Naga Pembunuh (Lanjutan Golok Maut)

New Picture (7)

Naga Pembunuh

(Lanjutan Golok Maut)

Karya : Batara

DJVU oleh : OrangStress Dimhader

Convert by : Dewi KZ & Lavender

Editor : Dewi KZ & Lavender

Ebook oleh : Dewi KZ

Jilid : I

WANITA itu berjalan terhuyung-huyung. Usianya masih muda, tak lebih dari dua puluh satu tahun. Tapi wajahnya yang cantik dan beringas menunjukkan dendam setinggi langit ketika terseok dan terhuyung di bukit bebatuan itu.

Tinjunya berkali-kali terkepal, mendesis dan menyebutnyebut

nama seseorang penuh benci. Dan kalau orang melihat

sinar matanya maka orang akan bergidik menyaksikan sorot

penuh benci di bola mata yang kadang berputar setengah liar

itu.

Siapakah dia? Kita dengar saja gumam dan kutuk di

bibirnya. Wanita itu mendaki bebatuan terjal ketika tiba-tiba ia

mengeluh, mendekap perut dan berhenti. Dan ketika ia

menyeringai dan jatuh terduduk, menahan sakit, tiba-tiba ia

menangis dan mengguguk disitu.

“Hauw-ko (kanda Hauw), tolonglah aku, Jangan biarkan

aku mati sebelum anak ini lahir!”

Orang akan merinding. Gadis atau wanita itu tiba-tiba

tersedu-sedu, tangisnya mengguncang batin. Dan ketika dia

mengguguk dan memanggil-manggil nama kekasihnya

mendadak dia berteriak dan melengking tinggi, meloncat

bangun.

“Kedok Hitam, aku akan membunuhmu. Biar aku mati

menghadapi seribu pasukan namun aku akan merajang dan

mencincang tubuhmu!” dan berteriak serta mencak-mencak

disitu tiba-tiba wanita ini menjambak dan memukul-mukul

tubuhnya sendiri.

Tangis dan sedu-sedan itu kini bercampur dengan pekik

dan benci. Wanita itu tiba-tiba melolong dan menjerit-jerit

seperti gila. Dan ketika ia bergerak terhuyung-huyung dan

menyambar sebuah batu hitam, sekepalan tinjunya tiba-tiba

batu itu digigit dan dikeremus.

“Kedok Hitam, aku akan menggigit dan mengunyah

jantungmu. Seperti ini…. krius-kriuss!” batu itu hancur,

dimamah dan lenyap memasuki tenggorokan itu dan wanita

ini terkekeh-kekeh.

Sekarang dia melahap lagi sebuah batu yang lain,

mengeletak dan menggigitnya putus seperti orang makan

agar-agar. Dan ketika batu itu belah dan hancur dimamah

mulutnya maka benda sekeras karang ini sudah menjadi

seperti kerupuk dan lenyap di kerongkongan wanita itu,

wanita yang cantik tapi rupanya gila!

“Hi-hik, aku akan membuatmu seperti ini, Kedok Hitam.

Aku akan memamah dan mengunyah semua daging dan

tulang-belulangmu. Awas kau, heh-heh…. awas suatu hari aku

membalas padamu!”

Wanita itu menyambar lagi pasir dan bebatuan di pinggir

jalan. Mulutnya tertawa-tawa tapi tak pernah berhenti

mengunyah makanan aneh ini, pasir dan lumpur hingga

mulutnya pun menjadi

kehitam-hitaman. Namun

ketika sesuatu berjengit di

perutnya dan wanita itu

berteriak tiba-tiba ia

membuang semua sisa-sisa

pasir dan batu di tangannya

itu.

“Aduh, keparat jahanam.

Jangan menyakiti ibumu,

nak. Jangan meronta-ronta

di perut ibumu seperti itu.

Aduh, tolong, Hauw-ko.

Anak kita nakal…..” dan wanita ini yang mengerang dan

bergulingan di tanah lalu menangis dan merintih-rintih lagi.

Bukan memaki-maki si Kedok Hitam melainkan memakimaki

anak di perutnya itu. Kiranya wanita ini hamil. Dan ketika

dia menangis dan meraung-raung di tanah maka wanita itu

bergulingan memanggil-manggil kekasihnya lagi.

“Hauw-ko, anak kita kurang ajar. Aduh, kenapa punya anak

seperti ini? Ah, sakit, Hauw-ko….. sakit….!”

Wanita itu mengguguk. Akhirnya dia terlempar dan jatuh

dalam satu keadaan yang menyedihkan. Perutnya didekapdekap

tapi akhirnya dipukuli.

Wanita itu membentak anaknya kenapa begitu

menyakitkan. Dan ketika sang anak tak menghiraukan dan

rupanya membuat satu gerakan kuat karena kaget dan marah

dipukuli ibunya mendadak gadis atau wanita ini berteriak dan

roboh pingsan.

“Aduh, mati aku!”

Selanjutnya tak ada gerakan. Wanita itu terguling, diam tak

bergerak-gerak. Tubuhnya membujur kaku dan dingin.

Agaknya, dua tiga jam dalam keadaan begitu barangkali dia

akan tewas. Wanita ini pingsan. Tapi tepat wanita itu terguling

dan menjerit mengeluh mati mendadak muncul seorang

nenek-nenek yang tertegun disitu.

“Ah, wanita hamil? Seorang ibu muda? Aduh, kasihan sekali

kau, nak. Rupanya mau melahirkan dan tak ada siapapun

yang menolongmu. Celaka…!” dan nenek ini yang tergesa dan

bergegas melangkah tiba-tiba berlari dan pucat menuju ke

tempat itu, tersandung dan jatuh tapi si nenek sudah bangun

lagi.

Kayu kering di punggungnya terlempar, tak dihiraukan. Dan

ketika nenek ini berjongkok dan meraba tubuh yang dingin,

namun jantung masih berdenyut maka nenek itu berkomatkamit

dan mengucap puja-puji semacam mantra penolong

orang sakit.

“Aduh, Thian Yang Agung. Kandungannya sudah tua…!”

dan sibuk mengurut atau memijat sana-sini akhirnya nenek itu

berhasil menyadarkan wanita ini, yang merintih dan

mengerang.

“Cepat, tahan napas!” nenek itu berseru. “Kau akan

melahirkan, hujin. Bagaimana sampai sendirian disini. Ah,

mana suamimu yang kejam itu? Kenapa tidak mengantar?”

tapi, melihat si cantik menangis tiba-tiba nenek ini terkejut,

menghibur. “Ah, sudahlah, maafkan aku. Kau rupanya baru

bertengkar dan meninggalkan suamimu. Jangan khawatir, aku

akan menolongmu, anak baik. Dan sekarang tahan napas

kuat-kuat untuk dua detik!”

Wanita itu mengguguk. Melihat munculnya seorang nenek

tiba-tiba dia merasa mendapat teman. Memang dalam

keadaan seperti itu dia butuh teman, atau dia akan mati.

Maka ketika si nenek menghibur dan mengurut sana-sini

maka gadis atau wanita ini tersedu. “Kau……kau siapa?”

“Aku nenek Lui, anak baik. Aku sedang mencari kayu bakar

ketika melihat kau disini. Sudahlah, tahan napas dan turut

kata-kataku. Aku akan membantumu melahirkan!”

Wanita itu menangis. Akhirnya dia menahan napas seperti

yang dikatakan nenek ini, mengerang dan merintih ketika

kembali diserang rasa sakit yang hebat. Dan ketika nenek itu

menyuruh ini-itu sambil meniup pusarnya maka kain panjang

terpaksa dilepas dan si nenek menelentangkan calon ibu muda

itu di rumput.

“Tenang…. tenang, jangan membuat aku gugup. Bayi ini

akan lahir, hujin. Aku akan membantumu. Mengejan dan

tahan napas kuat-kuat!”

Wanita itu bercucuran air mata. Akhirnya dia menjerit

ketika gerakan di perutnya menghebat. Si nenek mengurut

dan membuka pahanya. Dan ketika setengah jam kemudian

nenek itu mandi keringat karena wanita ini meronta-ronta dan

berteriak menahan sakit, padahal dia harus melawan gerakangerakan

itu maka sebuah kepala bayi mulai tersembul.

“Awas, jangan meronta-ronta. Kepala bayimu mulai keluar,

hujin. Mengejanlah! Yang kuat! Akan kubantu menariknya dan

jangan berteriak-teriak membuat aku ketakutan!”

Ternyata si nenek ketakutan. Dia terlempar dan

terpelanting ketika tadi wanita itu menamparnya. Tenaganya

demikian kuat dan luar biasa, si nenek seolah dihempas angin

topan!

Maka ketika nenek itu terbelalak dan ngeri tapi juga

kasihan, perasaan yang campur aduk maka dia harus kembali

lagi untuk melakukan pertolongan itu.

Si cantik menjerit-jerit ketika bayi mulai keluar, tidak cepat

tapi perlahan-lahan. Dan ketika nenek itu menarik tapi

ditendang, mencelat dan terguling-guling maka nenek ini

gentar melihat kedahsyatan tenaga si cantik!

Selanjutnya wanita itu mengaduh dan berteriak tak keruankeruan.

Hal ini membuat si nenek memberanikan diri untuk

mendekat lagi, gemetar dan berjongkok di bawah sepasang

kaki itu untuk menarik si bayi yang semakin panjang, kena

dua kali tendangan lagi tapi si nenek tak perduli, terlempar

dan datang lagi dengan resiko kena tendang.

Jerit dan rintih yang menyayat itu jauh lebih menguasainya

dari pada rasa takut. Dan ketika nenek ini berjuang susah

payah sementara wanita muda itu melolong dan meraungraung

akhirnya kepala bayi ditarik semua dan tangis yang

melengking memecah keheningan angkasa.

“Sruput…!” Sang ibu muda mengeluh pendek.

Perjuangan panjang akhirnya ditutup kelegaan besar. Bayi

itu telah keluar, lahir. Dan ketika tangis menggantikan jerit

atau lolong wanita muda ini maka si nenek ganti disibukkan

karena bayi itu tak mau diam!

“Celaka, cerewet melebihi ibunya. Aduh… diam, anak

baik…. diam, Aku akan membersihkan tubuhmu dan lihat

nenek Lui berlepotan darah!” nenek itu bingung, gugup

membersihkan sana-sini dan si bayi ditepuk-tepuk perlahan,

maksudnya mau mendiamkan bayi tapi si orok tak mau diam

juga.

Nenek itu gemetaran dan mandi keringat. Ah, diapun

semakin bingung. Tapi ketika seseorang muncul disitu dan

nenek ini ditegur maka kakek tua renta terkejut melihat

menggeletaknya seorang ibu yang baru melahirkan.

“Ah, apa ini? Kau melakukan pertolongan darurat? Hei,

serahkan saja anak itu kepadaku, Lui-ma. Biar kudiamkan dan

kau tolong ibunya!”

Si nenek terkejut, tapi segera menjadi girang. “Kau, Papek?

Ah, kebetulan sekali. Cepat, diamkan anak ini dan

kubersihkan ibunya dulu!”

Si kakek meloncat. Kiranya dia adalah suami nenek ini dan

cepat menerima bayi itu. Bajunya rangkap dua cepat dilepas,

dipakai sebagai selimut. Dan ketika anak itu sudah dibungkus

dan merasa hangat maka si anak diam dan kakek itu meninabobok.

“Ha-ha, kau bodoh, Lui-ma. Bocah ini kedinginan. Lihat,

begitu kuselimuti dengan bajuku rangkap dua tiba-tiba dia

diam. Ah, kau bodoh. Tak tahu keinginan anak kecil!” dan si

kakek yang tertawa-tawa dan bernyanyi kecil lalu menciumi

dan girang sekali mendapatkan anak itu.

Tak perduli pada isterinya yang tertegun tapi segera

tersenyum menghampiri ibu si bayi, membersihkan sisa-sisa

darah dan akhirnya wanita muda ini mengeluh menyatakan

lapar.

Perutnya berkeruyuk, juga haus. Dan ketika si nenek

mengangguk dan berlari menghampiri buntalannya, yang

terselip di kayu kering maka dia sudah membuka dan

memberikan roti kering.

“Makanlah, aku tak punya apa-apa. Tapi ini sementara

cukup untukmu.”

“Dan air..?” wanita itu mengeluh, menjilat bibirnya yang

pucat. “Aku haus, nek ….. aku ingin minum!”

“Ah-ah, ada. Aku lupa!” dan si nenek yang menyambar dan

membuka seguci air lalu memberikannya dan menuangkannya

di mulut sang ibu.

Wanita ini menggelogok dan tampak lahap, bibirnya

seketika menjadi merah dan segar. Tapi ketika terdengar lagi

tangis si bayi dan wanita ini bangkit duduk maka dia minta

agar anak itu diserahkan kepadanya.

“Aku ingin mendekapnya. Aku ingin menyusuinya. Berikan

kepadaku…”

Si kakek berkerut kening. Dia ragu dan rupanya enggan

memberikan. Tapi ketika pandang matanya bentrok dengan

mata wanita itu dan secercah cahaya berkilat menyambar tibatiba

kakek ini terbungkuk dan cepat-cepat memberikan,

gentar!

“Ini…” si kakek terbata. “Anakmu sehat dan montok, hujin

(nyonya). Dan tangisnya luar biasa sekali!”

Wanita itu tersenyum. Dia menerima dan mencium bayinya,

berseri-seri. Lalu ketika si bayi menangis dan dia cepat

membuka bajunya, gerakan otomatis dari seorang ibu yang

ingin menyusui anaknya maka kakek itu melengos karena

isterinya melotot melihat dia memperhatikan segumpal buah

dada segar!

“Laki-laki…!” wanita itu mendesis. “Ah, terkabul niatmu,

Hauw-ko. Anak kita laki-laki, hi-hik!” wanita itu terkekeh,

bangkit berdiri dan menciumi anaknya dengan gembira.

Dia tadi telah membuka selimut itu dan memperhatikan

jenis kelamin anaknya, ternyata laki-laki. Namun ketika si bayi

tiba-tiba tersedak dan menangis, air susu ibunya belum keluar

maka wanita ini tertegun dan bingung.

“Cup-cup…” katanya. “Diamlah, anak-ku sayang.

Diamlah…. ibu rupanya masih kurang minum!” dan

menyambar lagi guci air di tangan si nenek, yang digelogok

dan dihabiskan isinya maka wanita itu menyesapkan kembali

puting buah dadanya yang segar.

Si kakek dipaksa melengos lagi karena isterinya menyambar

tajam. Nenek itu rupanya dapat cemburu, ah, lucu!

Tapi ketika air susu tak keluar juga dan si bayi menangis

melengking-lengking, tangis yang amat mengejutkan maka

nenek ini berkata bahwa si ibu harus dibuatkan jagung

“sangan”, digoreng tanpa minyak.

“Kau baru melahirkan, air susumu belum keluar. Marilah ke

rumah dan kubuatkan jagung sangan.”

“Benar,” si kakek tiba-tiba juga berseru, menimbrung. “Kau

dapat tinggal di rumah kami, hujin. Kebetulan sekali kami tak

punya anak. Marilah, kita kesana dan kau istirahat disana!”

Wanita ini mengerutkan alisnya. Sebenarnya dia bingung

tapi mengangguk ketika si nenek menawarkan lagi jasa

baiknya. Nenek itu telah menolong persalinannya. Dia selamat

karena nenek ini. Dan ketika si nenek dianggap lebih

berpengalaman dan dia bingung kenapa air susunya belum

keluar maka wanita muda itu menyetujui dan sudah terhuyung

dipapah si nenek.

Kakek itu sendiri sudah melompat kegirangan menyambar

kayu kering isterinya. Dia akan kedatangan rejeki, rumahnya

akan diisi tangis bayi. Maka ketika dia berteriak kegirangan

dan isterinya sudah menuntun wanita muda itu maka tak lama

kemudian wanita yang baru melahirkan ini sudah berada di

rumah yang sederhana di pinggir sebuah hutan kecil.

Kiranya nenek dan kakek itu tinggal di tempat yang sunyi.

Mereka jauh dari tetangga dan wanita ini tampak lega. Tadi

dia sudah was-was kalau si nenek mempunyai tempat tinggal

di daerah yang ramai. Dia tak menghendaki itu. Maka begitu

sebuah gubuk sederhana menyambutnya dan nenek itu sudah

membuka pintu rumahnya maka selanjutnya nenek ini

terkekeh menyiapkan balai-balai bambu untuk si ibu.

“Di tempat ini hanya ada dua tempat tidur. Biasanya kami

tidur sendiri-sendiri. Heh-heh, sekarang kau datang, anak

baik. Biarlah tempat tidurku kau pakai dan aku tidur bersama

suamiku!”

“Terima kasih…”

“Dan, eh…. siapa namamu? Bagaimana aku memanggil?”

“Aku… aku tak punya nama. Biarlah kau sebut aku dengan

sebutan hujin!”

“Mmmm….!” sang nenek tertegun. “Dan anakmu ini,

apakah juga tak diberi nama?”

“Dia Giam Liong, Sin Giam Liong!”

“Giam Liong? She Sin? Ah, suamimu she Sin, hujin? Jadi

kau adalah Sin-hujin (nyonya Sin)? Dan anakmu bernama

Giam Liong. Ih, nama itu berarti Naga Maut!” si nenek ngeri,

terkejut dan tergetar tapi segera dia terkekeh-kekeh karena

nama hanyalah sebutan saja.

Nama bisa berarti macam-macam tapi tentu nama itu tak

seganas artinya. Maka begitu dia tertawa dan menganggukangguk,

ngeloyor kebelakang maka nenek ini sudah membuat

makanan untuk si ibu agar air susunya cepat keluar. Dan

benar saja, susu si nyonya tiba-tiba membanjir.

Buah dada yang menggelembung penuh itu mendadak

deras sekali ketika diberi jagung sangan.

Sin-hujin atau nyonya Sin itu tampak berseri-seri melihat

anaknya yang menyusu demikian lahap. Air susunya disedot

dan dihisap kuat-kuat. Bayi itu seolah anak kelaparan! Dan

ketika beberapa hari kemudian ibu ini tinggal di tempat itu

maka Lui-ma, si nenek penolong menjadi gembira karena

rumahnya menjadi ramai.

Tangis bayi itu meninggalkan kesan kuat yang enak

didengar. Entahlah, si nenek terkekeh-kekeh kalau bayi itu

menangis. Tangis itu seolah lagu gembira yang membuat si

nenek berseri-seri. Maklumlah, bertahun-tahun ini dia hidup

kesepian tanpa anak. Rumah yang kosong dan hanya berdua

dengan suami yang juga sudah sama-sama tua membuat

nenek itu rindu akan hadirnya seorang bocah.

Mereka adalah suami isteri mandul yang tak memiliki

harapan untuk mempunyai keturunan. Lui-ma dan suaminya

memang sepasang manusia yang menderita. Maka begitu harihari

berikut tempat tinggal mereka diisi tangis bayi dan wanita

cantik yang hanya dikenal sebagai Sin-hujin itu mau tinggal

bersama mereka maka seminggu kemudian ketika kesehatan

ibu muda itu sudah benar-benar pulih maka nenek ini menjadi

tercengang ketika tumpukan kayu keringnya di dapur tak

pernah surut!

“Eh, seperti siluman saja. Kaukah yang mengisinya

kemarin, pek-pek? Kau menambahi kayu bakar ini?”

“Tidak, kenapakah?”

“Persediaan kita tak pernah kurang. Kemarin sudah surut

tapi sekarang tahu-tahu sudah bertambah sekian banyak lagi.

Ah, siapakah yang memberi? Silumankah?”

“Atau Sin-hujin itu?” si kakek terheran, membelalakkan

matanya.

“Mana mungkin?” sang isteri menyahut. “Sin-hujin tak

pernah keluar, pek-pek. Lagi pula tak biasa baginya bekerja

kasar. Lihat tangan dan kakinya yang halus begitu. Wanita

macam begitu adalah priyayi tulen, bangsawan atau anak

orang kaya, bukan seperti kita yang miskin dan papa ini. Ah,

tak mungkin!”

“Lalu siapa?”

“Entahlah, aku tak tahu. Dan anehnya pula periuk tempat

berasku selalu penuh. Begitu juga persediaan ikan dan

daging!! Ah, kita jadi makan enak setiap hari.”

Pa-pek, kakek she Pa ini mendelong. Dia jadi mengerutkan

kening berulang-ulang setelah isterinya bercerita seperti itu.

Dan benar, beras dan segala kebutuhan lauk-pauk di

tempatnya selalu penuh. Mereka sekarang bukan lagi makan

sayuran melulu melainkan juga ikan dan daging, bahkan di

tempat mereka ada anggur segala, bukan anggur sembarang

anggur melainkan anggur merah yang wangi dan

menyehatkan.

Minuman itu biasanya di tempat orang kaya dan bukan di

gubuk seperti milik mereka itu. Aneh! Dan ketika kakek itu

mengangguk-angguk dan bersinar matanya, menduga bahwa

Sin-hujin itu adalah isteri seorang hartawan atau bangsawan

kaya maka suatu malam kakek ini berkasak-kusuk dengan

isterinya.

“Kau tahu siapakah dia? Bagaimana kira-kira?”

“Maksudmu?”

“Aku menduga Sin-hujin ini isteri seorang hartawan atau

bangsawan, Lui-ma. Tapi isteri muda atau barangkali

gundiknya. Kita harus berhati-hati!”

“Ah, maksudmu?”

“Aku takut kalau dia melarikan diri atau diusir. Kalau

melarikan diri, hmm… berarti ada sesuatu yang tidak beres di

rumah suaminya. Siapa tahu barangkali dia mencuri!”

“Pa-pek!” sang nenek terkejut. “Kau bicara apa ini? Kau

mencurigai orang yang tidak-tidak?”

“Sst, jangan keras-keras. Aku sekarang jadi curiga dan

mengetahui siapa yang mengisi ransum makanan kita, Lui-ma,

ternyata benar Sin-hujin itu. Semalam dia lenyap, dan aku

heran. Tapi ketika aku mau bangun dan melihat bayinya

sendirian mendadak Sin-hujin itu muncul lagi dan di

tangannya penuh bawaan seperti beras dan lain-lainnya itu.

Dialah yang mengisi ransummu, dan dia meletakkan itu di

dapur!”

“Kalau begitu kita mendapat rejeki. Sin-hujin membawa

keberuntungan!”

“Hush, keberuntungan bagaimana? Bagaimana kalau

barang bawaannya itu hasil curian?”

“Apa?”

“Benar, aku jadi curiga pada tamu kita ini, Lui-ma. Kalau

benar dia gundik seseorang dan melarikan diri karena mencuri

maka jangan-jangan kebiasaan jeleknya itu dibawa-bawa dan

kita bisa celaka oleh hasil perbuatannya!”

Sang nenek tertegun. “Aku tak percaya…” katanya. “Aku

lihat Sin-hujin itu orang baik-baik, pek-pek. Buktinya dia tak

pernah mengganggu kita dan justeru menolong kita dengan

mencari makanan. Masalah mencuri, ah, kau terlalu menduga

jelek. Bukankah dia juga memiliki gelang dan cincin permata?

Siapa tahu barang-barangnya itu sebagian dijual dan

digantikan rancum atau makanan untuk kita itu!”

“Ya, tapi siapa tahu gelang atau cincinnya itu hasil curian!

Aku melihat wanita ini aneh, Lui-ma. Sikapnya pendiam dan

kadang-kadang bola matanya berputar seperti gila!”

“Ah, kau..!” nenek ini marah. “Tak perduli baik atau tidak

tapi dia sudah mengisi rumah kita, Pa-pek. Kita sudah

mendapat teman dan anaknya yang mungil itu menjadi

bagian hidupku. Aku tak mau kau membuat gara-gara kalau

tak ada bukti!”

“Hm-hm…!” si kakek mengangguk-angguk. “Kalau begitu

lihatlah saja, Lui-ma. Tapi kalau benar omonganku maka

jangan salahkan aku!”

Dua kakek nenek itu lalu tidur. Mereka tak bicara dan

kasak-kusuk lagi dan s i kakek tak tahu betapa sepasang mata

berkilat mengawasinya dari balik dinding. Sebuah gerakan

tampak ditahan dan itulah lengan Sin-hujin. Wanita itu

mendengar dan sorot matanya mengeluarkan api.

Sebatang jarum siap di tangan tapi tak jadi digerakkan.

Hampir saja jarum itu melayang dan menembus kepala si

kakek. Dan ketika dua suami isteri itu tak berbisik-bisik lagi

dan mereka tidur di balai-balai mereka maka wanita ini

mendengus dan mencengkeram hancur sebuah batu yang

juga siap disambitkan, Batu itu menjadi tepung dan kalau si

kakek melihat ini tentu dia ngeri, mungkin semangatnya sudah

terbang mendahului keberaniannya. Dan ketika bisik-bisik itu

tak terdengar dan semua sunyi maka malam itu tak terjadi

apa-apa dan Sin-hujin inipun mencium pipi anaknya dan tidur.

= oo00dw00oo =

Seminggu kemudian. Kakek she Pa itu, yang rupanya masih

memiliki kecurigaan dan rasa was-was kepada wanita ini tibatiba

suatu hari didatangi tiga lelaki berwajah seram.

Saat itu Sin-hujin tak ada dan nenek Lui-pun juga sedang

mencari kayu bakar. Kakek Pa menerima dan kasak-kusuk

dengan tiga laki-laki ini, mereka tampak serius. Tapi ketika tak

lama kemudian bayangan seseorang muncul di depan tangis

bayi mengawali semuanya itu maka kakek ini terkejut dan

cepat-cepat menyuruh tiga laki-laki itu bersembunyi.

“Lihat, dia datang. Kalian menyelinap di belakang dan

buktikan kata-kataku!”

Tiga laki-laki itu, yang terkejut tapi tersenyum girang tibatiba

mengangguk. Mereka berlompatan dan hilang di

belakang, bersembunyi. Dan ketika kakek Pa keluar dan purapura

menyambut maka kakek ini tertegun melihat

bergemerincingnya gelang-gelang emas di tangan wanita itu,

gelang yang berjumlah dua kali lipat dari dulu yang dilihat!

“Ah, kau dari mana, hujin? Dan apa yang kau bawa itu

pula?”

Kakek ini terbelalak. Di samping gelang-gelang emas itu,

yang membuatnya heran dan kaget ternyata Sin-hujin ini

menyeret pula seekor harimau besar. Binatang itu telah mati

dan bangkainya diseret, tentu saja membuat kakek itu terkejut

dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Tapi ketika Sin-hujin

berhenti dan memandangnya tak berkedip maka wanita itu

berkata singkat,

“Pa-lopek, tak usah kau tanya dari mana aku. Tapi kulitilah

dan kerat daging harimau ini untuk makan siang kita. Tadi Luima

diserang harimau ini, kubunuh dan sekarang biar menjadi

santapan kita. Kerjakan itu dan jangan menganggapku yang

tidak-tidak.”

Sang kakek tertegun. “Ini… ini… bagaimana tadi? Lui-ma

diserang harimau? Kau tadi membunuhnya?”

Sin-hujin tak menjawab. Wanita itu terus melangkah dan

barulah sang kakek tersentak ketika tiba-tiba dari luar sana

terdengar jerit dan tangis Lui-ma. Nenek itu muncul dan

berlari-lari mengejar Sin-hujin, berkali-kali roboh tapi bangun

lagi memanggil-manggil nyonya muda itu.

Tapi ketika Pa-lopek menghampiri dan menangkap

lengannya, cepat, maka nenek itu terguling dan kayu di

belakang punggungnya juga terlepas.

“Aduh, hampir aku mati. Celaka! Aku nyaris diterkam

harimau, Pa-pek. Hampir aku terbunuh! Ah, untung ada Sinhujin

itu. Dia menolongku…. dia menampar harimau itu…

dan…. dan, ah…..harimau ini disini?” sang nenek tiba-tiba

tertegun, seketika menghentikan teriakan-teriakannya dan

matanya melotot memandang bangkai harimau itu.

Tak disangkanya bahwa bangkai harimau itu tahu-tahu

sudah ada di rumah. Tapi ketika dia menjerit dan mengguguk

menubruk suaminya maka sang kakek gemetar mencoba

menghibur, masih kebingungan.

“Apa yang terjadi? Bagaimana Sin-hujin membunuh

harimau? Bukankah dia wanita lemah, Lui-ma? Masa dapat

membunuh harimau?”

“Ah, siapa bilang? Sin-hujin itu ternyata memiliki gerakan

cepat seperti siluman, Pa-pek. Ketika harimau itu menerkam

dan mau membunuh aku tiba-tiba Sin hujin berkelebat dan

menolong. Harimau itu ditampar, dan tahu-tahu roboh di

depan mataku. Ah, hampir pingsan aku waktu itu! Dia… dia

wanita hebat. Rupanya sakti dan dewi malaikat!”

“Hm, masa?” tapi ketika isterinya menangis dan

membentaknya menyuruh percaya tiba-tiba nenek itu

melepaskan diri dan memasuki rumah, mengejar Sin-hujin.

“Hujin, terima kasih. Kau telah menyelamatkan nyawaku!”

“Hm, bangunlah,” wanita ini berhenti menoleh, melihat

sang nenek menjatuhkan diri berlutut. “Aku menolongmu

karena kaupun telah menolongku, Lui-ma. Tak ada terima

kasih di antara kita. Bangunlah, dan tanya suamimu apa saja

yang hari ini diperbuatnya!”

Sang nenek tertegun. “Suamiku? Dia… dia menunggu

rumah!”

“Hm, aku mencium bau tikus-tikus busuk disini. Apakah dia

memelihara tikus-tikus pecomberan? Atau tikus-tikus itu yang

sengaja datang dan mau mencuri makanan disini?” dan ketika

si nenek kebingungan dan tak mengerti apa yang dimaksud

tiba-tiba wanita itu bergerak dan tahu-tahu telah berkelebat

ke belakang rumah, persis di depan tiga laki-laki yang kaget

bukan main karena persembunyian mereka diketahui!

“Hm, inikah?” Sin-hujin mendengus. “Siapa kalian, tikustikus

busuk? Mau apa datang dan menggerayangi rumah

orang?”

Tiga laki-laki itu berteriak tertahan. Tadi mereka mengintai

dan bersembunyi disana, melihat dan mendengar semuanya

itu dan diam-diam mereka merasa heran dan kaget juga

bahwa Sin-hujin ini dikabarkan membunuh harimau, padahal

binatang itu cukup besar dan tak masuk akal kiranya kalau

wanita yang demikian lembut dan halus gerak-geriknya itu

membunuh harimau.

Mereka dipanggil Pa-lopek yang menceritakan keganjilan

itu, adanya seorang wanita muda yang cantik dan baru

melahirkan tapi mempunyai perhiasan-perhiasan emas.

Gelangnya ada enam buah sementara cincinnya sepasang. Palopek

mencurigai wanita ini karena setelah melahirkan Sinhujin

itu tak pergi mencari suaminya, jadi dugaan bahwa dia

melarikan diri adalah kuat. Dan karena Pa-lopek diam-diam

mengincar perhiasan-perhiasan itu sementara jakunnya sering

naik turun kalau melihat Sin-hujin menyusui anaknya maka

kakek ini akhirnya menemui tiga laki-laki itu dan

merundingkan siasat.

“Aku terhalang isteriku. Kalian rampaslah gelang-gelang

emas itu dan kita bagi bersama. Sedang dia, hmm… bawa ke

hutan di depan itu dan biarkan aku membujuknya untuk

menjadi isteriku!”

“Apa? Kau tua bangka mau kawin lagi? Siapa dia itu, Palopek?”

“Entahlah, aku tak tahu, Hu-san. Tapi dia wanita muda

yang cantik dan menggairahkan. Dan perhiasannya cukup

berharga. Aku ingin memilikinya tapi kalau di rumah terhalang

isteriku!”

“Hm, begitukah? Baiklah, serahkan pada kami dan sekarang

juga kami dapat ke rumahmu dan merampasnya!”

“Jangan!” sang kakek terkejut. “Lakukan kalau isteriku tak

ada di rumah, Hu-san. Jadi seolah peristiwa perampokan

biasa. Tunggu beberapa hari lagi ketika isteriku mencari kayu

bakar. Kalian dapat melakukan itu dan datang ke rumah!”

“Hm, baiklah. Kami akan kesana!”

“Dan kau jangan mengganggu tubuhnya. Dia milikku!”

“Ha-ha, baik, Pa-lopek. Kalau memang kami tak tertarik

tentu kami tak akan mengganggunya. Ah, kau tua bangka

rupanya dapat jatuh cinta lagi!”

Begitulah, kakek ini lalu tersenyum-senyum. Dia segera

pulang dan tahu bahwa dua hari lagi isterinya akan keluar,

mencari kayu bakar. Tapi ketika hari itu tiga temannya datang

tapi Sin-hujin ikut keluar juga maka kakek ini agak bingung

tapi untung segera sang wanita datang.

Teman-temannya diminta bersembunyi dan kakek ini sudah

berseri-seri karena rencana akan berjalan mulus. Sudah

dibayangkannya bahwa ibu muda yang cantik itu akan dibawa

teman-temannya ke hutan. Disana ia akan menyusui dan coba

membujuk Sin-hujin itu.

Dia melakukan semua ini karena tak kuat menahan lagi

keinginan berahinya yang sering bangkit, sewaktu melihat

atau mengintai wanita itu menyusui bayinya. Tapi ketika

isterinya muncul dan Sin-hujin itu dikabarkan membunuh

harimau, berarti bukan wanita lemah maka kakek ini jadi

semakin kaget lagi ketika tahu-tahu wanita itu berkelebat dan

seperti iblis cepatnya mendadak sudah menemukan

persembunyian Hu-san dan dua temannya itu. Dan tiga lakilaki

itu juga tampak terkejut.

Hu-san, yang berkumis dan bertampang seperti perampok

sudah lebih dulu menguasai kekagetannya. Laki-laki ini

terkejut tapi sudah tertawa lebar, ganda ketawa saja ketika

dibentak. Dan ketika wanita itu berdiri tegak dan Hu-san

kagum bahwa wanita ini memang muda dan cantik, tubuhnya

menggairahkan dengan sepasang buah dada yang penuh dan

montok maka laki-laki itu terbahak dan melompat bangun.

“Ha-ha, aku Hu-san, nyonya, Orang yang menguasai

daerah ini sampai tapal batas gunung Yee-san!”

“Hm, kau! Apa maksudmu ke mari? Kenapa bersembunyi?”

“Aku, ha-ha…. terus terang datang karena tertarik padamu.

Aku kasihan pada bayimu itu, ingin menawarkan jasa baik dan

tinggallah di rumahku yang lebih baik. Kakek she Pa itu tak

pantas untukmu. Jauh lebih pantas di tempatku dan kita dapat

bersenang-senang, ha-ha!”

Wanita itu berkilat. “Bersenang-senang? Apa maksudmu?”

“Wah, artinya aku ingin mengambilmu sebagai isteri,

nyonya, Kau cantik tapi sendirian. Tentu kau kesepian. Biarlah

tinggal bersamaku dan segala kebutuhan hidupmu kujamin!”

“Wut!” sebuah tangan tiba-tiba meluncur dengan cepat.

“Kau kiranya laki-laki kasar dan tak tahu malu, orang she Hu.

Terima kasih atas kebaikanmu dan inilah hadiahnya…. plak!”

Hu-san terpelanting roboh menjerit dan terguling-guling

dan seketika mulut laki-laki itu pecah!

Pa-lopek berseru tertahan sementara dua teman Hu-san

yang lain terkesiap. Mereka kaget dan pucat ketika melihat

Hu-san dibuat bergulingan hanya oleh sebuah tamparan saja.

Tapi ketika Hu-san meloncat bangun dan laki-laki itu marah

bukan main, berteriak, maka laki-laki itu sudah mencabut

goloknya yang dipakai untuk menakut-nakuti, karena dia

belum berniat benar untuk membunuh, masih eman-eman.

“Heh, wanita siluman. Keparat jahanam! Berani kau

memukulku dan menamparku seperti ini? Bedebah, lekas

jatuhkan diri berlutut kalau tak ingin golokku menyambar,

nyonya siluman. Diajak baik-baik tak mau malah menghina

aku. Terkutuk, cepat minta ampun dan jangan biarkan aku

marah!”

“Hm, masih kurang?” Sin-hujin malah mendengus. “Orang

macam kau tak pantas kuajak bicara lagi, Hu-san. Pergilah

atau kau pulang tinggal nama!”

“Weh, menantang? Keparat terkutuk. lihat ini dan kau

mampus…. werr!” golok benar-benar menyambar, tak kenal

ampun dan dua teman Hu-san berteriak memperingatkan.

Mereka masih merasa sayang kalau wanita itu dibunuh. Husan

mata gelap. Tapi ketika mereka berteriak dan mencegah

Hu-san ternyata Sin-hujin itu berkelebat dan tahu-tahu lenyap

entah ke mana.

“Crakk!”

Golok Hu-san menghajar tanah. Saking kuat dan marahnya

laki-laki itu mengayun golok maka senjata itu menancap

ujungnya, hampir separoh. Tapi ketika Hu-san terpekik dan

nenek Lui-ma serta suaminya berteriak kaget, ngeri, tahu-tahu

wanita itu muncul lagi dan sebuah tendangan menghajar

pantat laki-laki ini.

“Dess!”

Hu-san mencelat menumbuk pohon. Laki-laki itu tak

menyangka dan baru saja berkutat menarik golok, tentu saja

terkejut dan menjerit dan kontan kepalanya beradu keras.

Laki-laki itu mengeluh dan pingsan, seketika roboh

kelengar. Dan ketika dua yang lain tertegun dan tersentak,

pucat melihat ini, maka wanita itu membalik karena saat itu

bayinya menangis.

“Cup-cup…” katanya tenang. “Tak ada apa-apa disini,

Liong-ji (anak Liong). Ibu hanya menghajar dan membuat si

kumis itu pingsan. Kau diamlah, ibu akan melindungimu,” dan

mengeluarkan buah dadanya menyesapi bayinya dengan

puting yang penuh dan segar maka wanita itu berjalan dan

memasuki rumah, tak perduli pandang mata dua teman Husan

yang lain dan juga kakek Pa, tak perduli pada keadaan

sekitar karena saat itu juga ia harus menyusui bayinya yang

terbangun dan menangis oleh sedikit keributan itu.

Tapi ketika wanita ini memasuki rumah dan dua laki-laki di

luar sadar, mendadak mereka membentak dan mencabut

golok, hal yang membuat nenek Lui-ma menjerit.

“Heii…!” dua laki-laki itu berteriak “Tunggu dan berhenti,

wanita siluman. Kau menghajar dan membuat Hu-twako

pingsan. Kau jangan sombong!”

Wanita itu berkilat, sudah dikepung. “Kalian mau apa?”

Dua laki-laki itu tertegun. Mereka merasa dingin juga

mendengar suara yang tidak berperasaan ini. Suara itu seperti

suara mayat, kaku dan dingin. Tapi karena teman mereka

dihajar dan wanita ini sudah menjual lagak maka mereka yang

ingin menuntut balas tapi tertegun oleh buah dada yang segar

montok itu tiba-tiba naik turun jakunnya menelan ludah.

Wanita itu membiarkan saja buah dadanya terlihat laki-laki!

“Kami…. kami….” laki-laki di sebelah kiri melotot. “Kami

ingin kau menyerah dan minta maaf!”

“Benar,” temannya di sebelah kanan juga melotot, bahkan

sebesar jengkol! “Kami tak mau kau bersikap sombong,

nyonya. Kalau kau mau baik-baik minta maaf dan ikut kami

maka kesalahanmu ini kami ampuni!”

“Hm!” suara itu kembali terdengar, dingin dan tak

berperasaan. “Kalau begitu kalian tunggu aku diluar. Biar

kususui anakku ini dan baru setelah itu kalian boleh bicara

lagi….. dess!” dan dua laki-laki itu yang mencelat oleh sebuah

tendangan kilat tiba-tiba menjerit dan terbanting di luar roboh

terguling-guling.

Mereka tadi tak tahu kapan datangnya serangan itu, baru

mau bersiap-siap tapi mendadak tendangan sudah melayang.

Tentu saja mereka berdebuk! Dan ketika dua laki-laki itu

merintih dan tak dapat bangun berdiri, karena sebelah kaki

mereka patah maka nenek Lui berteriak dan tiba-tiba

mengambil palang pintu serta menghajar dua laki-laki itu.

“Bedebah, terkutuk jahanam. Kiranya kalian pengganggu

dan pengacau liar. Hih rasakan ini, orang-orang busuk. Berani

benar kalian memaksa dan berkurang ajar kepada Sin-hujin….

buk-buk-buk!” alu atau palang pintu itu sudah menghantam

pulang balik, tujuh delapan kali menghajar dua laki-laki itu dan

tentu saja dua laki-laki ini berteriak kesakitan.

Mereka tak dapat menangkis atau mengelak karena kaki

sedang patah. Maka begitu dihajar dan jatuh bangun

meminta-minta ampun maka keduanya kontan berseru pada

Pa-lopek.

“Aduh, tobat. Tolong, Pa-lopek. Suruh isterimu ini berhenti

dan jangan biarkan kami dipukuli!”

Pa-lopek bergerak. melihat isterinya memukuli orang-orang

itu kakek ini terkejut. Mereka menjadi korban adalah garagaranya,

jadi mau tak mau dia harus menolong dan sudah

menyambar alu di tangan isterinya itu. Dan ketika sang isteri

memekik dan mereka bersitegang, yang satu menarik dan

yang lain menahan maka kakek itu berseru,

“Jangan…. jangan hajar lagi mereka itu, Lui-ma. Cukup!

Biarkan mereka pergi dan jangan siksa lagi!”

“Apa, pergi? Keparat jahanam, mereka itu orang-orang

yang menghina Sin-hujin, Pa-pek. Dan Sin-hujin adalah

penyelamat jiwa isterimu ini. Mereka tak boleh pergi, Sin-hujin

menyuruh tunggu!”

“Tidak, jangan…!” sang suami pucat. “Hujin sudah masuk

ke dalam, Lui-ma. Hujin sudah tidak memerlukan mereka lagi.

Biarlah kita ampuni dan jangan pukuli lagi!”

Dua suami isteri itu berkutat. Sejenak sang nenek tak mau

mengalah dan ngotot mempertahankan senjatanya. Tapi

ketika alu itu berhasil direbut dan sang kakek membuangnya

maka kakek itu membujuk agar isterinya tidak marah-marah

lagi.

“Yang bersangkutan sudah membiarkan orang-orang ini.

Sin-hujin tak membunuhnya. Biarlah untuk sekali ini kita

ampuni mereka dan biarkan mereka pergi!”

“Terkutuk!” si nenek mengepal tinju. “Sekali lagi berani

datang tentu tak mau aku mengalah, Pa-pek. Baiklah, biar

mereka pergi dan hitung-hitung ini sebagai hajaran buat

mereka!”

Pa-lopek lega. Isterinya sudah didorong dan disuruh masuk

ke dalam. Sin-hujin barangkali perlu bantuan dan kakek itu

mengangkat bangun dua laki-laki itu. Di sini kakek itu berbisik

agar mereka tak usah datang lagi.

Korban kiranya bukan daging yang empuk melainkan batu

yang atos. Seatos batu karang. Tapi ketika dua laki-laki itu

mengancam bahwa mereka akan datang lagi, dengan kawan

yang lebih banyak maka kakek itu pucat mendengar katakatanya.

“Isterimu ikut campur, kami tak terima. Kami akan datang

dengan jumlah yang lebih banyak, lopek. Dan kami akan

membalas semua kejadian ini. Perempuan itu akan kami

bunuh, dan isterimu juga!”

“Tidak!” sang kakek pucat. “Isteriku tak tahu apa-apa, Wiyung.

Jangan kau mengancamnya seperti itu. Kalau kalian

penasaran kepada Sin-hujin itu boleh saja kalian membalas,

tapi jangan disini. Sebaiknya kuatur waktu agar kalian dapat

menemuinya di hutan!”

“Hm, ini semua gara-garamu, dan kau masih juga membela

mereka. Keparat, kau harus membunuh isterimu itu, Pa-pek.

Atau kami membuka rahasia ini bahwa kaulah biang

keladinya!”

“Jangan…. tidak! Ah, sudahlah. Aku akan mengatur untuk

kalian pembalasan ini dan sekarang baiklah pergi cepat-cepat.

Bawa si Hu-san itu!”

Dua laki-laki itu mendengus. Mereka babak-belur dihajar si

nenek. Kalau saja mereka sebelumnya tak dihajar Sin-hujin

itu tentu si nenek bukan apa-apa. Dan si nenek menjadi

demikian berani karena mereka sudah dihajar wanita muda

itu. Keparat!

Mereka tertatih dipapah bangun, berbisik dan mengancam

bahwa si kakek harus melakukan sesuatu untuk mereka, atau

kakek itu akan mendapat pembalasan. Dan ketika Pa-lopek

mengangguk-angguk dan gemetar kenapa dia mengundang

orang-orang ini, mencari penyakit, maka dua laki-laki itu

terpincang membawa pemimpinnya. Tapi bayangan Sin-hujin

tiba-tiba berkelebat menghadang.

“Siapa suruh pergi?”

Dua laki-laki itu pucat, menggigil.

“Aku tak menyuruh kalian pergi, tikus-tikus busuk,

melainkan menunggu. Hukuman kalian belum selesai!”

“Ampun,” Pa-lopek tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. “Aku

yang menyuruh mereka pergi, hujin. Aku yang mintakan

ampun untuk mereka. Kau biarkanlah mereka pergi dan

sudahilah kejadian ini!”

“Hm, kau mulai mencurigakan,” Sin-hujin itu memandang

kakek ini. “Aku tak memberikan ampun, Pa-lopek. Kau

minggirlah dan jangan ikut campur!”

Pa-lopek pucat. Tiba-tiba dia melihat isterinya muncul dan

menggendong Giam Liong, anak laki-laki itu. Dan merasa

bahwa hanya isterinya inilah yang dapat membujuk Sin-hujin

maka kakek itu berlari dan berlutut di depan isterinya.

“Lui-ma, kau tolonglah aku. Mereka akan membunuhku

kalau tidak dibebaskan. Bujuklah Sin-hujin agar menyudahi

masalah ini!”

Si nenek mengerutkan kening. Giam Liong tiba-tiba

menangis lagi. Sang bocah terganggu oleh ribut-ribut itu. Tapi

ketika nenek ini melihat suaminya menangis dan baru kali itu

dilihatnya begitu ketakutan maka nenek ini menarik bangun

suaminya dan tergopoh-gopoh menyerahkan anak laki-laki itu.

“Hujin, sudahlah. Aku jadi bingung kalau ada dua laki-laki

menangis begini. Aku mengasihani suamiku, dan anakmu pun

juga menangis lagi. Kau biarkanlah mereka pergi, hujin.

Lepaskanlah mereka yang tak mungkin berani datang lagi!”

Wanita itu bersinar-sinar. Pandangan matanya yang tajam

menusuk membuat kakek Pa tak berani membalas. Kakek itu

ketakutan dan gemetar. Tapi ketika dia mengangguk dan

menerima anaknya yang menangis maka wanita ini membalik

dan berkelebat pergi.

“Baiklah, kubebaskan mereka, Lui-ma. Tapi sekali lagi

mereka berani menggangguku maka hukuman mati tak dapat

kubatalkan!”

Kakek Pa girang. Begitu Sin-hujin lenyap dan masuk ke

dalam maka kakek ini tergopoh-gopoh menghampiri dua lakilaki

itu. Wi-yung dan temannya disuruh pergi, secepatnya.

Dan ketika dua laki-laki itu melotot namun jerih, di samping

dendam maka Hu-san pemimpin mereka kembali dibawa dan

dua laki-laki itu terpincang meninggalkan tempat celaka itu,

mendesis menahan sakit.

“Pa-lopek, kau telah melakukan sesuatu untuk kami, terima

kasih. Tapi beri tahu kami kapan kami dapat menemui s iluman

betina itu di hutan!”

“Sudahlah,” kakek ini tergesa, bingung “Sasaran kita

ternyata batu karang, Wi-yung, bukan barang yang empuk.

Lain kali saja kuberi tahu dan pergilah cepat-cepat!”

Dua laki-laki itu pergi. Mereka mengancam dengan suara

perlahan dan si kakekpun gemetar.

Kejadian hari itu tak akan dilupakan dan Pa-lopek tetap

dituntut untuk mempertemukan mereka dengan Sin-hujin itu,

di hutan. Dan ketika mereka lenyap dan nenek Lui

mengerutkan kening maka nenek itu menegur apakah

suaminya mengenal orang-orang itu.

“Tidak, mereka tahu-tahu sudah ada di belakang rumah

kita. Aku tak mengenal mereka kecuali Wi-yung!”

“Dan kau berbisik-bisik dengan mereka itu. Apa yang kau

lakukan, Pa-pek? Kau main-main api?”

“Tidak… tidak!” sang kakek tergopoh. “Aku tak tahu apaapa

tentang semuanya ini, Lui-ma. Mungkin si Wi-yung itu

kebetulan tahu Sin-hujin ada disini dan mengajak temannya

untuk maksud yang tidak baik!”

“Hm, kau bicara benar?”

“Tentu saja. Aku tak pernah berbohong, Lui-ma. Kau tahu

itu!”

Sang isteri lega. Memang selama ini ia tahu bahwa

suaminya tak pernah berbohong. Pa-lopek biasanya jujur dan

suka bicara apa adanya. Tak tahu bahwa sebuah perobahan

besar sedang terjadi. Tak tahu bahwa suaminya diam-diam

mengilar melihat Sin-hujin itu. Pa-lopek diam-diam tergila-gila

dan terangsang nafsunya melihat Sin-hujin menyusui anaknya.

Kakek itu bangkit berahinya ketika tiba-tiba saja segumpal

buah dada segar terbayang di depan mata. Ah, sudah puluhan

tahun ini dia “kering” dari pemandangan seperti itu. Milik

isterinya kempot, milik isterinya sudah tak menggairahkan lagi

dan terus terang dia terbakar melihat pemandangan itu.

Apalagi kalau berhasil diintai secara mencuri-curi. Ah,

nikmatnya bukan main! Dan karena kakek itu mulai dimabok

nafsu dan berahi yang kian membakar membuat kakek ini lupa

diri maka dia bermaksud untuk merayu Sin-hujin itu dan

membujuknya agar mau menjadi isterinya.

Tapi di rumah itu ada Lui-ma. Ah, isterinya yang ini dirasa

mengganggu dan dia bingung. Kalau menurutkan nafsunya,

tentu ia ingin main seruduk saja dan tak perduli. Tapi kalau

dia gagal dan Lui-ma juga marah tentu dia akan kehilangan

kedua-duanya. Dan itu rugi besar!

Maka Pa-lopek memeras otak dan akhirnya ditemuilah jalan

keluar itu. Dia meminta pertolongan Hu-san dan kawankawannya,

menjanjikan perhiasan Sin-hujin itu sementara dia

tubuhnya. Tapi ketika Sin-hujin berbalik menghajar tiga lakilaki

itu dan kakek ini terkejut, tak menyangka, maka tiba-tiba

kakek itu menjadi jerih dan gentar!

Tapi nafsu tetaplah nafsu. Laki-laki tua itu hanya sebentar

saja dibuat kecut. Betapapun dia belum merasakan sendiri

hajaran Sin-hujin. Kakek ini tak tahu siapa Sin-hujin itu, tak

tahu bahwa ia adalah wanita ganas yang sedang mengalami

goncangan jiwa.

Sin-hujin menjadi tenang sejenak setelah nenek Lui

memberinya kehangatan dan perhatian cinta kasih. Nenek itu

telah menolongnya dan melepas budi kebaikan. Semuanya itu

menormalkan gejolak di hati wanita muda ini, meskipun

gejolak itu bisa berobah sewaktu-waktu kalau disulut sumbu

peledaknya.

Dan ketika hari-hari berikut keadaan tenang kembali

sementara Lui-ma sudah melupakan kejadian itu, menghormat

dan semakin dekat dengan Sin-hujin tiba-tiba saja nafsu kakek

itu bangkit lagi ketika suatu hari isterinya pergi ke hutan,

melihat Sin-hujin menyusui anaknya di kamar, sendirian.

“Heh-heh…!” kakek itu tak malu-malu, nyelonong begitu

saja. “Anakmu semakin gemuk dan sehat, hujin. Ah, betapa

lahap dan senangnya menikmati air susumu. Aduh, betapa

segarnya!”

Sang nyonya terkejut. Hari itu dia menina-bobok puteranya

dengan bernyanyi-nyanyi kecil. Kayu bakar sudah habis

namun kemarin dia telah menyiapkan itu di mulut hutan,

nenek Lui diminta mengambil karena Giam Liong sekarang

suka rewel kalau ditinggal sedikit.

Kakek Pa mengurus kebun dan masing-masing sudah ada

bagian sendiri-sendiri, kerjaan sendiri-sendiri. Maka begitu si

kakek muncul mendadak dan mengusap keringat sambil

terkekeh, mengawasi anaknya yang menyusu atau mungkin

buah dadanya sendiri mendadak Sin-hujin ini mengerutkan

kening tapi membiarkan saja buah dadanya terbuka, tak tahu

bahwa si kakek sampai mengilar, mendecak menelan liurnya

sendiri!

“Eh, kau ada apa, lopek? Kenapa masuk kesini?”

“Heh-heh, aku…. hm, aku ingin melihat anakmu itu.

Kemarin menangis terus, apakah sakit? Kalau sakit cepat

diobati, hujin. Ada beberapa ramuan obat yang kutahu. Atau

berikan padaku dan biar kulihat!” si kakek maju, menjulurkan

tangan dan tiba-tiba menyambar Giam Liong.

Dalam gerakan ini tentu saja dia harus menyentuh atau

bersentuhan dengan buah dada si ibu, yang menyembul dan

sedang menyusui anaknya, buah dada yang montok dan

memang segar! Tapi ketika si kakek bergerak dan hampir

bersentuhan tiba-tiba Sin-hujin itu mengelak dan membentak,

melihat sinar mata si kakek yang ganjil,

“Pa-lopek, jangan lancang. Anakku tak apa-apa. Pergilah!”

Si kakek melotot lebar. Dalam mengelak dan menjauhkan

diri itu tiba-tiba saja susu si ibu lepas dari mulut anaknya.

Giam Liong terkejut dan menangis, susu ibunya menggantung

di luar, kokoh dan padat, air susunya sampai menetes-netes!

Dan ketika Pa-lopek terbelalak dan kagum oleh pemandangan

ini, buah dada seorang ibu muda yang sedang penuh air susu

maka kakek itu tak tahan berseru memuji, mulutnya

mendecak.

“Aduh, nikmat benar. Air susumu menetes-netes, hujin. Ah,

sayang dibuang. Biarkan aku menerimanya kalau anakmu

tidak lapar!” dan sigap tertawa penuh nafsu mendadak si

kakek yang menjadi jalang dan tak tahu malu ini tiba-tiba

merunduk dan menjilat air susu yang menetes-netes itu.

Sikapnya liar dan cabul sekali, mengejutkan sang nyonya

yang tak menyangka bahwa seorang kakek seperti itu ternyata

masih pula memiliki berahi, kini merunduk dan bersikap

seperti anjing yang siap menjilat-jilat!

Sin-hujin tertegun dan tentu saja cepat menyambar

bajunya, menutup bagian yang rupanya menimbulkan syahwat

si tua bangka. Dan ketika si kakek terkejtut dan tampak

kecewa, melotot, tiba-tiba nyonya itu mengeluarkan satu

seruan pendek dan pinggang si kakek tertekuk menjadi dua

ketika mendapat sebuah tendangan kuat.

“Bedebah, kiranya kau binatang jalang!” Sang kakek

menjerit.

Pa-lopek berteriak karena tahu-tahu tubuhnya terlempar

keluar, berdebuk dan jatuh terguling-guling di sana. Dan

ketika kakek itu merintih dan mengaduh-aduh, kesakitan,

maka Sin-hujin berkelebat dan melepaskan lagi tendangan

beruntun.

“Keparat jahanam, kau tak tahu malu, Pa-lopek. Kurang

ajar! Bedebah terkutuk, kiranya kau anjing hina-dina… desdes-

dess!” si kakek menjerit-jerit, jatuh bangun dihajar

sepasang kaki yang indah tapi menakutkan itu dan kakek ini

terpental pulang balik.

Sin-hujin marah memaki-makinya tapi akhirnya kakek itu

berteriak minta ampun. Sadarlah si kakek bahwa nyonya

muda ini bukan wanita sembarangan. Hu-san dan dua

temannya telah dibuat roboh. Maka ketika dia menjadi bulanTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

bulanan dan berteriak mengaduh-aduh, teriakan yang tak

dihiraukan mendadak dari luar muncul bayangan nenek Lui.

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

Sang kakek dan sang nyonya sama-sama terkejut.

Sin-hujin menghentikan tendangannya sementara si kakek

lalu menelungkup. Pinggang kakek itu seakan patah-patah dan

bingunglah dia mencari jawaban. Isterinya muncul, celaka.

Tapi ketika Sin-hujin membelalakkan mata dan menahan

marah, anaknya menangis tapi sudah kembali disesapi buah

dadanya maka si kakek tertatih dan gemetar bicara, tak berani

memandangi buah dada yang membuat dia celaka itu,

“Aku…. aku jatuh tertimpa tangga. Seekor kucing lewat dan

mengejutkan aku, miring dan akhirnya jatuh. Aduh,

pinggangku serasa patah-patah, Lui-ma, tolong pijitin dan

gosok minyak lumur!”

Sang nenek tertegun. “Kucing? Disini ada kucing?”

“Entahlah, barangkali kucing hutan, Lui-ma, kucing liar.

Tadi Sin-hujin menggebuknya tapi kena aku…!”

“Hm!” sang nenek menoleh. “Benarkah hujin? Di mana

kucing itu sekarang?”

“Aku tak tahu, tapi mungkin hinggap di hidung suamimu

itu!” dan Sin-hujin yang membalik dan mendengus marah

akhirnya membuat si nenek menjublak dan bengong, merasa

ada sesuatu yang tidak beres tapi nenek ini tak bercuriga.

Dia memang belum pernah cekcok mulut dengan suaminya

itu, setidaknya dalam tujuh delapan tahun ini. Sang nenek tak

tahu bahwa suaminya tiba-tiba kembali menjadi “muda”,

panas dan bergairah setelah sering mencuri lihat Sin-hujin

menyusui anaknya. Pemandangan yang membuat kukoay. itu

bangkit dan penuh semangat, tak mengukur diri sendiri dan

melihat siapa dia siapa Sin-hujin.

Tapi ketika si nenek mengangguk-angguk dan percaya itu,

menolong suaminya maka nenek ini mengomel kenapa baru

ditinggal pergi tahu-tahu ada kucing hutan menabrak tangga.

“Sialan, membuat aku terkejut dan kaget saja. Tuh, bantu

aku menyeret kayu bakar itu, pek-pek. Aku tadi melemparnya

ketika mendengar kau menjerit-jerit!”

“Dimana?”

“Diluar rumah!”

“Baik,” dan ketika si kakek bangun berdiri dan terpincang

mengikuti isterinya maka kayu bakar dibawa masuk tapi

mendadak Sin-hujin keluar berpapasan dengan mereka,

membawa buntalan.

“Aku ingin pergi, tak betah lagi tinggal disini. Jaga dirimu

baik-baik, Lui-ma. Mudah-mudahan lain hari kita ketemu lagi

dan hati-hatilah menjaga dirimu.”

Sang nenek terkejut. “Kau…. ada apa ini? Kenapa tiba-tiba

saja pergi? Ah, tidak!” sang nenek menjerit, menubruk dan

melepaskan kayu bakarnya. “Aku tak mau, hujin. Kau tetaplah

di sini atau aku ikut bersamamu! Aku mencintai anakmu itu,

aku bahagia kau disini. Kau tetaplah bersamaku atau ajak

sekalian aku pergi!”

Sang nyonya tertegun. Nenek Lui sudah menangis dan

menggerung-gerung. Nenek itu terkejut dan terluka,

perasaannya terguncang. Tapi ketika wanita ini mendorong

dan menepuk pundak si nenek maka Sin-hujin berkata bahwa

dia akan mencari suaminya.

“Aku akan pergi, mencari suamiku. Tak mungkin kau ikut

karena aku akan melakukan perjalanan jauh.”

“Kalau begitu berikan Giam Liong kepadaku. Aku akan

memelihara dan menjaganya sampai kau kembali, hujin. Aku

ingin mengikatmu agar kau tidak meninggalkan aku!”

Sang nyonya terkejut. “Tak bisa,” katanya. “Aku sudah

cukup lama disini, nek Aku harus pergi dan tak mau

merepotkanmu. Biarlah lain kali aku datang lagi dan kita

bertemu.”

“Kalau begitu aku ikut!” sang nenek lari ke dalam,

menyiapkan buntalannya. “Aku bosan hidup menyepi, hujin.

Aku akan mengikutimu dan momong anakmu itu!”

“He!” sang kakek terkejut. “Kau gila, Lui-ma? Kau mau

meninggalkan aku?”

“Kau ikutlah sekalian kalau kau suka. Aku bosan hidup

disini, pa-pek. Tak ada anak atau momongan. Kita sudah tuatua

dan mau mati, lebih baik menikmati sedikit kegembiraan

ini dengan menjaga Giam Liong!”

Kakek Pa membelalakkan mata. Isterinya itu sudah berlari

keluar membawa buntalan. Benar saja, nenek ini mau ikut. Ia

tak perduli lagi pada suaminya dan rumah itu. Nenek ini sudah

mendapatkan kebahagiaannya dengan kehadiran Sin-hujin,

terutama si cilik Giam Liong itu, anak laki-laki yang baru

berusia sebulan. Dan ketika sang kakek membelalakkan mata

sementara Sin-hujin sendiri terkejut dan tertegun maka nenek

itu dengan gagah sudah berseru,

“Mari, kita pergi, hujin. Aku siap melakukan apa saja demi

kau dan anakmu itu!”

Sin-hujin tiba-tiba terharu. Mendadak dia menitikkan air

mata dan nenek itu dipeluknya, menangis. Baru kali ini ada

seorang tua memperhatikan dirinya begitu rupa. Ah, tak dapat

dia mengajak wanita ini bepergian tak tentu arahnya. Dia tadi

berbohong dengan mengatakan bahwa dia akan pergi mencari

suaminya, karena suaminya itu sesungguhnya sudah tewas,

dibunuh seseorang.

Maka ketika nenek ini mau ikut dan tentu saja

kesungguhannya itu membuat dia bingung, terharu, maka SinTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

hujin tak jadi pergi dan apa boleh buat melempar

buntalannya, juga buntalan si nenek.

“Baiklah,” wajah tua itu diciumi. “Aku tak jadi pergi, nek.

Aku akan tinggal bersamamu lagi. Sekarang masuklah dan

jangan buat aku diremas perasaan begini!”

“Kau tak jadi pergi? Kau masih mau bersamaku disini?”

“Hm, semuanya karena kau, nenek Lui Meskipun ada

sesuatu yang kurang menyenangkan disini. Aku pergi karena,

hmm.. sudahlah. Aku sudah cukup bicara!” dan mengerling

atau menyambar si kakek Pa dengan pandangan marah maka

wanita ini masuk ke dalam dan tak jadi berangkat.

Dia diam-diam merencanakan pergi secara tak diketahui si

nenek, akan menghilang seminggu dua minggu lagi kalau

nenek itu sudah cukup terhibur. Dan ketika sang nenek girang

sementara si kakek kecut, karena tahu apa yang

sesungguhnya membuat Sin-hujin mau pergi maka hari demi

hari dilewati lagi seperti biasa dan rumah itu kelihatan tenang.

Sekarang Sin-hujin kerap bepergian dengan si nenek.

Wanita itu hampir tak pernah di rumah kalau nenek itu

mencari kayu bakar. Hal ini dilakukan karena dia tak mau si

kakek berkurang ajar lagi.

Kalau tidak melihat muka nenek Lui barangkali nyonya

muda ini tak sudi tinggal di situ. Maklumlah, ketidaksenangannya

sudah mulai timbul sejak si kakek mau

berkurang ajar. Kalau saja tidak ingin menjaga kerukunan

nenek Lui dengan suaminya mungkin wanita ini sudah melapor

apa yang diperbuat si kakek.

Sekarang Sin-hujin berhati-hati kalau dia menyusui

anaknya. Tak pernah lagi kakek itu dapat menikmati buah

dadanya kalau dia sedang menyusui Giam Liong. Semua itu

demi ketenteraman dan ketenangan rumah tangga ini.

Tapi ketika seminggu lewat dengan cepat dan Sin-hujin

merencanakan untuk meninggalkan rumah itu keesokan

harinya, melepas anting-anting dan gelangnya untuk

ditinggalkan kepada si nenek mendadak saja si nenek terkapar

dan merintih-rintih dengan mulut berbusa, di tengah ruangan.

“Ah!” Sin-hujin terkejut, berkelebat keluar. “Apa yang

terjadi, nek? Kenapa kau seperti ini?”

“Ak… aku tak tahu…” si nenek menangis. “Aku baru makan

nasi itu, hujin, ketika tiba-tiba perutku sakit dan melilit-lilit…!”

“Di mana Pa-lopek?”

“Aku tak tahu, katanya ke kebun…!”

Sin-hujin bergerak cepat. Sekali lihat dia tahu bahwa nenek

ini keracunan. Ah, racun yang berbahaya sudah memasuki

perut. Maka ketika dia menotok dan menjejalkan sebutir obat

maka si nenek diangkat dan dibawa masuk ke ruangan dalam,

di atas pembaringan.

“Kau tunggu dulu disini, aku mencari air kelapa!”

Sang nenek bercucuran air mata. Dia muntah-muntah tapi

Sin-hujin sudah berkelebat keluar, menggapai dan memanggil

namun sayang nyonya muda itu tak mendengar. Dan ketika

Sin-hujin berkelebat datang dan membawa semangkok besar

air kelapa ternyata si nenek sudah menggeletak dan terkulai

wajahnya, kaku, tewas!

“Lui-ma…!”

Jeritan itu menggetarkan rumah. Sang nyonya berteriak

dan menubruk nenek itu, mengguguk.

Orang yang dikasihinya tiba-tiba meninggal, begitu cepat.

Dan ketika nyonya ini menangis dan suaranya memanggilmanggil

s i nenek maka aneh sekali Pa-lopek yang katanya ada

di kebun tak muncul-muncul juga, Kebun itu tak terlalu jauh

dan seharusnya kakek itu mendengar. Hal ini menyadarkan si

nyonya dan Sin-hujin itu tiba-tiba mencelat keluar, berteriak

dan memanggil-manggil Pa-lopek. Namun ketika kakek itu tak

muncul juga dan kebun di belakang sunyi, tak ada orangnya

maka wanita ini heran karena teriakannya dan tangisnya yang

mengguguk tadi tak membangunkan anaknya, yang sedang

tidur.

Padahal biasanya Giam Liong akan bangun dan menangis

begitu ada suara sedikit saja. Anaknya itu biasanya peka dan

mudah dibangunkan oleh sedikit suara gaduh. Maka heran dan

terkejut kenapa Pa-lopek tak ada sementara anaknya juga

tetap diam dan tenang saja di kamar maka wanita ini

berkelebat dan memasuki kamarnya.

Tapi, apa yang dilihat? Giam Liong tak ada. Anaknya itu

lenyap, kamar pun kosong!

“Liong-ji!!..!” pekik atau lengking ini mirip lolong srigala.

Wanita itu berteriak dan tiba-tiba berkelebat keluar. Rumah

yang baru dimasuki sudah ditinggalkan lagi, berkelebat dan

berputaran mencari ke sana ke mari. Kebun dan tempattempat

kosong didatangi. Suara panggilannya bergema

kemana-mana, merinding orang dibuatnya.

Tapi ketika semua tak ada dan tangis bayi sekonyongkonyong

terdengar di hutan, kaget dan panjang tiba-tiba

nyonya ini terkesiap dan terbang ke tempat itu, tempat yang

memang belum didatangi

“Liong-ji…!”

Lengking atau seruan ini terdengar menyayat. Sin-hujin

meluncur dan berkelebat ke hutan itu. Gerakannya seperti

siluman terbang.

Nyonya ini terkejut karena mungkin anaknya diculik

harimau, atau mungkin binatang buas lain sewaktu dia

mencari kelapa tadi. Tapi ketika dia tiba di hutan dan tangis

anaknya terdengar dekat, panjang melengking-lengking maka

nyonya ini tertegun karena bukan harimau yang dijumpai

melainkan belasan orang bersenjata lengkap!

-ooo0dw0ooo-

Jilid 2

“HA-HA-HA, ini anakmu, hujin?” sang nyonya terbelalak.

“Wah, sehat dan montok sekali. Semontok ibunya!”

Sang nyonya semburat merah. Suara tawa dan kekeh

kurang ajar terdengar di sana-sini, belasan orang itu terbahakbahak

dan satu di antaranya adalah Hu-san, laki-laki yang

dulu dihajarnya pingsan i-tu. Dan ketika Hu-san meminta anak

itu diserahkan kepadanya dan laki-laki tinggi besar yang

brewokan ini mengangguk menyerahkan anak itu maka Husan

berkata agar nyonya itu menyerah.

“Anakmu di tangan kami, dan inilah Bin-twako si Harimau

Hitam. Menyerahlah baik-baik, hujin. Dan aku tak akan

mengingat peristiwa lama kalau kau mau baik-baik bersama

kami. Nah, berlututlah, serahkan dirimu!”

“Keparat!” sang nyonya membentak. “Kau berani menculik

anakku, Hu-san? Kau minta kubunuh? Serahkan puteraku, dan

kaulah yang berlutut minta ampun!”

“Ha-ha, gagah dan berani!” si brewok, yang rupanya

disegani dan menjadi pemimpin di situ berseru, mendahului

Hu-san. “Wanita yang kaukatakan ini hebat sekali, Hu-san,

dan cantik, meskipun kelihatan lemah lembut. Ah, aku tak

percaya bahwa wanita selembut dan secantik ini dapat

membuatmu pingsan!”

“Hm, hati-hati,” Hu-san, yang sudah mengenal dan

merasakan kelihaian sang nyonya menyelinap di belakang

punggung si brewok, melihat wanita itu akan menyambar

anaknya. “Aku harus mengakui wanita ini gagah dan berani,

Bin-twako. Gerakannya cepat seperti siluman. Kau lindungilah

aku kalau dia menyerang!”

“Ha-ha, kau takut? Tak usah takut, di sini ada aku, juga

belasan teman yang lain. Kau serahkanlah anak itu dan biar

wanita ini kutundukkan sendiri!”

Hu-san menyeringai. Dia menyerahkan anak itu karena saat

itu Giam Liong menangis keras-keras. Anak itu tak suka di

pondongan laki-laki kasar ini dan Hu-san mencubitnya dengan

kejam. Laki-laki itu memang ingin membalas sebagian

dendamnya dengan menyakiti si bocah, ingin melihat ibunya

terbelalak dan pucat ketakutan. Tak tahunya Sin-hujin malah

melengking dan tiba-tiba berkelebat dengan amat cepatnya

ketika Giam Liong hendak diserahkan ke si tinggi besar. Dan

ketika si brewok itu terkejut dan berseru mengelak, kaget oleh

bayangan si nyonya yang benar saja mirip siluman terbang

tahu-tahu Hu-san menjerit karena, serangan si nyonya yang

dihindari si brewok mengenai mukanya, sebuah cengkeraman

dari sepuluh kuku-kuku tajam.

“Aduh..!”

Hu-san menjerit bergulingan. Laki-laki ini melepas Giam

Liong dan saat itu sang ibu menyambut, menggerakkan

tangan yang lain dan disambarlah Giam Liong dengan cepat.

Dan ketika sang anak sudah kembali ke ibunya sementara

sang ibu masih tidak puas dengan serangannya ke muka Husan

maka sebuah tendangan mengiringi gerakannya hingga

Hu-san mencelat terguling-guling, membentur pohon.

“Kau binatang tak tahu diri. Enyahlah, dan jangan cobacoba

mengganggu anakku….. dess!”

Semua orang terpukau. Mereka kaget dan kagum oleh

gerakan luar biasa dari si nyonya, begitu cepat, begitu

mengejutkan. Tapi ketika Hu-san merintih dan mengaduhTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

aduh, melingkar di sana maka si brewok dan teman-temannya

menjadi marah.

“Wanita siluman!” si brewok menggeram. “He, kepung

rapat-rapat, kawan-kawan. Jangan sampai lolos dan hati-hati

dengan serangannya!” dan kaget tapi juga marah oleh sepak

terjang si nyonya, laki-laki ini menggulung lengan bajunya,

memperlihatkan pergelangan tangannya yang kuat dan kekar,

seperti bambu petung. “Nyonya, kau menghina kami. Hu-san

adalah anak buahku. Hayo cepat minta maaf dan berlutut di

depan Ang-houw Bin Kiat Tung!”

“Hm, kau…!” si nyonya mendengus. “Jangan coba-coba

menggangguku pula, Bin Kiat Tung. Aku tak ada urusan

denganmu atau kaupun mengalami nasib sama seperti laki-laki

itu. Minggir, kalian jangan menghalangi!”

“Wah, kau begitu sombong? Berani menentang laki-laki

sedemikian banyaknya?”

”Hm, jangankan sekian. Seratus orang seperti kalian

sanggup kusapu bersih, Bin Kiat Tung. Minggir dan sekali lagi

jangan mengganggu aku. Anakku tak suka kalian

menggonggong!” dan gugup melihat anaknya menangis dan

melengking-lengking, kaget dan takut oleh semuanya itu maka

si nyonya membuka bajunya dan apa boleh buat menyumpal

mulut anaknya dengan puting buah dada yang segar, tak

malu-malu atau segan-segan lagi demi si anak, agar diam.

Dan ketika ibu itu menepuk-nepuk pantat anaknya sambil bercup-

cup agar tidak menangis maka belasan pasang mata

melototkan memandang gratis pemandangan luar biasa itu.

“Wah, padat dan penuh gizi sekali. Segar!”

“Ya, dan mau rasanya aku menggantikan anak itu, Singtwako.

Ah, betapa lezat dan nikmatnya!”

“Hm, dan aku siap mati kalau sudah diberi segumpal saja.

Huwaduh, tenggorokanku kering, Bin-twako. Aku tiba-tiba saja

ingin emik!”

“Ha-ha, aku juga!”

“Dan aku juga…!”

Dan ketika tawa serta suara-suara kurang ajar menjadi

saling tindih dan gaduh mengiringi tepukan tangan maka Sinhujin

berkilat dan menyambar-nyambar matanya. Saat itu dia

dikepung, ke manapun dia bergerak maka mata lelaki pasti

menyorotinya. Dia terpaksa menyusui anaknya karena hanya

dengan begitulah puteranya mau diam. Tapi ketika anaknya

malah tersedak dan kaget oleh sorak dan tawa itu,

melepaskan buah dadanya maka Sin-hujin ini menutup baju

dan secepat kilat tangan kirinya bergerak.

“Crep-crep!’

Dua orang roboh menjerit. Tiba-tiba saja dua batang jarum

amblas di tenggorokan dua orang itu. Mereka terjungkal dan

berteriak sekali, terguling dan seketika tewas! Dan ketika yang

lain terkejut dan tentu saja mundur, berteriak tertahan maka

Sin-hujin itu sudah berkelebat dan keluar kepungan.

“Siapa mengganggu akan mati seperti itu. Majulah, kalau

ingin mendekati’ maut!

Gegerlah semua orang. Setelah mereka sadar dan tahu

akan kematian temannya tiba-tiba semua orang menjadi

marah. Ang-houw (Harimau Merah) Bin Kiat Tung sampai

mendelik matanya, lelaki itu terkejut dan marah sekali. Maka

ketika si nyonya keluar dan anak buahnya mundur memberi

jalan, otomatis, setelah melihat kejadian itu maka laki-laki

tinggi besar ini memekik dan menerjang maju.

“Tangkap wanita ini, robohkan dia!”

Sang nyonya mendengus. Dia melihat si tinggi besar sudah

menyerang dengan goloknya. Senjata yang lebar dan berat itu

mengaung, tanda betapa hebat dan dah syatnya tenaga si

pengayun golok. Tapi ketika dia berkelit lincah dan golok

menderu di samping telinga ternyata yang lain maju meluruk

dan tombak atau golok-golok lain berseliweran. “Wut-wutsinggg…!”

Sang nyonya mengerutkan kening. Dia mampu menghindari

semua serangan senjata tajam itu tapi anaknya menangis

melengking-lengking. Si nyonya terganggu dan apa boleh buat

menangkis sebatang golok yang menyambar dari kiri,

mementalkannya dan si pemilik golokpun menjerit,

terpelanting, memberi sebuah jalan dan saat itulah Sin-hujin

keluar kepungan untuk kedua kalinya lagi, meletakkan

anaknya di atas rumput dan selanjutnya nyonya ini

beterbangan di antara senjata-senjata pengeroyoknya yang

mengejar, menghalau dan menolak balik semua senjata tajam

itu dengan kebutan ujung bajunya. Lawan sampai terpekik

karena hanya dengan kebutan ujung baju itu saja tiba-tiba

senjata mereka terpental, persis bertemu lempengan baja

atau kipas besi, dari ujung baju si nyonya. Dan ketika semua

terkejut dan Ang-houw Bin Kiat Tung sendiri terpekik oleh

sebuah tolakan tenaga kebut maka selanjutnya belasan lakilaki

kasar itu jatuh bangun dan terpelanting atau terlempar

oleh tenaga si nyonya. Kiranya Sin-hujin memiliki s inkang kuat

dan angin atau hawa pukulannya itu sanggup menahan

belasan senjata tajam, bukan main mengagumkannya. Dan

ketika nyonya itu mulai membalas dan Bin Kiat Tung serta

teman-temannya dibuat kalang-kabut maka lelaki itu berteriak

agar membunuh si bayi yang ada di atas tanah, mengganggu

konsentrasi si nyo nya.

“Hajar dan bunuh anak laki-laki itu. Kacau perhatian

ibunya!”

Dua orang mengangguk. Mereka merasa sependapat dan

tertawa girang, melompat dan menghampiri anak laki-laki

yang masih menangis itu, bahkan yang kian keras tangisnya

karena ditinggal s i ibu. Tapi ketika mereka bergerak dan golok

terayun ke leher, keji hendak menetak sekonyong-konyong

terdengar tawa dingin dan Sin-hujin itu menggerakkan dua

sinar hitam ke arah dua laki-laki ini.

“Ya, bunuh anakku, kalau kalian ingin mampus!”

Dua orang itu menjerit. Sama seperti teman mereka yang

pertama tadi mendadak mereka berteriak dan terjengkang

roboh. Dua jarum hitam itu menembus teng gorokan mereka,

amblas dan seketika membuat mereka terguling, tewas dan

mukapun segera menjadi kehitaman. Dan ketika dua orang itu

roboh dan yang lain tersentak maka Bin Kiat Tung berteriak

menyuruh yang lainnya lagi.

“Kutahan wanita ini, hajar dan bunuh bocah itu!”

Empat orang kembali bergerak. Mereka marah dan juga

penasaran oleh kegagalan itu. Bin Kiat Tung sudah menerjang

dan menahan si nyonya. Menurut perhitungan tentunya si

nyonya sibuk dan tak sempat menghalangi mereka, apalagi

sekarang mereka maju berempat dan bukannya berdua. Tapi

ketika si nyonya membentak dan golok di tangan lawan

diterima kedua jarinya, ditekuk dan dihentak ke bawah maka

golok itu bengkok sementara tangan si nyonya yang lain

mengeluarkan lagi jarum-jarum hitam itu.

“Crep-crep-crep!”

Empat orang roboh berteriak ngeri Ternyata mereka

menjadi korban juga sementara Ang-houw Bin Kiat Tung

terpekik melihat goloknya melengkung. Golok itu seperti

benda lembek yang begitu gampang dibuat bengkok. Ah! Dan

ketika laki-laki itu terkejut dan tertarik maju maka kaki si

nyonya bergerak menendar dan laki-laki ini mencelat.

“Dess!”

Ang-houw Bin Kiat Tung terlempar. Laki-laki ini berdebuk

dan terbanting mengaduh, sadar bahwa dia kiranya

berhadapan dengan seorang wanita lihai, buka sembarangan.

Tapi ketika dia terhuyun bangun dan melotot gentar, ngeri,

maka si nyonya berseru bahwa mereka semua patut dibunuh.

“Tiga kali kalian mengganggu anakku. Cukup, itu sudah

lebih dari cukup. Sekarang lihatlah apa yang kupegang dan

bersiaplah ke akherat!”

Si Harimau Merah terbelalak. Belum jelas dia melihat tahutahu

sinar putih berkeredep menyambar. Sinar itu bergerak

cepat dan tahu-tahu menuju dirinya, membabat dan melewati

tiga orang di depan yang seketika berteriak ngeri. Dan ketika

tiga orang itu roboh dan tangan atau kaki mereka

beterbangan, entah bagaimana, tahu-tahu sinar putih itu juga

sudah menyambar dan membabat si Harimau Merah.

“Crass!”

Darah memuncrat tinggi. Si Harimau Merah tak sempat

memekik karena tahu-tahu kepalanya putus. Batang kepala itu

lepas dari tubuhnya seakan disabet lidah seekor naga, atau

mungkin lecutan seekor naga sakti yang sedang marah. Dan

ketika empat atau lima tubuh bertumbangan dengan kaki atau

tangan putus-putus, terpisah dari tempatnya maka sisanya

yang lain terbelalak ngeri dan tiba-tiba menjerit memutar

tubuh lari sipat kuping!

“Jangan lari, kalian harus

kubunuh…. cras-crass!”

tangan dan kaki

beterbangan lagi, disusul

jerit dan robohnya tubuhtubuh

yang ambruk seperti

batang pisang. Lima laki-laki

tiba-tiba sudah menjadi

korban lagi dari keganasan

sinar putih itu, yang

ternyata sebatang golok dan

ampuhnya nggegirisi,

karena golok itu tak

berlepotan darah karena begitu dipenuhi darah tiba-tiba golok

ini sudah menghisapnya kering dan bersih, golok yang diamati

satu dari dua laki-laki terakhir yang jatuh terduduk, lunglai

dan ngeri oleh keberingasan si nyonya yang demikian sadis,

sungguh jauh bedanya dengan tubuh atau gerak-geriknya

yang lemah lembut itu, meskipun pandangan matanya meliar

dan tiba-tiba seolah orang yang tidak waras. Dan ketika golok

itu menyambar lagi dan teman laki-laki ini terjengkang dengan

kepala putus maka satu dari tujuhbelas o-rang yang masih

hidup itu berteriak,

“Giam-to (Golok Maut)…!”

Sang nyonya tertegun. Teriakan atau seruan yang

sebenarnya merupakan pengiring bagi kematian laki-laki itu

tiba-tiba malah menyelamatkannya. Golok berhenti dan lekat

di kulit, tak jadi membabat, bergetar dan pucatlah laki-laki itu

menjatuhkan diri berlutut. Dan ketika si nyonya memandang

dingin dan golok masih menempel, dingin dan mengeluarkan

hawa menyeramkan tiba-tiba lelaki itu sudah meratap.

“Am…. ampun. Aku tak tahu bahwa kau kiranya isteri Si

Golok Maut, hujin. Kau kiranya Sin-hujin dari Hek-yan-pang

itu. Am…. ampun…. aku jangan dibunuh!”

Sang nyonya menarik goloknya. Cepat dan luar biasa tahutahu

senjata itu lenyap di punggung. Dan ketika pandang

matanya dingin menusuk dan laki-laki itu rupanya

mengenalnya, setelah dia mengeluarkan golok mautnya maka

nyonya itu menendang, tertawa aneh.

“Tikus busuk, kau orang pertama yang dapat mengenal

aku. Baiklah, kuselamatkan jiwamu. Tapi katakan dulu

bagaimana semuanya ini bisa terjadi dan anakku tahu-tahu

diculik…. dess!”

Laki-laki itu terlempar. Dia mengaduh tapi berseru

kegirangan bahwa s i nyonya tak membunuhnya. Dia diampuni

dan itu berarti umurnya masih panjang. Maka ketika dia

meringis bangun dan terhuyung menghampiri nyonya itu,

menjatuhkan diri berlutut maka segera dia ditanya bagaimana

anak sang hujin tahu-tahu diculik.

“Aku…. aku tak banyak tahu. Tapi Hu-san mengajak Anghouw

Bin Kiat Tung mengganggu dirimu. Selanjutnya kau

dihadang di sini, hujin, dan selanjutnya pula kau telah

membunuh mereka….!”

“Hm, Hu-san? Laki-laki itu?”

“Benar,” lawan bicara mengangguk memandang Hu-san

yang masih pingsan di tanah, karena laki-laki itulah yang

pertama kali diserang si nyonya. “Hu-san inilah yang

membawa Bin Kiat Tung kepadamu, hujin. Dan siapa yang

membawa anakmu ke sini sesungguhnya aku kurang jelas

benar.”

“Kalau begitu seret dia ke mari. Aku ingin bertanya!”

Hu-san disiram air dingin. Laki-laki ini memang pingsan dan

dia tidak terlibat pertarungan. Itulah sebabnya dia masih

hidup dan kini disadarkan. Tapi begitu laki-laki ini siuman dan

terkejut melihat Sin-hujin, terbelalak melihat banyaknya mayat

malang-melintang di sekitar dirinya tiba-tiba lelaki itu menjerit

dan lari lintang-pukang.

“He, kau ke sini!” bayangan Sin-hujin berkelebat. “Berhenti

dan jangan lari, orang she Hu. Atau kau mati seperti yang

lain-lain ini…. bluk!” Hu-san roboh tertotok, kaget melengking

tinggi dan ambruk di hadapan nyonya itu. Lalu ketika laki-laki

ini merintih kesakitan dan meratap berulang-ulang, pucat dan

gentar maka Sin-hujin itu menanyainya tentang penculikan

anaknya. “Siapa yang membawa anakku ke sini, dan siapa

pula yang membawa orang she Bin itu!”

“Ak…. aku tak tahu!” laki-laki ini pias. “Ampunkan aku,

hujin…. ampunkan aku!”

“Hm, temanmu itu mengatakan bahwa kaulah yang

membawa orang she Bin. Berani kau menyangkal?”

Hu-san terkejut. Baru dia sadar bahwa di situ ada

temannya itu. Maka mengeluh dan mengangguk gentar

terpaksa dia mengaku.

“Dan siapa yang membawa anakku ke sini!”

“Pa-lopek.” lelaki itu tiba-tiba bersinar. “Dialah yang

membawa anakmu, hu-jin, dan dialah yang meracun isterinya

pula!”

“Apa?” kening itu terangkat. “Kakek tua bangka itu?”

“Benar, hujin. Dia…. dia….”

“Teruskan!” sang nyonya membentak. “Ceritakan jangan

terputus-putus, tikus busuk. Atau aku nanti menendangmu

dan kau mampus tak dapat bicara!”

Hu-san ketakutan. Akhirnya laki-laki ini menceritakan

bahwa kakek Pa itulah yang membawa Giam Liong ke hutan,

meracun isterinya dan mengharap mereka semua dapat

menangkap si nyonya. Dan ketika Sin-hujin merah padam dan

mendengarkan cerita itu maka si nyonya bertanya apa yang

menjadi maksud atau tujuan Pa-lopek itu.

“Dia… dia ingin memperisterimu. Kakek itu jatuh cinta

kepadamu!”

“Bedebah!” muka itu semakin merah padam. “Kakek itu

mau memperisteri aku? Dan untuk itu dia sampai meracun

isterinya sendiri? Keparat, katakan di mana kakek jahanam itu

sekarang, Hu-san. Atau kau terbang ke akherat!”

“Am…. ampun…!” Hu-san ketakutan. “Tit… tidak, hujin.

Jangan bunuh aku. Kakek itu masih bersembunyi di hutan ini.

Tadi dia di belakang Bin Kiat Tung dan menggigil di balik

pohon besar itu!”

“Hm, kalau begitu kau cari dia. Juga kau!” si nyonya

menuding laki-laki pertama. “Cari dan seret kakek itu ke mari,

tikus-tikus busuk. Dan jangan coba-coba lari kalau tak ingin

kubunuh. Kuberi waktu seperempat jam atau kalian mampus!”

Hu-san dan laki-laki pertama ketakutan. Mereka ngeri dan

segera dua laki-laki itu memasuki hutan, mencari dan tak lama

kemudian sudah membawa kakek i-tu. Ternyata benar, Palopek

bersembunyi di hutan, jauh di tengah. Dan begitu kakek

ini tertangkap dan melolong-lolong melihat begitu banyaknya

mayat di situ maka kakek ini ditendang dan Hu-san berusaha

mencari muka di depan Sin-hujin, yang matanya seperti

mengeluarkan api!

“Katakan dan akui semua perbuatanmu di depan Sin-hujin.

Atau aku akan mencekikmu dan kau kubunuh!”

“Ti… tidak. Ampun, Hu-san…. ampun!”

“Jangan minta ampun kepadaku, tetapi kepada Sin-hujin….

dess!” kakek itu terlempar, jatuh tepat di depan Sin-hujin dan

nyonya ini menyambar rambut si kakek, memelintirnya dan

berteriak-teriak-lah kakek itu oleh pelintiran si nyonya. Dan

ketika Sin-hujin bertanya kenapa kakek itu meracun isterinya,

seperti yang dikata Hu-san maka kakek itu menangis.

“Am… ampun. Aku mencintaimu, hu-jin. Aku ingin hidup

berdua denganmu. Aku membenci isteriku yang tiba-tiba

cerewet. Kalau kau tak suka kepadaku biarlah kutarik niatku,

jangan kau membunuhku!”

“Hm, menarik niat setelah meracun isterimu? Menarik niat

setelah kau takut kubunuh? Keparat, kau tua bangka tak tahu

malu, Pa-lopek. Sungguh menjijikkan dan memuakkan

tingkahmu ini. Hayo kubur isterimu itu, dan minta ampun di

sana!”

“Ba… baik!”

“Dan kalian!” nyonya itu membalik. “Bersihkan dan kubur

semua mayat-mayat ini, Hu-san. Setelah itu ikut aku ke nenek

Lui!”

Hu-san mengangguk. Merasa mendapat harapan dan

ampunan si nyonya tiba-tiba laki-laki itu sudah bergegas

mengumpulkan mayat teman-temannya. Teman satunya

membuat lubang dan Hu-sanpun tak lama kemudian sudah

membantu. Sebenarnya dua orang itu ngeri dan hampir

muntah-muntah oleh pemandangan yang amat mengerikan

ini. Kaki dan tangan terpisah di mana-mana, terakhir kepala

Bin Kiat Tung tampak menggelinding di bawah semak,

bercampur dengan tahi kerbau! Tapi ketika semua itu

dilakukan dua orang ini dan menahan muntah mereka terus

memasukkan mayat-mayat itu maka Sin-mujin akhirnya

menendang Pa-lopek untuk ganti mengubur mayat isterinya.

“Tap…. tapi berjanjilah dulu bahwa kau tidak akan

membunuhku, hujin. Bahwa kau akan mengampuniku seperti

mengampuni dua orang ini!”

“Hm, aku memang tidak akan membunuhmu. Terlalu kotor

tanganku menyentuhmu!”

“Ah, terima kasih, hujin. Kalau begitu terima kasih!” dan si

kakek yang mencium serta menjatuhkan diri berlutut di kaki si

nyonya akhirnya ditendang dan mencelat lagi, bangun

merangkak dan terhuyung berdiri tersenyum-senyum dan

tidak ketakutan seperti tadi. Agaknya janji s i nyonya dipercaya

penuh, padahal Hu-san dan temannya saling lirik dan curiga.

Mata si nyonya menyinarkan nafsu pembunuhan, tak mungkin

dipercaya begitu saja. Tapi ketika mereka mengiring dan

berdebar melihat semuanya itu maka tiga orang ini akhirnya

tiba di rumah nenek Lui yang membujur kaku. Pa-lopek

akhirnya diminta mengubur isterinya dan meminta ampun.

Kakek itu biasa-biasa saja dan tidak menunjukkan penyesalan

sedikitpun. Rupanya kakek itu berdarah dingin, atau mungkin

tiba-tiba menjadi dingin dan sinis karena maksudnya gagal.

Sin-hujin tak berhasil diraihnya sebagai isteri, sebuah impian

yang terlampau muluk! Dan ketika semuanya selesai dan jazad

nenek Lui sudah dikuburkan maka Hu-san mendapat isyarat

agar membunuh kakek itu, menggorok lehernya!

“Apa?” laki-laki ini terkejut. “Membunuhnya, hujin?

Bukankah kau berjanji tak akan membunuhnya?”

“Hm, aku memang tak akan membunuhnya, Hu-san.

Tanganku terlampau bersih untuk dikotori darahnya yang

jahat. Tapi aku tak berjanji untuk meminjam tangan orang

lain, dan kaulah yang kupilih!”

Hu-san terkejut. Akhirnya dia sadar bahwa si nyonya

memang betul. Pa-lopek tak dibunuh dan justeru dialah yang

kini dipinjam. Kakek itu harus menemui kematian, bukan oleh

tangan Sin-hujin melainkan oleh tangannya. Dan ketika Palopek

terbelalak dan pucat mendengar itu, tersentak, maka

laki-laki ini sudah tertawa dan mencabut goloknya.

“Lopek, rupanya kau terlalu banyak dosa. Lihat dan dengar

sendiri kata-kata Sin-hujin. Maaf, aku harus mengantar

nyawamu ke neraka!”

“Tit…. tidak!” sang kakek tiba-tiba memutar tubuhnya, lari

lintang-pukang. “Aku mendapat janji tak akan dibunuh, Husan.

Aku sudah dinyatakan mendapat ampun!”

“Ha-ha, kau salah mengartikan. Sin-hu-jin memang

mengampunimu, lopek. Tapi aku tidak. Dan aku akan

membunuhmu!” dan Hu-san yang mengejar serta membentak

si kakek agar berhenti tiba-tiba menyusul dan mengayunkan

goloknya. Kakek Pa mengelak namun dia tersandung jatuh,

berteriak dan ngeri melihat Hu-san menggerakkan goloknya ke

arah leher. Kakek itu menggulingkan tubuh dan golok

menghajar tanah, luput. Tapi ketika Hu-san menggeram dan

mengejar lagi, membacok, maka si kakek mengeluh dan tahutahu

lehernya putus.

“Crass!”

Darahpun membasahi bumi. Hu-san tertawa bergelak dan

puas melaksanakan perintah sang nyonya. Dia merasa

mendapat ampun dan kepercayaan. Tapi ketika dia mau

menyarungkan goloknya dan berbalik melapor hasil tiba-tiba

Sin-hujin berkelebat dan menyuruh dia memotong lidah,

dengan goloknya itu!

“Ap…. apa?” lelaki ini pucat, mundur dua tindak. “Mem….

memotong lidahku, hujin? Kau hendak membunuhku?”

“Hm, tidak,” sang nyonya menggeleng, tersenyum dingin.

“Aku tidak membunuhmu, Hu-san. Hanya memerintahkan kau

mengerat lidahmu itu dengan golokmu sendiri. Aku tak

membunuhmu kecuali kau membangkang!”

“Tapi hujin mengampuni aku!”

“Benar, dan karena itu kau tidak kubunuh. Tapi sekarang

kalian berdua mengenal aku sebagai isteri Si Golok Maut, Husan.

Dan aku tak suka kalian menceritakan ini kepada orang

lain. Aku ingin memotong lidah kalian agar terjamin bahwa

kalian tak bercerita pada orang lain!”

“Ah!” dan Hu-san yang terbelalak serta ngeri tiba-tiba

menjatuhkan diri berlutut, menangis. “Aku bersumpah tak

akan menceritakan keadaan dirimu kepada o-rang lain, hujin.

Aku bersumpah demi langit dan bumi, juga arwah semua

nenek moyangku!”

“Benar,” temannya, yang ketakutan dan juga pucat oleh

keputusan itu tiba-tiba ikut menjatuhkan diri berlutut,

menangis. “Akupun bersumpah seperti itu, hujin. Percayalah

bahwa kami berdua tak akan menceritakan dirimu kepada

orang lain!”

“Aku tak ingin banyak omong,” sang nyonya tiba-tiba

berkilat. “Laksanakan perintahku atau kalian mampus, Hu-san.

Cepat dan jangan membuat aku marah!”

Hu-san tiba-tiba memekik. Golok yang ada di tangannya

tiba-tiba ditusukkan kedepan. Sang nyonya ada di depannya

dan laki-laki inipun melompat bangun. Kemarahan dan

kengerian akhirnya membuat laki-laki itu nekat, menubruk dan

menusuk perut si nyonya dengan bentakan sengit. Tapi ketika

nyonya itu mendengus dan tak mengelak, membiarkan golok

menusuk perutnya tiba-tiba golok patah dan Hu-san berteriak

tinggi.

“Aduh…. pletak!”

Kiranya patahan golok menancap di tubuh laki-laki itu

sendiri. Dengan gerakan cepat dan luar biasa Sin-hujin

menggerakkan kakinya, sedikit saja tapi golok sudah dicungkil

ke atas. Dan karena golok menyambar cepat dan ujung yang

lancip itu menuju dada maka robohlah Hu-san dengan

patahan goloknya sendiri!

“Nah,” Sin-hujin menghadapi lawan satunya. “Kau saksi

terakhir yang masih hidup, tikus busuk. Tinggal melaksanakan

perintahku atau menyusul arwah Hu-san!”

“Ak… aku mau!” laki-laki itu menggigil. “Ak… aku akan

melaksanakan perintahmu, hujin. Dan aku akan memotong

lidahku!” tapi bingung tak melihat senjata tajam di situ lakilaki

ini gemetar, tapi segera ditunjuk si nyonya agar

mengambil patahan golok di dada Hu-san.

“Pakai itu, dan kerat lidahmu!”

Laki-laki ini menangis. Akhirnya apa boleh buat dia

mencabut patahan golok di dada temannya itu, lalu sekali dia

menjulurkan lidah dan mengerat maka lidah-nyapun

terpotong, putus. Tapi begitu lidahnya putus maka laki-laki

inipun juga ambruk dan roboh pingsan!

“Hm, kurcaci-kurcaci menyebalkan,” nyonya ini tertawa

dingin, sama sekali tak tergerak oleh tiga tubuh yang malangmelintang

itu. “Selamat tinggal, nenek Lui-ma. Dan semoga

arwahmu tenang di alam baka!” lalu sekali bergerak dan

menyambar bayinya, yang tertidur dan pulas di situ tiba-tiba

nyonya ini sudah menghilang dan tidak memperdulikan kakek

Pa atau lain-lainnya itu.

0odwo0

Hek-yan-pang (Perkumpulan Walet Hitam). Di sini tinggal

dua orang gagah yang menjadi tokoh-tokohnya, sepasang

suami isteri yang baru setahun menikah dan disegani para

penghuninya. Dan bagi para pembaca yang sudah membaca

Golok Maut, kisah sebelum kisah ini tentu mengenal s iapa dua

orang gagah itu, suami isteri lihai yang tinggal dan memimpin

perkumpulan Walet Hitam ini.

Benar, mereka adalah Swi Cu dan suaminya, Beng Tan, J u

Beng Tan yang akhir nya dikenal orang sebagai Pek-jit Kiamhiap

(Pendekar Berpedang Matahari), seorang pemuda gagah

perkasa yang dulu dipakai oleh istana untuk menandingi dan

menghadapi Si Golok Maut Sin Hauw, pembunuh yang

membuat geger di istana dan telah menjatuhkan tangan

mautnya dengan membunuh-bunuhi ratusan orang. Tak

kurang dari sepuluh orang-orang lihai telah dibabat Si Golok

Maut ini ketika orang-orang itu membantu istana. Dan ketika

Ci-ongya akhirnya terbunuh dan menemui ajal di tangan Si

Golok Maut, yang akhirnya juga tewas dan roboh di Bukit Iblis

maka sepak terjang atau keganasan si Golok Maut itu menjadi

buah bibir.

Beng Tan ditarik ke istana untuk menjaga keselamatan

kaisar, juga dua adik tiri kaisar yang bernama Coa-ongya dan

Ci-ongya. Tapi ketika Ci-ongya tetap juga binasa dan Golok

Maut akhirnya dikejar-kejar, dikeroyok limaribu orang dipimpin

si Kedok Hitam yang misterius maka Golok Maut akhirnya

terbunuh dan mengalami nasib mengerikan di Bukit Iblis, mati

terpotong-potong.

Memang menyedihkan nasib Si Golok Maut itu. Ajal

merenggutnya demikian sadis, padahal dia terikat duel dan

janji dengan Ju Beng Tan ini, lawan paling tangguh dan

seimbang yang pernah dihadapi. Dan karena Beng Tan

akhirnya kecewa dengan kematian Si Golok Maut itu, yang

terjadi akibat ketidaksetiaan kaisar sendiri dengan katakatanya

maka pemuda ini akhirnya menarik diri dan tak mau

lagi bekerja di istana.

Beng Tan, pemuda gagah perkasa itu mengundurkan diri.

Pemuda itu mengalami kekecewaan berat, di samping rasa

terguncangnya yang hebat oleh kematian Golok Maut dan

hadirnya seorang tokoh yang mengejutkan, si Kedok Hitam

yang misterius itu. Dan ketika semuanya berakhir namun

pemuda ini terpukul oleh sesuatu yang amat mengguncangkan

maka Beng Tan mencoba melupakan itu dengan tinggal di

Hek-yan-pang.

Sebenarnya, perkumpulan ini adalai milik isterinya, bukan

milik pemuda itu. Namun karena pemuda itu menjadi suami

Swi Cu dan Swi Cu adalah tokoh pengganti setelah sucinya

(kakak seperguruan perempuan) Wi Hong maka pemuda itu

otomatis diangkat sebagai ketua dan Beng Tan pun

sebenarnya bukan laki-laki asing bagi anggauta atau penghuni

Hek-yan-pang.

Pemuda ini telah dua tiga kali menolong perkumpulan itu

dari sergapan Si Golok Maut, yakni ketika Golok Maut mencari

dan memasuki perkumpulan itu yang menyembunyikan Ci

Fang, putera mendiang Ci-ongya yang akhirnya tewas

terbunuh. Dan karena Beng Tan telah dua atau tiga kali

menyelamatkan perkumpulan ini maka hadirnya pemuda itu di

perkumpulan Walet Hitam dapat diterima baik-baik, apalagi

setelah pemuda itu menikah dengan Swi Cu, gadis yang dulu

menjadi hu-pangcu (wakil ketua) di perkumpulan ini.

Sebenarnya, setahun dua yang lalu Hek-yan-pang tak boleh

dimasuki lelaki. Perkumpulan ini amat keras menjaga

peraturannya yang sudah puluhan tahun. Siapa pun yang

berani datang, asal laki-laki, tentu dibunuh. Tapi ketika Golok

Maut datang dan mengobrak-abrik perkumpulan itu maka

peraturan yang ketat dijalankan bertahun-tahun tiba-tiba saja

hancur berserpihan seolah kain lapuk ditiup angin kencang.

Dulu Hek-yan-pang amat keras dan membenci laki-laki.

Dulu perkumpulan ini tak mengijinkan laki-laki masuk dan

berbuat seenaknya. Tapi ketika Golok Maut dapat keluar atau

masuk sesukanya, karena tak ada seorangpun yang dapat

menandingi tokoh itu maka Hek-yan-pang roboh pamornya

dan celaka sekali ketua mereka yang cantik, Wi Hong, bahkan

jatuh cinta dan bermesraan dengan manusia pembunuh itu.

Dan akibat dari semuanya itu ketua mereka hamil!

Para anggauta Hek-yan-pang terguncang. Mereka benarbenar

terpukul. Bayangkan, ketua mereka yang amat keras

dan membenci murid-murid yang berjina ternyata telah

melanggar larangan itu sendiri. Sang ketua galang-gulung

dengan Si Golok Maut dan hamil, padahal belum menikah.

Tapi karena yang melakukan itu adalah tokoh mereka sendiri

dan ada semacam “undang-undang tak tertulis” bahwa apa

yang dilakukan tokoh tak perlu dipergunjingkan lama-lama

maka anak murid Hek-yan-pangpun mengurut dada meskipun

beberapa di antara mereka, terutama yang dulu kena hukum

akibat jina merasa marah dan tidak puas. Maklumlah, ini tidak

adil! Namun, apa yang dapat mereka lakukan?

Ketua Hek-yan-pang itu sudah tak ada di situ lagi. Sang

ketua yang lama menghilang dan telah diganti sumoinya (adik

seperguruan perempuan) itu, Swi Cu, gadis yang tak kalah

lihai dengan sucinya dan memiliki Ang-in-kang (Pukulan Awan

Merah) di samping ilmu pedang Angin Kiam-sut (Ilmu Pedang

Awan Merah). Dan karena pimpinan kini sudah berganti orang

dan Swi Cu memimpin bersama suaminya maka beberapa

perobahan mulai dilakukan dan anak-anak murid Walet Hitam

girang.

Pertama, mereka boleh berhubungan dengan lelaki. Ehm!

Lelaki boleh memasuki markas Hek-yan-pang dan siapa yang

hendak menjadi murid diterima. Hek-yan-pang tidak lagi

merupakan perkumpulan yang dihuni wanita-wanita saja

melainkan juga lelaki atau pemuda-pemuda tegap yang

menjadi murid di situ. Dan peraturan ini tentu saja

menggembirakan murid-murid perempuan.

Betapa tidak? Mereka telah bertahun-tahun memendam

semacam perasaan rindu terhadap lelaki. Ada semacam

perasaan atau hasrat ingin bermanja-manja dan dilindungi

lelaki. Kebekuan yang ditrapkan ketua lama terasa menyiksa.

Itulah sebabnya ketika beberapa anak murid perempuan

merasa tak tahan dan “main-main” di luar, berhubungan

dengan lelaki tiba-tiba saja anak murid yang lain merasa iri

dan melapor pada ketuanya. Dan Wi Hong ketua yang lama

itu memberi hukum an keras. Ada murid yang terpaksa

dihukum kurung seumur hidup, ada pula yang dibunuh karena

tak dapat meninggalkan kekasihnya, ketika kekasihnya itu

masuk dan menyusul. Dan ketika peristiwa-peristiwa lain

mengguncangkan perkumpulan itu namun dapat diredam,

eh… mendadak sang ketua sendiri jatuh cinta kepada Golok

Maut dan berhubungan intim!

Tapi, ah., itu sudah lewat. Dalam malu dan bingungnya

sang ketua lama sudah meninggalkan perkumpulan. Sumoinya

duduk menggantikan dan Hek-yan-pang sudah dilindungi pula

oleh seorang pemuda gagah perkasa yang bukan lain Ju Beng

Tan adanya itu. Pemuda ini amat lihai, dia adalah murid atau

setidak-tidaknya orang yang menganggap diri sebagai murid

dari manusia maha sakti Bu-beng Sian-su, kakek dewa yang

misterius itu. Dan karena pemuda ini amat hebat dan dua

ilmunya amat ditakuti lawan maupun kawan maka Pek-luiciang

(Tangan Kilat) dan Pek-jit Kiam-sutnya (Ilmu Pedang Ma

tahari) cukup membuat namanya dimalui.

Pemuda ini memang luar biasa. Dulu, setahun yang lalu

ketika tak ada seorang tokoh pun yang mampu menandingi

Golok Maut maka pemuda inilah yang muncul. Beng Tan inilah

yang mampu bertanding seru dengan tokoh pembunuh itu. Di

Hek-yan-pang sendiri pernah dua orang ini bertarung sehari

semalam, dengan kesudahan masing-masing sama roboh dan

kehabisan tenaga. Dan ketika keduanya hendak melanjutkan

setelah beristirahat sejenak tiba-tiba Bu-beng Sian-su datang

dan melerai, memisah dua orang itu. Dan Beng Tan menjadi

tokoh idaman yang diam-diam digandrungi banyak muridmurid

perempuan Hek-yan-pang.

Namun pemuda itu telah memilih. Swi Cu, sang wakil

ketua, telah menjatuhkan hatinya. Pemuda ini tak bertepuk

sebelah tangan karena sang gadispun menyambut. Mereka

akhirnya menikah dan menetap di Hek-yan-pang itu, setelah

melalui dan mengalami beberapa kejadian pahit getir yang

membuat keduanya semakin dewasa dan matang, juga tentu

saja semakin dekat dan mesra satu sama lain. Dan ketika

pemuda itu menetap dan tinggal bersama anak-anak murid

Hek-yan-. pang maka Beng Tan secara resmi ditunjuk untuk

menjadi ketua di situ, sang isteri mewakili.

“Aku masih di bawahmu, dan kau jauh lebih lihai.

Kaupimpinlah perkumpulan ini ke arah yang lebih baik, Tanko.

Aku mendampingi dan cukup sebagai wakil ketua saja!”

“Hm, mana mungkin? Anggautamu semua perempuan, Cumoi.

Dan aku tak bia sa bergaul dengan begitu banyak wanita.

Aku kikuk, sebaiknya aku saja sebagai pendamping atau

penasihat, pelindung!”

“Tidak, semua anggautaku sudah menyatakan

persetujuannya, Tan-ko. Kau menjadi pemimpin dan kami

anak buahmu!”

“Hush, kau bukan anak buah, kau isteri!”

“Mmmm…. ya, begitu maksudku. Pokoknya kau di atas dan

aku di bawah!”

“Eit, bawah mana? Bawah kasur? Jangan macam-macam,

ini bukan gurauan, Cu-moi. Ini adalah warisan para leluhur

tetau tetua terdahulu!”

“Ih!” sang isteri cemberut, merasa salah omong.

“Maksudku tentu saja bukan bawah kasur, Tan-ko, melainkan

di bawahmu dalam arti kata jabatan. Semua anggauta sudah

menyatakan persetujuannya untuk kau pimpin!”

“Tapi Hek-yan-pang warisan guru dan nenek-nenek

gurumu. Aku bisa kena kutuk!”

“Tidak, kita bisa bersembahyang di abu leluhur. Para guru

dan arwah pendiri Hek-yan-pang tentu tahu bahwa tanpa kau

di sini tentu perkumpulan ini sudah hancur. Ingat saja ketika

kami diserang Golok Maut, dan ingat juga ketika beberapa

orang sesat mencoba merusak perkumpulan ini!”

“Hm-hm, baiklah,” sang suami akhirnya menganggukangguk,

menarik lengan isterinya itu. “Tapi mengajari muridmurid

wanita tak mau aku, Cu-moi. Kaulah yang tetap

berhubungan dengan mereka dan aku hanya dari luar!”

Sang isteri tersenyum. Tentu saja dia mengangguk dan geli

oleh permintaan suaminya itu. Dan lagi, mana mungkin dia

membiarkan suaminya mengajari murid-murid perempuan?

Ah, itu urusannya. Suaminya adalah miliknya! Dan ketika

Bengj Tan setuju dan memimpin di situ maka pemuda ini

mengusulkan untuk menerima murid laki-laki.

“Apa? Laki-laki? Eh, memasukkan buaya kalau begitu, koko.

Jangan! Bisa tak keruan jadinya murid-murid perempuan kita

nanti!”

“Itulah…” Beng Tan meraih tangan isterinya ini. “Ada

sesuatu yang hendak kubicarakan, Cu-moi. Dan justeru

sesuatu inilah yang amat penting!” dan membiarkan isterinya

terbelalak sejenak pemuda ini lalu mengajaknya duduk. “Kau

tentu ingin mendengar, bukan?”

“Ya.”

“Nah, ketahuilah,” pemuda ini sudah mulai membuka jalan

pikirannya. “Aku melihat adanya sesuatu yang membuat

murid-murid Hek-yan-pang gelisah, Cu-moi. Dan itu adalah

karena mereka tak ada yang menyanding. Jelasnya, beberapa

mata kulihat iri memandangmu!”

“Iri? Murid-muridku sendiri?”

“Hm!” pemuda ini semburat. “Sebagai lelaki aku dapat

melihat itu, Cu-moi, dan sebagai perempuan agaknya kau

tidak. Benar, murid-murid Hek-yan-pang iri memandangmu,

dan itu kulihat jelas!”

“Soal apa? Tentang apa?”

“Tentang kita!”

“Kita?”

“Ya, kita, Cu-moi. Kebahagiaan yang kita peroleh ini,

pernikahan kita!”

“Aku tidak mengerti,” sang isteri mengerutkan kening.

“Apakah maksudmu itu mereka ingin menggantikan aku,

koko? Mau bercokol dan duduk sebagai hu-pang-cu?”

“Hm, salah, bukan begitu. Maksudku, hmm…. mereka itu

juga ingin kawin, menikah!”

“Hah?”

“Benar, mereka ingin seperti kita, Cu-moi. Murid-murid

Hek-yan-pang itu butuh laki-laki dan pendamping!”

“Ah, hi-hik!” Swi Cu tiba-tiba tertawa, lenyap kekagetannya.

“Kukira apa, koko. Tak tahunya itu. Ih, salah. Semua muridmurid

perempuan di sini sudah biasa hidup sesama jenis dan

tidak memikirkan laki-laki!”

“Tapi mereka tetap manusia, Cu-moi. Mereka iri dan ingin

menikah seperti kita!”

“Tak mungkin, biar kutanya mereka!” dan Swi Cu yang

berkelebat dan sudah meninggalkan suaminya sambil terkekeh

lalu memanggil semua murid-murid Hekyan-pang, ditanya satu

per satu dan apakah mereka mau kawin, pertanyaan yang

tentu saja mengejutkan murid-murid itu dan Beng Tan sendiri

sampai terhenyak. Pemuda ini pucat dan bingung sekali. Swi

Cu tahu-tahu bersikap seperti itu, memanggil semua murid

dan menanyai mereka, tentu saja tak ada yang mengaku! Dan

ketika Swi Cu terkekeh dan kembali berkelebat di depan

suaminya maka gadis, eh… nyonya muda ini berkacak

pinggang.

“Lihat, penglihatanmu keliru, koko. Mereka tak ada yang

ingin kawin, semua murid Hek-yan-pang tak menghendaki

adanya laki-laki, kecuali kau di s ini!”

“Tapi… tapi…” sang pemuda gugup. “Mata hatiku melihat

itu, Cu-moi. Dan tentu saja murid-murid itu tak ada yang

mengaku. Mereka perempuan, malu!”

“Hm, tidak. Di s ini sudah dilatih untuk bersikap jujur, koko.

Siapapun yang ingin bicara dan mau melakukan sesuatu

dipersilahkan bicara. Kau terlalu berlebihan!”

“Ah, tidak. Aku serius!” tapi ketika sang isteri terkekeh

dan meninggalkannya maka Beng Tan termangu dan tak

berdaya, bingung dan tak tahu harus berbuat apa karena

sesungguhnya gejala-gejala itu dilihatnya jelas. Banyak muridmurid

Hek-yan-pang yang memandangnya dengan pandangan

aneh, dan satu di antaranya adalah Ki Bi! Dan ketika pemuda

itu tergetar dan pucat membayangkan ini maka teringatlah dia

akan kejadian beberapa hari yang lalu.

Waktu itu, untuk sesuatu keperluan di luar Swi Cu

meninggalkan Hek-yan-pang. Isterinya itu mengajak enam

murid yang lain karena mereka membutuhkan bahan makanan

untuk semua penghuni. Beras dan ransum-ransum lain habis,

persediaan tinggal menipis. Dan ketika isterinya pergi untuk

dua tiga hari maka terjadilah peristiwa malam itu yang

membuat Beng Tan terguncang.

Ki Bi, murid pertama di situ tiba-tiba mengetuk pintu

kamarnya. Saat itu dia sedang siulian atau duduk bersamadhi

untuk mengembalikan tenaga. Empat jam sudah dia berlatih

dan Beng Tan beristirahat, ingin memulihkan tenaga. Maka

ketika pintu kamar diketuk dan Beng Tan he-|ran serta

terkejut bagaimana malam-malam begitu ada anak murid

yang mendatanginya di kamar maka Beng Tan bertanya siapa

itu dan ada keperluan apa.

“Aku Ki Bi… aku…. aku ingin menghadap pangcu (ketua).”

Beng Tan tertegun. Cepat dia menyuruh gadis itu masuk

dan Beng Tan teringat wajah Ki Bi yang cantik dan manis.

Gadis ini adalah murid nomor satu di situ dan

kepandaiannyapun setingkat di bawah isterinya. Ki Bi selama

ini dikenalnya sebagai gadis yang lemah lembut dan gemulai,

meskipun tentu saja di balik semua kelemah-lembutannya itu

Ki Bi adalah gadis yang berkepandaian tinggi. Gadis ini mahir

menguasai Ang-in Kiam-sut dan hanya dalam pukulan Ang-inkang

atau Pukulan Awan Merah itu dia masih kalah dengan

Swi Cu, karena Swi Cu memiliki sinkang setingkat di atas

murid utama ini. Maka ketika Beng Tan menyuruh masuk dan

tak bercuriga apa-apa, karena biasanya gadis itu juga tak

berbuat apa-apa maka Beng Tan tersentak ketika tiba-tiba

gadis itu masuk dan menjatuhkan diri berlutut dengan pakaian

yang tembus pandang, basah kuyup!

“Ampun…!” gadis itu menggigil. “Aku … aku masuk

mengganggumu, pangcu. Aku habis bertempur dengan

seseorang dan jatuh ke telaga!”

“Bertempur dengan seseorang? Jatuh di telaga?”

“Benar,” gadis itu tiba-tiba menangis. “Aku menghadapi

lawan tangguh, pangcu. Dan aku kalah. Musuh memasuki

tempat ini dan karena kuanggap kuat maka pangcu

kuganggu!”

“Ah!” Beng Tan meloncat dari atas pembaringannya. “Siapa

dia itu, Ki Bi? Dari mana?”

“Aku tak tahu, tapi… tapi dia amat kuat!”

“Dan kau tidak membunyikan tanda bahaya!”

“Maaf, aku tak berani mengganggu murid-murid yang lain,

pangcu. Aku ingin agar pangcu sendiri yang menangani dan

membekuk penjahat itu!”

“Di mana dia!”

“Memasuki lorong bawah tanah….”

“Ah, mari kita kejar, Ki Bi. Dan biar kutangkap!”

“Nanti dulu!” Ki Bi tiba-tiba meloncat bangun, tubuhnya

yang berpakaian tipis dan tembus pandang membuat darah

Beng Tan tersirap. “Aku juga ikut, pangcu. Dan jangan

tinggalkan aku. Aku takut!”

“Hm, marilah!” dan Beng Tan yang menyambar serta

menarik gadis ini lalu menekan debaran jantungnya lagi dan

berhasil menguasai diri. Kalau saja dia tidak mendapat laporan

akan adanya musuh yang datang tentu dia akan menegur dan

memaki Ki Bi kenapa berpakaian seperti itu. Hampir seluruh

lekuk-lengkung gadis itu tampak, tercetak ketat karena

pakaian Ki Bi pun basah kuyup. Pemandangan ini cukup

membuat darah lelaki tergetar dan Beng Tan juga begitu.

Namun karena dia adalah pemuda yang berbatin bersih dan

Beng Tan bukanlah pemuda hidung belang maka keadaan Ki

Bi yang seperti itu hanya sempat mengguncangnya sejenak

tapi tidak untuk seterusnya. Pemuda ini berhasil menguasai

dirinya dan rangsangan nafsu yang menggodanya itu cepat

dapat dipadamkan. Beng Tan sudah bergerak dan

berkelebatan menuju ruangan bawah tanah. Ruangan itu

adalah penjara dan biasanya dipergunakan untuk menghukum

anak-anak murid yang bersalah. Dan ketika Beng Tan mulai

memasuki ruangan ini sementara Ki Bi ditarik dan selalu

berada di sampingnya maka Ki Bi menggigil ketika mereka

mulai berada di ruangan yang gelap.

“Ki Bi, buatlah obor. Kita lacak jejak orang itu!”

“Ah, tidak, jangan pangcu, musuh nanti lari. Sebaiknya biar

begini saja dan kita tangkap secara diam-diam!”

“Hm, begitukah? Baik!” dan Beng Tan yang tidak bercuriga

dan menganggap benar lalu menarik Ki Bi dan bersama wanita

itu sudah memasuki lorong bawah tanah. Namun Ki Bi

bersikap aneh. Wanita ini tiba-tiba mendesah, gugup dan

kelihatannya tak keruan. Beng Tan harus dua kali berhimpitan

badan ketika melalui lorong yang sempit, merasa betapa gadis

itu berdekatan muka dan pipi mereka nyarris berciuman!

Pemuda ini harus menahan napas karena napas Ki Bi justeru

menerjang mukanya, panas dan aneh. Dan ketika Beng Tan

diganggu perasaan tak enak dan cepat menjauhkan diri maka

selanjutnya mereka sudah keluar masuk ruangan bawah tanah

itu namun bayangan musuh yang dicari tak kelihatan batang

hidungnya.

“Benarkah dia memasuki ruangan ini? Atau sudah lari?”

“Tak mungkin, musuh itu mendekam di sini, pangcu. Dan

aku tahu bahwa dia belum keluar!”

“Tapi kau tadi ke kamarku!”

“Benar, tapi kawat yang kuletakkan di depan pintu masuk

tadi juga masih tak berubah, pangcu. Benda itu masih di sana

dan pangcu sendiri tahu!”

“Hm, betul juga. Kalau begitu mari terus masuk!” dan Beng

Tan yang berin-dap serta berhati-hati melanjutkan langkahnya

lalu memeriksa ruangan demi ruangan. Tinggal empat

ruangan lagi yang akan diperiksa dan Ki Bi tampak tegang

sekali. Beng Tan merasa aneh tapi tidak heran. Mereka sedang

mencari musuh, melacak jejaknya. Tapi bahwa Ki Bi tampak

demikian ketakutan dan napasnya memburu, hal yang dirasa

aneh maka Beng Tan berkata bahwa gadis itu tak usah terlalu

ketakutan.

“Aku ada di sini, di depan. Kalau musuh menyerang maka

akulah yang lebih dulu terkena. Kenapa kau demikian gelisah

dan ketakutan, Ki Bi? Mana itu keberanianmu sebagai murid

utama Hek-yan-pang?”

“Maaf,” wanita ini menggigil, tersedak. “Ak…. aku hanya

tegang, pangcu, bukan takut. Aku tegang bahwa musuh yang

kita cari itu belum ketemu!”

“Hm, pasti ketemu kalau benar-benar ada di ruangan

bawah tanah ini. Tinggal empat ruangan lagi yang kita

periksa, Ki Bi. Dan kalau betul dia di situ tentu akan kita

dapatkan!”

Ki Bi tak menjawab. Wanita ini sekarang mencengkeram

lengan Beng Tan erat-erat. Lengan yang lembut namun terasa

panas itu menjalar juga di tubuh Beng Tan. Pemuda ini

merasa heran dan ganjil kenapa lengan wanita itu seperti

terbakar, layaknya seperti orang demam! Tapi karena mereka

berada di ruangan bawah tanah dan ketegangan yang

memuncak memang bisa saja membawa seseorang ke dalam

perasaan yang tinggi maka Beng Tan diam saja ketika mereka

mulai mendekati ruangan pertama, ruangan yang mulai

remang-remang karena mendapat sedikit cahaya bulan, dari

celah-celah batu di atas sana.

“Ih!” Ki Bi berteriak. “Ular, pangcu. Ada ular di s ini!”

Beng Tan bergerak cepat. Entah dari mana datangnya tibatiba

seekor ular melejit dan terbang di mukanya. Ular itu

menyerang Ki Bi dan wanita itu berteriak, kaget. Tapi ketika

Beng Tan berhasil menangkap dan meremas kepalanya,

sementara Ki Bi menabrak dan menumbuk dinding batu maka

baju wanita itu sobek dan sebagian pundaknya yang mulus

putih kelihatan.

“Bret!”

Suara ini membuat Beng Tan tertegun. Dia semburat merah

menyaksikan pundak yang merangsang itu. Berada berduaan

saja dengan seorang wanita cantik macam Ki Bi memang

mudah menimbulkan bayangan macam-macam, apalagi Ki Bi

dengan pakaian seperti itu, masih tembus pandang dan basah

oleh air. Wanita itu tak sempat berganti pakaian karena Beng

Tan mengajaknya ke situ, mengejar musuh. Tapi karena Beng

Tan adalah pemuda berbatin bersih dan betapapun

pemandangan itu coba membangkitkan berahinya maka

pemuda ini berhasil menekan debaran jantungnya dengan

memberikan baju luarnya.

“Ki Bi, kau bisa kedinginan. Pakailah bajuku, dan jangan

biarkan pundakmu terbuka.”

Ki Bi mengeluh aneh. Beng Tan tak melihat pandangan

kecewa karena pemuda itu memang tidak berpikiran yang

macam-macam. Beng Tan terlalu bersih untuk menduga yang

tidak-tidak. Dan ketika Ki Bi mengucap terima kasih dan

mereka menuju ke ruangan nomor dua maka di sini terjadi lagi

gangguan lain. Beng Tan yang siap memasuki pintu ruangan

mendadak mendengar kesiur angin dingin. Dari belakangnya

menyambar belasan sinar merah, atau cahaya yang kemerahmerahan.

Dan ketika Beng Tan tentu saja terkejut dan

menyampok, membentak perlahan maka sinar-sinar merah itu

mendadak saja terpental atau tertolak ke arah Ki Bi.

“Aduh, kelabang…!”

Beng Tan terkejut. Tentu saja pemuda ini membelalakkan

mata karena sinar-sinar merah yang disampoknya tadi adalah

kelabang-kelabang keparat. Binatang itu terpental dan

berjatuhan di tubuh Ki Bi, masuk dan menggigit serta

menyelinap di balik pakaian wanita itu. Kontan Ki Bi menjeritjerit

dan melepas seluruh pakaian luarnya, hal yang membuat

Beng Tan terkesiap. Dan ketika wanita itu berlarian ke sana

kemari dan Beng Tan melihat betapa tubuh yang indah

menggairahkan itu bergerak atau berguncang ke sana ke mari

maka Ki Bi akhirnya menubruk dan menjerit minta

diselamatkan!

“Aduh, tolong, pangcu…. tolong…! Ada kelabang memasuki

pahaku!”

Beng Tan tersirap. Ki Bi hendak membuka atau melepas

pakaian dalamnya, padahal itu adalah satu-satunya sisa

terakhir yang menutupi tubuh wanita itu. Maka begitu Ki Bi

berteriak dan seekor kelabang memang benar menggigit

pahanya, sedikit di bawah daerah rawan maka Beng Tan

membungkuk dan membentak menjepit kelabang jahanam itu,

meremasnya hancur.

“Bedebah terkutuk!”

Ki Bi mengeluarkan keluhan panjang. Akhirnya wanita ini

roboh dan menangis di dada Beng Tan. Beng Tan telah

menahan gerakan tangannya tadi agar tidak membuka atau

melepas pakaian dalam itu. Bayangkan, celana dalam Ki Bi

akan dicopot. Beng Tan bisa mati kaku melihatnya! Tapi ketika

pemuda itu telah meremas hancur dan kelabang itu dibuang

dan diinjak maka dengan cepat kelabang-kelabang lain yang

menyusup atau bersembunyi nakal di tubuh gadis ini sudah

dibanting atau ditarik mampus.

“Sudahlah, sudah….!” Beng Tan menahan debaran

jantungnya yang tak keruan. “Kelabang-kelabang itu sudah

kubunuh semua, Ki Bi. Kini kau tak apa-apa dan selamat!”

“Ooohhh…!” wanita itu mengeluh panjang. “Binatangbinatang

terkutuk itu sudah tak ada lagi, pangcu? Mereka tak

menempel lagi di tubuhku?”

“Tidak, tubuhmu sudah bersih. Lihatlah.”

“Aku tak berani lihat!” wanita ini mendekap mukanya. “Aku

jijik, pangcu. Aku ngeri. Dan ah…. rasanya di dadaku ada

seekor!”

Beng Tan terkejut. Di dada wanita i-tu tiba-tiba saja

memang benar ada seekor kelabang yang “nongkrong”

dengan asyik. Ki Bi tersentak dan tentu saja menjerit kaget.

Baju di bagian itu dibuka dan wanita inipun kontan menjerit.

Beng Tan mengeluarkan seruan tertahan karena “sepasang

bola” bergoyang lebar, padat dan berisi, montok sekali! Dan

ketika Ki Bi menjerit dan berteriak tak keruan, lari dan

menubruk Beng Tan maka Beng Tan pucat dan merah oleh

pemandangan yang tidak disangka-sangka itu, milik Ki Bi yang

amat pribadi!

“Ah, jahanam keparat!” Beng Tan menotok dan menampar

hancur kelabang itu. “Sudah kubunuh, Ki Bi. Sudah kulempar

mampus. Jangan berteriak-teriak dan ketakutan seperti ini.

Pakai kembali bajumu!”

“Tidak…. tidak!” wanita ini histeris ketakutan. “Aku tidak

berani memakai bajuku, pangcu. Aku tidak berani melihat

kelabang-kelabang itu. Kau periksalah semua tubuhku atau

aku akan lari-lari telanjang bulat di s ini!”

“Ki Bi!” Beng Tan membentak. “Apa kau bilang? Kau gila?

Jangan melepas semua pakaianmu, tahan dan lihat bahwa kau

benar-benar sudah tidak apa-apa… plak!” dan Beng Tan yang

terpaksa memukul atau menampar gadis itu akhirnya

membuat Ki Bi terbanting roboh. Gadis ini mengeluh dan

menangis tersedu-sedu. Beng Tan maju berlutut,

membebaskan totokan atau tamparannya tadi. Dan ketika

pemuda itu menghibur dengan kata-kata gemetar karena apa

yang dilihat tadi sungguh mengguncang perasaannya maka Ki

Bi diminta bangun berdiri dan mengenakan bajunya itu.

“Sudah tidak ada apa-apa lagi. Bangunlah, dan bagaimana

binatang-binatang itu tiba-tiba saja ada di sini!”

“Aku takut, ngeri…” Ki Bi menangis. “Aku tak tahu

bagaimana binatang-binatang itu ada di s ini, pangcu. Mungkin

saja…. mungkin saja keparat itu yang melemparnya!”

Beng Tan tertegun. Tiba-tiba dia teringat bahwa di situ

masih ada musuh yang harus dicari-cari. Mereka belum

mendapatkan musuh itu dan Beng Tan membuang semua

kenangan yang dilihat. Tapi karena pemandangan tadi

amatlah memukau dan darah mudanya bergolak cepat, panas,

maka Beng Tan tak semudah itu menindas perasaannya.

Benda pribadi yang dimiliki Ki Bi itu amat mengganggunya,

demikian mengganggu hingga tak dapat dilupakannya! Tapi

karena Beng Tan adalah pemuda berwatak teguh dan lagi-lagi

pemuda ini memperlihatkan diri bahwa dia bukanlah hidung

belang atau mata keranjang maka akhirnya Beng Tan mampu

menguasai dirinya itu dan Ki Bi tertegun melihat Beng Tan

sudah menyambar lengannya tanpa perasaan, tenang dan

tidak terpengaruh!

“Ki Bi, kau benar, musuh masih ada di sini. Marilah kita

lanjutkan dan tinggal dua ruangan yang harus kita periksa!”

Ki Bi memejamkan mata. Tiba-tiba kekecewaan hebat

membayang di wajah gadis itu namun sayang Beng Tan lagilagi

tak melihatnya. Beng Tan tak tahu betapa kecewa dan

gemasnya hati gadis i-ni, juga malu, di samping kagum. Dan

ketika Beng Tan mengajak gadis itu ke kamar terakhir maka

Beng Tan sudah bersiap-siap ketika tiba-tiba Ki Bi tersentak

dan mengeluarkan jerit tertahan.

“Ada gerakan di atas!”

Beng Tan terkejut. Suara gemuruh tiba-tiba

menyentakkannya dari perhatian ke depan. Dia sedang

memperhatikan pintu ruangan itu karena siapa tahu musuh

tiba-tiba muncul dari sana, menyerang. Tapi ketika justeru Ki

Bi berteriak dan menuding ke atas, atap atau langit-langit

ruangan itu jebol maka Beng Tan terperanjat menggerakkan

tangannya ke atas.

“Bumm!”

Suara itu disusul jatuhnya empat batu besar. Beng Tan

berteriak karena Ki Bi tak cepat menghindar, menjerit dan

tertimpa batu-batu itu. Dan karena saat itu Beng Tan

meloncat ke kiri dan mengira Ki Bi juga meloncat

mengikutinya maka pemuda itu menjadi kaget karena Ki Bi

justeru merintih dan terhimpit batu besar.

“Ki Bi!” Beng Tan terpaksa mengebutkan lengan bajunya.

Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi debu tebal yang membuat

pandangannya terhalang. Beng Tan terkejut karena mengapa

Ki Bi tak menghindar, mungkin terperanjat dan bengong oleh

longsoran tanah di atas. Kiranya langit-langit guha longsor.

Namun ketika Beng Tan menolong gadis itu dan Ki Bi terisakisak

bercucuran air mata mendadak pemuda ini tertegun

melihat seutas tali menjuntai lemah di sudut ruangan,

bergoyang-goyang.

“Hm, apa itu?” Beng Tan tak memperlihatkan

penemuannya kepada Ki Bi, curiga. “Bagaimana tali itu tahutahu

ada di sini dan bergelantungan? Melihat gelagatnya, tali

itu sengaja dipasang orang. Dan aneh kalau tiba-tiba langit

ruangan ambrol!”

Beng Tan tak membicarakan ini. Dia takut bahwa Ki Bi

menjadi semakin tak keruan saja. Sebenarnya dia agak heran

bagaimana Ki Bi yang merupakan murid utama di Hek-yanpang

bisa begitu penakut. Gadis ini sering menangis dan

cengeng, padahal sehari-harinya tidak! Dan ketika Beng Tan

membangunkan gadis itu dan membersihkan pakaiannya yang

penuh debu maka Beng Tan tertegun lagi melihat sebuah

bungkusan terlempar di sudut, bungkusan yang bergerakgerak

lemah, seolah ada isinya, mahluk hidup!

Apa itu? Beng Tan ingin tahu. Namun karena lagi-lagi dia

tak ingin membuat Ki Bi panik dan ketakutan maka Beng Tan

pura-pura tak melihat karena pikirnya itu mungkin ular atau

sekumpulan cacing. Dan dia tentu saja tak takut. Beng Tan

sudah mengajak Ki Bi ke ruangan nomor empat. Ruangan

nomor tiga tadi tak ada apa-apanya alias kosong, tinggal

ruangan nomor empat yang hendak dimasuki dan

diwaspadainya ini. Tapi tepat dia membuka pintu ruangan itu

dan berjaga untuk serangan gelap tiba-tiba saja berkesiur

angin dingin dan sebuah bungkusan menghantam kepalanya.

“Dess!”

Beng Tan membuat bungkusan itu hancur. Beng Tan

terkejut karena tiba-tiba dari dalam bungkusan ini

berhamburan binatang-binatang luwing atau si kaki seribu. Ki

Bi terpekik dan menjerit karena binatang-binatang itu juga

menimpanya. Beng Tan sendiri menggerakkan lengan bajunya

dan luwing-luwing itu terpental berjatuhan ke tanah, tidak

seperti Ki Bi yang aneh sekali dapat tertimpa dan kejatuhan

binatang-binatang menjijikkan ini, padahal seharusnya dapat

mengelak! Dan ketika Beng Tan tertegun karena ruangan itu

juga kosong sementara Ki Bi berteriak-teriak dan menjerit

kengerian maka gadis ini sudah bergulingan melepas bajunya

untuk telanjang.

“Ki Bi!” Beng Tan tiba-tiba berseru keras. Pemuda itu

berkelebat dan marah melihat apa yang hendak dilakukan Ki

Bi. Sesuatu melintas di otaknya dan sepolos-polosnya Beng

Tan tetaplah dia akhirnya dapat mencium apa yang

sebenarnya terjadi. Ternyata dia tertipu. Bungkusan yang

dihantamnya itu adalah bungkusan yang terlempar di sudut,

dan diapun diserang dari belakang, padahal yang ada di

belakangnya adalah Ki Bi! Maka ketika Beng Tan membentak

dan mengibas semua luwing-luwing yang ada di tubuh Ki Bi,

tak membiarkan gadis itu melepas pakaiannya karena tentu

dia akan dibuat panas dingin maka Beng Tan sudah menotok

dan merobohkan gadis itu.

“Kau menipu, kau gadis keparat!”

“Oohh…!” Ki Bi tersentak, mengeluh.

“Ap….. apa maksudmu, pangcu? Apa kau bilang?”

“Kau gadis keparat, kau pembohong!” dan Beng Tan yang

mengulangi bentakannya serta merah padam memandang

gadis itu lalu menyambar dan mencengkeram Ki Bi, marah

bukan main. “Kau menipu aku bahwa sebenarnya tak ada apaapa

di sini, Ki Bi. Bahwa tak ada musuh seperti katamu itu.

Kau berdusta dan menyerangku dengan bungkusan itu. Dan

semua perbuatan ini kiranya hanyalah ulahmu belaka!”

“Oohh…!” Ki Bi terkejut, menangis. “Bagaimana….

bagaimana kau menuduhku seperti itu, pangcu? Bagaimana

kau mendakwa aku seperti ini?”

“Hm, tak usah bohong. Bungkusan yang menyerangku itu

sudah kulihat di sudut tadi, Ki Bi, dan sekarang tak ada! Kau

mengambilnya dan melemparnya ke kepalaku, sengaja dan

hendak membuat aku terjebak! Ah, tahulah aku. Kau kiranya

hendak menjerat aku dan mengajak berbuat hina. Kau cabul

dan tak tahu malu!”

“Pangcu…!” gadis ini menjerit. “Ada akibat pasti ada sebab.

Ada asap pasti ada api. Jangan membentak-bentakku kalau

ingin tahu yang sebenarnya. Lepaskan cengkeramanmu, dan

setelah itu kau boleh bunuh aku!”

0ooodwooo0

Jilid 3

BENG TAN tertegun. Ki Bi, yang tadi penakut dan cengeng

tiba-tiba saja beringas dan penuh kemarahan. Bukannya dia

yang membentak-bentak melainkan dia yang dibentak-bentak.

Beng Tan terkejut! Tapi ketika dia melepaskan

cengkeramannya dan Ki Bi jatuh terduduk maka gadis itu

menangis tersedu sebelum memberikan jawaban.

“Aku… aku memang salah. Memang benar bahwa aku

berbohong. Tapi kaupun juga tak mengenal perasaan, pangcu.

Kau membuat aku dan anak-anak murid Hek-yan-pang yang

lain penasaran!”

“Hm,” Beng Tan terbelalak. “Apa maksudmu ini, Ki Bi. Dan

kenapa aku kau sebut tak berperasaan?”

“Tentu saja!” gadis itu melengking. “Kau bermesra-mesraan

dan berbahagia dengan isterimu, pangcu. Kau bersenangsenang

dan membuat para murid yang lain kepingin! Wanita

mana tidak ingin bahagia dengan pasangannya? Wanita mana

tak ingin didekati lelaki apalagi kalau lelaki itu gagah perkasa

dan berwatak mulia? Kau membuat cemburu murid-murid

Hek-yan-pang, pangcu, dan satu di antaranya adalah aku!”

“Hah?”

“Benar. Kau boleh buktikan kata-kataku, pangcu. Kau boleh

selidiki gerak-gerik murid Hek-yan-pang. Mereka…. mereka

mendambakanmu. Mereka mencintaimu!”

“Hm, aku adalah pangcu disini, mereka adalah anggauta.

Kalau aku dicintai mereka adalah wajar, Ki Bi. Aneh sekali

kata-katamu ini kalau disangkut-pautkan dengan urusan kita.

Aku tak jelas juntrungannya?”

“Pangcu tak melek?”

“Maksudmu?”

“Mereka mencintaimu sebagaimana layaknya wanita

mencintai laki-laki, pangcu. Mereka mencintaimu dan iri

kepada Hu-pangcu yang mendapatkan suami dan pria yang

baik!”

Beng Tan terperanjat.

Ki Bi selanjutnya menangis tersedu-sedu dan menceritakan

bahwa sesungguhnya banyak sekali murid-murid Hek-yanpang

yang jatuh hati kepadanya, mencintainya secara diamTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

diam. Bukan cinta dari seorang murid kepada ketuanya

melainkan cinta seorang wanita terhadap pria!

Beng Tan memang masih muda dan anak-anak murid Hekyan-

pang pun rata-rata juga masih muda.

Beng Tan dibuka matanya bahwa sesungguhnya kalau dia

bermesra-mesraan atau bercumbu dengan isterinya itu maka

banyak anak murid yang cemburu. Mereka semuanya wanita,

kecuali dia yang laki-laki. Dan karena perkawinan Beng Tan

menggetarkan sesuatu di hati murid-murid itu dan

kebahagiaan sang Hu-pangcu membuat mereka kepingin dan

ingin merasakan maka Beng Tan akhirnya sadar bahwa

kehadirannya disitu sebagai pria tunggal telah menimbulkan

masalah!

“Hm-hm!” pemuda ini merah padam. “Kau mengejutkan

aku dengan semua kata-katamu ini, Ki Bi. Tapi aku tentu saja

akan menyelidikinya. Dan kau, kenapa melakukan semuanya

itu? Apakah juga…”

“Benar!” Ki Bi memotong. “Aku tak tahan dan akulah orang

terdekat setelah isterimu, pangcu. Aku mencintaimu seperti

juga cinta anak-anak murid yang lain itu. Aku tak tahan…

aku… aku lalu coba merayumu dengan segala tingkahku itu.

Aku sekarang puas. Kau boleh bunuh aku karena aku juga tak

ingin hidup lebih lama setelah apa yang kulakukan ini!”

“Hm!” Beng Tan tergetar, tersentuh perasaannya. “Kau

jujur, Ki Bi, meskipun …. meskipun tak tahu malu. Aku

menghargaimu, tapi kupikir tak perlu kau kubunuh!”

“Pangcu tak membunuhku? Pangcu ingin membuat aku

malu lebih hebat setelah semuanya itu?”

“Hm, jelek-jelek kau telah memberikan informasi penting,

Ki Bi. Aku berterima kasih dan kini memaklumimu. Tapi kalau

kau bohong, dusta, tentu saja tak ada ampun untuk kedua kali

dan kau mendapat hukuman berat!”

“Jadi pangcu mengampuniku? Tidak, kalau begitu aku yang

bunuh diri, pangcu. Aku malu bertemu isterimu dan siap

mati….. plak!”

Beng Tan tiba-tiba bergerak, cepat dan luar biasa karena Ki

Bi tiba-tiba menghantam kepalanya sendiri dengan pukulan

sinkang. Gadis itu menjerit dan terlempar.

Beng Tan seketika terbelalak karena apa yang dikatakan

gadis itu benar-benar hendak dilaksanakannya. Tapi ketika

Beng Tan menotok dan mengerutkan kening dengan muka

berubah-ubah maka Ki Bi berteriak-teriak agar dibunuh.

“Pangcu, aku gadis tak tahu malu. Bunuhlah, jangan

biarkan aku hidup!”

“Tidak, aku mulai percaya padamu, Ki Bi, dan aku

menghargai kejujuranmu ini. Aku ingin meyakinkan hatiku dan

membuktikan semuanya ini…” tapi ketika Beng Tan berhenti

dan menoleh ke belakang, mendengar dan melihat

berkelebatnya lima bayangan maka tahu-tahu disitu telah

berlutut lima orang anak murid Hek-yan-pang yang lain, sumoi

atau adik-adik seperguruan Ki Bi.

“Pangcu, apa yang dikatakan enci Bi adalah benar. Kami

adalah bukti-bukti yang lain!”

Beng Tan terkejut. Disitu muncul Lin Siu dan empat

saudaranya, semua berlutut dan menunduk penuh hormat.

Muka mereka kemerah-merahan, sekilas melirik pemuda ini

namun cepat menunduk lagi dengan wajah bersinar.

Beng Tan tertegun melihat lima anak murid itu tahu-tahu

muncul, berlutut dan membenarkan apa yang dikata Ki Bi. Dan

ketika pemuda itu menjublak dan tentu saja kaget, tergetar,

maka Lin Siu berkata bahwa merekapun boleh dibunuh kalau

menyatakan cinta kepada pangcu mereka itu.

“Kami semua murid Hek-yan-pang sebetulnya

membutuhkan laki-laki. Kami mendambakan sekali pria atau

suami seperti pangcu ini. Dan karena kami tak menemukan

dan peraturan selama ini tak memperbolehkan kami

berdekatan dengan lelaki maka kebahagiaan dan kemesraan

pangcu bersama Hu-pangcu sungguh membuat kami iri dan

cemburu. Harap pangcu memberikan jalan keluarnya!”

Beng Tan tertegun. Segera dia semburat merah karena

teringat bahwa ketika bermesra-mesraan dengan isterinya

kadang-kadang mereka terlihat anak-anak murid Hek-yanpang,

yakni ketika umpamanya mereka berada di taman atau

kolam ikan.

Swi Cu sering tak mendengarkan nasihatnya bahwa

sebaiknya mereka di kamar saja, jangan di luar. Karena anakanak

murid tentu ada yang mengintai dan berbisik-bisik. Tapi

karena Swi Cu berkata bahwa itu adalah tempat tinggalnya

dan anak-anak murid dapat diusir, kalau mengintai maka Beng

Tan mendiamkan saja dan isterinya tak tahu bahwa di balik

pohon atau semak-semak gerumbul, jauh dari situ sedang

terdapat beberapa murid yang berkasak-kusuk membicarakan

kemanjaan isterinya itu, karena Swi Cu sering merebahkan

tubuh atau kepala di dadanya, di saat mereka berduaan di

taman atau kolam umpamanya.

“Nah,” Lin Siu menyambung lagi. “Sekarang kami juga

sudah berterus terang, pangcu. Dan kami siap mendapatkan

hukuman bila pangcu merasa perlu. Kami memang

mencintaimu, bukan sebagai ketua melainkan juga sebagai

kekasih atau suami!”

“Lin Siu…?”

“Maaf, kami tak perlu menutup-nutupi lagi, pangcu. Apa

yang kami katakan adalah mewakili semua anak murid Hekyan-

pang. Kami butuh lelaki, kami butuh pendamping setelah

Hu-pangcu sendiri menikah denganmu!”

Beng Tan pucat. Akhirnya dia menggigil dan gemetar.

mendengar semua kata-kata itu. Dia tahu bahwa kalau sudah

begini maka anak-anak murid Hek-yan-pang tak salah. Dulu

mereka tak timbul keinginannya ketika Hek-yan-pang masih

belum dihadiri lelaki, yakni ketika dia belum masuk dan

menjadi suami Swi Cu.

Tapi begitu dia disitu dan Swi Cu kerap berduaan

dengannya, berkasih-kasihan, karena mereka pengantin baru

maka tak heran kalau anak-anak murid Hek-yan-pang menjadi

kepingin dan cemburu. Dan untung cemburu mereka tak buta!

Untung selama ini anak-anak murid Hek-yan-pang hanya

memendamnya di hati. Mereka masih dapat menahan

perasaan dan takut sebagaimana murid yang baik. Tapi

karena mereka adalah manusia dan betapapun pemandangan

sehari-hari tentulah berkesan dan menimbulkan keinginan

yang amat hebat maka terjadilah peristiwa malam itu dengan

perbuatan Ki Bi yang sampai berusaha menjebak dirinya. Dan

Beng Tan ngeri.

Kalau saja dia tak memiliki iman yang kuat tentu dia sudah

roboh oleh perbuatan Ki Bi yang nekat itu. Masih terbayang

jelas di ingatan Beng Tan tubuh serta bagian-bagian tubuh

yang menggairahkan dari murid yang satu ini.

Masih tak dapat terlupakan oleh Beng Tan keindahan dan

kemontokan buah dada Ki Bi. Hm, siapapun pasti ngiler! Dan

ketika Beng Tan menelan ludah dan menggigil memandang

lima murid yang berlutut itu akhirnya dia berkata bahwa dia

akan memikirkan semuanya ini demi kebahagiaan murid-murid

Hek-yan-pang.

“Aku maklum, dan kini aku mengerti. Tapi tak mungkin aku

melayani kalian seperti yang kalian inginkan itu. Aku bukan

kaisar, mana mungkin memperisteri kalian? Tidak, cintaku

hanya untuk isteriku, Lin Siu, hanya untuk Swi Cu. Kalau

kalian butuh lelaki dan ingin adanya pendamping maka akan

kupikirkan untuk kalian jalan keluarnya!”

Lin Siu dan lain-lain semburat. Mereka terpukul juga oleh

kata-kata Beng Tan bahwa pemuda itu hanya mencinta Swi

Cu, bukan mereka dan betapa pemuda itu amat setia sekali

menjaga cintanya. Ah, bahagianya kalau mendapatkan suami

seperti ini!

Lin Siu dan lain-lain kagum tapi sekaligus juga kecewa

mendengar itu. Tapi karena Beng Tan memang benar dan tak

mungkin bagi pemuda itu harus melayani sekian banyak

wanita maka Lin Siu mintakan ampun untuk Ki Bi.

“Sekarang kami hanya mengharap belas kasihan pangcu

kepada enci Ki Bi. Sukalah membebaskan totokannya dan

peristiwa ini tak disebarkan keluar.”

“Hm, aku memang tak bermaksud menyebarkan kejadian

ini kepada siapapun, Lin Siu. Bahkan kepada isteriku sekali

pun! Aku memang tak akan menghukum Ki Bi meskipun tak

kalian minta. Hanya Ki Bi tentu saja tak boleh mengulangi lagi

perbuatannya itu dan kalian pun berhenti sampai disini!”

“Terima kasih!” Lin Siu dan yang lain menjatuhkan diri

berlutut. “Kau bijaksana dan arif, pangcu. Semoga kau benarbenar

memperhatikan kami dan memberikan jalan keluarnya

seperti kata-katamu tadi!”

“Hm, aku tentu akan mencarikan jalan keluarnya. Aku akan

memikirkan pendamping untuk kalian!”

“Dan kami minta seperti yang dirimu ini, pangcu. Gagah,

setia dan jujur serta bertanggung jawab!”

“Ah, itu tergantung nasib kalian. Aku tak berani

menjanjikannya. Pokoknya aku akan membicarakan dengan

isteriku dan kalian bawalah Ki Bi!”

Lin Siu dan lain-lain girang. Beng Tan sudah membebaskan

totokan Ki Bi dan murid wanita itu mengguguk menutupi

mukanya. Rasa malu yang hebat terasa menyesakkan napas.

tapi Beng Tan menepuk-nepuk pundaknya, menghibur dan

berkata bahwa itu adalah pengaruh gejolak muda. Wajar

rasanya kalau Ki Bi melakukan itu, sebagai peletupan rasa tak

kuat disesakkan birahi.

Beng Tan bersungguh-sungguh dan pemuda itu sudah

melupakannya. Dan ketika Ki Bi berlutut dan mengucap terima

kasih, disusul adik-adiknya yang lain maka Beng Tan terharu

membangunkan murid-murid wanita ini.

“Sudahlah…. sudahlah, tak ada persoalan lagi. Kalian

kembalilah ke tempat masing-masing dan aku juga

beristirahat!”

Ki Bi mengangguk bangkit berdiri. Wanita ini sekilas

melempar pandangan kagum dan kecewa, menunduk dan

sudah disambar Lin Siu untuk berkelebat keluar.

Dan ketika malam itu Beng Tan berkali-kali menarik napas

dan semburat mukanya maka malam itu Beng Tan tak dapat

tidur sampai keesokan harinya isterinya datang.

Mula-mula sukar bagi Beng Tan untuk mulai dari mana.

Yakni, dari mana dia mulai bicara dan memperbincangkan hal

itu. Tapi ketika isterinya tampak berseri dan menunjukkan

sutera-sutera mahal yang baru dibeli maka kesempatan itu

ada ketika isterinya membicarakan beberapa murid yang

bertemu dengan pemuda-pemuda tampan.

“Hi-hik, Lim-hwa kemarin bertabrakan dengan dua pemuda

yang tergesa-gesa ke kota. Mereka sama-sama menunggang

kuda, koko, dan Lim-hwa terpelanting!”

“Hm, apa yang terjadi? Kenapa begitu?”

“Entahlah, enam murid yang kubawa itu tiba-tiba saja

sepanjang jalan tampak lemah dan tak bersemangat. Mereka

jarang bicara, satu sama lain membisu. Tapi ketika dua orang

pemuda mencongklang dari depan dan kami tepat di tikungan

menajam tiba-tiba Lim-hwa bertabrakan sementara murid

yang lain keburu menyingkir dan selamat.”

“Dan Lim-hwa cidera?”

“Tidak, tapi justeru bengong dan duduk melotot

memandang pemuda-pemuda itu. Lim-hwa tiba-tiba menjadi

aneh karena tiba-tiba kelihatan gembira dan berseri-seri!”

“Kenapa bisa begitu? Ada apa?”

“Aku tak tahu, tapi lima muridku yang lain juga tiba-tiba

begitu, koko. Dan ketika mereka kubentak dan kumaki tibatiba

mereka semua turun tapi bukan menolong Lim-hwa

melainkan dua pemuda itu, yang kiranya dikejar-kejar

perampok!”

Beng Tan mengerutkan kening.

Sang isteri akhirnya bercerita bahwa ketika dia akan marahmarah

dan mendamprat dua pemuda itu tiba-tiba saja lima

muridnya turun dari kuda masing-masing untuk menolong dua

pemuda itu. Lim-hwa sendiri akhirnya berdiri dan menolong

pemuda pertama, yang terkilir dan mengaduh-aduh karena

tempurung lututnya bergeser. Dan ketika semua malah

memperhatikan dua pemuda itu padahal biasanya murid-murid

Hek-yan-pang “anti” lelaki maka Swi Cu terkejut dan terheranheran.

“Bayangkan, mereka tiba-tiba bergairah dan satu sama lain

mencoba bersikap manis kepada pemuda-pemuda itu. Limhwa

sendiri bahkan minta maaf, padahal dialah yang

diterjang! Dan ketika aku marah-marah dan membentak enam

muridku itu ternyata mereka berlutut dan mintakan ampun

untuk dua pemuda itu. Aneh, bukankah ini ganjil, koko? Tapi

karena dua pemuda itu kulihat sebagai pemuda baik-baik

maka barulah aku tahu bahwa dua pemuda itu dikejar-kejar

perampok yang hendak merampas buntalan mereka, hingga

mereka melarikan kudanya dengan kencang dan terjadilah

tabrakan itu!”

“Dan kau tidak menghukum mereka?”

“Tentu saja tidak, bahkan aku menghajar tujuh perampok

yang akhirnya sampai di tempat kejadian. Dan disitulah enam

muridku menjalin persahabatan dengan dua pemuda itu dan

mereka tampak gembira dan bersemangat sekali!”

“Hm, kalau begitu suatu perubahan sedang terjadi,” Beng

Tan mulai memasuki persoalan, tersenyum. “Apakah kau tidak

marah kepada murid-muridmu ini, Cu-moi? Kau mendiamkan

saja mereka itu dan tidak menegur?”

“Mula-mula tentu saja tak senang, kutegur. Tapi, eh…

teringat kita sendiri akhirnya aku jadi tak tega menghalangi

mereka, koko. Dan kini ingin kutanya bagaimana pendapatmu

karena diam-diam enam muridku itu membuat perjanjian,

kencan!”

“Hm!” Beng Tan terkejut, mulai bersikap serius. “Kalau

begini maka tak boleh sembunyi-sembunyi, Cu-moi. Hubungan

gelap antara murid Hek-yan-pang dengan lelaki diluar bisa

menimbulkan bencana. Sebaiknya dua pemuda itu dipanggil

masuk dan dijadikan murid Hek-yan-pang pula!”

“Apa?”

“Tenanglah, aku hendak sedikit bercerita padamu. Di

perkumpulan kita memang mulai ada perobahan,” dan ketika

Beng Tan memeluk dan mencium isterinya itu maka pemuda

ini bertanya, sebelum melancarkan pertanyaan-pertanyaan

berat. “Bagaimana pendapatmu tentang anak-anak murid kita?

Salahkah jika kukatakan bahwa kita harus membahagiakan

dan membuat mereka senang?”

“Hm, senang dan bahagia bagaimana, koko? Aku tak jelas

arah pembicaraanmu!”

“Maksudku adalah bagaimana jika tanda-tanda yang kau

lihat itu diarahkan pada tempat yang semestinya. Murid-murid

Hek-yan-pang butuh lelaki. Maksudku, butuh teman lelaki

sebagai sahabat atau apa yang mereka dambakan. Aku juga

melihat bahwa anak-anak murid perempuan kita mulai

bersikap aneh, Cu-moi. Bahwa mereka seakan iri atau

cemburu kepadamu!”

“Cemburu? Kepadaku? Apa-apaan ini? Ah, kau bicara tak

keruan, Koko. Aku jadi semakin tak mengerti!”

“Sst, dengarlah, duduk baik-baik,” dan memeluk serta

meraih lengan isterinya Beng Tan segera bertanya lembut,

“Kau tentu mencintaiku, bukan? Dan kau juga mencintai

murid-murid Hek-yan-pang disini?”

“Tentu saja!”

“Nah, sejak aku disini dan kita berdua bermesraan maka

banyak murid-murid yang mengintai, Cu-moi. Kau tak tahu

bahwa banyak pasang mata memandangmu dengan iri dan

penuh rasa ingin. Mereka juga ingin sepertimu, mereka juga

ingin berkasih-kasihan dan bermesraan dengan pria pujaan

mereka. Maka kalau kau melihat Lim-hwa atau lain-lainnya itu

seperti tak bersemangat atau lemah maka sesungguhnya

mereka itu sedang mendapat tekanan atau ganjalan batin

yang menyesakkan napas. Mereka cemburu kepadamu,

mereka juga mendambakan nikah dan suami!”

“Maksudmu mereka ingin kawin?”

“Sst, jangan keras-keras. Sudah dikodratkan oleh Sang

Pencipta bahwa wanita tak dapat sendirian tanpa pria, Cu-moi,

seperti halnya pria pun tak dapat sendirian tanpa wanita.

Masing-masing sudah sewajarnya isi-mengisi, karena masing

masing juga sebenarnya saling membutuhkan. Bukankah tak

apa-apa kalau mereka menikah dan mendapatkan suami?

Bukankah tak apa-apa kalau mereka mencari teman lelaki dan

hidup berumah tangga? Aku juga sudah melihat seperti apa

yang kau lihat itu, Cu-moi. Hanya aku masih ragu dan baru

merasa yakin setelah kau bercerita tetang Lim-hwa dan

teman-temannya itu!”

Swi Cu tertegun.

“Lihat,” Beng Tan meneruskan lagi. “Siapa tak ingin dan

merasakan kebahagiaan seperti yang kau rasakan ini, Cu-moi?

Siapa tak ingin dan mendambakan suami? Dengan

pendamping mereka dapat merasakan hubungan rumah

tangga. Dengan pendamping mereka dapat menikmati apa itu

namanya madu cinta. Dan semua orang kukira butuh cinta,

tak perduli wanita atau pria!”

“Hm, jadi maksudmu bahwa anak-anak murid kita

dinikahkan saja? Dicarikan lelaki dan berumah tangga?”

“Bukan begitu. Aku tidak bermaksud menikahkan

mereka…”

“Tapi kau tadi bilang begitu!” sang isteri memotong. “Kau

jelas menghendaki mereka mempunyai teman laki-laki, koko.

Dan kau juga menyebut-nyebut tentang nikmatnya cinta!”

“Betul, tapi aku atau kita disini hanya sebagai perantara

saja, Cu-moi, bukan penentu atau pemutus nasib mereka.

Mereka boleh menikah, berumah tangga. Tapi semua itu

adalah atas pilihan mereka sendiri dan bukannya aku atau

kau!”

“Hm, jadi bagaimana? Kau hendak memasukkan laki-laki

diperkumpulan kita ini? Kau hendak membaurkannya menjadi

satu dan murid kita bebas melakukan apa saja?”

“Hm, jangan bernada tinggi,” Beng Tan tersenyum, tak

cepat marah. “Aku tidak mengatakan begitu melainkan hendak

berkata bahwa Hek-yan-pang menerima murid laki-laki. Aku

dapat memilih pemuda-pemuda tampan yang cocok untuk

menjadi murid. Aku tahu bahwa murid-murid disini tak boleh

mendapatkan suami yang kepandaiannya di bawah isteri,

apalagi kalau suaminya sama sekali tidak bisa silat! Sabar, aku

tahu maksudmu, Cu-moi. Dan untuk itu tentu saja muridmurid

lelaki tidak dicampur aduk dengan murid perempuan.

Kita memiliki sebidang tanah kosong diluar telaga, dan kukira

itu dapat kita jadikan tempat untuk menampung mereka.

Bukankah murid-murid perempuan tetap sendiri dan muridmurid

lelaki juga sendiri?”

Swi Cu tertegun.

“Kau tentunya tak menghendaki terjalinnya hubungan gelap

antara murid-murid Hek-yan-pang dengan laki-laki diluar. Lihat

kejadian-kejadian yang lalu. Lihat berapa sudah anak-anak

murid Hek-yan-pang yang terpaksa menerima hukuman

karena berhubungan dengan lelaki secara diam-diam, gelap.

Bukankah tak baik kalau hal itu terjadi disini padahal kita

dapat mencarikan jalan keluarnya? Hek-yan-pang bukan

seperti dulu lagi, moi-moi. Disini telah ada lelaki dan itu adalah

aku! Hek-yan-pang sudah berobah!”

Swi Cu terkejut. Akhirnya dia menjublak dan merah

mukanya.

Suaminya segera bercerita bahwa gejolak yang disimpan

diam-diam dapat menimbulkan bahaya tak diduga. Suaminya

berkata bahwa kebahagiaan mereka disitu sudah membuat

semacam cemburu atau iri hati di anak-anak murid yang lain.

Mereka adalah wanita biasa, manusia biasa seperti halnya Swi

Cu atau wanita-wanita lain yang masih memiliki gairah dan

berahi. Anak-anak murid Hek-yan-pang bukanlah patung batu.

Mereka adalah mahluk hidup, yang berperasaan dan memiliki

perasaan seperti yang dimiliki Swi Cu itu. Dan ketika Beng Tan

menjelaskan bahwa betapa berbahayanya membiarkan

keinginan yang terpendam dengan tidak memberikan apa-apa

maka pemuda itu menutup dengan satu contoh.

“Gunung berapi adalah kekuatan dahsyat yang terpendam

di bawah tanah. Semakin ditumpuk dan ditumpuk saja tentu

suatu ketika akan meledak dan menimbulkan guncangan. Nah,

sebelum semuanya itu terjadi dan murid-murid kita sudah

menunjukkan gejala-gejala seperti itu maka sebaiknya diberi

penyaluran, moi-moi. Kita tampung murid-murid lelaki dan kita

biarkan mereka bergaul satu sama lain. Aku khawatir nafsu

atau keinginan itu tak terbendung lagi. Karena sekali meledak

tentu membuat kita terkejut!”

Swi Cu mengangguk-angguk.

Beng Tan sendiri akhirnya membayangkan apa yang dibuat

Ki Bi. Hampir saja dia tergelincir bersama wanita itu, kalau

imannya tidak teguh. Dan “ngeri” bahwa Ki Bi bisa melakukan

yang aneh-aneh, tak kuat menahan gejolak rasa atau berahi

yang kian menyesakkan napas akhirnya Beng Tan tahu bahwa

semua perasaan itu harus ditampung. Dan kini dia

membicarakan itu bersama isterinya. Isterinya rupanya dapat

menerima dan mengerti. Tapi tak ingin isterinya membantah

atau menarik urat maka dia mendahului bahwa murid-murid

perempuan itu tak usah ditanya apakah mereka ingin kawin

atau tidak.

“Jangan tanya mereka apakah ingin menikah atau tidak.

Mereka adalah perempuan, tentu malu dan tak mungkin

menjawab benar. Kita tampung saja murid-murid lelaki dan

mereka pasti akan berhubungan sendiri, tanpa disuruh.”

“Baiklah, aku mengerti, koko. Dan semuanya terserah

kebijaksanaanmu!”

Beng Tan tersenyum, bangkit meraih isterinya ini. Dan

ketika mereka berpelukan dan Beng Tan mencium isterinya ini

maka murid Hek-yan-pang diam-diam bersorak ketika

diberitahukan bahwa sang ketua akan menerima murid-murid

baru, kaum lelaki, pemuda-pemuda tampan yang tentu saja

harus diseleksi atau diawasi Beng Tan ini.

Selanjutnya Hek-yan-pang bertambah semarak ketika satu

dua murid-murid lelaki mulai berdatangan, kian hari kian

bertambah banyak dan akhirnya tak kurang dari seratus murid

lelaki ada disitu, tinggal di luar telaga, mengelilingi pulau

dimana murid-murid perempuan tinggal disitu, sebagai

penghuni lama. Dan ketika Hek-yan-pang menjadi semarak

dan ramai, hubungan antara murid-murid perempuan dengan

lelaki tak dapat dicegah lagi maka seratus pemuda yang

menjadi murid baru sudah menjalin asmara dan siap berumah

tangga!

“Nah,” Beng Tan tersenyum. “Lihat hasilnya, Cu-moi. Lihat

mereka itu sudah berpasang-pasangan!”

“Hm!” Swi Cu bersinar-sinar, gembira. “Betul katamu, koko.

Tapi mereka harus tetap diawasi agar tidak hamil diluar nikah.

Kita harus mengontrol setiap murid-murid kita sendiri!”

“Tentu, tapi aku sudah memeriksa murid laki-lakiku itu, Cumoi.

Mereka rata-rata pemuda yang baik. Dan kuancam pula

agar berpacaran dulu kalau kepandaian mereka belum

menyamai kekasihnya!”

“Ih, dengan begitu mereka akan bersemangat sekali. Ah,

pintar kau, koko. Cerdik!”

“Ha-ha, kalau tidak cerdik mana mungkin menjadi

suamimu? Sudahlah, kita sama-sama mengawasi, Cu-moi. Dan

siapa melanggar harus dihukum!”

Swi Cu mengangguk.

Akhirnya Beng Tan membebaskan murid-murid perempuan

Hek-yan-pang itu mengenakan kedoknya.

Hek-yan-pang dulu memang mengharuskan murid atau

bahkan ketuanya memakai kedok, sapu tangan hitam atau

merah untuk menghindari kekurang ajaran lelaki. Dan ketika

Beng Tan juga membuat peraturan-peraturan baru dimana

murid-mu-rid boleh keluar asal ijin maka beberapa peraturanperaturan

lama yang kaku dan keras diperlunak pemuda ini.

Semuanya tentu saja membuat murid-murid itu girang. Di

bawah Beng Tan mereka mendapat keleluasaan bergerak. Dan

karena pemuda itu memang dicintai dan dihormati seluruh

murid maka Beng Tan dapat memimpin perkumpulan ini

dengan lembut namun juga tegas. Sampai akhirnya setahun

kemudian isterinya itu melahirkan anak laki-laki, kebahagiaan

yang membuat Hek-yan-pang semakin berbunga. Tapi ketika

semua keceriaan dan keriangan itu melanda semua murid

tiba-tiba saja markas perkumpulan itu disatroni orang. Dan

begitu orang ini masuk maka Hek-yan-pang pun geger!

Malam itu, tepat sebulan setelah anak laki-lakinya lahir,

anak yang diberi nama Ju Han, Beng Tan dan isteri duduk di

beranda rumah mereka dengan wajah berseri-seri.

Beng Tan sedang melihat isterinya menyusui bayinya ini.

Anak mereka itu begitu montok, tubuhnya sehat dan wajahnya

kemerah-merahan. Tapi bukan kesitu perhatian Beng Tan

sebenarnya. Pemuda ini sejak tadi mengagumi buah dada

isterinya yang padat dan penuh air susu. Benda itu menarik

perhatiannya karena dari benda itulah dia dulu hidup dan

dihidupi ibunya.

Seperti anaknya inilah kira-kira dia dulu juga diberi minum

susu, langsung dari buah dada ibu yang begitu penuh kasih

dan sayang. Dan ketika dia bersinar-sinar memandang buah

dada isterinya itu, yang lahap dikempong si bayi maka Beng

Tan tiba-tiba terkejut ketika mendadak saja isterinya itu

menoleh, rupanya getaran pandang matanya terasa, atau Swi

Cu jengah.

“Kau…” wanita itu kemerah-merahan. “Apa yang kau

pandang? Kau melihat Ju Han atau yang lain?”

“Hm!” Beng Tan bangkit berdiri, tersenyum menguasai

kegugupannya. “Aku… aku memandang kedua-duanya, Cumoi.

Ya Ju Han ya ibunya. Aku kagum kepada kalian!”

“Kagum?”

“Ya, kagum karena Ju Han bertubuh sehat dan montok

serta kagum karena kaupun tak kalah montok dengan

anakmu. Maksudku, ha-ha…. jangan marah, Cu-moi. Aku

mengagumi buah dadamu yang montok dan segar. Baru kali

ini kulihat benda milikmu itu demikian padat dan penuh isi. Ah,

tak heran kalau Ju Han begitu lahap. Akupun tiba-tiba merasa

lapar dan ingin…..”

“Hush!” sang isteri memotong, tersipu kemerah-merahan.

“Jangan disini, koko. Nanti ada orang. Jangan bicara keraskeras!”

“Ha-ha, siapa keras-keras? Aku memang lapar, ingin

minum…!” tapi ketika Beng Tan menunduk dan mau ikutikutan

seperti bayinya, mencium dan mengagumi benda yang

sejak tadi dipandangnya kagum itu tiba-tiba sang isteri

menepis dan menahan.

“Ada orang!”

Beng Tan terkejut. Dia membalik dan tertegun melihat Ki Bi

ada disitu, seketika merah mukanya karena hampir saja dia

“mimik” di depan orang lain. Nyaris teledor!

Tapi ketika Ki Bi sudah menjatuhkan diri berlutut dan purapura

tak melihat perbuatan sang ketua tadi yang dirangsang

gairahnya maka Ki Bi melapor bahwa diluar telaga dikatakan

ada seseorang yang masuk, menyelinap dan sekarang entah

dimana.

“Tujuh murid lelaki roboh malang-melintang, dan lima

murid perempuan juga terkapar. Mohon pangcu memberikan

perintah apa yang harus dilakukan!”

“Hm, dimana Hak Su?”

“Kami disini…!” dua bayangan berkelebat. “Kami juga

hendak melapor itu, pangcu. Maaf bahwa kami terlambat!”

Beng Tan tertegun. Hak Su dan Wan To sudah berlutut di

depannya dengan sikap gemetar. Mereka adalah murid-murid

kepala digolongan laki-laki. Mereka itulah yang dulu ditolong

isterinya dan akhirnya kencan dengan Lim Hwa.

Hak Su saling cinta dengan Lim Hwa. Dan ketika dua

pemuda itu berlutut dan Swi Cu bangkit berdiri maka Swi Cu

bertanya siapa orang yang datang itu.

“Kami tak tahu, entah kawan atau lawan. Tapi orang itu

dapat memasuki markas seperti orang yang sudah biasa

keluar masuk disini, pangcu. Dan kami heran serta kaget!”

“Hm, dan kalian tak tahu apakah dia laki-laki atau

perempuan?”

“Tampaknya seperti perempuan, tapi bayangannya terlalu

cepat dan tak ada anak murid yang melihat jelas.”

“Dan kami tambahkan disini bahwa tujuh murid laki-laki

akhirnya tewas,” Hak Su menunduk sedih, menahan marah.

“Orang itu jelas adalah musuh, pangcu. Dan kami ingin minta

petunjuk apa yang harus dilakukan!”

“Hm,” Beng Tan terkejut. “Tewas? Jadi orang itu sudah

main bunuh?”

“Benar, pangcu. Dan menurut laporan dia amat lihai sekali.

Kami mohon pangcu memberikan perintah untuk menangkap

nya hidup-hidup ataukah mati!”

Beng Tan tergetar. Kalau sudah begini maka gairahnya tadi

tiba-tiba lenyap. Musuh menyatroni sarang mereka dan Beng

Tan menduga-duga siapa gerangan. Seingatnya, tak ada

musuh yang bersifat pribadi. Kalaupun ada yang menyatroni

maka itu tentulah Si Golok Maut.

Tapi karena Golok Maut sudah tewas dan tak ada musuh

yang dirasa berkaitan akhirnya Beng Tan menjadi curiga akan

adanya seseorang, yakni, si Kedok Hitam. Tapi begitu teringat

bahwa yang dilaporkan ini adalah perempuan, padahal Kedok

Hitam laki-laki maka Beng Tan bingung namun pemuda ini

mengepal tinjunya.

“Baiklah,” Beng Tan bertindak cepat. “Kembali ke tempat

masing-masing, Hak Su. Dan perintahkan semua murid untuk

mencari dan menangkap orang ini. Jangan bunuh, aku akan

berkeliling mencari bayangannya!”

Hak Su dan temannya mengangguk.

Ki Bi sendiri sudah diperintahkan untuk melakukan hal yang

sama, yakni menyebar murid-murid perempuan untuk mencari

dan menangkap pendatang ini, yang sudah membunuh tujuh

murid laki-laki. Dan ketika Beng Tan bersiap serta menyuruh

isterinya masuk tiba-tiba Swi Cu malah mengedikkan kepala

dan menggeleng.

“Tidak, aku juga akan ikut mencari, koko. Akan kutangkap

dan kulihat siapa pengacau itu!”

“Hm, kau bersama Ju Han, mana mungkin mencari

penjahat? Tidak, kau menjaga saja anak kita itu, moi-moi. Biar

aku dan murid-murid yang lain saja. Dan Ju Han menangis,

lihat, kau melepas minumannya!”

Swi Cu mengerutkan kening. Anaknya tiba-tiba menangis

keras karena dia melepas buah dadanya. Ju Han kiranya

masih lapar dan tentu saja kecewa melihat ibunya melepaskan

emik. Dan ketika isterinya itu bingung dan men-cup-cup Ju

Han maka Beng Tan berkelebat mendahului mengulang

isterinya itu masuk.

“Percayalah kepadaku, persoalan ini dapat kuselesaikan.

Masuk dan jaga Ju Han, Cu-moi. Jangan ikut-ikut mengejar

karena semua murid sudah kukerahkan!”

Swi Cu mendongkol. Apa boleh buat terpaksa dia masuk

dan menahan marah.

Ju Han dimimiki lagi namun perasaan sang ibu yang sudah

tak keruan membuat si anak merasa, menangis dan sering

menendang-nendang. Maklumlah, kegelisahan ataupun

kebingungan yang dirasa si ibu akan melanda si bayi juga.

Dan ketika Swi Cu menenangkan anaknya dan berkali-kali

harus membujuk atau berkata-kata manis agar anaknya diam

maka di saat itulah tiba-tiba terdengar panggilan lirih dan

seseorang sudah ada di balik lemari, di dalam kamar sang

nyonya.

“Sumoi, kau baik-baik

saja?”

Swi Cu kaget bukan

main. Seseorang yang

muncul dan tahu-tahu

sudah berada di

kamarnya pribadi jelas

bukanlah orang

sembarangan dan tentu

amat lihai. Swi Cu

membentak dan seketika

memutar tubuhnya

dengan cepat, tangan kiri

bergerak dan

menghantam dengan pukulan Ang-in-kang, pukulan Awan

Merah. Tapi ketika dia membalik dan melihat siapa itu tiba-tiba

tangan nyonya ini lumpuh dan teriakan tertahan terdengar

dari mulutnya

“Suci…!”

Swi Cu tertegun. Seorang wanita cantik muncul dari balik

lemari pakaian itu, tersenyum. Langkahnya gontai dan sudah

menghampiri wanita ini. Dan ketika Swi Cu menjerit dan

berteriak penuh haru tiba-tiba nyonya muda itu sudah

menubruk dan tersedu-sedu memeluk wanita ini, wanita cantik

yang rambutnya riap-riapan, agak mengerikan karena bola

matanya ber putar setengah liar.

“Ah, suci…. suci! Dari mana kau selama ini? Bagaimana kau

datang begini tiba-tiba? Aduh, kau kurus, suci. Kau tampak

pucat dan menderita. Kau tersiksa!”

Wanita itu, sang suci, mengangguk-angguk tersenyum

aneh. Dia membiarkan saja sumoinya itu memeluk dan

menangisi dirinya. Tapi ketika Ju Han menangis dan gelisah

terhimpit ibunya maka wanita itu mundur melepaskan diri.

“Itu….. anakmu?”

“Benar…. ah, aku lupa!” dan Swi Cu yang mengusap air

matanya menepuk si anak lalu memperkenalkan anaknya itu

kepada sang suci. “Ini puteraku, suci, Han Han, atau Ju Han.

Baru sebulan umurnya. Kau sendiri, eh…. bukankah dulu kau

hamil?”

“Hm!” wanita itu bersinar-sinar, tidak menjawab. “Anakmu

montok, sumoi, sehat dan tampan sekali. Boleh kugendong?”

“Tentu,” Swi Cu memberikan. “Anakku adalah anakmu

juga, suci. Tapi dimana anak yang kau kandung itu!”

“Mati,” wanita ini menjawab pendek. “Kau beruntung

memiliki putera demikian sehat dan tampan, sumoi. Dan

bapaknya, hm…. tentu akan mewariskan kepandaiannya yang

tinggi!”

Swi Cu tertegun. “Mati? Maksudmu…”

“Ya, keguguran, sumoi. Anakku mati. Kau, hm… kau

tampaknya bahagia sekali. Kau hidup senang bersama

suamimu itu. Dan tampaknya demikian senang serta

bahagianya hingga melupakan aku dan leluhur-leluhur Hekyan-

pang!”

“Suci!” sang sumoi terkejut. “Apa…. apa maksudmu?”

“Hi-hik, melupakan aku tak apa-apa, sumoi, tapi melupakan

leluhur sungguh bukan perbuatan yang boleh diampuni. Kau

merobah peraturan-peraturan partai, kau membiarkan muridmurid

perempuan kita bergaul dengan lelaki. Hm, sedemikian

bahagia dan senangnyakah dirimu ini hingga mabok bersama

suami? Kau harus dihukum, sumoi. Kau melanggar

perkumpulan kita… wut!” dan sang suci yang tiba-tiba

berkelebat dan menyerang sang sumoi tiba-tiba sudah

menampar ibu muda itu, dikelit tapi gerakan tangan yang lain

menyambar dengan amat cepatnya.

Swi Cu terkejut tapi apa boleh buat menggerakkan

tangannya pula, menangkis. Dan ketika dua lengan yang

sama-sama memiliki sinkang itu bertemu dan beradu maka

Swi Cu terpelanting sementara wanita cantik berambut riapriapan

itu terdorong mundur.

“Suci…. des!”

Swi Cu bergulingan meloncat bangun.

Anaknya tiba-tiba menangis dan wanita ini pucat karena Ju

Han ada di gendong-an sucinya itu. Sucinya tertawa dan Ju

Han dipijit kepalanya. Dan ketika anak itu menjerit karena

kesakitan, hal yang membuat Swi Cu terbelalak dan marah

maka wanita ini berkelebat dan menyambar anaknya.

“Suci, serahkan anakku!”

Sang suci terkekeh. Dia berkelit dan menangkis ketika

sumoinya itu mengejar, berteriak dan membentak karena Ju

Han tiba-tiba menjerit-jerit.

Anak kecil itu rupanya ketakutan dan merasa bukan

digendongan ibunya sendiri. Dan ketika dua lengan kembali

beradu tapi kali ini sang suci yang terpelanting maka wanita

itu terkejut karena Swi Cu mempergunakan kekuatan sinkang

yang bukan milik Hek-yan-pang, selanjutnya dicecar dan

bertu-bi-tubi menerima serangan yang jauh lebih cepat dari

semula.

Swi Cu membentak agar sucinya itu mengembalikan Ju

Han, berkali-kali melakukan serangan yang membuat sucinya

terpelanting. Dan ketika wanita berambut riap-riapan itu

terkejut karena itulah sinkang yang dimiliki Beng Tan, Pek-luikang

atau Tenaga Petir maka dua kali lengannya gosong

terkena pukulan lawan, hal yang membuat wanita itu

melengking.

“Sumoi, kau tidak mempergunakan ilmu-ilmu kita. Kau

semakin sesat!”

“Kaulah yang sesat!” Swi Cu menangis memaki sucinya itu.

“Kau kiranya yang membunuh tujuh murid laki-laki Hek-yanpang,

suci. Dan kau merampas anakku secara tak tahu malu.

Kembalikan anakku, atau aku akan mendesakmu dan

merobohkanmu!”

“Hm, sudah tidak tahu hormat lagi!” wanita berambut riapriapan

itu marah. “Kau sudah tak segan dan kurang ajar

kepada sucimu sendiri, sumoi. Kalau begitu kubawa anakmu

ini sebagai hukuman….. dar!” dan sebuah pelor hitam yang

dilempar dan meledak di ruangan itu akhirnya membuat Swi

Cu memekik dan berjungkir balik menyelamatkan diri, kaget

dan marah karena sucinya tiba-tiba melesat keluar jendela.

Saat itu asap hitam meme-nuhi kamar dan bayangan

wanita berambut riap-riapan itu lenyap, Swi Cu marah dan

gusar sekali. Maka ketika dia melengking dan memanggil

suaminya, ribut-ribut itu sudah didengar anak-anak murid

Hek-yan-pang maka bayangan Beng Tan berkelebat masuk

dan langsung pemuda ini membuyarkan pengaruh asap

dengan kebutan lengan bajunya.

“Apa yang terjadi. Siapa yang masuk!”

“Suci…. suci Wi Hong, koko. Dia…. dia menculik anak kita!”

“Apa?”

“Benar, dia marah-marah dan datang kesini. Dan kiranya

dialah yang membunuh tujuh murid laki-laki!” dan ketika Swi

Cu mengguguk dan menyambar suaminya maka sambil

mengejar wanita ini bercerita.

Beng Tan kaget karena tak menyangka, pantas musuh

dikabarkan dapat masuk seperti memasuki rumahnya sendiri,

tak tahunya adalah Wi Hong, suci atau kakak seperguruan

isterinya ini dan Wi Hong adalah bekas ketua lama. Itulah

wanita yang dulu menjalin cinta dengan mendiang Si Golok

Maut dan pergi karena dendam.

Wi Hong membenci sekali musuh yang membunuh suami

atau kekasihnya itu. Dan ketika isterinya selesai bercerita

sementara anak-anak murid Hek-yan-pang geger, mendengar

bahwa bekas ketua mereka yang lama muncul maka banyak

yang berdiri melenggong ketika wanita berambut riap-riapan

itu berkelebat ke telaga dan melarikan diri membawa Ju Han,

yang menangis dan menjerit-jerit di pondongan wanita ini. .

“Siapa berani menghalang dia akan kubunuh. Majulah,

kalau ingin mampus!”

Murid-murid wanita terbengong-bengong. Mereka pucat

ketika bekas ketua lama mereka itu berkelebat di depan mata,

mengancam dan akan membunuh siapa saja yang berani

menyerang. Dan karena kejadian itu berlangsung cepat dan

anak-anak murid tak menduga bahwa yang datang itu adalah

bekas ketua mereka sendiri, bengong membawa Ju Han yang

dikira anak wanita itu, karena bekas ketua mereka juga

dikabarkan hamil dan punya keturunan maka mereka baru

terkejut ketika bentakan Swi Cu yang meluncur bersama

suaminya memberi tahu bahwa Ju Han diculik.

“Dia anakku, Han Han. Kejar dan jangan bengong saja!”

Semua murid tersentak. Sekarang mereka baru tahu bahwa

anak yang di gendongan bekas ketua lama kiranya adalah Han

Han, bukan anak yang dulu dikandung wanita itu. Dan karena

Swi Cu sudah mengejar bersama suaminya dan anak-anak

murid mengikuti dibelakang maka Hek-yan-pang benar-benar

gaduh dan ribut oleh kejadian ini.

Namun kejadian itu berlangsung ketika malam hari. Swi Cu

harus berlarian kesana kemari sambil menyuruh murid-murid

mencegat, berteriak dan memaki-maki sucinya yang menculik

Ju Han.

Telaga sudah dikepung. Dan ketika sebuah perahu

meluncur dan mendahului perahu-perahu lain, yang siap dan

berjaga di tepi telaga maka Swi Cu menjerit menyambar

sebuah perahu.

“Itu dia, kejar. Semua mengejar!”

Beng Tan terbelalak.

Wi Hong, wanita itu, meluncur dan sudah hampir di

seberang sana. Tinggal beberapa meter lagi wanita itu akan

menepi dan meloncat kabur. Tapi ketika anak-anak murid

lelaki bermunculan dan mereka itu sudah mendengar ributribut

ini, datangnya musuh, maka mereka itu sudah

menyerang dan murid-murid lelaki ini tak tahu bahwa itulah

bekas ketua lama, membentak dan menghadang dan

kesempatan ini dipergunakan oleh Beng Tan dan isterinya.

Tapi kalau Swi Cu berteriak dan mengejar dengan sebuah

perahu, meluncur dan memaki-maki sucinya adalah Beng Tan

yang kini menjadi ketua itu sudah berjungkir balik melempar

dua potongan bambu dan dengan bambu inilah pemuda itu

mengejar Wi Hong, bergerak dan meluncur melebihi

kecepatan perahu, dengan kedua tangan atau kaki bergerak

maju mundur.

“Wher-wherr…!”

Perahu Swi Cu tersalip. Beng Tan mendahului dan anakanak

murid yang ada ditepi telaga kagum, bengong tapi sudah

bergerak dan berlompatan di atas perahunya sendiri untuk

mengejar atau mengikuti sang ketua. Dan ketika belasan

perahu meluncur seakan berlomba dan Wi Hong yang dicegat

dan diserang anak-anak murid lelaki melihat itu maka wanita

ini membentak dan melepas lagi tiga pelor hitamnya.

“Minggir, dan mampuslah…!”

Murid-murid lelaki itu berteriak. Mereka terlempar dan jatuh

ke telaga. Ledakan granat tangan telah melukai mereka dan

kesempatan ini dipergunakan Wi Hong untuk mendaratkan

perahunya. Dan ketika Beng Tan membentak namun wanita

itu sudah berjungkir balik di seberang maka Wi Hong terkekeh

dan berkelebat menuju hutan.

“Hi-hik, boleh tangkap aku kalau bisa Beng Tan. Tunjukkan

kepandaianmu dan kejarlah aku!”

Beng Tan membentak. Suara tangis anaknya menjadi

pedoman tapi tiba-tiba tangis anaknya tak terdengar lagi. Wi

Hong rupanya menotoknya, atau, lebih ngeri lagi, wanita itu

menurunkan tangan kejam, membunuh Ju Han!

Dan ketika Beng Tan memekik dan berjungkir balik ke tepi

telaga, menendang dua potongan bambunya itu maka dua

potong bambu yang tiba-tiba dijadikan senjata dan terbang ke

tempat Wi Hong tadi meluncur dan meledak ketika

menghantam sasaran, pohon dibelakang Wi Hong yang tadi

dipergunakan wanita ini untuk melindungi dirinya.

“Dess!”

Dua potongan bambu itu melesak tembus. Orang tentu

akan meleletkan lidah melihat kehebatan tenaga pemuda itu.

Dalam marah dan khawatirnya Beng Tan telah

mempergunakan hampir seluruh tenaganya, dua potong

bambu itu menancap dan tembus mengeluarkan suara keras.

Dan ketika pohon itu bergoyang-goyang dan roboh menjadi

dua, tak kuat dihajar potongan bambu itu maka suaranya

berde-bum ketika jatuh ke tanah.

“Wi Hong, serahkan Ju Han. Atau aku akan membunuhmu!”

Beng Tan tak memperdulikan tumbangnya pohon di depan.

Dia sudah mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan

melihat bayangan wanita itu, membentak dan mengejar tapi

Wi Hong menyelinap di pohon yang lain, muncul dan

bersembunyi lagi hingga Beng Tan harus berputar-putar,

memaki dan marah sekali karena kekhawatirannya akan

keselamatan sang anak sudah begitu besar.

Kalau saja waktu itu bukan malam hari dan keadaan tidak

gelap tentu dia sudah dapat menangkap dan mengejar

lawannya itu. Hutan itu sudah dikenal dan Beng Tan hafal

bagian-bagiannya. Namun karena Wi Hong juga sama-sama

mengenal karena wanita itu adalah bekas penghuni Hek-yanpang

maka akhirnya melepas sebutir kerikil yang tepat

mengenai pundak lawan barulah Wi Hong jatuh berteriak.

“Aduh!”

Beng Tan berkelebat menyambar anaknya.

Wi Hong jatuh terduduk dan saat itulah yang terbaik untuk

menyelamatkan anaknya. Tapi ketika Ju Han terampas dan Wi

Hong melengking tiba-tiba wanita itu menendang sebutir

kerikil hitam dan ganti menyerang pemuda ini.

“Tak!”

Beng Tan tak apa-apa. Pemuda ini diserang lagi tapi sudah

melindungi dirinya dengan sinkang,. kebal. Dan karena ketua

Hek-yan-pang itu memang lihai dan sin-kangnya jauh di atas

lawan maka Wi Hong tersedu-sedu ketika gagal, meloncat

bangun.

“Beng Tan, aku akan membunuhmu. Atau kau boleh

membunuh aku!”

Beng Tan mengerutkan kening. Dia segera lega karena Ju

Han, anaknya, tak apa-apa. Anaknya itu benar tertotok dan

kini menangis setelah dia membebaskan totokan itu. Dan

ketika Wi Hong menyerangnya dan dia mengelak sana-sini

maka Swi Cu muncul dan wanita itu menangis kegirangan

karena anaknya sudah diselamatkan sang suami.

“Berikan padaku, biar kutenangkan!”

Beng Tan melempar anaknya itu. Swi Cu menerima dan

cepat ibu ini mendiamkan anaknya, membuka baju dan

menyumpalkan buah dadanya ke mulut si anak.

Maklum, itulah satu-satunya jalan untuk menenangkan

bocah yang menangis. Dan ketika benar saja Ju Han diam dan

anak itu mencecap buah dada ibunya dengan lahap dan

senang maka Wi Hong disana terhuyung-huyung dikibas atau

ditolak Beng Tan.

“Cukup, tak perlu menyerang lagi, Wi Hong. Berhenti, dan

jangan nekat!”

“Keparat!” Wi Hong menangis. “Kau boleh bunuh aku, Beng

Tan. Atau aku akan membunuhmu karena aku tak mau

berhenti menyerang!”

“Hm, kau bukan lawanku. Kau bukan tandinganku.

Meskipun kau menyerang tapi kau tak akan berhasil!”

“Bedebah, kau memang sombong!” dan ketika Wi Hong

menyerang dan terus menyerang tapi selalu kandas dan

terhuyung-huyung ditolak pemuda itu akhirnya Swi Cu tak

tahan berteriak nyaring,

“Suci, sudahlah. Tahu dirilah!”

Wi Hong melotot. Dia mendelik memandang sumoinya itu

namun mulut tiba-tiba menyungging senyum melihat bocah di

gendongan wanita itu menyusu. Sesuatu yang aneh bersinar

di matanya, terkekeh dan tiba-tiba dia terbanting ketika Beng

Tan menangkis sebuah pukulannya, dengan kuat. Dan ketika

wanita itu mengeluh namun bergulingan meloncat bangun,

tertawa, maka tiba-tiba wanita ini berseru bahwa suatu ketika

dia akan datang lagi.

“Baiklah, kau boleh menang, Beng Tan Lain kali aku akan

menuntut perhitungan lagi. Selamat tinggal!”

Beng Tan terbelalak memandang. Dia sesungguhnya tak

senang dengan semuanya itu, kedatangan Wi Hong yang

membunuh-bunuhi murid-murid lelaki Hek-yan-pang. Tapi

karena wanita itu adalah kakak seperguruan isterinya dan Wi

Hong pun bekas ketua lama maka dia membiarkan saja

kepergian wanita itu dan lega bahwa anaknya tak sampai

celaka. Itu saja sudah cukup.

Beng Tan tak memperhatikan bahwa popok anaknya lain,

bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada anaknya itu, yakni

ketika bocah itu melahap dan menyusu buah dada isterinya

demikian rakus. Hanya isterinya yang dapat merasakan itu tapi

selanjutnya Swi Cu pun tak bercuriga.

Wanita ini hanya menyangka bahwa anaknya sedang

melepaskan diri dari cengkeraman ketakutan, setelah tadi

dibawa dan diculik sucinya. Dan karena malam juga gelap dan

Swi Cu pun tak memperhatikan popok anaknya, yang lain dan

tidak serupa tadi maka wanita ini sama sekali tak menyangka

bahwa anaknya telah tertukar!

Suami isteri itu tak menduga sedikit pun bahwa Wi Hong

telah “mengerjai” mereka, apalagi Swi Cu mendapat

keterangan bahwa sucinya itu tak jadi mempunyai anak,

karena keguguran. Maka ketika mereka pulang dan anak-anak

murid yang berdatangan menyusul disuruh kembali dan

pulang ke tempat masing-masing maka malam itu Swi Cu

menangis di dada suaminya setelah sang anak tertidur.

“Suci telah datang, dan membuat onar. Ah, apa yang harus

kita lakukan, koko? Bagaimana kalau dia datang dan membuat

keributan lagi?”

“Hm, tak usah cemas. Aku dapat mengatasinya, Cu-moi.

Dan kaupun tentunya juga begitu. Kau harus memperdalam

pukulan-pukulan Pek-in-kang atau ilmu silat Pek-jit Kiam-sut

kalau tak ingin direpotkan sucimu itu. Kita dapat berjaga-jaga,

tapi para murid tidak!”

“Itulah, dan aku khawatir. Bagaimana kalau murid-murid

kita dibunuh lagi? Tadi suci memaki-maki aku yang dikata

merobah peraturan partai, koko. Dan dia marah sekali melihat

murid-murid lelaki disini. Aku khawatir akan nasib

perkumpulan kita!”

“Tak perlu berlebihan. Aku tak berpikiran sejauh itu, Cumoi.

Tapi, eh… apakah dia datang sendirian?” Beng Tan tibatiba

tampak terkejut, memandang isterinya. “Mana anak yang

dulu dikandungnya itu? Bukankah dia hamil?”

“Suci keguguran….” Swi Cu masih terisak-isak. “Anak yang

dulu dikandungnya itu tak ada, koko. Dia datang sendirian.

Kenapakah?”

“Hm, tak apa-apa. Kalau begitu selamat!”

“Selamat apanya?”

“Eh, tidakkah kau ingat dendam sucimu itu, moi-moi?

Tidakkah kau tahu bahwa sucimu akan mengajar anaknya

untuk membalas dendam? Kematian Golok Maut tak mungkin

dilupakannya begitu saja, dan aku ngeri kalau anak itu lahir!”

“Betul,” Swi Cu terkejut, tampaknya sadar. “Suci memiliki

dendam setinggi langit, koko. Dan Kedok Hitam adalah

manusia yang amat dibencinya. Hm, aku ngeri, tapi untung.

Dia telah keguguran dan anaknya itu tak akan mengulang

sepak terjang ayahnya!”

Beng Tan mengangguk-angguk. Memang kalau Wi Hong

sampai melahirkan keturunan tentulah geger dunia kang-ouw

kalau anak itu melanjutkan dendam bapaknya.

Dendam wanita itu tak akan puas oleh darah orang biasa

saja. Yang diminta adalah darah si Kedok Hitam padahal

Kedok Hitam adalah tokoh di istana, seorang laki-laki yang

merupakan adik tiri kaisar. Jadi tentu hebat akibatnya kalau Wi

Hong menghendaki nyawa orang itu, melalui anaknya. Dan

ketika Beng Tan tepekur dan teringat peristiwa-peristiwa lama,

kejadian yang membuat dia sesak dan marah ditahan maka

isterinya berbisik apakah dia ingat siapa si Kedok Hitam itu.

“Tentu, mana mungkin aku lupa? Kau sudah kuberi tahu,

moi-moi. Dan aku tentunya jauh lebih ingat daripada kau!”

“Hm, bukan begitu maksudku. Maksudku, bagaimana kalau

suci sampai tahu, koko. Atau bagaimana kalau sampai dia

bertemu dengan si Kedok Hitam ini!”

“Dia tak mungkin tahu, dan tak mungkin bertemu dengan si

Kedok Hitam ini!”

“Hm, kalau umpamanya tahu?”

“Tak mungkin, Cu-moi. Aku tak akan memberitahukannya,

kecuali kau!”

Sang isteri tiba-tiba mengedikkan kepala, marah. “Koko,

kau tak perlu ragu akan janjiku. Aku telah bersumpah tak akan

memberitahukan siapa si Kedok Hitam itu kepada suci. Kalau

aku memberitahukannya biarlah kepalaku dipotong orang!

Kenapa kau menyinggungku seperti ini? Aku hanya hendak

minta pendapatmu bagaimana kalau seandainya secara

kebetulan suci bertemu dengan si Kedok Hitam itu. Apa yang

hendak kau perbuat!”

“Aku akan melindunginya,” Beng Tan gugup menjawab,

cepat dan meredakan kemarahan isterinya itu. “Aku juga

sudah berjanji padamu, Cu-moi. Dan Kedok Hitam telah

kuminta untuk tidak mengganggu sucimu itu. Kalau dia

bohong, tentu aku akan menuntut pertanggung-jawabannya.

Sudahlah, maaf kalau kata-kataku tadi menyakitkan hatimu!”

Swi Cu mendorong suaminya. Tak gampang dia reda kalau

sudah dibuat marah begitu.

Sang suami harus membujuk tak henti-henti. Dan ketika

Beng Tan kelabakan dan meloncat menghadang isterinya ini

maka Beng Tan memeluk dan mencium pipi isterinya. “Maaf….

maaf…. kenapa masih marah juga? Aku tak bermaksud

menyinggung perasaanmu, Cu-moi Kalau masih kurang juga

biarlah aku berlutut minta maaf!” Beng Tan menjatuhkan diri

berlutut, mau memeluk dan mencium kaki isterinya itu tapi

Swi Cu sudah cepat menarik bangun. Akhirnya wanita ini

menangis dan menyambar suaminya itu, menyusupkan dada

dan balas memeluk suaminya.

Dan ketika sang suami girang dan mencium isterinya itu,

dibiarkan, maka Swi Cu sudah diajak masuk ke kamar.

“Hush, belum waktunya. Tak boleh! Aku masih menyusui

Han-ji (anak Han), koko. Tak boleh begitu!”

“Ah, masa tidur dan memeluk isteri di ranjang saja tidak

boleh? Aku tidak menginginkan yang lebih, moi-moi. Aku tahu

itu. Tapi berilah sedikit penghibur dan biar aku melepas

rinduku!”

“Ih, kau…!” dan sang isteri yang terpaksa menerima dan

tak menolak ajakan suami lalu membiarkan saja dirinya

dituntun dan masuk ke kamar, tak lama kemudian sudah

berduaan dan Beng Tan lega melihat isterinya mau dibujuk.

Dia ingin menyatakan kasih dan sayangnya, meskipun sang

isteri tak akan memberikan semua karena Swi Cu baru saja

melahirkan bayinya sebulan lebih sedikit, hal yang

mengharuskan suami “berpuasa” tapi Beng Tan dapat

menerima itu. Dan ketika keduanya sudah menutup pintu

kamar dan kebetulan Ju Han disana juga sudah terlelap tidur

maka suami isteri ini dapat berduaan dan bermesraan kembali

karena Swi Cu sudah tidak marah lagi.

0odwo0

“Hi-hik!” wanita berambut riap-riapan itu terkekeh. “Tahu

rasa kau sekarang, Beng Tan. Tahu rasa sekarang kalian

berdua. Hm, anakmu menjadi anakku, dan anakku sudah

menjadi anak kalian. Giam Liong akan mewarisi kepandaian

Pek-jit Kiam-sut atau Pek-lui-kang yang dahsyat. Dan anak

kalian ini, hi-hik…. cukup kuwarisi ilmu-ilmu silat dari Hek-yanpang!”

Orang akan bingung mendengar kata-kata ini. Wanita

berambut riap-riapan itu terhuyung keluar hutan dan dia

membawa seorang anak laki-laki yang menangis sepanjang

jalan. Dialah Wi Hong yang semalam memasuki bekas

perkumpulannya sendiri, mengacau dan membunuh tujuh

murid laki-laki karena wanita ini kaget dan marah sekali bahwa

Hek-yan-pang tiba-tiba sudah berobah.

Dulu murid-murid lelaki pantang disitu, bahkan Hek-yanpang

telah mengadakan peraturan bahwa perkumpulan itu

hanya dihuni kaum wanita. Kaum lelaki, yang berani datang,

apa-lagi berbuat macam-macam pasti akan dibunuh. Paling

sial mereka diusir setelah tentu saja dilukai, dihajar atau

dikutungi kakinya karena kaki mereka itulah yang dianggap

bersalah, berani lancang dan nyasar ke tempat kaum

perempuan.

Maka ketika malam tadi mendadak dia melihat perobahan

itu dan banyak murid-murid lelaki menjaga di tepi telaga,

sebagai tameng atau pelindung bagi murid-murid perempuan

yang ada di tengah telaga maka Wi Hong atau bekas ketua

Hek-yan-pang yang keras dan mudah sakit hati ini kontan saja

membunuh murid-murid yang tak disenangi.

Wi Hong, atau wanita ini, sebenarnya tentu tak asing bagi

para pembaca yang sudah membaca kisah Si Golok Maut.

Inilah wanita yang menjadi pangkal kebahagiaan sekaligus

juga malapetaka bagi mendiang Si Golok Maut itu. Dialah

satu-satunya wanita yang amat dicintai Si Golok Maut Sin

Hauw yang tewas di ujung banyak senjata.

Wi Hong inilah satu-satunya wanita yang membuat Sin

Hauw alias Si Golok Maut kena kutuk. Karena Golok Maut yang

dipegang Sin Hauw pantang dikotori hubungan suami isteri.

Dan Sin Hauw atau mendiang Si Golok Maut itu telah

melakukannya.

Dalam gejolak cinta dan nafsu yang menggigit-gigit

akhirnya Sin Hauw melanggar larangan senjata yang dibawa.

Giam-to, atau Golok Penghisap Darah yang dibawa pemuda itu

terlanjur dikotori Sin Hauw dengan perbuatannya bersama

ketua Hek-yan-pang itu. Ada dua jalan bagi pemuda ini untuk

“membersihkan” diri dari tuah kutukan itu. Yakni membunuh

kekasihnya atau dia siap dibunuh oleh golok yang

dipegangnya sendiri. Tapi ketika Wi Hong diketahui hamil dan

akibat perbuatan mereka di hutan bambu itu membuahkan

benih maka Sin Hauw tak jadi membunuh kekasihnya ini dan

siap menerima kematian dengan mengorbankan dirinya

sendiri, menerima kutuk atau pantangan besar yang dulu juga

diperbuat oleh suhu dan subonya (baca: Golok Maut)!

Wi Hong atau wanita berambut riap-riapan ini akhirnya

tahu. Bekas ketua Hek-yan-pang itu memang dulu hampir saja

dibunuh oleh Si Golok Maut, kekasihnya sendiri. Tapi karena

ternyata waktu itu dia sudah berbadan dua dan perbuatan

mereka membuahkan keturunan maka Wi Hong dibiarkan

hidup sementara Si Golok Maut sendiri rela menemui ajalnya

dari dendam yang sebenarnya belum tuntas.

Ada dua orang yang amat dibenci Si Golok Maut itu, dua

orang yang membawa celaka keluarganya hingga dia

kehilangan segala-galanya, ayah, ibu dan kakak

perempuannya. Tapi karena dia akhirnya juga tewas terbunuh

sementara dua orang musuhnya baru satu saja yang dibunuh

oleh tangannya sendiri maka Wi Hong atau kekasihnya inilah

yang diharap meneruskan dendamnya dengan musuh yang

terakhir itu. Dan musuh itu adalah si Kedok Hitam.

Wi Hong yang hamil dan membawa keturunan Si Golok

Maut ini diminta untuk mencari musuh besar itu. Wanita ini

juga bertekad bahwa musuh yang tinggal satu itu akan dicari

dan dibunuhnya. Tapi karena musuh amatlah licik dan

sekarang bertambah seorang lagi dengan yang namanya si

Kedok Hitam maka Wi Hong mendapat dua tugas sekaligus

yang amat berat dilakukan.

Siapakah musuh pertama yang masih hidup itu? Bukan lain

adalah pangeran Coa. Pangeran ini tinggal di kota raja dan dia

adalah adik tiri kaisar sekarang. Pangeran inilah yang

membuat dendam Si Golok Maut setinggi gunung. Tapi karena

pangeran itu selalu dilindungi orang-orang lihai dan berkali-kali

Golok Maut menyerbu selalu saja gagal maka pangeran Coa

selamat tapi adiknya yang bernama Ci-ongya berhasil dibunuh.

Dan sadis sekali pembalasan Si Golok Maut itu. Kepala Ciongya

dipenggal, tubuhnya dilempar dari atap yang tinggi.

Dan ketika semua geger dan Golok Maut dikeroyok ratusan

orang maka disini Golok Maut mengalami luka-luka dan

melarikan diri ke Lembah Iblis. Namun musuh mengejar.

Dipimpin oleh seorang laki-laki yang bernama Kedok Hitam,

tokoh amat lihai dan mengenakan saputangan hitam

dimukanya Si Golok Maut itu diburu. Disini Golok Maut

terkejut, dikepung dan akhirnya tewas. Dan ketika Golok Maut

dibunuh dan ganti dicincang tubuhnya, dipotong-potong maka

balas-membalas antara pihak Coa-ongya dengan pemuda itu

berakhir.

Tapi benarkah demikian? Tak ada orang tahu bahwa Golok

Maut telah menanamkan benihnya di tubuh bekas ketua Hekyan-

pang itu, wanita cantik alias Wi Hong, yang kini

terhuyung-huyung dan terkekeh meninggalkan hutan diluar

Hek-yan-pang itu. Dan karena hanya Swi Cu dan suaminya

serta anak-anak murid perempuan yang tahu akan itu maka

orang-orang luar tak ada yang tahu bahwa kekasih Golok

Maut itu mengandung. Dan inilah wanita yang ditolong nenek

Lui itu, wanita yang akhirnya membunuh Pa-lopek dan orangorang

kasar macam Hu-san dan teman-temannya itu!

Sekarang Wi Hong tak ada di tempat nenek itu lagi. Nenek

Lui telah diracun suaminya sendiri, kakek Pa yang tergila-gila

dan ingin mendapatkan si cantik ini, tak tahunya malah

dibunuh dan menemui ajal dengan amat menyedihkan. Dan

karena Wi Hong tak tinggal di tempat itu lagi dan kakinya

membawanya kesana kemari maka wanita ini akhirnya ke

markas Hek-yan-pang dan menukar anaknya dengan anak Swi

Cu.

Sebenarnya, Wi Hong hanya ingin menengok saja, rindu

pada sumoinya itu dan iseng-iseng melihat perkumpulan Walet

Hitam itu sekarang. Bagaimana keadaannya dan bagaimana

pula kehidupan rumah tangga sumoinya, karena dia tahu

bahwa sumoinya itu menjalin cinta dengan Beng Tan, pemuda

luar biasa yang setingkat dengan kekasihnya sendiri. Si Golok

Maut.

Tapi begitu dia melihat perobahan disana dan betapa Hekyan

pang tiba-tiba sudah memasukkan laki-laki, hal yang

membuat wanita ini marah besar maka Wi Hong membunuh

dan lalu mencari sumoinva itu.

Dan wanita ini tiba-tiba tertegun melihat sumoinya juga

mempunyai anak laki-laki, persis dia. Dan karena anak itu

sama besar dengan anaknya dan pikiran baru tiba-tiba muncul

maka sebuah rencana yang semula tak direncanakan

mendadak timbul!

0ooodwooo0

Jilid 04

APA yang dipikirkan wanita itu? Bukan lain menukarkan

anaknya!

Wi Hong, sebagaimana diketahui, kenal betul kelihaian

Beng Tan. Suami sumoinya itu sekarang merupakan pemuda

pilih tanding karena tak ada pemuda atau laki-laki lain yang

dapat menandingi Beng Tan ini. Pemuda itu adalah murid Bubeng

Sian-su, atau setidaknya, anak didik Bu-beng Sian-su

karena kakek dewa itu telah memberikan sebuah dua buah

ilmunya kepada pemuda ini. Dan karena kakek dewa Bu-beng

Sian-su adalah kakek maha sakti di mana tak ada seorang pun

di dunia ini yang mampu menandingi kepandaiannya maka

Beng Tan sebagai murid kakek dewa itu tentu saja merupakan

pemuda pilih tanding yang luar biasa, dan ini dipergunakan

oleh Wi Hong untuk menukarkan anaknya itu.

Wi Hong memasuki kamar sumoinya dan anak laki-laki

yang ditinggalkan ibunya itu diamati lekat-lekat. Dia sendiri

menyembunyikan anaknya di luar Hek-yan-pang sana, di

dalam sebuah guha. Maka ketika dia berhadapan dengan Swi

Cu dan sumoinya itu memberikan anaknya ti-ba-tiba saja Wi

Hong melarikan anak ini dan Swi Cu tentu saja berteriakteriak.

Swi Cu tak tahu bahwa sucinya itu membohonginya. Dalam

tanya jawab di kamar Swi Cu diberi tahu bahwa anak yang

dikandung Wi Hong mati, padahal Wi Hong menyembunyikan

anak itu di luar sana. Maka ketika anak itu dibawa lari dan Swi

Cu berteriak-teriak, tentu saja mengejar dan menyerang

sucinya itu maka Wi Hong pergi ke hutan di mana anaknya

sendiri disembunyikan. Di situ wanita ini menukar Giam Liong

dengan Beng Han dan secepat kilat keluar lagi dari guha, tahu

bahwa dia dikejar-kejar dan sang ayah, Beng Tan, pasti

mencari-cari dirinya membantu isterinya itu. Dan ketika benar

saja Beng Tan muncul dan pemuda itu membentaknya untuk

menyerahkan Han Han, anak yang dibawa Wi Hong ini maka

Beng Tan tak menyangka bahwa anaknya telah ditukar karena

anak yang dibawa wanita itu bukanlah Han Han melainkan

Giam Liong. Dan Wi Hong berhasil menyelesaikan

sandiwaranya. Sambil menangis dan pura-pura marah Wi

Hong menyerang Beng Tan, tentu saja tak akan menang

karena lawan memiliki kepandaian yang jauh di atas dirinya.

Dan ketika anak itu dirampas dan Wi Hong melarikan diri

maka akhirnya Beng Tan pulang ke markas sementara pagi itu

Wi Hong menimang-nimang anak yang bukan lain adalah Han

Han atau Beng Han itu.

“Hi-hik, selamat untuk keberuntunganmu, anakku sayang.

Selamat untuk mewarisi kepandaian ayahmu yang gagah itu!”

dan mencium serta mengelus kepala anak di gendongannya

Wi Hong menujukan kata-katanya pada anak ini, karena dia

tadi menujukan kata-katanya untuk Giam Liong di sana,

“Dan kau, hm… kau cukup mempelajari ilmu-ilmu silat Hekyan-

pang bocah. Biarlah kau kurawat dan kudidik sebagai

anakku sendiri. Kau adalah keponakanku juga, kau putera

sumoiku. Tak ada jeleknya merawat dirimu tapi jangan harap

kau dapat mengalahkan Giam Liong!”

Wi Hong terkekeh-kekeh. Geli dan bangga akan hasil

pikirannya ini tiba-tiba Wi Hong menyanyi-nyanyi. Han Han

yang ada di gendongannya mula-mula merasa tenteram, tak

menangis. Tapi ketika wanita itu mulai membiarkannya ketika

dia merasa lapar maka Han Han menangis dan anak ini mulai

rewel.

“Diam, jangan cerewet. Aku ibumu juga dan jangan

menangis!”

Namun mana mau anak itu disuruh begitu? Seharusnya

waktu itu Wi Hong memberinya makan, atau minum. Tapi

karena Wi Hong menganggap anak itu bukan anaknya sendiri

dan perhatian atau kasih sayangnya tentu saja tak sama

dengan kasih atau cintanya terhadap Giam Liong maka dia

menjadi marah ketika anak itu semakin menangis keras.

“Eh, tidak mau diam? Kutampar kau …. plak!” dan Wi Hong

yang mulai menampar atau menyakiti anak ini akhirnya bukan

membuat sang anak ketakutan melainkan juga marah-marah

karena itu terbukti dari s i anak yang kini melengking-lengking.

“Keparat!” Wi Hong merah mukanya. “Kau tidak mau diam,

bocah? Kau minta kuhajar?” dan ketika benar saja Wi Hong

mulai mencubit atau menampar berulang-ulang maka Han

Han atau anak itu menjerit-jerit dan meronta-ronta di

gendongan wanita ini.

“Bluk!” Wi Hong akhirnya membanting anak itu! Swi Cu

tentu akan terpekik dan kaget kalau tahu sikap sucinya

terhadap anaknya ini. Wi Hong marah-marah dan memakimaki

anak itu, yang untung tidak sampai mati tapi tentu saja

kesakitan! Dan ketika Wi Hong membiarkan anak itu menangis

menjerit-jerit dan menampar sekali lagi maka Wi Hong

berkelebat mencari buah-buahan di hutan.

Dan seat itu muncullah seorang tosu yang menarik napas

dalam-dalam. Tosu ini meraih dan mengambil Han Han

dengan lembut. Anak itu masih menangis melengking-lengking

tapi ketika tosu ini mengeluarkan susu sebotol, menempelkan

dan meminumkannya ke mulut si bocah tiba-tiba Han Han

diam. Anak itu mula-mula terbelalak melihat tosu yang tak

dikenal ini, berkejap dan mau menangis lagi tapi dengan

lembut dan penuh kasih tosu itu berbisik menyerahkan susu

botolnya. Han Han diberi minum dan seketika dicecaplah botol

susu itu oleh anak ini. Dan ketika susu mulai mengalir dan Han

Han tentu saja girang, diam, maka selanjutnya tosu itu sudah

tersenyum-senyum dan tertawa lembut menimang si bocah.

“Ha-ha, minumlah, anak manis. Puaskan rasa laparmu dan

biarlah pinto (aku) memberimu minum lagi kalau kurang.”

Han Han tertawa. Tiba-tiba anak itu dapat terkekeh ketika

si tosu mempermainkannya dalam timangan lembut. Han Han

tak menangis lagi dan saat itu berkelebatlah Wi Hong, yang

telah kembali dengan setandan pisang. Dan begitu wanita ini

melihat si tosu tiba-tiba Wi Hong terkejut dan tentu saja

wanita itu kaget.

“He!” Wi Hong membentak. “Siapa kau, tosu bau. Kenapa

mengambil anakku dan lancang membawanya tanpa

sepengetahuan aku!”

Tosu itu menoleh. Rupanya dia tidak terkejut oleh

kedatangan Wi Hong ini, bahkan tersenyum. Dan ketika dia

bergerak tapi anak itu tidak dilepasnya, malah ditepuk-tepuk

lembut tosu ini sudah menghadapi Wi Hong dan berseru,

“Sian-cai, kau datang lagi, hujin. Kukira kau tak mengurus

anak ini dan membiarkannya menangis. Ah, maaf. Aku

mengambilnya tanpa sepengetahuanmu karena kulihat kau

bersikap kejam. Anak ini kau banting, dan pinto (aku) tentu

saja tak dapat membiarkan ini.”

“Keparat!” Wi Hong sudah melempar pisang di tangannya

itu, berkelebat mendekati. “Lepaskan anak itu, tosu bau. Dan

serahkan kepadaku!”

“Maaf,” sang tosu menggeleng. “Kau tak mengasihi anak ini

sebagaimana mestinya, hujin. Aku ingin meminjamnya barang

beberapa tahun dan biarlah kukembalikan kepadamu kalau

sudah cukup kuat.”

“Apa? Kau mau merampasnya? Keparat, jahanam

terkutuk!” dan Wi Hong yang berkelebat majn| menghantam

tosu ini tiba-tiba sudah membentak dan menyerang penuh

kemarahan. Tentu saja dia marah karena si tosu terangterangan

ingin membawa Han Han, berkata “meminjam” tapi

istilah itu di dunia kang-ouw berarti merampas. Han Han akan

dibawa tosu ini dan tentu saja ia gusar. Maka begitu

membentak dan tangannya diayun ke depan tiba-tiba Wi Hong

sudah melakukan tamparan.

“Plak!” si tosu menggerakkan sedikit ujung jubahnya. Wi

Hong terpental dan wanita itu kaget bukan main, melengking

dan menyerang lagi namun kembali ia terpental ketika

bertemu ujung baju lawan. Si tosu ternyata lihai dan pantas

saja begitu berani, kurang ajar, kiranya memang hebat. Dan

ketika Wi Hong melengking-lengking dan mencabut

pedangnya, menusuk dan membacok maka si tosu

berlompatan dan serangan-serangan ganas si nyonya selalu

dapat dihindarinya dan dielak baik, hai yang mengagetkan

wanita ini.

“Bedebah! Terkutuk!” wanita ini memaki-maki. “Hayo

tangkis pedangku kalau berani, tosu bau. Hayo layani aku dan

jangan mengelak melulu!”

“Hm, begitukah? Baik, aku tak akan mengelak melulu,

hujin. Dan kalau kau menghendaki aku menangkis maka

itupun akan kulakukan…. piak-plak!” dan pedang si nyonya

yang tiba-tiba bertemu dan ditangkis lengan baju si tosu tibatiba

terpental dan hampir saja mengenai muka Wi Hong

sendiri, membuat nyonya itu menjerit dan Wi Hong terbelalak

pucat. Wanita ini akhirnya menjadi gentar namun kemarahan

dan kegeramannya belum terbayar lunas. Dia melihat si tosu

mulai bergerak-gerak dan ke manapun pedangnya menusuk

ke situ puia tosu ini menyambut, kian lama kian keras hingga

telapak wanita ini pedas-pedas dan terasa sakit! Dan ketika Wi

Hong menjadi naik pitam namun juga gelisah, maklum bahwa

dia berhadapan dengan lawan yang luar biasa maka nyonya

itu membentak dan satu tusukan pedangnya mengarah leher

si tosu yang tiba-tiba di tengah jalan secepat kilat berobah

karena menuju ulu hati.

“Hm, jurus yang baik, tapi bersifat nekat. Lepaskan

pedangmu, hujin. Dan hentikanlah pertandingan ini… prat!”

dan pedang yang diterima dan digulung si tosu tiba-tiba

tertangkap dan terbungkus lengan baju itu, ditarik dan dibetot

dan Wi Hong berteriak kaget. Dia melancarkan jurus yang

disebut Bianglala Menukik Ulu Hati, satu serangan maut yang

sebenarnya bersifat mengadu jiwa. Tapi begitu pedangnya

digubat dan tentu saja tak dapat digerakkan, karena si tosu

menahan dan menjepitnya mendadak dia sudah tertarik ke

depan dan tinggal dua kemungkinan yang akan diterima, jatuh

dan akan ditendang tosu itu atau dia melepaskan pedangnya.

Dan ketika Wi Hong melengking dan memilih cara kedua,

karena tak sudi dia jatuh dan ditendang tosu itu maka wanita

ini sudah melepaskan pedangnya dan berjungkir balik

memaki-maki.

“Bedebah, tosu keparat, jahanam terkutuk!” Wi Hong sudah

mengusap keringat dingin ketika melayang turun, kaget dan

marah sekali. Dan ketika dia berhadapan lagi dengan

lawannya sementara tosu itu melempar pedang kepadanya,

tersenyum, maka Wi Hong menggigil membentak tosu itu.

“Kau siapa dan sebutkan namamu. Aku masih belum

menyerah kalah dan ingin mencoba lagi. Kalau kau dapat

merobohkan aku barulah aku betul-betul menyerah dan tak

akan berurusan denganmu!”

“Hm, wanita yang keras,” tosu ini tertawa pahit, menghela

napas. “Aku Yang Im Cinjin, hujin. Lama tak keluar dunia

kang-ouw dan barangkali kau tak mengenalku. Aku sejak tadi

sudah mengikuti gerak-gerikmu, dan kasihan kepada anak ini

yang tak kauperdulikan sebagaimana layaknya seorang ibu

yang baik. Kau tak keberatan dia kubawa, bukan? Ini bukan

anakmu, dan kau tentu tak menyesal. Maaf, aku tertarik

melihat tulang-tulangnya dan bentuk kepalanya yang

membayangkan kecerdasan yang tinggi!”

Wi Hong membelalakkan mata. Tiba-tiba wanita ini

bergetar ketika si tosu menyebut namanya, Yang Im Cinjin,

seorang tokoh yang sudah lima puluh tahun tidak muncul dan

itulah tokoh yang amat hebat dan sakti karena tokoh ini

setingkat dengan nenek-nenek gurunya. Tokoh yang amat luar

biasa dan guru atau nenek-nenek gurunya selalu memuji Yang

Im Cinjin ini yang konon katanya memiliki sebuah ilmu

pukulan yang disebut Yang-im-sin-kun (Silat Sakti Im dan

Yang) yang begitu dahsyat hingga dikabarkan dapat

menggugurkan gunung mengeringkan lautan. Ilmu itu amat

dahsyat dan kabarnya lima puluh tahun yang lalu tokoh ini tak

ada tandingannya, setingkat atau seusap saja di bawah

kesaktian manusia dewa Bu-beng Sian-su. Namun karena Bubeng

Sian-su lebih merupakan dongeng dibanding tokoh ini

karena Bu-beng Sian-su menampakkan diri pada orang-orang

tertentu saja maka Yang Im Cinjin yang lebih banyak keluar

dan sering bertanding dengan jago-jago dunia kang-ouw itu

lebih dikenal dan dirasakan kehadirannya daripada si manusia

dewa Bu-beng Sian-su.

Dan orang nyaris menyamakan kakek itu dengan Bu-beng

Sian-su, hal yang disanggah atau disangkal Yang Im Cinjin ini

dengan berkata bahwa Bu-beng Sian-su lebih unggul. Entah

sebuah pengakuan basa-basi ataukah pengakuan

sesungguhnya, karena orang juga tak tahu apakah dua orang

ini pernah bertemu. Maklumlah, kakek dewa Bu-beng Sian-su

itu hampir dipercaya sebagai tokoh dongeng saja, bukan

tokoh yang sesungguhnya ada, seperti halnya Yang Im Cinjin

ini. Maka begitu kakek itu muncul dan tosu ini menyatakan diri

sebagai Yang Im Cinjin, tokoh yang mungkin enam sampai

tujuh tingkat di atas dirinya sendiri mendadak Wi Hong

bengong dan hampir tidak percaya.

Namun ketidak-percayaan akhirnya lebih menguasai wanita

itu daripada bengongnya. Yang Im Cinjin adalah tokoh yang

usianya mungkin sudah seratus tahun, jadi tak masuk akal

kalau masih hidup. Atau, kalaupun masih hidup, tentu tidak

setegar dan segagah kakek ini. Tosu yang mengaku sebagai

Yang Im Cinjin itu usianya tampak seperti lima puluhan dan

bukan seratus tahun, juga gagah dan mukanyapun bersinarsinar

seperti layaknya orang muda. Mata dan gigi tosu ini-pun

masih utuh. Ah, tak mungkin Yang Im Cinjin! Dan merasa

bahwa dia ditakut-takuti, lawan terlalu berlebihan mendadak

Wi Hong melejit dan membentak tosu itu.

“Tosu siluman, kau rupanya pembohong. Yang Im-Cinjin

tentunya sekarang sudah mampus atau kakek-kakek renta

yang tak mungkin setegar dan segagah kau. Kau dusta, kau

melebih-lebihkan dirimu. Mampuslah, aku ingin mengajakmu

bertanding lagi dan coba kau tunjukkan Yang-im-sin-kun yang

dipunyai tokoh itu!”

Sang tosu mengerutkan kening. Alis-nya yang putih

menjelirit sedikit bergerak ketika lawan menubruknya. Tapi

ketika dia sadar dan tersenyum mengangguk-angguk, sadar

bahwa lawan tampaknya tidak percaya maka tosu ini

membiarkan pedang lewat dan mengegos ringan sambil

berkata,

“Bagus, kau anak perempuan yang berpikiran cerdas, hujin.

Dan melihat ilmu silatmu ini tentu kau cucu murid Hek-yan

Tai-bo…. wut!” dan ketika pedang lewat di sisinya tiba-tiba

kakek itu berseru bahwa dia akan membuat pedang si nyonya

meleleh. “Sekarang lihatlah, inilah Yang-im-sin-kun yang

kupunyai… dar!” dan ketika pedang dlkejar dan disentuh

kakek ini, yang tangannya sudah meraih dan mendahului

gerakan Wi Hong tiba-tiba pedang hancur dan meleleh

bertemu hawa panas yang keluar dari tangan kakek itu, yang

tiba-tiba berobah menjadi merah marong dan Wi Hong kaget

bukan main melihat ini. Kakek itu mengusap dan menyentuh

pedangnya dan pedangnya itupun tiba-tiba leleh, persls

seperti dibakar di tungku panas yang apinya luar biasa. Dan

ketika Wi Hong merasa betapa hawa panas itu juga menjalar

ke lengannya, yang memegang pedang maka tiba-tiba wanita

ini berteriak dan membanting tubuh bergulingan.

“Aiihhhh…!”

Wi Hong pucat bukan main. Kaget dan terbelalak oleh ilmu

pukulan itu, ilmu usapan yang demikian mengerikan tiba-tiba

saja Wi Hong tersentak dan seakan terbang semangatnya.

Itulah tenaga sakti Yang (panas) yang diperlihatkan kakek ini,

dahsyat dan luar biasa dan konon dengan tenaga panas inilah

Yang Im Cinjin dapat mengeringkan sebuah telaga dengan

cepat. Dan orang lalu mengatakan bahwa bukan telaga saja

yang dapat dikeringkan kakek itu melainkan juga lautan,

karena tenaga sakti Yang kakek itu demikian dahsyat hingga

air atau apa saja dapat dihisap cepat menjadi kering. Wi Hong

sekarang membuktikan ini namun Im atau tenaga Dingin

kakek itu belum dilihatnya. Katanya dengan tenaga dingin itu

kakek ini dapat membekukan apa saja mulai air di dalam gelas

sampai kepada telaga See-ouw, telaga Barat yang terkenal

besar dan hebat panoramanya itu. Dan ketika Wi Hong

meloncat bangun dan bergulingan menjauh, ngeri dan gentar

tapi juga masih kurang percaya tiba-tiba wanita itu

melengking dan membentak si kakek agar mengeluarkan

tenaga sakti Im-nya.

“Aku kurang percaya,

dan masih ingin

mencoba. Kau

keluarkanlah tenaga Immu

itu dan kulihat

apakah benar kau Yang

Im Cinjin atau bukan!”

Sang tosu bersinar

matanya. Tiba-tiba

sesorot cahaya dingin

keluar dari mata kakek

itu. Rasa tidak senang

tapi juga maklumnya

timbul berbareng. Tosu ini berkelit ketika si nyonya

menyambar dan Wi Hong menyerang lagi sambil berseru agar

dia mengeluarkan tenaga Im-nya itu, kalau benar dia adalah

Yang Im Cinjin. Dan ketika kakek ini mengelak dan Wi Hong

meledakkan rambutnya, menghantam kepala tiba-tiba kakek

ini menghela napas dan berkata,

“Nyonya, ilmu bukan untuk dipamer-pamerkan apalagi

dibuat permusuhan. Kalau kau tidak percaya bahwa aku

adalah Yang Im Cinjin maka itu adalah hakmu, aku tak

memaksa. Tapi barangkali ini cukup dan selanjutnya kita

berhenti…. plak!”

Wi Hong tiba-tiba menjerit, rambut di kepalanya menjadi

kaku dan tiba-tiba nyonya itu terpekik. Sang tosu menangkis

dengan ujung baju dan tiba-tiba saja serangkum hawa dingin

menyengat wanita ini hingga Wi Hong menggigil, kedinginan,

berketrukan. Dan ketika wanita itu tak dapat menggerakkan

tubuhnya karena mulai dari kaki sampai kepala semuanya

seperti es, dingin dan kaku maka Wi Hong terkejut ketika air

matanya tiba-tiba juga berobah menjadi es, meluncur dan

berdetak di tanah lalu mencair dan lenyap!

“Ah!” Wi Hong tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.

Lidahnya sudah kelu dan air liurnyapun tak dapat ditelan.

Cairan yang ada di tubuhnya membeku dan itulah akibat

pukulan Im-kang, yang demikian dahsyat dan luar biasa. Tapi

ketika tosu itu menepuk kepalanya dan semua rasa dingin

lenyap, terganti rasa hangat dan biasa lagi maka Wi Hong

jatuh terduduk dan tersedu-sedu berlutut di depan kakek ini,

percaya bahwa inilah Yang Im Cinjin yang masih hidup!

“Locianpwe, ampunkan aku…. maaf-kan aku. Sekarang…

sekarang aku percaya. Bawa dan bimbinglah aku sebagai

muridmu!”

“Hm,” kakek itu tersenyum. “Kau dipenuhi dendam dan

sakit hati, hujin. Tak baik menerima ilmuku. Anak ini yang

akan kujadikan muridku, kau mundurlah dan pergi bersihkan

dirimu itu. Aku tak dapat menerima.”

Wi Hong mengguguk. Tiba-tiba dia beringas dan kecewa,

gilanya muncul. Dan ketika kakek itu menolaknya mendadak

dia menerkam dan menggigit kaki tosu ini.

“Kalau begitu kau tosu siluman. Bunuh dan habisi saja

aku!”

Tapi begitu kaki itu digigit dan gigi wanita ini bertemu kaki

Yang Im Cinjin mendadak Wi Hong menjerit karena kaki itu

tiba-tiba merah marong, panas membakar dan tentu saja

wanita ini seperti menggigit bara. Wi Hong terpekik dan

mulutnya seketika melepuh, hangus! Dan ketika Wi Hong

menjerit dan bergulingan mendesah-desah, kepanasan, maka

Yang Im Cinjin tertawa pahit dan berkelebat lenyap.

“Wanita malang, kau tak dapat menghapus api dendammu.

Sayang, kau akan terbakar sendiri.”

Wi Hong berteriak-teriak. Akhirnya wanita ini bergulingan

meloncat bangun memaki-maki si tosu. Yang Im Cinjin tak

dihormatinya lagi sebagai tokoh tua melainkan dianggap

musuh yang membuat kebenciannya meluap. Tosu itu dikejar

dan ditantang-tantangnya, lucu.

Padahal kalau tosu itu ada tentu wanita ini tak akan mampu

menandingi. Maklum, menggigit kakinya saja Wi Hong sudah

kepanasan dan terbakar, akibat tenaga Yang atau panas yang

dimiliki tosu itu. Dan ketika Wi Hong menangis dan

melengking-lengking, lawan tak ada di depannya lagi maka

wanita ini mengguguk dan jatuh terduduk di bawah pohon.

Hari itu Wi Hong melampiaskan kemarahannya dengan

mencabut-cabuti apa saja yang ada di depannya. Frustrasi

berat melandanya. Tapi begitu ingat bahwa Giam Liong di

tangan Beng Tan tiba-tiba saja Wi Hong ingin tahu siapakah

yang kelak lebih hebat. Anaknya itu ataukah Beng Han.

Pewaris Bu-beng Sian-su ataukah Yang Im Cinjin! Dan ketika

wanita ini terkekeh-kekeh dan bangkit berdiri, mata meliar,

maka Wi Hong terhuyung meninggalkan hutan itu dan

mulutnya sering tertawa-tawa meskipun air matanya

bercucuran menangis!

ooo0000dw0000ooo

Waktu, seperti yang kita lihat dan ra-sakan adalah

“mahluk” yang perkasa sekali. Tak ada benda-benda baik di

dalam maupun di luar bumi yang tidak dilahapnya habis. Besi

dan batu dirobahnya menjadi sesuatu yang lain. Tanamantanaman

yang dulu muda tiba-tiba saja beberapa tahun

kemudian sudah menjadi besar dan hebat di mana akhirnya

mereka itu tua dan kering. Semua benda di dalam dan di luar

bumi digilas oleh mahluk yang bernama “waktu” ini hingga tak

terasa sudah menjadi lain dari yang dulu. Manusia yang dulu

masih orok tiba-tiba saja sudah berkembang dan dewasa

sebagai pemuda atau gadis yang gagah dan cantik. Orang

yang dulu masih merupakan pemuda likuran tahun tiba-tiba

sekarang sudah berusia tiga puluh atau empat puluh tahun.

Itulah akibat waktu! Dan ketika hal ini juga melanda Beng

Tan, maka pemuda yang dulu gagah dan masih muda itu

sekarang sudah berusia hampir empat puluh tahun dan sedikit

jenggot menghiasi dagunya yang gagah.

Giam Liong, atau yang lebih dikenal sebagai Beng Han atau

Han Han oleh Beng Tan dan isterinya ini sekarang sudah

menggantikan posisi mereka dulu, sudah berubah sebagai

pemuda yang tegap dan gagah serta tampan. Pemuda ini

tentu saja mewarisi kepandaian “ayahnya” dan apa yang

diajarkan Beng Tan ditelannya habis. Tak ada kepandaian

Beng Tan yang belum diterima pemuda ini, mulai dari ilmuilmu

silat tangan kosong sampai kepada pedang. Dan karena

Giam Liong alias “Han Han” ini memiliki otak yang cerdas dan

bakat yang tinggi maka dalam usianya yang hampir sembilan

belas tahun itu pemuda ini sudah nyaris menyamai ayahnya.

“Kau sudah mewarisi semua kepandaianku, kau sudah

sama denganku. Tapi kau kurang pengalaman dan tinggal

mematangkan ilmu-ilmumu itu.”

Beng Tan suatu hari berkata. Ketua Hek-yan-pang ini, yang

pagi itu bersinar-sinar memandang puteranya sama sekali tak

menyangka bahwa yang dihadapinya itu adalah keturunan

Golok Maut, musuhnya, lawan yang amat tangguh dan paling

tangguh dari semua lawan-lawan yang pernah dihadapi. Dan

ketika pagi itu Beng Tan berseri memandang “puteranya”

maka Beng Han atau yang dikenal sebagai Han Han ini diam

mengangguk-angguk.

“Kau tahu apa yang kumaksud, Han-ji (anak Han)? Kau

tahu apa yang kuinginkan?”

“Aku tahu,” Giam .Liong, atau yang marilah kita sebut

sebagai Han Han ini mengangkat mukanya, balas menatap

sang ayah dengan pandangan tajam dan gagah. “Kau ingin

mengingatkan aku akan kepandaian-kepandaian yang kumiliki

ini, yah. Bahwa aku harus selalu ingat petunjukmu bahwa ilmu

silat tak boleh dipakai untuk merugikan orang lain.”

“Bagus, ha-ha, kau benar. Kau masih ingat itu. Betul, aku

hendak menekankan ini kepadamu, Han Han. Bahwa dengan

memiliki kepandaian seseorang tak selayaknya merugikan

orang lain, justeru seharusnya menguntungkan dan memberi

berkah pada orang lain. Bagus, kau ingat baik-baik katakataku

itu. Sekarang, tak adakah keinginan di hatimu untuk

keluar dan melihat-lihat dunia kang-ouw? Kau selama ini lebih

suka mengurung diri, Han Han, giat berlatih dan tekun sekali

mempelajari semua ilmu-ilmu silatku itu. Itu baik-baik saja,

tapi selalu mengurung dan menyembunyikan diri di kamar

tentu tidaklah sehat bagi jiwamu yang perlu tumbuh dan

berkembang.”

Han Han, pemuda ini, diam saja. Dia menunduk ketika

ayahnya bicara tentang itu dan entah kenapa mukanya tibatiba

merona merah. Memang, selama ini tak pernah Han Han

atau pemuda itu keluar rumah. Mula-mula hal itu

menyenangkan Beng Tan karena hal ini tak membuat

puteranya keluyuran. Pemuda kalau sudah suka keluyuran

biasanya pastl tak baik. Tapi ketika semakin dewasa Han Han

justeru semakin suka mengurung diri kamar maka diam-diam

Beng Tan atau sang ayah ini heran juga.

Pemuda itu terlampau pendiam dan tak banyak bicara.

Jarang bercanda atau bergurau. Kalaupun ada yang lucu,

maka puteranya ini hanya tersenyum sedikit dan setelah itu

mulut-pun terkatup rapat. Kesannya, pemuda ini dingin dan

tak suka banyak cakap. Sungguh berbeda dengan wataknya

atau watak isterinya itu, yang riang dan suka terkekeh-kekeh

kalau ada sesuatu yang lucu sedikit saja. Dan ketika Beng Han

juga tak menunjukkan tanda-tanda tertarik akan wanita,

dingin dan acuh maka Beng Tan atau sang ayah menjadi

khawatir dan tak nyaman juga.

Di Hek-yan-pang sebenarnya banyak anak-anak gadis

cantik. Mereka itu adalah puteri-puteri para murid senior yang

sudah menginjak remaja. Beng Han atau Han Han ini sering

dibicarakan secara bisik-bisik oleh gadis-gadis remaja itu,

bahkan banyak di antaranya yang coba memikat dan jatuh

hati. Tapi karena Han Han dingin-dingin saja dan tak acuh,

hatinya tampaknya tawar oleh semua itu maka Beng Tan

diam-diam khawatir kalau puteranya ini tidak mau menikah,

Pernah suatu kali Beng Tan coba-coba menggoda

puteranya itu apakah Han Han tak tahu lirikan anak-anak

murid Hek-yan-pang yang naksir padanya, gadis-gadis remaja

itu. Tapi ketika Han Han tersipu malu dan menunduk,

mendiamkan saja godaan ayahnya itu maka Beng Tan

penasaran dan menepuk pundak puteranya ini.

“Eh, apa jawabmu, Han Han? Kau tak tertarik atau jatuh

hati pada gadis-gadis remaja itu? Kau tak tahu bahwa kau

dilirik dan ditaksir oleh banyak dari mereka?”

“Ah, ayah. Kenapa kau menggodaku seperti ini? Aku tak

tahu tentang semuanya itu, dan aku tak tertarik dengan

semuanya itu. Aku tak suka wanita, aku jijik dengan mereka!”

“Apa?” sang ayah terbelalak. “Kau jijik? Maksudmu?”

“Entahlah,” Han Han tampak bingung. “Aku tak suka

wanita, ayah. Aku benci mereka. Di sudut hatiku bahkan

terasa adanya semacam permusuhan yang tidak bersebabmusabab.

Aku tak suka mereka!”

“Tapi ibumu wanita!”

“Maaf,” pemuda ini tampak terkejut. “Itu lain, ayah. Tapi,

ah… sudahlah. Aku tak suka bicara tentang ini!” dan ketika

Beng Han pergi dan meninggalkan dirinya maka Beng Tan

atau sang ayah terkejut membelalak, terngiang dan terheranheran

oleh kata-kata puteranya itu. Bayangkan, Han Han

menyatakan jijik terhadap wanita, padahal laki-laki normal

tentu sebaliknya dan justeru cepat tergila-gila kepada wanita.

Tidak normalkah anaknya itu dan adakah sesuatu kelainan di

jiwanya? Dan saat itu sebuah helaan lembut terdengar di

telinganya.

“Aku juga merasa aneh, kenapa Han Han bersikap dan

berkata seperti itu!”

Beng Tan membalik. Isterinya muncul, bersinar tapi tibatiba

berkaca-kaca. Dan ketika Beng Tan memeluk dan

menyambar isterinya ini tiba-tiba Swi Cu menangis.

“Aku takut,” sang isteri tersedu-sedu. “Han Han sepertinya

tidak wajar, suami-ku. Dia banyak mengurung diri dan

berdiam di kamar. Dan… dan… wajahnya seperti Sin Hauw!”

“Apa?” Beng Tan tersentak. “Sin Hauw? Kau… kau bicara

apa?”

“Benar,” Swi Cu mendorong suaminya ini, mengusap air

matanya. “Aku melihat sesuatu yang ganjil, suamiku. Aku

tidak melihat wajahmu pada wajah anak kita itu, melainkan

wajah Sin Hauw! Lihat bentuk dagunya, lihat sinar matanya.

Bukan-kah mirip dan tidak seperti kau? Han Han memang

tampan, suamiku. Tapi dia dingin, tidak seperti kita!”

“Tapi dia anak kita!”

“Benar.”

“Dan tak mungkin anak Sin Hauw! Eh, apakah dulu semasa

mengandungmu kau membenci Si Golok Maut itu, Cu-moi?

Apakah kau sering membayangkannya hingga type Si Golok

Maut itu membekas di bayi yang masih ada dalam

kandunganmu?”

“Memang begitu, tapi bukan perasaan benci. Aku justeru

kasihan dan haru kalau membayangkan mendiang Si Golok

Maut itu, yang hidupnya penuh menderita.”

“Tapi itu agaknya cukup. Anak kita seperti dia!”

“Hm, tidak begitu, suamiku. Kalau seseorang hamil

membenci orang lain maka paling-paling hanya wajah atau

beberapa bagian mukanya saja yang mirip. Watak, atau sikap,

tentunya tidak. Tapi Han Han ini mirip luar dalam. Lihat sikap

dan gerak-geriknya. Lihat dagu dan pandang matanya itu,

begitu dingin dan menyembunyikan keganasan terpendam!”

“Kau tak boleh mengata-ngatai anakmu sendiri. Han Han

adalah anak kita!” Beng Tan menegur, terkejut. “Eh, kenapa

tiba-tiba kaupun berobah begini, Cu-moi? Ada apa ini?”

“Entahlah,” Swi Cu mengguguk, menubruk suaminya. “Aku

takut, suamiku… aku ngeri. Kadang-kadang aku melihat

pandang mata ganas pada diri anakku itu. Han Han sepertinya

orang lain. Dan….. dan… kadang-kadang akupun tak memiliki

cinta kasih sebagaimana layaknya seorang ibu!”

“Ah, gila!” dan Beng Tan yang mencengkeram serta

meremas isterinya ini tiba-tiba mendorong dan pucat,

menggigil. “Cu-moi, apa… apa katamu tadi? Kau tak memiliki

cinta kasih seorang ibu? Maksudmu kadang-kadang kau

membenci anakmu itu?”

“Tidak… tidak, bukan begitu. Hanya… hanya kadangkadang

aku tak suka melihat mukanya itu, suamiku. Aku

melihat bahwa Han Han adalah Sin Hauw, bukan puteramu!”

“Hm, tidak benar,” Beng Tan meremas pundak isterinya ini,

terguncang. “Kau bicara yang tidak benar, Cu-moi. Kau

melantur. Agaknya kau terkena trauma dari mendiang Si Golok

Maut itu. Kau diselubungi ketakutan sendiri, kau tidak beres.

Sudahlah, buang ketidak-wajaran itu dan kendalikan dirimu

dalam menilai anak kita!”

Swi Cu mengangguk. Memang dia merasa bahwa tidak

benarlah perasaannya itu, tidak baiklah dia memperlakukan

Han Han seperti itu. Tapi karena perasaan tidak senang itu

kadang-kadang muncul karena wajah dan sikap atau watak

puteranya itu mirip Si Golok Maut Sin Hauw maka entah

kenapa wanita ini tak dapat mencintai puteranya itu

sebagaimana layaknya seorang ibu.

Swi Cu tak mengerti bahwa indera keenamnya telah

bekerja dan bahwa inderanya itulah yang memberi tahu

bahwa tak usah dia mencintai Han Han sebagai putera sendiri.

Han Han bukanlah anaknya melainkan keturunan Si Golok

Maut Sin Hauw, bocah yang dulu ditukar oleh ibunya dan tidak

diketahui Swi Cu maupun suaminya ini.

Namun karena indera keenam juga tak dapat bicara secara

lisan dan Swi Cupun tak mengerti isyarat itu, masing-masing

terpengaruh oleh gaya atau kebiasaannya sehari-hari maka

isyarat atau pemberitahuan indera keenam itu tak tertangkap

wanita ini. Swi Cu hanya merasa samar-samar dan perasaan

samar-samar itu membuatnya tidak puas, rasa yang akhirnya

tentu saja membuat dia tidak senang dan terganggu,

perasaan yang kemudian terlampiaskan dengan rasa tidak

sukanya kalau melihat bahwa wajah Han Han lebih mirip Si

Golok Maut daripada suaminya.

Tapi ketika suaminya menegur dan menyuruhnya sadar

maka Swi Cu terisak dan perasaan yang mengganggiT’itu

berusaha dinetralisirnya agar tidak menyolok mata.

Dan Swi Cu memang berhasil melakukan ini. Han Han,

yang kadang-kadang di-pandangnya tak puas itu akhirnya

dipandang dengan penuh belas kasihan dan haru. Memang tak

ada alasan baginya untuk tidak senang kepada puteranya itu.

Salah siapakah kalau Han Han mirip Si Golok Maut? Bukankah

salahnya sendiri kenapa sewaktu mengandung dulu dia

terguncang oleh wajah Si Golok Maut itu? Kalau tidak tentu

juga tidak, dan mirip Si Golok Maut atau bukan Han Han ini

adalah tetap puteranya, anak laki-laki yang dia besarkan dan

kini sudah mengisi kehidupan rumah tangganya!

Swi Cu tenang. Beng Tan, suaminya, sering memonitor

gerak-geriknya. Dan ini membuat Swi Cu sadar bahwa dia

diamati. Suaminya itu mempengaruhinya dan lama-lama

perasaan yang “tidak beres” itu hilang, Swi Cu dapat bersikap

biasa lagi kepada Han Han. Dan ketika Beng Tan melihat

bahwa isterinya sudah betul-betul biasa, wajar, maka diapun

gembira dan dapat mengajak isterinya bercakap-cakap

tentang rumah tangga mereka.

Tapi ada yang masih mengganjal. Kebiasaan Han Han yang

suka mengurung dan mengeram diri di kamar membuat pria

ini tak puas. Han Han dinilai kurang bergaul dan itu tak

menguntungkannya di masa depan. Han Han harus diajaknya

keluar dan dibawanya pemuda itu mencari udara segar.

Mungkin Han Han bosan oleh kehidupan di tempat tinggalnya

sendiri, jemu. Maka ketika suatu malam dia bercakap-cakap

dengan isterinya dan Swi Cu setuju maka isterinya itu bahkan

mendorong.

“Boleh, tentu baik! Tapi ke mana kau akan pergi, suamiku?

Dan berapa lama? Aku tidak melarang, tapi bagaimana kalau

Han Han dibiarkan sendiri, atau, setidak-tidaknya dengan

seorang dua murid Hek-yan-pang, sebagai teman!”

“Hm, anak kita itu pendiam, dan jarang pula bergaul

dengan anak-anak murid Hek-yan-pang. Aku kira dia tak akan

setuju, isteriku. Karena itu sebaiknya aku temani dan

kebetulan minggu depan aku diundang Tek-wangwe untuk

menghadiri selamatan ulang tahunnya yang keenam puluh!”

“Ah, benar. Kau mendapat undangan. Boleh…. boleh saja,

suamiku. Bawalah Han Han dan biarkan putera kita itu

mendapat suasana yang lain di luar!”

“Jadi kau setuju?”

“Aku setuju, tak keberatan!”

“Bagus, kalau begitu biar kubicarakan dengan anak kita itu

dan akan kubawa dia ke sana. Akan kuajak dia menghadapi

pesta dan aku tidak percaya bahwa hatinya tidak akan

tergerak kalau melihat tamu-tamu bermacam jenis!”

“Dan Tek-wangwe mempunyai anak gadis cantik. Siapa

tahu Han Han terpikat hatinya!”

“Hm, itu pula yang kumaksud. Aku ingin menggerakkan

hatinya dan melihat bagaimana kalau dia jatuh cinta!”

Beng Tan dan isterinya berseri. Swi Cu tertawa ketika

suaminya mengucapkan kata-kata itu, teringat peristiwanya

sendiri ketika dulu mula pertama ia jatuh cinta dengan

suaminya itu. Dan ketika Beng Tan juga tertawa dan

menyambar isterinya itu maka keduanya sudah berciuman

mesra.

“Lihat, betapa nikmatnya hidup dalam cinta. Masa putera

kita tak mewarisi ini dan ingin hidup lajang? Ha-ha, akan

kuperkenalkan dia dengan segala gadis-gadis yang ada di

pesta itu, Cu-moi. Karena Tek-wangwe juga tentu

mengundang tokoh-tokoh persilatan dalam merayakan ulang

tahunnya yang keenam puluh!”

Swi Cu berseri gembira. Hari itu juga suaminya memanggil

Han Han, menyuruh pemuda itu menghadap. Dan ketika Han

Han ditanya apakah mau keluar bersama ayahnya maka sang

ibu melihat puteranya berkerut kening, acuh.

“Ayah mau mengajakku ke mana? Ada urusan apa?”

“He, ayahmu mendapat undangan Tek-wangwe (hartawan

Tek), Han Han. Masa kau lupa dan tidak ingat utusan itu!”

“Oh, orang-orang sekereta yang dulu itu, yah? Hm, aku

ingat. Tapi aku tak tertarik. Aku ingin di sini saja kalau ayah

tak keberatan. Lagi pula, bukankah ada ibu? Ayah dapat pergi

berdua dan aku menjaga di sini.”

“Hm, ibumu tak enak badan, Han Han. Dan aku tentunya

tak mau pergi sendiri. Kau menemani ayahmu, mau atau

tidak!”

“Baiklah,” Han Han tampaknya ogah-ogahan. “Kalau kau

memaksa tentu saja aku tak menolak, yah. Tapi aku tak mau

pakai baju yang bagus-bagus untuk ke pesta itu!”

“Gampang, tapi juga jangan yang terlalu sederhana. Kau

jelek-jelek adalah putera ketua Hek-yan-pang, harus

bersepatu dan berkopiah, necis!”

Pemuda ini mengangguk. “Kapan ayah berangkat?”

“Seminggu lagi, kau siap?”

“Baik, yah. Aku siap.”

Dan ketika Han Han pergi dan seminggu kemudian ayah

ibunya menunggu maka betul saja Han Han siap dengan

sepatu dan baju yang bersih, tidak baru tapi cukup bagus dan

pantas. Namun ketika pemuda itu ditanya mana kopiahnya,

dandanan agar puteranya itu tampak sebagai seorang siucai

(sasterawan) maka Beng Tan kaget bukan main ketika

anaknya itu menyambar dan memperlihatkan sebuah caping,

topi bambu.

“Aku tak mau memakai kopiah, aku pilih ini. Lihat, yah. Aku

senang dengan caping ini dan pas benar di kepalaku!” Han

Han mengenakan caping itu, gagah dan tampan tapi Swi Cu

tiba-tiba terpekik. Wanita ini melihat betapa wajah Sin Hauw

tiba-tiba muncul. Han Han benar-benar mirip Sin Hauw atau

mendiang Si Golok Maut itu. Dan karena Han Han

mengenakannya di depan ayah ibunya ini dan tak tahu bahwa

trauma yang pernah dirasakan ibunya masih hebat maka tibatiba

Swi Cu membentak dan menyerang puteranya itu, seolah

sedang menghadapi Si Golok Maut dan bukan Han Han!

“Lepaskan caping itu, atau kau kubunuh!”

Han Han terkejut. Dia tak menyangka ibunya menyerang

tapi pemuda ini secara otomatis menangkis, menolak dan

mementalkan ibunya itu. Dan ketika Swi Cu berjungkir balik

sementara Han Han terhuyung, caping di kepalanya mencelat

maka pemuda ini terheran dan pucat memandang ibunya itu,

menggigil.

“Ibu, apa… apa artinya ini? Kau mau membunuh aku?”

“Hm!” sang ibu melayang turun, kaget dan sadar akan

perbuatannya tadi, serangan otomatis. “Aku tak suka kau

mengenakan caping itu, Han Han. Aku benci melihat kau

mengenakan topi bambu. Buang itu dan kenakan kopiah yang

pantas. Kau anak seorang ketua perkumpulan!”

“Dan dari mana kau dapatkan itu,” sang ayah kini juga

bicara, maju dengan cepat. Selain untuk mencegah isterinya

menyerang lagi juga karena dia heran dan kaget bagaimana

tiba-tiba puteranya itu memilih caping bambu, bukannya

kopiah atau topi yang pantas sebagaimana layaknya putera

seorang ketua. Han Han memilih caping itu yang lebih pantas

dikenakan seorang jembel atau pengemis, padahal itu tentu

saja tak pantas baginya. Dan karena caping itu juga

mengingatkan Beng Tan akan profil Si Golok Maut maka lakilaki

atau pria ini mencegah puteranya mengenakan caping.

“Aku… aku mendapatkannya di belakang,” Han Han men

jawab, bingung dan juga tampak tidak mengerti kenapa ayah

atau ibunya marah-marah. “Aku menemukannya di sumur tua,

ayah, mengambilnya dan senang karena caping ini pas sekali

di kepalaku. Aku… aku tidak mengerti kenapa ayah atau ibu

marah-marah!”

“Hm, kau harus tahu,” sang ayah menerangkan. “Kau

putera seorang ketua perkumpulan, Han Han, bukan anak

seorang pengemis atau jembel.”

“Tapi caping ini masih bagus, juga kuat. Tak mungkin

punya kaum jembel!”

“Kau tak mau mendengar kata-kataku?” sang ayah

mengerutkan kening. “Setidak-tidaknya jangan buat ibumu

malu, Han Han. Caping itu tak pantas untukmu dan buang

saja. Dengar nasihatku!”

“Tidak… jangan, ayah!” sang pemuda tiba-tiba menyambar

kembali caping itu. “Aku suka dan jangan caping ini dibuang.

Ini barang temuanku!”

“Hm, tapi aku tak suka!” sang ibu tiba-tiba berkelebat,

merasa bahwa tenaga puteranya tadi demikian hebat.

“Kesinikan dan berikan caping itu, Han Han. Ibumu yang akan

menyimpan!”

Han Han tertegun. Ibunya merampas dan mengambil

caping itu, berkelebat dan tak lama kemudian sudah

membawa ganti sebuah topi indah dari bulu domba, bagus

dan mengenakannya pada kepala puteranya itu. Dan ketika

Han Han membiarkannya saja dan bertanya apakah ibunya

tidak membuang caping itu maka pemuda ini berkerut

kecewa.

“Aku harap ibu menepati janji. Itu adalah milikku, barang

temuanku. Aku tak suka ibu membuangnya karena aku tentu

akan mencari yang lain lagi sebagai gantinya.”

“Hm, kau tak usah khawatir. Ibu menyimpannya di kamar

ibu, tapi sekarang pakailah ini dan pergilah bersama ayahmu!”

Han Han tak banyak membantah. Beng Tan melihat

puteranya itu menunjukkan muka kecewa namun dipendam,

sang isteri memberi isyarat dan segeralah sang ayah

mengajak puteranya pergi. Dan ketika Han Han mengangguk

dan berkelebat bersama ayahnya maka dua laki-laki ini sudah

ke tempat Tek-wangwe.

Hartawan itu adalah teman baik Beng Tan dan kini

merayakan ulang tahunnya yang keenam puluh. Sebagai

ketua perkumpulan yang disegani maka Tek-wangwe sering

memberi sumbangan kepada Hek-yan-pang ini, di samping

sebagai jalinan persahabatan juga sekaligus sebagai pelindung

kalau orang berani mengganggu hartawan itu. Tek-wangwe

memang cukup dermawan meskipun tentu saja

kedermawanannya itu bukan tanpa maksud. Sebagai hartawan

atau orang kaya yang banyak uangnya hartawan ini harus

menjalin hubungan dengan orang-orang pandai. Sudah bukan

menjadi rahasia lagi kalau kaum hartawan atau bangsawan

memiliki sahabat orang-orang kang-ouw atau tokoh-tokoh

persilatan. Mereka itu perlu “menempel” karena persahabatan

mereka dengan orang-orang kang-ouw atau tokoh-tokoh

persilatan tertentu ini memberikan semacam status tambahan

kepada diri mereka. Maka ketika Tek-wangwe juga menempel

Beng Tan dan dengan sumbangan-sumbangannya yang tetap

kepada perkumpulan Hek-yan-pang itu mau tidak mau Beng

Tan harus menghargai hartawan itu maka ketika dia tiba di

sana, di kota Li-yang, Beng Tan disambut hangat dan penuh

hormat.

“Ah, ha-ha, kiranya Hek-yan-pangcu (ketua Hek-yan-pang).

Selamat datang, taihiap…. selamat datang. Mari masuk dan

duduk di kursi kehormatan!”

Tuan rumah langsung menyambut sendiri kehadiran Beng

Tan itu. Semua mata menoleh dan otomatis ayah dan anak

menjadi pusat perhatian. Beng Tan tersenyum-senyum dan

menjura di depan tuan rumah sementara puteranya tersipu

dan sedikit malu. Han Han tak biasa menjadi perhatian

demikian banyak orang dan para wanita atau gadis yang

duduk di deretan kursi sebelah kiri tiba-tiba berdecak kagum.

Mereka melihat kegagahan dan ketampanan pemuda itu,

juga gerak-geriknya yang halus namun menyembunyikan

kekuatan yang dahsyat. Sinar mata Han Han yang demikian

tajam dan mengandung kekuatan sinkang sungguh tak dapat

disembunyikan meskipun pemuda itu berusaha menunduk dan

malu-malu. Dan ketika Beng Tan atau sang ayah juga memiliki

sinar mata yang sama, tajam dan berkilat meskipun

disembunyikan dalam tawa dan senyum yang ramah maka

semua orang merasakan getaran pengaruh yang didatangkan

ayah dan anak ini, apalagi mereka tahu bahwa Beng Tan

adalah seorang pria gagah perkasa yang dulu telah

menumbangkan Si Golok Maut.

“Terima kasih…. terima kasih…!” Beng Tan membalas tuan

rumah dengan tawa yang ramah. “Kami tak membawa apaapa

untukmu, wangwe, melainkan sekedar ucapan panjang

umur dan sedikit bungkusan ini. Terimalah, puteraku masih

malu-malu namun kau tentu mengenalnya!”

“Ha-ha, ini Beng-kongcu (tuan muda Beng)? Ah, selamat

datang pula, kongcu. Dan maaf kalau sambutan kami masih

kurang memuaskan!” menjura dan tertawa-tawa di depan

pemuda itu tiba-tiba Tek-wangwe memberi isyarat kepada

seorang gadis yang muncul mendadak. Gadis ini tadi

bersembunyi di sudut pilar dan kini maju begitu Tek-wangwe

memanggil. Agaknya, hartawan ini sudah mengatur itu karena

begitu Beng Tan dan Han Han tiba mendadak saja dia sudah

didampingi gadis ini, yang bukan lain adalah puterinya sendiri

bernama Tek Lian. Han Han menyerahkan kado ulang tahun

dan bukan Tek-wangwe yang menerima melainkan puterinya

inilah. Dan ketika Tek Lian maju dan menyambut, menjura

terlebih dahulu di depan Beng Tan baru kemudian Han Han

maka gadis atau puteri Tek-wangwe ini mengeluarkan

suaranya yang merdu.

“Beng-taihiap, sebagai puteri ayah aku menghaturkan

selamat datang atas kunjungan ini. Terima kasih atas kadonya

dan semoga Beng-taihiap dan kongcu sehat-sehat dan betah

di tempat kami!”

Beng Tan tertawa. Dia melirik puteranya ketika kado

diserahkan, melihat jari-jari mereka bersentuhan dan

puteranya itu cepat menarik diri. Ada sesuatu yang agak

membuat kening pendekar ini berkerut. Han Han serasa

disentuh ular ketika jari-jari lentik Tek Lian menyentuh tangan

puteranya. Hm..! Dan ketika Han Han mundur dengan cepat

dan Tek Lian tampak tertegun, semburat, maka Beng Tan

batuk-batuk dan coba menghilangkan ganjalan tidak enak

yang sedikit itu.

“Kami duduk di mana?”

“Ah!” Tek-wangwe cepat sadar. “Duduk di tempat yang

telah kami sediakan, taihiap. Mari… mari…. kursi untuk kalian

berdua adalah di atas panggung!”

Beng Tan menggamit puteranya. Han Han tampak

semburat pula karena sikapnya tadi diperhatikan sang ayah.

Diam-diam Beng Tan berbisik agar puteranya itu bersikap

wajar saja. Mereka di rumah orang, mereka adalah tamu. Dan

ketika Han Han mengangguk dan tiba-tiba terdengar suara

cekikikan mendadak seorang wanita berbaju kuning

berkelebat dan menghadang di tengah jalan, ketika ayah dan

anak ini s iap diantar ke kursi kehormatan oleh hartawan Tek.

“Wangwe, bolehkah aku berkenalan sebentar dengan Hekyan-

pangcu dan puteranya ini? Maaf, bukan untuk

mengganggu, melainkan sekedar menyatakan kagum dan

ingin berkenalan secara tulus!”

Tek-wangwe mengerutkan kening. Tiba-tiba matanya

bersinar tak senang karena itulah Huang-ho Coa-li (Dewi Ular

Dari Huang-ho), tamu tak diundang tapi muncul di saat dia

merayakan ulang tahun. Namun karena yang dituju adalah

Beng Tan dan tamunya itu tampak mengangguk, memberikan

isyarat, maka hartawan ini tersenyum dan buru-buru menjura.

“Ah, kiranya Huang-ho Coa-li. Selamat datang, nona. Dan

maaf kalau aku lupa mengundangmu!”

“Hi-hik, tak usah basa-basi. Aku datang memang tanpa

sepengetahuanmu, wangwe. Dan tak usah khawatir terhadap

Beng-taihiap ini. Dia tak akan menuduhmu bergaul dengan

orang sesat. Aku datang sekedar ingin melihat keramaian dan

kini tiba-tiba tertarik melihat Beng-taihiap dan puteranya ini!”

Sang hartawan merah mukanya. Huang-ho Coa-li dengan

sikap dan kata-katanya yang tidak dipikir langsung saja

ceplas-ceplos di s itu, kesannya kasar dan urakan. Tapi karena

wanita itu memang termasuk golongan sesat dan Huang-ho

Coa-ii sudah lama ingin mengganggu hartawan ini namun

terbentur oleh nama besar Hek-yan-pangcu alias Beng Tan

maka begitu Beng Tan muncul mendadak saja wanita ini yang

sejak tadi menyelinap di deretan kursi wanita sekonyongkonyong

ingin cari perkara.

Beng Tan, yang mengenal dan mendengar wanita ini

sebagai orang sesat dua tiga tahun belakangan tersenyum

saja melihat wanita muda itu bertingkah. Sebagai pria yang

kini cukup umur dan matang pengalaman segera dia tahu

bahwa maksud dan tujuan Huang-ho Coa-li adalah mencari

setori. Jago-jago muda atau orang-orang sesat yang baru

muncul memang biasanya begitu. Mereka akan mencari dan

membuat gara-gara kalau ada seseorang yang dikatakan lihai,

jago dan tak terkalahkan dan biasanya akan menjajal-jajal

dulu dalam sebuah pertandingan. Huang-ho Coa-li inipun

tentu tak terkecuali. Namun karena dia tinggal di Hek-yanpang

dan markas perkumpulannya itu dijaga anak-anak murid

yang banyak jumlahnya maka mencari atau membuat garagara

dengannya di dalam perkumpulan tentulah tak berani

dilakukan Huang-ho Coa-li ini. Dan keluarnya dia dari markas

dianggap satu kesempatan baik oleh orang-orang macam

Huang-ho Coa-li itu. Maka ketika wanita itu berkata ingin

berkenalan tapi sikap dan kata-katanya sungguh bernada

mengejek maka Beng Tan yang tahu seluk-beluk dunia kangouw

tersenyum saja dan berkata pendek.

“Nona, kami datang sebagai tamu. Kalau kaupun datang

sebagai tamu tentunya kita akan menghormati tuan rumah

dan menunggu saja acara suguhan apa yang bakal

dikeluarkannya. Kalau sekedar berkenalan, tentu kami tak

menolak. Tapi kalau ingin lebih tentu saja kami juga akan

menyambut tapi biarlah kita nantikan acara itu yang tentu

khusus akan dikeluarkan oleh tuan rumah!”

“Hi-hik, pangcu cepat tanggap. Ah, terima kasih, pangcu.

Tapi aku sekedar saja ingin berkenalan. Nanti kita tentu

bertemu lagi dan sudah lama aku mendengar namamu yang

menggetarkan jagad. Terimalah salamku dan selamat bersua!”

Beng Tan mundur. Tiba-tiba wanita itu mengangkat

tangannya melepas pukulan sinkang, berkata memberi salam

namun sebenarnya menyerang. Dilihat sepintas lalu memang

Huang-ho Coa-li ini tampak memberi hormat, karena kedua

lengan yang diangkat itu memang seperti orang bersoja

namun Beng Tan yang bukan anak kecil ini tahu, tentu saja

tidak bodoh. Dan ketika pukulan menyambar dan dia

menghindar ke arah kiri, di mana puteranya berada maka

cepat dan sambil tertawa dia berkata,

“Han Han, aku tak sanggup menerima kehormatan wanita

ini. Biarlah kau yang menerima dan beri salam hormat

kembali!”

Han Han mengerutkan kening, Sebagai putera ayahnya

yang hebat tentu saja dia tahu bahwa ayahnya diserang.

Huang-ho Coa-li itu pada dasarnya ingin mencoba ayahnya di

balik kata-kata salam. Dan karena pada dasarnya pemuda ini

membenci wanita dan tak suka melihat kebrutalan lawan tibatiba

Han Han maju dan secepat kilat dia menerima pukulan

itu, mendengus.

“Huang-ho Coa-li, ayah enggan menerimamu. Biarlah aku

yang menerima dan terima kasih…. dess!” Huang-ho Coa-li

tiba-tiba mencelat, kaget berteriak panjang dan wanita itu

terbanting dan tertumbuk dinding. Han Han rupanya terlalu

keras memberi “pelajaran” dan wanita itu menjerit, jatuh

terguling-guling. Dan ketika dia muntah darah dan semua

orang terkejut, Beng Tan juga sama-sama terkejut maka

semua orang tiba-tiba menjadi gaduh dan ribut karena sekali

tangkis saja Beng Han atau Han Han ini telah membuat

Huang-ho Coa-li luka dalam!

“Ah, tak boleh begitu!” Beng Tan, sang ayah, berkelebat

menegur puteranya.

Bukan maksudnya untuk melukai atau menciderai lawan.

Han Han ternyata terlalu ganas. Maka ketika Beng Tan

menyambar dan menahan wanita ini, yang terbatuk dan

muntah-muntah maka Beng Tan cepat menotok dan

mengeluarkan obat. Namun belum keburu dia memasukkan

obat ini ke mulut wanita itu tiba-tiba Huang-ho Coa-li sudah

mengeluh dan terkulai pingsan!

Gegerlah tempat itu. Keganasan dan sikap dingin Han Han

tiba-tiba membuat semua orang meremang. Tek-wangwe

sendiri tertegun karena sekali balas saja Han Han sudah

mengeluarkan tangan besi. Atau, mungkin pemuda itu yang

belum dapat mengatur pukulannya karena Han Han belum

pernah “turun gunung”, belum berhadapan dengan orangorang

lain selain ayah atau ibunya sendiri, juga beberapa

murid Hek-yan-pang yang tentunya jarang dipertandingkan.

Maka begitu Huang-ho Coa-li tak sadarkan diri dan para tamu

kaget, ribut, maka Tek-wangwe cepat berlari menghampiri

dan ikut menolong Beng Tan yang merah padam

menyiumankan wanita itu.

“Maaf…” pendekar ini gemetar. “Han Han terlalu keras,

wangwe. Bukan maksudku untuk menyuruhnya begitu. Biar

nanti dia kutegur dan kusiumankan dulu wanita ini!”

“Tak apa,” sang hartawan pun gugup. “Huang-ho Coa-li

telah bersikap liar dan menyerangmu duluan, taihiap. Kalau

dia bersikap baik-baik dan tidak kasar seperti tadi tentu Bengkongcu

juga tak akan membuatnya begini. Puteramu marah,

dan itu wajar. Biarlah menjadi pelajaran baginya agar dapat

bersikap sopan di rumah orang!”

Huang-ho Coa-li akhirnya sadar. Beng Tan yang menotok

dan menjejalkan due butir obat akhirnya membuat wanita itu

siuman. Huang-ho Coa-li membuka nsata dan terbelalak ketika

melihat Beng Tan. Dia mengeluh dan cepat melompat bangun

menepis tangan sang pendekar. Dan ketika wanita itu

terhuyung dan terisak memandang Han Han, yang juga sudah

berdiri dan di dekat ayahnya maka wanita ini melengking

dengan mata berapi-api.

“Hek-yan-pangcu, kau bertanggung jawab atas perbuatan

puteramu. Aku tak terima!” dan Huang-ho Coa-li yang

menerjang dan menusuk Han Han, siidah mencabut

pedangnya tiba-tiba ditangkis Beng Tan yang tak ingin melihat

Han Han menurunkan tangan ganas lagi. Pendekar itu berseru

bahwa itu adalah tanggung jawabnya, Huang-ho Coa-li boleh

menyerangnya tapi jangan ke Han Han. Dan ketika pedang

ditangkis terpental dan Huang-ho Coa-li memekik, hampir

terlempar atau terpelanting oleh tamparan lawan maka wanita

ini membentak dan maju lagi, bertubi-tubi melepas serangan

dan Beng Tan tentu saja mendongkol. Sebenarnya secara

baik-baik dia ingin menyelamatkan wanita ini dari

ketelengasan puteranya. Dia tak ingin melihat Huang-ho Coa-li

terbanting dan terluka lagi oleh balasan puteranya. Maka

ketika dia berkelit dan Han Han dilihatnya sudah memandang

beringas, siap menghajar atau menjatuhkan wanita ini lagi

maka buru-buru Beng Tan mengebutkan ujung bajunya dan

dengan kepandaiannya yang tinggi tiba-tiba pendekar itu telah

menggubat dan mematahkan pedang lawan. Lalu begitu

lawan terkejut dan memekik, kaget, tiba-tiba Beng Tan telah

menggerakkan dua jarinya dan robohlah wanita itu oleh

sebuah totokan jarak jauh.

“Bluk!”

Huang-ho Coa-li mengerang pendek. Sekarang wanita ini

tak dapat menyerang lagi karena dibuat lumpuh tak berdaya.

Pedangnyapun dipatahkan dan orang bersorak memuji ketika

melihat gerakan ketua Hek-yan-pang itu, yang begitu mudah

dan gampang merobohkan lawannya. Dan ketika lawan

menangis tapi Beng Tan menggerakkan tangannya lagi,

membebaskan totokan maka Huang-ho Coa-li melompat

bangun terhuyung menggigil.

“Hek-yan-pangcu, kau telah menanam permusuhan dengan

aku. Baiklah, lain kali kita bertemu lagi dan aku pasti membuat

perhitungan di kemudian hari!”

Wanita itu berkelebat menangis terisak-isak. Huang-ho

Coa-li yang tadinya mencari gara-gara mendadak menjadi

bahan tertawaan orang ketika meninggalkan tempat itu.

Kepandaian dan kelihaian Beng Tan malah mendapat tepuk

tangan dan pujian di sana-sini. Tapi ketika Beng Tan menarik

napas dan membungkuk di depan Tek-wangwe maka

pendekar itu minta maaf dan menyatakan penyesalannya.

“Tak apa…. tak apa…” sang hartawan malah tertawa

gembira. “Sudah lama wanita itu mencoba mengganggu aku,

taihiap. Berkali-kali datang dan minta uang namun tak pernah

kukabulkan. Sudahlah, sekarang dia mendapat hajaran dan

lain kali tentu tak berani datang lagi!”

Beng Tan ditarik ke panggung. Ketua Hek-yan-pang ini

digandeng hartawan Tek untuk menduduki kursinya yang

terhormat, di atas panggung, duduk bersebelahan dengan

tuan rumah yang juga menyiapkan kursinya sendiri. Dan

ketika Han Han ditarik ayahnya dan diajak ke tempat itu maka

Beng Tan agak tersipu karena tamu-tamu lain yang

berdatangan ke situ hanya disambut beberapa pembantu Tekwangwe

ini, tidak seperti ketika dia yang datang dan disambut

secara langsung oleh tuan rumah.

“Ah, mereka itu? Ha-ha, biarkan saja, taihiap. Aku memang

hanya menyambut tamu-tamuku yang paling penting.

Selebihnya, biarlah pembantuku yang mengurus dan aku di

sini saja bersamamu!”

“Hm, aku jadi tak enak,” Beng Tan merasa lirikan beberapa

tamu yang tajam dan tak senang, melihat mereka itu seolah

diacuhkan Tek-wangwe. “Kalau kau terlalu berlebihan

menyambutku begini tentu aku tak enak duduk di sini,

wangwe. Jangan bersikap seperti ini dan lihat itu ada dua

pengemis datang!”

Aneh, Tek-wangwe tiba-tiba bangkit berdiri. Para tamu

yang berpakaian bagus-bagus dan rata-rata berpakaian

perlente tiba-tiba tak seperti ketika melihat dua pengemis

yang baru datang itu. Hartawan Tek terkejut dan buru-buru

turun, tertawa dan menyambut dan orang akan tercengang

keheranan melihat di sebuah pesta ada pengemis masuk,

bahkan, disambut tuan rumahnya sendiri. Tapi ketika Tek

Lian, puteri Tek-wangwe itu berteriak dan memanggil dua

pengemis ini dengan sebutan “suhu” (guru) maka agaknya

keheranan atau ketercengangan itu akan sirna.

Dua pengemis ini tertawa-tawa ketika disambut hartawan

Tek. Mereka tak membalas ketika tuan rumah membungkuk di

depan mereka, karena sudah menoleh dan menyambut Tek

Lian yang berlari dan merangkul mereka. Dan ketika Tekwangwe

cengar-cengir sementara dua pengemis itu sudah

menepuk-nepuk pundak muridnya maka mereka tiba-tiba

tertegun melihat di atas panggung, di kursi kehormatan sudah

duduk Beng Tan dan puteranya itu.

“Siapa mereka?” dua pengemis ini bertanya, tak sungkansungkan.

“Kehormatan apakah yang kau berikan kepadanya,

wangwe? Pantaskah mereka duduk di situ?”

“Ah!” Tek-wangwe didahului puterinya. “Itu adalah Bengtaihiap

dan puteranya, suhu. Yang terhormat ketua Hek-yanpang

dan Beng-kongcu. Mari, ayah sudah menyiapkan kursi

untuk kalian pula dan tinggal beberapa lagi tamu-tamu

penting yang belum datang!”

“Hek-yan-pangcu?” pengemis di sebelah kanan tertegun.

“Maksudmu Pek-jit Kiam-hiap yang mendampingi isterinya di

perkumpulan Walet Hitam itu?”

“Benar, itulah dia, suhu. Dan mari kuperkenalkan. Bengtaihiap

baru saja datang dan merobohkan Huang-ho Coa-li!”

“Hm, sombong! Jadi begitukah sikap seorang tamu di

rumah orang lain? Wah, tak tahu aturan, Tek Lian. Seharusnya

diusir pergi dan tak usah menduduki kursi kehormatan!”

Tek Lian tiba-tiba kaget. Pengemis di sebelah kiri, gurunya

nomor dua, tiba-tiba berseru memaki-maki ketua Hek-yanpang

itu, bergerak dan sudah melayang ke atas panggung.

Gerakannya gesit dan ringan, luar biasa, tahu-tahu sudah di

atas dan siap membentak Beng Tan kenapa membuat onar,

merobohkan seorang lain di rumah yang bukan milik sendiri.

Tapi ketika Tek Lian berkelebat dan berteriak memanggil

gurunya itu, menarik dan menyambar baju gurunya maka

pengemis yang tampaknya berangasan itu sudah buru-buru

diberi tahu.

“Tahan, jangan salah paham. Beng-taihiap justeru

menolong muka ayah, suhu. Huang-ho Coa-li membuat onar

dan mengganggu mereka ini. Dengarkan ceritaku!” dan ketika

Tek Lian buru-buru memberi tahu dan menceritakan peristiwa

itu, didengar tapi rupanya disambut kurang baik maka kakek

ini terkekeh dan mengebutkan ujung lengan bajunya.

“Ah, begitukah kiranya? Kurang ajar, sungguh Huang-ho

Coa-li tak tahu malu. Kalau saja aku sudah datang tentu tak

perlu minta pertolongan yang terhormat ketua Hek-yan-pang

ini. Hm, aku harus menghaturkan terima kasih kalau begitu,

Tek Lian. Kalau begitu aku salah paham!” dan si kakek yang

menyeringai dan membungkuk di depan, sudah berada di atas

panggung tiba-tiba menjura dan berseru nyaring, “Hek-yanpangcu,

sungguh kebetulan kau datang. Kau telah memberi

pelajaran dan mengusir si wanita busuk itu. Tapi sebenarnya

di sini ada muridku, tak usah kau berlagak dengan

memamerkan kepandaian. Apakah kaukira murid Ji-sin-kai tak

mampu menggebah pengacau? Maaf, Hek-yan-pangcu. Kau

termasuk lancang meskipun telah menolong Tek-wangwe!”

dan bergerak mengebutkan ujung lengan bajunya tiba-tiba

kakek itu menyerang dan melepas pukulan sinkang.

“Suhu!”

Pukulan itu tak mungkin ditarik kembali. Ji-sin-kai

(Pengemis Sakti Nomor Dua) telah tertawa dan terangterangan

menghantam Beng Tan. Dari ujung bajunya yang

apek itu keluar angin menderu dan bau tidak enak. Beng Tan

yang berdiri menyambut pengemis itu tiba-tiba tertawa lebar,

tadi terkejut tapi segera tersenyum ketika mendengar bahwa

pengemis ini kiranya adalah Ji-sin-kai, dan yang di sana itu

tentu Toa-sin-kai, pengemis-pengemis berkepandaian tinggi

tapi yang di-dengarnya sebagai pengemis-pengemis budiman,

meskipun wataknya aneh karena dinilai angkuh dan sombong,

tak suka mengakui kepandaian orang lain dan diri sendiri lah

yang dianggap lihai. Maka begitu Ji-sin-kai menyerangnya dan

kakek itu terang-terangan melepas pukulan, membentak dan

tentu ingin mengujinya maka pria ini tertawa lebar

menggerakkan tangan kiri ke depan.

“Sin-kai, jangan salah paham. Aku tidak pamer kepandaian,

melainkan Huang-ho Coa-li itulah yang menyerangku habishabisan.

Kalau kau tidak senang dengan perbuatanku tentu

saja aku minta maaf, dan selamat berkenalan serta jumpa di

sini, plak!”

-oo0dw0oo-

Jilid 5

DUA PUKULAN itu beradu, Beng Tan tertawa dengan

tangan kirinya sementara si kakek tampak berkutat dengan

ujung lengan bajunya. Ji-sin-kai atau kakek ini merasakan

gempuran tenaga dahsyat menahan pukulannya itu,

mendorong dan mau menolak balik dan tentu saja dia

bertahan, terkejut dan menambah tenaganya namun

lawanpun melakukan hal yang sama. Beng Tan menambah

tenaganya dan si kakek pucat bergoyang-goyang. Ji-sin-kai

menggeram namun tiba-tiba dia terdorong. Dan ketika kakek

itu terdorong dan terus terdorong hingga lantai panggung

berderit, tanda betapa hebatnya kakek itu bertahan maka

Beng Tan tiba-tiba menarik pukulannya dan mundur dengan

cepat, membuang seluruh tenaga lawannya ke samping.

“Maaf, kau hebat, Sin-kai. Tapi kukira cukup…. bress!” dan

lantai panggung yang berderak dan hancur patah-patah

akhirnya membuat para tamu meleletkan lidah dan Ji-sin-kai

berjungkir balik di udara, kaget berseru keras tapi kagum

karena lawan benar-benar luar biasa. Kalau Beng Tan

meneruskan serangannya dan dia tergencet tentu kakek itu

luka dalam. Namun tidak, ketua Hek-yan-pang itu menarik

pukulannya dan ini menyelematkan Ji-sin-kai. Dan ketika

kakek itu berjungkir balik melayang turun dan merah mukanya

maka dia memuji meskipun penasaran.

“Pangcu, kau hebat. Tapi aku belum puas!”

“Stop!” Beng Tan menggoyang lengan. “Lebih baik aku

mengaku kalah, Sin-kai. Aku terpaksa mundur karena

tenagamu hebat. Sudahlah, tak baik membuat Tek-wangwe

cemas dan lihat dia memandang kita!”

Ji-sin-kai bersinar-sinar. Tek-wangwe cepat-cepat memburu

dan hartawan itu menggoyang lengan sambil membungkukbungkuk.

Hartawan ini ngeri dan pucat kalau si pengemis

menyerang lagi, karena Hek-yan-pangcu adalah tamunya yang

agung dan di atas semuanya itu adalah calon besan yang

diam-diam diincar! Maka ketika Ji-sin-kai menggeram

penasaran tapi untung Beng Tan tak melayaninya lebih jauh

maka hartawan itu menarik duduk s i pengemis sambil bersojasoja.

“Locianpwe harap tenang, kalian semua tamu. Masih ada

kesempatan untuk mengadu kepandaian dalam acara pibu.

Duduklah… duduklah, locianpwe. Jangan buru-buru

mengumbar adat kalau acara itu belum tiba!” dan

mendudukkan lalu menghampiri Toa-sin-kai, pengemis

satunya yang masih berdiri di sudut hartawan inipun buruburu

membujuk, mengerling pada puterinya. “Dan kaupun

tamuku yang terhormat, Sin-kai. Mari…. mari duduk dan

nikmati hidangan seadanya!”

Toa-sin-kai menyeringai. Dia belum berbuat apa-apa ketika

Tek-wangwe menarik dan mengajaknya duduk. Tek Lian,

muridnya, tiba-tiba juga berkelebat dan menarik tangannya.

Dan ketika dua orang itu mengajak duduk dan pengemis

inipun terkekeh maka Toa-sin-kai duduk di samping adiknya

dan diam-diam mengerahkan ilmu suaranya untuk bertanya.

“Sute, bagaimana kepandaiannya? Kau tak mampu

bertahan?”

“Hm,” sang sute, kakek itu, menjawab dengan mata merah.

“Hek-yan-pangcu itu hebat sekali, suheng. Aku memang kalah

tapi baru soal tenaga. Kepandaiannya, ilmu silatnya, belum!”

“Hm, kalau begitu aku jadi tertarik untuk coba-coba.

Baiklah nanti aku yang maju dan kita ramaikan ulang tahun

Tek-wangwe ini dengan pibu yang seru!”

“Aku juga, dan aku masih penasaran. Aku saja yang maju

dan nanti kita sama-sama lihat!”

Dua kakek itu berkedip. Mereka sudah bicara dengan

masing-masing mempergunakan ilmu suara jarak jauh. Bibir

mereka bergerak-gerak tapi tak ada kata-kata yang terdengar.

Itulah tanda betapa hebatnya sebenarnya dua pengemis ini.

Tapi Beng Tan yang tersenyum-senyum dan diam-diam

mendengarkan pembicaraan itu, menangkap dengan ilmu

pendengaran jarak jauhnya pula tiba-tiba memandang

puteranya karena mendadak Han Han bangkit berdiri dan

melotot memandang dua kakek pengemis itu.

“Ayah, Ji-sin-kai masih penasaran. Sebaiknya aku yang

maju dan menghajarnya!”

“He!” sang ayah terkejut, cepat menarik puteranya itu.

“Jangan mencari gara-gara, Beng Han. Duduk dan jangan jauh

dari ayahmu!”

Beng Han mengerutkan kening. Dua kakek itu

memandangnya dan Toa-sin-kai maupun Ji-sin-kai terkejut.

Mereka mendengar kata-kata itu karena Han Han tak

mempergunakan ilmu suara. Bicaranya begitu terang-terangan

dan lantang. Tentu saja mereka marah, terutama Ji-sin-kai!

Tapi ketika pemuda itu ditarik ayahnya dan Beng Tan

mengangguk kepada mereka berdua, minta maaf, maka sang

ayah berbisik dengan ilmu suara agar dua pengemis itu tak

gusar.

“Harap ji-wi sin-kai (dua pengemis sakti) memaklumi

bahwa puteraku ini masih seorang pemuda yang berdarah

panas. Tentu kalian tak akan mudah terpancing oleh

omongannya yang lancang itu. Maaf, nanti saja kita mainmain

lagi!”

“Hm, kau mau melayani aku, Hek-yan-pangcu? Kau tentu

tak takut, bukan?”

“Aku tentu melayanimu, dengan gembira. Tapi tak perlu

bersungguh-sungguh karena kita sekedar bermain-main saja!”

“Hm!” dan dua pengemis itu yang melotot tapi dapat

menahan diri akhirnya disuguhi arak dan Tek Lian cepat-cepat

menghibur suhunya. Gadis ini agak mengerutkan kening

karena kata-kata dan sikap Han Han tadi juga didengarnya.

Dia merasa tak senang tapi mencoba tersenyum manis. Dan

ketika beberapa tamu kembali datang dan ayah serta anak

menyambut maka beberapa tokoh atau tamu-tamu penting

muncul.

Pertama adalah seorang laki-laki pendek gendut yang

berpakaian perlente, usianya sekitar limapuluh tahun, diiring

seorang pemuda yang mengawal atau berjalan di sebelannya.

Dialah Sing-wangwe bersama puteranya, Sing Kok. Dan ketika

tamu kedua dan ketiga adalah seorang tosu dan hwesio maka

muncullah dua tokoh pengembara yang bukan lain adalah Eng

Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio, dua tokoh dari Kongthong

dan Go-bi. Agak heran juga hati Beng Tan melihat

tokoh-tokoh ini. Maklumlah, Eng Sian Taijin maupun Tiong

Liang Hwesio adalah orang-orang yang biasanya tak suka

bergaul dengan segala macam kaum bangsawan atau

hartawan. Tapi teringat bahwa di s itu hadir Toa-sin-kai dan Jisin-

kai yang merupakan guru dari puteri tuan rumah maka

Beng Tan dapat menjadi maklum dan mengerti. Dan betul saja

dua orang pengemis itu buru-buru menyambut. Mereka ikut

dengan hartawan Tek menghampiri dua orang ini, tergopoh

dan tertawa-tawa dan segera dua orang hwesio dan tosu itu

diajak duduk di kursi kehormatan. Dan ketika mereka berada

di atas panggung dan mau tidak mau bertemu pandang

dengan Beng Tan maka Eng Sian Taijin mengerutkan kening,

merasa tidak kenal,

“Siapa dia?” bisiknya.

“Ah, ketua Hek-yan-pang. Pek-jit Kiam hiap yang gagah

perkasa!”

“Oh, ketua Hek-yan-pang kiranya!” dan ketika tosu itu

bersinar sementara hwesio di sebelahnya juga terbelalak lebar

maka Ji-sin-kai berkata bahwa ketua Hek-yan-pang ini

memiliki s inkang luar biasa, mulai menggosok.

“Aku tadi mencoba sedikit, dan terdorong. Kalau totiang

mau berkenalan silahkan saja, jangan sungkan-sungkan. Siapa

tahu Pek-jit-kiam-sut (Silat Pedang Matahari) dari ketua Hekyan-

pang itu dapati menambah pengalaman dengan ilmu

pedangmu Kong-thong Kiam-sut (Ilmu Pedang Dari Kongthong)!”

“Hm!” sang tosu sudah mengangguk, menjura. “Sudah

lama aku mendengar namamu, pangcu. Kiranya kau masih

muda dan gagah. Mengejutkan kalau Ji-sin-kai memujimu

secara terang-terangan!”

Beng Tan bangkit berdiri. Bahwa disitu tiba-tiba muncul

beberapa tokoh kang ouw hal ini adalah di luar dugaannya.

Dia menganggap paling-paling para tamu hanyalah orangorang

sebangsa Tek-wang-we, atau paling tinggi seorang dua

orang tokoh-tokoh kang-ouw kelas dua. Tapi begitu Eng Sian

Taijin muncul dan Tiong Liang Hwesio dari Go-bi juga berada

di situ maka Beng Tan yang harus menghormat tokoh-tokoh

tua cepat-cepat bangkit memberi hormat.

“Ah, aku biasa-biasa saja, totiang. Aku tak sehebat seperti

yang dipujikan Ji-sin-kai itu. Kau jangan percaya, dan aku

tentu-saja tak berani menandingi ilmu pedang Kong-thong.

Selamat berkenalan, dan sungguh gembira bertemu dengan

jiwi berdua yang amat terkenal di dunia kang-ouw.”

“Hm!” sang tosu tersenyum mengejek. Dia sudah menjura

dan ujung lengan bajunyapun bergerak ke depan. Ajaib, ujung

lengan baju yang tadi lemah dan berkibar itu mendadak

menjadi kaku dan berobah seperti lempengan baja,

menyambar atau menghantam tubuh Beng Tan dari kiri dan

kanan. Dan karena ini adalah serangan berbahaya karena

itulah pukulan sinkang yang merobah benda lemas menjadi

keras maka cepat saja Beng Tan menangkis, maklum bahwa

dia lagi-lagi diuji.

“Plak!”

Panggung bergetar. Eng Sian Taijin tampak bergoyang dan

tosu itu kaget. Lawan tak bergeming sementara dia hampir

terhuyung! Dan ketika tosu ini cepat menambah tenaganya

namun Beng Tan buru-buru melepaskan diri maka ujung

lengan baju yang menempel di telapak tangannya itu cepat

dihindari.

“Totiang, terima kasih. Kau telah memberi pelajaran

berharga!”

Eng Sian Taijin tertegun. Nyatalah bahwa ketua Hek-yanpang

itu tak mau melayaninya lebih lanjut, padahal dia sudah

mengerahkan tenaga dan siap menggempur lagi. Penasaran

bahwa tadi dia tergetar! Tapi karena lawan sudah duduk lagi

dan Tiong Liang Hwesio tertawa bergelak, tahu bahwa

seorang lawan lihai benar-benar ada di situ maka hwesio ini

ganti melangkah dan berseru,

“Omitohud, pinceng (aku) belum berkenalan denganmu,

pangcu. Hebat dan kagum sekali diri ini bahwa seorang muda

sudah menjadi tokoh terkenal!”

Beng Tan terkejut. Sebenarnya dia tak mau beradu pukulan

lagi karena tuan rumah masih belum membuka acara pibu

(adu kepandaian silat), yang biasanya pasti diadakan untuk

meramaikan setiap acara pesta. Tapi karena lawan sudah

melangkah lebar dan dia tak keburu bangkit maka apa boleh

buat pukulan hwesio itu yang menyambar kepalanya terpaksa

ditangkis, dengan pura-pura bersoja, mengangkat kedua

lengan.

“Ah, lo-suhu meninggikan aku? Maaf, aku biasa-biasa saja,

lo-suhu. Dan terima kasih atas salammu!” terdengar ledakan,

panggung berderak keras dan Tiong Liang Hwesio tiba-tiba

berseru kaget. Kedua lengannya yang memukul tiba-tiba

ditahan sepasang lengan ketua Hek-yan-pang itu, bertemu

dengan sepasang tenaga yang luar biasa hebatnya hingga dia

menggigil menahan diri, tak sanggup dan terdorong tiga

tindak! Dan ketika hwesio itu pucat karena lawan dapat terus

mendesak dan melemparnya keluar panggung tiba-tiba tenaga

dahsyat itu lenyap dan hwesio ini terhuyung ke depan.

“Ah, hebat, luar biasa. Pinceng benar-benar bertemu orang

pandai!”

Beng Tan tersenyum merendah. Dia segera tahu bahwa

baik Ji-sin-kai maupun kawan-kawannya ini masih kalah

dengannya. Dia memiliki sinkang atau tenaga sakti yang dua

tingkat di atas mereka, tadi hanya dikeluarkan sebagian dan

itu saja sudah cukup membuat lawan pucat. Maka ketika si

hwesio mundur dan tahu diri, kagum, maka Beng Tan

mengangguk-angguk dan tersenyum. Selanjutnya tiga orang

itu saling kasak-kusuk dan Ji-sin-kai maupun Eng Sian Taijin

menunjukkan penasaran hebat. Mereka itu tak seperti Tiong

Liang Hwesio yang cukup tahu diri, yang batuk-batuk dan

kagum memandang Beng Tan. Dan ketika tuan rumah

menyambut beberapa tamu lagi dan akhirnya meniup lilin

ulang tahun maka para tamu bersorak ketika tuan rumah ingin

dihibur dengan atraksi kepandaian silat.

“Puteriku barangkali yang perlu mengawali. Dan acara ini

kuserahkan saja kepada guru puteriku yang terhormat Toasin-

kai dan Ji-sin-kai yang hadir di sini. Maaf, silahkan mulai,

Sin-kai. Agaknya tak ramai pesta ini kalau kalian orang-orang

persilatan tak menunjukkan kepandaian!”

Toa-sin-kai tersenyum lebar. Setelah para tamu

dipersilahkan makan minum maka dia bangkit berdiri

memanggil muridnya. Tek Lian diminta menunjukkan sejurus

dua ilmu silat. Dan ketika gadis itu bergerak dan melayang ke

atas panggung, disambut tepuk tangan riuh maka Tek Lian

menyambar tongkat dan mainkan ilmu silat khusus dari

gurunya itu.

Gadis ini sudah membungkuk terlebih dahulu ketika

mainkan tongkatnya. Dia mulai berkelebatan ketika

tongkatnya dilempar ke atas, tinggi dan disambar dan

selanjutnya naik turunlah gadis itu dengan gerak meliak-liuk.

Tongkat di tangan menyambar menderu-deru dan penonton

bersorak melihat gerakannya yang lemah gemulai, lembut

namun kuat dan itu cukup memberi indikasi bahwa puteri

hartawan Tek ini bukan gadis sembarangan. Dan ketika gadis

itu menutup dengan gerakan melipat, yakni tubuh dilempar ke

udara sementara tongkat dibanting dan ditangkap di atas

lantai maka bergemuruhlah sorak penonton oleh puji dan

kagum.

“Maaf, aku hanya dapat sebegini saja. Ilmu silatku terlalu

rendah. Kalau ada cu-wi enghiong (orang-orang gagah) yang

ingin menunjukkan kepandaian silahkan naik agar dapat

membuka mataku lebar-lebar!”

Berteriaklah orang-orang oleh tantangan itu. Pibu telah

dibuka dan puteri tuan rumah telah mengawalinya dengan

permainan silat yang indah. Semua mata tiba-tiba tertuju di

sini dan Tek Lian menjadi pusat perhatian. Gadis itu memang

muda dan cantik, suaranyapun merdu dan tinggi semampai.

Maka begitu dia menyelesaikan ilmu silatnya dan menantang

untuk ditemani, hal yang tentu saja membuat sorak lebih riuh

maka seorang pemuda melompat dan menjura di depan si

gadis.

“Maaf, aku Wi Cong To ingin bermain-main denganmu,

Tek-siocia. Sudilah kiranya memberikan pelajaran karena aku

tertarik dan kagum akan silat tongkatmu!”

“Hm,” Tek Lian tak menyangka, melihat pemuda ini

bermuka buruk. “Kau siapa, sobat? Wi Cong To? Baik, mari

main-main dan perlihatkan kepandaianmu….. wut!” dan

tongkat yang kembali bergerak dan berada di tangan gadis ini

lalu bersiap untuk menghadapi lawan. Tek Lian harus

melengos karena si buruk itu menyeringai padanya, mulutnya

melebar dan mirip kuda mau menangis. Sungguh tak disangka

kalau yang pertama datang adalah pemuda macam ini. Buruk!

Tapi karena dia puteri tuan rumah dan pibu memang bebas

diikuti siapa saja maka Tek Lian menahan mualnya dan

memasang kuda-kuda.

Cong To, pemuda itu, sudah membungkuk di depan lawan.

Meskipun buruk namun pemuda ini tetaplah sopan, sikapnya

tak kurang ajar dan mulailah dia membentak melonjorkan

kedua lengan. Dia tak mencabut senjata dan Tek Lian sejenak

tertegun. Tapi ketika pemuda itu berkata bahwa itulah

senjatanya, kedua lengannya yang kokoh maka Tek Lian yang

tentu saja tak sudi beradu lengan lalu membentak dan

menyuruh lawan maju.

“Aku laki-laki, kau wanita, juga sebagai tuan rumah.

Silahkan mulai dan jangan ragu-ragu, siocia. Maju dan

seranglah aku.”

“Wut!” tongkat sudah menyambar, tak banyak bicara lagi.

“Kalau begitu baiklah orang she Wi. Awas serangan dan jaga

diri baik-baik!” dan Tek Lian yang tak ingin berpanjang lebar

dengan lawan tiba-tiba sudah membentak dan menggerakkan

tongkatnya itu. Dia berkelebat dan menyambar bagai seekor

burung walet, lincah menubruk namun lawan berkelit. Dan

ketika Tek Lian mengejar dan lawan mem balik maka untuk

pertama kali pemuda itu menangkis.

“Dukk!”

Dua lengan pemuda itu bergetar keras. Tongkat terpental

dan Tek Lian terkejut karena tenaga lawan kiranya begitu

hebat. Dia yang menyerang tapi dialah yang terpental. Dan

ketika lawan tertawa dan gadis itu melengking maka untuk

selanjutnya murid Ji-sin-kai ini beterbangan dengan tongkat

menyambar-nyambar. Sekarang Tek Lian tak mau beradu

tenaga lagi karena begitu si pemuda mau menangkis maka

cepat-cepat dia menarik dan mengemplang ke arah lain. Ke

manapun pemuda itu menggerakkan lengan ke situ pula buruburu

dia mengganti serangan. Akibatnya si pemuda gemas

karena puteri Tek-wangwe itu tak mau beradu dengannya.

Dan ketika Tek Lian mempercepat gerakannya dan si pemuda

tak dapat mengikuti maka tampaklah di s ini bahwa dalam soal

kecepatan gadis ini jauh lebih menang daripada lawannya.

Akibatnya Cong To menerima gebukan-gebukan dan penonton

bersorak melihat pemuda itu terhuyung-huyung. Pemuda ini

mulai marah karena lawan mempermainkannya. Yang

menonton mengangguk-angguk karena Tek Lian bersikap

cerdik, tak mau beradu tenaga. Dan ketika satu kemplangan

tongkat menimpa tengkuk pemuda itu dan Cong To mengeluh

maka begitu pemuda itu terhuyung ke depan tiba-tiba Tek

Lian menendang bokongnya dengan satu tendangan kilat.

“Dess!” terlemparlah pemuda itu dari atas panggung. Cong

To berteriak dan roboh ke bawah, tersungkur. Dan ketika Tek

Lian tertawa meminta maaf maka lawannya itu melotot tapi

segera ngacir pergi, kalah.

“Maaf, aku sedikit menyakitimu, Cong To. Tapi inilah pibu.

Hayo, siapa yang mau main-main lagi!”

Penonton tertawa. Mereka melihat pemuda itu ngeloyor

tersipu-sipu. Kepongahan atau kesombongan yang kini mulai

muncul di sikap gadis itu tak seberapa diperhatikan. Dan

ketika bayangan seorang pemuda lain berkelebat dan berdiri

di atas panggung maka orang berhenti bersuara karena kini

muncullah pemuda gagah dengan muka yang lumayan.

“Aku Leng Sip, kagum akan kepandaian Tek-siocia.

Bolehkah main-main dan berkenalan dengan nona? Tapi aku

tak berani bertangan kosong, aku biasa mengandalkan

pedang. Kalau nona tidak takut tentu aku gembira dan akan

senang sekali mencoba kepandaian murid Ji-sin-kai

locianpwe!”

“Hm!” Tek Lian bersinar-sinar, yang ini tidak

memualkannya. “Siapapun kau tentu tak perlu membuatku

takut, orang she Leng. Majulah, dan cabut pedangmu!”

“Nona memperkenankan?”

“Kalau kau tak takut kubuat jungkir balik seperti orang she

Wi tadi. Majulah, dan cabut pedangmu!”

Si pemuda tersenyum. Tek Lian agaknya menemukan

kepercayaan dirinya yang besar setelah merobohkan si muka

buruk tadi, Cong To. Tapi karena si muka buruk berotak

udang dan si nona berotak cerdas maka dia yang sudah

melihat gaya dan permainan silat lawan lalu mencabut

pedangnya dan membungkuk. Pibu memang bersifat mengadu

ilmu, di samping kecerdasan.

“Aku siap, dan silahkan nona mulai.”

“Tidak, kau tamu, sobat. Kaulah yang mulai dan jangan

sungkan-sungkan. Majulah!”

“Begitukah? Baik, awas, nona. Lihat pedang!” dan Leng Sip

yang mulai membuka serangan dan membentak memberi

peringatan tiba-tiba bergerak dan sudah menusuk lawan.

Mula-mula pedangnya bergerak perlahan karena takut melukai

lawan, tak tahunya Tek Lian bergerak gesit dan menghantam

pedang itu dari samping, hingga si pemuda terhuyung. Dan

ketika pemuda itu ditertawakan dan penonton mulai bersorak

maka pemuda itu bersungguh-sungguh dan tidak sungkansung

kan lagi. Melihat Tek Lian membalas dan tongkat atau

senjata di tangan gadis itu sudah menderu di atas kepalanya,

ditangkis dan terpental tapi menyambar punggungnya, dari

belakang. Dan ketika Tek Lian bergerak dan berkelebatan

bagai walet seperti tadi maka pemuda itu harus mengakui

bahwa murid Ji-sin-kai ini memang lihai.

“Trik-trakk!”

Pedang bertemu tongkat. Dari adu tenaga itu Tek Lian tahu

bahwa si pemuda tak memiliki tenaga sebesar si buruk tadi,

namun lihai karena tiba-tiba pedangnya dipentalkan dan

dibabatkan ke bawah, menyerampang kaki. Dan ketika Tek

Lian harus meloncat namun pemuda itu menggerakkan tangan

kirinya, menghantam, maka Tek Lian maklum bahwa

lawannya yang ini memang tidak berotak kerbau.

“Dess!” dan Tek Lian pun terhuyung. Agaknya, sebagai

wanita yang dikodratkan lebih lemah daripada laki-laki maka

meskipun lawannya itu tak sehebat Cong To namun tenaganya

masih lebih kuat dibanding tenaganya sendiri. Apa boleh buat

Tek Lian mengulang gaya permainannya seperti tadi, bergerak

dan berkelebatan menyambar-nyambar mengandalkan ginkang

(ilmu meringankan tubuh). Dan ketika lawan mencoba

mengimbangi namun kalah cepat, karena Tek Lian bergerak

seperti walet beterbangan maka satu dua pukulan tongkatnya

mulai masuk.

“Plak-plak!”

Si pemuda kewalahan. Tak lama kemudian dia terdesak

dan tertawalah Ji-sin-kai melihat muridnya mempermainkan

lawan. Leng Sip agaknya bukan tandingan gadis ini karena

meskipun pedangnya menangkis sana-sini namun tongkat itu

bergerak lebih cepat lagi, mengemplang atau menusuk dan

setiap tusukan atau sodokan ini tentu mengarah jalan-jalan

darah yang menyakitkan. Akibatnya pemuda itu menyeringai

karena tusukan atau sodokan itu terasa pedas. Dan ketika

lama-lama dia kesakitan dan mundur-mundur, penonton

bersorak gegap-gempita maka akhirnya dengan satu gerakan

manis gadis ini membuat lawan terpelanting, tongkat

mendarat di tengkuk.

“Cukup, dan mundurlah!” Pedang di tangan si pemuda

terlempar. Tek Lian menendangnya sebelum mendaratkan

tongkatnya itu. Lawan dibuat jungkir balik dan terpelanting ke

bawah panggung. Dan ketika kemenangan ini disambut riuh

dan tepuk tangan maka lawannya itu ngacir sementara Tek

Lian berdiri tegak mengusap keringatnya, juga anak rambut

yang berjuntai di dahi.

“Maaf, jangan kapok menghadapi pibu, orang she Leng.

Aku siap menghadapimu lagi kalau masih penasaran!”

Pemuda itu malu. Penonton mengejeknya sementara Tek

Lian terkekeh mengiringi, ah, gadis itu kian sombong saja.

Tapi ketika selanjutnya tak ada lagi pemuda yang mau naik di

atas panggung, menghadapi s i nona lihai maka Tek Lian agak

kebingungan memandang ke bawah, diam-diam melirik Han

Han karena diharapnya pemuda itu akan mau maju,

bersentuhan dan bersenggolan tangan! Tek Lian memang

diam-diam mengharap pemuda itu setelah dua pemuda

pertama dirobohkannya. Dia juga ingin menjajal kepandaian

Han Han setelah tadi pemuda itu mengusir Huang-ho Coa-li.

Tapi karena Han Han dingin-dingin saja dan pemuda itu

memandang tak acuh, sama sekali tak bersorak atau gembira

melihat pertandingan di atas panggung maka Tek Lian siap

mengundurkan diri ketika tiba-tiba hartawan Sing, laki-laki

pendek gendut itu tertawa naik panggung, bergoyang-goyang.

“Ha-ha!” penonton dan Tek Lian terkejut, sama-sama

mengira hartawan itu mau maju bertanding, padahal jelas tak

bisa silat! “Aku ke sini ingin mengajukan usul, Tek-wangwe.

Bagaimana kalau pibu ini dijadikan semacam sayembara.

Maksudku, yang berkaitan dengan puterimu itu, khusus buat

anak-anak muda!” dan ketika Tek-wangwe bangkit dan

menerima tamunya itu, tergopoh dan terbelalak maka

hartawan ini bertanya apa yang dimaksud rekannya itu.

“Aku tak mengerti,” tanyanya. “Apa maksud wangwe

dengan ini.”

“Ha-ha, maksudku arena cari jodoh. Lihat, puterimu sudah

tak ada tandingnya lagi, Tek-wangwe. Dia hebat dan memang

luar biasa. Tapi tak mungkin di sini tak ada pemuda-pemuda

lagi yang berani menghadapinya. Tentunya mereka tak akan

mau naik kalau akhirnya hanya kalah dan mendapat malu.

Lain kalau mereka itu diiming-imingi dulu sayembara jodoh

hingga kalahpun tentu tak perlu kecewa!”

Tek-wangwe tiba-tiba tersenyum. Mendadak dia

mengangguk dan berseri-seri. Usul atau gagasan ini tiba-tiba

ditangkapnya sebagai sesuatu yang bagus. Puteri-nya sudah

dewasa, dia sudah pula waktunya untuk bermantu. Dan ketika

dia tertawa dan melirik puterinya, yang tersipu dan tiba-tiba

kemerahan maka hartawan itu bergelak menjawab nyaring,

“Ah, siapa tak suka ini? Aku setuju, wangwe. Tapi tentunya

harus kutanya puteriku itu, juga kedua gurunya. Kalau mereka

suka tentu saja aku semakin gembira. Hm, tapi ini khusus

buat anak-anak muda. Yang kakek-kakek atau tua tak boleh

ikut!”

“Ha-ha, tentu saja. Masa aku akan menghadapi puterimu?

Kalau dia setuju maka puteraku menjadi jagonya, wangwe.

Dan kita dapat berbesan kalau anakku dapat merobohkan

puterimu!”

“Hm!” Tek Lian tiba-tiba mendengus. Dia malu dan jengah

mendengar omong-omong dua orang tua itu. Hartawan Sing

memang sudah dikenalnya karena dialah mitra dagang

ayahnya. Sing-wangwe sering berkunjung ke rumah tapi baru

kali itu dilihatnya Sing-kongcu, putera Sing-wangwe itu. Dan

ketika ayahnya memandang kepadanya sementara putera

Sing-wangwe itu menatapnya bersinar-sinar, muka bercahaya

maka tiba-tiba Tek Lian menjadi malu ketika dihampiri dan

ditanya ayahnya.

“He, kau tak menolak pibu ini dirobah jadi arena jodoh,

Lian-ji? Kau berani menghadapi calon-calon penantangmu

yang tentu gagah perkasa?”

“Aku menyerahkan hal itu kepada suhu,” Tek Lian tiba-tiba

melengos. “Dan aku tentu tak takut menghadapi siapa pun,

ayah. Asal suhu atau ayah dapat memilihkan seorang yang

benar-benar dapat mengalahkan aku!”

“Ha-ha, bagaimana, ji-wi sin-kai? Kalian mendengar katakata

anakku ini?”

“Hm!” Ji-sin-kai tiba-tiba bangkit berdiri. “Kalau pibu

dirobah jadi arena sayembara tentu aku tak menolak, wangwe,

hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunmu. Tapi

muridku lihai, jangan-jangan tak ada seorang pemudapun

yang dapat mengalahkannya!”

“Ah, itu kita lihat saja nanti. Yang jelas banyak pemudapemuda

di sini, Sin-kai. Dan mereka tentu mau maju asal

diberi kesempatan. Bertanding dengan harapan mendapat

jodoh tentu membuat pemuda lebih bersemangat, tapi

bagaimana aturannya terserah kau!”

Kakek itu terkekeh. “Tek Lian harus dikalahkan seorang

lawannya. Kalau ada lawan yang dapat merobohkan maka

orang itu harus berhadapan dengan peserta baru, begitu

seterusnya sampai tidak ada penantang lagi. Bukankah adil?”

“Ha-ha, bagus. Kalau begitu usul Sing-wangwe kuterima!”

dan ketika hartawan itu berhadapan dengan sahabatnya dan

berkata setuju, sementara Tek Lian tersipu-sipu kemerahan

dengan sikap jengah maka Sing-wangwe meloncat kegirangan

dan turun ke bawah.

“Sing Kok, majulah. Hadapi dan robohkan calon isterimu

itu!”

Sing Kok, pemuda di bawah, tersenyum bangkit berdiri.

Sang pemuda yang bertubuh kekar dan bermuka kepucatpucatan

ini mengangguk menyambut ayahnya. Sungguh lain

pemuda itu dengan ayahnya yang pendek gendut. Sing Kok

adalah pemuda gagah dan gerak-geriknya yang ringan

cekatan jelas menunjukkan dirinya bukan sebagai pemuda

hartawan yang biasanya malas dan suka bersenang-senang.

Pemuda ini diminta ayahnya untuk maju menikmati jodoh, hal

yang segera disambut tepuk tangan dan kegembiraan oleh

semua penonton di situ. Dan ketika Sing Kok berjalan dan

tiba-tiba melayang naik ke atas panggung, yang jaraknya

masih lima meter dan tinggi setombak tiba-tiba saja penonton

atau para tamu bersorak, melihat bahwa pemuda ini seorang

yang lihai!

“Tek-siocia,” seruan nyaring itu mulai bergema. “Aku

menuruti kehendak ayahku dan ingin main-main denganmu.

Marilah, aku memang jadi bersemangat setelah tahu syaratsyarat

pertandingan ini. Majulah, dan aku akan

merobohkanmu!”

Tek Lian membelalakkan mata. Tiba-tiba saja dia sudah

ditantang dan lawan tak sungkan-sungkan lagi, bergeraklah

dia dan seketika sudah mencabut tongkatnya.

Dan ketika semua orang bertepuk tangan dan dua mudamudi

itu berhadap-hadapan, gagah dan cantik maka Tek Lian

mendengus dan tiba-tiba berbisik,

“Sing Kok, jangan sombong. Kaukah yang dikatakan

ayahmu mengembara dan baru pulang dari utara? Hm, aku

akan menutup kesombonganmu. Cabutlah senjatamu dan mari

kita mulai!”

“Srat!” s i pemuda mencabut ruyung, pendek namun kokoh.

“Senjataku adalah ini, siocia. Tapi kalau aku belum merasa

perlu biasanya aku tak pernah mempergunakannya dahulu.

Majulah, aku akan bertangan kosong!”

“Apa? Kau menantangku?”

“Aku telah melihat kepandaianmu, nona. Dan aku merasa

sanggup menghadapi. Mulailah, ruyung ini kubuang dulu di

situ!” dan Sing Kok yang benar-benar membuang ruyungnya

dan bersiap dengan tangan kosong tiba-tiba sudah mendapat

bentakan lawan yang melengking marah. Tek Lian merasa

direndahkan dan gadis itu tentu saja naik pitam. Maka begitu

dia membentak dan menerjang ke depan, lawan tersenyum

kepadanya tiba-tiba tongkat di tangan itu telah menderu dan

menghantam dahsyat.

“Wheerrr…!”

Tongkat menyambar angin kosong. Tek Lian terkejut

karena tiba-tiba dengan mudah dan gampang pemuda itu

mengelak serangannya, dibentak dan diserang lagi namun

berturut-turut pemuda itu mampu menghindar. Sing Kok

lincah berkelit dan tongkat itupun meledak di lantai panggung.

Dan ketika pemuda itu tertawa sementara penonton mulai

bersorak, karena pertandingan ini jauh lebih menarik daripada

tadi maka berturut-turut tujuh serangan gadis itu luput alias

menyambar angin kosong.

“Wut-wutt…!”

Tek Lian marah bukan main. Lawan tiba-tiba mengejek

padanya dan berseliweran naik turun. Tek Lian yang merasa

mempunyai ginkang tingkat tinggi lalu membentak

mempergunakan itu. Tapi ketika si pemuda dapat

mengimbangi karena tubuh pemuda itupun berkelebatan dan

menyambar-nyambar bagai seekor burung garuda maka Tek

Lian terbelalak karena lawannya itu sungguh hebat bukan

main!

“Keparat!” gadis ini melengking. “Hayo balas seranganseranganku,

Sing Kok. Jangan menghindar atau berlarian saja

seperti seorang pengecut!”

“Hm, begitukah?” pemuda itu tertawa. “Baik, adik Lian.

Awas balasanku dan hati-hati…!” dan ketika pemuda itu

berseru keras dan mulai membalas, karena tadi memang

hanya menghindar dan main kelit saja maka Tek Lian terkejut

karena tangan lawan tiba-tiba menjadi delapan. Gadis itu

terpekik karena begitu tertawa dan bergerak amat cepat

sekonyong-konyong lengan pemuda ini berobah demikian

banyaknya. Ji-sin-kai yang menonton itu tiba-tiba berseru

kaget dan bangkit berdiri, disusul suhengnya. Dan ketika Tek

Lian terdesak dan menerima satu pukulan keras maka tongkat

di tangan gadis itu mencelat dan gadis inipun terpelanting.

“Pat-sian Sin-kun (Silat Delapan Dewa)!”

Yang lain-lain terkejut. Eng Sian Tai-jin dan Tiong Liang

Hwesio tampak juga mengangguk-anggukkan kepala. Mereka

tahu bahwa itulah Pat-sian Sin-kun, ilmu silat Delapan Dewa

yang hebat. Dan ketika Tek Lian terdesak dan pucat bukan

main, mundur-mundur, maka satu gerakan pemuda itu telah

mengakhiri pertandingan karena sebuah totokan hinggap di

pundak si nona.

“Robohlah…!”

Tek Lian terbanting. Dia benar-benar roboh begitu

tersentuh jari tangan si pemuda. Sing Kok putera hartawan

Sing-wangwe itu telah mengalahkannya. Dan ketika Tek Lian

terbanting namun si pemuda cepat menyambar, agar tidak

jatuh membentur lantai maka Tek Lian terisak dan menangis

ketika dibebaskan lagi.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu malu!”

Tek Lian menyambar tongkatnya dan lari. Gadis itu terpukul

dan malu dan Sing-wangwe tertawa bergelak melihat

kemenangan puteranya, berseru pada Tek-wangwe bahwa

mereka akan menjadi besan. Tapi ketika Ji-sin-kai melompat

garang dan membentak bahwa itu belum kemenangan mutlak,

karena si pemuda masih harus menghadapi calon-calon

penantang yang barangkali muncul maka pengemis itu merah

padam memandang Sing Kok.

“Kau murid si tua bangka Pat-jiu Sian-ong (Dewa Lengan

Delapan)? Kau dari utara?”

Sing Kok terkejut. Dia melihat si pengemis ini bermata

merah. Tapi karena tahu bahwa kakek itu adalah guru Tek

Lian, yang baru saja dikalahkannya maka Sing Kok menjura

dan membungkuk penuh hormat. “Locianpwe kiranya

mengenal guruku. Benar, siauwte (aku) adalah murid guruku

itu.”

“Hm, dan disuruh apa kau oleh gurumu itu? Disuruh

menantang Ji-sin-kai dan pamer kepandaian di depan orang

banyak?”

Sang pemuda terkejut. “Maksud locianpwe?”

“Keparat, tak tahu aku bahwa kau adalah murid si tua

jahanam Pat-jiu Sian-ong, bocah. Dan karena kau adalah

muridnya maka syarat pertandingan ini kutambah bahwa

kalau tak ada penantang lain maka kau harus dapat

mengalahkan aku!”

“Locianpwe!” dua pekikan terdengar berbareng. Itulah

seruan atau suara Tek-wangwe dan Sing Kok. Pemuda ini

kaget karena tiba-tiba saja dia diharuskan mengalahkan si tua,

melihat gelagatnya bahwa Ji-sin-kai ini bermusuhan hebat

dengan gurunya. Namun ketika kakek itu tertawa dan

bertanya apakah dia takut, hal yang membuat pemuda itu

bermuka merah maka Sing Kok menggeleng dan menahan

rasa geramnya.

“Aku tak takut, hanya kenapa sekarang syarat itu ditambah.

Bukankah locian pwe seharusnya tadi-tadi memberi tahu?”

“Ha-ha, tadi aku tak mengetahui bahwa kau adalah murid

Pat-jiu Sian-ong, bocah, padahal dia adalah musuhku. Dan

karena gurumu itu orang yang pernah menghina aku maka

kau sebagai muridnya harus menerima ini, mau atau tidak!”

“Tak adil!” Beng Tan tiba-tiba berseru. “Kau tak tetap

memegang janjimu, Sin-kai. Dan urusan anak muda ini

seharusnya tak usah diikutcampurkan dengan urusan gurunya.

Tua dengan tua, muda dengan muda. Seharusnya kau tahu

itu!”

“Eh!” kakek itu menoleh, meradang. “Kau ikut campur,

pangcu? Apakah ingin mewakili anak muda ini? Kalau begitu

ma julah, kita tua sama tua!”

“Tidak,” Beng Tan menggeleng. “Urusan jodoh tak kuikutcampuri,

Sin-kai. Hanya urusan kebenaran tentunya tak bisa

dilepaskan oleh setiap pendekar yang merasa dirinya

menjunjung tinggi keadilan. Kau tadi tidak menambahkan

syarat-syarat ini, dan tentunya tak pantas kalau tiba-tiba

sekarang menyusulinya, setelah semua berjalan!”

“Ha-ha, kalau begitu kau saja yang maju, Hek-yan-pangcu.

Kita selesaikan urusan ini dengan kepalan seorang gagah.

Ayo, aku menantang dirimu. Kau sudah mewakili anak muda

ini dan tampaknya takut kalau dia kalah!”

“Hm!” sebuah geraman tiba-tiba menggetarkan lantai

panggung. “Kalau kakek ini menantangmu biarkan saja aku

yang maju, ayah. Kuhajar dia dan kupecahkan mulutnya!”

Semua kaget. Han Han, pemuda yang sejak tadi duduk

diam mendadak bangkit berdiri. Pemuda itu tak tahan lagi

melihat ayahnya ditantang-tantang, menggeram dan matapun

beringas bagai seekor harimau haus darah. Siapapun akan

terkejut melihat pandang mata pemuda itu, dingin dan tidak

bersahabat, seperti Golok Maut! Dan ketika Beng Tan

tersentak dan menarik duduk puteranya itu maka Ji-sin-kai

yang mendelik dan gusar oleh hinaan ini tiba-tiba berkelebat

dan menghajar mulut Han Han.

“Kau bocah siluman tak tahu adat!”

Beng Tan membentak. Dia tentu saja melindungi puteranya

itu dan menangkis pukulan ini. Tapi ketika Han Han

mendorong ayahnya dan justeru menyambut pukulan, keras

sama keras maka Ji-sin-kai mencelat dan terpekik hebat

karena seperti biruang saja pemuda itu tiba-tiba

mengeluarkan Pek-lui-kang atau Tenaga Petir sepenuh

tenaganya.

“Plak!”

Kakek itu terguling-guling muntah darah. Ji-sin-kai

terbanting dan mengeluh panjang pendek, hal ini

menggegerkan yang lain-lain dan mencelatlah Toa-sin-kai

membantu sutenya itu. Dan ketika Beng Tan terkejut

sementara yang lain ribut, melihat keganasan atau darah

dingin pemuda ini maka Ji-sin-kai nyaris pingsan dan Eng Sian

Taijin maupun Tiong Liang Hwesio kaget bukan main.

“Omitohud, ganas sekali…!”

“Siancai, tak pantas sebagai putera Pek-jit Kiam-hiap yang

gagah perkasa!”

Beng Tan pucat. Dia menggigil dan serba salah oleh dua

omongan itu. Eng Sian Taijin, tosu dari Kong-thong berseru

dengan muka keheran-heranan. Tiong Liang Hwesio juga

begitu karena mereka tak menyangka bahwa sebagai putera

seorang ketua terkenal Han Han atau Beng Han itu dapat

membalas demikian ganas.

Pemuda itu tak layaknya manusia melainkan seekor

harimau haus darah, sikap yang seperti iblis dan buas sekali.

Namun ketika orang-orang sama tertegun dan ribut menolong

Ji-sin-kai maka Beng Tan berkelebat dan melihat keadaan

pengemis itu, yang tentu saja tak menyangka akan kehebatan

dan keganasan Han Han menerima pukulannya.

Tapi baru saja ketua Hek-yan-pang ini membungkuk dan

mau memeriksa sekonyong-konyong Toa-sin-kai menyambar

leher bajunya. Lalu sekali pengemis itu membentak maka

sebuah bogem melayang ke muka lawan.

“Dess!” Beng Tan menerima dengan telapak tangan.

Pukulan orang yang dilancarkan dengan marah dan tidak

memberi tahu hampir saja membuat ketua Hek-yan-pang ini

terpukul. Namun untunglah, karena Beng Tan bukan orang

sembarangan dan tetap waspada maka begitu orang

menyambar leher bajunya dia segera melihat serangan itu dan

menangkis. Toa-sin-kai melotot karena tiba-tiba dari telapak

tangan ketua Hek-yan-pang itu meluncur tenaga tolak yang

besar, panas dan membakar dan pengemis ini tentu saja

terkejut. Dan ketika dia cepat menarik tangannya dan berseru

keras maka pengemis i-tu mencabut tongkat tapi Beng Tan

buru-buru berseru,

“Tahan, aku tak bermaksud memusuhimu, Sin-kai. Aku

datang untuk melihat adikmu!” dan mengeluarkan sebutir obat

untuk diberikan kepada lawan pendekar itu berkata lagi, “Jisin-

kai terkena Pek-lui-ciang, berikan ini kepadanya dan lima

menit tentu sembuh!”

“Aku tak perlu itu!” Toa-sin-kai tiba-tiba membentak,

geram, langsung mengebut dan mementalkan obat di tangan

Beng Tan. “Aku perlu tanggung jawab puteramu, pangcu.

Atau kau sebagai ayahnya mempertanggungjawabkan ini dan

menghukum puteramu!”

“Hm,” Beng Tan berkerut kening. “Masalah puteraku tentu

kutegur, Sin-kai. Tapi harap kau ketahui bahwa semuanya itu

bermula dari sutemu. Kalau sutemu tidak menyerang dan

menghantam aku tentu puteraku yang bermaksud

melindungi dan membela ayahnya tak akan menangkis.

Semua orang tahu itu. Dan itu bersumber dari ketidakadilan

pibu yang diatur sute-mu!”

“Hm, tak usah menggurui. Pokoknya aku menuntut ini,

pangcu. Bahwa puteramu harus dihukum atau kau maju

melawanku. Marilah, aku tidak takut!”

Semua orang geger. Toa-sin-kai telah mencabut

tongkatnya dan ketua Hek-yan-pang itu terang-terangan

ditantang. Beng Tan harus maju atau mendapat malu. Tapi

ketika pendekar itu merah padam dan marah mendengar

tantangan tiba-tiba Tiong Liang Hwesio berkelebat maju

mengebutkan ujung lengan jubahnya.

“Omitohud!” hwesio itu mengeluarkan pujian. “Pinceng

terpaksa mencampuri sedikit, Sin-kai. Apa yang dikata Hekyan-

pangcu ada benarnya dan urusan ini sebaiknya ditunda

dulu. Arena mencari jodoh harus dilanjutkan, Sing-kongcu

menunggu. Kalau belum selesai lalu ditindih urusan ini tentu

kacau. Sebaiknya kau mundur dan suruh saja Han-kongcu itu

melawan Sing-kongcu!”

“Hm, benar!” Eng Sian Taijin tiba-tiba berkelebat pula,

menunjang. “Apa yang dikata rekan Tiong Liang lo-suhu tidak

salah, Sin-kai. Suruh saja Han-kongcu itu menghadapi Singkongcu.

Kalau sudah, baru urusanmu dihidupkan lagi!” dan

berbisik bahwa tak baik memiliki dua musuh sekaligus, karena

Sing-kongcu adalah murid Pat-jiu Sian-ong sementara itu

adalah juga musuh pengemis ini maka Eng Sian Taijin

menyadarkan sahabatnya, yang tiba-tiba tertegun.

“Kau tentu tahu,” bisikan itu menyelinap lagi.

“Menghancurkan satu di antara mereka berarti sudah

melampiaskan sebagian dendam, Sin-kai. Temukan saja

mereka itu dan adu seperti ayam jago berlaga!”

Sang pengemis mengangguk. Akhirnya dia setuju dan mau

dibujuk. Beng Tan mengerutkan kening karena tiba-tiba dia

menjadi tak senang kepada Eng Sian Taijin ini. Puteranya mau

diadu domba. Tapi karena Toa-sin-kai mau mundur dan i-tu

sudah cukup maka apa boleh buat dia menghadapi

puteranya karena tiba-tiba semua orang berseru bahwa itu

memang baik. Pibu mencari jodoh harus dilanjutkan lagi

sementara yang lain-lain nanti belakangan.

“Bagaimana?” sang ayah akhirnya berkelebat ke tempat

duduknya lagi, Toa-sin-kai menolong sutenya sendiri. “Kau

ditantang menghadapi pemuda itu, Han Han. Tapi nanti kita

harus berhati-hati terhadap kakek pengemis itu dan temantemannya!”

“Hm, aku tak takut!” Han Han bangkit berdiri. “Tapi aku

bukan hendak merebut diri Tek-siocia, ayah. Aku akan

bertanding karena semata disuruh. Aku akan menghadapi

pemuda itu dan biar dia ku-robohkan!” dan berkelebat tak

menunggu jawaban ayahnya lagi tiba-tiba Han Han sudah

berdiri di atas panggung, sinar matanya berkilat-kilat dan

mencorong mengerikan, berseru, “Toa-sin-kai, apa yang kau

ingini akan kulaksanakan di sini. Tapi ketahuilah, aku tidak

bermaksud menerima Tek-siocia, meskipun aku menang. Dan

karena kau rupanya penasaran oleh tindakanku tadi maka

kaupun boleh maju kalau pertandinganku sudah selesai!”

Gemparlah semua orang. Beng Tan sendiri sampai pucat

mendengar kata-kata puteranya itu. Tak disangkanya Han Han

akan sedemikian blak-blakan dan keras, bahkan cenderung

sombong. Dan karena pemuda itu berkeyakinan menang dan

merendahkan Sing Kok maka putera Sing-wangwe atau murid

Pat-jiu Sian-ong yang mendengar itu juga sampai merah

padam mukanya dan berketruk, menggigil dan marah bukan

main dan bergeraklah pemuda itu di hadapan Han Han. Toasin-

kai mau membentak tapi kalah dulu oleh putera hartawan

Sing itu, karena begitu melayang dan naik ke atas panggung

maka Sing Kok sudah mengeluarkan bentakan nyaring,

“Orang she Beng, kau benar-benar keliwat menghina dan

sombong. Yakinkah kau bahwa kau dapat memenangkan aku?

Yakinkah kau bahwa aku dapat kau robohkan?”

“Hm!” Han Han menjengek. “Aku she Ju, orang she Sing.

Namaku Beng Han. Kalau aku berkata bahwa aku dapat

merobohkanmu maka hal itu pasti dapat kulakukan. Nah,

majulah, dan lihat berapa jurus kau petunjang!”

Sing Kok marah sekali. Pemuda ini sampai menggigil dan

tak dapat berkata-kata. Suaranya tercekik di kerongkongan

saking hebatnya hinaan itu baginya. Namun begitu Han Han

selesai bicara mendadak dia menerjang dan menghantam

lawannya itu.

“Dess!”

Han Han menangkis. Pemuda ini tidak mengelak dan Peklui-

ciangpun menyambar. Hawa panas berkelebat dan sinar

pu-tihpun meluncur dari tangannya. Sing Kok terkejut dan

berseru tertahan, mundur terhuyung. Tapi karena itu baru

gebrakan pertama dan ini tentu saja bukan berarti dia kalah

maka murid Pat-jiu Sian ong itu membentak lagi dan

menerjang lebih hebat. Selanjutnya Han Han mengelak sanaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

sini dan suara pukulan-pukulan beradu mulai terdengar

menggetarkan lantai panggung. Han Han dirangsek tapi

pemuda itu dapat bertahan, lawan penasaran dan akhirnya

bergeraklah pemuda itu lebih cepat untuk mendesak Han Han.

Dan ketika suara “dak-duk-dak-duk” mulai menggetarkan

orang-orang di bawah dan Han Han mengimbangi lawan

dengan kecepatan yang sama maka dua pemuda itu akhirnya

bergerak dan saling belit untuk kemudian lenyap membentuk

bayangan naik turun yang sama-sama mendebarkan.

“Bagus, lihai sekali. Hebat…!”

Seruan-seruan mulai berhamburan. Han Han sebagai

pemuda yang bertahan sementara lawan yang mencoba untuk

terus mendesak. Tapi karena Han Han dapat berkelit lincah

dan setiap pukulan-pukulan yang tidak sempat dielak selalu

ditangkis dan menggetarkan lawan maka tampaklah bahwa

meskipun sebagai penyerang namun sesungguhnya murid Patjiu

Sian-ong itu bukan tandingan Han Han. Akibatnya pemuda

ini menjadi frustrasi dan Sing Kok marah bukan kepalang. Orang

di bawah tak melihat betapa kedua lengan pemuda ini

mulai merah kehitam-hitaman, bahkan akhirnya bengkak, tak

tahan menerima pukulan-pukulan Han Han yang

mempergunakan Pek-lui-kang-nya itu. Dan ketika Pukulan

Petir mulai ditambah dan Sing Kok berteriak maka barulah

orang melihat ketika pemuda itu menjerit dan terbanting di

atas lantai.

“Dess!” Han Han melakukan dua gerak menyilang yang

mengejutkan lawan. Sing Kok terkejut dan menangkis, tapi

apa lacur dia sudah kesakitan oleh pukulan-pukulan terdahulu.

Maka begitu Han Han menambah sinkangnya dan lawan

menjerit maka Sing Kok sudah bergulingan di lantai panggung

dan mengaduh-aduh dengan kedua lengan terbakar!

“Aku belum kalah!” pemuda itu tiba-tiba berteriak. “Aku

masih memiliki senjata, bocah sombong. Dan mari lihat

permainan ruyungku!” dan meloncat bangun menyambar

ruyungnya, senjata yang tadi diletakkan di sudut maka

pemuda ini sudah menerjang dan kalap menyerang Han Han.

Kini murid Pat-jiu Sian-ong itu harus dibantu ruyungnya untuk

mengalahkan Han Han. Tangan sudah tak kuat untuk diadu

keras sama keras, akibatnya pemuda itu mempergunakan

senjata untuk menggantikannya. Tapi ketika Han Han

mengelak sana-sini dan serangan-serangan ru-yung luput

mengenai angin maka Sing Kok terbelalak dan marah bukan

main, menyuruh lawan mengeluarkan senjata tapi Han Han

mendengus mengejek. Pemuda itu tertawa dan tawanya yang

dingin mendirikan bulu roma. Lalu ketika ru-yung menyambar

dahsyat dan Han Han disuruh menangkis maka pemuda ini

bergerak dan satu

gerakan tangan kirinya

tiba-tiba membuat

ruyung patah.

“Cukup, sekarang kau

robohlah!” dan ruyung

yang mencelat tiga

potong tiba-tiba disusul

teriakan Sing Kok yang

terlempar dari atas

panggung, tak mampu

menguasai diri lagi

karena begitu Han Han

mengerahkan Pek-luikangnya

maka sinar putih meledak menghantam ruyung, terus

menyambar pemuda itu dan terpelantinglah Sing Kok dengan

jeritan tinggi. Dan ketika pemuda itu terbanting dan roboh di

bawah, pingsan, maka keributan tiba-tiba terjadi ketika sorak

dan tepuk tangan riuh menyambut kemenangan Han Han ini.

“Hebat, luar biasa. Sing-kongcu kalah ….!”

Sing-wangwe pucat. Hartawan itu melihat kekalahan

puteranya dan robohnya Sing Kok membuat hartawan ini

buru-buru berlari. Langkahnya yang pendek-pendek sungguh

lucu untuk dipandang. T api ketika hartawan itu menubruk dan

menangisi puteranya, menggerung-gerung maka lagi-lagi

Beng Tan berkelebat dan melihat korban puteranya itu.

“Jangan khawatir, telankan pil ini kepada puteramu!”

Sang hartawan tertegun. Dia melihat ketua Hek-yan-pang

itu mengurut dan menotok tubuh puteranya, tiga kali

mengusap dada dan kini mengeluarkan sebutir obat untuk

puteranya. Dan karena dia bukan Toa-sin-kai dan uluran itu

disambut gembira maka Sing-wangwe menyambar dan cepatcepat

memberikannya kepada puteranya. Beng Tan melihat

bahwa korban puteranya ini tak sehebat Ji-sin-kai. Karena

kalau kakek itu masih belum siuman sampai sekarang adalah

pemuda ini tiba-tiba bergerak dan membuka mata begitu

menelan obatnya. Tapi ketika pemuda ini melihat siapa yang

datang tiba-tiba dia berteriak dan menghantam Beng Tan.

“Kaupun manusia jahat!”

Beng Tan batuk-batuk. Tentu saja dia mengelak dan tidak

menangkis pukulan ini, tahu pemuda itu marah besar tapi dia

bukanlah Han Han. Maka ketika Sing Kok menyerang lagi dan

bangkit meloncat bangun, terhuyung, mendadak pendekar ini

menepuk pundak si pemuda seraya berkata,

“Sing-kongcu, aku bukan musuhmu. Kembalilah, dan

jangan ke sini lagi!” dan ketika pemuda itu menjerit karena

tepukan lawan bukan sembarang tepukan, melainkan

memencet jalan darah di pundak maka pemuda itu roboh dan

jatuh terduduk. Sing-wangwe segera berseru bahwa Beng Tan

justeru menolongnya, memberi obat dan menyadarkannya

dari pingsan. Dan ketika pemuda itu tertegun dan

membelalakkan mata, mengeluh, maka ayahnya sudah buruburu

mengangkat bangun puteranya ini untuk diajak pergi.

“Ju-taihiap benar, kita harus pulang. Mari, kembali dan

lapor gurumu!”

Sing Kok menyeringai. Pemuda ini menahan sakit dan apa

boleh buat dia harus menderita kekalahan. Sorak dan tepuk

tangan riuh tak dihiraukannya. Tapi ketika dia dipapah dan

hampir mendekati pintu keluar tiba-tiba dia mendesis dan

mengancam Beng Tan bahwa perbuatan Han Han akan

dibalasnya bersama gurunya.

“Kekalahan hari ini kuterima, tapi aku akan datang lagi

menuntut balas. Awas kalian ayah dan anak!”

Beng Tan menarik napas. Setelah puteranya merobohrobohkan

musuh maka tiba-tiba dia menjadi tak nyaman.

Bukan takut, melainkan semata tak senang mengikat

permusuhan. Tapi karena semuanya itu bukan puteranya yang

mulai dan Han Han hanya menerima dan melayani tantangan

maka di atas panggung terdengar bentakan dan Toa-sin-kai

berkelebat dan sudah menghadapi puteranya.

“Bocah, kau hebat. Tapi aku menerima tantanganmu. Nah,

majulah. Mari kita bertanding dan lihat siapa yang roboh!”

Sang ayah terkejut. Untuk kesekian kalinya lagi tiba-tiba dia

melihat puteranya siap bertempur, Toa-sin-kai berapi-api dan

tongkat di tangan kakek itu bergetar hebat, tanda betapa

kemarahan tak dapat ditahan lagi oleh kakek itu. Maka begitu

puteranya ditantang dan kakek pengemis itu siap menyerang,

penonton tiba-tiba berhenti bersorak, mendadak Beng Tan

berkelebat ke atas dan berseru nyaring,

“Tahan, sebaiknya hentikan semuanya ini, Sin-kai. Jangan

layani kekanak-kanakan sikap puteraku dengan cara serius!”

dan berdiri menghadang di depan puteranya Beng Tan pun

lalu mendorong mundur, berkata, “Han Han, jangan

mengundang permusuhan dengan siapapun. Kalau ingin pibu

boleh pibu tapi jangan dilandasi dendam!”

“Hm!” sang pengemis melotot. “Apa maksudmu, pangcu?

Kau takut puteramu terbunuh?”

“Tidak,” Beng Tan menggeleng, penuh keyakinan diri.

“Bukan begitu, Sin-kai, melainkan semata mencegah jatuhnya

korban yang lebih parah. Aku tak ingin puteraku bersikap

kejam dan telengas. Aku minta maaf dan sebaiknya semua ini

dibatalkan!”

“Apa?” Toa-sin-kai mendelik. “Dibatalkan? Setelah dia

membuat adikku pingsan dan belum sadar? Keparat, enak saja

kau bicara, Hek-yan-pangcu. Kalau kau takut puteramu maju

biarlah kau yang melayaniku dan aku tak mau sudah sebelum

bertanding!”

“Hm,” Beng Tan bersinar matanya, masih menahan diri.

“Sutemu pingsan karena kau tak mau menerima obat

penolongku, Sin-kai. Kalau tidak tentu dia sudah siuman dan

tak akan begini. Kau jangan mendesak…”

“Aku tetap akan mendesak!” sang pengemis membentak,

memotong marah. “Kecuali kalau kau berlutut dan minta

ampun di depan kakiku, pangcu, juga puteramu itu!”

Beng Tan menjadi marah. Akhirnya si pengemis telah

mengeluarkan kata-kata menghina dan Han Han di

belakangnya tiba-tiba menggeram maju. Puteranya itu tak

tahan dan sudah mendorong ayahnya, Beng Tan disuruh

minggir! Dan ketika Beng Tan terkejut namun puteranya

sudah berhadapan dengan lawannya itu maka Han Han

membentak, balas memaki pengemis itu.

“Sin-kai, tak perlu banyak cakap. Aku ada di sini, tak perlu

perlindungan ayahku. Ayo majulah, dan gerakkan tongkatmu!”

dan ketika si pengemis mendelik dan melotot gusar tiba-tiba

sang pengemis sudah membentak dan menghantam maju.

Toa-sin-kai memang paling marah kepada pemuda ini. Han

Han telah membuat sutenya pingsan sampai belum sadarkan

diri, padahal kejadian sudah berlangsung sekian lama. Jadi

jelas pukulan pemuda tadi terlalu dahsyat dan amat tak

diduga, karena memang sutenya tak menduga bahwa untuk

pukulan pertama tiba-tiba Han Han sudah membalasnya

begitu kuat, sepenuh tenaga. Maka begitu pemuda itu

mendorong ayahnya dan Beng Tan tak kelihatan mencegah,

marah karena Toa-sin-kai menghinanya di depan orang

banyak maka begitu ditantang sekonyong-konyong pengemis

ini menggerakkan tongkatnya dan menghantam Han Han.

“Dess!”

Han Han menangkis. Semua orang melihat pengemis itu

mencelat tinggi dan suara yang menggetarkan membuat lantai

panggung berderak. Toa-sin-kai berteriak tinggi sementara

Han Han hanya terdorong setindak, tanda betapa hebat

pukulan si pengemis tadi tapi Han Han juga mengerahkan

segenap kekuatannya. Rupanya, tahu bahwa pemuda itu

orang yang berdarah dingin dan Han Han tak segan-segan

mengerahkan semua tenaganya untuk membalas maka Toasin-

kai juga menghantam dan menyerang pemuda i-ni dengan

sepenuh tenaganya pula. Tapi si pengemis tetap kaget. Han

Han menangkisnya dengan tenaga yang luar biasa dan dia

bersama tongkatnya terpental ke atas, merasakan benturan

yang amat dahsyat dan pengemis ini tentu saja berteriak.

Berhadapan langsung dengan Han Han tiba-tiba saja dia tahu

bahwa pemuda itu memang pemuda luar biasa, tenaganya

tidak main-main dan kaget bukan main hati pengemis ini

bahwa dia masih kalah, padahal dia sudah mengerahkan

segenap tenaganya! Tapi karena Toa-sin-kai bukan pengemis

biasa dan tenaga tolak yang membuatnya terpental cepat

dielak dengan jalan berjungkir balik maka begitu dia

melengking dan melayang turun tiba-tiba tongkatnya kembali

bergerak dan menghantam.

“Dess!” Han Han memutar tubuh setengah lingkaran.

Pengemis itu dengan cerdik memutar pula tongkatnya di

tengah jalan, tadi menuju ke pundak tapi tiba-tiba ke kepala.

Toa-sin-kai mempergunakan jurus yang disebut Tongkat

Menyabet Buntut, satu gerak tipuan karena itulah yang dia

inginkan dari lawannya ini, mengira serangan menuju pundak

tapi sebetulnya menyambar kepala, dahsyat dan tongkat di

tangan bersiut saking hebatnya kakek ini mengerahkan

tenaga. Tapi ketika Han Han memutar tubuh dan otomatis

tongkat berhadapan langsung, tidak lagi dari samping atas

seperti tadi maka begitu menyambar kepala hal ini malah

kebetulan karena Han Han menangkis dengan tinjunya. Dan

begitu tongkat terpental lagi dan balik menyambar kepala si

kakek, yang tentu saja disambut seruan keras si pengemis

sakti maka Han Han membalas dan berkelebat menampar

kakek itu.

“Plak!”

Si pengemis jungkir balik. Toa-sin-kai mengeluarkan

teriakan keras dan kakek itu mengaduh-aduh. Tulang

pundaknya serasa remuk tapi untung tak hancur, karena dia

telah melindungi pundaknya tadi dengan sinkang. Tapi begitu

dia terbalas dan tamparan lawan membuatnya jungkir balik,

padahal baru sekali membalas maka kakek ini pucat dan

menggereng bagai seekor biruang luka. Toa-sin-kai merasa

malu karena baru segebrakan saja dia telah dibuat jatuh

bangun. Tadi dia tak sempat menangkis karena gerakan Han

Han amatlah cepatnya. Dia sendiri baru menahan tongkat

yang menyambar kepalanya, jadi s ibuk dengan urusan sendiri.

Maka begitu Han Han berkelebat dan si kakek mendapat

tamparan maka terpelantinglah kakek itu dan Toa-sin-kai

pucat karena tulang pundaknya serasa disambar api, maklum

bahwa itulah pukulan Pek-lui-kang, Pukulan Petir!

“Keparat, aku akan membunuhmu, anak muda. Aku akan

mengunyahmu bulat-bulat. Awas… haiittt!” dan si kakek yang

tak tahan oleh semuanya itu tiba-tiba melesat dan telah

berkelebatan cepat mengurung dengan tongkatnya. Han Han

berkelit ke sana-sini namun si kakek mengejar. Kegeraman

dan kemarahan kakek ini tak dapat dibendung lagi. Dan ketika

dua putaran tongkat meliuk dan menari bagai naga berebut

mustika maka Han Han menerima gebukan dahsyat yang

membuat lantai panggung melesak.

“Des-dess!”

Penonton membelalakkan mata. Han Han terhuyung namun

tidak apa-apa, pundaknya berobah seperti karet mobil yang

membuat tongkat membalik, membal. Tapi ketika si pengemis

berteriak lagi dan sambaran atau pukulan bertubi-tubi

mengejar pemuda ini maka sekejap kemudian Han Han sudah

terkurung dan terdesak hebat, menangkis dan menerima

gebukan-gebukan tanpa mampu membalas. Toa-sin-kai

berteriak bagai orang kesetanan dan ilmu silat tongkat Koaitung

(Tong kat Gila) mengitari pemuda ini. Ke manapun Han

Han bergerak ke situ pula tongkat di tangan si pengemis

memburu. Akibatnya Han Han benar-benar terkurung dan tak

dapat melepaskan diri. Tapi ketika setiap gebukan atau

sambaran tongkat selalu disusul oleh mentalnya tongkat itu,

karena Han Han kebal dan melindungi diri dengan sinkang

maka lawan membelalakkan mata dan marah bukan main

karena pemuda itu benar-benar tangguh, tak dapat

dirobohkan!

“Keparat, setan belang. Mampus kau, bocah. Mampus….

wuuttt!” dan tongkat yang dilepas dan meluncur dari tangan si

kakek tiba-tiba menyambar dan menuju mata pemuda ini. Sinkai

telah mempergunakan jurus nekatnya untuk mengadu

jiwa. Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio sampai berteriak

kaget dan berdiri dari tempat duduknya, begitu pula Beng

Tan, yang berteriak dan memperingatkan puteranya akan

serangan mengadu jiwa. Tapi ketika Han Han mendengus dan

menggerakkan pinggang, membungkuk setengah badan maka

tongkat yang menyambar mata lewat di atas dan secepat kilat

pemuda itu mengebut dan tongkat pun hancur. “Krakk!”

Penontonpun berteriak memuji. Han Han telah

menghancurkan tongkat yang berantakan seperti bubuk,

debunya menyambar sana-sini tapi Han Han tidak berhenti

sampai di situ saja. Karena ketika penonton berteriak dan Toasin-

kai tertegun, bengong, maka saat itulah Han Han

berkelebat dan menendang pengemis ini dengan satu

tendangan maut setengah melingkar, menuju dada.

“Jangan…!” bentakan itu disusul oleh berkelebatnya

sesosok bayangan yang luar biasa cepatnya. Beng Tan yang

melihat puteranya hendak membunuh lawan, dengan

tendangan Petir tiba-tiba berteriak dan melesat ke depan.

Toa-sin-kai sedang bengong dan pengemis itu pasti roboh

dengan dada hancur. Han Han mengerahkan segenap

kekuatannya di tumit kaki dan hanya orang-orang seperti

Beng Tan itu yang tahu betapa dahsyatnya tumit kaki yang

sedang digerakkan sepenuh tenaga ini. Biarpun Sin-kai

melindungi dadanya tetap pula dia tak tahan, karena Han Han

jelas memiliki s inkang yang jauh lebih kuat daripada kakek itu.

Maka begitu melihat puteranya menendang dan tendangan itu

pasti membinasakan Toa-sin-kai, hal yang tak dikehendaki pria

ini maka Beng Tan berkelebat dan apa boleh buat dia

menggerakkan kakinya menendang pula mengadu tumit

dengan tumit, sama-sama mengerahkan tendangan Petir.

“Dess!”

Sisa panggung ambruk dan jebol. Dentuman keras meledak

di situ dan semua orang berteriak tertahan. Yang dekat

dengan panggung tiba-tiba terlempar. Eng Sian Taijin dan

Tiong Liang Hwesio sendiri harus mencelat dari tempat

duduknya kalau tak mau terlempar. Mereka terkejut dan

berseru keras ketika panggung berhamburan ke sana-sini,

pecah berantakan. Atapnya menimpa mereka dan tentu saja

hal ini membuat yang lain-lain menjerit. Tempat itu seakan

diseruduk gajah yang sedang gila saja. Dan ketika pekikan

dan teriakan terdengar di mana-mana maka Eng Sian Taijin

dan Tiong Liang Hwesio tertegun karena tak melihat ayah dan

anak, yang seolah-olah hilang dan lenyap begitu saja di

tengah-tengah panggung, ketika mereka berjungkir balik

melayang turun.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 6

“BRESS!”

Dua tumpukan papan tiba-tiba dipukul orang. Dari bawah

tiba-tiba muncul dua tubuh laki-laki itu, pemuda dan ayahnya.

Dan ketika Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio terkejut

karena itulah Beng Tan dan anaknya maka ketua Hek-yanpang

itu membentak,

“Han Han, jangan membunuh orang. Tahan keberingasan

dirimu!” dan ketika pendekar itu meloncat dan berjungkir balik

dari timbunan lantai panggung maka Han Han sendiri juga

sudah meloncat dan berjungkir balik melepaskan diri, hinggap

dan melayang turun jauh dari tempat semula. Panggung itu

beserta atapnya sudah tak dapat dipergunakan lagi. Lucu dan

juga menyedihkan ketika melihat puluhan orang lain kini

merangkak dan merintih-rintih dari lantai panggung yang

menimpa mereka. Itulah para tamu yang tak sempat

menyelamatkan diri ketika panggung runtuh. Mereka

tertimbun dan terkubur hidup-hidup. Tapi ketika semua keluar

dan merangkak satu per satu, hanya menderita lecet-lecet

atau luka ringan maka Eng Sian Taijin yang terbelalak dan

diam-diam ngeri melihat kedahsyatan Han Han sudah melihat

Pek-jit Kiam-hiap atau si Pendekar Berpedang Matahari

mencengkeram dan menepuk pundak puteranya, yang masih

kelihatan beringas dan mata bersinar-sinar.

“Han Han, sadarlah. Atau kau akan berhadapan dengan

ayahmu… plak!” Han Han tergetar, sadar dan cepat

menghilangkan semua kemarahan dan tenaganya ketika

ayahnya itu mencengkeram dan menepuk pundak. Getaran

tenaga sakti pemuda itu sudah dibuyarkan dan Beng Tan

khawatir sekali akan anaknya ini. Han Han seperti harimau

haus darah, mau menerkam dan rupanya siap menggigit s iapa

saja. Tapi ketika pendekar itu melihat wajah puteranya sudah

biasa lagi dan mata yang mencorong bersinar-sinar itu tidak

kelihatan beringas seperti tadi maka Han Han tiba-tiba

berlutut dan menjatuhkan diri di depan ayahnya.

“Maaf, aku tak bermaksud membunuh siapapun, ayah.

Kalau aku juga tak diancam musuh. Aku menyesal, tapi harap

kau berlaku adil dengan melihat siapa yang salah dan siapa

yang benar.”

“Bangunlah!” sang ayah tahu. “Aku mengerti apa yang kau

maksud, Han Han. Tapi tak selayaknya kita melakukan

pembunuhan di tempat pesta. Cepat minta maaf kepada Tekwangwe

dan kita pulang!”

Han Han menarik napas. Sekarang dia sudah menekan

semua hawa anehnya yang tadi tiba-tiba naik ke kepala.

Entahlah, melihat lawan yang tak tahu diri dan sombong

macam Toa-sin-kai tadi tiba-tiba ada semacam hawa

membunuh yang naik ke kepalanya, setelah pengemis itu

melontar tongkat. Kalau dia tak berkepandaian tinggi dan

mampu menghancurkan serangan lawan tentu dia sudah

roboh tinggal nama. Pengemis itu tak tahu diri dan patut

dihajar. Untung ada ayahnya sehingga tendangannya tadi

ditangkis dan digagalkan ayahnya pula. Dan ketika pemuda itu

mengangguk dan bangun berdiri maka Tek-wangwe yang

terbelalak dan merah pucat berganti-ganti cepat-cepat

menyambut pemuda ini dengan ngeri.

“Wangwe, aku minta maaf. Selamat tinggal dan biar lain

kali kuperbaiki tempatmu yang berantakan ini.”

“Ah, tidak… eh, tak apa-apa! Aku, ah … aku tak perlu

minta ganti, kongcu. Biarlah kuperbaiki sendiri dan sampai

ketemu lagi!”

“Dan maafkan kalau pestamu menjadi kacau, wangwe.

Biarlah lain kali puteraku diam di rumah dan aku bersama

isteriku saja,” Beng Tan menyusul, membungkuk dan memberi

hormat di depan tuan rumah mengiring puteranya. Sang

hartawan buru-buru membalas dan gugup serta kacaulah

perasaan hartawan ini. Han Han tak disangkanya begitu ganas

dan mirip harimau yang tak boleh diganggu. Sekali diganggu

akan mengaum dan menerkam siapa saja, tak perduli tokohtokoh

terhormat atau orang biasa. Tapi ketika ayah dan anak

meminta diri dan semua memandang dengan ngeri, gentar,

tiba-tiba terdengar angin bercuit dan sebatang pisau belati

menyambar Han Han dari belakang. “Plak!”

Sang ayah menangkis dan meruntuhkannya. Han Han diam

saja seolah-olah tak tahu, padahal pemuda itu sudah siap

bergerak dan mengebutkan lengan. Sekali hal itu terjadi tentu

pisau akan membalik dan mengenai penyambitnya, tak boleh

tidak. Berarti sebuah jiwa akan melayang tapi Beng Tan yang

ada di samping puteranya sudah menangkis dan meruntuhkan

pisau itu. Dan ketika ayah dan anak membalik dan melihat

siapa pelemparnya ternyata di sana berdiri tertegun Ji-lo-kai,

pengemis yang rupanya sudah sadar, sute atau adik dari Toasin-

kai.

“Hm!” pendekar ini merah mukanya. “Beginikah sikap

seorang ksatria, Ji-sin-kai? Menyerang dan pengecut

melempar pisau dari belakang? Kalau puteraku yang

menangkis tentu kau bakal roboh tak bernyawa. Bersikaplah

jantan dan jujur kalau masih tak puas. Tempat tinggalku tentu

boleh kau datangi sewaktu-waktu dan melanjutkan

pertandingan dengan jujur. Maaf, aku tak menghendaki

keributan di s ini dan pisaumu kukembalikan lagi …. crit!” pisau

itu tiba-tiba ditendang, mencelat dan menyambar Ji-sin-kai

dan orang-orang terkejut karena mengira pisau itu akan

menancap di leher si pengemis. Memang dari jauh pisau itu

tampaknya menyambar leher. Ji-sin-kai mengelak namun ajaib

sekali pisau itu mengikutinya, seolah bernyawa. Dan ketika

pengemis itu berseru kaget dan meloncat ke belakang,

menumbuk dinding maka pisau menancap di samping

lehernya dan memantek lebih dari separoh!

“Ahh…!” semua orang berseru tertahan. Ji-sin-kai sendiri

menjadi pucat dan ngeri serta gentar. Ternyata ketua

Hekyan-pang itu kalau sudah mau mengeluarkan

kepandaiannya maka sungguh tak boleh dibuat main-main.

Dia jelas bukan tandingan pendekar itu, harus tahu diri! Maka

ketika pengemis ini tertegun merah dan seluruh rasa malu

membuat wajahnya seperti kepiting direbus maka Beng Tan

sudah membalik dan berkelebat menyambar lengan

puteranya. Untuk selanjutnya pendekar itu tak ada lagi yang

berani coba-coba. Sekali pukul membuat Ji-sin-kai malu hebat

sudah cukup membuat orang-orang lain gentar. Ketua Hekyan-

pang itu memang pantas disebut sebagai pendekar pilih

tanding. Puteranya saja sudah begitu hebat! Dan ketika semua

orang diam membelalakkan mata dan Eng Sian Taijin maupun

Tiong Liang Hwesio hanya berulang-ulang mengeluarkan

seruan perlahan maka pesta Tek-wangwe berakhir dengan

segala kehebatan ayah dan anak itu. Dan begitu semua

pulang dan kembali ke tempat masing-masing maka Beng Tan

di sana sudah terbang membawa kembali puteranya ke

markas.

“Apa kabar? Bagaimana dengan pesta Tek-wangwe?” Swi

Cu menyambut suami dan anaknya itu dengan wajah berseriseri.

Dia baru saja melihat mereka datang dan memasuki

halaman, disambut dan suami serta anaknya dipeluk. Tapi

ketika wajah suami maupun puteranya muram, tak

menunjukkan kegembiraan maka Swi Cu terkejut dan

berdebar merasa ada sesuatu yang terjadi.

“Kalian bertengkar?” wanita itu melanjutkan. “Ada apa dan

kenapa murung?”

“Hm,” Beng Tan melepaskan dirinya dari pelukan sang

isteri. “Aku capai, nio-cu. Biarlah aku istirahat dulu dan Han

Han rupanya juga capai,” dan memandang puteranya

pendekar ini berkata, “Tinggalkan kami, Han Han. Istirahatlah

dan kembali ke kamarmu.”

Han Han mengangguk. Sang ibu memberi ciuman dulu

sebelum pemuda itu berkelebat. Han Han tergetar sejenak

oleh kasih dan sikap ibunya ini. Sejak dulu ibunya selalu

begitu, memberi cium sayang di pipi, meskipun dia kini sudah

dewasa dan berusia duapuluhan tahun! Tapi ketika pemuda

itu meninggalkan ayah ibunya dan Beng Tan mengajak

isterinya ke kamar maka pendekar ini mendesah melempar

tubuh di pembaringan.

“Sesuatu yang hebat terjadi. Pesta di tempat Tek-wangwe

kacau!”

“Kacau?” sang isteri tertegun. “Maksudmu ada orang jahat

di sana, suamiku? Dan kau bersama Beng Han

menghajarnya?”

“Hm, benar. Tapi aku melihat sesuatu yang

mengkhawatirkan di. diri anak kita itu. Han Han hampir

membunuh orang, kejam dan dingin!”

“Ceritakan padaku!” sang isteri terkejut. “Bagaimana bisa

begitu, suamiku. Dan apa yang terjadi?”

“Kau kenal Huang-ho Coa-li? Kau kenal Pat-jiu Sian-ong?

Kau dengar nama-nama Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai?”

“Ah, Huang-ho Coa-li wanita iblis. Sedang Pat-jiu Sian-ong

maupun Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai adalah orang-orang aneh

yang berkepandaian tinggi! Apakah kau bentrok dengannya?”

“Hm, Han Han telah berkenalan dengan mereka,

isteriku. Dan tiga di antaranya dihajar habis-habisan. Anak kita

itu telah menanam bibit permusuhan, meskipun dia tidak

salah!”

Swi Cu pucat. Mendengar suaminya bercerita itu tiba-tiba

dia minta diteruskan, bagaimana hal itu bisa terjadi dan

siapakah tiga yang telah menjadi korban itu. Dan ketika Beng

Tan mulai bercerita selengkapnya dan apa yang terjadi

diceritakan kepada sang isteri maka Swi Cu tertegun dan

berkali-kali mengeluarkan seruan tertahan.

“Sing Kok, murid Pat-jiu Sian-ong itu dipukul roboh. Dan

Toa-sin-kai serta Ji-sin-kaipun dihajar keras oleh Han Han. Aku

ngeri melihat sepak terjang anak kita itu, Cu-moi. Aku melihat

betapa ganas dan kejamnya putera kita itu, kalau sudah

dibuat marah!”

“Hm, persis siapa? Apakah Si Golok Maut?”

Beng Tan tertegun. Sang isteri menangis dan menahan

sedu-sedan. Tiba-tiba cerita dari suaminya itu membuat

wanita ini kembali membenci Han Han. Kasih dan sayangnya

yang tadi ada tiba-tiba musnah kembali, terganti kemarahan

dan kebencian karena semua cerita itu dibayangkannya

sebagai perbuatan mendiang Si Golok Maut Sin Hauw, yang

memang kejam dan tak mengenal ampun kepada musuh. Tapi

ketika Beng Tan teringat dan sadar akan itu, sikap isterinya

yang tidak wajar kepada Han Han maka pendekar ini batukbatuk

dan buru-buru meralat, memperbaiki.

“Maaf, kau jangan menuduhnya seperti itu, Cu-moi.

Betapapun Han Han tidak salah karena musuh selalu

mendahuluinya. Aku pribadi tak menyalahkan puteraku itu

karena orang lainlah yang lebih dulu berbuat tidak baik!”

“Tapi kau sendiri bilang Han Han membalas tanpa ampun.

Sekali tangkis membuat Huang-ho Coa-li mencelat dan Ji-sinkaipun

roboh pingsan!”

“Benar, tapi… ah, mungkin itu dikarenakan Han Han belum

mampu mengukur tenaga, Cu-moi. Dia belum biasa

mengendalikan sinkangnya!”

“Tapi dia sudah sering berlatih denganmu. Tentunya dia

dapat mengatur sin-kangnya itu dan tidak terlalu kejam!”

“Hm, Ji-sin-kai ataupun Huang-ho Coa-li tentunya tak

sekuat aku, Cu-moi. Kebiasaan Han Han menghadapi aku

terbawa dalam tangkisannya ketika menghadapi kakek

pengemis itu dan Huang-ho Coa-li. Dan tentu saja lain. Aku

masih dapat menerima itu!”

Sang isteri tertegun. Akhirnya Swi Cu mau juga mendengar

kata-kata suaminya ini, bahwa mungkin kebiasaan berlatih

Han Hari dengan ayahnya terbawa ketika menghadapi Huangho

Coa-li dan Ji-sin-kai itu, yang tentu saja memang tak

sekuat suaminya. Dan ketika Beng Tan membujuk lagi bahwa

semuanya itu adalah kesalahan musuh, yang bersikap

sombong dan tak tahu diri maka pendekar ini menutup.

“Betapapun Han Han tak memiliki kekejaman itu, kalau

musuh tak mendahului. Ingat saja dirimu atau diriku, Cu-moi

Tentu juga tak akan marah-marah atau sampai bertangan

kejam kalau musuh tidak kelewatan. Sudahlah, aku hanya

melapor saja dan tak perlu kau marah-marah kepada Han

Han!”

“Aku hanya marah kepada kekejamannya itu. Aku marah

karena dia seperti Sin Hauw!”

“Hm, tak baik membawa-bawa orang yang sudah mati, Cumoi.

Sin Hauw sudah tiada dan tak perlu kita mengingatingatnya

kembali…”

“Tapi Han Han seperti dia. Aku jadi benci dan takut!”

“Ah, semua orang yang diserang orang lain tentu marah

dan dapat berbuat kejam, isteriku. Tak perlu kau membesarbesarkan.

Sudahlah, dia tetap anakmu dan tak boleh kau

membencinya!”

Swi Cu menangis. Akhirnya dia menubruk dan dipeluk

suaminya itu. Beng Tan menghibur dan berkata bahwa besok

dia akan membawa anak-anak murid Hek-yan-pang untuk

memperbaiki apa yang telah rusak di tempat Tek-wangwe.

Dan ketika malam itu Swi Cu mereda dan tidak membenci

puteranya lagi, sang suami telah memperingatkan dia untuk

membuang kenangan Si Golok Maut maka keesokannya

wanita ini telah normal kembali dan tidak menaruh perasaan

tidak senang kepada puteranya itu. Betapapun Han Han

adalah puteranya dan suaminya benar. Anak itu tak bersalah.

Yang keterlaluan adalah Ji-sin-kai dan lain-lainnya itu. Tapi

ketika perasaan Swi Cu sudah pulih dan dia dapat memandang

lagi puteranya dengan senyum, ketika suami pergi ke tempat

Tek-wangwe mendadak suatu yang mengejutkan kembali

mengguncang wanita ini, ketika pagi itu puteranya

menghadap.

“Ibu…” Han Han agak ragu. “Bolehkah aku minta sesuatu

dan maaf dari ibu?”

“Hm, apa yang kau minta, Han Han? Dan kenapa maaf?”

“Mungkin ibu marah kepadaku atas sepak terjangku di

tempat Tek-wangwe kemarin. Aku hanya membela diri,

mereka terlalu mendesak dan sombong….”

“Aku tahu,” sang ibu memotong, merangkul puteranya ini.

“Ji-sin-kai dan lain-lainnya itu patut dihajar, Han Han. Tapi lain

kali jangan terlampau kejam. Ibu kurang suka. Kau harus

lemah lembut seperti ayahmu, jangan telengas!”

Han Han merah mukanya. “Aku juga menyesal, tapi…. ah,

mereka tak tahu diri!”

“Sudahlah, apa maksudmu datang kemari? Apa yang

hendak kau minta dari ibumu?”

“Aku hendak meminta caping itu. Ibu sudah berjanji….”

“Han Han!” sang ibu tiba-tiba tersentak, kaget. “Kau… kau

mau apa dengari caping itu? Untuk apa kau mengingat-ingat

lagi benda terkutuk itu? Itu sudah kubuang, Han Han. Ibu tak

suka!”

Wajah pemuda ini tiba-tiba berubah. Han Han tampak

terkesiap dan kaget mendengar kata-kata ibunya itu, bentakan

yang serasa menggelegar di telinga dan tiba-tiba pemuda itu

undur selangkah. Swi Cu sendiri sampai kaget ketika tiba-tiba

dari sepasang mata anaknya itu menyambar sinar tajam bagai

seekor naga yang sedang mencorong. Hawa berkilat dan

mendirikan bulu roma mendadak membuat Swi Cu juga surut

undur selangkah. Ibu itu kaget dan ngeri sekali melihat sikap

puteranya. Begitu menyeramkan! Tapi ketika Han Han sadar

dan rupanya ingat bahwa yang ada di depannya itu adalah

ibunya, wanita yang selama ini mengasihi dan

membesarkannya tiba-tiba pemuda itu menunduk dan hilang

lah semua keganasan yang muncul mendadak itu, seperti

singa lapar yang siap menerkam korbannya.

“Ibu membuang caping itu? Ibu tidak bohong?”

Aneh sekali, Han Han tiba-tiba menangis. Swi Cu tertegun

melihat air mata mengalir di pipi puteranya itu dan tampak

betapa Han Han menahan duka atau perih yang sangat. Sang

ibu menjublak tapi segera berkata bahwa caping itu memang

sudah dibuang. Swi Cu tiba-tiba marah kenapa puteranya

menanyakan caping itu, mengingatkannya pada Si Golok

Maut. Dan ketika dia menegaskan marah bahwa Han Han tak

usah memikirkan barang itu lagi maka puteranya membalik

dan tersedak.

“Ibu kalau begitu tak menepati janji. Ibu merampas barang

milik orang lain!”

Swi Cu tertegun. Untuk kedua kalinya dia merasa heran

dan aneh melihat tingkah puteranya itu. Han Han terhuyung

dan melangkah pergi, menggigit bibir. Tampak jelas betapa

pemuda itu amat berduka seolah kehilangan harta karun yang

besar, padahal itu adalah sebuah caping bambu yang tak

berarti! Dan ketika Swi Cu mendelong dan mengawasi

puteranya maka Han Han lenyap memasuki kamarnya dan

sehari penuh pemuda ini tak muncul-muncul.

Swi Cu berdebar. Aneh dan luar biasa anaknya itu.

Mengecamnya sebagai orang yang tak menepati janji dan

dikata merampas pula. Betapa berani dan kerasnya, padahal

selama ini Han Han selalu lembut dan pendiam kepadanya,

patuh sebagaimana layaknya seorang anak kepada i-bunya.

Dan ketika Swi Cu tak nyaman dan malam itu suaminya juga

belum kembali maka dia menghampiri pintu kamar anaknya

dan mengetuk perlahan.

“Han Han, ibu ingin bicara!”

Tak ada jawaban. Swi Cu mengetuk lagi dan memanggil

nama anaknya itu.

Tak ada jawaban. Dan ketika tiga kali berturut-turut .dia

memanggil namun tak ada jawaban maka wanita ini marah

dan mendobrak pintu kamar, tahu bahwa anaknya itu ada di

dalam, terbukti dari tarikan napas yang naik turun secara

teratur. Tapi begitu wanita ini membentak dan siap memaki

puteranya, yang memang ada di dalam tiba-tiba Swi Cu

terbelalak dan menjerit mundur.

Han Han, puteranya itu, memang ada di dalam. Tapi bukan

dalam keadaan biasa melainkan justeru dalam keadaan luar

biasa. Karena begitu Swi Cu membentak dan mendobrak pintu

kamar maka dilihatnya puteranya itu berjungkir balik

mengatur napas dalam keadaan…. telanjang bulat.

“Aiihhh…!” wanita ini seketika menekap mulutnya sendiri.

Han Han yang siap dimaki dan disemprot tiba-tiba tak jadi

diapa-apakan. Anaknya itu berjungkir balik dengan tenang dan

sikapnya yang begitu bebas dan santai sungguh membuat

wanita ini tertegun. Kiranya Han Han bersamadhi sehari

penuh dengan caranya yang luar biasa itu, memusatkan

semua konsentrasi atau puncak perhatian pada alam samadhi

yang hening. Begitu heningnya hingga tak tahu meskipun

pintu kamar didobrak. Tanda betapa pemuda itu telah

mencapai titik tertinggi dari alam samadhinya yang

memuncak. Satu tanda bahwa Han Han telah memiliki

kekuatan sinkang atau tenaga sakti yang hebat sekali. Tapi

karena pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat dan Swi Cu

tak tahu puteranya dalam keadaan seperti itu maka tiba-tiba

saja wanita ini meloncat dan menutup pintu kamar lagi

dengan bantingan keras! “Brukk!”

Han Han tetap juga tak bergeming. Swi Cu tak mendengar

gerakan apa-apa di dalam tanda bahwa puteranya benarbenar

mencapai titik samadhi yang paling khusuk. Langit

ambrukpun kiranya pemuda itu akan tetap dalam keadaan

siulian-nya, sungguh luar biasa! Tapi teringat bahwa

puteranya itu bukan seorang anak-anak lagi melainkan sudah

seorang pemuda dewasa yang sempurna dan bertubuh

tegap dan mengagumkan maka wanita ini semburat merah

dan tersipu-sipu sendiri.

Swi Cu bukanlah wanita berbatin kotor. Wanita itu amatlah

bersih hingga tak pernah dia nyeleweng. Tapi melihat bentuk

tubuh puteranya dan betapa keadaan puteranya itu

mengingatkan dia akan sang suami tiba-tiba Swi Cu mengeluh

dan lari ke kamarnya.

Nafsu yang aneh tiba-tiba bergolak. Sehari dia ditinggalkan

suami dan tiba-tiba saja rasa rindu yang hebat menyerang.

Swi Cu menangis dan tiba-tiba mencengkeram dan meninjuninju

guling dengan marah. Tiba-tiba saja dia ingin suaminya

di situ dan ingin melampiaskan birahi. Aneh sekali. Dia

terangsang oleh tubuh puteranya sendiri! Dan ketika Swi Cu

menjerit dan meloncat bangun maka wanita itu mengamuk

dan menyerang apa saja. Piring dan gelas dibanting hancur.

Kursi dan meja akhirnya juga pecah berantakan. Tapi ketika

semuanya berhenti dan nafsu itu mengendor dengan

sendirinya maka Swi Cu mengguguk dan meremas-remas

rambut kepalanya sendiri.

“Terkutuk, bedebah jahanam. Masa aku harus terangsang

dan mencintai puteraku sendiri? Masa aku harus tergila-gila

dan mengingini tubuh anakku? Oh, siluman keparat. Pergi

kau, setan terkutuk. Enyahlah kau!” Swi Cu menangis, tergetar

dan ngeri oleh perasaannya sendiri dan dipanggil-panggillah

nama suaminya. Wanita ini ketakutan namun sang suami

belum juga pulang. Dan ketika malam semakin larut dan Swi

Cu lupa akan maksudnya semula memanggil puteranya maka

wanita itu kecapaian dan tertidur dengan tubuh dan mata

basah. Keringat dan air mata sama-sama bercucuran dari

tubuh wanita ini. Rasa khawatir dan berahi yang sudah padam

membuat Swi Cu tertekan, kelelahan. Dan ketika bulan sudah

condong ke barat dan wanita itu tertidur, pucat, maka

masuklah sesosok bayangan dari luar jendela.

Swi Cu tak tahu itu

dan sang bayanganpun

menutup daun jendela,

tenang dan berindap

memasuki kamar.

Langkahnya bagai seekor

kucing yang sama sekali

tak mengeluarkan

suara, begitu ringan dan

perlahan. Tapi ketika

lampu temaram di kamar

itu memperlihatkan Swi

Cu yang sedang tidur

dengan pakaian kusut, di

tepi pembaringan maka bayangan ini menahan napas melihat

sedikit paha Swi Cu tersingkap.

Namun bayangan itu tak berbuat lain. Dia menggerakkan

jarinya dan angin dingin berkesiur menyambar. Swi Cu yang

terlelap tiba-tiba tertotok, jatuh tak sadarkan diri. Dan ketika

wanita itu mengeluh dan sekejap membuka mata, kaget,

maka bayangan itu bergerak ke lemari dan mencari-cari

sesuatu, Swi Cu sendiri lalu roboh lagi dan lupa-lupa ingat

akan bayangan ini.

Siapa dia? Bukan lain Han Han. Apa yang dilakukan?

Mencari caping! Maka begitu dia bergerak menotok ibunya,

agar sang ibu tidak terbangun maka Han Han sudah membuka

lemari dan mencari-cari barang yang diinginkan itu. Pemuda

ini memasuki kamar setelah melihat ibunya kelelahan,

akhirnya sadar dari samadhi-nya dan mendengar bantingan

gelas atau cangkir-cangkir itu. Pemuda ini terkejut dan

melompat bangun, bergegas menyambar pakaiannya dan

berkelebat ke kamar ibunya itu. Mungkin ada musuh datang.

Han Han sudah bersiap-siap. Tapi ketika dilihatnya ibunya

menangis dan mengamuk sendirian, Han Han tak tahu

sebabnya maka pemuda itu tertegun dan mengintai di luar

kamar. Han Han mendengar ibunya memanggil-manggil sang

ayah, juga mendengar Swi Cu mengumpat-umpat Golok Maut.

Tapi karena nama itu disebut sekali dua saja dan Han Han

membelalakkan mata maka keinginan tahu pemuda ini

terpendam tak terjawab dan Han Han mulai merasa aneh akan

semuanya itu.

Sebenarnya, secara diam-diam, dia pernah mendengar juga

ayah atau ibunya berbicara tentang Si Golok Maut. Tokoh itu

sering disebut-sebut dan kalau bicara tentang ini tentu ibunya

tiba-tiba juga menangis, apalagi kalau menyebut-nyebut nama

Wi Hong, suci atau kakak seperguruan ibunya itu, jadi

termasuk supek-bo atau uwak guru perempuan baginya. Han

Han akhirnya tahu juga bahwa dia masih mempunyai seorang

supek-bo, suci dari i-bunya itu. Tapi karena pemuda ini

pendiam dan jarang bertanya maka Han Han menyimpan saja

semua keheranan dan berbagai pikiran yang mulai

berkecamuk di otaknya.

Mula-mula dia merasa heran bahwa beberapa murid Hekyan-

pang yang termasuk senior tak mau bicara tentang ini.

Kalau dia bertanya di mana supek-bonya itu dan kenapa tak

muncul di Hek-yan-pang maka murid-murid tertua tutup

mulut. Mereka hanya bilang suruh saja bertanya kepada

ibunya. Tapi ketika dia bertanya dan sang ibu menjawab

pendek bahwa supek-bonya itu tak ada lagi maka ditutup agar

dia tidak bertanya-tanya lagi.

“Memang ibumu mempunyai seorang saudara seperguruan

perempuan. Tapi sudahlah, suci ibumu itu tak diketahui di

mana rimbanya, Han Han. Dia orang a-neh dan agak

terganggu jiwanya. Mungkin dia sudah mati karena belasan

tahun tak jumpa lagi dengan ibumu.”

“Tapi ibu tak berusaha mencarinya? Kenapa begitu kejam?”

“Hm, dulu dia pernah mengacau di sini, Han Han. Dan ibu

hampir saja celaka Supek-bomu itu dapat berbuat aneh-aneh,

tidak waras. Tapi karena ayahmu dapat mengusirnya maka dia

akhirnya pergi dan sampai sekarang tidak kembali lagi. Ibu

enggan mencarinya, karena tentu bakal terjadi onar!”

“Kenapa dia mengacau, ibu? Apakah benar karena ibu

merampas kedudukannya sebagai ketua?”

“Han Han!” sang ibu menghardik. “Kau bicara apa ini? Ibu

tidak merampas, justeru ibu menyelamatkan Hek-yan-pang

karena supek-bomu itu gila!”

“Kenapa dia gila? Apa yang menjadi sebab?”

Swi Cu tertegun. “Han Han,” wanita ini tergetar. “Kenapa

hari ini kau banyak bicara? Bukankah selamanya kau tak

pernah mengusut dan mengusik-usik masa silam? Ibumu akan

berduka kalau kau bicara tentang itu. Sebaiknya tanya saja ayahmu

atau kau tak usah bertanya-tanya!”

Han Han diam, tak bertanya lagi. Memang dia pendiam

dan selanjutnya tak bertanya-tanya. Apa yang didengar dan

diketahui sedikit itu dipendam saja sebagai sesuatu yang kian

menumpuk-numpuk. Aneh, tiba-tiba dia ingin tahu di mana

dan bagaimana wajah supek-bonya itu. Ingin tahu dan

kasihan kepada supek-bonya yang dikata gila, tidak waras.

Kenapa gila? Kenapa tidak waras? Dan ketika suatu hari dia

berjalan-jalan sendiri dan menemukan caping itu, caping yang

menggetarkan hatinya maka Han Han seolah kenal caping itu

sudah lama, seolah merupakan bagian dari hidupnya!

Han Han tertegun. Waktu itu, merenung sendirian sambil

berjalan di belakang rumah tiba-tiba dua ekor katak

berlompatan berkejar-kejaran. Mereka rupanya katak-katak

yang kesiangan dan dua-duanya melompat-lompat lincah.

Katak yang di belakang mengeluarkan suara mengorok dan

Han Han berhenti, melihat katak itu akhirnya menerkam yang

di depan tapi tepat bersamaan dengan itu katak di depan

meloncat tinggi. Temannya terbawa tapi celaka mereka

melompati sumur dan tiba-tiba terjatuh ke bawah, tak sampai

menyeberang. Dan ketika Han Han melongok dan kasihan,

bermaksud mengeluarkan sepasang katak itu dari sumur yang

kering dan tak berair lagi maka dia melihat caping itu di lantai

dasar.

Han Han terkejut. Selamanya dia belum pernah melongok

karena sumur itu benda mati yang tak menarik lagi. Anakanak

murid Hek-yan-pang juga tak pernah menengok sumur

ini karena airnya sudah kering dan habis. Sumur itu adalah

sumur tua dan mati. Maka ketika secara kebetulan saja dia

melihat caping itu di bawah, gara-gara dua ekor katak yang

tercebur maka Han Han bergerak dan sudah memasuki lubang

sumur itu.

Sesuatu yang aneh menariknya begitu besar. Han Han tak

tahu bahwa itulah caping yang dulu dipakai mendiang Si Golok

Maut Sin Hauw, terlempar dan jatuh ketika bertanding secara

hebat dengan ayahnya, Beng Tan. Pertempuran yang begitu

dahsyat hingga dua hari dua malam dua orang itu tak ada

yang kalah atau menang. Dan ketika caping itu terlempar dan

duapuluh tahun tergeletak di dasar sumur tanpa ada yang

tahu atau mengusik maka hari itu Han Han menemukannya

secara kebetulan, gara-gara dua ekor katak yang terjatuh.

Han Han sudah mengambil caping ini dan melupakan dua

ekor katak itu sendiri. Dia bergerak dan melayang keluar,

mengenakan caping itu dan berseri-seri karena begitu pas di

kepalanya. Ah, bentuk kepalanya sesuai benar dengan pemilik

caping lama. Begitu enak dan nyaman dipakai! Tapi ketika

ibunya marah-marah dan menyerangnya gara-gara caping itu,

hal yang membuat Han Han tertegun maka perasaan tertarik

dan penasarannya a-kan caping itu membuat Han Han malam

itu bergerak memasuki kamar ibunya.

Pemuda ini tak tahu kenapa ibunya menangis dan

mengamuk sendirian. Dia tak tahu bahwa ibunya terguncang

melihat keadaannya tadi, samadhinya yang telanjang bulat itu,

karena Beng Tan tak pernah mengajarkan ilmu samadhi

seperti ini kepada puteranya. Dan ketika Han Han menunggu

dan melihat ibunya tertidur, kelelahan, maka niat untuk

mencari caping itu tiba-tiba bangkit dengan cepat.

Han Han tak percaya bahwa ibunya telah membuang

caping itu. Tidak, ibunya tak biasa untuk membuang barang

milik orang lain. Maka ketika saat yang ditunggu tiba dan Han

Han memasuki kamar ibunya, menotok agar ibunya tidak

bangun maka segera pemuda ini membuka lemari dan

mencari-cari benda itu. Dan benar saja, caping itu ada di

dalam! Han Han melihat caping ini ditempelkan ibunya di

dinding lemari, ditarik dan seketika berkesiurlah angin dingin

dari belakang. Tepat Han Han mengambil caping itu maka

tepat saat itu pula sesosok bayangan berkelebat

membentaknya. Han Han membelakangi orang ini dan terkejut

ketika sebuah serangan tiba-tiba menghantam. Dia tak

mendengar gerakan orang dan orang itupun tak melihat siapa

sebenarnya Han Han, karena kamar itu temaram dan Han Han

hanya memberikan pung gungnya. Tapi begitu Han Han

membalik dan menangkis pukulan ini, bentakan yang

dikenalnya sebagai suara ayahnya maka Han Han sudah

mengelak sekaligus melempar tubuh bergulingan. “Ayah…

dess!”

Dua-duanya terkejut. Penyerang itu, Beng Tan, memang

tak menyangka bahwa puteranyalah yang ada di dalam kamar

itu. Dia tadi berkelebat dan melihat jendela kamar isterinya

terbuka, terkejut dan berdebar serta curiga bahwa sesuatu

telah terjadi, apalagi ketika isi kamar itu berantakan dan Beng

Tan melihat sesosok bayangan membuka lemari pakaian. Beng

Tan baru saja datang dari tempat Tek-wangwe dan malam itu

terlambat pulang karena dia bertemu beberapa orang lainnya

lagi, di mana semuanya itu menunda waktu perjalanannya tapi

malam itu juga pendekar ini terus kembali, meskipun sudah

lewat tengah malam. Maka ketika dia melihat jendela isterinya

terbuka sementara meja kursi jungkir balik tak keruan maka

Beng Tan terkesiap dan segera menduga bahwa musuh yang

berbahaya datang, mencelakai isterinya dan dilihatnya

“musuh” itu mencari-cari sesuatu di dalam lemari. Beng Tan

tak tahan lagi dan dibentaklah bayangan itu serta diserangnya

dengan pukulan Pek-lui-ciang. Tapi ketika bayangan itu

memanggil namanya dan kiranya bukan lain adalah puteranya

sendiri, Han Han, maka pukulan yang sepenuh tenaga itu

cepat dikurangi dan akibatnya mereka sama-sama terbanting.

“Kau..?” Beng Tan melompat bangun dengan kaget,

terbelalak. “Apa yang kau lakukan di s ini, Han Han? Dan… dan

kenapa ibumu?”

Han Han tertegun. Dia tak segera menjawab dan sang ayah

tiba-tiba menotok membebaskan isterinya itu. Swi Cu memang

dalam pengaruh totokan karena diapun segera sadar begitu

mendengar ribut-ribut itu. Wanita ini terkejut karena ketika dia

sadar ternyata tubuhnya tak dapat digerakkan. Tapi begitu

suaminya membebaskan dan Swi Cu girang memanggil

perlahan maka wanita itu meloncat bangun dan tertegun

melihat Han Han ada di situ.

“Kau… ada apa di sini? Kenapa kau memasuki kamar

ibumu? Apa yang kau lakukan?”

“Maaf…” Han Han menunduk, tak dapat menyembunyikan

diri lagi. “Aku ke mari untuk mencari ini, ibu. Aku datang

untuk mengambil ini…”

“Astaga, caping itu lagi!” Swi Cu tiba-tiba membentak,

berkelebat dan merampas caping itu. “Kau terlalu dan kurang

ajar, Han Han. Kau tak pantas membuat ibumu malu seperti

ini. Terkutuk… plak-plak!” dan Han Han yang mendapat

tamparan dua kali di pipi kiri dan kanan akhirnya terhuyung

dan pucat memandang ibunya itu. Swi Cu tiba-tiba marah

sekali dan membanting caping itu, menginjak-injak. Tapi

sebelum ibunya itu berbuat terlalu jauh tiba-tiba Han Han

berkelebat dan menyambar caping itu, ibunya kalah cepat.

“Ibu, jangan kejam. Caping ini tak berdosa, dia punyaku!”

dan Swi Cu yang terdorong serta terhuyung kaget tiba-tiba

terbelalak merah memandang puteranya itu, beringas, mata

berapi-api.

“Kau mau menghina ibumu? Kau mau melawan ibumu?

Baik, lawanlah aku, Han Han. Bunuhlah ibumu dan coba kau

dorong aku lagi!” dan sang ibu yang berkelebat dan

menyerang puteranya lalu membentak dan memaki-maki Han

Han. Kaki dan tangannya bergerak naik turun dan Han Han

membiarkan ibunya menghajar dirinya kecuali caping itu.

Setiap ibunya mau merampas atau merebut kembali caping itu

selalu Han Han menyelamatkannya dengan baik. Pemuda ini

menggerakkan tangannya ke kiri dan kanan pula hingga

caping itu luput, sang ibu tak dapat merampas! Dan ketika

Han Han ditendangi dan suara bak-bik-buk pukulan dibiarkan

saja mendarat di tubuhnya maka Swi Cu melengking-lengking

tak dapat merebut caping di tangan puteranya itu.

“Han Han, berikan padaku, atau kau kubunuh!”

“Bunuhlah,” Han Han menggigit bibir. “Kau sewenangwenang

dan kejam, ibu. Kalau kau ingin merampas benda

milikku biarlah kau bunuh aku dulu dan aku tak akan

melawan!”

“Ah, terkutuk. Bedebah!” dan Swi Cu yang semakin marah

dan benci memandang puteranya lalu menyerang Han Han

dengan dua pukulan Pek-lui-ciang. Beng Tan sampai kaget

melihat isterinya sekalap itu, Han Han tak mengelak dan

membiarkan saja pukulan ibunya mendarat, padahal Swi Cu

menghantam sekuat tenaga. Dan ketika Beng Tan bergerak

dan menangkis pukulan itu, membentak isterinya maka Swi Cu

terpental tapi ibu yang marah itu masih melakukan tendangan

dari bawah menghantam dada puteranya.

“Dess!” Han Han terbanting dan terlempar roboh. Beng Tan

berteriak karena isterinya betul-betul mata gelap. Anak sendiri

sampai benar-benar tega mau dibunuh. Dia sudah menangkis

tapi tendangan dari bawah itu tentu saja luput dari perhatian,

akibatnya Beng Tan pucat dan berteriak akan keselamatan

puteranya itu. Han Han jelas tak mengerahkan sin-kang,

berarti, siap menerima kematian! Tapi ketika pendekar ini

berkelebat dan menolong puteranya, khawatir, ternyata Han

Han dapat bangkit berdiri dan tak apa-apa.

“Bocah keparat, bocah terkutuk!” sang isteri memaki-maki

geram. “Kau benar-benar membuat malu ibumu, Han Han.

Kau anak tak tahu diri. Aku akan benar-benar membunuhmu!”

“Sudahlah, tahan!” Beng Tan membentak, cepat berdiri

menengahi di tengah. “Kau kalap tak sewajarnya, Cu-moi. Kau

membingungkan aku dengan semuanya ini. Ada apa

sebenarnya dan kenapa Han Han lancang memasuki

kamarmu.”

“Aku hanya mau mengambil caping…”

“Aku sudah tahu,” sang ayah memotong. “Tapi ganjil dan

aneh sekali rasanya malam-malam begini kau ke sini, Han

Han. Kau seperti pencuri!”

“Ibu tak mau memberikannya kepadaku pagi tadi,” Han

Han menjawab, menunduk. “Aku memang salah, ayah. Dan

aku siap menerima hukuman, kematian sekalipun!”

“Hm!” sang ayah mencengkeram pundak puteranya.

“Bukan begitu bicara yang baik, Han Han. Kami adalah orang

tuamu, kau puteraku. Tak mungkin seorang ayah akan

membunuh anaknya!”

“Tapi ibu tadi betul-betul mau membunuhku…”

“Hm, ibumu khilaf, kalap. Sudahlah, kau boleh pergi kalau

betul-betul ingin mengambil barang milikmu, Han Han. Tapi

besok tunggu aku dan kita bicara!”

“Tidak!” Swi Cu tiba-tiba melengking. “Benda terkutuk itu

tak boleh di tangannya, suamiku. Berikan padaku dan biar kita

hancurkan!”

“Hm!” Beng Tan mencengkeram pundak sang isteri, ganti

menahan. “Kau juga salah, Cu-moi. Benda itu adalah milik Han

Han, dan apa yang dimiliki orang lain tentunya tak berhak kita

miliki. Dia anakmu, bukan musuh. Tenanglah dan biarkan dia

pergi!” dan berkedip agar Han Han cepat pergi, meninggalkan

ibunya yang marah bukan main maka Han Han menunduk dan

pedih meninggalkan kamar itu, tak terlihat bekas-bekas

pukulan tadi dan Beng Tan tiba-tiba teringat sesuatu,

berkelebat dan menahan Han Han sebentar untuk kemudian

dipencet punggungnya. Dan ketika pendekar ini merasakan

segumpal tenaga dahsyat menolak pencetannya, tertegun,

maka pendekar itu terbelalak memandang puteranya.

“Kau memiliki tenaga sakti yang bukan ajaran ayahmu! Eh,

dari mana kau dapatkan ini, Han Han? Apa yang telah terjadi

padamu?”

“Dia melatih sinkang dengan cara berjungkir balik!” sang

ibu tiba-tiba berseru, teringat. “Anak kita itu rupanya melatih

ilmu sinkang sesat, suamiku. Sungguh tak kunyana dan tak

kuduga kalau diam-diam dia belajar ilmu milik orang lain!”

“Hm-hm!” Beng Tan jadi tertegun-tegun, melebarkan

matanya memandang puteranya itu. “Kau melatih ilmu sesat,

Han Han? Tanpa sepengetahuan ayah ibumu?”

Han Han menunduk. “Ayah tentu lebih tahu apakah sinkang

yang kulatih itu ilmu sesat atau bukan. Kalau sesat barang kali

ibu tak akan bangun lagi sewaktu tadi memukulku.”

“Hm, luar biasa. Aneh, aku memang harus mengakui

kebenaran omonganmu. Baiklah, besok kita bicara, Han Han.

Dan sekarang tinggalkan kami karena aku ingin bicara dengan

ibumu!”

Han Han mengangguk. Sekilas dia melirik ibunya dengan

muka merah karena tadi ibunya berkata tentang cara berlatih

sinkangnya itu. Berarti ibunya tahu bahwa dia telanjang bulat.

Berarti, ah… ibunya telah mengintai. Atau, mungkin bahkan

masuk ke kamarnya karena waktu itu ia lupa mengunci pintu

kamar. Tapi ketika pemuda itu bergerak dan meninggalkan

ibunya maka Beng Tan menutup pintu itu dan kini pendekar

ini menghadapi isterinya, yang kelihatan “stress”.

“Ceritakan padaku semua asal mula ini. Kenapa isi kamar

jungkir balik dan bagaimana kau tahu Han Han bersamadhi

dengan caranya jungkir balik itu!”

“Aku… aku pagi tadi menolak permintaannya. Han Han

datang kepadaku dan bicara tentang caping itu. Aku marahmarah

dan bilang sudah kubuang!”

“Hm, kenapa begitu? Kau berjanji untuk menyimpannya,

Cu-moi, bukan untuk membuang atau menghancurkan. Dalam

hal ini aku terpaksa membela Han Han.”

“Ya, aku salah. Tapi… tapi aku benci caping itu, suamiku.

Itu mengingatkan aku kepada Sin Hauw! Aku benci Han Han

mengenakan caping!”

“Dan kau, bagaimana tahu puteramu melatih sinkang

berjungkir balik? Kapan kau melihatnya?”

“Aku… aku melihatnya secara kebetulan. Sejak Han Han

gagal mendapatkan caping itu maka sehari penuh dia

mengurung diri di kamar, bahkan sampai malam. Aku datang

untuk mengajaknya makan, membuang sepiku karena kau

belum kembali. Tapi ketika aku memasuki kamar itu tiba-tiba

saja…. tiba-tiba saja…”

“Tiba-tiba apa?” sang suami tertegun, melihat isterinya

pucat dan menggigil. “Kau melihatnya berjungkir balik itu?”

“Ya, tapi… tapi bukan hanya itu, suamiku. Melainkan Han

Han telanjang bulat dan mengatur napasnya naik turun!”

“Telanjang bulat?” Beng Tan terkejut. “Dia berlatih s inkang

dengan cara demikian aneh? Dan kau masuk saja tanpa

memberi tahu?”

“Tidak… tidak. Aku memanggilnya berulang-ulang tapi

ketika tetap saja tak ada jawaban maka aku mendobrak pintu

kamarnya itu dan siap memaki. Namun anak itu bersamadhi

seperti patung, pintu dibantingpun tidak terdengar!”

“Hm, tanda betapa tinggi dan khusuknya dia berlatih…”

“Benar, dan aku terkejut, suamiku. Baru kali itu kita orang

tuanya tahu!”

“Dan kau, mengapa lalu membanting-bantingi meja kursi

ini? Kenapa mengamuk sendirian di kamar?”

“Aku marah kepadanya, juga kepadamu kenapa tak segera

pulang. Dan… dan karena aku benci caping itu maka aku

marah-marah tanpa sebab dan Han Han datang ke mari

mencari barang miliknya!”

“Hm!” Beng Tan tentu saja tak tahu apa yang

disembunyikan isterinya itu, tak mungkin Swi Cu harus

berterus terang bahwa dia marah-marah karena terangsang

melihat Han Han telanjang, hal yang tentu saja membuatnya

malu dan jengah karena itu tak pantas. Wanita ini tak tahu

bahwa sesungguhnya Han Han bukanlah puteranya. Han Han

adalah putera Si Golok Maut Sin Hauw yang ditukar oleh

encinya Wi Hong dulu. Jadi, tak aneh kalau wanita itu tergetar

dan terangsang oleh lawan jenis yang bukan darah dagingnya

sendiri karena Han Han adalah tiruan Sin Hauw. Melihat Han

Han sebenarnya sama dengan melihat Si Golok Maut Sin Hauw

itu, waktu masih muda. Maka ketika Swi Cu tergetar oleh

birahi tapi hal itu tentu saja tak dikatakannya kepada sang

suami maka Beng Tan mengangguk-angguk dan diam-diam

heran serta kaget bahwa puteranya itu memang memiliki

sinkang yang di luar pengetahuannya. Tadi puteranya itu

sudah ditendang dan tendangan maut yang tidak ditangkis

Han Han itu dapat berakibat fatal Setidak-tidaknya, Han Han

bisa muntah darah dan patah sebuah atau dua tulang iganya.

Tapi ketika pemuda itu tak apa-apa dan Beng Tan merasa

adanya tenaga tolak yang seperti karet, yang tadi menolak

dan mementalkan tendangan isterinya maka malam itu Beng

Tan menghibur isterinya dan mengajak tidur. Malam itu dia

bercerita bahwa beberapa orang ditemuinya di tengah jalai,

bercakap-cakap dan menunda perjalanannya. Dan ketika sang

isteri tenang dan dapat dibujuk, tertidur di pelukannya maka

keesokannya pendekar ini memanggil puteranya di serambi

depan, Swi Cu tak dibawa.

“Kau ceritakan kepadaku bagaimana kau demikian tergilagila

dengan caping bambu itu, sampai kau tak segan

bertengkar dengan ibumu. Dan dari mana pula kau dapatkan

cara berlatih sinkang yang aneh itu!”

Han Han menunduk. Pagi itu, dengan wajah kuyu dan

sendu pemuda ini menghadap. Seperti biasanya, Han Han

berbaju putih dan membiarkan saja kelebihan ujung bajunya

yang menyembunyikan kesepuluh jari-jari tangannya yang

kokoh itu. Pemuda ini menunduk dan tidak segera menjawab.

Tapi ketika dia ditanya lagi dan memang dengan ayahnya

inilah dia merasa dekat dan lebih disayang, karena Beng Tan

tak pernah marah-marah kepadanya maka pemuda itu

menarik napas dan menekan debaran jantungnya.

“Aku tak tahu bagaimana aku demikian senang dan suka

dengan caping itu, ayah. Tapi aku merasa seakan caping itu

adalah bagian dari hidupku. Caping itu bagus, demikian

penglihatanku. Dan aku suka kepadanya. Aku merasa bahwa

barang ini seolah milikku sendiri yang hilang.'”

“Hm, dan cara melatih sinkang dengan berjungkir balik

itu?”

“Aku mendapatkannya dari sebuah kitab kecil…”

“Apa? Sebuah kitab?”

“Ya, sebuah kitab, ayah. Aku coba-coba melatihnya dan

merasa cocok. Aku merasa aliran darahku bertambah lancar

dan sehat. Aku merasa sesuatu yang enak dan nyaman.”

“Hm, kitab apa itu? Dari mana?”

Han Han ragu. “Ayah akan merampasnya pula?”

Beng Tan merah. “Kalau itu kitab yang baik tentu tak perlu

aku merampasnya, Han Han. Tapi kalau kitab itu berisi

pelajaran-pelajaran sesat tentunya kau sendiri harus

membuangnya!”

“Tidak, kitab ini hanya berisi pelajaran s inkang, ayah. Tidak

ada pelajaran lain!”

“Dari mana kau dapatkan itu!”

“Dari sumur tua, di belakang rumah”

“Hm, bersama caping itu juga?”

Han Han mengangguk.

“Ke mari, berikan padaku, Han Han. Coba aku melihatnya!”

dan Han Han yang mengambil sebuah kitab dari balik sakunya

lalu tanpa ragu memberikannya kepada ayahnya. Ayahnya

memang lain dengan ibunya. Ayannya ini lebih penyabar dan

penuh sayang, sudah berapa kali dibuktikannya bahwa kalau

ibunya marah-marah maka ayahnya inilah yang maju

membela. Maka begitu sang ayah meminta dan Han Han

memberikan maka kitab kecil itu sudah diterima Beng Tan.

Tapi begitu Beng Tan membuka dan mempelajari isinya tibatiba

pendekar ini mencelat dan berseru tertahan.

“Pelajaran dari Si Golok Maut!”

Han Han terkejut. Dia melihat ayahnya terguncang dan

tampak betapa wajah ayahnya itu berubah-ubah. Beng Tan

meng gigil dan pucat serta merah berganti-ganti. Pendekar itu

terkejut bukan main. Tapi ketika dia sadar dan Han Han

bangkit berdiri maka kitab itu tiba-tiba dibanting.

“Han Han, ini kitab yang tak baik bagimu. Ah, dari seorang

gila. Kau tak boleh mempelajarinya dan jangan berlatih lagi!”

kitab tiba-tiba hancur, remuk menjadi serpihan-serpihan kecil

dan Han Han kaget bukan main. Ayahnya itu tak menepati

janji dan sekarang merusak barang miliknya begitu saja.

Tanpa ijin! Dan ketika pemuda ini pucat dan gemetar

membelalakkan mata maka Beng Tan tiba-tiba beringas dan

memandang puteranya itu, sinar matanya bagaikan api!

“Apa lagi yang kau dapatkan selain ini. Apa lagi yang kau

simpan!”

“Tidak ada…” Han Han menggigil dan lemah menjawab.

“Aku tak menyimpan a-pa-apa lagi, ayah. Tapi… tapi kenapa

kau menghancurkannya!”

“Itu milik Si Golok Maut. Itu milik orang gila. Kalau benar

kau tak mendapat apa-apa lagi coba bawa aku ke sumur tua

itu… wut!” dan Beng Tan yang menyambar serta menarik

puteranya lalu berkelebat dan menuju belakang rumah. Han

Han telah berkata bahwa kitab itu ditemukan di belakang

rumah, di sumur tua itu. Kini Beng Tan ingin menyelidiki dan

tahu lebih jauh. Dan ketika mereka tiba di sumur tua itu dan

Han Han menuding maka pemuda ini berkata bahwa kitab itu

didapat di bawah, di dasar sumur. Sang ayah tak bertanya lagi

karena tiba-tiba bergerak dan sudah lenyap memasuki sumur

tua itu. Beng Tan berkelebat dan hilang di dalam. Dan ketika

Han Han menunggu dan sang ayah mencari-cari maka ketua

Hek-yan-pang itu keluar lagi dengan menjepit sepasang katak

jantan dan betina.

“Tak ada apa-apa lagi, hanya ini!”

Han Han tertegun. Teringatlah dia akan sepasang katak

yang berkejar-kejaran itu, kini ayahnya membawa naik dan

itulah katak yang dulu menjadi gara-gara hingga dia

menemukan caping dan kitab berlatih sinkang, yang kata

ayahnya adalah milik Si Golok Maut. Dan karena dia sudah

mulai sering mendengar nama ini disebut-sebut sementara

anak-anak murid Hek-yan-pang tak berani

mempercakapkannya setiap ditanya maka begitu ayahnya

keluar segera pemuda ini menghampiri, ayahnya sudah

melempar sepasang katak itu namun binatang-binatang ini

kembali lagi dan…. lenyap ke sumur. Rupa nya sudah kerasan!

“Ayah, siapa sebenarnya Si Golok Maut itu? Kenapa berkalikali

kau membicarakannya?”

“Hm, dia… dia musuh ayahmu yang paling lihai, Han Han.

Seorang gagah tapi dipenuhi dendam yang membuatnya gila.

Dia pernah bertanding di s ini dan sekarang aku ingat apa yang

terjadi. Kiranya, caping yang kau dapatkan itupun adalah

miliknya!”

Han Han terkejut. “Miliknya?”

“Ya, tak salah. Benda itu asli miliknya, Han Han. Itu milik Si

Golok Maut. Dan kitab itu, hmm… rupanya terjatuh setelah

pertandingan kami yang dua hari dua malam!”

“Hebatkah dia? Betul-betul saktikah dia hingga ayah tak

mampu merobohkannya?”

“Hm, Golok Maut tokoh yang luar biasa, Han Han. Dia

memang hebat dan sakti. Tapi diapun tak mampu

mengalahkan ayahmu. Kami seri!”

“Kalau begitu ceritakan padaku kenapa ayah bermusuhan

dengannya. Dan bagaimana dia tewas! Benarkah dikeroyok

ribuan orang pasukan kerajaan?”

“Kau sudah tahu?”

”Sebagian saja, ayah. Tapi tidak lengkap. Aku ingin tahu

dan apa saja yang pernah terjadi antara ayah dengannya!”

“Hm, aku tak ingin bercerita. Kisah itu membawa kenangan

yang buruk. Sudahlah, aku tak ingin kau tahu tentang tokoh

ini, Han Han. Dan sekarang aku tahu pula bahwa caping yang

kau dapatkan itu adalah miliknya. Buang benda itu dan jangan

pelajari pula ilmu sinkangnya itu!”

“Tidak!” Han Han tiba-tiba pucat. ”Aku… aku tak merasa

apa-apa dengan semuanya itu, ayah. Aku tak merasa bahwa

ilmu yang kupelajari adalah sesat. Dan… dan sesungguhnya

aku menaruh kagum kepada tokoh ini. Aku ingin tahu tentang

dia lebih banyak!”

“Apa?” sang ayah melotot. “Kau menga gumi orang gila itu?

Kau tidak mau mendengarkan kata-kata ayahmu?”

“Maaf, aku.. aku tak dapat melaksanakan kata-katamu itu,

ayah. Kalaupun kau memaksa maka hati ini yang tak dapat

ditundukkan. Ayah telah menghancurkan kitab yang

kutemukan itu, dan sekarang ayah ingin aku membuang

caping itu. Salah apakah aku hingga kau bersikap kejam,

ayah? Kenapa tiba-tiba kaupun sama dengan ibu?”

“Eh, aku tak mau banyak berdebat, Han Han. Aku tak mau

menjawab semuanya itu. Yang jelas, aku tak ingin kau

ketularan penyakitnya. Buang caping itu dan jangan sekali-kali

memakainya. Atau aku akan menghajarmu dan terpaksa

memberimu adat!”

“Ayah…!”

“Tidak, juga tentang ilmu berlatih sin-kang itu, Han Han.

Kalau kau melatihnya maka aku tak mau menganggap kau

sebagai puteraku lagi!”

Han Han pucat. Pemuda itu tiba-tiba menggigil hebat dan

sang ayah tak tanggung-tanggung. Selain melarang dia

menyimpan caping itu juga melarang dia melatih sinkang dari

kitab yang sudah dihancurkan ayahnya tadi. Han Han tiba-tiba

tak tahan dan air matapun bercucuran. Ayahnya begitu

bengis dan keras sekarang, padahal belum pernah sikap itu

selama ini diperlihatkan. Dan ketika Beng Tan tertegun dan

tak tahan melihat puteranya menangis, hal yang luar biasa

sekali maka tiba-tiba sang ayah ini berkelebat dan pergi

meninggalkan puteranya itu. Han Han telah diancam untuk

membuang semua benda-benda yang pernah dimiliki Si Golok

Maut. Han Han telah disuruh pula untuk tidak menyimpan

caping itu. Padahal sekarang Han Han justeru semakin ingin

mempertahankannya setelah tahu bahwa itulah benda milik

seorang tokoh yang dikaguminya, tokoh yang menarik

namun sayang selama ini tak pernah dia dengar ceritanya.

Yang ada hanyalah cerita sepotong-sepotong dan itu tentu

saja tak memuaskan. Dan ketika sang ayah pergi dengan

marah dan baru kali itu Han Han diancam untuk tidak diakui

sebagai anak, pukulan yang amat berat tiba-tiba Han Han

mengeluh dan roboh terguling.

Selanjutnya pemuda ini menangis tersedu-sedu dan

timbullah penasaran serta kecewanya yang amat hebat.

Kenapa ayahnya sebengis itu dan kejam, tak mengenal

ampun? Apa salahnya hingga kitab dan caping harus

dihancurkan? Dan ketika ayahnya tadi berkata bahwa besok

caping itu sudah harus dimusnahkan, di depan ayahnya, tibatiba

pemuda ini mengguguk dan orang akan terkejut kalau

melihat betapa pemuda yang biasanya pendiam dan amat

tenang ini sekonyong-konyong berobah seperti anak kecil

yang tidak punya pegangan.

Han Han tersedu dan menutupi mukanya dengan air mata

bercucuran. Pemuda itu terpukul hebat oleh ancaman

ayahnya. Namun ketika dia bangkit berdiri dan wajah yang

seram tiba-tiba menggantikan kedukaannya tiba-tiba Han Han

berkelebat dan pergi meninggalkan sumur tua itu.

Semalam dia dibenci dan dimarahi ibunya, nyaris dibunuh.

Dan ketika sekarang ayahnyapun kehilangan kasih sayang dan

bersikap kejam, hal yang tak dimengerti pemuda ini tiba-tiba

kekecewaan berobah menjadi rasa marah yang luar biasa.

Beng Tan tak tahu bahwa Han Han adalah keturunan Si

Golok Maut. Watak dan pembawaan Si Golok Maut tentu saja

menurun pada pemuda ini, karena Han Han sebenarnya

adalah Giam Liong, Si Naga Maut atau Naga Pembunuh yang

kelak menggegerkan dunia kang-ouw, jauh lebih

menggegerkan daripada sepak terjang ayahnya dulu. Maka

begitu dia diancam untuk tidak diakui anak, kalau tetap

mempertahankan caping dan ilmu sinkang itu tiba-tiba “jiwa

pemberontak” yang mudah berkobar di hati pemuda ini

sekonyong-konyong bangkit dan menerima tantangan!

Han Han tak takut dan merasa ayahnya bersikap terlalu.

Semalampun dia rela dibunuh ibunya gara-gara

mempertahankan caping itu, yang sebenarnya adalah barang

milik mendiang ayahnya dan tentu saja getaran gaib yang ada

antara ayah dan anak bekerja. Beng Tan tak tahu semuanya

itu karena memang tak menduga.

Pendekar itu tak menyangka bahwa “puteranya” ini

bukanlah puteranya. Anaknya sendiri, anak kandung, telah

ditukar oleh Wi Hong dan dibawa lari. Semua itu tak diketahui

Beng Tan dan tentu saja dia tak tahu bahwa watak

pendendam dan mudah marah ada pada puteranya ini. Kalau

Han Han sudah ditantang maka setan-pun akan dia lawan.

Jangankan orang tua, iblispun dia tak gentar! Maka begitu

diancam dan Han Han merasa tak bersalah, ayah dan ibunya

dianggap terlalu maka malam harinya, setelah sehari penuh

dia menutup pintu kamar tiba-tiba pemuda ini bergerak dan

meluncur membelah telaga.

Siang tadi sudah dipikirnya untuk pergi namun anak-anak

murid Hek-yan-pang pasti mengetahuinya. Dia ingin pergi

secara diam-diam dan untuk itu ditunggunya sampai malam

tiba. Dan ketika malam datang dan dia sudah menyiapkan

semua buntalannya, pakaian dan roti-roti kering maka pemuda

itu berkelebat dan membuka pintu kamarnya. Han Han tak

mau lewat depan karena ayah ibunya mungkin tahu.

Karena itu begitu ia menutup pintu kamarnya kembali dan

melesat ke kiri, ke samping rumah maka pemuda ini sudah

bergerak dan menuju telaga.

Hek-yan-pang, sebagaimana diketahui, adalah markas

perkumpulan yang berada di tengah sebuah telaga.

Perkumpulan itu dikelilingi air telaga yang tak pernah surut

dan untuk masuk keluar tentu saja harus mempergunakan

perahu. Tapi ketika Han Han berada di sini dan melepas

sepatunya, melempar dan mempergunakan itu sebagai perahu

maka “perahu” aneh yang dipergunakan pemuda ini sudah

meluncur dan bergerak tanpa suara!

Itulah demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sudah

mencapai tingkat tinggi. Swi Cu, ibunya sendiri, masih belum

berani melakukan seperti apa yang dilakukan pemuda ini.

Yang dipergunakan wanita itu adalah batang pisang, karena

batang pisang mampu mengapung dan tinggal dikemudikan

saja, meskipun tentu saja harus memiliki ilmu meringankan

tubuh karena tanpa itu tentu batang pisang tak akan meluncur

dengan cepat. Perahu sendiri akan kalah cepat kalau diadu lari

dengan wanita itu. Tapi Han Han yang mampu

mempergunakan sepasang sepatunya untuk bergerak dan

membelah telaga tentu bakal membuat bengong anak-anak

murid yang melihatnya, karena hal itu hanya ketualah yang

mampu mengimbangi. Dan Han Han memang sudah setingkat

dengan ayahnya!

Ada dua hal mengapa pemuda itu tidak mempergunakan

perahu. Pertama, kalau dia mengambil, tentu perahu yang

hilang akan segera diketahui anak-anak murid yang berjaga,

karena betapapun tepian telaga hampir penuh oleh anak-anak

murid yang berjaga. Kedua, karena perahu tentu akan

menimbulkan suara beriak, hal yang tak dikehendaki Han Han

maka jadilah pemuda itu mempergunakan sepasang

sepatunya sendiri untuk bergerak dan meluncur di tengah

telaga. Dengan begini dia dapat meninggalkan pulau tanpa

suara. Perahu aneh yang ditungganginya itu memang nyaris

tak beriak. Han Han telah mempergunakan seluruh ilmu

meringankan tubuhnya agar sama sekali tak menerbitkan

suara. Han Han ibarat sebuah daun kering yang menempel di

atas sepatu itu, ditiup atau didorong oleh angin yang bergerak

hingga mendorongnya maju. Dan ketika pemuda itu tiba di

daratan seberang tapi tetap tak berani gegabah untuk

mengeluarkan suara maka begitu pemuda ini menendang

sepatunya ke atas maka sambil berjungkir balik mengejar

sepatu itu pemuda ini sudah mengenakannya di udara. “Cepcep!”

Sepatu itu telah melekat di kedua kaki dengan cara luar

biasa. Han Han telah melayang turun dan hinggap di tanah

dengan kedua sepatu seperti semula. Kakinya terbungkus

rapat, tanpa salah! Dan ketika pemuda itu bergerak dan

menyelinap menerobos perumahan di luar telaga, yang ratarata

dihuni anak-anak murid lelaki maka pemuda itu sudah

terbang dan meninggalkan Hek-yan-pang, seperti siluman!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan terkejutnya ayah

ibunya di dalam. Beng Tan yang tak menyangka puteranya

akan pergi tiba-tiba tertegun melihat sepucuk surat yang

ditinggalkan. Han Han memang meninggalkan sepucuk surat

untuk ayah ibunya itu. Dia berkata bahwa lebih baik dia pergi

daripada ayah ibunya sudah tak memiliki kasih sayang lagi.

Dia akan mempertahankan caping yang dipertengkarkan

dengan taruhan nyawa. Biarlah ayahnya tak mengakuinya

anak karena ayahnya itu memang sudah kehilangan kasih

sayang. Han Han telah menunjukkan jiwa mudanya yang

bergemuruh. Sang ayah terpaku. Han Han minggat! Tapi

ketika Swi Cu menjerit dan menyobek-nyobek surat itu,

memaki-maki puteranya tiba-tiba ibu yang ikut terpukul ini

mengguguk dan membanting-banting kakinya.

“Han Han, kau tak pantas sebagai putera ayah ibumu. Kau

lebih pantas sebagai putera Sin Hauw! Ah, jahanam terkutuk

kau, anak keparat. Tak tahu diuntung dan dibaiki orang tua.

Biarlah… biar kau minggat karena kasih sayang itu memang

tak ada lagi di hatiku!”

“Tidak,” Beng Tan tiba-tiba terkejut, sadar. “Kau… kau

tak boleh bicara seperti itu, Cu-moi. Han Han adalah anak kita

satu-satunya. Dia darah daging kita, anak tunggal. Aku harus

menyusul dan menyuruhnya kembali!”

“Kau mau menjilat ludahmu sendiri?” sang isteri

melengking, menyambar ujung baju suami. “Kau mau tak

dihargai anak itu? Tidak, biarkan ia sendiri, suamiku. Dan lihat

siapa yang harus tunduk. Aku jadi benci kalau anak sudah tak

mau dinasihati orang tua. Biarkan dia, lepaskan saja!”

“Ah, kau tak khawatir akan sepak terjangnya di luar? Kau

benar-benar tak memiliki kasih sayang seorang ibu?”

“Aku tak perlu bohong kepada diriku sendiri, suamiku. Han

Han tak mirip dirimu, la mirip Sin Hauw. Aku… aku melihatnya

sebagai Sin Hauw. Aku benci anakku itu!” dan Swi Cu yang

menangis serta menubruk suaminya lalu tersedu-sedu

menceritakan perasaan hatinya yang tak keruan. Betapa dia

sudah tak memiliki kasih sayang lagi sebagaimana layaknya

seorang ibu. Betapa dia membenci puteranya itu setelah Han

Han menemukan caping Sin, Hauw. Mendiang Si Golok Maut

itu rupanya menurunkan musibah kepada mereka. Tokoh yang

amat pendendam itu rupanya masih mau mengganggu

mereka lewat Han Han. Maka ketika Swi Cu menangis dan

memaki-maki pula Si Golok Maut itu tiba-tiba suaminya

menggigil dan mencengkeram lengannya.

“Cu-moi, orang yang sudah mati tak perlu diungkit-ungkit

lagi. Kau tak perlu memaki-maki. Diamlah dan jangan

membuat aku bingung!”

“Siapa yang lebih bingung? Kau atau aku? Akupun juga

bingung, suamiku. Kenapa Sin Hauw masih mengejar-ngejar

kita dari alam baka. Padahal kita sama sekali tak

mengganggunya dan bahkan menghormatinya. Ah, kalau aku

bertemu dengannya di alam baka tentu akan kulabrak dan

kumaki-maki dia di sana!”

“Sudahlah, sudah… aku bingung bukan karena Sin Hauw.

Aku bingung akan anak kita itu. Aku bingung akan Han Han.

Aku telah bersikap terlalu keras dan kejam…”

“Siapa bilang? Kau sudah benar, suamiku. Han Han tak

layak menyimpan atau memakai caping itu. Itu benda terkutuk

milik Si Golok Maut. Nanti dia kena tulah dan dosa-dosanya.

Kalau dia tak mau menuruti omongan orang-orang tua biarlah

dia mendapat celaka di sana!”

“Hush, kau mengutuk anak sendiri? Kau mendoakannya

jelek di perjalanan?”

“Biar, suamiku. Biar. Aku tak perduli. Han Han tak menurut

pada kita dan membuat sakit ayah ibunya!”

“Tapi dia anak tunggal, anak semata wayang…”

“Aku masih muda. Aku masih dapat memberikan keturunan

lagi untukmu!” dan ketika Beng Tan tertegun dan semburat

merah, kaget, maka isterinya sudah mengguguk dan lari

meninggalkan kamar, itu. Kepergian Han Han tiba-tiba saja

bukannya membuat anak itu disayang tapi malah semakin

dibenci oleh isterinya. Beng Tan was-was jangan-jangan

isterinya itu tidak waras. Anak sendiri sampai diperlakukan

sedemikian rupa. Ngeri dia! Tapi ketika dia dihadapkan pada

dua kemungkinan untuk menyusul Han Han atau menghibur

isterinya itu, yang terguncang, tiba-tiba pendekar ini

terhuyung melangkah pergi untuk menyusul isterinya. Beng

Tan menggigit bibir karena isterinya benar. Han Han dinilai tak

patuh sebagai anak yang baik. Anak itu bahkan menerima

tantangannya dan pergi, hanya untuk membela sebuah caping

bambu. Caping Si Golok Maut! Dan ketika pendekar itu

menutup pintu kamar dan mengikuti isterinya maka Han Han

bertualang dengan maut!

-ooo0dw0ooo-

Jilid 7

PEMUDA ITU, yang malam itu juga pergi meninggalkan

ayah ibunya sudah berkelebat menuju ke utara. Han Han tak

tahu hendak ke mana dan dia hanya menurutkan saja kakinya

melangkah. Baginya saat itu adalah kebebasan terbesar sejak

dia dikurung di Hek-yan-pang. Sebenarnya ini adalah

petualangan pertama kalinya di mana dia berjalan seorang

diri. Baru kali itulah Han Han minggat dan pemuda itu diamdiam

menggigit bibir. Kenapa ayahnya demikian kejam hendak

membuangnya sebagai anak hanya karena gara-gara sebuah

caping? Dan kenapa ibunya juga demikian benci kepadanya

akhir-akhir ini? Dan membayangkan bahwa semua itu hanya

karena benda-benda milik Si Golok Maut, tokoh yang kini

menarik dan menggetarkan hatinya diam-diam Han Han tidak

setuju kenapa ayah ibunya itu harus demikian keras.

Han Han memang tak tahu akan riwayat mendiang Si Golok

Maut itu. Tak ada murid-murid Hek-yan-pang yang berani

banyak terlalu bercerita. Kalau dia bertanya, kepada muridmurid

yang tua, yang senior, maka mereka lalu menjawab

biarlah dia bertanya kepada ayah ibunya, menyatakan tidak

tahu, padahal ayah ibunya tentu saja tak mau bercerita! Hm,

semua itu malah menarik perhatian Han Han dan karena kini

dia telah melatih sinkang dari kitab peninggalan orang sakti itu

dan capingnya juga sudah dipergunakan di atas kepalanya

maka Han Han tak menyadari bahwa kini dia benar-benar

mirip Si Golok Maut itu. Dan ini diketahuinya ketika keesokan

harinya, setelah terang tanah dan dia ingin mengisi perut di

sebuah kedai arak Han Han duduk di sudut dan minta

semangkok bubur panas.

Mula-mula tak ada keanehan. Han Han duduk di sudut

menyendiri, capingnya dibenamkan di atas kepalanya agar

semata dia tak mudah dikenal. Itu saja. Tapi ketika beberapa

orang mulai berdatangan dan mereka sama-sama ingin minum

arak atau bubur panas, karena pagi masih cukup dingin maka

kesendirian Han Han di sudut kedai itu menarik perhatian

orang-orang ini. Han Han mendengar bisik-bisik di antara

mereka, mengangkat sedikit kepalanya dan melirik ke kanan.

Orang-orang itu tiba-tiba diam. Han Han berkesan angker dan

dingin, apalagi sinar matanya juga beku dan acuh, tak ada

senyum. Dan ketika beberapa orang lagi masuk ke kedai itu

tapi tempat mulai penuh maka tiga laki-laki tinggi besar yang

merupakan pendatang baru minta agar pemilik kedai

menyiapkan bangku untuk mereka.

“Sudah habis, kecuali di tempat tuan muda itu. Kalau samwi

(kalian bertiga) ingin duduk silahkan di sana dulu, atau

menunggu…”

“Heh, kami ingin bangku dan satu meja sendiri, Ah-lopek.

Tak mau dicampur dengan segala macam tikus busuk yang

bau. Kalau kau ingin kami di sana usir dulu dia dan berikan itu

kepada kami!”

“Ma… maaf…!” pemilik warung gugup, ketakutan. “Ini… ini

tak dapat kulakukan, Sam-toaya (tuan besar Sam). Semua

tamuku adalah orang-orang yang membawa rejeki bagiku. Dia

belum habis, masih menikmati buburnya. Silahkan kalian

tunggu atau duduk di s ini saja, di tempatku!”

“Hm, kau mau menyuruh kami berasap dapur? Kau minta

kubanting mampus? Kalau pemuda itu tidak dapat kau usir

biarlah kami yang melakukannya. Ini pemuda asing, harus

menghormat pada yang lebih dulu menjadi langganan!”

seorang di antaranya tiba-tiba mendatangi Han Han, sikapnya

bengis dan beberapa tamu membelalakkan mata. Mereka

melihat si tinggi besar itu sudah dekat, menepuk dan

mencengkeram pundak Han Han seraya berseru agar pemuda

itu meninggalkan mejanya. Tapi ketika laki-laki itu membentak

dan mencengkeram pundak Han Han tiba-tiba dia menjerit

dan berteriak mengaduh.

Apa yang terjadi? Kiranya tangan orang itu bengkak dan

keseleo! Han Han mengerahkan sinkangnya ketika pundaknya

dicengkeram, diam-diam marah dan ingin menghajar orang

ini. Maka begitu lawan menepuk dan mencengkeram

pundaknya, hendak diangkat dan disingkirkan ke tempat lain

Han Han sudah memberi adat laki-laki ini dengan sinkangnya

yang luar biasa, membuat pundaknya sekeras besi dan

tepukan atau cengkeraman laki-laki itu tentu saja bertemu

hawa saktinya yang tak diduga lawan. Laki-laki itu menjerit

karena begitu menepuk dan mencengkeram tiba-tiba

terdengar bunyi seperti dentingan besi, kelima jarinya selip

dan seketika itu juga tergelincir, bengkak dan keselio. Dan

ketika laki-laki itu menarik tangannya dan mengaduh-aduh,

berjingkrak-jingkrak maka beberapa tamu tertawa tapi dua

laki-laki tinggi besar yang lain tiba-tiba membentak dan

mencabut golok.

“Siapa mentertawakan saudaraku. Siapa minta kubunuh!”

Yang tertawa tiba-tiba diam. Mereka berkerut tubuh dan

dua laki-laki itu menggeram. Mereka melotot sekeliling dan

tiba-tiba melompat ke arah Han Han. Pemuda itu masih

tenang-tenang saja menikmati buburnya seolah tidak tahu

kejadian sekeliling, begitu tenang dan acuh, kesannya tak

perduli. Atau barangkali itu merupakan ejekan bagi tiga lakilaki

kasar itu! Dan ketika mereka sudah dekat dan

mengangkat golok maka tanpa banyak bicara lagi tiba-tiba

dua lelaki itu menikam punggung Han Han.

“Kau sombong dan menghina adikku. Terimalah

kematianmu!”

Orang-orang melotot lebar. Pemilik kedai sendiri sampai

berteriak tertahan karena ketika golok sudah menusuk tetap

saja Han Han bersikap tenang, seolah tak tahu, atau mungkin

sudah tak sempat berkelit dan kini siap menerima kematian.

Tapi ketika terdengar suara ting-tang dua kali dan sekelebatan

tampak sinar kuning membentur golok maka dua laki-laki itu

berteriak keras dan terbanting!

Apa yang terjadi? Tak banyak orang tahu. Han Han

telah bergerak dengan amat luar biasa cepatnya dengan

sumpit di tangan. Benda itulah yang menangkis dan

membentur dua golok, yakni sinar kuning yang dilihat para

penonton dengan bengong. Dan karena Han Han mengisi

sumpitnya dengan sinkang yang istimewa, sumpit itu berobah

seperti benda pusaka saja layaknya maka dua batang golok di

tangan dua laki-laki tinggi besar itu terlepas dan patah

menjadi dua potong. Pemiliknya sendiri terpelanting dan

bergulingan dengan kaget, mereka merasa betapa telapak

tangan mereka bengkak dan pedas, itulah sebabnya mereka

menjerit dan seketika pucatlah dua orang laki-laki itu. Dan

ketika mereka melompat bangun dan melotot memandang

Han Han, yang masih menghirup bubur panasnya di mangkok

yang mulai dimiringkan maka dua laki-laki itu memutar tubuh

dan…. melarikan diri.

“Iblis! Pemuda itu siluman…!”

Para tamu gempar. Sekarang mereka melihat bahwa tanpa

bergerak dari tempat duduknya Han Han telah mengalahkari

dua lawannya itu. Begitu mudah, begitu gampang. Namun

ketika dua laki-laki itu lintang-pukang dan berteriak-teriak,

lupa kepada saudaranya yang masih merintih-rintih di situ

mendadak mangkok di tangan Han Han disentilkan ke kiri dan

dua orang itu tiba-tiba roboh dengan kepala benjut sebesar

telur angsa.

“Aduh…. bluk-bluk!”

Han Han bangkit berdiri. Sekarang pemuda ini melangkah

lebar menghampiri pemilik warung, meletakkan sekeping uang

perak aan kemudian pergi keluar. Sikapnya tenang dan dingin,

caping itu sudah semakin membenam lagi dan ketika lewat di

dekat dua laki-laki ini, yang berteriak dan mengaduh-aduh di

depan pintu tiba-tiba Han Han menggerakkan kakinya. Dan

ketika dua tubuh itu ditendang dan mencelat keluar, roboh

dan berdebuk di sana akhirnya Han Han meneruskan

perjalanannya dan beberapa gumam atau seruan terkejut

terdengar di mulut para tamu di kedai.

“Hebat, lihai sekali. Tapi sayang wajah setampan itu tak

pernah senyum!”

“Ya, dingin sekali. Seperti mendiang Si Golok Maut!”

Tapi begitu Han Han berhenti dan menoleh, terkejut oleh

seruan terakhir itu maka orang yang mengeluarkan suara ini

tiba-tiba menyelinap dan gentar menyaksikan sepasang mata

Han Han yang mencorong dan keluar dari balik caping itu.

Orang yang mengeluarkan seruan ini sudah menyembunyikan

diri di antara kawan-kawannya, pemilik warung menggigil dan

ngeri melihat tampang pemuda itu. Dingin dan beku. Tapi

ketika Han Han tersenyum dan tampak sekilas deretan giginya

yang putih bersih, kuat dan rapi maka orang bengong melihat

betapa tampan dan manisnya pemuda itu, sama sekali

berbeda dengan sikap dinginnya yang seolah es di gunung

Mahameru.

“Siapa mengenal mendiang Golok Maut?” seruan itu

diucapkan Han Han. “Siapa di antara kalian yang tahu?”

Namun orang-orang itu menggeleng. Akhirnya Han Han

sendiri tak tahu siapa sebenarnya orang yang bicara tadi. Dia

ingin mencari orang itu tapi rupanya orang itu ketakutan.

Senyum yang tadi mengembang tiba-tiba lenyap kembali. Han

Han sudah seperti gunung es yang beku. Dan ketika tak ada

jawaban dan Han Han menarik napas lalu pemuda itu

membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Han Han

kecewa karena orang-orang yang sudah menyebut nama Si

Golok Maut tadi mendadak bungkam, mungkin takut oleh

sikapnya. Dan karena dia menjadi jengkel dan gemas ditahan

maka Han Han mempercepat langkahnya dan…. pemuda

itupun sudah meluncur dan lenyap di luar dusun.

“Iblis, sungguh mengejutkan. Dia seolah terbang saja!”

“Dan menanyakan mendiang Si Golok Maut! Ah, ada apa

dia mencari tokoh itu? Apakah mau mengobrak-abrik

makamnya!”

“Tak tahulah, tapi Hek-kwi Sam-houu (Tiga Harimau dari

Gunung Setan) sudah dipecundanginya begitu mudah. Dia

pemuda luar biasa!”

Dan ketika semua orang ribut-ribut dan membicarakan Han

Han, yang pergi dan datang dengan caranya yang aneh maka

kedai arak itu menjadi bahan perbincangan yang ramai antar

sesama tamu. Mereka mulai menduga-duga siapa kiranya

pemuda bercaping bambu itu. Mereka teringat tokoh Si Golok

Maut yang juga bercaping dan berkepandaian luar biasa. Tapi

karena mereka tak mengenal Han Han dan jelas pemuda itu

bukanlah Si Golok Maut, karena Golok Maut telah binasa maka

Han Han tak tahu betapa dirinya menjadi bahan perbincangan

yang meluncur dari mulut ke mulut. Han Han tak tahu bahwa

di kedai itu akhirnya muncul tamu-tamu lain yang beraneka

ragam, ada yang seperti petani namun ada juga yang seperti

pedagang. Dan ketika mereka terbelalak dan mendengarkan

cerita itu, bertanya ke mana pemuda itu lenyap maka ketika

tiba di kota An-tiong, tigapuluh li dari kedai itu Han Han

melihat tiga orang penunggang kuda membalap dari belakang.

“Tar-tar!” Han Han menyingkir. “Minggir, anak muda.

Minggir…!”

Han Han minggir. Memang dia sengaja memberi jalan

meskipun diam-diam mendongkol. Tiga penunggang kuda di

belakang itu layaknya orang terburu-buru yang tidak

menghormat pejalan kaki. Mereka menerjang saja dan cepat

lewat di sisinya bagaikan terbang. Saat itu Han Han sudah

mulai memasuki batas kota dan tiga penunggang kuda ini

rupanya juga ingin ke An-tiong, karena mereka begitu buruburu

dan menyuruh siapapun minggir. Namun ketika mereka

melewati Han Han dan ketiganya melirik tajam mendadak

kuda yang sudah dicongklang pesat itu dihentikan tiba-tiba

hingga kuda meringkik panjang dengan kedua kaki depan

terangkat tinggi-tinggi.

“Heiitt… tar! Berhenti!”

Tiga penunggang kuda itu berhenti. Mereka tiba-tiba

menyeringai dan Han Han yang terkejut mengerutkan kening

mendadak surut selangkah ketika tiga ekor kuda itu tiba-tiba

dikeprak maju. Mereka ternyata orang-orang berpakaian

perlente yang memiliki sorot mata buas. Han Han tak tahu

siapa mereka. Tapi begitu mereka datang dan memutar

kudanya, maju mendekat maka orang di depan yang dahinya

codet bertanya, suaranya serak parau, kasar,

“Anak muda, apakah kau yang baru saja dari kedai Ahlopek?

Apakah kau yang merobohkan Hek-kwi Sam-houw?”

“Hm,” Han Han tak mengenal Hek-kwi Sam-houw, julukan

itu baru sekarang diketahuinya. “Siapakah itu Hek-kwi Samhouw

dan siapakah itu Ah-lopek? Aku tak mengenal orangorang

ini. Tapi kalau kaumaksudkan kedai arak di belakang

sana maka memang betul akulah orangnya. Ada apa kau

bertanya?”

“Srat!” laki-laki itu tiba-tiba mencabut pedang. “Aku dan

dua orang temanku ini adalah sahabat-sahabat Hek-kwi Samhouw,

bocah. Kalau benar kau yang telah merobohkan mereka

maka kami teman temannya datang untuk membunuhmu.

Menyerahlah, atau kepalamu kupenggal!”

Han Han terkejut. Sekarang dia mulai berhadapan dengan

orang-orang kang-ouw yang kasar. Selama ini, dia baru

mengenal orang-orang kang-ouw di pesta Tek-wangwe itu,

selebihnya dia belum banyak tahu. Tapi begitu orang bersikap

garang dan sudah mengancamnya segala, kekasaran dunia

kang-ouw tampak di sini tiba-tiba saja Han Han mendengus

dan watak dinginnya timbul.

“Hm, kalian tikus-tikus busuk mau apa? Aku tak

mengganggu orang-orang yang tak mulai menggangguku.

Kalau Hek-kwi Sam-houw yang kalian maksud adalah tikustikus

besar di kedai arak itu maka aku jadi ingin melempar

kalian dari atas kuda. Turunlah, dan rasakan tamparanku

nanti!”

“Keparat, kau berani bicara begitu sombong? Eh, tuanmu

tak suka sikap seperti ini, bocah. Dan sayang kau harus

mampus lebih cepat meskipun minta ampun…. singg!” dan

pedang yang menyambar dari atas kuda menghantam kepala

Han Han tiba-tiba disusul oleh dua bentakan dan dua

serangan dari dua laki-laki di atas kuda yang lain. Mereka itu

juga marah dan mendelik mendengar kata-kata Han Han tadi.

Mereka adalah teman-teman Hek-kwi Sam-houw yang ingin

menuntut balas. Tapi begitu pedang mereka bergerak dan Han

Han menyambut dengan dua jarinya, menjepit dan menekuk

maka berturut-turut tiga batang pedang itu patah dan

pemiliknya tertarik dari atas kuda untuk akhirnya jatuh

terpelanting. “Plak-plak-plak!”

Han Han menambahi dengan tiga tamparannya ke arah tiga

laki-laki itu. Mereka berteriak dan tiga laki-laki itu bergulingan

mengaduh-aduh, pipi mereka bengkak! Tapi ketika mereka

melompat bangun dan merasa marah, bukannya gentar tibatiba

mereka naik ke atas punggung kuda lagi dan menyambar

tombak untuk kemudian menerjang dengan dahsyat

“Hm, tak tahu diri!” Han Han mendengus. “Kalian minta

kupatahkan tulangnya baru kapok? Baiklah, rasakan ini dan

lihat bagaimana kalian menyerang lagi!” Han Han berkelebat,

jauh mendahului tombak-tombak itu dan tiba-tiba dia

mengebutkan ujung lengan bajunya. Ujung lengan baju itu

tiba-tiba berobah sekeras baja dan tiga tombak yang

menyambar ditangkis perlahan, tampaknya perlahan tapi

nyatanya tiga batang tombak itu patah menjadi tiga dan

masing-masing membalik menyambar tuannya sendiri. Yang

pertama dan kedua membentur lengan pemiliknya hingga dua

laki-laki itu berteriak, tulang mereka berkeratak dan

merekapun jatuh dengan lengan patah. Dan ketika yang

ketiga menjerit karena kutung-an tombaknya menyambar

paha, berdetak dan terguling maka laki-laki itupun berteriak

karena pahanya terkulai alias tulangnya putus menjadi dua.

“Aduh…. bluk-bluk-bluk!”

Ketiganya menangis tak keruan bagai babi disembelih. Han

Han telah menghajar mereka lebih keras dan kini ketiga

lawannya itu mengaduh-aduh dengan kesakitan. Sekaranglah

mereka menjadi gentar namun Han Han sudah tak mau

mengampuni. Mereka terlalu congkak dan tak tahu diri. Dan

ketika mereka pucat dan jerih memandang pemuda itu maka

Han Han mengibas dari jauh dan tiga laki-laki itu terlempar

bagai dihembus angin topan.

“Tobaatt…!”

Ketiganya terbanting dan pingsan di sana. Mereka sudah

tak dapat menahan sakit lagi ketika lengan atau kaki yang

patah beradu begitu keras dengan tanah. Mereka menjerit dan

tak sadarkan diri lagi. Dan ketika semuanya tengkurap dan

Han Han memutar tubuhnya maka dengan dingin dan tenang

pemuda itu meninggalkan lawan-lawannya untuk memasuki

kota An-tiong.

Han Han tak memperdulikan beberapa tatapan kaget dari

beberapa orang yang lewat di jalan itu. Beberapa orang

memang kebetulan lewat dan menyaksikan akhir dari

pertandingan itu, melihat dan mendengar ribut-ribut disusul

robohnya tiga laki-laki itu. Dan ketika Han Han meneruskan

langkah dan memasuki kota, mengebutkan ujung bajunya

yang kotor maka pemuda ini sudah mulai berjalan-jalan

tenang sambil berpikir apa yang akan dilakukan. Dan hatinya

tiba-tiba tertarik oleh sebuah toko kain yang menjual beberapa

pakaian bagus. Han Han teringat bahwa bekalnya harus

ditambah, pakaiannya hanya beberapa potong saja. Dan

ketika dia melangkah menghampiri toko ini, bermaksud untuk

membeli sepotong dua pakaian baru tiba-tiba dia tertegun

melihat seorang dara cantik juga sedang berada di toko itu,

melihat-lihat dan memilih beberapa gaun sutera mahal. Dan si

gadis pun kebetulan menoleh.

“Ah!” Han Han membuang muka. Entah kenapa tiba-tiba

dia terkesiap oleh bola mata yang bening dan lebar dari si

gadis cantik. Mata itu begitu terang dan jernih, menyambar

bagai gunting yang tajam dan Han Han yang biasanya acuh

terhadap wanita mendadak tergetar hebat. Dia cepat

melengos dan memasuki pintu toko sebelah kiri, ke pakaian

laki-laki. Tapi ketika dia tersandung dan terantuk kaca depan

yang menipu pandangan maka buntalan Han Han jatuh dan

pemuda itu sendiri geragapan dengan amat kagetnya.

“Ih, kongcu harap hati-hati. Awas kaca!”

Han Han merah padam. Gara-gara tergetar oleh bola mata

si gadis tiba-tiba dia menumbuk dinding kaca. Seharusnya dia

tahu tapi kekacauan hati telah membuatnya hilang sadar. Dan

ketika Han Han menengok dan mendengar suara lembut

nyaring itu maka tahu-tahu si cantik yang bermata bintang itu

telah berada di dekatnya, mengambilkan buntalannya.

“Ah, terima kasih. Aku, eh… aku tak melihat kaca ini!”

Terdengar kekeh ditahan. Han Han merah padam karena si

dara mengembalikan buntalannya sambil tertawa. Suara

tawanya begitu merdu dan enak didengar. Han Han berdegup

kencang dan untuk kesekian kalinya lagi gugup. Tapi ketika

dia menerima buntalannya dan mengucap terima kasih,

mundur dan cepat-cepat memilih pakaian yang hendak dibeli

maka si cantik sudah kembali ke tempatnya tadi memilih

gaun-gaun yang juga hendak dibeli.

Namun di sini Han Han tertegun. Dua stel pakaian yang

sudah dipilih dan diminta dari pemilik toko tiba-tiba tak dapat

dibayarnya. Pakaian itu sudah dibungkus dan siap diberikan

ketika mendadak saja Han Han tak dapat mengeluarkan

uangnya. Dan ketika dia menjublak dan bengong dengan

muka pucat, malu, maka pemilik toko curiga dan berseru,

“Kongcu, ini pakaian pilihanmu. Delapan tail perak. saja!”

“Aku… aku…!” Han Han bingung. “Uangku tak ada!”

“Heh, tak membawa uang berani membeli? Eh, jangan

main-main, anak muda. Kalau memang tak punya uang

sebaiknya tak usah memasuki toko. Kau penipu, rupanya

berpura-pura saja…”

“Wut!” tangan Han Han tiba-tiba bergerak dan sudah

menyambar leher baju pemilik toko itu, cepat dan kuat. “Kau

bilang aku penipu? Kau kira aku pura-pura? Eh, jaga mulutmu,

orang tua. Atau kuhancurkan mulutmu nanti. Aku kehilangan

uangku, bukan bohong!”

“Celaka!” si pemilik meronta dan berteriak-teriak. “Tolong,

Pui-ek. Aku malah dicekik dan hendak diancam. Tolong….

tolong…!”

Han Han jadi marah. Sebenarnya dia hendak memberi tahu

pemilik toko itu agar tidak menghinanya. Dia bukan penipu

atau orang yang berpura-pura membeli saja. Han Han sedang

bingung dan kaget karena uangnya mendadak lenyap.

Buntalannya sudah dibuka tapi uang bekalnya tak ada di situ.

Seluruh isi kantungnya sudah dikuras tapi uangnya itu juga

sudah tak ada. Entah lenyap ke mana. Aneh! Dan ketika Han

Han marah dan menyambar leher baju pemilik toko, minta

agar tidak menghinanya tiba-tiba dua orang pelayan muda

memburu dan menangkap lengannya itu.

“Heii, jangan main gila. Lepaskan tuanku!”

“Hm!” Han Han mendengus. Tentu saja dia bertambah

marah karena dua pelayan itu menarik-narik dan bahkan

menggigit lengannya. Dia membentak dan tiba-tiba kakinya

bergerak menendang. Dan ketika dua pelayan itu mencelat

dan terlempar, menjerit-jerit maka isi toko menjadi gaduh dan

tiba-tiba si cantik datang dengan suaranya yang nyaring

merdu,

“Heii, kalian jangan menghina kongcu ini. Dia jelas bukan

perampok atau pencuri. Kalau uangnya tak ada biarlah aku

yang bayar…. cringg!” pemilik toko melotot, sekeping uang

emas ada di situ dan tiba-tiba saja Han Han melepaskan

cekikannya. Si cantik datang dan membayar pakaiannya. Tapi

bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan kepingan

uang emas itu yang menancap di meja kasir. Uang itu seperti

benda tajam saja yang menancap dan amblas hampir

setengahnya, si pemilik melotot! Tapi ketika pemilik toko

tertawa dan mencabut uang itu, yang ternyata tak dapat

dicabut maka Han Han tertegun sementara pemilik toko

kebingungan, mencari ke sana-sini dan akhirnya ditemukannya

sebuah tang kecil. Dengan tang inilah dia mencabut dan

mengambil uang itu. Dan ketika dia menyeringai dan tertawa

gembira maka buntalan pakaian Han Han diserahkannya.

“Terima kasih, ha-ha… sungguh baik benar nona budiman

ini. Ah, bawalah, anak muda. Dan jangan mengganggu aku

lagi!”

Namun Han Han tak beranjak dari tempatnya. Dia masih

tertegun dan terkesima memandang si cantik itu,

kepandaiannya yang menancapkan uang emas di atas meja.

Jadi, si cantik ini kiranya bukan gadis sembarangan! Tapi

ketika HannHan tertegun dan bengong tiba-tiba gadis itu

sudah memutar tubuhnya dan menyambar pembeliannya

sendiri, berkelebat dan lenyap.

“Heii…!” Han Han terkejut dan sadar. “Tunggu, nona. Aku

tak mau menerima kebaikanmu ini!”

Si gadis menoleh sejenak. Han Han melihat senyum manis

itu namun yang dipanggil tak mau berhenti. Gadis itu terus

bergerak dan kini memasuki kompleks pertokoan yang lain,

atau pasar. Dan ketika dia mengejar dan si gadis bergerak

kian cepat maka Han Han kehilangan lawannya yang masuk

dan menyelinap di balik kerumunan orang banyak. Han Han

mendelong dan berhenti, celingukan ke sana-sini. Tapi ketika

dia menoleh untuk mencari-cari sekonyong-konyong seikat

pakaian jatuh di pundaknya, tepat ketika dia melihat gadis itu

berkelebat di sudut kiri jalan.

“Copet, pencuri!”

Han Han terkejut. Tiba-tiba empat orang menyerbunya

sambil berteriak marah. Han Han tak mengingat atau

memperdulikan pakaian yang jatuh di pundaknya itu,

mengejar si gadis karena dara cantik itu menampakkan diri di

ujung jalan. Maka ketika empat laki-laki berteriak padanya dan

Han Han mendorong mereka maka keempatnya terpelanting

sementara Han Han mengejar dan kini melempar setumpuk

pakaian itu.

Namun pakaian-pakaian yang lain berjatuhan menimpanya.

Setiap Han Han melewati jalan atau lorong di mana gadis itu

berkelebat maka penjual pakaian di kiri kanan jalan berteriakteriak.

Han Han mula-mula heran tapi akhirnya dia menjadi

gemas ketika dilihatnya gadis itu menimpukkan sesuatu dan

pakaian yang bergelantungan di atas toko-tokopun

berjatuhan, putus talinya oleh tindakan dara nakal itu. Dan

ketika pasar menjadi ribut sementara Han Han berkelebat

mengejar si gadis maka gadis itu ternyata berputar-putar dan

berlari dari satu tempat ke tempat yang itu-itu juga. Tak ayal,

suasana menjadi kacau dan penjual buah atau sayursayuranpun

berteriak-teriak. Mereka didorong gerobaknya

hingga jungkir balik. Si gadis melakukan itu untuk

menghalangi pengejaran Han Han. Tapi karena Hari Han

dapat melewati semuanya itu dengan baik dan dua kali sudah

gadis itu berputaran mengelilingi pasar maka Han Han

menjadi gemas dan akhirnya mencegat atau memotong jalan.

Tapi celaka. Sebuah tenda tiba-tiba roboh. Han Han

tertelangkup dan terjebak di sini, mendengar teriakan orangorang

di sekitar yang sudah dibuat marah oleh ulah mereka

berdua. Buah-buahan dan sayur-sayuran tumpah ruah di

jalanan kecil itu, lorong-lorong pasar atau pusat perbelanjaan

bagi penduduk An-tiong. Dan ketika Han Han terkejut karena

pikulan kayu atau apa saja menghantam dirinya, yang

tertelangkup dan terjebak di tenda itu maka didengarnya si

gadis terkekeh dan tertawa terbatuk-batuk.

“Hi-hik, awas hati-hati, kongcu. Tangkap dan kejar lagi aku

kalau bisa!”

Han Han gusar. Akhirnya dia menggerakkan tangannya ke

kiri kanan dan tenda itu terlempar ke belakang. Batu dan

pikulan atau apa saja yang menimpanya sekarang berbalik

menghantam pemiliknya sendiri. Orang-orang itu memekik,

jidat atau hidung mereka terkena sial. Dan ketika Han Han

keluar dan melompat mengejar maka sepasukan pengawal

kota muncul dan membentak mereka, yang membuat gaduh.

“Berhenti, kalian kami tangkap!”

Namun Han Han mendengus. Entah dari mana tiba-tiba

saja belasan pengawal itu muncul. Mereka mencabut pedang

atau golok dan beberapa pentunganpun tak ketinggalan. Han

Han mengejar si gadis karena dara yang nakal itu tiba-tiba

terbang ke selatan, lidahnya dileletkan begitu melihat

pengawal keamanan kota. Dan ketika Han Han membentak

namun dirintangi belasan pengawal ini, yang tak keburu

menghadang si nona dan mencegat Han Han maka pemuda

ini berjungkir balik dan…. sudah melewati kepala semua orang

dengan gemas.

“Minggir, aku tak berurusan dengan kalian!”

Para pengawal terbelalak. Komandannya, yang berkumis

tebal sekepal sebelah tiba-tiba berteriak. Dia menyambar

seekor kuda dan mengejar. Han Han sendiri sudah berkelebat

dan mengejar gadis yang nakal itu. Dan ketika ketiganya

berkejar-kejaran dan Han Han terkejut karena gadis di

depannya itu juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang

amat baik maka An-tiong menjadi ribut oleh keonaran di pagi

itu. Para pedagang berteriak-teriak bahwa selain kacau barang

dagangannya juga peti-peti uang mereka lenyap. Han Han

hanya melihat gadis di depannya itu menggendong sebuah

buntalan besar, entah apa itu. Dan ketika dia gemas dan

menambah kekuatannya tiba-tiba kuda si komandan tertinggal

jauh dan komandan itu terbeliak melihat Han Han tak

menginjak permukaan tanah lagi, melayang atau terbang

seperti siluman.

“Hantu! Iblis…!” sang komandan tersentak membelalakkan

mata. “Bukan manusiakah pemuda itu? Silumankah dia?”

Namun bukan hanya komandan ini saja yang terkejut

membelalakkan mata. Gadis cantik itu, yang semula tertawa

dan mengejek menggoda Han Han sekonyong-konyong

tersirap dan mengeluarkan seruan kaget. Han Han yang

jaraknya tadi masih jauh tiba-tiba saja sudah tinggal

beberapa meter lagi di belakangnya. Han Han menyuruh gadis

itu berhenti namun si nona tak mau mengikuti perintahnya.

Dan ketika jarak tinggal dua meter lagi dan Han Han

mengulurkan lengan, siap menyambar pundak si nona tibatiba

gadis itu menggerakkan tangan ke belakang dan belasan

sinar emas menyambar Han Han, dari muka sampai ke kaki.

“Cring-cring-cringg!” Han Han menampar runtuh. Kiranya itu

adalah uang-uang emas dan Han Han terkejut membelalakkan

mata. Lawannya ini tak sayang-sayang membuang sekian

uang emas yang dijadikan senjata rahasia. Betapa royalnya!

Dan ketika di belakang terdengar derap kuda dan komandan

itu sudah mengejar bersama puluhan pasukannya maka si

gadis yang terkejut melihat Han Han mampu meruntuhkan

semua uang emasnya sudah membentak dan menyambarkan

sepasang anak panah hitam yang bersiut ke mata pemuda ini.

“Coba terima, kalau kau gagah!”

Han Han belum banyak pengalaman. Dia menjadi marah

ketika kembali gadis itu menyerangnya, meskipun diam-diam

dia kagum karena gadis yang di depannya ini ternyata gadis

luar biasa. Di samping cantik ternyata lihai. Dan ketika dia

mendengus dan menampar panah-panah itu, yang terpukul

runtuh oleh telapak tangannya tiba-tiba gadis itu tertawa dan

Han Han merasakan rasa gatal yang tidak wajar di telapak

tangannya itu.

“Hi-hik, bagus, bocah. Kau telah terkena racun panahku.

Tak mungkin kau dapat mengejarku lagi!”

Han Han tertegun. Sekejap, tak sampai semenit, mendadak

rasa gatal menjalar sampai ke atas. Rasa ini lalu disusul rasa

nyeri dan panas. Han Han terkejut ketika tiba-tiba

tenaganyapun serasa dilolosi, hilang. Tapi ketika Han Han

membentak dan mengerahkan sinkang untuk menahan semua

rasa yang tidak enak itu, racun yang kiranya menempel di

panah hitam maka dia dapat mengejar lagi dan membuat si

gadis terbeliak.

“Eh, kau tak apa-apa? Dapat mengejar aku lagi? Hebat,

tapi rasakan lagi tujuh panahku ini. Coba kau masih sanggup

mengalahkan nonamu ini atau tidak…. wut wut-wutt!” tujuh

panah hitam kembali menyambar, kali ini menuju ke tujuh

jalan darah di depan Han Hari dan semuanya bercuitan tanda

dilepas oleh tenaga yang cukup hebat. Han Han kagum

sekaligus marah. Dan karena dia tidak takut akan panahpanah

itu dan mendengus serta menampar maka enam panah

itu runtuh sementara yang satu diterima oleh giginya dan

digigit.

“Crep!” Han Han tertawa mengejek, berkelebat dan

mengejar lagi. “Boleh kauhabiskan semua anak-anak

panahmu, nona Tapi kukira kaupun harus menerima panahmu

ini!” Han Han meniup, panah di mulut tiba-tiba menyambar

dan mendesing di belakang gadis cantik itu. Si gadis berteriak

karena panah menyambar seperti dilepas dari busur. Bukan

main! Dan ketika dia melompat tinggi dan berjungkir balik

menghindari panahnya itu, yang melayang dan lewat di bawah

maka Han Han berseru kagum karena gadis itu akhirnya

menukik dan menyambar serta merampas anak panahnya

kembali.

“Bagus!” Han Han memuji. “Kau hebat, nona. Tapi

betapapun kau harus berhenti. Cukup kau mempermainkan

aku!”

Si gadis melengking marah. Han Han mengejar lagi karena

gadis itupun sudah berlari cepat memasuki hutan. Kalau Han

Han tak dapat menangkap maka gadis itu pasti lolos. Han Han

menggeram dan tiba-tiba menyambar sebutir kerikil hitam.

Dan tepat gadis itu di mulut hutan tiba-tiba dia menjentikkan

kerikil ini yang tepat mengenai pundak lawannya.

“Aduh..!”

Gadis itu terguling. Han Han tertawa dan siap menotok lagi

ketika tiba-tiba dari bawah berhamburan kerikil-kerikil lain.

Gadis itu berteriak dan balik menyerang pemuda ini dengan

puluhan kerikil yang diraup. Han Han terkejut dan kagum

karena lagi-lagi gadis itu tak apa-apa, padahal seharusnya

sambaran kerikilnya tadi merobohkan gadis ini. Dan ketika dia

harus mengelak dan mengebut puluhan kerikil itu maka si

gadis sudah melompat bangun dan…. meneruskan larinya lagi.

“Pemuda keparat, kau tak tahu budi. Awas nanti kalau para

pengawal itu sudah tidak mengejar kita lagi!”

Han Han terkejut. Lagi-lagi dia melihat lawannya itu

berkelebat dan menunjukkan ilmunya meringankan tubuh

yang hebat, meluncur dan sudah memasuki hutan. Kini dia

bisa ketinggalan sementara komandan di belakang berteriak

mengejar-ngejar mereka. Han Han gemas. Dan karena dia tak

mau kehilangan lawannya itu, yang aneh dan menarik hatinya

maka Han Han bergerak dan tiba-tiba menyambar seperti

elang di atas kepala gadis itu, yang terpekik dan menjerit

kaget.

“Heii… dukk!” Han Han menggerakkan lengan ke bawah. Si

gadis akan dicengkeram ketika tiba-tiba dengan marah

lawannya itu menangkis. Si gadis membentak dan

cengkeraman Han Han bertemu tenaga yang kuat dan

menggetarkan. Han Han tertahan tapi gadis itu terlempar ber

jungkir balik. Nyata si gadis kaget sekali karena Han Han

memiliki sinkang yang begitu hebat. Baik ginkang maupun

sinkang pemuda ini masih di atas dirinya, karena Han Han

mampu mengejar dan tadi menyambar dirinya dari atas. Tapi

karena gadis itu penasaran dan Han Han mengejar lagi, juga

kagum dan tergetar bertemu lengan yang halus namun kuat

itu maka gadis ini berseru agar mereka masuk ke tengah

hutan yang lebat.

“Aku tak takut padamu, mari kita bertempur seribu jurus.

Tapi jangan pasukan di belakang itu turut campur!”

“Hm, akupun tak mau orang lain turut campur urusan kita,

nona. Asal kau mau berhenti dan mengatakan mengapa kau

mempermainkan dan mengejek aku maka aku tak akan

memburu-burumu lagi. Berhentilah, dan katakan kepadaku!”

“Aku tak mau berkata di sini. Komandan itu dan

pasukannya mengejar. Hayo ke tengah dan kita bertempur di

dalam'”

Han Han mengangguk. Akhirnya dia mengikuti gadis itu

yang minta agar dia masuk ke hutan. Cepat dan luar biasa

gadis itu sudah berkelebat dan menyelinap lagi. Kalau Han

Han tak mengerahkan semua kepandaiannya barangkali dia

akan kehilangan jejak. Hebat! Dan ketika pasukan di belakang

tertinggal jauh dan mereka akhirnya berada di tengah hutan,

gelap dan pekat maka gadis itu melayang tinggi dan tiba-tiba

sudah berdiri di atas pucuk daun yang rantingnya hampir

sama sekali tak bergoyang, tegak di atas pohon seperti

burung camar yang siap menanti lawannya!

“Hayo, kita bertempur di sini Siapa jatuh dia kalah!”

Han Han membelalakkan matanya. Ia melihat gadis itu

sudah berjungkir balik dan hinggap di pucuk daun yang paling

tinggi, jarak dengan tanah barangkali ada duapuluh meter.

Gagah dan tegak seperti burung rajawali yang siap

menunggunya, jelas menunjukkan ilmunya meringankan

tubuh yang luar biasa itu. Dan ketika Han Han bergerak dan

naik ke atas pula, menjejakkan kedua kakinya Jurus di tanah

maka Han Han juga sudah berdiri di atas pucuk daun yang

lain, bahkan berdiri dengan satu kaki!

“Hm!” Han Han bersinar-sinar. “Kau hebat, nona. Tapi

rupanya suka mengganggu orang. Nah, aku sudah di s ini. Apa

yang kau maui dan bertanding berapa jurus yang kau

kehendaki!”

Si gadis tertegun. Dia sudah berdiri tak bergoyang di

puncak pohon yang paling tinggi. Tapi bahwa pemuda itu

dapat menyusul dan bahkan berdiri hanya dengan sebelah

kakinya saja, jelas tak mau kalah dengannya maka gadis itu

merah padam dan kembali merasa kalah setingkat!

“Kau sombong, tapi tak tahu budi. Nah, aku ingin

bertempur seribu jurus dan siapa jatuh dari sini maka dia

kalah!”

“Hm, nanti dulu. Kenapa kau melakukan semuanya ini? Aku

menilai kaulah yang sombong, ingin memamerkan kepandaian

dan mengganggu orang. Apa maksudmu mempermainkan dan

mengejek aku? Dan kenapa kau menantangku bertanding?”

“Cerewet, kau tak tahu dosa-dosamu? Eh, kaulah yang

sombong, pemuda siluman. Kau menolak pemberianku secara

baik-baik di toko kain tadi. Kenapa kau membuat aku malu

dan marah? Kau kira begitu mudah kau menghina aku di

depan orang banyak? Hm, kini kita sudah berhadapan. Cabut

senjatamu dan jangan sombong dengan ilmu meringankan

tubuhmu itu!”

Han Han tertegun. Si nona mencabut senjata dan sebuah

pedang .pendek berwarna hitam berada di tangan yang

gemetar itu, gadis ini menahan tangis! Dan ketika Han Han

menarik napas dan tersenyum pahit, merasa aneh dengan

sikap gadis ini maka dia tertarik melihat buntalan besar yang

dipegang di tangan kiri lawan.

“Kau melempar-lemparkan uang emas. Entah dari mana

kaudapatkan itu dan bagaimana pula aku tiba-tiba kehilangan

uangku. Kalau boleh aku bertanya, sebelum kita bertanding,

siapakah namamu dan dari mana kau berasal? Aku sendiri

bernama Han Han, tak bertempat tinggal karena sedang

berkelana…”

“Cerewet!” gadis itu membentak. “Siapa ingin dengar

tentang nama dan dirimu? Kalau kau sudah merasa

berkepandaian tinggi mari cepat bertanding, manusia

sombong. Atau kau akan kuterjunkan dari sini dan kau

mampus…. singg!” pedang sudah bergerak, menusuk dan

menikam dan gadis itu sudah meloncat bagaikan terbang. Han

Han mengelak namun pedang terus menyambar. Dan ketika

apa boleh buat dia harus menangkis maka tangannya

bergerak dan pergelangan tangan si gadis dipukul.

“Plak!” gadis itu berjungkir balik. Han Han merasa hawa

dingin menyambar dari pedang hitam itu dan tahu bahwa

sebatang pedang pusaka berada di tangan lawan. Dia tak

berani menerima begitu saja dan karena itu menangkis dari

samping. Lalu ketika lawan melengking dan berjungkir balik

turun, berkelebatan dan menyambar-nyambarnya bagai elang

menyergap mangsa maka Han Han sudah diserang dan

berada pada posisi yang didesak.

“Cabut senjatamu, atau kau kulempar dari sini!”

Han Han kagum. Tiba-tiba dia sudah dikurung oleh sinar

hitam yang kian lama kian lebar. Pedang di tangan gadis itu

sudah bergulung-gulung dan Han Han sebagai putera seorang

ahli pedang segera melihat bahwa permainan pedang di

tangan lawannya itu hebat. Pedang itu mengeluarkan hawa

dingin sementara serangan-serangannya juga ganas dan

tajam. Tapi ketika pedang itu mulai membacok atau

membelah seperti gaya permainan sebuah golok, hal yang

aneh maka selanjutnya Han Han berkelebatan menghindari

lawan yang mulai mainkan silat antara ilmu pedang dan ilmu

golok!

“Wah, hebat, tapi aneh sekali. Ilmu silat apa ini, nona? Ilmu

pedang atau ilmu golok? Kau mencampuradukkannya

sedemikian rupa, ini sudah bukan ilmu pedang asli!”

Si gadis terbelalak. Han Han beterbangan mengikuti

sambaran pedang hitamnya. Kemanapun pedang itu

menyambar maka ke situ pula pemuda itu mendahului.

Geraknya seperti kapas yang ringan tertiup angin, terdorong

sebelum disentuh Dan ketika Han Han memuji namun takl

dapat dibacok, terdorong dan selalu terdorong maka gadis itu

marah dan membentak sengit.

“Tak usah banyak mulut, kaukeluarkan senjatamu atau aku

akan merobohkanmu ke bawah…. sing-crat!” Han Han

terkejut, merunduk dan pedang membabat dedaunan di

belakang punggungnya, bergerak ke kiri tapi terus dikejar dan

tiba-tiba kaki gadis itu bergerak dari bawah ke atas. Untuk ini

Han Han tak waspada. Maka ketika dia kena tendangan dan

terpelanting ke bawah, karena mereka bertempur di atas

puncak pohon yang tinggi maka gadis itu bersorak karena

menganggap Han Han akan terus terbanting ke bawah.

Namun Han Han bukanlah putera Pek-jit Kiam-hiap kalau

begitu saja jatuh ke tanah. Pemuda ini terkejut sejenak tapi

sudah berseru keras menjejakkan kakinya di kaki yang lain.

Kaki kiri itu sudah menotol kaki kanan dan begitu dia

terpelanting ke bawah tiba-tiba Han Han sudah berjumpalitan

dan naik lagi ke atas. Dan ketika gadis itu terbelalak karena

Han Han sudah berada di tempatnya tadi, dengan tawa

mengejek maka gadis itu menerjang lagi dan pedangnya

bergerak kian ganas.

“Bagus, kau pamer kepandaian. Tapi aku tak akan

memberimu ampun lagi dan coba hindarkan seranganserangan

ini!”

Han Han sibuk. Benar saja si gadis mengeluarkan jurusjurus

simpanannya dan kini kaki atau tangan kiri gadis itu juga

bergerak-gerak memukul. Setiap pukulan mengeluarkan angin

dingin dan Han Han kagum. Dan ketika apa boleh buat dia

harus menangkis karena menghindar dan mengelak saja akan

membuat tubuhnya terpelanting lagi maka Han Han sudah

mengerahkan tenaga Pek-lui-kangnya menahan seranganserangan

si nona.

“Plak-dukk!”

Si nona tergetar. Han Han segera tahu bahwa lawan kalah

tenaganya. Gadis itu terhuyung namun hebatnya dapat

menginjak daun-daun atau ranting lain di belakang tubuhnya,

tanpa menoleh. Kakinya begitu ringan dan enteng layaknya

burung yang hinggap di pucuk dedaunan saja. Dan ketika dia

diserang lagi namun Han Han mulai menangkis, bergerak dan

mengandalkan sinkangnya maka gadis itu mendelik karena

setiap adu tenaga dia selalu kalah, terdorong. Akibatnya

pedang itu naik turun di balik pukulan-pukulan tangannya dan

Han Han tak berani menangkis. Han Han maklum bahwa

pedang di tangan lawan bukanlah pedang biasa, pedang itu

pedang hitam yang ampuh, anginnya saja sudah cukup

menebas rontok daun-daun di belakang tubuhnya. Dan ketika

Han Han mengelak atau menghindar sambaran pedang itu

yang bergulung-gulung naik turun maka gadis itu mandi

keringat sementara Han Han bersinar-sinar matanya karena

sesungguhnya ilmu pedang setengah golok di tangan

lawannya itu hebat sekali.

Han Han kagum. Kalau saja bukan dia barangkali sudah

roboh sejak tadi. Mereka sekarang turun agak ke bawah

karena ranting atau daun-daun di atas pohon sudah gundul

terbabat pedang gadis itu. Pedang itu memang hebat dan dua

kali ujung bajunya sobek terkena sambaran angin pedang,

baru sambaran angin pedangnya saja! Dan ketika Han Han

melihat bahwa sudah cukup dia mengelak dan menangkis

maka Han Han berpikir dia sekarang harus mulai membalas.

Dan Han Han pun sudah mulai melakukan itu. Pemuda ini

bergerak dan jari tangan yang berkerotok tiba-tiba meluncur

ke nadi pergelangan tangan gadis itu. Han Han bergerak

mendahului dan dia bermaksud untuk melepaskan pedang di

tangan la-wannya. Gadis itu terkejut ketika tiba-tiba Han Han

bergerak amat cepat dar tahu-tahu jarinya sudah menyelinap

di sepanjang badan pedang, naik ke atas dan menotok

pergelangan tangannya. Tapi ketika Han Han merasa

totokannya bertemu benda yang kenyal, seperti karet, maka

pemuda itu berseru tertahan karena totokannya mental.

“Hi-hik. boleh totok lagi, manusia sombong. Hayo balas dan

serang aku lagi. Bukan hanya kau yang memiliki keunggulan!”

Han Han terkejut. Dia menotok dan ini mengulangi

kegagalannya, berkelebat dan mendahului sinar pedang yang

menyambar lehernya. Tapi ketika totokan itupun mental dan

jannya bertemu pundak yang kenyal maka Han Han terkejut

karena gadis itu rupanya menguasai ilmu meindahkan jalan

darah.

“Ah, Pi-ki-hu-hiat (Tutup Hawa Lindungi Jalan Darah)!”

“Hi-hik, kau tahu. Bagus, betul manusia sombong. Aku

memiliki Pi-ki-hu-hiat” dan Han Han yang bengong tertegun

diam tiba-tiba sudah diserang dan menyambar ulu hatinya.

“Bret!”

Han Han lambat berkelit. Dia melempar tubuh ke bawah

ketika bajunya robek ditikam pedang, berjungkir balik dan

sudah menyambar sebatang dahan untuk pengait dirinya. Dan

ketika Han Han bergelantungan dan mau melemparkan tubuh

ke atas tapi si gadis menerjang dan turun ke bawah

mengikutinya, maka apa boleh buat Han Han memindahmindahkan

tangannya dari satu dahan ke dahan lain, dikejar

dan dikejar tapi pemuda ini terus bergelantungan berpindahpindah.

Sikapnya mirip monyet diserang rajawali, lucu tapi

gadis itu tak tertawa karena Han Han selalu dapat

menghindari diri.

Dan ketika dia melengking dan marah sekali, membacok

dahan di mana Han Han bergelantungan maka dahan itu

putus dan Han Han terjatuh ke bawah, bergerak dan

menyambar dahan yang lain tapi gadis itu menyusul dengan

gerakan pedangnya lagi, membacok dahan itu hingga tujuh

kali tubuh Han Han harus turun dan turun saja. Tak terasa,

pohon itu menjadi pendek dan hampir gundul! Mereka samasama

tinggal beberapa meter lagi dari tanah dan gadis itu

gemas sekali. Tujuh bacokannya tak membuat Han Han

terpelanting ke tanah karena setiap kali terpelanting tentu

pemuda itu sudah menyambar dahan yang di bawahnya lagi,

begitu berturut-turut. Dan ketika gadis itu mata gelap karena

kini tinggal sebatang dahan lagi yang sama-sama mereka

pakai, Han Han bergelantungan di bawah sementara gadis itu

di atasnya untuk menusuk-nusuk atau menyerang Han Han

maka pedang itu kembali berkelebat dan…. dahan itupun

putus dibabat.

“Mampuslah, dan kau akan menginjak tanah!”

Namun Han Han sungguh luar biasa. Begitu dia tak

mendapat tempat bergelantungan lagi, padahal dia tak mau

jatuh ke tanah tiba-tiba pemuda ini mengayun tubuh empat

kali tinggi-tinggi ke atas. Gadis itu sendiri juga terjatuh karena

dahan yang sama-sama mereka tumpangi dibacok putus. Tapi

ketika gadis-itu berjungkir balik ke bawah, geram dan memaki

Han Han maka Han Han sendiri sudah berjungkir balik ke atas

dan…. hinggap di pohon yang lain tak jauh dari pohon yang

sudah dibabat dan dihancurkan gadis itu.

“Keparat!” gadis itu mendelik, hinggap dan melayang turun

di tanah, tak menyangka Han Han melakukan itu. “Kau cerdik

dan lihai sekali, manusia sombong. Tapi kau juga tak dapat

mengalahkan aku!”

“Hm!” Han Han tertawa, mengejek dan kagum. “Siapa

bilang begitu, nona? Kau sendiri menentukan bahwa siapa

yang terjatuh ke tanah dialah pecundang. Dan kau menginjak

tanah. Kau kalah!”

‘Tidak, aku masih memegang pedang kumaksud ialah

siapa yang tak dapat menyerang lawannya lagi. maka dia

kalah aku masih dapat menyerangmu Lihat, kau licik!” dan si

gadis yang bergerak dan menjejakkan kakinya lurus terbang

ke atas tiba-tiba menyerang dan menusuk Han Han di pohon

sebelah. Dia geram dan marah karena persyaratannya harus

“diralat”, ditambahi, Dan krtika Han Han mengelak dan

pedang mengenai injakan kaki Han Han maka dahan itu putus

lagi dan Han Han bergerak ketempat yang lebih tinggi. Han

Han tahu bahwa dia pasti dikejar dan benar saja gadis itu

berteriak penasaran, mengejar dan berjumpalitan lagi ke atas

ke tempat Han Han berada. Dan ketika dahan itu dibacok

putus dan Han Han melompat-lompat ke tempat yang lebih

tinggi lagi. Akhirnya semua dahan di bawah habis diserang

gadis itu.

“Nah.” gadis itu melotot. “Kau boleh terbang lagi ke pohon

yang lain, pemuda siluman. Dan aku akan membabat habis isi

hutan ini!”

Han-han terkejut. Dia tak terasa lagi sudah di puncak yang

paling tinggi. Dahan-dahan di bawahnya habis semua dan kini

tinggal dahan di puncak yang paling atas itu. Sekarang

keadaannya berbalik dengan tadi, karena kalau tadi dia

bergerak dan melompat-lompat ke bawah adalah sekarang dia

bergerak dan melompat-lompat ke atas. Gadis lawannya itu

agaknya penasaran karena sudah sekian lama belum juga

mampu merobohkannya. Gadis itu menghendaki dia jatuh ke

tanah sementara Han Han tentu saja tak mau, tetap bertahan.

Dan ketika sekarang mereka sudah di puncak yang paling

tinggi dan ranting serta dahan-dahan di bawah dibabat habis,

pohon itu hampir gundul dengan sebatang dahan kecil di

puncaknya yang paling tinggi maka Han Han tak ada tempat

berpijak lagi kalau menghindar. Pohon di sebelah terlalu jauh

dan Han Han harus berpikir cepat, turun atau bersama-sama

turun dengan gadis itu! Dan ketika Han Han terbelalak karena

gadis itu sudah berjumpalitan ke atas, siap dengan pedangnya

yang menggigil di tangan, penuh kemarahan, maka Han Han

bermaksud untuk menangkis pedang dengan tangan

telanjang, coba-coba.

“Plak!”

Han Han terkejut. Pedang yang sudah diduganya sebagai

pedang yang ampuh itu ternyata menggores siku lengannya

sampai ke bawah, padahal dia sudah memasang

kekebalannya. Dan ketika Han Han terkejut karena lengannya

luka, pedang terus bergerak menuju leher maka Han Han tibatiba

membentak dan secepat kilat tangan kirinya bergerak

memukul pergelangan tangan gadis itu.

“Plak-aduh!”

Si gadis terlepas pedangnya. Dalam saat-saat yang

berbahaya itu Han Han dipaksa jatuh ke bawah. Sebenarnya

dia tadi hendak melepaskan pedang lawan dengan

tangkisannya, tak tahunya pedang itu betul-betul hebat hingga

dia yang sudah mengerahkan s inkang masih saja terluka. Dan

karena pedang terus menyambar dan lehernya akan menerima

bahaya maka begitu dia menunduk dan miringkan kepala

secepat kilat tangan kirinya itu menghantam pergelangan

tangan si gadis.

Dan begitu si gadis terpelanting dan jatuh ke bawah,

pedangnya terlepas mencelat maka Han Han sendiri yang

harus mengelak dan miringkan kepala tadi juga terjatuh ke

bawah dan berjungkir balik melayang turun.

“Jahanam!”

Han Han mendengar suara di sebelahnya. Mereka samasama

jatuh dan Han Han sempat melirik gadis yang terlempar

itu. Gadis itu terpelanting tapi berjungkir balik melengking

marah dia sudah berhasil merobah kepalanya yang di bawah

menjadi di atas, meluncur dan terus jatuh tanpa dapat

menahan diri lagi. Dan ketika dia anjlok dan jatuh dengan kaki

bersuara agak keras, terhuyung, maka Han Han baru

beberapa detik kemudian karena di tengah udara tadi Han

Han membuat tubuhnya seringan kapas hingga nyaris

kehilangan bobot.

“Wut!” Han Han benar-benar seperti seekor burung yang

hinggap dengan ringan. Pemuda ini jatuh dan berdiri dengan

kedua kaki tegak, tidak terhuyung apalagi bersuara keras

seperti ketika lawannya tadi. Dan ketika si gadis terbelalak dan

marah memandangnya maka Han Han berseru bahwa gadis

itu kalah lagi, tiba lebih dulu dan jatuh di tanah.

“Aku tidak berkata begitu. Yang kumaksud adalah siapa

yang tak dapat menyerang lagi. Keparat!” dan gadis itu yang

berkelebat dan memekik gusar tiba-tiba menyerang Han Han

dengan tamparan tangannya, bergerak dan menerjang sengit

dan Han Han mengerutkan kening. Kalau begini, dia dipaksa

untuk merobohkan lawannya itu. Dan karena dia akan terus

diserang dan diserang karena gadis itu rupanya nekat dan

keras kepala, tak mengenal sudah maka Han Han

mengeluarkan Pek-lui-kangnya dan dengan ilmu silat Tangan

Petir ini dia melayani lawan.

“Baiklah, kau yang meminta sendiri, nona. Aku akan

merobohkanmu dan kau tak akan dapat menyerang lagi….

plak-plak!” dan Han Han yang menangkis serta mengeluarkan

tenaga Petirnya tiba-tiba membuat lawan menjerit dan

terpental kaget, maju lagi tapi ditangkis lagi dan gadis itupun

berteriak. Han Han membuat pukulannya mengeluarkan hawa

panas dan tamparan dingin yang dilancarkan gadis itu kalah.

Dan ketika empat kali dia menangkis dan empat kali itu pula

lawan berteriak mengaduh, gosong-gosong lengannya

akhirnya Han Han menjadi kasihan dan mengurangi tenaganya

melihat gadis itu menangis!

“Keparat! Jahanam terkutuk. Kau bunuhlah aku, pemuda

siluman. Kau robohkan aku dan jangan setengah-setengah!

Hayo, aku sekarang tahu bahwa itu adalah Pek-lui-kang.

Kiranya kau adalah murid Pek-jit-kiam Ju Beng Tan!”

Han Han terkejut. Lawan tiba-tiba kalap dan tidak

memperdulikan lengannya yang gosong-gosong. Nama

ayahnya disebut-sebut dan Han Han seketika berubah karena

kalau begitu jelas gadis ini mengenal ayahnya. Dan ketika dia

terus menangkis karena gadis itu juga terus menyerang,

nekat, maka Han Han mulai bertanya siapa sebenarnya gadis

itu.

“Aku musuhmu, tak perlu cerewet. Hayo pukul aku sampai

mampus dan jangan kira aku takut!”

Han Han tergetar. Kalau sudah begini maka dia tak tahan

melihat air mata bercucuran itu. Han Han biasanya akan

menjadi ganas dan dingin kalau lawan sudah nekat, tak tahu

diri. Tapi menghadapi gadis ini yang entah mengapa membuat

perasaannya tak keruan maka Han Han justeru mundurmundur

dan terus mengurangi tenaganya. Lawan tentu saja

heran tapi gadis itu terus mendesak. Dan ketika Han Han

tinggal bertahan dan lengan gadis itu bengkak-bengkak, tak

dapat dipergunakan lagi maka Han Han disapu sebuah

tendangan dari bawah hingga mencelat terlempar.

“Terkutuk kau, bedebah!”

Han Han terkejut. Dia tak menyangka tapi dapat bangun

dengan bergulingan menjauh. Lawan menangis lagi dan

mengejar dengan sebuah tendangan melingkar, kena

pantatnya tapi gadis itu sendiri yang malah terjungkal! Dan

ketika Han Han menjadi kasihan sekaligus kagum karena gadis

ini benar-benar keras hati dan nekat maka dia berkelebat

ketika gadis itu hendak menyambar pedangnya.

“Tahan…. plak!” dan Han Han yang memukul runtuh

pedang itu akhirnya melihat si gadis terguling dan tersedusedu.

Gadis itu tak menyerang lagi dan kini meringkuk

menyedihkan. Han Han terkejut sekaligus memelas.

Perasaannya terbetot-betot mendengar tangis yang

mengguguk-guguk itu. Dan ketika dia melangkah maju dan

menggigil mendekati, bermaksud menolong lawan yang

lengannya bengkak-bengkak ini mendadak sebuah tendangan

masih juga diluncurkan ketika dia membungkuk.

“Pergi!”

Han Han menarik kepala ke belakang. Pemuda ini mengelak

namun caping bambunya yang menjadi sasaran. Mukanya

memang tidak terkena tendangan tapi caping bambunya itu

yang menjadi korban, karena caping itu lebih lebar dari

kepalanya. Dan ketika Han Han terkejut karena capingnya

mencelat, talinya putus maka gadis itu melompat bangun dan

tertegun oleh wajah Han Han yang tampak seluruhnya, gagah

dan ganteng!

“Kau…!”

Han Han terkesima. Gadis itu memandangnya terbelalak

dan dia yang tadinya hendak marah mendadak bengong dan

terlongong-longong. Gadis itu menuding sementara cuping

hidungnya berkembang kempis, mata terbelalak lebar-lebar

dan tiba-tiba pucat. Seolah, gadis itu sudah mengenalnya.

Tapi ketika gadis itu terkejut dan membuang muka, melengos,

maka gadis itu merah padam dan meloncat mundur.

“Kau sudah mengalahkan aku, baik. Tapi kemenanganmu

ini jangan dibuat bangga dulu. Satu kekalahan akan kutebus

dengan dua kemenangan… wut!” dan gadis itu yang

berkelebat menjejakkan kaki tiba-tiba tak melihat adanya

sebuah akar pohon yang melintang di depan. Dia terjerembab

dan jatuh berteriak, kaget dan Han Han memburu untuk

menolong gadis ini. Dan ketika gadis itu menangis dan

mengipatkan lengannya, bangkit terhuyung ternyata dia jatuh

terduduk lagi karena kakinya keselio, kena akar pohon tadi.

“Sial, jahanam terkutuk. Kau sungguh pembawa sial. Ah,

kaubunuhlah aku, manusia sombong. Bunuhlah aku dan

jangan tertawa!”

“Hm,” Han Han menahan senyumnya, yang disangka tawa.

“Aku tidak mentertawakanmu, nona, melainkan bermaksud

menolongmu. Kaki dan tanganmu salah urat, kau harus

digosok….”

“Digosok apanya? Digosok hidungmu itu? Kau mau kurang

ajar?” si gadis menyemprot, memotong kata-kata Han Han

dan pemuda ini jadi salah tingkah. Han Han memang hendak

menolong gadis itu ketika tiba-tiba saja mukanya menjadi

merah ditegur lawan. Tiba-tiba dia tertegun, mematung. Tapi

ketika dia menarik napas dan teringat caping bambunya, yang

dilempar dan ditendang gadis itu maka Han Han memutar

tubuh dan mengambil topi bambunya itu. Tapi ketika dia

hendak mengenakan di atas kepala tiba-tiba gadis itu berseru,

“Stop, jangan pakai dulu. Apakah kau Si Golok Maut Sin

Hauw?”

Han Han terkejut. “Apa? Si Golok Maut? Bukankah dia

sudah tiada?”

“Itulah, aku juga heran. Tapi kau mirip pinang dibelah

dua!”

“Hm!” Han Han berdegup. Dia tak jadi memakai caping

bambunya itu karena tiba-tiba si gadis melempar segulung

kertas, berseru padanya agar dia melihat dan membuka kertas

itu. Dan ketika Han Han mendekat dan mengambil kertas ini,

membukanya, Han Han tertegun karena itu ternyata gambar

seorang laki-laki gagah yang mirip dirinya, dingin meskipun

ganteng. Seorang laki-laki bercaping bambu!

“Nah, lihat,” gadis itu berseru. “Bukankah mirip?”

Han Han mundur, tergetar. “Dia ini Si Golok Maut? Atau

kau diam-diam mencuri lukis diriku?”

“Cih. siapa mencuri lukis? Itu tampang Si Golok Maut,

pemuda sombong. Dan aku jadi heran bagaimana kau mirip

benar dengannya, padahal kau adalah murid Pek-jit-kiam Ju

Beng Tan?”

“Hm, aku puteranya,” Han Han tak perlu menyembunyikan

diri lagi. “Aku Ju Beng Han, nona, panggilanku sehari-hari

adalah Han Han. Aku heran bagaimana gambar Si Golok Maut

ini bisa berada di tanganmu dan apakah kau tahu baik

riwayatnya!”

“Tentu saja aku tahu baik riwayatnya. Nasibnya

menyedihkan. Sedang gambar itu, hmm… kuambil dari ayah!”

si gadis tiba-tiba terisak, sedih dan berduka dan Han Han

terkejut ketika tiba-tiba gadis itu menangis. Dan ketika

suaranya mengguguk dan Han Han tercekat maka dia

mendekat dan gambar itu digulungnya lagi sementara caping

bambunyapun dipakai.

“Ada apa?” Han Han berhati-hati. “Kenapa kau menangis

begini sedih dan penuh perasaan? Siapa ayahmu itu dan

kenapa kau mengganggu aku seperti ini?”

“Aku ingin mencari mati, Han Han. Aku tak ingin hidup lebih

lama dan karena itu aku mengganggumu atau mengganggu

setiap orang. Kau bunuhlah aku, aku ingin mencari mati!”

Han Han terkejut, terbelalak. “Kau gila? Kau tidak sinting,

bukan?”

“Aku memang tidak gila, aku tidak sinting. Tapi aku ingin

mencari mati dengan mengganggu dan mempermainkan

orang. Tapi sayang, aku belum menemukan orang seperti itu

karena mereka semua kukalahkan dan tak dapat menandingi,

kecuali dirimu!”

“Hm!” Han Han menahan napas. “Aneh dan luar biasa

sekali caramu ini, nona. Pasti ada sesuatu yang membuat. kau

begitu. Kenapa kau seperti ini dan kenapa kau minta mati….”

“Aku membenci ayahku!”

“Hmm….”

“Dan aku melampiaskan kebencian dan kemarahan hatiku

itu dengan mengganggu dan mempermainkan orang-orang

lain! Lihat, bukankah ini dompetmu, Han Han? Bukankah kau

tak tahu ketika aku mengambilnya dari kantung buntalanmu?”

Han Han terkejut.

“Dan itu juga uang milik orang-orang lain yang kuambil.

Aku mencuri atau mencopetnya tanpa sedikitpun mereka tahu.

Aku melakukan ini agar aku dibenci dan dimusuhi orang. Aku

ingin agar mereka dapat membunuh dan mengalahkan aku!”

Han Han terkejut. Si gadis melempar sebuah dompet hitam

dan mengobrak-abrik buntalan besarnya. Itulah buntalan yang

tadi dibawa lari-lari dan kini dari buntalan itu menghambur

uang-uang emas dan perak. Dugaan Han Han bahwa gadis itu

menyimpan uang banyak ternyata benar. Dan ketika semua

uang-uang itu berkerincing tapi dinyatakan sebagai uang

copetan, dicuri atau dicopet maka Han Han tertegun

sementara gadis itu terus menangis tersedu-sedu.

“Lihat…. lihat, Han Han. Inilah pekerjaanku selama ini. Aku

mencuri dan mencopet, juga merampok! Aku memang

mengganggu dan mempermainkan orang banyak agar mereka

itu mengejar dan membunuhku. Tapi sayang, mereka kurcacikurcaci

rendah yang tak dapat mengalahkan aku. Baru kau

inilah orangnya. Nah, bunuhlah aku dan habisi riwayatku yang

buruk!”

Han Han tertegun. Si gadis sudah meloncat bangun dan

berdiri menantang untuk dibunuh. Bukan main. Baru kali ini

Han Han menemui hal seaneh ini, orang yang tak mau hidup

lagi dan minta dihabisi nyawanya. Tapi ketika dia tersenyum

karena nona itu menahan sakit, kakinya masih keselio maka

Han Han menggerakkan lengannya dan secara halus dia

mengurut-urut kaki itu.

“Duduklah, tenanglah. Agaknya kau dapat menceritakan

semua kepedihan hatimu ini kepadaku. Kita rupanya

mempunyai persamaan, meskipun tidak mirip…”

“Persamaan apa?” si gadis tertegun, merah tapi tidak

menolak ketika Han Han mengurut-urut kakinya. Dan ketika

Han Han menotok dan urat yang keselio itu pulih maka Han

Han menarik napas dan menjawab,

“Rasa tidak senangmu kepada orang tuamu itu. Akupun

juga begitu….”

“Apa? Kau membenci dan juga memusuhi ayahmu?”

“Tidak, aku tidak membenci, nona, melainkan sekedar rasa

tidak senang. Aku sampai di s inipun karena itu…”

“Hm, menarik. Coba kau ceritakan kepadaku!”

Han Han tertawa. “Kenapa sebaliknya? Justeru kau yang

harus terlebih dahulu menceritakannya, nona. Bukan aku!”

Gadis itu kagum. Setelah Han Han tertawa tiba-tiba saja

wajah yang luar biasa tampan tampak di sini. Han Han

memang biasanya beku dan dingin, senyumnya mahal. Maka

begitu dia tertawa dan tawanya itu tampak tulus dan hangat

tiba-tiba saja gadis itu kagum bukan main karena wajah yang

gagah dan tampan itu semakin ganteng dan menarik saja.

Tapi ketika dua mata mereka beradu dan gadis ini sadar

mendadak dia tersipu dan menarik kakinya yang sudah dilepas

Han Han, duduk bersimpuh.

“Aku enggan menceritakannya, tapi karena kau yang minta

biarlah kukatakan…”

“Hm, nanti dulu. Kau sekarang sudah tahu siapa aku, siapa

namaku. Bolehkah aku tahu siapa namamu?”

Gadis itu terkekeh, aneh sekali. “Apakah begitu perlu?”

tanyanya. “Apa gunanya sebuah nama? Kau sebut saja aku

Jing-ci-touw, Han Han. Karena itulah namaku akhir-akhir ini!”

“Jing-ci-touw (Copet Seribu Jari)?” Han Han berkerut

kening. “Itu bukan nama, nona. Kau main-main. Aku ingin

tahu namamu yang sebenarnya!”

“Nama itu pemberian ayah, aku tidak suka!”

“Hm, suka atau tidak kau pasti sudah mempunyai nama.

Beritahukanlah kepada ku agar aku dapat memanggilmu

dengar baik.”

-ooo0dw0ooo-

Jilid 8

GADIS itu menunduk, wajahnya tiba-tiba muram. “Aku Yu

Yin,” katanya, lirih. “Aku sudah hampir lupa namaku sendiri

karena lama tak ada orang memanggilku.”

“Yu Yin?” Han Han kagum. “Ah, nama itu indah sekali,

nona. Cantik seperti orangnya!”

“Apa?” Yu Yin terkejut. “Cantik? Kau memujiku atau mau

kurang ajar?”

“Maaf,” Han Han merasa kelepasan bicara. “Aku memujimu,

nona. Aku tak sengaja. Biarlah kutarik kata-kata itu dan aku

tidak akan mengatakannya lagi.”

“Kalau begitu kau mengatakan aku tidak cantik!” gadis itu

mendadak marah, bangkit berdiri, bertolak pinggang! “Kau

sama halnya mengatakan aku jelek, Han Han. Dan kalau

memang jelek kau mau apa!”

“Lho?!” Han Han tersentak, kaget. “Apa maksudmu, nona?

Kenapa tiba-tiba marah begini?”

“Jelas!” gadis itu membentak. “Bicara tidak cantik berarti

jelek, Han Han. Dan kau menjelek-jelekkan aku. Nah,

memangnya kenapa kalau aku jelek!”

Han Han melongo. Caping bambunya yang dipakai tiba-tiba

diangkat sedikit. Dia jadi bingung dan kaget melihat sikap

gadis ini, juga gugup. Kalau begitu, bagaimana? Memuji

disangka kurang ajar, tidak memuji diartikan gadis itu jelek!

Wah, mana ada perkara macam begini? Dan melihat gadis itu

bertolak pinggang dan marah-marah dengan pipi kemerahan,

cuping hidung itu berkembang kempis bagai bunga yang

kuncup mekar maka Han Han tak dapat bicara dan tiba-tiba

mencelat ketika si nona membanting kaki di dekat pantatnya!

“Hayo bicara, memangnya kenapa kalau aku jelek!”

“Heii..!” Han Han bangun melompat. “Aku tidak berkata

begitu, nona. Aku tidak mengatakan dirimu jelek. Aku tidak

bicara apa-apa! Siapa bilang begitu?”

“Kalau begitu kau bilang apa?”

“Aku… aku tidak bilang apa-apa. Aku..”

“Bohong!” hardikan itu membuat jantung Han Han jungkir

balik. “Kau tak perlu berpura-pura, Han Han. Kalau kau tidak

memujiku lalu maka tentu kau menghina. Nah, apalagi itu

kalau bukan demikian!”

“Eh, aku tidak menghina…”

“Kalau begitu harus memuji!”

“Lho, bukankah nanti dianggap kurang ajar?”

“Siapa kurang ajar? Kalau kau memujinya dengan tulus dan

matamu tidak melotot tentu kau tak akan kuanggap kurang

ajar, Han Han. Tapi kalau kau tidak memuji dan mengatakan

sebaliknya maka kau justeru menghina aku!”

“Nona….” Han Han bingung. “Aku, eh …. bagaimana ini?

Bagaimana tiba-tiba semuanya kaubuat jungkir balik begini?

Aku bingung, aku tak mengerti….”

“Kau memang bodoh, sombong. Kalau tidak mengerti ya

sudah. Aku tak mau lagi bicara denganmu dan terima kasih

kalau kau membebaskan aku!” dan berkelebat menahan tangis

tiba-tiba gadis itu meninggalkan Han Han yang melongo

keheran-heranan, Han Han benar-benar jadi bingung dan tak

mengerti akan sikap gadis ini yang aneh. Tapi begitu gadis itu

meloncat terbang mendadak pita rambut si gadis terlepas

tanpa diketahui pemiliknya. Han Han berkelebat dan

menyambar ini. Dan ketika dia berseru dan mengejar maka

Han Han sudah melayang dan berjungkir balik di depan gadis

itu, menghadang.

“Tunggu, ada sesuatu yang ketinggalan!”

Namun gadis itu ternyata marah. Baru saja Han Han

menginjakkan kakinya sekonyong-konyong dia membentak

dan menyerang, tangan kirinya menyambar dan langsung ke

pipi Han Han. Han Han terkejut tapi tidak mengelak. Dan

ketika gadis itu juga terkejut karena tamparannya mendarat

maka Han Han terpelanting dan caping bambunya mencelat.

“Plak!”

Gadis itu tertegun. Han Han sudah meloncat bangun dan

pita merah itu diperlihatkan, pipinya merah kena tapak lima

jari. Gadis itu terkejut. Dan ketika Han Han melangkah maju

dan menggigil menyerahkan pita itu, berkata bahwa dia

hendak menyerahkan barang milik si nona maka gadis ini

mengeluh dan tidak menerima pita rambutnya itu.

“Kau… kenapa tidak mengelak? Kenapa tidak menangkis?

Bukankah kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada aku? Ah,

kau lagi-lagi menghina aku, Han Han. Kau membuat malu.

Kau sombong!” dan gadis itu yang mengguguk dan melempar

tubuh di tanah lalu menangis sejadi-jadinya dan menganggap

Han Han merendahkannya. Pemuda itu membuatnya malu

karena membiarkan tamparan mendarat di pipi, padahal

maksudnya hendak menyerahkan pita rambut. Dan ketika Han

Han kembali bingung karena dia disalahkan, aneh sekali, maka

Han Han tersenyum pahit dan duduk di sebelah gadis itu,

melempar tubuhnya.

“Nona, kau aneh sekali. Kau membuat aku kebingungan.

Kalau aku salah maafkanlah, aku sama sekali tidak bermaksud

menghina atau merendahkanmu…”

Gadis itu tak menjawab, meneruskan tangisnya.

“Hm,” Han Han menyerahkan kembali pita rambut itu.

“Kalau kau masih marah boleh serang aku lagi, nona. Kau

tamparlah, atau…”

“Nona… nona!” gadis itu membentak, tiba-tiba melompat

bangun. “Kalau kau terus memanggilku nona-nona begitu tak

usah kau tanya nama, Han Han. Apa gunanya aku

memberitahukan kalau kau masih bernona-nonaan segala!”

Han Han tertegun.

“Kau sudah tahu namaku, bukan? Atau kau mau membuat

malu aku lagi?”

“Hm,” Han Han bangkit berdiri. “Kalau begitu harus

bagaimana? Apa yang harus kuperbuat?”

“Kau tak usah tanya. Kau sudah tahu namaku Yu Yin. Nah,

tak usah nona-nonaan segala dan kau dapat menyebutku

seperti itu!”

Han Han mengangguk-angguk, akhirnya tersenyum.

“Baiklah,” katanya. “Aku tak akan nona-nonaan lagi. Kusebut

namamu begitu saja. Hm, kau aneh, Yu Yin. Mudah marah

dan berang. Tapi, ah., aku jadi bingung!”

“Kenapa bingung? Semua sudah jelas, kau sudah menanya

namaku dan sudah tahu. Bingung apalagi?”

“Hm, aku bingung akan sikapmu ini. Sebentar marah tapi

sebentar kemudian tertawa…” Han Han teringat ketika gadis

itu terkekeh, di saat dia menanya nama padahal baru saja

marah-marah karena keselio. Dan ketika gadis itu tersenyum

dan tiba-tiba tertawa lebar, aneh sekali, maka Han Han

disemprot dan dibodoh-bodohkan.

“Kaulah yang tolol. Kenapa tidak mengetahui watak wanita

hingga membuat aku marah-marah. Sudahlah, asal kau baikbaik

tentu aku tak akan marah. Eh, kau sendiri bagaimana,

Han Han? Kenapa tidak menyenangi orang tuamu? Hayo

sekarang gentian, kau yang bercerita!”

Han Han tiba-tiba menarik napas dalam, murung,

menyambar dan mengenakan capingnya kembali. “Kau sudah

tahu bahwa aku putera ketua Hek-yan-pang, tapi aku tidak

tahu siapa ayah atau ibumu. Masa aku harus bicara? Kau

belum lengkap menceritakan ceritamu, Yu Yin. Siapa ayahmu

dan kenapa kau tampaknya membencinya.”

“Aku memang benci ayahku. Dia tak pernah menghiraukan

aku!”

“Hm, siapa ayahmu?”

Gadis itu berkerut kening, terisak. “Aku tak suka bicara

tentang dia, Han Han Harap kau memakluminya. Aku tak

suka!”

“Kalau begitu tak apa. Tapi yang jelas tentu ayahmu

seorang yang berkepandaian tinggi…”

“Memang kepandaian ayah amat tinggi!” gadis itu tiba-tiba

bangga, bersombong. “Dan barangkali ayahmu sendiripun tak

dapat mengalahkan ayahku, Han Han. Tapi, ah… sudahlah.

Aku tak suka bicara tentang dia!”

Han Han tertegun. Dia menjadi terkejut dan setengah

percaya setengah tidak akan kata-kata atau omongan gadis

ini. Tapi bahwa gadis itu memang berkepandaian tinggi dan

kalau bukan dia barangkali memang susah menundukkan

maka Han Han tertarik tapi menahan keinginan tahunya, Yu

Yin telah menyatakan tak suka membicarakan ayahnya. Kalau

dia mendesak dan terus bicara tentu gadis itu bakal marahmarah

lagi, dan dia tentu bakal bingung! Maka daripada

membuat si gadis marah dan tak senang akhirnya Han Han

memendam keinginan tahunya itu dan kembali menarik napas

dalam.

“Baiklah, aku tak akan bertanya lagi, Yu Yin. Kita tak usah

bicara tentang ayahmu itu. Kita sebaiknya bicara yang lain

saja.”

“Ya, tentang kau. Kenapa kau tidak menyenangi ayah

ibumu dan kelihatannya sama dengan aku!”

“Aku diusir, maksudku seperti diusir…”

“Apa? Kau diusir? Gilakah ayah ibumu itu?”

“Tidak,” Han Han menggeleng. “Melainkan sekedar marah

atas sikapku saja, Yu Yin. Maksudku, hmm… ada sesuatu yang

tak disukai ayah ibuku dengan perbuatanku.”

Gadis itu terbelalak, tiba-tiba memandang tajam. “Kau main

wanita?”

Han Han terkejut, muka tiba-tiba semburat merah. “Tidak,

justeru aku tak pernah bergaul dengan wanita!”

“Hm!” gadis itu tiba-tiba berseri, lega “Sudah kuduga tak

mungkin itu, Han Han. Kau pendiam dan sorot matamupun

tidak berminyak seperti laki-laki lain!”

“Berminyak?” Han Han heran. “Berminyak bagaimana, Yu

Yin?”

“Kau tak mengerti? Benar-benar tak mengerti?”

“Tidak.”

“Kalau begitu bagus. Kau memang pemuda yang baik dan

rupanya benar-benar jujur. Maksudku adalah mata berminyak

itu mata yang suka melotot dan memandang wanita secara

kurang ajar. Mereka itu, cih.., laki-laki tak tahu malu itu, kalau

memandang wanita pasti terkandung maksud kotor di hati.

Nah, itulah yang kumaksud dan aku pasti menghajar laki-laki

demikian karena di sepanjang jalan banyak kualami hal itu!”

“Hm-hm!” Han Han mengangguk-angguk. “Kiranya begitu,

Yu Yin. Baiklah, aku mengerti. Tapi aku selama ini tak pernah

melakukan itu…”

“Ya-ya, aku percaya!” gadis itu tertawa. “Kalau tidak tentu

tak mau aku berdekatan denganmu, Han Han. Karena itu aku

dapat melihatmu sebagai pemuda yang tidak jelalatan dan

baik terhadap wanita!”

Han Han tersenyum pahit. “Lalu?”

“Lalu apanya? Kau yang harus melanjutkan ceritamu!”

Han Han tertawa. “Yu Yin, aku sendiri kurang suka

menceritakan apa yang kuperbuat itu, apa yang membuat

ayah ibuku tak senang. Dan karena kau juga tak suka

menerangkan atau bicara tentang ayahmu maka aku juga tak

senang kalau bicara tentang ini.”

“Sompret!” gadis itu memaki. “Kau membalas aku, Han

Han. Kau membuatku penasaran!”

“Sama seperti aku yang juga penasaran akan ceritamu

yang tidak kau lanjutkan,” Han Han tertawa. “Kita satu-satu,

Yu Yin. Tapi sebenarnya aku tidak bermaksud membalas.

Aku… aku memang enggan menceritakan itu.”

Yu Yin tertegun. Han Han tiba-tiba menunduk sedih dan

wajah yang tampan gagah itu mendadak muram. Gadis ini

melihat kesungguhan Han Han dan tergetarlah dia ketika Han

Han tiba-tiba menitikkan dua air mata! Dan ketika dia terkejut

dan Han Han bangkit berdiri, menggigit bibir maka pemuda itu

berkata bahwa dia ingin melanjutkan perjalanan.

“Aku pikir cukup perkenalan kita. Kau tentu memiliki

keperluan sendiri. Nah, selamat berpisah, Yu Yin. Aku tak mau

kau ikut berduka mendengar ceritaku.”

“Nanti dulu!” gadis ini tersentak, bangun melompat. “Aku

sendiri tak memiliki keperluan apa-apa, Han Han. Aku berjalan

tak tentu tujuan. Kalau boleh kita jalan bersama-sama karena

kita rupanya senasib sependeritaan!”

Han Han terkejut. “Apa, jalan bersama-sama? Laki-laki

perempuan?”

Yu Yin juga terkejut, tiba-tiba rupanya sadar. Tapi ketika

dua pasang mata mereka bentrok dan Yu Yin merah padam

maka gadis ini menunduk dan terisak. “Maaf, aku…. aku tidak

memikir itu, Han Han. Aku hanya ingin bersamamu dan

melanjutkan bercakap-cakap. Tapi, sudahlah…. nanti aku

kauanggap gadis tak tahu malu dan kau benar. Baiklah, kita

berpisah dan mudah-mudahan bersua lagi!” dan Yu Yin yang

berkelebat dan mendahului Han Han tiba-tiba memutar

tubuhnya dan meloncat pergi. Han Han tertegun dan tiba-tiba

dia merasa kehilangan. Dia yang akan mendahului mendadak

didahului. Tapi ketika dia hendak memanggil dan diurungkan,

dia sendiri telah menyatakan tak mau bersama maka pemuda

itu menarik napas dalam dan entah kenapa tiba-tiba ada

sesuatu yang perih di hatinya, seolah perpisahan itu membuat

luka! Dan ketika Han Han tertegun dan memandangi gadis itu

sampai lenyap di sana maka Han Han mematung dan tidak

bergerak.

Aneh, Han Han mendadak menjadi bingung. Dia yang

semula mau meninggalkan gadis itu tiba-tiba saja merasa

berat ditinggalkan. Dan karena perkenalan mereka rupanya

telah membawa sesuatu yang hangat, indah, tiba-tiba Han

Han memejamkan mata karena mendadak dia ingin mengikuti

gadis itu. Kepergian Yu Yin mendadak menimbulkan semacam

rindu? Han Han terkejut dan gemetar. Dan ketika kakinya juga

ingin melangkah dan mengejar gadis itu, mendadak, tanpa

sadar, Han Han bergerak dan memanggil gadis itu.

“Yu Yin…!”

Namun si gadis telah lenyap. Yu Yin telah keluar hutan dan

aneh sekali Han Han tiba-tiba mengeluh. Dorongan kuat untuk

mengejar dan menyusul gadis itu tiba-tiba tak dapat ditahan

lagi. Han Han berkelebat dan mengejar dengan cepat. Dan

ketika Han Han melihat bayangan gadis itu di depan sana,

terisak, maka Han Han terguncang dan tak sadar bahwa

panah asmara mulai menancap di hatinya. Pemuda ini

mengeluh namun meneruskan larinya, bergerak dan kian

mendekati si gadis. Tapi teringat bahwa Y u Yin sedang marah,

tentu tak suka dia mengejar maka Han Han memperlambat

larinya dan akhirnya menguntit secara diam-diam. Dan begitu

Han Han mengikuti dan menggigit bibir, bingung kenapa tibatiba

dia tak dapat ditinggalkan gadis itu maka si nona yang

menangis dan tak tahu diikuti Han Han telah meneruskan

larinya ke selatan.

“Berhenti!” pada hari ketiga Han Han mendengar sebuah

bentakan di tepian sungai. Malam tadi dia melihat Yu Yin tidur

di hutan, di atas pohon. Han Han merasa kasihan dan ingin

mendekat namun tak berani, tidur di atas pohon yang lain

namun tak terlalu jauh dari si nona. Han Han sekalian

menjaga kalau-kalau ada binatang buas menyerang gadis itu,

ular umpamanya. Tapi ketika malam dilewatkan dengan

tenang dan menjelang terang tanah dia mendengar suara

berkeresekan dan Yu Yin bangun, dia ikut bangun dan

memperhatikan secara diam-diam ternyata gadis itu mencuci

muka dan berangkat lagi. Han Han juga harus bergerak cepat

kalau tak ingin ketinggalan. Gadis itu kini menyusuri sebuah

sungai dan matanya berkali-kali menengok ke kiri kanan,

seolah ada yang dicari. Han Han harus sering menarik

kepalanya kalau kebetulan gadis itu menengok ke belakang

pula. Dan ketika pagi itu si nona bertemu dengan

serombongan orang yang membentaknya kasar, seorang lakilaki

brewokan sudah melompat dan menghadang di depan

maka Han Han melihat gadis itu terkejut dan berkerut kening,

namun tidak kelihatan takut.

“Siapa kalian, dan mau apa!” Han Han bersinar mendengar

gadis itu mendahului lawan. Belasan laki-laki itu, yang muncul

dan menyeruak rerumputan sungai kiranya sengaja

bersembunyi dan kini memperlihatkan diri untuk mencari

setori. Mereka rata-rata berwajah kasar dan bengis, sikap atau

gerak-gerik mereka seperti perampok-perampok rendahan

yang diam-diam membuat Han Han mendengus. Sekarang

Han Han mulai tahu mana orang baik-baik dan mana bangsa

penyamun atau perampok. Han Han tak khawatir dan percaya

kepada Yu Yin. Dan ketika gadis itu bertanya dan mendahului

si brewok, yang tertegun dan membelalakkan mata maka lakilaki

itu mendengar teman-temannya tertawa.

“Ha-ha, kau didahului, It-twako. Gadis ini bertanya kau

mau apa!”

“Ha-ha, jawab saja bahwa kau mau mengambil bini.

Sambar gadis itu dan berikan cium sebagai tanda mata!”

Si brewok tertawa lebar. Akhirnya dia juga tertawa setelah

teman-temannya tadi tertawa. Mereka mengejek dan

merendahkan Yu Yin, tak melihat sinar mata gadis itu berkilat

bagai seekor harimau betina yang siap menyergap mangsa.

Namun ketika Yu Yin menunggu dan si brewok berhenti

tertawa, mengangkat tangannya tinggi-tinggi maka dia

berseru,

“Heh, aku adalah It Bong, penjaga atau penguasa sungai

It-kiang. Tidak tahu-kah kau bahwa yang lewat harus

membayar pajak, nona? Kau datang tanpa ijin, harus memberi

upeti atau pajak sesuai peraturan di sini. Nah, katakan kau

mau ke mana dan kenapa pagi-pagi begini muncul di sungai

It-kiang!”

“Hm, kau kiranya perampok? Buaya bajak sungai?” Yu Yin

mendengus. “Minggir, brewok. Atau kupecahkan kepalamu

nanti!”

“Wah, It-twako mendapat macan galak. Ha-ha, ketanggor

kau, twako. Hajar dan tangkap saja gadis ini!”

“Benar, dan telanjangi tubuhnya. Dia telah menghina It

Bong-twako!”

Si brewok terbelalak lebar. Dia dimaki dan tak dipandang

mata lawannya, Yu Yin menyuruh dia minggir sementara

dirinyapun dikata sebagai buaya sungai. Dan ketika laki-laki itu

terkejut dan heran serta kaget, tak menyangka gadis secantik

ini berani kepadanya padahal sendirian saja tiba-tiba laki-laki

itu tertawa bergelak dan merasa lucu!

“Ha-ha, ini rupanya betina yang kucari-cari, kawan-kawan.

Sudah lama aku tak menemukan calon bini segarang ini. Ah,

kalian benar. Dia harus ditangkap dan ditundukkan. Hayo,

kalian maju dan tangkap dia, tapi jangan ditelanjangi!”

Yu Yin berkilat marah. Si brewok yang tiba-tiba mundur dan

tidak marah sekonyong-konyong sudah menyuruh temantemannya

maju. Kiranya dia adalah sang pemimpin dan benar

mereka semua adalah perampok, atau bajak-bajak sungai

yang kini sedang naik ke darat, mungkin karena melihat

dirinya tadi. Dan ketika Yu Yin marah dan berkilat matanya,

melihat dua laki-laki di belakang si brewok meloncat dan

menubruk maju tiba-tiba tanpa banyak bicara gadis ini

bergerak dan….. kakipun menendang dua kali tepat mengenai

dada lawannya, yang langsung muntah darah.

“Haiikkk…. bluk-dess!”

Yang lain terkejut. Yu Yin bergerak luar biasa cepat ketika

dua orang tadi menubruk, menyelinap dan lewat di bawah

ketiak mereka untuk akhirnya membalik dengan tendangan

kilatnya. Semua itu berlangsung amat cepat dan tahu-tahu

dua laki-laki itu berteriak dan roboh terlempar. Mereka muntah

darah. Dan ketika semua terkejut karena Yu Yin membuat dua

laki-laki itu pingsan, dalam segebrakan saja maka gadis itu

bergerak dan meneruskan serangannya kepada si brewok,

juga yang lain-lain.

“Kalian perampok-perampok hina. Rupanya pagi-pagi

belum mendapat sarapan. Nah, terima ini, tikus-tikus busuk.

Dan enyahlah kalian ke dasar neraka!” dan Yu Yin yang

berkelebat dan sudah bergerak cepat, menyerang dan

menendang si brewok tiba-tiba membuat laki-laki itu berteriak

karena terlempar pula. Selanjutnya gadis ini berkelebatan

seperti walet menyambar-nyambar, belasan orang itu dihajar

dan dibuatnya jatuh bangun. Dan ketika mereka menjerit dan

terlempar ke sana-sini, tak keruan, maka Yu Yin sudah

memporak-porandakan lawan-lawannya sekejap saja. Gadis

itu tak mau memberi ampun karena si brewok dikejar dan

akhirnya diberi tendangan lagi, mencelat dan tercebur ke

sungai. Dan ketika yang lain juga kalang-kabut dan tergulingguling

tak sempat mencabut senjata, gerakan Yu Yin amat

luar biasa cepatnya maka mereka yang berkaok-kaok dan

berteriak tak keruan-keruan itu mendadak meneruskan

gerakannya dan…. mencebur ke sungai pula.

“Byur-byurr…!”

Yu Yin tertawa menghina. Belasan orang itu akhirnya jatuh

ke air, yang pingsan atau luka-luka disambar temannya untuk

dijauhkan dari gadis ini. Dan ketika semua selulup dan

berenang ketakutan maka mereka sudah menyeberangi sungai

itu dan merah padam di sana.

“Keparat, jahanam terkutuk. Gadis siluman!”

Yu Yin mengerutkan kening. Orang-orang itu yang kini

berada di seberang ternyata masih berani memaki-makinya.

Mereka mengacung-acungkan tinju sementara si brewok

sendiri basah kuyup mengamangkan golok. Gemas dan

mengancam, tapi tak berani maju. Dan ketika Yu Yin

mendongkol dan marah, orang-orang itu menghinanya di sana

tiba-tiba dia menggerakkan ujung kakinya dan belasan kerikil

hitam melesat dan menyambar orang-orang itu, termasuk si

brewok.

“Tak-tak…. aduhh!”

Brewok dan teman-temannya terpelanting. Mereka

melempar tubuh sambil menjerit-jerit, kepala atau hidung

mereka bengkak sebesar telur ayam, Yu Yin mengerahkan

kepandaiannya untuk menendang dari jauh, mempergunakan

kerikil-kerikil hitam itu. Dan ketika orang-orang itu menjerit

dan lari lintang-pukang, dari seberang masih juga dapat

dihajar gadis siluman itu maka mereka berkaok-kaok dan

meninggalkan tepian. Yu Yin tertawa dan sejenak melupakan

kesedihannya sendiri. Dia telah menghajar orang-orang itu.

Namun ketika gadis ini hendak meninggalkan sungai dan

meneruskan perjalanan, mencari-cari sesuatu mendadak

sebuah perahu meluncur tanpa penumpang.

Yu Yin terkejut dan tertegun. Perahu itu melawan arus dan

aneh sekali justeru mendatangi dirinya. Perahu itu terus

bergerak dan maju dengan cepat, seolah di-kemudikan

siluman. Dan ketika perahu itu berhenti dan tepat berada di

depannya, hal yang membuat gadis ini mengkirik dan

merinding, perahu itu seolah perahu siluman maka Yu Yin

terbelalak melihat sepotong papan berisi tulisan untuknya:

Nona benar-benar gagah. Silahkan naik perahu ini untuk

menerima kagum dari kami, orang-orang Ang-liong-pang

(Perkumpulan Naga Merah).

Yu Yin tertegun. Perahu itu bergoyang-goyang dan kiranya

merupakan semacam barang undangan yang aneh. Gadis itu

terkejut karena mendengar Ang-liong-pang adalah

perkumpulan bajak yang amat ditakuti, kalau tidak salah

dipimpin oleh sepasang kakak beradik Ang-liong Twa-mo dan

Ang-liong Ji-mo, dua laki-laki yang dikabarkan lihai dan

memiliki ilmu pukulan Ang-liong-kang, sejenis pukulan yang

mengandalkan tapak tangan berbisa yang amat ganas. Tapi

karena Yu Yin adalah gadis yang tak kenal takut dan justeru

dia “mencari mati” untuk membebaskan diri dari kekecewaan

terhadap ayahnya maka begitu mendengus dan mengeiuarkan

tawa dari hidung tiba-tiba tanpa banyak bicara lagi gadis ini

melompat dan sudah memasuki perahu.

“Ang-liong-pang, aku memang bukan orang penakut. Kalau

kalian ingin mengenai nonamu tentu saja aku datang. Nah,

mari kutemui kalian dan lihat siapa yang mau banyak

tingkah!”

Yu Yin berseru sambil sudah mematahkan sebuah dahan,

maksudnya adalah untuk mengayuh atau mengemudikan

perahu itu. Tapi ketika perahu bergerak dan tahu-tahu sudah

meluncur ke hilir, mendahului gadis itu yang hendak

mendayung maka Yu Yin kaget karena tiba-tiba kakinya

terpeleset oleh gerakan perahu yang oleng ke kiri kanan,

cepat sekali. Dan begitu dia berada di dalam perahu tiba-tiba

saja gadis ini mendengar kecipak perlahan di bawah lantai

perahu dan kiranya dua orang menjalankan perahu itu dari

bawah, mendorong sambil menyelam!

“Hei, keparat. Kiranya kalian di s itu!”

Namun Yu Yin dibuat sibuk mempertahankan diri. Perahu

yang disangka perahu siluman itu ternyata dikemudikan dua

orang penyelam yang amat lihai. Mereka betah di dalam air

tanpa memperlihatkan diri, mendorong dan meluncur seperti

ikan. Dan karena perahu sudah mengikuti aliran sungai dan

gerakannya luar biasa cepat, karena didorong pula oleh arus

air yang kuat maka Yu Yin berkali-kali mengeluarkan teriakan

kaget karena tubuhnya miring ke kiri kanan dipermainkan

gerakan perahu yang oleng ke sana ke mari, tajam dan miring

di mana berkali-kali bibir perahu nyaris menyamai permukaan

air. Yu Yin tak pandai berenang dan karena itu terpekik-pekik

marah dipermainkan dua penyelam ini. Mereka mendorong

dan mempermainkan perahu hingga nyaris gadis ini terguling.

Kalau Yu Yin tidak meloncat-loncat atau berpegangan pada

bibir perahu yang tinggi tentu dia sudah kecebur! Dan ketika

gadis itu marah karena perahu kini memasuki aliran sungai

yang deras, yang membuat gadis itu terbelalak dan pucat

maka Yu Yin menggerakkan dahan pohon di tangannya untuk

menghajar penyelam di sebelah kiri, yang saat itu kebetulan

menongolkan kepalanya.

“Dess!”

Penyelam itu menjerit. Rupanya dia tak menyangka karena

Yu Yin sudah dibuatnya sibuk mempertahankan keseimbangan

tubuh, agar tidak kecebur di air. Maka begitu senjata di

tangan gadis itu menyambar dan mengenai kepalanya, keras

sekali, maka laki-laki itu berteriak dan seketika melepaskan

pegangannya. Perahu meluncur dan kini tinggal dikuasai

seorang penyelam saja. Yu Yin mengerahkan sin-kang di

kakinya hingga kini kakinya itu melekat di lantai, tak bakalan

membuat dia terlempar atau meloncat-loncat lagi. Itulah

semacam ilmu cecak yang dapat membuat gadis ini bertahan,

paling-paling hanya pinggang ke atas yang terayun-ayun ke

kiri kanan, mengikuti gerakan perahu yang diolengkan atau

dipermainkan lawan di bawah. Dan begitu Yu Yin berhasil

menghantam lawan pertama, tinggal penyelam yang satunya

lagi maka gadis itu sudah bergerak dan mengincar penyelam

yang ini. Tapi lawan rupanya marah. Yu Yin yang menghajar

dan membuat temannya tadi menjerit kesakitan tiba-tiba

membuat penyelam ini mengguncang perahu. Perahu yang

sudah oleng ke kiri kanan itu kini miring dan bergerak-gerak

dengan hebat. Arus semakin deras dan sudah ada yang

masuk. Gadis itu terkejut. Dia tetap melekat tapi ketika perahu

nyaris terguling apa boleh buat dia harus melepas ilmu

cecaknya itu, meloncat dan berjungkir balik tinggi. Dan ketika

dia hinggap dan menyentuh bibir perahu yang lain, yang baru

saja diinjaknya maka lawan menggulingkan bagian ini dan Yu

Yin dipaksa lagi untuk meloncat menyelamatkan diri, begitu

berkali-kali. Dan karena hal ini membuat air masuk semakin

banyak dan Yu Yin juga semakin pucat, marah sekali maka

gadis itu tiba-tiba membentak ketika lawan muncul dan

membalikkan badan perahu.

“Haiii…. des-crep!”

Kejadian itu berlangsung cepat. Yu berjungkir balik dan

melontar senjata di tangannya, tepat sekali mengenai leher

orang hingga laki-laki itu menjerit dan terguling, melepaskan

perahunya. Tapi karena perahu sendiri sudah dibalik dan

tengkurap, Yu Yin berteriak karena tak mungkin dia

mengemudikan perahu yang seperti itu maka dia melepas

sebuah tendangan ketika hinggap di perut perahu yang

terbalik ini, menjerit dan gugup karena selanjutnya perahu itu

meluncur mengikuti arus, menabrak batu-batu hitam dan

akhirnya hancur bertemu sebuah batu karang, remuk

berkeping-keping dan Yu Yin meloncat tinggi berjungkir balik

ke batu ini, ngeri dan pucat karena dia sudah sendirian di

tengah sungai yang deras. Tak ada perahu yang dapat

menyeberangkannya! Tapi ketika gadis itu terbelalak dan

pucat serta marah maka terlihat tiga perahu merah

mendatanginya dari arah depan, menentang arus.

“Ha-ha, selamat datang, nona. Jangan khawatir, kami akan

menjemputmu!”

Yu Yin berkilat-kilat. Dia tahu bahwa itu pasti orang-orang

Ang-liong-pang, teman-teman dari dua penyelam yang sudah

dihajarnya tadi. Tapi ketika dia menunggu dan bersiap-siap,

girang dan akan menghajar orang-orang itu, yang berperahu

dengan cepat menentang arus tiba-tiba saja mereka berhenti

beberapa tombak mengelilingi batu karang di mana Yu Yin

berada.

“Nona, kami dari Ang-liong-pang diutus pangcu (ketua)

untuk menjemputmu. Lompatlah, kami akan membawamu ke

sana dan menerima kagum!”

Yu Yin marah. “Kalian punya otak atau tidak? Masa jarak

demikian jauh aku disuruh melompat? Dekatkan perahumu ke

mari, tikus-tikus busuk. Atau kalian semua nanti kuhajar!”

“Ha-ha, nona sudah berhasil menyelamatkan diri dari dua

penyelam kami yang lihai, dan nona juga tak sampai jatuh ke

air. Ah, ini menunjukkan kepandaianmu yang tinggi, nona.

Silahkan lompat dan kami tak akan mempermainkan dirimu.”

“Kau siapa? Tokoh, nomor berapa dari Ang-liong-pang?”

“Aku wakilnya, tokoh nomor tiga.”

“Hm!” Yu Yin memandang laki-laki bermuka kuning itu.

“Kalau begitu kau Ui-liong-hi Kwan Bhe?”

“Aha, nona sudah mengenai namaku. Tepat sekali, aku

memang orang she Kwan!” dan ketika Yu Yin tertegun dan

terbelalak memandang lawannya itu, laki-laki muka kuning

maka lawan menyuruh dia lagi untuk cepat melompat.

“Kami tak berani terlalu dekat-dekat. Batu karang itu besar

sekali, nanti perahu kami dapat menabrak pecah. Silahkan

nona lompat dan kami akan menyambutmu baik-baik. Mari,

tuan puteri. Cepatlah dan jangan ragu!”

Yu Yin terkejut. “Kau…. kau menyebut apa?”

“Ha-ha, kami tahu kau siapa, nona. Kau adalah puteri

seorang pangeran. Naiklah, dan cepat lompat ke sini!”

Yu Yin mengeiuarkan seruan kaget. Tanpa terasa gadis ini

mundur dan melotot memandang Ui-liong-hi Kwan Bhe, si

Ikan Naga Kuning yang merupakan wakil Ang-liong-pang itu.

Tapi ketika dia sadar dan tertawa geli, hal yang membuat si

muka kuning melengak maka gadis itu berseru, “Orang she

Kwan, kau sungguh lucu dan menghormatku berlebihan. Siapa

yang menjadi puteri pangeran dan menerima sambutan begini

baik? Tapi tak apalah, kau agaknya keliru mengenai orang dan

aku ingin mendapat hormat macam begini. Awas, aku ke

situ…!” dan ketika lawan tertegun dan membelalakkan mata,

kaget dan heran mendengar kata-kata itu maka Yu Yin sudah

meloncat berjungkir balik ke perahu Kwan Bhe. Sebenarnya

jarak cukuplah jauh, tak kurang dari sepuluh meter. Namun

karena gadis itu berada di tempat ketinggian dan perahu

lawan di tempat yang lebih rendah maka begitu mengerahkan

ilmunya meringankan tubuh dan berseru keras tiba-tiba Yu Yin

telah di atas perahu lawan, berjungkir balik lima kali di udara

dan tepat sekali hinggap di ujung perahu. Ada tanda-tanda

Kwan Bhe mau mendorong perahunya namun tak jadi, karena

laki-laki itu masih ragu akan omongan Yu Yin tadi. Dan ketika

gadis itu turun dan hinggap dengan ringan, sudah di ujung

perahunya maka Yu Yin berkata lagi, pongah,

“Nah, antarkan aku ke ketuamu. Anggap aku betul-betul

puteri seorang pangeran dan ingin kudapat sambutan begini

manis!”

Si muka kuning terkejut. “Kau… bukan puteri pangeran?”

“Hi-hik, anggap saja begitu, orang she Kwan. Dan hayo

berangkatkan perahumu ini seperti kata-katamu tadi!”

“Tidak!” laki-laki itu mendadak melompat. “Kalau kau bukan

orang yang kumaksud maka tak boleh kau menginjakkan kaki,

bocah siluman. Turun dan enyahlah kau…. wherrr!” dan ujung

lengan baju yang menyambar serta mengebut keras tiba-tiba

menghantam muka Yu Yin yang masih ongkang-ongkang di

ujung perahu. Gadis ini terkejut tapi tertawa, girang karena

dia sudah tidak lagi di batu karang itu melainkan di tempat

yang enak, di perahu ini. Maka begitu Kwan Bhe

menyerangnya dan laki-laki itu mempergunakan lengan

bajunya, yang keras dan tiba-tiba seperti besi maka Yu Yin

meloncat ke kiri membiarkan pukulan lewat.

“Pyarr!”

Ujung perahu hancur seperti bubuk. Yu Yin tertawa dan

mengejek lawan, si muka kuning terkejut sementara dua

perahu yang lain tiba-tiba maju mendekat. Maklumlah, wakil

ketua Ang-liong-pang itu mulai menyerang lawan. Dan ketika

mereka berlompatan dan menuju ke perahu ini, Yu Yin dikejar

dan sudah mendapat serangan bertubi-tubi maka gadis itu

mengelak dan lincah menghindar sana-sini.

“Des-dess!”

Lantai perahu berlobang. Dua pukulan lagi-lagi tak

mengenai gadis itu melainkan memukul ke bawah. Ujung

lengan baju itu menghantam kuat dan lantaipun pecah.

Namun karena perahu rupanya memiliki lantai berlapis-lapis

dan masih ada lantai lain yang menyelamatkan perahu dari

rembesan air maka Yu Yin yang lega dan tertawa-tawa sudah

berloncatan dan akhirnya berkelebatan ke sana ke mari.

“Hi-hik, keluarkan semua kepandaianmu, orang she Kwan.

Dan lihat berapa jurus kau dapat mengalahkan aku!”

“Terkutuk!” laki-laki itu membentak. “Aku akan

merobohkanmu, bocah siluman. Dan tak sampai dua puluh

jurus kau pasti terjungkal!”

“Wah, omongan si pandir. Tong kosong nyaring

bunyinya…. aiihhh!” dan Yu Yin yang terkejut melengking

tinggi tiba-tiba menjadi kaget karena dari belakang dan kiri

kanan menyerbu orang-orang lain yang membantu si muka

kuning itu. Mereka melepas tali panjang dan satu di antaranya

hampir saja menjirat kakinya, Yu Yin terkejut dan terpekik

marah. Dan ketika dari tempat yang lain bergerak orang orang

itu dan seisi perahu membantu si muka kuning, yang

mengejek dan tertawa bergelak maka Yu Yin kerepotan

karena dikeroyok dari segala penjuru.

“Nah, lihat. Siapa tong kosong nyaring bunyinya…. dess!”

dan si nona yang terpelanting oleh kebutan ujung baju lalu

bergulingan menjauh dan memaki-maki si muka kuning, yang

tidak jantan bertanding satu lawan satu karena sudah dibantu

anak buah. Sekarang Yu Yin mengerti apa kiranya arti suitan

tadi, karena Kwan Bhe lawannya itu bersuit dan bersiul aneh,

kiranya merupakan tanda bagi belasan orang anak buahnya

untuk maju mengeroyok. Dan ketika gadis itu bergulingan dan

lawan mengejar, Yu Yin cepat melompat bangun dan

mencabut senjata maka sebuah pedang pendek telah

berkelebat dan mendesing di tangannya.

“Sing-bret-brett!”

Ujung baju si muka kuning putus! Laki-laki itu berteriak

kaget melempar tubuh ke kiri. Sebuah bacokan atau tikaman

aneh menyambar, setelah tadi membabat ujung bajunya. Dan

ketika yang lain juga berteriak karena pedang hitam di tangan

gadis itu bergerak dan bergulung naik turun maka tali atau

jala yang tadi berseliweran mau menjerat tiba-tiba putus

semua.

“Mundur, semua mencabut senjata!”

Yu Yin tertawa nyaring. Sekarang gadis ini ganti mengejek

dan si muka kuning berobah pucat. Anak buahnya mundur

tanpa diperintah lagi. Dan ketika mereka mencabut senjata

dan siap mendengar aba-aba maka Kwan Bhe si Naga Kuning

sudah meloncat dan menyerang lagi, disusul anak buahnya.

“Tangkap dia, kalau perlu bunuh!” Semua bergerak

mengikuti. Tujuh belas lawan mengepung Yu Yin dengan

golok atau pedang. Kwan Bhe sendiri mencabut dayung besi

yang segera menderu menghantam gadis itu, hebat sekali.

Namun ketika Yu Yin meloncat tinggi dan berjungkir balik

menghindari serangan, dayung atau golok lewat di bawah

kakinya maka gadis itu melayang turun dan membalas.

“Cring-cring-cranggg!” Hebat sekali apa yang dilihat.

Pedang si gadis yang meluncur dan menukik ke bawah tibatiba

membentur semua senjata-senjata lawannya itu, dipapas

atau dibacok buntung. Dan ketika Kwan Bhe berteriak karena

dayung besinya juga terbabat, rusak ujungnya maka laki-laki

itu ber gulingan menyelamatkan diri ketika sinar hitam

mengejar.

“Craakk!”

Lantai perahu terbelah dua. Kwan Bhe terkesiap dan ngeri

hatinya, mata membelalak. Namun karena laki-laki itu sudah

melompat bangun dan penasaran akan semuanya ini, kalah

senjata dan bukan kalah orang maka wakil Ang-liong-pang itu

berseru agar semua tidak mengadu senjata.

“Hindarkan senjata dengan senjata. Pedang gadis itu

kiranya pedang pusaka. Awas, jangan sampai beradu!” dan

menggeram serta membentak maju laki-laki ini menyerang

lagi dengan dayungnya. Dayungnya itu masih hebat meskipun

ujungnya buntung sedikit. Dan ketika anak buahnya juga

mengikuti dan mengangguk, tahu bahwa pedang di tangan

gadis itu kiranya amat tajam luar biasa maka semua

menerjang dan kembali mengeroyok Yu Yin, menarik senjata

kalau mau berbenturan dan kawan yang lain membokong atau

melepas serangan curang, kalau gadis itu menghadapi yang

lain. Dan karena ganti berganti mereka membantu kawan dan

bokongan di belakang selalu berbahaya, Yu Yin naik darah,

maka gadis itu melengking dan tiba-tiba tubuhnya

berkelebatan seperti walet menyambar-nyambar.

“Baik, kalian laki-laki pengecut. Coba lihat siapa dapat

merobohkan aku. Wut-wut….!” dan pedang yang terus

bergerak mengikuti gadis itu, membentuk bayang-bayang

hitam yang cepat sekali akhirnya mendapat juga korban

pertama, disusul korban kedua dan ketiga dan tiga anak buah

Ang-liong-pang mandi darah. Mereka roboh dan menjerit

tanpa dapat ditahan lagi, tadi Yu Yin membalik dengan amat

cepatnya dan mereka itulah tiga laki-laki yang membokong

dari belakang. Yu Yin beterbangan tak dapat diikuti mata dan

pedangnya menikam dengan cepat, langsung menghunjam

dan mengenai dada lawan. Dan ketika gadis itu beringas dan

mempercepat gerakannya hingga belasan lawannya saling

tabrak sendiri, tak mampu mengikuti gerakannya lagi maka

pedang kembali mendapat korban.

“Crep-crep!”

Dua lengking tinggi itu tak perlu diragukan lagi. Mereka

itulah dua laki-laki keempat dan kelima, korban pedang hitam

yang terus menyambar-nyambar bagai naga tak kenal ampun.

Dan ketika yang lain terkejut dan gentar, Ui-liong-hi Kwan Bhe

sendiri mundur dengan dayung terbabat lagi maka laki-laki

bermuka kuning itu meloncat dan tiba-tiba meninggalkan

perahu.

“Mundur….. semua mundur!”

Yu Yin tertawa mengejek. Akhirnya gadis ini melihat semua

lawan berloncatan, yang roboh atau luka-luka ditendang dan

kecebur di sungai. Kwan Bhe membiarkan saja lima anak

buahnya yang kena sial itu. Dan ketika semua melompat ke

perahu yang lain, yakni dua perahu yang tadi mendekati

perahu si Naga Kuning ini maka Yu Yin tak menduga jelek dan

terkekeh-kekeh melihat lawan-lawannya itu melarikan diri.

“Hi-hik, tahu rasa kau, orang she Kwan. Lihat siapa yang

lari dan terbirit-birit!”

Kwan Bhe, wakil Ang-liong-pang itu merah padam. Dia tak

menghiraukan ejekan ini karena dengan sisa anak buahnya dia

cepat mendayung dan memutar perahu. Yu Yin tertawa-tawa

dan girang mendapat perahu sendiri. Dia sekarang dapat

menyeberang atau melanjutkan perjalanan. Tapi ketika dia

menyambar dayung dan menggerakkan perahu ini mendadak

orang-orang di atas perahu yang menjauhkan diri itu

berloncatan atau mencebur ke sungai. Yu Yin terheran dan

membelalakkan mata melihat ini, tak mengerti. Namun ketika

tiba-tiba perahunya terguncang dan diangkat beramai-ramai,

laki-laki she Kwan itu kiranya sudah di bawah dan hendak

menggulingkan perahu maka Yu Yin kaget dan berteriak tanpa

sadar.

“Heiii…!”

Namun terlambat. Si muka kuning yang bertenaga besar itu

telah membentak beramai-ramai sisa anak buahnya untuk

menjungkalkan Yu Yin. Perahu terangkat dan tiba-tiba terbalik.

Yu Yin mengerahkan tenaga kakinya namun kalah banyak,

juga kalah cepat. Dan ketika perahu terguling dan tengkurap

ke bawah maka Yu Yin berjungkir balik dan apa boleh buat

harus kembali ke batu karang besar itu.

“Bedebah, keparat!” Yu Yin memaki-maki. “Kalian orangorang

curang, orang she Kwan. Awas kalian kalau berani ke

sini!”

“Ha-ha!” Naga Kuning tertawa bergelak. “Sekarang kaulah

yang tahu rasa, bocah. Kau tak dapat ke mana-mana kecuali

pandai terbang!” laki-laki itu berenang dan menuju ke

perahunya sendiri, meloncat dan naik sambil tertawa-tawa

sementara anak buahnya juga mengikuti. Yu Yin melihat

betapa mereka itu rata-rata adalah orang yang pandai sekali

bergerak di air. Orang she Kwan itu demikian licin dan pandai

seperti belut, tubuh sudah naik ke atas dan cepat sekali dia

menyambar dayungnya. Dan ketika yang lain sudah

berlompatan dan dua perahu itu penuh lagi maka Kwan Bhe

memberi aba-aba agar menyerang dengan panah.

“Robohkan dia, sampai mampus!”

Yu Yin sibuk. Kwan Bhe sendiri sudah menjepret sebatang

panah setelah maju mendekat, dayungnya dilempar dan kini

puluhan anak-anak panah menyambar ke arah gadis ini. Dan

ketika Yu Yin memutar pedangnya dan menangkis semua

serangan itu maka gadis yang marah ini menggerakkan

tangan kiri pula untuk menangkap beberapa batang anak

panah yang berani mendekat. Lalu ketika lawan dibuat kagum

karena gerakannya tangkas dan tepat maka dia melontar

anak-anak panah itu dan tiga anak buah laki-laki ini roboh

menjerit.

“Keparat, jangan dekat-dekat!”

Namun orang-orang itu juga tak dapat melepas panah.

Tanpa diperintah lagi mereka sudah menjauhkan diri dan arus

yang deras membuat perahu mereka berputar-putar. Kalau

mereka melepas anak panah maka secepat itu pula Yu Yin

akan menangkap dan meretournya lagi. Seberapa anak panah

menyambar seberapa itu pula gadis ini coba menyerang balik.

Dan ketika pedang yang menangkis juga dibuat sedemikian

rupa hingga panah menyambar pemiliknya sendiri maka

orang-orang itu tak berani mendekat dan sudah memasang

jarak yang terlalu jauh. Yu Yin sudah tak diserang lagi dan

gadis itu tertawa-tawa di atas batu karang, lupa bahwa dia

juga tak dapat turun karena tak ada perahu mendekat. Dan

ketika si Naga Kuning memberi aba-aba untuk kembali dan

lenyap di tikungan depan maka barulah gadis itu sadar bahwa

dirinya sendirian.

“Heii, kalian! Berhenti dan seranglah aku!”

Namun si muka kuning tak menghiraukan. Yu Yin terlalu

lihai baginya dan pedang di tangan gadis itu terlalu hebat.

Dayungnya buntung dua kali dan anak-anak buahnya

terlempar tak keruan. Kalau terus dia menyerang salah-salah

semua anak buahnya bakal habis. Maka ketika dia

memerintahkan untuk kembali sementara gadis itu tak

mungkin meninggalkan tempatnya, Yu Yin masih di atas batu

karang maka laki-laki ini hendak memanggil bala bantuan

untuk menangkap atau menghajar. gadis itu lagi.

Yu Yin tak mengerti apa yang dilakukan lawan dan dia

mengira lawannya itu tak kembali, ketakutan. Tapi ketika dia

membanting-banting kaki dan gelisah tak keruan, terkurung di

tengah arus deras maka saat itulah belasan perahu datang

dengan cepat. Si Naga Kuning tampak di depan sendiri dan

kembali lagi, ternyata masih tak jera!

“Yu Yin, tangkap tali ini. Cepat, musuh-musuhmu terlalu

kuat!”

Yu Yin terkejut. Dari seberang tiba-tiba muncul Han Han.

Pemuda itu berkelebat dan sebenarnya sejak tadi sudah

melihat pertempuran itu. Han Han hendak membantu namun

dilihatnya gadis itu dapat menghadapi lawan-lawannya, tentu

akan marah kalau dia maju membantu. Maka ketika Yu Yin

ditinggalkan lawan-lawannya dan Han Han bingung mau

menolong dengan apa, sebenarnya tak mau memperlihatkan

diri mendadak pemuda itu melihat rombongan di depan itu.

Han Han melihat bahwa si Naga Kuning kembali lagi dengan

banyak orang, tak kurang dari seratus. Dan karena dia juga

bingung bagaimana caranya menolong Yu Yin maka Han Han

membuat seutas tali dan kini muncul memperlihatkan dirinya,

berseru dari seberang. Tapi ketika Yu Yin mendelik dan

membuang muka, tak mau melihat tali yang sudah dilempar

maka Han Han tertegun sementara rombongan orang-orang

itu sudah kian dekat.

“Heii, tangkap tali itu. Cepat!”

“Huh, aku tak butuh pertolonganmu!” gadis itu mendengus,

kini memperdengarkan suaranya. “Kau boleh berteriak-teriak

di situ, Han Han. Tapi aku tak takut dan tak perlu

bantuanmu!”

“Ah, tapi kau sendirian di atas batu karang, tak dapat

keluar. Bagaimana tak perlu ditolong, Yu Yin? Hayo, cepat

tangkap tali ini, kuseret dan kubawa ke seberang!”

“Aku tak sudi!” gadis itu melotot. “Aku masih dapat

menjaga diriku, Han Han. Pergi dan enyahlah kau!”

Han Han terkejut. Saat itu orang-orang di atas perahu

sudah dekat dan Naga Kuning tertawa lebar menghampiri

cepat. Di perahu nomor dua berdiri sepasang laki-laki pendek

bertubuh kekar. Laki-laki itu mengamati Yu Yin dengan

pandangan tidak berkedip. Han Han juga men jadi pusat

perhatian karena pemuda itu tiba-tiba muncul di situ. Namun

karena orang tak tahu siapa pemuda ini dan Yu Yin lah yang

menjadi incaran utama maka Kwan Bhe, si muka kuning itu

berseru pada dua laki-laki di perahu nomor dua akan gadis ini.

“Pangcu, inilah gadis siluman yang kumaksud. Dia bukan

gadis yang kita duga itu dan telah melukai beberapa anak

buah kita. Lihat, dia cukup lihai dan saksikan gerakan pedang

hitamnya…. wut!” dan sebatang anak panah yang menyambar

ke atas batu karang tiba-tiba telah dilepas laki-laki ini untuk

membuktikan kepandaian Yu Yin. Dua laki-laki di perahu

belakang tak mengeluarkan suara, mata mereka masih tak

berkedip memandang gadis itu. Han Han yang ada di tepian

masih juga tak diperhatikan, kecuali oleh orang-orang di

perahu lain. Dan ketika Kwan Bhe menyerang dan melepas

sebatang anak panah maka Yu Yin yang masih memegang

pedang hitamnya itu cepat menangkis.

“Trak!”

Panah terpental dan menyambar pemiliknya. Sama seperti

tadi gadis inipun menangkis serta mementalkan panah lawan,

tenaganya dikerahkan sedemikian rupa agar anak panah tidak

patah, karena kalau tidak tentu sudah putus seperti besi-besi

yang lain. Dan ketika anak panah itu mencelat dan

menyambar pemiliknya sendiri maka Kwan Bhe menyampok

dan anak panah itu runtuh.

“Lihat, dia cukup lihai, pangcu. Dan pedang hitamnya itu

luar biasa sekali!”

“Dekatkan perahu, kepung!” satu di antara dua laki-laki

kekar tiba-tiba berseru dengan suaranya yang parau. “Jangan

sakiti gadis itu, Kwan Bhe. Aku akan melihat sendiri apakah

dia gadis yang kita maksud atau bukan!” dan berkelebat serta

berjungkir balik ke atas batu karang tiba-tiba si pendek yang

kekar ini telah berhadapan dengan Yu Yin, sama-sama berdiri

di atas batu!

“Nona, kupikir kau adalah orang undangan kami. Tapi

pembantuku mengatakan bukan, kau menyangkal. Apakah

benar kau bukan dari kota raja?”

“Apa yang kau maksud?” Yu Yin terkejut, diam-diam

tergetar melihat ilmu meringankan tubuh orang yang cukup

luar biasa, hanya empat kali berjungkir balik saja. “Aku tak

mengerti dan tak suka menjawab pertanyaanmu. Yang jelas

aku adalah gadis kang-ouw!”

“Hm, kau telah melukai It Bong, dan gerak tendanganmu

itu mirip Soan-hong-twi (Tendangan Badai) yang dimiliki Coaongya,

Apakah kau bukan puterinya?”

Yu Yin pucat, tiba-tiba mundur. Tapi ketika dia marah dan

membentak maju maka gadis ini berseru, “Aku tak tahu siapa

itu orang yang kau maksud. Ilmu tendangan banyak

ragamnya, masing-masing hampir sama. Kalau kau pangcu

dari Ang-liong-pang maka minggirlah dan jangan mencari

perkara kalau tak ingin aku membunuhmu!”

“Hm,” si pendek itu tersenyum, tiba-tiba menjura. “Kalau

begitu betul kau orangnya, nona. Kaulah Coa-siocia (nona

Coa). Mari, silahkan turun ke perahu dan maafkan semua

perbuatan anak buahku yang tidak mengenai dirimu.”

“Apa?” Yu Yin membentak. “Kau gila dan tidak waras? Eh,

enyahlah dan jangan ganggu aku lagi, Ang-liong-pangcu. Atau

aku memaksamu turun dan biar kau kapok!” dan Yu Yin yang

marah tidak mau banyak bicara lagi tiba-tiba menggerakkan

pedangnya menusuk lawan. Ang-liong-pangcu mengelak

namun pedang terus mengejar, laki-laki itu tetap tersenyum

karena merasa dugaannya benar. Entah bagaimana dia yakin

bahwa gadis itu adalah puteri Coa-ongya (pangeran Coa) dari

kota raja.

Tapi ketika pedang terus mengejar dan tak dapat dia

mengelak terus maka ketika dia mengelak dan merunduk

maka sebuah tendangan dilancarkan.

“Plak!”

Yu Yin terkejut terhuyung mundur. Lawan tiga kali

berturut-turut menghindar serangannya dan baru kali itu

merasakan pergelangan tangannya tergetar tapi pedang tak

sampai terlepas, gadis itu marah. Tapi ketika dia hendak

menyerang lagi dan membentak lawan tiba-tiba si kekar ini

berjungkir balik dan turun , ke perahunya.

“Suheng, gadis ini adalah benar-benar Coa-siocia. Coba

bagaimana agar dia dapat menerima kita!”

“Hm,” si kekar satunya, yang ternyata Twa-mo adanya,

ketua nomor satu, ber sinar dan mengangguk-angguk. Dia

sudah melihat sekilas ilmu pedang Yu Yin tadi dan ganti

melompat ke atas. Dan ketika dia berjungkir balik dan

berhadapan dengan si gadis maka dia membungkuk dan

menjura. “Nona, ayahmu sudah lama mencari-carimu. Kami

diutus untuk mencari dan menyuruhmu pulang. Kalau kau

belum mau pulang s ilahkan berdiam di tempat kami dan nanti

ayahmu datang!”

“Kau bicara apa? Kenapa melantur dan bicara yang tidak ku

mengerti? Eh, kalau kau Ang-liong Twa-mo maka aku-pun tak

takut padamu, pangcu. Lihat aku menyerangmu dan sampai

kapan kau dan yang lain-lainnya itu menutup mulut tidak

bicara lagi!” dan Yu Yin yang marah membentak maju tibatiba

juga menyerang dan menusuk ketua nomor satu ini.

Wajahnya sudah berobah dan kakinya menggigil mendengar

kata-kata orang. Yu Yin rupanya marah atau mungkin

bingung. Entahlah, gadis ini tiba-tiba juga menampakkan sikap

yang aneh. Tapi ketika serangannya dielak dan pedang

menyambar ke samping maka Ang-liong Twa-mo menetak dan

memukul pergelangan tangan.

“Plak!” Yu Yin lagi-lagi terhuyung. Dibalas dan dipukul

seperti itu tiba-tiba gadis ini melengking sengit, dia bergerak

dan kini berkelebatanlah tubuhnya memainkan ilmu pedang

yang ganas. Pedang itu membacok dan menusuk dengan tipu

atau gaya setengah ilmu golok. Tapi ketika Twa-mo berseriseri

dan justeru gembira melihat ini maka di samping

berkelebatan mengelak dan menghindari serangan

mulutnyapun memuji.

“Ah, benar. Inilah Kiam-to Kwi-sut (Silat Iblis Golok

Pedang) yang dipunyai ayahmu. Ha-ha, kau tak dapat

menyembunyikan diri lagi, siocia. Kami sudah yakin dan kau

tak dapat menyangkal…. brett!” Ang-liong Twa-mo

menghentikan seruannya, terganti oleh teriakan kaget karena

baju di sebelah kirinya robek terbabat. Dalam kegirangan dan

gembiranya tadi dia lengah memperhatikan “pedang,

akibatnya menerima tusukan miring yang bergerak luar biasa

cepatnya, menukik dari atas ke bawah sebagaimana gaya

tikaman sebuah golok. Dan ketika laki-laki itu tak sempat

menghindar selain melempar tubuh bergulingan maka Twa-mo

lupa bahwa dia berada di atas batu karang yang tinggi.

Akibatnya ketika dia menggulingkan tubuh ke bawah tak ayal

lagi dia menggelundung ke bawah. Dan karena bawah

merupakan tempat kosong alias air sungai maka ketua Angliong-

pang itu tercebur dan kontan basah kuyup.

“Haiii…!”

Namun Ji-mo, sang adik, tiba-tiba melempar sebuah

dayung. Tepat kakaknya tercebur di sungai maka dayung itu

mendahului ke bawah. Twa-mo tahu maksud adiknya dan

sudah meraih dayung ini, menjejakkan kaki dan berjungkir

balik. Dan ketika dia di atas perahu lagi dan Yu Yin terkekeh,

geli, maka ketua Naga Merah itu semburat mukanya namun

masih tidak marah.

“Coa-siocia, silahkan turun. Kami bukan musuh. Tak apa

sedikit main-main ini dengan mengingat muka ayahmu!”

“Hm, begitukah? Baik!” dan Yu Yin yang menghentikan

tawa dan mukanya berubah gelap lagi tiba-tiba menerima

seruan itu dengan meloncat turun. Tapi karena di situ ada

belasan perahu dan gadis ini sudah memilih perahu mana

yang akan diincar maka begitu dia meloncat dan melayang

turun bukannya perahu si ketua yang dituju melainkan perahu

lain yang berisi anggauta-anggauta Ang-liong-pang yang

biasa. Dan, begitu dia hinggap dan menginjakkan kakinya di

sini tiba-tiba gadis itu bergerak dan memukul serta

menendang. Pedang hitam disimpan dan tujuh awak perahu

berteriak kaget. Mereka tak menyangka bahwa Yu Yin memilih

perahunya, bukan perahu si ketua. Dan karena mereka jelas

bukan tandingan karena mereka adalah anggauta-anggauta

biasa maka tujuh orang itu terjungkal dan Yu Yin pun sudah

menyambar dayung untuk selanjutnya melarikan diri dari

kepungan.

“Heii…!” dua ketua Ang-liong-pang berseru kaget. “Jangan

lari, Coa-siocia. Tunggu dan kembali!”

Namun Yu Yin terkekeh-kekeh. Gadis itu menggerakkan

dayung selain mengayuh juga menghantam atau mendorong

pe-rahu-perahu di depan. Gadis ini memang tak mau

mendekati perahu sang ketua atau wakil ketua, sengaja ributribut

dengan para anggauta biasa yang banyak terdapat di

situ, mengelilingi batu besar di mana dia tadi berada. Dan

karena Yu Yin cerdik menjalankan akalnya, perahu raelejit dan

yang lain diterjang maka tujuh perahu lawan dibuat jungkir

balik dan tenggelam! Gadis itu terus tertawa dan mendayung

perahunya dengan cepat, bukan menyingkir melainkan

menuju seberang. Dan ketika dia meloncat dan berjungkir

balik ke daratan, Han Han menyongsong maka gadis itu

berseri mengejek si pemuda.

“Lihat, tanpa pertolonganmupun aku sanggup

menyelamatkan diri, Han Han. Tak perlu kau sombong dan

bersikap sok!”

Han Han tertegun, sejak tadi mendengarkan percakapan.

“Yu Yin, kau… kau puteri pangeran?”

“Siapa bilang? Kau juga mau berbuat bodoh terpengaruh

oleh omongan mereka itu? Heh, jangan gila dan tidak waras,

Han Han. Aku benci mendengar semua itu dan lihat aku akan

menghajar mereka di sini!”

“Tidak… jangan!” Han Han terkejut, melihat ketua Angliong-

pang dan anak buahnya itu mengejar. “Jangan mencari

permusuhan, Yu Yin. Kalau dapat dihindarkan marilah

dihindarkan. Mereka hanya salah paham kepadamu.”

“Tapi tadi mereka mempermainkan aku di sana, mentangmentang

di tengah sungai dan aku tak dapat berenang!”

“Tapi sekarang kau sudah selamat, Yu Yin. Marilah, kita

pergi!” tapi ketika gadis itu berontak dan melepaskan dirinya,

Han Han memegang dan menyambar tangannya maka gadis

itu berapi-api memandang si pemuda.

“Han Han, aku bukan budakmu, aku bukan apa-apamu.

Kalau kau mau menguasai aku marilah kita bertanding dan

aku akan bertempur sampai mampus!”

Han Han tertegun. Kalau Yu Yin sudah marah-marah

seperti ini maka dia merasa teriris. Ada perasaan terpukul di

situ. Ya, Yu Yin ini apanyakah. Bukan apa-apa! Dan ketika Han

Han terbelalak dan mundur selangkah, ketua Ang-liong-pang

itu sudah tiba dan berloncatan di tanah maka Twa-mo

membentak agar gadis itu menyerah.

“Coa-siocia, kami akan terpaksa menangkapmu kalau kau

tidak mau baik-baik ikut kami. Nah, pilih salah satu antara

melawan atau menyerah!”

“Aku akan melawan, aku akan menghajar kalian!” dan si

nona yang berkelebat memaki lawannya tiba-tiba mencabut

pedang dan menusuk ketua Ang-liong-pang ini, tak perduli

pada yang lain karena selanjutnya dia sudah membentak dan

melengking-lengking. Twa-mo mengelak maju mundur namun

serangan si gadis kian berbahaya. Tadi di atas batu karang

saja dia hampir tertusuk, kalau tidak melempar tubuh

mengelak. Dan ketika kali ini Yu Yin juga menyerangnya ganas

dan bertangan kosong saja rasanya berat apa boleh buat TwaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

mo mencabut senjatanya, sebuah ruyung pendek di mana

ujungnya diganduli sebuah besi bulat. Dan ketika senjata itu

bergerak dan angin terdengar menderu maka untuk pertama

kali dia menangkis.

“Crass!”

Besi bandul itu ternyata putus! Twa-mo kaget dan si Naga

Kuning, wakilnya, berteriak agar dia tak usah mengadu

senjata. Pedang di tangan gadis itu betul-betul ampuh dan

sang ketua yang sudah mencoba kini mendapat buktinya. Dan

ketika Twa-mo melempar tubuh bergulingan sementara

adiknya, Ji-mo, membentak dan berteriak marah maka laki-laki

itupun mencabut senjata berupa golok lebar.

“Nona, kau tak menghargai kami. Baiklah, kami akan

menangkap dan merobohkanmu…. wutt!” dan badan golok

yang menyambar dari samping tiba-tiba membacok namun Yu

Yin mengelak sambil memutar tubuh, menggerakkan

pedangnya menangkis namun golok sudah ditarik cepat. Ji-mo

rupanya tak mau beradu senjata setelah membuktikan

ketajaman pedang hitam. Laki-laki itu jerih! Tapi ketika dia

maju lagi dan anak buah yang berdatangan disuruh berjaga

atau menyerang kalau ada kesempatan maka Yu Yin sudah

dikerubut tiga dan gadis ini s ibuk.

“Sing-sing-cratt!”

Tali rambut Kwan Bhe putus. Lagi-lagi untuk kesekian

kalinya pedang hitam membabat apa saja. Wakil Ang-liongpang

itu berteriak ngeri dan melempar tubuh bergulingan.

Kepala yang nyaris dibabat membuat dia marah dan juga

pucat. Tapi karena di situ ada dua orang ketuanya di mana

masing-masing sudah menerjang dan menggerakkan golok

atau ruyung maka Yu Yin dipaksa naik turun karena

pedangnya sekarang tak mendapat sasaran.

“Curang, seorang dikeroyok tiga orang!” Han Han, yang

melihat itu tiba-tiba membentak dan marah. Pemuda ini mau

membantu namun Yu Yin di balik gulungan pedangnya

membentak agar pemuda itu tidak maju. Yu Yin merasa

sanggup menghadapi lawan-lawannya karena memang dia tak

terdesak. Yu Yin tak tahu bahwa tiga tokoh Ang-liong-pang itu

tak berani bersikap keras karena semata mengingat nama

Coa-ongya, pangeran berpengaruh di kota raja. Namun karena

sikap begini justeru merugikan mereka sendiri, si gadis kian

ganas menyambar-nyambar maka apa boleh buat tiba-tiba

Twa-mo membentak dan melepas empat pelor hitam ke arah

si gadis, senjata rahasia yang akan meledak dan

menghamburkan jarum-jarum halus ke muka lawan.

“Awas…!”

Yu Yin terkejut. Si ketua memberi peringatan namun dia

tersenyum mengejek. Yu Yin menangkis dan bermaksud

membuat pelor-pelor itu terpental. Namun karena pelor itu

akan meledak dan pecah bertemu pedang, hal yang tak

diketahui Yu Yin maka gadis itu menjerit ketika tiba-tiba saja

terdengar ledakan itu dan berhamburannya jarum-jarum

halus.

“Aihhh…. dar-dar!”

Yu Yin terkejut bukan main. Pedang yang semula

menangkis dan mau menyerang lawan tiba-tiba digerakkan

secepat kitiran. Bayangan hitam bergulung-gulung

membungkus rapat tubuh gadis ini. Dan ketika semua jarum

terpental dan menyerang tiga orang itu sendiri, sebagian

menyambar anak buah Ang-liong-pang maka terdengar jerit

atau pekik di antara mereka yang terkena.

“Awas, mundur semua!”

Yu Yin marah sekali. Twa-mo membentak orang-orangnya

agar menjauh sedikit. Dia melepas lagi empat pelor hitam dan

Yu Yin melindungi diri dengan putaran pedangnya yang cepat.

Air hujan pun agaknya tak mampu membasahi gadis ini kalau

Yu Yin sudah bergerak seperti itu. Dan ketika empat pelor

kembali meledak dan menghamburkan jarum-jarum halus,

yang dipukul atau diruntuhkan tiga orang itu ketika membalik

menyambar mereka maka Ji-mo juga mengeluarkan pakupaku

tulang untuk menembus kerapatan bayangan pedang di

tangan si gadis.

“Serang terus, sampai dia lelah!” aba-aba atau seruan ini

membuat Yu Yin naik pitam. Dia membentak dan membuka

gulungan pedangnya untuk menyerang Ji-mo. Laki-laki itulah

yang berseru dan memberi aba-aba temannya. Tapi ketika dia

membentak dan membuka diri, menyerang Ji-mo maka

ruyung menderu sementara tujuh pelor hitam melesat cepat

untuk merobohkannya.

“Cring-crang-dar!”

Yu Yin menjadi gusar. Dia terpaksa menarik serangannya

tadi dan secepat kilat melindungi dirinya lagi. Tusukan ke arah

Ji-mo dibatalkan karena harus menangkis ruyung, yang

secepat kilat ditarik pemiliknya karena tak mau beradu keras.

Dan ketika tujuh kembang api memuncrat indah karena

pedang akhirnya membentur pelor-pelor hitam itu yang pecah

dan meledak maka Yu Yin selanjutnya dipaksa untuk selalu

“bersembunyi” di balik gulungan pedangnya.

“Ha-ha, bagus. Biarkan dia menghabiskan tenaga, Ji-te.

Dan kita akan menangkapnya mudah kalau sudah begitu!”

“Benar, dan hebat sekali gadis ini. Kalau kita tidak ingat

pesan Coa-ongya tentu tak segan-segan aku menghabisinya!”

“Jangan, bersabarlah sedikit, Ji-te. Tak usah naik pitam dan

biarkan dia kelelahan. Lihat, pedangnya sudah mulai kendor!”

Benar saja, Yu Yin tampak kendor. Gadis itu mandi keringat

karena lawan hanya berputaran mengelilingi dirinya. Setiap dia

menangkis tentu lawan cepat-cepat menarik senjatanya. Dan

karena pelor atau paku-paku tulang terus dilancarkan

sementara gadis ini hanya sebagai pihak bertahan akhirnya Yu

Yin lelah dan susut tenaganya!

-ooo0dw0ooo-

Jilid 9

“HA-HA, lihat, apa kubilang tadi,” Twa-mo tertawa

bergelak. “Gadis ini akan kendor dan kehabisan tenaga, Ji-te.

Lihat dia sudah gemetar dan sebentar lagi roboh!” dan berseru

pada si nona agar menyerah baik-baik, melempar pedangnya

maka ketua nomor satu Ang-liong-pang itu membujuk, “Nona,

menyerahlah. Kami memandang muka ayahmu. Kau tak perlu

mendapat malu lebih jauh karena kami a-kan segera

menghentikan serangan!”.

“Tutup mulutmu!” gadis itu membentak, menggigit bibir.

“Aku tak akan menyerah sebelum terbunuh, Twa-mo. Kau

boleh omong besar dan aku tak perduli. Persetan dengan apa

yang kalian katakan dan aku tak mengerti apa yang

kauomong-kan itu!”

“Hm, kau puteri Coa-ongya. Kami mendapat pesan

ayahmu. Mengapa berpura-pura dan tidak mengaku?”

“Keparat, aku bukan gadis she Coa, Twa-mo. Aku orang

lain dan sudah kubilang tadi. Ah, kalian cerewet dan membuat

aku marah…. clap!” dan pedang yang berkelebat membuka

diri tiba-tiba menusuk atau menikam leher si ketua, diiringi

sebuah tendangan ke kanan di mana Kwan Bhe tiba-tiba

berteriak. Wakil ketua Ang-liong-pang itu mencelat dan Twamo

berseru kaget melempar tubuh ke belakang. Pedang terus

bergerak dan berputar ke arah Ji-mo, ketua nomor dua. Dan

karena gerakan pedang itu berbahaya sekali dan Han Han

sebagai ahli pedang juga memuji dan berseru di sana maka Jimo

melempar tubuh pula ke kiri dan terus bergulingan.

“Aku sekarang pergi!” Yu Yin tiba-tiba membalikkan

tubuhnya. Kiranya, setelah dia melakukan serangan ganas

tadi dan yakin tak akan menang, karena tiga orang lawannya

tadi hanya mengepung dan selalu menghindar, menguras

tenaganya agar dia kelelahan maka gadis ini tak mau lagi

melayani lawan. Dia yakin dirinya akan roboh sendiri kalau

terus memutar pedang seperti kitiran, padahal lawan tak

menyerang dan menunggu dia kelelahan. Dan karena betul

saja dia sudah lelah sementara tiga orang itu sewaktu-waktu

siap merobohkannya, begitu dia jatuh kehabisan tenaga maka

Yu Yin tak mau lagi meladeni dan melakukan jurus Siluman

Terbang Membabat Teratai, satu jurus berbahaya di mana dia

telah memaksa lawan-lawannya mundur. Dan begitu mereka

bergulingan sementara si wakil ketua berteriak mendapat

tendangannya, Yu Yin tertawa, maka gadis ini melesat dan

meninggalkan pertempuran.

“Han Han, ayo kita pergi. Aku sudah muak melayani orangorang

yang licik ini!”

Han Han tertegun. Yu Yin yang semula tak mau didekati

mendadak sekarang minta pergi bersama. Ini berarti gadis itu

sudah mau berbaik tapi Han Han maklum bahwa itu semua

karena si gadis ingin minta perlindungan, secara tak langsung.

Wakil letua dan ketua-ketua Ang-liong-pang itu orang-orang

yang cukup lihai, juga mereka cerdik. Terbukti ingin,

menguras tenaga si gadis karena pedang hitamnva terlalu

ampuh. Dan karena hal itu sudah dilakukan dan Yu Yin mati

kutu, gemas dan marah kepada lawan namun tak mendapat

perlawanan, karena mereka menghindar dan selalu mengelak

apabila hendak berbenturan pedang maka Han Han tiba-tiba

tersenyum dan mengangguk, merasa bahwa itu memang yang

terbaik, apalagi sejak tadipun sebenarnya dia juga tak suka

mengikat permusuhan.

“Baik,” Han Han berkelebat. “Sudah kubilang tadi, Yu Yin.

Tapi kau sendirilah yang mencari perkara.”

“Eh, siapa mencari perkara?” gadis itu mendadak berhenti,

melotot. “Jaga mulutmu baik-baik, Han Han. Atau aku akan

menyerangmu dan boleh kau bela orang-orang itu!”

“Eh, maaf…. maaf. Aku tidak maksudkan begitu. Sudahlah,

mari pergi dan kita tinggalkan orang-orang ini!”

Namun terlambat. Yu Yin yang marah-marah dan sejenak

memaki Han Han tiba-tiba membuat kesempatan bagi ketuaketua

Ang-liong-pang itu. Twa-mo, yang marah dan melompat

bangun sudah memberi aba-aba kepada semua anak buahnya.

Mereka bergerak dan mengepung, jalan keluar sudah ditutup.

Dan sementara dua muda-mudi itu bercekcok karena Yu Yin

tak mau dikata mencari perkara, hal yang memang

sebenarnya begitu maka ketua nomor satu ini sudah memberi

aba-aba dan semua anak buahnya berloncatan menghadang.

Dan begitu mereka bergerak dan seratus lebih membuat

lingkaran lebar, Yu Yin tak mungkin dapat lolos tanpa

membuka kepungan itu maka Twa-mo sudah melompat maju

dan bersama Ji-mo yang juga sudah melompat bangun tibatiba

dua orang ketua ini melepas senjata-senjata rahasianya.

“Awas, jangan sampai gadis itu lari. Siapkan jala…. dar-dardar!”

Yu Yin terkejut, membentak dan melempar tubuh

bergulingan ketika pelor-pelor itu meledak ditangkisnya. Han

Han sendiri hanya mengegos dan menangkap empat pelor

hitam, yang tak meledak karena bertemu telapak tangan yang

lunak. Dan ketika paku-paku tulang juga dielak dan sebagian

ditiup runtuh, hal yang membuat dua ketua Naga Merah itu

terbelalak maka Han Han melempar empat pelor itu kearah

orang-orang Ang-liong-pang.

“Heii, awas!”

Tentu saja semua terkejut. Han Han yang melempar

sembarangan tapi tahu-tahu sudah meledak di depan tiba-tiba

membuat delapan anak buah Ang-liong-pang menjerit.

Mereka terpental dan ledakan keras mengguncang tempat

itu. Kepungan otomatis pecah dan ke sinilah Han Han

bergerak. Karena begitu dia tersenyum dan menggerakkan

kaki maka dia menyambar lengan Yu Yin untuk diajak pergi.

“Nah, sudah ada jalan. Ayo keluar!” Yu Yin kagum. Dia

sendiri sudah meloncat bangun ketika Han Han menyambar

lengannya. Pelor-pelor itu ditangkap dan diterima Han Han,

bukan main beraninya. Karena pelor-pelor itu dapat meledak

kalau disambut dengan keras. Tapi karena Han Han rupanya

dapat mengatur tenaga dari keras ke lunak, ini yang

mengagumkan maka Yu Yin mendecak dan tertawa di

samping pemuda itu.

“Bagus, terima kasih, Han Han. Tapi tak usah kita

berpegangan!”

Han Han terkejut. Memang dia telah memegang tangan

gadis itu untuk diajak pergi, bukan untuk apa-apa. Tapi karena

gadis itu bicara begitu dan mau tak mau mukanya semburat

maka Han Han melepaskan pegangannya dan mereka keluar

kepungan.

Namun bentakan di kiri kanan tiba-tiba terdengar. Belasan

benda-benda berkilap menyambar dari atas. Han Han dan Yu

Yin terkejut karena itulah jaring-jaring berkerincing yang

menakup kepala. Agaknya, para anggauta Naga Merah yang

sudah diperintah ketuanya menyiapkan itu, menyerang dan

berlompatan mengejar sementara dua jaring dari belakang

menyambar paling hebat, cepat dan luar biasa karena itulah

sepasang jaring yang digerakkan ketuanya sendiri, Twa-mo

dan Ji-mo. Dan karena duapuluh jaring sudah di atas kepala

dan- musuh-musuh di kiri kanan tak membiarkan mereka

pergi maka Yu Yin memutar pedangnya dan jaring di atas

kepalanya terbabat putus.

“Cras-cras-cras!”

Yu Yin terhindar. Tapi lain gadis ini lain pula Han Han.

Pemuda yang tak bersenjata atau yang saat itu tidak

mengeluarkan senjata tiba-tiba menggerakkan dua jari

tangannya, telunjuk dan jari tengah. Dan begitu Han Han

bergerak dan menusuk atau merobek maka semua jala di atas

kepalanya juga pecah dan terpotong seperti agar-agar teriris

pisau dapur.

“Aih, pemuda siluman!” dua ketua Ang-liong-pang

berteriak. Mereka itu terkejut karena jaring yang mereka

pergunakan juga robek dikerat jari-jari pemuda itu. Tadi Han

Han sudah menunjukkan kelihaiannya dengan menangkap

pelor-pelor berbahaya, kini menunjukkan kepandaiannya yang

lain di mana jari-jarinya itu sekeras dan setajam pisau belati,

bahkan, agaknya, jauh lebih tajam lagi! Dan ketika mereka

tertegun dan bengong membelalakkan mata maka dua mudamudi

itu sudah bergerak dan lari lagi.

“Kejar, tangkap mereka!” Twa-mo tiba-tiba berseru, gusar.

“Dan bunuh si pemuda itu!”

Para anggauta Ang-liong-pang bergerak. Mereka mengejar

dan berhamburan menyerang lagi. Twa-mo melepas lagi

beberapa pelor ledaknya namun dengan ringan Han Han

mengelak atau menangkap, tanpa menoleh, hanya

mengandalkan pendengaran dan ketajaman telinganya saja.

Dan ketika pemuda itu melempar balik dan pelor-pelor

meledak melukai anggauta-anggauta Ang-liong-pang sendiri

maka Twa-mo mencak-mencak dan tak berani melontarkan

pelor-pelornya.

“Jahanam, pemuda itu ternyata lebih hebat daripada Coasiocia!”

Twa-mo sekarang sadar, tadi merendahkan dan tak

memandang mata tapi kini tiba-tiba terkejut dan kaget.

Sungguh tak disangkanya bahwa pemuda yang bercaping dan

tampak sederhana itu demikian lihai. Namun karena Coa-siocia

harus ditangkap dan itu penting sekali maka ketua nomor satu

dari Ang-liong-pang ini berkelebat dan terbang mendahului,

disusul saudaranya dan Kwan Bhe, wakilnya, juga mengikuti

dan melampaui anggauta-anggauta mereka. Para anggauta itu

tak secepat mereka dan memang tiga orang tokoh inilah yang

dapat mendahului, paling depan. Dan ketika Twa-mo sudah di

belakang lawan-lawannya dan dua muda-mudi itu dibentak

agar berhenti, tak mau, maka laki-laki ini menggerakkan

ruyungnya dan menderu amat hebat menghantam Han Han.

“Krakk!”

Ruyung itu tiba-tiba patah. Twa-mo yang terpekik dan

kaget oleh gebrakan ini tiba-tiba melihat Han Han membalik.

Pemuda itu mendengus dan menggerakkan tangan kirinya,

menampar. Dan ketika serangkum angin pukulan menyambar

ketua itu, panas, maka Twa-mo menangkis tapi mencelat

bergulingan.

“Dess!”

Kaget atau pucatnya laki-laki ini tak dapat dikatakan lagi.

Twa-mo terguling-guling sementara adiknya, Ji-mo,

membentak dan menyerang Han Han pula. Dia menggerakkan

golok lebarnya sementara paku-paku tulang juga

berhamburan dari tangan kiri. Tapi ketika Han Han mengibas

dan semua paku-paku tulang runtuh, sebagian ada yang

menyambar kembali ke ketua Naga Merah itu maka Ji-mo juga

terbanting dan mencelat bergulingan.

“Des-dess!”

Dua laki-laki itu sama-sama kaget. Kwan Bhe, sang wakil,

mau menyerang dan mengikuti jejak ketuanya. Tapi begitu

melihat kedahsyatan Han Han mendadak dia mundur dan

menarik dayungnya.

“Keparat, pengecut jahanam!” Twa-mo meloncat bangun

memaki wakilnya itu. “Serang dan bunuh pemuda itu, Kwan

Bhe. Atau kau kutendang mencelat dan mampus di sini!”

Kwan Bhe terkejut. Dia didupak dan terhuyung ke depan.

Ketuanya marah-marah dan saat itu para anggauta bergiliran

tiba. Tadi Han Han tersusul karena Yu Yin sempoyongan.

Kiranya gadis itu kelelahan dan sebab itulah dua muda-mudi

ini terkejar. Han Han tak mau meninggalkan temannya dan

terpaksa melindungi. Dan ketika mereka dikejar lagi

sementara Ji-mo dan Twa-mo membentak melepas serangan,

kini ditujukan kepada Yu Yin yang dinilai lemah maka Han Han

terpaksa menangkis dan menolak semua serangan-serangan

itu. “Plak-plak-plak!”

Ji-mo dan suhengnya terhuyung. Golok lebar itu ditangkis

begitu saja sementara ruyung yang tinggal separoh juga

tertolak ke belakang. Kwan Bhe menyerang tapi si Naga

Kuning itu bahkan terlempar, dayungnya patah menjadi

empat. Dan ketika semua gentar namun tak mau kehilangan

Yu Yin, karena gadis itu harus ditangkap karena

mendatangkan untung besar bagi mereka maka tiga orang ini

mengejar lagi dan tak mau sudah, menyerang dari jauh.

“Yu Yin, kau sempoyongan, lelah. Bagaimana kalau kau

memegang tanganku dan kuajak berlari cepat? Kita akan

selalu tersusul kalau begini, dan aku tentu sibuk kalau harus

selalu melindungi dirimu!”

“Aku masih dapat menjaga diri!” gadis itu berseru. “Tak

usah kau khawatir meskipun aku sempoyongan, Han Han.

Kalau kau ingin meninggalkan aku boleh tinggalkan, dan aku

juga tidak mengharap kau selalu menangkis serangan orangorang

itu untukku!”

“Hm, keras kepala,” Han Han menarik napas. “Kalau begitu

bagaimana jika kau lari saja dan kutahan mereka itu?”

“Apa? Kau mau menyuruhku lari semen tara menahan

mereka? Tidak, kalau mereka tidak curang dan mengeroyok

begini tak perlu aku dibantu, Han Han. Daripada kau

menghadapi mereka lebih baik aku saja!” dan si gadis yang

berhenti dan membalik ke belakang tiba-tiba membentak dan

menyerang Ji-mo. Laki-laki itu berada tepat di belakangnya

dan berkali-kali menyuruh dia berhenti. Paku-paku tulangnya

menyambar tapi selalu disampok runtuh Han Han. Maka ketika

Han Han menyuruhnya lari dan dia dianggap seolah tak kuat

lagi, gadis itu marah, maka Yu Yin membalik dan meloncat

menusuk Ji-mo.

“Heii!” sang ketua terkejut. Ji-mo tak menyangka tapi tentu

saja girang. Gadis itu sudah kehabisan tenaga dan tinggal

menunggunya roboh sendiri, kalau tak ada pemuda di

sampingnya itu. Maka begitu si nona menyerang dan Ji-mo

tahu kelemahan gadis ini maka laki-laki itu menggerakkan

goloknya dan menangkis.

“Crang!”

Pedang si nona mencelat. Golok Ji-mo sendiri putus tapi Yu

Yin terpelanting ke depan. Gadis itu terbawa oleh tenaga

bacokannya dan karena golok putus dibabat maka diapun

terjerumus. Ji-mo tertawa bergelak dan melompat ke kiri,

mengirim tendangan dari samping. Dan ketika tendangan itu

mengenai perut si nona dan Yu Yin berteriak maka gadis itu

terlempar.

“Buk!”

Ji-mo menyambar bagai rajawali menerkam mangsa. Lakilaki

ini kegirangan karena segera akan dapat menangkap

lawannya. Pedang hitam itu tak ada lagi dan gadis ini sudah

kehilangan senjatanya Tapi ketika Ji-mo bergerak dan mau

menubruk, menangkap atau menerkam lawan maka saat itu

sebuah bayangan bergerak dan tahu-tahu laki-laki ini

terlempar.

“Ji-mo, tikus busuk, enyahlah!”

Ketua Ang-liong-pang itu terpekik. Han Han, pemuda

bercaping tiba-tiba menerkam tengkuknya. Dari samping

pemuda itu bergerak amat cepat dan tahu-tahu ketua Angliong-

pang ini diangkat naik. Dan ketika Ji-mo dilontarkan dan

dilempar bagai layang-layang putus talinya maka laki-laki itu

terbanting dan seketika berdebum dengan amat kerasnya.

“Brukk!”

Tokoh nomor dua dari Ang-liong-pang itu mengeluh. Lakilaki

ini mendelik dan setengah pingsan. Anak buahnya

berdatangan menolong dan Han Han saat itu sudah

menyambar Twa-mo dan si Naga Kuning Kwan Bhe pula,

menampar dan mendorong mereka hingga dua orang itu

jungkir balik. Lalu ketika keduanya tunggang-langgang dan

berteriak-teriak maka Han Han menyambar pedang hitam dan

berkelebat membawa lari Yu Yin, yang tadi mengeluh dan

mengaduh kena tendangan si ketua nomor dua.

“Yu Yin, sekarang tak perlu kau keras kepala lagi. Ayo

menyingkir dan ikuti kata-kataku!”

Namun gadis itu menggigit lengan Han Han. Dalam marah

dan lemahnya, Yu Yin teringat tendangan si ketua tiba-tiba

gadis itu berteriak agar Han Han melepaskan dirinya. Han Han

terkejut karena lengannya tiba-tiba berdarah, si gadis

menggigit begitu kuat. Dan ketika pegangannya kendor dan

Yu Yin meloncat turun maka sambil membentak gadis itu

menyambar pedangnya lagi.

“Aku mau lari kalau sudah membalas, tendangan Ji-mo

tadi. Mana dia dan biar kubalas sakit hatiku dulu!” dan, tidak

menghiraukan Han Han yang terkejut dan berseru keras tibatiba

gadis itu lari ke arah Ji-mo yang ditolong pembantu-pembantunya.

Laki-laki itu masih tak dapat berdiri karena

bantingan Han Han tadi amatlah kerasnya. Dan ketika Yu Yin

menerjang dan membacok lawannya, yang terbaring pucat

maka empat orang di situ yang melindungi si ketua dibuat

menjerit terkena babatan pedangnya. Pedang di tangan si

gadis memang hebat karena pedang itu adalah pedang yang

ampuh. Sudah terbukti berkali-kali bahwa golok atau dayung

akan terpapas kutung. Dan karena empat orang itu hanyalah

anggau-ta-anggauta biasa dan Yu Yin tentu saja dengan

mudah membabat lawannya maka pedang meluncur dan

akhirnya membacok kepala Ji-mo.

“Hayaaa…!” si ketua memekik. Ji-mo terkejut melihat itu

dan tiba-tiba saja timbul kenekatannya. Sebenarnya, berkalikali

ketua nomor dua dari Ang-liong-pang ini tak berani

bersungguh-sungguh. Dalam serangan atau balasannya tadi

selalu dia mengurangi tenaga, karena nama Coa-ong-ya masih

terlalu disegani laki-laki ini. Tapi begitu Yu Yin membacoknya

dengan pedang hitam dan gadis itu kalap tak mau sudah,

padahal dia masih kesakitan oleh bantingan Han Han maka

tiba-tiba laki-laki ini berteriak dan secepat kilat tujuh paku

tulangnya dilepas ke depan sementara tubuh sendiri

digulingkan menahan sakit.

“Crep-crep-crep!”

Yu Yin memang sudah lemah tenaganya. Gadis itu menang

nekat dan menang keras kepala. Dia sebenarnya sudah lemah

dan menghadapi orang seperti Ji-mo ini sebenarnya dia sudah

harus istirahat. Dikeroyok dan diserang berkali-kali oleh tokohtokoh

Ang-liong-pang sebenarnya gadis itu sudah kelelahan.

Maka begitu Ji-mo melempar tubuh bergulingan sementara

tujuh paku tulang dilepas dan dihamburkan ke mukanya, hal

yang membuat gadis ini terkejut maka Yu Yin menangkis dan

empat paku tulang terpental sementara tiga yang lain

mengenai pundak dan lehernya, pedang di tangannya sendiri

akhirnya membacok tanah kosong.

“Augh…!” gadis itu roboh. Yu Yin melotot tapi tiba-tiba

terguling. Pundak dan lehernya kehitaman. Kiranya paku-paku

tulang itu beracun! Dan ketika gadis ini pingsan sementara Jimo

terhuyung di sana, ditolong suhengnya maka Han Han

tertegun sementara yang lain-lain juga terkejut melihat ketua

mereka hampir binasa.

“Tangkap gadis itu, ikat dia ke mari!”

Hari Han tiba-tiba menggeram. Pemuda ini berkelebat dan

sebelum orang-orang Ang-liong-pang mendekat tiba-tiba

pemuda itu sudah berlutut di dekat temannya. Han Han

terkejut melihat luka kehitaman itu, tahu bahwa racun yang

ganas menyerang Yu Yin. Dan ketika dia melihat gerakangerakan

di sekeliling dan tahu-tahu dirinya sudah dikepung,

Twa-mo dan wakilnya ada di situ maka Han Han menyambar

dan memondong gadis ini.

“Ang-liong-pangcu, minggir dan menyibaklah kalian secara

baik-baik. Berikan obat penawar racun atau aku akan

membunuh kalian semua!”

“Hm!” Twa-mo, yang gentar tapi kembali berani karena

bersama banyak orang mendelik dan balas membentak Han

Han. Dia berkata bahwa pemuda itulah yang harus

menyerahkan Yu Yin dan pergi baik-baik, kalau tak ingin

dibunuh. Dan ketika Han Han berkilat dan Twa-mo marah,

karena pemuda itu membuat saudaranya kesakitan maka

ketua Ang-liong-pang ini menutup. “Aku tak menghendaki

nyawa anjingmu. Kami semua tak kenal padamu. Serahkan

gadis itu dan pergilah secara baik-baik, anak muda. Atau kami

akan membunuhmu dan kau tak dapat pulang menemui

ibumu!”

“Hm!” Han Han mendengus. “Begitukah? Baiklah, kau

sendiri yang mencari penyakit, Ang-liong-pangcu. Kalau begitu

aku akan membasmi kalian dan jangan salahkan aku!” Han

Han menyambar pedang hitam, mata berkilat berbahaya dan

Twa-mo terkejut melihat pedang itu. Han Han masih

memondong Yu Yin dan dengan tangan kiri saja pemuda itu

memegang pedang hitamnya. Tapi karena pemuda ini sudah

menunjukkan kelihaiannya dan pedang di tangannya itu juga

bukan pedang sembarangan maka begitu Han Han

mempersiapkan diri mendadak ketua ini melempar empat

pelor ledak dan menubruk pemuda itu.

“Serang, bunuh pemuda ini!”

Han Han berkelebat. Melihat sang ketua menyerang tanpa

memberi peringatan terlebih dahulu tiba-tiba Han Han menjadi

marah. Dia sudah melihat gerakan pundak ketua itu dan cepat

mengelak ketika pelor-pelor berbahaya menyambarnya. Dan

karena ia tak mau menangkis karena dapat membahayakan

Yu Yin, yang dipondongnya, maka begitu berkelebat dan

membiarkan pelor lewat maka Han Han menusuk dan

menyambar ketua Ang-liong-pang itu.’

“Cret!”

Sang ketua terkejut. Dalam satu gebrakan itu saja tahutahu

Han Han telah melukai pelipisnya. Pedang sebenarnya

mau menukik lagi namun Kwan Bhe dan para anggauta Angliong-

pang sudah menyerangnya. Mereka itu melindungi sang

ketua dan Twa-mo sendiri memekik melempar tubuh

bergulingan. Dan ketika laki-laki itu melompat bangun dan

Han Han berkelebatan melayani lawan-lawannya, dengan

pedang di tangan kiri maka tiga kepala tiba-tiba terpenggal

dari tubuhnya, jatuh menggelinding disusul pekik kaget dan

jerit yang lain.

“Aihhh…. crat-crat-crat!”

Han Han tersenyum dingin. Pemuda itu berkelebatan dan

pedang di tangannya sudah mencium darah segar. Pemuda

ini tak mau memberi ampun dan keganasan serta

kekejamannya tampak jelas. Tiga anggauta yang sudah roboh

tanpa kepala disusul lagi oleh lima tubuh yang lain. Delapan

anggauta, Ang-liong-pang tiba-tiba saja sudah binasa begitu

cepat. Dan ketika pemuda itu terus berkelebatan semakin

cepat dan Kwan Bhe menjerit karena lengannya putus,

terbabat oleh pedang hitam maka selanjutnya Han Han seperti

seekor naga haus darah yang membabati dan merobohrobohkan

lawannya.

“Awas, mundur. Awas, kita bertemu pemuda yang

telengas!”

Han Han tertawa dingin. Belasan anak buah Ang-liong-pang

tiba-tiba saja sudah berjatuhan tak diberi ampun. Han Han

adalah putera seorang ahli pedang yang ternama. Ayahnya,

Pek-jit Kiam-hiap Ju Beng Tan adalah seorang jago tanpa

tanding. Maka begitu lawan mengeroyoknya dan Han Han

mengeluarkan kepandaiannya ini, kepandaian bermain pedang

maka bayangan hitam sudah bergulung-gulung naik turun

bagai naga sakti menyambar mangsa. Han Han marah dan

timbul kebengisannya. Yu Yin yang pingsan dan luka, oleh

paku beracun membuat pemuda itu kejam. Watak dinginnya

muncul dan kalau sudah begini maka Han Han bukan lagi

putera Pek-jit-kiam Ju Beng Tan melainkan lebih tepat sebagai

putera si Golok Maut, karena memang itulah ayah

kandungnya, ayah yang mengalirkan darah dan watak yang

bak pinang dibelah dua, dingin dan sama-sama ganas. Dan

ketika belasan anggauta Ang-liong-pang bergelimpangan

mandi darah, rata-rata kutung kepalanya dibabat Han Han

maka Twa-mo dan Ji-mo yang terbelalak di luar ngeri hatinya.

Dua orang ketua Ang-liong-pang ini marah sekali. Ji-mo,

yang sudah dapat berdiri dan tegak ditolong suhengnya

melotot bagai ikan emas. Tokoh nomor dua dari Ang-liongpang

ini hampir tak percaya pada apa yang dilihat. Belasan

orang anak buahnya, ah tidak…. puluhan orang anak buahnya

sudah bergelimpangan dibabat Han Han. Tak kurang

empatpuluh lebih yang kini dibantai pedang hitam itu. Han

Han bergerak dan berkelebatan bagai rajawali menyambarnyambar.

Setiap kali pedang bergerak setiap kali itu pula

darah memuncrat. Kepala yang menggelinding sungguh tak

terhitung lagi karena berceceran di tanah. Bahkan, Kwan Bhe

akhirnya terpenggal dan kepala si Naga Kuning itu mencelat

ditendang Han Han. jatuh dan tepat berhenti di dekat dua

orang ketuanya. Dan ketika Ji-mo memekik sementara enam

puluhan anggautanya pucat dan berteriak-teriak, mengepung

tapi menyerang dari jauh maka ketua nomor dua dari

perkumpulan Naga Merah ini membentak menerjang maju.

“Jangan…!” Twa-mo berseru, kalah cepat. “Kembali, Ji-te.

Jangan dekat-dekat!”

Namun sang adik sudah naik pitam. Ji-mo tak perduli lagi

dan kemarahannya melihat anak buahnya dibantai membuat

dia tak memperdulikan kepandaian lawan. Goloknya yang baru

sudah dicabut lagi dan tangan kirinyapun bergerak melepas

belasan paku-paku tulang, semuanya bercuitan tapi Han Han

mendengus dan memutar pedang di depan tubuh, melindungi

Yu Yin yang ada di pondongannya. Dan ketika paku tulang

terpental berhamburan ke sana ke mari, menyambar Ji-mo

dan anak buahnya sendiri maka tiga belas orang roboh

terkena paku-paku tulang itu, yang ditangkis Han Han.

“Aduhh..!“

Ji-mo semakin mata gelap. Dia menggerakkan goloknya

menangkis empat paku tulang yang membalik menyambar

dirinya, meruntuhkan dan setelah itu bergerak lagi ke arah

Han Han. Dan karena tokoh nomor dua ini sudah mata gelap

dan membacok Han Han sekuat tenaga, Han Han membalik

dan menggerakkan pedang hitam maka golok di tangan lakilaki

itu putus menjadi dua.

“Crangg!”

Ji-mo melempar tubuh bergulingan. Han Han membalasnya

namun lawan menyelamatkan diri, anak buah Ang-liong-pang

bergerak dan Twa-mo sendiri mencelat membantu adiknya.

Ruyung di tangan ketua nomor satu itu menderu menghantam

Han Han, dari belakang. Dan ketika Han Han memutar pedang

namun ruyung ditarik cepat, tak berani diadu maka Han Han

sudah dikeroyok dan menghadapi lagi dua orang ketua Angliong-

pang ini, yang dibantu puluhan anak buahnya.

Namun Han Han terlalu hebat. Pek-jit Kiam-sut (Silat

Pedang Matahari) yang dimainkan begitu hebat telah

membungkus pemuda ini dan temannya. Yu Yin yang berkalikali

diincar untuk dibunuh atau dimaksudkan untuk mengacau

perhatian pemuda itu ternyata tak dapat disentuh. Si pemuda

menggerakkan pedangnya secepat kitiran. Dan karena pedang

hitam itu memang hebat dan Han Han berkelebatan bagai

rajawali menerkam mangsa, tidak tinggal diam di tempatnya

maka lain pemuda ini lain pula Yu Yin. Gadis itu tadi hanya

memutar pedang dan menunggu serangan, jadi berhenti di

tempat dan kewalahan oleh tiga tokoh Ang-liong-pang. Tapi

Han Han yang bergerak dan membalas, sering melancarkan

serangan tak terduga-duga membuat lawan lawannya

kerepotan dan sering terkejut apalagi kalau pedang sudah

menyambar di depan hidung! Twa-mo sendiri sampai harus

melempar tubuh cepat-cepat sambil berteriak meminta tolong.

Adiknya bergerak dan membokong Han Han. Tapi ketika Han

Han memutar pedangnya lagi dan membabat golok di tangan

Ji-mo maka laki-laki itulah yang harus menyelamatkan diri dan

bergulingan seperti kakaknya.

“Keparat!” dua orang itu gemetar. “Pemuda ini hebat sekali,

suheng. Agaknya, kita harus mengalah dan pergi!”

“Hm, tak mungkin pergi!” Han Han sudah marah,

menjawab dan tertawa dingin mendengar omongan itu.

“Kalau kalian mau pergi maka kepala kalian harus ditinggalkan

di s ini dulu, Ji-mo. Baru setelah itu boleh kalian pergi!”

Ji-mo dan Twa-mo gusar. Mereka membentak dan

menyerang lagi namun pedang hitam menyambut. Mereka

berteriak dan memaki lawan bahwa Han Han terlalu

mengandalkan senjata pusaka, padahal pedang itu bukanlah

miliknya. Dan ketika Han Han mendengus dingin dan

menyimpan pedang, hal yang mengherankan dua oran itu

maka Han Han bergerak dengan tangan kosong melayani

lawan.

“Baiklah, lihat kepandaianku, Ji-mo. Tanpa pedangpun aku

mampu membunuh kalian berdua!”

Dua orang itu girang. Mereka membelalakkan mata namun

menerjang lagi. Sisa anak buah dikerahkan dan anggautaanggauta

Ang-liong-pang berseri. Han Han menyimpan

pedang dan itu berarti si pemuda mencari mati. Tapi ketika

semua berhamburan dan menyerang berteriak-teriak, bangkit

semangatnya, tiba-tiba mereka memekik karena tangan

pemuda itupun ternyata mampu memotong atau menerima

senjata-senjata tajam mereka, tak kalah dengan pedang.

“Crak-crak-crak!”

Han Han membacok dengan sisi telapak tangannya.

Pemuda ini memang telah memiliki sinkang demikian hebat

hingga dengan telapak tangannyapun dia mampu beradu

senjata tajam. Jari-jari atau sisi telapak tangannya itu telah

berobah sekeras baja, berkat sinkang atau tenaga sakti yang

dilatihnya bertahun-tahun. Dan ketika golok atau tombak

patah-patah, tak kuat bertemu tangan pemuda ini maka golok

di tangan Ji-mo juga meletak dan pecah tiga potong.

“Aiihhhh…!” laki-laki itu seperti bertemu setan. Tangan Han

Han yang masih bergerak dan terus menyambar lehernya tak

dapat ditangkis lagi, goloknya sudah terlepas. Dan ketika dia

coba mengelak namun kalah cepat, sisi telapak tangan Han

Han membacok bagai golok maka leher laki-laki itu terbabat

dan….. putus.

“Crasss!”

Semua merinding berseru tertahan. Ji-mo roboh dengan

tubuh tanpa kepala, ambruk dan tumbang seperti batang

pisang yang baru dikelewang. Dan ketika semua mundur

sementara Twa-mo mendelik tak percaya, kaget tapi juga

ngeri maka Han Han berkelebat dan menyambar ke arahnya.

“Sekarang giliranmu!” sinar putih keluar dari tangan

pemuda ini. Han Han mengerahkan Kiam-ciang atau Tangan

Pedang di mana tenaga yang dipakai adalah tenaga dari kitab

kecil yang ditemukan di sumur tua. Itu adalah sinkang ajaran

ayahnya sendiri, Si Golok Maut, Dan karena Han Han

menggabung kepandaian dari ayah angkat dan ayah kandung,

hebatnya tentu saja bukan main maka Twa-mo tak dapat

mengelak dan ruyung di tangan itulah yang dipakai

menangkis, berteriak, mengerahkan segenap tenaga tapi

ruyung itu juga hancur berkeping-keping. Bandul besinya

mencelat dan menimpa seorang anak buah Ang-liong-pang,

yang menjerit dan roboh menggelepar. Dan ketika tangan Han

Han masih terus bergerak dan membabat leher lawan, seperti

yang sudah-sudah maka tulang laki-laki ini berkeratak dan

kepala itupun terpenggal seperti dibacok senjata tajam.

“Krakk!”

Han Han tak memberi ampun. Tangan pemuda ini sudah

berlepotan darah segar namun Han Han seolah orang

kehausan yang mendapat minum anggur. Semakin banyak

darah dicipratkan semakin bersemangat dia. Dan ketika Twamo

roboh dan tewas tanpa kepala lagi maka Han Han

berkelebatan dan dengan tangan kirinya itu dia membabat

sisa-sisa anggauta Ang-liong-pang yang tiba-tiba kocar-kacir,

menjerit-jerit.

“Ampun…. jangan kami dibunuh, augh ….!”

Han Han tak memberi kesempatan orang itu minta ampun,

ditebas dan kepalanyapun mencelat menyusul sang ketua.

Semua panik dan tunggang-langgang. Dan ketika hanya

beberapa saja yang berhasil menyelamatkan diri dan hampir

seratus orang tergelimpang, mandi darah, anak buah

perkumpulan Naga Merah itu nyaris habis maka Han Han

berhenti bergerak dan tegak mengusap keringat, juga darah

yang membasahi tangannya.

“Aduh…. ah, Han Han… di mana kau?”

Han Han terkejut sadar. Yu Yin, temannya itu, siuman dan

memanggil namanya, lemah namun dapat terdengar. Dan

ketika gadis itu membuka mata dan mengeluh oleh racun di

tubuhnya maka Han Han menurunkan dan meletakkan gadis

ini di rumput yang tebal. Dan Yu Yin tiba-tiba tersentak

melihat tubuh yang bergelimpangan itu.

“Han Han, kau…. kau membunuh orang orang ini?”

“Hm, betul,” Han Han mengangguk, sinar matanya tidak

seganas lagi, mencorong lembut. “Mereka minta mati, Yu Yin.

Dan aku mengantar mereka ke neraka sesuai permintaannya.”

Yu Yin meremang, mendengar kata-kata yang diucapkan

dingin itu, tak, berperasaan. “Kau membunuh-bunuhi mereka?

Kau tidak kenal kasihan?”

“Untuk apa kasihan?” jawaban inipun dingin, beku. “Aku

menyuruh mereka minggir, Yu Yin. Tapi mereka tetap

membandel dan tidak mau dengar. Dan aku tak suka dengan

orang-orang semacam ini. Kau minta diobati atau tidak?”

“Ah!” gadis itu terisak, merasa ngeri tapi juga kasihan

kepada anggauta-anggauta Ang-liong-pang itu. “Kau kejam,

Han Han. Kau telengas. Mereka hanya anak-anak buah yang

tak sepatutnya dibunuh!”

“Hm, kau mau bicara tentang mayat-mayat itu atau dirimu

sendiri? Kalau kaupun tak mau kubantu aku juga tak akan di

sini, Yu Yin. Terserah kau mau menganggap aku apa!”

“Plak!” Yu Yin tiba-tiba menampar. “Kau. menghina aku,

Han Han. Kau merendahkan aku. Kalau kau tak mau

menolong aku boleh kau pergi dan biarkan aku mampus. Aku

juga tak butuh pertolonganmu… auhh!” namun si gadis yang

mengeluh dan berteriak kesakitan tiba-tiba terguling dan

pingsan lagi. Yu Yin marah oleh sikap dan kata-kata temannya

tadi. Han Han terlalu beku dan kejam, tak berperasaan.

Pemuda itu sampai hati bicara seperti itu kepadanya. Maka

ketika rasa sakit tiba-tiba menusuk dan racun di tubuh

membuat gadis itu berteriak maka dia terguling pingsan dan

Han Han yang tertegun di situ tiba-tiba menotok dan

menolong gadis ini.

Han Han bergerak ke mayat Ji-mo. Yu Yin terluka oleh

paku-paku tulang laki-laki ini, paku yang mengandung racun.

Dan karena Ji-mo tentu mempunyai obat penawar dan Han

Han sudah menggeledah mayat laki-laki itu, menemukan

sebungkus obat maka Han Han memberikan obat ini kepada

temannya. Dan benar saja, tak lama kemudian Yu Yin siuman

lagi. Wajah gadis itu mulai memerah dan Han Han menunggu

sejenak. Dan ketika gadis itu membuka mata dan melompat

bangun, mengherankan sekali, maka Yu Yin yang sudah

sembuh tanpa sadar ini membentak,

“Kau, mengapa masih ada di sini? Bukankah katamu tak

akan menolongku? Nah, pergilah, Han Han. Aku tak butuh

pertolonganmu!”

Han Han bersinar. Segera dia tahu bahwa gadis ini

memang sudah sembuh. Gerakan Yu Yin ketika meloncat tadi

merupakan bukti. Dan bangkit menarik napas dalam tiba-tiba

Han Han memutar tubuh dan melangkah pergi sambil

membenamkan capingnya.

“Baiklah,” pemuda itu tertawa tawar. “Kalau kau

menghendaki aku pergi aku juga akan pergi, Yu Yin. Selamat

tinggal, dan hati-hatilah menjaga diri…”

Yu Yin tertegun. Seketika dia sadar bahwa dia sudah

sembuh. Rasa sakit itu tak ada lagi dan tiga bekas luka

menghitam juga lenyap. Rasa terbakar atau nyeri benar-benar

hilang. Dan ketika dia melihat bungkusan obat dan sadar

bahwa itu adalah pertolongan Han Han, yang dikira belum

menolongnya maka gadis ini tertegun, berseru tertahan.

“Han Han!” Yu, Yin berkelebat. “Kau sudah menolongku?

Bungkusan obat itu kau yang memberikannya?”

“Hm,” Han Han melejit dan menghindar dari hadangan

gadis ini. “Tak ada yang menolongmu, Yu Yin. Yang

menyelamatkanmu adalah bungkusan obat dari Ji-mo itu.

Tanya saja mayatnya dan coba kau hubungi dia!”

“Han Han!” Yu Yin menjerit. “Kau menghina dan

mempermainkan aku seperti ini? Kau menyuruh aku bicara

dengan mayat? Ah, mentang-mentang kau berkepandaian

tinggi maka kau bersikap sombong, Han Han. Kalau begitu

terima ini dan jangan kau lari dulu… singg!” pedang hitam

yang menggeletak di tanah disambar gadis ini, ditusukkan ke

arah Han Han tapi pemuda itu tertawa dingin. Yu Yin yang

marah-marah kepadanya justeru membuat perasaan Han Han

tiba-tiba beku kembali, dia merasa tak senang. Maka ketika Yu

Yin menjerit dan menyerangnya, mengejar sambil menusuk

lagi maka Han Han menepis dan berseru,

“Kita sudah tak ada urusan lagi. Maaf kalau selama ini aku

menguntitmu karena ingin menyelamatkanmu…. plak!” dan

pedang yang mencelat dari tangan si gadis, jatuh

Berkerontang akhirnya membuat Yu Yin terkejut dan

menangis, ikut terpelanting. Gadis itu berteriak dan memakimaki

Han Han bahwa pemuda itu kejam dan sombong. Yu Yin

menantang-nantang lawannya agar Han Han kembali dan

bertempur seribu jurus. Tapi ketika Han Han tertawa di

kejauhan dan tawa itu terdengar sumbang dan dingin maka

Han Han lenyap dan tak kelikatan bentuk tubuhnya lagi. Gadis

ini menangis dan entah kenapa tiba-tiba kecewa. Dia yang

semula marah-marah, seolah tak mau didekati Han Han

mendadak saja kini ingin didekati, bersama. Yu Yin merasa

bahwa Han Han tak bermaksud buruk kepadanya, terbukti

karena beberapa kali pemuda itu menolongnya, mengalah.

Dan karena Han Han akhirnya benar-benar pergi dan aneh

sekali gadis itu merasa kecewa, rindu, maka Yu Yinlah yang

kini bergerak dan mengejar-ngejar Han Han! Gadis ini

memanggil-manggil Han Han namun Han Han lenyap» entah

ke mana. Dan ketika merasa bahwa dia terikat, ada sesuatu

yang mengganggu dan mengguncang perasaannya akhirnya

Yu Yin jatuh bangun mencari Han Han. Meninggalkan sungai

dan masuk keluar hutan sambil menangis dengan air mata

bercucuran. Dan begitu gadis ini memanggil-manggil dan

menyusul Han Han, yang entah ke mana maka mayat tokohtokoh

Ang-liong-pang itu menggegerkan dunia kang-ouw

ketika ditemukan. Beberapa anak murid yang berhasil

meloloskan diri segera menceritakan ini. Seorang pemuda

bercaping bambu, dingin dan menyeramkan segera

dikabarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Pemuda itu

amat lihai dan ilmu pedangnya amat luar biasa. Dan karena

cerita dari mulut ke mulut selalu dibumbui semakin sedap,

Han Han dikabarkan seperti naga yang beterbangan dengan

pedangnya itu maka Han Han dikenal sebagai Naga

Pembunuh! Han Han tak tahu akan itu dan julukan itu sendiri

belum didengarnya. Pemuda ini memang pantas disebut

sebagai pemuda berdarah dingin. Baru saja muncul di dunia

kang-ouw sudah melakukan pembantaian seperti itu, puluhan

anak-anak buah Ang-liong-pang yang tidak pernah

bermusuhan dengannya, hanya karena ikut-ikutan atau patuh

terhadap sang ketua. Dan begitu pemuda ini dikenal sebagai

Naga Pembunuh, naga yang ganas dan tak kenal ampun maka

dunia kang-ouw mulai guncang dan was-was. Maklumlah,

siapa tahu bertemu dengan pemuda ini yang belum dikenal

jelas!

)odwo(

Seorang wanita tertawa atau terkekeh sendirian.

Rambutnya riap-riarpan, panjang sampai ke pinggul dan

wajahnya yang cantik namun kusut, tak terawat, masih

merupakan daya tarik yang besar. Wanita itu menendangnendang

batu di jalan sambil sesekali menyebut-nyebut nama

Kedolc Hitam. Melihat tingkahnya, jelas dia wanita tidak

waras, gila, atau mungkyi setengah gila. Tapi ketika dua orang

laki-laki muncul di tikungan dan berhenti menghadangnya,

duduk di atas dua ekor keledai yang selalu berkefinting maka

wanita itu tertegun dan tiba-tiba batu yang ditendangnya

ditangkap dan diremas hancur oleh satu di antara dua laki-laki

ini, dua laki-laki berhidung mancung.

“Hm, kau Wi Hong bekas ketua Hek-yan-pang, bukan?”

Pertanyaan itu, yang dilancarkan dengan suara sengau dan

agak parau membuat si wanita terkejut. Dia tersentak dan

sikap gilanya hilang. Sorot mata yang semula berputaran itu

mendadak bercahaya, berkilat dan tiba-tiba kekeh tawa yang

terhenti muncul lagi, terdengar dikeluarkan dengan lebih

menyeramkan, mirip ringkik kuda. Dan ketika wanita itu

bergerak dan tahu-tahu berdiri menghadang dengan tangan

kiri bertolak pinggang, yang kanan menuding dan menunjuk

laki-laki yang berkata maka dia berseru,

“Heh, kau ini adalah Mindra, bukan? Kakek tua bangka dari

Thian-tok (India)?”

“Hm, benar. Itulah aku,” si kakek, laki-Iaki di sebelah kiri

tersenyum, mengangguk bersinar. “Dan kau adalah Wi Hong,

bukan?”

“Keparat, aku Sin-hujin (nyonya Sin), kakek tua bangka.

Hormati suamiku atau kau mampus kubunuh!”

“Ha-ha, sudah berobah,” kakek ini tertawa, berpaling

kepada temannya. “Bagaimana pendapatmu, Sudra? Apakah

bekas ketua Hek-yan-pang ini tidak seperti dulu lagi?”

“Ya, dia sudah berobah,” kakek di sebelah kanan

mengangguk, bersinar pula matanya. “Sin-hujin ini agak

terganggu jiwanya, Mindra. Lihat sorot matanya yang mulai

berputaran liar itu!”

Wi Hong, wanita ini, memekik. Memang bola matanya

sudah berputaran lagi dan sikapnya yang waras tadi hanya

sejenak saja tertampak, setelah itu dia terkekeh-kekeh dan

mencungkil-cungkil tanah dengan kakinya. Tapi ketika belasan

kerikil tajam mencelat dan menyambar dua kakek ini, yang

duduk terkejut maka keduanya berseru mengebutkan ujung

lengan baju.

“Heh, awas. Tidak waras tetapi berbahaya!” belasan kerikil

disampok runtuh, hancur menjadi tepung tapi wanita itu tibatiba

bergerak dan berkelebat ke belakang. Dan ketika dua

ekor keledai berteriak karena ditarik buntutnya, sampai

berodol maka dua kakek itu tersentak karena binatang

tunggangan mereka mendadak lari dan kabur dengan

kesakitan.

“Hi-hik, rasakan. Boleh kalian jatuh bangun di situ!”

Dua kakek ini membentak keras. Mereka marah karena

keledai yang ditunggangi sekonyong-konyong liar. Mereka

men congklang dan lari ke kiri kanan, masing-masing seperti

kesetanan. Tapi ketika mereka bergerak dan menepuk

tunggangan mereka, keras sekali, maka dua ekor keledai itu

berhenti namun tiba-tiba roboh.

”Keparat!” terpaksa dua orang ini berjungkir balik melayang

turun. Mereka heran dan juga kaget kenapa keledai yang

ditarik buntutnya sekonyong-konyong bisa begitu, roboh

setelah dihentikan. Tapi ketika mereka memeriksa dan melihat

sebatang jarum menancap di pinggul, tepat di pangkal ekor

maka dua kakek itu gusar karena jarum beracun telah

membinasakan dua ekor binatang ini.

“Heh, tak tahu diri!” Mindra, kakek pertama membentak

geram. “Baik-baik kami menanyaimu tapi kau menyerang

kami, bocah. Kalau begitu kau perlu dihajar dan harus

mengganti kerugian…. wut!” kakek ini berkelebat, tangan

kirinya bergerak mengeluarkan cahaya merah dan angin

panaspun menyambar. Wi Hong, wanita itu, terkekeh-kekeh

dan menangkis, tidak berkelit. Tapi ketika dia terpelanting dan

ujung lengan bajunya hangus, itulah Hwi-seng-ciang atau

Pukulan Bintang Api maka wanita ini berteriak dan terkejut.

“Aiihhh, tua bangka yang cukup lihai!” Wi Hong bergulingan

memadamkan sisa api dan meloncat bangun sambil mencabut

pedang. “Heh, kau mau main-main dengan aku, Mindra? Kau

berani menyerangku?”

“Hm!” Mindra si kakek gusar mendengus marah. “Kaulah

yang mengganggu aku, Wi Hong. Kalau tidak tentu juga tidak.

Kau sudah tidak waras, kami hanya menegurmu karena

mendengar kau menyebut-nyebut si Kedok Hitam!”

“Kedok Hitam? Ah, dia memang musuhku. Dan kalianpun

musuhku karena dulu kalian juga pernah galang-gulung

dengannya. Haiittt!” dan pedang yang bergerak mendahului

lawan tiba-tiba menusuk dan menikam dengan amat cepatnya.

Wi Hong marah karena nama itu tiba-tiba disebut lagi. Si

kakek mengelak namun pedang mengikuti, bergerak

merupakan bayangan. Dan ketika hampir saja tenggorokan

kakek itu disambar dan cepat kakek ini menangkis, dengan

Hwi-seng-ciang-nya maka wanita itu terhuyung tapi

melengking dan menerjang lebih dahsyat.

“Mindra, aku akan membunuhmu!” dan pedang yang

bergerak lebih cepat menusuk dan menikam akhirnya diiringi

pula pukulan-pukulan tangan kiri yang mempergunakan Angin-

kang (Pukulan Awan Merah), menampar dan mendorong

dan sebentar saja kakek itu mundur-mundur. Mindra

kewalahan tapi kakek ini akhirnya bergerak gesit, mengelak

dan menampar dan balas memukul lawannya. Dan ketika

tangan kiri bertemu Hwi-seng-ciang dan meledak, kalah kuat,

maka Wi Hong terhuyung jatuh namun sudah menyerang lagi.

Pedang di tangannya bergerak naik turun dan lawan dipaksa

tak berani mendekat. Wi Hong mainkan silat pedang yang

hebat dan bersifat mengadu jiwa. Namun karena kakek ini

bukanlah kakek biasa karena dia adalah jago dari Thian-tok

yang dulu pernah dipakai Coa-ongya untuk menghadapi Si

Golok Maut maka kakek ini dapat bertahan dan pukulanpukulan

Awan Merah dapat ditolak baik dan Wi Hong mulai

sering jatuh.

“Keparat, kau boleh bunuh aku, Mindra. Tapi tak boleh

menghina!”

“Hm, aku tak akan membunuhmu!” si kakek berseru, gusar

tapi merasa kasihan, wanita itu tidak waras. “Kau sudah tidak

sehat jiwamu Wi Hong. Kalau kau dulu menyusul Si Golok

Maut tentu bagus. Sayang, kau masih hidup dan sekarang

gila!”

“Gila? Hi-hik, kaulah yang gila, tua bangka. Kau yang tidak

waras dan mengatakari aku gila. Aih, aku hidup karena i-ngin

membalaskan kematian suamiku. Dan kau dulu pernah

mengeroyok di Lembah Iblis. Mampuslah, pedangku masih

haus darahmu…. wut!” dan pedang yang menyambar

bergerak dari samping tiba-tiba membabat dan membacok

pinggang si kakek. Mindra menangkis tapi pedang ditarik

kembali, cepat sekali. Dan ketika s i kakek tertegun dan kaget,

heran, maka pedang membalik dan tahu-tahu membacok

kepalanya.

“Haiihh, ganas. Tapi tak dapat membunuh aku!” dan si

kakek yang mengelak dan menampar ke atas, menghalau

pedang sekonyong-konyong melihat pedang ditarik lagi untuk

diganti dengan serangan lain, kali ini tusukan ke ulu hati dan

berturut-turut wanita itu merobah atau mengganti

serangannya di tengah jalan. Rupanya, dia memang akan

mengecoh kakek ini agar tak mengetahui serangan mana yang

sesungguhnya nanti dilancarkan. Si kakek berkali-kali

mementalkan pedangnya dengan tangkisan Hwi-seng-ciang,

sementara pukulannya Ang-in-kang selalu terpental atau

tertolak balik bertemu Hwi seng-ciang. Maka ketika delapan

kali berturut-turut Wi Hong merobah serangannya dan terakhir

sekali pedang menusuk mata, cepat luar biasa maka pedang

tiba-tiba dilepaskan dan meluncur tanpa kendali.

“Aiihhh…!” si kakek sudah terlebih dulu dibuat sulit

menduga. Tujuh kali berturut-turut menangkis dan menampar

cukup membuat kakek ini marah. Dia juga bingung karena tak

mau menurunkan tangan keras, paling-paling dia membuat

pedang terpental atau pukulan tangan kiri tertolak. Maka

begitu serangan yang kedelapan dilakukan dengan melepas

pedang, yang meluncur menyambar mata maka kakek yang

baru saja berdiri tegak mengibaskan lengan ke kiri ini

sekonyong-konyong menjadi pucat namun saat itu merupakan

detik-detik paling kritis bagi si kakek lihai untuk menunjukkan

kepandaiannya. Dia sudah tak sempat mengelak lagi dan satusatunya

jalan ialah meniup. Karena begitu pipi si kakek

menggembung dan ditiup kuat, penuh hawa sakti maka

pedang terbentur dan…. patah di tengah jalan.

“Pletak!”

Wi Hong mengeluh pucat. Dia tadi melakukan jurus yang

disebut Menimpuk Bunga Mengetam Padi, satu jurus

berbahaya dan termasuk nekat, karena dia melepas senjata

dan tinggal bertangan kosong lagi. Kalau gagal tentu celaka

karena lawan akan marah, padahal dia sudah tak bersenjata.

Dan ketika benar saja serangannya gagal dan pedang bahkan

patah di tiup si kakek, hal yang mengagumkan maka Mindra

yang gusar dan berkelebat ke depan tiba-tiba menggerakkan

tangan menampar kepala wanita itu.

“Tak pantas kau diberi ampun. Mampuslah!”

Wi Hong berkelit. Dia terkejut ketika hawa panas

mendahului tamparan si kakek, mengelak namun kalah cepat.

Tapi ketika tamparan siap mendarat di kepala wanita itu, yang

berarti Wi Hong akan tewas mendadak berkelebat bayangan

putih dan tamparan atau pukulan ini ditangkis seseorang.

“Kakek kejam, tak perlu membunuh wanita!” dan benturan

keras yang membuat si kakek terpelanting dan berteriak

kaget, terguling-guling, sudah membuat Wi Hong maupun

lawan terkejut karena di situ muncul seorang pemuda gagah

bercaping bambu.

“Sin Hauw!”

“Golok Maut…!”

Dua seruan itu hampir berbareng meluncur dari mulut si

kakek maupun Wi Hong. Sudra, kakek yang lain juga berteriak

dan kaget berseru tertahan. Itulah Han Han yang datang tepat

pada waktunya, melihat pertandingan dan marahnya kakek

berhidung mancung ini. Dan karena Mindra akan membunuh

lawannya sementara Han Han telah melihat dan menyaksikan

dari dekat, diam-diam tergetar dan kasihan kepada wanita

yang rambutnya riap-riapan ini, yang agaknya setengah gila

maka Han Han bergerak dan tak mau wanita yang harus

dikasihani, itu dibunuh. Han Han menangkis dan langsung

mengerahkan Pek-lui-kangnya, bertemu dengan Hwi-sengciang

dan meledaklah suara keras seperti petir itu. Tapi ketika

dua mulut berseru berlainan, satu menyebutnya sebagai Sin

Hauw dan yang satu sebagai Si Golok Maut, padahal tokoh itu

telah tiada maka Han Han tertegun dan tiba-tiba terkejut

ketika wanita setengah gila yang rambutnya riap-riapan ini

terkekeh dan menubruknya.

“Aih, kau kiranya, Hauw-ko (kanda Hauw). Kau datang

tepat pada waktunya dan telah menyelamatkan aku. Ah,

terima s kasih. Kau ternyata masih hidup!” dan Han Han yang

langsung dipeluk dan diciumi, terkejut, tiba-tiba melihat

wanita itu terisak dan menangis tersedu-sedu. Dan saat itu

kakek berhidung mancung yang ditangkis pukulannya tiba-tiba

mencabut nenggala dan membentak, disusul temannya yang

juga mencabut cambuk baja dan meledakkannya di udara.

“Golok Maut, rohmu kiranya masih berkeliaran di bumi.

Mampuslah…. dar!” dan cambuk yang menyambar serta

meledak menuju lehernya, menjirat, sekonyong-konyong

disusul gerakan nenggala yang menusuk lambung.

“Minggir!” Hari Hari terkejut dan berseru keras. Dia masih

tak mengerti omongan orang ketika tiba-tiba dua senjata itu

menyerangnya begitu hebat. Nenggala mengaum dan

suaranya mirip topan menderu, cambuk di atas kepala sudah

meledak dan siap menyambar lehernya. Kalau dia lengah

sedikit barangkali lehernya bisa terbabat putus. Dua senjata

itu sama-sama berbahaya. Dan karena wanita itu memeluknya

dan Han Han sejenak tertegun karena tangis dan pelukan

wanita itu membuat bulu romanya berdiri, meremang, ada

sesuatu yang tiba-tiba seakan menyentaknya dari alam halus

maka Han Han bergerak dan cepat mendorong wanita itu

serta melempar tubuh sambil melakukan tendangan dari

bawah.

“Des-des-tarr!”

Bumi yang diinjak seketika hangus. Han Han meloncat

bangun dan terbelalak melihat itu. Dua kakek itu tiba-tiba saja

garang dan beringas. Mereka menyebutnya sebagai Si Golok

Maut dan dia disangka rohnya, Han Han tertegun. Tapi ketika

dua kakek itu juga terbelalak dan tertegun sejenak, kaget

melihat Han Han mampu menghindar dan menendang cambuk

maka dua-duanya sudah membentak dan menerjang lagi.

“Heii, kalian gila!” Han Han berteriak, melihat nenggala dan

cambuk kembali menjeletar menyerang berbahaya. Dia

sebenarnya hendak melerai saja dan menyelamatkan wanita

setengah gila itu. Entah kenapa Han Han iba dan kasihan

terhadap wanita ini. Tak tahu bahwa itulah ibunya, ibu

kandung! Maka ketika dua kakek itu menyerang ganas dan tak

perduli teriakannya, Mindra dan saudaranya pucat merangsek

semakin hebat maka apa boleh buat Han Han lalu

berlompatan dan mengelak ke sana-sini, didesak dan terus

dicecar dan akhirnya pemuda ini menggerakkan tangan

menangkis. Pek-lui-kang kembali menampar tapi bertemu

nenggala tiba-tiba lengan Han Han tergetar. Itulah tanda

bahwa lawan memiliki sinkang kuat dan dua kakek-kakek ini

bukan orang sembarangan. Han Han kagum tapi juga marah.

Dan ketika satu saat nenggala kembali menusuk dan cambuk

menjeletar di atas kepala, bagai guruh menggelegar maka

Han Han mencabut pedangnya dan secepat kilat dia bergerak

miring sambil membabatkan pedangnya itu, dari kanan ke kiri.

“Crat-tass!”

Nenggala dan cambuk sama-sama buntung. Dua kakek itu

berteriak kaget dan melompat mundur, mereka terbelalak

memandang senjata masing-masing, tapi ketika tertegun

bahwa Han Han tak memegang golok, sebagai ciri-ciri Si Golok

Maut maka dua kakek itu tertegun dan bertanya, suaranya

jelas gentar karena gerakan pedang Han Han tadi

membuktikan anak muda itu memiliki s inkang yang amat kuat,

yang masih di atas mereka.

“Kau, siapa anak muda”? Dari mana dan kenapa

mengganggu kami? Kau mencari permusuhan!”

“Hi-hik, tak usah dijawab!” si wanita rambut riap-riapan

tiba-tiba melengking dan menusuk dua orang kakek ini,

mempergunakan kukunya. “Mereka ini orang-orang yang dulu

mengeroyokmu, Hauw-ko Hayo hajar dan bunuh. Bantu aku

dan jangan digubris!”

Namun dua kakek itu mengebutkan lengan. Wi Hong

terpental dan jatuh terguling-guling, wanita ini berteriak dan

minta agar Han Han tak berpangku tangan. Dan ketika dia

meloncat bangun dan menerjang lagi! berani karena

“suaminya” ada di situ maka Mindra dan Sudra gemas

menghantam wanita ini.

“Kau tak tahu diri, enyahlah…. des-dess!”

Wi Hong terkena sapuan miring, terlempar dan jatuh

terguling-guling dan menjerit menangis di sana. Wanita itu ma

rah tapi juga gentar menghadapi lawannya. Han Han tak

segera menolongnya. Tapi ketika Han Han bergerak dan

menyambarnya, mengangkat bangun, maka Han Han

disemprot dan dimaki-maki.

“Kau tak setia kepada isteri. Kau membiarkan saja aku

jatuh bangun. Aih, bertahun-tahun aku menderita untukmu,

Hauw-ko. Ayo balas dan sekarang bunuh mereka ini. Atau aku

tak mau tidur lagi bersamamu dan biar kau mati kedinginan!”

Han Han merah padam. Wanita ini berkata soal hubungan

suami isteri cepat dia menotok dan membungkam mulut

wanita itu. Dan ketika wanita itu mengeluh dan roboh

terguling, Han Han sudah menghadapi dua kakek India itu

maka Mindra dan Sudra sadar bahwa mereka salah

menyangka, meskipun mereka terkejut dan tersirap karena

sikap dan gerak-gerik lawannya ini benar-benar mirip Si Golok

Maut, bahkan juga wajahnya, kecuali pedang itu!

“Anak muda, kau siapa? Kenapa mengganggu dan

menyerang kami? Bukankah kita tak saling bermusuhan?”

“Dan maaf kalau aku menyangkamu sebagai Si Golok Maut.

Kedatanganmu yang amat tiba-tiba dan mengejutkan ini

membuat kami salah faham,” Sudra, kakek di sebelah juga

berkata. Sekarang mereka saling mengedip dan diam-diam

mencekal erat senjata di tangan. Anak muda itu jelas lihai dan

senjata mereka buntung dibabat sekali saja, padahal mereka

bukanlah orang lemah! Tapi ketika Han Han menghadapi

mereka dan dingin memandang, sinar matanya tajam

menusuk maka dua kakek itu meremang karena sikap inipun

persis Si Golok Maut!

“Aku Hari Hari, entah kalian siapa. Kalau aku datang ke

mari adalah sekedar menyelamatkan wanita ini. Kalian

menghadapi orang yang tidak waras, kenapa telengas dan

tidak kenal kasihan? Bukankah sebagai kakek-kakek kalian

harus tahu perasaan? Hm, aku tak bermaksud mengganggu

kalian, kakek-kakek kejam. Kalau kalian mau melepaskan

wanita ini tentu aku juga tak akan melanjutkan urusan.

Terserah kalian mau apa sekarang!”

Dua kakek itu bergidik. Mereka melihat dan mendengar

kata-kata ini begitu dingin dan beku. Anak muda itu bersikap

hormat tapi juga mengejek. Mereka seakan tak dipandang

sebelah mata. Dan ketika Mindra maupun Sudra saling melirik

pandang, masing-masing bertanya dengan bahasa isyarat

maka Mindra yang penasaran dan masih tak puas akan

pertandingan tadi berkata,

“Anak muda, kami adalah dua tua bangka dari Thian-tok.

Aku adalah Mindra dan itu saudaraku Sudra. Barangkali kau

pernah dengar nama-nama kami atau guru serta orang tuamu

memberi tahu. Apakah kau tahu?”

Han Han menggeleng. “Aku tak pernah dengar,” katanya,

sungguh-sungguh. “Tapi biarpun dari Thian-tok atau Tee-tok

aku tak pernah takut. Kalian sebaiknya pergi dan biarkan

wanita ini.”

“Keparat!” Mindra tiba-tiba mendelik, tak kuat menahan diri

lagi. “Kau sombong dan pongah, anak muda. Kalau begitu

coba rasakan ini dan buktikan kata-katamu!” nenggala

menyambar, dahsyat men deru dan Han Han berkelit ringan.

Mindra marah sekali karena si pemuda tak memandang

sebelah mata, padahal dia adalah orang yang dimalui dunia

kang-ow. Istana sendiri hormat terhadap mereka tapi pemuda

ini malah setengah menantang, mengejek. Maka begitu Han

Han mengelak dan nenggala dahsyat menghantam tanah,

yang berlubang dan berhambur an kerikilnya maka ‘si kakek

sudah berkelebatan dan menyerang lagi. Han Han

mengerutkan kening tapi mulai menggerakkan tangan.

Nenggala ditolak dan ditang-kisnya. Dan ketika dia tergetar

namun lawan terhuyung, si kakek penasaran dan menyerang

semakin hebat lagi maka Han Han menyimpan pedangnya dan

dengan pukulan-pukulan perlahan dia mendorong atau

mementalkan senjata lawan, menambah tenaganya. Mindra

berteriak dan tangan kirinya tiba-tiba bergerak. Hwi-sengciang,

Pukulan Bintang Api, meledak dan menyambar pemuda

itu. Dan ketika hawa panas membuat Han Han terdorong dan

terkejut, mengerutkan kening, maka kakek itu berteriak

bahwa pemuda itu akan roboh.

“Kau sombong dan bermulut besar. Nah, coba buktikan

kata-katamu dan ingin kulihat apakah kau tidak bertekuk lutut

menyatakan menyerah!”

“Hm!” Han Han berkilat matanya. “Aku menyerah tunggu

dulu, kakek kasar. Kalau kau mengira dapat mengalahkan a-ku

maka kau keliru. Lihat, aku akan merobohkanmu sebelum

tigapuluh jurus…… slap!” dan Han Han yang lenyap

mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya tiba-tiba

bergerak luar biasa cepat mengelilingi kakek itu, berputaran

dan membuat Mindra berseru keras karena kakek itu

kehilangan lawannya. Han Han mengeluarkan segenap

kecepatannya hingga si kakek berkunang-kunang. Dan ketika

Han Han melakukan tamparan-tamparan dan sinkang yang

dipelajari dari sumur tua dikeluarkan di sini maka kakek itu

menjerit ketika pundaknya tertampar, jatuh terpelanting dan

selanjutnya kakek itu memutar nenggala dengan cepat. Dia

berusaha melindungi diri namun Han Han mengeluarkan tawa

mengejek. Dia sudah beterbangan mengelilingi kakek itu,

nenggala diputar di bagian atas untuk melindungi pinggang

dan muka. Dan ketika Han Han menggerakkan kaki untuk

menendang lutut, karena bagian bawah itu tak terjaga maka

kakek ini terjerembab dan roboh.

“Nah,” Han Han berseru., “Duapuluh tiga jurus, kakek

sombong. Siapa yang roboh dan siapa yang menyerah!”

Kakek itu kaget bukan main. Dia tak dapat

mempertahankan dirinya ketika lututnya ditendang. Lawan

bukan sembarang menendang melainkan menyentuh jalan

darah tu-hi-hiat, persis di tempurung lututnya. Tapi ketika

kakek ini terguling dan roboh mengeluh, mengusap lututnya,

maka Mindra sudah meloncat bangun dan bebas dari totokan,

terhuyung.

“Anak muda!” Han Han tertegun. “Aku masih belum kalah.

Aku masih dapat berdiri. Nah, mari mulai lagi dan kita

bertanding seribu jurus!”

Han Han kagum. Mau tak mau dia memuji juga bahwa

lawannya ini hebat. Tendangan atau totokannya dengan ujung

kaki tadi sebenarnya tak gampang disembuhkan. Orang-orang

dengan tingkat kepandaian biasa saja pasti akan terguling dan

roboh dua jam lebih. Tapi ketika kakek ini dapat mengusap

lututnya dan menyembuhkan dari pengaruh totokan, tanda

bahwa kakek itu bukan orang sembarangan membuat Han

Han memuji namun berbareng juga merasa marah karena

kakek itu tak tahu diri. Han Han berkilat dan tiba-tiba ingin

bekerja cepat. Dia tak mau lagi kakek itu banyak tingkah.

Maka begitu lawan menerjang dan nenggala menyambar

leher, beringas, tiba-tiba Han Han mencabut pedangnya dan

begitu sinar putih berkelebat tiba-tiba lawannya menjerit.

“Aduh… crang-dess?”

Mindra terlempar. Kakek itu berteriak karena nenggalanya

putus terbabat. Sebagian jarinya terpapas pula dan kulitnya

robek terkupas. Untung tidak putus! Dan ketika kakek itu

mengaduh karena Han Han menendang lebih keras, si kakek,

men celat dan roboh maka Mindra tak dapat bangun lagi

karena seluruh tubuhnya terasa nyeri.

“Ah!” Sudra, kakek yang satu tiba-tiba bergerak dan

berkelebat. Cambuk menjeletar untuk mencegah Han Han

maju menyerang. Kakek itu berteriak dan menolong

temannya. Dan ketika Mindra dipapah bangun dan ngeri

memandang ke depan, gebrakan terakhir itu menyelesaikan

segalanya maka kakek itu gernetar dan menuding.

“Itu… itu tadi… bukankah itu gerakan dari jurus Bianglala

Memangkas Matahari? Bukankah anak muda ini mainkan Pekjit

Kiam-sut (Silat Pedang Matahari)?”

“Benar,” temannya mengangguk. “Aku juga melihatnya

begitu, M indra. Kalau begitu anak muda ini adalah murid Pekjit-

kiam Ju Beng Tan!” dan membalik serta menghadapi Han

Han, yang terkejut dan mengerutkan kening maka Sudra,

kakek i-tu, berseru sambil membelalakkan mata. “Anak muda,

kau ada hubungan apa dengan Pendekar Pedang Matahari Ju

Beng Tan? Apakah muridnya?”

“Hm, benar,” Han Han tak ingin memperkenalkan diri

sebagai putera ayahnya. “Aku memang muridnya. Kalau kalian

mengenal guruku maka itu adalah bagus. Apakah kalian

pernah dihajar olehnya?”

“Ah!” dua orang itu pucat. “Kalau begitu pantas saja, kau

begitu sombong! Baiklah, kami tak mau ribut dengan gurumu,

anak muda. Tapi beritahukan padanya bahwa peristiwa

belasan tahun yang lalu tetap tak kami lupakan. Lain hari kami

akan meminta petunjuk gurumu itu dan biarlah wanita itu

kami bebaskan!” dan bergerak meninggalkan Han Han,

memutar tubuhnya tiba-tiba dua kakek itu berkelebat dan

pergi dengan cepat. Mindra si kakek yang terluka masih

kelihatan terhuyung. Langkahnya sempoyongan.

Tapi begitu temannya menarik dan menyendal maka kakek

itu dapat bergerak cepat dan terbang meninggalkan tempat

itu, lenyap di luar hutan. Han Han sendiri tersenyum mengejek

dan sudah membalik menghadapi Wi Hong, membebaskan

dan mengangkat bangun wanita berambut riap-riapan itu.

Tapi begitu bergerak dan diangkat, tiba-tiba wanita ini

mengguguk dan menubruknya.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 10

“SIN HAUW! Ah, kau…. kau melepaskan kakek-kakek

jahanam itu? Kau tidak membunuhnya? Ah, benci aku

kepadamu, Sin Hauw. Benci aku. Kau tak tahu penderitaanku

selama ini…. plak-plak!” dan Han Han yang ditampar serta

mendapat marah-marah wanita itu tiba-tiba terhuyung tapi

ditubruk lagi, dipeluk dan dirangkul dan tiba-tiba wanita itu

menangis menciumi dirinya. Han Han meremang namun entah

kenapa dia tidak mengelak. Semua tamparan dan marahmarah

itu dibiarkannya. Hatinya terharu dan teremas-remas

melihat keadaan wanita ini. Han Han tiba-tiba bercucuran air

mata pula, menangis! Tapi ketika wanita itu melihatnya dan

tertegun, membelalakkan mata, tiba-tiba wanita ini terkekeh

dan melepaskan pelukannya.

“Hauw-ko, kau menangis? Kau tiba-tiba berobah menjadi

begini cengeng dan tak malu menangis? Ah, hi-hik. Lucu,

Hauw-ko. Tak sepantasnya kau sebagai Si Golok Maut

menangis. Atau mungkin kau menangis karena bahagia

bertemu denganku lagi, ouhh…!” dan wanita itu yang tertawa

dan menangis lagi, benar-benar gila, sudah menubruk dan

menciumi Han Han. Pemuda ini tersedak namun cepat

mengelak ketika wanita itu mencium bibirnya. Dia dianggap si

suami dan Han Han tentu saja jengah. Hampir ciuman itu

mendarat di bibir! Dan ketika, Han Han sadar bahwa salah

paham terjadi di sini, wanita itu menganggapnya Si Golok

Maut maka dia melepaskan diri dan berkata, suaranya penuh

haru,

“Bibi, kau lihatlah aku baik-baik. Aku bukan Si Golok Maut,

suamimu. Aku adalah orang lain dan lihatlah aku bahwa aku

bukan suamimu itu!”

Aneh, wanita itu tampak terkejut. Ia mengeluarkan suara

kecewa ketika ciumannya di bibir dielak. Tapi ketika Han Han

mendorongnya halus dan pemuda itu berhadap-hadapan

dengannya tiba-tiba dia membanting kaki dan berseru,

“Hauw-ko, apa-apaan kau ini? Kau masih juga mau

mempermainkan aku? Ah, bertahun-tahun aku merindukanmu,

Hauw-ko. Dan jangan permainkan aku seperti ini. Aku tak lupa

wajahmu. Aku tak lupa akan sorot dan sinar matamu itu. Kau

adalah Hauw-koku itu, kau suamiku. Jangan, berkata seperti

itu karena hatiku teriris luka!” dan Han Han yang ditubruk

serta dipeluk lagi, melihat wanita itu tersedu dan mengguguk

akhirnya mendorong dan melepaskan diri lagi, berbisik lembut,

mulai terpengaruh oleh penderitaan dan tekanan jiwa wanita

ini.

“Bibi, aku adalah Han Han. Aku bukan suamimu. Aku dari

Hek-yan-pang, putera ayahku Pek-jit-kiam Ju Beng Tan.”

Luar biasa, wanita itu tiba-tiba mencelat. Han Han

tersentak karena tiba-tiba wanita itu melengking. Suaranya

menggetarkan bukit dan hampir Han Han menampar wanita

itu ketika mencengkeramnya di waktu melayang turun. Tapi

ketika sesuatu yang aneh terjadi karena bola mata wanita itu

yang tadi bergerak-gerak liar sekonyong-konyong kini tampak

sadar dan waras, hal yang membuat Han Han menahan

tamparannya maka pundaknya sudah dicengkeram kuat-kuat

dan bentakan atau suara yang penuh kaget bertanya

kepadanya, ditahan-tahan.

“Kau…. kau dari Hek-yan-pang? Kau putera Beng Tan

ketua Hek-yan-pang? Kau anak Swi Cu?”

“Benar,” Han Han menggangguk, tiba-tiba perasaannya

terguncang kuat, tergetar oleh debaran yang menekan jiwa.

“Bibi kenal orang tuaku? Bibi tahu ayah ibuku?”

“Ahh!” lolong itu tiba-tiba berobah histeris, terganti tawa

panjang. “Kalau begitu kau anakku, Han Han. Kau Giam Liong

Bukan Han Han, oohhhh…!” dan Han Han yang mengkirik

dicengkeram dan ditubruk, mendengar tawa dan lengkirfg itu

tiba-tiba melihat wanita ini roboh dan pingsan. Han Han tak

tahu bahwa itulah ibunya, ibu kandungnya. Wi Hong

terguncang kuat dan perasaan yang luar biasa bahagianya tak

dapat diterima seketika itu juga oleh wanita ini. Getaran hebat

mengguncang syarafnya. Kegilaan wanita ini tiba-tiba sembuh,

seketika itu juga. Namun karena pukulan itu terlampau kuat

dan Wi Hong tak tahan akhirnya wanita ini roboh dan pingsan.

Han Han cepat menolong dan pemuda itu berdegupan

kencang. Dia sebenarnya sudah tertarik bahwa wanita ini

ternyata adalah isteri mendiang Si Golok Maut, padahal dia

amat ingin tahu tentang kisah Si Golok Maut itu, yang caping

dan kitab pusakanya ditemukan di sumur tua. Maka begitu dia

ber temu wanita ini dan kebetulan wanita i-tu adalah orang

yang paling dekat dengan Si Golok Maut, berarti dia dapat

menggali cerita dari wanita ini maka kegirangan Han Han

diiringi pula oleh penga kuan wanita itu bahwa dia adalah

anaknya! Han Han terguncang dan terpukul kuat. Sedetik

darahnya tersirap tapi Han Han akhirnya sadar bahwa wanita

yang sedang dihadapi ini adalah wanita yang tidak waras.

Han Han tak tahu bahwa seketika itu juga ibunya sudah

sembuh. Dan karena menganggap wanita itu masih gila, Han

Han tak tahu dan menolong wanita ini maka alangkah heran

dan tertegunnya Han Han ketika tiba-tiba wanita itu

mengguguk dan menciumi mukanya, ketika siuman, tak

menampakkan tanda-tanda gila atau tidak waras.

“Ah, Liong-ji….. Liong-ji… kau sudah begini besar dan mirip

ayahmu? Kau demikian gagah dan dapat mengusir orangorang

macam Sudra dan Mindra itu? Oh, terkabul rencana

ibumu, nak. Terkabul sekarang apa yang dulu pernah

kuinginkan!” dan Han Han yang diciumi serta dibelai, tidak lagi

melihat wanita itu menganggapnya sebagai Si Golok Maut

melainkan sebagai putera sendiri, putera kandung maka Han

Han tersentuh dan menitikkan air mata merasa getarangetaran

penuh kasih tersalur dari jari-jari wanita itu, getarangetaran

kasih yang belum pernah dirasakannya dari Swi Cu,

ibunya! Tapi begitu teringat ibunya sedangkan wanita ini juga

menganggapnya sebagai anak, hal yang dirasanya tak

mungkin maka Han Han melepaskan diri dan berkata gemetar,

“Bibi, aku adalah anak Swi Cu. Aku putera Pek-jit-kiam Ju

Beng Tan. Kau sadarlah dan jangan menganggapku seperti

itu…”

“Oh, tidak…. tidak. Justeru kaulah yang tidak tahu, Liong-ji.

Kau anakku!”

“Aku adalah Han Han, bukan Liong…”

“Tidak!” wanita itu tiba-tiba mencengkeram Han Han. “Kau

bukan Han Han, anakku. Kau adalah Giam Liong. Tepatnya Sin

Giam Liong, putera Si Golok Maut Sin Hauw!” dan ketika Han

Han terkejut dan meremang melihat sinar mata wanita itu,

yang mengaku sebagai ibunya maka wanita ini menariknya

duduk. “Dengarlah, aku mau bercerita!” dan ketika Han Han

duduk dan mendengarkan, jantungnya semakin berdegup

kencang maka wanita itu, Wi Hong, menangis dan menahan

sedak dua kali.

“Aku tidak bohong kalau mengatakan bahwa kau adalah

anakku. Dengar, kau bukan Han Han, anakku. Melainkan Giam

Liong. Aku dulu menukarmu dengan anak yang dilahirkan Swi

Cu. Kau adalah anak yang kulahirkan dulu. Kau adalah benih

dari ayahmu Si Golok Maut. Dan kalau kau ingin bukti tentang

ini maka perlihatkan pangkal pahamu karena di situ pasti ada

dua goresan merah dari bekas kukuku dulu. Nah, betul atau

tidak!”

Han Han terbelalak. Tiba-tiba saja ia menjadi pucat karena

apa yang dikata wanita ini benar. Memang ada dua goresan

merah di pangkal pahanya. Goresan itu tak dapat hilang dan

diam-diam dia heran serta jengkel kenapa goresan itu berada

di situ. Han Han merasa risih dan terganggu. Tapi karena itu

adalah rahasia pribadinya dan tentu saja tak ada orang lain

tahu, karena goresan itu di pangkal pahanya maka Han Han

kaget sekali ketika melihat wanita ini tahu.

“Hayo!” Han Han pucat. “Tunjukkan kepada ibumu, nak.

Atau biar aku merobeknya dan lihat apakah kau bukan

anakku…. bret!” dan celana Han Han yang sudah dirobek dan

direnggut cepat tiba-tiba membuat Han Han mengeluh dan

hampir meloncat. Pemuda ini berseru tertahan tapi entah

kenapa tiba-tiba dia tak sanggup mencegah wanita itu. Han

Han seketika yakin bahwa inilah ibunya. Dan karena ibunya

yang merenggut maka dia mendiamkan saja ketika celananya

sudah disingkap dan benar saja tampaklah dua goresan merah

itu, bekas kuku yang dulu diguratkan Wi Hong sebagai tanda.

“Nah!” wanita itu berseru, menangis. “Apakah tanda ini tak

cukup bagimu, anakku? Apakah aku bukan ibumu? Kau adalah

puteraku. Kau adalah anak yang dulu kulahirkan itu!” dan

ketika tangis dan sedu-sedan meledak di situ, Han Han

terkesima, maka wanita ini sudah menubruknya dan

merapatkan kembali pipa celana itu.

“Liong-ji…. Liong-ji, kau anakku. Akulah ibumu. Ah,

bertahun-tahun aku memendam rindu, nak. Bertahun-tahun

aku menjadi gila karena ulah orang-orang jahat. Ah, kita

sudah bertemu lagi. Hayo sembahyang di makam ayahmu

sebagai rasa syukur!”

“Nanti dulu!” Han Han tiba-tiba meloncat dan berseru,

menggigil, seluruh mukanya merah padam. “Ceritakan dulu

secara lengkap bagaimana semuanya ini bisa terjadi, ibu. Dan

kalau begitu mana anak ibu Swi Cu!”

“Kau… kau sudah mempercayaiku sebagai ibumu?” Wi

Hong berseri-seri, tak menghiraukan pertanyaan anaknya itu.

“Ah. panggil sekali lagi seperti itu, Liong-ji. Panggil aku

sebagai ibu karena betapa rinduku disebut seperti itu!”

“Ibu….”

“Ooohhhhh….!” dan Wi Hong yang mengeluarkan keluhan

panjang, mirip suara kucing yang bertemu anaknya tiba-tiba

menubruk dan merangkul puteranya ini lagi, tertawa dan

menangis dan Han Han berkali-kali diciumi. Wi Hong tak

memperdulikan gerakan anaknya yang meronta, terus dipeluk

dan dipeluk ketat. Dan ketika anaknya disuruh memanggilnya

lagi, memanggilnya sebagai ibu berkali-kali maka Han Han

roboh dan tersedu di pelukan ibunya itu.

“….. ibu, ohh…. ibu!”

Anak dan ibu bertangisan. Han Han merasakan

kebahagiaan yang luar biasa besarnya yang tak dapat ditahan

lagi. Dia lemas dan roboh di pelukan ibunya itu. Pelukan dan

ciuman ibunya begitu penuh kasih sayang, begitu

menggetarkan. Tapi ketika ibunya menangis dan tertawa,

khawatir bahwa ibunya akan kumat lagi, kambuh gilanya maka

Han Han menekan semua gejolak hatinya itu dan cepat

melepaskan diri, mendorong ibunya dengan lembut sementara

sebuah kecupan masih juga diterimanya di kening!

“Liong-ji, kau anakku. Kau benar-benar anakku. Ah, hi-hik.

Matipun seketika ini aku juga mau, nak. Ah, penderitaan

ibumu yang bertahun-tahun tiba-tiba saja seolah lenyap begitu

bertemu dirimu. Kita harus sembahyang dan mengucap syukur

di makam ayahmu!”

“Hm, kita harus mengucap syukur dan terima kasih kepada

Tuhan,” Han Han membetulkan, menarik napas dalam. “Aku

harap kau tidak apa-apa lagi, ibu. Aku harap kau sehat lahir

batin!”

“Eh!” sang ibu terkejut, seketika menghentikan tangis dan

tawanya. “Kau maksudkan ibumu tidak waras? Gila, kau telah

menyembuhkan aku, Liong-ji. Aku sudah tidak gila lagi. Lihat!”

dan sang ibu yang mengibaskan rambut dan menyanggulnya

kembali, cepat dan lincah akhirnya sudah berobah menjadi Wi

Hong yang cantik dan jelita, waras dan anggun. Han Han

terpesona memandang wajah ibunya ini. Bola mata itu

memang sudah tidak berputar-putar lagi dan ibunya betulbetul

telah sembuh, tidak gila. Dan ketika Han Han tersenyum

dan mengangguk, lega, maka ibunya bertanya apakah dia

masih cantik.

“Lihat, pandang ibumu baik-baik, nak. Apakah aku masih

cantik atau tidak. Kalau aku sudah begini kurasa tak ada orang

gila yang memperhatikan atau merawat tubuhnya lagi. Tapi

aku akan melakukan itu, semata menunjukkan kepadamu

bahwa aku masih ibumu yang waras!”

Han Han terharu. “Ibu sungguh cantik,” pemuda itu meraih.

“Dan tak heran kalau ayah sampai jatuh cinta. Hm, aku tadi

hanya khawatir saja, ibu, maafkan. Tapi aku percaya bahwa

kau sudah tak apa-apa lagi. Bagaimana sekarang, dapatkah

ibu menceritakan secara lengkap cerita ini?”

“Tentu, mari, Liong-ji. Duduk dan dengarkanlah!” dan

ketika Han Han mulai terbiasa oleh sebutan itu, mula-mula

memang merasa aneh dan janggal bahwa dia berganti nama

dengan begitu cepat, hal yang tak disangkanya, maka Han

Han sudah duduk dan mendengarkan kata-kata ibunya,

dipegang dan diremas lembut oleh jari ibunya yang tak pernah

melepaskannya barang sedetik pun juga.

“Nah, aku akan bercerita pada peristiwa atau kisah

duapuluh tahun yang lalu. Barangkali kau tahu bahwa waktu

itu aku menyerbu Hek-yan-pang!”

“Hm, ayah dan ibu Swi Cu, eh… bibi Swi Cu hanya bercerita

secara samar-samar saja. Aku juga mendengarnya tapi kurang

jelas.”

“Baik, aku yang akan menjelaskannya, Liong-ji. Dan boleh

kau tanya ini kepada Beng Tan, ayah keduamu itu!” lalu ketika

Han Han mendengarkan dan sedikit berkerut kening, karena

hubungannya dengan ayah atau ibunya di Hek-yan-pang

terasa “mengganjal”, karena dia sudah menemukan ibu

kandungnya ini maka sang ibu lalu menceritakan peristiwa itu.

Betapa Wi Hong menyerbu dan sengaja mencari gara-gara

untuk menukarkan anaknya itu, karena Swi Cu juga

mempunyai anak laki-laki dan dia berhasil. Dan ketika Hekyan-

pang geger karena anak Swi Cu diculik, Wi Hong

melarikan diri ke hutan maka di situ wanita ini menukarkan

anaknya.

“Nanti dulu,” Han Han memotong. “Apakah maksud tujuan

ibu memang hendak menukar anak. Apakah ibu waktu itu

sudah mendengar bahwa bibi Swi Cu sudah mempunyai

anak!”

“Hm, waktu itu belum,” sang ibu mengangguk-angguk.

“Semula aku datang untuk menyemprot sumoiku itu, Liong-ji.

Karena Swi Cu adalah adik seperguruanku perempuan. Aku

datang untuk menegur di samping karena perasaan rinduku

kepadanya juga ada. Tapi ketika aku menyelinap. dan

memasuki kamarnya ternyata di situ aku melihat anaknya itu

maka tiba-tiba timbul keinginanku untuk menukar bayi!”

“Hm, begitukah? Kenapa?”

“Ah, aku ingin membalas dendam ayahmu, Liong-ji. Karena

itulah aku lakukan itu!”

“Aku belum mengerti,” Han Han mengerutkan kening. “Apa

maksudmu ini, ibu. Kenapa aku harus kau tukar.”

“Bodoh!” ibunya mendamprat. “Di dunia ini yang dapat

menandingi Pek-jit-kiam Ju Beng Tan belum ada, Liong-ji.

Kalau aku menaruhmu di sana dan Swi Cu serta suaminya

menganggap dirimu sebagai anak mereka maka otomatis

seluruh kepandaian laki-laki itu akan diturunkan kepadamu.

Aku sendiri merasa tak sanggup menggemblengmu,

kepandaianku masih rendah. Kau lihat sendiri betapa tadi aku

dibuat jatuh bangun oleh dua kakek jahanam itu!”

“Hm!” Han Han terkejut. “Jadi itukah maksud ibu? Jadi ibu

sengaja menaruhku di sana agar mewarisi kepandaian ayah

Beng Tan?”

“Benar, karena hanya Beng Tan itulah yang dapat kuharap,

Liong-ji. Dan sekarang rencanaku berhasil. Kau dapat

mengalahkan dua kakek jahanam tadi dengan mudah!”

“Tapi di mana putera mereka sendiri? Dan kenapa ibu tak

pernah menengokku di Hek-yan-pang?”

“Ah,” Wi Hong tiba-tiba menangis. “Aku tak akan datang

kalau kau belum dewasa, Liong-ji. Tapi sekali dua pernah juga

aku ke sana tapi Hek-yan-pang sudah dijaga ketat. Ibu tak

dapat masuk!”

“Hm, dan anak yang kau tukar itu?”

“Dia… dia dibawa seorang kakek sakti. Sejak itu aku

menderita lagi dan terlunta-lunta sepanjang hidup!”

“Nasibmu menyedihkan,” Han Han tiba-tiba memeluk

ibunya ini. “Dan ceritakan padaku tentang ayahku itu, ibu.

Bagaimana dia terbunuh dan siapa pembunuhnya!”

“Inilah yang kutunggu!” sang ibu melompat bangun, mata

berapi-api. “Kau harus membalas kematian ayahmu itu, Liongji.

Karena dia mati dengan cara yang mengerikan sekali.

Pembunuhnya adalah si Kedok Hitam. Tapi aku tak tahu siapa

orang ini kecuali kelihaiannya yang luar biasa!”

“Hm!” Han Han mulai terbakar. “Coba ibu ceritakan tentang

ayahku itu. Bagaimana kematiannya.”

“Dia dipotong-potong. Tubuhnya dirajam!”

“Apa?”

“Benar!” sang ibu tiba-tiba histeris. “Ayahmu dibunuh

dengan cara yang keji sekali, Liong-ji. Kedok Hitam itu

memotong-motong tubuhnya seperti anjing. Orang itu harus

dibunuh melebihi anjing. Aku akan menghirup darahnya kelak

kalau kau dapat membunuhnya!”

Han Han meremang. Dia melihat ibunya berteriak dan

melengking tinggi, suaranya mirip lolong srigala dan

berceritalah ibunya itu akan kebiadaban musuh. Dan ketika

sang ibu menceritakan betapa pembunuhnya amat keji, tak

kenal kasihan maka Han Han berdiri dan menghantam roboh

sebuah batu di sisi kirinya, batu sebesar bukit.

“Sumpah demi ayah akan kucari dan kubunuh jahanam

itu. Akan kubeset dan kukuliti tubuhnya. Ah, aku tak mau

hidup berdua dengannya di bumi ini, ibu. Sumpah demi para

dewa bahwa hari ini aku hanya akan makan nasi dan air putih

saja….. bress!” batu di samping Han Han itu mengeluarkan

suara gemuruh, meledak dan hancur dan Han Han

mengeluarkan sumpahnya untuk tidak menikmati daging atau

sayur, begitu juga minuman kecuali air putih saja. Dan ketika

langit mendadak gelap dan terdengar suara petir di sana,

tanda sumpah Han Han disaksikan iblis atau para dewa maka

Han Han terduduk dan ibunya menangis memeluk pu-teranya

ini. Han Han telah mendengar kekejaman musuh terhadap

ayahnya. Tubuh ayahnya itu katanya dipotong-potong dan

dicacah. Dan ketika ibunya menangis tersedu-sedu dan

mereka berdua terbakar oleh dendam mendadak Wi Hong

meledakkan rambutnya dan rambut yang sudah disanggul itu

tiba-tiba diurai lagi.

“Dan aku juga bersumpah!” wanita itu memekik. “Aku tak

mau menyanggul rambutku sebelum dicuci dengan darah

jahanam itu, anakku. Biarlah sumpahku ini didengar para

dewa dan kita berdua sama-sama menuntut balas…. dar!” di

langit juga terdengar dua kali ledakan petir, Wi Hong

terhuyung dan jatuh terduduk. Awan mendung tiba-tiba

semakin tebal. Dan ketika ibu dan anak terkejut melihat itu

sekonyong-konyong hujan turun dengan amat lebatnya.

“Ibu, kita harus berteduh. Sumpah kita telah didengar para

dewa!”

“Tidak!” sang ibu meloncat bangun. “Aku ingin memberikan

sesuatu kepadamu, Liong-ji, peninggalan-peninggalan

ayahmu. Mari ikut dan kita ke sana!” dan ketika Wi Hong

menyambar anaknya dan diajak berkelebat, hujan segera

membasahi mereka maka Han Han tertegun tapi tak menolak.

Mereka terus berlari dan menuju ke selatan. Aneh, hujan itu

mengikuti mereka pula. Dan ketika ibunya mengajak masuk

keluar hutan dan Han Han terpaksa menahan pertanyaannya

tentang anak laki-laki yang ditukar ibunya, karena ibunya

belum memberi tahu siapa kakek sakti itu maka dua hari dua

malam mereka basah kuyup ditimpa air hujan. Baru setelah

pada hari ketiga ibunya memasuki sebuah lembah dan

mendaki tebing yang terjal maka hujan berhenti dan Han Han

tertegun melihat rambut ibunya merah seperti darah!

“Ibu, rambutmu itu…!” sang anak terkejut, membelalakkan

mata. “Kenapa merah seperti darah? Kau memakai getah

apa?”

“Getah?” sang ibu juga tertegun, mengibaskan rambutnya

ke muka. “Ah, aku tak memakai getah apa-apa, Liong-ji. Dan

kau, he…. rambutmupun semerah darah!”

Han Han terkejut berseru tertahan. Dia meraba rambutnya

itu dan tiba-tiba saja air hujan yang membasahi rambutnya

sudah merah seperti darah. Diplurut dan dikeringkan tetap

saja air itu berwarna merah. Dan ketika Han Han tertegun

karena rambutnya -juga semerah darah, persis rambut ibunya

maka sang ibu mengeluh dan terhuyung bersandar tebing.

“Liong-ji, agaknya dosa atau kutukan Giam-to menyertai

dirimu pula. Hati-hatilah, aku jadi takut!”

“Giam-to (Golok Maut)? Benda apakah itu, ibu? Senjata

apakah?”

“Itulah senjata mendiang ayahmu. Aku ke sini karena

hendak memberikan golok itu kepadamu. Tahukah kau di

mana kita sekarang?”

“Tidak.”

“Inilah Lembah Iblis. Di s inilah dulu ayahmu terbunuh!” dan

ketika Han Han tertegun karena ibunya menangis lagi, lembah

atau tebing itu menyeramkan sekali maka seekor gagak hitam

tiba-tiba berkaok di udara.

“Gaok, gaok…!”

Han Han meremang. Tiba-tiba dia menoleh dan

memandang ke segala penjuru. Dia telah diajak ibunya

mendaki tebing ini dan tampaklah di bawah sana tanaman

perdu dan rumput-rumput ilalang. Mereka sudah berada di

tempat yang tinggi dan tiba-tiba Han Han terkejut melihat

belasan tengkorak di balik batu hitam. Tadi dari bawah benda

itu tak nampak tapi kini tiba-tiba kelihatan. Dan ketika Han

Han terkejut karena di sekitar lembah ternyata terdapat

ratusan atau ribuan tengkorak yang berserakan di sana-sini,,

seolah di tempat itu pernah terjadi pembantaian atau perang

besar-besaran maka Han Han terbelalak.

“Ibu, tengkorak-tengkorak itu…” Han Han menuding.

“Apakah penghuni Lembah Iblis?”

“Itulah korban-korban ayahmu,” sang ibu menerangkan,

tiba-tiba tersenyum dan tertawa dengan mata berseri. “Di sini

ayahmu dikeroyok ribuan pasukan, Liong-ji. Tapi separoh dari

mereka dibabat dan dibunuh. Tapi karena ayahmu

sebelumnya sudah terluka dan musuh amat licik, tak tahu

malu maka ayahmu akhirnya menjadi korban dan mereka

mengiring roh ayahmu ke alam baka!”

“Itu pasukan kerajaan? Ayah yang membunuh?”

“Benar, ayahmu dikejar-kejar, anakku. Tapi ayahmu amat

gagah dan luar biasa sekal. Kalau sebelumnya dia tidak terluka

jangan harap Kedok Hitam mampu membunuhnya!”

“Hm, ceritakan itu di sini,” Han Han tiba-tiba berkerotok,

mengepal tinju. “Coba ceritakan kenapa ayah dikejar-kejar

pasukan kerajaan, ibu. Dan kenapa Kedok Hitam

memusuhinya. Apa yang terjadi di balik semuanya ini!”

“Kedok Hitam adalah antek Coa-ong-ya!”

“Ah, Coa-ongya?” Han Han terkejut, tertegun, teringat

bahwa Ji-mo dan Twa-mo juga pernah menyebut-nyebut

nama itu! “Siapa Coa-ongya ini, ibu? Dan kenapa memusuhi

ayah?”

“Dia penipu dan pendusta. Dia adalah manusia yang tak

dapat dipercaya di Seantero jagad!”

“Hm-hm, ceritakan ini. Ceritakanlah kepadaku dan kenapa

ayah bermusuhan dengannya!”

“Kau tak ingin menengok makam ayahmu dulu? Kita sudah

di sini, Liong-ji. Inilah tempat tinggal ayahmu dulu. Sebaiknya

kita ke sana dan bersujudlah di depan makam ayahmu!”

“Ayah ada di sini?”

“Ya, berikut peninggalan-peninggalannya. Aku menyimpan

kitab dan Golok Mautnya di sini. Sekarang untukmu!” dan

ketika Han Han tertegun dan mengangguk, berdebar, maka

ibunya sudah menariknya untuk diajak berkelebat lebih ke

atas. Mereka memang belum tiba di puncak meskipun sudah

di tempat ketinggian. Han Han merah mukanya mendengar

cerita ibunya tadi, bahwa ayahnya dibunuh dan dirajam di sini.

Dan ketika mereka tiba di atas tebing dan di situlah ibunya

berhenti maka Han Han yang tergetar tiba di tempat ini segera

melihat tiga gundukan tanah kuburan, heran dan kaget

kenapa ada tiga!

“Ibu, mana makam ayah? Kenapa ada tiga?”

Namun sang ibu sudah mengguguk. Wi Hong menubruk

dan menjatuhkan diri berlutut di makam yang paling kanan.

Wanita itu naik sedu-sedannya dan menjeritlah Wi Hong di

sini. Tiga makam itu sudah ditumbuhi rumput-rumput ilalang

namun sekali betot saja makan yang ditubruknya itu sudah

bersih. Dan ketika Han Han tertegun karena itulah rupanya

makam ayahnya, karena ibunya menangis dan menggerunggerung

di sini maka ibunya berseru,

“Hauw-ko, inilah anak kita itu. Kubawa dia ke sini. Ah,

semoga dendam kita terlaksana, Hauw-ko. Doakan kami

berdua dapat membunuh orang yang membunuhmu!” lalu

menangis memanggil putera-nya Wi Hong menggapai, “Liongji,

inilah makam ayahmu. Cepat berlutut dan beri hormat!”

Han Han menggigil. Tiba-tiba dia jatuh menekuk lutut dan

sudah berada di samping ibunya. Makam itu penuh lumut tapi

di batu nisannya ada bertuliskan huruf-huruf tebal yang

menyatakan bahwa itulah makam Si Golok Maut Sin Hauw.

Jadi dia adalah she (marga) Sin! Dan ketika Han Han

bercucuran air mata melihat makam ini cukup merana, begitu

bersahaja dan agaknya dibuat terburu-buru maka ibunya

menuntut berbicara.

“Liong-ji, berkatalah bahwa kau telah menengok makam

ayahmu. Katakan bahwa kau akan menuntut balas dan

mencari pembunuh ayahmu, mencincang dan memotongTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

motongnya melebihi anjing. Katakan bahwa kau tak akan

sudah sebelum menemukan si Kedok Hitam itu!”

Han Han tak dapat menahan dirinya lagi. Diingatkan dan

disadarkan akan kematian ayahnya tiba-tiba muka pemuda ini

menjadi merah dan Han Han pun berkeretuk. Dia lalu

bersumpah dan menangis di makam ayahnya itu bahwa dia

akan menuntut balas. Dendam dan kematian ayahnya tak

akan dibiarkan saja. Dan ketika ibu dan anak sama-sama

berlutut dan menyatakan sumpah, Han Han menggigil dengan

gigi berkerot-kerot maka Wi Hong melompat bangun dan

menyeringai.

“Bagus, kita sama-sama mencari pembunuh ayahmu,

Liong-ji. Dan sekarang terimalah ini!” Wi Hong meloncat dan

menarik sesuatu dari balik makam. Sebuah benda berkilat

tiba-tiba mendesing dan menyilaukan mata. Han Han terkejut

karena tiba-tiba ibunya membabat ke kiri, ada sebatang pohon

di situ. Dan ketika pohon itu roboh padahal hanya terkena

angin sambaran senjata itu, yang kiranya adalah sebuah golok

maka berdebumlah pohon setelah lebih dahulu mengeluarkan

suara ledakan.

“Hi-hik, inilah Golok Penghisap Darah, Liong-ji. Golok maut

yang dipunyai ayahmu!”

Han Han tertegun. Dia tergetar dan mengkirik sekilas

melihat sinar putih di golok itu. Sebagai putera seorang jago

pedang ternama tentu saja Han Han segera tahu bahwa golok

di tangan ibunya itu bukanlah golok sembarang golok. Melihat

tajamnya, agaknya tak kalah ampuh dengan Pek-jit-kiam

(Pedang Matahari) di tangan ayahnya, pedang yang

mengangkat tinggi nama ayahnya hingga dimalui di dunia

kang-ouw. Dan ketika Han Han kagum tapi belum mengerti

jelas sampai di mana keampuhan golok itu, yang dibolangbalingkan

ibunya dengan mata berseri-seri tiba-tiba Wi Hong

meloncat ke belakang dan…. “ngik”, seekor kelinci yang

meloncat keluar dari kerimbunan rumput alang-alang tiba-tiba

telah terpenggal tubuhnya dan putus menjadi dua.

“Hi-hik, lihat, anakku. Lihat betapa darah kelinci itu sama

sekali tak membasahi badan golok ini. Lihatlah!”

Han Han terkejut. Baru dia tahu bahwa darah kelinci yang

memuncrat keluar sama sekali tak mengotori golok di tangan

ibunya itu, karena begitu melekat tiba-tiba terhisap kering,

seolah disedot oleh roh di dalam golok, yang mengepul dan

setelah itu lenyap! Dan ketika Han Han merinding dan

terkejut, baru tahu kenapa mendiang ayahnya disebut sebagai

Si Golok Maut, karena memiliki golok yang demikian

menakutkan maka ibunya sudah membalik dan berkelebat ke

dekatnya, mengangkat tinggi-tinggi golok itu dengan gagang

di atas.

“Liong-ji, bersumpahlah bahwa dengan golok ini kau akan

membunuh si Kedok Hitam. Jangan biarkan darahnya terhirup

kering sebelum ibumu mencuci rambutnya dengan darah si

jahanam!”

Han Han tertekuk jatuh. Di langit terdengar suara keras

dan guntur atau petir meledak di atas kepala. Suaranya

menggelegar karena Han Han diminta bersumpah untuk

membunuh musuh dengan golok itu. Berarti, akan mengulangi

sejarah ayahnya, mungkin lebih hebat lagi! Dan ketika Han

Han menggigil dan berseru dengan suara lantang, menerima

dan bersumpah sesuai kehendak ibunya maka terlihat pijaran

api dua kali yang keluar dari Golok Maut itu. “Klap-cess!”

Han Han dan ibunya terkejut. Kilatan api itu meluncur dari

badan golok dan masuk ke tubuh Han Han. Pemuda ini seperti

disengat listrik tapi ternyata tidak apa-apa, kecuali kulit

tubuhnya tiba-tiba merah membara. Aneh! Dan ketika Wi

Hong tertegun tapi tertawa girang, itulah adalah tanda bahwa

Golok Maut menerima puteranya, bersatu dan telah

memasukkan “roh”-nya ke tubuh si anak maka wanita itu

berlutut dan menyembah ke atas.

“Mo-bin-lo, terima kasih. Kau telah menerima puteraku.

Bimbing dan tuntunlah dia agar dapat membunuh pembunuh

ayahnya!”

“Ha-ha!” di langit tiba-tiba muncul bayangan hitam, tinggi

besar dan seperti raksasa. “Aku paling cocok dengan laki-laki,

hujin. Kalau puteramu menerima perintahmu maka golok itu

tentu akan menghirup darah lawan…. dar!” bayangan itu

lenyap, Wi Hong terpelanting dan Han Han terkejut berkelebat

menyambar ibunya. Tapi ketika ibunya tak apa-apa dan

tertawa berseri, menganggap kejadian tadi seperti berkah

maka Han Han tertegun.

“Ibu, apa yang kaulakukan? Apa yang terjadi?”

“Hi-hik, Mo-bin-Io telah memberi restu, Liong-ji. Golok Maut

telah bersatu denganmu. Kau pasti akan mampu membunuh si

jahanam!”

“Mo-bin-lo? Siapa dia?”

“Pencipta atau pemilik pertama golok di tanganmu itu.

Tokoh luar biasa yang kini hidup di alam lain!”

“Ah, banyak sekali ceritanya. Aku bingung, tapi semakin

tertarik. Coba ibu ceritakah semuanya ini!” dan ketika Wi Hong

terkekeh dan menyambar putera-nya, duduk lagi di depan

makam maka Han Han melihat dua gundukan tanah yang lain

itu.

“Ibu,” pemuda ini teringat. “Makam siapa lagi yang itu?”

“Ah, makam suhu dan subo mendiang ayahmu, suami isteri

sakti Sin-liong Hap Bu Kok dan Cheng-giok Sian-li (Dewi Giok

Hijau) yang gagah perkasa!”

“Mereka itu juga tewas di sini?”

“Ya, tewas bersama, Liong-ji. Sampyuh. Ah, aku harus

menceritakan ini!” dan ketika Wi Hong bingung untuk mulai

yang mana, mana yang perlu didahulukan maka ia melipat

kakinya dan menyuruh anaknya itu mendengar baik-baik. Han

Han terbelalak mendengar semuanya itu dan tampaknya

memang bingung. Terlalu banyak cerita yang disimpan ibunya

ini, mulai dari mendiang ayahnya sampai ke Golok Maut, atau

Golok Penghisap Darah itu. Dan ketika masih juga ada cerita

tentang suhu dan subo (ibu guru) mendiang ayahnya, Sinliong

Hap Bu Kok atau si Naga Sakti dan Dewi Giok Hijau maka

Han Han terkejut mendengar tentang Mo-bin-Io segala, kisah

atau cerita-cerita yang belum sama sekali didengar di Hekyan-

pang!

“Baiklah, tolong ibu mulai. Sebaiknya urut saja dari ayah

dahulu, baru setelah itu yang lain-lain!”

“Baik, dengarlah, Liong-ji. Kau tampaknya tak pernah diberi

tahu oleh ayahmu Beng Tan atau ibumu Swi Cu!”

“Mereka memang tak pernah bercerita, semuanya hanya

sekilas, samar-samar.”

“Hm, tak apa. Aku tahu bahwa mereka tak suka kepadaku,

juga kepada mendiang ayahmu!” dan ketika Wi Hong bersinar

dan berapi-api, mulai bercerita tentang segala sesuatu maka

diceritakanlah sebab-musabab kematian suaminya itu, den

dam atau permusuhan yang berekor panjang. Betapa

suaminya ditipu dan dijebak Coa-ongya. Betapa keluarga

suaminya be-rantakan dan terbunuh satu demi satu gara-gara

Coa-ongya. Dan ketika Han Han bertanya* kenapa semuanya

itu terjadi maka ibunya menerangkan.

“Kakekmu, ayah dari mendiang ayahmu adalah pembela

Chu Wen, tokoh yang dianggap pemberontak oleh Coa-ongya

dan kaisar sekarang. Tapi karena semua orang bebas

berpendapat dan mendukung pimpinannya masing-masing

maka saudara sepupu kakekmu, yang membantu Coa-ongya

dan akhirnya menjadi jenderal berulang ulang membujuk

namun gagal meraih kakekmu itu. Orang itu, Kwi-goanswe,

diperalat dan menjadi begundal pangeran she Coa ini.

Kakekmu tak mau. Keluarga Sin tahu bahwa Coa-ongya itu

adalah seorang pangeran yang pendusta dan pembohong.

Coa-ongya tak dapat dipercaya. Dan karena saudara sepupu

kakekmu itu marah dan gagal, tak dapat membujuk kakekmu

lagi maka dengan curang dia lalu membunuh saudaranya

sendiri itu. Hanya karena dengki dan dendam!”

“Hm, jadi mulainya dari dukung-mendukung pimpinan,”

Han Han mengangguk. “Lalu bagaimana, ibu?”

“Kwi-goanswe berusaha membujuk isteri dan anak-anak

keluarga Sin!”

“Ah, apakah mereka itu tak tahu bahwa kepala keluarganya

dibunuh Kwi-goanswe?”

“Mula-mula tak tahu, karena isteri kakekmu itu tak memberi

tahu. Sin-hujin a-tau nenekmu itu memegang teguh rahasia,

karena hubungan kekeluargaan mereka sebenarnya dekat.

Tapi ketika anak laki-lakinya tahu dan mulai dendam, karena

Kwi-goanswe membunuh ayahnya maka Kwi-goanswe menjadi

khawatir dan a-khirnya mengejar-ngejar anak ini!”

“Dan anak itu pasti ayah!”

“Benar, cocok. Dan Kwi-goanswe semakin ketakutan

setelah seorang kakek lihai menolong dan menyelamatkan

ayahmu itu dari rencana pembunuhan Kwi-goan swe!”

“Dua orang suami isteri itu? Sin-liong Hap Bu Kok dan

Cheng-giok Sian-li?”

“Bukan… bukan. Mereka itu guru-guru nomor dua dari

ayahmu, Liong-ji. Guru pertama adalah Hwa-liong Lo-kai.

Kakek ini sahabat Sin-liong Hap Bu Kok dan kebetulan mereka

sama-sama pembela Chu Wen!”

“Hm, begitu. Lalu?”

“Lalu Kwi-goanswe gentar. Dia menghadapi orang-orang

lihai dari pihak Chu Wen!”

“Tapi bagaimana ayah bisa menjadi murid suami isteri sakti

itu?”

“Hwa-liong Lo-kai terbunuh, Liong-ji, dikeroyok dan

diserang Kwi-goanswe dan ratusan pasukannya. Jenderal itu

mengejar-ngejar ayahmu yang sudah menjadi murid kakek ini,

khawatir ayahmu menuntut balas. Dan ketika Hwa-liong Lo-kai

binasa tapi muncul suami isteri sakti itu, karena mereka

adalah sahabat pengemis tua ini maka selanjutnya ayahmu

diambil dan digembleng mereka, karena kakek itu akhirnya

tewas!”

“Dibunuh Kwi-goanswe?”

“Ya, dan para pembantunya. Tapi suami isteri sakti ini tak

ada yang dapat me lawan dan mereka akhirnya membawa lari

ayahmu!”

“Hm, dan ayah semakin lihai,” Han Han bersinar-sinar.

“Dan Kwi-goanswe semakin ketakutan. Bukankah begitu, ibu?”

“Kembali benar,” sang ibu mengangguk. “Ayahmu bagaikan

harimau tumbuh sayap, Liong-ji. Sin-liong Hap Bu Kok dan

isterinya adalah orang-orang pilih tanding yang tak ada

duanya di dunia kang-ouw. Sayang, karena mereka sering

cekcok dan meninggalkan Chu Wen maka laki-laki itu terbunuh

dan pengikutnya cerai berai!”

“Cekcok? Suami isteri cekcok?” Han Han heran, tak pernah

melihat ayah ibunya di Hek-yan-pang cekcok. “Kenapa mereka

itu, ibu? Kenapa harus cekcok?”

“Ibu tak tahu, tapi mungkin pengaruh Golok Maut itu!”

Han Han terkejut. Ibunya tiba-tiba ngeri dan seolah jerih

memandang golok yang diterimanya itu. Han Han

menyelipkannya di belakang punggung dan hanya gagang

golok yang tampak, gagang yang mengkilat dan terbuat dari

tulang harimau. Golok ini memang gagah dan indah

bentuknya. Orang tak akan merasa seram sebelum golok

dicabut, karena begitu dicabut akan keluarlah cahayanya yang

menyeramkan itu, juga hawa dingin yang tiba-tiba memenuhi

udara. Seolah golok itu setiap dicabut harus meminum darah!

Dan ketika Han Han merasa heran kenapa ibunya bergidik,

ngeri, maka ibunya sudah memberi tahu bahwa golok itu tak

cocok untuk suami isteri.

“Ada kutukan di golok ini, yakni pemegangnya, tak boleh

suami isteri. Maksudku ….. maksudku, golok ini ingin

berteman laki-laki lajang, jejaka murni. Wanita atau gadis tak

cocok dengan golok ini. Itulah sebabnya kenapa aku tak

pernah membawa-bawanya karena golok itu seakan menolak

jika dipakai atau dimiliki wanita!

“Hm!” Han Han terheran-heran, masih kurang jelas.

“Maksudmu golok ini tak suka berdekatan dengan wanita, ibu?

Dia menghendaki hanya berteman dengan laki-laki?”

“Ya, jejaka murni. Sebab sekali tidak murni maka tuah

golok itu akan bicara!”

“Tidak murni? Tidak murni bagaimana?

“Kau akan tahu kelak, Liong-ji. Karena itu hati-hatilah. Aku

tak dapat menerangkan banyak sebab kelak kau tahu sendiri!”

Wi Hong semburat, kemerah-merahan mukanya karena

bingung menerangkan itu. Dia hendak berkata bahwa golok

itu pantang dipakai laki-laki yang sudah bersanggama dengan

wanita. Itulah sebabnya dulu kenapa Sin Hauw terbunuh,

karena kutuk atau sumpah golok itu dilanggar. Dan karena

puteranya ini tampak jejaka sekali dan masih hijau, Wi Hong

tak sanggup memberi tahu lebih jauh maka dia hanya berkata

agar Han Han tak mendekati perempuan.

“Tapi ibupun wanita!” Han Han menyanggah. “Apakah aku

tak boleh berdekatan dengan ibu pula?”

“Hm, eh… tidak, bukan begitu maksudku. Yang

kumaksudkan adalah, ah… kelak kau mengerti sendiri, Liongji.

Pokoknya jangan dekat-dekat wanita selain ibu!”

Han Han tertawa. “Ibu aneh,” katanya “Kenapa begitu, ibu?

Bukankah sama saja? Tapi, hmm… aku juga belum pernah

berdekatan dengan wanita, setidak-tidaknya waktu aku di

Hek-yan-pang dulu. Aku tak suka kepada wanita, aku merasa

jijik. Kecuali, hmm…!” Han Han teringat Yu Yin, berhenti dan

tidak meneruskan kata-katanya dan sang ibu terbelalak. Tapi

ketika pemuda itu meneruskan bahwa kecuali dengan ibunya

maka Wi Hong tertawa dan lega, tak tahu bahwa puteranya

menyembunyikan rahasia hubungannya dengan Yu Yin!

“Bagus, kau memang sebaiknya hanya dengan ibu saja.

Jangan dekati wanita lain, Liong-ji. Apalagi kalau kau sudah

membawa Golok Maut itu. Bisa terkena mala petaka!”

“Dan kemudian?” Han Han bertanya. “Bagaimana

selanjutnya, ibu? Bagaimana kisah ayah seterusnya itu?

Apakah Kwi-goanswe tak berhasil dibunuh?”

“Hm, akhirnya jenderal itu bersama anaknya berhasil

dibunuh. Tapi ayahmu mengalami malapetaka lain!”

“Maksud ibu?”

“Kwi-goanswe sebenarnya hanya diperalat saja oleh Coaongya

itu, atau sebenarnya juga dengan Ci-ongya karena Coaongya

dan Ci-ongya kakak beradik. Mereka sama-sama

saudara kaisar yang sekarang dan karena mereka orang dekat

dengan kaisar maka pengaruh atau kekuasaan mereka juga

besar!”

“Hm!” Han Han mengangguk-angguk. “Dan ternyata

pangeran ini yang kemudian menjadi dalang kematian ayah?”

“Pangeran itu memang biang penyakit, Liong-ji. Tapi

pembunuh ayahmu adalah si Kedok Hitam!”

“Baik, dan aku pasti mencari laki-laki ini. Kemudian?”

“Kemudian terjadilah hal yang menggemaskan ini. Coaongya

ganti mengejar-ngejar dan ingin merangkul ayahmu!”

“Eh, kenapa begitu?” Han Han terheran. “Bukankah mereka

musuh?”

“Hm, pada dasarnya pangeran itu bekerja atas kepentingan

negara, Liong-ji. Tak dapat disangkal bahwa pangeran itu

sudah lama ingin merangkul dan membujuk bekas pengikutpengikut

Chu Wen. Para pengikutnya sendiri bukan apa-apa

kalau dibandingkan dengan para pengikut Chu Wen itu, yang

lihai-lihai. Tapi karena para pengikut Chu Wen banyak

tercerai-berai setelah Chu Wen tiada maka pangeran itu ingin

memperkuat diri dengan merangkul dan membujuk bekas

pengikut-pengikut Chu Wen itu.”

“Dan satu di antaranya adalah ayah, karena ayah murid

Sin-liong Hap Bu Kok yang hebat!”

“Benar, itulah. Memang begitu. Tapi masih ada maksud

lain, Liong-ji. Coa-ongya ingin memiliki Golok Maut ini!”

“Hah, apakah dia bisa silat?”

“Tidak, pangeran itu orang lemah. Tapi karena dia tahu dan

ingin memiliki senjata-senjata pusaka maka dia tertarik

dengan golok peninggalan Hap Bu Kok ini, Liong-ji. Dan

akhirnya merangkul atau membujuk ayahmu untuk

bergabung, menjadi pembantunya!”

“Dan ayah mau….”

“Salah!” sang ibu menggeleng. “Waktu itu di sana ada Kwigoanswe,

anakku. Ayahmu tentu saja tak mau karena Kwigoanswe

itu telah membunuh ayahnya!”

“Hm, lalu?”

“Lalu Coa-ongya mempergunakan segala akal, dan ayahmu

terjebak!” Wi Hong tiba-tiba berhenti, menangis tapi tiba-tiba

mengepal tinju dan segera wanita itu menceritakan kelicikan

Coa-ongya. Golok Maut ditipu dan ditangkap, senjatanya

dirampas. Tapi karena Coa-ongya rupanya sadar bahwa golok

itu tak boleh disimpan oleh orang yang sudah berkeluarga,

karena Coa-ongya bukan laki-laki lajang maka senjata itu

dikembalikan atau setengah dikembalikan ketika dirampas

suaminya.

“Banyak penderitaan dan siksaan yang dialami ayahmu.

Kalau Bu-beng Sian-su tidak muncul dan menyelamatkan

ayahmu barangkali dari dulu-dulu ayahmu sudah binasa!”

“Bu-beng Sian-su?” Han Han tertegun, mengerutkan

kening. “Siapa orang ini, ibu? Kenapa aku belum dengar

namanya?”

“Hm, kakek itu kakek dewa yang amat luar biasa, Liong-ji.

Kepandaian dan dirinya seperti dongeng. Aku sendiri belum

pernah melihatnya dan memang kakek ini dikenal hanya

sebagai tokoh dongeng!”

“Kalau begitu dia tidak ada?”

‘Tidak, dia ada. Tapi sekarang barangkali sudah tidak ada.

Kakek itu adalah kakek dewa dan berkat pertolongannya-lah

maka ayahmu dapat hidup dan membalas dendam, meskipun

belum semua!”

“Hm, dan aku baru kali ini mendengar nama Bu-beng Siansu.

Apakah ayah Beng Tan tidak tahu, ibu?”

“Apa?” sang ibu tiba-tiba melonjak. “Pek-jit Kiam-sut yang

dia punyai itu justeru dari kakek ini, Liong-ji. Kalau tidak tak

mungkin Beng Tan dapat menandingi ayahmu!”

Han Han terkejut. “Kalau begitu dia murid kakek dewa itu?”

“Benar, tapi Bu-beng Sian-su sendiri tak menganggapnya

sebagai murid. Artinya, Beng Tan hanya mewarisi sebuah dua

ilmunya saja tapi itu sudah membuat dia tanpa tanding di

dunia kang-ouw, setingkat ayahmu!”

Han Han terkejut. Kalau ayahnya di Hek-yan-pang sudah

seperti itu maka dapat dibayangkan betapa hebat dan saktinya

kakek dewa Bu-beng Sian-su itu. Hanya dengan sebuah dua

ilmunya saja ayahnya di Hek-yan-pang menjadi tanpa tanding.

Tapi teringat bahwa ayahnya Si Golok Maut dikatakan dapat

ditandingi Beng Tan, ayahnya di Hek-yan-pang maka Han Han

ingin tahu siapakah sebenarnya di antara mereka yang lebih

unggul.

“Tak ada yang unggul!” ibunya memberi tahu. “Dua-duanya

sama hebat dan dua-duanya sama sakti. Kalau ayahmu

menang dengan Golok Penghisap Darah ini maka ayahmu di

Hek-yan-pang itu juga memiliki Pedang Matahari yang

mampu menandingi Golok Maut. Keduanya pernah bertempur

tiga hari tiga malam dan tak ada yang menang §tau kalah.

Seri!”

“Hm,” Han Han berkilat matanya. “Kalau begitu mendiang

ayah merupakan orang yang luar biasa, ibu. Dia jago tanpa

tanding yang berdiri seimbang dengan ayah Beng Tan!”

“Memang benar, dua-duanya sama hebat. Tapi karena

ayahmu luka-luka dikeroyok pengawal-pengawal istana

tangguh, ketika membunuh Ci-ongya dan keluarganya maka

dia melarikan diri dan dikejar-kejar di Lembah Iblis ini. Dan

saat itu datang tantangan Beng Tan. Mereka sebenarnya

hendak menentukan siapa jago yang sejati, karena duaduanya

juga sama-sama masih penasaran. Tapi ketika Beng

Tan datang ke sini tiba-tiba saja meluruk barisan besar itu

mengepung ayahmu, ada lima ribu orang!”

Han Han mengkirik. “Lima ribu orang? Hanya untuk

menghadapi ayah seorang?”

“Benar, dan pihak istana amat licik, anakku. Mereka tahu

bahwa ayahmu lukaluka dan tak memberi kesempatan untuk

menyembuhkan diri. Dan yang penting, datang di saat

menghadapi tantangan dengan ayahmu Beng Tan!”

“Dan ayah Beng Tan bisa disangka berbuat curang,

mendatangkan pasukan kerajaan!”

“Memang begitu, tapi kami semua akhirnya tahu. Beng Tan

sendiri akhirnya mengamuk dan marah-marah kepada orangorang

itu, namun terlambat. Ayahmu yang sudah kepayahan

dan menderita luka-luka akhirnya terbunuh dan binasa di

tangan Kedok Hitam!”

“Hm!” Han Han mencorong matanya, menggeram bagai

seekor harimau terluka. “Aku akan membuat perhitungan

dengan orang ini, ibu. Dan sumpah tak mau sudah kalau

belum membunuhnya!”

“Benar, dan kita juga telah bersumpah Aku tak akan

menyanggul rambutku kalau belum mencuci dengan

darahnya. Aku ingin keramas dengan darah si jahanam itu!”

“Dan di mana kita bisa mencari jejaknya? Dan siapa

sebenarnya si Kedok Hitam ini?”

“Dia misterius, Liong-ji, ibu juga tak tahu. Tapi ada dua

orang yang dapat dimintai keterangan!”

“Hm, siapa mereka?” “Bukan lain Coa-ongya sendiri. Tapi,

hmm, ibu ragu. Tak mungkin dia mau memberi tahu. Pergi ke

sana bagiku terlalu berbahaya. Para pelindung atau pembantu

pangeran itu terlalu kuat, jumlahnya juga banyak!”

“Aku tak takut!” Han Han berkilat, penuh keberanian. “Tapi

siapa orang kedua itu, ibu?”

“Bukan lain ayahnri Beng Tan. Dialah yang dapat dimintai

keterangan dan ini kupikir lebih mudah!”

“Ayah Beng Tan?” Han Han terbelalak, terkejut, tak

menyangka bahwa ayahnya itulah yang dimaksud. Berarti, dia

harus kembali ke Hek-yan-pang! Tapi ketika dia tertegun dan

terkejut, ibunya tertawa, tiba-tiba ibunya itu sudah melompat

bangun dan berseru,

“Ya, ayahmu Beng Tan itulah yang dapat dimintai

jawabannya, Liong-ji. Dia tahu siapa si Kedok Hitam karena

dulu mereka pernah bertempur. Hayo, kita ke sana dan tanya

dia!”

“Tapi aku pergi meninggalkan mereka!” Han Han tiba-tiba

berseru, pucat, bangkit berdiri pula. “Aku telah dimusuhi

mereka, ibu. Mereka…. mereka tak suka kepadaku!”

“Apa?” Wi Hong terbelalak. “Kau dimusuhi? Berani mereka

berbuat kurang ajar seperti itu? Eh, justeru kuingin datang ke

sana, Liong-ji. Biar kudamprat dan kusemprot mereka

mentang-mentang kau bukan anak kandungnya! Apakah Swi

Cu tahu kau bukan puteranya?”

“Tidak, belum…. tapi…” Han Han susah menjawab,

masygul. “Aku tak ingin ke sana, ibu. Ayah dan ibu Swi Cu

telah menyakiti hatiku.”

“Apa yang terjadi, ceritakan! Biar kupertaruhkan nyawaku

untukmu puteraku seorang!”

Han Han terharu. Tiba-tiba saja dia melihat ibunya ini

seperti seekor induk ayam yang siap bertarung. Atau,

barangkali seperti seekor harimau betina yang akan diganggu

anaknya. Siap menerkam dan mengadu jiwa! Dan ketika Han

Han terharu dan menitikkan air mata, sikap itu belum pernah

diperlihatkan ibunya di Hek-yan-pang seperti ibu kandungnya

ini maka Wi Hong memeluk dan sudah menyambar puteranya

itu.

“Liong-ji, katakan kepada ibu. Apa yang mereka lakukan

dan kenapa kau pergi dari sana. Apakah Beng Tan memakimu

atau menghinamu di luar batas!”

“Tidak,” Han Han tiba-tiba menangis, naik sedu-sedannya.

“Ayah…. ayah baik-baik saja kepadaku, ibu. Tapi ibu Swi Cu

…. dia…. dia benci kepadaku!”

“Apa yang menjadi sebabnya?”

“Karena aku memakai caping ini, juga karena kebetulan aku

menemukan sebuah kitab pelajaran sinkang yang jatuh di

sumur tua.” Han Han lalu menceritakan persoalannya,

didengar ibunya dan Wi Hong terbelalak memandang sang

putera terkasih. Baru sekarang dia sadar akan caping yang

dipakai puteranya itu dan baru sekarang dia mendusin bahwa

caping ini memang mirip benar dengan caping suaminya.

Han Hari memang mirip mendiang Si Golok Maut, puteranya

itu bagai pinang dibelah dua. Maklumlah, mereka ayah dan

anak kandung! Dan ketika Han Han selesai bercerita

sementara sang ibu melotot dan merah padam maka Wi Hong

membanting kaki dan berseru gusar,

“Keparat si Swi Cu itu. Akan kuhajar dia. Baik, kita ke sana,

Liong-ji. Dan akan kulabrak dia sebagai wanita tak tahu diri.

Hayo, tak usah di sini lagi dan kita sikat mereka itu!”

“Nanti dulu,” Han Han terkejut, menyambar dan mencekal

lengan ibunya itu, “jangan terburu-buru, ibu. Sekarang aku

tahu apa yang menjadi sebab. Agaknya, ibu Swi Cu telah tahu

bahwa aku bukan putera kandungnya. Itulah sebabnya menga

pa ia tak begitu kasih kepadaku. Ah, kita jangan gegabah

karena betapapun mereka menggembleng dan telah melepas

budi kepadaku!”

“Tak ada budi!” sang ibu membentak. “Mereka dapat

tinggal di Hek-yan-pang atas kemalanganku, Liong-ji. Kalau

aku tidak begini dan dulu tidak terguncang jiwaku tak mungkin

mereka dapat menguasai Hek-yan-pang. Aku terpukul oleh

kematian ayahmu. Sekarang aku sudah sadar dan akan

merebut kekuasaan di sana. Hayo, kaulah yang berhak dan

duduk sebagai ketua!”

“Tidak!” Han Han terpekik, melihat ibunya menyambar dan

membawanya lari turun gunung. “Tunggu dulu, ibu.

Dengarkan kata-kataku. Aku tak mau menjadi ketua, aku ingin

bebas. Tunggu!” dan ketika Han Han melepaskan diri dan

memberontak dari pegangan ibunya maka Wi Hong terhuyung

dan melotot memandang puteranya itu, yang cepat-cepat

menangkap dan mengeluh kembali. “Maaf…. maaf, ibu. Aku

tak bermaksud kasar kepadamu. Aku ingin bicara,” dan ketika

Han Han duduk dan mengajak ibunya duduk pula, menahan

gejolak hati, maka Han Han sudah menjelaskan bahwa tak

usah sejauh itu mereka marah-marah kepada ayah ibunya di

sana.

“Sekarang aku tahu kenapa ibu Swi Cu tak suka kepadaku.

Wajahku mirip ayah, dan memang pernah kudengar mereka

cekcok tentang aku. Ah, firasat ibu Swi Cu tajam dan benar.

Agaknya dia tahu bahwa aku bukan anaknya, tak memiliki

getaran tali kasih sebagaimana layaknya seorang putera

dengan ibu kandungnya. Hm, ini menyakitkan hatiku, ibu. Tapi

aku sekarang telah bertemu denganmu, ibu kandungku. Ayah

dan ibu Swi Cu telah mendidik dan membesarkan aku. Kalau

sekarang ibu marah-marah dan mau merebut kekuasaan di

sana terus terang aku tak setuju. Tapi kalau ibu mau datang

tentang pertanyaan si Kedok Hitam, musuh kita itu, aku

setuju. Apakah ibu berjanji bahwa tak akan membuat ribut

selain urusan ini?”

“Kau tak ingin menduduki kursi ketua di sana?”

“Hm, meskipun ayah Beng Tan tahu aku bukan anak

kandungnya pasti kedudukan itu diberikannya kepadaku juga,

ibu. Kalau sudah waktunya. Tapi aku tak suka menerima

tampuk pimpinan. Ayah Beng Tan sudah cukup bijaksana dan

Hek-yan-pang di bawah pimpinannya sudah cukup maju dan

disegani, aku tak ingin kedudukan. Kalau ibu mau bicara

tentang itu terus terang aku tak suka.”

“Tapi aku ketua Hek-yan-pang, aku ketua aslinya. Aku

masih mempunyai hak, dapat kutuntut!”

“Itu dulu, ibu. Tapi setelah itu ibu tak pernah muncul lagi.

Ibu dalam keadaan terguncang, gila. Kalau ibu Swi Cu tidak

turun tangan dan cepat-cepat membenahi tentu Hek-yan-pang

sudah bubar atau hancur.”

“Jadi kau tak mau menjadi ketua?”

“Ah, aku tak suka itu, ibu. Hek-yan-pang di bawah

pimpinan ayah Beng Tan tetap berwibawa dan bahkan maju.

Aku tak suka menjadi ketua. Sudah cukup aku sebagai putera

seorang ketua!”

“Tapi kau berhak akan kedudukan itu, sebagai puteraku!”

“Hm, sama saja, ibu. Sebagai puteramu atau putera ayah

Beng Tan yang telah mendidik dan membesarkan aku maka

kuanggap tak ada masalah. Sekarang aku hanya ingin bicara

tentang si Kedok Hitam itu, bukan urusan ketua perkumpulan!

“Baik, kalau begitu kita ke sana, Liongji. Sama saja bagiku!”

“Ibu berjanji?”

“Eh, kau mengikat ibumu dengan janji? Kalau mereka tak

macam-macam tentu aku juga tak akan macam-macam,

Liong-ji. Hayo berangkat dan kita temui mereka!”

“Nanti dulu!” Han Han menahan lengan ibunya. “Kita pamit

dulu kepada ayah dan aku juga ingin bersembahyang di

makam guru-guru ayahku itu!” dan ketika sang ibu tertegun

dan sadar, Wi Hong tersenyum maka wanita itu mengangguk

dan menahan langkah kakinya. Han Han sudah berlutut dan

bersoja di depan makam ayahnya itu. Mulut puteranya komatkamit

dan Wi Hong mendengar janji atau sumpah ulangan

puteranya. Dan ketika Han Han berdiri dan berlutut di makam

yang lain, makan dari suami isteri Sin-liong Hap Bu Kok maka

di s ini Han Han mohon doa restu.

“Aku mohon locianpwe memberikan restu di alam sana.

Semoga aku dapat mencari dan membunuh pembunuh

ayahku!”

“Bagus!” Wi Hong terkekeh. “Dan aku juga pamit kepada

ayahmu, Liong-ji. Hayo berangkat dan sekarang kita bebas!”

Han Han disentak dan disambar. Sekarang dia membiarkan

dan ibunya sudah terbang menuruni bukit. Han Han menarik

napas dalam untuk menekan debaran hatinya ke Hek-yanTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

pang. Ayah dan ibunya di sana tentu bakal terkejut. Rahasia

tentang dirinya sudah terbuka. Dia ternyata keturunan Si

Golok Maut, pantas wajahnya begitu mirip! Dan ketika Han

Han berdebar membayangkan bahwa ayah atau ibunya di

sana bakal terkejut, entah apa yang terjadi maka ibu

kandungnya ini terkekeh-kekeh dan justeru gembira. Wi Hong

mengalami kegembiraan luar biasa bertemu dengan anak

kandungnya ini. Kehebatan dan kesaktian Han Han telah

dilihatnya. Ah, siasatnya dulu berhasil. Anaknya ini telah

mewarisi seluruh kepandaian Beng Tan. Dan teringat bahwa

Han Han telah memegang Golok Maut, senjata warisan

ayahnya maka Wi Hong girang bukan main karena hal itu

membuat anaknya seolah harimau tumbuh sayap!

Han Han sendiri tak berpikiran sampai ke sini. Pemuda itu

berkerut kening dan sering diam kalau tidak ditegur. Ibunya

tak perduli dan tertawa-tawa, tak menghiraukan degup

kencang jantung puteranya setelah mereka kian dekat saja

dengan Hek-yan-pang. Maklumlah, mereka sudah

meninggalkan Lembah Iblis dua hari dua malam, berarti

mereka semakin dekat saja dengan tempat tujuan itu. Dan

ketika tak lama kemudian mereka sampai juga ke sana, tepat

di saat matahari terbenam maka Han Han mengajak ibunya

beristirahat.

“Kenapa?” ibunya tertegun. “Jauh-jauh kita datang, Liongji.

Dan mereka sudah di ambang mata!”

“Hm, aku tak suka malam-malam begini. Aku ingin kita

datang secara gagah, bukan di malam gelap. Kalau ibu turut

kata-kataku maka kita istirahat di hutan ini saja dan besok

pagi-pagi baru ke sana.”

“Ah, baiklah. Dan mari kutunjukkan guha di mana dulu aku

menukar dirimu dengan bayi Swi Cu, hi-hik!” Wi Hong tak

membantah, tertawa dan menuruti kata-kata puteranya dan

Han Han mengerutkan kening. Ibunya berkelebat dan menuju

ke tengah hutan, membelok dan akhirnya menguak sebuah

tanaman perdu. Dan ketika di situ muncul sebuah lubang dan

itulah guha di mana dulu ibunya menukar anak, antara dirinya

dengan putera ayahnya Beng Tan maka Han Han atau yang

sebenarnya bernama Giam Liong ini menyatukan alisnya yang

tebal, tampak tak begitu gembira.

“Lihat, inilah guha itu, Liong-ji. Dan aku berhasil mengecoh

mereka semua hingga terkibul. Hi-hik, kau telah mewarisi

kepandaian si Pedang Matahari dan itu berarti kau lebih hebat

dari mendiang ayahmu sendiri!”

“Hm, inikah kiranya?” Han Han menoleh ke sana-sini.

“Tersembunyi dan rapat sekali, ibu. Meskipun aku sebenarnya

tak memuji perbuatanmu itu.”

“Eh, kau menyalahkan ibumu?”

“Maaf, aku tidak menyalahkan, tapi sekedar kurang suka

saja. Aku jadi tak enak karena sudah mewarisi kepandaian

ayahku Beng Tan!”

“Itu yang kuharap, aku tak dapat menggemblengmu

sendiri. Kau menyesal, Liong-ji?”

Han Han terkejut. Ibunya tiba-tiba terisak dan kiranya dia

telah melukai perasaan ibunya itu. Sang ibu akhirnya

menangis dan berkata bahwa tanpa begitu tak mungkin

mereka dapat membalas dendam. Si Kedok Hitam amatlah

lihai dan setelah Golok Maut binasa maka Beng Tan itulah

satu-satunya orang yang dapat mengalahkan. Dan ketika

ibunya menggu-guk dan berkata bahwa kepandaiannya sendiri

amat rendah, hingga tak dapat dipakai mendidik sang putera

maka Han Han sadar dan cepat memeluk ibunya itu.

“Aku menyesal, tapi bukan karena itu melainkan karena

telah melukai perasaan ibu. Baiklah, aku minta maaf, ibu. Apa

yang kaulakukan betapapun adalah untuk kepentingan diriku

juga, maksud ibu untuk membalas dendam kematian ayah.

Aku tak akan mengulangi kata-kata itu lagi dan harap ibu tidak

berduka.”

Wi Hong girang. Setelah Han Han tidak menyalahkannya

dan dapat menerima apa yang dia lakukan maka mereka

memasuki guna itu. Han Han menarik ibunya ketika sang ibu

hendak masuk begitu saja, maklumlah, dia mendengar desis

perlahan dari dua ekor ular yang sedang merayap hati-hati.

Dan ketika Han Han menjentikkan kuku jarinya dan dua ekor

ular itu jatuh, menggeliat dan roboh dengan kepala pecah

maka Wi Hong terkejut karena itulah dua ekor ular merah

yang amat beracun sekali.

“Ang-tok-coa (Ular Racun Merah)!” serunya.

“Benar, dan mungkin di dalam masih ada ular-ular yang

lain, ibu. Biar kusapu mereka kalau ada…. wut!” Han Han

mengibaskan ujung lengan bajunya, guha tiba-tiba

mengeluarkan suara gemuruh karena seperti angin topan saja

mendadak kibasan atau kebutan ujung lengan baju pemuda

itu menyapu ke dalam. Dan ketika terdengar suaja “tepaktepok”

dan puluhan ular jatuh, hancur dan binasa di dinding

maka Han Han menyalakan obor dan Wi Hong ngeri melihat

banyaknya ular-ular merah yang ada di situ!

“Luar biasa, untung ada kau!”

“Hm, aku mendengar gerak dan desis mereka, ibu. Kau tak

mendengar karena rupanya sedang bersedih tadi.”

“Ah, tapi betapapun kau lihai. Hanya dengan

menggerakkan lengan baju saja maka puluhan ular rontok

binasa!”

“Sudahlah, kita masuk, ibu. Dan beristirahat di dalam,” Han

Han masuk, obor di tangan sudah siap dan Wi Hong mengikuti

puteranya itu dari belakang. Wanita ini meleletkan lidah

karena kalau sampai dia dikeroyok puluhan ular-ular merah,

yang beracun dan amat berbisa tentu berbahaya juga. Dia tadi

tak mendengar karena betul sedang merasa sedih, kecewa

oleh kata-kata puteranya tadi. Tapi begitu ular-ular sudah

dibunuh dan Han Han mengibaskan lengannya lagi, bangkaiTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

bangkai ular itu terbang keluar maka malam itu mereka

beristirahat dengan tenang dan diam-diam Wi Hong kagum

akan kepandaian puteranya ini.

Pagi itu dapat dibayangkan betapa kaget, heran serta

tercengangnya anggauta-anggauta Hek-yan-pang.

Perkumpulan yang dikelilingi danau dan menjadi semacam

pusat pemerintahan kecil bagi markas Walet Hitam itu melihat

kedatangan Han Han dan ibunya. Han Han berjalan tenang

dan mula-mula mereka tentu saja harus melewati

perkampungan murid-murid lelaki yang berjaga di luar.

Perkampungan atau rumah-rumah di sekitar danau itu

memang sebagai benteng atau tameng sebelum tamu

memasuki pusat markasnya, yang berada di tengah pulau.

Han Han datang dengan sikapnya yang tenang dan wajahnya

yang dingin serta beku seperti biasa itu mula-mula disambut

gembira oleh anak murid Hek-yan-pang. Beberapa di

antaranya menjatuhkan diri berlutut, karena jelek-jelek Han

Han adalah putera ketua, jadi tentu saja pimpinan di s itu. Tapi

ketika mereka melihat kedatangan Wi Hong dan ibu serta anak

yang sama-sama berambut kemerahan, seperti beroles darah

maka semua tertegun dan ngeri. Apalagi Han Han tak

menunjukkan senyumnya, dingin di balik bayang-bayang

caping Si Golok Maut!

“Han-kongcu datang…. Han-kongcu datang…! Beri tahu

kepada pangcu dan hu-jin (nyonya)!”

Semua tiba-tiba berlarian. Mereka menyambut tapi segera

menyibak ketika Wi Hong mengibas. Wanita itu masih benci

karena Hek-yan-pang sekarang sudah dipenuhi murid lelaki.

Dan ketika mereka berpelantingan dan tentu saja berteriak,

kaget, maka Han Han menahan lengan ibunya untuk tidak

berbuat kejam.

“Kita tak perlu mengganggu mereka. Mari terus ke tengah

pulau dan menghadap ayah!”

Anak-anak murid ribut. Han Han sudah menuju danau dan

sebuah perahu tiba-tiba meluncur cepat, penumpangnya

menoleh dan menggigil memandangnya. Itulah anak murid

Hek-yan-pang yang akan memberi laporan. Mereka tentu

kecut melihat ibunya bersamanya, karena dulu ibunya pernah

menghajar murid-murid lelaki ini. Dan ketika Han Han

menyambar dan melepaskan sebuah perahu, yang banyak

tertambat di situ maka Han Han mengajak ibunya untuk

meloncat naik.

“Mari, kita ke pulau. Dan ibu tak usah menunjukkan pedang

itu!” Han Han membenamkan Golok Mautnya, tak ingin

membuat geger tapi ibunya terkekeh dan malah

memperlihatkan gagang pedang di belakang punggung.

Pamer. Sikapnya seperti orang yang bahkan menantang! Dan

ketika Han Han tak dapat berbuat apa-apa dan mengayuh

perahunya, cepat sekali, maka perahu tiba-tiba mencelat dan

terbang membelah permukaan air danau!

-ooo0dw0ooo-

Jilid 11

“CLAP-CLAP!” perahu meluncur cepat “Jangan membuat

ribut, ibu. Ingat janjimu!”

“Hi-hik!” Wi Hong terkekeh, tak menjawab permintaan

puteranya. “Lihat mereka terbirit-birit, Liong-ji. Ah, ingin

kususul mereka dan menjungkir balikkan perahunya ke air.

Ayo, cepat susul. Ibu ingin menenggelamkan mereka!”

“Hm, tidak,” Han Han tentu saja tak mau. “Kita bukan

berurusan dengan para murid, ibu, melainkan ingin

menghadap ayah dan ibu Swi Cu. Pegang pinggiran perahu

erat-erat karena aku akan terbang!”

Wi Hong terpekik. Perahu mendadak melesat ke atas dan

tidak lagi menyentuh permukaan air. Han Han mengangkat

perahunya tinggi-tinggi hingga perahu itu tak lagi meluncur di

air. Setiap jatuh atau turun lagi maka Han Han memukulkan

dayungnya ke bawah, air danau muncrat tinggi dan angin

pukulan pemuda itulah yang membawa dan menerbangkan

perahu ini seperti siluman. Dan ketika perahu anak murid

tersusul dan perahu Han Han lewat di atasnya, anak-anak

murid terbelalak dan bengong, takjub, maka Han Han sudah

mendarat dan menjatuhkan perahunya dengan empuk di

pulau.

“Han-kongcu datang….. ah, Han-kongcu datang…!”

Sama seperti di luar tadi maka disinipun Han Han disambut

dengan teriakan dan seruan-seruan keras.

Hanya kalau di luar tadi adalah teriakan atau seruan muridmurid

lelaki maka disini semuanya perempuan. Mereka adalah

penjaga atau anak-anak murid yang bertugas disitu, tentu saja

melihat perahu Han Han yang terbang dan melewati perahu

anak-anak murid lelaki. Mereka terkejut dan membelalakkan

mata lebar-lebar. Tapi begitu tahu bahwa itulah Han Han,

yang rambutnya memerah darah maka murid-murid wanita

yang kagum dan sejenak takjub ini berseru kegirangan

menyambut.

Namun mereka tertegun melihat Wi Hong, wanita di

samping Han Han itu. Mula-mula mereka tak mengenal karena

Wi Hong pun rambutnya memerah darah, ibu dan anak samasama

mirip. Sedetik, mereka menyangka dua orang itu gila,

mengecat rambutnya. Tapi ketika tahu bahwa Han Han tak

suka main-main dan pemuda berwajah dingin itu datang

dengan seorang wanita yang akhirnya dikenal sebagai bekas

pangcu yang lama, Wi Hong tentu saja sudah dikenal bekas

murid-muridnya sendiri maka ada diantara mereka yang tibatiba

berkelebat melarikan diri sementara yang sudah didekati

tak sempat untuk bersembunyi dan menjatuhkan diri berlutut,

gentar.

“Pangcu….!” seruan lirih itu menyembunyikan ketakutan.

“Selamat datang dan semoga sehat-sehat saja!”

“Siapa kau?” Wi Hong tak ingat dan menendang.

“Menyebutku pangcu tapi hormat kepada orang lain. Minggir,

dan enyahlah!”

Tiga orang terlempar. Mereka berdebuk dan mengaduh dan

Han Han cepat memegang lengan ibunya itu.

Di sini ibunya tiba-tiba tampak beringas dan tak kuasa

menahan diri. Mata Wi Hong bersinar dan berkilat-kilat bagai

mata harimau haus darah, Han Han mengingatkan ibunya

untuk tidak membuat ribut, atau dia kembali dan tak akan

menemui Beng Tan. Dan ketika Wi Hong terkejut dan sadar,

terkekeh bertemu pandang dengan mata puteranya maka

wanita ini menahan diri dan mengangguk.

“Baik, hi-hik. Aku hanya melempar mereka itu, Liong-ji, tak

membunuh. Lihat, mereka tak apa-apa dan bangun berdiri!”

Memang benar, tiga anak murid Hek-yan-pang itu bangun

berdiri, terhuyung, mau melarikan diri tapi menjatuhkan diri

berlutut karena Wi Hong memandangnya penuh ancaman.

Namun karena Han Han mencengkeram lengan ibunya dan

dua orang itu lewat dengan cepat, melalui mereka maka tiga

anak murid ini girang dan lega dan cepat-cepat meloncat

bangun untuk…. melarikan diri.

“Celaka, kongcu datang bersama ketua yang lama. Pergi,

cepat menyingkir!”

Di tengah pulau inipun terjadi kegemparan. Mereka sudah

melihat Wi Hong dan tak berani bertemu muka. Mereka

terkejut dan terheran-heran bagaimana bekas ketua lama itu

dapat datang bersama Han Han. Tak pelak tentu terjadi

keributan. Wi Hong selamanya begitu! Dan ketika Han Han

melihat anak murid berlarian, semua ke dalam atau ke tengah

pulau maka Beng Tan yang mendapat laporan segera

tertegun.

Pagi itu pendekar ini sedang asyik minum kopi pemberian

isterinya, menghirup perlahan-lahan dan kopi kental yang

pahit-pahit manis itu terasa lezat. Nikmat diminum panaspanas

di pagi yang masih dingin. Tapi begitu belasan anak

murid muncul dan langsung menjatuhkan diri berlutut, berseru

bahwa Wi Hong dan puteranya datang tiba-tiba pendekar ini

tertegun dan bangkit berdiri.

“Apa? Wi Hong? Bersama Han Han?”

“Beb…. benar!” anak-anak murid menggigil, tak dapat

bicara lancar. “Han-kongcu datang bersama bekas ketua lama,

pangcu. Mohon pangcu menemui karena kami ditendang dan

dilempar-lempar!”

Dan saat itu berkelebat bayangan Swi Cu. Nyonya cantik

yang mendengar ribut-ribut dan juga sedang hendak bertanya

ini tiba-tiba melihat belasan anak-anak murid itu. Kebetulan,

diapun datang. Dan ketika suaminya menengok dan wajahwajah

disitu tampak pucat dan ketakutan maka nyonya ini

membentak bertanya apa yang terjadi.

“Ada apa ribut-ribut. Kenapa semua meluruk kesini seperti

kedatangan harimau siluman!”

“Sabar,” sang suami bergerak dan mencekal lengan

isterinya itu. “Han Han datang, niocu. Tapi bersama

seseorang.”

“Han Han? Bocah tak tahu diri itu? Kenapa datang setelah

minggat beberapa minggu? Biarkan saja, aku ingin mencekik

batang lehernya!”

“Eh!” sang suami terkejut, membentak isterinya. “Jangan

begitu, niocu. T ak baik berkata begitu di depan begini banyak

anak-anak murid. Han Han adalah anak kita, keturunan kita.

Betapapun dia harus kita sambut dan tak perlu marah-marah!”

“Hm, dan siapa seseorang itu. Apakah anak itu akan

membuat onar lagi!”

“Sabar, Han Han tak akan membuat onar. Tapi orang yang

datang bersamanya, hmm….. ini kita harus hati-hati.”

“Siapa dia?”

“Wi Hong…”

“Apa?” sang isteri mencelat, langsung melepaskan cekalan

suaminya. “Suci Wi Hong? Dia…. dia datang bersama Han

Han? Mau apa?”

“Sabar,” sang suami berkelebat, mencekal lengan isterinya

itu. “Dia datang, niocu. Lihat, itu mereka!” dan ketika benar

saja semua menoleh dan Swi Cu memandang ke depan, ke

arah yang ditunjuk suaminya maka tertegunlah dia melihat

Han Han mendatangi bersama sucinya itu, yang terkekehkekeh

dan mendorong minggir semua anak-anak murid dan

Swi Cu maupun suaminya terbelalak melihat rambut Han Han

yang kemerah-merahan.

Rambut puteranya itu seperti darah dan suami isteri ini

semakin terbelalak saja karena Wi Hong, wanita itu, juga

berambut kemerah-merahan seperti Han Han. Mata mereka

yang tajam segera mengetahui bahwa rambut itu tidaklah dicat.

Rambut itu memang merah seperti bermandi atau

berminyak darah, bukan main heran tapi juga terkejutnya

mereka. Dan ketika Han Han sudah dekat dan membungkuk di

depan ayah ibunya, memberi hormat, maka pemuda itu

menyatakan maaf dan selamat bertemu.

“Aku datang bersama ibu, harap ayah baik-baik saja.”

“Apa?” Beng Tan terkejut, mengerutkan kening. “Ibu? Kau

tahu siapa yang kau ajak ini, Han Han? Dan dari mana kau?

Kenapa meninggalkan kami tanpa ijin?”

“Maaf,” Han Han semburat. “Aku pergi karena sikapmu

juga, ayah. Kau memusuhi dan tidak menyukaiku seperti ibu

Swi Cu. Aku tak tahan, pergi tapi akhirnya kembali untuk

bertanya siapa pembunuh ayah kandungku!”

“Prat!” Beng Tan menggetarkan jari dan berkelebat

mencengkeram leher baju anaknya itu. “Apa kau bilang, Han

Han? Ayah kandung? Pembunuh ayah kandung?”

“Hi-hik!” Wi Hong, yang terkekeh dan tertawa-tawa

membiarkan ayah dan anak saling bicara kini menyergap

maju, mengejutkan. “Tak usah heran tak usah bingung akan

ini, Beng Tan. Hari ini rahasia besar hendak kubuka. Han Han

bukanlah anakmu, dia puteraku, Giam Liong, Sin Giam Liong!”

“Wut!” Beng Tan berkelebat dan kini menyambar Wi Hong,

melepaskan cengkeramannya kepada Han Han. “Apa kau

bilang, Wi Hong? Rahasia besar? Han Han ….. Han Han

puteramu? Kau gila?”

“Lepaskan!” Wi Hong membentak dan menendang lawan.

“Kita bicara baik-baik, Beng Tan. Dia adalah Giam Liong

bukannya Han Han. Anak ini adalah benar anakku, putera

yang kulahirkan dari kasih sayang Sin Hauw!” dan bergerak

mendampingi Han Han, berlindung sekaligus waspada akan

segala serangan Wi Hong berapi-api memandang ketua Hekyan-

pang itu, tidak berkedip. “Ini adalah benar Giam Liong,

anakku. Lihat wajah dan gerak-geriknya, lihat sikap dan

pandang matanya. Apakah pantas sebagai puteramu? Dia

adalah anakku, Beng Tan. Bocah yang kulahirkan dulu itu. Ini

bukan Han Han melainkan Giam Liong!”

“Bohong, dusta!” Beng Tan merah padam membentak Wi

Hong, tak dapat mengendalikan marahnya. “Kau membuat

onar dan ribut, Wi Hong. Dari dulu sampai sekarang tak jera

juga mencari permusuhan. Ah, kau harus ditangkap, dibuang

jauh-jauh!” dan ketika Beng Tan berkelebat dan menyambar

wanita itu, jari-jari berkerotok penuh hawa marah maka Wi

Hong sudah diserang dan siap ditangkap.

Wi Hong terkejut dan mengelak namun jari-jari itu

membayangi dirinya. Wanita ini kaget dan melempar tubuh

namun kalah cepat. Jari-jari itu sudah menyambar baju

pundaknya dan siap menembus daging.

Han Han terkejut melihat kemarahan ayahnya itu. Itulah

Tiat-kang atau Tenaga Besi yang akan menghancurkan daging

pundak ibunya. Maka ketika ibunya berteriak dan ayahnya

tampak beringas, Han Han melompat maju tiba-tiba pemuda

itu menangkis dan berseru keras agar ayahnya mundur.

“Maaf, harap ayah mundur…. dukk!” dua lengan yang

beradu sama kuat akhirnya menggetarkan Beng Tan yang

terdorong selangkah, juga Han Han yang merasakan betapa

kuatnya tenaga ayahnya tadi. Tapi ketika Han Han berdiri

tegak dan menarik napas dalam-dalam maka pemuda ini

membungkuk.

“Ayah tak perlu menyerang ibu kandungku. Apa yang

dikata adalah benar. Aku…. aku putera kandung ayahku Si

Golok Maut. Aku keturunan keluarga Sin!”

Beng Tan terbelalak dan merah padam.

Swi Cu melengking dan berkelebat maju, siap menggempur

dan membela suami. Tapi ketika Beng Tan mencekal

lengannya dan menyuruh mundur, wanita itu merah padam

maka Wi Hong terkekeh dan memandang sumoinya.

“Swi Cu, tak perlu naik pitam. Ini adalah benar anakku

sendiri, Giam Liong. Sedang maksud kedatangan kami ialah

hendak bertanya kepada suamimu siapa pembunuh suamiku

dulu!”

“Keparat, bedebah terkutuk!” Swi Cu membentak dan tak

dapat menahan diri. “Kau tak tahu malu dan mencari

keributan, suci. Kedatanganmu tak membawa maksud baik

dan selamanya mencari permusuhan. Sekarang ceritakan

bagaimana itu semuanya terjadi dan dimana anakku Han

Han!”

“Benar,” Beng Tan menggeram dan menahan marah.

“Kedatanganmu aneh dan menusuk perasaan, Wi Hong. Kalau

kau datang untuk merebut kedudukan ketua barangkali tak

usah panjang lebar kuserahkan kepadamu, kalau murid-murid

setuju. Tapi kalau kau datang dengan berita tentang Han Han

menjadi Giam Liong dan itu bukanlah anak kami maka kau

sungguh keji!”

“Hi-hik, tak perlu marah,” Wi Hong terkekeh dan enak saja

bicara, tak takut kepada Beng Tan karena dia tahu kepandaian

puteranya sendiri, Han Han atau Giam Liong yang tadi telah

mampu menunjukkan kelihaian yang meyakinkan, menangkis

serangan Beng Tan hingga laki-laki itu terdorong. “Aku akan

bicara baik-baik, Beng Tan. Kalau kau terima syukur, tidak

diterimapun tak apa. Aku hendak bicara tentang kisah belasan

tahun yang lalu, ketika aku datang kesini…”

“Hm, penculikan anak itu?”

“Benar, kau cerdas.”

“Dan kau menukar bayi-bayi itu?”

“Ah, hi-hik. Kau luar biasa, Beng Tan Belum diberi tahu

sudah tahu lebih dulu. Ah, kau mengagumkan!” dan ketika Wi

Hong terkekeh dan kagum akan pendekar ini, jago pedang

yang berotak cerdas maka Swi Cu melengking dan tiba-tiba

mencabut pedangnya untuk menusuk, langsung menyerang

Wi Hong. “Kalau begitu kau terkutuk, keji. Kau menukar anak

dan mempermainkan aku, suci. Dan untuk dosa begini aku tak

dapat memberi ampun….. singg!” dan pedang yang bergerak

bagai awan putih tiba-tiba menyambar dan sudah mendekati

tenggorokan Wi Hong.

Wanita itu terkejut dan mengelak namun Swi Cu sekarang

bukanlah Swi Cu yang dulu, yang masih sumoinya dengan

kepandaian khusus dari warisan Hek-yan-pang. Karena begitu

mengelak dan mundur menjauh tiba-tiba Swi Cu menetakkan

ke bawah dan dengan jurus Pek-jit Kiam-hiap atau silat

Pedang Matahari sekonyong-konyong senjatanya itu sudah

mendekati Wi Hong lagi dan kini menuju lambung.

“Aihhh…. tranggg!” Wi Hong mencabut pedang apa boleh

buat menangkis.

Dikejar dan diberondong dua jurus beruntun yang begitu

cepatnya tiba-tiba Wi Hong tak dapat keluar. Muka dan

belakang sudah penuh dengan bayang-bayang pedang dan

mau tak mau dia harus mencabut pedangnya sendiri,

menangkis. Tapi ketika dia terpelanting dan kaget berteriak

keras maka Han Han sudah berkelebat dan menghadang di

depan ibu kandungnya.

“Maaf, harap ibu Swi Cu tidak menyerang lagi.”

“Terkutuk!” Swi Cu melengking dan bahkan menerjang Han

Han. “Kalau kau bukan anakku malah kebetulan sekali, bocah.

Gara-gara ibumu aku jadi menderita!” dan pedang yang

bergerak menusuk mata tiba-tiba dikelit dan ditampar Han

Han.

Pemuda ini bukanlah Wi Hong dan dia tahu jurus-jurus

berikutnya, mendahului dan menampar pedang dan karena

sinkangnya memang lebih kuat maka pedang di tangan Swi Cu

seketika mencelat, jatuh dan terlepas dari tangannya. Dan

ketika Swi Cu terpekik dan mundur terhuyung, marah sekali

maka Han Han sudah memungut dan mengembalikan kembali

pedang ibunya itu, ibu atau yang sebenarnya bibi karena Swi

Cu adalah sumoi dari ibu kandungnya.

“Maaf,” Han Han atau sekarang yang bernama Giam Liong

ini menunjukkan muka sedih. “Aku tak ingin menimbulkan

keributan, ibu. Aku datang hanya untuk berurusan dengan

ayah, bertanya tentang siapa pembunuh ayah kandungku.”

“Keparat, jangan panggil kami ayah ibumu!” Swi Cu

membentak, menyambar dan menusukkan pedangnya lagi.

“Kalau kau anak Sin Hauw maka pantas kau berdarah dingin,

Giam Liong. Kiranya kau anak pembunuh itu dan bukan anak

suamiku!”

Namun Giam Liong yang mengelak dan kembali menampar

akhirnya membuat pedang runtuh dua kali, terbelalak dan

mencorong matanya mendengar Swi Cu mengatakan ayahnya

pembunuh, hal yang membuatnya marah! Tapi ketika Beng

Tan bergerak dan menangkap isterinya, memungut dan

menyambar pedang maka laki-laki itu berdiri dengan muka

gelap, pandang matanyapun mulai mencorong menakutkan.

“Han Han, eh… Giam Liong! Jangan menghina isteriku

kalau betul ingin berurusan denganku. Nah, katakan, apalagi

maumu selain itu!”

Han Han, atau marilah kita sebut pemuda ini sebagai Giam

Liong, karena dia memang keturunan Si Golok Maut Sin Hauw

berdiri tegak berhadapan dengan bekas ayahnya itu. Agak

sukar bagi Giam Liong untuk merobah sebutan, karena sudah

terbiasa bertahun-tahun dia memanggil ayah dan ibu kepada

laki-laki ini dan Swi Cu. Tapi karena Swi Cu memakinya

sebagai anak pembunuh dan Giam Liong bangkit

kemarahannya mendengar ini, ibunya tak mau lagi dipanggil

sebagai ibu lalu berlutut sebelum menumpahkan

kemarahannya, yang mulai berkobar.

“Maaf, ayah,” pemuda itu masih tak bisa merobah sebutan.

“Kalau aku datang membuat ribut sukalah dimaafkan. Aku dan

ibu datang bukan untuk mengacau, melainkan bertanya siapa

pembunuh ayahku. Kalau aku sudah mendapat keterangan

tentu akan segera pergi.”

“Begitu enak?” Swi Cu melengking, akan menerjang tapi

dicekal suaminya lagi. “Ibumu menculik anakku, Giam Liong.

Dan dia harus mempertemukan aku dengan anakku itu. Kalau

tidak, kalian berdua harus binasa disini, setidak-tidaknya

ibumu!”

“Hi-hik!” Wi Hong tertawa, nyaring. “Jangan sombong dan

mentang-mentang, Swi Cu. Jelek-jelek aku adalah sucimu,

orang yang lebih tua darimu. Kalau kau mau menangkap atau

membunuh aku maka kutanya apa kesalahanku!”

“Kau sudah tidak gila?” Swi Cu melotot, sejak tadi

memperhatikan bahwa sucinya ini memang waras, dapat

bicara baik.

Tapi Wi Hong yang mendelik dan bahkan gusar lalu

melompat dan berapi-api di depannya, berkacak pinggang.

“Apa? Gila? Kaulah yang edan, Swi Cu. Melihat saudara

bernasib malang malah galang-gulung dan kawin dengan lakilaki

yang merampas kedudukanku sebagai ketua. Kaulah yang

tidak waras, kaulah yang tidak berotak! Kalau aku tidak

bertemu puteraku ini barangkali aku tetap gila dan tak tahu

kegilaanmu yang lebih dari aku karena membiarkan sucinya

menderita dan menangis sendirian!”

“Hm, aku tak perduli kepadamu!” Swi Cu membentak, sakit

hatinya karena sucinya ini ternyata telah mempermainkannya,

menukar bayi. “Kau menderita dan sengsara adalah atas

kesalahanmu sendiri, suci. Kalau kau tidak melanggar dan

menyalahi peraturan partai tentunya kau tak akan melahirkan

anak haram jadah ini! Siapa suruh kau menyerahkan

kehormatan kepada Golok Maut si pembunuh itu? Siapa suruh

kau bermain cinta hingga melahirkan anak tak berbudi ini?

Kalau kau waras tak akan terjadi semuanya itu, suci. Tapi

karena kau gila dan sengaja melanggar peraturan partai maka

kau kena hukumannya. Itu salahmu, bukan salahku!”

“Apa?” Wi Hong terbelalak, hebat dan luar biasa sekali

kata-kata sumoinya itu. “Kau…. kau menghina dan

merendahkan aku sedemikian rupa? Kau…. kau memaki

puteraku sebagai anak haram?”

“Kenapa tidak?” Swi Cu juga sudah terlanjur dibakar

kemarahan hebat, atas hilang atau ditukarnya anaknya itu. “Di

samping rendah dan memalukan ternyata kau culas, suci.

Menukar anak dan memberikan anak jadahmu kepada kami.

Sekarang, setelah besar tiba-tiba kau datang bersamanya

seperti seekor harimau yang hendak menerkam majikannya

yang memberinya minum atau makan bertahun-tahun!”

“Aiihhhhh….!” pekik atau lengking menggetarkan itu

membuat anak-anak murid Hek-yan-pang terpelanting.

Mereka terjerembab atau terjengkang oleh suara Wi Hong

yang luar biasa ini, suara yang dilandasi khikang sepenuh

tenaga. Wi Hong pucat dan merah berganti-ganti mendengar

makian sumoinya itu. Mereka telah saling tuduh-menuduh dan

Giam Liong yang mendengarkan itu sampai menggigil dan

berketrukan giginya. Kalau bukan wanita ini yang bicara

barangkali dia akan berkelebat dan segera melepas pukulan

maut.

Di depan begitu banyak orang Swi Cu telah menghinanya

sebagai anak haram jadah. Ah, betapa menyakitkan itu! Dan

ketika ibunya bergerak dan menerjang ke depan, ibu dan

bibinya itu memang sudah sama-sama berhadapan maka

Giam Liong berputaran matanya bagai seekor harimau yang

penuh nafsu, marah namun mengendalikan kemarahannya

karena dilihatnya ayahnya bersiap-siap melindungi sang isteri,

berjaga-jaga dari perbuatannya karena Beng Tan juga melihat

perubahan hebat di wajah pemuda itu.

Giam Liong berkali-kali mengeluarkan geraman

menggetarkan mendengar semua kata-kata isterinya tadi.

Beng Tan sudah meremas dan mengguncang lengan isterinya

dua kali untuk tidak mengeluarkan kata-kata tajam. Namun

karena isterinya terpukul dan marah oleh perbuatan Wi Hong,

yang menculik dan menukar anak maka Beng Tan yang diamdiam

juga marah dan terpukul oleh kenyataan ini akhirnya

membiarkan saja isterinya itu bicara semaunya, tak tahunya

Wi Hong tiba-tiba memekik dahsyat membuat anak-anak

murid terpelanting. Dan ketika wanita itu bergerak dan

menyambar isterinya, terbang bagai garuda atau elang yang

buas maka pedang di tangan Wi Hong menusuk dan bergerak

tujuh kali, padahal isterinya tak bersenjata, pedang isterinya

masih di tangannya.

“Bret-bret-bret!” Swi Cu terpekik dan membanting tubuh

bergulingan.

Kalau dia tidak bersenjata sementara sucinya menyerang

begitu garang, dengan pedang di tangan maka serangan

sucinya itu sungguh berbahaya sekali. Memang benar dia

mendapat tambahan kepandaian dari suaminya, di samping

ilmu-ilmunya sendiri dari Hek-yan-pang. Namun karena

sucinya begitu beringas dan semua kata-katanya tadi

membuat Wi Hong marah selangit, sudah tak dapat

mengendalikan dirinya lagi maka Wi Hong mengejar dan

mencaci-maki sumoinya itu, bergerak dan berkelebat dan

pedang di tangan menikam bertubi-tubi ke bawah.

Lima kali Swi Cu kalah cepat berkelit hingga baju dan

sebagian kulitnya tertusuk. Swi Cu pucat karena sucinya

mengejar dan ganas sekali menyerang. Tapi ketika nyonya itu

kewalahan dan Wi Hong menggetar-getarkan ujung

pedangnya seperti orang hendak mencincang bakso maka

Beng Tan yang tak dapat melihat isterinya bergulingan tibatiba

membentak dan melepaskan pukulan jarak jauh

menghantam Wi Hong.

“Mundur!”

Wi Hong terpelanting. Pukulan bukan sembarang pukulan

yang dilepas laki-laki itu memang tak dapat ditahan Wi Hong.

Wanita ini terpelanting dan menjerit. Dan ketika dia melempar

tubuh menjauh sementara Swi Cu sudah meloncat bangun dan

ditolong suaminya maka Swi Cu merebut atau mengambil

pedang ditangan suaminya itu.

“Kubunuh jahanam ini! Biar kubunuh dia!”

“Tidak, tahan!” Beng Tan membentak, menahan isterinya

itu.

Dan ketika Swi Cu meronta namun suaminya menotok dan

melumpuhkan dia maka pedang kembali direbut dan Beng Tan

menghadapi Wi Hong, berapi-api.

“Wi Hong, tak kusangka sedemikian keji dan culas hatimu.

Kau menculik anak, menukar bayi kami. Dan setelah kini kau

datang lagi maka keributan dan keonaran yang lagi-lagi kau

buat. Hm, aku tak dapat membiarkan ini dan tak akan

mengampunimu. Kau kutangkap dan harus dihukum. Kemana

anak kami itu dan kau apakan dia!”

“Hi-hik, aku tak tahu!” Wi Hong berkelebat dan cepat

bersembunyi di balik punggung puteranya, diam-diam gentar

dan masih sangsi apakah Giam Liong mampu menghadapi

pendekar itu, karena kepandaian Beng Tan sungguh hebat

sekali.

Tapi ketika Beng Tan bergerak dan hendak menyambar

lengannya, menangkap, maka Giam Liong bergerak dan

menangkis lengan ayahnya itu.

“Maaf, kau tak dapat mengganggu ibu disini, ayah. Kalau

ibu bersalah menukar bayi maka akulah yang bertanggung

jawab…. dukk!”

Beng Tan tergetar mundur, untuk kedua kali merasa

tangkisan puteranya yang kuat.

Giam Liong memang hampir setingkat dengannya. Dan

karena anak itu mempelajari warisan sinkang di sumur tua,

pelajaran yang ternyata dari ayah kandungnya sendiri maka

Beng Tan pucat melihat kekuatan puteranya itu, s inkang Giam

Liong yang sudah semakin hebat dengan tambahan warisan

dari Si Golok Maut.

“Hm, kau membela ibumu, Giam Liong? Apa maksud katakatamu

dengan bertanggung jawab itu? Dan kau sekarang

berani melawan aku?”

“Maaf,” pemuda ini merah padam, sama seperti sang ayah,

bingung di samping marah karena dia dan ibunya sudah dihina

Swi Cu habis-habisan. “Aku bertanggung jawab artinya akan

menebus kesalahan ibu, ayah. Yakni akan mencari dan

mendapatkan puteramu itu. Aku tahu siapa yang mengambil!”

“Mengambil?” Beng Tan terkejut. “Jadi….. jadi puteraku

jatuh ke tangan orang lain?”

“Benar.”

“Keparat! Siapa itu?”

“Jangan diberi tahu!” Wi Hong tiba-tiba berseru, melompat

dan berdiri di samping puteranya itu, terkekeh, mulai percaya

bahwa puteranya dapat menghadapi pendekar ini. “Kalau dia

tak mau menyebutkan siapa dan dimana pembunuh ayahmu

itu maka tak usah kita memberitahunya, Liong-ji. Hutang satu

bayar satu, hutang dua bayar dua!”

Giam Liong tertegun, sadar. Dan ketika dia mengangguk

dan merasa ucapan ibunya benar, Beng Tan menggeram dan

semakin merah maka pendekar itu berkilat memandang Wi

Hong.

“Hm, kalau begitu aku tak akan perduli lagi. Kau menukar

dan menculik anakku, mempermainkan dan kini mengajak

puteramu memusuhi aku. Baik, kau majulah, Giam Liong. Aku

akan menghadapimu sebelum membekuk ibumu. Keluarkan

semua kepandaian yang pernah kau dapatkan dariku!”

Pemuda itu terkejut. Bentakan dan kata-kata ayahnya ini

menyadarkan sekaligus membuatnya tertegun. Ayahnya

mengejek dan berkata bahwa kepandaian yang didapat akan

dikeluarkannya untuk menghadapi ayahnya itu, jadi seperti

murid melawan guru. Dan karena kata-kata itu menyiratkan

ejekan bahwa dia tak berbudi, membalas air susu dengan tuba

maka Giam Liong tertegun dan sejenak tak mampu menjawab,

diam tak berbuat apa-apa. Tapi ibunya yang melengking dan

tertawa nyaring tiba-tiba berseru mengingatkan dia akan

musuh atau pembunuh ayah kandungnya.

“Tak perlu ragu. Kau membela dan melindungi ibumu,

Liong-ji. Beng Tan ini hanya ayah angkat dan bukan apa-apa.

Kalau dia pernah memberi budi maka itu adalah wajar karena

dia merampas dan merebut kedudukan ibumu sebagai ketua

disini. Nah, budinya itu sudah sepadan dengan apa yang ia

peroleh disini. Kau berhutang budi kepadanya tapi iapun

berhutang banyak kebaikan kepadaku. Impas!”

Giam Liong tertegun. Akhirnya dia sadar bahwa kata-kata

ibunya pun ada benarnya. Penderitaan ibunya seolah sebagai

“pembayaran budi” kepada ayah angkatnya ini. Sebab, kalau

ibunya ada dan tinggal disitu tak mungkin Beng Tan dapat

menjadi ketua.

Laki-laki itu duduk karena ketidakmampuan ibunya pula,

karena waktu itu ibunya gila dan terganggu jiwanya. Dan

ketika dia menggigit bibir karena mau tak mau harus

menghadapi ayahnya ini, ayah sekaligus guru yang telah

menurunkan semua kepandaiannya maka Giam Liong berlutut

dan mencium tanah, sekali lagi memberi hormat.

“Ayah, tak ingin rasanya aku bertanding denganmu. Tapi

karena aku membela dan melindungi ibu kandungku maka

kalau kau mau menangkapnya terpaksa aku tak dapat

membiarkan. Aku telah berjanji untuk menebus dan

membayar kesalahan ibu dengan menculik anakmu itu. Dan

kalau kini kau tak mau memberi tahu siapa pembunuh ayahku

maka dapat kuanggap kau hendak melindungi dan

membelanya. Baik, silahkan maju, ayah. Dan boleh kau bunuh

aku kalau bisa. Aku telah bertekad untuk mencari pembunuh

ayahku, baik kau memberitahunya atau tidak!”

Beng Tan tergetar. Dua pasang mata mereka yang bentrok

dan saling beradu pandang membuat dia menyaksikan tekad

dan kebulatan hati pemuda itu.

Mata Giam Liong mencorong dan melihat mata ini seperti

melihat mata mendiang Si Golok Maut Sin Hauw. Sebenarnya

ada kekaguman di hati pendekar ini melihat wajah dan sikap

Giam Liong. Pemuda itu memang gagah dan jantan, mata dan

gerak-geriknya telah menunjukkan hal itu, sama seperti

mendiang ayahnya yang juga gagah dan jantan, perwira

sebagai seorang laki-laki namun sayang kelewat ganas karena

dendamnya yang setinggi langit. Dan ngeri melihat sorot mata

Giam Liong ketika membicarakan pembunuh ayahnya, mata

yang berkilat dan mencorong berbahaya maka Beng Tan

teringat ketika duapuluh tahun yang lalu dia juga berhadapan

dengan ayah pemuda ini, Sin Hauw si Golok Maut!

Seperti itulah sikap dan sorot mata mendiang Sin Hauw.

Sekali mempunyai keputusan tak akan sudah sebelum

terlaksana, biarpun untuk itu darah dan nyawa sendiri

dikorbankan! Maka ketika pandang mata dan sikap atau katakata

Giam Liong persis ayahnya, mata yang bersorot buas dan

penuh kebencian maka Beng Tan bergidik membayangkan apa

yang akan terjadi.

Diam-diam pendekar ini menekan rasa ngerinya. Diakui

atau tidak, sebenarnya tak ada kemarahan atau kebencian

kepada bekas puteranya ini. Bahkan, dia merasa sayang dan

kasih kepada pemuda itu.

Giam Liong adalah pemuda pendiam dan penurut, juga

amat rajin berlatih hingga dalam beberapa tahun saja sudah

hampir menyamainya, hal yang mengagumkan hatinya. Tapi

begitu diketahui bahwa pemuda ini bukan puteranya, putera

kandung, maka Beng Tan menjadi kecewa dan marah berat,

bukan kepada pemuda itu melainkan kepada Wi Hong. Ah, Wi

Hong sungguh biang penyakit. Kalau tidak ditangkap atau

dihukum tentu bakal membuat onar. Tapi karena menangkap

wanita itu harus berhadapan dengan puteranya ini, pemuda

yang telah dididik dan bahkan mendapat warisan dari

mendiang ayahnya sendiri maka Beng Tan diam-diam sangsi

apakah dapat dia mengalahkan pemuda itu.

Dari sorot mata dan sikap Giam Liong pendekar ini dapat

merasakan adanya semacam kekuatan dahsyat pada sinkang

bekas puteranya ini. Dua kali adu tenaga tadi telah

menunjukkan itu.

Giam Liong sekarang sungguh berbeda dengan Giam Liong

beberapa waktu yang lalu, sebelum minggat atau

meninggalkan Hek-yan-pang Dan sadar bahwa selama itu

tentu pemuda itu terus tekun berlatih dan mempelajari

warisan kitab kecil, yang didapat dari sumur tua maka Beng

Tan tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan

tangguh.

Hm, jangan-jangan dia akan berhadapan seperti ketika

dengan mendiang Si Golok Maut dahulu. Pertandingan yang

dahsyat dan tak ada yang kalah atau menang. Tapi karena dia

sekarang bertambah tua sementara pemuda ini adalah anak

muda yang sedang hebat-hebatnya, penuh vitalitas dan

tenaga maka Beng Tan ragu apakah dia mampu menghadapi

pemuda ini.

Namun Beng Tan adalah seorang jago yang bernama

besar. Setelah Golok Maut tiada, diakui atau tidak, dialah

orang terlihai saat itu. Dunia kang-ouw mengakuinya. Dan

karena lawan sudah siap di depannya dan menangkap Wi

Hong harus merobohkan pemuda itu, bekas putera yang kini

akan bertarung membela kepentingan masing-masing maka

pendekar itu bergerak dan sudah memasang kuda-kuda.

“Majulah!” sang ayah menantang. “Lama kita tidak

bertanding, Giam Liong. Mari kesempatan ini kau isi dengan

mengeluarkan semua kepandaianmu!”

Giam Liong bangkit berdiri. Setelah berlutut dan mencium

tanah dia menganggap tak perlu sungkan lagi. Dia sudah

minta maaf dan tentu saja dia tak akan membiarkan ibu

kandungnya ditangkap. Ayahnya itu pasti akan menghukum

ibunya dengan keras, apalagi Swi Cu, bibi atau bekas ibunya

itu pula. Maka ketika sang ayah berdiri menantang dan kudakuda

yang dipakai ayahnya adalah kuda-kuda bersudut, satu

kaki ditekuk ke depan sementara pinggang ke atas tegak

lurus, satu sikap bertahan sekaligus menyerang maka Giam

Liong menarik napas dan memasang kuda-kuda sejajar, dua

lengan diangkat sementara lengan yang satu ditarik ke dalam

dengan kedua kaki bengkok ke depan, satu pasangan kudakuda

yang menandingi kuda-kuda bersudut!

“Ayah saja yang memulai,” pemuda itu berkata, tenang

namun matanya mencorong lebih kuat, sikap dan katakatanya

membuat anak murid merinding karena terasa begitu

dingin dan beku! “Aku mengalah tiga jurus, ayah. Setelah itu

baru membalas!”

“Hm, kau yang datang, kau yang harus mulai lebih dulu!”

“Tapi ayah adalah orang yang lebih tua, harus kuhormati

lebih dulu!”

“Tidak, aku tuan rumah, Giam Liong. Kali ini kau adalah

tamu. Majulah, dan jangan banyak bicara!” tapi ketika Giam

Liong hendak bergerak dan menyerang, pasangan kuda-kuda

sudah siap berobah tiba-tiba Wi Hong berkelebat dan

melengking ke depan.

“Tunggu!” wanita itu berseru. “Kalah menang harus

ditentukan taruhan, Beng Tan. Sebelum dilanjutkan sebaiknya

kalian masing-masing sama berjanji. Siapa yang kalah dialah

yang harus menurut kepada yang menang. Dan aku hanya

mengharap kau memberi tahu siapa pembunuh suamiku itu!”

“Betul,” Giam Liong terkejut, sadar. “Bertanding tanpa

memberi tahu keinginan masing-masing adalah percuma,

ayah. Aku hanya ingin tahu siapa dan dimana pembunuh

ayahku itu, kalau kau kalah. Tapi kalau kau menang terserah

apa yang akan kau minta!”

“Hm,” Beng Tan berpikir, juga terkejut. Tapi ketika dia

belum menjawab tiba-tiba isterinya melengking. “Suamiku, tak

perlu menuruti semua omongan itu. Kalau kau kalah biarlah

mereka membunuh kita. Tapi kalau mereka kalah kitalah yang

akan membunuhnya!”

“Hm!” Beng Tan menggeleng, tak setuju. “Bunuhmembunuh

adalah pekerjaan yang tak kusukai, niocu. Kalau

aku kalah dan mau dibunuh terserah, tapi kalau aku menang

aku hanya meminta mereka tak meneruskan niatnya dan

memberi tahu dimana anak kita itu! Bagaimana?”

“Tidak, aku tak setuju. Lebih baik kita mampus atau

mereka!”

“Hi-hik!” Wi Hong terkekeh, meloncat dan kembali ke dekat

puteranya, melihat Swi Cu mau menggagalkan maksudnya.

“Suamimu sudah bicara, Swi Cu. Dan aku menerima. Kalau

kau menganggap suamimu bukan seorang penjilat ludah

tantangannya kupenuhi. Aku siap menggagalkan maksudku

bertanya tentang pembunuh itu kalau pihakku kalah, tapi

kalau pihak kalian yang kalah maka suamimu harus memberi

tahu siapa dan dimana pembunuh itu!”

“Aku tak dapat menerangkan siapa pembunuh ini, kecuali

dimana kira-kira ia berada. Kalau kau bertanya siapa dia terus

terang tak dapat kukatakan!” Beng Tan menukas, bersinar dan

marah karena merasa dirinya direndahkan.

Wi Hong seolah menganggapnya sebagai pihak yang pasti

kalah, demikian percaya kepada puteranya sendiri dan tentu

saja pendekar itu merah mukanya. Tapi mengingat bahwa

Giam Liong mendapatkan sebagian besar ilmu-ilmunya

darinya, hal yang agak menenangkan pendekar ini maka dia

menjawab sambil mengingatkan lawan. Dia tak mau memberi

tahu siapa sebenarnya si Kedok Hitam itu kecuali dimana kirakira

ia berada, karena ia memang tak ingin memberi tahu

siapa si Kedok Hitam itu, semata untuk menjaga keonaran

atau banjir darah lagi. Tapi Wi Hong yang terkekeh dan

mengejek kepadanya berkata bahwa itupun tak apa.

“Jangan sombong. Di dunia ini ada dua orang yang dapat

kutanya, Beng Tan, bukan hanya dirimu saja. Kalau kau tak

mau maka aku sudah memberi tahu kepada puteraku untuk ke

kota raja, bertanya kepada Coa-ongya!”

Beng Tan terkejut. Perobahan wajah yang tampak jelas

tiba-tiba membuat pendekar itu surut selangkah, kata-kata

lawan membuatnya berdetak, kaget. Tapi ketika dia dapat

menenangkan guncangan dirinya lagi dan berdiri tegak, muka

sudah biasa maka pendekar itu berkilat dan menutup

pembicaraan.

“Baik, kalau begitu tak perlu banyak mulut, Wi Hong.

Kenapa kau kesini dan tidak ke Coa-ongya. Tentu kau takut

menghadapi banyak orang dan merasa dapat menguasai aku.

Majulah, suruh puteramu mulai!”

Wi Hong tertawa. Setelah Beng Tan menyetujui maksud

hatinya dan taruhan itu dapat dibuat, yang kalah harus tunduk

kepada yang menang maka harapan untuk mengetahui siapa

dan dimana pembunuh suaminya itu dapat dilacak. Dia akan

memulai ini bersama puteranya. Pergi ke istanapun dia tak

takut, asal bersama puteranya yang lihai itu. Dan ketika dia

mundur dan menepuk pundak puteranya, agar maju dan mulai

menyerang maka Giam Liong diam-diam tertegun dan

terkejut.

Tak ada maksud di hatinya untuk menggagalkan atau

membatalkan mencari si pembunuh itu. Dia akan berusaha

sampai titik darah terakhir untuk menemukan si Kedok Hitam.

Dia sudah bersumpah! Tapi karena ibunya sudah menyatakan

janji dan itu tak dapat ditarik lagi, diam-diam pemuda ini

menyesali kesembronoan ibunya maka Giam Liong bertekad

untuk memenangkan pertandingan. Apa boleh buat, dia harus

mengalahkan ayahnya itu. Bukan karena ambisi melainkan

semata agar dapat mencari pembunuh ayah kan-dungnya.

Ayahnya inilah orang yang paling tahu siapa pembunuh itu,

orang yang hanya dikenal sebagai s i Kedok Hitam. Dan ketika

Giam Liong tak dapat mundur selain maju dan harus menang,

keberingasan dan tekadnya tak dapat dicegah maka muka

pemuda itupun menjadi merah sementara rambut di atas

kepalanya berkilat-kilat seperti api yang marong (membara)!

“Baiklah, kita mulai, ayah. Dan cabut senjatamu agar kita

segera menyelesaikan persoalan ini!”

“Tidak, kau saja yang mencabut senjatamu, Giam Liong.

Pinjam pedang ibumu kalau kau tidak membawa!” Beng Tan

berkata, tak tahu Golok Maut yang disembunyikan di balik

punggung pemuda itu.

Giam Liong menyimpannya di balik bajunya yang

kerombyong, longgar dan besar hingga tak dapat dilihat

ayahnya itu, apa-lagi dia selalu berdepan dengan laki-laki ini,

hingga punggungnya terlindung. Dan ketika Giam Liong

tersenyum dan menggeleng, tak akan mencabut senjata

sebelum diperlukan maka dia mengerotokkan buku-buku jari

untuk menyerang tanpa senjata, kedua lenganpun tiba-tiba

memerah seperti terbakar.

“Aku akan menyerang tanpa senjata, ayah. Kalau aku tak

dapat merobohkanmu maka senjata baru kucabut belakangan.

Awas, aku mulai!” dan Giam Liong yang berkelebat dan

mendorong ibunya, agar menyingkir jauh tiba-tiba berseru dan

melepas pukulan pertama.

Beng Tan menanti dan pendekar itu terkejut karena tibatiba

berkesiur angin panas yang menyambar dirinya, bukan

sekedar panas melainkan juga beserta uap merah. Itulah Angin-

kang, Pukulan Awan Merah! Dan ketika pendekar ini berkelit

namun angin pukulan itu terus menyambar, mengikuti maka

apa boleh buat pendekar itu harus menangkis dan

menggerakkan tangannya.

“Dukk!”

Anak-anak murid terpelanting. Bumi bergetar demikian

kerasnya karena baik Beng Tan maupun Giam Liong samasama

menambah tenaganya. Tadi dalam dua kali pukulan

mereka sudah merasakan hebatnya tenaga lawan, kini

menambah dan bermaksud mencapai kemenangan lebih dulu

tapi masing-masing pihak ternyata berpikiran sama.

Beng Tan juga ingin memenangkan pertandingan itu dan

ketika melihat uap merah dia sudah cepat menambah dan

mengerahkan sinkangnya, tak tahunya Giam Liong juga

menambah kekuatannya hingga begitu bertemu tiba-tiba

tanah tergetar dan terguncang keras.

Wi Hong sendiri sampai terpeleset dan hampir terjatuh!

Dan ketika wanita itu terpekik namun dua orang itu sudah

saling membentak dan bergebrak lebih jauh maka Giam Liong

berkelebat mengelilingi ayahnya sambil melepas pukulanpukulan

Awan Merah.

Lawan tak mau diam dan pendekar inipun membalas dan

berkelebatan pula. Dan ketika masing-masing pihak melihat

bahwa yang lain ingin mencapai kemenangan dan bergerak

secepat mungkin maka mereka mengerahkan ginkang dan

akhirnya lenyap berputaran bagai angin puyuh!

“Bagus!” Beng Tan memuji. “Kepandaianmu bertambah

maju, Giam Liong. Kau semakin hebat tapi belum tentu dapat

mengalahkan aku!”

“Hm, aku akan berusaha. Mati hidup demi mendiang orang

tuaku, ayah. Kalau kau tak mau mengalah barangkali kau

harus membunuhku!”

Keduanya sudah bertanding cepat. Beng Tan tak dapat

berbicara lagi karena pukulan-pukulan puteranya semakin

cepat. Uap merah di tangan Giam Liong semakin tebal dan

panas, anak-anak murid terpaksa menjauh karena dari jarak

beberapa tombak saja tubuh mereka serasa terbakar, bahkan,

ada yang mulai melepuh! Dan ketika angin menderu-deru dan

Wi Hong sendiri tak kuat menahan hawa panas itu maka

wanita ini menjauhkan diri karena Beng Tan juga

mengeluarkan Ang-in-kang untuk menandingi bekas puteranya

itu.

“Duk-dukk!”

Pertandingan menjadi hebat. Dua orang itu akhirnya lenyap

merupakan bayang-bayang hitam dan biru. Pendekar itu

mengenakan pakaian biru dimana bayangannya ini

berkelebatan mengimbangi bayangan lawan. Giam Liong

berbaju hitam dan bayangan biru serta hitam ber-ganti-ganti.

Mereka saling desak namun bayangan biru kewalahan.

Giam Liong mulai mengeluarkan pula warisan sinkang dari

kitab kecil di sumur tua, yakni pelajaran Kim-kang-ciang atau

Pukulan Tangan Emas. Dan karena pemuda itu berganti-ganti

mengeluarkan dua pukulan berbahaya, Kim-kang-ciang

akhirnya menyorotkan sinar emas dimana Beng Tan menjadi

silau maka pendekar itu terkejut karena dia terdesak!

“Keparat!” pendekar itu memaki. “Kau telah hapal pelajaran

mendiang ayahmu, Giam Liong. Kau menggabung dengan

Ang-in-kang untuk mengalahkan aku. Ini Kim-kang-ciang!”

“Benar,” Giam Liong berseri. “Meski-pun kau merobek dan

menghancurkan kitab itu namun isinya telah kuhapal, ayah.

Betapapun aku ingin maju dan mengalahkanmu!”

“Tak mungkin, kita belum bergebrak sepenuhnya. Aku

belum mengeluarkan pedangku….. duk-plak!” dan Beng Tan

yang mengeluh dan terlempar ke belakang tiba-tiba bersuara

keras karena digencet Kim-kang-ciang sekaligus Ang-in-kang.

Dia sendiri hanya mengandalkan Ang-in-kang dan itu kalah

kuat. Bekas puteranya benar-benar lihai dan pendekar itu

terkejut. Dan ketika dua pukulan menyambarnya dari depan

karena Giam Liong mendorongkan dua tangannya sekaligus,

yang kiri dengan Kim-kang-ciang sedang yang kanan dengan

Ang-in-kang maka sinar emas dari Kim-kang-ciang

menyilaukan pendekar itu dimana dia akhirnya terbanting dan

terlempar bergulingan.

“Maaf,” Giam Liong mengejar, berkelebat memburu

ayahnya itu. “Kau menyerahlah, ayah. Kita sudahi

pertandingan ini!”

“Jangan sombong!” sang ayah membentak, bergulingan

sambil mendorong kedua tangannya dari bawah, menyambut

atau menolak dua pukulan puteranya. Dan ketika suara

berdentam mengguncangkan tempat itu dan Giam Liong

terhuyung mundur maka sang ayah sudah bergulingan

meloncat bangun.

“Majulah!” wajah pendekar itu pucat. “Aku belum kalah,

Giam Liong. Sinkangmu hebat sekali namun pertandingan

belum selesai!”

“Aku tahu,” Giam Liong kagum, ragu dan tak segera

menyerang. “Kaupun hebat, ayah. Seranglah dan mulailah

dulu… wut!” sang ayah tak menanti omongan itu habis,

membentak dan berkelebat melepas pukulan dan Giam Liong

mengelak. Dan ketika ayahnya mengejar dan memburu maka

terpaksa dia menangkis dan ayahnya lagi-lagi terpental.

“Keparat!” Beng Tan mulai marah, menggigil mendengar

kekeh Wi Hong. “Aku harus menghajarmu, Giam Liong. Cabut

senjatamu dan kita mainkan Pek-jit Kiam-sut (Silat Pedang

Matahari)!”

“Aku belum merasa perlu,” Giam Liong menjawab, tenang,

mulai yakin akan kemenangannya. “Kalau kau ingin mencabut

silahkan cabut, ayah. Aku akan menandingimu kalau

terdesak!”

“Sombong, kau mulai congkak!” dan sang pendekar yang

kembali membentak dan menyerang pemuda ini lalu

mengeluarkan ilmu-ilmu lain.

Ang-in-kang mulai ditambah dengan tamparan-tamparan

pedang. Kiam-ciang atau Tangan Pedang pendekar ini mulai

dikeluarkan. Dan ketika bunyi bercuitan terdengar mengiringi

pukulan menderu maka Kim-kang-ciang ter-tahan dan Giam

Liong tak dapat mendesak ayahnya!

“Hm, hebat!” pemuda itu penasaran, terkejut. “Kau

sungguh manusia jempolan, ayah. Tak bohong kalau kau

disebut pendekar nomor satu!”

Beng Tan mendengus. Pendekar ini tak mau melayani dan

Kiam-ciang di tangannya terus bercuitan menyambarnyambar.

Ternyata dengan itu dia dapat menahan Kim-kangciang.

Pukulan sinar emas itu dapat dibelah dan

dibuyarkannya, akibatnya Giam Liong tertegun dan memuji

kagum. Bekas ayahnya ini memang hebat. Tapi ketika

lawannya itu bergerak semakin cepat dan Tangan Pedang

mulai mencicit dan mendesing, tangan itu berobah seolah

sebatang pedang pusaka sendiri maka Giam Liong berseru

keras berjungkir balik meloncat tinggi.

“Crat!”

Tanah di bawahnya memuncratkan lelatu api. Wi Hong

terpekik sementara anak-anak murid sendiri berteriak ngeri.

Mereka melihat Giam Liong nyaris terlambat dan disambar

Tangan Pedang itu, yang mulai berkilauan dan berkilat bagai

sebatang pedang. Dan ketika Giam Liong melayang turun tapi

dikejar dan disambar bacokan ayahnya maka Giam Liong

mengerahkan Tangan Pedangnya pula dan …. terdengarlah

suara seperti dua batang pedang beradu.

“Cranggg!”

Orang-orang merasa tertegun. Giam Liong mengeluarkan

kepandaian yang sama dengan ayahnya karena hanya dengan

Tangan Pedang itulah dia mampu mengimbangi ayahnya.

Guru dan murid benar-benar bertemu dan sang pendekar

tertegun. Tapi ketika pendekar itu mendengus dan menyerang

lagi, Kiam-ciang dihadapi dengan Kiam-ciang maka suara

crang-cring memekakkan telinga dan dua orang itu bergerak

semakin cepat.

“Keluarkan lagi kepandaian ayahmu!” Beng Tan

menantang, tertawa dan yakin dapat menahan bekas

puteranya ini. “Kau tak dapat mengalahkan aku, Giam Liong.

Menyerahlah dan buang keinginanmu untuk membalas

dendam!”

Si pemuda merah padam. Giam Liong marah namun bekas

ayahnya itu benar-benar dapat menahan dirinya, bahkan, dia

akhirnya terdesak, karena sepasang lengan ayahnya bergerakgerak

dengan Kiam-ciang dan bercuitan menyambar-nyambar.

Dalam hal ini dia kalah matang tapi pemuda itu tidaklah

menyerah begitu saja. Karena ketika suatu kali dia tergetar

mundur dan tangan kiri ayahnya menyambar dan membabat

pundaknya tiba-tiba Giam Liong merobah gerakan dan dengan

satu kaki terangkat ke atas tiba-tiba dia mem-balas dan

menggempur ayahnya itu.

“Dess!”

Beng Tan mencelat kaget. Tangan Pedang disambut jurus

yang aneh dan satu kaki Giam Liong menancap di dalam bumi.

Aneh dan mengejutkan tiba-tiba pukulan pemuda itu

bertambah dahsyat seolah mendapat bantuan siluman,

menggetarkan dan membuat pendekar itu mencelat! Dan

ketika Beng Tan terguling-guling dan pucat melompat bangun

maka Giam Liong masih berdiri dengan satu kaki di atas kaki

yang lain, tegak dan tak bergeming.

“Kim-kee-kang (I lmu Ayam Emas)!” sang pendekar

terkejut, membelalakkan mata lebar-lebar dan segera teringat

ketika dulu dia juga pernah menghadapi gempuran macam ini,

bukan dari s iapa-siapa melainkan dari mendiang s i Golok Maut

Sin Hauw.

Kim-kee-kang akan menjadi demikian ampuh dan hebatnya

kalau satu kaki sudah terbenam di bumi. Kaki itu akan menjadi

demikian kuat dan seolah dipantek saja, akibatnya kekuatan

itu tersalur dan dia dulu juga pernah terbanting. Kini dengan

Giam Liong, anak Si Golok Maut! Dan ketika pendekar itu

tertegun dan menjublak, pucat dan merah berganti-ganti

maka Giam Liong menurunkan kakinya dan berseru,

“Menyerahlah, sekarang kau kalah, ayah. Inilah kepandaian

dari mendiang orang tuaku seperti yang kau minta. Memang

benar, Kim-kee-kang!” dan ketika pendekar itu mendelik dan

marah, menggeram, tiba-tiba dia berteriak menggetarkan dan

menerjang lagi.

“Aku belum kalah. Aku juga masih mempunyai ilmu yang

lain, Giam Liong. Hati-hatilah!” dan secercah cahaya putih

yang meledak dan menyambar tiba-tiba turun dan

menghantam Giam Liong.

Itulah Pek-lui-ciang (Tangan Kilat) yang hebatnya bukan

alang-kepalang, datang menyambar dari atas dan Giam Liong

terkejut melihat itu. Apa boleh buat terpaksa dia mengangkat

satu kakinya lagi untuk menyambut pukulan itu. Pek-lui-ciang

memiliki inti kekuatan dari atas, sementara Kim-kee-kang dari

bawah. Jadi, seolah bumi dengan kekuatan langit. Dan ketika

Giam Liong terkejut tapi tak dapat berpikir panjang, ayahnya

sudah berkelebat dan terbang di udara, melepas Pek-lui-ciang

maka pemuda itu membenamkan kakinya semakin kokoh dan

seluruh kekuatan bumi ditarik untuk menyambut pukulan

Tangan Petir itu.

“Blarrr!”

Hebat dan luar biasa apa yang terjadi kali ini. Giam Liong

mengeluh dan melesak kakinya, amblas dan terbenam

semakin ke bawah. Dan ketika dua pukulan itu beradu dan

sinar putih memecah di udara, anak-anak murid menjerit

maka gelegar atau suara benturan dahsyat yang terjadi itu

membuat Wi Hong terpelanting sementara anak-anak murid

yang lain terbanting pingsan!

Kejadian selanjutnya tak dapat diikuti anak-anak murid lagi

karena dengan marah dan geramnya pendekar itu sudah

melepas pukulan-pukulan Pek-lui-ciang. Giam Liong menerima

dan menahan, mengerikan sekali, melesak dan semakin

melesak ke bawah hingga tak lama kemudian kedua lututnya

sudah terbenam! Dan ketika Wi Hong menjerit-jerit karena

puteranya bertahan dan bertahan maka Beng Tan yang

menyerang dan melepas pukulan bertubi-tubi akhirnya juga

menderita karena lawan semakin kokoh dan kokoh saja,

meskipun terbenam dan tak dapat membalas. Dan karena

pengerahan Pek-lui-ciang terlampau melewati batas, Swi Cu

yang tertotok dan akhirnya dapat membebaskan dirinya

melihat suaminya itu terhuyung dan roboh terduduk, tak

mampu membinasakan Giam Liong!

“Oouhh…!” Swi Cu melenting dan meloncat bangun.

Suaminya mandi keringat dan batuk-batuk, Giam Liong

juga basah kuyup namun pemuda itu jelas tak sepayah

lawannya. Beng Tan jatuh terduduk dan kehabisan tenaga,

kalah kuat karena kalah muda. Dan ketika pendekar itu bersila

dan memejamkan mata, Wi Hong berkelebat dan menyambar

puteranya maka Giam Liong ditarik dan jatuh pula terduduk,

merasakan gempuran-gempuran Pek-lui-ciang yang amat

dahsyatnya!

“Aku ingin minum…” pemuda itu merintih dan merasakan

tenggorokannya yang serasa kering terbakar. “Ambilkan aku

air, ibu, dan biarkan aku beristirahat….”

Murid-murid Hek-yan-pang gempar. Mereka yang tadi

bersembunyi dan menonton di luar pagar tak sampai mencelat

pingsan oleh benturan-benturan dahsyat itu, meskipun mereka

juga menderita karena getaran-getaran suara pukulan itu

seolah-olah menghentak jantung mereka, duduk dan bersila

dan tak berani menonton lagi karena harus memusatkan

konsentrasi pada keselamatan diri sendiri.

Tapi begitu Swi Cu memekik dan Wi Hong juga menjerit

menyambar puteranya, pertandingan berhenti maka mereka

bangkit berdiri dan alangkah ngeri serta gentarnya melihat

teman-teman mereka yang lain sudah bergelimpangan dan

pingsan dengan darah mengucur di mulut atau telinga.

“Cepat angkat dan bawa mereka menjauh. Jangan lagi

disini!”

Ki Bi, murid utama Hek-yan-pang muncul dan berkelebat.

Tadi wanita ini tak ada di pulau karena sedang pergi ke kota,

berbelanja. Memang tak semua murid-murid utama ada disitu,

di saat Giam Liong dan ibunya datang.

Maka begitu Ki Bi mendengar dan melihat itu, diberi tahu

bahwa bekas ketua lama dan Han-kong cu muncul, Ki Bi masih

belum tahu bahwa Han Han adalah Giam Liong, putera

mendiang Si Golok Maut maka wanita itu terbelalak dan

terheran-heran serta kaget bagaimana Giam Liong sampai

bertanding dengan ayahnya, digempur dan habis-habisan

bertahan. Namun karena Ki Bi pernah menaruh hati kepada

Beng Tan dan jatuh terduduknya pendekar itu membuat Ki Bi

gelisah maka setelah menyuruh anak-anak murid menjauh

segera wanita ini berkelebat membantu Swi Cu, yang

menolong suaminya.

“Apa yang terjadi. Kenapa pangcu marah-marah dan

hendak membunuh putera sendiri!”

“Keparat, dia bukan puteraku, Ki Bi. Anak itu adalah Giam

Liong, putera Si Golok Maut Sin Hauw!”

“Giam Liong? Han-kongcu…”

“Dia bukan Han Han, dia anak wanita itu. Suciku itulah

yang menukarnya di waktu bayi dan kini datang untuk

membuat onar!” dan ketika Ki Bi tertegun dan bingung,

seorang anak murid segera mendekati dan berbisik

menceritakan asal mulanya maka Ki Bi terkejut dan

membelalakkan matanya lebar-lebar.

“Jadi…. jadi….”

“Benar,” anak murid itu mengangguk, pucat dan tak berani

keras-keras bicara. “Han-kongcu dibawa bekas ketua lama,

toa-ci. Dan pemuda yang kita sangka Han kongcu ini ternyata

putera ketua lama, kongcu ini ternyata putera ketua lama. Dia

Sin-kongcu (tuan muda Sin), keturunan Si Golok Maut Sin

Hauw. Bayi itu dulu ditukar!”

Wajah Ki Bi berubah. Segera dia mengerti dan duduk

persoalan itu membuat mukanya pucat.

Ki Bi memandang dua orang di depan sana, Wi Hong

berlutut dan memberi minum puteranya. Tapi ketika wanita itu

tertegun dan pucat, tak tahu apa yang harus dilakukan tibatiba

Beng Tan sudah bangkit berdiri dan gemetar berpegangan

pundak isterinya, geram memandang Giam Liong, mencabut

Pek-jit-kiam, pedang yang menggetarkan itu!

“Giam Liong, pertandingan belum selesai. Satu di antara

kita belum roboh. Majulah, dan kita selesaikan pertandingan

ini!”

Giam Liong tergetar. Setelah diberi minum dan meneguk air

dingin tiba-tiba tenggorokannya serasa segar kembali.

Tenaganya pulih dan diam-diam pemuda itu memandang

bekas ayahnya.

Gempuran-gempuran Pek-lui-ciang yang demikian dahsyat

dan menggetarkan hampir saja tak dapat ditahan. Untung,

sinkang di tubuhnya kuat. Itulah berkat latihan telanjang bulat

sambil berjungkir balik! Dan ketika ayahnya bangkit berdiri

tapi Giam Liong terkejut karena ayahnya mencabut pedang

yang mengerikan itu, Pedang Matahari yang membuat nama

ayahnya terangkat tinggi dan dimalui orang maka pemuda itu

berdetak dan merasa agaknya pertandingan puncak harus

dimulai!

“Bangkitlah!” ayahnya kembali menantang. “Kalahkan aku

dan kita tentukan pertandingan akhir, Giam Liong. Cabut

senjatamu dan hadapi senjataku. Tentukan kalah menang

dengan senjata!”

Pedang Matahari mencorong berkilat-kilat. Giam Liong

terkejut karena ayahnya itu sudah sampai pada taraf

kemarahan puncak, mau mengajaknya bertanding lagi setelah

tadi tak mampu merobohkannya, meskipun dia pada pihak

yang terdesak, tertekan. Tapi ngeri akan hasil akibat nanti,

Giam Liong teringat budi dan kebaikan yang banyak diterima

dari bekas ayah angkatnya ini tiba-tiba tergetar dan menggigil

menjawab,

“Ayah, apakah tak sebaiknya kita sama-sama melihat

keadaan? Bukankah kau tak dapat merobohkan aku dan kau

menyerah saja? Aku tak sanggup menghadapimu dengan

senjata, ayah. Aku takut harus melukaimu dan menyudahi saja

pertandingan ini!”

“Aku belum kalah, kaupun tak dapat merobohkan aku!

Tidak, perjanjian sudah dibuat, Giam Liong. Cabut senjatamu

dan aku yakin akan dapat mengalahkan dirimu, meskipun

barangkali terpaksa membunuhmu. Kau rupanya takut melihat

Pek-jit-kiam!”

“Takut?” Giam Liong menggeleng. “Tidak, ayah, aku tak

perlu takut. Justeru aku khawatir kau akan kalah dengan cara

menyakitkan!”

“Apa maksudmu?” Beng Tan membentak, terbakar. “Tak

perlu aku khawatir, bocah. Aku dapat melindungi diriku dan

justeru kaulah yang rupanya takut menghadapi pedangku.

Menyerahlah sebelum aku melukai atau membunuhmu!”

“Hm!” Giam Liong berkilat, ayahnya sudah mulai

membakarnya pula, tak tahu akan Golok Penghisap Darah

yang dia sembunyikan di punggung.

Ayahnya tentu tak akan menyangka kalau dia membawa

senjata itu, Golok Maut yang bertuah. Dan ketika ibunya

melengking dan membentak marah, marah oleh omongan

Beng Tan yang dinilai merendahkan maka ibunya itu bergerak

dan tahu-tahu menepuk punggungnya.

“Liong-ji, jangan biarkan singa ompong itu menghinamu

lagi. Cabut Golok Mautmu dan tunjukkan kepada dia!”

Apa boleh buat, Giam Liong mencabut senjatanya. Dan

begitu sinar putih berkeredep menyilaukan mata, menandingi

sinar perak di tangan Beng Tan maka hawa dingin muncul

berbarengan dengan dicabutnya golok itu, Golok Penghisap

Darah, atau Giam-to (Golok Maut).

“Golok Maut…!”

Beng Tan dan yang lain-lain benar saja berteriak tertahan.

Ki Bi, dan para murid senior lainnya segera tahu dan

mengenal golok di tangan Giam Liong. Hawa dingin dan

pancaran yang menyeramkan yang timbul dari golok itu

seketika menyerang orang-orang disitu.

Baru dicabut saja sinar seramnya tampak, menggetarkan

dan menusuk tulang. Dan ketika Beng Tan berseru kaget dan

lain-lain tertegun pucat, tak menyangka, maka Wi Hong

terkekeh dan berseru, nyaring,

“Lihat,” wanita itu berseri-seri. “Golok Maut ada di tangan

anakku, Beng Tan. Kalau kau menganggapnya takut maka kau

adalah salah. Pedang Matahari akan ditandingi senjata di

tangan puteraku ini, sama seperti dulu kau bertanding dengan

mendiang suamiku. Tapi karena puteraku menang muda dan

menang tenaga maka kau tentu tak dapat mengalahkannya

dan lebih baik menyerah saja secara baik-baik. Golok dan

warisan kitab telah kuserahkan kepadanya, tidak dapat

membunuhmu sekarang tentu setahun dua tahun lagi dapat.

Nah, terserah kau mau bertanding atau tidak!”

Beng Tan pucat. Kalau Golok Penghisap Darah ada di

tangan Giam Liong maka ini sama halnya dengan di tangan

mendiang Si Golok Maut sendiri. Wi Hong telah berkata bahwa

golok dan warisan kitab mendiang suaminya sudah diberikan

kepada puteranya itu, berarti Giam Liong akan menjadi hebat

karena mewarisi dua kepandaian sekaligus. Satu Ilmu Pedang

Matahari (Pek-jit Kiam-sut) dan yang satunya lagi Ilmu Golok

Maut. Ah, itu benar-benar berbahaya sekali. Giam Liong

bagaikan harimau tumbuh sayap. Dan karena pemuda itu di

bawah bujukan ibunya, yang penuh dengki dan dendam maka

pendekar ini tak dapat membayangkan apa jadinya dengan

pemuda itu. Tentu lebih hebat dari mendiang ayahnya dulu.

Lebih ganas dan buas! Dan khawatir bahwa dunia kang-ouw

akan guncang, Si Golok Maut muncul dalam puteranya yang

lebih muda dan gagah maka timbul keinginan Beng Tan untuk

membunuh pemuda ini.

Giam Liong masih belum lama meninggalkan Hek-yanpang,

berarti, belum lama pula bertemu dengan ibu

kandungnya. Dan karena perjumpaan itu belum lama dan ini

berarti pemuda itu belum sepenuhnya mewarisi kepandaian

mendiang ayahnya, Im-kan To-hoat (Silat Golok Dari Akherat)

maka sinar mata Beng Tan mencorong ketika tiba-tiba saja

nafsu membunuhnya timbul!

“Hm!” siapapun tiba-tiba tergetar mundur melihat sinar

mata pendekar itu, nafsu membunuh yang berkilat berbahaya.

“Sekarang aku tak lagi memandangmu sebagai bekas

puteraku, Giam Liong, melainkan sebagai seorang calon

pembuat ribut yang besar. Kau telah dibujuk ibumu untuk

tenggelam dalam dendam. Kau telah dipenuhi hawa iblis untuk

mencari dan menuntut pembunuh mendiang ayahmu. Tapi

karena sikap dan perbuatanmu di luar batas kewajaran, ibumu

menjejalimu dengan dendam dan dengki maka aku terpaksa

membunuhmu untuk mencegah adanya keributan yang akan

kau timbulkan. Golok Maut ada di tanganmu, baik. Dan

duapuluh tahun yang lalu aku juga pernah menantang

mendiang ayahmu yang keburu tewas. Majulah, kita lihat

siapa yang roboh, anak muda. Kau atau aku karena sekarang

bukan sekedar pertandingan biasa karena aku melihat

ancaman bahaya muncul dalam dirimu sebagai calon

pembunuh yang berbahaya!”

Giam Liong mundur. Sikap dan sinar mata ayahnya yang

berkilat penuh nafsu membunuh tiba-tiba membuat dia

terkejut. Tadi, bekas ayahnya ini juga marah tapi tidak ada

kilatan berbahaya seperti itu. Seolah, dia seekor ular yang

harus dibasmi. Atau, harimau kelaparan yang akan dibantai!

Dan tersinggung bahwa dia disebut calon pembunuh, padahal

baginya wajar saja mencari dan menemukan pembunuh

mendiang ayahnya itu maka Giam Liong pun tiba-tiba berkilat

dan mencorong memandang bekas ayahnya itu.

“Ayah, kau telah menyebut-nyebut mendiang orang tuaku

laki-laki, juga tantangan yang tak pernah terlaksana karena

orang tuaku tewas terbunuh. Kalau sekarang kau ingin

bertanding dan menganggap ini adalah pertandingan

duapuluh tahun yang lalu, yang tak sempat dikerjakan ayahku

biarlah aku sebagai puteranya meneruskan dan menerima

tantanganmu. Kau telah mencabut Pek-jit-kiam, dan aku

dengan senjata warisan ayahku dulu. Majulah, aku tak takut

dan maaf kalau senjata di tanganku membeset atau melukai

tubuhmu nanti!”

“Bagus, luka atau mati bukan apa-apa bagi seorang ksatria,

Giam Liong. Kalau golokmu dapat melukai kulitku tentunya

pedangku juga dapat melukai dirimu. Majulah, kita tentukan

pertandingan akhir!

Giam Liong bergerak. Ayah angkatnya itu juga bergerak

dan Wi Hong maupun Swi Cu sama-sama terbelalak

menyaksikan itu.

Kalau dulu duapuluh tahun yang lalu yang berhadapan

adalah sama-sama kekasih, karena Swi Cu juga belum

menikah sementara mendiang Golok Maut Sin Hauw masih

pacaran dengan Wi Hong, adalah sekarang laki-laki yang akan

bertanding itu merupakan suami dan anak. Dua-duanya sama

melekat dan agaknya justeru lebih kuat daripada sekedar

kekasih. Dan ketika dua jago itu sudah berhadap-an dan akan

menggerakkan senjata masing masing, pedang dan golok

saling mengintai maka Wi Hong terisak mencium puteranya,

sebelum mundur.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 12

“HATI-HATl, lawanmu akan membunuhmu, Liong-ji. Kalau

kau sampai tewas maka aku juga akan mengadu jiwa

dengannya!”

“Tenanglah,” Giam Liong mendorong ibunya, lembut dan

mengeraskan hati. “Ayah hendak bertanding mati-matian, ibu.

Kalau dia menghalangi niatku dan ingin membunuhku boleh

dia coba tapi aku pasti akan bertahan sekuat tenaga. Lebih

baik mati di s ini daripada gagal menuntut pembunuh ayahku!”

“Baik, hati-hati, anakku. Ibu siap di sampingmu dan akan

membelamu dengan tetesan darah terakhir pula!”

Giam Liong terharu. Sikap dan kata-kata ibunya ini

membangkitkan semangat dan ketetapan hatinya. Sudah bulat

tekadnya untuk menandingi bekas ayahnya itu, bukan lagi

dengan tangan kosong melainkan dengan senjata. Senjata

bukan sembarang senjata melainkan senjata-senjata ampuh

yang tajamnya menggiriskan. Golok Maut maupun Pedang

Matahari sama-sama tajam luar biasa, masing-masing pernah

diadu dan tak ada yang rusak atau-pun patah. Dulu mendiang

Golok Maut Sin Hauw sudah pernah mengadu jiwa dengan

ketua Hek-yan-pang ini. Dan ketika kini masing-masing

berhadapan kembali tapi Golok Maut dipegang Giam Liong,

keturunan Sin Hauw maka Beng Tan yang sudah bersiap dan

berkilat.memandang bekas puteranya itu segera membentuk

pembukaan gaya serangan dengan mengangkat pedang di

atas kening.

“Majulah,” tantangan itu mengobarkan api. “Mati dan

serahkan jiwamu kepadaku Giam Liong. Daripada membiarkan

ancaman bahaya mengguncang dunia kang-ouw lebih baik

kau binasa di tanganku!”

“Silahkan ayah yang mulai,” Giam Liong merunduk, golok di

tangan bergetar penuh hawa dingin. “Mati di tangan-mupun

tak apa, ayah. Hitung-hitung pembalas budi yang pernah

kaulimpahkan!”

“Hm, tak ada budi atau hutang kebaikan. Ibumu telah

memberi tahu bahwa semuanya itu impas!”

“Baik, majulah, ayah. Aku bertahan!” dan ketika Giam Liong

menggoyang golok dan mengobat-abitkannya dua kali,

gagang golok dipegang seperti gagang pedang maka Beng

Tan menggeram melihat pemuda itu siap dengan jurus

pembukaan Pek-jit Kiam-sut pula, Silat Pedang Matahari.

“Kau tak memiliki pembukaan lain? Kau ingin mengeluarkan

kepandaian yang pernah kau pelajari dari aku?”

“Kelak tak akan kugunakan lagi, ayah, bila aku telah

mewarisi ilmu silat golok dari mendiang orang tuaku laki-laki.

Majulah, cukup kita bicara!”

Beng Tan membentak. Tubuh pendekar itu sekonyongkonyong

berkelebat dan Pedang Matahari bergerak

menyilaukan mata. Sinar putih berkeredep dan bagai harimau

kelaparan ketua Hek-yan-pang ini menerkam korbannya.

Pedang menyambar dan tahu-tahu lurus menusuk

tenggorokan, cepat dan luar biasa dan tahu-tahu pedang

sudah menyentuh kulit! Wi Hong berteriak melihat kecepatan

pedang itu, kaget karena puteranya tak kelihatan menghindar,

entah tak sempat atau memang sengaja menunggu. Tapi

ketika dari sebelah kiri terdengar dengungan dan Golok Maut

berkelebat menyilaukan mata, tak kalah dengan Pedang

Matahari di tangan Beng Tan maka terdengar benturan

nyaring disusul muncratnva bunga-bunga api ke udara.

“Cranggg..!”

Luar biasa dan nebat sekali adu senjata itu. Giam Liong

dengan cepat dan amat mengagumkan tahu-tahu menangkis

serangan ayahnya, cepat bagai kilat karena pemuda itu

melakukan gerak yang disebut Matahari Menyambar Bianglala,

tepat dan cepat membentur pedang ayahnya dan keduaduanyapun

terhuyung mundur. Dan ketika Wi Hong

menyumpal telinganya karena benturan itu amat nyaring,

memekakkan telinga, maka Beng Tan berkelebat lagi dan

membentak untuk menusuk atau membacok lawannya itu,

cepat dan ganas dan segera Pedang Matahari bercuitan

mencari darah. Lengah sekejap tentu lawannya terluka. Tapi

karena Giam Liong juga bergerak dan mengikuti bayangan

ayahnya itu, yang naik turun dan bergulung-gulung untuk

akhirnya lenyap berkelebatan mengandalkan ginkangnya maka

pemuda inipun berseru nyaring dan mengimbangi gerakan

sang ayah.

“Cring-crangg!”

Bunga api kembali berpijar. Golok dan pedang akhirnya

sering bertemu karena keduanya adu cepat. Tusuk-menusuk

dan bacok-membacok silih berganti hingga benturan-benturan

kian nyaring memekakkan telinga. Lelatu bunga api juga

memuncrat kian lebar hingga Wi Hong dan lain-lain harus

menyingkir, dua orang itu sudah berkelebatan merupakan

bayangan biru dan hitam. Dan ketika pertandingan meningkat

cepat hingga tubuh keduanya tak nampak lagi, masing-masing

saling belit dan gubat maka Wi Hong maupun Swi Cu tak

dapat membedakan lagi mana pemuda itu dan mana Beng

Tan.

“Hati-hati!” Wi Hong berseru memberi semangat. “Jangan

lengah dan waspadalah, Liong-ji. Sekali kau mati ibumupun

menyusul!”

Giam Liong terbakar. Dia sudah mainkan Silat Pedang

Matahari tapi bersenjatakan golok. Kitab-kitab ayahnya telah

diberikan kepadanya namun belum sempat dipelajari. Dia

sudah membaca selembar dua lembar namun itu tak cukup

untuk menandingi ayah angkatnya ini. Pek-jit Kiam-sut yang

dimainkan ayahnya harus diimbangi dengan Pek-jit Kiam-sut

pula, meskipun dia bersenjata golok, bukan pedang. Dan

karena golok di tangan lama-lama terasa biasa seperti

mencekal pedang, Giam Liong mulai mengingat-ingat gambar

atau jurus-jurus dari warisan kitab ayahnya maka aneh sekali

tiba-tiba Pek-jit Kiam-sut yang dimainkan sudah bercampur

dengan Im-kan To-hoat (Silat Golok Dari Akherat), meskipun

masih sedikit-sedikit.

“Cring-crangg!”

Beng Tan terkejut. Pedangnya terpental dan ada semacam

tenaga tolak besar dari golok Giam Liong. Pemuda itu

menggetarkan golok dan meliuk-liukkannya dua kali, gaya

atau serangan itu bukan dari jurus-jurus Pek-jit Kiam-sut dan

Beng Tan tertegun, Tapi ketika dia menyerang lagi dan

lawannya itu memainkan jurus-jurus aneh, setengah golok

setengah pedang maka sadarlah Beng Tan bahwa bekas

puteranya itu sedang berlatih atau mencipta ilmu baru!

“Keparat!” Beng Tan melengking menggetarkan anak-anak

murid di situ. “Mampus dan robohlah, Giam Liong. Terima

pedang ini…. singgg!” dan sebuah jurus dari silat Pedang

Matahari yang disebut Toan-giok-hun-kim (Potong Kemala

Patahkan Emas) tiba-tiba menyambar dan membabat Giam

Liong dari atas ke bawah, ditekuk setengah jalan dan tiba-tiba

mencuat dari bawah ke atas. Hebat dan ganasnya bukan

main, Giam Liong sampai terkejut. Namun karena pemuda itu

mengenal jurus ini karena diapun juga mempelajari Silat

Pedang Matahari maka dengan sedikit melempar pinggang ke

kiri dan golok menyendok dari bawah tiba-tiba dia sudah

menangkis sekaligus mematahkan gerakan pedang yang

mencuat berbahaya.

“Cranggg!”

Beng Tan bengong. Dia melihat gerakan luar biasa tadi dan

gerak “menyendok” yang diperlihatkan Giam Liong sungguh

belum pernah dilihatnya dimainkan jago-jago pedang ataupun

golok. Senjata di tangan Giam Liong akhirnya bergerak-gerak

luar biasa dengan cara seperti menyendok atau menyapu,

bahkan, juga mengiris atau mengedut. Dan ketika golok di

tangan pemuda itu juga bergerak datar atau lurus seperti

orang menyisir, Beng Tan kaget karena semua gerakan itu

membuat dia bingung dan kacau maka tiba-tiba saja Pek-jit

Kiam-sut yang dimainkannya pecah dan berantakan.

“Aiihhhh….!” Beng Tan tak tahu lagi apa yang harus

dilakukan. Pendekar itu mengeluarkan suara panjang di

samping untuk menunjukkan kekagetannya juga menunjukkan

rasa penasarannya yang hebat.

Pedang di tangannya “mati” di tengah jalan karena sering

dicegat atau didahului gerakan-gerakan aneh yang

diperlihatkan Giam Liong itu. Pemuda itu kiranya sedang

mengembangkan silat pedang dan golok dengan gabungan

dari Pek-jit Kiam-sut serta sedikit ingatan tentang warisan

mendiang ayahnya, Silat Golok Maut itu. Dan ketika semuanya

ini membuat gerakan golok melengkung atau lurus, mengedut

atau menyisir maka Beng Tan yang baru pertama kali ini

seumur hidup menghadapi silat yang aneh akhirnya keteter

dan terdesak, gulungan pedangnya menciut ditekan oleh

gerakan-gerakan golok yang melengkung lebar!

“Keparat!” pendekar itu hampir berteriak. “Kau lihai dan

luar biasa, Giam Liong. Tapi akupun juga mempunyai

simpanan yang belum kukeluarkan!” dan ketua Hek-yan-pang

ini yang membentak serta menerjang lagi lalu berusaha

membobol lengkungan sinar golok, crang-cring-crang-cring

namun Giam Liong yang mulai menemukan “resep” baru untuk

menundukkan Pek-jit Kiam-sut ternyata encer otaknya.

Dengan jurus-jurus yang sama atau kadang tidak, merobahrobah

gerakan hingga ayahnya bingung pemuda ini tetap

menggencet gulungan pedang ayahnya. Golok masih tetap

menyambar-nyambar dan gerakan menyisir atau menyendok

itu kini bahkan bertambah lagi dengan gerakan menggarpu,

yakni mencocoh-cocohkan golok seperti garpu mencocoh

segumpal da-ging. Beng Tan menjadi kacau dan akhirnya

berteriak, pelipis kirinya berdarah, kena! Dan ketika pendekar

itu terkejut tapi Giam Liong juga tertegun, serangannya

berhasil maka Beng Tan tiba-tiba melengking dan dengan satu

jurus Pek-jit-pek-cing (Pedang Matahari Mencabut Nyawa)

yang merupakan serangan adu jiwa tiba-tiba pendekar itu

menubruk dan pedang di tangan kanannya menusuk

tenggorokan sementara tangan kiri tiba-tiba bergerak dan

menghantam dengan pukulan Pek-lui-ciang, Pukulan Petir.

“Ayah..!”

Giam Liong tak sempat lagi mengeluarkan seruan. Pekik

kagetnya tadi sudah tak diperdulikan dan bekas ayahnya itu

menerjang dengan amat hebatnya. Pedang menyambar

tenggorokannya sementara pukulan tangan kiri menghantam

dengan Pek-lui-ciang, hebatnya bukan ulah-ulah dan inilah

serengan maut yang sifatnya mengadu jiwa. Beng Tan tak

perduli lagi karena pendekar itu penasaran dan bingung oleh

ilmu silat Giam Liong, paduan antara silat pedang dan silat

golok. Dan ketika pekikan itu dikeluarkan tapi Giam Liong tak

sempat menghindar, semuanya berlangsung cepat dan kilat

maka Wi Hong yang terbelalak dan menyaksikan pertandingan

itu juga mengeluarkan teriakan kaget tapi Giam Liong sudah

menancapkan kedua kaki kokoh di tanah sementara goloknya

berkelebat menyambut pedang lawan, tangan kiri juga

bergerak dan apa boleh buat menangkis dengan pukulan Petir

pula.

“Crang-dess!”

Wi Hong dan Swi Cu terpelanting. Benturan pedang dengan

golok luar biasa nyaring hingga dua wanita itu silau. Sedetik

mereka kehilangan pandangan karena bunga api yang

muncrat ke udara demikian banyaknya. Pijarannya

memancarkan hawa panas hingga sejenak mata terasa buta.

Demikian silau dan terangnya pijaran bunga api itu. Tapi

ketika benturan Pek-lui-ciang mengeluarkan suara dahsyat

dan bumi seolah diguncang datangnya gajah, berderak dan

menggelegar dengan amat dahsyatnya maka dua orang

wanita itu terpelanting dan sama-sama berteriak keras. Sisa

anak murid yang menonton juga tak ada yang tahan dan

benturan atau dentuman itu membuat mereka menjerit, roboh

dan pingsan. Dan ketika semua berteriak karena klimaks dari

pertandingan itu memang amat luar biasa, Beng Tan

melakukan serangan mengadu jiwa maka golok dan pedang

yang bertemu di udara tiba-tiba melekat sementara Giam

Liong dengan bekas ayahnya telah melesak kedua kaki mereka

dalam mengadu Pukulan Petir tadi!

“Bless!” ayah dan anak sama-sama terbelalak lebar.

Pukulan Beng Tan telah diterima dan keduanya kini saling

bertempelan lengan, senjata mereka juga saling melekat dan

tampaklah adu tenaga yang menegangkan di sini. Giam Liong

mengeluh karena pukulan ayahnya kuat luar biasa, dikerahkan

sepenuh tenaga dan apa boleh buat dia juga harus

mengerahkan segenap tenaganya. Dan ketika dari dua lengan

mereka mengepul uap merah dan putih yang berbaur menjadi

satu, masing-masing bertahan dan mendesak yang lain maka

terdengar letupan-letupan ketika dua senjata itu mencoba

menindih yang lain, Golok Maut dan Pedang Matahari tiba-tiba

saling hisap dan tarik-menarik!

“Aahh!”

“Ohh!”

Dua-duanya tegang. Masing-masing bersitegang karena

ketika pedang dan golok saling tarik-menarik tiba-tiba

keduanya juga menjadi bingung. Mereka tadi saling

mendorong tapi kini malah harus menjaga senjata masingmasing.

Golok Maut dan Pedang Matahari berkutat sama kuat,

pemiliknya merasa tenaga hisap yang amat luar biasa hingga

dipaksa mengeluarkan tenaga ekstra, jangan sampai terebut

yang lain. Dan karena tangan kiri mereka masih saling dorongmendorong

dengan tangan kiri lawan, dalam pengerahan

tenaga Pek-lui-kang maka wajah mereka tiba-tiba sama

terbakar dan merah seperti di-masukkan tungku api!

“Ayah, aku tak dapat membunuhmu. Kau kendorkanlah

tenagamu!” ‘

“Tidak, kau atau aku yang mati, Giam Liong. Aku bukan

menghadapimu sebagai bekas puteraku melainkan seolah

dengan mendiang ayahmu sendiri. Kau Si Golok Maut!”

“Tapi… tapi aku tak ingin seperti ini. Kau sudah terluka!”

“Hm, luka di pelipis tak sepedih luka di hatiku, Giam Liong.

Kalau kau mau menarik niatmu untuk membalas dendam

maka aku akan mengurangi tenagaku. Katakan, mau atau

tidak!”

“Ah, kau mau mengurungkan niatku? Tidak, aku telah

bersumpah, ayah. Daripada membatalkan mencari si

pembunuh itu lebih baik aku mati!” dan ketika Giam Liong

membentak dan merasakan desakan ayahnya, Beng Tan

menambah dan mencuri kesempatan itu untuk mendesak

lawan maka Giam Liong yang terdorong dan miring ke

belakang tiba-tiba mengempos semangat dan menambah

tenaganya, cepat-cepat karena ayahnya sudah hampir

mendesak. Percakapan yang mereka pergunakan tadi sudah

mengurangi sedikit tenaga pemuda ini. Maka begitu dia

membentak dan marah memandang ayahnya maka Beng Tan

menghadapi perlawanan tangguh lagi di mana desakannya

tertahan dan pendekar itu tiba-tiba merasa dorongan yang

amat kuat dilancarkan puteranya itu.

“Robohlah!”

Namun Giam Liong tak bergeming. Ayahnya membentak

dan marah namun terkejut karena tangan kiri tiba-tiba serasa

menembus sesuatu yang dingin. Pek-lui-kang yang samasama

mereka keluarkan tiba-tiba diganti oleh Giam Liong,

bukan lagi tenaga panas melainkan dingin dan mulailah Giam

Liong mengeluarkan hawa sakti dari pelajaran kitab kecil. Imkang

atau tenaga Dingin dikerahkan dan hawa panas dari

ayahnya diredam, mencair dan tiba-tiba membeku dan Beng

Tan tersentak karena tangan kirinya mendadak kaku,

menggigil. Dan ketika pendekar itu ingin menambah tenaga

namun habis, seluruh kekuatan sudah dikerahkan maka hawa

dingin menembus dan mulai menyusupi seluruh tubuhnya,

hingga tulang-tulangnya berkerotok!

“Kau…. kau sudah mahir ilmu ayahmu, Giam Liong. Kau

hebat dan mengagumkan sekali!”

“Maaf,” Giam Liong tak berani banyak menjawab. “Kaupun

hebat, ayah. Tapi aku harus mengalahkanmu!” dan ketika

tenaga dingin dirobah lagi menjadi panas, sang ayah belum

sempat memperbaiki diri maka Beng Tan berteriak karena

tubuhnya tiba-tiba serasa terbakar, disentak dan mendelik dan

tiba-tiba hawa panas itu berobah lagi menjadi dingin, begitu

berturut-turut. Dan karena pendekar ini hanya memiliki tenaga

Pek-lui-ciang karena Ang-in-kang masih di bawah Pek-luiciang,

maka begitu dirobah-robah tiba-tiba wajah pendekar itu

menjadi pucat dan merah berganti-ganti, bertahan namun

pedang di tangan kananpun mendadak juga diserang hawa

sakti Im-kang (Dingin) itu, ditahan namun Giam Liong sudah

menggantinya dengan tenaga Yang-kang (Panas). Dan ketika

pendekar itu terkejut karena dua hawa sakti menggencet

berganti-ganti maka tubuh tertunduK dan…. pendekar itu

muntah darah.

“Huak!”

Pedang di tanganpun tak dapat ditahan. Beng Tan melesak

semakin dalam dan Golok Maut tiba-tiba menghisap dan

menarik lepas Pedang Mataharinya. Sang jago tua tak dapat

mempertahankan diri dan roboh terduduk, mukanya pucat

pasi. Dan ketika darah kembali terlontak karena Beng Tan

tetap bertahan dan tak mau menyerah, ingin binasa dalam

pukulan terakhir maka Swi Cu menjerit dan berkelebat

menghantam Giam Liong.

“Jangan bunuh suamiku!”

Giam Liong terkejut. Saat itu dia harus menekan ayah

angkatnya ini karena meskipun jatuh terduduk ayahnya itu

masih melakukan perlawanan kuat. Sekali dia mengurangi

tenaga tentu pukulan ayahnya akan menghantam, berikut

pukulannya sendiri yang membalik. Maka ketika Swi Cu tibatiba

menyerang sementara semua perhatiannya terpusat ke

depan, bagian belakang tentu saja tak dijaga maka Swi Cu

menghantamnya telak tapi pukulan itu justeru menambah

kekuatannya untuk menghantam suaminya juga.

“Jangan…!”

Seruan itu terlambat. Beng Tan terbelalak melihat

perbuatan isterinya itu. Dikira menolong tak tahunya malah

mencelakakan dirinya sendiri. Dan ketika pukulan mendarat

dan Giam Liong tersuruk, punggung dan sebagian pundaknya

terpukul berat maka Beng Tan seketika roboh tapi Swi Cu

sendiri juga terlempar karena tenaga sakti lawannya bergerak

dan menjaga tuannya.

“Bress!”

Nyonya itu jatuh pingsan. Swi Cu tak tahu bahwa

perbuatannya betul-betul berbahaya. Giam Liong sebagai

penerima pukulan justeru akan menyalurkan pukulan itu

kepada Beng Tan, meskipun Giam Liong juga menderita

karena pemuda itu melontakkan darah segar, terluka dan tak

kuat juga karena betapapun segenap sin-kangnya sedang

dipakai untuk menghadapi ayah angkatnya. Maka begitu

ayahnya roboh dan Giam Liong juga ambruk ke depan,

menimpa tubuh ayahnya maka golok di tangan terlepas dan

dua senjata tajam itu jatuh berkerontang dalam posisi masih

saling hisap!

“Keparat!” Wi Hong berteriak dan gusar. Wanita itu tak

menyangka tindakan Swi Cu. Dia sendiri sedang mengamati

jalannya pertandingan dengan jantung berdebar, mula-mula

pucat dan khawatir karena dua orang itu sama kuat, bahkan,

puteranya tampak terdesak tapi segera dapat memperbaiki diri

lagi. Dan ketika puteranya balas mendesak dan Beng Tan

pucat pasi, tak kuat bertahan, maka Wi Hong berseri-seri

karena segera melihat bahwa pertandingan itu akan segera

dimenangkan puteranya, meskipun lama. Sedikit tetapi pasti

puteranya di atas angin, apalagi setelah uap putih dan dingin

menyelimuti wajah puteranya itu, bergeser dan membungkus

pula tubuh Beng Tan. Dan ketika benar saja pendekar itu

terduduk namun alot melakukan perlawanan, Wi Hong marah

dan gemas melihat itu maka wanita ini kaget ketika Swi Cu

tiba-tiba berteriak dan menyerang puteranya. Dalam keadaan

seperti itu sesungguhnya amatlah berbahaya bila puteranya

di-bokong. Wi Hong tak menyangka bahwa Swi Cu akan

melakukan itu. Dan ketika puteranya melontakkan darah dan

jatuh menimpa ayah angkatnya, Wi Hong berkelebat dan

berteriak gelisah maka wanita itu sudah menarik puteranya

dan Ki Bi serta anak-anak murid yang lain guncang menolong

Swi Cu dan Beng Tan.

“Keparat, jahanam terkutuk!” Wi Hong menyambar dan

menolong puteranya itu. Giam Liong roboh lemas namun tidak

pingsan, lain dengan Beng Tan yang terluka berat oleh

pukulan dalam. Dan ketika wanita itu menotok dan memeluk

puteranya, menangis dan bagai mana keadaan pemuda itu

maka Giam Liong minta dibantu duduk untuk menolong

dirinya.

“Aku tak apa-apa, ibu tak usah khawatir. Tapi…. tapi

tolonglah ayah dan juga ibu Swi Cu….”

“Apa? Kau minta aku menolong mereka itu? Bedebah,

justeru aku akan membunuhnya, Liong-ji, terutama Swi Cu.

Dia berbuat curang dan akan membunuhmu!” tapi ketika

wanita itu bergerak dan akan meninggalkan Giam Liong, yang

menyambar dan mencekal lengan ibunya maka Giam Liong

menggigil berkata pada ibunya itu.

“Ibu tak perlu mengingat ini. Itu adalah bukti kecintaan ibu

Swi Cu kepada suaminya. Pukulannya tak apa-apa bagiku, ibu,

tenaga sinkangnya tak sekuat sin-kangku. Kau tolonglah dia

atau ayah, aku akan menyembuhkan diriku dulu. Kalau ibu

sampai membunuh mereka maka aku tak akan mau lagi

bersamamu!”

“Giam Liong!”

Namun pemuda itu sudah memejamkan mata. Wi Hong

terbelalak dan terhenyak mendengar kata-kata puteranya ini.

Kalau saja dia tak diancam begitu barang-kali dia akan

menghajar Swi Cu, bahkan, mungkin membunuhnya. Tapi

ketika Giam Liong berkata bahwa pemuda itu tak akan mau

bersamanya, kalau ibunya membunuh maka Wi Hong tertegun

tapi akhirnya membanting kaki dengan marah.

“Baiklah, aku tak akan membunuh mereka, Liong-ji. Tapi

aku juga tak mau menolong!” dan duduk menemani

puteranya, yang bersila dan memejamkan mata Wi Hong

sudah menyambar atau memungut dua senjata ampuh di

tanah itu. Golok Maut dan Pedang Matahari masih saling

tempel dengan lekat, ditarik namun Wi Hong gagal.

Terbelalaklah wanita itu karena dua senjata itu seolah suami

isteri atau musuh bebuyutan, tak akan meninggalkan yang lain

meskipun dibetot dengan keras. Dan ketika dia jengkel dan

membanting dua senjata itu, nyaring ke tanah maka tiba-tiba

Pedang Matahari dan Golok Maut lepas sendiri.

“Eh, sialan. Ditarik dan dibetot tak mau tiba-tiba dibanting

malah mau! Macam apa kalian ini, senjata-senjata sialan?

Memangnya minta kupukul-pukul ke tanah?”

Wi Hong menyambar dan memungut lagi dua senjata luar

biasa itu. Dari Golok Maut memancar hawa dingin sementara

dari Pedang Matahari memancar hawa panas, wanita itu

berkerut kening. Tapi ketika tak lama kemudian puteranya

membuka mata, selesai, maka Giam Liong bangkit berdiri

memandang sekeliling, melihat kerumunan atau anak-anak

murid Hek-yan-pang yang menolong ketua dan isterinya.

“Eh, ibu tak menolong mereka?”

“Kau sudah selesai?” sang ibu terbelalak, meloncat bangun,

bukannya menjawab melainkan malah bertanya. “Bagus, kalau

begitu bawa pedang dan golok ini, Liong-ji. Atau selesaikan

musuhmu daripada kelak membuatmu dibuntuti pembalasan!”

Giam Liong tertegun. Bukannya menerima tiba-tiba dia

berkelebat dan malah mendekati ayah ibu angkatnya itu. Ki Bi

dan lain-lain menolong namun Beng Tan dan isterinya belum

juga siuman, terutama Beng Tan, ketua Hek-yan-pang yang

pucat dan kebiruan wajahnya ifu. Dan ketika Giam Liong

bergerak dan mendorong kerumunan orang-orang itu,

berlutut, maka pemuda ini sudah memeriksa dan cepat

mengeluarkan beberapa pil hijau.

“Berikan ini kepada ibu Swi Cu dan biarkan aku menolong

ayahku ini!”

Ki Bi dan murid-murid tertua menyingkir. Tadinya mereka

was-was dan khawatir jangan-jangan pemuda itu akan

membunuh Beng Tan. Mereka bersiap-siap tapi Giam Liong

ternyata benar-benar menolong ayah angkatnya itu, karena

bersila dan sudah menyalurkan sinkangnya di punggung sang

ayah. Dan ketika pemuda itu meramkan mata dan melakukan

pengobatan, Ki Bi lega karena ketua mereka tak diganggu

maka Swi Cu ditolong dan sudah dijejali obat pemberian Giam

Liong. Dan tak lama kemudian wanita itupun sadar. Luka yang

diderita Swi Cu tak seberat suaminya. Beng Tan mengalami

luka dalam parah dan keadaan pendekar itu benar-benar

berbahaya. Paling tidak, kalau dia sembuh, mungkin pendekar

itu perlu beristirahat setahun, tak mungkin kurang. Tapi begitu

Swi Cu sadar dan membuka mata, kerumunan anak-anak

murid membuatnya kaget maka nyonya itu teringat dan

beringas meloncat bangun.

“Mana bocah setan itu!” ?

Ki Bi terkejut. Isteri ketuanya itu membentak dan langsung

mendorong mereka, melihat Giam Liong yang sedang bersila

menolong ayah angkatnya. Dan ketika wanita itu tertegun

namun Swi Cu melengking, marah melihat Giam Liong tibatiba

dia menerjang dan mencabut pedangnya.

“Bocah siluman, jangan sentuh suamiku!” dan pedang yang

bergerak serta menyambar punggung tiba-tiba meluncur

bersamaan tubuh wanita itu. Swi Cu mendelik melihat Giam

Liong, kemarahannya meledak sampai di ubun-ubun, Tapi

ketika wanita itu berkelebat dan pedang menusuk Giam Liong,

cepat dan marah maka berkelebat bayangan lain yang

langsung menangkis serangannya itu.

“Swi Cu, jangan bermain curang!”

Sang nyonya terkejut. Dari samping menyambar secercah

sinar putih yang berhawa dingin, menahan atau menangkis

serangan pedangnya itu. Dan ketika terdengar suara nyaring

dan pedangnya putus, Swi Cu terkejut dan melempar tubuh

bergulingan maka sucinya sudah berdiri di situ dengan Golok

Maut di tangan, mata berapi-api.

“Berani kau menyerang puteraku maka kau mampus.

Majulah, kalau ingin ku-cincang!”

Swi Cu tertegun. Nyonya ini terkejut karena Wi Hong,

sucinya itu, sudah menghadang dengan golok di tangan,

bukan golok sembarang golok melainkan Golok Maut, senjata

yang ampuhnya menggila itu! Namun karena wanita ini bukan

penakut dan dibentak atau diancam seperti itu dia menjadi

semakin marah maka menyambar dan mencabut pedang

seorang anak murid lain tiba-tiba nyonya itu melengking dan

berseru keras, menerjang lagi.

“Boleh, mari kita bertanding seribu jurus, suci. Biarpun

Golok Maut ada di tangan tapi aku tak gentar…. singgsinggg!”

dan pedang yang menusuk atau menikam akhirnya

sudah berkelebatan menyambar-nyambar lawannya itu,

disusul pukulan-pukulan Ang-in-kang dan Wi Hong mendengus

melayani sumoinya. Tapi karena sumoinya mainkan Pek-jit

Kiam-sut dan Silat Pedang Matahari itu adalah andalan Beng

Tan, si jago pedang, maka Wi Hong sibuk dan berkelebatan

pula mengimbangi lawan.

Golok Maut mendesing dan membabat namun Swi Cu tak

mau beradu keras. Pedang di tangannya jelas akan kalah dan

wanita itu mengandalkan kecepatan dan kepandaiannya untuk

merobohkan lawan. Dan ketika Wi Hong terkejut karena

sumoinya itu bukan lagi sumoinya yang dulu, Swi Cu sekarang

adalah Swi Cu seorang isteri jago pedang maka senjata di

tangan wanita itu bergerak naik turun dan bergulung-gulung

mengelilingi lawan. Wi Hong mengandalkan keampuhan golok

dan ini menyelamatkannya. Swi Cu sering menarik pulang

tusukan atau tikamannya yang bertubi-tubi kalau sudah

dicegat golok di tangan sucinya. Dan karena masing-masing

memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri maka jadilah

pertandingan itu suatu pertandingan yang cepat dan imbang.

Ki Bi dan lain-lain menonton dengan tegang. Sebenarnya,

sulit bagi murid tertua Hek-yan-pang ini untuk membantu

salah satu pihak. Wi Hong adalah ketua lama sedang Swi Cu

adalah isteri ketua baru, di samping sumoi dari ketua lama itu.

Dan karena masing-masing merupakan atasannya, atau bekas

pimpinan yang tentu saja tetap berpengaruh maka Ki Bi tak

berani bergerak dan mungkin akan maju kalau dipaksa. Dan

anak-anak murid yang lainpun juga berdiri menjublak. Mereka

melihat pertempuran sengit itu di mana pedang di tangan Swi

Cu bergulung naik turun namun selalu ditarik pulang kalau

berhadapan dengan Golok Maut. Wi Hong coba membalas

namun kepan daian sumoinya itu ternyata lebih tinggi,

maklumlah, di samping ilmu-ilmu silat Hek-yan-pang wanita

itu juga menerima kepandaian dari suaminya, silat Pedang

Matahari atau Pek-jit Kiam-sut. Dan ketika golok berkali-kali

mengenai angin kosong karena Swi Cu berkelit atau berjungkir

balik tinggi maka Giam Liong yang tidak tahu dan

memusatkan perhatiannya untuk menolong sang ayah sudah

mencapai titik tingkat yang optimal. Pemuda itu bercucuran

keringat dan mandi peluh. Dia juga merasa lelah setelah

pertarungannya yang mati-matian tadi. Ayah angkatnya

memang luar biasa dan amat mengagumkan. Tapi ketika

setengah dari sin-kang pemuda ini sudah memasuki tubuh

ayahnya, wajah yang pucat dan kebiru-biruan itu mulai merah

maka setengah jam kemudian Beng Tan sadar dan membuka

matanya. Giam Liong merasa gerakan dan membuka mata

pula, Dan ketika ayahnya bergerak dan duduk menggigil,

terkejut, batuk-batuk, maka pendekar itu melihat Giam Liong

yang mandi keringat.

“Kau….. kau menolongku?”

Giam Liong mengangguk, tak menjawab. Pemuda itu

tersenyum pahit dan sang ayah tertegun. Beng Tan merasa

seluruh tubuhnya sakit-sakit tapi sesak di daerah dada tak lagi

mengganggu. Itulah berkat pertolongan anaknya ini, anak

atau bekas anak yang tadi bertanding dan hendak

dibunuhnya! Dan ketika pendekar itu bangkit dan gemetar,

seluruh berkerotok dan Giam Liong juga berdiri maka

pendekar itu mencengkeram dan membentak geram.

“Giam Liong, kenapa kau tidak membunuhku? Kenapa kau

malah menolong aku?”

“Maaf, aku tak dapat membunuhmu, ayah. Dan akupun

menyesal akan ini….”

“Tapi aku bukan ayahmu, kau bukan keturunanku!”

“Benar, tapi kau telah mendidik dan membesarkan aku,

ayah. Dan aku bukanlah seorang manusia tak tahu budi!” dan

ketika Beng Tan tertegun dan bersinar-sinar, melihat bahwa

pemuda ini bukanlah pemuda kejam maka Giam Liong

melepaskan cengkeraman ayah angkatnya itu, menoleh.

“Lihat, ibuku dan ibu Swi Cu bertanding. Aku tak ingin mereka

sama-sama terluka. Kalau ayah masih teringat janji aku akan

melerainya dan setelah itu pergi. Terserah ayah apakah mau

memberi tahu pembunuh ayah kandungku itu atau tidak!”

Beng Tan terkejut. Pemuda itu bergerak dan berkelebat ke

tengah-tengah pertempuran. Wi Hong dan Swi Cu sama-sama

naik pitam dan masing-masing bertanding semakin sengit

saja. Saling, maki dan tusuk sudah puluhan kali banyaknya.

Tapi ketika Giam Liong bergerak dan membentak dua

ibunya, tangan menampar dan mengibas dua senjata itu maka

Wi Hong terhuyung sementara Swi Cu mencelat tapi pedang

sempat menggores lengan pemuda itu.

“Mundur….. cret!”

Swi Cu terlempar bergulingan meloncat bangun. Memang

Giam Liong masih belum pulih seluruhnya dan sinkangnyapun

tinggal separoh. Separoh yang lain diberikan kepada ayah

angkatnya itu dan menangkis pedang Swi Cu dia masih juga

tergurat, kekebalannya berkurang. Dan karena Wi Hong

menarik goloknya dan sang putera tak sampai terluka, Giam

Liong tak perduli kepada itu maka dua wanita ini sudah

berhadapan kembali dan Swi Cu melotot, melengking dan s iap

menerjang lagi.

“Tahan!” pemuda itu berseru. “Kami akan segera

meninggalkan tempat ini, ibu. Tak usah saling serang dan

bantu suamimu!”

“Aku bukan ibumu!” Swi Cu memekik. “Aku tak punya anak

seperti kau, Giam Liong. Kau bunuhpun aku tak apa!” namun

Beng Tan yang bergerak dan menangkap isterinya, mencegahi

dan menggigil menyuruh isterinya bersabar tiba-tiba sudah

berdiri di depan isterinya itu.

“Dia benar,” pendekar ini berkata. “Urusan ini tak perlu

diperpanjang, niocu. Aku sudah kalah dan kita harus tahu

diri!”

“Bagus!” Wi Hong tertawa, berkelebat dan berdiri pula di

depan puteranya. “Kalau begitu sebutkan siapa pembunuh

suamiku itu, Beng Tan. Di mana dia berada dan siapa itu si

Kedok Hitam!”

“Aku tak dapat menerangkan jauh,” Beng Tan bersikap

dingin, acuh. “Silahkan kau cari sendiri dan ketahui siapa

musuhmu itu.”

“Eh, kau ingkar janji?”

“Aku tidak ingkar, Wi Hong!” Beng Tan membentak. “Tadi

sudah kukatakan bahwa aku tak mau menerangkan siapa lakilaki

itu. Aku hanya mau menerangkan di mana kira-kira ia

berada!”

“Benar,” Giam Liong mengangguk, mendahului ibunya.

“Inipun cukup, ibu. Kalau ayah tak mau menerangkan siapa

dia tentu ada sesuatu, yang menyulitkan ayah bicara. Aku

sudah cukup puas kalau mengetahui di mana kira-kira si

Kedok Hitam itu berada, asal ayah tidak menghubunginya dan

menyuruh dia menyingkir!”

“Aku bukan komplotan!” Beng Tan membentak, merah

mendengar kata-kata Giam Liong itu. “Jangan menuduh aku

seperti itu, Giam Liong. Aku tak serendah untuk bergaul

dengan orang jahat!”

“Bagus, kalau begitu sebutkan di mana dia!” Wi Hong, yang

terkekeh dan senang melihat kemarahan lawan tiba-tiba

mendahului puteranya, tak mau didahului. “Kami ingin segera

mencari dan menangkapnya, Beng Tan. Sebutkan di mana dia

dan hati-hati kalau kau bohong!”

“Aku hanya dapat mengira-ngira dia ada di mana, yakni

ada di kota raja. Kalau kalian ingin mencari dan

mendapatkannya maka temuilah di sana.”

“Di kota raja? Di bagian mana?” Wi Hong tertegun,

menatap sang pendekar dengan pandangan terbelalak, tajam.

“Aku hanya dapat menerangkan begitu saja, tepatnya di

istana. Nah, bohong atau tidak terserah kalian. Mudahmudahan

orang yang kalian cari masih tetap ada di sana!”

Beng Tan balas memandang, dingin dan tak acuh dan tiba-tiba

dia menekan dada yang hendak batuk-batuk. Terlalu banyak

bicara membuat pendekar itu tak kuat, maklumlah, luka

dalamnya belumlah sembuh dan dia sudah merasa pusingpusing

lagi. Giam Liong tahu itu dan menarik ibunya. Dan

karena keterangan sudah didapat dan si Kedok Hitam ternyata

ada di kota raja, di istana, maka Giam Liong membungkuk dan

berkata,

“Baiklah, terima kasih, ayah. Dan maaf atas semua yang

terjadi ini. Aku tak bermaksud untuk menyakiti hatimu.”

“Dan kalian tak memberi tahu di mana anak kandungku?”

Swi Cu melengking, gusar dan mau maju lagi tapi ditahan

suaminya yang batuk-batuk. Swi Cu marah dan terpaksa

menahan diri karena suaminya tiba-tiba limbung. Dan ketika

Giam Liong tertegun dan mengerutkan kening, tak tahu di

mana adanya pemuda itu selain dibawa Yang Im Cinjin tibatiba

ibunya sudah berseru, terkekeh,

“Swi Cu, tadi sudah dikatakan bahwa pihak yang kalah

harus tunduk kepada yang menang. Dan kami tentunya tak

perlu memberi tahu di mana anakmu itu. Bukankah kalian

kalah dan tak perlu banyak menuntut? Diberi hiduppun kalian

masih untung, tak usah bertanya-tanya!”

“Tapi kau sudah mendapatkan anakmu, kau licik!”

“Hm, dan kaupun mendapatkan kedudukan di sini, Swi Cu.

Kita sudah adil dengan kejadian ini. Aku dan Giam Liong tak

akan mendepak kalian untuk memimpin partai!”

“Aku tak perduli kedudukan. Puteraku jauh lebih berharga

daripada kedudukan. Serahkan atau kau mampus!” dan Swi

Cu yang menerjang dan melepaskan suaminya tiba-tiba marah

besar karena sucinya bicara begitu enak. Darah dagingnya tak

dapat ditukar dengan apapun, biarpun kedudukan tinggi. Tapi

ketika Wi Hong mengelak dan menangkis, Golok Maut

membentur pedang di tangan sumoinya itu maka Swi Cu

melempar tubuh bergulingan tapi sudah menyambar pedang

yang lain lagi karena pedangnya itu putus. Namun sebelum

wanita ini menerjang tiba-tiba Giam Liong berkelebat dan

berdiri menghadang.

“Ibu….”

“Aku bukan ibumu!”

“Baiklah, dengar, bibi. Aku tak ingin kalian saling serang

lagi untuk urusan ini. Han Han, puteramu, akan kubawa

kemari sebagai pengganti dan obat kecewamu. Aku tahu

bahwa dia dibawa seseorang dan akan kucari orang itu. Kau

tak perlu lagi marah-marah.”

“Enak saja kau bicara? Ibumu menukar dan menculik anak

harus kudiamkan dan tak boleh marah-marah? Eh, matipun

menghadapimu aku tak takut, Giam Liong. Meskipun kau

sudah lihai dan pintar sekarang!”

“Tunggu…!” namun Giam Liong yang mengelak dan

diserang lawannya tiba-tiba mendengar ibunya terkekeh dan

berkelebat, menghadapi Swi Cu.

“Tak usah panjang lebar. Serahkan dia kepadaku, Liong-ji.

Dan kau mundurlah!” namun Giam Liong yang membentak

dan menyambar ibunya tiba-tiba menotok dan merampas

Golok Maut, yang hampir saja mengenai leher Swi Cu!

“Ibu tak usah ikut campur dan diam sajalah di situ. Biar aku

yang membereskan…. dess!” dan Wi Hong yang roboh tapi

Swi Cu juga mencelat tiba-tiba sudah membuat Giam Liong

berdiri dengan muka merah, berhadapan dengan ayah

angkatnya yang terbelalak dan mengeluh lemah memanggilmanggil

isterinya itu.

“Ayah, apakah bibi tak dapat kau beri tahu? Apakah kau tak

dapat membujuknya agar tidak menyerang lagi? Aku berjanji

akan mengembalikan dan membawa puteramu ke mari, ayah.

Dan ini sudah di luar pertaruhan!”

Beng Tan batuk-batuk. Melihat dan mendengar kata-kata

Giam Liong memang dia harus meredakan kemarahan

isterinya itu. Dia juga tahu bahwa mana mungkin seorang ibu

bisa menahan marah diperlakukan seperti itu, anaknya diculik

dan kini malah dibawa orang lain pula, orang yang tak mereka

ketahui siapa! Namun karena Giam Liong tampil sebagai

pemenang dan pihaknya sebagai yang kalah, pendekar itu

adalah seorang gagah yang tak mungkin menjilat janji maka

dia sudah terbungkuk dan menyambar isterinya itu,

mencengkeram.

“Niocu, jangan buat aku malu. Kalau kau ingin

menyerangnya lagi lebih baik bunuhlah aku dulu, tikam

dadaku ini!” kemudian, ketika isterinya menangis dan gemetar

tak berbuat apa-apa pendekar ini menghadapi Giam Liong

kembali, berkata, suaranya penuh sesal dan berat, “Lihat, aku

sudah mengendalikan isteriku, Giam Liong. Dan kami tak akan

menyerangmu lagi. Terima kasih kalau kau berjanji untuk

membawa dan mengembalikan puteraku. Tapi bolehkah

kutanya berapa lama janji yang kauberikan itu!”

Giam Liong tertegun. “Kira-kira enam bulan,” katanya.

“Tapi paling lama satu tahun. Bagus, aku lega melihat bibi tak

bersikap nekat lagi, ayah. Dan terima kasih pemberitahuanmu

tentang musuh besarku itu. Aku akan pergi, dan maaf untuk

semua kejadian tak menyenangkan ini!” tapi ketika Giam Liong

membalik dan melihat Pedang Matahari, karena pedang itu di

tangan ibunya setelah Golok Maut dirampas tiba-tiba pemuda

ini tertegun namun cepat melangkah menghampiri ibunya itu,

mengulurkan lengan.

“Ibu, pedang ini bukan punya kita. Berikan dan biarkan kita

kembalikan kepada ayah!”

Namun sang ibu mengelak, membentak. Dan ketika Giam

Liong tertegun melihat ibunya berdiri tegak maka ibunya itu

berkata, “Liong-ji, musuh yang kalah adalah taklukan kita.

Pedang ini juga menjadi pedang kita, tak usah diserahkan dan

biar untukmu!”

“Hm, tidak,” sang putera menggeleng, tak dapat menerima

permintaan ibunya. “Musuh ini bukan musuh kita, ibu. Jelekjelek

dia adalah ayahku Beng Tan. Tidak, berikan kepadaku

dan biar kukembalikan kepada pemiliknya!” dan ketika Giam

Liong berkelebat dan menyambar pedang itu, dielak tapi jari

sudah menotok pergelangan tangan maka Wi Hong tak dapat

mempertahankan miliknya lagi, berteriak dan pedang sudah di

tangan anaknya.

“Jangan diberikan!” wanita itu menjerit, marah dan

penasaran. “Kalau kau yang kalah tak mungkin Golok Maut tak

dirampasnya, Giam Liong. Serahkan kepada ibu dan jangan

diberikan kepada musuhmu itu!”

Namun Giam Liong tak perduli. Ibunya bergerak dan

hendak merebut lagi namun pemuda ini sudah menotoknya

roboh. Apa boleh buat ibunya terpaksa dilumpuhkan. Dan

ketika Wi Hong memekik dan marah-marah dengan

umpatannya yang pedas maka pemuda itu sudah bergerak ke

arah ayah angkatnya dan menyerahkan Pedang Matahari.

“Ini bukan milik kami, kukembalikan kepada ayah. Semoga

ayah menerimanya dan sekarang kami pergi!” lalu, ketika

Beng Tan mendelong dan menerima pedang, perasaannya

campur aduk maka Giam Liong memutar tubuhnya dan

menyambar ibunya itu. Di s itu wanita ini memaki-maki namun

Giam Liong tak membebaskan totokannya. Kalau dibebaskan

tentu ibunya mengamuk, minimal akan menyerang Beng Tan

dan merebut kembali Pedang Matahari itu. Dan ketika pemuda

ini melangkah lebar dan meninggalkan orang tua angkatnya,

dipandang seluruh anak-anak murid Hek-yan-pang dengan

gentar dan kagum maka Giam Liong sudah tiba di tepi pulau

dan menendang sepotong papan. Papan ini terlempar masuk

ke telaga, Giam Liong berjungkir balik dan melayang turun di

atas papan itu, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang

tinggi. Dan ketika pemuda itu menggerakkan tangan kiri

karena tangan kanan masih dipakai untuk memanggul ibunya,

Wi Hong berteriak-teriak tak diperdulikan maka pemuda itu

sudah meluncur dan menyeberangi telaga dengan cepat dan

luar biasa, seolah berjalan di air!

“Anak yang hebat, pemuda yang mengagumkan!” Beng

Tan tak terasa mengeluarkan suara memuji, mengikuti dan

membelalakkan mata melihat semua gerak-gerik bekas anak

angkatnya itu. Dan ketika murid-murid yang lain juga

mengangguk-angguk dan kagum, mereka memandang dengan

sorot mata takjub maka Giam Liong lenyap dan sudah

menghilang di seberang sana. Tapi begitu pemuda itu meng

hilang dan lenyap, tak ada anak-anak murid yang menghalangi

tiba-tiba Beng Tan batuk-batuk dan roboh pingsan. Pendekar

itu terpukul oleh kenyataan pahit yang harus diterimanya. Dia

kalah oleh bekas anak didiknya sendiri, dalam sebuah

pertarungan mati hidup. Tapi karena bekas anak didiknya itu

adalah keturunan Si Golok Maut, lawan paling lihai sebelum

dia berhadapan dengan pemuda itu maka Beng Tan tak kuat

dan roboh terguling.

Ada dua hal yang menyebabkan pendekar ini begini.

Pertama adalah luka dalamnya itu, yang untung cepat-cepat

diobati dan ditolong Giam Liong, bekas musuhnya itu. Dan

karena dia belum sembuh betul karena pertolongan itu masih

harus dilanjutkan dengan pengobatan sendiri, padahal dia

terguncang bahwa Giam Liong bukan anak kandungnya maka

Beng Tan tak dapat menahan lagi ketika dadanya mendadak

sesak. Tadi ketika bicara dan marah-marah kepada Giam Liong

dia belum merasakan itu. Tapi begitu si pemuda lenyap dan

meninggalkan pulau mendadak saja dadanya sesak karena

kekecewaan dan penyesalan hebat melanda dirinya. Dia telah

mewariskan dan menurunkan ilmu-ilmunya kepada keturunan

Si Golok Maut. Dan ketika kenyataan itu membuat Beng Tan

tak kuat, roboh dan mengeluh maka pendekar ini terguling

dan seketika itu pingsan. Swi Cu menjerit dan memekik

menyambar suaminya ini. Tapi ketika melihat wajah yang

pucat dan suaminya sukar bernapas, guncangan batin itu

mengganggu hebat maka wanita ini melolong dan cepat

menolong suaminya itu. Ki Bi dan lain-lain terkejut dan cepat

pula bergerak. Mereka membantu dan membawa masuk ketua

mereka ini. Dan ketika di kamar Beng Tan mendapat

perawatan intensip, Swi Cu dan Ki Bi atau yang lain-lain

menyalurkan sinkang dan memberi pertolongan maka Beng

Tan sadar tapi wajah pendekar itu masih pucat, gemetar dan

menggigil.

“Kalian pergilah, biarkan isteriku sendiri!” Beng Tan

mengusir dan menyuruh murid-muridnya keluar. Dia tak enak

melihat Ki Bi dan murid-murid wanita yang lain ada di situ,

teringat kejadian lama. Dan ketika Ki Bi menyingkir dengan

muka merah, diam-diam tertusuk maka Beng Tan bersandar

dan minta didudukkan yang tegak.

“Aku hanya ingin menerima sinkang darimu. Yang lain, tak

usah sajalah!”

“Tapi lukamu berat, suamiku. Semakin banyak sinkang

memasuki tubuhmu jadinya tentu semakin baik!”

“Tapi mereka murid-murid wanita semua, mana aku mau?

Tidak, hanya kau yang boleh, Cu-moi. Selebihnya, biar di luar

dan menjaga!”

Swi Cu menangis. Dia sendiri tak ingat akan itu dan tak

apa-apa. Tapi mendengar suaminya bicara seperti ini

mendadak saja dia merasa terharu dan memeluk suaminya

itu, menciumi.

“Baiklah, aku akan membantumu, suamiku. Biarlah kita

sama duduk berhadapan tapi sinkangku tentu tak sebanyak

seperti yang kauinginkan. Pertolonganku tentu lama!”

“Tak apa. Suruh murid-murid kita mencari ramuan obat dan

menggodoknya. Lukaku memang berat, paling tidak enam

sampai dua belas bulan baru sembuh betul. Sudahlah, kita

mulai, niocu. Aku tak berani banyak bicara….. uhh!” dan

ketika Beng Tan batuk dan menyeringai kesakitan, Swi Cu

menutup mulut dan tak berani bicara lagi maka suami isteri itu

sudah bersila dan saling berhadapan. Swi Cu memberi

sinkangnya tapi wanita inipun tak bisa berkonsentrasi baik,

sering tersendat-sendat dan macet karena dia menggigit bibir

dan menahan tangis. Kemarahan dan sakit hati Swi Cu belum

reda. Dia masih membenci dan dendam akan perbuatan

sucinya, juga Giam Liong, karena pemuda itu ternyata

keturunan Si Golok Maut Sin Hauw, tokoh yang ganas dan

dulu pernah membuat Hek-yan-pang diobrak-abrik. Kalau

tidak ada suaminya ini barangkali dulu-dulu Hek-yan-pang

sudah bubar, barangkali, malah hancur! Tapi ketika dia

menguatkan hati dan sang suami berbisik mengingatkan,

bahwa pikiran tak boleh melantur ke mana-mana maka

nyonya itu menarik perhatiannya untuk mengobati suami

tercinta. Beng Tan menelan obat-obatan pula di samping

masuknya sinkang itu.

Anak-anak murid berjaga dan nama Giam Liong tiba-tiba

menjadi bahan pembicaraan dan bisik-bisik yang menarik.

Pemuda itu bukan lagi sebagai bekas putera pangcu mereka

melainkan memiliki “nilai lebih”, yakni sebagai putera atau

keturunan Si Golok Maut. Dan karena Golok Maut sudah

dikenal namanya dan kegemparan yang dibuatpun juga

mengguncang dunia kang-ouw maka diam-diam anak murid

Hek-yan-pang mempunyai bayangan ngeri tentang pemuda

itu.

Sepak terjang pemuda ini tentu akan lebih hebat daripada

ayahnya. Dan mengingat ketua mereka kalah di tangan

pemuda itu, yang telah mewarisi pula kitab-kitab mendiang

ayah kandungnya maka murid-murid Hek-yan-pang bergidik

dan kagum serta ngeri membayangkan Giam Liong. Ketua

mereka terkenal sebagai pendekar kelas wahid, tak ada yang

menandingi. Tapi bahwa hari itu pecundang dan kalah oleh

Giam Liong maka mereka bergidik dan ngeri teringat pemuda

ini. Apalagi karena pemuda itu membawa Golok Penghisap

Darah, Golok Maut! Dan ketika mereka gentar dan saling

berbisik satu sama lain maka Beng Tan yang sudah seminggu

mendapat pengobatan tiba-tiba berkata pada isterinya bahwa

ingin pergi.

“Apa? Kau gila? Dalam keadaan belum sembuh benar?”

“Hm, aku cukup sehat. Asal tidak bertanding lagi dengan

pemuda itu tentu aku kuat untuk bepergian seperti biasa. Kau

tinggallah di sini, niocu, aku mau pergi mendinginkan hati,

juga untuk sesuatu keperluan.”

“Kau mau ke mana? Keperluan apa?”

“Mencari anak kita itu. Aku juga ingin menemukannya

sendiri,” dan ketika Beng Tan menarik napas dan kelihatan

masygul, wajahnya muram maka sang isteri bergerak dan

mencengkeram bahunya.

“Aku ikut?” seruan ini mengejutkan suami. “Aku juga tak

mau tinggal di sini kalau kau pergi!”

“Ikut? Ah!” Beng Tan melepaskan bahunya, menggeleng.

“Jangan, niocu. Kau harus menjaga di sini mewakili aku!”

“Ada Ki Bi di s ini!” sang isteri berseru, mengingatkan. “Dan

ada adik-adik seperguruannya pula yang dapat mewakili kita.

Kalau kau pergi aku juga pergi, tak mau sendiri!”

Beng Tan tertegun. Isterinya sudah berkata lantang dan

kalau sudah begitu maka tak mungkin dia mendebat lagi.

Semakin didebat tentu isterinya semakin berang, salah-salah

mereka bisa saling cek-cok sendiri! Dan ketika Beng Tan

mengangguk dan menghela napas, apa boleh buat harus

menerima itu maka dia berdiri dan masuk ke kamar. “Baiklah,

kita siapkan buntalan kita. Mari pergi.”

Ganti anak-anak murid terkejut. Ki Bi tertegun ketika

dipanggil dan mendengar keinginan pangcunya, bengong tapi

segera mengangguk menerima perintah. Dan ketika hari itu

juga Beng Tan meninggalkan markas, berkata ingin mencari

anaknya yang hilang maka suami isteri itu sudah berangkat

dengan Beng Tan agak terhuyung sedikit jalannya, betapapun

belum sembuh luka-lukanya.

“Harap pangcu hati-hati. Maafkan kami hanya dapat

mengantar sampai di luar telaga.”

“Tak apa, inipun cukup, Ki Bi. Pulanglah, dan urus

pekerjaan sehari-hari seperti biasa.” dan begitu Beng Tan

bergerak dan menyambar isterinya, berkelebat, maka Ki Bi

dan anak-anak murid yang lain terpaku dan sejenak tak

mampu berkata-kata. Mereka tahu kesedihan dan wajah

murung ketuanya itu. Mereka tahu akan kekecewaan dan

perasaan yang bergolak di hati ketuanya itu. Tapi begitu sang

ketua lenyap dan Ki Bi bersama anak murid kembali maka Swi

Cu di sana bertanya kepada suaminya ke mana suaminya itu

menuju.

“Tak ada lain, kita cari di kota raja. Sekalian melihat atau

mendengar sepak terjang Giam Liong!”

“Ke kota raja? Mencari… mencari Kedok Hitam itu?”

“Bukan dia, isteriku. Tapi barangkali melalui dia kita dapat

menemukan anak kandung kita itu. Marilah!” dan ketika Beng

Tan mempercepat langkahnya dan sang isteri tertegun, pucat,

maka mereka sudah terbang dan keluar masuk hutan,

menyelinap atau melompati jurang-jurang curam untuk

akhirnya bergerak seperti siluman. Dilihat sepintas, jago

pedang ini seolah sembuh betul, tak ada yang tahu bahwa

beberapa kali dia menahan sakit kalau terpaksa mengeluarkan

tenaga berlebihan, mendaki atau berlari kelewat cepat

umpamanya. Dan ketika suami isteri itu bergerak dan terbang

menuju utara, ke kota raja, maka Giam Liong dan ibunya

mungkin sudah membuat gempar di istana!

O0dw0O

Marilah kita tengok dahulu suatu tempat di Laut Selatan

(Lam-hai). Kita ting-galkan dahulu masalah Giam Liong

maupun Beng Tan dan isterinya itu. Mari kita kunjungi suatu

ceruk atau guha-guha di bawah dinding terjal Laut Selatan.

Jauh di sini, jauh dari keramaian dunia tampak sederetan

guha-guha yang angker dan gelap di bawah dinding terjal

pantai selatan. Dilihat dari atas tak akan ada yang tahu bahwa

banyak terdapat sekumpulan guha di situ. Hanya kalau orang

turun dan berani merayap ke bawah, dari ketinggian beratusratus

meter orang akan tahu adanya deretan guha-guha hitam

ini. Tak ada jalan masuk ke situ kecuali melalui dinding terjal

itu, dinding yang bahkan berlumut dan tampaknya tak pernah

dijarah manusia. Dan karena sederetan guha-guha hitam ini

kelihatan sunyi dan angker, hanya burung atau walet yang

beterbangan saja yang rupanya tahu maka pantas kalau orang

menyebut tempat ini sebagai Guha Siluman.

Tak ada gerakan atau kehidupan di situ. Ombak yang

menderu dan menghantam dinding karang, berdebur dan

merencak-rencak memang tampaknya tak mungkin ditinggali

manusia. Tempat itu pantas disebut sebagai tempat siluman

karena agaknya hanya mahluk-mahluk halus atau siluman

sajalah yang dapat tinggal di situ. Guha-guha hitam yang

gelap dan berderet berjajar-jajar tampaknya memang pas

untuk tempat tinggal siluman atau mahluk-mahluk halus. Tapi

ketika sesosok bayangan putih muncul dan keluar dari salah

satu guha-guha itu, guha yang hitam dan gelap maka orang

akan tertegun melihat bayangan ini.

Silumankah dia? Hantu yang sedang mencari hawa segar di

tempat terbuka? Tampaknya begitu, kalau seorang nelayan

atau penakut yang sudah biasa dijejali cerita-cerita

menyeramkan. Tapi kalau orang mau melihat dekat dan

memberanikan diri untuk melihat ini, tanpa takut atau seram

maka justeru orang akan tertegun melihat siapa bayangan

putih ini, yang ternyata seorang berwajah tampan dengan

baju atau pakaian sederhana, dari bahan blacu yang dijahit

tangan, amat bersahaja!

Siapakah dia? Inilah Han Han, putera atau murid Im Yang

Cinjin yang sakti! Pagi itu dia muncul untuk mulai berlatih.

Kedua jari tangannya digerak-gerakkan ke bawah dan jari-jari

yang berkerotok tiba-tiba mengeluarkan dua sinar berbeda.

Satu putih sedang yang lain kebiruan. Han Han sedang

melemaskan diri dengan pukulan Im-yang-sin-kun (Pukulan

Sakti Im Yang). Dan ketika jari-jari tangannya semakin

berkerotok dan sinar kebiruan serta putih di kedua lengannya

itu semakin terang, melebar dan menyilaukan mata mendadak

pemuda ini bergerak dan terjun ke bawah, menyambut debur

ombak yang saat itu menghantam dinding karang.

“Haiiiitttt….!”

Pekik atau teriakan panjang ini menggetarkan seluruh

pantai samodera. Dinding karang serasa berderak dan kedua

lengan Han Han menyambar ke bawah, menyambut atau

menampar gulungan ombak yang menghajar karang,

tingginya hampir serumah. Dan ketika Han Han terjun dan

menampar ke bawah, sinar biru dan putih itu bercuitan

dahsyat, menggelegar menghantam ombak maka ombak

setinggi rumah yang menghajar dinding karang tiba-tiba

tertahan dan ambyar berantakan, tertolak balik.

“Byarrr!”

Han Han berjungkir balik turun di tempat yang kosong. Air

tak sampai ke sini karena pukulan Han Han tadi menghajar

bukit ombak setinggi rumah, meluncur dan turun dengan

tenang. Tapi karena ombak yang belakang ganti menyusul

dan menyambar lagi, Han Han melejit dan meloncat tinggi ke

atas maka pemuda itu kembali menggerakkan kedua

tangannya untuk menghantam ombak.

“Byar-byarr!”

Han Han akhirnya berkelebatan. Pemuda ini mulai berlatih

karena ombak-ombak yang dihajar terpental balik, tertolak

tapi temannya di belakang mendorong dan menyerang lagi.

Dinding karang itu memang setiap hari pasti dipukul ombak.

Gulungan air yang setinggi bukit atau gunung sudah biasa

menghantam dinding-dinding karang ini. Dan karena Han Han

harus menahan atau mementalkan mereka, tempat yang

diinjak tak boleh basah maka jadilah pemuda itu melengking

dan memukul-mukul ke depan, menghalau atau menghajar

bukit-bukit ombak yang tampaknya kian ganas saja. Mereka

itu rupanya juga marah karena pekerjaan mereka diganggu

pemuda ini. Han Han diserang dan pemuda itu berkelebatan

sambil memukul-mukulkan kedua lengannya. Dan ketika sinar

biru dan putih berkeredepan menyilaukan mata dan tubuh

pemuda itu kini tak menginjak tanah lagi, mendahului dan

menghantam bukit ombak maka muncul lah sesosok bayangan

lain di muka guha, seorang tosu berpakaian putih-putih yang

berseri dan tertawa-tawa melihat perbuatan pemuda itu.

“Bagus, hebat dan bagus pukulanmu, Han Han. Tapi

sekarang kerahkan tenaga Im-kang dan bekukan bukit ombak

itu!”

Han Han menoleh. Dia tidak terkejut mendengar dan

melihat seruan kakek ini. Itulah gurunya Im Yang Cinjin atau

Yang Im Cinjin, kakek sakti yang sudah muncul melihat

latihannya. Dan ketika kakek itu berseru sementara sebuah

bukit ombak kembali menyerangnya, menggulung dan hendak

membungkus tubuhnya tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan

bentakan dahsyat di mana kedua lengannya tiba-tiba memutih

berkilauan, bagai salju.

“Klap!”

Guntur serasa memekakkan telinga. Ledakan yang amat

dahsyat keluar dari tangan pemuda itu, menyambar atau

menyambut ombak setinggi bukit ini. Dan ketika hawa dingin

menyambar dan ombak yang setinggi bukit itu tertahan, aneh

sekali, maka tiba-tiba mereka tidak lagi ambyar melainkan

beku seperti bukit es!

“Bagus!” Yang Im Cinjin terkekeh-kekeh. “Lakukan lagi,

Han Han. Pukul dan buat yang lain-lain juga begitu!”

Han Han membentak lagi. Gulungan ombak di belakang

bukit es yang sudah dibuat beku itu mengamuk marah.

Pemuda itu berkelebat dan kembali dua sinar putih meluncur

dari tangannya. Hawa dingin membekukan tulang menyambut

atau menghantam gulungan ombak itu, ombak yang lain. Dan

ketika ledakan dahsyat memekakkan tempat itu dan sinar

putih bertemu ombak setinggi gunung maka ombak inipun

beku dan “berdiri” seperti bukit es. Han Han berkelebatan dan

menerima lagi ombak-ombak yang lain, membentak dan

mengeluarkan pukulan Im-nya yang dahsyat itu. Dan ketika

gunung-gunung atau bukit es muncul lagi di sana-sini, susulmenyusul

maka cepat dan luar biasa Han Han telah mencipta

puluhan ombak-ombak Laut Selatan menjadi gunung atau

bukit es yang baru!

“Ha-ha, bagus. Luar biasa sekali. Buatlah seratus gunung di

sekitar tempat ini, muridku. Bentengi dinding karang ini

dengan gunung-gunung es!”

Han Han tak berhenti dan terus bergerak. Pemuda itu

menyambar atau berkelebatan dari satu gunung es ke gunung

es yang lain, menghantam atau menyambut ombak-ombak

setinggi bukit untuk dibekukan. Dan ketika tak lama kemudian

seratus gunung telah dibuat dan tempat itu penuh dengan

bukit-bukit beku, Han Han telah merobah air menjadi batu

maka Yang Im Cinjin tertawa bergelak melihat kehebatan

muridnya, yang kini berhenti dan berdiri gagah di sebuah bukit

es bagai seekor rajawali sakti!

“Luar biasa!” kakek itu berseru. “Kepandaianku benar-benar

telah kauwarisi dengan baik, Han Han. Tapi coba cairkan

bukit-bukit itu dan kembalikan mereka kepada asalnya!”

“Baik,” Han Han berkelebat turun, kedua lengannya tibatiba

berkerotok dan berobah merah marong, bagai api. “Aku

akan mengeluarkan tenaga Yang (panas), suhu. Dan coba

lihat apakah inipun sudah sempurna…. blarr!” pemuda itu

membalik dan menghantam bukit di depannya, air samodera

yang beku. Dan begitu sinar merah menyambar dan

mengeluarkan ledakan dahsyat, bagai petir, maka tiba-tiba

bukit es itu ambyar dan rontok berguguran. Selanjutnya Han

Han berkelebatan lagi dan menyambar-nyambarlah pemuda

itu dari satu gunung es ke gunung yang lain, menghantam

atau menyentuhkan kedua lengannya yang merah marong itu

kepada bukit-bukit ciptaan. Dan ketika bukit-bukit itu

berguguran dan air yang beku mencair lagi, samodera kembali

bergolak maka bukit-bukit itu lenyap dan Han Han

beterbangan di atas permukaan Laut Selatan.

“Ha-ha, mentakjubkan dan luar biasa!” Yang Im Cinjin

memuji dan bertepuk tangan. “Pukulan panasmupun sudah

nyaris menyamai aku, Han Han. Ah, luar biasa dan

mentakjubkan!” dan ketika debur atau hantaman ombak

kembali terdengar, Han Han telah memecahkan gununggunung

es itu maka pemuda ini bergerak naik turun di antara

bukit-bukit ombak yang menyerangnya. Laut Selatan kembali

bergolak setelah tadi sejenak didiamkan pemuda ini. Han Han

telah “menjinakkan” mereka dengan merobahnya sebagai

bukit-bukit es. Itulah pukulan Im-kang atau Dingin yang luar

biasa, kini menunjukkan pukulan Yang-kang atau Panas yang

tak kalah hebatnya pula. Dan ketika Laut Selatan mengamuk

namun Han Han berseliweran naik turun maka Yang Im Cinjin

berkelebat dan turun tangan menghadapi muridnya sendiri.

“Bagus, sekarang pinto (aku) yang maju. Awas, tahan

pukulan!”

Han Han terkejut. Gurunya menyambar bagai siluman dan

tahu-tahu sudah bergerak di atas lautan pula, tidak menginjak

air melainkan beterbangan seperti bersayap, menyerang dan

menyambarnya bagai garuda mematuk-matuk. Gurunya itu

telah mengeluarican ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi

di mana dengan beterbangan seperti burung gurunya itu telah

melakukan tamparan-tamparan dahsyat. Dingin dan Panas

silih berganti hingga ombak lautpun sering berubah-ubah,

sebentar beku sebentar cair! Dan ketika Han Han terkejut tapi

tentu saja girang, mengelak dan menangkis maka guru dan

murid sudah bertanding di atas lautan.

“Ha-ha, bagus, Han Han. Balas pinto dan coba terima ini….

dess!” Han Han berjungkir balik, gurunya melakukan dorongan

dahsyat dan dia menerima, jatuh tapi menahan dengan

pukulan dingin pula. Dan ketika gurunya terdorong tapi dia

terpental, ombak membeku dan dijadikan tempat berpijak

maka Yang Im Cinjin sudah merobah pukulannya dan

menyerang kembali.

“Yang ini….. blarr!” Han Han dipaksa bergerak cepat,

membentak dan menangkis pukulan gurunya itu dan ledakan

bagai halilintar memecahkan anak telinga. Yang Im Cinjin

sudah bergerak dan menyerang lagi, cepat dan bertubi-tubi

dan dentuman atau suara menggelegar silih berganti pula

mengisi hiruk-pikuk Laut Selatan. Dan ketika dua bayangan

putih saling sambar dan masing-masing saling desak atau

dorong maka tampaklah bahwa Han Han mampu

mengimbangi gurunya, meskipun tak mampu mendesak

karena gurunya juga mampu bertahan!

“Bagus…. bagus…!” gurunya terkekeh-kekeh. “Cepat dan

luar biasa sekali kemajuanmu, Han Han. Ah, pinto sekarang

mulai lelah…. des-dess!” sang tosu tampak terdorong, kalah

muda dan kalah usia tapi tiba-tiba dia membalas dengan

sebuah sapuan kaki. Han Han tak menduga dan roboh

terlempar. Dan ketika mereka kembali bertanding dan Yang

Im Cin jin berseri-seri, tertawa dan memuji-muji muridnya

maka tak terasa tiga jam lebih mereka bertanding, sang tosu

sudah mandi keringat.

“Cukup!” akhirnya seruan itu menghentikan keduanya.

“Pinto sudah puas melihat kemajuanmu, Han Han.

Kepandaianmu sudah benar-benar menyamai pinto!”

Dan ketika tosu itu berjungkir balik dan hinggap di guhaguha

hitam, mengebut dan mengusap tubuhnya yang mandi

keringat maka Han Han juga meloncat berjungkir balik dan

berdiri gagah di batu karang di atas gurunya, mandi peluh dan

merasa gembira tapi tak selelah gurunya.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 13

“APAKAH teecu benar-benar tak memalukan, suhu?”

“Ha-ha, tidak, justeru kau mengagumkan. Limabelas tahun

berlatih ternyata telah sanggup merobah dirimu seperti i-ni.

Ah, pinto kagum, Han Han. Kau luar biasa dan hebat sekali!”

dan ketika tosu itu berkelebat naik dan berdiri di depan

muridnya maka Han Han tersenyum menjatuhkan diri berlutut.

“Ini berkat jerih payah suhu. Kalau suhu tidak mendidik

atau menggemblengku tak mungkin aku bisa begini. Terima

kasih, suhu. Ini semua berkat budimu!”

“Ah, bangunlah,” sang guru berseri. “Tak ada budi atau

jasa baik, Han Han. Semua ini adalah atas kehendak Yang

Mahakuasa. Bangkitlah, dan pinto ingin berbicara sesuatu

denganmu” lalu ketika muridnya bangkit berdiri dan berseriseri,

Im Yang Cinjin juga berseri dan gembira maka kakek itu

memandang muridnya lagi. “Beberapa hari ini kulihat kau

sering memandang keluar. Apakah ada sesuatu yang sedang

kaupikirkan, Han Han? Ayolah, aku menangkap sesuatu

darimu!”

Han Han tiba-tiba berkerut kening. Dipandang dan ditanya

seperti itu mendadak saja wajah kegembiraannya lenyap.

Sang guru tersenyum lebar tapi sorot mata gurunva itu

memancarkan yang lain, seolah ada sesuatu vang juga ingin

dikatakan gurunva itu. Dan ketika Han Han tertegun tak

segera menjawab, gurunya menarik napas tiba-tiba kakek itu

melayang turun dan berseru.

“Mari masuk ke guha, kita bicara di dalam?”

Han Han terkejut. Melihat gurunya turun dan berkelebat di

dalam guha tiba-tiba iapun mengikuti. Gurunya rupanya juga

hendak berkata sesuatu sementara iapun juga memiliki

ganjalan. Pucuk dicinta ulam tiba, gurunya hendak bicara!

Maka ketika Han Han berkelebat dan turun memasuki guha,

dua orang itu lenyap dari atas batu karang maka di sana Im

Yang Cinjin sudah bersila menunggu muridnya, sikapnya

tampak tenang namun sorot matanya serius, hal yang justeru

membuat Han Han tergetar.

“Duduklah, dan kau katakan apa yang menjadi ganjalan,”

Han Han terkejut karena gurunya seolah telah lebih dulu tahu.

“Pinto melihat gerak-gerikmu yang aneh pada hari-hari

belakangan ini, Han Han. Dan kebetulan pinto juga mau bicara

padamu. Barangkali, pembicaraan kita sama!

“Hm,” Han Han menunduk, duduk bersila di depan

gurunya, kening berkernyit. “Kau rupanya tahu sebelum kuberi

tahu, suhu. Agaknya tak perlu teecu bicara karena suhu sudah

menangkap!”

“Tidak, jangan begitu,” sang tosu mengebutkan lengan

bajunya. “Pinto juga manusia biasa, Han Han, bisa keliru atau

salah. Daripada mendahului yang belum tentu benar lebih baik

kau bicara apa yang selama ini kaupikirkan. Kau selalu

memandang keluar Guha Siluman!”

“Betul,” Han Han tak menyembunyikan rahasianya lagi.

“Teecu merasakan sesuatu yang lain daripada yang lain, suhu.

Teecu seolah tertarik oleh sesuatu di luar yang selama ini

belum teecu ketahui!’

“Maksudmu?”

“Maaf, teecu…. teecu tak berani bicara!”

“Hm, tak berani bicara bukan sikap yang selama ini

kuajarkan, Han Han. Pinto tak pernah mengajarimu untuk

menyimpan atau menyembunyikan rahasia. Kau harus jujur

dan bicara benar, atau justeru pinto akan salah paham

kepadamu dan menduga yang tidak-tidak!”

“Maafkan teecu…” Han Han tiba-tiba menarik napas dalamdalam.

“Teecu ingin bertanya sesuatu, suhu, tetapi khawatir

suhu marah, tersinggung!”

“Siancai, pinto tak pernah marah untuk hal-hal yang benar.

Kalau kau ingin bicara silahkan bicara, jangan dipendam!”

“Suhu tak akan marah?”

“Sudah kubilang tak akan marah untuk hal-hal yang benar,

Han Han. Pinto juga akan bicara padamu akan sesuatu!”

“Baiklah, kalau begitu maaf. Teecu (murid) akan bicara….”

dan ketika Han Han membetulkan letak kakinya dan bersila

tegak, muka menghadap gurunya maka pertanyaan yang

pertama kali keluar adalah apakah gurunya itu menikah!

“Apa?”

“Maaf, teecu hanya bertanya saja, suhu. Apakah suhu

pernah menikah dan punya anak!”

“Siancai, pertanyaanmu mencengangkan. Tapi tidak apa.

Pinto jawab bahwa pinto belum pernah menikah karena pinto

adalah pertapa! Kenapa kautanyakan ini dan adakah itu

kaitannya dengan perasaan yang mengganjal di hatimu?”

“Benar,” Han Han berdebar, girang karena gurunya tak

marah. “Teecu menanyakan ini karena ada rentetannya, suhu,

yakni apakah benar kadang-kadang suhu menganggap teecu

sebagai anak, di samping murid!”

“Hm!” sang rosu mengurut jenggot, bersinar-sinar, terkejut

tapi juga heran akan pertanyaan muridnya itu. Tapi ketika Im

Yang Cinjin tersenyum dan tertawa ramah, wajahnya benarbenar

tidak menampakkan rasa marah maka dia justeru

menegur muridnya itu. “Aneh,” katanya. “Apa kaitannya

semua itu dengan pertanyaanmu, Han Han. Dan apakah perlu

pinto jawab?”

“Teecu merasa perlu, karena diam-diam teecu juga merasa

aneh!”

“Siancai, aku vang seharusnya bicara aneh tapi kau malah

yang merasakan serupa. Baiklah, apa keanehanmu itu, Han

Han? Dan kenapa kau merasa aneh?”

“Suhu menyatakan tidak menikah tapi mempunyai anak

seperti teecu. Suhu meng anggap teecu sebagai murid tapi

acap kali kasih sayang suhu seperti ayah terhadap anaknya.

Apakah ini bukan aneh, suhu? Bagaimana teecu tidak akan

merasa bingung jika suhu tak pernah beristeri tetapi

mempunyai anak teecu?”

“Ha-ha!” tawa tosu itu meledak tak dapat ditahan, sekarang

dia tahu apa tujuan dan kemana kata-kata Han Han ini. “Kau

bingung karena memendamnya j sendirian, Han Han. Kau

merasa tak mengerti dan aneh karena selama ini kau tak

pernah membicarakannya dengan aku. Baiklah, pinto katakan

bahwa semua perasaanmu itu salah, bahwa kau benar-benar

bukan anak pinto melainkan murid. Tapi karena pinto juga

menyayangmu sebagai anak sendiri, seperti yang kaurasakan

maka itu tidak aneh karena cinta atau kasih sayang dapat

timbul di mana saja, untuk siapa saja!’

“Jadi teecu buka