Bu Kek Kang Sinkang (Seri 1)

New Picture

Bu Kek Kang Sinkang (Seri 1)
Karya : Kabeh

Udara siang hari cerah.
Langit biru bersih dari awan berpadu warna daun kuning kecoklatan yang berhamburan disekitar kuil siaulimsi. Pemandangan indah awal musim gugur, sejuknya angin lembut yang menghempas, biasanya mengandung kekuatan aneh, yang bisa menghanyutkan perasaan seseorang hingga lupa dari masalah.
Sayangnya, Pek Bin Siansu Hongtiang siaulimsi generasi kini, sedang berkonsentrasi terhadap urusan lain. Urusan yang dapat menimbulkan keangkeran ketua siaulimsi beserta 108 anggota LoHanTin yang melangkah perlahan dibelakangnya. Tidak seorangpun menghiraukan pemandangan indah disekelilingnya. Mereka seperti menanggung beban berat.
Ditilik dari usia mereka yang diatas 50 tahun, tentu berbekal kekuatan batin paling tidak hasil latihan puluhan tahun, namun mereka tetap tidak berhasil menghilangkan rasa kuatir, malu, geram yang jelas tertera di wajah mereka.
Jumlah mereka tidak sedikit, namun mereka berjalan tanpa menimbulkan suara, bergerak kearah belakang kuil dan berhenti didepan pondok mungil tapi terawat.
Pondok itu terbuat dari bambu, dengan sebuah pintu ditengah yang tertutup rapat. Sangat menyolok bedanya dengan bangunan siaulimsi yang lain yang dibuat dari batu yang kokoh.
Walau terawat, bagaimanapun juga pondok itu kelihatan sudah tua sekali, terlihat lapuknya batang bambu disana sini. Siapapun penghuninya, tentu usianya sudah tidak muda.
Sekitar sepuluh kaki dari pondok itu, Pek Bin Siansu menghentikan langkahnya.
“Siautit mohon maaf yang telah menganggu supek dari ketenanganya” lirih Pek Bin Siansu perlahan.
Hanya satu kali Pek Bin Siansu berseru.
Nampaknya tidak berminat untuk mengulangi ucapannya. Ia hanya diam mematung. Tidak seorangpun bergerak maupun bersuara. Hanya gerak jubah dan suara pakaian yang tertiup angin mengisi kekosongan yang mencekam. Waktu seakan berhenti, toh tetap tidak dapat mencegah turunnya matahari ke arah barat.
Sudahlimakentungan berbunyi, sore hari telah tiba. Pemandangan ratusan orang berdiri bagaikan patung tidak juga berubah. Seekor burung gagak hitam hinggap di pundak Pek Bin Siansu. Bertengger dengan tenang sambil menguak suaranya yang khas.
Apakah bayangan kematian mulai menghantui siaulimsi? Timbul perasaan yang sukar dijelaskan di hati kecil Pek Bin Siansu. Apakah ia mengambil keputusan yang tepat?
Burung gagak terbang terlonjak kaget ketika pintu pondok berderit terbuka dan sesosok tubuh berkelabat cepat didepan Pek Bin Siansu. Tubuh kurus dibungkus baju biru lusuh duduk bersila diatas sehelai ikat pinggang yang panjang menegak lurus kebawah menusuk batu keras di pelantaran siaulimsi. Tubuh kakek tua itu yang hanya ditopang kain yang mengeras, mengambang dan bergoyang mengikuti geraknya angin gunung. Sungguh mengagumkan kesempurnaan tenaga dalam kakek tua itu.
“Selamat atas keberhasilan supek yang telah melatih Siau Thian sinkang ketingkat yang sempurna” kata Pek Bin Siansu sambil menjura.
Goan Kim Taysu, supek Pek Bin Siansu, menghela nafas,
“Aaai… masih jauh dari berhasil, puluhan tahun kucoba, baru menyelesaikan tingkat tiga, setelah mencapai tingkat delapan baru ilmu ini sempurna. Sayang aku kurang berbakat”.
Pek Bin Siansu mengangkat kepalanya dengan kaget. Goan Kim Taysu terkenal sebagai manusia yang paling berbakat di siaulimsi selama seratus tahun terakhir. Sepengetahuannya, sepanjang sejarah, dia lah satu satunya yang dapat menguasai 72 macam ilmu kepandaian siaulimsi sekaligus.
“Maaf supek, bukankah suhu dapat menyempurnakan Siau Thian Sinkang hanya dalam sepuluh tahun?”.
Goan Kim Taysu tersenyum,” Suhumu memang memerlukan sepuluh tahun untuk melatih Siau Thian
sinkang, hanya bukan ilmu itu yang sedang aku latih.”
Setelah terdiam sejenak ia melanjutkan, “ ilmu yang sedang kulatih bernama Bu Kek Kang sinkang, ilmu ke-73 yang diciptakan Tatmo cowsu”.
Pek Bin Siansu terkesima, dari kecil ia tinggal di siaulimsi, dia yakin betul pendiri sialimsi menciptakan 72 macam kepandaian. Dari mana datangnya Bu Kek Kang sinkang, ilmu ke tujuhpuluh tiga?
Seperti memaklumi kebingungan sutitnya, Goan Kim Taysu menjelaskan “Kecuali Tatmo Cowsu belum pernah ada yang berhasil menguasi ilmu ini. Tidak heran kau walau sebagai ketua pun tidak pernah mendengarnya. Nampaknya ilmu ini akan ikut terkubur bersamaku”.
Goan Kim Taysu nampak murung, kecewa, seperti dirudung persoalan pelik, tapi dengan cepat ia menarik napas panjang dan senyumnya pulih kembali.
Sungguh tinggi kekuatan batin kakek tua ini, satu tarik nafas telah mengusir kegalauan hatinya.
“Kau mencariku tentu sebagai langkah akhir untuk menghadapi situasi sulit”.
Dengan perasaan berat, Pek Bin Siansu mengiakan.
Goan Kim Taysu telah menutup diri selama tiga puluh tahun dan ia telah merusak ketenangan supeknya. Ia harus menganggunya karena dia tidak melihat jalan lain.
Tiga bulan yang lalu terjadi suatu peristiwa yang luar biasa di kuil siaulimsi. Mereka kedatangan tamu.
Enam orang tamu yang mempunyai status cukup istimewa. Mereka merupakan ketua perkumpulan besar dari Bu tong pay, Kho tong pay, Hoa san pay, Thian san pay, Kun lun pay, dan kaypang saat ini.
Walau hubungan mereka cukup baik dan suka berkunjung satu sama lain, belum pernah enam ketua perkumpulan berkunjung bersamaan sekaligus. Kecuali…yaaa, kecuali terjadi satu urusan yang janggal yang memaksa mereka berkumpul.
Pek Bin Siansu mengajak mereka duduk menikmati minum teh di pendopo ‘selaksa daun bambu’ sambil menikmati pemandangan lembah gunung Siong San yang terkenal akan keindahannya.
“Braaakkkk….!” meja kayu setebal empat jari patah dipukul Ouw Hek Tong, ketua Kho Tong Pay yang memang berangasan. Cangkir kemala antik tanpa dapat dicegah lagi, berhamburan pecah, air teh menciprat kemana mana.
Sambil menghel nafas Pek Bin Siansu berkata, “Kutahu kedatangan kalian jelas bukan untuk menikmati pemandangan Siong san, hanya tidak kusangka, perabotan yang tidak bersalah menjadi sasaran”.
“Hayo, kembalikan!” tuntut Ouw Hek Tong sambil melotot.
Ouw Hek Tong berperawakan sedang tapi kekar. Berangasan, tapi mempunyai keberanian yang luar biasa. Pernah seorang diri dia melawan enam puluh penjahat yang telah membunuh muridnya. Komplotan penjahat yang rata rata berkepandaian tinggi itu toh tidak ada satupun yang hidup, walau dirinya pun mengalami luka luka berat. Selama bisa maju, kenapa mesti mundur…prinsip sederhana ini membuat Ouw Hek Tong terkenal akan nekadnya berkelahi.
Sekarang ia telah berdiri siap melabrak ketua Siaulimsi yang ia tahu memilki kepandaian yang luar biasa.
“Boleh pinceng tahu, apa yang mesti dikembalikan?” tanya Pek Bin Siansu dengan sabar.
Tanpa banyak bicara, Ouw Hek Tong menggerakan tanganya melancarkan serangan dengan telapak tangan terbuka. Angin menderu mengandung kekuatan merusak kearah Pek Bin Siansu yang tubuhnya melayang mengikuti derunya angin. Bagai sehelai daun, kaki Pek Bin Siansu menyentuh tanah sekitar enam kaki dari mereka.
“Jika Ouw-heng ingin berkelahi tanpa tanya jawab, sungguh membuat orang penasaran” ujar Pek Bin Siansu sambil menatap Ow Hek Tong dengan tajam.
“Tahan!” seru Thian Ki Hwesio, ketua Bu Tong Pay sambil berdiri diantara mereka.
“Tampaknya kalian telah sepakat untuk melabrak Siaulimsi, jika kalian menganggap kami telah berhutang, kalianpun berhutang penjelasan” Kata Peik Bin Siansu perlahan.
Thian Ki Totiang mengambil sebuah kotak dari saku bajunya, kemudian melontarkannya ke arah Pek Bin Siansu. Kotak itu melayang dengan perlahan seperti ada tangan yang sedang menyuguh. Pek Bin Siansu mengerut alisnya, agak terkejut juga ia akan kehebatan tenaga dalam Thian Ki Totiang. Ia meraup kotak tersebut, “Blaaang…!” tubuhnya tergetar keras dimana tubuh Thian Ki Totiang mundur selangkah ketika terjadi bentrokan tenaga dalam.
“Omitohud, jika kalian memaksa main kekerasan, bukankah ini akan menyangkut keselamatan ribuan murid tujuh perguruan” ujar Pek Bin Siansu dengan sedih.
Berenam mereka saling melirik. Muka mereka berubah hebat. Sukar dibayangkan jika terjadi bentrokan antar mereka yang jelas akan menggoncangkan dunia persilatan. Murid murid mereka yang banyak merantau tentu tidak tinggal diam, entah bencana apa yang bakal terjadi.
“Kupinta, Siansu memperhatikan dengan cermat, symbol yang tertera di dalam kotak itu” pinta Thian Ki Toting setelah berpikir sejenak.
Pek Bin Siansu melirik kotak tersebut dan membukanya dengan perlahan. Isinya ternyata hanya beberapa helai daun siong yang kering. Enam helai daun itu memiliki simbol sama yang tertera jelas. Bukan diatas daun, simbol itu tergores kedalam seperti dipahat tanpa merusak dasar sisi bawah permukaan daun. Berubah hebat muka Pek Bin Siansu.
“Bukankah goresan semacam itu hanya bisa ditimbulkan oleh tenaga jari Kim Kong Ci?” desak Thian Ki Totiang.
Memang hanya tenaga jari Kim Kong Ci yang mampu melakukan hal ini.
“Betul, memang mirip dengan tenaga jari Kim Kong Ci” jawab Pek Bin Siansu
“Hanya mirip atau memang tenaga jari Kim Kong Ci?” desak Thian Ki Totiang.
“Sukar untuk dikatakan” kata Pek Bin Siansu setelah termenung sejenak.
Tiba tiba jari telunjuknya melentik kearah tembok batu bangunan berjarak sekitar sepuluh kaki dari tempat berdirinya.
“Blaaar….!” dinding batu itu bolong sebesar jari sedalam tiga inci.
Desah kagum terdengar dari mereka yang menyaksikan. Muka mereka berubah tenggelam. Sungguh hebat demonstrasi tenaga jari Kim Kong Ci, ketua Siaulimsi ini.
Sambil tersenyum Pek Bin Siansu berkata: “Dapat kujamin, goresan daun ini walau mirip dengan tenaga jari Kim Kong Ci, jelas bukan dibuat oleh orang Siaulimsi”.
“Berdasarkan apa Siansu berani menjamin?” tanya Thian Ki Totiang.
Pek Bin Siansu berpikir sejenak, kemudian katanya, “Selain Goan Kim Supek, boleh dibilang diriku yang berhasil melatih tenaga jari Kim Kong Ci ketingkat yang paling tinggi. Walau sudah cukup sempurna, akupun tidak sanggup menggores dengan cara seperti ini”.
“Siansu tidak sanggup?” jerit Ong Pek Than ketua kaypang.
Setelah termenung sejenak, Pek Bin Siansu menerangkan,
“Tenaga yang tidak merusak jauh lebih sulit dibanding tenaga yang bersifat menghancur. Simbol yang tertera di daun ini, jelas dicukil dengan hawa tenaga jari. Goresannya mempunyai kedalaman yang sama, licin dan rata. Dasar daunpun pun tidak robek. Hanya orang yang mempunyai tenaga dalam telah menyatu dengan kehendak hati yang mampu melakukan hal ini”.
Thian Ki Totiang terdiam. Dari bentrokan barusan, ia dapat mengukur tenaga dalam Pek Bin Siansu walau lebih tinggi paling hanya setengah atau satu tingkat darinya. Memang tinggi kepandaian Pek Bin Siansu, tapi belum mencapai tingkatan ‘menyatu dengan kehendak hati’.
Ia yakin Pek Bin Siansu berkata dengan jujur.
“Kalian sudah banyak bertanya, akupun sudah banyak menjawab. Sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi?” tanya Pek Bin Siansu dengan serius.
Ternyata, kitab kitab pusaka enam partai besar yang disimpan diruang rahasia, siang malam dijaga ketat telah hilang begitu saja. Si pencuri tidak menganggu benda benda pusaka lainnya, hanya semua kitab silat lenyap tanpa ketahuan rimbanya. Sehelai daun siong kering ditinggalkan di rak buku yang kosong di tiap ruang kitab keenam partai.
“apakah…?” Pek Bin Siansu kemudian terdiam membatalkan pertanyaanya.
Thian Ki Totiang ketua Butongpay menangkap masuknya.
“Apakah mungkin dilakukan oleh orang dalam?”
“Dalam pengusutan kami, hal ini yang pertama kali kami pikirkan kemungkinannya. Sulit dipercaya orang lain dapat memasuki ruang kitab tanpa sepengetahuan kami. Setelah penyelidikan yang teliti berbulan bulan, kami berkesimpulan satu hal yang mustahil pencurian dilakukan oleh orang dalam”.
“Jadi dapat dipastikan oleh orang luar” tegas Pek Bin Siansu.
Thian Ki Totiang berpikir sejenak sebelum menjawab, “Mustahil pencurian dilakukan oleh orang lain. Karena kami benar benar tidak dapat menerka, selain Siaulimsi, siapa di dunia persilatan jaman ini yang mempunyai tenaga jari sedahsyat ini!”.
Pek Bin Siansu menatap Thian Ki Totiang dengan tenang. Dengan perlahan Thian Ki Totiang menerangkan bahwa ruang kitab di Bu tong pay dijaga ketat oleh sam go beng yang pernah mengalahkan Kiu tok sin mo, raja iblis yang mengobrak abrik dunia persilatan tiga puluh tahun yang lalu.
Perasaan Pek Bin Siansu tenggelam, sutenya Ang lee Siansu pernah bertarung melawan murid Kiu tok sin mo dan kalah. Bisa dibayangkan betapa sempurnanya kepandaian sam go beng yang berhasil menaklukan Kiu tok sin mo dalamlimaratus jurus.
“Sebaiknya kita bicara di ruang dalam” ajak Pek Bin Siansu yang kemudian membimbing mereka masuk ke ruang pertemuan.
Setelah duduk dan minuman teh disediakn, Thian Ki Totiang melanjutkan ceritanya,
“Ruang kitab dipusat perkumpulan kaypang dijaga oleh kay ong”.
Tanpa terasa dahi Pek Bin Siansu berkerenyit. Sembilan tangan raja pengemis adalah rajanya pencuri. Berkepandaian tinggi walau tidak sehebat sam go beng, keahlian kay ong dalam mencuri tiada bandingannya. Di propinsi Kang Lam, kemarau yang berkepanjangan menyebabkan berulang kali panen gagal. Rakyat kelaparan, kay ong berhasil mencuci habis sembilan gudang persedian beras yang dijaga ketat oleh pasukan pemerintah.
Rajanya pencuri yang bertanggung jawab atas ruang kitab ternyata kebobolan. Sungguh berita ini sukar dipercaya.
Ang lee Siansu, wakil ketua siaulimsi, tiba tiba muncul diruang pertemuan.
“Mo Tiang sute, penjaga ruang kitab, mendesak untuk menghadap ciangbujin suheng” katanya singkat.
Berubah hebat muka para ketua yang hadir, Pek Bin Siansu menutup matanya sambil menarik nafas,
“Bawa dia masuk”.
“sute nampaknya ingin berjumpa dengan suheng secara pribadi” kata Ang lee Siansu agak ragu melihat begitu ramainya yang hadir.
“Apakah ditangan Mo Tiang sute memegang secarik daun?” duga Pek Bin Siansu dengan jantung berdebar.
Ang lee siansu agak heran dengan tebakan jitu suhengnya, iapun mengangguk,
“Diangan sute memang memegang sehelai daun, nampaknya hendak diserahkan langsung ke suheng”.
“Bawa dia segera kemari!” gumam Pek Bin Siansu.
Tidak lama kemudian, Mo tiang Siansu muncul kemudian bersimpuh dengan air mata yang bercucuran.
“Suheng…”
“Kukira kutahu apa yang telah terjadi, kesalahan bukan terletak padamu”. Potong Pek Bin Siansu sambil mengambil helaian daun dari sutenya. Potongan daun siong kering dengan simbol persis sama dengan helaian daun di dalam kotak yang telah dikembalikan olehnya kepada Thian Ki Totiang.
“Suheng, hanya ini yang bisa kulakukan” jerit Mo Tian siansu yang tubuhnya melenting dengan kepala mengarah tembok.
Perhatian Pek Bin Siansu yang terpusat pada helain daun tersebut membuatnya lengah dengan perbuatan nekad sutenya. Tidak ada satu orangpun yang hadir yang menduga atau sempat mencegah perbuatan bunuh diri Mo Tian Siansu.
Goan Kim Taysu yang tidak melihat kehadiran keponakan muridnya, memejamkan mata. “Apakah Mo Tian sutit telah tewas?” tanyanya perlahan.
Pek Bin Siansu mengeluarkan sehelai daun dari sakunya dan menyerahkan kepada Goan Kim supek.
Dengan pandangan bertanya, Goan Kim menerima daun tersebut. Ia tidak dapat melihat keistimewaan daun siong kering yang memang banyak tumbuh disekitar siaulimsi.
“Perbuatan sute dicegah oleh daun ini”.
Ketika semua yang hadir di ruang pertemuan termangu tanpa dapat melakukan sesuatu, sesuatu melayang dari luar dengan cepat meliuk menghantam ubun ubun Mo Tiang Siansu. Anehnya, tubuh Mo Tiang siansu seperti tertahan tangan yang tak tampak, perlahan menahan laju tubuhnya.sekitar tiga hun dari tembok, tubuhnya berhenti beberapa detik, kemudian jatuh tegak lurus ke lantai. Dengan ringan Pek Bin Siansu melayang menangkap tubuh sutenya. Setelah diperiksa, dengan lega dia mendapatkan sutenya lepas dari bencana. Wajah lega Pek Bin Siansu tiba tiba berubah hebat.
“Aneh… tiga puluh enam pembuluh darah sutenya telah tertotok. Siapa yang melakukannya? Apakah sehelai daun segar yang menempel dikepala sutenya dapat digunakan untuk menotok orang?”
Terjadi perubahan hebat di muka Goan Kim Taysu, “Ilmu menitip daun” jeritnya pelan.
Pek Bin Siansu termangu. Dia pernah mendengar, seseorang dinilai berkepandaian sempurna bila sudah mencapai tingkatan ‘memetik daun’. Setahu Pek Bin Siansu, hanya beberapa orang yang mencapai tingkatan ini. Sam Go beng dari Bu tong pay, mendiang suhu, dan Goan Kim supek. Bahkan kepandaian Kay Ong atau Kui thian sin mo masih satu tingkat lebih rendah.
Walau tidak mengerti tingkatan ‘menitip daun’ dari jeritan kaget supeknya, Pek Bin Siansu berkesimpulan ilmu itu bertataran lebih tinggi dibanding tingkatan ‘memetik daun’.
“Lanjutkan ceritamu” seru Goan Kim Taysu setelah termenung sejenak.
Ternayata Jalan darah tidur atau Sui hiat Mo tiang siansu juga tertotok. Suara dengkur tidur sutenya justru melegakan Pek Bin Siansu, ia yakin sutenya tidak terluka.
Thian Ki Totiang beserta ketua perkumpulan lainnya berusaha membantu Pek Bin Siansu yang berkutet mencoba membuka totokan sutenya. Ternyata tidak satu pun yang berhasil mengenal apalagi mampu membebaskan pengaruh totokan itu.
“Hentikan usaha sia sia kalian. Biarkania tidur. Dua belas jam kemudian, dia akan bebas dengan sendirinya”. Suara lirih tapi jelas terdengar berbisik ditelinga mereka.
Sulit menentukan sumber suara itu. Suara itu jelas bukan berasal dari luar atau dari dalam ruangan. Sepertinya suara tersebut dibisikkan orang dari sisi tubuh mereka. Bahkan sulit diduga, apakah suara lelaki atau perempuan, tua atau muda. Siapa sih yang bisa membedakan suara bisikan?
“Sebaiknya kalian pulang saja. Tiada gunanya kalian berkumpul. Selain Kitab Siaulimsi, kitab lainnya telah kembali ke tempat asalnya”. Bisikan misterius kembali berkumandang ditelinga mereka.
“Bila kitab kami dikembalikan” seru Pek Bin Siansu dengan kuatir.
“Paling lama seratus hari lagi”.Kali ini suara misterius itu terdengar seperti jauh dari bawah bukit siong san. Sungguh sukar dibayangkan, seseorang mampu berbisik dari jarak sejauh itu dan tetap terdengar jelas.
“Dapatkah ucapannya dipercaya?” tanya Thian Ki totiang dengan getir.
Tujuh tokoh utama persilatan masa kini, ternyata seperti bayi yang tak berdaya di depan orang ini. Sungguh sukar dipercaya. Peristiwa ini sungguh memukul kepercayaan diri mereka.
“Ucapannya dapat dipercaya” seseorang melesat masuk ke ruang pertemuan.
Go sam beng menjura ke hadirin sekalian, kemudian berkata kepada ketuanya. “Kitab kitab Bu tong pay telah kembali ke tempatnya masing masing”.
“Tiada penjagaankah ruang kitab bu tong pay, sehingga orang dapat bebas keluar masuk seperti rumah makan umum?” Tegur Thian Ki totiang dengan muka masam.
Go sam beng menunduk malu, “Siautee berjaga di depan pintu sedangkan puluhan anggota tay kek ngo hen tin bersiaga ditempat tersembunyi. Kami berkeyakinan, seekor lalatpun tidak dapat keluar atau masuk ruang kitab tanpa seijin kami”.
“Bagaimana orang itu yang jelas lebih besar dari seekor lalat bisa mengembalikan kitab tanpa sepengetahuan kalian” tanya Thian Ki totiang dengan penasaran.
Dengan perasaan tertekan, Go sam beng menjawab, “ sebab kami semua tertidur”.
Sungguh kejadian yang luar biasa, Go sam beng yang berkepandaian paling tinggi di Bu tong pay beserta puluhan pasukan pilihan tay kek ngo hen tin tertotok tidur tanpa sepengetahuan mereka. Dia yang tersadar duluan, merasa angin dingin bertiup dari belakangnya. Ketika ia menoleh, pintu ruang kitab terbuka lebar. Secepat kilat ia melayang masuk dan tertegun ketika menyaksikan puluhan kitab yang hilang telah tersusun rapi seperti semula.
“Apakah kitab kitab itu benar benar asli” tanya Thian Ki totiang.
“pinto sudah mengecek satu persatu, semuanya asli”.
Thian Ki totiang tahu betul akan hobi sutenya yang gila baca. Jika dia bilang asli, maka tidak perlu diragukan lagi.
“Kuyakin orang yang berkepandaian luar biasa itu tidak akan mau berbohong. Letak Bu tong pay dekat dengan siaulimsi maka mendapat berita lebih awal. Memang tiada gunanya kita berkumpul. Jika kalian pulang tentu akan mendapat kabar yang sama”.
“Walau kitab yang hilang sudah kembali, kenyataannya kita sudah dipecundangi. Perasaan ini yang sulit dihilangkan” kata Thian Ki totiang dengan sedih.
Ia tidak malu menyatakan kekalahannya. Toh semua mengalami nasib yang sama termasuk siaulimsi yang terkenal gudangnya orang pandai.
Thian Ki totiang bersama Go sam beng berpamit pulang.
“Totiang, tidak maukah kau mengurus persoalan ini lagi?” seru ketua kaypang.
“Bukannya tidak mau, hanya sukar diurus” jawab Thian Ki totiang sambil melangkah keluar.
“Masakkan kita biarkan berlalu begitu saja?” teriak Ouw Hek Tong penasaran.
“Ku akui kepandaian Bu tong pay masih terlampau rendah, masih banyak yang harus kami benahi” ujarnya dengan pahit.
Dengan perasaan tertekan, mereka mengakui kebenaran pernyataan itu. Tujuh perkumpulan terkemuka di masa ini mengalami kekalahan tragis ditangan seseorang tanpa melakukan pertarungan. Satu persatu mereka meninggalkan ruangan, tinggal Pek Bin Siansu yang termenung sambil memegang ke dua helai daun itu. Satu helai daun segar, dan satu helai daun kering.
Setelah terdiam sejenak, Goan Kim berkata “Coba kau gunakan Kim Kong Ci menghajar tembok itu”.
Jarak tembok dari Pek Bin Siansu berdiri sekitarlimabelas kaki. Dengan mengerahkan tenaga sembilan bagian, ia melentikkan jari telunjuknya. Terdengar suara keras disertai sebuah lobang sebesar jari sedalam tiga inci.
Goan Kim tersenyum, “Nampaknya cukup banyak kau mendapat kemajuan”.
“Berkat restu supek” jawab Pek Bin Siansu merendah.
“Coba kau serang pohon diluar temboksana” sambil menunjuk pohon yang dimaksudkan.
Pek Bin Siansu menatap pohon yang lebih dari tiga puluh kaki dari dia berdiri.
“Terlampau jauh, supek. Teecu belum mampu”.
Terdengar suara lirih mendesir ketika Goan Kim Taysu menggerakkan jarinya, pohon tersebut seperti ditabrak gajah, bergoyang dengan kencang.
Suara berdecak kagum dari barisan lo han tin mengagumi kehebatan tetua mereka.
“Di mata kalian kepandaian ini sudah hebat, padahal bukan terhebat”.
Ratusan mata menatap Goan Kim Taysu dengan heran.
“Kebanyakan daya serang bersifat lurus atau menyebar hingga mencapai sasaran yang terlihat atau bagian yang tidak kuat terlindungi ”. ujar Goan Kim Taysu perlahan.
“Dapatkah kau melubangi tembok bagian luar yang tidak terlihat yang dilndungi dengan enam kaki tebal tembok itu sendiri?”
“Tidak dapat”.
Goan Kim mengangguk, “Daya serangmu harus meliuk, berubah dari daya lurus dan harus mempunyai sisa tenaga yang cukup untuk menghancurkan”.
Setelah berpikir sejenak, Goan Kim melanjutkan,”Orang yang telah menyelamatkan sutemu, jelas memetik daun ini dari pekarangan luar, kemudian melemparnya melampaui puluhan kaki dengan ruangan yang berbelok belok dan mempunyai cukup sisa tenaga untuk menahan daya luncur dan menotok jalan darah sutemu”.
Ucapan Goan Kim agak sulit dipercaya Pek Bin Siansu. Dia tahu betul jarak pekarangan luar hingga ruang pertemuan mencapai lebih dari seratus kaki dengan kelak kelok yang rumit. Tapi teringat olehnya, dari getah yang menetes keluar, daun siong itu memang seperti baru saja dipetik, bahkan masih mengeluarkan getaran aneh yang menyebabkan tangannya kesemutan ketika memegangnya.
“Siapapun dia, apapun maksudnya, kita wajib berterima kasih atas upayanya yang telah menyelamatan Mo tiang sutit”.
Suara Goan Kim Taysu menyadarkan Pek Bin Siansu dari renungannya.
“Sutit berharap dapat menyampaikan terima kasih malam ini kepadanya”.
“Hari keseratus jatuh pada hari ini?” tanya Goan Kim memastikan.
Pek Bin Siansu mengangguk.
“Coba kau perlihatkan padaku lembaran kedua” pinta Goan Kim setelah berpikir sejenak.
Pek Bin Siansu mengeluarkan kotak berisi lembaran daun yang mempunyai simbol dipermukaannya. Tiga bulan lebih ia mencoba menafsirkan arti simbol itu….Mirip huruf sansekerta tapi ia tidak mengenalnya.
Goan Kim Hwesio menatap daun itu lama sekali. Terdengar tarikan nafasnya yang panjang.
“Sungguh sempurna kepandaian orang ini” gumamnya perlahan.
“maksud susiok?”
Goan Kim Taysu menggerakkan tangannya, seperti sulap sehelai daun segar dari pohon siong berjarak puluhan kaki, terpetik dan melayang ketangannya.
Dengan perlahan, Goan Kim Taysu mengukir jari tangannya diatas daun segar tersebut mengikuti bentuk simbol itu. Dengan hasil, persis sama.
Rasa kagum muncul dihati Pek Bin Siansu atas kemampuan supeknya. Berbareng dihati kecil timbul rasa kuatir. Apa supeknya yang melakukan pencurian besar besaran ini? Sungguh sukar dipercaya!
Goan Kim Taysu tersenyum seperti dapat membaca renungan hati sutitnya.
“Jangan kuatir, bukan aku yang melakukan pencurian itu”
Merah muka Pek Bin Siansu mendengar ucapan supeknya.
“Aku hanya mampu menulis simbol ini diatas daun yang masih segar” tutur Goan Kim Taysu menjelaskan.
“Daun kering mudah tersepih hancur, aku masih belum mempunyai kemampuan untuk menulis diatas
daun kering tanpa menganggu keutuhan daun”.
Hati Goan Kim Taysu berdesir, daun segar yang baru ditulisnya, jika mengering sedikit banyak akan ikut mengubah bentuk dan ukuran simbol tulisannya.Dari simbol yang licin dan rata, jelas si pencuri ini menulis diatas daun yang memang sudah kering!
Goan Kim Taysu merenung, .ia seperti mengenal ilmu yang digunakan orang ini, tapi tidak dapat mengingatnya.
Pek Bin Siansu memberanikan diri untuk bertanya, “Simbol itu, entah apa artinya?”
Baru Goan Kim Taysu teringat, ia sibuk memperhatikan hal yang lain, simbol tulisan itu malah belum ia perhatikan dengan benar.
Muka Goan Kim Taysu berubah serius, tangannya sedikit gemetar, lama ia termangu.
Tergetar hati Pek Bin Siansu melihat keadaan susioknya, “Mohon maaf atas kebodohan sutit yang tidak mengenal…”
“Tulisan ini menggunakan huruf Ardhmagadhi, tulisan kuno yang menjadi dasar bahasa sansekerta. Tidak heran kau tidak mengenalnya” potong Goan Kim Taysu.
“Budhidharma” baca Goan Kim Taysu cukup keras.
“Omitohud, Tat Mo Cowsu” seru Pek Bin Siansu
Tat Mo Cowsu dilahirkan dengan nama Budhidharma. Berasal dari India, beliau merantau ke Cina untuk menyebarkan ajaran Budha. Akhirnya menetap di bukit siong san dan mendirikan kuil siaulimsi, Tat Mo Cowsu berhasil menjadikan siaulimsi menjadi pusat ajaran Budha untuk seluruh daratan Cina.
Goan Kim Hwesio tidak dapat menebak apa maksud pencuri itu menulis nama cikal bakal siaulimsi dengan bahasa kuno. Setahunya, tinggal dirinya seorang yang menguasai bahasa Ardhmagadhi. Itu pun dikarenakan Bu Keng Kang sinkang ditulis dengan bahasa….
“Tingkat terakhir!” Jerit Goan Kim Taysu tanpa terasa.
Pek Bin Siansu menatap susioknya dengan pandangan tidak mengerti.
“Orang itu menulis dengan Bu Kek Kang sinkang tingkat ke delapan” kata Goan Kim Hwesio dengan seruan tidak percaya.
Hanya dirinya yang menguasai Bu Kek kang sinkang itupun baru sampai tingkat tiga. Goan Kim Taysu menggeleng kepala “tidak mungkin” gumamnya.
Tiba tiba terdengar suara kalem berkumandang dari dalam pondok kecil.
“Memang tidak mungkin dari tingkat ke delapan, harus dilakukan dari tingkat sebelas”.
“Tingkat sebelas?” seru Goan Kim Taysu tidak mengerti.
Bu Keng Kang sinkang terbagi atas delapan tingkat, darimana muncul tingkat sebelas?
Jelas jelas pondoknya tiada penghuni lain, siapa yang bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuannya?
“Tio sam, tentu banyak yang kau ingin tanyakan, sebaiknya kau masuk kemari” seru suara dari dalam pondok.
Yang tahu dirinya bernama Tio Sam, sepuluh tahun ini, setahu Goan Kim Hwesio tinggal dua orang. Satu dirinya, yang satu lagi sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Toh orang ini mampu menyebut nama aslinya. Nama sebelum ia menjadi pendeta.
Pek Bin Siansu tidak berani melanggar perintah supeknya. Secara isyarat, ia memerintahkan pasukan Lo Han Tin untuk mengepung pondok kecil tersebut.
Hatinya rada lega ketika ia memastikan tiada suara pertarungan terdengar dari dalam pondok.
Dari uraian susioknya, Pek Bin Siansu berkesimpulan kepandaian si pencuri kitab berkali kali lipat lebih tinggi dari Goan Kim Taysu, tidak heran mampu menggerayangi ruang kitab tujuh perkumpulan besar semudah keluar masuk rumah makan.
“Ciangbun-suheng”.
Panggilan ini menyadarkan Pek Bin Siansu dari renungannya.
Berdiri di depannya, Mo Tian Sute dengan wajah serius.
“Apa kauingin melapor bahwa kitab kitab yang dicuri sudah dikembalikan?” tanya Pek Bin Siansu.
“Ya, kitab kitab itu lengkap sudah kembali ketempatnya semula, Keasliannya pun tidak diragukan., hanya…?”
Melihat keraguan sutenya, Pek Bin Siansu segera bertanya “apa ada urusan yang janggal?”
Mo thian Siansu menyodorkan sebuah kitab ke suhengnya, “Selain kitab kita, kutemukan juga kitab ini”.
Jantung Pek Bin Siansu berdebar kencang ketika membaca sampul kitab itu.
“Tat Mo ih kin keng” desisnya kaget.
Menurut catatan, kitab ini hilang tidak ketahuan rimbanya, sejak angkatan Hui memegang jabatan ketua siaulimsi, seratus tahun yang lalu. Segala macam usaha dicoba untuk menemukan kembali kitab yang tak ternilai ini. Hasilnya, nihil.
Lama sudah proses pencarian kitab dihentikan. Tiba tiba, tanpa mengeluarkan keringat, kitab itu berada ditangannya. Hati Pek Bin Siansu girangnya bukan main, berbareng bingung dengan perilaku aneh si pencuri kitab itu. Betul Ruang kitabnya kecurian, tapi bukannya kurang, malah bertambah!
Pek Bin Siansu tidak dapat menerka maksud atau tujuan si pencuri itu. Bahkan sulit baginya mengambil sikap, haruskah ia marah atau malah berterima kasih?
Apapun juga ia berharap segala sesuatu akan jelas dengan sendirinya. Ia yakin, orang yang sedang bercakap dengan susioknya di dalam pondok itu adalah si Pencuri misterius itu.
Tidak terlalu lama ia menunggu, terdengar suara Goan Kim Taysu menyuruhnya masuk ke dalam.
Pek Bin Siansu mendapati susioknya duduk bersila di atas dipan dengan wajah serius. Entah kemana orang itu, yang bagaikan naga sakti tidak terlihat ekornya. Hati Pek Bin Siansu agak penasaran mengetahui siaulimsi yang terkenal banyak orang pandainya dianggap tempat umum oleh si pencuri misterius yang bisa keluar masuk seenak udel tanpa diketahui jejaknya.
Pek Bin Siansu memberi hormat kepada susioknya yang mempersilahkan duduk.
“Tentu banyak yang ingin kau tanyakan mengenai Pencuri kitab itu, sayang tidak banyak yang boleh kujelaskan padamu” kata Goan Kim Taysu perlahan.
Pek Bin Siansu tertegun. Siapa yang dapat melarang susioknya berbicara?
Goan Kim Taysu tersenyum, ia memahami pikiran sutitnya,
“Dia bukan orang luar, walau bukan dari siaulimpay, dia termasuk angkatan tuaku”
Agak heran Pek Bin Siansu, susioknya hampir berusia seratus tahun, jika si Pencuri sakti itu angkatan tua susioknya, tentu usianya tua sekali.
“Walau dari angkatan tua sekalipun, tidak dapat dibenarkan tindakannya yang main curi itu” kata Pek Bin Siansu dengan penasaran.
“Tindakkannya memang gegabah, tapi tidak juga dapat dipersalahkan”
“Maksud susiok?”
Goan Kim Taysu menarik napas hendak menerangkan, tapi tidak jadi.
“Memandang wajahku, maukah kau melupakan kejadian ini? Toh kitab yang dicuri sudah dikembalikan bahkan disertai Tat mo Ih Kin Keng”
“Darimana susiok..?” Pek Bin Siansu tidak jadi meneruskan pertanyaannya.
Tentu saja si Pencuri yang memberitahu susioknya.
“Sebentar lagi, dunia persilatan akan digegerkan dengan kedatangan orang dari partai Lam Hay Bun. Sebaiknya, jika tidak ada keperluan mendesak, anggota siaulimsi tidak usah berkelana.”
Kening Pek Bin Siansu berkerut. Lam Hay Bun adalah sebuah perguruan silat dari pantai selatan yang terkenal sekali atas kesaktiannya. Tidak banyak yang diketahui Pek Bin Siansu mengenai
perguruan misterius ini. Cuma ia tahu, mereka jarang sekali berkelana ke daerah tionggoan.
“Kalau mereka datang untuk mengacau, bukankah kewajiban kita untuk maju membela?”
“Kalau mereka berbuat busuk, tentu wajib kita mencegah. Tapi mereka berniat untuk merebut gelar nomor wahid dengan mengalahkan orang orang persilatan. Apa kau mau ribut memperebutkan gelar kosong?” bantah Goan Kim Taysu.
Pek Bin Siansu terdiam.
“Sungguh hebat rencana mereka” gumam Goan Kim Taysu dengan perlahan. Wajahnya makin kelihatan tua, sesuatu nampaknya mengganjal hatinya.
“Apa rencana mereka, susiok” tanya Pek Bin Siansu tak tahan.
Goan Kim Taysu merenung sejenak, kemudian berkata:
“Ratusan tahun sejarah telah membuktikan. Walau banyak yang telah mencoba, baik itu dari wakil pemerintah, peorangan atau satu perguruan, tapi tidak pernah ada satupun yang benar benar berhasil menguasai rimba persilatan”.
Pek Bian Siansu mengangguk membenarkan. Dia tahu perguruan Mo-Kauw, Ceng Liong Hwee, istana kelabang emas dari luar tembok besar dan yang lain, pernah mencoba…mereka gagal!
“Mereka tidak berhasil disebabkan usaha mereka menggunakan cara yang licik, curang dan memaksa, hingga mengundang kemarahan orang banyak. Karena tidak tahan, anggota persilatan bergabung menjadi satu, menentang kezaliman mereka” kata Pek Bin Siansu tanpa terasa.
“Jangan kau lupa, sejarah juga membuktikan setiap zaman kezaliman, selalu muncul seorang enghiong yang berkepandaian tinggi menentang mereka”.
Kembali Pek Bin Siansu mengangguk. Kisah suka duka para enghiong itu, sudah menjadi dongeng yang beredar di kalangan liok lim.
“Rencana Lam Hay Bun kali ini berbeda. Mereka bertekad menguasai rimba persilatan dengan cara yang jujur, menggunakan kemurnian ilmu silat sehingga tidak beralasan orang rimba persilatan untuk menentang mereka”.
Sudah menjadi pengetahuan umum, seseorang jika kalah dalam pi-bu, kalah atau tewas dalam pertandingan yang jujur, hal ini merupakan suatu hal yang jamak.
Tidak ada alasan bagi yang kalah untuk mengeroyok yang menang. Jika yang kalah mengeroyok yang menang, maka ia akan dianggap seorang pengecut. Seorang yang berlaku perbuatan curang yang dapat merugikan nama baiknya.
Pihak yang kalah harus berusaha dengan kemurnian silat untuk mencapai kemenangan. Dengan cara ini, baru dia diakui kehebatannya.
“Dengan cara seperti ini, paling banter mereka hanya keluar sebagai pemenang, bagaimana mereka dapat dianggap menguasai rimba persilatan?”
“Sebab mereka menawarkan yang kalah untuk mempelajari silat Lam Hay Bun”
Pek Bin Siansu memandang susioknya dengan kaget. Cara ini memang cara yang luar biasa!
Siapa yang tidak tertarik untuk mempelajari ilmu silat yang mengalahkan mereka? Untuk mempelajari ilmu tersebut, mereka harus bergabung dengan pihak Lam Hay Bun. Otomatis harus mengikuti tata cara satu perguruan.
Tanpa paksaan atau penggunaan racun, secara suka rela dan bersih, mereka dapat menundukkan orang orang di rimba persilatan tanpa dapat ditentang oleh perguruan besar di tionggoan.
“Kuyakin, masih banyak pendekar sejati, yang belum tentu tertarik bergabung dengan pihak Lam Hay Bun” kata Pek Bin Siansu setelah berpikir sejenak.
“Betul perkataanmu. Tapi jumlah pendekar sejati semacam ini sangat sedikit. Pendirian merekapun terkenal teguh. Pihak Lam Hay Bun tentu saja menyadari, mereka tidak mungkin dapat merangkul pendekar sejati sejenis ini. Kuyakin, pihak Lam Hay Bun tentu akan membunuh mereka dalam pertandingan yang adil”
Pek Bin Siansu mau tidak mau harus mengakui kebenaran ucapan susioknya,
“Walau mereka berkepandaian hebat, belum tentu mereka berhasil mengalahkan semua orang rimba persilatan” seru Pek Bin Siansu agak penasaran.
“Berhasil atau tidak, yang jelas banjir darah akan terjadi. Dan sulit sekali untuk dicegah” kata Goan Kim Taysu dengan sedih.
“Sungguh rencana yang hebat!” gumam Pek Bin siansu perlahan.
“Apa susiok sudah mempunyai cara untuk menghadapi mereka?” tanya Pek Bin Siansu.
Setelah termenung sejenak, Goan Kim Taysun berkata:
“Kuminta kau mengutus Mo Tian sutit pergi ke kota Lok Yang, bilang pada Khu Pek Sim, aku berkenan untuk mengangkat cucunya, Khu Han Beng, menjadi ahli warisku”
Goan Kim Taysu, mengulap tangannya, mengakhiri pembicaraan.
Pek Bin Siansu meninggalkan susioknya sambil merenung. Kecuali persoalan Lam Hay Bun yang luar biasa, hal yang lain yang dibicarakan Gon Kim Taysu kepadanya, boleh dibilang tidak ada satupun yang istimewa.
Hal hal yang ingin ia ketahui terutama mengenai si pencuri kitab itu, justru tidak dibicarakan, dan iapun tidak berani mendesak susioknya.
Diam diam ia ikut bersyukur bagi Khu Pek Sim, murid preman sialimsi yang bukan dari kalangan pendeta. Bagaimanapun juga Goan Kim Taysu akan mempunyai ahli waris hingga Bu Kek Kang sinkang tidak ikut terkubur bersamanya.
Yang ia heran, susioknya yang tidak pernah keluar pondok puluhan tahun lamanya, darimana mengetahui nama cucu Khu Pek Sim? Dirinya malah tidak tahu.
Khu Pek Sim memiliki Lok Yang Piaukiok, perusahan pengawal barang di kota Lok Yang. Terakhir Khu Pek Sim berkunjung ke siaulimsi terjadi sekitar lima belas tahun yang lalu, setelah selesai mengantar barang ke kotaraja. Walau jarang bertemu, hubungan mereka tidak jelek.
Pek Bin Siansu sempat mengetahui Khu Pek Sim hanya mempunyai seorang putri remaja. Tentu sekarang ia sudah menjadi seorang ibu, ibunya Khu Han Beng.
Setelah berpikir sejenak, Pek Bin Siansu merasa kejanggalan. Sebagai murid swasta siaulimsi, sudah tentu Khu Pek Sim mengirim undangan kepada ketua siaulimsi, ketika putrinya menikah. Tapi seingatnya, ia tidak pernah menerima undangan tersebut.
Lok Yang piaukok terletak di pinggir kota Lok Yang dan menempati daerah yang cukup luas dikelilingi sebuah tembok yang cukup tebal. Rumah bergenting merah bederet deret puluhan banyaknya.
Sebagai Congpiautau, Khu pek sim temasuk seorang pemimpin yang sangat memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. Selain memberi pesangon yang cukup, dia juga memberikan sarana tempat tinggal bagi pegawainya.
Disebuah kamar dirumah yang paling besar, seorang anak berumur sekitar empat belas tahun sedang menggoreskan penanya diatas sehelai kertas. Tampaknya ia tidak berniat untuk berhenti, dilihat dari tumpukan kertas yang cukup tebal diatas mejanya, tentu sudah lama ia menulis.
Sinar matahari pagi menyoroti sebagian wajah bocah itu. Wajah yang tampan dihiasi alis yang tebal, dan hidung yang mancung, jelas mencerminkan kekerasan dan keteguhan hati.
Matanya agak istimewa, bukan karena mencorong sinar tajam, seperti biasanya ahli silat…Mata itu agak istimewa karena mengikuti tarian pena lebih dari sepenanakan nasi…. tanpa berkedip.
Hanya seorang kutu buku yang bisa mempunyai otot mata yang demikian kuatnya. Hanya kebiasaan membaca berjam jam setiap harinya, yang dapat melatih otot mata yang kuat sekaligus melatih kebiasaan memusatkan perhatian.
Membaca adalah suatu kebiasaan yang baik.Suatu kebiasaan yang membuat kamar Khu Han Beng yang luas menjadi sempit penuh dengan rak berisi buku.
Pintu kamarnya dibuka oleh Lo Tong yang tanpa basa basi langsung berkata:
“Beng sau-ya, kau dipanggil oleh yaya-mu”
Lo Tong ditugaskan yaya-nya untuk melayani keperluannya. Sebetulnya, dia yang meminta dan
memilih Lo Tong untuk melayaninya. Lucunya, walau sudah berusia enam puluh tahun lebih, dan lebih dari tujuh tahun bekerja sebagai kacung bukunya, Lo Tong buta huruf.
Entah apa sebabnya, Han Beng tidak pernah mengajar cara membaca atau menulis kepada Lo Tong, kakek tua itupun juga nampaknya tidak tertarik untuk belajar membaca.
Tugas sehari harinya, hanya menyiapkan tinta, membersihkan alat tulis, dan menyusun kertas kertas hasil tulis sau-ya kecilnya. Tugas yang sangat ringan, cocok dengan kondisinya yang memiliki tulang tua, yang mudah mengilu bila melakukan kerja berat
Setahu Lo Tong, siau sau-ya, tuan kecil satu ini memang sedikit aneh. Umumnya anak kecil gemar bermain, Khu Han Beng lebih gemar mengurung dirinya didalam kamar, membaca buku buku tebal dan menulis puluhan lembar tiap harinya. Kecuali dirinya, bocah ini melarang orang lain memasuki kamarnya. Bahkan Khu Pek Sim pun, hampir tidak pernah datang ke kamar ini. Ia selalu menyuruh Lo Tong meminta Han Beng untuk menghadapnya.
Khu Han Beng meletakkan penanya, sambil berkata: “Kau masukkan kertas kertas ini kedalam tasku, siapkan kuda, kita pergi mengunjungi Gu-Suko”
Han Beng menarik laci mejanya, mengambil beberapa tahil perak.
“Kupergi menemui yaya. Tunggu aku di pintu gerbang”.
Lo Tong menghela napasnya, dia tidak begitu menyukai mengunjungi tempat Gu-Suko, pemilik toko buku terbesar di kota Lok Yang. Baginya bau arak wangi, jauh lebih sedap dibanding bau buku tua yang memiliki ciri yang khas. Ciri yang membuatnya sesak napas.
Khu Han Beng sangat akrab dengan Gu-Suko. Boleh dibilang hubungan mereka sudah seperti adik-kakak angkat. Hampir seminggu sekali Han Beng menyempatkan diri untuk mengunjungi Gu-Suko.
Aneh juga, baru terpikir oleh Lo Tong, selama tujuh tahun ini, seingatnya belum pernah, Gu-Suko mengunjungi Lok Yang Piaukok, walau satu kali.
Khu Pek Sim sedang duduk termenung diruang meja kerjanya. Tangannya memegang sebuah kotak terbuat dari batu kemala, yang mempunyai bentuk kubus. Setiap sisi kotak itu, terdapat 9 kotak bujursangkar kecil yang dihiasi enam macam warna.
Setiap kotak dipenuhi oleh sebuah warna, ada yang merah, ada yang biru, kuning, hijau, hitam, dan putih…sayangnya tidak mengikuti citra seni, hingga berkesan tidak beraturan dan tidak karuan.
Kerutan di kening Khu Pek Sim makin bertambah, ketika tanpa sengaja tangannya dapat memutar setiap sisi kotak tersebut. Pegas di dalam kotak kemala tersebut, dibuat sedemikian rupa hingga setiap sisi kota itu dapat digerakkan secara tegak lurus atau mendatar.
Sudah menjadi kebiasaan banyak orang, jika sedang asyik berpikir, tangan tidak jauh dari memegang jenggot. Walau usia sudah mendekati enam puluh tahun, Khu Pek Sim masih nampak gagah.
Dia memelihara jenggot yang pendek yang terawat rapi, mungkin untuk menutupi codet luka pedang yang tergaris dari bibir sebelah kiri turun mencapai dagu.
Setiap kali jari tangannya menyentuh bekas luka diujung bibir, tubuh Khu Pek Sim masih bergidik.Tidak sedikit manusia yang menemui ajal di dunia persilatan waktu berselang, karena tidak berhasil menghindari jurus pedang Bwe Hoa kiamsut, dirinya pun tidak.
Jurus yang selalu mengarah ke bagian yang mematikan sedang mengancam ke arah mulutnya ketika pedang itu terpukul dari atas, meninggalkan codet luka yang cukup dalam. Untung dia berhasil ditolong oleh….
“Yaya!” panggilan Khu Han Beng menyentakkan Khu Pek Sim dari pikirannya.
Khu Pek Sim mengangkat wajahnya kemudian tersenyum haru. Relung hatinya selalu terenyuh setiap kali melihat cucu ini. Anak satu satunya dari mendiang putrinya yang juga satu satunya.
“Kau semakin besar, wajahmu makin mirip ibumu” kata Khu Pek Sim sambil meletakkan kotak kemala itu, dan kemudian memegang bahu cucunya.
Tak tahan, Khu Han Beng melirik sekejap pada kotak kemala itu.
“Kotak apa itu, yaya?” tanyanya.
“Barang pelanggan yang harus kuhantarkan. Warnanya cukup menarik bukan” kata Khu Pek Sim sambil tersenyum.
Khu Han Beng termenung sejenak sebelum berkata:
“Entah ada urusan apa, yaya memanggilku?”
“Siang ini, aku akan pergi mengawal barang ini. Perjalanan kali ini cukup jauh, mungkin akan menyita sekitar dua bulan. Kuminta kau mengatur dan mengurus sesuatunya dipiaukiok ini”.
“Baik akan kulakukan. Hanya kuperlu menemui Gu-suko sebentar. Siang hari, kuyakin sudah kembali”.
Khu Pek Sim cukup tahu hubungan akrab cucunya dengan Gu Cin Long, pemilik toko buku, walau belum pernah berjumpa dengan orangnya.
“Apa kau perlu uang? Kutahu buku yang hendak kau beli tentu tidak sedikit”
Khu Han Beng menggeleng, ujarnya perlahan:
“Aku memang memerlukan sesuatu, cuma bukan uang”
Agak berubah muka Khu Pek Sim, ia seperti tahu apa yang dikehendaki bocah ini. Dia memang jarang di rumah, tugasnya menuntut kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di jalan.
Tapi setiap kali ada kesempatan, dia berusaha memanjakan cucu luarnya ini. Hanya maunya bocah ini sangat sedikit.
Begitu memasuki usia membaca, hobinya mengurung diri di kamar, tenggelam oleh buku bukunya. Kadang kadang suka juga ia bermain dibukit belakang, sendirian.
Tapi belakangan ini, setiap ada kesempatan, cucunya selalu menanyakan soal yang itu itu juga. Soal yang Khu Pek Sim enggan membicarakannya.
Bergetar bibi Khu Han Beng ketika bertanya:
“Bukankah yaya pernah bilang, jika aku sudah besar, yaya akan menceritakan mengenai ayah-ibu?”
Khu Pek Sim menghela napas:
“Kau memang sudah sebesar dan setinggi yayamu, hanya kau tetap belum dewasa”
“Bukankah seorang dianggap dewasa, jika sudah berani bertanggung jawab?”
“Yaa, kira kira begitu.”
Khu Han Beng dengan cepat mendesak kakeknya:
“Untuk yang kedua kali, aku memimpin Liok Yang Piaukok selama kepergian yaya, bukankah hal ini bisa dianggap aku bertanggung jawab dan mampu melakukannya?”
Khu Pek Sim terdiam, katanya dengan perlahan:
“Kenapa kau selalu ingin tahu urusan ini?”
Melihat kali ini yaya-nya tidak berang, dengan cepat Khu Han Beng menjawab:
“Ku tahu she-ku mestinya mengikuti she ayahku, yang jelas bukan she Khu seperti she yaya. Aku juga tahu riwayat hidup orang tuaku tentu mempunyai liku liku sehingga yaya enggan menceritakannya padaku.Tapi bukankah seorang anak mempunyai hak untuk mengetahui perihal orang tuanya?”
Khu Pek Sim menarik napas dalam dalam.
“Aiiih….Inilah akibatnya kalau seorang anak gemar baca buku. Ucapan dan usianya benar benar tidak sebanding” gumamnya perlahan.
Dia tahu, cepat atau lambat, dia harus memberitahu persoalan ini kepada Khu Han Beng. Tapi apa sekarang? Dia agak ragu.
“Urusan ini akan jauh lebih mudah, jika kau sudah menguasai ilmu silat” ujarnya sedih.
Khu Han Beng membuka mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.
Khu Pek Sim termenung. Cucunya tidak suka berlatih silat, setiap kali dia mendesak, Khu Han Beng hanya tersenyum sambil menggeleng. Dia tidak tega untuk memaksa cucu kesayangannya ini.
Bagaimanapun juga, sudah cukup bocah ini dilahirkan dari suasana yang tidak menyenangkan.
Tapi pernah terjadi suatu kejadian lucu. Ketika bocah ini berusia 9 tahun, Khu Han Beng pernah mengomentari jurus kebanggaannya, jurus toya penghancur iblis, jurus yang ia peroleh langsung dari siaulimpay…salah gerakannya!
Pek Bin Siansu sendiripun kagum atas kesempurnaan permainan toyanya. Masakkan bocah yang tidak suka silat, berani berkata, gerakkan toyanya kurang tepat. Tersungging senyum dibibir Khu Pek Sim setiap mengingat kejadian ini.
Melihat senyuman yaya-nya, terlintas rasa girang di muka Khu Han Beng.
“Baik! Begitu kembali dari perjalananku ini, akan kuceritakan perihal orangtuamu. Dengan satu syarat, kau harus mulai belajar silat. Walau sudah agak telat, tapi belum terlambat”.
Mendengar dia harus menunggu dua bulan lagi, Khu Han Beng agak kecewa, tapi dia yakin dia sanggup menunggu. Hanya soal harus belajar silat agak mengganggunya.
“Baik! Aku akan mulai belajar silat dari Tan toako” katanya setelah berpikir sejenak.
Dengan jadwal usahanya yang padat, sudah tentu Khu Pek Sim tidak sempat menurunkan kepandaiannya kepada anak buahnya.
Tan Leng Ko, Tan kausu, merupakan guru silat yang melatih para piasu di Lok Yang Piaukok. Kepandaian Tan leng ko khusus dibidang golok. Konon katanya ia menguasai enam jurus dari 13 jurus Ouw Yang Ci To yang sudah lenyap dari dunia persilatan. Enam jurus tersebut sudah cukup untuk mengangkat namanya, sebagai ahli golok di dua propinsi.
Tan Leng Ko selalu menganggap setiap orang mempunyai nasib masing masing. Kebanyakkan orang mempunyai garis hidup yang sial, dia tidak.
Sekitar tujuh tahun yang lalu, dia pernah hampir mati dikeroyok oleh enam manusia buas dari gurun. Khu Pek Simlah yang menolong dirinya lolos dari lubang jarum. Toya Khu Pek Sim menghajar mampus mereka dalam seratus jurus. Merasa hutang budi, dia ikut Khu Pek Sim dan mulai bekerja di Lok Yang Piaukok.
Baru tiga hari menetap, karena suatu keperluan, dia pergi ke kota Lok Yang. Kembali dirinya mengalami nasib yang mujur.
Secara tidak sengaja, dia memperoleh enam jurus Ouw Yang Ci To!
Dia ingat betul, waktu itu perutnya sangat mules, maklum, pagi hari dan santapan pedas, merupakan kombinasi yang kurang baik terhadap kondisi perut. Dia kebetulan baru selesai makan di rumah makan Se Chuan Koan yang terkenal menyajikan makanan yang pedas pedas.
Untuk kembali ke rumah makan sudah tidak sempat. Sekenanya, diambilnya gumpalan kertas dari dalam tempat sampah, yang terletak tidak jauh dari tempat berdirinya. Dan bagaikan dikejar setan, dia berlomba lari menuju sebuah gang yang gelap dan sempit
Sambil berjongkok di pojok memenuhi tugas panggilan alam, iseng Tan Leng Ko melirik gumpalan kertas yang diperlukannya untuk memoles bagian tertentu. Kertas itu jelas lecak diremas orang, untung masih kelihatan bersih dan baru. Dari tulisan yang mencong sana sini, Tan Leng Ko sadar bahwa tulisan ini dibuat oleh anak kecil yang sedang belajar menulis.
Tulisan anak anak biasanya memang mempunyai ciri khas yang berbeda dengan tulisan orang dewasa. Tanpa terasa Tan Leng Ko membaca tulisan tersebut. Setelah membaca beberapa baris, muka Tan Leng Ko berubah hebat.
Tulisan cakar ayam itu ternyata mencatat jurus Ouw Yang Ci To yang ia dengar sangat terkenal seratus tahun yang lalu. Salinan ilmu golok yang hebat ini, ternyata dibuang orang begitu saja ke keranjang sampah!
Selesai melakukan hajat, bergegas Tan Leng Ko kembali ke keranjang sampah tersebut. Ia tidak
peduli, orang yang kebetulan lewat keheranan melihat kelakuannya yang seperti orang gila menumpahkan isi sampah dan mengorek sana sini.
Tan Leng Ko tidak sayang baju dan tangannya berlempotan sampah. Yang ia sayangkan, banyak gumpalan kertas itu yang sudah ternoda lumpur dan kotoran hingga rusak tidak tertolong.
Dari puluhan gumpalan kertas yang berhasil ia selamatkan, dengan susah payah, Tan Leng Ko berhasil juga melatih jurus golok yang tidak lengkap itu.
Matahari yang condong ke barat menerpa debu debu yang masih menempel ditubuh Khu Han Beng. Jelas bocah ini baru kembali dari kota Lok Yang. Dia tidak sempat berganti baju. Ia menepati janjinya untuk menemui Tan toako sore hari di ruang melatih silat.
Tanpa banyak cakap, Tan Leng Ko begitu muncul, langsung menyodorkan golok yang terbuat dari kayu kepada Khu Han Beng. Seperti piasu yang lainnya, Tan Leng Ko tidak begitu akrab dengan bocah yang suka menyendiri ini.
Tapi bagaimanapun, bocah ini cucu kesayangan Khu Pek Sim, orang yang paling dihormatinya. Tan Leng Ko memutuskan untuk memberikan ilmu yang menjadi andalannya kepada Khu Han Beng.
“Banyak orang persilatan menganggap bahwa pedang adalah rajanya senjata. Yang kulatih adalah ilmu golok. Bagiku, golok adalah kaisarnya senjata” ujar Tan Leng Ko menerangkan.
“Ukuran sebilah golok biasanya lebih pendek dari sebatang pedang, hingga lebih memudahkan untuk menguasai gerakkannya. Inti jurus golokku adalah cepat. Kau harus dapat menguasai lawan digebrakkan awal. Misalnya, jika lawanmu menggunakan tangan kanan dan menyerang dengan pedang, kalau tidak melakukan gerakkan menusuk tentu menebas. Jurus pertama Ouw Yang Ci To, mengharuskan kau untuk melompat dan memutar badanmu ke arah bahu kiri lawan, mengayun golok dengan tangan kanan, kemudian melepasnya melayang di udara. Tangan kiri mencekeram, menyambut golok tersebut dan kemudian menabas ke arah leher lawan”.
Dengan sabar dan perlahan, Tan Leng Ko menerangkan jurus goloknya yang sulit untuk dilakukan. Untuk Jurus pertama Ouw Yang Ci To, Tan Leng Ko memerlukan waktu sekitar delapan bulan untuk dapat melakukannya. Ia berharap Khu Han Beng dapat menguasainya dalam waktu satu tahun.
Tan Leng Ko mengulang sampai tiga kali, kemudian menyuruh Khu Han Beng untuk meniru gerakkannya.
Khu Han Beng menggerakkan golok kayunya, memutar tubuhnya dan melakukan persis seperti apa yang diperbuat oleh Tan toakonya.
Mata Tan Leng Ko terbelalak, mulut terbuka menganga, dia tidak mempercayai apa yang barusan dilihatnya. Masakkan bocah yang dia tidak pernah lihat berlatih silat, dapat melakukan jurus yang dia tahu sulit sekali untuk dilakukan!
“Coba kau ulangi lagi!” perintahnya
Sampai tiga kali, Khu Han Beng mengulang, walau masih kelihatan kaku tapi jelas dia mampu melakukannya dengan baik.
“Coba kau tiru gerakkan ini!”
Berturut turut Tan Leng Ko menggerakkan tubuh dan goloknya melakukan jurus kedua hingga jurus keenam dari Ouw Yang Ci To, yang kemudian dapat ditiru oleh Khu Han Beng dengan persis, hanya berbeda keluwesannya.
Tanpa terasa, Tan Leng Ko menelan air ludahnya,
“Coba yang ini!” jeritnya tak terasa.
Tubuhnya bergerak, inilah gerakkan ke tujuh dari Ouw Yang Ci To!
Hasil gubahannya bertahun tahun. Jurus Ouw Yang Ci To, memerlukan kecepatan, mirip dengan deburan ombak.
Jurus kedua akan mempunyai daya serang yang lebih hebat dari jurus pertama. Jurus ke tiga lebih dahsyat dari jurus kedua, begitu seterusnya.
Setelah berpikir keras sekian lama, walau agak dipaksakan, akhirnya Tan Leng Ko berhasil
menciptakan jurus ketujuh.
Baru setengah jurus ketujuh Khu Han Beng lakukan, tiba tiba ia berhenti. Alisnya yang tebal berkerenyit.
“Kenapa berhenti?” tanya Tan Leng Ko.
Agak ragu Khu Han Beng menjawab:
Jurus satu hingga enam enak dilakukan, satu jurus berkait dengan jurus berikutnya. Hanya jurus yang ini…?”
Bagi seorang ahli silat, walau jurus ketujuh ini cukup dahsyat tapi jelas mempunyai lobang kelemahan yang banyak disana sini.
Dengan tegang, Tan Leng Ko menjawab:
“Kenapa dengan jurus ini?”
“Seperti berdiri sendiri….terpisah!” ujar Khu Han Beng dengan perlahan.
Tan Lengko menarik napas dalam dalam, jantungnya agak berdebar keras.
Tujuh tahun sudah dia bekerja di Liok Yang piaukok, dia tahu dengan pasti Khu Han Beng bukan seorang ahli silat.
Golok kayu ditangan Khu Han Beng mendadak digerakkan secara aneh “Mungkin, kalau begini….?”
Tubuh Khu Han Beng bergerak dengan lambat. Setiap gerakkan nampak Khu Han Beng berhenti sejenak seperti sedang mengingat gerakkan selanjutnya.
Tapi jelas gerakkan Khu Han Beng jauh berbeda dengan gerakkan Tan Leng Ko. Lapat lapat Tan Leng Ko merasa, gerakkan ini sangat serasi dengan jurus keenam dari Ouw Yang Ci To. Apa ini jurus ketujuh yang asli?
Tanpa terasa Tan Leng Ko mengikuti gerakkan Khu Han Beng. Setelah sekian lama mengulang, baru ia melakukan gerakkan itu dengan cepat.
“Braaakk….!” puluhan tombak yang berderet di rak senjata dekat Tan Leng Ko putus berserakkan terkena sabetan goloknya.
Seorang piasu berlari masuk dengan napas terengah engah.
“Khu siau-sauya, Tan Toako! Ada orang diluar mengamuk melukai orang!”
“Siapa?” tanya Tan Leng Ko.
“Mereka mengaku dari Bwe Hoa Pang, mereka mencari Khu Congpiautau. Mereka tidak percaya, Khu Congpiautau sedang dinas keluar, malah kemudian mereka mulai melukai para piausu”.
Tan Leng Ko bergegas keluar diikuti oleh Khu Han Beng dan piasu yang melapor. Betul Khu Han Beng yang memimpin Liok Yang Piaukok jika Khu Pek Sim berhalangan, tapi lebih banyak bersifat administratif. Jelas untuk menghadapi urusan semacam ini, Tan Leng Ko jauh lebih tepat dan handal.
Mendidih darah Tan Leng Ko begitu melihat lebih dari enam orang anak buahnya menggeletak berlimpangan darah, jelas dilukai oleh mereka bertiga.
Seorang gadis muda belia, didampingi seorang pemuda bersenjata pedang yang bernoda darah yang masih menetes, dan seorang kakek beralis putih.
“Apapun urusan kalian datang kesini, melukai banyak orang, bukankah menyalahi aturan kangouw?” bentaknya dengan geram.
“Jika pertanyaan kami tidak kau jawab dengan tepat, kaupun akan kami lukai” kata gadis muda itu sambil tertawa.
“Siapa kalian? Apa yang kalian maui?”
“Seharusnya kau tahu, kami dari Bwe Hoa Pang”.
Tiga tamu ini, masing masing menyematkan bunga bwe di dada atas sebelah kiri.Bunga bwe terbuat dari besi, berwarna hitam.
Tan Leng Ko pernah mendengar ketenaran Bwe Hoa Kiamsut, yang dikuasai seorang jago pedang
berwajah dingin, Ma Koan Tek.
Tapi baru pertama kali ia mendengar Bwe Hoa Pang. Apa dua hal ini berhubungan?
Menurut penuturan Khu Pek Sim, kepandaian Ma Koan Tek tinggi sekali. Ia hampir tewas dibawah serangan Bwe Hoa Kiamsut, jika tidak ditolong oleh seorang pemuda, yang kemudian melukai Ma Koan Tek dalam dua puluh jurus.
Semenjak kejadian itu, Bwe Hoa Kiam Ma Koan Tek tidak pernah kedengaran lagi beritanya. Ketika Tan Leng Ko bertanya siapakah pemuda yang mampu mengalahkan Ma Koan Tek itu, Khu Pek Sim menolak untuk menjawab.
“Kedatangan kami memang mencari Khu Pek Sim” perkataan gadis itu menyentakkan Tan Leng Ko dari lamunannya.
Tanpa banyak bicara, Tan Leng Ko langsung mencabut goloknya.
Dengan agak heran, gadis itu bertanya:
“Bukan menjawab, kau malah mau mengajak berkelahi?”
“Jika kujawab Khu Congpiautau sedang pergi dinas keluar, kalian toh tetap tidak percaya, daripada buang tenaga ribut mulut, toh dengan melukai anggota kami, urusan ini hanya bisa diselesaikan dengan ujung senjata. Kenapa tidak kita mulai sekarang?” tantang Tan Leng Ko.
Gadis muda itu manggut manggut setuju.
“Memang urusan ini jika makin cepat selesai, main baik” tangannya membuat gerakkan perlahan, pemuda yang kelihatan angkuh itu, meloncat maju.
“Semestinya menghadapi cecurut kelas tiga, bukan aku yang maju” keluhnya dengan sombong.
Tanpa banyak cing cong, Tan Leng Ko menggerakkan goloknya mengeluarkan jurus andalannya.
Terkesirap darah pemuda itu menghadapi sabetan golok yang hebat itu. Dengan cepat iapun menggerakkan pedangnya. Sinar pedang dan golok berkelebatan diiringi suara yang menggiriskan.
“Traaangg…!” terdengar suara benturan golok dengan pedang. Pemuda itu melejit menjauhi Tan Leng Ko.
“Tak kusangka, dikalangan piausu terhadap seorang jago golok yang hebat” gumamnya perlahan.
“Coba kau tahan jurus ini!” Bentak Tan Leng Ko, tubuhnya melambung melakukan jurus serangan kedua.
Hawa dingin yang keluar dari golok, menyambar kearah pemuda itu. Tubuhnya terada ditindih oleh sesuatu yang berat dan tak tampak. Pemuda itu menggeliat menggerakan jurus bwe hoa kiam sut yang menjadi andalannya. Terlambat! Pemuda itu mendengus, bahu kanannya tersabet golok, darah mengalir cukup deras.
“Tahan!” seru kakek beralis putih sambil melesat menarik pemuda itu dari gelanggang pertarungan. Tanganya dengan cepat menotok memberhentikan aliran darah.
Selesai menolong, kakek itu menoleh ke arah Tan Leng Ko sambil berkata dengan dingin:
“Jurus serangan golokmu, apakah jurus golok Ouw Yang Ci To yang sudah lama punah?”
“Kau pernah melihat jurus itu” jawab Tan Leng Ko balik bertanya.
Kakek alis putih itu termenung,
“Tidak banyak jurus golok yang mampu menekan Bwe Hoa Kiamsut. Jurus golok yang dapat melakukan itu, pernah kulihat semua” ia berhenti sejenak.
“Jurus yang baru saja kau gunakan, sama sekali tidak kukenal! Hanya….?”.
“Hanya apa…?”
“Kukira, hanya jurus golok Ouw Yang Ci To yang mampu melukai pemuda ini”.
“Mampukah kau menyambut jurus itu” tanya Tan Leng Ko.
Diam diam hatinya kagum dengan pengetahuan kakek ini.
“Belum tentu, tapi aku ingin mencobanya” kata kakek beralis putih dengan dingin.
Tangan Tan Leng Ko memegang golok dengan kencang. Dari sikap si kakek alis putih yang dia tidak kenal ini, dia tahu, dia akan menghadapi musuh tangguh.
Kakek alis putih itu berdiri miring menghadap Tan Leng Ko dengan kaki kiri ditekuk kedepan. Mereka saling mengukur mencoba menerka gerakkan lawan.
Tan Leng Ko mulai menyerang, kakek alis putih menggerakkan lengan bajunya menepas pergi hawa golok yang mengiris tajam. Tubuh Tan Leng Ko lenyap terbungkus gulungan selimut golok, tanpa terasa ia telah mengeluarkan enam jurus Ouw Yang Ci To.
Tegopoh gopoh kakek alis putih itu menyambut gelombang serangan dahsyat itu, tapi dengan memaksakan diri dia mampu lolos dari maut.
Tanpa terasa, mereka sudah bertukar posisi. Tan Leng Ko menatap tajam lawannya yang paling tangguh yang ia pernah jumpai.
Dengan pandangan dingin, kakek alis putih berkata:
“Tampaknya jurus serangamu memang dari Ouw Yang Ci To, sayang…”
“Apanya yang sayang?” tanya Tan Leng Ko dengan muka berubah.
“Yang kuketahui, 13 jurus Ouw Yang Ci To harus dimainkan sekaligus. Jelas seranganmu baru enam jurus, dan kau sudah berhenti. Kau menghentikan seranganmu karena jurus yang kau miliki tidak lengkap!”
Berdesir hati Tan LengKo, kakek sakti ini mengetahui kelemahannya.
“Jika kau menguasai satu jurus lagi, tentu aku tidak tahan. Sayang, ilmu yang langka ini harus kembali punah” gumam kakek itu perlahan.
“Kenapa harus punah?” tanya Tan Leng Ko kurang mengerti.
“Jika kau tidak mampu mengalahkanku, maka kau harus mati!” jengek kakek itu.
Selesai berkata, kakek itu menyerang, menggunakan tapak tangan. Tanpa pikir panjang, terpaksa Tan Leng Ko menggerakkan goloknya dengan enteng. Tidak seperti gerakkan sebelumnya, kali ini gerakannya kaku, dan lambat. Kelihatan betul ia belum begitu mahir.
Dengan nekat, ia mengeluarkan gerakkan yang baru saja dilatihnya dengan Khu Han Beng….jurus ketujuh dari Ouw Yang Ci To!
“hiyaatttt…!” kakek alis putih itu membentak.Tangannya menyambut serangan golok itu
“Bruaaakkk…!” Tan Leng Ko mendengus, darah keluar dari mulutnya. Perutnya terserempet ujung lengan baju kakek itu. Ia jatuh dengan goloknya terhujam ditanah, menopang tubuhnya yang gemetaran.
Senuyman yang menghiasi bibir mungil gadis cantik itu membeku. Dengan cepat ia menghampiri kakek alis putih yang menggeletak diam ditanah. Dada sebelah kanannya terluka sedalam tujuh inci. Darah yang membasahi baju kakek itu berhenti mengalir… dia sudah tewas!
“Benar benar tak kusangka, seseorang dari kalangan piasu, mampu membunuh Kiu Tok Sin Mo” serunya perlahan.
Kaget sekali Tan Leng Ko mendengar ucapan gadis itu, dia telah membunuh raja iblis yang terkenal puluhan tahun yang lalu itu!
“Siapa yang akan maju menghadapiku?” tantang gadis itu dengan lantang.
Hati Tan Leng Ko tenggelam, dia sudah luka parah. Para piasu yang berkepandaian tinggi, ikut pergi bersama Khu Congpiautau.
“Aku yang akan menghadapi dirimu” gumam Tan Leng Ko tidak jelas. Mulutnya penuh dengan darah…darah getir dan lengket.
“Jika kau masih sanggup berdiri, aku akan pergi dari sini!” ujar gadis itu dengan sinis.
Tan Leng Ko menggeliat badannya berusaha untuk berdiri, tapi tubuhnya malah rubuh. Khu Han Beng bergegas memegang tubuh Tan Leng Ko.
“Bagaimana keadaanmu, Tan toako?” tanyanya kuatir.
“Jangan kuatir, aku tak bakal mati. Kau tahu, kenapa aku tak bakal mati?” tanya Tan Leng Ko sambil memuntahkan darah segar.
Khu Han Beng menatapnya haru.
“Sebab nasibku mujur!” selesai berkata Tan Leng Ko terkulai pingsan ditangan Khu Han Beng.
Melihat rubuhnya Tan Kausu, para piasu lain tidak dapat menahan amarahnya. Terdengar desingan pedang dicabut, ayunan golok, dan ancaman tombak menyerang gadis muda itu. Dengan ringan, gadis itu menggerakkan kaki tangannya, tanpa menghadapi kesulitan yang berarti.
Puluhan piasu berterbangan seperti serangga menabrak api. Hanya dalam waktu sebentar, lebih banyak yang berbaring dibanding yang berdiri.
Dengan keras Khu Han Beng membentak para piasu itu, agar mengundurkan diri. Ia menoleh ke gadis itu,
“Sebaiknya kalian lekas pergi dari sini” ucapnya dengan dingin.
“Bocah kecil, siapa kau? kata gadis itu sambil tertawa.
Khu Han Beng membaringkan tubuh Tan Leng Ko, kemudian menghampiri gadis itu dengan memegang golok kayunya.
“Apa kau akan menghadapi diriku dengan senjata mainan itu?” tanya gadis itu tak dapat menahan
gelinya.
Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian katanya:
“Apa yang harus kulakukan, agar kau lekas pergi” katanya hambar.
“Kau harus mampu mengutungi tanganku dengan golok kayu itu” gurau gadis itu.
“Baik!”
Golok kayu itu membuat gerakkan mendorong, perlahan. Tidak ada yang luar biasa dari gerakkan Khu Han Beng. Golok kayu itu hanya menunding ke arah tubuh gadis itu.
“Iiiihhh….!” tubuh gadis itu bergeser mundur lima langkah dengan cepat.
Begitu kakinya menempel tanah, dia merasa dua belas jalan darah pentingnya masih terancam hawa tak nampak yang keluar dari ujung golok kayu itu.
Cepat ia mencabut pedangnya. Tapi sudah terlambat. Semacam hawa hangat, halus tapi kuat menyusup ke lengan kanannya yang memegang pedang. Otot lengan kanannya mengejang keras, tanpa dapat ia kuasai, pedangnya membuat gerakkan memutar, mengayun kuat kearah….siku kirinya!
“Croottt!!!….” darah berhamburan dengan dibarengi sebuah tangan yang jatuh ke tanah.
Muka gadis itu berubah pucat, dengan rasa takut yang hebat dia melirik Khu Han Beng dengan pandangan tak percaya!
Wajah Khu Han Beng dingin membatu. Tidak ada satupun dari tubuhnya yang bergerak. Tiupan angin malam yang kencang bahkan tidak dapat menggerakkan rambutnya. Lapat lapat, tubuhnya seperti memancar hawa yang menggiris. Keadaan Khu Han Beng sungguh menyeramkan.
Dengan menggigit bibir menahan isak tangis, gadis itu memungut kuntungan tangannya, kemudia tanpa berbicara, ia melesat dan menghilang di kegelapan malam.
Pemuda yang terluka yang datang bersama gadis itu, memandang bingung tidak mengerti. Apalagi para piasu yang tidak pernah melihat Khu Han Beng berlatih silat. Sebenarnya apa gerangan yang terjadi?
“Ilmu iblis apa yang kau gunakan?” bentak pemuda itu menutupi rasa gentarnya.
“Bukankah kau saksikan sendiri perbuatan gadis itu? Menyentuh dirinyapun tidak? Apa sangkut pautnya dengan aku?” Khu Han Beng balik bertanya.
Pemuda itu yakin, gadis itu tak akan suka rela menguntungi lengannya sendiri, tapi ia juga melihat, selain menuding golok kayu, Khu Han Beng tidak melakukan yang lain.
Apa ilmu sihir? Pemuda itu bergidik. Dengan menggunakan tangan kirinya, ia memanggul rekannya yang tewas, dan mengikuti jejak gadis itu menghilang dikegelapan malam.
Khu Han Beng menghela napas, kemudian mengisyaratkan para piasu yang masih bisa berdiri untuk menggotong masuk tubuh Tan Leng Ko yang terluka dan merawat para piasu yang terluka.
Malam mulai menyelimuti tanah yang bernoda darah. Konon katanya, dibawah sinar rembulan, darah akan nampak berwarna jingga. Warna ini jauh lebih menarik…jauh lebih indah dari warna aslinya. Tidak heran, banyak kisah pembunuhan terjadi di bulan purnama.
***************************
Dua minggu telah lewat dengan cepatnya. Luka Tan Leng Ko sudah sembuh. Tubuhnya yang penuh otot gempal, ditambah dengan usianya yang mendekati tiga puluh tahun, sangat membantu kecepatan sembuhnya.
Umumnya manusia dikala bayi atau menjelang tua, sering sakit sakitan. Dikala umur seseorang mencapai bilangan sepuluh dikali dua hingga empat, jarang sekali sakit, maklum daya tahan tubuh sedang bekerja paling aktif.
Luka Tan Leng Ko cepat sembuh berkat obat luka dari tabib Liok Yang Piaukiok yang manjur. Juga dibantu dengan jinsom yang diminumnya setiap hari.
Tapi Tan Leng Ko berpendapat, obat yang membuat lukanya lekas sembuh, adalah bubur ayam Hong naynay yang paling digemarinya.
Masakan yang cocok dengan perut, tentu membuat hati seseorang menjadi riang. Konon katanya, kondisi hati seseorang sangat menentukan kesehatannya.
Hong naynay, berbadan gemuk, dan berusia diatas lima puluh tahun. Ia memimpin satu daerah kekuasaan, dapur umum Lok Yang Piaukok. Begitu ia masuk dapur, yang merasa pintar masak, dengan sendirinya akan menyingkir keluar, kehilangan kepercayaan diri.
Kepandaian Hong naynay mengolah masakan, membuat banyak piausu tunduk padanya…berbareng takut.
Soalnya, Hong naynay galaknya bukan main. Sedikit berbuat salah padanya, dijamin sendok kayu besar akan melayang. Sedikit sekali, penghuni Lok Yang Piaukok, yang belum pernah benjol kepalanya.
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam. Kembali ia merasa nasibnya mujur. Selama ia sakit, ternyata pihak Bwe Hoa Pang tidak melakukan penyerangan, bahkan tidak terdengar kabarnya. Mereka telah melepaskan kesempatan yang baik.
Sambil menggeliatkan badan, Tan Leng Ko merasa, ia sudah siap melakukan tugas. Yang pertama ia lakukan, beranjak dari tempat tidur, dan membuka jendela kamarnya.
Angin malam meniup, membuat segar wajahnya. Tanpa terasa ia melamun.
Cukup sering Khu Han Beng menjenguk dirinya, sayang selama ini Tan Leng Ko belum mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang banyak berkecamuk dibenaknya.
Hubungan mereka menjadi akrab, walau Khu Han Beng juga seperti menghindari dirinya. Ia selalu datang ketika kamarnya ramai dikunjungi orang. Dan tidak pernah muncul ketika ia sedang sendirian.
Dari piasu yang menjaga pintu kamarnya, Tan Leng Ko mendapat tahu peristiwa yang terjadi setelah ia jatuh pingsan. Dengan menunding sebilah golok kayu, Khu Han Beng telah mengusir pengacau Bwe Hoa Pang. Jelas itu bukan sejenis ilmu silat. Mana ada ilmu silat yang tanpa bergerak dapat menjatuhkan lawan?
Ketika mereka berlatih, walau cepat menangkap, jelas gerakkan Khu Han Beng sangat kaku. Kekakuan yang tidak dibuat buat. Kekakuan yang timbul karena tidak pernah berlatih gerakkan silat. Jika bukan silat, apa ilmu sihir?
Pusing kepala Tan Leng Ko memikirkan hal ini.
Akhirnya ia memutuskan, paling baik bertanya langsung pada yang bersangkutan. Diraih goloknya, kemudian ia melangkah keluar.
************************
Kamar Khu Han Beng terletak dibagian belakang rumah yang paling besar. Tujuh tahun ia telah bekerja disini, boleh dibilang baru pertama kali, ia berdiri didepan kamar Khu Han Beng.
Ketukan pintunya dijawab oleh Lo Tong yang berdiri dengan badan bergoyang, jelas dalam keadaan mabuk.
Walau dalam keadaan mabuk, Lo Tong tidak lupa dengan tugasnya. Tubuhnya berdiri menutupi pintu yang terbuka, dengan tangannya sibuk menyapu.
“Kenapa banyak daun kering di dalam kamar?” tanya Tan Leng Ko heran.
Setiap rumah pasti mempunyai dedaunan sampah. Tapi biasanya diperkarangan, bukan di dalam kamar.
”Akupun tidak tahu, setiap hari, bertahun tahun lamanya, selalu kutemukan tumpukan daun dikamar Beng Siauya. Entah masuk dari mana” Gerutu Lo Tong.
“Dimana siauya?”
“Beng-siauya, pergi mencari kunang kunang”.
Sedari kecil Khu Han Beng mempunyai kegemaran mencari kunang kunang dimalam hari. Memang dibelakang perumahan Liok Yang Piaukok terdapat sebuah bukit kecil yang masih banyak ditumbuhi bunga bunga, walau dimusim gugur ini.
“Aku akan menyusul Beng sauya” kata Tan Leng Ko sambil melangkah pergi.
Lo Tong menggumam tidak jelas, lalu menutup pintu.
Baru empat lima langkah, sekelebat bayangan memenuhi benak Tan Leng Ko. Cepat ia memutar balik ke kamar.
Lo Tong membuka pintu dengan pandangan bertanya. Tan Leng Ko mencoba melirik dalam kamar dari pintu yang terbuka. Tapi Lo Tong menjepit badannya dengan pintu hingga sukar melihat keadaan didalam kamar.
Sambil tertawa, Tan Leng Ko berkata:
“Badanku belum terlalu sehat, tiba tiba aku ingin berisitirahat sejenak, kau ijinkan aku tidak, untuk masuk kedalam”.
“Kau kan tahu, Beng sauya tidak menyukai orang untuk memasuki kamarnya” jawab Lo Tong menolak.
Dengan berbisik, Tan Leng Ko, kemudian berkata:
“Ketika sedang sakit, kuperoleh seguci arak wangi Tiok Yap Jing dari Hong naynay, tapi dilarang olehnya untuk kuminum, kecuali sudah sembuh benar. Guci arak itu hanya dapat kupandang, tak berani kulanggar pesan Hong naynay. Sungguh runyam keadaanku”.
Mendengar arak Tiok Yap Jing yang terkenal mahal dan harum, mata Lo Tong berbinar.
“Konon katanya orang yang sakit, tidak lekas baik kalau minum arak. Supaya Tan Kausu cepat sembuh, dan tidak susah, bagaimana kalau arak itu diberikan saja padaku”.
Tan Leng Ko menepuk pundak Lo Tong, sambil berkata:
“Sungguh engkau seorang sahabat sejati, yang mau menolong teman dalam kesusahan. Lekas kau ambil arak itu dari kamarku”.
Dengan sempoyongan, bergegas Lo Tong berlari meninggalkan Tan Leng Ko sendirian, dengan pintu kamar Khu Han Beng yang terbuka.
Sekilas tadi, ketika Lo Tong membuka pintu pertama kali, ia seperti mengenal tulisan tangan yang terdapat di rak buku. Tan Leng Ko melangkah masuk ke kamar.
Buku buku yang terdapat di kamar ini, sungguh banyak sekali. Bahkan terdapat buku buku yang ditulis huruf keriting yang dia tidak kenal. Disalah satu rak tersebut, terdapat kumpulan buku buku hasil tulisan Khu Han Beng.
Buku buku ini tidak berjudul, hanya bulan dan tahun pembuatan tercatat dipunggung buku. Gaya tulisan tanganyapun macam macam, dari tulisan cakar ayam sampai tulisan tangan yang indah.
Tan Leng Ko menarik satu buku yang menarik perhatiannya tadi. Setelah ia hitung, tulisan cakar ayam ini ditulis oleh Khu Han Beng ketika ia berusia tujuh tahun.
Muka Tan Leng Ko berubah hebat ketika ia membaca buku itu. Tulisan cakar ayam itu menguraikan jurus tangan kosong yang begitu hebat! Tidak disebut nama jurus tersebut, tapi untuk menghindari serangan jurus pertama tangan kosong ini, dirinyapun tidak sanggup. Sukar dipercaya tulisan ini ditulis oleh bocah kecil bahkan ditulis pada saat ia berumur tujuh tahun!
Tan Leng Ko menaruh kembali buku itu ketempat semula, kemudian menarik satu buku yang bertulisan indah yang dibuat beberapa bulan yang lalu.
“Hui Liong Cap Sa Cik!” pekiknya tertahan.
Hui Liong Cap Sa Cik merupakan ilmu pedang andalan Kun Lun Pay yang jelas tidak diajarkan sembarang orang. Bahkan hanya Kun Lun Ciangbujin yang boleh mempelajari ilmu pedang rahasia ini.
Darimana bocah ini memperoleh catatan yang rahasia ini? Bahkan buku berisi ilmu yang luar biasa ini, ternyata hanya ditaruh begitu saja disebuah rak buku, seperti menaruh buku syair yang tidak terlalu bernilai!
Pening kepala Tang Leng Ko memikirkan hal ini. Cepat dikembalikan buku tersebut. Dengan perlahan ditutupnya kamar Khu Han Beng.
Sambil melangkah Tan Leng Ko merenung.
Apa yang harus ia lakukan? Mencari Khu Han Beng, kemudian bertanya mengenai catatan ilmu silat itu? Tentu ia bakal ditanya, darimana dia tahu, kecuali dia, secara lancang telah menyelonong masuk ke dalam kamar, tanpa ijin!
Sedikit banyak,hatinya menjadi malu atas perbuatan usilnya mencuri rahasia orang. Tapi ia benar benar tidak tahan, selimut misteri yang membungkus bocah ini sungguh memancing rasa ingin tahu!
Akhirnya Tan Leng Ko memutuskan untuk kembali kekamarnya.
Dahinya berkerut, ketika ia melihat Lo Tong terkapar ditempat tidurnya, dalam keadaan mabuk. Guci
arak Tiok Yap Jing pecah dilantai, sisa arak tumpah kemana mana. Orang yang sedang mabuk memang sukar menghargai arak mahal.
Tiba tiba ia ingin minum arak. Arak memang dapat mengusir kepusingan pikiran, sekaligus dapat pula mengundang kepusingan kepala.
Untung ia masih mempunyai persedian arak. Diambilnya seguci, kemudian melangkah keluar. Tubuhnya meloncat keatas genting rumah, menghadap kamar Khu Han Beng.
Dengan perlahan Tan Leng Ko meminum arak sendirian. Tanpa terasa, pikirannya melayang, ia membandingkan tulisan tangan di gumpalan kertas Ouw Yang Ci To yang diketemukannya dengan tulisan di dalam kamar Khu Han Beng.
Tulisan cakar ayam itu sangat dikenalnya. Tulisan cakar ayam itu terlalu mirip dengan tulisan gumpalan kertas yang diketemuinya dikeranjang sampah, tujuh tahun yang lalu!
Dia yakin, ilmu Ouw Yang Ci To yang dipelajarinya berasal dari tulisan tangan Khu Han Beng!
Bocah itu tentu telah menyalin dari kitab aslinya. Bertahun tahun bocah ini mengurung diri di dalam kamar, rupanya mempunyai kesibukkan.
Menyalin kitab pusaka yang langka, bahkan ada kitab yang dianggap sudah punah.
Entah berapa banyak kitab yang sudah disalinnya. Dilihat dari deretan catatan di rak bukunya, tentu jumlahnya tidak sedikit!
Tan Leng Ko dapat memastikan, walau hanya melihat dua buah buku. Ia mengerti, yang disalin oleh Khu Han Beng bukan jenis kitab syair atau kitab agama, melainkan salinan dari kitab kitab ilmu silat yang luar biasa hebatnya.
Yang Tan Leng Ko tidak paham, kenapa kitab yang tak ternilai harganya itu ditaruh begitu saja di rak buku, seperti kitab umum yang biasa? Apa karena Khu Han Beng masih terlampau muda, kurang pengalaman, untuk mengerti nilai kitab kitab pusaka tersebut?
Tan Leng Ko menenggak sisa araknya yang tinggal sedikit. Satu soal lagi yang mengganggu pikirannya. Ditilik dari gaya tulisan cakar ayam dan tahun catatan, tentu Khu Han Beng mulai menyalin kitab kitab sakti itu sedari kecil, bahkan digunakan sebagai latihan belajar menulis!
Tidak mungkin seorang anak kecil mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan kitab kitab sakti tersebut, apalagi sebanyak itu. Seseorang mesti memberi dan menyuruhnya menyalin. Tentu saja seorang anak kecil yang tidak tahu apa apa, akan melakukannya tanpa banyak pertanyaan.
Yang Tan Leng Ko tak habis berpikir, kenapa urusan yang penting ini dipercayakan kepada seorang bocah?
Tan Leng Ko menghela napas, tanpa terasa ia mengangkat guci arak yang sudah kosong itu. Tiba tiba guci arak itu terlepas dari tangannya, hatinya bergidik ketika ia menyadari sesuatu.
Sudah menjadi pengetahuan umum, kitab pusaka ilmu silat sering menjadi barang rebutan di rimba persilatan. Satu kitab saja, dapat membuat kehebohan yang menimbulkan ribuan orang tewas, dalam usaha memperebutkan.
Bayangkan jika mereka mengetahui, puluhan kitab sakti yang langka, ternyata terdapat di dalam kamar seorang bocah di perumahan Lok Yang Piaukok.
Akibatnya sukar untuk dibayangkan!
Sambil memandang guci araknya yang hancur dipelataran, Tan Leng Ko memutuskan untuk menyelidiki perkara ini sampai tuntas. Ia tidak akan mengijinkan jika terjadi sesuatu bencana di Lok Yang Piaukok ini.
Suara langkah kaki, menyadarkan Tan Leng Ko dari lamunannya. Dilihatnya, Khu Han Beng sedang berjalan menghampiri kamarnya.
Tangan kanannya memegang kantong kain yang memancarkan cahaya kelap kelip bergantian.
Sekitar tiga langkah dari kamar, Khu Han Beng menghentikan langkahnya. Badannya memutar perlahan. Matanya langsung menatap kearah Tan Leng Ko yang duduk diatas wuwungan rumah dalam kegelapan.
Jantung Tan Leng Ko berdetak lebih cepat.
“Apa bocah ini mengetahui kehadiranku?” pikirnya.
Kebetulan ia mengenakan pakaian berwarna gelap. Jarak dari tempat ia duduk mencapai puluhan kaki ke kamar Khu Han Beng. Awan gelappun menutupi sinar bulan. Tapi bocah ini seperti mengetahui kehadirannya.
“Apa Tan toako yang berada disana?” tanya Khu Han Beng perlahan.
Setelah menghela napas, Tan Leng Ko meloncat turun persis di depan Khu Han Beng.
“Apa kau mepunyai mata malam?” tanya Tan Leng Ko dengan cepat.
Khu Han Beng tersenyum.
“Kulihat guci yang pecah itu, mengeluarkan bau harum arak Tiok Yap Jing. Kutahu hanya beberapa orang saja yang mampu meminum arak mahal itu. Lagipula dari kelebatan kilat tadi, kulihat seperti ada orang yang sedang duduk di atas genteng.”
“Darimana kau tahu itu aku? “
Yang dapat meloncat setinggi itu, tentu Tan toako adanya”.
Tan Leng Ko ikut tersenyum:
“Pengetahuanmu mengenai arak, ternyata tidak sedikit”
Sambil tertawa, Khu Han Beng berkata:
“Sayang kesempatanku untuk minum, sangat sedikit”
“Jika kau tidak melapor pada yaya-mu, tentu kuundang kau minum barang secawan” bisik Tan Leng Ko.
Sambil menengok kekanan kekiri, Khu Han Beng ikut berbisik:
“Kalau cuma secawan, aku tidak mau minum”
Tanpa dapat dicegah, Tan Leng Ko tertawa keras:
“Benar! Kalau hanya secawan, akupun tidak mau minum”
Diam diam Khu Han Beng merasa geli, melihat kelakuan Tan toakonya yang setengah mabok.
“Kau habis dari mana?” tanya Tan Leng Ko setelah tertawa.
Khu Han Beng mengangkat tangan kanannya,
“Hari ini banyak sekali kudapat. Bukankah mereka sangat indah?”
Dari celah kantung kain, Tan Leng Ko dapat melihat puluhan kunang kunang yang berterbangan.
“Bukan niatku melarang kau untuk bermain, aku kuatir pihak Bwe Hoa Pang tidak tinggal diam. jika kau berniat keluar, sebaiknya membawa beberapa piasu untuk melindungimu”
Khu Han Beng mengiakan, kemudian menguap:
“Aku mengantuk sekali Tan toako, aku sebaiknya tidur dulu”
Melihat sikap bocah itu, Tan Leng Ko merasa saat ini bukan yang tepat. Ia mengurungkan niatnya bertanya.
“Kau tidurlah yang nyenyak. Aku akan meronda sebentar”
“Selamat malam, Tan toako” setelah berkata Khu Han Beng berjalan ke kamarnya,
“Tunggu sebentar!”
Khu Han Beng menoleh dan menatap Tan Leng Ko dengan mata penuh pertanyaan.
“Banyak helaian daun menempel dipunggungmu” kata Tan Leng Ko sambil membersihkan.
Khu Han Beng mengucapkan terima kasih kemudian menutup kamarnya.
Tan Leng Ko menatap helaian daun ditangannya yang mirip dengan helaian daun yang tadi baru saja disapu. Diam diam ia merasa geli.
Sumber kekesalan Lo Tong secara tidak sengaja ia telah temukan. Bocah ini tentu menyusup kesana kesini diantara pepohonan, mengejar kunang kunang.
Kentongan terdengar berbunyi sebanyak sembilan kali. Tan Leng Ko segera bergerak melakukan tugasnya, mengelilingi perumahan Lok Yang Piaukok memeriksa penjagaan dan keamanan.
*********************
Posisi matahari sudah agak tinggi ketika Tan Leng Ko bangun dari tidurnya. Tanpa berganti baju, ia berjalan menuju pelataran depan.
Dilihatnya, Khu Han Beng duduk diatas kuda sambil memasukkan bekal makanan dari Hong naynay ke dalam tasnya.
Semua orang di Lok Yang Piaukok cukup mengetahui besarnya kasih sayang Hong naynay kepada
Khu Han Beng.
Setiap kali berjumpa dengan Beng-sauyanya, Hong naynay selalu mengerjakan suatu perbuatan, suatu perbuatan yang sia sia… Hong naynay mencoba tersenyum ramah.
Setiap wajah perempuan, konon katanya mempunyai dua sudut pandang. Yang satu, mebuatnya terlihat cantik jelita, dan yang satu lagi membuatnya tidak sedap untuk dipandang.
Raut muka Hong naynaypun memiliki dua sudut pandang. Yang satu membuatnya kelihatan galak. Dan yang satu lagi, membuatnya kelihatan… galaknya bukan main!
Seperti seorang ahli pedang, Hong naynay mempunyai kebiasaan menyelipkan sendok kayu panjang di tali pinggang bagian depan tubuhnya. Gagang sendok kayu itu menyerong ke kanan, siap untuk ditarik ketika dibutuhkan. Kuku jarinyapun digunting pendek pendek. Hong naynay tidak akan membiarkan sesuatu menghalangi gerakkannya. Gerakkan ketika ia mencabut senjata pusakanya.
ketika Tan Leng Ko mendekati mereka, debu dari kuda Khu Han Beng yang berlari, menerpa wajahnya.
“Pergi kemana, Beng-sauya?”
Tanpa menjawab, dengan sigap, Hong naynay mencabut sendok kayunya yang kemudian melayang mengetok kepala Tan Leng Ko dengan keras.
“Auuww!….Apa kesalahanku kali ini?” jerit Tan Leng Ko memprotes.
“Arak yang kubeli mahal mahal, kenapa kau berikan kepada Lo Tong?”
“Tookkkk!…” kepala Tan Leng Ko benjol untuk kedua kalinya.
“Bukankah arak itu sudah kau berikan padaku? Terserah aku, hendak kuapakan” protes Tan Leng Ko
sambil mengelus kepalanya.
Ayunan senjata pusaka Hong naynay terhenti diudara. Sambil melotot ia berkata:
“Semestinya tidak kau berikan kepada Lo Tong”
Hubungan Hong naynay dengan Lo tong tidak akur, seperti kucing dan anjing. Keduanya keras kepala. Jika sudah bertengkar, tidak ada satupun yang mau mengalah. Jika mereka sudah bertengkar, yang lain tidak pernah mencoba melerai, malah lari bersembunyi.
Tan Leng Ko yakin, setiap persoalan selalu ada jawabannya. Kecuali, pertengkaran Hong naynay dengan Lo Tong, yang pemecahannya tidak mungkin ada.
Dengan cepat Tan Leng Ko berkata:
“Kulihat tadi, Lo Tong menyelinap ke dapur, ia mendengar tidak hanya seguci Tiok Yap Jing yang kau beli”
Rona merah menyebar muka Hong naynay, giginya begemeretuk kencang. Dengan gopoh, ia bergegas ke dapur.
Tan Leng Ko menarik napas lega. Untung ia dapat membebaskan diri dari Hong naynay dengan cepat. Ia harus secepatnya menyusul Khu Han Beng.
*****************
Hari sudah siang ketika Tan Leng Ko tiba di persimpangan jalan ditengah kota Lok Yang. Ia tidak berhasil menyusul Khu Han Beng. Ia yakin Khu Han Beng mengunjungi Gu-sukonya. Tapi ia tidak tahu letak toko buku terbesar di kota Lok Yang.
Ia telah bertanya kesana kesini, jawabannya semua sama….tidak tahu! Ia tidak dapat menyalahkan mereka. Dirinya sendiri telah tinggal tujuh tahun dikota ini, iapun tidak tahu.
Rupanya orang yang gemar membaca, tidak sebanyak orang yang gemar minum arak.
Dengan rasa apa boleh buat, Tan Leng Ko berjalan menuju Se Chuan Koan, rumah makan kegemarannya, untuk makan siang.
Kota Lok Yang memang cukup ramai, tapi kali ini nampak lebih ramai dari biasanya. Banyak pendatang berdandanan orang kang-ouw lalu lalang disepanjang jalan. Ada yang berpakaian rapih, banyak juga yang kusam. Ada yang bertangan kosong, banyak pula yang membawa pedang atau golok. Ada juga yang sendiri, tapi tidak sedikit yang berkelompok.
Rata rata air muka mereka bersifat serius. Dari sorot mata mereka yang tajam dan keningnya yang menonjol, Tan Leng Ko tahu, mereka berkepandaian tinggi.
Kening Tan Leng Ko berkerut, ia menduga suatu urusan besar telah memancing minat para jago persilatan untuk datang ke kota Lok Yang. Dengan menundukkan kepala, Tan Leng Ko berjalan perlahan, ia tidak ingin menarik perhatian mereka. Hatinya bersyukur, ia masih menggunakan pakaian tadi malam yang berbeda dengan seragam piausu yang biasa ia kenakan.
Tan Leng Ko memasuki Se Chuan Koan yang lebih ramai dari biasanya. Untung ia masih kebagian meja, diloteng atas, menghadap jalanan luar.
Pelayan yang sudah hafal dengan selera Tan Leng Ko, meletakkan seguci arak Tiok yap Jing, kemudian langsung berteriak ke dapur, memesan makanan.
Derap lari kuda menarik perhatian Tan Leng Ko. Matanya melayang kepada seekor kuda yang dilarikan cukup kencang, dan hampir menabrak orang yang berpakaian perlente.
Orang itu dengan sigap meloncat kesamping, pedangnya dengan cepat sudah berada ditangannya. dengan bergusar ia membentak:
“Kurang ajar!…Apa matamu buta?”
Arak yang baru diminum Tan Leng Ko tersendak keluar. Yang mengendarai kuda itu ternyata Khu Han Beng!
Orang yang marah itu tidak jadi menyerang, ketika melihat yang hampir menabraknya ternyata hanya seorang bocah. Sambil mendengus, orang itu memasukkan pedangnya. Kemudian, diambilnya tas Khu Han Beng yang terlempar jatuh didekatnya.
Urat syaraf Tan Leng Ko menegang kencang. Ia tahu betul apa isi tas itu. Sudah cukup sering, ia menyaksikan Khu Han Beng membawa tumpukan kertas hasil salinan setiap mengunjungi Gu-sukonya. Hanya saat itu, ia tidak terlalu peduli, kecuali sekarang.
Dari cepatnya orang itu meloloskan pedang, orang berbaju kuning emas ini, tentu seorang ahli pedang. Untuk mencapai tingkatan ahli, orang yang berlatih pedang harus berpandangan tajam.
Di depan banyaknya jago persilatan, jika orang itu mengetahui isi tas itu….? tak berani Tan Leng Ko membayangkan.
Ketegangan Tan Leng Ko mulai mengendur ketika orang itu menyerahkan kembali tas itu kepada Khu Han Beng sambil menasehatinya untuk berhati hati.
Tan Leng Ko menghembuskan napas ketika ia menyaksikan orang itu berjalan pergi.
Dengan rasa lega, Tan Leng Ko mengulurkan tangan, meraih guci arak. Mendadak air mukanya berubah secara aneh. Cahaya cemerlang seperti keluar dari mata Tan Leng Ko.
Tiba tiba ia paham! Kenapa kitab kitab sakti itu diberikan kepada seorang anak kecil, karena… karena memang cara ini termasuk yang aman!
Kapan sih, seorang jago silat, memperhatikan anak kecil? Apalagi tertarik kepada isi tas milik seorang bocah yang dianggapnya kalau bukan isi gula gula tentu mainan.
Tulisan tangan seorang bocah juga tidak akan mengundang rasa ingin tahu seorang jago silat. Kecuali, ia tanpa sengaja membaca tulisan itu.
Dia saja yang tinggal bersama Khu Han Beng bertahun tahun, tidak pernah acuh dengan tumpukkan kertas ditangannya.
Hanya orang tua kandung yang tertarik, terhadap tulisan seorang anak, apalagi tulisan seorang anak kecil yang sedang belajar menulis.
Khu Han Beng besar bersama kakeknya yang sering bepergian. Tentu saja Khu Pek Sim merasa bersalah, dan mencoba mengabulkan permintaan cucunya, setiap kali ada kesempatan.
Seperti larangan masuk ke kamar yang tentu dimintanya setelah bocah ini pandai menulis. Jelas Khu Pek Sim tidak keberatan, toh kelakuan aneh bukan suatu perbuatan buruk.
Kecuali Lo Tong yang buta huruf, tiada orang di Lok Yang Piaukok yang memperhatikan tulisan Khu Han Beng. Siapa yang bakal tertarik dengan karya tulis seorang anak kecil? Kakeknya saja tidak. Apalagi orang lain?!
Hasil karya tulis ini kemudian dibukukan tanpa diberi judul dan ditaruh begitu saja di rak buku. Ditaruh seperti jenis buku lainnya. Tidak ada yang aneh atau luar biasa dengan perbuatan ini.
Justru sesuatu yang jamak, tidak janggal dan bersifat terlalu umum, bukankah tidak akan mengundang perhatian orang lain?
Bertahun tahun orang di Lok Yang Piaukok terbiasa dengan prilaku Khu Han Beng. Sifat Khu Han Beng yang menyendiri sudah dianggap hal yang jamak.. Tidak satupun yang curiga. Dirinya juga tidak.
Bukankah salinan kitab sakti itu dengan sendirinya tersimpan dengan aman?
Tan Leng Ko mengangkat guci araknya dan meminum seteguk. Mau tidak mau timbul juga rasa kagum dihati Tan Leng Ko terhadap si Pemberi Kitab yang tentu telah memikirkan urusan itu.
Kelemahan dari cara ini adalah jika salinan kitab sakti di kamar Khu Han Beng diketemukan secara tidak sengaja oleh orang lain. Tapi misalnya, salinan kitab sakti itu disembunyikan di dalam sebuah gua rahasia atau di dasar jurang sekalipun, toh tetap ada kemungkinan diketemukan orang secara kebetulan.
Dan kemungkinan itupun juga kecil. Untuk menemui urusan ini secara kebetulan, orang itu harus bernasib mujur… seperti dirinya.
Renungannya terganggu ketika kursi didepannya ditarik. Seorang pemuda bermuka cemong duduk didepannya.
“kau tidak dapat mengusirku, kursi ini satu satunya yang kosong” katanya dengan cengar cengir.
Memang rumah makan itu penuh sekali. Meja yang paling sedikit orangnya, terletak cukup jauh dari meja Tan Leng Ko. Meja itu diisi oleh seorang pemuda berpakaian hijau dengan seorang gadis duduk disebelahnya.
Keduanya menyoreng pedang dipunggung mereka. Pemuda itu berwajah tampan, gadis itupun cantik sekali. Muka mereka tidak menakutkan sama sekali.
Tapi entah kenapa, orang menghindar untuk duduk bersama mereka. Mungkin sikap mereka yang telampau tenang dan pancaran hawa pedang yang seperti keluar dari sarungnya.
Tan Leng Ko memandang mereka hanya sekejab, ia juga tidak acuh dengan pemuda didepannya. Perhatiannya kembali terpusat kepada Khu Han Beng yang tubuhnya menghilang di tikungan sebuah jalan kecil.
“Hey! Apakah aku setan yang tidak kelihatan?” tanya pemuda yang duduk didepannya.
Tan Leng Ko menatap mata yang melotot itu. Mata yang indah, yang tidak sebanding dengan dandanannya yang mengenakan pakaian kusam berlapis lapis. Mukanya juga penuh debu. Debu yang seperti sengaja ditempel kemukanya, mungkin agar tidak terlalu nampak kecantikkannya.
Usianya jelas masih muda sekali, sebaya Khu Han Beng, tapi lagaknya seperti yang punya tempat.
Dalam hati ia tertawa geli. Kenapa seorang gadis cantik gemar sekali menyamar menjadi seorang pemuda jembel? Yang cemong hanya mukanya. Pakaiannya walaupun kusam, tapi terlalu bersih. Bahkan tersiar bau harum dari tubuhnya.
Yaa, bagaimanapun juga, tidak ada seorang gadis yang mau dibilang badannya berbau busuk.
“Orang ini nampaknya cukup sehat, sayang telinganya tuli” gumam gadis itu sambil seenaknya meraih guci arak Tan Leng Ko dan meminumnya tanpa permisi.
Tan Leng Ko segan ribut mulut, ia harus menyusul Khu Han Beng. Ia segera berdiri.
“Hey! Kau tidak boleh pergi!” perintah gadis itu.
“Kenapa aku tidak boleh pergi” tanya Tan Leng Ko tak tahan. Sebetulnya malas ia meladeni gadis edan ini.
“Jika kau pergi, aku akan berteriak, kau mencoba memperkosaku” ancam gadis itu.
“Bukankah kau seorang pemuda?” tanya Tan Leng Ko yang mulai kesal dengan kelakuan gadis itu.
“Semua juga tahu, aku seorang gadis yang menyamar. Jika mereka tidak percaya, kubuka bajuku untuk membuktikan” jawab gadis itu sambil mengikik.
Tan Leng Ko tak percaya gadis itu berani melakukannya, ia berjalan pergi.
Gadis itu kemudian berdiri, memulai membuka baju luarnya.
Orang yang sedang makan menatap mereka dengan heran. Dilihat dari gerakkannya, nampaknya gadis itu tidak berniat berhenti. Bajunya yang berlapis lapis, dibukanya satu persatu.
Sambil menghela napas, Tan Leng Ko kembali duduk dimejanya. Ia tahu ia telah berhadapan dengan gadis jenis Hong naynay. Berani berkata, berani berbuat.
Sambil mengikik, gadis itu berkata:
“Sudah kuperhitungkan, kau akan kembali. Silahkan minum, sudah kusiapkan arak untukmu”
Tangannya mendorong guci arak yang tadi direbutnya dari Tan Leng Ko.
Tanpa bicara, Tan Leng Ko langsung meminum arak itu hingga habis.
Gadis itu bertepuk tangan:
“Sungguh seorang laki laki sejati. Kukagum dengan lelaki yang mempunyai takaran arak sepertimu”
“Apakah kau sedang mengajakku untuk kawin?” tanya Tan Leng Ko dengan hambar.
Entah apa maksud gadis yang tidak dikenalnya ini, dengan pebuatan dan ucapan yang mengejutkan. Tan Leng Ko tidak mepunyai pilihan lain, kecuali melakukan hal yang sama.
Rona merah memenuhi wajah gadis itu, tapi dalam sebentar marahnya hilang.
“Bukan tak mungkin bagiku untuk menikahimu, tapi kau harus mempunyai kemampuan untuk melindungiku”
Tan Leng Ko terdiam. Gadis belia yang pantas menjadi anaknya, berbicara soal menikah segala. Bakal repot jika ia terus meladeninya..
“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” tanyanya perlahan.
Dengan wajah serius, gadis itu berkata:
“Kulihat kau sangat memperhatikan Pek Kian Si, apa dia musuhmu?”
“Pek Kian Si?” tanya Tan Leng Ko agak heran, ia merasa tidak kenal.
Walau bekerja di Lok Yang Piaukok, Tan Leng Ko jarang sekali bepergian. Tugasnya melatih silat para piasu. Tentu saja tidak perlu pergi jauh jauh.
“Pek Kian Si, pedang kilat dari Kang Lam, yang barusan hampir ditabrak….?”
Gadis itu menghentikan perkataannya, dia paham sekarang.
“Rupanya yang kau perhatikan adalah bocah yang naik kuda itu. Apa dia anakmu?”
Tan Leng Ko terkejut juga. Rupanya ketegangannya tadi menarik perhatian orang.
“Jika kau tak lekas katakan apa maumu, sebaiknya aku pergi saja.” kata Tan Leng Ko mulai kesal.
Ia benar benar tidak mengerti apa maunya gadis ini dengan dirinya. Tapi dia juga tidak ingin mengundang keributan yang tidak perlu.
“Baik kukatakan!” kata gadis itu sambil mengambil sebuah kantung dari kain dari jubah luar yang ditanggalkannya tadi. Kantung kain dibuka dan ditunjukkan isinya pada Tan Leng Ko yang tentu saja tidak paham.
Isi kantung itu ternyata benang sulaman bewarna warni.
“Apa kau ingin aku untuk menjahit” tanyanya dengan muka kelam. Gurauan gadis ini sudah keterlaluan.
Gadis itu mengikik ketawa,
“Tentu saja tidak. Walaupun kumau, belum tentu kau bisa. Yang kuingin…”
Gadis itu menoleh kepada kedua pemuda pemudi yang duduk disana.
Dengan agak heran, Tan Leng Ko ikut melirik. Sekarang dia baru mengerti. Pedang si Pemuda dihiasi ronce berwarna hijau, sedangkan pedang si pemudi dihiasi oleh ronce warna merah.
Benang sulaman di dalam kantung kain itu ternyata ronce pedang yang umumnya menempel disarung pedang. Tentu saja hanya pedang kenamaan yang biasanya mempunyai ciri khas ini.
“Sekali lihat langsung paham. Kutahu kau orang pintar” kata gadis itu sambil tertawa girang.
“Kau ingin aku untuk mengambil ronce pedang Pek Kian Si”
Dengan menghela napas, gadis itu berkata:
“Baru saja kau pintar, kenapa jadi bodoh kembali?”
Gadis itu kembali membuka kantong kainnya.
“Kau lihat yang berwarna kuning emas”
Hati Tan Leng Ko tenggelam. Warna itu memang cocok sekali dengan baju perlente yang dikenakan oleh Pek Kian Si. Dia tahu,kepandaian Pek Kian Si termasuk golongan kelas satu, entah bagaimana cara mencuri gadis ini.
“Kau mau yang hijau atau yang merah?” tanyanya.
“Aku tertarik dengan yang hijau” jawab gadis itu sambil menggigit tangannya.
“Kenapa tidak kau ambil sendiri, malah minta bantuanku?”
“Karena aku hanya mampu menghadapi satu orang saja. Kau tahu siapa mereka?”
“Siapa mereka?”
“Mereka kakak beradik, bermarga Kwee, dari Siong Yang. Sang kakak bernama Kwee Tiong sedangkan adik perempuannya bernama Kwee Li”
Hati Tan Leng Ko tenggelam.
Keluarga Kwee dari Siong Yang merupakan keluarga ahli pedang yang sudah terkenal ratusan tahun lamanya. Selain Kehebatan ilmu pedangnya, mereka juga terkenal akan kegagahan dan keringanan tangan untuk menolong orang susah.
Tentu saja ia tidak ingin mencari gara gara.
“Kutahu kau berkepandaian tinggi. Dua lawan dua, bukankah pertarungan yang adil” jawab gadis itu sambil tertawa.
“Darimana kau tahu, aku mampu menghadapi mereka?”
Sambil memicingkan mata, gadis itu menjawab:
“Kujarang salah menilai orang, apalagi kutahu sesungguhnya kau berhati baik. Tentu tidak tega melihat seorang gadis belia yang dirundung kesusahan”
Jelas jelas gadis ini hendak merampas, bahkan tidak segan mencuri, masakkan ia bisa susah segala. Keberaniannya untuk mencari perkara dengan keluarga Kwee menunjukkan, gadis setan ini mempunyai asal usul yang tidak sembarangan.
Tan Leng Ko berpikir sejenak.
“Hanya yang hijau kau maui, tidak ada lagi yang lain?”
“yaa, hanya itu yang kumaui”
“Setelah kau peroleh, apakah kau akan mencari perkara yang lain?”
Sambil tertawa gadis itu menjawab:
“Apa kau kira aku gemar mencari perkara? Yang kusukai hanya mengumpulkan ronce pedang”.
“Kau akan membiarkanku pergi, dan tidak akan mengganggu atau mencari diriku lagi?”
Tan Leng Ko tidak punya pilihan lain, ia harus bertanya bertele tele, soalnya jenis gadis yang berani, biasanya juga memegang teguh ucapannya.
“Yang kumaui adalah itu, bukan dirimu. Semoga kau tidak patah hati” kata gadis itu sambil menangis sedih.
Watak gadis ini sungguh luar biasa, dapat berubah dalam sekejab. Walau suasana dalam rumah makan sangat ribut, toh orang mulai kembali memperhatikan mereka.
Cepat Tan Leng Ko berkata:
“Apalagi yang kau ratapi, bukankah sebentar lagi kau akan memperoleh apa yang kau maui?”
Sambil tetawa girang, gadis itu meloncat sambil memegang tangan Tan Leng Ko.
“Kau benar benar pahlawan pujaanku, ayoh kita labrak mereka”
“Jika kau ingin berhasil, sebaiknya kau tunggu disini saja” bujuk Tan Leng Ko
Dia tahu, jika gadis itu yang maju, urusan malah menjadi runyam.
Gadis itu mengangkat jempolnya,
“Kau benar benar hebat! Sendirian melawan mereka berdua. Hanya ciciku dan..” ia menghentikan ucapannya seperti telah kelepasan bicara.
Tan Leng Ko menghela napas, dia tidak ingin kenal dengan cici atau keluarga gadis ini….Ia hanya ingin selekasnya dapat pergi.
Disemat goloknya dipinggang, kemudian berjalan menghampiri kakak beradik keluarga Kwee yang baru saja selesai bersantap.
Dilihat dari kemantapan mereka, Tan Leng Ko paham, bukan urusan yang mudah untuk mengalahkan mereka.
Tan Leng Ko mengangkat tangannya memberi hormat pada mereka.
Pandangan pemuda itu menatap dirinya dengan pertanyaan.
“Kuhargai keluarga Kwee yang terkenal kegagahannya. Entah apakah kalian sudi menolong orang yang tidak dikenal yang sedang kesusahan?”
Pemuda itu tersenyum. Tanpa berkata, tangannya bergerak melepaskan ikatan ronce pedangnya yang berwarna hijau.
Tan Leng Ko menyengir. Rupanya percakapan mereka ditengah bisingnya rumah makan, dapat didengar oleh pemuda hebat ini.
Kwee Li, gadis dari keluarga Kwee itu tersenyum padanya sambil berkata:
“Gadis nakal itu benar. Kau memang orang baik”
Secepatnya Tan Leng Ko mengucapkan terima kasih, kemudian kembali ke mejanya yang kini penuh dengan makanan yang tadi dipesannya.
Makanan yang sedang asyik disantap oleh gadis setan itu.
Gadis itu girangnya bukan main ketika menerima ronce idamannya. Seperti sebuah benda pusaka, secara perlahan ia menaruh ronce hijau itu ke dalam kantung kainnya.
Seperti baru dilepas dari kurungan penjara, Tan Leng Ko bergegas meninggalkan gadis itu.
“Tunggu Sebentar!”
Tan Leng Ko menghela napas sambil memutar badannya.
“Kau ada perlu apa lagi?” tanyanya sabar.
“Kau yang memesan makanan ini, semestinya kau pula yang membayar” kata gadis itu sambil mengunyah makanan itu.
Tanpa menghitung lagi, Tan Leng Ko mengambil uang sekenanya dan memberikan kepada pelayan.
Cepat ia kabur dari situ.
Begitu berada diluar, Tan leng Ko bergegas menghampiri tempat dimana Khu Han Beng menambatkan kuda. Ia terlambat! ia sudah tidak melihat kuda Khu Han Beng maupun orangnya.
Kesal juga ia dengan ulah gadis setan itu, usahanya menjadi berantakan.
Dengan apa boleh buat, Tan Leng Ko berhenti didepan jalan yang dimasuki Khu Han Beng tadi. Ia tertegun!… Ia sangat mengenal tempat ini.
Gang ini masih saja gelap dan sempit, hanya keranjang sampahnya yang kelihatan lebih tua, sebagian sisinya sudah hancur dimakan usia. Tapi bau busuknya tetap tidak berubah.
Sekarang dia sudah tahu, Khu Han Beng adalah orang yang membuang gumpalan kertas Ouw Yang Ci To ke keranjang sampah, walau ia tidak mengerti kenapa dibuang.
Yang sekarang benar benar diluar dugaannya, Khu Han Beng bakal balik kemari lagi!
Ketika ia menemukan gumpalan kertas tersebut, ia telah mencarinya dengan seksama. Tidak sejengkal tanahpun yang terlewati. Tapi tidak ada lagi yang lain, kecuali apa yang diketemukannya.
Ia selalu berkeyakinan, jika seseorang membuang sesuatu yang mengandung sifat rahasia atau penting, tentu dilakukannya di tempat jauh jauh. Tempat yang tidak berhubungan dengan dirinya.
Misalnya, kau telah melakukan pembunuhan, tentu senjata membunuh yang dapat dijadikan bukti, tidak akan kau buang didalam perkarangan rumahmu. Kau akan berusaha membuang senjata itu, ditempat yang di luar dugaan orang lain. Semakin jauh semakin baik.
Waktu itu, ia merasa orang yang membuang gumpalan kertas Ouw Yang Ci To, tidak akan kembali ke gang ini, sehingga tidak beralasan baginya untuk datang ke tempat yang berbau busuk ini. Dengan keyakinan itu, boleh dibilang dirinya tidak pernah kembali lagi ke gang ini.
Dengan perlahan, Tan Leng Ko memasuki gang yang sempit itu. Di deretan sebelah kanan, rumah kedua yang berpintu biru, terdapat tulisan:
“Toko Buku Lok Yang. Menjual Buku Baru dan Buku Bekas”.
Tan Leng Ko menyengir. Tulisan yang cukup besar itu, baru pertama kali dilihatnya. Ketika dulu ia memasuki gang ini, pikirannya berpusat pada kondisi perutnya. Sedangkan ketika ia keluar dari gang ini…boleh dibilang, ia sudah tidak dapat berpikir lagi.
Toko Buku terbesar di kota Lok Yang ternyata tidak besar. Kentara sekali minat baca masyarakat Lok
Yang yang rendah. Untuk banyak orang, ada dua cara yang cepat menimbulkan pusing kepala. Pertama adalah membaca buku dan yang satunya lagi meminum arak. Mereka beranggapan cara yang kedua adalah cara yang terbaik.
Kesan Tan Leng Ko tidak jelek, ketika ia berada di dalam toko itu. Toko buku itu bersegi empat dengan sebuah pintu yang menutup lorong yang menuju ke belakang.
Rak rak buku yang tinggi memenuhi dinding mengikuti bentuk segi empat itu. Sebuah papan kayu menempel di rak buku dan terulang dijarak tertentu. Papan kayu ini menerangkan tema dari buku yang tersedia pada rak itu. Ada sejarah, ilmu perang, syair, agama dan seterusnya.
Toko ini sepi sekali, selain dirinya, hanya seorang pelayan tua yang sedang membersihkan buku dengan kebutan debu. Ia menoleh memandang Tan Leng Ko sekejab, kemudian kembali menekuni pekerjaannya.
Sambil menggendong tangan dibelakang punggungnya, Tan Leng Ko berjalan mengitari ruangan itu. Ia tidak melihat tulisan tangan Khu Han Beng diantara buku buku ini.
Seperti umumnya calon pembeli, Tan Leng Ko mengambil beberapa buku secara acak dan membacanya sekilas. Seperti yang diduganya, buku buku ini hanya buku umum biasa, jenis buku yang bisa membuat pusing kepala bagi yang tidak suka membaca. Ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa.
Sambil meletakkan buku tersebut ketempatnya, Tan Leng Ko berpikir cara yang terbaik untuk bertemu dengan Gu-suko. Bagaimanapun juga, ia harus berusaha untuk bertemu dengan Gu-suko, pemilik toko buku ini.
Bertahun tahun Khu Han Beng menerima atau membeli banyak buku dari toko buku ini. Begitu pula sebaliknya, Khu Han Beng sering membawa tumpukkan kertas ketika mengunjungi Gu-sukonya.
Sulit bagi Tan Leng Ko untuk tidak mencurigai Gu-suko sebagai si Pemberi kitab kepada Khu Han Beng.
Mengenai bagaimana cara si Pemberi kitab itu meperoleh kitab kitab sakti itu, ia tidak ingin tahu. Hal itu bukan urusannya.
Yang ingin ia ketahui, kenapa kitab kitab itu diberikan kepada Khu Han Beng? Apa maksudnya menyuruh Khu Han Beng menyalinnya?
Pintu toko buku tiba tiba terbuka. Tan Leng Ko menoleh, kemudian menghela napas. Gadis setan yang merepotkannya tadi, muncul dengan cengar cengir. Ia berjalan sambil bertolak pinggang dan berlagak seperti tidak melihat kehadiran Tan Leng Ko.
Melihat kelakuannya, Tan Leng Ko tahu masalah sebentar lagi akan muncul. Ia tidak ingin menggebrak rumput mengusir ular. Agar penyelidikkannya tidak terganggu, ia harus mengajak gadis setan ini pergi dari sini, dan kembali lagi ke toko ini, sendirian, disaat yang tepat.
Dengan cepat dihampiri gadis setan itu. Ia menyadari, jika ia tanya kenapa mencarinya, tentu gadis setan itu akan menjawab dia sedang mencari buku, dan tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Ia harus menghadapi gadis setan ini dengan kecerdikkan.
“Apa kau baik?” tanya Tan Leng Ko dengan perlahan.
Gadis setan itu berlagak seperti baru melihatnya
“Aku sudah berjanji, tidak akan mencarimu. Kenapa kau cari diriku? Apa ingin menggangguku?” tanya gadis setan itu sambil cekikikan.
“Kau tadi telah menyuguhkan arak padaku, sebetulnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat untuk minum, tapi…?” tanpa menyelesaikan perkataannya Tan Leng Ko berjalan keluar.
Gadis setan itu mengejarnya dari belakang.
”Tapi apa?”
“Kutakut kau akan menyesal nantinya. Sebaiknya tidak usahlah” dengan cepat Tan Leng Ko berjalan keluar dari gang sempit itu.
Gadis setan itu, menghadang jalannya.
Sambil mendengus ia berkata:
“Kutahu kau sedang memancingku. Namun tetap kuikut pergi denganmu, agar kau tahu saja, tidak ada tempat yang tidak berani kudatangi. Asal kau ingat! aku tidak menjilat ucapanku. Kali ini, kau yang mencariku”.
Diam diam Tan Leng Ko tertawa geli. Walau gadis ini mengerti bakal ada satu urusan yang tak beres, toh tidak dapat menahan jiwa mudanya yang ingin tahu.
“Baik! Kau ikut aku”.
Diikuti gadis setan itu, Tan Leng Ko berjalan melewati deretan toko sepanjang dua blok, kemudian membelok kekanan memasuki rumah makan Ban Tiok Koan.
Seorang berbaju kuning emas baru saja selesai bersantap ketika ia melirik kearah mereka. Mukanya berubah ketika melihat siapa yang berdiri dibelakang Tan Leng Ko.
“Kau…?!” ucap Pek Kian Si dengan geram.
Gadis setan itu menyengir ketika melihat Pek Kian Si melotot padanya.
Dengan cepat Pek Kian Si mengejar gadis setan itu yang sudah kabur duluan.
Terkejut juga Tan Leng Ko melihat ginkang gadis setan itu. Walau gadis itu menyusahkan dirinya, bagaimanapun juga ia masih belia. Ada juga rasa kuatir dihatinya, jika gadis setan itu dicelakai oleh Pek Kian Si. Tapi berdasarkan kegesitan gadis setan itu, ia yakin, Pek Kian Si tidak akan mampu mengejar gadis setan itu.
Dengan napas lega, Tan Leng Ko bergegas meninggalkan tempat itu. Tadi ia tidak membawa kuda, agar lebih mudah melacak Khu Han Beng. Sampai ditempat sepi, Tan Leng Ko mengerahkan ginkangnya menuju pulang.
Setibanya di pinggir kota, ia berhenti sejenak, perutnya terasa lapar bukan main. Hatinya menggerutu mengingat jatah makan siangnya direbut oleh gadis setan itu. Setelah mengatur napas, kembali ia menggerakkan kakinya.
Ketika enak enaknya berlari, sebuah senjata rahasia atau amgi menyambar kearahnya. Dengan cepat ia menghindar.
“Siapa disitu?” bentaknya sambil bersiaga.
Amgi itu disambitkan dari rimbunan pohon yang terletak disebelah kiri jalan.
Tiga orang keluar dari belukar. Seorang tinggi besar, seorang pendek kekar, dan seorang berbadan kurus kering dengan kuku jari yang panjang.
“Ginkang orang ini lumayan juga” ujar yang tinggi besar.
“Tentu ia akan memperebutkan mustika itu” kata yang pendek kekar.
“Lekas kita bereskan dia! Mati satu, saingan kita berkurang satu” kata yang kurus kering yang langsung menyerang Tan Leng Ko.
Dari warna kuku jari yang mengarah matanya, Tan Leng Ko maklum tentu mengandung racun yang mematikan, cepat ia menghindar.
“Kita tidak saling kenal, kalian main serang diriku begitu saja. Aku kan tidak memperkosa bini kalian” kata Tan Leng Ko dengan kesal. Tiada angin hujan, orang ini langsung memberi serangan mematikan padanya, bahkan mengeroyoknya!
Serangan mereka selain cepat dan berbahaya, juga kerja sama mereka terjalin sangat erat. Hakekatnya ia kerepotan menghindar. Serangan yang bertubi tubi, dan silih berganti dari ketiga orang ini, tidak memberi kesempatan dirinya untuk mencabut golok.
Setelah dua puluh jurus, Tan Leng Ko terdesak dibawah angin, bau amis yang keluar dari kuku jari itu, membuat dadanya sesak ingin muntah, kepalanya mulai pusing, pertahanannya mulai kacau.
Disuatu kesempatan, si tinggi besar mengayunkan pedangnya mengarah ke ubun ubun Tan Leng Ko.
Jika begini terus, tidak sampai lima jurus lagi, ia akan keok pikir Tan Leng Ko.
Dengan menggeretak gigi, dengan nekat ia menyongsong pedang itu dengan tangan kiri sambil tangan kanannya mencabut golok. Ia lebih rela mengorbankan tangannya dari pada mati konyol disini.
“Traaang!” sebuah pedang bergagang hijau menangkis serangan si tinggi besar.
Tan Leng Ko melirik kepada orang yang memegang pedang itu yang kemudian terlibat perkelahian seru dengan si tinggi besar.
Ia mengenal pedang itu, pedang yang sarungnya sudah tidak terdapat ronce lagi. Kwee Tiong beserta Kwee Li telah datang menolongnya disaat yang genting. Desiran pedang Kwee Tiong yang kuat dan cepat menusuk si tinggi besar yang segera meloncat menghindar. Si kurus kering kerepotan terhadap serangan Kwee Li yang jauh lebih lincah dari kakaknya. Kerja sama ketiga orang itu menjadi hancur berantakan diganti dengan pertandingan satu lawan satu.
Tanpa banyak bicara, Tan Leng Ko yang sudah gusar segera menyerang si pendek kekar. Angin golok dingin menggidik mengurung si pendek kekar yang dengan gugup mencoba menangkis.
“Uagghhh…!” si pendek kekar menjerit ngeri melihat isi perutnya terburai keluar. Ia terkulai jatuh, menggeliat kesakitan dengan erangan yang melemah, kemudian diam tak bergerak.
Melihat kawannya tewas, si kurus kering bersiut nyaring. Tubuhnya melesat diikuti si tinggi besar, mereka menghilang dibalik rimbunan pepohonan.
Dengan gegetun, Kwee Li berkata:
“Tega benar mereka, kawan sendiri tewas, ditinggal begitu saja”
Kwee Tiong menghela napas,
“perkawanan mereka berdasarkan rugi laba. Kawan yang tewas tentu tidak menguntungkan, buat apa berteman lagi”
Tan Leng Ko menghampiri mereka,
“Kutahu ucapan terimakasih saja tidak akan cukup” katanya sambil menghela napas.
Kwee Tiong tersenyum,
“Ucapanmu membuatku malu.Kuyakin tindakkanku barusan hanya berlebihan. Tidak kusangka permainan golok saudara begitu hebatnya”.
Tan Leng Ko tertawa,
“Kau puji kehebatan permainan golokku, nyatanya yang telah menyelamatkan sebuah tanganku, adalah pedangmu dan bukan golokku”
Kwee Tiong ikut tertawa,
“Mereka bertiga mempunyai kepandaian yang seimbang dan kerja sama yang hebat. Serangan mereka memaksamu menghindar tanpa ada kesempatan untuk membalas. Begitu satu lawan satu, sudah lima jurus kukeluarkan hanya dapat mendesak si tinggi besar, sedangkan saudara hanya cukup mengeluarkan satu jurus”.
Sambil menunjuk kepada mayat si pendek kekar, ia melanjutkan:
“Permainan golokmu memang patut dipuji.”
Tan Leng Ko tersenyum, ia sangat menyukai pemuda ini. Seorang pemuda perkasa, dari keluarga hebat, berkepandaian tinggi dan tidak sombong.
“Siapakah mereka, toako?” tanya Kwee Li
Kwee Tiong menarik napas dalam dalam sebelum menjawab,
“Puluhan tahun mereka dikenal sebagai Tiga Srigala dari gunung hong san. Adat mereka buas, gemar membunuh. Tak kusangka mereka bisa berdatangan juga ke kota Lok Yang”
Kwee Li melirik sebentar kepada Tan Leng Ko dengan pandangan kagum,
“Merek mereka yang sudah tahunan gara gara saudara ini, terpaksa harus diganti” katanya dengan tersenyum
“Merek mereka?” tanya Tan Leng Ko heran.
“Sekarang mereka lebih tepat dikenal sebagai Dua Srigala dari gunung hong san”
Giliran Tan Leng Ko tersenyum,
“Kuusahakan agar gelar mereka cepat berubah lagi, jika bertemu”
Kwee Tiong ikut tersenyum,
“Kau telah mengetahui nama kami dari gadis nakal itu, rasanya kurang adil jika kami tidak mengetahui nama saudara”
Buru buru Tan Leng Ko menyebut namanya. Hanya nama yang ia sebut.Saat ini, Ia tidak ingin memancing perhatian orang lain terhadap Lok Yang Piaukok.
“Kenapa mereka menyerangmu, Tan toako?” tanya Kwee Li ingin tahu.
Kwee Tiong pura pura tak menggubris, cara panggil adiknya yang terdengar ‘langsung akrab’.
“Akupun tidak tahu. mereka menuduhku memperebutkan mustika segala, kemudian langsung menyerang tanpa memberi kesempatan aku untuk berbicara”
Kwee Tiong menghela napas,
“Nampaknya kabar angin itu sudah beredar di kalangan kang ouw. Tidak heran kota ini kedatangan bermacam macam orang”.
Dengan heran Tan Leng Ko bertanya,
“Kabar apa? Apa hubungannya dengan kota ini?”
“Apa Tan-heng belum pernah mendengar berita ini?” tanya Kwee Tiong berbalik heran. Mereka yang tinggal jauh di gunung Hong San saja tahu, masakkan pemuda yang nampaknya tinggal dikota ini malah tidak tahu.
Tan Leng Ko menyengir,
“Badanku kurang sehat, dua minggu terakhir ini. Kujarang keluar rumah. Berita itu tentu baru saja beredar”.
“Memang belum lama ini kami mendengar bahwa mustika kemala pelangi telah muncul di kota Lok Yang” kata Kwee Li menerangkan.
Mau tidak mau Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam. Ia tidak tertarik dengan mustika segala, urusannya sudah banyak.
Ia harus menjaga urusan Khu Han Beng tidak sampai mengundang perhatian orang kang ouw. Tak mungkin ia dapat menghadapi mereka sendirian.
“Apa keistimewaan mustika itu hingga diperebutkan orang” tanyanya berlagak tertarik, meniru reaksi umumnya orang, jika mendengar sebuah mustika.
“konon katanya, mustika itu menunjuk ke suatu tempat yang terdapat koleksi kitab kitab ilmu silat yang luar biasa” kata Kwee Tiong perlahan.
Kagetnya bukan main Tan Leng Ko mendengar hal ini. Dengan sekuat tenaga, dikerahkan tenaga batinnya agar airmukanya tidak berubah..!.
Apa kamar Khu Han Beng berhubungan dengan mustika kemala pelangi? Rasanya tidak masuk akal…
“Apakah kedatangan kalian karena urusan ini?”
“yaa…kedatangan kami memang karena urusan ini” jawab Kwee Li.
“Kami tidak ingin mustika itu jatuh ketangan yang salah” ujar Kwee Tiong dengan cepat.
Ia tidak ingin dianggap orang yang silau terhadap sebuah mustika.
“Sebenarnya bagaimana bentuk dari mustika itu?” tanya Tan Leng Ko kali ini ia benar benar tertarik.
Baru Kwee Tiong mau menjawab, adiknya berkata dengan nada tidak sabar.
“Toako, kita ditunggu orang. Tidak baik kalau terlambat. Sampai berjumpa saudara Tan” kata Kwee Li kemudian melangkah pergi.
Kwee Tiong tidak punya pilihan lain kecuali menyusul adiknya.
“Saudara Tan, kami harus segera pergi” kata Kwee Tiong.
“Sialhkan saudara Kwee, terima kasih atas pertolonganmu” ucapnya segera.
Mereka mengembangkan ginkang, melesat pergi, meninggalkan Tan Leng Ko yang menjadi termenung sendirian.
Entah bagaimana bentuk mustika kemala pelangi. Yang pasti, jika manusia sejenis tiga srigala dari gunung hong san dan keluarga Kwee sampai tertarik, tentu mustika itu mengandung nilai luar biasa sekali…
Setelah mengubur si pendek kekar, Tan Leng Ko menggerakkan kakinya meninggal tempat itu.
Kepalanya masih terasa pening, mungkin sedikit hawa beracun dari kuku beracun sikurus kering, sempat terisap olehnya. Ditambah dengan kerja berat gali kubur, dan perutnya yang lapar, ia harus lekas beristirahat dan bersamadi. Walau tidak sampai membahayakan dirinya, bagaimanapun juga, makin cepat ia mengusir hawa racun tersebut, makin baik.
Sekitar sepuluh kaki dari pintu gerbang Lok Yang Piaukok, sebuah bayangan berkelebat mencegat Tan Leng Ko yang kembali terkejut.
Ia terkejut bukan saja disebabkan melihat si gadis setan yang berdiri didepannya sambil bertolak pinggang. Ia terkejut melihat ginkang gadis setan itu yang jauh lebih hebat dari dugaannya semula.
“Kau ingin mencelakaiku?” bentak gadis setan itu marah marah.
Sebelum Tan Leng Ko sempat menjawab, gadis setan itu mulai menyerangnya. Jurus serangannya sangat aneh. Empat jarinya dirapatkan meniru sebilah pedang, gerakkan lengannya selalu lurus, tidak ada gerakkan membengkok. Tapi hebatnya luar biasa.
Semacam hawa pedang yang mencicit merobek hancur lengan baju Tan Leng Ko berkeping keping. Tan Leng Ko kagetnya luar biasa. Kepeningan kepalanya, mengganggu kecepatan geraknya.
Hampir ia mencabut goloknya, tapi ia tidak tega. Sayangnya ia tidak mempunyai kepandaian hebat lain kecuali Ouw Yang Ci To.
“Apa kau ingin membunuhku” tanyanya cepat
“Siapa suruh kau hendak mencelakaiku”
“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, jika kau ikut, kau akan menyesal”
Gadis setan itu terdiam. Mau tidak mau ia harus mengakui, Tan Leng Ko telah memberi peringatan padanya.
“Tadi kau selalu bersamaku…Darimana kau tahu Pek Kian Si, berada disitu?…hayoh jawab!”
Sambil menyengir Tan Leng Ko menjawab:
“Kejadian tabrakan tadi dekat dengan waktu makan siang, Pek Kian Si tidak memilih Se Chuan Koan yang lebih dekat, berarti ia tidak suka makanan pedas. Kau sendiri yang bilang dia dari Kang Lam yang kutahu suka makanan manis. Ban Tiok Koan adalah jenis rumah makan seperti itu…”
Diam diam timbul juga rasa kagum di hati gadis setan itu.
“Kenapa kau tidak menghalangi kejaran Pek Kian Si?” tanyanya galak.
“Jika kau mampu mengambil ronce pedangnya, kuyakin kau mempunyai cara untuk menghadapinya. Lagi pula….”
“Lagi pula apa…?” desak gadis setan itu.
“Aku tidak mengenal kau ini siapa”
.
Mata gadis setan itu mulai mengembang air mata.
“Huuuhuuu…kau yang kuanggap baik, ternyata berniat mencelakakanku. Tidak ada yang sayang padaku. Tidak ada yang mau pedulikan aku”
Gadis setan ini mulai menangis. Bukan hanya menangis, melainkan menangis sambil menjerit keras. Tentu saja mengundang perhatian orang Lok Yang Piaukok.
Tan Leng Ko menghela napas. Ia benar benar tidak dapat menerka watak gadis setan ini yan cepat sekali berubah. Sebentar marah, sebentar jahil, kemudian tahu tahu menangis. Kepalanya yang pusing semakin pening.
Khu Han Beng keluar menghampiri mereka. Bahkan Hong naynay pun ikut keluar dari dapur.
“Apa yang sedang kau perbuat?” tanya Hong naynay sambil melotot.
Tangannya memeluk gadis setan itu, yang menangis makin keras, air matanya membasahi baju Hong naynay.
Tak ada yang bisa diperbuat Tan Leng Ko kecuali menyengir.
Mata Hong naynay masih melotot kepadanya.
“Memang laki tidak genah ini, bukan orang baik baik. Ayoh, kau masuk kedalam. Kau coba masakkan Hong naynay. Kau akan melupakan kesedihanmu” Hong naynay mengajak gadis setan itu kedapur.
Tan Leng Ko menyengir dalam hati, yang belum makan adalah dia… dia tidak diajak. Gadis setan ini baru saja makan. Malah Sekarang diajak makan lagi. Apa sengaja mau dibikin gemuk?
Sebenarnya ia tidak setuju dengan ajakan Hong naynay mengundang gadis setan itu masuk. Perbuatan ini, seperti mengundang harimau, yang lebih banyak bahayanya daripada manfaat. Tapi ia juga tidak ingin melanggar Hong naynay. Yang harus ia lakukan adalah mengawasi gadis setan itu dengan ketat. Ia tidak tahu bagaimana gadis setan ini dapat menemukan dirinya dekat Lok Yang Piaukok. Dugaannya bukan suatu kebetulan. Ia harus mencari tahu, apa maksud gadis setan ini menyusup ke Lok Yang Piaukok.
“Siapa dia?” tanya Khu Han Beng dengan heran.
“Aku tidak tahu” jawab Tan Leng Ko.
Yang ia tahu, nama gadis itu tentu bukan gadis setan.
************************
Derak suara roda berputar, disela sela ringkik kuda, mengisi kesunyian hutan. Kali ini rombongan Khu Pek Sim terdiri dari duapuluh orang piasu yang berkepandaian paling tinggi di Lok Yang Piaukok untuk mengawal sebuah kereta barang.
Untuk sebuah kereta, biasanya sepuluh orang sudah lebih dari cukup. Hanya barang kawalan yang berharga sekali yang mendapat perlakuan istimewa.
Dua laksa tahil yang seluruhnya dari emas tentu saja mendapat perlakuan istimewa. Bukan saja dalam pengawalan, kuda kuda yang menarik kereta inipun termasuk kuda pilihan.
Kereta itu ditarik oleh delapan kuda yang kuat dan kekar. Jelas bukan jenis kuda sembarangan ditilik dari warna putih seperti kaos kaki yang melingkari bagian bawah kakinya.
Khu Pek Sim yang mengendarai kuda yang paling depan, mengerenyitkan alisnya. Ia tidak menyukai suara derak ini yang terlalu mengundang perhatian. Sumbu roda telah beberapa kali diberikan minyak dari lemak binatang, namun tidak menolong banyak.
Bagi orang kang ouw yang berpengalaman, dari suara derak yang nyaring itu, juga dari jumlah kuda yang banyak, mereka dapat menarik kesimpulan kereta barang ini membawa sesuatu yang berat dan hanya emas yang dapat menimbulkan beban seberat itu.
Udara yang dingin tidak dapat menghilangkan rasa gundah dihati Khu Pek Sim. Yang membuatnya agak lega, sore ini mereka akan tiba di kota Po-ting, tempat tujuan mereka. Khu Pek Sim bersyukur perjalanannya kali ini nampak aman dari gangguan.
“Brruaaakkk…!” sebatang pohon sepelukan tangan manusia, rubuh melintang dijalan. Kuda dibagian depan yang menarik kereta mengangkat kaki, sambil meringkik kaget, hampir mereka saling bertubrukan, untung sais kereta itu seorang yang sudah berpengalaman. Dengan suara perlahan dibujuk kudanya agar tenang.
Khu Pek Sim memberi isyarat tangan. Para piasu yang sudah terlatih mengangkat tameng mereka
dan berdiri mengitari kereta barang.
Tangannya meraih tombak, dan duduk diatas kuda dengan tenang. Jalan yang mereka sedang lalui walau bukan hutan, tapi dikiri kanan banyak pepohonan yang rindang. Rubuhnya pohon itu jelas disengaja, namun tidak terdengar gerakkan atau suara lain kecuali ributnya burung liar yang kaget beterbangan.
Setelah menunggu sekian lama, hanya deru bendera pelambang Lok Yang Piaukok yang mengisi keheningan, Khu Pek Sim akhirnya tidak sabar.
“Jika kalian tidak mau bertemu, sebaiknya kami pergi saja” serunya dengan lantang.
Ia tidak terlalu sering kekota Po-ting, namun ia cukup tahu, walau jalan ini tidak terlampau aman, perampok yang menguasai daerah ini, belum pernah menganggu barang kawalan Lok Yang Piaukok.
“Jika berani menghalang, tentu tidak takut urusan, kenapa tidak lekas diselesaikan?” teriaknya sekali lagi.
Dari balik rumpunan pohon bambu, seseorang keluar berjalan kearah mereka dengan perlahan. Ia mengenakan baju putih, berwajah tampan walau sudah tidak muda lagi, sebuah senyuman ramah tersungging dibibirnya.
Khu Pek Sim tertegun. Ia menduga puluhan perampok yang menghadang jalannya, bukan hanya satu orang.
Orang berbaju putih itu mengangkat tangannya memberi hormat,
“Kumohon maaf atas keterlambatanku. Maklum ini pengalaman pertama bagiku untuk merampas barang milik orang lain. Caraku masih canggung” ujarnya perlahan.
Diam diam Khu Pek Sim agak kuatir, ada satu hal yang merisaukan hatinya,
“Inipun pengalaman pertama bagiku, menemui perampok yang ramah dan tamah” katanya sambil memberi hormat.
Orang itu tersenyum,
“Ditinjau dari beratnya muatan, dan besarnya kereta, tentu kau membawa paling sedikit satu laksa tahil emas”.
“Pandai sekali anda berhitung” seru Khu Pek Sim dengan dingin.
“Selain mengetahui cara berhitung, akupun mengetahui laksaan tahil emas dapat digunakan untuk apa saja” kata orang itu dengan tetap ramah.
“Jika kau hendak merampas uang emas ini, langsung saja menggunakan kepandaian, tidak perlu bertele tele yang tidak berguna” tantang Khu Pek Sim Sambil meloncat turun dari kudanya.
Orang itu menghela napas,
“Jika kita bertarung, belum tentu aku menang. Walau menang sekalipun, jika kau hancurkan roda kereta itu, akupun tidak dapat membawa emas itu pergi jauh”
khu Pek Sim tertegun. Jika roda keretanya telah hancur, memang emas sebanyak dan seberat ini tidak mungkin dapat dibawa kabur oleh satu orang. Ia yang sudah berpengalaman bertahun tahun, malah tidak berpikir kearah itu.
Orang ini berpikiran tajam, jelas bukan orang sembarangan yang mudah dihadapi, ia harus berhati hati.
“Sebetulnya, apa kehendakmu?” tanya Khu Pek Sim dengan keras.
“Bukankah sudah jelas kukatakan, aku ingin merampas, ingin merampok barang kawalanmu” katanya dengan halus.
“Bolak balik kau berbicara, rupanya tujuanmu tetap tertuju pada emas ini” dengus Khu Pek Sim yang mengakui muatan barang kawalannya. Ia tahu tiada gunanya berbohong.
Sambil tertawa, orang itu mengeluarkan sesuatu dari bajunya,
“Benda ini tidak beracun, dan kuberikan kepadamu jika kau berikan barang yang kuminta”
Dengan heran Khu Pek Sim menatap secarik kertas yang dipegang oleh orang itu. Ia tidak mengerti apa maksudnya.
Tiba tiba orang itu melesat cepat sekali kearah salah satu piasu yang berdiri di depan dan dengan cepat telah kembali ke posisinya semula. Piasu itu tidak nampak terluka. Ia berdiri bengong dengan tangan kiri memegang kertas itu.
Jantung Khu Pek Sim berdetak keras melihat kecepatan gerak orang itu. Dengan tetap waspada, ia menoleh kepada anak buahnya.
“Cu Goan, apakah kau terluka?” tanyanya dengan cemas.
Piasu yang bernama Cu Goan itu menggeleng, kemudian matanya melirik kertas yang dipegangnya. Tahu tahu mukanya berubah dengan hebat.
Melihat perubahan raut muka anak buahnya, Khu Pek Sim cepat bertanya,
“Apa kau keracunan?”
”Aku tidak keracunan…hanya ini….sebaiknya Khu Conpiautau melihat sendiri” katanya sambil menghampiri Khu Pek Sim.
Khu Pek Sim menerima kertas tersebut, mukanya ikut berubah ketika membacanya. Kertas itu ternyata sebuah gin-bio atau surat uang yang dikeluarkan dari bank ternama di kotaraja. Keaslian surat uang ini tidak perlu diragukan lagi, bahkan dapat diuangkan kapan saja dan oleh siapa saja. Sekarang ia paham kenapa anak buahnya terkejut. Siapa yang tidak kaget melihat surat uang itu, yang ternyata bernilai enam laksa tahil emas!
Hati Khu Pek Sim tenggelam, kekuatirannya ternyata menjadi kenyataan. Tidak mungkin orang ini menghendaki barang kawalannya yang tidak bernilai sebanyak surat uang ini. Jika orang ini tidak sayang kehilangan enam laksa tahil emas, hanya satu barang yang diingini oleh orang ini. Barang yang dibawanya, dan hanya diketahui oleh tiga orang .
Dengan muka serius orang itu berkata,
“Kau tidak harus menjawabnya sekarang, kuberi waktu satu hari penuh padamu untuk memertimbangkan. Surat uang itu boleh kau simpan, untuk menunjukkan ketulusan hatiku.”.
“Apa kau tidak kuatir kubawa kabur uangmu?” tanya Khu Pek Sim tak tahan.
Orang itu menggerakkan kakinya menendang batang pohon yang rubuh itu.
“Blaaangg!” batang pohon itu bagaikan kapas terbang melayang menabrak pohon yang berdiri. Kerasnya daya dorong menyebabkan pohon itu tidak tahan dan ikut tumbang, akar menonjol keluar, terobek dari tanah.
Suara ranting, dahan dan rimbunan daun saling bertabrakan menimbulkan suara yang menakutkan.
“Aku tidak kuatir” kata orang itu sambil tersenyum.
Tangannya merangkap memberi hormat, kemudian tubuhnya melesat menghilang di balik rumpunan pohon bambu.
Para piasu terpaku akan kedahsyatan tendangan orang itu, mereka tidak memperhatikan keadaan Khu Pek Sim yang berdiri termenung.
Lok Yang Piaukok mempunyai penghuni baru, atau lebih tepatnya seorang tamu yang bernama Giok Hui Yan. Entah bagaimana caranya, gadis yang beradat aneh ini dapat dijinakkan oleh Hong naynay.
Rupanya seorang gadis pemberani hanya takut kepada perempuan lain… yang lebih galak daripadanya.
Menurut cerita Hong naynay, gadis ini ternyata kabur dari rumah setelah dimarahi oleh ayahnya. Ia luntang lantung mengembara, hingga bertemu dengan Tan Leng Ko di Se Chuan Koan. Ketika ditanya asal usulnya, Giok Hui Yan menjawab bahwa dia tidak suka membohongi Hong naynay yang begitu baik padanya, tapi ia juga mempunyai alasan yang kuat sehingga belum dapat menceritakan asal usulnya.
Hong naynay enggan mendesak, begitu pula yang lainnya. Kebiasaan ingin tahu urusan orang lain bukanlah kebiasaan yang ada di Lok Yang Piaukok.
Entah disengaja atau tidak, Giok Hui Yan hanya alim di depan Hong naynay, sedangkan dengan yang lain, kelakuannya tidak berubah.
Seperti biasa, sore hari para piasu berlatih silat di lapangan. Tan Leng Ko berhalangan hadir. Ia masih bersamadi dikamarnya membersihkan sisa hawa racun ditubuhnya.
Giok Hui Yan menghampiri mereka dengan cirinya yang khas….bertolak pinggang sambil cengar cengir. Tubuhnya meloncat keatas rak senjata, dan berdiri diatas sebuah ujung tombak yang tajam.
Melihat ginkang gadis itu yang tinggi, para piasu tanpa terasa menghentikan latihannya dan bersorak kagum.
Mendengar teriakan bernada memuji itu, gadis itu tersenyum bangga. Giok Hui Yan telah melepaskan ikat kepalanya, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Cantik sekali gadis ini ketika tersenyum walau masih mengenakan pakaian pria.
Tak lama kemudian, kakinya berlari diatas deretan ujung tombak, makin lama makin cepat, para piasu yang hanya mampu melihat bayangan gadis ini bertepuk tangan, sebagian malah ada yang bersuit.
Tubuh Giok Hui Yan meletik, dan membuat salto tiga kali di udara, dan berdiri di depan para piasu yang belum berhenti bertepuk tangan. Gadis ini mengangkat tangannya menenangkan pengagumnya, sambil berkata:
“Mau tidak kalian kuajarkan jurus tangan kosong?”
Tentu saja para piasu menjawab ingin.
“Telah kuhitung jumlah kalian. Sepuluh orang berdiri disebelah kiri, dan sepuluh orang sisanya disebelah kananku berdiri saling menghadap”.
Seperti seorang jendral, Giok Hui Yan berjalan mondar mandir di tengah barisannya. Tangan dan mulutnya sibuk membetulkan. Setelah puas, ia berdiri ditempatnya semula dan meminta perhatian mereka.
Tangan kanan dan kakinya bergerak secara aneh. Ia mengulang hingga tiga kali kemudian meminta barisan kanan menirunya dengan cepat dan tenaga penuh.
Barisan kanan melakukan yang dipintanya, terdengar suara beruntun keplak keplok, saling menyusul. Para piasu dibarisan kiri banyak yang terpelanting, pipi kanan mereka tertampar nyaring.
Gadis itu bertepuk tangan sambil tertawa girang,
“Kalian sungguh pintar. Diberitahu sekali, langsung pandai. Hayoh dilatih sebanyak duapuluh kali”
Dengan bingung, salah satu piasu dibarisan kiri bertanya
“Sebetulnya jurus apa ini?”
Dengan nada tidak senang, Giok Hui Yan menjawab,
“Untuk menjadi seorang jago silat, kalian harus berani tahan sakit. Baru sedikit tertampar, kalian sudah mengeluh. Kalau kalian enggan berlatih, yaa sudahlah”
Gadis itu kemudian melangkah pergi.
Dengan gugup, piasu itu berkata,
“Jangan pergi dulu, kami tahan uji dan biasa hidup diujung golok. Kami akan berlatih sungguh sungguh”
Giok Hui Yan mengurung niatnya untuk pergi,
“Siapa yang tidak tahan sakit, boleh lekas pergi dari sini. Yang pergi, tidak akan dianggap seorang pengecut!” ujarnya memberi penekanan dikata ‘pengecut’.
Tidak ada seorangpun yang pergi. Tentu saja jika ada yang pergi, malah akan dianggap pengecut oleh piasu lainnya.
Sambil mengikik gadis itu berkata,
“Kalian memang calon calon pendekar besar. Jika kalian latih jurus ini dengan sungguh sungguh, kujamin dalam satu dua tahun kalian akan mempunyai nama di rimba persilatan”
Mendengar janji yang muluk muluk, sebagian piasu ada yang sampai membusungkan dada dengan semangat. Mereka lupa, ada jenis perempuan yang ucapannya tidak boleh dipercaya begitu saja.
“Ayoh, barisan kanan mulai berlatih, barisan kiri boleh mencoba menghindar”
Kembali terdengar suara keplak keplok nyaring, silih berganti. Jurus ini memang rada aneh. Para piasu dibarisan kiri mencoba menghindar, toh pipi kanan mereka tetap saja tertampar.
Setelah puas melihat pipi kanan barisan kiri membengkak, Giok Hui Yan menyuruh mereka bergantian. Barisan kiri menyerang dan barisan kanan mencoba menghindar.
Ruangan berlatih silat, kembali diriuhkan dengan suara pipi tertampar. Sambil sibuk mondar mandir, Giok Hui Yan berteriak memberi semangat:
“Jurus kalian sudah benar, hanya masih loyo. Kalian harus mengerahkan semua tenaga ke telapak tangan”.
Suara tamparan semakin nyaring, bahkan ada sebagian piasu dibarisan kanan yang terpelanting dengan gigi copot.
Setelah berlatih dua puluh kali, Gadis itu menyuruh mereka berhenti dan berdiri tegak dibarisan masing masing. Senyum manis menghias wajah cantik itu ketika melihat warna merah biru menghiasi pipi kanan para piasu.
“Kulihat ada yang mencoba menghindar tapi tidak berhasil, bukankah jurus ini hebat luar biasa?”
Dengan ujung bibir berdarah, dan pipi memar, para piasu menjawab. Yang terdengar hanya suara gumaman yang tidak jelas.
“Sekarang barisan kiri dan barisan kanan berbareng melatih jurus kedua” ujar gadis itu sambil melakukan langkah dan gerakkan tangan kiri yang aneh.
Suara tamparan yang terdengar kali ini, selain bersusulan juga bersamaan. Para piasu di barisan kiri dan barisan kanan saling menampar pipi kiri masing masing.
“Kalian ulang sebanyak dua puluh kali, aku akan kembali melihat hasil latihan kalian” kata gadis ini sambil menyengir kemudian melangkah pergi.
Tan Leng Ko yang baru saja bersamadi, berjalan keruangan latihan silat. Dahinya berkerut ketika melihat Giok Hui Yan dikejauhan, apalagi ketika mendengar suara aneh dan nyaring.
Dengan cepat ia memasuki ruang latihan silat, Tan Leng Ko menghela napas ketika melihat murid muridnya terpelanting dengan muka bundar. Tujuh tahun ia telah mengajar mereka, tidak ada yang mukanya hingga bengap biru, babak belur begitu.
********************************
Warna biru tinta yang masih basah, kelihatan indah sekali. Khu Han Beng berada di kamarnya, sedang sibuk menyalin. Menyalin tulisan keriting yang dia tidak ketahui namanya, tapi sudah dihapalnya semenjak ia berusia tujuh tahun.
Suara ribut ribut Lo Tong terdengar dari luar pintu kamarnya, yang kemudian dibuka oleh Giok Hui Yan. Sambil cengar cengir, matanya memicing menatap Khu Han Beng seperti mahluk aneh yang belum pernah dilihatnya.
Khu Han Beng, yang pernah diceritakan oleh Tan Leng Ko mengenai kelakuan gadis itu di Se Chuan Koan, menghela napas:
“Apa yang kau kehendaki?” tanyanya perlahan.
“Aku sedang mencari cacing”.
“Kenapa tidak mencari diluar sana, malah mencari dikamar ini?” tanya Khu Han Beng heran.
“Aku sedang mencari kau, bukankah kau seekor cacing buku” katanya sambil mengikik.
Dengan kesal Khu Han Beng berkata,
“Jika kau hendak menggoda, sebaiknya kau keluar saja dari kamar ini, aku hendak tidur”.
Smabil bertolak pinggang, Giok Hui Yan berkata:
“Apa yang hendak kau perbuat, jika aku enggan keluar?”
Khu Han Beng memandang Giok Hui Yan sejenak. Untuk mengatasi kenakalan gadis ini, dia tidak punya pilihan lain kecuali racun melawan racun.
Khu Han Beng mendekati Giok Hui Yan, dan dengan cepat melepaskan bajunya hingga telanjang dada.
“Biasanya aku tidur tanpa busana, jika kau tidak mau keluar…”
Belum selesai ia berbicara, Giok Hui Yan menjerit, kemudian kabur dari situ.
Bagaimana berani dan anehnya adatnya, bagaimanapun juga ia seorang gadis perawan, yang jengah melihat seorang bocah sebaya dirinya dengan dada telanjang.
Sambil tertawa Lo Tong menghampiri Beng-sauyanya, kemudian berkata:
“Sekarang kutahu cara terbaik untuk mencegah gadis nakal itu”.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Sambil menyengir Lo Tong menjawab:
“Jika gadis setan itu muncul, kubuka saja celanaku, tanggung urusan jadi beres”
Khu Han Beng tersenyum,
“Aku hendak bermain di belakang bukit sana, tolong kau bereskan kamarku” ujarnya sambil merapihkan baju, kemudian ia melangkah keluar. Begitu berada diluar pintu gerbang, ia memusatkan perhatiannya. Setelah yakin tidak ada orang disekitarnya. Tiba tiba tubuhnya melesat kebelakang bukit. Cepatnya bukan main.
Tak lama dari kepergian Khu Han Beng, pintu gerbang Lok Yang Piaukok kembali dilalui orang. Bukan hanya seorang, melainkan dua belas orang yang di atas dada sebelah kiri disemati oleh bunga. Bunga bwe berwarna hitam, terbuat dari besi.
“Blaaangg…!” Pintu gerbang Lok Yang Piaukok yang terbuka, yang tidak menghalang jalan masuk mereka, toh tetap dihajar hancur oleh mereka.
Rombongan Bwe Hoa Pang kali ini nampaknya dipimpin oleh seorang tosu yang memegang pedang ditangan kirinya. Tapi yang menghancurkan pintu bukan dia, melainkan pemuda sombong yang pernah datang kemari beberapa minggu yang lalu.
Mendengar suara hancurnya pintu yang keras, yang pertama muncul menghadap mereka bukan lain Giok Hui Yan, disusul oleh Tan Leng Ko yang bergegas keluar.
Sambil bertepuk tangan Giok Hui Yan tertawa,
“Benar benar menarik. Rupanya serombongan badut berseragam datang kemari”.
“Rombongan badut?” tanya tosu itu tak tahan.
“Bukankah pertunjukan panggung, selalu diawali dengan suara ‘bang’ yang mengejutkan. Tentu kalian ingin menari disini” kata Giok Hui Yan sambil cengar cengir.
Tosu tua tidak menggubris ucapan gadis itu,
“Apakah bocah ini?” tanyanya kepada pemuda sombong itu.
Pemuda sombong itu menggeleng,
“Usia mereka sebaya, tapi bocah itu jelas bukan perempuan”
Giok Hui Yan mendengus,
“Seorang kakek tua mencari seorang bocah lelaki, tentu untuk urusan yang tidak beres”.
Selesai berkata tubuhnya melesat cepat kesalah satu dari rombongan mereka, tangannya bergerak aneh, terdengar suara pipi ditampar bolak balik tanpa orang itu mampu menghindar. Tubuhnya terkulai lemas, ketika hidungnya dihajar remuk.
Para piausu yang ikut keluar bersama Tan Leng Ko bersorak, mereka mengenal gerakkan gadis itu. Tidak rugi pipi mereka bengkak, ternyata jurus itu memang benar hebat.
Tosu tua itu terkejut kaget melihat kegesitan Giok Hui Yan. Ia maklum gadis ini tentu bukan orang sembarangan.
“Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Lok Yang Piaukok?”
Sambil Tolak pinggang, Giok Hui Yan mendekati tosu itu. Ia tidak menggubris pertanyaan itu.
“Ku tahu maksud kedatangan kalian. Kau tahu apa sebabnya tak akan kubiarkan kalian mengacau disini”
“Apa sebabnya?”
“Sebab itu sudah menjadi tugasku. Apa kalian ingin berebut tugas denganku?” tanya Giok Hui Yan sambil mengikik.
Giliran Tosu itu tidak menggubris Giok Hui Yan. Ia menatap Tan Leng Ko dengan tajam.
“Kedatanganku ingin bertemu dengan Khu Pek Sim dan cucunya”
Tan Leng Ko yang terdiam sedari tadi, tidak menjawab. Sekarang ia tahu perkiraannya tidak tepat. Asal usul Giok Hui Yan ternyata tidak berhubungan dengan Bwe Hoa Pang. Tapi ia tetap membiarkan Giok Hui Yan yang maju. Ia ingin tahu tindak tanduk Giok Hui Yan apakah akan membantu Lok Yang Piaukok atau tidak.
Giok Hui Yan yang tidak dianggap oleh tosu itu, marah betul. Ia menggerakkan tangannya secara lurus. Terdengar suara mencicit seperti hawa pedang menerjang ke tosu itu.
Cepat tosu itu mengelak, kekagetannya bertambah. Ia telah mendengar seorang bocah aneh yang entah dengan cara apa telah menguntungi tangan Ceng Siau Lam murid ketua mereka. Sekarang muncul bocah aneh yang lain. Seorang bocah perempuan.
Tosu itu tidak sempat berpikir lagi, serangan berikut dari Giok Hui Yan memaksanya mencabut pedang. Sebilah pedang yang melekat noda merah kehitaman. Noda darah yang telah mengering.
Pedang itu membuat gerakkan melingkar memunahkan serangan Giok hui Yan. Gerakkan susulan pedang itu yang sedang menusuk perut Giok Hui Yan, entah kenapa mendadak ditarik. Diganti dengan tangan kiri yang menghajar pundak kiri gadis itu dengan telak.
Tubuh Giok Hui Yan mencelat dibarengi darah kental yang keluar dari mulutnya. Dengan terkejut, Tan Leng Ko lekas meloncat menanggapi tubuh Giok Hui Yan.
Tosu itu tidak melanjutkan serangannya, ia malah termenung. Gerakkan tangan gadis itu seperti dikenalnya. Justru karena itu, ia tidak melanjutkan tusukannya. Hanya satu perguruan yang mempunyai ciri gerakkan tangan yang lurus tidak membengkok….tiba tiba mukanya berubah hebat.
“Kau ….?”
Giok Hui Yan mendengus, memotong ucapannya.
“jika kau mundur dari sini, urusan ini tidak akan kuperpanjang”
Tosu itu menarik napas. Bocah perempuan ini telah memiliki hawa pedang tanpa menggunakan pedang, tentu berhubungan erat dengan ketua perguruan itu. Dan ia telah melukainya!
Pertikaian dengan perguruan itu bukan urusan main main dan akan berakibat hebat. Ia tidak berani mengambil keputusan, ia harus melapor kepada ketuanya.
Tanpa berbicara, cepat ia mengajak rombongannya pergi dari Lok Yang Piaukok.
**************************************
Suasana malam sepi sekali.
Angin dingin dari utara meniup kencang, membuat penghuni Lok Yang Piaukok malas keluar dari kamar. Kecuali penjaga malam, boleh dibilang hampir semua orang meringkuk di dalam kemul selimutnya.
Begitu pula Giok Hui Yan, luka gempur di bahu, memaksanya berbaring di tempat tidur kamar tamu. Hong naynay yang ingin menemaninya ditolak secara halus. Ia biasa tidur sendirian dan ia tidak ingin menyusahkan Hong naynay.
Tan Leng Ko baru saja selesai melakukan pekerjaan rutinnya, melakukan perondaan. Ia tidak ingin terlena dari tugasnya. Walau kecil sekali kemungkinan orang Bwe Hoa Pang akan muncul lagi, ditilik dari sikap tosu itu yang sudah menang tetapi malah mengundurkan diri. Asal usul Giok Hui Yan, rupanya cukup menggertak mereka pergi.
Tiba tiba timbul keinginannya untuk meminum arak. Ia menghilang sebentar, tahu tahu sudah kembali dengan tangan memegang sebuah guci arak. Sekali lompat, dia sudah berada di wuwungan rumah.
Tan Leng Ko meminum araknya dengan perlahan. Hawa hangat menyebar tubuhnya, membantu melawan dinginnya malam.
Waktu bergerak lambat sekali. Tapi Tan Leng Ko tidak keberatan menunggu. Kalau perhitungannya tidak salah, asal dia sabar menunggu mungkin dia akan mendapat jawabannya. Sesungguhnya, apa yang sedang ia tunggu?
Dari letak wuwungan rumah yang tinggi, seperti kemarin, Tan Leng Ko melihat Khu Han Beng yang baru saja pulang. Dari sore bocah ini pergi, baru sekarang pulang. Apa saja yang dilakukan anak ini?
Dahi Tan Leng Ko berkerut ketika melihat kembali belakang tubuh Khu Han Beng banyak menempel daun segar. Baru teringat oleh Tan Leng Ko ketika kemarin ia membersihkan daun dari punggung bocah ini. Letak daun daun tersebut tepat diatas urat nadi penting. Apakah hal ini sesuatu yang kebetulan atau disengaja?
Tapi dia tidak menegur Khu Han Beng, dibiarkannya bocah ini memasuki kamarnya.
Dia cukup menyadari, urusan ganjil yang menyangkut Khu Han Beng tidak dapat ditunda lagi. Ia harus menanyakan urusan ini sejelas jelasnya.
Setelah memikirkannya secara seksama, Tan Leng Ko berkesimpulan, cara terbaik agar Khu Han Beng bersikap terbuka padanya, ia juga harus bersikap jujur dengan Khu Han Beng.
Ia ingin Khu Han Beng mengetahui dengan pasti, bahwa ia berniat tidak buruk padanya.
Hanya saatnya bertanya bukan sekarang. Ia tidak mempunyai pilihan. Urusan yang tidak bisa ditunda ini, sekali lagi harus ia tunda!
Malam semakin larut. Awan hitam yang menggulung dengan cepat berubah menjadi hujan deras yang seakan akan tumpah dari langit. Suara guntur merobek keheningan malam, diselingi kilatan petir yang menyambar, menerangi seluruh Lok Yang Piukok walau hanya sesaat yang singkat.
Dibawah kilatan petir yang sekejab itu, sesosok bayangan menyelinap masuk kedalam ruang kerja Khu Pek Sim. Tubuhnya bergerak dari satu lemari ke lemari lainnya. Entah apa yang dilakukannya, tangannya sibuk kesana sini seperti mencari sesuatu yang hilang. Tak lama kemudian, ia meraih sebuah buku, membacanya sebentar. Kemudian menaruhnya kembali..
Orang yang sedang sibuk mencari itu menabrak lemari, ketika dikagetkan oleh seruan Tan Leng Ko,
“Apapun barangmu yang hilang, kujamin tidak akan hilang disini”
Giok Hui Yan menyeringai kepada Tan Leng Ko sambil meringis memegang pundak kirinya.
Tan Leng Ko melirik pundak gadis itu sebentar, kemudian katanya,
“Ketika kau dilukai oleh tosu itu, aku terkejut. Yang membuatku heran, dengan ginkangmu yang tinggi, seharusnya kau dapat menghindari serangan itu”.
Dengan muka serius Giok Hui Yan berkata,
“Maka kau curiga, luka dibahuku hanya pura pura”
Tan Leng Ko yang belum pernah melihat gadis ini bersikap serius, semakin berhati hati,
“Cedera dibahumu jelas bukan pura pura. Kau memang terluka cukup berat. Hanya lukamu memang kau sengaja”
“Terluka bukan suatu hal yang menyenangkan, mengapa aku berbuat begitu?”
“Karena kau ingin gerak gerikmu bebas dari kecurigaan kami. Kau terluka dalam usaha membela kami. Tentu saja kami akan berterima kasih dan menganggapmu seorang kawan. Seorang kawan yang tidak patut dicurigai”.
Giok Hui Yan menghela napas,
“Semenjak kita bertemu di Se Chuan Koan, rupanya kau selalu curiga padaku”
“Pada saat itu, aku hanya menganggap dirimu seorang bocah nakal yang gemar cari gara gara. Aku baru mencurigaimu ketika kau muncul di pintu gerbang Lok Yang Piaukok”
“Kenapa?” tanya Giok Hui Yan heran
“Sebab kau tidak tahu namaku, dan dimana tempat aku tinggal”
“Dengan kemunculanku, dengan sendirinya aku sudah mengetahui siapa kau dan dimana kau tinggal”
“Jika kau bercapai lelah mencari tahu urusan itu, dengan sendirinya maksud tujuanmu tentu tidak sederhana”.
“Maka terluka atau tidak, kau tetap curiga padaku”
“ya!” jawab Tan Leng Ko dengan tegas.
Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam, kemudian duduk di kursi meja kerja Khu Pek Sim.
“Apa sebabnya kau datang kemari?” tanya Tan Leng Ko tetap menjaga kewaspadaannya.
Giok Hui Yan menatapnya dengan tajam,
“Tahukah kau sebabnya kota Lok Yang dibanjiri kaum persilatan?”
Tan Leng Ko menarik napasnya,
“Bukankah disebabkan urusan mustika kemala pelangi”
“Benar! Tahukah kau, mustika itu kabarnya berada ditangan siapa?”
Mulut Tan Leng Ko bergerak, hampir ia menyebut nama, tapi ditahannya.
“Sebenarnya bagaimana bentuk dari mustika itu?” kata Tan Leng Ko balik bertanya.
“Mustika itu berbentuk sebuah kotak kubus yang dibuat dari batu kemala dimana disetiap sisi terdapat enam macam warna”.
Dengan perlahan Giok Hui Yan melanjutkan,
“Mustika itu kabarnya berada ditangan Khu Pek Sim”
“Darimana kau tahu urusan ini?” tanya Tan Leng Ko tak tahan
“Anggap saja aku mengetahui urusan ini secara kebetulan”
“Masakan hanya sebuah kabar burung kau percaya begitu saja” jengek Tan Leng Ko
Dengan perlahan Giok Hui Yan menjawab,
“Baru saja kuperiksa buku jurnal kerja kalian. Selama ini, setiap pengawalan barang tertulis dengan rapi, hanya perjalanan Khu Pek Sim kali ini tidak tercatat sama sekali”
“Mungkin karena terburu buru, Khu Congpiautau lupa mencatat”
“Memang mungkin. Tapi mungkin juga kali ini ia menghantar sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang dia tidak ingin orang lain tahu kemana dia pergi”.
Diam diam Tan Leng Ko terkejut. Giok Hui Yan tidak mungkin tahu, tapi ia jelas betul bahwa Khu Pek Sim sendiri yang menentukan setiap perjalanan harus dicatat, sangat ganjil jika ia melanggar ketentuannya sendiri.
“Jadi kau kemari karena kuatir mustika itu bakal keduluan dicuri oleh orang lain” jengek Tan Leng Ko.
Giok Hui Yan seperti tidak mendengar sindiran ini.
“Yang kukuatir, sebentar lagi berita ini bakal menyebar. Aku tidak yakin, kalian mampu menahan puluhan atau ratusan orang kang ouw yang meluruk kesini”
“Kau ingin aku percaya bahwa tujuanmu kemari disebabkan kau benar benar menaruh perhatian terhadap keselamatan kami” dengus Tan Leng Ko
Giok Hui Yan menghela napas,
“Tujuanku kemari sebetulnya ingin menawarkan suatu kerja sama dengan kalian”
“Kerja sama?”
“Kubantu kalian menghadapi orang orang kang ouw itu, dengan imbalan kalian juga harus membantu kami”
“Kau ingin kami membantumu mencuri mustika kemala pelangi dari tangan Khu Congpiautau” kata Tan Leng Ko sinis.
Giok Hui Yan tiba tiba tertawa,
“Walau mustika itu bernilai luar biasa, tapi masih belum cukup memikat minatku”
“Jadi kau kemari bukan disebabkan urusan mustika kemala pelangi?” kaget juga Tan Leng Ko mendengar hal ini.
Giok Hui Yan menggeleng perlahan.
Dengan penuh selidik, Tan Leng Ko memandang Giok Hui Yan,
“Sebetulnya apa alasanmu datang kemari?”
“Alasanku kemari, karena aku mencurigai kalian!” kata Giok Hui Yan perlahan.
Tan Leng Ko tidak dapat menahan ketawanya,
“Kau yang telah menyusup ke Lok Yang Piaukok, malah curiga terhadap kami”
Dengan pandangan lekat, Goik Hui Yan menatap Tan Leng Ko,
“Aku mencurigai kalian mempunyai hubungan dengan toko buku di Lok Yang itu”
Muka Tan Leng Ko berubah, ia benar benar tidak menyangka urusan ini menyangkut toko buku Gu-suko.
Melihat perubahan air muka Tan Leng Ko, Giok Hui Yan mendesah,
“Ditilik dari reaksimu, rupanya kau memang mempunyai setitik hubungan”
Dengan tertawa Tan Leng Ko menjawab,
“Aku merasa geli mendengar ucapanmu. Aku pergi ketoko buku, kau malah curiga, sehingga memerlukan menyusup kesini. Bagaimana jadinya jika aku pergi kepasar?”.
Seperti tidak mendengar ejekan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan menjawab
“Sebab kau bukan jenis yang suka membaca. Kuheran mengapa tiba tiba kau datang kesana”.
“Yang kuheran, aku harus percaya maksudmu kemari bukan karena mustika kemala pelangi itu melainkan karena aku pergi ke sebuah toko buku”.
Giok Hui Yan termenung. Ia seperti menimbangkan perlu tidak menceritakan suatu urusan kepada Tan Leng Ko. Setelah diam sejenak, akhirnya ia memutuskan.
“Sekitar enam bulan yang lalu, perguruan kami kedatangan tamu yang tidak diundang, yang telah mencuri sebuah kitab pusaka”.
“Sesungguhnya, siapakah kau sebenarnya? tanya Tan Leng Ko dengan perlahan.
“Aku putri bungsu ketua sekarang, dari perguruan Mi Tiong Bun!”
Wajah Tan Leng Ko berubah pucat. Mi Tiong Bun merupakan perguruan yang paling misterius yang ada di rimba persilatan. Perguruan ini dianggap paling misterius karena yang diketahui mengenai mereka, hanya kehebatan mereka dibidang ilmu pedang, dan ketegasan mereka terhadap lawan.
Ngo Tok Kauw, sebuah perkumpulan sesat ahli racun, pernah meracun mati anak murid Mi Tiong Bun. Tidak lama kemudian, Rimba persilatan digegerkan dengan tewasnya tiga ratus tujuh puluh tiga anggota Ngo Tok Kauw dipusat perkumpulan mereka. Tidak ada satupun yang hidup, tidak juga binatang peliharaan mereka seperti: ular, kelabang, ayam, anjing dan sebagainya. Semua yang hidup kedapatan mati tertusuk atau tertabas pedang.
Sekarang Tan Leng Ko mengerti, kenapa orang Bwe Hoa Pang yang telah menang bertempur, malah mengundurkan diri.Tentu tosu ahli pedang itu telah mengenal asal usul Giok Hui Yan!
“Apakah kau mencurigai kami telah mencuri kitab pusaka Mi Tiong Bun?” selidik Tang Leng Ko
Giok Hui Yan tersenyum.
“Tentu saja tidak. Walau kau ingin, belum tentu kau mampu”
Agak tersinggung Tan Leng Ko mendengar ucapan ini.
“Menurutmu, kepandaianku masih terlalu rendah untuk mencuri kitab pusaka kalian”
Giok Hui Yan seperti memaklumi perasaan Tan Leng Ko. Cepat ia berkata,
“Beberapa bulan yang lalu, tujuh perguruan besar di Tionggoan mengalami nasib yang sama. Ruang kitab Siaulimpay yang dijaga oleh Mo Tian Siansu, Ruang kitab Bu Tong Pay yang dijaga Go Sam Beng, Ruang kitab Kaypang yang dijaga oleh Kay Ong, juga Ruang kitab Kun Lun Pay dan yang lain, telah kebobolan pencuri yang telah menggondol beberapa kitab pusaka mereka. Apakah kau mempunyai kemampuan melakukan hal ini?”
Berubah muka Tan Leng Ko tanpa ia sadari. Bukan pertanyaan Giok Hui Yan yang membuatnya terkejut, melainkan bayangan salinan kitab Kun Lun Pay, Hui Liong Cap Sa Cik dibenaknya. Salinan kitab yang dilihatnya dikamar Khu Han Beng.
“Kenapa tidak pernah kudengar berita ini?” tanya Tan Leng Ko sambil menenangkan hatinya.
“Sebab untuk menutupi rasa malu, urusan ini harus dirahasiakan. Tapi kami selain berhasil mengetahui hal ini, juga mengetahui bahwa pencurian ini dilakukan oleh satu orang yang sama”.
Mau tidak mau Tan Leng Ko berpikir, mungkin sekali Mi Tiong Bun mempunyai mata mata di tujuh partai besar. Tapi ini bukan urusannya.
“Apa buktinya?” tanyanya kemudian.
“Sehelai daun kering yang ditinggalkan, seperti juga yang ditinggalkan di ruang kitab Mi Tiong Bun”.
Dahi Tan Leng Ko berkerut, kembali terbayang dedaunan yang menempel diurat nadi penting di tubuh Khu Han Beng.
Giok Hui Yan meraih alat tulis didepannya. Tangannya dengan lincah menulis suatu simbol.
“Setiap helai daun mempunyai guratan simbol semacam ini” katanya sambil menunjukkan.
Tan Leng Ko menghenyakkan tubuhnya, duduk dikursi yang berhadapan dengan Giok Hui Yan. Ia harus duduk. Ia tidak ingin Giok Hui Yan melihat kakinya yang sekarang terhalang meja kerja, gemetaran dengan kencang.
Ia tidak mengenal arti simbol itu. Tapi ia pernah melihat tulisan keriting semacam itu. Lagi lagi dikamar Khu Han Beng.
Faktor kebetulan yang berhubungan dengan urusan Khu Han Beng terlampau banyak. Sukar bagi Tan Leng Ko untuk menganggap bocah itu tidak terlibat, walau tidak secara langsung.
“Semua yang kau ceritakan ini, apa hubungannya dengan toko buku di Lok Yang?”
“Konon katanya, jika kau hendak menyembunyikan segenggam beras, tempat yang terbaik adalah dilumbung padi. Jika kau telah mencuri kitab yang banyak, bukankah sebuah toko buku merupakan tempat yang baik untuk menyembunyikannya”
“Ucapanmu walau tidak salah, tapi juga tidak benar. Jika aku mencuri kitab kitab sakti, tentu aku akan menyembunyikan diri disebuah gunung yang sepi atau didalam jurang untuk melatihnya” bantah Tan Leng Ko.
Giok Hui Yan mengangguk.
“Ucapanmu benar. Tapi satu hal yang kau lupa. Orang itu mencuri dengan menggunakan kepandaian sejati, tanpa seorangpun pernah memergokinya. Seseorang yang mempunyai kemampuan seperti itu, apakah masih memerlukan untuk belajar ilmu orang yang dipecundanginya?”
Tan Leng Ko terdiam. Ia harus mengakui alasan itu memang masuk akal.
“Menurutmu, apa alasan dia mencuri?”
“Tidak ada yang tahu. Untuk menerkanyapun tidak dapat” kata Giok Hui Yan sambil tertawa getir.
Kepala Tan Leng Ko terasa berat, urusan mustika kemala pelangi saja sudah memusingkan, ditambah lagi dengan urusan ini yang bukan main main.
“Mi Tiong Bun dan tujuh perguruan besar keluar sarang mencari kitab pusakanya, berita ini akan menggegerkan rimba persilatan” gumamnya lirih.
Giok Hui Yan tersenyum pahit,
“Kau salah! Kitab tujuh perguruan besar yang dicuri telah dikembalikan. Bahkan dikembalikan dengan kitab mereka yang pernah hilang seratus tahun yang lalu.
“Maksudmu, kitab mereka awalnya berkurang tapi pada akhirnya malah bertambah?” tanya Tan Leng Ko dengan bingung.
“Ya. Bahkan kitab yang dikembalikan merupakan pusaka mereka yang berharga sekali. Siaulimpay mendapat kembali Tat Mo Ih Kin Keng, Bu Tong Pay menerima Sam Hong Ciang Cin Keng, Kay Pang menemukan Jurus Pukulan Naganya yang telah hilang, begitu pula yang lain. Mereka telah menerima tambahan kitab perguruan yang pernah hilang seratus tahun yang lalu. Saking girangnya, mereka memutuskan untuk tidak mengusut perkara ini lebih lanjut”.
Tan Leng Ko menatap Giok Hui Yan dengan tajam.
“Kecuali kitab Mi Tiong Bun yang belum dikembalikan”
“Betul! Makanya kami terus berusaha untuk menemukannya kembali”
Sambil menggeleng kepala Tan Leng Ko bergumam,
“Apa maksud pencuri itu mengembalikan kitab, dan kenapa kitab kalian belum dikembalikannya?”
Giok Hui Yan menghela napasnya,
“Seperti yang kukatakan tadi. Untuk menerkanyapun tidak dapat”
Tan Leng Ko menatap wajah Giok Hui Yan yang pucat. Bibir dan tubuhnya menggigil. Menggigil bukan karena dingin melainkan karena demam yang ditimbulkan oleh lukanya.
Tan Leng Ko tidak tega. Dengan lembut dia berkata,
“Keterangan yang kau berikan sudah terlampau banyak. Sulit bagiku untuk mencerna semuanya. Kau memerlukan istirahat, sebaiknya kau kembali kekamarmu, percakapan kita, bisa dilanjutkan besok”.
Giok Hui Yan seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi. Dengan perlahan, dia berjalan menuju kamarnya.
Tan Leng Ko yang baru saja minum arak, tiba tiba ingin sekali meminum arak lagi.
Ruang makan ditempat penginapan Khu Pek Sim, kendati tidak terlalu besar, namun mempunyai satu kelebihan, dibanding tempat makan lain. Ruang makan ini selalu buka. Ada pengunjung atau tidak, tempat ini tidak pernah tutup.
Lucunya, pada saat jam makan, tempat ini justru jarang sekali dikunjungi orang. Tempat ini memang bukan terkenal atas makanannya yang lezat. Tempat ini dikenal karena araknya, segala jenis arak mudah didapat ditempat ini. Dengan sendirinya, tempat ini cukup ramai, terutama setelah lewat larut malam.
Entah mungkin karena hujan, malam ini ruang makan ini hanya diisi oleh enam orang. Seorang pelayan berusia muda yang sedang duduk mengantuk. Seorang kakek tua berjenggot, dan bersenjata tombak. Dan empat orang yang duduk bersama mengelilingi sebuah meja.
Khu Pek Sim meletakkan tombaknya dikursi samping. Matanya melirik keempat orang itu sekejab. Dalam sekali pandang saja, cukup baginya untuk menarik kesimpulan, empat laki laki itu kalau bukan pencoleng, tentu perampok.
Jenis orang yang berkunjung kesini, kebanyakkan memang lelaki. jenis lelaki yang gemar mencari gara gara. Jarang sekali orang baik baik keluyuran dimalam hari.
Kendati gemar mencari gara gara, hampir tidak pernah, mereka mencari perkara ditempat ini. Mereka segan berurusan dengan Chin Toa Li, pemilik tempat ini.
Khu Pek Sim kenal Chin Toa Li, seorang saudagar kaya yang berpengaruh. Dia mempunyai banyak jenis usaha, yang menyebar dibanyak kota. Otomatis, usahanya memerlukan jasa pengangkutan barang.
Saudagar Chin Toa Li adalah salah satu langganan utama Lok Yang Piaukok.
Walau Chin Toa Li pemilik tempat penginapan ini, dia tidak tinggal disini. Dia tinggal di gedung besar disebelah kediaman kepala daerah Po Ting. Sore ini, rombongan Khu Pek Sim baru saja menghantar dua laksa tahil emas ke gedung kediaman Chin Toa Li. Gedung mewah yang memiliki duapuluh tiga kamar. Kamar yang banyak kosong, namun Khu Pek Sim tidak ditawarkan untuk menginap disana. Khu Pek Sim jarang ke kota Po Ting, hubungannya dengan Chin Toa Li sebatas profesi, tidak lebih.
Setelah selesai dengan urusannya, Khu Pek Sim meminta Cu Goan untuk memimpin para piasu segera kembali ke Lok Yang saat itu juga. Perintah yang dianggap janggal oleh Cu Goan. Biasanya setelah menghantar barang, mereka akan beristirahat paling tidak satu hari sebelum kembali pulang. Apa perintah ini berhubungan dengan orang baju putih itu?
“Aku tidak ingin meninggalkan Khu Congpiatau sendirian” kata Cu Goan kuatir.
Terharu hati Khu Pek Sim atas kesetiaan Cu Goan. Setelah diam sejenak dengan tegas dia berkata,
“Kuingin kau melaksanakan perintahku tanpa membantah. Walau kau belum lama bekerja di Lok Yang piaukok, kuyakin atas kemampuanmu memimpin mereka pulang”.
Cu Goan menatap Khu Pek Sim sesaat, ia tidak berani membantah atau bertanya. Ia segera mengajak para piasu berangkat meninggalkan Khu Pek Sim sendirian di kota Po Ting.
Suara tawa yang kasar, menyentakkan Khu Pek Sim dari lamunannya. Entah sejak kapan, meja empat orang itu telah ketambahan dua orang yang duduk bergabung.
Entah apa yang mereka bicarakan, sebentar saja terdengar suara umpatan, diselingi suara gelak tawa terdengar disana sini. Seorang diantara mereka yang brewokan, tertawa paling keras.
Khu Pek Sim tidak menghiraukan mereka, ia hanya menuang arak ke pocinya dan meminumnya perlahan. Pikirannya kembali menerawang.
Orang berbaju putih itu berkata akan merampas barang antarannya. Berarti barang itu harus didapati olehnya dengan segala cara.
Tanpa kuatir, orang itu meninggal surat uang kepadanya. Tentu dikarenakan dia mempunyai persiapan yang cukup, sehingga dirinya tidak dapat lolos dari jaringnya.
Ditinjau dari kedahsyatan tendangan orang itu, Khu Pek Sim maklum, dirinya bukan tandingan orang berbaju putih itu. Jika terjadi pertarungan, paling paling hanya akan banyak memakan korban yang sia sia. Itulah sebabnya, dia menyuruh anak buahnya pulang, agar perhatian orang itu hanya terpusat padanya seorang.
Seorang berbaju putih melangkah masuk dan memilih duduk didepan Khu Pek Sim. Tanpa berbicara, Khu Pek Sim menuangkan arak ke poci dan menyodorkan kepadanya. Orang itu langsung meminum habis dalam satu kali tenggak.
“Kau tidak takut kuracun?” tanya Khu Pek Sim tak tahan.
“Kutahu kau seorang gagah dan bertanggung jawab. Lagipula anak murid siaulimpay tidak ada yang mengenal istilah racun segala” katanya sambil tersenyum.
Setelah termenung sebentar, Khu Pek Sim berkata,
“Tak kusangka, kau akan muncul disini”
“Kebetulan, aku memang tinggal di penginapan ini” kata orang berbaju putih sambil tersenyum.
Khu Pek Sim menatap wajah tampan yang tidak muda itu.
“Siapa kau sebenarnya?”
“Aku she Buyung, bernama Hong” katanya perlahan.
Khu Pek Sim pernah mendengar nama ini, nama yang dikenal dibagian utara. Wataknya terkenal rada aneh.
Ia biasa mengikuti maunya sendiri, tidak lurus juga tidak sesat. Kepandaiannya sangat tinggi. Konon katanya, ia masih mempunyai tali hubungan keluarga dengan keluarga Buyung dari Ko-Soh.
“Apakah kau ingin jawabanku sekarang?” tanya Khu Pek Sim
“Tidak. Kau masih mempunyai waktu hingga besok siang. Namun kutahu, apa jawabanmu” kata Buyung Hong sambil menghela napas.
“Apa jawabanku?”
“Kau tidak akan menyerahkan barang itu”
“Enam laksa tahil emas adalah jumlah uang terbanyak yang pernah kulihat seumur hidup. Jika aku tidak berniat menyerahkan benda itu, kenapa kuterima surat uangmu?”
“Sebab kau ingin menyelesaikan tugasmu!” kata Buyung Hong perlahan.
“Dengan menerima surat uang itu tanpa rewel, bukan saja dengan aman, kau dapat menghantar barang kawalanmu ke tempat Chin Toa Li, kau juga menghindari pertarungan yang dapat memakan korban anak buahmu”.
Walau sudah menduga, gerak geriknya tidak lolos dari pengintaian orang ini. Mendengar penuturan ini, mau tidak mau, Khu Pek Sim terkejut juga.
“Jika kau sudah tahu, tugasku menghantar barang telah selesai. Kalau begitu, kau kemari tentu ingin meminta surat uangmu”.
Buyung Hong tersenyum,
“Tugas pertamamu sudah selesai. Sedangkan tugasmu menghantar barang itu belum kau lakukan. Barang itu masih berada padamu”.
“Darimana kau tahu?” tanya Khu Pek Sim dengan berat.
“Sebab telah kuperiksa barang hantaranmu ke Chin Toa Li, dan juga anak buahmu yang telah meninggalkan kota ini”.
Timbul rasa kuatir di hati Khu Pek Sim.
Buyung Hong seperti dapat meraba isi hatinya,
“Setelah mereka kuperiksa, mereka kubiarkan pergi”
Khu Pek Sim menarik napas lega, diam diam dia berterima kasih kepada orang ini. Setelah berpikir sejenak ia berkata,
“Tadinya kuheran dengan caramu yang tidak main kekerasan, malah tidak sayang menyerahkan surat uang bernilai enam laksa tahil emas, untuk ditukar dengan benda itu. Sekarang kupaham sebabnya”
“Apa yang kau pahami?”
Dengan pandangan selidik, Khu Pek Sim berkata,
“Kau tidak sayang kehilangan enam laksa tahil emas, karena yang hendak kau tukar dengan uang itu sebenarnya adalah diriku “.
Buyung Hong tertawa, tanyanya kemudian,
“Enam laksa tahil emas, bukan suatu jumlah yang sedikit. Seratus perempuan cantikpun tidak bernilai setinggi itu. Untuk apa kutukar dengan dirimu?”
“Sebab kau tahu, puluhan tahun aku berusaha pengawalan barang, sedikit banyak tentu mencari uang. Ada kemungkinan enam laksa tahil emas dapat memancing keserakahanku. Jika kuterima, banyak yang bisa kau peroleh”
“Apa yang kuperoleh?” tanya Buyung Hong tak tahan.
“Selain barang itu dapat kau peroleh, dengan sendirinya, kau juga menutup mulutku yang tidak mungkin menceritakan soal dirimu ke orang lain, sehingga berita mustika kemala pelangi berada ditanganmu, akan aman”
“Kenapa berita itu tidak bakal tersiar?”
“karena hal ini menyangkut juga nama baikku. Jika kuceritakan mengenai dirimu, otomatis urusan kuterima uang darimu, juga akan kau siarkan. Makanya kau serahkan surat itu kepada Cu Goan, tidak langsung padaku. Kau menghendaki saksi mata sehingga aku tidak dapat menyangkal”.
“Bukankah anak buahmu tetap dapat membocorkan hal ini?”
“Kau tahu, aku akan membagi mereka dan mereka sangat setia padaku. Aku dapat mengontrol mereka, sedangkan kau tidak”
“Jika mereka setia padamu, bukankah kau dapat menyangkal menerima uang dariku” bantah Buyung Hong
“Kau dapat mengancam mereka. Karena urusannya memang demikian, mereka dapat menjadi saksimu”
Buyung Hong menghela napas, kemudian katanya,
“Konon katanya cara terbaik untuk menutup mulut orang adalah membunuhnya mati”
“Benar. Makanya aku sempat bingung dengan tindak tandukmu. Bukankah lebih mudah, membunuh mati kami semua yang bukan tandinganmu, dan kemudian merebut barang itu”
“Ya, memang dapat kulakukan hal itu”
“Tapi tidak kau lakukan, karena kau seorang yang cerdik” kata Khu Pek Sim dengan cepat.
“Aku seorang yang cerdik?”
“Kau ragu dengan keaslian barang itu. Mustika kemala pelangi yang menjadi idaman orang persilatan, sukar dipercaya bisa jatuh ketangan seorang piasu. Walau kau merasa urusan ini rada janggal, kau tetap ingin menyelidikinya. Jika belum apa apa, asal main bunuh dan ternyata barang itu palsu, bukankah kau terjebak oleh siasat orang”
Diam diam Buyung Hong terkejut. Ternyata kakek ini dapat menggunakan otak. Ia tahu percuma berdusta terhadap seorang rase tua.
“Ya. Memang ada keraguanku” katanya mengakui
“Misalnya benda itu ternyata palsu, dengan menerima uangmu, mau tidak mau aku akan membantumu”
“Kenapa aku perlu bantuanmu?”
“Karena tugasku adalah mengantar barang. Mustika kemala pelangi tentu kuterima dari orang lain. Tanpa bantuanku, kau tidak bakal mengetahui siapa sebenarnya orang ini. Kau mengerti, aku bukan jenis yang bisa ditekan dengan kekerasan”
“Makanya aku berusaha memikat hatimu dengan membiarkan anak buahmu pergi tanpa cedera?”
“Benar. Aku memang berterima kasih padamu” kata Khu Pek Sim perlahan.
Buyung Hong tidak mengingkari, ia hanya menuang arak dan meminumnya.
“Buat apa aku mengetahui asal usul orang ini?”
“Sebab kau curiga dengan maksudnya. Jika mustika kemala pelangi yang menjadi incaran orang telah diperolehnya, kenapa harus diserahkan kepada seorang piasu untuk diantar?”
“Ya. Aku memang curiga kepadanya” Buyung Hong mengakui.
“Akupun juga mencurigainya” kata Khu Pek Sim perlahan.
Kali ini Buyung Hong benar benar terkejut.
“Kau curiga kepadanya?”
Khu Pek Sim meminum araknya seteguk, setelah berpikir sejenak ia berkata,
“Semestinya kau tidak tahu mustika kemala pelangi berada padaku. Yang mengetahui, sebenarnya hanya tiga orang”
“Dapat kuterka dua, yaitu, orang itu dan dirimu. Siapa orang ketiga?”
“Cucuku, seorang bocah yang baru berusia empat belas tahun”
Dahi Buyung Hong berkerut,
“Apa mungkin cucumu yang membocorkan tanpa sengaja?”
“Dia jarang sekali bergaul dengan orang. Apalagi dia hanya pernah melihat sekali, kuyakin dia tidak akan tahu nama barang yang dilihatnya”
Buyung Hong tidak mencurigai Khu Pek Sim yang membocorkan rahasia ini. Sebagai piasu kawakan, tentu dia tahu cara menjaga sebuah rahasia.
Buyung Hong menenggak araknya dengan cepat. Setelah berpikir sejenak, ia berkata,
“Jika pemberi mustika itu adalah orang yang membocorkan rahasia ini, tentu ada alasannya”
Khu Pek Sim ikut merenung, setelah sekian lama, mendadak mukanya berubah.
“Ya. Hanya satu alasan” kata Khu Pek Sim dengan getir.
Suasana ruang makan itu tanpa terasa menjadi hening. Diam diam timbul rasa seram dihati Buyung Hong. Setelah dipikir bolak balik, memang hanya satu alasan yang masuk akal.
Jika rahasia itu dibocorkan dengan secara sengaja, berarti dibalik kesemuanya itu, terselip suatu rencana yang menakutkan!
.
Dengan umpan mustika kemala pelangi, orang itu ingin mengadu domba orang orang rimba persilatan, sekaligus menghancurkan Lok Yang Piaukok yang menjadi sasaran!
“Sebetulnya, siapakah orang itu?” tanya Buyung Hong tak tahan.
Khu Pek Sim tertawa, kemudian diminumnya arak dengan perlahan tanpa menjawab.
“Sebetulnya, apa kehendakmu?” tanya Buyung Hong yang memahami sikap Khu Pek Sim.
“Entah barang itu asli atau tidak, kau harus membiarkan aku melaksanakan tugasku menghantar barang itu kepada tujuannya”
“Buatku, aku tidak melihat manfaatnya” kata Buyung Hong setelah merenung sejenak.
“Selesai dengan tugasku. Apapun yang kau perbuat, sudah bukan urusanku lagi” kata Khu Pek Sim sambil menatap Buyung Hong dengan tajam.
Buyung Hong akhirnya paham maksud Khu Pek Sim,
“Kau ingin mengajakku bersama sama ketempat itu?”
“Benar!” jawab Khu Pek Sim dengan tegas.
Buyung Hong tertawa perlahan, kemudian katanya,
“Baru kupaham kenapa kau suruh anak buahmu kembali. Tentu karena aku jauh lebih berguna dibanding mereka, untuk mengawal barang itu”
“Benar!” kata Khu Pek Sim mengakui.
“Setelah tiba ditujuan, begitu kau serahkan, aku merampas barang itu atau tidak, sudah tidak ada sangkut pautnya denganmu lagi”
Khu Pek Sim tidak membantah, juga tidak membenarkan, ia hanya meminum araknya tanpa menjawab.
“Kenapa aku harus susah payah, bukankah aku dapat merebut barang itu sekarang juga?” tanya Buyung Hong sambil menatap Khu Pek Sim dengan tajam.
Sambil membalas tatapan Buyung Hong, Khu Pek Sim dengan tegas menjawab,
“jika kau main paksa merebut, kita bertarung! Setelah aku tewas, kau boleh geledah tubuhku”
Buyung menghela napas,
“Kau akan membela barang itu sampai mati, sehingga tanganku bernoda darah dan terjebak oleh siasat orang itu?”
“Benar!”
Buyung Hong merenung sejenak, lalu katanya,
“Sebagai imbalan jasaku mengawal barang, kau juga akan tutup mulut, mengenai benda itu akan berada ditanganku”
“Akupun akan menceritakan apa yang kuketahui mengenai orang itu, asal kau sanggupi tiga syaratku”
Buyung Hong berpikir dengan sejenak, kemudian berkata,
“Apa syarat syaratmu?”
“Kau harus menceritakan bagaimana kau bisa mengetahui barang ini berada padaku”
Buyung Hong tidak nampak keberatan.
“Syaratku kedua, kuingin kau angkat cucuku sebagai muridmu”
Buyung menjadi ragu, dia agak keberatan. Setelah termenung sejenak, ia berkata,
“Aku akan mengajar cucumu satu macam kepandaian, tidak perlu angkat guru murid”
Khu Pek Sim menghela napas, paling tidak ia telah berusaha untuk cucunya.
“Apa syaratmu yang terakhir?” tanya Buyung Hong.
“Kumaui, surat uang itu” kata Khu Pek Sim perlahan.
Heran Buyung Hong dibuatnya, ia benar benar tidak menyangka!
“Kau maui surat uang itu?” tanyanya menegaskan.
“Jika kulakukan semua itu untukmu, kenapa tidak sekalian kuambil surat uang itu” katanya sambil tersenyum kecut.
Buyung Hong menatap Khu Pek Sim dengan tajam,
“Kutahu seorang gagah seperti dirimu, sulit dipercaya kemaruk harta benda. Sesungguhnya apa alasanmu menghendaki surat uang itu?”
Sambil tertawa getir Khu Pek Sim menjawab,
“Nasibku berada diujung tombak, setiap saat dapat kumati. Aku ingin kau berikan surat uang ini kepada cucuku”
Tangan Khu Pek Sim meraih surat uang itu dari bajunya, kemudian memberikannya kepada Buyung Hong.
Buyung Hong dapat merasakan betapa besar kasih sayang Khu Pek Sim terhadap cucunya. Jika orang itu dengan sengaja telah membocorkan rahasia ini, tentu bukan hanya dirinya seorang yang tahu.
Untuk melakukan tugasnya, Khu Pek Sim harus menghadapi kerebutan orang Kang-ouw. Ia merasa kesempatan hidupnya kecil sekali.
“Demi seorang cucu, apapun dapat diperbuat oleh kakeknya” kata Buyung Hong dengan terharu. Setelah menghela napas lalu ia berkata,
“Baik kukerjakan apa yang kau pinta. Kau boleh menyebutkan orang itu”
“Apakah kau tidak merasa tempat ini banyak orang?”
Buyung tertawa sambil menjawab,
“Sebetulnya tidak masalah. Mereka toh sudah mendengarkan percakapan kita sedari tadi. Tapi memang sebaiknya, kita pergi dari sini”
Berubah wajah keenam lelaki itu, tapi mereka merasa lega mendengar ucapan Buyung Hong yang bernada tidak keberatan.
Lalu Buyung Hong memanggil pelayan yang sedang duduk mengantuk itu.
“Apakah kau menulis buku tamu atas namamu?”
Khu Pek Sim agak heran dengan pertanyaan ini,
“Tentu saja tidak”
“Sebagai anak murid siaulimpay, apakah kau akan membela orang jahat?”
Khu Pek Sim makin heran,
“Tentu saja tidak”
Sementara itu, pelayan yang dipanggil, telah berdiri disisi Buyung Hong.
Buyung Hong menoleh padanya sambil memandangnya dengan dingin, pelayan itu tentu saja ketakutan.
“Sudah berapa lama kau tinggal dikota Po-Ting?”
“Su…sudah tiga tahun” jawab pelayan itu dengan gugup. Mata Buyung Hong mencorong tajam seperti mata harimau. Tak terasa, celananya mulai basah.
“Apakah kau sudah bekeluarga?”
“hamba…hamba sebatang kara, tinggal sendirian dirumah sewaan” jawabnya sambil menunduk.
Buyung Hong mendengus dengan dingin, tangannya meraih kesakunya.
“Ini untukmu” katanya menyodorkan seribu tahil perak.
Pelayan yang sedang menebak nebak apa kesalahannya, hingga dipelototi semacam itu, semakin bingung. Ia tidak berani menerimanya.
“Uang ini sebagai bekalmu untuk pindah kota.Sebaiknya kau lekas pergi. Makin jauh makin baik”.
Girang kejatuhan rejeki nomplok berbareng takut memenuhi hati pelayan itu. Sambil mengambil uang itu, ia memberanikan diri bertanya,
“Kena…kenapa aku harus pindah kota?”
“Jika kau tidak pindah, kau akan mati!” jengek Buyung Hong dengan suara berat.
Tanpa banyak tanya lagi, pelayang itu langsung kabur dari situ.
Khu Pek Sim yang tidak mengerti tindak tanduk Buyung Hong, tanpa terasa bertanya:
“Sebenarnya, apa tujuanmu?”
Sambil tersenyum Buyung Hong meraih segenggam sumpit di meja, lalu berkata,
“Masakkan kau tidak paham maksudku”
Tiba tiba tanpa menoleh, tangan Buyung Hong mengayun kebelakang.
“Sreeet…sreet!” bayangan coklat karena kecepatannya terlihat kabur, melayang kearah enam orang yang duduk dibelakangnya.
Suara jeritan ngeri berturut turut terdengar lirih. Darah dan cairan putih yang kental meleleh turun dari bagian kepala lima orang yang tertancap sumpit, mereka tewas seketika!
Berubah muka Khu Pek Sim melihat kejadian itu.
“Kujamin, mereka bukan orang baik baik!” kata Buyung Hong.
Sesudah berbicara, tubuhnya beserta kursi yang didudukinya tahu tahu melayang keatas, membuat salto diudara kemudian mendarat didepan pintu keluar, menghalangi orang keenam yang hendak melarikan diri.
Buyung Hong menatap darah yang menetes dilantai. Darah yang mengalir dari telapak tangan kanan orang itu yang tertembus sumpit Rupanya dia mencoba menangkap, hanya sumpit yang terbang itu terlampau cepat baginya.
Orang yang brewokan itu berkata sambil menahan sakit,
“Kukenal siapa dirimu”
“Jika kau kenal diriku. Tentunya kau tahu, melarikan diri tidak terlalu berguna” kata Buyung sambil menghela napas.
“Sebetulnya kau tidak perlu membunuhi kami” kata orang itu ketakutan.
“Oh,ya?! Apa sebabnya?” tanya Buyung Hong tak acuh.
“Bukankah tanganmu menjadi belepotan darah, sehingga kau terjebak siasat orang itu”
Jelas sekali, mereka telah menguping percakapan Buyung Hong dengan Khu Pek Sim.
Sambil tertawa, Buyung Hong berkata,
“Jika Khu Pek Sim tewas ditanganku, tentu pihak Siaulimpay tidak akan diam. Aku tidak ingin bentrok mereka, apalagi lantaran dijebak orang. Lain halnya dengan membunuh kalian, aku malah dianggap telah melakukan kewajiban seorang pendekar”
Orang itu terdiam, dia enggan ribut mulut. Dia mengenal betul watak Buyung Hong yang biasanya tidak pernah perduli dengan kepentingan orang lain, kecuali kepentingan dirinya. Sekarang malah mengaku aku menjadi seorang pendekar segala.
“Kau tidak beralasan membunuhku, karena yang kalian bicarakan, sudah bukan menjadi suatu rahasia lagi” katanya dengan parau.
Agak terkejut Buyung Hong dan Khu Pek Sim mendengarnya,
“Apa sebabnya?” tanya Buyung Hong tak terasa.
“Sebab kabar burung sudah beredar, bahwa mustika kemala pelangi berada di kota Lok Yang. Jika orang itu sengaja membocorkan rahasia ini, tentu tidak lama lagi dia akan menyiarkan bahwa mustika itu berada pada Khu Congpiautau” kata orang itu. Peluh keringat dingin membasahi wajahnya.
“Kenapa tidak langsung saja ia siarkan, mustika itu berada ditanganku? Kenapa beritanya harus bertahap begitu?” tanya Khu Pek Sim dengan heran, sambil menghampiri mereka.
“Kuduga, orang itu ingin mengumpulkan lebih dahulu, orang orang rimba persilatan dari segala penjuru di kota Lok Yang, setelah terkumpul banyak, baru ia siarkan berita itu agar serentak ratusan orang menyerbu ke Lok Yang Piaukok” kata orang brewokan itu setelah berpikir sejenak.
Lama ketiga orang ini diam tidak berkata. Tidak ada satupun yang berbicara, masing masing sibuk dengan pemikirannya.
Memang jika langsung disiarkan bahwa mustika kemala pelangi berada di tangan Khu Pek Sim, mereka akan menyerbu satu persatu, tentu hasilnya tidak terlalu memuaskan. Lain halnya jika berita itu disiarkan secara bertahap, serbuan ratusan atau ribuan orang, dijamin dapat menghancurkan Lok Yang Piaukok!
Tertera jelas rasa ngeri dan takut yang amat tebal diwajah mereka bertiga. Mereka bukan takut kepada orangnya. Yang mereka takutkan, adalah ketelitian dan kecermatan orang itu mengatur rencana yang matang!
Jika peristiwa ini terjadi, benar benar akan menjadi suatu peristiwa yang mengerikan!
Buyung Hong menghela napas, lalu katanya
“Walau berita itu sudah bukan suatu rahasia lagi, tapi kau telah melupakan sesuatu”
Orang brewokan itu memandang Buyung Hong dengan pandangan bertanya,
“Kau lupa, saat ini tidak ada yang tahu, Khu Congpiautau berada dikota Po-Ting”
Tiba tiba paras muka orang brewokan itu menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali. Baru teringat olehnya, darimana Buyung Hong mengetahui jejak Khu Pek Sim?
“Darimana kau…?!….praaakk” Tanpa sempat menyelesaikan pertanyaannya, kepala orang brewokan itu hancur, terhajar pegangan lengan kursi yang dilempar Buyung Hong.
Khu Pek Sim meloncat menghindari muncratan darah yang menyebar kesana sini.
“Kenapa kau bunuh dia?” tanya Khu Pek Sim sambil mengerutkan kening.
Buyung Hong berdiri dari kursinya, sebelum menjawab,
“Sebab Aku kenal dengan mereka. Kutahu merekalah yang membunuh hartawan Kang Siok Ih sekeluarga dan memperkosa anak dan istrinya”.
Khu Pek Sim terperanjat! Dia memang pernah mendengar peristiwa yang menghebohkan itu. Hartawan Kang Siok Ih yang terkenal, selain kedermawaannya menolong orang susah, ia juga memiliki tujuh orang putri yang cantik jelita. Tak nyana, suatu hari mereka kedapatan tewas secara mengerikan dengan anak istri dalam keadaan telanjang bulat
“Apakah kau akan membela gerombolan jai hoa cat?” tanya Buyung Hong lagi dengan getir.
Khu Pek Sim terdiam. Ia tidak ingin memperpanjang urusan ini. Urusan yang berkecamuk dibenaknya sudah banyak.
Cukup lama Buyung Hong menatap Khu Pek Sim,
“Kutahu apa yang sedang kau pikirkan” katanya dengan perlahan.
Khu Pek Sim tidak menjawab, ia berjalan meraih tombaknya sambil berpikir. Ia benar benar menguatirkan keselamatan Lok Yang Piaukok. Ia sedang bimbang, haruskah ia kembali kesana? Atau meneruskan tugasnya yang sudah setengah jalan?
“Kau tidak perlu terlalu kuatir atas keselamatan Lok Yang Piaukok” kata Buyung Hong melanjutkan.
“Kenapa aku tidak perlu kuatir?” tanya Khu Pek Sim tak tahan.
“Sebab aku telah berjumpa seseorang yang sedang menuju kesana. Kujamin, dia akan membantu melindungi keselamatan Lok Yang Piaukok”
“Siapa dia?”
“Mo Tian Siansu” kata Buyung sepatah demi sepatah.
“Kau kenal Mo Tian Suheng?”
Guru Khu Pek Sim adalah sutenya guru Mo Tian Siansu, otomatis dia memanggil suheng kepada Mo Tian Siansu walau berusia lebih tua beberapa tahun.
Buyung Hong mengangguk,
“Bukan hanya kenal bahkan hubungan kami pernah akrab. Darinya kutahu, dia sedang menuju ke Lok Yang Piaukok untuk meminta ijin padamu”
“Ijin apa?” tanya Khu Pek Sim heran bercampur girang mendengar kabar ini.
“Goan Kim Taysu berkenan untuk mengangkat cucumu sebagai ahli warisnya”
Khu Pek Sim tak dapat menahan gelak ketawanya, gembiranya bukan main,
“Ha…ha…ha, pantas kau tak mau mengangkat cucuku sebagai muridmu”
Buyung Hong tersenyum sambil mengangguk.
Sambil menghela napas lega, Khu Pek Sim berkata,
“Ini kabar paling bagus yang kudengar seharian”
Tiba tiba wajah Buyung berubah serius.
“Kupikir, sebaiknya kita lekas pergi dari sini!”
Khu Pek Sim berpikir sejenak, setelah sekian lama, akhirnya mengangguk setuju.
“Memang, sebaiknya kita pergi!”
Segera mereka meninggalkan ruang makan itu. Ruang makan yang kendati tidak terlalu besar, namun selalu buka dan tidak pernah tutup.
Ruang makan yang malam ini, diisi oleh enam orang. Enam orang dengan kepala yang tidak utuh, tewas dengan cara yang mengerikan!.
Hujan sudah lama berhenti. Sinar bulan purnama menyinari jalan yang dilalui Buyung Hong dan Khu Pek Sim. Buyung Hong mengenali jalan ini. Pohon yang ditendangnya kemarin sore masih menggeletak dipinggiran jalan.
“Nampaknya kau enggan memberitahu, kemana sebenarnya tujuan kita pergi?” tanya Buyung Hong dengan perlahan.
Khu Pek Sim mau tidak mau kagum atas kesempurnaan tenaga sakti Buyung Hong. Kuda yang dikendarai Buyung Hong berada dibelakangnya, toh dia dapat mendengar jelas, ucapannya yang melawan angin kencang.
“Orang Lok Yang Piaukok saja tidak kuberitahu, bagaimanapun juga itu merupakan rahasia perusahaan”
Buyung Hong tertawa, memang dia tidak tahu banyak mengenai usaha piaukok. Tapi ia dapat menduga, kesuksesan usaha macam itu tergantung dari kemampuan menutup mulut. Jika tidak dapat menjaga rahasia, tentu para langganan bakal kabur.
Tiba tiba Khu Pek Sim menarik tali kendali kudanya. Karena kaget, kuda itu meringkik keras dengan mengangkat kedua kakinya. Dengan sigap, Buyung Hong membimbing kudanya menghindari tubrukan. Baru ia hendak bertanya, mendadak hidungnya mencium bau anyir. Bau anyir darah yang dibawa hembusan angin malam, datang dari depan sana.
Khu Pek Sim turun dari kudanya diikuti oleh Buyung Hong, dengan cepat mereka berjalan maju dengan sikap waspada.
Dibawah terangnya bulan, terlihat sebuah kereta barang dengan bendera Lok Yang Piaukok berkibar dengan kencang. Bau anyir tersebut bukan ditimbulkan oleh kereta itu, melainkan dari tubuh tubuh yang bergelimpangan disekitar kereta barang.
Wajah Khu Pek Sim menjadi pucat, bibirnya bergetar menahan kemarahan, dengan melotot dia memandang Buyung Hong yang nampak terkejut,
“Kau…kau telah membunuh mereka!”
Buyung Hong cepat mengelak serangan tombak Khu Pek Sim yang datang bertubi tubi. Ditilik dari serangannya yang tanpa menghiraukan keselamatan dirinya, Buyung Hong maklum, Khu Pek Sim bertekad untuk mengadu jiwa dengannya.
“Bukan aku yang membunuh mereka!” teriak Buyung Hong sambil melangkah ke kiri menghindari tusukan tombak yang mengarah kelehernya. Badannya memutar kekanan setengah lingkaran dengan pergelangan tangan kiri menepis sisi batang tombak yang segera direbut dengan paksa.
“Kau bohong!” kata Khu Pek Sim dengan geram.
Tangannya membuat gerakkan cakar, memukul ulu hati Buyung Hong dengan jurus harimau kumbang mencuri hati, Hek Hou Tau Sim .
Buyung Hong tidak mengelak serangan itu. Ia hanya mengerahkan tenaga saktinya melindungi bagian itu.
“Breeet…!” Kulitnya lecetpun tidak, hanya bajunya tersobek.
Khu Pek Sim menghentikan serangannya. Ia menatap robekkan baju ditangannya,
“Kenapa kau tidak menghindar?” tanyanya dengan parau.
Buyung Hong menggeleng,
“Aku enggan berkelahi, dengan kakek dari murid Goan Kim Taysu yang kuhormati” kata Buyung Hong mengakui.
Dengan muka sedih dan masih mengandung marah, ia bertanya,
“Dapatkah kau buktikan, bukan kau yang membunuh mereka?”
“Tidak dapat! Tapi, aku tentu menolak melewati jalan ini, jika aku yang telah membunuh mereka” katanya serius sambil menatap tajam Khu Pek Sim.
Yang dipandang mau tidak mau mengakui, memang selama perjalanan bersamanya, Buyung Hong tidak menunjukkan sikap sikap yang mencurigakan.
Paling tidak, ia tidak melihat sikap kaget Buyung Hong, suatu sikap pura pura.
“Sebaiknya kita periksa mereka, siapa tahu kita dapat menentukan siapa pembunuhnya” bujuk Buyung Hong dengan lembut.
Khu Pek Sim menghela napas, ia pun tahu mayat kadang dapat berbicara, asalkan kau tahu cara mendengarkannya.
Mereka mengumpulkan mayat mayat para piasu menjadi satu. Setelah dihitung ternyata berjumlah
sembilan belas orang.
“Satu orang nampaknya berhasil meloloskan diri” gumam Buyung Hong perlahan.
Khu Pek Sim tidak menjawab, hanya mengangguk sedikit. Tubuhnya berjongkok, Matanya berkaca kaca, ia menangis tanpa suara.
Buyung Hong tidak ingin menganggu Khu Pek Sim yang sedang meratapi anak buahnya, ia menyibukkan diri dengan memerika mayat mayat tersebut dengan teliti.
Ia berjongkok disalah satu mayat yang terletak paling ujung, tangan Buyung Hong menyingkap baju mayat tersebut. Sebuah luka tipis sekali menggaris miring dibagian dada sebelah kiri, disekitar jantung. Anehnya, wajah mayat mayat itu seperti tersenyum penuh dengan kedamaian.
Kening Buyung Hong berkerut, ia menjadi termenung. Matanya menerawang jauh kedepan, ia tak acuh dengan bayangan sesosok tubuh yang berdiri dibelakangnya.
“Aku tidak mengerti, kenapa luka setipis itu dapat mengeluarkan darah sebanyak ini?” gumam Khu Pek Sim yang telah berdiri dibelakang Buyung Hong.
Memang rumput rumput disekitar kereta barang, penuh dengan warna jingga yang mengkilat, warna darah dibawah sinar bulan.
Buyung Hong tidak menjawab, dengan perlahan ia membalikkan mayat itu. Muka Khu Pek Sim menjadi pucat! Luka tipis dibagian depan ternyata menembus hingga membolongi bagian punggung sebesar mangkuk besar!
Khu Pek Sim muntah muntah, ketika mengetahui bongkahan bongkahan kecil disekitar sini yang dipikirnya batu kerikil, ternyata adalah serpihan daging daging anak buahnya yang bertebaran disana sini.
Buyung Hong menoleh, kemudian menghela napas,
“Dapat kau lihat luka ini disebabkan oleh apa?”
Khnu Pek Sim membersihkan mulutnya, rasa asam lambung dan getir masih terasa dilidahnya,
“Luka itu disebabkan oleh Sebilah pedang, yang sangat tipis dan tajam” jawabnya dengan suara parau.
“Bukan hanya oleh pedang, tapi juga oleh hawa pedang yang dapat mencapai dua jengkal” kata Buyung Hong perlahan.
Khu Pek Sim termenung. Walau jumlah orang yang telah mencapai hawa pedang tidak banyak, tapi juga tidak sedikit.
“Dapat kau lihat dari perguruan mana?” tanya Khu Pek Sim
Buyung Hong terpekur sejenak, akhirnya menjawab,
“Dapat kuterka sembilan bagian dari perguruan itu”
Sebetulnya Khu Pek Sim cukup mengerti, jika Buyung Hong mau menyebut nama perguruan itu, tentu telah disebutnya sedari tadi. Tapi ia tidak mau mengerti, sambil melotot Khu Pek Sim berkata sepatah demi sepatah,
“Kau harus menyebutkan nama perguruan itu”
Buyung berpikir sekian lama, baru menjawab
“Aku tidak dapat memfitnah sembarangan, karena ada satu bagian yang aku kurang mengerti”
“Bagian yang mana?”
Jari Buyung Hong menunjuk kepada mayat mayat itu,
“Luka mematikan semacam ini sedikit banyak menimbulkan rasa sakit yang sangat. Namun sama sekali tidak terlihat diwajah mereka, yang nampak tenang penuh kedamian bahkan menyungging senyuman”
Khu Pek Sim menatap wajah mayat mayat tersebut. Semua mayat terlihat tersenyum. Walau senyuman mereka tidak terlihat aneh, kenapa mereka semua tersenyum, hal ini yang rada ganjil.
“Apakah sebelumnya, mereka telah terkena racun?” gumam Khu Pek Sim.
“Benar! Yang kutahu, hanya racun dari Ngo Tok Kauw yang dapat membuat orang tersenyum seperti itu”
“Bukankah Ngo Tok Kauw telah musnah?” tanya Khu Pek Sim dengan heran.
“Benar!… Lagipula dengan ilmu pedangnya, pembunuh itu sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan para piausu ini.” kata Buyung Hong sambil menghela napas.
“Kenapa harus meracuni mereka lebih dahulu?“ tanya Khu Pek Sim dengan bingung.
“Makanya aku kurang mengerti” kata Buyung Hong setelah berpikir sejenak.
Macam macam perasaan berkecamuk di hati Khu Pek Sim. Seingatnya, dia tidak ada permusuhan dengan pihak Ngo Tok Kauw. Boleh dibilang dia tidak pernah mengikat permusuhan dengan
siapapun, kecuali dengan jago pedang berwajah dingin Ma Koan Tek dan satu orang lain.
Seorang yang telah menyelamatkan jiwanya sekaligus menghancurkan pelita kehidupannya. Seseorang yang dianggapnya telah mati.
Setelah memeriksa seksama, Buyung Hong dapat memastikan satu hal,
“Yang berhasil meloloskan diri, ternyata Liu Cu Goan. Kenapa dia tidak mencarimu di kota Po Ting?” tanyanya heran.
Setengah melamun Khu Pek Sim menggumam,
“Sebab dia tidak tahu aku menetap dimana… Atau, mungkin dianggapnya aku telah pergi meninggalkan kota itu”
Seperti disadarkan oleh sesuatu ia balik bertanya,
“Darimana kau tahu dia lolos dari bencana? Apa tidak mungkin dia tertawan?”
“Ditinjau dari kondisi mayat mayat itu, nampaknya mereka tidak mengalami siksaan”
“Seseorang disiksa, jika mempunyai suatu informasi yang diingini” tukas Khu Pek Sim perlahan.
“Benar! Kurasa pembunuh itu datang memang untuk membunuh, aku tidak melihat alasannya untuk menawan seseorang hidup hidup”
Lama mereka terdiam, terbenam dalam pikirannya masing masing.
“Nampaknya kau harus kembali ke Lok Yang” kata Buyung Hong memecah keheningan.
“Tidak! Jika aku kembali, malah dapat membahayakan Lok Yang Piaukok. Aku harus menyelesaikan tugasku, baru menyelidiki pembunuhan ini” tegas Khu Pek Sim sambil mengepalkan tangan.
Sambil menarik napas, Buyung Hong bertanya,
“Apa rencanamu sekarang?
Lama sekali Khu Pek Sim terdiam, lalu katanya perlahan,
“Aku akan membawa abu jenazah mereka!”
Khu Pek Sim mulai bekerja dibantu oleh Buyung Hong, tidak hanya membakar mayat mayat tersebut, tapi juga membakar kereta barang yang sudah tidak dibutuhkan.
Suara letupan disertai suara khas mendesis yang ditimbulkan oleh lemak yang terpanggang api mengisi kesunyian malam. Api yang besar menerangi tempat itu sejauh puluhan kaki, nampak wajah Khu Pek Sim terlihat kaku menyeramkan.
Jilatan api yang tercermin di matanya, bercampur dengan jilatan kobaran dendam. Dendam kesumat!
************************************
Warna kuning emas dari sinar matahari pagi, menerangi sebagian wajah Giok Hui Yan yang cantik.
Tan Leng Ko yang melirik kepadanya sekejab, ia menganggap wajah itu masih terlihat pucat, malah makin pucat dibanding semalam.
Menurut pendapat Tan Leng Ko, seharusnya gadis ini, berbaring istirahat dikamarnya.
Seharusnya gadis ini tidak keluar rumah, sampai lukanya sembuh. Seharusnya gadis ini tidak bersikeras ikut dengannya ke toko buku Gu-suko.
Sayang… gadis secantik ini, cacat semenjak dilahirkan. Kepala gadis ini terlampau keras, mendekati sifat kepala batu. Nampaknya, sedari kecil gadis ini tidak mengenal kata ‘seharusnya’.
Berdua, mereka berkuda berdampingan menuju kota Lok Yang. Sejauh mata memandang, jalanan nampak sepi, Tan Leng Ko menjalankan kudanya dengan perlahan.
Goncangan kuda beberapa kali membuat tubuh Giok Hui Yan terhuyung. Sambil mengerutkan alis, Tan Leng Ko menegur dengan kesal,
“Kulihat lukamu semakin parah, kenapa kau memaksa diri untuk ikut?” .
“Yang semestinya kau tanya, tidak kau ucapkan. Yang tidak perlu diucapkan, malah kau tanya” jawab Giok Hui sambil menyengir.
Tan Leng Ko menghela napas, lalu berkata memberi nasehat,
“Tidak baik seorang gadis belia mempunyai adat sekeras ini, kalau sudah besar susah dapat jodoh”
Sambil menahan sakit, Giok Hui Yan berkata,
“Kutahu watak kebanyakkan lelaki yang lebih mementingkan paras cantik dan badan yang aduhai. Mengenai sifat calon istri, entah diurutan keberapa, sedikitnya ditaruh di nomor paling buntut”
Sambil mengikik diselingi menyeringai sakit, Giok Hui Yan melanjutkan,
“Apalagi seorang gadis cantik biasanya, secara kodrat mempunyai adat keras. Apa kau ingin aku melawan hukum alam?”
Mau tidak mau Tan Leng Ko mengakui, memang tidak banyak perempuan yang boleh dianggap cantik, lebih sedikit lagi perempuan cantik yang tidak beradat keras.
Tiba tiba kening Giok Hui Yan berkerut, ia seperti menyadari satu hal.
“Aku menjadi kuatir” katanya perlahan.
“Apa yang kau kuatirkan?”
“Kukuatir ketika aku setua dirimu, gemar memberi nasehat gratis. Apakah ceriwis hal yang tidak berguna, termasuk kodrat alam menjelang usia lanjut?” tanya Giok Hui Yan sambil cekikikan.
Tan Leng Ko menyengir. Ia mulai menyesal telah mengajak bicara gadis setan ini. Digerakkan tali kendali kudanya, dengan cepat ia melaju meninggalkan Giok Hui Yan.
Sambil tertawa Giok Hui Yan berteriak,
“Sebetulnya kau tidak perlu marah. Semakin kau marah, bukankah aku semakin gembira”
Tidak mau meladeni gadis setan itu, Tan Leng Ko melarikan kudanya dengan kencang, kemudian menghilang ditikungan depan.
Tan Leng Ko sebenarnya tidak marah, ia terlalu tua untuk ribut dengan seorang gadis belia. Ia hanya ingin sendirian agar dapat berpikir dengan tenang.
Ditahan lari kudanya, kembali kudanya berjalan perlahan, tidak terburu buru. Kerja sama yang ditawarkan oleh Giok Hui Yan, juga tidak buru buru ia jawab.
Tan Leng Ko cukup mengerti, Mi Tiong Bun yang disegani oleh orang orang Kang Ouw, memang dapat diandalkan untuk membantu melindungi Lok Yang Piaukok.
Yang membuatnya bimbang, jika ia menyetujui, tentu sukar baginya untuk melindungi rahasia keterlibatan Khu Han Beng.
Tapi ia tidak berkeberatan untuk bersama sama mendatangi toko buku itu. Ia berkeputusan, untuk sementara ini, bertindak sesuai dengan keadaan tanpa suatu ikatan.
Ia menarik napas dalam dalam, tak terasa ia menengok kebelakang. Jalanan pinggir kota masih terlihat sepi, Giok Hui Yan tidak muncul juga dari tikungan. Tan Leng Ko mulai kuatir, seharusnya gadis itu sudah menyusulnya.
Setelah ditunggu sekian lama, yang ditunggunya tidak juga datang, dengan gregetan dia memutar balik dan menggebrak kudanya.
Kecemasan muncul dihati Tan Leng Ko ketika melihat kuda itu berdiri di pinggir jalan dipeluk oleh Giok Hui Yan, yang badannya menelungkup diatas kuda… tidak bergerak!
Bergegas Tan Leng Ko turun dari kudanya, ia tahu luka gadis ini semakin parah,
Ia mulai mengomeli dirinya, tidak seharusnya ia membawa gadis sakit ini ke kota Lok Yang. Ternyata dirinya juga tidak mengerti kata ‘seharusnya’.
Rambut yang panjang tergerai, dan menutupi wajah, tiba tiba bergerak keatas. Giok Hui Yan bangun dengan meleletkan lidah dan membuat muka setan.
“Telah kuperhitungkan kau akan kembali, kutahu kau kuatir dengan keadaanku, ternyata kau memang baik kepadaku” katanya cekikikan.
Merah muka Tan Leng Ko menahan kemarahan, kembali dirinya terjebak oleh gurauan gadis setan ini.
“Kau sebaiknya pulang saja!” katanya dengan ketus.
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan memincingkan mata, kemudian katanya,
“Tahukah kau, semakin kau marah, wajahmu terlihat lebih gagah dan tampan”
Agak gelagapan Tan Leng Ko mendengar perkataan yang diluar dugaannya ini.
Gadis belia ini kalau sudah bicara, memang tidak ada remnya.
“Sayang…!” lanjut Giok Hui Yan sambil menghela napas.
“Sayang apa?” tanpa terasa Tan Leng Ko terpancing.
“Sayang kau sudah tua sekali. Jika kau lebih muda tiga puluh tahun, tentu aku menyukai dirimu” kata Giok Hui Yan kembali cekikikan dengan muka jengah.
Tan Leng Ko ikut jengah sambil menggerutu dalam hati. Dirinya hampir tiga puluh tahun disuruh lebih muda tiga puluh tahun, bukankah ia bakal dianggap seorang bayi?!
“Jika kau tidak lekas diam, kau akan kukawinkan dengan Khu Han Beng” ancam Tan Leng Ko kewalahan.
Sambil mencibir, Giok Hui Yan berkata,
“Aku mah tidak suka cacing buku. Kalau kau suka, boleh juga kujadi mak comblangmu. Jika kau menurut, tentu kau kujodohkan dengan Hong naynay”
“Kau bisa diam tidak?!” bentak Tan Leng Ko kesal. Makin dibiarkan, ucapan gadis ini semakin tidak genah.
Giok Hui Yan menyengir, tangannya mengambil sesuatu barang kecil yang dibungkus dan menyerahkannya kepada Tan Leng Ko.
“Ini untukmu” katanya serius.
Melihat sikap serius gadis ini, Tan Leng Ko menerima dan membukanya
“Apa ini?” tanyanya bingung ketika melihat gula gula yang ada ditangannya.
“Kutahu dalil semakin tua seseorang, semakin mudah merajuk. Bukankah gula gula, merupakan obat yang paling manjur untuk menghibur anak kecil” kata Giok Hui Yan yang tak dapat menahan lagi ketawanya.
Runyam Tan Leng Ko dibuatnya, matanya melotot sangkin gemasnya. Ia tidak tahu mesti berbuat gimana. jika kabur dari sini, ia bisa dianggap benar benar ngambek. Ingin sekali, ia membalas menggoda lagi, tapi hatinya tidak tega melihat keringat dingin yang mengucur di wajah Giok Hui Yan.
Tanpa berbicara, ia meloncat ke kudanya, kemudian menarik tali kendali kuda Giok Hui Yan, dengan perlahan menuju balik ke Lok Yang Piaukok.
“Hei, kau salah arah. Sebenarnya kau hendak kemana?” tanya Giok Hui Yan cemas.
Tan Leng Ko tidak mengacuhkan, ia malah menderap kudanya lebih kencang.
Dengan gugup Giok Hui Yan berkata,
“Baik. Aku tidak akan bergurau lagi denganmu. Lekas kau putar balik. Kita harus menuju ke Lok Yang sekarang juga”
Tan Leng Ko menghentikan lari kudanya,
“Kenapa harus sekarang juga?”
Giok Hui Yan menyadari, jawabannya harus memuaskan Tan Leng Ko, kalau tidak ia akan memaksanya pulang.
“Sebab waktuku sudah tidak banyak lagi… sebab aku benar benar kabur dari rumah. Orang orangku di Lok Yang, tentu dengan diam diam telah melapor kepada ayahku, walau telah kuperintahkan untuk merahasiakan jejakku”
Sambil tertawa senang, Tan Leng Ko berkata,
“ ayahmu tentu tidak tinggal diam, dia akan mengirim orang untuk menjemputmu pulang”
Giok Hui Yan mengangguk sedih.
“Sebaiknya kau memang pulang, mengapa sih kau keluyuran keluar?” tanya Tan Leng Ko tertarik.
“Sebab aku benar benar ingin mendapat kembali kitab pusaka yang hilang itu!”
Tan Leng Ko tertawa sebentar, kemudian katanya,
“Kurasa itu bukan alasanmu yang sebenarnya. Tanggung jawab mencari kitab itu, toh bukan berada di atas pundakmu, melainkan sudah menjadi tugas ayahmu”
Giok Hui Yan berpikir sejenak, setelah menghela napas ia berkata,
“banyak orang menganggapku pintar, akupun merasa diriku tidak bodoh, namun setelah sekian lamanya, aku tetap tidak berhasil menerka maksud dari pencuri kitab itu”
“Makanya kau ingin sekali berjumpa dengannya?”
“Betul!”
Setelah termenung sekian lama, Tan Leng Ko bertanya,
“Kenapa kalian yakin, toko buku itu terlibat pencurian kitab?”
“Sampai sekarangpun kami tidak terlalu yakin. Berbulan bulan lamanya, kami mencari jejak pencuri kitab itu yang seperti naga sakti tanpa kelihatan ekornya. Sedikitpun kami tidak memperoleh titik terang”
Giok Hui Yan menarik napasanya dalam dalam, kemudian katanya,
“Sebetulnya kami sudah putus asa, sampai suatu hari aku melihat beras didalam lumbung. Seperti mendapat ide gila, secara sembarangan aku mengusulkan untuk mencarinya di toko buku. Karena sudah kehabisan akal, ayahku menyuruh anak buah kami untuk memerhatikan toko toko buku di kota kota besar.”
“Nasib mereka juga mujur” kata Tan Leng Ko dalam hati. Ia tahu, walau kedengaran tugas ini merepotkan, ia yakin, jumlah toko buku di tionggoan tidak terlalu banyak. Lain halnya jika yang dicuri adalah seguci arak. Jumlah warung arak di tionggoan, ia tidak yakin dapat dihitung.
“Dan toko buku di Lok Yang termasuk yang mencurigakan?” tanyanya kemudian.
“Setiap toko buku tentu kami selidiki dengan diam diam. Kami mulai curiga dengan toko buku di Lok Yang, sebab setiap kali kami mengirim orang, tentu ia tergeletak dipinggir kota dalam keadaan tidur pulas, dengan tiga puluh enam urat nadinya tertotok tanpa mengetahui sebabnya”
Dengan heran Tan Leng Ko bertanya,
“Hanya karena alasan itu, kalian curiga?”
Giok Hui Yan tertawa secara aneh,
“Karena kau tidak mengetahui bahwa yang terakhir kami kirim adalah Ou Leng Poo, yang berpangkat tongcu. Kepandaiannya boleh dibilang termasuk kelas satu di rimba persilatan. Untuk mengalahkannya sungguh tidak mudah!”
Agak terkejut juga Tan Leng Ko mendengar hal ini, cepat ia berkata,
“Jadi ia mengalami nasib yang sama, tertotok dan tertidur pulas?”
Dengan tersenyum getir, Giok Hui Yan menjawab,
“Bahkan ia tidak dapat melihat siapa yang melakukannya”
Tan Leng Ko tidak kenal Ou Leng Poo, tapi ia yakin, seorang tongcu dari perguruan Mi Tiong Bun tidak usah diragukan lagi kehebatannya. Nyatanya, ia juga tidak berdaya!
Setelah terdiam beberapa saat, ia berkata,
“Kalian curiga, orang yang berkepandaian tinggi di toko buku itu, bukan mustahil si pencuri kitab itu?”
“Benar!”
“Tapi kan juga bisa jadi seorang cianpwee yang mengasingkan diri di toko buku itu”
Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam, lalu berkata,
“Memang bisa juga begitu. Seperti yang kukatakan tadi, sebenarnya kami tidak terlalu yakin. Kamipun enggan mencari perkara, jika ia tidak terlibat. Apalagi menurut penyelidikkan kami setelah menanyai para tetangga, Gu Cin Liong, pemilik toko buku itu sudah bertahun tahun, tidak pernah keluar kota”
“Jika ia adalah cianpwee itu, sukar untuk menundingnya telah mencuri di perguruan kalian yang jauh letaknya dari kota Lok Yang” kata Tan Leng Ko perlahan.
“Benar, tapi ini satu satunya titik terang yang kami punyai, kami juga tidak dapat melepaskannya begitu saja”
“Makanya kalian belum menyerbu tempat itu secara terang terangan”
“Benar!”
Tan Leng Ko terpekur beberapa saat, sambil memandang tajam Giok Hui Yan, ia bertanya,
“Kenapa kau mencurigai aku?”
Giok Hui Yan membalas tatapan mata Tan Leng Ko,
“Kan sudah kukatakan, kau bukan jenis yang gemar membaca. Menurut hasil pengamatan kami, hampir semua yang datang ketempat itu, bertampang macam si cacing buku Khu Han Beng. Ketika kau muncul, otomatis kami menjadi heran”
Dengan sorot mata menyelidik, Giok Hui Yan bertanya sepatah demi sepatah,
“Sebetulnya apa tujuanmu ke toko buku itu?”
Tan Leng Ko menghela napas,
“Tujuanku datang kesana, memang untuk menyelidiki toko buku itu” kata Tan Leng Ko mengakui.
Giok Hui Yan memang sudah menduganya, cepat ia bertanya,
“Apa yang kau curigai?”
“Kau sudah tahu, Khu Han Beng gemar sekali membaca. Kupernah memasuki kamarnya dan tanpa sengaja telah menemukan buku buku yang kuheran darimana dia memperolehnya”
Mata Giok Hui Yan seperti bersinar terang,
“Apakah bocah itu mempunyai buku yang semestinya dia tidak miliki?”
“Benar!”
“Apakah jenis buku yang langka?”
“Benar!”
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali,
“Sebetulnya jenis buku apa yang dimilikinya?” tanyanya sepatah demi sepatah.
Tan Leng Ko nampak ragu ragu untuk menjawab.
Melihat keraguan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan cepat mendesak,
“Banyak yang telah kuceritakan, karena kupercaya kepadamu. Kuharap kau juga percaya kepadaku”
Tan Leng Ko diam saja tidak menjawab.
“Kuminta kau berterus terang kepadaku, apakah kitab pusaka Mi Tiong Bun berada di kamar Khu Han Beng?” desak Giok Hui Yan dengan tegang.
Akhirnya Tan Leng Ko menjawab,
“Tentu saja tidak, masakkan seorang bocah kau curigai mempunyai kitab pusaka segala”
Dengan penuh selidik, Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali. Akhirnya, ia menarik napas lega walau terdengar agak kecewa, lalu tanyanya,
“Sebetulnya buku apa yang kau lihat?”
“Buku porno” kata Tan Leng Ko perlahan.
Merah padam muka Giok Hui Yan, ia melengos.
Tan Leng Ko cukup mengetahui, konon katanya walau kejahatan yang paling tua adalah pembunuhan, tapi kejahatan yang paling sering dilakukan orang adalah pelacuran!
Dari jaman dulu perempuan sudah pandai melacur. Memang nafsu birahi lelaki sukar dihindari, dengan sendirinya pelacuran mempunyai peminat yang sangat banyak jumlahnya.
Sesuatu yang digemari oleh banyak orang, dijaman apapun otomatis berkembang menjadi sesuatu yang didagangkan, baik sesuai hukum atau tidak.
Tidak hanya dalam bentuk orang, pelampiasan nafsu birahi diterjemahkan pula dalam lukisan dan susunan kata. Buku buku porno termasuk salah satu yang dijual belikan, walau tidak terang terangan.
Giok Hui Yan terdiam sesaat, kemudian katanya dengan ragu,
“Apa…apa benar buku itu yang kau lihat”
Tan Leng Ko menghela napas,
“Boleh kutunjukkan buku buku itu kepadamu, jika kau tetap curiga padaku”
Tentu saja Giok Hui Yan menolak.
Diam diam Tan Leng Ko geli dalam hati. Ia memang telah menyiapkan jawaban pertanyaan ini. Alasan ia menghentikan percakapan di ruang kerja Khu Pek Sim semalam, adalah agar mendapat waktu yang cukup untuk memikirkan jawaban jawaban yang masuk akal. Tentu saja ia enggan menceritakan alasan sesungguhnya.
Tan Leng Ko tidak mempunyai pilihan lain kecuali berbohong. Dia harus mencegah Giok Hui Yan untuk sembarangan masuk ke kamar Khu Han Beng.
Bukan saja Giok Hui Yan harus menerima alasan ini. Sebagai seorang gadis perawan, tentu ia kesulitan untuk memeriksa kebenaran ucapannya. Tidak ada gadis perawan yang berani memeriksa sesuatu yang bersifat porno.
Giok Hui Yan mendengus,
“Huh! Kutahu bocah itu tidak genah. Ketika kumasuk kamarnya, dia membuka baju dihadapanku. Nampaknya saja bocah itu seperti pelajar alim, tak tahunya berbakat menjadi jai hoa cat”
Tanpa sengaja, Tan Leng Ko telah menanam bibit kesan buruk di hati Giok Hui Yan terhadap Khu Han Beng.
Cepat Tan Leng Ko mengalihkan perhatian Giok Hui Yan,
“Kuyakin tidak sedikit orang pintar di Mi Tiong Bun. Yang masih aku tidak paham, kenapa kaumemerlukan bantuanku?”
“Sebab Khu Han Beng satu satunya yang dekat dengan Gu Cin Liong, tadinya aku hendak meminta bantuannya bukan bantuanmu”
“Kenapa tidak kau minta padanya?”
“Huh! Bocah itu sukar didekati. Doyan buka baju, aku malas berhubungan dengan dia”
Rupanya perbuatan Khu Han Beng membuka baju, membekas dalam dihati Giok Hui Yan.
“Apakah kau mencurigai Khu Han Beng?” tanya Tan Leng Ko dengan tak acuh.
“Tadinya… Setelah kami tahu, dia telah berkunjung ke toko buku itu sudah tahunan lamanya, bahkan sejak dari kecil. Kami tidak beralasan mencurigainya lagi, sebab hilangnya kitab kami baru terjadi dalam hitungan bulan”
“Makanya kau tahu nama, dan tempat tinggalku, karena kalian telah menyelidiki Khu Han Beng dengan seksama”
“Benar. Pertemuan kita di Se Chuan Koan memang kejadian yang kusengaja. Yang membuatku terkejut, ketika kau mengunjungi toko buku itu”
“Karena itu, kau memutuskan untuk menyelundup masuk ke Lok Yang Piaukok”
“Tepat!”
“Kenapa baru sekarang kau lakukan?”
“Sebab aku memang belum lama tiba di Lok Yang”
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, ia tahu walau tidak diucapkan, Giok Hui Yan memintanya untuk mengorek keterangan dari Khu Han Beng. Ia juga mempercayai ucapan Giok Hui Yan.
Yang ia kurang percaya, adalah kemampuan dirinya untuk menyelidiki toko buku itu. Kalau pihak Mi Tiong Bun saja kewalahan, kesempatan dirinya berhasil tentu tidak besar.
Tapi bukan berarti dia takut, Tan Leng Ko cukup mengenal dirinya yang jika sudah memutuskan sesuatu, biasanya akan dikerjakan hingga tuntas. Apakah dia akan terluka atau tewas dalam mengerjakannya, biasanya tidak ia terlalu pikirkan.
Yang mesti diucapkan, telah dikatakan. Karena tidak ada lagi yang mesti dibicarakan, Tan Leng Ko segera membalikkan kudanya, diikuti oleh Giok Hui Yan, mereka menuju ke toko buku Gu Cin Liong, toko buku terbesar di kota Lok Yang.
Tan Leng Ko dan Giok Hui Yan menambatkan kudanya didepan toko kain dua blok dari gang sempit itu. Tanpa bertanyapun, Giok Hui Yan cukup memaklumi alasan perbuatan Tan Leng Ko yang tidak ingin kuda mereka dikenali. Terutama oleh Khu Han Beng yang setiap saat bisa muncul di toko buku Gu-suko.
Walau kurang mengerti sebabnya, Giok Hui Yan dapat melihat bahwa Tan Leng Ko mempunyai rasa segan terhadap bocah itu. Ia tidak ingin banyak bertanya soal ini, toh tiap orang berhak mempunyai urusan pribadi masing masing. Apalagi, mereka juga menghargai haknya dan tidak usil dengan urusan pribadinya.
Mereka melangkah perlahan menyusuri pinggiran toko toko, jalanan didepan rumah makan Se Chuan Koan semakin penuh dengan orang persilatan yang berkeliaran.
Melihat keramaian ini, tanpa terasa dahi Tan Leng Ko berkerenyit
“Ada apa?” tanya Giok Hui Yan dengan heran.
Tan Leng Ko menghela napas, kemudian katanya,
“Kebanyakkan orang persilatan mempunyai watak ingin menang sendiri. Dua orang saja sudah cukup untuk memulai suatu pertarungan, apalagi dalam jumlah sebanyak ini”
Sembari tertawa kecil, Giok Hui Yan menjawab,
“Yaa, urusan lain mungkin mereka kurang paham, jika disuruh mencari gara gara, tanggung mereka ahli!”
Dengan menatap tajam, Tan Leng Ko berkata perlahan,
“Kuharap kau dapat menahan diri dan tidak menimbulkan keributan”
Baru Giok Hui Yan mau menjawab, tiba tiba terdengar,
“Bruaakkk!!!” sesosok tubuh menjebol pagar tingkat atas rumah makan Se Chuan Koan, melayang turun dengan kepala lebih dahulu.
Bagaikan hujan, titik titik kental berwarna merah bertebaran kemana mana. Usus bewarna putih, panjang melingkar terkuar dari perut orang tersebut yang robek menganga.
Suara tengkorak kepala pecah menghantam jalanan yang keras, menimbulkan kepanikkan banyak orang yang segera kabur menghindar jauh. Sebuah kereta kuda yang sedang berjalanpun mau tidak mau ikut berhenti.
Satu orang berbaju hitam yang berambut ikal panjang tidak ikut menyingkir. Dia berdiri tegak disebelah mayat orang itu, dengan rambut ikalnya yang menjadi lurus dibasahi cipratan darah.
Matanya memancar kilat kemarahan, memandang kelantai atas rumah makan Se Chuan Koan yang tiba tiba menjadi sunyi. Jalanan yang tadi ramai sekarang menjadi lengang. Orang ramai berdesakkan dipinggir jalan ingin menonton kejadian kejadian yang bakal menyusul.
“Kau yang turun atau aku yang naik keatas?” geramnya perlahan.
Terdengar suara lantang tertawa mengejek dari lantai atas,
“Apa kau tidak berani naik kesini?”
Lidah sibaju hitam bergerak menjilati darah yang menetes,
“Aku tidak ingin membunuh orang satu lebih banyak” ujarnya dingin.
Kelihatan sekali, ia berusaha menahan diri. Sorot matanya berubah dari kemarahan, sejenak menjadi sedih, kemudian perlahan tapi pasti berganti dengan rona kebuasan yang timbul diwajahnya yang keriputan.
Dari lantai atas, seseorang berbahu lebar memegang kampak yang berlamuran darah melenting turun. Wajahnya buruk rupa, lucunya ketika ia menyeringai, nampak deretan giginya yang putih dan bagus sekali.
“Apakah kau mempunyai kemampuan untuk membunuhku?”
Sibaju hitam tidak menjawab, ia menatap dingin orang itu, seperti seekor buaya mengincar mangsanya.
“Tahukah kau, siapa dia?” tanya siburuk rupa sekali lagi sambil menunjuk kepada mayat itu.
“Aku tidak perlu tahu siapa dia, aku juga tidak perlu tahu siapa kau. Yang kuketahui hanya satu hal” akhirnya sibaju hitam menjawab dengan lambat.
“Apa yang kau ketahui?”
“Aku sudah tidak mau mengganggu orang, tapi juga tidak ingin diganggu orang”
“Salahmu sendiri, kenapa kau tidak menghindar!”
“Aku memang dapat menghindar”
“Kenapa tidak kau lakukan?”
“Karena aku belum makan siang”
Siburuk rupa menjadi bingung, ia tidak mengerti. Dengan heran ia bertanya,
“Aku tidak paham, apa hubungannya kau sudah makan atau tidak?”
“Begitu kau paham, mungkin sudah terlambat” gumam sibaju hitam sembari menyodokkan tangan kiri kedepan.
Siburuk rupa tidak menghindar, dengan tertawa dingin ia mengayunkan kampaknya dengan cepat menyongsong serangan itu. Ketika kampaknya mencapai sekitar satu inci dari dari pergelangan tangan, jari tangan kiri sibaju hitam tiba tiba bergerak menepis kampak yang kemudian mencelat jauh entah kemana.
Gerakkan sibaju hitam tidak terlihat aneh atau cepat. Hanya perhitungan gerakkannya yang sungguh tepat! Siburuk rupa menjadi melongo terkesima.
Waktu yang sekejap itu, dimanfaatkan oleh sibaju hitam dengan sodokkan tangan kanannya ke dada sebelah kiri.
Rasa sakit yang luarbiasa menyerang siburuk rupa, tubuhnya menjadi dingin dan lumpuh. Sebelum tubuhnya terkulai jatuh, ia sempat melirik genggaman tangan kanan sibaju hitam. Sedetik menjelang ajalnya, ia telah paham, walau ia lebih suka tidak mengerti!
Konon katanya sebelum kedatangan kematian, orang akan teringat banyak hal. Yang ia ingat hanya kemuakkan dan rasa ingin muntah, sebelum kegelapan yang abadi, dingin, dan dalam mulai menyelimuti benaknya…untuk selamanya!
Giok Hui Yan membuang pandangannya, timbul kemarahan diwajahnya yang pucat. Begitu pula Tan Leng Ko, yang hatinya menjadi tenggelam meyaksikan sibaju hitam memakan jantung segar yang masih berdenyut dengan penuh kenikmatan. Suara gigitan dan kelahapannya sungguh menggidikkan hati.
Dengan cepat Giok Hui Yan memegang lengan Tan Leng Ko yang telah bergerak maju. Giok Hui Yan menggeleng perlahan, matanya tetap menatap kedepan, melihat seorang pemuda berwajah tampan, keluar dari kereta kuda yang tadi terhenti dijalan.
Pemuda itu melangkah maju dengan mengulum senyum ramah, matanya menatap Giok Hui Yan beberapa kejap. Nampaknya ia terpesona oleh kecantikkan Giok Hui Yan walau langkahnya tidak berhenti mendekati sibaju hitam yang sedang makan siang.
Pemuda itu memakai baju bewarna biru dan memiliki rambut panjang yang dikepang seperti seekor ular, rambut panjang yang membelit dua kali melingkari lehernya.
Potongan bajunya mengikuti potongan mutakhir seorang bangsawan, tangan kanannya menggoyangkan sebuah kipas yang juga bewarna biru. Nampak serasi sekali dengan penampilannya.
Sibaju hitam tidak menghiraukan kehadiran pemuda itu. Dengan rakus ia menelan sisa makanannya yang terakhir seakan kuatir, pemuda itu akan meminta sebagian.
“Dengan bekal kepandaianmu, semestinya kau memang dapat menghindar” kata pemuda itu dengan halus.
Dengan tawar sibaju hitam menjawab,
“Kau juga dapat menghindar menjadi santapanku, semestinya kau tidak usah mengangguku”
Dengan tertawa dingin, pemuda itu berkata,
“Aku sudah tidak mau mengganggu orang, tapi juga tidak ingin diganggu orang”
Agak melengak sibaju hitam mendengar ucapannya tadi, diulang secara persis.
Dia memandang sekejab kepada kereta yang berhenti ditengah jalan, kemudian katanya,
“Yaa, nampaknya, secara tidak sengaja aku telah menganggu perjalananmu”
“Thi Bin Eng, si pendekar muka besi juga tidak sengaja menganggumu, toh kau tidak memberi ampun kepadanya” kata pemuda itu sembari kipasnya menunding mayat siburuk rupa.
Sibaju hitam termenung sejenak, kemudian katanya dengan dingin,
“Siapa kau?”
“Bok Siang Gak, seorang yang baru berkelana di rimba persilatan”
“Apakah kau ingin mencampuri urusan ini?”
Pemuda yang bernama Bok Siang Gak tertawa halus,
“Thi Bin Eng merobek perut orang itu bukan karena ia dikenal sebagai Giok Bin Cat atau pemerkosa bermuka giok”
“Sebab apa ia membunuhnya?” tanya sibaju hitam tak acuh.
“Sebab Giok Bin Cat hanya memperkosa atau menyukai sesama jenis”
“Apakah Thi Bin Eng telah diperkosa olehnya?” timbul juga rasa ingin tahu sibaju hitam.
“Tidak. Giok Bin Cat telah jatuh cinta kepada Thi Bin Eng”
“Karena tersinggung Thi Bin Eng membunuhnya?”
“Juga tidak. Mereka saling mencinta. Giok Bin Cat mendesak Thi Bin Eng untuk meninggalkan istrinya. Karena hanya dijanjikan berulang kali, Giok Bin Cat mengancam akan menyiarkan hubungan mereka”
“Maka Thi Bin Eng membunuhnya ditempat umum, agar terlihat ia melakukan kewajibannya sebagai seorang pendekar”
“Benar. Giok Bin Cat yang dijanjikan muluk muluk, tentu saja tewas dengan mudah, dari serangan maut Thi Bin Eng yang diluar dugaannya”
“Kematiannya sungguh penasaran sekali” gumam sibaju hitam perlahan.
Bok Siang Gak mengangguk,
“Walau dia jahat, cintanya terhadap Thi Bin Eng tulus sekali. Cinta kasih antara sibagus dan siburuk, biasanya memang berakhir dengan tragedi”
“Kau banyak sekali tahu urusan mereka, apakah kau salah satu kekasih mereka?” tanya sibaju hitam dengan dingin.
Suara tertawa Giok Hui Yan terdengar cukup keras, Bok Siang Gak melirik kepadanya dengan muka merah.
“Walau Thi Bin Eng memang pantas mati, tapi bukan karena alasan ini kau membunuhnya”
“Karena alasan apa aku membunuhnya?”
“Karena kau memang belum makan siang. Kau pernah berjanji tidak akan memakan jantung manusia lagi kecuali orang yang telah mengganggumu”
Wajah sibaju hitam berubah hebat. Setelah termenung sejenak, ia berkata
“Apa yang hendak kau lakukan sekarang”
“Aku ingin melakukan apa yang kau telah lakukan”
“Apakah kau hendak memakan jantungku?”
“Aku bukan Hek I Houw” kata pemuda itu dengan hambar
Terkejut juga Tan Leng Ko mendengar nama ini. Hek I Houw, atau harimau berbaju hitam adalah seorang iblis yang pernah menggemparkan rimba persilatan generasi lampau.
Hobinya yang gemar memakan jantung manusia sempat menimbulkan kemarahan tujuh perguruan besar. Entah kenapa, sudah puluhan tahun ia menghilang tidak terdengar kabarnya, tak nyana iblis ini bisa muncul disini!
“Tak kusangka seorang pemuda yang baru berusia belasan tahun dapat mengenalku” gumam Hek I Houw perlahan.
“Itu mah tidak sulit, tidak banyak orang yang memiliki selera makan sepertimu” ujar pemuda itu halus.
Mendadak senyum yang menghias bibirnya menghilang, dengan kaku pemuda itu berkata,
“Membunuhmu, itu yang sukar!”
Sinar kebuasan kembali terpancar dari mata Hek I Houw,
“Apakah kau mempunyai kemampuan untuk membunuhku?” geramnya
Sebagai jawaban, kipas ditangan pemuda itu diayunkan mengarah mata Hek I Houw yang dengan cepat mengelak. Sebentar saja mereka terlibat disebuah pertarungan yang seru.
Puluhan jurus telah berlalu, yang terlihat hanya kelebatan bayangan mereka disertai debu jalanan yang beterbangan diterpa oleh deru angin pukulan.
“Blaaarrr!!!” sodokkan tangan kanan Hek I Houw bertemu dengan kipas pemuda itu yang kemudian membuat pemuda itu terhuyung mundur lima langkah dengan wajah pucat.
Bentrokkan tenaga sakti barusan, juga membuat tubuh Hek I Houw tergetar, tanpa terasa ia mundur selangkah. Terkejut hatinya melihat kemampuan pemuda itu yang dapat menandinginya.
Betul ia lebih menang tenaga, tetapi sedikit sekali bedanya. Jelas pemuda itu mempunyai asal usul yang tidak sembarangan, tapi ia tidak perduli. Sambil membentak keras, ia meloncat dan menghantam kepala pemuda itu.
Dengan menggigit bibir, pemuda itu menyongsong pukulan dengan kepalan tangan berbareng kipasnya.
“Duarrr!!!” kembali ledakkan angin pukulan berbunyi nyaring. Debu bercampur tanah seperti ditup angin taufan mencelat kesana sini mengaburkan pemandangan.
Dengan tegang Tan Leng Ko memperhatikan pertarungan itu. Ia tidak kenal pemuda itu, tapi sedikit banyak ia bersimpati kepadanya.
Setelah debu mereda, nampak pemuda itu berdiri dengan limbung disebelah liang cukup besar hasil bentrokkan tenaga sakti mereka. Wajahnya pucat pasi, ujung bibirnya menetes darah segar, jelas ia terluka dalam yang cukup parah.
Darah bercampur debu tanah yang menempel dimuka, membuat Hek I Houw terlihat lebih menyeramkan. Ia menatap tajam pemuda itu seperti harimau memandang mangsanya.
Tiba tiba paras muka Hek I Houw menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali…Sinar matanya yang buas seperti meredup kemudian berganti memancarkan sinar ketakutan dan rasa ngeri yang amat tebal..
Suara gerengan harimau yang sedang terluka keluar dari mulutnya. Tanpa diduga tubuh hek I Houw mencelat tinggi ke atas kemudian menghilang dibalik atap rumah makan Se Chuan Koan.
Pemuda itu termangu. Ia tidak mengerti kenapa lawannya yang sudah menang malah merat kabur?
Setelah menghela napas, ia membungkuk badan menyingkirkan sehelai daun segar yang menutupi sebagian dari batang kipasnya yang tadi terjatuh diatas gundukkan tanah dekat liang itu.
Perlahan pemuda itu berjalan menuju kereta kudanya yang tak lama kemudian bergerak menuju kedepan diiringi kerumunan orang orang yang membubarkan diri.
Giok Hui Yan yang terdiam sedari tadi, nampak termenung. Sinar terang seperti memancar dari matanya.
“Apa yang kau lamunkan?” tanya Tan Leng Ko tak tahan.
Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam,
“Tidakkah kau rasakan, kejadian tadi rada janggal?”
“Yaa, memang aneh seorang manusia memakan jantung manusia lain mentah mentah”
Giok Hui Yan menggeleng perlahan,
“Kejadian itu memang mengerikan, tapi bukan sesuatu yang aneh”
“Maksudmu?”
“Pohon terdekat berjarak puluhan kaki dari sini, darimana datangnya helaian daun yang menutupi kipas itu?”
Berdesir hati Tan Leng Ko mendengar ucapan ini,
“Gadis ini tahu!” jeritnya dalam hati.
Giliran Tan Leng Ko menarik napas menenangkan hatinya yang berdebar,
“Daun itu hanya salah satu sampah di jalan, buat apa kau pusingkan” katanya datar.
“Tidak mungkin! Jika hanya sampah tentu telah tertimbun gundukkan tanah dari liang hasil bentrokkan pukulan dahsyat itu. Lagipula letak daun itu berada diatas kipas yang terjatuh”
“Sebenarnya, apa maksud perkataanmu?” tanya Tan Leng Ko perlahan.
Giok Hui Yan termenung sebentar, kemudian katanya
“Daun tersebut pasti berada disitu setelah pukulan dilepaskan, bukankah hal ini sebuah kejadian yang aneh?!”
“Mungkin terbang tertiup angin”
“Memang mungkin, tapi daun itu masih terlihat segar, jelas baru dipetik orang”
Mau tidak mau, Tan Leng Ko mengakui daun itu memang seperti baru dipetik. Matanya yang tajam dapat melihat tetesan getah dari ujung tangkai daun tersebut.
Giok Hui Yan menatap tajam Tan Leng Ko,
“Daun itu tentu telah disambit oleh seseorang” katanya sepatah demi sepatah.
“Aku tidak melihatnya” kata Tan Leng Ko
Giok Hui Yan tertawa secara aneh, air mukanya berubah serius,
“Kutahu sebagai ahli golok, kau pasti memiliki mata yang tajam. Ingin kutanya padamu. Jika seseorang dapat menggertak pergi seorang iblis seperti Hek I Houw hanya dengan sehelai daun, dapatkah kau terka kehebatan ilmu silatnya?”
Tan Leng Ko terdiam. Ia paham maksud Giok Hui Yan yang secara tidak langsung mengatakan pemetik daun itu mungkin sekali berhubungan erat dengan sipencuri Kitab Mo Tiong Bun. Apalagi tempat ini memang dekat sekali dengan toko buku Gu-Suko.
Sebetulnya jalan pemikirannya tidak berbeda dengan gadis ini, hanya ia lebih suka tidak mengatakannya.
Setelah berpikir sejenak, ia menarik ujung baju Giok Hui Yan,
“Ayoh kita lekas kesana!” katanya sambil menggeretakkan gigi.
Giok Hui Yan membiarkan dirinya diseret pergi. Setiba didepan gang yang berbau sampah itu, perlahan ia menarik ujung bajunya melepaskan diri.
Jengah juga Tan Leng Ko ketika menyadari, tanpa sengaja ia telah menarik ujung baju gadis ini. Buru buru ia berkata,
“Mungkin pemetik daun itu sedang mengejar Hek I Houw, ini merupakan kesempatan baik untuk kita menyelidiki toko buku itu”
Giok Hui Yan mengangguk,
“Sebaiknya aku tunggu disini saja, agar dapat memperingatkan kau jika Khu Han Beng munculkan diri”
“Dasar setan!” gerutu Tan Leng Ko dalam hati.
“Tadi bersikeras untuk ikut, begitu sampai malah tidak ingin ikut masuk”
Tapi ia hanya berani mengomel dalam hati. Ia cukup paham dalil yang mengatakan, jika kau dapat memahami perubahan tabiat seseorang, yang jelas orang itu bukan seorang perempuan. Jika kau mampu menyelami watak seorang perempuan, dapat dipastikan kau bukan seorang lelaki.
Tan Leng Ko tidak ingin menarik panjang urusan ini. Apapun juga ucapan Giok Hui Yan toh masuk akal.
“Sebaiknya kau tirukan bunyi burung gagak tiga kali” usulnya perlahan.
Secara samar sekali lagi Giok Hui Yan mengangguk. Entah apa yang sedang dipikir olehnya, raut mukanya serius sekali.
“Hey! Kau dengar tidak ucapanku” kata Tan Leng Ko agak keras.
Tersentak Giok Hui Yan dari lamunannya,
“yaa…yaa…yaaa, gagak tiga kali…” agak gelagapan ia menjawab.
Geli bercampur heran, Tan Leng Ko melihat kegugupan gadis itu. Jarang sekali gadis ini menunjukkan sikap demikian. Apapun yang dipikir oleh Giok Hui Yan, sukar bagi Tan Leng Ko untuk percaya, gadis ini mempunyai maksud yang genah, walau ia tetap percaya bahwa Giok Hui Yan tidak berniat jahat padanya.
“Kuingin meminjam kantong kainmu” pinta Tan Leng Ko
“Buat apa?” tanya Giok Hui Yan heran.
“kau mau berikan tidak?”
Dari lapisan dalam baju luarnya, dengan berat hati Giok Hui Yan memberikan kantong kain berisi kumpulan ronce ronce pedang.
“Sebaiknya kau jaga baik baik mustikaku” pintanya dengan sangat.
“Orang harus melangkahi mayatku, sebelum kubiarkan merebut mustikamu” jawab Tan Leng Ko asal lalu, kemudian melangkah pergi memasuki toko buku Gu-Suko.
Terharu sekali Giok Hui Yan mendengar perkataan ini. Dia tidak menyangka begitu besar perhatian Tan Leng Ko kepadanya.
Toko ini tetap saja sepi, jumlah pengunjung dengan jumlah buku buku benar benar tidak sebanding. Dia tidak sendirian, selain dirinya, masih ada seorang lain yang sedang membersihkan buku dengan kebutan debu. Ia menoleh memandang Tan Leng Ko cukup lama, kemudian menghentikan pekerjaannya.
Jelas orang itu bukan pelayan tua yang dulu. Usianya sebaya dengan dirinya, atau mungkin lebih tua beberapa tahun. Wajahnya tampan, walau sudah nampak kerutan disekitar matanya.
Pakaiannya sederhana ditambah kulitnya yang bersih, nampak sekali orang ini mempunyai kebiasaan mandi setiap hari. Tan Leng Ko yakin, dalam satu minggu orang ini lebih sering mandi dibanding Lo Tong dalam sebulan.
Kesan suka timbul disanubari Tan Leng Ko terhadap orang ini. Juga ia seperti melihat sesuatu yang tidak asing walau mereka baru berjumpa untuk pertama kali.
Sayang, ia juga merasa orang ini seperti dirundung kesusahan. Mungkin kesan murung timbul dari sorot matanya yang seperti acuh lagi hambar. Apakah orang ini Gu Cin Liong, Gu-Suko pemilik toko buku ini? Tan Leng Ko menduga dalam hati.
“Beli dua, dapat satu buku gratis” kata orang itu lambat.
Merinding bulu kuduk Tan Leng Ko mendengar ucapan ini. Cara orang ini berbicara sangat datar, tanpa irama, tidak mencerminkan suatu perasaan…. Ia seperti sedang berbicara dalam hati!
“Kuingin melihat lihat dulu” ujar Tan Leng Ko dengan dingin, otomatis kesan sukanya menjadi berkurang banyak.
Dengan perlahan ia meletakkan kantong kain yang dibawanya diatas jejeran kitab, kemudian sekenanya dia mengambil sebuah buku. Matanya melirik ke pintu belakang yang setengah terbuka. Tidak banyak yang dapat dilihatnya, hanya sebagian halaman belakang diantara tiang tiang penyanggah.
Mendadak terdengar tiga kali suara yang semestinya seperti bunyi burung gagak. Belum pernah Tan Leng Ko mendengar suara gagak semacam ini. Mana ada burung gagak bersuara merdu seperti itu!
Orang itu menoleh kepada Tan Leng Ko, walau tidak mengatakan apa apa, sinar matanya seperti mengandung senyuman.
Tan Leng Ko menyengir. Terasa olehnya, orang ini serasa menyindir, seakan akan tahu maksud kedatangannya bukanlah untuk membeli buku.
Secara sembarang, Tan Leng Ko meraih tiga buku dan meletakkan setahil perak diatas meja kasir.
“Kuingin melihat suara apa itu” kata Tan Leng Ko dengan jengah, cepat ia berlari keluar.
Giok Hui Yan menarik tangannya dan bergegas mengajak masuk ke sebuah toko yang menjual berbagai bentuk porselin.
Dari jendela toko yang terbuka, tak lama kemudian Tan Leng Ko mengintip Khu Han Beng memasuki gang sempit itu.
“Kau membeli buku apa?” tanya Giok Hui Yan yang tertarik melihat buku buku ditangan Tan Leng Ko.
“Akupun tidak tahu” kata Tan Leng Ko seraya melirik ketangannya.
“Omitohud!” kata Giok Hui Yan sambil meleletkan lidah.
Geli juga Tan Leng Ko ketika ia melihat kitab yang dibelinya ternyata merupakan kitab ajaran Budha.
“Omitohud!” serunya perlahan seraya memasukkan buku itu ke bagian dalam baju di saku sebelah dada kiri.
Giok Hui Yan tertawa perlahan, kemudian katanya,
“Kutahu kau tidak punya banyak bakat, kujamin kau berbakat sekali menjadi seorang pendeta”
“Dan kau berbakat menjadi seorang nikouw” omel Tan Leng Ko.
Sambil menyeringai, Giok Hui Yan memicingkan matanya,
“Yaa, bentuk kepalamu jika digundulkan hingga plontos, tentu serasi sekali dengan warna pakaianmu”
“Gundul dengkulmu!” balas Tan leng Ko dengan gemas.
Selesai berkata, ia pun tidak dapat menahan tawanya mengikuti suara cekikian Giok Hui Yan, orang orang didalam toko sampai menengok heran ke mereka berdua yang tidak peduli dengan pandangan orang lain.
“Apa yang kau ketemukan disana?” tanya Giok Hui yan setelah puas tertawa.
“Aku tidak sempat melihat banyak”
Lalu Tan Leng Ko menceritakan apa yang dialaminya. Giok Hui Yan menghela napas selesai mendengar penuturan ini.
“Dugaanmu tidak salah, orang yang kurang semangat hidup itu memang Gu Cin Long, pemilik toko buku itu” ujarnya perlahan.
“Ia tidak terlalu mirip seorang locianpwee sakti” gumam Tan Leng Ko.
“Kami pernah mengujinya, ia memang orang biasa yang tidak mempunyai kepandaian silat”
Tan Leng Ko percaya dengan ucapan ini. Seseorang yang berkepandaian tinggi biasanya mempunyai semacam ciri, jika keningnya tidak menonjol, tentu matanya mencorong mengkilat.
Sorot mata Gui Cin Liong jelas hanya sorot mata orang biasa yang tidak pandai bersilat, seperti sorot mata Khu Han Beng.
Setitik ingatan berkelebat di benak Tan Leng Ko, membuatnya tertegun. Bentuk mata Gu Cin Liong banyak mirip dengan bentuk mata Khu Han Beng, pantas ia mempunyai perasaan seperti pernah
mengenal Gu Cin Liong sebelumnya.
Apakah hubungan akrab mereka sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan fisik Khu Han Beng?
Tan Leng Ko belum pernah menikah, tapi banyak temannya yang sudah, bahkan sampai ada yang telah menjalani pernikahan hingga puluhan tahun lamanya.
Konon katanya hubungan akrab maupun hubungan cinta kasih dapat merubah fisik seseorang. Wajah suami istri yang saling mencinta lama lama bisa menyerupai satu dengan yang lainnya.
Bukankah Tiada kekuatan yang lebih dahsyat daripada cinta kasih!
Giok Hui Yan cepat menarik kepalanya dari jendela, Khu Han Beng yang baru saja keluar dari gang sempit itu seperti melirik kearahnya.
“Ada apa?” tanya Tan Leng Ko cepat.
“Bocah mesum itu, baru saja keluar dari sana” jawab Giok Hui Yan sambil mencibir.
Mendengar julukan Giok Hui Yan terhadap Khu Han Beng, Tan Leng Ko hanya dapat menarik napas.
“Mana kantong kainku?” tanya Giok Hui Yan.
“Sengaja kutinggalkan disana”
“Supaya kau mempunyai alasan untuk kembali kesana?”
Tan Leng Ko mengangguk.
Setelah termenung sejenak, Giok Hui Yan berkata perlahan,
“Toko buku itu hanya sebuah toko, setahu kami tidak ada yang aneh ditempat itu”
“Dan tempat yang harus kuselidiki?”
“Dari gang buntu itu Kau harus meloncat tembok, memasuki pekarangan belakang toko buku”
“Kenapa kau tidak bilang sedari tadi?” tanyanya kesal.
Kali ini Tan Leng Ko benar benar tidak dapat menebak maksud tujuan Giok Hui Yan sesungguhnya. Sesaat ia bersikeras untuk menyelidiki tempat itu bersamanya, disaat lain, gadis ini seperti mencegahnya.
Giok Hui Yan seperti hendak mengatakan sesuatu tapi akhirnya memilih tutup mulut. Melihat gadis itu tidak mau menerangkan alasannya, Tan Leng Ko melangkah keluar.
“Kau hendak kemana?” tanya Giok Hui Yan yang mengejarnya keluar.
“Kudatang kesini bukan untuk membeli buku” jawab Tan Leng Ko datar.
“Sekarang, kau tidak boleh mengunjungi perkarangan itu!”
“Kenapa tidak?”
Semenjak melihat kemunculan daun itu, timbul keraguan dihati Giok Hui Yan. Ia yakin si pencuri kitab benar benar berada disini.
“Kukuatir sesuatu buruk terjadi atas dirimu. Kepandaian orang itu tingginya bukan main, kau bukan tandingannya” setengah berbisik Giok Hui Yan mengutarakan isi hatinya.
“Kau sudah tahu aku bukan tandingannya, toh kau ceritakan juga mengenai perkarangan belakang itu. Bukankah kau mengetahui, aku pasti akan kesana” dengus Tan Leng Ko pelan.
“Aku tidak ingin membohongimu, tapi aku juga tidak ingin kau celaka” pedih hati Giok Hui Yan melihat sikap Tan Leng Ko yang seperti curiga padanya.
Tak tega Tan Leng Ko melihat mata yang indah berkaca kaca oleh air mata, lekas ia menghibur,
“Paling paling aku hanya tertotok, tertidur di pinggir jalan bukan masalah bagiku”
“Kau tidak tahu, selain tertotok tidur, sebagian orang kami seperti tongcu Ou Leng Poo dimusnahkan kepandaiannya” akhirnya Giok Hui Yan berterus terang.
“Dan sebagian yang lain?”
“Sebagian yang lain tewas dengan cara yang mengerikan” jawab Giok Hui Yan dengan sedih.
Tan Leng Ko berpikir sejenak, ia masih percaya Giok Hui Yan tidak berbohong. Tapi sekarang ia juga sadar, tidak semua keterangan telah diberikan oleh gadis ini.
“Kenapa kalian tidak segera membalas dendam?”
“Sebab kami kurang yakin sipencuri kitab itu yang telah melakukan pembunuhan”
“Orang itu telah mencuri, dan kalian tidak yakin ia melakukan pembunuhan”
Dengan tertawa getir, Giok Hui Yan menjawab,
“Menurut ayahku, ditinjau dari cara pencuri kitab menggores daun, sukar untuk mencegahnya jika ia berkeinginan melakukan pembantaian di Mi Tiong Bun.
Orang yang kami kirim ke toko buku itu, kecuali Ou Leng Poo, kebanyakkan juga dari tingkat rendahan, makanya kami menjadi kurang yakin pencuri itu melakukan pembunuhan. Apalagi…?!”
Giok Hui yan nampak ragu untuk meneruskan.
“Jika kau ingin bantuanku, kuminta kau tidak lagi menahan keterangan” desak Tan Leng Ko.
Setelah menarik napas panjang, Giok Hui Yan berkata,
“Orang kami diketemukan tewas dengan luka tipis dibagian dada yang menembus hingga membolongi bagian punggung sebesar mangkuk besar”
“Luka dari hawa pedang?”
“Benar!”
“Apa pencuri kitab itu, tidak menggunakan pedang?”
Giok Hui Yan menggeleng,
“Kami tidak tahu, yang kami tahu luka semacam itu hanya dapat disebabkan oleh Hay Thian Sin Kiamsut”
“Hay Thian Sin Kiamsut?”
“Jurus pedang andalan Mi Tiong Bun dari kitab Hay Thian Sin Kiamboh” ujar Giok Hui Yang sepatah demi sepatah.
“Kitab yang hilang dicuri?”
“Benar!”
“Apa tidak mungkin pencuri itu telah mempelajari dan menggunakan jurus tersebut”
“Ayahku bilang, tenaga sakti pencuri kitab itu sudah mencapai taraf tiada tara, jika ia yang
menggunakan jurus tersebut, tentu korbannya hancur berkeping keping. Tidak mungkin hanya meninggalkan bolongan sebesar mangkuk”
Tan Leng Ko terdiam. Sebagai ketua Mi Tiong Bun, ayah Giok Hui Yan sudah pasti seorang ahli pedang. Penilaiannya mengenai urusan pedang, tentu tidak bakal salah.
Rupanya masalah yang dihadapi pihak Mi Tiong Bun, tidak hanya sekedar kehilangan kitab saja. Apa ada kemungkinan terjadi suatu penghianatan didalam perguruan misterius itu?
Sekarang Tan Leng Ko mulai mengerti, kenapa Giok Hui Yan seperti enggan menceritakan semuanya sekaligus. Selain, si pencuri kitab, siapa lagi yang mampu melakukan jurus Hay Thian Sin Kiamsut, kecuali orang Mi Tiong Bun sendiri?
Giok Hui Yan tentu segan menceritakan borok sendiri kepada orang lain.
Tan Leng Ko menarik napas panjang, ia tidak ingin terlibat urusan dalam sebuah perguruan. Perlahan ia menggerakkan kakinya mengarah ke gang sempit itu.
“Kujanji untuk menjaga kantong kainmu, bagaimanapun juga aku harus mengambilnya kembali” ujar Tang Leng Ko tanpa menghentikan langkahnya.
Giok Hui Yan cukup paham, niat lelaki sejenis Tan Leng Ko tidak dapat dihentikan hanya dengan kata kata. Tan Leng Ko pasti akan mengunjungi perkarangan belakang itu.
“Kau harus hati hati!”
“Jangan kuatir, nasibku selalu mujur” terdengar jawaban Tan Leng Ko sebelum menghilang dibalik tikungan.
Lama Giok Hui Yan termangu dipinggiran jalan. Rasa perih kembali muncul dari bahu kirinya, ia tahu luka dalamnya semakin parah. Tapi luka hatinya lebih parah lagi.
Memang rencananya, ia ingin memanfaatkan orang orang Lok Yang Piaukok untuk kepentingannya. Yang dia tidak perhitungkan, ternyata mereka memang sangat baik padanya. Giok Hui Yan menggigit bibirnya, ia tidak berani membayangkan jika sesuatu menimpa Tan Leng Ko, dirinya tentu….
Mendadak, bahunya ditepuk orang dari belakang, dengan cepat Giok Hui Yan menoleh. Pek Kian Si yang berbaju kuning emas sedang menyeringai dihadapannya.
“Semestinya,kau yang harus berhati hati” katanya dengan seram.
Giok Hui Yan menjerit kaget, cepat ia melompat menuju gang sempit itu.
Sementara itu, begitu menutup pintu masuk toko buku itu, didapati olehnya Gu Cin Liong seperti sedang berdiri menunggu kedatangannya. Sebelum Tan Leng Ko sempat berkata, Gu Cin Liong
menyodorkan tangan kanannya yang memegang kantong kain Giok Hui Yan.
Seraya mengucapkan terima kasih, Tan Leng Ko menerima kantong kain tersebut,. Mendadak, kaki kanannya kesandung kaki kirinya, tubuhnya menjadi limbung dan pundaknya menubruk tubuh Gu Cin Liong, yang tanpa dapat dicegah lagi terjengkang jatuh.
“Bluuuk…..Bluuuk!” suara tubuh Gu Cin Liong menimpa lantai terdengar jelas sekali.
Cepat Tan Leng Ko menarik bangun Gu Cin Liong seraya minta maaf kepadanya. Tan Leng Ko yang baru saja menguji Gu Cin Liong tidak begitu heran, ketika mengetahui ternyata pemilik toko buku ini benar benar tidak mengerti ilmu silat. Bagaimanapun juga, Ia harus mengujinya sendiri untuk mengetahui benar tidaknya ucapan Giok Hui Yan.
Yang ia heran, dirinya tidak ikut terjatuh, kenapa bunyi suara orang jatuh bisa terdengar dua kali? Bahkan suara yang terakhir seperti datang dari luar toko.
Hatinya tiba tiba seperti mendapat firasat yang tidak enak. Seakan dituntun oleh suatu kekuatan yang ia tidak dapat jelaskan, Tan Leng Ko bergegas keluar dari toko buku itu.
Tan Leng Ko menjerit tertahan, ditengah jalan gang sempit itu, tergeletak diam tidak bergerak tubuh Giok Hui Yan yang terkapar.
Secepat kilat, Tan Leng Ko memburu kesana, nampak olehnya napas Giok Hui Yan kembang kempis lambat sekali, darah segar bergolak dari mulutnya. Wajahnya yang pucat, sudah mulai membiru. Giok Hui Yan bukan saja luka parah, bahkan sudah sekarat mendekati ajal.
Dengan tubuh gemetar Tan Leng Ko mengangkat tubuh Giok Hui Yan dari lumpur becek berbau sampah. Segera ia mengerahkan tenaga saktinya ke tubuh Giok Hui Yan.
Hati Tan Leng Ko tenggelam begitu menyadari, aliran tenaga saktinya seperti tenggelam sirna ke dalam lautan yang tanpa terbatas, tiada sambutan dari tenaga sakti Giok Hui Yan.
Cepat Tan Leng Ko memusatkan pikiran, dengan menggeretak gigi, ia mengalirkan terus tenaga saktinya walau cara ini bukan saja merugikan dirinya bahkan dapat membahayakan jiwanya.
Ia tidak perduli. Tan Leng Ko tidak berani mencari tempat, takut terlambat menolong Giok Hui Yan yang keadaannya genting sekali. Lebih dari sepernanakan nasi ia berdiri mematung menggendong tubuh Giok Hui Yan menyalurkan hawa sakti.
Usahanya sedikit berhasil, Giok Hui Yan membuka kelopak matanya.
“Siapa yang tega melukaimu” tanya Tan Leng Ko dengan mata berkaca kaca.
“Peeek…..Kian…Siiiiiii” lirih Giok Hui Yan nyaris tidak terdengar.
Selesai berkata, tubuh Giok Hui Yan terkulai kaku dipelukkan Tan Leng Ko yang menemukan nadi gadis itu telah berhenti berdenyut!
Di gang buntu yang sempit, gelap dan berbau sampah, terdengar suara gerengan yang keras bagaikan seekor harimau yang terluka.
Tan Leng Ko meletakkan kepalanya yang miring diatas dada Giok Hui Yan. Ia mengisak dengan perlahan, air matanya bercucuran dengan deras. Ia memang baru kenal dengan gadis ini. Tapi Tan Leng Ko tidak dapat mengingkari, dari cara tutur kata gadis ini yang nakal, mau tidak mau telah menimbulkan suatu ciri khas di lubuk hatinya.
Bukankah kata kata tidak hanya dapat menggugah perasaan melainkan juga mempunyai pengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang?
Mendadak telinga Tan Leng Ko menangkap suara detak jantung yang lambat dan terdengar lemah sekali. Bergetar tubuh Tan Leng Ko menahan perasaannya yang terguncang. Giok Hui Yan belum mati!
Cepat Tan Leng Ko memeriksa nadi Giok Hui Yan lebih seksama. Ternyata urat nadi dipergelangan tangan Giok Hui Yan telah tergeser dari tempatnya, hingga Tan Leng Ko tidak merasakan denyutnya.
Walau belum tewas, Tan Leng Ko maklum keadaan Giok Hui Yan kritis sekali. Ia harus memberi pertolongan secepat mungkin sebelum terlambat! Hanya bagaimana caranya?
Luka gempuran tenaga sakti biasanya dapat disembuhkan oleh obat mustika. Obat mustika semacam ini selain dia tidak punya, tabib di Lok Yang Piaukok juga tidak memiliki. Ia cukup paham, umumnya, obat seperti itu memang sukar diperoleh!
“Apa harus membawanya ke gunung bunga putih?” gumamnya dalam hati.
Gunung bunga putih, atau Pek Hoa San merupakan tempat tinggal sepasang tabib suami istri yang beradat aneh. Mereka dengan senang hati menyembuhkan penyakit penduduk sekitarnya, tapi enggan menolong orang persilatan.
Mereka beranggapan, orang yang berkecimpungan di rimba persilatan sudah sepantasnya mampus. Mereka seperti tidak ingat, bahwa merekapun orang persilatan, bahkan berkepandaian tinggi.
Jarang sekali yang mencari gara gara dengan mereka, jika tidak terlalu terpaksa.
Tan Leng Ko tidak takut perkara, hanya kuatir dengan kondisi Giok Hui Yan yang buruk, mungkin waktunya sudah tidak keburu.
Walau Pek Hoa San tidak terlampau jauh dari Lok Yang, pergi kesana dengan kereta, tetap akan memakan dua hari. Dua hari yang ia tidak miliki!
Semacam pikiran aneh berkelebat dibenaknya. Setelah menimbangnya sejenak, ia bergumam,
“Apapun juga aku harus mencobanya”
Bergegas Tan Leng Ko sambil menggendong Giok Hui Yan meloncat ke atas tembok di ujung gang buntu kemudian meniti dan melayang masuk perkarangan belakang toko buku Gu-suko.
Ia sudah tidak menghiraukan apakah jebakan maut sedang menunggunya atau seorang sakti yang dapat memusnahkan kepandaiannya. Ia harus dapat berjumpa dengan orang sakti itu yang mungkin mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka Giok Hui Yan dengan tenaga dalamnya.
Yang menyambut kedatangan mereka hanya keheningan dan angin utara yang bertiup perlahan. Tan Leng Ko berdiri termangu ditengah perkarangan yang cukup luas. Perkarangan yang dipenuhi rumput botak yang sudah layu kecoklatan, ciri dari pergantian musim.
Diujung sebelah kiri, dekat sebuah pohon yang masih rindang, terdapat sebuah naungan jalan yang menuju kebelakang sana. Disalah satu deretan tiang naungan jalan, terikat seekor ular sebesar lengan manusia.
Ular itu tidak terlalu panjang, dan juga tidak terlampau pendek. Bersisik putih, kontras sekali dengan bola matanya yang merah. Melihat kedatangan Tan Leng Ko, ular itu mendongakkan kepalanya memandang curiga.
Terdengar suara desis diiringi uap putih yang keluar dari mulut ular itu. Setengah badannya berdiri tegak, lidahnya keluar masuk dari rongga mulut yang berwarna hitam.
Tan Leng Ko belum pernah melihat ular sejenis ini. Setahunya, ujung ekor ular meruncing, ujung ekor ular ini justru pipih melebar. Cabang lidahnya juga tidak umum, yang satu berwarna hitam, dan yang satu lagi berwarna putih. Benar benar seekor ular yang aneh, tapi bukan hal ini yang membuat Tan Leng Ko termangu.
Yang menarik perhatiannya, justru pohon yang masih rindang itu! Ia tidak kenal nama pohon itu, tapi ia cukup mengenal daun yang berbentuk lebar itu. Daun yang ujung tangkainya akan meneteskan getah jika dipetik.
Tan Leng Ko yakin, jenis daun ini yang telah menutupi kipas pemuda yang bernama Bok Siang Gak.
“Kutahu maksud kedatanganmu” Suara lirih tapi jelas terdengar berbisik ditelinga Tan Leng Ko.
Tubuh Tan Leng Ko tergetar, ia tidak dapat menentukan sumber suara itu. Bahkan sulit baginya untuk menerka, apakah suara lelaki atau perempuan?
“Kumohon locianpwee berkenan menyembuhkan dia” pinta Tan Leng Ko dengan sangat.
Lama sekali tidak terdengar jawaban, Tan Leng Ko memeluk erat tubuh Giok Hui Yan kemudian memutarkan badan melihat sekelilingnya.
Suasana sepi sekali, kecuali mereka, tidak ada orang lain. Entah ada dimana locianpwee itu.
“Pihak Mi Tiong Bun gemar mengacau disini, kenapa harus kutolong dia?”
“Sebab….sebab locianpwee telah mencuri kitab Hay Thian Sin Kiamboh mereka, sudah sepantasnya jika locianpwee menyembuhkannya” kata Tan Leng Ko dengan gelisah.
“Apa ada buktinya?”
Walau hanya lirih, Tan Leng Ko seperti menangkap nada keheranan di suara bisikkan itu.
“Ada! Sehelai daun kering yang ditinggalkan di ruang kitab Mi Tiong Bun” jawab Tan Leng Ko.
Kembali suasana hening beberapa saat, kemudian terdengar bisikkan itu berkata,
“Bukan aku yang mencurinya”
“Apa buktinya?” tanya Tan Leng Ko memberanikan diri.
“Kami tidak mengetahui letak perguruan Mi Tiong Bun yang misterius itu. Walau kami berniat, bukan berarti kami telah mencuri Hay Thian Sin Kiamboh”
“Kami?” Tan Leng Ko terpelangak dalam hati. Tiga kali locianpwee ini mengucapkan kata ‘kami’, apa mereka tediri dari lebih satu orang?
“Apa di helaian daun itu mempunyai guratan simbol?” bisik locianpwee itu.
“Benar helaian daun tersebut tergores tulisan keriting. Tulisan keriting yang banyak terdapat di kamar Khu Han Beng!”
“Hmm….Kutahu kau telah memasukki kamarnya”
“Kenapa kau mengajarinya untuk mencuri?” tanya Tan Leng Ko dengan lantang.
“Pernahkah Khu Han Beng mencuri?”
Tan Leng Ko terdiam. Memang tidak mungkin Khu Han Beng yang melakukan pencurian kitab.
“Tapi salinan kitab Hui Liong Cap Sa Cik, jelas berasal dari Kun Lun Pay!”
“Benar! Tapi bukankah gadis dipelukkanmu telah bercerita bahwa kitab kitab yang dicuri telah dikembalikan”
Kecut juga hati Tan Leng Ko mendengar gerak gerik juga percakapannya dibawah pengawasan seorang sakti tanpa setahu dirinya.
“Aku tidak paham, kenapa setelah kau curi kemudian kau kembalikan?” tanya Tan Leng Ko tak tahan.
Lama tidak terdengar bisikkan perlahan.
“Putri ketua Mi Tiong Bun jika tidak lekas ditolong, sukar untuk diselamatkan jiwanya”
Tan Leng Ko paham, orang ini mencoba mengalihkan perhatiannya, jelas locianpwee ini enggan menjawab. Bagaimanapun juga keselamatan Giok Hui Yan jauh lebih penting dari pertanyaannya.
“Dapatkah ia diselamatkan?” tanya Tan Leng Ko dengan penuh harapan.
“Jalan darah Khi Hay, Thian Tie, Hwee Tie, telah tersumbat darah beku. Begitu pula sembilan nadi penting ditubuhnya. Hanya aliran tenaga sakti yang mengalir tidak putus di dua belas jalan darah yang dapat menyelamatkan gadis itu. Di dunia saat ini, hanya dua orang yang mampu melakukan hal itu”
Baru sekarang Tan Leng Ko mengerti, kenapa tubuh Giok Hui Yan terkulai kaku. Jalan darah Khi Hay jika tertotok atau tersumbat, memang dapat membuat kaku tubuh. Begitu pula jalan darah Hwee Tie yang terletak disikut lengan, nadi yang beku menghalangi peredaran darah, pantas ia tidak berhasil mendengar denyut nadi pergelangan tangan Giok Hui Yan.
Yang Tan Leng Ko tidak mengerti adalah cara pengobatannya. Letak dua belas jalan darah ada yang di lengan, dada, punggung dan sebagainya. Bukankah tenaga sakti yang mengalir tidak putus harus dapat meliuk, berubah dari daya lurus untuk mencapai punggung?
Dengan hati berdebar debar Tan Leng Ko berkata,
“Dua orang itu, tentu yang pertama adalah Goan Kim Taysu, dan yang satu lagi tentu adalah locianpwee sendiri”
“Goan Kim Taysu masih belum mempunyai kemampuan itu”
Kaget juga Tan Leng Ko mendengar hal ini, Goan Kim Taysu telah diakui sebagai jeniusnya didunia persilatan. Kepandaiannya sudah mencapai taraf yang sempurna sekali. Nampaknya kepandaian locianpwee ini jauh lebih tinggi dari Goan Kim Taysu!
Hal yang ia percaya, bukankah Giok Hui Yan telah bercerita ruang kitab Siaulimsi juga kebobolan? Yang ia sukar percaya, ada orang kedua yang melebihi kepandaian Goan Kim Taysu. Apakah ketua
dari perguruan Lam Hay Bun?
“Kumohon locianpwee segera menyembuhkan Giok Hui Yan sebelum terlambat”
“Hilangnya kitab Mi Tiong Bun tiada sangkut paut denganku. Sekali lagi kutanya padamu, kenapa harus kusembuhkan dia?”
Tan Leng Ko termenung sejenak, kemudian katanya,
“Kutahu loncianpwee akan menolong dia, hanya mungkin…. mungkin locianpwee ada persyaratan yang harus kupenuhi?”
“Iiihhh…Darimana kau tahu?”
Bisikkan dengan nada terkejut itu membuat tubuh Tan Leng Ko terhuyung. Telinganya seperti mendengar dentuman keras, dadanya seperti dihantam martil dengan keras. Cepat ia menarik napas menenangkan jantungnya yang berdebar keras. Hatinya lega ketika melihat bisikkan yang disertai tenaga sakti itu, tidak mempengaruhi Giok Hui Yan.
Dengan muka masih pucat, Tan Leng Ko menjawab,
“Sebab disekitar ular aneh itu tidak terdapat kotoran, jelas ular itu belum lama dipindahkan. Apalagi sedikit sekali yang berani datang kesini, maka kutahu ular itu sengaja dipertontonkan untukku walau belum dapat kuterka untuk apa”
Setelah menelan ludah, Tan Leng Ko melanjutkan,
“Locianpwee sudah tahu maksud dan kedatanganku, jika tidak mau menolong, tentu tidak akan bersusah payah memindahkannya”
Suasana kembali hening, hanya angin menderu makin kencang. Cukup lama Tan Leng Ko menunggu, akhirnya dia tidak tahan,
“Jika tidak melanggar aturan, apapun yang locianpwee minta tentu akan kulakukan!”
“Jika kupinta kau melompat ke wajan panas, atau menerjang ribuan golok, apakah akan kau lakukan?”
“Tidak! Aku bukan orang bodoh!”
Tan Leng Ko seperti mendengar suara orang tertawa,
“Kau orang pintar, kusuka dengan orang pintar!”
“Apa yang locianpwee ingin kulakukan?”
“Tahukah kau, kenapa kubiarkan kau mengetahui isi kamar Khu Han Beng?”
Giliran Tan Leng Ko yang terdiam, tidak menjawab.
“Kuingin kau menjaga ruang pustaka itu”
“Hanya itu?” tanya Tan Leng Ko dengan heran.
“Tanpa locianpwee pintapun, aku tentu akan menjaga kitab kitab di kamar itu”
“Tentu saja tidak hanya itu, tapi kondisi gadis itu sudah kritis sekali. Kau julurkan tangannya, biar dia digigit sekali oleh Hek Pek Coa”
Tan Leng Ko tertegun. Walau ia baru tahu Hek Pek Coa adalah nama jenis ular itu, ia yakin betul ular itu sangat berbisa. Masakkan racun Hek Pek coa dapat menyembuhkan luka dalam?
Setelah termenung sekian lama, dengan meggigit bibir ia mendekati ular berbisa itu.
Desis Hek Pek Coa semakin keras melihat Tan Leng Ko menghampirinya. Ular itu membuka mulutnya, nampak dari lubang pernapasannya keluar kabut tipis berbau amis. Dengan hati berdebar debar, Tan Leng Ko melambaikan lengan Giok Hui Yan didepan mulut Hek Pek Coa. Secepat kilat, ular itu mematuk sekali meninggalkan dua lubang kecil yang menitik darah, dipergelangan tangan Giok Hui Yan.
“Bagus! Kusuka dengan tindakkanmu yang tegas. Nah sekarang, kau julurkan tanganmu sendiri, dan biarkan ia juga mematukmu sekali”
Kali ini Tan Leng Ko benar benar terperanjat! Ia tidak tahu banyak soal racun, tapi pikirnya, mungkin saja racun Hek Pek Coa dapat melancarkan darah Giok Hui Yan yang beku.
Sedangkan ia tidak sakit, kenapa ia harus juga dipatuk?
Ia membaringkan tubuh Giok Hui yan diatas rumput, kemudian menghampiri Hek Pek Coa yang memandangnya dengan garang. Tanpa berpikir panjang dengan nekat ia menyodorkan tangan kanannya.
Taring Hek Pek Coa yang menembus kulit tangan Tan Leng Ko, dirasakannya seperti tisikan jarum. Ia tidak merasa sakit, hanya rasa linu dan kemeng. Tiba tiba rasa dingin yang luar biasa bercampur rasa panas yang juga luar biasa merambat naik. Tan Leng Ko merasa kepanasan juga menggigil kedinginan.
“Apakah kau tidak curiga, telah kucelakai kalian?” suara bisikkan itu seperti bernada kagum melihat keteguhan dan kecepatan Tan Leng Ko bertindak.
Sambil tertawa perlahan, Tan Leng Ko menjawab,
“Jika locianpwee berniat mencelakai kami, dengan kepandaian yang tinggi, locianpwee dapat melakukannya dengan mudah. Tentu tidak akan mau repot repot begini. Kuyakin locianpwee mempunyai maksud yang dalam. Jika locianpwee mau menjelaskan tentu akan kudengar dengan senang hati”
“Haruskah kujelaskan perbuatanku kepadamu?”
“Ti….tidak harus. Hanya kuyakin, locianpwee akan menyembuhkan dia” gumam Tan Leng Ko perlahan.
Pandangan matanya mulai kabur, dunia sekelilingannya seperti berputar dengan kencang. Tan Leng Ko mencoba mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang bergoyang tapi malah rubuh tidak sadar diri disebelah tubuh Giok Hui Yan.
Suasana perkarangan rumput itu seperti diliputi hawa kematian yang tebal. Angin utara yang tadinya bertiup kencang berhenti mendadak. Desis Hek Pek Coa juga tidak terdengar, ular itu seperti termangu memandang dua korban gigitannya.
Tidak ada yang bergerak, kecuali sebuah bayangan yang berkelebat menyambar tubuh mereka berdua, kemudian menghilang bagaikan bayangan setan yang bergerak cepatnya bukan main.
********************************
Kelopak mata itu terbuka dengan perlahan. Nampak taburan bintang gemerlapan memenuhi angkasa. Suara burung hantu disahuti oleh binatang malam lainnya, menyadarkan Khu Pek Sim dari tidurnya.
Mereka menginap dipinggir sebuah hutan di sebuah lereng gunung yang Khu Pek Sim tidak tahu namanya. Matanya yang masih mengantuk melirik sebentar kepada kedua ekor kuda mereka yang sedang memakan rumput dengan tenang.
Setelah menggeliat badan, ia menghampiri Buyung Hong yang sedang menyusun ranting kayu sehingga nyala api unggun jauh lebih terang.
“Kuheran dengan kelakuanmu” kata Khu Pek Sim sambil meneguk guci arak yang disodorkan Buyung Hong.
Beberapa guci arak mereka peroleh dan mereka boyong dari kereta kuda Lok Yang Piaukok sebelum mereka bakar menjadi abu.
“Kau heran padaku?”
“Kau toh tahu mustika kemala pelangi berada padaku. Kenapa tidak kau rebut saja ketika aku sedang tidur?”
Dengan tertawa Buyung Hong menjawab,
“Aku memang sedang sibuk memarahi diriku. Kenapa tidak main rebut?”
Khu Pek Sim menghela napas,
“Ternyata, kau memang bukan seorang yang rendah”
Buyung Hong ikut menghela napas, katanya perlahan:
“Sebetulnya ingin sekali aku menjadi seorang siaujin… sayang aku tidak dapat”
Khu Pek Sim termenung sebentar, kemudian mengangguk,
“Yaa, kau memang tidak dapat. Melakukan perbuatan rendah mestinya suatu hal yang mudah. Sedikit yang tahu untuk sebagian orang, hal itu sukarnya bukan main”
“Dia tidak dapat, aku bisa!” tiba tiba terdengar suara dingin dari balik bayangan pohon.
Buyung Hong dengan sigap meloncat menjauhi api unggun, kemudian katanya sambil tertawa dingin,
“Kau dapat berada disini tanpa sepengetahuanku, nampaknya kepandaianmu tidak rendah. Kenapa tidak lekas munculkan diri?”
Khu Pek Sim tidak terkejut ketika seorang berkedok muka berjalan perlahan menghampiri mereka. Ia juga tidak kaget mendengar nada suara orang itu yang naik turun. Ia maklum seorang bertenaga dalam tinggi memang dapat mengubah ubah suaranya.
Ia hanya heran dengan kedok orang itu. Kepala orang itu dibungkus seluruhnya oleh bajunya sendiri. Badannya yang telanjang setengah dada kelihatan masih kekar walau kulitnya sudah keriputan, jelas usianya tidak sedikit.
Lengan bajunya diikat kencang dibelakang kepala, hanya dua lubang kain disekitar mata yang agak kendur.
Mata orang itu menatap Khu pek Sim dengan tajam, kemudian serunya,
“Kau berikan mustika kemala pelangi padaku. Kubiarkan kalian hidup”
Sebelum Khu Pek Sim menjawab, Buyung Hong dengan serius berkata,
“Apakah kau bertekad bertarung menentukan mati hidup hanya disebabkan sebuah mustika?”
“Benar!’ jawab orang itu tegas.
Buyung nampak ragu, lama sekali ia termenung. Akhirnya setelah menghela napas ia berkata,
“Baik kuiringi kemauanmu”
Tanpa banyak bicara, orang berkedok itu menyodok keempat jari tangannya yang menegak lurus ke tubuh Buyung Hong. Gerakkannya selain cepat juga disertai dengan tenaga penuh.
Khu Pek Sim yang yang berdiri tidak jauh dari Buyung Hong terpaksa ikut menghindar ketika deru angin pukulan yang dingin terasa mengiris wajahnya.
Cara Buyung Hong menghindar selain cepat juga indah luar biasa. Kaki kirinya diangkat, dan tubuhnya yang bertumpu dikaki kanan bergeser dengan licin kebelakang.
Dalam waktu yang singkat, mereka sudah terlibat dalam pertarungan seru yang sudah meliputi puluhan jurus.
Kecepatan tubuh mereka berkelebat membuat kepala Khu Pek Sim mulai berkunang, matanya sudah tidak dapat memandang mereka dengan jelas. Bayangan tubuh mereka seperti bergumul menjadi satu. Cara bertarung jarak dekat semacam ini sangat berbahaya, salah perhitungan satu kali dapat berakibat fatal.
Khu Pek Sim tidak mendengar benturan benturan tenaga dalam, rupanya cara mereka bertempur lebih dititik beratkan kepada tipu muslihat gerakkan ilmu silat.
Entah sudah berapa lama mereka bertempur, jelas tidak sebentar. Ranting kayu di api unggun sudah habis terbakar, yang tersisa hanya redupnya bara api. Sinar terang di ufuk timur mulai menerangi jalannya pertempuran.
Khu Pek Sim menggenggam erat tombaknya. Dilihat dari kemampuan orang berkedok itu mengimbangi kepandaian Buyung Hong yang tinggi untuk sekian lama, Khu Pek Sim yakin, orang itu termasuk orang yang ternama dirimba persilatan. Tentu orang itu tidak ingin dikenal maka memerlukan membungkus wajahnya.
“Bluuuk….!” terdengar suara pukulan yang telak mengena dibarengi tubuh mereka yang berpisah.
Buyung Hong terhuyung mundur sambil meringis kesakitan. Tangannya bergerak cepat menutuk untuk menghentikan kucuran darah yang keluar cukup deras dari lambung kanannya yang terluka.
Khu Pek Sim segera meloncat menghampiri mereka. Diterangi nuansa pagi, ia dapat melihat jelas
sebuah telapak tangan bersemu hitam kemerahan yang tertera di dada kiri orang berkedok itu yang menggeletak tidak berkutik. Hanya melihat sekilas, Khu Pek Sim paham, jelas urat besar disekitar jantung orang itu tergetar putus oleh sodokkan tangan Buyung Hong yang dahsyat.
Khu Pek Sim melirik sebentar ke Buyung Hong, kemudian menghampiri mayat itu hendak membuka kedoknya.
“Jangan sentuh dia!’ teriak Buyung Hong dengan parau. Teriakkannya membuat tubuhnya tergetar, lukanya kembali terbuka, darah segar membasahi bajunya.
Khu Pek Sim menahan gerakkan tangannya.
“Apa tubuhnya beracun?”
Buyung Hong menggeleng perlahan. Tanpa menghiraukan lukanya, ia bergerak perlahan menghampiri mayat itu. Wajahnya nampak pucat, rupanya lukanya tidak ringan.
Dengan heran Khu Pek Sim bertanya,
“Apa kau tidak ingin tahu, siapa dia sebenarnya?”
Buyung Hong menatap sayu mayat orang berkedok itu, katanya dengan perlahan,
“ lubang mata dikedoknya seperti digunting rapih, hanya tenaga jari Kim Kong Ci dan Im Yang Kiam Ci yang mampu melakukan serajin itu. Dia adalah seorang sahabatku”
“Sahabatmu?” kejut juga Khu Pek Sim mendengar hal ini.
Buyung Hong termangu sebentar, katanya kemudian dengan sedih,
“Sudah puluhan tahun kami berteman, tak kusangka hanya karena urusan mestika kemala pelangi, ia tega melupakan persahabatan”
“Makanya kau juga tega untuk membunuhnya?”
Buyung Hong tertawa getir,
“Semua serangannya mengandung maut, aku tidak diberi pilihan lain olehnya”
Khu Pek Sim menghela napas, ia dapat merasakan kepedihan perasaan Buyung Hong.
“Lukamu nampaknya tidak ringan” ujarnya perlahan.
Buyung Hong seperti tidak mengacuhkan keadaan dirinya, malah ia memandang Khu Pek Sim dengan tajam.
“Dengan kondisiku saat ini, nampaknya aku bukan tandinganmu”
“Yaa, sekarang aku memang dapat mengalahkanmu” kata Khu Pek Sim juga memandang Buyung Hong dengan tajam.
Dengan dingin Buyung Hong berkata,
“Untuk melepaskan diri dariku, sekarang merupakan kesempatan yang paling baik bagimu”
“Aku bahkan dapat membunuhmu” ujar Khu Pek Sim tidak kalah dinginnya.
Buyung Hong memaksa dirinya mengerahkan tenaga dalam yang sudah menyusut banyak. Ia tidak marah atas sikap Khu Pek Sim. Sahabat kentalnya yang dia kenal puluhan tahun saja tega menghianatinya, apalagi Khu Pek Sim yang baru saja dikenalnya.
Hati Buyung Hong tenggelam ketika ia menyadari lukanya ternyata lebih parah dari yang dibayangkannya. Selain darahnya sudah keluar cukup banyak, ternyata serempetan jari Im Yang Kiam Ci yang setajam pedang, juga telah menggetarkan isi perutnya.
Buyung Hong maklum tanpa diserangpun, tak lama lagi ia akan rubuh dengan sendirinya. Mumpung masih bertenaga dengan mengemposkan semangat ia menyerang Khu Pek Sim yang menyongsong tubuhnya dengan ujung tombak.
Muka Buyung Hong mendadak berubah aneh, ketika ujung tombak Khu Pek Sim mengenai tubuhnya. Ia terkejut bukan saja lukanya menyebabkan gerakkannya menjadi lambat sehingga tidak dapat menghindari serangan Khu Pek Sim. Yang membuatnya heran, ia tidak merasa sakit.
Ternyata Khu Pek Sim telah memutar balik tombaknya. Tubuh Buyung Hong terkulai pingsan tertotok oleh ujung tombak dari tangkainya yang tumpul.
********************************
Kelopak mata itu terbuka dengan perlahan. Nampak taburan bintang gemerlapan memenuhi angkasa. Suara burung hantu disahuti oleh binatang malam lainnya, menyadarkan Buyung Hong dari pingsannya.
Setelah menggeliat badan, ia baru menyadari luka dilambung kanannya telah terbalut rapi walau ditandai oleh bercak darah yang telah mengering. Dengan perlahan Buyung Hong bersila kemudian mengatur pernapasannya untuk menyembuhkan luka dalamnya.
Malam semakin larut.
Buyung Hong membuka matanya kemudian menarik napas dalam dalam. Tubuhnya terasa lebih segar setelah bersamadi. Hanya pertunya terasa lapar bukan main. Entah sudah berapa lama ia pingsan, ditilik dari gelapnya malam, sedikitnya sudah lebih dari setengah hari. Perlahan ia berjalan menghampiri api unggun.
Khu Pek Sim sedang menyusun ranting sehingga nyala api unggun jauh lebih besar untuk membakar ayam hutan yang sedang dipanggangnya.
Buyung Hong duduk disebelahnya sambil menerima sobekkan ayam panggang yang berbau semerbak mengundang rasa lapar.
“Kuheran dengan kelakuanmu” kata Buyung Hong disela sela gigitan santapannya.
“Kau heran padaku?”
“Kau toh tahu dengan membunuhku, bukankah urusanmu jauh lebih sederhana?”
Dengan tertawa Khu Pek Sim menjawab,
“Aku memang sedang sibuk memarahi diriku. Kenapa tidak main bunuh?”
Buyung Hong menghela napas,
“Ternyata, kau juga bukan seorang yang rendah”
Khu Pek Sim ikut menghela napas, katanya perlahan:
“Kutahu ketika kau menyerangku, hatimu sedang kecewa setelah dihianati oleh sahabat sendiri, sukar bagimu untuk percaya kepada siapapun”
“Kenapa kau totok diriku?”
“Lukamu sudah mengeluarkan darah cukup banyak, aku tidak melihat jalan lain”
“Dan kau kuatir, aku akan curiga dengan maksud baikmu?”
Khu Pek Sim tidak mengiakan, ia malah mengalihkan pembicaraan,
“Merebut mustika dengan sahabat sendiri, memang suatu perbuatan yang rendah”
Buyung termangu memandang gundukkan tanah yang nampaknya baru digali.
Dengan lambat, ia menghampiri kuburan sahabatnya dan berdiri termenung lama sekali.
“Apakah ia masih kau anggap sebagai sahabatmu?” tanya Khu Pek Sim perlahan.
Dengan tegas Buyung Hong menjawab,
“Yaa, ia tetap sahabatku”
“Walau ia telah menghianati dirimu?”
“Yaa, ia hanya bersalah satu kali kepadaku. Aku harus dapat memaafkannya”
Khu Pek Sim terdiam sejenak, kemudian katanya,
“Apakah aku juga termasuk sahabatmu?”
Buyung Hong tertawa, katanya,
“Kau bukan saja seorang sahabatku, malah sahabatku yang paling baik”
Dengan cepat Khu Pek Sim bertanya,
“Maukah kau menerangkan padaku, darimana kau tahu mustika kemala pelangi berada ditanganku?”
Buyung Hong mengerinyitkan alisnya,
“Kukuatir tempat ini sudah tidak aman lagi”
“Kau kuatir bukan satu hal kebetulan sahabatmu datang kemari?”
“Benar!”
Setelah berpikir sebentar, Khu Pek Sim berkata:
“Kukira temanmu yang pandai Im Yang Kiam Ci memang secara tidak sengaja menemukan jejak kita”
“Kenapa?”
“Sebab ia malu dikenal olehmu, tapi juga tidak tahan untuk tidak merebut mustika kemala pelangi
yang mempunyai daya tarik luar biasa”
“Maka ia membungkus kepalanya dan juga mengubah suaranya?”
Khu Pek Sim mengangguk,
“Jika ia mempunyai persiapan yang cukup, tentu tidak perlu repot membuka dan menggunakan bajunya sendiri sebagai penutup kepala”
Buyung Hong mengakui ucapan Khu Pek Sim mengandung kebenaran. Setelah menghela napas, ia berkata:
“Seharusnya dapat kupikirkan hal itu”
“Dari keraguanmu tadi untuk meladeninya bertempur, kuyakin engkau telah mengetahui siapa sebenarnya dia. Banyak hal telah kau pikirkan sehingga pikiranmu menjadi kusut. Aku tidak heran kau terluka dan kau tidak usah heran kenapa tidak berpikir hal itu”
Buyung Hong berjalan perlahan dan kembali duduk didepan api unggun menghadap Khu pek Sim.
“Aku memang lebih banyak menghindar dari menyerang. Kuladeni dia bertempur sekian lama agar ia paham bahwa ia tidak dapat mengalahkanku dan mundur dengan sendirinya”
“Ternyata perbuatanmu membuatnya penasaran dan tersinggung. Ia malah menyerangmu semakin nekat dan tidak memberimu pilihan kecuali membunuhmu”
Kerlingan sedih keluar dari mata Buyung Hong, ia tidak menjawab. Tangannya meraih guci arak dan meminumnya seteguk.
Lama mereka terdiam, terbenam oleh pikirannya masing masing. Akhirnya Khu Pek Sim memecahkan kesunyian,
“Disini dekat air, dan banyak ayam hutan, kukira sebaiknya kita tinggal disini saja hingga lukamu sembuh”
“Bagaimana dengan urusanmu?”
“Kau telah pingsan lebih dari lima hari. Apa salahnya kutunda urusanku beberapa hari lagi”
“Lima hari katamu?!” tanya Buyung Hong terkejut.
“Bukankah perutmu lapar sekali?”
Buyung Hong tidak menjawab, ia menyobek paha ayam dari panggangan api unggun dan memakannya dengan lahap.
Selesai makan dan mencuci tangan disebuah sungai kecil, mereka kembali duduk didepan api unggun sambil menikmati minuman arak.
Khu Pek Sim berkata perlahan memecah keheningan,
“Lima hari kujaga dirimu. Aku tidak takut kedatangan musuh, yang kutakut adalah kesunyian. Sepi sekali tempat ini”
Buyung Hong tertawa mendengar pancingan Khu Pek Sim.
“Kau ingin aku mengisi kesunyian dengan bercerita darimana kutahu mustika kemala pelangi berada ditanganmu”
“Benar!”
Buyung Hong membalikkan ranting api unggun yang belum terbakar. Kemudian tanyanya,
“Tahukah kau asal usul mustika kemala pelangi?”
“Tidak! Yang kutahu mustika ini diincar banyak orang konon karena menunjukkan tempat penyimpanan kitab kitab ilmu silat yang luar biasa”
“Tahukah kau bahwa mustika kemala pelangi merupakan hasil karya Budhidharma”
Terkejut sekali Khu Pek Sim mendengar hal ini,
“Budhidharma Tat Mo Couwsu pendiri Siaulimsi?! Jadi Siaulimpay adalah pemilik sebenarnya dari mustika kemala pelangi?”
“Kau salah!”
Dengan penasaran Khu Pek Sim berkata,
“Jika mustika itu buah tangan dari Tat Mo Couwsu, sudah tentu menjadi hak Siaulimpay. Aku tidak dapat melihat kesalahanku”
Buyung Hong menatap Khu pek Sim dengan tenang, kemudian katanya sepatah demi sepatah,
“Tat Mo Couwsu bukan pendiri Siaulimsi! Mustika itu oleh beliau telah dihadiahkan kepada orang lain, sudah tentu bukan menjadi hak Siaulimpay lagi. Siaulimpay sama sekali tidak mempunyai hak atas
mustika itu”
Khu Pek Sim tidak dapat menahan dirinya, ia melonjak kaget,
“Apa kau bilang?”
Walau belum lama mengenalnya, Khu pek Sim cukup mengerti, Buyung Hong bukan jenis yang gemar asal bicara.
Buyung Hong menghela napas, kemudian ujarnya:
“Sedikit sekali yang mengetahui bahwa kuil Siaulimsi didirikan oleh kaisar Siao Wen Ti dari Wei dinasti bagian utara sebagai tempat menetap untuk Batuo atau Buddhabadra, seorang bhiksu dari aliran Hinayana dari daerah Biau. Sedangkan Budhidharma baru mengunjungi Siaulimsi 17 tahun setelah kuil itu didirikan dan tak lama kemudian menjadi pemimpinnya. Beliau juga berasal dari daerah Biau hanya berbeda aliran dengan Buddhabadra. Budhidharma merupakan sesepuh dari aliran Mahayana”
Seperti terpukau berbareng kecewa, Khu Pek Sim menggumam sendirian,
“Tidak kusangka, Tat Mo Couwsu bukan pendiri Siaulimpay”
Melihat reaksi Khu Pek Sim, Buyung Hong cepat menghibur,
“Beliau memang bukan pendiri kuil Siaulimsi, tapi bukan tidak mungkin Tat Mo Cowsu memang pendiri Siaulimpay”
Khu Pek Sim menatap bingung Buyung Hong yang lekas berkata,
“Kurang kutahu pasti siapakah sebenarnya pendiri Siaulimpay, apakah Buddhabadra yang lebih tua atau Budhidharma. Yang pasti Tat Mo Couwsu telah menciptakan barisan LoHanTin yang terdiri dari 2 kali 9 orang yang bisa dibilang cikal bakal gerakkan ilmu silat ditanah tionggoan. Konon katanya Thio Sam Hong pendiri Bu Tong Pay, ketika kecilnya pernah menerima mainan yang dapat melakukan gerakkan LoHanTin. Sedikit banyak gerakkan ini mempunyai andil dalam pemikiran Thio Sam Hong ketika menciptakan gerakkan ilmu silat Bu Tong Pay”
Setelah meneguk arak menghilangkan rasa hausnya, Buyung Hong melanjutkan,
“Setelah sekian ratusan tahun, banyak gerakkan silat telah disempurnakan oleh bhiksu bhiksu Siaulimpay bahkan ada ilmu silat yang berubah total. Hanya LoHanTin yang walau sekarang telah dikembangkan menjadi barisan enam lapis 2 kali 9 orang atau menjadi 108 anggota barisan LoHanTin yang terkenal, Inti barisan ini tidak berubah. Barisan LoHanTin masih mengandung daya tekan tenaga ‘Kang’ yang dahsyat yang merupakan ciri khas dari aliran kuno Mahayana”
“Dan peta petunjuk ilmu kuno dari aliran Mahayana inilah yang ditaruh oleh Tat Mo Couwsu di dalam mustika kemala pelangi” kata Khu Pek Sim menerka.
Buyung Hong menggeleng,
“Konon justru Buddhabadra yang telah menaruh peta ilmu kuno aliran Hinayana yang menekankan lebih banyak ditenaga lemas dan gerakkan ilmu silat di dalam mustika itu. Kurang kutahu dengan pasti, tapi kukira telah terjadi perselisihan antara murid murid Buddhabadra dengan murid murid Tat Mo Couwsu. Beliau memberikan kotak kemala berwarna pelangi itu sebagai lambang perdamaian dari dua aliran yang berbeda tapi sama sama penganut ajaran Buddha”
“Sebetulnya apa keistimewaan kotak kemala itu?” tanya Khu Pek Sim tak tahan.
“Dengan kejeniusannya, setelah bersusah payah sekian tahun lamanya, Tat Mo Couwsu berhasil menciptakan sebuah kotak penyimpan yang berongga dibagian dalam. Rencananya semula adalah menaruh peta petunjuk ilmu kuno aliran Mahayana didalamnya. Kotak itu hanya dapat dibuka dengan satu cara, jika dibuka dengan kekerasan, maka racun kering yang ikut tersimpan akan menghancurkan peta itu. Hal ini beliau lakukan untuk mencegah kotak kemala itu jatuh ketangan yang salah.”
“Pernah kucoba memutar kotak itu kesana kemari, tapi tidak pernah berhasil membukanya” gumam Khu Pek Sim perlahan.
Sambil tertawa kecil, Buyung Hong berkata:
“Jumlah kombinasi cara memutar kotak itu dengan salah, mungkin sama banyaknya dengan jumlah bintang dilangit”
Khu Pek Sim menghela napas sambil memandang taburan bintang di angkasa,
“Kurasa Buddhabadra menaruh peta petunjuk ilmu kuno Hinayana untuk menghormati jerih payah Tat Mo Couwsu”
Buyung Hong mengangguk perlahan,
“Entah bagaimana cara beliau melestarikan ilmu aliran Mahayana”
“Bukankah ilmu tersebut sudah terlebur di dalam ilmu silat Siaulimpay” seru Khu Pek Sim.
“Tidak benar! Ilmu Siaulimpay merupakan ilmu silat ciptaan Tat Mo Couwsu setelah ia berada di Tionggoan, sedangkan ilmu kuno asli dari aliran Mahayana yang dipelajari beliau entah tersimpan dimana”
Khu Pek Sim termenung sejenak, kemudian katanya,
“Jika telah terjadi perselisihan antara murid mereka, berarti terdapat murid Tat Mo Cowusu yang mempelajari aliran Mahayana tapi bukan dari golongan Siaulimpay”
Tergerak hati Buyung Hong mendengar hal ini, katanya sambil bergurau,
“Jika keturunan murid itu masih ada hingga jaman sekarang, boleh kau anggap mereka sebagai saudara dari angkatan tuamu”
Khu Pek Sim memandang Buyung Hong dengan tajam,
“Rahasia ini jelas tidak sembarangan orang yang tahu, darimana kau tahu sebanyak ini?”
Buyung Hong menatap Khu pek Sim dengan tenang,
“Pernahkah kau mendengar istilah ‘dengan kepandaiannya, digunakan di atas dirinya’ dari keluarga Buyung di Ko-soh?”
“Pernah kudengar” jawab Khu Pek Sim.
“Sehebat hebatnya kemampuan seseorang, mungkinkah mampu mempelajari ilmu silat yang sekian banyaknya dalam hidupnya?”
Giliran hati Khu Pek Sim yang tergerak, serunya dengan cepat:
“Apalagi keluarga Buyung terkenal selama beberapa generasi. Tidak mungkin setiap generasi terus menerus melahirkan seorang jenius yang dapat menguasai ilmu silat sedemikian banyaknya”
Buyung Hong tersenyum, katanya pendek:
“Tepat sekali ucapanmu”
“Jadi kau merupakan keturunan murid dari aliran Hinayana?” tanya Khu Pek Sim dengan kaget.
“Aku memang keturunan generasi penerus dari murid aliran Hinayana di Tionggoan. Mustika kemala pelangi memang sepatutnya sudah menjadi hakku”
Dengan ragu Khu Pek Sim bertanya,
“Jika demikian, kau telah menguasai ilmu kuno yang hebat itu, untuk apa kau mencari tempat penyimpanan kitab kitab itu?”
Dengan muka muram, Buyung Hong menjawab,
“Sudah menjadi kebiasaan di rimba persilatan, setiap guru biasanya menyisihkan sebagian
kepandaiannya dan tidak mengajari muridnya. Setelah sekian ratus tahun, kepandaian tersisa yang diajarkan semakin sedikit, dan boleh dibilang sudah tidak karuan dari kepandaian aslinya. Aku ingin memulihkan, atau menghidupkan kembali kepandaian kuno yang sejati itu.”
Khu Pek Sim menghela napas, kemudian katanya,
“Kepandaian yang kau miliki yang menurutmu hanya sisa dan tidak keruan, sudah kuanggap hebat sekali”
Buyung Hong ikut menghela napas,
“Dapat kau bayangkan bagaimana saktinya kepandaian kuno yang asli?”
Bergidik Khu Pek Sim membayangkan hal ini,
“Tidak heran banyak yang mau mengorbankan nyawanya untuk merebut mustika kemala pelangi” gumamnya lirih.
“Tahukah kau nama asli orang yang mahir Im yang Kiam Ci itu? Tanya Buyung Hong sambil menuding gundukkan kuburan itu.
“Kau tidak ingin aku melihat dirinya, aku tidak membuka kerudung kepalanya ketika menguburnya”
Buyung Hong memandang Khu Pek Sim dengan rasa terima kasih. Timbul rasa hormat dari lubuk hatinya kepada orang yang sudah tua ini.
“Dia bernama Ki, she Buyung” katanya perlahan.
“Buyung Ki?!…Jadi dia…?”
Buyung mengangguk,
“Dia sahabatku sekaligus sanak keluargaku dari Ko-soh”
Khu Pek Sim membungkam mulutnya dengan tegukkan arak. Lama mereka tidak berbicara, guci arak itu lambat laun habis diminum mereka berdua.
“Apakah kau heran kenapa kubunuh dia” tanya Buyung Hong memecah kesunyian.
“Tidak. Yang kuheran, kenapa setiap kutanya padamu mengenai darimana kau tahu mustika kemala pelangi berada ditanganku, kau sepertinya menghindar”
Buyung Hong tertawa kecut, katanya:
“Kukira setelah kuceritakan perihal mustika kemala pelangi, kau telah melupakan pertanyaan itu”
“Ceritamu memang menarik. Tapi bukan itu jawaban yang ingin kuketahui”
“Baik! Kuceritakan kepadamu darimana kutahu mustika itu berada ditanganmu”
Ditinjau dari susunan meja kecil berlaci dibawah lampu kertas yang menempel di dinding disebelah sebuah cermin tembaga, Giok Hui Yan yang baru saja membuka kelopak mata, maklum ia berada di sebuah kamar penginapan.
Dahinya berkerut, ketika hidungnya mencium semacam bau aneh. Giok Hui Yan yang kurang berpengalaman, tidak mengetahui bahwa bau khas semacam itu biasanya tersuar dari tubuh lelaki jantan.
Wajahnya merah padam ketika menyadari, ia tertidur dengan kepala menggelendot diatas dada Tan Leng Ko yang bidang. Dengan tangkas, ia meloncat turun dari tempat tidur.
Bergegas ia memeriksa dirinya, hatinya yang kuatir berubah lega melihat ia masih berpakaian lengkap, bukan saja ia merasa dirinya tidak kurang apa, bahkan terasa lebih segar dari sebelumnya.
Ia mengerti, entah bagaimana caranya, Tan Leng Ko telah berhasil menyembuhkan lukanya yang parah. Tapi bukan berarti, ia boleh seenaknya membawa dirinya tidur berduaan disebuah kamar penginapan.
Timbul hawa kemarahan dihati Giok Hui Yan, tangannya dengan cepat menampar ke pipi Tan Leng Ko.
“Plaaakkk….!”
Tamparan yang keras itu membuat pipi Tan Leng Ko bengap, darah mengalir dari ujung bibirnya. Anehnya, ia seperti tidak merasakan, Tan Leng Ko tetap tertidur dengan tenang.
Semacam pikiran melintas di benak Giok Hui Yan yang keheranan. Cepat ia memeriksa tubuh Tan Leng Ko yang ternyata telah tertotok di tiga puluh enam urat nadinya.
“Rupanya locianpwee itu yang membawa kami kesini” gumam Giok Hui Yan.
Segera ia berusaha menyadarkan Tan Leng Ko. Segala cara ia mencoba, setelah berkutet sekian lama, ternyata ia tidak berhasil juga membuka totokkan itu.
Giok Hui Yan menghela napas, ia maklum keadaan Tan Leng Ko mirip dengan nasib Ou Leng Poo
dan anak buahnya yang lain. Tidak ada jalan lain, kecuali membiarkan totokkan itu terbuka dengan sendirinya.
Ia memandang wajah Tan Leng Ko sejenak, senyuman manis menghias bibir Giok Hui Yan, ketika melihat pipi Tan Leng Ko yang membengkak. Tiba tiba sinar matanya berbinar terang, mulutnya cengar cengir.
Tangan kanannya meraih kesaku baju dalamnya dan mengeluarkan sebilah pisau pendek yang berkilauan hijau saking tajamnya.
Sambil menyeringai seperti seekor rase siluman, tangan kirinya menjambak rambut Tan Leng Ko sedangkan tangan kanannya sibuk menggerakkan pisau disekitar kepala Tan Leng Ko.
Giok Hui Yan tertawa cekikikan, mengagumi hasil karyanya. Setelah puas, ia menyimpan pisaunya dan kemudian menghampiri cermin tembaga itu.
Nampak pantulan wajahnya yang cantik segar tidak sepucat seperti biasanya. Giok Hui Yan termangu memandang dirinya, rambutnya yang panjang terlihat kusut berantakan.
Tangannya menarik laci bagian atas meja itu. Ia tidak menemukan sisir yang dicarinya, malah menemukan sebuah buku ajaran Buddha.
Giok Hui Yan tidak dapat menahan ketawanya, matanya melirik ke kepala Tan Leng Ko. Ia menutup kembali laci itu, kemudian merapikan rambutnya dengan jari tangannya.
Ketika Ia menarik napas dalam dalam, hampir saja ia terbatuk. Bau apek ruangan ini sangat menusuk hidungnya. Nampaknya, tidak setiap hari kamar ini dibersihkan.
Segera ia membuka jendela kamar penginapan, sinar matahari pagi menerobos masuk disertai tiupan sepoi angin dingin. Hanya sekilas ia memandang, Giok Hui Yan segera mengenali jalanan luar.
Ia berjalan ketengah ruangan, kemudian duduk bersimpuh mengatur posisi kaki tangannya. Dengan mata tertutup, ia mengatur tenaga saktinya yang berputar mengikuti irama pernafasannya. Sebentar saja ia sudah tenggelam di alam semadhinya.
**********************************
Waktu berlalu dengan lambat. Suasana kamar gelap sekali hanya sedikit cahaya yang menerobos masuk dari jendela yang terbuka. Giok Hui Yan membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa ringan sekali.
Bukan saja ia telah sembuh dari luka dalamnya, bahkan ia merasa tenaga saktinya seperti bertambah.
Giok Hui Yan mengeluarkan batu ketik apinya dan menyalakan semua lampu kertas yang berada di kamar itu. Perutnya terasa lapar sekali, ia ingin mencari makanan di luar, tapi juga tidak ingin meninggalkan Tan Leng Ko sendirian dalam keadaan begitu!.
Ketika Tan Leng Ko bangun dari tidur, bukan saja badannya terasa panas dingin dari terjangan hawa liar, pipinya pun terasa sakit, anehnya kepalanya terasa ringan. Tak terasa ia mengusap batok kepalanya,
Tan Leng Ko terkejut bukan main begitu mengetahui rambutnya yang panjang, ternyata telah hilang… Kepalanya gundul plontos!
Terdengar suara cekikikan yang khas, Tan Leng Ko menengok, nampak olehnya Giok Hui Yan yang sedang duduk disebuah kursi disebelah meja kecil. Dua titik lubang kecil bekas gigitan hek pek coa di pergelangan tangan, membuktikan dia tidak sedang bermimpi.
Melihat Giok Hui Yan yang tadinya sudah sekarat ternyata sekarang sehat bugar, pipinya yang biasa pucat kekuning kuningan, malah terlihat memerah seperti tomat segar, Tan Leng Ko tidak dapat menahan rasa harunya. Lehernya seperti tercekik, matanya mengembang merah, hampir ia menitik air mata.
“Dari bentuk kepalamu, kutahu kau cocok sekali menjadi seorang bhiksu” kata Giok Hui Yan dengan cengar cengir.
Begitu mendengar ucapan gadis itu, perasaan terharu Tan Leng Ko dengan cepat berubah bercampur dongkol. Dari gumpalan rambut yang berserakan disekitarnya, ia paham, tentu Giok Hui Yan yang telah membotaki kepalanya.
“Kenapa kau memerlukan untuk mencukur rambutku?” tanya Tan Leng Ko menyesali.
Sambil menepuk tangannya senang, Giok Hui Yan menjawab: “Bukankah pernah kukatakan, dengan warna bajumu kan lebih cocok, juga kau lebih tampan jika kepalamu gundul”
Mendengar jawaban yang tidak karuan ini, Tan Leng Ko hanya dapat menghela napas. Sambil bangkit dari tempat tidur, ia bertanya: “Tempat apa ini?” “Se Chuan Koan”
Tan Leng Ko mengangguk. Se Chuan Koan seperti kebanyakkan rumah makan, juga menyediakan sarana tempat penginapan. Walau sering makan disini, tapi ia belum pernah menginap. Hanya ia tidak menduga, mereka dipindahkan ke tempat yang tidak jauh dari toko buku itu.
Giok Hui Yan memandangnya sejenak, kemudian katanya perlahan: “rupanya kau memang mempunyai setitik hubungan dengan toko buku itu” “Kenapa kau berpikir begitu?” “Ou Leng Poo mengundurkan diri dari perguruan kami karena kepandaiannya telah musnah, siapapun yang pernah mengunjungi taman belakang itu, jika tidak mengalami nasib yang sama tentu tewas mengerikan!”
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan tajam, katanya dengan perlahan:
“Hanya nasib kita yang berbeda, kuyakin hal ini bukan disebabkan oleh diriku”
Tan Leng Ko menggerakkan tubuhnya, duduk di pinggiran tempat tidur. “Ada yang aku kurang mengerti, sesaat kau bilang mereka hanya tertotok pulas, disaat lain kau katakan mereka tewas atau dimusnahkan kepandaiannya. Sebetulnya mana yang benar?”
Dengan muka murung, Giok Hui Yan menjelaskan, “Awalnya mereka memang hanya tertotok pulas. Ou Leng Poo, tongcu pemimpin tugas ini, memutuskan mengirim mereka kembali kesana, toh paling banter hanya tertidur sekali lagi. Ternyata tidak ada yang pernah datang untuk kedua kali tanpa mengalami nasib tragis, termasuk dirinya”
Tan Leng Ko menghela napas, sudah menjadi pandangan umum bagi kaum persilatan, musnahnya kepandaian silat dianggap jauh lebih mengenaskan dibanding tewas terbunuh.
Ia tidak mengenal Ou Leng Poo, namun hatinya ikut berduka atas kemalangan yang menimpa bekas tongcu Mi Tiong Bun itu.
Setelah berpikir sejenak, Tan Leng Ko berkata: “Kau kan tahu, aku kesana baru satu kali, hasilnya aku tertotok pulas. Aku tidak melihat nasibku berbeda dengan mereka”
“Benar! Memang pertama kali kau pergi kesana, tapi bagiku, ini kali yang kedua”
Kaget juga Tan Leng Ko mendengar hal ini, “Kau tidak sadar diri, darimana kau tahu aku telah membawamu kesana?” “Hanya locianpwee itu yang dapat menotokmu dengan cara demikian, juga kutahu betapa parah lukaku. Hanya locianpwee itu yang mampu menyembuhkanku, kau tidak mempunyai kemampuan itu” “Yaa, aku memang tidak dapat menyembuhkanmu”
“Sembuhnya diriku, tentu disebabkan kau mempunyai hubungan dengan locianpwee itu”
Tan Leng Ko menghela napas, akhirnya ia mengakui: “Tadinya tidak punya, sekarang memang ada satu titik”
Berubah muka Giok Hui Yan mendengar hal ini, “Kenapa locianpwee itu mau mengecualikan diriku, bahkan menyembuhkanku?”
Tan Leng Ko ragu, ia mengalami kesulitan untuk menjawab. Ia tidak ingin seperti menonjolkan jasa, tapi lebih lebih tidak ingin hubungan locianpwee itu dengan Khu Han Beng diketahui orang lain.
Akhirnya dengan pelan ia menggumam: “Karena aku telah menyanggupi melakukan satu hal”
“Sebetulnya apa yang telah terjadi?” desak Giok Hui Yan.
Tan Leng Ko termenung sejenak, masih segar dibenaknya apa yang telah terjadi. Ini yang ketiga kali ia terjaga dari tidur atau pingsannya setelah dipatuk Hek Pek Coa.
Yang pertama, ia pun berbaring disebuah tempat tidur disebuah ruangan yang juga dihiasi sebuah meja kecil lengkap dengan cermin tembaga. Ia meronta bangun kemudian duduk dipinggir tempat tidur.
Tubuhnya terasa tersiksa bukan main, mulutnya kering, ia kehausan. Badannya dibagian sebelah kiri terasa panas seperti dibakar hidup hidup. Tapi ia juga menggigil kedinginan, separuh badan kanannya seperti dibungkus lapisan es yang tebal.
Dua hawa panas sekaligus dingin bergulung mengikuti aliran darah di urat nadinya. Tubuhnya
berkeringat bergemetaran, tak terasa mulutnya melolong kesakitan. Anehnya dua hawa yang bertentangan itu tidak bercampur. Yang panas semakin menyengat, sedangkan hawa yang dingin semakin dingin.
Ngeri hati Tan Leng Ko, begitu melihat keringat di tangan kirinya menjadi kabut putih, dan selapis es tipis membungkus tangan kanannya. Mendadak segulung hawa hangat memasukki urat nadi dibagian punggungnya.
“Cepat kau bersamadhi menyatukan hawa racun itu ke urat nadi Khi Hay, kemudian alirkan perlahan ke Hwee Tie” tiba tiba suara yang dikenalnya berbisik dari belakang.
Dengan susah payah Tan Leng Ko mengalirkan hawa liar itu ke tiga puluh enam nadi pentingnya mengikuti perintah locianpwee itu. Hampir ia tidak dapat menguasai gelombang hawa panas dingin yang menerjang, untung hawa hangat yang mengalir halus tapi kuat membimbing dan menguasai hawa liar itu.
Entah sudah berapa ratusan kali hawa gabungan itu mengitari tubuhnya, lama kelamaan, rasa sakit yang timbul dari hawa panas dingin yang bersilih ganti berubah menjadi hawa hangat yang menimbulkan rasa nyaman. Matanya terasa berat, kantuk mulai menyerang tubuhnya, tak terasa ia tertidur!
Tan Leng Ko tidak tahu telah berapa lama ia tertidur, hanya ketika ia terjaga untuk yang kedua kali, tubuhnya terasa lebih mendingan walau hawa panas dingin masih menerjang urat nadinya secara liar.
Tanpa terasa ia bersiul nyaring, cermin tembaga yang menempel di dinding tergetar oleh nada siulannya. Diam diam ia terkejut ternyata tenaga dalamnya telah meningkat tidak sedikit, cepat ia melompat membetulkan cermin tembaga yang hampir terjatuh.
Tan Leng Ko melongo!
Bayangan mukanya yang terpantul di cermin sungguh terlihat mengerikan! Bagian sebelah kiri hangus berwarna hitam, sedangkan sebagian kanan berwarna seputih salju. Sebuah garis membelah persis ditengah. Melihat mukanya yang menjadi tidak karuan, mau tidak mau hatinya sedih juga.
“Tak kusangka, kau jenis lelaki yang peduli dengan penampilan” tiba tiba terdengar suara bisikkan locianpwee itu.
Tan Leng Ko melirik sekeliling ruangan itu, ia tidak melihat orangnya, tentu locianpwee itu telah menggunakan ilmu mengirim gelombang suara.
“Giok Hui Yan juga digigit oleh Hek Pek Coa, tak kusangka kau tega membuat seorang gadis berwajah seperti ini” kata Tan Leng Ko dengan geram. “Giok Hui Yan belum melatih Hek Yang Pek Im Sinkang tidak mungkin wajahnya akan berubah”
Tan Leng Ko menjadi bingung, seingatnya, ia tidak pernah melatih ilmu Hek Yang Pek Im Sinkang, mendengarnyapun baru sekarang. “Apakah dengan cara mengalirkan hawa liar itu mengikuti petunjukmu, telah kulatih ilmu itu?” tanya Tan Leng Ko setelah berpikir sejenak.
“Benar! Jika kau tidak mengerahkan tenaga dalam, mukamu pun akan pulih”
Ketika Bersiul tadi memang Tan Leng Ko secara tidak sengaja telah mengerahkan tenaga saktinya. Benar saja, mukanya berangsur pulih begitu ia menghentikan aliran tenaga dalamnya.
Tan Leng Ko menghela napas, tanyanya kemudian, “Apakah kau ingin aku mengangkat guru padamu?” “Tidak perlu! Ilmu itu toh andalan Ngo Tok Kauw, denganku tidak ada sangkut pautnya” “Darimana kau…?” Tan Leng Ko tidak jadi meneruskan pertanyaannya. Walau Ngo Tok Kauw termasuk perkumpulan yang cukup besar dan disegani, tapi masih jauh dibanding dengan tujuh perkumpulan besar, sedangkan ruang kitab mereka saja kebobolan.
“Kau tidak perlu kuatir, ilmu itu tidak beracun, malah cocok untuk mempercepat melebur racun Hek Pek Coa dengan tenaga dalam” “Apakah racun Hek Pek Coa dapat digunakan untuk meningkatkan tenaga dalam?” “Benar!” “Jadi gigitan ular itu, tidak ada hubungannya dengan pengobatan?” tanya Tan Leng Ko dengan muka berubah. “Kan pernah kukatakan, hanya aliran tenaga sakti yang mengalir tidak putus yang dapat menyelamatkan gadis itu”
“Sebenarnya ilmu apa yang dapat menyelamatkan gadis itu?” tanya Tan Leng Ko ingin tahu.
“Kujamin kau belum pernah mendengar namanya”
Tan Leng Ko termenung sejenak. Ia cukup mengerti locianpwee itu menginginkan dirinya memiliki kemampuan yang cukup untuk menjaga ruang pustaka. Ia juga paham, kenapa Giok Hui Yan tidak diajarkan Hek Yang Pek Im Sinkang, karena soal penampilan wajah sangat penting bagi seorang gadis.
Walau ia tidak tahu Giok Hui Yan sekarang berada dimana, Tan Leng Ko merasa terhibur, paling tidak ia menduga tentu sedang dalam pengobatan.
Lapat lapat, ia seperti mendengar, locianpwee itu berbisik: “Ada dua cara meningkatkan tenaga dalam dengan cepat, menggunakan racun Hek Pek Coa adalah cara kedua”
Tan Leng Ko tidak ingin mengetahui cara pertama, walau sedikitnya ia dapat menerka tentu berhubungan dengan aliran tenaga sakti itu. Tapi masih banyak hal yang ia tidak mengerti!
“Apakah kau ingin aku yang mengajar Hek Yang Pek Im Sinkang kepada Giok Hui Yan?”
“Itu terserah padamu. Satu hal yang kau perlu tahu, muka kalian tidak akan berubah jika racun Hek Pek Coa telah berhasil melebur dengan tenaga sakti kalian. Tapi ada satu hal yang harus kau beritahu padanya”
Setelah menghela napas, akhirnya Tan Leng Ko bertanya: “Urusan apa?”
“Toko buku Gu-suko menjadi daerah terlarang bagi orang Mi Tiong Bun” “Dan jika mereka melanggar?”
“Mereka tidak hanya akan tertotok pulas, kujamin mereka akan tidur untuk selamanya… Dan kuyakin kau akan memikirkan satu akal untuk mencegah, karena kunjungan berikutnya dapat berpengaruh buruk dan kau menguatirkan kesehatannya”
Tenggelam hati Tan Leng Ko mendengar hal ini. Ia yakin locianpwee ini mampu dan akan menyembuhkan Giok Hui Yan. Tapi ia juga percaya, locianpwee ini mampu dan akan membunuh Giok
Hui Yan jika berani melanggar larangannya.
“Dengan meningkatkan tenaga dalam Giok Hui Yan, apakah kau juga menginginkan dia untuk menjaga ruang pustaka itu?”
“Tidak! Urusan ini tidak boleh kau ceritakan kepadanya, maupun kepada orang lain!”
Tan Leng Ko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tahu Giok Hui Yan juga dipatuk Hek Pek Coa. Jelas bukan dalam upaya penyembuhan, melainkan untuk meningkatkan tenaga dalamnya. Jika tidak ikut menjaga, lalu apa tujuannya?
Tan Leng Ko menyeringai, banyak hal yang ingin ia ketahui nampaknya bakal sukar memperoleh jawaban.
“Kenapa kau pilih aku untuk menjaga isi kamar Khu Han Beng?”
“Karena kau yang paling cocok untuk menjaga ruang pustaka itu”
”Bukan aku tidak berterima kasih, namun aku tidak melihat perlunya kau tingkatkan tenaga dalamku. Bukankah Khu Han Beng yang tinggal dikamar itu tidak bisa silat?”
“Khu Han Beng tidak akan dicurigai, lain halnya jika kau yang tidur disitu. Kemungkinan orang lain memasukki kamar itu jauh lebih besar”
“Maksudmu?”
“Sebentar lagi Khu Han Beng harus meninggalkan Lok Yang Piaukok, dan kau yang harus tinggal di kamar itu”
“Kemana dia harus pergi?”
“Tahukah kau kenapa setiap pertanyaanmu kujawab?”
“Akupun sedang heran”
“Sedikitnya, ada dua cara untuk meminta orang melakukan apa yang kukendaki, yaitu menekan secara kekerasan…!”
Tiba tiba Tan Leng Ko tidak mampu untuk bergerak. Sekujur tubuhnya kaku, bahkan suara gerengan keluar dari mulutnya yang bergerak gerak seperti sukar untuk bernapas. Dirinya seperti digulung serangkum kekuatan tenaga sakti yang tak nampak.
“…Atau dengan ketulusan!”
Mendadak tubuh Tan Leng Ko tergetar mundur beberapa langkah, dengan segera ia menarik napas dalam dalam.
Diam diam bergidik hati Tan Leng Ko membayangkan pengalamannya barusan. Ia cukup menyadari, jika locianpwee ini berniat membunuhnya tentulah tidak terlampau sukar.
“Karena banyak hal yang ingin kau tahu tapi tidak kau ketahui, otomatis kau mudah curiga, maka kuusahakan untuk memberimu pergertian. Tapi ada beberapa hal yang tidak kuperkenankan kau bertanya”
Dengan sedikit terengah, Tan Leng Ko menjawab:
“Salah satunya, urusan yang menyangkut perihal Khu Han Beng?”
“Benar!”
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam. Jika dugaannya benar, locianpwee ini nampaknya telah mengenal Khu Han Beng jauh lebih dulu, malah sebelum ia tinggal di Lok Yang Piaukok.
Betapapun rumit hubungan mereka jelas tidak bermaksud buruk terhadap Khu Han Beng. Hanya kemisteriusan yang menyelimuti dan terlibatnya locianpwee ini terhadap kasus pencurian kitab membuatnya sedikit kuatir terhadap masa depan Khu Han Beng.
“Kuheran kenapa kau tidak sembunyikan saja kitab kitab itu ditempat yang aman?”
“Bukan hanya tempat, orang yang menjaganya pun harus tepat. Kau sendiri toh tidak mencurigai kamar itu, walau sudah tinggal disana selama bertahun tahun. Lagipula kau yang datang dan memohon padaku, dan aku telah menyanggupi”
Tan Leng Ko tidak mengelak, juga tidak ingin! Ia memang telah menyanggupi untuk menjaga ruang pustaka di kamar Khu Han Beng.
“Sekarang kau perhatikan meja di depanmu, kau boleh buka laci bahagian atas!”
Tanpa membantah, Tan Leng Ko membuka laci tersebut yang berisi sebuah salinan kitab. Tiba tiba muka Tan Leng Ko berubah hebat ketika ia membaca sekilas lembaran halamannya….
“in….ini…?!”
“Kau boleh mengingat dan mempelajari secara lengkap 13 jurus Ouw Yang Ci To, hanya tidak diperkenankan membawa kitab itu!”
“Ini…?!” Kerongkongan Tan Leng Ko seperti tercekik, hatinya terenyuh. Sungguh ia tidak sangka, ternyata dirinya benar benar begitu mujur, impiannya selama tujuh tahun berubah menjadi kenyataan.
Sebercik pikiran memasukki benaknya, lekas ia membalik halaman kitab itu. Hatinya berdesir ketika ia menyadari gerakkan ke tujuh dari Ouw Yang Ci To ternyata sama persis dengan gerakkan yang pernah diperagakan oleh Khu Han Beng.
“Ini… bukan tulisan tangan Khu Han Beng?”
“hemm… Pintar juga kau! Ternyata kau memang mengenali tulisan Khu Han Beng dari gumpalan kertas yang kau peroleh di keranjang sampah tujuh tahun yang lalu”
“Kau…Kau tahu kejadian itu?!”
“Banyak orang di dua propinsi mengetahui dirimu menguasai Ouw Yang Ci To, setelah kuketahui kau hanya menguasai enam jurus, kuyakin ilmu tersebut kau peroleh dari keranjang sampah itu”
“Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Kukurang mengerti kenapa salinan ilmu langka itu dibuang begitu saja ke keranjang sampah?!”
“Hemm… Jika tidak kuceritakan tentu kau akan penasaran sekali!”
Lama tidak terdengar suara bisikkan, sepertinya locianpwee itu sedang menimbang, menceritakan atau tidak.
“Boleh kuceritakan sedikit hal ini. Sebetulnya urusan ini tidak terlalu luar biasa, saat itu bocah itu memasukki usia sedang belajar menulis, dan karena tulisannya dianggap kurang baik, ia menjadi mengkal. Selang beberapa hari, baru kuketahui ia telah membuang kertas kertas tulisan itu ke keranjang sampah dan aku terlambat menemukannya kembali”
Tan Leng Ko menyengir, tadinya ia selalu berkeyakinan, Khu Han Beng membuang gumpalan kertas Ouw Yang Ci To karena mengandung sifat rahasia. Makanya ia menjadi bingung melihat bocah itu kembali ke gang sempit itu.
Sungguh tidak terpikir olehnya, ternyata peristiwa itu tidak ada rahasia segala, bahkan hanya sebuah perbuatan seorang bocah yang mengambek karena tulisannya dianggap jelek!
Sebagai bocah yang sedang belajar menulis, tentu saja ia tidak mengetahui betapa tinggi nilai tulisannya. Sekarangpun, rasanya bocah itu juga seperti tidak mengetahui betapa berharganya kumpulan kitab di kamarnya.
Ketika kuda bocah itu menabrak Pek Kian Si tempo hari, wajahnya tidak nampak cemas. Apa bocah itu memang menganggap kitab di dalam tasnya seperti kitab umum yang biasa, yang setiap saat dapat diperoleh di setiap toko buku?
Mendadak, Tan Leng Ko menyadari tiga hal. Pertama, banyak urusan yang misterius begitu ketahuan sebab akibatnya kebanyakkan menjadi hambar, cemplang seperti tiada harganya.
Anehnya, sedikit sekali orang yang bisa menahan rasa ingin tahunya, kadang malah bersedia mengorbankan nyawanya untuk memecahkan hal hal yang misterius.
Yang kedua, locianpwee ini walau sakti jelas bukan seorang dewa yang serba tahu. Sedikitnya beliau kalah cepat, juga nasibnya kalah mujur dibanding dengan dirinya. Yang ketiga, locianpwee yang sukar diajak berkomunikasi ini, nampaknya juga minim sekali berkomunikasi dengan Khu Han Beng.
Setelah termenung sejenak, Tan Leng Ko bertanya:
“Kenapa kau tidak mengambil tindakkan setelah mengetahui gumpalan kertas itu berada ditanganku?”
“Tidak banyak orang yang berbakat mempelajari Ouw Yang Ci To, dan kau orang yang tepat! Kenapa harus kurebut kembali darimu?”
“Sebab…?!” Tan Leng Ko termangu, ia tidak mampu untuk menerangkan.
Tan Leng Ko menghela napasnya,
“Yang kuheran, kenapa kau tidak mengajarkannya saja kepada Khu Han Beng, jelas jelas bocah itu tidak bisa silat!”
“Kuheran jelas jelas kau orang pintar, kenapa masih juga mengeluarkan pertanyaan yang bodoh?”
“Kutahu locianpwee melarangku bertanya urusan Khu Han Beng, tapi aku sangat memerhatikannya. Kutahu locianpwee juga sayang padanya, hanya aku tidak habis mengerti, dengan kesaktian locianpwee juga dengan koleksi kitab kitab itu, kenapa bocah itu tidak dilatih silat?”
“Sebab tadi pagi, ku santap telur rebus sebanyak 5 butir”
Tan Leng Ko bengong! Ia tidak mengerti dengan jawaban yang tidak juntrungan, tanyanya heran:
“Apa hubungan sarapanmu dengan pertanyaanku?”
“Apa setiap jawaban harus berhubungan dengan pertanyaanmu? Jengek bisikkan itu.
“Aku…?!”
Sekitar sepenanakan nasi mereka tidak berbicara. Akhirnya, terdengar bisikkan halus, suara helaan napas locianpwee itu.
“Kutahu kau juga kasih pada bocah itu. Baiklah, sekali ini kujawab pertanyaanmu. Khu Han Beng tidak melatih Ouw Yang Ci To sebab bocah itu tidak memerlukannya”
“Tidak memerlukannya?” tanya Tan Leng Ko semakin bingung.
“Sudahlah, sudah waktunya kau melatih Hek Yang Pek Im Sinkang, jika tidak hawa liar itu akan menganggumu”
Lama sekali, Tan Leng Ko termenung. Sedari tadi semacam pikiran menganggu benaknya. Akhirnya dengan menggeretak gigi, ia tidak tahan untuk tidak bertanya:
“Apakah Hek Yang Pek Im Sinkang, Ouw Yang Ci To, seperti halnya Hui Liong Cap Sa Cik, merupakan hasil curian?”
“Apakah engkau enggan melatih ilmu hasil curian?”
“Benar!”
“Jika kau tidak melatih Hek Yang Pek Im Sinkang, kau akan mati oleh hawa liar racun Hek Pek Coa, berarti ruang pustaka itu tidak akan kau jaga. Kau mengingkari janji, aku juga tidak harus menyembuhkan putri Mi Tiong Bun itu”
“Tidak adil! Ini sebuah pemerasan…!” protes Tan Leng Ko agak keras.
“Tidak, ini sebuah pilihan. Aku tidak memeras juga enggan memaksamu. Kau sepenuhnya berhak memilih”
Dengan sedih dan terpaksa, akhirnya Tan Leng Ko mengakui ia tidak mempunyai pilihan lain.
“Baik! Akan kulatih Hek Im Pek Yang Sinkang agar gadis itu tetap hidup. Tapi kau tidak dapat memaksaku untuk melatih Ouw Yang Ci To”
“Bukankah kau telah menguasai tujuh jurus?”
“Aku dapat saja tidak menggunakan jurus itu lagi…untuk selamanya” kata Tan Leng Ko dengan sedih.
Sebetulnya impiannya sekarang telah menjadi kenyataan, kitab Ouw Yang Ci To sesungguhnya benar benar ada didepan mata, sayang impiannya tetap hanya sebuah mimpi yang tidak bisa terlaksana.
“Selain Ouw Yang Ci To, boleh dibilang kau tidak memiliki kepandaian lain yang berarti, apakah engkau hendak mengingkari tugasmu?
Tidak! Tanpa jurus itu pun, aku tetap akan melaksanakan tugas itu walau harus mengorbankan jiwa raga” kata Tan Leng Ko dengan tegas.
“Kalau kukatakan kitab itu bukan hasil curian?”
“Locianpwee sukar untuk membuktikannya”
“Apa kau sudah tidak ingin mempelajari Ouw Yang Ci To secara lengkap?”
“Tetap ingin, hanya aku tidak dapat”
“Kenapa?”
“Karena mencuri itu salah!…Ketika kecil, aku dididik demikian”
“Kuyakin kau juga dididik membunuh itu tidak benar! Hmm…Orang yang mati ditanganmu tentu tidak sedikit!”
“Benar! Cuman pada saat itu, pilihanku hanya membunuh atau dibunuh!”
locianpwee itu seperti menghela napas, ia cukup paham. Seorang lelaki berapapun usianya, betapa besar kekuasaannya toh sukar melepas diri dari didikan orang tua, terutama pengaruh seorang ibu!
Tan Leng Ko terdiam sejenak. Kemudian katanya:
“Dengan kemampuan locianpwee yang luar biasa, tidak seharusnya kau orang tua mencuri kitab dan mempelajari ilmu orang lain”
“Apakah kau telah ditunjuk oleh tujuh perguruan besar untuk menarik panjang urusan pencurian kitab ini? Pihak mereka saja tidak mengurusinya lagi!”
Tan Leng Ko menyeringai tersipu sipu,
“Tapi mencuri adalah perbuatan yang salah!”
“Oooh!….dan kau beranggapan, aku memerlukan pendapatmu mengenai perbuatan mana yang baik dan mana yang salah?”
Tan Leng Ko tidak bisa menjawab kecuali menyengir.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya bisikkan itu terdengar lagi:
“Dari tiga belas gerakkan Kun Lun Hui Liong Cap Sa Cik, tiga jurus diantaranya meniru persis gerakkan Soh liong Jiu (tangan sakti pengunci naga) dari perkumpulan Siu Lo Bun. Tanpa mengetahui latar belakang persoalan atau sejarah ilmu silat, darimana kau memastikan satu perbuatan mana yang baik atau yang salah?”
Terkejut juga, Tan Leng Ko mendengar hal ini, tak dapat ia berbuat lain kecuali menghela napas. Dari segi ilmu silat, pengetahuan, sejarah dan sebagainya dia kalah segala galanya.
Dan sekarang, ia malah mencoba menggurui locianpwee ini mengenai urusan ‘Gie’.
Nampaknya urusan pencurian kitab ini lebih ruwet dari dugaannya semula. Misalnya saja, dari keterangan Giok Hui Yan, ia yakin kitab Tat Mo Ih Kin Keng yang dikembalikan puluhan kali lipat lebih bernilai dibandingkan kitab yang tercuri yang malah sudah dikembalikan.
Ia tidak mengerti sebabnya, lebih tidak paham lagi, kenapa ia mesti pusing kepala sedangkan pihak yang bersangkutan saja tidak melakukan tindakkan?
Apa karena ia sangat memerhatikan Khu Han Beng? Atau karena ia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya? Jangan jangan rahasia dibalik kemisteriusan pencurian kitab juga akan terasa cemplang, tiada harganya?
“Terserah padamu, kau akan mempelajari kitab itu atau tidak. Seperti kukatakan tadi, aku enggan memaksamu!”
Suara bisikkan terdengar semakin lirih, sepertinya locianpwee itu telah pergi menjauh.
Yang tertinggal hanya Tan Leng Ko yang termenung sendirian di ruangan itu, berdiri sambil memegang kitab Ouw Yang Ci To ditangannya.
Ia tidak berniat meninggalkan ruangan itu. Hawa liar ditubuhnya mulai bergolak keras yang menimbulkan rasa sakit yang hebat menyukarkan dirinya untuk bergerak. Tan Leng Ko cukup menyadari, sudah tiba waktunya untuk melatih Hek Im Pek Yang Sinkang.
Ia menghela napas, pengalamannya belakangan hari dirasakannya aneh seperti sebuah mimpi saja.
**************************************
“Heiii… Kau sedang bermimpi, atau melamun? Kau dengar tidak, pertanyaanku?”
teriak Giok Hui Yan dengan kesal.
Rada gelagapan Tan Leng Ko yang tersadar dari lamunannya. Telinganya terasa pengang, Giok Hui Yan berteriak keras, dekat sekali dengan kupingnya.
Setelah berpikir sejenak, Tan Leng Ko kemudian memutuskan menuturkan peristiwa yang terjadi walau tidak semua.
“Apa yang harus kau lakukan untuk locianpwee itu?”
“Ia menugaskanku mewakilinya untuk mencari kitab Hay Thian Sin Kiamboh dalam kurun waktu satu tahun”
“Dan sebagai timbal balik, kami dilarang untuk mengunjungi toko buku itu?!”
“Benar!”
Tan Leng Ko menggerutu dalam hati, ternyata locianpwee itu dapat menerka dengan tepat. Ternyata, dia memang dapat menemukan satu akal untuk mencegah mereka mengunjungi daerah terlarang itu..
Giok Hui Yan mengerenyitkan alisnya yang lentik, tanyanya kemudian perlahan:
“Kuheran kenapa beliau akan membantu kami?”
Tan Leng Ko mengeluh dalam hati, dengan gelagapan ia menjawab:
“Sedikit banyak, daun yang temukan diruang pustaka kalian, tentu mempunyai sangkut paut dengan dirinya. Menurut ayahmu cara pencuri kitab itu menggores daun, menunjukkan kepandaiannya yang luar biasa, tidak heran locianpwee itu menjadi tertarik untuk menyelidikinya. Yang kuheran, kenapa dengan kepandaianku yang rendah ia tetap memilihku?”
Giok Hui Yan menghela napas,
“Kutahu sebabnya”
“Apa sebabnya?” tanya Tan Leng Ko ingin tahu.
“Coba kau kerahkan tenaga saktimu”
Tan leng Ko melakukan apa yang dikatakan Giok Hui Yan, diam diam Giok Hui Yan terkejut, melihat perubahan wajah Tan Leng Ko yang belang hitam putih.
“Mukamu…?!”
Tan Leng Ko mengomeli dirinya dalam hati, dia lupa atas perubahan wajahnya setiap kali mengerahkan tenaga. Bergegas ia menerangkan perihal Hek Im Pek Yang Sinkang kepada Giok Hui Yan.
“Kau harus mempelajari ilmu ini” ujarnya dengan serius.
“Dan memiliki wajah setan sepertimu? Aku tidak mau!” kata Giok Hui Yan yang tidak dapat menahan ketawanya melihat kepala Tan leng Ko yang gundul ikut berubah warna.
Dengan cemas Tan Leng Ko berseru:
“Jika tidak kau latih, kau akan tewas secara mengerikan!”
“Mati yaa mati, paling paling tubuhku hanya pucat dan dingin, tidak belang belang seperti itu” tawa Giok Hui Yan sampai mengikik.
Mendadak, ia menghentikan ketawanya, alisnya berkerenyit.
“Aneh! Setiap benda diruang terbuka, biasanya tiada yang lebih panas atau lebih dingin. Kenapa sesosok mayat lebih dingin dari benda sekitarnya?”
“Kau sedang berbicara ngawur apalagi?” tanya Tan Leng Ko sambil menghela napas.
Giok Hui Yan memincingkan matanya menatap bagian tubuh Tan Leng Ko yang menghitam. Kemudian katanya sambil tertawa:
“Jika kau mati, kujamin tubuhmu tidak akan dingin. Konon warna hitam dapat menyerap panas lebih banyak”
Tan Leng Ko tidak meladeni ucapan kacau Giok Hui Yan.
“Apa kau tidak merasakan, hawa panas bercampur dingin bergerak mengikuti tenaga saktimu?” tanyanya masih kuatir.
Melihat kekuatiran Tan Leng Ko, Giok Hui Yan termenung sejenak.
“Selain tenaga saktiku bertambah, aku tidak merasa kurang apa” ujarnya perlahan.
Tan Leng Ko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menjadi bingung! Lociapnwee itu tidak beralasan untuk berbohong padanya. Tapi ia juga dapat melihat Giok Hui Yan berbicara jujur!
Apa racun Hek Pek Coa telah berhasil melebur dengan tenaga sakti Giok Hui Yan? Kenapa dirinya yang melatih Hek Im Pek Yang Sinkang malah belum berhasil?
Dengan muka serius Giok Hui yan berkata:
“Kutahu racun Hek Pek Coa dapat menambah tenaga sakti, juga dapat kuterka locianpwee itu menambah tenagamu agar dapat membantu usahamu mencari kitab. Yang tidak kumengerti kenapa ia menambah tenagaku?”
Tan Leng Ko menggeleng. Ia pernah menanyakan urusan itu, hanya tidak memperoleh jawaban yang memuaskan.
“Darimana kau tahu gigitan Hek Pek Coa dapat menambah tenaga?”
Giok Hui Yan termenung sejenak, kemudian katanya:
“Sebab perselisihan Mi Tiong Bun dengan pihak Ngo Tok Kauw disebabkan oleh ular itu!”
“Maksudmu?” Tanya Tan Leng Ko dengan kaget.
“Ngo Tok Kauw menuduh anggota kami yang sedang melalui kota pusat perkumpulan mereka, telah mencuri Hek Pek Coa”
“Apa dasar tuduhan mereka?”
“Mereka beranggapan hanya jagoan tangguh yang dapat mencuri Hek Pek Coa yang dijaga ketat, sedangkan dalam lingkaran lima puluh lie, mereka tidak menemukan orang lain kecuali anggota kami”
Tan Leng Ko menghela napas, nampaknya tidak hanya kitab pusaka yang dicuri oleh locianpwee itu. Ia benar benar tidak paham tujuan locianpwee itu yang gemar mengambil barang milik orang lain. Diam diam timbul rasa muaknya.
Tiba tiba semacam pikiran berkecamuk dibenaknya sehingga membuat perutnya mual.
“Apakah kau mencurigai locianpwee itu telah mengadu domba dengan sengaja?” tanyanya perlahan.
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan termangu. Lama sekali ia terdiam. Akhirnya ia menjawab dengan perlahan:
“Kurasa tidak!”
Dengan kesal, Tan Leng Ko berkata:
“Pertama kalian menuduh dia mencuri kitab, tapi seperti juga membelainya. Sekarang jelas Hek Pek Coa ada padanya, kau malah tidak yakin dia yang mengadu domba kalian. Sebenarnya apa hubungan kalian dengan locianpwee itu?”
Sambil menarik napas, Giok Hui Yan menjawab:
“Sebab ayahku sangat mengaguminya. Ia beranggapan tidak mungkin seorang licik dapat menguasai kepandaian setinggi itu”
Setelah termangu beberapa saat, Giok Hui Yan bertanya:
“Kau pernah berjumpa dengannya, bagaimana pandanganmu mengenai locianpwee itu?”
Sebenarnya, Tan Leng Ko kurang setuju dengan pendapat ketua Mi Tiong Bun, ia sudah mencicipi kelicikkan locianpwee itu yang memaksanya menjaga ruang pustaka. Awalnya, memang ia rela, tapi ia enggan diperas. Ia merasa selain pencuri, locianpwee itu juga seorang yang licik.
“Entah!…Aku tidak pernah bertemu muka”
Tan Leng Ko hanya bisa menjawab secara itu. Ia tidak leluasa menceritakan hal ini kepada Giok Hui yan.
Keduanya terdiam tenggelam oleh pikiran masing masing. Akhirnya Tan Leng Ko memecahkan kesunyian,
“Apa rencanamu sekarang?… Akan tetap menyelidiki toko buku itu?”
Lama Giok Hui Yan tidak berbicara. Tiba tiba ia tertawa secara aneh,
“Kutahu alasannya kenapa locianpwee itu menambah tenaga saktiku”
“Apa alasannya?”
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan tajam, kemudian katanya perlahan:
“Selain melalui kekerasan, atau ketulusan, ada cara ketiga agar orang melakukan apa yang kaukehendaki!”
“Cara apa?”
“Tanam budi!”
Sekarang Tan Leng Ko menjadi paham. Dengan menyembuhkan penyakit Giok Hui Yan, juga dengan menambah tenaga saktinya, locianpwee itu telah menanam budi yang tidak sedikit!
“Locianpwee itu boleh berlega hati, kujamin tidak ada anggota Mi Tiong Bun yang akan mengunjungi daerah terlarang itu” kata Giok Hui Yan melanjutkan.
Tan Leng Ko termangu seperti orang bodoh.
Giok Hui Yan tidak mengetahui sistim barter yang ia lakukan. Apalagi gadis itu tidak mengetahui ia berbohong. Giok Hui Yan menyangka locianpwee itu ikut membantu mencari kitab Mi Tiong Bun yang hilang. Sedikit permintaan locianpwee itu yang melarang mereka menyelidiki toko buku itu, tentu saja dikabulkan!
Untuk pertama kalinya Tan Leng Ko merasa nasibnya kurang mujur. Tanpa menyebut pencarian Hay Thian Sin Kiamboh, sebetulnya Giok Hui Yan juga tidak akan memasukki daerah terlarang itu karena merasa berhutang budi.
Sekarang, selain dia harus menjaga ruang pustaka, ia juga harus mencari Hay Thian Sin Kiamboh yang tidak ketahuan rimbanya. Ia yang repot! Sedangkan locianpwee itu yang memetik hasil mendapat apa yang dimauinya.
“Dan mereka menganggap locianpwee itu bukan seorang yang licik” gerutu Tan Leng Ko dalam hati walau ia menyadari kerepotan mencari kitab terjadi karena salahnya sendiri.
“Setahun lagi akan kudatangi Lok Yang Piaukok untuk meminta kitab”
Tan Leng Ko berpikir sejenak. Kemudian katanya:
“Ya, memang sudah waktunya kau pulang. Kau harus melapor pada ayahmu”
“Bagaimanapun juga aku berhutang padamu, kau telah berusaha menyelamatkan nyawaku” bisik Giok Hui Yan dengan pancaran sinar mata yang sukar diterka.
Tan Leng Ko mengelak pandangan mata itu, segera ia bergurau:
“Kau telah membayar hutangmu, bukankah kau telah menghadiahkan tamparan dipipiku sekaligus menggunduli kepalaku”
Pancaran menyesal seperti terpancar dari wajah Giok Hui Yan.
“Kau pasti mengenangku sebagai seorang gadis liar, aku…?!”
“Kukenang kau sebagai seorang gadis yang gemar ronce pedang” tukas Tan Leng Ko sambil mengeluarkan kantong kain milik Giok Hui Yan dari dalam saku bajunya.
Giok Hui Yan menerima kembali barangnya, katanya dengan perlahan:
“Kau pernah berjanji untuk menjaga kantong kainku, kukenang kau sebagai seorang lelaki yang menepati janji”
Merasakan hawa murninya bergejolak liar, Tan Leng Ko cepat berkata:
“Mendadak kuingin minum arak, aneh tidak?”
Sambil tertawa manis bercampur sedih, Giok Hui Yan berkata dengan nada serak:
“Kutahu kau lapar, kukeluar mencari makanan sebentar. Kutahu tiada perjamuan yang tidak bubar. Sedikitnya harus kujamu kau arak… arak perpisahan”
Tan Leng Ko menahan sakit yang menyerang tubuhnya. Ia memaksa tersenyum, kemudian katanya:
“Arak perpisahan kuyakin tetap sebuah arak yang baik”
Tanpa berkedip Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali. Matanya seperti berkaca kaca. Tanpa bersuara, sambil menggigit bibir, ia melesat keluar melalui jendela.
Tan Leng Ko mengeluh dalam hati. Hawa panas bercampur dingin kembali menyiksanya. Sebagian tubuhnya sudah mengepul asap putih, selapis es tipis mulai membungkus sebagian tubuh lainnya. Cepat ia bersila melatih Hek Im Pek Yang Sinkang. Sebentar saja ia sudah tenggelam di alam samadhinya.
***********************************
Kamar penginapan itu terletak dilantai tiga, tapi dalam sekali loncat, Giok Hui Yan mendarat di tengah jalan, persis didepan pintu masuk lantai dasar Se Chuan Koan.
Ketika Giok Hui Yan melangkah masuk, alisnya berkerenyit. Ia merasa rada janggal!
Selain beberapa pelayan, ia tidak melihat pengunjung lain. Rumah makan ini jelas masih belum tutup, berarti waktu sekarang masih dibawah kentongan sembilan malam. Tempat yang biasanya ramai kenapa sepi begini? Kemana orang orang rimba persilatan yang biasanya memenuhi tempat ini?
Melihat kecantikkan Giok Hui Yan yang luar biasa, seorang pelayan menghampiri sambil menyengir memualkan. Cepat Giok Hui Yan memesan beberapa jenis penganan kering dan sebuah guci arak yang sebentar saja sudah disiapkan.
“Satu jam yang lalu, mendadak mereka semua serentak pergi, sebagian besar malah tanpa bayar!”
keluh pelayan itu ketika ditanya.
“Kenapa kau tidak tagih?”
“Rata rata tampang mereka bengis, aku…?!”
“Apalagi mereka bersenjata, tentu saja kau tidak berani” ujar Giok Hui Yan lembut.
Melihat senyuman Giok Hui Yan yang seperti setengah mentertawai, pelayan itu tentu saja tidak tahan. sambil membusungkan dada, ia berkata:
“Aku bukan seorang penakut yang hanya beraninya pada perempuan”
“Yaa, kutahu kau seorang gagah! Jika mereka tidak terlalu lekas pergi tentu sudah kau hajar babak belur” puji Giok Hui Yan sambil menatap kagum.
Dipuji seorang gadis rupawan, perasaan pelayan itu menjadi tidak karuan. Hidungnya kembang kempis, bangganya bukan main.
Giok Hui Yan mengerling manis pada pelayan itu, tangannya meraih bungkusan pesanannya yang tadi diletakkan diatas meja, kemudian melangkah pergi.
Melihat gadis itu pergi begitu saja, dengan gugup pelayan itu lekas menagih:
“Siocia! Kau belum sempat bayar!”
“jika kau tidak menagih mereka, kenapa kau tagih diriku? Huh! Nampaknya kau memang penakut yang beraninya hanya menagih pada perempuan!” omel Giok Hui Yan sambil melotot.
Muka pelayan itu meringis seperti ditinju bogem mentah. Ia serba salah.
“Kau?!…kau boleh pergi!”
Giok Hui Yan tertawa menggiurkan,
“Kutahu aku tidak salah menilai!. Kau memang bukan seorang penakut”
Pelayan itu hanya dapat mengeluh dalam hati.
****************************************
Tan Leng Ko baru saja selesai dengan latihannya. Nampaknya semakin sering ia berlatih, tempo untuk menenangkan hawa liar itu juga semakin cepat.
Sambil menunggu Giok Hui Yan, ia memerhatikan sekitarnya. Ruangan ini tidak mirip dengan kamar di tempat locianpwee itu, tapi isi ruangannya mirip sekali.
Sekilas pikiran membercik dikepalanya, lekas Tan Leng Ko memeriksa laci bagian atas dari meja ruangan itu. Ia mengeluarkan kitab suci Buddha yang memang biasanya terdapat di setiap rumah penginapan.
Ketika Tan Leng Ko membuka lembaran kitab itu, yang isinya tidak berbeda dengan kitab Buddha
umumnya, secarik kertas melayang jatuh ke lantai dari sela sela halaman. Tan Leng Ko membungkukkan badannya memungut kertas itu, mendadak mimik muka Tan Leng Ko menunjukkan perubahan yang hebat, wajahnya menjadi pucat!
Giok Hui Yan yang baru saja melayang masuk, heran melihat reaksi Tan Leng Ko yang ganjil. Ia jadi tertarik, tulisan apa yang sebenarnya tertera di atas secarik kertas itu?
Lekas ia menghampiri Tan Leng Ko dan ikut membaca tulisan singkat yang berbunyi: “Lok Yang Congpiauthau memiliki Mustika Kemala Pelangi”
Giok Hui Yan menghela nafas, katanya perlahan:
“Pernah kulihat tulisan di atas kertas semacam itu sebelumnya”
Tan Leng Ko memandang Giok Hui Yan dengan tajam.
“Dimana?”
“Ketika kusinggah di Kanglam”
“Apakah kertas itu kau temukan juga disela sela buku?”
Giok Hui Yan menggeleng,
“Kamar tempat penginapan itu memiliki pot bunga kamelia yang indah. Kertas itu terselip diantara bunga…”
Tiba tiba terdengar suara, pintu kamar penginapan itu terbuka lebar. Seorang pelayan melangkah masuk dan berdiri terkesima melihat kehadiran mereka berdua.
“Siapa kalian…? Seharusnya kamar ini kosong, tidak berpenghuni!”
“Siapa kau?” tanya Tan Leng Ko galak.
“Aku yang bertugas membersihkan kamar ini” jawab pelayan yang ciut melihat wajah Tan Leng Ko yang garang.
“Siapa yang menaruh kertas ini. Hayo jawab!” kata Tan Leng Ko sambil menarik baju pelayan itu.
“Aku tidak tahu!” jerit pelayan itu ketakutan.
“Kau pasti tahu, bukankah kau yang bertugas disini!”
“Mungkin… mungkin bhiksu yang menginap disini beberapa hari yang lalu”
“Bagaimana ciri orangnya?”
“Kurus tinggi, mengenakan mantel merah”
“Ada ribuan bhiksu yang berciri seperti itu!” dengus Tan Leng Ko.
“Bhiksu itu memelihara rambut, bahkan cukup panjang hingga dikuncir!” kata pelayan itu pucat.
Giok Hui Yan yang terdiam sedari tadi, mendadak wajahnya ikut menjadi pucat.
“Bukan saatnya kau memikirkan darimana datangnya kertas itu. Kita harus segera pulang ke Lok Yang Piaukok!”
Tan Leng Ko melepaskan pelayan itu dan menggebahnya pergi. Ia memutar badannya, memandang Giok Hui Yan dengan heran,
“Kau tidak perlu kembali kesana, bukankah kau harus pulang ke Mi Tiong Bun?”
“Lok Yang Piaukok bukan daerah terlarang bagiku. Lagipula sekarang bukan saatnya untuk berdebat denganku!”
Tanpa memperdulikan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan melayang turun dan berlari secepatnya. Terdengar suaranya yang menjauh,
“Kau harus ikut aku, jika tidak kau akan menyesal!”
Tan Leng Ko yang menjadi bingung, mau tidak mau ikut mengerahkan ginkang, ia merendeng disebelah Giok Hui Yan.
“Sebenarnya apa gerangan yang terjadi?”
“Lok Yang Piaukok dalam bahaya!”
“Darimana kau tahu?” tanya Tan Leng Ko dengan cemas.
“Apa yang kau lihat sekarang?”
Tan Leng Ko menghentikan larinya, sambil berdiri ditengah jalan, ia memandang jalanan utama kota Lok Yang yang diterangi sinar obor disepanjang jalan. Ditikungan remang remang diujung sana, nampak dua orang berjalan dengan terhuyung mabuk.
Tanpa melihat dengan jelaspun Tan Leng Ko dapat mencium bau arak murah dari badan mereka yang terbawa angin. Selain kedua orang itu, yang sedang lalu lalang bisa dihitung dengan jari, itupun tidak terlihat seperti orang kangouw!
Setelah yakin, Tan Leng Ko menoleh kebelakang, dimana ia juga tidak melihat sesuatu yang luar biasa, kecuali..
“Sepi! Tidak banyak orang…!” leher Tan Leng Ko seperti tercekik.
Giok Hui Yan yang terpaksa menghentikan larinya dan berdiri tidak jauh darinya, cepat menceritakan kepergian orang rimba persilatan yang terburu buru dari rumah makan Se Chuan Koan.
“Dan kau menduga berita mustika pelangi telah tersebar luas”
“Kukuatir mereka telah mengunjungi Lok Yang Piaukok satu jam yang lalu, kita terlambat!” seru Giok Hui Yan kemudian melesat pergi.
Dengan gugup bercampur kuatir, Tan Leng Ko mengerahkan seluruh tenaganya mengejar Giok Hui Yan.
Hanya dalam hitungan beberapa bilangan, Tan Leng Ko dapat menyusul Giok Hui Yan yang selama ini ia sadari memiliki ilmu meringankan tubuh lebih tinggi darinya.
Ditengah kegalauan dan kekuatiran, Tan Leng Ko sempat sempatnya menemukan dua hal. Entah bagaimana, ginkangnya mendadak maju pesat. Ia juga menemukan, hentakkan hawa liar yang selama ini mengganggunya seperti berkurang, seakan akan mendapat tempat penyaluran yang tepat.
*****************************
“Apakah kau meragukan ucapanku?” tanya Buyung Hong dengan tenang.
Khu Pek Sim menghentikan tawanya, katanya kemudian,
“Kau mengetahui Mustika Kemala Pelangi berada ditanganku dikarenakan secarik kertas yang kau temukan dibawah bantal, disebuah tempat penginapan?”
“Benar!”
“Apakah dikota Po-Ting?”
“Bukan! Penginapan Peng Coan Koan di kotaraja!”
Khu Pek Sim memandang Buyung Hong sejenak,
“Kupercaya pada ucapanmu!”
“Kau percaya padaku?”
“Kupercaya ucapanmu benar, karena kau tidak beralasan untuk berbohong”
Diterangi jilatan api unggun, Buyung Hong seperti tertawa secara aneh, tapi dia diam saja, tidak mengatakan apa apa.
Khu Pek Sim termenung sesaat, kemudian katanya,
“Sebelum menjadi pendeta Siaulim, apakah Mo Tian Suheng she Buyung?”
“Iihhh!!!…Darimana kau tahu?” seru Buyung Hong kaget.
Sudah menjadi kebiasaan, jika seseorang menjadi pendeta di Siaulim, seperti bayi yang baru dilahirkan, tidak hanya diberi nama baru, bahkan latar belakang, atau kesalahan yang pernah dibuatnya dianggap tidak ada lagi hubungan dengannya.
Khu pek Sim boleh jadi murid luar Siaulimpay, seperti namanya, ia tentu lebih banyak menghabiskan waktu diluaran ketimbang di Siaulimsi. Bahkan sesama anggota Siaulimsi pun belum tentu saling mengetahui nama lama sebelum mereka menjadi pendeta.
Walau nama lamanya bukan suatu rahasia, tapi juga bukan sesuatu yang menjadi topik pembicaraan. kecuali ketua dan beberapa pejabat Siaulimsi, sedikit sekali yang mengetahui nama asli Mo Tian Siansu. Tidak heran, Buyung Hong terperanjat berbareng curiga!
Setelah menghela napas, Khu pek Sim menjawab:
“Kau bukan jenis yang gemar bersahabat. Apalagi dengan seorang pendeta Siaulimsi, malah penjaga ruang kitab yang kutahu jarang sekali pergi keluaran. Makanya kuheran”
“Apa yang kau herankan?”
“Kuheran kenapa Mo Tian Suheng mau menceritakan tujuannya pergi ke Lok Yang Piaukok yang tidak ada hubungannya denganmu”
“Apalagi Mo Tian Siansu bukan jenis yang gemar berbicara usil”
“Benar! Juga kuheran, sebetulnya diangkatnya cucu luarku menjadi murid Goan Kim Taysu kau tidak perlu tahu, karena hakekatnya tidak ada hubungannya dengan dirimu”
Buyung Hong menghela napas, katanya perlahan,
“Aku diberitahu, karena…”
“Karena kau telah bercerita padanya lebih dahulu, bahwa kau akan berjumpa denganku di kota Po- Ting. dan ia ingin aku mengetahuinya. Hanya satu penjelasan ini yang masuk akal” potong Khu Pek Sim.
Buyung Hong tidak dapat mengelak, akhirnya ia mengangguk mengakui.
Melihat reaksi Buyung Hong, Khu Pek Sim lekas menukas:
“Makanya kuheran, dua orang yang tidak gemar berbicara usil, mendadak secerewet perempuan. Yang luar biasa, kau bersedia menceritakan tujuanmu padanya, mau tidak mau kutarik kesimpulan hubungan kalian tentu tidak biasa”
Buyung Hong termenung sejenak, kemudian ujarnya perlahan:
“Kau memanggil Mo Tian Suheng padanya, sedangkan aku lebih menyukai nama panggilannya yang lain, Song-ko”
Giliran Khu pek Sim yang mengangguk. Ditilik dari usia mereka, Buyung Song atau Mo Tian Siansu mungkin menempati posisi abang tertua dari keluarga Buyung sebelum menjadi pendeta di Siaulimsi. Tapi dia tidak menanyakan hal itu, karena dia tidak perlu tahu jawabannya.
Ada satu hal lain yang Khu pek Sim tidak tanyakan, kali ini karena dia sudah tahu jawabannya.
Pertanyaan yang sebelumnya selalu menghantui pikirannya.
Kenapa sejauh ini, Buyung Hong tidak main rampas, memaksa merebut Mustika Kemala Pelangi dari tangannya?
Yaa, sekarang ia tahu dan yakin dengan jawabannya. Jawaban yang membuat hatinya menjadi lega.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Buyung Hong tiba tiba.
Setelah berpikir sebentar, Khu Pek Sim menjawab,
“Kuharap Lok Yang Piaukok tidak tertimpa bencana!”
******************************
Angin malam yang bertiup kencang, menggerakkan jilatan puluhan api obor yang menancap di depan pintu gerbang Lok Yang Piaukok. Mendidih darah Tan Leng Ko menyaksikan ratusan orang kangouw yang mengepung membentuk setengah lingkaran.
Para piasu nampak membentuk semacam barisan, mirip dengan LoHanTin, yang memang khusus dilatih untuk menghadapi serbuan musuh dalam jumlah besar.
Tan Leng Ko tidak mengenal barisan itu, tapi ia dapat mengenali kehebatannya. walau terdesak dengan hebat, nampak anah buahnya dapat berkutet bertahan selama ini.
Air mata bercucuran di pipi Tan Leng Ko ketika matanya menyaksikan puluhan tubuh berseragam piausu menggeletak mati bergelimpangan darah!
Hentakkan hawa liar yang tersalur melalui kerongkongannya menimbulkan raungan keras yang menghentikan pertarungan yang tidak seimbang. Tan Leng Ko cepat memburu, bersimpuh dengan penuh penyesalan diantara genangan darah anak buahnya.
Dengan perlahan, tangannya mengusap menutup kelopak mata mayat didekatnya. Ia mengenal benar mayat ini. Sesosok mayat yang seperti tersenyum padanya, tewas tanpa penyesalan, bukan karena mencari harta atau nama, melainkan karena menjalankan tugas dan kewajiban.
Tan Leng Ko memanggilnya Bu Koat, she Tan. Bukan saja she pemuda ini sama dengan dirinya, mereka pun berasal dari kampung halaman yang sama. Walau tidak mempunyai hubungan darah, Tan Leng Ko menganggap Tan Bu Koat sebagai saudara kandungnya. Dia yang mengajak pemuda ini bekerja di Lok Yang Piaukok.
Masih tebayang dibenak Tan Leng Ko, ketika pamit betapa senang dan bangga ibu Tan Bu Koat melihat anaknya mendapat pekerjaan yang sukar didapat dengan penghasilan yang cukup. Penghasilan yang sebagian besar dikirim Tan Bu Koat untuk ibunya di kampung.
Asam lambung di perut Tan Leng Ko berontak, ia muntah muntah. Sambil menyeka dan membersihkan bibir, ia dapat merasakan rasa pahit, getir dimulutnya. Tak berani ia membayangkan apa yang harus ia katakan kepada ibu Tan Bu Koat.
Giok Hui Yan yang mengikuti Tan Leng Ko, berdiri dibelakangnya dengan muka kaku. Walau singkat, ia pernah berhubungan dengan para piasu yang tewas itu. Bahkan pernah mengajar satu dua jurus! Sekarang mereka membujur kaku,
mereka memilih mati daripada menyerah!
Jilatan kemarahan dan penyesalan timbul dimata Giok Hui Yan. Mereka terlambat! Keterlambatan yang memakan korban yang tidak sedikit!
“Ji-siocia!” terdengar teriakkan perlahan.
Giok Hui Yan menoleh, ia segera mengenal tiga orang gagah berumur yang menghampirinya.
“Su-Lopeh, apakah kalian terlibat pembunuhan ini?” tanya Giok Hui Yan dengan cemas kepada tongcu pelindung hukum dari Mi Tiong Bun.
Su-Tongcu menggeleng.
“Kami belum lama tiba, kami memang sedang mencari Ji-siocia”
“Siapa yang membunuh mereka?”
“Kurang jelas siapa yang melakukan. Pertarungan belum lama berlangsung, tapi suasana kacau sekali. Puluhan orang bertempur sekaligus walau tidak semua orang terlibat!”
“Nona, beruntung sekali dapat berjumpa lagi denganmu” seru seorang pemuda gagah. Dengan muka berseri seri, ia menatap Giok Hui Yan dengan sorot mata kekaguman.
Giok Hui Yan mengenal pemuda yang menghampirinya. Pemuda berkepandaian tinggi bersenjata kipas yang gemar memakai baju biru, Bok Siang Gak.
“Apakah kau ikut membunuh para piasu itu?” tanya Giok Hui Yan dengan dingin.
“Seperti kami, anak muda itu juga baru datang, dia tidak terlibat” sela Su-Tongcu.
Sambil menatap tajam Bok Siang Gak, Giok Hui Yan Berkata:
“Untuk apa kau kemari?”
“Ayahku memberi tugas untuk mencari Mustika Kemala Pelangi, dan kudengar…”
“Tak kubiarkan kau mengacau disini!” potong Giok Hui Yan.
Bok Siang Gak menjadi serba salah,
“Apakah kau penghuni Lok Yang Piaukok?” tanyanya dengan bingung.
“Anggap saja demikian. Apakah kau hendak menantangku berkelahi?”
“Tentu saja tidak! Mana mungkin aku mengajakmu bertanding?”
Mendadak terdengar suara lantang Tan Leng Ko yang parau menggaung,
“Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?”
Suasana malah menjadi sepi. Ratusan mata menatap Tan Leng Ko seperti terkesima. Kepalanya yang botak ditambah tubuhnya yang belang dua warna, membuatnya menjadi pusat perhatian.
Tan Leng Ko menebar pandangan ke ratusan orang di hadapannya. Banyak yang ia tidak kenal, tapi tidak sedikit wajah yang tidak asing baginya. Dua srigala dari gunung Hongsan, kwee kakak beradik, Pek Kian Si, bahkan Hek I Houw yang menatap kearah belakang kanannya dengan tajam.
Duka dan gusar berkecamuk dihati Tan Leng Ko, tapi diam diam timbul juga rasa heran ketika melihat wajah Hek I Houw kembali berubah pucat!
Seorang berkepandaian tinggi seperti Hek I Houw, semestinya tidak mudah terkejut. Tan Leng Ko menoleh sekejap orang orang yang berada dibelakangnya. Ia tidak melihat Khu Han Beng, tapi menyaksikan Hong Naynay, Lotong dan penghuni lain, ikut keluar berdiri diam dengan wajah kelam dibawah pepohonan.
Dengan pandangannya yang kabur teraling airmata, ia seperti melihat sesuatu yang membuat matanya berkejap beberapa kali.
Ia terkesima!
Tan Leng Ko bahkan tidak merasa ketika seekor serangga memasukki mulutnya yang ternganga lebar. Sesaat, ia menggeleng kepalanya seakan akan tidak percaya dengan apa yang dipandangnya.
“mungkin kusalah lihat” gumamnya perlahan.
Ditengah tiupan angin kencang bagai jeritan setan yang merobek kesunyian malam, Hek I Houw mengeluarkan suara tertawa yang aneh. Sekonyong koyong, tubuhnya bergerak menyerang seorang pesilat yang berdiri tidak jauh darinya.
Orang itu segera mengayunkan goloknya menebas leher lawan. Hek I Houw mendengus, tangan kanannya digerakkan dengan sebat, terdengar suara dada remuk disusul jeritan yang menyayat.
Tanpa memperdulikan korbannya, Hek I Houw kembali berkelebat dan dalam sebentar saja lima korban lain berjatuhan gugur dengan cara mengerikan. Sebagian kepalanya hancur, malah ada yang tubuhnya terobek dua!
“Hanya sempat kulihat enam orang ini yang telah membunuh para piasu” gumam Hek I Houw cukup keras, entah kepada siapa ia berbicara.
“Siapa yang hendak mengacau disini, akan berhadapan denganku!” ujarnya garang.
Pek Kian Si yang bingung dengan kelakuan Hek I Houw cepat menukas,
“Bukankah kau bertujuan sama dengan kami, hendak memiliki Mustika Kemala Pelangi?”
“Tadinya memang demikian” sahut Hek I Houw dingin.
“Kenapa kau berubah membelai mereka?”
“Istri hendak serong, lelaki ingin bergendak, orang hendak berubah pikiran siapa yang dapat mencegah?” ujar Hek I Houw tak acuh.
“Keluarga Kwee dari SiongYang juga tidak ingin kalian mengacau disini!” teriak Kwee Tiong, disertai adiknya ia segera menghampiri Tan Leng Ko.
Suara desahan berkumandang disana sini, keluarga Kwee adalah keluarga persilatan yang terkenal sekali, selain kehebatannya juga menjunjung tinggi keadilan. Tapi keluarga ini jarang sekali terlibat urusan kangouw, tidak disangka bisa muncul disini!
Melihat kesempatan, dengan cepat Kwee Li menyapa Tan Leng Ko,
“Dilihat dari kesedihanmu, kau tentu seorang piasu dari Lok Yang Piaukok”
Yang disapa, lekas menggerakkan tangannya memberi hormat,
“Bukankah kalian bertekad untuk mendapatkan Mustika kemala Pelangi?”
Sambil tersenyum manis, Kwee Li menjawab:
“Sahabat sejati jauh lebih berharga daripada sebuah mustika”
Giok Hui Yan mencibir bibirnya, hatinya kurang senang melihat cara Kwee Li tersenyum. Gadis ini dinilainya terlalu genit dan sok-akrab. Tanpa terasa, ia maju kedepan dengan lantang ia berseru:
“Pihak Mi Tiong Bun mempunyai hubungan dekat dengan Lok Yang Piaukok, kami juga tidak akan
tinggal diam jika ada yang hendak mencari masalah disini!”
Terlintas rasa heran diwajah Su-Tongcu, tapi ia diam saja mengikuti Ji-siocianya yang kemudian bergabung dengan kelompok Tan Leng Ko.
Terdengar suara kaget dan keributan diantara hadirin, Pek Kian Si diam diam tercengang, ia tidak menyangka Gadis pencuri ronce yang ia telah pukul hingga sekarat ternyata bukan saja masih hidup, malah berasal dari Mi Tiong Bun yang misterius!.
Juga diluar dugaannya pihak yang mendukung Lok yang Piaukok bertambah ramai. Seorang Hek I Houw saja sudah cukup memusingkan kepala, apalagi ditambah pihak Mi Tiong Bun, dan keluarga Kwee yang juga tidak bisa dianggap remeh.
“Aku juga tak ingin kalian mengacau disini!” teriakkan lantang terdengar dari mulut seorang pemuda berbaju biru.
Sikurus kering dari Dua Srigala gunung Hongsan mendengus tidak senang.
“Siapa kau berani lancang berucap lancang?!”
“Bok Siang Gak, seorang yang baru berkelana di rimba persilatan!”
“Pemuda masih bau kencur, tidak dikenal mau unjuk gigi disini?!” jengek sikurus kering.
“Kau tidak mengenalku, tapi tentu kau mengenal benda ini” kata Bok Siang Gak sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
Muka sikurus kering berubah melihat sebuah suling perak yang bekilauan ditimpa cahaya obor, ditangan pemuda itu.
“Pak Sian Gin Siauw, Bok Thin Ki, apa hubungannya denganmu?”
“Dia mengakui aku sebagai anaknya, dengan sendirinya aku memanggil ayah padanya” sahut Bok Siang Gak sambil tersenyum.
Tak terasa Pek Kian Si mengeluarkan pekikkan tertahan. Lagi lagi Lok Yang Piaukok mendapat bantuan dari pihak yang kuat. Pak Sian Gin Siauw, atau Suling Perak Dewa Utara, terkenal sebagai tokoh sakti berwatak aneh, walau tidak semesterius Mi Tiong Bun, tapi juga jarang sekali berkunjung ke tionggoan. Bagaimana mungkin ikut ikutan membantu?
Ia tidak habis mengerti, walau tidak banyak yang ia tahu mengenai Lok Yang Piaukok, sedikitnya ia paham tiada keistimewaan dari perusahaan kecil pengawal barang ini. Malah baru belakangan saja ia mendengar Lok Yang Piaukok. Kenapa banyak sekali yang ikut membela?
Pek Kian Si memandang orang sekitarnya, banyak yang ia tidak tahu namanya, tapi ia tahu tujuan mereka hanya satu, yaitu memperoleh Mustika Kemala Pelangi. Setelah termenung sejenak, cepat ia berseru:
“Bagaimanapun juga, sukar bagi pihak kalian untuk menahan keinginan ratusan orang persilatan!”
Mau tidak mau Tan Leng Ko mengakui kebenaran ucapan Pek Kian Si. Ketenaran dan kehebatan pihak yang ingin membantunya memang tidak perlu diragukan lagi, namun jumlah mereka terlampau sedikit. Tentu sukar sekali menahan gempuran ratusan orang persilatan yang menyerang serentak!
Dia harus mencari akal untuk memecah belah jalinan kerja sama diantara mereka. mencegah mereka bekerja sama. Tujuan mereka boleh hanya satu, tapi ditinjau dari segi keserakahan dan mementingkan diri yang umum dikalangan persilatan, belum tentu mudah bagi mereka untuk bersatu.
“Berita angin Mustika Kemala Pelangi berada di tangan Khu Congpiauthau belum tentu benar, tapi yang pasti betul beliau benar benar tidak berada disini!”
Pek Kian Si tertawa dingin,
“Benar atau tidak, kami ingin memeriksanya sendiri. Jika tadi kalian tidak mencegah, belum tentu timbul korban yang sia sia seperti ini”
“Jika kalian memintanya secara baik baik, itu lain soal. Tapi jika kalian main paksa, terpaksa kita lihat darah siapa yang lebih merah!” dengus Tan Leng Ko.
“Apa kau punya keyakinan menang melawan segini banyak orang?” tanya Pek Kian Si tertawa sinis.
“Tidak! Hanya kuyakin dapat mengalahkanmu” tantang Tan Leng Ko.
Pek Kian Si mendengus perlahan, tentu saja ia mengerti siasat Tan Leng Ko yang memancingnya untuk bertempur satu lawan satu sehingga menunda penyerbuan serentak.
Ujarnya kemudian dengan tertawa licik,
“Jika kau berniat bertarung karena urusan pribadi, kukuatir membuat banyak orang bosan menunggu. Kukemari atas kepentingan umum yang harus lebih didahulukan”
Gegetun melihat kelicinan lawan, Tan Leng Ko lekas menukas,
“Mustika itu hanya satu, jika diketemukan entah siapa yang akan memegangnya? Untuk kepentingan umum, apakah terpaksa diberikan kepadamu untuk mencegah terjadi saling rebut?”
Sikurus dari Dua Srigala gunung Hong San mendengus tak tahan,
“Tentu saja tidak! Kenapa harus diberikan kepadanya? memangnya siapa dia? kami tidak pernah memilihnya menjadi pemimpin, dia sendiri yang mengajukan dirinya”
Walau tidak ingin terjebak oleh siasat memecah belah dari Tan Leng Ko, tak urung merah padam muka Pek Kian Si mendengar ucapan kasar dari sikurus.
Sambil menunding Tan Leng Ko, ia berseru keras,
“Kalian telah lama berkecimpung di dunia kang-ouw, masakkan tidak dapat merasakan adu domba yang disiasati olehnya”
“Adu domba atau tidak, yang jelas ucapannya beralasan, mustika itu hanya satu, jika diberikan pada tampang semacammu, aku yang paling tidak setuju!” jengek sikurus.
“Kita tentukan saja diujung senjata, siapa yang ingin merebut mustika itu, silahkan minta ijin pada kepalanku” terdengar teriakkan dari belakang Pek Kian Si.
“Siau Kun Lok! Kepalanmu lunak seperti tahu, malah masih kalah keras dengan pijitan Giok Si!” teriak seseorang dari sebelah kiri yang rupanya mengenal siapa yang sedang berbicara.
Terdengar suara raungan kemarahan disertai suara gelak disana sini. Rupanya tidak sedikit yang mengenal Giok Si, nama pelacur paling terkenal dikota Lok Yang.
Sebentar saja terjadi kegaduhan, bentakkan dibarengi desingan senjata tajam yang melibatkan puluhan orang. Ternyata tanya jawab tadi, ditimbulkan oleh dua orang dari kelompok yang berbeda.
Dalam waktu singkat terdengar jeritan kesakitan diiringi suara khas, suara daging yang terbacok oleh senjata yang tajam.
Pek Kian terpaksa meloncat menghindar senjata rahasia yang melayang kearahnya. Kilatan kemarahan terpancar dari matanya. Ia benar benar tidak menyangka, ternyata sungguh tidak sedikit orang goblok di rimba persilatan!
“Tahan senjata kalian!” teriaknya menggunakan auman singa.
kaget juga sikurus melihat kesempurnaan tenaga dalam Pek Kian Si yang dapat menggetarkan jantungnya. Perhatian banyak orang otomatis beralih kepada pendekar dari Kang Lam itu. Perkelahian dengan sendirinya terhenti!
Ratusan mata terpusat kepada Pek Kian Si yang tidak ingin menyia nyiakan kesempatan.
“Dari jaman dulu, sejarah persilatan mencatat banyak pesilat yang tewas memperebutkan mustika. Hal ini tidak aneh, hanya yang patut disayangkan, mereka kebanyakkan tewas sebelum sempat melihat mustika itu. Apakah kalian hendak meniru perbuatan bodoh itu?!”
Seperti mendengar suatu lelucon, dengan tertawa mengejek Tan Leng Ko menukas,
“Sejarah persilatan juga mencatat, pesilat tangguh biasanya ribut dulu, urusan belakangan. Pek Kian Si…, jika kau tidak punya keberanian, semestinya kau tidak usah berkecimpung di dunia persilatan. Sebaiknya kau pulang saja ke Kang Lam menetek sama bini!”
Giok Hui Yan tidak dapat menahan ketawanya sedangkan Kwee Li mengulum senyum walau ia melengos dengan muka merah.
Yang lainnya tidak usah ditanya, suasana menjadi riuh, komentar tercetus disana sini. Dari sekian banyak komentar, tidak ada satupun yang bernada baik. Bahkan ada yang menganjurkan Pek Kian Si jika tidak mempunyai bini, boleh mencari dan menetek pada seekor kambing!
Malah ada yang berceloteh, Jika Pek Kian Si tidak punya uang, ada yang bersedia mengantarnya ke pasar hewan dan membayar ongkosnya.
Degan muka kaku menahan dongkol, Pek Kian Si menatap Tan Leng Ko dengan geram. Tadinya ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menonjolkan diri, dan diam diam menjadi tokoh yang
disegani. Sungguh di luar dugaannya urusan berubah, dirinya malah menjadi konyol begini!
“Hei, Pek Kian Si! Dari pada melotot begitu, kenapa tidak kau hantam saja?” teriak seseorang diantara keremunan.
“Hm! Kutahu siasatnya. Ia tidak ingin kita bersatu padu. Ia menginginkan pertarungan satu lawan satu hingga memudahkan baginya. Aku tidak ingin terjebak olehnya!”
Tan Leng Ko menyeringai dan tertawa dalam hati. Ia cukup menyadari siasatnya memang kasar, mudah diterka lawan. Tapi bukan berarti tidak berguna!
Sambil menatap balas Pek Kian Si, Tan Leng Ko bergumam dalam hati:
“Kau boleh mengetahui siasatku bukan berarti kau dapat lolos!”
Mengadu domba adalah siasat kuno yang belum pernah tidak berhasil. Dari jaman apapun , siasat ini selalu digunakan oleh si jumlah kecil melawan jumlah yang besar. Terjajahnya suatu bangsa bahkan hingga ratusan tahun juga disebabkan oleh keajaiban siasat ini.
Setelah tertawa perlahan, Tan Leng Ko berkata:
“Kukenal Giok Si yang sering kaukunjungi. Beberapa hari yang lalu, dia pernah bilang padaku, sebagai langganan tetap kau jarang sekali bayar. Selain hobi menunggak, kau juga gemar memukulnya. Karena tak tahan teraniaya, dia nekat menjual rahasiamu padaku”
Pek Kian Si tidak heran Tan Leng Ko mengetahui kunjungannya ke rumah bordil Lampiun Merah. Lelaki yang memerlukan alat pelampias nafsu, jika berada di kota Lok Yang, sedikitnya akan menyempatkan waktu untuk mencari Giok Si, si pelacur penawan hati.
Ia juga cukup sadar, lelaki dalam keadaan bugil, berbaring dan ditemani perempuan cantik yang bugil pula, gemar berbicara lebih banyak dari biasanya. Hanya setahunya, ia tidak pernah menceritakan sebuah rahasia segala.
Tapi ia dapat melihat, pemuda yang sekarang botak yang pernah dijumpainya bersama gadis liar itu, adalah seorang yang cerdik. Jelas tidak akan sembarangan berbicara. Mau tidak mau, timbul rasa ingin tahunya.
“Rahasia apa?” tanyanya heran.
“Rahasia kenapa kau menggunakan pedang sebagai gaman andalanmu,sebab…”
Tiba tiba Tan Leng Ko berhenti berbicara.
“Sebab apa?” tanya Pek Kian Si tak tahan.
Dengan mendengus, Tan Leng Ko berkata ketus:
“Kuhabiskan 500 tahil perak untuk membeli rahasia itu, masakkan engkau hendak memperolehnya dengan gratis”
“Yaa, sedikitnya sekarang bernilai 5000 tahil perak!” seru Giok Hui Yan serius.
Giok Hui yan tidak tahan untuk tidak menimbrung. Beberapa hari terakhir ini, Tan Leng Ko boleh
dibilang selalu bersama dengannya. Jelas ucapannya sedang mengerjai Pek Kian Si. Jika ia dapat membantu merugikan pendekar dari Kang Lam itu, tentu tidurnya bakal nyenyak nanti malam.
Tentu saja hadiah pukulan Pek Kian Si tidak ia lupakan. Bahkan ia berencana menuntus balas beserta rente rentenya. Tapi hal ini dapat ditunda untuk sementara, mengingat urusan didepan mata lebih mendesak.
Selagi Giok Hui Yan sibuk dengan pikirannya, sementara itu, tanpa banyak rewel, Pek Kian Si melempar beberapa keping emas kepada Tan Leng Ko.
“Kubayar kontan rahasia itu, nah perlahan saja kau katakan”
Setelah menerima pembayaran, mau tidak mau Tan Leng Ko harus mengatakan. Dengan muka misterius, ia bergumam pelan.
“Kerasan sedikit! aku tidak mendengar ucapanmu” kata Pek Kian Si penasaran.
“Katanya, pukulanmu memang sedikit lebih keras dari pijitannya sehingga tidak dapat diandalkan” Teriak Tan Leng Ko lantang.
Suara gelak kembali berkumandang disana sini. Merah padam muka Pek Kian Si, sekuat tenaga ia mengekang rasa dongkolnya.
Ditengah suara gaduh, kembali terdengar teriakan dari sebelah kiri.
“Hei, Siau Kun Lok! Sebaiknya kau membuat satu perkumpulan dengan Pek Kian Si. Beri saja nama ‘Perkumpulan Pukulan Tahu’. Walau pukulannya tidak hebat, dijamin lunaknya tiada bandingan!”
Teriakkan kemarahan disertai gelakkan tawa dan dentingan adu senjata kembali terdengar. Dua kelompok yang entah dari mana kembali bertikaian. Tan Leng Ko hanya dapat menduga kelompok ini nampaknya memang musuh bebuyutan.
Pek Kian Si sekarang paham maksud Tan Leng Ko yang sebenarnya yakni memecah belah. Dengan berbicara asal omong. Ia menggunakan nama Giok Si untuk mengingatkan dan memancing rasa marah dari kelompok dibelakangnya.
Orang kang-ouw selalu menganggap nama dan harga diri jauh lebih penting dari pada nyawa. Menjaga martabat diri selalu didahulukan, meski mereka tahu mereka sedang diadu domba, tetap sukar bagi mereka untuk melepaskan diri.
Ia mengumpat dalam hati, pemuda botak didepannya sungguh bukan lawan lunak, ia harus hati hati menghadapinya, tidak boleh meremehkan.
Pek Kian Si menimbang kemungkinan kemungkinan di dalam hatinya, apa yang harus ia lakukan untuk memandulkan siasat licik pemuda ini?
Sementara Pek Kian Si sibuk dengan alam pikirannya, kesempatan itu dimanfaatkan Su-Tongcu untuk bertanya pada Ji-Siocianya.
“Kenapa kau melibatkan diri pada urusan orang lain?”
“Lok Yang Piaukok telah banyak membantu Mi Tiong Bun, aku berkewajiban untuk membantu
mereka…”
Seperti teringat satu hal, Giok Hui Yan balik bertanya:
” Kenapa Su-lopeh baru tanyakan sekarang?”
“Tadi dapat kurasakan keseriusan situasi, aku tidak ingin mengambil kesimpulan tanpa mengetahui ujung pangkalnya”
“Aku lebih memahami situasi yang ada, kuminta Su-lopeh bertiga untuk membantu mereka jika terjadi pertempuran”
Selesai berkata Giok Hui Yan menghampiri dan menjawil ujung baju Bok Siang Gak.
“Benarkah kau putra Pak Sian Gin Siauw?”
Yang ditanya mengangguk sambil tersenyum, sahutnya:
“Aku memang anaknya, anak satu satunya malah”
“Kenapa kau malah membantu pihak kami?” tanyanya heran.
Giok Hui Yan yang pernah menyaksikan pertarungan pemuda itu dengan Hek I Houw, ia tidak paham kenapa kedua duanya sekarang malah bahu membahu membantu pihak Lok Yang Piaukok?
Ingin menanya langsung kepada Hek I Houw, ia enggan. Ia memilih Bok Siang Gak, bagaimanapun juga, rupa pemuda itu jauh lebih menyenangkan.
Bok Siang Gak tertegun, ia tidak menyangka bakal ditanya. Ia juga tidak tahu bagaimana cara menjawabnya!
Pertama kali ia melihat gadis ini, hatinya sudah tertarik! Wajahnya yang ketika itu pucat, tidak mengurangi kecantikkannya, malah menimbulkan perasaan iba dilubung hati pemuda itu.
Bok Siang Gak bukan jenis pemuda yang belum pernah melihat paras cantik, tapi seperti ada sesuatu di diri gadis itu yang mencegah dirinya untuk berbuat hal hal yang tidak menyenangkan gadis itu. Entah cara senyumnya yang menggemaskan, atau suara tawanya yang seperti berirama ditelinganya, atau mungkin keindahan matanya yang berbinar tajam menatap dirinya.
Ia tidak ingin gadis yang hingga sekarang belum ia ketahui namanya, kecewa terhadap dirinya.
Giok Hui Yan tak dapat menahan ketawa, melihat Bok Siang Gak menatap bodoh dirinya dengan pandangan penuh kekaguman. Naluri kewanitaannya timbul, ia merasa risih dipandang secara demikian. Sebersit pikiran nakal mengerjai pemuda itu muncul dibenaknya. Hanya sebelum ia sempat berbuat, mendadak terdengar teriakkan lantang Pek Kian Si.
“Dengarkan ucapanku! Aku akan masuk kedalam mencari Mustika Kemala Pelangi, bagi yang hendak ikut siapa tahu ketiban rejeki, bagi yang hendak ribut diluar sini, silakan kalian ketiban golok, silahkan kalian berkelahi sampai mampus!”
Tan Leng Ko mengumpat dalam hati atas kelicikan lawannya, meski siasatnya saat ini berjalan dengan baik, sayangnya daya tarik mustika itu sangat kuat!
Ternyata Pek Kian Si telah memanfaatkan titik lemah kebanyakkan orang kangouw. Titik hawa nafsu ingin menguasai sebuah mustika, sebuah mustika yang mengandung rahasia tempat penyimpanan ilmu ilmu sakti mandraguna!
Rasa tamak nampaknya jauh lebih berpengaruh, lebih penting dibanding harga diri.
Kali ini Tan Leng Ko benar benar bakal menemui kesukaran untuk menghentikan serangan serentak dari ratusan orang kangouw.
Lok Yang Piaukok dalam bahaya!
Benar saja, pertarungan yang sedang berlangsung, berhenti dengan sendirinya. Mereka berlomba menyusul Pek Kian Si yang berjalan ke pintu gerbang!
Cepat Tan Leng Ko meraih golok yang menggeletak disebelah mayat anak buahnya, goloknya sendiri entah menghilang dimana, mungkin tercecer di taman belakang di toko buku itu. Sekali meloncat ia menghadang Pek Kian Si.
Tanpa banyak berbicara lagi, dia melepaskan sebuah tabasan ke arah dada lawan. Dengan gesit Pek Kian Si menghindar, lalu memutar badannya. Tangan kanannya tidak tinggal diam, dengan sebat menyambar ke belakang untuk meloloskan pedangnya.
“Sreet!” cahaya tajam segera berkilauan menyilaukan wajah Tan Leng Ko.
Sudah lama para jago persilatan tahu kalau Pek Kian Si terkenal di dunia persilatan karena ilmu pedangnya yang lihay, kendatipun demikian, jarang sekali orang yang pernah menyaksikan permainan pedangnya didepan umum. Tidak heran, semua oprang lantas memusatkan segenap perhatiannya untuk menyaksikan pertarungan ini.
Dilihat dari cara mencabut pedang, Tan Leng Ko dapat menilai sampai dimana taraf kesempunaan yang berhasil diraih lawannya. Agaknya ia cukup sadar, kalau ilmu pedang yang dimiliki Pek Kian Si lihai sekali.
Tan Leng Ko tak berani menganggap enteng musuhnya, dengan sorot mata yang bekilauan tajam, dia awasi gerak pedang lawan yang mengarah pada jantungnya. Secepat kilat goloknya membentuk gerakkan melingkar, sedangkan tangan kirinya dengan setengah ditekuk mengebas pergi serangan pedang lawan.
Paras muka Pek Kian Si berubah hebat setelah menyaksikan datangnya ayunan golok Tan Leng Ko, dalam seruan tertahan ia mendadak menekuk pinggang sambil menarik kembali senjatanya.
Setelah itu pedangnya sekali lagi digetarkan kemuka, dari kiri menusuk kekanan lalu dari kanan menyapu ke tengah, dalam waktu yang singkat sekali dia telah melepaskan tiga buah serangan berantai!
Tampak cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, dengan suatu gerakkan pedang yang aneh, seperti menotok, seperti juga menggunting, dia menghajar musuhnya.
Usahanya berhasil, Tan Leng Ko telah terdesak mundur sejauh lima langkah oleh gencaran serangan berantainya.
Pek Kian Si memang tak malu disebut seorang jago pedang dalam dunia persilatan, ia tak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk melepaskan serangan balasan, kaki kirinya segera maju selangkah kemudian pedangnya ditebas kesamping dan
“Sreeet!” sebuah tusukan kilat disodokkan kemuka.
Kali ini Tan Leng Ko tidak menghindar lagi, mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah membentak nyaring, pergelangan golok di tangan kanannya diayunkan ke muka membabat punggung pedang, seketika itu juga muncul segulung angin pukulan dingin yang mendesak pedang lawan miring kesamping.
Sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam. tiba tiba saja ia melepaskan terobosan mnencekeram pergeralangan tangan kanan musuh yang mengenggam pedang.
Pek Kian Si amat terkejut,cepat cepat dia mundur sejauh tiga langkah tiba tiba saja gerakkan pedangnya berubah. Terlihatlah sinar pedangnya berkelebat sehingga membentuk suatu jaringan pedang yang sangat rapat, menerjang tubuh Tan Leng Ko dari arah atas menuju kebawah.
Terdengar angin menderu deru, cahaya kilat pedang berkilauan diangkasa, segulung angin puyuh yang maha dahsyat segera menggulung tiba.
Tan Leng Ko mendengus dingin, ujung bajunya berkibar terhembus angin, dengan cepat ia menerjang masuk ketengah gulungan angin pedang yang gencar. Dengan goloknya ia menangkis pedang lawannya, lalu dengan tangan kirinya ia menyerang musuh.
Dalam sekejap, terlihat sinar pedang dan golok berkelebat, berkilauan diselingi suara benturan dan dentingan yang terus menerus, tak henti hentinya bagaikan meluncurnya bintang dilangit menyambar keseluruh penjuru dan meletus dengan hebatnya.
Serangan mereka berubah silih berganti, bagaikan dua naga mengamuk diangkasa, kelihaian mereka benar benar luar biasa sekali!
Kawanan jago persilatan itu rata rata merupakan jagoan, ilmu silat mereka rata rata juga hebat, tatkala mereka menyaksikan jalannya pertarungan tersebut , serentak keningnya berkerut.
Rupanya sedikit sekali dari mereka yang dapat membedakan mana gerakkan golok dari Tan Leng Ko dan manakah jurus pedang dari Pek Kian Si.
Pertarungan yang menegangkan ini, mencengangkan semua orang, membuat semua jago yang hadir diarena tak seorangpun yang teringat untuk menerobos masuk ke dalam. Mereka semua hanya berdiri tegak ditempat semula dengan wajah terpesona.
Mendadak sinar pedang Pek Kian Si berubah bagaikan pelangi yang muncul sehabis hujan, tubuh pedangnya dengan cepat dilancarkan kedepan. Segera terlihatlah sinar kekuningan yang
menyilaukan meliputi sekeliling tempat tersebut dan mengitari tengah udara dengan kencangnya, menerjang tak henti hentinya mengancam tubuh Tan Leng Ko.
Dengan gusar Tan Leng Ko mendengus, jari tengah dan telunjuk dari tangan kirinya ditepiskan membentur tubuh pedang ditangan Pek Kian Si, sedang kaki kanannya maju kedepan, tangan kanannya dengan kecepatan bagaikan kilat membacok dada lawannya.
Cepat Pek Kian Si menjejakkan kakinya, melenting kebelakang bersalto tiga kali untuk meololoskan diri dari serangan musuhnya. Dia tidak segera menyerang Tan Leng Ko, otaknya berpikir keras untuk menemukan cara yang tepat untuk mengalahkan Tan Leng Ko.
Jarak mereka terpisah sekitar tujuh kaki. Keduanya berdiri saling melotot sambil mengatur napas yang serabutan.
Mendadak Pek Kian Si mengalihkan pandangannya kearah kerumunan jago persilatan, kemudian mendengus:
“kalian datang kesini hendak menonton pertandingan atau hendak mencari Mustika Kemala Pelangi didalam!”
Teringat pada mustika yang sangat menggiurkan itu, tak usah diingatkan kedua kali, terdengar teriakkan gemuruh bercampur suara macam macam senjata yang dicabut dari sarungnya. Ratusan orang serentak menyerbu ke pintu gerbang.
Otot dirahang Tan Leng Ko bergerak gerak ketika ia mengadu giginya keras keras. Ia telah membuat kesalahan! Tidak seharusnya dia memberi peluang kepada Pek Kian Si untuk berbicara! Tak dapat menahan murkanya, Tan Leng Ko berteriak mengayun goloknya mendesak maju kedepan.
“Su-lopeh! cepat kalian bertiga maju menghadang mereka!” teriak Giok Hui Yan yang tubuhnya dengan sangat ringan sekali bagaikan bertiupnya angin berkelebat menghadang, menyerang, mencoba merubuhkan lawan sebanyak dan secepat mungkin.
Tanpa banyak bicara, Su-tongcu bertiga mencabut pedang mereka, dalam waktu singkat angin yang tajam menggiris, menerpa keremunan jago persilatan. Ada yang berhasil menghindar, tapi sedikitnya lima orang rubuh dengan dada terbelah terhajar hawa pedang yang dapat memanjang satu depa!
Kejadian itu tidak membuat orang orang kangouw gentar, sekitar sepuluh orang mengepung dan mengayunkan senjata yang cukup merepotkan jago jago Mi Tiong Bun.
Disebelah kanan pintu gerbang, Hek I Houw terlibat pertempuran melawan Dua Srigala dari gunung Hongsan yang dibantu oleh tujuh orang jago persilatan lainnya.
Entah karena banyak yang segan mencari perkara dengan keluarga Kwee yang banyak dihormati orang, yang paling sedikit menghadapi keroyokkan lawan adalah Kwee bersaudara. Cara bertempur mereka pun tidak main bunuh, cukup asal lawannya tertotok atau terluka ringan, mereka segera meninggalkan korbannya mencari lawan baru.
Sedangkan yang paling kerepotan adalah Bok Siang Gak yang harus melawan keroyokkan lebih dari
dua puluh orang! walau nama Pak Sian Gin Siauw cukup terkenal, tapi bukan karena keseraman atau kekejiannya, hingga banyak yang memilih lebih baik mencari perkara pada pemuda itu ketimbang Hek I Houw atau pihak Mi TIong Bun.
Dengan gagah pemuda itu menggerakkan tangannya, terdengar suara merdu suara seruling ketika tubuhnya terbungkus bayangan perak menangkis senjata rahasia lawan. Walau berkepandaian hebat, dia terdesak hebat! Sepasang tangan melawan empat puluh tangan bagaimanapun juga merupakan pertandingan yang berat sebelah!
Yang melakukan pertempuran satu lawan satu hanyaTan Leng Ko, rupanya banyak yang terpesona dengan pertarungan mereka, sehingga membiarkan mereka berdua menyelesaikan perselisihan mereka sendiri.
Suasana pertempuran kacau sekali!
Tidak ada yang menganggur! Desakkan yang paling berat terjadi didepan pintu gerbang yang dijaga oleh barisan golok para piasu. Sungguh barisan golok yang ampuh! walau dengan susah payah, kerja sama mereka tetap rapat, sepertinya untuk sementara mereka mampu membendung serbuan banyak orang.
Sinar mata Tan Leng Ko berkelebat ia ingin cepat cepat mengakhiri pertempuran ini. Jurus goloknya telah berubah, menanti tangan kiri Pek Kian Si membentur tubuh goloknya, tubuhnya barulah bergeser dengan cepat mendesak maju kedepan, goloknya diputar sedemikian rupa ditengah udara, sedang gagang goloknya menghantam jalan darah ” Chie ce hiat” dipergelangan tangan Pek Kian Si.
Kegesitan serta kecepatan gerak tubuh Tan Leng Ko sama sekali diluar dugaan Pek Kian Si, dalam hatinya diam diam dia merasa sangat terkejut sekali, dengan serangan yang dilancarkan oleh lawannya ini. Apabila jalan darah chie ce hiat nya benar benar terbentur gagang golok, tubuhnya tentu segera akan berhasil dipukul rubuh keatas tanah!
Melihat keadaan seperti itu, Pek Kian Si tak berani lama bertahan lagi, tubuhnya dengan cepat mundur kebelakang. Tan Leng Ko yang melihat lawanya mundur kebelakang, segera menubruk maju kedepan berturut turut melancarkan beberapa kali serangan golok, setiap serangan golok itu semuanya mengancam jalan darah terpenting dibagian depat tubuh Pek Kian Si!
Serangan golok tersebut belum mencapai sasarannya, hawa golok dengan dahsyat sekali telah menekan tubuh lawannya, dalam hati Pek Kian Si menjadi sangat terperanjat, dengan tenaga dalam yang dimiliki Tan Leng Ko saat ini, tak mungkin dia akan berhasil melawan.
Ditengah lapisan bayangan golok yang menyelimuti udara mendadak Pek Kian Si melejit ketengah udara dan melayang turun tiga empat kaki jauhnya dari arena, mendadak terdengar dengusan tertahan,baju dibagian perutnya robek mendatar, darah kental mengucur dari goresan luka sedalam setengah inci!
“Apakah gerakkanmu barusan, adalah jurus Ouw Yang Ci To yang konon telah lenyap itu?” tanyanya dengan muka serius.
Tan Leng Ko terkesiap, mukanya berubah hebat, tanpa sadar selama ini ia telah mengeluarkan jurus yang pernah ia janji tidak akan digunakannya lagi.
Selagi ia termenung, Pek Kian Si meloncat dengan ringan sambil menggetarkan pedangnya. puluhan batang pedang seperti mengancam jalan darah bagian depan tubuh Tan Leng Ko.
Tan Leng Ko menjadi bingung juga, tanpa jurus andalannya, sukar baginya mengalahkan lawan! Apalagi tadi ia sempat melirik keadaan sekitarnya…, ternyata keadaan genting sekali!
Beberapa orang telah berhasil meloncat melalui tembok pagar Lok Yang Piaukok tanpa dapat dicegah. Membuat hatinya gelisah bukan main, pikirannya bercabang. Beberapa serangan pedang Pek Kian Si membuatnya terdesak hebat!
Goloknya menangkis secara serabutan, Tan Leng Ko kemudian meloncat menjauhi lawannya sambil berteriak parau:
“jika kau tidak membantu…. Kumati disini! Otomatis perjanjian kita batal dengan sendirinya!”
“Tan-ko kepada siapa kau berbicara?” ditengah kesibukkannya Kwee Li sempat menyahut.
Bergeridip mata Giok Hui Yan, dia dapat menduga kepada siapa Tan Leng Ko berbicara. Yaa, hanya locianpwee itu dengan kesaktiannya yang luar biasa, yang dapat mencegah kehancuran Lok Yang Piaukok!
Timbul semangat tempurnya, tangannya mengayun lurus kedepan, suara mencicit hawa pedang membubarkan pengeroyokkan atas dirinya walau dalam tempo singkat mereka kembali bergabung menyerangnya.
Tan Leng Ko tidak menggubris pertanyaan Kwee Li, malah mengayunkan goloknya menyerang Pek Kian Si sambil meraung lebih keras:
“jika kau tidak membantuku sekarang, kau akan kucaci maki!”
Mendadak hawa panas dingin mengamuk, Tan Leng Ko mengeluh. Gerakkannya langsung kacau balau, tangan kiri Pek Kian Si berhasil menghajar rusuk kanannya, tubuh Tan Leng Ko terhuyung kebelakang, posisinya sangat terjepit, tusukkan Pek Kian Si yang mengarah jantungnya tidak mampu ia hindari!
Disaat pedang itu menembus dada kirinya, Tan Leng Ko sempat mengayunkan tangan kirinya, serangkum hawa panas menerjang bahu kanan Pek Kian Si yang menjerit, mental terhajar! Tercium bau hangus pakaian yang terbakar.
Mencelos hati Kwee Li melihat kejadian itu, ingin sekali ia menengok keadaan Tan Leng Ko, tapi rasa malu menahannya untuk menerjang kesana. Baru ia mau meminta pertolongan kakaknya, terdengar jeritan gadis yang dikenalnya sangat binal itu.
“Kau?!” teriak Giok Hui Yan yang cepat meninggalkan lawannya bergegas menghampiri Tan Leng Ko yang tersungkur ditanah!
Tan Leng Ko merasa rusuk kanannya sakit bukan main, tapi ia juga merasa hawa murni yang bergejolak berkurang jauh! Cepat ia memeriksa lukanya. Aneh! tiada darah yang keluar dari dadanya yang tertusuk!
Setelah memeriksa sebentar, baru sekarang ia paham. Tangan Tan Leng Ko mengeluarkan tiga kitab dari saku dalam dada kirinya. Kitab yang dibelinya di toko buku Gu-Suko telah bolong dibagian tengahnya!
Tusukkan seorang ahli pedang yang telah berlatih puluhan tahun, mempunyai kebiasaan tidak menggunakan tenaga berlebih. jika tidak teralang kitab kitab itu, tusukkan tersebut sudah cukup memasukki jantung Tan Leng Ko dan menewaskannya!
“Omitohud!” ucap Tan Leng Ko dan Giok Hui Yan berbareng.
Tan Leng Ko menyeringai pada Giok Hui Yan yang kemudian berkata sambil menyengir:
“Kitab Buddha yang telah menyelematkan kau, kan pernah kubilang, kau cocok menjadi bhiksu”
Baru Tan Leng Ko hendak menjawab, tiba tiba terdengar suara halus yang berwibawa:
“Sicu sekalian, hentikan pertarungan yang tidak berguna ini!”
Suara itu walau tidak membawa tekanan hawa sakti atau gentakkan yang menggoyangkan jantung, namun terdengar kemana mana!
Bahkan terdengar jelas sekali oleh setiap orang disela sela keributan pertarungan. Entah dikarenakan, suara itu mengandung kelembutan yang menyejukkan dan menenangkan hati, yang jelas mereka menghentikan perkelahian. Seperti bocah bocah nakal yang kadang mendengar dan menurut teguran kasih dari orrang yang mengasihinya.
Giok Hui Yan memandang Tan Leng Ko dengan tegang, bisiknya:
“Pancinganmu berhasil! Akhirnya, locianpwee itu muncul juga”
Tan Leng Ko juga menganggap demikian. Walau ia sudah berbincang dengan locianpwee sakti itu, tapi ia tidak kenal dengan suaranya. Suara bisikkan memang tidak bisa dijadikan ukuran.
Dengan tegang ia memperhatikan kerumunan orang kangouw yang terbelah, seperti memberi jalan kepada seseorang!
Seorang yang berusia lanjut yang mengenakan jubah kuning kependetaan berjubah merah berjalan dengan tenang.
“Mo Tian Siansu!” seru Hek I Houw yang nampak terkejut juga.
Tan Leng Ko menghela napas. Walau ia tahu, Mo Tian Siansu merupakan salah satu tokoh sakti dari Siaulimsi tapi ia tidak yakin kemampuannya dapat menghalangi serbuan orang kangouw ini.
“Lain halnya jika yang muncul Goan Kim Taysu sendiri” lamunnya menutupi kekecewaannya.
“Omitohud!….Apapun persoalannya, tidakkah dapat diselesaikan dengan cara selain saling bunuh” kata Mo Tian Siansu sedih.
“Apakah kedatangan siansu juga seperti kami, untuk mencari Khu Pek Sim?” sela sikurus dari dua Srigala gunung Hongsan.
“Bukankah Khu Pek Sim Sute berada di kota Po Ting?” seru Mo Thian Siansu heran.
Tan Leng Ko yang hendak berseru mencegah…terlambat!
Ia hanya dapat menghela napas mendengar ucapan polos Mo Tian Siansu. Ia juga tidak dapat menyalahkannya, bhiksu itu tidak tahu menahu persoalannya disini.
Sudah menjadi suatu naluri bagi seseorang untuk membetulkan satu ucapan yang salah. walau tidak sedikit yang melakukannya, karena ingin dipuji atau dianggap serba tahu, tapi ada juga yang keluar secara spontan, hanya untuk meluruskan fakta yang ada.
Justru ucapan yang polos tidak bersalah kadang malah lebih berbahaya!
Sikurus menatap pakaian Mo Tian Siansu yang penuh debu, ciri dari seorang yang telah menempuh perjalanan kaki yang lama dan jauh.
Setelah termenung sebentar, ia berkesimpulan bhiksu ini tidak tahu menahu persoalan Mustika Kemala Pelangi hingga tidak beralasan untuk berbohong. Tapi ia ingin memastikan sekali lagi. Ujarnya kemudian,
“Urusan apa yang membawa Siansu kemari?”
“Siancai…siancai…! Orang beragama tidak boleh berdusta. Kudatang menjemput cucu Khu Pek Sim sute dalam sangkutan yang tidak berhubungan dengan kalian”
Berubah muka sikurus begitu pula yang lainnya. Banyak yang baru tahu bahwa Khu Pek Sim, Congpiathiau Lok Yang Piaukok, ternyata murid Siaulimpay, dan mereka telah membuat keributan disini!
Setelah berpikir sejenak, sikurus kemudian berkata:
“Orang beragama tentu tidak akan berdusta, ucapan siansu benar, pertarungan ini tidak berguna, aku mohon diri”
Badannya membungkuk memberi hormat, kemudian ia mengajak rekannya,
didalam beberapa kali lompatan saja, bayangan tubuh mereka sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Tan Leng Ko yang tadinya rada menyesal atas ucapan Mo Tian Siansu yang kelepasan bicara, sekarang berubah pikiran. Malah ia bersyukur ketika ia menyaksikan satu persatu tokoh tokoh persilatan mulai mengundurkan diri.
Matanya dengan cepat mencari Pek Kian Si yang sudah tidak terlihat batang hidungnya. Jelas sekali, ia merupakan salah satu tokoh yang mampu menggunakan otak!
Tapi masih tidak sedikit bahkan ratusan orang yang berdiri termangu bodoh seperti tidak mengerti
apa yang telah terjadi.
“Khu Pek Sim locianpwee berada di kota Po Ting, Apakah kalian akan membiarkan mereka pergi untuk memperoleh Mustika Kemala Pelangi!” bentak Giok Hui Yan menyadarkan mereka.
Seperti baru mengerti, terdengar suara gopoh disana sini, rombongan demi rombongan menghilang dikegelapan malam, Lewat beberapa saat kemudian, suara keributan itu terdengar menjauh.
Yang tersisa hanya kelompok Tan Leng Ko yang dikelilingi mayat mayat yang bergelimpangan, serta bau anyir darah yang menusuk!
Tan Leng Ko menatap Giok Hui Yan sambil menghela napas, sebetulnya ia tidak setuju dengan caranya yang dapat sangat membahayakan Khu Pek Sim, namun ia juga tahu hanya cara itu satu satunya yang dapat mengusir ratusan orang itu sekaligus mencegah bencana bagi Lok Yang Piaukok.
Baru ia hendak menghampiri Mo Tian Siansu, Ci Kang salah seorang piasu memanggilnya.
“Ada apa?”
“Sebaiknya Tan-kausu melihatnya sendiri didalam” jawab Ci Kang.
Diikuti Giok Hui Yan, segera ia mengikuti anak buahnya masuk kedalam pintu gerbang. Didekat pepohonan yang tumbuh dipekarangan, menempel ditembok pagar nampak tumpukkan manusia yang menindih satu dengan lain dalam keadaan kaku!
Setelah memeriksa beberapa orang tersebut, Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam. Tanpa harus memeriksa semuanya, ia yakin mereka telah tertotok ditigapuluh enam urat nadinya.
Giok Hui Yan memandangnya lekat lekat, tanpa berbicarapun mereka maklum, ternyata locianpwee sakti itu telah membantu mereka!
“Rupanya, ia tidak ingin kau caci maki” gumam Giok Hui Yan perlahan.
Tan Leng Ko tidak menjawab, banyak hal yang harus ia kerjakan juga yang harus ia pikirkan.
“Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?” tanya Ci Kang.
Tan Leng Ko menatap Ci Kang sebentar, timbul rasa syukur bercampur iba begitu melihat pakaian Ci Kang yang basah ternoda darah. Tiba tiba teringat olehnya, Ci Kang termasuk salah satu yang menjaga pintu gerbang dengan menggunakan barisan aneh yang belum pernah ia lihat.
“Darimana kalian belajar barisan golok itu?” tanyanya ingin tahu.
Dengan ragu Ci Kang menjawab,
“Ketika kami mempelajarinya, kami telah dipesan jangan sekali sekali sampai Tan-kausu tahu!”
Tan Leng Ko memandang anak buahnya dengan pandangan dingin. Terlihat sekali Ci Kang seperti serba salah, namun akhirnya ia memutuskan untuk berkata juga:
“Lapor Tan-kausu! Cu-toako yang mengajari kami barisan golok itu. Ia tidak ingin kami bercerita,
karena ia tidak ingin melangkahi Tan-kausu. Tapi ia juga menganggap pentingnya barisan pertahanan yang dapat menahan serangan orang banyak!”
“Apa Cu Goan sudah pulang?” tanya Tan Leng Ko heran.
“Bukankah Tan-kausu telah melihat, ia tadi bersama sama bertempur dengan kami” sahut Ci Kang.
Tan Leng Ko rada heran juga, sebab ia merasa tidak pernah melihat Cu Goan, tapi ia tidak mempesoalkan hal itu, suasana pertempuran tadi kacau sekali, lagipula urusannya saat ini, sudah terlampau banyak.
“Coba kau panggil dia kemari!”
“Lapor Tan-kausu, Cu-toako sedang berbaring merawat lukanya yang parah, dia berhalangan hadir”
Tan Leng Ko mengangguk, lalu ia menyuruh anak buahnya untuk memasukkan orang orang tsb kedalam kereta barang dan membawa mereka pergi.
“Kemana mereka harus kuturunkan” tanya Ci Kang.
“Pergi kearah barat selama sebelas jam tanpa berhenti, kemudian kalian boleh letakkan saja mereka dipinggir jalan, sejam kemudian totokkan mereka akan terbuka dengan sendirinya”
“iiihh…! Apakah ke tiga puluh enam urat nadi mereka telah tertotok” kejut Mo Tian Siansu yang telah melangkah masuk kedalam bersama sama Kwee Tiong, Kwee Li, Su-Tongcu dan yang lain. Tanpa menunggu jawaban, ia memeriksa tumpukkan orang orang tersebut.
Tan Leng Ko mengeluh dalam hati, ia mengomeli dirinya dalam hati. Ia benar benar lupa, locianpwee sakti itu pernah mengacau di siaulimsi!
Tidak seharusnya ia berbicara keras keras hingga menarik perhatian Mo Tian Siansu. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin bhiksu itu menyelidiki hubungannya dengan locianpwee itu.
“Darimana kau tahu totokkan ini akan terbuka dengan sendirinya, dua belas jam kemudian?” selidik Mo Tian Siansu sambil menatap Tan Leng Ko dengan tajam.
“Sebab aku pernah melihat seseorang ditotok secara demikian” jawab Tan Leng Ko menjaga tekanan suaranya, polos seperti bayi yang tidak tahu apa apa.
“Apakah kejadian itu baru baru saja terjadi?” desak Mo Tian Siansu.
“Tidak! Kejadian itu terjadi sekitar tujuh tahun yg lalu. Ketika itu aku sedang menuju ke propinsi Sujwan, dan kutemukan seseorang berpakaian compang camping, brewokkan, sedang berbaring dipinggir jalan” sahut Tan Leng Ko mengarang cerita sekenanya.
“Kucoba menolongnya dengan membuka jalan darahnya yang tertotok ditiga puluh enam tempat, tapi tidak juga berhasil walau sudah berkutet sekian lama” lanjut Tan Leng Ko.
Mo Tian Siansu mengangguk,membenarkan.
“Karena tidak ingin meninggalkan orang itu begitu saja, tapi juga tidak berdaya menolongnya, terpaksa kutunggui dia hingga jalan darahnya terbuka dengan sendirinya”
“Dan kau telah menungguinya selama dua belas jam?”
“Benar! Sekian lama kutunggui dia, begitu bebas, bukan saja tidak berterimakasih, bahkan ia
berkelebat menghilang begitu saja!” ucap Tan Leng Ko dengan kesal.
Diam diam ia mengagumi dirinya, yang dapat bersandiwara begitu bagusnya.
“Jadi kau tidak sempat bertanya siapa namanya, kenapa ia sampai tertotok dengan cara demikian?” seru Mo Tian Siansu dengan nada kecewa.
“Aku tidak tahu siapa dia, juga tidak tahu kenapa ia tertotok begitu” sahut Tan Leng Ko bergaya apa boleh buat.
“Apa selama ini, kau tidak pernah bertemu lagi dengan orang itu?”
“Aku pun ingin sekali berjumpa satu kali lagi dengannya. Ingin kutanyai dia, apakah dia ketika kecil, pernah mendapat pendidikkan budi pekerti? Seseorang yang telah menungguinya setengah harian, sedikitnya perlu diucapkan terimakasih paling tidak satu kali” seru Tan Leng Ko dengan jengkel.
Mo Tian Siansu menghela napas, titik terang yang dianggapnya dapat memulai penyelidikkan kembali buram, terputus begitu saja.
“Apakah ada sesuatu barang penting yang hilang di Lok Yang Piaukok” tanya Mo Tian Siansu setelah termenung sejenak.
Sambil berpura pura heran, Tan Leng Ko lekas menjawab,
“Kecuali kereta kereta barang yang kami anggap penting, kami tidak memiliki benda penting lainnya, setahuku kereata barang masih ada dipekarangan belakang… kuyakin kami tidak kehilangan barang!”
Dengan cepat ia menyuruh Ci Kang,
“Lekas kau ambil kereta barang kesini. agar Siansu tidak terlalu kuatir!”
Yang disuruh mengangguk, kemudian berlari kedalam.
“Kuyakin, pencuri sakti itu tidak akan tertarik pada kereta barang” kata Mo Tian Siansu perlahan.
“Pencuri sakti? Siapa yang Siansu maksudkan?” tanya Tan Leng Ko pura pura bodoh.
Mo Tian Siansu tidak segera menjawab, ia hanya menghela napas, kecurigaannya telah berkurang! Tidak mungkin pencuri sakti itu tetarik terhadap Lok Yang Piaukok.
Ia menganggap, pentolan yang memilki silat yang paling tinggi dipiaukok ini adalah sutenya, Khu Pek Sim yang ia yakin tidak memiliki kitab sakti.
“Sudahlah, lupakan saja! kejadian ini mengingatkanku pada peristiwa tempo hari” ujar Mo Tian Siansu yang enggan menceritakan urusan siaulimsi pada orang lain.
Diam diam Tan Leng Ko menarik napas lega, kemudian katanya,
“Silahkan Siansu beristirahat didalam, kuperlu membereskan urusan disini lebih dahulu”
Mo Tian Siansu mengangguk,
“Sebelum beristirahat, aku ingin sekali bertemu dengan Khu Han Beng”
“Begitu urusanku disini selesai, aku akan mengajaknya untuk menemui Siansu diruang tamu” ujar Tan Leng Ko sambil memberi hormat, lalu menyuruh anak buahnya yang lain untuk mengantar Mo Tian Siansu masuk kedalam.
Melihat kesempatan, Kwee Tiong bersama adiknya berpamitan kepada Tan Leng Ko dan Giok Hui Yan.
Tan Leng Ko tidak mencegah kepergian mereka, mereka tentu memaklumi kesibukkannya. Ia juga tidak mengucapkan terimakasih. Bantuan mereka padanya tidak hanya cukup dibalas dengan ucapan, apalagi mereka bisa tersinggung, merasa dianggap bukan seorang sahabat, jika ia berterimakasih.
Setelah menukar kata kata perpisahan, Kwee Tiong mengajak adiknya pergi dari situ.
“Ji-Siocia, sudah waktunya bagi kita untuk pergi juga” ujar Su-Tongcu pelan.
“Masih banyak yang harus kukerjakan disini” kata GIok Hui Yan bersikeras.
“Tidak! Tugasku adalah membawamu pulang. Bagaimanapun juga, kau harus ikut denganku sekarang” kata Su-Tongcu dengan tegas.
Biji mata Giok Hui Yan berputar. Dia cukup mengerti kenapa Su-Tongcu yang disuruh oleh ayahnya untuk menjemputnya pulang. Watak Su-Tongcu keras, tidak doyan kompromi!
Tidak terlalu cerdas, tapi justru sukar untuk ditipu. Su-Tongcu berpendirian teguh. jika hendak melakukan suatu pekerjaan, ia akan mengerjakannya sampai tuntas. Cocok untuk mengatasi kebandelannya. Satu cara untuk mengapusi Su-Tongcu adalah dengan berbicara jujur dengannya.
“Su-lopeh, dia telah menyelamatkan jiwaku, paling tidak aku harus membantunya.Bukankah ayah paling benci jika kita berhutang?” seru Giok Hui Yan sambil menunjuk pada Tan Leng Ko.
“Apa gerangan yang telah kau alami?” tanya Su-Tongcu kuatir.
“Sukar untuk dibicarakan dengan satu dua patah kata. Kutahu hutang jiwa tidak bisa dibayar dengan begitu saja, tapi paling tidak, aku tidak bisa berpangku tangan, sedikitnya aku harus membantu kesibukkannya”
Su-Tongcu sangat mengenal kecerdasan dan kenakalan Ji-siocianya. Tapi saat ini, ia juga dapat merasakan pancaran kejujuran dari sinar mata Giok Hui Yan. Sifat kejujuran yang jarang sekali timbul. Malah boleh dibilang semenjak dari bayi hingga sekarang, selama ini, sifat jujur Ji-Siocianya bisa dihitung dengan jari.
“Sebaiknya Su-lopeh bertiga berisirahat didalam, besok baru kita berangkat pulang” bujuk Giok Hui Yan.
Su-lopeh menoleh pada kedua rekannya yang mengangguk setuju. Giok Hui Yan tertawa senang dan cepat memanggil salah satu piasu untuk menghantar mereka berisitirahat.
Seperti teringat sesuatu, bergegas Tan Leng Ko melangkah keluar pintu gerbang, disusul oleh Giok Hui Yan tak lama kemudian.
“Apa yang sedang kau cari?” tanya Giok Hui Yan melihat Tan Leng Ko menebarkan pandangannya seperti mencari sesuatu.
“Aku tidak melihat Hek I Houw, dia telah pergi tanpa pamit” kata Tan Leng Ko rada kecewa.
“Kuheran kenapa ia berubah pikiran, malah membantu kita” ujar Giok Hui yan setelah termenung sejenak.
“Aku juga tidak mengerti, makanya hendak kutanyakan padanya”
“Putra Pak Sian Gin Siauw juga pergi tanpa pamit” seru Giok Hui Yan seperti rada kecewa juga.
“Sempat kudengar pertanyaanmu, kenapa ia mau membantu kita”
“Yaa, sayang ia belum sempat menjawab, sekarang entah ia menghilang kemana!”
Sambil tertawa tertahan, Tan Leng Ko bertanya,
“Memangnya kau tidak dapat menerka sebabnya?”
Giok Hui Yan menggeleng, kemudian ia ikut tertawa, katanya perlahan:
“Jika dapat kuterka, untuk apa lagi kubertanya padanya?”
Baru Tan Leng Ko mau menjawab, tiba tiba ia melihat sesuatu diantara tindihan mayat mayat yang bergelimpangan, sesuatu yang mengkilat tertimpa cahaya bulan. Cepat ia menghampiri dan membalik mayat itu.
Membujur kaku dengan tangan kanan memegang kaku sebuah seruling perak yang menghujam tembus tenggerokkan lawannya, sesosok mayat yang mengenakan baju biru… Bok Siang Gak!
Bergegas Tan Leng Ko memeriksa penyebab kematiannya. Luka luka ditubuh pemuda itu, sedikitnya ditimbulkan oleh tujuh macam senjata bahkan sebilah golok masih terbenam dalam diperutnya!
Giok Hui Yan menatap mayat itu dengan sorot mata sedih, suaranya bergetar, memilukan, matanya mengembang air mata,
“jika kau tidak membantu, tentu tidak akan tewas secara mengenaskan. Kenapa kau perlu membantu kami… sekarang aku tidak akan pernah tahu…!”
Tan Leng Ko terdiam. Dari cara Bok Siang Gak memandang kepada Giok Hui Yan ia dapat menerka sebabnya, hanya ia tidak tega untuk mengatakannya.
Lama Mereka berdua terdiam, tenggelam di alam pikir masing masing.
“Biar situasi disini aku yang urus, kau sebaiknya mencari cacing buku itu, untuk menemui Mo Tian Siansu” ujar Giok Hui Yan perlahan memecah keheningan.
Tan Leng Ko mengiakan. Setelah menarik napas dalam dalam, ia melangkah masuk mencari Khu Han Beng, meninggalkan Giok Hui Yan mengurusi mayat Bok Siang Gak.
“Kutahu kau seorang pemuda baik. Kutahu kita dapat menjadi sahabat yang baik… sayang sekali….!”
Giok Hui Yan tidak dapat meneruskan perkataannya, lehernya seperti tercekik, ia menangis perlahan!
Yaa, sayang sekali perkenalan mereka singkat sekali, terlampau singkat malah!
“Namaku Giok Hui Yan” bisiknya disela sela tangisan.
Kamar Khu Han Beng kelihatan sepi sekali, Tan Leng Ko mengetuk pintu kamar perlahan. Seperti dugaannya, tiada jawaban!
Tentu bocah ini pergi sedari tadi. Dengan keributan sejak tadi diluar, tidak mungkin ia tidak keluar. Tan Leng Ko juga tidak melihat Lo Tong, entah ia lagi mabuk dimana.
Dibawah terangnya sinar bulan dan dinginnya malam, Tan Leng Ko berlari menuju ke bukit belakang.
Di lereng bukit kecil ini, terdapat sebuah gua yang didepannya masih banyak tumbuh bunga liar yang belum rontok di awal musim gugur ini. Tan Leng Ko yakin, ia akan dapat menjumpai Khu Han Beng disana.
Dugaan Tan Leng Ko tidak salah, betul ia menemui Khu Han Beng disini. Tapi bocah ini tidak sedang mencari kunang kunang seperti apa yang diduganya semula!
Bukannya mendekat, Tang Leng Ko malah bersembunyi diantara alang alang yang tinggi. Soalnya ia ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan Khu Han Beng, sebab keadaannya sungguh aneh!
Khu Han Beng sedang berdiri jungkir balik dengan kaki diatas, kepala dibawah diatas sebuah batu. Tangan kirinya melipat didepan dada, tubuhnya tegak lurus ditopang telapak tangan kanannya. Bukan telapak tangan, melainkan jari tangan!
Tubuh Khu Han Beng berjungkir balik ditopang hanya dengan sebuah jari telunjuk yang menegak lurus.
Dibawah terangnya bulan, Tan Leng Ko melihat batu tersebut banyak lumutnya, tentu permukaannya licin sekali. Bahkan tempat dimana jari Khu han Beng berada, terletak dibagian yang miring. Tapi nampaknya, Khu Han Beng dapat menjaga posisinya dengan baik.
Jari telunjuknya tidak menancap dipermukaan batu, melainkan seperti lengket menyatu dengan batu. Tiupan kencang angin bukit pun tidak membuat tubuhnya bergoyang, dan agaknya ia sedang….tertidur!
Yang membuat bingung Tan Leng Ko, 12 nadi penting dibagian depan tubuh Khu Han Beng dihiasi 12 helai daun yang tidak rontok ditiup angin kencang. Bahkan ketika halimun tipis berwarna putih menerpa tubuh Khu Han Beng, seperti menyibak ke kiri, ke kanan kemudian menyatu kembali di belakang tubuh Khu Han Beng.
Tan Leng Ko menjadi ragu. Ia tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Kelopak mata Khu Han Beng yang tetutup, tiba tiba terbuka dengan lebar. Matanya menatap tempat Tan Leng Ko bersembunyi.
“Tan toako, kau kemarilah!” tegur Khu Han Beng sambil melentikkan badan, menggeliat di udara. Daun daun yang melekat dibagian depan dan belakang tubuhnya terbang mengikuti arah angin.
Tan Leng Ko menghampiri Khu Han Beng dengan pandangan penuh kagum. Tubuh Khu Han Beng melayang seperti daun kering, kakinya perlahan menyilang membentuk posisi bersila. Semua ini dilakukannya dengan lambat dan ketika ia masih melayang diudara!
Tan Leng Ko ikut duduk di atas batu di sebelah Khu Han Beng. Banyak yang ingin dia tanyakan, hanya bingung harus mulai dari mana!
Khu Han Beng tersenyum padanya, kemudian menoleh kearah dalam gua seperti seseorang mengajaknya berbicara. Tan Leng Ko ikut menoleh. Dia tidak melihat atau mendengar sesuatu dari goa yang gelap itu. Tapi dapat dilihatnya Khu Han Beng mengangguk kepala.
“Terima kasih, suhu” bisiknya lirih.
“Apa suhumu ada di dalam?” tanya Tan Leng Ko sambil ikut berbisik.
Setelah mendapati banyak hal yang aneh yang berhubungan dengan bocah ini, Tan Leng Ko mau tidak mau berkesimpulan, tentu locianpwee sakti itu yang menjadi guru Khu Han Beng. Hatinya girang, bocah ini mendapat seorang yang sakti luar biasa sebagai gurunya, berbareng kuatir karena ia tidak mengetahui tujuan sebenarnya dari locianpwee itu.
Betul locianpwee itu tidak berniat jelek bahkan sayang pada Khu Han Beng, tapi acap kali niat baik kadang tanpa sengaja, dapat menjerumuskan lebih dalam ketimbang niat jahat.
“Apakah toako ingin bertemu muka dengan suhu?” tanya Khu Han Beng.
“Tentu saja ingin!” jawab Tan Leng Ko.
Banyak yang ingin ia tanyakan kepada guru Khu Han Beng. Terutama perihal
salinan kitab kitab sakti dikamar Khu Han Beng, apakah kitab aslinya diberikan oleh gurunya atau oleh Gu-suko pemilik toko buku Lok Yang. Atau guru Khu Han Beng dan Gu-sukonya sesungguhnya adalah orang yang sama?
Belum lagi janjinya untuk menjaga ruang pustaka itu, sekaligus mencari Hay Thian Sin Kiamboh. Dia hanya mampu melakukan satu dari dua persoalan itu. Bagaimanapun juga, tidak mungkin baginya untuk menemukan kitab pusaka milik Mi Tiong Bun, jika ia harus nangkring terus di kamar Khu Han Beng!
“Kenapa toako tidak coba masuk ke dalam?” tanya Khu Han Beng tiba tiba.
Tan Leng Ko tertegun. Ucapan Khu Han Beng terdengar agak janggal. Masuk ke dalam gua kenapa mesti dicoba? Apa ada jebakkan yang menunggu?
Tan Leng Ko tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Sambil meningkatkan kewaspadaan, ia berjalan perlahan menuju ke arah gua, hawa murninya dikerahkan hingga sepuluh bagian. Gua itu gelapnya bukan main, hatinya menjadi ragu.
“Cayhe Tan Leng Ko dari Lok Yang Piaukok, ingin menghadap locianpwee!”
Angin dingin meniup perlahan, tidak terdengar jawaban dari dalam gua. Suasana hening, hanya terdengar suara binatang malam yang berbunyi. Diam diam timbul rasa ngeri di kalbu Tan Leng Ko. Dengan nekat, dia menggerakkan kakinya, tapi
Ia hanya sanggup berjalan dua langkah. Tubuhnya membentur sebuah dinding tebal dari hawa tanpa ujud!
“Tan toako, kau kembalilah kemari” panggil Khu Han Beng.
Tan Leng Ko menggerakkan badannya kedepan, kekiri dan kekanan. Semacam gerakkan yang sia sia. Yang dapat ia lakukan hanya mundur kembali ke sebelah Khu Han Beng.
Setelah ia duduk disebelah Khu Han Beng, tenaga yang membungkus tubuhnya lenyap begitu saja.
“Duduklah dengan tenang Tan toako, guruku telah berlalu”
Tan Leng Ko menghela napas panjang.
“Aaaiiih….padahal aku hanya ingin berjumpa dengan gurumu”
“Kau tidak akan mampu untuk berjumpa dengannya”
“Kenapa?”
“Karena akupun tidak pernah berhasil bertatap muka dengan beliau” kata Khu Han Beng dengan sedih.
“Masakkan seorang guru melarang muridnya untuk bertemu?” seru Tan Leng Ko kaget bercampur penasaran.
“Guruku tidak melarang. Hanya aku diharuskan mengeluarkan kepandaian, jika ingin melihat wajahnya” jawab Khu Han Beng dengan mata berkaca kaca.
“Kepandaian yang kumiliki, masih rendah” lanjutnya.
Tan Leng Ko termangu mendengar perkataan Khu Han Beng. Dari pertunjukkan barusan, boleh dibilang ginkang Khu Han Beng yang terhebat yang pernah dilihatnya seumur hidup. Dan sekarang, bocah ini mengaku kepandaiannya masih rendah!
“Ada urusan apa, Tan toako mencariku?”
“Aku…?” Banyak persoalan yang hendak ia ajukan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
“Kenapa kepalamu menjadi tidak berambut, toako?”
Tan Leng Ko menyeringai, terpaksa ia menceritakan apa yang telah dilakukan Giok Hui Yan padanya.
“Lagi lagi gadis setan itu mengacau” gumam Khu Han Beng kesal.
“Tidak hanya gadis itu yang mengacau” gumam Tan Leng Ko perlahan.
“maksud toako?”
“Sudahlah, kau akan tahu dengan sendirinya” jawab Tan Leng Ko setelah berpikir sejenak.
Ia tidak dapat memutuskan, apakah sebaiknya ia menceritakan tragedi yang menimpa Lok Yang Piaukok dimana banyak piasu yang tewas, atau membiarkan Khu Han Beng menemukannya sendiri. Ia menjadi ragu. Ia tidak dapat menerka apa yang bakal dilakukan oleh Khu Han Beng, ia memang belum terlalu mengenal betul karakter bocah ini.
“Tan toako, kutahu kau bernasib mujur, berapakah angka keberuntunganmu?”
tanya Khu Han Beng sambil tertawa.
Tan Leng Ko ikut tertawa, dia memang sangat bangga mengenai hal ini.
“Ketika Khu-Congpiautau menolongku, peristiwa itu terjadi pada bulan enam. Begitu pula dengan jurus Ouw Yang Ci To yang dulu kuperoleh. Kuyakin, angka enam adalah angka keberuntunganku”
“Kalau begitu, Tan toako, diberi kesempatan untuk bertanya sebanyak enam kali… Kutahu suhu melarang toko menanyakan urusanku. Tapi aku pun paham, banyak yang ingin toako tanyakan padaku”
“Iiihhh…! Darimana kau tahu urusan itu?”
“Suhu yang bercerita padaku”
“Suhumu mau menceritakan urusan ini padamu?” seru Tan Leng Ko dengan nada tidak percaya. Sebab menurut perhitungannya, komunikasi antara mereka minim sekali.
“Aku juga heran, biasanya jarang sekali suhu mau mengeluarkan kata kata. Kadang dalam satu tahun, aku belum tentu satu kali mendengar suaranya”
Tan Leng Ko termenung sebentar, kemudian tanyanya:
“Apakah, kau yang meminta ijin?”
“Suhu sangat sayang padaku, Jarang sekali suhu menolak keinginanku… Tapi beliau juga menginginkan satu syarat!”
“Apa syaratnya?”
“Jumlah pertanyaan toako harus dibatasi!”
Tan Leng Ko menghela napas, sekarang ia baru mengerti kenapa tadi Khu Han Beng mengucapkan terima kasih. Ia juga baru paham kenapa bocah itu menanyakan angka keberuntungannya.
Diam diam ia menyengir, kenapa tadi dia tidak bilang seratus atau seribu?
Untuk kedua kalinya, Tan Leng Ko merasa nasibnya…tidak mujur!
“Sudahlah, mari kita pulang” kata Tan Leng Ko.
Agak heran Khu Han Beng dengan ajakan ini.
“Apa tidak ada yang toako hendak tanyakan?”
“Tentu saja ada. Dan kuyakin lebih dari enam. Hanya harus kupikirkan secara masak agar kesempatan bertanya tidak terbuang percuma”
Khu han Beng terseyum geli. Baru belakangan ini saja ia bergaul dengan Tan Leng Ko. Tadinya ia mempunyai anggapan kalau Tan toakonya jenis yang beradat berangasan, nyatanya jenis yang dapat menggunakan otak.
“Lagipula susiokmu ingin sekali berjumpa denganmu”
“Susiokku?”
“Mo Tian Siansu dari Siaulimsi ingin sekali bertemu denganmu, ia sedang menunggu diruang tamu”
“Utusan Siaulimsi sudah datang?!” seru Khu Han Beng tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
“Kau seperti sudah lebih dahulu tahu, susiokmu bakal kemari” ujar Tan Leng Ko tertarik.
“Suhu menyuruhku berguru di Siaulimsi, hanya tak kusangka cepat sekali kedatangannya”
Hati Khu Han Beng menjadi sedih. Yayanya sudah berjanji akan menceritakan perihal orangtuanya, sekembalinya dari menghantar barang. Menurut perhitungannya tinggal beberapa minggu lagi. Tak nyana sekarang ia harus pergi belajar ke Siaulimsi, entah untuk berapa lama. Sedikitnya juga memakan tempo bertahun tahun.
Tan Leng Ko tidak dapat menduga apa yang dipikirkan bocah itu. Tapi lapat lapat ia seperti dapat merasa bocah itu sedang dirundung kesusahan.
“Sebaiknya kita pulang” bujuknya perlahan.
Khu Han Beng menghela napas, ia hanya mengangguk. Kemudian, keduanya mengerahkan ginkang menuju balik ke Lok Yang Piaukok.
Tan Leng Ko benar benar takluk atas kehebatan ginkang Khu Han Beng. Umumnya ilmu meringankan tubuh, kedua kaki harus digerakkan bergantian seperti orang berlari yang ayunan langkahnya lebih ringan dan lebih jauh daya lompatnya.
Kaki Khu Han beng tidak ada satupun yang bergerak. Tubuhnya boleh dibilang melayang, sekali sekali ujung sepatunya menotol tanah, kemudian melenting kembali puluhan kaki jauhnya.
“Sungguh hebat ginkangmu, apa namanya?” tanya Tan Leng Ko tak tahan memuji.
Bagaimanapun juga Khu Han Beng masih seorang bocah. Cepat sedihnya, cepat pula hilangnya. Mendengar perkataan Tan Leng Ko, timbul niatnya untuk menggoda:
“Apakah ini termasuk pertanyaan pertama?”
Tan Leng Ko terdiam.
“Lupakan saja omonganku” tubuhnya bergerak mendahului Khu Han Beng.
Geli hati Khu Han Beng melihat toakonya merajuk. Sedikit ia mengerahkan tenaga, dalam sekejab ia merendeng disebelah Tan Leng Ko.
“Apa toako pernah mendengar langkah Leng Po Wi Poh?”
Tergetar hati Tan Leng Ko mendengarnya.
“Kau menggunakan langkah Leng Po Wi Poh?” serunya terkejut.
“Tentu saja tidak. Yang kugunakan namanya Ban Cui Leng Poh”
Tan Leng Ko menarik napas lega. Walau banyak hal yang aneh mengenai bocah ini, tidak mungkin ia menguasai ilmu kuno yang hanya ada didalam dongeng itu!
“Langkah Leng Po Wi Poh merupakan latihan dasar untuk mempelajari Ban Cui Leng Poh” kata Khu Han Beng perlahan.
Tan Leng Ko menghentikan larinya. Ia memandang Khu Han Beng dengan tajam.
Dengan sendirinya, Khu Han Bengpun ikut berhenti!
“Apa toako ingin menyaksikan gerakkan Ban Cui Leng Poh yang tak dapat dilakukan oleh langkah Leng Po Wi Poh?”
Bagaimanapun juga Khu Han Beng masih seorang bocah, yang tak lepas dari rasa keinginan untuk memamerkan kepada Tan toakonya.
“Tentu saja ingin!”
“Silahkan toako bergerak lebih dulu” kata Khu Han Beng sambil tersenyum
Tan Leng Ko mengerahkan segenap tenaganya dan berlari sekencang kencangnya menuruni bukit.
“Wuusss…!” berkelebat tubuh Khu Han Beng persis didepan Tan Leng Ko dan berdiri dengan ringan melayang didepan Tan Leng Ko… mengambang!
Puluhan lie Tan Leng Ko berlari, seperti ditiup angin, tubuh Khu Han Beng menghadap dirinya dengan santai tetap dalam jarak tertentu tanpa satu kalipun kakinya menyentuh tanah!
“Apa kau bisa terbang?” tanya Tan Leng Ko bergidik.
“Tentu saja tidak! Aku hanya meminjam angin yang mendorong kedepan yang ditimbulkan dari gerak lari toako…. Seperti gerakkan sehelai daun yang meminjam tiupan angin kencang”.
Tan Leng Ko menghentikan larinya. Benar saja, hilangnya dorongan angin, menyebabkan tubuh Khu Han Beng melayang turun.seperti sehelai daun kering, secara perlahan kaki Khu Han Beng hinggap diatas tanah. Jarak kakinya dengan tanah tadinya hanya sejengkal, toh tetap memerlukan tempo yang cukup lama.
Menyaksikan peristiwa ini, Tan Leng Ko menghela napas. Teringat olehnya, ketika tenaga dalamnya bertambah, ternyata ginkangnya ikut bertambah maju .
“Aku ingin mengajukan pertanyaan pertama”.
Khu Han Beng memandang toakonya sambil tersenyum.
“Kutahu makin hebat ginkang seseorang, semakin tinggi kesempurnaan tenaga saktinya. Semuda ini, apa yang kau latih hingga mencapai tingkat yang begitu tinggi?”
Khu Han Beng tertegun.
“Apa kepandaianku sudah tinggi?” ia malah balik bertanya.
Giliran Tan Leng Ko yang tertegun.
Ditatapnya bocah ini dengan tajam.
Tidak mungkin bocah ini bergurau dengannya. Bocah ini memangdang dirinya begitu polos.
Hati Tan Leng Ko tenggelam. Teringat olehnya, kebiasaan bocah ini yang suka menyendiri, dan jarang berhubungan dengan orang lain!
Bocah ini yakin kepandaiannya masih rendah, karena yang dijadikan tolak ukur, hanya gurunya yang entah manusia atau setan! Bocah ini tidak menyadari bahwa ginkang maupun tenaga saktinya sudah mencapai tingkatan yang sempurna sekali!
Tapi rasanya juga mustahil seorang bocah berusia empat belas tahun bisa sesakti ini! Walau dia sudah mulai berlatih didalam rahim, rasanya tidak mungkin dapat mencapai tingkatan setinggi ini!
Apa ia pernah menelan obat mustika yang dapat meningkatkan tenaga sakti? Tan Leng Ko menggeleng. Boleh dia minum sekarung pil mustika, rasanya juga tidak akan sehebat ini! Tan Leng Ko merasa kepalanya mulai sakit.
“Jika kau angap kepandaianmu rendah, maka sedikit sekali orang yang berani menganggap kepandaiannya tinggi” kata Tan Leng Ko dengan senyum dipaksa.
“Apa kebanyakkan orang kangouw berkepandaian lebih rendah dariku?” tanya Khu Han Beng bingung.
“Bukankah sedang giliranku yang bertanya?” kata Tan Leng Ko dengan memaksakan senyum.
Khu Han Beng menarik napas dalam dalam.
“Bukankah Tan toako sudah mengetahui, aku tidak suka berlatih silat”.
Tentu saja Tan Leng Ko tidak percaya
“Kau mengharapkan toakomu percaya, kau berkepandaian tinggi, tanpa berlatih silat!” katanya dingin.
Khu Han Beng termenung sebentar sebelum berkata
“Mungkin seharusnya kukatakan, aku tidak suka berlatih gerakkan silat!”
“Kenapa?”
“Sebab aku tidak bisa!”
“Kau tidak bisa silat?” dengus Tan Leng Ko makin tak percaya.
“Aku tidak bisa gerakkan silat” kata Khu Han Beng membetulkan.
“Aku tidak suka berlatih silat karena tidak ada gerakkan silat yang kukuasai. Apa yang harus kulatih?”
Seorang yang sering melatih silat dengan sendirnya akan timbul keluwesan. Keluwesan gerak yang timbul dari latihan yang sering diulang. Keluwesan yang Khu Han Beng tidak miliki ditinjau dari
kekakuan gerak Khu Han Beng ketika latihan tempo hari.
Khu Han Beng kemudian melanjutkan,
“Ketika Tan toako mengajarku beberapa minggu yang lalu, itulah pengalaman pertamaku belajar gerakkan silat”.
“Darimana kau peroleh gerakkan jurus ketujuh dari Ouw Yang Ci To?” desak Tan Leng Ko.
“Tiga belas jurus itu dulu pernah aku hafal, tapi tidak pernah melatihnya.
“Kau hafal 13 jurus Ouw Yang Ci To, tapi tidak pernah melatihnya?” dengan gemetar Tan Leng Ko bertanya
“Aku diwajibkan oleh guru untuk menghafal, tapi dianjurkan untuk tidak melatihnya”
“Kenapa?” tanya Tan Leng ko dengan bingung.
“Akupun kurang mengerti. Menurut guru, bagiku berlatih gerakkan silat hanya membuang waktu dengan sia sia. Maka ketika yaya memintaku untuk berlatih silat, akupun enggan melakukannya”.
Tan Leng Ko semakin bingung, ia tidak mengerti.
“Tentu banyak sekali jurus silat yang kau hafal?”
Khu Han Beng mengangguk.
“Cukup banyak, hanya belum pernah kulihat dalam gerakkan. Ketika Tan toako mengajarku, setelah jurus keenam baru kusadar, jurus Tan toako mirip dengan Ouw Yang Ci To yang pernah kuhafal ketika kukecil. Mau tidak mau, perlu berpikir keras untuk mengulang”.
Tan toako menyengir. Banyak orang, didua propinsi mengetahui dirinya menguasai Ouw Yang Ci To, justru bocah ini yang tinggal bersama dirinya malah tidak tahu sama sekali!
Tapi memang salahnya sendiri, ketika mengajar Khu Han Beng, dia memang tidak memberitahu nama jurus tersebut.
“Yang toakomu tidak paham, kau yang tidak menguasai gerakkan silat, tapi dapat mengalahkan gadis dari Bwe Hoa Pang” gumam Tan Leng Ko tak terasa.
“Ilmu yang kukuasai, walau tidak mengandung gerakkan, tapi mempunyai cara untuk menjatuhkan lawan” kata Khu Han Beng perlahan.
“Yang toakomu kuatir, semuda ini, nampaknya hatimu cukup tega menguntungi tangan seorang gadis”
Khu Han Beng menghela napas,
“Waktu itu yang kucemaskan adalah kesehatan toako dan para piasu yang terluka. Agar mereka lekas pergi, aku hanya memenuhi syarat yang dipintanya”.
Yaa, menurut para piasu memang begitu adanya. Salah gadis itu sendiri yang begurau kelewatan.
Tiba tiba Khu Han Beng tertawa,
“Jatah toako untuk bertanya, semuanya sudah habis terpakai. Pintar sekali cara toako bertanya, tanpa terasa telah kujawab lebih dari enam pertanyaan”
Tan Leng Ko ikut tertawa,
“Tidak. Pertanyaanku baru satu. Itupun belum kau jawab” kata Tan Leng Ko sambil mengedipkan mata.
Khu Han Beng menatapnya dengan bengong.
Sambil tertawa geli, Tan Leng Ko berkata:
“Pertanyaanku yang pertama adalah: ‘Semuda ini, apa yang kau latih hingga mencapai tingkat yang begitu tinggi?’ sedangkan yang kau terangkan adalah perihal yang tidak pernah kau latih! Tanya jawab panjang lebar, perihal kau tidak pernah berlatih silat, tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku”
Giliran Khu Han Beng menyengir.
“Licik sekali, toakoku yang satu ini” keluhnya
Tan Leng Ko tertawa perlahan, kemudian dengan muka serius ia berujar:
“Di dunia kang-ouw banyak sekali orang yang lebih licik dari toakomu. Kau harus belajar berhati hati”
Terharu sekali hati Khu Han Beng atas perhatian Tan toakonya. Kemudian ia menarik napas dalam dalam.
“Yang kulatih, ilmu meringankan tubuh Ban Cui Leng Poh yang toako sudah saksikan. Ilmu mengenal urat nadi manusia, dan ilmu pernafasan yang juga toako sudah saksikan”.
Tan Leng Ko termenung. Dari yang ia lihat sepintas, Ban Cui Leng Poh mengutamakan kecepatan dan keringanan tubuh atau langkah langkah tertentu, Sedangkan ilmu mengenal urat nadi tentu mengenai jalan darah manusia. Sedangkan ilmu pernafasan yang dilakukan Khu Han Beng tadi, walau hebat dan aneh, tetap bersifat mengatur pernafasan.
Bocah ini tidak bohong padanya. Yang dipelajari oleh Khu Han Beng memang tidak ada gerakkan menyerang atau gerakkan bertahan yang menjadi ciri gerakkan silat.
Apa ginkang termasuk gerakkan bertahan atau tidak Tan Leng Ko kurang tahu persis. Mungkin lebih tepat dikatakan gerakkan menghindar!
Yang jelas, ia tidak dapat menyalahkan jika bocah ini mengatakan tidak suka berlatih silat, karena ia memang tidak menguasai gerakkan silat yang bersifat bertahan atau menyerang!
Tapi setahunya, tidak ada ilmu yang dapat menjatuhkan lawan tanpa gerakkan silat. Paling tidak, dia belum pernah mendengarnya!
Sadar dari lamunannya, Tan Leng Ko kemudian berkata:
“Jika kau sebut nama Ban Cui Leng Poh, seharusnya kau juga menyebut nama ilmu pernafasan itu”
Khu Han Beng baru mau menjawab, tiba tiba terpikir sesuatu olehnya:
“Toako tidak berkata dalam bentuk pertanyaan”
Tan Leng Ko tersenyum,
“Pintar juga kau. Baik! Pertanyaanku yang kedua, apa nama ilmu pernafasan itu?”
Lalu Khu Han Beng menyebut namanya,
“Bu Kek Kang Sinkang!”
Tan Leng Ko menghela napas, seperti diduganya, ia memang belum pernah mendengar ilmu ini. Dilihat dari cara Khu Han Beng berlatih, tentu berhubungan dengan pemusatan tenaga sakti tingkat tinggi.
Seorang bocah dapat memiliki tenaga sakti, hasil latihan puluhan tahun melebihi usianya… Apakah keganjilan ini terletak di ilmu pernafasan Bu Kek Kang Sinkang?
Teringat olehnya, Giok Hui Yan pernah berkata:
“Tenaga sakti pencuri kitab itu sudah mencapai taraf tiada tara. Orang itu mencuri tanpa seorangpun pernah memergokinya. Seseorang yang mempunyai kemampuan seperti itu, tidak mungkin memerlukan untuk belajar ilmu orang lain”
Apakah locianpwee itu malang melintang di tujuh perguruan besar menggunakan ilmu Bu Kek Kang Sinkang?
Khu Han Beng hanya disuruh suhunya untuk menghapal kitab kitab hasil curian, malah tidak dianjurkan untuk melatih. Berarti yang dilatih olehnya, tentu kepandaian yang asli. Kepandaian sejati dari perguruan mereka!
Seorang ahli silat, melihat ilmu sakti, ibarat anak perempuan kecil yang tergiur ingin memiliki boneka cantik. Timbul rasa tertarik di hati Tan Leng Ko.
“Alangkah baiknya jika aku dapat mempelajari Bu Kek Kang Sinkang” gumam Tan Leng Ko tak terasa.
Khu Han Beng terdiam beberapa saat. Kemudian katanya perlahan,
“Kemungkinan toako berhasil kecil sekali”
Rada tersinggung juga, Tan Leng Ko mendengar ucapan Khu Han Beng. Katanya dengan kaku:
“Apa kau anggap toakomu, begitu tidak becus”
Melihat Tan Leng Ko salah mengartikan ucapannya, buru buru Khu Han Beng berkata:
”Hanya orang yang benar benar jenius yang dapat mempelajari Bu Kek Kang singkang. Setahu guruku, hanya Goan Kim Taysu dari siaulimsi yang mampu mempelajari ilmu ini. Itupun menghabiskan waktu tiga puluh tahun lebih untuk berhasil mencapai tingkat tiga”.
Hati Tan Leng Ko tenggelam. Jika Goan Kim Taysu yang terkenal kejeniusannya memerlukan waktu begitu lamanya, kesempatan dia untuk berhasil mempelajari Bu Kek Kang Sinkang memang tidak banyak!
Tapi timbul juga rasa herannya, tanpa terasa, ia bertanya hal yang tidak dimengertinya,
“Bukankah kau menguasai Bu Kek Kang Sinkang, apa kau seorang anak ajaib persilatan? “
“Apakah ini pertanyaan yang ketiga?”
Tan Leng Ko menghela napas. Sebetulnya yang hendak ia tanyakan bukan soal ini, tapi ia benar benar tidak tahan untuk tidak bertanya.
Sambil menyengir, ia menjawab:
“Yaa, ini pertanyaanku yang ketiga”
Khu Han Beng menghela napas, katanya kemudian:
“Untuk mengingat ulang jurus Ouw Yang Ci To, aku harus bersusah payah, masakkan bisa dianggap seorang anak ajaib segala”
Dengan heran Tan Leng Ko bergumam,
“Tentu ada caramu untuk mempelajarinya”
“Aku tidak mempelajarinya, aku hanya melatih Bu Kek Kang sinkang”
“Aku tidak melihat bedanya” kata Tan Leng Ko semakin heran.
Khu Han Beng menarik napas dalam dalam,
“Menurut guru, mempelajari ilmu ini berarti menimbulkan tenaga sakti dari dalam diri. Selain proses ini lambat sekali, dan memerlukan waktu puluhan tahun, juga diperlukan bakat yang luar biasa. Sedangkan caraku melatih Bu Kek Kang sinkang adalah mengolah tenaga sakti yang disalurkan oleh guruku secara bertahap. Tenaga sakti ilmu ini adalah jenis penghimpunan sinkang yang disalurkan, bukan dipelajari!”
Tan Leng Ko mendengarkan dengan terpesona!
terbayang olehnya, ucapan locianpwee itu:
“Ada dua cara meningkatkan tenaga dalam dengan cepat, dan menggunakan racun Hek Pek Coa adalah cara kedua”
Apakah melatih Bu Kek kang Sinkang merupakan cara pertama?
Ia memang pernah mendengar seorang yang sakti dapat memindahkan tenaga dalamnya ke orang lain. Mungkin daun daun yang sering menempel di nadi penting Khu Han Beng atau yang berserakkan dikamarnya, berhubungan erat dengan cara penyaluran tenaga sakti ini!
“Kalau begitu caranya, kukuatirkan gurumu akan kehabisan tenaga”
“Umumnya begitu, hanya guruku yang harus dikecualikan. Beliau sudah mencapai tingkat sebelas, tingkat tertinggi dari Bu Kek Kang sinkang yang pernah dicapai orang”
“Tingkat berapa yang telah kau capai?” tanya Tan Leng Ko tak tahan ingin tahu.
Diam diam Khu Han Beng tertawa geli, baru sekarang toakonya bertanya lagi.
Sedari tadi toakonya tidak mau rugi, selalu bertanya dalam bentuk pernyataan, bukan dalam pertanyaan! Tapi ia membiarkannya.
Hanya kali ini pertanyaan toakonya membuat Khu Han Beng agak ragu untuk menjawab.
Melihat Khu Han Beng seperti enggan menjawab, Tan Leng Ko mendesak:
“Boleh kau anggap pertanyaanku barusan, sebagai pertanyaanku yang keempat”
Mau tidak mau Khu Han Beng harus menjawab, katanya perlahan:
“Aku tidak tahu!”
Tan Leng Ko menghela napas rada kecewa. Jatah bertanyanya telah terbuang secara percuma. Tapi ia percaya bocah itu berkata secara jujur.
Walau ia tidak tahu bocah ini telah melatih hingga tingkatan yang mana, tapi mengingat bocah ini menulis Ouw Yang Ci To ketika ia berusia belajar menulis, paling tidak ia telah bertemu dengan gurunya sebelum itu.
Bila Khu han Beng hanya melatih tenaga sakti yang disalurkan kepadanya, sedangkan penyaluran tenaga sakti tersebut telah berlangsung bertahun tahun, bahkan sedikitnya sudah berlangsung tujuh tahun! Maka bisa ditarik kesimpulan, tingkatan bocah ini mungkin sudah bukan tingkat pemula lagi!
Tan Leng Ko mulai mendapat gambaran yang membuat hatinya berdebar kencang.
Teringat pengalaman dimana tubuhnya seperti dibungkus oleh dinding hawa sakti yang tebal, ia mengira ngira, dengan cara apa Khu Han Beng menguntungi lengan gadis Bwe Hoa Pang.
Tentu getaran tenaga saktinya, menyusup kedalam urat nadi gadis itu dan memaksa gerakkan pedangnya!
Jika kau menguasai kesaktian yang dapat menguasai lawan dari jarak jauh, dimana dengan getaran tenaga dalam tanpa gerakkan sudah dapat menjatuhkan lawan, kau memang hanya membuang waktu jika mempelajari ilmu yang lain. Tidak heran Khu Han Beng tidak dianjurkan mempelajari kitab kitab sakti tersebut!
Diam diam, bergidik hati Tan Leng Ko membayangkan kedahsyatan ilmu sakti Khu Han Beng. Bocah ini selain masih muda belia, juga jarang bergaul. Pengertiannya terhadap sesama manusia kurang sekali! Ia sendiri masih belum benar benar dapat menyelami watak bocah ini.
Khu Han Beng dapat menjadi seorang pendekar yang luar biasa, tapi juga dapat menjadi seorang iblis tanpa tanding, jika ia salah jalan!
Tan Leng Ko segera menarik napas dalam dalam, menenangkan hatinya yang terguncang. Katanya kemudian,
“Yang kukagum darimu, bukan saja kepandaianmu yang hebat, melainkan kau mampu menyembunyikannya dengan baik tanpa orang lain tahu”
Khu Han Beng tersenyum,
“Tentu saja tidak ada yang mencurigai. Boleh dibilang aku tidak pernah berkelahi, atau bertanding dengan orang lain, tentu saja tidak ada yang tahu. Yang kulatih tidak mengandung gerakkan silat, paling paling aku dianggap seorang ahli sihir. Lagipula, jika tidak terpaksa, aku dilarang menunjukkan gejala yang mencurigakan di Lok Yang Piaukok”.
Sedikit banyak, Tan Leng Ko sekarang paham. Guru Khu han Beng jelas tidak ingin kepandaian Khu Han Beng mengundang perhatian yang dapat mengancam keselamatan ruang pustaka!
Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Tan toakonya, seperti teringat oleh sesuatu, dengan muka gembira Khu Han Beng menatap Tan Leng Ko:
“Ingatkah toako, ketika muncul bukankah aku mengucapkan sesuatu”
Tan Leng Ko ingat hal ini.
“Kalau tidak salah, kau mengucapkan terima kasih kepada suhumu”
Sambil tertawa senang, Khu Han Beng berkata:
“Tan toako, mungkin sukar bagimu untuk mempelari Bu Kek Kang Sinkang, tapi kutahu kau berkeinginan sekali mempelajari lengkap jurus Ouw Yang Ci To. Aku telah mendapat ijin untuk mengajarkannya padamu secara lisan”
Bergetar tubuh Tan Leng Ko mendengar perkataaan ini.
Ia telah salah menduga, terimakasih yang tadi diucapkan oleh Khu Han Beng, rupanya tidak berhubungan dengan permintaan ijin menanyakan urusan Khu Han Beng melainkan bocah itu berterima kasih yang berhubungan dengan Ouw Yang Ci To!
Bocah itu tentu beranggapan, dirinya tentu berkeinginan kuat untuk mempelajari lengkap Ouw Yang Ci To, dan bocah itu berniat mewujudkan impiannya.
Niat yang mulia!
Sayangnya, Bocah itu tidak mengetahui, bahwa ia pernah menolak mempelajari Ouw Yang Ci To!
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, Ternyata dugaannya tidak semuanya salah! Sedikitnya ada satu yang benar. Tidak semua hal diceritakan locianpwee itu pada Khu Han Beng! Jika bocah itu tahu, tentu tidak akan menyebut perihal Ouw Yang Ci To padanya.
Setelah termenung sejenak, ia berkata perlahan:
“Dari caramu berkata, nampaknya ada persyaratan yang harus kupenuhi”
Khu Han Beng mengangguk:
“Tan toako memang harus menyanggupi satu syarat”
“Entah apa syarat itu”
“Syarat guruku. Tan Toako dilarang untuk menyebut perihal diriku atau suhu kepada orang lain!”
“Nampaknya terhadap Khu Congpiautau, akupun dilarang cerita”
“Dilarang berbicara pada siapapun!”
“Tentu ada sebab sebabnya”
“Menurut guruku, beliau membiarkan, Tan toako untuk mengetahui isi kamarku agar memaklumi urusan ini tidak dapat diceritakan ke orang lain”
Tiba tiba semacam pikiran terbesit dibenak Tan Leng Ko,
“Apakah kau yang meminta, atau suhumu yang menganjurkan” tanyanya perlahan.
“Suhuku yang menganjurkan”
Tan Leng Ko mengumpat dalam hati!
“Benar benar seorang rase tua yang licin!”
Tentu saja suhu bocah itu yang menganjurkan!
Entah apa alasannya, locianpwee itu memang menginginkan dia untuk mempelajari Ouw Yang Ci To. Dia yang enggan, karena asal usul ilmu itu tidak jelas. Dia tidak dapat mempelajari ilmu hasil curian.
Walau locianpwee itu dengan menyembuhkan Giok Hui Yan, telah menanam budi yang tidak sedikit, dan kendati ia telah menyanggupi permintaannya untuk menjaga ruang pustaka, bukan berarti locianpwee itu berhasil menjinakkan dirinya.
Dirinya bukan jenis yang mudah ditekan oleh orang lain. Rupanya locianpwee itu juga cukup memahami wataknya, yang tidak dapat dipaksa dengan kekerasan.
Tanpa terasa, Tan Leng Ko mengulang dalam hati, ucapan locianpwee itu yang masih terngiang dibenaknya.
“Terserah padamu, kau akan mempelajari kitab itu atau tidak. Aku enggan memaksamu!”
Betul locianpwee itu tidak pernah mengharuskan dirinya untuk mempelajari Ouw Yang Ci To, tapi bukankah melalui Khu Han Beng, secara tidak langsung ia telah memaksa dirinya untuk mempelajari Ouw Yang Ci To?
Bocah itu nampak senang sekali dapat melakukan sesuatu untuk kepentingannya, bukankah sukar baginya untuk menolak?
Lagipula bila ia menolak, tentu Khu Han Beng akan curiga dan akan banyak bertanya padanya.
Locianpwee itu enggan melibatkan Khu Han Beng terhadap urusan mereka berdua, nampaknya ia juga sudah memperhitungkan, Tan Leng Ko juga tidak ingin bocah itu terlibat!
Selain harus menyanggupi syarat itu, dia mau tidak mau harus mempelajari Ouw Yang Ci To. Sekali tepuk dua lalat!
Wajah Tan Leng Ko terlihat menjadi murung. Dia kalah segala galanya. Ilmu silatnya tidak nempil, sekarang kalah licik. Untung locianpwee itu seperti berniat baik padanya. Jika berniat buruk, lalu apa jadinya?
“Nampaknya toako tidak terlalu gembira mempelajari Ouw Yang Ci To” ujar Khu Han Beng dengan nada rada kecewa melihat sikap toakonya yang seperti sedih.
“Tentu saja aku sangat senang” tukas Tan Leng Ko cepat sambil mengerahkan tenaga batinnya untuk menampilkan raut muka yang riang. Ia tidak ingin mengecewakan bocah itu.
pikirnya dalam hati,
“Boleh saja aku mempelajarinya, toh tidak ada yang tahu jika tidak kugunakan”
Khu han Beng ikut tertawa senang. Girang hatinya dapat melakukan sesuatu bagi toakonya.
“Sudah berapa lama kau dibukit ini?” tanya Tan Leng Ko mengalihkan pembicaraan.
“Apakah ini pertanyaan yang kelima?”
Tan Leng Ko tidak langsung menjawab, katanya kemudian:
“Jatah kubertanya seharusnya hanya yang berhubungan dengan urusan pribadimu”
Khu Han Beng tersenyum melihat toakonya kembali merajuk.
“Sedari pagi aku melatih Bu Kek Kang Sinkang bersama suhu”
Setelah terpekur sejenak, Tan Leng Ko bertanya:
“Apakah kalian tidak menyadari bencana yang menimpa Lok Yang Piukok?”
“Apa maksudmu, toako” tanya Khu Han Beng dengan muka kelam.
Akhirnya Tan Leng Ko memutuskan menceritakan apa yang telah terjadi.
Khu Han Beng mendengarkannya tanpa bersuara. Kendati Tan Leng Ko menyingkat ceritanya, toh tetap memakan tempo yang cukup lama.
Selesai bercerita, dia terus menerus menatap Khu Han Beng, mencoba membaca reaksinya.
Lama lama timbul rasa ngeri dihati Tan Leng Ko, Sinar bola mata bocah ini tidak mengandung perasaan apapun, tiada pancaran kemarahan atau kegusaran.
Tempo ceritanya menghabiskan waktu seperempat kentungan lebih, selama ini, kelopak mata Khu Han Beng sama sekali tidak bergerak!
Seperti mata patung es yang mati, tidak memancarkan sesuatu yang hidup! Tubuhnya juga tiada yang
bergerak. Lapat lapat Tan Leng Ko dapat merasakan, semacam hawa yang menggiris seperti memancar dari tubuh bocah ini!
Tan Leng Ko mendehem baru ia hendak bertanya, mendadak Khu Han Beng berkelebat, lenyap dari hadapannya.
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, mencoba menenangkan hatinya. Ia tidak tahu apakah ia telah melakukan kesalahan atau tidak. Cepat ia menggerakkan kakinya menyusul bocah itu.
Bayangan tubuhnya bergerak sesuai dengan irama gerakkan kakinya. Dengan setia mengikuti kemana ia pergi, seperti bayangan kematian yang selalu melekat, menghantui setiap manusia!
**********************
Depan pintu gerbang Lok Yang Piaukok telah bersih dari mayat, Tan Leng Ko tidak melihat Giok Hui Yan, mungkin sedang berbincang bincang dengan Su-lopehnya mengenai urusan Mi Tiong Bun.
Dengan berjalan perlahan, Tan Leng Ko memasukki pekarangan halaman depan, dia melihat Khu han Beng berdiri dengan murung diantara mayat mayat piasu yang ditutup tikar, berjejer membentuk barisan panjang.
“Siapa siapa yang melakukan perbuatan keji ini, toako” tanya Khu han Beng tanpa menoleh ketika Tan Leng Ko menghampirinya.
Tan Leng Ko termenung sejenak, sebelum menjawab:
“Ratusan orang kangouw, diantaranya Pek Kian Si dari Kanglam, Dua Srigala dari hongsan, dan banyak lagi yang tidak kukenal”
“Dan sekarang mereka mengejar yaya-ku ke kota Po Ting?”
Tan Leng Ko mengangguk. kemudian katanya perlahan:
“Sebaiknya, kita jumpai lebih dahulu Mo Tian Siansu”
Khu Han Beng mengiakan perlahan, ia mengikuti Tan Leng Ko memasukki ruang tamu dimana Mo Tian Siansu sedang menikmati hidangan teh, dengan sabar menunggu kedatangan mereka.
“Siancai…siancai… Tak kusangka dikota Po-Ting terdapat teh seharum ini” puji Mo Tian Siansu tak tahan.
Tan Leng Ko mengakui teh itu benar benar wangi. Ia yang pernah mengantar barang Ke Kota Po- Ting, tahu dengan pasti kota itu memang terletak di jalur lintas perdagangan.
Tidak heran banyak barang berkualitas tinggi, terutama teh dan rempah rempah yang dibawa dari negeri seberang.
Yang dia heran dan juga geli, darimana bhiksu ini sempat sempatnya memperoleh teh sewangi itu. Sebab setahunya, di dapur tidak ada.
Ia yang lebih gemar minum arak, jadi tertarik juga ingin meminumnya, tergoda oleh bau harumnya. Jika tidak sungkan pada Mo Tian Siansu, teh poci itu mungkin sudah direbutnya.
“Susiok” sapa Khu Han Beng, membungkuk badan memberi hormat.
“Kemarilah, nak! Biar kulihat dirimu lebih jelas”
Mo Tian Siansu memegang pundak Khu Han Beng yang mendekat. Bhiksu itu tersenyum senang, melihat perawakkan Khu Han Beng yang gagah, dan susunan tulangnya yang baik, cocok sebagai ahli silat. Supeknya tentu akan gembira mendapat murid yang berbakat baik seperti bocah ini.
“kuberitakan kabar baik padamu. Goan Kim Supek berkenan mengangkatmu sebagai murid penutup”
Berubah wajah Tan Leng Ko mendengar hal ini. “Kionghi!….Kionghi!” serunya memberi selamat kepada Khu Han Beng sambil tertawa senang.
Hatinya menjadi girang bukan main! Ketika Khu Han Beng mengatakan disuruh gurunya belajar ke Siaulimsi, ia berpikiran bocah itu tentu berguru pada Pek Bin Siansu. Tak disangkanya, Khu Han Beng diangkat sebagai ahli waris Goan Kim Taysu yang sangat terkenal itu.
Menurut penuturan Khu Han Beng, Goan Kim Taysu juga menguasai Bu kek Kang Sinkang, walau hanya sampai tingkat tiga.
Entah suatu kebetulan atau tidak, Khu Han Beng yang dipilih sebagai murid akhir, Tan Leng Ko tidak tahu. Yang dia tahu, sebagai murid, tingkat Bu Kek Kang Sinkang Khu Han Beng tentu dibawah tingkatan Goan Kim Taysu.
Tan Leng Ko cenderung lebih menyukai Khu Han Beng berguru kepada Goan Kim Taysu yang terkenal arif dan alim ketimbang gurunya yang sekarang.
Walau hebat bak naga sakti tanpa kelihatan ekor, dimata Tan Leng Ko suhu bocah itu yang sekarang, tidak lebih dari seorang pencuri. Seorang pencuri yang memiliki kepandaian seperti setan. Seorang sakti yang mencapai tingkat sebelas dari sebuah ilmu yang bernama Bu Kek Kang Sinkang!
“Susiok…?”
“Siancai…siancai…” sela Mo Tian Siansu.”Dengan pengangkatanmu sebagai murid supek, urutan dan panggilan menjadi kacau. Kau boleh memanggilku susiok atau suheng. Terserah padamu” “Susiok, benarkah yaya-ku dalam bahaya?”
Mo Tian Siansu tersenyum, katanya perlahan: “Yang pinceng tahu, yaya-mu bersama seseorang yang susiokmu kenal baik. Dia tentu akan menbantu yaya-mu. Dia pula Ia yang memberitahu pinceng, yaya-mu berada di kota Po-Ting. ” “Siapakah orang itu?”
“Dia bernama Buyung Hong, seorang berkepandaian tinggi yang tentu tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu hal buruk pada yaya-mu”
Tak tahan Tan Leng Ko ikut menimbrung: “Pernah kudengar nama itu. Setahuku ia bukan jenis yang gemar menolong orang. Kenapa ia mau membantu Khu congpiauthau?”
Tan Leng Ko seperti menangkap kepedihan dibalik senyuman Mo Tian Siansu,
“ia memang bukan, tapi bagaimanapun juga dia seorang lelaki sejati. Ia sudah mengetahui Khu Pek Sim adalah suteku, ia tentu tidak ingin pinceng kecewa padanya”
Ditinjau dari keyakinan Mo Tian Siansu pada Buyung Hong, Tan Leng Ko dapat menarik kesimpulan, hubungan mereka tentu tidak sekedar hanya kenal. Tapi ia tidak mendesak lebih jauh, Tan Leng Ko tidak yakin dapat memperoleh jawaban yang memuaskan.
Ia juga mengurungkan niatnya yang lain. Tadinya ia hendak memprotes Hong Naynay yang dipikirnya pilih kasih. Seingatnya, dia tidak pernah dihidangkan teh seharum ini oleh Hong Naynay. Rupanya teh itu diperoleh Mo Tian Siansu dari sobatnya yang bernama Buyung Hong.
“Susiok, dapatkah perjalanan kita ke Siaulimsi ditunda, aku ingin sekali membantu yaya” ujar Khu Han Beng memohon.
Mo Tian Siansu tidak dapat menahan ketawanya, “Sungguh besar nyalimu! Dari gerak gerikmu, dapat kulihat kau tidak menguasai silat. Sungguh bocah pemberani!” katanya seraya mengacungkan jempol.
Tan Leng Ko tak dapat menahan kagetnya. Bhiksu sakti dari Siaulimpay yang berpandangan tajam, tidak mampu melihat kemampuan Khu han Beng!
Buru buru ia membungkuk terbatuk batuk, menyembunyikan perubahan wajahnya. Dengan sigap Mo Tian Siansu menuangkan secangkir teh dan memberikannya pada Tan Leng Ko.
“Terima kasih. Pukulan Pek Kian Si tadi rupanya masih mempengaruhi kesehatanku” katanya sambil meminum teh harum itu.
Sebetulnya bukan tujuannya mengincar teh itu, tapi malah kebetulan, akhirnya dia dapat juga mencicipi rasa teh wangi ini. Memang nikmatnya luar biasa, kental dan manis.
“Keadaan yaya sangat berbahaya, aku tidak dapat berpangku tangan” kata Khu Han Beng dengan kuatir.
Mo Tian Siansu termenung sejenak, dia dapat memahami perasaan bocah itu. Kemudian katanya:
“Sebaiknya kau bertemu dulu dengan Goan Kim Supek, biar beliau yang memutuskan langkah sebaiknya”
Khu Han Beng menarik napas dalam dalam, dia tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
“Besok setelah sarapan pagi, kita berangkat. Sebaiknya kau beristirahat yang cukup” kata Mo Tian Siansu membujuk.
Khu Han Beng mengiakan, kemudian berpamitan bersama Tan Leng Ko untuk pergi tidur.
Sambil berjalan disebelah Khu Han Beng, Tan Leng Ko berkata perlahan:
“Kepandaian Buyung Hong tinggi sekali, kuyakin dia mampu melindungi Khu Congpiauthau”
Khu Han Beng tidak bicara, ia seperti tidak berminat membicarakan soal itu.
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, katanya kemudian: “Aku harus memeriksa regu penjaga, kuharap tidak ada pengacau yang datang malam ini”
“Justru kuharap kedatangan pengacau” gumam Khu Han Beng dengan datar.
Meremang bulu tengkuk Tan Leng Ko mendengar ucapan tanpa nada. Tiada luapan emosi, kemarahan atau ancaman. Tidak juga bernada dingin, hanya rasanya terdengar lebih menakutkan!
“Apa yang akan kau lakukan? Memperagakan kepandaianmu yang hebat didepan susiokmu atau dihadapan orang orang Mi Tiong Bun?” tukasnya cepat.
Khu Han Beng terdiam. Kesedihan muncul diwajahnya. Diam diam Tan Leng Ko bernapas lega, bersedih jauh lebih baik ketimbang tanpa perasaan.
“Sebaiknya kau pergi tidur saja!” bujuk Tan Leng Ko.
Khu Han Beng mengangguk. Kemudian melangkah menuju kamarnya.
Tan Leng Ko memandang kepergian bocah itu sambil menggigit bibirnya. Hatinya pedih. Ia dapat merasakan betapa bocah itu menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berbuat sesuatu untuk mencegah bencana yang menimpa Lok yang Piaukok.
Apakah suatu faktor kebetulan, Khu Han Beng diajak berlatih semenjak pagi oleh suhunya, atau…?
“Tidak boleh kupikirkan sekarang, banyak yang harus kukerjakan” gumamnya sambil mengayun langkah, melakukan rutinitasnya.
Malam semakin dingin, bulan sudah bersembunyi dibalik bukit. Kentongan berbunyi dua kali ketika Tan Leng Ko selesai dengan tugasnya. Heran juga ia, Giok Hui Yan tidak kelihatan batang hidungya. Tak terasa Tan Leng Ko berjalan mengarah kamar gadis itu yang bersebelahan dengan kamar kamar Su-Tongcu bertiga.
Baru sepuluh langkah kaki, ia memasukki lorong jalan didepan deretan kamar kamar tamu, ia telah dicegat oleh Su-lopeh.
“Jika kau berniat menemui Ji-siocia, baiknya besok saja” kata Su-lopeh dengan nada tidak senang.
“Tak kusangka, Su-lopeh belum tidur” kata Tan Leng Ko sambil tertawa.
“Cara ketawamu bisa mengagetkan orang mati, apakah kau memang sengaja hendak
membangunkan orang tidur?” ujar Su-lopeh kesal.
Tan Leng Ko tersenyum, dia tidak marah diomeli Su-lopeh.
Pertarungan sengit tadi membuat mereka semua letih sekali. Bukannya berisitirahat, Su-lopeh malah berjaga di depan pintu kamar Giok Hui Yan.
Tan Leng Ko yakin, dua tongcu lainnya tentu sedang menjagai jendela di belakang kamar. Mereka tidak berani lengah. Meleng sedikit, Ji-siocia mereka yang cerdik tentu bakal merat kabur!
Betul Giok Hui Yan berniat pulang, tapi bukan berarti ia mau dipaksa pulang. Sedikit banyak Tan Leng Ko sekarang dapat meraba watak gadis itu.
“Yaa, sebaiknya aku pergi tidur. Nikmat rasanya berselimut, dimalam sedingin ini. Semoga Su-lopeh dapat tidur dengan nyenyak” bisiknya pelan.
Su-lopeh mendengus, dia seperti merasa sindiran Tan Leng Ko.
Tan Leng Ko meninggalkan Su-Tongcu sambil diam diam tertawa dalam hati.
Keluar dari lorong jalan, Tan Leng Ko agak kaget juga melihat Khu Han Beng berdiri dikejauhan. Jari tangan bocah itu didekatkan ke bibirnya, kemudian memberi isarat tangan agar Tan Leng Ko mengikutinya.
Mereka berjalan biasa menuju kehalaman belakang.
“Letihkah kau toako?” tanyanya.
“Maksudmu?”
Khu Han Beng memusatkan perhatiannya. Setelah yakin tiada orang, tubuhnya melayang melompati pagar tembok.
Mau tak mau Tan Leng Ko berdecak kagum. Kaki bocah itu tidak terlihat menekuk, tubuhnya melayang keatas begitu saja seperti diterbangkan angin melintasi pagar tembok yang tinggi dalam sekali lompat, sedangkan dia harus menggunakan pantulan dari jejak kaki dipinggir tembok dua kali, sebelum hinggap diatas pagar.
Khu Han Beng melambai untuk mengikutinya. Tan Leng Ko mengerahkan ginkang melompat, kemudian berlari menuju lapangan rumput dibelakang sana.
Begitu ia tiba, Khu Han Beng tidak membuang waktu, langsung berkata:
“Jurus kedelapan dari Ouw Yang Ci To…
Khu Han Beng menguras ingatannya, menyebut lisan jurus demi jurus.
Baru Tan Leng Ko maklum maksud pertanyaan bocah itu. Besok Khu Han Beng sudah harus pergi,
tidak banyak waktu yang tersisa baginya untuk memberi ajaran Ouw Yang Ci To. Toh masih menyempatkan diri untuk dirinya. Benar benar bocah ini sangat kasih padanya.
“Berapa banyak yang dapat kau ingat, toako?” tanya Khu Han Beng mendadak.
Tan Leng Ko menyengir. Pikirannya melayang kemana mana, hingga tidak terlalu memperhatikan. Ia mencoba mengulang,
“Jurus kedelapan dari Ouw Yang Ci To…”
Kemudian terdiam, tidak dapat meneruskan.
Dengan sabar Khu Han Beng menanti kelanjutan ucapan Tan-toakonya.
“Hanya perkataan itu saja yang kuingat” ujar Tan Leng Ko agak jengah.
Khu Han Beng menghela napas, setelah termenung sebentar, ia mematahkan sebatang ranting seraya berkata:
“Mungkin sebaiknya kuperagakan seperti kita melatih jurus ketujuh”
Lalu secara kaku tapi jelas perlahan, Khu Han Beng mengayunkan sisa ranting ditangannya.
Terenyuh juga hati Tan Leng Ko melihat keseriusan bocah itu yang begitu memeperhatikan kepentingannya. Walau badannya masih letih dan sakit bukan main dari pertarungan tadi, ia tidak mau mengecewakan Khu Han Beng, terpaksa Tan Leng Ko memusatkan perhatiannya.
Sebentar bentar Khu Han Beng berhenti, melafalkan baitan kata kata yang melukiskan posisi tubuh, tangan dan langkah kaki. Begitu timbul pengertian, ia bergerak sesuai dengan apa yang digumamnya.
Khu Han Beng mengulang gerakkannya sebanyak tiga kali, yang kemudian ditiru oleh Tan Leng Ko.
Jurus demi jurus Tan Leng Ko meniru gerakkan Khu Han Beng yang semakin lama semakin sukar. Di jurus ketiga belas ia harus memutar badannya ditengah udara secara lambat. Gerakkan yang jauh lebih sulit dibanding gerakkan cepat. Beberapa kali Tan Leng Ko mengulang, selalu tidak berhasil.
“Apa gerakkan pinggang yang memutar, bersamaan dengan ayunan golok?”
Setelah sekian lama tidak mendengar jawaban, Tan Leng Ko menoleh, dia tidak melihat Khu Han Beng berdiri ditempatnya. Entah sudah berapa lama bocah itu pergi, Tan Leng Ko menghela napas. Bocah ini seperti gurunya, mirip setan yang dapat datang pergi semaunya tanpa ketahuan.
Setelah beristirahat sejenak, kembali ia mencoba jurus ketiga belas dengan tekun hingga tak terasa waktu bergeser dengan cepat, kokok ayam mulai terdengar, menandai fajar telah menjelang.
“Coba tekuk pinggangmu lebih kedalam, toako” mendadak terdengar ucapan Khu Han Beng.
Tan Leng Ko menghentikan gerakkannya, dan melihat bocah itu tiba tiba sudah berdiri ditempatnya
semula. Wajahnya sudah tidak murung lagi, bahkan sebuah senyum terkulum diujung bibirnya.
Malah boleh dibilang cengar cengir, matanya berkilat kilat, gembira sekali nampaknya.
“Darimana kau?” tanya Tan Leng Ko heran.
“Tak ingin aku menganggu toako yang asyik berlatih, maka kupergi ke dapur sebentar untuk mengambil ini”
Tangannya menyuguhkan seguci arak kepada Tan Leng Ko. Tangan yang satunya mengangkat satu guci yang lain, dan menuangkan arak kemulutnya.
Dari bau yang teruar, Tan Leng Ko mencium arak Tiok Yap Jing. Sambil tertawa ia berkata:
“Sekarang, baru benar benar kuakui kehebatanmu! Tak kusangka, kau dapat menemukan tempat penyimpanan arak Hong Naynay”
“Jika toako tidak bilang aku telah minum arak, aku juga tidak akan bilang toako yang mencurinya”
“Memang bukan aku yang mengambilnya” protes Tan Leng Ko.
“Benar! Tapi gimanapun juga, Hong Naynay lebih percaya ucapanku dibanding toako” kata Khu Han Beng sambil mengedipkan mata.
“Tapi bukankah Hong Naynay akan segera mengetahui, guci araknya ada yang hilang?” kata Tan Leng Ko dengan cemas.
“Tidak! Hong Naynay tidak akan lekas menyadari”
“Kenapa?”
“Sebab sudah kusiapkan penggantinya, sehingga jumlah guci arak tidak berkurang, hanya isi guci guci ditumpukkan bawah sudah banyak berisi air” kata Khu Han Beng sambil menyengir.
Tan Leng Ko tidak dapat menahan gelak tawanya. Hatinya senang melihat bocah itu seperti sudah pulih keadaannya, walau sedikit heran, seharusnya mengambil dua buah guci arak, tidak memerlukan tempo lama. Tapi mungkin bocah ini harus mengaduk aduk dapur untuk menemukannya. Dia sendiri yang berkali kali mencoba mencuri, tidak pernah berhasil menemukan tempat dimana Hong Naynay menyembunyikan araknya.
“Kau harus memberitahu tempat penyimpanan guci arak itu” kata Tan Leng Ko dengan semangat.
Khu Han Beng seperti jual mahal, dia tidak mau untuk mengatakannya walau Tan Leng Ko berkali kali membujuknya.
Tiba tiba Tan Leng Ko tertawa licik, katanya kemudian seperti seekor rase:
“Pertanyaanku yang kelima, Dimana tempat penyimpanan guci arak Hong Naynay?”
Khu Han Beng tertegun!
“Sungguh tidak adil, bukankah jatah pertanyaan itu hanya digunakan yang ada hubungan dengan urusan pribadiku?” protes Khu Han Beng.
“Bukankah selain Hong Naynay, hanya kau pribadi yang mengetahui lokasi tempat itu!” kata Tan Leng Ko akal akalan.
“Memang licik sekali toakoku ini!” keluh Khu Han Beng menyerah.
Tan Leng Ko tertawa senang. Ia mendengar dengan cermat ketika dengan perlahan Khu Han Beng membisikkan tempat itu padanya.
Tak terasa, matahari mulai muncul di ufuk timur, memancarkan sinar paginya yang hangat menerangi mereka yang asyik berbincang bincang sambil menikmati arak,
Tidak lama kemudian, Tan Leng Ko membuang guci araknya yang kosong, sambil menepuk pundak Khu Han Beng, ia berkata:
“Ayuh, kita sarapan pagi. Hari ini biasanya Hong Naynay memasak bubur ayam, sudah lama aku tidak mencicipinya”
Khu Han Beng ikut membuang guci araknya dan berjalan lebih dahulu didepan toakonya.
“Tunggu sebentar!” kata Tan Leng Ko yang bergegas menghampiri dan meraih beberapa utas rambut panjang yang menempel dibaju Khu Han Beng. Seutas rambut yang hitam, gemuk dan indah sekali. Diam diam Tan Leng Ko tertawa geli, rambut itu jelas bukan milik bocah itu. Apa bocah yang sudah gemar minum arak, juga sudah mulai pat gulipat dengan perempuan?
************************************
Ketika mereka memasukki ruang makan, nampak Mo Tian Siansu duduk di ujung sebelah kiri meja persegi panjang, menikmati bubur ayam tanpa ayam.
Bhiksu itu tersenyum kemudian menyilahkan mereka duduk. Tan Leng Ko mengambil tempat membelakangi pintu masuk sedangkan Khu Han Beng duduk disebelah kanannya.
Timbul rasa kagum dihati Tan Leng Ko. Dia maklum, Bhiksu ini tidurnya telat sekali, tapi bangunnya juga pagi sekali. Suatu kebiasaan baik, hasil tempaan disiplin bertahun tahun.
“Apakah tidur kalian nyenyak semalam?” sapa Mo Tian Siansu halus.
Tan Leng Ko menengok Khu Han Beng yang juga melirik padanya. Orang bodohpun tahu mereka belum tidur. Selain muka mereka yang kusam, pakaian mereka juga belum diganti.
“Beng-sauya menemaniku meronda semalaman, hatinya gundah, dia tidak bisa tidur” sahut Tan Leng Ko menjawab.
Mo Tian Siansu mengangguk seperti memahami, kemudian ia berkata:
“Sebaiknya kalian makan agak banyakkan, untuk mengganti tenaga yang banyak hilang”
Tanpa disuruh kedua kali, keduanya meracik, menyantap bubur ayam Hong Naynay yang enaknya bukan main.
Sedikit sekali mereka berbicara, namun banyak sekali makannya. Entah diramu dengan apa, kuah yang berwarna kuning keemasan dicampur dengan warna bubur yang putih, selain warnanya
menarik, rasanya juga nikmat sekali.
Jika tidak menghabiskan sedikitnya tiga mangkuk, Tan Leng Ko seperti merasa berdosa pada dirinya.
Tidak sedikit Khu Han Beng menyantap, juga tidak sedikit ia melamun tersenyum senyum sendirian. Mau tidak mau timbul rasa ingin tahu dihati Tan Leng Ko, prilaku cengar cengir bocah ini, tidak seperti biasanya.
Baru ia hendak bertanya, tiba tiba terdengar bentakkan diselingi isak tangis Giok Hui Yan dibelakangnya.
“Tega sekali kau!”
Tan Leng ko menengok kebelakang, ia menatap Giok Hui Yan dengan bengong!
Wajah gadis ini walau digenangi air mata, masih manis luar biasa. Pipinya yang merah menahan marah, ujung bibirnya yang mungil gemetar menahan isak, sungguh pemandangan cantik bagaikan lukisan klasik.
Hanya… Rambutnya yang hitam lemas panjang bak untaian mutiara, telah hilang. Giok Hui Yan berdiri menangis dekat pintu masuk dengan kepala gundul plontos!
Tan Leng Ko berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa!
Dia memang pernah melihat seorang nikoh, itupun dari kejauhan lagipula kepalanya yang gundul ditutup kerudung kain, tidak telanjang polos begini. Dia tidak menyangka seorang perempuan gundul ternyata mempunyai bentuk batok kepala yang begitu bulat, begitu bagus tapi juga terlihat rada aneh.
Baru ia hendak bertanya mendadak tangan Giok Hui Yan melayang, menampar pipinya.
“Plaaak!!!” Tan Leng Ko yang masih tertegun, gelagapan dengan pipi membengkak!
saking kerasnya tamparan itu, kepalanya sampai memutar kekanan, pandangannya berkunang kunang. Namun, dia seperti melihat Khu Han Beng menutup mulut dengan tangannya, tertawa sambil mengedipkan mata padanya.
“Tidak seharusnya kau membalas, membotakki kepalaku” jerit Giok Hui Yan sedih.
Terdengar suara ketawa Khu Han Beng yang ditahan, dia memincingkan mata menatap pipi Tan Leng Ko yang bengkak. Rupanya bukan hanya Giok Hui Yan saja yang ia ketawai, Tan Leng Kopun turut menjadi korban tertawanya.
“Plaaak!!!” pipi Khu Han Beng ikut bengap ditampar Giok Hui Yan yang memakinya cacing buku tidak becus, dan segala macam makian yang diumbar tanpa berhenti.
“Sekali lagi kulihat kau tertawa, kuhantam kau sampai mampus!” ancam Giok Hui Yan sambil melotot pada bocah itu.
Agak kaget juga Tan Leng Ko melihat reaksi Khu Han Beng yang tidak melawan. tentu bukan hal yang sulit jika bocah itu mau menghindar. Rupanya jika tidak terpaksa, Khu Han Beng benar benar tidak akan menunjukkan kemampuannya.
“Kenapa kau lakukan itu, hayoh jawab?” perhatian Giok Hui Yan kembali terpusat pada Tan Leng Ko.
Baru Tan Leng Ko hendak menjawab, terdengar suara Su-lopeh dari pintu masuk.
“Bukan dia yang melakukannya, Ji-siocia!”
Sebelum ia menoleh, Tan Leng Ko melirik Khu Han Beng yang menatap kebelakangnya dengan muka heran.
Cepat ia menengok, Su-Tongcu bersama kedua rekannya memasukki ruang makan dengan muka kelam. Kepala ketiga orang itu tampak memantulkan sinar matahari pagi. Keadaan tiga tokoh Mi Tiong Bun ternyata tidak banyak beda dengan Ji-siocianya, kepala mereka juga telah gundul!
“Walau dia berkepandaian tinggi, mustahil kami tidak mengetahui kedatangannya” dengus Su-lopeh sambil melotot pada Tan Leng Ko.
“Siapa yang telah mencukur rambut kalian?” tanya Khu Han Beng dengan heran.
“Justru kami ingin bertanya pada tuan rumah, kenapa semua tamunya dipangkas rambutnya, kecuali…” Su-lopeh melirik pada Mo Tian Siansu. “Kecuali aku” kata bhiksu itu sambil tersenyum tenang. “Benar! kecuali Siansu karena…” “Karena pinceng memang sudah tidak berambut, apalagi yang harus dicukur?”
Giok Hui Yan yang sedang marah, sempat sempatnya melengos jengah. Ucapan Mo Tian Siansu seperti telah memancing daya khayalnya, membayangkan bagian tubuh yang tidak pantas dibayangkan.
Segera ia memusatkan perhatiannya, jika bukan Tan Leng Ko yang melakukan, apakah locianpwee sakti itu yang telah mencukur rambutnya? Apa dikarenakan ia telah melanggar daerah larangan? Bukankah Lok Yang Piaukok tidak termasuk daerah larangan?
Sementara Giok Hui Yan termenung, terdengar Su-lopeh berkata: “Kuyakin seorang yang berkepandaian tinggi bersembunyi ditempat ini, bahkan bisa lolos dari pengamatan Mo Tian Siansu” jengek Su-lopeh menyindir.
Mo Tian Siansu memejamkan matanya. Mukanya sedikit memerah jengah. Kamar tidurnya hanya beberapa langkah dari kamar mereka. Tapi dia tidak mendengar sesuatu yang janggal.
“Pihak Mi Tiong Bun ingin sekali berkenalan dengan orang itu” kata salah satu tongcu yang berdiri disebelah Su-lopeh.
“Akulah yang mencukur rambutnya” ujar Khu Han Beng tiba tiba sambil menunjuk Giok Hui Yan.
Yang ditunjuk mendengus, sambil melotot Giok Hui Yan Berkata ketus:
“Huh! kutampar saja kau tidak bisa mengelak, cacing buku semacam dirimu yang tidak bisa silat, jika tidak lekas diam bakal kutampar kau sekali lagi!”
Su-lopeh menatap Khu Han Beng dengan dingin, sedangkan Mo Tian Siansu mengangkat tangan mencegah bocah itu untuk berbicara lebih lanjut.
Tidak ada yang percaya Khu Han Beng yang melakukan perbuatan itu…kecuali Tan Leng Ko!
Dilihat dari cara bocah itu yang tadi senyum senyum sendirian, Tan Leng Ko percaya, yang mencukur rambut Giok Hui Yan, memang perbuatan Khu Han Beng. Bocah itu tidak main pat gulipat. Ketika ia sibuk memangkas gundul Giok Hui Yan, rambut yang melayang ada beberapa utas yang menempel dibajunya.
Menurut perhitungan Tan Leng Ko, Khu Han Beng yang sedang kesal memerlukan pelampiasan, dan ia memilih mengerjai gadis itu. Selain gadis itu pernah lancang memasukki kamarnya, Giok Hui Yan juga telah membotakki kepala toakonya. Ia tidak terima, maka bocah itu membalas perbuatan Giok Hui Yan dengan cara yang sama. Gigi dibalas dengan gigi, gundul dibalas dengan gundul!
Hanya yang ia tidak habis mengerti, siapa yang membotakki Su-Tongcu bertiga?
Dilihat dari reaksi Khu Han Beng dan cara ia bertanya, Tan Leng Ko yakin bukan perbuatan bocah itu!
Jika bukan Khu Han Beng, lalu siapa yang mencukur mereka? Dan untuk apa? Apakah suhu bocah itu yang melakukan? Seorang sakti seperti itu sukar dipercaya berbuat iseng begitu. Lagipula tidak mudah dalam waktu singkat menemukan kamar mereka dari deretan puluhan banyaknya… kecuali orang itu orang dalam, salah satu penghuni Lok Yang Piaukok.
Tiba tiba mendesir hati Tan Leng Ko, mukanya berubah dengan hebat! Apakah suhu Khu Han Beng selama ini memang tinggal disini dan merupakan salah satu penghuni Lok Yang Piaukok?
Samar samar Tan Leng Ko seperti mendengar Mo Tian Siansu seperti berkata: “Apapun juga maksud orang itu, selain mencukur rambut kalian, ia tidak melakukan hal yang buruk”
Ia sudah tidak begitu mendengar jelas sahutan Su-lopeh, Tan Leng Ko tenggelam dengan pemikirannya. Menurut perhitungannya, walau kepandaiannya terhitung lumayan, ia tidak yakin locianpwe itu berlega hati mempercayakan ruang kitab pusaka itu padanya. Lagipula boleh dibilang ia belum memulai tugasnya, lalu siapa yang telah menjaga isi kamar Khu Han Beng sebelum dirinya?
Dia benar benar tidak percaya jika bertahun tahun ruangan itu tanpa dijaga! Dan ditilik dari sikap bocah itu yang acuh ketika Pek Kian Si memegang tasnya. kecil kemungkinannya Khu Han Beng
yang ditugaskan untuk menjaga.
Meremang bulu kuduk Tan Leng Ko, ucapan Su-lopeh tidak salah!
Di perumahan ini besar kemungkinan benar benar terdapat seorang berkepandaian tinggi yang bersembunyi. Seseorang yang selama ini menjagai ruangan kitab pusaka itu, seseorang yang telah menotok puluhan orang kangouw ditigapuluh enam nadi pembuluh darahnya. Seseorang yang mempunyai kepentingan untuk mengawasi muridnya setiap saat, dan cara terbaik untuk melakukan itu adalah ikut menghuni di Lok Yang Piaukok!
Siapa lagi yang cocok dengan diskripsi diatas selain suhu Khu Han Beng!
Walau tidak mungkin Gu-Suko tidak terlibat, tapi ia yakin suhu Khu Han Beng bukan Gu-Suko! Selain orang itu benar benar tidak bisa silat, bukankah Giok Hui Yan pernah berkata Gu-Suko banyak tahun tidak pernah meninggalkan kota Lok Yang!
Sedangkan penghuni Lok Yang Piaukok boleh dibilang rata rata sering bepergian. Memang benar setiap pengantaran barang terdapat catatan siapa siapa yang pergi menghantar barang, tapi tidak jarang di saat saat terakhir dengan alasan urusan pribadi terjadi aplusan, atau pertukaran orang. jika kesempatan itu digunakan untuk melakukan pencurian kitab, boleh dibilang tidak ada yang mencurigai dan tidak mungkin dapat dilacak.
“BRUAKK!!!” suara keras menyadarkan Tan leng Ko dari lamunannya. Dari bunyinya yang khas, ia maklum kembali pintu gerbang dihancurkan orang.
Ia menghela napas seraya berkata,
“Sebaiknya gerbang depan tidak usah diberi pintu lagi, toh dalam sekejap bakal hancur lagi.”
Baru ia sadar, ternyata ia telah menggumam sendirian. Ruang makan ini dalam sekejap telah
kosong. Mo Tian Siansu, Giok Hui Yan dan yang lain rupanya sudah duluan memburu keluar. Rupanya ketika ia asyik melamun, mereka lebih dahulu mengetahui atas datangnya musuh.
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, sehabis pertarungan yang melelahkan semalam, ditambah ia diharuskan melatih Ouw Yang Ci To, dirinya terasa penat bukan main. Sayangnya kesulitan seperti tidak mengenal lelah menyusahkan dirinya. Dia tidak tahu siapa yang menghancurkan pintu gerbang, yang jelas persoalan baru sedang menantinya.
Tiba tiba teringat olehnya sikap Khu Han Beng yang mengharapkan Lok Yang Piaukok kedatangan pengacau. Membayangkan sikap bocah itu semalam, yang terlalu diam, tidak memancarkan perasaan sedikitpun, kembali timbul rasa takut dihati kecil Tan Leng Ko. Ia benar benar tidak berani membayangkan apa yang bakal dilakukan oleh bocah itu. Dengan kemampuannya, bukan mustahil terjadi hal hal yang tidak inginkan!
Buru buru ia melangkah keluar, cepat matanya mencari Khu Han Beng diantara puluhan orang yang memadati di depan pintu gerbang yang hancur. Ia hanya melihat anak buahnya yang berkerumun membentuk barisan, dan Su-lopeh bertiga berdiri dekat Giok Hui Yan didepan sana, sedangkan Mo Tian Siansu sedang melangsukan pertempuran.
Diam diam Tan Leng Ko menarik napas lega, ketika tidak melihat Khu Han Beng, entah kemana lagi bocah itu pergi. Ia tidak ada waktu mengurusinya, segera ia
maju kedepan menyongsong rombongan orang orang itu,
Dari cara mereka menyematkan bunga bwe hitam terbuat dari besi di dada atas sebelah kiri, Tan Leng Ko segera menyadari siapa yang datang mencari gara gara!
Kali ini nampaknya rombongan Bwe Hoa Pang dipimpin oleh seorang nenek tua dengan badan yang rada membongkok, berdiri paling depan disebelah kanan sebuah tandu yang digotong oleh empat lelaki kekar. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat yang entah terbuat dari kayu apa, berwarna hitam kemerahan. Ujung tongkat yang runcing sedang menyerang Mo Tian Siansu.
Bhiksu itu menggeser tubuhnya kekiri, kemudian mengayun tangannya mengarah pinggang lawannya. Pukulannya beradu dengan tangan kiri nenek bongkok mengeluarkan suara keras yang mengagetkan orang.
Mo Tian Siansu tersirap, ia sama sekali tidak menyangka kalau gerakkan serangannya yang disertai hawa murni sebanyak tujuh bagian ternyata tidak dapat berbuat banyak. Sebaliknya diam diam nenek bongkok juga mengakui kehebatan bhiksu dari siaulimpay ini.
Kembali angin pukulan ayunan tongkat menggulung kencang bagaikan sebuah gelombang dahsyat langsung menyapu kearah tubuh Mo Tian Siansu. Yang diserang segera mengebaskan ujung bajunya yang lebar, dan dalam tempo singkat melancarkan beberapa serangan susulan yang dengan mudah dapat ditahan oleh nenek bongkok.
Sebentar saja kedua tubuh mereka saling berkelebatan, kadang menyatu melangsungkan pertarungan jarak dekat, kadang mereka mengandalkan keampuhan tenaga sakti menyerang dari kejauhan.
Serangkaian gerakkan tongkat dan pukulan tangan silih berganti, cepat dilawan dengan cepat, gerakkan lambat bertemu dengan lambat. Gebrakkan lambat yang disertai hawa murni, sering menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga. Dalam tempo singkat puluhan jurus sudah lewat, lama kelamaan pertempuran mulai terlihat berjalan tidak seimbang, Mo Tian Siansu mulai lebih banyak bertahan dibanding menyerang.
Setiap kali terjadi bentrokan tenaga sakti, tubuh Mo Tian Siansu mundur kebelakang menyeringai sakit. Gerakkan tongkat nenek bongkok yang aneh, memaksa bhiksu itu untuk mengadu tenaga. Sambil mengemposkan semangat, Mo Tian Siansu mengerahkan tenaga sebanyak dua belas bagian.
“Blang!” terdengar letupan dahsyat ketika tenaga dalam nenek bongkok itu beradu dengan tenaga sakti Mo Tian Siansu yang mengerahkan Siau Thian Sinkang.
Gulungan angin panas menerpa wajah Tan Leng Ko, rasanya seperti disayat pisau, otomatis tubuhnya bereaksi, hawa dingin berputar mengelilingi tubuhnya, hentakkan hawa liar yang menganggu tubuhnya kembali berkurang.
Lekas ia menghampiri Mo Tian Siansu yang terhuyung lima langkah dengan wajah bersemu pucat membiru, jelas luka dalamnya tidak ringan. Kaget juga Tan Leng Ko melihat ketangguhan nenek bongkok itu yang tubuhnya tidak bergeser, jelas tenaga dalam nenek itu jauh lebih tinggi dari bhiksu siaulimsi.
Tan Leng Ko memberi hormat pada Mo Tian Siansu, katanya dengan perlahan:
“Sebaiknya Siansu beristirahat didalam, biar aku saja yang menghadapi mereka”
Mo Tian Siansu mengangguk, Baru melangkah beberapa tindak, bhiksu itu memuntahkan darah segar, badannya terkulai pingsan. lemas. Lekas Tan Leng Ko memanggil salah satu piasu untuk mengusung bhiksu itu ke kamarnya.
Tan Leng Ko membalikkan badannya, melangkah beberapa depa dan berhenti didepan nenek bongkok itu. Diam diam ia terkejut, banyak perempuan yang ia pernah ketemui. Ada yang muda, juga ada yang telah berusia. Belum pernah ia bertemu dengan seorang nenek yang begini jeleknya.
Kulit wajah nenek ini yang berkeriputan bukan soal baginya. Seorang nenek memang tidak mungkin mulus, yang luar biasa letak mata, hidung dan mulutnya seperti salah tempat. Mata kirinya berjejer tidak sama dengan yang sebelah kanan. Hidungnya tidak persis ditengah melainkan seperti menyilang. Mulutnya yang mencong kekanan dibubuhi gincu merah yang tebal. Kedua pipinya dipenuhi bedak tebal yang mengering, retak retak seperti tanah sawah dimusim kemarau. Sungguh luarbiasa! Rupanya pertarungannya dengan Mo Tian Siansu barusan, tidak membuatnya berkeringat.
Tak tahan Tan Leng Ko menggumam dalam hati:
“Jika Hong naynay bersanding disamping nenek ini, tentu girang bukan main. Sebab untuk pertama kalinya, ia akan merasa dirinya lebih cakap!”
Nenek bongkok juga sedang memerhatikan Tan Leng Ko dengan mata jelalatan.
“Kau sungguh enak dilihat, tidak terlampau tampan tapi berkesan jantan, ciri lelaki sejati” pujinya.
Tan Leng Ko merasa muak, hampir ia muntah muntah. Ia merasa ditelanjangi oleh sorot mata nenek bongkok itu yang penuh pancaran birahi.
“Jika kau hendak mencari jodoh disini, kuyakin kau salah alamat” katanya dengan tawar.
nenek Bongkok itu tertawa, katanya kemudian:
“sebetulnya bukan itu niat kedatanganku, tapi jika kau berniat meminangku, belum tentu aku menolak”
Walau hatinya masih dirundung kemarahan, sempat sempatnya Giok Hui Yan mengikik perlahan.
Tan Leng Ko menyengir, nenek jelek ini nampaknya gemar tanya jawab, bisa runyam dirinya jika diladeni, cepat ia menukas:
“Jika kalian tidak terlalu goblok, tentunya sudah mendengar peristiwa semalam yang terjadi disini.”
“Nampaknya, kau tidak begitu menyukai kedatangan kami” ujar nenek bongkok itu sambil tertawa ramah.
Tan Leng Ko kembali menghela napas, katanya:
“Sudah tiga kali kalian datang kemari, sebanyak dua kali pintu gerbang kami hancur tidak karuan. Dan kalian selalu lupa untuk membayar ongkos gantinya. perusahaan ini bisa bangkrut gara gara ongkos pintu… Sebetulnya untuk apa lagi kalian kemari?”
Nenek bongkok itu tidak langsung menjawab, melainkan menoleh perhatiannya seperti tertarik pada Giok Hui Yan dan Su-lopeh bertiga.
“Bhiksu siaulimsinya hanya satu, kenapa yang kepalanya gundul ada lima?” gumamnya, perlahan tapi jelas.
Giok Hui Yan memekik marah, ia menerjang nenek bongkok itu, tapi dihadang delapan orang yang berbaju hitam, yang berwajah kaku dengan kening menonjol. Mata mereka mencorong mengkilat, menatap tajam Giok Hui Yan yang maklum mereka seperti melatih semacam barisan tangguh.
Gerak gerik delapan orang ini berirama menduduki posisi patkwa. Tapi Giok Hui Yan tidak perduli, dalam kegusarannya ia segera menyerang orang yang berdiri didekatnya.
Lihay amat serangannya, hawa pedang mencicit keluar dari tangannya, dengan pesat menghantam lawan yang menempati posisi timur. Orang itu mengelak dari serangan maut, dengan menempati posisi tenggara.
Tujuh orang rekannya secara bersamaan menggeser tubuh, kembali membentuk posisi patkwa. Selain perhitungan waktu mereka yang tepat, cara mereka berpindah seperti dikuasai oleh satu pikiran, tidak ubahnya seekor gurita yang dengan leluasa dapat menggerakkan kedelapan tangannya!
Yang berdiri dibelakang Giok Hui Yan segera menotok, mengincar urat nadi penting di punggung gadis itu. Giok Hui Yan lekas menarik napas kedua lengan berkembang tubuhnya meronta sekali, melayang naik dua tombak meluputkan diri dari sasaran.
Ditengah udara tubuh gadis itu berputar sekali dan dalam keadaan berbaring tangannya mengayun, membalas menyerang. Dengan ginkangnnya yang tinggi, tubuhnya menukik lurus kebawah seenteng kapas, turun dibelakang salah satu baju hitam yang menduduki posisi utara.
Su-lopeh bertiga tidak tinggal diam, cepat mereka memasukki barisan patkwa itu membantu Ji-siocianya. Diam diam Giok Hui Yan bersyukur, untung tenaga dalamnya mengalami banyak kemajuan, jika tidak tentu tidak dapat bertahan lebih dari lima jurus, lawan mereka bukan saja tangguh perorangan, barisan mereka juga hebat dan aneh.
Giok Hui Yan berpekik nyaring, teriaknya tiba tiba:
“Barisan pedang Mi-Tiong-su-heng-tin!”
Berdebar hati Tan Leng Ko ketika melihat Su-lopeh dan rekannya berkelebat membentuk segi tiga, mengelilingi Giok Hui Yan yang berdiri dipusatnya.
Pandangan mata Tan Leng Ko menjadi kabur melihat kelebatan bayangan mereka yang bergerak cepat sekali. Didalam barisan patkwa terdapat barisan pedang Mi Tiong Bun yang tidak kalah hebat dan anehnya.
Giok Hui Yan tidak berani gegabah, menghadapi barisan patkwa delapan orang baju hitam yang maju mundur menyerang, ia harus menempatkan diri pada posisi yang tepat.
Dari mulutnya, keluar kata kata sandi yang memerintahkan Su-lopeh bertiga selain mematahkan serangan, juga mengembangkan kelincahan langkah dan gerakkan tubuh yang enteng, menggasak ketimur atau mendesak kebarat, maju mundur sambil berputar. Selain indah dilihat, juga dapat dirasakan hawa maut tebal yang terkandung dari gerakkan barisan itu.
Kedua barisan bergerak makin cepat laksana dua gilingan yang saling beradu.
Setiap jurus serangan ganas dibalas dengan telengas, setiap serangan keji dibalas jurus keji. Setiap tipu dilawan dengan muslihat, benturan keras sering terdengar.
Pertarungan berlangsung hingga ketegangan yang memuncak. Mereka mengadu kelincahan dan ketangkasan, saling merebut kesempatan. Cara keras dilawan keras jelas menguras tenaga, dan nampaknya akan memakan waktu yang lama. Kelihatan sekali sebelum darah tumpah, tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang menyerah kalah sebelum roboh binasa.
“Benar benar hebat!, siapa mereka?” tiba tiba terdengar pujian dari orang didalam tandu.
Dengan nada sungkan, nenek bongkok menjawab:
“Mereka dari perkumpulan Mi Tiong Bun!. Walau mereka sekarang terlihat unggul, kuyakin mereka tidak akan dapat bertahan jika barisan patkwa ditambah menjadi enam belas orang”
Mendengar tanya jawab mereka, hati Tan Leng Ko tenggelam. Benar ucapan nenek bongkok itu, orang orang Mi Tiong Bun nampak lebih unggul, tapi ia juga melihat masih puluhan orang berbaju hitam yang berbaris tenang, jelas jago jago pilihan yang ketangguhannya tidak perlu diragukan. Jika barisan patkwa ditambah orang, belum tentu Giok Hui Yan dan lopehnya mampu bertahan.
Mo Tian Siansu sudah terluka parah, sedangkan dikalangan mereka seperti belum menggerakkan kekuatan intinya. Belum lagi orang didalam tandu yang ia tidak ketahui siapa adanya. Ditilik dari gaya nenek bongkok yang sungkan padanya, tentu seorang jago hebat.
Wajah Tan Leng Ko berubah serius, nampaknya sukar menahan mereka. Kembali bencana maut mengancam Lok Yang Piaukok. Sekarang Tan Leng Ko benar benar mengharapkan kehadiran Khu Han Beng. Walau tadinya ia tidak mengharapkan bocah itu turun tangan, tapi ia lebih tidak ingin Lok Yang Piaukok dibantai!
Matanya melongok kesana kemari, tapi bocah itu tidak terlihat batang hidungnya. Tan Leng Ko menyesali sikapnya yang melamun tadi, sehingga tidak memperhatikan kemana perginya Khu Han Beng.
“Hentikan!” mendadak Tan Leng Ko berteriak.
Nenek bongkok itu mengalihkan padangannya dari pertempuran.
“kenapa harus berhenti?” tanyanya ramah.
“Sebab jika kedatanganmu ingin mencari Mustika Kemala Pelangi, kuijinkan kau mencarinya disini.”
Mata nenek bongkok itu berkedip, hatinya mulai tertarik. Cepat ia bersiul nyaring yang diiringi dengan mundurnya kedelapan orang berbaju hitam dari pertarungan. Dengan sigap mereka berjejer rapi dibelakang nenek itu.
Su-lopeh bertiga yang ditinggalkan lawannya, tidak merubah posisinya, tetap mengelilingi Giok Hui Yan untuk melindunginya.
Tak terasa Giok Hui Yan menjerit tertahan. kali ini ia tidak dapat memahami maksud Tan Leng Ko sebenarnya. Tan Leng Ko menatapnya seraya menggeleng kepala perlahan. Mengisyaratkan Giok Hui Yan untuk mengundurkan diri, tidak terlibat dalam pertempuran.
“Bukankah Mustika Kemala Pelangi berada di tangan Khu Pek Sim yang sedang berada di kota Po Ting?” tanya nenek bongkok itu dengan heran.
“Kukenal kecerdikkan Khu Congpiathau, siapa tahu ia menggunakan tipu memancing harimau meninggalkan gunung, untuk mengalihkan perhatian” kata Tan Leng Ko perlahan.
Nenek bongkok itu menatap Tan Leng Ko dengan tajam, lama ia termenung. Kemudian gumamnya pelan:
“Siapa tahu Mustika itu masih berada di Lok Yang Piaukok”
“Bukannya tidak mungkin” ujar Tan Leng Ko perlahan.
“Dan kau tahu dimana ia menyembunyikannya?” tanya nenek bongkok dengan mata menyorot mengkilat.
Berdebar juga jantung Tan Leng Ko, ia cukup mengenal kilatan mata seperti itu, sorotan yang biasanya hanya dimiliki oleh seseorang yang menguasai tenaga dalam yang sempurna sekali. Hanya ia tidak habis mengerti, kenapa sorotan mata Khu Han Beng hanya terlihat bening seperti orang biasa?
“Dan kau akan menyerahkan mustika itu padaku?” bentakkan halus nenek bongkok terdengar mendesak.
Agak gelapan juga Tan Leng Ko yang tersadar dari lamunannya. Cepat ia menukas:
“Kau harus percaya, tidak ada satu orangpun disini yang mengetahui dimana Khu Congpiauthau menyimpan Mustika Kemala Pelangi. Jika kau menjadi dirinya, mungkinkah rahasia itu kau ceritakan pada orang lain?”
Nenek Bongkok itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Tan Leng Ko lama sekali, seperti menimbang apakah pemuda dihadapannya sedang berbohong atau tidak.
“Jika kalian tidak melakukan perusakkan, kuantar kalian menggeladah tempat ini tanpa perlawanan” ujar Tan Leng Ko membujuk.
“Dan jika kami tidak menemukannya?”
“Mustika itu ketemu atau tidak, selesai mencari kalian harus berjanji segera meninggalkan tempat ini”
Giok Hui Yan memandang Tan Leng Ko dengan heran. Berkali kali ia menahan dirinya untuk tidak bertanya. Sebab ia cukup menyadari, begitu ia bertanya, nenek bongkok itu justru malah curiga kepada Tan Leng Ko. Hanya ia benar benar tidak dapat mengikuti pemikiran pemuda itu. Siasat apa yang sebenarnya ia sedang lakukan?
Tan Leng Ko membiarkan dirinya dipandang oleh mereka. Sudah terlampau banyak anak buahnya yang gugur menghadang musuh, ia harus menggunakan kecerdikkannya.
Menurut perhitungannya, sekarang ia yakin suhu Khu Han Beng pasti berada di Lok Yang Piaukok, dan tentu tidak membiarkan kamar bocah itu yang berisi kitab kitab pusaka didekati orang, apalagi diperiksa.
Dengan kesaktiannya yang seperti setan, si naga sakti tentu dapat menghalau serbuan orang orang Bwe Hoa Pang dengan mudah. Selain ia dapat memaksa suhu Khu Han Beng memperlihatkan ekornya, ia juga dapat mencegah bencana yang menimpa Lok Yang Piaukok. Sekali tepuk dua lalat!
Dengan dalil yang sama, Tan Leng Ko membalas kelicikkan suhu Khu Han Beng!
Setelah termenung sekian lama, akhirnya nenek bongkok itu terdengar berkata:
“Sebenarnya maksud kedatangan kami kemari, ingin menagih hutang”
“Hutang apa?” tanya Tan Leng Ko heran.
“Hutang sebuah tangan. Tangan yang tadinya menempel dilengan murid kesayangan pangcu kami”
Tan Leng Ko menahan napasnya, perbuatan Khu Han Beng yang mengutungi tangan tempo hari, seperti dugaannya ternyata berbuntut panjang.
“Bagaimana cara membayarnya?” tanya perlahan.
Sambil tersenyum ramah, nenek bongkok itu menjawab:
“Sedikitnya harus dibayar dengan sebuah tangan pula. tentu saja berikut dengan rente rentenya”
“Dan dikarenakan kau memperoleh kesempatan untuk menemukan Mustika Kemala pelangi ditempat ini, sekarang kau mengubah niatmu”
“Tentu saja tidak!” sahut nenek bongkok itu sambil tersenyum.
Jawaban nenek bongkok diluar dugaan Tan Leng Ko.
“Apa kau tidak maui mustika itu?” tanyanya heran.
“Tentu saja mau, hanya aku yakin tidak akan dapat menemukan mustika itu ditempat ini”
“Apa dasar keyakinanmu?” tanya Giok Hui Yan tak tahan menimbrung.
“Jika ucapanmu benar Khu Pek Sim tidak bodoh, untuk apa ia meninggalkan mustika itu tetap disini hanya menjadi incaran orang banyak? Bukankah lebih baik, jika ia menyuruh orang lain yang paling ia percaya, untuk menghantar mustika itu ketempat tujuan. Sementara ia bisa saja membawa barang palsu dan membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian orang banyak. Tipu kuno berjalan ke timur, menyerang ke barat, bukan barang baru bagiku”
Tan Leng Ko melenggong. Ucapan nenek bongkok bukan saja dapat diterima akal. Bahkan bukan mustahil memang begitu adanya. Diam diam hatinya sedih juga membayangkan orang yang paling dipercaya Khu Congpiauthau ternyata bukan dirinya.
Sambil menggertakkan giginya, Tan Leng Ko telah memutuskan satu hal. Cepat ia bertanya:
“Jika hutang itu sudah dibayar, apakah kau akan meninggalkan tempat ini”
“Jika hutang telah terbayar secara lunas dan pantas, tentu saja aku akan puas dan akan pergi dari sini”
“Dan kau tidak akan datang lagi kesini mencari perkara”
Nenek bongkok itu tertawa perlahan, katanya kemudian:
“Mungkin sukar dipercaya, sebenarnya aku paling malas mencari perkara, tapi juga tidak ingin orang mencari perkara padaku”
Tan Leng Ko terdiam, lama merenung. Ujarnya kemudian perlahan:
“Kau boleh menguntungi tanganku”
“Apa apaan kau?!” teriak Giok Hui Yan kuatir sambil menghampiri Tan Leng Ko.
“Kenapa kita tidak labrak mereka saja?” protesnya tidak setuju.
Tan Leng Ko tersenyum pahit, semalam ketika selesai memeriksa regu penjaga, bersama sama anak buahnya yang bertugas, mereka telah mengubur deretan mayat mayat korban. Hanya mayat Bok Siang Gak yang ia bakar jasadnya. Ditilik dari kereta di kota Lok Yang tempo hari, ia bertekad untuk mengantar abu jenazah pemuda itu kepada rombongannya.
“Aku tidak menginginkan korban baru. Mereka terlampau kuat!” bisiknya
“Bukankah locianpwe itu akan membantu kita” bisik Giok Hui Yan.
Perlahan Tan Leng Ko menggeleng. Sukar baginya untuk menjelaskan kepada Giok Hui Yan. Jika suhu Khu Han Beng hendak membantu, pertempuran semalam tentu tidak akan timbul korban begini banyak. Locianpwee itu hanya membantu jika kepentingannya terancam.
Ia sudah mencoba menjebak nenek bongkok itu, sayang sekali siasat tepuk lalatnya sukar terlaksana. Nenek bongkok ini enggan memeriksa Lok Yang Piaukok, dan tetap bermaksud untuk menagih hutang.
Tadinya ia berharap Khu Han Beng akan turun tangan, tapi jika bocah itu pergi berlatih, tentu nanti
malam baru kembali.
Pulang pergi ia pikirkan. Jika ia dapat menyelematkan Lok Yang Piaukok, apalah artinya sebuah tangan. Hitung hitung, sebuah pengorbanan yang cukup berharga.
Hanya satu hal yang memberatkan pikirannya. Giok Hui Yan tentu tidak akan tinggal diam melihat tangannya dikutungi. Jika terjadi pertempuran, orang Mi Tiong Bun juga belum tentu akan lolos dari kematian. Hanya satu cara untuk mencegah Giok Hui Yan turun tangan.
“Maukah kau melakukan sesuatu untukku?” tanyanya pada Giok Hui Yan.
Giok Hui Yan mengiakan.
“Maukah kau berjanji melakukan apa yang kuminta?”
“Aku berjanji dan mau melakukan! Lekas katakan, apa yang kau pinta?”
“Kumuak melihat kepalamu yang gundul! Kuingin kau cepat pergi dari sini. Makin cepat makin baik!” ujar Tan Leng Ko dengan dingin.
Dengan muka pucat, Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan pandang tidak percaya! Sikap dingin dan ucapan Tan Leng Ko sungguh menusuk dan menyakitkan hatinya!
Tanpa memperdulikan Giok Hui Yan, Tan Leng Ko lekas menghampiri nenek bongkok yang tersenyum senyum sendirian.
“Kau maui tangan kiriku atau tangan kanan?”
“Pokoknya sebuah tangan, Kiri boleh kanan boleh. Aku tidak serakah meminta kedua duanya, hanya …”
Ucapan nenek bongkok itu terpotong oleh jeritan isak tangis Giok Hui Yan yang melarikan diri, meninggalkan Lok Yang Piaukok dengan air mata bercucuran dan dengan hati yang hancur. Su-lopeh bertiga yang kebingungan tidak mengerti, dengan tergopoh menyusul, mengejar Ji-siocianya sebelum kehilangan jejak.
Nenek bongkok itu tidak mencegah mereka. Bagaimanapun juga jika tidak terpaksa, ia enggan mencari perkara terhadap perguruan Mi Tiong Bun yang disegani. Lagipula dengan kepergian mereka, bukankah urusan akan jauh lebih mudah.
Tan Leng Ko menggigit bibirnya sampai berdarah, matanya berkaca kaca tapi ia tidak mengalihkan pandangannya. Ia terus menatap nenek bongkok didepannya.
“Hanya apa” katanya parau.
“Hanya untuk rentenya, aku ingin meminta sebuah tangan dari tiap orang yang berada disini. Baik dia tua, muda, laki perempuan, anak anak, pokoknya setiap orang wajib menyumbang sebuah tangannya”
Tergetar hati Tan Leng Ko mendengar ucapan ini. Dia benar benar tidak menyangka nenek yang genit, gemar tersenyum ramah, ternyata seorang yang berhati sadis!
Dengan menahan kemarahan, ia berkata:
“Beberapa istri para piasu, ada yang baru melahirkan. apakah kau mempunyai niat mengutungi tangan seorang bayi?”geramnya.
“Tentu saja tidak! Masakkan aku sekejam itu”
Lalu sambil tersenyum ramah, nenek bongkok berkata:
“Terlalu kejam rasanya jika aku hanya menguntungi tangan seorang bayi sedangkan bayi lain tidak, bukankah tidak adil baginya. Maka jika terdapat sepuluh bayi manusia yang tinggal disini, maka aku mengingikan sepuluh tangannya. Asal bukan bayi kucing atau anjing, satupun tidak boleh ada yang ketinggalan!”
Sebuah tangan diminta ganti rugi dengan ratusan tangan bahkan tangan puluhan orok bayi yang baru dilahirkan! Sungguh permintaan nenek bongkok itu benar benar diluar perikemanusian!
“Tak kusangka terhadap seorang bayipun, kau tidak memiliki kasih sayang!” desis Tan Leng Ko marah bukan main.
Nenek bongkok kembali tersenyum katanya dengan lembut:
“Justru aku termasuk penyayang. Aku tidak percaya dengan prinsip membabat rumput hingga keakar akarnya. Terlampau kejam rasanya jika ayam, anjing yang tidak bersalah ikut menjadi korban!”
Sungguh luarbiasa tabiat nenek bongkok itu. Rasa iba dan tidak teganya hanya ditujukan kepada binatang piaraan!
“Sebuah ganti rugi yang benar benar bikin rugi!” tiba tiba terdengar suara dari ruangan dalam.
Diam diam Tan Leng Ko menarik napas lega melihat kehadiran Khu Han Beng yang menghampiri mereka dengan tenang. Matanya memandang bocah itu bertanya tanya, tapi Khu Han Beng hanya menjawab dengan sedikit mengangguk padanya.
“Bocah kau harus belajar banyak. Dalam hitungan dagang jika aku untung, tentu saja kau yang merugi”
“Ucapan bagus. Sedikit sekali yang paham, berdagang sebetulnya sama dengan berjudi, yang satu menang yang lain pasti kalah. Selama ini, aku memang curiga dengan dalil sama sama untung” kata
Khu Han Beng tawar.
Berkeridip mata nenek bongkok mendengar cara Khu Han Beng berbicara, ia merasa tertarik.
“Ditilik dari ketenanganmu, apa kau si bocah iblis yang telah mengutungi Hoa-ji?”
Khu Han Beng tidak langsung menjawab, ia termenung sejenak. Kemudian katanya:
“Pertanyaanmu tidak menarik. Aku tidak begitu suka ditanya, juga tidak gemar menjawab”
“He…he..he, kecil kecil sombong sekali kau, apa kau mengandalkan jumlah mereka yang banyak?”
Khu Han Beng menoleh kebelakang kepada para piasu yang berdiri dengan wajah tegang.
“Kalian sebaiknya berisitirahat masuk kedalam” katanya perlahan.
Para piasu tidak segera melakukan ucapan Khu Han Beng, malah memandang bocah itu dengan bingung.
“Kalian cepat ikuti perintah Beng-sauya” bentak Tan Leng Ko pada mereka.
Tergopoh gopoh mereka masuk kedalam dalam keadaan tidak mengerti apa yang sebenarnya bakal terjadi.
Tak terasa seruan heran keluar dari mulut nenek bongkok.
“Apa kepandaian kalian begitu hebat, menghadapi kami yang sebanyak ini hanya berdua?”
“Tidak berdua, dia maju sendirian” kata Tan Leng Ko sambil mengundurkan diri, berdiri dibelakang
Khu Han Beng.
Nenek bongkok menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, dia rada tidak mengerti. Dia yakin bocah ini adalah bocah yang seperti dituturkan Hoa-ji murid pangcunya. Yang kata suhengnya memiliki ilmu sihir, tapi misalnya bocah ini memiliki kepandaian seperti iblispun juga mustahil rasanya menghadapi rombongannya hanya sendirian.
“Sebaiknya kita membicarakan pembayaran pokok hutangnya dulu, rentenya dapat kita bicarakan kemudian” kata Khu Han Beng perlahan,
“Itupun boleh, seperti kukatakan tadi, aku bukan orang yang serakah. Kau bebas memilih, kutungi tangan kiri atau tangan kananmu dulu”
Dengan lambat, Khu Han Beng mengeluarkan golok kayu dari balik bajunya. Matanya tidak bergerak, menatap ujung golok. Kecuali ibu jari kiri yang mengelus perlahan mata golok kayunya yang tumpul, tubuhnya tidak ada yang bergerak. Lapat lapat semcam hawa yang menggiris tajam, lebih tajam dari sebuah golok mustika, keluar dari tubuhnya menggulung kearah nenek bongkok.
“Awas, Hu-pangcu!” terdengar suara kaget dari dalam tandu. Terlambat!
Yang terlihat hanya sebuat kilatan benda bewarna kayu, tahu tahu nenek bongkok yang dipanggil hu-pangcu terhuyung, darah merah mengalir deras membasahi bajunya. Tongkat kayunya jatuh ketanah terpotong potong beserta tangan kanannya yang putus sepenggal bahu!
Tampaknya tidak ada seorangpun yang tahu dengan gerakkan apa Khu Han Beng telah memutuskan lengan nenek bongkok!
Saking cepatnya tubuh Khu Han Beng bergerak, tanpa terasa kelopak mata mereka yang menyaksikannya berkedip, begitu mata terbuka mereka melihat bocah itu masih berdiri ditempatnya semula, memegang golok kayu yang menetes darah segar!
Lebih lebih nenek bongkok yang terhenyak kaget dan menjublek ditempatnya. Wajahnya menjadi pucat pias, peluh dingin jatuh bercucuran dengan deras. Ia seperti lupa dengan rasa sakitnya!
Hu-pangcu atau nenek bongkok berdiri tertegun dengan sepasang matanya terbelalak lebar dengan mulut melongo, untuk beberapa saat lamanya dia hanya bisa memandang Khu Han Beng dengan wajah kebingungan dan tidak habis mengerti!
“Seperti katamu, setiap orang yang berada disini wajib menyumbang sebuah tangan. Telah kubayar dulu hutang pokok dengan tanganmu” ujar Khu Han Beng tawar.
Selesai berucap, Khu Han Beng mengibas tangannya perlahan kedepan, golok kayunya bergetar, segulung hawa tebal yang bergerak seperti getaran udara panas yang sering terlihat ditengah jalanan dikala tertimpa terik matahari, mengarah pada nenek bongkok kemudian membelok terpecah meluncur ke lima arah dari delapan orang berbaju hitam yang bersamaan menjerit kesakitan! Lima buah tangan berdetam jatuh ketanah bersamaan!
“Sebagai pedagang sekarang sedikitnya kau sudah untung lima kali lipat. Jika kau anggap kami masih menunggak, mari kita membicarakan rente rentenya”
Pertunjukkan tenaga dalam yang demikian sempurna, langsung membuat Hu-pangcu merenung membisu, begitu pula orang orangnya. Semuanya terpesona dengan muka pucat, membiru ketakutan, tidak ada yang berbicara!
Mendadak Berubah hebat muka nenek bongkok, serunya kaget bercampur takut:
“Siau-lo-it-ya-teng-cun-hi!”
Ketujuh kata itu merupakan sebaris syair yang indah, seharusnya membawa kenikmatan bagi yang mengatakannya. Namun, ketika nenek bongkok mengucapkan ketujuh patah kata itu, suaranya diliputi oleh perasaan ngeri, perasaan seram dan takut!
Semacam rasa ketakutan yang bercampur dengan perasaan hormat. Semacam rasa hormat yang timbul secara tulus dari lubuk hatinya, yang ditujukan khusus terhadap seseorang yang luarbiasa!
Tertarik juga Khu Han Beng mendengar seruan nenek itu. Tak terasa ia mengulanginya sepatah demi sepatah:
“Mendengar rintik hujan ditengah malam disebuah loteng kecil!”
Sambil menotok nadinya memberhentikan aliran darah. nenek bongkok berkata:
“Darimana kau memperoleh golok kayu itu?”
Timbul juga rasa ingin tahu, Khu Han Beng memutuskan untuk menjawab:
“Golok ini dibeli dipasar Lok Yang seharga satu tahil perak”
Walau kecewa dengan jawaban Khu Han Beng yang seperti mengejek, nenek bongkok terus mendesak:
“Apakah sebelumnya kau pernah mendengar bait syair itu?”
“Yaa, pernah kubaca syair kuno itu disebuah buku”
“Tahukah kau arti sebenarnya dari Siau-lo-it-ya-teng-cun-hi?”
Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian katanya:
“Kukira seorang yang sedang mabuk dan kesepian, memikirkan nasibnya yang malang… mungkin ditinggal kabur oleh kekasihnya”
Sambil menggigit bibirnya menahan sakit, nenek bongkok berteriak keras:
“tujuh kata itu tertera disebilah golok yang melengkung, dan merupakan lambang dari seorang yang tiada tandingan dijamannya. Tapi justru muridnya, Ting Peng yang berhasil mencapai taraf yang lebih tinggi lagi, tingkatan penggunaan golok kayu. Konon dewa golok, Ting-locianpwee pernah melangsungkan pertandingan lisan dengan Cia sam-sauya”
“Cia Sam-sauya yang mana” tanya Khu Han Beng tertarik.
“Sam-sauya dari bukit Cui im san, perkampungan Liu Kiam San Ceng!”
Tan Leng Ko menahan napasnya, jantungnya berdebar. Ia pernah mendengar nama kedua orang luarbiasa itu yang sudah lama mirip dongeng. Tapi tiada yang pernah tahu apakah mereka jadi melangsungkan pertandingan sesungguhnya untuk menentukan ilmu siapa yang lebih unggul!
Lama Khu Han Beng termenung, katanya kemudian:
“Kenapa kau tanyakan hal ini padaku?”
“Karena walau golokmu tidak melengkung, daya serang golokmu justru melengkung. Apakah kau ahli waris dari Ting-locianpwee?”
Khu Han Beng tidak menjawab, sebetulanya ia tidak begitu mengikuti pertanyaan nenek bongkok itu.
Mendadak terdengar seruan orang dari dalam tandu.
“Dia bukan!”
“Darimana kau tahu?” tanya nenek bongkok penasaran.
“Karena yang digunakannya bukan ilmu golok. Tenaga membeliuk yang disalurkan melalui goloknya, adalah ciri sebuah ilmu kuno aliran murni yang berasal dari Thian tok!”
Perlahan tirai tandu terbuka, seorang jangkung berkulit hitam berusia sekitar empat puluhan, melangkah turun. Hidungnya luar biasa besarnya. selain mancung keterlaluan, juga membengkok seperti hidung betet.
Terperanjat sekali nenek bongkok mendengar pernyataan rekannya yang diluar dugaan. Tak dapat menahan rasa ingin tahunya, ia bertanya:
“Apa nama ilmu yang digunakannya?”
Sihidung betet tersenyum tapi tidak menjawab, ia menghampiri Khu Han Beng yang memandangnya dengan acuh.
“Apa hubunganmu dengan Goan Kim Taysu?” tanyanya.
“Aku diangkat menjadi ahli warisnya” jawab Khu Han Beng perlahan.
Lama sihidung betet termenung. Kemudian ucapnya:
“Harus kuakui kejeniusannya. Tak kusangka di Tionggoan ternyata ada yang berhasil memiliki ilmu yang boleh dibilang mustahil dipelajari itu. Bahkan dapat melatih seorang bocah tanggung menggunakan tingkat dasar, benar benar luar biasa!”
Kemudian ia menoleh pada nenek bongkok, tanyanya:
“Memandang diriku dan suheng, maukah kau menyudahi urusan ini?”
Nenek bongkok menghela napas, kemudian mengangguk. Sebetulnya ia rada kecewa, ia mengharapkan orang Thian tok ini membantu usahanya tapi nyatanya malah mengajak mengundurkan diri. Ia tidak begitu kenal dengan sihidung betet dan suhengnya. Hanya ia cukup tahu, pangcunya sangat menghormati mereka, bila tidak memiliki kepandaian yang istimewa, tentu tidak diperlakukan sebagai tamu agung. Perlahan ia mengajak rombongannya pergi dari situ.
Tidak terlihat reaksi dari Khu Han Beng, ia hanya diam ketika sebelum berlalu sihidung betet kembali berujar:
“Boleh kau sampaikan pesan pada gurumu, pewaris asli aliran Mahayana dalam waktu dekat akan mengunjungi Siaulimsi”
Hanya Tan Leng Ko yang dapat mengikuti percakapan mereka berdua. Sihidung betet salah mengira Khu Han Beng mewarisi Bu Kek Kang Sinkang dari Goan Kim Taysu, sedangkan ia tahu betul, jangankan dilatih, bertemu muka saja bocah itu belum pernah!
Dengan sendirinya Tan Leng Ko menjadi heran, darimana sihidung betet mengetahui Bu Kek Kang Sinkang?
Tan leng Ko tidak mengetahui dan tidak pernah menyangka, justru ilmu itu merupakan kepandaian asli dari aliran Mahayana!
Tanpa terasa ia berseru:
“Darimana kau tahu Goan Kim Taysu memiliki Bu Kek Kang Sinkang?”
Sihidung betet mengeluarkan seruan tertahan.
“Iiiihhh! darimana kau tahu nama itu?” tanyanya terkejut sambil menatap Tan Leng Ko dengan tajam.
Untuk kedua kalinya Tan Leng Ko merasa heran, tatapan sihidung betet tidak mencorong tajam seperti ciri jago silat. Malah sorotan matanya mirip orang biasa, seperti sorotan mata Khu Han Beng.
“Tidak seharusnya kau mengenal nama itu, sekali lagi kutanya padamu. Darimana kau tahu?”
Tangannya terjulur kedepan membuat gerakkan mencekeram perlahan.
“Aiiikkk!” leher Tan Leng Ko terasa dicekik oleh sebuah tangan kuat dan tak nampak. Sekujur tubuhnya kejang, tidak mampu meronta, dirinya seperti dibungkus hawa tebal tanpa ujud.
Melihat Tan-toakonya dalam bahaya, cepat Khu Han Beng turun tangan.
“Blang!” dua gulungan tenaga pukulan saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan suara ledakkan yang amat keras, tubuh Tan Leng Ko terdorong oleh angin padat yang menerbangkannya sejauh puluhan kaki!
Dengan terengah engah Tan Leng ko menarik napas, lekas ia berdiri. Matanya menyaksikan Khu Han Beng terhuyung mundur empat tindak, sedangkan tubuh sihidung betet sama sekali tidak bergerak, meski kakinya yang berpijak ditanah telah melesak kedalam hingga mata kaki.
“Semuda ini sudah memiliki hawa sakti setangguh ini, benar benar hebat kau!” puji sihidung betet. Hatinya mulai tertarik pada bocah yang luarbiasa ini.
“Walau tinggi iweekangmu, betapapun kau tidak dapat melawanku” lanjutnya.
“Kenapa aku tidak dapat melawanmu?” tanya Khu Han Beng tidak tahan.
“Karena suhumu, Goan Kim Taysu paling paling hanya mampu bertanding imbang denganku”
“Aku tidak percaya dengan ucapanmu” dengus Khu Han Beng dingin.
“Bagaimanapun juga, kami lebih mengenal sifat ilmu ini darimu. Ditinjau dari cara Goan Kim Taysu yang mempelajari ilmu ini, paling banyak ia hanya dapat mencapai tingkat tiga atau empat saja. Lagipula ia harus mengoper sinkangnya untuk melatih dirimu, tingkatnya tentu menurun, sekarang paling ia hanya di tingkat dua atau tiga saja”
“Apa kau sudah mencapai tingkatan yang lebih tinggi?”
“Aku sudah mencapai tingkat tiga!”
Khu Han Beng termenung lama sekali. Ia tidak tahu tingkat berapa yang ia sudah raih, hanya rasanya tidak mungkin bisa lebih tinggi dari Goan Kim Taysu. Ucapan sihidung betet benar. Ia tidak mungkin menang melawan.
“Aku tidak ingin bertarung denganmu. Kukagum dengan apa yang telah kau capai semuda ini. Tapi kuharap kau tidak merintangi diriku”
Perlahan perhatian sihidung betet beralih kepada Tan Leng Ko yang mendengar percakapan mereka dengan hati berdebar debar.
Mendadak Khu Han Beng mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, suara pekikkannya membuat sekitarnya bergetar keras seakan akan diterjang gempa.
Golok kayunya dibuang, perlahan bocah itu merentang kedua lengannya lurus kesamping.
Hembusan angin kencang panas seperti bara api menimbulkan desis suara berderai menindih hidung betet dari dua arah, bagaikan gelombang pasang mengamuk menggulung garang.
Angin pukulan Khu Han Beng belum tiba, segulung tenaga dahsyat diselingi suara yang menggelegar, telah menggencet sihidung betet lebih dahulu. Dengan wajah berubah serius, sihidung betet cepat mengangkat kedua tangannya setinggi pundak, kemudian mendorong perlahan kearah samping. Terjadi keras melawan keras, iweekang beradu dengan tenaga sakti!
“Blang!” terdengar suara ledakkan yang memekakkan, debu dan tanah berhamburan, diiringi angin kencang yang mementalkan orang disekitarnya. Tergali sebuah liang sebesar lubangan kerbau, jebol dan menganga lebar!
Sihidung betet yang tinggi besar terpental empat tombak lebih, jatuh terduduk, badannya seperti ditumbuk martil laksaan kati, darah menyembur sejauh setombak dari mulutnya. kakinya terkulai lemas seperti tidak bertulang, remuk tergencet dihajar tenaga dahysat dari dua arah yg berlawanan!
Nenek bongkok merinding, serasa terbang arwahnya, nyalinya pecah. Orang yang dapat membuat pangcunya sungkan tentu berkepandaian luarbiasa. Nyatanya, hanya dalam satu dua gebrak, tamu undangan pangcunya, keok dalam keadaan mengenaskan!
Tidak hanya orang Bwe Hoa Pang yang ketakutan, Tan Leng Ko merasa bulu kuduknya meremang seram. Sungguh diluar jangkauan akal kedahsyatan ilmu bocah ini. Apalagi sikapnya yang diam kaku, berdiri tanpa memancarkan perasaan!
Sihidung betet mengerang tertahan, ia meronta kemudian katanya lemah.
“Bilang pada Kotla suheng, Bu Kek Kang Sinkang tingkat lima telah muncul!” kemudian ia merenggangkan nyawa, orangnya ambruk tersungkur tewas menyedihkan!
Pening kepala Tan Leng Ko begitu mendengarnya!
Goan Kim Taysu yang mempelajari ilmu itu puluhan tahun hanya mencapai tingkat tiga, sedangkan bocah ini, menurut sihidung betet telah mencapai tingkat lima! Bukankah berarti tenaga saktinya lebih hebat dari Goan Kim Taysu? Suatu hal yang sukar dipercaya!
Tapi seperti apa yang Khu Han Beng katakan. Ia hanya melatih tenaga sakti yang disalurkan kepadanya. Walau sukar dipercaya, Tan Leng Ko masih bisa memaklumi. Yang ia benar benar tidak habis mengerti, jika Khu Han Beng memiliki kesaktian yang lebih tinggi tingkatannya dari Goan Kim Taysu, lalu untuk apa ia disuruh suhunya belajar ke Siaulimsi?
“Tunggu sebentar!” ujar Khu Han Beng ketika melihat nenek bongkok hendak berlalu, yang dipanggil perlahan menghentikan langkahnya.
“Sauya, masih ada pesan apa?” tanya nenek bongkok dengan suara parau.
“Kalian datang bersama, selayaknya juga pulang bersama” kata Khu Han Beng sambil melirik mayat sihidung betet.
Dengan isyarat tangan, nenek bongkok menyuruh anak buahnya menggotong mayat orang Thian-tok itu ke dalam tandu.
“Jika sauya tidak ada pesan lagi, kami mohon diri…”
“Ingin kutanya, apakah kami berhutang?” tanya Khu Han Beng tawar.
“Kalian sudah tidak punya hutang lagi. Bukan saja sudah dibayar lunas, bahkan berikut bunga yang lima kali lipat banyaknya” jawab nenek bongkok sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
Terpaksa ia menjawab dengan cara demikian. Ia cukup menyadari hanya jawaban itu satu satunya yang dapat ia berikan. Lain dari itu, maka urusan bisa lebih panjang, sedangkan usianya bisa lebih pendek. Walau umurnya sudah banyak, tapi ia masih ingin hidup, dan belum berniat mati.
Kenapa semakin tua seseorang yang umurnya tinggal sedikit, semakin tamak hidup? Bahkan seperti takut mati. Anehnya yang masih muda, lebih berani menghadapi resiko. Biasanya, hanya anak muda yang nekat bunuh diri malah gara gara urusan sepele, seperti patah hati.
“Kutahu orang tidak boleh berhutang, kuharap kalian juga melunasi hutang kalian” kata Khu Han Beng perlahan.
“Hutang apa” tanya nenek bongkok dengan wajah pucat.
“Walau ongkos ganti pintu tidak seberapa, bagaimanapun juga kalian toh belum membayar ganti ruginya”
“Sauya ingin ganti rugi, ongkos pintu yang sudah dua kali kami hancurkan?” tegas nenek bongkok.
“Benar!”
Diam diam nenek bongkok menarik napas lega. Sesaat, ia membayangkan ganti rugi yang lebih buruk ketimbang hanya beberapa tahil perak.
Tanpa banyak bicara, ia merogoh sakunya dan melempar sekeping tahil emas yang jatuh beberapa kaki dari Tan Leng Ko. Sungguh keterlaluan caranya! Seperti seorang juragan yang menyumbang ke seorang pengemis.
Melihat perbuatan nenek bongkok itu, Khu Han Beng menghela napas. Katanya pelan seraya menoleh pada Tan Leng Ko:
“Pernah kubaca disebuah kitab, jangan kau menghina orang jika kau tidak ingin dihina.”
“Sebuah kalimat yang baik!” sahut Tan Leng Ko mengangguk.
“Aku tidak menyukai kalimat itu”
“Kenapa?” tanya Tan Leng Ko heran.
“Kalimat itu mengandung nasehat, aku tidak menyukai nasehat”
Selesai berkata, tubuh Khu Han Beng berkelebat,
“Plak! Plaak!” terdengar dua kali tamparan.
Ujung bibir nenek bongkok berdarah. Bedak dipipinya yang mungkin mencapai setengah kati banyaknya, beterbangan kemana mana. Tidak satu butirpun yang mampu menyentuh tubuh Khu Han Beng. melainkan seperti membentur dinding tebal menepis mengikuti arah angin.
Tan Leng Ko yang menyaksikan pemandangan yang luarbiasa ini melongo dengan mulut menganga! Sudah dua kali ia menyaksikan kejadian seperti ini… tidak! malah tiga kali!
Yang pertama terjadi semalam, tapi kejadian serupa justru bukan menimpa tubuh Khu Han Beng!
Mendadak terjadi perubahan hebat diwajah Tan Leng Ko. Teringat olehnya Hek I Houw yang tidak mudah terkejut berubah pucat ketika menyaksikan pemandangan yang juga membuatnya lupa menutup mulut. Pemandangan yang menyebabkan tanpa ia sadari, dirinya telah menelan seekor serangga!
Tak terasa Tan Leng Ko meludah, masih terasa lalat yang memasukki mulutnya semalam.
“Mungkin aku tidak salah lihat, semalam” gumamnya perlahan. Sebetulnya apa yang dilihatnya semalam?
Dihina sedemikian rupa di depan anak buahnya, kemarahan nenek bongkok memuncak, dari mulutnya keluar rintihan suara aneh bercampur gusar. Matanya mencorong tajam siap mengadu jiwa. Tapi hatinya menjadi ragu ketika ia memandang bola mata Khu Han Beng yang hitam tidak berkedip. Ia tidak merasakan perasaan lain kecuali hawa kematian tebal yang terpancar dari tubuh bocah itu.
Seumur hidupnya, baru kali ini nenek bongkok benar benar merasa takut. Ia seperti telah menatap langsung, wajah asli Giam-loo-ong yang sebenarnya.
“Walau aku tidak suka dengan kalimat itu, tapi bukan berarti aku tidak setuju” gumam Khu Han Beng tawar.
Setelah termenung sebentar, perlahan nenek bongkok berjalan. Tubuhnya yang sudah bongkok, hanya perlu sedikit membungkuk untuk memungut kepingan emas dan menyerahkan secara hormat kepada Tan Leng Ko. Kemudian mengajak anak buahnya berlalu dari situ.
“Tunggu sebentar!” ujar Khu Han Beng untuk kedua kali. Yang dipanggil kembali menghentikan langkahnya.
Kali ini nenek bongkok hanya diam menunggu.
“Sebaiknya kalian tidak usah lagi mengirim orang kemari. Aku percaya prinsip membabat hingga keakar akarnya. Tidak kejam rasanya jika ayam, anjing yang tidak bersalah ikut menjadi korban!” kata Khu Han Beng yang membuat Tan Leng Ko terkejut.
“Akan kusampaikan pesan sauya pada pangcu kami” ujar nenek bongkok lirih, kemudian kali ini benar benar berlalu dari situ.
Lama Tan Leng Ko memerhatikan Khu Han Beng yang berdiri diam memperhatikan kepergian rombongan Bwe Hoa Pang. Yang cukup melegakan hati Tan Leng Ko, hawa menakutkan yang keluar dari tubuh bocah itu perlahan sirna.
Ketika melihat Khu Han Beng menghela napas, tanpa terasa Tan Leng Ko berkata:
“Tidak semua orang bisa tidur nyenyak setelah membunuh orang, apalagi untuk pertama kali”
“Yaa, pertama kali kubunuh orang”
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Tan Leng Ko prihatin.
Ia teringat pengalamannya. Pertama kali ia membunuh orang, perutnya terasa mual. Ia muntah muntah hingga asam lambungnya terkuras habis. Tiga hari dia tidak bisa tidur, peluh dingin membasahi tubuhnya setiap kali terbayang kejadian itu.
Berdesir hati Tan Leng Ko ketika mendengar jawaban Khu Han Beng:
“Aku tidak merasakan apa apa”
Untuk beberapa saat, Tan Leng Ko termangu. Mendadak sebuah pertanyaan bodoh keluar dari mulutnya.
“Kenpa kau bunuh dia?”
Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian jawabnya:
“Aku tidak sengaja membunuhnya”
“Kau tidak sengaja membunuhnya?” ulang Tan Leng Ko kaget.
Dengan perlahan Khu Han Beng berkata:
“Dia mengatakan bahwa dirinya sudah mencapai tingkat tiga, kupikir aku tidak mungkin telah mencapai tingkat itu”
“Yaa, semestinya tingkat latihanmu masih belum cukup untuk menandinginya” ujar Tan Leng Ko tak tahan.
“Oleh karena itu diam diam kukerahkan sepuluh bagian tenaga dalamku”
Setelah kembali menghela napas, Khu Han Beng melanjutkan:
“Tak kusangka hasilnya menjadi begini”
Tan Leng Ko ikut menghela napas, ia tidak tahu apakah tewasnya sihidung betet memang sebuah takdir atau sebuah nasib sial? Kehebatan tenaga sakti Khu Han Beng bukan saja diluar perhitungan sihidung betet dan dirinya, bahkan nampaknya juga diluar dugaan bocah itu sendiri.
Ada satu hal, sedikitnya membuat hati Tan Leng Ko terhibur. Ia percaya bocah ini tidak berniat membunuh lawannya. Tapi ada satu hal lain, juga membuat hatinya kuatir.
“Kau tidak mirip, seperti seorang yang sedang menyesal”
“Menyesal?” tanya Khu Han Beng tak mengerti.
“Menyesal telah salah membunuh”
“Haruskah aku menyesal?”
“Seharusnya iya”
Sukar bagi Tan Leng Ko untuk menjelaskan. Sudah pasti ia pernah membunuh orang, malah tidak sedikit. Hanya jika ia salah membunuh, sedikit banyak timbul penyesalan dibatinnya.
“Aku tidak paham, toako”
“Apa yang kau tidak mengerti?” tukas Tan Leng Ko cepat.
“Pernah kudengar mati hidup disebuah pertarungan adalah suatu hal yang jamak”
“Benar!”
“Dia tewas karena tidak kuat. Jika aku yg tidak kuat dari bentrokkan tadi, bukankah aku yang tewas! Haruskah aku menyesal baginya?”
Tan Leng Ko termenung sekian lama, sukar baginya untuk membantah ucapan Khu Han Beng. Katanya perlahan:
“Membunuh seperti merokok. Semestinya untuk pertama kali rasanya tidak enak, dan lama kelamaan mudah menjadi kebiasaan, malah bisa ketagihan. Walau kau tidak merasakan tidak enak, aku tidak ingin kau mempunyai kebiasaan membunuh. Rasa menyesal dapat mencegah hal itu menjadi suatu kebiasaan”
Rada kikuk juga Tan Leng Ko melihat reaksi Khu Han Beng yang sukar dibaca olehnya. Bocah itu hanya diam saja. Ia tidak mengiakan, tapi juga tidak membantah.
Tak tahan dengan suasana kaku itu, akhirnya Tan Leng Ko menambahkan:
“Kutahu kau tidak menyukai sebuah nasehat, hanya…”
“Kutahu toako berkata untuk kepentinganku” potong Khu Han Beng sambil tersenyum.
“Sungguh baik jika kau ketahui hal itu” kata Tan Leng Ko ikut tersenyum lega.
“Kuketahui toako benar benar sayang padaku. Apa yang toako hendak katakan padaku, tentu aku akan dengar”
“Walau toakomu cerewet banyak memberi nasehat?” gurau Tan Leng Ko.
“Kan pernah kukatakan, walau aku tidak suka nasehat, tapi bukan berarti aku tidak setuju”
“Kalau begitu, ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan” ujar Tan Leng Ko serius.
Khu Han Beng diam mendengarkan.
“Caramu menguntungi mereka, terkesan… agak sadis!”
Khu Han Beng berpikir sejenak, setelah menghela napas ia berkata:
“Aku tidak tahu sadis apa tidak, hanya kalau tidak diperlakukan begitu mereka tentu akan menyerbu sekaligus”
Kembali Tan Leng Ko terdiam. Menghias pohon dengan bunga palsu memang suatu cara ampuh. Dengan memecah nyali mereka, Khu Han Beng berhasil menggertak pergi orang Bwe Hoa Pang. Konon katanya Li Toa Jui, sipemakan manusia, secara tidak sengaja menggunakan siasat ini untuk menggertak kabur musuhnya yang berkepandaian jauh lebih tinggi.
Jika tidak diperlakukan sadis hingga mereka menjadi jeri, dapatkah bocah itu menahan serangan mereka sekaligus? Walau terkesan sadis, bukankah cara Khu Han Beng merupakan cara yang paling tepat, paling efektif untuk menghadapi mereka? Salahkah caranya?
Tan Leng Ko menjadi ragu, lamaa ia berpikir. Kemudian dengan nada prihatin, Tan Leng Ko akhirnya berkata:
“Bagaimanapun juga, perbuatanmu barusan, bukanlah kelakuan seorang pendekar sejati”
“Aku memang tidak ingin menjadi seorang pendekar”
“Kau tidak ingin?” tanya Tan Leng Ko kaget.
Khu Han Beng menggeleng.
“Pernah kubaca, bangsa kita mempunyai jumlah penduduk paling banyak di dunia karena memiliki daya tahan hidup paling tinggi”
“Hal ini disebabkan bangsa kita pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan”
“Benar! Sayangnya, yang pandai menyesuaikan diri belum tentu memiliki tingkat moral yang tinggi. Malah orang bermoral tinggi biasanya kalah dalam pertandingan”
“Apa hubungannya dengan perilaku seorang pendekar?” tanya Tan Leng Ko bingung.
“Kehidupan seorang pendekar dituntut dan dituntun oleh nilai benar-salah. Bagaimana bisa menang, jika sebelum pertandingan, dirinya sudah lebih dahulu terbelenggu oleh dalil baik-buruk”
“Justru dalil itu yang membedakan karakter seorang pendekar dengan yang lain” bantah Tan Leng Ko.
“Makanya aku tidak ingin menjadi seorang pendekar” kata Khu Han Beng tersenyum pahit.
“Kau tidak ingin membela orang baik dengan melawan orang jahat?” tanya Tan Leng Ko terperanjat.
Setelah menghembus napas, Khu Han Beng berucap:
“Konon sedikit jumlah orang yg benar benar jahat, begitu pula tidak banyak jumlah orang yang benar benar baik”
“Maksudmu?” tanya Tan Leng Ko tidak mengerti.
“Manusia memang mahluk aneh, mahluk kebiasaan. Orang dianggap baik karena sering melakukan kebiasaan yang baik, jarang melakukan yang buruk tapi bukan berarti tidak pernah”
Tak tahan Tan Leng Ko menukas:
“Apa yang dianggap jahat, sebenarnya bukan berarti mereka tidak pernah menolong orang?”
“Benar. Selain kebiasaan mana yang lebih sering, bobot dari yang dikerjakan juga sangat menentukan”
Entah kenapa, Tan Leng Ko teringat tokoh legendaris Yap Kay yang pisaunya terkenal jarang membunuh, malah lebih sering menolong orang. Sedangkan tokoh sakti yang dijuluki Anakan Iblis ketika berhasil mengalahkan majikan Istana Kelabang Emas berubah bobotnya, dari seorang yang dianggap jahat menjadi seorang pendekar yang disegani.
“Darimana kau tahu semua ini?”
“Aku pernah membacanya” jawab Khu Han Beng perlahan.
Setelah keduanya terdiam cukup lama, akhirnya Tan Leng Ko memecahkan kesunyian:
“Lalu apa yang kau inginkan?”
“Aku hanya ingin mengetahui siapa orang tuaku yang sebenarnya. Aku juga tidak ingin orang mengangguku atau orang yg kusayang”
“Jika ada orang yang sedang susah, apakah kau tidak berniat untuk menolongnya?”
Khu Han Beng tidak menjawab, mendadak Tan Leng Ko menyaksikan sikap bocah itu kembali diam kaku.
“Ada apa?”
“Sebuah kereta sedang meluncur kesini”
Tan Leng Ko memusatkan perhatiannya selain suara suasana, ia tidak mendengar yang lain. Dengan agak ragu ia berkata:
“Aku tidak mendengar apa apa”
“Mereka bukan musuh” gumam Khu Han Beng perlahan.
“Darimana kau tahu?”
“Sebab selain kusir, mereka datang hanya bertiga”
“Darimana kau yakin mereka hanya bertiga?” tanya Tan Leng Ko heran.
Khu Han Beng menatap Tan-toakonya sejenak, ujarya kemudian:
“Sebab aku hanya mendengar tiga nafas didalam kereta. Tiga orang tua yang berulang kali menghela
nafas kuatir”
“Kau dapat mendengar percakapan mereka?” tanya Tan Leng Ko terkejut.
Sayup sayup ia memang telah mendengar ringkikan kuda yang mendekat, namun jaraknya masih terdengar ratusan tombak jauhnya. Dan bocah ini bukan saja mampu mendengar nafas mereka bahkan dapat mendengarnya dengan jelas sekali, hingga mampu menentukan usia mereka!
“Semoga Bok-Sauya tidak kurang apa” gumam Khu Han Beng meniru yang didengarnya.
“Aaah! Rombongan Pak Sian Gin Siauw” pekik Tan Leng Ko tak terasa. Teringat olehnya kereta yang ditumpangi oleh Bok Siang Gak tempo hari.
“Siapa Bok-Sauya yang dimaksud?” tanya Khu Han Beng tertarik.
Sambil menghela napas sedih, Tan Leng Ko menceritakan apa yang telah terjadi dan bagaimana dengan gagah pemuda itu melindungi bahkan tewas dalam pertarungan sengit kemarin.
“Pemuda yang tidak mengenal kita malah terbunuh karena telah membantu Lok Yang Piaukiok?” tanya Khu Han Beng dengan muka berubah hebat.
Melihat bocah yang biasanya bersikap tenang dan hambar terhadap suatu urusan, bisa menunjukkan sikap yang seperti itu, timbul rasa heran dihati Tan Leng Ko. Ia menatap bocah itu dengan tajam. Sayangnya, Tan Leng Ko tidak dapat menerka apa yang dipikirkan Khu Han Beng, ia hanya dapat mengangguk membenarkan.
“Kenapa ia melakukan hal itu?” tanya Khu Han Beng dengan nada sedih.
Tan Leng Ko termenung sejenak. Ia memang pernah menduga sebabnya, tapi karena bersifat hanya sebuah dugaan, lagi karena bersifat pribadi tak pantas rasanya jika ia ucapkan.
“Mungkin… mungkin sifat yang tidak mementingkan diri seperti ini hanya dimiliki oleh seorang pendekar sejati” katanya perlahan.
Khu Han Beng berpikir lama sekali. Ucapnya kemudian:
“Nampaknya sifat pendekar sejati memang berbeda dengan yang lain”
Tan Leng Ko menghela napas, katanya pelan:
“Walau tangannya telah terbelunggu…Walau pasti kalah dalam pertandingan, seorang pendekar sejati hanya mengenal, apa yang harus mereka lakukan harus mereka lakukan, apapun yang terjadi”
Khu Han Beng tidak menjawab melainkan menundukkan kepala termenung lama sekali. Sementara itu kereta kuda yang pernah dilihat Tan Leng Ko dikota Lok Yang berhenti didepan gerbang Lok Yang Piaukok.
Tiga orang tua berpakaian sederhana turun dari dalam kereta dan menghampiri mereka.
“Kutahu maksud kedatangan kalian” tegur Tan Leng Ko dengan nada sedih.
“Kau tahu maksud kedatangan kami?” seru salah satu dari mereka heran.
Tan Leng Ko mengangguk.
“Biar kujemput Bok Sauya kalian di dalam”
“Kenapa Sauya tidak keluar sendiri?” tanya orang tua itu semakin heran.
Tan Leng Ko tidak menjawab, ia melesat masuk. Tak lama kemudian, keluar dengan menenteng sebuah guci kecil dengan kedua tangannya.
Kejut dan sangsi terlintas diwajah orang orang Pak Sian Gin Siauw ketika menerima abu jenazah Bok Siang Gak. Setelah yakin tidak salah melihat, air mata mengucur deras membasahi pipinya. Pundak mereka bergerak gerak, mereka menangis tanpa mengeluarkan suara.
Mata Tan Leng Ko ikut berkaca kaca, ia dapat merasakan betapa besar kasih mereka terhadap sauyanya.
“Siapa yang melakukan hal ini?….Apa sebenarnya yang telah terjadi?”
Dengan suara parau, Tan Leng Ko kembali mengulangi ceritanya. Tapi reaksi mereka benar benar diluar dugaannya.
“Sauya kami tidak mengenal kalian, tapi malah tewas karena membantu kalian. Ceritamu sungguh sukar dipercaya”
Tan Leng Ko tertegun. Sepintas, ceritanya memang tidak masuk akal. Akhirnya ia memutuskan untuk berkata:
“Kuakui ceritaku sukar dipercaya, tapi memang begitulah kenyataannya”
Pemimpin rombongan Pak Sian Gin Siauw mendengus,
“Jika kau katakan Sauya kami tewas karena memperebutkan Mustika Kemala Pelangi masih mendingan, tapi dikarenakan membela kalian….” ia tidak meneruskan ucapannya, hanya tak hentinya tertawa dingin.
Tan Leng Ko cukup menyadari tiada gunanya berdebat dengan mereka, tanyanya dengan singkat:
“Lalu apa yang hendak kalian lakukan?”
“Siapa yang bersalah, harus dihukum!”
“Ucapan bagus!” sela Khu Han Beng tiba tiba.
“Siapa kau bocah?”
Khu Han Beng menjawab perlahan:
“Aku boleh dibilang Sauya tempat ini”
“Apakah kau mengatakan, kau yang bertanggung jawab atas tewasnya sauya kami?”
“Benar!”
Diam diam tumbuh rasa kagum dihati pemimpin rombongan melihat seorang bocah tanggung sudah berani bertanggung jawab, namun ia juga jadi ingin tahu:
“Bagaimana cara pertanggungan jawabmu?”
“Aku akan mencari mereka yang melakukan penyerbuan satu persatu” kata Khu Han Beng demi sekata.
“Kau akan mencari ratusan orang yang tidak ketahuan rimbanya satu persatu?” tanya Tan Leng Ko kaget.
“Benar!” sahut Khu Han Beng pendek.
“Apakah kau mengenal siapa siapa yang menyerbu kemari?” tanya pemimpin rombongan tertarik.
“Aku hanya tahu satu dua nama saja”
“Dari mereka kau berharap mengetahui siapa siapa saja yang melakukan”
“Benar!”
“Apakah kau hendak membantai ratusan orang kang-ouw?” tanya Tan Leng Ko kuatir.
Khu Han Beng termenung sejenak, katanya dengan tawar:
“Aku tidak dapat membiarkan mereka tanpa menerima hukuman”
Pucat wajah Tan Leng Ko mendengar ucapan Khu Han Beng. Bocah menyendiri, yang tidak begitu peduli dengan baik buruk atau salah benar, hanya mengikuti kemauan suara hatinya. Dengan kepandaian setinggi itu… Bergidik hati Tan Leng Ko membayangkan apa yang bakal terjadi.
Tapi apa yang dapat ia lakukan? Budi pekerti tidak mungkin dapat ia terangkan hanya dengan satu dua hari, apalagi bocah ini hendak pergi. Untung hendak pergi belajar ke siaulimsi, tentu disana akan diajarkan mengenai cara menghargai kehidupan.
Tan Leng Ko termenung, watak bocah ini mirip dengan Giok Hui Yan yang juga gemar membawa adat sendiri. Ciri adat seseorang yang biasa dimanja atau biasa diikuti kemauannya. Tidak heran bila ayah atau anak buah gadis itu sering kewalahan menghadapinya.
Mengingat keadaan yang pernah dialami anak buah Giok Hui Yan menimbulkan semacam pikiran dibenak Tan Leng Ko. Cepat ia bertukas:
“Pernahkah kau belajar cara memusnahkan kepandaian silat seseorang?”
“Ilmu itu termasuk bahagian ilmu urat nadi. yaa, pernah kupelajari”
“Orang persilatan menganggap kematian seperti pulang kandang. Tahukah kau hukuman yang paling kejam, yang paling mereka takuti?”
Khu Han Beng menggeleng.
“Orang persilatan paling takut jika kepandaian silat mereka lenyap untuk selamanya. Jika kau hendak menghukum mereka, musnahkan saja kepandaian mereka hingga mereka menjadi orang biasa”
setelah terpekur sebentar. Akhirnya Khu Han Beng berkata hambar:
“Baik! Kumusnahkan kepandaian silat mereka”
Tan Leng Ko tidak dapat menutupi kesedihan hatinya, dia tidak punya pilihan lain, sedikitnya ia telah berusaha, menyelamatkan entah berapa banyak jiwa manusia.
Anehnya, pemimpin rombongan Pak Sian Gin Siauw malah tertawa, seperti telah mendengar hal yang lucu.
“Sekecil ini, sudah memiliki semangat besar. Hebat juga kau, sayang aku tidak mempercayai ucapanmu”
“Kau tidak percaya, aku mau melakukan hal itu?”
“Aku tidak percaya, kau mampu melakukan hal itu”
Khu Han Beng berpikir sebentar, lalu tanyanya dengan tenang:
“Lalu apa yang kau ingini?”
“Kuingin kau mengikuti kami pulang” kata pemimpin rombongan sambil menyerahkan guci abu jenazah kepada anak buahnya.
“Kenapa aku harus ikut kalian?”
“Karena aku tidak dapat mengambil keputusan, hanya toaya kami yang dapat memutuskan. Sebagai orang yang bertanggung jawab, sudah tentu kau harus ikut kami pulang”
“Aku tidak dapat mengikuti kalian”
“Dapat atau tidak, kau harus ikut!” ancam pemimpin rombongan sambil tertawa seram tubuhnya berkelebat, tangannya bergerak cepat menotok.
“Beng-Sauya!” pekik Tan Leng Ko cemas.
Ia juga kuatir dan takut Khu Han Beng akan melakukan pembunuhan kembali. Sungguh diluar dugaannya, ternyata pemimpin rombongan Pak Sian Gin Siauw bukan saja berhasil menotok, malah dapat menggotong tubuh bocah itu dengan mudah.
Gesit Tan Leng Ko bergerak menghadang orang itu.
“Jika kau menghalangi kami, mungkin aku akan membunuhnya” ancamnya.
“Apakah kau tega membunuh seorang bocah?” kuatir Tan Leng Ko bercampur bingung. Ia tidak percaya orang ini mampu mengalahkan Khu Han Beng dengan mudah. Tapi nyatanyta, tubuh bocah itu terselampir diatas pundak orang itu. Apakah bocah itu sengaja mengalah?
“Aku tidak tega. Hanya jika kau tidak membiarkan kami pergi, biar kita sama sama merasakan rasanya kehilangan sauya”
“Apakah kalian hendak mengacau disini?” tegur Khu Han Beng tiba tiba.
“Iiihhh!” jerit orang itu tertahan. Cepat ia mengangkat tubuh bocah itu tinggi tinggi diudara sambil memandang dengan heran.
“Seharusnya kau tidak dapat berbicara” katanya dengan penuh selidik.
“Yaa, setelah tertotok seharusnya aku sudah tidak dapat berbicara”
Dengan pandangan mata bingung bercampur ngeri, tangan kanannya kembali bergerak cepat, menotok dibeberapa tempat di tubuh Khu Han Beng. Kali ini ia memastikan ketepatan dan besar kecil tenaga yang dibutuhkan. Alangkah kagetnya ketika ia masih mendengar bocah itu berkata:
“Aku tidak ingin kalian membuat keributan disini”
“Apakah jalan darahmu telah bergeser beberapa dim dari tempat aslinya?” tanya pemimpin rombongan dengan takjub.
“Akupun tidak tahu” jawab Khu Han Beng pendek.
Sambil membentak menghemposkan semangat, pemimpin rombongan kembali menotok Khu Han Beng. Bukan hanya tepat dijalan darah, bahkan sekitar dan sekeliling urat nadi tersebut tidak luput dari totokkannya.
Setelah puas dengan hasil kerjanya, pemimpin rombongan segera mengangkut tubuh tubuh Khu Han Beng, melayang masuk kedalam kereta diikuti oleh anak buahnya.
Tan Leng Ko yang tidak mengerti kenapa bocah itu tidak melakukan perlawanan, segera melompat menghadang didepan kereta kuda. Tiba tiba matanya terbelalak. Suatu pemandangan luar biasa membuat Tan Leng Ko terpana, mulutnya terbuka lebar lebar!
Kereta itu ditarik oleh empat ekor kuda. Jelas bukan jenis kuda sembarangan, ditilik dari bentuk kepala segi tiga yang meruncing ramping dan otot ototnya yang menggempal. Empat ekor kuda tersebut tentu telah dilatih secara ketat, bukan saja derap kaki mereka berirama, bahkan langkah kaki mereka jatuh tepat dalam tempo yang sama. Betapa besar daya tarik yang dihasilkan dari gerakkan mereka sukar untuk dibayangkan.
Dari busa yang keluar dari mulut kuda kuda tersebut, dan debu yang mengepul dari hentakkan enam belas kaki, mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk maju kedepan. Anehnya, jarak Tan Leng Ko dengan empat kuda tersebut tidak berubah!
Kereta beroda menjadi sebuah benda yang tidak dapat digerakkan, menjadi sebuah benda yang seperti terpantek mati, seperti dibebani sesuatu yang amat berat hinga melengket dengan tanah.
“kalian tidak dapat memaksaku untuk pergi dengan kalian” tiba tiba terdengar ucapan Khu Han Beng dari dalam kereta.
“Hentikan!” teriak pemimpin rombongan menyuruh kusirnya untuk menghentikan kudanya.
Timbul rasa iba dihati Tan Leng Ko melihat kaki binatang yang malang itu gemetaran, peluh deras membasahi tubuh mereka diiringi nafas mereka yang terengah-engah.
“Kau tidak boleh membunuh diri” kembali terdengar suara bocah itu dari dalam.
“Mati sekarang atau nanti, sama saja bagiku. Aku telah gagal menjaga Bok-Sauya” terdengar suara sedih pimpinan rombongan.
Tan Leng Ko ikut merasa sedih. Setelah menghela napas, ia menghampiri Khu Han Beng yang perlahan turun dari dalam kereta. Bocah itu menggapai tangannya kearah pohon siong yang tumbuh dekat tembok pagar.
Sehelai daun segar terpetik dari jarak puluhan kaki dan melayang lurus ketangannya. Jari tangan Khu Han Beng seperti mengukir diatas daun segar tersebut mengikuti bentuk sebuah simbol. Kemudian menyerahkannya kepada pemimpin rombongan. Katanya:
“Berikan daun ini kepada Pak Sian Gin Siauw”
“Untuk apa?” tanya pemimpin rombongan yang menerimanya dengan bingung
“Terbunuhnya Bok-Sauya bukan karena kesalahanmu, melainkan karena telah membantu Lok Yang Piaukiok. Dengan menunjukkan daun itu kepada toayamu, kujamin ia tidak akan menyalahkanmu lagi”
“Apa keistimewaan daun ini?” tanya pemimpin rombongan yang tidak mengerti. Walau daun itu terdapat semacam goresan aneh toh tidak berbeda dengan daun siong yang lain.
“Kau tidak paham, toayamu tentu mengerti”
Pemimpin rombongan menatap Khu Han Beng dengan tajam, namun ia tidak bertanya lagi. Tak lama kemudian, ia mengajak rombongannya berlalu dari situ.
Bersama Khu Han Beng, Tan Leng Ko menyaksikan kereta kuda itu menghilang dibalik tikungan. Setelah menghela napas, ia berkata:
“Sungguh diluar dugaanku, kau memutuskan untuk tidak melawan”
“Sauyanya tewas karena membantu kita, patutkah aku menyusahkan orang orangnya yang setia dan sayang padanya?”
**********************************
Kereta kuda yang berlari kencang, hampir menabrak Khu Pek Sim yang sedang menyeberang jalan. Segera ia menghindar sambil tertawa pahit ketika melihat kusir kereta itu malah memaki dan melotot padanya, seolah olah kesalahan terletak pada dirinya.
Ia bersama Buyung Hong baru saja tiba di kota Tiang-an. Yang diluar perhitungannya, kecuali peristiwa yang menewaskan Buyung Ki, boleh dibilang perjalanannya selama ini lancar, bebas dari segala keributan.
Mereka singgah disebuah tempat makan, memesan beberapa macam penganan dan dua buah guci arak.
“Apakah kita telah tiba ditempat tujuan?” tanya Buyung Hong mendadak.
“Kenapa kau menduga kita telah tiba ditempat tujuan?”
“Sebab kau ingin cepat cepat sampai ditempat tujuan. Jika kita hanya melalui kota ini, paling banter kita hanya memesan makanan untuk dibawa, tidak makan disini”
Khu Pek Sim menghela napas panjang, akhirnya mengakui:
“Yaa, kita telah sampai”
Mendadak dengan wajah serius, Buyung Hong berkata:
“Apakah kau mengantar benda itu padanya?”
“Siapa yang kau maksud?”
Buyung Hong menjawab sepatah demi sepatah:
“Seorang yang bermarga Kho”
“Kenapa kau beranggapan demikian?”
“Karena dia adalah tokoh persilatan di kota Tiang-an yang paling berpengaruh. Hanya dia yang menguasai empatpuluh sembilan jago rimba persilatan yang beroperasi diantara dua tepi sungai besar hingga wilayah Kwangtong”
Khu Pek Sim menimbang sejenak, kemudian katanya:
“Yaa, benda itu harus kuserahkan kepadanya”
Melihat Khu Pek Sim seperti telah terbuka padanya, Buyung Hong tidak mau menyia nyiakan kesempatan.
“Sebetulnya siapa yang menyerahkan benda itu kepadamu?”
Khu Pek Sim tidak menjawab, hanya meneguk araknya perlahan.
“Dua dari tiga persyaratanmu sudah kupenuhi. Begitu ada kesempatan, aku tentu menepati janjiku mengajarkan sebuah ilmu kepada cucumu…”
“Seorang gadis!” potong Khu Pek Sim tiba tiba.
Giliran Buyung Hong berdiam diri, ia juga meneguk araknya.
“Beberapa minggu lalu, sepucuk surat diatas sebuah peti mendadak muncul dimeja kerjaku. Tentu saja menarik perhatianku” cerita Khu Pek Sim perlahan.
“Apa yang menarik dari isi surat itu?”
“Isi surat itu biasa saja, hanya isi peti itu yang diluar dugaanku”
“Apa isinya?”
“Seribu tahil emas dibayar kontan hanya untuk membaca isi surat itu. Dan lima ribu tahil emas akan diberikan untukku jika aku melakukan perintah surat itu”
“Apa yang harus kau lakukan?” tanya Buyung Hong tertarik.
“Bertemu dengan gadis itu disebuah tempat”
“Dimana?”
“Aku tidak dapat menyebutnya. Karena hal itu menyangkut nama baikku”
Buyung Hong kembali terdiam. Nama baik merupakan hal yang sangat peka bagi kalangan persilatan. Ia enggan mendesak.
Setelah termenung sejenak, ia bertanya lagi:
“Apa yang bakal terjadi, jika kau tidak melakukan perintah surat itu?”
“Seribu tahil emas itu tetap milikku. Perintah itu tidak bersifat paksaan, aku bebas menentukan pilihan”
Buyung Hong menghela napas. Timbul juga rasa kagumnya kepada otak perencana yang misterius itu.Dengan seribu tahil emas, orang itu memancing perhatian Khu Pek Sim.Tentu saja cara ini jauh lebih efektif dibanding dengan cara paksaan.
Walau surat itu menyatakan bebas menentukan pilihan, tapi sebenarnya isi surat itu sudah memperhitungkan, Khu Pek Sim pasti akan melakukan perintah itu. Bukan dikarenakan uangnya melainkan disebabkan rasa ingin tahunya. Nampak sekali orang misterius itu, paham sekali sifat sifat manusia. Terutama sifat yang mirip mirip keledai. Dipaksa enggan, jika dibiarkan malah bergerak sendiri.
Selain kuatir, timbul juga rasa cemas dihati Buyung Hong atas kehebatan lawan.
“Siapa nama gadis itu?” tanya Buyung Hong memecah kesunyian.
“Aku tidak tahu namanya. Aku tidak bertanya padanya, dan ia juga tidak menerangkan”
Buyung Hong mengerutkan keningnya. Jawaban seperti ini tidak bisa dianggap sebuah jawaban.
“Apakah gadis itu mempunyai sebuah ciri?”
“Gadis itu boleh dibilang cantik sekali”
Buyung Hong menghela napas,
“Memang sedikit gadis yang bisa dibilang cantik. Tapi jumlahnya bisa mencapai ribuan banyaknya” katanya sambil tersenyum pahit.
Khu Pek Sim termenung sebentar. Katanya kemudian:
“Ketika gadis itu menyerahkan kotak yang berisi benda itu. Sempat kuperhatikan, di punggung tangan kirinya terdapat tiga tahi lalat yang berbentuk segi tiga”
“Aku tidak akan bertanya padamu tempat dimana kau bertemu dengannya. Tapi sedikitnya kuperlu tahu, apakah kau bertemu gadis itu disekitar kota Lok Yang?”
Khu Pek Sim berpikir sejenak sebelum menjawab:
“Tidak disekitar melainkan dikota Lok Yang”
“Kau setuju mengantar benda itu, apakah disebabkan oleh lima ribu tahil emas?”
Khu Pek Sim menatap Buyung Hong dengan tatapan aneh, katanya:
“Lima ribu tahil emas dibayar hanya jika aku bertemu dengan gadis itu. Untuk pengawalan benda itu, aku menerima sebuah gin-bio bernilai dua laksa tahil emas”
Buyung Hong bersiul,
“Jumlah uang yang tidak sedikit!”
“Benar! Aku memang berniat untuk berpensiun setelah selesai menghantar benda itu. Hanya satu hal yang diluar dugaanku”
“Apa yang diluar dugaanmu?” tanya Buyung Hong cepat.
“Kepalaku menjadi pusing. Dunia seperti berputar, dirimu kulihat seperti menjadi dua orang”
Bingung juga Buyung Hong mendengar ucapan Khu Pek Sim yang tidak karuan.
“Aku tidak paham perkataanmu. Kenapa kau berbicara seperti seorang yang terkena gejala racun Ngo Tok Kauw?”
“Sebab sekarang kepalaku memang keleyengan, dirimu sekarang malah kulihat menjadi empat orang” kata Khu Pek Sim dengan suara melemah.
Pandangan mata Khu Pek Sim menjadi gelap, ia seperti mendengar teriakkan Buyung Hong yang seperti memanggil namanya.
Butiran keringat sebesar jagung, keluar deras dari wajah Tan Leng Ko yang sedang berkutet mengerahkan tenaga dalam.
Matanya terpejam, tangannya menempel di nadi penting tubuh Mo Tian Siansu yang sedang bersila didepannya. Dibantu oleh Tan Leng Ko, bhiksu itu sedang mengatur pernafasan mencoba menyembuhkan luka dalamnya.
Luka Mo Tian Siansu nampak tidak ringan! Darah kental masih menetes dari ujung bibirnya. Sukar bagi bhiksu itu untuk memusatkan perhatiannya. Beberapa nadi pentingnya tersumbat, pusat pengendalian tenaga saktinya macet, tidak dapat digerakkan. Walau sudah dibantu oleh Tan Leng Ko tapi usahanya seperti sia sia. Tenaga dalamnya seperti masuk ke dalam jurang, tenggelam begitu saja tidak berbekas.
“Hen…hentikan!” ucap Mo Tian Siansu lemah.
Perlahan Tan Leng Ko membuka matanya, ia melihat bhiksu itu menggeleng kepalanya satu kali. Tan Leng Ko memaklumi maksud Mo Tian Siansu agar ia tidak memghamburkan tenaga dalamnya dengan percuma.
Dengan menggigit bibir, Tan Leng Ko mengempos semangat mengerahkan sembilan bagian tenaganya hingga tangannya gemetaran menahan arus tenaga yang dahsyat tapi juga terkontrol alirannya.
Mo Tian Siansu mengerut alisnya menahan sakit, segulung tenaga panas keluar dari tangan kiri pemuda itu sedangkan tangan kanannya keluar hawa sedingin es. Bagian kanan tubuh Mo Tian Siansu menggigil kedinginan sedangkan sebagian lain melepuh kepanasan. Tubuhnya tersiksa bukan main!
Tanpa disadarinya, Mo TIan Siansu mengeluh perlahan, perutnya bergejolak, darah merah kehitaman muntah dari mulutnya menyiram sebagian wajah Tan Leng Ko. Disusul bhiksu itu terkulai tak sadar diri.
Khu Han Beng yang sedari tadi berdiri diam dikamar Mo Tian Siansu cepat bergerak, menotok kaku
tubuh bhiksu itu yang masih dalam posisi bersila hingga tidak terjatuh dari tempat tidur.
“Jika tidak lekas ditolong, ia akan tewas” gumam Tan Leng Ko sedih.
“Haruskah kita menolongnya?” tanya Khu Han Beng perlahan.
Terkejut bukan main Tan Leng Ko mendengar ucapan itu.
“Tidakkah kau ingin menolong susiokmu?” bentaknya marah.
Melihat toakonya melotot dengan geram, Khu Han Beng menunduk kepala. Sahutnya perlahan:
“Jika ia tidak tertolong, aku hanya melihat dari segi baiknya”
“Mana ada segi baiknya jika susiokmu tewas!”
“Aku tidak usah ikut dengannya. Kuingin lekas pergi mencari yaya”
Tan Leng Ko menarik nafas sambil termenung. Bocah ini tidak ingin sekarang pergi ke Siaulimsi, ingin cepat pergi menolong kakeknya. Jika disuruh memilih jiwa siapa yang lebih penting baginya, tentu mudah ia menentukan pilihannya. Bagaimanapun juga, Khu Han Beng masih seorang bocah yang cenderung mementingkan diri sendiri, ketimbang memperhatikan keselamatan orang lain. Walau Mo Tian Siansu adalah paman gurunya, tapi diantara mereka belum terjalin ikatan batin, malah baru saja kenal.
Dengan muka serius, Tan Leng Ko menatap tajam Khu Han Beng.
“Sebelum kau dilahirkan, yayamu telah berkelana di dunia kangouw puluhan tahun, beliau dapat menjaga dirinya sendiri. Kau tidak harus menjadi seorang pendekar, tapi kau juga tidak boleh membiarkan seseorang tewas tanpa memberi pertolongan, mengerti!”
Khu Han Beng kembali menundukkan kepala, mengiakan. Diam diam Tan Leng Ko menghembuskan nafas lega bercampur heran. Baru pertama kali, tak terasa ia telah menghardik bocah ini. Diluar
dugaannya, bocah sakti yang beradat aneh yang tidak gemar mendengar nasehat, seperti dapat menerima ucapannya.
Lama mereka berdua terdiam. Akhirnya Khu Han Beng memecahkan keheningan.
“Aku tidak paham ilmu pengobatan, tapi dapat kulihat luka dalamnya parah sekali, beberapa urat nadinya tersumbat. Kita mungkin tidak mampu menolongnya”
Mendengar ucapan Khu Han Beng, mata Tan Leng Ko seperti mencorong terang. Serunya tak terasa:
“Ada yang mampu menolongnya”
“Siapa?”
Tan Leng Ko tidak lekas menjawab, tanyanya perlahan:
“Dimana suhumu?”
“Aku tidak tahu”
“Kau tidak tahu?” tanya Tan Leng Ko heran.
“Kuterlambat menyambut orang Bwe Hoa Pang, justru karena pergi mencari suhu di goa bukit belakang. Beliau tidak berada disana”
“Bagaimana caramu berhubungan dengannya?”
“Apakah ini pertanyaan toako yang keenam”
Pertanyaan Khu Han Beng menyudutkan Tan Leng Ko. Selagi ia menimbang apakah sekarang saat untuk menggunakan jatah bertanyanya yang terakhir, untung Khu Han Beng kembali bertanya:
“Tahukah toako, kenapa pertanyaanmu dibatasi?”
“Aku memang sedang heran soal itu” gumam Tan Leng Ko perlahan.
“Guruku beranggapan, jika toako tidak diberi kesempatan bertanya, tentu akan mencoba menyelidiki sendiri dan bisa mengacaukan urusan. Sedangkan jika dibolehkan bertanya, sebagai lelaki sejati, tentu akan menepati janji dan dapat menahan rasa ingin tahu”
Tan Leng Ko hanya dapat menyengir, sambil menyeka mukanya yang kotor, ia berujar:
“Gurumu paham sekali sifat manusia. Beliau dapat menerka dengan tepat”
Khu Han Ben tertawa perlahan, katanya:
“Beliau juga telah menerka, toako akan memilih enam pertanyaan”
“Darimana beliau bisa menerka dengan tepat?” seru Tan Leng Ko tak percaya.
“Sebab beliau tahu, toako ditolong oleh yaya pada bulan keenam, juga toako lama menguasai enam jurus Ouw Yang Ci To. Sebagai seorang yang percaya dengan nasib mujur. Oleh suhu, toako dianggap percaya dengan angka kemujuran. Dan angka enam beberapa kali muncul dikehidupan toako”
Tan Leng Ko menggerutu “guru Khu Han Beng benar benar bukan seorang manusia” omelnya dalam hati.
“Bagaimanapun juga urusan ini urusan rumah tangga guruku, janggal rasanya jika toako hendak mencampuri” lanjut Khu Han Beng.
“Aku harus mencampuri karena aku benar benar menganggapmu sebagai adikku. Aku tidak ingin ia mengajarmu untuk mencuri”
“Mencuri? Aku belum pernah mencuri” seru Khu Han Beng heran.
“Kau memang hanya membantunya menyalin, tapi gimanapun juga kitab kitab aslinya merupakan hasil curian gurumu”
“Guruku tidak mencuri, beliau hanya meminjamnya sebentar”
“Kata lain dari mencuri adalah meminjam dengan tidak berniat mengembalikan” kata Tan Leng Ko seraya tertawa pahit.
“Justru guruku berniat mengembalikan dan telah mengembalikan dengan tepat waktu. Malah telah mengembalikan kitab lain yang bernilai lebih hebat dari apa yang diambilnya” bantah Khu Han Beng.
Kembali Tan Leng Ko merasa dirinya terpojok. Tanyanya kemudian:
“Kenapa suhumu melakukan hal itu?”
“Aku pernah bertanya, dan suhu enggan menjawab”
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam.
“Sudahlah. Aku hendak mencari suhumu bukan untuk membicarakan hal ini, melainkan kuyakin belau mampu menyembuhkan susiokmu”
“Setahuku, suhu tidak begitu paham ilmu pengobatan”
“Darimana kau tahu?”
“Sebab aku tidak pernah diajari”
“Salinan kitab sebanyak itu dikamarmu?”
“Hanya menyinggung ilmu silat, tidak ada satupun yang mengandung ilmu pengobatan… Aku akan minta ijin pada suhu agar toako diperkenankan untuk mempelajari kitab kitab itu”
Setelah tertawa senang, Khu Han Beng kembali berkata:
“Kuyakin suhu akan mengijinkan”
“Kenapa?” tanya Tan Leng Ko tak tahan.
“Karena suhu sangat sayang padaku dan jarang menolak keinginanku. Setelah aku mengutungi tangan gadis Bwe Hoa Pang tempo hari, suhu menegur dan melarangku ikut campur. Aku ngotot dan memaksanya. Urusan Lok Yang Piaukiok juga urusanku, tidak mungkin aku tinggal diam. Akhirnya suhu mengalah, hanya aku dilarang menunjukkan diri jika tidak terpaksa”
Sudah dua kali, Tan Leng Ko mendengar bocah itu mengatakan suhunya yang bagaikan naga sakti bersembunyi sangat sayang dan jarang menolak keinginannya. Tan Leng Ko percaya. Yang ia diam diam heran, biasanya seorang murid patuh terhadap gurunya, kenapa kedengarannya seperti guru yang patuh pada muridnya?
Pikirannya melayang mengingat pengalamannya bercakap cakap dengan guru Khu Han Beng.
Bukankah menurut beliau, hanya dua orang yang mampu mengalirkan tenaga sakti yang tidak putus di dua belas jalan darah? Bahkan Goan Kim Taysu pun masih belum mempunyai kemampuan itu. Siapa di dunia persilatan dewasa ini yang mempunyai kemampuan lebih dari Goan Kim Taysu?
Tiba tiba Tan Leng Ko memandang Khu Han Beng dengan pancaran sinar mata yang aneh.
Dipandang sedemikian rupa oleh toakonya, Khu Han Beng menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mendadak Tan Leng Ko bertanya:
“Ilmu Bu Kek Kang Sinkang yang kau pelajari, adakah sebuah cara untuk mengalirkan tenaga sakti yang tidak putus, yang dapat meliuk dari daya lurus untuk mencapai dua belas jalah darah di lengan, dada, punggung dan sebagainya?
Khu Han Beng terpekur sejenak sebelum menjawab:
“Yaa, memang ada”
Sambil menghela napas lega, Tan Leng Ko berkata:
“Kuyakin kau mampu menyembuhkan susiokmu”
Giliran Khu Han Beng menatap Tan Leng Ko dengan bengong:
“Aku tidak tahu caranya”
“Lakukan saja seperti apa yang kupinta. Kujamin tidak bakal salah”
Khu Han Beng menghela napas dalam dalam, akhirnya mengangguk:
“Aku memerlukan sesuatu, sebentar kupergi” selesai berkata tubuhnya berkelebat.
Tak lama kemudian, ia kembali dengan tangan memegang sebuah dahan kecil yang diujung ujung rantingnya terdapat banyak daun daun segar.
Khu Han Beng meletakkan dahan itu ke lantai setelah memetik dua belas helai daun, dan seperti bermain sulap, ia menggerakkan kedua tangannya dalam bentuk lingkaran.
Dua belas helai daun tersebut seperti digerakkan tenaga yang tak berwujud, bergerak gerak, menari di udara kemudian melayang, hinggap di tubuh Mo Tian Siansu tepat di dua belas jalan darah.
Tan Leng Ko terkesima melihat pemandangan yang luar biasa. Aliran udara yang bergetar halus seperti ditengah terik matahari, keluar dari tangan Khu Han Beng, meliuk dan mengalir tidak putus ke daun daun yang menempel ditubuh Mo Tian Siansu.
Entah berapa lama hal ini telah berlangsung, Tan Leng Ko tidak tahu, hanya suasana kamar menjadi gelap, tanpa melirik keluar jendela kamar, iapun tahu malam telah menjelang tiba.
****************************
Beberapa hari telah lewat tanpa terasa, angin utara bertiup makin kencang dan semakin dingin.
Hanya dalam hitungan hari, cuaca berubah secara drastis. Awan mendung menutup matahari hampir setiap hari, pepohonan meranggas tanpa daun seperti mati tanpa kehidupan.
Sudah tidak terdengar lagi kicauan burung, hanya suara sumbang burung gagak yang berkaok dengan suara seraknya yang nyaring. Ciri musim dingin sudah hampir tiba.
Tidak banyak yang dilakukan oleh Tan Leng Ko selama beberapa hari ini. Selain berlatih 13 jurus Ouw Yang Ci To, ia juga menemani Khu Han Beng mengobati Mo Tian Siansu tanpa sepengetahuan bhiksu itu.
Ketika Mo Tian Siansu sadar dari pingsannya, keadaannya sudah tidak terlalu gawat. Perawatan atas dirinya diserahkan kepada tabib di Lok yang Piaukiok.
Walau kesehatan Mo Tian Siansu belum sembuh benar, pagi hari ini ia bertekad dirinya dan Khu Han Beng harus segera berangkat. Segala usaha untuk merubah niat bhiksu itu ternyata sia sia. Hanya satu hal yang ia setuju, Mo Tian Siansu yang gemar berjalan kaki, akhirnya dapat dibujuk untuk mengendarai kuda dengan alasan agar lekas sampai di Siaulimsi.
Dua kuda segar dan gagah sudah disiapkan, bahkan Khu Han Beng telah duduk dengan tenang diatas kudanya. Tan Leng Ko yang berdiri disamping bocah itu berkata perlahan:
“Kutahu kau tidak gemar nasehat, tapi sebagai toakomu, ingin kukatakan satu hal padamu”
Khu Han Beng menatapnya sambil tersenyum.
“Kau belajar baik baik disana”
“Jangan kuatir, aku akan belajar baik baik disana. Sebaik apa yang telah kubelajar dari toako” sahut Khu Han Beng sambil mengedip mata.
“Kau terbalik mengatakannya, selama ini aku yang belajar darimu” kata Tan Leng Ko heran. Ia merasa tidak pernah mengajari sesuatu pada bocah ini.
Khu Han Beng kembali tersenyum, bahkan rada misterius,
“Kau jaga dirimu baik baik Tan toako. Terutama kepalamu… Jangan sampai dikerjain orang lagi” kata Khu Han Beng sambil mengedipkan mata.
Bingungnya juga Tan Leng Ko dengan kelakuan Khu Han Beng. Terakhir kali ia melihat bocah ini berlaku begitu, botak kepala Giok Hui Yan digunduli olehnya. Nampaknya bocah ini mempunyai kebiasaan. Setiap kali ia mengedipkan mata, tentu ada perbuatan jahil yang telah ia kerjakan, hanya Tan Leng Ko tidak dapat menerka.
Baru saja ia mau bertanya, Hong Naynay datang dengan tergopoh gopoh menghampiri Beng- Sauyanya. Lekas Tan Leng Ko menyingkir ke samping, ia tidak ingin ditabrak oleh perempuan gembrot itu yang berjalan kearahnya sambil melotot.
Khu Han Beng menerima bungkusan makanan dari tangan Hong Naynay dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kau jaga dirimu baik baik, nak. Kau belajar hingga menjadi orang baik dan pandai, tidak licik seperti dia” jari Hong Naynay yang gemuk, pendek menunding ke hidung Tan Leng Ko.
Yang ditunding hanya menyengir, seperti biasa, enggan meladeni Hong Naynay. Hanya terbesit sebuah perasaan dihati Tan Leng Ko mendengar ucapan Hong Naynay yang bagi pendengarannya bermakna dalam.
Mendadak Tan Leng Ko melenggong. Ia sudah tidak mendengar lagi percakapan Hong Naynay dengan Khu Han Beng yang membungkuk badan dari kudanya, seperti membisikkan sesuatu ke telinga Hong Naynya.
Ada semacam pikiran aneh dibenak Tan Leng Ko. Tiba tiba ia mengerti kenapa Khu Han Beng disuruh oleh suhunya belajar ke Siaulimsi walau bocah itu memiliki kesaktian yang lebih tinggi tingkatannya dari Goan Kim Taysu!
Tak terasa Tan Leng Ko tertawa terbahak bahak, suara tertawa yang langsung dipotong dengan bentakkan Hong Naynay yang menatap dirinya dengan wajah menakutkan.
Tan Leng Ko langsung menghentikan ketawanya, ia menatap Hong Naynay sambil mencoba, memasang senyum yang paling keren.
Hong Naynay meludah, dengusnya:
“Cengar cengir kayak monyet, kuda ini jauh lebih tampan dari mukamu!”
Tan Leng Ko menyengir. Mujur baginya, Mo Tian Siansu telah muncul. Walau dengan wajah masih pucat pasi, tapi dengan sigap bhiksu itu menaikki kudanya.
Hong Naynay menyerahkan juga sebungkus makanan padanya.
“Telah kumasakkan kesukaan Siansu, seratus persen mengandung sayuran”
“Apakah kau juga menyertakan teh kesukaan Siansu?” tanya Tan Leng Ko.
“Teh apa?” tanya Hong Naynay galak.
“Teh dari Po-Ting yang waktu itu kau suguhkan” jawab Tan Leng Ko heran.
“Aku tidak pernah menyuguhkan teh Po-Ting segala” dengus Hong Naynay marah.
“Omitohud! Sudahlah, tidak usah diributkan. Sudah waktunya kami pergi” sela Mo Tian Siansu menengahi.
Setelah mengucapkan kata kata kata perpisahan, Mo Tian Siansu dan Khu Han Beng menggebrak kudanya pergi meninggalkan Lok Yang Piaukiok. Diiringi padangan mata sedih dari Hong Naynay dan Tan Leng Ko yang memandang mereka hingga hilang ditikungan jalan.
“Tidakkah ada sesuatu yang harus kau lakukan, daripada bengong bengong begitu?” hardik Hong Naynay.
“Yaaa…yaa, kupergi sekarang” ujar Tan Leng Ko bergegas pergi dari situ.
Memang ada dua hal yang ingin dia lakukan, hanya ia lebih suka mengerjakannya setelah kepergian Khu Han Beng. Lekas ia mengayun langkah masuk kedalam ruang kerja Khu Pek Sim. ia meraih buku jurnal kerja, menarik sebuah kursi, duduk dan membalik balik beberapa halaman.
Entah berapa lama Tan Leng Ko membaca buku itu dengan cermat. Hanya mendadak, wajahnya tercermin rasa gembira. Diujung bibirnya tersungging sebuah senyum. Sebuah senyum yang misterius sekali!
Setelah yakin dengan dugaannya, Tan Leng Ko mengembalikan buku jurnal tersebut ketempatnya. Dia merasa puas dengan hasil kerjanya, sudah sepatutnya dirinya diberi hadiah. Mendadak timbul keinginannya minum arak.
Matanya bercahaya membayangkan arak Tiok Yap Jing milik Hong Naynay. Bukan saja arak itu jenis arak yang mahal dan enak. Konon katanya, arak curian rasanya jauh lebih nikmat. Dan yang lebih nikmat lagi, ia sudah tahu tempat penyembunyiannya. Sebuah tertawa rase keluar dari mulut Tan Leng Ko.
Ketika tempo hari ia berlatih Ouw Yang Ci To, Khu Han Beng menghilang cukup lama bukan untuk mengaduk aduk dapur mencari arak, melainkan pergi untuk menggunduli Giok Hui Yan, karena arak Hong Naynay memang tidak disimpan di dapur.
Pantas berkali kali ia mencari tapi tidak pernah berhasil.
Setelah yakin tidak ada orang yang memerhatikannya, Tan Leng Ko meloncat ke wuwungan atap rumah.
Memilih jalan pintas menuju halaman belakang. Ia melompat turun, dan mengindap perlahan dideretan kereta usang menuju sebuah kereta barang bewarna hijau yang sudah lama tidak digunakan.
“Bocah itu tidak berbohong” gumam Tan Leng Ko melihat pintu kereta tua dan terbengkalai itu, ternyata malah dikunci oleh gembok besi besar.
Anehnya, Tan Leng Ko tidak terlihat kecewa, ia malah berjongkok kesalah satu roda dan meraih sebuah kawat kecil yang cukup panjang. Kemudian tubuhnya menghilang kesebelah kiri memasukki kereta tua bewarna biru yang sudah luntur aus tertimpa hujan. Hanya sebentar, tangannya menenteng dua buah guci yang walau masih bersegel dan berat, tapi Tan Leng Ko yakin dalamnya berisi air.
“Bocah itu memang bukan anak baik baik” keluh Tan Leng Ko.
Ia mengomeli Khu Han Beng yang menurutnya, telah menyiapkan alat yang diperlukan untuk mencuri arak dengan sempurna dan ia menganggap bocah itu bukan anak baik baik.
Tan Leng Ko seperti lupa, dirinya juga melakukan hal yang sama.
“Klik!” dengan senyum kemenangan Tan Leng Ko yang berhasil membuka gembok dan dengan segera membuka pintu kereta hijau. Seperti telah menemukan harta karun, matanya berbinar binar, menyaksikan tumpukkan guci arak Tiok Yap Jing, puluhan banyaknya memenuhi ruang kereta tersebut.
Bau apek dan bau arak yang menusuk tidak menganggu Tan Leng Ko. Sambil bersenandung kecil, ia masuk kedalam kereta yang menjadi sempit terhalang oleh guci guci arak.
Sekali memandang, Tan Leng Ko segera dapat membedakan guci mana yang berisi arak dan guci mana yang bukan. Khu Han Beng telah berbisik padanya, guci yang digoresi bata merah adalah guci yang telah ditukar oleh bocah itu.
Gesit sekali tangannya bekerja menukar guci guci ditumpukkan bagian tengah, bagian yang guci gucinya masih bersih dari goresan bata. Dengan mengempit dua buah guci dilengan kanan kiri, ia membalikkan badan. Mulutnya masih monyong kedepan, hanya siulannya mendadak berhenti!
Tubuh Hong Naynay yang gemuk telah menutupi pintu masuk, sialnya pintu itu juga pintu satu satunya untuk keluar dari dalam kereta. Tan Leng Ko mengutuk dirinya, kenapa barusan ia tidak mempersoalkan ruang kereta yang mendadak menjadi redup rada gelap.
Tan Leng Ko mengeluh dalam hati. Seperti seekor domba yang terperangkap disarang srigala, ia tertangkap basah dengan bukti yang ada dipelukkannya.
Hong Naynay berdiri kaku, menatap dingin Tan Leng Ko dengan wajah yang mengerikan!
Tan Leng Ko memahami, kali ini sukar baginya untuk meloloskan diri. Jika senyumannya yang paling keren tadi saja tidak mempan, apalagi sekarang. Akhirnya ia memutuskan untuk menyengir.
Cengirannya dibalas oleh Hong Naynay dengan suara geraman mirip gerengan seekor binatang buas yang kelaparan.
“Sudah berapa lama kau tahu urusan?” tanya Tan Leng Ko dengan suara parau.
“Hmm! Jika tidak diceritakan oleh Beng-Sauya. Tentu sudah ludes arakku dicuri tikus semacammu” geram Hong Naynay, dengan perlahan tangannya mencabut sendok kayu yang panjang dari tali pinggangnya.
Tan Leng Ko tertegun bodoh!
Sekarang ia paham makna kedipan mata Khu Han Beng. Sungguh tolol dirinya!
Bukankah bocah itu pernah mengatakan isi guci arak banyak yang sudah isi air… Bukankah dari jumlah guci yang tergores, memang sudah banyak sekali guci guci yang tertukar… Bukankah bocah itu pernah mengatakan Hong Naynay tidak lekas menyadari…Berarti lambat laun Hong Naynay akan mengetahui araknya banyak yang hilang…
Khu Han Beng memerlukan kambing hitam untuk menampung semua perbuatannya… dan dirinya yang paling cocok dan paling sial untuk menjadi seekor kambing!
Bocah itu rupanya sudah memperhitungkan, dirinya pasti akan mengunjungi tempat penyembunyian arak. Jika kepergok, bukan saja dirinya yang makan sial menanggung semua dosa, sedangkan bocah itu malah bersih dari kesalahan!
Bahkan Ketika ia bertanya, bocah itu berlagak enggan memberi tahu padahal memang kebetulan baginya. Apa bocah itu memang sengaja memancingnya? Bukankah Khu Han Beng memerlukan seseorang untuk menalangi dosanya?
Tan Leng Ko mengutuki dirinya. Bukan saja secara bodoh ia menyodorkan diri, malah ia harus membujuk untuk dijebak, lagipula harus mengorbankan jatah bertanyanya yang menjadi berkurang!
Tan Leng Ko mengeluh, dia telah dikerjain oleh bocah kecil! Pantas, bocah itu mengatakan telah belajar sesuatu darinya. Dasar anak setan, bukan belajar hal yang baik, bocah itu malah belajar kelicikan darinya. Tiba tiba Tan Leng Ko menyadari, setiap kali berhubungan dengan Khu Han Beng atau dengan guru bocah itu, nasibnya seperti tidak mujur!
Khu Han Beng pernah memperingatkan dirinya:
“Awas kepalamu, toako! Jangan sampai dikerjain orang lagi!”
Benar saja!
Sendok kayu Hong Naynay tepat mengenai ubun ubunnya dengan telak! Kepala Tan Leng Ko langsung sakit luar biasa, pandangan matanya berkunang kunang, akhirnya. ia rubuh tidak sadarkan diri!
Entah berapa lama ia telah pingsan tak sadar diri, ia hanya tahu hari telah menjelang sore. Diujung musim dingin, senja biasanya memang lebih cepat menyelimuti hari.
Bau busuk yang menyengat menyadarkan Tan Leng Ko, dirinya ternyata telah dibuang di onggokkan sampah! Tentu Hong Naynay menyuruh anak buahnya untuk menggotong tubuhnya kesini.
Tidak ada yang berani menolak permintaan Hong Naynay, anak buahnya juga tidak. Terpaksa ramai ramai mereka menggotong kausu mereka ke tempat pembuangan sampah yang terletak dibelakang tembok perkarangan Lok Yang Piaukiok.
Tan Leng Ko menyengir sambil meludah kotoran yang masuk ke mulutnya. Kepalanya masih berdenyut sakit. Tapi ia tidak terlalu menghiraukan, masih ada satu pekerjaan lain yang harus dilakukannya. Lekas ia menuju kamarnya untuk mandi, membersihkan diri.
********************************
“Sepanjang jalan, pinceng perhatikan banyak sekali kau tersenyum” kata Mo Tian Siansu seraya tersenyum.
“Aku hanya membayangkan satu hal yang lucu” jawab Khu Han Beng ikut tersenyum.
“Jika kau ceritakan, belum tentu hal itu masih lucu”
“Benar!”
“Makanya kau tidak menceritakan hal itu padaku”
Khu Han Beng mengangguk sambil tertawa kecil. Belum tentu perbuatan binal pada Tan toakonya dapat dianggap lucu oleh susioknya.
Mo Tian Siansu tertawa, dari pagi hingga sore mereka berkuda tidak berhenti kecuali istirahat makan siang.
Dirinya yang sudah kenyang makan asam garam, sedikit banyak ia dapat meraba watak bocah ini yang tidak gemar berbicara kecuali jika ditanya.
Segera ia mengalihkan pembicaraan:
“Kudengar riak air yang tidak jauh dari sini”
“Yaa, kutahu sungai itu berada disana” ujar Khu Han Beng, jarinya menunjuk dataran menurun yang ditumbuhi semak belukar disebelah kirinya.
“Darimana kau tahu?” tanya Mo Tian Siansu heran sambil menarik tali kendali menghentikan kudanya.
Hati Khu Han Beng terkesiap, ia kelepasan bicara. Tidak seharusnya ia juga dapat mendengar suara riak air yang tidak mungkin dapat didengar oleh orang yang tidak bisa silat. Khu Han Beng tidak segera menjawab melainkan ikut menghentikan lari kudanya, ia harus berpikir cepat.
“Apakah kau juga dapat mendengar riak air sungai itu?” desak Mo Tian Siansu.
“Riak hanya dapat ditimbulkan oleh air yang bergerak. Makanya kutahu suara itu berasal dari aliran air sebuah sungai bukan telaga”
“Darimana kau tahu sungai itu berada disana?”
“Sebab kutahu sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Disekitar tempat ini, hanya dataran semak itu yang menurun kebawah” jawab Khu Han Beng tenang.
Mo Tian Siansu tertegun sedetik, kemudian tertawa gembira. Hatinya senang bukan main, bocah ini bukan saja memiliki susunan tulang yang baik untuk beljara silat bahkan nampak cerdik sekali.
“Sesaat, sempat pinceng pikir hal yang tidak wajar. Kupikir kau telah memiliki sinkang tingkat tinggi hingga dapat mendengar suara riak sungai itu”
“Siapa tahu aku memang telah memiliki sinkang yang cukup tinggi” kata Khu Han Beng perlahan sambil mengedipkan mata.
“Kau memang pintar bergurau. Jika kau sudah mempunyai tenaga sakti, masakkan pinceng tidak dapat melihatnya”
Mo Tian Siansu turun dan menambatkan kudanya dipinggir jalan.
“Kita bermalam dipinggir sungai itu saja” ajaknya.
“Kukuatir jika kuda kita tinggalkan disini, bakal dicuri orang”
“Jangan kuatir! Sungai itu tidak jauh, jika ada orang yang mendekat tentu dapat kudengar”
Khu Han Beng diam saja ketika Mo Tian Siansu meraih pinggangnya kemudian menggendongnya berlari diatas semak semak menuju sumber air tersebut. Setelah melihat semak semak itu tumbuh rapat sekali sehingga tidak memungkinkan membawa turun kudanya baru Khu Han Beng memaklumi kenapa susioknya meninggalkan kuda mereka dipinggir jalan.
Timbul rasa kagum dihatinya terhadap Mo Tian Siansu yang menurutnya mempunyai pengalaman luas sekali.
Sungai itu tidak terlalu lebar, airnya cukup dalam malah terlihat jernih sekali. Terpancing juga minat Mo Tian Siansu untuk berenang.
“Mari kita mandi disini”
“Airnya nampak dingin sekali” kata Khu Han Beng ragu. Sebetulnya dingin tidak masalah bagi dirinya, hanya ada satu hal yang mengganggunya.
“Berenang di air dingin dapat mengagetkan syaraf, dan mempercepat aliran darah. Sangat baik untuk tubuh jika tidak terlampau lama. Apakiah kau bisa berenang?” tanya Mo Tian Siansu.
Khu Han Beng menggigit bibirnya, ia berkata lirih:
“Tiada yang pernah mengajariku”
Dengan hanya mengenakan celana panjang, Mo Tian Siansu menceburkan diri ke pinggiran sungai yang tidak terlalu dalam. Tinggi air mencapai pundak bhiksu itu, sambil tersenyum ia memanggil Khu Han Beng untuk meniru dirinya. Ajakan yang cepat ditolak oleh bocah itu.
“Apakah kau merasa takut?” tanya Mo Tian Siansu dengan lembut.
Khu Han Beng menggeleng, kemudian mengangguk perlahan.
“Selama susiokmu berada disini, tidak mungkin kuingin terjadi sesuatu buruk padamu. Hanya ada satu hal yang kuingin kau perlu ketahui”
“Hal apa?” tanya Khu Han Beng ingin tahu.
“Seringkali jika kau ingin belajar sesuatu, kau harus mengerjakan hal yang tidak kau sukai. Inginkah kau belajar cara berenang?”
Khu Han Beng termenung sejenak. Kemudian melepaskan pakaiannya. Meniru susioknya, hanya dengan mengenakan celana panjang, dengan nekad ia meloncat di belakang Mo Tian Siansu.
Disertai percikan yang muncrat kemana mana, tubuh Khu han Beng diselimuti air sungai dengan lembut. Perasaan mengambang yang ditimbulkan dari tenaga air membuatnya sedikit gelagapan. Cepat ia menjinjitkan kakinya, ternyata tinggi air hanya mencapai lehernya.
Hanya satu hal yang diluar dugaannya. Air yang menerpa tubuhnya, ternyata dingin sekali, sehingga sinkangnya bereaksi secara naluri. Tenaga saktinya cepat berputar mengelilingi tubuhnya. Air disekitar tubuhnya bergejolak, menimbulkan gelembung gelembung besar disertai asap putih yang mendesis. Seperti sebuah benda panas yang tiba tiba dicelupkan kedalam air dingin.
Menyaksikan pemandang ini, alis Mo Tian Siansu berkerut. Ia berdiri dihulu bagian sungai hingga tidak merasakan air dingin yang tiba tiba berubah menjadi panas.
“Apakah kau mengentut?” tanyanya sambil tersenyum.
Lekas Khu Han Beng menghentikan aliran sinkangnya. Mukanya sedikit memerah. Mo Tian Siansu tidak mengetahui merahnnya wajah bocah itu bukan disebabkan oleh rasa malu melainkan akibat pengerahan sinkang diluar kontrol.
“Mari kuajari kau berenang” ujar Mo Tian Siansu lembut.
Tangan dan kakinya bergerak bergantian seperti seekor katak, memberi contoh apa yang harus dilakukan Khu Han Beng.
“Setiap kali tanganmu diayuh, daya tolak air mengangkat tubuhmu secara otomatis, kesempatan itu kau gunakan untuk berganti napas”
Khu Han Beng menggerakkan kedua tangannya meniru susioknya, tapi ia masih ragu untuk membiarkan dirinya mengambang.
“Jika kau kuatir tenggelam, kau jejakkan kakimu ke dasar sungai dan berdiri mengikuti aliran air” dengan sabar dan tekun, Mo Tian Siansu membimbing Khu Han Beng belajar berenang.
Walau masih agak kaku, dalam sebentar saja boleh dibilang Khu Han Beng sudah dapat berenang. Hatinya senang bukan main. Tak lama kemudian, hari sudah benar benar gelap, tapi mereka tidak perduli. Yang terdengar hanya teriakkan kegembiraan seorang bocah diselingi suara tertawa lembut seorang tua disela sela suara percikkan air sungai.
****************************
Bayangan pepohonan tanpa daun seperti bayangan beberapa tangan raksasa yang bergerak mengancam, ditiup angin kencang.
Malam ini suasana di Lok Yang Piaukiok sepi sekali. Selain absennya penjaga malam yang biasanya terlihat, suasana juga gelap sekali.
Keadaan seperti ini biasanya cocok untuk mengundang tamu yang tidak diundang. Entah datang dari mana, sesosok tubuh mengenakan pakaian malam, hanya matanya yang terlihat sedangkan kepalanya dibungkus kain hitam, melayang ringan dari atap rumah.
Tamu yang tidak pernah diundang itu turun ke pelataran pekarangan, dan mengindap perlahan, berhenti tepat di depan pintu kamar Khu Han Beng.
Gerakkan tangan orang itu ternyata cekatan sekali, kamar yang terkunci itu tiba tiba terbuka, dengan sigap tanpa mengeluarkan suara, ia memasukki pintu kamar.
Seperti hapal dengan keadaan kamar Khu Han Beng, orang itu menjentikkan batu api menyalakan lampu yang menerangi ruangan. Perlahan ia menuju ke rak rak buku yang berisi salinan kitab kitab pusaka.
tiba tiba terdengar suara bernada dingin menegur dibelakangnya:
“Jika engkau hendak membaca kitab kitab itu, sebetulnya tidak perlu kau mencuri curi atau bertingkah mencurigakan seperti itu”
Tubuh orang berkedok terlihat bergetar, tapi ia tidak menjawab, malah mengayunkan tangannya menyerang. Angin panas dahsyat keluar dari tangannya menghantam!…Anehnya, yang diserang olehnya bukan orang yang menegurnya!
Orang berkedok hitam itu malah menyerang ke depan ke arah rak berisi kitab tersebut. Serangannya selain gesit juga mengandung kekuatan penuh!
Sayang walau perbuatannya cepat dan diluar dugaan siapapun, ternyata tidak membuahkan hasil. Angin pukulan, dan tubuh orang berkedok itu seperti tertahan, kejang kaku dibungkus sebuah tembok tenaga yang tak terbentuk dan tak nampak!
Tubuh orang itu tiba tiba terpental, terbanting keatas tempat tidur Khu Han Beng. Secara serabutan, orang itu menarik panjang keras keras. Tubuhnya sudah dapat bergerak, yang pertama kali ia lakukan adalah mencabut kedok mukanya.
Seraut wajah muncul, Tan Leng Ko nampak tersenyum puas. Anehnya, ia tidak terlihat tercengang seperti hal ini sudah didalam perhitungannya.
Nada dingin yang tadi menegurnya, kembali berkata:
“Tak kusangka, kau secerdik ini”
“Cerdik?”
“Kau tidak menyerang aku, malah menyerang kitab kitab itu”
“Soalnya kutahu tiada gunaya menyerang dirimu. Sudah kuperhitungkan kau tentu tidak menduga perbuatanku dan akan berusaha menyelematkan kitab kitab itu”
Sambil menatap tajam kepada orang yang menegurnya, yang berdiri dibayangan gelap sebuah lemari besar. Tan Leng Ko berkata sekata demi sekata:
“Hanya dengan cara ini, aku dapat memaksamu menunjukkan diri”
Orang itu seperti menghela napas, kemudian melangkah perlahan maju dua tindak. Tubuhnya dibanjiri cahaya terang dari lampu yang tadi dinyalakan.
Tan Leng Ko menatap orang itu lamaa sekali. Setelah menghela napas akhirnya ia berkata perlahan:
“Rupanya memang kau”
“Kau nampak tidak terkejut” ujar orang itu kalem. “Rupanya tidak sedikit yang kau ketahui” lanjutnya.
Tan Leng Ko tertawa senang sambil membetulkan posisi tubuhnya. Dengan santai ia duduk diatas tempat tidur. Katanya kemudian:
“Dengan kemampuanmu, sebetulnya kau mampu melarikan diri. Kutahu sebabnya kau memilih menampakkan diri”
“Apa sebabnya?”
“Sebab kau tidak mungkin melindungi kitab ini terus menerus tanpa terlihat olehku, kitab kitab inilah titik kelemahanmu”
“Aku dapat saja membunuhmu” jengek orang itu dengan dingin.
“Kau sangat mampu untuk membunuhku, hanya kau tidak dapat membunuhku” jawab Tan Leng Ko terdengar rada aneh.
Anehnya, orang itu tidak menyangkal. Ia meraih sebuah kursi dan duduk dihadapan Tan Leng Ko yang tanpa berkedip terus menatap wajahnya. Wajah yang biasanya terlihat sering terpengaruh arak, tapi tidak kali ini!
Wajah Lo Tong terlihat tanpa ekspresi, bahkan membawa perbawa yang sukar dilukiskan. Semacam pengaruh yang dapat membuat orang segan dengan mudah.
“Sejak kapan kau mengerti urusan?” tanya Lo Tong tiba tiba.
Sambil tersenyum Tan Leng Ko menjawab:
“Sejak aku tidak mengerti sebuah urusan”
“Semenjak kau tidak mengerti sebuah urusan?” tanya Lo Tong heran.
“Kutahu Khu Han Beng yang mencukur rambut Giok Hui Yan, hanya yang tidak kumengerti, siapa yang menggunduli Su-lopeh bertiga?”
“Siapa yang melakukan?”
“Kau sendiri yang melakukan!”
“Kenapa aku harus melakukan hal itu?”
“Sebab engkaulah penjaga sebenarnya dari kitab kitab itu. Kau tidak senang Lok Yang Piaukiok sesak dengan kunjungan orang luar. Kau membiarkan Giok Hui Yan tinggal disini karena sebagai Lo Tong, kau bisa mencopot celana untuk mengatasinya. Tapi caramu jelas tidak manjur jika dipergunakan pada Su-lopeh bertiga. karena itu kau menggunduli mereka agar lekas pergi dari sini. Sebagai ahli silat yang tiba tiba dipecundangi orang, tentu saja mereka tidak tahan dan ingin lekas pergi.”
“Kenapa aku tidak menggunakan cara lain?”
“Karena kau telah menyaksikan perbuatan Khu Han Beng terhadap Giok Hui Yan, dan timbul niatmu melakukan hal yang sama. Kau tidak begitu peduli Su-lopeh bertiga curiga karena tidak banyak yang dapat mereka lakukan, tapi kau tidak ingin aku curiga. Menurut perhitunganmu, aku sudah mengetahui kemampuan Khu Han Beng. Jika botaknya kepala Giok Hui Yan disebabkan olehnya, kenapa tidak sekalian botaknya Su-lopeh bertiga. Kau anggap perbuatanmu cukup aman dan tidak akan membongkar rahasiamu.Hanya mungkin kau sedang mabuk sehingga lalai memberitahu bocah itu. Keheranan Khu Han Beng justru membangkitkan kecurigaanku. Kecurigaan adanya seorang sakti yang tinggal disini”
“Yang kutidak habis mengerti, kenapa curigamu kau tujukan padaku?”
“Karena disebabkan petunjuk beberapa helai daun”
“Petunjuk beberapa helai daun?” seru Lo Tong dengan nada heran.
Dengan perlahan Tan Leng Ko menyahut:
“kau gemar menggunakan daun sebagai ciri, justru ciri itu yang telah membongkar asal usulmu”
Lo Tong memandang Tan Leng Ko dengan pandang tidak mengerti.
“Ketika terjadi penyerbuan, Kwee bersaudara membantu Lok Yang Piaukiok karena memandangku sebagai sahabat. Sedangkan alasan pemuda yang bernama Bok Siang Gak, tentu disebabkan ia sudah jatuh hati kepada Giok Hui Yan. Yang tidak kumengerti, kenapa Hek I Houw berubah pikiran membantu pihak kita?”
“Mungkin dia tertarik pada kegagahanmu” jengek Lo Tong.
Tanpa memperdulikan ucapan Lo Tong, Tan Leng Ko melanjutkan:
“Yang juga tadinya tidak kumengerti, kenapa Hek I Houw yang sudah lama berkecimpungan di dunia kang-ouw, untuk kedua kalinya kulihat pucat terperanjat?”
Sambil menatap tajam Lo Tong, Tan Leng Ko berkata sekata demi sekata:
“Karena dia melihat apa yang juga kulihat”
“Sebenarnya apa yang kau lihat?”
“Suasana malam penyerbuan itu tegang sekali. Tanpa kau sadari, kau telah mengerahkan tenaga saktimu. Justru karena hal itu, rahasiamu dapat kuketahui”
Lo Tong kembali memandang Tan Leng Ko dengan pandangan bertanya.
“Malam itu, angin bertiup sangat kencang. Karena perhatianmu terpusat pada penyerbuan itu, tanpa sepengetahuanmu, beberapa helai daun jatuh menimpa tubuhmu dan Hong Naynay. Yang luar biasa, sebelum menyentuh tubuhmu, daun daun itu seperti mental menepis kesamping sebagian daun malah ada yang berbalik arah!”
Lo Tong tertawa cukup keras seperti mendengar sesuatu yang lucu, tapi sinar matanya tidak terlihat
tertawa, malah jengeknya:
“Seperti yang telah kau katakan, malam itu angin bertiup kencang sekali. Peristiwa itu bisa saja sebuah kebetulan”
“Benar! Akupun tadinya menganggap hanya sebuah peristiwa kebetulan. Sayangnya, pemandangan yang mirip terulang kembali ketika bedak nenek bongkok beterbangan tanpa menyentuh tubuh Khu Han Beng”
Dengan muka serius, Tan Leng Ko berkata perlahan:
“Hanya ilmu Bu Kek Kang Sinkang yang memiliki tenaga khikang yang begitu tebal sehingga dapat mementalkan benda sebelum menyentuh orangnya. Hanya ilmu Bu Kek Kang Sinkang yang dapat mencegah hancurnya kitab dari seranganku barusan!”
Setelah menelan ludah, Tan Leng Ko kembali melanjutkan:
“Ilmu yang baru saja kau gunakan, ilmu yang juga dimiliki oleh Khu Han Beng! Hek I Houw mengenali ilmu itu, ia tidak mau menyalahi dirimu makanya ia berbalik membantu kita”
Cukup lama Lo Tong termenung, kemudian tanyanya:
“Makanya kau yakin aku mempunyai hubungan dengan bocah itu?”
“Ditilik dari usia kalian, tidak mungkin kau menjadi muridnya. Kau adalah suhu Khu Han Beng yang sebenarnya!”
Diluar dugaan Tan Leng Ko, Lo Tong berreaksi kembali dengan tertawa, suara tawa yang terdengar rada janggal!
Setelah puas tertawa, Lo Tong bertanya menegaskan:
“Jadi kau menganggap aku suhunya Khu Han Beng?”
“Kau bukan saja suhu Khu Han Beng, kau juga sipencuri sakti yang telah menggegerkan tujuh perguruan besar!”
“Karena kau telah melihat salinan kitab kitab itu”
“Aku juga sudah memeriksa cutimu. Tahun ini, kau telah mengambil jatah liburmu lebih dari satu kali”
“Mengambil cuti merupakan hak ku”
“Benar! Hanya Giok Hui Yan pernah menyebut tempo hilangnya kitab kitab itu padaku. Tempo yang berdekatan dengan jadwal cutimu”
“Gadis Mi Tiong Bun itu menyebutkan hal ini padamu ketika kalian berbicara di ruang kerja Khu Congpiauthau?”
Sambil tertawa Tan Leng Ko berkata:
“Kau kelepasan bicara. Tidak seharusnya kau mengetahui kami membicarakan hal itu ketika berada di ruang kerja Khu Congpiauthau. Sekarang tambah tinggi keyakinanku, kau juga sekaligus locianpwee pemelihara Hek Pek Coa”
“Siapa locianpwee yang kau maksud?”
“He…he…he, kau tidak usah berlagak pilon. Ketika berada di pekarangan belakang toko buku, kusempat heran. Walau sakti tidak mungkin beliau tahu segala percakapanku dengan Giok Hui Yan, kecuali… kecuali saat itu beliau juga berada disini. ”
“Jadi kau menganggap aku adalah ‘dia’ dan mencuri dengar percakapanmu?”
“Tidak dapat kau mungkir bahwa kau memang tinggal disini dan kau tidak perlu mencuri dengar. Karena seperti Khu Han Beng, kau memiliki kemampuan mendengar hingga mencapai puluhan tombak jauhnya. Dan akupun mempunyai pertimbangan lain”
“Pertimbangan apa?”
“Tidak mudah untuk menggertak kabur Hek I Houw”
“Yaa, memang tidak mudah”
“Ketika ia bertarung dengan Bok Siang Gak, Sempat kusaksikan wajahnya menjadi pucat ketika
melihat daun yang menutupi kipas pemuda itu. Daun yang kuyakin dipetik dari pohon yang tumbuh dipekarangan belakang toko Gu-Suko”
Setelah menjilati bibirnya yang kering, Tan Leng Ko berkata dengan lambat:
“Pada malam penyerbuan, kembali kusaksikan wajahnya menjadi pucat ketika melihat daun yang terpental sebelum menyentuh dirimu. Hanya seorang tokoh sakti yang dapat membuatnya pucat hingga dua kali yaitu dirimu!
“Kenapa kau menganggap hanya seorang, tidak lebih?”
Tan Leng Ko termenung sejenak sebelum menjawab:
“Ketika locianpwee itu menggunakan istilah kami hingga tiga kali, aku kurang percaya jika dia kelepasan bicara. Kupikir beliau memang sengaja menyesatkan agar aku berkeyakinan kelompok kalian terdiri lebih dari satu orang”
“Apa alasannya?”
“Sebab sukar sekali berhubungan jika harus terus terusan main kucing kucingan, seperti yang kau lakukan dengan Khu Han Beng. Locianpwee itu memerlukan cara langsung untuk berkomunikasi denganku tapi juga tidak ingin kuketahui dia dan dirimu sebenarnya adalah satu orang. Kau tidak ingin aku mencurigaimu sebagai locianpwee itu. Kau akan tampil sebagai Lo Tong yang mendapat titipan pesan”
“Sehingga memerlukan penekanan di istilah kami agar kau berpikiran kelompok kami lebih dari satu orang dan aku dapat berperan sebagai perantara”
“Benar!” tegas Tan Leng Ko.
Kembali Tan Leng Ko mendengar Lo Tong tertawa. Tertawa bernada mengejek, yang membuat Tan Leng Ko tidak habis mengerti.
“Jika aku adalah dia, kenapa aku harus berhubungan langsung denganmu?”
Tan Leng Ko tidak langsung menjawab, ia mencoba menyusun perkataannya:
“Tadinya kuheran, tidak sedikit budi yang kau tanam padaku. Giok Hui Yan telah kau sembuhkan. Tenaga dalamku tidak sedikit kau tingkatkan bahkan memberikan salinan kitab Ouw Yang Ci To dan memberi peluang padaku untuk mempelajari kitab kitab itu. Kupikir tadinya seperti yang kau katakan, kau menginginkan aku memilki kemampuan yang cukup untuk menjaga ruangan ini. Hanya ada satu hal yang kurasakan janggal”
“Hal apa?”
“Ketika aku menolak mempelajari ilmu curian, kau seperti tidak acuh, seperti tidak peduli cukup atau tidak kepandaianku untuk menjadi penjaga ruang kitab. Benar, kemudian melalui Khu Han Beng kau berhasil memaksaku untuk mempelajari Ouw Yang Ci To. Tapi setelah kuketahui kau adalah penjaga kitab itu yang sebenarnya, dan dengan kepandaianku yang tidak nempil dibanding dirimu, lalu untuk apa kau tetap menarikku ke dalam lingkaran kalian? Begitu banyak yang telah kau lakukan untukku, sedangkan sebagai imbalan kau hanya ingin aku menjaga ruang pustaka ini. Sulit bagiku untuk percaya! Mustahil rasanya manfaat diriku hanya untuk itu bagimu.
“Keteranganmu terdengar saling bertentangan”
“Benar! Kepalaku sampai sakit memikirkannya. Tapi setelah kusaksikan kedahysatan Bu Kek Kang Sinkang, tiba tiba terpikir olehku”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Aku kau tugaskan untuk menjaga kamar pustaka ini tentu dikarenakan pusaka didalamnya. Kitab kitab itu bernilai penting bagimu sebab kalau tidak, tidak mungkin kau mau menjaga seketat itu. Tapi walau penting bagimu, kitab kitab itu sebenarnya tidak juga kau pandang sebagai pusaka seperti kebanyakkan orang. Sebab jika kau anggap sebagai pusaka, tidak mungkin kitab kitab yang lebih sakti malah kau kembalikan! Lagipula, kedahsyatan Buk Kek Kang Sinkang jauh lebih unggul daripada kitab kitab itu.”
Dengan nada berat, Tan Leng Ko berkata sekata demi sekata:
Yang benar benar kau anggap pusaka di dalam kamar itu, bukan lain adalah Khu Han Beng sendiri!”
Tan Leng Ko bersorak dalam hati ketika melihat perubahan diwajah Lo Tong. Cepat ia bertukas:
“Kau menarik diriku kedalam lingkaranmu karena kau benar benar membutuhkan bantuanku untuk menjaga atau membimbing Khu Han Beng”
“Kenapa bantuanmu diperlukan untuk membimbing bocah itu?”
“”Dengan caramu yang main sembunyi dan komunikasi yang minim, sukar sekali bagimu untuk membimbing bocah itu. Apalagi aku mempunyai sebuah benang yang tidak kau punyai”
“Benang apa?”
“Ikatan batin dengan Khu Han Beng!”
“Jangan lupa, kau baru saja mengenal bocah itu” jengek Lo Tong.
“Benar! Sekian tahun lamanya kau dan aku berada di Lok Yang Piaukiok, kenapa baru sekarang terjadi hal hal ini? Karena peristiwa terkutungnya gadis dari Bwe Hoa Pang memang baru baru saja terjadi. Setelah kau saksikan seorang bocah secara kejam menguntungi tangan seorang gadis muda tanpa perasaan. Baru kau menyadari telah berbuat kesalahan. Kau tidak begitu kenal dengan tabiatnya. Caramu mendidik Khu Han Beng dengan kucing kucingan ternyata berakibat hebat!”
Lo Tong terlihat murung, setelah termenung sejenak, akhirnya ia mengakui:
“Yaa, aku tidak menyangka ia begitu tega menguntungi tangan seorang gadis”
Melihat sikap Lo Tong yang mulai lunak, cepat Tan Leng Ko menukas:
“Kau mengira kejadian itu hanya peristiwa kebetulan disebabkan ia tidak tahu kemampuannya. Hanya kejadian barusan dengan nenek bongkok dan sihidung betet, jelas bukan kebetulan. Mau tidak mau timbul kekuatiran dihatimu”
Lo Tong menarik napas panjang sebelum bertanya:
“Apa yang kukuatirkan?”
“Kau ragu dengan watak bocah itu. Dengan kepandaiannya yang hebat dan hatinya yang tega, kau kuatir telah membesarkan seorang iblis yang jarang tandingannya. Baru tadi siang kumengerti kenapa kau mengirimnya ke siaulimsi”
“Kenapa ia harus dikirim ke Siaulimsi?”
“Ketika sihidung betet mengatakan bocah itu memiliki Bu Kek Kang Sinkang tingkat lima bahkan lebih tinggi dari tingkatan Goan Kim Taysu, lalu untuk apa kau mengirimnya ke siaulimsi? Mustahil untuk belajar silat”
“Menurutmu, untuk apa ia kesana?”
“Kau mengirimnya memang untuk belajar. Tapi bukan untuk belajar silat, melainkan untuk belajar ahlak budi pekerti yang tidak pernah ia pelajari”
Tan Leng Ko menghentikan perkataannya sesaat, kemudian lanjutnya:
“Seperti yang diucapkan oleh Hong Naynay, Khu Han Beng pergi ke Siaulimsi untuk belajar menjadi orang baik. Siapa lagi yang paling tepat untuk membimbingnya selain Goan Kim Taysu!”
“Bukankah bocah itu dapat mempelajari budi pekerti dari buku yang banyak dibaca olehnya?”
“Banyak sekali contoh seorang murid jahat yang mempunyai guru yang baik. Mempunyai seorang guru yang baik, bukan berarti seorang murid dapat berkepribadian baik, apalagi hanya membaca dari buku!”
Timbul juga rasa kagum di hati Lo Tong, tanyanya kemudian:
“Jika sudah ada Goan Kim Taysu, buat apa kau diperlukan?”
“Karena kau kurang yakin. Gimanapun juga hubungan Goan Kim Taysu dengan Khu Han beng tidak banyak beda seperti hubungan bocah itu denganmu, hubungan seorang guru dan murid yang mempunyai jarak tertentu. Apalagi Siaulimsi terkenal dengan banyaknya nasehat dan peraturan yang kaku, belum tentu bocah yang tidak gemar nasehat itu betah”
“Kau melupakan hubungan Khu Congpiauthau dengan cucunya”
“Walau terlibat pertalian darah, tapi dengan kesibukkannya, kita sama sama tahu, jarang sekali Khu Congpiauthau ada waktu luang untuk cucunya. Setelah peristiwa buntungnya lengan gadis itu, kau mengetahui hubungan kami menjadi dekat. Apalagi kau tentu telah mendengar percakapan kami di kamar Mo Tian Siansu. Kau telah menyadari, bocah yang haus kasih sayang, telah memperoleh perhatian dan menjalin ikatan benang merah dengan seorang sahabat yang bersifat kakak dan adik. Kau lebih yakin aku mempunyai kemampuan untuk mengarah dan mempengaruhi Khu Han Beng. Bukankah usia selikuran bocah itu lebih mendengar perkataan sahabatnya dibanding keluarga atau gurunya? Karena itulah, kau memerlukan untuk berhubungan langsung denganku. Itulah sebabnya kuyakin kau tidak dapat membunuhku”
Setelah terdiam sejenak, Tan Leng Ko kembali berkata:
“Menurutmu yang diperlukan Khu Han Beng adalah seorang yang bisa dijadikan contoh olehnya. dan ditinjau dari penolakkanku untuk mempelajari ilmu curian, dan dari bertahun tahun kita hidup bersama sedikit banyak kau mengetahui pribadiku. Kuyakin kau telah memilih aku”
“Apa dasar keyakinanmu?”
“Sekian tahun kemampuan Khu Han Beng berhasil kalian sembunyikan, kenapa malam itu dibukit belakang tiba tiba aku dapat menyaksikannya? Karena kau telah memutuskan untuk memasukkan diriku didalam lingkaranmu ”
Lo Tong terdiam, Tan Leng Ko juga berhenti bicara. Lama mereka berdua tidak berbicara. Akhirnya setelah menghela napas, Lo Tong berkata:
“Satu hal yang tidak kau ketahui, kepergian Khu Han Beng ke Siaulimsi memang sudah lama direncanakan, jauh sebelum ia mengutungi tangan gadis itu”
“Walau sudah lama kau rencanakan, toh kau merasa terlambat selangkah. Bunga yang baru mau mekar mulai menampakkan warna aslinya”
“Yaa, cara bocah itu menguntungi kelima lengan orang itu ganas sekali” ujar Lo Tong sedih.
Tan Leng Ko dapat merasakan kepedihan hati Lo Tong.
“Mungkin sifat ganasnya hanya sementara” hiburnya perlahan.
Tiba tiba mata Lo Tong seperti kilat mencorong tajam, memandang Tan Leng Ko yang menjadi terkejut. Tapi kemudian perlahan mata Lo Tong meredup. ujarnya:
“Pernahkah kau mendengar seseorang mendadak memiliki sinkang tangguh dalam tempo yang singkat?”
“Yaa, kutahu selain Hek Pek Coa, melalui operan sinkang tenaga seseorang juga dapat bertambah dengan cepat”
“Untuk perubahan itu, berapa lama tempo yang diperlukan?”
“Dalam hitungan jam, atau mungkin paling lama dalam satu hari” jawab Tan Leng Ko bingung. Ia tidak begitu mengikuti tujuan pertanyaan Lo Tong.
“Jika seseorang mendapat operan sinkang bertahun tahun lamanya, lalu apa jadinya?
“Menjadi seorang Khu Han Beng” jawab Tan Leng Ko ragu.
“Benar! Seorang manusia yang belum pernah ada, dan mungkin tidak pernah akan ada lagi”
“Maksudmu?” tanya Tan Leng Ko semaking tidak mengerti.
“Ketika kau muncul malam itu digua dibukit belakang, bocah itu sedang diperiksa. Pengoperan sinkang yang berlangsung lama, nampaknya mempunyai efek samping yang tidak diinginkan. Peredaran darah diotak kiri Khu Han Beng seperti mengalami kegangguan yang diduga mempengaruhi kemampuannya untuk menilai hal yang baik dan yang tidak”
“Apa yang kau katakan?” tanya Tan Leng Ko dengan terkejut. Hal ini benar benar diluar dugaannya.
Dengan sedih Lo Tong berkata perlahan:
“Jika dibiarkan, kukuatir tidak kecil kemungkinannya bocah itu menjadi seorang iblis!”
“Kenapa pengoperan sinkang tidak dihentikan jauh jauh hari?”
“Sebab hal itu baru baru saja diketahui”
Hati Tan Leng Ko tenggelam. Ia benar benar tidak menyangka urusan Khu Han Beng akan berkembang seperti ini!
Cukup lama ia berpikir sebelum berujar:
“Kau sendiri seperti tidak yakin dengan pendapatmu ini. Kudengar sendiri ia enggan melawan orang Pak Sian Gin Siauw. Kuyakin dia masih mampu membedakan”
“Justru karena hal itu, gangguan otaknya diperhitungkan masih menunjukkan gejala awal. Dan bocah itu tidak pernah mengeluh sakit, diharapkan masih ada waktu untuk menyembuhkannya”
Setelah termenung sejenak, Tan Leng Ko berkata perlahan:
“Ada satu hal yang aku kurang paham, menurut Khu Han Beng, bukankah kau tidak begitu menguasai ilmu pengobatan?”
“Aku menguasai ilmu peredaran darah manusia, apakah kau meragukan kemampuanku?” jengek Lo Tong.
Tan Leng Ko terdiam. Tidak mungkin baginya untuk meragukan kemampuan suhu Khu Han Beng yang berkepandaian seperti setan. Lagipula ia cukup tahu, ilmu pengobatan sangat erat dengan peredaran darah manusia. Tapi perkataan Lo Tong kemudian, cukup membuatnya tercengang.
“Kau tidak salah! Sebetulnya keyakinanku juga tidak terlalu tinggi” kata Lo Tong setelah menghela napas.
“Keyakinan yang mana?”
“Kuyakin peredaran darah diotak kirinya tidak lancar, terganggu sesuatu. Tapi apakah karena hal ini yang membuatnya bersikap sadis? Aku sendiri tidak yakin, hanya…”
“Hanya apa?” tanya Tan Leng Ko tertarik.
“Bu Kek Kang Sinkang berasal dari kaum Buddha. Tidak seharusnya menunjukkan perbawa kejam dan dingin seperti itu” jawab Lo Tong perlahan.
Mendengar ucapan Lo Tong, Tan Leng Ko hanya dapat menyengir. Sekian tahun, setahunya orang tua ini lebih banyak mabuk ketimbang sadarnya. Peranan Lo Tong sebagai locianpwee sakti itu, selain misterius juga terkesan licik, pandai memahami dan memanfaatkan kelemahan sifat manusia.
Sebagai seorang ahli ilmu aliran Mahayana, kelakuan Lo Tong sukar bagi Tan Leng Ko untuk mengatakan, telah mengikuti ajaran Buddha secara baik dan benar. Baginya, kelakuan Lo Tong tidak suci suci amat!
Tapi Tan Leng Ko tidak berkata apa apa, ia hanya menyimpan pendapatnya dalam hati. Ia malah bertanya:
“Aku tidak begitu paham ilmu pengobatan, apa yang kau ingin aku lakukan?”
“Kau cerdik dan banyak akal, apa yang bisa kau lakukan?”
Setelah berpikir sebentar, Tan Leng Ko berkata:
“Aku dapat mengunjungi sepasang tabib di gunung Pek Hoa San”
Lo Tong termenung sejenak, sahutnya kemudian:
“Kau berniat sekalian mencari kitab Hay Thian Sin Kiamboh dalam pengembaraanmu?”
“Benar! Hal ini kulakukan juga demi kepentinganmu”
Lo Tong berpikir sebentar, kemudian jawabnya:
“Yaa, sebaiknya kau mengunjungi Mi Tiong Bun. Bukankah kau sudah mengetahui pusat perkumpulan mereka”
Tan Leng Ko mengangguk. Dia memang telah diberitahu oleh Giok Hui Yan.
“Kuingin bertemu denganmu disebabkan ada beberapa hal yang ingin kutanya padamu”
“Apakah kau hendak menanyakan soal pencurian kitab itu?”
“Benar! Kutahu aku tidak bodoh. Giok Hui Yan juga seorang gadis pintar. Tapi kami tidak berhasil menerka kenapa kau mencuri dan kemudian mengembalikan kitab kitab itu”
“Dan kau ingin mengetahuinya?”
Sambil tersenyum pahit, Tan Leng Ko menjawab:
“Kepalaku sering sakit memikirkan hal itu. Bahkan tidak jarang sukar tidur nyenyak”
Lo Tong nampak terlihat ragu.Lama ia termenung.
“Kujamin, rahasiamu akan kujaga. Kuharap kau mau menerangkannya” pinta Tan Leng Ko, matanya nampak memelas sekali. Belum pernah seumur hidupnya ia memohon dengan cara demikian.
“Goan Kim Taysu mengetahui urusan ini. Kau boleh bertanya padanya” akhirnya Lo Tong menjawab dengan tegas.
Tan Leng Ko menghela napas, perasaannya kecewa bukan main. Seorang naga sakti memang sukar dianggap berhutang jawaban pada orang lain, tapi ia masih ingin mencoba:
“Tidak banyak guru yang begitu mengalah pada muridnya. Dapat kurasakan kau sayang pada Khu han Beng. Tapi anehnya, kau malah bermain kucing kucingan dengannya bahkan tidak mengijinkan dia bertemu muka denganmu. Apa sebenarnya hubunganmu dengan dia?”
Biji mata Lo Tong seperti mendelik keluar. Ujarnya dengan dingin:
“Apakah kau lupa dengan laranganmu?”
“Bukankah aku dijinkan untuk bertanya sebanyak enam kali. Nah, sekarang kugunakan jatah bertanyaku yang terakhir”
“Jatahmu hanya berlaku untuk bertanya padanya. Kau tidak mempunyai jatah bertanya padaku”
“Jangan kau lupa, kau sangat memerlukanku” jengek Tan Leng Ko kesal.
“Walau kau diperlukan, bukan berarti semua urusan kau bisa seenaknya banyak bertanya, mengerti kau!”
Tan Leng Ko menyengir. Orang luar biasa ini, tidak doyan harta, perempuan, nama. Tidak tertarik kepada hal hal yang menarik bagi orang awam umumnya. Selain doyan arak, naga sakti ini hanya gemar memberi larangan.
“Tapi ada satu persoalan yang harus kubicarakan padamu” ujar Tan Leng Ko mendadak dengan muka serius.
“Persoalan apa?”
“Sudah banyak tahun kau ikut makan nasi di Lok Yang Piaukiok. Sungguh mengecewakan, kau yang berkepandaian tinggi tidak berusaha mencegah bencana”
Untuk ke sekian kalinya, Tan Leng Ko menangkap sinar kepedihan yang terpancar dari mata Lo Tong.
“Yaa, kejadian itu memang kusesalkan” ujar Lo Tong perlahan.
“Kenapa kau tidak membantu ketika Lok Yang Piaukiok diserbu?”
Cukup lama Tan Leng Ko menunggu jawaban dari Lo Tong. Sayang, tidak terlihat usaha Lo Tong untuk menjawab. Ia malah termenung diam.
“Puluhan piausu tidak perlu tewas, jika kau ikut turun tangan” ujar Tan Leng Ko perlahan.
Tiba tiba Lo Tong tertawa aneh.Tan Leng Ko dapat merasakan kedukaan yang terkandung dari suara tawanya.
“Keadaan waktu itu belum terlampau genting. Belum saatnya aku turun tangan”
“Haruskah menunggu terbantai semua, baru kau mau turun tangan?” jengek Tan Leng Ko.
Lo Tong tidak menjawab, ia hanya menghela napas. Kemudian melangkah pergi. Melihat kelakuan Lo Tong yang rada janggal seperti menyesal, Tan Leng Ko tidak mendesak lebih jauh. Ia hanya berseru:
“Tunggu sebentar!”
Lo Tong menghentikan langkahnya, kemudian menoleh.
“Benarkah kau buta huruf?”
Ujung bibir Lo Tong seperti menyungging senyuman. Sebuah senyuman yang terlihat misterius sekali.
******************************
Besok paginya, kendati udara mendung dan udara lebih dingin dari biasanya. Jenis udara yang membuat malas bangun dari tidur. Bukan saja dia sudah bangun dan mandi, bahkan sudah mundar mandir kesana kemari mencari Lo Tong.
Semalam dia tidur dikamar Khu Han Beng untuk pertama kalinya. Ketika ia membuka mata, untuk pertama kalinya ia merasakan ruangan kamar itu mendadak terasa lebih luas dari biasanya.
Kitab kitab yang memenuhi rak rak kamar Khu Han Beng mendadak lenyap. Yang menghilang bukan saja kitab kitab salinan itu, bahkan Lo Tong juga tidak terlihat batang hidungnya.
Ketika Tan Leng Ko bertanya pada piasu penjaga, ia mendapat keterangan bahwa Lo Tong pagi pagi sekali sudah mengendarai kereta barang katanya sedang melakukan tugas atau pesanan terakhir dari
Beng-Sauya untuk memindahkan kitab kitabnya.
Tentu Lo Tong telah menotok urat nadi pulasnya ketika ia tidur sehingga ia tidak menyadari perbuatan orang tua itu. Kuat dugaan Tan Leng Ko, Lo Tong tentu membawa kitab kitab itu ke toko buku Gu-Suko.
Apakah Lo Tong memindahkan kitab kitab itu karena ia menolak untuk mempelajarinya atau dikarenakan kamar Khu Han Beng sudah dianggap tidak aman lagi?
Tan Leng Ko sedang menimbang apa sebaiknya menunggu Lo Tong pulang atau mencarinya ke toko buku. Sambil merenung ia berjalan menuju ruang makan, mendadak ia dihadang oleh Hong Naynay.
Tan Leng Ko menghela napas panjang. Lo Tong yang ia cari tidak ketemu, yang dia tidak cari malah sedang melotot padanya.
“Jika kau kehilangan arak, aku sudah kapok mencurinya” kata Tan Leng Ko seraya menyengir.
Sebetulnya ia baru mau mencuri, dan belum bisa dibilang berhasil tapi malah sudah memetik getahnya.
Hong Naynay menggeram dan mulai menggenggam ujung sendok kayunya yang menyorong ke kanan di tali ikat pinggangnya.
Melihat perbuatan Hong Naynay, lekas Tan Leng Ko menukas:
“Masih berdenyut sakit kepalaku kau pukul kemarin. Aku sudah tidak mau kau pukul lagi. Kali ini aku akan menghindar!”
Hong Naynay melotot sejenak, kemudian katanya dengan tenang:
“Kau sudah tidak mau kupukul lagi?”
“Kepalaku berubah bentuk karena sudah terlampau sering kau ketok. Seperti kukatakan barusan, aku sudah tidak mau kau pukul lagi”
Tiba tiba Hong Naynay mengeluarkan pertanyaan yang terdengar janggal:
“Yakinkah kau dapat menghindari seranganku?”
“Tentu saja yakin! Memangnya kau menguasai kepandaian tinggi?” tanya Tan Leng Ko heran.
Selesai bertanya mendadak raut muka Tan Leng Ko berubah. Hatinya terkesiap. Jika Lo Tong yang bertahun tahun ia kenal ternyata memilki kepandaian sakti, apakah Hong Naynay seperti Lo Tong? Seekor naga yang bersembunyi?
Tiba tiba Tan Leng Ko memandang Hong Naynay dengan penuh perhatian. Biasanya jarang sekali ia memerhatikan Hong Naynay. Boleh dibilang belum pernah ia memandangnya selama dan seteliti sekarang.
Muka Hong Naynay yang cemong asap dapur masih terlihat menakutkan. Rambutnya yang kasar, mengejang kaku terurai kebelakang. Mirip buntut seekor kuda yang diberi tali pengikat. Bajunya yang belepotan, ternoda percikkan minyak dan kotoran makanan tidak terkesan luar biasa.
Yang luar biasa adalah sepasang tangannya, bagaikan bumi dan langit menyolok sekali bedanya! Tangannya terlampau bersih, bersih dari segala kotoran dapur bahkan kuku sepuluh jarinya juga dipotong pendek pendek. Tangan Hong Naynay mirip dengan keadaan tangannya.
Sebagai seorang ahli golok, Tan Leng Ko juga mempunyai kebiasaan itu!
Kebiasaan bertahun tahun yang hanya dimiliki seorang ahli golok yang menghormati dan tidak mau mengotori senjatanya.
Kebiasaan yang juga dipunyai seorang ahli pedang yang tidak membiarkan kuku jarinya menghalangi gerakkan mencabut senjatanya. Apakah Hong Naynay seorang ahli pedang?
Hong Naynay mendengus, perlahan tangannya menggeser menjauhi sendok kayunya. Kemudian membalikkan tubuh meninggalkan Tan Leng Ko.
“Kenapa kau batal memukulku?” seru Tan Leng Ko tanpa ia sadari.
Yang ditanya menghentikan langkahnya, kemudian memutar tubuh sambil mendelik ia berkata perlahan:
“Pernah kau melihat aku gagal menggetok kepala orang?”
Tan Leng Ko terhenyak mendengar pertanyaan ini. Benar juga! Bertahun tahun ia berada disini, seingatnya tidak ada yang pernah berhasil menghindar serangan getokkan sendok kayu Hong Naynay.
“Tidak pernah!” jawab Tan Leng Ko dengan jantung berdegup.
“Tahukah kau sebabnya?” desak Hong Naynay.
“Apakah karena kau memiliki kepandaian tinggi?” tanya Tan Leng Ko dengan hati tegang.
“Diatas langit ada langit, jika kepandaianku tinggi tentu ada yang berkepandaian lebih tinggi dariku. Makanya aku tidak mau mengatakan kepandaianku tinggi. Aku lebih suka mengatakan kepandaianku tidak ada lawannya”
Mendengar pembicaraan Hong Naynay yang ngelantur gak karuan, Tan Leng Ko justru berlega hati. Tidak ada seorang jago silat yang mengakui dirinya sudah mencapai tanpa tandingan. Sekenanya
Tan Leng Ko bertanya:
“Sebab apa?’
“Sebab aku hanya memukul jika memiliki keyakinan akan berhasil. Makanya sendok kayuku tidak pernah meleset” ujar Hong Naynay tawar.
“Jika tidak memiliki keyakinan itu, kau tidak mau memukul?”
“Benar!”
“Barusan kau urung memukulku karena tidak yakin berhasil?”
“Benar!”
“Jika aku terus menghindar sehingga kau selalu tidak yakin. Bukankah kepalaku akan bebas dari pukulanmu!” ujar Tan Leng Ko sambil menyeringai senang.
Mendengar uraian Tan Leng Ko, Hong Naynay seperti tertarik. Tanyanya dengan perlahan:
“Apakah kau mengajak aku bertaruh?”
“Bertaruh apa?”
“Sebelum siang hari, kujamin kepalamu sedikitnya telah kupukul satu kali!”
Hong Naynay mengucapkannya dengan kalem, tidak mengandung kemarahan maupun ancaman. Justru hati Tan Leng Ko menjadi berdebar sebab cara berbicara Hong Naynay seperti diiringi kepercayaan diri yang tinggi!
Cara berbicara Hong Naynay, seperti disertai semacam pengaruh kuat yang memaksa Tan Leng Ko mau tidak mau percaya atas kemampuan wanita gemuk itu.
Dengan hati bingung dan masih berdebar, Tan Leng Ko menjawab ragu:
“Aku tidak mau bertaruh”
“Kau tidak berani!” jengek Hong Naynay.
“Aku bukan tidak berani,hanya tidak ingin bertaruh”
“Lalu apa yang kau inginkan?”
“Yang kuinginkan hanya sarapan pagi. Lekas kau siapkan bubur ayam kesukaanku”
“oOo, kau ingin sarapan. Baik! Kau boleh tunggu di ruang makan, akan kuhantar sarapanmu kesana”
Tan Leng Ko mengangguk. Kemudian melangkah keruang makan. Begitu tiba, ia langsung menarik kursi, dan duduk merenung.
Apa yang diandalkan Hong Naynay hingga memiliki keyakinan begitu tinggi hingga berani bertaruh dengannya? Apakah ia memiliki kepandaian hebat seperti Lo Tong? Benarkah ia sudah mencapai tingkatan tanpa lawan?
Selagi ia asyik termenung, tak lama kemudian, Hong Naynay datang dengan membawa dua baki besar yang ditutup rapat oleh tudung saji sehingga makanan panas tidak lekas mendingin.
Hong Naynay menyusun kedua baki besar itu seperti sebuah barisan. berjejer di depan Tan Leng Ko yang kemudian membuka tudung saji baki pertama.
“Apa ini!” teriaknya melihat beras, minyak, sepotong daging ayam mentah dan bahan bahan mentah lain.
“Masakkan kau tidak dapat menerka, ini adalah bahan bahan yang diperlukan untuk memasak bubur ayam” ujar Hong Naynay dengan tenang.
“Apakah kau sudah tidak mau memasak untukku?” tanya Tan Leng Ko gelisah.
Hong Naynay tidak menjawab, melainkan menatap Tan Leng Ko dengan dingin.
Melihat Hong naynay merajuk. Tan Leng Ko lekas berdiri mencoba merayunya:
“Masakkan kau hendak membikin susah padaku. Kau tahu aku sangat menggemari masakkanmu. Apa kesalahanku coba kau katakan…”
Tidak ada reaksi dari Hong Naynay. Wajahnya tidak menunjukkan suatu perubahan, tetap menatap Tan Leng Ko dengan dingin.
“Apa yang kau inginkan kau boleh…boleh sebutkan” bujuk Tan Leng Ko.
Mendadak Hong naynay menengok keluar sambil menggumam pelan:
“Sebentar lagi, hari tentu sudah siang!”
Tan Leng Ko mengeluh dalam hati, tiba tiba ia paham apa yang diingini Hong Naynay.
“Jika kau hendak mengetuk kepalaku, tentu saja aku tidak berani menghindar” katanya perlahan.
Mata Hong Naynay seperti berkeredip senang dengusnya dengan dingin:
“Apakah kau sedang bilang padaku, mendadak kau ingin diketuk kepalanya?”
“Yaa, aku memang bilang demikian” kata Tan Leng Ko tersenyum pahit.
“Dan tidak ada yang memaksamu. Kau sendiri yang senang dipukul?”
“Entah kenapa, tiba tiba aku rindu dipukul olehmu” ujar Tan Leng Ko menyengir.
“Dan kau tidak akan menghindar?”
“Dan Aku tidak ingin menghindar”
Dalam gerakkan yang seperti sudah terlatih ribuan kali, Hong Naynay mencabut sendok kayunya dan mengetok kepala Tan Leng Ko dengan keras.
“Tok!” Tan Leng Ko menyeringai kesakitan. Benjol kemarin yang baru mengempis, kembali membengkak, tapi ia tidak berani mengeluh.
Hong Naynay menatapnya dengan tajam sambil berkata sekata demi sekata
“Bukankah pernah kukatakan, sendok kayuku tidak pernah meleset!”
Sambil menyengir, Tan Leng Ko menjawab:
“Pendekar budiman, Li Sun Hoan terkenal pisaunya tidak pernah meleset. Konon katanya, Seratus kali timpuk seratus kali kena! Tapi, kuyakin pisaunya belum tentu dapat menyaingi sendok kayumu”
sambil mengelus perlahan sendok kayunya, Hong Naynay bertanya dengan acuh:
“Pisaunya lebih hebat atau sendok kayuku yang lebih hebat!”
“Sudah pasti, sendok kayumu!”
“Apakah kau sedang menjilat pantatku?”
Tan Leng Ko berusaha sekuat tenaga untuk tidak melirik pantat Hong Naynay yang sebesar tampah!
Apalagi membayangkan menjilati bagian itu, bisa muntah muntah dia.
Dengan wajah serius Tan Leng Ko berkata:
“Aku tidak sedang mengumpak. Kuyakin sendok kayumu lebih hebat!”
“Kenapa sendok kayuku lebih hebat?”
“Sebab sendok kayumu telah menggetok kepalaku sedikitnya seribu kali. Seribu kali getok, seribu kali kena! Sedikitnya, kau sepuluh kali lipat lebih hebat dari pada Li Tamhoa!”
“Hm…lumayan juga ucapanmu, dan mujur juga nasibmu”
Tan Leng Ko meringis. Kemarin kepalanya digetok hingga pingsan, tubuhnya dibuang ke tempat sampah. Sekarang kepalanya kena sial lagi digetok tanpa ia dapat menghindar. Dan nasibnya dibilang lagi mujur!”
“Jika kau tadi berani bertaruh denganku…”
“Sekarang aku sudah kalah!”
“Kau tidak mau bertaruh denganku. Selain nasibmu mujur, boleh dibilang kau cerdik juga!”
Tiba tiba sendok kayunya melayang mengetuk kepala Tan Leng Ko satu kali lagi.
“Auw! Kenapa kau ketuk kepalaku lagi?” protes Tan Leng Ko sambil mengelus kepalanya yang benjol.
“Bukankah pernah kukatakan, sebelum siang sedikitnya kepalamu kupukul satu kali. Lagipula kali yang kedua, anggap saja sebagai hukuman!”
“Hukuman apa?” tanya Tan Leng Ko kesal sambil mengelus kepalanya.
“Walau kadang kau cerdik, tapi lebih sering tetap bodoh!”
“Maksudmu?”
Dengan raut muka mencemohkan, Hong Naynay berkata perlahan:
“Aku tidak pernah bilang, aku tidak mau memasak bagimu lagi”
“Tapi barusan kau …?” Tan Leng Ko menghentikan perkataannya. Baru ia ingat, Hong Naynay memang tidak pernah mengatakan tidak akan memasak baginya lagi.
“Yang kulakukan hanya menunjukkan bahan bahan yang diperlukan untuk memasak bubur. Semuanya merupakan buah pemikiranmu yang sok cerdik!” kata Hong Naynay dengan acuh.
Tan Leng Ko memandang Hong Naynay dengan bengong.
“Kau sendiri yang terlampau cepat menarik kesimpulan” lanjut Hong Naynay dengan tawar.
Tanpa memperdulikan Tan Leng Ko yang melongo, Hong Naynay membuka tudung saji dari baki makanan yang kedua. Nampak bubur ayam yang berkuah kuning, lezat. Baunya yang gurih sungguh mengundang dan membangkitkan selera makan.
“Jika kau langsung membuka kedua tudung itu. Kepalamu tidak perlu dikorbankan. Soalnya, kau memang sok pintar!” dengus Hong Naynay sambil nyelonong pergi kedapur meninggalkan Tan Leng Ko yang ngejublak berdiri bodoh.
Sungguh ia tidak menyangka dirinya bisa dikerjai Hong Naynay!
Tiba tiba Tan Leng Ko tertawa terbahak bahak. Ia sedang menertawai dirinya yang sempat mencurigai Hong Naynay.
Benar! Hong Naynay memang memiliki kepandaian. Kepandaian sakti yang lebih hebat dari ilmu silat sehingga dapat menimbulkan kepercayaan diri yang begitu tinggi. Kepercayaan diri yang tinggi bukan saja ditimbulkan dari kepandaian mengolah masakkan, juga mengetahui kebiasaannya yang gemar
memakan bubur ayam terutama sebagai sarapan pagi. Pantas perempuan gemuk itu berani menjamin sebelum siang dapat menggetok kepalanya.
Tidak salah ucapan pepatah kuno. Konon kelemahan lelaki terletak disekitar perutnya. Jika kepandaian masakmu tidak mampu menjinakkan lelaki, maka kau harus menguasai kepandaian lain yang berkisar beberapa inci lebih rendah dari perutnya. Untung kebanyakkan perempuan, hanya menguasai satu dari dua kepandaian ini.
Teringat soal perut, timbul kembali rasa laparnya. Segera Tan Leng Ko duduk menikmati sarapannya. Baru ia makan satu dua suap, seorang piasu masuk dengan tergesa gesa. Melihat anak buahnya berwajah tegang, Tan Leng Ko menghela napas. Kembali Lok Yang Piaukiok kedatangan tamu yang tidak diundang.
Segera ia melangkah keluar. Raut mukanya ikut menjadi tegang ketika melihat sebuah tandu yang digotong oleh empat tukang pikul. Apakah suheng sihidung betet telah datang?
Selain keempat tukang pikul itu, Tan Leng Ko tidak melihat yang lain. Ia mengawasi mereka dengan seksama. Peluh yang mengucur dan kepenatan yang terpancardi wajah mereka, tidak berciri seorang ahli silat. Tan Leng Ko menarik napas lega, ia berkesimpulan keempat orang itu benar benar kuli pekerja.
Perlahan tandu itu diturunkan. Tan Leng Ko yakin, tentu seorang perempuan yang berada di dalamnya. Tandu itu berkain merah jambu, dihiasi beberapa lampiun kecil yang juga bewarna merah, Tidak mungkin suheng sihidung betet seorang perempuan. Siapa perempuan ini dan untuk apa ia kemari?
Tiba tiba suara merdu berkumandang halus dari dalam tandu.
“Kudatang kemari untuk mencari seseorang”
“Siapa yang kau cari?”
“Seorang piasu”
“Ada puluhan piasu disini. Lebih mudah, jika kau menyebut namanya”
“Aku tidak tahu namanya. Hanya kutahu dia mempunyai ciri”
“Apa cirinya?”
“Kepalanya tidak berambut”
“Walau sekarang lebih mudah, tapi sedikitnya masih lima enam orang piasu yang berkepala gundul”
“Konon setengah wajahnya bewarna putih, dan setengah lagi bewarna hitam”
Hanya satu orang piasu yang mempunyai ciri demikian.
“Akulah orang yang kau cari” ujar Tan Leng Ko setelah menghembuskan napas, ia mengerahkan tenaga dalamnya.
Sebuah tangan kanan berjari lentik dan berkulit halus, membuka tirai tandu. Seorang perempuan berusia muda, berhidung mancung dengan rambut hitam yang menutupi sebagian raut wajahnya yang cantik. Rambut indah yang panjang, yang dibiarkan tergerai di dadanya
Sayang matanya yang indah berkaca kaca digenangi oleh air mata. Disekitar kedua matanya sembab memerah, nampak sekali tidak sebentar perempuan ini menangis dan tidak sedikit ia telah menangis.
Perempuan itu menatap Tan Leng Ko sekejap. katanya kemudian:
“Kulihat mukamu tidak berbeda dengan yang lain”
Terkejut juga Tan Leng Ko mendengarnya, lekas ia melirik kedua tangannya. Timbul rasa herannya, kedua pergelangan tangannya terlihat normal, tidak belang belang seperti biasanya. Baru ia sadar, sudah lama ia tidak merasakan hawa liar itu, apakah ia telah berhasil melebur Hek Yang Pek Im
Sinkang dengan racun Hek Pek Coa?
Tan Leng Ko cukup menyadari bukan saatnya memikirkan hal itu sekarang, katanya setelah menghela napas:
“Aku sendiri juga tidak tahu kenapa mukaku tidak belang belang, tapi akulah orang yang kau cari”
Kembali perempuan itu menatap Tan Leng Ko tanpa berkedip bahkan cukup lama. Tentu saja Tan Leng Ko menjadi risih berbareng heran.
Dia dapat merasakan sorotan mata perempuan itu selain mengandung kesedihan juga rasa penasaran yang dalam.
“Untuk apa kau mencariku?” tanyanya perlahan.
“Pernahkah kita bertemu?” perempuan itu balas bertanya.
“Tidak pernah!”
“Cantikkah aku?” tanyanya tiba tiba.
Bingung juga Tan Leng Ko ditanya demikian. Sahutnya dengan heran:
“Kita tidak saling kenal. Kau tidak tahu namaku, akupun tidak kenal denganmu. Apa hubungannya kau cantik apa tidak?”
“Cantikkah aku?!” bentak perempuan itu disertai isak tangis yang memilukan.
Tan Leng Ko tidak tega.
“Yaa, kau cantik, sangat cantik malah” hiburnya dengan suara lembut.
“Masih cantikkah aku?” tanya perempuan itu dengan suara parau.
“Kau…?!” ucapan Tan Leng Ko terhenti ketika melihat kedua tangan perempuan itu digerakkan untuk menyisir rambutnya kebelakang.
Berubah hebat wajah Tan Leng Ko melihat wajah cantik perempuan itu menjadi mengerikan. Kedua daun telinganya lenyap, darah masih menetes dari luka yang belum mengering. Tangan kirinya yang selama ini disembunyikan di balik selimut, nampak dibalut kain putih dengan bercak darah merah yang masih basah.
Kelima jari tangan kirinya terkutung putus tersayat pedang. Dari tabasannya yang tidak rata, Tan Leng Ko paham, kelima jari tangan kiri perempuan itu tidak dipotong dalam satu kali tabas melainkan dipotong satu per satu!
Siapapun yang melakukan bukan saja kejam bukan main, nampaknya juga gemar menyiksa orang.
Dengan tatapan berlinang air mata, gadis itu berkata dengan sedih:
“Aku tidak kenal dirimu, dan kau tidak kenal denganku. Tapi aku menjadi begini justru karena ulahmu. Jika kita tidak saling kenal, kenapa kau melibatkan aku dalam urusanmu?
“Urusanku yang mana?” tanya Tan Leng Ko makin tidak mengerti.
“Aku tidak tahu urusanmu, yang kutahu hanya urusan memijat dan menemani pria kesepian. Apa salahku hingga nasibku menjadi begini?” gadis itu kembali menangis tersedu sedu.
Mendadak, terlintas sebuah nama dibenak Tan Leng Ko, katanya dengan tercekat:
“Apakah orang she Pek yang membuat cacad dirimu?”
Disela sela isak tangisnya, gadis itu menjawab:
“Benar! katanya aku mengucapkan perkataan yang seharusnya tidak kukatakan”
Leher Tan Leng Ko seperti tercekik menahan emosinya, dia telah berbuat salah! Kesalahan fatal yang dibayar oleh orang lain. Orang yang tidak tahu menahu dan sama sekali tidak bersalah!
“Giok Si!” ucap Tan Leng Ko lirih.
“Benar! Akulah Giok Si yang bernasib malang!”
Otot dirahang Tan Leng Ko bergerak gerak, matanya memancarkan sinar kegusaran. Belum pernah ia semarah ini! Hatinya selain marah juga menyesal bukan main. Tidak seharusnya nama gadis ini
dibuat permainan olehnya. Karena perbuatannya, gadis ini menanggung penderitaan hebat!
Walau ia tahu Pek Kian Si bukan bukan jenis manusia baik baik, tapi Tan Leng Ko benar benar tidak menyangka wataknya bisa sekejam ini. Percuma orang she Pek itu menggunakan gelar pendekar!
Tan Leng Ko bersumpah dalam hatinya. Kelak jika ia bertemu dengan Pek Kian Si bukan hanya telinga dan jari tangannya yang ia ingin tebas, bahkan bagian menonjol yang membedakan kelamin pria dan wanita, ingin ia tebas putus!
“Yaa, tidak seharusnya aku melibatkan kau dalam urusanku. Kutahu permintaan maaf saja tidak akan cukup, apa yang kau inginkan dariku?” tanya Tan Leng Ko setelah menghela napas.
Tangisan Giok Si perlahan mulai mereda, ujarnya dengan sedih:
“Kondisiku sekarang tidak memungkinkan aku untuk bekerja. aku pun telah diusir dari tempat kerjaku yang sekaligus tempat tinggalku. Selain tidak punya sanak keluarga juga tidak punya rumah, aku juga tidak memiliki banyak uang”
Mengingat nasibnya yang buruk, Giok Si kembali mengeluarkan air mata:
“Nasibku menjadi begini gara garamu. Justru hal ini yang ingin kutanya padamu. apa yang ingin kau lakukan”
Tan Leng Ko tertegun. Benar yg diucapkan gadis itu, nasibnya menjadi begitu gara gara dia. Tidak mungkin dirinya mengelak tanggung jawab, hanya dia sendiri juga bingung harus berbuat apa.
Dengan ragu Tan Leng Ko berujar:
“Kutahu harus bertanggung jawab, sayangnya aku sendiripun tidak tahu apa yang harus kulakukan”
Giok Si menghentikan tangisnya, kemudian berkata hambar:
“Kau bunuh saja diriku”
Berdesir hati Tan Leng Ko mendengarnya, cepat ia menukas:
“Tidak mungkin aku melakukan itu. Kau tidak perlu mati, yang salah adalah diriku bukan dirimu”
Dengan pandangan nanar, Giok Si menatap Tan Leng Ko, ujarnya perlahan:
“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menyambung hidup”
Tan Leng Ko termenung sejenak, kemudian katanya dengan lembut:
“Jika kau mau, kau sebaiknya tinggal disini dulu”
“Sungguhkah perkataanmu?”
“Yaa, sedikitnya, kau harus mengijinkan aku berbuat sesuatu untukmu”
Melihat Giok Si seperti menerima permintaannya, diam diam Tan Leng Ko menarik napas, dia menyadari bahunya telah menanggung sebuah beban yang berat. Tanpa banyak bicara ia segera membayar ongkos kepada pemikul tandu yang kemudian segera berlalu dari situ.
Sambil memandang gadis itu sekejap, dengan likat Tan Leng Ko memperkenalkan diri:
“Aku she Tan, bernama Leng Ko”
Giok Si mengangguk sambil tertawa halus. Sungguh cepat perubahan perasaan gadis itu. Tangisnya memilukan, suara tertawanya juga renyah, enak didengar.
Tidak tahu apa yang mesti ia perbuat kepada gadis itu, dengan ragu Tan Leng Ko berkata:
“Aku sedang sarapan pagi. apakah kau sudah makan?”
“Aku menemanimu makan saja” ujar Giok Si dengan lembut.
Bertahun tahun bekerja di rumah pelacuran Lampiun Merah, tentu tidak sedikit pengalaman Giok Si bermasyarakat, khususnya cara menghadapi kaum pria. Dia tahu kebanyakkan kaum pria lebih menyukai kelembutan, terutama kelembutan dari seorang wanita.
Beriringan mereka berjalan menuju ruang makan.
“Jika kau coba bubur ayam Hong Naynay, kujamin kau akan ketagihan”
Giok Si menolak secara halus. Sambil meracik, menambah serat daging ayam di mangkuk Tan Leng Ko ia berkata:
“Kuyakin tentu enak, hanya aku sarapan pagi biasanya sekitar jam tujuh. Sekarang terlalu siang untuk sarapan, juga terlalu pagi untuk makan siang”
Tertawa juga Tan Leng Ko mendengar ucapan itu, katanya sambil menyuap buburnya:
“Apa yang biasa kau makan?”
“Aku gemar sarapan buah buahan. Segala macam buah aku suka”
“Hanya buah? Kau tidak memakan yang lain?”
Sambil tertawa halus Giok Si berkata:
“Bertahun tahun aku terbiasa sarapan hanya dengan buah buahan. sukar bagiku untuk memakan yang lain”
Tan Leng Ko mengangguk.
“Yaa, ucapanmu tidak salah. aku pun sarapan hanya dengan bubur ayam. Suatu kebiasaan yang sukar kurubah”
“Trang!!!” Giok Si terkejut melihat mangkuk penuh bubur yang dipegang Tan Leng Ko jatuh ke lantai, isinya tumpah bertebaran kemana mana!
Dengan pandangan heran, ia menatap Tan Leng Ko yang terlihat termangu dengan wajah pucat.
Dengan tegang, mendadak Tan Leng Ko bertanya:
“Jika setiap pagi kau mempunyai kebiasaan menyantap lima butir telur…”
Mendengar pertanyaan yang lucu, tidak tahan Giok Si tertawa,
“Aku tidak akan memakan hanya empat butir. Akupun tidak mau memakan enam butir telur” jawabnya halus.
Kenapa?” desak Tan Leng Ko.
Giosk si mengangkat bahu
“Entah. Seperti yang kau katakan barusan, sukar untuk merubah sebuah kebiasaan”
“Dan kebiasaan orang yang tidak pintar, jarang sekali tiba tiba pintar?” tanya Tan Leng Ko dengan bodoh.
“Benar!” jawab Giok Si yang semakin heran.
Tanpa mempedulikan Giok Si yang bengong melihat kelakuannya yang aneh, Tan Leng Ko bergegas menujur ruang kerja Khu Congpiauthau. Hampir ia menabrak patung kayu Mik Lik Bud atau patung Buddha tersenyum yang cukup besar, yang terletak disebelah rak lemari buku.
Dengan kasar, Tan Leng Ko meraih buku jurnal kerja, menarik sebuah kursi, duduk dan membalik balik beberapa halaman. Setelah yakin dengan apa yang dibacanya, Tan Leng Ko termenung.
Cukup lama ia mengenal Lo Tong, belum pernah sekalipun ia lihat Lo Tong memakan telur rebus. Begitu bangun tidur, yang merupakan sarapan orang tua itu adalah arak, sedikitnya lima cangkir!
Benar jadwal cuti Lo Tong berdekatan dengan kejadian pencurian kitab, tapi paling lama ia hanya mengambil cuti sebulan. Tidak peduli bagaimana hebatnya kepandaiannya, perjalanan ke Kun Lun San terlampau jauh, sedikitnya memerlukan tiga bulan untuk pulang pergi.
Bukankah ketika malam penyerbuan, Khu Han Beng pernah mengatakan dia berlatih sedari pagi dengan gurunya diatas bukit sedangkan Lo Tong jelas berada di Lok Yang Piaukiok.
Bocah itu juga bilang jika tidak terpaksa dia dilarang menunjukkan kepandaiannya, mirip dengan ucapan Lo Tong yang merasa belum saatnya ia turun tangan ketika terjadi penyerbuan. Seperti Khu Han Beng, Lo Tong juga terikat oleh larangan itu.
Caranya membotakki Su-lopeh bertiga terlalu kasar, terlampau iseng dan tidak pintar. Cara yang lebih mirip orang mabuk ketimbang cara kerja locianpwee itu yang ia kenal sangat licik dan cerdik.
Juga dalam percakapan dengan dirinya semalam, Lo Tong sering menggunakan kata pasif,
direncanakan, diperiksa, diduga, diharapkan dan yang lain. Suara tertawanya juga terdengar janggal ketika ditunding sebagai guru Khu Han Beng.
Napas Tan Leng Ko seperti terhenti. Dia telah salah menarik kesimpulan. Sekarang ia lebih yakin:
Lo Tong bukan suhu Khu Han Beng yang sebenarnya!
Tamat

Iklan

9 thoughts on “Bu Kek Kang Sinkang (Seri 1)

  1. Aku penggemar cerdik dari karya yg ada baik cerdik Mandarin dan Jawa, karya bukek kang singkang ini bermutu namun masih kurang jelas, terlalu singkat,saran saya rencana,penerbitan harusnya ada jarak waktu jangan bikin dan diterbitkan baru rencana shg kami jangan terlalu tegang menunggu kerena kami kesengsem sama karya Kabeh,makasih atas perhatiannya

  2. Aku tertarik sekali dengan tokoh yg bernama tan leng ko….dipaksa mengetahui rahasia dari jago jago persilatan.dan disuruh menjadi penasehat dari salah satunya..ini merupakan tanggung jwb yg besar…

  3. cerita yang menarik dan membuat ingin selalu mengikuti kelanjutan kisahnya. Guratan di sehelai daun yang merupakan kelanjutan jejak naga tersembunyi masih belum ada titik terang tentang siapa sebenarnya guru dari Khu Han Beng. Teruslah berkreasi, kembangkan imajinasi, ciptakan karya fenomenal.

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s