajasa Girindrawangsa.

Itu sebabnya, ia menambahkan nama Rajasa di belakang namanya.”

Nama itu, Ki Brama Ratbumi, memang pernah demikian terkenal.

Ia adalah tangan kanan Mahapati dan boleh dibilang Mahapati berpikir

dan bertindak dengan menggunakan otak tangan kanannya itu. Manakala

belang Mahapati akhirnya diketahui, kamanungsan dari tindak perbuatan

jahatnya, Ki Brama Ratbumi menghilang, lenyap bagai tenggelam di

bumi yang merekah terbelah. Waktu berlalu, orang-orang nyaris

melupakannya, meski sebenarnya demikian banyak orang yang

menyimpan dendam kepada orang itu dan berkeinginan menuntut balas,

baik secara pribadi atau menyeretnya di depan Kitab Kutaramanawa.

”Kenapa kau mengingatkan kami pada nama itu?” tiba-tiba

terdengar sebuah pertanyaan.

Gajah Mada mencari dari arah mana pertanyaan itu berasal. Ternyata

Rakrian Kembar yang melontarkan.

”Pertanyaan bagus,” Gajah Mada menjawab. ”Sebulan lalu telik sandi

pasukan Bhayangkara menemukan jejaknya. Ada sebuah rencana makar

yang tersadap samar-samar, yang gerakannya sedang kita endus. Gerakan

itu dikendalikan oleh Brama Ratbumi. Boleh jadi, jaringan yang ia buat

telah mengakar di kesatuan kalian masing-masing tanpa kalian sadari.

Aku mempunyai dugaan yang entah benar entah tidak, Panji Wiradapa

adalah Brama Ratbumi.”

Tanah tempat berpijak bagai bergoyang karena raksasa yang

melaksanakan tugas menyangga bumi mengalami keletihan dan merasa

perlu beralih tangan. Semua wajah terkejut seperti dilibas gempa bumi

yang datang dengan mendadak tanpa memberi isyarat. Di tempatnya

berdiri, Gajah Mada memandang Ra Kembar yang manggut-manggut.

”Melalui pengamatan yang terus dilakukan oleh telik sandi yang

melekat pada jarak amat dekat, diketahui selama ini Panji Wiradapa

menyusup dalam wujud prajurit. Ia berada di satuan yang bertanggung

jawab mengawal dan melindungi Raden Kudamerta. Aku telah meminta

bantuan seorang sahabat lama, ia berasal dari pasukan Bhayangkara yang

aku tugasi mengamati orang itu. Dari mata-mata itulah, yang tidak perlu

140 Gajah Mada

kusebut, kita tahu Panji Wiradapa punya pengaruh sangat besar terhadap

Raden Kudamerta. Di depan Raden Kudamerta, ia hanya prajurit biasa

dan rendahan. Namun, ia benar-benar punya pengaruh amat besar ketika

hanya berdua.”

Senopati Gajah Enggon termangu. Jika Gajah Enggon merasa

penasaran, itu karena ia sama sekali tidak tahu siapa Bhayangkara yang

melaksanakan tugas sandi itu.

Gajah Mada akan melanjutkan kata-katanya, tetapi niatnya

melanjutkan taklimat terpaksa ia hentikan. Seorang prajurit dengan

pakaian yang mudah dikenali, seorang prajurit Bhayangkara yang memacu

kudanya amat kencang berbelok tajam ketika tepat berada pada garis

lurus dengan Balai Prajurit. Para perwira ikut mengarahkan perhatiannya

kepada siapa yang datang.

Dengan gesit Riung Samudra melenting turun dan dibiarkan

kudanya bebas.

”Apa yang akan kaulaporkan?” bertanya Gajah Mada.

Gajah Enggon ikut menyimak.

”Mayat-mayat itu sudah berhasil kuketahui jati dirinya. Kupastikan

dari keterangan seorang prajurit kesatuan Jalapati yang selama ini bertugas

mengawal Raden Kudamerta. Yang mati dijerat lehernya bernama

Kinasten, sementara yang mati lewat pisau yang menerobos mulutnya

bernama Arya Surapati. Kedua orang itu pengawal utama Raden

Kudamerta. Dua mayat itu masing-masing memiliki rajah di lengan

berbentuk mirip kepala ular. Semula aku tidak paham, bentuk benda

apa yang dirajahkan itu, ternyata gambar kepala ular sendok.”

Gajah Mada melirik Senopati Gajah Enggon.

”Gambar kepala ular sendok?” tanya Gajah Mada dengan mata tak

berkedip.

”Ya. Aku yakin rajah itu gambar ular sendok yang membelit buah

maja.”

Keterangan baru itu menyebabkan Gajah Mada termangu beberapa

saat.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 141

”Pisau itu dibuat di mana, siapa pemesannya?”

Bhayangkara Riung Samudra menggeleng lemah.

”Bhayangkara Kendit belum memberikan laporan.”

Gajah Mada terdiam beberapa saat. Para perwira yang pacak baris di

halaman Balai Prajurit tak seorang pun bisa menebak, laporan apa yang

diberikan Bhayangkara Riung Samudra kepada bekas pimpinannya itu.

”Ada lagi yang akan kaulaporkan?”

”Tidak, Kakang Gajah,” jawab Bhayangkara Riung Samudra.

Gajah Mada kembali pada sikapnya semula. Kerut mukanya

memberi tanda ia berpikir keras sebelum melanjutkan taklimatnya.

Akhirnya, Gajah Mada kembali bersuara ditujukan kepada para perwira

yang masih dalam sikap pacak baris di tempat masing-masing.

”Aku simpulkan kematian-kematian aneh itu berhubungan antara

satu dengan lainnya. Panji Wiradapa orang yang dekat dengan Raden

Kudamerta. Seorang prajurit dengan nama Klabang Gendis yang

menyusul mati disambar anak panah adalah pengawal Raden Kudamerta.

Berikutnya Bhayangkara Riung Samudra baru saja melaporkan, dua sosok

mayat yang ditemukan pagi ini di atas punggung kuda adalah Kinasten,

seorang prajurit dengan tugas mengawal Raden kudamerta, lalu

berikutnya Arya Surapati mati dengan sebuah pisau tenggelam di mulut,

ternyata adalah juga orang dekat Raden Kudamerta. Satu-satunya

kematian yang tidak ada hubungannya secara langsung seperti korban

yang lain hanya kematian Lembang Laut. Kematian Lembang Laut dalam

hal ini karena gugur dalam melaksanakan tugasnya. Ia sedang menyusup

ke dalam kekuatan itu dan melakukan penyelidikan. Sebenarnya ada dua

orang yang secara bersama-sama menyusup ke dalam kekuatan tak

dikenal itu, tetapi sampai sekarang ia masih belum menemui aku. Kalau

kalian ingin tahu siapa dia? Dia bukan seorang prajurit lagi meski pernah

mengabdikan diri sebagai Bhayangkara.”

Gajah Mada menyempatkan menghirup udara mengisi parupurunya

hingga penuh.

142 Gajah Mada

”Siapa pun orang yang berada di belakang pembunuhanpembunuhan

itu, ia lakukan perbuatan itu dengan sasaran Raden

Kudamerta. Orang-orang yang terbunuh itu, semua orang dekat Raden

Kudamerta. Apa tujuan dilakukannya perbuatan itu kita belum

mengetahui, bahkan pihak mana yang melakukan kita hanya menerka,

tidak bisa memastikan secara langsung. Siang ini, ketika keadaan sedang

hiruk pikuk memberikan penghormatan kepada Raja Pralaya, aku

menduga bakal ada orang yang memancing di air keruh. Oleh karena

itu, lewat kesempatan ini aku perintahkan untuk dilakukan pengawalan

berlapis terhadap kerabat istana, tidak menutup kemungkinan Raden

Kudamerta akan menjadi sasaran pembunuhan setelah kita temukan

sebuah kenyataan, orang-orang yang mati terbunuh itu mempunyai

hubungan dekat dengan Raden Kudamerta. Jika Raden Kudamerta

dijadikan sasaran, pelakunya tentu akan menggunakan serangan jarak

jauh, bisa menggunakan anak panah, bisa pula melalui ayunan pisau

belati seperti yang dialami mayat di punggung kuda itu. Siang nanti kalian

harus waspada terhadap orang-orang dengan kemungkinan niat seperti

itu.”

Segenap perwira yang berkumpul dalam pacak baris di halaman Balai

Prajurit sangat memahami perintah itu.

”Kepada Senopati Haryo Teleng dan Senopati Panji Suryo Manduro,

kuminta untuk tak hanya menerjunkan pasukan secukup kebutuhan,

tetapi juga dukungan sandi. Taklimat selesai,” ucap Gajah Mada

mengakhiri semua petunjuknya.

Penghormatan serempak segera diberikan kepada Gajah Mada yang

kemudian meninggalkan tempat itu karena ada pekerjaan penting yang

harus dilaksanakan di istana. Senopati Gajah Enggon melanjutkan

menyampaikan pengarahan dan membagikan tugas yang harus mereka

kerjakan seiring dengan mulai tumbuhnya rasa penasaran atas alasan

apa suatu pihak berniat menghancurkan Raden Kudamerta, menghabisi

orang-orang dekatnya dan barangkali menempatkan Raden Kudamerta

di arah bidik selanjutnya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 143

14

Pagi itu adalah pagi yang cerah, sungguh berbeda dengan malam

sebelumnya yang dibungkus kabut sangat tebal, yang hilang entah

melenyap ke mana. Namun, jejaknya masih tertinggal di dedaunan yang

mengembun, gemerlapan diterpa sinar mentari yang jejak sinarnya

membentuk garis-garis panjang. Burung-burung bersahutan di antara

sesama mereka, burung kepodang dengan warna bulunya yang kekuningan

saling menyapa dengan sesama kepodang. Demikian pula

dengan burung prenjak yang bersahutan di antara sesamanya. Burung

prenjak dengan ukuran kecil merasa amat senang menyambut datangnya

pagi yang amat berbeda itu. Pagi kali ini adalah pagi yang cerah dengan

jejak basah yang melimpah sisa hujan yang turun menjelang pagi.

Burung-burung dan berbagai macam satwa yang menyambut

datangnya pagi dengan segala kegembiraannya sama sekali tidak peduli

dengan duka yang terjadi di Majapahit. Mereka tak peduli meski segenap

manusia dari ujung barat ke ujung timur, membentang dari utara ke

selatan menangis menimbulkan genangan air mata.

Bila ada yang terganggu adalah para burung blekok yang selama ini

dengan tenang menempati dahan-dahan pohon bramastana, baik di alunalun

di depan gerbang Purawaktra maupun di sepanjang jalan dalam

lingkungan istana. Segenap kawula yang datang menyemut sejak pagi

sangat mengganggu ketenangan mereka. Burung-burung itu terpaksa

mengalah pilih pergi sejak dini.

Yang juga tak kalah tidak peduli dengan keadaan apa pun adalah

sepasang harimau klangenan yang dipasung kebebasannya dalam kerangkeng.

Pasangan harimau loreng berpenampilan garang itu dipelihara

sejak masih bayi. Diberi makanan sampai kenyang berupa daging pilihan,

menjadikan harimau itu kini bertubuh kuat dan kekar. Namun, karena

dipelihara sejak masih kecil dan diberi makanan yang berlimpah maka

harimau itu berkembang menjadi harimau tak lumrah, setidaknya ia amat

144 Gajah Mada

jinak untuk ukuran harimau. Pawang yang mengurusi pasangan harimau

itu bahkan bisa bercanda dengan harimau itu seenaknya. Hanya bila

terlambat diberi makan, harimau itu bisa berubah menjadi harimau galak

serta siap memamerkan gigi-giginya yang mencuat dan akan menerkam

siapa pun yang membuatnya marah.

Tidak jauh dari kandang itu puluhan menjangan seperti mengolokolok.

Rusa dibiarkan hidup bebas di luar kandang dan dijamin tidak

akan kehabisan makanan karena limpahan rumput ada di mana-mana.

Rusa-rusa itu bahkan merumput sangat dekat dengan sepasang harimau

itu yang hanya bisa mondar-mandir amat bernafsu ingin menerkam,

kehendak yang terhalang oleh jeruji yang amat kuat.

Namun, setidaknya sekali dalam sebulan, rusa yang mudah

berkembang biak itu ditempatkan dalam nasib yang sial. Pawang yang

diberi kepercayaan mengurus harimau tak segan-segan menangkap salah

satu dari menjangan itu dan melemparkan ke kandang. Para prajurit,

bahkan Baginda Raja Majapahit mendiang Sri Jayanegara menyaksikan

peristiwa itu sebagai tontonan yang menggairahkan. Manakala harimau

melompat menerkam menjangan yang malang maka disambutlah

peristiwa itu dengan sorak yang menggemuruh menjejali isi dada siapa

pun yang menyaksikan saat darah muncrat dari tubuh rusa yang malang.

Hari itu akan diselenggarakan upacara pembakaran layon Sri

Jayanegara. Semua orang, tua, muda, bersatu padu tanpa ada yang

memberi perintah. Mereka bekerja sama bahu-membahu. Semua orang

juga akan bersatu padu bekerja sama tanpa upah untuk pencandian yang

akan dibangun di beberapa tempat, di antaranya tak jauh dari lapangan

Bubat, di Sukhalila serta di dalam lingkungan istana.

”Aku akan ikut bekerja bakti,” berbicara seorang laki-laki kepada

laki-laki kedua di sebelahnya. ”Aku pilih ikut membangun yang di

Kapopongan.”

Lelaki di sebelahnya mencuat alisnya.

”Apakah Baginda akan dicandikan di Kapopongan?” tanya orang

itu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 145

”Ya, aku dengar seperti itu. Katanya di Simping juga. Kalau di

Simping akan dibangun aku tak ikut. Biar orang-orang di Blitar saja

yang membangun. Aku sering pergi ke Blitar dengan berkuda, butuh

waktu sehari semalam untuk sampai di Blitar. Lagi pula, makanan di

Simping kurang begitu enak, bumbunya terlalu menyengat tak seenak

masakan istriku. Pertimbangan utama mengapa aku memutuskan

mengawini perempuan yang kini menjadi istriku, meskipun wajahnya

jelek adalah karena ia pandai masak. Aku adalah penjelajah warungwarung

dan menyantap berbagai jenis makanan yang kata orang enak,

warung Mbah Darmo Sambur yang katanya enak itu, ahh, masih kalah

enak dari masakan istriku. Dalam urusan pengetahuan bumbu dapur

dan bagaimana cara menakar dalam ukuran yang tepat dan kemudian

memasaknya, aku yakin tak ada yang mengalahkannya.”

Orang di sebelahnya tersenyum. Ia mengenal tetangganya itu cukup

baik dan rumahnya cukup dekat walau masih bersela beberapa rumah

lagi. Ia juga tahu istri laki-laki itu memang berwajah jelek, tetapi

masakannya memang enak.

”Ajak saja istrimu ke Simping,” ia berkata.

”Waah, jangan,” jawab laki-laki beristri jelek itu. ”Bisa gawat nanti.

Jangan sampai istriku ikut ke Simping, kalau bisa seumur hidupnya jangan

sampai ia tahu di mana itu Simping berada. Jangan sampai ia tahu bahkan

denahnya sekalipun.”

”Kenapa?” tanya orang di sebelahnya lagi dengan rasa heran.

”Bahaya besar kalau istriku sampai tahu. Jika ia ikut, akan ketahuan

aku punya istri muda di sana.”

Laki-laki yang bertanya di sebelahnya terbelalak, dan segera berubah

menjadi tawa ketika tahu orang yang mengaku punya istri muda di Blitar

itu tertawa. Orang itu rupanya sedang bercanda, namun sebuah canda

yang keterlaluan karena dilakukan ketika Majapahit sedang berkabung.

”Sssst,” seseorang memberi isyarat agar diam sambil melekatkan

telunjuk jari di mulutnya.

Orang-orang yang tertawa itu segera membungkam mulut. Yang

lain segera menekuk wajah dalam-dalam. Mereka tidak menyadari, berada

146 Gajah Mada

dalam jarak cukup dekat, seorang telik sandi sedang mengamati. Namun,

telik sandi yang disebar untuk mengamankan upacara pembakaran layon

itu tidak melakukan apa pun. Ia tahu, orang- orang itu sedang bercanda,

mencairkan keadaan yang terlalu beku.

Para telik sandi dari kesatuan sandiyudha Bhayangkara memang

telah disebar untuk menjaga keamanan dan mengamati keadaan.

Kekuatan pasukan Bhayangkara itu masih ditambah dengan telik sandi

dari pasukan yang lain yang semuanya bahu-membahu bekerja sama.

Penampilan para telik sandi itu tidak mungkin lagi bisa dikenali karena

dibungkus berbagai penyamaran, ada yang berubah menjadi seorang

petani lugu, ada pula yang berdandan amat kumal.

Tidak jauh dari telik sandi itu, dan agaknya luput dari perhatiannya,

seorang lelaki yang menyimpan sebuah rencana menilik sebuah belati

tersembunyi di balik lengan bajunya, bergerak mengikuti arus. Dengan

belati tajam itu, seseorang akan menjadi sasaran ayunan tangannya.

Dalam melempar pisau belati, orang itu berkemampuan bidik luar biasa

Hari mulai merambat siang saat pintu Purawaktra akhirnya terbuka.

Serentak orang-orang berdiri dan mendekat. Dari Purawaktra yang

terbuka, sebuah kereta didorong perlahan oleh beberapa prajurit yang

mewakili masing-masing kesatuan. Kereta kuda yang diberi nama Rata

Pralaya151 itu ditarik oleh hanya dua ekor kuda yang dituntun oleh seorang

prajurit yang dalam pekerjaan sehari-harinya merangkap sebagai gamel

atau pekatik.

Kereta kuda itu, atau tepatnya di atas layon yang dibaringkan di

dalam peti terbuka, sebuah songsong berlapis tiga, paling bawah paling

lebar, makin mengecil ke arah ujungnya digunakan memayungi jasad

Sang Prabu. Songsong itu bukan payung sembarangan, namun termasuk

benda pusaka yang dimiliki istana, menjadi bagian dari pusaka-pusaka

yang lain, baik yang berbentuk keris, trisula, atau tombak.

Bahwa payung itu dianggap bukan benda sembarangan, benda itu

diboyong dari Istana Singasari dan digunakan memayungi Raden Wijaya

ketika diwisuda menjadi Raja Majapahit pertama. Segenap rakyat

Majapahit yang tua-tua usianya tentu tidak akan pernah lupa betapa

151 Rata Pralaya, Jawa, kereta kematian, atau kereta pengangkut jenazah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 147

gagah Raden Wijaya yang bertubuh tinggi tegap, berdiri dengan tangan

kiri memegang gagang gada dengan ujungnya menyentuh tanah dan

tangan kanan diletakkan di depan dada dengan telapak tegak, di

belakangnya seorang prajurit memayunginya dengan songsong pusaka

rangkap tiga. Bila payung itu dibuka diyakini bahkan mendung sekalipun

akan menyingkir menjauh.

Pemegang songsong itu, orang yang bertugas memayungi jasad Sang

Prabu adalah Pakering Suramurda. Pakering Suramurda melaksanakan

tugas memayungi Raja Pralaya itu dengan saksama. Ia tidak memberikan

payung itu kepada pihak lain yang ingin menggantikan tugasnya. Dengan

payung tak pernah lolos dari tangannya, Pakering Suramurda benarbenar

menghayati tugasnya. Dengan memegang songsong kebesaran

itulah Pakering Suramurda benar-benar berniat memberikan

penghormatannya kepada mendiang Prabu Sri Jayanegara.

”Di bawa ke mana layon Sang Prabu itu?” bertanya seseorang.

”Ke Balai Prajurit,” jawab seseorang yang lain.

”Ooooo?” orang pertama bergumam.

Sebelum dilakukan upacara pembakaran layon sebagaimana

keyakinan agama yang dianut Sri Jayanegara, Raja Pralaya itu disemayamkan

lebih dulu ke Balai Prajurit dan akan dilakukan penghormatan

secara keprajuritan mengingat Jayanegara bukan sekadar seorang raja,

namun secara pribadi Sri Jayanegara adalah bagian dari pasukan

Bhayangkara. Anggota kehormatan sebagai Bhayangkara itu diberikan

oleh kesatuan Bhayangkara karena saat melakukan pelarian ke Bedander,

Jayanegara menunjukkan sikap perilaku tidak ubahnya Bhayangkara. Sri

Jayanegara tidak segan menerobos terowongan air, menempuh perjalanan

tanpa harus ditandu. Pendek kata, perjalanan melarikan diri ke Bedander

di Pegunungan Kapur Utara itu menghadapi beban yang melebihi

ambang batas pendadaran yang biasanya diberikan kepada para prajurit

yang ingin menyatu dengan pasukan sandiyudha Bhayangkara. Dalam

pelarian ke Bedander, Sri Jayanegara mampu melewati beban yang berat

dan bertubi-tubi itu.

”Kelak kalau aku mati, perlakukan kematianku selayaknya

Bhayangkara.”

148 Gajah Mada

Ucapan Jayanegara itulah yang menjadi acuan untuk diberikan

penghormatan secara keprajuritan.

Mula-mula hanya para prajurit yang ditugasi mendorong kereta Rata

Pralaya, tetapi karena demikian besar cinta rakyat kepada rajanya, mereka

berebut saling mendorong dengan bergantian. Gajah Enggon yang

bertanggung jawab terhadap keamanan perjalanan dari istana ke Balai

Prajurit berniat mencegah, namun Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri

melalui isyarat mata dan tangannya meminta kepada Gajah Enggon

untuk membiarkan mereka yang berkeinginan membantu mendorong

kereta. Biksuni Rajapatni Gayatri melihat keinginan para kawula itu

semata-mata didasari rasa cintanya pada Sang Prabu.

Di belakang raja mangkat, Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri dengan

pakaian jubah memilih berjalan kaki. Ratu Biksuni berjalan didampingi

oleh Mahapatih Arya Tadah, yang di kiri dan kanannya dipagari prajurit

bersenjata rapat yang siaga mencegah siapa pun yang bermaksud

mendekat. Di luar lapis prajurit dengan pakaian yang jelas terbaca dari

mana kesatuan mereka, para prajurit telik sandi memasang mata dan

telinga, memerhatikan dengan cermat semua wajah dari jarak amat dekat.

Gajah Enggon benar-benar melaksanakan perintah dengan sebaikbaiknya.

Gajah Enggon bahkan merasa yakin akan ada pihak yang

berusaha mengail di air keruh. Pihak yang belum diketahui secara jelas

maksud dan tujuannya itu bisa jadi bahkan akan membahayakan nyawa

keluarga istana.

Pada dasarnya Senopati Gajah Enggon yang bahu-membahu

dengan Senopati Panji Suryo Manduro dan Senopati Haryo Teleng

memberikan pengawalan yang amat ketat pada semua kerabat istana,

namun pengawalan paling ketat diarahkan pada Ratu Gayatri. Dengan

Sri Jayanegara telah tiada dan kekuasaan atas negara diambil alih Ratu

Rajapatni Biksuni Gayatri maka dialah orang paling utama di Majapahit

pada saat ini. Oleh karenanya harus memperoleh pengawalan paling

utama.

Di belakang Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri, berjalan Sri Gitarja

Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani, yang berdampingan dengan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 149

suaminya. Cakradara yang menyandang gelar Cakreswara Sri Kertawardhana

Prabu Singhasari memandang ke depan dengan tatapan mata

yang tajam nyaris tidak berkedip. Pandangan matanya lurus ke depan

meski ia merasa sedang menjadi pusat perhatian siapa pun.

Di belakang Cakradara dan istrinya, anak bungsu Raden Wijaya

yang terlahir dari Ratu Gayatri berjalan berdampingan dengan suaminya.

Raden Kudamerta yang oleh Ratu Gayatri dianugerahi gelar Sri Wijaya

Rajasa Sang Apanji Wahninghyun itu tidak mampu memusatkan

perhatiannya pada rangkaian acara yang diikutinya. Ketika mata

Kudamerta terpejam, selalu muncul wajah seseorang yang amat mencuri

dan menyita perhatiannya. Wajah itu wajah perempuan yang di

pelukannya ada bayi yang tengah menyusu.

Rupanya wajah itulah yang menyebabkan Raden Kudamerta kurang

sepenuh hati menerima kehadiran Dyah Wiyat untuk selalu muncul dan

melekat dalam setiap gerak kegiatannya, dalam ayunan irama

kehidupannya di sepanjang hari di sepanjang waktu karena bukankah

pasangan suami istri haruslah selalu menghamburkan waktu dan

menghabiskannya bersama-sama?

Di kiri dan kanan Cakradara dan istrinya, juga di kiri dan kanan

Dyah Wiyat dengan suaminya, dua lapis prajurit menempatkan diri saling

melekatkan punggung untuk melindungi mereka.

Lalu para Ibu Ratu yang lain, Ibu Ratu Tribhuaneswari terpaksa

harus ditandu karena kesehatannya tak memungkinkan untuk berjalan

kaki. Demikian pula dengan Ibu Ratu Narendraduhita harus diusung di

atas tandu yang dipikul oleh empat orang prajurit perkasa. Sebagaimana

Ibu Ratu Gayatri yang memilih berjalan kaki, demikian pula dengan Ibu

Ratu Pradnya Paramita yang murah senyum, sambil melambaikan tangan

kepada segenap rakyatnya, memilih berjalan dan adakalanya menyempatkan

menerima uluran sembah mereka.

Di belakang Ibu Ratu Pradnya Paramita, berbaris dalam kelompok

terpisah, para pejabat istana termasuk di antaranya para pemuka masingmasing

agama. Samenaka yang memangku jabatan sebagai Darmadyaksa

Ring Kasogatan berjalan berdampingan dengan pemuka agama Siwa

150 Gajah Mada

dan Hindu. Tak ada percakapan apa pun di antara para pejabat istana

yang berjalan beriringan. Semua wajah tersaput mendung. Duka nestapa

bergentayangan di mana pun serta menyapa semua wajah.

Menyaksikan peristiwa yang melibatkan gegap gempita gelegak jiwa

orang banyak dalam satu warna duka, Pancaksara yang selalu tidak betah

berada di sebuah tempat. Atau, kalau bisa betapa ingin membelah diri

menjadi puluhan orang sekaligus semata-mata didasari keinginan untuk

bisa menyaksikan kejadian di tempat-tempat berbeda.

Pancaksara menutupi tubuhnya dari terik matahari dengan caping

lebar, serta jenis pakaian yang menjadi ciri khasnya, berbaju mirip jubah

tanpa lengan dan buntalan besar terbuat dari anyaman dami yang berisi

semua peralatan tulisnya. Sebagian yang terjadi ia pindahkan ke bentuk

tulisan, sebagian besar yang lain ia pahat di benaknya.

Ruas jalan yang lebar menuju Balai Prajurit penuh sesak. Lautan

manusia mengombak karena saling desak ingin mendekat, menyebabkan

Gajah Mada merasa cemas. Pembunuhan yang terjadi di malam

sebelumnya menimbulkan tanda tanya yang belum diketahui jawabnya,

apa sebenarnya sasaran utama dari peristiwa itu. Dalam tumpahan lautan

manusia macam itu, bila seseorang mengayunkan pisau atau anak panah,

akan sulit ditangkap atau diketahui jati dirinya.

Kecemasan yang demikian dibaca pula oleh Gajah Enggon. Melihat

tumpahan lautan manusia itu segera mendorongnya memberi perintah

yang disalurkan melalui anak panah sanderan yang melesat membubung

memanjat langit dengan suara desing melengking tinggi. Sangat

memahami makna di balik isyarat anak panah sanderan itu, segenap

prajurit yang tak hanya dari kesatuan Bhayangkara, tetapi juga prajurit

dari kesatuan lain makin meningkatkan kewaspadaan.

Seorang prajurit Bhayangkara sebagaimana perintah Patih Daha

Gajah Mada secara khusus terus menempatkan diri tidak jauh dari Raden

Cakradara. Prajurit sandi itu bukanlah prajurit sembarangan karena ia

termasuk cikal bakal kesatuan pengawal raja. Untuk terus menempel

melekat kepada Raden Cakradara, Senopati Gajah Enggon menempatkan

Bhayangkara Gajah Geneng. Sementara itu, untuk selalu melekat

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 151

kepada Raden Kudamerta, Senopati Gajah Enggon memasang Macan

Liwung. Sedangkan anggota pasukan Bhayangkara yang lain disebar

dalam penampilan penyamaran melindungi dengan amat rapat, hanya

beberapa saja yang secara nyata tampil berpakaian kebesaran Bhayangkara.

Disiram oleh hangatnya udara yang cenderung panas dan menggigit

bahkan berkesanggupan membakar kulit, meski terhambat oleh banyak

orang yang berjejal-jejal, kereta layon itu makin mendekati Balai Prajurit.

Pintu gerbang yang terbuat dari bilah kayu amat tebal telah dibuka,

mempersilakan semua orang untuk masuk, layaknya mengucapkan

selamat datang kepada Jayanegara, Sang Raja yang bernasib malang.

Tambur besar dipukul menggetarkan udara yang seketika mengombak,

ditambah jerit sangkakala yang lebih mengoyak udara, apalagi manakala

bende Kiai Samudra yang dipikul dua orang ikut berbicara maka ingarbingar

suasana di lingkungan Balai Prajurit memancing sebuah ledakan

yang menggemuruh di dada segenap orang.

Kecintaan yang demikian besar terhadap Sang Prabu Sri Jayanegara

yang mungkin sebagian besar karena kenangan terhadap ayahnya yang

amat dihormati dan disuyuti, menyebabkan seorang lelaki yang berdiri

di bawah pohon gurdo mendadak menjerit dan berteriak keras untuk

kemudian semaput, kehilangan semua kesadarannya.

Ternyata tak hanya kakek tua itu yang semaput. Kali ini seorang

perempuan di sebelah kiri gapura bentar, yang merupakan pintu tengah

melekat pada dinding pagar bagian dalam yang mengelilingi Balai Prajurit

bagian dalam. Sudah terkuras habis air mata perempuan itu sejak pertama

ia menerima kabar kematian Sang Prabu, sempurna kesedihan

perempuan itu dengan semaput pula.

Malang bagi perempuan itu, bila kakek tua segera ditolong oleh

banyak orang yang menggotongnya beramai-ramai, sebaliknya

perempuan itu tidak ada yang menolong karena tak ada yang melihat ia

pingsan. Tempat ia berada terlindung oleh semak. Namun, beberapa

jenak kemudian, perempuan yang pingsan itu siuman dengan sendirinya

dan bergegas merapat sebagaimana orang lain.

152 Gajah Mada

Jerit tangis dan orang pingsan ada di mana-mana, yang umumnya

benar-benar didorong oleh rasa kehilangan dan kesedihan yang luar biasa.

Namun, ada pula orang yang semaput dengan alasan yang berbeda.

Orang itu bahkan seorang laki-laki dengan tubuh besar dan tinggi kekar.

Karena berada di tempat yang salah, orang itu mendapat tekanan dari

orang-orang di belakangnya. Juga mendapat tekanan dari arah kanan

dan kirinya. Sialnya, orang-orang di depannya tiba-tiba mundur dan

mengimpit dirinya maka makin berkunang-kunang orang bertubuh gagah

itu setelah sebelumnya sudah berkunang-kunang cukup lama.

Orang itu terhuyung-huyung untuk kemudian ambruk karena tidak

memiliki sisa kesadaran untuk menguasai diri. Ia ambruk menimpa orang

di belakangnya yang ikut ambruk dan ambruk. Setidaknya ada lima orang

yang ikut ambruk akibat tertimpa orang itu. Namun, hanya orang itu

yang bernasib sial terinjak-injak tubuhnya oleh orang yang benar-benar

berjejal.

Akhirnya, Rata Pralaya berhasil melintasi gerbang tengah berupa

pintu kayu yang dipahat dalam bentuk candi bentar, mirip dengan Candi

Wringin Lawang, hanya bedanya pintu berbentuk candi bentar ini

berukuran lebih kecil dengan jarak satu dan lainnya tidak begitu jauh

maka bisa dibayangkan betapa sulitnya para prajurit dalam melaksanakan

tugas mengamankan segenap kerabat istana.

Berjejal-jejal para kawula mendekat didorong keinginan menyentuh

kereta. Tangis mereka yang didendangkan bersamaan menimbulkan suara

mendengung mirip suara lebah, atau mungkin sama sekali tak mirip

dengan suara lebah. Tak jauh dari tempat itu, di salah satu dahan pohon

nangka ratusan atau mungkin ribuan ekor lebah yang menempati sarang

berbentuk gentong kebingungan oleh suara yang aneh itu. Mereka

beranggapan suara tangis yang dilakukan beramai-ramai itu sama sekali

tidak mirip dengan suara mereka.

Di antara banyak orang itu, seseorang sebenarnya ingin ikut

menyumbang tangis meski sekadar pura-pura. Orang itu berusaha

mengeluarkan tangis dari mulutnya, tetapi tidak bisa. Mengeluarkan air

mata dari kelopak matanya mungkin sulit, namun aneh kalau sekadar

menangis pura-pura ternyata tidak bisa.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 153

Tangan kanan orang itu berada dalam keadaan siaga. Apabila sebuah

pisau jatuh dari dalam lengan bajunya maka telapak tangan itu akan

melanjutkan melempar mengayunkan pisau itu ke arah sasaran. Orang

itu adalah Rubaya, sementara orang yang menjadi sasarannya adalah

Raden Kudamerta. Pisau itu diharap menghunjam ke dada sasarannya.

Dilakukan perbuatan itu karena ada orang yang terlalu tinggi dalam

membangun angan-angan. Untuk menggapai cita-citanya maka suami

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa harus mengalami nasib buruk. Untuk

menggapai angan-angannya setidaknya telah beberapa nyawa terbunuh.

Tak jauh dari Rubaya, seorang lelaki dalam dandanan lelaki tua

berjalan amat kesulitan yang dilakukan dalam kepura-puraan agar ia dikira

benar-benar telah tua renta. Namun, setua apa pun orang itu mampu

mengatasi tekanan orang yang berjejal berimpit-impitan. Dengan sekuat

tenaga, orang dengan rambut memutih yang tak lain adalah Rangsang

Kumuda itu terus berusaha membayangi Rubaya, yang dengan sebuah

janji dan upah akan melaksanakan pekerjaan atas kepentingannya.

Di halaman Balai Prajurit yang cukup luas, upacara penghormatan

kepada Sri Jayanegara akan dilaksanakan. Upacara keprajuritan yang akan

dilanjutkan dengan pembakaran layon itu akan dipimpin Patih Daha

Gajah Mada yang telah mengenakan pakaian kebesarannya. Tepat di

depan tumpukan kayu yang disusun tinggi, dikibarkan bendera gula

kelapa setengah tiang sebagai pertanda negara berkabung. Seorang

prajurit dengan pangkat senopati memegang cihna, lambang negara

berbentuk buah maja dengan latar belakang kain yang dibatik bercorak

gringsing lobheng lewih laka yang melatari gambar wilwa. Tak jauh darinya,

seorang prajurit menabuh genderang dengan irama berderap.

Tak seorang pun yang duduk. Tidak ada dampar yang disiapkan

untuk acara itu, bahkan untuk Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri

sekalipun. Semua mengikuti acara dengan berdiri.

Patih Daha Gajah Mada yang akan memimpin jalannya upacara

merasa telah tiba waktunya. Ia mendekati Ibu Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri. Manakala telah pada jarak dekat, Gajah Mada memberikan

sembahnya.

154 Gajah Mada

”Ada yang ingin kausampaikan, Gajah Mada?”

”Hamba, Tuan Putri Rajapatni,” jawab Gajah Mada. ”Apakah Tuan

Putri Ratu berkenan memberikan sesorah?”

Gayatri memandang Gajah Mada sambil menimbang.

”Kalau menurutmu bagaimana?” balas Ratu Gayatri.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada. ”Menurut hamba, oleh

terjadinya beberapa pembunuhan semalam yang masih belum diketahui

apa maksudnya maka hamba berpendapat, sebaiknya Tuan Putri Ratu

tidak memberikan sesorah.”

Bukannya takut, karena sebagai biksuni, Ratu Gayatri tak lagi

mengenal takut, tetapi memang tak baik apabila sampai terjadi kekacauan

di tempat yang amat padat itu.

”Aku tidak akan memberikan sesorah,” balas Ratu Gayatri.

Gajah Mada menyembah sambil melangkah mundur. Bahwa Ratu

Gayatri ternyata bersedia tidak memberikan sesorah, hal itu

menenteramkan hatinya. Apabila ada pihak yang berniat jahat,

keberadaan Ratu Gayatri yang menempatkan diri di tempat terbuka akan

dengan mudah menjadi sasaran, baik melalui sambaran anak panah atau

lemparan pisau. Akan tetapi, muncul pula pertanyaan dari kedalaman

hati Gajah Mada, siapa orang gila yang akan membunuh seorang biksuni?

Sebagaimana Senopati Gajah Enggon, Gajah Mada bersikap sangat

waspada. Gajah Mada menyapukan pandangan matanya ke segala

penjuru. Satu demi satu wajah orang yang berjejal-jejal dicermatinya.

Tatapan Gajah Mada singgah pula ke seorang kakek tua yang berjalan

tertatih-tatih. Bila Gajah Mada mengarahkan pandangannya ke orang

itu agak lebih lama, adalah karena didorong oleh rasa cemas melihat

usia dan penampilannya yang demikian renta. Gajah Mada sama sekali

tidak sadar, justru lelaki renta itulah yang mestinya dicurigai. Mengalir

ikut arus, lelaki tua itu terus bergerak mengikuti lelaki yang lain, lelaki

yang menyembunyikan sebuah pisau di balik lengan bajunya.

Rubaya dengan rencananya mengarahkan pandangan matanya

kepada Raden Kudamerta yang berdiri bersebelahan dengan istri yang

baru dikawininya. Rubaya mencoba menebak, warna gejolak macam

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 155

apa yang ada di balik wajah amat datar itu. Akan tetapi, raut muka Raden

Kudamerta memang benar-benar datar, beberapa kali matanya terlihat

tidak bercahaya, mewakili hasrat atau gejolak jiwanya.

Menempatkan diri di belakang Raden Kudamerta, Bhayangkara

Macan Liwung yang dipasang untuk melindunginya menyebar pandang

matanya dengan penuh kecurigaan. Tatapan mata Macan Liwung sempat

berhenti di raut muka Rubaya, namun Macan Liwung kembali

mengedarkan pandangan matanya karena merasa tidak ada yang menarik

di wajah orang itu. Berdasar pada tugas amat khusus yang diterimanya

dari Senopati Gajah Enggon, Bhayangkara Macan Liwung menduga

Raden Kudamerta berada dalam bahaya.

Tak jauh dari dari Raden Kudamerta dan Dyah Wiyat, Raden

Cakradara dan Sri Gitarja berdiri bersentuhan lengan dengan sesekali

Sri Gitarja menyentuhkan jari tangannya ke jari tangan laki-laki yang

sejak semalam telah sah menjadi suaminya itu. Sri Gitarja terlihat begitu

cantik, namun daya tahannya tidak sekuat adiknya. Sinar matahari yang

menggerataki mukanya menyebabkan merona merah dengan bintikbintik

keringat di kening dan punggungnya. Di belakang pasangan suami

istri itu, Gajah Geneng yang dipasang untuk selalu melekat kepada

mereka, berada dalam kesiagaan tertinggi.

Dalam keadaan yang demikian, kembali terdengar suara melengking

anak panah sanderan yang membubung memanjat langit. Kali ini

membawa jejak asap di lintasannya dengan warna hitam. Itulah isyarat

dari Senopati Gajah Enggon yang ditujukan kepada para Bhayangkara

untuk makin meningkatkan kewaspadaan. Isyarat itu juga ditujukan

kepada pasukan dari kesatuan Jalapati dan Sapu Bayu untuk bersiaga

pula. Mata para prajurit yang semula telah melotot makin melotot. Derajat

kewaspadaan mereka kian meningkat. Rubaya yang tangannya mulai gatal

juga amat memahami isyarat itu.

Dari kereta duka, jasad Sang Prabu Pralaya Sri Jayanegara diturunkan

oleh beberapa orang. Melalui pijakan kaki bertingkat yang telah disiapkan

sebelumnya, tubuh yang telah ditinggalkan nyawanya itu diangkat

bersama-sama dan diletakkan di atas tumpukan kayu. Suara doa yang

156 Gajah Mada

dilantunkan secara bersama-sama melalui tata cara agama yang berbedabeda

lambat laun mengikis suara tangis. Tak ada lagi orang yang menjerit

kehilangan kendali. Semua dengan saksama mengarahkan perhatiannya

ke puncak panggung.

Mengombak pandangan mata Ibu Ratu Tribhuaneswari memandang

layon yang akan segera dibakar. Demikian pula dengan Ibu Ratu

Narendraduhita, merasa matanya berkunang-kunang, tetapi dengan

sekuat tenaga janda Raden Wijaya itu bertahan. Di tempatnya berdiri

dengan dikelilingi prajurit Bhayangkara yang menjaga muka dan belakang,

samping kanan dan kirinya, Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri telah

siap mengikuti rangkaian upacara penghormatan terakhir yang akan

disusul pembakaran layon.

Wadyabala, sumadya, tandya,” terdengar suara teriakan sangat keras.

Serentak para prajurit yang telah pasang gelar upacara bersikap

sempurna di tempat masing-masing. Suara lantang itu berasal dari mulut

Patih Daha Gajah Mada yang menempatkan diri sebagai pimpinan

upacara. Tidak hanya para prajurit yang seketika tutup mulut, segenap

rakyat pun demikian. Penuh perhatian mereka mengikuti rangkaian

upacara yang terjadi.

Dipimpin oleh Patih Daha Gajah Mada, diiringi suara genderang

yang ditabuh berderap memanjang, penghormatan secara keprajuritan

diberikan kepada Sri Jayanegara. Degup jantung siapa pun serasa berhenti

berdenyut ketika peristiwa utama itu terjadi. Apalagi, ketika obor mulai

dinyalakan dan masing-masing berada di tangan keluarga raja. Lunglai

Ibu Ratu Tribhuaneswari ketika kepadanya diserahkan obor yang sudah

menyala. Ibu Ratu Tribhuaneswari ternyata tidak punya cukup kesadaran

untuk melaksanakan pekerjaan itu. Namun, Ibu Ratu Narendraduhita

dan Ibu Ratu Pradnya Paramita mampu memegang gagang obor itu

menggunakan sisa kesadaran yang masih dimiliki dan bersiap diri untuk

bersama-sama dengan yang lain menyalakan tumpukan kayu yang telah

dibasahi dengan minyak kental kehitaman yang secara khusus didapat

dari sebuah sumur di wilayah Tuban.

Demikianlah, ketika Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri tidak memberikan

sesorah, rangkaian acara itu dilanjutkan dengan pembakaran layon.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 157

Diawali Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang menyalakan pertama

kali, disusul oleh para Ibu Ratu yang lain. Cukup tegar Sri Gitarja ketika

menyulutkan lidah api obornya, ternyata tak demikian dengan Dyah

Wiyat Rajadewi Maharajasa. Beban berat yang disangganya akhirnya lepas

tersalur melalui cara itu. Air matanya membanjir berleleran ketika lidah

api obornya memberi sumbangan nyala yang berkobar melahap

tumpukan kayu. Panas yang timbul terasa menyengat, asap membubung

yang semula berwarna hitam keputihan dan cukup mengganggu mata

akhirnya menghilang karena tumpukan kayu akhirnya terbakar dengan

sempurna.

Bukan atas nama kematian kakaknya, Sri Jayanegara, tetapi atas nama

kemelut yang bersumber dari hatinya sendiri, Dyah Wiyat menangis.

Semua orang mengira ia menangisi kakaknya, padahal tangisnya

bersumber dari alasan lain.

Hening menggeratak, tak seorang pun yang bicara. Semua perhatian

tertuju kepada kobaran api. Dari arah para pemuka agama dan

rombongannya, terdengar suara doa yang dipanjatkan dengan

menggeremang serasa mengantar nyawa Jayanegara yang telah terpisah

dari raganya, melayang membubung tinggi memasuki pintu gerbang yang

telah terbuka untuknya. Bau kemenyan yang dilemparkan ke dalam

kobaran api amat menyengat.

Untuk memastikan jasad Sang Prabu habis terbakar dan hanya

tersisa tulang belulangnya yang kelak akan diperabukan dan dilarung di

laut selatan, para prajurit melemparkan tumpukan kayu yang tersedia

dalam jumlah berlimpah. Beberapa orang prajurit bahkan naik ke

panggungan dan melemparkan kayu-kayu dari tempat itu.

Pada saat yang demikian itulah, Rubaya merasa telah tiba waktunya.

Rubaya beringsut dengan tidak menyolok untuk mencapai jarak yang

cukup dengan sasarannya. Sebagaimana perintah yang diterima dari

Rangsang Kumuda, ia harus bisa menenggelamkan pisau terbangnya ke

dada Raden Kudamerta. Di latihan yang dilakukannya tiap hari, Rubaya

tak pernah meleset. Apabila dada yang dijadikan sasaran maka dadanya

pasti kena. Demikian pula apabila tenggorokan yang dijadikan sasaran

158 Gajah Mada

maka tenggorokannya pasti bisa digapai. Namun, untuk memastikan

sasaran kali ini tidak akan meleset Rubaya merasa perlu bergerak lebih

dekat.

”Aku lempar pisauku dan secepatnya aku membuat kekacauan

supaya bisa lolos dari tempat ini,” kata hati Rubaya atas nama rencana

yang akan dilakukan.

Macan Liwung yang bertanggung jawab atas keselamatan Raden

Kudamerta dan istrinya mulai merasakan bau bahaya yang akan mendekat.

Karenanya Bhayangkara Macan Liwung berada pada puncak

kewaspadaannya. Demikian pula dengan Gajah Geneng, matanya

melotot nyaris sejengkal. Pesan yang diberikan Gajah Mada yang

disalurkan melalui Senopati Gajah Enggon dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.

Akan tetapi, rupanya ada pihak lain yang ikut bermain pula. Pihak

yang merasa harus bertindak atas nama panggilan jiwa. Dengan

penampilan yang sederhana, orang itu tak ubahnya orang kebanyakan.

Padahal, ia mempunyai peran dan jasa yang besar ketika Majapahit

diguncang huru-hara sembilan tahun yang silam. Orang yang amat terluka

hatinya itu memilih mengundurkan diri dari kehidupan pengamanan

istana. Di sebuah rumah sederhana di luar dinding kotaraja ia bertani.

Kini, karena sebuah alasan menyebabkan orang itu harus ikut campur.

Dengan tak menarik perhatian, orang itu terus berjalan yang adakalanya

harus melawan arus.

Pusat perhatian tertuju pada api yang makin berkobar dan kian

menjadi, melalap tubuh Sri Jayanegara. Ledakan-ledakan terjadi karena

di antara kayu yang digunakan terdapat ruas bambu kering. Panas

menyebabkan udara dalam batang bambu mekar yang ketika makin

memuai berkesanggupan memecahkan batang bambu itu dengan ledakan

yang cukup keras. Manakala ledakan keras itu pertama kali terjadi

memang mengagetkan siapa pun, namun ledakan-ledakan berikutnya

justru ditunggu-tunggu kehadirannya.

Saat semua perhatian sedang terpusat macam itulah Rubaya merasa

telah tiba waktunya. Dengan memutar pergelangan tangan, pisau yang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 159

semula tersimpan di balik lengan bajunya melorot turun dengan gagang

menempatkan diri di telapak tangan. Rubaya mencari kesempatan. Dan,

saat ledakan batang bambu yang terbakar terulang kembali, dengan

perhitungan cermat ia mempersiapkan diri mengayunkan pisaunya.

Dengan ayunan kuat ia melempar. Namun, pada saat bersamaan,

orang tak dikenal, orang yang merasa terpanggil hatinya karena kata

hati nurani, orang itu yang terus menempel segera melompat dan

menerjang. Dengan hantaman tangannya ia berusaha mencegah ayunan

pisau, tetapi orang itu sedikit terlambat. Pisau itu telah telanjur melesat.

Raden Kudamerta yang menjadi sasaran bidik terhenyak manakala

merasakan sakit yang datang dengan tiba-tiba. Perih yang bukan kepalang

terasa di dada kirinya, yang ketika dengan cermat ia perhatikan ternyata

berasal dari sebilah pisau yang tertancap di dadanya.

Terduduk Raden Kudamerta menahan nyeri, menyebabkan Dyah

Wiyat terkejut dan mendekapnya dengan segala kebingungan. Dengan

trengginas Macan Liwung yang merasa kecolongan mencari-cari dari mana

asal pisau yang melesat itu. Bhayangkara Macan Liwung segera meloncat

ke sumber kegaduhan yang terjadi di arah kanan.

Tiba-tiba saja terdengar teriakan, entah siapa yang berteriak,

menunjuk kepada Rubaya yang kebingungan.

”Orang itu pelakunya.”

Rubaya memang layak kebingungan karena rencananya berantakan.

Rubaya tak mungkin menyelamatkan diri dengan membuat kegaduhan

dan menerobos orang-orang yang berjejal-jejal karena tangannya terkunci

ditelikung ke belakang. Rubaya berusaha meronta, namun makin ia

meronta pangkal lengannya terasa sangat sakit. Rubaya menoleh untuk

melihat siapa orang yang melakukan perbuatan itu, namun Rubaya merasa

tidak mengenal orang itu.

Macan Liwung tercekat dengan leher serasa tercekik. Macan Liwung

terkejut melihat siapa yang memberi sumbangan peran menangkap

pelempar pisau. Justru karena itu Macan Liwung malah terdiam. Kemunculan

orang itu setelah sekian tahun menghilang sungguh mengagetkan.

160 Gajah Mada

Dan kegaduhan itu segera merambat.

”Ada apa?” seseorang berteriak dengan suara keras.

”Raden Kudamerta dilempar pisau,” jawab yang lain dengan

berteriak.

”Hah, siapa pelakunya?”

Kegaduhan yang terjadi menyebabkan orang-orang yang berada di

tempat itu teraduk bagai gabah den interi.152 Akan tetapi, pusat perhatian

memang segera tertuju kepada orang yang telah terbukti berniat

membunuh Raden Kudamerta. Rubaya merasa dirinya mendadak

terperangkap dan tak mungkin lolos. Orang yang telah meringkus dirinya

memiliki kekuatan yang tak bisa dilawan. Apabila Rubaya bergerak

berusaha berontak maka tekanan pada siku tangannya akan bisa

mengakibatkan tangannya patah.

”Mati aku. Aku terjebak,” Rubaya berkata pada diri sendiri.

Rubaya meronta, namun makin meronta pangkal lengannya terasa

sakit. Bila dipaksakan meronta, lengannya bahkan bisa patah.

”Orang itu yang bermaksud membunuh Raden Kudamerta, hajar

dia.”

Ucapan yang entah siapa yang melontarkan itu merupakan isyarat

bagi siapa saja untuk bergerak. Kematian Sri Jayanegara menyebabkan

siapa pun mudah marah, tiba-tiba kini muncul lagi orang yang berniat

membunuh Raden Kudamerta maka kemarahan yang berjejal di dada

dengan segera menggelegak membutuhkan penyaluran.

”Hajar dia.”

Perintah itu yang berasal entah dari mulut siapa dengan segera

dilaksanakan oleh orang-orang yang demikian geram. Bak buk buk

ayunan kepalan tangan menghajar wajah pelempar pisau itu. Hanya dalam

hitungan kejap, hidung Rubaya yang malang berdarah.

Tidak ada gunanya Macan Liwung dan orang yang melumpuhkan

Rubaya berusaha mencegah. Ayunan tangan demi ayunan tangan,

tendangan kaki dan hantaman menggunakan batu bata menyebabkan

152 Gabah den interi, Jawa, perumpamaan untuk kondisi kacau-balau

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 161

dengan amat cepat laki-laki yang melukai Raden Kudamerta itu babak

belur berdarah-darah. Cekatan Macan Liwung melindunginya, namun

hajaran itu bahkan sebagian mengenai tubuh Macan Liwung.

Macan Liwung berteriak sekuatnya, ”Hentikan, hentikan semua,

jangan main hakim.”

Teriakan Macan Liwung yang menggelegar itu berbuah hasil. Orangorang

yang menghajarnya itu akhirnya bisa menguasai diri. Beberapa

prajurit dari kesatuan Bhayangkara bergegas membantu Macan Liwung

dan membentuk pagar betis untuk melindungi pembunuh bersenjata

pisau itu. Dengan cekatan pula mereka mengikat tubuh Rubaya

menggunakan tali janget. Rubaya yang membaca nasib di depan mata

hanya bisa menyumpah dalam hati.

Melihat kegaduhan yang terjadi, Patih Daha Gajah Mada dan

Senopati Gajah Enggon bergegas datang dengan langkah yang terbuka

lebar. Oleh kekacauan yang terjadi itu para prajurit bergegas merapatkan

diri melindungi kerabat istana. Sangat ketat pagar betis berlapis tameng

itu.

”Apa yang terjadi?” Gajah Mada bertanya sambil mengarahkan

pandangan matanya kepada orang yang sedang menjadi pusat perhatian.

”Orang ini akan membunuh Raden Kudamerta. Untung Adi

Pradhabasu segera mencegahnya. Raden Kudamerta terluka, tetapi tidak

seberapa parah.”

Gajah Mada tertegun karena Macan Liwung menyebut nama

Pradhabasu. Gajah Mada memerhatikan wajah laki-laki dalam

penyamaran itu dengan cermat saksama. Demikian juga dengan Gajah

Enggon, tidak mengalihkan perhatiannya. Cukup lama Pradhabasu

menghilang. Lebih dari lima tahun Pradhabasu tidak berada dalam

kesatuan pasukan Bhayangkara lagi. Orang itu kini muncul lagi

membawakan peran yang mengagetkan. Gajah Enggon mengguncang

pundak sahabatnya dengan kuat. Pradhabasu tersenyum.

”Aku nyaris tidak mengenalimu, Pradhabasu,” berkata Gajah Mada.

Pradhabasu tidak menjawab, tersenyum pun tidak.

162 Gajah Mada

”Apa yang terjadi?” tanya Gajah Enggon.

”Aku membayangi sepak terjang orang ini sudah cukup lama,

setidaknya sudah beberapa bulan ini. Kecurigaanku ternyata benar. Lebih

baik sekarang kauperiksa bagaimana keadaan Raden Kudamerta. Aku

khawatir pisau yang digunakan orang ini beracun.”

Bagai diingatkan, Gajah Mada dan Gajah Enggon segera melangkah

mendekati kerumunan orang yang mengelilingi Raden Kudamerta.

Bersimbah darah dada kiri suami Dyah Wiyat itu, namun Gajah Mada

melihat luka itu tidak terlampau berbahaya. Dengan cekatan Dyah Wiyat

melakukan langkah-langkah perawatan suaminya. Pisau yang menancap

telah dicabut. Dalam pandangan sekilas Gajah Mada bisa mengambil

simpulan pisau itu tidak beracun karena warna darahnya tidak menjadi

kehitaman.

Gajah Enggon memungut pisau itu.

”Pisau yang sama,” kata senopati pimpinan pasukan Bhayangkara

itu.

Gajah Mada mengangguk.

”Bawa Raden Kudamerta ke Balai Prajurit,” Gajah Mada memberi

perintah.

Dengan cekatan tubuh Raden Kudamerta diangkat beramai-ramai,

digotong ke Balai Prajurit. Menghadapi keadaan macam itu, apalagi

peristiwa itu terjadi di depan matanya secara langsung menyebabkan

Dyah Wiyat gugup. Dyah Wiyat mengikuti dari belakang dengan segala

kecemasan yang membuncah. Melihat Raden Kudamerta bersimbah

darah, para Ibu Ratu yang akhirnya melihatnya menjadi terkejut. Tak

bisa dicegah, segenap kawula berduyun-duyun mendekat untuk melihat

dengan jelas apa yang terjadi.

Raden Cakradara yang semula berjongkok tak bisa menahan rasa

penasaran. Di sebelahnya, Sri Gitarja memandang Patih Daha itu dengan

bingung.

”Apa yang terjadi?” tanya Cakradara.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 163

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Gajah Mada. Cakradara merasa,

untuk kali ini tatapan mata Gajah Mada kepadanya tak lagi tulus. Ada

sesuatu di balik tatapan mata yang tampak mengombak itu. Mereka yang

dalam semalam menjadi korban adalah orang-orang dekat Raden

Kudamerta, sementara Raden Kudamerta sendiri juga menjadi sasaran

yang untungnya luka yang dialaminya tidak terlampau berbahaya karena

Pradhabasu muncul di saat yang tepat. Usaha Pradhabasu menggagalkan

upaya pembunuhan telah berhasil, setidaknya telah menyebabkan arah

pisau meleset. Pisau yang semula tertuju ke jantung itu bergeser sejengkal

ke tempat yang tidak berbahaya.

Cakradara mendekati Gajah Mada.

”Sebenarnya ada apa, Gajah Mada?”

”Aku belum memiliki jawabnya, Raden,” jawab Gajah Mada sambil

berbalik.

Tanpa bicara Gajah Mada meninggalkan Cakradara ke arah

Pradhabasu yang berdiri berdampingan dengan Macan Liwung dan

Gajah Enggon.

Setidaknya Patih Daha Gajah Mada berniat menumpahkan rasa

kangen dan mengajukan beberapa pertanyaan penting kepada

Pradhabasu. Akan tetapi, peristiwa susulan kembali terjadi. Peristiwa

yang sama sekali tidak diperkirakan Gajah Mada. Gajah Enggon pun

tidak mengira. Rangkaian peristiwa yang terjadi benar-benar beruntun

dan terjadi dalam hitungan kejap demi kejap. Mula-mula terlontar sebuah

pertanyaan entah dari mulut siapa.

”Bagaimana keadaan Raden Kudamerta?”

Dan, jawabnya juga entah dari mulut siapa, namun sangat

merangsang.

”Mati, Raden Kudamerta mati.”

”Hah? Raden Kudamerta mati?”

Mengombak semua isi dada siapa pun, bagai minyak tersulut api,

amat mudah untuk terbakar. Apalagi, isi semua dada itu sedang sewarna,

sedang marah tidak bisa menerima cara kematian rajanya.

164 Gajah Mada

”Raden Kudamerta mati, pisau itu mengenai jantungnya.”

Maka tak bisa dicegah, apa yang menimpa Rubaya terulang kembali.

Kawula yang marah memberikan desakan yang amat kuat sementara

prajurit yang melindungi jumlahnya sangat kalah banyak, yang celakanya

di antara prajurit itu bahkan ada yang termakan hasutan itu. Ayunan

demi ayunan tangan kembali terarah kepada Rubaya, bahkan seorang

kakek tua renta ikut memberikan sumbangannya. Apa yang dilakukan

kakek tua itu paling telak dan menentukan nasib. Orang itu menyeringai

dengan mata terbelalak ketika memasukkan ular kecil saja ke balik baju

Rubaya. Padahal, ular itu berjenis weling.

”Gila kau! Apa yang kaulakukan ini?” Rubaya meletup sambil

berusaha berontak, namun tidak berguna ia berontak.

Laki-laki tua itu, ia Rangsang Kumuda, tersenyum penuh arti.

Rangsang Kumuda bergegas menjauh sambil dengan segera membasuh

kesan apa pun dari raut mukanya. Rangsang Kumuda sadar, apabila

Rubaya sampai tertangkap dan bisa dikorek semua keterangan dari

mulutnya, hal itu akan membahayakannya. Apalagi, apabila Rubaya

membuka simpul hubungannya dengan Raden Kudamerta. Oleh karena

itu, sebagaimana yang lain, orang-orang yang menjadi mata rantai yang

menghubungkan dengan dirinya harus dipangkas. Dengan kematian

Rubaya, tak seorang pun yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya

Rangsang Kumuda.

Rubaya menggeliat, namun justru karena itu ular weling itu

mematuknya. Bisa ular weling adalah jaminan bagi siapa pun yang terkena

pasti mati. Tak ada penawarnya, tidak ada pula obat yang bisa digunakan

menyembuhkannya. Rubaya terbelalak meronta sangat kuat dan dengan

segera warna tubuhnya berubah menjadi kebiruan. Napasnya dengan

segera tersengal untuk kemudian dengan cepat tubuhnya membeku.

Namun, keadaan yang sudah demikian tidak menyebabkan semua orang

berhenti menganiaya. Seseorang mengambil bata merah, dihajarkan bata

merah itu ke kepalanya. Seseorang lagi yang memegang kayu mengayunkan

kayu itu ke tubuhnya. Seorang yang lain lagi, kebetulan ia

memiliki tangan yang besar dan kekar, sekuat tenaga ia ayunkan kepalan

tangannya menghajar hidung. Rubaya berdarah-darah.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 165

”Berhenti,” Gajah Mada yang berhasil mendekat berteriak keras.

Namun, bahkan perintah yang diberikan Gajah Mada itu tidak

digubris. Orang-orang kalap, yang benar-benar marah karena rajanya

dibunuh, yang bertambah marah karena mendengar Raden Kudamerta

juga dibunuh, kemarahannya butuh penyaluran.

”Berhenti, berhenti, jangan lakukan itu,” Gajah Enggon ikut

berteriak.

Teriakan Gajah Enggon juga tak dipedulikan. Semua telinga tibatiba

tidak mendengar apa pun. Kata hati yang butuh penyaluran yang

terdengar jelas dan harus dilaksanakan, menyebabkan telinga menjadi

buntu, semua orang sepakat untuk budek.

Yang berhasil membubarkan mereka dan memaksanya untuk

mundur justru ular yang keluar dari sela kancing baju yang dikenakan

orang dihajar beramai-ramai itu. Melihat ular yang sebenarnya berukuran

pendek saja itu, membuat bubar mereka yang kalap. Semua orang tahu

ular jenis weling yang memiliki ciri-ciri warna hitam dan putih berselangseling

merupakan binatang melata yang paling mematikan, tak ada dan

belum ada sejarahnya manusia yang mampu bertahan hidup bila dipatuk

oleh ular itu.

”Ular, ular. Ada ular keluar dari tubuhnya.”

Trengginas salah seorang prajurit mengayunkan pedangnya menebas

binatang melata yang kebingungan dan berusaha merayap itu.

Memanfaatkan waktu, para prajurit segera membentuk pagar betis.

Namun, apalah artinya pagar betis itu karena orang itu sudah tidak

bernyawa, tak ada napas dari mulutnya.

Gajah Mada benar-benar jengkel. Gajah Mada yang berdiri di

sebelah mayat itu menjadi pusat perhatian.

”Orang ini mati dan pelakunya harus dituntut di hadapan

Kutaramanawa,” teriak Gajah Mada dengan suara menggelegar.

Mendadak saja datangnya kesadaran itu, dan mendadak pula

gemuruh amarah yang semula meluap-luap beralih warna. Warna

166 Gajah Mada

susulannya adalah ketakutan, cemas karena Gajah Mada pasti akan

menyeret pelaku pembunuhan beramai-ramai itu dan mengadili mereka

menggunakan Kitab Undang-Undang Kutaramanawa. Maka jurus yang

mereka gunakan adalah jurus menyelamatkan diri. Jurus lari terbiritbirit.

Gajah Mada membalik mayat yang tengkurap. Gajah Mada saling

lirik dengan Gajah Enggon. Kematian orang yang tertangkap basah

berencana membunuh Raden Kudamerta itu bukan karena

pengeroyokan beramai-ramai, tetapi lebih karena dipatuk ular weling

itu.

Gajah Mada benar-benar marah. Tindakan tanpa kendali itulah yang

disesalkannya. Kekacauan yang timbul dimanfaatkan oleh orang tak

dikenal, orang yang sama dengan pembunuh Bhayangkara Lembang

Laut menilik cara membunuh yang amat khas, menggunakan ular yang

sangat beracun.

Gajah Enggon menggumam, ”Rupanya masih ada orang yang

mampu bermain-main dengan ular setelah Rakrian Tanca.”

Gajah Mada tidak menoleh, tatapan matanya lurus, ”Bisa jadi, Ra

Tanca telah mewariskan ilmunya itu kepada orang lain.”

15

Masih di hari yang sama. Ruangan di istana Ratu Gayatri sangat

senyap. Tak seorang pun yang bicara. Duduk bersila tepat di hadapan

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri, Gajah Mada yang telah siap menyampaikan

laporan menunggu Ratu Gayatri bicara. Di belakang Patih Daha

itu duduk bersila Senopati Gajah Enggon dan bekas prajurit Bhayangkara

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 167

yang pernah memberikan sumbangsih pengabdian kepada negara. Ratu

Rajapatni Biksuni Gayatri nyaris tidak mengenali laki-laki yang kini

berambut amat panjang itu.

Mahapatih Mangkubumi Tadah berada di ruangan itu pula.

Sementara itu, para Ibu Ratu yang lain tidak terlihat satu pun. Para Ibu

Ratu yang lain sangat lelah mengikuti rangkaian upacara yang sangat

menguras tenaga untuk ukuran usia mereka. Sangat terbatas dan tertentu

yang boleh hadir dalam pertemuan itu, bahkan Raden Cakradara pun

tidak diizinkan. Demikian pula dengan Sri Gitarja dan Rajadewi

Maharajasa yang ingin mengetahui duduk persoalan yang terjadi, tidak

diizinkan ikut. Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri melarang mereka karena

permintaan Gajah Mada. Di hadapan Ratu, Gajah Mada telah

menyampaikan tidak bisa leluasa berbicara secara blak-blakan.

”Rupanya benar peringatan yang kauberikan, Gajah Mada?” ucap

Gayatri.

Gajah Mada tidak menjawab ucapan itu. Yang ia lakukan adalah

merapatkan dua telapak tangannya. Hanya Gajah Mada yang melakukan

itu, Gajah Enggon dan Pradhabasu tidak melakukan. Patih Arya Tadah

pun tidak.

”Bagaimana, Paman Tadah?” lanjut Ratu Gayatri ditujukan kepada

Mahapatih Arya Tadah.

Arya Tadah segera merapatkan dua telapak tangannya yang

kemudian dibawa melekat ke ujung hidung.

”Hamba, Tuan Putri Ratu,” jawab Patih Mangkubumi. ”Ternyata

benar kecemasan Patih Daha.”

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri mengedarkan pandangan matanya.

Sebelum Ratu meminta penjelasan panjang lebar dari Gajah Mada,

perhatiannya diarahkan lebih dulu kepada Pradhabasu. Ratu Biksuni

ingat, telah beberapa tahun lamanya Pradhabasu menghilang dari istana.

Kecewa berat yang dirasakan menyebabkan Pradhabasu pilih berada di

luar lingkungan istana. Ratu Biksuni juga amat memahami apa penyebab

Pradhabasu memilih berada di luar istana. Rasa kecewanya kepada

Bhayangkara Gagak Bongol yang menyebabkan.

168 Gajah Mada

”Bagaimana kabarmu, Pradhabasu?” bertanya Gayatri.

Pradhabasu segera memberikan penghormatannya. Kedua telapak

tangannya segera dirapatkan dan dilekatkan ke hidung.

”Sembah dan bakti hamba, Tuan Putri Biksuni,” jawab Pradhabasu.

Gayatri tersenyum.

”Aku terima,” jawab Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri. ”Ke mana

saja selama ini kau menghilang, Pradhabasu?”

Pradhabasu kembali merapatkan dua telapak tangannya, kali ini

diletakkan di depan dada.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Pradhabasu. ”Hamba sibuk bercocok

tanam di kaki Gunung Arjuno, tetapi hamba juga memuasi rasa ingin

tahu hamba dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dari

satu wilayah ke wilayah lain untuk melihat bagaimana keadaan dan

kehidupan wilayah Majapahit. Hamba mengunjungi Singasari, hamba

juga mengunjungi Kediri. Selanjutnya, hamba berjalan jauh ke timur

sampai melintas Selat Bali, melihat kehidupan rakyat Blambangan yang

tenang dan damai, namun juga melihat semangat yang makantar-kantar

di Keta dan Sadeng. Hal itu antara lain yang harus hamba sampaikan

kepada Tuan Putri Ratu untuk mendapatkan perhatian. Kalau disebut

sepenuhnya menghilang sebenarnya tidak benar, Tuan Putri, karena

setidaknya dalam dua bulan ini hamba menghadap Kakang Gajah Mada

untuk menyampaikan laporan penting. ”

Hening ruangan itu. Semua menyimak apa yang disampaikan

Pradhabasu. Tak satu kalimat pun yang tercecer dari perhatian. Senopati

Gajah Enggon memerhatikan dengan penuh minat. Gajah Mada sama

sekali tak menampakkan perubahan pada raut wajahnya. Ratu Gayatri

mengedarkan pandangan matanya menggerataki semua wajah yang

menghadap. Ia lakukan itu sambil mengunyah apa yang diucapkan bekas

Bhayangkara Pradhabasu.

”Semangat makantar-kantar di Keta dan Sadeng?” lanjut Ibu Ratu

Gayatri.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 169

”Hamba, Tuan Putri,” balas Pradhabasu.

”Bisa kausampaikan lebih rinci?”

Gajah Mada tidak bisa menyembunyikan minatnya. Itu sebabnya,

ia beringsut agar bisa melihat Pradhabasu ketika sedang berbicara.

”Menurut hamba, Keta 153dan Sadeng154 saat ini sedang menyiapkan

makar, Tuan Putri,” ucap bekas Bhayangkara Pradhabasu.

Memperoleh jawaban itu, Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri melirik

Mahapatih Mangkubumi Arya Tadah. Bersamaan dengan itu Mapatih

Mangkubumi Arya Tadah juga mengarahkan pandangan matanya ke

wajah Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri. Setelah saling berbicara melalui

pandangan mata, Ratu Gayatri mengarahkan tatapan matanya kepada

Gajah Mada.

”Ada sebuah wilayah di bumi Majapahit ini bernama Keta?” Ratu

Rajapatni bertanya.

”Hamba, Tuan Putri Ratu,” jawab Pradhabasu. ”Wilwatikta memiliki

wilayah bernama Keta. Dua hari dua malam dengan berkuda perjalanan

yang ditempuh ke arah timur, antara lain akan melewati Porong,

Pasuruan, dan Probolinggo, terus ke arah timur menyusur sepanjang

pantai, akan tiba di sebuah tempat bernama Keta.”

Biksuni Gayatri menyimak jawaban itu dengan penuh perhatian.

Keningnya sedikit berkerut.

”Apakah Keta berada setelah atau sebelum Besuki?” tanya Rajapatni.

Gajah Mada merasa, ia yang harus menjawab pertanyaan itu.

”Hamba, Tuan Putri. Keta adalah juga bernama Besuki.”

153 Keta, Kakawin Negarakertagama menyebut, Keta melakukan pemberontakan pada tahun 1331, 3 tahun

setelah kematian Jayanegara.

154 Sadeng, Kakawin Negarakertagama menyebut pemberontakan Sadeng terjadi bersamaan dengan

pemberontakan yang dilakukan Keta. Pararaton menceritakan lebih rinci peristiwa pemberontakan ini

yang menunjukkan adanya semacam persaingan di antara para perwira prajurit, khususnya antara Gajah

Mada dan Rakrian Kembar. Di mana Sadeng tidak diketahui, namun diduga kuat berada di wilayah Bali.

170 Gajah Mada

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri termangu untuk beberapa saat

lamanya. Ratu kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Arya Tadah.

Arya Tadah merasa waktunya untuk bicara telah tiba.

”Terasa aneh bila Keta dan Sadeng akan melakukan pemberontakan.

Dalam lima tahun pasewakan utusan Keta dan Sadeng selalu hadir di

Balairung.”

Hening menggeratak beberapa saat. Sebagai pertanda sebuah

wilayah tetap tunduk pada Majapahit bisa dilihat dari hadir dan tidaknya

pimpinan wilayah itu di pasewakan ageng yang dilaksanakan secara berkala.

Apabila penguasa wilayah tidak bisa hadir karena jarak yang memang

jauh atau karena masalah waktu, diharapkan penguasa wilayah itu

menghadap istana di lain kesempatan. Namun, apabila dalam dua kali

pasewakan tidak hadir, penguasa wilayah akan mendapat teguran dan

harus menjelaskan ketidakhadirannya dan bisa dianggap melakukan

tindakan makar.

Ketika penguasa Pakuwon Tumapel tidak hadir beberapa kali di

Istana Kediri, Kediri menganggap Tumapel melakukan makar. Ken Arok

yang saat itu menguasai Tumapel setelah merampasnya dari Tunggul

Ametung memang melakukan makar.

”Bagaimana caramu menilai Keta dan Sadeng akan melakukan

makar? Paman Arya Tadah menyaksikan Keta dan Sadeng selalu hadir

dalam setiap pasewakan yang diselenggarakan istana?”

Pradhabasu merapatkan dua telapak tangannya.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Pradhabasu. ”Keta dan Sadeng perlu

dicurigai karena dengan pandangan mata secara langsung, hamba melihat

upaya memperkuat diri. Ketika hamba berada di Keta, sedang dilakukan

penerimaan prajurit baru dengan jumlah kekuatan amat jauh melampaui

keperluan wilayah yang hanya sebesar Keta. Sebaliknya, ketika hamba

menyeberang ke Sadeng, di wilayah itu bahkan dilakukan kegiatan yang

lebih besar. Hamba benar-benar terkejut melihat kekuatan prajurit yang

dimiliki Sadeng dan latihan perang yang mereka lakukan. Hamba

meyakini, saat ini sedang ada persiapan pemberontakan. Apabila

dibiarkan maka lima tahun ke depan Keta akan memiliki kekuatan

seimbang dengan separuh kekuatan Majapahit.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 171

Laporan Pradhabasu ternyata mampu menyita perhatian ruangan

itu.

”Bagaimana, Paman Tadah?” bertanya Ratu Gayatri.

Mahapatih Arya Tadah menyempatkan diam untuk beberapa saat

sebelum ia memberikan pendapat. Arya Tadah bahkan menyempatkan

bertukar pandang dengan Gajah Mada. Arya Tadah juga menyempatkan

mendahulukan batuknya sambil merapatkan dua telapak tangannya

dalam sikap menyembah.

”Hamba, Tuan Putri. Menurut hamba, mungkin perlu dikirim telik

sandi ke dua wilayah itu untuk nantinya bisa digunakan sebagai sikap

Majapahit dalam mengambil tindakan. Senopati Gajah Enggon mungkin

bisa menunjuk siapa telik sandi yang bisa dikirim. Hamba berpendapat,

keterangan yang diberikan Pradhabasu harus segera mendapat perhatian.

Semua masalah yang bisa membahayakan keutuhan negara tak boleh

diremehkan dan sedini mungkin harus diatasi.”

Gajah Mada menunduk menyimak ucapan itu. Sejenak kemudian

ia menengadah dan mengarahkan pandangan matanya ke Ratu Gayatri.

”Bagaimana, Gajah Enggon?” bertanya Gayatri.

”Hamba akan siapkan, Tuan Putri,” jawab Gajah Enggon amat

sigap. ”Hamba akan menyiapkan pasukan segelar sepapan yang dibutuhkan

untuk menghancurkan Sadeng dan Keta apabila dua wilayah itu berniat

melakukan pemberontakan.”

Gajah Mada tiba-tiba merapatkan dua telapak tangannya, sebuah

cara meminta perhatian dari Ratu Gayatri.

”Kau mempunyai pendapat, Gajah Mada?” tanya Biksuni Gayatri.

”Hamba, Tuan Putri,” Gajah Mada berkata. ”Hamba sependapat

dengan Paman Arya Tadah bahwa sedini mungkin masalah Keta dan

Sadeng harus segera diatasi. Hamba juga sependapat untuk segera dikirim

telik sandi. Namun, hamba tidak bisa menerima gagasan Gajah Enggon

untuk segera mengirim pasukan segelar sepapan ke dua wilayah itu. Hamba

berpendapat menghancurkan dua wilayah itu melalui perang berkekuatan

172 Gajah Mada

besar tidak seharusnya selalu dianggap benar. Ibarat ular, apabila kepala

bisa ditangkap maka lumpuh ular itu. Oleh karena itu, sebaiknya yang

dikirim prajurit telik sandi dengan sifat dan kemampuan khusus. Hamba

berpendapat Keta ataupun Sadeng bisa dikalahkan tanpa harus diserbu.

Menurut hamba, penyerbuan itu sendiri akan memakan biaya yang sangat

besar.”

Hening ruangan itu. Gajah Enggon termangu karena untuk ke

sekian kalinya melihat Gajah Mada mengutarakan pendapat yang

berbeda, pendapat yang aneh dan tidak lazim.

”Apa yang bisa dilakukan pasukan telik sandi itu tanpa dukungan

pasukan dengan kekuatan segelar sepapan, Kakang Gajah?” bertanya Gajah

Enggon oleh rasa penasaran yang menggumpal.

Gajah Mada tidak menjawab pertanyaan itu. Namun, rupanya yang

penasaran tak hanya Gajah Enggon. Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri

juga merasa penasaran.

”Bagaimana jawaban pertanyaan Gajah Enggon itu, Gajah Mada?”

Gajah Mada merapatkan dua telapak tangannya dan menyembah.

”Hamba, Tuan Putri,” jawabnya. ”Menggebuk Keta dan Sadeng

dalam perang besar membutuhkan biaya besar. Perang itu sendiri harus

didukung dengan cadangan makanan yang juga besar. Penyelesaian

terhadap apa yang akan dilakukan Keta dan Sadeng bisa dijawab dengan

langkah yang sederhana. Barisan telik sandiyudha yang dikirim tidak

sekadar mengintip dan mengawasi apa yang terjadi. Pasukan sandi itu

harus bisa mengerjakan banyak hal, bisa perusakan, penculikan,

penyelamatan, sampai adu domba. Barisan sandi itu bahkan juga harus

mampu memecah belah persatuan dan kesatuan orang-orang Keta

maupun Sadeng terhadap rencana makar yang mereka lakukan. Pendek

kata, pasukan sandi dengan sifat khusus itu harus bisa mengelola yang

semula musuh menjadi teman atau berpihak pada kita.”

Gayatri memandang Gajah Mada lebih lekat dan cukup lama. Namun,

sebagai biksuni, Gayatri merasa tidak nyaman harus membicarakan

perang atau semacamnya yang pasti akan menjadi sebab kesengsaraan.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 173

”Jika bisa, Keta maupun Sadeng harus kembali ke pangkuan

Majapahit tanpa melalui pertumpahan darah. Cerita tentang perang di

mana-mana selalu sama. Perang akan mengakibatkan kesengsaraan dan

penderitaan yang luar biasa. Akan banyak istri yang kehilangan suami.

Akan banyak ayah yang kehilangan anaknya, anak tak akan bertemu

dengan ayahnya untuk selamanya. Akan terjadi rusaknya tatanan dan

aturan hidup bersama, banyak orang akan kehilangan kendali karena

tekanan jiwa luar biasa, orang menjadi liar, menjadi gila. Orang menjadi

penjarah dan pemerkosa, korban di mana-mana. Aku sapendapat dengan

Gajah Mada, Keta dan Sadeng harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi,

tetapi kalau bisa dihindarkan cara-cara yang akan menyebabkan jatuhnya

banyak korban. Perang apabila terpaksa dilakukan hanyalah sebagai

pilihan terakhir dan bukan yang utama.”

Gajah Enggon menunduk. Dalam cara pandang terhadap keutuhan

negara, Sri Jayanegara jelas berbeda dengan Ibu Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri yang seorang pendeta putri agama Buddha. Namun, terhadap

pandangan dan pendapat Gajah Mada, Gajah Enggon masih merasa

penasaran. Gajah Enggon berjanji akan mempersoalkan hal itu di lain

waktu.

Gajah Enggon berniat membantah pendapat Gajah Mada, tetapi

melalui isyarat gelengan kepalanya, Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri tidak

memberi izin. Tiba saatnya Ratu Gayatri mengalihkan pembicaraan.

”Pradhabasu,” kata Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri.

”Hamba, Tuan Putri Ratu,” jawab Pradhabasu sigap.

”Aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu,” Ibu Ratu Biksuni

berbicara. ”Apakah kamu masih akan membiarkan dirimu terseret ke

mata rantai sakit hati dan dendam? Waktu telah lama berlalu, apakah

sebagai ungkapan rasa tidak sependapat kau masih akan tetap berada di

luar sana? Sebagai pengganti sementara Anakmas Sri Jayanegara yang

telah kembali ke swargaloka sebelum nanti diputuskan siapa raja yang

baru, aku ingin menawarkan kepadamu untuk kembali. Pintu

Bhayangkara masih terbuka untukmu. Bukankah demikian, Gajah

Enggon?”

174 Gajah Mada

Gajah Enggon yang tidak menduga akan mendapatkan limpahan

pertanyaan yang mendadak berbelok kepada dirinya itu segera

merapatkan dua telapak tangannya dalam sikap menyembah.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Enggon. ”Hamba sependapat

dengan Tuan Putri Ratu. Pada saat terakhir walaupun Adi Pradhabasu

berada di luar Bhayangkara, kembali ia telah membuat jasa. Kalau tidak

karena kesigapannya, barangkali pisau itu telah menancap di bagian yang

berbahaya di dada Raden Kudamerta. Mungkin bisa terkena jantungnya.

Sebagaimana Tuan Putri Ratu Rajapatni Biksuni, hamba juga amat

berharap Adi Pradhabasu akan kembali menjadi bagian dari

Bhayangkara.”

Senyap merayap. Dalam waktu sedikit lebih lama Bhayangkara

Pradhabasu melekatkan dua telapak tangannya di dada dan dengan amat

perlahan membawanya ke ujung hidung. Dengan segera Pradhabasu

teringat peristiwa sembilan tahun yang lalu, waktu yang sebenarnya cukup

lama, namun serasa terjadi masih kemarin petang. Apa yang menimpa

sahabat kentalnya, yang sangat kental hubungan persaudaraan itu,

tertebas kepalanya oleh fitnah yang dilakukan Bango Lumayang atau

Singa Parepen. Gagak Bongol yang tidak berpikir ulang setelah melihat

remah jagung pakan burung merpati yang diduga sebagai alat pengirim

berita ke Majapahit langsung menebas kepalanya dari belakang. Apa

yang dilakukan Gagak Bongol itu terjadi tepat di depan matanya.

Gerakan pedang yang menyisir mendatar kemudian membabat leher

tak bisa lenyap dari benaknya, tidak bisa hilang bagaimanapun cara

melupakan. Merah warna darah yang muncrat sebagian besar bahkan

berlepotan ke wajahnya. Bertahun-tahun mimpi buruk itu selalu

menyelinap ke ruang tidurnya. Betapa susah upaya Pradhabasu

menghindar bahkan dengan cara tidak tidur, tetap saja tidak bisa

mengelak ibarat dengan bersembunyi ke liang tikus sekalipun.

Pradhabasu telah melakukan gugatan melalului Kitab Undang-Undang

Kutaramanawa yang salah satu pasalnya berbunyi, siapa yang melakukan

pembunuhan akan mendapat ganjaran setimpal dengan dibunuh pula.

Namun, Sri Jayanegara melalui kekuasan mutlak yang dimilikinya

membebaskan Gagak Bongol dari semua tuduhan. Gagak Bongol tidak

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 175

bersalah, ia bahkan dianggap telah melakukan tindakan yang benar. Bila

siapa yang salah yang menjadi persoalan, Singa Parepen Bango Lumayang

yang salah dan ia telah mendapatkan hukumannya di Bedander setelah

kamanungsan.

Mestinya Pradhabasu bisa segera melupakan itu, tetapi wajah

seseorang, ia seorang perempuan yang memilih mati lampus diri, wajah

itu tidak bisa dilupakan. Dengan cara apa pun wajah perempuan itu

tidak bisa dilupakan. Wajah itu milik istri Mahisa Kingkin yang sekaligus

adalah adik kandungnya.

Bagian dari mimpi buruk itu, ketika itu siang hari. Setelah perjalanan

sangat panjang yang melelahkan dari Bedander, Pradhabasu

menyempatkan diri mengurus kepentingannya sendiri. Jantung

Pradhabasu berdetak amat kencang ketika meloncat turun dari kuda,

membuat bocah kecil berusia dua tahun yang sedang bermain tanah

ketakutan dan menangis. Ibunya yang keluar dari pintu dengan segera

menenangkan hati anaknya. Wajah perempuan itu dengan seketika

berubah berbinar senang. Setelah sekian lama tidak bertemu kakak

kandungnya, tiba-tiba kakaknya muncul. Bukankah itu berarti akan ada

berita bagaimana suaminya, kapan pulang?

”Kakang Basu?” desis perempuan pemilik wajah cantik itu.

Pradhabasu bingung, namun dengan segera ia melangkah mendekat.

Prajurit Bhayangkara itu segera mengulurkan tangannya berniat

menggendong keponakannya, menyebabkan bayi tiga tahun itu menangis

keras. Pradhabasu tidak membatalkan niat untuk menggendong dan

memeluk bayi itu. Tangis si kecil itu justru dengan sangat telak menyentuh

simpul perasaannya. Pradhabasu tak kuasa menahan air matanya.

Kembangrum Ring Puri Widati nama perempuan itu, bingung

melihat kakak yang dirindukan sekian lama sebagaimana ia merindukan

suaminya menangis. Hati seorang perempuan adalah hati yang amat peka.

Tak sebagaimana kaum lelaki yang berbicara dengan mengedepankan

isi benaknya, perempuan berbicara dengan lebih mengedepankan

hatinya. Dan hati yang peka itu segera meraba sesuatu yang mencemaskan.

176 Gajah Mada

”Kakang Basu!”

Pradhabasu tak merasa perlu bersedu sedan. Pradhabasu segera

membasuh air matanya. Pradhabasu meraih kepala adiknya dan

memeluknya dengan kuat.

Maka sadarlah Kembangrum bahwa sesuatu telah terjadi pada

suaminya. Laki-laki yang amat dirindukan kepulangannnya itu tidak akan

kembali untuk selamanya. Hanya satu kata tergambar jelas dari sikap

kakaknya, mati. Mahisa Kingkin tidak kembali karena gugur di palagan.

Pradhabasu membimbing Kembangrum kembali masuk ke dalam

rumah, namun dengan tiba-tiba Kembangrum melorot kehilangan

kekuatan. Ia tak mampu meski untuk sekadar berdiri.

Kenangan itu, bagaimana cara melupakan. Kematian Mahisa

Kingkin dibabat kepalanya oleh Gagak Bongol, bagaimana cara

melupakan?

Ruang dalam istana itu menjadi amat senyap. Gajah Mada terkejut

mendengar tuturan itu. Ibu Ratu Rajapatni Gayatri bahkan ikut larut

dalam rangkaian peristiwa yang dituturkan Pradhabasu. Gajah Enggon

dan Arya Tadah sama sekali tak mengira kematian Mahisa Kingkin

ternyata meninggalkan keturunan.

”Jadi, Mahisa Kingkin punya anak keturunan?” tanya Ibu Ratu

Gayatri.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Pradhabasu.

”Dan istri Mahisa Kingkin adalah adikmu?”

Pradhabasu tidak menjawab pertanyaan itu, apa yang diceritakan

sudah cukup jelas.

”Anak Mahisa Kingin, laki-laki atau perempuan?” tanya Rajapatni.

Pradhabasu mengangkat sembahnya dan melekatkan ke ujung

hidung.

”Hamba, Tuan Putri, anak Mahisa Kingkin seorang bocah lelaki.”

Ibu Ratu Gayatri merasakan dadanya agak sesak. Akan tetapi,

dengan segera isi hati dengan warna duka itu dikendalikannya. Larut

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 177

dalam kesedihan sangat tidak sesuai dengan sikap Buddha yang harus

mampu membebaskan diri dari kesedihan, juga dari rasa gembira yang

berlebihan.

”Lalu, bagaimana keadaan adikmu? Apakah ia sudah mampu

menghilangkan kesedihannya, atau mungkin sudah bersuami kembali?”

Pertanyaan itu menyebabkan isi dada Pradhabasu mendadak penuh,

demikian penuh hingga rona wajahnya berubah. Pradhabasu harus

memejamkan mata untuk mengendalikan diri.

”Bagaimana keadaan adikmu?”

Pradhabasu merapatkan dua telapak tangannya.

”Sebelum menjawab pertanyaan itu, hamba mohon izin untuk

menyampaikan sebuah kisah?” Pradhabasu menjawab.

Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri mengangguk memberikan

izinnya.

”Aku izinkan,” jawab Gayatri.

Pradhabasu menghirup udara memenuhi isi rongga paru-parunya,

amat penuh melalui tarikan napas panjang.

”Kala itu menurut Kitab Mahabarata,” Pradhabasu bercerita dengan

kepala menunduk, ”perang besar terjadi di Kurusetra. Hastina menggelar

pasukan di bawah pimpinan senopati perang Raja Salya. Dalam

pertempuran melawan Yudistira yang memiliki hati bersih dan suci, Prabu

Salya gugur dalam perang itu. Adalah istrinya, Dewi Setyawati yang amat

mencintai suaminya mengais ribuan mayat yang salang tunjang bergelimpangan.

Hujan turun deras dan gelap gulita amat menyulitkan Dewi

Setyawati menemukan mayat sang suami yang dikasihi. Ketika kilat

muncrat, Dewi Setyawati menemukan mayat suaminya tersangkut di

kereta perang. Atas nama rasa cinta dan kesetiaan, Dewi Setyawati

memilih lampus. Dewi Setyawati melakukan itu untuk menyusul suaminya,

demi kesetiaan, demi cintanya.”

Bergoyang ruang itu, genting-gentingnya bergoyang, tiang saka

bergoyang, isi dada yang menyimak berderak-derak. Gajah Enggon

178 Gajah Mada

merasa permukaan jantung dan hatinya bagai dirambati oleh ribuan ekor

semut. Keringat dingin segera mengembun dari permukaan telapak

tangannya. Seseorang yang menyimak cerita itu dari balik pintu merasa

dadanya ikut berantakan.

Pintu yang semula tertutup kemudian terbuka. Seorang prajurit

Bhayangkara yang ikut mendengar pembicaraan itu tidak kuasa untuk

berdiam diri. Prajurit Bhayangkara itu, ia Gagak Bongol, dengan wajah

merah padam ia memaksakan diri ikut bergabung di pertemuan dengan

peserta yang amat terbatas itu. Gagak Bongol menempatkan diri duduk

di belakang Pradhabasu tanpa Pradhabasu mengetahui kehadirannya.

Gagak Bongol memberikan hormat sembahnya kepada Ratu Gayatri

yang memberikan tatapan matanya.

Bila ada yang disesalkan Gagak Bongol sebagai dosa yang

berkepanjangan, adalah kisah yang baru kali ini ia dengar dari mulut

Pradhabasu.

Gajah Mada merasa wajahnya menebal, demikian pula dengan Gajah

Enggon merasa isi dadanya sangat sesak. Di tempat duduknya yang

sedikit lebih rendah dari tempat duduk Ibu Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri, Mahapatih Arya Tadah merasa tak salah mengikuti pertemuan

terbatas itu karena dengan demikian Mapatih Arya Tadah mendapat

kesempatan secara langsung mendengar penuturan Pradhabasu,

mendengar alasan macam apa yang dimiliki sehingga Pradhabasu

memilih berada di luar.

Demikian hening suasana di ruangan itu, bahkan Ibu Ratu Rajapatni

Biksuni tidak mampu melontarkan pertanyaan.

”Cerita senada dengan apa yang dialami oleh Setyawati dalam kisah

itu tidak perlu jauh-jauh. Majapahit memiliki kisah yang mirip ketika

Adipati Ranggalawe di Tuban berpamitan kepada kedua orang istrinya

bahwa ia akan maju ke medan perang menghadapi Mahapatih Nambi.

Ketika itu, Nyai Mertaraga dan Nyai Tirtawati tidak bisa menerima

pamitan suaminya yang akan maju perang. Barulah ketika kedua orang

istri itu tidur lelap, diam-diam Adipati Ranggalawe meninggalkan mereka

maju ke dalam pertempuran. Dua orang perempuan yang demikian

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 179

mencintai suaminya itu memilih ikut lampus setelah tahu suaminya mati.

Pilihan yang diambil atas nama cinta dan kesetiaannya.”

Melalui dua cerita itu, Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri telah membaca

sangat jelas bahwa istri Mahisa Kingkin memilih mati lampus diri karena

demikian besar rasa cinta dan kesetiaannya pada sang suami. Wajah

Mahapatih Arya Tadah memerah mendengar tuturan itu. Sementara itu,

Gajah Mada meski isi dadanya mengombak, namun mampu

menyembunyikan warnanya di balik wajah yang datar.

Amat berbeda dengan raut muka Gagak Bongol. Gagak Bongol

merasa kesalahan yang dilakukan sembilan tahun silam tidak bisa ditebus

dengan cara apa pun.

”Jadi, adikmu melakukan apa yang dilakukan istri Salya?” bertanya

Gayatri.

Pradhabasu yang menunduk itu tidak menjawab, sementara Ratu

Rajapatni Biksuni Gayatri merasa pertanyaan itu sebenarnya tak perlu

dilontarkan. Kisah yang dituturkan Pradhabasu itu merupakan lambang

sasmita yang cukup jelas artinya. Istri Mahisa Kingkin telah melaksanakan

darma kesetiaan seorang istri kepada suaminya. Tidak ada kebanggaan

seorang istri daripada menyusul dan menemani sang suami di alam

kematian. Setidaknya Kembangrum Ring Puri Widati memiliki

keyakinan, betapa nista seorang istri yang tidak memiliki kesetiaan dan

betapa nista baginya bila tidak mempunyai keberanian untuk menyusul

suaminya ke alam kematian.

Sebuah patrem yang sangat beracun dipilih Kembangrum sebagai

pembuka pintu gerbang kematiannya. Sakit luar biasa disambutnya

dengan senyum merekah. Di balik kematian yang akan dilongoknya,

Kembangrum Ring Puri Widati merasa yakin suaminya membuka tangan

dan menyongsongnya dengan pelukan penuh rasa kegembiraan.

Kembangrum tak sempat berpikir bagaimana anaknya. Bahkan bayinya

yang sedang menangis keras itu tidak dipedulikannya.

Suasana terasa sangat senyap dan hening. Di luar dinding ruang

khusus itu semburat cahaya surya menerjang apa saja, menerangi hingga

benderang. Di angkasa nabastala membentang biru, sungguh berbalikan

180 Gajah Mada

dengan keadaan beberapa saat yang lalu, ketika pembakaran layon Sri

Jayanegara diselenggarakan, mendung menebar di sebagian besar langit.

Sisa-sisa pembakaran layon itu masih terlihat jejaknya dari asap melayang

kehitaman yang tersapu angin ke arah tenggara seolah terisap oleh

kekuatan kasat mata yang berasal dari puncak gunung yang terlihat

temaram di sana.

Tidak jauh dari ruangan khusus itu, seorang emban bertubuh gemuk

tengah sibuk mengamati remaja yang sedang bermain tanah. Anak itu,

meski usianya telah berada di pintu gerbang remaja, terlihat sangat tolol

oleh kelainan jiwa yang disandangnya. Emban itu hanya memerhatikan

tingkahnya. Emban itu sama sekali tidak terusik perhatiannya meski

bocah itu menyeringai. Emban itu rupanya tengah terpusat pikirannya

ke hal lain, ke pembicaraan yang sedang berlangsung di ruangan yang

dalam kegunaan sehari-hari dimanfaatkan oleh Ratu Gayatri. Udara yang

panas menyebabkan emban gemuk itu mandi keringat.

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri mengalihkan tatapan matanya ke

belakang Pradhabasu. Matanya amat tajam menatap Gagak Bongol yang

duduk bersila. Gagak Bongol merapatkan dua telapak tangannya dalam

sikap menyembah. Gagak Bongol menunggu Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri paring dawuh,155 tetapi Ratu Gayatri merasa belum perlu berbicara

dengannya.

”Apa yang terjadi itu menjadi mimpi buruk berkepanjangan, Tuan

Putri Ratu,” Pradhabasu melanjutkan. ”Tak hanya kematian Mahisa

Kingkin, sahabat sejati yang juga adik ipar hamba yang selalu menyelinap

dalam mimpi, tetapi apa yang menimpa adik hamba menjadi beban tak

tertanggungkan. Hamba berusaha keras untuk melupakan, namun karena

setiap kali hamba harus bertatapan muka dengan anak yang mereka

tinggalkan, hamba tak mungkin melupakan. Meski sembilan tahun telah

lewat, hamba tak mungkin melupakan. Hamba merasa terharu karena

Tuan Putri Ratu telah berkenan meminta hamba untuk mengabdi kembali

di kesatuan Bhayangkara, namun hamba tak mampu. Beribu ampun,

hamba mengartikan pengabdian hamba tak harus hamba salurkan lewat

155 Paring dawuh, Jawa, berbicara

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 181

Bhayangkara semata. Hamba punya banyak jalan agar berguna bagi negeri

ini sebagaimana Gagak Bongol juga memiliki caranya sendiri mengabdi

pada negerinya. Gagak Bongol yang telah membunuh orang yang tak

bersalah, telah menjadi penyebab adik hamba mati bunuh diri dan

keponakan hamba kehilangan hak yang mestinya menjadi miliknya. Hak

untuk tumbuh dan berkembang dengan limpahan kasih sayang ayah

dan ibunya.”

Jawaban atas permintaan agar mau kembali menyatu dengan

pasukan khusus Bhayangkara telah diberikan. Agaknya Pradhabasu telah

kukuh dengan pendiriannya. Jawaban Pradhabasu itu menyebabkan isi

dada Gagak Bongol yang menggumpal menjadi makin bergumpalgumpal.

Gagak Bongol merasa isi dadanya amat sesak dan sulit untuk

bernapas.

”Apakah kau akan menyampaikan sebuah pertanyaan, Gajah

Mada?” bertanya Ratu Rajapatni.

Gajah Mada agak kaget, tetapi segera menata diri.

”Hamba hanya terkejut, Tuan Putri Ratu,” jawab Gajah Mada.

”Hamba tidak menyangka ada hubungan yang amat pribadi antara

mendiang Mahisa Kingkin dan Adi Pradhabasu. Hubungan yang ternyata

bahkan sampai berupa kakak dan adik ipar. Hamba sama sekali tidak

menyangka. Hamba mengira keakraban yang terjalin antara Pradhabasu

dan mendiang Mahisa Kingkin adalah karena persahabatan mereka yang

terjalin akrab sebagaimana umumnya hubungan di antara Bhayangkara.”

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri lebih mengagetkan lagi. Pertanyaan itu ditujukan kepada Gagak

Bongol.

”Dan apakah pendapatmu, Gagak Bongol?” tanya perempuan tua

itu.

Gagak Bongol terkejut dan kebingungan. Lebih terkejut lagi

Pradhabasu yang sama sekali tak menyangka Gagak Bongol berada di

belakangnya. Pradhabasu segera menoleh. Dua orang yang berselisih

paham itu bersirobok pandang dengan tatapan mata yang sama-sama

182 Gajah Mada

merah mewakili warna hati masing-masing yang bergolak. Pradhabasu

kembali mengarahkan pandangan matanya kepada Ratu Gayatri, namun

sejenak kemudian Pradhabasu menunduk.

”Bongol,” suara Ratu Gayatri terdengar tenang tertuju kepada

Gagak Bongol.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gagak Bongol dengan suara serak.

Gagak Bongol menyempatkan merapikan duduknya.

”Kau menyimak dengan utuh apa yang diceritakan Pradhabasu?”

Gagak Bongol mengangguk.

”Hamba, Tuan Putri. Hamba adalah salah satu pemeran dari lakon

pahit yang diceritakan Adi Pradhabasu. Meski peristiwa itu telah berlalu

sembilan tahun lamanya, sudah menjadi bagian dari masa silam, amat

sulit bagi hamba melupakan. Hamba tak mungkin melupakan dengan

segenap rasa penyesalan yang tumbuh di hati hamba. Sebagaimana Adi

Pradhabasu, hamba juga terbebani oleh peristiwa itu walau beban itu

sama sekali tak ada seujung kuku dibanding beban yang disangganya.

Lebih-lebih, ternyata ada bagian dari cerita lama itu yang tak hamba

ketahui bahwa Mahisa Kingkin ternyata meninggalkan seorang istri yang

mengambil pilihan lampus diri dan meninggalkan seorang anak. Hamba

sangat menyesal, Tuan Putri. Andai saja hamba boleh memilih, hamba

akan lebih senang andai waktu bisa diputar kembali. Hanya saja, yang

terjadi telah telanjur terjadi dan tak mungkin diubah lagi. Meski demikian,

masih ada kesempatan untuk setidak-tidaknya menuntaskan yang belum

tuntas, merampungkan yang masih belum rampung, dan menyempurnakan

yang masih belum sempurna.”

Udara mengalir lembut, tidak mengusik jendela yang terbuka untuk

berderit, tidak mengusik dedaunan untuk bergoyang lebih kasar. Udara

mengalir dengan amat lembut, memberi kesempatan pada senyap untuk

bicara, pada hening untuk bicara, tak memberi kesempatan untuk

bersuara atas benang jatuh, bahkan tarikan napas mereka yang hadir di

ruangan itu. Maka hening sekali ruangan itu. Bhayangkara Pradhabasu

menyimak ucapan Gagak Bongol dengan penuh perhatian. DireBergelut

dalam Kemelut Takhta dan Angkara 183

sapkannya kata-kata itu satu demi satu hingga menyusup jauh ke

kedalaman hatinya. Pradhabasu merasa, inilah saatnya ia mendengar apa

kata hati orang yang membunuh Mahisa Kingkin itu.

Gajah Mada membeku bagai gopala yang terbuat dari gumpalan

batu paling keras yang diperoleh dari urukan lahar Gunung Kelud atau

bisa jadi batu yang keluar terlempar dari gunung itu saat meledak

beberapa tahun yang lalu. Atau, Gajah Mada adalah patung itu sendiri.

Di tempat duduknya, Mapatih Arya Tadah yang tua, yang tubuhnya

makin kurus seiring bertambahnya usia ikut memerhatikan pembicaraan

yang terjadi serta berusaha menebak keputusan macam apa yang akan

diambil Gagak Bongol setelah Pradhabasu yang lenyap beberapa tahun

lamanya itu muncul kembali. Mapatih Arya Tadah menelan ludah yang

mulai terasa pahit.

Gajah Enggon menahan napas, lalu mengembuskannya amat pelan.

Dadanya terasa sesak. Perselisihan antara Pradhabasu dan Gagak Bongol

telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sri Jayanegara sampai harus turun

tangan memberikan penyelesaian, namun rupanya Pradhabasu masih

membawa rasa tidak puasnya. Cerita tentang istri Mahisa Kingkin yang

mati bunuh diri dan anak lelaki yang ditinggalkannya, Gajah Enggon

sama sekali tidak memiliki keterangan itu sebelumnya. Gajah Enggon

yang juga menggunakan nama Pradamba itu amat bisa merasakan beban

berat macam apa yang disandang sahabatnya yang menghilang beberapa

tahun lamanya itu.

Ratu Gayatri menatap mata Gagak Bongol dengan tidak berkedip.

”Menuntaskan yang belum tuntas, merampungkan yang masih

belum selesai, dan menyempurnakan yang masih belum sempurna. Apa

yang kaumaksud dengan kata-katamu itu, Gagak Bongol?”

Gagak Bongol menunduk. Bibirnya agak bergetar saat akan

berbicara karena gejolak yang membuncah dan menggelegak di dadanya.

Namun, betapa pun beratnya Gagak Bongol memang harus berbicara.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gagak Bongol. ”Hamba berpendapat,

keputusan yang dijatuhkan oleh mendiang Tuanku Sri Baginda Jayanegara

kala itu masih belum mewakili rasa keadilan. Hamba sangat siap jika

184 Gajah Mada

keputusan itu harus dikaji kembali. Hamba siap bila harus dihadapkan

di depan Undang-Undang Kutaramanawa. Dengan ketulusan hati hamba

ingin mendapatkan hukuman supaya dengan demikian hamba segera

terbebas dari mimpi buruk rasa bersalah yang selalu menghantui

perjalanan hidup hamba. Bila hamba harus menghadapi hukuman mati,

hamba tidak akan menghindar seperti apa yang pernah dilakukan Sora

menghadapi tuntutan Lembu Taruna.”

Ratu Gayatri merasa dadanya agak sesak. Ratu Gayatri memberikan

tatapan matanya kepada Arya Tadah. Melalui tatapan mata itu Ratu

Gayatri meminta kepada Patih Amangkubumi itu untuk memberikan

jawaban. Arya Tadah yang tanggap pada sasmita segera merapatkan

kedua telapak tangannya. Gajah Mada memejamkan mata. Dalam

memejam Gajah Mada merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Namun, Gajah Mada menunggu giliran, akan berbicara setelah nanti

Mahapatih Arya Tadah bicara.

”Hamba mohon izin menyampaikan pendapat hamba, Tuan Putri,”

kata Arya Tadah.

”Silahkan, Paman,” jawab Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri.

Arya Tadah menyempatkan diri memperbaiki sikap duduknya

sebelum bicara. Juga menyempatkan menggerataki wajah Pradhabasu

dan Gagak Bongol bergantian. Arya Tadah juga menyempatkan

memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri.

”Menurut hamba,” Arya Tadah berkata. ”Keputusan yang diambil

mendiang Tuanku Sri Jayanegara sudah benar. Gagak Bongol hanya

bernasib sial karena berada di tempat yang salah, lalu mendengar

keterangan yang salah yang mendorongnya melakukan tindakan yang

salah. Letak kesalahan ada pada Singa Parepen si Bango Lumayang. Ia

yang bersalah karena berkhianat mengkhianati teman-temannya,

mengkhianati pasukan Bhayangkara. Akibat dari fitnah keji itu

menyebabkan Gagak Bongol mengambil tindakan yang pasti akan

dilakukan pula oleh Bhayangkara yang lain.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 185

Hening menggeratak. Arya Tadah menyempatkan memerhatikan

raut muka Pradhabasu dengan saksama.

Arya Tadah melanjutkan, ”Bongol bernasib sial karena terjebak

dalam permainan fitnah yang dilakukan telik sandi mata-mata pihak

musuh. Menurut hamba, keputusan Baginda Jayanegara sudah benar.

Terasa pahit sekali memang, tetapi apa boleh buat Pradhabasu harus

menerima keadaan itu.”

Semua menyimak pandapat Arya Tadah dengan cermat dan penuh

perhatian. Gajah Mada menunduk membenamkan tatapan matanya ke

bumi di depannya. Gagak Bongol sibuk menahan gejolak yang

mengaduk-aduk mengguncang isi dadanya. Akan halnya Pradhabasu,

raut mukanya yang datar tenang dan damai sangat bertolak belakang

dengan gugatan yang dilemparnya selama ini.

Mata Gagak Bongol terlihat merah.

”Gajah Mada, apa pendapatmu?” bertanya Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri.

Patih Daha Gajah Mada mengisi paru-parunya lebih dulu melalui

tarikan napas yang sedikit mengombak. Gajah Mada merapatkan telapak

tangannya dan oleh gejolak isi hatinya, ia berbicara masih tetap dengan

sikap itu. Betapapun isi pembicaraan di ruang khusus itu tidak

merangsang jantung Gajah Mada berpacu lebih kencang, apalagi sampai

berdebar-debar. Sungguh amat berbeda dengan sikap Pradhabasu dan

Gagak Bongol, bahkan Gajah Enggon. Orang yang paling tenang

menyikapi keadaan itu hanya Ratu Gayatri yang telah sempurna dalam

mengambil jarak terhadap hal-hal yang bersifat urusan duniawi.

Gajah Mada mempersiapkan diri menjawab.

”Hamba bisa memahami gejolak dan beban berat yang selama ini

diam-diam disangga oleh Adi Pradhabasu. Bukan karena hamba

sependapat dengan Paman Arya Tadah, namun pendapat hamba lebih

karena isi Undang-Undang Kutaramanawa. Tak ada satu pasal pun dalam

kitab itu yang bisa digunakan untuk menghukum Gagak Bongol.”

186 Gajah Mada

Lalu hening. Senyap tidak pernah berhenti mengalir, amat berbalikan

dengan upacara pemakaman yang berlangsung sebelumnya yang amat

ingar-bingar.

Angin semilir berembus lembut melalui jendela yang terbuka

membawa bau kemenyan dari pahoman. Meski hanya semilir, angin itu

mampu menggeser jendela untuk lebih terbuka. Semilir angin pula yang

menyebabkan daun-daun pisang bergoyang mobat-mabit bagai orang

melambaikan tangan perpisahan. Namun, seorang emban bertubuh

gemuk memiliki sumber keringat yang berlimpah dan tumpah ruah.

Emban yang duduk beristirahat di dingklik kayu di luar ruangan utama

itu sibuk berkipas diri. Semilir angin sama sekali tidak mampu meredakan

gerahnya. Emban itu benar-benar mandi keringat. Kenangannya

terhadap bagaimana Sri Jayanegara disemayamkan melalui pembakaran

layon menumbuhkan kesan yang begitu mendalam yang pada ujungnya

menjadi penyebab keringat terperas dari tubuhnya.

Emban gemuk itu, pusat perhatiannya tertuju kepada seorang bocah

yang oleh Pradhabasu dititipkan kepadanya. Bocah yang memiliki wajah

sangat khas itu pendiam sekali. Diajak berbincang dengan cara apa pun

tak mau menjawab. Diberi senyum tak digubris sama sekali, bahkan

beberapa jenis makanan yang disediakan untuknya sama sekali tidak

dilirik. Emban gemuk itu merasa agak kasihan. Ia merasa ngeri membayangkan

memiliki anak dengan keterbelakangan jiwa macam itu.

Ketika Gajah Mada akhirnya mengurai telapak tangannya yang

merapat dalam sembah adalah bersamaan dengan ketika Gagak Bongol

memulai melakukan hal yang sama. Ratu Rajapatni Biksuni yang tanggap

segera mengangguk memberi izin untuk berbicara.

”Hamba sangat menghargai pendapat Paman Tadah, hamba juga

menghargai pendapat Kakang Patih Daha. Akan tetapi, menurut hamba,

akan menjadi berbeda bila cara pandang itu diarahkan dari anak mendiang

Mahisa Kingkin yang telah hamba bunuh itu. Adi Pradhabasu tentu

sangat menghayati dan bisa mewakili perasaan anak itu yang pasti merasa

terlahir dari batu yang terbelah, tidak memiliki ayah dan ibu. Anak

peninggalan Adi Mahisa Kingkin itu tentu menganggap Adi Basu adalah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 187

ayah sekaligus ibunya. Seseorang dihukum bukan sekadar karena

kesalahan yang diperbuatnya, tetapi bisa dari ketidakhati-hatiannya.

Ketidakhati-hatian hamba menyebabkan Mahisa Kingkin mati di tangan

hamba. Ketidakhati-hatian hamba telah menyebabkan seorang

perempuan memilih mati lampus diri. Rangkaian sebab yang

menimbulkan akibat itu pun masih terus berlanjut. Sebagai akibat

ketidakhati-hatian hamba menyebabkan seorang bocah yang tidak tahu

apa-apa harus kehilangan orang tua, padahal kehilangan orang tua itu

mempunyai banyak arti dan tak sekadar seperti yang tampak. Namun

sungguh kehilangan banyak hal, antara lain hilang kesempatan untuk

tumbuh dan berkembang, kehilangan limpahan kasih sayang. Di mata

bocah itu, orang tuanya mati karena dibunuh dan hambalah tertuduhnya.”

Ruang yang sudah senyap itu menjadi tambah senyap. Gajah Mada

memejam mata, sejatinya tengah merenungkan kebenaran dari apa yang

diucapkan Bongol yang rupanya merupakan sisi-sisi yang belum

tertampung dalam Kitab Kutaramanawa.

”Hamba telah melakukan tindakan ceroboh, hamba tidak hati-hati

bertindak, hamba telah alpa. Sementara yang hamba lihat, untuk

kecerobohan yang menjadi penyebab matinya seseorang, ketidakhatihatian

dan alpa yang menyebabkan pihak lain amat dirugikan, hal-hal

yang demikian itu masih belum tercantum dalam Kitab Undang-Undang

Kutaramanawa.”

Ucapan Gagak Bongol itu rupanya mampu memberi kesan yang

mendalam di benak Gajah Mada. Gajah Mada mengerutkan kening dan

dengan lugas menampakkan apa yang sedang dilakukan, Gajah Mada

sedang berpikir keras. Apa yang disampaikan Gagak Bongol itu ia rasakan

kebenarannya bahwa masih ada hal-hal yang belum terangkum dalam

Kutaramanawa. Orang yang tidak sengaja melakukan sesuatu, tetapi

berakibat celakanya orang lain, dirugikannya orang lain, atau dirugikannya

kepentingan masyarakat luas, mestinya pelakunya dihukum.

”Oleh karena itu,” tambah Gagak Bongol dengan suara makin serak,

”Tuan Putri Ratu, hamba mohon untuk berkenan membuka kembali

188 Gajah Mada

peristiwa pembunuhan yang hamba lakukan itu dan berkenan

memberikan keadilan yang seadil-adilnya. Bila Tuan Putri Ratu Rajapatni

Biksuni berkenan memberikan hukuman mati, tidak akan hamba hindari

hukuman mati itu. Mungkin memang itulah cara penebusan yang bisa

menghapus mimpi buruk yang selalu membayangi hamba.”

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri memandang Gagak Bongol lebih

lekat seolah bahkan dengan mengelupas lapisan kulitnya untuk

mengetahui warna macam apa di balik kulit yang dikelupas. Ucapan

Gagak Bongol tidak hanya memberi jejak kesan yang mendalam di lubuk

hati Gajah Mada. Sebaliknya, Pradhabasu mengalami kesulitan untuk

meratakan warna permukaan wajahnya. Pradhabasu menunduk amat

dalam.

”Pradhabasu,” Ratu Gayatri berkata dengan suara lirih.

Pradhabasu sangat sibuk dengan diri sendiri. Itu sebabnya,

Pradhabasu tidak mendengar panggilan itu. Barulah ketika Pradhabasu

menengadah, ia terkejut melihat pandangan Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri tertuju kepadanya. Tidak hanya pandangan Ratu Gayatri, tetapi

juga pandangan Arya Tadah. Pradhabasu tersadar ada yang terlewat dari

perhatiannya. Bergegas Pradhabasu menyembah.

”Kau telah mendengar apa yang dikatakan Gagak Bongol.”

Pradhabasu masih dalam sikap menyembah dan tidak menurunkan

tangannya.

”Hamba, Tuan Putri,” jawabnya.

”Aku ingin mendengar apa tuntutanmu?” tanya Gayatri.

Pradhabasu membalas tatapan mata Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri

dengan tidak berkedip. Pandangan itu kemudian dialihkan ke permukaan

wajah Mapatih Arya Tadah serta dengan perlahan Pradhabasu

mengarahkan pandangan matanya kepada Gajah Mada. Setelah kembali

menyembah, Pradhabasu beringsut agar bisa bertatapan mata dengan

Gagak Bongol. Setelah sekian lama meninggalkan Bhayangkara, inilah

saatnya Pradhabasu berjumpa kembali dengan Gagak Bongol.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 189

”Katakan apa tuntutanmu, Pradhabasu,” berkata Ratu Gayatri.

”Apabila kauwakili anak Mahisa Kingkin, tuntutan apakah yang

kauajukan terhadap kecerobohan Gagak Bongol yang menjadi penyebab

kematian ayahnya?”

Pradhabasu memandang Gagak Bongol. Sebaliknya, Gagak Bongol

tak merasa segan untuk membalas tatapan mata itu. Jauh di dalam hati

Gagak Bongol terpendam kerinduan kepada sahabatnya, rindu bisa

bergaul sebagaimana dulu pernah bersama. Canda dan gurau itu tak

mungkin terjadi karena munculnya ganjalan yang membelah antara

mereka.

”Mohon izin untuk berbicara blak-blakan, Tuan Putri Ratu,” kata

Pradhabasu.

”Jika itu yang kau kehendaki, kau tidak perlu merasa sungkan! Dan,

sejak awal kau sudah aku minta berbicara blak-blakan,” jawab Ratu

Rajapatni Gayatri dengan suara amat tenang.

Pradhabasu mengangguk.

”Hamba tidak akan menempatkan diri mewakili keponakan hamba

menuntut agar dijatuhkan hukuman kepada Kakang Gagak Bongol.

Apabila bocah itu menuntut balas mungkin hamba akan menyampaikan

biarlah ia melakukan sendiri meski hamba yakin keponakan hamba tak

mungkin bisa melakukan. Dalam kesempatan ini hamba hanya ingin

mengajukan permohonan supaya Kakang Bongol membantu mengasuh

bocah itu, syukur-syukur kalau Kakang Bongol mau mengambilnya

sebagai anak. Itu permohonan hamba.”

Seketika ada desir aneh merampok ruang itu. Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri merasa aneh, demikian juga dengan Mapatih Arya Tadah yang

tua dan rambutnya telah memutih. Tuntutan yang diajukan Pradhabasu

sungguh terasa janggal, sama sekali berbalikan dengan tuntutan keras

yang diajukan semula sampai-sampai harus memilih keluar tak bergabung

lagi dengan pasukan Bhayangkara, pilih menjadi seorang petani

mengerjakan sawah dan ladang di luar dinding batas kotaraja.

Di tempatnya duduk bersila, Patih Daha Gajah Mada mengerutkan

keningnya. Gajah Mada sibuk berpikir keras berusaha mengetahui karena

190 Gajah Mada

alasan apa Pradhabasu mengajukan permohonan aneh dan ganjil macam

itu. Namun, Patih Daha Gajah Mada memilih diam. Gajah Mada memilih

menunggu apa kata Pradhabasu selanjutnya. Di tempatnya duduk bersila,

Senopati Gajah Enggon merasa kakinya mulai kesemutan. Beberapa

kali Gajah Enggon mencuri kesempatan mengurutnya menggunakan

tangan kanannya.

”Sejak awal kita membicarakan keponakanmu, siapa sebenarnya

nama bocah itu, Basu?” bertanya Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri.

Pradhabasu merapatkan dua telapak tangannya.

”Sang Prajaka, Tuan Putri.”

Rajapatni mengerutkan dahi.

”Sang Prajaka?”

Pradabasu mengangguk.

”Nama yang bagus. Di mana bocah itu sekarang?”

”Bocah itu tak pernah jauh-jauh dari hamba, Tuan Putri. Saat ini

pun tak jauh dari hamba. Hamba menitipkan Prajaka pada seorang

emban yang masih kenal baik dengan diri hamba.”

Ratu Gayatri tak mengalihkan pandangan matanya, amat lurus dan

bahkan tak berkedip. Pandangan matanya beralih kepada Gagak Bongol.

”Jauh lebih berat dari hukuman mati, Gagak Bongol,” berkata Ratu

Rajapatni Biksuni Gayatri sambil tersenyum.

Akan tetapi, wajah Gagak Bongol dilibas oleh bingung yang luar

biasa. Gagak Bongol mengalami kesulitan menyikapi permintaan yang

sama sekali tidak diduganya itu. Masih dengan pandangan macam itulah

Gagak Bongol dengan perlahan mengalihkan pandangan matanya

kepada Ratu Gayatri. Akan tetapi, Gagak Bongol kehilangan kata-kata.

Tak satu kalimat pun keluar dari mulutnya.

”Apakah anak peninggalan Bhayangkara Mahisa Kingkin itu saat

ini juga kaubawa?” tanya Rajapatni Gayatri.

Pradhabasu yang menyembah itu mengangguk.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 191

”Hamba, Tuan Putri. Prajaka saat ini berada di luar. Hamba

menitipkan kepada seorang emban.”

”Bawalah masuk. Aku ingin melihat seperti apa wujudnya.”

Pradhabasu beringsut mundur sambil merapatkan kedua telapak

tangannya. Ia lakukan itu hingga pada jarak yang dirasa pantas untuk

berdiri dan dilanjutkan dengan melangkah mundur.

Di halaman luar, bocah remaja yang sedang bermain dengan anganangannya

segera menghambur melihat Pradhabasu. Di ruang pergaulan

yang demikian terbatas oleh keterbatasan yang dimiliki bocah remaja

itu, hanya Pradhabasu orang yang dikenalnya dan merupakan satusatunya

orang yang memberinya rasa aman dan tidak akan membiarkan

siapa pun mengganggunya. Pradhabasu melambaikan tangan kepada

emban gemuk yang telah menolongnya menjaga remaja itu, yang dibalas

dengan cara serupa dan malah ditambahi oleh senyum yang berlepotan.

Memang selalu demikian sikap emban gemuk itu bila berhadapan dengan

orang yang cocok di hatinya, sesuai hasrat dan angan-angannya sebagai

seorang gadis yang bermimpi tentang indahnya hidup bersama dengan

seorang suami, merajut jala asmara di mahligai rumah tangga. Emban

gemuk yang masih gadis itu mulai cemas dengan usianya yang terus

merayap, namun masih juga belum menemukan jodohnya.

Pandangan mata Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri jatuh ke wajah

Sang Prajaka yang selalu bergayut di lengan Pradhabasu. Desir amat

tajam mengombak dalam dada Gagak Bongol manakala melihat wujud

raut muka anak keturunan Mahisa Kingin yang telah mati di tangannya.

Senopati Gajah Enggon berusaha untuk tak larut, sementara Patih Daha

Gajah Mada manggut-manggut.

”Sang Prajaka,” Ratu Rajapatni memanggil.

Bocah remaja yang memiliki wajah amat khas itu, raut muka yang

dengan lugas menunjukkan cacat jiwa keterbelakangannya sama sekali

tidak menanggapi panggilan itu. Bocah itu mengarahkan pandangan

matanya ke satu titik dan tak pernah beranjak. Tanduk sepasang

menjangan yang menghiasi dinding menjadi perhatiannya.

192 Gajah Mada

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri amat maklum. Yang menyebabkan

Pradhabasu sangat terkejut adalah ketika Ratu Rajapadani turun dari

dampar tempat duduknya. Melihat apa yang dilakukan Ratu Gayatri, Patih

Arya Tadah bergegas bangkit mendampinginya. Ratu Gayatri mendekat

yang ternyata menyebabkan Prajaka memandangnya dengan tatapan

mata paling aneh. Pradhabasu bergegas memeluk bocah remaja itu,

memberikan kepadanya ketenteraman.

”Jangan takut,” berkata Ibu Ratu Rajapatni dengan amat sejuk.

Perbawa yang dimiliki Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri benar-benar

luar biasa, bahkan Pradhabasu tercengang melihatnya karena seingat

Pradhabasu itulah pertama kalinya Sang Prajaka tidak menolak ketika

seseorang berniat berakrab-akrab. Prajaka tidak menolak ketika Ibu Ratu

meraih dan memeluknya, menyebabkan Pradhabasu menjadi salah

tingkah, apalagi keadaan bocah itu dan pakaian yang dikenakan sangat

dekil dan kotor, baunya juga tidak enak di hidung.

Dengan berdiri dan menatap Gagak Bongol, Ratu Rajapatni Gayatri

mempersiapkan diri berbicara.

”Pantaslah Pradhabasu mengatakan bocah ini tidak akan mampu

mengajukan tuntutan. Aku sependapat dengan Pradhabasu, keterbelakangan

Prajaka memang tidak mampu mengajukan tuntutan. Bahkan

karena keterbelakangannya, Prajaka tidak akan memahami arti kematian

ayah dan ibunya. Itu sebabnya, amat pantas dan sepadan apabila

Pradhabasu mengajukan tuntutan macam itu kepada Gagak Bongol.”

Gagak Bongol yang merapatkan tangannya dalam sikap menyembah

sedang berada di puncak kebingungannya. Gagak Bongol akan bicara,

tetapi tak satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya.

”Bagaimana, Gagak Bongol? Kalimat balasan macam apa yang

kausiapkan menjawab tuntutan yang diajukan Pradhabasu? Kalau kau

merasa tak mampu, dengan senang hati aku akan mewakilimu memungut

bocah ini sebagai anakku.”

Gugup Gagak Bongol menyembah.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gagak Bongol. ”Apa yang menjadi

permintaan Adi Pradhabasu menurut hamba bukan sebuah hukuman,

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 193

tetapi merupakan anugerah tiada tara. Dengan senang hati hamba akan

menganggap Prajaka sebagai anak hamba. Hamba akan mengasihi

Prajaka dengan sepenuh hati.”

”Meski keadaan bocah itu seperti itu?” balas Ratu Gayatri.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gagak Bongol mantap.

Senyum Ratu Gayatri berlepotan teka-teki.

”Mengasuh Sang Prajaka jauh lebih sulit daripada bertarung

melawan musuh, dan Pradhabasu telah berhasil melaksanakan tugas itu

dengan amat baik. Kelak kita akan melihat apakah Gagak Bongol akan

bisa memerankan tugasnya sebagai seorang ayah dan sekaligus ibunya,

atau gagal.”

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri tersenyum, dan ia satu-satunya yang

berhasil tersenyum di ruangan itu. Arya Tadah tidak mampu mengalihkan

pandangannya dari wajah Sang Prajaka sambil berusaha keras

menemukan keyakinan, benarkah Gagak Bongol menganggap hal itu

sebagai anugerah. Bukan pekerjaan yang gampang untuk mengasuh

bocah yang memiliki cacat jiwa macam itu.

Padahal, Gagak Bongol benar-benar menganggapnya sebagai

anugerah. Sekian tahun Gagak Bongol dibayangi rasa bersalah, kali ini

tiba-tiba mendapat kesempatan untuk menebus kesalahan itu dengan

memungut keturunan Mahisa Kingkin sebagai anak meski keadaan bocah

itu tidak waras, cacat pada jiwanya.

Bhayangkara Gagak Bongol beringsut mendekat dan memerhatikan

keadaan Sang Prajaka dengan lebih cermat. Yang tampak di matanya

tak hanya wujud bocah itu yang memang menyedihkan, namun lebih

jauh terlihat jelas betapa berat beban yang disangga Pradhabasu dalam

mengasuhnya, mengerjakan sebuah tugas yang mestinya bukan tugasnya

karena orang yang memiliki kewajiban mengerjakan tugas itu telah

tumpas dirampas hidupnya. Gemetar Bhayangkara Gagak Bongol

beringsut makin mendekat sambil menjulurkan tangannya. Gagak

Bongol bermaksud berakrab-akrab dengan bocah itu. Namun, yang tak

diduga oleh Gagak Bongol adalah apa yang dilakukan Sang Prajaka,

194 Gajah Mada

yang tiba-tiba mengayunkan tangannya mencakar wajahnya. Gagak

Bongol terhenyak amat kaget.

”Gila,” Gagak Bongol meletupkan umpatannya dalam hati.

Gajah Mada terkejut. Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri tersentak,

demikian pula dengan Mahapatih Arya Tadah. Senopati Gajah Enggon

terhenyak kaku, terperangah oleh kejadian yang tak terduga itu. Gagak

Bongol yang tidak menyangka hal itu akan terjadi merasakan perih di

kulit wajahnya. Di antara rasa kaget dari semua yang hadir, hanya

Pradhabasu yang tak kaget. Pradhabasu seorang yang tersenyum, amat

lugas senyum yang ia umbar tanpa tedheng aling-aling. Pradhabasu yang

amat mengenal bagaimana perilaku keponakannya tidak kaget lagi bocah

itu sanggup melakukan hal itu.

Gagak Bongol merasa kebenaran apa yang dikatakan oleh Ratu

Rajapatni Biksuni Gayatri, setidaknya demikian Gagak Bongol mendadak

merasa, bertempur melawan musuh mungkin jauh lebih mudah dari

upaya menguasai bocah itu.

Bekas Bhayangkara Pradhabasu yang merasakan bagaimana sulitnya

mewarisi tugas yang ditinggalkan mendiang adik kandung dan sahabat

akrabnya tentu tak akan bisa melupakan hari-hari yang amat sulit itu.

Prajaka memiliki cacat jiwa, lasak, dan terus bergerak. Adakalanya ia

berbicara seperti burung tanpa henti, tetapi juga bisa membeku seperti

batu, bergantung bagaimana suasana warna hatinya. Jika hatinya sedang

tidak tenang, Prajaka tidak mengenal rasa sakit dengan kecenderungan

melukai diri sendiri. Dalam menghadapi sakit, Sang Prajaka tak pernah

menangis seolah mati rasa terhadap rasa sakit dalam bentuk apa pun.

Luka berdarah tak menyebabkan bocah itu menangis, raut muka Sang

Prajaka bahkan dengan lugas menunjukkan bagaimana ia terheran-heran

melihat munculnya benda cair berwarna merah dari tubuhnya. Rasa heran

itu bahkan berujung pada niat untuk melukai lagi. Maka betapa pontangpanting

Pradhabasu mencegah niat bocah remaja itu dan berusaha

meyakinkan apa yang ia lakukan itu sangat berbahaya.

Benar kata Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri, mengasuh Prajaka

bisa lebih sulit dari bertempur di medan perang. Mengasuh Sang Prajaka

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 195

jauh lebih sulit dari melaksanakan tugas sehari-hari sebagai Bhayangkara.

Jenis pekerjaan berat itu mestinya tak perlu ada jika orang tua kandungnya

masih hidup. Kasih sayang yang tulus dan hanya bisa diberikan orang

tua kandung merupakan jawaban terhadap keadaan cacat jiwa itu. Akan

tetapi, Gagak Bongol memang telah berketetapan hati akan menebus

kesalahannya. Apabila benar Pradhabasu akan menyerahkan bocah itu,

Gagak Bongol merasa telah siap lahir dan batin menerimanya.

Tak jelas apa sebenarnya yang mengusik benak Sang Prajaka. Remaja

itu menggeram, matanya jelalatan liar, dan memeluk leher Pradhabasu

dengan sangat erat. Pradhabasu berusaha keras menenangkannya. Hanya

pelukan yang diberikan Pradhabasu yang merupakan obat paling mujarab

menenangkan remaja itu. Karena hanya sejenak kemudian, terbukti Sang

Prajaka kembali tenang.

”Tuan Putri,” Pradhabasu memecah keheningan sambil merapatkan

masing-masing telapak tangannya dalam sikap menyembah.

Ratu Rajapatni Biksuni yang kembali duduk memberinya

kesempatan untuk berbicara melalui isyarat tangannya.

”Hamba merasa keperluan hamba menghadap kali ini telah

terwadahi. Oleh karena itu, hamba mohon izin meninggalkan pertemuan

ini,” berkata Pradhabasu.

Dari tempat duduknya, Patih Daha Gajah Mada merasa desir tajam

merayapi permukaan jantungnya. Patih Daha Gajah Mada benar-benar

tidak mengira Pradhabasu bersungguh-sungguh dengan niatnya

menyerahkan Prajaka kepada Gagak Bongol. Demikian juga Mahapatih

Amangkubumi Arya Tadah, menyimpan perasaan serupa dengan Gajah

Mada. Untuk beberapa saat Ratu Biksuni Gayatri terdiam tak berbicara.

Dengan berpamitan seperti itu, Pradhabasu benar-benar mengabaikan

tawaran yang ia berikan untuk kembali bergabung dan mengabdi menjadi

bagian dari pasukan yang pernah ditinggalkannya, Bhayangkara.

Di tempat duduknya Gagak Bongol kebingungan dalam upayanya

menerka, bagaimana warna hati Pradhabasu yang sebenarnya.

Ketika semua yang hadir di ruang itu merasa persoalan yang diajukan

Gagak Bongol masih belum tuntas, sikap Ratu Gayatri tak kalah

mengagetkan. Ratu Gayatri tersenyum dan malah mengangguk.

196 Gajah Mada

”Silakan, Pradhabasu, aku izinkan kau meninggalkan tempat ini,”

jawab Ratu Gayatri.

Arya Tadah, Patih Daha Gajah Mada, Senopati Gajah Enggon,

dan Bhayangkara Gagak Bongol sendiri, semua dilibas pesona sihir saat

sebelum beringsut meninggalkan ruang pertemuan itu Pradhabasu

menyempatkan memeluk Sang Prajaka. Dipeluknya bocah itu dengan

erat, dibusainya kepala Prajaka dengan penuh penghayatan dan perasaan.

Terlihat sangat lugas betapa sebenarnya Pradhabasu mengalami kesulitan

berpisah dari keponakannya.

Merinding Gajah Mada melihat bocah remaja bernama Prajaka itu

kebingungan dan agaknya dililit cemas yang luar biasa bakal berpisah

dari orang yang selama ini memberikan cinta dan perlindungan

kepadanya.

Akhirnya, Pradhabasu merasa telah tiba waktunya melepas pelukan

Prajaka. Tanpa banyak bicara dan dengan wajah yang membeku

Pradhabasu beringsut mundur menuju pintu. Setelah menyembah

diarahkan kepada Ratu Gayatri, Pradhabasu berdiri dan membuka pintu.

Ketika Pradabasu telah berada di luar adalah bersamaan dengan suara

meraung yang amat dikenali. Seperti binatang, Prajaka melolong

meneriakkan kecemasannya. Sang Prajaka yang tiba-tiba mampu berpikir,

didorong oleh rasa cemas terhalang oleh pintu yang telah tertutup, sebuah

pintu yang tebal yang ia tidak tahu bagaimana cara membukanya.

Namun, Pradhabasu memang telah bulat dengan rencana yang telah

dirancang. Untuk sebuah tugas yang ia bebankan di pundak sendiri,

Pradhabasu membutuhkan keleluasaan gerak sambil memberi pelajaran

kepada Gagak Bongol. Menghadapi musuh di medan pertarungan

memang jauh lebih mudah daripada menghadapi Sang Prajaka.

Pradhabasu yakin Gagak Bongol tidak akan mampu menghadapi bocah

itu.

Saat Pradhabasu menyusur lorong di samping kanan, emban

bertubuh gemuk yang telah menolong menjaga Prajaka menghadangnya.

”Mana bocah itu?” bertanya emban itu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 197

”Kau tak perlu repot lagi,” Pradhabasu menjawab. ”Aku telah

menitipkannya kepada orang yang tepat.”

Emban itu mencuatkan alisnya, wajahnya agak janggal karena

perempuan itu sebenarnya tak memiliki alis. Rambut alisnya hanya

beberapa helai saja.

”Siapa orang yang tepat itu?” tanya emban gemuk itu.

”Gagak Bongol.”

Emban itu terkejut.

”Gagak Bongol?” ulangnya.

”Ya, kenapa?” balas Pradhabasu.

16

Matahari memanjat makin tinggi dan cemerlang. Demikian garang

matahari memberikan sinarnya hingga nyaris tak ada satu jengkal pun

wilayah Wilwatikta yang luput darinya. Panas terik itu pula yang

menyebabkan Karpa pilih bertelanjang dada sambil berjalan mondarmandir

dengan pandangan mata tertuju pada rumah yang ia jaga. Lalu

oleh alasan yang lain, demi upah yang diterimanya, Karpa berubah

menjadi anjing yang dengan galak akan menyalak apabila ada orang yang

akan melangkahi wilayahnya, menjadikan Karpa bukan lagi Karpa.

Setidaknya perubahan yang terjadi hanya dalam semalam sangat

mengagetkan, batas antara Karpa kemarin dan Karpa hari ini sungguh

sangat berbeda.

198 Gajah Mada

Pedukuhan Daleman berada pada jarak antara Antawulan dan

Jombang yang bisa ditempuh tidak lebih dari seperdelapan hari dengan

berkuda. Berada di tepi jalan utama yang menghubungkan dengan

Kabuyutan Mojoagung dan melintasi Majasari serta Majawarna. Di sudut

jalan yang menikung Karpa tinggal. Dulu Karpa hidup dengan istri dan

seorang anaknya, tetapi kini Karpa hidup sendiri.

Dengan jalan hidupnya yang menyedihkan macam itu para tetangganya

merasa kasihan. Silih berganti mereka datang menghibur agar

Karpa tidak merasa kesepian. Seperti bersepakat, para tetangga

mencukupi apa yang ia butuhkan. Hal itu dilakukan karena Karpa terbukti

telah berniat nglalu,156 yang untung ketahuan dan dapat diselamatkan.

Karpa telah kehilangan semangat hidup. Ia tak bergairah dan tak mau

melakukan apa pun. Cinta yang terbawa mati istri dan anaknya

menyebabkan Karpa tidak lagi melihat untuk apa harus hidup.

Para tetangga, terutama Banjar dan istrinya menghibur, menyemangatinya,

mengajaknya melakukan banyak hal mulai dari sekadar

berbincang sampai mengolah sawah kembali. Akhirnya, ketika waktu

berlalu rona wajah Karpa kembali memerah. Tubuh kurusnya kembali

berkeringat. Keramahannya kembali muncul dan hidup kembali setelah

sekian lama ia lebih senang membungkam diri.

Namun, kali ini perubahan yang terjadi pada Karpa terasa aneh,

janggal, dan menyakitkan. Banjar merasa Karpa memang tak tahu diri.

Apa yang dilakukan Karpa juga terasa aneh bagi beberapa orang tetangga

dekatnya. Siapa pun tahu Karpa orang yang tidak pelit. Ia akan

mempersilakan siapa pun yang akan mengambil sayuran yang tumbuh

liar di pekarangannya. Dengan senang hati Karpa akan mempersilakan

mereka yang akan memetik kelapa atau mengambil buah nangka. Akan

tetapi, kali ini Karpa benar-benar membuat para tetangga terheran-heran.

Karpa yang dihadapi seperti bukan Karpa yang mereka kenal. Karpa

yang baik telah berubah menjadi Karpa yang amat jahat.

”He, mau ke mana kamu?” Karpa menghardik ketika Banjar

melintas halaman dan masuk ke pekarangannya.

156 Nglalu, Jawa, bunuh diri

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 199

Banjar kaget. Padahal ia, Banjar.

”Aku butuh beberapa rebung!” jawab Banjar.

”Tidak boleh! Bukankah kau sendiri punya di pekaranganmu?”

garang Karpa menjawab.

Banjar terkejut. Kekagetannya melebihi mendadak dipatuk ular.

Bahkan lebih mengagetkan dari ledakan petir yang menyalak ketika langit

demikian bersih tak ada selembar mendung sekalipun. Pesonanya

menyebabkan mulut Banjar terbungkam.

Belum lagi Banjar merasa yakin, Karpa menghardiknya, ”Pergi

sana.”

Banjar mengayun langkah menjauh seperti bukan kehendak yang

berasal dari kedalaman otaknya, alisnya mencuat dan keningnya

mengerut. Rasa penasaran dan kecewa yang mendalam menyertai langkah

kakinya yang terayun pulang. Istrinya yang tengah hamil memandangnya

dengan bingung.

”Baru kemarin aku membantunya membenahi pawonnya yang

miring akan ambruk, aku bahkan menyumbang beberapa batang bambu.

Ia belum sempat mengucapkan terima kasih, ehhh, kini istriku butuh

rebung, ia menghardikku seolah aku ini pengemis. Keterlaluan Kang

Karpa. Benar-benar keterlaluan dia.”

Belakangan ketika Banjar mulai tenang dan justru mampu berpikir,

dengan segera rasa heran itu beranjak menuju ke rasa tersinggung yang

memancing datangnya amarah. Istrinya yang sedang sibuk di dapur

terkejut melihat wajah suaminya yang tertekuk berlipat-lipat. Matanya

melotot akan lepas dari kelopaknya.

”Ada apa?” tanya Murti.

Banjar tak mampu berkata apa pun. Banjar memerlukan mengisi

tenggorokan dengan minum air dari kendi. Dituangkannya air dari kendi

itu langsung ke mulut tanpa putus sampai berlepotan di sekujur tubuhnya.

Mendidih hatinya terbaca dari raut mukanya yang berubah menjadi

berangasan. Dalam kemarahannya sebenarnya Banjar butuh penyaluran,

namun Banjar tak tahu bagaimana cara melampiaskan.

200 Gajah Mada

Dulu ketika masih bujang, bila dilibas amarah Banjar bisa

menyalurkan melalui membanting apa saja, membanting pintu atau

membanting peralatan dapur yang terbuat dari gerabah. Akan tetapi,

sejak ia beristri cara menyalurkan amarah macam itu harus dikendalikan.

Ia tidak ingin tampak sebagai suami yang buruk di mata istrinya.

Demikian besar cinta Banjar kepada istrinya menyebabkan ia harus rela

melepas beberapa kebiasaan buruk, seperti kegemarannya minum tuak

bahkan bermain dadu. Cinta Murti kepadanya dan demikian pula

sebaliknya menyebabkan Banjar mengubah diri habis-habisan. Murti

merasa suaminya adalah suami paling baik di dunia, benar-benar suami

yang layak ia banggakan. Banjar merasa senang istrinya beranggapan

seperti itu.

”Kenapa, Kang?” Murti kembali bertanya. ”Apa yang menyebabkan

Kang Banjar demikian marah?”

Banjar duduk di dingklik panjang. Itulah satu-satunya tempat duduk

yang ada di dapur sederhana yang warnanya dikuasai serba hitam karena

pekat jelaga. Napasnya mengayun bagai ombak laut selatan yang bergerak

susul-menyusul. Banjar mengalami kesulitan untuk menenangkan diri.

”Kang Karpa tidak tahu diri,” jawabnya setelah amat bersusah

payah.

Murti terkejut. Ia amat mengenal pergaulan suaminya dengan Karpa,

tetangga sebelahnya. Hubungan itu demikian dekat melebihi hubungan

tetangga atau sahabat.

”Aku benar-benar tak habis mengerti, Kang Karpa akan bisa

bersikap seperti itu. Kurang apa aku selama ini? Jika ia tidak makan kita

mengirimi makan. Kemarin aku menyumbang tenaga membantunya

membenahi pawonnya yang nyaris ambruk dengan perasaan ikhlas.

Ketika anak istrinya mati disambar petir di sawah, aku yang menolongnya

menguburkan. Ketika di hutan ia nyaris diserang macan, akulah yang

cancut taliwanda157 menolong, ketika musim paceklik kemarin ia tak punya

apa-apa, aku juga yang menolong. Kini, giliran kita butuh rebung, ia

157 Cancut taliwanda, Jawa, mengambil tindakan, berbuat dan mengatasi

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 201

menghardik aku seperti menghardik anjing. Mau ke mana kamu, aku

jawab aku butuh rebung. Ia mengusirku, pergi, pergi sana jangan dekatdekat

rumahku.”

Murti segera mengerutkan kening sambil mengelus perutnya yang

telah berisi calon jabang bayi berusia enam bulan. Perutnya cukup besar

untuk usia kehamilannya itu.

”Kang Karpa berubah seperti itu?”

Napas Banjar mengayun.

”Ya,” jawabnya. ”Keracunan pohung pandesi158 orang itu.”

”Ya sudah, kalau tak boleh, bukankah kita sebenarnya juga bisa

memperoleh dari pekarangan kita sendiri. Rebungnya tidak berasal dari

jenis bambu petung tidak apa-apa asal rebung,” kata Murti.

Pawon itu menjadi senyap, hening, dan hitam. Langes159 berasal dari

perapian melekat di semua benda. Pada bagian atap hitamnya bahkan

melebihi pantat wajan. Asap dari kayu yang menyala terasa pedih di

mata. Akan tetapi, perhatian Banjar dan istrinya tetap terpusat pada

tetangganya.

”Tidak ada gunanya aku bertetangga dengan Kang Karpa. Akan

aku balas apa yang diperbuatnya. Jangan dikira aku tidak bisa melakukan

hal yang sama.”

Makin mencuat alis Murti.

”Tetapi, kenapa Kang Karpa berubah seperti itu. Tentu ada

sebabnya, jangan-jangan kamu melakukan perbuatan yang menyebabkan

ia kesal seperti itu,” berkata Murti.

”Aku memikirkannya sejak tadi,” suaminya membalas. ”Aku sudah

berusaha mengingat-ingat, tetapi tak ada perbuatanku yang pantas

menjadi penyebab Kang Karpa berbuat seperti itu. Terakhir kemarin

aku bahkan masih guyonan dengan orang itu.”

158 Pohung pandesi, Jawa, jenis ketela pohon yang sangat beracun

159 Langes, Jawa, jelaga

202 Gajah Mada

Murti menyentuh telapak tangan suaminya dan membawanya

mengelus-elus perutnya yang besar. Apa yang dilakukan Murti itu dengan

telak melarutkan amarah suaminya. Murti yang mendekat dan

menempatkan diri ke pelukan suaminya menjadi pemicu jebolnya tanggul

kemarahan. Bagaimanapun ada sebuah pertanyaan yang belum tersedia

jawabnya. Banjar tak yakin sahabatnya bersikap demikian tanpa ada

sebabnya. Pasti ada penyebabnya.

Suara ketukan di pintu rumahnya mendorong Banjar bangkit. Murti

bergegas mengintip.

”Siapa?” tanya Banjar.

”Ini aku, Wilang,” terdengar jawaban.

”Ke dapur saja,” jawab Murti.

Banjar dan istrinya terheran-heran melihat wajah Wilang yang merah

padam. Segera Banjar dan istrinya saling lirik bertukar pandang. Ketika

Banjar merasa butuh menyalurkan kemarahannya, bagai tersita gelegak

dadanya melihat Wilang, tetangga sebelah juga yang juga dalam keadaan

sebagaimana dirinya.

”Ada apa?” tanya Murti.

Napas Wilang tersengal. Laki-laki yang masih muda, bertubuh hitam

legam itu wajahnya benar-benar tertekuk-tekuk berlipat, matanya

memerah tanda tengah meredam marah. Wilang ternyata mengalami

kesulitan menjawab pertanyaan Murti yang sebenarnya pertanyaan

sederhana itu.

”Kamu kenapa, Wilang?” tanya Banjar. ”Kamu keracunan bunga

kecubung atau bagaimana?”

”Aku akan membunuh orang.”

Betapa terperanjatnya Banjar sebagaimana istrinya yang tak kalah

kaget. Banjar sampai lupa pada kemarahannya sendiri.

”Apa?” balas Banjar.

”Aku mau bunuh orang. Kuminta Kang Banjar menjadi saksi atas

apa yang akan aku lakukan. Aku benar-benar marah dan akan membunuh

orang.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 203

”Siapa yang akan kaubunuh?” tanya Banjar lagi.

Kembali Wilang tersengal-sengal. Dengan serakah ia menenggak

air kendi yang diserahkan Murti kepadanya. Wilang tak cukup minum

air kendi itu, tetapi juga mengguyurkan ke kepalanya sampai basah kuyup

seperti orang mandi. Dengan apa yang dilakukan itu, Wilang merasa

gemuruh dadanya agak mereda.

”Kamu akan berurusan dengan Kitab Kutaramanawa,” Banjar

mengingatkan.

”Aku tidak peduli. Aku tak takut menghadapi Kutaramanawa. Aku

tak takut dihukum penjara seumur hidupku asal aku membunuh orang

itu.”

Banjar menggeleng, matanya makin tajam membalas tatapan mata

Wilang yang nyaris lepas dari kelopaknya. Bila Wilang tak mampu

mengendalikan diri, boleh jadi akan lepas bulatan mata itu dari

kelopaknya.

”Kamu akan membunuh Kang Karpa?” tanya Murti tiba-tiba.

Pertanyaan Murti itu mengagetkan Wilang sekaligus mengagetkan

suaminya.

”Hah, kok tahu kalau aku akan membunuh Karpa?”

Murti termangu diam di sebelah suaminya yang terbelalak. Mulut

Banjar terbuka dengan raut muka yang mewakili kekagetannya.

”Kamu akan bunuh Kang Karpa?”

”Ya,” jawab Wilang tegas.

”Aku setuju,” jawab Banjar. ”Bunuh saja orang itu, kemaki 160dan

sombong. Kalau kamu berniat membunuhnya, bunuh saja. Aku setuju,

aku juga ingin merobek mulutnya. Ayo lakukan saja, kudukung.”

Banjar bersemangat dalam memberi dukungan, sikapnya yang

demikian malah mengagetkan Wilang. Wilang yang ternyata marahnya

lebih cepat mereda duduk di dingklik, menempatkan diri menyebelahi

160 Kemaki, umpatan Jawa, tak tahu diri

204 Gajah Mada

Banjar. Ruangan itu tebungkam sejenak ketika masing-masing merasa

ada yang janggal, ada yang tidak pada tempatnya.

”Ada apa dengan Kang Karpa?” Banjar berbisik lunglai.

Wilang menoleh menyerahkan raut wajahnya.

”Jadi, kamu juga sedang marah kepada Kang Karpa?” tanya Wilang.

”Ya,” jawab Banjar.

”Kalau kamu, apa sebabnya?”

Dengan singkat namun jelas, Banjar menceritakan bagaimana sikap

tetangga sebelah itu kepadanya.

”Aku berusaha keras mencari jawabnya, caranya dengan mencari

kesalahanku. Rupanya bukan hanya aku yang diperlakukan tidak

manusiawi. Kamu juga.”

”Ya. Aku juga,” jawab Wilang.

”Kalau kau, kenapa? Penyebabnya apa?”

”Aku berniat pinjam garu161 dan singkal.162 Aku harus menyiapkan

sawahku untuk ditanami. Aku yang sudah telanjur masuk ke dalam

rumahnya dihardik, diumpat, dan didorong-dorong keluar, diusir dari

pagar rumahnya. Kalau aku berani masuk lagi ke halamannya, ia

mengancam akan meludahiku.”

”Begitu?”

”Ya.”

Lalu hening. Semua penasaran, sulit memahami. Perubahan sikap

dan perilaku Karpa benar-benar terlampau mengagetkan.

”Ada apa sebenarnya?” Murti berdesis.

Lagi-lagi ternyata bukan hanya Banjar dan Wilang yang dikagetkan

oleh sikap Karpa yang berubah. Melihat Banjar dan istrinya sedang

161 Garu, Jawa, alat meratakan tanah setelah dibajak

162 Singkal, Jawa, alat untuk membajak tanah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 205

berbincang dengan Wilang, Dwarastha yang melintas di jalan depan

rumah mereka segera membelok. Akan tetapi, berbeda dengan Banjar

dan Wilang, Dwarastha memiliki jawaban meski terasa masih samar.

”Kalian kaget oleh sikap Karpa?” tanya Dwarastha langsung pada

persoalan.

Banjar dan Wilang kaget.

”Ya,” jawab mereka serentak.

Murti memerhatikan dua mata Dwarastha. Murti mengira

Dwarastha sedang mengarahkan pandangan mata kepadanya, ternyata

tidak. Pandangan mata Dwarastha ternyata tertuju kepada Banjar. Mata

yang tidak searah itu memang membingungkan.

”Ada orang yang bersembunyi di rumah Karpa. Itu yang

menyebabkan Karpa berubah. Karpa harus melindungi orang itu dari

siapa pun.”

Banjar dan Wilang terbelalak. Hening terjadi sedikit lebih lama.

”Siapa yang disembunyikan Kang Karpa?”

”Aku tak tahu,” jawab Dwarastha. ”Aku tertarik ingin mengetahuinya

karena mendengar bayi menangis. Aku penasaran bayi siapa

yang menangis keras di rumah Kang Karpa itu. Tetapi aku diusir, dimakimaki

dituduh tak tahu diri mengintip rumah orang. Aku bahkan dilempar

batu mengenai kakiku. Sampai sekarang belum sembuh. Kalau ada

kesempatan akan kubalas dengan nyrampang163 kakinya menggunakan

kayu yang besar.”

Banjar yang meraba dada nyaris lupa dengan amarahnya, pun Wilang

dengan semangat membunuh telah lupa dengan kesumat amarahnya.

Yang tersisa sekarang tinggal rasa heran, rasa ingin tahu yang amat besar

terhadap siapa sosok yang sedang bersembunyi di rumah Karpa. Bayi

siapa yang menangis, seperti apa wajahnya?

”Kausempat tahu, orang yang bersembunyi di rumah Kang Karpa?”

163 Nyrampang, Jawa, melempar dengan senjata

206 Gajah Mada

”Tidak, aku hanya menduga dia perempuan. Bayi yang menangis

itu anaknya. Mungkin selain perempuan itu ada lelaki lain yang juga

bersembunyi, aku tak tahu.”

Banjar berpikir keras, terlihat itu dari keningnya yang mengerut

dan tatapan matanya yang jatuh ke satu arah, apalagi Banjar melengkapinya

dengan melekatkan telunjuk ke kening. Banjar jelas berpikir

dengan isi keningnya, sama sekali berbeda dengan Wilang yang mengeluselus

dengkul. Wilang memang tidak sedang berpikir, meski ia penasaran.

”Orang yang bersembunyi itu yang memaksa Kang Karpa berubah

sikapnya?” ucap Banjar.

”Ya,” jawab istrinya. ”Aku yakin begitu. Mungkin karena upah atau

mungkin karena ancaman, atau mungkin pula secara suka rela Kang

Karpa melakukan, misalnya memang karena niat melindungi.”

”Terus, apakah ada hubungannya dengan apa yang saat ini terjadi

di istana?” tambah Banjar yang keluar dari mulutnya seperti begitu saja.

Apa yang dilontarkan Banjar menyebabkan Wilang njondil, kaget!

Akan tetapi, dengan segera Banjar membantah sendiri kemungkinan

macam itu. Apa yang terjadi kali ini bukan peristiwa sembilan tahun

yang lalu, peristiwa getir yang memang tak mungkin dilupakan. Para

prajurit yang berubah menjadi perampok menguras isi rumahnya dengan

dalih mencari Jayanegara.

Padahal beberapa saat sebelumnya, dengan riuh Banjar bercerita

bagaimana pemakaman raja dilangsungkan. Banjar menuturkan kisah

itu sebagai oleh-oleh telah mengunjungi kotaraja di hari yang benarbenar

tepat, hari terjadinya pembunuhan yang menimpa Raja Majapahit.

”Kenapa harus ada orang yang bersembunyi di rumah Karpa?”

tanya Banjar.

Perlahan sekali Wilang menggeleng. Sebaliknya, untuk menjawab

pertanyaan yang mencemaskan itu Dwarastha menyipitkan mata sejenak.

Rasa cemas Dwarastha ternyata sebangun dengan apa yang mengendap

di benak Banjar.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 207

”Yang melakukan pembunuhan terhadap Sri Baginda adalah Rakrian

Tanca. Ia telah dibunuh oleh Patih Daha Gajah Mada. Namun, siapa

tahu di belakang Tanca ada komplotan yang merancang pembunuhan

itu. Kenapa harus ada orang sembunyi di wilayah kita. Maksud jahat

apakah yang dibawa orang itu karena bukankah hanya orang jahat yang

menyembunyikan diri dan menyembunyikan kejahatannya?” tanya

Dwarastha.

”Kita harus tahu siapa orang yang bersembunyi di rumah Karpa,”

kata Banjar.

”Ya, aku sependapat.” Wilang menegas. ”Kita datangi rumah Karpa

sekarang juga dan kita paksa ia mengaku menyembunyikan siapa. Kalau

tidak mau mengaku, aku yang akan membuka paksa mulutnya.”

Murti membalik tubuh dan mengarahkan perhatiannya ke rumah

Karpa. Di sana Karpa benar-benar berubah menjadi anjing. Lebih gila

lagi, Karpa melengkapi diri dengan senjata. Sebuah pedang panjang

diayun-ayunkan.

”Aku mendengar anak menangis,” berbisik Murti.

Tiga lelaki di depannya segera menelengkan telinga. Lamat-lamat

dari rumah Karpa memang terdengar suara bayi menangis.

”Aku dengar suara itu,” bisik Banjar.

”Aku juga,” tambah Wilang.

”Rupanya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kang Karpa, dan

itulah yang menyebabkan ia berubah perangai seperti itu,” berkata Banjar.

Banjar dan istrinya saling pandang, sementara Wilang yang menatap

wajah Dwarastha sedikit bingung, merasa tidak yakin pandangan mata

Dwarastha ditujukan kepadanya. Mata juling itu salah satu mengarah

kepadanya sementara yang satu lagi tidak tertuju kepadanya. Membelah

ke antara mereka, suara bayi menangis itu terdengar amat jelas. Suaranya

bahkan sangat melengking. Secara kasat mata, Karpa terlihat bingung

oleh suara tangis itu. Dengan jelas bahasa tubuhnya menampakkan rasa

cemas bila ada yang mendengar suara tangis itu. Menyembunyikan benda

208 Gajah Mada

mungkin bisa, namun tak mungkin menyembunyikan suara kecuali

dengan menyumpal sumber suara itu.

”Apakah Kang Karpa telah melakukan tindakan kejahatan?”

pertanyaan itu meletup dari mulut Murti.

Pertanyaan itu rupanya cukup mengagetkan karena kemungkinan

itu ada.

”Kang Karpa menculik anak orang?” tambah Murti.

”Ya, siapa tahu Kang Karpa berbuat gila. Kang Karpa mungkin

melakukan, ia merasa kesepian butuh teman.”

Larut kemarahan yang semula menggejolak dalam hati Banjar.

Demikian pula dengan Wilang, kemarahannya lenyap entah ke mana.

”Aku akan mengintip,” kata Dwarastha tiba-tiba.

Semua saling pandang.

”Kalian sibukkan Kang Karpa, aku akan mengintip siapa yang

berada di rumah itu dari arah belakang.”

”Baik,” jawab Banjar.

Apa yang dilakukan oleh tak sekadar Banjar, tetapi Wilang dan

istrinya ikut, benar-benar membuat Karpa merasa tidak senang.

”Kalian mau apa?” lantang suara Karpa dalam menghardik.

”Aku hanya ingin bertanya, sepertinya telingaku mendengar suara

tangis bayi.”

Berubah wajah Karpa.

”Tidak ada. Tak ada bayi menangis. Telingamu sedang rusak. Mana

ada suara bayi menangis.”

”Itu,” jawab Wilang meski suara bayi menangis itu telah lenyap.

”Mana? Tidak ada,” jawab Karpa amat garang. ”Kalian jangan

mengada-ada. Tidak ada suara apa pun. Meski aku sudah tua, aku tidak

mendengar suara apa pun.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 209

”Tadi aku mendengar,” Banjar menambah sambil bersikap seolaholah

akan melewati pemilik rumah.

Namun, Karpa segera melintangkan parangnya. Sikapnya benarbenar

galak, menunjukkan betapa ia akan menggunakan parang itu

apabila ada yang memaksa diri masuk ke wilayah kekuasaannya.

”Siapa sebenarnya orang yang kausembunyikan di rumahmu, Kang

Karpa?” tanya Wilang langsung pada persoalan.

Pertanyaan macam itu mengagetkan Karpa, terbungkam seketika

mulutnya. Apalagi, Wilang bukan jenis orang yang memiliki lidah lentur.

Wilang jenis orang yang suka bicara blak-blakan tanpa tedheng aling-aling.

”Sembilan tahun yang lalu pedukuhan kita pernah diobrak-abrik

prajurit kaki tangan Ra Kuti karena dikira menjadi tempat persembunyian

Sri Baginda, apakah kauingin peristiwa itu terulang kembali, Kang Karpa?

Apalagi, hari ini Sri Baginda telah mangkat dibunuh Ra Tanca. Siapa

tahu orang yang kausembunyikan di rumahmu itu kaki tangan Ra Tanca.

Kalau benar, pedukuhan kita bakal mengalami celaka karena ulahmu.”

Pertanyaan itu benar-benar mengagetkan Karpa dan membuatnya

gelisah.

”Pergi kalian, jangan ada yang mendekati rumahku. Awas.”

Namun, Banjar bergeming di tempatnya dengan Murti menempatkan

diri beku di belakangnya. Wilang sama sekali tak menggeser arah

pandangnya dari pintu rumah Karpa. Wilang bahkan mulai berjalan

mondar-mandir.

”Ayolah, Kang Karpa,” kata Murti. ”Selama ini Kang Karpa adalah

tetangga yang baik, kita semua bersaudara. Kalau ada masalah, janganlah

hanya Kang Karpa yang menyangga masalah itu. Bagilah dengan kami

semua.”

Makin membeku wajah Karpa, makin terbungkam mulutnya. Apa

yang diucapkan Murti itu dengan telak menyodok ulu dadanya,

menempatkan Karpa pada suatu kesadaran betapa ternyata sulit

bersandiwara, sangat sulit melakukan sesuatu yang tidak sejalan dengan

isi hatinya.

210 Gajah Mada

Dalam pada itu di belakang rumah Karpa, Dwarastha telah

menempatkan diri dengan baik. Melalui sebuah lubang ia berhasil melihat

sesuatu yang membuatnya layak terbelalak, benar-benar mengagetkan

karena melibatkan Karpa, tetangganya. Di ruang belakang rumah itu,

seorang perempuan cantik terikat erat pada tiang dan tak mungkin

baginya meloloskan diri tanpa bantuan orang lain. Bayi laki-laki dengan

usia belum genap setahun berusaha membuka pakaian yang dikenakan

perempuan itu untuk bisa menyusu.

”Gila, apa yang dilakukan Kang Karpa pada perempuan itu. Siapa

pula orang itu?” tanya Dwarastha dalam hati pada diri sendiri.

Dwarastha merasa tak bisa membiarkan keadaan tak lazim itu.

Dwarastha segera bertindak. Dengan amat berhati-hati Dwarastha

berusaha mengakali pintu belakang itu supaya bisa terbuka. Akhirnya,

setelah menggunakan sebuah pengungkit kayu, pintu yang tertutup itu

bisa terbuka. Perempuan yang terikat erat di tiang saka itu jelalatan melihat

ada orang yang masuk dan menolongnya. Cekatan Dwarastha membuka

ikatan perempuan itu.

”Terima kasih,” ucap perempuan itu dengan segala kecemasannya.

Dengan gugup perempuan itu memeluk anaknya dan membusai

kepalanya.

”Kamu siapa? Dan kenapa Kang Karpa menyekapmu?”

Akan tetapi, perempuan itu kesulitan menyebut namanya. Apa yang

dilakukan bahkan mengagetkan Dwarastha. Dengan bergegas perempuan

itu berkemas.

”Tunggu dulu, kamu akan ke mana? Kamu siapa?”

Perempuan itu tak menjawab. Ia memilih menyalurkan gugup dan

cemas yang membelitnya dengan bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

Demikian terpesonanya Dwarastha pada keadaan yang dihadapinya

sampai tidak mampu melakukan apa-apa. Ketika kesadarannya kembali

pulih, Dwarastha bergegas menyusul dan mengikuti dari belakang.

”Sebenarnya kamu siapa? Kenapa Kang Karpa menyekapmu?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 211

Dengan segenap kecemasannya, perempuan itu sedikit memperlebar

langkah kakinya. Akan tetapi, kain yang dikenakannya tidak memungkinkan

ia melakukan itu kecuali perempuan itu mau menarik lebih

tinggi dan menampakkan betisnya. Akhirnya, perempuan itu berhenti.

”Aku harus ke kotaraja, ke mana arahnya?” tanya perempuan itu.

Dwarastha termangu beberapa jenak dalam memandangnya. Di

mata Dwarastha perempuan itu terlihat amat cantik. Sebenarnyalah

perempuan itu memang memiliki wajah yang cantik. Kecemasan yang

melibas dan tubuhnya yang agak kotor tak bisa menyembunyikan

kecantikannya. Untuk beberapa saat lamanya Dwarastha amat tersita

perhatiannya oleh kecantikan perempuan itu.

”Namaku Dyah Menur, Kakang,” ucap perempuan itu dengan

sangat gugup. ”Aku minta maaf lupa berterima kasih Kakang telah

membebaskan aku. Sekarang tolong tunjukkan ke mana arah balik ke

kotaraja. Aku harus ke kotaraja.”

Dwarastha mengerutkan kening, kedalaman otaknya belum terpusat

ke jawaban yang harus diberikan. Dwarastha masih bingung, tak bisa

memahami bagaimana Karpa terlibat dalam persoalan amat aneh.

Mengapa Karpa yang ia kenal sangat baik itu bisa menculik dan menyekap

orang. Orang yang disekap itu memiliki wajah yang sangat cantik. Meski

memiliki seorang anak, perempuan itu terlihat lugas kecantikannya.

”Jawablah pertanyaanku, Adi Dyah Menur,” Dwarastha mendesak.

”Kenapa tetanggaku menyekapmu, bagaimana ceritanya?”

Dyah Menur merasa cerita yang dimilikinya amat panjang dan tidak

mungkin dituturkan dalam waktu singkat, apalagi bersamaan dengan

itu telinganya mendengar sesuatu yang mencemaskan, suara derap kuda.

”Aku tidak punya waktu, tunjukkan kepadaku, ke mana arah kembali

ke kota Majapahit?”

Namun, Dwarastha tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia merasa

pertanyaan yang diajukan lebih penting untuk segera mendapat jawaban.

Perempuan bernama Dyah Menur itu akhirnya merasa tidak ada

manfaatnya menunggu jawaban. Suara derap kuda itu amat ia pahami

212 Gajah Mada

apa artinya, amat ia pahami siapa penunggangnya. Pilihan yang ia punya

hanyalah dengan segera menghindar dari orang yang datang itu meski

yang berada di depannya merupakan ladang. Perempuan itu balik arah

dan bergegas berlari.

Dwarastha yang terkejut segera mengejarnya, bahkan meraih tubuh

perempuan itu memaksanya berhenti.

”Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Dwarastha.

”Aku tak punya waktu untuk bercerita,” jawab perempuan itu.

”Orang-orang yang datang berkuda itu akan mencelakai aku. Lebih baik

kembalilah dan selamatkan tetanggamu. Sekarang, tunjukkan ke mana

arah kotaraja.”

Dwarastha bagaikan orang yang siuman dari keadaan tidak sadar.

Telinganya menangkap derap beberapa ekor kuda dengan jelas dan

memberinya bibit cemas yang dengan segera tumbuh dan mekar. Akan

tetapi, dalam pandangannya perempuan itu juga membutuhkan

pertolongan. Setidaknya ia membutuhkan petunjuk ke mana arah yang

harus diambil untuk menuju kotaraja.

”Ikuti aku,” kata Dwarastha.

Dwarastha yang bermata juling itu benar-benar menjadi dewa

penolong bagi perempuan cantik beranak satu bernama Dyah Menur

itu. Dwarastha bahkan cekatan mengambil alih bebannya. Dwarastha

mengulurkan tangan menawarkan menggendong bayinya. Adakah bayi

itu memahami keadaan memang mencemaskan sehingga ia diam tak

menangis? Dengan langkah sama lebarnya, Dyah Menur mengikuti ke

mana gerak langkah laki-laki yang menolong itu. Saat mana melintasi

pekarangan tetangga, Dwarastha memerlukan memerhatikan keadaan

dengan saksama. Manakala keadaan dirasa aman Dwarastha membawa

Dyah Menur berjalan mengendap-endap.

Adalah dalam pada itu, mungkin telah menjadi takdir Karpa bakal

mengalami nasib malang semalang-malangnya ketika lima ekor kuda

yang berderap melintasi pedukuhan itu membelok ke pekarangan

rumahnya. Orang-orang itu berwajah garang dan masing-masing

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 213

bersenjata. Empat orang bersenjata pedang panjang menggantung di

pinggang sementara salah seorang melilitkan cambuk di pinggang pula.

Cambuk itu bukan jenis cambuk untuk menggembala ternak di sawah,

tetapi benar-benar cambuk yang dirancang sebagai senjata. Terdapat

semacam gelang-gelang besi yang melingkar di juntai cambuk itu.

Banjar dan istrinya berdiri bersandar pagar sementara Wilang yang

ternyata seorang pengecut menempatkan diri di belakang pasangan suami

istri itu.

Lima orang berkuda itu berloncatan turun dari kudanya.

”Ini rumah Karpa? Siapa yang bernama Karpa?” bertanya salah

seorang dari mereka yang memiliki kumis melintang.

Ternyata Karpa yang demikian garang kepada tetangga itu lenyap

garangnya berhadapan dengan orang-orang bersenjata itu. Menilik

pakaiannya, mereka bukan prajurit, tetapi dari senjata yang menggantung

di pinggang terlihat jelas mereka orang yang sering berurusan dengan

perkelahian dan barangkali tak segan-segan membunuh orang. Banjar

dan istrinya serta Wilang yang berdiri membeku di belakang mereka

mulai menelan rasa cemas.

”Ya. Ini rumahku. Aku yang bernama Karpa,” jawab Karpa.

Kelima orang itu memusatkan perhatiannya kepada Karpa. Sikapnya

agak lunak.

”Mana perempuan dan anaknya itu?” tanya salah seorang dari

mereka. ”Kami harus membawanya pergi dari tempat ini. Tempat ini

tidak aman lagi baginya.”

”Ada,” jawab Karpa. ”Ia aku ikat di belakang.”

Banjar dan istrinya serta Wilang makin membeku ketika salah

seorang dari mereka memandang dengan tatapan amat tidak bersahabat

kepada mereka. Banjar yang tergoda ingin tahunya terpaksa membatalkan

niat untuk melihat siapa orang yang disembunyikan di rumah Karpa

yang agaknya seorang perempuan dengan anaknya, yang bisa ditandai

dari tangisnya yang melengking sangat keras. Laki-laki garang itu

214 Gajah Mada

mengacungkan senjatanya meminta Banjar menjauh dan tidak ikut

campur terhadap apa yang terjadi.

Kecemasan Banjar sebagian yang lain tertuju kepada Dwarastha.

Bisa jadi ia berada dalam bahaya bila kepergok orang-orang yang

tampaknya tak akan merasa sungkan membunuh itu. Apa yang diduganya

ternyata benar, dari dalam rumah itu terdengar teriakan-teriakan. Namun,

bukan Dwarastha yang layak dicemaskan. Menilik suaranya, yang

menghadapi masalah justru Karpa.

”Mana dia? Mana perempuan itu?”

Di dalam bilik bagian belakang rumahnya, Karpa seperti orang tolol.

”Lhoh, kok tidak ada?” letupnya seperti orang bodoh.

Lima orang lelaki garang itu benar-benar menampakkan

kegarangannya yang menyebabkan Karpa menjadi sangat cemas.

”Mana dia?” bentak salah seorang dari mereka dengan amat keras.

Karpa menjadi demikian gugup. Karpa tidak kuasa mengendalikan

diri ketika hasrat kencingnya tidak tertahan dan membasahi celananya,

membasahi kakinya dan membasahi tanah tempat berpijak kakinya.

”Tadi dia ada di sini! Aku mengingkatnya di tiang saka, pintunya

kukunci rapat dan tak mungkin dibuka,” jawabnya dengan amat terbata.

”Tetapi, sekarang mana?” bentak seorang lainnya lagi.

Karpa benar-benar ketakutan, apalagi ketika salah seorang dari

mereka telah melekatkan senjata ke lehernya. Karpa amat takut kalau

pedang panjang itu terayun ke lehernya, putus hubungan antara kepala

dan tubuhnya. Lebih ketakutan Karpa saat salah seorang dari mereka

mengurai cambuk dan mengayunkannya dengan ayunan sandal pancing

yang menimbulkan suara meledak. Bisa diyakini, bila ayunan cambuk

itu mengenai wajahnya, tentu akan berakibat sangat buruk.

Salah seorang dari lima orang lelaki garang itu menggelandang Karpa

keluar melalui pintu belakang. Ayunan kaki orang itu menyebabkan

Karpa terjengkang dan bergulingan. Tendangan orang itu tak hanya

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 215

mengenai dadanya yang menyebabkan Karpa mengalami sesak napas,

tetapi juga mengenai mulutnya menyebabkan darah dan ludah muncrat.

Karpa bahkan merasa giginya tanggal satu. Karpa menggeliat sambil

mengaduh ketika ayunan cambuk menyengat punggungnya, menyisakan

rasa pedih yang luar biasa.

”Ampun, ampuni aku,” Karpa melolong.

”Mana perempuan yang dititipkan itu, ha? Kamu sembunyikan di

mana?”

Namun, salah seorang dari rombongan berkuda itu rupanya mampu

membaca jejak. Semula ia memerhatikan pintu yang menyisakan jejak

dibuka paksa, pandang matanya lalu tertuju pada dua jejak kaki melintas

pagar, jejak yang tenggelam pada tanah gembur itu mengarah menjauh

dari tempat itu.

”Aku menemukan jejak baru, mereka belum lama pergi. Jejak kaki

dua orang. Rupanya ada orang lain yang mungkin menolongnya.”

Perhatian orang-orang itu segera tertuju pada jejak-jejak kaki yang

diyakini pasti milik orang yang mereka cari.

”Ikuti jejak ini, mereka belum jauh,” teriak pimpinan mereka.

Karpa yang malang belum lolos dari kemalangannya karena

rombongan orang itu memaksanya ikut. Karpa jatuh bangun dan

adakalanya harus merangkak-rangkak karena orang-orang itu benarbenar

kecewa dengan arah kekecewaan tertuju kepada Karpa.

Banjar dan Wilang memandang dengan cemas. Jejak kemarahan

mereka kepada Karpa kini berubah menjadi mencemaskannya. Kini

mereka mengetahui perubahan sikap Karpa ada penyebabnya. Lebih

dari itu, Karpa benar-benar berada dalam bahaya. Jika orang-orang itu

tidak bisa menguasai diri, Karpa bisa mati.

”Apa yang harus kita lakukan?” tanya Wilang.

”Kumpulkan semua orang, terutama lelaki. Suruh mereka membawa

senjata terutama anak panah, kita hadapi lima orang itu. Kita menang

banyak dan jangkauan. Aku akan mengikuti mereka dari jauh.”

216 Gajah Mada

”Baik,” jawab Wilang yang dengan segera melaksanakan perintah

itu.

Banjar masuk ke dalam rumah diikuti istrinya. Dari dalam sebuah

kotak kayu yang tergeletak di bawah tempat tidurnya, Banjar

mengeluarkan gendewa dan endong penuh dengan warastra. Banjar tidak

pernah membayangkan akan menggunakan anak panah itu untuk

manusia. Selama ini sasaran bidik senjatanya berupa harimau atau

binatang liar yang mengganggu kebunnya. Namun, agaknya kini harus

digunakan senjata itu untuk menyelamatkan Karpa, tetangganya. Karpa

yang sering membuatnya jengkel. Banjar rupanya masih harus

menyesuaikan diri dengan jenis senjata yang menjadi andalannya itu.

Banjar melepas pakaiannya dan hanya mengenakan cawat agar bisa

bergerak lincah dan gesit.

”Kang, mereka orang-orang yang berbahaya,” istrinya yang amat

cemas dan gelisah mengingatkan.

Banjar membalas tatapan mata istrinya.

”Aku sudah terbiasa menggunakan anak panah ini menghadapi

keadaan yang lebih sulit. Aku pernah menghadapi tiga ekor harimau

garang sekaligus dan sanggup merobohkan mereka. Aku harus

menyelamatkan Kang Karpa yang berada di dalam bahaya. Tenanglah,

dan bersembunyilah di rumah Paman Sambi. Ceritakan kepadanya apa

yang terjadi supaya Paman Sambi bisa ikut membantu.”

”Baik, Kakang,” jawab Murti.

Bergegas perempuan yang sedang hamil dengan perut membesar

itu berlari di jalan setapak melaksanakan petunjuk suaminya. Meski

perutnya besar ternyata tidak mengurangi kegesitannya dalam berjalan

bergegas.

Banjar yang telah mengenakan pakaian ringkas yang menjadi ciri

penampilan khasnya ketika berburu di hutan sejenak tersita perhatiannya

oleh lima ekor kuda yang ditinggalkan pemiliknya. Di benak Banjar

muncul pertanyaan, gagasan apa yang bisa dilakukan terhadap kudakuda

itu. Apabila binatang itu diusir pergi tentu akan membuat

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 217

pemiliknya kebingungan. Namun, Banjar pilih menunda gagasan itu.

Karpa yang berada dalam bahaya membutuhkan pertolongannya.

Banjar berlari kencang. Ia lakukan itu sambil menunduk. Gesit

sebagaimana umumnya pemburu binatang buas di hutan, Banjar

melompati pematang dan galengan tanpa beban. Setelah beberapa saat

telinganya menangkap jejak lima orang bersenjata itu dari umpatanumpatannya

yang terdengar di udara, juga jerit kesakitan saat Karpa

harus menghadapi ayunan tangan orang-orang berwajah kejam dan

beraut muka kelam itu.

”Mereka ke arah sana,” ucap Banjar untuk diri sendiri setelah

menemukan jejak kaki.

Adalah Karpa yang tidak ingat bermimpi apa semalam hingga harus

menemui keadaan macam itu. Wajah lelaki itu berantakan berdarah-darah

karena yang dihadapi adalah orang yang tak menyimpan rasa kasihan

meski mukanya merah penuh darah.

”Kalau sampai perempuan itu hilang, aku jamin kamu akan

kehilangan nyawa dengan kepala terpenggal terpisah dari tubuhmu.”

Karpa merasa dirinya telah habis.

”Aku sudah menjaganya, pintu belakang rumahku telah kukunci

rapat. Aku sama sekali tidak mengira perempuan itu bisa lolos padahal

tubuhnya telah aku ikat erat,” ucap Karpa dengan amat terbata.

Namun, lima orang berwajah galak itu tak peduli terhadap kilah

apa pun yang diucapkan Karpa. Di mata mereka yang ada hanya

perempuan itu telah hilang. Karpa yang menerima upah cukup banyak

tidak bekerja dengan baik. Kalau perempuan itu tidak tertangkap, mereka

berencana benar-benar akan menghabisi Karpa.

Namun, salah seorang dari lima orang itu memiliki kemampuan

membaca sisa jejak dengan baik. Ia mampu melihat apa yang orang lain

tidak melihat, ia membaui jejak seolah bau udara yang mengalir bisa

ditandainya. Hanya dengan membaui udara bisa mengetahui seseorang

berada di mana.

218 Gajah Mada

”Mereka belum jauh, perempuan dan seorang laki-laki,” kata orang

itu.

”Bagaimana ada laki-laki menolong perempuan itu?” tanya

pimpinan kelima orang itu.

”Aku tak tahu. Aku benar-benar tidak tahu ada orang yang masuk

ke rumahku dan mengeluarkan perempuan itu,” Karpa menjawab.

Jawaban Karpa yang demikian menyebabkan orang yang bertanya

itu tidak merasa puas. Itu sebabnya, sekali lagi Karpa terjengkang oleh

hantaman kakinya.

Sebenarnyalah tak seberapa jauh di depan, namun tak terlihat karena

tingginya semak perdu yang menghalang, Dwarastha pontang-panting

berusaha menyelamatkan Dyah Menur. Dari teriakan-teriakan yang

terdengar dan dari ayunan cambuk yang meledak, Dwarastha bisa

mengukur orang-orang yang memburu di belakangnya makin dekat.

Dyah Menur yang akhirnya merasa bergantung pada pertolongan lelaki

itu terus mengikuti langkah kakinya dari belakang.

Di perempatan kecil Dwarastha berhenti untuk berpikir.

”Bagaimana?” tanya Dyah Menur.

Dwarastha akhirnya merasa telah menemukan cara untuk mengakali

keadaan.

”Kamu terus lurus, aku akan menyesatkan orang-orang itu. Jika

kautemukan pohon randu alas yang ambruk, bersembunyilah di baliknya,

di sana kedukan tanah akan menyembunyikanmu.”

”Anakku? Bagaimana dengan anakku?”

”Biar aku yang bawa. Cepat, mereka makin dekat.”

Dyah Menur merasa tidak punya pilihan lain kecuali menuruti

gagasan yang diajukan Dwarastha. Dengan sedikit menaikkan kain

panjang yang dikenakan, Dyah Menur berlari. Namun, Dyah Menur tak

merasa tenang hatinya karena anaknya berada di tangan orang itu, orang

yang meski telah menolongnya, tetapi belum diketahui siapa.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 219

Dwarastha yang pilih membelok meninggalkan jejak yang nyata di

tanah yang gembur dan menerobos ladang jagung. Dengan sengaja

Dwarastha bahkan menggerak-gerakkan tanaman jagung itu. Umpan

yang diberikan termakan, lima orang laki-laki garang yang memburunya

melihat ulahnya.

”Itu mereka,” teriak salah seorang dari mereka yang bersenjata

cambuk.

”Kejar.”

Melihat buruannya, lima orang itu berlarian. Keadaan yang demikian

mestinya segera dimanfaatkan Karpa, yang bebas tidak lagi digelandang

untuk segera melarikan diri. Akan tetapi, Karpa yang malang merasa

kakinya lumpuh. Wajahnya benar-benar berantakan, tidak ada sebagian

pun yang tak berdarah. Pakaian yang dikenakan robek di beberapa

tempat, jejak ayunan cambuk yang menghajar punggungnya.

Bagaikan orang yang mendadak lumpuh, Karpa terduduk

meringkuk diam di tempatnya. Beruntung Karpa karena beberapa jenak

kemudian Banjar telah sampai di tempat itu dan bergegas menolongnya.

”Mana orang-orang itu?” tanya Banjar.

Bahkan untuk menjawab, Karpa tak punya sisa tenaga.

Banjar bertindak cekatan. Karpa segera dipindahkan dari tempat

itu. Beralas daun pisang Karpa dibaringkan miring di balik pohon saman

yang tumbang diterjang angin. Karpa menatap wajah Banjar dengan

tatapan mata amat aneh.

”Maafkan aku,” ucapnya lirih.

”Aku masih boleh minta rebung di kebunmu, bukan?” tanya Banjar

dengan niat jauh dari bersungguh-sungguh.

”Boleh, ambil semuanya.”

Banjar mencermati keadaan.

”Tetaplah berada di sini. Wilang sedang minta bantuan, aku akan

mengikuti mereka. Tetapi sebenarnya siapa perempuan yang kausembunyikan

itu?”

220 Gajah Mada

Karpa meringis kesakitan.

”Kau mendengar pertanyaanku?”

Untuk pertanyaan itu Karpa mengangguk.

”Ya,” jawabnya. ”Semalam aku kedatangan tamu. Dengan upah

besar tamu itu menitipkan seorang perempuan dengan anaknya. Yang

aku ketahui namanya Dyah Menur, istri seorang bangsawan istana. Aku

tak tahu apa persoalannya, hanya itu.”

Wajah Banjar berubah tegang.

”Istri seorang bangsawan?” ulangnya.

”Ya,” jawab Karpa.

”Baiklah, bertahanlah. Aku akan mengejar orang-orang itu. Salah

besar bila mereka merasa bisa berbuat seenaknya di tempat ini.”

Dengan gesit sebagaimana layaknya seorang pemburu, Banjar

mengejar orang-orang yang telah berbuat kejam kepada tetangganya

itu. Hanya saja, kali ini Banjar tidak menempatkan harimau atau babi

hutan sebagai buruannya, tetapi orang-orang bersikap kasar berwajah

garang itu amat mungkin salah berurusan dengannya.

Adalah dalam pada itu, dengan jantung berlarian kencang Dyah

Menur telah menemukan tempat yang disepakati. Di depannya melintang

pohon randu alas yang ambruk yang ternyata memang benar menyembunyikan

sebuah lekukan tanah yang bisa digunakan untuk bersembunyi.

Dengan segala gelisah dan cemasnya, apalagi bila teringat anaknya, Dyah

Menur menunggu waktu yang terus bergerak berlalu. Waktu ia rasakan

merayap amat lambat.

”Anakku, bagaimana dengan anakku?” letupnya.

Kemalangan Dyah Menur rupanya masih harus berlanjut. Seekor

ular sekepalan lengan meringkuk tak jauh darinya. Ular itu dari jenis

mematikan. Bila ular itu menggigit seekor sapi yang sebesar apa pun

sapi itu, dijamin sapi itu pasti mati, apalagi yang hanya perempuan ringkih

seperti dirinya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 221

Namun, ketakutan menumbuhkan keberanian. Ketika ular itu

merayap makin mendekat, ular itu tidak menduga sasaran yang akan

dipatuk melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan. Dyah Menur

masih memiliki kesadaran dan kekuatan meraih bongkahan batu sebesar

kepalanya. Dengan sekuat tenaga perempuan malang itu mengayunkannya.

Ular itu mungkin meremehkan orang di depannya dan terlambat

untuk menghindar. Batu besar itu jatuh tepat menimpa kepalanya,

berkelejotan ular itu menjelang kematian yang akan menjemputnya.

”Kakang, kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini? Kenapa

kaubiarkan Menur mengalami keadaan seperti ini, Kakang?” keluh

perempuan itu tanpa menyebut nama.

Dyah Menur masih mengarahkan pandangan matanya pada ular

itu sambil matanya jelalatan mencari-cari barangkali masih ada ular

lainnya di tempat itu. Napas perempuan itu tersengal, berlarian susulmenyusul.

Satu tarikan napas dilepasnya disusul oleh tarikan napas

berikutnya .

Waktu dirasakannya sangat lambat dalam bergerak. Dyah Menur

memusatkan perhatiannya melalui telinga. Akhirnya, Dyah Menur benarbenar

meyakini telinganya menangkap suara orang berlari. Dyah Menur

yang bangkit dan mengintip dari balik pohon randu alas yang tumbang

berhasil menangkap gerak belukar yang bergoyang. Dyah Menur

berharap-harap cemas.

”Orang yang menolongku itu?” harapnya.

Sejenak kemudian lelaki itu memang muncul. Dyah Menur merasa

amat lega, apalagi ketika berhasil mendekap anaknya. Dilumurinya bocah

itu dengan air mata yang tak habis-habisnya. Diciuminya bocah itu hingga

tandas. Melihat bayinya akan menangis, Dyah Menur berusaha

menenangkannya.

”Kuasai dirimu, jangan menangis. Nanti anakmu malah menangis.

Kita akan ketahuan bersembunyi di sini,” ucap Dwarastha.

Dyah Menur memenuhi permintaan Dwarastha. Dengan sekuat

tenaga ia berusaha menguasai diri, apalagi saat dari kejauhan ia mendengar

suara umpatan-umpatan dari orang-orang yang mengejarnya.

222 Gajah Mada

”Mereka akan menemukan tempat ini?” tanya Dyah Menur cemas.

”Aku tidak tahu, tetapi sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Di

sana ada gua yang bisa kita manfaatkan untuk bersembunyi,” jawab

Dwarastha.

Dyah Menur tak menolak dan mengikuti langkah Dwarastha. Akan

tetapi, ada sesuatu yang menghentikan langkah kaki laki-laki itu.

”Kau membunuh ular?” tanya Dwarastha.

”Ya,” jawab Dyah Menur. ”Ular itu nyaris mencelakakan aku.”

Dengan merayap dan mengendap-endap Dwarastha membawa

Dyah Menur ke tempat lain yang lebih aman, sebuah gua yang

tersamarkan karena semak belukar yang menutupi mulutnya. Dyah

Menur cemas apabila gua itu ditempati ular, tetapi dengan segera rasa

herannya mencuat. Gua itu tampaknya sering ditempati menilik terdapat

tikar dan bahkan peralatan memasak di tempat itu. Gua itu bahkan

tampak bersih, sebuah sapu juga ada di tempat itu.

”Aku sering berada di sini,” ucap Dwarastha melihat perempuan

itu terheran-heran.

Dyah Menur segera duduk bersandar dinding. Dengan segala

kecemasan yang membuncah Dyah Menur memeluk anaknya. Barangkali

menyadari keadaan sedang gawat, bayi itu diam dan tidak rewel. Bayi itu

mendongak ketika suara teriakan-teriakan orang yang kalap itu terdengar,

bahkan pada jarak yang cukup dekat.

”Mereka tak akan menemukan tempat ini. Tenanglah,” ucap

Dwarastha.

Dyah Menur mengangguk.

Sebenarnyalah lima orang lelaki garang itu benar-benar kalap melihat

orang yang dikejarnya lenyap. Salah seorang dari mereka yang punya

kemampuan melacak jejak kebingungan ketika terhadang sebuah sungai

dangkal.

”Sial,” umpatnya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 223

”Bagaimana?” tanya pimpinannya.

”Aku kehilangan jejak. Orang itu menyeberang sungai, tetapi entah

di bagian mana ia menyeberang.”

Suara dua ekor burung gagak yang melengking keras seperti

meledek. Salah seorang dari orang-orang itu demikian marahnya yang ia

salurkan dengan berteriak lebih keras. Upayanya berhasil, pasangan

burung gagak itu kaget dan seketika terbang menjauh. Burung gagak itu

merasa suaranya memang buruk, namun burung gagak itu lebih terkejut

melihat kenyataan ternyata ada suara yang lebih buruk lagi dari suara

mereka.

Akan tetapi, orang yang berteriak keras itu seketika terbungkam

ketika sesuatu menyengat pundaknya menyebabkan ia terhenyak dan

tersungkur. Apa yang terjadi pada orang itu mengagetkan temantemannya.

Mereka segera berloncatan dan mencoba memahami apa yang

terjadi.

”Kenapa denganmu?” tanya temannya.

Sakit yang luar biasa dirasakan orang itu yang dengan segera jatuh

terduduk. Empat orang yang lain terkejut melihat sebuah anak panah

telah menancap di pundak orang itu. Mereka amat terkejut melihat panah

itu tiba-tiba telah berada di pundak temannya, sama sekali tidak diketahui

kapan anak panah itu melesat datang.

Tiba-tiba terdengar suara gendewa ditarik tertekuk.

”Ada orang melepas anak panah, awas,” salah seorang dari mereka

berteriak.

Dengan segera empat orang yang tersisa mencabut senjata masingmasing.

Di tengah ladang dengan beraneka tumbuhan yang rimbun,

amat sulit bagi mereka untuk menerka dari mana datangnya anak panah.

Namun, hanya sejenak kemudian terdengar suara berdesing lagi dan

getar gendewa menjadi pertanda sebuah anak panah telah dilepas dan

membelah udara.

Seorang lagi dari lima orang itu yang terhenyak. Orang yang melepas

anak panah itu tentu memiliki kemampuan bidik yang tinggi menilik

224 Gajah Mada

korban kedua terluka pada bagian yang sama dengan korban pertama.

Luka itu tidak mematikan, tetapi sangat melumpuhkan.

”Gila,” umpat pimpinan rombongan itu sambil merunduk.

Dua orang yang lain segera bersembunyi di balik pohon.

”Dari arah mana?” tanya salah seorang dari mereka.

”Dari arah belakangmu,” jawab seorang yang lain.

”Kau melihatnya?” tanya yang seorang lagi.

”Tidak, tetapi anak panah berasal dari arah sana.”

Lalu hening. Yang terdengar hanya suara cenggeret yang bersahutan.

Binatang yang termasuk dalam keluarga belalang itu ada di mana-mana.

Sayap dan tubuhnya yang berwarna hijau tersamarkan di antara dedaunan.

Cenggeret juga burung gagak di kejauhan benar-benar tak peduli dengan

apa yang terjadi di tempat itu. Bahkan daun-daun dan ranting, termasuk

ular besar seukuran lengan yang bergayut di dahan tidak peduli.

Dua anak panah telah menggapai korbannya. Banjar hanya seorang

penduduk pedukuhan itu. Pekerjaan sehari-harinya hanyalah berladang

dan berburu di hutan. Akan tetapi, kemampuannya berburu dengan

menggunakan anak panah membuatnya amat terampil. Banjarlah orang

yang menyebabkan lima orang itu kalang kabut. Di antara mereka, dua

orang bahkan sudah jatuh, lumpuh tak bertenaga.

”Aduh, mati aku,” terdengar suara kesakitan.

”Tolong aku, cabut anak panah ini, panas,” terdengar suara kedua.

Namun, tiga yang lain merasa berada dalam bahaya, tak mungkin

bagi mereka untuk keluar dari bayangan pohon karena bila itu mereka

lakukan, anak panah akan menyambar. Meski Banjar memang tidak bisa

melihat orang-orang itu karena terhalang pohon, ia bisa menandai di

arah mana sasarannya. Banjar yang mendekat bahkan mampu menangkap

percakapan yang terjadi.

”Kenapa Bhayangkara berada di sini?” terdengar ucapan dari balik

pohon.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 225

Banjar termangu berpikir. Banjar merasa ada yang aneh.

”Bhayangkara?” balas yang lain.

”Yang punya kemampuan macam ini hanya pasukan Bhayangkara,”

tambah orang di balik pohon.

”Celaka kita. Rupanya apa yang kita lakukan terendus oleh

Bhayangkara?”

Banjar segera sampai pada sebuah simpulan, ”Orang-orang itu

mengira aku Bhayangkara. Orang-orang itu pasti melakukan kejahatan

karena cemas perbuatannya sampai diketahui oleh pasukan Bhayangkara.

Aku harus merobohkan mereka semua, satu demi satu. Orang-orang

itu jelas melakukan tindakan kejahatan.”

Banjar mempersiapkan diri. Dari balik bayangan pohon yang

melindungi dirinya, tali langkap dengan anak panah terpasang siap

dilepas. Banjar mengarahkan anak panahnya ke sebuah kaki yang terlihat

jelas. Ketika anak panah itu dilepas maka terjengkang pemilik kaki itu.

Jeritnya amat mengaduh-aduh. Pemilik betis itu tentu merasa sakitnya

tak alang kepalang, jauh lebih sakit dari apabila panah itu membelah

otak karena andaikata membelah otak pasti langsung mati tidak harus

melalui sakit yang luar biasa.

”Aduh kakiku! Kakiku kena! Keparat bangsat biang laknat, siapa

pengecut yang melakukan perbuatan ini?”

Tiga orang korban telah jatuh, menyebabkan dua sisanya menjadi

panik. Apa yang terjadi itu meraka yakini sebagai ulah orang Bhayangkara.

Tak ada orang yang mempunyai kemampuan bidik luar biasa macam itu

kecuali bagian dari pasukan amat khusus bernama Bhayangkara. Tak

hanya kemampuan melepas anak panahnya yang nggegirisi, kemampuan

melempar pisau tak kalah terukur dari melepas anak panah.

Salah satu dari dua yang tersisa adalah pimpinannya dan seorang

lagi yang menggunakan cambuk sebagai senjata. Mereka merasa tak ada

gunanya menghadapi lawan berjenis pengecut yang beraninya hanya

bersembunyi. Bagaikan bersepakat tiba-tiba mereka melenting dan

berguling untuk kemudian berlari sekencang-kencangnya. Akan tetapi,

226 Gajah Mada

Banjar benar-benar pemburu yang sangat terlatih dan trengginas terampil.

Waktu yang ia butuhkan untuk memasang anak panah, lalu menarik dan

melepasnya amat cepat. Salah satu dari kedua orang yang berusaha

melarikan diri itu ambruk. Dengan amat telak Banjar mampu melukai

betisnya. Lumpuh pula orang itu, orang yang bersenjata cambuk.

Banjar berlari kencang mengejar sambil kembali memasang anak

panahnya, tetapi calon korban terakhir telah lenyap terlindung oleh semak

dan perdu. Tidak ada gunanya melepas anak panah dalam keadaan

macam itu.

Empat orang lelaki berwajah garang itu terperanjat ketika melihat

orang yang telah melumpuhkan mereka adalah lelaki yang semula mereka

temui di rumah Karpa. Lelaki itu ternyata bukan bagian dari pasukan

Bhayangkara. Menilik pakaian yang dikenakan, lelaki pemegang anak

panah itu jelas hanya seorang pemburu. Celakanya, mereka yang dijadikan

sasaran dan meskipun yang dihadapi hanya seorang pemburu, terbukti

mereka bisa dilumpuhkan.

Banjar memerhatikan orang-orang itu.

”Siapa sebenarnya kalian?” bertanya Banjar.

Empat orang yang lumpuh tak berdaya itu, dua orang terluka dengan

warastra menancap di pundaknya dan dua orang lagi terluka di betisnya

tak mampu menjawab pertanyaan itu. Mereka saling pandang dengan

segala kebingungan di hati. Sama sekali tidak mereka duga, yang

melumpuhkan mereka ternyata hanya seorang pemburu.

”Apa yang kalian lakukan di pedukuhan kami?” Banjar kembali

bertanya.

Empat orang yang ambruk itu tak ada yang menjawab, namun

derajat cemas mereka makin meningkat ketika dari kejauhan terdengar

suara riuh. Sebenarnyalah orang-orang sepedukuhan Daleman telah

mendengar apa yang terjadi. Semua lelaki keluar dari rumah masingmasing

dengan senjata apa saja. Para pemuda yang gemar berburu di

hutan membawa langkap lengkap dengan anak panahnya sementara

sebagian yang lain membawa pedang. Aneh-aneh saja senjata yang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 227

dijinjing keluar ketika penduduk pedukuhan itu tersinggung oleh adanya

orang yang berniat jahat di pedukuhan mereka. Ada yang membawa

pedang panjang, ada yang membawa pisau, biar pendek pisau tetap

merupakan senjata, lalu ada pula yang membawa tali. Entah bagaimana

cara menggunakan tali untuk berkelahi. Mungkin maksudnya tali itu

akan digunakan untuk menjerat atau mengikat. Empat orang lelaki garang

yang tertinggal itu mendadak sadar betapa mereka telah melakukan

kesalahan meremehkan penduduk pedukuhan itu. Apalagi, ketika satu

demi satu pemilik suara berlarian itu muncul dan menjadikan mereka

sebagai tontonan.

”Apa yang terjadi?” bertanya seorang laki-laki bernama Sambi yang

menjadi tokoh paling disegani di pedukuhan itu.

Orang-orang yang lain hanya memerhatikan apa yang terjadi.

”Pertanyaan itu baru kuajukan, Paman Sambi,” jawab Banjar.

”Mereka belum menjawab pertanyaanku, tetapi tampaknya mereka

orang-orang jahat menilik mereka cemas bila perbuatannya sampai

ketahuan pasukan Bhayangkara. Yang aku yakini, seorang perempuan

dengan seorang anaknya yang masih bayi disekap di rumah Kang Karpa.

Perempuan itu menurut Kang Karpa, istri seorang bangsawan istana.

Tidak jelas oleh alasan apa mereka menyekapnya.”

Ki Sambi memerhatikan orang-orang yang bergelimpangan itu.

”Anak panahmu beracun?” tanya Ki Sambi.

”Beracun, Paman,” jawab Banjar sekenanya.

Jawaban itu membuat para korbannya gelisah. Ki Sambi tersenyum

karena ia tahu persis Banjar tidak menggunakan racun.

”Terus, bagaimana dengan perempuan yang disekap itu?”

Banjar memiliki jawabnya.

”Sangat mungkin Dwarastha menolongnya.”

”Dwarastha?” tanya Ki Sambi.

”Ya.”

228 Gajah Mada

Terlihat ada perubahan di wajah Ki Sambi, semacam kecemasan.

Namun, Ki Sambi tidak berniat berboros-boros dengan waktu yang

ada.

”Semua menyebar, cari Dwarastha dan perempuan itu.”

Adalah sungguh sangat beralasan bila Ki Sambi merasa cemas. Itu

karena Ki Sambi mempunyai catatan tersendiri atas Dwarastha. Di dalam

gua yang terlindung di balik lebatnya semak dan perdu, Dwarastha

memandang Dyah Menur dengan tatapan aneh, lehernya naik turun.

Sejauh umurnya yang mendekati empat puluh tahun, laki-laki itu masih

belum juga beristri. Hal itu karena tidak seorang pun perempuan yang

mau diperistri olehnya. Dwarastha mempunyai catatan buruk terhadap

perempuan.

Di hadapannya, perempuan yang sedang menyusui itu sungguh

amat cantik. Pemandangan indah yang mengganggu pengendalian

nafsunya itu demikian menarik, menyendal-nyendal simpul syaraf

hasratnya. Itu sebabnya, tanpa tanda-tanda apa pun Dwarastha

melakukan perbuatan yang tidak terduga. Dipeluknya perempuan itu

dari belakang.

Betapa terperanjat Dyah Menur menghadapi perbuatan itu.

”Gila, apa yang kaulakukan?” Dyah Menur meletup.

”Jadilah istriku, meski sekali saja. Aku merindukan dan sangat ingin.

Sekali saja layanilah keinginanku,” jawab Dwarastha sambil menyeringai.

Dyah Menur benar-benar panik ketika lelaki yang semula ia anggap

sebagai dewa penolong itu bahkan bertindak lebih jauh dari sekadar

menyeringai. Dwarastha menjadi mata gelap. Kecantikan perempuan

itu membuatnya kehilangan akal waras yang minggat entah ke mana.

Betapa gugup Dyah Menur melihat Dwarastha melucuti diri sendiri dan

betapa gugup Dwarastha melucuti diri sendiri. Pekerjaan yang sangat

mudah itu mendadak berubah menjadi tidak mudah.

”Jangan, tolong jangan lakukan itu,” Dyah Menur meminta.

”Ahh, bukankah kau sudah pernah melakukan. Kaupunya anak.

Anggap saja ini upahku yang telah menyelamatkan dirimu dari orangBergelut

dalam Kemelut Takhta dan Angkara 229

orang yang bermaksud jahat itu,” ucap Dwarastha dengan liur menetes.

Akal warasnya benar-benar sudah minggat entah ke mana.

Dyah Menur gugup. Apalagi, ketika dengan beringas Dwarastha

yang setengah telanjang itu menubruknya. Dengan beringas berlepotan

nafsu Dwarastha bermaksud menjejalkan diri ke dalam perempuan itu.

Akan tetapi, dengan segera betapa tersentak laki-laki bernama Dwarastha.

Mula-mula Dwarastha bingung.

”Apa yang kaulakukan padaku?”

Dyah Menur tidak menjawab. Dyah Menur menjauhkan diri dengan

beringsut sambil mendekap erat anaknya yang menangis. Dwarastha

memerhatikan diri sendiri dan mencoba meneliti dari arah mana darah

yang mengucur amat deras.

”Kau menggunakan apa?” tanya Dwarastha.

Dyah Menur menunjukkan benda yang dipegangnya, benda

bernama cundrik itu berdarah.

”Kau membunuhku,” ucap Dwarastha panik

Dwarastha layak panik karena cundrik itu melukai lengannya dan

memutuskan otot penggerak jari tangannya sekaligus pembuluh darah

di luka itu. Darah mengucur deras dan tak mungkin dihentikan, apalagi

bila mengingat cundrik yang merupakan senjata khusus untuk

perempuan itu dilumuri racun yang mematikan yang terbuat dari berbagai

jenis racun. Seorang empu pembuat cundrik tidak puas hanya dengan

racun warangan, racun itu masih dicampur dengan bisa ular bandotan,

bisa ular weling, dan bisa ular sendok.

”Kenapa kau membunuhku?” suara Dwarastha terdengar amat

memelas. ”Aku hanya meminta kau melayaniku. Aku layak meminta

imbalan itu setelah pertolongan yang kuberikan kepadamu. Tetapi,

mengapa pertolongan itu kaubalas dengan cara ini?”

Terhuyung-huyung Dwarastha dan ambruk oleh kepanikannya.

Dwarastha amat sadar dirinya tak akan tertolong, pintu kematian akan

segera terbuka untuknya. Dyah Menur merasa jantungnya berdenyut

230 Gajah Mada

amat kencang, itulah untuk pertama kalinya ia melukai orang dan sangat

mungkin menjadi penyebab kematiannya. Dan itulah juga untuk pertama

kalinya ia melihat orang sekarat di ambang kematian. Di hadapannya

kini seorang lelaki tengah bersiap diri mengembuskan tarikan napas

terakhir.

”Tolong, tolooooong,” Dyah Menur menjerit sekeras-kerasnya.

Dan pertolongan itu datang di saat yang tepat. Dyah Menur benarbenar

tidak ingin menyaksikan kematian itu. Ia ingin berpaling membuang

wajah, tetapi tidak bisa memutar leher balik arah. Beruntung Dyah

Menur, seorang lelaki menerobos masuk dan menolongnya.

17

Temaram senja yang datang setelah ingar-bingar yang terjadi sejak

kemarin hingga siang belum lepas jejaknya. Setidaknya kegelisahan itu

memang amat pantas memberangus isi hati Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri. Meski telah pasrah menjadi seorang biksuni yang mestinya tidak

lagi terikat dengan urusan duniawi, tetapi meninggalnya Jayanegara adalah

sebuah kenyataan. Sebagai biksuni masih harus menjabat sebagai ratu

adalah sebuah kenyataan, sebagaimana kemelut yang dihadapi anakanaknya

adalah sebuah kenyataan. Gayatri adalah seorang biksuni, tetapi

ia masih juga seorang ibu yang harus mencemaskan anak perempuannya.

”Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Maharajasa?” tenang dan

sangat sejuk suara wanita yang telah tidak memiliki rambut karena dibabat

habis itu.

Hanya Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa yang kali ini menemani

ibunya. Anak bungsu Raden Wijaya itu menunduk tidak berani

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 231

menengadah. Akan tetapi, kali ini Dyah Wiyat memang harus bicara

blak-blakan karena ibundanya memintanya bicara jujur tanpa satu

bongkahan persoalan pun yang ditutupi. Oleh karena merasa ada yang

tak berjalan sebagaimana mestinya, Rajapatni harus memanggil anaknya

dan mengajaknya berbicara hanya berdua dari hati ke hati.

”Sebenarnya apa yang menjadi ganjalan hatimu, Maharajasa?” Ratu

Biksuni bertanya dengan suara sejuk.

Ratu Rajapatni bahkan melengkapi kasih sayangnya dengan

mengelus-elus rambut panjang Maharajasa. Isi dada Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa mengombak. Jika dipantaskan berteriak, perempuan yang

tidak lagi disebut gadis itu ingin berteriak sekeras-kerasnya. Mungkin

jika diizinkan pergi ke tengah sawah yang tidak ada siapa pun di sana,

atau di tengah hutan yang para binatangnya tidak peduli karena mereka

juga berteriak, Maharajasa ingin sekali menjerit sekeras-kerasnya. Namun,

oleh karena Dyah Wiyat adalah Maharajasa, ia tak mungkin melakukan

itu. Sebagaimana oleh karena Dyah Wiyat adalah Rajadewi anak raja,

sama sekali tak pantas berbuat sesuatu yang hanya layak dilakukan oleh

orang yang bukan bangsawan. Untuk pertanyaan sesederhana itu, Dyah

Wiyat tak mampu menjawab.

”Atau, adakah laki-laki lain yang mendahului bersembunyi di

benakmu, Dyah Wiyat anakku?” Ratu memancing ke persoalan yang

amat peka.

Lagi-lagi Maharajasa bingung. Yang bisa ia lakukan hanya merapatkan

kedua telapak tangannya dalam sikap menyembah.

”Baiklah,” lanjut Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri. ”Kalau memang

kausulit menjawab, Ibu punya dua pilihan yang akan memudahkan kamu

menjawab. Kalau ya, mengangguklah, kalau tidak, menggelenglah.

Mudah bukan?”

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa memejamkan mata.

”Selama ini ada nama lelaki yang telanjur menempati hatimu?”

Dyah Wiyat merasa tidak punya pilihan lain. Dua pilihan yang

disediakan itu, jika ya, ia diminta mengangguk atau jika tidak, ia diminta

menggeleng, salah satu harus dijawabnya tanpa bisa menolak.

232 Gajah Mada

Dyah Wiyat mengangguk. Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri

menghirup napas panjang serasa hendak dipenuhinya paru-parunya yang

tua dengan segenap udara yang ada di ruang itu. Ibu Ratu akhirnya

mendapatkan keyakinan setelah memperoleh jawaban itu dari anaknya

sendiri bahwa memang telah ada nama lain yang menempati relung hati

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Seketika kesadaran itu menyeruak.

Ibu Ratu tiba-tiba merasa cemas andaikata melakukan kekeliruan. Apabila

di sepanjang hidupnya Dyah Wiyat tidak merasa bahagia, sebagian dari

kesalahan dirinyalah yang harus menanggung karena perjodohan itu

terjadi atas prakarsanya.

”Jadi, telah ada seorang laki-laki yang mencuri hatimu, Wiyat?” Ratu

Biksuni bertanya.

Betapa sulitnya mengangguk. Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa

merasa leher penyangga kepalanya amat kaku.

”Siapa lelaki itu, Dyah Wiyat?” tanya ibundanya.

Dyah Wiyat kembali memejamkan mata.

”Ayolah, anakku,” berkata Ibu Ratu. ”Marilah berbicara dari hati

ke hati tanpa ada ganjalan apa pun. Ungkapkan rahasia hatimu agar Ibu

tahu. Apabila sekiranya Ibu telah melakukan kesalahan, barangkali masih

ada langkah yang bisa dibenahi. Jangan kaupendam bebanmu, Dyah

Wiyat. Katakan siapa nama laki-laki yang telah mencuri hasrat hidupmu

itu.”

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa akhirnya menggeleng kepala. Sisa

tenaga yang ada tersalurkan melalui gelengan kepala itu.

”Tak ada gunanya lagi, Ibu,” ucapnya perlahan. ”Bahkan andai ia

masih hidup pun tak mungkin ada tumpahan restu dari Ibunda Ratu.

Bahkan tak ada gunanya untuk dikenang meski hamba memendam beban

lebih dari sebelas tahun lamanya sejak hamba masih amat remaja.”

Mencuat alis Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri mendengar jawaban

itu.

”Kenapa?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 233

Maharajasa tidak menjawab, namun kepalanya kembali menggeleng

dengan lemah. Meski lemah amat mempertegas jawabannya.

”Sebutlah namanya agar Ibu bisa membaca warna perasaanmu.”

Di luar dugaan Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang sebenarnya

juga di luar dugaan Dyah Wiyat sendiri, ia tersenyum. Rekah senyum

yang pahit dan terasa amat getir, apalagi saat dari kelopak mata

perempuan cantik yang kini telah menjadi istri Raden Kudamerta itu

jatuh basah air mata yang gemerlapan. Perempuan cantik melakukan

apa pun tetap terlihat cantik. Perempuan cantik cemberut terlihat cantik,

menangis meratap-ratap gemerlap air matanya membuatnya cantik,

apalagi tersenyum maka senyumnya menjadikannya amat cantik.

”Apakah Ibu mengenal orang yang mencuri hatimu itu?”

Maharajasa mengangguk. Tangannya kembali merapat di depan

mulut.

”Apakah ia seorang bangsawan?”

Maharajasa menggeleng.

”Ia tinggal di Majapahit?”

Maharajasa kembali menggeleng lemah.

”Ia tinggal jauh sekali. Sangat jauh di awang-awang, di balik biru

langit di balik mega mendung. Bumi ini bahkan tak lagi menjadi tempat

berpijak kakinya. Tak ada gunanya lagi mengenang namanya meski

pemilik nama itu telah menjadi hantu abadi yang selalu menyelinap di

keadaan apa pun, ketika tidur dan ketika sadar.”

Betapa terperanjat Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri mendengar

jawaban yang amat menyayat itu, apalagi ketika tatapan mata Dyah Wiyat

tampak kosong tak bercahaya.

”Orang yang mencuri hatimu itu sudah mati?” tanya Ibu Ratu

Biksuni.

Dyah Wiyat tidak merasa ragu untuk menganggukkan kepala.

Bahkan merasa tidak menanggung beban lagi untuk menyebut nama,

234 Gajah Mada

apalagi pemilik nama itu telah kembali menghadap Hyang Widdi, tak

lagi berada di antara orang-orang yang masih bernyawa. Orang itu adalah

Rakrian Tanca, pemilik nama yang demikian dibenci di seluruh wilayah

Majapahit. Rakrian Tanca, siapa yang tidak membencinya setengah mati.

Seorang Rakrian bernama Tanca yang dianugerahi sebutan sebagai

Dharmaputra Winehsuka yang ternyata tidak tahu diri. Para Rakrian,

tidak hanya dirinya, semua dibenci. Ra Kuti dibenci karena makarnya,

Ra Semi di Lasem dibenci juga karena pemberontakan yang dilakukannya,

demikian pula dengan Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, Ra Pangsa, dan

Dharmaputra Winehsuka Ra Tanca yang menyempurnakan titik didih

kebencian itu karena telah lancang membunuh Sri Jayanegara. Apakah

ada ketidakbencian terhadap orang yang lancang membunuh raja?

”Ra Tanca?” Ibu Ratu Rajapatni menyebut sebuah nama dengan

amat ragu.

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa tidak menjawab pertanyaan itu.

Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang kemudian terkejut manakala

menyadari pertanyaan yang dilontarkan itu benar adanya karena kalau

bukan nama itu maka Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa pasti menggeleng

menolaknya. Pandangan mata Dyah Wiyat yang jatuh di satu titik pada

lembaran pintu ruang itu serta sama sekali tak menggeser ke arah lain

meyakinkan Ibu Ratu dugaan terhadap nama itu benar adanya.

”Jadi, benar Rakrian Tanca? Dharmaputra Winehsuka Rakrian

Tanca?” Biksuni Gayatri mempertegas.

Amat perlahan Maharajasa mengangguk. Perlahan sekali, tetapi

betapa meredup cara Dyah Wiyat menjatuhkan pandangan matanya ke

satu titik di tubuh gupala yang tak pernah letih memanggul gada,

sebagaimana ia tak pernah letih berjongkok. Gupala itu apabila bernyawa,

ia akan menjadi pendengar yang baik. Namun, karena gupala yang

memegang gada itu terbuat dari batu maka lembaran telinganya tidak

bakalan membuatnya terkejut meski petir meledak di dekat telinganya.

Gupala itu juga tidak akan bangkit dan menari meski gamelan berirama

slendro ditabuh demikian riuh.

Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri masih digerayangi rasa kaget.

Ia butuh waktu lama untuk bisa mengendapkan rasa kaget yang

melibasnya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 235

”Ra Tanca,” desis Ratu Gayatri.

Pertanyaan itu dengan segera menyeruak, tidak peduli meskipun

Gayatri seorang biksuni yang mestinya terbebas dari urusan duniawi.

Kenapa harus Ra Tanca, kenapa hati anaknya harus tertambat pada orang

yang telah membunuh raja. Silau oleh apakah Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa sampai tertarik kepada Rakrian Tanca, lelaki yang telah

beristri yang dalam pandangan negara termasuk penyakit yang harus

ditumpas karena di dalam dirinya hidup subur bibit makar yang terbukti

kumat meski telah diampuni dan meski waktu berlalu sembilan tahun

kemudian. Apa yang dahulu sangat diinginkan Ra Kuti, yang amat

bernafsu menghabisi Jayanegara, yang tak bisa tuntas meski telah digelar

perang yang harus dibayar ribuan nyawa kandas, bahkan harus ditebus

dengan nyawa Ra Kuti sendiri, Ra Tanca berhasil membayar keinginan

Ra Kuti hanya dengan sekali tikam tanpa harus didukung pasukan dengan

kekuatan segelar sepapan.

”Kenapa harus Ra Tanca?” akhirnya gumpalan pertanyaan itu

terlontar juga dari mulut Ibu Ratu.

Jangankan Ibu Ratu, bahkan Dyah Wiyat merasa tak habis mengerti.

Kenapa harus Ra Tanca dan mengapa demikian sulit baginya untuk

mengalihkan perhatian kepada lelaki lain, apalagi bila ditilik dari mana

pun Raden Kudamerta yang sekarang menjadi suaminya adalah lelaki

yang sempurna. Perkawinannya dengan lelaki gagah perkasa itu menyebabkan

banyak gadis patah hati. Kurang apa Raden Kudamerta, ia

seorang bangsawan, ia gagah dan tampan. Sama sekali tak ada apa-apanya

Ra Tanca dibanding Raden Kudamerta. Apa yang menarik pada diri Ra

Tanca itu sehingga sedemikian menyita perhatiannya, apalagi kemudian

terbukti Ra Tanca telah membunuh raja. Ra Tanca juga tidak memiliki

kesetiaan karena telah melupakannya dengan mengawini wanita lain.

Sebagian dari waktunya terbuang sia-sia dengan mengangankan seorang

lelaki yang telah menjadi milik orang lain.

”Sejauh mana hubunganmu dengan Ra Tanca?” tanya Ibu Ratu

dengan segala kecemasannya.

Ibu Ratu, meski ia seorang biksuni, tetap saja ia seorang ibu dan

ibu mana pun warna kecemasannya sama. Kegadisan adalah kehormatan

236 Gajah Mada

dan apa arti seorang gadis tanpa kehormatan. Ibu mana pun kecemasannya

sama, cemas apabila dalam bergaul anaknya kebablasan. Ratu

Rajapatni Biksuni Gayatri tidak sanggup membayangkan kehormatan

itu tidak lagi melekat pada diri anaknya, menghilang bersama raibnya

Dharmaputra Winehsuka Rakrian Tanca. Lalu, kebanggaan macam apa

yang bisa ia persembahkan kepada Raden Kudamerta?

Untuk pertanyaan itu Dyah Wiyat tidak menjawab, lagi pula untuk

urusan itu yang masuk dalam jenis urusan pribadi tak perlu dijawab.

Apa yang kulakukan dengan tubuhku adalah urusanku karena tubuhku

adalah milikku, demikian kilah para gadis dalam membela diri, sebuah

kilah yang tidak bisa lagi didebat. Adakah Dyah Wiyat akan menggunakan

kilah itu? Bahkan andai yang bertanya adalah ibundanya, tak akan

dijawabnya pertanyaan itu. Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa

menggeleng, dan itu merupakan jawaban yang sangat bias. Jawaban itu

bisa berarti tidak, namun gelengan kepala itu juga bisa berarti tidak mau

memberi jawaban.

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri akan mengejar anak perempuannya

dengan mempertajam pertanyaan itu, tetapi dengan segera Ibu Ratu

terdampar di hamparan pertanyaan bak padang yang lebih luas lagi, yaitu

untuk apa jawaban pertanyaan itu harus dikejar? Bagaimana apabila

jawaban anak perempuannya itu berkesanggupan meluluhlantakkan

hatinya, membuatnya terpuruk amat kecewa?

”Bagaimana sikap suamimu?” Ratu Gayatri menemukan cara

mengorek lewat cara melingkar.

Dyah Wiyat yang memandang seperti tidak memandang itu

menengadah dan menjatuhkan tatapan matanya langsung ke mata ibunya.

”Suamiku?” balas Dyah Wiyat dengan mengerutkan kening.

”Suamimu marah mendapatkan keadaanmu?”

Dyah Wiyat merasakan pertanyaan itu aneh. Dyah Wiyat sangat

paham, yang dimaksud ibunya adalah apabila ia telah kehilangan

kehormatan karena telah dicuri oleh Rakrian Tanca. Andaikata itu benar

dan oleh karenanya tiba-tiba Dyah Wiyat tersenyum agak sinis, apakah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 237

hak Raden Kudamerta mempersoalkannya. Kekuatan derajat yang

dimiliki Raden Kudamerta tak cukup untuk digunakan mempersoalkan

masalah itu. Dyah Wiyat anak raja, anak kandung Raden Wijaya, Raja

Majapahit yang gung binatara,164 sementara Kudamerta hanyalah pewaris

kekuasaan Pamotan, penguasa wilayah yang kecil saja. Ketika berniat

menjamah, Raden Kudamerta harus menyembah lebih dulu. Hubungan

suami isteri harus bergantung pada dirinya, apakah Dyah Wiyat akan

berkenan atau tidak, bukan karena hubungan suami istri. Jadi, apa hak

Raden Kudamerta mempersoalkan hal itu?

”Akan seperti itukah diriku?” bertanya Dyah Wiyat ketika menunduk.

Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri memang layak cemas. Memandang

jauh ke depan, Ratu Rajapatni merasa seperti melihat gumpalan

mendung, apalagi ketika pada siang sebelumnya di ruang itu pula Patih

Daha membeberkan beberapa temuan yang layak memacu detak denyut

jantungnya. Raden Cakradara sebagaimana Raden Kudamerta adalah

para pria sempurna yang menjadi pilihannya, yang disodorkan namanama

itu kepada dua anaknya dengan setengah memaksa. Untuk nama

Raden Cakradara tidaklah terlalu menimbulkan masalah. Sri Gitarja bisa

menerima sosok lelaki itu sebagai calon suami yang memang ia mimpikan.

Sedikit agak rumit dengan Raden Kudamerta karena kini terbukti Dyah

Wiyat menyimpan nama lain, nama yang tak masuk akal karena apalah

yang bisa diharap dari seorang Ra Tanca, pemberontak pembunuh raja

yang mempunyai istri itu. Persoalan yang sebagaimana dilaporkan Patih

Daha Gajah Mada, ternyata rumit dan menjanjikan kekacauan apabila

tidak diatasi dengan baik dan bijaksana.

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri memejam mata, tetapi dalam

memejam itu Ratu Gayatri laksana memutar ulang percakapan yang

terjadi pada siang sebelumnya. Di tempat itu pula percakapan yang hanya

berlangsung berdua setelah pasewakan kecil yang juga menghadirkan

Mapatih Arya Tadah dan Senopati Gajah Enggon usai. Pembicaraan

empat mata itu juga atas keinginan khusus Gajah Mada yang tak ingin

164 Gung binatara, Jawa, raja besar berwibawa

238 Gajah Mada

isi pembicaraan itu diketahui orang lain. Dalam kesempatan itu, Patih

Daha Gajah Mada tidak merasa ragu untuk mengutarakan keterangan

yang ia miliki.

”Kudamerta sudah mempunyai istri?” bertanya Ratu Gayatri dengan

tatapan amat terbelalak.

Patih Daha Gajah Mada merapatkan kedua telapak tangannya,

pandangan mata pemuda berbadan kekar itu sama sekali tidak ragu

membalas tatapan Ratu Gayatri.

”Kamu yakin akan hal itu?”

Gajah Mada mengangguk.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada. ”Keterangan yang hamba

peroleh itu benar adanya. Raden Kudamerta memiliki seorang istri.”

Ratu Gayatri merasakan gangguan pada matanya. Apa yang dilihat

berkunang-kunang ditambah ribuan bintang bertaburan. Namun, dengan

sekuat tenaga Ibu Ratu Gayatri berusaha menguasai diri. Sebagai seorang

biksuni, Ibu Ratu amat terlatih soal bagaimana menguasai diri, yang

biasanya tersalurkan dalam pemusatan semadi. Soal yang sedang dihadapi

anaknya tak seharusnya mengganggu kepasrahan jiwanya. Apa yang

diceritakan Patih Daha Gajah Mada itu pada dasarnya bisa menimpa

siapa saja.

”Mengapa baru sekarang kausampaikan keterangan penting itu,

Patih Daha Gajah Mada?” tanya Ratu Gayatri dengan suara amat lirih

nyaris tak terdengar.

Akan tetapi, Gajah Mada bisa menangkap pertanyaan itu dengan

sangat jelas.

”Hamba memperolehnya baru saja, Tuan Putri.”

Hening memberangus ruangan itu. Ibu Ratu Rajapatni Biksuni

Gayatri tidak bisa mengelak. Ternyata ada rasa ngilu di ulu hatinya.

Kecewa itu menjalar makin merebak dan melontarkan sebuah

pertanyaan, mengapa Kudamerta menyembunyikan hal itu? Lebih ngilu

lagi ulu hati Ibu Ratu ketika menyadari sebuah hal, perkawinan Raden

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 239

Kudamerta dengan orang lain yang terjadi lebih dulu itu menempatkan

Dyah Wiyat dengan amat telak sebagai istri kedua.

”Siapa perempuan istri Raden Kudamerta itu?” kembali Ibu Ratu

melepaskan pertanyaan dengan nada suara amat lirih.

Ibu Ratu memejamkan mata.

”Hamba belum mendapat nama perempuan itu, Tuan Putri,” Gajah

Mada menjawab. ”Saat ini hamba sedang menugasi Adi Pradhabasu

untuk menelusuri keterangan itu. Adi Pradhabasu pemilik keterangan

awal itu, Tuan Putri.”

”Pradhabasu?” gumam Ibu Ratu.

”Hamba, Tuan Putri. Hamba juga telah meminta Adi Pradhabasu

untuk mencari hubungan antara rangkaian kejadian yang terjadi semalam

hingga siang ini.”

Ibu Ratu Rajapatni Gayatri masih memejamkan matanya dan

sebagian besar perbincangannya dengan Patih Daha Gajah Mada, ia

lakukan dengan cara seperti itu.

”Apakah menurut Pradhabasu, Raden Kudamerta mempunyai

anak?”

Pertanyaan yang dilontarkan Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri

itu tidak lagi mewakilinya sebagai biksuni, namun mutlak mewakili warna

hatinya sebagai ibu sekaligus ratu yang mencemaskan masa depan

Majapahit. Apabila Raden Kudamerta mempunyai anak dan ternyata

Dyah Wiyatlah yang diangkat menjadi ratu dan bila Dyah Wiyat tidak

memiliki keturunan maka bisa terjadi perampokan terhadap takhta.

”Bagaimana, Gajah Mada? Apakah Raden Kudamerta yang

menurutmu sudah memiliki istri itu juga mempunyai seorang anak?”

Gajah Mada amat memahami warna kecemasan yang membalut

jantung dan hati Ratu Rajapatni. Kecemasan itu memang sangat layak.

Hanya berlangsung sehari setelah pergeseran takhta itu terjadi, kekacauan

pun terjadi. Takhta adalah kue yang diperebutkan, warisan yang diincar

banyak pihak, baik yang merasa berhak secara langsung bahkan pihak240

Gajah Mada

pihak yang sebenarnya tak berhubungan sama sekali. Belum lagi

sepenginang waktu bergeser sejak Jayanegara mati terbunuh, telah terjadi

pembunuhan di sana sini yang merupakan tanda-tanda, baik secara

langsung atau tak langsung terhadap adanya perebutan warisan itu.

Padahal, yang diperebutkan adalah takhta, pemegang kekuasaan tertinggi

atas negara.

Kematian-kematian itu sangat berselubung teka-teki, terutama

kematian Panji Wiradapa. Ia hanya seorang prajurit berpangkat rendahan,

tetapi memiliki pengaruh amat besar terhadap Raden Kudamerta. Apalagi

berdasar pendalaman yang dilakukan oleh telik sandi yang ditugasi Gajah

Mada, Panji Wiradapa mempunyai kaitan dengan sebuah peristiwa di

masa silam yang benar-benar harus diwaspadai.

Adalah Brama Ratbumi, sang tangan kanan Mahapati atau yang

juga disebut Ramapati, jahat dan kejamnya minta ampun. Boleh dikata

kejahatan yang dilakukan Brama Ratbumi bahkan melebihi kejam dan

culasnya Ramapati. Kekejian Ratbumi tergambar dari beberapa

pembantaian keji yang ia lakukan melebihi perintah yang ia terima dari

Mahapati. Ketika Mahapati dihukum mati, Brama Ratbumi hilang dari

muka bumi. Perintah pun dijatuhkan untuk memburunya, tetapi seiring

hari-hari yang terus bergerak, Ratbumi tidak berhasil ditemukan. Bahkan,

tidak banyak orang yang masih mengingat namanya. Hanya para korban

atau orang-orang yang dirugikan secara langsung atau tak langsung yang

tak bisa menghapus wajah Brama Ratbumi dari mimpi-mimpi mereka.

Setelah sekian lama, nama Panji Wiradapa muncul. Mantan telik

sandi dari pasukan Bhayangkara mengendusnya. Gajah Mada yang telah

memperoleh laporan memberi perintah untuk terus mengamati orang

itu untuk meyakinkan bahwa orang itu benar-benar Ratbumi, tangan

kanan Mahapati. Sayangnya, Panji Wiradapa keburu mati terbunuh. Akan

tetapi, penelusuran terhadap Brama Ratbumi menemukan jejak baru,

jejak yang memang lebih mengagetkan.

”Keterangan yang hamba peroleh dari Adi Pradhabasu demikian

adanya, Tuan Putri. Benar Raden Kudamerta memiliki seorang anak,

laki-laki.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 241

Cemas Ibu Ratu terwakili dari mata yang semula memejam itu kini

terbuka. Patih Daha Gajah Mada segera menyembah.

”Gajah Mada,” ucap Ibu Ratu sangat perlahan. ”Kekuasaan yang

kini berada di tanganku sungguh sangat membebani pilihan hidup yang

kuambil di usia tua ini. Aku seorang biksuni, aku tidak boleh menjadi

ratu dan sesegera mungkin harus melepas kekuasaan dan kuserahkan.

Akan tetapi, memilih satu di antara Sri Gitarja dan Dyah Wiyat sungguh

harus melalui pertimbangan yang tak sekadar matang, sungguh lebih

jauh dari itu. Sekali lagi, Patih Daha Gajah Mada, telah terbukti dulu kau

menanam jasa yang demikian besar pada negara ini. Untuk kali ini sekali

lagi aku percayakan kepadamu untuk menguaknya. Laporanmu nantinya

akan menjadi pertimbangan dalam aku menentukan siapa yang akan

menggantikan Anakmas Prabu Jayanegara. Sidang bahkan harus dibuka

kembali melibatkan tak hanya para Ratu.”

Sigap Gajah Mada memberikan sembahnya. Tugas yang sangat berat

itu telah digenggam dan siap untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Maka demikianlah, dengan jelas dan gamblang Patih Daha Gajah Mada

melaporkan apa yang terjadi, siapa saja orang yang terbunuh dan

kemungkinan kepentingan apa saja yang berada di belakang rentetan

kejadian itu. Tegas dan penuh keyakinan Patih Daha Gajah Mada

menyebut, apa yang terjadi itu merupakan tanda-tanda terjadinya

perebutan kekuasaan. Di belakang Raden Cakradara ada pihak yang

bermain, ingin menunggangi dan manfaatkan Raden Cakradara.

”Orang-orang yang terbunuh itu adalah orang-orang Raden

Kudamerta?” Ibu Ratu bertanya.

”Benar, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada tegas.

”Pelakunya orang-orang yang berkepentingan menempatkan Raden

Cakradara menjadi raja?” Ratu menambahkan.

”Terlalu pagi untuk mengambil simpulan demikian, Tuan Putri.

Akan tetapi, hamba akan berusaha sekuat tenaga mencari jawabnya

sebagaimana perintah yang telah hamba terima.”

”Aku percayakan hal itu kepadamu, Gajah Mada.”

242 Gajah Mada

Betapa tidak nyaman manakala dalam keadaan dirinya telah menjadi

biksuni masih saja terganggu oleh urusan duniawi. Menjadi ratu

mengendalikan negara dan menjadi biksuni adalah dua sisi yang berbeda,

namun dua sisi yang berbeda itu tidak bisa dihindari dan semua harus

dijalani. Dalam kedudukannya sebagai ratu dan ibu, Gayatri tak bisa

menghindari kekecewaannya. Raden Kudamerta, sang menantu,

menyembunyikan salah satu sisi hidupnya yang ternyata telah memiliki

seorang istri dan bahkan anak. Hal itu membuatnya kecewa. Dan kini di

hadapannya, anak bungsunya, Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa juga

membuatnya kecewa.

”Wiyat,” Ibu Ratu mencuri perhatian anaknya yang pikirannya

sedang hilang melayang entah ke mana.

Dyah Wiyat yang seperti sedang melamun itu menoleh.

”Hamba, Ibu Ratu,” jawabnya.

”Ibu punya pertanyaan untukmu, jawablah dengan jujur.”

Dyah Wiyat segera mempersiapkan diri sambil berusaha menebak

bagaimana warna hati ibunya. Adakah pengakuan yang ia berikan

menyebabkan ibunya marah? Namun, Dyah Wiyat berpegang teguh pada

keyakinannya, Ibu Ratu adalah seorang ibu yang akan mengalirkan maaf

dan ampunan apa pun kesalahan yang diperbuatnya. Apalagi, Ibu Ratu

adalah biksuni yang terbebas dari kemarahan yang sebenarnya tidak lebih

dari warna hati yang semu. Kemarahan adalah warna hati yang

menyesatkan.

”Apakah Dyah Wiyat ingin Rajadewi Maharajasa yang terpilih

menjadi ratu menggantikan Anakmas Prabu Jayanegara?”

Dyah Wiyat memandang ibunya lebih lekat. Dyah Wiyat segera

merasa, apa yang disampaikan ibunya merupakan pertanyaan terberat

yang harus ditimbang amat matang dalam menjawabnya. Akan tetapi,

bukankah telah lama sekali Dyah Wiyat mempersiapkan diri menyediakan

jawaban bila pertanyaan itu diajukan kepadanya.

Keadaan terakhir yang berkembang tidak terduga juga menjadi

pertimbangan tersendiri yang menyebabkan Dyah Wiyat tak merasa ragu

menjawab pertanyaan Ibu Ratu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 243

”Hamba, Ibu Ratu,” jawabnya. ”Sikap hamba sekarang berubah.

Hamba ingin, hambalah yang dipilih menjadi ratu memimpin negeri

ini.”

Jawaban itu, jawaban yang demikian lugas dilontarkan Dyah Wiyat

ternyata sanggup mengagetkan ibunya. Yang duduk di dampar kencana

itu bukan lagi biksuni yang mestinya tidak perlu terkaget-kaget oleh

jawaban yang bersifat duniawi, namun rupanya jawaban Dyah Wiyat itu

masih menyisakan sengatan, atau laksana petir yang meledak menggemuruh

yang membelah udara menjadi guntur menggelegar ketika langit

sedang begitu cerahnya. Terbelalak dan cukup lama Ratu Gayatri

memandang anaknya.

”Semula memang hamba tidak bermimpi, Ibu,” tambah Dyah Wiyat.

”Hamba tak ingin hamba yang diangkat menjadi ratu. Di sisi lain, sebelah

hamba ada Mbakyu Sri Gitarja yang lebih tua dari hamba. Mbakyu Gitarja

lebih berhak memimpin negeri ini didampingi Kakang Raden Cakradara.

Akan tetapi, melihat perkembangan keadaan sekarang, hamba justru

terpanggil oleh tugas berat itu. Di hadapan Ibu Ratu Gayatri junjungan

sesembahan hamba, hamba berjanji akan melaksanakan tugas dengan

baik. Hamba akan menjawab perbuatan orang-orang yang berniat

memperebutkan takhta dan kekuasaan itu dengan cara yang benar.

Hamba akan memegang dan menjalankan kekuasaan itu dengan cara

Raden Wijaya, menggunakan cara trah Rajasa. Hamba tak akan berbagi

kekuasaan meski dengan suami hamba.”

Ketika angin tiba-tiba bergerak menyebabkan jendela ruang itu

berderit maka derit itu menimbulkan getar yang menggema di ruang

itu. Ibu Ratu Gayatri terkesima oleh jawaban anaknya yang tidak terduga.

Jawaban anaknya sungguh mencemaskan, tetapi sebenarnya juga

menjanjikan. Ibu Ratu melihat dalam banyak hal Dyah Wiyat memang

memiliki sifat dan sikap yang lebih menonjol dari kakaknya. Dyah Wiyat

bisa bersikap tegas, mampu memilih secara tegas satu di antara banyak

pilihan yang berada dalam kedudukan tak ubahnya malakama. Sifat dan

sikap yang demikian lebih mandiri dan amat sesuai untuk menjadi

pemimpin.

244 Gajah Mada

Akan halnya Gitarja, tak memiliki sifat dan sikap seperti itu. Tingkat

ketergantungan Sri Gitarja sangat tinggi. Ketika Sri Gitarja yang

dipilihnya, nantinya Raden Cakradaralah yang menjalankan tugas-tugas

anaknya itu. Raden Cakradara boleh jadi akan mengambil alih kekuasaan

anaknya. Padahal, di belakang Raden Cakradara ada pihak-pihak yang

berebut kuasa. Tengara dari perebutan itu adalah pembunuhan-pembunuhan

yang sedang terjadi.

”Bagaimana bila pertanyaan yang sama aku ajukan kepada Gitarja,

apa jawaban anakku yang satu itu?” bertanya Ratu Gayatri dalam hati.

Apabila semula Dyah Wiyat tidak menganggap takhta sebagai

kedudukan yang diharapkannya, kini ia merasa memiliki alasan untuk

mendapatkan kedudukan itu. Terhadap Sri Gitarja, Dyah Wiyat sangat

menyayangi kakak perempuannya itu. Untuk rasa hormat, rasa cinta,

dan sayangnya terhadap Sri Gitarja, dari sejak dini ia tak pernah beranganangan

soal dampar kencana. Takhta telah menjadi takdir Gitarja karena ia

lahir lebih dulu dari dirinya. Dalam aturan yang tidak tertulis, anak yang

lebih tua lebih memiliki hak daripada dirinya yang muda. Akan tetapi,

apabila dirinya yang ditunjuk menjadi ratu menggantikan kakaknya, Dyah

Wiyat akhirnya dengan bulat siap akan menerima tugas berat itu.

”Apa salahnya aku yang diangkat menjadi ratu,” kata Rajadewi dalam

hati. ”Dengan aku menjadi ratu, aku tidak akan berbagi dengan Raden

Kudamerta atau dengan siapa pun. Aku akan menjadi ratu yang mandiri

dan tidak akan memberi peluang suamiku menjadi raja bayangan.

Merupakan kekeliruan bila meremehkanku. Aku bisa menjadi seperti

Putri Shima yang terkenal itu.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 245

18

Kuda hasil curian itu dipaksa membalap kencang bagaikan

kekurangan waktu, penunggangnya terus mengayunkan cambuknya

meski kuda itu telah memperlebar ayunan kakinya. Di langit bintangbintang

gemerlapan, sebagaimana kunang-kunang tidak ubahnya

bintang-bintang itu, ribuan jumlahnya mengombak di hamparan padi.

Melewati jalan memanjang yang membelah bulak sawah itu, kuda hitam

itu membalap kencang. Namun, burung-burung bence yang melayang

di langit tak merasa harus kaget melihat kuda yang berderap kencang

itu. Pun dua ekor burung rajawali yang terbang membubung sangat tinggi

di langit, hanya memerhatikan sekilas. Dua burung dengan sayap lebar

itu lebih memusatkan perhatiannya pada keheningan malam. Burung

itu juga tak sedang bekerja mencari mangsa, terbang yang dilakukannya

tidaklah menyita tenaga karena hanya sekadar membentangkan sayap.

Angin deras dari depanlah yang menyebabkan dua burung berukuran

besar itu melayang. Oleh keadaan itu burung rajawali bahkan bisa tidur

sambil melayang.

Pun riuhnya katak yang bersahutan di genangan air, tidak perlu

terlalu lama membungkam mulut. Demikian kuda yang dipacu seperti

dikejar setan itu lewat maka suaranya yang riuh terdengar kembali. Riuh

katak bersahutan itu tetap terjadi meski sebenarnya justru menjadi

petunjuk arah bagi ular yang memburunya. Ular sanca tak cukup

memangsa satu atau dua bahkan sampai sepuluh ekor. Seratus ekor katak

pun belum mencukupi rasa laparnya. Ular sanca bahkan tak hanya

memangsa katak, tikus dan ular lain pun ditelannya. Ular sanca yang

berukuran lebih besar bahkan sanggup menelan seekor kambing.

Setelah melewati bulak panjang dan jalanan berliku, penunggang

kuda yang merasa kekurangan waktu itu memasuki pedukuhan yang

bisa dibilang terpencil. Pedukuhan itu dikelilingi sawah di empat penjuru

angin, juga dikelilingi oleh rimbunnya pohon bambu yang amat rapat,

246 Gajah Mada

menjadikan secara alami pedukuhan itu terlindung dari dunia luar.

Pedukuhan itu hanya memiliki sebuah pintu masuk. Untuk memasuki

dan keluar hanya lewat sebuah gerbang, yaitu dari sebelah selatan. Jalan

keluar dari arah lain di sisi utara telah ditutup rapat dengan pohon bambu

pula.

Penunggang itu memperlambat derap kuda tunggangannya. Dari

mulutnya lalu terdengar siulan panjang yang rupanya merupakan isyarat

minta izin masuk. Warna siulan dengan nada yang amat khas itu diterima

yang dibalas dengan siulan sewarna. Tak ada pintu gerbang yang harus

terbuka karena memang tidak ada pintu gerbang. Akan tetapi, jangan

harap bisa memasuki pedukuhan itu tanpa izin karena anak panah pasti

akan menyambar orang yang memaksa masuk tanpa izin.

”Siapa?” terdengar suara teriakan ketika penunggang kuda itu

melintas.

”Bramantya,” jawab penunggang kuda itu sambil mempercepat

kembali laju kudanya membelah jalanan yang membelah pedukuhan itu.

Hanya terdapat empat buah rumah di pedukuhan itu, dan semua

bukan rumah yang bagus. Namun, empat rumah itu berukuran besar

dan disangga kayu jati pilihan. Ke rumah yang paling besar penunggang

kuda itu mengarah. Suara kuda yang datang itu rupanya memang sudah

ditunggu. Bergegas orang itu keluar.

”Apa yang terjadi? Mana pula yang lain?” tanya orang itu.

Penunggang kuda bernama Bramantya itu berdebar-debar.

Kedatangannya di pedukuhan itu membawa beban yang sungguh berat.

Ia sangat mengenali orang yang akan ditemuinya yang tidak segan-segan

menghadiahinya gamparan sebagai upahnya gagal melaksanakan tugas,

padahal tugas itu hanya jenis tugas yang ringan saja. Tak pernah

disangkanya tugas yang hanya ringan saja itu kandas di tangan pemburu.

Di pedukuhan Daleman ia terantuk batu padas keras. Sambaransambaran

anak panah yang ia kira dilepas oleh pasukan Bhayangkara

menyebabkan upaya menjemput perempuan bernama Dyah Menur

gagal. Ia bersama anak buahnya bahkan kocar-kacir salang tunjang.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 247

Bramantya meloncat turun dari kudanya dan bergegas mengikat

tali kendali kuda itu ke batang kayu yang memang disiapkan untuk

keperluan itu.

”Apa yang terjadi?” kembali orang yang menyongsongnya itu

bertanya.

Amat mencuat alis orang itu. Tangan kanannya memelintir kumisnya

yang tak seberapa banyak, hanya beberapa helai saja.

”Aku minta maaf, Kakang Rangsang Kumuda,” jawab Bramantya.

”Aku tak berhasil. Ada kejadian tak terduga-duga yang menghambat

tugasku mengambil Dyah Menur dan anaknya. Aku bahkan tak tahu

bagaimana nasib teman-temanku. Mungkin mereka terbunuh, mungkin

pula ditawan dan kuda-kuda dirampas. Hanya aku yang berhasil

meloloskan diri dan harus berjalan kaki untuk kembali ke tempat ini.

Itulah sebabnya, aku baru tiba. Untunglah aku berhasil mendapatkan

kuda dengan mencuri milik seorang penduduk.”

Mencuat lagi alis Rangsang Kumuda.

”Apa yang terjadi?” orang itu bertanya didorong oleh rasa tidak

sabarnya.

”Semua karena ulah Bhayangkara. Ada Bhayangkara di sana yang

membuat aku dan anak buahku tidak bisa berbuat apa-apa. Anak panah

berhamburan bagaikan hujan yang turun di Gunung Kawi,” jawab

Bramantya.

Rangsang Kumuda merasa bagaikan tertampar wajahnya. Pipinya

menebal dan getar bibirnya menunjukkan rasa sakit yang muncul.

Jawaban Bramantya sangat mengagetkannya. Segera kecemasannya

menyeruak. Kehilangan Dyah Menur benar-benar membuatnya cemas.

”Bhayangkara, mereka ada di Daleman?”

”Benar, Kakang Rangsang,” jawab Bramantya.

Rangsang Kumuda berjalan mondar-mandir sambil tangannya

memegang kening, menjadi pertanda ia sedang berpikir menggunakan

apa yang ada dalam keningnya. Bramantya yang gelisah mengelus-elus

248 Gajah Mada

dadanya, menjadi pertanda kegelisahannya berasal dari kedalaman

dadanya. Anjing terdengar menyalak di kejauhan, entah warna hati

macam apa yang terwakili oleh suara yang nglangut itu. Bisa jadi karena

anjing itu sedang menahan berahi sementara lawan jenis tidak kunjung

datang, kekasih hati yang didambakan belum ditemukan.

”Kauyakin, Bhayangkara berada di sana?”

”Sangat yakin, Kakang Rangsang.”

”Bagaimana kamu bisa merasa yakin,” Rangsang Kumuda mengejar.

”Kami yang berjumlah lima orang dibikin kocar-kacir oleh anak

panah yang dilepas. Satu per satu kami berjatuhan. Sekarang cobalah

Kakang Rangsang berpikir, siapa orang yang memiliki kemampuan

macam itu selain Bhayangkara? Bahkan kaki yang menyembul sedikit

dari balik batang kayu bisa digapai, siapa pemanah yang sanggup

melakukan selain Bhayangkara?”

Rangsang Kumuda menjadi bingung. Dyah Menur baginya

merupakan simpul yang sangat penting untuk menggapai satu tahapan

yang harus dilaluinya. Dengan menguasai perempuan cantik itu,

Rangsang Kumuda bisa mengendalikan keadaan. Kini Dyah Menur

terlepas. Di belakang lepasnya Dyah Menur tersaji kemungkian buruk

karena Bhayangkara pasti mengendus jejak ulahnya. Dyah Menur pasti

akan bercerita apa yang terjadi dan menimpanya, sekaligus membuka

jati dirinya yang tersamar di balik nama Rangsang Kumuda yang bukan

nama sebenarnya karena di balik nama yang sekarang digunakan terdapat

nama lain, nama yang telah bulukan dan jamuran bersama berlalunya

waktu dan bahkan telah dianggap mati.

”Bodoh sekali, kenapa hal itu bisa terjadi?” Rangsang Kumuda

meledak.

”Justru aku yang mestinya bertanya kepada Kakang Rangsang,

kenapa pasukan Bhayangkara berada di sana? Amat mungkin Kakang

Rangsang yang bocor, bekerja tidak cermat. Janganlah Kakang Rangsang

menyalahkan aku dan anak buahku, kami tiba di pedukuhan Daleman

dalam keadaan di sana ada Bhayangkara yang menunggu dan kemudian

menyergap kami. Boleh dikata, Kakang justru menjerumuskan kami.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 249

Orang yang disebut dengan panggilan Kakang Rangsang Kumuda

itu terdiam beberapa saat masih sambil memegangi keningnya. Setelah

mengingat-ingat, Rangsang Kumuda merasa yakin tak mungkin terjadi

kebocoran. Perjalanan yang ia tempuh membawa Dyah Menur dilakukan

malam hari, tak ada seorang pun yang tahu. Jika benar di Daleman ada

Bhayangkara, tentulah karena sebuah kebetulan yang luar biasa.

”Tidak mungkin bocor,” ucapnya tegas.

”Nyatanya ada Bhayangkara di sana, bagaimana itu bisa terjadi?”

Rangsang Kumuda makin cemas. Sejauh ini apa yang diangankan

dirancang dengan baik dan telah diperhitungkan hingga ke bagian yang

sekecil-kecilnya. Akan tetapi, boleh jadi bangunan mimpinya akan runtuh

porak-poranda yang ditimbulkan oleh hal amat remeh dan tak terduga.

Dyah Menur yang tak lagi berada dalam genggaman tangannya akan

menyebabkan hancurnya mimpi yang dibangun secara keseluruhan.

Persoalan kecil dan sepele kalau tidak dikelola dengan baik bisa menjadi

persoalan besar, ibarat kriwikan dadi grojokan.165

”Kita serbu saja tempat itu!” Bramantya mengajukan usul.

Rangsang Kumuda mengerutkan kening. Lalu menggeleng perlahan.

”Bodoh sekali melakukan itu dan Dyah Menur pun tidak berada di

sana,” kata Rangsang Kumuda. ”Dyah Menur pasti berusaha bertemu

dengan suaminya dan itu berarti ia akan menempuh perjalanan ke

kotaraja. Kita hanya memiliki kesempatan itu. Kita cegat ruas jalan dari

Daleman menuju kotaraja. ”

Rangsang Kumuda tak mau membuang waktu, sebuah isyarat segera

dilepas. Ketika anak panah sanderan membubung memanjat langit, seisi

pedukuhan itu seperti dibangunkan dari tidur. Beberapa penghuninya

yang sedang lelap dan beberapa orang di antaranya sedang bermain dakon

bergegas bangkit. Beberapa jenak kemudian, belasan orang berkumpul

di halaman bangunan yang ditempati Rangsang Kumuda.

Sebelum menyampaikan apa keperluannya, Rangsang Kumuda

mengedarkan pandangan matanya memerhatikan satu per satu. Ada

165 Kriwikan dadi grojokan, peribahasa Jawa yang berarti persoalan kecil apabila dibiarkan bisa membesar

dan menyulitkan.

250 Gajah Mada

belasan anak buahnya yang berkumpul, yang semua siap digerakkan

untuk keperluan apa saja dan ke mana pun.

”Malam ini ada pekerjaan yang harus kalian kerjakan,” Rangsang

Kumuda berkata. ”Perempuan yang aku ceritakan kepada kalian terlepas

dan harus kita tangkap kembali. Perhitunganku, Dyah Menur akan

berusaha masuk ke kotaraja malam ini pula, mungkin dengan pengawalan

Bhayangkara. Kita cegat mereka menjelang pintu gerbang, yaitu pintu

gerbang utara dan ruas jalan menjelang Purawaktra. Kita lakukan itu

dengan baris pendhem. Karena pasukan Bhayangkara yang kita hadapi,

kita hanya bisa mengandalkan serangan dadakan menggunakan anak

panah.”

Tak ada pertanyaan apa pun yang diajukan, namun penghuni

pedukuhan yang tersamarkan di balik rimbun bambu itu cekatan dalam

menerjemahkan perintah. Tak berapa lama kemudian belasan ekor kuda

berderap membelah malam. Penduduk pedukuhan yang terletak di

seberang bulak hanya bisa menebak rombongan siapakah yang melintasi

wilayah mereka. Akan tetapi, pada umumnya mereka meyakini orangorang

berkuda itu pasti para prajurit Majapahit yang nganglang menjaga

keamanan. Derap kuda-kuda yang diyakini para prajurit justru

memberikan ketenteraman, tetapi tak bagi bocah-bocah kecil yang

meringkuk di pelukan ibunya.

”Siapa itu, Ibu?” tanya seorang bocah.

”Hantu,” jawab ibunya. ”Hantu yang akan menculik bocah yang

tidak segera tidur.”

Jawaban itu menyebabkan bocah itu bergegas memejamkan mata.

Akan tetapi, bocah yang belum lepas dari air susu ibunya itu justru

mengalami kesulitan untuk menggapai mimpi. Makin memejam mata,

bola matanya justru makin terpicing. Ketika ia berhasil tidur bukanlah

tidur yang nyenyak menyenangkan. Hantu terbang berbentuk bola api

justru mengejarnya meski ia telah bersembunyi di kolong tempat tidur,

juga mengejarnya meski ia telah terjun ke kolam penuh air. Untung seekor

ikan menolong dengan menerkam bola api itu, tetapi ikan itu yang

kemudian beralih memburunya. Dengan sekuat tenaga bocah itu

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 251

berenang dan berusaha mentas, celaka dialami bocah itu karena ikan itu

berhasil menggapai kakinya. Terbangun dari tidur adalah pertolongan

yang membebaskan dari kejaran api dan ikan yang punya banyak gigi.

Barisan orang berkuda yang menempuh perjalanan dengan maksud

khusus itu terus berderap membelah malam. Menjelang kotaraja mereka

memecah diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok dipimpin Rangsang

Kumuda mengarah lurus ke Purawaktra, separuh yang lain membelok

ke kiri melintas jalan menuju Candi Brahu. Untuk masuk ke kotaraja

tentu harus melewati dua ruas jalan utama itu. Dyah Menur yang dikawal

oleh Bhayangkara atau siapa pun tidak mungkin lolos dan bisa melintasi

tempat itu. Kecuali apabila Dyah Menur atau orang yang

membimbingnya memilih jalan yang lebih jauh dan melingkar dan

memasuki gerbang kotaraja melalui pintu sebelah timur.

Menjelang masuk pedukuhan terakhir Rangsang Kumuda memilih

tempat itu untuk pencegatan dengan menenggelamkan diri di balik lebat

ladang jagung. Maka bernasib sial pemilik ladang jagung itu nantinya

karena orang-orang yang punya niat tertentu itu tak segan-segan

memangsa jagung muda tanpa harus dibakar semata-mata oleh alasan

supaya perut mereka terganjal. Apalagi kuda-kuda mereka juga kelaparan.

Kuda-kuda yang disembunyikan di ladang jagung itu memberi

sumbangan kerusakan yang lebih parah pada tanaman jagung yang masih

muda itu.

”Yang lain boleh tidur, dua orang menjaga bergiliran.”

Perintah itu dilaksanakan dengan baik. Dengan saksama dan penuh

perhatian dua orang dari rombongan itu mengamati keadaan. Perhatian

mereka tertuju ke arah ruas jalan yang memanjang dari barat ke timur.

Andaikata di seberang bulak ada kuda melintas, suaranya akan langsung

bisa ditandai. Apabila siang hari semua akan terlihat jelas, orang yang

akan datang dari kejauhan terlihat jelas.

Sementara itu, pada waktu yang nyaris bersamaan, separuh anak

buahnya yang tersisa melakukan hal serupa. Sebuah ruas jalan menuju

pintu gerbang utara melalui candi bentar Waringin Lawang dijaga ketat.

Dalam remang malam bayangan pintu gerbang yang terbuat dari bata

252 Gajah Mada

merah itu menjulang tinggi setinggi pohon kelapa. Pohon beringin yang

tumbuh di sebelahnya juga menjulang tinggi menjadi sarang berbagai

burung sekaligus menjadi sarang hantu. Ada sekitar lima puluh ekor

monyet yang berkeliaran di tempat itu yang memakan apa saja menyebabkan

pemilik ladang paling dekat tempat itu kebingungan. Tak

mungkin mengusir monyet-monyet dari tempat itu karena mereka

memiliki sebagian sifat manusia, mengeroyok!

”Agar jangan lolos, jangan semua tidur. Lakukan penjagaan dua

orang secara bergantian.”

”Aku pilih tidur dulu, aku menjelang pagi saja.”

”Aku juga,” tambah yang lain.

”Jangan tidur semua,” bentak orang pertama.

Sang waktu terus bergerak membelah malam. Adalah pada saat itu

pula, Patih Daha Gajah Mada yang ditemani Gajah Enggon menatap

wajah Raden Kudamerta yang menampakkan raut wajah kebingungan.

Wajah seperti maling yang kepergok.

19

Raden Kudamerta baru saja melompat turun dari kuda ketika

dengan begitu tiba-tiba Gajah Mada langsung menjemputnya. Wajah

suami Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa terkejut bagai orang yang amat

kaget terpergok melakukan tindakan yang tidak terpuji.

”Raden Kudamerta baru dari mana?” tanya Gajah Mada.

Pertanyaan itu demikian menohok, menyebabkan Raden Kudamerta

tidak bisa menjawab. Dengan tatapan yang aneh pula Raden Kudamerta

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 253

membalas tatapan mata Gajah Enggon. Raden Kudamerta yang berbalik

mendapatkan para prajurit penjaga pendapa wisma dalam sikap berbaris.

Di pendapa, api obor bergerak menari meliuk-liuk diterjang angin. Dari

lima lampu obor yang dinyalakan, hanya tiga yang masih bertahan.

”Apakah luka Raden sudah sembuh?” Gajah Mada melanjutkan.

Raden Kudamerta berusaha keras mengendalikan diri. Keutuhan

daya pikirnya segera pulih manakala menyadari yang mengajukan

pertanyaan itu hanya Gajah Mada yang dari derajat berada jauh di

bawahnya. Jadi, mengapa harus gugup.

”Untuk apa kalian berada di sini?” bertanya lelaki tampan yang

tentu merasa belum sembuh dari rasa sakit di bagian dadanya itu.

”Kami akan mengajukan beberapa pertanyaan, meminta keterangan

dari Raden untuk menelusuri jejak-jejak pembunuhan dan bahkan untuk

menemukan siapa orang yang berniat membunuh Raden. Orang yang

melempar pisau itu memang tidak bisa ditanyai lagi, namun di belakangnya

ada orang yang mendalangi. Untuk mengetahui siapa orang

yang mendalangi rencana pembunuhan terhadap Raden Kudamerta

itulah, Raden harus menjawab beberapa pertanyaan yang kami ajukan.”

Raden Kudamerta yang termangu mendadak menahan nyeri yang

menyengat. Raden Kudamerta jelas sedang kesakitan. Adalah aneh dalam

keadaan yang demikian masih sempat-sempatnya ia pergi berkuda. Baru

pulang dari mana Raden Kudamerta dan untuk keperluan apa?

”Luka Raden masih berdarah?” Gajah Enggon yang mengajukan

pertanyaan.

Raden Kudamerta mengangguk.

”Dalam keadaan yang demikian, Raden pergi berkuda? Tentu urusan

penting yang menyebabkan Raden seperti tak punya pilihan lain?”

”Raden dari mana dan untuk keperluan apa?” Gajah Mada

menambah.

Pertanyaan-pertanyaan itu menyebabkan Raden Kudamerta makin

bingung sekaligus merasa tidak senang. Akan tetapi, Raden Kudamerta

254 Gajah Mada

tak mungkin mengelak sebagaimana tak mungkin menganggap lencana

kepatihan dan selempang samir yang melekat di pakaian Gajah Mada

itu tidak ada artinya.

”Ayo masuk, kita bicara di dalam.”

Gajah Mada tak menolak tawaran itu dan menempatkan diri di

belakang Raden Kudamerta. Pimpinan pasukan Bhayangkara

melambaikan isyarat tangan yang tertuju kepada para prajurit penjaga

keamanan wisma kediaman Dyah Wiyat, yang berbaris untuk

membubarkan diri.

Itulah hari pertama sekaligus malam yang pertama Raden Kudamerta

menjadi suami Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Melihat

keadaannya, Gajah Mada dengan segera menerka malam yang mestinya

indah itu sebenarnya muram sedikit hitam. Ke manakah Raden

Kudamerta pergi atau dari menemui siapa. Gajah Mada bahkan telah

memiliki gambaran jawabnya. Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa memang

layak kecewa melihat kenyataan sesungguhnya atas laki-laki yang kini

menjadi suaminya itu.

Di ruang tengah yang hanya dihampari babut permadani, Raden

Kudamerta mempersilakan tamu-tamunya duduk. Raden Kudamerta

mengedarkan pandangan mata yang jatuh ke seorang prajurit penjaga

pintu bagian tengah dan seorang emban yang duduk meringkuk

menunggu perintah. Emban itu menempatkan diri siap untuk diperintah

atau menjawab apabila Raden Kudamerta bertanya sedang berada di

mana istrinya. Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa sedang tidak di tempat

untuk memenuhi panggilan Ibu Ratu.

Emban itu cekatan untuk satu hal, tanpa diperintah ia menyiapkan

minuman untuk disuguhkan kepada tamu.

”Silakan bertanya, aku akan menjawab sejauh yang aku tahu.”

Gajah Mada dan Gajah Enggon saling lirik.

”Sejak kapan Raden berhubungan dengan Brama Ratbumi?” amat

langsung Gajah Mada menohok dengan pertanyaannya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 255

Dengan cermat dan saksama Gajah Mada berusaha menebak

perubahan wajah Raden Kudamerta. Gajah Mada berharap pertanyaan

itu akan menyebabkan menantu Ratu Gayatri itu terkejut dan langsung

berubah pucat. Akan tetapi, keinginan Patih Daha itu tidak menjadi

kenyataan. Raden Kudamerta memang kaget, tetapi perubahan raut

wajah mewakili rasa herannya karena nama itu belum pernah dikenalnya.

”Siapa?” balas Raden Kudamerta.

”Brama Ratbumi, Raden,” Gajah Enggon membantu memberinya

tekanan.

”Kalian pikir aku mengenal nama itu?” balas Raden Kudamerta.

”Aku tidak tahu siapa nama yang kalian maksud.”

Gajah Mada menarik simpulan, agaknya Raden Kudamerta tidak

mengenal nama Brama Ratbumi Rajasa. Bila yang diajukan adalah nama

lain yang digunakan Ratbumi, mungkin Raden Kudamerta langsung

mengerti siapa yang dimaksud.

”Kalian datang menemuiku untuk menanyakan nama yang belum

aku kenal. Siapa Brama Ratbumi?”

”Brama Ratbumi Rajasa adalah nama lain dari orang yang amat

Raden kenal. Ia mempunyai nama lain Panji Wiradapa,” Gajah Mada

mempertegas.

Kali ini Raden Kudamerta benar-benar kaget. Perubahan raut

mukanya terlihat jelas kalau ia terkejut. Tentu nama Panji Wiradapa

dikenalnya dengan baik. Kematian Panji Wiradapa itu bahkan

memunculkan dendam yang tidak tahu ke mana ia harus menyalurkan.

Belum lagi satu masalah itu terurai, tiba-tiba Gajah Mada datang dengan

membawa keterangan yang belum dipahami sepenuhnya. Orang yang

ditempatkannya sebagai paman itu ternyata memiliki nama Brama

Ratbumi.

”Paman Panji menyembunyikan nama itu?” Raden Kudamerta

bertanya.

256 Gajah Mada

”Ya, nama aslinya Brama Ratbumi,” jawab Gajah Mada.

Raden Kudamerta merasa membutuhkan waktu beberapa saat

lamanya untuk memahami kenyataan yang mengagetkan itu.

”Lalu, apa pula yang disembunyikan Paman Panji di balik nama

itu?” tambah Raden Kudamerta.

”Jadi, Raden Kudamerta belum pernah mendengarnya?” Gajah

Mada kembali menegas.

Raden Kudamerta menggeleng pendek, namun tegas.

”Raden masih ingat sepak terjang Mahapati?”

”Ramapati atau Mahapati, semua orang tak mungkin melupakan.

Ia mengadu domba mulai dari Tuban hingga Lumajang, menjadi

penyebab jatuhnya korban dari Ranggalawe, Sora sampai Nambi. Mulut

Mahapati sangat beracun. Itu yang aku ingat dari sosok Mahapati.

Sedemikian parah racunnya sampai berkemampuan menimbulkan

perang,” jawab Raden Kudamerta.

Sebenarnya layak apabila Raden Kudamerta tidak pernah

mendengar sepak terjang Mahapati atau Ramapati karena Raden

Kudamerta datang ke Majapahit belum terlalu lama sementara perang

yang terjadi antara Majapahit dengan Lumajang sudah berjalan lama.

Bahkan, telah berada di wilayah belasan tahun yang lalu. Akan tetapi,

ternyata Raden Kudamerta memiliki pemahaman yang baik terhadap

peristiwa itu. Maka terasa amat aneh bila Raden Kudamerta tidak sadar

sedang berimpitan pada jarak yang amat dekat dengan salah satu pelaku

yang mendorong terjadinya perang antara Majapahit dan Lumajang itu.

Demikian dekatnya karena Panji Wiradapa adalah Ratbumi.

”Apa kaitan Mahapati dengan Ratbumi?” Raden Kudamerta

menekan.

”Panji Wiradapa adalah Brama Ratbumi, sedang Brama Ratbumi

adalah tangan kanan Mahapati, orang kedua setelah Mahapati atau

Ramapati yang paling dicari karena sepak terjangnya yang tak bisa

diampuni,” Gajah Enggon menjawab.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 257

Jawaban itu rupanya mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk

memaksa Raden Kudamerta terbungkam mulutnya. Jawaban itu bahkan

menyebabkan Raden Kudamerta mendadak menjadi pucat, mulutnya

pun bergetar gemetar, bahasa wajah yang dengan amat jelas dibaca oleh

Gajah Mada dan Gajah Enggon.

”Bagaimana, Raden?” tanya Gajah Mada.

”Paman Panji Wiradapa, ternyata orang itu?”

”Benar,” Gajah Mada menjawab tegas. ”Kalau aku tak salah

menebak, apakah kini ada sesuatu yang Raden cemaskan.”

”Aku mencemaskan sesuatu?” Raden Kudamerta membalas

pertanyaan itu dengan membalikkan pertanyaan.

”Mungkin Raden mencemaskan istri Raden?” Gajah Mada kembali

bertanya seolah melepas pertanyaan serampangan.

Namun, pertanyaan itu menyebabkan isi dada Raden Kudamerta

diguncang amat keras. Kekagetannya tak mungkin disembunyikan. Pucat

pasi Raden Kudamerta dicecar dengan pertanyaan yang sama sekali tidak

terduga itu. Bukan hanya wajahnya yang mewakili menampakkan isi

kepalanya, tetapi juga dari tangan kirinya yang gemetar buyutan.

Yang tak kalah terkejut adalah Gajah Enggon. Ia memandang Gajah

Mada tak berkedip. Mulutnya sedikit terbuka. Hanya sejenak waktu yang

dibutuhkan Enggon mengambil keputusan untuk manggut-manggut.

Amat perlahan senopati pimpinan pasukan Bhayangkara itu menoleh,

berusaha membelejeti raut muka pewaris wilayah Pamotan yang ternyata

menyembunyikan rahasia yang demikian besarnya. Ia telah beristri, benarbenar

sebuah pelecehan yang tak terampuni. Dengan beristri macam

itu berani-beraninya mengawini Sekar Kedaton?

”Raden Kudamerta punya istri?” Gajah Enggon mengulang

pertanyaan itu.

Raden Kudamerta benar-benar terbungkam mulutnya. Ia tak punya

kekuatan untuk menjawab pertanyaan itu sekaligus dibelit oleh rasa kaget,

bagaimana mungkin Gajah Mada bisa mengetahui rahasia itu, rahasia

yang bahkan semut pun tidak tahu.

258 Gajah Mada

”Kepergian Raden baru saja meski sebenarnya masih berada dalam

keadaan sakit terluka adalah untuk bertemu dengan istri Raden, bukan?

Bagaimana? Apakah Raden berhasil bertemu dengannya?”

Pertanyaan yang terlalu langsung itu betapa sulitnya dijawab. Yang

bisa ia lakukan hanyalah menggeleng lunglai.

”Maksud Raden, Raden tidak berhasil menemukannya?” Gajah

Mada mengejar lebih tajam.

Raden Kudamerta mengangguk.

”Tunggu dulu,” Gajah Enggon menyela. ”Jadi, Raden Kudamerta

mengawini Tuan Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa dalam keadaan

yang demikian? Raden Kudamerta menyembunyikan sebuah kenyataan

bahwa sebenarnya ia sudah beristri dan menempatkan Tuan Putri Sekar

Kedaton hanya sebagai istri kedua?”

Betapa hening akibat yang ditimbulkan oleh pertanyaan Gajah

Enggon, yang dengan sangat telak menyudutkan Raden Kudamerta ke

tempat paling pojok. Tanpa berkedip pimpinan pasukan Bhayangkara

itu mengarahkan pandangan matanya kepada laki-laki gagah yang

menjadi kembang bibir para gadis itu.

”Ibu Ratu Gayatri sudah tahu,” dengan mendadak Gajah Mada

menambah.

Gajah Enggon kaget, Raden Kudamerta terkejut.

”Aku yang memberi tahu Tuan Putri Ratu Rajapatni. Di mata

Biksuni, Dyah Wiyat hanya tersandung takdir. Namun, dalam cara

pandangku, ke depan Majapahit akan menghadapi kekacauan apabila

Tuan Putri Dyah Wiyat yang terpilih dan tidak memiliki keturunan. Bisa

jadi akan terjadi perubahan arah garis keturunan, yang tidak punya hak

bisa saja merebut menguasai takhta. Aku yakin, apabila Raden Kudamerta

tidak menyadari hal itu adalah karena di belakang Raden ada orang yang

bernama Panji Wiradapa. Orang itu yang mendalangi.”

Betapa pucat Raden Kudamerta. Mulutnya tergembok tak bisa

mengeluarkan kalimat apa pun. Tetapi juga betapa nyaris meledak isi

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 259

kepala Senopati Gajah Enggon melihat Dyah Wiyat dibohongi. Senopati

Gajah Enggon merasa dirinyalah yang telah ditipu sampai pada titik

nadir.

”Bagaimana dengan Sekar Kedaton Dyah Wiyat?” Gajah Enggon

bertanya. ”Apakah Sekar Kedaton juga mengetahui suaminya ternyata

telah beristri?”

Gajah Enggon tidak mampu menguasai diri. Ia demikian marah.

Padahal jika ditelisik, tidak jelas apakah hak yang ia miliki sehingga harus

sedemikian marah. Gajah Enggon bangkit dan berjalan mondar-mandir.

”Ternyata di Majapahit ini ada orang yang berani menipu Sekar

Kedaton.”

Raden Kudamerta tak mampu menjawab pertanyaan itu. Gajah

Mada yang ikut menunggu jawabannya tak kunjung memperoleh.

”Urusan itu, biarlah diselesaikan sendiri oleh Raden Kudamerta,”

Gajah Mada berbicara. ”Kemarahanmu itu bukan wilayahmu, bukan

urusanmu. Jadi, biarlah Raden Kudamerta yang menyelesaikan. Apabila

Tuan Putri Gayatri mengizinkanmu untuk dan menyuruhmu

menghukum mati Raden Kudamerta atas kebohongannya, hal itu

menjadi wilayahmu. Untuk saat ini belum.”

Gajah Enggon yang berjalan mondar-mandir itu hanya bisa

menghela napas geram, namun tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang

dikatakan Gajah Mada benar. Ia memang tak punya hak untuk marah.

Gajah Enggon akhirnya duduk kembali dan menempatkan diri di

belakang Gajah Mada. Namun, Gajah Enggon tidak bisa menipu,

wajahnya secara lugas menampakkan kejengkelannya. Gajah Enggon

tidak mampu menerima kenyataan salah seorang Sekar Kedaton ditipu

seekor bulus. Laki-laki yang mengawininya ternyata seekor bulus yang

punya tanda-tanda gemar mempermainkan perempuan.

”Jadi, selama ini Raden mengenal Panji Wiradapa, tetapi sama sekali

tak mengenal Brama Ratbumi?” Gajah Mada berbicara lebih mengarah.

Raden Kudamerta mengangguk.

260 Gajah Mada

”Aku hanya mengenalnya sebagai Paman Panji Wiradapa, tidak lebih

dari itu. Aku sama sekali tidak tahu kalau di belakang namanya ada nama

lain dengan masa lalunya yang kelam,” jawab Raden Kudamerta.

”Raden mengetahui, untuk alasan apa seseorang membunuhnya?”

Raden Kudamerta membekukan diri beberapa saat lamanya.

Namun, temanten baru itu tak menemukan arah yang jelas atas siapa

orang yang begitu berkepentingan memberangus nyawa Panji Wiradapa

walau Raden Kudamerta tak bisa mengelak, dengan perilaku dan sifatnya

yang kasar Panji Wiradapa pasti banyak memiliki musuh.

Raden Kudamerta akhirnya menggeleng.

”Paman Panji Wiradapa mungkin tidak disukai orang. Kata-katanya

kasar dan menyakiti. Mungkin pula Paman Panji memiliki banyak musuh.

Namun, aku sungguh-sungguh tidak mampu menebak atau

membayangkan, siapa yang telah menghabisi nyawanya,” jawab Raden

Kudamerta.

Gajah Mada tidak mengalihkan pandangan matanya. Demikian

besar perbawa yang dimiliki Gajah Mada menyebabkan Raden Kudamerta

merasa risih dan tak mampu berlama-lama bertatapan mata dengannya.

Raden Kudamerta mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.

”Kalau Klabang Gendis?” Gajah Mada mengejar.

”Aku membawanya dari Pamotan sebagai pengawal. Ia menjadi

prajurit sejak di Majapahit. Ketika pendadaran yang ia lakukan usai,

Klabang Gendis tetap menjadi pengawalku. Kasihan Klabang Gendis

karena ia masih muda.”

Gajah Mada melirik Gajah Enggon, yang dilirik sedang sibuk

meredakan diri.

”Panji Wiradapa orang yang dekat dengan Raden. Pun Demikian

dengan Klabang Gendis, prajurit yang masih berusia muda belia itu juga

dekat dengan Raden. Adakah kedekatan itu yang menyebabkan mereka

terbunuh, tidakkah Raden merasa hal itu?”

Raden Kudamerta membalas pandangan mata Patih Daha Gajah

Mada, namun tidak dijawabnya pertanyaan itu karena Raden Kudamerta

tahu Gajah Mada memiliki jawabnya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 261

”Bagaimana dengan Kinasten dan Arya Surapati, Raden juga

mengenal nama-nama itu?” Gajah Mada kembali mengajukan pertanyaan.

Raden Kudamerta sama sekali tidak berniat menyembunyikan

sesuatu.

”Mereka bagian dari pasukan Jalapati. Kinasten berasal dari

Pudaksari sedang Arya Surapati berasal dari Kedurus, dua-duanya tak

jauh dari Pamotan. Itu sebabnya, aku meminta mereka untuk menjadi

pengawalku,” jawab Raden Kudamerta.

”Raden Kudamerta sudah mendengar nasib mereka?” Gajah Mada

menekan.

Raden Kudamerta mengangguk, ”Sudah.”

”Itu berarti dua orang lagi yang punya kedekatan dengan Raden

dibunuh. Apa yang terjadi, Raden? Pihak mana yang begitu berkepentingan

menghabisi Raden? Satu per satu orang yang dekat dengan

Raden dibantai, terakhir siang tadi, Raden menjadi sasaran bidik. Untung

Raden bisa diselamatkan.”

Tidak mudah menjawab pertanyaan yang diajukan Gajah Mada. Di

kedalaman hatinya, Raden Kudamerta mempunyai sebuah dugaan,

namun dugaan itu sungguh tak enak ditelan. Sungguh tak nyaman

menuduh pihak lain berbuat itu untuk menguasai takhta agar jangan

sampai jatuh kepadanya. Dengan demikian, pihak mana yang mendalangi,

dengan mudah bisa ditebak ke mana arahnya.

Namun, Raden Kudamerta juga tidak mungkin lupa, Panji

Wiradapalah orang yang mendorong-dorong, setiap waktu siang dan

malam, untuk membangun usaha tak kenal waktu, bahkan dengan

menggunakan cara apa pun untuk bisa menguasai takhta. Apalagi,

kemungkinan untuk itu terbuka lebar setelah terbuka pembicaraan

perjodohan antara dirinya dengan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Demikian bernafsu Panji Wiradapa serasa Panji Wiradapalah orang yang

berkeinginan menjadi raja. Sekarang terbuka mata Raden Kudamerta,

pantaslah apabila Panji Wiradapa bersikap demikian karena dia adalah

262 Gajah Mada

Brama Ratbumi, orang yang paling dicari setelah Mahapati tamat

hidupnya dihukum mati.

”Punya gambaran, Raden?” bertanya Gajah Mada.

”Aku kembalikan pertanyaan itu kepadamu, Gajah Mada,”

jawabnya. ”Jika kau memiliki jawabnya, baik yang telah dipastikan

maupun masih berupa dugaan, tolong kaubagikan kepadaku agar aku

bisa memahami keserakahan macam apa sebenarnya yang terjadi yang

menyebabkan korban-korban berjatuhan itu.”

”Sayang sekali, aku belum memperoleh, Raden,” jawab Gajah Mada.

”Sekarang tolong jawab pertanyaanku yang terakhir, apakah benar

sebagaimana aku menduga, Raden baru pulang dari menemui istri

Raden?”

Kembali Raden Kudamerta mengalami kesulitan untuk berbicara.

Akan tetapi, Raden Kudamerta tak berniat mengelak. Pembicaraannya

dengan Gajah Mada sudah terlampau jauh, ibarat menyeberang sungai

telah telanjur basah dan tidak mungkin kembali maka diseberanginya

sekalian. Masalahnya hanyalah soal waktu, cepat atau lambat rahasia

yang disimpannya dengan rapat itu akan terbuka. Kelak Dyah Wiyat

pasti akan tahu. Bila karena ketidakjujurannya itu ia harus menjalani

hukuman maka akan diterimanya dan dijalani hukuman itu tanpa

penolakan sama sekali. Dihukum mati pun akan dijalani.

”Aku tidak menemukannya,” jawab Raden Kudamerta amat datar.

Gajah Mada memandang Raden Kudamerta sangat lama. Kali ini

dilakukannya tanpa bicara.

Angin kembali berembus deras menggoyang daun-daun pepohonan.

Lampu obor yang menyala menerangi hanya tinggal satu karena

yang lain kehabisan minyak. Meski angin berembus deras, udara dirasakan

gerah oleh Raden Kudamerta. Keringat bagai diperas dari tubuhnya,

menyebabkan pakaian yang dikenakan basah kuyup. Sungguh amat

berbalikan dengan Gajah Mada yang merasa udara biasa-biasa saja.

Agaknya suasana hatilah yang menyebabkan Raden Kudamerta mandi

keringat seperti itu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 263

”Aku bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya. Di mana ia sekarang

aku tidak tahu.”

Gajah Mada dan Gajah Enggon saling pandang. Dari sikapnya

tergambar amat jelas, Raden Kudamerta amat cemas.

”Aku punya sebuah pertanyaan, Raden,” Gajah Enggon angkat

bicara.

Raden Kudamerta membalas pandangan mata Gajah Enggon.

”Bagaimana awal perkenalan Raden dengan Panji Wiradapa. Atau,

barangkali adakah hubungan antara Panji Wiradapa dengan perempuan

yang menjadi istri Raden Kudamerta?”

Gajah Mada merasa pertanyaan itulah yang akan ia lontarkan.

Karena Gajah Enggon sudah melontarkannya, Gajah Mada mempersiapkan

diri dengan baik. Raden Kudamerta merasa tidak lagi ada

gunanya menutup-nutupi. Raden Kudamerta yang menahan nyeri

menempatkan diri bersandar pada tiang saka. Melihat itu Gajah Mada

bergegas membantunya. Luka di dada itu sebenarnya telah pampat

setelah dilakukan perawatan, tetapi perjalanan berkuda yang dilakukan

Raden Kudamerta menjadi sebab darah keluar lagi.

Raden Kudamerta mempersiapkan diri untuk bercerita. Gajah Mada

dan Gajah Enggon juga mempersiapkan diri untuk menyimak. Akan

tetapi, apa yang diinginkan oleh Gajah Mada dan Gajah Enggon agaknya

harus tertunda oleh sesuatu yang lebih menyita perhatian. Suara anak

panah sanderan yang membubung memanjat ke langit lebih memerlukan

perhatian. Apalagi, anak panah sanderan itu dilepas berganda.

Gajah Mada dan Gajah Enggon saling pandang.

”Agaknya pembicaraan ini harus dihentikan dulu, Raden,” berkata

Gajah Mada dengan suara berat.

Raden Kudamerta ikut bangkit dan dilakukannya itu dengan tertatih.

Sekali lagi anak panah sanderan terdengar melengking tinggi.

Agaknya orang yang melepas warastra itu sangat tak sabar dan segera

membutuhkan jawaban. Gajah Enggon bergegas menuju halaman sambil

264 Gajah Mada

menyalakan ujung anak panahnya pada api obor yang menyala di

pendapa. Anak panah yang telah dipasang pada gendewa dan kemudian

dilepas tidak sekadar memberikan jawaban yang melengking tinggi, tetapi

sekaligus nyala api yang ikut membubung memanjat langit.

”Apa yang terjadi, Gajah Mada?” bertanya Raden Kudamerta.

”Kami belum tahu, Raden. Kami mohon pamit.”

Gajah Mada dan Gajah Enggon tidak mau membuang-buang waktu.

Dengan cukat trengginas dua prajurit pilihan dan pilih tanding itu melompat

ke atas punggung kuda dan melesat membelah malam berkabut tebal.

Di kejauhan, anak panah berapi yang membubung tinggi menjadi

petunjuk ke mana mereka harus pergi.

Raden Kudamerta cukup lama termangu memandang regol wisma

yang terasa masih asing. Bagaimana tidak, sejak hari itu, tepatnya sejak

menjadi suami Rajadewi Maharajasa, ia harus ikut tinggal di istana kiri.

Istana yang selama ini ditempati oleh Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Raden Kudamerta merasa dada kirinya nyeri dan ngilu. Apa yang ia

perbuat dengan berkuda ketika keadaannya belum sembuh benar

merupakan tindakan ceroboh. Darah kembali mengalir dari luka yang

belum kering benar.

Raden Kudamerta berbalik untuk tertegun. Sosok yang berdiri

membeku di depannya yang membuatnya tertegun.

Hening merampok menyebabkan mulut Raden Kudamerta

terbungkam tidak mampu berbicara apa pun ketika api obor terakhir

yang kehabisan minyak juga ikut padam menyempurnakan senyap itu

terasa sangat pekat. Andai ada jarum yang jatuh maka akan terdengar

jelas suaranya. Untunglah mendung di langit timur menyibak memberi

peluang pada bulan untuk menerangi mayapada, menyebabkan Dyah

Wiyat bisa melihat jelas suaminya sebagaimana Raden Kudamerta bisa

melihat jelas wajah istrinya.

”Aku mendengar semuanya,” ucap Dyah Wiyat dengan suara amat

datar.

Raden Kudamerta merasa sebuah alugora menerjang dadanya.

Terbungkam mulutnya tak tahu harus berbicara apa.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 265

Seolah menganggap persoalan yang dibicarakan bukan persoalan

yang terlalu penting, Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa melangkah turun

ke halaman. Pandangan matanya segera tertuju pada bintang-bintang di

bentangan nabastala. Dulu ketika akal dan daya pikirnya masih belum

berjalan, Dyah Wiyat terganggu oleh pertanyaan yang ia ajukan kepada

ibundanya tentang berapa jumlah bintang.

”Berapa jumlahnya, Ibu?” tanya Dyah Wiyat.

Gayatri yang ketika itu masih belum berpikir akan menjadi biksuni

dan juga belum mendapat anugerah gelar Rajapatni mengelus-elus

rambutnya.

”Ibu belum pernah menghitungnya, Wiyat,” jawab Gayatri.

”Bagaimana cara menghitungnya?” Dyah Wiyat mengejar didorong

rasa ingin tahu yang tak bisa ditahan.

”Untuk menghitung berapa jumlah bintang harus terbang.”

Kala itu, bagaimana bisa terbang adalah persoalan yang sangat

menyita ruang perhatiannya. Melihat burung yang terbang tinggi

menyebabkan Dyah Wiyat sangat ingin bisa melakukannya karena tentu

sangat menyenangkan bisa melihat hamparan tanah, rumah-rumah dan

pepohonan, serta sungai dan sawah dari ketinggian. Tentulah indah sekali.

Itu sebabnya kepada siapa pun, Dyah Wiyat selalu bertanya, adakah

orang yang bisa terbang.

Kini cara pandang Dyah Wiyat berbeda lagi. Bintang-bintang

gemerlapan di langit adalah gambaran arwah manusia yang telah mati,

yang menatap bumi dengan segala kerinduan. Bila bintang itu seorang

ayah atas anak-anaknya, atau suami atas istri yang dicintai maka gemerlap

cahayanya mewakili kerinduan hatinya pada istri dan anak-anaknya.

Dalam memandang langit yang gemerlapan terutama di gugusan

bimasakti, Dyah Wiyat bertanya, di mana gerangan bintang yang mewakili

ayahandanya. Atau, di sisi mana gerangan bintang yang mewakili saudara

tuanya yang baru saja tewas dibunuh, dan di mana gerangan bintang

yang mewakili sang pembunuh berada.

266 Gajah Mada

Di langit belahan timur ada bintang dengan cahaya kebiruan. Dyah

Wiyat tak percaya bintang berwarna biru itu Ra Tanca.

”Mungkin yang itu,” kata hati Dyah Wiyat terhadap bintang dengan

warna merah menyala bagai intan ditimpa cahaya.

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa yang bersedekap berbalik.

”Boleh tahu siapa nama istrimu itu, Kakang?” tanya Dyah Wiyat.

Raden Kudamerta sungguh bingung, tak tahu bagaimana cara

menjawab.

”Atau, akan kausembunyikan istrimu itu selamanya dariku?”

Raden Kudamerta menyeringai. Darah yang keluar dari lukanya

menyebabkan pakaian yang dikenakannya menjadi merah, padahal

lembaran kain yang dikenakan berwarna putih. Akan tetapi, Dyah Wiyat

tak merasa iba. Dyah Wiyat tidak merasa terpanggil untuk segera

memberikan pertolongan. Rahasia yang disembunyikan laki-laki itu,

rahasia yang kini bukan rahasia lagi, bahwa ia telah beristri saat mengawini

dirinya, sungguh merupakan pelecehan yang tak akan terampunkan.

”Aku anak raja,” kata Dyah Wiyat. ”Aku bahkan bisa menjadi ratu

di negeri yang besar ini, yang kebesarannya jauh melebihi kebesaran

Pamotan. Aku bisa seperti Ratu Shima yang sanggup memenggal tangan

adiknya yang bersalah. Aku juga bisa menjatuhkan hukuman mati kepada

suamiku sendiri. Aku anak raja. Aku dikawini oleh seorang lelaki yang

telah beristri. Adakah pelecehan yang melebihi seperti yang aku alami

kali ini, Raden Kudamerta?”

”Aku minta maaf, Dyah Wiyat. Aku tak berniat menyembunyikan

hal itu. Aku bahkan ingin meluruskan perkawinan ini sejak awal, tetapi

aku tidak punya pilihan,” jawab Raden Kudamerta.

”Siapa nama perempuan itu?” Dyah Wiyat mengejar.

”Dyah Menur Hardiningsih,” jawab Raden Kudamerta.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 267

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa memejamkan mata untuk

menghayati lebih cermat warna perasaan macam apa yang sedang ia

rasakan. Sungguh sama sekali tak ada perasaan marah sebagai bias rasa

cemburu. Yang ada hanya perasaan tersinggung karena dikawini oleh

orang yang menyembunyikan belang karena ternyata memiliki istri

bahkan seorang anak.

Amat sinis senyum yang mencuat di bibir Dyah Wiyat, menempatkan

Raden Kudamerta mengalami kebingungan tak mampu

menerjemahkan apa artinya. Dyah Wiyat yang kembali menengadah

mengarahkan pandangan matanya pada bintang di sudut langit yang

memiliki warna kemerahan. Betapa gelisah Dyah Wiyat karena tak

berhasil menemukannya meski mencari-cari di mana bintang itu berada.

Padahal, ia telah telanjur beranggapan bintang itu peralihan roh Rakrian

Tanca.

Dyah Wiyat membalikkan tubuh dan dengan langkah perlahan naik

ke undak-undakan yang membawanya ke ruang tengah istananya.

Langkah yang semula perlahan itu berubah menjadi bergegas. Dengan

amat yakin Dyah Wiyat meninggalkan Raden Kudamerta termangu

sendiri di halaman. Raden Kudamerta jatuh terduduk. Ia tak lagi peduli

andaikata rahasia yang terbongkar itu akan membawanya ke gantungan.

Ia juga tak peduli meski dari lukanya darah mengalir deras.

Dan tak seorang pun yang peduli ketika Raden Kudamerta makin

kehilangan kesadaran, matanya berkunang-kunang. Kesadaran itu makin

menjauh, menjauh dan kunang-kunang yang terbang beriak di keningnya

makin banyak. Dalam makin kabur tatapan matanya masih sempat

muncul raut wajah orang yang dirindukannya, seorang perempuan

dengan anak lelaki dalam gendongannya.

268 Gajah Mada

20

Gajah Mada melecut kudanya agar berderap makin cepat karena

isyarat anak panah sanderan yang membubung memanjat langit meminta

tanggapan cepat. Isyarat yang dilepas benar-benar mengabarkan keadaan

yang gawat. Ke arah barat ia mengarahkan laju kudanya, di sana terlihat

sekali lagi dan sekali lagi panah berapi membubung memanjat angkasa.

Pintu gerbang Purawakta telah dibuka lebar untuknya, juga untuk

para prajurit yang terpanggil oleh isyarat khusus itu. Dengan tidak

mengurangi kecepatan, Gajah Mada melintas disusul oleh Senopati Gajah

Enggon dengan kecepatan sama. Di pintu gerbang Purawaktra, Gajah

Enggon menyempatkan memberi perintah kepada para prajurit yang

sedang melaksanakan tugas jaga.

”Separuh dari kalian jangan diam saja!” teriaknya.

Ada sekitar lima belas orang prajurit yang sedang menjaga pintu

gerbang dan baru saja terbangun, hiruk pikuk yang membangunkan

mereka. Perintah yang telah diberikan tidak bisa segera dijawab karena

masih belum memahami ada apa. Akan tetapi, manakala sekali lagi empat

orang prajurit yang dari ciri-ciri pakaiannya berasal dari kesatuan

Bhayangkara melintasi pintu gerbang Purawaktra dan apalagi saat mana

sekali lagi anak panah sanderan berapi membubung ke angkasa, para

prajurit penjaga regol itu segera sadar terhadap apa yang harus dikerjakan.

”Ikuti mereka, separuh tinggal,” seseorang terdengar memberi

perintah.

Nun di sana, pertempuran yang sangat tidak berimbang berlangsung

dengan sengit. Kejadian bermula ketika serombongan prajurit yang baru

saja melaksanakan tugas nganglang mengelilingi pedukuhan-pedukuhan

di luar dinding kotaraja berniat kembali ke dalam dinding istana melalui

pintu Purawaktra. Jumlah mereka sepuluh orang, jumlah yang cukup

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 269

banyak dengan persenjataan yang memadai karena masing-masing

bersenjata pedang panjang dan anak panah.

Rangsang Kumuda dan anak buahnya yang bersembunyi di balik

rimbunnya ladang jagung memerhatikan pergerakan mereka dengan

cermat. Bayangan prajurit yang kembali dari perjalanan meronda dan

menjaga ketenteraman itu tampak jelas karena bulan yang baru muncul

telah memanjat makin tinggi.

”Mereka para prajurit Bhayangkara,” Bramantya yang berada pada

jarak dekat dengan Rangsang Kumuda memberinya bisikan.

Namun, Rangsang Kumuda punya pandangan yang lebih awas. Ia

bisa segera mengambil simpulan, orang-orang berkuda itu bukan prajurit

dari kesatuan pasukan khusus Bhayangkara. Rangsang Kumuda tahu

persis cara berkuda orang-orang itu tak sama dengan kebiasaan berkuda

Bhayangkara yang tidak pernah berada dalam jarak sangat rapat. Lebih

dari itu, pasukan Bhayangkara tidak bersenjata trisula bergagang tongkat

panjang. Pasukan Bhayangkara hanya mengenal tiga jenis senjata, yaitu

anak panah, pisau terbang, dan pedang panjang.

”Dyah Menur tidak bersama mereka. Biarkan mereka lewat.”

”Bagaimana Kakang Rangsang bisa tahu?” Bramantya bertanya

dengan heran.

”Aku tahu karena Dyah Menur tak bisa berkuda,” jawab Rangsang

Kumuda.

”Kita apakan mereka?”

”Jangan. Kita tidak boleh berurusan dengan mereka. Keberadaan

kita di sini untuk mencegat Dyah Menur, bukan untuk urusan lain.”

Namun, Rangsang Kumuda mempunyai kehendak tidaklah berarti

semua akan berjalan sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Setiap kali

ada rombongan orang lewat, anak panah segera direntang, disiagakan

membidik sasaran. Setidaknya sudah ada tiga kali orang yang lewat. Orang

yang melintas terakhir sungguh bernasib sial. Ia hanya seorang penduduk

biasa yang berniat masuk kotaraja menjelang malam. Ia lakukan itu setelah

270 Gajah Mada

menempuh perjalanan jauhnya sebagai pedagang. Setelah kulakan

berbagai hasil pertanian yang ia angkut ke kotaraja menggunakan dua

buah pedati, ia sendiri mendahului pulang dengan berkuda.

Kesialan orang itu karena ia dirampok habis-habisan. Semua uang

dan perhiasan yang dibawa dilucuti, juga keris dengan pendok emas

yang sebenarnya tak lebih dari penunjang penampilan agar semua orang

tahu ia orang yang kaya. Rangsang Kumuda memberangusnya tanpa

ampun. Masih untung saudagar bernama Ki Hanggawura itu dibiarkan

hidup dan harus meringkuk di ikatan tali.

Rangsang Kumuda mengangkat tangan kanan sebagai isyarat kepada

segenap anak buahnya untuk jangan mengganggu. Akan tetapi, salah

seorang dari mereka tidak punya kemampuan untuk mengendalikan diri

sendiri, setidaknya terhadap keinginan bersin. Bersin itulah yang

mengagetkan para prajurit yang lewat setelah perjalanan nganglang yang

mereka lakukan.

”Berhenti,” teriak pimpinan rombongan itu.

Melihat perkembangan yang tak terduga itu, Rangsang Kumuda

merasa tidak punya pilihan lain. Itu sebabnya, sebuah perintah segera

dijatuhkan.

”Hujan!” teriaknya keras sekali.

Yang dimaksud dengan hujan adalah hujan anak panah yang

langsung dilepas berhamburan. Malang bagi rombongan prajurit yang

tidak mempunyai kesempatan cukup dari serangan dadakan itu. Sebuah

anak panah menerjang dada seorang prajurit, membuka pintu gerbang

sekaratnya karena anak panah itu tepat menggapai jantung. Prajurit itu

terjengkang jatuh dan masih ditambah nasib buruknya karena kuda yang

ditunggangi kehilangan kendali dan menambahkan tendangan melalui

kaki belakangnya.

”Awas serangan. Berlindung,” terdengar teriakan di antara mereka.

Rombongan prajurit itu berloncatan turun, tetapi hujan anak panah

yang susul-menyusul menghajar mereka. Jerit kesakitan meledak dari

mulut salah seorang yang mendadak merasa pantatnya ditembus anak

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 271

panah. Lengking kesakitan meledak pula dari mulut prajurit yang dihajar

dua batang anak panah sekaligus mengenai dada dan paha. Ambruk

prajurit itu dengan lolong kesakitan yang mengagetkan dua anjing yang

tengah menggonggong di kejauhan. Terbungkam mulut anjing itu yang

segera berlarian untuk mengetahui suara apa yang menyaingi gonggongannya.

”Bunuh semua,” Rangsang Kumuda kembali memberi perintah.

”Jangan beri ampun, semua harus dibunuh.”

Rangsang Kumuda tak lagi mempersoalkan kecerobohan anak

buahnya yang bersin dan menyebabkan terbukanya pertempuran itu.

Nafsu membunuh yang begitu menggelegak tergambar jelas dari

umpatan dan perbuatan, seolah ia memiliki alasan untuk melakukan.

Dengan sangat terampil Rangsang Kumuda yang sebenarnya telah kakekkakek

itu melepas anak panah. Baru saja selesai anak panah dilepas,

anak panah berikutnya dilepas dan begitu anak panah terlepas, anak

panah berikutnya lagi melekat di busur yang segera direntang.

Pun demikian dengan Bramantya yang selalu menempatkan diri di

sisi orang itu. Bramantya memiliki keterampilan mengobral murah anak

panah di endong yang berada di punggungnya. Bramantya ikut memberi

sumbangan kepanikan kepada sasaran yang dibidiknya, apalagi

Bramantya lebih mengarahkan anak panah itu pada kuda-kuda

tunggangan para prajurit yang menjadi liar tak terkendali. Kuda-kuda

itu berlarian yang mengarah lurus ke Purawaktra.

Dari sepuluh orang, lima orang lumpuh dalam serangan dadakan

itu. Lima yang tersisa memberikan perlawanan mati-matian dengan tak

kalah beringas. Hujan anak panah dibalas dengan hujan anak panah.

Mula-mula rombongan prajurit itu kesulitan menerka dari mana

datangnya anak panah, tetapi balasan yang mereka lakukan ternyata tidak

sia-sia.

Jerit melengking yang terdengar dari seberang menjadi pertanda

pihak yang melakukan penyergapan juga terluka. Jerit yang terdengar

lagi juga merupakan pertanda jatuhnya korban lagi.

”Wirota, lepas sanderan,” terdengar teriakan.

272 Gajah Mada

Prajurit yang memiliki nama Wirota itu bagai tersadarkan untuk

bertindak.

”Lindungi aku,” teriaknya.

Wirota yang tengah tengkurup sambil melepas bidikan dan berada

di tempat terbuka segera bangkit dan berlari kencang berbelok-belok

untuk mengambil jarak. Akan tetapi, cahaya bulan yang makin benderang

cukup jelas menerangi tubuhnya, menjadikan dirinya sasaran bidik yang

mudah digapai.

Hujan panah yang dilakukan para prajurit yang terjebak susulmenyusul

dan beruntun karena tak hanya sebatang setiap kali lepas. Salah

seorang prajurit bahkan mampu melepas tiga batang sekaligus dalam

sekali lepas. Jerit yang kembali meledak dari balik batang pohon jagung

menjadi tanda upayanya berhasil menggapai sasaran. Namun, prajurit

bernama Wirota itu ternyata tak berhasil lolos dari bidikan. Anak panah

yang berhasil menembus betisnya menyebabkan ia terjungkal.

Akan tetapi, Wirota masih memiliki sisa tenaga untuk melaksanakan

tugasnya. Anak panah jenis sanderan yang sanggup memberikan suara

melengking sampai pada jarak amat jauh disiapkan. Dengan sekuat tenaga

anak panah itu dilepas yang segera disusul dengan anak panah berikutnya.

Anak panah itu terdengar oleh prajurit yang menjaga pintu gerbang

Purawaktra yang dengan segera menanggapi dengan melepas anak panah

sanderan berapi sebagai balasan dan pemberitahuan. Berita yang dikirim

telah diterima dan akan segera ditanggapi.

Wirota kembali mempersiapkan diri, anak panah sanderan

berikutnya telah ia siapkan dan sekali lagi permintaan bantuan yang amat

mendesak itu melejit ke langit membelah udara. Tanggapan balasan yang

terdengar dari Purawaktra dicerna dengan penuh perhatian oleh

Rangsang Kumuda.

”Bunuh mereka, jangan sampai bantuan datang menyelamatkan

mereka. Serbu!” teriak Rangsang Kumuda.

Orang-orang yang semula berniat melakukan pencegatan terhadap

perjalanan Dyah Menur itu sigap melaksanakan perintah dengan sebaikBergelut

dalam Kemelut Takhta dan Angkara 273

baiknya. Dari lebatnya ladang jagung mereka keluar dengan pedang

teracung. Serangan yang mereka berikan setelah berhasil mengurangi

jumlah lawan sungguh sangat merepotkan para prajurit yang akan

kembali masuk ke dalam kota.

Wirota ternyata hanya butuh waktu sekejap untuk menyalakan batu

titikan yang segera disulutkan ke ujung anak panah sanderan berapi yang

lantas dilepas memanjat langit. Anak panah susulan itulah yang

merangsang Gajah Mada yang kini yang berkuda bersama Gajah Enggon

bagaikan kekurangan waktu, melecut kaki kudanya agar berderap kian

kencang yang membawanya seperti terbang.

Anak panah berapi itu membelah angkasa makin lama makin tinggi

untuk kemudian sampai ke titik puncak lalu kehilangan daya dorong

dan kembali menukik ke bumi. Wirota memerhatikan lintasan anak panah

itu sambil dengan sangat gugup berusaha menyelamatkan diri dari hujan

anak panah yang tertuju kepada dirinya. Wirota berguling sambil

mematahkan gagang anak panah yang menancap di betis. Warastra itu

tak mungkin dicabut, cara untuk mengeluarkan hanya dengan

mendorong tembus ke permukaan yang lain.

Jerit kesakitan Wirota adalah karena menahan nyeri yang tak terkira.

Namun, upaya yang dilakukannya berhasil. Dengan sisa tenaganya, ia

melepas ikat kepalanya untuk membalut luka yang mengucurkan darah

segar. Usai apa yang ia lakukan, tak berarti selesai. Wirota harus

menjemput dua orang bersenjata pedang yang berlarian mendekatinya.

Dua batang anak panah yang dilepasnya menyebabkan dua orang itu

terjungkal hanya untuk mati sia-sia. Anak panah Wirota tepat menggapai

jantungnya. Namun, Wirota segera ambruk. Luka di betis itu sangat

menyulitkan. Dengan luka seperti itu, Wirota bahkan tak bisa berjalan.

Pertempuran yang terjadi yang kali ini tidak lagi saling melepas anak

panah benar-benar menyulitkan tiga prajurit yang tersisa berhadapan

dengan jumlah yang lebih banyak. Seorang terbantai dengan segera

disusul oleh seorang lain. Seorang lagi yang tersisa berusaha memberikan

perlawanan sekuat tenaga, namun ayunan pedang yang membelah

punggung menyebabkan prajurit itu terkapar.

274 Gajah Mada

”Cepat tinggalkan tempat ini,” Rangsang Kumuda memberi

perintah.

Bersamaan dengan derap kuda yang datang mendekat, yang agaknya

jumlah mereka cukup banyak dan bisa memberikan kesulitan, mendorong

Rangsang Kumuda bertindak cepat. Hanya sejenak setelah itu,

derap kuda yang meninggalkan suara khas juga meninggalkan jejak

kematian. Rangsang Kumuda segera lenyap karena malam tak hanya

berwarna hitam, namun mendung tebal yang sedang melintas menutupi

bulan juga memberinya gelap yang membutakan.

Adalah Gajah Mada dan Senopati Gajah Enggon yang akhirnya

tiba di tempat itu, tak ikut menikmati pertempuran karena perkelahian

amat berdarah dengan jumlah korban yang tidak sedikit itu telah berakhir.

Dari sepuluh orang prajurit, yang tersisa hanya Wirota.

”Apa yang terjadi?” bertanya Gajah Mada.

”Patih Daha?” Wirota segera mengenali orang yang berdiri di

depannya.

”Ya. Ini aku,” jawab Gajah Mada.

”Kami baru pulang dari nganglang. Kami diserang dengan dadakan,”

Wirota menjawab dengan berusaha keras menahan nyeri.

”Siapa yang menyerang?” tanya Gajah Enggon.

”Kami tidak tahu.”

Gajah Enggon segera menyalakan batu titikan dan menjadikan

sebatang anak panah sanderan sebagai obor. Dengan bantuan cahaya

obor itu, Gajah Enggon segera memeriksa dan ternyata dari mereka

yang bergelimpangan itu tidak seorang pun yang masih hidup. Para

prajurit Majapahit bisa dikenali dari pakaiannya, sebaliknya pihak yang

melakukan serangan dadakan bisa dikenali dari pakaian yang berbeda.

Gajah Enggon mendadak mendongakkan kepala. Sesuatu singgah

ke telinga dan membutuhkan perhatiannya dengan segera. Setelah merasa

yakin dari mana suara itu berasal, Gajah Enggon bergegas menyibak

lebatnya ladang jagung. Seorang yang ternyata ia kenal dengan baik

meringkuk dengan tangan terikat dan mulut disumpal dengan kain.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 275

”Paman Hanggawura?”

Gajah Enggon segera menolong pedagang hasil bumi yang tinggal

tidak jauh dari Balai Prajurit bahkan sering dikunjunginya itu.

”Aku baru pulang, tiba-tiba mereka menyergapku. Semua yang

kubawa tidak bersisa, mereka merampoknya.”

”Siapa mereka?” tanya Gajah Enggon lagi.

”Aku tak tahu, namun mereka di sini mencegat seorang perempuan.

Itu yang aku dengar dari percakapan mereka.”

Gajah Mada datang mendekat. Gajah Mada terkejut melihat siapa

orang yang berusaha berdiri dengan tertatih sambil berusaha melepas

tali yang masih mengikat pada bagian kakinya.

”Paman Hanggawura? Apa yang terjadi pada Paman?”

Gajah Enggon yang mewakili membalas pertanyaan itu, ”Paman

Hanggawura dicegat dan dirampok. Menurut Paman Hanggawura yang

mendengar percakapan di antara mereka, orang-orang itu berada di sini

untuk mencegat perjalanan perempuan yang akan masuk ke kotaraja.”

Gajah Mada mencuatkan alis.

”Perempuan?”

”Benar,” jawab Hanggawura. ”Aku dengar itu dari pembicaraan

yang terjadi.”

Gajah Mada mendadak diam dan meminta Gajah Enggon untuk

tidak berbicara karena akan mengganggunya dalam berpikir. Gajah Mada

berjalan hilir mudik sambil memerhatikan jalan panjang membelah sawah

yang memanjang ke barat, menjauh dari pintu gerbang Purawaktra.

Hanya beberapa jenak setelah kedatangan Patih Daha Gajah Mada

dan Gajah Enggon, rombongan prajurit berkuda datang menyusul.

Sepuluh orang prajurit, semua dari kesatuan Bhayangkara, tetapi

merupakan wajah-wajah baru. Namun, di antara mereka terdapat Gagak

Bongol.

276 Gajah Mada

”Pelakunya belum jauh, cepat kejar mereka,” Senopati Gajah

Enggon melepas perintah.

Namun, Gajah Mada tidak sependapat dengan perintah itu.

”Jangan,” ucap Gajah Mada tegas. ”Saat ini ada sekelompok orang

bagian tak terpisahkan dari pelaku perbuatan ini yang sedang melakukan

baris pendhem di ruas jalan menjelang memasuki pintu gerbang utara.

Jumlah mereka mungkin sekitar lima sampai sepuluh orang. Gagak

Bongol, kaukembali ke bangsal kesatrian Bhayangkara dan siagakan

pasukan untuk melakukan penyergapan. Gajah Enggon, kau memimpin

langsung penyerbuan terhadap mereka. Yang sudah berada di sini, urus

semua yang terjadi di sini. Bawa mayat-mayat ini ke Balai Prajurit untuk

dilakukan pemeriksaan, siapakah mereka.”

Tidak menunggu diulang, Gagak Bongol melompat ke atas kuda

dan segera berderap balik arah. Gajah Enggon terbungkam karena benarbenar

terheran-heran.

”Bagaimana kautahu ada sekelompok orang berada di sana?” Gajah

Enggon melontarkan rasa penasarannya.

Gajah Mada menebarkan pandangan menyapu semua wajah dan

kesibukan.

”Begitu Tuanku Jayanegara mangkat,” kata Gajah Mada, ”terjadi

peristiwa-peristiwa aneh. Ada beberapa pembunuhan dan sekarang

ditambah dengan pencegatan yang dilakukan pada sekelompok prajurit.

Semua peristiwa itu berkaitan, bukan peristiwa yang terjadi terpisahpisah

dan tidak ada hubungannya. Kenapa aku menebak di menjelang

pintu gerbang utara ada orang yang melakukan baris pendhem, sebenarnya

bisa ditebak dengan mudah, pastilah ada hubungannya dengan Raden

Kudamerta.”

Gajah Enggon terheran-heran, ”Raden Kudamerta?”

”Orang-orang itu sebenarnya berniat mencegat perjalanan seorang

perempuan yang akan masuk kota, siapa perempuan itu? Aku menduga,

ia istri Raden Kudamerta. Kenapa perempuan itu begitu penting dan

harus dihalang-halangi jangan sampai lolos masuk ke kotaraja, pertanyaan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 277

itu akan kita peroleh jawabnya nanti. Untuk masuk kotaraja dari arah

barat hanya lewat pintu gerbang kotaraja bagian barat dan utara. Itu

sebabnya, pencegatan tak hanya terjadi di sini, tetapi juga ruas jalan ke

pintu utara. Nah, Gajah Enggon, jadi menunggu apa lagi?”

Gajah Enggon menyusul melompat ke atas punggung kuda,

mengejar Patih Daha Gajah Mada yang telah berderap lebih dulu.

Kesibukan segera terjadi di tempat itu. Perintah untuk mengambil

kereta kuda dijatuhkan untuk mengangkut mayat-mayat yang jumlahnya

lebih dari sepuluh orang. Pertolongan segera diberikan kepada Wirota

dan Ki Hanggawura.

21

Istana yang kini menjadi kediaman Tribhuanatunggadewi

Jayawisnuwardhani atau Sri Gitarja tidak kalah megah dari istana utama

kediaman raja yang kini kosong karena telah ditinggalkan penghuninya

untuk selama-lamanya. Berbeda dengan istana kiri yang menjadi

kediaman Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa yang suram, denyut

kebahagiaan lebih terasa di istana sayap kanan. Suasana berkabung akibat

surutnya Prabu Jayanegara bukan berarti istana kanan tak begitu banyak

dalam menyumbang air mata. Namun, karena Sri Gitarja benar-benar

merasa sangat bahagia dalam menikmati bulan madunya bersama lelaki

yang didambakan, menjadikan istana kanan lebih bercahaya. Di hari

kakaknya terbunuh adalah juga hari ia bersuamikan lelaki yang selama

ini dimimpiharapkan. Sungguh sangat berbeda dengan istana kiri yang

dihuni Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Pada malam pertama Dyah

Wiyat dikawini oleh seorang laki-laki, tepat di hari itu pula suaminya

278 Gajah Mada

terbukti telah beristri dan menempatkannya hanya sebagai istri kedua.

Hari perkawinannya adalah hari pelecehan.

Raden Cakradara masih terpicing meski sang istri telah lelap dalam

pelukan tangan kanannya. Suara yang sangat mirip burung bence, tetapi

jelas bukan suara asli burung itu menyebabkan ia merasa gelisah. Karena

suara melengking nglangut mirip suara anak ayam, tetapi dengan

lengkingan panjang itu merupakan sebuah isyarat yang ditujukan

untuknya.

Orang yang melepas suara mirip burung bence itulah yang membuat

hatinya gelisah. Setidaknya sejak menjelang senja, Raden Cakradara

merasa kehilangan orang itu dan tidak diketahui apa yang dilakukan.

Sepak terjang yang mungkin dilakukan orang itu yang membuat ia gelisah,

bukan apabila ada pihak yang membahayakannya. Raden Cakradara layak

merasa gelisah. Pembunuhan yang sambung-menyambung pada sehari

sebelumnya sangat mungkin merupakan ulahnya. Amat mungkin orang

itu yang mendalangi. Apa yang beberapa hari lalu diucapkannya masih

terngiang-ngiang.

”Kewajibanku untuk mengamankan kepentinganmu jangan sampai

ada yang mengganggu. Sejak dini aku melihat Raden Kudamerta telah

mempersiapkan diri dan berupaya keras agar kekuasaan nanti jatuh ke

tangannya. Menghadapi hal itu, Paman tidak akan tinggal diam. Paman

akan menghancurkan kekuatan itu. Paman akan menggerogoti sedikit

demi sedikit dan bila perlu anak panah atau ayunan pisau akan diarahkan

ke dadanya. Demi takhta dan kedudukan sebagai raja, kau harus bisa

mengesampingkan hubungan pribadimu dengan Kudamerta. Janganlah

kau merasa kehilangan apabila Raden Kudamerta nanti terbunuh. Untuk

keperluan itu telah aku siagakan kekuatan untuk melakukannya.”

Ancaman yang dilontarkan kini menjadi kenyataan. Pembunuhan

bersambung terjadi yang semua mengarah ke Raden Kudamerta, bahkan

terakhir suami adik iparnya itu menjadi sasaran bidik pisau terbang yang

diayunkan tepat mengarah ke jantung. Untung Raden Kudamerta

terselamatkan dan ayunan pisau meleset sejengkal. Kalau ayunan pisau

itu tepat menghunjam ke sasaran, habis riwayat Raden Kudamerta.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 279

Untuk yang ke sekian kali, suara melengking mirip burung bence

itu terdengar lagi, amat menyayat seperti sedang kesakitan.

”Paman Pakering Suramurda memanggilku,” Raden Cakradara

berkata untuk diri sendiri.

Akhirnya, setelah Raden Cakradara merasa benar-benar yakin

istrinya tertidur yang terbaca itu dari dengkurnya yang halus maka dengan

berjalan mengendap-endap menantu Ratu Gayatri itu keluar dari biliknya.

Udara bersih di halaman tanpa batas pandang karena tidak ada kabut

yang mengganggu, apalagi tepat pada arahnya bulan menyemburatkan

cahayanya dengan sangat murah. Raden Cakradara tidak sekadar turun

ke halaman, tetapi langsung menuju ke kandang kuda karena dari sanalah

isyarat yang ditujukan untuknya itu berasal. Benar seperti yang ia duga,

Pakering Suramurda memang menunggu seperti tidak sabar.

”Ada apa, Paman?” tanya Raden Cakradara ditujukan kepada

perawat kudanya.

”Malam ini jangan tidur,” balas Pakering Suramurda dengan suara

setengah berbisik.

”Kenapa, Paman?”

”Aku melihat ada gerakan yang cukup besar yang entah apa

penyebabnya. Ada isyarat-isyarat anak panah sanderan berupa

permintaan bantuan yang dilepas dari luar dinding kotaraja bagian barat.

Kulihat pula Patih Daha Gajah Mada dan pimpinan pasukan

Bhayangkara yang sedang menemui Raden Kudamerta menjawab isyarat

itu, lalu berkuda ke barat. Aku sedang mengirim orang untuk mengetahui

apa yang terjadi di sana.”

Raden Cakradara melangkah lebih dekat lagi dan memerhatikan

kuda-kuda kesayangannya telah dipindahkan pula ke kandang khusus di

belakang istana kanan. Dalam hal merawat kuda, menjaga kebugaran

kuda itu, dan menjaga kesehatannya, Raden Cakradara benar-benar

merasa puas dan tak kecewa pada hasil kerja Pakering Suramurda.

Sedemikian larut Raden Cakradara mengarahkan pandangan

matanya kepada kakak kandung ibunya itu dengan rasa cemas. Terhadap

280 Gajah Mada

Pakering Suramurda, Raden Cakradara memang merasa ada yang layak

ditakutkan. Amat bisa diyakini, pamannya berada di belakang pembunuhan-

pembunuhan itu. Pakering Suramurda yang bertubuh kurus

tidaklah seperti apa yang tampak karena di belakangnya terdapat sebuah

jaring kekuatan yang telah disiapkan sedemikian rupa yang bahkan bisa

digerakkan untuk berbagai keperluan, seperti penyerbuan dan

penculikan. Jaringan itu berasal dari para prajurit pilihan yang saat ini

tersebar di berbagai kesatuan kecuali Bhayangkara.

”Paman Pakering,” kata Raden Cakradara, ”kuminta sebaiknya

segera Paman hentikan apa yang Paman lakukan. Cara yang Paman

lakukan terlalu menyolok serta kasar. Orang yang paling bodoh pun

bisa tahu pembunuhan-pembunuhan itu berniat menghalangi Raden

Kudamerta. Semua orang mengarahkan pandangannya kemari karena

secara lugas terlihat akulah orang yang paling berkepentingan terhadap

takhta.”

Pakering Suramurda menghela tarikan napas amat panjang. Tarikan

napas itu mungkin mewakili penyesalannya terhadap kegagalan yang

terjadi atas pembunuhan yang diarahkan kepada Raden Kudamerta.

Tarikan napas panjang itu mungkin juga atas nama rasa jengkelnya

terhadap keputusan yang diambil Ratu Rajapatni Gayatri yang semula

telah berniat akan mengangkat Sri Gitarja sebagai ratu, tetapi kemudian

membatalkannya karena hasutan Gajah Mada.

Raden Cakradara tak mampu menebak, apakah yang disembunyikan

Pakering Suramurda di balik wajahnya yang datar saja itu.

”Untuk jangan mengganggumu, Raden Kudamerta seharusnya

mati,” Pakering Suramurda meletupkan kejengkelan hatinya.

”Kalau itu terjadi, keinginan Paman supaya aku mendampingi istriku

menjadi ratu tidak akan menjadi kenyataan. Tuan Putri Ratu Gayatri

akan melihat aku yang mendalangi. Hal itu justru akan mendorong Tuan

Putri Ratu memutuskan mengangkat Dyah Wiyat. Kalau itu yang terjadi,

apakah Paman juga akan merencanakan pembunuhan terhadap Dyah

Wiyat? Tolong hentikan semua yang Paman lakukan itu. Jika akan

dilakukan pemeriksaan dan pasti hal itu akan dilakukan maka dengan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 281

terpaksa aku akan menjawab tidak tahu-menahu. Bila perbuatan Paman

terbongkar, Paman yang harus menanggung akibatnya sendiri. Jangan

seret aku.”

Pakering Suramurda tidak menjawab, namun menelan kata-kata

keponakannya yang terasa sangat pahit di tenggorokan. Dalam hati,

Pakering Suramurda mengakui rangkaian peristiwa yang terjadi benarbenar

telah sejalan sebagaimana yang diharap. Apabila ada yang meleset

itu hanya soal arah bidik yang meleset, seharusnya ayunan pisau terbang

itu menghunjam tepat ke jantung yang akan menyebabkan korbannya

ambruk menggelepar dan merasakan kesakitan yang amat sangat saat

nyawanya oncat dari tubuhnya.

Di sisi lain, Pakering Suramurda mengakui kebenaran ucapan

keponakannya. Rangkaian pembunuhan itu sangat merugikan Raden

Cakradara. Perhatian segenap kawula Majapahit dengan sendirinya

terarah kepadanya dengan tudingan yang teramat sulit untuk dibantah,

Raden Cakradara mendalangi pembunuhan terhadap Kudamerta untuk

mencegah jangan sampai takhta jatuh padanya karena siapa pun yang

menjadi ratu, suaminya akan menjadi raja. Kerakusan Raden Cakradara

menjadi penyebab ia kehilangan kendali dan menjadi liar melampaui

batas kepatutan.

”Apa pun cara pandangmu terhadapku, Cakradara,” ucap Pakering

Suramurda. ”Apa yang aku lakukan adalah untukmu. Kaupunya

kesempatan menjadi raja. Bila Sri Gitarja tidak mampu menjalankan

tugasnya karena ia hanya seorang perempuan yang sempit langkah

kakinya, akan terbuka peluang sangat lebar kekuasaan tertinggi itu akan

jatuh ke tanganmu.”

Telah berulang kali Raden Cakradara mendengar ucapan pamannya

itu nyaris tak bisa dihitung. Hasutan pamannya itulah yang akhirnya

menyentuh simpul nafsu atas kekuasaan.

”Dengar kata-kataku, Cakradara,” berkata Pakering Suramurda.

”Mumpung istrimu sedang sangat terlena, kamu harus segera

menanamkan pengaruhmu kepada Sri Gitarja. Janganlah lagi bicara soal

waktu, cepat atau lambat kekuasaan itu akan jatuh ke tangan istrimu.

282 Gajah Mada

Kamu akan gigit jari apabila sebilah anak panah diarahkan dengan istrimu

berada di sasaran bidiknya. Raden Kudamerta atau pendukungnya pasti

akan melakukan.”

Peringatan yang dilepas Pakering Suramurda itu seperti serampangan.

Namun, Raden Cakradara tak mungkin mengabaikannya.

”Kamu harus berusaha keras, jabatan sebagai raja harus jatuh ke

tanganmu.”

Pakering Suramurda mengakhiri ucapannya dengan berjalan

menjauh menuju halaman, membiarkan Raden Cakradara membeku

berdiri di bawah siraman candra. Namun, hanya sejenak kemudian Raden

Cakradara berjalan lemah lunglai kembali ke dalam istana. Raden

Cakradara sama sekali tak menyadari sejenak setelah ia beranjak,

seseorang yang mengintip dan bahkan mendengarkan pembicaraan itu

secara utuh bergegas meninggalkan tempat itu pula.

Gesit orang itu yang kemudian berlari ke arah pohon sawo. Gesit

mirip seekor kera ketika memanjat dahan dan mengayun ke ranting untuk

bisa menggapai tinggi tembok dan akhirnya melenting ke luar dinding.

Orang dengan kegesitan macam itu jelas seorang prajurit.

Namun rupanya, tak hanya orang itu yang ikut menguping

pembicaraan yang terjadi. Ketika dengan lunglai Raden Cakradara

melangkah, orang yang bersembunyi di balik dinding yang lain juga

bergegas melangkah. Ayunan kakinya tidak mungkin membawanya

bergegas karena ia mengenakan kain panjang.

Manakala Raden Cakaradara kembali masuk ke biliknya, ia masih

mendapati istrinya tidur dengan lelap, matanya terpejam dengan dengkur

yang halus. Cakradara merasa yakin, selama ia pergi menemui pamannya

di kandang kuda, Sri Gitarja tetap pulas.

Dengan perlahan Raden Cakradara membaringkan diri untuk

menyusul istrinya tidur. Namun, Raden Cakradara mengalami kesulitan

untuk tidur. Apa yang diucapkan pamannya terngiang-ngiang di

kepalanya, menjadi ganjal penghalang benaknya untuk beristirahat.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 283

”Demi takhta dan kedudukan sebagai raja, kau harus bisa

mengesampingkan hubungan pribadimu dengan Kudamerta. Janganlah

Kau merasa kehilangan apabila Raden Kudamerta nanti terbunuh. Untuk

keperluan itu telah aku siagakan kekuatan untuk melakukannya.”

22

Dipimpin langsung oleh Senopati Gajah Enggon, penyergapan

terhadap orang- orang yang melakukan beris pendhem di ruas jalan

menjelang pintu gerbang utara itu disiagakan. Di dalam pasukan kecil

berkekuatan lima belas orang itu terdapat mantan Bekel Gajah Mada

yang kini menjadi pemangku jabatan Patih di Daha. Gagak Bongol yang

mulai siang sebelumnya harus disibukkan mengurus anak angkatnya,

memegang busur dengan anak panah dalam jumlah cukup berada di

punggungnya. Bhayangkara Jayabaya yang berada dalam rombongan itu

pula tak ikut berbicara, namun ia bersiaga menjalankan perintah apa

pun yang akan diberikan kepadanya.

Sejenak setelah menunggu terdengar suara orang berlari kencang.

Orang itu adalah telik sandi yang melaksanakan tugas pengintaian untuk

menemukan di mana orang-orang yang melakukan pencegatan itu

berada.

”Bagaimana?” bertanya Senopati Gajah Enggon.

”Mereka di tikungan Randu Pitu. Berkekuatan sekitar lima belas

orang. Amat mungkin orang-orang yang semula melakukan pencegatan

di barat Purawaktra telah bergabung di sana. Dengan mudah aku bisa

menemukan mereka karena ada asap dari perapian yang dibuat. Nyala

api memang bisa disembunyikan, tetapi tidak asapnya.”

284 Gajah Mada

”Kamu melihat mereka menyembunyikan kuda-kuda?” tanya Gajah

Enggon lagi.

”Ya,” jawab prajurit yang menempatkan diri sebagai cucuk lampah

itu.

Senopati Gajah Enggon berbalik dan memandang Gajah Mada,

menunggu apa pendapat pendahulunya yang pernah memimpin pasukan

Bhayangkara itu.

”Dengan jumlah sebanyak itu, mereka pasti tidak akan menanggapi

ancaman untuk menyerah. Serbu mereka, tetapi harus ada yang

tertangkap hidup-hidup untuk dimintai keterangan. Jawaban atas siapa

yang bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan yang terjadi

akan kita peroleh di sana,” kata Gajah Mada.

”Baik, Kakang.”

Dengan tidak membuang waktu, Senopati Gajah Enggon mengatur

rencana. Di atas tanah ia membuat denah apa adanya.

”Mereka berada di Randu Pitu, tepat di pertigaan yang dengan jalan

membujur ke utara selatan dengan satu ruas jalan ke timur yang

terhubung dengan pintu gerbang utara. Pasukan yang ada aku pecah

menjadi dua, bagian pertama menyerbu mereka dari arah utara dan timur

dengan hujan anak panah biasa dan anak panah berapi untuk bisa

menerangi mereka. Serangan dari arah utara akan menyebabkan mereka

bergegas melarikan diri ke selatan, serangan dari utara ini aku yang akan

mengendalikan secara langsung. Di selatan separuh pasukan dipimpin

oleh Kakang Gagak Bongol dengan menempatkan diri di Padas Payung.

Hujan anak panah akan menyebabkan mereka tak punya pilihan selain

kembali dan berbelok melewati jembatan gantung ke arah hutan

Puringan. Pasukan yang dipimpin oleh Kakang Gagak Bongol harus

bisa memaksa mereka balik arah, sejalan dengan itu aku akan bergerak

ke jembatan lewat jalan pintas. Di jembatan gantung itulah aku akan

menyelesaikan mereka. Apabila mereka tidak membelok menuju

jembatan gantung ke Puringan, lepas sanderan berapi ganda. Kita jepit

mereka di ruas jalan antara Randu Pitu dan Padas Payung, cukup jelas?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 285

Pertanyaan yang dilontarkan Gajah Enggon tidak ada yang

membalas. Dengan demikian berarti semua memahami rencana yang

disusun itu. Gajah Mada tersenyum tak bisa menyembunyikan

kekaguman dan rasa bangganya. Pilihan terhadap Gajah Enggon untuk

mengendalikan pasukan Bhayangkara benar-benar pilihan yang tepat.

”Tunggu apa lagi? Kita bergerak.”

Dengan cekatan rombongan pasukan Bhayangkara itu membelah

diri menjadi dua kelompok. Separuh dipimpin oleh Gagak Bongol,

memutar balik arah mengambil jalan yang meski agak jauh bisa mengarah

ke tempat yang harus dituju tanpa diketahui pihak lawan. Akan halnya

Gajah Enggon karena jaraknya cukup dekat tidak membawa kudakudanya,

semua disembunyikan cukup jauh dari ruas jalan utama.

Jarak antara pintu gerbang utara menuju pertigaan Randu Pitu

bukanlah jarak yang jauh, namun juga bukan jarak yang dekat bila

ditempuh dengan jalan kaki. Dari pintu gerbang utara yang bermuara

ke ruas jalan menuju Jati Pasar dan ke Lapangan Bubat akan membelok

ke barat hingga menabrak jalan yang melintang dari utara ke selatan,

tempat itulah yang disebut Randu Pitu karena di sana pernah tumbuh

tujuh pohon randu. Pohon itu tinggal dua batang, namun orang masih

menyebut tempat itu sebagai Randu Pitu, bukan Randu loro. Sementara

itu, di arah selatan terdapat tebing yang curam. Tebing itu memayungi

lembah dari matahari sore. Itulah sebabnya, tebing itu disebut Padas

Payung.

Apa yang dikatakan telik sandi benar adanya. Dalam siraman cahaya

candra terlihat asap yang membubung pertanda di tempat itu ada orang

yang membuat api. Api itu dibutuhkan untuk membakar ketela yang

banyak ditanam di tempat itu.

Gajah Mada tak memberi saran apa pun karena dalam hal merancang

serangan atau penyerbuan, Gajah Enggon banyak sekali memiliki gagasan

dan pengalaman.

”Kita kuasai ruas jalan ke timur dan ke utara. Kita giring mereka ke

selatan,” kembali perintah diberikan oleh Gajah Enggon.

286 Gajah Mada

Demikian rapi baris pendhem yang dilakukan Gajah Enggon dan

segenap anak buah yang dipimpinnya, yang ketika mendekati sasaran

tak lagi dilakukan dengan berjalan mengendap-endap, namun dilakukan

dengan cara merayap. Dengan demikian, tak ada pohon yang bergoyang,

yang kalaupun bergoyang tidak akan menumbuhkan kecurigaan karena

semua pohon bergoyang diterpa maruta166 yang sedang berembus dengan

deras.

Di tempat itu Rangsang Kumuda terpaksa memendam rasa jengkel

kepada anak buahnya yang dianggap melakukan kecerobohan. Akan

tetapi, anak buahnya yang telah bersin saat baris pendhem yang menjadi

penyebab keberadaan mereka kepergok menjadi salah seorang yang mati.

Jadi, tak ada gunanya mengumpat menyerapahinya. Namun, Rangsang

Kumuda benar-benar tidak ingin kehilangan pengawasannya pada dua

ruas jalan menuju kotaraja itu. Tiga orang dari anak buahnya yang tersisa

masih ditugasi mengawasi ruas jalan ke Purawaktra meski bergeser jauh

ke arah barat. Apabila Dyah Menur terlihat melintas, harus dilakukan

penghadangan.

Rangsang Kumuda berkeinginan berteriak keras untuk membuang

bebannya, namun tiba-tiba terdengar sebuah suara, suara sepele dan tak

terlampau keras, hanya saja jenis suara sepele itu mampu mengundang

kemarahannya.

”Bajingan bangsat. Siapa yang kentut itu?” teriak Rangsang Kumuda.

Salah seorang anak buahnya yang kentut tak menyangka, suara yang

muncul dari belahan pantatnya itu bisa menimbulkan masalah. Justru

karena itu dengan rapat ia menyembunyikan diri. Bila dituduh, ia masih

punya jari untuk diarahkan kepada temannya yang lain yang juga samasama

punya pantat.

”Siapa yang kentut itu?” kembali terdengar suara teriakan.

Para anak buah Rangsang Kumuda sangat mengenal tabiat

pimpinannya. Oleh alasan yang sebenarnya sepele Rangsang Kumuda

bisa melakukan hal yang tak terduga, kali ini hanya sekadar kentut.

166 Maruta, Jawa Kuno, angin

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 287

Namun, kentut dengan suara keras itu memang meledak di saat yang

tidak tepat, di tempat yang juga tidak tepat. Rangsang Kumuda merasa

seperti diledek.

”Kaupernah mendengar siapa pemilik suara itu?” tanya Gajah Mada

kepada Gajah Enggon dengan amat berbisik.

”Belum, Kakang,” jawab Gajah Enggon.

”Agaknya orang itu pimpinannya. Ia begitu marah hanya karena

masalah kentut,” tambah Gajah Mada lagi.

”Ya. Tetapi, mungkin baunya busuk sekali,” jawab Gajah Enggon.

Gajah Enggon nyaris tak bisa menyembunyikan rasa geli. Namun,

pimpinan pasukan Bhayangkara itu sadar, suara sekecil apa pun yang

ditimbulkannya bisa menjadi penyebab kegagalan penyerbuan.

Suara anjing terdengar menggonggong di kejauhan. Para anjing itu

menyalak karena melihat rombongan berkuda yang kemudian merapat

di Padas Payung. Suara anjing bukannya mereda, namun makin riuh

berbalas di sana sini. Di langit bertabur bintang terdengar dua kali

lengkingan yang berasal dari burung rajawali. Membaca keadaan itu,

Rangsang Kumuda menjadi gelisah. Rangsang Kumuda yang memiliki

banyak perbendaharan pengalaman itu merasa keadaan tidak wajar.

”Kita tinggalkan tempat ini, cepat,” Rangsang Kumuda mendadak

melepas perintah yang mengejutkan setelah sekali lagi dari langit

terdengar suara melengking burung rajawali.

Rangsang Kumuda tahu, burung rajawali bukanlah jenis burung

yang banyak bersuara. Apabila burung rajawali berteriak seperti itu,

menjadi pertanda ia melihat sesuatu di bawah. Dan itu menjadi petunjuk

cuma-cuma bagi Rangsang Kumuda. Tak perlu ragu lagi, perintah segera

dijatuhkan. Akan tetapi, perintah itu juga menjadi pendorong bagi Gajah

Enggon untuk segera memainkan perannya.

”Hujan!” teriak Gajah Enggon.

Rangsang Kumuda dan anak buahnya benar-benar terkejut ketika

hujan anak panah terarah kepada mereka. Pasukan Bhayangkara dalam

288 Gajah Mada

jumlah kecil itu bergegas menerjemahkan rencana yang telah disusun.

Batu titikan dengan segera dibenturkan untuk membuat nyala api. Anak

panah sanderan berapi yang dilepas susul-menyusul sangat berguna

menerangi sasaran, menjadikan anak buah Rangsang Kumuda kalang

kabut berlarian ke arah kuda masing-masing.

”Cepat tinggalkan tempat ini,” teriak Rangsang Kumuda.

Dengan gesit Rangsang Kumuda memberi contoh dengan

melenting ke atas kuda dan tepat sebagaimana perhitungan Gajah

Enggon, rombongan orang-orang tak dikenal itu mengambil arah

menuju selatan.

”Serang!” perintah Gajah Enggon.

Serangan secara langsung dengan secepat-cepatnya itu didasari

kepentingan harus ada yang bisa ditangkap hidup-hidup dan dimintai

keterangan. Untuk menjamin keberhasilannya, Gajah Enggon merasa

harus berbuat langsung tidak hanya sekadar berteriak menyalurkan

perintah. Dengan anak panah terarah, Gajah Enggon berlari dan

menghamburkan serangan beruntun.

Rangsang Kumuda melihat kekacauan luar biasa yang dihadapi anak

buahnya yang berusaha sekuat tenaga meloncat ke atas punggung kuda

karena hujan warastra yang demikian deras susul- menyusul tiada henti.

Salah seorang dari mereka telah berhasil duduk di atas kuda, namun

nasibnya sial karena sebatang anak panah, kali ini anak panah dengan

ujung berapi menerjang punggungnya.

Ambruk orang itu dengan api yang dengan segera membakar

pakaiannya. Tak mampu menahan sakit oleh anak panah yang menancap

di punggungnya dan sengatan api yang membakar punggungnya, korban

berkelejotan menyita perhatian temannya. Perhatian yang terampas itu

segera dimanfaatkan oleh Gajah Enggon untuk melepas serangan yang

lebih tajam. Dua kali Gajah Enggon merentang busur, dua korban tak

bisa menghindar untuk jatuh dan sekarat.

Bentuk pertempuran segera berubah dengan cepat karena Bhayangkara

tidak mau membuang waktu dan jangan sampai orang-orang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 289

tak dikenal itu melarikan diri. Pertarungan dengan saling melepas warastra

itu dengan segera berubah ke bentuk mirip perang brubuh, pertarungan

satu demi satu dengan jumlah yang tak berimbang. Dengan jumlah lebih

banyak Bhayangkara lebih bisa memainkan keadaan.

Bagi Rangsang Kumuda, yang paling penting kali ini adalah

bagaimana cara menyelamatkan diri. Anak buahnya menjadi korban dan

tertangkap, semua bukan hal yang perlu dirisaukan. Bahkan andaikata

mereka dihukum mati sekalipun, ia merasa tak keberatan. Akan tetapi,

Rangsang Kumuda yang berniat melarikan diri menyusul anak buahnya

ke selatan menyempatkan melompat turun dan memungut dua butir

batu sekepalan tangan. Dengan sekuat tenaga batu sekepalan itu

diayunkan ke sasaran, ke arah salah seorang penyerbu yang agaknya

pemimpinnya.

Orang yang berada dalam sasaran bidiknya adalah Gajah Enggon.

Mungkin Rangsang Kumuda memang memiliki kemampuan bidik luar

biasa, atau barangkali ia sedang mujur. Batu besar itu mengayun sangat

deras tanpa Gajah Enggon menyadari. Malang Gajah Enggon, batu

sekepalan tangan itu menghantam kepala. Gajah Enggon terhenyak,

namun masih berusaha berdiri tegak. Namun, waktu yang diperlukan

Gajah Enggon hanya sejenak untuk kehilangan kesadaran.

Gajah Enggon ambruk di depan Gajah Mada.

”Tangkap semua yang tertinggal,” Gajah Mada mengambil alih

kendali.

Separuh dari orang-orang tak dikenal itu terjebak dalam

pertempuran yang tidak bisa dihindari. Separuh yang lain dengan begitu

tergesa seolah tidak memiliki banyak waktu berusaha menyelamatkan

diri.

Gajah Mada segera memeriksa Gajah Enggon yang tidak sadarkan

diri. Bagai mayat membeku, Gajah Enggon terkulai. Gajah Mada

menggoyang kepalanya untuk merangsang supaya Gajah Enggon segera

sadar, namun yang terjadi malah benjolan sebesar telur muncul di

kepalanya.

290 Gajah Mada

”Rawat Gajah Enggon. Salah seorang membawa kembali ke istana.

Cepat!” Gajah Mada memberikan perintah.

Cekatan seorang Bhayangkara menerjemahkan perintah itu. Salah

seorang dari para Bhayangkara menangkap salah satu kuda yang menjadi

liar tanpa terkendali. Tubuh Gajah Enggon diangkat ke atas kuda. Sejenak

kemudian kuda yang membawa Gajah Enggon dan seorang Bhayangkara

berderap menuju ke kotaraja.

”Hentikan pertempuran,” tiba-tiba Gajah Mada berteriak dengan

amat keras. ”Aku, Patih Daha Gajah Mada memerintahkan untuk

menghentikan pertempuran.”

Demikian besar perbawa yang dimiliki Gajah Mada, pertempuran

sengit itu berhenti dengan masing-masing berloncatan mengambil jarak

dan tetap berada dalam kesiagaan tertinggi.

”Aku menawarkan kepada kalian untuk menyerah. Kalau tawaran

ini kalian tolak, aku akan menjamin kalian semua akan mati. Bagaimana?”

lantang suara Gajah Mada menyebabkan ciut nyali anak buah Rangsang

Kumuda.

Anak buah Rangsang Kumuda saling pandang antara mereka sendiri.

Tak disangka oleh Gajah Mada, tak disangka pula oleh para Bhayangkara

yang lain, orang-orang itu tiba-tiba meletakkan senjata. Tak ada

perlawanan lagi.

”Aku menyerah,” berkata salah seorang dari mereka.

”Aku juga,”

”Untuk apa aku mengabdi kepada Rangsang Kumuda, aku juga

menyerah.”

Tidak seorang pun dari sisa-sisa anak buah Rangsang Kumuda yang

mencoba mempertahankan harga diri. Semua meletakkan senjata dengan

tanpa beban. Mantan Bekel Gajah Mada melihat, orang-orang itu bahkan

merasa senang diberi kesempatan menyerah.

”Tiga orang menjaga mereka, kita lanjutkan rencana yang telah

disusun Gajah Enggon,” Gajah Mada kembali memberi perintah.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 291

Cukat trengginas pasukan khusus Bhayangkara yang tak berkurang

jumlahnya kecuali naas yang menimpa Gajah Enggon, melaksanakan

perintah yang dijatuhkan Patih Daha Gajah Mada. Sebagaimana siasat

yang sudah dibuat, diperkirakan orang-orang yang menyelamatkan diri

itu akan melarikan diri melintas jembatan gantung ke arah hutan

Puringan. Dengan memintas jalan, Gajah Mada dan para Bhayangkara

akan tiba lebih dulu di jembatan gantung itu.

Rangsang Kumuda dengan lima orang anak buahnya yang tersisa

berpacu tak ubahnya orang yang ketakutan dikejar harimau. Akan tetapi,

betapa terperanjat orang-orang yang berniat mencegat Dyah Menur itu

ketika mendapati jalan yang melintas ke Padas Payung terhalang oleh

kayu yang melintang. Rangsang Kumuda dengan segera merasa curiga,

isyarat tangan kanannya yang diangkat tinggi menjadi pertanda bagi anak

buahnya untuk berhenti.

”Tadi kita lewat sini, bukan?” tanya Rangsang Kumuda.

”Ya,” Bramantya yang menjawab.

”Tadi belum ada pohon ambruk, bukan?”

Bramantya tidak menjawab, namun hujan anak panah yang

menjawab. Anak panah sanderan dengan suara amat melengking melintas

amat dekat, hanya sejengkal di sebelah telinganya, menyebabkan

Rangsang Kumuda merasa jantungnya hampir terlepas dari ikatan ototototnya.

Apalagi, sejenak kemudian anak panah berhamburan ke arah

mereka.

”Balik arah,” Rangsang Kumuda menjatuhkan perintah.

Rangsang Kumuda benar-benar kaget sekaligus merasa penasaran.

Rangsang Kumuda tidak bisa memahami bagaimana orang-orang

Bhayangkara bisa memergoki apa yang ia lakukan.

”Hanya Bhayangkara yang bisa melakukan itu,” gumam Rangsang

Kumuda.

Dengan memacu kudanya makin cepat dengan cara merangsang

melalui ujung tali kendali yang dilecutkan ke arah kaki kuda, Rangsang

292 Gajah Mada

Kumuda yang berada paling depan memimpin perjalanan melarikan diri

dengan membelok ke jalan kecil menuju Puringan. Di belakangnya,

teriakan-teriakan yang diobral oleh Gagak Bongol dan anak buahnya

menjadi petunjuk yang jelas bagi Rangsang Kumuda bahwa ia dan anak

buahnya sedang dikejar beramai-ramai.

Setelah dua kali melewati jalan membelok, Rangsang Kumuda kini

dihadang oleh sebuah jembatan gantung, yang tak mungkin dilintasi

bersama-sama. Jembatan gantung yang diikat dengan tali temali itu hanya

bisa dilewati kuda satu per satu. Namun, untuk yang ke sekian kalinya

betapa terkejut Rangsang Kumuda oleh kenyataan yang benar-benar

tak terduga. Anak panah sanderan membawa api melesat membubung

tinggi, menjadi peringatan baginya dan anak buahnya.

”Aku, Patih Daha Gajah Mada,” terdengar sebuah teriakan. ”Aku

minta kepada kalian semua untuk menyerah. Letakkan senjata, kalian

semua bakal selamat, atau kalian boleh mempertahankan keyakinan kalian

dan kami menjamin anak panah kami yang tak terkira jumlahnya akan

mengantar kalian ke pintu gerbang kematian.”

Nama Gajah Mada merupakan jaminan bahwa apa yang diucapkan

bukan hal yang main-main, menyebabkan Rangsang Kumuda cemas.

Para anak buahnya yang merasa terjebak dari segala penjuru itu bingung.

Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Kemungkinan yang tersisa

hanyalah menunggu bagaimana sikap pimpinannya. Apabila Rangsang

Kumuda memerintahkan menyerah, mereka siap akan menyerah.

Sebaliknya, apabila Rangsang Kumuda memerintahkan untuk melawan,

mereka ragu apakah akan melakukannya.

Apa yang kemudian terjadi dan mengagetkan mereka adalah

tindakan yang dilakukan Rangsang Kumuda yang dengan tiba-tiba

meloncat dari kudanya kemudian ambyur ke sungai.

Perbuatan Rangsang Kumuda itu luput dari perhatian Gajah Mada

dan anak buahnya karena terhalang oleh semak dan perdu. Akan tetapi,

perbuatan itu pula yang mendorong anak buah Rangsang Kumuda

mengambil keputusan.

”Aku menyerah,” salah seorang berteriak.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 293

”Aku juga,” tambah yang lain.

Seorang Bhayangkara segera melepas anak panah sanderan berapi

yang jatuh di antara orang-orang tidak dikenal itu, yang dengan demikian

menerangi sikap yang mereka ambil, apakah mereka benar-benar berniat

menyerah atau tidak.

Gajah Mada memerhatikan wajah-wajah tak dikenal yang berada di

depannya satu per satu. Tidak seorang pun pemilik wajah itu yang berani

membalas. Semua menundukkan kepala. Wajah-wajah sangar dan galak

itu amat berbalikan ketika kini berada di depan Gajah Mada. Tidak

seorang pun dari mereka yang berani memelintir kumis, apalagi bertolak

pinggang atau membentak-bentak dengan suara keras. Padahal di

hadapan orang yang lebih lemah, mereka amat galak melebihi anjing

yang paling galak.

”Siapa pemimpinnya?” bertanya Gajah Mada dengan suara tenang.

Orang-orang itu saling pandang.

”Siapa yang menjadi pimpinan dan harus aku tanyai?” ulang Gajah

Mada.

Akhirnya, semua menoleh pada Bramantya.

”Pimpinan kami bernama Rangsang Kumuda. Ia ambyur ke sungai.”

Jawaban itu mengagetkan Gajah Mada dan dengan segera

memerhatikan air yang demikian deras di sungai.

”Benar begitu? Ada yang melarikan diri dengan ambyur ke sungai?”

Patih Daha Gajah Mada mengalihkan pertanyaannya kepada yang lain.

”Benar, Ki Patih,” jawab dua orang secara bersamaan.

Gajah Mada mengedarkan pandangan matanya.

”Jayabaya, kemarilah.”

Bhayangkara Jayabaya yang tak banyak bicara kaget saat namanya

dipanggil. Dengan bergegas Jayabaya mendekat.

”Ikat mereka semua dan bawa ke istana, lalu sesegera mungkin kamu

lakukan pemeriksaan, apa sebenarnya yang mereka lakukan, siapa

294 Gajah Mada

pemimpinnya dan apa latar belakangnya. Apabila menurutmu masuk

akal dan mungkin, kejar pimpinannya yang ambyur ke sungai itu. Hasilnya

sesegera mungkin kaulaporkan. Aku mendahului kembali ke istana. Aku

mencemaskan keadaan Gajah Enggon.”

Sigap Jayabaya menjawab, ”Baik, Kakang Gajah, aku kerjakan.”

Patih Daha Gajah Mada memang layak mencemaskan keadaan

Gajah Enggon. Batu sekepalan tangan menghajar keningnya. Kejadian

itu mungkin membahayakan nyawanya. Hanya sejenak setelah itu suara

kuda yang berderap demikian kencang menggema dan memantul-mantul

ke segala penjuru.

23

Gajah Mada bergegas naik ke pendapa Balai Prajurit dan menuju

kerumunan para prajurit yang mengelilingi Gajah Enggon. Senopati

pimpinan pasukan khusus Bhayangkara itu masih terbaring tanpa daya.

Hantaman batu itu benar-benar mampu merampas kesadarannya. Waktu

telah bergeser cukup lama, tetapi Gajah Enggon belum juga sadar dari

pingsannya. Kematian memang bisa menimpa siapa saja dan melalui

kejadian apa saja, tetapi Gajah Mada layak merasa cemas apabila Gajah

Enggon tak bisa diselamatkan. Baginya, Gajah Enggon tak sekadar

seorang sahabat.

”Bagaimana keadaannya?” bertanya Gajah Mada.

Pertanyaan itu ditujukan kepada Nyai Lengger, seorang tabib

perempuan yang memiliki kemampuan nyaris menyamai Ra Tanca.

Perempuan yang diyakini kelak akan melayani banyak orang setelah

pesaingnya mati itu bergegas dipanggil untuk menolong Gajah Enggon.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 295

Berbagai daya dan upaya telah dilakukan, namun Gajah Enggon tetap

diam, bergolek terkulai tanpa daya.

Nyai Lengger bangkit dan menempatkan berdiri di depan Gajah

Mada. Suara Nyai Lengger terdengar lembut dan amat santun.

”Aku sudah berusaha sekuat tenaga, Ki Patih,” jawabnya. ”Namun,

masih saja Senopati Enggon seperti ini. Tak ada luka yang luar biasa

pada tubuhnya. Tetapi oleh karena batu itu mengenai kepala, padahal

kepala berisi otak, aku tidak tahu apakah Ki Gajah Enggon akan bisa

pulih keadaannya.”

Gajah Mada mengedarkan pandangan matanya ke kerumunan

prajurit yang tak bisa menahan rasa ingin tahu.

”Kalian semua bubar,” Gajah Mada memberi perintah kepada

mereka.

Para prajurit yang menggerombol itu membubarkan diri, hanya

menyisakan seorang yang masih tetap berdiri dengan tanpa berkedip

memandangi Gajah Enggon yang membeku.

”Gajah Geneng?” Gajah Mada berdesis.

Gajah Mada nyaris tidak mengenali wajah Gajah Geneng yang telah

berubah. Sebagai prajurit telik sandi Bhayangkara, Gajah Geneng

memang mampu mengubah wajah dan penampilan seenaknya. Dalam

melaksanakan tugasnya menjadi mata-mata, Gajah Geneng bahkan bisa

mengubah diri dalam wujud pengemis, pemilik suara yang memelas

dalam meminta-minta.

”Apa yang terjadi pada Kakang Gajah Pradamba?” tanya Gajah

Geneng.

”Ada orang mencurigakan yang melakukan pencegatan terhadap

orang-orang yang lewat di barat Purawaktra dan di Randu Pitu. Gajah

Enggon terkena lemparan batu di bagian kening yang dilakukan oleh

pimpinan orang-orang itu,” Patih Daha Gajah Mada menjawab.

Wajah Gajah Geneng terlihat cemas. Ia layak cemas karena masih

memiliki kenangan buruk yang amat mirip dengan apa yang kini dialami

296 Gajah Mada

Gajah Enggon. Salah seorang tetangga di kampung halamannya

mengalami naas terkena lemparan batu di keningnya. Tetangga yang

bernama Gandrang itu muntah berkali-kali dan kemudian pingsan.

Beberapa hari kemudian bahkan mati.

Gajah Geneng mendekat dan memberikan bisikan ke telinga Gajah

Enggon, ”Bangunlah, Kakang Gajah Enggon. Senopati pimpinan

pasukan Bhayangkara tidak boleh seperti ini.”

Akan tetapi, bisikan itu tak berjawab. Gajah Enggon tetap

membeku, matanya tetap terpejam. Tak hanya Gajah Geneng yang

cemas, Gajah Mada melebihi kecemasannya.

Gajah Mada berniat mengajukan beberapa pertanyaan kepada Gajah

Geneng, tetapi derap kuda yang masuk ke halaman Balai Prajurit lebih

menyita perhatian. Bhayangkara Gagak Bongol dan Bhayangkara

Jayabaya meloncat turun bersusulan. Namun, masih ada lagi orang yang

memacu kudanya sangat kencang dan berbelok masuk ke halaman Balai

Prajurit. Bhayangkara Macan Liwung datang pula menyusul setelah

seharian tak kelihatan batang hidungnya.

”Nyai Lengger,” Gajah Mada menyebut nama itu dengan suara

datar.

Nyai Lengger yang masih duduk bersimpuh di tempat itu

mendongak.

”Tolong tinggalkan kami sebentar. Aku ada pembicaraan penting

dan rahasia yang tak boleh didengar siapa pun.”

Tanpa bicara apa pun Nyai Lengger bergegas meninggalkan tempat

itu.

Patih Daha Gajah Mada membiarkan mereka meluapkan rasa gelisah

melihat keadaan Gajah Enggon yang mencemaskan. Kepada Macan

Liwung yang diliputi rasa ingin tahu, dengan singkat Gajah Mada

menceritakan apa yang terjadi.

”Bagaimana hasil pemeriksaan yang kaulakukan, Jayabaya?”

Jayabaya mempersiapkan diri memberikan laporannya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 297

”Aku telah melakukan pemeriksaan, seorang bernama Bramantya

memberi jawaban yang cukup jelas bahwa perempuan yang dicegat untuk

jangan masuk kota bernama Dyah Menur. Pimpinannya bernama

Rangsang Kumuda, namun bagaimana latar belakang orang bernama

Rangsang Kumuda itu tak seorang pun yang tahu. Aku sudah

memerintahkan untuk menelusuri sungai, juga menyerbu sebuah

pedukuhan terpencil yang selama ini menjadi sarangnya.”

Gajah Mada memerhatikan wajah Jayabaya dalam berbicara. Tidak

satu pun kalimat yang lepas dari perhatiannya.

”Orang itu bernama Rangsang Kumuda?” Gajah Mada menegas.

”Ya,” jawab Bhayangkara Jayabaya. ”Orang itulah yang mendalangi

semua pembunuhan beruntun yang terjadi. Bramantya mengaku

mengenal Rubaya. Rubaya orang yang ditugasi membunuh Raden

Kudamerta menggunakan ayunan pisaunya. Bramantya juga bisa

bercerita dengan jelas siapa Kinasten dan Arya Surapati dan apa yang

terjadi pada mereka. Satu per satu pendukung Raden Kudamerta dibantai

bahkan terakhir dengan sasaran Raden Kudamerta sendiri. Untung

Raden Kudamerta selamat dari serangan itu.”

Gajah Mada mencuatkan alis mencoba menghubung-hubungkan

keterangan yang telah ia miliki.

Gajah Mada beralih kepada Macan Liwung.

”Dan kau, Macan Liwung, apa yang akan kaulaporkan?”

”Aku mempertegas keterangan yang diperoleh Jayabaya, Kakang

Gajah Mada. Aku telah membayang-bayangi perjalanan Raden

Kudamerta menuju Jurang Serut, tak jauh dari Brahu, hanya dekat saja.

Raden Kudamerta mendatangi sebuah rumah yang kosong ditinggalkan

penghuninya. Raden Kudamerta lalu menanyai beberapa orang tetangga

rumah itu. Dari mereka, aku memperoleh keterangan yang sangat

penting, bahwa Raden Kudamerta ternyata sudah memiliki seorang istri.

Para tetangga rumah itu tak tahu kapan perempuan bernama Dyah

Menur pergi dan ke mana perginya.”

Keterangan Bhayangkara Macan Liwung itu amat mengagetkan

Bhayangkara Jayabaya, Bhayangkara Gajah Geneng, dan Gagak Bongol.

298 Gajah Mada

Sebaliknya, Bhayangkara Macan Liwung terkejut melihat Gajah Mada

sama sekali tidak terkejut.

”Raden Kudamerta telah beristri?” Gajah Geneng meletup.

”Ya,” Gajah Mada menjawab, ”Raden Kudamerta melakukan

kesalahan dengan menyembunyikan hal itu. Namun, Ibu Ratu Rajapatni

Biksuni Gayatri sudah tahu.”

”Gila,” desis Gajah Geneng.

”Kenapa?” balas Gajah Mada.

”Kakang Gajah, sudah tahu itu?”

Gajah Mada tersenyum.

”Aku sudah mengetahui dari sumber lain. Raden Kudamerta sudah

beristri dan memiliki seorang anak laki-laki. Di belakang perempuan

bernama Dyah Menur itu sangat mungkin ada pihak tertentu yang

bermimpi akan bisa menguasai takhta. Pembunuhan berantai yang terjadi

kemarin dan pencegatan yang terjadi kali ini didalangi orang itu yang

kini kita ketahui namanya, Rangsang Kumuda. Namun, siapa sebenarnya

orang itu masih gelap. Kita akan terus menelusurinya,” kata Gajah Mada.

Mendengar itu, Gajah Geneng batuk-batuk pendek. Sebuah ciri

kebiasaan yang selalu dilakukan ketika akan meminta berbicara.

”Apa yang akan kausampaikan, Gajah Geneng?”

”Aku tahu siapa orang yang Kakang maksud.”

Gajah Mada terbelalak.

”Siapa?”

”Ia hanya seorang pekatik kuda,” jawab Gajah Geneng. ”Meskipun

hanya pekatik kuda yang merawat kuda-kuda milik Raden Cakradara,

orang ini punya pengaruh besar kepada Raden Cakradara. Dalam wujud

kesehariannya ia hanya seorang pekatik atau gamel, namun ketika hanya

berdua, Raden Cakradara pun dibentaknya.”

Gajah Mada tak berkedip. Keterangan yang diberikan Gajah Geneng

sangat sesuai dan mendukung dugaannya.

”Nama orang itu?” kejar Gajah Mada.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 299

”Pakering Suramurda, paman kandung Raden Cakradara, kakak

ibunya.”

Lalu hening. Angin yang mengalir sangat sejuk menggoyang

dedaunan, angin lembut itu menyebabkan api dari beberapa obor yang

dinyalakan menari meliuk begitu indahnya, juga menggoyang daun pisang

yang bergerak melambai ke kanan dan ke kiri. Namun, angin lembut itu

tidak punya kekuatan untuk membangunkan Gajah Enggon supaya

segera sadar dari pingsannya.

”Pakering Suramurda?”

”Ya,” Gajah Geneng mempertegas.

Gajah Geneng kemudian menceritakan bagaimana mendapatkan

keterangan yang amat penting itu. Kalimat demi kalimat pembicaraan

yang terjadi antara Raden Cakradara dan Pakering Suramurda bisa

diceritakan kembali secara utuh, yang secara lugas memberi gambaran,

memang terjadi semacam perebutan kekuasaan yang dilakukan pihak

tertentu dengan memanfaatkan Raden Cakradara sebagai suami Sekar

Kedaton.

”Gagak Bongol.”

Gagak Bongol kaget.

”Ya, Kakang Gajah.”

”Bagaimana dengan anak angkatmu?” tanya Patih Daha Gajah Mada

yang dirasakan berbelok dengan mendadak

Gagak Bongol agak bingung, kesulitan menebak ke mana arah

pertanyaan itu.

”Kepalaku mau pecah, Kakang Gajah,” jawab Gagak Bongol.

Gajah Mada tersenyum. Macan Liwung dan Gajah Geneng yang

tidak tahu masalah yang sedang diperbincangkan hanya saling pandang.

Demikian pula dengan Bhayangkara Jayabaya yang hanya bisa

mencuatkan alis. Soal Gagak Bongol punya anak? Bagaimana ia bisa

punya anak, sementara istri saja ia tidak punya. Gagak Bongol pernah

300 Gajah Mada

punya istri, tetapi istri Gagak Bongol itu telah meninggalkannya. Lakilaki

lain menyebabkan istri Gagak Bongol berpaling.

”Dengan sejujurnya aku mengatakan, menghadapi musuh dengan

kekuatan segelar sepapan jauh lebih mudah daripada menghadapi Sang

Prajaka,” jawabnya.

Gajah Mada manggut-manggut.

”Bagaimana pula dengan tugas utamamu?”

”Tak ada masalah dengan tugasku, Kakang Gajah. Pembangunan

candi untuk mendiang Tuanku Baginda akan berjalan sesuai rencana.

Besok pekerjaan besar itu akan dimulai,” Gagak Bongol menambah.

Patih Daha Gajah Mada merasa perlu menimbang sebuah tugas,

apakah tugas itu harus diberikan kepada Gagak Bongol. Namun, Gajah

Mada tak melihat sosok lain yang bisa mengerjakan tugas itu dengan

baik.

”Aku ingin memperoleh kepastian, apakah perebutan kekuasaan

yang ditandai pembunuhan berantai itu ada hubungannya dengan Ra

Tanca atau tidak. Tugasmu, kaukorek keterangan dari mulut istri Ra

Tanca. Tanyakan apakah ia mengenal nama Pakering Suramurda atau

Rangsang Kumuda. Barangkali ketika masih hidup Rakrian Tanca pernah

bercerita kepada istrinya. Kalau benar Ra Tanca mengenal nama itu,

bisa diyakini Ra Tanca terlibat.”

Gagak Bongol menyimak perintah itu. Gagak Bongol diam.

”Paham dengan apa yang aku kehendaki?”

Gagak Bongol mengangguk, ”Sangat.”

”Baik, kerjakan malam ini juga. Pergilah.”

Setelah memberikan penghormatannya, dengan tidak perlu

membuang waktu Gagak Bongol melaksanakan tugasnya.

”Karena Gajah Enggon tak mampu melaksanakan tugasnya, apakah

di antara kalian ada yang keberatan bila aku mewakilinya mengambil

alih kepemimpinan?” tanya Gajah Mada kepada Macan Liwung dan

Gajah Geneng. Serentak dua orang itu tersenyum.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 301

”Tak ada seorang pun Bhayangkara yang keberatan, Kakang Gajah.”

”Kalau begitu kutugaskan kepadamu untuk mengumpulkan para

Bhayangkara dan sampaikan kepada mereka keputusanku mengambil

alih kendali selama Senopati Gajah Enggon tak bisa melaksanakan

tugasnya. Dan kau, Jayabaya, malam ini pula kita periksa Raden

Cakradara. Kalau Raden Cakradara yang mendalangi pembunuhanpembunuhan

yang terjadi maka ia akan berhadapan dengan undangundang.

Kitab Kutaramanawa tidak akan membeda-bedakan orang.

Sementara itu, aku ingin malam ini pula seorang pekatik kuda bernama

Pakering Suramurda yang mengabdi kepada Raden Cakradara ditangkap.

Siagakan pasukan untuk itu. Awasi dengan ketat istana kanan, jaga semua

pintu jangan sampai digunakan Pakering Suramurda untuk melarikan

diri.”

Bhayangkara Jayabaya sigap melaksanakan dengan membagikan

tugas kepada anak buahnya. Dengan cekatan pasukan berkekuatan kecil

saja itu mendahului pergi mengepung istana kanan. Kepada mereka,

Gajah Mada menyempatkan menyampaikan petunjuk apa yang harus

dilaksanakan.

”Kalian semua hanya bertugas menangkap seorang pekatik bernama

Pakering Suramurda. Lakukan tanpa menyolok dan jangan sampai

menimbulkan kesan yang bisa menyebabkan munculnya kasak-kusuk

yang tidak benar. Sebagaimana kita yakini, Pakering Suramurda yang

gagal melakukan pencegatan terhadap perempuan bernama Dyah Menur

itu pasti akan kembali ke istana kanan. Tangkap dia dan jangan

diperlakukan kurang baik karena ia masih paman kandung Raden

Cakradara.”

Dibekali petunjuk yang sudah jelas prajurit yang disiagakan itu

melaksanakan tugas. Hanya sejenak kemudian prajurit dari bangsal

kesatrian khusus Bhayangkara itu telah menghilang, lenyap tak ketahuan

jejaknya.

Nyai Lengger kembali dipanggil untuk merawat Senopati Gajah

Enggon yang masih belum juga sadar. Patih Daha Gajah Mada akan

meninggalkan tempat itu untuk menuntaskan banyak pekerjaan, namun

302 Gajah Mada

wajah Gajah Enggon yang pucat benar-benar menyebabkan dirinya

gelisah.

”Upayakan Gajah Enggon siuman, Nyai Lengger. Kalau kamu

berhasil maka Majapahit akan berutang budi kepadamu. Sebaliknya,

apabila kamu tidak berhasil maka Majapahit tidak akan memaafkanmu.”

Ancaman yang dilontarkan Patih Daha Gajah Mada menyebabkan

perempuan itu ketakutan. Ia tak tahu Gajah Mada sama sekali tidak

berniat melakukan seperti apa yang diucapkan. Menggunakan kain yang

dibasahi air hangat, Nyai Lengger mengelap kepala Gajah Enggon. Nyai

Lengger cemas bila Gajah Enggon mengalami muntah-muntah karena

berdasar pengalaman, bila benturan di kepala berakibat muntah akan

berakibat buruk. Bisa menyebabkan kematian dan bisa pula

menyebabkan gila. Orang bisa menjadi gila karena benturan keras di

kepala karena kepala berisi otak, salah satu piranti tubuh yang digunakan

berpikir. Bila tidak bisa berpikir secara benar itu artinya sama dengan

gila.

”Senopati Gajah Enggon yang kuhormati, tolong sadarlah,

Senopati. Karena bila kau tidak siuman, aku bisa dihukum mati.”

Memelas sekali Nyai Lengger menggumamkan isi hatinya.

24

Nyai Tanca mengalami kesulitan untuk tidur. Sangat sulit tidur

dan bermimpi itu diperoleh sejak kematian suaminya, kematian yang

baginya dirasakan melebihi kiamat. Amat berat bagi Nyai Tanca untuk

menyangga beban yang disandang. Orang memandangnya dengan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 303

tatapan mata sinis. Terakhir, entah siapa pelakunya, rumahnya dihujani

batu oleh orang-orang yang demikian marah. Cibiran dan caci maki

mereka yang tak bisa menerima kematian rajanya melalui cara itu harus

ditelan mentah tanpa dikunyah. Padahal, rasanya pahit sekali. Bersamaan

dengan perabuan Baginda yang dibunuh suaminya, sekelompok orang

bahkan berniat membakar rumahnya.

Keadaan yang demikian itu sampai ke telinga Senopati Gajah

Enggon, yang kemudian menugasi seorang prajurit untuk menjaga rumah

itu supaya orang-orang yang marah itu tidak berbuat seenaknya sendiri.

Dan malam yang dilalui kali ini sungguh malam yang begitu

sempurna dalam memberi siksaan. Tidur biasanya dilalui bertiga dengan

Ra Tanca dan anaknya yang kini sering menangis menanyakan ke mana

ayahnya. Nyai Tanca ingin menganggap apa yang terjadi itu hanya mimpi,

dan yang namanya mimpi selalu memberi peluang untuk terbangun.

Ketika terbangun, kejadian buruk macam apa pun yang dialami akan

lenyap karena hanya mimpi. Akan tetapi, apa yang terjadi bukan mimpi.

Apa yang menimpanya merupakan kenyataan yang tak bisa dihindari

dan sudah terjadi. Suaminya pergi untuk selamanya juga merupakan

kenyataan yang tak bisa diingkari.

”Dosa apa yang diperbuat leluhurku sehingga aku harus mengalami

hal pahit seperti ini?” Nyai Tanca mengeluh.

Tidur merupakan salah satu cara untuk melupakan apa yang menimpanya

itu meski barang sejenak, tetapi dalam tidur pun semua persoalan

masih terbawa. Seiring dengan larut malam, Nyai Tanca berharap segera

bisa tidur, tetapi ternyata tidur pun merupakan sesuatu yang ditakutkan,

mimpi sangat buruk dalam tidur itu yang ia takuti.

Dan ketukan di pintu itu mengagetkannya, menyebabkan Nyai

Tanca berdebar- debar. Sejak kematian Ra Tanca semua suara bisa

mengagetkan, kucing berlari yang menerjang peralatan dapur

mengagetkan, kuda yang berlari melintas halaman rumah juga

mengagetkan, memberi kecemasan apabila penunggang kuda itu

membelok ke rumahnya dan membawa paksa anaknya. Apalagi, ketukan

pintu di tengah malam.

304 Gajah Mada

”Nyai Tanca, ini aku, Gagak Bongol membawa keperluan penting.”

Nyai Tanca menyimak dengan mengarahkan telinganya.

”Nyai Tanca, ini aku, Gagak Bongol. Buka pintunya, ada masalah

penting.”

Nyai Tanca mengenal Gagak Bongol dengan baik. Setidaknya

beberapa kali Gagak Bongol datang ke rumahnya untuk minta diracikkan

obat suaminya. Walaupun Ra Tanca pernah melakukan tindakan makar

bersama-sama Ra Kuti, Ra Tanca terbukti bisa berubah dan menyesali

kesalahannya. Persahabatan pun tumbuh di antara mereka. Namun, siapa

sangka perjalanan waktu kemudian membuktikan, Ra Tanca mewujudkan

apa yang dulu begitu diinginkan Ra Kuti.

Nyai Tanca bergegas membuka pintu dan mendapatkan Gagak

Bongol datang sendirian. Prajurit Bhayangkara yang ditugasi Senopati

Gajah Enggon terlihat hilir mudik di regol.

”Kakang Bongol,” desis Nyai Tanca.

”Ya,” jawab Gagak Bongol. ”Kuharap aku tidak mengganggu

ketenanganmu malam ini. Aku mendapat tugas dari Kakang Gajah Mada

untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kuharap Adi Nyai Tanca

tidak keberatan.”

Nyai Tanca mengangguk.

”Silakan masuk, Kakang Bongol.”

Lampu yang berusaha menerangi ruangan yang suram itu seperti

menambah kesuramannya. Udara terasa pengap, amat berbalikan dengan

udara di luar rumah.

”Kakang Bongol membutuhkan keterangan apa?” tanya Nyai Tanca.

Namun, Gagak Bongol tidak berniat berbicara langsung ke pokok

persoalan. Setidaknya perlu pembicaraan melingkar yang dibungkus basabasi.

”Bagaimana keadaanmu, Nyai? Kaubaik saja?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 305

Nyai Tanca tersenyum kecut. Pertanyaan itu dirasa menyebalkan.

”Bagaimana keadaanku bisa dibilang baik, Kakang Bongol? Aku

kehilangan suami.”

Amat serak Nyai Tanca dalam berbicara meletupkan gugatannya.

Nyai Tanca sulit memahami kematian suaminya. Relung hati perempuan

itu tidak bisa menerima kematian suaminya. Nyai Tanca memiliki alasan

yang bersifat pribadi yang menyebabkan ia tidak bisa menerima kematian

suaminya. Setidaknya Sri Jayanegara, meski ia seorang raja pernah berniat

berbuat tidak senonoh kepada dirinya. Perbuatannya itu sangat layak

mendapat ganjaran dibunuh. Apa yang dilakukan suaminya semata-mata

demi menjaga harga diri atas kehormatan istrinya yang dilecehkan, meski

raja pelakunya.

”Kau kehilangan suami. Hanya kau yang kehilangan, Nyai,” Bongol

menjawab, ”sementara Majapahit kehilangan rajanya.”

Nyai Tanca menghela tarikan napas pendek, namun dengan suara

melenguh. Tidak ada gunanya berbicara apa yang dilakukan Jayanegara

kepadanya. Tak ada orang yang menyaksikan, jadi tak ada yang akan

percaya.

”Langsung saja, silakan Kakang bertanya. Apabila aku tahu jawabnya

akan kujawab. Namun, jangan paksa aku memberikan jawaban yang harus

disesuaikan.”

Gagak Bongol mengangguk.

”Kejadian kemarin petang itu, Nyai,” kata Gagak Bongol. ”Apakah

memang telah direncanakan oleh suamimu? Istri adalah tempat berbagi,

mungkin saja Tanca bercerita tentang rencana pembunuhannya?”

Nyai Tanca menggeleng lemah. Senyum sinisnya mengembang.

”Kakang Tanca tidak pernah berbicara apa pun. Apa yang dilakukan

bisa jadi karena Sri Baginda bersikap kasar kepadanya. Pembunuhan

yang dilakukan bersifat mendadak, tidak pernah direncanakan

sebelumnya.”

Adakah jawaban yang diberikan Nyai Tanca itu merupakan jawaban

jujur apa adanya atau jawaban palsu karena menyembunyikan keadaan

306 Gajah Mada

yang sebenarnya. Lebih-lebih Nyai Tanca bukanlah jenis perempuan

yang bodoh dan lugu yang tak memiliki kesanggupan berbohong. Nyai

Tanca juga memiliki kesanggupan bersandiwara. Pada sebuah

pertunjukan sandiwara yang digelar untuk menghibur kawula yang hadir

di lapangan Bubat pada acara pasar malam yang digelar di bulan Caitra,

Nyai Tanca mampu menguras air mata penonton dalam membawakan

peran istri yang disia-siakan suaminya.

”Kapan terakhir Rangsang Kumuda datang kemari?” tanya Gagak

Bongol.

Pertanyaan itu terasa membelok dengan tiba-tiba. Namun, Nyai

Tanca mengerutkan kening, pertanyaan itu membuatnya merasa aneh.

”Siapa?”

”Rangsang Kumuda,” ulang Gagak Bongol.

Nyai Tanca melangkah lebih dekat untuk bisa melihat wajah Gagak

Bongol dengan lebih jelas.

”Kakang Bongol menyebut nama yang aku belum pernah dengar.”

”Aneh,” Bongol menekan. ”Kau mengenal nama itu dengan baik

sebagaimana Ra Tanca juga mengenal nama itu.”

Nyai Tanca menggeleng perlahan, namun dilandasi oleh sebuah

keyakinan.

”Aku tidak mengenal nama Rangsang Kumuda. Kalaupun Kakang

Ra Tanca mengenal nama itu dan berurusan dengannya, semua itu

merupakan urusan Kakang Tanca. Tidak semua teman Kakang Tanca

aku mengenalnya. Mungkin benar Kakang Ra Tanca mengenal nama

itu, hanya sayang, bagaimana bentuk hubungannya atau ada urusan apa

di balik hubungan itu, ia membawanya mati. Rahasia Kakang Tanca

terbawa ke kuburannya.”

Jawaban Nyai Tanca itu agak sulit untuk dibantah. Dari raut

wajahnya terbaca, Nyai Tanca memang tidak mengenal nama itu.

”Bagaimana dengan nama Pakering Suramurda? Apakah Nyai juga

tak kenal nama itu? Pakering Suramurda beberapa kali datang kemari.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 307

Nyai Tanca melangkah meninggalkan Gagak Bongol yang masih

tetap duduk di dingklik panjang. Nyai Tanca mengambil lampu ublik

yang menyala kecil sekali dan didekatkannya lampu itu ke wajah tamunya

untuk melihat lebih nyata bagaimana raut wajah Gagak Bongol.

”Siapa tadi yang Kakang sebut?” Nyai Tanca bertanya.

”Pakering Suramurda,” ulang Gagak Bongol.

Nyai Tanca tertawa pendek.

”Aku tidak mengenal nama itu dan janganlah bersikap seolah-olah

nama yang kausebut itu pernah datang kemari atau kukenal. Kakang

Gagak Bongol mengarang cerita ngawur. Kalaupun Kakang Tanca

mengenal dan berurusan dengan dua nama itu, silakan Kakang tanyakan

ke kuburannya.”

Ceplas-ceplos demikian ringan ucapan Nyai Tanca menjadi tanda

Nyai Tanca memang orang yang pintar, pemberani, dan punya otak untuk

berpikir.

Gagak Bongol merasa tak ada lagi hal yang perlu ditanyakan.

Sebelum minta pamit disempatkan memerhatikan benda apa saja yang

ada di ruangan itu. Ra Tanca memang seorang ahli racun, hal itu

tergambar dari beberapa jenis ular mematikan yang dikeringkan dan

dipajang di dinding. Ular-ular beracun itu berukuran besar. Akan tetapi,

ada sesuatu yang segera menarik perhatiannya. Gagak Bongol tak

mengalihkan perhatiannya dan bahkan mendekat. Menggunakan lampu

ublik Bongol memerhatikan lambang yang dibatik di lembaran kain lebar,

berbentuk bulatan yang dibelit oleh sesuatu.

”Gambar apa ini?” tanya Gagak Bongol.

Nyai Tanca melirik lambang bulatan itu.

”Aku yang punya gagasan membuat lambang itu,” jawab Nyai Tanca.

”Ular membelit buah maja. Kakang Tanca yang kuminta menerjemahkan

ke dalam bentuk gambar, hasilnya seperti itu.”

Gagak Bongol mencuatkan alis dan membutuhkan waktu sedikit

lebih lama untuk berpikir. Gagak Bongol yang berbalik dan menem308

Gajah Mada

patkan berdiri berhadapan dengan perempuan itu tak habis mengerti,

betapa pintar ia menyembunyikan rahasia, sebuah kebohongan yang

diyakini benar dilakukan Nyai Tanca.

”Jadi kamu pemilik gagasan pembuatan lambang ini?” tanya Gagak

Bongol.

”Ya.”

”Lalu, apa artinya?”

Nyai Tanca tidak segera menjawab, menggunakan lampu ublik ia

menerangi lembaran kain yang dipasang terbentang di dinding. Nyai Ra

Tanca sama sekali tidak berniat menyembunyikan kebanggaannya

terhadap lambang yang digagasnya itu.

”Bola itu lambang buah maja. Ular itu lambang Kakang Ra Tanca.”

Ucapan Nyai Tanca yang dilepas tanpa tedheng aling-aling dan tanpa

ditimbang itu mengagetkan Gagak Bongol. Ucapan itu sungguh amat

sembrono. Nyai Tanca bisa berhadapan dengan hukuman gantung atas

kata-katanya yang mempunyai makna melecehkan negara.

”Kakang akan melaporkan apa yang kuucapkan ini?” tanya Nyai

Tanca.

Gagak Bongol menghela napas amat berat.

”Jangan kauulangi mengucapkan kata-kata itu kepada orang lain,

Nyai. Karena orang lain mungkin tidak bersikap seperti diriku. Ucapan

dan pendapatmu seperti itu sudah cukup mampu menggiringmu ke

hukuman picis sampai mati.”

Nyai Tanca tertawa sinis. Namun, membenarkan apa yang dikatakan

Bongol. Hanya kepada Bongol yang sudah ia kenal baik, ia berani berkata

seperti itu. Apabila berhadapan dengan orang lain tentu ia tak akan berani

melakukan.

”Kematian suamiku,” ucap Nyai Tanca. ”Hanya aku yang menangisinya.

Tak seorang pun yang menyumbang air mata untuk kematian

Dharmaputra Winehsuka Ra Tanca kecuali aku. Tidak seorang pun

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 309

tetanggaku yang datang menyampaikan belasungkawa. Sungguh amat

berbeda dengan kematian Kalagemet, kawula se-Majapahit secara suka

rela menyumbang air mata menyebabkan Kotaraja Majapahit banjir.”

Gagak Bongol makin tidak nyaman. Ucapan Nyai Ra Tanca itu

membuatnya merasa risih.

Segenap rakyat memuji Sri Jayanegara sundul langit sebagai raja

yang adil bijaksana, berbudi bawa leksana, ambek adil paramarta.167 Tidak

seorang pun yang tahu raja macam apa Jayanegara yang menggerayangi

semua perempuan. Laki-laki macam itu tidak pantas menjadi panutan

dan sesembahan. Sementara adik perempuan Sri Jayanegara, kebanggaan

macam apa yang dimiliki oleh Sekar Kedaton yang selalu mengganggu

ketenteraman rumah tangga orang. Bagaimana penilaian khalayak ramai

apabila mereka mengetahui perempuan macam apa Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa yang tidak punya urat malu, masih terus mengusik Kakang

Ra Tanca meski telah beristri?”

Gagak Bongol merasa makin tidak nyaman. Ucapan Nyai Tanca, ia

rasakan kelewatan. Penilaian yang disampaikan Nyai Tanca adalah

penilaian yang berdasar dari cara pandangnya semata, apalagi Gagak

Bongol melihat kenyataan sesungguhnya tidaklah seperti yang diucapkan

Nyai Tanca. Ucapan itu benar-benar membalikkan keadaan sebagaimana

merah dikatakan biru dan biru dikatakan merah.

”Aku ingatkan, Nyai Tanca, jaga kata-katamu itu. Kata-kata macam

itu yang bisa membawamu ke tiang gantungan. Kamu menebar fitnah.”

Nyai Tanca tertawa, ”Aku tidak takut, Kakang Gagak Bongol. Kalau

Kakang akan melaporkan kata-kataku ini, silakan, aku tidak keberatan.

Jika aku mati, dengan senang hati akan kujemput kematianku. Dengan

demikian, aku bisa menyusul suamiku sekaligus menyusul Jayanegara.

Di kehidupan ini aku tidak bisa mencaci maki, tetapi di kehidupan lain,

Jayanegara tidak akan bisa menghindar dari tanganku. Akan kuludahi

Sri Jayanegara di alam lain itu.”

Gagak Bongol akhirnya tak kuasa menahan diri.

167 Berbudi bawa leksana, ambek adil paramarta, Jawa, berbudi luhur dan adil

310 Gajah Mada

”Berhentilah memfitnah raja,” ucap Gagak Bongol. ”Semua orang

di bumi Wilwatikta ini tahu siapa kamu. Kamu perempuan yang pernah

menjual diri, bahkan kepadaku pun kau pernah menawarkan diri.

Bagaimana aku bisa percaya kepadamu? Bagaimana orang se-Majapahit

bisa percaya kepadamu?”

Terbungkam mulut Nyai Tanca. Soal ia pernah memberikan tawaran

itu, benar adanya. Beberapa bulan sebelumnya, ketika Gagak Bongol

datang berkunjung, Nyai Tanca telah menggodanya dengan cara yang

kelewatan melampaui batas kepatutan.

”Jangan mengarang-ngarang cerita lagi, Nyai Tanca,” Gagak Bongol

melepas isi dadanya dengan ucapan yang terdengar bergetar.

”Aku tidak mengarang cerita. Jayanegara memang pernah berniat

kurang ajar kepadaku. Itu kenyataannya. Aku berkewajiban memberi

tahu orang se-Majapahit. Sri Jayanegara adalah jenis orang sebagaimana

yang aku katakan.”

Namun, Gagak Bongol memberinya jawaban yang tangkas, ”Lalu,

bagaimana dengan kamu menawarkan diri untuk perang tanding olah

asmara denganku. Wanita yang demikian mudah menawarkan diri kepada

orang lain tanpa sepengetahuan suami, lalu bagaimana kamu bisa

mengarang cerita Jayanegara berniat seperti itu. Jangan-jangan yang

terjadi sebenarnya terbalik. Kamu menawarkan diri kepada Tuanku

Jayanegara, Sri Baginda tidak menanggapi, menyebabkan kamu berulah

seperti itu.”

Kali ini benar-benar terbungkam mulut Nyai Ra Tanca. Namun,

Gagak Bongol masih merasa perlu memberi tekanan.

”Soal hubungan suamimu dengan Sekar Kedaton Maharajasa.

Hubungan itu terjadi sebelum kamu mengenal Ra Tanca. Menggunakan

cara pandang lain, bakal terlihat kamulah yang mengganggu hubungan

antara Ra Tanca dan Sekar Kedaton.”

Gagak Bongol akhirnya meninggalkan rumah Nyai Tanca dengan

kemarahan yang nyaris meledakkan kepalanya. Namun, Gagak Bongol

tidak berniat melaporkan ucapan-ucapan Nyai Tanca yang bisa membawa

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 311

perempuan itu ke tiang gantungan. Nyai Ra Tanca masih terhenyak,

terpaku membeku di pendapa sederhana rumah peninggalan suaminya.

Prajurit yang oleh Gajah Enggon ditugasi menjaga rumahnya

mendekat.

”Apa yang terjadi, Nyai?” bertanya prajurit itu.

Nyai Ra Tanca berusaha keras menata napasnya yang mengombak

ayun. Tak berkedip Nyai Tanca memerhatikan wajah prajurit yang masih

muda itu. Menilik usia, prajurit itu belum berumur lebih dari dua puluh

tahun. Namun, prajurit itu memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang

gagah.

”Tak terjadi apa-apa,” jawab Nyai Tanca. ”Jika kau tak keberatan,

aku ingin bertanya, siapakah namamu?”

Prajurit yang masih muda itu tidak segera menjawab.

”Keberatan aku ingin tahu namamu?”

”Namaku Kendar Kendara, Nyai,” jawab prajurit itu.

”Kendar Kendara?”

”Ya,” jawab Kendar Kendara.

Adakah nama itu yang menyebabkan Nyai Tanca tiba-tiba termangu,

ternyata tidak. Bila Nyai Tanca keluar ke halaman dan mengarahkan

perhatiannya pada kerlap-kerlip bintang yang tak begitu jelas karena kalah

perbawa dari bulan yang memanjat makin tinggi, adalah karena Nyai Tanca

sedang berpikir. Nyai Tanca adalah perempuan yang terbiasa

menggunakan otak dan tidak ingin terjerembab ke kubangan persoalan

tanpa pemecahan. Nyai Ra Tanca juga jenis perempuan cerdas yang

terbiasa berpikir berdasar kenyataan dan selalu mengenyahkan anganangan

yang tak masuk akal, apalagi yang hanya sekadar mimpi.

”Kakang Tanca telah tidak ada. Tak mungkin mengharapkan

Kakang Tanca kembali hidup, tak ada gunanya menangisinya dengan

air mata darah sekalipun. Tak ada gunanya membuang waktu dengan

meratap-ratap. Waktu jalan terus, waktu tak akan pernah berhenti,” Nyai

Tanca sibuk berbicara pada diri sendiri melalui kata hati.

312 Gajah Mada

Kendar Kendara ikut memandang ke langit, ikut mencari-cari

sesuatu yang tak ia pahami. Yang mengagetkan Kendar Kendara adalah

apa yang dengan mendadak dilakukan Nyai Tanca yang mencengkeram

pundaknya dengan keras dan beringas.

”Ada apa, Nyai?” tanya Kendar yang bingung.

Dengan segera Kendar Kendara menyiagakan diri, tangan kanannya

melekat memegang erat gagang kerisnya.

”Waktu jalan terus,” ucap Nyai Tanca dengan suara gemetar.

”Apa maksud, Nyai?” Kendar Kendara merasa tegang.

”Aku tak mungkin berharap Kakang Tanca akan kembali. Kakang

Ra Tanca sudah mati dan harus dilupakan. Waktu berjalan terus, apa

yang terjadi saat ini akan menjadi kemarin, akan menjadi lusa yang lalu,

akan menjadi sejarah atau dilupakan. Jadi, aku tak akan berangan-angan

dan meratap lagi. Aku harus memilih sesuatu yang nyata.”

Kendar Kendara terkejut ketika menghadapi tindakan tak terdugaduga

yang dilakukan Nyai Tanca. Kendar nyaris menghunus keris dan

menikam. Akan tetapi, perbuatan wanita itu menurutnya memang layak

mendapatkan perlawanan. Nafsu harus dilawan nafsu, apalagi Nyai Tanca

menyerangnya dengan beringas. Kendar Kendara mengimbangi dengan

tidak kalah beringas.

Perang tanding yang melampaui kegilaan pasangan anjing, yang

sangat riuh dengan suara gonggongannya ketika sedang dilanda berahi

itu ditiru dengan sempurna oleh Nyai Tanca dan Kendar Kendara.

Mereka lakukan itu di halaman tanpa peduli akan ada yang menyaksikan.

Beralas tanah becek sisa hujan, berpayung langit terang rembulan, Nyai

Tanca tak peduli apa pun, tak peduli kepada Ra Tanca yang baru mati.

Bahkan, saat dari kejauhan terdengar derap kuda yang makin lama

makin dekat, sama sekali tidak mengusik apa yang mereka perbuat. Derap

kuda yang dipacu kencang itu datang dari arah utara yang ternyata hanya

untuk melintas saja.

Bulan di langit tidak lagi bulat karena purnama telah lewat. Akan

tetapi, Nyai Tanca membayangkan bulan itu semula bulat, belitan seekor

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 313

ular mengubah bentuk yang semula bulat itu tak lagi bulat. Bila bulat itu

bukan bulan, tetapi bulat buah maja yang dibelit ular dan digerogoti hal

itu lebih bagus lagi.

Di ujung pertarungan yang panas dan ganas itu, prajurit bernama

Kendar tak habis mengerti dan demikian sulit memahami apa yang

diperbuatnya.

”Apa yang Nyai lakukan kepadaku?” pemuda itu meletup.

Nyai Tanca memandang lelaki di depannya dengan amat lahap,

seperti jenis makanan yang menggiurkan.

”Apakah tidak salah bunyi pertanyaan itu?” balas Nyai Tanca.

”Apakah tidak seharusnya aku yang bertanya, apa yang kaulakukan

padaku?”

Kendar bingung dengan kepala pusing, tetapi tidak ada bintangbintang

yang bertaburan di keningnya. Kendar yang merasa pusing

nyatanya mempersiapkan diri untuk kembali melayani tantangan dari

lawan tandingnya.

25

Sang waktu terus bergerak merambat sebagaimana kodratnya,

menapak tanpa lelah, sejengkal demi sejengkal menjadikan apa pun yang

terjadi kapan pun, nantinya akan menjadi bagian dari masa lalu. Apa

yang terjadi hari ini akan menjadi kemarin, akan menjadi setahun lalu

atau terlupakan sama sekali.

314 Gajah Mada

Malam menukik tajam membawa rembulan makin tinggi, memanjat

puncak langit yang makin bersih dari semula banyak mendung dan mega.

Awan putih dan hitam itu menyibak entah ke mana perginya. Angin

yang semilir bertindak tidak adil. Di satu belahan wilayah angin membawa

udara sejuk dan dingin, di belahan wilayah yang lain membawa udara

yang membuat gerah.

”Siapa itu?” seorang prajurit melintangkan senjata ketika dua orang

datang.

”Aku,” jawab Gajah Mada.

Suara Gajah Mada sungguh sangat mudah dikenali. Prajurit itu

dengan segera mengubah sikapnya.

”Sampaikan kepada Raden Cakradara, aku, Gajah Mada menghadap.”

Prajurit penjaga istana kanan itu kebingungan.

”Tidak bisa ditundakah keperluan Ki Patih Daha?” bertanya prajurit

itu. ”Saat ini Raden Cakradara sedang beristirahat.”

”Kamu tak berani membangunkan?” tanya Gajah Mada. ”Persoalan

yang akan kusampaikan sangat penting. Aku tidak bisa menunda sampai

besok.”

Bagi prajurit itu sebenarnya tak masalah Raden Cakradara dibangunkan

pada saat itu pula, yang jadi masalah adalah apabila ia yang

disuruh membangunkan. Apa yang tidak disukainya itu kini harus

dilakukan.

”Bagaimana?” tanya Gajah Mada.

”Baiklah,” prajurit itu menjawab. ”Silakan Ki Patih menunggu

sejenak. Aku akan bangunkan.”

Beruntung prajurit itu karena Raden Cakradara masih memicingkan

mata tak bisa tidur. Ketukan di pintu itu juga membangunkan istrinya.

”Ada apa?” bertanya Sri Gitarja.

Raden Cakradara tidak menjawab, namun dengan segera bergegas

bangun dan membuka pintu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 315

”Ada apa?” tanya Raden Cakradara.

”Mohon maaf, Raden,” kata prajurit itu. ”Patih Daha Gajah Mada

mohon izin berbicara malam ini pula karena ada hal yang amat penting.

Demikian penting, tidak bisa ditunda sampai besok.”

Berdesir tajam isi dada Raden Cakradara. Apa yang diperbuat

pamannya amat mungkin telah diketahui oleh telik sandi Bhayangkara.

Raden Cakradara sangat yakin persoalan itulah yang dibawa prajurit yang

punya pengaruh demikian besar itu.

Tak ada cara menghindar.

”Baiklah, suruh menunggu sebentar,” kata Raden Cakradara sambil

kembali menutup pintu.

”Ada apa, Kakang?” tanya Sri Gitarja yang membaca kegelisahan

di wajah sang suami.

”Gajah Mada ingin bertemu denganku,” jawab Raden Cakradara.

”Tengah malam seperti ini?” tanya Sri Gitarja.

”Tentu karena ia membawa persoalan penting.”

Sri Gitarja mendekat, membantu suaminya mengenakan pakaian.

”Kakang mengizinkan aku ikut mendengar Gajah Mada membawa

persoalan penting macam apa? Bila Gajah Mada coba-coba merepotkan

Kakang, aku akan bela Kakang Cakradara.”

Raden Cakradara tersenyum dan menggeleng.

”Tak perlu, tidur lagilah!” jawab Raden Cakradara.

Di pendapa istana sayap kanan, Cakreswara Sri Kertawardhana

menerima dua orang tamunya. Sebagaimana tata cara yang berlaku, ia

menerima penghormatan yang diberikan Patih Daha Gajah Mada dan

Bhayangkara Jayabaya.

”Ada apa, Gajah Mada?” Cakradara bertanya.

Gajah Mada merasa tak ada gunanya berbasa-basi.

316 Gajah Mada

”Sebelumnya aku minta maaf, Raden, karena tengah malam seperti

ini telah mengganggu istirahat Raden. Demikian penting persoalan yang

kubawa tak mungkin menunggu sampai besok pagi.”

Raden Cakradara termangu. Cara Gajah Mada memandangnya

menyebabkan kebingungan. Apa yang dicemaskan kini menjadi

kenyataan. Apabila rencana-rencana yang disusun pamannya ketahuan,

Raden Cakradara merasa habislah riwayatnya.

”Persoalan apa?”

”Aku minta izin untuk bertemu dan memeriksa seorang pekatik

yang selama ini merawat kuda-kuda milik Raden. Aku juga akan

mengajukan beberapa pertanyaan kepada Raden terkait dengan

pembunuhan-pembunuhan yang terjadi bersamaan Sang Prabu Sri

Jayanegara tewas di tangan Ra Tanca.”

Desir amat tajam merayapi punggung Raden Cakradara, memancing

keringat dingin. Beberapa saat lamanya Raden Cakradara tak bisa

berbicara dan semua itu tak luput dari perhatian Patih Daha Gajah Mada

dan Bhayangkara Jayabaya.

”Ada apa dengan Paman Pakering Suramurda?” tanya Raden

Cakradara.

Gajah Mada memandang tidak berkedip, mengukur seberapa dalam

kejujuran bangsawan di depannya. Namun, Gajah Mada berkeyakinan,

tidak peduli bangsawan, jika ia bersalah melakukan tindak kejahatan, ia

akan berhadapan dengan Kitab Undang-Undang Kutaramanawa.

”Sebaiknya kepentinganku untuk bertemu dengan pekatik itu

didahulukan,” kata Gajah Mada. ”Nantinya Raden akan mengetahui

persoalan seputar apa yang akan aku ajukan kepada Raden.”

Patih Daha Gajah Mada dan Bhayangkara Jayabaya mendahului

bangkit, tidak memberi peluang Cakreswara Sri Kertawardhana untuk

menolak. Langkah tiga orang itu kemudian terayun turun dari pendapa

istana menuju halaman samping yang akan membawa mereka ke bagian

belakang. Di sana terdapat kandang kuda dan deretan rumah yang dihuni

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 317

oleh para abdi istana dan para emban yang melayani Sekar Kedaton Sri

Gitarja. Gajah Mada dan Bhayangkara Jayabaya memerhatikan keadaan

yang sepi dan senyap dengan cermat. Gajah Mada dan Bhayangkara

Jayabaya merasa yakin, di balik dinding, di bayangan pohon atau

barangkali tenggelam di kedalaman tanah, pasukan yang ditugasi

membekuk dalang semua kekacauan, Pakering Suramurda, pasti sudah

siaga di tempat masing-masing.

Meskipun malam telah menukik, masih ada dua orang abdi istana

yang masih terjaga. Pasangan suami istri, abdi dalem yang beristrikan

emban itu merasa udara cukup gerah, maklum masing-masing bertubuh

subur. Bulan yang benderang di luar mencuri perhatian mereka. Akan

tetapi, baru sejenak duduk santai sambil menikmati cahaya rembulan,

mereka dikejutkan oleh kehadiran Raden Cakradara.

Dengan bergegas mereka berdiri sambil memberikan sembah. Gajah

Mada tak menyia-nyiakan waktu. Terhadap pasangan suami istri abdi

dalem itu, Gajah Mada dan Bhayangkara Jayabaya saling kenal dan bahkan

tahu namanya.

”Kau belum tidur, Gemak Trutung?” bertanya Gajah Mada.

”Belum, Ki Patih,” jawab Gemak Trutung. ”Tengah malam begini

Ki Patih Daha Gajah Mada, Radenmas Cakradara, dan Ki Lurah Jayabaya

berkenan mengunjungi kami, anugerah apakah gerangan yang akan kami

terima?”

Gajah Mada sama sekali tidak tersenyum, demikian pula dengan

Bhayangkara Jayabaya. Sungguh hal itu mengagetkan abdi dalem Trutung

dan istrinya. Apalagi Raden Cakradara yang sesiang sebelumnya murah

senyum, kali ini menunjukkan sikap yang amat berbeda.

”Yang mana kamar yang ditempati pekatik Pakering Suramurda?”

Gajah Mada langsung bertanya pada pokok persoalan.

Pasangan suami istri itu saling pandang.

”Yang itu, Ki Patih,” Nyai Emban Gemak Trutung menjawab.

Perhatian Gajah Mada dan Bhayangkara Jayabaya segera tertuju

pada salah satu pintu yang tertutup dari deretan kamar-kamar yang

menjadi tempat tinggal para abdi dalem.

318 Gajah Mada

”Orangnya ada?”

”Tidak ada,” jawab Gemak Trutung sambil melirik Raden Cakradara.

”Sejak senja aku tidak melihat Paman Pakering Suramurda. Biasanya

meski sudah malam ia masih disibukkan mengurus atau berbincang

dengan kuda-kudanya.”

Gajah Mada dan Bhayangkara Jayabaya mendekat ke ruang

dimaksud. Dengan sebuah pengungkit, ruang yang tertutup itu bisa

dibuka. Menggunakan cahaya lampu ublik Patih Daha Gajah Mada dan

Bhayangkara Jayabaya melakukan pemeriksaan. Dengan cermat dan

sangat teliti semua benda yang ada di ruangan itu diperiksa, tetapi tak

ada apa pun yang menarik karena selain sebuah tikar yang dihampar,

selembar baju, dan bakiak,168 tak ada lagi benda lain di ruang itu.

Gajah Mada melirik Jayabaya, yang dilirik mengangguk.

”Mari kita kembali dan berbincang-bincang di pendapa, Raden.”

Raden Cakradara tidak menjawab, tetapi dengan segera menempatkan

diri di sebelah Gajah Mada, berjalan dengan ayunan langkah

sama lebar dengan Gajah Mada. Abdi dalem Gemak Trutung dan istrinya

bingung.

”Ada apa, Kakang?”

”Aku tidak tahu!” jawab suaminya.

Nyai Gemak Trutung tak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya.

”Ada apa dengan Kiai Pakering Suramurda?”

”Aku tidak tahu. Aku sama tidak tahunya dengan dirimu,” jawab

suaminya.

Nyai Gemak Trutung tak bisa meredam rasa gelisah yang tumbuh

dan mekar di dadanya, padahal Nyai Gemak Trutung harus menjaga

diri dengan baik. Gelisah akan menyebabkan munculnya rasa nyeri di

ulu hati. Beberapa bulan sebelumnya, ia pingsan oleh rasa gelisah yang

membelitnya. Gelisah itu dipacu oleh prasangka buruk yang sebenarnya

168 Bakiak, Jawa, sandal kayu

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 319

tidak berdasar. Suatu hari adik kandungnya yang masih gadis serta cantik

datang berkunjung. Meski hari tengah malam, adiknya memaksa pulang,

tidak mau menginap maka terpaksalah suaminya harus mengantar pulang.

Hal itulah yang memacu jantung Nyai Gemak Trutung berpacu lebih

kencang. Padahal suaminya dan adiknya tidak melakukan apa-apa. Tidak

ada perselingkuhan di antara mereka. Nyeri di ulu hati itu demikian

hebat menyebabkan Nyai Gemak Trutung jatuh semaput.

Kini rasa penasaran itu juga menyebabkan munculnya rasa nyeri di

ulu hati. Yang akan sembuh apabila nanti ada kejelasan jawabnya,

mengapa di tengah malam seperti itu Patih Daha Gajah Mada dan

Bhayangkara Jayabaya mencari-cari Pakering Suramurda, kakek tua

perawat kuda dan kandangnya, yang mereka hormati layaknya orang

tua kandung sendiri.

”Moga-moga tak terjadi kesalahan apa pun yang dilakukan Paman

Pakering,” kata Gemak Trutung.

Di pendapa istana sayap kanan, Raden Cakradara merasa sangat

tidak nyaman menghadapi Gajah Mada.

”Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan, Raden,” kata Gajah

Mada. ”Aku mohon jangan ada satu pun jawaban yang disembunyikan,

lebih-lebih pertanyaan yang aku ajukan adalah untuk mencocokkan

kebenaran karena aku telah menghimpun banyak keterangan dari

berbagai sumber.”

”Aku akan menjawab,” jawab Raden Cakradara.

Gajah Mada yang hanya berasal dari kalangan rakyat jelata yang

kemudian berhasil menempati kedudukannya sekarang sebagai Patih di

Daha memang memiliki perbawa yang demikian tinggi, menyebabkan

Raden Cakradara tidak mampu berlama-lama bertatapan mata

dengannya. Apalagi, Gajah Mada yang semula murah senyum itu kali ini

kehilangan senyumnya.

”Yang tampak di permukaan, ternyata bisa tidak sesuai dengan

kenyataan. Di hadapan orang banyak, Ki Pakering Suramurda itu

hanyalah seorang pekatik, gamel dengan tugas merawat kuda dan

320 Gajah Mada

kandangnya. Namun ternyata, yang tampak itu tidak sesuai dengan

kenyataan. Tolong Raden ceritakan, hubungan khusus macam apa yang

ada antara Raden dengan jati diri Pakering Suramurda yang Raden

sembunyikan itu.

Raden Cakradara melihat, terbukti benar dugaannya. Gajah Mada

mengetahui terlalu banyak. Apa yang dulu dicemaskan, sepak terjang

Pakering Suramurda yang sering tidak sejalan dengan kehendaknya

menjelma menjadi sebuah akibat yang harus dipetik dari pohon yang

ditanam.

”Ia kakak kandung ibuku,” jawab Raden Cakradara yang tidak

mungkin lagi menghindar.

Gajah Mada terbungkam.

”Seorang bangsawan dari Singasari. Bukankah itu kenyataan yang

benar?”

Raden Cakradara tidak menjawab pertanyaan itu.

”Tetapi untuk keperluan macam apa, Ki Pakering Suramurda yang

bangsawan itu mau-maunya ditempatkan pada derajat yang demikian

rendah? Menjadi pekatik dan merawat kandang kuda jelas tidak sesuai

dengan derajat yang dimilikinya. Ada rencana jangka panjang apakah di

balik penyamarannya itu?” Gajah Mada memberi tekanan yang

menyulitkan.

Sungguh Raden Cakradara berada dalam kesulitan luar biasa.

Apabila terbukti ia mempunyai rencana jangka panjang merebut

kekuasaan melalui sepak terjang yang dilakukan pamannya, bisa habis

riwayatnya. Sri Gitarja bisa berbalik arah. Sri Gitarja pasti akan merasa

kecewa bukan kepalang dan berbalik membencinya. Cara pandang Sri

Gitarja terhadap dirinya bisa berubah.

”Aku tidak punya pilihan lain kecuali harus mengorbankan Paman

Pakering Suramurda. Pembunuhan-pembunuhan itu bukan rencanaku,

tetapi rencananya,” ucap Raden Cakradara dalam hati.

Gajah Mada menunggu jawaban, sementara duduk di sebelahnya

Bhayangkara Jayabaya menyimak dengan tidak memberi kesempatan

satu kalimat pun tercecer dari pendengarannya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 321

”Bagaimana, Raden?”

Raden Kudamerta mempersiapkan diri dengan memperbaiki sikap

duduknya sedikit lebih tegak.

”Pakering Suramurda benar pamanku,” jawab Raden Cakradara.

”Akan tetapi, aku benar-benar tidak tahu apa yang ia lakukan. Segala

perbuatan yang dilakukannya adalah tanggung jawabnya. Tindakan

pamanku itu, aku tidak setuju.”

Jawaban yang masuk akal. Gajah Mada bisa menerima karena telah

mendapat keterangan yang lengkap bagaimana sikap Raden Cakradara

ketika bertemu dengan Pakering Suramurda, sebagaimana laporan Gajah

Geneng yang berhasil mengintip dan menyadap pembicaraan itu.

Gajah Mada tersenyum. Jawaban Raden Cakradara itu berlepotan

sekali. Pada satu sisi ia mengaku benar-benar tidak tahu, di sisi lain dengan

tegas ia mengatakan ketidaksetujuannya terhadap perbuatan Pakering

Suramurda yang berarti tahu. Meski demikian, Gajah Mada tidak berniat

mengejar dengan pertanyaan yang lebih tajam dan menggigit. Akan tetapi,

tidak demikian dengan Bhayangkara Jayabaya yang mempunyai gaya

bicara ceplas-ceplos, lugas tanpa tedheng aling-aling.

”Raden,” kata Bhayangkara Jayabaya. ”Raden mengatakan tidak

tahu, tetapi di sisi lain Raden mengatakan tidak setuju perbuatan paman

Raden, yang itu berarti tahu. Aku merasa Raden menyembunyikan

sesuatu. Selama ini Pakering Suramurda menyamar sebagai pekatik dan

gamel, derajat yang demikian rendah, ternyata Raden membiarkannya

tentu bukannya tanpa maksud. Ada apa sebenarnya, Raden? Untuk

keperluan apa paman Raden itu melakukan penyamaran?”

Pertanyaan yang dilontarkan Bhayangkara Jayabaya benar-benar

membuatnya kebingungan. Raden Cakradara hanya bisa balas

memandang tanpa bisa menjawab. Dari diam yang dilakukan terlihat

bagaimana Raden Cakradara berpikir menyiapkan jawaban yang masuk

akal.

”Pakering Suramurda yang mendalangi rencana pembunuhan

terhadap Raden Kudamerta, dan mendalangi pembunuhan-pembunuhan

sebelumnya?” Bhayangkara Jayabaya menambah.

322 Gajah Mada

Raden Cakradara yang kian tersudut itu merasa harus memberi

bantahan, tak peduli seberapa kedodoran jawaban itu. Cacing terinjak

pun menggeliat, apalagi yang terinjak adalah dirinya. Akhirnya, Raden

Cakradara merasa menemukan cara menjawab yang paling masuk akal.

”Apa yang dilakukan Paman Pakering Suramurda, aku benar-benar

tidak tahu. Apa pun yang dilakukan adalah tanggung jawabnya.”

Bhayangkara Jayabaya tidak bisa menerima jawaban itu dan akan

mengajukan pertanyaan yang lebih menggigit, tetapi ia batalkan karena

Patih Daha Gajah Mada menggeleng, isyarat tak sependapat dengan

rencananya. Bhayangkara Jayabaya bahkan terkejut ketika mendadak

Gajah Mada berpamitan.

”Baik, Raden, aku minta maaf karena malam-malam seperti ini

mengganggu ketenangan Raden. Selamat melanjutkan istirahat. Kami

mohon pamit.”

Jayabaya tak punya pilihan lain kecuali harus menyesuaikan diri

dengan kehendak Patih Daha Gajah Mada. Dengan beban rasa penasaran

yang masih bergumpal, Bhayangkara Jayabaya menyusul langkah Gajah

Mada yang turun dari pendapa dan mengayunkan langkah ke halaman

meninggalkan Raden Cakradara yang merasa lega karena dua orang tamu

yang membingungkannya itu segera pergi meninggalkannya.

”Aku harus berebut waktu,” kata hati Raden Cakradara. ”Aku harus

mencari cara supaya jangan sampai Paman Pakering Suramurda

tertangkap. Kekacaun yang ditimbulkan Paman Pakering Suramurda bisa

berimbas kepadaku. Dari awal aku sudah tidak setuju dengan rencanarencananya.

Kini terbukti, kekacauan ini mengancamku.”

Raden Cakradara berniat kembali masuk ke dalam istana, namun

mendadak ia berbalik dan melangkah bergegas. Patih Daha Gajah Mada

yang menempatkan diri di balik tembok mengamati apa yang dilakukan

bangsawan dari Singasari itu. Jayabaya akhirnya paham mengapa Gajah

Mada mengajaknya berpamitan, pamitan yang bukannya tanpa maksud.

”Kaulihat itu?” tanya Gajah Mada.

”Ya,” balas Jayabaya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 323

”Ikuti dan laporkan apa yang dilakukan. Jangan melakukan apa pun

kecuali apa yang aku perintahkan.”

”Baik, Kakang Gajah.”

Dengan gesit Bhayangkara Jayabaya melenting melompati dinding

penyekat halaman dan berlari tanpa meninggalkan jejak suara, mirip

apa yang dilakukan seekor kucing ketika hendak menerkam mangsanya.

Melalui sekat halaman samping Bhayangkara Jayabaya bahkan tiba lebih

dulu ke kandang kuda. Dengan cermat dan saksama Bhayangkara

Jayabaya mempersiapkan diri mendengar pembicaraan yang akan terjadi

antara Raden Cakradara dengan abdi dalem Gemak Trutung yang masih

berada di dekat kandang.

Raden Cakradara ternyata kembali ke kandang kuda itu. Abdi dalem

Gemak Trutung bergegas menyongsong.

”Ada apa, Raden?” Gemak Trutung langsung bertanya.

”Kuberikan tugas untukmu, tolong kaukerjakan dengan sebaikbaiknya.”

Raden Cakradara membuka kampil wadah uang yang menggantung

di sabuk dan mengeluarkan beberapa keping uang berwarna kuning

mengilat, menjadi tanda betapa besar nilai yang berada di balik uang

emas itu.

”Ini upah untuk tugas yang kuberikan kepadamu,” ucap Raden

Cakradara. ”Kaucari Paman Pakering Suramurda sampai bertemu.

Katakan kepadanya agar pergi sejauh-jauhnya. Paman Pakering

Suramurda berada dalam bahaya kalau kembali. Katakan juga kepada

Paman Pakering, besok tengah malam supaya menemui aku di alunalun.

Cukup jelas, Gemak Trutung?”

Gemak Trutung merasa penasaran.

”Ada apa sebenarnya, Raden?” tanya Gemak Trutung.

”Jangan tanya apa pun. Laksanakan saja tugasmu.”

”Baik, Raden,” jawab Gemak Trutung.

324 Gajah Mada

Gemak Trutung berbagi tugas dengan istrinya. Emban Nyai Gemak

Trutung berjaga di tempat itu sampai pagi. Bila Pakering Suramurda

kembali, Nyai Gemak Trutung yang berkewajiban menyampaikan pesan

itu.

Di balik bayangan dinding kandang kuda, Bhayangkara Jayabaya

termangu tak habis pikir, bagaimana mungkin di balik wajah Raden

Cakradara yang tampan itu bersembunyi wajah lain, raut muka serakah

yang untuk memuasi keserakahan itu sampai tega hendak membunuh

pesaingnya. Untunglah pisau terbang di kerumunan khalayak ramai yang

menonton pembakaran layon Sang Prabu Jayanegara itu tidak menggapai

jantung hingga Raden Kudamerta selamat. Untung pisau terbang itu

meleset sejengkal.

Malam yang hening itu kemudian pecah oleh suara yang amat mirip

dengan burung bence. Bahwa suara burung malam itu sebenarnya palsu

tidak disadari oleh Ki Gemak Trutung dan istrinya. Suara burung bence

itu berbalas dan sejenak kemudian beberapa orang Bhayangkara

mendekat memenuhi panggilan Jayabaya.

26

Balai Prajurit penuh oleh segenap Bhayangkara. Tak hanya para

Bhayangkara yang berkumpul dan merasa prihatin dengan keadaan

pimpinan mereka yang masih pingsan, tetapi juga para prajurit dari

kesatuan yang lain yang datang menengok. Di pembaringan dan tetap

dalam perawatan Nyai Lengger, Senopati Gajah Enggon terbujur lunglai.

Kedaan Gajah Enggon benar-benar seperti orang mati.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 325

Berita yang disampaikan kepada mereka bahwa selama Senopati

Gajah Enggon tak bisa melaksanakan tugas maka pimpinan atas pasukan

khusus itu dikendalikan oleh Patih Daha Gajah Mada disambut dengan

suka cita, tak ada seorang pun yang keberatan.

Di sudut pendapa Gajah Mada menerima laporan Jayabaya.

”Raden Cakradara memberikan perintah itu kepada Ki Gemak

Trutung.”

Gajah Mada menatap mata Bhayangkara Jayabaya dengan tak

berkedip.

”Masih kaukepung dengan rapat istana kanan?”

”Mereka masih kutempatkan di sana, Kakang Gajah. Salah seorang

aku tugasi membayang-bayangi Ki Gemak Trutung. Kalau Pakering

Suramurda itu kembali, ia langsung kita tangkap. Kalaupun malam ini

belum, kita masih memiliki peluang untuk menyergap besok malam di

tengah alun-alun.”

Malam yang menukik telah melewati titik puncaknya dan mendekat

ke arah datangnya pagi. Sebagaimana kodratnya, oleh rasa kantuk apalagi

karena kerja keras yang dilakukan sepanjang hari, Gajah Mada menguap.

Ia lakukan itu dua kali dalam waktu yang pendek. Akan tetapi, seekor

kuda yang berderap di jalanan dan langsung membelok ke Balai Prajurit

mengenyahkan rasa kantuknya. Apalagi orang yang melompat turun itu

adalah Gagak Bongol. Gajah Mada berdiri tanpa harus menyongsongnya.

”Bagaimana laporanmu?” tanya Gajah Mada langsung pada

persoalan.

”Nyai Tanca tidak mengenal nama Rangsang Kumuda. Ia juga

mengaku tidak kenal dengan Pakering Suramurda. Namun, aku mendapat

bukti bahwa Nyai Ra Tanca berhubungan dengan semua yang terjadi.

Hanya saja aku tidak bisa menyimpulkan keterikatan itu bagaimana

bentuknya. Hubungan itu ada, namun masih belum terbaca jelas

bentuknya.”

Gajah Mada memandang Gagak Bongol dan menempatkan diri

menunggu Gagak Bongol melanjutkan kata-katanya.

326 Gajah Mada

”Di lengan beberapa korban, sebagaimana kita ketahui terdapat

lambang bulat yang dililit ular sendok yang dirajah di lengan. Lambang

bulatan yang dililit ular itu ternyata Nyai Tanca penggagasnya.”

Gajah Mada dan Bhayangkara Jayabaya tidak bisa menyembunyikan

rasa herannya, tersirat amat jelas dari permukaan wajahnya.

”Manurut Nyai Tanca,” Gagak Bongol melanjutkan, ”bulatan itu

mewakili wujud buah maja yang menjadi lambang negara kita. Ular yang

membelit, Nyai Tanca tidak menjelaskan. Namun, dengan mudah kita

menerjemahkan, ular adalah lambang kekuatan yang sedang

menggerogotinya. Menggerogoti buah maja sama arti dengan

menggerogoti negara.”

Hening menyergap. Gajah Mada tampak berpikir keras.

Bhayangkara Jayabaya memilih diam tidak memberikan sumbangan

pendapat apa pun meski dalam hatinya terusik oleh lambang ular yang

dengan amat lugas bisa dihubungkan dengan Tanca, yang memiliki

kemampuan mengolah racun mematikan yang berasal dari bisa ular. Ular

jelas mewakili Ra Tanca.

”Korban pembunuhan yang dikirim ke kotaraja diletakkan di atas

seekor kuda memiliki lambang berupa buah maja dililit ular. Sekarang

sudah kita temukan siapa orang yang menggagas lambang itu. Apabila

benar ular yang membelit buah maja itu merupakan sebuah kekuatan

yang memiliki tujuan jangka panjang, yaitu mengancam Majapahit, Raden

Kudamerta tentu memahami arti lambang itu. Masalahnya, orang-orang

pemilik rajah itu yang menjadi korban. Apa artinya ini?”

Tidak ada yang bisa menjawab. Pertanyaan macam itulah yang

menyebabkan Gagak Bongol tak mampu menjawab hubungan antara

pembunuhan-pembunuhan itu dengan Nyai Tanca, setidaknya dalam

bentuk apa atau bagaimana.

”Akan aku tanyakan hal itu kepada Raden Kudamerta besok.

Kuharap ia bisa menjawab. Masih ada lagi yang akan kaulaporkan,

Bongol?”

Gagak Bongol menggeleng.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 327

”Tidak, Kakang Gajah. Kalau Kakang Gajah Mada mengizinkan,

aku minta pamit untuk beristirahat meskipun barang sejenak karena

besok aku harus berhadapan dengan banyak pekerjaan yang masih

menunggu.”

”Boleh, pulanglah. Salamku untuk anak angkatmu. Namun, jangan

lupa untuk menyempatkan kembali menemui Nyai Tanca. Tanyakan

apa tujuan jangka panjang dari lambang itu. Menurut keyakinanku, Nyai

Tanca hanya penggagas lambang saja, sementara pemilik cita-citanya

pasti Ra Tanca, dan Ra Tanca mungkin tidak sendiri. Di belakang Ra

Tanca siapa tahu ada pihak yang memberi dukungan yang apabila

dibiarkan dan tidak diatasi akan membesar dan menyulitkan. Bila tidak

diberangus, siapa tahu akan membesar menjelma menjadi kekuatan segelar

sepapan.”

”Baik, Kakang,” jawab Gagak Bongol.

Lenyap kuda yang ditunggangi Gagak Bongol, namun masih

memperdengarkan suaranya yang makin jauh. Gajah Mada bagai

diingatkan pada kantuk yang membelitnya. Gajah Mada menguap.

”Kakang Gajah kurang tidur,” kata Bhayangkara Jayabaya.

”Aku mengantuk, tetapi tidur pun percuma karena sulit untukku

memejamkan mata. Pikiranku tersita oleh masa depan Majapahit. Dua

menantu istana ternyata amat mengecewakan. Raden Cakradara

menyimpan cacat yang tidak termaafkan. Ia ingin merebut kekuasaan.

Dengan memperistri Tuan Putri Sri Gitarja, ia berharap memiliki peluang

menjadi raja. Untuk menjamin angan-angannya tercapai, ia bahkan

berencana membunuh Raden Kudamerta. Sementara Raden Kudamerta

sendiri juga memiliki cacat. Raden Kudamerta menipu Sekar Kedaton

istana kiri. Ia ternyata telah beristri. Entah saran macam apa yang bisa

kuberikan kepada Tuan Putri Rajapatni Biksuni atas dua pilihan yang

sama-sama buruk itu. Satu-satunya alasan yang membuat aku agak

menaruh iba hanyalah karena ada pihak yang berusaha membunuhnya,

pihak yang bahkan mempereteli pendukungnya satu per satu.”

Jawaban Patih Daha Gajah Mada itu memaksa Bhayangkara Jayabaya

terpaku membeku. Kenyataan yang baru saja diketahui itu memang

mengagetkan.

328 Gajah Mada

”Bagaimana dengan istri tua Raden Kudamerta itu. Apakah tidak

sebaiknya Kakang Gajah menugasi orang untuk melacaknya.”

Gajah Mada berbalik dan memandang Bhayangkara Jayabaya.

”Sudah,” jawabnya. ”Aku telah meminta kepada Adi Pradhabasu

mengawasi perempuan itu dan bila perlu menggiringnya menemuiku.

Perempuan itu tidak boleh mengganggu ketenteraman rumah tangga

Tuan Putri Dyah Wiyat Rajadewi. Harus ada jaminan perempuan itu

pergi untuk selama-lamanya. Tidak perlu menugasi orang lain karena

boleh dikata selama ini Pradhabasu berada pada jarak yang dekat dengan

perempuan itu. Kamu tak perlu merisaukannya.”

Mencuat alis Jayabaya. Bukan keterlibatan Pradhabasu yang ternyata

sudah cukup lama yang mengagetkannya, namun sikap Gajah Mada

terhadap perempuan itu yang membuatnya resah.

”Kakang Gajah akan menyingkirkan perempuan itu?”

Gajah Mada termangu, namun tidak memberi jawaban.

”Aku tidak sependapat jika Kakang berniat menyingkirkannya,”

Jayabaya tak bisa menutupi rasa cemasnya.

”Mengapa?” balas Gajah Mada.

”Perempuan itu tidak bersalah,” Jayabaya menambah.

”Ini bukan soal bersalah atau tak bersalah. Sekarang kaubayangkan,

apa yang terjadi kelak jika Tuan Putri Dyah Wiyat tidak memiliki

keturunan. Bagaimana jika anak Raden Kudamerta dengan perempuan

lain itu yang diangkat menjadi raja? Lagi pula, keberadaan perempuan

itu akan sangat memalukan. Di mana harkat kehormatan Sekar Kedaton

yang menempati kedudukan sebagai istri kedua? Khalayak tak boleh

tahu hal ini. Ibarat penyakit, penyakitnya yang harus dibuang. Bila

penyakit itu melekat pada tangan kiri maka tangan kiri harus dipotong.

Persoalannya memang tak masalah bila yang mengalami hal itu rakyat

kebanyakan. Yang ini Dyah Wiyat Sekar Kedaton dan Raden Kudamerta

suaminya, masing-masing dua sosok yang tidak bisa menghindar dari

sorotan. Kalau kamu yang sudah mempunyai istri lalu membohongi

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 329

perempuan lain, sama sekali tidak masalah karena kamu hanya seorang

Jayabaya yang tidak mempunyai pengaruh terhadap negara. Bayangkan

bila hal itu menimpa Dyah Wiyat, satu dari dua orang calon ratu yang

akan memimpin negeri ini.”

Jayabaya merasa resah. Namun, dengan Raden Kudamerta memiliki

istri lain selain Dyah Wiyat memang akan sangat mengganggu.

”Perempuan bernama Dyah Menur itu memang harus ditemukan.

Aku harap Adi Pradhabasu segera menyampaikan laporannya kepadaku.”

Gajah Mada berjalan mondar-mandir. Dia tidak mampu

mengosongkan kepalanya dan menganggap apa yang terjadi itu bukan

urusannya. Tak mungkin menganggap demikian karena bahkan Ratu

Rajapatni memberikan tugas berat untuk membongkar masalah itu

kepadanya.

Menghadapi musuh berkekuatan segelar sepapan jauh lebih mudah

dilakukan daripada memberikan penilaian antara Sekar Kedaton Dyah

Wiyat dan Sri Gitarja, sementara di belakang dua nama Sekar Kedaton

ada suami-suami menyembunyikan belang, suami-suami yang ternyata

bertopeng. Bahkan, kalaupun topeng itu dibuka masih mungkin

menyembunyikan lapisan topeng yang lain.

”Kepalaku pusing,” kata Gajah Mada.

”Sebaiknya silakan Kakang beristirahat saja. Jangan pikirkan apa

pun,” ucap Jayabaya.

Rasa pusing yang menyita perhatian itu sebenarnya telah

berlangsung cukup lama. Setidaknya hal itu terjadi sejak empat bulan

lalu, manakala seorang tamu datang menemuinya di Daha. Betapa tamu

itu sungguh mengagetkannya. Tamu itu membuat matanya terbelalak.

Tamu itu membawa oleh-oleh sebuah berita yang mengejutkan yang

menyebabkan kepalanya pusing itu. Tamu itu adalah teman lama yang

sangat dirindukannya.

”Adi Pradhabasu?” Gajah Mada meletup sambil memandang lakilaki

bertubuh kurus yang berdiri di depannya.

330 Gajah Mada

Laki-laki itu tidak sendiri, ia bersama bocah yang tidak peduli apa

pun, bocah yang tatapan pandangannya jatuh ke satu titik.

”Udara Daha membuat tubuhmu gemuk, Kakang Gajah,” balas

Pradhabasu sambil tersenyum.

Dengan amat senang Gajah Mada membawa tamunya naik ke

pendapa. Pradhabasu mengedarkan pandangan matanya menggerataki

wisma kepatihan di Daha. Sebagai bekas pasukan khusus Bhayangkara,

Pradhabasu yang selalu mengamati perkembangan di istana juga ikut

merasa senang ketika oleh jasanya yang luar biasa Gajah Mada diangkat

menjadi patih di Kahuripan mendampingi Sekar Kedaton Sri Gitarja

yang memangku wilayah tersebut, lalu menjadi Patih Daha mengawal

Sekar Kedaton Dyah Wiyat yang menjadi pemangku wilayah itu.

”Sudah berapa tahun kita tidak bertemu?” tanya Gajah Mada.

”Lama sekali. Tetapi semua yang terjadi serasa baru kemarin. Kita

membawa Tuanku Baginda ke Bedander seperti baru kemarin. Gagak

Bongol membunuh Mahisa Kingkin juga seperti terjadi kemarin,”

Pradhabasu menjawab.

Gajah Mada memerhatikan bocah yang selalu melekat pada

Pradhabasu.

”Ini siapa?” tanya Gajah Mada.

”Anakku,” jawab Pradhabasu.

”Istrimu?”

”Aku mengawini janda yang sudah memiliki anak. Jadi, ini anakku!”

jawaban Pradhabasu seperti sekenanya membuat Gajah Mada tertawa.

Gajah Mada membaca keadaan. Pembicaraan atas bocah itu agaknya

tak begitu menyenangkan tamunya. Bila semula Gajah Mada mengira

Pradhabasu berniat hanya untuk singgah, ternyata dugaan itu luput.

Pradhabasu mampir membawa sesuatu yang penting. Cerita tentang

sepak terjang pemangku dua wilayah, yaitu wilayah Keta dan Sadeng

yang membangun kekuatan melebihi kebutuhan sungguh sangat mencuri

perhatiannya. Akan tetapi, cerita tentang jalinan asmara yang terjadi

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 331

antara seorang perempuan bernama Dyah Menur dengan bangsawan

Pamotan yang menyebabkan ia merasa tidak nyaman. Cerita itu sungguh

sangat mengganggu.

”Kauyakin, orang itu Raden Kudamerta?”

”Tentu amat yakin, Kakang Gajah. Apa menurutmu wajah Raden

Kudamerta mungkin berubah sedemikian rupa yang menyebabkan aku

lupa pada wajahnya? Aku yakin pemilik rumah baru yang tinggal tidak

jauh dari rumahku itu Raden Kudamerta dan perempuan yang kini

tinggal di rumah itu adalah istrinya,” jawab Pradhabasu.

Patih Daha Gajah Mada berpikir, mengolah keterangan yang baru

ia peroleh itu dengan cermat.

”Bagaimana kamu merasa yakin perempuan itu istrinya? Kamu

mendapatkan keterangan secara langsung dengan menanyai perempuan

itu, atau kamu melihat lewat pandangan secara langsung mereka tampak

mesra? Kalau hanya sekadar seperti itu keteranganmu masih belum bisa

diyakini kebenarannya. Kalau aku laporkan temuan itu kepada Sekar

Kedaton, ya kalau perempuan itu istrinya, kalau adiknya? Apalagi

menurut kabar yang aku terima, Raden Kudamerta memiliki adik

perempuan. Berapa lama kamu mengamati mereka?”

Alasan yang dikemukakan Gajah Mada itu membalik keadaan,

memaksa sang tamu berpikir.

”Baru dua hari, setelah melihat mereka aku langsung memutuskan

menemui Kakang Gajah.”

”Baru dua hari, dalam dua hari itu apakah kau sudah berhasil

menyimpulkan mereka mempunyai hubungan khusus sebagai suami

istri?”

Pradhabasu berpikir, keningnya berkerut. Meski wajahnya tertuju

ke arah lain, matanya melirik Gajah Mada.

”Aku terlalu gegabah,” jawab Pradhabasu. ”Aku belum melakukan

penyelidikan sejauh itu, Kakang Gajah Mada. Padahal Kakang benar,

bisa saja perempuan itu adiknya.”

332 Gajah Mada

”Namun demikian, tak ada salahnya kamu menelusuri temuan itu,

Pradhabasu. Apa yang kamu lihat itu merupakan hal yang penting. Raden

Kudamerta benar-benar lelaki tak tahu diri bila ia berani menyembunyikan

rahasia macam itu.”

”Baiklah,” jawab Pradhabasu. ”Lain kali aku akan bekerja lebih

cermat. Aku akan mendapatkan jawaban yang benar apabila nanti aku

masuk ke dalam keluarga itu. Kurasa dengan penampilanku sekarang,

Raden Kudamerta tak akan ingat kepadaku. Lebih dari itu, Raden

Kudamerta tidak mengenalku dengan baik, sebaliknya aku justru amat

mengenal wajahnya.”

Sejak pertemuannya dengan mantan Bhayangkara Pradhabasu itu,

Patih Daha Gajah Mada menyangga beban rahasia yang memusingkan

kepala. Meski ia meminta Pradhabasu untuk meyakinkan kembali apa

yang dilihatnya, hati kecilnya merasa yakin perempuan itu istri Raden

Kudamerta. Dugaan yang kini terbukti benar, laporan Pradhabasu benar.

Raden Kudamerta telah menjadi suami perempuan lain dan telah menjadi

seorang ayah ketika mengawini Sekar Kedaton Dyah Wiyat.

Gajah Mada mengakhiri kenangannya pada pertemuan itu dengan

memandang Jayabaya sambil mendelik, untuk mengusir rasa kantuk yang

makin kuat. Jayabaya tak kuasa menahan tawanya.

”Sudahlah, Kakang Gajah. Silakan Kakang beristirahat. Kubangunkan

Kakang Gajah apabila Pakering Suramurda berhasil ditangkap.”

Gajah Mada mengayunkan langkah ke sudut Balai Prajurit dan

membaringkan diri di atas dingklik panjang. Gajah Mada menyempatkan

memerhatikan kerumunan para Bhayangkara yang memerhatikan Nyai

Lengger meracik jamu pilis. Jamu pilis itu nantinya akan ditempelkan ke

bagian kepala Senopati Gajah Enggon tepat pada bagian yang terkena

hantaman batu. Diharapkan obat pilis itu mampu merangsang simpul

otak Senopati Gajah Enggon dan membuatnya terbangun.

Gajah Mada ingin segera lelap dan melupakan apa pun, tetapi semua

masalah yang dihadapi benar-benar mengganggu. Ketika mimpi yang

diharap akhirnya dapat diperoleh, mimpinya masih berhubungan dengan

persoalan pelik yang ia hadapi. Di wilayah mimpi itu, Gajah Mada

memimpin pasukan segelar sepapan untuk menangkap Pakering Suramurda.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 333

Namun, Pakering Suramurda benar-benar orang yang sakti. Orang

tua itu sulit ditangkap karena mempunyai kemampuan petak umpet lari

ke sana lari kemari. Saat dikepung di sebuah rumah, Pakering Suramurda

menghilang tanpa jejak, lenyap bagai asap, lalu meninggalkan jejak

tawanya yang bergelak-gelak di langit.

27

Patih Mangkubumi Arya Tadah terkejut ketika hari masih pagi,

tetapi sepagi itu salah seorang Sekar Kedaton datang mengunjunginya.

Apalagi Sri Gitarja datang sendirian, padahal hal itu tidak boleh terjadi.

Ke mana pun Tribhuanatunggadewi pergi harus dikawal prajurit. Namun,

dengan segera Patih Mangkubumi melihat penampilan Sri Gitarja

memang sedemikian rupa, dengan cara berpakaian yang sederhana tidak

akan ada orang mengira ia adalah Sekar Kedaton Sri Gitarja.

”Ada apa, Gitarja?” Patih Mangkubumi Tadah bertanya.

Sri Gitarja juga tak ingin berbicara melingkar-lingkar. Gitarja bicara

langsung pada persoalan yang dibawanya.

”Aku ingin bertanya, Paman,” kata Sri Gitarja. ”Tolong Paman

ceritakan apa adanya tanpa ada yang perlu ditutupi, terutama apa yang

sudah Paman ketahui dan bagaimana pendapat Paman sendiri.”

Arya Tadah mengerutkan kening.

”Masalah apa ini?” tanya Arya Tadah.

”Sepeninggal Kakang Prabu Jayanegara, siapa sebenarnya yang akan

ditunjuk sebagai penggantinya? Aku atau Adi Dyah Wiyat?”

334 Gajah Mada

Pertanyaan yang mengagetkan Arya Tadah, setidaknya untuk ukuran

waktu yang sepagi itu. Hari masih pagi penuh remang-remang saat Sri

Gitarja datang untuk menanyakan soal itu. Dengan segera Arya Tadah

berprasangka.

”Apakah suamimu semalam mengajakmu berbincang soal itu?”

tanya Arya Tadah langsung mengurai prasangka itu.

Sri Gitarja menggeleng lunglai. Amat terlihat dari permukaan

wajahnya, Sri Gitarja sedang berusaha kuat menguasai diri jangan sampai

menitikkan air mata.

”Lalu?”

”Jawab dulu pertanyaanku, Paman,” kata Sri Gitarja.

Arya Tadah yang semula masih berdiri kemudian duduk

menempatkan diri di depan tamu kesayangannya. Dipandanginya Sekar

Kedaton bersama rasa penasaran yang membuatnya cemas.

”Kamu yang akan ditunjuk,” jawabnya.

”Aku?” ulang Sri Gitarja.

”Ya,” jawab Tadah.

Sri Gitarja amat termangu.

”Kalau menurut pendapat Paman sendiri bagaimana? Apakah

memang harus aku?” Sri Gitarja menekan.

Arya Tadah masih mengalami kesulitan menebak ke mana arah

pembicaraan Sekar Kedaton Sri Gitarja.

”Gitarja,” kata Tadah, ”pertanyaanmu membingungkan Paman.

Antara kamu dan adikmu sama-sama baik, sama-sama Paman sayangi.

Kalau Paman condong ke kamu, Paman takut itu berarti Paman kurang

menyayangi Dyah Wiyat. Pun demikian dengan sebaliknya, bila Paman

condong ke Dyah Wiyat, Paman juga takut hal itu akan mengurangi

rasa sayang Paman kepadamu. Oleh karena itu, Paman bersikap tak akan

membanding-bandingkan. Keputusan penting itu terletak pada para Ratu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 335

Maka Paman berpikir, biar para Ratu yang memutuskan. Paman

menyayangimu dan adikmu, jadi jangan tanyakan pertanyaan yang

menyudutkan itu kepada Paman.”

Sri Gitarja diam beberapa saat lamanya, pandangan matanya jatuh

ke tanduk menjangan yang dijadikan hiasan di dinding. Akan tetapi, Sri

Gitarja memang telah bulat dengan keputusannya. Keputusan yang tak

dibutuhkan keraguan lagi.

”Aku minta tolong, Paman. Bantu aku menyampaikan sikapku

kepada Ibunda Ratu Gayatri dan para Ibunda Ratu yang lain. Aku

menolak kedudukan itu. Aku lihat Adi Dyah Wiyat justru lebih pantas

dan tepat ditunjuk menjadi ratu. Adi Dyah Wiyat lebih gesit, lebih ringan

tangan, dan tegas. Dibutuhkan sikap yang tegas dan kuat untuk

memimpin negeri ini. Sikap semacam itu ada pada adikku. ”

Pendapa kepatihan bergoyang. Pilar-pilarnya berderak, tanahnya

mengombak, dan semua suara terhenti. Burung-burung prenjak yang

berkicau di semak pagar diam tak bersuara. Demikian mengagetkan

ucapan Sri Gitarja, tidak hanya menyebabkan Arya Tadah sendiri yang

kaget, cecak-cecak yang berkejaran karena disulut berahi pun kaget.

Patih Arya Tadah memandang tak berkedip.

”Kenapa?”

Sri Gitarja bingung. Bila dikejar dengan pertanyaan macam itu,

artinya Sekar Kedaton harus menyampaikan alasannya, harus

menyampaikan apa latar belakangnya, sebuah alasan yang masuk akal

dan bisa dimengerti. Sri Gitarja memiliki alasan itu yang sungguh berupa

kenyataan tak terduga yang membuatnya kecewa.

”Pembunuhan-pembunuhan yang terjadi dimulai bersamaan dengan

mangkat Sang Prabu, suamiku terlibat,” jawab Sri Gitarja dengan suara

serak dan parau.

Terbelalak Arya Tadah mendengar jawaban itu.

”Suamimu terlibat?”

”Ya,” jawab Gitarja.

336 Gajah Mada

”Bagaimana kamu bisa mengambil simpulan suamimu terlibat?”

Sri Gitarja mengumpulkan kekuatan untuk tetap tenang, tetapi air

mata yang semula ditahan akhirnya bergulir juga. Arya Tadah terkejut

melihat Sri Gitarja menangis dan melihat kenyataan yang tidak terduga

itu.

”Semalam ketika kami tidur, tiba-tiba suamiku keluar dan diamdiam

aku ikuti ke mana ia pergi. Suamiku menemui seorang pekatik yang

ternyata pamannya. Pekatik kuda itu bernama Pakering Suramurda.

Orang itulah yang menjadi dalang, baik langsung maupun tidak

langsung,” Sri Gitarja menjawab sambil mengusap air mata menggunakan

lengan baju.

Arya Tadah benar-benar terhenyak. Arya Tadah amat berharap Sekar

Kedaton Sri Gitarja akan menemukan kebahagiaan dengan bersuami

Raden Cakradara. Tetapi baru sejengkal perjalanan hidupnya, suaminya

ternyata menyembunyikan masalah.

”Ceritakan dengan lebih rinci.”

Dengan jelas Sri Gitarja menuturkan apa yang didengar dan

dilihatnya secara langsung, bagaimana suaminya bertemu dengan gamel

bernama Pakering Suramurda, yang dengan demikian membuka dengan

jelas apa yang telah terjadi. Patih Arya Tadah yang menyimak penuturan

Sekar Kedaton itu segera teringat kepada apa yang disampaikan Patih

Daha Gajah Mada. Ternyata peringatan itu benar adanya. Bahkan Sekar

Kedaton Sri Gitarja merasa sebaiknya tidak menerima kedudukan sebagai

ratu itu.

”Suamiku mengawini aku tidak didasari cinta yang tulus, Paman,”

kata Sri Gitarja dengan terisak. ”Namun, karena ada kedudukan yang

sedang diincar. Kakang Cakradara ingin menjadi raja. Ia manfaatkan

hubungannya denganku untuk bisa meraihnya. Tidak cukup hanya

menjadi suami seorang ratu, tetapi suamiku ingin menjadi raja dengan

menggusur kedudukanku. Pihak mana pun yang dikira akan menjadi

batu sandungan disingkirkan. Itulah yang terjadi pada rencana pembunuhan

terhadap Adimas Raden Kudamerta. Orang-orangnya dipereteli

dibantai satu per satu. Aku tak mengira suamiku sanggup melakukan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 337

perbuatan itu. Oleh karena itu, Paman, tolong sampaikan kepada Ibunda

Ratu supaya Adi Dyah Wiyat yang dipilih menjadi ratu. Rajadewi

Maharajasa lebih sesuai menjadi ratu di Majapahit daripada Gitarja.”

Hening menggeratak, menyudutkan Arya Tadah yang hanya bisa

menyesali keadaan. Memiliki wajah yang tampan dan selalu bersikap

santun, Arya Tadah sangat sulit memahami mengapa Raden Cakradara

sanggup berbuat seperti itu. Kini Arya Tadah melihat, Majapahit akan

menghadapi persoalan yang rumit.

Dan pergantian kekuasan di negeri mana pun selalu menyisakan

gejolak tanpa terkecuali Majapahit setelah meninggalnya Jayanegara.

Udara pun terasa sesak. Gerah akan menyergap siapa pun yang

mendambakan kedamaian dan ketenangan. Singasari telah memberi

contoh. Di setiap pergantian kekuasaan, udara selalu terasa panas.

28

Pagi yang datang berikutnya adalah pagi yang sangat sejuk. Jejak

udara cerah semalam dengan langit tanpa mendung selembar pun kini

berubah menjadi pagi yang dingin. Kabut bahkan melayang di manamana

menipiskan jarak pandang, daun-daun gemerlap oleh embun. Yang

berisik dalam keadaan yang demikian adalah segenap burung dari jenis

apa pun. Kicau seekor burung dibalas oleh sesama jenisnya, padahal

ada banyak jenis burung yang tinggal di pepohonan lebat yang

mengepung bangunan megah Balai Prajurit. Hanya burung-burung hantu

yang mungkin jengkel karena istirahat yang diharap setelah semalaman

tidak tertidur terganggu sekali oleh suara berisik itu. Sepasang burung

sikatan yang membangun sarang tidak jauh dari burung hantu itu

338 Gajah Mada

terheran-heran karena melihat tetangganya itu begitu malas, pekerjaannya

hanyalah tidur di sepanjang waktu.

Namun, pagi itu pula yang mengagetkan Gajah Mada saat terbangun

dari tidur pulasnya karena tak menemukan Gajah Enggon. Hanya

Bhayangkara Jayabaya yang duduk tafakur di depannya. Gajah Mada

yang menebar pandang menggerataki Balai Prajurit tidak menemukan

siapa-siapa. Pembaringan yang digunakan Gajah Enggon telah kosong.

”Mana Gajah Enggon?” tanya Gajah Mada amat kaget dan langsung

cemas.

Gajah Enggon memang tidak ada.

”Tuan Putri Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri memerintahkan

Senopati Gajah Enggon dipindahkan ke bangsal Gringsing. Tuan Putri

Gayatri berpendapat, Senopati Gajah Enggon harus mendapatkan

perawatan yang memadai.”

Gajah Mada terheran-heran, ”Kenapa aku tidak mendengar apaapa?”

Jayabaya tersenyum.

”Karena aku meminta pemindahan itu tidak menimbulkan suara.

Aku ancam dengan hukuman mati apabila sampai pemindahan itu

mengganggu istirahat Kakang Gajah Mada,” jawab Jayabaya.

Gajah Mada termangu, ”Kenapa aku tidak dibangunkan?”

Jayabaya tertawa, ”Kakang butuh istirahat untuk mendapatkan

kesegaran.”

Gajah Mada bangkit dan meliukkan tubuh untuk melemaskan

pikiran sambil mengedarkan mata mengelilingi pendapa Balai Prajurit

yang sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Patih Daha Gajah Mada

merasa setelah tidurnya yang pulas, kini badannya terasa segar pikirannya

juga bugar.

”Kalau kamu tinggalkan aku dan aku terbangun dengan keadaan

seperti ini, tanpa ada penjelasan yang bisa menyebabkan aku berpikir

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 339

jangan-jangan aku sedang terlempar ke dunia lain maka aku akan

menggantungmu di alun-alun.”

Jayabaya tertawa terkekeh.

”Gajah Enggon bagaimana? Masih lelap belum siuman?” Gajah

Mada bertanya dengan tidak sabar.

”Belum. Belum ada perubahan apa pun pada Gajah Enggon.”

Gajah Mada gelisah. Namun, tidak dibiarkannya kegelisahan itu

mengganggu dirinya.

”Bagaimana dengan Pakering Suramurda?” tanya Gajah Mada.

Bhayangkara Jayabaya mengangkat tangan.

”Orang itu mungkin sudah tahu jati dirinya sudah kamanungsan lalu

minggat tidak berani kembali. Prajurit yang kutugasi membayangi Ki

Gemak Trutung melihat abdi dalem yang ditugasi Raden Cakradara itu

kembali tanpa hasil. Sebagaimana yang aku dengar, pintu satu-satunya

untuk menangkap Pakering Suramurda hanyalah menunggu tengah

malam nanti. Di alun-alun ketika Raden Cakradara akan bertemu dengan

orang itu, kurencanakan untuk menyergapnya.”

Gajah Mada termangu.

”Bagaimana pertemuan itu bisa terjadi kalau Gemak Trutung tidak

berhasil bertemu dengan Pakering Suramurda dan menyampaikan pesan

Raden Cakradara?”

Jayabaya bukannya tidak melihat hal itu.

”Pasti ada cara bagi Raden Cakradara untuk berhubungan dengan

Pakering Suramurda. Kalau Gemak Trutung tidak berhasil, Raden

Cakradara pasti tahu ke mana atau bagaimana cara berhubungan dengan

orang itu.”

Gajah Mada membenarkan pendapat Bhayangkara Jayabaya sambil

melepas pandangan mata ke jalan di depan Balai Prajurit. Gajah Mada

mencuatkan alis melihat orang berjalan berbondong-bondong dengan

bergegas.

340 Gajah Mada

”Ada apa itu?” tanya Gajah Mada. ”Akan ke mana mereka?”

”Mereka para kawula yang terpanggil nuraninya, memenuhi

panggilan Gagak Bongol untuk datang ke makam Antawulan,” Jayabaya

menjawab.

Geliat rakyat yang tengah melintas Balai Prajurit itu menjadi

gambaran betapa besar rasa cinta mereka kepada rajanya. Tua muda

berdatangan dan bersatu padu ke Antawulan. Berita tentang pencandian

itu telah menyebar ke segala penjuru. Tidak hanya Antawulan yang

disibukkan oleh kegiatan itu, namun juga di Sukhalila tempat

penghormatan dan pencandian Sri Jayanegara akan diwujudkan dalam

arca Amogasidhi. Kegiatan serupa menggeliat pula di Kapopongan dan

Srnggapura. Gagak Bongol tak mau menyia-nyiakan kepercayaan yang

diberikan kepadanya. Memimpin pekerjaan besar itu sungguh merupakan

kehormatan baginya.

”Aku akan pulang dulu,” kata Gajah Mada. ”Aku harus mandi dulu

sebelum menghadap Tuan Putri Ratu Rajapatni.”

”Boleh aku menemani Kakang Gajah ketika menghadap beliau?”

Gajah Mada menggeleng, ”Tidak usah. Ada banyak pembicaraan

yang bersifat rahasia yang akan kusampaikan kepada Tuan Putri.”

Bhayangkara Jayabaya tidak memaksa diri. Ia tahu Gajah Mada

pasti menolak permintaan itu dan ternyata benar. Bhayangkara Jayabaya

akhirnya memisahkan diri untuk pulang. Setelah membersihkan diri dan

berganti pakaian, Jayabaya berniat akan bergabung dengan Gagak Bongol

dan memberikan sumbangan keringatnya meskipun hanya setetes pada

pembangunan candi untuk menandai mangkatnya Sang Prabu di makam

Antawulan.

Bahwa persoalan masih belum tuntas karena Pakering Suramurda

orang yang paling bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan

yang terjadi memang amat disadari oleh Patih Daha Gajah Mada. Namun,

sebuah peristiwa susulan dan beruntun mengagetkannya. Memaksa alis

Gajah Mada mencuat lebih tinggi. Seorang abdi dalem istana menemuinya

dengan menyetor muka tegang.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 341

”Ada apa?” tanya Gajah Mada.

”Sekar Kedaton nyaris dipatuk ular,” jawab prajurit yang ditugasi

menjemput itu.

Gajah Mada melotot, ”Sekar Kedaton yang mana?”

”Tuan Putri Dyah Wiyat nyaris dipatuk ular. Ada orang mengirim

sekeranjang buah mangga, namun menyembunyikan ular di bagian

bawahnya .”

Gajah Mada tidak membuang waktu dan dengan bergegas melepas

tali yang mengikat kudanya pada pohon sawo di halaman. Seperti dikejar

hantu Gajah Mada melesat membedal kudanya meninggalkan jejak debu

tebal dan suara yang berderap. Gajah Mada langsung menuju ke dapur,

tempat peristiwa itu terjadi. Di sana Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa

duduk dengan wajah pucat. Sulit membayangkan andai ular yang keluar

dari tumpukan buah mangga itu mematuknya. Sekeranjang buah mangga

itu tergeletak di lantai.

”Apa yang terjadi, Tuan Putri?” tanya Gajah Mada.

”Seseorang akan membunuhku,” Dyah Wiyat menjawab dengan

ayunan napas yang mengombak.

Gajah Mada memerhatikan tiga ekor ular yang sudah menjadi

bangkai. Masing-masing jenis ular berbeda, tetapi semua mematikan.

Seekor paling kecil dengan warna hitam berselang-seling warna putih

adalah ular weling. Diyakini tidak seorang pun yang sanggup bertahan

menghadapi ular jenis itu. Seekor lagi paling panjang dan berkepala

berbentuk segi tiga adalah ular sendok pemilik racun yang sungguh sangat

mematikan. Namun, dibanding dua jenis ular itu masih ada lagi seekor

ular yang lebih menggetarkan. Ular itu pendek saja dan sulit membedakan

mana kepala dan mana ekornya. Konon ular itu tak hanya merayap,

namun dengan bentuk yang seperti itu ia mampu menekuk tubuh dan

melenting seperti yang dilakukan ulat nangka. Naga Runting adalah

julukan yang diberikan banyak orang pada ular yang berbentuk seperti

batang kayu itu, namun ada pula yang menamainya bandotan.

Ular bandotan itulah yang paling menarik perhatian Patih Daha

Gajah Mada. Ular itu benar-benar ular langka. Sepanjang hidupnya Gajah

342 Gajah Mada

Mada baru dua kali melihat jenis ular itu. Dulu ketika masih sepuluhan

tahun ia beruntung berhasil menghindar dari serangan ular itu. Ayunan

kayu yang dihantamkan menjemput ular itu sampai melayang jauh ke

seberang sungai. Ketika didatangi ular itu remuk.

Gajah Mada juga memerhatikan beberapa buah mangga yang

berserakan di lantai. Gajah Mada menebarkan pandangan matanya,

menggerataki wajah para abdi dalem dan emban yang masing-masing

diam membeku. Para emban terlihat bingung dan sama pucatnya dengan

Sekar Kedaton Dyah Wiyat. Terakhir pandangan matanya jatuh pada

Raden Kudamerta yang muncul dari balik pintu. Dengan raut wajah

sangat cemas Raden Kudamerta memerhatikan bangkai-bangkai ular.

Raden Kudamerta mendekat dan menempatkan diri di belakang istrinya.

”Siapa yang menerima kiriman buah mangga ini?” bertanya Gajah

Mada.

Seorang abdi dalem maju melangkah selangkah.

”Aku yang menerima, Ki Patih,” jawab abdi dalem itu. ”Aku

menerimanya dari seorang laki-laki berkuda. Orangnya masih muda dan

sangat tampan. Orang itu meminta aku menyerahkan sekeranjang

mangga ini kepada Tuan Putri Dyah Wiyat.”

Gajah Mada menyimak, semua yang hadir ikut mendengarkan, tidak

terkecuali Raden Kudamerta.

”Sebut dulu siapa namamu?” kata Gajah Mada.

”Namaku Jalak Pripih, Ki Patih.”

”Bagaimana ciri-ciri orang yang mengirim buah mangga itu? Coba

kauperas ingatanmu, Ki Jalak Pripih. Orangnya seperti apa dan usianya

kira-kira berapa! Atau ciri khusus apa pun yang bisa kauingat.”

”Kalau aku bertemu lagi dengannya, pasti aku bisa menandainya,”

kata Jalak Pripih.

Jawaban macam itu menyebabkan Gajah Mada merasa jengkel.

Gajah Mada tak mampu menahan diri. Gugup dan gemetar Ki Jalak

Pripih memperoleh bentakan yang mengagetkannya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 343

”Jawab saja pertanyaanku, Ki Jalak Pripih. Jangan memberikan

pendapat yang tidak aku butuhkan. Katakan bagaimana ciri-ciri khusus

yang dimiliki orang itu.”

Ki Jalak Pripih segera mengangguk dengan gugup. Bibirnya bergetar,

jawabannya juga bergetar terbata-bata.

”Orang itu masih muda dan tampan sekali. Usianya kira-kira dua

puluh lima tahun. Kumisnya melintang dengan rambut digelung keling

ke atas kepala. Kudanya berwarna hitam dan sangat tegar. Laki-laki

tampan itu membawa bayi,” jawab Jalak Pripih.

”Ia membawa bayi? Terus apa yang diucapkan lelaki tampan itu?”

”Katanya,” Jalak Pripih meniru, ”aku mendengar sahabatku, Tuan

Putri Sekar Kedaton, telah mengakhiri masa lajangnya. Sebenarnya aku

ingin memberikan hadiah ini secara langsung, hanya beberapa buah

mangga yang aku petik dari pekaranganku. Tolong sampaikan salamku

kepada Tuan Putri Sekar Kedaton.”

Gajah Mada menyimak dengan cermat.

”Terus? Orang itu menyebut siapa namanya atau dari mana?”

”Orang itu tidak menyebut nama dan asalnya. Hanya itu pesannya

dan orang itu pun pergi. Aku sungguh tidak menyangka di bawah buah

mangga ada tiga ekor ular itu.”

Gajah Mada menebarkan pandangan matanya menggerataki semua

wajah yang mengerumuni bangkai ular.

”Aku minta semua bubar,” Gajah Mada berkata tegas. ”Aku hanya

ingin bicara dengan Tuan Putri Sekar Kedaton.”

Semua bubar, hanya Raden Kudamerta yang ragu. Namun, Gajah

Mada hanya menghendaki berbicara berdua dengan Sekar Kedaton.

Raden Kudamerta bangkit dan menyempatkan menyentuh pundak

istrinya. Akan tetapi, Rajadewi Maharajasa tidak berkenan dengan

sentuhan itu. Dyah Wiyat menepis. Beruntung Raden Kudamerta, tak

seorang pun yang melihat adegan itu. Hanya Gajah Mada yang melihatnya.

Meskipun demikian, wajah Raden Kudamerta menjadi merah

344 Gajah Mada

padam. Apa yang dilakukan Dyah Wiyat melebihi sebuah tamparan yang

mengenai wajahnya.

Sedikit agak lama Sekar Kedaton Dyah Wiyat Rajadewi berpandangan

dengan patih yang mendampinginya menyelenggarakan

pemerintahan di Daha itu. Untuk hal-hal tertentu Dyah Wiyat

menjadikan Gajah Mada tempat berbagi resah. Bagaikan kedung Gajah

Mada selalu menempatkan diri menampung semua keluh kesah. Keluh

kesah dalam bentuk apa pun, bahkan yang bersifat paling pribadi

sekalipun. Pada keadaan tertentu bahkan tak ada jarak antara Dyah Wiyat

dan patihnya.

Tanpa risih Gajah Mada memungut bangkai ular paling pendek,

jenis ular yang benar-benar menakutkan. Kulit ular yang mirip batang

kayu itu akan mengecoh siapa pun, padahal onggokan itu merupakan

jenis ular yang sangat berbisa. Sekali ia menggeliat atau melenting

mematuk merupakan jaminan terbukanya pintu kematian korbannya.

”Ular ini disebut bandotan,” kata Gajah Mada. ”Tak ada orang yang

sanggup mempertahankan hidup sekejap pun setelah gigitannya. Tuan

Putri beruntung tak dipatuk ular ini. Kalau sampai hal itu terjadi.…”

Dyah Wiyat menyambung, ”Maka Majapahit kembali berkabung.

Kudengar Senopati Gajah Enggon mengalami cedera menyebabkan

tidak sadar berkepanjangan. Bagaimana ceritanya?”

Gajah Mada tidak menanggapi pertanyaan yang membelok tibatiba

itu. Patih Daha Gajah Mada masih memusatkan perhatiannya pada

persoalan yang terjadi. Pada ular yang dipegangnya dan pada siapa yang

berada di belakang rencana pembunuhan menggunakan ular itu.

”Menurut Tuan Putri,” bicara Gajah Mada, ”siapa orang yang

melakukan? Tuan Putri sudah mengantongi siapa pelakunya?”

Sekar Kedaton istana kiri menggeleng.

”Aku tidak punya gambaran apa pun,” jawab Dyah Wiyat. ”Aku

bahkan tidak pernah membayangkan ada orang yang berniat mencuri

nyawaku. Aku tidak pernah melukai perasaan orang, mempunyai musuh

pun tidak.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 345

Gajah Mada memerhatikan Dyah Wiyat berbicara dengan tidak

mengalihkan perhatian ke arah lain sekejap pun.

”Orangnya tampan.”

Dyah Wiyat mencuatkan alis.

”Terus?”

Gajah Mada akan tersenyum, namun segera dibatalkan.

”Barangkali Tuan Putri menyembunyikan sebuah nama.”

”Nama siapa yang aku sembunyikan?”

”Seseorang berwajah tampan,” bicara Gajah Mada. ”Orang itu patah

hatinya melihat Tuan Putri kawin. Orang itu kemudian berpikir, kalau

tidak bisa memiliki Tuan Putri maka Tuan Putri mati saja sekalian.”

Ucapan Gajah Mada yang dilontarkan dengan bersungguh-sungguh

itu mampu membuat Dyah Wiyat tertegun. Namun, sejenak kemudian

Dyah Wiyat tersenyum. Ia lakukan itu setelah melihat Gajah Mada

tersenyum.

”Kau bercanda dengan pertanyaanmu itu, Kakang Gajah Mada.”

Gajah Mada bergeser dan memungut sebutir mangga yang bercecer

kemudian dilemparnya ke udara dan ketika jatuh disambut dengan ayunan

pedang. Terbelah mangga itu menjadi dua. Mangga itu sudah matang,

namun Dyah Wiyat telah kehilangan seleranya.

”Apakah rencana pembunuhan terhadapku menggunakan ular itu

ada kaitan dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi kemarin?”

tanya Dyah Wiyat.

”Mungkin, Tuan Putri. Hamba bahkan menduga ke sana arahnya.”

”Kakang Patih sudah menemukan nama pelakunya?”

Gajah Mada perlu menimbang jawaban macam apa yang sebaiknya

diberikan terhadap pertanyaan itu.

”Hamba memang telah memiliki rangkaian peristiwa yang masih

sepenggal-sepenggal, Tuan Putri. Jawaban yang masih belum utuh.

346 Gajah Mada

Namun, hamba berjanji akan membongkar peristiwa ini sampai ke lapis

paling dalam. Mohon Tuan Putri berkenan sabar. Kelak hamba akan

ceritakan semuanya.”

Melalui keningnya yang berkerut terlihat Dyah Wiyat berpikir keras.

Tiba-tiba wajah Dyah Wiyat berubah pertanda menemukan sebuah

jawaban. Dyah Wiyat yang semula duduk itu bangkit. Gajah Mada

tertegun karena Sekar Kedaton mendekatkan mulut ke telinganya. Sekar

Kedaton Dyah Wiyat mengutarakan isi hatinya dengan bisikan.

”Semalam aku mencuri dengar pembicaraan antara Kakang Gajah

dengan suamiku. Tolong beri kesempatan kepadaku untuk bertemu

dengan perempuan itu.”

Gajah Mada terkejut.

”Perempuan? Siapa?” tanya Gajah Mada.

”Jangan tutup-tutupi keadaan Raden Kudamerta dariku, Kakang

Gajah. Raden Kudamerta mengawiniku dengan menyembunyikan

sebuah rahasia. Ternyata ia sudah beristri. Aku ingin bertemu dengan

perempuan itu.”

Gajah Mada merasa tidak nyaman.

”Untuk?” tanya Gajah Mada.

”Kaupikir siapa orang yang mengirim buah mangga dan ular itu.

Abdi dalem Jalak Pripih menyebut seorang lelaki tampan. Bisa saja ia

bukan lelaki sesungguhnya, tetapi seorang perempuan yang menyamar

menjadi laki-laki. Apalagi orang berkuda yang mengirimku ular itu

menggendong bayi. Pikir pula, Kakang Patih, siapa orang yang

mempunyai alasan membunuhku.”

Gajah Mada merasakan desir kasar merambati permukaan jantungnya.

”Perempuan itu?”

”Istri mana pun dan istri siapa pun sama. Ia punya alasan untuk tak

senang pada perempuan lain yang merampas perhatian suaminya.

Keranjang berisi ular dan buah mangga itu terjemahannya.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 347

Patih Daha Gajah Mada tidak perlu merasa ragu. Kiriman ular itu

jelas dengan maksud membunuh orang yang dituju. Alasan paling masuk

akal hanya dimiliki oleh orang yang dirugikan dengan perkawinan yang

terjadi.

”Hamba menugasi Adi Pradhabasu untuk menggiring perempuan

itu. Hamba berharap ia mampu melaksanakan itu.”

Dyah Wiyat mengangguk, ”Tolong bawa orang itu menemuiku.

Aku harus tahu apakah ia memiliki wajah yang lebih menarik dariku.”

Gajah Mada melihat, persoalan yang terjadi telah berkembang dan

melebar ke mana-mana. Bila istri Raden Kudamerta benar sebagai pihak

yang mengirim mangga dengan ular itu dengan segera menumbuhkan

pertanyaan, adakah perbuatannya ada hubungannya dengan apa yang

dilakukan Rangsang Kumuda yang menyembunyikan nama Pakering

Suramurda atau berdiri sendiri sebagai peristiwa terpisah.

Sebagaimana layaknya sesuatu yang amat berharga dan

diperebutkan, untuk memperolehnya bahkan bila perlu dengan

menghalalkan segala cara, bahkan dengan membunuh sekalipun. Sesuatu

yang sungguh menggiurkan itu bernama singgasana, sebuah puncak

kedudukan tanpa ada lagi yang mengungguli. Untuk bisa menjadi raja,

seorang Ken Arok bahkan harus melewati perjalanan panjang dan

berliku, dimulai dari membunuh Tunggul Ametung yang seorang akuwu

sampai memberangus Raja Kediri, menjadikan Sri Kertajaya atau

Dandang Gendis menjadi raja yang terakhir. Untuk takhta, Panji Tohjaya

membunuh Anusapati, dan dengan alasan yang sama pula Panji Tohjaya

harus kehilangan nyawanya ketika Ranggawuni dan Mahisa Cempaka

mengangkat senjata.

”Untuk selanjutnya, Tuan Putri harus berhati-hati. Tuan Putri tak

boleh pergi ke mana pun tanpa pengawalan,” ucap Gajah Mada.

Dyah Wiyat tidak menjawab, tetapi bangkit dan meninggalkannya.

”Tuan Putri akan ke mana?”

”Aku akan menengok Senopati Gajah Enggon. Aku akan

merawatnya. Siapa tahu di tanganku Senopati Gajah Enggon akan siuman

kembali.”

348 Gajah Mada

Gajah Mada sendirian termangu merenungkan keadaan yang

berkembang tak terduga. Andaikata ular-ular yang membangkai itu bisa

ditanyai, pada mereka akan ia ajukan pertanyaan, siapa yang berada di

belakang mereka. Sayang, ular-ular itu telah mati.

”Andaikata masih hidup pun ular-ular itu tidak akan bisa memberi

sumbangan keterangan. Maklum mereka hanya ular.”

Gajah Mada memungut sebutir mangga paling dekat dengan

kakinya. Dengan pisau yang dicabut dari pinggangnya, Gajah Mada

mengelupas kulitnya selapis demi selapis. Selapis demi selapis pula yang

harus ia lakukan dalam membuka selubung teka-teki yang membungkus

rangkaian pembunuhan dan rencana pembunuhan yang terjadi.

29

Para Ibu Ratu benar-benar memberikan perhatian pada nasib

Senopati Gajah Enggon yang menyedihkan. Siuman yang diharapkan

belum kunjung datang. Gajah Enggon seperti orang yang tersesat ke

dunia lain dan tidak tahu jalan pulang. Perwira gagah perkasa itu tergolek

lemah sulit membedakan antara tidur dan mati. Napasnya yang masih

mengombak yang menjadi pertanda Gajah Enggon masih hidup. Kepada

Gajah Enggon dengan keadaan yang seperti itu, Ratu Gayatri memerintahkan

Nyai Lengger untuk memberikan perawatan yang sebaikbaiknya.

Ibu Ratu Tribhuaneswari, Ibu Ratu Narendraduhita, Ibu Ratu

Pradnya Paramita, dan Rajapatni Biksuni Gayatri bersamaan datang

menjenguk ke Bale Gringsing. Bale Gringsing adalah salah satu ruang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 349

di istana utama yang digunakan menyimpan benda-benda pusaka, di

antaranya lambang negara buah maja yang dilatari batik bercorak gringsing

lobheng lewih laka, yang itulah sebabnya ruang itu disebut Bale Gringsing.

Bale Gringsing menjadi bagian penting dari istana utama atau istana

tengah. Istana tengah itu sendiri diapit oleh istana kanan yang dihuni

Sekar Kedaton Sri Gitarja dan istana kiri yang dihuni adiknya.

Nyai Lengger melaksanakan tugasnya dengan harap-harap cemas.

Ia berharap orang yang dirawatnya segera siuman dan sembuh karena

bila Nyai Lengger tidak mampu, Gajah Mada akan mewujudkan ancamannya,

menggantung Nyai Lengger di alun-alun. Dengan penuh

ketelatenan Nyai Lengger memijit seluruh tubuh Senopati Gajah

Enggon, terutama pada bagian kepalanya. Nyai Lengger berharap pijatan

tangannya mampu membangkitkan simpul syaraf kepala, membangunkan

Senopati Gajah Enggon dari tidur panjangnya. Akan tetapi, Nyai

Lengger layak cemas, sampai sejauh itu keadaan Senopati Gajah Enggon

tidak berubah.

”Ayolah, Senopati. Bangunlah dari tidurmu,” Nyai Lengger

mengeluh. ”Kalau Senopati mau bangun aku akan mempersembahkan

anak perempuanku untukmu. Aku sama sekali tak keberatan

mengangkatmu menjadi anak menantuku. Aku punya anak gadis yang

cantik, yang akan kuberikan kepadamu. Bangunlah, Senopati.”

Namun, Senopati Gajah Enggon tidak memberikan tanggapan

dalam bentuk apa pun, tidak bergerak meski hanya ujung jarinya.

Keadaan yang demikian memang mencemaskan Nyai Lengger. Menurut

pengalamannya, apabila orang belum siuman sampai berhari-hari, amat

mungkin orang itu akan kebablasan. Daya tarik yang lebih indah di dunia

lain menyebabkan nyawa yang menempati raganya tak mau kembali.

Hal itu bisa ditandai dengan berhentinya tarikan napas untuk selamalamanya.

Nyai Lengger berdiri ketika melihat Sekat Kedaton Sri Gitarja

datang. Gugup Nyai Lengger berusaha menempatkan diri.

”Bagaimana keadaannya?” tanya Sri Gitarja.

Belum lagi Nyai Lengger menjawab, pintu yang lain terbuka. Sekar

Kedaton Dyah Wiyat datang pula ke tempat itu, dalam waktu yang nyaris

350 Gajah Mada

berimpitan. Sekar Kedaton Sri Gitarja lupa dengan pertanyaannya dan

lebih mementingkan adiknya. Ia mengembangkan tangan menawarkan

pelukan.

Kakak beradik itu berpelukan lama sekali menjadi gambaran betapa

masing-masing menyembunyikan beban. Dyah Wiyat berusaha

tersenyum, namun Sri Gitarja menangkap sesuatu yang tidak wajar di

wajah adiknya.

”Kangmbok menjenguk Senopati Gajah Enggon?” tanya Dyah

Wiyat.

”Ya,” jawab kakaknya.

Sri Gitarja memandangi adiknya lebih lekat seolah telah lama tidak

berjumpa. Sri Gitarja segera terheran-heran melihat keadaan adiknya.

”Kamu habis menangis?” tanya Sri Gitarja.

Dyah Wiyat segera mengembangkan senyum.

”Siapa yang menangis. Aku tidak menangis,” jawabnya.

”Aku melihat jejak tangis di wajahmu.”

”Tidak,” jawab Dyah Wiyat. ”Aku tidak menangis. Tak ada masalah

apa pun yang layak kutangisi.”

Namun, Sri Gitarja melihat sesuatu.

”Kamu terlihat tidak bahagia,” kata Sri Gitarja.

”Ahh, Kangmbok sendiri juga terlihat tidak bahagia.”

Kakak beradik itu sama-sama tertegun. Sri Gitarja yang berbalik

mengarahkan pandangan matanya kepada Nyai Lengger.

”Nyai, tolong tinggalkan kami berdua,” kata Sri Gitarja.

”Baik, Tuan Putri,” jawab Nyai Lengger dengan langkah kaki agak

tersendat oleh kain panjang yang dikenakan.

Kini hanya bertiga di ruang itu. Bale Gringsing terasa sepi karena

perhatian sedang diarahkan ke makam Antawulan yang di sana sedang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 351

berlangsung kegiatan yang melibatkan orang banyak. Sri Gitarja dan

Dyah Wiyat memerhatikan keadaan Gajah Enggon yang lunglai, lemah

tidak mampu melakukan apa-apa. Senopati Gajah Enggon yang semula

gagah perkasa itu bahkan tak mampu mengangkat tangan. Tidak untuk

mengangkat tangan, bahkan membuka mata pun tidak mampu.

”Cerita apa yang bisa kaubagikan kepadaku, Adi Dyah Wiyat?” tanya

Gitarja.

Dyah Wiyat menempatkan diri duduk di tepi pembaringan sambil

menyentuh lengan tangan Senopati Gajah Enggon.

”Kangmbok Ayu belum mendengar bencana yang nyaris menerkam

aku pagi ini?” tanya Dyah Wiyat.

Berubah rona wajah Sri Gitarja.

”Bencana apa, Adi?”

”Jadi, Kangmbok belum tahu aku nyaris mati digigit ular?”

Berubah wajah Sri Gitarja.

”Setidaknya aku mempunyai dua buah cerita yang mungkin perlu

kauketahui, Kangmbok. Yang pertama, ternyata aku ini istri kedua.”

Betapa terperanjat Sri Gitarja mendengar ucapan itu. Matanya

terbelalak.

”Jangan main-main dengan ucapanmu, Adi. Kalau apa yang

kaukatakan hanya untuk bercanda, itu bercanda yang melampaui batas.”

Akan tetapi, Dyah Wiyat bersungguh-sungguh dengan

penuturannya. Dengan gamblang tanpa tedheng aling-aling ia ceritakan

apa yang berhasil ia ketahui. Betapa terkejut Sri Gitarja setelah menyimak.

”Kau menghadapi kenyataan yang pahit, Adi Dyah Wiyat. Sangat

mungkin bahkan lebih pahit dari yang aku alami. Kalau suamimu

menyembunyikan kenyataan lain, demikian pula dengan suamiku.

Kakang Cakradara juga menyembunyikan wajah lain, wajah yang melekat

sekarang ternyata hanya topeng.”

Mengombak tegang Dyah Wiyat.

352 Gajah Mada

”Suamimu juga menempatkanmu sebagai istri kedua?” tanya Dyah

Wiyat.

Sekar Kedaton istana kanan menggeleng.

”Tidak,” jawab Sri Gitarja. ”Namun, aku tidak yakin Kakang Raden

Cakradara benar-benar mencintaiku.”

Dyah Wiyat amat penasaran. Bibirnya agak bergetar ketika balas

bertanya.

”Kenapa?”

”Raden Cakradara mengawiniku bukan karena aku, singgasanalah

yang justru menarik perhatiannya.”

”Singgasana?” Dyah Wiyat mengulang.

”Ya. Singgasana.”

”Bagaimana bisa?” adiknya mengejar.

”Sebagaimana kamu yang mencuri dengar pembicaraan suamimu,

aku juga melakukan hal itu. Semalam ketika suamiku meninggalkan aku,

aku mengikutinya. Ia menemui pekatik kuda yang ternyata pamannya.

Bayangkanlah, Dyah Wiyat, untuk alasan apa paman kandung suamiku

menyamar menjadi pekatik kuda segala, padahal ia seorang bangsawan

dari Singasari. Pembunuhan yang terjadi beruntun bersamaan dengan

hari mangkatnya Sang Prabu, ternyata paman suamiku yang mendalangi.”

Terbelalak mata Dyah Wiyat.

”Tujuannya?”

”Untuk menjamin Raden Cakradara menjadi raja melalui mengawini

diriku, semua pesaing dan ancaman terhadap itu disingkirkan. Korban

adalah orang-orang yang berhubungan dengan suamimu. Terakhir

suamimu dilempar pisau. Di belakang semua itu dalangnya paman

suamiku. Pakering Suramurda namanya.”

Dyah Wiyat terbungkam mulutnya.

”Begitu.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 353

”Itu sebabnya, aku telah bulat pada sebuah keputusan, yang aku

harap Adi tak menolak,” lanjut Sri Gitarja.

”Keputusan apa?”

”Kau saja yang menjadi ratu.”

Amat hening, bahkan udara pun berhenti mengalir. Dyah Wiyat

yang terkejut berlanjut ke membeku. Perlahan Dyah Wiyat membuka

tangannya untuk memberikan pelukan pada kakaknya. Sri Gitarja

membalas pelukan itu dengan amat ikhlas seperti adiknya yang juga

amat ikhlas. Pandangan mata Dyah Wiyat terbaca betapa ia sulit percaya

pada apa yang diucapkan kakaknya.

”Aku ikut prihatin dengan apa yang menimpa Kangmbok.”

”Aku juga prihatin dengan apa yang menimpamu. Tentu menyakitkan

sekali mengetahui suamimu ternyata sudah beristri. Kau sudah

tidur berdua dengannya?”

Pertanyaan yang membelok tajam itu menyebabkan Dyah Wiyat

bingung.

”Belum,” jawabnya. ”Kangmbok bagaimana?”

Sri Gitarja tidak menjawab, wajahnya tersipu.

”Sudah?” adiknya mengejar.

Tetap saja Sri Gitarja tidak mau menjawab. Pendapat yang diberikan

justru mengagetkan.

”Kalau kau mau, kau bisa membatalkan perkawinanmu!”

Dyah Wiyat yang menunduk itu perlahan menengadah memerhatikan

wajah kakaknya. Untuk beberapa jenak Dyah Wiyat mengunyah

pendapat itu. Akan tetapi, Dyah Wiyat menggeleng.

”Tidak,” jawab Dyah Wiyat. ”Aku tak mungkin melakukan itu. Aku

panutan bagi segenap kawula Majapahit. Aku tak mungkin memberi

contoh yang aneh. Boleh jadi apa yang aku alami kali ini memang sudah

menjadi takdirku. Tak perlu ada yang disesali karena perkawinan itu

354 Gajah Mada

telah menjadi kehendak Ibu Ratu. Lagi pula, apa kata orang mendengar

hari ini aku kawin esoknya berpisah?”

Miris Sri Gitarja mendapat jawaban itu. Dari awal Dyah Wiyat

memang telah mengisyaratkan penolakannya, tetapi kerabat keluarga

seperti menyudutkannya tanpa memberi kesempatan untuk menolak.

Manakala sekarang telah terbukti Raden Kudamerta ternyata menyembunyikan

hidung belang, semua itu bukan kesalahannya. Semua orang

dulu memojokkannya, kini semua orang akan melihat pilihan sempurna

yang mereka sodorkan itu ternyata bukan emas mengilat, tetapi loyang

yang muram. Merekalah yang bersalah.

”Soal ular yang akan mematukmu?” Sri Gitarja membelokkan

persoalan.

”Ular itu lambang adanya pihak yang berperilaku seperti ular,” jawab

Dyah Wiyat.

Sri Gitarja menempatkan diri menunggu Dyah Wiyat melanjutkan.

”Seorang laki-laki tampan berkuda, aneh karena lelaki tampan itu

membawa bayi, berarti lelaki tampan itu seorang perempuan yang sedang

menyamar. Orang itu mengirimku sekeranjang buah mangga yang

ternyata menyembunyikan ular. Siapa pun orang itu jelas sedang

menghendaki kematianku. Ketika keranjang dibuka, tiga ekor ular

beracun siap mematukku, seekor di antaranya bahkan jenis bandotan

yang bisa melenting. Untung aku sempat menghindar.”

Raut muka Sri Gitarja terlihat cemas.

”Siapa pelakunya?”

”Seorang perempuan yang pasti amat membenciku. Orang yang

punya alasan untuk melakukan itu.”

”Siapa?” Sri Gitarja mengejar.

”Nama perempuan itu Dyah Menur. Istri Kakang Kudamerta.

Hanya orang itu yang memiliki alasan kumaksud. Aku mengetahui nama

itu dengan mencuri dengar pembicaraan antara Kakang Gajah Mada

dengan suamiku.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 355

Hening merayap menemani Sri Gitarja dan adiknya yang saling

berbagi rasa kecewa. Sri Gitarja amat kecewa pada suaminya yang

menyimpan rencana amat jahat, sebaliknya Dyah Wiyat sangat kecewa

pada suaminya yang tidak jujur. Akan tetapi, bagaimana harus menuntut

kejujuran suaminya bila Dyah Wiyat sendiri menyimpan rahasia

asmaranya dengan Rakrian Tanca.

”Menghadapi persoalan Kakang Raden Cakradara, sikap Kangmbok

Sri Gitarja bagaimana?” tanya Dyah Wiyat.

”Aku tak tahu, masalahnya aku mencintai Kakang Raden Cakradara.

Aku akan berusaha menerima keadaan apa adanya. Sejauh yang aku

dengar, aku masih punya penilaian yang baik atas suamiku. Rencana

menjarah singgasana itu lebih dilakukan pamannya daripada Kakang

Raden Cakradara. Namun karena suamiku mengetahui rencana itu, tetapi

tak melakukan pencegahan, suamiku bisa dianggap terlibat. Itulah

sebabnya, aku benar-benar yakin, kamu lebih pantas menjadi ratu

daripada aku. Aku sampaikan ini dengan ikhlas. Kamu harus

menerimanya, Dyah Wiyat. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan takhta

dari penjarahan.”

Dyah Wiyat memandang kakaknya dengan tatapan mata terharu.

Dyah Wiyat bahkan tak mampu mencegah matanya untuk berkaca-kaca.

Air mata itu bahkan runtuh bergulir di pipinya. Gitarja tak membiarkan

adiknya larut, segera dipeluknya Dyah Wiyat yang membalas dengan

lebih erat.

”Bukan aku yang menentukan, Kangmbok,” kata Dyah Wiyat.

”Apabila para Ibu Ratu menunjuk aku sebagai pengganti Kakang Sri

Jayanegara, akan kulaksanakan tugas itu dengan sepenuh hati. Soal para

suami kita, suamimu dan suamiku, tak perlu menunggu waktu.”

”Untuk kita sampaikan kepada para Ibu Ratu?”

”Ya,” jawab Dyah Wiyat tegas.

Rajadewi Maharajasa yang duduk di pembaringan menyempatkan

mengelus-elus tangan Gajah Enggon.

”Ayolah, Kakang Gajah Enggon, bangunlah. Bila Kakang Gajah

Enggon pulih dan sadar, aku akan menjadikan Kakang Gajah Enggon

sebagai suamiku.”

356 Gajah Mada

Terbelalak Sri Gitarja melihat dan mendengar apa yang diucapkan

adiknya. Ucapan itu terlalu sembrono. Dayang Sumbi termakan katakatanya

sendiri melalui ucapan yang sangat sembrono macam itu. Dayang

Sumbi menantang siapa pun yang mau mengambilkan gulungan benang

yang jatuh akan dijadikan suaminya. Tak disangka, anjingnya yang

mengambil gulungan benang itu.

Namun, Dyah Wiyat tersenyum. Dyah Wiyat sadar tengah bercanda.

”Menurutku, lebih baik aku bersuamikan Kakang Enggon daripada

keadaanku sekarang,” ucap Dyah Wiyat.

”Jangan sembrono, Wiyat. Kamu nanti akan termakan ucapanmu.

Jika Gajah Enggon menagih janjimu, bagaimana?”

Dyah Wiyat tertawa.

30

Majapahit menggeliat. Nyaris semua penduduk kotaraja

memenuhi panggilan yang dilepas melalui suara kentongan dengan isyarat

khusus, juga isyarat anak panah sanderan yang beberapa kali dilepas

melesat menerobos langit. Tua, muda, laki-laki, dan perempuan

terpanggil menjadikan makam Antawulan tumplek blek berjejal-jejal

seperti tidak memberi ruang yang cukup. Para perempuan sibuk di dapur

darurat yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan makan. Istana

bahkan tidak mengeluarkan bahan makanan apa pun yang dibutuhkan.

Gula, beras, daging, sayuran, dan buah-buahan berasal dari sumbangan.

Tidak ada yang memberi perintah, masing-masing menggagas atas

apa yang mesti dibawa. Di antara para perempuan ada yang membawa

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 357

mangga, mentimun, dan nangka, dan mereka yang bahu-membahu

membangun candi tak perlu khawatir atas isi perutnya. Yang

menyebabkan heboh dan riuh rendah adalah ketika sebuah pedati penuh

buah maja datang. Buah maja itu sumbangan dari seorang penduduk

pemilik pekarangan yang penuh tanaman maja. Apalagi buah maja yang

besarnya sekelapa itu matang semua.

Semangat bekerja itu makin makantar-kantar ketika Ratu Rajapatni

Biksuni Gayatri berkenan menengok. Cinta dan hormat segenap kawula

kepada Ratu terbaca dari sikap mereka yang serentak bersimpuh di

tempat masing-masing ketika Biksuni Gayatri turun dari tandu.

”Tidak perlu bersimpuh,” kata Ratu Gayatri. ”Aku izinkan kalian

berdiri. Ayo berdiri semua. Kalian sedang berada di makam Antawulan,

tidak sedang menghadap di istana. Silakan bekerja dengan hati senang.”

Kehadiran Ratu Gayatri yang mendapatkan pengawalan cukup kuat

memberi dorongan semangat kepada semua orang yang bekerja. Gagak

Bongol bekerja keras. Gajah Mada merasa riang melihat Gagak Bongol

mengendalikan pembangunan candi itu sambil membawa anak

angkatnya. Entah pendekatan macam apa yang dilakukan Gagak Bongol

sehingga bocah lasak bernama Sang Prajaka itu berhasil ditundukkan.

Ikut memberikan sumbangan tenaganya, Raden Cakradara terlihat

pula. Pun demikian dengan Raden Kudamerta yang sebenarnya belum

layak melakukan apa pun karena luka di dadanya. Akan tetapi, Raden

Kudamerta benar-benar tak ingin berpangku tangan. Ia melakukan

sebatas yang mampu dilakukan. Di sudut lain Raden Cakradara tak segansegan

membantu mengangkat batu yang nantinya akan dipotong-potong

sesuai kebutuhan. Patih Daha Gajah Mada tahu, baik Raden Cakradara

maupun Raden Kudamerta tak bisa bekerja dengan tenang. Kehadiran

Patih Daha mengamati pembuatan candi menyebabkan dua bangsawan

dari Singasari dan Pamotan itu tidak nyaman.

Raden Cakradara memang layak gelisah. Ulah Pakering Suramurda

berimbas pada dirinya. Hal itu membuatnya tidak tenteram. Sementara

Raden Kudamerta merasa bagai menunggu waktu untuk dihukum mati.

Cepat ataupun lambat Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri pasti memanggil

358 Gajah Mada

untuk meminta pertanggungjawaban perbuatannya yang telah melakukan

penipuan yang terbukti telah memiliki istri ketika mengawini Sekar

Kedaton Dyah Wiyat.

Biasanya hubungan antara Raden Cakradara dan Raden Kudamerta

berjalan akrab. Akan tetapi, rangkaian peristiwa yang terjadi menyebabkan

mereka mengambil jarak dan bahkan tidak saling bertegur sapa.

Melibatkan diri membantu mengusung bata merah, Raden Kudamerta

terlihat tak banyak bicara. Pun demikian dengan Raden Cakradara yang

ikut sibuk memecah batu telah berubah menjadi patung batu.

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri tidak terlalu lama datang dan

menyaksikan pendarmaan anak tirinya di Antawulan. Serentak semua

memberikan penghormatan ketika Ratu Rajapatni memutuskan

meninggalkan tempat itu dipikul menggunakan tandu dan dikawal oleh

sekitar sepuluh orang prajurit bersenjata lengkap, tak hanya pedang yang

menggantung di pinggang, tetapi juga satu endong penuh anak panah di

punggung.

Bahwa Sri Jayanegara memang telah mangkat, itu bukan berarti

jarum waktu juga ikut berhenti. Manakala para kawula memusatkan

perhatian ke tanah makam Antawulan, bukanlah berarti kegiatan

keprajuritan berhenti. Matahari mengaduk udara menjadi makin panas

dan memanjat makin tinggi ketika segenap prajurit yang menempati

bangsal masing-masing keluar menuju alun-alun. Setiap hari jatuh di

Soma Manis adalah waktu untuk melakukan geladi lengkap yang

dilakukan seluruh kesatuan yang ada tanpa kecuali.

Tiada hari tanpa geladi, kemampuan berperang harus dilatih terusmenerus

dan berkesinambungan. Tanpa ada latihan akan mengurangi

kemampuan bertempur dan melemahkan kekuatan dan kewaspadaan.

Berdasar cara berpikir seperti itulah Patih Daha Gajah Mada memberi

saran pada senopati agung yang dijabat oleh Jayanegara untuk dilakukan

geladi perang secara berkesinambungan secara terus-menerus, dalam

waktu yang rapat. Geladi masing-masing bregada dilakukan sepekan sekali,

sementara latihan gabungan yang melibatkan semua kesatuan dilakukan

sebulan sekali.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 359

Untuk sementara sebagaimana diputuskan oleh Sri Jayanegara, tidak

ada lagi pangkat temenggung. Untuk memimpin masing-masing bregada

dikendalikan oleh prajurit berpangkat senopati.

Berbeda dengan kesatuan lain yang memiliki jumlah prajurit

demikian banyak, sebaliknya pasukan khusus Bhayangkara yang juga

dipimpin oleh prajurit berpangkat senopati jumlahnya tidak banyak.

Gajah Mada yang merancang dan melatih pasukan khusus itu bahkan

tidak sependapat bila jumlahnya lebih dari seratus orang. Ketika

melakukan penyelamatan Sri Jayanegara hingga ke Bedander, kekuatan

pasukan itu bahkan tak lebih dari dua puluh orang.

Meski jumlahnya kecil dan ramping, secara pribadi orang-orang

yang terpilih menjadi bagian pasukan Bhayangkara memiliki keterampilan

luar biasa, kemampuan menghadapi tekanan yang bahkan tak lumrah

manusia. Dipimpin oleh Senopati Gajah Enggon didampingi Gagak

Bongol, pasukan khusus Bhayangkara memiliki kemampuan yang

nggegirisi.169 Untuk mengasah kemampuan bidik, setiap hari selalu

diselenggarakan latihan mengayun pisau dan melepas bidikan anak

panah.

Teriakan-teriakan dalam geladi yang dilakukan di alun-alun depan

istana, suara derap kuda dan bende yang ditabuh berderap ditambah

sangkakala yang melengking terdengar jelas sampai ke Antawulan. Akan

tetapi, geladi perang yang demikian telah menjadi santapan sehari-hari.

Latihan perang tidaklah berarti negara berada dalam bahaya. Latihan

perang itu bahkan untuk menjamin keutuhan negara. Karena bukan

merupakan peristiwa yang luar biasa geladi perang itu tak lagi menjadi

tontonan. Bila ada yang begitu lahap memerhatikan geladi perang itu

tentulah orang yang berasal dari luar kotaraja.

Semua orang bekerja dengan giat dan penuh semangat, keringat

diperas dari tubuh dan jiwa yang sehat, bahu-membahu. Para perempuan

bekerja dengan perasaan riang gembira. Bagi para gadis, inilah juga saat

yang tepat untuk bertemu dengan pria yang diidamkan. Dari para ibu

dan gadis-gadis tak jarang terdengar suara tawa riang, demikian juga

169 Nggegirisi, Jawa, luar biasa

360 Gajah Mada

dengan para lelaki sering terdengar suara tawa yang meledak. Seorang

dari mereka rupanya pintar melucu dan memiliki pengalaman yang

menggelikan. Itu sebabnya, yang mendengarkan tertawa terpingkalpingkal.

Saat sebagian besar orang bekerja dengan riang dan bersungguhsungguh,

ada pula yang bekerja tanpa bicara. Bukan pekerjaan yang sulit

untuk membangun sebuah candi, yang agak rumit justru pembuatan

arca yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu dengan keahlian

khusus. Orang yang berkemampuan demikian disebut empu.

Semua riang, semua gembira. Namun, salah seorang perempuan

yang ikut terlibat dalam kegiatan menyediakan makan untuk mereka

yang sedang bekerja, perempuan pemilik wajah cantik itu tak banyak

bicara. Setiap kesempatan yang dimiliki digunakan untuk mencuri

perhatian pada seorang lelaki yang ikut menyumbangkan tenaga

sekadarnya dan tak bisa bekerja keras karena luka di dadanya. Orang

yang menjadi perhatiannya adalah Raden Kudamerta, bangsawan tampan

bertubuh gagah yang kini tak bisa lagi digapai. Perempuan itu bahkan

merasa, untuk mengangankan pun tak lagi berhak.

Berantakan hati perempuan itu oleh kerinduan, oleh rasa ingin

menggapai tak bisa tercapai. Ia suami yang juga menjadi suami orang

lain. Orang lain itu bukanlah orang sembarangan karena ia adalah Sekar

Kedaton Majapahit yang punya peluang amat besar menjadi ratu.

Sayang sekali Raden Kudamerta tidak membalikkan badan.

Andaikata itu ia lakukan maka ia akan menemukan wajah yang juga

membuat hatinya gelisah. Dalam dua hari terakhir, cemas dan gelisah

itu menyesaki dadanya. Apalagi manakala ia tak berhasil menemukan

jejak perempuan itu. Rumah yang ditinggalinya kosong, tak ada jejak

apa pun yang bisa digunakan untuk melacak ke mana perginya. Ke mana

sang istri pergi, atau sedang melakukan apa, juga bagaimana dengan

anaknya, pertanyaan-pertanyaan macam itu sungguh amat mengganggu.

Gajah Mada yang mengedarkan pandangan mata terkejut saat

sebuah tepukan menyentuh pundaknya. Gajah Mada berbalik.

”Kamu?”

Di belakangnya Pradhabasu tersenyum. Pradhabasu tidak sendiri,

di sebelah kirinya berdiri Bhayangkara Kendit Galih dan sebelah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 361

kanannya berdiri Bhayangkara Riung Samudra. Demikian sempurna

penyamaran ketiga orang itu sampai Gajah Mada nyaris tidak

mengenalinya. Apalagi dalam penyamarannya, Pradhabasu berjalan

dengan terpincang seolah kakinya panjang sebelah atau pendek sebelah.

Gajah Mada nyaris tak bisa menahan geli melihat wajah Pradhabasu

dihiasi borok menjijikkan. Itu bukan borok yang sebenarnya. Bila

dikelupas, di balik borok itu ada wajah bersih.

Meski Pradhabasu telah berhadapan dengan Gajah Mada, perhatian

bekas prajurit Bhayangkara itu tertuju ke arah lain. Di arah yang menjadi

perhatiannya, seorang bocah sedang sibuk dengan diri sendiri. Hanya

dua hari Pradhabasu berpisah dari bocah itu, namun rasanya waktu

berlalu setahun lamanya. Rasa kangen membelit hatinya.

”Gagak Bongol berhasil mengendalikannya,” kata Gajah Mada.

Pradhabasu mengangguk.

”Bagaimana rasanya berpisah dari Sang Prajaka dalam dua hari ini?”

tanya Gajah Mada.

Pradhabasu tersenyum lebar, ”Seperti setahun lamanya.”

Menyadari ada hal penting yang akan dilaporkan, Gajah Mada

membawa tiga orang itu keluar dari dinding pagar makam Antawulan.

Tak hanya dalam lingkungan pagar yang tercium bau wangi bunga

semboja, yang sebenarnya bergantung kepada ke mana arah angin

bergerak, juga karena di luar dinding pagar pun pohon semboja itu

ditanam. Bau wangi itu terasa enak di hidung, namun bau wangi yang

demikian akan menyebabkan orang ketakutan bila angin membawanya

datang berkunjung di malam hari. Sewangi apa pun bau itu amat khas

kuburan.

Duduk di bawah pohon semboja tua masing-masing bersandar

pagar dinding, Gajah Mada siap menerima apa yang dilaporkan

Pradhabasu kepadanya. Merayap pada dahan semboja, seekor

garengpung menggetarkan sayapnya. Kalau saja garengpung itu bisa

berbahasa manusia tentu ia akan ikut menyimak pembicaraan yang

terjadi. Patih Daha tentu keberatan bila ada yang mendengar pembicaraan

362 Gajah Mada

itu, hanya sayang Gajah Mada sama sekali tidak menyadari, tepat di

belakangnya, di balik dinding yang sama beradu punggung pula,

seseorang tanpa sengaja ikut menyimak. Singajaya orang itu, ia hanya

seorang penduduk biasa dan sedang memberikan sumbangan tenaganya.

Keringat terperas dari tubuhnya dan karenanya ia memerlukan

beristirahat barang sejenak bersandar dinding.

Pembicaraan yang disimaknya yang menyebabkan wajah seseorang

menyelinap terbayang. Ia seorang Dharmaputra Winehsuka bernama

Rakrian Kembar, pemilik mimpi dan cita-cita yang sangat muluk.

”Berhasil kautemukan perempuan itu, Pradhabasu?” tanya Gajah

Mada.

”Rupanya Kakang Gajah memandangnya sebagai simpul yang amat

penting,” jawab Pradhabasu.

”Tentu,” jawab Gajah Mada. ”Karena pagi ini ia berencana

membunuh Sekar Kedaton kiri. Untung tidak berhasil. Perempuan itu

merupakan mata rantai simpul tak terpisahkan dari kejadian yang lain. ”

Pradhabasu terbelalak. Pradhabasu punya alasan untuk tidak

sependapat.

”Dyah Menur, melakukan apa?”

”Ia menyamar sebagai seorang laki-laki. Ia datang ke istana kiri

mengirimkan sekeranjang buah mangga yang menyembunyikan tiga ekor

ular dari jenis mematikan semua. Ular weling, ular sendok, dan ular

bandotan.”

Pradhabasu memandang Gajah Mada dengan alis sebelah

dimiringkan.

”Tidak mungkin Menur.”

”Kenapa?”

”Aku tidak kehilangan jarak sejengkal pun dari perempuan itu sejak

semalam. Ia tidak bisa berkuda, ia juga takut pada ular. Ia sekarang berada

di antara para ibu yang sibuk menyediakan makan itu.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 363

Gajah Mada terkejut.

”Orang yang berencana membunuh Sekar Kedaton itu orang lain,

bukan Dyah Menur yang malang. Aku yang menjadi jaminannya.”

Patih Daha Gajah Mada terdiam untuk beberapa saat.

”Apa alasanmu?” tanya Gajah Mada.

”Raden Kudamerta dan perempuan itu pasangan yang saling

mencintai. Kalau Kakang percaya kepadaku, Raden Kudamerta sama

sekali tidak berkeinginan membuat repot istana dengan menyembunyikan

rahasianya. Raden Kudamerta melakukan itu karena ada pihak yang

memaksa. Bahkan dengan menyandera istrinya. Untung Dyah Menur

mampu meloloskan diri dan untung pula aku berhasil menemukan

jejaknya.”

Patih Daha Gajah Mada tak bisa memahami.

”Siapa yang memaksa?”

”Kalau saja Lembang Laut masih hidup, Lembang Laut pasti bisa

menjawab. Sayang sekali, Lembang Laut keburu mati. Ketika beberapa

bulan lalu kusampaikan temuanku kepada Lembang Laut, ia memutuskan

untuk menyelinap masuk ke dalam kekuatan yang bahkan berniat

melakukan makar itu. Sayang, Lembang Laut tewas dipatuk ular dengan

kematian yang menyesatkan pandangan orang.”

Gajah Mada merasa jawaban itu masih samar-samar.

”Soal Lembang Laut namanya harus dibersihkan, pada saatnya nanti

aku akan melakukannya. Semua orang harus tahu apa yang dilakukan

Lembang Laut,” berkata Patih Daha Gajah Mada.

Gajah Mada menoleh dan memberikan perhatiannya kepada Kendit

Galih.

”Dan kamu Bhayangkara Kendit Galih, apa yang akan kausampaikan?”

Kendit Galih mempersiapkan diri menyampaikan laporannya.

”Ada sebuah kekuatan yang perlu diwaspadai, Ki Patih,” kali ini

Kendit Galih yang berbicara. ”Penyelidikanku terhadap pisau yang

364 Gajah Mada

digunakan membunuh Kinasten dan Arya Surapati membawaku ke

pandai besi Panji Sindura di Kademangan Tegal Sari. Pandai besi Panji

Sindura mengenali pisau buatannya yang menurutnya pisau itu dipesan

oleh seseorang bernama Rubaya dan tinggal di Karang Watu.

Penelusuranku di Karang Watu membentur pada hal yang benar-benar

tidak terduga. Di tempat itu telah disiapkan sebuah pasukan dengan

kekuatan yang mengkhawatirkan. Yang kecil bisa menjadi besar. Yang

kecil itu bahkan bisa menjelma menjadi kekuatan makar.”

Kali ini Gajah Mada tidak bisa lagi menganggap laporan itu sebagai

hal kecil.

”Apa yang kaulihat di tempat itu?” tanya Gajah Mada.

”Sebuah latihan perang yang dilakukan setiap hari, siang dan malam.

Mereka jelas merencanakan sesuatu. Mereka memiliki rencana jangka

panjang, terlihat dari lambang yang mereka miliki.”

”Lambang apa?” tanya Gajah Mada.

”Seekor ular membelit buah maja.”

Gajah Mada memandang wajah Bhayangkara Kendit Galih dengan

mata tak berkedip. Gajah Mada segera mengalihkan pandangan matanya

ke pohon semboja di depannya, pohon itu bergoyang keras oleh tanah

yang serasa bergerak diguncang oleh gempa.

”Seekor ular membelit buah maja?” Gajah Mada menegas.

”Ya,” jawab Kendit Galih.

Dengan segera Gajah Mada teringat pada apa yang dilaporkan

Gagak Bongol tentang bagaimana pertemuannya dengan Nyai Ra Tanca.

”Siapa pemimpin pergerakan orang-orang itu? Rangsang Kumuda?”

Kendit Galih agak terkejut, ”Ki Patih sudah mendengar nama itu?”

”Ia yang memimpin kegiatan yang berlangsung di Karang Watu?”

Ternyata Kendit Galih menggeleng.

”Rangsang Kumuda memang salah seorang pimpinan. Akan tetapi,

masih ada pimpinan yang lebih tinggi. Orangnya masih muda dan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 365

tampan. Orang itu nantinya yang akan menduduki dampar singgasana

bila pilar Majapahit berhasil dirobohkan.”

”Dan siapa nama orang itu?” tanya Gajah Mada.

”Raden Rukmamurti. Ada pula yang menyebut Raden Panji

Rukmamurti.”

Lalu hening. Pradhabasu tak berbicara, Kendit Galih ikut diam

memberi ruang kepada Gajah Mada untuk berpikir. Saat manggutmanggut,

Gajah Mada melakukannya dengan perlahan.

”Dan kamu, apa yang akan kamu laporkan, Samudra?”

”Apa yang akan kulaporkan adalah hal yang ringan saja, Kakang

Gajah Mada,” jawab Riung Samudra. ”Aku ingin Kakang mewaspadai

gerakan yang dilakukan Ra Kembar.”

Gajah Mada agak termangu.

”Ada apa dengan Ra Kembar?”

”Di mana-mana dan dalam setiap kesempatan, Ra Kembar

menjelek-jelekkan Kakang Gajah Mada. Di setiap kesempatan ia selalu

berusaha merusak nama Kakang. Aku tidak tahu untuk dendam yang

mana Ra Kembar melakukan itu.”

Ra Kembar atau Rakrian Kembar adalah salah satu dari mereka

yang oleh Sri Baginda Jayanegara diberi anugerah gelar Dharmaputra

Winehsuka Rakrian Kembar. Ra Kembar bersahabat akrab dengan para

Rakrian yang lain. Ketika pemberontakan dilakukan oleh Ra Kuti dan

komplotannya, Ra Kembar sedang tidak berada di Ibukota Majapahit.

Ra Kembar sedang mendapat tugas mengunjungi Sungeneb di Madura.

Andai Ra Kembar berada di ibukota boleh jadi Ra Kembar akan terlibat

pula dalam makar yang dikendalikan Ra Kuti.

Terakhir Ra Kembar bersahabat dengan kekuatan makar yang

tersisa, Tanca. Kematian Ra Tanca tertikam keris Gajah Mada mungkin

menjadi penyebab ulah Ra Kembar.

”Bagaimana, Kakang?”

366 Gajah Mada

”Biar saja apa pun yang ia lakukan. Yang harus kita lakukan sekarang

adalah melakukan persiapan menggempur Karang Watu. Sebagai

pimpinan Bhayangkara, aku yang mengambil alih karena Gajah Enggon

masih belum siuman, akan kukendalikan langsung penyerbuan ke Karang

Watu.”

Betapa terperanjat Pradhabasu, Kendit, dan Samudra mendengar

ucapan itu.

”Senopati Gajah Enggon kenapa?” tanya Riung Samudra.

Dengan jelas dan ringkas Gajah Mada menuturkan peristiwa yang

telah terjadi. Pradhabasu lebih terperanjat lagi ketika Gajah Mada juga

bercerita tentang Raden Cakradara yang diduga terlibat dalam rencana

makar yang akan menggoyang pilar Istana Wilwatikta itu. Gajah Mada

menguraikan dengan jelas siapa sosok Rangsang Kumuda dan siapa pula

sosok di balik nama Pakering Suramurda.

”Apabila mau menengok Gajah Enggon, silakan. Ia dalam

perawatan di Bale Gringsing, tetapi sebelumnya apa saranmu? Apa yang

sebaiknya aku lakukan pada perempuan itu? Aku ingin ia pergi sejauhjauhnya

dari Raden Kudamerta dan jangan pernah muncul lagi. Aku

tidak ingin ketenangan rumah tangga Rajadewi Maharajasa terganggu.”

Pradhabasu menatap raut wajah Gajah Mada seperti mencari sesuatu

di balik wajah itu. Bahwa Gajah Mada bisa bersikap demikian bukan hal

yang perlu membuat dirinya merasa heran karena Pradhabasu sangat

mengenal Gajah Mada .

”Jika melihat masalahnya secara utuh, sebaiknya Raden Kudamerta

yang harus ditanyai. Kakang sudah melakukan itu?”

”Sudah,” jawab Gajah Mada. ”Namun, kesempatan yang kumiliki

terputus. Aku akan mengulang lagi menanyakan itu, yang sebaiknya aku

lakukan setelah mendapat petunjuk dari Ibu Ratu Gayatri. Baiklah,

sekarang tunjukkan kepadaku yang mana orang itu.”

Patih Daha Gajah Mada kembali masuk ke lingkungan makam

mengikuti kaki Pradhabasu, Kendit Galih, dan Samudra. Penampilan

tiga orang itu dalam penyamaran sulit dikenali. Bahkan Gagak Bongol

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 367

sekalipun tak lagi mengenalinya. Gagak Bongol yang memerhatikan dari

kejauhan tidak menyangka orang yang berjalan terpincang-pincang

bersama Patih Daha Gajah Mada adalah Pradhabasu.

”Yang mana?” bertanya Gajah Mada.

”Kaulihat dua orang yang berdiri, yang seorang nenek memutar

susur di mulut dan yang seorang gemuk?” tanya Pradhabasu.

”Ya?” balas Gajah Mada. ”Tak mungkin yang nenek-nenek, aneh

juga kalau Raden Kudamerta beristri perempuan gemuk itu.”

”Tentu bukan,” jawab Pradhabasu. ”Perhatikan perempuan yang

memegang pisau di belakang perempuan gemuk itu dan perhatikan pula

ke mana arah matanya dalam memandang.”

Gajah Mada memerhatikan wajah perempuan itu dengan saksama.

Rupanya perempuan bernama Dyah Menur itu juga melakukan

penyamaran menilik upayanya menyembunyikan jejak kecantikannya

melalui wajah yang dibuat kotor dan pakaian yang lusuh. Wajahnya

terlihat kotor yang pasti memang disengaja supaya kotor. Bila wajah itu

dikembalikan bersih, jelas ia seorang perempuan yang cantik.

”Kaulihat perempuan itu, Kakang Gajah?”

”Ya. Aku melihatnya. Aku melihat arah pandangnya. Raden

Kudamerta yang menjadi sasaran perhatiannya. Wajahnya tampak amat

tertekan. Lalu, mana anaknya?”

”Anaknya sedang dititipkan.”

Sebenarnyalah perempuan itu adalah Dyah Menur yang membawa

hati remuk. Beberapa jengkal di depannya, Raden Kudamerta yang

merasa sakitnya kumat bahkan berdarah. Raden Kudamerta terlihat

menyeringai menahan sakit. Melihat keadaan itu Dyah Menur yang

merasa tertikam, seolah dadanya yang terluka berdarah. Perempuan itu

amat tak sabar ingin segera mengurus keadaan suaminya sebagaimana

selama ini ia lakukan.

”Kakang Kudamerta, ini aku di sini, Kakang. Ini aku Dyah Menur,

istrimu,” jerit perempuan malang itu.

368 Gajah Mada

Akan tetapi, jerit itu hanya menggema dalam hati. Dyah Menur

tidak mungkin berteriak atau memanggil namanya, tidak mungkin berlari

menghambur mendekat, bahkan tidak mungkin lagi berharap Raden

Kudamerta tetap suaminya. Dyah Menur amat gelisah melihat dada

suaminya yang berdarah. Bila mungkin Dyah Menur amat ingin melepas

selendang penutup kepalanya untuk membalut luka itu.

Perlahan Dyah Menur melepas kerudung yang dikenakannya.

”Kaulihat Raden Kudamerta terluka?” ucap Dyah Menur dalam

nada bisik kepada perempuan di sebelahnya.

”Ya,” jawab perempuan yang sebaya dengannya itu.

”Tolong kauberikan selendang ini kepadanya,” kata Dyah Menur.

Perempuan sebaya yang dimintai tolong itu terkejut, bahkan berubah

menjadi heran. Raden Kudamerta telah beristri dan istrinya bukanlah

orang sembarangan. Istri Raden Kudamerta adalah Sekar Kedaton

Majapahit. Berani-beraninya perempuan yang berada di depannya itu

berniat mencuri perhatian. Memberikan sehelai selendang, apa artinya

itu kalau bukan mencuri perhatian?

Perempuan yang dimintai tolong itu memandang Dyah Menur tanpa

berkedip. Dyah Menur tak mengalihkan perhatiannya dari Raden

Kudamerta. Betapa cemas Dyah Menur melihat pakaian suaminya yang

berdarah. Dyah Menur baru menoleh ketika perempuan di depannya

menggamit tangannya.

”He, kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?” tanya perempuan

itu.

”Aku hanya merasa kasihan, dada Raden Kudamerta berdarah. Aku

tak punya maksud apa pun. O ya, namaku Dyah Menur. Siapa namamu?”

Sikap Menur yang ramah tidak meluruhkan rasa heran perempuan

itu.

”Namaku Prabarasmi,” jawab perempuan itu. ”Aku emban yang

mengabdi di istana kiri.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 369

”Adi Prabarasmi,” kata Dyah Menur, ”tolong bantulah aku. Aku

tak berniat mencuri perhatiannya. Berikan saja selendang ini untuk

membalut lukanya.”

Prabarasmi takjub dan bagai tersihir. Prabarasmi yang bagai

kehilangan akal menerima selendang itu, selendang yang dimanfaatkan

sebagai kerudung menutupi wajah dari sengatan matahari.

”Tolong berikan, lihat dadanya berdarah.”

”Ya.”

Apa yang terjadi itu tak luput dari perhatian Gajah Mada yang

mengikuti lewat pandangan matanya. Prabarasmi yang berjalan

mendekati Raden Kudamerta juga tak lepas dari perhatiannya. Adalah

Raden Kudamerta yang merasakan nyeri itu makin menggigit tulang,

berdiri bersandar pohon semboja sambil membasuh keringat ketika

Emban Prabarasmi datang mendekat.

Emban Prabarasmi adalah emban yang melayani istrinya. Emban

yang datang mendekat itu dengan sendirinya dikenalinya. Raden

Kudamerta terheran-heran ketika emban itu menyerahkan sehelai kain.

”Apa ini?” tanya Raden Kudamerta.

”Untuk membalut luka Raden,” jawab Emban Prabarasmi.

Raden Kudamerta terheran-heran, dan dengan segera rasa heran

itu berubah menjadi terbelalak saat mengenali selendang itu. Raden

Kudamerta nyaris tidak sadar akan mengguncang lengan Emban

Prabarasmi. Satu dua orang pada jarak yang dekat melihat apa yang

terjadi.

”Mana dia?” tanya Raden Kudamerta dengan suara diredam.

Prabarasmi terkejut melihat Raden Kudamerta terkejut. Rupanya

selendang itu memiliki makna luar biasa bagi Raden Kudamerta.

Prabarasmi membalikkan badan, tetapi perempuan penitip selendang

itu telah lenyap.

”Cepat katakan di mana orang yang menitipkan selendang ini?”

tekan Raden Kudamerta.

370 Gajah Mada

Prabarasmi melongok mencari-cari, namun yang dicari lenyap. Pun

demikian dengan Raden Kudamerta, mengedarkan pandangan matanya.

Namun, tak tampak bayangan istrinya di antara para perempuan yang

sedang bahu-membahu menyiapkan makanan. Dyah Menur yang dalam

penyamaran sulit dikenali, apalagi Dyah Menur telah dengan sengaja

menghilang.

”Mana dia?” tanya Raden Kudamerta dengan amat panik.

Emban Prabarasmi bingung.

Selendang itu merupakan jejak nyata yang ditinggalkan istrinya.

Artinya, Dyah Menur berada di tempat itu pula. Tetapi mana dia? Mana

Dyah Menur yang dalam beberapa hari membuatnya gelisah itu? Dengan

bergegas Emban Prabarasmi kembali setelah melihat perempuan

pemberi selendang itu ternyata terlihat penting bagi Raden Kudamerta.

Namun, Emban Prabarasmi harus terheran-heran melihat perempuan

yang baru dikenalnya itu telah menghilang. Emban Prabarasmi telah

memutar tatapan matanya menyusur seorang demi seorang, tetapi

Emban Prabarasmi memang harus merasa kecewa, terlebih-lebih Raden

Kudamerta.

Sebingung apa pun Raden Kudamerta masih memiliki kesadaran

agar gelisah dan kebingungannya itu tak menyolok perhatian. Raden

Kudamerta yang juga melakukan apa yang diperbuat Emban Prabarasmi

memilih sambil bersandar di batang pohon semboja. Satu per satu

perempuan yang bekerja diperhatikannya. Akan tetapi, makin

terguncang-guncang ayunan jantung Raden Kudamerta karena tidak

menemukan jejak istrinya.

”Siapa orang tadi, Raden?” tanya Emban Prabarasmi setelah

mendekat.

Raden Kudamerta memandang Prabarasmi. Raden Kudamerta

makin gelisah. Menghadapi pertanyaan Emban Prabarasmi yang

demikian, betapa amat ingin Raden Kudamerta menjawab dengan sertamerta

bahwa perempuan itu istrinya. Akan tetapi, tak mungkin Raden

Kudamerta melakukan itu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 371

”Emban Prabarasmi, bisakah kau menolongku?” tanya Raden

Kudamerta tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

Hati Emban Prabarasmi runtuh oleh suara yang memelas itu.

”Aku akan menolongmu, Raden.”

”Dan bisakah kau menjaga rahasia, berjanjilah di hadapan Hyang

Widdi kau tidak akan membocorkan rahasia?”

”Aku berjanji, Raden.”

”Cari perempuan itu,” kata Raden Kudamerta. ”Lalu ajaklah tinggal

bersama. Bila ada yang bertanya, katakan saja ia saudaramu. Aku tak

akan pernah melupakan jasamu sampai kapan pun.”

Prabarasmi mengangguk. Emban Prabarasmi mengangguk lebih

dalam ketika Raden Kudamerta melepas gelang yang dipakai. Gugup

Emban Prabarasmi menerima gelang yang pasti berharga sangat mahal

itu.

”Cari dia sampai kautemukan. Aku akan sangat kecewa kalau kau

tidak bisa menemukannya. Hanya kamu yang bisa aku andalkan.”

Emban Prabarasmi mengangguk. Meski samar, ia berhasil

menangkap mata Raden Kudamerta yang membasah, petunjuk sangat

nyata adanya hubungan antara Raden Kudamerta dengan perempuan

itu. Apalagi ketika Raden Kudamerta mengelus selendang itu dengan

semua getar perasaannya, amat terbaca betapa rindu bangsawan dari

Pamotan kepada pemilik selendang itu.

”Baik, Raden. Aku akan berusaha menemukan.”

Emban Prabarasmi mengakhiri pertemuannya dengan Raden

Kudamerta dan bergegas kembali sambil membawa segumpal

pertanyaan, siapa perempuan yang tak dikenalnya itu, yang terbukti

demikian berarti di depan Raden Kudamerta. Jawaban rasa penasaran

itu agaknya tidak mungkin dengan menanyai Raden Kudamerta, tetapi

bisa diperoleh dari Dyah Menur andai ia berhasil ditemukan.

Ke mana Dyah Menur? Rupanya Dyah Menur memang telah

menyiapkan diri sebaik-baiknya, bahkan Gajah Mada yang memerhatikan

372 Gajah Mada

dari kejauhan kehilangan jejaknya. Dyah Menur yang berganti baju dan

mengurai rambutnya berubah menjadi sosok lain lagi. Apalagi ketika

Dyah Menur berjalan dengan tubuh agak ditekuk.

Gajah Mada menggamit Pradhabasu.

”Mana perempuan itu?” tanya Gajah Mada.

Pradhabasu mengedarkan pandangan matanya ikut mencari.

”Awasi gerak-gerik perempuan yang baru menemui Raden

Kudamerta itu,” kata Gajah Mada.

Pradhabasu tersenyum, rupanya ada sesuatu yang ia sembunyikan

dalam hati.

”Baik, Kakang,” jawabnya. ”Serahkan tugas itu kepadaku.”

Pradhabasu melaksanakan tugas yang diberikan Gajah Mada

kepadanya dengan sepenuh hati atau bisa pula tidak perlu tugas itu

mendapatkan perhatian sepenuhnya karena Pradhabasu tahu bagaimana

cara menemukan perempuan itu, bahkan ke mana bisa bertemu

dengannya. Perhatian Pradhabasu justru tersita ke arah lain, di seberang

sana seorang bocah sedang bermain tanah. Andaikata Sang Prajaka itu

menoleh.

Dari tempatnya Pradhabasu memerhatikan bagaimana Gagak

Bongol masih menyempatkan diri memberikan perhatian kepada bocah

itu. Akan tetapi, sebagaimana Pradhabasu amat mengenal Sang Prajaka,

bocah itu tak menoleh. Tangannya bermain tanah, namun tatapan

matanya tak bergeser dari satu arah.

Di langit matahari berpendar-pendar menyemburatkan cahayanya

yang gilang-gemilang terang benderang. Gajah Mada yang sedang

memerhatikan biru langit harus memberikan perhatian kepada seorang

prajurit penghubung yang berlari-lari mendekati dirinya.

”Ada apa?” tanya Gajah Mada.

”Ki Patih diminta menghadap para Ratu sekarang juga,” kata prajurit

itu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 373

Gajah Mada mengerutkan keningnya. Gajah Mada merasa telah

tiba waktunya untuk melaporkan hasil penyelidikannya. Dengan para

Ratu memanggilnya, akan ia gunakan kesempatan itu untuk menyampaikan

laporan dan pendapatnya. Tidak perlu menunda-nunda. Makin

cepat Makin baik.

”Ke mana aku harus menghadap?” tanya Gajah Mada.

”Bale Shakuntala, Ki Patih.”

31

Singajaya nama laki-laki itu. Ia merasa berita yang diterimanya

sangat penting sehingga tak sabar menunggu geladi perang di alun-alun

itu berakhir. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat yang diperas setelah

berlari kencang dari makam Antawulan ke alun-alun. Singajaya yang

merasa tidak sabar bahkan memutuskan menyibak segenap prajurit yang

sedang menerima taklimat dari pimpinan masing-masing. Ra Kembar

melihat apa yang diperbuat orang itu. Bergegas Ra Kembar meneriakinya.

”Ada apa?” bertanya Ra Kembar setelah Singajaya berada di

depannya.

”Aku punya berita sangat penting untukmu,” jawab Singajaya.

Ra Kembar mencuatkan sebelah alisnya.

”Berita sangat penting apa?”

Rupanya Singajaya cukup jeli untuk mengukur berapakah nilai berita

yang ia miliki. Kuda milik Ra Kembar sungguh sangat menarik

perhatiannya.

374 Gajah Mada

”Hargai berita yang kubawa ini senilai seekor kuda.”

Ra Kembar terpancing rasa penasarannya. Untuk berita sepenting

apa sampai harus merelakan kudanya?

”Mengapa kamu beranggapan berita yang kaubawa untukku

demikian tinggi nilainya dan pasti akan kubeli?” tanya Ra Kembar.

”Karena,” jawab Singajaya, ”berita yang aku miliki ini bisa

mengantarmu ke jenjang lebih tinggi. Kamu merasa tak senang kepada

Gajah Mada, inilah saatnya kau melakukan sesuatu atas nama rasa tidak

senangmu itu. Kamu punya kesempatan amat besar untuk menarik

perhatian para Ibu Ratu. Kedudukanmu yang sekarang berada di bawah

senopati bisa melesat dan siapa tahu akan melampaui Gajah Mada.

Kuberikan keterangan penting ini untukmu, tetapi ada keterangan ada

uang. Berita amat penting yang kumiliki ini kuberi nilai sama dengan

seekor kuda.”

”Dasar mata duitan,” ucap Ra Kembar.

Singajaya tertawa pendek, ”Bagaimana?”

”Ceritakan dulu, keterangan apa yang akan kauberikan itu.”

Singajaya bersadar punggung pada pohon bramastana, matanya

sedikit disipitkan berhadapan dengan cahaya matahari yang menyapu

wajahnya.

”Keterangan ini kudengar langsung dari pembicaraan antara Gajah

Mada dan anak buahnya. Mereka berbicara di luar dinding Antawulan

dan aku mendengar dari dalam dinding. Pembicaraan mereka kutangkap

dengan jelas tanpa satu kalimat pun yang tercecer. Beberapa telik sandi

Bhayangkara yang kukenali namanya, antara lain mantan Bhayangkara

Pradhabasu, Bhayangkara Kendit Galih, dan Bhayangkara Riung

Samudra melaporkan adanya pihak tertentu akan melakukan pemberontakan,

bahkan Bhayangkara Riung Samudra melaporkan sepak

terjangmu yang menjelek-jelekkan Gajah Mada di setiap kesempatan.”

Berubah tegang wajah Ra Kembar.

”Riung Samudra melaporkan aku menjelek-jelekkan Gajah Mada?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 375

Singajaya mengangguk.

”Bukankah itu yang kaulakukan selama ini?” tanya Singajaya.

”Sikap Gajah Mada bagaimana?”

”Gajah Mada tidak menganggap laporan Riung Samudra itu sebagai

hal yang penting dan perlu ditanggapi. Namun, laporan Bhayangkara

Kendit Galih mengenai adanya pihak yang akan melakukan makar yang

justru menarik perhatian Gajah Mada. Kurasa bakal akan ada perang.

Masalahnya perang ini apakah milik Gajah Mada yang dengan demikian

akan makin melambungkan namanya atau menjadi perangmu yang akan

melambungkan namamu? Kudengar desas-desus, bahkan Empu Krewes

menjagokan Gajah Mada kelak menggantikan kedudukannya. Nah, kalau

sampai Gajah Mada menjadi mapatih kamu akan mendapatkan

kedudukan apa? Setinggi apa pun pangkatmu, kau hanya akan menjadi

bayang-bayang Gajah Mada. ”

Empu Krewes yang dimaksud adalah nama lain Arya Tadah,

pengganti Patih Kala Yudha. Kala Yudha adalah mahapatih di Majapahit

menggantikan Nambi. Ra Kembar harus mengakui apa yang dikatakan

Singajaya itu. Pada sebuah pertemuan, secara terbuka Arya Tadah pernah

mengemukakan harapannya bahwa kelak Patih Daha tak hanya akan

menjadi patih kecil di Daha, namun amangkubumi di kotaraja.

Rasa ingin tahu Ra Kembar tak bisa dikendalikan lagi. Ra Kembar

membawa Singajaya menjauh agar bisa berbicara leluasa tanpa harus

berbisik-bisik. Di bawah pohon Bramastana berikutnya mereka

berbincang.

Di alun-alun, setelah taklimat yang diberikan masing-masing

pimpinannya, pasukan segelar sepapan yang beristirahat sejenak itu

mempersiapkan diri untuk kembali berlatih. Tambur dipukul dengan

berderap menjadi pembakar semangat. Suara tambur kemudian

dilanjutkan dengan bunyi sangkakala yang melengking tinggi membelah

udara. Suara anak panah yang dilepas ke langit susul-menyusul

merupakan perintah yang harus dipahami karena tidak mungkin perintah

diberikan hanya dengan berteriak. Dan ketika bende Kiai Samudra

ditabuh dalam latihan berkekuatan segelar sepapan itu, suaranya

376 Gajah Mada

menggetarkan udara dari ujung ke ujung. Bila ada yang berani berada

pada jarak amat dekat ketika bende itu dihantam pemukulnya akan

merupakan jaminan bakal jebol gendang telinga orang itu.

”Lanjutkan,” kata Ra Kembar.

Singajaya tertawa pendek.

”Senilai kuda.”

Apa boleh buat, Ra Kembar harus merelakan kudanya.

”Ambil kudaku.”

Singajaya memerhatikan kuda hitam yang sedang merumput dengan

diikat di pohon kesara. Kuda milik Rakrian Kembar benar-benar kuda

yang membuatnya iri. Kini kuda itu akan menjadi miliknya.

”Ada sebuah kekuatan yang diam-diam mempersiapkan diri

melakukan makar di sebuah tempat bernama Karang Watu. Mereka

membangun kekuatan yang kelak akan digunakan untuk memberontak.

Menurut pembicaraan itu disimpulkan, kekuatan makar itu ada

hubungannya dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi kemarin.

Kekuatan makar itu menggunakan lambang buah maja yang dibelit ular,

dipimpin oleh seorang pemuda bernama Raden Panji Rukmamurti. Gajah

Mada akan menyerbu kekuatan itu, tetapi menurutku, kau mempunyai

kesempatan untuk mendahului. Jika kau berhasil mematahkan kekuatan

pemberontakan itu, artinya apa yang kaulakukan menyamai apa yang

dilakukan Gajah Mada ketika meredam Ra Kuti. Tak menutup

kemungkinan pangkat dan jabatanmu akan melesat membelah langit.”

Wajah Ra Kembar sangat berseri-seri. Kesempatan yang diidamidamkan

itu kini telah berada di depannya. Tidak ada ruginya ia menjalin

persahabatan dengan Singajaya meskipun ia mata duitan.

”Karang Watu?” tanya Ra Kembar.

Singajaya mengangguk.

”Kautahu tempat itu?” balas Singajaya.

Ra Kembar meliukkan badan, melemaskan otot-otot.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 377

”Ya. Sebuah pedukuhan yang terlindung oleh tebing tinggi dan

sungai meliuk. Menurutku sangat masuk akal bila pedukuhan itu dijadikan

tempat kegiatan macam itu. Jika pintunya yang berbentuk leher angsa

dijaga ketat maka tak seorang pun yang akan tahu apa kegiatan yang

terjadi di sana.”

”Rupanya ada rencana makar di sana?” gumam Kembar.

”Itulah yang kudengar dari pembicaraan itu.”

”Baiklah,” ucap Ra Kembar. ”Aku sangat menghargai keterangan

yang kamu jual kepadaku. Sebagaimana saranmu, aku akan bertindak

cepat. Akan aku kumpulkan teman-temanku. Cukup hanya dengan

mereka dan para anak buahku, tempat yang kausebut itu akan bosahbaseh.

Tak perlu menunggu besok, tengah malam ini juga akan kugempur

mereka yang berani coba-coba berniat makar itu. Akan kulihat bagaimana

raut wajah Gajah Mada setelah melihat sepak terjangku.”

Dengan hati gembira Singajaya pulang dengan membawa kuda. Ra

Kembar tidak kecewa harus berpisah dengan kudanya karena sepadan

dengan keterangan penting yang ia peroleh. Di samping itu, Kembar

masih memiliki seekor kuda lain yang tidak kalah kekar dari Kiai Srubut,

demikian nama yang ia berikan pada kudanya yang berwarna hitam.

Meski telah merencanakan untuk mendahuli menyerbu Karang

Watu tengah malam nanti, Ra Kembar tidak merasa perlu tergesa-gesa.

Ra Kembar kembali menyatu dengan pasukan yang berlatih keras

menerjemahkan perintah. Beberapa kali dilakukan perubahan gelar

perang dari Diradameta menjadi gelar Cakrabyuha, namun hasilnya masih

kurang memuaskan. Itu sebabnya, latihan itu diulang dan diulang lagi.

Suara tambur yang menjadi isyarat, suara bende yang menjadi perintah,

dan lengking sangkakala yang menuntun perubahan bentuk gelar, dipukul

berderap dan beruntun menyatu dengan sangkakala yang menggetarkan

udara.

Ra Kembar memanfaatkan latihan sebaik-baiknya. Barangkali gelar

perang itu akan dibutuhkan ketika penyerbuan ke Karang Watu

dilakukan.

378 Gajah Mada

”Aku akan libatkan Kakang Singa Darba dan Kakang Ajar Langse.

Gabungan kekuatan yang aku miliki ditambah kekuatan mereka kurasa

cukup untuk menghajar orang-orang yang akan melakukan makar itu.

Para Ratu akan terperangah melihat apa yang kukerjakan dan benar apa

kata Singajaya, tak ada ruginya aku kehilangan kuda,” kata hati Ra

Kembar.

Di kejauhan, sedang memimpin pasukan dalam satuan kecil, prajurit

bernama Singa Darba dan Ajar Langse juga sedang terlibat dalam latihan

perang yang terjadi.

Sang waktu terus bergerak menapaki kodratnya. Matahari di langit

memanjat makin tinggi dan makin membakar keringat mereka yang

sedang terlibat geladi perang segelar sepapan itu. Matahari juga mengantarkan

mereka yang bekerja keras di makam Antawulan. Gagak Bongol

yang menyempatkan memberi perhatian kepada anak angkatnya merasa

bangga melihat kerja keras tanpa pamrih itu.

”Sang Prajaka, lihat aku.”

Namun, Sang Prajaka tak menggeser pandangan matanya dari satu

titik. Wajah pamannya mengusik simpul kerinduannya. Sang Prajaka tidak

tahu, bahkan Gagak Bongol juga tidak tahu, di kejauhan seorang lelaki

dengan langkah dibuat terpincang-pincang memerhatikannya.

32

Gajah Mada merasa tak memiliki waktu yang cukup karena

demikian banyak masalah yang dihadapinya. Belum tuntas sebuah

masalah, muncul masalah yang lain. Persoalan yang dilaporkan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 379

Bhayangkara Kendit Galih cukup banyak menyita pikiran. Sayang sekali,

Gajah Enggon tak bisa diandalkan lagi. Gajah Enggon masih tersesat

ke dunia lain belum siuman juga. Keadaan Gajah Enggon yang demikian

memberikan kecemasan tersendiri, jangan-jangan Gajah Enggon

kebablasan.

Persoalan yang ditangani demikian pelik dan menempatkan Gajah

Mada ke dalam keadaan serba salah. Terhadap perbuatan Raden

Cakradara yang nyaris bisa diyakini terlibat secara langsung atau tak

langsung dalam pembunuhan-pembunuhan dan rencana makar yang

terjadi, Gajah Mada belum bisa bertindak. Pun demikian terhadap

perbuatan Raden Kudamerta, Gajah Mada tidak bisa melakukan apaapa.

Itu sebabnya, Patih Daha Gajah Mada memutuskan untuk

melaporkan secara lengkap semua hasil penyelidikannya. Kebetulan para

Ibu Ratu memanggilnya.

Gajah Mada yang melintas Bale Manguntur tiba-tiba membelokkan

langkah ke Bale Gringsing, terpikir olehnya untuk menengok keadaan

Gajah Enggon. Namun, tidak ada perubahan apa pun pada Gajah

Enggon. Senopati pimpinan pasukan Bhayangkara itu masih pada

keadaan semula. Apabila ada perubahan adalah wajahnya makin bersih.

Hal itu karena dengan telaten Nyai Lengger merawatnya. Untuk menjaga

agar Gajah Enggon masih tetap bertenaga, setetes demi setetes air gula

diminumkan ke mulutnya. Yang menarik perhatian Gajah Mada adalah

beberapa jenis buah-buahan yang ditata rapi di meja. Ada belimbing,

pisang, dan mangga.

”Siapa yang membawa buah-buahan ini, Nyai?” tanya Gajah Mada.

Nyai Lengger yang terkantuk-kantuk terkejut dan bergegas bangkit.

”Tuan Putri Sekar Kedaton, Ki Patih,” jawab Nyai Lengger.

”Sekar Kedaton ada dua,” jawab Gajah Mada.

”Dua-duanya.”

Gajah Mada tersenyum, ”Apakah para Tuan Putri tidak berpikir,

buah itu tidak ada artinya. Buah itu untuk Gajah Pradamba bukan?”

”Benar, Ki Patih,” jawab Nyai Lengger.

380 Gajah Mada

”Bagaimana Gajah Pradamba bisa makan jika keadaannya seperti

itu?” ucap Gajah Mada.

Pikiran serupa ada dalam benak Nyai Lengger. Namun, hal itu bukan

berarti Sekar Kedaton tak melihat kiriman buah-buahan itu tidak ada

artinya. Yang benar adalah bahwa para Sekar Kedaton memiliki perhatian

pada keadaan Gajah Enggon. Bahkan Sekar Kedaton Dyah Wiyat berniat

hendak menjaga dan merawat secara langsung yang akan dilakukan

malam nanti.

Patih Daha Gajah Mada keluar dari ruangan itu untuk melanjutkan

rencananya menghadap para Ibu Ratu. Tepat di depan pintu, Gajah

Mada berpapasan dengan Singa Darba dan Ajar Langse. Dua prajurit

berpangkat lurah itu segera memberikan hormat dan memekarkan

senyum.

”Mau ke mana kalian?” tanya Gajah Mada.

”Menengok Senopati Enggon,” jawab Ajar Langse.

”O ya, silakan.”

Tak ada pembicaraan apa pun karena Gajah Mada merasa tergesa.

Dengan kaki mengayun langkah lebar, Gajah Mada menuju bagian

belakang istana utama. Ayunan langkahnya tak terganggu meski di

kejauhan Gajah Mada melihat Ra Kembar menuju tempat ia berada.

Gajah Mada segera teringat pada apa yang dilaporkan Riung Samudra.

Apabila menuruti panasnya hati, bisa berantakan wajah Ra Kembar

melalui hantaman kepalan tangannya. Akan tetapi, Gajah Mada

membuang jauh rasa jengkel itu. Apa yang dilakukan Ra Kembar tidak

lebih hanya ulah anak kecil yang berusaha mencari perhatian.

”Tidak ada gunanya meladeni bocah kemarin sore itu,” ucapnya

untuk diri sendiri.

Gajah Mada melintas halaman belakang, beberapa orang prajurit

yang sedang beristirahat serentak berdiri memberikan penghormatannya.

”Silakan, Ki Patih, para Tuan Putri sudah menunggu,” kata salah

seorang di antara mereka.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 381

”Di mana para Tuan Putri?” tanya Gajah Mada.

”Di ruang Shakuntala,” jawab salah seorang prajurit. ”Patih Arya

Tadah juga berada di sana.”

”Para Tuan Putri lengkap?”

”Lengkap,” jawab prajurit itu lagi.

Patih Daha Gajah Mada yang hendak melanjutkan langkah

menyempatkan memerhatikan keadaan di tempat itu. Melihat

pemandangan yang kurang elok Patih Daha bertolak pinggang, sontak

matanya mendelik. Dengan segera para prajurit yang sedang berkumpul

membaca kemarahan di wajah Gajah Mada.

”Siapa yang membuang kotoran itu?”

Pertanyaan itu mengagetkan para prajurit. Mereka saling pandang

di antara mereka sendiri. Namun, dengan segera mereka merasa di

hadapan Gajah Mada tidak ada gunanya saling menyalahkan. Apalagi,

semua mempunyai andil terhadap kotoran daun-daun pembungkus nasi

bungkus itu. Nasi bungkus yang diambil dari makam Antawulan.

”Bersihkan, jangan membuang kotoran seenaknya,” kata Gajah

Mada tegas.

Enam orang prajurit itu merasa beruntung karena Gajah Mada tidak

memberi hukuman pada mereka. Dengan bergegas sampah yang

berceceran dipunguti dan dibuang ke tempat semestinya.

Akan tetapi, di antara prajurit itu ada yang suka iseng. Di belakang

Gajah Mada yang berjalan makin jauh ia menjulurkan lidah sambil

memutar-mutar pantatnya. Ia bermaksud melucu di depan temantemannya.

Celaka nasib prajurit itu karena dengan tiba-tiba Gajah Mada

menoleh dan melihat perbuatannya.

Gajah Mada berjalan berbalik, pucat pasi prajurit itu.

”Apa yang kamu lakukan itu?” teriak Gajah Mada.

Prajurit itu mendadak merasa tidak lagi memiliki mulut dengan wajah

pucat sepucat mayat. Teman-temannya terbelalak melihat kejadian yang

tidak terduga sama sekali.

382 Gajah Mada

”Apa yang tadi kamu lakukan?”

Prajurit konyol berpangkat rendahan itu gemetar ketakutan.

”Aku minta maaf, Ki Patih,” ucapnya mengiba. ”Aku hanya

bercanda. Aku minta maaf.”

Gajah Mada jengkel sekali dan merasa dilecehkan.

”Jadi, seperti itukah sikap prajurit di belakangku?”

Pertanyaan yang menyengat pantat itu tidak ada yang berani

menjawab.

”Lepas baju kalian semua,” teriak Gajah Mada.

Tak perlu diperintah lagi para prajurit yang bernasib sial secara

bersama-sama harus menanggung ulah temannya itu melepas baju.

”Berlari mengelilingi lapangan dua puluh lima kali.”

Perintah telah dijatuhkan dan tidak lagi bisa ditawar. Geladi perang

baru saja mereka selesaikan dan itu amat menguras tenaga. Kini, Gajah

Mada memberi hukuman berlari dua puluh lima kali. Tanpa perlu diulang

lagi perintah itu, para prajurit yang yang sedang apes itu berhamburan

menuju alun-alun.

Sepeninggal mereka, Gajah Mada tersenyum dan kembali mengayunkan

langkah kakinya menuju Bale Shakuntala. Di sana sebagaimana

niatnya, di hadapan para Ratu ia akan beberkan semua hasil penyelidikannya

tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Tindakan apa yang

nantinya diberikan kepada Raden Cakradara atau Raden Kudamerta,

sepenuhnya akan diserahkan pada para Ibu Ratu.

Ibu Ratu Gayatri tentu menganggap persoalan yang akan dibicarakan

sangat penting menilik telah mengundang para Ratu lengkap

dihadiri pula oleh Arya Tadah. Pertemuan itu belum bisa dimulai karena

harus menunggu Gajah Mada. Tidak mungkin ada pembicaraan tanpa

melibatkan Gajah Mada. Seorang abdi dalem pelayan bagian dalam

bergegas membukakan pintu saat melihat Gajah Mada datang.

”Silakan, Ki Patih Daha,” ucap abdi dalem itu mempersilakan. ”Para

Ratu sudah lengkap menunggu!”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 383

”Terima kasih,” jawab Gajah Mada.

Adakah ruangnya yang murung atau para Ratu sedang murung

menyebabkan ruang Bale Shakuntala tampak berbeda dari biasanya,

terlihat ikut suram. Para Ratu duduk lengkap di atas dampar masingmasing.

Ibu Ratu Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari tak

berbicara apa pun. Pandangan matanya yang jatuh ke satu titik tak

bergeser ke arah lain meski mendengar pintu dibuka dan Gajah Mada

masuk. Hal itu menjadi pertanda betapa Ibu Ratu Tribhuaneswari sangat

prihatin pada perkembangan keadaan yang tidak terduga.

Gajah Mada yang beringsut mendekat melihat betapa layu Ratu Sri

Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, tampak lunglai menjadi pertanda

keprihatinannya yang mendalam. Duduk di tengah, sangat sulit menebak

apa yang ada di benak Ibu Ratu Sri Jayendradewi Dyah Dewi Rajapatni

Biksuni Gayatri dengan wajahnya yang datar-datar saja. Bahkan Ibu Ratu

Sri Jayendradewi Dyah Dewi Pradnya Paramita terlihat lebih tegas dalam

menampakkan warna hatinya melalui butiran-butiran air mata yang

bergulir di pipi.

Empu Krewes biasanya mendapatkan kursi tersendiri. Akan tetapi,

untuk kali ini Empu Krewes yang juga memiliki nama Arya Tadah itu

memilih duduk bersila di atas hamparan permadani yang lebih empuk

di pantat daripada kursi. Apalagi, Tadah duduk bersila dengan bersandar

pada tiang saka.

Gajah Mada segera mendahului berbicara.

”Hamba Patih Daha telah menghadap, para Ratu!” ucapnya.

Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri agaknya mengalami kesulitan

memulai pertemuan itu menilik meskipun telah beberapa jenak belum

sekalimat pun keluar dari mulutnya. Ibu Ratu Tribhuaneswari yang

terlihat tidak sabar.

Akhirnya, Ratu Gayatri mulai membuka pembicaraan.

”Gajah Mada,” Ratu Gayatri menyebut nama.

Gajah Mada segera merapatkan kedua telapak tangannya dan

membawanya ke ujung hidung. Penghormatan itu dibalas dengan

anggukan.

384 Gajah Mada

”Hamba, Tuan Putri,” dalam sikap itu Gajah Mada menjawab.

”Apakah kamu sudah merasa siap melaporkan hasil

penyelidikanmu?” tanya Ratu Gayatri. ”Kalau sudah, bicaralah tanpa

harus ada yang disembunyikan. Sebagian dari yang akan kaulaporkan

sudah kami dengar dari Kakang Arya Tadah.”

Gajah Mada yang duduk bersila menegakkan sikap duduknya.

Mahapatih Arya Tadah mengangguk pendek ketika Gajah Mada

meliriknya. Namun, tidak ada senyum dari bibir kakek tua yang biasanya

murah senyum itu.

”Apabila hamba boleh tahu, keterangan apakah yang telah

didahulukan oleh Paman Arya Tadah?” tanya Gajah Mada.

Ratu Gayatri menyempatkan memandangi wajah para kakaknya.

”Tribhuana menyampaikan pesannya yang ditujukan kepada kami

melalui Paman Arya Tadah mengenai ketidaksediaannya diangkat

menjadi ratu. Tribhuanatunggadewi merasa memiliki alasan yang kuat

untuk tidak mau dipilih dan lebih menganjurkan agar Dyah Wiyat yang

diangkat menjadi ratu menggantikan Jayanegara.”

Gajah Mada tidak merasa perlu tergesa menjawab. Gajah Mada

memilih menunggu Ratu Gayatri melanjutkan ucapannya.

”Kau sudah memiliki keterangan, penyebab apa yang mendorong

Sri Gitarja mengambil keputusan macam itu?”

”Hamba hanya bisa menebak, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada.

”Mohon Tuan Putri berkenan melengkapi.”

Ratu Gayatri merasa yakin Gajah Mada sudah mengetahui, mengapa

Tribhuanatunggadewi mengambil keputusan yang demikian.

Pengetahuan itu tentu didukung oleh jaringan telik sandi Bhayangkara

yang mampu menjangkau ke wilayah paling tersembunyi.

”Menurut Sri Gitarja, suaminya terlibat dalam pembunuhanpembunuhan

yang terjadi kemarin. Semalam di tengah malam Sri Gitarja

mencuri dengar pembicaraan suaminya dengan orang yang dipanggil

dengan panggilan paman di kandang kuda. Bagaimana menurutmu?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 385

Gajah Mada sebagaimana sikap dan sifatnya yang tegas dan tanpa

tedheng alingaling melaporkan semua hasil penyelidikannya. Para Ratu

menyimak dengan saksama saat Gajah Mada mengajak mengenang sepak

terjang pembesar Majapahit yang dihukum mati karena fitnahnya.

Dengan segera para Ratu teringat Mahapati atau Ramapati, pemilik wajah

celingus yang jahatnya minta ampun. Melalui kenangan itu Gajah Mada

menggiring para Ratu untuk mengenang Brama Ratbumi, sosok yang

lebih jahat yang telah menghilang lama tidak diketahui jejaknya. Brama

Ratbumi yang adalah tangan kanan Ramapati langsung lenyap tak

terdengar jejaknya bersama berakhirnya hidup Ramapati yang dijatuhi

hukuman ditebas lehernya dengan pedang.

Melalui mengenang nama itulah Gajah Mada menceritakan siapa

orang-orang yang terbunuh yang masing-masing adalah para pendukung

Raden Kudamerta. Para korban dan bahkan termasuk Raden Kudamerta

harus disingkirkan karena adanya pihak yang berniat merebut kekuasaan.

Bagaikan berhenti berdenyut jantung para Ibu Ratu ketika Gajah

Mada menguraikan kemungkinan Raden Cakradara benar terlibat di

belakang semua kejadian itu. Gajah Mada menguraikan bahwa di

belakang suami Sri Gitarja ada nama yang sangat layak dicurigai, orang

itu adalah Pakering Suramurda yang berhasil disadap pembicaraannya

dengan Raden Cakradara oleh Bhayangkara. Gajah Mada melengkapi

ceritanya dengan orang lain yang berada di belakang Raden Kudamerta

bernama Panji Wiradapa, yang terbunuh dan amat mungkin adalah

kehadiran kembali Brama Ratbumi yang telah murca sekian lama itu.

Gajah Mada juga melengkapi ceritanya dengan adanya sosok bernama

Rangsang Kumuda yang masih belum tuntas diketahui siapa sesungguhnya.

Isi dada segenap Ratu selanjutnya bagai porak-poranda ketika

penjelasan Patih Daha Gajah Mada menguraikan sisi lain diri Raden

Kudamerta yang ternyata memang benar telah beristri. Makin hening

Bale Shakuntala itu ketika Gajah Mada bercerita tentang sepak terjang

orang-orang yang berebut takhta yang ternyata telah bertindak lebih

jauh dengan menghimpun kekuatan di sebuah tempat bernama Karang

386 Gajah Mada

Watu. Tak lupa Gajah Mada juga melaporkan perkembangan keadaan

Gajah Enggon yang belum menampakkan keadaan membaik.

”Demikianlah apa yang bisa hamba laporkan, Tuan Putri,” kata

Gajah Mada.

Hening yang menggerataki Bale Shakuntala itu menyudutkan para

Ratu tak bisa berbicara apa pun. Ratu Tribhuaneswari merasa sangat

kecewa manakala mengenang, ia yang dulu menggagas hubungan antara

Sri Gitarja dengan bangsawan dari Singasari itu. Raden Cakradara yang

diunggulkan dan dipuji-puji itu ternyata menyembunyikan bulu-bulu di

jantungnya.

Sebaliknya, Ibu Ratu Gayatri berusaha mengendapkan rasa

kecewanya dengan menggunakan cara pandang takdir. Bahwa setiap

orang memiliki suratan nasib sendiri-sendiri. Penguasa jagat raya telah

menggariskan nasibnya. Demikian agaknya yang harus dialami Dyah

Wiyat yang ternyata bersuamikan lelaki yang telah memiliki istri. Dengan

cara pandang yang demikian, Ratu Gayatri berusaha menerima kenyataan

itu dengan ikhlas.

”Gajah Mada,” terdengar suara Ratu Pradnya Paramita.

Patih Daha Gajah Mada sedikit memutar sikap duduknya mengarah

kepada Ratu Pradnya Paramita. Rupanya istri ketiga mendiang Prabu

Kertarajasa Jayawardhana itu berbicara sambil memejamkan mata.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada tegas.

”Bagaimana dengan pendapatmu sendiri?”

Gajah Mada kembali merapatkan kedua telapak tangannya dan

membawanya ke ujung hidung.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada. ”Dalam hal siapa yang

berhak atas dampar kencana, hamba hanya melihat para Sekar Kedaton

tanpa harus melihat siapa Raden Cakradara dan siapa pula Raden

Kudamerta, yang ternyata punya kekurangan itu. Tepatnya keputusan

untuk mengangkat ratu, apakah itu Tuan Putri Sri Gitarja atau Tuan

Putri Dyah Wiyat tidaklah dengan tujuan memberi peluang kepada orang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 387

lain menjadi raja. Menjadi suami ratu bukanlah dengan sendirinya menjadi

raja,” jawab Gajah Mada.

Udara mengalir sedikit gerah karena di luar matahari sedang

merajalela dan ganas-ganasnya. Arya Tadah yang semula lebih banyak

diam itu akhirnya meminta perhatian. Arya Tadah beringsut dan

menyembah.

”Apa pendapatmu, Paman Arya Tadah?” tanya Ratu Gayatri.

”Hamba mohon izin untuk bertanya sesuatu kepada Gajah Mada,”

jawab Empu Krewes Arya Tadah.

”Silakan, Paman Tadah,” jawab Ratu Gayatri.

Gajah Mada mempersiapkan diri mengarahkan perhatiannya kepada

Arya Tadah.

”Sekar Kedaton Gitarja menceritakan kepadaku, suaminya tak

terlibat secara langsung. Yang bernafsu menguasai takhta itu pamannya,

bagaimana menurutmu?”

Gajah Mada beringsut untuk bisa berhadapan langsung dengan Arya

Tadah.

”Mungkin benar apa yang dikatakan Sekar Kedaton Gitarja, namun

Raden Cakradara melakukan kesalahan dengan menyembunyikan apa

yang ia ketahui. Siapa yang mengetahui rencana kejahatan dan tidak

melaporkan rencana itu, orang itu bisa dianggap salah, Paman! Namun,

untuk lebih jelasnya aku harus berhasil menangkap dan memeriksa

Pakering Suramurda. Apabila Pakering Suramurda sudah berhasil

ditangkap maka rangkaian cerita pembunuhan yang menjadi bagian dari

rencana makar itu akan terkuak dengan gamblang.”

Arya Tadah kembali mengarahkan tatapan matanya kepada Ratu

Gayatri.

”Bagaimana, Paman Tadah?” tanya Gayatri.

”Apakah Tuan Putri sudah berencana akan memanggil Raden

Cakradara dan Raden Kudamerta dan menanyai persoalan mereka?”

388 Gajah Mada

Ratu Gayatri menggeleng.

”Aku serahkan persoalan itu sepenuhnya kepada Gajah Mada. Bila

Gajah Mada sudah menuntaskan pekerjaannya, barulah aku akan

memanggil mereka. Atau, apakah Paman Tadah mempunyai pendapat?”

Sigap Arya Tadah menjawab, ”Hamba sependapat dengan Tuan

Putri Gayatri. Hamba hanya ingin menekankan pendapat Gajah Mada.

Ketika Para Tuan Putri telah mengambil keputusan mengangkat ratu,

harus ditegaskan bahwa suami ratu hanya menyandang kedudukan

sebagai suami dan tak berhak menduduki dampar mengatasnamakan

istrinya. Yang menyelenggarakan pemerintahan adalah ratu. Suami ratu

bukanlah raja. Hal tersebut perlu diundangkan agar semua pihak,

termasuk mereka yang berangan-angan merebut kekuasaan itu

mengetahui hal itu.”

Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri memejamkan mata untuk

menimbang semua hal menggunakan kejernihan mata hatinya. Dua

wajah, apakah Sri Gitarja dan Dyah Wiyat, satu di antara mereka harus

mengalah untuk memberi kesempatan kepada salah satu yang terpilih.

Lalu siapa yang harus ditunjuk untuk mengemban tugas demikian berat

itu? Sri Gitarja? Dyah Wiyat? Siapa yang harus dikalahkan dari dua nama

itu?

Manakala Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri membuka mata bukan

karena telah mengambil keputusan, tetapi oleh ketukan di pintu.

Seseorang berani mengetuk pintu mengganggu pertemuan itu tentulah

karena membawa persoalan yang sangat penting. Pintu terbuka perlahan.

Bhayangkara Macan Liwung menampakkan wajahnya.

”Ada apa, Bhayangkara Macan Liwung?” tanya Gajah Mada.

”Minta izin melaporkan sebuah peristiwa penting, Kakang Gajah.”

”Peristiwa apa?” tanya Gajah Mada.

”Pembunuhan terjadi lagi, kali ini di Bale Gringsing.”

Betapa terkejut Gajah Mada yang dengan seketika terbayang kepada

Senopati Gajah Enggon.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 389

”Siapa yang terbunuh di Bale Gringsing?”

”Lurah Prajurit Ajar Langse,” jawab Bhayangkara Macan Liwung.

Gajah Mada menarik napas lega setelah mengetahui bukan Gajah

Enggon yang terbunuh di Bale Gringsing. Akan tetapi, bahwa

pembunuhan itu terjadi di tempat itu membuat Gajah Mada penasaran.

Apalagi yang terbunuh adalah Ajar Langse yang belum lama berpapasan

dengannya.

”Tadi aku berpapasan dengannya, sekarang sudah mati. Bagaimana

peristiwa itu terjadi?”

”Aku tidak tahu, Kakang Gajah. Tak seorang pun tahu siapa yang

membunuh Lurah Prajurit Ajar Langse. Pisaunya sendiri menancap di

dadanya,” Bhayangkara Macan Liwung menjawab.

Gajah Mada mengarahkan perhatiannya kepada Ratu Gayatri.

”Mohon izin, Tuan Putri. Hamba harus memeriksa Bale Gringsing.”

”Kamu punya penjelasan awal, mengapa ada pembunuhan di Bale

Gringsing, Gajah Mada?” tanya Ratu Gayatri.

”Belum, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada. ”Hamba berpapasan

dengan Ki Lurah Ajar Langse dan Ki Lurah Singa Darba ketika dalam

perjalanan kemari. Sekarang tiba-tiba saja hamba menerima kabar Ajar

Langse terbunuh.”

”Apakah pembunuhan terakhir ini masih ada hubungannya dengan

kejadian belum lama sebelumnya? Apakah Ajar Langse juga pendukung

Raden Kudamerta?”

Gajah Mada menyembah.

”Hamba belum bisa menarik simpulan apa pun,” jawab Gajah Mada.

”Baiklah, Gajah Mada, kuizinkan kamu meninggalkan tempat ini.

Kamu lebih dibutuhkan untuk menguak peristiwa itu.”

Setelah memberikan penghormatannya kepada masing-masing

Ratu, Patih Daha bergegas menuju Bale Gringsing yang berada tidak

390 Gajah Mada

jauh dari Bale Shakuntala. Patih Daha melihat tempat itu telah ramai

oleh orang-orang yang mengerumuni mayat Ajar Langse. Di antara yang

menyaksikan bahkan terlihat Raden Kudamerta dan Raden Cakradara.

Beberapa saat kemudian dari salah satu pintu penghubung hadir pula

Sekar Kedaton Dyah Wiyat yang terusik pula rasa ingin tahunya. Di

sudut ruang tak jauh dari Sekar Kedaton Dyah Wiyat, Nyai Lengger

tampak gemetaran. Perempuan tua itu mengalami kesulitan meredam

kekagetannya.

Bhayangkara Jayabaya dan Riung Samudra bergegas menjemput

Patih Daha.

”Apa yang terjadi?” tanya Gajah Mada.

”Kejadiannya seperti terjadi begitu saja. Dari kejauhan aku melihat

Ki Ajar Langse berkelahi dengan entah siapa. Ketika aku berlari

mendatangi, Ki Ajar Langse mati dengan pisau tertikam di perutnya.

Pelakunya menghilang ke sana atau mungkin ia melompati dinding.

Pelakunya tidak mengenakan pakaian, ia bertelanjang dada,” jawab

Bhayangkara Jayabaya.

Gajah Mada mencari-cari wajah seseorang. Pemilik wajah yang

dicarinya tak mampu menguasai diri. Nyai Lengger yang mendapat tugas

merawat Gajah Enggon meringkuk bersandar dinding.

”Tolong semua keluar, tinggalkan tempat ini,” perintah Gajah Mada

terdengar amat lantang.

Semua tak terkecuali, tanpa perintah itu diulang kembali bergegas

keluar dari ruangan itu. Nyai Lengger yang juga hendak keluar dicegah

oleh Gajah Mada. Betapa takut Nyai Lengger, terbaca dari tangannya

yang gemetar hebat. Untuk menenangkan Nyai Lengger, Gajah Mada

menepuk-nepuk pundaknya. Gajah Mada bahkan memberi pelukan yang

ternyata mampu menenteramkan perempuan itu. Beberapa jenak Patih

Daha bersirobok pandang dengan Dyah Wiyat. Gajah Mada

mengangguk perlahan dan Dyah Wiyat berbalik.

”Apa yang Nyai Lengger lihat?”

”Aku tidak tahu, Ki Patih. Bagaimana ceritanya Ki Lurah Langse

terbunuh aku sungguh tidak tahu, kejadiannya begitu cepat. Semula Ki

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 391

Ajar Langse dan Ki Singa Darba datang menengok, aku masih menunggui

Senopati Gajah Enggon. Lalu datang lagi Rakrian Kembar ikut

menengok. Aku terpaksa menjauh ketika Rakrian Kembar bergabung.”

Gajah Mada mencuatkan alisnya.

”Kenapa?”

”Karena Rakrian Kembar tidak ingin aku ikut mendengar

pembicaraannya,” jawab Nyai Lengger.

”Lalu?” Gajah Mada memberi tekanan.

”Sepertinya terjadi perselisihan pendapat antara mereka bertiga.

Tak jelas apa yang mereka bicarakan meski aku sudah berusaha menajamnajamkan

telingaku. Aku melihat Ki Singa Darba keluar lebih dulu dari

ruangan ini. Beberapa jenak antara Ki Ajar Langse dan Ra Kembar masih

terjadi pembicaraan sambil berbisik-bisik. Kemudian aku lihat Rakrian

Kembar keluar sehingga yang tinggal hanya Ki Ajar Langse dan Senopati

Gajah Enggon.”

Gajah Mada memandang Nyai Lengger langsung menusuk ke bola

matanya. Gajah Mada masih menunggu Nyai Lengger melanjutkan katakatanya,

namun Riung Samudra datang mendekat meminta perhatian.

”Kutemukan sebuah jejak, Kakang Gajah,” kata Riung Samudra.

”Orang yang membunuh Lurah Ajar Langse melompati dinding, ada

jejak darah di tembok ketika pelaku pembunuhan itu berusaha

meninggalkan tempat ini.”

Gajah Mada tidak memberikan jawaban untuk laporan itu,

perhatiannya terarah kepada Nyai Lengger.

”Lanjutkan ceritamu, Nyai,” kata Gajah Mada.

Nyai Lengger menarik napas amat panjang untuk menenangkan

diri.

”Sayang sekali saat itu aku terganggu oleh keinginan kencing yang

tidak bisa aku tahan. Aku pun pergi ke kulah. Saat aku kembali, Ki Lurah

Ajar Langse tergeletak di dekat pintu dalam keadaan tak bernyawa.”

392 Gajah Mada

Gajah Mada bangkit dan mengedarkan pandangan matanya ke tiap

sudut Bale Gringsing, mungkin bisa menemukan jejak apa pun yang

tertinggal. Patih Daha Gajah Mada hanya bisa berandai-andai, andaikata

kepada Senopati Gajah Enggon bisa diajukan pertanyaan, andaikata

Gajah Enggon tidak dalam keadaan pingsan. Dengan penuh perhatian

Gajah Mada memerhatikan pisau yang menancap di dada Ki Lurah Ajar

Langse. Pisau itu dicabut dan diamati.

”Bhayangkara Riung Samudra dan kamu, Bhayangkara Jayabaya,”

Gajah Mada menyebut nama meminta perhatian.

Bhayangkara Riung Samudra dan Bhayangkara Jayabaya mendekat.

”Samudra, kamu panggil Lurah Singa Darba. Perintahkan ia

menghadap aku sekarang juga di Balai Prajurit. Jayabaya, panggil Ra

Kembar. Kutunggu di Balai Prajurit. Dan kamu, Macan Liwung, cari

tahu apakah Ajar Langse adalah salah seorang pendukung Raden

Kudamerta sambil kamu cari bukti pisau ini milik siapa. Jika diduga

milik Ajar Langse sendiri harus dibuktikan senjata ini benar-benar

miliknya.”

”Baik, Kakang,” balas Jayabaya, Riung Samudra, dan Macan Liwung

serentak.

Dengan langkah lebar Gajah Mada melangkah ke halaman belakang.

Sejenak setelah itu seekor kuda terdengar berderap meninggalkan

halaman belakang istana menuju Balai Prajurit. Sekelompok prajurit yang

bertugas menjaga pintu belakang serentak bangkit dan memberikan

penghormatannya. Beberapa orang prajurit atas perintah Gajah Mada

segera memindahkan mayat Ajar Langse dan mengabari sanak kadangnya.

Darah yang menggenang pun dibersihkan. Para prajurit itu masih

sempat memerhatikan keadaan Senopati Gajah Enggon yang seperti

mati. Napasnya sangat perlahan, tak terbaca di ayunan dadanya. Bahwa

tangan Gajah Enggon yang dipegang terasa hangat, hal itu menjadi

pertanda Gajah Enggon masih hidup.

Namun, seorang prajurit merasa penasaran.

”Apakah menurutmu, Senopati Gajah Pradamba masih hidup?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 393

Yang lain ikut memerhatikan.

”Tentu.”

”Tetapi, mana napasnya?”

Sepeninggal para prajurit yang memindahkan mayat dan membersihkan

darah yang menggenang, Sekar Kedaton berniat masuk ke

Bale Gringsing. Akan tetapi, ia batalkan niat itu ketika dilihatnya suaminya

dan Raden Cakradara memasuki Bale Gringsing melalui pintu lain. Sekar

Kedaton Dyah Wiyat memiliki waktu untuk melenyapkan diri ke balik

dinding dan memasang telinga.

Tahu diri bahwa tidak baik ikut mendengarkan pembicaraan orang,

apalagi mereka adalah Raden Cakradara dan Kudamerta, Nyai Lengger

segera menyingkir. Nyai Lengger terheran-heran melihat Sekar Kedaton

Dyah Wiyat melekat di balik tembok. Namun, Sekar Kedaton

menempelkan jari ke bibir dan memberi isyarat kepadanya untuk pergi

menjauh.

Rupanya Raden Kudamerta merasa risih menahan-nahan. Beban

itu kini tidak bisa ditahan lagi.

”Aku tidak mengira Kakang Cakradara sanggup melakukan itu,”

ucap Raden Kudamerta. ”Cara yang terlalu kasar dan melukai perasaan.

Jika Kakang berkeinginan menduduki dampar, mengapa Kakang tidak

sampaikan saja tanpa harus menumpas orang-orangku. Atau bila Kakang

Raden Cakradara seorang laki-laki jantan, aku akan menerima tantangan

Kakang di mana pun dan kapan pun. Aku tak akan mundur meski

selangkah.”

Raden Cakradara sedikit kebingungan. Perbuatan Pakering

Suramurda telah menempatkan dirinya di kedudukan yang serba salah.

”Aku tidak melakukan seperti yang kautuduhkan itu, Adi

Kudamerta. Semua yang terjadi memang ulah pamanku, namun bukan

berarti semua itu kehendakku. Salah besar tuduhanmu itu.”

Raden Kudamerta tersenyum sinis. Alasan yang dikemukakan

pesaingnya itu amat sulit untuk diterima akal sehat. Setidaknya Raden

394 Gajah Mada

Kudamerta telah kehilangan sebagian dari para pendukungnya. Orangorang

yang mati terbunuh, dari Panji Wiradapa sampai yang terakhir,

sahabat baiknya, Ki Ajar Langse ikut mati pula.

”Aku tidak akan membiarkan perbuatanmu, Kakang Raden

Cakradara. Kelak kita harus selesaikan urusan ini secara jantan,” Raden

Kudamerta mengancam dengan suara bergetar.

Raden Kudamerta merasa tak ada gunanya berlama-lama di tempat

itu. Raden Kudamerta segera mengayun langkah lebar kembali ke istana

kiri. Dengan berhati-hati agar jangan menimbulkan jejak suara, Dyah

Wiyat bergegas meninggalkan Bale Gringsing dan menyelinap jalan

sempit pemisah bangunan utama dan bangunan di belakangnya.

”Semua ini gara-gara ulah Paman Pakering Suramurda, aku

terperosok dalam keadaan yang sulit seperti ini,” Raden Cakradara

mengeluh.

Raden Cakradara duduk di sudut pembaringan sambil memerhatikan

wajah Senopati Gajah Enggon yang pucat. Benjolan di kening

Gajah Enggon telah pulih seperti sediakala, hanya meninggalkan jejak

luka yang mengering. Benturan macam itu bila mengenai bagian tubuh

yang lain tidaklah terlalu berbahaya, namun karena yang terkena adalah

kening yang di dalamnya ada otak untuk berpikir, guncangan di dalam

otak menyebabkan kemampuan berpikir itu lenyap, kesadaran pun hilang

dan lunglai tubuhnya.

Raden Cakradara memerhatikan ruang itu. Hanya dirinya dan Gajah

Enggon tanpa ada orang lain. Ketika Raden Cakradara memutuskan

akan kembali ke istana kanan, ia batalkan niatnya melihat Gemak Trutung

berlari-lari mendatanginya. Abdi dalem Gemak Trutung berusaha sekuat

tenaga mengendalikan napasnya.

”Aku mencari Raden sampai ke makam,” ucap Gemak Trutung.

Raden Cakradara berbicara dengan suara berbisik.

”Kau berhasil bertemu dengan Paman Pakering Suramurda?”

Gemak Trutung mengangguk.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 395

”Aku berhasil, Raden. Sudah aku sampaikan semua pesan Raden

kepadanya, juga keinginan Raden untuk bertemu di alun-alun. Akan

tetapi, Ki Pakering meminta Raden menemuinya tengah malam ini di

Padas Payung.”

Raden Cakradara termangu.

”Di Padas Payung?” ulang Raden Cakradara.

”Benar, Raden,” jawab Gemak Trutung dengan tegas.

”Baiklah, terima kasih atas jasamu, Gemak Trutung. Tolong

kausimpan rapat-rapat apa pun yang kaudengar.”

Gemak Trutung mengangguk, namun sejatinya ia merasa cemas.

33

Mega-mega mengapung di angkasa yang menempatkan diri

laksana laut luas tanpa tepi. Masih di hari yang sama, Rajadewi Maharajasa

menikmati ketidaknyamanan hatinya. Dyah Wiyat sungguh sangat sadar

untuk melupakan kegelisahan hatinya. Akan tetapi, makin ia berusaha

melakukan itu, bayangan itu makin melekat sulit dienyahkan, serasa

menjadi bayangan tubuh yang akan mengikuti ke mana pun ia pergi.

”Ada yang tidak beres pada diriku. Mengapa aku mengalami

kesulitan untuk menerima kenyataan? Mengapa aku mengalami kesulitan

menggunakan akal waras. Aku membuang-buang waktu tidak ada guna.

Aku seharusnya memandang ke depan. Namun, bagaimana harus

memandang ke depan, berhadapan dengan kenyataan lain yang tidak

bisa kuhindari. Aku bersuami, aku tak bebas lagi. Aku telah mengikatkan

396 Gajah Mada

diriku kepada seorang lelaki yang telah beristri. Aku telah menggadaikan

kebahagiaanku. Ke depan hidupku akan sia-sia.”

Dyah Wiyat duduk termangu di kursi ayunan, kursi yang terbuat

dari batang penjalin. Tak ada siapa pun yang menemaninya karena Dyah

Wiyat tak menghendaki. Tidak seorang pun di antara para emban berani

mendekati walau untuk menyajikan wedang sere atau wedang jahe

kegemarannya. Perkawinan yang dijalani tak membuat Sekar Kedaton

gembira. Perkawinan itu bahkan merupakan neraka.

Di bilik pribadinya yang luas Dyah Wiyat merasa dadanya terimpit.

”Kira-kira ada apa, ya?” bertanya seorang emban.

”Sekar Kedaton tidak mencintai Raden Kudamerta,” jawab emban

yang lain.

”Kok tahu?”

”Aku punya cerita sangat rahasia, tetapi jangan bercerita kepada

orang lain, ya?” kata emban kedua.

”Cerita tentang apa?”

”Hubungan antara Sekar Kedaton dengan Rakrian Tanca,” jawab

emban yang lebih muda.

”Ahhh, kalau itu aku sudah tahu.”

Kisah asmara antara Sekar Kedaton Dyah Wiyat dengan Rakrian

Tanca nyaris semua emban menggunjingkan. Akan tetapi, sebagian besar

hanya sebatas katanya atau ceritanya. Tak seorang pun di antara mereka

yang menandai secara langsung adanya hubungan asmara itu. Ra Tanca

memang sering datang ke istana dan selalu datang saat keluarga raja ada

yang sakit. Namun, tak sekalipun ada yang melihat Ra Tanca datang ke

keputren khusus dengan niat menemui Dyah Wiyat.

Emban Prabarasmi yang melongokkan kepalanya dari salah satu

pintu terlihat ragu. Namun, Emban Prabarasmi membulatkan niatnya

untuk menghadap.

”Ada apa?” tanya Dyah Wiyat.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 397

”Hamba, Tuan Putri,” ucapnya. ”Hamba mohon izin

menyampaikan sesuatu. Apakah Tuan Putri berkenan menerima?”

Agak lama Sekar Kedaton memerhatikan wajah bulat emban itu.

”Apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Sekar Kedaton.

”Ada seorang saudara hamba yang baru datang dari desa, saudara

hamba itu amat ingin mengabdikan diri di istana menjadi emban dan

melayani Tuan Putri, lalu hamba teringat beberapa hari yang lalu Tuan

Putri berkeingian mendapatkan emban baru. Apakah Tuan Putri masih

membutuhkan?” tanya Emban Prabarasmi.

Dyah Wiyat tersenyum sejuk, senyum Sekar Kedaton memang selalu

bagitu. Para emban merasa senang karena Sekar Kedaton bersikap ramah

kepada siapa pun.

”Siapa namanya?” tanya Dyah Wiyat.

”Saudara hamba itu bernama Tanjung, Tuan Putri.”

Nama yang disebut itu menarik perhatian Sekar Kedaton.

”Tanjung?”

”Hamba, Tuan Putri, selengkapnya Sekar Tanjung. Ia telah memiliki

seorang putra, namun tak lagi bersuami karena tak ada kabar beritanya.”

Dyah Wiyat tidak perlu menimbang terlampau lama.

”Sekar Tanjung itu sudah berada di sini?”

Emban Prabarasmi mengangguk.

”Baiklah, hadapkan Sekar Tanjung kepadaku sekarang juga.”

Emban Prabarasmi ternyata telah mempersiapkan Sekar Tanjung

di luar pintu. Dengan kepala menunduk dan sikap sangat santun, Sekar

Tanjung mengikuti langkah Emban Prabarasmi. Meski telah berusaha

tenang, Sekar Tanjung tak mampu menipu diri bahwa hatinya tak tenang,

terbaca hati gelisah hal itu dari keningnya yang berkeringat.

Dyah Wiyat memandang Sekar Tanjung dengan mata tak berkedip

dan sedikit rasa takjub. Perempuan bernama Sekar Tanjung itu memiliki

tubuh yang sangat bagus dengan lekuk pinggang yang indah dan ramping.

398 Gajah Mada

Wajahnya yang lugu tidak mampu menyembunyikan kecantikannya. Bila

Sekar Tanjung mendapat kesempatan berdandan sebagaimana dirinya

tentu kecantikannya tak akan kalah dari kecantikannya.

”Kamu Sekar Tanjung?”

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Sekar Tanjung sangat santun.

Sekar Tanjung ternyata mampu melaksanakan petunjuk singkat

mengenai apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana dalam bersikap

di hadapan Sekar Kedaton. Dyah Wiyat tidak perlu menimbang

terlampau lama untuk memutuskan menerima pengabdian Sekar

Tanjung.

”Apakah kau bisa memasak, Sekar Tanjung?” tanya Dyah Wiyat.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Sekar Tanjung. ”Hamba bisa memasak,

namun jenis masakan biasa. Hamba akan belajar banyak untuk memasak

jenis masakan yang belum hamba kenal sebelumnya.”

Dyah Wiyat termangu sejenak.

”Dan, kau bisa memijat jika tubuhku sedang pegal?”

”Hamba bisa, Tuan Putri,” jawab Sekar Tanjung.

”Baik, Sekar Tanjung, kuterima permohonanmu. Kebetulan aku

sedang lelah, atau mungkin hatiku yang lelah menyebabkan tubuhku

demikian lunglai.”

Sekar Kedaton Dyah Wiyat segera bangkit dari kursi ayun dan

membaringkan diri di tempat tidur. Amat santun Sekar Tanjung dalam

melaksanakan tugasnya. Sekar Kedaton Dyah Wiyat amat menikmati

pijatan tangan itu. Sekar Tanjung mengerjakan tugasnya dengan berhatihati,

jangan sampai melampaui batas kesopanan. Mungkin oleh kantuk

karena semalaman sulit tidur, Dyah Wiyat langsung pulas. Tarikan

napasnya mengayun lembut bahkan agak sedikit mendengkur.

Sekar Tanjung terus menggerayangi punggung Sekar Kedaton

dengan jarinya yang lentik sambil memerhatikan ruangan itu dengan

rasa takjub. Ruangan yang kini ia lihat benar-benar merupakan ruang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 399

yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Dinding ruang tidak

tampak tertutup oleh ukir-ukiran berbentuk daun yang menjalar ke manamana.

Tempat tidur berkelambu berbahan kayu jati dengan ukiran

memet. Di sudut-sudut ruang ditempatkan tanaman hidup yang

diletakkan pada tempayan. Di sudut yang lain ada tempayan lebar penuh

air yang penuh dengan ikan hias dan pohon teratai berdaun lebar dan

berbunga besar. Kamar itu menjadi lebih menyenangkan lagi karena

bau wangi bunga melati menguasai seluruh ruang. Dari jendela terbuka

Sekar Tanjung bisa menyaksikan halaman yang luas dengan deretan

pohon kesara dan pohon tanjung yang tengah berbunga. Sementara

nun jauh di sana barisan pohon kelapa melambai-lambaikan daunnya

ditiup angin, namun pohon bambu lebih liar dalam bergerak karena

tiupan angin.

Di tempat tidur yang mewah itulah Sekar Tanjung membayangkan

bagaimana Raden Kudamerta menjalani kehidupan rumah tangganya

setelah mengawini Sekar Kedaton calon Ratu Majapahit. Betapa perih

Sekar Tanjung merasakan di ulu hatinya membayangkan hal itu.

Tiba-tiba pintu terbuka. Nyaris berhenti ayunan otot yang menjadi

penggerak jantungnya ketika Sekar Tanjung melihat siapa orang yang

berdiri di tengah pintu. Pun demikian, betapa terperanjat orang itu

melihat Sekar Tanjung berada di ruang itu melayanani istrinya dengan

memijiti tubuhnya.

Orang itu adalah Raden Kudamerta, bingung yang melibasnya

menempatkan dirinya pada tak tahu harus bersikap bagaimana. Dengan

mata terbelalak bangsawan dari Pamotan sekaligus pewaris kuasa wilayah

Wengker itu menatap Sekar Tanjung. Jantungnya berhenti berdetak

dengan wajah serasa disiram air mendidih, sebaliknya meskipun Sekar

Tanjung telah siap jiwa raga menghadapi kemungkinan bertemu dengan

Raden Kudamerta sewaktu-waktu, tetapi ternyata perjumpaan itu masih

juga mengguncangkan jiwanya.

Namun, pintu yang terbuka itu membangunkan Dyah Wiyat.

Perlahan-lahan Raden Kudamerta menutup pintu dan meninggalkan

ruang itu dan membatalkan niatnya untuk berbicara dengan istrinya.

400 Gajah Mada

Semula Raden Kudamerta telah mengambil keputusan berbicara blakblakan

dan siap menghadapi apa pun. Akan tetapi, niat itu terpaksa

ditunda lagi.

Dyah Wiyat kembali memejamkan mata.

”Pijatan tanganmu enak sekali,” ucap Sekar Kedaton.

Sekar Tanjung tidak menjawab. Dengan terampil seolah memang

memiliki kemampuan memijat, Sekar Tanjung terus mengurut dan

menggerataki kaki Dyah Wiyat untuk kemudian mengantarkannya

kembali tidur pulas. Dengan susah payah Sekar Tanjung berusaha

menguasai diri. Kerinduan hatinya nyaris tidak bisa dikuasai.

Pertemuannya kembali dengan Raden Kudamerta setelah beberapa hari

berpisah membuat hatinya benar-benar berantakan, padahal perpisahan

itu baru beberapa hari yang lalu, namun serasa telah setahun lamanya.

Lebih berantakan lagi hati perempuan itu manakala mengingat, ke depan

suaminya bukan lagi suaminya. Sekar Tanjung tak memiliki kekuatan

yang memadai untuk berhadapan dengan Dyah Wiyat, pesaing yang

kini tidur lelap di depannya.

Pesona yang meluluhlantakkan, atau semacam sihir yang sulit

dienyahkan menyergap Raden Kudamerta, menempatkannya menjadi

orang yang paling bingung di istana. Tak ada kekagetan yang melebihi

terkejut melihat Dyah Menur memijiti Sekar Kedaton di dalam biliknya.

Dyah Menur, Dyah Menur Hardiningsih istrinya.

”Benar-benar gila!” desis Raden Kudamerta.

Namun, Raden Kudamerta tidak mau berlama-lama dengan rasa

bingungnya. Raden Kudamerta bergegas mencari, yang dicari rupanya

sedang menunggunya.

Prabarasmi tersenyum.

”Apa yang telah kaulakukan?” tanya Raden Kudamerta dengan

meluap.

”Raden sudah tahu?” balas Prabarasmi.

”Ya,” jawab Raden Kudamerta. ”Istriku berada di bilik … istriku.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 401

Prabarasmi tersenyum lebar.

”Telah kusulap istri Raden dengan nama panggilan baru. Raden

mengenalinya sebagai Dyah Menur, di sini namanya Sekar Tanjung.”

Raden Kudamerta berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri,

namun pesona sihir itu memang terlalu kuat untuk dilawan. Rasa meluap

bertemu kembali dengan istrinya masih ditambah oleh alasan yang lain,

rindu yang tidak tertahankan kepada anaknya.

”Lalu anakku mana?”

”Sudah ada yang mengatur, Raden,” jawab Prabarasmi.

”Siapa?” tanya Raden Kudamerta.

”Putra Raden saat ini berada dalam perlindungan Kakang

Pradhabasu.”

Rasa kaget yang datang beruntun itu menyebabkan Raden Kudamerta

merasa telapak tangannya membeku. Raden Kudamerta yang

memejam menyempatkan diri mengerataki rambutnya. Akan tetapi, tetap

saja apa yang dialaminya itu tidak berubah, bukan dari jenis mimpi yang

bisa menghilang ketika kesadaran datang.

”Jagat Dewa Batara,” desis Raden Kudamerta.

Prabarasmi menempatkan diri menunggu Raden Kudamerta

berbicara. Namun, betapa bingung Raden Kudamerta.

”Kau sudah mengetahui persoalan macam apa yang kuhadapi,

Prabarasmi?” tanya Raden Kudamerta.

”Sudah, Raden,” jawab Prabarasmi. ”Istri Raden telah menceritakan

semuanya kepadaku dan aku berjanji tidak akan membuka mulut.

Namun, Raden sendiri juga harus berhati-hati dalam menyimpan rahasia.

Aku akan mengatur bila Raden ingin bertemu dengan istri Raden.”

Raden Kudamerta mengangguk, namun ia merasa wajahnya masih

tetap tebal.

”Kalau begitu, kapan aku bisa bertemu dengan istriku, bagaimana

cara kamu mengatur?” tanya Raden Kudamerta.

402 Gajah Mada

Prabarasmi tersenyum sambil mengambil jarak karena dua orang

prajurit dan seorang emban akan melintas.

”Tenang, Raden. Silakan Raden bersabar,” jawab Emban Prabarasmi.

Raden Kudamerta nyaris tak membalas saat dua orang prajurit yang

melintas memberikan penghormatan kepadanya. Ketika memandang

ke langit langsung ke arah benderangnya matahari, Raden Kudamerta

masih merasa takjub. Jejak pesona sihir pertemuannya dengan Dyah

Menur di bilik Sekar Kedaton benar-benar mengagetkan. Kecuali bila

pertemuan itu terjadi di tengah pasar atau di jalan, yang ini istrinya ada

di bilik istrinya yang lain.

”Aku tidak percaya, aku benar-benar tidak percaya. Aku bertemu

istriku di bilik Sekar Kedaton,” gumam Raden Kudamerta untuk diri

sendiri.

34

Gajah Mada berjalan mondar-mandir dengan segala rasa

ketidaksabarannya. Telah lama ia menunggu Bhayangkara Riung

Samudra, Bhayangkara Macan Liwung, dan Bhayangkara Jayabaya.

Mereka belum kembali, padahal cukup lama waktu telah berlalu. Waktu

yang ada bahkan telah ia gunakan untuk menemui istri Ra Tanca untuk

mengajukan sebuah pertanyaan penting.

Beberapa saat yang lalu, Nyai Ra Tanca menyongsongnya di halaman

ketika Patih Daha Gajah Mada mendatanginya. Lebar senyum Nyai Tanca

dalam menerima kehadiran Gajah Mada menyebabkan Patih Daha

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 403

merasa heran karena sama sekali tak melihat guratan kesedihan di wajah

perempuan itu. Atau, apakah karena demikian pintarnya Nyai Tanca

menyembunyikan warna hati yang sebenarnya, warna nestapa karena

ditinggal suami untuk selamanya.

”Masalah apa yang membawa Ki Patih datang ke sini?” Nyai Tanca

langsung mengajukan pertanyaan.

Namun, yang dihadapinya adalah Patih Daha Gajah Mada, orang

yang paling tidak suka berbasa-basi.

”Benar sebagaimana yang dikatakan Gagak Bongol kepadaku,

kaulah orangnya yang membuat lambang ular membelit buah maja itu.”

Tak ada ketakutan atau cemas sedikit pun di muka wajah Nyai Tanca.

”Ya,” jawab Nyai Tanca. ”Aku yang membuat lambang itu.”

”Kalau begitu kamu pasti tahu siapa Panji Rukmamurti?”

Pertanyaan yang diajukan dengan menohok itu sama sekali tak

menyebabkan raut muka Nyai Tanca berubah, tidak ada cemas tak ada

gelisah. Jika ia berpura-pura tak tahu padahal sebenarnya tahu maka

istri mendiang Ra Tanca itu sungguh punya kemampuan bersandiwara

yang bagus. Nyai Tanca bahkan tersenyum lebar, pamer barisan gigigiginya

yang berbaris putih mengilat dan rapi. Dengan sengaja Nyai Ra

Tanca membetulkan rambutnya, dengan demikian makin menampakkan

lekuk-lekuk tubuhnya.

”Aku pernah mendengar nama itu,” jawabnya.

Gajah Mada menunggu beberapa jenak, namun Nyai Tanca tidak

menyambung kata-katanya.

”Siapa orang itu?” kejar Gajah Mada.

Nyai Tanca masih mengumbar senyum lebarnya. Gajah Mada

kesulitan dalam menebak warna hati macam apa yang disembunyikan

di balik senyum berlepot teka-teki itu.

”Aku hanya pernah mendengar nama itu,” jawab Nyai Ra Tanca.

”Suamiku pernah menyebut nama itu. Akan tetapi, tidak pernah

menjelaskan ia siapa. Hanya itu jawaban yang aku miliki, Ki Patih.”

404 Gajah Mada

Gajah Mada curiga dan sangat meyakini kecurigaan itu bahwa Nyai

Ra Tanca benar menyembunyikan sesuatu.

”Ceritakan lambang ular membelit buah maja itu. Kau yang

menggagasnya atau suamimu. Lalu, apa tujuan di balik pembuatan itu!”

Gajah Mada menambahkan.

Dengan mengumbar senyum Nyai Ra Tanca bertindak kelewatan.

Ia berjalan mengelilingi Gajah Mada yang berdiri. Gajah Mada tak suka

diperlakukan seperti itu. Akan tetapi, dipilihnya sikap membiarkan apa

pun yang dilakukan Nyai Ra Tanca, juga saat Nyai Ra Tanca mendorong

tubuhnya dengan dorongan yang menggoda.

”Lambang itu milik Kakang Ra Tanca,” jawabnya.

Namun, Gajah Mada segera menyergap, ”Gagak Bongol

mengatakan, kamulah yang merancang dan pemilik gagasan.”

Nyai Tanca tertawa sedikit terkekeh dan dengan tiba-tiba ia berhenti

tertawa.

”Pemilik jiwa lambang itu adalah Kakang Rakrian Tanca. Memang

benar aku yang merancang, namun ibarat aku hanya kulitnya, Kakang

Ra Tanca jiwanya.”

Gajah Mada amat terganggu oleh jawaban yang agaknya masuk

akal itu. Akan tetapi, Gajah Mada ingat bahwa berapa tahun surya yang

lalu pernah menonton pagelaran sandiwara yang disuguhkan dalam acara

maleman bulan Caitra dan bahkan pada saat Srada. Di panggung dengan

disaksikan banyak penonton, Nyai Ra Tanca berhasil menguras air mata

pemirsa melalui peran yang dibawakannya.

”Kuulangi, Nyai Tanca,” ucap Gajah Mada menegas. ”Kau pernah

mengenal nama Panji Rukmamurti.”

Trengginas Nyai Tanca menjawab, ”Pertanyaan itu lagi, Ki Patih. Aku

sudah menjawab, aku pernah mendengar nama itu karena suamiku

menyebutnya.”

”Siapa sebenarnya orang itu?” Gajah Mada mengejar.

”Aku tidak tahu.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 405

Gajah Mada terpaksa menarik napas panjang, gambaran kejengkelannya.

”Kapan kamu terakhir ke Karang Watu?”

Nyai Ra Tanca yang semula membelakangi, berbalik dan memandang

wajah Patih Daha dengan raut muka sangat heran.

”Karang Watu, kenapa kamu berpikir aku pernah pergi ke sana?

Untuk urusan apa aku harus ke Karang Watu? Kalau mengajukan

pertanyaan, ajukanlah yang aku bisa menjawab. Jangan yang membuatku

bingung seperti itu.”

Akhirnya, Patih Daha Gajah Mada terpaksa meninggalkan Nyai

Tanca tanpa berhasil mengorek keterangan apa pun. Nyai Ra Tanca

tertawa mbranyak ketika orang yang membunuh suaminya itu akhirnya

pergi meninggalkannya. Pintu rumah yang semula tertutup lalu terbuka.

Seorang prajurit berbadan gagah berdiri di tengah pintu.

Prajurit itu, ia bernama Kendar Kendara, ia seorang Bhayangkara

yang semula hanya mendapat tugas untuk menjaga dan mengamankan

rumah Nyai Ra Tanca dari amuk orang yang marah. Akan tetapi, Kendar

Kendara telah mengolah tugasnya itu menjadi bentuk tugas yang

menyenangkan dirinya. Bhayangkara Kendar Kendara memeluk Nyai

Tanca dari belakang. Yang dipeluk menggeliat dan berbalik, mirip ular

yang ia lakukan. Dengan ganas Nyai Tanca mematuk.

Gajah Mada memacu kudanya bagaikan orang yang takut kehilangan

waktu. Di langit matahari telah bergulir dari titik ketinggiannya dengan

sedikit doyong ke arah barat. Bayangan tubuh yang semula tepat berada

di bawah kaki kini agak doyong ke arah timur. Tanpa mengurangi

kecepatan, Gajah Mada berbelok ke halaman Balai Prajurit. Seorang

prajurit dengan sigap menjemput dan menerima penyerahan tali kuda

ketika Gajah Mada meloncat turun.

”Mana Riung Samudra?” tanya Gajah Mada.

”Belum datang, Ki Patih,” jawab prajurit yang menerima kendali

kuda itu.

406 Gajah Mada

Gajah Mada naik ke pendapa dan berjalan mondar-mandir. Namun,

Gajah Mada tak perlu menunggu terlalu lama, nyaris bersamaan terlihat

tiga ekor kuda berderap dari arah selatan dan seekor kuda datang

berderap dari utara. Bersusulan ketiga orang yang memacu kuda bagai

dikejar setan membelok ke Balai Prajurit. Para Bhayangkara yang

mendapat tugas telah kembali, orang yang ke empat adalah Singa Darba.

”Apa kabarmu, Lurah Singa Darba?”

”Kabarku baik, Ki Patih,” jawab Singa Darba.

Gajah Mada memandang Jayabaya, ”Mana Rakrian Kembar?”

Jayabaya melengkapi jawabannya dengan mengangkat dua telapak

tangannya.

”Aku terlambat, Kakang Gajah Mada. Ra Kembar dengan anak

buahnya sekitar empat puluh atau lima puluh orang berangkat menuju

Karang Watu!”

Agak terperanjat Gajah Mada. Namun, melihat Singa Darba

mengangguk, itu berarti Singa Darba tahu untuk keperluan apa Ra

Kembar ke Karang Watu.

”Dan kamu?” pertanyaan Gajah Mada ditujukan kepada Macan

Liwung.

Bhayangkara Macan Liwung menempatkan diri. Dari sabuk yang

membelit, Macan Liwung mengeluarkan pisau.

”Pisau ini benar milik Ajar Langse,” kata Macan Liwung. ”Dan

benar dugaan Kakang Gajah Mada, ada yang memberi kesaksian Ki

Ajar Langse adalah salah satu pendukung Raden Kudamerta. Ki Ajar

Langse sering terlihat berdua dengan Raden Kudamerta.”

Patih Daha Gajah Mada terbungkam mulutnya beberapa jengkal

waktu sambil mengunyah keterangan yang ia terima dari masing-masing

Bhayangkara.

”Untuk keperluan apa Rakrian Kembar dan sekitar empat puluh

orang anak buahnya pergi ke Karang Watu? Untuk bergabung dengan

orang-orang yang berniat melakukan makar itu atau bagaimana?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 407

Perhatian Gajah Mada kali ini dialihkan kepada Lurah Singa Darba.

”Bukan untuk bergabung, Ki Patih, tetapi untuk menyerbu mereka

yang sedang membangun kekuatan di Karang Watu,” jawab Singa Darba.

Kembali Gajah Mada terdiam beberapa jenak, bahkan kali ini ia

lakukan sambil memejamkan mata. Perintah yang diberikan kepada

Bhayangkara Macan Liwung, ia lakukan masih sambil memejamkan mata.

”Macan Liwung, lepas isyarat sanderan. Aku membutuhkan

kehadiran segenap senopati pimpinan pasukan.”

”Baik, Kakang,” jawab Macan Liwung.

Hanya sejenak setelah itu terdengar suara melengking susulmenyusul.

Kali ini tidak hanya sebatang anak panah sanderan yang dilepas

membubung memanjat langit membelah angkasa, namun lima batang

anak panah sekaligus. Suara anak panah susul-menyusul itu mengagetkan

beberapa prajurit yang melakukan tugas jaga di bangsal kesatrian Jalapati

dan bangsal Sapu Bayu, masing-masing dipimpin Senopati Haryo Teleng

dan Senopati Panji Suryo Manduro, dua sosok pilih tanding yang memiliki

kemampuan gelar perang dan olah kanuragan yang menonjol. Sejak

pemberontakan yang dilakukan para Dharmaputra Winehsuka, tidak

ada lagi pasukan Jala Rananggana dan Jalayuda. Dua pasukan itu dihapus

dan dilebur menjadi hanya dua pasukan berkekuatan besar dan

berkemampuan pukul luar biasa, yaitu pasukan Jalapati menggunakan

umbul-umbul changka atau kerang bersayap dan pasukan Sapu Bayu

menggunakan lambang candrakapala.

Satu lagi kesatuan yang disetarakan kedudukannya, namun karena

sifat khusus yang dimiliki pasukan itu jumlah anggotanya tidak banyak.

Dari jumlah yang semula tak lebih dari dua puluh orang dimekarkan

menjadi seratus orang. Itulah Bhayangkara, pasukan khusus yang

dipimpin oleh Senopati Gajah Enggon. Ketiga Senopati yang

mengendalikan masing-masing pasukan itu tunduk pada perintah

panglima perang yang ketika itu dipegang oleh Sri Baginda Jayanegara

secara langsung. Dalam hal melaksanakan tugas sebagai panglima, Gajah

408 Gajah Mada

Mada menjalankan kedudukan itu walaupun tanpa perintah secara tertulis

yang dituangkan dalam layang kekancingan.170

Gajah Mada mengarahkan perhatiannya kepada Lurah Prajurit Singa

Darba.

35

Senopati Gajah Enggon tetap membeku dalam kehilangan

kesadarannya, tidak tahu jalan kembali setelah tersesat entah sampai di

mana. Dengan upaya tanpa lelah Nyai Lengger mengurut kepala Senopati

Gajah Enggon. Nyai Lengger tidak hanya berupaya memulihkan keadaan

Senopati Gajah Pradamba dengan pengobatan, namun tak lupa pula

melandasinya dengan doa. Lebih dari itu, Nyai Lengger memang cemas

bila Senopati Gajah Enggon tidak siuman. Ancaman Gajah Mada terlalu

mengerikan bagi Nyai Lengger.

Dalam keadaan yang demikian itulah Gajah Enggon, ketika Lurah

Ajar Langse dan Lurah Singa Darba datang mengunjunginya. Satria yang

semula gagah perkasa itu lunglai tanpa daya dan tak lagi digdaya.

”Kira-kira kapan Senopati Pradamba akan kembali sadar, Nyai?”

tanya Ajar Langse.

Nyai Lengger mendongak.

”Aku tidak tahu, Ki Lurah,” jawab Nyai Lengger.

”Tetapi, Senopati Gajah Enggon pasti akan sembuh, bukan?”

170 Layang kekancingan, Jawa, surat keputusan raja

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 409

Nyai Lengger tidak menjawab pertanyaan itu karena memang tak

tahu. Hening yang terjadi adalah karena keprihatinan Lurah Prajurit Singa

Darba. Ia layak bersedih dan cemas karena baginya Senopati Gajah

Enggon tak hanya seorang senopati yang memimpin pasukan khusus

Bhayangkara, prajurit pilih tanding dan pintar dengan kemampuan langka

yang sedang amat dibutuhkan Majapahit, namun baginya Senopati Gajah

Enggon menempati tempat tersendiri. Setidaknya ia memiliki dua alasan,

yang pertama, Senopati Gajah Enggon yang mendorongnya mengabdikan

diri pada bangsa dan negara dengan menjadi prajurit yang kini

menempatkannya pada pangkat yang cukup terhormat sebagai lurah

prajurit. Yang kedua, Gajah Enggon orang yang paling berjasa

menjodohkannya dengan Ratna Mundri, perempuan yang ia anggap

tercantik sejagat raya yang kini menjadi istrinya. Singa Darba tentu masih

ingat betapa sulit dan berliku pendekatan yang dilakukan untuk

mendapatkan cinta Ratna Mundri. Gajah Enggonlah yang berjasa

membuka hati Ratna Mundri dengan mendatangi gadis itu dan langsung

berbicara dari hati ke hati. Menghadapi musuh berkekuatan segelar sepapan

tak masalah bagi Singa Darba. Bertempur bahkan dirasa jauh lebih mudah

daripada merayu gadis.

Pintu yang setengah tertutup terbuka, Rakrian Kembar masuk ke

ruangan itu.

”Bagaimana keadaannya?” Rakrian Kembar langsung melontarkan

pertanyaan dengan nada suara tidak direndahkan.

Karena Nyai Lengger merasa pertanyaan itu tidak ditujukan

padanya, ia pilih menjauh untuk memberi kesempatan pada tiga prajurit

itu saling berbincang di antara mereka masing-masing.

”Seperti orang mati,” Ajar Langse yang menjawab pertanyaan itu.

Ra Kembar ikut memerhatikan keadaan Gajah Enggon yang terlihat

sangat menyedihkan. Berbeda dengan Singa Darba yang merasa prihatin

dan cemas melihat keadaan Gajah Enggon yang demikian, Ra Kembar

justru mengalami kesulitan dalam menyembunyikan senyumnya. Gajah

Enggon adalah orang yang dekat dengan Patih Daha yang ia benci. Siapa

pun teman Gajah Mada, ia benci. Sebaliknya, siapa pun musuh dari

musuhnya adalah temannya.

410 Gajah Mada

”Lebih baik mati saja sekalian, dengan demikian berkurang klilip

yang kurang aku suka,” Rakrian Kembar berbicara dalam hati.

Bahwa Rakrian Kembar memang membawa keperluan, Ra Kembar

tak ingin membuang waktu sia-sia. Ra Kembar segera menyampaikan

isi hatinya.

”Aku butuh bantuan kalian berdua,” kata Ra Kembar. ”Saat ini ada

kelompok orang yang menghimpun kekuatan di Karang Watu. Mereka

akan melakukan makar terhadap kekuasaan Majapahit. Aku ingin

menyerbu tempat itu sebelum kedahuluan Gajah Mada.”

Rakrian Kembar dengan persoalan penting yang dibawanya mampu

mencuri perhatian Singa Darba dan Ajar Langse. Dengan tidak berkedip

Lurah Prajurit Singa Darba memandang Rakrian Kembar, demikian juga

dengan Ajar Langse.

”Sekelompok orang akan melakukan makar?”

”Ya,” jawab Ra Kembar.

”Dari mana kauperoleh keterangan itu, Adi Ra Kembar?”

Ra Kembar tersenyum.

”Telik sandiku benar-benar luar biasa dan bisa diandalkan.

Sebenarnya telah lama kususupkan mereka ke Karang Watu, ketika

kembali mereka membawa berita yang membuatku kaget. Sekelompok

orang sedang berlatih perang dan menggalang kekuatan di Karang Watu.

Bila Gajah Mada sampai mendahului menyerbu tempat itu maka akan

lenyap kesempatanku untuk mencuri perhatian para Ratu.”

Singa Darba merasa ada yang janggal. Singa Darba sangat mengenal

orang macam apa Rakrian Kembar yang sanggup mengobral omong

kosong, menjadikan nama Gajah Mada sebagai bulan-bulanan selorohnya

yang sering kelewatan.

”Aku mengenal dengan baik siapa kamu, Adi Kembar,” kata Singa

Darba. ”Aku tahu ada yang kausembunyikan. Omong kosong soal telik

sandi ceritamu itu. Jangan kauanggap seolah aku tidak mengenalmu.”

Rakrian Kembar merasa mulai tidak senang. Namun, Ra Kembar

sedang butuh bantuan.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 411

”Orangku berhasil mencuri dengar pembicaraan Gajah Mada

dengan beberapa anak buahnya, cerita mengenai seperti yang tadi aku

sebutkan. Di Karang Watu saat ini sedang ada kegiatan yang layak

dicurigai. Inilah saatnya bila kita ingin tidak dipandang sepele oleh Gajah

Mada. Aku ingin menyerbu Karang Watu. Itu sebabnya, aku minta kalian

berdua mendukung aku. Aku membawahi prajurit sebanyak lima puluh

orang dan kalian berdua masing-masing mengendalikan empat puluh

orang prajurit juga. Dengan seratus prajurit pun tempat itu bisa

dilumatkan. Keberhasilan kita nantinya akan mendapatkan perhatian

dan itu akan melontarkan kedudukanmu sekarang ke pangkat yang lebih

tinggi.”

Singa Darba sama sekali tidak tergoda, namun berbeda dengan Ajar

Langse. Ki Ajar Langse sungguh merasa sangat tertarik.

”Kamu melakukan kesalahan,” kata Singa Darba. ”Apa yang

kaulakukan itu sama saja dengan menggunting dalam lipatan. Lagi pula,

kamu tidak bisa mengambil tindakan terpisah seperti itu. Kamu tidak

memiliki hak dan kamu berbuat seenakmu sendiri.”

Ra Kembar memandang Singa Darba dengan tatapan mata tidak

senang. Jika semula ia mengira Singa Darba pasti tertarik dengan tawaran

yang ia berikan, ternyata dugaan itu salah. Singa Darba ternyata bersikap

berbeda. Ia memiliki keyakinannya sendiri meskipun keyakinan yang

menurutnya lembek, tak terlalu berani menghadapi tantangan.

”Jadi sikapmu bagaimana?” Ra Kembar mengejar.

”Aku tidak mau kaulibatkan dalam urusan seperti itu,” jawab Singa

Darba tegas. ”Dan aku ingatkan kepadamu, Rakrian Kembar, untuk

jangan mengambil jalan sendiri tanpa berbicara lebih dulu dengan

pimpinanmu. Tindakanmu yang dengan diam-diam akan menyerbu

Karang Watu itu jelas ngawur.”

Dharmaputra Winehsuka Rakrian Kembar merasa lehernya seret

karena tanpa sengaja menelan biji buah salak. Sikap Singa Darba yang

demikian mencemaskannya karena ia telah telanjur berbicara banyak

dan terbuka, termasuk melalui cara macam apa ia memperoleh kete412

Gajah Mada

rangan penting tentang orang-orang yang menghimpun diri di Karang

Watu itu. Bila Singa Darba melaporkan perbuatannya kepada Gajah Mada

maka Rakrian Kembar akan berhadapan dengan kesulitan.

”Ini kesempatan baik bagimu untuk membuat jasa kepada bangsa

dan negara,” kata Ra Kembar. ”Kamu benar-benar tak mau kulibatkan

melakukan penyerbuan ke Karang Watu? Timbanglah sekali lagi, kau

akan menyesal nanti.”

Namun, Singa Darba memang telah bulat pada keputusan yang

diambilnya. Ia tidak berminat ikut. Singa Darba menggeleng tegas dan

mengangkat tangannya. Ra Kembar merasa wajahnya menebal melebihi

tebal benteng yang membentang sebelah-menyebelahi pintu gerbang

Purawaktra.

”Aku tak mau kaulibatkan. Aku tak berminat menggapai pangkat

lebih tinggi melalui cara yang salah macam itu.”

Ra Kembar jengkel.

”Menurutmu, yang benar bagaimana?”

”Keberadaan prajurit itu ada yang mengendalikan. Perbuatanmu

yang seperti itu sama halnya kamu berbuat semaumu, bahkan kurasa

pada pimpinanmu sendiri kau tak minta izin. Apakah kamu sudah

melaporkan rencanamu kepada Senopati Panji Suryo Manduro? Aku

bahkan sangat yakin Ki Panji Suryo Manduro tidak tahu apa-apa. Ia

akan kebingungan jika Gajah Mada memanggilnya.”

Betapa jengkel Ra Kembar, ”Gajah Mada itu siapa?”

Namun, Singa Darba memiliki jawabnya.

”Menyedihkan sekali apabila kamu tidak tahu siapa Gajah Mada. Ia

pimpinan pasukan Bhayangkara ketika menyelamatkan Prabu Jayanegara

ke Bedander. Ia orang paling berjasa pada bangsa dan negara yang sangat

sulit dicari tandingannya. Karena jasanya ia mendapat jabatan sebagai

Patih di Kahuripan dan di Daha. Ia pelaksana tugas sehari-hari sebagai

panglima mewakili Sri Baginda. Kini ketika Sri Jayanegara mangkat, ia

memegang samir kehormatan dari Tuan Putri Gayatri, juga Patih Arya

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 413

Tadah memercayakan lencananya kepada Gajah Mada. Sekarang kamu

masih mau bertanya, Gajah Mada itu siapa?”

Ra Kembar tidak mampu menjawab pertanyaan itu dan bibirnya

makin tebal. Ludah yang dikulum terasa pahit karena itu dengan kasar

Ra Kembar membuangnya ke lantai. Namun, Ra Kembar memang

merasa kepalang basah dan tidak mungkin kembali. Nafsunya sedang

menggelegak dan merasa tak sabar untuk segera menyerbu Karang Watu

dan menggilas siapa pun yang menghimpun diri mempersiapkan makar

di sana. Itulah kesempatan yang dimimpikannya selama ini. Dengan

cara itu ia bisa menapak jenjang pangkat dan jabatan yang lebih tinggi.

”Baiklah, kalau kamu keberatan tak apa. Tetapi, apakah kamu akan

melapor ke Gajah Mada?”

Pertanyaan itu agak menyudutkan Singa Darba karena apabila ia

lakukan itu, ia akan mendapat cap sebagai orang yang tumbak cucukan,171

sebaliknya apabila ia tidak melaporkan keterangan itu juga bisa dianggap

salah.

”Kau dan aku berbeda kesatuan. Kau berasal dari Sapu Bayu, silakan

apa pun yang akan kau perbuat, itu urusanmu. Aku dari kesatuan pasukan

Jalapati tidak akan mencampuri urusan orang dari pasukan Sapu Bayu.”

Lurah Prajurit Singa Darba tidak berbicara lagi dan tak lagi

mempunyai minat untuk melanjutkan berbicara dengan Ra Kembar.

Tanpa berbicara apa pun lagi Singa Darba keluar dari Bale Gringsing.

Langkahnya lebar saat melintas halaman samping. Tanpa menoleh lagi

Singa Darba membawa langkahnya lewat tepi Manguntur yang akan

membawanya ke bangsal kesatriannya.

Rakrian Kembar mengarahkan perhatiannya kepada Gajah Enggon

yang terbujur membeku, amat susah membedakan apakah Gajah Enggon

itu sudah mati atau masih hidup. Tak terlihat dada yang mengombak

sebagai tanda ia masih hidup. Ra Kembar meraba dada Senopati Gajah

Enggon dan berhasil menandai masih ada napas yang mengombak. Ra

Kembar tersenyum.

171 Tumbak cucukan, Jawa, peribasa, tukang mengadu

414 Gajah Mada

”Sebaiknya kamu mati saja, dengan demikian akan memberi peluang

prajurit di bawahmu untuk naik pangkat menggantikanmu. Yang di

bawah bagaimana bisa naik kalau yang di atas keenakan duduk di kursi

empuknya,” kata Ra Kembar.

Kali ini kalimat itu diucapkannya dengan terang-terangan. Kembar

tak merasa sungkan karena hanya ada Ajar Langse di ruang itu, dan ia

tahu bagaimana warna hati Ajar Langse yang dalam berapa hal sebangun

dengan warna hatinya.

”Bagaimana denganmu?” tanya Ra Kembar.

”Aku ikut.”

”Menurutmu, bagaimana kira-kira sikap Singa Darba?” tanya Ra

Kembar.

”Sikapnya sudah jelas,” jawab Ajar Langse.

”Aku menyesal terlalu terbuka dengan menceritakan melalui cara

bagaimana aku memperoleh keterangan penting itu. Singa Darba

memang tak mungkin mengadu kepada Gajah Mada, namun dapat

dipastikan ia akan mengadu kepada Senopati Haryo Teleng, pimpinannya.”

Sebagaimana Ra Kembar, pada dasarnya Ajar Langse juga jenis

prajurit yang kurang perhitungan. Usulannya bahkan bisa tak masuk

akal dan berlebihan.

”Soal Singa Darba serahkan saja kepadaku. Aku akan berbicara

lagi dengannya. Apabila ia berniat mengadu kepada pimpinannya, aku

akan membungkam mulutnya selamanya. Tenang saja, aku bisa

diandalkan untuk pekerjaan macam itu.”

Hening dan senyap mengalirkan udara di Bale Gringsing, menemani

Rakrian Kembar dalam berpikir. Wajah Senopati Gajah Enggon yang

pucat seperti orang mati sungguh menarik perhatiannya, menumbuhkan

gagasan bengkok dari benaknya.

”Kalau kelak aku berhasil menapaki pangkat yang lebih tinggi, aku

tidak akan melupakanmu. Itu sebabnya, aku berharap kita selalu bersama.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 415

Keadaan apa pun kita hadapi bersama tanpa harus menyimpan rasa

takut. Gabungan kekuatan kita pasti bisa dan mampu dihadapkan dengan

Gajah Mada. Kelak pada saatnya semua orang akan tahu Ra Kembar

dan Ajar Langse adalah prajurit-prajurit yang tak bisa diremehkan.

Sungguh tidak pantas Ra Kembar menduduki jabatan sekarang,

pantasnya Ra Kembar sudah berpangkat senopati. Bahkan, menjadi

panglima pun sudah sangat pantas.”

Ra Kembar tersenyum sendiri. Angan-angan yang melambung itu

sudah cukup untuk membuatnya tersenyum.

”Apa yang kita kerjakan sekarang?”

”Aku punya gagasan bagus. Sebuah cara untuk menggerogoti pilar

pendukung kekuatan Gajah Mada.”

Ajar Langse mengerutkan dahi, dan matanya agak menyipit. Rakrian

Kembar mengeluarkan sesuatu dari slepi yang menyatu pada ikat

pinggangnya.

”Aku punya racun yang sangat mematikan, campurkan racun ini

ke minuman itu lalu teteskan ke mulut Senopati Gajah Enggon. Ia akan

mati dengan tidak menarik perhatian siapa pun. Orang akan berpikir,

apabila Gajah Enggon mati, sudah wajar karena keadaannya yang sudah

parah. Lagi pula, kasihan Gajah Pradamba menderita terlalu lama.”

Ajar Langse benar-benar kehilangan sebagian akal warasnya.

Demikian kuat persahabatan antara Ajar Langse dengan Rakrian Kembar

atau barangkali demikian besar pengaruh angan-angan bisa meraih

pangkat jabatan lebih tinggi dalam waktu singkat, apa yang dikehendaki

Ra Kembar itu ditelan begitu saja.

”Bagaimana?” tanya Ra Kembar.

”Akan kulakukan,” jawab Ajar Langse.

”Bagus, aku akan mendahului untuk menyiagakan anak buahku.

Lakukan saja perintahku mumpung ada kesempatan.”

Namun, apa yang direncanakan manusia belum tentu sesuai dengan

apa yang menjadi kehendak Hyang Widdi. Ra Kembar yang

416 Gajah Mada

meninggalkan Bale Gringsing tak menyadari sesuatu di luar dugaan

terjadi, bahkan Ra Kembar tak tahu secara langsung peristiwa itu.

Adalah Ajar Langse yang menutup pintu dengan racun telah berada

di dalam genggaman tangannya terperanjat ketika ia membalikkan badan.

Ajar Langse bahkan tak memiliki kesempatan yang cukup untuk

menyiagakan diri. Ayunan tangan orang yang tiba-tiba berdiri di

belakangnya menghantam kepalanya hingga terjengkang.

Ajar Langse menggeliat kesakitan ketika ayunan kaki orang itu

menghantam pinggangnya. Namun, Ajar Langse memiliki kesempatan

untuk mencabut pisau dan melenting. Akan tetapi, yang tidak diduga

adalah apa yang dilakukan lawannya yang mengayunkan kaki dalam

gerakan memutar dan cepat sekali. Hantaman kaki keras itu menghajar

dagunya menyebabkan sekali lagi Ajar Langse terjengkang.

Meski demikian Ajar Langse masih mampu bangkit memberikan

perlawanan, apalagi ia memegang pisau sementara lawannya tidak. Ajar

Langse memanfaatkan kesempatan untuk balas menyerang, sabetan pisau

diarahkan ke leher lawannya dan segera disusul dengan mengayunkan

sabetan susulan. Namun, lawannya mempunyai kemampuan kelahi yang

tidak bisa diremehkan. Dengan merendahkan tubuh ia balas menyerang

dengan mengayunkan kaki menghajar perut Ajar Langse.

Ajar Langse terjatuh, berusaha sekuat tenaga memberikan

perlawanan. Namun, lawannya yang berbadan lebih tegap dan lebih kekar

mampu bertindak lebih cermat dan cekatan. Orang itu menyergap dan

mengunci tubuhnya. Ajar Langse yang tidak mau mati begitu saja

berusaha sekuat tenaga mengayunkan pisau dalam genggaman

tangannya. Akan tetapi, musuhnya lagi-lagi mampu mengunci tangannya

dan dengan tenaga yang tidak terlawan bahkan mampu membelokkan

arah pisau itu untuk amblas ke dadanya.

Berkelejotan Lurah Ajar Langse, matanya melotot seperti akan

keluar ketika kematian datang menjemputnya. Maut memisahkan jiwa

dari raganya. Demikianlah sifat jiwa yang selalu butuh tubuh yang nyaman

untuk ditempati. Ketika tubuh tidak lagi menjadi tempat bersemayam

yang nyaman, jiwa pun pilih melayang terbang meninggalkannya.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 417

Orang yang telah membunuh Ajar Langse itu berlepotan darah di

tangannya. Sebelum ia memutuskan apakah akan melompat ke dinding

di sebelah Bale Gringsing, darah itu dibersihkan dengan diusapkannya

ke tembok.

Betapa terkejut Nyai Lengger ketika masuk kembali setelah tidak

mampu menahan keinginan untuk kencing, mendapatkan kenyataan yang

mengagetkan. Mayat yang tergeletak tak jauh dari amben tempat Senopati

Gajah Enggon berbaring, bisa dikenalinya sebagai Ajar Langse. Nyai

Lengger merasa lehernya tercekik dan betapa sulitnya membebaskan

diri dari cekikan yang menyebabkan ia mengalami kesulitan bernapas.

Nyai Lengger benar-benar tidak sadar ia tengah mencekik diri sendiri,

dua tangannya dengan kuat mencengkeram lehernya sendiri.

Ketika sadar Nyai Lengger pun melolong, jeritnya mengagetkan

semua orang dan mengundang siapa pun berdatangan ke tempat itu.

Termasuk Sekar Kedaton Dyah Wiyat yang sedang melintas halaman

samping, dikejutkan oleh jeritan melengking yang membuatnya gugup.

Bayangan keranjang berisi mangga yang menyembunyikan ular sangat

sulit untuk dienyahkan dari benaknya.

36

Gajah Mada memandang Lurah Singa Darba yang telah

mengakhiri bercerita sebatas apa yang ia tahu. Gajah Mada yang berniat

melanjutkan mengajukan pertanyaan memutuskan membatalkan

pertanyaan itu saat melihat dua ekor kuda berderap. Patih Daha Gajah

Mada menempatkan diri berdiri di tengah pendapa Balai Prajurit.

418 Gajah Mada

Dua ekor kuda yang berderap kencang itu ditunggangi oleh

pimpinan pasukan Jalapati dan pimpinan pasukan Sapu Bayu yang datang

memenuhi panggilan. Senopati Haryo Teleng mendahului memberikan

penghormatannya, disusul oleh Senopati Panji Suryo Manduro. Gajah

Mada masih belum berbicara ketika melihat tiga ekor kuda lagi berderap

datang yang masing-masing ditunggangi oleh Bhayangkara Lembu

Pulung, Panjang Sumprit, dan Kartika Sinumping. Panggilan yang dilepas

menggunakan anak panah sanderan itu ternyata juga menarik perhatian

mereka.

Wibawa Gajah Mada memang demikian besar. Tidak seorang pun

dari orang-orang yang hadir di pendapa Balai Prajurit yang berani

mendahului berbicara.

Senopati Panji Suryo Manduro berdebar-debar berhadapan dengan

Gajah Mada, yang dengan tajam memandang matanya serasa menusuk

langsung ke ulu hati. Gajah Mada tak hanya membuat Senopati Panji

Suryo Manduro berdebar-debar, Senopati Haryo Teleng juga dibuat

gelisah.

”Sebagaimana kalian semua tahu,” kata Gajah Mada. ”Saat ini

Senopati Gajah Enggon berhalangan memimpin pasukan Bhayangkara

karena belum siuman. Karena itu, aku mengambil alih kendali atas

pasukan khusus Bhayangkara. Kuberitahukan hal ini kepada kalian agar

bisa menyesuaikan diri.”

Senopati Panji Suryo Manduro dan Senopati Haryo Teleng saling

melirik dan mengangguk bersamaan. Keputusan Patih Daha Gajah Mada

mengambil alih kendali pimpinan pasukan Bhayangkara bukan masalah

karena di kurun waktu sebelumnya Gajah Mada adalah pimpinan dari

pasukan itu. Lebih dari itu, selama panglima perang berada dalam kendali

mendiang Sri Baginda Jayanegara, Gajah Madalah orang yang ditunjuk

menjalankan tugas panglima sehari-hari. Dengan Sri Jayanegara telah

tiada, dengan Gajah Mada memegang samir khusus pertanda ia memiliki

kewenangan untuk mewakili ratu dan sekaligus memegang lencana

kepatihan maka Gajah Mada telah menjelma menjadi tak ubahnya

panglima itu sendiri.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 419

”Kamu, adakah hal penting yang akan kamu laporkan kepadaku?”

tanya Patih Daha diarahkan kepada Senopati Panji Suryo Manduro.

Panji Suryo Manduro bersikap tegak. Namun, Patih Daha Gajah

Mada ternyata masih melanjutkan kata-katanya, ”Aku dengar Ra Kembar

tidak puas dengan jabatan dan kedudukannya sekarang?”

Senopati Panji Suryo Manduro merasa tak nyaman.

”Aku minta maaf, Kakang Gajah, karena telah kecolongan. Salah

seorang anak buahku ternyata melakukan tindakan tanpa berbicara dan

melapor kepadaku. Rakrian Kembar telah mengambil langkahnya sendiri

menyerbu ke Karang Watu. Celakanya aku mendengar itu justru dari

cerita Senopati Haryo Teleng baru saja, saat perjalanan kemari.”

Haryo Teleng menambah, ”Aku mendapatkan laporan itu dari Lurah

Prajurit Singa Darba.”

Semula Senopati Panji Suryo Manduro mengira Gajah Mada akan

mendamprat dirinya yang jelas bersalah tidak mampu membina anak

buahnya. Akan tetapi, dugaan itu ternyata salah. Gajah Mada tidak

mengumbar amarah. Gajah Mada tetap bersikap tenang. Dengan jelas

Gajah Mada memaparkan apa yang dilakukan oleh sekelompok orang

di Karang Watu, sekelompok orang yang memiliki cita-cita akan

meruntuhkan Majapahit dan mendirikan sebuah negara baru. Kelompok

para petualang itu bahkan memiliki lambang yang akan digunakan sebagai

lambang negara apabila kelak telah berhasil apa yang dicita-citakan.

Lambang buah maja yang selama ini dikeramatkan dibelit ular oleh orangorang

itu.

Gajah Mada kemudian melengkapi apa yang disampaikan itu dengan

bercerita tentang sepak terjang Pakering Suramurda yang telah diketahui

jati dirinya sebagai paman dari Raden Cakradara. Diduga keras orang

itu adalah juga Rangsang Kumuda, orang yang bertanggung jawab atas

pembunuhan-pembunuhan yang terjadi, dimulai dari pembunuhan atas

Panji Wiradapa disambung dengan pembunuhan-pembunuhan

berikutnya. Kematian Bhayangkara Lembang Laut oleh ular dan

kemudian Rubaya yang juga dipagut ular jelas berhubungan dengan orang

420 Gajah Mada

yang memiliki kemampuan bermain-main dengan ular, apalagi lambang

yang ditemukan itu juga berkait dengan ular dalam bantuk binatang

melata itu sedang membelit buah maja.

”Kuminta kepada kalian berdua untuk masing-masing mengirim

pasukan dan menyerbu tempat itu. Apa pun kesalahan yang dilakukan

Ra Kembar yang mengambil jalan sendiri tanpa minta izin, tetap saja

niatnya baik. Aku mencemaskan Ra Kembar sedang masuk ke sarang

harimau karena kesembronoannya. Nah, Panji Suryo, apabila kamu masih

menyayangi anak buahmu itu segera kirim pasukan untuk membantunya

agar Ra Kembar kelak bisa tampil sebagai kesatria yang pinunjul dan

dibicarakan oleh banyak orang. Ditepuktangani oleh para gadis.”

Apa yang dirasakan oleh Senopati Panji Suryo Manduro merupakan

sebuah sindiran yang mengelupas permukaan jantungnya. Namun, Suryo

Manduro berlapang dada menerimanya.

Gajah Mada tidak berminat berbicara dengan dua senopati itu lebih

lama. Patih Daha mengusir mereka agar tidak terlampau banyak

kehilangan waktu. Dalam perjalanan balik Senopati Haryo Teleng dan

Panji Suryo dibayangi rasa penasaran melihat Patih Daha tidak melibatkan

Bhayangkara dalam menggempur orang-orang makar itu. Di belakang

Panji Suryo Manduro dan Haryo Teleng, Lurah Prajurit Singa Darba

tidak banyak bicara. Ia memacu kudanya tak kalah cepat dari dua orang

senopati pimpinan Jalapati dan Sapu Bayu.

Sepeninggal Senopati Haryo Teleng dan Suryo Manduro, Gajah

Mada hanya ditemani oleh beberapa orang Bhayangkara utama yang

kehadirannya tidak lengkap. Tidak ada Gagak Bongol karena sedang

memimpin pengarcaan dan pencandian di Taman Makam Antawulan,

juga tak ada Gajah Enggon yang belum siuman, tidak ada Pradhabasu

yang telah menyatakan diri keluar dari kesatuannya.

Bhayangkara Lembu Pulung, Panjang Sumprit, Kartika Sinumping,

Jayabaya, Riung Samudra, Gajah Geneng, dan Macan Liwung kini tidak

muda lagi. Di atas bibir mereka mereka masing-masing melintang kumiskumis

sekepal membuat penampilan mereka menjadi sangar.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 421

Bhayangkara Panjang Sumprit bahkan terlihat paling tua karena semua

rambutnya telah memutih, padahal usianya belum genap tiga puluh tahun.

Menjelang Patih Daha Gajah Mada melepas jabatan sebagai

pimpinan pasukan Bhayangkara karena memperoleh kepercayaan

menjadi patih di Jiwana, Gajah Mada menyampaikan gagasan pemekaran

pasukan khusus itu menjadi seratus orang. Prabu Sri Jayanegara menerima

gagasan itu dan menyerahkan pemekaran itu kepada Gajah Enggon

sekaligus menaikkan pangkatnya menjadi senopati. Di bawah kendali

Gajah Enggon pemekaran pasukan itu dilaksanakan dengan latihan yang

amat berat, menjadi sebab para calon yang dilatih berguguran satu per

satu.

Dalam pemekaran itulah Bhayangkara yang ketika itu hanya tersisa

sepuluh orang masing-masing membina dan melatih sepuluh orang.

Melalui pelatihan yang ketat dan berat yang dilakukan selama berbulanbulan

pada siang dan malam, akhirnya diperolehlah seratusan orang dari

hasil menyaring lima ratus orang. Hasil kerja keras Bhayangkara Lembu

Pulung, Panjang Sumprit, Kartika Sinumping, dan kawan-kawannya

berbuah manis. Di tangan mereka, pasukan Bhayangkara telah menjelma

menjadi pasukan khusus yang sangat disegani, pilih tanding, dan sanggup

menghadapi medan sesulit apa pun. Kemampuan perorangan dalam

melepas panah atau mengayunkan pisau benar-benar luar biasa.

”Siapa yang tahu bagaimana denah Karang Watu?” tanya Gajah

Mada.

Bhayangkara Lembu Pulung meminta perhatian dan langsung

berbicara.

”Karang Watu merupakan tanah datar berlatar belakang tebing

menjulang. Luas Karang Watu lebih kurang dua atau tiga kali luas Tambak

Segaran, terlindung oleh Sungai Brantas yang meliuk. Tempat itu secara

alamiah memang terlindung dari luar. Untuk masuk ke tempat itu harus

menyeberang sungai,” kata Lembu Pulung.

Gajah Mada berpikir.

”Semula aku berniat memimpin penyerbuan itu secara langsung,

namun aku batalkan. Kalau kamu yang aku tunjuk memimpin, seberapa

sulit untuk masuk ke sana melalui tebing di belakangnya?”

422 Gajah Mada

”Tidak masalah,” jawab Lembu Pulung.

Gajah Mada menekuk-nekuk jemari tangannya mengeluarkan suara

gemeletuk.

”Kita masih buta ada berapa besar kekuatan yang menghimpun

diri di tempat itu dan seberapa kental semangat tempur kelompok

berencana makar itu. Akan tetapi, sebagaimana kalian mengetahui,

kesatrian Jalapati dan kesatrian Sapu Bayu telah mengirim kekuatan untuk

menyerbu tempat itu, juga ditambah kekuatan Ra Kembar yang berangkat

lebih dulu. Nah, seberapa banyak kekuatan Bhayangkara yang harus

diterjunkan dari tebing?”

Pertanyaan itu membuat Lembu Pulung berbinar-binar.

”Aku hanya membutuhkan sepuluh orang. Kekuatan Bhayangkara

sebanyak seratus orang terlampau banyak untuk dikirim ke sana. Sepuluh

orang kurasa cukup untuk melakukan penyapuan.”

Akan tetapi, Gajah Mada punya pendapat lain.

”Untuk menjamin kamu benar-benar berhasil, bawa dua puluh

orang. Langkah dan siasat apa yang akan kauambil dalam penyerbuan

itu, sepenuhnya aku serahkan kepadamu, termasuk siapa saja yang akan

kaubawa. Terjuni tempat itu ketika Karang Watu disibukkan oleh serbuan

Ra Kembar, pasukan Jalapati, dan Sapu Bayu. Tangkap hidup-hidup

orang yang bernama Rangsang Kumuda dan Raden Panji Rukmamurti

yang bermimpi menjadi raja itu.”

”Baik, Kakang,” jawab Bhayangkara Lembu Pulung.

Serbuan yang akan dilakukan ke Karang Watu ternyata sangat

menarik Bhayangkara Jayabaya, yang tak bisa menyembunyikan keinginan

untuk dilibatkan. Demikian juga dengan Bhayangkara Riung Samudra,

Panjang Sumprit, dan Kartika Sinumping yang dari bahasa wajahnya

jelas meminta izin Gajah Mada.

”Kalian berempat, Bhayangkara Jayabaya, Riung Samudra, Panjang

Sumprit, dan Sinumping, aku izinkan untuk membantu Lembu Pulung

menyerbu Karang Watu. Sementara Gajah Geneng dan Macan Liwung,

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 423

aku ada tugas untuk kalian tengah malam ini untuk menyergap Pakering

Suramurda yang akan mengadakan pertemuan dengan Raden Cakradara.”

Bhayangkara Gajah Geneng dan Macan Liwung menjawab serentak,

Tandya, Kakang Gajah Mada.”

Semua cukup jelas dan tak perlu ada yang dibicarakan lagi. Gajah

Mada segera membubarkan pertemuan itu dan pilih pulang ke rumah

untuk beristirahat. Dua orang prajurit yang bertugas menjaga pintu

gerbang Balai Prajurit serentak bangkit memberi penghormatan ketika

Gajah Mada melintas.

Gajah Mada yang melintas alun-alun memerhatikan matahari makin

doyong ke barat menjemput datangnya sore. Dari arah Antawulan

tampak serombongan orang berjalan kaki, baik pria maupun wanita,

baik tua maupun muda. Mereka adalah orang-orang yang baru pulang

bergotong-royong mendarmakan dan mencandikan Sang Prabu.

Dalam keadaan yang demikian Gajah Mada merasa membutuhkan

Pradhabasu. Tetapi, di mana Pradhabasu? Mantan prajurit Bhayangkara

itu tidak tampak batang hidungnya sejak menemuinya di makam

Antawulan. Padahal, Patih Daha Gajah Mada sedang membutuhkan

keterangan terkait Dyah Menur. Demikian banyak persoalan yang muncul

dan naik ke permukaan menyebabkan Gajah Mada harus mengurutkan

penyelesaian persoalan itu satu per satu.

37

Malam menukik tajam dan membutuhkan waktu sedikit lama

bila menunggu keluarnya bulan yang telah beberapa hari lewat dari

purnamanya. Suasana gerah itu dirasakan di istana kiri karena tak ada

424 Gajah Mada

hubungan dalam bentuk apa pun antara Raden Kudamerta dengan

istrinya. Raden Kudamerta sungguh merasa canggung, bingung tak tahu

harus bersikap bagaimana kepada istrinya. Bila berpapasan, Sekar

Kedaton Dyah Wiyat lebih memilih menghindar.

Agak berbeda dengan istana sebelah kanan yang sedikit lebih ceria

daripada kedaton Rajadewi Maharajasa. Sri Gitarja mampu bersikap

seolah tidak tahu apa-apa, tidak pernah mendengar apa-apa. Setidaknya

Sri Gitarja mampu berpikir lebih jernih dan bisa menerima kenyataan

dengan ikhlas. Di satu sisi Sri Gitarja bisa menikmati kebahagiaannya

dalam berkeluarga, ke depan Sri Gitarja berharap Raden Cakradara dan

siapa pun pendukungnya akan sadar dengan sendirinya.

Namun, pembunuhan-pembunuhan yang terjadi yang merupakan

gambaran persaingan antara dua satria, Raden Cakradara dan Raden

Kudamerta, sungguh sangat mengganggu ketenangannya. Bahwa

Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani tidak tahu bagaimana atau

langkah apa yang harus dilakukan untuk menyiasati keadaan itu, hal itu

sungguh membebani hatinya. Itulah sebabnya, makin Tribhuanatunggadewi

Jayawisnuwardhani berpikir maka makin bulat keputusannya

untuk tidak bersedia dinobatkan menjadi ratu menggantikan Jayanegara.

Sri Gitarja melihat Dyah Wiyat lebih layak menduduki jabatan itu dan ia

ikhlas untuk mengalah memberi kesempatan kepada adiknya menjadi

ratu.

Bersandiwara adalah hal yang paling berat untuk dilakukan. Hal

berat macam itulah yang harus dijalani. Sri Gitarja bersikap biasa, bersikap

mesra, dan seolah amat bahagia. Dan, bersandiwara pula yang sedang

dilakukan Raden Cakradara. Bersikap tidak jujur dan pura-pura itu harus

dijalaninya, padahal Raden Cakradara yakin Sri Gitarja sebenarnya tahu

api dalam sekam macam apa yang asapnya mengepung istana Majapahit.

Sri Gitarja pasti sangat mudah memperoleh keterangan dari berbagai

sumber, pasti ada yang bercerita latar belakang macam apa di balik

pembunuhan yang terjadi secara beruntun itu.

Keadaan di kedaton satunya lebih parah lagi. Raden Kudamerta

berulang kali berusaha untuk mengajak istrinya berbicara, tetapi Dyah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 425

Wiyat tidak memberi pintu. Dyah Wiyat sama sekali tidak memberi

kesempatan kepada Raden Kudamerta mendekatinya. Dyah Wiyat benarbenar

marah karena telah dilecehkan. Sama sekali tidak pantas anak

seorang raja seperti dirinya dilecehkan. Lelaki yang mengawininya

ternyata lelaki jenis bulus, terbukti telah memiliki istri dan menempatkannya

sebagai istri kedua. Namun, Dyah Wiyat juga sering merenung

mengupas diri sendiri. Sangat jauh di dalamnya hati Dyah Wiyat

membelejeti diri sendiri.

”Aku menganggap Kakang Kudamerta tidak adil, tak jujur. Tetapi,

bagaimana dengan diriku sendiri? Kenapa aku tak bicara blak-blakan

bagaimana kisah asmaraku dengan Kakang Rakrian Tanca?”

Sejak perkawinannya, temanten baru itu belum tidur bersama.

Gelisah yang kali ini dialami Raden Kudamerta bukan karena hal itu.

Namun oleh kesadaran pada sebuah hal, Dyah Menur saat ini berada di

istana, berada pada jarak yang amat dekat, tetapi tak diketahui di mana,

apakah bersama Emban Prabarasmi atau di bangsal emban yang lain,

yang jelas di istana. Raden Kudamerta sungguh gelisah memikirkan hal

itu. Begitu kuatnya keinginan bertemu Dyah Menur, namun sekuat itu

pula ia berusaha menahan diri. Raden Kudamerta sangat sadar, para

prajurit yang menjaga istana, yang meronda dan mengamatinya dari

kejauhan adalah orang-orang Patih Daha Gajah Mada yang sedang

mengawasinya.

Dugaan Raden Kudamerta benar, bahwa istrinya memang tinggal

sebangsal dan bahkan sebilik dengan Emban Prabarasmi. Malam agak

menukik, namun Dyah Menur belum bisa tidur. Dyah Menur yang

berbaring segera bangkit.

”Kaudengar suara itu?” tanya Menur dengan berbisik.

Prabarasmi memerhatikan.

”Suara seruling itu?” tanya Emban Prabarasmi.

Tentu Dyah Menur sangat mengenali suara seruling itu, yang ditiup

mengalunkan tembang sedih, tembang duka atas nama rindu dendam.

Dyah Menur bisa merasakan betapa sesak dada Raden Kudamerta saat

itu, sesak yang disalurkan melalui tiupan seruling.

426 Gajah Mada

”Pernah mendengar suara seruling itu sebelumnya?” tanya Dyah

Menur.

Prabarasmi menggeleng.

”Belum,” jawabnya.

”Raden Kudamerta peniupnya.”

Prabarasmi menyimak dan menemukan kenyataan betapa indah

irama yang tersalur melalui seruling itu.

”Itu suamimu yang meniup?”

Dyah Menur mengangguk.

”Aku tidak menyangka, Raden Kudamerta ternyata memiliki

kemampuan itu. Tak sembarang orang bisa meniup seruling.”

Dyah Menur termangu dalam diam. Waktu mengalir menggilasnya,

memaksa mengeluarkan air mata.

”Aku iri melihatmu. Setidaknya kau memiliki sesuatu yang bisa

membuatmu menangis. Ada yang membuatmu rindu dan merasa sedih.

Aku tidak memiliki. Untuk sekadar bersedih hati, aku tidak punya sesuatu

yang kusedihkan. Atau, kesedihanku mungkin karena aku tak punya kisah

sepertimu,” kata Prabarasmi.

Dyah Menur berusaha tersenyum, namun tak bisa menahan air

matanya yang mengalir. Prabarasmi tidak mampu menahan rasa ibanya.

Prabarasmi menawarkan sebuah pelukan yang diterima dengan senang

hati oleh Dyah Menur.

”Bagaimana kalau kuatur sebuah pertemuan untukmu dengan

suamimu?”

Dyah Menur memandang Emban Prabarasmi dengan tatapan mata

amat larut. Tawaran itu sungguh menggodanya. Sungguh membahagiakan

hati bila bisa bertemu dengan suaminya, Dyah Menur akan

melompat dan menjatuhkan diri ke pelukannya. Namun, tawaran yang

diberikan Emban Prabarasmi itu tidak diambil. Dyah Menur menggeleng.

”Kenapa?”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 427

Dyah Menur tidak memberikan jawaban mengapa, namun dengan

tegas Dyah Menur menolak tawaran itu dengan amat bulat.

”Benar kau tidak ingin berjumpa dengan suamimu? Aku bisa

mengatur hal itu jika kau menghendaki.”

Kembali Dyah Menur menggeleng. Meski lunglai, jawabannya

sangat tegas.

”Aku belum siap. Kurasa suamiku pun tidak siap.”

Suara seruling itu memanjat menapaki nada tinggi yang dilantunkan

dengan seketika, tidak mengambil dari tembang yang telah dikarang

orang. Raden Kudamerta dengan kesedihan yang sempurna meledakkan

gumpalan beban di dadanya. Maka tak hanya Dyah Menur yang

menitikkan air mata menyimak alunan nada yang membelah udara dari

seruling yang ditiup itu. Sejatinya Raden Kudamerta pun menitikkan air

mata.

Adalah Dyah Wiyat yang juga gelisah. Dyah Wiyat menyimak alunan

suara seruling yang mengalir bagai gelombang laut selatan itu. Dyah

Wiyat bisa membaca meski ia tidak memiliki kemampuan meniup, bahwa

nada-nada yang mengombak itu merupakan gambaran kerinduan yang

bukan kepalang.

Begitu kuatnya pesona yang keluar dari alunan seruling itu, Dyah

Wiyat yang berbaring pun bangkit dan berjalan menuju jendela kamarnya.

Dengan sangat berhati-hati Sekar Kedaton istana kiri itu membuka

jendela dan mengintip. Namun, Rajadewi tidak berhasil menemukan

orang yang dicarinya.

”Sebuah kemampuan yang tak kuketahui, Kakang Raden Kudamerta

ternyata bisa meniup seruling dengan begitu indah,” kata hati

Sekar Kedaton.

Namun, rupanya alunan seruling itu juga sangat mencuri perhatian

siapa pun. Di bangsal para emban, mereka heboh dan saling berbisik di

antara mereka sendiri. Tidak hanya para emban, di kediaman para Ratu

suara seruling itu juga mencuri perhatian. Ibu Ratu Gayatri yang berada

428 Gajah Mada

dalam sikap semadi di sanggar pamujan,172 terusik keheningan mata hatinya

oleh alunan indah itu. Namun, Ibu Ratu Gayatri tidak perlu marah oleh

gangguan itu. Ratu Gayatri bahkan amat menikmati.

Ibu Ratu Gayatri bahkan bangkit dan keluar untuk mencari tahu.

”Kaudengar suara itu?” tanya Ratu Gayatri kepada emban pelayan

dalam.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab emban pelayan dalam. ”Hamba

memerhatikan seruling itu sejak tadi. Tiupan yang indah sekali, Tuan

Putri, serasa sebuah ungkapan kesedihan istri yang kehilangan suaminya.”

Penggambaran yang diberikan emban itu mencuri perhatian Ratu

Gayatri.

”Begitu menurutmu?”

Emban pelayan dalam itu mengangguk. Ratu Gayatri memerhatikan

emban itu sekaligus telinganya memerhatikan suara seruling yang makin

menggeliat dan menapaki nada-nada sulit. Ibu Ratu bahkan menyempatkan

memejamkan mata.

”Bagaimana kau bisa menerjemahkan nada-nada itu seolah seperti

yang kaukatakan? Seperti kesedihan seorang istri yang kehilangan suami.

Apakah menurutmu peniup seruling itu seorang perempuan?” tanya

Gayatri.

Emban itu menunduk, ia tak punya keberanian untuk menceritakan

perjalanan hidupnya, bahwa sebenarnya dirinya yang kehilangan suami,

yang mati sangat muda. Perkawinannya baru berjalan enam bulan dan

sedang indah-indahnya dinikmati saat Hyang Widdi melalui Yamadipati

mencabut nyawa suaminya.

”Bisakah aku minta tolong kepadamu?” tanya Ratu.

Berlepotan emban pelayan dalam itu dalam menyembah.

”Hamba, Tuan Putri,” jawabnya.

172 Sanggar pamujan, Jawa, tempat atau ruang khusus untuk bersemadi

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 429

”Coba kaucari tahu, siapa peniup seruling itu.”

”Kalau itu, hamba sudah tahu jawabnya, Tuan Putri. Raden

Kudamerta.”

Ratu Gayatri mengangguk perlahan dan menyempatkan menyimak

lebih teliti. Ratu Gayatri dengan kejernihan mata hatinya memang mampu

membaca warna hati macam apa yang bergolak di hati peniup seruling

itu karena meski tak seterampil Raden Kudamerta, Ibu Ratu juga bisa

meniup seruling.

Berbeda dengan Ibu Ratu Gayatri yang mempunyai minat demikian

besar, Ibu Ratu Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari menjadikan

alunan seruling indah itu sebagai pengantar tidur. Ibu Ratu tertua

menikmati alunan seruling itu tanpa ingin tahu siapa peniupnya. Di wisma

yang lain yang masih menjadi bagian dari keputren, Ibu Ratu Sri

Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita telah tidur, namun suara seruling

itu menyelinap ke dalam mimpinya. Di wisma yang lain dan masih

merupakan bagian dari keputren, suara seruling itu justru menggiring

Sri Jayendradewi Dyah Dewi Pradnya Paramita teringat kepada suaminya.

Dan, di kedaton kanan.

”Kaudengar suara itu, Kakang?” tanya Sri Gitarja.

Raden Cakradara bangkit dan ikut memerhatikan.

”Seruling itu?”

Sri Gitarja memerhatikan lebih cermat.

”Siapa orang yang meniup seruling seperti itu?”

Rupanya, siapa pun yang meniup seruling itu telah merambah ke

wilayah yang lebih jauh, kerinduannya berubah menjadi dendam atau

amarah, tergambar jelas dari penjelajahannya di nada-nada tinggi, begitu

liar penuh geliat. Namun, dengan segera nada itu kembali ke nada rendah

gambaran dari ketidakmampuan peniupnya dalam menghadapi masalah.

Raden Cakradara tentu tahu siapa peniup seruling itu, tetapi ia tak

ingin menyebut namanya.

430 Gajah Mada

”Indah sekali,” gumam Sri Gitarja sambil membaringkan diri dan

menyusup ke dalam pelukan suaminya.

Raden Kudamerta benar-benar tuntas dalam menumpahkan isi

hatinya. Tidak ada secuil sisa pun dari beban hatinya yang tidak dibuang

melalui kelincahan jemari tangannya. Demikian indah suara seruling yang

terbuat dari bambu pilihan itu sampai-sampai semua binatang malam

merasa malu bersuara. Tidak terdengar suara katak kongkang, tak

terdengar suara cenggeret bahkan jangkrik sekalipun. Sungguh tak ada

yang berani mengganggu keindahan suara itu, semua takut bila alunan

itu menghilang dan tidak terdengar lagi.

Namun, Raden Kudamerta memang harus menghentikan

permainannya ketika tiba-tiba terdengar suara derap kuda dari arah alunalun

depan istana. Derap kuda itu juga mengagetkan para prajurit yang

bertugas jaga. Mereka segera berloncatan sambil berusaha secepatcepatnya

mempersiapkan diri. Namun, penunggang kuda itu datang

dengan mendadak dan tanpa diduga-duga, melintas cepat sambil melepas

anak panah. Raden Kudamerta tercekat karena merasa anak panah itu

diarahkan kepadanya. Namun, untunglah Raden Kudamerta karena

masih ada selisih jarak sedepa, anak panah itu menancap di pintu.

Penunggang kuda itu kemudian melesat meninggalkan jejak jelas bahwa

kuda yang ditungganginya berwarna putih sementara penunggangnya

berjubah warna putih. Seorang prajurit bahkan bisa menandai

penunggang kuda itu tak hanya berjubah putih, tetapi juga menutupi

wajahnya dengan sebuah topeng berwarna putih.

Dengan jantung serasa berhenti berdegup, Raden Kudamerta

mengamati anak panah itu dan menggunakan obor memeriksanya.

Agaknya anak panah itu dilepas tidak untuk membunuh Raden

Kudamerta. Selembar daun rontal terikat pada gagang anak panah. Raden

Kudamerta melepas dan membukanya.

”Tengah malam, Raden, di Padas Payung, Raden akan melihat

sesuatu.”

Raden Kudamerta mengerutkan kening setelah membaca tulisan

itu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 431

”Seseorang memberi tahu aku supaya tengah malam ini pergi ke

Padas Payung jika ingin melihat sesuatu.”

Raden Kudamerta berpikir keras.

”Siapa orang berkuda tadi?” Raden Kudamerta bertanya dalam hati.

Namun, siapa pun orang yang melepas anak panah itu jelas tidak

bermaksud membunuhnya. Anak panah itu dilepas untuk menyampaikan

sebuah maksud.

Beberapa orang prajurit datang mendekat. Mereka semula tidak

melihat Raden Kudamerta. Obor yang dipegangnya yang menjadi

petunjuk.

”Raden, ada apa?”

Raden Kudamerta berkeputusan merahasiakan apa yang terjadi.

”Tidak ada apa-apa. Siapa orang berkuda tadi?”

”Tidak bisa dikenali, Raden, tetapi orang itu berdandan dengan

cara aneh. Ia mengenakan jubah putih dan menutupi wajahnya dengan

topeng. Kudanya berwarna putih.”

Raden Kudamerta memerhatikan langit luas dengan gemerlap

bintang yang bertaburan. Raden Kudamerta mengukur waktu untuk

mengetahui berapa jengkal lagi sang waktu akan membawanya tepat ke

tengah malam.

Pada saat bersamaan dengan itu di istana kanan, Raden Cakradara

dicemaskan oleh sang waktu pula. Raden Cakradara berharap istrinya

segera tidur, tetapi Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani masih

terjaga.

432 Gajah Mada

38

Penunggang kuda putih berjubah dengan warna putih pula melesat

ke tengah alun-alun, membuat bingung beberapa orang yang sedang

baris pendhem di tempat itu. Gajah Mada tak melibatkan orang lain selain

Bhayangkara Gajah Geneng dan Macan Liwung. Tiga perwira

Bhayangkara itu menempatkan diri di atas dahan, melekat tanpa bersuara

menyatu menjadi bagian dari batang pohon yang didekapnya. Tak ada

yang mengetahui keberadaan mereka yang dari awal menempatkan diri

di pohon beringin itu. Dengan cara itulah, mereka melakukan pengintaian

terhadap Pakering Suramurda yang diyakini akan mengadakan pertemuan

dengan Raden Cakradara.

Gajah Mada, Gajah Geneng, dan Macan Liwung tak melakukan

apa pun. Apa yang dilakukan hanyalah menunggu sampai pertemuan

itu terjadi. Namun, apa yang diharap Gajah Mada sama sekali tidak sesuai

dengan dugaan Gajah Mada. Penunggang kuda putih berpakaian seperti

brahmana karena mengenakan jubah putih itu berhenti tidak jauh dari

pohon beringin. Tanpa sebab yang jelas orang itu tertawa bergelak-gelak,

terpingkal seolah ada sesuatu yang sangat lucu.

”Siapa orang itu?” berbisik Gajah Mada.

”Tidak tahu,” jawab Macan Liwung.

”Kenapa orang itu tertawa?” Gajah Geneng meletupkan rasa

penasarannya.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Gajah Mada menemukan

jawabnya agak terlambat.

”Orang itu menertawakan kita.”

Dugaan Gajah Mada ternyata benar.

”Apa yang kalian lakukan tengah malam begini dengan bersembunyi

di dahan beringin seperti itu? Kalian berniat menyaingi burung hantu?”

bertanya orang dengan jubah putih itu.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 433

Gajah Mada terheran-heran. Apa yang dilakukannya di pohon

bramastana itu jelas amat rahasia, tak ada seorang pun yang mengetahui.

Pengintaian itu dilakukan dengan sangat rahasia, lalu bagaimana ada

seseorang tak dikenal bahkan menertawakan apa yang dikerjakannya.

Gajah Mada bersama anak buahnya tidak mau terpancing begitu saja,

tiga orang itu masih bertahan melekat dan menempatkan diri menunggu.

Penunggang kuda berjubah putih meloncat turun dari kudanya.

Dari bajunya ia mengeluarkan batu titikan untuk menyalakan api. Sebuah

panah sanderan rupanya telah disiapkan. Ujung anak panah dinyalakan

ke api dan berubah menjadi obor. Dari tempatnya Gajah Mada dan

Macan Liwung serta Gajah Geneng bisa memerhatikan penampilan

orang itu dengan jelas, namun tak mungkin menebak siapa pemilik wajah

yang berada di balik topeng yang dikenakannya.

Orang tak dikenal itu merentang gendewa mengarahkan bidikannya

ke batang pohon beringin. Lintasan api yang melesat bisa dilihat dengan

jelas ke mana arahnya disusul oleh suara tertawa terkial yang kembali

meledak. Penunggang kuda berjubah putih berbalik dan memacu

kudanya meninggalkan alun-alun. Gajah Mada merayap turun dari dahan,

disusul Macan Liwung dan Gajah Geneng. Sebuah rontal yang terikat di

gagang anak panah dengan segera mencuri perhatian Gajah Mada.

Menggunakan api yang masih menyala, kalimat yang tertulis pada

lembaran rontal itu dibaca bersama.

”Tak akan ada pertemuan apa pun di pohon beringin yang kalian

tunggu. Para burung hantu yang akan menyelenggarakan pertemuan

terpaksa membatalkan acaranya karena ada orang-orang yang salah

tempat menggunakan pohon bramastana di tengah alun-alun. Pergilah

kalian ke Padas Payung, di sana orang yang kalian intai bertemu. Jika

kau merasa penasaran siapa aku, sebut saja aku Bagaskara Manjer

Kawuryan.”

Gajah Mada benar-benar terperanjat serasa wajahnya tersiram air

panas.

Ketika ia mengulang kembali, kalimat itu tidak pernah berubah. Di

atas rontal itu benar-benar tertulis sebuah kalimat keramat, kalimat sandi

434 Gajah Mada

yang membutuhkan waktu sembilan tahun lamanya untuk mengetahui

siapa orang yang menggunakannya. Kini tiba-tiba ada orang lain, orang

tidak dikenal yang menyelubungi diri di balik jubah putih menggunakan

nama yang sama. Yang pasti Gajah Mada yakin, orang itu bukan Ra

Tanca karena ia telah mati.

Lalu, adakah orang lain yang mengetahui makna di balik nama itu?

”Bagaskara Manjer Kawuryan? Siapakah orang yang mencoba

bermain-main denganku menggunakan nama yang mestinya terkubur

bersama kematian Ra Tanca?” Gajah Mada meletupkan rasa

penasarannya dalam hati.

Gajah Mada berusaha mengenang, siapa saja orang yang mengetahui

kalimat sandi itu. Bagaskara Manjer Kawuryan mempunyai arti matahari

terang benderang, itulah kunci yang digunakan berhubungan dengan

orang yang memberi bocoran atas sepak terjang Ra Kuti. Sembilan tahun

sejak pemberontakan Ra Kuti, baru diketahui orang yang berada di balik

nama itu adalah ra Tanca. Setelah Ra Tanca mati, kini tiba-tiba ada orang

lain yang menggunakan.

”Siapa dia? Bagaimana dia bisa tahu kalimat sandi itu?”

Bhayangkara Macan Liwung dan Gajah Geneng saling pandang.

Tak hanya kalimat sandi itu yang membuat mereka penasaran, tetapi

pesan yang dikirim itu juga memancing rasa ingin tahu yang membutuhkan

jawaban dengan segera.

”Apa artinya ini?” tanya Gajah Mada masih dengan hati meluap.

Namun, Gajah Geneng dan Macan Liwung tidak memiliki jawabnya.

”Bagaimana, Kakang Gajah?” tanya Gajah Geneng. ”Kakang

memercayai orang itu?”

Patih Daha Gajah Mada yang berdiri di bayangan pohon beringin

segera keluar melihat bintang-bintang yang bertaburan di nabastala.

Menggunakan pengetahuannya terhadap keberadaan bintang-bintang.

Dengan menandai di arah mana sebuah bintang berada, bisa diketahui

pula keberadaan waktu, apakah waktu sudah merambah tengah malam

atau belum.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 435

”Sudah tengah malam,” kata Gajah Mada. ”Sejauh ini kita belum

menemukan tanda-tanda kemunculan Raden Cakradara dan Pakering

Suramurda. Kita tinggalkan tempat ini. Aku lebih memercayai orang

itu, kita ke Padas Payung.”

39

Padas Payung, dinamai demikian karena tebing yang memayungi

jalan. Pada sore hari tempat itu menjadi tempat yang sejuk karena pohon

bambu yang lebat dan memanjang menghalangi matahari sejak bergulir

dari puncaknya. Jalan panjang, lurus, dan rata di Padas Payung sering

digunakan beradu balap kuda. Raden Cakradara dan Raden Kudamerta

sering beradu balap di tempat itu. Tak hanya digunakan beradu balap

kuda, Padas Payung juga sering dimanfaatkan untuk beradu balap burung

dara. Tempat itu juga sering didatangi penduduk kotaraja untuk

bercengkerama. Manakala pandangan matanya diarahkan ke timur,

lembah dan ngarai tampak indah.

Karena sering digunakan untuk beradu balap kuda, itulah sebabnya

Raden Cakradara sangat mengenal tempat itu. Kedatangannya ke Padas

Payung di tengah malam yang pekat itu karena sebagaimana pesan yang

ia terima dari Gemak Trutung, di tempat itulah ia harus bertemu

pamannya, Pakering Suramurda, yang ulahnya telah merepotkannya.

Sebuah perapian dinyalakan di tepi jalan itu memanfaatkan kayukayu

kering yang tidak sulit didapat, tampak lima orang lelaki duduk

mengelilinginya. Tidak ada pembicaraan apa pun di antara mereka, apa

yang mereka lakukan dengan api adalah untuk mengusir nyamuk

sekaligus membakar ketela untuk mengganjal perut. Seorang di antara

436 Gajah Mada

mereka memilih rebahan bersandar batu besar. Tidurnya begitu lelap

terbaca dari dengkur yang terdengar keras.

Di tempat yang terlindung dan berada dalam jarak yang cukup dekat,

Raden Kudamerta yang mengintip bisa mengenali salah seorang di antara

mereka Pakering Suramurda. Empat yang lain Raden Kudamerta pernah

tahu wajahnya, tetapi tak tahu namanya. Yang jelas mereka adalah prajurit

yang masing-masing berpangkat lurah berasal dari kesatuan Sapu Bayu.

Raden Kudamerta mengintip tempat itu dan melakukan pengintaian

sebagaimana permintaan orang berjubah putih yang mengirim

pemberitahuan melalui rontal yang diikatkan ke anak panah yang dilepas.

Orang berjubah putih itu pula yang memancing kedatangan Gajah Mada

dan dua anak buahnya untuk hadir di tempat itu.

Raden Kudamerta yang berdiri melekat pada batang pohon sambil

menahan napas dan nyeri yang masih terasa di dadanya sama sekali tak

menyadari tak jauh dari tempatnya berada ada orang lain yang melakukan

hal sama. Menyadari warna putih adalah warna yang menyolok, orang

itu tidak memakai jubahnya. Duduk di batang pohon talok tua yang

berdaun lebat, dengan sabar orang itu menunggu apa yang akan terjadi

di tempat itu. Orang itu berniat menyaksikan apa yang terjadi tanpa niat

melibatkan diri.

Adalah Patih Daha Gajah Mada yang tiba pula ke tempat itu bersama

Macan Liwung dan Gajah Geneng harus mengakui kebenaran orang

berjubah putih yang mengirim pesan kepadanya. Pada jarak yang cukup

Gajah Mada memutuskan turun dari kudanya dan mendekati sasaran

dengan berjalan kaki. Dari jauh nyala api yang terlihat menunjukkan

adanya orang-orang yang melakukan kegiatan di tempat itu.

Ketika berada pada jarak yang belum cukup untuk bisa menyimak,

Gajah Mada memberi isyarat untuk merayap. Pada jarak cukup dekat,

Gajah Mada bisa menandai dengan jelas siapa saja orang-orang itu. Gajah

Mada mengenal mereka kecuali seorang di antaranya yang ia yakini

sebagai Pakering Suramurda, yang menjadi dalang rantai pembunuhan

yang terjadi.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 437

”Lurah Damar Windu, Lurah Arya Dwasa, Lurah Ndaru Pitu, dan

Lurah Suro Kanigoro. Rupanya mereka menyembunyikan wajah lain.

Yang seorang itu tentulah Pakering Suramurda.”

Gajah Mada yang mengintip amat terbantu oleh api dan bulan yang

memanjat makin tinggi. Dari tempatnya Gajah Mada bisa melihat dan

mengenali wajah masing-masing. Di sebelahnya, Bhayangkara Gajah

Geneng dan Macan Liwung bertahan untuk jangan sampai menimbulkan

suara. Namun, rasa penasaran Gajah Mada masih mengombak.

”Siapa pula orang berjubah putih dan berkuda putih itu?” tanya

Gajah Mada dalam hati dan untuk diri sendiri.

Pemahaman terhadap kata sandi Bagaskara Manjer Kawuryan

sangat terbatas dan nyaris terkubur oleh waktu yang telah bergerak

sembilan tahun lamanya. Namun, ternyata di luar sana, entah siapa,

setidaknya ada orang yang tahu makna kata sandi itu. Di balik

penampilannya yang aneh, menunggang kuda putih, mengenakan jubah

berwarna putih, dan menyembunyikan wajah di balik topeng, orang itu

mengetahui banyak hal, mengetahui adanya kata sandi Bagaskara Manjer

Kawuryan dan terbukti juga mengetahui adanya pertemuan yang

dilakukan di Padas Payung.

Beberapa jenak setelah menunggu, Patih Daha Gajah Mada

menggamit tangan Gajah Geneng dan Macan Liwung. Dari jarak yang

masih jauh, namun Gajah Mada memiliki telinga yang cukup tajam untuk

menandai kuda yang berderap datang itu.

”Raden Cakradara datang,” bisik Gajah Mada.

Macan Liwung hanya mengangguk.

Tidak hanya Gajah Mada, Macan Liwung, dan Gajah Geneng, yang

terpancing perhatiannya oleh derap kuda yang datang mendekat itu. Di

persembunyiannya yang terpisah di seberang, Raden Kudamerta menguasai

diri agar jangan sampai bersuara, jangan batuk ataupun bersin. Tak jauh

dari Raden Kudamerta, seseorang melekat pada dahan pohon.

Seiring dengan waktu yang terus bergerak, derap kuda itu makin

lama makin dekat. Pakering Suramurda segera bangkit sambil

438 Gajah Mada

membangunkan seorang temannya yang sedang tidur. Benar sebagaimana

diduga, Raden Cakradara yang datang. Patih Daha Gajah Mada memberi

isyarat kepada Gajah Geneng dan Macan Liwung jangan sampai

mengeluarkan suara. Di tempatnya, Raden Kudamerta menyimak

pembicaraan yang akan terjadi dengan saksama.

Raden Cakradara yang melompat turun dari kuda tidak melepas

tali kendali kudanya. Raden Cakradara memerhatikan wajah Pakering

Suramurda dengan mata tidak berkedip.

”Aku benar-benar kecewa, Paman,” kata Raden Cakradara. ”Apa

yang Paman lakukan merepotkan aku. Paman menempatkan aku di

tempat yang sulit. Gajah Mada mencurigai aku terlibat dan mendalangi

pembunuhan-pembunuhan itu. Apabila nanti apa yang Paman lakukan

terbongkar, orang akan mengira aku berada di belakangnya. Kuminta

Paman membatalkan semua rencana dan silakan Paman pergi jauh.”

Pakering Suramurda memerhatikan wajah keponakannya dengan

pandangan mata kecewa. Pakering Suramurda punya alasan untuk merasa

kecewa, namun tidak cukup punya kepintaran merangkai kata-kata.

”Kau memiliki peluang itu, Cakradara,” kata Pakering Suramurda.

”Lihatlah mereka yang akan menempatkan diri mendukungmu. Mereka

yang menempatkan diri menjadi pagar betis mengamankan dirimu bila

takhta nantinya jatuh ke tanganmu.”

Di persembunyiannya, Raden Kudamerta menghirup udara lebih

banyak sambil tetap bertahan jangan sampai keberadaannya mengintip

pertemuan itu ketahuan. Penilaian Raden Kudamerta terhadap Raden

Cakradara sedikit agak berubah dari yang semula amat meyakini Raden

Cakradara terlibat atas pembunuhan anak buah dan pendukungnya.

”Aku tidak memikirkan peluang itu, Paman,” jawab Raden

Cakradara sangat tegas.

”Apa maksudmu, Cakradara,” balas Pakering Suramurda kasar.

”Sudah cukup jelas, Paman,” jawab Raden Cakradara. ”Aku tidak

bermimpi sebagaimana cara Paman bermimpi. Apa yang Paman lakukan

menurutku kebablasan dan justru merusak namaku. Paman membunuh

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 439

orang-orang Adi Kudamerta, terakhir Paman mendalangi pembunuhan

atas Raden Kudamerta. Orang paling bodoh pun akan mengarahkan

perhatiannya kepadaku.”

”Aku tidak melakukan semua itu,” jawab Pakering Suramurda

dengan sangat kasar.

Raden Cakradara tertegun dan tak mampu berbicara.

”Kamu pikir aku yang melakukan semua pembunuhan itu,

Cakradara? Bukan aku pelakunya,” Pakering Suramurda melanjutkan

dengan bentakan kasar.

Raden Cakradara sangat mengenal pamannya yang berkemampuan

memutarbalikkan kenyataan. Telah berulang kali Pakering Suramurda

terbukti mengatakan tak sesuai seperti kenyataan yang ada. Merah

dikatakan hitam atau sebaliknya hitam akan dikatakan merah. Kini

Pakering Suramurda bahkan tak mengakui pembunuhan yang

didalanginya. Jauh sebelumnya, berulang kali Pakering Suramurda

menyampaikan langkah apa saja yang akan dilakukan. Pakering

Suramurda telah melepas ancaman akan menyingkirkan Raden

Kudamerta untuk memuluskan langkahnya. Ancaman itu terbukti telah

dilakukan.

”Aku tidak melakukan semua pembunuhan itu, Cakradara,” berkata

Pakering Suramurda. ”Di luar sana ada orang berkeliaran melakukan

perbuatan sama seperti yang kurencanakan. Bukan aku pelakunya.”

Raden Cakradara membuang muka.

”Namun demikian,” Pakering Suramurda melanjutkan, ”aku tak

peduli pada pembunuhan-pembunuhan itu. Hanya saja aku harus

mengingatkan kamu, Cakradara. Kaupunya gegayuhan. Kaupunya mimpi

yang harus dijelmakan menjadi kenyataan. Bukan hal yang mustahil untuk

menggapai mimpimu. Lihat Lurah Damar Windu, Lurah Arya Dwasa,

Lurah Ndaru Pitu, Lurah Suro Kanigoro, dan masih banyak lagi yang

akan menempatkan diri di belakangmu. Di belakang mereka ada kekuatan

yang cukup besar untuk membetengi dirimu. Kaupunya kesempatan itu

jika tergerak pikiranmu.”

440 Gajah Mada

Raden Cakradara merasa tidak nyaman karena Pakering Suramurda

berbicara terlalu dekat. Raden Cakradara mendorongnya hingga nyaris

terjengkang.

”Semua itu bukan angan-anganku, Paman,” teriak Raden Cakradara.

”Angan-angan itu angan-angan Paman, bukan angan-anganku. Mimpi

itu mimpi Paman bukan mimpiku.”

Jawaban yang disampaikan dengan suara meledak itu benar-benar

membuat Pakering Suramurda kecewa. Pakering Suramurda yang

membangun mimpi terlalu tinggi itu benar-benar kecewa melihat

keponakannya ternyata lelaki lembek yang tak punya nyali.

”Dasar perempuan, kamu,” umpat Pakering Suramurda.

Umpatan itu menyebabkan Raden Cakradara tersinggung. Akan

tetapi, dengan sekuat tenaga Raden Cakradara mengendalikan diri dan

berusaha untuk tak ikut larut dan terpancing kemarahan pamannya.

Namun, ucapan Pakering Suramurda memang membuat telinganya

merah.

”Kamu bukan lelaki, tetapi kamu perempuan. Kalaupun kamu

bersuami istri dengan Sri Gitarja maka tempatmu tak lebih dari

permaisuri. Kamu permaisuri dan Sri Gitarja itu rajanya. Tidak bisakah

matamu melihat kedudukan seperti itulah yang akan kamu jalani?”

Raden Cakradara menggigil. Namun, Raden Cakradara tak mampu

membalas caci maki itu dengan caci maki. Di luar dugaan Pakering

Suramurda, tiba-tiba Raden Cakrada menghunus keris. Tercekat Pakering

Suramurda melihat apa yang diperbuat Raden Cakradara.

”Kamu menantangku?” Pakering Suramurda meledak.

”Kata-kata Paman kelewatan. Meski kau pamanku, aku tak peduli

meski kau mati di tanganku.”

Raden Cakradara yang tersinggung tak perlu menimbang lebih lama.

Dengan sekuat tenaga ia mengayunkan kerisnya. Keris berlekuk enam

itu bukan keris sembarangan, namun Raden Cakradara merasa yakin

menyandarkan rasa aman pada keris itu. Keris yang ia beri nama Kiai

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 441

Blawur dengan bilahnya yang berwarna hitam berlumur racun, tak hanya

warangan yang dilulurkan pada keris itu, tetapi juga racun ular yang

mematikan, ular dumung kebo.

Meski telah tua usianya, Pakering Suramurda memiliki kesempatan

untuk melenting menghindar sambil melepas isyaratnya. Lurah Lurah

Damar Windu, Lurah Arya Dwasa, Lurah Ndaru Pitu, dan Lurah Suro

Kanigoro, berloncatan memberi kepungan yang rapat.

”Kalau ternyata tak ada gunanya, untuk apa kamu hidup?” ucap

Pakering Suramurda dengan kasar.

Pakering Suramurda telah sampai pada keputusan untuk

memusnahkan Raden Cakradara yang mengecewakan hatinya itu.

Keponakan yang di-gadang-gadang bakal menguasai takhta melalui

mengawini Sri Gitarja ternyata menempatkan diri pada sikap yang

mengecewakan hatinya. Pakering Suramurda mengeluarkan keris

andalannya.

”Kuberi kesempatan kepadamu untuk mengambil sikap yang benar,

Cakradara,” ancam Pakering Suramurda.

Namun, jawaban yang diterima sungguh membuat Pakering

Suramurda kaget bagai disengat kelabang. Jawaban itu tidak berasal dari

mulut Raden Cakradara, tetapi dari mulut Gajah Mada yang telah berdiri

di belakangnya.

”Raden Cakradara sudah mengambil sikap, Pakering Suramurda.

Sebaiknya jangan kaupaksa ia mengambil sikap yang tidak sejalan dengan

isi hatinya.”

Raden Cakradara terkejut meski derajat kekagetannya tak melebihi

Pakering Suramurda. Demikian pula dengan Lurah Damar Windu, Lurah

Arya Dwasa, Lurah Ndaru Pitu, dan Lurah Suro Kanigoro, langsung

pucat pasi melihat siapa yang datang dan memergoki dengan mata dan

kepala secara langsung perbuatan mereka. Sebelah-menyebelahi Patih

Daha Gajah Mada, Bhayangkara Gajah Geneng dan Bhayangkara Macan

Liwung sedang merentang gendewa dengan anak panah mengarah,

membuat para lurah prajurit itu sontak lemas tak berdaya.

442 Gajah Mada

Gajah Mada mengarahkan tatapan matanya pada raut wajah para

lurah yang terlibat dalam rencana perebutan kekuasaan itu. Lurah Damar

Windu merasa seolah dunia berada di ambang kiamat, kematian melalui

hukuman gantung telah menunggu di depannya. Pucat pasi Lurah Arya

Dwasa yang tiba-tiba mengalami kesulitan untuk bernapas, lehernya bagai

dicekik menggunakan tali tambang. Sementara Lurah Ndaru Pitu dan

Suro Kanigoro berubah menjadi orang paling tolol, tidak tahu bagaimana

cara menghadapi keadaan itu.

”Penyakit yang dulu pernah menjangkiti Jala Rananggana dan

Jalayuda ternyata masih ada sisanya di kesatrian Sapu Bayu. Kalian

membuatku amat kecewa dan berpikir, manfaat apakah yang bisa

diperoleh negara dengan membiarkan kalian masih bernapas?” tanya

Gajah Mada.

Pertanyaan yang dilontarkan Patih Daha Gajah Mada itu membuat

para lurah prajurit tiba-tiba merasa keliru dalam mengambil langkah.

Nyali yang semula menggelembung karena dikipasi Pakering Suramurda

itu mengempis dan bahkan tak bersisa jejaknya. Apalagi, gendewa yang

direntang Bhayangkara Macan Liwung dan Bhayangkara Gajah Geneng

terarah kepada mereka. Lurah Suro Kanigoro memberi contoh kepada

teman-temannya dengan meletakkan semua senjata yang dipunyai mulai

dari pedang panjang yang selalu menggantung di pinggang, keris, dan

bahkan pisau belati. Semua diletakkan di tanah. Lurah Damar Windu.,

Lurah Arya Dwasa, dan Lurah Ndaru Pitu tak memerlukan waktu yang

lebih panjang untuk meniru contoh itu, menyebabkan Pakering

Suramurda tersudut.

Pakering Suramurda berpikir, untuk menyelamatkan diri dari tempat

itu tidak ada jalan lain selain melarikan diri. Namun, Gajah Mada bisa

menebak ke mana arah pikiran orang tua itu.

”Kamu sudah tua, Ki Pakering,” kata Gajah Mada datar. ”Pikirkan

lebih dulu sebelum memutuskan melarikan diri. Bertanyalah pada

napasmu, apakah masih punya kemampuan untuk mendukung niatmu.”

Apa yang dikatakan Gajah Mada benar, Pakering Suramurda tak

mungkin bisa meloloskan diri. Menyerah mungkin pilihan terpahit yang

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 443

harus diambil ketika tidak punya pilihan lain, atau jika pilihan lain itu

ada adalah menelan pilis racun warangan yang disimpan di ikat pinggang.

Satu butir pilis berisi warangan itu ditelan maka akan membebaskannya

dari Gajah Mada. Akan tetapi, dengan pasti mengantarkan dirinya ke

pintu gerbang kematian.

Namun, Pakering Suramurda tak perlu mengambil pilihan itu.

Suramurda tiba-tiba terhenyak dan sedikit terlambat menyadari apa yang

menimpanya. Ketika tangan Pakering Suramurda meraba dadanya, ada

gagang anak panah yang menancap tepat di belahan dadanya.

”Paman,” Raden Cakradara terhenyak.

Gajah Mada segera berteriak, ”Ada orang melepas anak panah.”

Suara orang berlari di kejauhan menggerakkan Bhayangkara Gajah

Geneng untuk segera bertindak. Tanpa harus diperintah Bhayangkara

Gajah Geneng melesat berlari mengejar arah sumber suara.

Pakering Suramurda terbelalak dalam memegangi gagang anak

panah yang tenggelam di tengah dadanya. Sakit yang timbul dirasakan

nyeri bukan kepalang dan tidak memberi kesempatan kepada paman

Raden Cakradara itu untuk bertahan lama. Hal itu karena ujung anak

panah yang menancap berlumur bisa. Pakering Suramurda ambruk untuk

berkelejotan dan mati.

Melihat kesempatan itu Lurah Arya Dwasa memanfaatkan kesempatan

yang terbuka dengan sebaik-baiknya. Lurah Arya Dwasa berlari

meninggalkan tempat itu. Contoh yang diberikan Lurah Arya Dwasa

itu akan ditiru oleh teman-temannya.

”Berpikirlah kalian sebelum bertindak,” ancam Gajah Mada.

Lurah Damar Windu dan Lurah Ndaru Pitu yang siap mengayun

kaki segera membatalkan niatnya oleh kesadaran tak ada gunanya

melarikan diri. Ke mana pun ia bersembunyi pasti bisa ditemukan. Dari

balik rimbun perdu, Lurah Arya Dwasa yang semula memutuskan lari

menyelamatkan diri kembali dengan tangan diletakkan di atas kepala.

Gajah Mada mencabut sebatang anak panah sanderan dari

punggung Gajah Geneng dan menyalakan menggunakan api dari

perapian. Dengan obor anak panah sanderan itu Gajah Mada memeriksa

444 Gajah Mada

anak panah yang telah dicabut dari dada Pakering Suramurda yang tak

bernapas. Anak panah itu kemudian ditunjukkan kepada Macan Liwung.

Namun, sebagaimana Gajah Mada, Macan Liwung juga tidak mengenali

anak panah itu.

Gajah Mada memandang Raden Cakradara.

”Aku telah mendengar semuanya, Raden,” kata Gajah Mada.

”Nantinya akan aku sampaikan semua ini kepada para Ibu Ratu. Beliau

semua yang nanti menentukan nasib Raden. Sekarang silakan Raden

pulang.”

Raden Cakradara memandang mayat pamannya dengan isi dada

mengombak. Akhirnya, tanpa berbicara apa pun Raden Cakradara naik

ke atas kudanya dan memacu berderap kembali ke arah semula. Apa

pun yang dilakukan pamannya, Raden Kudamerta tetap mampu melihat

adanya pertalian darah antara dirinya dengan orang itu. Apalagi, Raden

Cakradara sulit membayangkan bagaimana harus menyampaikan berita

kematian Pakering Suramurda ke Singasari.

Gajah Mada memerhatikan wajah-wajah di depannya satu per satu

menjadikan Lurah Damar Windu dan tiga orang temannya salah tingkah.

”Kalian beruntung karena aku tidak memutuskan mengikat kalian

dan dibawa menggunakan pedati menjadi tontonan orang sekotaraja.

Kembalilah ke kotaraja dan menghadaplah kepada juru kunci pakunjaraan.

Katakan kepada juru kunci kunjara aku memerintahkan kepada kalian

bertiga untuk sementara tinggal di pakunjaran sampai ada keputusan

atas diri kalian masing-masing. Bawa mayat Pakering Suramurda ke Balai

Prajurit.”

Macan Liwung mendongak. Bhayangkara Macan Liwung sama

sekali tidak menduga Gajah Mada yang selalu tegas dan biasanya memberi

hukuman tanpa ampun kepada siapa yang bersalah coba-coba

mengkhianati negara, kali ini bersikap begitu lunak.

”Cepat kerjakan,” teriak Gajah Mada.

Betapa kaget Lurah Damar Windu dan teman-temannya yang

didamprat amat mendadak itu. Tanpa diulang kembali mereka bergegas

mengangkat mayat Pakering Suramurda dan meletakkannya di atas kuda

milik tubuh yang telah tak bernapas itu. Sejenak kemudian para lurah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 445

prajurit yang bernasib sial itu memacu kudanya ke arah yang sama seperti

menyusul Raden Cakradara yang berkuda lebih dulu. Di hati masingmasing

para lurah prajurit itu tumbuh penyesalan karena salah mengambil

pilihan yang begitu gampang terpesona bujuk rayu Pakering Suramurda.

Tidak seorang pun dari mereka berempat yang berniat lari karena

melarikan diri merupakan pilihan yang lebih buruk daripada masuk

penjara. Lari dari tanggung jawab atas perbuatannya menjadi jaminan

Patih Daha Gajah Mada akan memburu sampai di mana pun bersembunyi,

di lubang semut sekalipun. Lebih parah lagi, keluarganya akan

tersandera. Orang tuanya, istri, dan anak-anaknya bisa berada dalam

bahaya.

”Aku tidak berhasil mengejar, Kakang,” lapor Gajah Geneng yang

kembali.

Gajah Mada termangu seperti orang melamun.

”Menurutmu, siapa orang yang membunuh Pakering Suramurda?”

Gajah Mada bertanya memecah keheningan malam.

Macan Liwung menggelengkan kepala tak tahu jawabnya. Gajah

Geneng juga menggelengkan kepala ketika Gajah Mada meminta

pendapat dirinya. Bagi Gajah Mada, jelas ada sesuatu yang aneh dengan

kematian Pakering Suramurda.

”Ada banyak alasan, mengapa Pakering Suramurda dibunuh dengan

cara itu. Amat mungkin Pakering Suramurda menyimpan sebuah rahasia,

lalu ada pihak lain di belakangnya yang tidak ingin rahasia itu terbuka.

Kira-kira siapa menurutmu? Atau, rahasia macam apa yang disembunyikan

itu?” tanya Gajah Mada.

Macan Liwung dan Gajah Geneng berpikir keras.

”Tidak mungkinkah jawaban yang dibutuhkan itu akan diperoleh

di Karang Watu?”

Gajah Mada mengunyah pertanyaan itu, ”Bisa jadi.”

Keheningan malam yang merambat itu mendadak pecah oleh suara

tawa yang bergelak-gelak. Dengan segera Gajah Mada mengenali siapa

orang yang tertawa itu. Siapa pun orang itu, ia telah menunjukkan arah

yang benar ke Padas Payung. Tanpa petunjuk orang itu, ia akan tetap

446 Gajah Mada

menunggui pohon beringin yang tumbuh di tengah alun-alun istana.

Meskipun berusaha memerhatikan, Patih Daha Gajah Mada tak mampu

menandai milik siapa suara tertawa bergelak-gelak itu.

Orang yang tertawa bergelak itu makin lama makin menjauh dan

lenyap. Tak lama kemudian terdengar derap kuda di kejauhan. Gajah

Mada, Gajah Geneng, dan Macan Liwung tidak mengambil sikap apa

pun ketika derap kuda yang semula dikira menjauh itu ternyata berbalik

arah. Gajah Mada berloncatan menepi ketika kuda berwarna putih

dengan penunggang bertopeng mengenakan jubah yang juga berwarna

putih berderap amat kencang nyaris menabraknya.

Gajah Geneng merentang gendewa dan akan melepas anak panah.

”Jangan,” Gajah Mada mencegah.

Gajah Geneng mengendorkan kembali gendewa yang telah

melengkung itu.

”Siapa pun orang itu, ia memihak kita. Dalam sikapnya yang

berseberangan, Ra Tanca yang pernah menggunakan nama sandi

Bagaskara Manjer Kawuryan terbukti memihak kita melalui menyalurkan

banyak keterangan yang saat itu amat dibutuhkan. Firasatku mengatakan,

orang itu berniat sama. Biarkan saja apa yang dilakukan.”

Gajah Geneng mengangguk, ”Apa sekarang yang kita lakukan?”

Patih Daha Gajah Mada memandang nabastala, memerhatikan

bintang untuk mengukur waktu telah berada di mana. Di kejauhan, sangat

jauh, terdengar kentongan yang dipukul dengan irama doro muluk173

menandai keadaan aman sekaligus tanda waktu benar-benar tengah

berada di puncak malam.

173 Doro muluk, Jawa, nama isyarat kentongan dengan nada tertentu sebagai tanda keadaan aman.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 447

40

Tebing bebatuan Karang Watu menjulang tinggi dan sangat terjal.

Demikian tegak tebing itu, amat mungkin pada zaman dulu sebagian

ambrol tenggelam karena gua bawah tanah yang berada tepat di

bawahnya jebol. Pada mulanya tebing tinggi itu menjadi seperti latar

terhadap sungai yang melebar di depannya. Akan tetapi, lambat laun

endapan tanah dan bebatuan yang terbawa air sungai menumpuk banyak.

Hujan sangat deras yang terjadi dengan tiba-tiba telah mengubah bentuk

sungai dari yang semula luas merata lalu berbelok melengkung tepat di

depan tebing. Seiring dengan waktu yang terus bergerak, endapan tanah

dan kayu-kayu yang hanyut makin banyak, menjadikan tanah bebatuan

yang semula lebih rendah dari sungai menjadi lebih tinggi dan rimbun.

Penyebutan Karang Watu sangat sesuai dengan keadaannya, tempat itu

dipenuhi dengan bebatuan mulai dari yang sekecil jemari sampai yang

sebesar gajah bengkak.

Tempat itu kini menyimpan geliat dan perasan keringat. Kerja keras

atas nama sebuah keyakinan mengubah Karang Watu menjadi tempat

yang tidak terjamah siapa pun. Tak seorang pun berani mendekat dan

memang tidak memancing orang datang mendekat. Selanjutnya, Karang

Watu menjadi tempat yang amat terlindung, dari arah belakang tidak

mungkin orang datang karena terlindung tebing tinggi, sementara dari

arah depan terlindung sungai melengkung yang cukup lebar dan dalam.

Menjadi lebih terlindung karena di sepanjang tepian sungai yang

melengkung diberi pagar kayu tinggi yang disamarkan di belakang semak

dan perdu.

Melalui sebuah kerja keras wilayah seluas dua kali Tambak Segaran

itu disulap menjadi tanah lapang yang digunakan untuk berlatih perang.

Di tempat itu dibangun sebuah pendapa yang sangat besar yang bahkan

ukurannya melebihi Balai Prajurit di Kotaraja Majapahit. Pendapa itu

tidak terlihat dari luar sungai karena terlindung oleh barisan pohon kelapa

448 Gajah Mada

dan bambu. Di belakang bangunan induk terdapat bangsal panjang yang

dihuni lebih dari dua ratus orang yang setiap hari, siang dan malam

berlatih amat keras, baik secara perorangan maupun kelompok. Bangsal

memanjang itu ditopang oleh tiang bambu dengan atap ijuk sehingga

sebenarnya sangat mudah terbakar.

Untuk keperluan geladi perang dalam kelompok tersedia tanah

lapang yang cukup luas, memadai dimanfaatkan menerjemahkan berbagai

gelar perang mulai dari gelar Gajahmeta, Diradameta, Supit Urang,

Cakrabyuha, bahkan sampai ke Pasir Wutah. Di tepi lapangan atau tepat

di tengah panjang lapangan dibagi dua, sebuah tiang dari bambu

mengibarkan sebuah bendera yang dibiarkan berkibar siang malam.

Bendera itu bukan gula kelapa atau buah maja berlatar kain bercorak

gringsing lobheng lewih laka, tetapi buah maja berlilit taksaka. Mulut ular

yang terbuka lebar seolah akan menelan buah maja.

Jumlah dua ratus orang itu tentu belum memadai bila dibanding

kekuatan yang dimiliki Majapahit. Kekuatan lima ribu orang pasukan

Sapu Bayu di bawah pimpinan Senopati Panji Suryo Manduro terlalu

tinggi untuk dihadapkan hanya dengan dua ratus orang itu. Apalagi, bila

dihadapkan dengan pasukan Jalapati yang memiliki kekuatan dua kali

lipat kekuatan pasukan Sapu Bayu. Akan tetapi, yang besar selalu berasal

dari kecil. Apabila dibiarkan, yang hanya dua ratus orang itu akan

merepotkan, menyita banyak waktu, tenaga, dan tambahan rasa pusing

di kepala. Sejarah membuktikan apa yang terjadi di Tumapel merupakan

contoh yang tak terbantah. Kediri harus menelan pilis pahit karena

menganggap remeh pemekaran Tumapel di bawah mantan begal Ken

Arok. Ketika kekuatan dirasa cukup, Kediri harus tumbang dalam perang

Ganter sekaligus menandai awal berdirinya Rajasawangsa atau

Girindrawangsa.

Setidaknya ada dua orang yang sangat berpengaruh di Karang Watu.

Orang yang pertama dipanggil raden, menjadi pertanda siapa pun dia

tentulah berdarah biru, warna darah bangsawan. Raden Panji Rukmamurti

nama pucuk pimpinan gerombolan yang menghimpun kekuatan

di Karang Watu itu masih berusia muda. Bertubuh kurus dengan rambut

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 449

dibiarkan memanjang, tetapi tidak di-gelung keling. Sepintas melihat, orang

akan mengira Raden Panji Rukmamurti berjenis kelamin perempuan.

Dalam dandanan wajar, siapa pun menilai Raden Panji Rukmamurti

seorang pemuda yang tampan. Gadis-gadis yang melihat wujud wajarnya

akan kasmaran. Kumis yang melintang dengan rambut diikat kain udeng

menambah ketampanan pimpinan orang-orang yang menghimpun diri

di Karang Watu itu. Namun, Raden Rukmamurti yang tidak banyak

bicara itu lebih senang berdandan tidak wajar. Apa yang dilakukan pada

wajahnya bahkan menjadi contoh dan ditiru anak buahnya. Mungkin

bosan menjadi buah bibir para gadis cantik, Raden Panji Rukmamurti

mencoreng-moreng wajahnya menggunakan jelaga. Dengan wajah dibuat

hitam seperti itu ternyata bahkan memberi kobaran semangat anak

buahnya. Bahkan Rangsang Kumuda pun tidak mau kalah. Rangsang

Kumuda ikut-ikutan mencoreng-moreng wajahnya hingga tidak seorang

pun bisa mengenali wajahnya.

Rakrian Kembar salah besar dalam mengukur kekuatan musuh. Ra

Kembar dengan lima puluh orang anak buahnya memandang ke seberang

sungai tempat Karang Watu berada dengan penuh perhatian. Dalam

siraman cahaya bulan yang mulai memanjat langit dan cukup untuk

melapangkan jarak pandang, dengan pacak baris penuh keyakinan, Ra

Kembar menyiapkan taklimat sebelum penyerbuan.

Tepat lima puluh orang jumlah prajurit yang mendukung

penyerbuan itu. Tiap sepuluh orang prajurit dengan pangkat rendahan

berada di bawah pimpinan seorang prajurit yang dituakan, masing-masing

adalah Prajurit Bajang Alit, Prajurit Kenayan, Prajurit Sulung Baung,

Prajurit Goda Pasa, dan Prajurit Arya Pamgat Jiwa.

”Kita manfaatkan perahu yang ada untuk menyeberang, begitu

sampai di sana langsung mengendap. Kita serbu mereka dengan serangan

mendadak.”

Ra Kembar benar-benar telah mempersiapkan mereka dengan

sebaik-baiknya. Juga membakar semangat melalui menebar janji-janji,

mereka yang berjasa pada negara akan mendapatkan anugerah pangkat

450 Gajah Mada

menjadi lurah prajurit semua. Ra Kembar menjanjikan kepada pendukungnya

untuk bersama-sama mukti wiwaha, tidak sebaliknya hamukti

lara lapa terus sepanjang waktu.

”Semua siap?” tanya Ra Kembar tegas.

Tandya,” jawab para prajurit pendukungnya serentak.

Rakrian Kembar akhirnya memberi isyarat untuk naik ke atas perahu

yang telah tersedia di tempat itu tanpa rasa curiga sedikit pun, mengapa

ada banyak perahu bagai dengan sengaja disiapkan untuk menyambut

kedatangan mereka. Ra Kembar merasa penyerbuan itu terlalu mudah.

Lebar sungai yang setara separuh lebar Tambak Segaran bisa menyulitkan

bagi yang tidak bisa berenang. Namun, dengan tersedianya perahuperahu,

penyeberangan ke Karang Watu terasa sangat mudah. Bahkan

untuk membekuk gerombolan para petualang di Karang Watu itu pun

sangatlah mudah.

Ra Kembar bahkan sangat tidak sabar untuk bisa sampai ke

seberang. Itulah sebabnya, Ra Kembar menempatkan diri bergabung

dengan perahu paling depan yang bisa diisi oleh sepuluh orang. Disusul

perahu berikutnya yang menampung sejumlah itu pula. Disusul lagi oleh

perahu berikutnya dan perahu berikutnya.

Tak seorang pun dari mereka yang menyadari bahaya sedang

mengintai. Sungai yang dalam mengalir tenang dengan air serasa tidak

bergerak, tetapi di bagian bawah ada arus yang tidak wajar, itulah arus

bawah yang sulit ditebak ke mana geraknya. Apalagi, yang berada di

arus bawah itu bukanlah keadaan yang wajar. Tentu, karena ada puluhan

orang yang berenang di kedalaman. Mereka bisa bertahan di bawah air

karena menggunakan ruas bambu seruling untuk bernapas.

Betapa terperanjat Ra Kembar yang hampir sampai di seberang itu

ketika tiba tiba perahu yang ditumpanginya bergoyang dengan keras.

Demikian kuat goyangan itu menyebabkan perahu itu terbalik dan

penumpangnya tercebur berhamburan. Tidak bisa ditolak kemalangan

yang datang karena pisau-pisau dari bawah air menawarkan tikaman

yang mematikan.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 451

”Gila, apa ini?” Ra Kembar berteriak.

Apa yang terjadi tidak hanya menimpa perahu Ra Kembar, tetapi

juga perahu-perahu di belakangnya yang jungkir balik menumpahkan

semua penumpang. Serangan yang datang dengan cara tidak terdugaduga

itu mengisap habis kekuatan yang dibawa Ra Kembar. Kekuatan

yang dipikir cukup untuk menggilas Karang Watu itu langsung larut

memberi warna merah, itulah darah dari luka-luka. Seorang prajurit

mengalami kesulitan luar biasa setelah tercebur dalam air karena tidak

bisa berenang. Air yang bagai tanpa dasar menyulitkannya, tetapi ayunan

pisau yang menghunjam perutnya menyebabkan prajurit itu dengan

sekuat tenaga membayangkan raut wajah adiknya. Adik perempuan satusatunya

yang sedang sangat membutuhkannya setelah kedua orang tuanya

meninggal. Kecemasan yang luar biasa dihadapi prajurit itu. Tidak

sekadar takut terhadap datangnya kematian, tetapi lebih karena cemas

memikirkan Sri Widati, siapa nanti yang akan melindunginya setelah ia

juga pergi untuk selamanya.

”Mati aku, mati aku,” prajurit itu mengalami kesakitan dan

kebingungan luar biasa.

Namun, tidak ada kalimat yang bisa dituntaskan dalam teriakan

karena arus bawah menyeretnya untuk masuk ke pintu gerbang kematian

yang terbuka lebar.

Ra Kembar memanfaatkan kesempatan yang dimiliki untuk melesat

berenang sekuat-kuatnya. Namun, Ra Kembar harus menahan napas

ketika sampai ke seberang disambut dengan ujung tombak yang terarah

ke mukanya. Senyap tanpa ada kegaduhan menjadi pertanda, serangan

yang digelar itu langsung selesai. Yang ada tinggal kegiatan mengikat

sisa penyerbu yang menyerah dan membiarkan mereka yang telanjur

menjadi mayat ikut hanyut bersama aliran sungai.

Rakrian Kembar merasa jantungnya akan lepas. Ra Kembar yang

dipaksa meletakkan tangan di atas kepala menyempatkan memerhatikan

bagaimana nasib segenap anak buahnya dan merenungkan bagaimana

cara mempertanggungjawabkan peristiwa yang terjadi itu di depan

Senopati Panji Suryo Manduro, bahkan di depan Gajah Mada, orang

yang tidak disukainya itu.

452 Gajah Mada

Ra Kembar terjengkang ketika seseorang menendang dadanya. Apa

yang dialami Rakrian Kembar meleset jauh dari apa yang dibayangkan.

Seorang laki-laki dengan wajah dihitamkan jelaga menggelandangnya,

menyebabkan Ra Kembar jatuh bangun. Ra Kembar melihat tidak hanya

dirinya yang mengalami nasib seperti itu, tetapi juga sisa-sisa anak

buahnya yang selamat. Pertempuran yang dibayangkan akan berlangsung

seru, angan-angan menangkap pemimpin orang-orang Karang Watu

tidak terwujud. Sebaliknya, dalam waktu yang sangat singkat, Ra Kembar

harus meletakkan tangan di belakang dan diikat menggunakan tali janget.

”Tinggal sepuluh orang,” keluh Ra Kembar dalam hati.

Yang sepuluh orang itu dipaksa meletakkan tangan di atas kepala.

Beringas orang-orang berwajah hitam itu oleh amarah yang tidak

tertahan, marah karena ada orang yang lancang berani masuk ke wilayah

mereka.

”Siapa pimpinannya?” tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.

Anak buah Ra Kembar menoleh mengarahkan wajah pada dirinya.

Kembar tak mungkin menghindar.

”Kamu pimpinannya?”

Kembali Ra Kembar yang berjongkok terjerembab oleh tendangan

dari arah belakang menghajar punggungnya. Ra Kembar yang amat

menyesali kecerobohannya berusaha menahan sakit.

”Siapa namamu?” tanya orang berbadan gempal itu.

Belum lagi Ra Kembar menjawab, orang-orang berwajah hitam yang

mengelilingi dirinya menyibak, memberi kesempatan kepada orang yang

agaknya memiliki pengaruh amat besar. Termasuk orang yang mencecar

Ra Kembar, orang itu melangkah mundur.

”Berapa jumlah tamu yang datang, Mandrawa?” bertanya orang

yang paling berpengaruh itu.

Rupanya pemilik tubuh gempal itu bernama Mandrawa, dengan

sangat sigap ia menjawab, ”Tamu yang datang tak diundang tidak jelas

berapa jumlahnya, Raden. Akan tetapi, hanya mereka ini yang tersisa.”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 453

Ra Kembar memerhatikan orang yang dipanggil dengan sebutan

raden itu dengan lebih cermat. Namun, tak mungkin baginya untuk

mengenali siapa orang itu karena wajahnya amat hitam dilabur jelaga.

Akan tetapi, Ra Kembar menandai ada yang aneh pada sosok yang

disebut raden itu. Dengan segera Ra Kembar menduga orang itulah

yang oleh Gajah Mada ditandai sebagai pemilik nama Panji Rukmamurti.

Dengan obor yang telah disiapkan, Raden Panji Rukmamurti

memerhatikan wajah Rakrian Kembar.

”Wah, Rakrian Kembar rupanya.”

Ra Kembar terkejut, kaget karena orang itu ternyata mengenal

dirinya.

”Kamu mengenalku?” tanya Kembar.

”Ya,” jawab Panji Rukmamurti. ”Aku mengenalmu sangat baik,

sebaik kamu mengenali dirimu sendiri. Ra Kembar sahabat akrab Rakrian

Tanca, sahabat akrab Rakrian Kuti, juga berteman dengan Rakrian

Banyak, Pangsa serta Ra Yuyu. Berada di mana kamu sembilan tahun

lalu ketika Ra Kuti menarikan tembang kematian? Tak terlibat dalam

makar itu sungguh sangat aneh!”

Rakrian Kembar penasaran. Ra Kembar berusaha mengenali wajah

orang di depannya, tak hanya berusaha mengenali wujud lahiriahnya,

tetapi juga dari suaranya. Namun, Ra Kembar tak mampu menebak

siapa pemilik suara yang diubah-ubah itu. Juga tak mampu menerka

wajah milik siapa di balik jelaga hitam yang dilulurkan ke permukaan

wajah.

”Siapa sebenarnya kamu?” tanya Ra Kembar.

Panji Rukmamurti tertawa, namun tidak berkeinginan membuka

jati dirinya.

”Harus kuakui, telik sandi pasukan Bhayangkara memang luar biasa.

Mereka mampu mengendus tempat ini. Sayang, yang mereka ketahui

hanya permukaan saja. Telik sandi Bhayangkara tidak mampu menebak

seberapa besar kekuatan yang kuhimpun di tempat ini. Sungguh aku

454 Gajah Mada

tidak mengerti, mengapa Gajah Mada mengirim orang yang tak memadai.

Menugasi Rakrian Kembar menyerbu Karang Watu, apa yang bisa

dilakukan Ra Kembar?”

Ra Kembar bertambah penasaran. Sosok berwajah hitam di

depannya itu tahu terlalu banyak, bahkan sangat merendahkan kemampuannya.

Namun, Rakrian Kembar yang semula tersinggung itu memang

harus mengakui tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menggempur

komplotan di Karang Watu itu. Bahkan dengan cara amat

gampang ia bisa dibekuk.

Raden Panji Rukmamurti akan melanjutkan kata-katanya, tetapi ia

batalkan karena seorang anak buahnya berlari mendatangi. Orang itu

basah kuyup karena memilih berenang dalam menyeberangi sungai.

”Apa yang akan kamu laporkan?”

”Di luar ada kekuatan yang lebih besar akan menyusul menyerbu

tempat ini.”

”Seberapa besar?”

”Berkekuatan jauh lebih besar, mungkin lima ratus orang.”

Hening menggeratak dan membungkam semua mulut, termasuk

mulut Raden Panji Rukmamurti. Lima ratus orang tentu jumlah yang

besar dan merepotkan, tetapi tidak tampak kecemasan apa pun di wajah

Raden Panji Rukmamurti.

”Bagaimana dengan Paman Rangsang Kumuda, apakah ia sudah

kembali?”

Tak ada yang menjawab dan itu sudah merupakan jawaban.

”Baiklah,” kata Panji Rukmamurti. ”Berapa pun jumlah mereka tak

masalah. Mari kita menyambut kehadiran mereka dengan senang hati.

Kita jadikan tempat ini sebagai kuburan mereka. Sebelum itu, ikat orangorang

ini.”

Perintah itu tak perlu diulang dan semua orang langsung berhamburan.

Raden Rukmamurti tertawa pendek, tawa yang ditujukan

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 455

kepada Ra Kembar itu dilanjutkan dengan penghinaan yang tidak bisa

dimaafkan. Ra Kembar tidak bisa memanfaatkan tangannya untuk

membasuh ludah yang menyembur mengenai wajahnya.

”Karena kau, Ra Kembar, mestinya dengan senang hati aku akan

menyambut kehadiranmu. Akan tetapi, karena kedatanganmu berniat

mengganggu ketenteraman tempat ini maka akan kusiapkan sebuah

siksaan yang pasti menyebabkan kamu pilih mati.”

Ra Kembar tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Rasa nyeri akibat

hajaran di punggung dan dada mulai terasa. Namun, lebih dari itu, rasa

sakit yang muncul di hati jauh lebih perih, teramat pedih. Pedih itu

nantinya akan menjelma menjadi rasa malu bukan kepalang karena

menjadi olok-olok bahan tertawaan orang se-Majapahit. Ra Kembar tak

habis pikir, bagaimana orang-orang Karang Watu itu menyadari adanya

serangan yang bakal menyerbu tempat mereka.

Serbuan dalam jumlah besar, berkekuatan nyaris lima ratus orang

itu ternyata tidak menyebabkan Panji Rukmamurti merasa ketakutan.

Dengan penuh keyakinan karena merasa benteng perlindungan yang

dimilikinya sangat kuat, pemuda tampan berkumis tipis itu memimpin

langsung menghadapi penyerbu yang datang.

Sebenarnyalah bukan perkara gampang untuk menyeberang masuk

ke tempat itu. Karang Watu dikelilingi pagar kayu yang disamarkan dalam

semak dan perdu, dijaga amat rapat oleh penghuninya dengan panah

siap dilepas. Penyamaran yang mereka lakukan benar-benar menyatu

dengan alam sekitarnya karena berbagai daun dan rerumputan melekat

pada tubuh mereka. Jangankan pada malam hari, bahkan di siang hari

sekalipun akan sulit menandai keberadaannya.

Lalu, di bawah air telah disediakan hadangan yang tidak terduga.

Pendukung Raden Panji Rukmamurti adalah perenang dan penyelam

yang andal. Menggunakan batang bambu seruling untuk bernapas mereka

mampu menempatkan diri di bawah permukaan air dalam waktu yang

lama.

Selanjutnya, perlindungan yang terkuat adalah jebakan-jebakan di

sepanjang tepian Karang Watu karena ada banyak lubang maut yang

456 Gajah Mada

tersamar, yang tak terlihat karena ditutup dengan dedaunan. Padahal di

dalam lubang yang dalam itu terdapat kayu-kayu yang diruncingkan yang

siap menyambut siapa pun yang terperosok. Anak panah yang siap

melesat benar-benar banyak karena menjadi bagian dari jebakan itu pula.

Seseorang yang tidak hati-hati dalam melangkah, bisa jadi kakinya

mengenai tali yang merentang yang selanjutnya akan mengungkit anak

panah untuk lepas dari busurnya.

Semua jebakan yang siap menjemput itu bisa jadi bernilai lebih besar

dari jumlah lima ratus atau bahkan seribu pun orang-orang yang akan

datang menyerbu, sementara secara alamiah Karang Watu benar-benar

terlindung. Di bagian belakang ada tebing menjulang tinggi yang tidak

mungkin dituruni atau dinaiki. Raden Panji Rukmamurti merasa tak perlu

menempatkan orang menjaga tebing itu.

Namun, Raden Panji Rukmamurti salah. Atau, Rangsang Kumuda

juga punya penilaian yang salah karena dalam pendadaran yang dilakukan,

melalui gemblengan yang keras dan kasar, prajurit Bhayangkara benarbenar

dirancang untuk menghadapi keadaan yang tak masuk akal. Sayang,

hari sedang malam. Andaikata hari itu siang, Raden Panji Rukmamurti

akan melihat beberapa orang yang memanjat turun merayap tebing yang

menjulang tinggi itu, di antaranya bahkan ada yang tidak memerlukan

tali.

Bulan yang beberapa hari lewat dari purnamanya dan oleh karenanya

bentuk bulan itu tidak bulat lagi, memanjat makin tinggi dan punya

cukup kekuatan untuk menerangi keadaan. Adalah Senopati Haryo

Teleng dan Senopati Panji Suryo Manduro yang merasa aneh setelah

menilai keadaan di depannya. Pimpinan pasukan Jalapati dan pasukan

Sapu Bayu memerhatikan remang di seberang sungai dengan perasaan

amat curiga.

”Tidak ada jejak apa pun, tak ada jejak pertempuran. Apa yang

terjadi dengan Rakrian Kembar?” tanya Senopati Panji Suryo Manduro

seperti kepada diri sendiri.

”Keadaan ini sungguh sangat aneh. Padahal, Ra Kembar pasti berada

di sini. Kuda-kudanya menunjukkan itu,” jawab Haryo Teleng.

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 457

Senopati Haryo Teleng dan Senopati Panji Suryo Manduro

bertindak cermat. Setidaknya mereka adalah prajurit yang menapaki

pengalamannya sejak dari bawah melalui berbagai perang dan

pertempuran. Kedua senopati itu bahkan terlibat sangat jauh dalam

pertempuran mengusir orang-orang Cina, meluluhlantakkan barisannya

sampai ke Ujung Galuh. Orang-orang Cina yang datang ke Jawa berniat

menghukum Raja Kertanegara itu terpaksa kembali dengan keadaan

berantakan.

Berbekal pengalaman itu, Senopati Haryo Teleng dan Suryo

Manduro tidak melakukan tindakan gegabah. Beberapa buah perahu

yang telah tersaji di tempat itu sungguh sangat mencurigakan.

”Perahu itu aneh,”

”Ya,” jawab Suryo Manduro. ”Kalau aku penghuni tempat itu, aku

tentu tak akan meletakkan perahu di sini, mestinya di sana.”

”Ini jebakan.”

Senopati Haryo Teleng terkejut. Ada sesuatu yang tertangkap

matanya.

”Gila,” Haryo Teleng meletup.

”Ada apa?” tanya Suryo Manduro.

”Benar-benar jebakan. Kurasa ada banyak orang menyelam di

bawah. Lihat itu.”

Suryo Manduro dan Haryo Teleng akhirnya meyakini benda-benda

mencuat dari dalam air itu jelas batang bambu yang digunakan bernapas.

Benda itu hilir mudik ke sana kemari menjadi pertanda di bawahnya ada

orang.

”Apabila kita bisa menemukan satu mayat saja, hal itu akan

menjawab rasa penasaranku terhadap bagaimana nasib Ra Kembar.”

Senopati Panji Suryo Manduro dan Haryo Teleng yang berdiri di

tepi sungai yang mengalir dengan tenang itu akhirnya mundur menemui

segenap anak buahnya yang baris pendhem. Tak seorang pun yang berdiri,

458 Gajah Mada

semua berlindung. Dengan singkat Panji Suryo Manduro dan Haryo

Teleng menyampaikkan taklimat pada anak buahnya yang disimak dengan

kesungguhan.

”Prajurit Tawang Alun,” Panji Suryo Manduro menyebut nama.

Yang dipanggil bergegas mendekat.

”Berjalanlah di sepanjang tepian sungai ke hilir, periksa apakah ada

mayat yang mengapung atau tidak. Begitu kamu menemukan langsung

kembali.”

”Siap,” jawab Prajurit Tawang Alun.

Ketika menyusur sepanjang tepian sungai, Prajurit Tawang Alun

melihat apa yang diceritakan pimpinannya benar adanya. Ada banyak

ujung bambu yang mencuat dari dalam air merupakan bukti nyata ada

orang di bawah permukaan air.

”Gila,” desis Tawang Alun.

Prajurit Tawang Alun tidak harus pergi terlalu jauh ketika menemukan

bukti yang dicari. Sesosok mayat mengapung telentang tidak ikut

hanyut karena tersangkut sesuatu.

”Bagaimana?” tanya Senopati Panji Suryo Manduro.

”Dugaan Senopati benar. Aku menemukan satu mayat tersangkut

telentang,” jawab Tawang Alun.

Setelah hening beberapa jenak, Senopati Haryo Teleng akhirnya

angkat bicara.

”Sifat dadakan dalam serbuan gugur di sini. Kita tidak bisa

memaksakan diri menyerbu karena mereka justru sedang menunggu.

Kurasa ada banyak jebakan yang akan menyambut kita, di bawah air, di

balik pagar. Menurutku kita menunggu siang untuk bisa melihat keadaan

dengan lebih jelas.”

”Ya,” jawab Suryo Manduro. ”Kita tidak punya pilihan lain selain

menunggu siang. Akan tetapi, apa salahnya bila sekarang juga kita

bermain-main. Kita hujani mereka yang berada di bawah permukaan

air itu dengan anak panah!”

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 459

”Ya, aku setuju,” jawab Haryo Teleng.

Maka tak perlu ada yang disembunyikan lagi. Para prajurit yang

dibawa oleh Senopati Haryo Teleng dan Suryo Manduro berbaris di

sepanjang tepi sungai dengan sikap seolah masing-masing akan

menyeberang dengan berenang. Dari perlindungan di balik pagar bambu

dan semak yang rapat, Raden Panji Rukmamurti memerhatikan tamutamu

yang tak diundang itu dengan saksama.

”Ayo, menyeberanglah kalian,” Raden Panji Rukmamurti berkata.

Akan tetapi, Raden Panji Rukmamurtilah yang harus terkejut,

sebagaimana anak buahnya yang menyelam di bawah air juga terkejut

manakala dengan mendadak Senopati Haryo Teleng dan Senopati Panji

Suryo Manduro berteriak bersama-sama. Teriakan itu menjadi isyarat.

Maka anak panah langsung berhamburan menembus air, tepat pada

bagian ujung bambu nongol di permukaan. Permukaan air yang semula

tenang segera menggeliat seolah di bawah ada ikan besar yang

menggerakkan tubuh. Maka celaka orang-orang yang melaksanakan tugas

khusus pencegatan di bawah air itu. Bila anak panah mengenai tubuhnya,

dengan sendirinya ruas bambu yang digunakan bernapas terlepas dan

memaksa mereka keluar ke permukaan. Perbuatan itu menjadikan nasib

mereka lebih malang lagi karena menjadi sasaran bidik dan bulanbulanan.

”Serang mereka, lindungi teman-teman kita,” tiba-tiba terdengar

teriakan.

Semula anak buah Raden Panji Rukmamurti kebingungan tidak

memahami apa yang terjadi, tetapi kelambatan memahami keadaan itu

harus segera ditebus dengan melepas anak panah.

”Cukup. Semua mundur,” Senopati Panji Suryo Manduro memberi

perintah.

Senopati Panji Suryo Manduro harus menjatuhkan perintah itu

karena berada di tempat terbuka dan tanpa perisai, sementara anak panah

balasan tak ada gunanya karena musuh terlindung dan tidak diketahui di

mana keberadaannya. Namun, Panji Suryo Manduro merasa puas karena

sejenak kemudian permukaan sungai berubah. Bila siang hari warna air

460 Gajah Mada

tentu bisa ditandai karena merah yang muncul adalah karena darah.

Mayat-mayat yang mengapung dan puluhan anak buahnya yang terluka

parah menjadi penyebab kemarahan pimpinan gerombolan Karang

Watu.

”Keparat,” Raden Panji Rukmamurti mengumpat.

Namun, Raden Panji Rukmamurti masih mampu mengendalikan

diri dengan baik dan tidak menjadi gugup melihat keadaan itu. Tindakan

tegas dan kemampuan membakar semangat sungguh sangat diperlukan

dalam keadaan itu. Menggunakan isyarat tertentu Panji Rukmamurti

menyalurkan perintah-perintahnya.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Ketika dua

kekuatan saling berhadapan dan masing-masing juga menunggu waktu

maka menunggu tidak hanya pekerjaan yang membosankan, namun juga

melelahkan urat syaraf sebab kedua belah pihak harus berada dalam

kesiagaan tertinggi.

”Mereka menunggu siang,” ucap Rukmamurti.

”Ya,” jawab Mandrawa. ”Mereka tidak punya keberanian untuk

menyerang.”

”Tidak apalah, kita berikan saja siang yang mereka butuhkan,”

Rukmamurti menambah. ”Semua tetap waspada dan berada di tempat

masing-masing. Jangan ada yang lengah. Aku mengantuk sekali dan

kurang tidur, aku harus melanjutkan istirahat supaya besok bisa

menjemput tamu-tamu itu dalam keadaan segar. Mandrawa yang akan

mewakili aku memimpin pertahanan.”

Dengan melenggang Panji Rukmamurti kembali. Sama sekali tidak

ada beban cemas di hatinya. Meski lawan memiliki jumlah berlipat, jumlah

itu nantinya bakal menyusut ketika mereka memaksa masuk karena

demikian banyaknya jebakan yang dirancang khusus untuk menghadapi

serbuan macam itu. Namun, bahwa tempat itu telah menjadi perhatian

Majapahit, Panji Rukmamurti harus memikirkan langkah ke depan.

Setidaknya Karang Watu harus segera ditinggalkan. Bila Majapahit

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 461

mengirim seluruh kekuatan Jalapati misalnya, sekuat apa pun Karang

Watu tak akan sanggup menghadapi.

Suasana sangat hening dan damai ketika Raden Panji Rukmamurti

kembali ke tempat tinggalnya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari

pendapa. Pemuda tampan yang menyamarkan diri dengan menghitamkan

wajahnya dalam berbentuk garis-garis itu menyempatkan memerhatikan

tebing di belakang pendapa. Cahaya bulan yang terang menyapu

permukaan tebing itu, memberi kesan menakutkan.

Raden Panji Rukmamurti yang memasuki bilik pribadinya

menyempatkan berhenti di depan pintu. Tatapan matanya yang tajam

ditujukan kepada pengawal khusus yang bertugas menjaga keamanannya.

Berdiri tegak bagai tonggak kayu, pengawal khusus itu menjaga kiri dan

kanan pintu. Wajah aslinya tidak jelas karena juga dihitamkan.

”Jaga diriku dengan baik,” kata Panji Rukmamurti. ”Siapa tahu

orang-orang yang menyerbu itu ada yang berhasil menyusup sampai

tempat ini. Aku melanjutkan tidurku.”

Namun, dua orang pengawal itu memiliki jawaban yang tidak wajar.

”Mungkin kita tidak punya waktu untuk beristirahat, Raden.”

”Kenapa?” tanya Panji Rukmamurti.

”Karena kita akan menempuh perjalanan dari sekarang juga.”

Raden Panji Rukmamurti mengerutkan kening.

”Ke mana? Siapa kalian?”

”Raden kami tangkap dan harus ikut kami untuk mempertanggungjawabkan

perbuatan Raden di hadapan Kutaramanawa.”

Bila harus merasakan disengat tawon itulah saatnya. Atau, kalau

harus merasa kejatuhan kelapa tepat mengenai kepala itulah pula saatnya.

Bisa juga seperti dipatuk ular bandotan yang bisanya sangat beracun,

atau dikejutkan oleh gempa bumi yang datang dengan tiba-tiba membelah

tanah tempat kakinya berpijak dan masih ditambah dengan petir yang

meledak menggelegar memekakkan gendang telinga, yang terjadi di saat

langit begitu benderang tanpa ada mendung.

462 Gajah Mada

Raden Panji Rukmamurti bertambah bingung ketika tiba-tiba

bermunculan orang-orang tidak dikenal yang sebagian melabur wajah

dengan jelaga dan sebagian yang lain tidak. Orang-orang itu jelas bukan

anak buahnya. Raden Panji Rukmamurti berdebar melihat adanya ciriciri

khusus yang dimiliki orang-orang itu yang bisa ia kenal. Bentuk

pedang melengkung dan endong penuh berisi anak panah di punggung.

”Siapa kalian?” tanya Panji Rukmamurti dengan suara bergetar tidak

mampu menutupi rasa cemasnya.

”Kami Bhayangkara,” jawab orang yang berdiri di depannya.

Panji Rukmamurti hanya bisa pasrah ketika orang-orang yang tak

dikenal itu menelikung tangannya ke belakang dan mengikat tubuhnya

menggunakan tali janget yang sangat kuat. Cara mengikat yang dilakukan

juga menggunakan cara khusus yang tak memungkinkan adanya peluang

untuk meloloskan diri. Jika ada monyet bingung terkena tulup174 maka

seperti itulah wajah Raden Panji Rukmamurti.

Tak jauh dari tempat itu, wajah Ra Kembar merah padam. Wajahnya

tiba-tiba menebal melebihi kulit gajah yang paling tebal.

”Ini dia pahlawan yang ditunggu-tunggu kepulangannya itu.”

Rakrian Kembar semula tidak mengenali siapa saja orang-orang

yang berdiri di depannya karena semua wajah dihitamkan menggunakan

jelaga. Namun, Kembar masih bisa mengenali suaranya. Orang yang

baru berbicara itu adalah Bhayangkara Riung Samudra.

”Bagaimana, Ra Kembar? Upayamu menggulung Karang Watu

berhasil?”

Ra Kembar merasa lebih baik bila dikelupas wajahnya. Setidaknya

memang ada penyesalan dalam hatinya, namun apa mau dikata, nasi

telah menjadi bubur. Apa yang terjadi telah telanjur dengan hasil berupa

kotoran yang berlepotan di wajahnya.

Akan tetapi, orang-orang yang dikenalinya sebagai Bhayangkara

Jayabaya, Riung Samudra, Panjang Sumprit, tidak memberikan perhatian

kepadanya terlalu lama. Bhayangkara Jayabaya bertindak cekatan dengan

174 Tulup, Jawa, semacam anak panah

Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara 463

membebaskan Rakrian Kembar dari ikatan talinya, demikian juga dengan

sepuluh anak buahnya yang tersisa.

”Berapa orang yang kaubawa?” tiba-tiba terdengar seseorang

bertanya dari arah belakang.

Ra Kembar berbalik.

”Lima puluh orang,” jawab Ra Kembar dengan lidah kelu.

Sulit membaca bagaimana isi hati di balik wajah Bhayangkara Lembu

Pulung yang telah dihitamkan itu. Lembu Pulung menebar pandang

memerhatikan keadaan dengan saksama, menyusur tebing tinggi di

belakang bangunan induk, menggerataki bangunan induk berbentuk

pendapa dan bangsal panjang yang juga beratap rumbia. Lembu Pulung

akhirnya menjatuhkan pandangan matanya ke halaman luas yang bisa

dimanfaatkan untuk keperluan apa saja. Dengan luas dua kali lipat

Tambak Segaran atau lebih, Karang Watu sanggup menampung prajurit

sebesar Jalapati sekalipun. Ke depan Karang Watu bisa menjadi tempat

yang berbahaya. Beruntunglah sepak terjang orang-orang Karang Watu

itu keburu kamanungsan.

”Apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Riung Samudra yang

mendekat.

”Kita tinggalkan, pekerjaan sisanya biarlah dituntaskan oleh Ra

Kembar yang akan dibantu oleh Haryo Teleng dan Suryo Manduro,”

Lembu Pulung menjawab.

Jawaban itu mengagetkan Ra Kembar yang makin merasa tidak

nyaman. Ra Kembar membayangkan, ke depan akan mengalami kesulitan

besar, tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mempertanggungjawabkan

perbuatannya kepada pimpinannya. Melangkah tanpa

minta izin pimpinan, hal itu sudah merupakan kesalahan yang berat,

apalagi kini terbukti terlalu besar korban jiwa yang jatuh sebagai akibat

kecerobohan yang diperbuatnya. Ke depan pula namanya akan menjadi

buah bibir. Siapa pun akan menertawakannya. Para gadis tak lagi

mengaguminya, mereka akan menjadikannya sebagai bahan guyonan.

464 Gajah Mada

”Ada satu pekerjaan lagi yang masih belum kita selesaikan,” ucap

Jayabaya.

Semua menunggu Jayabaya melanjutkan.

”Kita belum mendapatkan Rangsang Kumuda.”

”Orang itu tidak ada. Aku sudah memperoleh keterangan itu. Kita

tinggalkan tempat ini.”

Menjadi lebih jelas bagi Ra Kembar manakala dari balik dinding,

dari tempat-tempat yang terlindung bermunculan orang-orang yang

masing-masing melakukan penyamaran sedemikian rupa sehingga sulit

membedakan antara Bhayangkara dengan orang-orang Karang Watu

sendiri. Ra Kembar sulit memahami bagaimana pasukan Bhayangkara

bisa hadir di tempat itu tanpa ketahuan.

”Aku, aku bagaimana?” tanya Ra Kembar gugup.

Akan tetapi, para Bhayangkara tak memedulikannya. Dengan gesit

pasukan khusus Bhayangkara menuntaskan pekerjaannya yang masih

tersisa. Menggunakan batu titikan sebuah obor dinyalakan. Obor kecil

adalah teman, namun api besar bisa jadi bencana. Demikianlah ketika

api dilemparkan ke atap pendapa, bibit api menyala yang nantinya menjadi

dahana berkobar siap meluluhlantakkan bangunan itu. Bibit api juga

ditebar di atas bangsal. Sebagaimana di bangunan induk, bangsal panjang

yang beratap rumbia juga mulai terbakar. Seorang Bhayangkara hanya

membutuhkan satu ayunan pedang untuk menumbangkan bendera yang

dikibarkan di halaman. Bendera dalam bentuk buah maja yang dibelit

ular segera dilipat dan dibawa berlari menyusul teman yang lain.

Bhayangkara Jayabaya terhenti langkahnya ketika melihat sebuah bende

menggantung.

Ra Kembar kebingungan. Nyalinya lenyap entah ke mana.

”Sembunyi,” perintah Ra Kembar kepada anak buahnya.

Perintah itu segera diterjemahkan dengan baik. Sepuluh orang anak

buahnya berlarian mencari tempat sembunyi. Ada yang mel